Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 8


33



REFORMIS ITU MENGHABISKAN malammalamnya di Kota Terlarang dan mendiskusikan implementasi dari rencana reformasi dengan Kaisar”—harian asing mencetak kebohongankebohongan Kang Yuwei setiap harinya. Siapa pun yang kenal dengan hukum Kerajaan akan tahu bahwa rakyat biasa tak akan dapat bermalam di Kota Terlarang. Barulah saat aku membaca “Solusi untuk reformasi Cina adalah penyingkiran janda Kaisar dari kekuasaan untuk selamanya,” aku baru memahami niatan Kang Yuwei.

Aku tak ingin membiarkan dunia berpikir bahwa Kang merupakan ancaman bagiku atau bahwa dia memiliki kekuasaan untuk memanipulasi anakku. Kebohongan-kebohongannya akan dibongkar begitu anakku memantapan posisinya dan aku sudah mundur sepenuhnya. Warga dunia akan melihat dengan mata mereka sendiri akan apa yang selama ini kurencanakan.

Aku menyenangkan hatiku sendiri dan mulai mengenakan rambut palsu. Berkat Li Lienying, yang sudah terlatih sebagai penata rambut, aku bisa tidur setengah jam lebih banyak pada pagi hari. Rambut palsu buatannya begitu mewah dengan hiasanhiasan cantik dan nyaman dikenakan.

Pada Juni, aku memutuskan untuk kembali ke Istana Musim Panas. Walaupun aku senang tinggal dengan Guanghsu di Yingfai, paviliun pulau kami yang tak jauh, kusadari bahwa dia perlu keluar dari lingkup pengawasanku. Guanghsu tak pernah menunjukkannya, tetapi aku tahu dia tidak menyukai fakta bahwa para kasimku dapat melihat semua orang yang masuk dan keluar dari ruangannya. Guanghsu khawatir memperlihatkan temantemannya ke TopiBesi, yang hanya ingin mencelakakannya. Aku mengerti bahwa Kaisar memiliki alasan untuk khawatir: kasimkasimku bisa disuap untuk mengkhianati siapa pun.

Golongan konservatif Istana tidak senang dengan kepindahanku karena mereka mengharapkan aku akan mematamatai Kaisar untuk mereka. Aku tahu bahwa anakku menyadari niatku, tetapi dia memercayaiku meski kami terus saja berselisih. Membiarkan Guanghsu dengan caranya sendiri berarti memberikan kepercayaan penuh padanya yang merupakan bantuan terbesar yang bisa kuberikan.

Pada malammalam hari, setelah aku selesai mandi, Li Lien-ying akan menyalakan lilinlilin dengan wangi vanila. Selagi aku membaca laporan terbaru Guanghsu, kasimku duduk di kaki tempat tidurku dengan keranjang bambu berisikan peralatannya. Di sana, dia akan mulai mengerjakan rambut palsu baruku. Ketika mataku mulai letih membaca, aku memandangnya menjahitkan perhiasan, potonganpotongan kaca, dan giok berukir ke rambut palsu itu. Tak seperti Antehai, yang mengekspresikan dirinya dengan menantang nasibnya, Li Lienying menemukan ekspresi dengan membuat rambut palsu. Beberapa tahun setelah Antehai terbunuh, aku begitu kesepian dan depresi, bahkan menduga Li Lienying memiliki peran dalam kematiannya. “Kau cemburu pada Antehai,” aku pernah menuduhnya. “Apa kau diamdiam memantramantrainya agar kaubisa menggantikannya?” Kukatakan pada Li Lienying bahwa dia tak akan mendapatkan apa yang diinginkannya jika kuketahui bahwa dia terlibat dalam pembunuhan Antehai.

Kasimku membiarkan rambut palsunya berbicara atas dirinya. Dia tak pernah menaruh sakit hati akan cara-caraku yang sering kali penuh emosi. Baru saat aku melihat bagaimana rambut palsunya telah membantu penampilanku, aku mulai benarbenar memercayainya. Setelah menginjak usia enam puluh, semakin sulit bagiku untuk memenuhi ekspektasi agar penampilanku menyerupai sosok Dewi Kuanyin. Li Lienying telah menolongku dengan banyak cara, yang membuatnya sebanding dengan Antehai.

Saat kutanyakan mengapa dia masih tahan denganku, dia menjawab, “Mimpi terbesar seorang kasim adalah dirindukan oleh Tuannya setelah kematiannya. Sungguh menenangkanku melihat Yang Mulia belum juga bisa melupakan Antehai. Itu artinya kau akan merindukanku juga jika aku mati esok.”

“Aku khawatir kau mesti terus hidup untuk menampilkan rambutrambut palsumu yang indah,” godaku. “Aku begitu miskin sampaisampai rambut palsu ini mungkin hanya akan jadi satusatunya barang yang bisa kutinggalkan untukmu saat aku mati.”

“Tak ada keberuntungan yang melebihi itu, Tuan Putri.”


Pada saat bunga wisteria memanjat teralis, aku masih belum juga bisa mundur. Ketidakmampuan Guanghsu menggunakan kekuasaannya pada Dewan Istana membuat posisinya begitu rentan. Dia telah membuat musuh dengan setiap anggota senior dari orang lama Istana dan para penasihat barunya tak memiliki pengaruh politik ataupun kekuasaan militer untuk mengambil tindakan efektif Tak ada langkah kritis reformasi yang telah dijalankan dan tampaknya seluruh program perubahan Guanghsu mulai menuju penghabisannya.

Aku akan kehilangan semuanya jika reformasi Guanghsu salah dijalankan. Aku akan dipaksa untuk menggantikannya dan itu akan mengorbankan masa tenang pensiunku—aku harus memulai segalanya dari awal lagi, memilih dan membesarkan seorang bayi lelaki lagi yang kelak akan memerintah Cina.

Yang memicu rasa frustrasiku juga adalah menyadari bahwa konsekuensi pemecatan Li Hungchang mulai menampakkan akibatnya. Harapan akan industrialisasi negara mulai menemukan kebuntuan. Semua orang menanti Li Hungchang, satusatunya orang dengan koneksi dalam dan luar negeri yang diperlukan untuk mengerjakannya.

Yung Lu melanjutkan tugasnya di medan militer, tetapi hanya karena aku turut campur pada menitmenit akhir untuk menghentikan anakku dari memecatnya. Di bawah pengaruh sihir sang Reformis, tindakantindakan Guanghsu menjadi lebih radikal. Makin sulit untukku mengikuti jalan pikirannya.

Kaisar terus menyatakan bahwa kemajuan reformasi terhambat oleh Yung Lu dan Li Hungchang. “Tetapi di atas segalanya,” ucapnya dengan air mata kemarahan menggenangi matanya, “itu karena bayangan Ibu masih duduk di balik tirai!”

Aku tak lagi menjelaskan. Aku tak bisa lagi membuat Guanghsu menyadari mengapa aku harus tetap terlibat. Aku telah memberinya izin untuk memecat Li Hungchang, tetapi dengan segera mulai menyiapkan rencana untuk kepulangannya kembali. Hanya masalah waktu saja sebelum Kaisar menyadari bahwa dia tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa peran Li dan perlu membenahi hubungan dengannya, sebagaimana pula dengan Yung Lu. Aku akan berfungsi sebagai perekatnya agar tak ada pihak yang akan berisiko kehilangan muka dan reputasi. Nyatanya, betapapun anakku telah membuat mereka marah dan terhina, kedua lelaki itu selalu kembali.


“Kegagalan dari bendungan sepanjang ribuan kilometer berawal dari satu koloni semut.” Itulah bunyi pesan dari Li Hungchang pada musim gugur 1898, yang memperingatkanku akan konspirasi asing untuk menyingkirkanku. Tujuan mereka adalah untuk menjadikan Guanghsu sebagai raja boneka.

Aku tak bisa mengatakan bahwa aku terkejut. Aku sadar bahwa anakku telah begitu larut dengan visinya akan Cina baru yang diwujudkan oleh tangannya sendiri. Namun, aku tetap memilih untuk berpurapura tak aculi karena aku tak sanggup lagi bertengkar dengannya. Aku hanya ingin menyenangkannya agar dia tak akan berpikiran macammacam selain menyadari rasa cintaku.


Saat aku tengah mengagumi goyangan bungabunga teratai diterpa semilir angin di Sungai Kun Ming, sang Reformis Kang Yuwei diamdiam mengontak fenderal Yuan Shihkai, tangan kanan Yung Lu di militer. Aku tak tahu bahwa izin Guanghsu akan “akses tak terbatas di Kota Terlarang” menjamah hingga ke kamar tidurku.

Seminggu setelah serangan keji terhadapku di sebuah surat kabar asing, aku menerima surat resmi dari Guanghsu. Melihat segel yang begitu kukenal dan membuka amplopnya, aku tak percaya dengan apa yang kubaca: sebuah permintaan untuk mernindahkan ibu kota ke Shanghai.

Aku tak bisa tetap tenang. Kupanggil anakku dan mengatakan padanya bahwa dia harus memberiku satu alasan bagus atas ide gilanya.

“Feng shui di Peking bekerja menentangku,” adalah yang hanya bisa dia katakan.

Aku mencoba menghentikan kata keras “Tidak”, bergulir dari dadaku.

Guanghsu berdiri di depan pintu seolah bersiapsiap melarikan diri.

Aku berjalan mengitari ruangan, kemudian berputar untuk menatapnya. Sinar matahari menerpa jubahnya, membuat aksesorisnya berkilauan. Dia tampak pucat.

“Tatap mataku, anakku.”

Dia tak bisa. Dia hanya memaku tatapannya ke lantai.

“Dalam sejarah,” ujarku, “hanya seorang Kaisar di tengah keruntuhan dinastilah, seperti Soong, yang memindahkan ibu kotanya. Dan hal itu juga tak mampu menyelamatkan dinastinya.”

“Aku memiliki tamu audiensi yang sedang menunggu,” ucap Guanghsu datar. Dia tak lagi ingin mendengarkan. “Aku harus pergi.”

“Apa yang akan kaulakukan terhadap inspeksi militer T’ientsin? Itu sudah dijadwalkan.” Aku memburunya hingga ke gerbang.

“Aku tak akan pergi.”

“Kenapa? Kau bisa mengetahui apa yang sedang dikerjakan Yung Lu dan Jenderal Yuan Shihkai.”

Guanghsu berhenti. Dia memutar tubuhnya dalam sudut yang ganjil dan tangannya mengarah ke tembok. “Tentu Ibu akan pergi, bukan?” Dia menatapku dengan tegang, mengedipkan matanya. “Siapa lagi? Pangeran Ts'eng? Pangeran Ch'un Junior? Siapa lagi?”

“Guanghsu, ada apa denganmu? Itu adalah idemu.”

“Berapa banyak orang yang pergi?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku ingin tahu!”

“Hanya kau dan aku.”

“Mengapa T’ientsin? Mengapa inspeksi militer? Apakah ada sesuatu yang ingin Ibu kerjakan di sana?” Wajanya hanya sekian inci dariku. “Ini hanya bikinbikinan, bukan?”

Seolah tibatiba dicengkeram rasa takut, tubuh Guanghsu mulai bergetar. Dia menahan dirinya dengan menekan tubuhnya ke tembok seolah sedang berusaha mengalahkannya. Momen ini membawaku kembali ke masa kecilnya saat dia pernah berhenti bernapas ketika mendengarkan cerita hantu.

“Ini alasan kepergianku,” ujarku. “Pertama, aku ingin mengetahui jika pinjaman asing yang kita ambil telah digunakan benarbenar untuk pembelanjaan pertahanan kita. Kedua, aku ingin menghargai para pasukan kita. Aku ingin seluruh dunia, terutama jepang, tahu bahwa Cina akan segera memiliki kekuatan militer yang modern.”

Guanghsu tetap tegang, tetapi dia akhirnya membiarkan dirinya bernapas.

Dibutuhkan waktu sepuluh hari baginya untuk menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Para penasihatnya mengatakan padanya bahwa aku telah berencana menggunakan acara militer untuk menggulingkannya dari takhta. “Mereka mengkhawatirkan keselamatanku.”

Aku tertawa. “Jika pun aku ingin menggulingkanmu, akan lebih mudah bagiku untuk melakukannya dari dalam Kota Terlarang sendiri.”

Guanghsu menyeka keringat dari wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku tak ingin mengambil kesempatan itu.”

“Seperti yang kauketahui, sudah ada proposal diajukan terkait dengan penggantianmu.”

“Apa yang kaupikirkan tentang proposalproposal itu, Ibu?”

“Apa yang kupikirkan? Apa kau masih duduk di Kursi Naga?”

Guanghsu memandang ke bawah, tetapi berkata dengan jelas: “Sikap Ibu mendengarkan TopiBesi membuatku cemas bahwa Ibu akan mengubah pikiran tentangku.”

“Tentu saia kudengarkan. Itu harus kulakukan untuk bertindak adil. Aku harus mendengar atau setidaknya berpurapura mendengarkan semua orang. Itulah caraku untuk melindungimu.”

“Apakah Ibu akan mengikuti ide Pangeran Ts'eng?”

“Itu bergantung. Aku akan tampak bodoh jika itu harus terjadi. Aku ingin dunia berpikir bahwa aku tahu apa yang kulakukan saat aku memilihmu sebagai Kaisar Cina.”

“Dan memindahkan ibu kota ke Shanghai?”

“Siapa yang akan bertanggung jawab atas keselamatanmu di Shanghai? Lagi pula itu lebih dekat dengan Jepang. Pembunuhan Ratu Min dan penembakan Li Hungchang tentu bukan kecelakaan.”

“Itu tak akan terjadi padaku, Ibu.”

“Apa yang akan kulakukan jika itu terjadi? Aku hanya tahu apa yang akan diminta Jepang sebagai ganti nyawamu. Ito akan berhasil memperoleh kemegahan arsitektur dari Kota Terlarang.”

“Kang Yuwei telah menjamin keselamatanku.”

“Memindahkan ibu kota ke Shanghai adalah ide buruk.

“Aku telah menjanjikan Kang Yuwei untuk melakukan apa pun yang dirasa perlu demi menyukseskan reformasi.”

“Biarkan aku menemui Kang Yuwei sendiri. Sudah waktunya.”


Sambil berlutut, Guanghsu memohon izin untuk mengakhiri hidupnya. Dia sedang mengenakan piamanya. Dia bahkan belum selesai menggosok giginya. Bibirnya putih oleh pasta gigi.

Melihat dirinya, aku harus mengalihkan wajahku dan menghela napas. Akhirnya, aku bangkit dari dudukku, kembali ke kamarku dan menutup pintu. Harihari berlalu dan aku jatuh sakit. Perutku serasa terbakar. Lidahku meradang dan terasa sakit untuk menelan.

“Bagian dalam tubuh Yang Mulia terbakar.” Tabib Sun Paot’ien menyarankan agar aku tetap berbaring di ranjangku. “Minumlah hanya sup bijiteratai untuk meredakannya. “

Aku sedang demam dan tak memiliki keinginan untuk sembuh.

Permaisuri Lan tiba, mata dan pipinya merah dan bengkak. Dia melaporkan bahwa Guanghsu telah berencana bunuh diri.


Walaupun nyaris tak bisa duduk tegak, aku mengantarkan diriku ke anakku. Aku ingin dirinya menjelaskan padaku alasannya.

“Aku mungkin tak sabar, marah. Dan benar, aku ingin memecat Yung Lu dan menghilangkan kekuasaanmu,” ujar Guanghsu, “tetapi aku tak pernah berpikir untuk mengambil nyawamu.” Dia merogoh bagian dalam jubahnya dan menyorongkan beberapa lembar kertas. “Ini dekritku untuk menahan dan memenggal Kang Yuwei dan komplotannya.”

“Bagaimana kaujelaskan tindakan mereka?” tanyaku.

“Aku tak tahu mengapa proyek reformasiku bisa berubah menjadi rencana pembunuhan. Kang mengajukan satu hal dan melakukan yang lain. Aku bersalah dan pantas mati karena telah memercayainya.”

Guanghsu lebih putus asa daripada marah. Aku ber harap dia akan membela dirinya sendiri dan menyatakan ketidaksalahannya. Meskipun tak akan pernah menemukan kebenarannya, aku perlu memercayai bahwa dia telah dikelabui. Jauh di lubuk hatiku, aku tahu anakku telah dimanfaatkan.

Binar terang di mata Dewi-Kz Guanghsu menghilang. Kaisar menghabiskan berharihari berlutut memohon padaku untuk memberinya kematian. “Agar negara bisa terus berjalan,” ujarnya dan menangis. “Agar kau bisa terus berjalan. Bukan Kang Yuwei yang mengundang dirinya sendiri ke Kota Terlarang, tetapi aku.”

Dia begitu terluka, matanya cekung, dan punggungnya membungkuk. “Aku muak pada diriku sendiri dan muak akan hidup. Berikan maaf dan belas kasihmu, Ibu.”

Sebelum memiliki kesempatan untuk mengeluarkan amarahku sendiri, aku dipaksa menghadapi kesedihan Guanghsu. Dia menolak makan dan minum. Ceceran darah ditemukan di tempolongnya.

“Baginda Kaisar ingin menghukum dirinya sendiri dengan berat,” ujar Tabib Sun Paot’ien. “Dia ingin sekali mati. Aku sudah pernah melihat hal ini pada pasienpasien sebelumnya. Sekalinya keputusan telah dibuat, tak ada yang bisa menghentikan mereka.”


Perintah untuk menangkap Kang Yuwei dan komplotannya, yang ditandatangani oleh Guanghsu, memicu huru-hara di tengah masyarakat. TopiBesi dan golongan konservatif Istana mengambil tempat duduk mereka di Balairung Hukuman, tempat proses pengadilan akan segera dimulai. Mereka telah siap menegangkan otototot mereka dan memberikan pelajaran brutal.

“Golongan moderat akan terancam begitu proses pengadilan dibuka,” ujar Yung Lu. “Namanama mereka, sekalinya diungkapkan, akan selalu dikaitkan dengan para reformis. TopiBesi sedang mengincar darah.”

Baik Yung Lu dan aku cemas akan munculnya konfrontasi bersenjata. Kami menerima informasi mengenai rencanarencana kerusuhan yang dihasut oleh TopiBesi.

Kerusuhan itu akan dipimpin oleh fenderal Tung dari pasukan Muslim. Tung menerima perintahnya dari Pangeran Ts'eng—dan dia bukanlah orang yang memihak Kaisar.

“Di mana pasukan Jenderal Tung sekarang?” tanyaku.

“Mereka sedang berkemah di pinggir Selatan Kota Peking. Jika konfrontasi terjadi, mereka akan berkuda melintasi jalanjalan Peking. Aku khawatir pada kedutaan Inggris dan Amerika.”

“Bisa kubayangkan Jenderal Tung mengundang dirinya sendiri ke Kota Terlarang. Pangeran Ts'eng sudah tak sabar menanti kesempatan untuk mengintimidasiku. Dia akan memaksaku untuk menggulingkan Guanghsu dari kekuasaan.”

“Itulah yang juga kuperkirakan,” ucap Yung Lu.

“Sebuah tourniquet [ Alat bantu terakhir untuk menghentikan pendarahan, biasanya berupa bahan balutan kuat yang mengikat antara pusat luka dan jantung, dan dipilin dengan semacam tongkat. ] yang menyakitkan harus dikenakan untuk menghentikan pendarahan kritis ujarku pada Yung Lu. “Berikan padaku namanama orang yang harus dieksekusi dan kupastikan Kaisar akan menandatanganinya. Aku harap itu akan membantu menghentikan ketidakpuasan rakyat yang menyulut kerusuhan terjadi.”


Para sejarawan masa depan secara bulat menuduhku sebagai “penjahat dengan kekuasaan besar dan berdedikasi pada halhal keji” saat mengacu pada reformasi yang direncanakan oleh Guanghsu, yang akan disebut sebagai Seratus Hari—menghitung dari tanggal dekrit pertamanya hingga yang terakhir.

Pada 28 September 1898, hanya selang sehari sebelum proses pengadilan dilangsungkan, prosedur itu terpaksa dihentikan ketika kabar tentang pembebasan diri Kang Yuwei datang—dia telah diselamatkan oleh agen militer Inggris dan Jepang yang beroperasi di belakang layar. Khawatir akan adanya “penyelamatan internasional” lebih banyak, Guanghsu mengeluarkan dekrit tentang pemenggalan enam tahanan, termasuk saudara Kang Yuwei, Kuangjen. Mereka nantinya dikenal sebagai Enam Martir Seratus Hari.

Yang bisa kukatakan dalam membela anakku adalah bahwa pengorbanan itu dilakukan untuk mencegah terjadinya tragedi yang jauh lebih besar. Pemenggalan itu berfungsi sebagai pernyataan jelas akan posisi Kaisar Guanghsu dan membuktikan bahwa dia bukan lagi ancaman bagiku. Sebagai hasilnya, Jenderal Tung yang sebenarnya sangat independen dari Pangeran Ts'eng menarik mundur pasukan Muslimnya seratus tiga puluh kilometer ke Timur Peking, yang artinya kemungkinan terjadi kericuhan, atau bahkan pembunuhan, di kedutaan Inggris dan Jepang telah disingkirkan.

Eksekusi keenam orang itu telah mengamankan posisi golongan moderat, mencegah terjadinya konfrontasi polarisasi yang bisa dengan mudahnya memanas menjadi perang saudara. Dan hukuman kematian itu membuat para penganjur pembalasan jadi waspada. Eksekusi memungkinkan golongan moderat mengambil peranan kembali agar mereka dapat meraih apa yang ditakuti TopiBesi—membuka sistem politik yang ada.


Aku sedang duduk di pekaranganku menatap pepohonan pistachio saat pemenggalan keenam orang itu berlangsung. Dedaunan berwarna kuning terang mulai berguguran. Aku diberitahukan bahwa keenam orang itu begitu berani. Tak ada seorang pun dari mereka yang mengungkapkan katakata penyesalan. Dua orang dari mereka telah menyerahkan diri. Tan Shihtung, anak Gubernur Hupeh, telah diberi kesempatan untuk melarikan diri, tetapi menolaknya.

Anak buah Yung Lu akan berhasil menangkap Kang Yu-wei jika saja pelarian dirinya tidak dibantu oleh John Otway Perey Bland, koresponden Shanghai di Times London. Jenderal Konsul Inggris mengirim instruksi ke konsulat di sepenjuru pesisir Cina untuk mencari Kang, saat Yung Lu sedang memburunya.

Pada 27 September, dengan ditemani kapal perang Esk, agenagen Inggris mengantarkan mesin uap bersama dengan Kang Yuwei dalam kapal, ke pelabuhan Hongkong.

Sementara itu, konsulat Inagris di Kanton membuat kesepakatan agar ibu Kang, istrinya, selirselirnya, anakanak perempuannya, dan keluarga saudaranya untuk segera diberangkatkan. Di Hongkong, Kang dijemput oleh Miyazaki Torazo, sponsor Jepang terkuat dari Genyosha dan berlayar langsung menuju Tokyo.

Eksekusi itu membuat Tan, sang anak Gubernur, menjadi kekal. Simpati rakyat mengikuti orangorang tertindas. Janda Kaisar membenci putra adopsinya dan karena itulah dia memenggal temantemannya—itulah opini publik.

Sebuah puisi yang dibacakan Tan sebelum kematiannya menjadi begitu terkenal, hingga diajarkan di sekolahsekolah dasar selama bertahuntahun:


Aku bersedia meneteskan darahku

Jika dengannya negaraku bisa terselamatkan.

Namun, bagi semua yang gugur hari ini

Seribu lagi akan bangkit untuk melanjutkan tugasku.




36



“KAISAR CINA TERBUNUH. Mungkin Telah Disiksa—Sebagian Menduga Dia Diracun oleh Konspirator.” Beritaberita ini datang dari New York Times. Itu merupakan versi realita dari Kang Yuwei. Aku telah “membunuh Kaisar Guanghsu dengan racun dan cekikan.”

Anakku “disiksa secara keji, besi panasmerah dimasukkan ke tubuhnya melalui lubang duburnya.“

Kang Yuwei “telah memberi tahuku” lewat tulisan J.O.P. Bland di Times London, “bahwa dia meninggalkan Peking untuk memenuhi pesan rahasia dari Kaisar yang memperingatkannya pada bahaya yang akan datang. Dia kemudian menyebutkan bahwa kejadian terakhir sepenuhnya terjadi akibat tindakan golongan Manchu yang dipimpin oleh Janda Kaisar dan Raja Muda Yung Lu... Kang Yuwei menekan agar Inggris mengambil kesempatan untuk ikut campur dan mengembalikan posisi Kaisar untuk menduduki takhtanya kembali... Kecuali jika perlindungan terjamin bagi korbankorban kudeta, akan mustahil bagi para pejabat lokal untuk selanjutnya mendukung kepentingankepentingan Inggris.”

Aku telah memberitahukan Li Hungchang untuk berhenti mengirimiku korankoran itu, tetapi dia berpura-pura tuli. Aku tak bisa menyalahkannya untuk berusaha mendidik Kaisar. Li memastikan dua salinan tiba pada waktu bersamaan, satu untukku dan satu lagi untuk Kaisar. Aku berusaha untuk tetap tenang, tetapi apa pun yang kubaca membuatku makin sedih. Sungguh menyakitkan mengingat Guanghsu menyebut Kang Yuwei sebagai genius, “sahabat terbaiknya”, dan “orang berpikiran serupa.

Kang melanjutkan tur keliling dunianya. Sebuah surat kabar mengutip pidato yang dia berikan di sebuah konferensi yang diselenggarakan di Inggris: “Semenjak Kaisar mulai menaruh minat dalam urusanurusan kenegaraan, Janda Kaisar telah merancang skenario penurunan diri Kaisar dari takhta. Dia biasa bermain kartu dengannya dan memberinya minuman memabukkan untuk mencegahnya menghadiri urusanurusan negara. Selama dua tahun terakhir, peran Kaisar telah direndahkan hanya sebagai kepala boneka yang bertentangan dengan keinginannya sendiri.”

Baik anakku maupun aku sendiri telah diracuni oleh rasa penyesalan kami. Betapapun aku berusaha mencari pembenaran situasinya, yang tertinggal adalah fakta yang tak terelakkan bahwa Guanghsu telah membiarkan sebuah plot pembunuhan terhadap diriku menanti waktu menetasnya.

Kang Yuwei melanjutkan perjalanan kampanyenya: “Kalian semua tahu bahwa Janda Kaisar tidaklah terdidik, bahwa dia sangatlah konservatif... bahwa dia telah menghindar untuk memberikan Kaisar bentuk kekuasaan sesungguhnya dalam mengatur urusanurusan kerajaan. Pada 1887, telah diputuskan untuk mengalokasikan uang sejumlah tiga puluh juta tael untuk membangun Angkatan Laut Cina ... Sang Janda Kaisar menggunakan sisa dana itu untuk keperluannya sendiri, untuk memugar bangunan (Istana Musim Panas).” Fitnah semacam itu terus berdatangan.

Anakku duduk berdiam diri di kursinya sepanjang hari. Aku tak lagi mengharap dia akan datang padaku, atau memohon agar aku mau bicara padanya. Aku sudah kehilangan keberanianku untuk menghadapinya. Jarak merentang di antara kami. Hal itu sungguh menakutkanku. Makin sering Guanghsu membaca surat kabar, semakin dia menarik diri. Ketika diminta melanjutkan audiensi, dia menolak. Dia tak lagi bisa menatap mataku dan aku tak lagi bisa mengatakan padanya betapa aku tetap menyayanginya meski apa pun yang telah terjadi.

Kemarin, aku menemukannya tengah menangis setelah membaca fitnah terbaru Kang Yuwei: “Ada seorang kasim bohongan di istana yang sebenarnya memiliki kekuasaan lebih besar dari seluruh menteri. Li Lienying adalah nama kasim gadungan itu .... Seluruh gubernur telah mendapatkan jabatan resminya berkat menyuap lelaki itu, yang begitu kaya raya.”


Jika pun kelak aku bisa memaafkan anakku, apa yang terjadi berikutnya membuatnya jadi begitu sulit. Aku tak diberikan kesempatan untuk membela diriku sendiri, sementara Kang Yuwei bebas mencelakaiku dengan menyebut dirinya sendiri sebagai juru bicara Kaisar Cina dan aku sebagai “perampok keji” dan “bencana bagi rakyat”.

Para penerbit ternama dunia mencetak tuduhantuduhan keji Kang yang memerinci kehidupanku. Tulisan itu kemudian diterjemahkan dalam bahasa Cina dan beredar di kalangan rakyatku. Beritaberita itu dipercaya sebagai sebuah kebenaran yang terkuak. Di kedaikedai teh dan pestapesta jamuan kisah tentang bagaimana aku telah meracuni Nuharoo dan membunuh Tung Chih serta Alute menyebar seperti penyakit.

Publikasi bawahtanah mengenai reformasi Seratus Hari versi Kang Yuwei menjadi sebuah sensasi. Dalam publikasi tersebut, Kang menulis: “Dengan persetujuan dari satu atau dua negarawan pengkhianat, Janda Kaisar telah menyembunyikan Kaisar kita, dan diamdiam merancang skenario untuk merebut takhtanya, berpurapura menyatakan dirinya sedang melakukan konsultasi di pemerintahan.... Seluruh cendekiawan di negaraku marah atas tindakan selir istana yang suka ikut campur ini dengan mengasingkan (sang Kaisar).... Dia telah menggunakan secara pribadi pendapatan yang diterima pemerintah dari Surat Obligasi Kepercayaan Baik untuk membangun lebih banyak istana demi memanjakan hasrat libidonya. Dia tak memiliki perasaan atas kemunduran negeri dan penderitaan rakyatnya.


Putraku mengurung dirinya sendiri di dalam kantornya di Yingt'ai. Di luar pintu, bertumpuk surat kabar yang telah selesai dibacanya. Di antaranya adalah laporan kehidupan Kang Yuwei di pengasingan Jepang bersama pemimpin pemberontakan Sun Yat Sen dari Kanton yang dijadikan Genyosha sebagai pelakon utama untuk membunuhku.

Atas nama Kaisar Cina, Kang meminta Kaisar Jepang agar  “mengambil tindakan untuk menghilangkan Janda Kaisar Tzu Hsi.”

Selama delapan tahun kemudian, bahkan setelah putraku mengeluarkan dekrit berulangulang yang mengutuk mantan gurunya, Kang Yuwei akan tetap melanjutkan rencana pembunuhanku.

Kini aku memohon pada Guanghsu untuk membuka pintu. Kukatakan bahwa aku sudah kehilangan Tung Chih dan aku tak akan bisa meneruskan hidup jika aku juga harus kehilangan dirinya.

Guanghsu mengatakan padaku bahwa dia malu dan tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri atas apa yang telah diperbuatnya. Guanghsu bilang bahwa dia bisa melihat di mataku bahwa aku tak lagi memiliki rasa cinta untuknya.

Namun, aku tak bisa mengatakan padanya bahwa cintaku padanya tetap tak terpengaruh. “Aku tak menjadi diriku sendiri karena aku terluka,” kuakui. Aku tak ingin bicara lebih jauh—aku merasakan kemarahan di balik kulitku. Namun, mengeluarkan kemarahanku hanya akan memperburuk keadaan. Aku sedang berusaha menjaga agar kerusakan itu tetap pada diriku sendiri dan tak memengaruhi orangorang di sekitarku sebisa mungkin.

Guanghsu menanyakan apa yang kuinginkan dari “sampah tak berguna” seperti dirinya.

Kukatakan bahwa aku bersedia untuk berusaha memperbaiki hubungan kami. Kubiarkan dia tahu bahwa penolakannya untuk bangkit kembali jauh lebih menyakitkanku dari apa pun. Akan tetapi, aku juga bisa merasakan diriku menyerah. Aku sadar telah mengecewakan anak ini yang kuadopsi dan kubesarkan sejak umur empat tahun. Aku juga telah gagal menepati janjiku pada saudariku, Rong. “Setelah kematian Tung Chih, aku menaruh harapan besar padamu,” ucapku pada Guanghsu. Tidak saja aku telah kehilangan harapan, tetapi juga keberanian untuk mencoba lagi.

Sebagian dari diriku tak akan memercayai bahwa Guanghsu berencana membunuhku. Namun, dia telah melakukan satu kesalahan memilukan dan kesalahan itu bahkan terlalu besar untuk kuperbaiki.

Guanghsu memohon diturunkan dari jabatannya dan mengatakan bahwa yang dia inginkan hanyalah mundur dari pandangan publik dan tak akan pernah terlihat lagi.

Itu momen tersedih dalam hidupku. Aku menolak untuk menerima kekalahan seperti ini. Berusaha bersikap dingin dan tegas, kukatakan padanya, “Tidak, aku tak akan memberikanmu izin untuk berhenti.”

“Kenapa?” tangisnya.

“Karena itu hanya akan membuktikan pada dunia bahwa apa yang dikatakan Kang tentangku benar.”

“Tidakkah segelku pada perintah penangkapannya belum cukup sebagai bukti?”

Tibatiba aku tak tahu apa yang lebih disesali oleh anakku, kehilangan kasih sayangku ataukah ketidakmampuan Kang untuk membunuhku. Yung Lu menghentikan pencarian atas Liang Chichao—tangan kanan dan murid Kang Yuweikarena “buronan itu telah berhasil melarikan diri ke Jepang”.

Liang Chichao adalah seorang wartawan dan penerjemah yang pernah bekerja sebagai sekretaris Cina bagi Timothy Richard, seorang aktivis Gereja Baptis [ Aliran Protestan yang dicirikan antara lain oleh penolakannya terhadap baptisan yang diberikan kepada bayi dan anak kecil. Mereka memercayai bahwa baptisan hanya diberikan kepada orang dewasa yang sudah dapat mengakui imannya secara sadar dan bertanggung jawab. ] dari Welsh sekaligus aktivis politik, yang memiliki tujuan menumbangkan rezim Manchu. Liang terkenal atas tulisantulisannya yang mampu memengaruhi orang dan disebut oleh Dewan Istana sebagai “pena racun”.

Ketika dekrit memerintahkan penangkapan dan pemenggalan Liang Chichao dikeluarkan, dia masih berada di Peking. Anak buah Yung Lu mengamankan gerbang-gerbang kota dan Liang mencari perlindungan di kedutaan Jepang. Pasti menjadi sebuah kejutan manis bagi sang buronan saat mengetahui Ito Hirobumi sedang menjadi tamu di sana.

“Liang menyamar sebagai orang Jepang dan diantarkan ke T’ientsin,” Yung Lu melapor. “Pengawalnya adalah seorang agen yang terkenal berdarah dingin dari Genyosha.”

Anakku tampak seperti orang buta, menatap kosong ke tengah ruangan selagi mendengar Yung Lu.

“Di bawah perlindungan dari konsulat Jepang, Liang Chichao berhasil mencapai pelabuhan di Taku dan menaiki kapal meriam Oshima,” lanjut Yung Lu. “Karena kita telah mengawasi gerakannya dari dekat, kami berhasil mengejar Oshima di laut lepas. Anak buahku menuntut buronan itu untuk menyerah, tetapi Kapten Jepang menolak menyerahkannya. Dia mengatakan bahwa kami telah melanggar hukum internasional. Tak mungkin bagi kami untuk melanjutkan pencarian meski kami tahu Liang tengah bersembunyi pada salah satu kabinnya.”

Anakku membuang muka saat Yung Lu meletakkan salinan Kobe Chronide dari Jepang di depannya. Harian itu menyebutkan bahwa pada 22 Oktober, Oshima membawakan bagi Jepang “sebuah hadiah tak ternilai”.

Jepang memiliki alasan untuk merayakannya. Di pengasingan, Kang Yuwei dan Liang Chichao bergabung kembali. Sebagai tamurumah dari Perdana Menteri Jepang, Shigenobu Okuma, selama lima bulan, Kang tampak bugar dan kepangan rambutnya, menurut salah satu laporan, begitu “sehatberkilau” Selama beberapa tahun kemudian, dua lelaki itu bekerja sama tak kenal letih. Mereka berhasil merangkai sebuah potret diriku sebagai seorang tirani jahat dan membenarkan anggapan dan prasangka terburuk dari setiap orang.

Kang dan Liang memperoleh pengakuan intemasional sebagaimana yang mereka inginkan. Barat menganggap mereka sebagai pahlawan dari gerakan reformasi Cina. Si “wajah bulat dewi-kz” Kang Yuwei dideskripsikan sebagai “guru besar Cina modern”. Hasil wawancara dan artikelartikelnya dibuat menjadi buku yang terjual hingga ribuan salinan di berbagai negara. Pembaca jauh dari Cina untuk kali pertamanya, memperoleh gambaran dari “sumber tepercaya” akan siapa diriku sebenarnya.

Tetapi tidak hanya harga diriku yang tengah dipertaruhkan. Seranganserangan sensasional Kang dan Liang memberikan kesempatan bagi mereka yang berkeinginan melancarkan perang terhadap Cina. Karena “pemimpin Cina sesungguhnya memohon agar negaranya diselamatkan”, alasan apa lagi yang diperlukan bagi siapa pun untuk menyingkirkan seorang diktator wanita yang “korup”, “gila”, dan “berdarahdingin”?

Audiensi Barat yang berkumpul untuk mendengarkan Kang Yuwei sangat ingin melihat Cina bertransformasi menjadi sebuah utopia Kristen, hingga mereka begitu mudah dipengaruhi oleh kebohongankebohongan Kang. Dari Li Hungchang kuketahui bahwa Jepang telah menyediakan dana bagi Kang Yuwei untuk melakukan tur terpisah di Amerika Serikat, yang di sana dia dipuji oleh para kritikus dan cendekiawan setempat sebagai “orang yang akan memberi Cina demokrasi gayaAmerika”.

“Langit memberi kami orang suci ini untuk menyelamatkan Cina,” Kang akan membuka pidatonya dengan memuji anakku. “Walaupun Baginda Kaisar telah dikungkung dan digulingkan dari takhtanya, untungnya dia masih bersama kami. Langit belum meninggalkan Cina!”

Mengumpulkan lebih dari 300.000 dolar dari para pedagang Cina di luar negeri yang ingin menjamin niat baik dari rezim baru apa pun yang terbentuk, dan dengan bantuan agenagen rahasia Genyosha Jepang yang beroperasi dari daratan Cina, Kang Yuwei mulai mempersiapkan sebuah pemberontakan bersenjata.

Duet Kang Yuwei dan Liang Chichao dimuat dalam New York Times, Chicago Tribune, dan Times London. “Yang diketahui oleh Janda Kaisar Tzu Hsi hanyalah hidup penuh kesenangan dan yang diketahui Yung Lu hanyalah nafsu akan kekuasaan. Pernahkah Permaisuri memikirkan sedikit akan kebaikan negaranya? Kurakura takkan bisa menumbuhkan rambut, kelinci takkan bisa memunculkan tanduk, ayam jantan takkan bisa mengerami telur, dan pohon layu takkan bisa bersemi karena bukan watak alamnya untuk melakukannya—begitu pula, kita tak bisa mengharapkan apa yang tak pernah ada dalam hatinya! “




37



SELAIN PUNCAK DARI bencana reformasi, 1898 juga ternyata menjadi tahun panjang dan pahit dengan adanya bencana banjir dan kelaparan. Awalnya, panen gagal di Shantung dan provinsiprovinsi di sekitarnya, kemudian Sungai Kuning membenam ratusan desa dalam banjir bandang. Ribuan orang kehilangan rumah, membuatnya mustahil menanam panen tahun depan. Lebih buruk lagi, kerumunan belalang datang tibatiba untuk menghabisi sisa panen. Para penghuni liar, para pengangguran, orangorang yang frustrasi dan baru kehilangan, menginginkan suatu alasan yang merupakan penyebab semua hal itu—seorang kambing hitam.

Aku disibukkan untuk memadamkan kobaran api. TopiBesi mengusulkan untuk menggantung Selir Mutiara sebagai cara untuk membuat Kaisar menerima tanggung jawab. Mutiara terbukti bersalah melanggar beberapa aturan Istana. Aku menolak dakwaan yang dibuatbuat itu tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Kerusuhan antiwarga asing terus berlanjut. Seorang misionaris Inggris terbunuh di provinsi Barat Daya Kweichow dan seorang pendeta Prancis disiksa dan dibunuh di Hupeh. Di provinsiprovinsi tempat warga asing tinggal berdekatan dengan orangorang Cina, rasa marah memicu huruhara, terutama di Kiaochow yang dikuasai Jerman, tempat kelahiran Konfusius. Penduduk lokal menolak ajaran Kristen. Di wilayah Weihaiwei dan Liaotung yang dikuasai Inggris dan Rusia kekerasan terjadi ketika orangorang asing memutuskan bahwa mereka, selaku pemilik sewa, berhak mengambil keuntungan dari pajak orang Cina.

Dengan alasan untuk melindungiku, Pangeran Ts'eng dan putraputranya meminta pada Kaisar untuk mengundurkan diri. Golongan Ts'eng didukung oleh Penasihat Klan Manchu dan tentara Muslim Jenderal Tung. Meski sulit bagiku untuk terus mendukung Guanghsu, aku tahu dinasti akan jatuh jika Pangeran Ts'eng berkuasa. Seluruh jaringan industri dan hubungan internasional yang telah dibangun oleh Li Hungchang, termasuk hubungan diplomatik kami dengan negaranegara Barat, akan berakhir. Sebuah perang saudara akan memberi alasan yang tepat bagi kekuatan asing untuk turut campur.

Stabilitas menuntut Guanghsu melanjutkan perannya selaku Kaisar. Kukabulkan sebuah rencana alternatif yang diajukan golongan konservatif yang menyuruhku melanjutkan kuasa Perwalian. Guanghsu menandatangani namanya, tetapi tak ingin memiliki sangkut paut dengannya lebih lanjut.

“Urusan negara saat ini sedang dalam posisi sulit,” bunyi dekrit itu, “dan semua menantikan reformasi. Aku, selaku Kaisar, bekerja siang dan malam dengan segenap kekuatan. Namun, di balik upaya keras yang penuh kehati-hatian, aku terus khawatir akan kewalahan oleh tekanan kerjaku. Tergerak oleh perhatian mendalam akan kesejahteraan negara, aku telah berkalikali memohon pada Ratu Yang Mulia untuk berkenan menasihatiku dalam urusan pemerintahan. Dan dengan kebaikan hatinya, aku telah menerima persetujuan darinya. Ini merupakan jaminan kesejahteraan bagi seluruh warga, baik pejabat maupun rakyatnya.”

Dekrit ini merupakan tindakan memalukan, baik bagi Guanghsu maupun aku. Hal itu menunjukkan ketidakcakapan Kaisar, selain pula penilaian burukku dalam menempatkannya di singgasana pada awalnya.


Tak lama setelah dekrit diterbitkan, Guanghsu jatuh sakit. Aku harus mempercepat audiensiku untuk menemaninya. Anakku harus berbaring di tempat tidurnya. Seluruh upaya Tabib Sun Paot’ien sudah gagal, obatobatan herbalnya sudah tak berguna. Rumor bahwa Kaisar tengah sekarat, atau sudah meninggal, segera meluas. Tampaknya, sakitnya Kaisar akan membuktikan pernyataan Kang Yuwei sebelumnya bahwa racun yang dia katakan kuberikan pada Guanghsu sudah mulai “menunjukkan pengaruh mematikannya”.

Ikuang, Menteri Urusan Luar Negeri kami, menerima banyak pertanyaan mengenai “menghilangnya” Kaisar. Ikuang bukanlah Pangeran Kung. Yang bisa dia katakan padaku hanyalah bahwa “Invasi telah dibahas di kalangan kedutaan”.

Anakku tahu bahwa dia harus menunjukkan dirinya di Istana, tetapi dia tak mungkin bangun dari ranjangnya.

“Jika kau mendesak Yang Mulia hadir, dia akan langsung pingsan di tengahtengah audiensi,” Sun Paot’ien memperingatkan.

Yung Lu setuju. “Kehadiran Baginda Yang Mulia hanya akan lebih mencelakakannya. “

Setelah melihat sendiri anakku muntahmuntah yang membuatnya letih dan menangis, aku melakukan panggilan penting ke seluruh provinsi untuk mencari tabib yang cakap. Tak ada tabib Cina yang berani mengajukan diri.

Anehnya, aku menerima permintaan kolektif dari pihak kedutaan asing. Dari katakata dalam suratnya, kedutaan itu tampaknya memercayai kejadian versi Kang Yuwei: “Hanya dengan pemeriksaan medis menyeluruh dari kondisi Kaisarlah, akan menjernihkan rumorrumor yang merajalela dan mengembalikan kepercayaan dari Inggris dan dunia internasional terhadap rezim saat ini.“ Surat itu menawarkan bantuan dari dokterdokter Barat.

Namun, pihak Istana dan Guanghsu sendiri menolak tawaran itu. Bagi Dewan Istana, kesehatan Kaisar merupakan masalah harga diri nasional dan kondisinya saat ini harus tetap dirahasiakan. Sementara bagi Guanghsu, dia telah menderita banyak penghinaan sebagai Kaisar, dan tak ingin menderita lebih banyak lagi sebagai lelaki. Dia mengetahui kondisinya sendiri dan tidak ingin seluruh dunia tahu akan alasan mengapa dia tidak juga memiliki keturunan.

Aku enggan menjadikan anakku dan Cina sebagai objek penghinaan lebih jauh, tetapi sebagai seorang Ibu, aku bertekad untuk mencoba apa pun yang kubisa demi menyelamatkan nyawa anakku. Dokter dari Barat mungkin jadi harapan terakhir bagi Guanghsu untuk mendapatkan kesehatannya kembali. Aku mungkin bukanlah seorang wanita berpengalaman, tetapi aku tidaklah bodoh. Aku memercayai bahwa “dengan melihat satu titik kecil pada kulit, orang sudah bisa membayangkan seekor macan tutul secara keseluruhan”. Cat rambut Prancisku, jamjam Inggris, dan teleskop Jerman mengungkapkan kepandaian orangorang yang membuatnya. Keajaiban dari kemajuan industri Barat—telegram, rel kereta, persenjataan militer—bahkan berbicara lebih keras.

Kutanya dengan hatihati jika Guanghsu bersedia mengungkapkan kenyataan yang ada, yakni menyebutkan masalah disfungsi seksualnya. Putraku memberikan jawaban positif. Aku lega dan pergi untuk membagi kabar baik ini pada menantumenantuku. Kami jadi begitu berharap dan bersamasama kami pergi ke Kuil Istana untuk memanjatkan doa.


Pada minggu akhir Oktober, seorang dokter Prancis, Dokter Detheve, diantar ke Kota Terlarang dan ke dalam kamar Kaisar. Aku hadir sepanjang tanyajawab medis itu. Dokter menduga adanya gejala sakit ginjal dan menyimpulkan bahwa Guanghsu menderita berbagai gejala komplikasi yang diakibatkan oleh penyakitnya.

“Saat pemeriksaan awal,” isi evaluasi dari Dokter Detheve, “kondisi Baginda Yang Mulia sungguh lemah, sangat kurus, terlihat depresi, wajah pucat. Selera makannya baik, tetapi pencernaannya lambat.... Muntahmuntah berlangsung sering. Mendengarkan paruparunya dengan stetoskop, yang diizinkan oleh Yang Mulia, tidak menunjukkan tandatanda kesehatan yang baik. Masalah peredaran darah banyak. Detak jantung lemah dan cepat, kepala pusing, rasa panas di dada, bunyi dengung di telinga, dan gerak terjatuh menandakan kakinya yang tak imbang. Gejalagejala ini ditambah dengan sensasi dingin di seluruh lengan dan lututnya, jarijari terasa kaku, keram pada betis, gatalgatal, gangguan pendengaran dan penglihatan, serta sakit pada ginjal. Tetapi yang terpenting, ada masalah pada fungsi kencingnya... Yang Mulia sering buang air, tetapi hanya sedikit tiap kalinya. Dalam jangka dua puluh empat jam, jumlahnya kurang dari normal.“

Guanghsu dan aku senang dengan hasil analisis dokter itu dan menaruh harapan besar pada pengobatannya. Yang tidak kami kira sebelumnya adalah bahwa hasil evaluasinya akan terungkap ke publik. Kami tak bisa tahu apakah itu disengaja atau tidak. Akan tetapi, hasil pemeriksaan itu menjadi sumber gosip di Cina, Eropa, dan Amerika Serikat. Itu menjadi pukulan terakhir terhadap citra diri Guanghsu. Dari seringai wajah orangorang di Istana saat audiensi, aku bisa tahu bahwa menterimenteri kami telah membaca terjemahan dari opini Dokter Detheve.

Surat kabar dan majalahmajalah Cina murahan menyebarkan gosip itu sebagai bahan berita: “Baginda Kaisar secara kebiasaan mengalami ejakulasinya pada malam hari, diikuti oleh sensasi menyenangkan. Evaluasi Dolter Detheve menyimpulkan, 'Pelepasan pada malam hari ini mengakibatkan kurangnya kemampuan untuk meraih ereksi yang diharapkan pada siang hari.' Menurut opini Dokter Detheve, penyakit Kaisar tak memungkinkannya melakukan persetubuhan. Sang Kaisar tak bisa bercinta dengan Permaisuri dan selirselirnya. Dan tanpa itu, Baginda Kaisar tak akan pernah memiliki keturunan, yang artinya tak akan ada penerus bagi Kerajaan.” Laporanlaporan seperti itu membuat TopiBesi menuntut penggantian Guanghsu.

Aku menyaksikan pengorbanan hargadiri anakku. Walaupun hasil pemeriksaan doleter Prancis itu menunjukkan bahwa Guanghsu masih hidup dan karenanya, aku tak mungkin menjadi pembunuhnya, aku begitu terguncang.


Meskipun Guanghsu masih terus sakit—demam tinggi, kurang nafsu makan, tenggorokan dan lidahnya bengkak dan perih—demi menampilkan diri ke publik, dia menawarkan diri untuk duduk di sisiku saat audiensi.

Bagi para reformis radikal, bayangan kami duduk bersisian memberi bukti akan ketiranianku. Surat kabar memublikasi pengamatan mereka, menggambarkan bagaimana perasaan Kaisar yang telah diperlakukan tak adil ini terhadap kehidupan nerakanya. Dalam versi populer, Guanghsu diperlihatkan sedang “melukis potret besar seekor naga raksasa, emblemnya sendiri, dan menyobeknyobeknya dengan sedih.“

TopiBesi, di sisi lain, menemukan justifikasi dalam pemikiran tradisional Cina: Guanghsu nyatanyata telah merancang pembunuhan ibunya sendiri dan tak ada kejahatan lain dalam kitab undangundang Konfusianisme yang lebih keji daripada pengabaian ketaatan seorang anak pada orangtuanya, terutama bagi seorang Kaisar, yang merupakan contoh moral rakyatnya.

Aku diharapkan menunjukkan pada Guanghsu kebajikan moral yang sepantasnya. Tetapi aku tak bisa tak mengacuhkan penderitaannya. Anakku sudah cukup menunjukkan keberaniannya dengan menghadapi orang-orang yang telah dia pecat sebelum berlangsungnya aksi kudeta. Kini, setiap harinya putraku duduk di alas lantai yang terbuat dari ribuan jarum. Dia bisa saja masih menerima loyalitas dari Dewan Istana, tetapi akankah dia masih menerima penghormatan dari mereka?


Mengingat kondisi kesehatan anakku, aku terdorong untuk menerima proposal TopiBesi menyangkut penggantiannya. Aku bersikap terbuka sepanjang perdebatan dan pada akhirnya, mengumumkan P'uchun, putra remaja Pangeran Ts'eng Junior, anak dari keponakanku, sebagai pewaris baru. Akan tetapi, sebelumnya, aku mendorong agar P'uchun menjalani evaluasi karaleter, sebuah tes yang kuyakin akan digagalkan oleh bocah manja itu. Sebagaimana telah kuramalkan, dia memang gagal dengan payah dan dia pun disingkirkan dari pertimbangan.

Singgasana Guanghsu aman, setidaknya untuk saat ini, tetapi dia tampak demikian bosan dan akan menyelinap keluar dari audiensi tiap kali ada kesempatan. Setelahnya, aku akan menemukannya bermainmain dengan jamnya. Dia tak akan membuka pintu ataupun berbicara denganku. Mata sedihnya menunjukkan kehampaan dan dia mengatakan padaku bahwa pikirannya “berkelana ke sana kemari seperti hantu tanpa tempat tinggal”. Satusatunya perkataan yang tak bosan diucapkannya adalah “andai aku mati”.

Aku memanggil para menantuku. “Kita harus berusaha menolong,” ucapku.

“Seharusnya kautinggalkan Baginda Kaisar sendiri,” Selir Mutiara menanggapi dengan cepat.

Kutanyakan mengapa aku harus melakukan hal itu, yang dijawab oleh Mutiara, “Mungkin sebaiknya Baginda Ratu mulai kembali memikirkan untuk mengundurkan diri. Kaisar adalah lelaki dewasa. Dia tahu bagaimana menjalankan kerajaannya.”

Kuingatkan Mutiara bahwa dirinyalah. yang mengenalkan Kang Yuwei pada anakku.

Gadis itu begitu marah. “Reformasi gagal karena Guanghsu tak pernah dibiarkan untuk menjalankan urusannya sendiri. Gerakgeriknya selalu diamati, dia dipenjara di ruang tempat tinggalnya sendiri, dan dipisahkan dariku. Aku mohon maaf... ini seperti—aku tak bisa mencari kata lain untuk mengatakannya— sebuah konspirasi melawan Kaisar Guanghsu.”

Aku tak sepenuhnya mengerti akan ledakan amarah itu. Apakah dia benarbenar tengah berusaha memprovokasiku?

Saat Mutiara meminta menemani Guanghsu, aku menolaknya. “Tidak akan kuizinkan, dengan ketidakwarasanmu seperti itu. Putraku tak akan lagi bisa menanggung celaka. “

“Kau takut aku akan mengungkapkan kebenaran padanya.”

“Aku pikir kau sendiri tak tahu akan kebenaran itu.”

Kukatakan pada Mutiara bahwa jika dia tidak mau bekerja sama denganku dan mengakui kesalahankesalahannya yang lalu, dia tak akan diizinkan untuk kembali menemui Guanghsu.

“Yang Mulia Kaisar akan menanyakanku,” Mutiara protes. “Aku tak akan menjadi tawanani”.



38



TERIAKANTERIAKAN semakin keras membahana di jalanjalan Peking: “Pertahankan Dinasti Ch'ing yang agung!” “Basmi orangorang barbar!” Topi Besi memanfaatkan reaksi keras ini untuk memaksaku memihak mereka. Hingga saat niat Kang Yuwei, sang Reformis, untuk membunuhku terungkap, aku belum sempat bertanya pada diriku sendiri: Siapakah teman-teman sejatiku?

Upaya Kang memanggil keterlibatan internasional telah mengecewakan sekaligus menyadarkan kekeliruan anakku. Pada saat buronan ketujuh dari komplotan Kang tertangkap atas usahanya menghabisi nyawaku, anakku bersumpah untuk membalas “si serigala licik”.

Tak ada satu negara pun yang menyambut permintaan Guanghsu untuk menahan Kang  Zusi Yuwei. Inggris, Rusia, dan Jepang menolak memberikan informasi apa pun tentang tempat persembunyiannya. Sebaliknya, surat kabar asing terus mencetak kebohongankebohongan Kang bahwa “Kaisar Cina sedang ditahan dan disiksa”.

Jepang juga mulai menggunakan tekanan militer dengan menugaskan agar aku “dihilangkan selamanya”. Guanghsu dipercaya telah “diracun, diseret, dan diikat di Kursi Naganya” untuk menghadiri audiensi bersamaku. Di mata dunia, dia telah diberikan “sarapan beracun” dengan “jamur mematikan sebagai lapisan atasnya”. Yang sangat dibutuhkan oleh Kaisar Cina saat ini, mereka berkata, adalah serangan dari kekuatan Barat.

Situasi ini mendorong anakku semakin murung. Dia meneruskan kesendiriannya dan menolak kontak dalam bentuk apa pun, termasuk perhatian dari Selir Mutiara kesayangannya.

Tak ada katakata yang bisa menerangkan perasaanku saat melihat kehancurannya. Setiap pagi, sebelum menduduki singgasana, aku akan menanyakan bagaimana dia menghabiskan malamnya dan memberi penjelasan singkat mengenai masalahmasalah yang akan dibahas oleh Dewan Istana. Sekali waktu, Guanghsu akan menjawab pertanyaanku dengan sopan, tetapi suaranya seolah datang dari kejauhan. Biasanya dia hanya akan menjawab, “baiklah.” Dari kasimkasimnya, aku mengetahui bahwa dia telah berhenti minum obat yang diresepkan oleh dokter Baratnya. Dia memerintahkan agar kamar tidurnya ditutupi tirai beledu hitam untuk menghalangi masuknya sinar matahari. Dia berhenti membaca surat kabar dan menghabiskan sepanjang waktu mengutakatik jamjamnya. Tubuhnya jadi sangat kurus, hingga dia tampak seperti bocah lima belas tahun. Saat duduk di singgasana, dia akan segera jatuh tertidur.

Saat aku berkonsultasi dengan ahli nujumku, dia meminta izin untuk bicara terbuka.

“Minat anakmu pada jam sangat penting,” ujarnya padaku. “'Jam', dalam bahasa Mandarin, diucapkan sama seperti 'zone' Kata itu memiliki bunyi dan nada yang sama dengan karakter zhong, yang artinya 'akhir’”.

“Apa maksudmu akhir ... dari hidupnya?” tanyaku.

“Tak ada yang bisa kaulakukan untuk membantunya, Yang Mulia. Itu sudah kehendak Langit.”

Aku ingin mengatakan pada ahli nujum itu bahwa sepanjang hidupku, aku telah berjuang melawan kehendak Langit. Diriku sendiri saat ini merupakan bukti dari perjuangan panjangku. Aku telah selamat dari yang semestinya menjadi waktu kematianku berkalikali dan aku bertekad untuk berjuang demi anakku. Harapanlah yang menjadi tujuanku untuk hidup. Saat suamiku meninggal, Tung Chih menjadi harapanku. Ketika Tung Chih meninggal, harapanku mewujud dalam diri Guanghsu.


Tatanan rambut dan rambut palsuku tak pernah menggangguku sebelumnya, seperti sekarang ini. Aku mengeluhkan pada Li Lienying bahwa rancangannya membosankan dan bahwa ornamen perhiasannya terlampau berat. Warnawarna yang dulu jadi kesukaanku kini membuatku kesal. Mencuci dan mengecat rambutku jadi beban. Li Lien-ying menggantikan seluruh perlengkapan rias rambutnya. Menggunakan kawatkawat ringan dan jepitan untuk menyematkan perhiasan ke papan rambutku yang berbentuk kipas, dia meningkatkan penampilanku, menciptakan apa yang disebutnya dengan “payung tigatingkat”.

Upaya untuk menampilkan diriku lebih hebat daripada kenyataannya tampaknya berhasil—Dewan Istana begitu menghormati penampilan baruku—tetapi rasa sedih itu datang dari dalam diriku sendiri. Semangatku semakin surut bersamaan dengan kemunduran anakku. Air mataku akan menggenang di tengahtengah perbincangan saat aku teringat akan harihari ketika Guanghsu merupakan anak yang begitu penyayang dan berani.

Aku menolak menerima kesimpulan Dewan Istana bahwa Kaisar telah mengakibatkan kemunduran negara. “Jika Guanghsu telah mengguncang kapal negara ini,” kuingatkan audiensi, “kapal ini sudah lama akan kehilangan kendali, terombangambing di lautan yang kacau, dan akan tenggelam oleh terpaan angin perubahan apa pun.“

Tak ada yang memikirkan kemungkinan bahwa Guanghsu mengalami kejatuhan mental. Mengingat sejarah malang ibunya (kehidupan Rong bahkan lebih rentan penderitaan), akulah seharusnya yang pertama memahami. Tetapi aku tak menyadarinya, atau pikiranku menolaknya. Fokus Guanghsu pada dunia telah beralih ke bawah dan menetap di antara kedua tungkainya—ketika orangorang menatapnya, dia merasa begitu terganggu.

Duduk dengan pikirankosong, dia tampak mendengarkan audiensi tanpa mengikuti jalannya diskusi. Begitu Guanghsu bangkit dari kursinya, dia akan membayangkan sebuah serangan. Mungkin dia bukan membayangkannya—apa pun itu, yang jelas dia merasa itu nyata dan membuat tubuhnya gemetar. Dia akan pergi begitu saja, kadang di tengahtengah pembahasan penting, dan tak kembali.

Mungkin ahli nujumku ada benarnya saat memercayai bahwa Kaisar “telah memilih untuk menghilang dan mati”. Akan tetapi, hanya akulah yang dengan tega memaksanya untuk terus menunjukkan wajahnya.


Saat memandang kembali pada Seratus Hari, kusimpulkan bahwa ketertarikan anakku pada Kang Yuwei tentu ada kaitannya dengan pesona dari mitos asing. Sang cendekiawan memainkan fantasinya terhadap Barat dan Guanghsu tak menyadari akibat bagi dirinya. Li Hungchang benar saat dia mengatakan bahwa bukan pasukan asinglah yang mengalahkan Cina, melainkan sikap tak acuh dan ketidakmampuan kita melihat kebenaran di tengahtengah lautan kebohonganlah yang menjadi sebabnya.

Rencana inspeksi Kaisar pada Angkatan Laut dibatalkan karena reformasi yang gagal. Semua orang meyakini rumor yang menyebutkan bahwa inspeksi itu akan menandai hari penggulingan Guanghsu dari takhta. Informasi yang kami dapatkan menyebutkan bahwa kekuatan asing sedang bersiap untuk melibatkan diri.

Dengan dukungan Li Hungchang, aku menggunakan kereta untuk bertemu secara pribadi dengan para gubernur dari provinsiprovinsi kunci, di Utara dan Selatan. Aku berhenti di T’ientsin dan mengunjungi Pameran Mesin Berat, yang diadakan oleh rekan Li Hungchang, S.S. Huan.

Aku terutama sangat terkesan melihat sebuah mesin yang menarik helaian benang dari kepompong sutra, sebuah tugas yang dikerjakan begitu berat dengan tangan selama beratusratus tahun. “Wadah keramik siram” membuatku ingin memasannya juga di Kota Terlarang.

Aku tak bisa memercayai saat membaca penjelasan yang menyebutkan bahwa toilet ini dibuat oleh Pangeran Inggris untuk ibunya. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Benar atau tidak, kisah itu menyiratkan bahwa anakanak Kerajaan Inggris Raya diberikan pendidikan yang praktis. Tung Chih dan Guanghsu diajari karyakarya Cina klasik, tetapi keduanya menjalani kehidupan yang tidak efektif.

Rasa takutku makin membesar selagi aku mengagumi semua penemuan asing ini. Bagaimana Cina bisa berharap untuk bertahan jika musuhmusuhnya begitu menguasai sains dan tak letihletihnya mengejar kemajuan?


“Cara memenangi perang adalah dengan mengenali musuhmu secara cermat sehingga kaubisa meramalkan langkahnya selanjutnya,” Sun Tzu menulisnya dalam Seni Peperangan. Aku sendiri hampir tak bisa meramalkan langkahku selanjutnya, tetapi menyadari akan bijak untuk mempelajarinya dari musuhmusuhku. Kuputuskan bahwa pada pesta ulang tahunku yang keenam puluh empat, aku akan mengundang sejumlah duta besar asing, ke Peking. Aku ingin mereka melihat “sang pembunuh” dengan mata mereka sendiri.

Li Hungchang menyambut senang ide itu. “Begitu warga Cina mengetahui bahwa Janda Kaisar sendiri bersedia menemui dan menjamu orangorang asing, sikap antipati mereka terhadap orang luar bisa diredakan.”

Sebagaimana sudah dikira, Penasihat Klan Manchu menentang usulku. Aku seharusnya tak boleh terlihat sama sekali, apalagi berbicara dengan kaum barbar itu. Tak ada gunanya berdebat bahwa Ratu Inggris tidak hanya dilihat oleh dunia, tetapi wajahnya bahkan tercetak di setiap uang logam.

Setelah proses negosiasi panjang, akhirnya aku diberikan izin untuk mengadakan pesta jamuan khusus wanita dengan syarat Kaisar Guanghsu ikut bersamaku agar aku ditemani oleh seorang lelaki Kerajaan. Pesta yang diadakan itu menjadi kesempatan bagiku untuk memuaskan rasa keingintahuanku terhadap gaya busana para wanita asing. Tamutamuku termasuk para istri Menteri Ingaris Raya, Rusia, Jerman, Prancis, Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang.

Menurut Menteri Urusan Luar Negeri Ikuang, para menteri luar negeri meminta agar istriistri mereka di sambut “dengan penghormatan setinggitingginya”. Dibutuhkan enam minggu untuk menyiapkan segalanya, mulai dari gaya tandunya hingga pilihan penerjemahnya. “Orangorang asing itu memberi syarat ketat akan hampir segala hal,” lapor Ikuang. “Aku khawatir nanti terpaksa membatalkan undanganundangan tersebut, tetapi tampaknya minat para wanita itu terbukti lebih kuat daripada sikap keengganan yang ditunjukkan oleh suami mereka.”


Pada 13 Desember 1898, wanitawanita asing itu dengan dandanan begitu rupa diantar menuju Istana Musim Dingin, salah satu dari “istanaistana laut” di sisi Kota Terlarang. Aku duduk di atas podium di belakang meja panjang sempit yang dihiasi dengan buah dan bunga-bunga. Gaun emasku sangat berat dan papan rambutku tertata begitu tinggi. Mataku menikmati pesta.

Selain istri duta besar Jepang, yang kimono dan obinya [Sabuk sutra yang dikenakan di sekitar perut dan pinggang untuk mengencangkan kimono.] mengingatkanku akan pakaian dari Dinasti Tang kami, para wanita itu berpakaian seperti festival lampion yang megah. Mereka membungkuk sebagai tanda hormat padaku. Saat kuucap “bangkit” ke masinginasing dari mereka, aku begitu terkesan dengan warna mata mereka, rambut mereka, dan lekuk tubuh mereka. Mereka diperkenalkan padaku sebagai satu kelompok, tetapi mereka menunjukkan ciri mereka sendiri sebagai individu.

Ikuang memperkenalkan istri dari Menteri Inggrris, Lady MacDonald, yang memimpin kelompok tamu. Dia seorang wanita yang tinggi dan anggun pada usia empat puluhan. Lady MacDonald mengenakan gaun satin biru muda cantik dengan pita ungu besar terikat di balik punggungnya. Kepalanya penuh ikal emas yang tertutupi oleh topi lonjong besar berhiaskan ornamen. Lady Conger adalah istri Menteri Amerika. Dia adalah seorang anggota Christian Scientist [Kelompok keagamaan Kristen yang berkembang pada awal 1900an. Salah satu ajaran yang diyakini jemaahnya, adalah bahwa penyakit seharusnya disembuhkan melalui keyakinan spiritual dan kekuatan doa, bukan dengan obatobatan tradisional.] dan mengenakan gaun berwarna hitam dari kepala hingga ujung kaki.

Kusuruh Ikuang untuk mempercepat pengenalannya dan agar meringkas sambutan resmi dari penerjemah. “Antarkan para tamu ke aula perjamuan dan biarkan mereka mulai makan,” ujarku. Aku begitu percaya diri dengan hidangan yang kami suguhkan karena aku ingat Li Hungchang pernah berkata bahwa “tak ada yang dapat dimakan di Barat”.

Aku mulai menyesali janjiku pada Dewan Istana untuk  tak bicara atau mengajukan pertanyaan. Setelah menyantap hidangan, ketika para tamu dibawa ke belakang untuk, kuberikan hadiah, kujabat satusatu tangan mereka sembari menyisipkan sebuah cincin emas di telapak tangan mereka. Kubiarkan senyumku berkata bahwa aku ingin menjalin pertemanan dengan mereka. Aku senang mereka datang untuk melihat “wanita tamak dengan hati sedingin es ini”.

Aku sepenuhnya sadar bahwa aku tengah diamati layaknya hewan di kebun binatang. Aku menantikan sikap arogansi mereka. Namun sebaliknya, para wanita itu hanya menunjukkan kehangatan. Aku penasaran jika saja aku memperlakukan mereka seperti saudarisaudari asingku, mungkin kami bisa saling bertukar cerita. Aku ingin sekali menanyakan pada Lady MacDonald tentang kehidupannya di London dan Lady Conger bagaimana rasanya menjadi anggota jemaah Christian Scientist sekaligus sebagai ibu. Apakah dia senang dengan cara anaknya dibesarkan?

Alangkah sayangnya, mengamati dan mendengarkan hanyalah satusatunya hal yang boleh kulakukan. Mataku berkelana dari hiasanhiasan yang bergantungan dari topi para wanita itu, hingga ke manikmanik yang terjahit di sepatu mereka. Aku menatap tamutamuku dan mereka menatapku balik. Kasimkasimku memalingkan wajah mereka saat tamutamuku bergerak dengan bagian atas tubuh dan bahu mereka yang terbuka. Dayangdayangku, sebaliknya, membelalakkan matanya. Gaya bicara wanitawanita asing itu yang terdengar anggun dan cerdas, serta reaksi mereka yang santun memberi arti baru untuk kata “barbar”.

Saat Lady MacDonald memberikan pidato sambutan singkatnya, aku tahu dari suara manisnya bahwa wanita ini tak pernah sehari pun merasakan kelaparan sepanjang hidupnya. Aku iri pada senyum lebarnya yang seperti anak kecil.

Guanghsu nyaris tak mengangkat matanya selama pesta berlangsung. Para wanita asing itu menatapnya penuh takjub. Walaupun merasa sangat terganggu, dia tetap memenuhi janjinya untuk tetap tinggal hingga selesai. Guanghsu sendiri pada awalnya menolak hadir karena dia tahu bahwa wanitawanita ini pasti telah mengetahui kondisi medisnya dari suami mereka. Aku telah berjanji untuk mengakhiri resepsi secepat yang kubisa.

Aku tak mengharapkan akan adanya pemahaman yang muncul dari pesta itu, tetapi betapa terkejutnya aku saat mengetahui terwujudnya hal itu. Di kemudian hari, wanitawanita ini, terutama Lady MacDonald, memberi komentar positif tentang diriku, berlawanan dengan opini dunia. Editor Times London memuat kritik akan pesta itu yang menyebutkan bahwa kehadiran para wanita di sana “menjijikkan, menghina, dan menggelikan.” Sebagai tanggapannya, Lady MacDonald menuliskan:


Aku bisa mengatakan bahwa Janda Kaisar adalah seorang wanita yang memiliki kekuatan karakter, selain ramah dan baik hati.... Ini merupakan opini semua wanita yang menemaniku. Aku beruntung memiliki penerjemah seorang sekretaris Cina dari kedutaan kami, pria dengan pengalaman dua puluh tahun yang mengenal Cina dan orangorangnya. Sebelum kunjungan kami, opininya akan Janda Kaisar merupakan pendapat yang bisa kubilang paling umum diterima. Suamiku telah memintanya untuk mencatat dengan cermat akan segala hal yang terjadi, terutama jika melihat suatu hal yang akan menampilkan karakter aslinya. Pada kepulangannya, dia melaporkan bahwa kesan yang selama ini dia terima tentangnya sangat tak sesuai dengan apa yang barusan dia lihat dan dengarkan.




39



PADA MUSIM SEMI 1899, segerombolan pemuda yang berkelana tak tentu arah menjadi buah bibir semua orang: Kepalan Keselarasan Luhur, I Ho Ch'uan—singkatnya, Boxers—telah berubah menjadi sebuah gerakan antiorang asing yang meluas ke sepenjuru negeri. Meskipun l Ho Ch'uan merupakan gerakan petani dengan akar pengikut Buddha yang kuat dan pengikut Taoisme sebagai pendukungnya, gerakan ini telah meluas dengan menyertakan pengikut dari semua lapisan masyarakat. Dengan pegangan keyakinannya pada kekuatan supernatural, gerakan tersebut, meminjam katakata Yung Lu, merupakan “jalan orangorang malang menuju keabadian”.

Gubernur seantero negeri telah menanti intruksiku bagaimana mengatasi Gerakan Boxers ini. Mendukung atau menekan mereka merupakan pilihan yang harus kuambil. Pengikut Boxers dilaporkan telah menyebar ke lebih dari delapan belas provinsi dan mulai terlihat di jalan-jalan Kota Peking. Kaum mudanya mengenakan turban merah dan mengecat pakaian mereka dengan warna merah, dengan pita pada pergelangan tangan dan kaki berwarna senada.

Kaum mudanya menyatakan bahwa mereka menggunakan teknik pertempuran yang unik. Terlatih dalam seni bela diri, mereka meyakini diri mereka sebagai titisan dewa.

Seorang gubernur menulis dalam memorandum penting, “Boxers telah berkerumun mengitari gerejagereja Kristen di provinsiku. Mereka telah mengancam untuk membunuh dengan pedang, kapak, tongkat, pisau, tombak, dan beragam jenis senjata lainnya.”

Dalam pandanganku, gerakan ini mengarah seperti Pemberontakan Taiping dulu. Perbedaannya adalah bahwa kali ini pemimpin kelompok itu adalah para TopiBesi Manchu, yang membuatnya makin sulit menahannya.

Pada pagi hari yang cerah pada Maret, Pangeran Ts'eng Junior meminta audiensi secara langsung. Dia memasuki balairung dan mengumumkan bahwa dia telah bergabung dalam Boxers. Sambil mengepalkan tangannya, dia memberi sumpah setianya padaku. Berbaris di belakangnya adalah saudarasaudara dan sepupunya, termasuk Pangeran Ch'un Junior.

Kutatap wajah Pangeran Ts'eng yang dinodai bekas luka cacar. Matanya yang menyerupai musang memberi kesan ganas. Ts'eng terus menatap sepupunya yang tampan dan gagah, Ch'un, yang memiliki penampilan seperti para leluhur Pemegang Panji. Walaupun Pangeran Ch'un tumbuh menjadi karakter yang tampak menyenangkan, kata-katanya yang kasar menunjukkan kelemahannya. Kedua Pangeran itu adalah orangorang yang sangat antusias membuat slogan. Ch'un bisa berderai air mata saat mengungkapkan bagaimana dia akan mengorbankan hidupnya “untuk mengembalikan supremasi Manchu”

“Apa yang kauinginkan dariku?” tanyaku pada keponakanku.

“Untuk menerima kami sebagai anggota Boxers dan mendukung kami,” ujar Pangeran Ts'eng.

“Untuk mengizinkan Boxers mendapatkan bayaran seperti tentara pemerintah!” ujar Pangeran Ch'un.

Entah muncul dari mana, orangorang berseragam Boxers memasuki pekaranganku.

“Kenapa datang padaku saat kalian sudah menukar seragam militer Manchu kalian yang megah dengan kain rombeng jembel?” tanyaku.

“Maafkan kami, Yang Mulia.” Pangeran Ch'un berlutut. “Kami datang karena kami mendengar Kota Terlarang tengah diserang dan kau sedang dalam bahaya besar.”

“Keluar!” Kuperintahkan padanya. “Militer kami bukan untuk para kriminal dan pengemis!”

“Kau tak bisa mengusir begitu saja kekuatan pembela yang dikirimkan dari Langit, Yang Mulia!” Pangeran Ts'eng menantang. “Para pemimpin Boxers adalah orangorang dengan kekuatan gaib. Saat arwah memasuki mereka, mereka bisa menghilang dan kebal terhadap racun, tombak, bahkan peluru.”

“Biar kuberi tahu padamu, Jenderal Yuan baru saja menjejerkan orangorang Boxers di depan regutembak dan menembak mati mereka semua.”

“Jika mereka mati, berarti mereka bukan Boxers sejati,” Ts'eng ngotot. “Atau mereka hanya kelihatannya saja mati—arwah mereka akan kembali.”

Setelah membubarkan pasukan Boxers jadijadian, aku pergi menuju Yingfai. Sang Kaisar duduk di pojok ruangan seperti sebuah bayangan. Udara di sekitarnya mengeluarkan bau pahit obatobatan herbal. Meski sudah berpakaian dan bereukur rapi, dia tak memiliki semangat.

“Aku takut jika kita tidak mendukung gerakan ini,” ujarku, “dia akan berbalik menentang aturan kita dan menjatuhkannya.”

Guanghsu tak memberi reaksi.

“Apa kau tak peduli?”

“Aku lelah, Ibu, “

Aku kembali ke tanduku, tak pernah merasa begitu marah dan sedih bersamaan.


Musim dingin pada 1899 adalah musim terdingin sepanjang hidupku. Tak ada yang bisa menghangatkanku. Ahli nujumku mengatakan bahwa tubuhku telah kehilangan “api”nya. “Ujung jari yang dingin menandakan peredaran darah yang terganggu, artinya ada masalah pada jantung,” tabib menjelaskan.

Aku mulai bermimpi lebih sering akan orangorang yang telah mati. Yang pertama hadir dalam mimpiku adalah orangtuaku. Ayahku akan muncul dengan pakaian cokelat pudar yang sering dikenakannya dengan raut wajah tak senang. Ibuku akan terus berbicara tentang Rong. “Kau harus menjaga saudarimu, Anggrek,” dia akan mengulang nasihatnya berkalikali.

Nuharoo memasuki malammalamku dengan Hsien Feng di sisinya. Permata di papan rambutnya semakin membesar di setiap mimpiku. Dia menggenggam sekumpulan bunga peoni di tangannya. Sinar matahari menerangi bahunya seperti sebuah aura. Dia tampak bahagia. Hsien Feng tersenyum meski tetap diam.

Kunjungan Tung Chih tak bisa diramalkan. Biasanya dia akan muncul sejenak sebelum fajar tiba. Sering kali aku tak akan mengenalinya, tidak hanya karena dia telah tumbuh, tetapi juga karena dia memiliki karakter yang berbeda. Pada malam terakhir, dia datang sebagai seorang Boxers dengan mengenakan turban merah. Setelah dia memperkenalkan dirinya, Tung Chih akan menjelaskan bagaimana dia telah ditembak oleh Yuan Shihkai. Dia menunjukkan padaku lubang menganga di dadanya. Aku terkejut setengah mati dan langsung terbangun.


Beberapa laporan lagi menyebutkan bahwa penduduk lokal menyalahkan orang asing sebagai penyebab kesulitan mereka. Pengangguran besarbesaran para juru perahu di Kanal Besar terjadi akibat makin meluasnya penggunaan kapal uap dan rel kereta. Musimmusim tanam berikutnya yang buruk secara berturutturut meyakinkan para petani bahwa arwaharwah sedang marah. Para gubernur memohon pada Kaisar untuk “meminta orangorang barbar itu membawa pulang misionaris dan opium mereka”.

Tak banyak yang bisa kuperbuat. Yung Lu tak perlu mengingatkanku akan kosekuensi membunuh misionaris. Skuadron Angkatan Laut Jerman pernah memanfaatkan insiden kekerasan menyangkut warga negara mereka untuk merebut benteng yang melindungi Kota Tsingtao. Kiaochow kemudian diduduki dan teluknya dijadikan markas Angkatan Laut Jerman.

Aku berusaha mengumpulkan informasi mengenai para misionaris dan pengikutpengikutnya hanya untuk mendapatkan kisahkisah yang ganjil: sebagian orang mengatakan bahwa para misionaris menggunakan obat-obatan untuk mendapatkan pengikut, membuat ramuan obat dari janin bayi, dan membuka panti asuhan hanya untuk mengumpulkan bayibayi demi memuaskan nafsu kanibalisme mereka.

Dalam laporan yang lebih logis dan bisa dipercaya, kutemukan bahwa perilaku para misionaris dan pemerintah mereka sangat meresahkan. Gereja Katolik sepertinya mau melakukan apa pun demi mengumpulkan pengikut sebanyakbanyaknya, merekrut para tunawisma dan kriminal. Pemalas desa yang tengah menghadapi tuntutan hukum memilih untuk dibaptis agar mendapatkan keuntungan legal—melalui persetujuan traktat yang ada, orangorang Kristen diberikan perlindungan Kerajaan.

Kekacauan yang ditinggalkan oleh gerakan reformasi yang gagal menjadi lahan subur tumbuhnya kekerasan dan kerusuhan. Semakin banyak pencarimasalah memunculkan diri di pentas politik, di antaranya adalah Sun Yatsen, yang gagasannya akan pembentukan Republik Cina memikat banyak generasi muda Cina. Bekerja dengan orang-orang Jepang, Sun Yatsen menyusun rencana pembunuhan dan perusakan, terutama pada bidangbidang finansial pemerintah yang mapan.

Aku sering memimpin audiensi seorang diri akhirakhir ini. Kondisi kesehatan Guanghsu yang buruk membuatnya letih sehingga dia tak bisa diharapkan akan lebih dari setengahterbangun. Aku tak ingin gubernur provinsi, yang terkadang telah menanti seumur hidupnya untuk bertemu dengan Kaisar, menjadi kecewa.

Aku ingin dunia meyakini bahwa rezim Guanghsu masih kuat. Aku menjaga agar Cina dapat terus menghormati traktattraktat yang ada dan hakhak yang diberikan bagi orang asing. Sementara itu, aku berusaha memahami gerakan Boxers. Dekrit yang kukeluarkan untuk seluruh gubernur menyebutkan: “Akibat kegagalan membedakan antara yang baik dan buruk adalah pikiran yang akan dipenuhi rasa takut dan keraguan. Hal ini membuktikan bahwa orangorang itu bukannya berwatak tak patuh hukum, melainkan karena pemimpinpemimpin kamilah yang telah gagal.”


Aku memecat Gubernur Provinsi Shantung setelah dua misionaris Jerman terbunuh di sana. Aku menggantinya dengan seorang yang penuh tindakan, Yuan Shihkai. Aku tak memerintahkan untuk mengadili mantan gubernur itu—aku tahu tindakan seperti itu hanya akan membangkitkan kemarahan rakyat dan membuat posisiku lebih rentan. Sebaliknya, aku memindahkannya ke provinsi lain agar jauh dari tanggapan negatif pihak Jerman. Penyidikanku mengungkapkan bahwa alasan utama mantan Gubernur Shantung menerima tekanan dari pemerintah Jerman bukanlah karena kematian misionaris mereka, melainkan karena masalah hakhak mereka akan kekayaan Cina.

Gubernur lain juga melaporkan masalah. Dia telah berusaha menerapkan keseimbangan dengan membujuk Boxers agar tetap dalam posisi jinak dan bukan menjadi kekuatan yang agresif. Namun tak lama, para kriminal Boxers mulai membakar jalur kereta dan gerejagereja Kristen dan menduduki gedung pemerintah. “Langkah persuasif tak lagi mempan untuk membubarkan para pemberontak,“ keluh Gubernur itu, memohon izin untuk menekan mereka. “Pejabat militer kami, jika bersikap ragu dan toleran, hanya akan membawa kami pada bencana yang tak perlu.”

Di Shantung, Gubernur baru, Yuan Shihkai, mengurusi masalah dengan tangannya sendiri. Dia tak mengacuhkan nasihatku agar “orangorang itu dibujuk untuk membubarkan diri, tidak dihancurkan dengan kekuatan keras,” dan dia memburu Boxers itu hingga keluar dari provinsinya.

“Orangorang Boxers ini,” Yuan menulis setelahnya dalam telegram yang dikirimkan ke Kaisar, “mengumpulkan massa untuk mengitari jalanjalan. Mereka tak bisa dikatakan sedang membela diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Mereka membakar rumahrumah, menculik orangorang, dan menolak pasukan pemerintah; mereka dengan bebasnya melakukan aktivitas kriminal; mereka menjarah dan membunuh rakyat sipil. Mereka tak bisa dikatakan hanya sebagai anti orangorang Kristen.”


Akibat kekacauan politik yang terjadi, pemerintah di pedesaan sepanjang alur Sungai Kuning mengabaikan masalah yang senantiasa hadirmengendalikan banjir. Pada musim panas 1899, sebuah bencana berskala besar terjadi. Ribuan kilometer luas lahan di Utara Cina terbenam barijir, tanaman panen rusak, dan kelaparan mengikutinya. Berikutnya datang masa kekeringan, mengakibatkan ribuan keluarga petani kehilangan tempat tinggal. Pada masa inilah, jumlah orang yang bergabung dengan Boxers makin melonjak tajam. “Hingga seluruh orang asing habis dibasmi, hujan tak akan mengunjungi kita,” orang miskin yang frustrasi memercayai hal itu.

Di bawah tekanan TopiBesi, Dewan Istana mulai condong untuk mendukung Boxers. Setelah terusir keluar dari Shantung oleh Yuan Shihkai, Boxers bergerak ke Utara, melintasi provinsi Chihli kemudian ke Peking. Diikuti oleh ribuan petani di tengah perjalanan, yang meyakini Boxers tak akan terkalahkan, Boxers menjadi kekuatan tak terhentikan di masyarakat Cina. “Lindungi Dinasti Manchu dan hancurkan orang asing!” teriak orang-orang selagi mereka mengelilingi kedutaan asing.

Yung Lu dan aku masih tak dapat menentukan akankah sebaiknya kami menekan Boxers atau membiarkannya saja. Akan tetapi, sisa kalangan Istana telah memilih untuk bergabung dengan mereka.

Yung Lu mengatakan padaku bahwa dia tak meyakini akan kemampuan Boxers sesungghnya untuk memenangi peperangan melawan penyerbu asing. Namun, aku tak bisa mendorongnya untuk menantang Dewan Istana. Kuminta padanya untuk menyerahkan sebuah memorandum dan aku akan menjelaskan pada Dewan Istana alasan Boxers harus dihentikan. Dia setuju.

Saat menerima draft Yung Lu, aku memikirkan betapa anehnya hubungan kami kini. Dia adalah pejabat yang paling setia dan paling kupercaya dan aku terusmenerus bergantung padanya. Kami berdua telah melalui banyak hal bersama sejak kami masih begitu muda dan menyimpan cinta satu sama lain. Kini, kami berdua telah tumbuh tua dan peranperan yang mempertemukan kami terasa begitu nyaman dan kukuh. Perasaan itu masih ada di sana, tetapi ia telah melunak dan makin mendalam serta tinggal bersisian dengan kenyataan bahwa sekarang ini, di tengah kekacauan Cina, kehidupan dan ketahanan kami bergantung pada satu sama lain.

Hari ketika aku membacakan draft Yung Lu pada audiensi, Pangeran Ts'eng dan Ch'un menuduhku menghilangkan momentum untuk berperang melawan kaum barbar. Dengan orangorang Boxers yang telah berkerumun di distrik kedutaan Peking, para Pangeran berencana meminta izin Kaisar untuk memulai penyerangan.

Kuawali dengan mengatakan bahwa sangat membanggakan bagi Kaisar melihat rakyat kami menunjukkan keberaniannya dan menyaksikan semangat mereka membalas tindakan bangsa asing terhadap Cina. Kemudian kuminta agar kaum mudanya merenungkan konsekuensi tindakan mereka dan untuk meredakan amarah mereka sebelum realitas menghantam mereka.

Kukatakan pada mereka apa yang diberitahukan Yung Lu padaku, “Sebagai kekuatan Perang, Boxers sungguh tak banyak gunanya walau pengakuan mereka memiliki kekuatan gaib dan sihir bisa saja membantu menakutnakuti musuh. Akan tetapi, merupakan kesalahan, kalau tidak bisa dibilang fatal, bagi kami untuk memercayai pengakuan tak berdasar mereka, atau menganggap mereka bisa digunakan sebagai alat efektif dalam perang.”

Pidatoku menunjukkan pengaruh yang kuinginkan. Sebagian golongan konservatif akhirnya memilih membatalkan tindakan tergesa terhadap kedutaan asing. Walau demikian, gerakan Boxers terus memanas dan aku tahu tak lama lagi aku akan kehabisan pilihan.

Permintaan akan instruksi untuk menangani situasi yang terjadi terus berdatangan dari seantero negeri. Yung Lu dan Li Hungchang merancang sebuah strategi. Kaisar akan memusatkan untuk menghentikan Boxers di Selatan Cina, yang di sana negaranegara asing memiliki perusahaanperusahaan komersial terbanyak dan kami akan paling rentan dengan intervensi asing. Dekrit itu berbunyi, “Tujuan utamanya adalah untuk meneegah dekrit Kaisar dijadikan alasan bagi berkumpulnya para pemicu kerusuhan.“

Sekali lagi, dekrit itu terdengar ambigu. Ia tidak menolak sepenuhnya, tetapi memberikan sedikit kewenangan agar Li Hungchang dan para Gubernur Selatan lainnya bisa melanjutkan bisnisnya seperti biasa dengan negaranegara asing dan menekan Boxers, jika perlu, dengan angkatan tentara di wilayah provinsinya.

“Kaisar ingin mengingatkan warganya bahwa negara dipaksa untuk membayar kompensasi atas pembunuhan warga asing. Dalam kasus Shantung sendiri, di atas pemecatan menteri dan pembayaran enam ribu tael perak bagi para keluarga yang ditinggalkan, Jerman mendapatkan hak istimewa atas jalur kereta di Timur Laut, tambang batu bara, dan izin membangun pangkalan Angkatan Laut di Kiaochow. Kami kehilangan Kiaochow dan Tsingtao; Jerman mendapatkannya dalam bentuk haksewa selama sembilan puluh sembilan tahun.”




40



GUANGHSU TAK MENGANGKAT matanya dari jam yang tengah dia perbaiki ketika kuberitahukan padanya bahwa sepuluh ribu pengikut Boxers telah menguasai jalur rel di Kota Chochou, delapan puluh kilometer arah barat daya Peking. “Mereka menyerang dan membakar stasiun dan jembatan, bersama dengan kawat telegram. Pejabat lokal dihajar berkalikali karena memberikan iblis asing itu jalur persediaan.”

“Apa lagi yang baru?” Guanghsu bergumam.

“Guanghsu, kedutaan asing telah mengirim surat ancaman untuk mengambil tindakan militer jika kita tidak menekan Boxers, tetapi jika kita melakukannya, Boxers akan menggulingkan takhta.” Aku berhenti, marah melihat sikap apatis Guanghsu. Baginya, dunia terbungkus dalam jam dinding porselen Prancis, dengan awan dan malaikat terlukis di permukaannya.

Menyadari emosiku, Guanghsu mengangkat pandangan dari jamnya.

“Demi Langit,” teriakku, “katakan sesuatu!”

“Maafkan aku, Ibu...”

“Tolong, jangan memohon maaf padaku. Lawanlah aku atau lawanlah bersamaku, Guanghsu. Pokoknya, lakukanlah sesuatu!”

Anakku membenamkan wajahnya di balik kedua tangannya.


Pada awal 1900, jalanjalan Kota Peking menjadi ajang parade para Boxer. Keramaian makin tebal ketika “sihir” dipentaskan. Orangorang Boxer itu berlari bolakbalik, mengayunayunkan pedang dan tombak mereka. Senjata-senjata itu bersinar mengancam di bawah kilatan sinar matahari.

Di timur ibu kota, dekat T’ientsin, kekuatan Yung Lu berusaha mencegah Boxers memotong jalursambungan kereta antara kapalkapal asing di Taku dan kedutaan di kota. Yung Lu berhasil mencegah aksi mereka, tetapi penangkapan yang dia lakukan atas orangorang Boxers itu membuatnya sangat tak disukai. Pangeran Ts'eng Junior mengatakan pada temantemannya bahwa dia telah menaruh Yung Lu pada daftar orang yang ingin dibunuhnya. Pada 8 Juni, Boxers membakar bangkubangku penonton di jalur lintasan lari di Peking, tempat populer berkumpulnya warga asing. Dalam semalam, “krisis Cina” telah merebut perhatian dunia. George Morrison dari London Times menulis, “Sekarang sudah tak dapat dihindari bahwa kita harus berperang.”

Keesokan harinya, Pangeran Ts'eng, dengan beberapa pemimpin Boxers mengikutinya di belakang, memasuki Istana Musim Panas. Turban merah Pangeran Ts'eng basah oleh keringat dan kulitnya sewarna dengan ubi. Aku diberi tahu bahwa dia telah berusaha membangun otototot tubuhnya dengan memukulkan palu godam di bawah terik sinar matahari. Dia berbau arak dan mata musangnya bersinar.

Sebelum aku memiliki kesempatan untuk menanyakan padanya tentang pembakaran tempat lintasan lari, Pangeran Ts'eng memerintahkan seluruh kasimku ke pekarangan. Dia dan seorang pemimpin Boxers bernama Tuan Pedang Merah melanjutkan memeriksa kepala mereka. Dia ingin melihat apakah ada di antara mereka yang memiliki tanda salib pada kepalanya. “Salib ini tidak tampak bagi mata biasa,” ujarnya pada Li Lienying. “Hanya sedikit orang yang dapat mengenali orang Kristen dengan cara ini.”

Beberapa menit kemudian, Pangeran Ts'eng datang ke ruanganku bersama Tuan Pedang Merah. Ts'eng memberitahuku bahwa Tuan Pedana Merah telah menemukan dua orang kasimku yang memeluk Kristen. Dia memohon izinku untuk mengeksekusi mereka.

Aku tak bisa memercayai apa yang terjadi. Aku duduk mematung saat Tuan Pedang Merah melakukan kowtow. Aku bisa lihat lelaki itu begitu senang dan tegang pada waktu bersamaan—seorang petani biasa Cina hanya bisa bermimpi untuk melihat wajahku.

“Apa lagi yang kaujanjikan pada orang ini?” kataku pada Pangeran Ts'eng. “Apa kau akan menjadikannya Menteri Bidang Pertahanan Nasional?”

Tak tahu akan mengatakan apa, Pangeran Ts'eng menggosok hidungnya dan menggaruk kepalanya.

“Apakah Tuan ini pernah bersekolah?” tanyaku.

“Aku tahu cara membaca kalender, Yang Mulia,” sang Boxers menjawab sendiri.

“Jadi kautahu tahun apa sekarang ini.”

“Ya, tentu saja.” Sang Boxers tampak senang dengan kecepatan lidahnya sendiri. “Sekarang ini adalah tahun kedua puluh lima, Yang Mulia.”

“Tahun kedua puluh lima dari apa?”

“Dari ... dari era Guanghsu.”

“Apa kau mendengarnya, Pangeran Ts'eng? Sekali lagi, era apa, Tuan Pedang Merah?”

“Guanghsu“

“Lebih keras!”

“Guanghsu! Era! Yang Mulia!”

Aku beralih ke Pangeran Ts'eng. “Apa maksudku sudah jelas bagimu? Guanghsu masih Kaisar yang berkuasa.”

Aku menyuruh Boxers yang kebingungan itu keluar.

Pangeran Ts'eng tampak tersinggoung. “Yang Mulia, kau tak harus mendukung Boxers, tetapi aku membutuhkan uang untuk memberikanmu kemenangan.”

“Diam” hampir saja terlontar keluar mulutku. Aku harus menghela napas dalam untuk menenangkan diri. “Saat aku diminta mendanai bentengbenteng Taku, aku diberitahukan bahwa itu akan mencegah kedatangan orang asing untuk selamanya. Dan saat diminta mendanai Angkatan Laut baru, aku diberitahukan hal yang sama. Katakan padaku, Ts'eng Junior, bagaimana tongkat bambumu akan mengalahkan senapan dan meriam bangsa asing?”

“Yang Mulia, akan ada lima puluh ribu Boxers melawan sekian ratus birokrat asing. Aku akan memilih malam gelap gulita dan membanjiri kedutaan dengan orangorangku. Kita akan berada sangat dekat, hingga meriam mereka tak akan berguna.”

“Dan bagaimana kau akan mengatasi kekuatan penyelamatan bangsa asing yang akan datang dari laut?”

“Kita akan mengambil sandera! Kedutaan menyediakan tempat yang paling pas untuk melakukan negosiasi. Para sandera itu akan menjadi aset negosiasi kita. Aku hanya harus memastikan agar anak buahku tak memenggal tahanan mereka.” Ts'eng tertawa seolah dia telah menang.


Pangeran Ts'eng mendesak agar dia diberi kesempatan untuk mendemonstrasikan sihirnya dan agar Kaisar juga hadir. Maka pada hari berikutnya, di pekarangan luasku, di hadapan Guanghsu dan aku, para Boxers itu mempertontonkan keahlian mereka. Kemampuan beladiri mereka sungguh mengagumkan. Mereka membelah batu keras dengan tangan kosong. Dalam pertarungan sengit antara satu melawan sepuluh orang, Tuan Pedang Merah menaklukkan satudemisatu para ahli pedang, menjatuhkan mereka semua. Dia kemudian diserang oleh tusukan tombak dan peluru serta dibakar api, tetapi dia berhasil melewatinya tanpa terluka. Lawanlawannya, sebaliknya, tergeletak semua di atas tanah, kaget dan berdarah. Tak memercayai mataku, aku berusaha menerka tipuannya. Dari awal hingga akhir, Tuan Pedang Merah tampak berada dalam kondisi kerasukan, yang disebut oleh Pangeran Ts'eng sebagai “penyatuan spiritual dengan dewa perang”.

Aku terkesan, walau tetap tak yakin. Kupuji Boxers atas semangat patriotik mereka. Perasaan aneh menyelubungiku saat aku beralih ke Guanghsu dan melihat pandangan tak acuhnya. Aku berpikir tentang Pangeran Ts'eng: Betapapun buruknya dia, setidaknya dia masih mau berjuang.

Aku telah mengecewakan kedua anakku dan kedua anakku telah mengecewakan Cina. Setiap kalinya surat kabar asing menuduh Ts'eng sebagai “biang kejahatan” sementara memuji Guanghsu sebagai “Kaisar bijak”, luka lamaku akan kembali terbuka. Aku bayangkan bagaimana Guanghsu akan “diselamatkan” oleh kekuatan asing dan mengoubahnya menjadi raja boneka. Aku mulai mendengar suaraku melembut saat berbicara dengan orangorang seperti Pangeran Ts'eng.

Keesokan paginya, setelah Pangeran Ts'eng pergi, kasimku muncul dengan mengenakan seragam merah kumal Boxersnya. Saat Li Lienying menghadiahiku sebuah seragam untukku sendiri—hadiah dari Pangeran Ts'eng—aku tampar wajahnya.


Sekitar tengah hari, Guanghsu dan aku mendengarkan suara aneh seperti bunyi gelombang dari kejauhan. Aku tak bisa menebak sumbernya: itu bukan suara tupai memanjati pohon, bukan angin meniupi dedaunan, bukan arus sungai mengalir di bawah bebatuan. Aku jadi waspada dan memanggil Li Lienying, tetapi tak ada jawaban. Aku mencarinya ke seluruh ruangan. Akhirnya kasimku datang, kehabisan napas. Dia menunjuk ke belakangnya dengan telunjuknya dan membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara “Boxers”.

Sebelum aku menyadari apa yang tengah terjadi, Pangeran Ts'eng berdiri di hadapanku.

“Beraniberaninya kau memenuhi istanaku dengan gerombolan pembunuh liarmu!” bentakku.

Dia melakukan kowtow denan enggan. “Semua orang ingin mendengarkan dekrit darimu secara langsung,“ Ts'eng bertingkah seolah Kaisar sedang tak ada dalam ruangan.

“Siapa yang bilang aku akan mengumumkan dekrit?”

“Itu harus dilakukan tanpa menundanunda lagi, Yang Mulia.” Tangan Pangeran Ts’eng mengencangkan sabuk pinggangnya. “Boxers tak akan pergi sampai mereka mendengrarkan dekritmu.”

Kusadari Li Lienying sekarang sedang menunjuk ke arah langitlangit. Saat aku mendongak ke atas, aku tidak melihat sesuatu yang aneh. Aku kembali melihat ke bawah dan menyadari sebuah tangga diposisikan tepat di depan jendelaku. Beberapa menit kemudian, muncul suara jejak kaki dari atapku.

“Para Boxers sudah bersiap menyerang kedutaan, Yang Mulia,” Pangeran Ts'eng mengumumkan.

“Pergi dan hentikan mereka,” perintahku.

“Tetapi ... Yang Mulia!”

“Kaisar Guanghsu akan memerintahkan pada Pangeran Ts'eng Junior untuk segera memindahkan para Boxers.” Aku beralih ke Guanghsu yang menatap kosong ke ruangan.

Guanghsu mengalihkan pandangan dan berkata,

“Pangeran Ts’eng Junior diperintahkan untuk segera memindahkan para Boxers.”

Alis mata Ts'eng bertaut membentuk akar ginseng dan napasnya berat. Dia pergi mencengkeram bahu Guanghsu dan membisik keras, “Serangan akan berlangsung dini hari dan itulah dekritmu!”




 Baca Kelanjutannya...


Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified