Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

1st Love Never Die Hal.5


HRD,manajer purchasing,dan manajer produksi." ajak
Maya sarhbil menarik tangan Alinda.
"Bukannya kita ketemu sarna bagian HRD aja? Ngapain
ketemu sarna manajer produksi dan manajer purchasing
juga?" tanya Alinda heran.
"Gue juga enggak tahu... Udahlah, yang penting kita ke
sana aja dulu. Yuk...!" Maya mengajak Alinda ke ruangan
yang tadi ia sebutkan.
"Eh,kalau dilihat-lihat, nih kantor lumayan keren juga
ya?! Kayaknya kita enggak bakal rugi deh magang di sini..."
kata Maya sepanjang perjalanan menuju ruang rapat.
"Iya juga ya,tapi kita kan cuma tiga bulan di sini..."
"Gue ngerasa kita magang di sini bakal seru deh...
Atau menegangkan ya?"
"Hehehe.., menegangkan ya? Bener banget, gue jadi
ingat pas diomelin habis-habisan sarna Bu Sally,HRD itu,
gara-gara nanya terus tentang status magang kita."
"Iya... Ngomong-ngomong kita enggak kesasar kan?"
"Bener kok,itu ruang rapatnya... Apa salah ya? Bu
Sally mana sih?" tanya Maya.
Bu Sally yang tadi Maya sebut namanya itu ternyata
sudah berada di belakang mereka. Dia memakai baju hitam
dar1 celana panjang cokelat. Raut wajahnya tampak lelah.
"Selamat pagi semuanya,maaf ya kalau saya telat..."
sapa Bu Sally.
.
"Selamat pagi Bu,enggak apa-apa kok,kami juga baru
saja sampai." jawab Alinda dan Maya.
"Oh iya,begini, saya belum bisa menentukan kalian
magang di departemen mana. Nanti, kalian ketemu Ibu
Riska dan Ibu Yuli, ya?! Mereka yang akan menentukan...
Enggak apa-apa kan?" Ibu Sally memandarig Maya dan
Alinda.
"Enggak apa-apa kok Bu..." jawal!> Alinda dan Maya
hampir bersamaan.
"Oh ya udah... Kalian tunggu di sini ya. Ntar kalau
ketemu mereka,terutama Ibu Riska, kalian nurut aja ya?

Jangan melawan. Soalnya dia itu cerewet. .. Mengerti kan?"
bisik Ibu Sally.
"Baik Bu. . .'
"Oke kalian tetap di sini ya... "Ibu Sally meninggalkan
mereka berdua diruangan itu..
Alinda dan Maya terdiam, memikirkan kata-kata
Bu Sally barusan. Emang kayak apa sih Ibu· Riska itu,
sampai-sampai Bu Sally sebegitu khawatirnya? Alinda
terus berpikir dan mengira-ngira. Bagi Alinda, tidak ada
yang lebih menakutkan dari Ibunya dan Neneknya. Kalau
mereka berdua marah... Wah.. itu pertanda tsunami dan
hujan geledek telah datang; Hihihi...
"Lin.. Kok bengong sih? Pasti karena mikirin kata-kata
Ibu Sally tadi ya?" tanya Maya ragu-ragu.
"Enggak kok... Santai aja. Gue 'rasa Ibu Riska nggak
semenakutkan itu deh... Setidaknya, tidak melebihi Ibu
atau Nenek gue. Kita nggak usah terlalu khawatir."
.
"Iya juga ya... Mungkin Bu Sally terlalu berlebihan.
Tapi, kalau dia memang menakutkan gitu, gimana dong?
Yang gue khawatir, gue satu departemen sarna dia. Wah...
kiamat deh selama tiga bulan."
"Bu Sally cuma bilang dia cerewet kan? Enggak
masalah, kita kan hampir tiap hari kena marah ortu kita.
tapi .emang dia seperti apa ya, sampai-sampai Bu Sally'
takut begitu? Apa dia melebihi mons...." Belum sempat
Alinda menyelesaikan kata-katanya, terdengar derap kaki
yang kuat mendekati ruangan.
"Eh, Lin... Bunyi apaan tuh?" tanya Maya ketakutan.
"Eriggak tahu... Bunyi apaan ya?" tanya Alinda
bingung...
BRAKKKKKKK!!!!! Tiba-tiba saja pintu terbuka seolah
menghantam dinding. Maya dan Alinda sampai .loncat
dari tempat duduk, untungnya mereka tidak terjatuh. Di
hadapan mereka muncul seorang wanita separuh baya
dengan baju merah menyala dan celana gombrong warna
hijau tua. Emang enggak nyambung, tapi dia. sepertinya

Baca kelanjutannya