Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 7


27



GUANGHSU MEMINTAKU pindah bersamanya ke Ying-t’ai, Paviliun Berteras Laut, yang bertempat di suatu pulau di Sungai Laut Selatan di sebelah Istana Musim Panas. Letaknya yang terpencil, ujarnya, akan membantunya berkonsentrasi.

Yingt’ai adalah surga yang sudah lama tak ditempati. Gedunggedung elegannya, yang sangat butuh perbaikan, terhubung dengan daratan melalui jalur tanah yang meninggi dan jembatan tarikan. Paviliun itu memiliki teras dari marmer yang melandai hingga ke sungai, dengan kanalkanal merentang disisipi oleh jembatanjembatan cantik.

Pada musim panas, sungai di sekelilingnya akan dipenuhi sekumpulan teratai hijau. Pada Agustus, bunga-bunga merah jambu besar akan menjulang dari alas hijaunya. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Ketika pekerjaan restorasi dilangsungkan, aku diminta untuk menamai ruangruang tinggalnya. Aku memilih nama Balairung Penuh Keanggunan, Ruang Istirahat Tenang, Ruang Perenungan Masalah, dan Ruang Hati Sunyi.

Aku mulai berpikir bahwa martabat bisa dimiliki tanpa kehadiran seorang teman. Aku jadi mulai tertarik pada ajaran Buddha. Ajaran yang menjanjikan kedamaian ini menarik minatku dan dia tidak mendiskriminasi wanita, sebagaimana halnya dengan ajaran Konfusius. Dewa-dewa Buddha menyertakan sosok wanita, salah seorang yang terkenal di antaranya adalah Dewi WelasAsih, KuanYin, yang kurasa memiliki kesamaan denganku. Sejujurnya, aku tak punya tempat lagi untuk berpaling.

Aku percaya pada belas kasih, tetapi aku mulai kehilangan kepercayaan pada orangorang di sekitarku. Sebagai contohnya, dulunya kupikir bahwa sikap adilku terhadap kasimkasim rumah akan memastikan kejujuran dan mendapatkan kesetiaan mereka, tetapi dengan pandangan menusuk, aku tetap saja akan mendapatkan seorang pembohong.

Aku pernah meminta kasimku Chow Tee untuk mengirimkan kue kacangmadu pada Li Lienying, yang saat itu tengah pergi berlibur untuk kali pertamanya dalam dua puluh sembilan tahun. Ketika Chow Tee menyampaikan terima kasih Li Lienying padaku, kutanyakan, “Apa kau sendiri yang kirimkan kue itu?”

“Aku yang kirimkan, tentu saja. Aku berlari agar Kepala Li dapat menerima kue itu saat masih hangat.”

“Bukankah di luar turun hujan?” kutanya.

“Benar.”

“Bagaimana mungkin pakaianmu tetap kering?”

Pada akhirnya, pembohong itu menerima sepuluh dera cambukan tongkat bambu.

Mencoba menenangkan diri sendiri, aku menatap keluar jendela pada bungabunga cameliaku yang tengah mekar. Pepohonan dipenuhi kuncup bunga. Sulit dipercaya, kini Li Lienying telah berusia lima puluh. Dia baru tiga belas tahun, saat Antehai kali pertama membawanya padaku.

Kini aku sudah enam puluh satu tahun, aku menjadi penuh kecurigaan pada orang lain dan semakin ragu pada penilaianku sendiri. Berkalikali aku memperingatkan bahwa aku tak akan menoleransi pembohong, tetapi berbohong telah menjadi bagian dari kehidupan di Kota Terlarang. Sejak peperangan kami dengan Jepang, aku tak pernah menerima laporan akan kekalahan militer kami. Satusatunya kabar yang dikirim ke Istana hanyalah kemenangan yang dengan gegabahnya kuterima dan kuanugerahi dengan promosi dan bonus.

Berdasar gerakan hati, aku akan mengambil satu momen untuk menguji kasimkasim dan dayangdayangku. Aku merasa sedih melakukannya, tetapi aku tak bisa bertindak lain. Aku harus bersikap tak terduga dan menguasai. Aku membuat peraturan untuk tangkas menggunakan cambuk. Ini telah menjadi caraku untuk bertahan secara mental.

Aku berusaha meninggalkan halhal sepele. Sebagai contoh, aku tak menghukum saat Li Lienying membuat lubang (“untuk mengeluarkan udara”) pada seluruh botol sampanyeku —hadiahhadiah Li Hungchang dari Prancis. Kasim itu memercayai suara letupannya akan mencelakakanku.


Sepanjang 1896, aku bekerja dengan Kaisar Guanghsu setiap harinya dan senang dengan kemajuannya. Dia berusaha sekeras mungkin untuk mengejar ketertinggalan urusanurusan Istana tetapi menemui hambatan yang besar dan membuat segalanya jadi teratur merupakan langkah pertama kami. Aku bangun lebih awal dan berjalan menyusuri jembatan batu untuk menyiapkan pikiranku untuk hari itu. Aku memandangi teratai mulai dari awal kuncupnya hingga akhir berseminya. Aku menemukan bunga pertamanya, yang merekah pada satu fajar musim panas.

Aku merasa janggal dengan ketenangan lingkungannya. Selagi memandang kasimku terjun ke dalam lumpur setinggi pinggang untuk mengambil akar teratai buat sarapanku, pikiranku berkutat memikirkan apakah sebaiknya aku menekan Kaisar untuk menyetujui proposal terakhir Li Hungchang mengajukan pinjaman tambahan.


Kami tertinggal dalam pembayaran rutin kami dan bank-bank asing sudah memberikan ancaman. Sangat jelas bagi kami bahwa kekuatan asing tengah mengincar wilayah kami dan berusaha mencaricari sebuah alasan untuk memulai penyerangan.        

Saat akar teratai panggang disuguhkan, Guanghsu tak berselera. Aku duduk di sisinya, tetapi tak memiliki kata-kata untuk menenangkannya. Sekarang ini, aku sudah memahami kebiasaan Guanghsu yang lebih senang menyendiri. Aku mencemaskan kesehatannya, tetapi aku tak ingin menanyakannya atau bahkan menyuruhnya untuk mengambil sumpitnya.

Setelah menghabiskan makananku, aku membilas mulutku dengan cepat dan pergi menuju ruang kerjaku untuk menyiapkan audiensi pagi. Guanghsu akan mengikuti beberapa menit kemudian. Aku akan menunggu kasim menyiapkan pakaiannya dan kami berdua akan memasuki tandu kami.

Mengakhiri audiensi pada sore hari, Guanghsu dan aku akan meneruskan diskusi tentang masalahmasalah hari itu. Sering kali, kami harus memanggil beberapi menteri dan penjabat untuk meminta informasi lebih terperinci. Saat Guanghsu melihatku mulai menguap, dia akan memintaku untuk berhenti dan beristirahat. Aku akan meminta cerutu, dan dia akan menyalakannya untukku. Sambil mengisap cerutu, aku akan meneruskan pekerjaanku hingga larut.


“Cina tak pemah menyulut masalah, tak pernah melakukan kesalahan, tak ingin berperang, dan bersedia memberikan pengorbanan,” isi artikel yang ditulis oleh Robert Hart. “Ia adalah orang besar yang tengah 'sakit', perlahanlahan memulih dari pengaruh buruk yang dideritanya semenjak ratusan tahun lalu, dan kini tengah diterkam oleh Jepang yang tangkas, sehat, dan memiliki persenjataan lengkap—tak adakah yang akan menolongnya?”

Guanghsu dan aku berharap komentar Hart akan membantu Cina merebut simpati dan dukungan dari belahan dunia lain. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Kekalahan kami oleh Jepang hanya mendorong kekuatan Barat untuk mengambil keuntungan lebih jauh dari kami. “Cacing itu telah menghabisi bangunan Cina yang kukuh, hingga tinggal menjadi segenggam debu”—sisa-sisanya menanti diambil oleh siapa saja.

Kami telah kehilangan Korea dan Angkatan Laut kami yang baru tengah menuju kehancuran. Setelah meniru habishabisan peradaban Cina selama ratusan tahun, orangorang Jepang dengan angkuhnya memandang hina mata air kebijaksanaan Timur yang sesungguhnya. Dunia sepertinya telah lupa bahwa pada 1871, Jepang masih membayar upeti pada Cina sebagai negara jajahan.

Sama seperti yang lain, Guanghsu mencurigai Li Hungchang telah membuat transaksi yang menguntungkan pihak Barat demi keuntungannya sendiri. “Li bisa menghasilkan traktat yang lebih baik daripada itu,“ ujarnya. Satusatunya bukti yang dimiliki oleh Guanghsu adalah bahwa Li Hungchang memercayakan menantu lelakinya dengan tugas menyediakan perlengkapan militer bagi Angkatan Bersenjata.

“Itu karena pengalaman Li dengan paman, saudara, dan sepupumu begitu buruk,” kukatakan padanya. “Li tak melakukan korupsi—yang merupakan cara Cina untuk mengandalkan koneksi pribadi. Pikirkan apa yang telah kauterima. Li telah berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kembali Angkatan Laut.”

“Aku tak dapat memaafkannya karena menyianyiakan kesempatan atas pertahanan yang lebih awal!” Suara Guanghsu meninggi menyusuri aula. “Dia menjual kita habishabisan!”

Guanghsu tak bisa menerima fakta bahwa kita telah dipaksa untuk menandatangani Traktat Shimonoseki, traktat paling memalukan yang pernah ditandatangani oleh seorang Kaisar sepanjang sejarah Cina.

“Jepang memberi peluang baginya untuk mengumpulkan uang. Apakah aku tak benar bahwa Li Hungchang merupakan orang terkaya di Cina?”

“Aku tak akan menyingkirkan anggota keluarga,” kuucapkan pelan. “Lebih baik bagiku melawan tetangga yang menindas. Li tak ingin ambil bagian dalam negosiasi dari awalnya. Dia ditugaskan,” kuingatkan Guanghsu, “oleh kau dan aku. Pihak Jepang telah menolak perwakilan yang kaukirimkan sebelumnya. Li satusatunya orang yang dipercaya Jepang memiliki kemampuan.”

“Tepat!” Guanghsu berujar. “Mereka memilihnya karena dia seorang teman. Jepang tahu Li akan memberi mereka kesepakatan yang menguntungkan.”

“Demi Langit, Guanghsu, peluru nyaris menewaskannya! Jika bukan karena aksi pembunuhan yang nyaris terjadi, Jepang akan tetap menuntut pada permintaan asalnya, dan kita akan kehilangan seluruh Manchuria ditambah tiga ratus juta tael!”

“Bukan aku sendiri yang menuduh Li.” Guanghsu menunjukkan padaku sebuah dokumen. “Pemeriksa dari Dewan Istana juga telah menyelidikinya. Dengarkan.” Dia membacakan, “'Li Hungchang menanam banyak investasi pada bisnis Jepang dan dia tak ingin kehilangan keuntungannya dengan berlarutnya perang. Dia sepertinya khawatir jika sejumlah besar uang dari hasil spekulasinya, yang telah dia depositokan di Jepang, akan hilang; karena itu, dia menolak perang.”

“Jika kau tak bisa terima fakta bahwa aksi penyerangan Li Hungchang sebagai perlawanan terhadap Kaisar, aku tak akan bisa atau tak seharusnya bekerja denganmu!” Aku sungguh kesal.

“Ibu,” Guanghsu jatuh berlutut. “Aku hanya berbagi denganmu apa yang kuketahui. Kau terlalu bergantung pada Li. Bagaimana jika dia tidak seperti yang Ibu pikirkan?”

“Jika saja kita memiliki pilihan, Guanghsu.” Aku mendesah. “Kita membutuhkannya. Jika Li tidak cermat memanfaatkan rasa kewaspadaan dunia internasional, Jepang belum akan mundur dari Semenanjung Liaotung.”

“Tetapi jepang menuntut kita tiga puluh juta tael lagi sebagai kompensasi dan ganti rugi,” Guanghsu berkata sinis.

“Kita adalah negara yang dikalahkan, Anakku. Itu bukan kesalahan Li Hungchang.”

Guanghsu duduk diam, menggigiti bibirnya.

Aku memohon padanya agar tak menyianyiakan Li begitu saja. “Hanya kita yang bisa mernanfaatkan kecerdikannya untuk memberikan manfaat pada Kerajaan.”


Saat kutanyakan bagaimana pertemuan dengan para delegasi asing berlangsung, Guanghsu menjawab datar,

“Tak baik.“ Dia duduk dan meregangkan lehernya. “Aku yakin pihak asing itu sama kecewanya. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk meminta audiensi, hanya untuk menemukan betapa membosankannya aku.”

Aku ingat komentar suamiku, Hsien Feng, saat pihak asing meminta audiensi dengannya. Dia merasa bahwa dia hanya akan memberikan pada mereka kesempatan untuk meludahi wajahnya.

“Aku tak tahan memandangi mereka,” ujar Guanghsu. “Aku berusaha mengatakan pada diriku sendiri, aku akan bertemu dengan individuindividu, bukannya dengan bangsabangsa yang telah merendahkanku.”

“Kauterima semua delegasi?” tanyaku.

Guanghsu mengangguk. “Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman bertingkah seperti anjing. Mereka berusaha membuatku terpaksa meminjam lebih banyak uang. Apa yang harus kulakukan? Kukatakan pada mereka, Cina sudah tak sanggup lagi menanggungnya. Kukatakan pada mereka bahwa seluruh penghasilanku dihabiskan untuk membayar ganti rugi Jepang.”

Para bankir asing merupakan pembuat transaksi yang kejam. Aku ingat akan apa yang pernah dikatakan Li Hung-chang, pada saat aku bertanya, “Apa yang terjadi pada akhirnya?”

“Pada akhirnya? Aku meminjam dari mereka semua, menjanjikan pendapatan bea cukai dan transit serta pajak garam sebagai jaminannya.”

Kepedihan dalam suaranya tak tertahankan. Aku merasa tak berdaya dan sangat sedih.

“Aku tak siap dengan apa yang akan terjadi.” Anakku mendesah lagi. “Pihak Rusia terus mengangkut pasukan dan perlengkapan melalui jalur kereta kami melewati Manchuria ke laut.”

“Kami memberi mereka hak hanya untuk saat perang, bukan saat damai.” Aku bisa dengar keletihan pada suaraku sendiri.

Guanghsu menggelengkan kepalanya. “Pihak Rusia berniat tetap menggunakan jalur TransSiberia pada saat-saat tenang, Ibu.”

Berjalan keluar ke teras untuk mencari udara segar, aku memegang kedua pundak anakku. “Mari kita berharap rencana Li memanfaatkan satu orang barbar untuk mengendalikan yang lain akan berhasil.”

Guanghsu tak yakin. “Jepang sudah mendekati Peking,” ujarnya, “dan kita telah kehilangan pertahanan laut secara keseluruhan.”

Aku berdiri menyambut terpaan angin dan berharap bisa melewati momen ini.


Bagi anakku, setiap hari mendatangkan keputusan baru, beserta kekalahan dan kehinaan baru. Dia telah menjalani hidupnya dalam lubang tinja. Tung Chih beruntung: kematian membantunya meraih kedamaian.

Kegelapan memenuhi ruangan setelah Li Lienying pergi. Aku berbaring di bantalbantal empuk dan teringat suatu kali Li Hungchang pernah menasihatiku untuk menyimpan emas dan perakku di bankbank luar Cina.

“Seandainya Jepang...“ Aku ingat dia takut melanjutkan ucapannya, tetapi aku sudah paham maksudnya: Aku mungkin akan dipaksa meninggalkan Cina. Bayangan Ratu Min dibakar hiduphidup selalu tersimpan dalam benakku. Li Hungchang pasti mengira aku wanita kaya. Dia tak tahu betapa miskinnya aku. Aku terlalu malu untuk membiarkan orang lain tahu, bahwa aku telah menjual grup opera kesukaanku. Aku nyaris tak memiliki apa pun selain tujuh gelar kehormatan dari Kekaisaran. Li tak mendesak agar aku berkonsultasi dengan para manajer bank Inggris, di Hongkong dan Shanghai. Namun, saat dia meninggalkan istanaku, dia tak lagi bingung—dia sudah benarbenar paham akan prinsipku menghadapi kelangsungan hidup Cina.


Guanghsu dan aku mengira kekuatan Barat akan menghentikan agresinya begitu perjanjian yang telah disepakati mulai dilaksanakan. Namun, pada Mei 1897, pihak Jerman menemukan alasan lain untuk menyerang kami. Insiden itu bermula ketika bandit Cina merampok desa di Shantung, dekat pelabuhan Kiaochow, tempat pemukiman Jerman. Rumahrumah dibakar dan penduduknya dibunuh, termasuk dua orang misionaris Katolik Roma Jerman.

Sebelum pemerintah kami memiliki kesempatan untuk menyelidiki, skuadron Jerman melanjutkan ke Kiaochow dan merebut pelabuhan. Cina diancam dengan penindasan yang berat, kecuali jika kami dengan segera menyetujui untuk membayar kompensasi dalam emas dan mengadili para bandit.

Kaisar Jerman memastikan protesnya didengar dunia: “Dengan tekad penuh, kuputuskan untuk membatalkan sejak saat ini kebijakan penuh kehatihatian yang dinilai Cina sebagai bentuk kelemahan, dan untuk menunjukkan pada Cina, dengan kekuasaan penuh dan jika diperlukan, dengan kekerasan brutal, bahwa Kaisar Jerman tak bisa diperolokolok dan sangatlah buruk menjadikannya sebagai musuh.”

Empat hari kemudian, anakku datang padaku membawa kabar bahwa garnisun Cina di Kiaochow telah dipukulmundur. Setelah penaklukannya, Guanghsu dipaksa menyewakan pelabuhan itu beserta daratan di sekitarnya, dalam radius sejauh lima puluh kilometer, pada Jerman. Penyewaan sembilan puluh sembilan tahun itu menyertakan hak istimewa pertambangan dan jalur kereta yang berada di area tersebut.

Guanghsu gemetar saat mendengarkan Li Hungchang menjelaskan apa yang akan terjadi, jika dia menolak menandatanganinya.

Dalam beberapa bulan berikutnya, Li akan membawakan lebih banyak kabar buruk: Kapal perang Rusia berlabuh di benteng Pelabuhan Arthur, sebagaimana mereka diizinkan oleh traktat tahun 1896, dan mengumumkan bahwa mereka akan menetap di sana selamanya. Pada Maret 1898, Pelabuhan Arthur dan pelabuhan dagang Talienwan di dekatnya juga disewakan pada Rusia untuk jangka waktu dua puluh lima tahun, dengan hak atas pertambangan dan jalur kereta sejauh enam puluh mil di sekitarnya.

Menambah kekacauan ini, Perdana Menteri Inggris mengeluhkan bahwa “keseimbangan kekuasaan di Teluk Pechili terganggu,“ Inggris menuntut bahwa Weihaiwei, yang memiliki cakupan sama dengan Kiaochow, dikuasai oleh Jerman, yang akan “dialihkan ke Inggris begitu uang ganti rugi Jepang lunas dan kota telah dievakuasi.” Pihak Inggris juga menganugerahi dirinya sendiri perluasan area Kowloon, di daratan seberang Hongkong.

Tak ingin ketinggalan, Prancis juga menuntut hak sewa sembilan puluh sembilan tahun yang sama pada Pelabuhan Kwangchowan, di selatan Hongkong.

Ketika Dewan Istana memohon agar Kaisar mengambil alih situasi, Guanghsu memberikan setiap menteri salinan yang diterimanya dari Li Hungchang. Salinan itu berisi pengumuman yang dibuat oleh kekuatan Barat bersatu mengenai “lingkup pengaruh” di Cina. Jerman dan Rusia menyetujui bahwa seluruh lembah Sungai Yangtze dari Szechuan ke Delta Kiangsu menjadi milik Inggris. Inggris menyepakati bahwa bagian Selatan Kanton dan Selatan Yunnan menjadi milik Prancis. Area dari Kausu melalui Shensi, Shansi, Hunan, dan Shantung menjadi milik Jerman. Manchuria dan Chihli milik Rusia. Amerika Serikat yang mencintai kebebasan menjaminkan hak dan kesempatan yang sama bagi semua negara di area yang disewakan dan menyebut sikap mereka sebagai “Politik Pintu Terbuka”





28



AKU TAK MENGIRA akan bertemu Pangeran Kung untuk kali terakhirnya. Hari itu mendung menggayuti langit pada Mei 1898, saat aku menerima undangan darinya. Walaupun sakit, Pangeran Kung adalah lelaki dengan tubuh kuat dan semangat besar, dan semua orang mengharapkan dia akan sembuh. Saat aku tiba di sisi pembaringannya, aku terkejut melihat kondisinya dan segera tahu bahwa hidupnya akan segera berakhir.

“Aku harap kau tak keberatan jika ikan yang sekarat terus membuat gelembunggelembung udara,” ucap Pangeran Kung dengan suara lemah.

Kutanyakan jika dia ingin aku memanggil Kaisar.

Pangeran Kung menggeleng dan memejamkan matanya untuk mengumpulkan tenaga.

Aku menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Ada gelas, mangkok, tempolong, dan baskom diatur di sekitar tempat tidur. Wangi obatobatan herbal di ruangan tersebut begitu menusuk.

Pangeran Kung berusaha duduk, tetapi dia sudah tak lagi memiliki kekuatan. “Saudara Keenam,” ujarku, sambil membantu menegakkan sandarannya, “tak seharusnya kausembunyikan kondisimu.”

“Ini sudah kehendak Langit, Saudari Ipar,” Pangeran Kung terengah. “Aku lega bisa menemuimu.”

Dia mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan dua jemarinya yang bergetar.

Aku mendekat.

“Pertama, aku menyesal akan kematian Tung Chih.” Penyesalan memenuhi suara Pangeran Kung. “Aku tahu bagaimana penderitaanmu... aku meminta maaf. Putraku Tsaichen mendapatkan akhir yang sepantasnya.”

“Hentikan, Saudara Keenam.” Air mata menggenangi kedua mataku.

“Aku tak pernah memaafkan Tsaichen dan dia mengetahuinya,” ujar Pangeran Kung.

Namun, dirinya sendirilah yang tak bisa dimaafkannya. Aku tak pernah bisa menanyakan bagaimana Pangeran Kung melewati hariharinya setelah kematian putranya.

“Sungguh kasihan hati orangtua,” ucapku, sambil menyodorkannya sebuah handuk.

“Aku berutang banyak pada Hsien Feng.” Pangeran Kung menyeka wajahnya dengan handuk. “Aku gagal dalam tugasku. Aku telah mengecewakan Tung Chih dan sekarang aku harus meninggalkan Guanghsu.”

“Kau tak berutang apa pun pada Hsien Feng. Dia telah mencoretmu dari surat wasiatnya. Jika pun ada tugas untuk membesarkan dan mendidik Tung Chih, Hsien Feng menyerahkan kekuasaan itu pada Su Shun dan komplotannya.

Pangeran Kung akhirnya menyetujui perkataanku meski dia memilih untuk memercayai bahwa Su Shunlah, dan bukan saudaranya, yang telah memanipulasi surat wasiat Kekaisaran.

Lelah, dia kembali memejamkan matanya seolah hendak tidur. Memandang wajah Pangeran yang begitu pucat, aku teringat pada harihari ketika dia masih kuat, tampan, dan begitu penuh semangat. Impianimpiannya untuk Cina begitu hebat dan begitu pula dengan kemampuannya. Bahkan, aku pernah sekali berimajinasi, bahwa aku menikahi dirinya dan bukan Kaisar Hsien Feng.

Kurasa aku selalu meyakini bahwa Kung akan menjadi Kaisar yang lebih baik. Seharusnya dialah yang dianugerahi takhta—dan memang itulah yang semestinya terjadi jika bukan karena kecerdikan Guru Utama Hsien Feng, yang menasihati muridnya untuk berpurapura menampilkan rasa iba terhadap hewanhewan pada perburuan musim gugur. Pangeran Kung berhasil mengalahkan semua saudaranya hari itu, tetapi ayahnya justru tersentuh oleh hati adiknya. Merupakan kemalangan bagi negeri saat takhta diberikan pada Hsien Feng. Dan kemalangan satu, melahirkan kemalangankemalangan yang lain.

Aku ingin tahu apakah Pangeran Kung membenci hidup di bawah bayangbayang Hsien Feng, mengetahui dirinya telah dikhianati.

“Jika kau memiliki pertanyaan, sebaiknya kautanyakan sebelum terlambat,” Pangeran Kung berkata saat dia membuka matanya lagi.

Bayangan akan kehilangan dirinya sungguh berat. “Aku rasa kau tak ingin tahu pertanyaan yang kumiliki,” ujarku. “Kurasa bahkan tak pantas bagiku untuk menanyakannya.”

“Anggrek, kita berdua telah menjadi sahabat terbaik sekaligus kutukan terburuk bagi satu sama lain.” Pangeran Kung tersenyum. “Apa lagi yang kautakutkan akan mengancam hubungan kita?”

Maka, kutanyakan apakah dia pernah merasa sakit hati atas sikap ketidakadilan ayahnya dan adiknya yang mencuri takhta Kekaisaran.

“Kalaupun aku menyimpan sakit hati, rasa penyesalan diriku sendiri telah menghilangkan rasa sakitnya,” jawabnya. “Apa kauingat dengan September 1861?”

“Bulan kematian Hsien Feng?”

“Benar. Ingatkah kau pada perjanjian yang kita buat?

“Bukankah itu perjanjian yang baik?”

Pada masa itu, saat kami berusia dua puluhan, tak ada pikiran dalam benak kami berdua bahwa kami sedang mengukir sejarah. Saat itu, Pangeran Kung baru mengetahui bahwa namanya telah dicoret dari surat wasiat Hsien Feng. Dia ditinggalkan tak berdaya untuk dibantai oleh Su Shun. Dan aku menghadapi kemungkinan akan dibakar hiduphidup untuk menemani suamiku dalam perjalanannya menuju kehidupan selanjutnya.

“Su Shun telah berhasil melumpuhkan kita,” ucapku.

“Kaukah atau aku, yang kali pertama memunculkan ide untuk saling meminjamkan legitimasi masingmasing?” tanyanya.

“Aku sudah tak ingat. Aku hanya ingat kita sudah tak punya pilihan, selain untuk saling menolong.”

“Kaulah yang menulis penunjukanku sebagai pengganti Su Shun,” ujar Pangeran Kung.

“Benarkah?”

“Ya. Itu merupakan tindakan yang berani dan tak terduga.”

“Kau pantas mendapatkan jabatan itu,” ucapku lembut. “Itu sudah menjadi kehendak Langit dari mulanya.”

“Aku merasa bersalah karena bukan itu yang diinginkan oleh ayahku dan saudaraku, Hsien Feng.”

“Dinasti tak akan seperti sekarang tanpamu,” ujarku menekankan.

“Kalau begitu, aku ingin berterima kasih padamu atas kesempatan yang diberikan, Anggrek.”

“Kau adalah rekan yang baik, meski kau bisa begitu sulit “

“Apakah kaubisa memaafkanku atas kematian Tung Chih?”

“Kau menyayanginya, Kung, dan hanya itu yang akan kuingat, “

Hal kedua yang diinginkan Pangeran Kunog adalah janjiku untuk terus menghormati Robert Hart, seorang lelaki yang telah bekerja sama erat dengannya selama bertahuntahun.

“Dia adalah koneksi paling berharga yang bisa dimiliki Cina. Posisi kita di dunia pada masa depan bergantung pada bantuannya.” Kung merasa yakin Dewan Istana tak akan mengikuti instruksinya begitu dia meninggal. “Aku takut mereka akan mengusir Robert Hart.”

“Aku akan pastikan Li Hungchang menjalani perintahmu,”janjiku.

“Aku tak berhasil meyakinkan Dewan Istana untuk mengadakan audiensi pribadi dengan Robert Hart,” ujar Pangeran Kung. “Akankah kau mau menerimanya?”

“Apakah jabatannya memungkinkannya untuk bertemu denganku?”

“Jabatannya cukup tinggi, hanya saja dia bukan orang Cina,“ Kung berucap pahit. “Para menteri iri dengannya, karena aku memercayakan banyak hal padanya. Dia di benci bukan karena dia orang Inggris, melainkan karena dia tak bisa disuap.”

Pangeran Kung dan aku bermimpi andai kita memiliki lebih banyak orang dengan karakter seperti Robert Hart.

“Kudengar dia mendapatkan penghormatan dari Ratu Inggris? Apa itu benar?” tanyaku.

Pangeran Kung mengangguk. “Sang Ratu menjadikannya sebagi kesatria, tetapi Ratu lebih memedulikan prestasinya membuka Cina bagi Inggris daripada karena jabatannya.”

“Aku tak akan pernah menyianyiakan jasa Robert Hart,” janjiku.

“Hart mencintai Cina. Dia telah bersikap begitu toleran dan menerima saja sikap penghinaan Dewan Istana. Aku khawatir kesabarannya akan segera habis dan dia akan berhenti. Cina sangat bergantung pada kepemimpinan Hart. Kita akan kehilangan sepertiga dari pendapatan bea cukai, dan..., dinasti kita…”

Aku tak tahu bagaimana cara meneruskan pekerjaan Pangeran Kung. Aku tak bisa berkomunikasi dengan Robert Hart dan aku begitu ragu bisa meyakinkan Dewan Istana akan peranan pentingnya.

“Aku tak bisa melakukannya tanpamu, Saudara Keenam.” Aku menangis.

Tabib Kung membungkuk di dekatku dan mengatakan bahwa sebaiknya aku pergi.

Pangeran tampak tenang saat dia melambaikan tangan perpisahannya ke arahku.

Aku kembali keesokan harinya dan diberitahukan bahwa kesadaran Pangeran Kung melemah. Beberapa hari kemudian, dia memasuki koma.

Pada 22 Mei, dia meninggal.


Aku membantu merancang pemakaman sederhana untuk Pangeran Kung, sebagaimana yang dia minta. Kaisar memberitahukan secara pribadi pada Robert Hart akan kematian rekannya.

Sungguh sulit bagiku melepaskan Pangeran Kung. Sehari setelah pemakamannya, aku bermimpi akan kepulangannya. Dia bersama Hsien Feng. Keduanya tampak berusia dua puluh kembali. Pangeran Kung mengenakan jubah ungu, sementara suamiku mengenakan jubah satin putihnya.

“Hidup adalah menjalani sekarat dan lebih buruk daripada kematian,” ucap suamiku dengan nada depresi seperti biasanya.

“Benar,” Pangeran Kung berkata, “tetapi 'menjalani kematian' bisa juga diartikan sebagai 'kekayaan spiritual.”

Aku membuntuti mereka dengan gaun tidurku selagi mereka berbicara berdua. Aku memahami katakatanya, tetapi tidak maknanya.

“Pemahaman akan penderitaan memampukan penderitanya untuk berjalan di jalan keabadian,” suamiku melanjutkan. “Keabadian artinya kesanggupan untuk menanggung yang tak tertanggungkan.”

Pangeran Kung menyetujui. “Hanya setelah mengalami kematianlah, seseorang akan memahami kesenangan hidup.”

Masih dalam dunia mimpiku, kusela percakapan mereka. “Tetapi tak ada kesenangan dari hidupku. Hidup sama artinya dengan mati berulangulang. Kepedihannya sudah tak mungkin lagi untuk ditanggung. Ia seperti hukuman yang berlangsung terusmenerus, kematian yang tak kunjung usai.“

“Mati berulangulang akan memberikanmu kegairahan hidup,” ujar suamiku.

Sebelum aku bisa membantahnya, kedua lelaki itu menghilang. Di tempat mereka berdiri tadi, aku melihal seorang wanita yang sangat tua berjongkok di atas tumitnya di pojok ruangan yang luas dan gelap. Itu adalah diriku sendiri. Aku mengenakan pakaian pelayan dan tampak sakit. Tubuhku mengecil serupa ukuran anak kecil. Kulitku dipenuhi keriput dan rambutku abuabu dan putih.





28



AKU TAK MENGIRA akan bertemu Pangeran Kung untuk kali terakhirnya. Hari itu mendung menggayuti langit pada Mei 1898, saat aku menerima undangan darinya. Walaupun sakit, Pangeran Kung adalah lelaki dengan tubuh kuat dan semangat besar, dan semua orang mengharapkan dia akan sembuh. Saat aku tiba di sisi pembaringannya, aku terkejut melihat kondisinya dan segera tahu bahwa hidupnya akan segera berakhir.

“Aku harap kau tak keberatan jika ikan yang sekarat terus membuat gelembunggelembung udara,” ucap Pangeran Kung dengan suara lemah.

Kutanyakan jika dia ingin aku memanggil Kaisar.

Pangeran Kung menggeleng dan memejamkan matanya untuk mengumpulkan tenaga.

Aku menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Ada gelas, mangkok, tempolong, dan baskom diatur di sekitar tempat tidur. Wangi obatobatan herbal di ruangan tersebut begitu menusuk.

Pangeran Kung berusaha duduk, tetapi dia sudah tak lagi memiliki kekuatan. “Saudara Keenam,” ujarku, sambil membantu menegakkan sandarannya, “tak seharusnya kausembunyikan kondisimu.”

“Ini sudah kehendak Langit, Saudari Ipar,” Pangeran Kung terengah. “Aku lega bisa menemuimu.”

Dia mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan dua jemarinya yang bergetar.

Aku mendekat.

“Pertama, aku menyesal akan kematian Tung Chih.” Penyesalan memenuhi suara Pangeran Kung. “Aku tahu bagaimana penderitaanmu... aku meminta maaf. Putraku Tsaichen mendapatkan akhir yang sepantasnya.”

“Hentikan, Saudara Keenam.” Air mata menggenangi kedua mataku.

“Aku tak pernah memaafkan Tsaichen dan dia mengetahuinya,” ujar Pangeran Kung.

Namun, dirinya sendirilah yang tak bisa dimaafkannya. Aku tak pernah bisa menanyakan bagaimana Pangeran Kung melewati hariharinya setelah kematian putranya.

“Sungguh kasihan hati orangtua,” ucapku, sambil menyodorkannya sebuah handuk.

“Aku berutang banyak pada Hsien Feng.” Pangeran Kung menyeka wajahnya dengan handuk. “Aku gagal dalam tugasku. Aku telah mengecewakan Tung Chih dan sekarang aku harus meninggalkan Guanghsu.”

“Kau tak berutang apa pun pada Hsien Feng. Dia telah mencoretmu dari surat wasiatnya. Jika pun ada tugas untuk membesarkan dan mendidik Tung Chih, Hsien Feng menyerahkan kekuasaan itu pada Su Shun dan komplotannya.

Pangeran Kung akhirnya menyetujui perkataanku meski dia memilih untuk memercayai bahwa Su Shunlah, dan bukan saudaranya, yang telah memanipulasi surat wasiat Kekaisaran.

Lelah, dia kembali memejamkan matanya seolah hendak tidur. Memandang wajah Pangeran yang begitu pucat, aku teringat pada harihari ketika dia masih kuat, tampan, dan begitu penuh semangat. Impianimpiannya untuk Cina begitu hebat dan begitu pula dengan kemampuannya. Bahkan, aku pernah sekali berimajinasi, bahwa aku menikahi dirinya dan bukan Kaisar Hsien Feng.

Kurasa aku selalu meyakini bahwa Kung akan menjadi Kaisar yang lebih baik. Seharusnya dialah yang dianugerahi takhta—dan memang itulah yang semestinya terjadi jika bukan karena kecerdikan Guru Utama Hsien Feng, yang menasihati muridnya untuk berpurapura menampilkan rasa iba terhadap hewanhewan pada perburuan musim gugur. Pangeran Kung berhasil mengalahkan semua saudaranya hari itu, tetapi ayahnya justru tersentuh oleh hati adiknya. Merupakan kemalangan bagi negeri saat takhta diberikan pada Hsien Feng. Dan kemalangan satu, melahirkan kemalangankemalangan yang lain.

Aku ingin tahu apakah Pangeran Kung membenci hidup di bawah bayangbayang Hsien Feng, mengetahui dirinya telah dikhianati.

“Jika kau memiliki pertanyaan, sebaiknya kautanyakan sebelum terlambat,” Pangeran Kung berkata saat dia membuka matanya lagi.

Bayangan akan kehilangan dirinya sungguh berat. “Aku rasa kau tak ingin tahu pertanyaan yang kumiliki,” ujarku. “Kurasa bahkan tak pantas bagiku untuk menanyakannya.”

“Anggrek, kita berdua telah menjadi sahabat terbaik sekaligus kutukan terburuk bagi satu sama lain.” Pangeran Kung tersenyum. “Apa lagi yang kautakutkan akan mengancam hubungan kita?”

Maka, kutanyakan apakah dia pernah merasa sakit hati atas sikap ketidakadilan ayahnya dan adiknya yang mencuri takhta Kekaisaran.

“Kalaupun aku menyimpan sakit hati, rasa penyesalan diriku sendiri telah menghilangkan rasa sakitnya,” jawabnya. “Apa kauingat dengan September 1861?”

“Bulan kematian Hsien Feng?”

“Benar. Ingatkah kau pada perjanjian yang kita buat?

“Bukankah itu perjanjian yang baik?”

Pada masa itu, saat kami berusia dua puluhan, tak ada pikiran dalam benak kami berdua bahwa kami sedang mengukir sejarah. Saat itu, Pangeran Kung baru mengetahui bahwa namanya telah dicoret dari surat wasiat Hsien Feng. Dia ditinggalkan tak berdaya untuk dibantai oleh Su Shun. Dan aku menghadapi kemungkinan akan dibakar hiduphidup untuk menemani suamiku dalam perjalanannya menuju kehidupan selanjutnya.

“Su Shun telah berhasil melumpuhkan kita,” ucapku.

“Kaukah atau aku, yang kali pertama memunculkan ide untuk saling meminjamkan legitimasi masingmasing?” tanyanya.

“Aku sudah tak ingat. Aku hanya ingat kita sudah tak punya pilihan, selain untuk saling menolong.”

“Kaulah yang menulis penunjukanku sebagai pengganti Su Shun,” ujar Pangeran Kung.

“Benarkah?”

“Ya. Itu merupakan tindakan yang berani dan tak terduga.”

“Kau pantas mendapatkan jabatan itu,” ucapku lembut. “Itu sudah menjadi kehendak Langit dari mulanya.”

“Aku merasa bersalah karena bukan itu yang diinginkan oleh ayahku dan saudaraku, Hsien Feng.”

“Dinasti tak akan seperti sekarang tanpamu,” ujarku menekankan.

“Kalau begitu, aku ingin berterima kasih padamu atas kesempatan yang diberikan, Anggrek.”

“Kau adalah rekan yang baik, meski kau bisa begitu sulit “

“Apakah kaubisa memaafkanku atas kematian Tung Chih?”

“Kau menyayanginya, Kung, dan hanya itu yang akan kuingat, “

Hal kedua yang diinginkan Pangeran Kunog adalah janjiku untuk terus menghormati Robert Hart, seorang lelaki yang telah bekerja sama erat dengannya selama bertahuntahun.

“Dia adalah koneksi paling berharga yang bisa dimiliki Cina. Posisi kita di dunia pada masa depan bergantung pada bantuannya.” Kung merasa yakin Dewan Istana tak akan mengikuti instruksinya begitu dia meninggal. “Aku takut mereka akan mengusir Robert Hart.”

“Aku akan pastikan Li Hungchang menjalani perintahmu,”janjiku.

“Aku tak berhasil meyakinkan Dewan Istana untuk mengadakan audiensi pribadi dengan Robert Hart,” ujar Pangeran Kung. “Akankah kau mau menerimanya?”

“Apakah jabatannya memungkinkannya untuk bertemu denganku?”

“Jabatannya cukup tinggi, hanya saja dia bukan orang Cina,“ Kung berucap pahit. “Para menteri iri dengannya, karena aku memercayakan banyak hal padanya. Dia di benci bukan karena dia orang Inggris, melainkan karena dia tak bisa disuap.”

Pangeran Kung dan aku bermimpi andai kita memiliki lebih banyak orang dengan karakter seperti Robert Hart.

“Kudengar dia mendapatkan penghormatan dari Ratu Inggris? Apa itu benar?” tanyaku.

Pangeran Kung mengangguk. “Sang Ratu menjadikannya sebagi kesatria, tetapi Ratu lebih memedulikan prestasinya membuka Cina bagi Inggris daripada karena jabatannya.”

“Aku tak akan pernah menyianyiakan jasa Robert Hart,” janjiku.

“Hart mencintai Cina. Dia telah bersikap begitu toleran dan menerima saja sikap penghinaan Dewan Istana. Aku khawatir kesabarannya akan segera habis dan dia akan berhenti. Cina sangat bergantung pada kepemimpinan Hart. Kita akan kehilangan sepertiga dari pendapatan bea cukai, dan..., dinasti kita…”

Aku tak tahu bagaimana cara meneruskan pekerjaan Pangeran Kung. Aku tak bisa berkomunikasi dengan Robert Hart dan aku begitu ragu bisa meyakinkan Dewan Istana akan peranan pentingnya.

“Aku tak bisa melakukannya tanpamu, Saudara Keenam.” Aku menangis.

Tabib Kung membungkuk di dekatku dan mengatakan bahwa sebaiknya aku pergi.

Pangeran tampak tenang saat dia melambaikan tangan perpisahannya ke arahku.

Aku kembali keesokan harinya dan diberitahukan bahwa kesadaran Pangeran Kung melemah. Beberapa hari kemudian, dia memasuki koma.

Pada 22 Mei, dia meninggal.


Aku membantu merancang pemakaman sederhana untuk Pangeran Kung, sebagaimana yang dia minta. Kaisar memberitahukan secara pribadi pada Robert Hart akan kematian rekannya.

Sungguh sulit bagiku melepaskan Pangeran Kung. Sehari setelah pemakamannya, aku bermimpi akan kepulangannya. Dia bersama Hsien Feng. Keduanya tampak berusia dua puluh kembali. Pangeran Kung mengenakan jubah ungu, sementara suamiku mengenakan jubah satin putihnya.

“Hidup adalah menjalani sekarat dan lebih buruk daripada kematian,” ucap suamiku dengan nada depresi seperti biasanya.

“Benar,” Pangeran Kung berkata, “tetapi 'menjalani kematian' bisa juga diartikan sebagai 'kekayaan spiritual.”

Aku membuntuti mereka dengan gaun tidurku selagi mereka berbicara berdua. Aku memahami katakatanya, tetapi tidak maknanya.

“Pemahaman akan penderitaan memampukan penderitanya untuk berjalan di jalan keabadian,” suamiku melanjutkan. “Keabadian artinya kesanggupan untuk menanggung yang tak tertanggungkan.”

Pangeran Kung menyetujui. “Hanya setelah mengalami kematianlah, seseorang akan memahami kesenangan hidup.”

Masih dalam dunia mimpiku, kusela percakapan mereka. “Tetapi tak ada kesenangan dari hidupku. Hidup sama artinya dengan mati berulangulang. Kepedihannya sudah tak mungkin lagi untuk ditanggung. Ia seperti hukuman yang berlangsung terusmenerus, kematian yang tak kunjung usai.“

“Mati berulangulang akan memberikanmu kegairahan hidup,” ujar suamiku.

Sebelum aku bisa membantahnya, kedua lelaki itu menghilang. Di tempat mereka berdiri tadi, aku melihal seorang wanita yang sangat tua berjongkok di atas tumitnya di pojok ruangan yang luas dan gelap. Itu adalah diriku sendiri. Aku mengenakan pakaian pelayan dan tampak sakit. Tubuhku mengecil serupa ukuran anak kecil. Kulitku dipenuhi keriput dan rambutku abuabu dan putih.
 Ketika Guanghsu memohon padaku untuk ketiga kalinya atas kesempatan bertemu dengan Kang Yuwei, dia berlinang airmata. Merah matanya menunjukkan bahwa berharihari belakangan, dia tak bisa tidur. “Seperti yang kauketahui, Ibu, aku seorang 'kasim'. Sudah hampir mustahil aku bisa memberi keturunan, jadi reformasi yang sukses akan jadi satusatunya peninggalanku.”

Aku terkejut mendengar kejujuran dan rasa putus asanya. Tetapi aku harus bertanya: “Apa maksudmu kau tak bisa bercinta dengan Mutiara?”

Suara Guanghsu dipenuhi kesedihan dan rasa malu saat dia bergumam, “Tidak Bu, aku tak bisa. Aku akan dibenci oleh seluruh rakyat karena semua orang memercayai bahwa Langit akan menganugerahi seorang putra hanya bagi mereka yang berperilaku mulia.”

“Anakku, kularang kau berbicara seperti itu. Kau baru dua puluh enam tahun. Kau masih punya banyak waktu.“

“Ibu, tabibtabib memberi tahuku bahwa sudah tak ada lagi harapan.”

“Itu bukan artinya bahwa hidupmu sudah berakhir.”

Dia menangis dan kurentangkan tanganku untuk memeluknya. “Kau harus membiarkanku membantumu, Guanghsu.”

“Biarkan aku bertemu dengan Kang Yuwei, Ibu. Itu satusatunya jalan!”


Atas permintaanku, sebuah sesi wawaneara dengan Kang Yuwei telah diatur. Pihak penanya yang kupilih adalah Li Hungchang, Yung Lu, Guru Weng, dan Chang Yinhuan, mantan duta besar untuk Inggris dan Amerika Serikat. Aku menginginkan evaluasi pada orang yang “berpikiran serupa” dengan Kaisar ini.

Kang Yuwei dipanggil oleh Biro Urusan Luar Negeri pada hari terakhir Januari. Tanyajawab itu berlangsung hingga empat jam. Kukira wawaneara itu akan mengecilkan nyali warga Kanton itu, tetapi hasil catatan menunjukkan bahwa keberanian lelaki itu sungguh besar. Kang menunjukkan kepandaiannya sebagai pembicara yang dinamis dan sangat agresif dalam mengemukakan pandangan-pandangannya. Kini kupahami mengapa Mutiara dan Guanghsu begitu terpikat padanya. Seorang lelaki yang besar di istana seperti Guanghsu, tak pernah menemui seseorang yang begitu blakblakan seperti dirinya, seseorang yang sepertinya tak takut kehilangan apa pun.

Menurut Li Hungchang, Kang Yuwei memiliki wajah bulat dan berusia akhir tiga puluh. Evaluasi dari Li memaparkan bahwa pihak yang ditanya “menampilkan dirinya dengan begitu dramatis” dan bahwa dia “menghabiskan seluruh waktunya menerangkan topik reformasi dan keuntungan dari monarki konstitusi, seolah dia seorang guru di ruang kelasnya sendiri.”

Aku harus memberi penghargaan lebih atas keteguhan keempat lelaki berkuasa itu, yang dengan terpaksa mendengarkan ceramah Kang.

Li Hungchang mengatakan pada Kang bahwa ide-idenya tidaklah orisinal dan bahwa dia telah mengeksploitasi hasil kerja orang lain, yang tak diakui oleh Kang. Saw Li menanyakan pada Kang Yuwei akan idenya untuk mencari sumber pendapatan guna membayar pinjaman asing dan mendanai pertahanan nasional, Kang malah bicara melantur dan tak jelas. Saat Li menekannya, Kang menanggapi bahwa traktat tersebut “ditandatangani secara tak adil dan karena itu tak pantas dihargai” Saat ditanya bagaimana tindakannya mengatasi serangan Jepang, Kang Yuwei memberikan tawa dramatisnya sembari berlagak seperti orang bijak. “Kau tak bisa melimpahkan tanggung jawab padaku untuk membetulkan kesalahan kalian!”

Sebagai kesimpulannya, Li Hungchang menganggap sikap orang itu sangat mengesalkan dan Li meyakininya sebagai seorang oportunis, seorang fanatik, dan kemungkinan besar seorang yang terganggu jiwanya.

Guru Weng, dalam laporannya, untuk sebagian besar, sepakat dengan Li Hungchang, meski dialah yang pada awalnya membanggabanggakan temuannya atas “seorang genius politik yang sesungguhnya”. Kesombongan Kang Yuwei telah menyinggung para leluhur pendiri institusi Akademi Cina terkemuka. Guru Weng juga tersinggung ketika Kang mengkritik Kementerian Pendidikan dan menyebut para lulusan Kerajaan sebagai “bebekbebek mati yang mengambang di kolam tenang”.

“Dia merasa marah atas kegagalannya sendiri,” Guru Weng menilai dalam hasil evaluasinya. “Aku adalah Ketua Penguji saat dia mengikuti ujian negara itu meskipun aku tak pernah menilai hasil tesnya secara pribadi. Kang telah mencoba berulangulang kali dan dia telah membuktikan dirinya gagal setiap kalinya. Dia tidak menentang sistem itu sebelum sistemnya menendangnya habishabisan.”

“Menurut deskripsi Kang akan dirinya sendiri,” lanjut Guru Weng, “dia telah ditakdirkan untuk menjadi seorang guru besar seperti Konfusius. Hal ini begitu tak pantas dan tak bisa diterima. Kusimpulkan bahwa KangYuwei adalah seorang yang haus ketenaran dan yang memiliki tujuan utama hanya mengincar popularitas dan kemasyhuran.”

Duta besar Chang Yinhuan mengekspresikan lebih sedikit kekesalan dalam komentarnya, tetapi dia juga tidak memberikan hasil evaluasi yang positif. Padahal, sudah merupakan tugasnya untuk mengumpulkan orangorang menarik. jika pertemuan itu membawa hal positif, dia tentunya akan ingin mengambil kesempatan untuk mendapatkan pujiannya.

Yung Lu, yang baru kembali dari T’ientsin secara khusus untuk sesi wawanCara itu, menyerahkan padaku sehelai kertas kosong sebagai hasil evaluasi. Kurasa dia telah kehilangan minatnya begitu Kang mulai berkelit dari pertanyaanpertanyaan Li Hungchang.

Aku memercayai Li Hungchang, Yung Lu, Guru Weng, dan Duta Besar Chang; tetapi, aku merasa bahwa mereka, sama sepertiku, berasal dari masyarakat lama dan pastinya akan memiliki pandangan yang konservatif. Kami tidak senang dengan aturan yang ada, tetapi kami sudah terbiasa dengannya. Rencana reformasi Guanghsu tentu akan menimbulkan masalahmasalah, bahkan kesulitan bagi orangorang seperti kami. Anakku memiliki alasan untuk mengingatkanku bahwa akan ada rasa sakit yang menyertai kelahiran dari sistem baru.

Aku memiliki harapan besar, bahkan mungkin sebuah keyakinan, pada diri Guanghsu. Dengan memilih untuk berada di sisinya, aku meyakini akan memberikan kesempatan bagi Cina untuk bertahan.




Ketika Guanghsu memohon padaku untuk ketiga kalinya atas kesempatan bertemu dengan Kang Yuwei, dia berlinang airmata. Merah matanya menunjukkan bahwa berharihari belakangan, dia tak bisa tidur. “Seperti yang kauketahui, Ibu, aku seorang 'kasim'. Sudah hampir mustahil aku bisa memberi keturunan, jadi reformasi yang sukses akan jadi satusatunya peninggalanku.”

Aku terkejut mendengar kejujuran dan rasa putus asanya. Tetapi aku harus bertanya: “Apa maksudmu kau tak bisa bercinta dengan Mutiara?”

Suara Guanghsu dipenuhi kesedihan dan rasa malu saat dia bergumam, “Tidak Bu, aku tak bisa. Aku akan dibenci oleh seluruh rakyat karena semua orang memercayai bahwa Langit akan menganugerahi seorang putra hanya bagi mereka yang berperilaku mulia.”

“Anakku, kularang kau berbicara seperti itu. Kau baru dua puluh enam tahun. Kau masih punya banyak waktu.“

“Ibu, tabibtabib memberi tahuku bahwa sudah tak ada lagi harapan.”

“Itu bukan artinya bahwa hidupmu sudah berakhir.”

Dia menangis dan kurentangkan tanganku untuk memeluknya. “Kau harus membiarkanku membantumu, Guanghsu.”

“Biarkan aku bertemu dengan Kang Yuwei, Ibu. Itu satusatunya jalan!”


Atas permintaanku, sebuah sesi wawaneara dengan Kang Yuwei telah diatur. Pihak penanya yang kupilih adalah Li Hungchang, Yung Lu, Guru Weng, dan Chang Yinhuan, mantan duta besar untuk Inggris dan Amerika Serikat. Aku menginginkan evaluasi pada orang yang “berpikiran serupa” dengan Kaisar ini.

Kang Yuwei dipanggil oleh Biro Urusan Luar Negeri pada hari terakhir Januari. Tanyajawab itu berlangsung hingga empat jam. Kukira wawaneara itu akan mengecilkan nyali warga Kanton itu, tetapi hasil catatan menunjukkan bahwa keberanian lelaki itu sungguh besar. Kang menunjukkan kepandaiannya sebagai pembicara yang dinamis dan sangat agresif dalam mengemukakan pandangan-pandangannya. Kini kupahami mengapa Mutiara dan Guanghsu begitu terpikat padanya. Seorang lelaki yang besar di istana seperti Guanghsu, tak pernah menemui seseorang yang begitu blakblakan seperti dirinya, seseorang yang sepertinya tak takut kehilangan apa pun.

Menurut Li Hungchang, Kang Yuwei memiliki wajah bulat dan berusia akhir tiga puluh. Evaluasi dari Li memaparkan bahwa pihak yang ditanya “menampilkan dirinya dengan begitu dramatis” dan bahwa dia “menghabiskan seluruh waktunya menerangkan topik reformasi dan keuntungan dari monarki konstitusi, seolah dia seorang guru di ruang kelasnya sendiri.”

Aku harus memberi penghargaan lebih atas keteguhan keempat lelaki berkuasa itu, yang dengan terpaksa mendengarkan ceramah Kang.

Li Hungchang mengatakan pada Kang bahwa ide-idenya tidaklah orisinal dan bahwa dia telah mengeksploitasi hasil kerja orang lain, yang tak diakui oleh Kang. Saw Li menanyakan pada Kang Yuwei akan idenya untuk mencari sumber pendapatan guna membayar pinjaman asing dan mendanai pertahanan nasional, Kang malah bicara melantur dan tak jelas. Saat Li menekannya, Kang menanggapi bahwa traktat tersebut “ditandatangani secara tak adil dan karena itu tak pantas dihargai” Saat ditanya bagaimana tindakannya mengatasi serangan Jepang, Kang Yuwei memberikan tawa dramatisnya sembari berlagak seperti orang bijak. “Kau tak bisa melimpahkan tanggung jawab padaku untuk membetulkan kesalahan kalian!”

Sebagai kesimpulannya, Li Hungchang menganggap sikap orang itu sangat mengesalkan dan Li meyakininya sebagai seorang oportunis, seorang fanatik, dan kemungkinan besar seorang yang terganggu jiwanya.

Guru Weng, dalam laporannya, untuk sebagian besar, sepakat dengan Li Hungchang, meski dialah yang pada awalnya membanggabanggakan temuannya atas “seorang genius politik yang sesungguhnya”. Kesombongan Kang Yuwei telah menyinggung para leluhur pendiri institusi Akademi Cina terkemuka. Guru Weng juga tersinggung ketika Kang mengkritik Kementerian Pendidikan dan menyebut para lulusan Kerajaan sebagai “bebekbebek mati yang mengambang di kolam tenang”.

“Dia merasa marah atas kegagalannya sendiri,” Guru Weng menilai dalam hasil evaluasinya. “Aku adalah Ketua Penguji saat dia mengikuti ujian negara itu meskipun aku tak pernah menilai hasil tesnya secara pribadi. Kang telah mencoba berulangulang kali dan dia telah membuktikan dirinya gagal setiap kalinya. Dia tidak menentang sistem itu sebelum sistemnya menendangnya habishabisan.”

“Menurut deskripsi Kang akan dirinya sendiri,” lanjut Guru Weng, “dia telah ditakdirkan untuk menjadi seorang guru besar seperti Konfusius. Hal ini begitu tak pantas dan tak bisa diterima. Kusimpulkan bahwa KangYuwei adalah seorang yang haus ketenaran dan yang memiliki tujuan utama hanya mengincar popularitas dan kemasyhuran.”

Duta besar Chang Yinhuan mengekspresikan lebih sedikit kekesalan dalam komentarnya, tetapi dia juga tidak memberikan hasil evaluasi yang positif. Padahal, sudah merupakan tugasnya untuk mengumpulkan orangorang menarik. jika pertemuan itu membawa hal positif, dia tentunya akan ingin mengambil kesempatan untuk mendapatkan pujiannya.

Yung Lu, yang baru kembali dari T’ientsin secara khusus untuk sesi wawanCara itu, menyerahkan padaku sehelai kertas kosong sebagai hasil evaluasi. Kurasa dia telah kehilangan minatnya begitu Kang mulai berkelit dari pertanyaanpertanyaan Li Hungchang.

Aku memercayai Li Hungchang, Yung Lu, Guru Weng, dan Duta Besar Chang; tetapi, aku merasa bahwa mereka, sama sepertiku, berasal dari masyarakat lama dan pastinya akan memiliki pandangan yang konservatif. Kami tidak senang dengan aturan yang ada, tetapi kami sudah terbiasa dengannya. Rencana reformasi Guanghsu tentu akan menimbulkan masalahmasalah, bahkan kesulitan bagi orangorang seperti kami. Anakku memiliki alasan untuk mengingatkanku bahwa akan ada rasa sakit yang menyertai kelahiran dari sistem baru.

Aku memiliki harapan besar, bahkan mungkin sebuah keyakinan, pada diri Guanghsu. Dengan memilih untuk berada di sisinya, aku meyakini akan memberikan kesempatan bagi Cina untuk bertahan.

Kaisar terjepit di tengah saat Dewan Istana pecah ke dalam dua golongan: golongan reformis melawan golongan konservatif. Temanteman Kang Yuwei menyebutkan bahwa mereka mewakili Kaisar dan mendapatkan dukungan dari masyarakat, sementara pihak TopiBesi Manchu, dipimpin oleh Pangeran Ts'eng, anak Pangeran Ts'eng junior, dan saudara Kaisar Pangeran Ch'un Junior, menyebut lawannya sebagai “ahli gadungan dalam reformasi dan masalahmasalah Barat” Pihak konservatif melabeli Kang Yuwei sebagai “Serigala Liar” dan “si Mulut Besar”.

Sikap yang ditunjukkan TopiBesi masuk tepat dalam perangkap Kang. Dalam waktu semalam, serangan yang mereka gencarkan justru berhasil mengangkat nama cendekiawan Kanton yang gagal itu dari sosok tak dikenal menjadi tokoh nasional—“Penasihat Utama Kaisar dalam reformasi” .

Golongan moderat Istana terjepit di tengahtengah. Reformasi yang sudah mulai dijalankan oleh Yung Lu dan Li Hungchang tersingkirkan begitu saja oleh rencana-rencana Kang yang lebih radikal, dan kini mereka pun didorong untuk memihak salah satu. Yang makin memperburuk masalah, Kang Yuwei menggembargemborkan pada wartawan Barat bahwa dia mengenal akrab sang Kaisar.

Pada 5 September 1898, Guanghsu mengeluarkan dekrit baru yang menyatakan bahwa dia telah “berhenti memikirkan pemangkasan dahandahan”—menggunakan bahasa Kang Yuwei—dan akan “berencana untuk membabat habis akarakar yang membusuk”.

Beberapa hari kemudian, Kaisar memecat para Penasihat Kerajaan bersamaan dengan Gubernur dari Provinsi Kanton, Yunan, dan Hupeh. Gerbang istanaku dijaga karena para gubernur dan keluarga mereka telah mendatangi Peking, mencari dukunganku. Mereka memohon padaku untuk mengendalikan Kaisar.

Kantorku penuh dengan memorandum yang dikirimkan Guanghsu dan lawanlawannya. Aku berkonsentrasi mempelajari temanteman baru anakku. Meski tersentuh oleh sikap patriotisme mereka, aku menecmaskan kenaifan politik mereka. Pandanganpandangan radikal Kang Yuwei tampaknya telah mengubah jalan pikiran anakku. Guanghsu kini meyakini bahwa dirinya bisa mewujudkan reformasi dalam waktu semalam jika dia berupaya keras.

Selagi dedaunan berganti ke warna musim gugur, makin sulit bagiku untuk menahan diriaku sangat terdorong untuk mencampuri urusan putraku.


Di tengahtengah kekacauan yang terjadi, Li Hungchang kembali dari perjalanannya ke Eropa. Dia memintakan audiensi pribadi, dan dengan senang hati aku menerimanya. Membawakanku sebuah teleskop Jerman dan kue dari Spanyol, Li menyebut perjalanannya sebagai pengalaman yang makin membuka matanya. Li bahkan tampak berbeda; dia membiarkan janggutnya tak tercukur. Menjawab sarannya agar aku juga melakukan perjalanan sendiri, aku hanya bisa mengeluhkan bahwa Dewan Istana telah menolak ide itu; Guanghsu juga mengkhawatirkan aku akan tertembak. Dewan Istana meyakini bahwa aku mungkin akan ditangkap dan harga dari pembebasanku merupakan kedaulatan Cina.

Kuduga Li Hungchang membiarkan janggutnya tumbuh lebat untuk menutupi bekas luka tembaknya. Kutanyakan apakah rahangnya masih mengganggunya dan dia meyakinkanku bahwa rahangnya tak lagi sakit. Kuminta dirinya untuk menunjukkan padaku cara menggunakan teleskop. Dia menunjukkan lubang matanya, menyuruhku memusatkan mataku, dan mengatakan bahwa pada malam hari aku dapat melihat planetplanet dan bintang-bintang yang jauh.

“Kaisar akan menyenangi ini,” aku begitu takjub.

“Aku mencoba membawakan satu untuk Yang Mulia,” ujar Li, “tetapi aku ditolak masuk.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Yang Mulia memecatku sejak 7 September.” Li Hung-chang berbicara seadanya. “Sekarang aku tak punya pekerjaan dan gelar apa pun.”

“Memecatmu?” Aku hampir tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Benar.”

“Tetapi ... anakku tak pernah memberi tahuku.”

“Nanti juga dia akan memberi tahumu, aku yakin itu.”

“Apa ... apa yang akan kaulakukan?” Aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Aku merasa begitu buruk.

“Dengan izinmu, aku ingin tinggalkan Peking. Aku ingin pindah ke Kanton.”

“Apakah karena itu kau datang, Li Hungchang?” tanyaku. “Untuk memberi tahuku?”

“Ya, aku datang untuk mengucapkan perpisahan, Yang Mulia. Rekan dekatku, S.S. Huan, sudah siap melayanimu dalam segala hal. Akan tetapi, lebih baik jika dia tetap dijauhkan dari politik kerajaan.”

Kutanyakan pada Li Hungchang siapakah yang akan menggantikannya dalam medan diplomasi. Li menjawab,

“Pangeran Ikuang merupakan orang pilihan Istana menurut dari yang kuketahui.“

Aku merasa begitu ditinggalkan.

Li mengangguk pelan dan tersenyum. Dia tampak lemah dan begitu berserah pada nasib.

Kami duduk menatap kue eksotis yang ada di hadapan kami.

Setelah melihat temanku menghilang di balik koridor panjang, aku duduk di ruanganku sepanjang sisa sore hari itu.

Sebelum menjelang malam, aku mendengar suara berisik di depan gerbangku. Li Lienying datang dengan membawa pesan dari Yung Lu, yang telah bergabung dalam keramaian di luar, menuntutku untuk menghentikan Kaisar.

“Kang Yuwei telah meyakinkan Kaisar untuk memberi hukuman mati bagi para pejabat yang menolak pemecatan mereka,” bunyi pesan Yung Lu. “Aku telah diperintahkan untuk menangkap Li Hungchang, yang dipercayai oleh golongan reformis sebagai penghalang utama. Aku yakin tak akan lama lagi bagiku menerima perintah untuk eksekusiku sendiri.“

Haruskah kubuka gerbang itu? Tampaknya semua sudah begitu tak terkendali. Bagaimana Dinasti bisa bertahan tanpa Li Hungchang dan Yung Lu?

“Para pejabat dan menteri yang baru dipecat datang untuk berlutut di depan gerbang istana.” Li Lienying tampak begitu terkesima.

Aku pergi keluar melintasi pekarangan dan melihat melalui gerbang. Dengan bayangbayang terpapar matahari senja, kulihat keramaian itu tengah berlutut.

“Bukakan gerbangnya!” kukatakan pada Li Lienying.

Dua kasimku mendorong gerbangnya untuk membuka.

Kerumunan itu menjadi hening saat aku muncul di teras.

Aku diharapkan berbicara dan aku harus menggigit lidahku untuk menelan katakataku.

Aku teringat janjiku pada Guanghsu. Anakku hanya menjalankan haknya sebagai Kaisar, kukatakan pada diri sendiri. Dia patut mendapatkan kewenangan penuh.

Kerumunan itu tetap berlutut. Sungguh menyakitkan melihat begitu banyak orang menaruh harapannya padaku.

Aku berbalik dan menyuruh Li Lienying menutup gerbangnya.

Di belakangku, kerumunan itu mulai riuh, bangkit, dan mengeluh makin keras dan keras.


Di kemudian hari, aku akan mengetahui bahwa Yung Lu memiliki alasan lain untuk bergabung dengan pejabat-pejabat yang baru dipecat. Saat tengah bekerja membangun Angkatan Laut, dia mengawasi penuh pemerintah asing untuk memastikan bahwa mereka tidak berhubungan dengan elemenelemen subversif di Cina. Akan tetapi, ditemukan fakta bahwa para misionaris Amerika dan Inggris dan petualang Amerika dengan latar belakang militer secara diamdiam mengampanyekan pembentukan negara monarki konstitusional. Meskipun tujuan utama Yung Lu adalah menghindarkan dirinya dari tekanan untuk mengambil tindakan keras dalam reformasi, yang saat itu telah menjadi gerakan yang meluas ke sepenjuru negeri, dia terutama kaget dengan aktivitas subversif di tingkat atas yang berlangsung di kedutaan Jepang. Agenagen tersangka adalah para anggota dari Masyarakat Genyosha, golongan ultranasionalis yang bertanggung jawab atas pembunuhan Ratu Min di Korea.

Pangeran Ts'eng, putranya, dan Pangeran C’hun Junior merasa yakin bahwa Kang Yuwei mendapatkan sokongan dari kekuatan asing untuk menutupi aksi kudeta bersenjata sesungguhnya.

Yung Lu mengatakan dalam pesannya padaku, “Kepercayaan Kaisar terhadap Kang Yuwei telah membuat pekerjaanku jadi mustahil.“

“Aku tak punya pilihan selain mendukung Kaisar,” kutulis balasan untuk Yung Lu. “Terserah padamu untuk menghentikan aksi pemberontakan yang ada.”

 


33



REFORMIS ITU MENGHABISKAN malammalamnya di Kota Terlarang dan mendiskusikan implementasi dari rencana reformasi dengan Kaisar”—harian asing mencetak kebohongankebohongan Kang Yuwei setiap harinya. Siapa pun yang kenal dengan hukum Kerajaan akan tahu bahwa rakyat biasa tak akan dapat bermalam di Kota Terlarang. Barulah saat aku membaca “Solusi untuk reformasi Cina adalah penyingkiran janda Kaisar dari kekuasaan untuk selamanya,” aku baru memahami niatan Kang Yuwei.

Aku tak ingin membiarkan dunia berpikir bahwa Kang merupakan ancaman bagiku atau bahwa dia memiliki kekuasaan untuk memanipulasi anakku. Kebohongan-kebohongannya akan dibongkar begitu anakku memantapan posisinya dan aku sudah mundur sepenuhnya. Warga dunia akan melihat dengan mata mereka sendiri akan apa yang selama ini kurencanakan.

Aku menyenangkan hatiku sendiri dan mulai mengenakan rambut palsu. Berkat Li Lienying, yang sudah terlatih sebagai penata rambut, aku bisa tidur setengah jam lebih banyak pada pagi hari. Rambut palsu buatannya begitu mewah dengan hiasanhiasan cantik dan nyaman dikenakan.

Pada Juni, aku memutuskan untuk kembali ke Istana Musim Panas. Walaupun aku senang tinggal dengan Guanghsu di Yingfai, paviliun pulau kami yang tak jauh, kusadari bahwa dia perlu keluar dari lingkup pengawasanku. Guanghsu tak pernah menunjukkannya, tetapi aku tahu dia tidak menyukai fakta bahwa para kasimku dapat melihat semua orang yang masuk dan keluar dari ruangannya. Guanghsu khawatir memperlihatkan temantemannya ke TopiBesi, yang hanya ingin mencelakakannya. Aku mengerti bahwa Kaisar memiliki alasan untuk khawatir: kasimkasimku bisa disuap untuk mengkhianati siapa pun.

Golongan konservatif Istana tidak senang dengan kepindahanku karena mereka mengharapkan aku akan mematamatai Kaisar untuk mereka. Aku tahu bahwa anakku menyadari niatku, tetapi dia memercayaiku meski kami terus saja berselisih. Membiarkan Guanghsu dengan caranya sendiri berarti memberikan kepercayaan penuh padanya yang merupakan bantuan terbesar yang bisa kuberikan.

Pada malammalam hari, setelah aku selesai mandi, Li Lien-ying akan menyalakan lilinlilin dengan wangi vanila. Selagi aku membaca laporan terbaru Guanghsu, kasimku duduk di kaki tempat tidurku dengan keranjang bambu berisikan peralatannya. Di sana, dia akan mulai mengerjakan rambut palsu baruku. Ketika mataku mulai letih membaca, aku memandangnya menjahitkan perhiasan, potonganpotongan kaca, dan giok berukir ke rambut palsu itu. Tak seperti Antehai, yang mengekspresikan dirinya dengan menantang nasibnya, Li Lienying menemukan ekspresi dengan membuat rambut palsu. Beberapa tahun setelah Antehai terbunuh, aku begitu kesepian dan depresi, bahkan menduga Li Lienying memiliki peran dalam kematiannya. “Kau cemburu pada Antehai,” aku pernah menuduhnya. “Apa kau diamdiam memantramantrainya agar kaubisa menggantikannya?” Kukatakan pada Li Lienying bahwa dia tak akan mendapatkan apa yang diinginkannya jika kuketahui bahwa dia terlibat dalam pembunuhan Antehai.

Kasimku membiarkan rambut palsunya berbicara atas dirinya. Dia tak pernah menaruh sakit hati akan cara-caraku yang sering kali penuh emosi. Baru saat aku melihat bagaimana rambut palsunya telah membantu penampilanku, aku mulai benarbenar memercayainya. Setelah menginjak usia enam puluh, semakin sulit bagiku untuk memenuhi ekspektasi agar penampilanku menyerupai sosok Dewi Kuanyin. Li Lienying telah menolongku dengan banyak cara, yang membuatnya sebanding dengan Antehai.

Saat kutanyakan mengapa dia masih tahan denganku, dia menjawab, “Mimpi terbesar seorang kasim adalah dirindukan oleh Tuannya setelah kematiannya. Sungguh menenangkanku melihat Yang Mulia belum juga bisa melupakan Antehai. Itu artinya kau akan merindukanku juga jika aku mati esok.”

“Aku khawatir kau mesti terus hidup untuk menampilkan rambutrambut palsumu yang indah,” godaku. “Aku begitu miskin sampaisampai rambut palsu ini mungkin hanya akan jadi satusatunya barang yang bisa kutinggalkan untukmu saat aku mati.”

“Tak ada keberuntungan yang melebihi itu, Tuan Putri.”


Pada saat bunga wisteria memanjat teralis, aku masih belum juga bisa mundur. Ketidakmampuan Guanghsu menggunakan kekuasaannya pada Dewan Istana membuat posisinya begitu rentan. Dia telah membuat musuh dengan setiap anggota senior dari orang lama Istana dan para penasihat barunya tak memiliki pengaruh politik ataupun kekuasaan militer untuk mengambil tindakan efektif Tak ada langkah kritis reformasi yang telah dijalankan dan tampaknya seluruh program perubahan Guanghsu mulai menuju penghabisannya.

Aku akan kehilangan semuanya jika reformasi Guanghsu salah dijalankan. Aku akan dipaksa untuk menggantikannya dan itu akan mengorbankan masa tenang pensiunku—aku harus memulai segalanya dari awal lagi, memilih dan membesarkan seorang bayi lelaki lagi yang kelak akan memerintah Cina.

Yang memicu rasa frustrasiku juga adalah menyadari bahwa konsekuensi pemecatan Li Hungchang mulai menampakkan akibatnya. Harapan akan industrialisasi negara mulai menemukan kebuntuan. Semua orang menanti Li Hungchang, satusatunya orang dengan koneksi dalam dan luar negeri yang diperlukan untuk mengerjakannya.

Yung Lu melanjutkan tugasnya di medan militer, tetapi hanya karena aku turut campur pada menitmenit akhir untuk menghentikan anakku dari memecatnya. Di bawah pengaruh sihir sang Reformis, tindakantindakan Guanghsu menjadi lebih radikal. Makin sulit untukku mengikuti jalan pikirannya.

Kaisar terus menyatakan bahwa kemajuan reformasi terhambat oleh Yung Lu dan Li Hungchang. “Tetapi di atas segalanya,” ucapnya dengan air mata kemarahan menggenangi matanya, “itu karena bayangan Ibu masih duduk di balik tirai!”

Aku tak lagi menjelaskan. Aku tak bisa lagi membuat Guanghsu menyadari mengapa aku harus tetap terlibat. Aku telah memberinya izin untuk memecat Li Hungchang, tetapi dengan segera mulai menyiapkan rencana untuk kepulangannya kembali. Hanya masalah waktu saja sebelum Kaisar menyadari bahwa dia tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa peran Li dan perlu membenahi hubungan dengannya, sebagaimana pula dengan Yung Lu. Aku akan berfungsi sebagai perekatnya agar tak ada pihak yang akan berisiko kehilangan muka dan reputasi. Nyatanya, betapapun anakku telah membuat mereka marah dan terhina, kedua lelaki itu selalu kembali.


“Kegagalan dari bendungan sepanjang ribuan kilometer berawal dari satu koloni semut.” Itulah bunyi pesan dari Li Hungchang pada musim gugur 1898, yang memperingatkanku akan konspirasi asing untuk menyingkirkanku. Tujuan mereka adalah untuk menjadikan Guanghsu sebagai raja boneka.

Aku tak bisa mengatakan bahwa aku terkejut. Aku sadar bahwa anakku telah begitu larut dengan visinya akan Cina baru yang diwujudkan oleh tangannya sendiri. Namun, aku tetap memilih untuk berpurapura tak aculi karena aku tak sanggup lagi bertengkar dengannya. Aku hanya ingin menyenangkannya agar dia tak akan berpikiran macammacam selain menyadari rasa cintaku.


Saat aku tengah mengagumi goyangan bungabunga teratai diterpa semilir angin di Sungai Kun Ming, sang Reformis Kang Yuwei diamdiam mengontak fenderal Yuan Shihkai, tangan kanan Yung Lu di militer. Aku tak tahu bahwa izin Guanghsu akan “akses tak terbatas di Kota Terlarang” menjamah hingga ke kamar tidurku.

Seminggu setelah serangan keji terhadapku di sebuah surat kabar asing, aku menerima surat resmi dari Guanghsu. Melihat segel yang begitu kukenal dan membuka amplopnya, aku tak percaya dengan apa yang kubaca: sebuah permintaan untuk mernindahkan ibu kota ke Shanghai.

Aku tak bisa tetap tenang. Kupanggil anakku dan mengatakan padanya bahwa dia harus memberiku satu alasan bagus atas ide gilanya.

“Feng shui di Peking bekerja menentangku,” adalah yang hanya bisa dia katakan.

Aku mencoba menghentikan kata keras “Tidak”, bergulir dari dadaku.

Guanghsu berdiri di depan pintu seolah bersiapsiap melarikan diri.

Aku berjalan mengitari ruangan, kemudian berputar untuk menatapnya. Sinar matahari menerpa jubahnya, membuat aksesorisnya berkilauan. Dia tampak pucat.

“Tatap mataku, anakku.”

Dia tak bisa. Dia hanya memaku tatapannya ke lantai.

“Dalam sejarah,” ujarku, “hanya seorang Kaisar di tengah keruntuhan dinastilah, seperti Soong, yang memindahkan ibu kotanya. Dan hal itu juga tak mampu menyelamatkan dinastinya.”

“Aku memiliki tamu audiensi yang sedang menunggu,” ucap Guanghsu datar. Dia tak lagi ingin mendengarkan. “Aku harus pergi.”

“Apa yang akan kaulakukan terhadap inspeksi militer T’ientsin? Itu sudah dijadwalkan.” Aku memburunya hingga ke gerbang.

“Aku tak akan pergi.”

“Kenapa? Kau bisa mengetahui apa yang sedang dikerjakan Yung Lu dan Jenderal Yuan Shihkai.”

Guanghsu berhenti. Dia memutar tubuhnya dalam sudut yang ganjil dan tangannya mengarah ke tembok. “Tentu Ibu akan pergi, bukan?” Dia menatapku dengan tegang, mengedipkan matanya. “Siapa lagi? Pangeran Ts'eng? Pangeran Ch'un Junior? Siapa lagi?”

“Guanghsu, ada apa denganmu? Itu adalah idemu.”

“Berapa banyak orang yang pergi?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku ingin tahu!”

“Hanya kau dan aku.”

“Mengapa T’ientsin? Mengapa inspeksi militer? Apakah ada sesuatu yang ingin Ibu kerjakan di sana?” Wajanya hanya sekian inci dariku. “Ini hanya bikinbikinan, bukan?”

Seolah tibatiba dicengkeram rasa takut, tubuh Guanghsu mulai bergetar. Dia menahan dirinya dengan menekan tubuhnya ke tembok seolah sedang berusaha mengalahkannya. Momen ini membawaku kembali ke masa kecilnya saat dia pernah berhenti bernapas ketika mendengarkan cerita hantu.

“Ini alasan kepergianku,” ujarku. “Pertama, aku ingin mengetahui jika pinjaman asing yang kita ambil telah digunakan benarbenar untuk pembelanjaan pertahanan kita. Kedua, aku ingin menghargai para pasukan kita. Aku ingin seluruh dunia, terutama jepang, tahu bahwa Cina akan segera memiliki kekuatan militer yang modern.”

Guanghsu tetap tegang, tetapi dia akhirnya membiarkan dirinya bernapas.

Dibutuhkan waktu sepuluh hari baginya untuk menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Para penasihatnya mengatakan padanya bahwa aku telah berencana menggunakan acara militer untuk menggulingkannya dari takhta. “Mereka mengkhawatirkan keselamatanku.”

Aku tertawa. “Jika pun aku ingin menggulingkanmu, akan lebih mudah bagiku untuk melakukannya dari dalam Kota Terlarang sendiri.”

Guanghsu menyeka keringat dari wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku tak ingin mengambil kesempatan itu.”

“Seperti yang kauketahui, sudah ada proposal diajukan terkait dengan penggantianmu.”

“Apa yang kaupikirkan tentang proposalproposal itu, Ibu?”

“Apa yang kupikirkan? Apa kau masih duduk di Kursi Naga?”

Guanghsu memandang ke bawah, tetapi berkata dengan jelas: “Sikap Ibu mendengarkan TopiBesi membuatku cemas bahwa Ibu akan mengubah pikiran tentangku.”

“Tentu saia kudengarkan. Itu harus kulakukan untuk bertindak adil. Aku harus mendengar atau setidaknya berpurapura mendengarkan semua orang. Itulah caraku untuk melindungimu.”

“Apakah Ibu akan mengikuti ide Pangeran Ts'eng?”

“Itu bergantung. Aku akan tampak bodoh jika itu harus terjadi. Aku ingin dunia berpikir bahwa aku tahu apa yang kulakukan saat aku memilihmu sebagai Kaisar Cina.”

“Dan memindahkan ibu kota ke Shanghai?”

“Siapa yang akan bertanggung jawab atas keselamatanmu di Shanghai? Lagi pula itu lebih dekat dengan Jepang. Pembunuhan Ratu Min dan penembakan Li Hungchang tentu bukan kecelakaan.”

“Itu tak akan terjadi padaku, Ibu.”

“Apa yang akan kulakukan jika itu terjadi? Aku hanya tahu apa yang akan diminta Jepang sebagai ganti nyawamu. Ito akan berhasil memperoleh kemegahan arsitektur dari Kota Terlarang.”

“Kang Yuwei telah menjamin keselamatanku.”

“Memindahkan ibu kota ke Shanghai adalah ide buruk.

“Aku telah menjanjikan Kang Yuwei untuk melakukan apa pun yang dirasa perlu demi menyukseskan reformasi.”

“Biarkan aku menemui Kang Yuwei sendiri. Sudah waktunya.”




33



REFORMIS ITU MENGHABISKAN malammalamnya di Kota Terlarang dan mendiskusikan implementasi dari rencana reformasi dengan Kaisar”—harian asing mencetak kebohongankebohongan Kang Yuwei setiap harinya. Siapa pun yang kenal dengan hukum Kerajaan akan tahu bahwa rakyat biasa tak akan dapat bermalam di Kota Terlarang. Barulah saat aku membaca “Solusi untuk reformasi Cina adalah penyingkiran janda Kaisar dari kekuasaan untuk selamanya,” aku baru memahami niatan Kang Yuwei.

Aku tak ingin membiarkan dunia berpikir bahwa Kang merupakan ancaman bagiku atau bahwa dia memiliki kekuasaan untuk memanipulasi anakku. Kebohongan-kebohongannya akan dibongkar begitu anakku memantapan posisinya dan aku sudah mundur sepenuhnya. Warga dunia akan melihat dengan mata mereka sendiri akan apa yang selama ini kurencanakan.

Aku menyenangkan hatiku sendiri dan mulai mengenakan rambut palsu. Berkat Li Lienying, yang sudah terlatih sebagai penata rambut, aku bisa tidur setengah jam lebih banyak pada pagi hari. Rambut palsu buatannya begitu mewah dengan hiasanhiasan cantik dan nyaman dikenakan.

Pada Juni, aku memutuskan untuk kembali ke Istana Musim Panas. Walaupun aku senang tinggal dengan Guanghsu di Yingfai, paviliun pulau kami yang tak jauh, kusadari bahwa dia perlu keluar dari lingkup pengawasanku. Guanghsu tak pernah menunjukkannya, tetapi aku tahu dia tidak menyukai fakta bahwa para kasimku dapat melihat semua orang yang masuk dan keluar dari ruangannya. Guanghsu khawatir memperlihatkan temantemannya ke TopiBesi, yang hanya ingin mencelakakannya. Aku mengerti bahwa Kaisar memiliki alasan untuk khawatir: kasimkasimku bisa disuap untuk mengkhianati siapa pun.

Golongan konservatif Istana tidak senang dengan kepindahanku karena mereka mengharapkan aku akan mematamatai Kaisar untuk mereka. Aku tahu bahwa anakku menyadari niatku, tetapi dia memercayaiku meski kami terus saja berselisih. Membiarkan Guanghsu dengan caranya sendiri berarti memberikan kepercayaan penuh padanya yang merupakan bantuan terbesar yang bisa kuberikan.

Pada malammalam hari, setelah aku selesai mandi, Li Lien-ying akan menyalakan lilinlilin dengan wangi vanila. Selagi aku membaca laporan terbaru Guanghsu, kasimku duduk di kaki tempat tidurku dengan keranjang bambu berisikan peralatannya. Di sana, dia akan mulai mengerjakan rambut palsu baruku. Ketika mataku mulai letih membaca, aku memandangnya menjahitkan perhiasan, potonganpotongan kaca, dan giok berukir ke rambut palsu itu. Tak seperti Antehai, yang mengekspresikan dirinya dengan menantang nasibnya, Li Lienying menemukan ekspresi dengan membuat rambut palsu. Beberapa tahun setelah Antehai terbunuh, aku begitu kesepian dan depresi, bahkan menduga Li Lienying memiliki peran dalam kematiannya. “Kau cemburu pada Antehai,” aku pernah menuduhnya. “Apa kau diamdiam memantramantrainya agar kaubisa menggantikannya?” Kukatakan pada Li Lienying bahwa dia tak akan mendapatkan apa yang diinginkannya jika kuketahui bahwa dia terlibat dalam pembunuhan Antehai.

Kasimku membiarkan rambut palsunya berbicara atas dirinya. Dia tak pernah menaruh sakit hati akan cara-caraku yang sering kali penuh emosi. Baru saat aku melihat bagaimana rambut palsunya telah membantu penampilanku, aku mulai benarbenar memercayainya. Setelah menginjak usia enam puluh, semakin sulit bagiku untuk memenuhi ekspektasi agar penampilanku menyerupai sosok Dewi Kuanyin. Li Lienying telah menolongku dengan banyak cara, yang membuatnya sebanding dengan Antehai.

Saat kutanyakan mengapa dia masih tahan denganku, dia menjawab, “Mimpi terbesar seorang kasim adalah dirindukan oleh Tuannya setelah kematiannya. Sungguh menenangkanku melihat Yang Mulia belum juga bisa melupakan Antehai. Itu artinya kau akan merindukanku juga jika aku mati esok.”

“Aku khawatir kau mesti terus hidup untuk menampilkan rambutrambut palsumu yang indah,” godaku. “Aku begitu miskin sampaisampai rambut palsu ini mungkin hanya akan jadi satusatunya barang yang bisa kutinggalkan untukmu saat aku mati.”

“Tak ada keberuntungan yang melebihi itu, Tuan Putri.”


Pada saat bunga wisteria memanjat teralis, aku masih belum juga bisa mundur. Ketidakmampuan Guanghsu menggunakan kekuasaannya pada Dewan Istana membuat posisinya begitu rentan. Dia telah membuat musuh dengan setiap anggota senior dari orang lama Istana dan para penasihat barunya tak memiliki pengaruh politik ataupun kekuasaan militer untuk mengambil tindakan efektif Tak ada langkah kritis reformasi yang telah dijalankan dan tampaknya seluruh program perubahan Guanghsu mulai menuju penghabisannya.

Aku akan kehilangan semuanya jika reformasi Guanghsu salah dijalankan. Aku akan dipaksa untuk menggantikannya dan itu akan mengorbankan masa tenang pensiunku—aku harus memulai segalanya dari awal lagi, memilih dan membesarkan seorang bayi lelaki lagi yang kelak akan memerintah Cina.

Yang memicu rasa frustrasiku juga adalah menyadari bahwa konsekuensi pemecatan Li Hungchang mulai menampakkan akibatnya. Harapan akan industrialisasi negara mulai menemukan kebuntuan. Semua orang menanti Li Hungchang, satusatunya orang dengan koneksi dalam dan luar negeri yang diperlukan untuk mengerjakannya.

Yung Lu melanjutkan tugasnya di medan militer, tetapi hanya karena aku turut campur pada menitmenit akhir untuk menghentikan anakku dari memecatnya. Di bawah pengaruh sihir sang Reformis, tindakantindakan Guanghsu menjadi lebih radikal. Makin sulit untukku mengikuti jalan pikirannya.

Kaisar terus menyatakan bahwa kemajuan reformasi terhambat oleh Yung Lu dan Li Hungchang. “Tetapi di atas segalanya,” ucapnya dengan air mata kemarahan menggenangi matanya, “itu karena bayangan Ibu masih duduk di balik tirai!”

Aku tak lagi menjelaskan. Aku tak bisa lagi membuat Guanghsu menyadari mengapa aku harus tetap terlibat. Aku telah memberinya izin untuk memecat Li Hungchang, tetapi dengan segera mulai menyiapkan rencana untuk kepulangannya kembali. Hanya masalah waktu saja sebelum Kaisar menyadari bahwa dia tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa peran Li dan perlu membenahi hubungan dengannya, sebagaimana pula dengan Yung Lu. Aku akan berfungsi sebagai perekatnya agar tak ada pihak yang akan berisiko kehilangan muka dan reputasi. Nyatanya, betapapun anakku telah membuat mereka marah dan terhina, kedua lelaki itu selalu kembali.


“Kegagalan dari bendungan sepanjang ribuan kilometer berawal dari satu koloni semut.” Itulah bunyi pesan dari Li Hungchang pada musim gugur 1898, yang memperingatkanku akan konspirasi asing untuk menyingkirkanku. Tujuan mereka adalah untuk menjadikan Guanghsu sebagai raja boneka.

Aku tak bisa mengatakan bahwa aku terkejut. Aku sadar bahwa anakku telah begitu larut dengan visinya akan Cina baru yang diwujudkan oleh tangannya sendiri. Namun, aku tetap memilih untuk berpurapura tak aculi karena aku tak sanggup lagi bertengkar dengannya. Aku hanya ingin menyenangkannya agar dia tak akan berpikiran macammacam selain menyadari rasa cintaku.


Saat aku tengah mengagumi goyangan bungabunga teratai diterpa semilir angin di Sungai Kun Ming, sang Reformis Kang Yuwei diamdiam mengontak fenderal Yuan Shihkai, tangan kanan Yung Lu di militer. Aku tak tahu bahwa izin Guanghsu akan “akses tak terbatas di Kota Terlarang” menjamah hingga ke kamar tidurku.

Seminggu setelah serangan keji terhadapku di sebuah surat kabar asing, aku menerima surat resmi dari Guanghsu. Melihat segel yang begitu kukenal dan membuka amplopnya, aku tak percaya dengan apa yang kubaca: sebuah permintaan untuk mernindahkan ibu kota ke Shanghai.

Aku tak bisa tetap tenang. Kupanggil anakku dan mengatakan padanya bahwa dia harus memberiku satu alasan bagus atas ide gilanya.

“Feng shui di Peking bekerja menentangku,” adalah yang hanya bisa dia katakan.

Aku mencoba menghentikan kata keras “Tidak”, bergulir dari dadaku.

Guanghsu berdiri di depan pintu seolah bersiapsiap melarikan diri.

Aku berjalan mengitari ruangan, kemudian berputar untuk menatapnya. Sinar matahari menerpa jubahnya, membuat aksesorisnya berkilauan. Dia tampak pucat.

“Tatap mataku, anakku.”

Dia tak bisa. Dia hanya memaku tatapannya ke lantai.

“Dalam sejarah,” ujarku, “hanya seorang Kaisar di tengah keruntuhan dinastilah, seperti Soong, yang memindahkan ibu kotanya. Dan hal itu juga tak mampu menyelamatkan dinastinya.”

“Aku memiliki tamu audiensi yang sedang menunggu,” ucap Guanghsu datar. Dia tak lagi ingin mendengarkan. “Aku harus pergi.”

“Apa yang akan kaulakukan terhadap inspeksi militer T’ientsin? Itu sudah dijadwalkan.” Aku memburunya hingga ke gerbang.

“Aku tak akan pergi.”

“Kenapa? Kau bisa mengetahui apa yang sedang dikerjakan Yung Lu dan Jenderal Yuan Shihkai.”

Guanghsu berhenti. Dia memutar tubuhnya dalam sudut yang ganjil dan tangannya mengarah ke tembok. “Tentu Ibu akan pergi, bukan?” Dia menatapku dengan tegang, mengedipkan matanya. “Siapa lagi? Pangeran Ts'eng? Pangeran Ch'un Junior? Siapa lagi?”

“Guanghsu, ada apa denganmu? Itu adalah idemu.”

“Berapa banyak orang yang pergi?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku ingin tahu!”

“Hanya kau dan aku.”

“Mengapa T’ientsin? Mengapa inspeksi militer? Apakah ada sesuatu yang ingin Ibu kerjakan di sana?” Wajanya hanya sekian inci dariku. “Ini hanya bikinbikinan, bukan?”

Seolah tibatiba dicengkeram rasa takut, tubuh Guanghsu mulai bergetar. Dia menahan dirinya dengan menekan tubuhnya ke tembok seolah sedang berusaha mengalahkannya. Momen ini membawaku kembali ke masa kecilnya saat dia pernah berhenti bernapas ketika mendengarkan cerita hantu.

“Ini alasan kepergianku,” ujarku. “Pertama, aku ingin mengetahui jika pinjaman asing yang kita ambil telah digunakan benarbenar untuk pembelanjaan pertahanan kita. Kedua, aku ingin menghargai para pasukan kita. Aku ingin seluruh dunia, terutama jepang, tahu bahwa Cina akan segera memiliki kekuatan militer yang modern.”

Guanghsu tetap tegang, tetapi dia akhirnya membiarkan dirinya bernapas.

Dibutuhkan waktu sepuluh hari baginya untuk menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Para penasihatnya mengatakan padanya bahwa aku telah berencana menggunakan acara militer untuk menggulingkannya dari takhta. “Mereka mengkhawatirkan keselamatanku.”

Aku tertawa. “Jika pun aku ingin menggulingkanmu, akan lebih mudah bagiku untuk melakukannya dari dalam Kota Terlarang sendiri.”

Guanghsu menyeka keringat dari wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku tak ingin mengambil kesempatan itu.”

“Seperti yang kauketahui, sudah ada proposal diajukan terkait dengan penggantianmu.”

“Apa yang kaupikirkan tentang proposalproposal itu, Ibu?”

“Apa yang kupikirkan? Apa kau masih duduk di Kursi Naga?”

Guanghsu memandang ke bawah, tetapi berkata dengan jelas: “Sikap Ibu mendengarkan TopiBesi membuatku cemas bahwa Ibu akan mengubah pikiran tentangku.”

“Tentu saia kudengarkan. Itu harus kulakukan untuk bertindak adil. Aku harus mendengar atau setidaknya berpurapura mendengarkan semua orang. Itulah caraku untuk melindungimu.”

“Apakah Ibu akan mengikuti ide Pangeran Ts'eng?”

“Itu bergantung. Aku akan tampak bodoh jika itu harus terjadi. Aku ingin dunia berpikir bahwa aku tahu apa yang kulakukan saat aku memilihmu sebagai Kaisar Cina.”

“Dan memindahkan ibu kota ke Shanghai?”

“Siapa yang akan bertanggung jawab atas keselamatanmu di Shanghai? Lagi pula itu lebih dekat dengan Jepang. Pembunuhan Ratu Min dan penembakan Li Hungchang tentu bukan kecelakaan.”

“Itu tak akan terjadi padaku, Ibu.”

“Apa yang akan kulakukan jika itu terjadi? Aku hanya tahu apa yang akan diminta Jepang sebagai ganti nyawamu. Ito akan berhasil memperoleh kemegahan arsitektur dari Kota Terlarang.”

“Kang Yuwei telah menjamin keselamatanku.”

“Memindahkan ibu kota ke Shanghai adalah ide buruk.

“Aku telah menjanjikan Kang Yuwei untuk melakukan apa pun yang dirasa perlu demi menyukseskan reformasi.”

“Biarkan aku menemui Kang Yuwei sendiri. Sudah waktunya.”



 Baca Kelanjutannya...