Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 9


41



KEBESARAN MANCHU telah jatuh sedemikian rendah hingga tak ada yang berani membela kehormatan Kaisar dan Kaisar pun takut menuntutnya.

Pangeran Ts'eng Junior tidak malumalu mengungkapkan pikirannya. Dia memercayai putranya seharusnya menjadi Kaisar berikutnya. Aku bisa membayangkannya mengangkat sendiri anaknya. Apa yang tak bisa dilakukan oleh seseorang ketika dia memiliki ratusan ribu pendukung Boxers dan pasukan Muslim di bawah kendalinya? Ts'eng telah menanggalkan kepurapuraannya bersikap setia padaku karena sekarang dia mengendalikan penjaga keamanan istana dan Kementerian Hukum.

Bisikbisik terus berlangsung di balik tiraiku. Para kasim melakukan perjalanan rahasia ke luar Kota Terlarang. Mereka telah mengumpulkan informasi cara meloloskan diri. Para dayang dan pelayan telah mempersiapkan hal terburuk: mereka menyimpan pakaian merah Boxers di bawah ranjang mereka.

Pangeran Ts'eng telah meminta agar aku memerintahkan pada Yung Lu untuk memindahkan pasukannya, agar dia bisa “bergerak maju tanpa perlu khawatir tertembak di belakang”.

Kuperingatkan Ts'eng bahwa serangan terhadap kedutaan asing akan berarti akhir dari dinasti, yang dia jawab dengan, “Kita akan mati jika berjuang dan kita juga akan mati jika diam. Kekuatan asing tak akan berhenti, hingga melon Cina dipotong dan dilahap habis!”

Aku telah memerintahkan agar mengirimkan sebuah telegram untuk Li Hungchang, tetapi saat pengirimannya, jaringan kawat transmisinya dipotong. Sejak saat itu, Peking terisolasi sepenuhnya dari dunia luar.

“Maafkan aku, Ibu,” ucap Guanghsu saat kukatakan padanya bahwa kita telah kehilangan kendali atas Boxers Pangeran Ts'eng dan pasukan Muslim Tenderal Tung.

Guanghsu dan aku duduk berdampingan di balairung yang kosong. Saat itu adalah pagi hari yang cerah pada awal musim panas. Kami menatap cangkircangkir teh di hadapan kami. Aku tak ingat lagi berapa kali kasim-kasim datang mengisi cangkir kami dengan air panas. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dalam situasi sekarang. Yang kutahu hanyalah situasinya makin memburuk. Aku merasa seperti pesakitan pada waktuwaktu sunyi menanti eksekusinya.

Pada pukul sepuluh, pesan dari Pangeran Tseng tiba. Pasukan Boxers telah bergerak maju dengan pisau, tombak bambu, pedang antik, dan senapan tembak. Di “lingkar luar” dua belas ribu Pejuang Muslim pimpinan Jenderal Tung telah memasuki ibu kota. Mereka menghadapi kekuatan penyelamat sekutu dan sedang berusaha merebut posisi “lingkartengah”.

Menurut Yung Lu, “Iingkarpusat” terdiri atas “Macan Manchu” pimpinan Pangeran Ts'eng,, mantan pasukan Pemegang Panji dengan kulit macan menutupi bahu mereka dan kepala macan menempel pada perisai pelindung mereka.

“Strategi Pangeran Ts’eng merupakan fantasi lain dari TopiBesi,” ujar Yung Lu. Tentaranya telah mengamati gerak pasukan Muslim Jenderal Tung. Panglima Cina terbaik Yung Lu, Jenderal Nieh, dikirim untuk membubarkan Boxers.

Pada 11 Juni, Pangeran Ts’eng mengumumkan kemenangan pertamanya: penangkapan dan pembunuhan Kepala Kedutaan Jepang, Akira Sugiyama.

Aku menerima kabar itu pada sore hari. Sugiyama telah lama menjadi target yang paling diincar dalam daftar buron Cina. Dia bertanggung jawab atas pembebasan Kang Yuwei dan Liang Chichao ke Jepang. Sugiyama telah meninggalkan markas kedutaannya di Peking untuk menyambut kekuatan penyelamat Sekutu di stasiun kereta api. Sebelum tiba, dia diserang oleh sejumlah tentara Muslim Jenderal Tung, yang menyeretnya keluar dari kereta dan mencincang tubuhnya hingga beberapa potong.

Pembunuhan itu makin menyulut kekacauan. Walaupunatas nama Kaisaraku menyatakan permohonan maafku secara resmi pada pihak Jepang dan keluarga Sugiyama, surat kabar asing meyakini bahwa akulah yang memerintahkan pembunuhannya.


Koresponden Times London, George Morrison, menyatakan bahwa pembunuh itu merupakan “pengawal pribadi favorit dari Janda Kaisar”. Beberapa hari kemudian, Times menerbitkan artikel lanjutan oleh Morrison yang memuat berita bikinbikinan: “Sementara krisis tengahcmengancam, Janda Kaisar sedang menikmati pertunjukan teater di Istana Musim Panas.”


Dengan bantuan Li Lienying, aku memanjat puncak Bukit Kekayaan. Saat melihat ke bawah pada lautan geteng rumah, aku mendengar suara tembakan dari arah markas kedutaan asing. Kompleks kedutaan menempati area antara tembok Kota Terlarang dan tembok yang mengelilingi pusat Peking. Kompleks itu terdiri dari rumahrumah kecil dan jalanjalan, kanal, dan tamantaman. Aku diberi tahu bahwa warga asing kedutaan telah membangun sebuah barikade. Batas pinggir luar yang terlihat dan seluruh gerbang,  perempatan jalan serta jembatan, ditutup kantongkantong pasir.

Sementara itu, Yung Lu menarik divisinya dari pesisir dan berencana untuk menempatkan mereka di tengah-tengah Boxers dan kedutaan. Yung Lu membiarkan Boxers tahu dia tidak menentangnya, tetapi dia memberikan perintah bahwa siapa pun yang merangsek masuk ke kedutaan akan segera dieksekusi.

Selagi Yung Lu menarik mundur pasukannya, dia mencemaskan pertahanan pesisir yang melemah, terutama perbentengan Taku. “Andai kutahu berapa banyak pasukan asing yang sedang menuju ke sini dia mengatakan padaku kemudian. “Aku takut akan apa yang bisa mereka lakukan demi menyelamatkan diplomat mereka.”

Kasimkasimku mengkhawatirkan keamananku. Semenjak Boxers memasuki Peking, Li Lienying telah mendaki Bukit Kekayaan setiap harinya. Dari sanalah dia menyaksikan katedral timur dan Selatan hangus terbakar. Para kasimku juga memberi tahuku bahwa orangorang Amerika akan menembakkan misil dari atap mereka setiap lima belas menit dengan harapan menembaki siapa pun yang kebetulan sedang melintasi jalan. Hampir seratus orang Boxers telah tewas dengan cara itu. Menurut media massa Barat, warga kedutaan telah menembaki orang Cina mana pun yang menggunakan “secarik warna merah”.


Ultimatum pihak Sekutu diantarkan oleh Admiral armada Inggris, Seymour melalui gubernur kami di Chihli. Ultimatum itu menyebutkan bahwa Sekutu akan “menduduki sementara, dengan persetujuan atau dengan paksa, benteng pertahanan Taku mulai dari pukul dua dini hari pada 17 Juni.”

Yang disembunyikan sang Gubernur dariku karena rasa takut akan dipecat adalah bahwa garis pertahanan kami telah habis. Hanya selang beberapa hari sebelumnya dia telah melaporkan secara mengadaada bahwa para Boxers di provinsinya “telah memukul mundur kapal-kapal perang asing kembali ke laut”. Pada saat aku membaca ultimatum itu, dua kapal perang Inggris tengah berlabuh pelanpelan menuju benteng kami di bawah selubung kegelapan malam. Benteng Taku akan direbut dalam hitungan hari.

Dengan Guanghsu di sisiku, aku mengadakan audiensi darurat. Aku telah menyusun dekrit sebagai tanggapan terhadap ultimatum itu: “Pihak asing telah meminta kita menyerahkan Benteng Taku untuk mereka duduki. Jika tidak menurut, mereka akan merebutnya secara paksa. Ancaman ini merupakan bukti dari watak agresif kekuatan Barat dalam segala hal yang berkaitan dengan Cina. Lebih baik mengerahkan seluruh kemampuan kita dan mengawali perjuangan daripada mencari perlindungandiri dengan menerima kehinaan abadi. Dengan tetes air mata, kami umumkan di tempat suci para leluhur kita, akan dimulainya perang.

Kenangan akan Perang Opium pada 1860 memenuhiku dengan kesedihan saat aku membacakan draft untuk disetujui Dewan Istana. Bayangan memilukan kembali berkelebat: akan pengasingan masa lalu, akan kematian suamiku, akan traktat tak adil yang dengan terpaksa dia tanda tangani, akan kehancuran rumahku, Yuan Ming Yuan.

