Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 6


23



GUANGHSU MEMILIH dua saudari dari klan Tatala yang memiliki hubungan dekat dengan klan Yehonala—sebagai selirnya. Gadisgadis itu merupakan muridmurid kesayangan Guru Weng. Awalnya, Guanghsu mendengar gurunya memuji mereka, kemudian begitu terkesan saat bertemu dengan mereka. Ayah para gadis itu adalah Sekretaris Biro Hukum Kerajaan, teman Pangeran Kung, yang terkenal akan pandanganpandangan liberalnya.

Aku tak tahu harus bersikap apa saat Guanghsu mengenalkan gadisgadis itu padaku. Gadis yang lebih muda, Zhen, atau Mutiara, belum genap empat belas tahun. Dia cantik dan sikapnya lebih seperti adik perempuan Guanglisu daripada selirnya. Mutiara penuh keingintahuan, cerdas, dan riang. Gadis yang lebih tua, Chin, atau Cahaya, berusia lima belas. Tubuhnya gemuk dengan wajah yang tenang, tetapi kaku. Guanghsu tampak senang dengan pilihannya dan meminta persetujuanku.

Meski ada banyak nama gadis yang direkomendasikan, dan yang menurut pendapatku jauh lebih memenuhi kualifikasi dalam hal kecantikan dan kecerdasan, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tak mencampuri keputusan Guanghsu. Aku bersikap sedikit egois dan mengira bahwa semakin kurang menariknya gadisgadis yang terpilih, akan lebih aman jadinya bagi keponakanku, Lan. Aku akan mencelakai Lan jika mengelilingi suaminya dengan kecantikan. Walaupun senantiasa berdoa agar Guanghsu dan Lan kelak jatuh cinta, aku selalu bertanya pada diri sendiri, “tetapi bagaimana jika tidak?”

Mutiara dan Cahaya melengkapi sebuah paket yang harmonis. Ketika kuderetkan dengan Lan, kupikir susunan itu begitu ideal: Mutiara masih belia, Cahaya pasif, dan Lan memperoleh kesempatannya untuk bercahaya. Keinginanku sekarang adalah mendorong Guanghsu untuk memiliki anak dari mereka semua.


Ketiga gadis itu hadir untuk jamuan teh dengan gaungaun indah mereka. Mereka mengingatkanku akan masa mudaku. Aku ingin mereka mengetahui akan penyesalanku atas hubunganku dengan Alute. Mereka tak menyangka akan keterusteranganku dan terkejut karenanya.

“Maafkan aku telah memaksa kalian mendengarnya,” jelasku. “Jika kalian belum mendengarkan kisahnya, cepat atau lambat kalian akan mendengarnya dari gosip istana. Alangkah baiknya, bila kuberi tahu kalian dari sudutku sendiri.”

Kuperingatkan mereka untuk menyingkirkan impian-impian mereka akan kehidupan di dalam Kota Terlarang. “Jangan terlalu memikirkan akan bagaimana hidup seharusnya, tetapi terimalah hidup seperti apa adanya.” Kubiarkan Lan tahu bahwa aku sangat senang memiliki kesenangan yang sama dengannya terhadap sastra dan opera, tetapi kuingatkan dia bahwa puisi dan opera hanya pengalih pikiran, bukan kesenangan sesungguhnya.

Gadisgadis itu tampak tak sepenuhnya mengerti, tetapi mereka semua menganggukangguk dengan patuh. “Alute dan Tung Chih jatuh cinta pada kali pertama mereka bertemu,” aku melanjutkan. “Namun, Tung Chih mengabaikannya setelah sekian bulan demi wanitawanita lain.“ Kusebutkan bagaimana aku telah kehilangan suamiku oleh selirselir Cina. “Dibutuhkan karakter, tekad baja, dan ketahanan untuk bisa bertahan di dalam Kota Terlarang.” Untuk menjelaskan maksudku, kutekankan bahwa aku tak akan menoleransi kehadiran Alute yang lain.

Sementara Lan, yang sudah mengetahui ceritanya, mendengarkan, Cahaya dan Mutiara membelalakkan mata mereka saat aku membicarakan mendiang menantuku, Alute. Aku harus berhenti untuk menyeka air mataku karena ingatan akan Tung Chih begitu menyesakkan.

Mutiara menangis saat aku menceritakan akhir hidup Alute yang begitu memilukan.

“Aku tak akan pernah melakukan apa yang dilakukan Alute meskipun aku begitu kecewa terhadap hidupku dan ingin mengakhirinya!” tangisnya. “Alute salah menginginkan kematian bayinya!”

“Mutiara,” Cahaya menyela. “Tolong, hentikan. Emosi negatif akan menCelakai kesehatan Baginda Ratu.”


“Akankah kau menyebut dirimu sendiri sudah berhasil bertahan dan sukses?” Lan bertanya padaku pada perjamuan teh kami yang ketiga.

“Bertahan, mungkin—tentu saja belum sukses,” adalah jawabanku.

“Semua orang di negeri ini mengira kehidupanmu bagai kisah dongeng,” Mutiara berkata. “Apa itu tak benar?”

“Untuk sebagian hal, kurasa ada benarnya,” aku menyetujuinya. “Aku tinggal di Kota Terlarang, ribuan orang melayaniku, lemari pakaianku sungguh tak terbayangkan, tetapi—“

“Kau dipuja ribuan orang,“ sela Lan.

“Bukankah begitu, Baginda Ratu?” kedua saudari mengikuti.

Aku terdiam, memikirkan apakah sebaiknya aku mengungkapkan pikiran terdalamku. “Aku akan mengatakan begini: Aku telah memperoleh kedudukan tinggi, tetapi kehilangan kebahagiaan.”

Meski disikut oleh saudaranya, Mutiara mengungkapkan ketidakpercayaannya dan memohon padaku untuk menjelaskannya.

“Ayahku seorang Gubernur Wuhu ketika aku berusia tujuh tahun,“ aku memulainya. “Aku bermain dengan temanteman kampungku di lapangan rumput, bukit-bukit, dan sungai. Kondisi keuangan keluargaku lebih baik dibandingkan dengan sebagian besar penduduk kota itu, yang mengandalkan hidupnya hanya pada hasil panen tahunan. Keinginan terbesarku saat itu adalah untuk bisa memberikan hadiah Tahun Baru pada sahabat terbaikku, seorang gadis kerempeng berkaki panjang yang biasa disebut Belalang. Belalang bilang bahwa jika aku sungguh-sungguh ingin membuatnya senang, yang harus kulakukan hanyalah membiarkannya membersihkan lubang tinja keluargaku.”

“Apa?” gadisgadis kerajaan itu terkejut. “Dia menginginkan tinjamu? “

Aku mengangguk. “Memperoleh suplai tinja yang tetap untuk menyuburkan lahan mereka merupakan impian setiap petani.“

Sembari menghirup teh terbaik, kujelaskan bagaimana Belalang dan keluarganya mendatangi rumah kami untuk menerima “hadiah” itu. Bagaimana setiap anggota keluarganya membawa ember kayu dan tiang bambu. Bagaimana mereka bernyanyinyanyi saat tengah mengosongkan lubang itu. Bagaimana Belalang akan berlutut di dalam lubang, menggerus pinggirannya hingga bersih.

Ketiga gadis lembut itu membelalakkan matanya. Mutiara tampak begitu terkejut hingga menutup mulut dengan tangannya, seolah takut pada katakata yang akan dikeluarkannya.

“Aku tak akan melupakan senyum yang terlukis di wajah Belalang,“ Kuhabiskan tehku. “Dia membuatku menyadari arti kebahagiaan itu. Aku tak pernah menemui kebahagiaan yang begitu sederhana, semenjak memasuki Kota Terlarang, “

“Kau mengatakannya seolah kau tak beruntung!” Mutiara tak dapat menahan diri untuk tak berkomentar.

“Benar,” desahku.


Guanghsu dan Guru Weng bergabung dengan kami untuk makan malam. Mutiara, dengan segala kepolosan dan daya tarik alaminya, memohon pada Guanghsu untuk membagi apa yang telah dipelajarinya hari itu. Sebagai murid Guru Weng sendiri, mereka saling meledek. Guang hsu tampaknya menikmati tantangan Mutiara dan hubungan pertemanan mereka berkembang di depan kedua mataku.

“Aku meyakini bahwa satusatunya harapan bagi Cina, akan keselamatannya adalah dengan belajar dan meniru ilmu dan teknologi dari negaranegara Barat,” Guanghsu berkata dengan nada tinggi dan Mutiara mengangguk-angguk setuju.

Saat Mutiara meminta Kaisar menunjukkan bagaimana cara kerja sebuah jam, Guanghsu meminta kasimnya untuk membawakan sebagian koleksi jamnya. Seperti pelakon pertunjukan, dia membongkar jamnya, menunjukkan cara kerja bagian dalamnya. Gadis itu terpana akan kepandaiannya, kedua kepala mereka bagai menempel selagi mereka berdua melanjutkan penelitiannya.

Aku bisa merasakan bahwa Lan berkeinginan memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Kaisar mengenai puisi dan sastra. Pada kesempatan berikutnya, ketika sedang bersama keponakanku, aku menanyakan bagaimana perasaannya. Kami berdua sedang duduk di depan cermin riasnya.

“Guanghsu lebih memerhatikan selirnya ketimbang Permaisurinya,” keluh Lan.

Aku tak ingin menjadi orang yang harus mengatakan hal ini padanya, tetapi tahu bahwa dia harus mempersiapkan dirinya: “Ini mungkin baru awalnya saja, Lan.”

Keponakanku mengangkat mata kecilnya dan menatap bayangannya di cermin. Dia menilai dirinya dengan saksama. Semenit kemudian, dia merendahkan kepalanya dan mulai menangis. “Aku jelek.”

Kutaruh tanganku di atas kedua bahunya.

“Tidak!” Dia mengibaskan tanganku. “Lihat gigiku. Begitu tonggos!”

“Kau cantik, Lan.“ Kuusap lengannya lembut. “Kau ingat Nuharoo, bukan? Siapa yang lebih cantik, dia atau aku? Semua orang berpikir dialah yang lebih cantik, temasuk aku sendiri, karena memang itulah kenyataannya. Aku bukanlah saingan bagi Nuharoo. Namun, Kaisar Hsien Feng meninggalkannya untukku.”

Keponakanku mengangkat matanya yang berkacakaca.

“Semua bergantung pada usahanya,” aku menyemangatinya.

“Apa yang dilihat Guanghsu pada Mutiara?”

“Keriangannya, mungkin…”

“Bukan, itu karena wajahnya.”

“Lan, dengarkan aku. Guanghsu dibesarkan dengan kecantikan di pekarangan belakangnya. Baginya, itu sudah tak ada artinya kecuali hiasan berjalan. Seperti yang kautahu, Tung Chih meninggalkan tiga ribu kecantikan dari seluruh dunia demi pelacur di rumah bordil.“

“Aku tak tahu bagaimana jadi lebih riang!” Air mata Lan mengaliri pipinya. “Semakin memikirkannya, semakin tegang aku jadinya. Aku bahkan tak bisa membuat Guang-hsu menatapku. “

Selagi kami berpamitan, kukatakan pada Lan bahwa masih ada waktu baginya jika dia ingin membatalkan pernikahannya.

“Tetapi aku ingin menjadi Permaisuri Cina,” ujar Lan, nada suaranya begitu tegas.

Itu kali pertamanya aku menyadari kekeraskepalaannya.

“Aku ingin menjadi sepertimu,” tambahnya.


Pada 26 Februari 1889, pernikahan Guanghsu dirayakan seantero negeri. Kaisar belum genap delapan belas tahun. Sama seperti Nuharoo, Lan memasuki Kota Terlarang dari Gerbang Utama, Gerbang Keselarasan Surgawi. Cahaya dan Mutiara masuk dari sampingnya, gerbang yang sama yang kumasuki tiga puluh tujuh tahun sebelumnya.

Seminggu kemudian, 4 Maret, aku mundur sebagai Wali. Ini kali kedua aku melakukannya. Usiaku lima puluh empat tahun. Semenjak itu, panggilan resmiku menjadi Janda Kaisar. Aku senang bisa kembali mengurusi taman-taman di Istana Musim Panas, meninggalkan urusan Istana yang memusingkan Guanghsu dan ayahnya, Pangeran Ch'un.

Kelompok gariskeras Manchu mengkhawatirkan komitmen Guanghsu akan reformiasi, yang ditunjukkannya dalam dekrit pertamanya: “Aku akan mengubah aturan lama Cina dan menghapuskan kekuatan reaksioner yang tak bisa membawa diri mereka untuk melihat kenyataan. Dan ini artinya demosi, pemindahan, pengasingan, dan eksekusi bagi mereka yang keras kepala.”

Meskipun aku tak memberi dukungan secara publik bagi Guanghsu, sikap diamku sudah cukup berbicara.

Membenci cara memerintah Guanghsu dan meragukan keputusanku untuk mundur dari kekuasaan, salah satu perwakilan gariskeras, seorang hakim provinsi, menyerahkan petisi yang memintaku untuk meneruskan perwalian. Yang mengejutkanku adalah jumlah tanda tangan yang mereka kumpulkan. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Orangorang pasti berpikir hahwa aku tak bersungguhsungguh dengan apa yang kukatakan. Kusadari bahwa hakim itu pasti berpikir bahwa aku tengah menunggu datangnya proposal semacam itu. Alihalih memberi penghargaan pada hakim itu dengan kenaikan pangkat, aku malah membatalkan rencana Dewan Istana untuk membahas petisi itu. Aku menyebutnya sebagai pemborosan waktu dan memecat sang hakim provinsi sambil memastikan bahwa itu merupakan pemiecatan permanen. Kujelaskan pada negara, “Tugas perwalian tak pernah menjadi keinginanku dari awalnya.”

Aku ingin membiarkan orangorang tahu bahwa pikiranpikiran yang buruk akan tumbuh layaknya rumput liar di Istana.


Kutandai hari pengunduran diriku dengan mengadakan perayaan, yang di sini aku akan membagi penghargaan pada banyak orang. Kukeluarkan setengah lusin dekrit untuk mengungkapkan rasa terima kasihku pada semua orang, mereka yang hidup dan mati, yang telah memberikan sumbangsihnya selama masa perwalianku. Di antara tokoh penting yang kuanugerahi penghormatan adalah seorang warga Inggris, Robert Hart, atas pengabdian dan prestasinya sebagai Inspektur Jenderal Layanan Bea Cukai Cina. Dekrit itu dikeluarkan meski mendapatkan tentangan kuat dari para menteri Istana. Kuanugerahi Hart sebuah gelar paling istimewa, peringkat leluhur akan Tingkat Pertama dari Kelas Pertama untuk Tiga Generasi. Itu artinya bahwa penghargaan itu berlaku surut, terlimpah pada para leluhurnya, bukan pada keturunannya. Hal ini mungkin tampak aneh dari sudut pandang orang Barat, tetapi bagi orangorang Cina, tak ada penghargaan lain yang bisa melebihinya.

Aku memilih berpurapura bisu dan tuli saat Penasihat Klan mengeluh, “Iblis Barat kini mempunyai status lebih tinggi daripada sebagian besar dari kita, bahkan dari para leluhur kita sendiri!”

Aku meyakini bahwa Robert Hart mewakili suatu perubahan revolusioner yang sangat dibutuhkan oleh Cina. Namun, Dewan Istana secara bulat menolak permintaanku untuk bertemu dengannya secara langsung. Menteri Urusan Bidang Etika mengancam akan mengundurkan diri, selagi dia mengemukakan buktibukti catatan yang menunjukkan bahwa sepanjang sejarah Cina, seorang wanita dengan statusku tak pernah menerima tamu lelaki asing. Tiga belas tahun akan berlalu, sebelum aku akhirnya menemui Robert Hart.


Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa pemugaran rumah peristirahatanku akan menjadi suatu skandal. Rencana itu bermula dari sikap kemurahan hati. Ketika aku memutuskan untuk menetap di Istana Musim Panas—yang sebelumnya bernama Ch'ing I Yuan, Taman Air Jernih Beriak—Pangeran Ch'unlah yang mendesak untuk memugarnya. Sebagai Kepala Menteri, dia berbicara atas nama Kaisar. Ch'un bermaksud menyediakanku tempat tingggal yang nyaman, yang dengan senang hati kuterima. Aku tak ingin mempermalukan Pangeran Ch'un dengan mengungkit bahwa dia telah menolak ide yang sama, saat diajukan oleh Tung Chih setelah dia naik takhta pada 1873. Saat itu, Ch'un menyebutkan bahwa mereka tak memiliki cukup dana untuk melakukannya. Aku tak habis pikir, bagaimana mereka bisa berhasil mengumpulkan dananya sekarang. Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa dia ingin aku betah menghabiskan waktu berjalanjalan di tamanku daripada mencampuri urusan negara. Aku tetap pasif karena aku merasa sudah saatnyalah bagi Pangeran Ch'un untuk merasakan bagaimana jika berada di posisiku. Sebagai menteri yang membawahkan Angkatan Laut, dia telah menjadi singa buas, selalu menggagalkan upaya Li Hungchang untuk memodernisasi Cina. Yang tak kuduga sebelumnya adalah teman komplotannya sekarang, Guru Weng. Weng adalah seorang liberal dan penganjur utama reformasi yang dulu mendukung inisiatif Li. Namun, ketika dia menjabat sebagai Menteri Pendapatan baru Pangeran Ch'un, Weng menyadari bahwa dia tak menyukai berbagi kekuasaan dengan Li. Pangeran Ch'un dan Guru Weng telah mengirim sejumlah memorandum yang mengkritik Li, dan membatalkan persetujuanku akan proyekproyek yang digagas Li. Kedua lelaki itu meyakini bahwa mereka bisa melakukan pekerjaan lebih baik jika diberikan kekuasaan penuh.

Aku telah memperingatkan pada Li Hungchang akan apa yang bisa terjadi saat aku mundur. Sangat menyedihkan melihat bagaimana Li terpaksa bertahan menghadapi penghinaan, penyerangan atas karakter, bahkan upaya pembunuhan. Satusatunya hal yang bisa kulakukan adalah untuk menunjukkan padanya betapa aku menghargainya. Dalam sebuah pesan yang dikirimkan Yung Lu untuk Li, sekutu terdekatnya di Istana, aku menulis, “Jika semua ini tak kuasa lagi kauterima, kau mendapatkan izinku untuk meninggalkan posisimu untuk alasan apa pun, “ Kukatakan padanya bahwa aku bersedia memberikan kompensasi berapa pun besarnya yang dia tuntut.

Li Hungchang meyakinkanku bahwa hal itu tak penting dilakukan, dan bahwa pemahamanku atas pengorbanannya sudah cukup untuk membuatnya bertahan. “Sama sekali bukanlah waktu yang baik untuk mengamati atau membiarkan para TopiBesi yang keras kepala menggunakan waktunya untuk menyadari semuanya dengan sendiri,” aku menulis padanya, “tetapi itulah yang terjadi denganku saat ini.”


Aku pernah tinggal dengan suamiku di Istana Musim Panas. Istana ini dipisahkan oleh sungai, yang disebut Sungai Utara, Sungai Selatan, dan Sungai Tengah. Tak sama seperti Yuan Ming Yuan, yang dibangun oleh kepandaian tangan manusia, Istana Musim Panas dirancang untuk menyelaraskan dengan keajaiban alam. Taman Air Jernih Beriak yang mengelilingi istana itu sendiri hanyalah bagian kecil dari area taman yang lebih luas. Di hamparan area luas ini, paviliunpaviliun terbuka berdiri di tengah lanskap hijau yang memukau, dan ketiga sungai besar itu berkilatan di antara bebukitan rendah. Kenanganku akan istana ini begitu menyenangkan.

Guanghsulah yang akhirnya meyakinkanku untuk mengizinkan pelaksanaan pemugaran itu. Dia secara pribadi membacakan pernyataannya pada Dewan Istana, mendesak untuk segera memulai pelaksanaannya. “Hanya itulah yang setidaknya bisa diberikan oleh Cina pada Baginda Ratunya, yang telah memikul begitu banyak penderitaan.” Aku bisa melihat Guanghsu tengah berusaha meneguhkan kemandiriannya, dan aku merasa harus mendukungnya.

Ketika menterimenteri kerajaan menulis untuk memperingatkanku akan “plotayahdananak” yang berencana untuk mengisolasiku secara politik, aku menuliskan di belakang surat mereka, “Jika plot itu ada, itu adalah rancanganku sendiri.“ Aku lebih mengkhawatirkan mengenai dari mana sumber dana itu akan datang. Prioritas utama Biro Angkatan Laut dan Pendapatan adalah membangun armada Laut Cina, dan aku menginginkan prioritas itu dihargai.


Pada Juni, Guanghsu memublikasikan dekritnya mengenai pemugaran tempat tinggalku: “... Aku kemudian teringat bahwa di sekitar Taman Barat, pernah berdiri sebuah istana. Sebagian besar gedungnya berada dalam kondisi buruk dan memerlukan pemugaran untuk membuatnya menjadi tempat yang tenang, dan menyenangkan bagi Ibu Suri Yang Mulia.” Dia memberi nama baru pada Taman Air Jernih Beriak: mulai dari sekarang, ia akan disebut sebagai Taman untuk Pemenuhan Keselarasan Masa Tua.

Setelah ragu sejenak, akhirnya kukeluarkan jawaban resmi: “Aku sadari bahwa keinginan Kaisar untuk memugar istana di area Barat mucul dari perhatiannya yang patut dihargai akan kesejahteraanku, dan atas alasan itu, aku tak mampu membalas permintaannya yang tulus dengan penolakan tajam. Lebih lagi, biaya konstruksi telah disediakan dari surplus dana yang terkumpul akibat kukuhnya perekonomian pada masa lalu. Dana di bawah pengawasan Biro Pendapatan tak akan disentuh dan tak akan mencederai pendapatan negara.”

Pernyataanku dimaksudkan untuk menjelaskan pada mereka yang menentang rencana tersebut, tetapi pada akhirnya aku terjatuh dalam perangkap. Segera, aku akan terjepit di antara dua peperangan, hal yang membuatku nyaris tak bertahan.

Peperangan pertama akan dipicu oleh Guru Weng. Ketika sang cendekiawan penggagas reformasi ini diberikan kekuasaan tertinggi, dia mendorong Guanghsu yang selama ini telab memiliki semangat besar akan reformasi. Saat dia bisa saja memainkan peranan yang lebih moderat, Guru Weng sebaliknya mendorong dia lebih kuat, mengarahkan Kaisar pada jalan yang kelak terbukti membawa bencana, baik pada keluarga kami maupun pada Cina.

Peperangan kedua merupakan perlawananku untuk bertanggung jawab terhadap kekalahan Cina dalam perang melawan Jepang. Bertahuntahun kemudian, saat semua orang melarikan diri dari tuduhan, akulah yang akan menanggung kehinaan itu. Apa yang bisa kulakukan? Aku selalu terjaga, tetapi aku tak juga bisa melepaskan diri dari mimpi buruk ini.

“Pada akhirnya,” seorang sejarawan pada masa datang akan menulis, “dana Biro Pendapatan memang tak digunakan, tetapi danadana penting, yang diestimasikan sekitar tiga puluh ribu tael, dirampas dari Biro Angkatan Laut demi Ibu Suri Tzu His—jumlah itu bisa melipatgandakan seluruh armada, yang akan membuat Cina mampu mengalahkan musuhnya.”

Malangnya, aku masih hidup untuk membaca kritik ini. Saat itu, aku sudah tua dan sekarat. Aku tak mampu dan juga tak ingin berteriak, “Pergi dan lihatlah tempat tinggalku!“ Uang yang dituduh telah kucuri akan dapat membangunnya tiga kali lipat dengan emas murni.




24



PERMASALAHAN KAMI dengan Jepang atas Korea telah berlangsung selama satu dekade. Saat Ratu Min dari Korea meminta pertolongan, aku mengirimkan Li Hungchang. Sang Ratu tengah diancam oleh gerombolan pendukung Jepang. Aku mengambil masalah ini secara pribadi. Aku sadar bahwa aku akan mencari pertolongan yang sama jika hal itu terjadi padaku.

Dibutuhkan waktu dua tahun bagi Li Hungchang untuk menyelesaikan persetujuan dengan Perdana Menteri Jepang, Ito Hirobumi. Li meyakinkanku bahwa persetujuan itu bisa mencegah memanasnya situasi Korea, yang bisa berubah menjadi konfrontasi militer penuh antara Cina Jepang.

Aku berusaha keras melakukan apa yang kubisa agar draft persetujuan Li mendapatkan keabsahan. Penasihat Klan Manchu sangat membenci Li Hungchang secara pribadi dan melakukan apa pun untuk merintangi upayanya. Pangeran Ch'un dan Pangeran Ts'eng mengatakan bahwa hidupku yang begitu lama dihabiskan di Kota Terlarang telah menyesatkanku akan kenyataan, dan bahwa kepercayaanku pada Li Hungchang salah besar. Akan tetapi, naluriku mengatakan bahwa aku akan berakhir dengan masalah yang sama seperti Ratu Min jika aku menyandarkan kepercayaanku pada anggota kerajaan Manchu, bukannya Li Hungchang.

Sebagai hasil dukunganku, Konvensi LiIto ditandatangani. Cina dan Jepang menjaga kedamaian untuk sementara. Orangorang Manchu menghentikan kampanye mereka atas pemenggalan Li Hungchang.

Akan tetapi, pada Maret 1893, Li meminta diadakan audiensi darurat denganku di Istana Musim Panas. Aku sudah bangun sebelum fajar untuk menyambutnya. Di taman luar, udara begitu kering dan dingin, tetapi bunga-bunga camelia bermekaran. Kusuguhi Li teh hijau panas, mengingat dia telah menempuh perjalanan sepanjang malam.

“Yang Mulia.” Suara Li Hungchang terdengar tegang. “Bagaimana keadaanmu?”

Aku merasakan kegelisahan dan memintanya untuk langsung ke pokok permasalahan.

Dia membenturkan keningnya ke lantai sebelum mengeluarkan katakatanya. “Ratu Min telah disingkirkan, Yang Mulia, “

Aku terkejut. “Bagaimana ... bagaimana itu bisa terjadi?”

“Aku belum mendapatkan semua informasinya.” Li Hungchang bangkit. “Aku hanya tahu bahwa menteri-menteri Paduka Ratu telah dibunuh secara keji. Dan persis pada saat ini, orangorang radikal Korea sedang melancarkan kudeta.”

“Apakah Jepang punya andil dalam hal ini?”

“Benar, Yang Mulia. Agen rahasia Jepang menyelundup ke dalam istana Ratu Min dengan menyamar sebagai pengawal keamanan Korea.”

Li Hungchang meyakinkanku bahwa tak ada yang bisa kulakukan untuk menolong Ratu Min. Bahkan jika kami menyiapkan misi penyelamatan, kami tak tahu di mana Ratu ditahan atau bahkan jika dia masih hidup. Jepang sudah bertekad untuk menelan Korea. Konspirasi ini telah dipersiapkan selama sepuluh tahun. Selama ini, Cina dan Jepang saling bergantian dalam menyokong golongangolongan bertikai di Seoul.

“Aku khawatir Cina sendiri tak tagi dapat menghentikan agresi militer Jepang,” ujar Li.


Mingguminggu berikutnya penuh dengan ketegangan. Harihariku sangat melelahkan, sementara malammalamnya kulalui tanpa tidur. Terlalu letih, aku berusaha mengalihkan kekhawatiranku pada saat itu dengan kembali ke sesuatu yang lebih menenangkan, memutar ulang kenangan awal dari kota asalku di Wuhu.

Sembari menatap langitlangit naga emas di atas ranjangku, aku mengingat saat terakhirku bersama sahabatku Belalang. Dia sedang menendang debu dengan kakinya yang sekurus dahan bambu.

“Aku tak pernah pergi ke Hefei,” ujarnya. “Apa kau pernah, Anggrek?”

“Tidak,” jawabku. “Ayahku bilang tempatnya lebih besar daripada Wuhu.”

Mata Belalang berbinar. “Aku mungkin akan beruntung di sana.” Dia menyingkap bajunya untuk memperlihatkan perutnya. “Aku bosan makan batu.”

Perutnya besar , seperti panci masak.

“Aku tak bisa buang air besar,” ujarnya.

Aku merasa sangat bersalah. Sebagai anak gubernur setempat, aku tak pernah mengenal lapar.

“Aku akan mati, Anggrek.” Nada suara Belalang datar. “Aku akan disantap oleh orangorang yang memenuhi meja makan. Apa kau akan merindukanku?”

Sebelum aku bisa menjawab, dia melanjutkan. “Adik lakilakiku meninggal semalam. Orangtuaku menjual mayatnya tadi pagi. Aku penasaran keluarga mana yang sedang memakannya.”

Tibatiba tungkaiku melemah dan aku terjatuh.

“Aku akan pergi ke Hefei, Anggrek.“

Hal terakhir yang kuingat adalah Belalang mengucapkan terima kasihnya padaku atas kotoran yang didapatkannya dari lubang tinja keluargaku.

Pohonpohon raksasa yang mengelilingi istanaku menimbulkan suara desir ombak. Aku berbaring di kegelapan, masih tak bisa tidur. Meninggalkan masa lalu, aku kembali terlontar ke masa kini dan memikirkan Li Hung-chang, lelaki dari Hefei. Hefei, bahkan, merupakan nama panggilannya. Kurasa, dia juga tahu bencana kelaparan yang menimpa para petani, dan hal itu mungkin yang memengaruhi terjalinnya kesepahaman di antara kami dan munculnya ambisi untuk membawa perubahan di pemerintahan. Hal itu telah menyatukan kami. Aku memandang dengan penuh harap, sekaligus menyimpan ketakutan akan audiensiaudiensi yang diadakan dengan Li. Aku tak tahu kabar buruk apa lagi yang akan dia bawakan untukku. Satusatunya hal yang pasti hanyalah bahwa kabar buruk itu akan datang.

Li Hungchang adalah lelaki yang penuh kesopanan dan elegan. Dia memberiku hadiahhadiah, baik yanp eksotis maupun yang praktis; sekali waktu, dia memberiku kacamata baca. Setiap hadiah itu datang dengan sebuah cerita, tentang tempat dibuatnya atau pengaruh kebudayaan di balik desainnya. Tak sulit untuk mengerti mengapa dia begitu terkenal. Selain Pangeran Kung, Li satusatunya pegawai pemerintah yang dipercayai orangorang asing.

Aku masih belum bisa tidur. Aku memiliki perasaan bahwa Li Hungchang sedang berjalan menuju kemari lagi. Kubayangkan keretanya berderak melalui jalanjalan gelap Peking. Gerbang Kota Terlarang membuka untuknya, satu demi satu. Bisikan para penjaga. Li diantar melewati bermilmil jalur masuk, melewati koridor balairung dan tamantaman, kemudian memasuki bagian dalam istana.

Kudengar bunyi bel kuil berdentang empat kali. Pikiranku jernih tapi aku sangat letih, dan pipiku serasa terbakar, sementara kedua kakitanganku dingin. Aku duduk, dan kukenakan baju luarku. Kudengar suara langkah kaki, mengenali bunyi seretan sol sepatu tipis, dan mengetahui itu kasimku. Dalam keremangan cahaya bulan, Li Lienying masuk. Dia mengangkat tiraiku dengan lilin di tangan kanannya. “Tuan Putri,” panggilnya.

“Apakah itu Li Hungchang?” tanyaku.


Li berlutut di depanku, mengenakan topi berbulu merak bermatadua kesayangannya dan seragam panglima tinggi berbahan sutra kuning. Aku takut pada apa yang akan dikatakannya. Rasanya belum lama semenjak dia membawakanku kabar buruk tentang Ratu Korea Min.

Dia tetap berlutut sampai aku memintanya bicara.

“Cina dan Jepang sedang bertempur,” adalah yang dia katakan padaku.

Meski sudah bisa kuduga, aku masih saja terkejut.

Selama beberapa hari terakhir ini, Kaisar telah memerintahkan pada pasukan, di bawah komando Yung Lu, untuk bergerak ke Utara demi membantu Korea menahan laju revolusi. Dekrit Guanghsu berbunyi, “Jepang telah mengirim tentaranya ke Korea, berusaha memadamkan apa yang mereka sebut dengan api, yang sesungguhnya mereka nyalakan sendiri.”

Aku tak terlalu memercayai kekuatan militer kami. Dewan Istana tidaklah salah saat menyebut aku sebagai orang “yang digigit oleh ular sepuluh tahun lalu, dan sejak itu jadi takut dengan seutas tali tambang.”

Aku kehilangan suamiku dan nyaris hidupku sendiri pada masa Perang Opium 1860. Jika Inggris dan sekutunya lebih superior daripada kami pada masa itu, tak bisa kubayangkan bagaimana kekuatan mereka sekarang, lebih dari tiga puluh tahun semenjak itu. Kemungkinan aku tak akan bertahan hidup, begitu nyata bagiku. Semenjak kepulangannya dari Sinkiang, Yung Lu telah bekerja diam-diam dengan Li Hungchang untuk memperkuat kekuatan militer kami, tetapi aku tahu mereka sudah tertinggal jauh. Pikiranku melayang ke Yung Lu dan pasukannya yang kini sedang melaju ke Utara.

Li berupaya mencuri waktu untuk menyertakan upaya gabungan dari Inggris, Rusia, dan Jerman, yang setelah permohonannya berkalikali untuk mendapatkan dukungan, telah menyetujui untuk membujuk Jepang “memadamkan api peperangan”.

“Baginda Yang Mulia Kaisar Guanghsu meyakini bahwa dia harus mengambil tindakan,” ujar Li. “Pihak Jepang telah menembakkan dua meriam dan torpedo, menenggelamkan kapal militer Kowshing, yang sedang berlayar keluar dari Pelabuhan Arthur dengan para pasukan kita di dalamnya. Mereka yang tak tenggelam ditembaki dengan senapan mesin. Aku paham akan kemarahan Yang Mulia, tetapi kita tak bisa mengambil tindakan atas dasar emosi.”

“Apa yang kauharap kulakukan, Li Hungchang?”

“Tolong mintakan pada Kaisar agar bersabar karena aku tengah menantikan sikap dari Inggris, Rusia, dan Jerman untuk menanggapi. Aku khawatir setiap tindakan yang salah di pihak kita akan mengakibatkan hilangnya dukungan internasional.”

Kupanggil Li Lienying.

“Ya, Tuan Putri.”

“Kereta, ke Kota Terlarang!”


Li Hungchang dan aku tak mengira bahwa Jepang telah menerima janji dari Inggris untuk tak turut campur dan bahwa Rusia pun mengikuti dengan tindakan serupa. Kami telah melukai bibir kami, berusaha keras membujuk Guanghsu yang terbakar amarah untuk memberi lebih banyak waktu sebelum mengeluarkan dekrit perang.

Selagi mingguminggu berlalu, Jepang menjadi lebih agresif. Sikap menunggu Cina tak tampak membuahkan hasil. Aku dituduh membiarkan Li Hungchang menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga untuk menyiapkan pertahanan yang kuat. Aku terus memercayai Li, tetapi kusadari juga bahwa aku harus memberi perhatian pada golongan pendukungperang—Partai Perang—yang kini dipimpin oleh Kaisar Guanghsu sendiri.

Sekali lagi, aku kembali ke istana lamaku di Kota Terlarang. Aku harus menghadiri audiensiaudiensi yang diadakan dan hadir untuk Kaisar. Walaupun aku memuji TopiBesi atas sikap patriotik mereka, aku enggan memberi dukungan penuh karena aku ingat tiga puluh tahun lalu mereka meyakini dapat mengalahkan Inggris.

Mereka yang menolak perang, Partai Damai, yang dipimpin oleh Li Hungchang, khawatir aku akan menarik dukunganku.

“Jepang telah mencontoh budaya Barat dan telah tumbuh lebih maju,” Li berusaha meyakinkan Dewan Istana. “Hukum Internasional harus bertindak sebagai pemutus terhadap setiap tindak kekerasan yang disengaja.” “Hanya orang idiotlah yang memercayai serigala akan berhenti memangsa domba!” Guru Weng, yang kini menjabat sebagai Penasihat Perang, berbicara di tengah gemuruh sorakan. “Dari kekuatan jumlahnya saja, Cina dapat dan akan mengalahkan Jepang!”

Butuh waktu lama buatku untuk memahami karakter Guru Weng. Di satu sisi, dia mendorong Guanghsu untuk menjadikan Cina mencontoh Jepang, tetapi di sisi lain, dia membenci kebudayaan Jepang. Dia merasa superior terhadap orangorang Jepang dan memercayai bahwa “Cina seharusnya mendidik Jepang, sebagaimana yang telah dilakukan sepanjang sejarahnya.” Dia juga meyakini bahwa Jepang “berutang pada Cina atas bahasa, seni, agama, bahkan modenya.” Yun Lu menyebut Guru Weng sebagai  seorang yang pandai memimpin tentara di atas secarik kertas.” Yang lebih parahnya, cendekiawan itu mengatakan pada rakyatnya bahwa program reformasi Cina akan seperti “menaruh setangkai bambu di bawah matahari bayangbayangnya akan langsung muncul.”

Meskipun dia tak pernah memimpin pemerintahan sebelumnya, Guru Weng sangat percaya diri akan kemampuannya. Pandanganpandangan liberalnya menginspirasi begitu banyak orang sehingga dia dikenal sebagai pahlawan nasional. Aku menemui kesulitan berkomunikasi dengannya karena dia menganjurkan perang, tetapi menghindar dari menghadapi keputusan menggunung yang diperlukan untuk menjalankannya. Dia menasihatiku untuk “memusatkan perhatian pada gambar di sulamannya, bukan pada jahitannya.” Membahas strategi merupakan kesenangannya. Dia mengajari Dewan Istana saat audiensi dan bisa berlanjut hingga berjamjam. Namun pada akhirnya, dia hanya akan tersenyum dan berkata, “Mari kita tinggalkan taktiknya bagi para jenderal dan perwira.”

Para jenderal dan perwira di medan tempur dibingungkan oleh instruksi Guru Weng. “'Kita adalah sebagaimana yang diri kita sendiri yakini’ bukanlah saran yang bisa kita berikan untuk anak buah kita ikuti,” mereka mengeluhkan. Yung Lu, dalam surat pribadi yang dilayangkannya dari medan tempur, merasa begitu kesal dengan Weng. Namun, tanganku terikat.

“Memahami moral di balik pertempuran akan membuat kita memenangi pertempuran itu,” sang Guru Utama membalas. “Tak ada instruksi yang lebih baik selain ajaran Konfusius: 'Manusia bijak tak akan menjalani hidup dengan mengorbankan kemanusiaan.”'

Ketika kusarankan agar dia setidaknya mendengarkan Li Hungchang, Guru Weng hanya berkata, “Jika kita gagal bertindak dalam waktu yang tepat, Jepang akan memasuki Peking dan membakar habis Kota Terlarang, sama seperti ketika Inggris membakar Yuan Ming Yuan.“

Ayah Kaisar, Pangeran Ch'un, membeo, “Tak ada pengkhianatan yang lebih buruk selain melupakan apa yang sudah diperbuat bangsa asing itu pada kita.”


Kutinggalkan Guru Weng sendiri, tetapi mendesak agar segera mendirikan Biro Angkatan Laut untuk perang yang baru dibawah kendali Pangeran Ch'un, Pangeran Ts'eng, dan Li Hungchang. Enam tahun sebelumnya, Li mengontak perusahaan asing untuk membangun pelabuhan-pelabuhan pertahanan, termasuk markas utama Pelabuhan Arthur di Manchuria dan Weihaiwei di Semenanjung Yiantung. Kapalkapal dibeli dari Inggris dan Jerman. Sekarang ini, kami memiliki dua puluh lima kapal perang. Tak ada satu orang pun yang mau mendengarkan saat Li Hung-chang, “Angkatan Laut jauh dari siap untuk berperang. Akademi Angkatan Laut baru selesai menyusun draft kurikulumnya dan mengangkat instrukturnya. Generasi pertama dari perwira muridnya baru mengikuti pelatihan.“

“Persenjataan Cina sudah lengkap!” Pangeran Ch'un meyakinkan dirinya sendiri. “Yang kita butuhkan sekarang hanyalah menempatkan orangorang kita untuk maju berperang.”

Li Hungchang memperingatkan, “Kapal perang modern tak akan ada gunanya jika berada di tangan yang salah.”

Aku tak dapat menghentikan Dewan Istana yang meneriakkan sloganslogan patriotik untuk menanggapi Li.

Kaisar Guanghsu mengatakan bahwa dia sudah siap berperang: “Aku sudah menunggu cukup lama.”

Aku berdoa agar anakku akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh para leluhurnya, mengambil kendali, dan mengusir musuhmusuhnya. Namun, jauh dalam lubuk hatiku, rasa takut menyelusup. Dari semua kualitas yang baik dari diri Guanghsu, aku tahu dia tak mampu memegang peran kepemimpinan. Guanghsu telah berusaha keras, tetapi dia kekurangan strategi dinamis dan rasa kejam yang diperlukan. Sebuah rahasia yang kusimpan dari publik adalah masalah kesehatan dan emosi Guang-hsu. Aku hanya tak bisa melihatnya mengendalikan watak pemarah saudaratirinya, pemimpin TopiBesi. Dan aku juga tak mampu melihatnya mengendalikan Penasihat Klan Manchu. Aku berharap Guanghsu akan mengatakan bahwa aku salah, bahwa di balik semua kekurangannya, dia akan beruntung dan memenangi pertarungan.

Aku menyesali diriku sendiri yang tak berhasil mengakhiri ketergantungan Guanghsu. Dia terusmenerus mencari dukungan dan persetujuanku. Aku tetap diam saat seluruh Penasihat Klan menyarankan agar aku meneruskan tugas pengawasan harian negara. Aku mencoba memancing anakku. Aku ingin dia menantangku, dan aku ingin melihatnya meledak dalam amarah. Aku memberinya kesempatan untuk bangkit dan bicara atas namanya sendiri. Kukatakan padanya bahwa dia bisa saja menentang para penasihat jika dia merasa semestinya dialah yang memegang kendali kekuasaan. Itulah kasus yang terjadi pada para Kaisar paling sukses di dinasti, seperti Kang Hsi, Yung Cheng, dan kakek buyutnya, Chien Lung.

Namun, hal itu tak terjadi. Guanghsu terlalu perasa, terlalu lembut. Dia akan meragukan dirinya, jatuh dalam konflik dengan dirinya sendiri dan pada akhirnya, menyerah.

Mungkin aku sudah bisa merasakan tragedi Guang-hsu. Aku mulai merasakan derita atas rasa takutnya. Aku merasa telah gagal terhadapnya. Aku jadi begitu marah melihat saudaratiri dan sepupunya, Pangeran Ch'un Junior dan Pangeran Ts'eng Junior, yang mengambil keuntungan dari dirinya. Mereka berbicara dengan Guanghsu seolah dia lebih rendah daripada mereka. Bosan mendengarkan diriku sendiri, aku terusmenerus menyuruh anakku untuk bersikap layaknya seorang Kaisar.

Aku pasti telah membuat Guanghsu bingung. Jika memandang ke belakang, aku bisa melihat bahwa sang Kaisar sebenarnya telah bersikap sesuai dengan diri sejatinya. Akulah yang menuntutnya menjadi seseorang yang lain. Dia sangat ingin melihatku bahagia.


Aku kembali ke Istana Musim Panas, lelah oleh percekcokan yang tak kunjung selesai antara Partai Perang dan Partai Damai. Beban untuk menengahi diletakkan di pundakku, bukan karena aku memilki kemampuan yang lebih, melainkan karena tak ada orang lain yang bisa melakukannya dengan lebih baik.

Di balik sepengetahuanku, dan di tengah berlarutnya krisis nasional, Pangeran Ch'un mengambil alih dana yang dipinjam oleh Li Hungchang untuk Akademi Angkatan Laut. Ch'un membangun kapal motor untuk hiburan kalangan Kerajaan di IstanaIstana Sungai di Peking dan di Sungai Kun Ming, dekat tempat tinggalku.

Nantinya, Li Hungchang akan mengakui, “Ayah Kaisar memiliki posisi yang memungkinkannya untuk menuntut uang dariku kapan pun. Aku menuruti keinginannya sebagai ganti agar dia tak ikut campur dengan urusan-urusan bisnisku. “

Dana dari Angkatan Laut lainnya digunakan oleh Pangeran Ch'un dan Pangeran Ts'eng untuk membanjiriku dengan hadiahhadiah, menjamin limpahan dan proyek-proyek tak penting untuk memenangi dukunganku. Perbaikan Perahu Pualam merupakan contohnya.

Dengan marah, kudatangi Pangeran Ch'un: “Kesenangan macam apa yang bisa diberikan perahu mahal sialan itu untukku?”

“Kami kira Yang Mulia akan senang berjalan di air tanpa harus membasahi sepatu,” saudara iparku berkata. Dia kemudian menjelaskan bahwa Perahu Pualam itu asalnya dibuat oleh Kaisar Chien Lung untuk ibunya, yang takut pada air.

“Tetapi aku senang dengan air!” teriakku. “Aku akan berenang di sungai jika saja diizinkan!”

Pangeran Ch'un berjanji untuk menghentikan proyek itu, tetapi dia berbohong. Susah baginya untuk menghentikannya—dia telah memanfaatkan sebagian besar dananya, dan dia memerlukan alasan yang berkelanjutan untuk mendesak Li agar mencairkan uang tambahan.

Li Hungchang akhirnya mengelak dari Pangeran Ch'un. Alihalih pergi ke bank asing untuk memperoleh pinjaman, Li meluncurkan “Pengumpulan Dana Pertahanan Angkatan Laut”. Dia tak berusaha menutupi kenyataan bahwa uang yang terkumpul pada akhirnya akan dimanfaatkan untuk “pesta ulang tahun keenam puluh janda Kaisar”. Li bermaksud membalas Pangeran Ch'un dengan menjatuhkannya, tetapi namaku digunakan seolah sebagai komplotannya. Li Hungchang pasti berpikiran bahwa aku patut mendapatkan perlakuan itu karena akulah yang bertanggung jawab menyuruhnya bekerja sama dengan Pangeran Ch'un pada awalnya.


Guanghsu mengumumkan perang dengan Jepang, tetapi dia memiliki sedikit keyakinan untuk memimpinnya. Dia bergantung pada Guru Weng, yang mengenal peperangan hanya lewat buku. Aku baru mulai mengetahui terganggunya dia sebagai seorang lelaki. Lan memberi tahuku bahwa suaminya seorang yang berhati lembut, tetapi takut terhadap wanita.

“Kami telah menikah selama lima tahun, “ Bibir Lan bergetar dan dia meledak dalam tangis. “Kami hanya tidur bersama sekali dan sekarang dia ingin berpisah.”

Aku berjanji untuk membantunya. Hasilnya adalah pasangan itu melanjutkan hidup bersama di satu kompleks. Yang membuatku sedih adalah mengetahui Guanghsu membangun tembok yang mengelilingi tempat tinggalnya untuk mencegah Lan masuk.

Ketika aku berbicara dengan Guanghsu, dia menjelaskan bahwa sikapnya meninggalkan Lan adalah bentuk pertahanandiri. “Dia mengatakan padaku bahwa aku berutang anak padanya.”

Dia menjelaskan gangguan Lan pada tengah malam.

“Dia menakutnakuti kasimku yang mengira bayangannya sebagai seorang pembunuh.”

Ketika aku berusaha menerangkan padanya bahwa Lan memiliki haknya sebagai istri, Guanghsu berkata bahwa dia merasa tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang suami.

“Aku belum disembuhkan,” ujarnya, dengan maksud pada masalah ejakulasi dininya. “Aku merasa tak akan pernah sembuh.”

Guanghsu dengan berani pernah mengernukakan kondisinya padaku sebelumnya, tetapi aku berharap segala sesuatunya akan membaik seiring bertumbuhnya perasaan cintanya.

Aku tak bisa menghindar dari merasakan bahwa aku telah menciptakan satu tragedi. Yang membuatku merasa lebih buruk adalah mengetahui bahwa Lan meyakini aku bisa memaksa Guanghsu untuk mencintainya.


Pada siang hari, Guanghsu dan aku akan mengadakan audiensi mengurusi masalah perang melawan Jepang; pada malam harinya, kami membenamkan diri dalam dokumen-dokumen dan rancangan dekrit. Satusatunya kesempatan bagi kami untuk bisa beristirahat lebih adalah pada saat rehat larut malam. Aku berusaha berbicara ringan mengenai Lan, tetapi Guanghsu mengetahui niatku.

“Aku yakin Lan tak sepantasnya mendapatkanku,” Guanghsu berkata. Penyesalan di matanya begitu tulus. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa memberikan keturunan dan berkata bahwa terkadang dia merasa begitu lemah dan letih. “Aku tak meminta Ibu untuk memaafkanku.” Dia berusaha menahan air matanya. “Aku telah mengecewakan lbu...“ Dia mulai menangis. “Sebagai lelaki Kerajaan, aku benarbenar malu. Tak lama, seluruh dunia akan tahu.”

“Kondisimu akan tetap jadi rahasia sampai kita temukan obatnya.” Aku berusaha menenangkan dirinya, tetapi kini kusadari bahwa selain tak bahagia, dia mungkin sungguhsungguh sakit.

“Bagaimana dengan Lan?” Guanghsu mengangkat matanya yang berkacakaca. “Aku takut suatu saat dia akan menyerangku secara publik.”

“Biarkan aku yang mengurusinya.”

Lan menolak menerima penjelasanku akan kondisi kesehatan Guanghsu. Dengan keras kepala, dia meyakini bahwa suaminya sengaja menolak dirinya. “Dia tak tertarik denganku, tetapi dia begitu bersemangat saat bersama dengan selirselirnya, terutama Mutiara.“

Aku memastikan agar Lan tak akan membiarkan rasa frustrasi menguasai dirinya. “Kita adalah wanitawanita bertopeng,” kukatakan padanya. “Menyelubungi diri kita sendiri dengan kemuliaan agung dan pengorbanan merupakan takdir kita.”

Aku senang Guanghsu mengizinkanku membawakan tabib untuk memeriksanya, dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang paling pribadi. Dia telah menanggung begitu banyak kepedihan dan rasa malu. Kukagumi kemampuannya menakhlukkan penderitaan pribadinya.

Hasil diagnosis pun dikeluarkan, dan hal itu meresahkan hatiku: Guang-hsu memiliki masalah dengan paru-parunya. Dia telah terjangkit bronkitis dan rentan terhadap tubercolosis. Bayangan Tung Chih terbaring di tempat tidurnya kembali mendatangiku. Kurangkul Guang-hsu, dan menangis.





25



KOTA PEKING KEHABISAN kayu bakar pada Tahun Baru 1894. Kayu yang kami peroleh berwarna hijau lembab dann menghasilkan asap tebal. Kami terbatuk-batuk saat menyelenggarakan audiensi. Menteri Urusan Interior dipanggil dan dimintai keterangan. Dia terus meminta maaf dan menjanjikan kayu yang diangkut berikutnya akan bebas asap. Menurut Yung Lu, bagian utara jalur kereta api yang bertanggungjawab mengangkuti kayu-kayu telah dihancurkan oleh petani-petani pemberontak yang putus asa. Jalur itu dialihkan dan gelondongan kayunya dijual untuk pembakaran. Pasukan yang dikirim Yung Lu tak dapat mengatasi masalah itu dengan cepat.

Pada awal Tahun Baru, sebuah pesan penting membangunkanku: Pangelan C’hun telah meninggal. “Ayah Kaisar mengalami stroke saat sedang menginspeksi instalasi Angkatan Laut,” adalah bunyi pesan itu.

Tabib Sun Pao-tien mengetikan bahwaa keletihanlah yang telah menyebabkan kematian Pangeran C’hun. Pangeran itu begitu bertekad untuk menunjukkan kesiapannya meluncurkan serangan balasan terhadap Jepang. Dia telah mengkritik saudaranya, Pangeran Kung dan Raja Muda Li Hungchang. Dia membanggakan kemampuannya untuk merampungkan pekerjaannya, “seperti cara orang Mongol bermain lompattali tanpa mengeluarkan keringat.“

Pangeran Ch'un tak akan berkonsultasi dengan Kung ataupun Li. Dia tak akan “mengambil sebongkah batu dan mematahkan jempol kakinya sendiri dengannya”—dia menolak “menghina” dirinya sendiri. Aku sudah melihat sikap menghancurkandiri sendiri yang sama dari anggota keluarga kerajaan lainnya. Pangeran Ch'un mungkin telah menutupi rumahnya dengan tulisantulisan kaligrafi yang menekankan prinsip akan pencarian hidup yang bersahaja, tetapi kekuasaan berarti segalagalanya buatnya.

Aku ingat, merasa cemas melihat bibir Pangeran Ch'un yang berubah warna. Dia meyakini bahwa kepalanya yang pusing pada pagi hari hanya akibat dari terlalu banyak minum arak malam harinya. Dia terusterusan mengadakan perjamuan, meyakini bahwa perbincangan ringan dan transaksi pribadi merupakan cara untuk mewujudkan keinginannya.

Guanghsu sangat terpukul. Dia jauh lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya, tentu saja. Berlutut di antara pamanpamannya, dia tak sanggup menyelesaikan pengumuman kematiannya pada audiensi pagi hari.

Nantinya, saat resepsi sebelum pemakaman dilangsungkan, saudariku membuat ulah dengan menuntut agar anak bungsunya, Pangeran Ch'un Junior, diberikan posisi ayahnya.

Ketika kutolak permintaannya, Rong beralih pada Guanghsu dan berkata, “Mari kita dengarkan apa yang akan dikatakan oleh Kaisar.”

Guanghsu menatap kosong pada ibunya, seolah tak mengerti dengan apa yang dikatakannya.

“Itu hak lahirku!” tuntut Pangeran Ch'un Junior. Dia berdiri di hadapan Guanghsu, tingginya lebih dari setengah kepala Guanghsu. Sebagai pemimpin dari generasi Manchu baru, Ch'un muda seorang lelaki yang tak memiliki baik kesopanan maupun kesabaran. Matanya merah dan napasnya berbau alkohol. Dia mengingatkanku pada banteng yang tengah siap bertarung.

“Disiplinkan anak bungsumu,“ ujarku pada saudariku.

“Guanghsu bukanlah apaapa selain sarung bantal sulam yang diisi dengan jerami,“ ujar Rong. “Ch'un Junior mestinya yang duduk menjadi Kaisar!”

Aku tak dapat memercayai sikap saudariku. Aku beralih memandangi Guanghsu, yang tampak begitu terganggu. Lalu aku mengangguk pada Li Lienying, yang kemudian berteriak, “Tandu untuk Baginda Kaisar dan Ratu yang Mulia sudah siap!”


Dalam perjalanan,pulang menuju istana, kusadari bahwa aku telah melihat keruntuhan dari seluruh kelas Kerajaan. Tak terpikirkan oleh Pangeran Ch'un muda bahwa dia bisa saja gagal seperti ayahnya.

Rong dan aku telah tumbuh begitu jauh, hingga pertemuan dengannya selalu berlangsung sulit. Hal yang mengkhawatirkanku adalah menyadari bahwa Pangeran Ch'un Junior bisa menjadi pengganti Kaisar jika sesuatu terjadi pada Guanghsu. Ch'un junior memiliki fisik yang pantas, tetapi tidak secara pikiran. Meskipun aku telah mendorong anakanak muda Manchu untuk mengikuti jejak para leluhur mereka dan telah menganugerahi mereka dengan promosi, aku begitu kecewa dengan keponakanku. Kudesak agar dia mau bekerja sambil mencari pengalaman di bawah pengawasan Pangeran Kung atau Li Hungchang. Karena anak itu menolak untuk mengikuti instruksi Li, posisinya di Dewan Istana tetap tak dianggap penting.

Selama beberapa minggu ke depan, sementara Guang-hsu mengadakan audiensi, aku duduk pada salah satu kursi kerajaan atau yang lain, menerima para tamu yang datang berkabung atas Pangeran Ch'un. Diiringi oleh bunyi genderang, musik yang keras, dan lantunan rapalan doa para biksu Tibet, aku melakukan beberapa ritual dan memberikan persetujuanku atas beragamnya permintaan menyangkut acara pemakaman Pangeran: jumlah jamuan dan tamu yang diundang, jenis dan wangi lilinnya, warna kain pembungkus jenazahnya, dan ukiran pada kancingkancing hiasan jenazahnya. Tak ada yang tampaknya peduli pada perang yang masih berkecamuk. Jumlah rakyat yang tewas tiap harinya dari medan tempur tampaknya tak mengganggu Ch'un Junior atau temanteman TopiBesinya. Mereka minumminum hingga mabuk dan bertengkar memperebutkan pelacur.

Aku merasa semakin pesimis. Pandangan suramku akan masa depan membuat perutku mual.

“Itu karena kau tak meminum sup kalajengkingnya, Tuan Putri,” ujar Li Lienying.

Kukatakan padanya, “Kau tampak seperti memiliki topeng dengan senyum terjahit di wajahmu.”

Li Lienying tak mengacuhkanku dan melanjutkan nasihatnya. “Teori di balik sup kalajengking ini adalah bahwa dibutuhkan racun untuk melawan racun.”


Pada 17 September 1894, di mulut Sungai Yalu, pihak Jepang menghancurkan setengah dari kekuatan kapal laut kami pada suatu sore, dan tak ada satu pun kapal mereka yang rusak parah. Pantai sekarang telah aman dan Jepang dapat mendaratkan pasukannya dan bergerak menuju Peking.

Pada 16 November, Li Hungchang melaporkan bahwa putra Pangeran Manchu, yang dengan mereka dia terpaksa melakukan bisnis, telah mengambil keuntungan dari perang dengan menyediakan amunisi berkualitas buruk bagi pasukan kami. Hanya sebulan sebelum pertempuran, Pelabuhan Arthur telah direbut. Daripada menyerah, para Komandan Lapangan yang ditugasi Li Hungchang malah memimpin pasukannya untuk melakukan aksi bunuh diri.

Berkat mendiang Pangeran Ch'un, yang telah memalsukan laporan dari lapangan kemudian hanya memberikan kabar yang baik padaku, dengan bodohnya aku merasa cukup aman untuk mulai menyiapkan pesta ulang tahunku yang keenam puluh. Berpikir bahwa itu akan jadi momen untuk merayakan pengunduran diriku, aku telah berencana menggunakan kesempatan itu untuk berkenalan dengan istriistri para duta besar asing. Aku belum pernah bisa mengundang mereka hingga saat ini ketika aku tak lagi memangku jabatan resmi. Dalam pandangan Dewan Istana, harga diri Cina tak akan terlalu dicederai. Para duta besar asing tampaknya juga merasakan kenyamanan yang sama. Tak memangku jabatan sama artinya bahwa aku tak perlu disikapi terlampau serius.

Mungkin aku memang tak pernah disikapi dengan serius, baik saat memegang kekuasaan ataupun tidak. Harga diri apa lagi yang masih tersisa bagi Cina untuk dicederai? Selama aku bebas untuk membantu putraku, aku tak peduli dengan apa yang dipikirkan orangorang. Jika dengan mundur berarti aku akan memiliki banyak peluang untuk berteman dengan orangorang yang dapat membantu negara, aku tidak hanya akan menerimanya, tetapi juga akan menikmatinya.

Namun yang terjadi, agresi Jepang yang berkelanjutan memaksaku untuk membatalkan seluruh renacanaku. Hal ini mengecewakan banyak bangsawan dan pejabat yang sudah mengharapkan pemberian limpahan buah tangan. Kulanjutkan perananku sebagai penengah Kerajaan dan terkejut saat menyadari bahwa aku telah menjadi target Dewan Istana—dituduh membangkrutkan negara. Aku baru mengetahui bahwa selama periode singkatku lepas dari jabatan, Guru Weng menyalahgunakan kekayaan Kerajaan yang sudah genting. Ketika ditanyakan akan tanggung jawabnya, dia mengaku bahwa semua dana telah dihabiskan oleh mendiang Pangeran Ch'un untuk restorasi Istana Musim Panas—tempat tinggalku.

Kudesak agar Dewan Istana memeriksa semua buku dan catatan Guru Weng sebagai bukti, tetapi tak ada tindakan yang diambil. Hal yang tak kusadari adalah bahwa Guru Weng, yang selama ini tak pernah menerima sedikit kekayaan untuk dirinya pribadi, telah mengembungkan begitu banyak kantong hingga dia mampu menciptakan jaringan pendukung yang luas—kekayaan yang jauh lebih besar daripada yang bisa dibeli oleh uang. Mengabaikan kesalahan Guru Weng, negara mulai menyalahkanku atas kekalahan mereka. Rumor tentang gaya hidup mewahku, termasuk nafsu berahiku, menyebar dengan cepat.

Aku telah memercayai Guru Weng bagi kedua putraku. Jika saja dia mau mengakui kesalahannya, aku akan bersedia menanggung sebagian tanggung jawab. Lagi pula, padakulah, Dewan Istana dan Kaisar akan meminta persetujuan akhir.

Sementara rumor terus berlanjut, konflik antara Guru Weng dan aku mulai diketahui publik. Kuingatkan diri sendiri untuk tak kehilangan perspektif, tetapi aku sudah bertekad untuk melanjutkan pemeriksaan pada Weng.

Guanghsu tak bisa memihak. Baginya, Guru Weng selalu menjadi kompas moralnya, dewa pribadinya. Guanghsu merasa frustrasi karena aku menolak untuk mengubah pikiran mengenai proses penyidikan gurunya.

Untuk membuktikan bahwa Guru Weng tak bersalah, Guanghsu memutuskan untuk mengadakan penyidikannya sendiri. Semua orang terkejut saat Guru Weng akhirnya terbukti bersalah. Ilmuwan Konfusius itu, bersama dengan mendiang Pangeran Ch'un, tidak hanya telah salah menggunakan dana Angkatan Laut, tetapi juga telah memanfaatkan momen ulang tahunku untuk meminta uang dalam jumlah banyak, yang akhirnya raib begitu saja. Setelah Guanghsu memperoleh semua laporan keuangan dan bukti materi lainnya, dia mendatangiku untuk meminta maaf. Kukatakan padanya bahwa aku bangga dengan kejujurannya.

Kuputuskan untuk mengumumkan bahwa aku tak akan menerima hadiah untuk hari ulang tahunku. Tindakanku membongkar kecurangan Guru Weng: orangorang berkerumun dari sepenjuru negeri, seperti nyamuk mengerubungi darah, berusaha mendapatkan uang mereka kembali.

Kaisar Guanghsu mendatangi gurunya. “Kau adalah orang yang kupercaya dan pilar spiritualku yang kukuh!” ujarnya, menuntut penjelasan. Guru Weng tak mengakui kesalahannya. Dia lanjutkan sikap lelakibijaksananya, dan memperingatkan Guanghsu dari memiliki pikirantumpul akibat mendengarkan “seorang wanita tua” Pada akhirnya, guru utama itu dipecat. Dia diberi waktu seminggu untuk berbenah dan angkat kaki. Dia tak akan diperbolehkan untuk kembali memasuki Kota Terlarang.

Guanghsu merasa malu karena telah memilih Guru Weng sebagai Kepala Arsitek dalam peperangan melawan Jepang. Dia mengunci dirinya di ruangannya, sementara Guru Weng berlutut di luar, memohonmohon untuk diberi kesempatan menjelaskan. Saat upayanya tak juga berhasil, lelaki tua itu melakukan aksi mogok makan.

Kaisar akhirnya membuka pintunya dan kedua lelaki itu menghabiskan satu hari penuh untuk berdamai. Dan di ruang kelasnya, Guanghsu mendengarkan ketika Guru Weng membahas sumbersumber masalah yang mengakibatkan kegagalan perang. Kesimpulannya adalah bahwa Li Hungchanglah yang harus disalahkan.

Meskipun aku mengerti kepekaan Guanghsu, aku sangat membenci kelihaian guru itu mengalihkan pikiran Kaisar. Dalam pandanganku, tak ada yang bisa dijadikan alasan atas kesalahan Guru Weng. Dan ketika Weng membuat Li Hungchang sebagai kambing hitam, aku sudah kehilangan seluruh rasa hormatku padanya. Aku tak bermaksud menciptakan musuh dengan memihak Li secara terbuka, tetapi aku melihat pentingnya mengemukakan pendapatku pada Kaisar.

Dalam sikap diamku terhadap tuntutan Dewan Istana untuk mengadilinya, Li Hungchang menantang Kaisar akan hak untuk mengadili para Pangeran Manchu yang telah menyediakan amunisi yang buruk. Li juga menuntut hak untuk memilih anggota komisinya sendiri pada masa mendatang.

Atas saran Guru Weng, Guanghsu memanggil Li Hungchang untuk dilakukan audit resmi. Para Pangeran Manchu diundang sebagai saksi.

Li datang dengan siap. Dokumentasinya yang terperinci tak hanya membantu kasusnya, tetapi juga mengundang banyak simpati dari negeri. Suratsurat dukungan berdatangan dari setiap gubernur provinsi. Tekanan pun menguat. Sebagian mulai mengkritik Guanghsu sendiri.

Kaisar yang frustrasi datang padaku meminta pertolongan. Dia merasa begitu malu dan terhina, dan dia merasa telah kehilangan rasa hormat dari rakyatnya. “Sudah jelas bahwa Li Hungchanglah yang sepantasnya menjadi pemimpin Cina,” Guanghsu mengeluh padaku.

Saatnya tiba ketika aku harus memilih antara Guang-hsu dan Li Hungchang. Aku sudah lama menantikan saat datangnya takdir ini, tetapi baru sekaranglah aku dapat melihat kedalaman tragedinya. Akal sehatku berkata bahwa Li Hungchang diperlukan bagi rakyat dan bahwa dia sendiri bisa memimpin Cina. Namun, Cina saat ini adalah Cinanya Manchu—aku harus melawan prinsipku sendiri demi menyelamatkan Guanghsu.

Setelah bermalammalam tak tidur menimbang pilihanku dan mengumpulkan keberanianku, aku mengambi tindakan yang tak masuk akal dan tak bisa dipahami: Aku tanda tangani dekrit menurunkan Li Hungchang. Lelaki itu ditelanjangi dari semua kehormatannya. Dia didakwa menyalahgunakan dana Angkatan Laut dan penyebab kekalahan perang.

Aku malu pada diriku sendiri.


Aku berpikir telah melakukan hal yang cukup bagi Guang-hsu, tetapi ini adalah pikiran yang siasia. Di bawah pengaruh pamannya, Pangeran Ts'eng; sepupunya, Pangeran Ts'eng Junior; dan saudaranya, Pangeran Ch'un Junior, Guanghsu yang mudah terpengaruh, dibujuk bahwa hukuman yang diterima oleh Li Hungchang belumlah setimpal—bahwa dia harus benarbenar dihabisi.

Ketika diminta menyetujui pemberian hukuman lanjutan bagi Li, aku tak dapat lagi menahan rasa marahku. Raut wajahku yang penuh amarah pasti telah menakuti Kaisar karena dia mulai tergagap dan jatuh berlutut.

Sebenarnya aku marah pada diriku sendiri. Aku telah membiarkan Guru Weng dan Pangeran Ch'un lepas dari tanggung jawabnya. Bagaimana mungkin ada orang Cina waras yang masih mau melayani pemimpin Manchunya, setelah rnelihat apa yang terjadi pada Li Hungchang?

Kuterangkan pada Guanghsu bahwa Li terlalu berharga untuk dihancurkan, tanpa melumpuhkan pemerintahan. “Dia bisa memukul balik dengan merebut kekuasaan sendiri! Itu akan semudah mengibaskan tangannya. Kau akan menemukanku sedang menonton opera di Istana Musim Panas saat itu terjadi!”

Keadaan di Istana terasa begitu sulit ditebak dan berbahaya. Tibatiba kusadari bahwa aku sendirian dan aku bisa saja disingkirkan oleh klanku sendiri. Yang perlu dilakukan hanya tinggal meyakinkan Guanghsu. Untuk melindungi diriku sendiri, aku berunding. Sebagai ganti mempertahankan kedudukan Li Hungchang di pemerintahan, termasuk kewenangannya di Chihli dan kepemimpinannya di Angkatan Bersenjata Utara dan Angkatan Laut Cina, kusarankan pada Dewan Istana untuk mengambil bulu burung merak bermatadua kesayangan Li dan seragam Panglima Tertinggi sutra kuningnya. “Itu akan membuat Li kehilangan harga dirinya. Akan tetapi, hukuman yang lebih dari itu merupakan tindakan yang gegabah dan berlebihan.”

Saat Pangeran Ts'eng menuduhku menghilangkan kesempatan langka bagi kaum Manchu untuk menjatuhkan Li, aku beranjak meninggalkan audiensi yang tengah berlangsung.


Aku dapat mendengar suara percikan anak sungai di balik taman istana di Kota Terlarang. Aku bangun sebelum fajar dan mengirim kasimku untuk memanggil Li Hungchang.

Li tiba saat fajar mengenakan jubah biru katun sederhana yang membuatnya tampak seperti orang lain.

“Kau sudah berbenah?” Kubuka percakapan, mengetahui bahwa dia akan segera meninggalkan Peking.

“Benar,” jawabnya. “Keretaku akan berangkat sejam lagi.“

“Ke mana kau akan pergi?” tanyaku. “Chihli? Hunan? Atau kota asalmu, Hefei?”

Tak mampu menjawab, Li jatuh berlutut.

Aku ingatkan dirinya bahwa etika hanya mengizinkan kami bertemu sebentar dan aku harus mengutarakan pikiranku.

Li mengangguk, tetapi bersikukuh untuk tetap berlutut.

Kubiarkan dirinya dan berkata, “Tolong mengerti betapa bencinya aku harus melakukan hal ini padamu. Meski tak ada alasan yang pantas, aku tak punya pilihan.” “Aku mengerti, Yang Mulia.” Suara Li terdengar tenang dan datar. “Kau melakukan apa yang akan dilakukan setiap Ibu.”

Air mataku tumpah dan aku mulai menangis.

“Jika bisa membantu Penguasa, aku merasa terhormat,” ucap Li.

“Tidakkah kau setidaknya bisa membiarkanku membantumu dalam perjalanan jauhmu ke Selatan?”

“Itu tak perlu, “ ujarnya. “Aku sudah memiliki cukup harta untuk keluargaku. Istriku tahu bahwa jika aku dituduh berkhianat dan terbukti bersalah, hidupku akan jadi tebusannya. Dia hanya ingin agar aku memastikan bahwa kehidupan anakanak kami tak akan terganggu.”

“Apakah masalahnya sudah diatasi?” Kuseka wajahku dengan saputangan.

“Ya, semuanya telah disiapkan.”

Kasimku datang dan mengumumkan pelan, “Yang Mulia, Kaisar sudah menunggu.”

“Baiklah.”

Li Hungchang bangkit. Dia mundur selangkah dan berlutut untuk melakukan kowtow.

Tradisi tak membolehkanku untuk menemaninya mengantarkan ke gerbang, tetapi kuputuskan untuk sekali ini tak mengacuhkannya.

Tirai pintu diangkat dan kami keluar ke pekarangan. Para kasim masih sibuk bersihbersih pada pagi hari. Mereka dengan tergesa menghilangkan diri dari pandangan kami. Mereka yang kebetulan melintasi jalur kami memohon maaf.

Langit mulai terang. Sayap atap yang berglasir bermandi cahaya emas. Tak sama seperti Istana Musim Panas, yang udaranya membawa wangi bunga melati, suasana pagi di Kota Terlarang begitu dingin dan berangin.

Kudengar suara jejak kakiku sendiri, alas kayu sepatuku mengetuk jalur batu. Li Hungchang dan aku berjalan bersisian. Di belakang kami enam belas kasim mengangkut tandu upacaraku yang seukuran kamar.


Dua minggu kemudian, Pangeran Kung yang kini berusia enam puluh lima dipanggil dari masa istirahatnya. Kaisar Guanghsu menerbitkan dekrit atas desakanku. Kung enggan pada awalnya. Selama sepuluh tahun, dia terus menyimpan dendam terhadap orangorang yang telah menyingkirkannya dari kepemimpinannya, termasuk pada kedua saudara tirinya. Aku memohonmohon padanya, mengatakan bahwa kematian Pangeran Ch'un semestinya bisa menutup kesalahan yang terjadi pada masa lalu. Kaisar yang berusia dua puluh empat tahun memerlukannya.

Guanghsu dan aku bertemu dengan Pangeran Kung di taman krisannya, yang tanahnya tertutupi dengan bungabunga ungu berbentuk bintang. Pangeran Kung memungut satu daun. Dia menaruhnya datar di telapak tangannya dan menepuknya dengan telapaknya yang lain, menimbulkan suara seperti kembang api.

“Keseimbangan kekuatan di Asia telah berubah semenjak pihak Jepang berhasil merebut benteng pelabuhan kami di Weihaiwei.” Suara Pangeran Kung telah melemah selama bertahuntahun ini, tetapi semangatnya, perspektif, dan kecemerlangannya masih bertahan. “Perbuatan salah pada masa lalu telah mengakibatkan kelemahan pada masa sekarang. Dalam pandangan dunia, peperangan sesungguhnya telah usai dan Cina telah kalah.”

“Tetapi semangat kita belum!“ Wajah Guanghsu berubah merah dan dadanya mengembang. “Aku menolak menyebutnya sebagai kekalahan. Para admiral, perwira, dan tentara kita melakukan bunuh diri untuk menunjukkan pada dunia bahwa Cina tidak menyerah!”

Pangeran Kung tersenyum sinis. “Para admiral kita bunuh diri untuk menebus diri mereka, dan menyelamatkan keluarga mereka dari kematian dan penyitaan harta mereka. Kaucopot jabatan dan gelar mereka, tetapi menyuruh mereka untuk tetap bertahan di medan. Kau katakan pada mereka bahwa mereka akan dipenggal jika kalah berperang. Kematian bukanlah pilihan mereka, tetapi kau!”

“Pamanmu benar,” kataku. “Aku yakin bahwa Kaisar juga menyadari bahwa jiwa patriotisme bangsa kita tak mampu mencegah Jepang untuk menduduki Semenanjung Liaotung. Kami mengerti bahwa Jepang sedang menargetkan benteng di Pelabuhan Arthur dan mengambil alih seluruh Korea.“

Guanghsu bersandar makin dalam pada kursinya. Seolah mengalami kesulitan bernapas, dia menghela napas dalamdalam.

Kung terus saja memungut daun dan menepuknya, membuat suara yang mengganggu dengan telapak tangannya.

Aku senang Pangeran Kung mengungkit masalah bunuh diri itu. Aku telah berselisih dengan Guanghsu beberapa kali mengenai perintah kematiannya. Aku berusaha keras meyakinkannya bahwa pengabdian tak bisa dipaksakan. Tak akan ada loyalitas jika pengampunan dan kebaikan tak mendapatkan kepastian terlebih dulu. Namun, aku harus mengakhiri pembahasan itu karena Guanghsu tak mampu memahaminya—dia telah dibesarkan untuk menerima pengabdian dan loyalitas begitu saja. Hal pertama yang dipelajarinya tentang manusia adalah dari gurunya yang menampilkan sikap ketulusan dan dedikasi. Aku menyerah saat Guanghsu mengeluhkan sikapku yang terlalu mencampuri kewenangannya.

“Ibu, apa kau baikbaik saja?” tanya Guanghsu lembut. Aku telah mengatakan padanya bahwa aku merasa letih dan lemah.

Kemudian dia berkata, “Aku telah membuang petisi yang menuntut hukuman bagi Li Hungchang.”

Aku tahu dengan melakukan hal itu, anakku berusaha menyenangkanku. Tetapi aku tak ingin membicarakannya. Terutama tidak di depan Pangeran Kung. Maka, aku mengalihkan topik. “Apa kita sudah mencoba pilihan lain pada medan perang menghadapi Jepang?”

“Kami sudah mencoba melalui berbagai penengah, termasuk pada diplomat Amerika,” jawab Pangeran Kung. “Kami coba meraih persetujuan dengan Jepang, tetapi Tokyo menolaknya, “

“Aku tak melihat ada gunanya dengan membuang-buang waktu dalam perundingan,” ujar Guanghsu. Seolah berusaha menahan emosinya, dia mengalihkan pandangannya. “Aku tak berunding dengan orangorang barbar!” ucapnya dengan gigi bergemeretuk.

“Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?” Pangeran Kung tampak kesal.

“Aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkan pertahanan,” ujar Kaisar.

“Aku tak yakin bisa membantu,” ujar Pangeran Kung. “Kau salah jika berpikir bahwa aku bisa lebih baik dari Li Hungchang.“

Aku beralih pada mereka berdua. “Tidakkah lebih baik bagi kita untuk berjalan dengan dua kaki? Melanjutkan untuk mengupayakan perundingan deng
an Jepang dan pada waktu bersamaan, mempersiapkan pertahanan kita?”


Guanghsu mengikuti nasihat Pangeran Kung dan menawarkan untuk menugasi orangorang asing untuk mengerjakan pertahanan kami. Seorang perancang Angkatan Bersenjata Jerman yang pada 1881 telah mengawasi pembangunan benteng Pelabuhan Arthur diangkat sebagai Kepala Angkatan Bersenjata Cina. Guanghsu berharap bahwa di bawah kepemimpinan Jenderal Barat, dia akan mampu membalikkan situasi dengan Jepang.

Baik Pangeran Ts'eng maupun Pangeran Ch'un Junior mendesak bahwa menyewa musuh lama sama saja dengan aksi pengkhianatan.

Guanghsu tetap bertahan dari tekanan, hingga menit terakhirnya. Lalu dia berubah pikiran dan membatalkan penugasan itu.

“Jika saja rencana itu dilaksanakan,” Pangeran Kung yang kecewa mengeluh kemudian, “Cina akan aman dan Jepang pada akhirnya harus membayar ganti rugi perang pada kita.“

Saat itu aku tak menyadarinya, tetapi ketika Kaisar mengubah pikirannya, pamannya sangat kecewa. Begitu kecewanya, hingga selama berharihari dan berminggu-minggu ke depan Pangeran Kung perlahan akan menarik diri. Kukira harga dirinya sedang terluka dan bahwa pada akhirnya, dia akan melupakannya dan melanjutkan perjuangannya demi Dinasti. Namun, hati Pangeran Kung kembali ke taman krisannya, dan dia tak akan pernah kembali lagi.


Pada penghujung Januari 1895, Guanghsu menyadari bahwa dia sudah tak punya lagi pilihan kecuali berunding dengan pihak Jepang. Yang lebih memalukan dirinya, Jepang menolak membahas traktat dengan siapa pun kecuali dengan Li Hungchang yang sudah. disingkirkan.

Pada 13 Februari, Guanghsu melepaskan Li dari tugasnya sebagai Gubernur Chihli dan menyuruhnya untuk memimpin upaya diplomatik Cina. Sekali lagi, aku akan menerima Li Hungchang atas nama Kaisar.

Li tidak ingin datang ke Peking. Dia memohon agar dibebaskan dari tugas itu. Merasa bahwa Kaisar dan Topi Besi cepat atau lambat akan menjadikannya kambing hitam, dia tak memiliki keyakinan akan bertahan. Dia mengutarakan bahwa banyak hal telah berubah. Kami sudah kehilangan aset negosiasi. Sudah tak mungkin lagi membawa Jepang ke meja perundingan.

“Siapa pun orang yang mewakili Cina dan menandatangani traktat itu harus menyetujui lepasnya sebagian dari Cina,” Li memprediksi. “Itu akan jadi tugas yang siasia dan negara akan menyalahkannya apa pun alasannya atas hasil negosiasi yang diterima.”

Aku memohon agar dirinya memikirkan ulang dan mengiriminya undangan pribadi untuk menghadiri jamuan makan malam denganku.

Li menanggapi, mengatakan dalam pesannya bahwa dia tak pantas mendapatkan kehormatan itu dan bahwa usianya yang semakin menua dan masalah kesehatannya membuatnya sulit melakukan perjalanan jauh.

“Aku berharap bahwa aku bukanlah Permaisuri Cina,“ aku menulis balik pada Li. “Pihak Jepang sudah menuju Peking, dan aku tak mampu membayangkan bagaimana mereka akan merusak tanah leluhur Kerajaan.”

Mungkin karena nada desakan dari suratku, mungkin karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang berbudiluhur yang memanggilnya—apa pun alasannya—Li Hung-chang memberiku kehormatan dengan kehadirannya, dan dengan segera dia ditunjuk sebagai Ketua Negosiator Cina. Dia tiba di Shimonoseki, Jepang, pada 19 Maret 1895. Sekitar sebulan kemudian, negosiasi yang tengah berkingsung mengambil putaran yang mengejutkan: saat meninggalkan salah satu sesi pertemuan dengan Perdana Menteri Ito Hirobumi, Li tertembak pada wajahnya oleh seorang ekstremis Jepang.

“Aku hampir lega dengan kejadian itu,“ Li menanggapi ketika kutanyakan kondisinya. “Peluru itu hanya menggores pipi kiriku. Peristiwa itu memberiku apa yang tak akan mungkin kudapatkan dari meja perundingan—simpati dunia. “

Penembakan itu membawa reaksi keras dunia internasional agar Jepang melunakkan tuntutannya terhadap Cina.

Aku merasa telah mengirim Li untuk tewas dan dia bertahan hanya karena beruntung.

Juga, dalam pesannya, Li Hungchang mempersiapkan Kaisar Guanghsu atas keputusan tersulit: untuk menyetujui prasyaratprasyarat negosiasi, termasuk menyerahkan Pulau Taiwan, Semenanjung Peseadores, dan Liaotung pada Jepang untuk selamanya; pembukaan tujuh pelabuhan bagi perdagangan Jepang; pembayaran dua ratus juta tael, dengan izin bagi Jepang untuk menduduki Pelabuhan Weihaiwei hingga pembayaran itu lunas; dan pengakuan atas “otonomi penuh dan utuh, dan kemerdekaan Korea”, yang artinya melepaskannya pada Jepang.

Guanghsu duduk di Kursi Naga dan menangis. Ketika Li Hungchang kembali ke Peking untuk berkonsultasi, dia tak bisa membuat Kaisar berkatakata.

Saat itulah aku mengatakan pada Li akan apa yang tengah kupikirkan: “Serahkan apa yang harus dilepaskan oleh Cina dalam bentuk uang, bukan tanah.”

Dia mengangkat tatapannya. “Baik, Yang Mulia.”

Kukatakan padanya bahwa sekalinya kita menerima pendudukan Jepang di daratan, sebagaimana kita biarkan terjadi pada Rusia di kawasan Ili, Cina akan selamanya kalah.

Li memahaminya dan bernegosiasi atas dasar prinsip itu.

Bayangan Li Hungchang di balairung dengan kening menyentuh lantai masih melekat di benakku setelah dia pergi. Aku duduk mematung. Suara jam besar di aula mengesalkanku.

“Korea dan Taiwan hilang,” Guanghsu bergumam sendiri terusmenerus.

Dia tak tahu, tentu saja, bahwa hanya dalam beberapa bulan, kami juga akan kehilangan Nepal, Burma, dan Indocina.

Perampasan lagi. Dan lagi.

Jepang tak punya niat untuk berhenti. Kakitangannya kini telah menyebar jauh ke dalam Manchuria.

Ukiran naga di pilarpilar istana tak lagi bisa dicat tahun ini. Cat yang lama sudah mengelupas dan warna emasnya sudah berubah menjadi cokelat kering. Biro Interior telah lama kehabisan uang. Masalahnya tidak hanya pada kebusukannya yang begitu jelas, tetapi pada rayap yang tak terlihat.

Suatu pagi, Kepala Kasim Li Lienying berupaya mengajukan permohonan resmi pada Kaisar: “Tolong, Yang Mulia, lakukan sesuatu untuk menyelamatkan Kota Terlarang karena ia dibangun dengan kayu semua.”

“Bakar saja!” merupakan jawaban Guanghsu.

Audiensiaudiensi terus berlanjut. Dalam telegram terbaru Li Hungchang, pihak Jepang menuntut hak untuk membangun pabrik di pelabuhanpelabuhan yang tengah disengketakan. “Terima klausul ini atau akan ada perang,” Jepang mengancam.

Guanghsu dan aku mengerti jika kami mengabulkan tuntutan Jepang, tuntutantuntutan yang sama akan dibuat oleh kekuatan asing lainnya.

“Konsesi terakhir juga mengungkap masalah hak atas mineral,“ isi lanjutan dari telegram Li, “dan tak banyak yang bisa kita lakukan untuk menolaknya…”


Sinar matahari menyusupi jendelajendela kamarku, melemparkan bayangan seperti dedaunan yang bergemeresik, ke lantai dan furnitur. Labalaba hitam besar bergantung pada benang di panel berukir. Ia bergelantungan maju mundur di tengah desir lembut angin. Ia adalah labalaba hitam pertama yang kulihat di dalam Kota Terlarang.

Aku mendengar suara seseorang menyeret kakinya.

Kemudian Guanghsu muncul dari ambang pintu. Posturnya seperti seorang lelaki tua dengan punggung bongkok.

“Ada kabar apa?” tanyaku.

“Kita kehilangan divisi terakhir kita atas pasukan berkuda Muslim.” Guanghsu memasuki kamarku dan duduk di kursi. “Aku dipaksa membubarkan berpuluh puluh ribu tentara karena aku harus membayar ganti rugi pada pihak asing. 'Atau perang,' mereka bilang. 'Atau perang'!”

“Kau belum makan,” ujarku. “Mari kita sarapan.”

“Jepang sudah. membangun jalan menghubungkan Manchuria dengan Tokyo.” Dia menatapku, mata hitam lebarnya tak berkedip. “Aku akan jatuh bersamaan dengan kejatuhan Kaisar Rusia.”

“Guanghsu, cukup.”

“Kaisar Meiji akan segera tak tertandingi di Asia Timur.”

“Guanghsu, tolong, makan dulu.”

“Ibu, bagaimana aku bisa makan? Jepang telah memenuhi perutku!”





26



DAPUR KERAJAAN BERUSAHA mencari alasan untuk tak membatalkan perjamuan ulang tahunku. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Dewan Istana yang melihat momen pengunduran diriku sebagai peluang bagi setiap orang untuk mengumpulkan uang.

Kusimpulkan bahwa satusatunya cara agar tak masuk dalam perangkap ulang tahunku adalah dengan mengumumkan pada negara dalam sebuah surat terbuka:


Kesempatan yang menguntungkan dari ulang tahunku yang keenam puluh akan menjadi peristiwa yang menggembirakan dan aku mengerti bahwa para pejabat dan sebagian warga telah menyumbangkan dana yang akan digunakan untuk mendirikan suatu monumen peringatan—aku diberitahukan sebesar dua puluh lima persen dari pendapatan tahunan kalian untuk menghormatiku dengan menghias Kanal Kerajaan sepanjang Peking hingga ke tempat tinggalku .... Aku tak ingin bersikap keras kepala secara berlebihan dan mendesak untuk menolak kehormatan ini, tetapi aku merasa berutang pada kalian semua, di atas segalanya, untuk mengungkapkan perasaanku sejujurnya. Sejak awal musim panas lalu, negaranegara pembayar upeti telah direbut, armadaarmada kita dihancurkan dan kita dipaksa memasuki perang terbuka yang menyebabkan kehancuran yang demikian hebat. Bagaimana aku punya hati untuk menyenangkan diriku sendiri? Karena itulah, kuperintahkan agar upacara publik dan semua persiapan yang tengah dilakukan dibatalkan dari sekarang.


Kukirim naskah surat itu secara langsung ke pencetak tanpa melalui Penasihat Agung. Aku takut maksud kata-kataku akan diubah, terutama keputusanku untuk membatalkan perjamuan ulang tahunku.


Aku juga ingin berbagi dengan negara akan rasa penyesalanku dengan mengabaikan nasihat Li, yang telah membuat semakin beratnya penalti yang mesti dibayar oleh Cina. Aku tak bisa menahan kemarahanku, melihat Li Hungchang, yang pada usia tujuh puluh dua, kembali ke rumahnya dari Jepang hanya untuk dipanggil sebagai pengkhianat. Orangorang di jalan akan meludah ke tandunya saat dia lewat.

Sebagai bentuk dukunganku bagi Li, aku mernbujuk Dewan Istana untuk mengirimnya ke St. Petersburg tak lama setelah upacara kenaikan takhta Tsar Nicholas II.

Li meminta agar sebuah peti jenazah kosong menemaninya dalam perjalanan—dia ingin bersiapsiap. Dia memintaku untuk menuliskan namanya pada tutupnya, yang kuturuti.

Sebagai hasil kunjungan Li Hungchang, sebuah kesepakatan rahasia antara Rusia dan Cina dirundingkan, kemudian ditandatangani. Masingmasing negara menyetujui untuk membela yang lain, saat menghadapi agresi dari Jepang. Harga yang harus kami bayar adalah untuk menerima klausul yang mengizinkan Rusia untuk meluaskan jalur kereta TransSiberia melintasi Manchuria ke Vladivostok. Kami juga akan mengizinkan pihak Rusia menggunakan jalur itu untuk memindahkan pasukannya dan peralatan perang mereka melalui wilayah Cina.

Itu merupakan hal terbaik yang bisa dicapai oleh Li Hungchang di bawah kondisinya. Namun, naluriku dan dia menyatakan bahwa Rusia tak bisa dipercaya. Dan kenyataannya, begitu kami membiarkan Rusia melabuhkan armada mereka di Pelabuhan Arthur kami yang bebases, mereka menolak meninggalkannya, bahkan sesudah Jepang sudah terusir.


Pada saat ini, selagi Guanghsu dan aku sedang sibuk meneliti kegunaan program penyewaanlahan untuk menghasilkan pembayaran bagi pinjaman asing kami, istrinya, keponakanku Lan, datang tibatiba.

Begitu Guanghsu melihat kedatangan Lan, dia memohon diri dan meninggalkan ruangan.

Lan mengenakan jubah bersulam polapola mawar. Hiasan mawar kecil serupa yang terbuat dari pita, menghias rambutnya. Kerah jubahnya yang tinggi memaksa dagunya tegak dan maju, membuatnya tampak tak nyaman. Tampaknya dia telah berhenti memulas pipinya dengan bedak putih; kesedihannya begitu nyata pada wajahnya. Ujung mulutnya tertarik ke bawah. Air mata tumpah, sebelum dia mampu berkata,

Menyaksikan masalah dalam pernikahan mereka lebih buruk daripada hidup dengan kematian suami dan anakku. Kematian Hsien Feng dan Tung Chih tak bisa sepenuhnya kulupakan, tetapi tahap penyembuhan atas hal itu hadir dengan sendirinya. Kenangan bisa dipilih dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Aku tak lagi ingat akan adanyu perasaan kebencian. Dalam mimpiku, anakku menyayangiku sepenuhnya dan Hsien Feng begitu pengasih.

Dengan Guanghsu dan Lan, kesengsaraan mereka seperti lumut yang tumbuh pada musim penghujan: ia bermula dari sudut atap dan perlahanlahan menguasai seluruh sudut Istana.

“Aku baru kembali dari pembaringan ibu mertuaku. Lan tentu saja sedang membicarakan saudariku. “Rong makin memburuk.'

Saudariku harus terus berbaring dan telah menolak kunjunganku. Rong yakin bahwa akulah penyebab kesakitannya. Karena itu, kukirim Lan sebagai gantiku.

“Aku tahu kau ke sini bukan untuk membicarakan saudariku,” kataku pada Lan. “Yang bisa kukatakan padamu hanyalah bahwa Guanghsu sedang mengalami banyak tekanan.”

Lan menggeleng, membuat hiasan di kepalanya berkibas. “Dia harus menghabiskan waktu denganku.”

“Aku tak bisa memaksanya, Lan.”

“Tentu kau bisa, Bi, jika kau sungguhsungguh peduli padaku.”

Aku merasa bersalah dan berjanji padanya akan mencoba lagi. Kupindahkan Lan dan penghuni rumahnya ke kompleks tepat di belakang Guang,hsu, menggunakan masalah rayap sebagai alasannya. Aku berpikir bahwa pasangan itu dapat saling mengunjungi melalui pintu lengkung yang menghubungkan keduanya. Namun, pada hari esoknya, Guanghsu menutup jalan masuk dengan furnitur. Ketika Lan memindahkan furnitur itu, Guanghsu memerintahkan agar pintu masuk ditutupi batu bata secara permanen.

Sementara itu, aku bisa lihat bahwa Guanghsu jatuh hati pada Mutiara, selirnya, yang baru saja genap sembilan belas tahun dan tampak begitu memesona. Rasa keingintahuan dan kecerdasannya mengingatkanku pada masa mudaku. Aku senang dengannya karena dia menginspirasi Guanghsu untuk memenuhi ekspektasi bangsanya.

Aku merasa iba pada Lan saat dia berusaha bersaing dengan Mutiara. Lan terlalu banyak membawa darah abangku. Dia memiliki ambisi, tetapi tidak memiliki tekad untuk mewujudkannya. Saat dia mengancam bunuh diri, Guanghsu malah semakin jijik dengannya.

Kuminta bantuan pada Kuei Hsiang, tetapi dia hanya berkata, “Kau mak comblangnya, Anggrek. Kaulah yang mesti membereskannya.”

Aku merencanakan perjamuan teh bagi kami bertiga. Saat Lan meminta Guanghsu mencicipi kue persik yang dibuatkan untuknya, dia tampak gelisah dan bangkit berdiri. Kupegang sikunya dan berkata, “Mari kita jalan jalan di taman.” Aku berjalan di belakang mereka, berharap agar mereka memulai percakapan. Namun, Guanghsu tetap menjaga jarak, seolah istrinya membawa penyakit. Lan bertahan pada harga dirinya dan tetap diam,


“Kau harus mengambil pilihan, Lan,” kataku setelah Guanghsu pergi menghadiri pertemuan Istana. “Kau sudah tahu bahwa halhal yang terjadi bisa tak sesuai dengan keinginanmu. Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya.“

“Ya, itu benar.” Keponakanku menyeka wajahnya dengan saputangan. “Aku selalu meyakini bahwa rasa cintaku akan mengubahnya, “

“Yah, dia belum berubah. Kau harus terima itu.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Sibukkan dirimu dengan tugastugasmu sebagai Permaisuri. Memimpin upacara dan menyampaikan penghormatan pada para leluhur. Kau juga bisa melakukan apa yang kulakukan: belajar tentang dunia dan jadikan dirimu berguna. “

“Apa hal itu bisa membuat Guanghsu mengasihiku?”

“Aku tak tahu,” jawabku. “Tetapi tak seharusnya kau menutup diri dari kemungkinan itu.”

Lan memulai kegiatan belajarnya denganku. Pertama-tama, kutugasi dia untuk membacakan laporan terbaru akan kematian Ratu Min dari Korea.

“'Dipimpin oleh para informan, para agen Jepang menerobos masuk ke dalam istana Ratu.“' Lan terkejut, menutup mulutnya dengan saputangan.

“Teruskan, Lan,“ perintahku.

“'Setelah... setelah membunuh dua dayangdayangnya, mereka mengepung Ratu Min. Menteri Urusan Kerumahtanggaan Istana datang menyelamatkannya, tetapi penyusup menebas habis kedua tangannya dengan sebilah pedang.’”

Lan tampak begitu takut. “Bagaimana… bagaimana dengan pengawalnya? Di mana mereka?”

“Mereka pasti telah dibunuh atau dijebak atau disogok,” jawabku. “Teruskan dan selesaikan, Lan.“

“’... Ratu Min ditikam berkalikali dan diangkut keluar ......’”

Lan melanjutkan membaca, tetapi suaranya sudah tak lagi terdengar. Dia beralih padaku dengan kepala ditelengkan ke satu sisi, seperti boneka dengan tali yang rusak.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Orangorang Jepang menyiapkan tumpukan kayu bakar yang disiram dengan bensin di luar pekarangan.”

“Dan kemudian?”

“Mereka melemparkan dirinya ke atasnya dan menyalakan api.“ Bibir Lan bergetar.

Kuambil kembali laporan itu dari tangannya dan menaruhnya di mejaku.

Lan duduk terdiam seolah membeku. Tak lama, dia bangkit dan berjalan keluar seperti hantu.

Lan tak pernah lagi mengancam akan bunuh diri meskipun dia terus mengeluh tentang suaminya. Lan percaya bahwa dia tak perlu mempelajari urusanurusan Istana, tetapi hal itu tak menghentikannya bermimpi dipujapuja oleh rakyat. Dia tak pernah berbagi ranjang dengan Kaisar atau berteman dengan Mutiara. Dia mencari pelariannya dengan memanjakan diri sendiri dan menghabiskan waktu bersama saudara Mutiara, Selir Cahaya, yang begitu bertolak belakang dengan Mutiara. Cahaya tak punya banyak minat dalam hampir segala hal. Dia sangat menggemari makanan dan bisa duduk mengudap makanannya seharian penuh.


Pada 18 Juni 1896, Rong meninggal. Hal itu terjadi setelah dia menuduh para tabib telah meracuninya. Kesehatan jiwanya mulai terdengar pihak Istana sehingga keputusanku bertahuntahun sebelumnya untuk mencegahnya mengunjungi Guanghsu kini dimengerti. Sayangnya, Kaisar kini dianggap sebagai anak seorang wanita sinting, dan Penasihat Klan menggunakan alasan ini untuk mulai memikirkan penggantinya.

Aku sudah muak dengan perselisihan yang terjadi antara para Pangeran Manchu, para saudara, dan sepupu yang tampaknya tak memiliki kesamaan satu sama lain, kecuali rasa tamak dan kebenciannya. Ketika aku berusaha menjelaskan begitu besarnya kasih sayang antara Kaisar Hsien Feng dan Pangeran Kung, para pemuda TopiBesi langsung jemu. Dengan jubah istana megahnya, generasi kerajaan Manchu ini bertengkar layaknya segerombol serigala memperebutkan tempat tinggal, proyek sepele, dan gaji tahunan.

Aku kehilangan kendaliku pada acara keluarga saat pemakaman saudariku. Hal itu mungkin ada kaitannya dengan kenyataan bahwa aku tak berkesempatan untuk berpamitan dengan Rong—pembalasannya. Dan perselisihan antara Pangeran Ch'un Junior dan kelompok TopiBesinya memperebutkan warisannya memancing kemarahanku, hingga akhirnya aku meledak.

“Kematian ibumu sama artinya kau tak lagi terlindungi.” Kukatakan dengan suara dingin. “Sekali lagi kau menyinggung kemarahan Kaisar, aku tak akan segan memerintahkan pemindahanmu dan jika kau menentangku, eksekusi atas dirimu.”

Ch'un menyadari bahwa aku bersungguhsungguh dengan ucapanku—lagi pula, aku sudah pernah mengeksekusi Su Shun, mantan Penasihat Agung, dan komplotannya yang berkuasa.

Katakata ancamanku berhasil meredamkan perselisihan itu dan aku ditinggalkan sendiri.

Sambil menyandarkan pipiku di atas peti jenazah Rong, aku teringat dua biji kenari yang dia letakkan di telapak tanganku pada hari aku meninggalkan rumah untuk menetap di Kota Terlarang. Aku menyesal tak berusaha lebih keras untuk merawatnya. Rong telah ditaklukkan oleh penyakitnya, tetapi ada harihari ketika pikirannya jernih dan sikapnya penuh kasih. Aku ingin tahu apakah dia mengetahui tentang masalah pernikahan antara Guanghsu dan Lan. Aku tak akan pernah tahu perasaannya. Betapa aku rindu berbincang dengannya saat kita masih kecil dulu! Aku ingin bisa bicara dengan Kuei Hsiang, menghabiskan waktu mengenang Rong bersama, tetapi dia tak tertarik. Bagi abangku, kematian Rong adalah anugerah.

Lan dan Guanghsu tampak bagai pasangan rukun di pemakaman Rong. Setelah membungkuk ke arah peti jenazah bersama, mereka melempar bijibiji emas padi ke udara. Hal itu membuatku berpikir untuk tak pernah melepaskan harapan.


Sepanjang kesulitan yang kami hadapi, Yung Lu terus melanjutkan kerja samanya dengan Li Hungchang, memperkuat Angkatan Bersenjata. Pada saatsaat seperti ini, kami sangat jarang bertemu; Yung Lu bertekad tak menyulut api ke dalam rumor apa pun mengenai kami yang bisa mencederai upayanya bagi Kaisar. Aku harus merasa puas dengan cukup mengetahui keberadaan Yung Lu dari laporanlaporan yang datang.

Namun suatu pagi, Yung Lu datang ke hadapanku untuk meminta izin meninggalkan jabatannya kini sebagai Kepala Komando Angkatan Bersenjata untuk memimpin Angkatan Laut negara. Kukabulkan permintaannya, tahu bahwa dia pasti sudah berpikir masak akan keputusannya, tetapi kuperingatkan dia bahwa banyak orang mungkin akan melihat pemindahannya sebagai penurunan jabatan.

“Aku tak pernah hidup berdasarkan prinsipprinsip orang lain” adalah tanggapannya.

“Angkatan Laut telah menemui banyak kesulitan semenjak kepergian Li Hungchang ke luar negeri,” kuingatkan dirinya.

“Itulah sebabnya mengapa aku menginginkan pekerjaan ini.“

“Li telah mengatakan padaku, 'Dibutuhkan orang dengan kepemimpinan seperti Yung Lu untuk memengaruhi Angkatan Laut.' Apakah dia yang menyarankanmu mengambil tanggung jawab ini?”

“Benar.”

Aku berusaha tak memikirkan jika tugastugas baru Yung Lu akan membuatnya lebih sering meninggalkan Peking.

“Siapa yang akan menjadi penggantimu?” tanyaku.

“Yuan Shihkai. Dia akan melapor padaku secara langsung Tentu saja, aku sudah cukup tahu akan kemampuan Yuan. Sebagai jenderal Muda, dia telah berjuang melawan Jepang dan berhasil menjaga perdamaian di Korea selama sepuluh tahun.

“Jadi, kau akan mengerjakan dua tugas sekaligus.”

“Ya, begitulah.” Dia tersenyum. “Begitu pula denganmu.”

“Aku tak akan merasa aman dengan kepergianmu”

“Aku akan berada di T’ientsin.”

“Itu ratusan kilometer jaraknya dari sini.”

“Dibandingkan Sinkiang, itu tak begitu jauh.”

Kami duduk diam menghirup teh. Kutatap dirinya, mata, hidung, mulut, dan tangannya.



Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified