Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 5


19



PADA APRIL, KABAR NUHAROO pingsan menyebar di Kota Terlarang.

“Permaisuri Yang Mulia telah merasa sakit sejak seminggu yang lalu,” Kepala Kasim Nuharoo melaporkan di pertemuan Istana. Leher kurusnya menjulur ke depan, membuatnya tampak bagai labu masak yang menggantung dari sulurnya. “Dia tak punya selera makan. Dia pergi tidur sebelum kami sempat menghangatkan seprainya. Keesokan harinya, dia ingin bangun dari ranjangnya, tetapi tak bisa. Kubantu dia mengenakan pakaiannya, dan ku sadari pakaiannya basah oleh keringat dingin. Dia menyandarkan berat tubuhnya pada kedua bahuku saat kami menata rambut dan riasan wajahnya. Dia berhasil memasuki Balairung Pemeliharaan Jiwa dengan menaiki tandu, tetapi dia sudah tak sadarkan diri sebelum audiensi dimulai.”

“Kenapa tak kauberitahu Tabib Sun Paot’ien lebih awal?” tanyaku.

“Yang Mulia tak mengizinkannya,” jawab kasim.

“Pukul empat sore kuberi Yang Mulia beberapa obat untuk mengurangi sakitnya,” Sun Paot’ien maju dan melaporkan.

“Ada apa dengannya?” tanyaku.

“Kami belum bisa mengetahuinya secara pasti,” ujar Tabib. “Bisa jadi ada masalah pada hatinya atau akibat flu.”

“Yang Mulia mendesak agar kondisinya tetap dirahasiakan,” Kepala Kasim berpesan. “Setelah lima hari, dia mengusir pergi para tabib. Tuan Putriku mengalami kejangkejang semalam. Badannya terkunci di atas lantai. Bola matanya terbalik ke dalam, dan busa keluar dari mulutnya. Sebelum tabib tiba, Yang Mulia tak bisa mengendalikan tubuhnya. Aku harus menyampaikan bahwa Tabib Sun Paot’ien tak membantu.”

“Kasimkasim itu terusterusan membolakbalik tubuh pasienku seperti penari akrobat,” protes Tabib.

“Hanya itu caranya agar menjaga tubuhnya tetap kering!” Kasim Nuharoo membalas.

“Pasienku sedang mengalami kejang!” Tabib yang lembut itu mulai kehilangan kesabarannya.

“Kita seharusnya mendatangi biksu di kuil terlebih dulu.” Kasim itu memukulmukuli kepala dengan kepalan tangannya. “Doadoanya dikenal manjur untuk membuat orang yang sekarat bangkit dan berjalan.”

Kuhentikan cerocosan kasim itu dan meminta Sun Paot’ien untuk melanjutkannya.

“Rekanrekanku dan aku menemukan bahwa napas Yang Mulia tersumbat oleh lendir yang ada. Kami sudah berusaha mencari cara untuk menghisapnya keluar.”

“Itu tak berhasil!” semua kasim mulai mengngis serempak.

Aku bertanya kenapa belum diberi tahu.

“Tuan Permaisuri menginginkan pihak Istana, terutama Anda, untuk tak diberi tahu. Dia meyakini bahwa dirinya akan segera membaik.”

“Apa kau punya buktinya?”

“Ini.” Kasim itu merogoh sakunya dan menyodorkan selembar kertas lecek. “Permaisuri menandatangani perintahnya.” Air mata dan ingus telah mengumpul di ujung hidung kasim itu dan menetes. “Dia sembuh secara ajaib kali terakhirnya. Jadi, kami pikir dia akan pulih dari serangan ini.”

“Kali terakhirnya? Apa maksudmu? Apa ini pernah terjadi sebelumnya?”

“Benar. Kali pertama adalah ketika Permaisuri berusia dua puluh enam tahun, kemudian saat dia berumur tiga puluh tiga. Kali ini aku takut dia tak akan bertahan.”


Ketika aku bergegas mendatangi istana Nuharoo, suara tangis memenuhi udara. Pekarangannya disesaki oleh orang. Melihat kedatanganku, kumpulan orang itu memberi jalan. Aku tiba di sisi ranjang Nuharoo dan menemukan dirinya hampir terkubur oleh bungabunga gardenia segar. Tabib Sun Paot’ien berada di sampingnya.

Sungguh mengejutkanku melihat bagaimana penyakit telah mengubah penampilannya. Alis matanya berbentuk simpul besar dan mulutnya jatuh ke samping. Napasnya berat, dan ada suara degukan dalam tenggorokannya.

“Ambil bungabunganya,“ perintahku.

Tak ada satu pun pelayan yang bergerak.

“Bagaimana dia bisa bernapas dengan tumpukan bunga menindih dadanya?”

Para kasim menjatuhkan diri. “Itu yang diinginkan Yang Mulia.”

“Nuharoo,” bisikku.

“Dia tak dapat mendengarmu,” ujar Tabib.

“Bagaimana bisa seperti ini? Selama bertahuntahun dia tak pernah sakit, bahkan untuk satu hari pun!”

“Tugastugasnya di Istana melelahkannya,” Tabib menjelaskan. “Dia mungkin tak akan bertahan melewati malam ini.”

Beberapa menit kemudian, Nuharoo membuka matanya. “Kau tiba pada waktunya, Yehonala,” ucapnya. “Aku bisa berpamitan.”

“Adaada saja, Nuharoo.” Aku membungkuk. Ketika kusentuh bahunya yang kurus dan pucat, air mataku tumpah.

“Kubur aku dengan bungabunga gardeniaku,” ujarnya. “Pihak Istana akan menguburkanku dengan cara mereka. Kau harus memastikan agar aku tak dibohongi dalam kematianku.”

“Apa pun yang kau inginkan, Nuharoo. Tetapi kau takkan mati.”

“Caraku adalah satusatunya, Yehonala.”

“Oh, sayangku Nuharoo, kau berjanji takkan berusaha mencari jalan untuk mengakhiri hidupmu.”

“Memang tidak.” Dia memejamkan matanya. Seorang kasim menyeka wajahnya dengan handuk. “Aku tak akan menyerah karena aku tak mau mempermalukan diriku sendiri.”

“Mempermalukanmu bagaimana?”

“Ingin kutunjukkan... bahwa aku sama baiknya dengan dirimu.”

“Tetapi kau memang begitu, Nuharoo.”

“Itu kebohongan yang payah, Yehonala. Kau senang karena aku tak akan merintangi jalanmu lagi selama lamanya.“

“Tolonglah, Nuharoo…”

“Kau bisa perintahkan kasim untuk menyingkirkan sapusapu mereka sekarang.”

“Apa maksudmu?”

“Kau bisa mengumpulkan daundaun yang gugur, menumpuknya setinggi yang kau mau di pekarangan. Masa bodoh dengan nodanoda di lantai marmernya.”

Aku mendengarkan, dan terisak.

“Buddha ada di sisi lain, menantiku.”

“Nuharoo…”

Dia mengangkat tangannya. “Hentikan, Yehonala. Kematian sangat buruk. Aku tak punya apaapa lagi.”

Aku menggenggam tangannya. Tangannya dingin dan jemarinya terasa seperti kumpulan sumpit.

“Ada kehormatan, Nuharoo.”

“Kaupikir aku peduli.”

“Telah kaukumpulkan begitu banyak kebajikan, Nuharoo. Kehidupanmu selanjutnya akan sungguh baik.”

“Aku telah hidup di dalam temboktembok ini…” Suaranya mengambang. “Hanya angin debu dari gurun melewati…” Perlahan, dia mengalihkan pandangannya ke langitlangit. “Empat kilometer tembok dan dua ratus lima puluh ekar telah jadi duniaku dan duniamu, Yehonala. Aku tak akan memanggilmu Anggrek. Aku telah berjanji pada diri sendiri.”

“Tentu saja tidak, Nuharoo.”

“Tak perlu lagi berlatih protokol... tingkah laku konyol yang tak ada habisnya…” Dia berhenti untuk mengambil napas. “Hanya telinga terlatih yang bisa membedakan arti sesungguhnya dari kata yang terbungkus emas... arti itu tersembunyi di balik kilau kuningnya.”

“Tentu, Permaisuri Nuharoo.”

Setengah jam kemudian, Nuharoo memerintahkan agar ditinggalkan berdua denganku.

Ketika tinggal kami berdua dalam ruangan, aku menarik dua bantal tebal dan mendudukkannya. Lehernya, rambutnya, dan jubah dalamannya basah oleh keringat.

“Maukah kau,“ dia memulai, “memaafkanku?”

“Untuk apa?”

“Untuk... membuat Hsien Feng meninggalkanmu.”

Aku bertanya apakah maksudnya para selir yang dia undang masuk untuk menggoda Hsien Feng selama masa kehamilanku.

Dia mengangguk.

Kukatakan padanya untuk tak mengkhawatirkan masalah itu. “Hanya menunggu waktu hingga Hsien Feng meninggalkanku.”

“Aku akan dihukum dalam kehidupan selanjutnya jika kau tak memaafkanku, Putri Yehonala.“

“Baiklah, Nuharoo, kumaafkan kau.”

“Juga, aku merencanakan keguguran janinmu.” Dia tak mau berhenti.

“Aku tahu. Tetapi, kau tak berhasil.”

Air mata menetes dari ujung matanya. “Kau sungguh baik, Yehonala.”

“Tolong, jangan lagi, Nuharoo.”

“Tetapi masih ada lagi yang ingin kuakui.”

“Aku tak ingin mendengarnya.”

“Aku harus, Yehonala.”

“Besok saja, Nuharoo.”

“Aku mungkin tak akan ... punya kesempatan.“

“Aku berjanji akan datang kembali besok pagi.”

Namun, dia tetap meneruskannya. “Aku ... memberikan izin atas pembunuhan Antehai.”

Suaranya nyaris tak terdengar, tetapi perkataannya sangat menusukku.

“Katakan kau benci aku, Yehonala.“

Aku memang membencinya, tetapi aku tak sanggup mengucapkannya.

Bibirnya bergetar. “Aku harus pergi dengan pikiran yang jernih.”

Dia meremas jemariku. Raut wajahnya begitu sedih dan tak berdaya. Mulutnya membuka dan mengatup seperti ikan yang kehabisan air.

“Berikan maafmu, Yehonala.”

Aku tak yakin memiliki hak untuk memaafkan. Kulepaskan tanganku dari genggamannya. “Istirahatlah, Nuharoo. Aku akan menemuimu besok.“

Dengan sepenuh tenaga, dia berteriak, “Kepergianku tak akan bisa diulang!”

Aku menarik diri dan berjalan ke arah pintu.

“Kau telah menginginkan kepergianku, Putri Yehonala, aku tahu itu.”

Aku berhenti dan membalikkan badan. "Benar, tetapi aku berubah pikiran. Kita berdua memang tak pernah menjadi rekan terbaik, tetapi tak bisa kubayangkan tak punya rekan sama sekali. Aku sudah terbiasa denganmu. Kau adalah iblis berengsek paling menyedihkan yang kukenal!"

Seulas senyum lemah terukir di wajah Nuharoo dan dia bergumam, "Aku benci kau, Yehonala."


Nuharoo meninggal keesokan harinya. Usianya empat puluh empat tahun. Kata-kata terakhirnya padaku adalah, "Dia tak menyentuhku." Aku terkejut karena aku yakin maksudnya adalah Kaisar Hsien Feng tak tidur bersamanya pada malam pernikahan mereka.

Kuikuti perintah Nuharoo akan pemakamannya, dan kuselimuti dia dengan bunga-bunga gardenia. Peti jenazahnya diangkut ke situs makam Kerajaan dan dia tempatkan di sisi suami kami. Untungnya saat itu April, musim bagi bunga gardenia. Aku tak menemui kesulitan mengangkut berton-ton bunga dari Selatan. Upacara perpisahan dilangsungkan di lautan bunga gardenia di Balairung Penyembahan Buddha, dihadiri oleh ribuan orang. Ratusan karangan bunga dengan berbagai bentuk dan ukuran tiba dari seantero negeri. Kasim-kasim menumpuknya, memenuhi seisi ruang balairung.

Kesukaan Nuharoo pada bunga gardenia baru kuketahui. Tanaman ini bukan tanaman yang umum di Peking; ia populer di selatan Cina. Dari para kasimnya, kuketahui bahwa Nuharoo belum pernah melihat gardenia sebelum sakitnya yang terakhir. Dia telah meminta agar bunga-bunga gardenia itu ditanam mengelilingi makamnya, tetapi dia diberi tahu bahwa tanaman itu tak akan bertahan menghadapi cuaca Utara yang keras. Dan tanah gurun tak cocok bagi mereka.

Nuharoo juga telah mengejutkanku dengan perasaan yang dipendamnya. Aku ingat betapa gembiranya dia ketika kali pertama aku bertemu dengannya pada usianya yang keenam belas. Dia meyakini bahwa dunia di luar adalah tempat yang tak ada artinya dibandingkan dengan "Kemegahan di dalam Kota Terlarang". Aku hanya bisa membayangkan bagaimana gembiranya Nuharoo jika dia bepergian ke Selatan dan melihat dengan kedua matanya sendiri hamparan rumput hijau—tanah bunga gardenia.

Dua ribu biksu Buddha menghadiri upacara pemakamannya. Mereka merapal doa seharian penuh. Guanghsu dan aku menanti hingga malam untuk "upacara arwah", ketika arwah Nuharoo dikatakan naik ke Surga. Para kasim menaruh lilin pada kapal-kapalan kertas dan mengapungkannya di Sungai Kun Ming. Guang-hsu berlari menyusuri tepi daratan, mengikuti lilin-lilin yang terapung.

Aku duduk di atas bongkahan batu besar di tepi sungai. Dengan pelan, aku membacakan puisi untuk mengantarkan Nuharoo dalam perjalanannya menuju Surga.


Gardenia memenuhi pekarangan, bebas dari debu

Dengan merayapi sulur berbentuk trompet,

harumnya menguak;

Dengan lembut, mereka menyegarkan hijau musim semi

Perlahan mereka menyebar wanginya, sekuntumsekuntum.

Kabut tipis menyembunyikan jalur berkelok dari pandangan,

Dari jalur berselimut gardenia, menetes embun dingin segar.

Namun, siapakah yang akan merayakan

genangan ini dalam lagu?

Tersesat dalam mimpi, dalam kedamaian,

pujangga itu pun mengawali tidur panjangnya.


Berita luar negeri menyebutkm bahwa kematian Nuharoo “misterius” dan “mencurigakan”, serta menduga bahwa akulah yang membunuhnya. “Sudah diketahui umum bahwa Tzu Hsi penyebab kematian rekannya,” sebuah harian Inggris terkemuka menyebutkan. “Dia memutuskan untuk membunuhnya karena dia tepergok oleh Nuharoo sedang bermesraan dengan aktor utama suatu opera.”

Aku masih sanggup tak mengacuhkannya, hingga saat Tung Chih dibawabawa ke dalam cerita itu. “Dia Melakukannya Lagi: Yehonala Mengorbankan Putranya Sendiri di Atas Altar Ambisinya!” bunyi tajuk utama sebuah harian Inggris, dan kisah itu akhirnya juga diangkat oleh harian Cina. Artikel itu menyebutkan, “Ketika Kaisar Tung Chih sakit parah, ibunya, alihalih memastikan anaknya memperoleh perawatan kesehatan yang baik, dia membiarkan penyakitnya menjalari badannya yang lemah. Akankah kita memiliki alasan untuk menyangsikan bahwa dia mampu berbuat hal yang sama terhadap rekannya sesama Wali Kaisar?” Koran lain menggemakan cerita serupa, “Yehonala tampak begitu bersungguhsungguh dalam merancang kematian dini anaknya dan Nuharoo. Semua orang di Istana mengetahui bahwa Tung Chih dan Nuharoo tak akan hidup hingga usia tua.”

Aku merasa tak berdaya. Untuk menjustifikasi pendudukan bangsa asing selanjutnya di Cina, aku harus dibuat menjadi monster.

“Tak dapat dimengerti bahwa Yehonala tidak mengetahui berita memalukan yang tengah mengemuka, tentang putranya dan Nuharoo,” satu terjemahan Cina menyebutkan, “dan akibat yang fatal dari eksploitasi berita tersebut. Dia memiliki kekuasaan untuk melarang semakin merebaknya berita tersebut, tetapi dia tidak melakukan apa pun untuk mencegahnya.“

Hari demi hari, pengumbar fitnah dari berbagai belahan dunia menumpahkan racun bisanya: “Kita bisa lihat betapa Janda Kaisar tak memiliki rasa belas kasih terhadap anaknya, dan betapa haus dirinya akan kekuasaan.“ “Bagi gadis muda dari provinsi termiskin Cina, tak ada harga yang terlalu tinggi untuk mempertahankan cengkeramannya sebagai penguasa tunggal di Kerajaan Langit.”

Aku memimpikan Yung Lu akan datang untuk membelaku. Aku menangis di atas pusara Tung Chih dan berjalan pulang pada tengah malam melewati Balairung Pemeliharaan Jiwa layaknya hantu. Pada pagi hari saat audiensi, aku sudah tak bisa menahan emosi dan aku pun akan terisak seperti anak ingusan. Guanghsu akan menyodorkan saputangannya, hingga dia sendiri mulai menangis.




20



AHLI STRATEGI DAN pebisnis andal, Li Hungchang, mengatakan padaku bahwa Cina bukanlah tengah menghadapi ancaman perang yang tak terhindari, melainkan kami sebenarnya telah lama memasuki pertempuran itu. Selama seminggu, Istana hanya membahas ambisi Prancis di provinsiprovinsi batas selatan kami, termasuk Vietnam, yang semenjak lama dikuasai Cina, sebelum orangorang Vietnam memperoleh “kemerdekaan semunya” pada abad kesepuluh.

Tak lama setelah kematian suamiku pada 1862, Prancis menduduki Vietnam Selatan, atau Cina Cochin. Sama halnya seperti Inggris, Prancis juga berniat membuka perdagangan di provinsiprovinsi barat daya dan telah mengincar untuk menguasai Sungai Merah yang bisa dilayari di Vietnam Utara. Pada 1874, Prancis mendesak Raja Vietnam untuk menerima traktat menganugerahinya hak istimewa sebagai penguasa wilayah, yang selama ini secara tradisi dinikmati oleh Cina. Tanpa sepengetahuan Prancis, Raja Vietnam tetap mengirimkan upeti pada anakku sebagai ganti atas jaminan perlindungan.

Untuk menjaga keutuhan wilayah Vietnam di selatan, kuanugerahi kebebasan terhadap mantan pemimpin pemberontakan Taiping dan mengirimnya untuk melawan Prancis. Sang Pemberontak terlahir di wilayah itu dan menganggapnya sebagai tanah kelahirannya. Dia berjuang dengan gagah berani dan berhasil menahan laju Prancis. Namun, ketika Raja wafat, pihak Prancis merundingkan traktat baru dengan penggantinya, yang menyatakan, “Vietnam mengakui dan menerima protektorat Prancis.”

Sebagai tanggapan atas ultimatum kami selaku pihak Kekaisaran, Prancis meluncurkan serangan militer mendadak. Karena kami tak mempersiapkan diri berperang, perbatasan barat daya wilayah kami belum sempat diperkuat ataupun dipersiapkan. Pada Maret 1884, Li Hung-chang datang untuk melaporkan bahwa seluruh kota utama di Vietnam telah jatuh ke tangan Prancis.


Dewan Istana terpecah dalam menghadapi krisis itu. Publik melihat bahwa perselisihan itu terjadi dalam menentukan cara terbaik untuk menghadapi agresi Prancis. Akan tetapi, di balik permukaannya, perselisihan itu sesungguhnya disebabkan oleh semakin lebarnya jurang antara dua golongan politik: pihak konservatif TopiBesi Manchu dan pihak progresif, yang dipimpin oleh Pangeran Kung dan Li Hungchang.

Kutanyakan pada Guanghsu, yang baru saja menginjak empat belas tahun, bagaimana perasaannya menghadapi situasi itu, dan dia menjawab, “Sampai sekarang aku belum tahu.”

Aku tak yakin apakah anakku sedang merendah atau tidak. Berbulanbulan dipaksa mengikuti audiensiaudiensi Istana sepertinya telah membuatnya letih. Dia tampak bosan dan tak bersemangat. Guanghsu telah mengatakan padaku setengah bercanda bahwa dia lebih memilih bermain catur daripada menghadiri audiensi. Ketika kukatakan padanya bahwa dia harus menjalani tugas yang dibebankan padanya, Guanghsu menjawab, “Aku berusaha menempelkan tubuhku di kursi naga.”

Aku berusaha menyemangatinya. “Kau sedang menyelamatkan negaramu, Guanghsu.”

“Aku belum mencapai apaapa. Aku hanya mendengarkan argumen yang sama setiap harinya.”

Saat itulah, baru kuketahui bahwa Guanghsu telah mangkir dari audiensinya selama aku sibuk mempersiapkan pemakaman Nuharoo. Hal itu sangat memukulku, melebihi jika kuterima berita jatuhnya kota di Vietnam.

Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan untuk menanamkan kesadaran akan prioritas penting tugasnya selaku Kaisar. Suatu hari saat makan siang, kuterangkan posisi kami di sehelai serbet, menggambar sebuah segitiga melambangkan Dewan Istana yang terbagi dengan Kaisar terimpit di tengah.

Aku berusaha tak terlalu menekannya. Aku ingat bagaimana Tung Chih memilih kabur walau tampak menurut. Aku ingat rasa benci dan kesalnya yang terdengar dari suaranya. Kukatakan pada diri sendiri untuk mendidiknya dengan mengikuti cara Guanghsu, dan bukan diriku.

Hal pertama yang kulakukan adalah melepaskan Guanghsu dari tugas resminya menjalani upacara penghormatan arwah leluhur sesuai dengan ajaran Konfusius. Meski aku menyetujui dengan Dewan Istana bahwa arwah Tung Chih memerlukan panjatan doadoa panjang dan serangkaian ritual demi kenyamanan dan keamanan rohnya, aku menyadari bahwa Guanghsu juga perlu istirahat.

Aku tak ingin Guanghsu hidup di bawah bayang-bayang Tung Chih. Akan tetapi, Dewan Istana melihat naiknya takhta Guanghsu seperti itu. Tanpa pengawasan Nuharoo, aku mulai membengkokkan aturan. Beberapa menteri mempertanyakan tindakanku, tetapi sebagian besar pejabat kerajaan memahami ketika kukatakan, “Saat Guanghsu berhasillah, baru arwah Tung Chih akan tenang.


“Paman Pangeran Ts'eng mengancam akan bunuh diri jika aku setuju untuk membiarkan orangorang asing tinggal dan berdagang di Cina,” Guanghsu melaporkan. “Dia telah meminta ayahku untuk bergabung dengannya dalam mendanai Boxers. “

Aku sudah sangat paham akan gerakan Boxers, gerakan orangorang desa dengan akar dari budaya tradisional Cina—atau begitulah yang dikatakan oleh pemimpin mereka. Secara perlahan, jumlah mereka terus bertambah.

“Sayangnya,” kuberitakan pada anakku, “misi Boxers adalah membunuh orangorang asing, “

“Apa Ibu sekarang berada di pihak Pangeran Kung?” tanya Guanghsu.

Aku mendesah.

“Ayahku orang yang mengadaada,” Guanghsu melanjutkan. “Puisipuisi dan kaligrafinya dipampang di manamana.”

“Pangeran Ch'un menginginkan Cina tetap tertutup. Bagaimana pendapatmu?”

“Aku setuju dengan Pangeran Kung,” Guanghsu menjawab. Kemudian sambil menatapku tajam, dia berkata, “Aku tak mengerti kenapa Ibu menyuruhku diam saat aku membiarkan Dewan Istana mendengarkan pendapatku.”

“Tugas Kaisar adalah untuk menyatukan Dewan Istana,“ perlahan kuterangkan.

“Baik, Bu,” Guanghsu berucap dengan patuh.

“Kudengar kau mau menginspeksi angkatan bersenjata baru.”

Guanghsu mengangguk. “Ya, tentu saja. Li Hungchang sudah siap, tetapi Dewan Istana tidak memberiku izin untuk menerimanya. Ayahku berpikir bahwa dialah Kaisar sebenarnya, meski aku yang mengenakan pakaiannya.”

“Bagaimana pendapatmu mengenai Pangeran Ikuang yang menangani Biro Urusan Luar Negeri?”

“Dia sepertinya lebih mampu dari yang lain. Tetapi sebenarnya aku tak terlalu suka dengannya, atau dengan pamanpamanku yang lain.” Guanghsu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan. “Sejujurnya, Ibu, aku telah membangun relasi dengan orangorang di luar-lingkaran Kerajaan. Para pemikir dan pembaru, orangorang yang tahu bagaimana untuk sungguhsungguh menolongku.”

“Pastikan kau sudah mengerti akan arti reformasi, jika diterapkan.” Aku tak mau mengakui bahwa aku sendiri tak terlalu mengerti.

“Aku sudah tahu, Ibu. Aku sedang berusaha mengerjakan rencana reformasi.“

“Apa yang akan menjadi dekrit pertamamu?”

“Dekrit pertamaku adalah untuk mencabut hakhak istimewa dari orangorang yang menikmati gaji pemerintahan tanpa memberi kontribusi apa pun.“

“Apa kau menyadari besarnya jumlah kelompok ini?”

“Aku tahu ada ratusan parasit kerajaan yang dibayar karena status mereka sebagai pangeran dan orang pemerintahan. Ayahku, pamanpamanku, saudara, dan sepupuku adalah penyokong setia kebijakan ini.”

“Adikmu, Pangeran Ch'un Junior, sudah menjadi bintang baru dari TopiBesi,” aku memperingatkannya. “Kelompoknya bersumpah akan menghancurkan siapa pun yang mendukung Pangeran Kung dan Li Hungchang.”

“Aku yang akan mengeluarkan dekrit, bukan Pangeran Ch'un Junior.“

“Beri dukungan Pangeran Kung dan Li Hungchang, dan jaga hubungan baik dengan golongan konservatif,” aku menyarankan.

“Aku sudah siap meninggalkan mereka,” Guanghsu berkata dengan tenang. Melihat kebulatan tekadnya membuatku senang, meski aku tahu tak bisa mendukungnya lebih jauh.

“Kau tak seharusnya meninggalkan mereka, Guanghsu.”

Kaisar memutar kepalanya dan menatapku.

“Mereka adalah pusat dari kelompok berkuasa Manchu,“ jelasku. “Kau tak semestinya mengubah relasi sedarahmu menjadi musuh.”

“Kenapa?”

“Mereka bisa menggunakan hukum keluarga untuk menurunkanmu dari takhta.”

Guanghsu tampak tak yakin. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah bolakbalik mengitari balairung.

“Mendanai Gerakan Boxers merupakan salah satu strategi TopiBesi,” ujarku, sambil menghirup teh. “Mereka mendapatkan sokongan dari teman kita, Gubernur Kanton, Chang Chihtung.”

“Aku tahu, aku tahu, merekalah pemimpin berkuasa dan orangorang yang membenci, bahkan menentang keras kehadiran semua orang asing.” Guanghsu kembali ke kursinya dan duduk. Dia mengembuskan napas berat.

Aku bangkit untuk menambahkan air hangat ke cangkir tehnya.

“Apakah aku harus memercayai Li Hungchang?” tanya Guanghsu. “Sepertinya dia perunding paling berhasil dengan kekuatan asing.”

“Percayalah padanya,” tanggapku. “Akan tetapi, ingat bahwa saudaramu Ch'un juga memiliki kepedulian terhadap Dinasti Manchu ini, tak kurang dari Li Hung-chang.”


Udara musim semi begitu kering dengan pasir beterbangan oleh tiupan angin gurun yang kuat. Baru saat memasuki April, angin mulai melembut, dan kini bertiup sepoisepoi. Di bawah kehangatan matahari, para kasim melepaskan jubah cokelat musim dingin mereka yang membuat mereka tampak seperti beruang. Para selir kerajaan pekarangan belakang menukar pakaian mereka dengan chipaos sepanjang mata kaki, gaun khas Manchu yang menekankan keindahan tubuh wanita.

Aku rindu berjalanjalan di jalanan Peking di bawah sinar mentari. Sudah lebih dari seperempat abad, aku tak memiliki kesenangan itu. Pemandangan kota hanya hadir dalam mimpimimpiku. Aku rindu menyusuri ganggang dan pekarangan yang di sana pohonpohon fermiana masih menguncup dan pohonpohon loquat bermekaran dalam gerumbulannya. Aku rindu keranjang penjual bunga peoni di persimpangan jalan yang ramai. Aku teringat wangi bungabunga segar dan manisnya aroma pohon kurma.

Kembang pohon willow yang berbentuk bolabola saling mengejar dalam tembok Kota Terlarang. Kembang ini beterbangan melewati tembok, jendela, dan mendarat di mejaku saat aku tengah menuliskan hal penting dari laporanlaporan luar negeri yang baru selesai kubaca.

Guanghsu berada di sampingku. “Li Hungchang mengatakan bahwa dia telah mengirimkan pasukan tambahan ke titik yang bermasalah, tetapi dari yang lain aku mendengar sebaliknya,” ujar Guanghsu, kedua tangannya menangkup dagu.

Tak ada orang lain dalam ruangan. Kami dapat mendengar gema suara kami sendiri. Kuingatkan pada Kaisar bahwa ada kemungkinan orangorang akan mengatakan hal apa pun demi mendiskreditkan Li.

“Sulit untuk mengetahui siapa yang berkata jujur”, Guanghsu menyetujui.

Aku berharap ada orang lain yang bisa kupercaya untuk memberi informasi. Li Hungchang satusatunya orang yang telah memantapkan kredibilitasnya tanpa keraguan. Aku menyukainya walaupun tak pernah pada beritaberita yang dibawakannya. Tiap kali kudengar suara kasimku mengumumkan kedatangan Li, perutku terasa diaduk. Aku harus berusaha keras untuk menegakkan dudukku agar aku dapat menahan berita buruk itu di perutku.

Pada 22 Agustus 1885, pihak Prancis membuka tembakan tanpa peringatan, tetapi mereka menolak menyebutnya sebagai perang. Pesan dari Li Hungchang berbunyi, “Perahuperahu dan kapalkapal kita dibakar, dan semuanya tenggelam dalam hitungan menit.”

Tangan Guanghsu bergetar pelan saat dia membalikkan halaman kertas. “Persediaan kita sekarang tertahan karena armada laut Prancis memblokade selat antara Taiwan dan Fukien. Di mana Angkatan Bersenjata Utara Li Hungchang?”

“Kaukirimkan mereka untuk menangani Jepang atas masalah Korea,” kuingatkan dia kembali. “Tentara Li harus bertahan di Utara.”

Dengan kedua tangan, Guanghsu memegangi kepalanya.

“Minumlah teh, Guanghsu,” hanya itu yang bisa kukatakan.

Menekan mata dengan jarijarinya, dia berkata, “Kita tak sanggup untuk tak mengurusi Jepang.”

Aku setuju. “Bagi Jepang, Korea merupakan titik masuk menuju Teluk Pechili, kemudian ke Peking sendiri.”

Guanghsu bangkit dan pergi untuk membaca memorandum Dewan Istana. “Apa lagi yang bisa disarankan Dewan Istana? ‘Menahan diri ... Jangan menyulut konflik dengan Jepang saat berperang dengan Prancis…”

“Dewan Istana berharap agar Jepang berterima kasih setelah kita membiarkan mereka mendapatkan Taiwan.“

“Guru Weng mengatakan bahwa kebaikan dan kendalidiri kami tak seharusnya diartikan sebagai undangan penyerangan.

“Dia tak salah, tetapi—“

“Ibu,“ Guanghsu menyelaku, “apa Ibu tahu bahwa pada minggu ketika Amerika menandatangani traktat dengan Korea, Guru Weng sampai sakit perut? Dia berusaha menghukum dirinya sendiri dengan tak makan apa-apa kecuali kulit keras roti.“

Aku mendesah dan mencoba berkonsentrasi. “Keterlibatan Amerika hanya memperumit masalah.“

Guanghsu melingkari badannya dengan kedua tangannya, dan duduk kembali. Kami saling menatap.

“Ibu, apakah Amerika Serikat menyiratkan bahwa Korea kini menjadi negara yang setara dan merdeka dari Cina?”

Aku mengangguk.

“Aku merasa tak enak badan, Bu. Tubuhku mau menelantarkanku.”

Aku ingin mengatakan “Rasa malu dan menghukum dirisendiri tidak akan membangkitkan keberanian,“ tetapi aku hanya membalikkan badanku dan mulai menangis.

Sebagai Kaisar, kedua putraku tak memiliki cara untuk membebaskan diri. Guanghsu harus meneruskan mimpi buruk Tung Chih. Aku merasa seperti hantu yang datang merenggut seorang pengganti agar arwah putranya yang mati bisa mendapatkan kehidupan yang baru. Aku merasa tanganku sendirilah yang menarik dan mengeratkan ikatan tali yang mencekik leher Guanghsu.

“Siapa lagi yang sedang berusaha menyerang kita?” Guanghsu bertanya dengan nada panik. “Aku muak baru diberi tahu setelah kalah dalam perang dan traktat telah dibuat!”

“Bukan kesalahanmu kita kehilangan Taiwan, Vietnam, dan Korea,” aku berhasil mengatakan. “Sejak 1861, Cina sudah seperti pohon mulberi yang digigiti habis oleh cacingcacing. Perasaan frustrasimu tak beda dengan yang dirasakan suamiku, “

Katakata nasihatku tidak juga menenangkan Guanghsu. Dia mulai kehilangan keriangannya. Berbulanbulan kemudian, penderitaan akan menguasainya. Tak sama seperti Tung Chih, yang memilih untuk meloloskan diri, Guanghsu tak melakukan apa pun selain bertahan menerima tamparan beritaberita buruk itu.

Li Hungchang berunding dengan Prancis dan Pangeran Kung mengundang Robert Hart dari layanan bea cukai kami untuk melakukan diplomasi atas nama kami. Kami beruntung karena pada akhirnya Hart membuktikan dirinya sebagai teman sejati Cina.


Sebelum akhir musim panas, secara begitu saja kami menyerahkan Vietnam pada Prancis. Li Hungchang dengan sukarela menanggung malu ini agar Kaisar bisa menyelamatkan mukanya.

Saat yang menyakitkan datang ketika Guanghsu menyadari bahwa usai peperangan yang berlarutlarut, penderitaan berkepanjangan, proses pengambilan keputusan yang majumundur, dan kematian ribuan orang secara tragis, Cina hanya memperoleh penghapusan beban ganti rugi yang selama ini diwajibkan oleh Prancis.

Sementara itu, Korea, dengan didanai oleh Jepang, memulai proses reformasi dengan acuan Barat dan memproklamasikan kemerdekaannya.

“Korea adalah ibu jari bagi tangan Cina!” pekik Guanghsu di tengahtengah audiensi.

“Benar, Yang Mulia,” Dewan Istana menggema.

“Kita memang lemah, tetapi tak hancur!” Kaisar mengayunkan kepalan tangannya.

Semua orang bersikap, “Biarkan bocah itu memuntahkan amarahnya.” Pada akhirnya, Guanghsu menyepakati resolusi Perang CinaPrancis demi mengonsentrasikan pertahanan kami di Utara, melawan Jepang.

Sering kali, ketika kabar sampai di Istana, momen untuk bertindak sudah lewat. Sudah tertulis dengan jelas pada hukum dinasti bahwa pemegang kekuasaan harus mendapatkan penghormatan tinggi dan etika mesti diikuti secara kaku, tetapi aku terpaksa menyesuaikan hukum dengan tuntutan situasi yang berubahubah. Otonomi yang lebih luas telah membawa efisiensi dan hasil yang baik pada berbagai kesempatan. Sering kali, inisiatif ini datang dari Li Hungchang, yang berusaha sekuat kemampuannya untuk menahan laju Jepang.

Dalam kekuatan yang dikirim Li Hungchang ke Korea, terdapat seseorang yang akan segera memainkan peran pentingnya dalam panggung politik Cina. Namanya adalah Yuan Shihkai, seorang pemuda dua puluh tiga tahun berbadan besar, yang ambisius dan memiliki keberanian besar. Ketika golongan proJepang merencanakan kudeta pada Desember 1884 di suatu perjamuan seremonial di Seoul, Yuan selaku Komandan garnisun menjadikan Raja Korea sebagai sandera setelah perkelahian sengit di pekarangan istana, dan berhasil membungkam orangorang Jepang dan para pengikutnya dari Korea.

Tindakan militer Yuan Shihkai yang begitu tangkas dan percaya diri mencegah jatuhnya Korea ke tangan Jepang. Karena jasanya itu, Guanghsu memberinya penghargaan. Selain mendapatkan promosi lompatperingkat, Yuan diangkat sebagai utusan Cina di Seoul.

Traktat hasil negosiasi Li Hungchang dengan pihak Jepang pada 1885 menuntut agar kedua negara menarik mundur pasukannya dari Korea. Traktat itu juga menjelaskan bahwa pihak ketiga akan memimpin reformasi di Korea, dan bahwa Cina dan Jepang diperbolehkan turut serta dengan menawarkan bantuan militer mereka, hanya jika telah memberi tahu satu sama lain. Lima tahun kemudian, utusan Korea akan datang ke Peking dan melakukan kowtow layaknya seorang pengikut di hadapan Guanghsu. Hal itu memberi ketenangan pada anakku meskipun kami berdua tahu hanya menunggu waktu saja sebelum kami akan kehilangan kendali lagi.

Sementara itu, aku menyarankan Guanghsu untuk menerima proposal Li Hungchang untuk meningkatkan status Taiwan dari wilayah distrik Fujian menjadi satu provinsi yang berdiri sendiri. Jika sudah tak terhindari bagi kami untuk kehilangan pulau itu, setidaknya tindakan yang diambil bisa memberi kami penghargaan lebih. Dekrit Guanghsu pada 1887 menyatakan bahwa Taiwan akan menjadi “provinsi kedua puluh Negara Cina, dengan IbuKota Taipei!” dan bahwa upaya modernisasi Taiwan akan melibatkan pembangunan rel kereta dan layanan pos pertama.” Kami hanya membodohi diri kami sendiri.




21



SEMALAM TURUN SALJU. Meskipun tak berat, hujan salju itu berlangsung hingga pagi. Ini minggu yang sungguh berat. Kepalaku rasanya habis dipukuli, dan kini membengkak. Guru Weng telah memberi Kaisar dan aku pengenalan intensif mengenai transformasi Jepang melalui reformasi politik. Guru Weng menjelaskan lebih mendalam mengenai pentingnya kebebasan berekspresi.

“Pendapat umum yang memandang kalangan ilmuwan sebagai kaum pemberontak harus diubah.” Janggut abuabu sang guru menggantung di depan dadanya bagai tirai, membuatnya tampak bagai Dewa Dapur. [ Zao Shen atau Dewa Dapur adalah dewa rumah tangga yang penting dalam keyakinan Cina. Gambar dirinya biasa terpajang pada komporkompor dalam rumah. Dipercaya dapat membawa kekayaan bagi penghuni rumah dan melindungi mereka dari roh jahat. ] “Kita harus mencontoh Jepang.”

“Pertamatama, aku akan melarang tindakan menghukum para pengusung paham yang beda.” Guanghsu tampak bersemangat.

“Tetapi bagaimana cara kau meyakinkan Dewan Istana?” aku bertanya padanya. “Kita semua harus ingat bahwa Dinasti Manchu dibangun atas kekuasaan militer. Para leluhur kita mengamankan kedudukan mereka dengan menyingkirkan dan membantai semua penentangnya.”

“Ibu.” Anakku beralih padaku. “Kau adalah anggota senior dari klan kerajaan dan memiliki kewenangan besar. Dewan Istana bisa menolakku, tetapi akan sulit bagi mereka untuk menolakmu. “

Aku berjanji akan membantu. Di hadapan Dewan Istana, aku memberikan izin bagi proposal Guru Weng, yang akan memperkenalkan reformasi gayaJepang. Akan tetapi, di balik gerbang Kota Terlarang, aku menyatakan kekhawatiran pribadiku pada Guru Weng. Kukatakan padanya bahwa aku kurang memercayai kualitas pemikiran para ilmuwan kami, terutama pada kelompok yang menamakan diri Mingshih, “pemilik kebijaksanaan”.  Reputasi mereka lebih dikenal sebagai pembual dan pencari kesenangan pribadi. Sebagai gadis kecil yang besar di Wuhu, aku ingat mengenali orangorang semacam itu sebagai temanteman ayahku. Mereka menghabiskan harihari mereka mendeklamasikan puisi, membahas filsafat, menyanyikan lagu opera, dan minumminum. Mereka dikenal sering mengunjungi teater dan “perahu kembang”—rumah pelacuran yang mengambang.

Aku lebih mencemaskan akan agresi Jepang yang kian meluas dan mendorong Kaisar untuk bekerja sama dengan Li Hungchang dalam membangun Biro Angkatan Laut untuk mengawasi urusanurusan kelautan. Aku meminta Guanghsu untuk mengawasi secara pribadi aliran dana Kerajaan bagi penyediaan armada kapal dan persenjataan untuk perang.

Tantangan terbesarku datang dari kemarahan yang ditunjukkan para anggota kerajaan Manchu terhadap pemotongan penerimaan tahunan mereka. Untuk mendiamkan mereka, kutunjuk Pangeran Ch'un sebagai penanggung jawab biro yang baru. Kemampuan lelaki itu tak sepantar dengan saudaranya, Pangeran Kung, yang sangat cerdas. jika harus memilih, aku akan lebih senang bekerja sama dengan Pangeran Kung. Namun, Pangeran Kung telah membuat satu kesalahan besar, yang membuatnya tersingkir. Pangeran Ch'un kurang cakap dalam berbagai hal, tetapi dia adalah ayah dari sang Kaisar dan aku tak punya kandidat lain. Menyadari kekurangannya, aku menunjuk Li Hungchang dan Tseng Chitse, anak dari Tseng Kuofan, sebagai penasihatnya, mengetahui bahwa mereka akan memenuhi peranannya dengan baik.

Sejarawan masa mendatang akan menyebutkan penunjukan Pangeran Ch'un sebagai bentuk pembalasanku atas Pangeran Kung, dan sebagai satu contoh lain yang membuktikan kehausanku akan kekuasaan. Kenyataannya adalah Pangeran Kung merupakan korban dari politik dalamIstana kaum Manchu. Pandangan liberalnya menjadikan dia sasaran empuk tidak hanya bagi TopiBesi, tetapi juga bagi saudarasaudaranya yang iri padanya, termasuk pula Pangeran Ch'un dan Pangeran Ts'eng.

Pada masa konflik dengan Prancis, pihak TopiBesi menganjurkan pada Cina untuk segera maju berperang. Pangeran Ch'un terdorong untuk menuntut kekuasaannya pada pemerintahan anaknya. Saat aku mulai terlibat, masalah Pangeran Kung dengan mayoritas Dewan Istana sudah di luar kendali. Meyakini bahwa Cina harus menjauhi peperangan, Kung mengambil tindakan sendiri dengan mengirimkan utusan ke Prancis untuk bernegosiasi. Dengan penilaian dari Robert Hart akan situasi yang terjadi, Pangeran Kung berhasil meyakinkan Prancis untuk membuat suatu kesepakatan, dan Li Hungchang dikirim untuk meresmikan persetujuan tersebut.

Ketika hasil kompromi Li mengubah Indocina ke dalam bentuk protektoratbersama antara Cina dan Prancis, rakyat Cina berang. Pangeran Kung dan Li Hung-chang dituduh sebagai pengkhianat. Suratsurat mengkritik keduanya menumpuk di mejaku.

Walaupun mendukung Pangeran Kung, aku tak dapat mencegah semakin meluasnya konflik di Istana. Kaisar Guanghsu terus ditekan oleh saudarasaudaranya yang cepat naikdarah dan pemimpin TopiBesi, Pangeran Ch'un Junior.

Kusadari bahwa satusatunya cara untuk menghindarkan Pangeran Kung dari masalah adalah dengan memecatnya atas alasanalasan sepele: arogansi, nepotisme, dan ketidakefisienan. Kuyakinkan saudara iparku bahwa suatu dekrit pemecatan akan membebaskan dirinya dari dakwaan atas pengkhianatan.

Dengan marah dan kecewa, Kung mengajukan pengunduran dirinya, dan segera dikabulkan.

Sementara itu, Li Hungchang tertinggal dalam posisi yang lemah. Untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, dia memilih untuk berpindah haluan—suatu keputusan yang bisa kumengerti dan aku hanya bisa bersimpati untuknya. Kemudian Pangeran Ch'un menggantikan Pangeran Kung selaku Menteri Kepala.

Negara menerima konsekuensinya akibat kepergian Pangeran Kung, seseorang yang selama bertahuntahun lamanya telah menjadi sandaran perlindunganku. Dengan perginya Yung Lu dan Pangeran Kung, aku menjadi sangat cemas. Cina sekarang sudah nyaris dikuasai sepenuhnya oleh pihak gariskeras Manchu—kelompok yang dikenal rakus, keji, dan tak terdidik, yang jumlahnya mencapai ribuan.

Leluhur Manchu telah membuat suatu sistem rotasi jabatan yang dilangsungkan setiap dua atau tiga tahun untuk mencegah para pejabat meraup keuntungan pribadi. Rotasi itu sering kali berarti bahwa seorang gubernur baru akan jatuh dalam genggaman staf dan bawahannya, yang mengenali wilayah mereka dengan baik. Aku menaruh kecurigaan pada para gubernur baru yang akan datang melaporkan pada Kaisar tentang “pencapaian terbarunya”.

Menurut Li Hungchang, tiga puluh persen dari penghasilan tahunan negara mengalami kebocoran akibat aksi penyuapan, penipuan, dan korupsi. Pemerintah kami disusahkan oleh makin langkanya orangorang yang jujur dan kompeten. Dan, di atas segalanya, atas keterbatasan dana dan juga sumbersumber untuk mendapatkannya.

Guanghsu berencana untuk memberlakukan pajak tanah. Aku memohon padanya untuk tak menerapkannya. Musim panas lalu telah membawa kehancuran pada separuh wilayah Cina. Di provinsiprovinsi termiskin, keluarga akan menukar anakanak mereka—orangtua tak mampu melihat anakanak mereka sendiri meninggal, kemudian dengan terpaksa memakan bangkainya. Sementara itu, jumlah ekspor kami tertinggal jauh dari besar impornya. Bahkan perdagangan teh, yang sejak 1876 dimonopoli oleh kami, telah dicuri oleh India di bawah kekuasaan Inggris. Kini kami hanya menyuplai seperempat dari jumlah konsumsi teh dunia. Ruanganku penuh sesak oleh kertaskertas. Kuas, cat, batu tinta dan stempel khusus berserak di seluruh permukaan. Tembokku tertutupi lukisanlukisan yang tengah dikerjakan. Objek lukisku masih mengambil tema bungabunga dan lanskap, tetapi sapuan kuasku menunjukkan kecemasan yang kian kurasakan.

Pengajar lukisku memilih angkat kaki karena aku membuatnya gila. Dia tak bisa mengerti mengapa aku tak bisa melukis seperti sebelumnya. Dia takut melihat sapuan kuas anehku. Alis matanya membentuk puncak gunung dan mulutnya akan menganga lebar seolah terkejut dalam hening, sewaktu dia memperbaiki sapuan lukisku. Dia memulas tinta hitam di manamana hingga cat lukisannya menetes, dan bunga mawarku berubah menjadi zebra.

Li Lienying memberi tahuku bahwa lukisanlukisanku tak laku dijual karena para kolektor tak memercayainya sebagai karyaku.

“Lukisan yang baru kehilangan keanggunan dan ketenangannya,” ujar kasimku.

Kukatakan padanya bahwa keindahan taman kerajaan sudah tak lagi menginspirasiku. “Tak ramah dan tak manusiawi, paviliunpaviliun itu berdiri di sana hanya untuk membuatku stres!”

“Tetapi Tuan Putri, kami semua yang tinggal di Kota Terlarang hidup seperti kelelawar dalam gua. Kegelapan sudah jadi hal yang biasa.”

Kulempar kuasku ke ruangan. “Aku sudah muak memandangi pekarangan yang suram dan jalur tapaknya yang panjang, gelap, sempit! Kamarkamar di Kota Terlarang sama persis, membisiki pembunuhan di telingaku!”

“Itu penyakit pikiran, Tuan Putri. Aku akan mempersiapkan untuk memajang cermin besar di pintu masuk. Ia akan membantu menangkal kedatangan arwaharwah jahat.”

Hari ketika Li Lienying menggantungkan sebuah cermin baru, aku bermimpi melakukan perjalanan ke kuil Buddha di pegunungan tinggi. Jalur dakian di tepi tebingnya tak lebih dari setengah meter. Ratusan kaki ke bawah terlihat sungai yang tampak bagai cermin. Sungai itu terimpit antara dua bukit. Dalam mimpiku, keledai yang kutunggangi tak mau bergerak. Kakinya bergetar.

Saat terbangun, aku teringat saat liburan musim panas, berjalanjalan ke sungai dengan keluargaku. Perahu kami dikerubungi kutu. Kutukutu itu tampaknya hanya menggangguku. Pada malam harinya, ketika kubersihkan debudebu dari sepraiku untuk bersiap tidur, debu itu melompat dan kembali menutupi sepraiku. Saat itulah kusadari bahwa itu bukan debu, melainkan kutu.

Melayari sungai, aku dapat mendengarkan nyanyian para pendayung perahu untuk menyamakan gerakan dayungnya. Aku ingat mengangkat tangan dan memasukkannya ke dalam sungai berwarna hijau tua. Terbenamnya matahari memancarkan warna merah, kemudian abuabu, kemudian tibatiba langit jadi gelap. Air menyusuri jari-jariku, begitu hangat dan lembut.

Yung Lu mengunjungiku dalam mimpi. Dia selalu berdiri di puncak benteng di tengahtengah gurun. Bertahuntahun kemudian, ketika kujelaskan padanya apa yang dilihat oleh mataku dalam mimpi, dia terkejut oleh ketepatannya. Kulitnya kering tergerus cuaca, dan dia mengenakan seragam Pemegang Panjinya. Posturnya tegak bagai patung penjaga batu yang dibuat untuk makam kubur.

Pada tengah malam, kudengar suara sesuatu menghantam atapku. Sebuah ranting busuk jatuh dari pohon yang tua. Aku menuruti nasihat ahli nujumku untuk menghindari pertanda buruk dan pindah dari Istana Kecantikan Tak Terlarai ke Istana Kedamaian dan Panjang Umur, yang letaknya jauh di timur Kota Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Terlarang. Istana yang baru lebih tenang dan jaraknya yang jauh dari balairung membuat Guanghsu jadi lebih mandiri karena sekarang akan lebih sulit baginya untuk berkonsultasi denganku.

Pada usia lima puluh satu, kusadari betapa aku menginginkan Yung Lu kembali. Tidak hanya karena alasan pribadi: kehadirannya akan dapat menenangkan Gunghsu dan Dewan Istana. Aku membutuhkannya untuk melakukan peran yang sama sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Pangeran Kung bagi Kaisar Muda.

Dalam surat yang kutulis untuk Yung Lu, kuberitakan mengenai kematian Nuharoo, upacara kenaikan takhta Guanghsu yang akan segera dilangsungkan, dan pengunduran diri Pangeran Kung. Aku tak menyebutkan bagaimana aku bisa bertahan selama tujuh tahun tanpa kehadirannya. Untuk memastikan kepulangannya, aku menyertakan salinan petisi yang ditandatangani oleh para menteri Istana yang isinya menuntut pemancungan Li Hungchang.


Aku tak pernah menduga sebelumnya bahwa ini akan menjadi peristiwa reuni kami: Yung Lu melahap kuekue bola di ruang makanku, kelaparannya memberiku kesempatan untuk mengamatinya. Garisgaris keriput kini melintangi wajahnya seperti bukit dan sungai. Akan tetapi, perubahan terbesar yang kudapati adalah sikapnya yang tak lagi terlalu formal dan kaku.

Waktu, jarak, dan pernikahan tampaknya membuatnya lebih tenang. Aku tak menemui ketegangan yang sudah kuantisipasi. Aku telah membayangkan kepulangannya berkalikaliseperti berbagai variasi dari adegan yang sama dalam pertunjukan opera, dia akan memasuki ruangan berulangulang, tetapi dengan latar dan kostum yang beda, juga dengan mengucapkan katakata yang beda padaku.

“Willow memintaku untuk meminta maaf.” Yung Lu mendorong piring yang kosong dan menyeka mulutnya. “Dia masih sibuk berbenah.”

Aku tak yakin Yung Lu memahami pengorbanan istrinya. Atau dia berpurapura tak tahu.

Yung Lu melanjutkan, “Guanghsu menginginkan kebebasan dan aku ingin tahu apakah menurutmu dia sudah siap untuk itu.”

“Kaulah penasihat terakhir Kaisar,” ujarku.

“Jika Dewan Istana menginginkan pemenggalan Li,“ dia berkata pelan, “maka masih banyak yang harus dikerjakan oleh Kaisar Guanghsu.”

Aku setuju. “Aku harap aku bisa mundur sebelum mati.”





21



SEMALAM TURUN SALJU. Meskipun tak berat, hujan salju itu berlangsung hingga pagi. Ini minggu yang sungguh berat. Kepalaku rasanya habis dipukuli, dan kini membengkak. Guru Weng telah memberi Kaisar dan aku pengenalan intensif mengenai transformasi Jepang melalui reformasi politik. Guru Weng menjelaskan lebih mendalam mengenai pentingnya kebebasan berekspresi.

“Pendapat umum yang memandang kalangan ilmuwan sebagai kaum pemberontak harus diubah.” Janggut abuabu sang guru menggantung di depan dadanya bagai tirai, membuatnya tampak bagai Dewa Dapur. [ Zao Shen atau Dewa Dapur adalah dewa rumah tangga yang penting dalam keyakinan Cina. Gambar dirinya biasa terpajang pada komporkompor dalam rumah. Dipercaya dapat membawa kekayaan bagi penghuni rumah dan melindungi mereka dari roh jahat. ] “Kita harus mencontoh Jepang.”

“Pertamatama, aku akan melarang tindakan menghukum para pengusung paham yang beda.” Guanghsu tampak bersemangat.

“Tetapi bagaimana cara kau meyakinkan Dewan Istana?” aku bertanya padanya. “Kita semua harus ingat bahwa Dinasti Manchu dibangun atas kekuasaan militer. Para leluhur kita mengamankan kedudukan mereka dengan menyingkirkan dan membantai semua penentangnya.”

“Ibu.” Anakku beralih padaku. “Kau adalah anggota senior dari klan kerajaan dan memiliki kewenangan besar. Dewan Istana bisa menolakku, tetapi akan sulit bagi mereka untuk menolakmu. “

Aku berjanji akan membantu. Di hadapan Dewan Istana, aku memberikan izin bagi proposal Guru Weng, yang akan memperkenalkan reformasi gayaJepang. Akan tetapi, di balik gerbang Kota Terlarang, aku menyatakan kekhawatiran pribadiku pada Guru Weng. Kukatakan padanya bahwa aku kurang memercayai kualitas pemikiran para ilmuwan kami, terutama pada kelompok yang menamakan diri Mingshih, “pemilik kebijaksanaan”.  Reputasi mereka lebih dikenal sebagai pembual dan pencari kesenangan pribadi. Sebagai gadis kecil yang besar di Wuhu, aku ingat mengenali orangorang semacam itu sebagai temanteman ayahku. Mereka menghabiskan harihari mereka mendeklamasikan puisi, membahas filsafat, menyanyikan lagu opera, dan minumminum. Mereka dikenal sering mengunjungi teater dan “perahu kembang”—rumah pelacuran yang mengambang.

Aku lebih mencemaskan akan agresi Jepang yang kian meluas dan mendorong Kaisar untuk bekerja sama dengan Li Hungchang dalam membangun Biro Angkatan Laut untuk mengawasi urusanurusan kelautan. Aku meminta Guanghsu untuk mengawasi secara pribadi aliran dana Kerajaan bagi penyediaan armada kapal dan persenjataan untuk perang.

Tantangan terbesarku datang dari kemarahan yang ditunjukkan para anggota kerajaan Manchu terhadap pemotongan penerimaan tahunan mereka. Untuk mendiamkan mereka, kutunjuk Pangeran Ch'un sebagai penanggung jawab biro yang baru. Kemampuan lelaki itu tak sepantar dengan saudaranya, Pangeran Kung, yang sangat cerdas. jika harus memilih, aku akan lebih senang bekerja sama dengan Pangeran Kung. Namun, Pangeran Kung telah membuat satu kesalahan besar, yang membuatnya tersingkir. Pangeran Ch'un kurang cakap dalam berbagai hal, tetapi dia adalah ayah dari sang Kaisar dan aku tak punya kandidat lain. Menyadari kekurangannya, aku menunjuk Li Hungchang dan Tseng Chitse, anak dari Tseng Kuofan, sebagai penasihatnya, mengetahui bahwa mereka akan memenuhi peranannya dengan baik.

Sejarawan masa mendatang akan menyebutkan penunjukan Pangeran Ch'un sebagai bentuk pembalasanku atas Pangeran Kung, dan sebagai satu contoh lain yang membuktikan kehausanku akan kekuasaan. Kenyataannya adalah Pangeran Kung merupakan korban dari politik dalamIstana kaum Manchu. Pandangan liberalnya menjadikan dia sasaran empuk tidak hanya bagi TopiBesi, tetapi juga bagi saudarasaudaranya yang iri padanya, termasuk pula Pangeran Ch'un dan Pangeran Ts'eng.

Pada masa konflik dengan Prancis, pihak TopiBesi menganjurkan pada Cina untuk segera maju berperang. Pangeran Ch'un terdorong untuk menuntut kekuasaannya pada pemerintahan anaknya. Saat aku mulai terlibat, masalah Pangeran Kung dengan mayoritas Dewan Istana sudah di luar kendali. Meyakini bahwa Cina harus menjauhi peperangan, Kung mengambil tindakan sendiri dengan mengirimkan utusan ke Prancis untuk bernegosiasi. Dengan penilaian dari Robert Hart akan situasi yang terjadi, Pangeran Kung berhasil meyakinkan Prancis untuk membuat suatu kesepakatan, dan Li Hungchang dikirim untuk meresmikan persetujuan tersebut.

Ketika hasil kompromi Li mengubah Indocina ke dalam bentuk protektoratbersama antara Cina dan Prancis, rakyat Cina berang. Pangeran Kung dan Li Hung-chang dituduh sebagai pengkhianat. Suratsurat mengkritik keduanya menumpuk di mejaku.

Walaupun mendukung Pangeran Kung, aku tak dapat mencegah semakin meluasnya konflik di Istana. Kaisar Guanghsu terus ditekan oleh saudarasaudaranya yang cepat naikdarah dan pemimpin TopiBesi, Pangeran Ch'un Junior.

Kusadari bahwa satusatunya cara untuk menghindarkan Pangeran Kung dari masalah adalah dengan memecatnya atas alasanalasan sepele: arogansi, nepotisme, dan ketidakefisienan. Kuyakinkan saudara iparku bahwa suatu dekrit pemecatan akan membebaskan dirinya dari dakwaan atas pengkhianatan.

Dengan marah dan kecewa, Kung mengajukan pengunduran dirinya, dan segera dikabulkan.

Sementara itu, Li Hungchang tertinggal dalam posisi yang lemah. Untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, dia memilih untuk berpindah haluan—suatu keputusan yang bisa kumengerti dan aku hanya bisa bersimpati untuknya. Kemudian Pangeran Ch'un menggantikan Pangeran Kung selaku Menteri Kepala.

Negara menerima konsekuensinya akibat kepergian Pangeran Kung, seseorang yang selama bertahuntahun lamanya telah menjadi sandaran perlindunganku. Dengan perginya Yung Lu dan Pangeran Kung, aku menjadi sangat cemas. Cina sekarang sudah nyaris dikuasai sepenuhnya oleh pihak gariskeras Manchu—kelompok yang dikenal rakus, keji, dan tak terdidik, yang jumlahnya mencapai ribuan.

Leluhur Manchu telah membuat suatu sistem rotasi jabatan yang dilangsungkan setiap dua atau tiga tahun untuk mencegah para pejabat meraup keuntungan pribadi. Rotasi itu sering kali berarti bahwa seorang gubernur baru akan jatuh dalam genggaman staf dan bawahannya, yang mengenali wilayah mereka dengan baik. Aku menaruh kecurigaan pada para gubernur baru yang akan datang melaporkan pada Kaisar tentang “pencapaian terbarunya”.

Menurut Li Hungchang, tiga puluh persen dari penghasilan tahunan negara mengalami kebocoran akibat aksi penyuapan, penipuan, dan korupsi. Pemerintah kami disusahkan oleh makin langkanya orangorang yang jujur dan kompeten. Dan, di atas segalanya, atas keterbatasan dana dan juga sumbersumber untuk mendapatkannya.

Guanghsu berencana untuk memberlakukan pajak tanah. Aku memohon padanya untuk tak menerapkannya. Musim panas lalu telah membawa kehancuran pada separuh wilayah Cina. Di provinsiprovinsi termiskin, keluarga akan menukar anakanak mereka—orangtua tak mampu melihat anakanak mereka sendiri meninggal, kemudian dengan terpaksa memakan bangkainya. Sementara itu, jumlah ekspor kami tertinggal jauh dari besar impornya. Bahkan perdagangan teh, yang sejak 1876 dimonopoli oleh kami, telah dicuri oleh India di bawah kekuasaan Inggris. Kini kami hanya menyuplai seperempat dari jumlah konsumsi teh dunia. Ruanganku penuh sesak oleh kertaskertas. Kuas, cat, batu tinta dan stempel khusus berserak di seluruh permukaan. Tembokku tertutupi lukisanlukisan yang tengah dikerjakan. Objek lukisku masih mengambil tema bungabunga dan lanskap, tetapi sapuan kuasku menunjukkan kecemasan yang kian kurasakan.

Pengajar lukisku memilih angkat kaki karena aku membuatnya gila. Dia tak bisa mengerti mengapa aku tak bisa melukis seperti sebelumnya. Dia takut melihat sapuan kuas anehku. Alis matanya membentuk puncak gunung dan mulutnya akan menganga lebar seolah terkejut dalam hening, sewaktu dia memperbaiki sapuan lukisku. Dia memulas tinta hitam di manamana hingga cat lukisannya menetes, dan bunga mawarku berubah menjadi zebra.

Li Lienying memberi tahuku bahwa lukisanlukisanku tak laku dijual karena para kolektor tak memercayainya sebagai karyaku.

“Lukisan yang baru kehilangan keanggunan dan ketenangannya,” ujar kasimku.

Kukatakan padanya bahwa keindahan taman kerajaan sudah tak lagi menginspirasiku. “Tak ramah dan tak manusiawi, paviliunpaviliun itu berdiri di sana hanya untuk membuatku stres!”

“Tetapi Tuan Putri, kami semua yang tinggal di Kota Terlarang hidup seperti kelelawar dalam gua. Kegelapan sudah jadi hal yang biasa.”

Kulempar kuasku ke ruangan. “Aku sudah muak memandangi pekarangan yang suram dan jalur tapaknya yang panjang, gelap, sempit! Kamarkamar di Kota Terlarang sama persis, membisiki pembunuhan di telingaku!”

“Itu penyakit pikiran, Tuan Putri. Aku akan mempersiapkan untuk memajang cermin besar di pintu masuk. Ia akan membantu menangkal kedatangan arwaharwah jahat.”

Hari ketika Li Lienying menggantungkan sebuah cermin baru, aku bermimpi melakukan perjalanan ke kuil Buddha di pegunungan tinggi. Jalur dakian di tepi tebingnya tak lebih dari setengah meter. Ratusan kaki ke bawah terlihat sungai yang tampak bagai cermin. Sungai itu terimpit antara dua bukit. Dalam mimpiku, keledai yang kutunggangi tak mau bergerak. Kakinya bergetar.

Saat terbangun, aku teringat saat liburan musim panas, berjalanjalan ke sungai dengan keluargaku. Perahu kami dikerubungi kutu. Kutukutu itu tampaknya hanya menggangguku. Pada malam harinya, ketika kubersihkan debudebu dari sepraiku untuk bersiap tidur, debu itu melompat dan kembali menutupi sepraiku. Saat itulah kusadari bahwa itu bukan debu, melainkan kutu.

Melayari sungai, aku dapat mendengarkan nyanyian para pendayung perahu untuk menyamakan gerakan dayungnya. Aku ingat mengangkat tangan dan memasukkannya ke dalam sungai berwarna hijau tua. Terbenamnya matahari memancarkan warna merah, kemudian abuabu, kemudian tibatiba langit jadi gelap. Air menyusuri jari-jariku, begitu hangat dan lembut.

Yung Lu mengunjungiku dalam mimpi. Dia selalu berdiri di puncak benteng di tengahtengah gurun. Bertahuntahun kemudian, ketika kujelaskan padanya apa yang dilihat oleh mataku dalam mimpi, dia terkejut oleh ketepatannya. Kulitnya kering tergerus cuaca, dan dia mengenakan seragam Pemegang Panjinya. Posturnya tegak bagai patung penjaga batu yang dibuat untuk makam kubur.

Pada tengah malam, kudengar suara sesuatu menghantam atapku. Sebuah ranting busuk jatuh dari pohon yang tua. Aku menuruti nasihat ahli nujumku untuk menghindari pertanda buruk dan pindah dari Istana Kecantikan Tak Terlarai ke Istana Kedamaian dan Panjang Umur, yang letaknya jauh di timur Kota Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Terlarang. Istana yang baru lebih tenang dan jaraknya yang jauh dari balairung membuat Guanghsu jadi lebih mandiri karena sekarang akan lebih sulit baginya untuk berkonsultasi denganku.

Pada usia lima puluh satu, kusadari betapa aku menginginkan Yung Lu kembali. Tidak hanya karena alasan pribadi: kehadirannya akan dapat menenangkan Gunghsu dan Dewan Istana. Aku membutuhkannya untuk melakukan peran yang sama sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Pangeran Kung bagi Kaisar Muda.

Dalam surat yang kutulis untuk Yung Lu, kuberitakan mengenai kematian Nuharoo, upacara kenaikan takhta Guanghsu yang akan segera dilangsungkan, dan pengunduran diri Pangeran Kung. Aku tak menyebutkan bagaimana aku bisa bertahan selama tujuh tahun tanpa kehadirannya. Untuk memastikan kepulangannya, aku menyertakan salinan petisi yang ditandatangani oleh para menteri Istana yang isinya menuntut pemancungan Li Hungchang.


Aku tak pernah menduga sebelumnya bahwa ini akan menjadi peristiwa reuni kami: Yung Lu melahap kuekue bola di ruang makanku, kelaparannya memberiku kesempatan untuk mengamatinya. Garisgaris keriput kini melintangi wajahnya seperti bukit dan sungai. Akan tetapi, perubahan terbesar yang kudapati adalah sikapnya yang tak lagi terlalu formal dan kaku.

Waktu, jarak, dan pernikahan tampaknya membuatnya lebih tenang. Aku tak menemui ketegangan yang sudah kuantisipasi. Aku telah membayangkan kepulangannya berkalikaliseperti berbagai variasi dari adegan yang sama dalam pertunjukan opera, dia akan memasuki ruangan berulangulang, tetapi dengan latar dan kostum yang beda, juga dengan mengucapkan katakata yang beda padaku.

“Willow memintaku untuk meminta maaf.” Yung Lu mendorong piring yang kosong dan menyeka mulutnya. “Dia masih sibuk berbenah.”

Aku tak yakin Yung Lu memahami pengorbanan istrinya. Atau dia berpurapura tak tahu.

Yung Lu melanjutkan, “Guanghsu menginginkan kebebasan dan aku ingin tahu apakah menurutmu dia sudah siap untuk itu.”

“Kaulah penasihat terakhir Kaisar,” ujarku.

“Jika Dewan Istana menginginkan pemenggalan Li,“ dia berkata pelan, “maka masih banyak yang harus dikerjakan oleh Kaisar Guanghsu.”

Aku setuju. “Aku harap aku bisa mundur sebelum mati.”

21



SEMALAM TURUN SALJU. Meskipun tak berat, hujan salju itu berlangsung hingga pagi. Ini minggu yang sungguh berat. Kepalaku rasanya habis dipukuli, dan kini membengkak. Guru Weng telah memberi Kaisar dan aku pengenalan intensif mengenai transformasi Jepang melalui reformasi politik. Guru Weng menjelaskan lebih mendalam mengenai pentingnya kebebasan berekspresi.

“Pendapat umum yang memandang kalangan ilmuwan sebagai kaum pemberontak harus diubah.” Janggut abuabu sang guru menggantung di depan dadanya bagai tirai, membuatnya tampak bagai Dewa Dapur. [ Zao Shen atau Dewa Dapur adalah dewa rumah tangga yang penting dalam keyakinan Cina. Gambar dirinya biasa terpajang pada komporkompor dalam rumah. Dipercaya dapat membawa kekayaan bagi penghuni rumah dan melindungi mereka dari roh jahat. ] “Kita harus mencontoh Jepang.”

“Pertamatama, aku akan melarang tindakan menghukum para pengusung paham yang beda.” Guanghsu tampak bersemangat.

“Tetapi bagaimana cara kau meyakinkan Dewan Istana?” aku bertanya padanya. “Kita semua harus ingat bahwa Dinasti Manchu dibangun atas kekuasaan militer. Para leluhur kita mengamankan kedudukan mereka dengan menyingkirkan dan membantai semua penentangnya.”

“Ibu.” Anakku beralih padaku. “Kau adalah anggota senior dari klan kerajaan dan memiliki kewenangan besar. Dewan Istana bisa menolakku, tetapi akan sulit bagi mereka untuk menolakmu. “

Aku berjanji akan membantu. Di hadapan Dewan Istana, aku memberikan izin bagi proposal Guru Weng, yang akan memperkenalkan reformasi gayaJepang. Akan tetapi, di balik gerbang Kota Terlarang, aku menyatakan kekhawatiran pribadiku pada Guru Weng. Kukatakan padanya bahwa aku kurang memercayai kualitas pemikiran para ilmuwan kami, terutama pada kelompok yang menamakan diri Mingshih, “pemilik kebijaksanaan”.  Reputasi mereka lebih dikenal sebagai pembual dan pencari kesenangan pribadi. Sebagai gadis kecil yang besar di Wuhu, aku ingat mengenali orangorang semacam itu sebagai temanteman ayahku. Mereka menghabiskan harihari mereka mendeklamasikan puisi, membahas filsafat, menyanyikan lagu opera, dan minumminum. Mereka dikenal sering mengunjungi teater dan “perahu kembang”—rumah pelacuran yang mengambang.

Aku lebih mencemaskan akan agresi Jepang yang kian meluas dan mendorong Kaisar untuk bekerja sama dengan Li Hungchang dalam membangun Biro Angkatan Laut untuk mengawasi urusanurusan kelautan. Aku meminta Guanghsu untuk mengawasi secara pribadi aliran dana Kerajaan bagi penyediaan armada kapal dan persenjataan untuk perang.

Tantangan terbesarku datang dari kemarahan yang ditunjukkan para anggota kerajaan Manchu terhadap pemotongan penerimaan tahunan mereka. Untuk mendiamkan mereka, kutunjuk Pangeran Ch'un sebagai penanggung jawab biro yang baru. Kemampuan lelaki itu tak sepantar dengan saudaranya, Pangeran Kung, yang sangat cerdas. jika harus memilih, aku akan lebih senang bekerja sama dengan Pangeran Kung. Namun, Pangeran Kung telah membuat satu kesalahan besar, yang membuatnya tersingkir. Pangeran Ch'un kurang cakap dalam berbagai hal, tetapi dia adalah ayah dari sang Kaisar dan aku tak punya kandidat lain. Menyadari kekurangannya, aku menunjuk Li Hungchang dan Tseng Chitse, anak dari Tseng Kuofan, sebagai penasihatnya, mengetahui bahwa mereka akan memenuhi peranannya dengan baik.

Sejarawan masa mendatang akan menyebutkan penunjukan Pangeran Ch'un sebagai bentuk pembalasanku atas Pangeran Kung, dan sebagai satu contoh lain yang membuktikan kehausanku akan kekuasaan. Kenyataannya adalah Pangeran Kung merupakan korban dari politik dalamIstana kaum Manchu. Pandangan liberalnya menjadikan dia sasaran empuk tidak hanya bagi TopiBesi, tetapi juga bagi saudarasaudaranya yang iri padanya, termasuk pula Pangeran Ch'un dan Pangeran Ts'eng.

Pada masa konflik dengan Prancis, pihak TopiBesi menganjurkan pada Cina untuk segera maju berperang. Pangeran Ch'un terdorong untuk menuntut kekuasaannya pada pemerintahan anaknya. Saat aku mulai terlibat, masalah Pangeran Kung dengan mayoritas Dewan Istana sudah di luar kendali. Meyakini bahwa Cina harus menjauhi peperangan, Kung mengambil tindakan sendiri dengan mengirimkan utusan ke Prancis untuk bernegosiasi. Dengan penilaian dari Robert Hart akan situasi yang terjadi, Pangeran Kung berhasil meyakinkan Prancis untuk membuat suatu kesepakatan, dan Li Hungchang dikirim untuk meresmikan persetujuan tersebut.

Ketika hasil kompromi Li mengubah Indocina ke dalam bentuk protektoratbersama antara Cina dan Prancis, rakyat Cina berang. Pangeran Kung dan Li Hung-chang dituduh sebagai pengkhianat. Suratsurat mengkritik keduanya menumpuk di mejaku.

Walaupun mendukung Pangeran Kung, aku tak dapat mencegah semakin meluasnya konflik di Istana. Kaisar Guanghsu terus ditekan oleh saudarasaudaranya yang cepat naikdarah dan pemimpin TopiBesi, Pangeran Ch'un Junior.

Kusadari bahwa satusatunya cara untuk menghindarkan Pangeran Kung dari masalah adalah dengan memecatnya atas alasanalasan sepele: arogansi, nepotisme, dan ketidakefisienan. Kuyakinkan saudara iparku bahwa suatu dekrit pemecatan akan membebaskan dirinya dari dakwaan atas pengkhianatan.

Dengan marah dan kecewa, Kung mengajukan pengunduran dirinya, dan segera dikabulkan.

Sementara itu, Li Hungchang tertinggal dalam posisi yang lemah. Untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, dia memilih untuk berpindah haluan—suatu keputusan yang bisa kumengerti dan aku hanya bisa bersimpati untuknya. Kemudian Pangeran Ch'un menggantikan Pangeran Kung selaku Menteri Kepala.

Negara menerima konsekuensinya akibat kepergian Pangeran Kung, seseorang yang selama bertahuntahun lamanya telah menjadi sandaran perlindunganku. Dengan perginya Yung Lu dan Pangeran Kung, aku menjadi sangat cemas. Cina sekarang sudah nyaris dikuasai sepenuhnya oleh pihak gariskeras Manchu—kelompok yang dikenal rakus, keji, dan tak terdidik, yang jumlahnya mencapai ribuan.

Leluhur Manchu telah membuat suatu sistem rotasi jabatan yang dilangsungkan setiap dua atau tiga tahun untuk mencegah para pejabat meraup keuntungan pribadi. Rotasi itu sering kali berarti bahwa seorang gubernur baru akan jatuh dalam genggaman staf dan bawahannya, yang mengenali wilayah mereka dengan baik. Aku menaruh kecurigaan pada para gubernur baru yang akan datang melaporkan pada Kaisar tentang “pencapaian terbarunya”.

Menurut Li Hungchang, tiga puluh persen dari penghasilan tahunan negara mengalami kebocoran akibat aksi penyuapan, penipuan, dan korupsi. Pemerintah kami disusahkan oleh makin langkanya orangorang yang jujur dan kompeten. Dan, di atas segalanya, atas keterbatasan dana dan juga sumbersumber untuk mendapatkannya.

Guanghsu berencana untuk memberlakukan pajak tanah. Aku memohon padanya untuk tak menerapkannya. Musim panas lalu telah membawa kehancuran pada separuh wilayah Cina. Di provinsiprovinsi termiskin, keluarga akan menukar anakanak mereka—orangtua tak mampu melihat anakanak mereka sendiri meninggal, kemudian dengan terpaksa memakan bangkainya. Sementara itu, jumlah ekspor kami tertinggal jauh dari besar impornya. Bahkan perdagangan teh, yang sejak 1876 dimonopoli oleh kami, telah dicuri oleh India di bawah kekuasaan Inggris. Kini kami hanya menyuplai seperempat dari jumlah konsumsi teh dunia. Ruanganku penuh sesak oleh kertaskertas. Kuas, cat, batu tinta dan stempel khusus berserak di seluruh permukaan. Tembokku tertutupi lukisanlukisan yang tengah dikerjakan. Objek lukisku masih mengambil tema bungabunga dan lanskap, tetapi sapuan kuasku menunjukkan kecemasan yang kian kurasakan.

Pengajar lukisku memilih angkat kaki karena aku membuatnya gila. Dia tak bisa mengerti mengapa aku tak bisa melukis seperti sebelumnya. Dia takut melihat sapuan kuas anehku. Alis matanya membentuk puncak gunung dan mulutnya akan menganga lebar seolah terkejut dalam hening, sewaktu dia memperbaiki sapuan lukisku. Dia memulas tinta hitam di manamana hingga cat lukisannya menetes, dan bunga mawarku berubah menjadi zebra.

Li Lienying memberi tahuku bahwa lukisanlukisanku tak laku dijual karena para kolektor tak memercayainya sebagai karyaku.

“Lukisan yang baru kehilangan keanggunan dan ketenangannya,” ujar kasimku.

Kukatakan padanya bahwa keindahan taman kerajaan sudah tak lagi menginspirasiku. “Tak ramah dan tak manusiawi, paviliunpaviliun itu berdiri di sana hanya untuk membuatku stres!”

“Tetapi Tuan Putri, kami semua yang tinggal di Kota Terlarang hidup seperti kelelawar dalam gua. Kegelapan sudah jadi hal yang biasa.”

Kulempar kuasku ke ruangan. “Aku sudah muak memandangi pekarangan yang suram dan jalur tapaknya yang panjang, gelap, sempit! Kamarkamar di Kota Terlarang sama persis, membisiki pembunuhan di telingaku!”

“Itu penyakit pikiran, Tuan Putri. Aku akan mempersiapkan untuk memajang cermin besar di pintu masuk. Ia akan membantu menangkal kedatangan arwaharwah jahat.”

Hari ketika Li Lienying menggantungkan sebuah cermin baru, aku bermimpi melakukan perjalanan ke kuil Buddha di pegunungan tinggi. Jalur dakian di tepi tebingnya tak lebih dari setengah meter. Ratusan kaki ke bawah terlihat sungai yang tampak bagai cermin. Sungai itu terimpit antara dua bukit. Dalam mimpiku, keledai yang kutunggangi tak mau bergerak. Kakinya bergetar.

Saat terbangun, aku teringat saat liburan musim panas, berjalanjalan ke sungai dengan keluargaku. Perahu kami dikerubungi kutu. Kutukutu itu tampaknya hanya menggangguku. Pada malam harinya, ketika kubersihkan debudebu dari sepraiku untuk bersiap tidur, debu itu melompat dan kembali menutupi sepraiku. Saat itulah kusadari bahwa itu bukan debu, melainkan kutu.

Melayari sungai, aku dapat mendengarkan nyanyian para pendayung perahu untuk menyamakan gerakan dayungnya. Aku ingat mengangkat tangan dan memasukkannya ke dalam sungai berwarna hijau tua. Terbenamnya matahari memancarkan warna merah, kemudian abuabu, kemudian tibatiba langit jadi gelap. Air menyusuri jari-jariku, begitu hangat dan lembut.

Yung Lu mengunjungiku dalam mimpi. Dia selalu berdiri di puncak benteng di tengahtengah gurun. Bertahuntahun kemudian, ketika kujelaskan padanya apa yang dilihat oleh mataku dalam mimpi, dia terkejut oleh ketepatannya. Kulitnya kering tergerus cuaca, dan dia mengenakan seragam Pemegang Panjinya. Posturnya tegak bagai patung penjaga batu yang dibuat untuk makam kubur.

Pada tengah malam, kudengar suara sesuatu menghantam atapku. Sebuah ranting busuk jatuh dari pohon yang tua. Aku menuruti nasihat ahli nujumku untuk menghindari pertanda buruk dan pindah dari Istana Kecantikan Tak Terlarai ke Istana Kedamaian dan Panjang Umur, yang letaknya jauh di timur Kota Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Terlarang. Istana yang baru lebih tenang dan jaraknya yang jauh dari balairung membuat Guanghsu jadi lebih mandiri karena sekarang akan lebih sulit baginya untuk berkonsultasi denganku.

Pada usia lima puluh satu, kusadari betapa aku menginginkan Yung Lu kembali. Tidak hanya karena alasan pribadi: kehadirannya akan dapat menenangkan Gunghsu dan Dewan Istana. Aku membutuhkannya untuk melakukan peran yang sama sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Pangeran Kung bagi Kaisar Muda.

Dalam surat yang kutulis untuk Yung Lu, kuberitakan mengenai kematian Nuharoo, upacara kenaikan takhta Guanghsu yang akan segera dilangsungkan, dan pengunduran diri Pangeran Kung. Aku tak menyebutkan bagaimana aku bisa bertahan selama tujuh tahun tanpa kehadirannya. Untuk memastikan kepulangannya, aku menyertakan salinan petisi yang ditandatangani oleh para menteri Istana yang isinya menuntut pemancungan Li Hungchang.


Aku tak pernah menduga sebelumnya bahwa ini akan menjadi peristiwa reuni kami: Yung Lu melahap kuekue bola di ruang makanku, kelaparannya memberiku kesempatan untuk mengamatinya. Garisgaris keriput kini melintangi wajahnya seperti bukit dan sungai. Akan tetapi, perubahan terbesar yang kudapati adalah sikapnya yang tak lagi terlalu formal dan kaku.

Waktu, jarak, dan pernikahan tampaknya membuatnya lebih tenang. Aku tak menemui ketegangan yang sudah kuantisipasi. Aku telah membayangkan kepulangannya berkalikaliseperti berbagai variasi dari adegan yang sama dalam pertunjukan opera, dia akan memasuki ruangan berulangulang, tetapi dengan latar dan kostum yang beda, juga dengan mengucapkan katakata yang beda padaku.

“Willow memintaku untuk meminta maaf.” Yung Lu mendorong piring yang kosong dan menyeka mulutnya. “Dia masih sibuk berbenah.”

Aku tak yakin Yung Lu memahami pengorbanan istrinya. Atau dia berpurapura tak tahu.

Yung Lu melanjutkan, “Guanghsu menginginkan kebebasan dan aku ingin tahu apakah menurutmu dia sudah siap untuk itu.”

“Kaulah penasihat terakhir Kaisar,” ujarku.

“Jika Dewan Istana menginginkan pemenggalan Li,“ dia berkata pelan, “maka masih banyak yang harus dikerjakan oleh Kaisar Guanghsu.”

Aku setuju. “Aku harap aku bisa mundur sebelum mati.”

 

 Baca Kelanjutannya...