Melihat aku tak mampu melanjutkan, Guanghsu mengambil alih. “Semenjak awal pendirian dinasti kita, bangsa asing yang datang ke Cina telah kita perlakukan dengan baik.” Suara anakku terdengar lemah tetapi jelas. “Namun, sejak tiga puluh tahun terakhir ini, mereka telah mengambil manfaat dari kesabaran kita dengan merayapi wilayah kita, menginjakinjak warga Cina, dan mengisap kekayaan Kerajaan. Setiap kesepakatan sewa yang dibuat hanya menambah ketidakhormatan mereka. Mereka menekan warga sipil kita dan menghina dewadewa dan para pemimpin kita, memicu kemarahan besar di antara rakyat. Itulah yang mengakibatkan aksi pembakaran kapelkapel dan pembunuhan para pengikut Kristen oleh pasukan patriotik.”

Kaisar berhenti. Dia beralih padaku dan mengembalikan draftnya. Matanya penuh kesedihan.

Aku melanjutkan. “Kaisar telah berupaya sekuat mungkin untuk menghindari perang. Kami telah mengeluarkan dekrit memerintahkan perlindungan terhadap kedutaan dan ampunan terhadap pemeluk Kristen. Kami nyatakan bahwa pengikut Boxers maupun perneluk Kristen merupakan warga yang memiliki kedudukan setara di mata negara. Adalah kekuatan Barat yang memaksa kami untuk memasuki perang.”

Menteri Urusan Luar Negeri, Ikuang, ditugaskan untuk memberi pemberitahuan kepada warga kedutaan bahwa mereka diberi waktu dua puluh empat jam untuk meninggalkan Peking, di bawah pengawalan pasukan Yung Lu. Kantor urusan luar negeri di T’ientsin dan Sir Robert Hart dari kantor layanan bea cukai Cina ditugaskan untuk menerima kedatangan warga asing dan memastikan untuk mengantar mereka ke tempat aman.

Namun, pihak kedutaan menolak meninggalkan tempattempat kekuasaan mereka di Cina. George Morrison dari harian Times mengatakan kepada warga kedutaan, “Jika kautinggalkan Peking besok, kematian setiap lelaki, wanita, dan anakanak dalam konvoi besar yang tak terlindungi itu akan jadi tanggung jawabmu. Namamu akan jatuh dalam sejarah dan selamanya dikenal sebagai pengecut paling keji dan lemah yang pernah hidup!”


Pada 20 Juni, seorang menteri Jerman, Baron von Ketteler, terbunuh.

Klemens August von Ketteler merupakan seorang lelaki dengan pandanganpandangan kuat dan bertemperamen keras, menurut mereka yang mengenalnya. Hanya beberapa hari sebelum kematiannya, dia menghajar bocah Cina berusia sepuluh tahun dengan tongkatjalannya hingga bocah itu tak sadarkan diri. Aksi pemukulan itu terjadi di luar kedutaan Jerman dengan disaksikan banyak orang. Ketteler mencurigai bocah itu sebagai anggota Boxers. Setelah pemukulannya, anak itu diseret ke dalam markas kedutaan. Pada saat keluarga anak itu diberi tahu dan datang untuk menjemputnya, bocah itu telah tewas. Insiden itu mengobarkan kemarahan ribuan warga Cina yang segera berkumpul di luar kedutaan menuntut pembalasan.

Aku tak mengerti mengapa Ketteler memilih menarik perhatian dengan menaiki tandunya pada momen itu, mengingat ancaman bahayanya. Dia dan penerjemahnya tengah menuju Kementerian Luar Negeri. Ketteler mengatakan pada stafnya bahwa dia telah menanti cukup lama untuk Cina dalam memberi tanggapannya terhadap ultimatum itu dan bermaksud memeriksa kemajuannya sendiri.

Kerumunan Boxers melihat Ketteler saat dia bergerak dalam tandunya menuju gedung Kernenterian Luar Negeri. Dalam hitungan menit, Ketteler ditembak mati dalam jarakdekat. Penerjemahnya terluka di kedua kaki, tetapi masih mampu menyeret dirinya kembali memasuki kedutaan Jerman.

Aksi pembunuhan terhadap menteri Jerman itu menandai awal dari apa yang disebut oleh sejarawan masa depan sebagai Pengepungan Kedutaan. Di tengah meningkatnya kekerasan, berbagai kedutaan bersatu, dan tiap harinya penjaga mereka menembakkan senapan, membunuh warga Cina secara serampangan hingga tak terhitung jumlahnya. Empat kali penjaga keamanan kedutaan menyerang Gerbang Timur dari Kota Terlarang, tetapi berhasil diadang oleh pasukan Jenderal Tung. Warga kedutaan bersenjata menduduki temboktembok perbatasan yang membuatnya makin sulit bagi pasukan Yung Lu untuk menjaga posisi pertahanannya dan menjalankan misinya untuk menecgah Boxers melakukan pengepungan.


Saat itu tengah malam ketika aku terbangun oleh pembakaran gerbang utama Kerajaan. Api itu disulut oleh pengikut Boxers sebagai akibat konfrontasi dengan pasukan Yung Lu, yang telah menghalangi tiga “lingkar” penyerangan terhadap kedutaan.

Berikutnya, jalan masuk tigalapis yang luas menuju pusat Peking menyala di kegelapan, asapnya menyelubungi area tempat tinggal terpadat di Peking. Boxers hanya berniat membakar tokotoko yang menjual barangbarang asing, tetapi pada musim kering itu dengan mudahnya semua ikut terlalap api.


Kuperintahkan dapur istana untuk membuat banyak kue-bola karena aku tengah menantikan kedatangan para menteri, pejabat, dan Jenderal yang berderap masuk dan keluar sepanjang hari. Etika makan pun ditinggalkan. Sebagian besar orang itu tidak pernah duduk untuk makan selama berharihari. Tak ada tempat untuk menaruh piringpiring—mejaku dipenuhi berbagai peta, pesan, draft, dan telegram.

Kini media massa Barat juga mulai melakukan penyerangan. Dunia mulai menyebut pengepungan itu sebagai “Pembunuhan Massal Peking,” Surat kabar meneriakkan, “Janda Kaisar ingin orang barbar mati. Semuanya.” Sumbersumber yang tak jelas asalnya menyebutku sebagai “pemimpin aksi pembunuhan” itu sendiri.

“Kita sudah kehilangan kontak dengan reaksi dunia sejak kawat telegram dirusak. Perbaikannya membutuhkan waktu terlalu lama,” Ikuang mengeluhkan.

Memahami baliwa tuduhantuduhan tersebut akan memberikan alasan yang cukup untuk menyatakan perang terhadap Cina, aku jadi sangat tegang. Aku terus memandang Yung Lu yang duduk di hadapan Ikuang.

“Bagaimana kabar Kaisar Guanghsu?” Ikuang bertanya. “Dia telah lama absen dari audiensi.”

“Guanghsu sedang kurang sehat belakangan ini” jawabku.

“Apakah istriistrinya bersamanya?”

Aku merasa pertanyaan itu ganjil, tetapi tetap menjawabnya. “Permaisuri Lan dan selirselirnya mengunjungi Kaisar setiap harinya walaupun anakku lebih senang sendiri.”

Ikuang memberiku wajah penasarannya.

“Apa ada masalah?” tanyaku.

“Tidak, tetapi orangorane, asing telah mempertanyakan mengenai kesehatan Kaisar. Sepertinya jawabanjawabanku tak lagi memuaskan mereka. Mereka menduga Baginda Kaisar telah disiksa dan dibiarkan meninggal.” Ikuang menjeda, kemudian menambahkan, “Rumor ini telah beredar di surat kabar seluruh dunia.”


“Pergi dan lihatlah dengan matamu sendiri!” Emosiku mulai terusik. “Kunjungi Kaisar ke Yingt'ai!”

“Wartawan asing meminta mengadakan wawancara secara langsung…”

“Kami tak akan mengizinkan wartawan asing memasuki Kota Terlarang,” Yung Lu menanggapi. “Mereka akan tetap mencaricari kesalahan apa pun yang kita lakukan.”

“Serangannya makin menjadijadi,” ujar Ikuang, menyodorkanku salinan Daily Mail London.

“Para warga kedutaan berdiri bersama selagi matahari mulai bersinar penuh,” seorang “saksi mata” mengatakan pada wartawan. “Sekumpulan orang yang tersisa, semuanya orang Eropa, menolak kematian dengan berani. Namun, akhirnya dengan anehnya, seluruh orang Eropa yang tersisa menemui ajal mereka dengan tebasan pedang dengan cara paling brutal.”

Kemudian, Times London akan menerbitkan laporan khusus tentang upacara berkabung yang diadakan di Katedral St. Paul bagi warga kedutaan Inggris yang menjadi “korban”. Sir Daude MacDonald—suami Lady MacDonald—, Sir Robert Hart, dan koresponden setia Times sendiri, George Morrison, semua hidup untuk membaca berita kematian mereka sendiri.


Pada 23 Juni, pasukan Jenderal Tung mengepung kompleks kedutaan Inggris seluas tiga ekar. Pasukan Muslimnya berusaha masuk dengan menghancurkan tembok utara, tempat berdirinya Akademi Hanlin elite milik Cina. Saat seluruh upaya gagal, Tung memerintahkan pada prajuritnya untuk melemparkan puntung berapi ke akademi, berniat mengusir orangorang asing itu keluar dengan kepungan asapnya. Tiupan angin kencang menerbangkan sumbu api hingga membakar perpustakaan terkuno yang ada di dunia.

Yung Lu melihat para Boxers dengan siasia menerjang ke barikade kedutaan. Tak ada yang menyadari bahwa Yung Lu, yang kini berusia enam puluh lima, sedang jatuh sakit. Dia menutupi kondisinya dariku dan aku terlalu sibuk untuk menyadarinya. Aku memperlakukannya seolah dia terbuat dari baja. Aku tidak tahu bahwa dia hanya memiliki sisa tiga tahun untuk hidup.


Meyakini bahwa pembunuhan massal di kedutaan akan memicu aksi balasan dari kekuatan Barat, Yung Lu menolak tuntutan Jenderal Tung untuk menyediakan senjata yang lebih kuat. Dewi Yung Lu Kz menguasai satusatunya unit dari artileri berat.

Aku tak habis pikir bagaimana wartawan Barat dan “saksi mata” mereka dapat mengabaikan fakta bahwa sejak pengepungan bermula, hanya sedikit serangan dilancarkan dari sektor yang dikuasai pasukan Yung Lu. Selain itu, merupakan fakta yang sudah dikenal luas bahwa belum lama ini, Cina telah membeli senjata mutakhir melalui koneksi diplomatiknya—di antaranya melalui Robert Hart. Jika saja senjatasenjata itu sudah digunakan melawan kedutaan, pertahanan mereka yang melibatkan sekitar seratus orang tentu akan dengan mudahnya dihancurleburkan dalam waktu. beberapa jam saja.

Atas nama Kaisar Cina, Ikuang mengadakan konferensi untuk menyatakan gencatan senjata. Dengan mempermalukan Kaisar, pernyataan itu tak ditanggapi oleh kedutaan maupun Boxers. Perang tetap berlanjut.

Jenderal Tung dan pasukan Muslimnya mengubah strategi mereka: mereka bergerak untuk memutuskan jalur suplai bagi kedutaan. Dari para pelayan Cina yang telah melarikan diri dari kedutaan, kami mengetahui bahwa mereka sudah kekurangan air dan makanan. Kekurangan itu semakin kritis saat perang makin gencar. Dan selain yang terluka, kedutaan juga memiliki wanita dan anak-anak yang sakit.

Yung Lu meminta izin untuk mengirimkan ke kedutaan persediaan air, obatobatan, makanan, dan perlengkapan lain. Sulit bagiku untuk memberikan persetujuan karena aku tahu itu artinya aku akan melakukan pengkhianatan. Jumlah korban jatuh di antara Boxers dan pasukan kami sendiri jauh melebihi dari pihak asing. Pembalasan dendam hanya satusatunya yang ada di pikiran rakyatku saat ini.

“Lakukan apa yang diperlukan,” kukatakan pada Yung Lu. “Aku tak ingin tahu perinciannya. Sementara itu, aku ingin rakyatku mendengar suara meriam yang kautembakkan ke arah kedutaan.”

Yung Lu mengerti. Pada larut malam, tembakan meriamnya membakar angkasa seperti kembang api Tahun Baru. Peluru meriam itu melesat ke atas atapatap dan meledak di tamantaman belakang kedutaan. Sementara warga Peking bersorak atas tindakanku, regu penyelamat Yung Lu mendorong sejumlah kereta penuh perlengkapan melewati wilayah netral dan memasuki kompleks kedutaan.

Namun, sikap baik yang kami tunjukkan tidak berbalas. Permintaan kami agar orangorang asing mengosongkan kedutaan berkalikali tak diacuhkan.

Orangorang asing tahu bahwa bala bantuan telah tiba—kekuatan penyelamat intemasional telah memasuki garis pertahanan terakhir Cina di benteng Taku.

Para kurirku menggambarkan awan debu yang begitu besar melayang di udara di sekitar mulut Sungai Taku. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Gubernur Chilili telah bunuh diri. (Untuk menambah rasa keterkejutanku, pada 11 Agustus, penggantinya juga melakukan aksi serupa.)

Aku menyalakan beberapa lilin dan duduk di depan mereka, pikiranku tersesaki dengan pikiranpikiran kematian.


“Aku telah mundur dari Ma'to ke Chanchiawan,“ bunyi laporan Gubernur terakhir.“ Aku telah menyaksikan puluhan ribu pasukan memenuhi seluruh jalan. Boxers telah melarikan diri. Selagi mereka melewati desadesa dan kota-kota, mereka menjarah, begitu banyaknya hingga tak ada yang tersisa untuk dibeli para prajuritku. Akibatnya, anak buahku dan kudakuda mereka kelaparan dan letih. Dari masa kecil hingga usia tua, aku pernah mengalami banyak perang, tetapi tak pernah melihat yang seperti saat ini .... Aku akan berusaha sebisa mungkin mengumpulkan prajurit yang melarikan diri dan akan berjuang hingga napas terakhir ......


Dalam sebuah memorandum, Yung Lu menyertakan sebuah pesan penting dari Li Hungchang. Pesan itu menyebutkan agar aku mengirimkan sebuah telegram ke Ratu Inggris untuk “mengirim petisi bahwa sebagai sesama wanita tua, kami sebaiknya bisa saling memahami kesulitan masingmasing”, Dia juga menyarankan agar aku mengirim permohonan pada Tsar Nicholas dari Rusia dan Kaisar Jepang, “untuk membantu menyelesaikan krisis dengan cara damai”.

Aku tak menyangka berani menerikuti nasihat Li. Kutekankan pentingnya bagi tiap negara untuk menjaga hubungan baik dengan Cina. Bagi Inggris, kepentingan itu adalah perdagangan; bagi Jepang, adalah “sebagai Sekutu Timur melawan Barat”; bagi Rusia adalah “hubungan ketergantungan dan persahabatan antar kedua negara dalam menghormati perbatasan masingmasing.”

Betapa bodohnya aku.





42



FAJAR PADA 14 AGUSTUS 1900, tangisan yang kudengar seperti suara kucing ternyata merupakan suara pelurupeluru beterbangan. Empat belas ribu pasukan, termasuk dari Ingris, Prancis, Jepang, Rusia, Jerman, Italia, Belanda, Austria, Hongaria, Belgia, dan Amerika telah menyerbu. Mereka tiba di Peking dengan kereta Tientsin. Jenderal Nieh, yang telah dikirim oleh Yun Lu untuk menjaga jalur kereta dari Boxers, terbunuh oleh tentara Sekutu.

Aku sedang mendandani rambutku ketika suara tangis kucing itu muncul. Aku heran bagaimana bisa ada begitu banyak kucing. Kemudian, sesuatu menabrak ujung atap rumahku yang berbentuk sayap dan sebuah ornamen jatuh pecah ke pekaranganku. Sejenak kemudian, sebuah peluru berdesing melewati jendelaku. Peluru itu jatuh ke lantai, terpelanting, dan mengelinding. Aku mendekati untuk memeriksanya.

Li Lienying berlari masuk, tampak gemetar. “Pasukan asing sudah masuk, Yang Mulia!”

Bagaimana mungkin? pikirku. Li Hungchang semestinya sudah mulai bernegosiasi dengan kekuatan Barat.

Baru ketika putraku datang beserta istri dan selirselirnya, aku menyadari Perang Opium terulang lagi.

Setelah berpakaian, aku pergi melihat Guanghsu. Dia tampak ketakutan. Dengan panik, dia cepatcepat mencopot mutiaramutiara dari jubahnya dan melemparkan topi merahrumbainya. Meskipun dia telah berganti dari jubah emasnya ke biru, simbolsimbol naga pada sulamannya akan membuatnya dikenali. Aku meminta Li Lienying untuk cepatcepat menemukan pakaian pelayan untuk Kaisar. Lan, Mutiara, dan Cahaya membantu suami mereka berganti ke mantel panjang polos abuabunya.

Suara desing peluru di atas kepala kami terdengar makin keras. Kubuka lacilaci meja, lemari pakaian, dan lemari penyimpananku, lalu berusaha memutuskan apa yang harus kubawa dan kutinggalkan. Kupilih beberapa pakaian dan mantel, tetapi Li Lienying memberi tahu kotak barangbarang yang akan kubawa sudah penuh. Sulit meninggalkan peti ukirkayu dari masa kecilku yang diberikan ibu untukku dan buku latihantulis kaligrafi kepunyaan Tung Chih.

Sambil menggengam kotak perhiasanku, Li Lienying mengarahkan tugas para kasim yang mengemas apa yang dapat mereka bawa ke dalam kereta.

Kulepas perhiasanku dan pelindungkuku dari giokku, lalu memerintahkan pada Li Lienying untuk memotong kukukuku panjangku.

Ketika kusuruh dia memangkas rambutku yang sepanjang lutut, dia menangis bersama dengan para menantuku.

Setelah rambutku yang sudah terpangkas pendek diikat konde, dia membantuku mengenakan jubah desa biru tua. Kukenakan sepasang sepatu usang.

Mengikuti contohku, Lan dan Cahaya melepaskan perhiasan mereka, memangkas rambut mereka, dan berganti ke pakaian pelayan, tetapi Mutiara menolak. Dia beralih ke Guanghsu dan membisiki kupingnya. Anakku menggelengkan kepalanya dan tetap membisu. Mutiara memaksa. Dia menggeleng lagi. Mutiara tampak begitu kesal.

“Kenapa kau tak bicara dengan Kaisar setelah kita keluar dari kota?” kukatakan pada Mutiara.

Seolah tak mendengarku, Mutiara terus mendesak Guanghsu untuk memberikan tanggapan.

Guanghsu tampak enggan. Dia memandang ke sekeliling, menghindari mataku.

Seorang kurir yang dikirim Yung Lu menyuruh kami untuk segera berangkat. Saat aku berjalan menuju gerbang, Mutiara menarik Guanghsu. Mereka mulai berjalan kembali ke Kota Terlarang.

Li Lienying berlari menehampiri. “Keretakereta yang kita pesan diadang oleh Sekutu! Apa yang akan kita lakukan, Yang Mulia?”

“Kita harus berjalan,” jawabku.

“Kaisar tak akan pergi.” Selir Mutiara menjatuhkan dirinya ke lantai di depanku. Dengan anakku berdiri diam di belakangnya, Mutiara memberi tahuku saat itu dan di situ juga bahwa dia dan Guanghsu akan mengucapkan perpisahan. Mutiara, dengan mengenakan jubah satin merah dan syal warna senada mengelilingi lehernya, tampak sangat cantik, seperti pohon mapel pada musim gugur.

Saat dia mengangkat dagunya, kulihat kebulatan tekad di matanya.

Li Lienying memohon agar aku cepatcepat. “Orangorang meregang nyawa mereka untuk berusaha menjaga pintu keluarmu, Yang Mulia. Pelurupeluru beterbangan dan kebakaran serta ledakan terjadi di luar kota.”

“Kau boleh saja tinggal, tetapi anakku harus ikut,” ujarku pada Mutiara.

“Baginda Kaisar akan tinggal,” gadis itu menantang.

Li Lienying menyela antara Mutiara dan aku. “Putri Mutiara, kita harus pergi sekarang atau tidak sama sekali! Anakbuah Yung Lu sudah siap mengawal Kaisar!”

“Mutiara, ini bukan waktunya,”ujarku, meninggikan suaraku.

“Tetapi Kaisar sudah memutuskan,” desak Mutiara.

“Suruh selirmu segera berangkat,” kusuruh Guanghsu.

Cukup keras hingga bisa terdengar oleh semua orang,

Mutiara berteriak, “Melarikan diri adalah tindakan memalukan dan akan membahayakan Kerajaan!”

“Kendalikan dirimu, Mutiara,” ujarku. “Kaisar Guanghsu punya hak untuk membela kehormatan Dinasti!”

“Kaisar bisa bicara untuk dirinya sendiri!” balasku berang.

“Baginda Yang Mulia terlalu takut pada ibunya untuk bicara terus terang.”

Aku meminta Mutiara untuk berhenti mempermalukan dirinya sendiri. “Aku mengerti tekanannya terlalu berat untuk kau tanggung. Aku berjanji untuk mendengarkan begitu kita keluar dari kota dan tiba di tempat yang lebih aman.

“Tidak!” bentak Mutiara. “Kaisar Guanghsu dan aku ingin meminta agar kami ditinggalkan.”

“Selir Mutiara! Apa yang kau—“

Sebelum aku bisa menyelesaikan katakataku, sebuah mortir meledak di tengah pekarangan. Bumi bergetar. Kedua sayap dari atap istanaku roboh.

Di bawah kepulan debu, kasimkasim dan dayang-dayangku berteriak dan berlari untuk sembunyi.

Mutiara dan aku berdiri berhadapan di pusat pekarangan, terselubungi debu. Guanghsu berdiri beberapa meter dari kami, tampak bingung dan dicekam rasa bersalah. Aku sadari apa yang dipikirkan Mutiara: dia meyakini kekuatan Barat datang untuk menyelamatkan Guanghsu. Bagi Mutiara, kepergianku berarti pengembalian kekuasaan Guanghsu.

Dalam situasi lain, aku akan mempertimbangkan permintaan Mutiara. Aku bahkan mungkin akan mengagumi kenekatannya. Tetapi untuk saat ini, yang bisa kulihat hanyalah kurangnya pemahaman dan pengertian atas keselamatanku dan putraku.

Aku merasa sedikit iba pada Mutiara karena dia meyakini kekuatan karakter yang tak ada dalam diri Guanghsu. Dia melihat diri suaminya dalam sosok impiannya, dan bukan sosoknya yang sesungguhnya.

“Bawa dia bersama kita,” kusuruh Li Lienying.

Beberapa kasim mulai mengikat Mutiara. Dia meronta, memanggil Guanghsu untuk menolongnya.

Guanghsu hanya memandangnya sedih.

“Guanghsu,” teriak Mutiara, “kau adalah penguasa Cina, bukan ibumu! Kekuatan Barat telah berjanji untuk memperlakukanmu dengan penuh hormat. Bela dirimu sendiri!”

Li Lienying mengosongkan kereta dan kasimkasim itu memasukkan Mutiara ke dalamnya seperti sekarung beras.

Kuperintahkan anakku untuk menaiki tandunya, dan dia menuruti.

Sekali lagi, kami mulai berangkat.

Asap memenuhi udara. Pancipanci dan tutupnya bergemerencing keras selagi pembawanya berjalan cepat menuju gerbang.

Kasimkasim mendorong kereta sementara dayangdayang berjalan di sisinya, mengangkut bawaanku dengan keranjang dan tas katun.

Kami tak berhasil berjalan jauh. Sebelum kami mencapai gerbangku sendiri, Mutiara membebaskan diri dari kereta dan berlari menuju tandu Guanghsu. Dia menarik tirainya dan membenturkan kepalanya ke sisi tandu hingga menjatuhkan salah seorang penandu.

Kuhentikan tanduku dan meneriakkan namanya. Kujelaskan bahwa dia tak akan ditinggalkan.

Gadis itu mencium tumit Guanghsu dan sejurus kemudian, dia berlari kembali ke Kota Terlarang.

Li Lienying berusaha mengejarnya.

“Tinggalkan dia sendiri!” teriakku.

“Yang Mulia, Mutiara berlari ke arah Gerbang Timur, tempat pasukan asing berada.”

“Biarkan saja,” ucapku.

“Dia bisa diperkosa oleh tentara asing!”

“Itu pilihannya.”

“Yang Mulia, Putri Mutiara mungkin juga bermaksud menerjunkan dirinya ke dalam sumur.”

Dengan tak masuk akal, kuperintahkan tandutandu kami untuk berbalik arah. Kami mengikuti Mutiara, kembali ke kota, menuju ke arah sumur. Kami tak cukup cepat. Di depan mataku, Mutiara meloncat. Tetapi bukaan sumur itu terlalu kecil. Mutiara berusaha menggunakan berat tubuhnya sendiri untuk menarik seluruh tubuhnya ke bawah.

“Guanghsu!” aku berteriak.

Bersembunyi di balik tandunya, anakku tak bereaksi. Dia tidak tahu apa yang terjadi, atau tidak mau tahu.

Menggunakan sebuah belati, Li Lienying memotong lepas tongkat bambu terpanjang dari tanduku. Dengan bantuan kasimkasim lain, tongkat itu diturunkan ke bawah sumur.

Li Lienying melontarkan seutas tali.

Tetapi Mutiara bertekad meneruskan niatnya.

Li Lienying mengutuki dan mengancam. Kasimkasim lain menyalakan bolabola api dan melemparkannya ke sumur, berusaha mengasapi gadis itu agar keluar.

“Biarkan saja dia melakukan keinginannya!” Kaisar Guanghsu berteriak dari dalam tandunya.


Dengan aksi bunuhdiri Mutiara dalam benak semua orang, kami memulai perjalanan sejauh seribu seratus kilometer ke arah barat laut dan sepanjang Tembok Besar. Kami mendorong kereta kami dan berjalan. Guanghsu menangis dan menolak diriku yang hendak menghiburnya.

Aku tak habis pikir apa yang akan terjadi jika aku mengizinkan Mutiara melakukan keinginannya. Tak akan berhasil, kusimpulkan. Begitu kekuatan asing itu berhasil “menyelamatkan ”Guanghsu dan menjadikannya sebagai sandera, kami akan kehilangan dasar untuk bernegosiasi. Aku akan dipaksa untuk menyerahkan segalanya sebagai ganti nyawaku atau putraku akan dipaksa untuk memerintahkan eksekusiku.

“Aku tak akan bertahan, bagaimana pun,” Guanghsu akan mengatakan padaku kemudian.

Akan tetapi, pikiranku kembali pada Mutiara selagi membayangkan hal lain yang bisa kukatakan padanya. Dia dan aku memiliki impian yang sama bahwa anakku dan suaminya memiliki kekuatan dalam dirinya untuk berubah. Aku telah berusaha keras melakukan transformasi itu sejak hari pertama aku mengangkatnya. Aku telah mengenalkan Guanghsu pada ideide Barat dan kekagumannya terhadap budaya Barat menjadi kebanggaanku. Tetapi kemudian aku akan berpikir bahwa itu saja tak cukup.

Aku juga bisa saja memberitahukan Mutiara bahwa ada kebenaran yang diketahui seorang ibu terhadap anaknya yang tak akan bisa dibaginya pada orang lain. Fakta bahwa aku bangga pada Guanghsu tidak berarti aku tidak tahu akan batasannya. Aku telah menantang kemampuannya sebisa mungkin. Menyerahkan diriku sepenuhnya atas upaya reformasinya merupakan keputusan pribadi yang kuambil sendiri. Aku telah melontarkan dadunya, bersiap kehilangan segalanya, dan itulah yang terjadi.

Memercayai bahwa anakku dapat mengalahkan kecerdikan seorang Ito Hirobumi merupakan kelemahanku. Membiarkan Guanghsu menunjuk Kang Yuwei sebagai Kepala Menterinya juga merupakan bagian dari kesalahanku. Aku sudah tahu bahwa Kang bukanlah orang sebagaimana yang dia tampilkan, tetapi aku menuruti untuk menyenangkan putraku.

Aku telah dihancurkan oleh penderitaan anakku. Dia tak dapat menerima kegagalannya sendiri, yang kuanggap lebih besar bagian kesalahanku daripadanya. Jika pun aku harus terbunuh atas perintah anakku sendiri, aku akan menganggapnya sebagai takdirku karena aku tahu betapa besar rasa cintanya padaku.

Akan tetapi, hal terpenting yang seharusnya kukatakan pada Mutiara adalah bahwa anakku, suaminya, tengah menghadapi kekuatan di luar kendali dirinya: beban tradisi, kebutaan, kerakusan kekuasaan, dan sejarah itu sendiri. Kekayaan besar Cina dan keagungan peradabannya telah membuatnya begitu puas diri dan tidak siap dengan perubahan. Jepang yang miskin kekayaan alam telah dipaksa untuk berkembang, maju, dan memodernisasi negaranya; Kaisar Jepang sekadar mengarahkan jalan pada rakyatnya yang telah siap. Cina telah dikalahi dan memerlukan perubahan, tetapi tak mungkin seorang Kaisar sendiri dapat menggerakkan bangsanya yang baru saja terbangun akan pentingnya perubahan. Tidak akan bisa dilakukan seorang lelaki sendiri—upaya perubahan itu telah menumbalkan banyak nyawa: suamiku, putraku, Pangeran Kung, yang lain, dan aku takut korban selanjutnya akan segera menyertakan putraku yang lain.

Selama beberapa minggu berikutnya, kami berjalan siang dan malam. Jika kami cukup beruntung untuk sampai di kota sebelum malam tiba, aku bisa tidur di atas ranjang. Sering kali, kami harus bermalam di tengah lapangan dan hutan dengan serangga mengerubungiku.

Walaupun Li Lienying memastikan bahwa aku tertutup rapat dari kepala hingga ujung kaki, leher dan wajahku tetap digigiti. Satu bekas gigitan membengkak, hingga aku terlihat seperti memiliki telur yang tumbuh dari daguku. Aku telah memanagil Li Hungchang untuk memulai negosiasi dengan pihak asing, tetapi diberi tahu bahwa dia belum meninggalkan Kanton.

Ada dua alasan mengapa Li Hungchang melambatkan upayanya, Yung Lu meyakini. “Pertama, dia beranggapan bahwa negosiasi itu merupakan tugas yang mustahil. Kedua, dia tidak ingin bekerja dengan Ikuang.”

Aku mengerti keengganannya. Aku memilih Ikuang karena Penasihat Klan Manchu mendesak agar memasukkan salah seorang dari mereka untuk “memimpin” Li.

“Ikuang tidak efektif dan korup,” ujar Yung Lu. “Saat kutanyakan dirinya, dia mengeluhkan tentang cara Li mendikte dirinya dan menyalahkan yang lain karena ‘memaksakan hadiahhadiah' pada dirinya”.

Yung Lu dan aku merasa frustrasi karena yang bisa kami lakukan hanyalah membahas kemalangan kami. Kukatakan padanya bahwa Ratu Min mengunjungiku dalam mimpi. Mimpi itu dimulai dengan dirinya bangkit dari tumpukan api setinggi dua tingkat. “Kemudian dia duduk di sisi tempat tidurku dengan pakaiannya yang hangus terbakar. Dia memberi tahuku caranya selamat dari api. Dia sepertinya tak sadar bahwa dirinya sudah setengah daging dan setengah rangkatulang. Aku tak bisa memahami satu pun katakata yang diucapkannya karena dia tidak punya bibir.”

Yung Lu berjanji akan selalu di dekatku.

Beberapa hari kemudian, Yung Lu mengetahui alasan sebenarnya mengapa Li Hungchang begitu lambat datang. “Pihak Sekutu memiliki daftar nama orangorang yang mereka yakini bertanggung jawab atas kerusakan kedutaankedutaan. Mereka menuntut penangkapan dan pemberian hukuman sebelum negosiasi dilangsungkan.”

“Apa Li Hungchang tahu tentang adanya daftar itu?” tanyaku.

“Ya. Bahkan dia memilikinya, tetapi dia takut untuk memberikannya padamu sendiri. Ini salinannya.”

Aku memasang kacamataku untuk membacanya. Walaupun sudah kuduga sebelumnya, aku masih saja terkejut: namaku adalah yang pertama tertera di daftar.


Yung Lu menduga bahwa Li Hungchang juga enggan datang untuk membantu Guanghsu kesekian kalinya. Kaisar telah berkalikali menjadi penyebab kepergian terpaksa Li, yang mengakibatkan kerugian finansial dan politik yang hebat baginya. Lawanlawan dan musuh-musuhnya, kebanyakan para Pangeran Manchu, perlahan telah mengambil alih kepemilikan industri utamanya, termasuk Perusahaan Navigasi Uap Pedagang Cina, Administrasi Telegram Kerajaan, dan pertambangan Kaiping.

Setelah tak mengacuhkan beberapa panggilanku, yang menjanjikan pengembalian jabatan aslinya dan kepemilikan bisnisnya, Li pindah ke Shanghai selama beberapa minggu, menyebutkan bahwa usia tua dan penyakit telah melambatkannya. Yung Lu mendesaknya dengan mengatakan bahwa sebuah dekrit hukuman telah disusun dengan daftar nama yang diminta pihak asing.

Setelah lebih banyak lagi panggilan kulakukan yang menuntut kehadirannya, Li Hungchang tiba di T’ientsin pada 19 September. “Hingga publikasi dari dekrit dikeluarkan, tak banyak yang bisa kulakukan,” bunyi pesannya pada Yung Lu.

Anehnya, saat ini, kemungkinan akan kematianku tidak lagi terasa mengancam bagiku. Ide itu lebih muncul sebagai bahan negosiasi.

“Apa kaukira Li Hungchang benarbenar mengharapkanku untuk menyerahkan diri kepada pihak Sekutu?” tanyaku pada Yung Lu.

“Tentu saja tidak. Apa yang akan dilakukan Li tanpamu?”

“Lalu, apa yang diinginkannya?”

“Dia menggunakan momen ini untuk memastikan bahwa kau tidak menyerah pada musuhmusuhnya, terutama Pangeran Ts'eng Junior dan Jenderal Tung.”


Angin kuat dari utara meniupi padang rumput, membuat tandutandu kami tampak bagai perahuperahu kecil yang mengambang di atas ombak hijau. Boxers telah merusak musim tanam dan kami tak bisa memperoleh bantuan sedikit pun karena para petani telah melarikan diri.

Kami terus bergerak maju ke utara dan memasuki pedalaman, diburu oleh pihak asing. Kami telah berjalan dengan susah payah menyusuri jalanjalan berdebu yang tak rata selama lebih dari sebulan. Cerminku pecah dan aku hanya bisa mengirangira bagaimana rupaku. Guanghsu dipenuhi debu dan dia tak lagi merasa perlu mencuci mukanya. Kulitnya pucat dan kering. Rambut kami berbau busuk dan kulit kepala kami gatal. Pakaianku ditumbuh kutu dan hama lain. Suatu pagi, aku membuka rompiku dan menemukan ratusan telur sebesar biji wijen di dalamnya. Telurtelur yang kecil tampak melekat pada rompinya maka kusuruh Li Lienying membakarnya. Aku tak lagi memedulikan kondisi rambutku. Kurendam kepalaku dalam air garam dan cuka, tetapi kutukutu itu tetap berdatangan. Saat aku bangun di pagi hari, aku akan melihat kutukutu dari rambutku terjatuh ke kasur jeramiku. Kami tidur di mana saja kami bisa, satu malam di kuil terbengkalai, malam lainnya di gubuk tanpa atap dengan ranjang batu bata.

Guanghsu jijik saat dia melihat Li Lienying menyisir keluar telurtelur kutu yang menempel di rambutku. Kaisar mencukur habis rambutnya dan mengenakan rambut palsu saat audiensi pengganti diadakan. Sulit bagi kami menjaga sikap saat menerima para menteridorongan untuk menggaruk sangat kuat. Aku memaksakan diri tersenyum. Aku melihat keanehan dari semua hal ini; Guanghsu tidak.

Musim hujan mendatangkan badainya. Tandutandu kami bocor dan Guanghsu serta aku segera kebasahan. Perjalanan ini mengingatkanku akan pengasingan pertamaku menuju Jehol bersama Kaisar Hsien Feng. Aku tak ingin memikirkan masa depan.

Pada 25 September, dekrit hukuman pertama dari Kaisar akan dipublikasikan. Aku telah menderita dari rasa penyesalan. Pangeran Ts'eng dan Jenderal Tung datang untuk memberi tahuku bahwa mereka mengerti akan alasan tindakan yang harus kuambil. Aku diharuskan menyerahkan mereka pada Sekutu, sebuah prasyarat untuk membebaskanku dari tanagung jawab.

“Aku tak bisa memerintahkan pemenggalan mereka,” ujarku pada Yung Lu. “Pangeran Ts'eng adalah saudara sedarah dan pasukan Jenderal Tung telah melindungi keselamatanku.” Aku mendesah. “Apa yang terjadi pada Ratu Min cepat atau lambat akan terjadi pula padaku.”

“Li Hungchang telah mendapatkan apa yang dia inginkan dan akan menemukan jalan untuk menyelamatkanmu,” ujar Yung Lu.


Pagi hari, kasimku menemukan sebuah telur bebek di dalam lemari di rumah yang ditinggalkan. Guanghsu dan aku girang. Li Lienying merebus telur itu dan Guanghsu serta aku mengupas kulit telur itu hatihati dan memakannya segigitsegigit, mengorek habis cangkangnya hingga bersih. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Kami telah kekurangan makanan dan bertahan dengan seporsi kecil bubur gandum. Itu membuat kami makin kelaparan. Dengan telur itu, kami merayakan kedatangan Li Hungchang di Peking yang telah dinantikan sejak lama; dia telah berada di T’ientsin selama tiga minggu. Aku akan memastikan dia mengetahui tentang semua hama yang telah kutemui sepanjang perjalanan.

Akhirnya, negosiasi dibuka. Teman kami, Robert Hart, berperan sebagai penengah. Li Hungchang membuat kemajuan signifikan dengan meyakinkan kekuatan asing bahwa “ada lebih dari satu cara untuk memotong melon” dan bahwa menurunkanku dan pemerintahanku tidak hanya akan mencegah bangsa asing menarik keuntungan lebih banyak dari Cina, tetapi juga akan memicu kerusuhan, yang akan menimbulkan lebih banyak aksi pemberontakan.

Kekuatan asing ingin membagibagi Cina, tetapi Li memberi dalih pada mereka bahwa Cina terlalu luas, populasinya terlalu banyak dan homogen sehingga pemisahan Cina tak akan efektif, dan bahwa rencana membentuk pemerintahan republik akan terlalu asing bagi Cina.

Guanghsu tampak menghargai upaya Li Hung-chang. Saat dia mulai memanggil Li dengan jabatan lamanya sebagai Gubernur Chihli, aku menangis karena tidak ada hal lain yang lebih menenangkanku daripada sikap ampunan Guanghsu terhadap salah seorang dari “orang lamanya”. Lagi pula, kekuasaan Barat dan kekuatan mfliter mereka telah menginjak tanah kami dan Guanghsu bisa saja memanggil mereka untuk membantunya menyatakan kebebasannya.





42



FAJAR PADA 14 AGUSTUS 1900, tangisan yang kudengar seperti suara kucing ternyata merupakan suara pelurupeluru beterbangan. Empat belas ribu pasukan, termasuk dari Ingris, Prancis, Jepang, Rusia, Jerman, Italia, Belanda, Austria, Hongaria, Belgia, dan Amerika telah menyerbu. Mereka tiba di Peking dengan kereta Tientsin. Jenderal Nieh, yang telah dikirim oleh Yun Lu untuk menjaga jalur kereta dari Boxers, terbunuh oleh tentara Sekutu.

Aku sedang mendandani rambutku ketika suara tangis kucing itu muncul. Aku heran bagaimana bisa ada begitu banyak kucing. Kemudian, sesuatu menabrak ujung atap rumahku yang berbentuk sayap dan sebuah ornamen jatuh pecah ke pekaranganku. Sejenak kemudian, sebuah peluru berdesing melewati jendelaku. Peluru itu jatuh ke lantai, terpelanting, dan mengelinding. Aku mendekati untuk memeriksanya.

Li Lienying berlari masuk, tampak gemetar. “Pasukan asing sudah masuk, Yang Mulia!”

Bagaimana mungkin? pikirku. Li Hungchang semestinya sudah mulai bernegosiasi dengan kekuatan Barat.

Baru ketika putraku datang beserta istri dan selirselirnya, aku menyadari Perang Opium terulang lagi.

Setelah berpakaian, aku pergi melihat Guanghsu. Dia tampak ketakutan. Dengan panik, dia cepatcepat mencopot mutiaramutiara dari jubahnya dan melemparkan topi merahrumbainya. Meskipun dia telah berganti dari jubah emasnya ke biru, simbolsimbol naga pada sulamannya akan membuatnya dikenali. Aku meminta Li Lienying untuk cepatcepat menemukan pakaian pelayan untuk Kaisar. Lan, Mutiara, dan Cahaya membantu suami mereka berganti ke mantel panjang polos abuabunya.

Suara desing peluru di atas kepala kami terdengar makin keras. Kubuka lacilaci meja, lemari pakaian, dan lemari penyimpananku, lalu berusaha memutuskan apa yang harus kubawa dan kutinggalkan. Kupilih beberapa pakaian dan mantel, tetapi Li Lienying memberi tahu kotak barangbarang yang akan kubawa sudah penuh. Sulit meninggalkan peti ukirkayu dari masa kecilku yang diberikan ibu untukku dan buku latihantulis kaligrafi kepunyaan Tung Chih.

Sambil menggengam kotak perhiasanku, Li Lienying mengarahkan tugas para kasim yang mengemas apa yang dapat mereka bawa ke dalam kereta.

Kulepas perhiasanku dan pelindungkuku dari giokku, lalu memerintahkan pada Li Lienying untuk memotong kukukuku panjangku.

Ketika kusuruh dia memangkas rambutku yang sepanjang lutut, dia menangis bersama dengan para menantuku.

Setelah rambutku yang sudah terpangkas pendek diikat konde, dia membantuku mengenakan jubah desa biru tua. Kukenakan sepasang sepatu usang.

Mengikuti contohku, Lan dan Cahaya melepaskan perhiasan mereka, memangkas rambut mereka, dan berganti ke pakaian pelayan, tetapi Mutiara menolak. Dia beralih ke Guanghsu dan membisiki kupingnya. Anakku menggelengkan kepalanya dan tetap membisu. Mutiara memaksa. Dia menggeleng lagi. Mutiara tampak begitu kesal.

“Kenapa kau tak bicara dengan Kaisar setelah kita keluar dari kota?” kukatakan pada Mutiara.

Seolah tak mendengarku, Mutiara terus mendesak Guanghsu untuk memberikan tanggapan.

Guanghsu tampak enggan. Dia memandang ke sekeliling, menghindari mataku.

Seorang kurir yang dikirim Yung Lu menyuruh kami untuk segera berangkat. Saat aku berjalan menuju gerbang, Mutiara menarik Guanghsu. Mereka mulai berjalan kembali ke Kota Terlarang.

Li Lienying berlari menehampiri. “Keretakereta yang kita pesan diadang oleh Sekutu! Apa yang akan kita lakukan, Yang Mulia?”

“Kita harus berjalan,” jawabku.

“Kaisar tak akan pergi.” Selir Mutiara menjatuhkan dirinya ke lantai di depanku. Dengan anakku berdiri diam di belakangnya, Mutiara memberi tahuku saat itu dan di situ juga bahwa dia dan Guanghsu akan mengucapkan perpisahan. Mutiara, dengan mengenakan jubah satin merah dan syal warna senada mengelilingi lehernya, tampak sangat cantik, seperti pohon mapel pada musim gugur.

Saat dia mengangkat dagunya, kulihat kebulatan tekad di matanya.

Li Lienying memohon agar aku cepatcepat. “Orangorang meregang nyawa mereka untuk berusaha menjaga pintu keluarmu, Yang Mulia. Pelurupeluru beterbangan dan kebakaran serta ledakan terjadi di luar kota.”

“Kau boleh saja tinggal, tetapi anakku harus ikut,” ujarku pada Mutiara.

“Baginda Kaisar akan tinggal,” gadis itu menantang.

Li Lienying menyela antara Mutiara dan aku. “Putri Mutiara, kita harus pergi sekarang atau tidak sama sekali! Anakbuah Yung Lu sudah siap mengawal Kaisar!”

“Mutiara, ini bukan waktunya,”ujarku, meninggikan suaraku.

“Tetapi Kaisar sudah memutuskan,” desak Mutiara.

“Suruh selirmu segera berangkat,” kusuruh Guanghsu.

Cukup keras hingga bisa terdengar oleh semua orang,

Mutiara berteriak, “Melarikan diri adalah tindakan memalukan dan akan membahayakan Kerajaan!”

“Kendalikan dirimu, Mutiara,” ujarku. “Kaisar Guanghsu punya hak untuk membela kehormatan Dinasti!”

“Kaisar bisa bicara untuk dirinya sendiri!” balasku berang.

“Baginda Yang Mulia terlalu takut pada ibunya untuk bicara terus terang.”

Aku meminta Mutiara untuk berhenti mempermalukan dirinya sendiri. “Aku mengerti tekanannya terlalu berat untuk kau tanggung. Aku berjanji untuk mendengarkan begitu kita keluar dari kota dan tiba di tempat yang lebih aman.

“Tidak!” bentak Mutiara. “Kaisar Guanghsu dan aku ingin meminta agar kami ditinggalkan.”

“Selir Mutiara! Apa yang kau—“

Sebelum aku bisa menyelesaikan katakataku, sebuah mortir meledak di tengah pekarangan. Bumi bergetar. Kedua sayap dari atap istanaku roboh.

Di bawah kepulan debu, kasimkasim dan dayang-dayangku berteriak dan berlari untuk sembunyi.

Mutiara dan aku berdiri berhadapan di pusat pekarangan, terselubungi debu. Guanghsu berdiri beberapa meter dari kami, tampak bingung dan dicekam rasa bersalah. Aku sadari apa yang dipikirkan Mutiara: dia meyakini kekuatan Barat datang untuk menyelamatkan Guanghsu. Bagi Mutiara, kepergianku berarti pengembalian kekuasaan Guanghsu.

Dalam situasi lain, aku akan mempertimbangkan permintaan Mutiara. Aku bahkan mungkin akan mengagumi kenekatannya. Tetapi untuk saat ini, yang bisa kulihat hanyalah kurangnya pemahaman dan pengertian atas keselamatanku dan putraku.

Aku merasa sedikit iba pada Mutiara karena dia meyakini kekuatan karakter yang tak ada dalam diri Guanghsu. Dia melihat diri suaminya dalam sosok impiannya, dan bukan sosoknya yang sesungguhnya.

“Bawa dia bersama kita,” kusuruh Li Lienying.

Beberapa kasim mulai mengikat Mutiara. Dia meronta, memanggil Guanghsu untuk menolongnya.

Guanghsu hanya memandangnya sedih.

“Guanghsu,” teriak Mutiara, “kau adalah penguasa Cina, bukan ibumu! Kekuatan Barat telah berjanji untuk memperlakukanmu dengan penuh hormat. Bela dirimu sendiri!”

Li Lienying mengosongkan kereta dan kasimkasim itu memasukkan Mutiara ke dalamnya seperti sekarung beras.

Kuperintahkan anakku untuk menaiki tandunya, dan dia menuruti.

Sekali lagi, kami mulai berangkat.

Asap memenuhi udara. Pancipanci dan tutupnya bergemerencing keras selagi pembawanya berjalan cepat menuju gerbang.

Kasimkasim mendorong kereta sementara dayangdayang berjalan di sisinya, mengangkut bawaanku dengan keranjang dan tas katun.

Kami tak berhasil berjalan jauh. Sebelum kami mencapai gerbangku sendiri, Mutiara membebaskan diri dari kereta dan berlari menuju tandu Guanghsu. Dia menarik tirainya dan membenturkan kepalanya ke sisi tandu hingga menjatuhkan salah seorang penandu.

Kuhentikan tanduku dan meneriakkan namanya. Kujelaskan bahwa dia tak akan ditinggalkan.

Gadis itu mencium tumit Guanghsu dan sejurus kemudian, dia berlari kembali ke Kota Terlarang.

Li Lienying berusaha mengejarnya.

“Tinggalkan dia sendiri!” teriakku.

“Yang Mulia, Mutiara berlari ke arah Gerbang Timur, tempat pasukan asing berada.”

“Biarkan saja,” ucapku.

“Dia bisa diperkosa oleh tentara asing!”

“Itu pilihannya.”

“Yang Mulia, Putri Mutiara mungkin juga bermaksud menerjunkan dirinya ke dalam sumur.”

Dengan tak masuk akal, kuperintahkan tandutandu kami untuk berbalik arah. Kami mengikuti Mutiara, kembali ke kota, menuju ke arah sumur. Kami tak cukup cepat. Di depan mataku, Mutiara meloncat. Tetapi bukaan sumur itu terlalu kecil. Mutiara berusaha menggunakan berat tubuhnya sendiri untuk menarik seluruh tubuhnya ke bawah.

“Guanghsu!” aku berteriak.

Bersembunyi di balik tandunya, anakku tak bereaksi. Dia tidak tahu apa yang terjadi, atau tidak mau tahu.

Menggunakan sebuah belati, Li Lienying memotong lepas tongkat bambu terpanjang dari tanduku. Dengan bantuan kasimkasim lain, tongkat itu diturunkan ke bawah sumur.

Li Lienying melontarkan seutas tali.

Tetapi Mutiara bertekad meneruskan niatnya.

Li Lienying mengutuki dan mengancam. Kasimkasim lain menyalakan bolabola api dan melemparkannya ke sumur, berusaha mengasapi gadis itu agar keluar.

“Biarkan saja dia melakukan keinginannya!” Kaisar Guanghsu berteriak dari dalam tandunya.


Dengan aksi bunuhdiri Mutiara dalam benak semua orang, kami memulai perjalanan sejauh seribu seratus kilometer ke arah barat laut dan sepanjang Tembok Besar. Kami mendorong kereta kami dan berjalan. Guanghsu menangis dan menolak diriku yang hendak menghiburnya.

Aku tak habis pikir apa yang akan terjadi jika aku mengizinkan Mutiara melakukan keinginannya. Tak akan berhasil, kusimpulkan. Begitu kekuatan asing itu berhasil “menyelamatkan ”Guanghsu dan menjadikannya sebagai sandera, kami akan kehilangan dasar untuk bernegosiasi. Aku akan dipaksa untuk menyerahkan segalanya sebagai ganti nyawaku atau putraku akan dipaksa untuk memerintahkan eksekusiku.

“Aku tak akan bertahan, bagaimana pun,” Guanghsu akan mengatakan padaku kemudian.

Akan tetapi, pikiranku kembali pada Mutiara selagi membayangkan hal lain yang bisa kukatakan padanya. Dia dan aku memiliki impian yang sama bahwa anakku dan suaminya memiliki kekuatan dalam dirinya untuk berubah. Aku telah berusaha keras melakukan transformasi itu sejak hari pertama aku mengangkatnya. Aku telah mengenalkan Guanghsu pada ideide Barat dan kekagumannya terhadap budaya Barat menjadi kebanggaanku. Tetapi kemudian aku akan berpikir bahwa itu saja tak cukup.

Aku juga bisa saja memberitahukan Mutiara bahwa ada kebenaran yang diketahui seorang ibu terhadap anaknya yang tak akan bisa dibaginya pada orang lain. Fakta bahwa aku bangga pada Guanghsu tidak berarti aku tidak tahu akan batasannya. Aku telah menantang kemampuannya sebisa mungkin. Menyerahkan diriku sepenuhnya atas upaya reformasinya merupakan keputusan pribadi yang kuambil sendiri. Aku telah melontarkan dadunya, bersiap kehilangan segalanya, dan itulah yang terjadi.

Memercayai bahwa anakku dapat mengalahkan kecerdikan seorang Ito Hirobumi merupakan kelemahanku. Membiarkan Guanghsu menunjuk Kang Yuwei sebagai Kepala Menterinya juga merupakan bagian dari kesalahanku. Aku sudah tahu bahwa Kang bukanlah orang sebagaimana yang dia tampilkan, tetapi aku menuruti untuk menyenangkan putraku.

Aku telah dihancurkan oleh penderitaan anakku. Dia tak dapat menerima kegagalannya sendiri, yang kuanggap lebih besar bagian kesalahanku daripadanya. Jika pun aku harus terbunuh atas perintah anakku sendiri, aku akan menganggapnya sebagai takdirku karena aku tahu betapa besar rasa cintanya padaku.

Akan tetapi, hal terpenting yang seharusnya kukatakan pada Mutiara adalah bahwa anakku, suaminya, tengah menghadapi kekuatan di luar kendali dirinya: beban tradisi, kebutaan, kerakusan kekuasaan, dan sejarah itu sendiri. Kekayaan besar Cina dan keagungan peradabannya telah membuatnya begitu puas diri dan tidak siap dengan perubahan. Jepang yang miskin kekayaan alam telah dipaksa untuk berkembang, maju, dan memodernisasi negaranya; Kaisar Jepang sekadar mengarahkan jalan pada rakyatnya yang telah siap. Cina telah dikalahi dan memerlukan perubahan, tetapi tak mungkin seorang Kaisar sendiri dapat menggerakkan bangsanya yang baru saja terbangun akan pentingnya perubahan. Tidak akan bisa dilakukan seorang lelaki sendiri—upaya perubahan itu telah menumbalkan banyak nyawa: suamiku, putraku, Pangeran Kung, yang lain, dan aku takut korban selanjutnya akan segera menyertakan putraku yang lain.

Selama beberapa minggu berikutnya, kami berjalan siang dan malam. Jika kami cukup beruntung untuk sampai di kota sebelum malam tiba, aku bisa tidur di atas ranjang. Sering kali, kami harus bermalam di tengah lapangan dan hutan dengan serangga mengerubungiku.

Walaupun Li Lienying memastikan bahwa aku tertutup rapat dari kepala hingga ujung kaki, leher dan wajahku tetap digigiti. Satu bekas gigitan membengkak, hingga aku terlihat seperti memiliki telur yang tumbuh dari daguku. Aku telah memanagil Li Hungchang untuk memulai negosiasi dengan pihak asing, tetapi diberi tahu bahwa dia belum meninggalkan Kanton.

Ada dua alasan mengapa Li Hungchang melambatkan upayanya, Yung Lu meyakini. “Pertama, dia beranggapan bahwa negosiasi itu merupakan tugas yang mustahil. Kedua, dia tidak ingin bekerja dengan Ikuang.”

Aku mengerti keengganannya. Aku memilih Ikuang karena Penasihat Klan Manchu mendesak agar memasukkan salah seorang dari mereka untuk “memimpin” Li.

“Ikuang tidak efektif dan korup,” ujar Yung Lu. “Saat kutanyakan dirinya, dia mengeluhkan tentang cara Li mendikte dirinya dan menyalahkan yang lain karena ‘memaksakan hadiahhadiah' pada dirinya”.

Yung Lu dan aku merasa frustrasi karena yang bisa kami lakukan hanyalah membahas kemalangan kami. Kukatakan padanya bahwa Ratu Min mengunjungiku dalam mimpi. Mimpi itu dimulai dengan dirinya bangkit dari tumpukan api setinggi dua tingkat. “Kemudian dia duduk di sisi tempat tidurku dengan pakaiannya yang hangus terbakar. Dia memberi tahuku caranya selamat dari api. Dia sepertinya tak sadar bahwa dirinya sudah setengah daging dan setengah rangkatulang. Aku tak bisa memahami satu pun katakata yang diucapkannya karena dia tidak punya bibir.”

Yung Lu berjanji akan selalu di dekatku.

Beberapa hari kemudian, Yung Lu mengetahui alasan sebenarnya mengapa Li Hungchang begitu lambat datang. “Pihak Sekutu memiliki daftar nama orangorang yang mereka yakini bertanggung jawab atas kerusakan kedutaankedutaan. Mereka menuntut penangkapan dan pemberian hukuman sebelum negosiasi dilangsungkan.”

“Apa Li Hungchang tahu tentang adanya daftar itu?” tanyaku.

“Ya. Bahkan dia memilikinya, tetapi dia takut untuk memberikannya padamu sendiri. Ini salinannya.”

Aku memasang kacamataku untuk membacanya. Walaupun sudah kuduga sebelumnya, aku masih saja terkejut: namaku adalah yang pertama tertera di daftar.


Yung Lu menduga bahwa Li Hungchang juga enggan datang untuk membantu Guanghsu kesekian kalinya. Kaisar telah berkalikali menjadi penyebab kepergian terpaksa Li, yang mengakibatkan kerugian finansial dan politik yang hebat baginya. Lawanlawan dan musuh-musuhnya, kebanyakan para Pangeran Manchu, perlahan telah mengambil alih kepemilikan industri utamanya, termasuk Perusahaan Navigasi Uap Pedagang Cina, Administrasi Telegram Kerajaan, dan pertambangan Kaiping.

Setelah tak mengacuhkan beberapa panggilanku, yang menjanjikan pengembalian jabatan aslinya dan kepemilikan bisnisnya, Li pindah ke Shanghai selama beberapa minggu, menyebutkan bahwa usia tua dan penyakit telah melambatkannya. Yung Lu mendesaknya dengan mengatakan bahwa sebuah dekrit hukuman telah disusun dengan daftar nama yang diminta pihak asing.

Setelah lebih banyak lagi panggilan kulakukan yang menuntut kehadirannya, Li Hungchang tiba di T’ientsin pada 19 September. “Hingga publikasi dari dekrit dikeluarkan, tak banyak yang bisa kulakukan,” bunyi pesannya pada Yung Lu.

Anehnya, saat ini, kemungkinan akan kematianku tidak lagi terasa mengancam bagiku. Ide itu lebih muncul sebagai bahan negosiasi.

“Apa kaukira Li Hungchang benarbenar mengharapkanku untuk menyerahkan diri kepada pihak Sekutu?” tanyaku pada Yung Lu.

“Tentu saja tidak. Apa yang akan dilakukan Li tanpamu?”

“Lalu, apa yang diinginkannya?”

“Dia menggunakan momen ini untuk memastikan bahwa kau tidak menyerah pada musuhmusuhnya, terutama Pangeran Ts'eng Junior dan Jenderal Tung.”


Angin kuat dari utara meniupi padang rumput, membuat tandutandu kami tampak bagai perahuperahu kecil yang mengambang di atas ombak hijau. Boxers telah merusak musim tanam dan kami tak bisa memperoleh bantuan sedikit pun karena para petani telah melarikan diri.

Kami terus bergerak maju ke utara dan memasuki pedalaman, diburu oleh pihak asing. Kami telah berjalan dengan susah payah menyusuri jalanjalan berdebu yang tak rata selama lebih dari sebulan. Cerminku pecah dan aku hanya bisa mengirangira bagaimana rupaku. Guanghsu dipenuhi debu dan dia tak lagi merasa perlu mencuci mukanya. Kulitnya pucat dan kering. Rambut kami berbau busuk dan kulit kepala kami gatal. Pakaianku ditumbuh kutu dan hama lain. Suatu pagi, aku membuka rompiku dan menemukan ratusan telur sebesar biji wijen di dalamnya. Telurtelur yang kecil tampak melekat pada rompinya maka kusuruh Li Lienying membakarnya. Aku tak lagi memedulikan kondisi rambutku. Kurendam kepalaku dalam air garam dan cuka, tetapi kutukutu itu tetap berdatangan. Saat aku bangun di pagi hari, aku akan melihat kutukutu dari rambutku terjatuh ke kasur jeramiku. Kami tidur di mana saja kami bisa, satu malam di kuil terbengkalai, malam lainnya di gubuk tanpa atap dengan ranjang batu bata.

Guanghsu jijik saat dia melihat Li Lienying menyisir keluar telurtelur kutu yang menempel di rambutku. Kaisar mencukur habis rambutnya dan mengenakan rambut palsu saat audiensi pengganti diadakan. Sulit bagi kami menjaga sikap saat menerima para menteridorongan untuk menggaruk sangat kuat. Aku memaksakan diri tersenyum. Aku melihat keanehan dari semua hal ini; Guanghsu tidak.

Musim hujan mendatangkan badainya. Tandutandu kami bocor dan Guanghsu serta aku segera kebasahan. Perjalanan ini mengingatkanku akan pengasingan pertamaku menuju Jehol bersama Kaisar Hsien Feng. Aku tak ingin memikirkan masa depan.

Pada 25 September, dekrit hukuman pertama dari Kaisar akan dipublikasikan. Aku telah menderita dari rasa penyesalan. Pangeran Ts'eng dan Jenderal Tung datang untuk memberi tahuku bahwa mereka mengerti akan alasan tindakan yang harus kuambil. Aku diharuskan menyerahkan mereka pada Sekutu, sebuah prasyarat untuk membebaskanku dari tanagung jawab.

“Aku tak bisa memerintahkan pemenggalan mereka,” ujarku pada Yung Lu. “Pangeran Ts'eng adalah saudara sedarah dan pasukan Jenderal Tung telah melindungi keselamatanku.” Aku mendesah. “Apa yang terjadi pada Ratu Min cepat atau lambat akan terjadi pula padaku.”

“Li Hungchang telah mendapatkan apa yang dia inginkan dan akan menemukan jalan untuk menyelamatkanmu,” ujar Yung Lu.


Pagi hari, kasimku menemukan sebuah telur bebek di dalam lemari di rumah yang ditinggalkan. Guanghsu dan aku girang. Li Lienying merebus telur itu dan Guanghsu serta aku mengupas kulit telur itu hatihati dan memakannya segigitsegigit, mengorek habis cangkangnya hingga bersih. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Kami telah kekurangan makanan dan bertahan dengan seporsi kecil bubur gandum. Itu membuat kami makin kelaparan. Dengan telur itu, kami merayakan kedatangan Li Hungchang di Peking yang telah dinantikan sejak lama; dia telah berada di T’ientsin selama tiga minggu. Aku akan memastikan dia mengetahui tentang semua hama yang telah kutemui sepanjang perjalanan.

Akhirnya, negosiasi dibuka. Teman kami, Robert Hart, berperan sebagai penengah. Li Hungchang membuat kemajuan signifikan dengan meyakinkan kekuatan asing bahwa “ada lebih dari satu cara untuk memotong melon” dan bahwa menurunkanku dan pemerintahanku tidak hanya akan mencegah bangsa asing menarik keuntungan lebih banyak dari Cina, tetapi juga akan memicu kerusuhan, yang akan menimbulkan lebih banyak aksi pemberontakan.

Kekuatan asing ingin membagibagi Cina, tetapi Li memberi dalih pada mereka bahwa Cina terlalu luas, populasinya terlalu banyak dan homogen sehingga pemisahan Cina tak akan efektif, dan bahwa rencana membentuk pemerintahan republik akan terlalu asing bagi Cina.

Guanghsu tampak menghargai upaya Li Hung-chang. Saat dia mulai memanggil Li dengan jabatan lamanya sebagai Gubernur Chihli, aku menangis karena tidak ada hal lain yang lebih menenangkanku daripada sikap ampunan Guanghsu terhadap salah seorang dari “orang lamanya”. Lagi pula, kekuasaan Barat dan kekuatan mfliter mereka telah menginjak tanah kami dan Guanghsu bisa saja memanggil mereka untuk membantunya menyatakan kebebasannya.


 Baca Kelanjutannya....


Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified