Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

1st Love Never Die Hal.8


4.The Handsome Supervisor
BESOKNYA, Maya dan Alinda sama sekali tidak terlambat.
Seharusnya pada jam segini jalanan macet, tapi jalanan
hari ini benar-benar mulus.
Dan lagi-lagi Alinda harus mengerjakan pekerjaan
yang menumpuk. Karena komputernya sedang dipake oleh •
Mbak Dini,· mau tidak mau ia harus memakai komputer
di ruangan lain karena masih banyak data yang harus
dimasukkan.
"Mbak... enggak apa-apa nih pinjam komputer di
ruangan sebelah?" tanya Alinda ragu-ragu.
"Ya, enggak apa-apa... Kamu bilang aja, udah dapat
. izin dari Mbak." jawab Mbak Dini dengan cuek.
Alinda hanya diam, memperhatikan ke ruangan
sebelah. Emang sih kelihatan ada satu komputer yang·
menganggur, tapi masa sih pakai acara langsung masuk
dan langsung pakai begitu aja.... Harus ada kalimat basa basinya dulu kan? Mana satu ruangan itu isinya cowok
semua lagi. . - .
'Aduh bagaimana ini? Jangan-jangan mereka
menakutkan juga seperti Bu Riska. Huaa... jangan sampai
deh..." Alinda menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk
ke ruangan itu.
. Dugaan Alinda meleset. Mereka ternyata ramah dan
pengertian. Alinda malah bisa tidak sadar kalau sudah dua
jam ada di ruangan itu, bahkan berbicara dan mengobrol
dengan mereka. Rata-rata mereka mempunyai selera humor
yang tinggi. Mereka asyik diajak bicara apa saja. Alinda
merasa senang· juga bisa bekerja satu ruangan dengan
mereka.
"Linda, ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar
belum?" tanya Mas Felix, salah satu staf administrasi di
sana.
"Eh, . pacar? Hmm... belum. Memangnya kenapa
Mas?" tanya Alinda balik. la tahu mereka hanya iseng saja,
lagipula mereka semua kan sudah punya keluarga.
"Hah, masa sih?"
"lya belum..." jawab Alinda singkat.
"Ya, ampun... Ya udah, biar aku cariin ya?! Ada yang
kamu taksir enggak di FJl ini?" tanya Mas Yusar.
"Yah... Aku kan baru dua hari di sini Mas. Mana
mungkin secepat itu aku langsung naksir cowok."
"Betul juga ya... Tapi, sayang lho kalau.kamu belum
pernah pacaran. Apalagi kamu masih muda."
"lya juga sich... " jawab Alinda dengan singkat.
Bukannya Alinda enggak mau pacaran sih... Tapi gimana?
Dia belum ketemu cowok yang pas di hatinya.
"Oh iya, Mbak Linda... Mbak kan magang di sini, kalau
misalnya butuh bantuan, jangan sungkan bertanya ya? Ada
yang mau ditanyakan enggak?" tanya Mas Henry.
"lya, tenang aja Mas ... " jawab Alinda sambil tersenyum
penuh rasa terima kasih.
"Kalau Mbak masih belum tahu dengan pegawai-pegawai disini, tanya aja ke kita."
"Pegawai di sini?" Tiba-tiba saja Alinda teringat Bagas,
orang yang menyerahkan laporannya yang ketinggalan.
Tanpa dia, mungkin Alinda enggak bakal pulang-pulang
kemarin. lngin sih ketemu terus mengucapkan terima
kasih sarna dia. Tapi, gimana mau mengucapkan terima
kasih, Alinda sendiri tidak tahu yang mana orangnya.
Ah, sudahlah.. Ntar juga pasti tahu. Alinda kembali
sibuk dengan pekerjaannya, menulis data-data ke dalam
,laporannya.
. Tiba-tiba terdengar suara dari pintu yang terbuka.
Alinda sama sekali tidak memperdulikannya. Paling staf
yang mencari orang yang ada di ruangan ini. tidak ada
hubungan dengan dirinya.
"Mas Henry ada yang mau· aku tanyakan nih. Mas
sibuk enggak?" tanya orang itu menghampiri Mas Henry.
"Oh. Mas Bagas. Ada apa?" tanya Mas,Henry balik.
Eh.. Apa? Bagas katanya? Jangan-jangan dia... Alinda
mendongakkan kepalanya dan melihat orang yang dipanggil
Bagas itu.
Staf bernama Bagas itu memakai baju biru terang.
berbeda dengan staf yang' lain. Sepertinya jabatannya
lebih tinggi. Ia masih muda. Rambutnya dipotong rapi. alis
matanya tebal dan tajam. wajahnya panjang. dan kulitnya
putih. Tubuhnya pun cukup tinggi... Lumayan juga sih...
Setidaknya untuk staf produksi dia termasuk lumayan.
Sepertinya  Bagas tahu' kalau diam-diam Alinda
memperhatikannya. Begitu Bagas melihat ke arahnya.
Alinda pura-pura enggak lihat.
"Sepertinya ada pegawai baru ya Mas?" tanya Sagas
sambil melirik ke arah Alinda. Alinda pasang muka pura-pura cuek dan tidak mendengar.
"Iya dong Mas... Biar ada pemanis." kata Mas Henry
bercanda.
"Boleh ' kenalan enggak nih?" tanya Bagas sambil
mendekati Alinda;
"Tentu saja boleh... •· jawab Alinda dengan santai.
"Kenalkan akuBagas Kurniawan supervisorproduksi."
katanya sambi! mengulurkan tangannya.
'Alinda Hamilton. aku magang di sini" jawab Alinda
sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Alinda terus berpikir,sepertinya dia pernah melihat
cowok ini,tapi entah dimana. Sebenarnya ia ingin
mengucapkan terima kasih atas pertolongan Bagas kemarin.
tapi tiba-tiba saja Alinda merasa segan. Ya... mungkin lebih
baik dia tidak perlu mengatakannya.




5.Kasandra Vs Alinda
TIDAK TERASA SUDAH SEMINGGU BERLALU. Setiap
hari Jumat, sehabis pulang kantor, Alinda dan Maya
menghilangkan penat dan bosan mereka di mall dekat
kantor FJL Sekadar belanja, perawatan di salon, main
internet, jalan-jalan, makan-makan, atau main di Time
Zone.Pokoknya Jumat sore tidak pernah terlewatkan oleh
mereka berdua.
Jumat ini mereka berdua memutuskan ke salon di
Grand Mall , sekedar creambath, manicure, pedicure,
atau facial.
"Lin enak juga ya perawatan di salon yang ini... "
kata Maya sambil menikmati rambutnya yang sedang
dikeramas. .
"Hmmm.... " jawab Alinda yang wajahnya ditutupi
oleh masker buah lemon.
"Kayaknya salon ini kita masukin ke daftar list untuk
jadi langganan. Iya enggakLin?" tanya Maya sambil melirik
Alinda. · .
"Hmmm..." jawab Alinda lagi seolah-olah sama sekali
gak mendengar apa yang barusan Maya katakan.
Akhirnya Maya jengkel juga dengan tingkah Alinda.
"Heh dengar enggak sih yang gue bilang barusan...?"
Maya langsung mengambil irisan lemon dari mata' dan
wajah Alinda.
. .
"Eh, apa-apaan sih?" protes Alinda..
''Alinda Hamilton... Dengar enggak sih· apa yang
barusan gue omongin???" tanya Maya gemas.
"Iya, aku dengar..." jawab Alinda spontan. Tentu saja
ia berbohong.
"Emangnya···apa yang barusan gue tanyain?" tantang
Maya sambil menatap Alinda curiga.
"Emang... Apa ya?" tanya Alinda balik memasang wajah
polosnya.
''Ah, males deh kalau ngomong sama cewek yang lagi
bengong." Maya segera bangkit dari kursi keramas menuju
ke kursi rias salon di samping Alinda.
"Yah, ngambek deh..Ngambek deh..." Alinda berusaha
meminta maaf.
"Sorry deh, May... Jangan ngambek deh... Please...."
 "Lagi mikirin apaan sih? Sampai gue dicuekin...?"
Maya masih marah.
"Em.. sebenarnya enggak penting sih. Kemarin gue
ketemu cowok, staf di departemen gue... Rasanya pernah
ngelihat dia Emtah dimana, gue lupa..."
, "Emang siapa sih? Jadi mencurigakan deh... Enggak
biasanya kan mikirin orang sampai sebegitunya." kata
Maya sambil menatap Alinda curiga.
"Bener sih, gue sendiri juga enggak tahu kenapa, tapi
orang itu bikin gue penasaran... gue pernah ngelihat dia
dimana ya?" Alinda benar-benar penasaran dengan orang
yang bernama Bagas.
"Siapa? Pasti 'cowok kan? Akhirnya:.. Setelah sekian
lama, Tuhan mengabulkan juga doa gue. Siapa cowok sial
eh... cowok beruntung yang kamu taksir itu, Lin???" tanya
Maya tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Please, jangan salah paham deh... gue itu gak ada
rasa apa-apa sama dia."
"Masa? Kalau udah mikirin cowok, apapun alasannya,
itu sama saja tertarik sama dia, Lin... Lo udah mulai
naksir dia kan???" serang Maya. .
:'Enggak... gue sama sekali enggak ada rasa apa-apa
sama dia..."
Tiba-tiba saja pandangan Alinda dan Maya mengarah ke
cewek yang duduk tak jauh dari mereka. Cewek itu memakai
baju ketat dan rok mini berwarna pink menyala, dengan scarf
berwarna serupa. Dia memakai anting, kalung, dan gelang
yang sangat mencolok. Rambutnya yang ikal bergelombang
dicat pirang, belum lagi polesan wajah yang mencolok.
Sepertinya mereka kenal cewek itu... Ya, mereka berdua
sangat mengenalnya. Cewek paling menyebalkan dan paling
tidak ingin mereka lihat selama ini!
"Hai, apa kabar Kasa nyamuk... eh, Kasandra..." sapa
Alinda cuek.
"Oh, siapa ya? Kayaknya gue enggak kenal." jawab
Kasandra juga cuek.
"Seperti biasa emang selalu menyebalkan ya..." kata
Maya.
.
"Enggak kok, gue rasa gue gak menyebalkan. Kalau ada
orang bilang gitu, mungkin iri aja sama gue. Habis gimana
ya, gue cantik, seksi, model lagi." kata Kasandra dengan
santai, menikmati rambutnya yang di steam.
"Ya, model di koran kriminal," gumam Maya. Alinda
langsung menyenggol kaki Maya, agar tidak mengulangi
kata-katanya barusan.
"Eh, apa lu bilang barusan?" tanya Kasandra lagi:
"Enggak:.. Enggak ada apa-apa."
"Ngomong-ngomong, gue denger kalian magang di PT
Fresh Juicy Indonesia itu ya? Pasti karena pengen'bersaing
sama gue yang kerja di PT Indo Juicy kan?" kata Kasandra
penuh percaya diri.
"Bukannya lu yang ikut-ikut kita..:?Gue heran deh kenapa
sih lu selalu bersaing sama kita?" Alinda mulai kesal.
"Kita memang selalu bersaing. Apalagi semenjak lu
merebut Andrean dari gue." kata Kasandra tegas. .
'Andrean? Please deh, gue sama sekali nggak ngerebut
dia. Dianya sendiri..." Alinda tidak menyelesaikan
kalimatnya, ia benar-benar . tidak mengerti kenapa
Kasandra selalu berpikir kalau dia yang merebut pacarnya.
Padahal cowok itu sendiri yang mengejar-ngejar Alinda,
sedangkan Alinda tidak suka sama Andrean. Tapi
setelah ditolak Alinda, Andrean tidak mau kembali ke
Kasandra, Sejak saat itu Kasandra benci sama Alinda.
"Gue nggak butuh alasan. Pokoknya dia pergi gara-gara
lu. Gue bener-bener kesal sama dia, Lin. Gue akan buktiin ke
dia, kalau gue lebih baik dari dia, baik itu soal cinta maupun
pekerjaan...': Kasandra berkata seolah penuh ancaman.
"Oh ya, coba buktiin aja..." tantang Alinda.
"Bagaimana kalau kita taruhan dari sekarang? Siapa
dari kita yang diterima bekerja oleh perusahaan tempat
kita magang, berarti dia menang... Dan yang kalah, si loser,
harus mau ngelakuin apapun yang disuruh pemenang.
Setuju?" tantang Kasandra berapi-api.
"Oke, deal!!!" jawab Alinda tegas.
"Kita lihat saja nanti, siapa si pemenang dan siapa si
loser." Kasandra tersenyum penuh keyakinan.
"Udah selesai kan? Lin, ayo kita pulang ..." ajak Maya
sambil menarik tangan Alinda begitu yakin perawatan
yang mereka lakukan hari itu selesai, termasuk perjanjian
sama si Kasa Nyamuk itu.
"Oh, para loser udah selesai ya? Baguslah, kalau melihat
kalian terlalu lama di sini mata gue agak-berkuhang-kunang
nih!" kata Kasandra menyebalkan.
Alinda dan Maya saling bertatapan selama ini
mereka berpikir kalau cewek yang paling menyebalkan
dan menyusahkan adalah Ibu Riska, tapi sepertinya
mereka harus berubah pikiran. Ternyata Kasandra lebih
menyebalkan. Diam-diam Maya iseng memutar tombol
steam Kasandra menjadi ukuran paling max.
Begitu mereka berdua membayar bon di kasir, terdengar
suara teriakan histeris. Mereka tahu itu teriakan siapa.
"Cewek kayak dia emang harus dikerjain sekali-sekali
kan?" kata Maya sambil tersenyum jahil.
"Yap, itu baru sahabat gue!" Mereka pun ber-toast ria.



6.Nightmare in Factory.
SEMlNGGU lagi berlalu, Alinda dan Maya sudah tidak
sempat lagi menghabiskan waktu terlalu banyak di cafe
atau mall. Mereka harus memyelesaikan skripsi dan
mengumpulkan setiap babnya ke kampus. Benar-benar
mimpi buruk! Mereka bekerja dari pagi hingga sore. Dan
ketika malam, ketika baru sampai rumah, mereka harus
mengerjakan skripsi,belum laporan-laporan lain! OMG,
seandainya saja tubuh bisa dibelah dua, mereka pasti tidak
akan sepusing ini. Laporan itu,harus sudah selesai pada
akhir bulan mereka magang lagi!

Hampir setiap hari Alinda dan Maya datang ke kantor
dengan muka kusut dan mata merah karena kurang tidur.
Awalnya, mereka berpikir yang namanya kerja itu adalah
sesuatu yang hebat. Dan mereka sampai menunggu saat-saat itu tiba. "tapi, pada kenyataannya setelah mereka alami tidak semudah yang dibayangkan.
Tepat pukul 9 pagi Alinda dan Maya sarapan di kantin
kantor. Itu enaknya kantor di FJI. Jam 9 disediakan makan
pagi dan setiap jam 12 makan siang,gratis.
Alinda dan Maya sama-sama tidak banyak makan saat
sarapan. Mereka masing-masing minum kopi dan hanya
saling lihat.
"Lo minum kopi juga?" tanya Alinda sambil melirik
YJ,Maya yang memasang tampang jutek dan ngantuk.
"Lo??? Tumben-tumbennya lu minum kopi." jawab
Maya sambil meminumm kopinya lagi.
"Sudah jelas kan? lni gara-gara skripsi sialan itu...
Cuma ini dopping gue biar bisa tetep melek!" Alinda
langsung membenamkan kepalanya ke meja.

"Sudah jam segini lagi... Kita harus balik ke kantor."
kata Maya.
"Yah, kerja lagi.. kerja lagi... Males..." Alinda
melenguh.
"Gue tahu penderitaan lu, Lin. Tapi ya gitu yang
namanya kerja.-.. Gepat atau lambat kita pasti ngalamin
juga. Gue duluan ya." Maya hendak turun ke bawah
menuju ruangan kantornya.
"HEY KEMANA AJA SIH? DARI TADI DITUNGGUIN!'''
tiba-tiba saja Mas Yusar· sudah ada di belakang Alinda
menepuk bahunya.
"Mas Yusar.... Bikin kaget aja sih..."
. Mas Yusar dan Mas Hepry langsung duduk di sebelah
Alinda. . .
"Maaf . duluan ya...," kata Maya,' "ada yang harus
dikerjain nih..."
"Yah, May.... Kita kan belum selesai Iho...'" cegah
Alinda,berharap Maya merubah niatnya.
"Nanti lagi aja. Oke...?!" Maya segera pergi tergesa gesa, Alinda cuma bisa bengong.
"Hey, bengong aja. Mikirin apaan Mbak?" tanya Mas Henry.
"Enggak .. Enggak kok... Aku enggak lagi mikirin apa apa." Alinda agak gagap karena kaget.
"Gimana senang enggak kerja di sini?"
"Yah, senang Mas... cuma, di sini pekerjaannya banyak
ya." jawab Alinda polos.
.
. "Hahaha.... ntar juga terbiasa kok!" kata Mas Yusar
memberi semangat ketika tiba-tiba ada seorang cowok
yang datang mendekat ke arah mereka
"Eh,Mas Bagas... Gimana kabarnya?" tanya Mas Henry
sambil tersenyum basa-basi ketika Bagas ada di hadapan
mereka.
.
"Baik-baik aja Mas. Lho, Linda kamu ngopi juga?"
tanya Bagas
"Iya Mas.: .. AkU jadi suka kopi nih..." Tentu saja Alinda
berbohong, sebenarnya dia benci sekali minum kopi. _ .


"Mas Bagas kelihatan capek sekali, kenapa? Ada
masalah di mesin Fax nya?" tanya Mas Yusar penasaran.
"Iya nih... aku benar-benar pusing. Kalau ada masalah
di pabrik seperti ini, pasti kebawa sampai ke kost-an."
"Makanya Mas Bagas, lebih baik cari pasangan, punya
keluarga. Enak lho kalau sudah punya keluarga. Kalau ada
masalah di kantor, begitu sampai di rumah ketemu istri
dan anak, pasti langsung hilang stresnya." ucap Mas Henry
lagi.
"Iya Mas Henry, aku sempat kepikir juga. Umurku
kan sudah 27, tapi kok belum ketemu sama cewek yang
mau sama aku juga ya?!" Bagas berkata sambil tersenyum
sedikit.
"Itu karena Mas Bagas nyarinya terlalu jauh sih.
Nyarinya yang dekat-dekat aja... Misalnya Mbak Linda
ini .. Gimana Mbak?" tanya Mas Henry tiba-liba sambil
melirik pada Alinda.
"Oh iya, benar juga..." jawab Bagas sambil tersenyum
ke arah Alinda.
"Hahaha... Mas Henry bisa aja." tentu saja Alinda
tahu kalau Mas Henry hanya bercanda. Alinda sama sekali
tidak tahu,percakapan ini benar-benar akan berpengaruh
terhadap masa depan nya nanti. Obrolan bercanda ini
benar-benar akan berlanjut serius suatu saat....
Sudah satu setengah bulan berlalu, pekerjaan yang
diberikan pada Alinda semakin bertambah banyak.
"Linda.... udah ngerjain laporannya belum? Tolong
ambil order yang ada di gudang atas ya??!" kata Mbak
Dini dengan wajah tanpa dosa.
"Mbak Dini, aku mau ambil laporan yang ada di Ware
House dulu ya? Setelah itu baru aku...." Alinda berusaha
untuk negosiasi,tentu saja dengan senyum basa-basi.
"Oh ya, boleh juga sih.... Tapi, kayaknya di dekat Ware
House ada Bu Riska deh. Tadi aja Bagas diomelin sama
Bu Riska di bawah sana." jawaban Mbak Dini malah
mengurungkan niat Alinda. Ia menarik nafas panjang,
tidak mau cari gara-gara dengan 'monster' pabrik yang
menakutkan itu.
Akhirnya Alinda memutuskan untuk mengambil
order yang ada di gudang atas. Sebenarnya, Alinda malas
juga, tapi mau tidak mau, dia harus melakukannya. Dia
harus melewati tangga yang mengerikan ini.... Katanya
sudah banyak orang yang jatuh dari sana, dengar-dengar
sih angker. Membayangkannya saja sudah menakutkan.
Tapi bagi Alinda, Bu Riska jauh lebih menakutkan daripada
kuntilanak atau bahkan drakula sekalipun.
Alinda sama sekali tidak membayangkan kalau bakal
bertemu segerombolan orang di atas sana. Di dekat gudang
sana memang ada satu departemen lagi.
"Linda apa kabar???" sapa Yoyo sok akrab. Yoyo adalah
staf yang baru saja dikenal Alinda. Entah sejak kapan
Alinda dan Yoyo jadi akrab, mungkin karena Alinda dan
Yoyo sama-sama besar dan punya selera humor yang sama.
Mereka benar-benar klop.
"Baik, lu sendiri gimana?" tanya Alinda tersenyum.
"Gitu deh... bete banget. Bu Riska sering mampir ke
sini... Geledek dimana-mana kalau ada dia. Btw, lu mau
kemana sih???"
"Ke gudang, mau ikut???"
"Ih, males..: Di sana agak-agak.... "
"Iya, gue tahu... Tapi bagi gue, Bu Riska jauh lebih
menakutkan daripada hantu tahu... " .
"Iya, dia juga sama saja menakutkannya. Tapi... Woi!
Tunggu. . .!" Yoyo cuma menganga karena tiba-tiba Alinda
sudah pergi meninggalkannya. Alinda merasa tidak ada
waktu lagi melayani temannya yang ember ini, ia harus
segera ke gudang sebelum kena semprot Mbak Dini.
Alinda masuk ke dalam gudang untuk mengambil
order yang diminta bosnya. Tapi tiba-tiba ia merasa
ada sesuatu di belakangnya. Dia berharap itu hanya
perasaannya. Oow.. sepertinya memang ada seseorang
di belakangnya. Masa dia harus membalikkan badannya
sekarang. Kalau di belakangnya itu makhluk halus, gimana
dong??? Alinda menarik nafas panjang-panjang dan bersiap siap membalikkan badannya. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya. Alinda benar-benar ketakutan.
"WAAAWWW!!!" teriak sesuatu atau sesorang itu.
"WAAAAA!!!!" teriak Alinda. Ternyata Yoyo berusaha
menakut-nakutinya. Sekarang ia tertawa terbahak-bahak.
Saking kesalnya, Alinda langsung menendang kaki Yoyo.
''AAWW!'' Yoyo memegang kakinya yang baru saja
ditendang Alinda.
"Rasakan itu.... Seenaknya aja ngerjain gue." Alinda
langsung bergegas pergi.
"Lin... Jangan pergi dulu. Jangan ke tangga itu ...
Tangga yang itu lin...!" seru Yoyo sambi! memegang
kakinya yang ditendang Alinda.
"Oh ya, tenang aja... Gue pasti hati-hati kok..." jawab
Alinda dengan cuek sambi! menuruni tangga. Tiba tiba saja kakinya terpeleset di salah satu anak tangga.
Akibatnya.....
"WAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!" teriak Linda. Yoyo dan
teman-temannya yang melihat kejadian itu malah ikut ikutan berteriak.
Alinda merasa seperti melayang dari tangga 5 meter
itu. BRAKK!!! Ia mendarat mulus di bawah, dekat dengan
tangki.
"Kamu enggak apa-apa???" tanya seseorang sambi!
berusaha menolong Alinda..
'Aku masih... hidup kan???" tanya Alinda lemas. Tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang dan pandangannya mulai gelap dan semakin gelap.

1 Response to " 1st Love Never Die Hal.8"

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified