Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 4


14



DALAM KEGELAPAN MALAM, detasemen pengawal dipimpin oleh Yung Lu, berbaris di jalan menuju kediaman Pangeran Ch'un dan Rong. Mereka menjemput Tsait'ien yang tengah tertidur dan membawanya memasuki Kota Terlarang, tempat dia akan menghabiskan sisa hidupnya. Kaki para prajurit dan kudakuda mereka dibungkus dengan jerami dan kain karung agar berita tentang pengganti Kaisar tak akan menyebar ke seluruh kota sebelum waktunya, dan memicu kerusuhan dan kekacauan, yang sering kali menyertai peristiwa pergantian pemimpin.

Fajar baru menyingsing ketika Tsait'ien tiba di istanaku. Aku telah menunggunya dengan menggunakan jubah resmi kerajaan. Masih setengah tidur, Tsait'ien diberikan padaku. Di Balairung Para Leluhur, dipimpin oleh Menteri bidang Etika Istana dan bersama dengan menterimenteri lain yang hadir, kami menjalankan upacara adopsi. Kugendong Tsait'ien dan bersimpuh. Bersamasama, kami membungkuk ke lukisanlukisan di dinding. Anak angkatku kemudian didandani dengan jubah naga dari sutra. Kubawa dia menuju peti jenazah Tung Chih, yang dengan bantuan para menteri, Tsait'ien menyelesaikan upacaranya dengan melakukan kowtow [Cara menghormat dengan bersujud dan menyentuhkan berkalikali ke tanah.] sendiri.

Kugendong Tsaifien saat dia menerima Dewan Istananya. Kami dikelilingi oleh cahaya lilin dan lampion. Kenangan akan Tung Chih kembali menghantuiku.

Pada 25 Februari 1875, keponakanku, yang sekarang menjadi anakku, menduduki Takhta Naga. Dia dinyatakan sebagai Kaisar Guanghsu—Kaisar Suksesi Agung. Namanya diubah dari Tsait’ien menjadi Guanghsu. Para petani di pedesaan akan mulai menghitung tahun itu dengan “tahun pertama Kekaisaran Guanghsu”.

Seperti yang pernah kami lakukan sebelumnya, Nuharoo dan aku mengumumkan di hadapan Dewan Istana dan negara bahwa “kami menantikan saat penyerahan urusan kenegaraan begitu Kaisar menyelesaikan pendidikannya.” Dalam dekrit, kami juga menjelaskan alasan mengapa kami terpaksa memilih Tsait’ien sebagai Kaisar, dan mengapa dia harus menjadi penerus melalui adopsi atas pamannya Kaisar Hsien Feng, dan bukannya atas saudara sepupunya, Tung Chih. “Begitu Guanghsu memiliki keturunan lakilaki,” kami menyebutkan, “anak itu akan diberikan pada mendiang pamannya, Tung Chih, sebagai penerus melalui adopsi untuk menggantikannya.”

Para rival politikku menentang dekrit tersebut. “Kami begitu terkejut atas pengabaian besar terhadap tata cara leluhur Kaisar Tung Chih,” ungkap mereka. Di tempat-tempat pertemuan dan kedaikedai teh di kota utama, fitnah keji dan gosip beredar. Satu kebohongan menyebutkan bahwa Guanghsu adalah anak kandungku dengan Yung Lu. Kebohongan lain mengatakan bahwa ayah Guanghsu adalah Antehai. Seorang hakim lokal bernama Wu K'otu menangkap perhatian negara secara dramatis: dia meracuni dirinya sendiri sebagai bentuk protesnya, dan menyebutkan suksesi yang dilakukan “tidak pantas dan tidak sah”.


Di tengah kekisruhan ini, abangku mengirim pesan yang memintaku untuk mengundangnya. Ketika Kuei Hsiang tiba, dengan mengenakan jubah satin bersulam simbol-simbol keberuntungan warnawarni, dia membawa serta anak perempuannya.

“Keponakanmu berusia empat tahun,” dia membuka percakapan, “dan dia belum dianugerahi nama kerajaan.”

Kukatakan padanya bahwa aku telah memilih satu nama. Dan aku meminta maaf, mengatakan padanya bahwa aku masih begitu terpukul dan belum sempat memikirkan banyak hal. “Namanya adalah Lanyu, atau cukup Lan.” Nama itu berarti “kekayaan mulia”.

Kuei Hsiang begitu gembira.

Aku memandang keponakanku baikbaik. Dia memiliki kening bulat dan dagu kecil yang lancip. Wajahnya yang sempit menguatkan gigi depan atasnya yang tonggos. Dia tampak tak percaya diri, hal yang tak mengherankan melihat bagaimana cara dia dibesarkan. Sosok abangku adalah sebagaimana yang biasa disebut orang Cina, “seorang naga di rumah, tetapi seorang cacing di luar”. Seperti kebanyakan orang Manchu, dia tak menghormati wanita, menganggap istriistri dan selirselirnya sebagai propertinya. Bukannya dirinya tak baik, hanya saja dia cenderung merendahkan orang lain. Aku tak pernah melihat perlakuannya terhadap putrinya, tetapi sikap anaknya sudah cukup memberi tahuku.

“Istriku menganggap anak kami cantik, tetapi kukatakan padanya bahwa Lan begitu tak menarik, sampai-sampai kami nanti harus memberikan potongan harga pada peminangnya. Terkesan oleh selera humornya sendiri, dia pun tergelak.

Kutawarkan pada Lan sebuah kuemangkok, dan keponakanku mengucapkan terima kasih dengan suara nyaris tak terdengar. Dia mengunyah seperti tikus dan menyeka mulutnya setiap kali gigitan. Dia memakukan pandangannya ke atas lantai dan aku bertanyatanya apakah gadis ini menemukan hal menarik untuk dilihat. Dengan bercanda, kutanyakan hal itu padanya. “Remahremah kue,” jawabnya.

Kusarankan agar saudaraku membawa Lan mengunjungi Putri Jung, anak suamiku. Putri Jung telah mengalami begitu banyak kemalangan—ibunya, Putri Yun, melakukan aksi bunuh diri—tetapi dia berhasil tumbuh meniadi wanita muda yang bijak.

“Apa yang kauinginkan kami pelajari dari gadis itu?” tanya Kuei Hsiang.

“Tanyakan pada jung tentang kisah bagaimana dia berjuang dalam hidup,“ jawabku. “Itu akan menjadi pelajaran terbaik bagi Lan. Dan tolonglah, jangan rendahkan anakmu. Menurutku, Lan gadis yang cantik.”

Mendengar katakataku, Lan mengangkat matanya. Ketika ayahnya menjawab, “Baik, Yang Mulia,” dia terkekeh geli.

“Aku tahu Putri Jung, “ Lan berkata dengan suara pelan. “Dia belajar di Eropa, betul tidak?'

“Itu niatnya, tetapi dipaksa pihak Istana untuk kembali pulang.“ Aku mendesah. “Akan tetapi, keberaniannyalah yang kukagumi. Dia memiliki semangat yang positif dan menjalani kehidupan yang produktif. Kau akan bertemu dengannya saat dia membantuku dalam urusanurusanku.“

“Tetapi Anggrek,” abangku protes, “aku menginginkan ajaran darimu, bukan ajaran dari anak selir yang penuh aib.”

“Itulah ajaranku, Kuei Hsiang,” ujarku. “Jung tinggal bersamaku, dan dia telah menyaksikan betapa banyak impianku yang tak terwujud. Keberanian untuk menjaga impianimpian itu tetap hidup meski apa pun yang terjadi adalah yang terpenting.“

Saudaraku tampak bingung.


Guanghsu terusmenerus menangis, dan aku jadi frustrasi. Aku terus menyanyikan lagu anakanak, sampaisampai jadi begitu muak dengan nadanya. Kubandingkan situasi Guanghsu seperti cara petani menanam beras. “Akar dari batang padi harus dipatahkan untuk mendorong keluamya biji padi,” adalah bunyi ungkapan di desa. Aku ingat, bekerja di sawah membantu mematahkan akarnya. Awalnya, suara pecahannya menggangguku karena aku tak percaya padipadi itu akan bertahan. Kutinggalkan sebidang lahan tak tersentuh untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata, batang padi yang dipatahkan tumbuh lebih sehat dan kuat daripada yang tidak.

Para pelayan Guanghsu mengatakan, “Paduka Yang Mulia terusterusan mengompol di ranjangnya tiap malam, dan takut akan kegelapan dan orangorang.” Anak angkatku juga mengalami kesulitan bicara, menampilkan diri bagai tahanan penjara dan tampak sedih setiap saat. Setelah beberapa bulan, berat badannya mulai merosot.

Kupanggil beberapa ibususu lama Guanghsu. Mereka mengatakan padaku bahwa Guanghsu adalah bayi yang bahagia saat dia baru dilahirkan. Adalah ibunya sendiri, saudariku, yang mencoba “memperbaiki tabiat buruknya” dengan memukulinya setiap kali dia ingin makan dan tertawa.

Nuharoo dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menyenangkan bocah kecil itu. Guanghsu gemetar dan berteriak ketika tukang reparasi memukul paku atau menggergaji kayu. Kilatan guruh pada musim panas menjadi satu masalah baru. Pada harihari terik sebelum hujan datang, kami harus menutup pintu dan jendelanya agar suaranya tak mengganggunya. Guanghsu tak akan mau pergi menjelajah ruangan sendiri. Juru masak tak lagi diperbolehkan memotong sayuran dengan pisau; mereka menggantinya dengan gunting. Para pelayan diperintahkan untuk tak berisik saat meneud piring. Li Lienying menggunakan ketepel untuk mengusir burungburung pelatuk.

Untuk membuat proses adaptasi Kaisar lebih mudah, kuperintahkan salah seorang ibususunya untuk datang ke Kota Terlarang dan tinggal bersama kami. Kuharap Guang-hsu akan menemukan ketenangan darinya. Tetapi Nuharoo menyuruhnya pulang, “Guanghsu harus melupakan semua kondisi lamanya,” desaknya. “Dia harus dan akan diperlakukan seperti anak yang terlahir di Istana.”

Ketegangan mulai terbangun antara Nuharoo dan aku, hal yang sama terjadi seperti saat kami membesarkan Tung Chih. Aku takut akan kembali memperjuangkan perang yang siasia.

Di tengahtengah perselisihan memanas yang nyaris meledak, Nuharoo mengusirku dan aku meninggalkannya dengan berang. Dia mengambil alih pengasuhan Guang-hsu, yang artinya menyerahkan bocah malang itu pada para kasimnya. Nuharoo bukanlah orang yang mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengurusi anak. Ternyata, kasimkasimya yang frustrasi melakukan hal yang paling ditakuti olah Guanghsu. Mereka menguncinya dalam lemari, lalu menakutnakutinya dengan memukuli pintu lemari itu keraskeras.

Saat Li Lienying mengetahui apa yang terjadi dan protes, Kepala Kasim Nuharoo berdalih, “Baginda Yang Mulia memiliki api di dadanya. Beri dia kesempatan untuk bernyanyi dan api itu akan padam dengan sendirinya.”

Untuk kali pertamanya, tanpa memperoleh izin dari Nuharoo, kuperintahkan agar Kepala Kasim itu dicambuk. Dan bagi pelayan selebihnya, mereka tidak memperoleh makanan selama dua hari. Aku tahu itu bukan kesalahan para pelayan, mereka hanya melakukan apa yang disuruh. Tetapi pemukulan itu diperlukan untuk memperingatkan Nuharoo bahwa aku sudah mencapai batas kesabaranku.

Nuharoo mengatakan pada Li Lienying bahwa selama bertahuntahun hidup bersamaku, dia belum pernah melihatku bertindak dengan kemarahan yang begitu liar. Dia menyebutku wanita gila dari kampung, kemudian pergi. Dalam lubuk hatinya, dia pasti tahu betapa pun aku merasa bertanggung jawab atas kematian Tung Chih, aku juga menganggap dirinya sama bersalahnya denganku. Kebijaksanaan Nuharoo memberi tahunya akan betapa bodohnya untuk menabur garam di atas lukaku.


Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Guanghsu, tetapi pada tahuntahun berikutnya, aku merasa seperti seorang pemain akrobat yang memutar piringpiring di atas tongkat. Aku akan berusaha keras menjaga lusinan piring tetap melayang di udara walau menyadari sepenuhnya bahwa apa pun yang kulakukan, sebagian piring akan tetap jatuh pecah.

Perekonomian Cina terpuruk akibat beratnya beban kompensasi perang yang harus ditanggung. Kekuatan asing mengancam untuk menyerang, dengan alasan karena kami menunggak pembayaran. Semua audiensiku menghabiskan waktu berdebat memikirkan cara terbaik untuk mengadu domba bangsabangsa asing satu sama lain agar kami bisa memperpanjang waktu. Berita pemberontakan petani dan permintaan bantuan dari pejabat daerah datang tiap harinya.

Aku bahkan tak punya cukup waktu untuk mandi sewajarnya. Rambutku begitu kotor hingga akarakarnya terasa sakit. Aku tak bisa menunggu hidangan mewah disiapkan untukku; aku biasanya akan menyantap hidanganku dingin di meja tulisku. Aku penuhi janjiku untuk selalu membacakan dongeng sebelum tidur pada anakku, tetapi biasanya aku akan jatuh tertidur sebelum mengakhiri dongengnya. Guanghsu akan membangunkanku untuk menyelesaikannya, dan aku akan memberinya kecupan sebelum tidur dan kembali ke pekerjaanku.

Ketika Guanghsu berusia tujuh tahun, aku menderita insomnia parah, yang segera diikuti dengan rasa sakit di perutku yang tak kunjung hilang. Tabib Sun Paot’ien memberi tahu bahwa aku mengalami gangguan hati. “Denyut nadi Anda menunjukkan bahwa cairan dalam tubuh Anda tidak seimbang. Akibatnya, sistem tubuh Anda bisa rusak.“

Suatu hari, aku merasa begitu lelah untuk bekerja. Nuharoo memberi tahuku bahwa dia akan mengambil alih audiensi hingga kesehatanku pulih.

Hal itu membuatku senang karena aku bisa berkonsentrasi melakukan apa yang paling kuinginkan: membesarkan Guanghsu. Beberapa kali lidahku terpeleset dan aku menyebutnya Tung Chih. Setiap kali pula, Guanghsu akan meraih saputangannya dan menyeka linangan air mataku dengan kesabaran dan penuh simpati. Watak lembutnya sangat menyentuhku. Tak seperti Tung Chih, Guanghsu tumbuh menjadi anak yang manis dan penyayang. Aku ingin tahu apakah itu karena dia sendiri seorang anak yang lemah sehingga lebih memahami bagaimana rasanya menderita.

Seiring berlalunya waktu, Guanghsu mulai memperlihatkan rasa keingintahuannya yang besar. Walaupun dia tak pernah menghilangkan ketakutannya sepenuhnya, rasa percaya dirinya mulai tampak. Guanghsu memiliki sikap yang begitu santun dan menyenangkan tamutamunya dengan pertanyaannya yang antusias akan dunia luar. Dia sangat senang membaca, menulis, dan mendengarkan kisahkisah.

Selama bertahuntahun, Menteri Urusan Etika Kerajaan telah memprotes tindakanku membiarkan Guang-hsu tidur di kamarku. Aku bersikukuh membawanya tidur bersamaku hingga dia sudah siap menghadapi kamarnya yang begitu luas tanpa rasa takut. Aku dituduh terlalu memanjakannya, dan lebih buruk daripada itu, tetapi aku tak peduli, “Bagi pihak Istana, Guanghsu juga tak pernah masuk hitungan sebagai pengganti Kaisar dari awalnya,” keluhku pada Nuharoo.

Tak lama, Guanghsu menemukan minatnya sendiri. Dia jatuh hati pada jamjam dan menghabiskan begitu banyak waktu di Ruang Jam Utama Istana, yang di sana jamjam dengan berbagai bentuk dipajang. jamjam ini merupakan hadiah dari para raja, ratu, dan duta besar asing. Hal ini menyenangkanku, mengingat saat harihari pertamaku di istana dulu aku juga begitu terpikat pada barangbarang baru dan rumit ini. Tak lama aku sudah kehilangan minat terhadapnya, tetapi Guanghsu tak pernah bosan mendengarkan suaranya dan berusaha mencari tahu apa yang membuat jamjam itu “bernyanyi”.

Pada suatu sore, Li Lienying datang padaku dengan kepanikan terlukis di waj ahnya. “Paduka Yang Mulia telah menghancurkan jamjam utama!”

“Yang mana?” tanyaku.

“Jam Kaisar Hsien Feng dan jam Tung Chih!”

Aku pergi memeriksa dan menemukan bahwa jamjam itu telah diobrakabrik, potonganpotongan kecil dari jam terserak di seluruh meja seperti sisa tulangtulang ayam yang habis digerogoti.

“Aku yakin kautahu cara menyusun kembali semua jam ini , “ ujarku pada Guanghsu.

“Bagaimana kalau tak bisa?” tanya Guanghsu, sambil menggenggam obeng di tangan.

“Aku akan menghargai atas usahamu untuk mencoba,” ujarku menyemangatinya.

“Apa kau akan marah jika jam burung kesukaanmu tak lagi bernyanyi?”

“Yah, aku tak bisa bilang aku akan senang, tetapi ahli jam juga harus belajar untuk mengetahui cara membetulkan bagianbagian yang rusak.”




15



YUNG LU BERDIRI di hadapanku dengan jubah satin istana berwarna ungu. Es di hatiku mulai mencair diterpa matahari semi. Seperti hantu sepasang kekasih, tempat pertemuan kami terjadi dalam mimpi-mimpi kami. Pada pagi hari, kami harus kembali merasuki tubuh nyata kami, tetapi mimpimimpi itu terus berlanjut. Dalam kostum dan riasan wajahku, akan kubayangkan kepalaku bersandar di dadanya dan tanganku merasakan kehangatannya. Aku melangkah dengan keanggunan Permaisuri, tetapi merasakan hasrat seorang gadis desa.

Aku tak punya seorang pun untuk membagikan pikiranku tentang Yung Lu, setelah kematian Antehai. Saat menginjak usia empat puluh, aku sudah menerima kenyataan bahwa Yung Lu dan aku tak akan bisa bersatu. Kami berdua hidup di bawah pengawasan bangsa kami. Surat kabar dan majalah memperoleh keuntungan dengan menjual gosip tentang hubungan kami.

Tak ada tempat bagi Yung Lu dan aku untuk bertemu tanpa diketahui. Uang yang ditawarkan untuk memperoleh informasi tentang kehidupan pribadiku menggiurkan para kasim, pelayan, dan pengabdi dari tingkat terendah untuk mengintai, mematamatai, dan menceritakan kisah yang mengadaada.

Namun, saatsaat seperti ini mengingatkanku akan ketidakmampuanku tak mengacuhkan rasa cintaku. Emosiku menemukan kedamaian dari kehadiran Yung Lu. Tatapan matanya membebaskanku dari rasa takut dan mencegahku terbenam dalam pikiranpikiran yang bisa menghancurkanku. Betapapun kepedihan yang kualami, dia meyakinkanku bahwa dia bersamaku. Pada audiensi dan pertemuan Dewan Istana, aku bersandar pada penilaian dan dukungannya. Dia adalah pengkritikku yang paling keras dan jujur, menuntunku untuk melihat permasalahan apa pun yang kuhadapi dari segala sisi. Tetapi begitu aku sudah menetapkan keputusan, dia akan memastikan agar keputusan itu dilaksanakan sepenuhnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Aku…,” Ekspresi wajahnya tampak bagai algojo yang enggan melakukan eksekusi. Yung Lu mengumpulkan napasnya dan mendorong katakata itu keluar dari dadanya.

“Aku ... akan menikah.”

Aku berusaha menahan perasaan yang tibatiba menyerangku. Sekuat tenaga, kutahan air mataku.

Kau tak memerlukan izinku,” aku berhasil berkata.

“Bukan itu sebabnya aku di sini.” Suaranya terdengar pelan tetapi jelas.

“Lalu untuk apa kau datang ke sini?” Aku berpaling menatapnya, marah sekaligus takut.

“Aku memohon izinmu untuk meninggalkan kota,” ucap dia pelan.

“Apa hubungannya itu dengan—“ Aku berhenti karena aku mengerti.

“Keluargaku akan ikut bersamaku,” tambahnya.

“Ke mana kau akan pergi?” kudengar diriku sendiri bertanya.

“Sinkiang.” Sinkiang berada jauh di barat laut, sebuah wilayah kaum Muslim, area gurun yang terpencil, tempat terjauh dari ibu kota.

Aku tak ingin menangis, tetapi aku mulai kehilangan kendali. “Apa kau benarbenar berpikir aku akan bertahan tanpamu?”

Yung Lu terdiam.

“Kautahu aku, kautahu diriku sebenarnya, dan kautahu alasanku hadir tiap pagi untuk audiensi.”

“Tolong, Yang Mulia... ' “

“Aku ingin ... mendapatkan informasi bahwa kau selamat agar aku bisa tenang.”

“Tak ada yang berubah.“

“Tetapi kau akan pergi!”

“Aku akan menulis surat. Aku berjanji…”

“Bagaimana caranya? Sinkiang begitu jauh.”

“Memang tak akan mudah, Yang Mulia. Tetapi ... akan lebih baik bagimu jika aku pergi,” desaknya.

“Yakinkan aku.”

Dia menebarkan pandangan ke sepenjuru ruangan. Walaupun para kasim dan pelayan tak menampakkan diri, mereka tidak pergi. Kami dapat mendengar gerakan mereka di pekarangan.

“Kaum Muslim telah mengobarkan pemberontakan, Yang Mulia. Provinsi itu penuh dengan kerusuhan. Tentara kita sekarang telah mengendalikannya, tetapi belum bisa menumpasnya. Dalam krisis terakhir, sekumpulan pembherontak dalam jumlah besar berkumpul di batas Provinsi Jiansu.”

“Mengapa kau harus pergi ke medan tempur sendiri? Bukankah ibu kota lebih penting?”

Dia tak menjawab.

“Nuharoo dan aku tak bisa memimpin tanpamu.”

“Para prajuritku sudah bersiap pergi, Yang Mulia.”

“Mengasingkan diri sendiri, itu yang kaulakukan!”

Dia menatapku tajam.

“Kau tak peduli bagaimana aku telah kehilangan anakku…”  Kupejamkan mata, berusaha menahan air mataku meleleh keluar. Kesadaranku tahu bahwa dia melakukan hal yang benar.

“Seperti yang kukatakan, ini yang terbaik bagi masa depan,” gumamnya.

“Kau tak akan mendapatkan izinku.” Aku membalikkan badanku darinya.

Kudengar suara debuman lutut Yung Lu menimpa lantai. Aku tak mampu menengok ke arahnya.

“Jika demikian, aku akan meminta dukungan dari Dewan Istana.”

“Bagaimana jika kutolak izin Dewan Istana?”

Dia bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Lupakan, Yung Lu!” Air mata membasahi pipiku. “Aku ... aku akan memberimu izin.”

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Aku duduk di kursiku. Saputanganku bernoda cokelat dan hitam dari riasan wajahku yang luntur.

“Mengapa harus Sinkiang?” tanyaku. “Itu adalah tanah yang kejam dengan penyakit dan kematian. Itu adalah tempat yang dikuasai oleh orangorang yang fanatik dengan agama. Di mana kaubisa dapatkan tabib saat sakit? Ke mana kaubisa dapatkan pertolongan jika kalah dalam peperangan dengan Muslim? Di mana akan kautempatkan pasukan cadanganmu? Siapa yang bertanggung jawab terhadap jalur persediaanmu? Bagaimana caramu menjaga informasi terus sampai padaku?”


Wanita itu seorang Manchu, tetapi memiliki nama seorang Han, Willow. Dia memperlakukan para kasim dan pelayannya bagai keluarga sendiri. Hal itu saja cukup memberi tahuku bahwa dia bukan keturunan darah biru. Seorang turunan kerajaan akan memperlakukan kasim dan pelayannya bagai budak. Wanita itu adalah pengantin muda Yung Lu. Nyonya Yung Lu—lidahku akan lebih terbiasa memanggilnya dengan Willow—berusia akhir dua puluh. Perbedaan usia di antara mereka menimbulkan bisikbisik karena Yung Lu cukup tua untuk menjadi ayahnya. Namun, Willow tetap tersenyum dan mulutnya tetap terkunci. Untuk pernikahannya, dia mengenakan gaun biru muda sutra bersulam tanaman air hibiseus. Seperti namanya, Willow memiliki tubuh langsing dan bergerak dengan anggun.

Aku lega Nuharoo memberi alasan untuk tak menghadiri pernikahannya. Sikap sok tahunya akan mengalihkanku dari memerhatikan perayaannya, terutama pada kedua mempelai baru itu.

Saat Yung Lu mengenalkan pengantinnya padaku, wanita itu bersikap sangat manis. Dia menatap mataku lekat, yang sungguh mengejutkanku. Sambutannya pada diriku, seolah dia telah menantikan saat ini sepanjang hidupnya.

Bertahuntahun kemudian, setelah kami menjadi teman baik dan setelah kematian suaminya, Willow akan memberi tahuku bahwa dia mengetahui kebenarannya selama ini. Yung Lu tak pernah menyembunyikannya darinya, yang membuat sosoknya jadi begitu luar biasa di mataku. Dia adalah anak dari seorang panglima perang yang merupakan teman Yung Lu, seorang pemimpin suku Mongol. Prestasiprestasi luar biasa Yung Lu telah lama menjadi topik pembicaraan di tengah keluarganya saat dia tumbuh besar. Setiap kali Yung Lu berkunjung menemui ayahnya, Willow muda akan mencari alasan untuk terus menemani. Dia sudah jatuh cinta pada Yung Lu sebelum bertemu dengannya.

Kelak, Willow akan mengungkapkan padaku bahwa aku telah menjadi objek yang dipelajarinya sebelum dia mengawali hubungannya dengan suaminya. Bahkan, aku adalah satusatunya topik yang menarik hatinya tiap kali Yung Lu datang berkunjung. Dia akan menanyakan banyak hal, dan terkesan oleh jawabanjawaban yang diberikannya. Dia mengungkapkan bahwa minat yang sama akan dirikulah yang mengarahkan mereka untuk saling menulis surat, berteman, dan akhirnya, menemukan rasa yang lebih mendalam akan diri satu sama lain. Willow satusatunya orang tempatnya berbagi rahasia.

Baru ketika Willow menolak banyak peminanglah, Yung Lu menyadari rasa cintanya. Kesetiaan dan keterbukaan yang ditunjukkan Willow telah menyentuhnya. Yung Lu akhirnya melamar, dan gadis itu menerimanya. Yung Lu sadar dia tak akan mampu menjaga hubungan yang sehat bersama istrinya jika dia terus menemuiku pada audiensi.

Willow tak berhasil menutupi kepurapuraannya terhadapku. Kali pertama kami bertemu, aku merasa seolah seseorang telah mengintip ke dalam jiwaku. Ada rasa pemahaman yang aneh dan misterius di antara kami berdua. Bertahuntahun kemudian, Willow akan mengingat sambutanku pada pesta pernikahannya. Dia mengingatku sebagai orang yang hangat dan jujur. Dia menanyakan bagaimana caraku bersikap begitu tenang. Aku katakan padanya bahwa aku telah berlatih memerankan lakon di panggung kehidupan. “Begitu pula denganmu ujarku padanya.”

Yung Lu tak dapat menutupi perasaannya di hadapan istrinya. Dia berusaha, tetapi tak bisa memberi Willow yang diinginkan hatinya. Rasa bersalah selalu tampak dari sikapnya. Sikap menghindarnya dari diriku dan permohonan maafnya yang berlebihlebihan, membuat Willow merasa lebih buruk.

Aku menenggak cukup banyak arak di pesta itu. Kurasa aku berusaha melupakannya. Aku mengenakan gaun sutra emas bersulam burungburung phoenix. Rambutku digelung ke papan tipis dan ditata membentuk awan. Li Lienying menata awannya dengan jepit rambut giok warna biru tua. Antinganting burung phoenixku berwarna biru muda. Aku ingin menyenangkan hati Yung Lu, tetapi aku tak bisa terus berpurapura riang. Pikiran tak bisa menemuinya lagi, membuatku mabuk dan menangis. Aku merasa begitu pusing dan mual, hingga aku harus berlari keluar dan muntah di semaksemak.

Pada saat memalukan dan putus asa itulah, Willow mendatangi dan duduk di sampingku, menawarkan simpatinya. Dia tak mengungkapkan padaku apa yang kukatakan padanya pada malam itu. Aku yakin telah bersikap kasar dan jahat padanya. Li Lienying yang mengatakan padaku setelahnya bahwa Willow menggenggam tanganku dan tak membiarkan orangorang yang tampak usil mendekatiku.

Itulah awal mula pertemananku dengan Willownya Yung Lu. Tak pernah sekali pun dia menyebutkan rahasia suaminya. Rasa harunya terhadap penderitaanku mengalahkan rasa cemburunya. Sikap persahabatan yang dia tunjukkan adalah dengan memastikanku tahu bahwa suaminya tak pernah berhenti mencintaiku hingga akhir hidupnya.

“Mustahil untuk tak mencintaimu, Anggrek—jika aku boleh memanggilmu dengan nama itu,“ ujar Willow, dan aku tahu mengapa Yung Lu mencintainya.

Sebagai balasannya, aku ingin melakukan hal yang sama untuk Willow. Ketika dia kembali ke Peking untuk melahirkan anak perempuannya setahun kemudian, aku menyambutnya. Kehidupan gurun yang keras telah menggelapkan warna kulitnya dan keriput telah mewarnal keningnya. Dia tetap bersikap ceria, tetapi tak dapat menutupi rasa gelisahnya: Iklim gurun telah mengakibatkan Yung Lu menderita sakit paruparu kronis.

Kukirimkan berkantongkantong ramuan herbal ke Sinkiang, bersama dengan teh terbaik, daging yang di keringkan, dan berbagai jenis kacang kedelai yang di awetkan. Aku membiarkan Willow tahu bahwa dia dapat selalu mengandalkanku.




15



YUNG LU BERDIRI di hadapanku dengan jubah satin istana berwarna ungu. Es di hatiku mulai mencair diterpa matahari semi. Seperti hantu sepasang kekasih, tempat pertemuan kami terjadi dalam mimpi-mimpi kami. Pada pagi hari, kami harus kembali merasuki tubuh nyata kami, tetapi mimpimimpi itu terus berlanjut. Dalam kostum dan riasan wajahku, akan kubayangkan kepalaku bersandar di dadanya dan tanganku merasakan kehangatannya. Aku melangkah dengan keanggunan Permaisuri, tetapi merasakan hasrat seorang gadis desa.

Aku tak punya seorang pun untuk membagikan pikiranku tentang Yung Lu, setelah kematian Antehai. Saat menginjak usia empat puluh, aku sudah menerima kenyataan bahwa Yung Lu dan aku tak akan bisa bersatu. Kami berdua hidup di bawah pengawasan bangsa kami. Surat kabar dan majalah memperoleh keuntungan dengan menjual gosip tentang hubungan kami.

Tak ada tempat bagi Yung Lu dan aku untuk bertemu tanpa diketahui. Uang yang ditawarkan untuk memperoleh informasi tentang kehidupan pribadiku menggiurkan para kasim, pelayan, dan pengabdi dari tingkat terendah untuk mengintai, mematamatai, dan menceritakan kisah yang mengadaada.

Namun, saatsaat seperti ini mengingatkanku akan ketidakmampuanku tak mengacuhkan rasa cintaku. Emosiku menemukan kedamaian dari kehadiran Yung Lu. Tatapan matanya membebaskanku dari rasa takut dan mencegahku terbenam dalam pikiranpikiran yang bisa menghancurkanku. Betapapun kepedihan yang kualami, dia meyakinkanku bahwa dia bersamaku. Pada audiensi dan pertemuan Dewan Istana, aku bersandar pada penilaian dan dukungannya. Dia adalah pengkritikku yang paling keras dan jujur, menuntunku untuk melihat permasalahan apa pun yang kuhadapi dari segala sisi. Tetapi begitu aku sudah menetapkan keputusan, dia akan memastikan agar keputusan itu dilaksanakan sepenuhnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Aku…,” Ekspresi wajahnya tampak bagai algojo yang enggan melakukan eksekusi. Yung Lu mengumpulkan napasnya dan mendorong katakata itu keluar dari dadanya.

“Aku ... akan menikah.”

Aku berusaha menahan perasaan yang tibatiba menyerangku. Sekuat tenaga, kutahan air mataku.

Kau tak memerlukan izinku,” aku berhasil berkata.

“Bukan itu sebabnya aku di sini.” Suaranya terdengar pelan tetapi jelas.

“Lalu untuk apa kau datang ke sini?” Aku berpaling menatapnya, marah sekaligus takut.

“Aku memohon izinmu untuk meninggalkan kota,” ucap dia pelan.

“Apa hubungannya itu dengan—“ Aku berhenti karena aku mengerti.

“Keluargaku akan ikut bersamaku,” tambahnya.

“Ke mana kau akan pergi?” kudengar diriku sendiri bertanya.

“Sinkiang.” Sinkiang berada jauh di barat laut, sebuah wilayah kaum Muslim, area gurun yang terpencil, tempat terjauh dari ibu kota.

Aku tak ingin menangis, tetapi aku mulai kehilangan kendali. “Apa kau benarbenar berpikir aku akan bertahan tanpamu?”

Yung Lu terdiam.

“Kautahu aku, kautahu diriku sebenarnya, dan kautahu alasanku hadir tiap pagi untuk audiensi.”

“Tolong, Yang Mulia... ' “

“Aku ingin ... mendapatkan informasi bahwa kau selamat agar aku bisa tenang.”

“Tak ada yang berubah.“

“Tetapi kau akan pergi!”

“Aku akan menulis surat. Aku berjanji…”

“Bagaimana caranya? Sinkiang begitu jauh.”

“Memang tak akan mudah, Yang Mulia. Tetapi ... akan lebih baik bagimu jika aku pergi,” desaknya.

“Yakinkan aku.”

Dia menebarkan pandangan ke sepenjuru ruangan. Walaupun para kasim dan pelayan tak menampakkan diri, mereka tidak pergi. Kami dapat mendengar gerakan mereka di pekarangan.

“Kaum Muslim telah mengobarkan pemberontakan, Yang Mulia. Provinsi itu penuh dengan kerusuhan. Tentara kita sekarang telah mengendalikannya, tetapi belum bisa menumpasnya. Dalam krisis terakhir, sekumpulan pembherontak dalam jumlah besar berkumpul di batas Provinsi Jiansu.”

“Mengapa kau harus pergi ke medan tempur sendiri? Bukankah ibu kota lebih penting?”

Dia tak menjawab.

“Nuharoo dan aku tak bisa memimpin tanpamu.”

“Para prajuritku sudah bersiap pergi, Yang Mulia.”

“Mengasingkan diri sendiri, itu yang kaulakukan!”

Dia menatapku tajam.

“Kau tak peduli bagaimana aku telah kehilangan anakku…”  Kupejamkan mata, berusaha menahan air mataku meleleh keluar. Kesadaranku tahu bahwa dia melakukan hal yang benar.

“Seperti yang kukatakan, ini yang terbaik bagi masa depan,” gumamnya.

“Kau tak akan mendapatkan izinku.” Aku membalikkan badanku darinya.

Kudengar suara debuman lutut Yung Lu menimpa lantai. Aku tak mampu menengok ke arahnya.

“Jika demikian, aku akan meminta dukungan dari Dewan Istana.”

“Bagaimana jika kutolak izin Dewan Istana?”

Dia bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Lupakan, Yung Lu!” Air mata membasahi pipiku. “Aku ... aku akan memberimu izin.”

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Aku duduk di kursiku. Saputanganku bernoda cokelat dan hitam dari riasan wajahku yang luntur.

“Mengapa harus Sinkiang?” tanyaku. “Itu adalah tanah yang kejam dengan penyakit dan kematian. Itu adalah tempat yang dikuasai oleh orangorang yang fanatik dengan agama. Di mana kaubisa dapatkan tabib saat sakit? Ke mana kaubisa dapatkan pertolongan jika kalah dalam peperangan dengan Muslim? Di mana akan kautempatkan pasukan cadanganmu? Siapa yang bertanggung jawab terhadap jalur persediaanmu? Bagaimana caramu menjaga informasi terus sampai padaku?”


Wanita itu seorang Manchu, tetapi memiliki nama seorang Han, Willow. Dia memperlakukan para kasim dan pelayannya bagai keluarga sendiri. Hal itu saja cukup memberi tahuku bahwa dia bukan keturunan darah biru. Seorang turunan kerajaan akan memperlakukan kasim dan pelayannya bagai budak. Wanita itu adalah pengantin muda Yung Lu. Nyonya Yung Lu—lidahku akan lebih terbiasa memanggilnya dengan Willow—berusia akhir dua puluh. Perbedaan usia di antara mereka menimbulkan bisikbisik karena Yung Lu cukup tua untuk menjadi ayahnya. Namun, Willow tetap tersenyum dan mulutnya tetap terkunci. Untuk pernikahannya, dia mengenakan gaun biru muda sutra bersulam tanaman air hibiseus. Seperti namanya, Willow memiliki tubuh langsing dan bergerak dengan anggun.

Aku lega Nuharoo memberi alasan untuk tak menghadiri pernikahannya. Sikap sok tahunya akan mengalihkanku dari memerhatikan perayaannya, terutama pada kedua mempelai baru itu.

Saat Yung Lu mengenalkan pengantinnya padaku, wanita itu bersikap sangat manis. Dia menatap mataku lekat, yang sungguh mengejutkanku. Sambutannya pada diriku, seolah dia telah menantikan saat ini sepanjang hidupnya.

Bertahuntahun kemudian, setelah kami menjadi teman baik dan setelah kematian suaminya, Willow akan memberi tahuku bahwa dia mengetahui kebenarannya selama ini. Yung Lu tak pernah menyembunyikannya darinya, yang membuat sosoknya jadi begitu luar biasa di mataku. Dia adalah anak dari seorang panglima perang yang merupakan teman Yung Lu, seorang pemimpin suku Mongol. Prestasiprestasi luar biasa Yung Lu telah lama menjadi topik pembicaraan di tengah keluarganya saat dia tumbuh besar. Setiap kali Yung Lu berkunjung menemui ayahnya, Willow muda akan mencari alasan untuk terus menemani. Dia sudah jatuh cinta pada Yung Lu sebelum bertemu dengannya.

Kelak, Willow akan mengungkapkan padaku bahwa aku telah menjadi objek yang dipelajarinya sebelum dia mengawali hubungannya dengan suaminya. Bahkan, aku adalah satusatunya topik yang menarik hatinya tiap kali Yung Lu datang berkunjung. Dia akan menanyakan banyak hal, dan terkesan oleh jawabanjawaban yang diberikannya. Dia mengungkapkan bahwa minat yang sama akan dirikulah yang mengarahkan mereka untuk saling menulis surat, berteman, dan akhirnya, menemukan rasa yang lebih mendalam akan diri satu sama lain. Willow satusatunya orang tempatnya berbagi rahasia.

Baru ketika Willow menolak banyak peminanglah, Yung Lu menyadari rasa cintanya. Kesetiaan dan keterbukaan yang ditunjukkan Willow telah menyentuhnya. Yung Lu akhirnya melamar, dan gadis itu menerimanya. Yung Lu sadar dia tak akan mampu menjaga hubungan yang sehat bersama istrinya jika dia terus menemuiku pada audiensi.

Willow tak berhasil menutupi kepurapuraannya terhadapku. Kali pertama kami bertemu, aku merasa seolah seseorang telah mengintip ke dalam jiwaku. Ada rasa pemahaman yang aneh dan misterius di antara kami berdua. Bertahuntahun kemudian, Willow akan mengingat sambutanku pada pesta pernikahannya. Dia mengingatku sebagai orang yang hangat dan jujur. Dia menanyakan bagaimana caraku bersikap begitu tenang. Aku katakan padanya bahwa aku telah berlatih memerankan lakon di panggung kehidupan. “Begitu pula denganmu ujarku padanya.”

Yung Lu tak dapat menutupi perasaannya di hadapan istrinya. Dia berusaha, tetapi tak bisa memberi Willow yang diinginkan hatinya. Rasa bersalah selalu tampak dari sikapnya. Sikap menghindarnya dari diriku dan permohonan maafnya yang berlebihlebihan, membuat Willow merasa lebih buruk.

Aku menenggak cukup banyak arak di pesta itu. Kurasa aku berusaha melupakannya. Aku mengenakan gaun sutra emas bersulam burungburung phoenix. Rambutku digelung ke papan tipis dan ditata membentuk awan. Li Lienying menata awannya dengan jepit rambut giok warna biru tua. Antinganting burung phoenixku berwarna biru muda. Aku ingin menyenangkan hati Yung Lu, tetapi aku tak bisa terus berpurapura riang. Pikiran tak bisa menemuinya lagi, membuatku mabuk dan menangis. Aku merasa begitu pusing dan mual, hingga aku harus berlari keluar dan muntah di semaksemak.

Pada saat memalukan dan putus asa itulah, Willow mendatangi dan duduk di sampingku, menawarkan simpatinya. Dia tak mengungkapkan padaku apa yang kukatakan padanya pada malam itu. Aku yakin telah bersikap kasar dan jahat padanya. Li Lienying yang mengatakan padaku setelahnya bahwa Willow menggenggam tanganku dan tak membiarkan orangorang yang tampak usil mendekatiku.

Itulah awal mula pertemananku dengan Willownya Yung Lu. Tak pernah sekali pun dia menyebutkan rahasia suaminya. Rasa harunya terhadap penderitaanku mengalahkan rasa cemburunya. Sikap persahabatan yang dia tunjukkan adalah dengan memastikanku tahu bahwa suaminya tak pernah berhenti mencintaiku hingga akhir hidupnya.

“Mustahil untuk tak mencintaimu, Anggrek—jika aku boleh memanggilmu dengan nama itu,“ ujar Willow, dan aku tahu mengapa Yung Lu mencintainya.

Sebagai balasannya, aku ingin melakukan hal yang sama untuk Willow. Ketika dia kembali ke Peking untuk melahirkan anak perempuannya setahun kemudian, aku menyambutnya. Kehidupan gurun yang keras telah menggelapkan warna kulitnya dan keriput telah mewarnal keningnya. Dia tetap bersikap ceria, tetapi tak dapat menutupi rasa gelisahnya: Iklim gurun telah mengakibatkan Yung Lu menderita sakit paruparu kronis.

Kukirimkan berkantongkantong ramuan herbal ke Sinkiang, bersama dengan teh terbaik, daging yang di keringkan, dan berbagai jenis kacang kedelai yang di awetkan. Aku membiarkan Willow tahu bahwa dia dapat selalu mengandalkanku.





17



AKU SUDAH DUDUK di depan cermin sejak pukul tiga dini hari. Kubuka mataku dan kulihat papan lebar yang menyangga rambutku membuat kepalaku tampak bagai jamur raksasa.

“Apa kau menyukainya, Tuan Putri?” tanya Li Lien-ying.

“Ya, cukup. Mari kita selesaikan segera.” Aku bangkit berdiri supaya dia bisa mulai membantuku mengenakan jubah resmi istana yang berat dan berlapislapis.

Aku tak terlalu menaruh perhatian akan penampilanku akhirakhir ini. Pikiranku begitu sibuk mengurusi Rusia di Utara, India Inggris di Barat, Indocina Prancis di Selatan, dan Jepang di Timur.

Sejumlah negara dan wilayah—termasuk Korea, Kepulauan Ryukyu, Annam, dan Burma—yang telah mengirimkan perwakilan dan upeti pada kami pada masa kekuasaan Tung Chih, semakin jarang mengirimnya, dan tak lama bahkan berhenti sama sekali. Kenyataan bahwa Cina sudah tak mampu menuntut kembali hakhak istimewanya menunjukkan bahwa posisi kami semakin lemah. Dari setiap pembelotan yang terjadi, pertahanan luar kami pun melemah.

Aku kini berharap agar Guru Weng berhenti menampilkan sikap ketulusannya yang tak ada gunanya, dan mulai lebih mempersiapkan Guanghsu untuk memegang tampuk kepemimpinan. Dengan kurangnya keluwesan dan kecerdikan, Nuharoo dan aku tak sanggup mengambil langkah kepemimpinan yang dibutuhkan saat begitu banyak masalah mengepung kami dari segala sisi. Tampaknya tak ada seorang pun yang mengerti bahwa negeri kami telah mengarah pada kejatuhan semenjak berabadabad lalu. Cina seperti orang yang berpenyakit dan tengah sekarat, hanya saja baru sekarang ini kebusukan tubuhnya mulai tampak.

Seperti singa lapar, Jepang telah bersembunyi di semaksemak, menantikan waktu untuk menyerang. Pada masa lalu, kami meremehkan tingkat kelaparannya. Kami telah bersikap terlalu baik terhadap tetangga kami yang kecil dan miskin sumber daya dari zaman dahulu. Jika saja kutahu bahwa Kaisar Meiji dari Jepang telah menghasut bangsanya untuk menyambar dan merampas kami, aku pasti akan mendorong Dewan Istana untuk hanya memusatkan diri membangun pertahanan.

Sepuluh tahun sebelumnya, pada 1868, sementara aku memusatkan tenagaku untuk membangun sekolahsekolah dasar di pedesaan, Kaisar Jepang telah menjalankan reformasi menyeluruh, mengubah sistem feodalnya menjadi masyarakat kapitalis modern yang kuat. Cina tak menyadari artinya, saat Jepang mulai menekan untuk meluaskan wilayahnya, dimulai dari pulaupulau utamanya di Utara hingga Formosa di Selatan. Formosa, yang disebut bangsa Mandarin sebagai Taiwan, selama ini merupakan negara kepulauan yang membayarkan upeti pada Kaisar Cina selama beratusratus tahun. Pada 1871, ketika beberapa pelaut dari Kepulauan Ryukyu dibunuh di sana oleh orangorang yang kemungkinan besar bandit setempat, pihak Jepang menggunakan kejadian itu sebagai alasan untuk ikut campur.

Birokrasi kerajaan dan kenaifan kami sendiri telah menjatuhkan kami ke dalam perangkap konspirasi Jepang. Awalnya, kami berusaha menjelaskan bahwa pihak kami tak patut disalahkan, tetapi Biro Urusan Luar Negeri kami memberikan tanggapan yang sembrono terhadap tuntutan Jepang agar segera dilakukannya pembenahan: “Kami tak bisa bertanggung jawab atas tindakan orangorang barbar yang di luar batas.” Pesan itu diterjemahkan oleh pihak Jepang sebagai undangan untuk mengambil alih negara kepulauan itu.

Tanpa adanya peringatan, tentara Jepang melancarkan serangannya, menuntut pembalasan atas nama penduduk Kepulauan Ryukyu.

Sudah telat ketika gubernur provinsi kami di sana menyadari bahwa dia tidak hanya telah membiarkan pihak Jepang menggantikan posisi kami di Ryukyu, tetapi juga telah menghapuskan hak otorisasi kami atas Pulau Taiwan yang memanjang sejauh 250 mil, yang sangat vital bagi kami.

Setelah perdebatan dan penundaan yang berlangsung selama berharihari, Dewan Istana menyimpulkan bahwa Cina tak dapat menyaingi kekuatan militer baru Jepang.

Akhirnya, kami harus membayar 500.000 tael pada Jepang sebagai uang ganti rugi, hanya untuk menerima berita lebih buruk enam tahun kemudian, saat Jepang “menerima penyerahan diri” Kepulauan Ryukyu secara resmi.


Pihak Inggris juga berusaha mengambil kesempatan dari setiap kejadian yang datang. Pada 1875, seorang penerjemah Inggris, AR Margary terbunuh di Provinsi Barat Daya Yunnan. Margary sedang menemani suatu ekspedisi untuk menyelidiki rute perdagangan dari Burma ke Pegunungan Yunnan, Kweichow, dan Szechuan, provinsiprovinsi yang kaya akan sumber daya mineral dan bijih tambang. Pihak asing tak mengacuhkan tanda peringatan bahaya akan pemberontakan kaum Muslim. Penerjemah itu diserang secara tibatiba dan dibunuh oleh bandit atau para pemberontak.

Perwakilan Inggris, Sir Thomas Wade, memaksa Cina untuk mengeluarkan suatu traktat baru. Kukirim Li Hung-chang, yang saat itu menjabat sebagai raja muda dari Provinsi Chihli, untuk bernegosiasi. Konvensi Chefoo ditandatangani, yang dengannya, beberapa pelabuhan dengan terpaksa dibuka lagi untuk kebutuhan perdagangan negaranegara Barat, termasuk kota asalku, Wuhu, di Sungai Yangtze.

Dengan rambut terjalin dalam kepangan panjang di punggungnya, Li Hungchang yang berusia lima puluh lima tahun, datang memohon ampunan. Dia mengenakan jubah istana hitam, dengan sulaman lambanglambang keberuntungan dan keberanian berwarna cokelat dan merah. Meski kurus, posturnya tegak dan raut mukanya serius. Dia memiliki kulit terang khas orang Selatan, dan mata sipitnya memancarkan kecerdasan. Hidungnya tampak panjang pada wajahnya yang bagai pahatan, dan bibirnya tersembunyi di balik janggutnya yang tercukur rapi.

“Pihak Inggris berusaha mengirim ekspedisi baru dari India menuju Burma untuk menekankan garis perbatasan orangorang Burma dan Cina,” Li Hungchang melaporkan sembari berlutut.

“Apa kau menyiratkan bahwa Burma telah diduduki oleh Inggris?”

“Tepat, Yang Mulia.”


Aku meyakini bahwa jika aku memperoleh kesetiaan dari para raja muda, aku dapat mewujudkan stabilitas Cina. Melawan nasihat Dewan Istana, aku meneruskan penunjukan Li Hungchang sebagai pejabat provinsi terpenting Cina. Li akan memangku jabatan yang sama di Chihli selama dua puluh tiga tahun.

Dengan sengaja, aku tak mengacuhkan fakta bahwa Li sudah melewati batas waktu dalam pergiliran jabatan ke bagian lain kerajaan. Sudah menjadi niatku untuk membiarkannya menambah kekayaan, koneksi, dan kekuasaannya. Aku mendukung rencana Li menata ulang dan memodernisasi kekuatan militer di Utara, di bawah nama “Angkatan Bersenjata Baru”, yang digosipkan orang sebagai Angkatan Bersenjata Keluarga Li. Aku sadar sepenuhnya bahwa para panglima perang mengabdi secara langsung pada Li Hungchang, bukannya pada Kaisar.

Kepercayaanku pada Li Hungchang kudasarkan pada penilaianku terhadap dirinya selaku orang yang menjunjung nilainilai Konfusius. Sementara sebaliknya, dia memercayaiku karena telah kubuktikan padanya bahwa aku tak akan mengabaikan kesetiaannya begitu saja. Dalam pandanganku, satusatunya yang bisa ditawarkan oleh Dewan Istana hanyalah kepastian penghargaan atas kepercayaan dan kesetiaan yang diberikan rakyatnya. Aku yakin bahwa seorang pemberontak kemungkinan besar tak akan mulai memicu pemberontakan jika saja dia diberikan kuasa penuh atas satu provinsi. Tidak saja aku memberikan Li keleluasaan untuk memimpin, tetapi juga membuatnya ingin mengabdi padaku.

Hal ini merupakan bisnis yang menguntungkan bagi kami berdua. Keuntungan yang diperoleh Li merupakan sumber utama bagi pendapatan pajak Cina. Pada 1875, pemerintah kami sudah bergantung secara penuh pada Li Hungchang. Sebagai contoh, ketika prajurit Li mengawasi pengangkutan garam ke Peking, yang membuatnya bisa mengawasi pelaksanaan monopoli garam, aku menerima aliran pemasukan darinya untuk mencegah Cina dari kebangkrutan.

Li Hungchang tak pernah meminta Dewan Istana untuk mendanai tentaranya. Itu tak berarti bahwa dia membayar para tentaranya dari harta simpanannya sendiri. Sebagai usahawan andal, dia menggunakan simpanan uang daerahnya sendiri. Aku yakin dia menghabiskan banyak harta untuk menyuap para Pangeran Manchu yang akan merintangi jalannya. Li juga menyediakan banyak lapangan kerja bagi negara, hingga jika bangkrut, perekonomian negeri pun akan segera menyusul. Meyakini bahwa Cina harus melakukan perbaikan secara meluas, Li membangun pabrikpabrik senjata, galangan kapal, pabrik batu bara, dan rel kereta api. Dengan persetujuan dan dukungan dariku, dia juga mendanai layanan pos dan telegram pertama Cina, sekolah teknologi pertama, dan sekolah bagi penerjemah bahasa asing.

Aku tak mampu meloloskan proposal Li untuk membangun angkatan laut pertama Cina karena sebagian besar pejabat Istana menolak untuk menerima pemahamannya akan betapa mendesaknya proyek tersebut. “Pengeluarannya terlalu besar” adalah alasan penolakan yang resmi. Li Hungchang dituduh menakutnakuti negara demi mendapatkan pendanaan dari pemerintah untuk kekuatan angkatan bersenjata pribadinya.

Suratsurat keluhan dari kubu konservatif, terutama dari TopiBesi Manchu, terus berdatangan. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Li Hungchang untuk menyenangkan mereka. TopiBesi mengeluhkan bahwa Li Hungchang mengambil bagian keuntungan mereka, dan mereka mengancam akan membalasnya. Jika saja Li Hungchang tidak melakukan transaksi urusannya secara tertutup dan belum menanam kakitangannya di manamana, dia sudah akan dibunuh dengan mudahnya. Tetap saja, dia diperas atas tuduhan menerima keuntungan dari kontrak dagang dan suap dari pengusaha asing. Pihak konservatif memperingatkanku bahwa hanya masalah waktu bagi Li untuk merancang kudeta dan merebut takhta Kerajaan.

Li Hungchang punya caranya sendiri untuk melawan Dewan Istana. Dia tinggal di luar Kota Peking dan mendatangi ibu kota hanya ketika meminta izin untuk meluaskan bisnisnya. Saat Li Hungchang sadari bahwa dia membutuhkan suara politis di Istana, dia membangun persekutuan dengan temantemannya yang berkuasa, baik dari bangsa Manchu maupun Cina Han. Selain Pangeran Kung, Li memiliki kenalan gubernur di beberapa provinsi kunci. Persekutuan terpentingnya adalah dengan Gubernur Kanton, Chang Chihtung, yang membangun tempat pengecoran besi modern terbesar di Cina. Li membuat kesepakatan dengan Gubernur Kanton: bukannya memesan material untuk pembangunan relnya dari perusahaanperusahaan asing, dia mengalihkan pesanannya ke Kanton. Kedua lelaki itu disebut sebagai “Li si Utara dan Chang si Selatan.”

Aku menerima kehadiran mereka berdua dalam audiensi pribadi. Keduanya pantas mendapatkan kehormatan itu, tetapi itu juga karena aku menyadari pentingnya melibatkan diri. Sudah begitu banyak insiden terjadi, dengan diriku menjadi orang terakhir yang tahu.

Semua gubernur menyadari bahwa persetujuanku di Istana mempunyai nilai penting, dan memenangkan persetujuanku telah menjadi bagian penting dari politik Istana. Sebagai akibatnya, orangorang berusaha merebut perhatianku, yang mengarah pada aksi penjilatan dan ketidakjujuran. Meskipun kebohongan yang berlebihlebihan tak akan berhasil melewati akal sehatku, sekali waktu aku tak bisa menghindar dibodohi.


“Orangorang berubah,” kukatakan pada anak angkatku pada masa reses pertemuan Istana. “Kemunduran Kerajaan Manchu merupakan contoh nyata terbaik.”

Guanghsu belajar dengan cepat. Suatu hari dia bertanya mengapa Li Hungchang memberiku berbagai hadiah, seperti berkotakkotak sampanye dari Prancis yang baru saja dikirim.

“Untuk menjaga hubungan dengan pihak penguasa,” jawabku. “Dia membutuhkan perlindungan.”

“Apa Ibu senang dengan hadiahhadiah itu?” tanya Guanghsu. “Bagaimana dengan sikat dan pasta gigi yang dikirimnya dari Inggris? Tidakkah Ibu lebih menginginkan vas antik Han atau barangbarang cantik lainnya? Kebanyakan wanita begitu.”

“Aku lebih senang dengan pasta dan sikat giginya.” jawabku. “Dan aku terutama suka dengan tulisan tangan Li yang menerangkan cara kerjanya. Sekarang aku bisa melindungi gigiku dari kerusakan, sekaligus merenungkan bagaimana cara melindungi negara dari kerusakannya sendiri.”


Aku mendesak agar Guanghsu menghadiri audiensi pribadiku dengan Li Hungchang dan Chang Chihtung. Anakku baru tahu bahwa akulah yang mengangkat Chang menjadi Gubernur Kanton setelah dia mendapatkan peringkat pertama dalam ujian pegawai kerajaan sewaktu mudanya.

Guanghsu bertanya pada Chang, “Apa kau belajar sekeras aku?”

Gubernur berdeham dan menatapku, memohon pertolongan.

“Kalau kau mau mengetahui yang sejujurnya, Guanghsu,” ujarku tersenyum, “kautahu, dia mesti bersaing dengan ribuan murid untuk memenangkannya, sementara kau—“

“Sementara aku menang tanpa harus berkeringat.” Guanghsu paham. “Aku bisa meminta guru nilai yang kuinginkan, dan dia akan memberikannya padaku.”

“Yah, Paduka Yang Mulia pantas mendapatkan keistimewaan.” Gubernur membungkuk.

“Kautahu nilainilai baikmu tidak nyata,” aku terdorong untuk menanggapi anakku.

“Itu tak sepenuhnya benar, Ibu,” Guanghsu mendebat. “Aku berkeringat secara berbeda. Anakanak yang lain bisa bermain karena mereka tak punya tanggung jawab mengurusi negara.”

“Itu tepat sekali, Yang Mulia.” Kedua gubernur itu mengangguk dan tersenyum.

Saat Guanghsu berusia sembilan tahun, dia menunjukkan dedikasi yang mengagumkan terhadap peran Kaisar. Dia bahkan meminta diberikan minuman lebih sedikit pada pagi hari agar dia tak perlu pergi untuk buang air kecil saat menghadiri audiensi. Dia tak ingin ketinggalan apa pun.

Pendidikannya menyertakan pelajaranpelajaran Barat. Untuk kali pertamanya dalam sejarah Istana, dua guru berusia dua puluhan dipekerjakan. Mereka lulusan sekolah bahasa asing Peking dan dipekerjakan untuk membantu mengajari Kaisar bahasa Inggris.

Aku senang mendengarkan Guanghsu belajar. Guru-guru muda itu berusaha menjaga wajahnya tetap tenang saat dia salah menyebutkan kata. Keriangan tampaknya merupakan penyemangat terbaik. Aku ingat bagaimana guruguru Tung Chih menghilangkan kesenangan belajar, dengan terlalu berusaha mendisiplinkannya. Ketika Pangeran Kung berniat mengenalkan Tung Chih pada budaya Barat, seorang guru senior protes dengan mengundurkan diri, dan guru yang lain mengancam akan bunuh diri.

Mimpiku untuk Tung Chih diwujudkan melalui Guanghsu. Guru Weng mengenalkan dirinya pada ide tentang alam semesta, dan Li Hungchang serta Chang Chihtung memberikan padanya pengetahuan tentang dunia, yang diperoleh mereka dari pengalaman langsung. Li Hungchang juga mengirimkan Guanghsu bukubuku Barat yang telah dialihbahasakan, yang juga disukai Chang. Bukubuku itu menceritakan kisahkisah pada Kaisar Muda yang akan membantunya berurusan dengan pedagangpedagang asing, diplomat, misionaris, dan pelaut di Kanton.

Aku tak setuju dengan penekanan Guru Weng terhadap sastra klasik Cina. Karya klasik itu terlalu banyak berkutat pada dongeng dan fatalisme. “Guanghsu harus mempelajari keadaan rakyatnya yang sebenarnya,” desakku.

Aku merasa begitu bersyukur dengan kemajuan Guanghsu, hingga aku mengundang penanam bunga peoni dan krisan datang ke istana untuk memeriksa tanah di tamanku. Aku tak sabar menanti ketika aku bisa menghabiskan harihariku yang hanya disibukkan dengan urusan bertanam bunga.


Ketika Guanghsu berulangulang menyatakan keinginannya untuk mengabdikan hidupnya melayani Nuharoo dan aku, aku merasa jengah. Nuharoo meyakini bahwa itu tak ada kaitannya dengan traumanya pada masa kecil. “Dia diajarkan kerendahhatian oleh gurugurunya, itu saja,” Ujarnya.

Naluriku mengatakan bahwa saudariku telah merusak sesuatu dalam diri anak itu, sesuatu yang belum kami ketahui. Aku juga mencurigai perananku dalam masalah ini. Seberapa terganggunya Guanghsu ketika dia direnggut dari rumah keluarganya? Betapa pun buruknya, tetap itu merupakan rumahnya. Istana memberinya kehidupan yang berarti, tetapi dengan menerima tekanan yang begitu hebat. Aku tak pernah berhenti mempertanyakan diri sendiri. Jika ditinggalkan sendiri, akankah Guanghsu tumbuh menjadi pemuda manja yang malas seperti anggota Kerajaan Manchu lainnya? Hak apa yang kumiliki untuk menentukan jalan hidup anak ini?

Sekitar umur empat puluh lima, aku menjadi tak yakin akan hidup yang kupilih untuk diriku sendiri. Saat kali pertama memasuki Kota Terlarang, aku tak pernah meragukan keinginanku untuk tinggal di sana. Sekarang aku merasa begitu banyak hal yang kuhilangkan dan yang terampas dari hidupku—kebebasan berkelana, hak mencintai, dan yang paling utama, hak menjadi diri sendiri.

Aku takkan pernah melupakan perayaan Tahun Baru Cina di Wuhu. Aku menikmati saat panen; beras segar, kacang kedelai garam dan panggang, serta sayurmayur petik. Semua gadis berkumpul bersama dengan jajanan mereka, dan menonton pertunjukan opera lokal. Aku rindu mengunjungi kerabat dan temanteman. Meskipun aku dilimpahi kemewahan dan tugastugasku sering kali mendapatkan ganjaran yang setimpal, kemegahan Kerajaan juga berarti kesendirian dan hidup dalam cengkeraman rasa takut akan aksi pemberontakan dan pembunuhan.

Kematian Tung Chih telah mengubah pandanganku terhadap kehidupan. Aku tidak merindukan sosok dirinya sebagai kaisar, aku merindukan menggenggam kakikaki mungilnya dalam telapak tanganku saat dia lahir, atau kali pertama dia menyunggingkan senyum ompongnya. Aku rindu membawanya ke taman dan memandangnya berlarian bebas. Hal yang paling senang dilakukannya adalah membentuk ranting pohon Willow menjadi pecut kuda mainan. Aku merindukan halhal yang tak menyangkut dirinya selaku kaisar, tetapi pada waktuwaktu kebersamaan yang pernah kami miliki.

Kematian Tung Chih telah merampasku dari kebahagiaan, dan aku bertekad untuk mencegah Guanghsu dari perampasan yang sama. Aku mencegah apa pun yang dapat mengakibatkan penyesalan di kemudian hari, atau setidaknya itulah yang kupikirkan. Aku merasa tak yakin bahwa aku telah membebaskan diri dari hal itu.

Aku ingin melihat Guanghsu menjadi kaisar atas kehendaknya sendiri, bukan aku. Aku ingin melihat dirinya menjadi seorang lelaki dewasa sebelum menjadi seorang penguasa. Aku tahu ajaran Cina tak akan banyak membantunya, tetapi aku berharap pelajaran Barat akan dapat memberinya kesempatan itu.


Kehadiranku di audiensi dan kesibukan Nuharoo dengan upacaraupacara keagamaannya sering kali meninggalkan Guanghsu di tangan para kasim usai pelajaran sekolahnya. Di kemudian hari, aku akan mengetahui bahwa sebagian pelayan Guanghsu telah bersikap begitu kejam. Aku sudah menduga bahwa kematian Antehai akan menggelisahkan kaum kasim, menimbulkan rasa ketidakamanan, bahkan memancing kemarahan mereka. Namun, aku tak pernah mengharapkan ekspresi pembalasan seperti ini.

Di belakangku, kasimkasim membungkus Guanghsu yang berusia sembilan tahun dengan selimut tebal dan menggelindingkannya di atas hamparan salju. Selimut itu membuat tubuhnya banjir keringat, tetapi tangan dan kakinya yang tak tertutup menjadi beku. Ketika aku curiga dengan batuk kronisnya, para kasim menyembunyikan informasi hingga aku menyelidiki sendiri dan menemukan kebenarannya.

Kesehatannya tetap rentan, dan para kasim terus-terusan mengerjai bocah itu atas kematian Antehai. Tak semua kasim bermaksud mengerjai Guanghsu, tetapi sikap takhayul dan tradisi kuno yang masih mereka percayai memengaruhi cara mereka mengurusnya. Sebagai contoh, mereka meyakini sepenuhnya bahwa kelaparan dan dehidrasi merupakan metode umum dari perawatan kesehatan.

Yang tak bisa kumaafkan adalah mereka yang dengan sengaja tak menyediakan tempat buang air Guanghsu pada waktunya, dan yang menertawakan dan mempermalukan dirinya saat dia membasahi celananya. Orang-orang kejam ini kuhukum dengan keras.

Sayangnya, tindakantindakan jahat itu dilakukan seolaholah hal yang biasa. Kemudian, akulah yang disebut sebagai penyiksa dan kejam.

Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri, bahkan setelah kasimkasim itu mendapatkan hukumannya. Penderitaan Guanghsu sungguh menyakitkanku. Aku mulai meragukan keputusanku menjadikan dirinya sebagai kaisar. Tronisnya, para Pangeran Manchu selalu menginginkan agar takdir memilih putraputra mereka untuk menduduki posisi Guanghsu.


Para kritikus, sejarawan, dan ilmuwan masa depan akan menyebutkan bahwa Guanghsu menjalani kehidupan normal hingga saat aku, bibinya, merusaknya. Kehidupan Guanghsu di Kota Terlarang disebut sebagai “pencabutan'. Dia terusmenerus “tersiksa oleh wanita pembunuh yang keji” dan dikatakan juga bahwa dia menjalani hidup seperti “seorang tawanan dalam penjara hingga ajalnya”.

Meskipun kenyataannya aku tidak mengadopsi Guanghsu karena cinta, perasaan cintaku perlahan tumbuh padanya. Aku tak dapat menjelaskan bagaimana terjadinya, pun mengapa aku perlu menjelaskannya. Penebusan diri adalah yang kutemukan dari diri anak itu. Siapa pun yang pernah menjadi seorang ibu atau yang pernah kehilangan seorang anak, akan mengerti apa yang terjadi antara Guanghsu dan aku.

Aku ingat bahwa Guanghsu masih terlalu kecil untuk menyadari niatku saat aku mengajarinya dengan memberi contoh, bahwa memimpin negara kami yang luas harus dilakukan dengan tindakan seimbang. Kusiratkan bahwa memberikan kepercayaan kepada para menterinya tak akan cukup untuk mengamankan kedudukannya sebagai satusatunya penguasa Cina. Adalah orangorang seperti Li Hungchang dan Chang Chihtung, yang akan mengapungkan atau menenggelamkan “kapal”nya. Aku biarkan Guanghsu menyaksikan bagaimana aku memainkan kedua lelaki itu melawan masingmasing, saat aku mengubah istana menjadi pentas hidupnyata.

Pada suatu audiensi Oktober, Li Hungchang tampak begitu hanyut dengan proposalnya, untuk menghapuskan sistem sekolah Cina kuno dan menggantikannya dengan model Barat. Sebagai pengimbang antusiasmenya, kugunakan Chang Chihtung. Sebagai produk dari sistem tradisional Jepang, Chang selalu menekankan pentingnya “mendidik jiwa sebelum raganya”.

Pada audiensi ini, sebagaimana yang telah kuramalkan pada Guanghsu, Li tibatiba merasa diserang. “Itulah caraku untuk membuatnya memikirkan ulang pendekatannya,” jelasku pada Guanghsu kemudian. “Tindakanku memanggil Chang adalah untuk mengingatkan Li Hung-chang bahwa dia bukanlah satusatunya orang yang diandalkan Istana.”

Taktik manipulasi semacam itu bukanlah sesuatu yang ingin kuajarkan pada anakku, tetapi itu merupakan hal yang diperlukan untuk ketahanannya sebagai kaisar. Guanghsu mewarisi Kerajaan Tung Chih yang rapuh, dan aku merasa sudah tugaskulah untuk mempersiapkannya menghadapi hal terburuk. Sebagaimana bunyi suatu perkataan, “Iblis yang tak dapat menyakitimu adalah Iblis yang tak kaukenal.” Kerusakannya akan lebih parah jika anak itu dikhianati oleh orangtua atau walinya sendiri—sebuah pelajaran yang kudapatkan dari kematian Tung Chih.





18



SUHU UDARA TIBATIBA merosot tajam, dan air dalam jambangan besar di pekarangan luar balairung terlapisi es. Di dalam, tungku penghangat ruangan menyala merah di tiap sudut ruangan. Nuharoo dan aku merasa lega telah memperbaiki jendelajendela kami. Celahcelah jendela telah ditutupi untuk memastikan tak masuknya embusan angin barat laut. Para kasim juga telah mengganti tiraitiranya. Tirai sutra tipis digantikan oleh tirai beledu tebal.

Begitu Guanghsu kunilai mampu, aku berbicara dengan Guru Weng dan membuat ruangan kelasnya serupa audiensi. Bukan hal yang mudah bagi anakku. Gurunya akan membantunya mencerna apa yang dia lihat dan dengarkan. Sering kali topiknya terlampau rumit untuk dipahami seorang anak. Untuk membuatnya berhasil, aku menyediakan waktu untuk mempersiapkan Guanghsu menghadapi diskusi mendatang.

“Apakah urusan Rusia untuk melindungi Sinkiang?” tanya Guanghsu mengenai situasi pada 1871, ketika kekuatan Kekaisaran Rusia telah bergerak jauh memasuki hutan belantara kami di barat Sinkiang, ke wilayah yang disebut Ili, mengambil dari nama sungainya.

“Rusia pergi ke sana atas kepentingan Kerajaan kami untuk meneegah Ili menjadi negara Muslim yang merdeka,” jawabku. “Namun, kami tak mengundang orangorang Rusia itu.”

“Maksudmu mereka mengundang diri mereka sendiri?”

“Benar.”

Guanghsu berusaha mengerti. “Tetapi ... bukankah pemberontakan kaum Muslim berhasil ditumpas?” Dia menunjuk ke peta, dan telunjuknya menyusurinya. “Kenapa orangorang Rusia itu masih di sini? Kenapa mereka tak juga kembali ke tempat asalnya?”

“Kami tak tahu,” ujarku.

“Bukankah Yung Lu berada di Singkiang?” desak anakku.

Aku mengangguk.

“Apakah dia telah melakukan sesuatu untuk mengusir orangorang Rusia itu?”

“Ya, dia telah meminta pada tetangga Rusia kami yang murah hati untuk mengembalikan Ili.”

“Dan?”

“Mereka menolaknya.”

“Kenapa?”

Kukatakan pada Guanghsu bahwa aku juga tak bisa menjelaskannya. Tak sama halnya seperti Tung Chih, setidaknya Guanghsu mengerti bahwa Cina tidak memiliki posisi yang kuat dalam perundingan. Guanghsu berusaha keras memahami keputusan yang harus segera dia ambil, tetapi sering kali itu mustahil. Anak itu tak mampu memahami mengapa Cina harus menjalani negosiasi diplomatik yang begitu panjang dan melelahkan dengan pihak Rusia, jika hanya untuk menyerah pada akhirnya. Dia tak akan mengerti mengapa traktat atas namanya yang baru saja dia tanda tangani, pada Februari 1881, memaksakan pembayaran sembilan juta rubel pada Rusia untuk wilayah Cina sendiri.

Aku mulai melihat perubahan sikap Guanghsu menghadapi audiensi. Dia berada di bawah tekanan terus-menerus dan begitu menderita. Ketika dia mendengar kabar buruk, bisa kurasakan ketegangannya dan melihat ketakutan terlukis di wajahnya. Aku bersalah karena telah bergabung dengan para menteri yang mengeluhkan dengan tak sabar, menantikan saat kematangan Guanghsu untuk mulai mengambil tanggung jawab.

Tak lama, ini bukan lagi menjadi pengalaman belajar semata bagi Guanghsu. Terguncang setiap harinya, suasana hati dan kesehatannya terpengaruh secara negatif. Namun, pilihanku hanyalah antara menutupnutupi kenyataan yang melingkupi dirinya ataukah membiarkannya hidup dalam kenyataan. Apa pun pilihannya, tetap saja keduanya terasa begitu kejam. Ketika kami memanggil Menteri Urusan Pertanian untuk menjelaskan ramalannya akan hasil panen tahun mendatang, Guanghsu lepas kendali. Dia merasa bertanggung jawab secara pribadi ketika menteri meramalkan kekurangan panen yang besar akibat banjir dan kekeringan.

Kini sebagai anak remaja, Guanghsu cukup menunjukkan kebulatan tekad dan disiplin diri. Aku senang melihatnya tak memiliki keinginan untuk bermainmain ke sana kemari dengan para kasim, dan tak berniat menyelinap keluar dari istana untuk minumminum. Dia sepertinya lebih senang menyendiri. Dia akan menyantap makanannya sendirian dan tampak tak nyaman jika ditemani. Saat makan bersama Nuharoo dan aku, dia duduk dengan diam dan menyantap apa pun yang terhidang di meja. Kesedihanku atas kehilangan Tung Chih sangat memengaruhinya sehingga Guanghsu memastikan sikapnya akan selalu menyenangkanku.

Aku ingin bisa memberi tahunya akan perbedaan antara sikap seriusnya dalam pelajaran dan kemurungannya yang makin mengganggu. Meskipun pengalamanku memberi tahuku bahwa audiensiaudiensi harian bisa menjadi beban yang begitu berat, aku tak menyadari bahwa bagi seorang anak, ia bisa menjadi racun.

Tak sabar membawanya pada kedewasaan, aku mengabaikan kemungkinan telah merampas masa kanakkanaknya. Sikap Guanghsu yang tampak senang telah mengelabuiku. Baru di kemudian harilah, dia mengakui dirinya takut tak mampu memenuhi keinginanku terhadap dirinya.

Aku tak mengatakan pada Guanghsu bahwa kalah hanyalah suatu cara untuk mempelajari caranya menang. Aku takut mengulang kesalahan yang sama dengan Tung Chih. Terlalu memanjakan dan enggan bersikap keras merupakan salah satu faktor yang telah mengakibatkan kematian anakku. Tung Chih berani melawan karena dia tahu bahwa dia tak perlu takut kehilangan kasih sayangku.

Guanghsu mematuhi aturan protokol dan tata cara Istana yang ketat. Guru Weng selalu mengawasinya agar tak menyalahgunakan hakhak istimewanya. Dengan demikian, Guanghsu telah berubah menjadi tawanan Istana. Baru di kemudian hari, kuketahui bahwa tiap kali para menteri menyampaikan masalahnya pada anak itu, dia akan menjadikannya sebagai masalahnya pribadi. Dia jadi begitu malu pada diri sendiri akan ketidakmampuannya memecahkan masalahmasalah kerajaan.


Sekitar 1881, kondisi kesehatanku menurun. Aku kehilangan siklus menstruasiku dan kembali mengalami kesulitan tidur. Aku mengabaikan rasa lelahku dan rasa panas yang tibatiba menjalariku, dan berharap ia akan hilang dengan sendirinya. Pada saat rakyat sedang merayakan ulang tahunku yang keempat puluh enam pada November, aku tengah terbaring sakit. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit dan berganti pakaian, dan aku harus meminum teh ginseng untuk menjaga kekuatanku. Walaupun demikian, aku tetap menghadiri audiensi dan mengawasi pelajaran Guanghsu. Aku menyarankan pada Guru Weng untuk mengenalkan Kaisar dengan orangorang dari luar ibu kota.

Guanghsu memberikan audiensi pribadi dengan para gubernur dari dua puluh tiga provinsi. Para gubernur senior yang diangkat oleh mendiang suamiku, Kaisar Hsien Feng, sangat berterima kasih. Aku turut menghadiri setiap audiensinya dan merasa senang bisa bersua kembali dengan temanteman lama. Kami sering kali harus berhenti untuk mengeringkan air mata kami.

Pada awal musim dingin, aku sudah benarbenar lelah. Dadaku sesak dan terasa berat, dan aku menderita diare yang parah. Suatu pagi, aku jatuh pingsan di tengahtengah audiensi. Dengan mengenakan gaun istana emasnya, Nuharoo membesukku esok paginya. Itu kali pertama aku melihatnya dengan tatanan rambut membungkusi papan hitam berbentuk huruf V, penuh dengan perhiasan dan ornamen. Aku memuji penampilannya dan memintanya memimpin audiensi. Nuharoo menyetujui, sebelum menambahkan, “Tetapi jangan berharap aku mau jadi budak.”


Selama bertahuntahun, aku tak memiliki keleluasaan untuk bangun pada tengah hari. Selagi musim dingin berganti semi, tenagaku perlahan kembali. Menghabiskan hari di bawah sinar matahari, aku bekerja di taman. Aku teringat akan Yung Lu dan mencemaskan kondisinya tinggal di wilayah bagian Muslim yang jauh. Aku telah menulis surat padanya, tetapi tak juga menerima jawaban.

Guanghsu menyempatkan diri menemuiku usai audiensi dan membawakanku makan malam. Dia telah tumbuh tinggi, dan tampak begitu manis dan lembut. Dengan penuh perhatian, dia menyuguhkan sepotong ayam panggang ke atas piringku dan bertanya apakah aku menikmati bungabunga camelia yang baru bermekaran.

Aku menanyakan Guanghsu apakah dia ingin merasakan kehidupan di luar Kota Terlarang, dan juga apakah dia merindukan kedua orangtuanya. “Ayah dan Ibu diizinkan untuk datang mengunjungiku kapan pun,” balasnya. “Tetapi mereka belum juga datang.”

“Mungkin kau harus mengundang mereka.”

Dia menatapku sejenak, kemudian menggeleng. Aku tak tahu apakah dia memang tak memiliki keinginan untuk bertemu dengan mereka, ataukah takut menyingung perasaanku. Komentarkomentarku tentang saudariku dulu pasti telah memengaruhi sikapnya. Meski aku tak pernah bermaksud menjelekjelekkan Rong dengan sengaja, aku juga tak memiliki katakata yang baik tentangnya.

Kutanyakan pada Guanghsu apakah dia mengingat saat kematian sepupunya, Tung Chih, dan bagaimana perasaannya ditunjuk sebagai penggantinya.

“Aku tak ingat banyak tentang Tung Chih,” ucap Guanghsu. Membahas malam kepergiannya dari rumah dulu, dia mengingat berada dalam dekapan Yung Lu.

“Aku ingat wajah gelapnya dan hiasanhiasan pada kancing seragamnya. Kancingnya terasa dingin di kulitku. Aku merasa janggal. Aku ingat saat itu benarbenar gelap-gulita.” Dia menatapku tajam dan menambahkan, “Aku ingat merasa senang menunggangi kuda dengan para Pemegang Panji.

“Kau terlalu baik, Guanghsu,” ujarku, lega tetapi tetap merasa bersalah. “Pasti mengerikan sekali ditarik dari tempat tidur hangatmu dan dari tidur pulasmu. Aku minta maaf karena telah memaksamu menjalaninya.”

“Ada maksud di balik awal mulaku yang kacau,” pemuda itu berujar dengan suara seperti orang tua.

Aku mendesah, sekali lagi terkesan oleh kepekaannya.

“Kehidupan yang baik tak memerlukan pencarian dalih, peneguhan keyakinan ataupun penjelasan, sementara yang buruk begitu memerlukannya.” Guanghsu tersenyum. “Tiga saudaraku meninggal karena ibuku. Aku akan jadi yang berikutnya, jika saja Ibu tak mengadopsiku.” Dia bangkit dan memberiku lengan kanannya. Kami

berjalan menuju taman. Dia sudah setinggi alis mataku dan tampak kurus dalam jubah satin kuningnya. Gerakannya Mengingatkanku akan sepupunya.

“Aku yakin saudariku tak bermaksud membawa celaka, ujarku.

“Ibu sangat sakit. Ayahku bilang bahwa dia sudah menyerah.”

“Istri Pangeran Kung mengatakan pada Nuharoo bahwa ayahmu sudah pindah, dan kini tinggal bersama selir kelimanya. Betulkah itu?”

“Sayangnya, betul.”

“Apakah Rong akan baikbaik saja?”

“Ibu terjatuh dari tempat tidurnya dan mematahkan pinggulnya sebulan lalu. Dia menyalahkan pada tabib atas kesakitannya. Aku tak seharusnya mengirimkan Tabib Sun Paot’ien.”

“Kenapa tidak? Apa yang terjadi?”

“Dia memukulinya.” Setelah diam seJenak, Guanghsu menambahkan, “Dia memukuli siapa pun yang mencoba membantunya. Kadangkadang, aku berharap dia mati saja.“

“Maafkan aku.”

Guanghsu terdiam dan menyeka matanya.

“Aku tak memikirkan untuk menyelamatkanmu ketika mengadopsimu,” aku mengaku. “Menyelamatkan dinasti hanya satusatunya hal yang kupikirkan. Tung Chih memperoleh akhir yang tragis. Aku masih tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku telah mengecewakannya... dan aku takut akan mengecewakanmu, Guanghsu.”

Pemuda itu jatuh berlutut dan melakukan kowtow. “Ibu, aku mohon agar kau berhenti memikirkan Tung Chih. Aku ada di sini, hidup, dan aku mencintai Ibu.”



 Baca Kelanjtannya...

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified