Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Novel Cerpen Satu Lilin, Satu Atap

Hari masih pagi, hawa dingin yang menggerogoti badan membuat siapapun malas meninggalkan tempat tidur beserta selimutnya. Hujan mengguyur kota Ruteng sejak jam 1 malam. Hujan sepertinya enggan untuk berhenti. Seorang wanita muda nan ayu yang baru saja tiba dari ibukota negara Indonesia memilih untuk membungkus badannya dengan selimut tebal pemberian ibunya. Wanita muda nan ayu itu bernama Tika Andayani. Tika baru saja menyelesaikan pendidikan keguruannya di salah satu universitas di Jakarta. Tekadnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa membawanya berkelana ke salah satu kabupaten di propinsi Nusa Tenggara Timur, kabupaten Manggarai, tepatnya di kota Ruteng, kota dingin. Dia tiba di kota Ruteng ketika hari sudah gelap. Tika tidak pernah menyangka sebelumnya, Ruteng sangat dingin.
Novel Satu Lilin satu atap

Di Ruteng, Tika menginap di rumah salah satu teman kuliahnya yang adalah orang asli Ruteng. Tanpa peduli dengan rasa malu, Tika tetap melanjutkan tidurnya. “Tika.. bangun dong.. gue udah buatin kopi ni..” Isna si pemilik rumah yang juga teman kuliahnya itu membangunkannya. “Ya elah.. Isna, dingin banget ni. Gue kaga’ kuat.” Isna tersenyum melihat temannya itu. “Udah.. nanti elo juga terbiasa kok..” kata Isna meyakinkan temannya itu. Dengan berat hati Tika akhirnya bangun. Tanpa keluar dari selimut, Tika meminum kopinya. “Gila bener..!! enak banget rasanya Na. Wangi lagi. Pantesan aja, Rifan sama Abdi ketagihan ke kosannya elo.” Isna tersenyum lagi, “Hahaha.. kalo’ elo suka sama kopinya Ruteng, cari aja jodoh di sini biar elo bisa minum kopi ini terus.” Tika tertawa besar. Dia benar-benar lupa kalau dia ada di rumahnya orang.

Setelah mandi dan sarapan. Isna dan Tika berpamitan pada keluarga Isna. Isna hendak mengajaknya pergi ke sebuah desa yang tidak begitu jauh dari kota Ruteng. Sesuai dengan cita-cita Tika. “Gue pengen mengabdi di desa yang anak-anaknya kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak. Gaji kecil tidak menjadi soal.”

Tibalah mereka di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota Ruteng. Desa Golo wua. Sebuah desa yang jarang di masuki kendaraan umum, kecuali motor. Tika mengamati jalanan menuju desa itu. Dari jalan utama, mereka berdua harus berjalan kaki untuk mencapai desa Golo Wua. Jalanan yang menurun di hiasi tanaman kopi di sisi kiri dan kanan jalan menjadi pemandangan yang baru bagi Tika. Namun, belum separuh jalan Tika sudah mengeluh. “Isna.. cape ni.. mana gue saltum lagi.” Kata Tika. Meski hanya mengenakan rok hitam pendek dan blouse berwarna biru langit, tetapi wedgeslah yang menjadi permasalahan di sini. “Kan.. Gue udah bilang, pake’ sneakers aja.. elo si.., udah nanti kita beli sendal jepit aja.. pasti ada kios di sini” kata Isna geli. Wajah Tika berubah drastis. Awalnya dia berwajah semangat ’45, tapi sekarang wajahnya berubah menjadi wanita yang berumur 95 tahun. Kusut.

Semakin ke bawah, rumah-rumah warga mulai kelihatan. Sebagian besar rumah warga tembok di bagian bawahnya, lalu dinding bagian atasnya memakai papan. Akhirnya, ada juga kios yang lumayan lengkap. “Tanta, manga sendal jepit?” Isna bertanya pada si empunya kios dengan menggunakan bahasa Manggarai. “Eng enu, manga. Weli pisa nu?” “Ca kanang tanta, pisa hargan?” “20 ribu nu.” Setelah menyerahkan uang, sendal jepit tiba di kaki Tika yang memerah. “Makasih ya Na. Ntar gue ganti duit lo.” Isna mengangguk pelan. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala desa Golo Wua.

Dalam hati, Tika iba melihat anak-anak usia sekolah dasar yang harus membantu orang  tuanya bekerja. Di perjalanan menuju rumah kepala desa, dia mendapati anak-anak yang sedang menjemur padi di pekarangan rumah mereka, ada juga yang menjemurnya di jalanan. “Na.. mereka kok ga’ sekolah?ini baru jam 9 an loh.. masih jam sekolah kan..?” tanyanya penuh rasa iba. “Tik.. mungkin elo1 ngerasa ganjil dengan situasi ini. Tapi, ini kenyataannya Tika. Sekolahnya jauh di desa Ru’a. Mereka harus bangun pagi lalu jalan kaki ke sekolah. Jadi kebanyakan mereka memilih untuk membantu orang tuanya saja.” Jelas Isna. Tika seperti ingin menangis. Dalam hati dia bersyukur di besarkan di kota yang serba mudah.

Isna yang sebelumnya pernah datang ke desa Golo Wua tidak mengalami kesulitan untuk menemukan rumah kepala desa. Rumah kepala desa berada di antara rumah warga. Kalau di perhatikan, rumah kepala desa dan beberapa rumah warga yang mengelilinginya seperti membentuk kampung lain. Rumah kepala desa lumayan besar, meskipun rumahnya belum di cat, tetap saja rumah itu layak di huni. Di pekarangan, anak-anak usia sekitar 4-6 tahun sibuk menjemur kopi. Rupanya, mata pencaharian utama dari warga di desa Golo Wua adalah menanam kopi.

“Halo, tabe gula..” Sapa Isna. Tidak berapa lama muncul seorang ibu yang di perkirakan usianya 30an tersenyum ramah pada Isna. “Ole.. Enu Isna. Dee.. ho’ di cumang. Mai..” Tika tersenyum bingung. “Co’o kreba mama..?” Bersyukur sehat nu. Dee.. tambang keta molas hi enu a.” “Hahaha..toe manga mama. Nia hi bapak?” “Bapak ngo duat nu. Gereng cekoen e nde..” Isna mengangguk sambil tersenyum. Sementara mereka sibuk bercakap-cakap, seorang anak kecil kira-kira berumur 8 tahun masuk membawa baki berisi 2 gelas kopi dan sepiring ubi rebus.

“Na.. kadesnya kemana?” tanya Tika. “Lagi ke kebun Tik. Musim panen kopi jadi ya..” jelas Isna. Tika mengangguk mengerti. Namun sepertinya, ibu kades meminta salah seorang anaknya untuk pergi memanggil bapak kepala desa di kebun.

Bapak kepala desa datang dari arah dapur, dengan tersenyum ramah dan tatapan mata yang riang. Seolah-olah dia tidak lelah meskipun harus bekerja di kebun sejak pagi buta.



“Begini bapak, teman saya Tika ini kalau di perbolehkan, ingin mengajar di sini. Dia sudah melihat jauhnya sekolah dari sini. Dan saya sudah jelaskan semua tentang resikonya kalau dia mau mengajar di sini.” Terang Isna.

“Iya bapak. Saya berniat mengabdi di desa ini. Soal tempat untuk mengajar, um.. saya rasa bisa juga menggunakan aula yang ada di sebelah kantor desa pak.” Setelah mendengar niat Tika, bapak kades merenung sejenak. Bapak kades yang baik hati itu kebingungan, terutama soal uang balas jasa buat Tika. Tentu saja desa tidak bisa membayar jasa Tika seperti gaji guru honor di Ruteng. Namun, karena melihat ketulusan dan tekat Tika, bapak kades mengijinkan Tika mengabdi di desa itu. Dengan menggunakan aula kecil di dekat kantor desa dan dengan honor yang hanya 350 ribu sebulan kesepakatanpun di raih.

Isna dan Tika kembali ke Ruteng untuk mengambil barang-barang Tika. Isna tidak pernah menyangka temannya itu mau mengabdi di desa dengan honor yang kecil pula, Tika terbiasa dengan kehidupan kota besar yang serba mudah. Apalagi dia adalah anak dari keluarga yang lumayan berada. Namun, cita-cita yang mulia membawanya jauh ke Nusa Tenggara Timur. Dalam hati Isna bangga memiliki teman seperti Tika.

“Tika.. lo yakin berangkat sore ini?” tanya Isna keheranan karena Tika memutuskan langsung berangkat sore itu juga. “Iya say.. gue mau mulai mengajar besok. Banyak hal yang harus gue ajarin ke anak-anak itu.” Sekali lagi Isna di buat kagum. Dan akhirnya, Tika di antar oleh kakak sepupu Isna yang kebetulan memiliki mobil pick-up.

Setibanya di desa Golo Wua, Tika di sambut oleh keluarganya bapak kades. Kemudian, Tika di antar ke sebuah rumah kosong yang sudah di bersihkan dan di isi dengan beberapa perlengkapan rumah tangga. Tika terkejut sekali, orang-orang di desa itu sudah menyiapkan tempat tidur sederhana lengkap dengan kasur dan selimutnya. “Ya ampun pak.. terimakasih banyak. Sampai harus repot-repot menyiapkan ini semua.” Kata Tika penuh haru. Bapak kades kemudian menyuruh beberapa anak laki-laki dan perempuan untuk membantu Tika beres-beres.

Malam pertama di desa orang membuat Tika agak sulit tidur. Dia pun menelpon ibunya, “Halo bu.. Tika kangen. Ibu sehat?”  dari seberang ibunya menjawab, “Ibu juga kangen dengan kamu Tika. Iya ibu sehat. Bapa lagi ke Bandung antar si Ijong. Kamu di situ gimana, nak?” Tika berusaha menahan tangisnya. Dia tidak mau ibunya kepikiran. “Tika baik bu. Salamin buat bapa dan Ijong kalau telpon ntar ya bu. Kalau gitu ibu bobo dah.. daa ibu..” “Kamu juga bobo ya sayang. Jangan lupa doa.” Pesan ibunya. Setelah telpon di tutup, Tika menangis hingga tertidur.

Pagi pun menjemput. Hawa dingin masih juga menghampiri Tika, meski tidak sedingin Ruteng tetap saja membuatnya malas meninggalkan tempat tidur dan selimut. Di sela-sela jam malas-malasannya tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Dengan malas, Tika turun dari tempat tidur. Dia bahkan tidak menyisir rambutnya. Sesekali menguap dia pun membuka pintu, “Iya..” betapa terkejutnya Tika. Di depan pintu rumahnya ada belasan anak-anak usia sekolah kelas 2 dan 3. Anak laki-laki dan perempuan sama banyaknya.

“Pagi ibu guru. Kami mau belajar.” Kata seorang gadis kecil yang berdiri paling depan, kemungkinan gadis kecil itu yang mengetuk pintu. “Pagi juga anak-anak. Kalau begitu kalian masuk dulu. Biar ibu siap-siap terus kita sama-sama ke aula ya..” ajak Tika. Serentak anak-anak itu masuk ke dalam rumah. Buru-buru Tika ke kamar mandi, dengan semangat yang kembali membara dia membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dia segera mengambil buku dan alat-alat untuk mendukung proses mengajarnya nanti.

Mereka pun berjalan bersama menuju aula kecil di sebelah kantor desa. Senyum bahagia dan senyum penuh semangat tidak kunjung luntur dari wajah Tika. Ketika mereka sampai di aula, Tika membuka pintu aula itu. Dia kembali di buat terharu, aula itu sudah di bersihkan dan telah di lengkapi dengan white-board, juga kursi-kursi untuknya dan untuk anak-anak itu. “Ibu, kemarin kami yang kasi bersih. Terus kami yang atur kursi. Mereka bapa desa yang bawa papan tulis.” Jelas gadis kecil yang tadi berbicara padanya di depan pintu. Gadis kecil itu seperti mengerti pikiran Tika. Dan di antara anak-anak yang lain si gadis kecil itu kelihatan yang paling bersemangat. “Terimakasih ya.. sekarang kalian semua duduk di bangku kalian masing-masing. Kita mulai belajar.” Ajak Tika penuh semangat. Anak-anak polos itu berhamburan menuju kursi-kursi plastik berwarna hijau itu. Tika segera mengeluarkan spidol dan buku dari dalam tasnya.

“Nona manis namanya siapa?” tanya Tika pada si gadis kecil itu. “Saya Dela bu. Umur 7 tahun.” Jawabnya polos. Tika tersenyum lalu dia meminta Dela untuk memimpin doa tanda pelajaran segera di mulai.

“Terimakasih Dela. Nah.. anak-anak, kalian sudah kenal abjad atau belum?” tanya Tika memulai proses pembelajaran. “Beluuuuummm bu..” jawab anak-anak itu kompak. “Baik.. kalau begitu kita belajar abjad dulu ya.. ibu akan tulis di papan terus kalian salin nanti.” Lanjut Tika. Dan begitulah sepanjang pagi sampai jam 12 siang, Tika menghabiskan waktu dengan mengajari anak-anak itu. Setelah membubarkan anak-anak itu, Tika mengajak Dela untuk membantunya memasak. Tika tidak pernah masak sebelumnya, tentu saja tidak pernah. Pembantu di rumah Tika sudah mengambil alih semua pekerjaan. Sebagai anak sulung perempuan, Tika tidak pernah mendapat ilmu kedapuran baik dari pembantunya atau dari ibunya. Alhasil Tika kerepotan.

Di dapur, Tika mengajak Dela berbiacara. “Del.. kenapa kamu tidak sekolah?”. Dengan memasang wajah sangat polos, Dela memandang Tika. “Sekolah jauh e bu. Mama dan bapa bilang biar belajar di rumah saja e.” Hati Tika seperti teriris. “Terus, siapa yang ngajarin Dela di rumah?”

“Ya.. kadang bapak, kadang mama.. mana-mana saja bu.” Jujur Dela. Tekat Tika semakin bulat. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan kembali ke Jakarta sebelum anak-anak didiknya di desa Golo Wua berhasil mengenal dan mampu menuliskan huruf dan angka.

“Kalau begitu mulai sekarang, Dela harus rajin datang ke aula ya.. kita belajar sama-sama di sana. Supaya Dela bisa jadi lilin buat bapa dan mama.” Dela kebingungan mendengar ucapan Tika, “Lilin? Kenapa harus jadi lilin bu..?”

Tika pun melanjutkan, “Maksud ibu.. Dela harus bisa baca dan tulis supaya Dela gampang bantu mama dan bapa. Kalau Dela bisa baca dan tulis dengan baik,jadinya Dela bisa ke Ruteng to.. lanjut sekolah di sana terus Dela tidak gampang di bodohin orang. Dela bisa jadi lilin kecil yang menerangi bapak dan mama.” Dela tersenyum tulus mendengarkan tiap kata yang di ucapkan Tika.

“Iya ibu.. Dela bisa menerangi bapak dan mama” katanya tanda ia mengerti ucapan dari gurunya itu. Tika dengan penuh kasih memeluk Dela. Dalam hati dia berdoa..

“Tuhan.. aku mau menjadi sebatang lilin bagi anak-anak ini. Yang ikhlas menerangi meski habis terbakar. Kiranya cahaya lilinku bisa membimbing mereka. Amin.”
-Tamat-

0 Response to "Novel Cerpen Satu Lilin, Satu Atap"

Post a Comment