Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 3


12



PADA PAGI HARI, 12 Januari 1875, putraku meninggal. Balairung Pemeliharaan jiwa dipenuhi bunga plum salju segar yang baru dipetik, kelopakkelopak kecilnya yang lengket dan tangkainya menjulang anggun dalam vas. Bungabunga itu merupakan kesukaan Tung Chih. Dia selalu ingin memetiknya saat salju, hal yang tak pernah diperbolehkan baginya. Aku mengenakan gaun dukaku, bersulam bungabunga plum salju serupa, yang kujahit semalaman. Wajah Tung Chih ditelengkan ke arah selatan, dan dia didandani dengan jubah megah berpola simbolsimbol umur panjang. Dia berusia sembilan belas tahun, dan telah jadi Kaisar sejak 1861. Dia telah memimpin selama dua tahun.

Aku duduk di sisi peti mati Tung Chih, sementara tukang kriya menyelesaikan pekerjaan besinya. Beberapa pelukis mendoyong ke atas peti, memberikan sentuhan akhir kuasnya. Peti itu dipenuhi ukiran naga yang dicat emas.

Kusentuh lembut pipi dingin anakku dengan jemariku. Etika tak mengizinkanku untuk memeluk dan menciuminya. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/  Tung Chih meninggal dengan barisan luka lepuh akibat demam tinggi di sekitar mulutnya. Dua minggu sebelum kematiannya, lukaluka lepuh ini muncul di manamana, membusukkan tubuhnya dari dalam. Lukaluka infeksi juga memenuhi lidah dan gusinya, begitu banyaknya hingga dia tak mampu menelan. Sudah tak ada lagi tempat yang tersisa di kulitnya. Bisulbisul juga tumbuh di selasela jari tangan dan kakinya, mengeluarkan nanah. Salep obat hitam yang diolesi Sun Paotien membuatnya jadi tampak menjijikkan.

Setiap hari selama mingguminggu akhir itu, kubersihkan anakku, dan setiap harinya selalu kutemukan lukaluka baru bermunculan. Luka baru tumbuh di atas yang lama. Tangan dan kakinya tampak seperti akar ginseng.

Ketika rasa sedihku tak tertahan lagi, aku berlari keluar dari kamar dan jatuh berlutut. Aku tak dapat mengangkat tubuhku. Li Lienying mengingatkanku bahwa aku belum makan.

Pada sore hari, Li Lienying akan mengejarku dengan semangkuk sup ayam di tangannya. Dia membungkuk dan berkelit lincah dengan mangkuk diangkat tinggi karena sudah kutendang beberapa mangkuk yang dia tawarkan. Tanganku sudah penuh luka memar. Aku telah melakukan begitu banyak pekerjaan, memotong ayam, bebek, ikan, dan ular serta membawanya ke altar persembahan. Kutatap langit dan menangis, “Setansetan lapar telah diberi makan. Sekarang mereka sudah kenyang dan harus tinggalkan anakku!”

Asapasap dupa membuat Kota Terlarang tampak bagai kebakaran. Air mataku tak habishabisnya mengucur seperti air mancur yang bocor. Tabib Sun Paotien mengatakan akan lebih baik bagiku untuk tak berkonsultasi lagi dengannya. Aku pergi ke seorang biksu Tibet, yang menyarankan agar aku memusatkan perhatian pada kehidupan akhirat Tung Chih. “Jubah keabadian dan peti mati akan menjadi awal yang baik.” Biksu menyatakan bahwa aku belum menyerahkan pada para dewa kepasrahan diriku. Bukannya menolong putraku, aku hanya menambahkan kesusahan baginya.

Aku mulai berpikir akan mengambil nyawaku sendri untuk menemani putraku. Saat berusaha mencari jalan untuk melakukannya, kusadari aku tengah dibuntuti. Para kasim dan pelayan mengawasi lekat tiap tindak tandukku. Wajah mereka yang biasa tenang, kini tampak selalu cemas. Mereka berbisikbisik di belakangku. Setiap kali aku bangun pada tengah malam, suara batuk akan terdengar di antara kasim.

Juru masakku menyembunyikan pisau dapur dan cairan yang bisa mematikan, sementara dayangdayang menyingkirkan semua tali. Ketika kusuruh Li Lienying mencarikanku opium, dia membawakan Tabib Sun Paotien. Para pengawal kerajaan mengadangku saat aku mencoba keluar gerbang Kota Terlarang. Ketika kuancam mereka dengan hukuman, mereka mengatakan bahwa Yung Lu telah memerintahkan kepada mereka untuk menjaga keselamatanku.


Anakku meninggal dalam pelukanku selagi fajar menyingsing. Semaksemak gardenia di pekarangan hancur oleh hantaman salju beku yang datang di penghujung musim, dedaunannya berubah kering dan hitam. Tupaitupai berhenti berloncatan dari pohon ke pohon. Mereka duduk di dahan pohon mengunyah kacang dan membuat celotehan berisik. Bulubulu berjatuhan dari angkasa dari angsaangsa liar yang beterbangan.

Aku ingat memegang Tung Chih, dan merasakan detak jantungnya melemah. Aku ingat jatuh tertidur dalam posisi duduk sehingga aku tak tahu kapan persisnya detak jantungnya berhenti.

Kepala Kasim Nuharoo membawakan pesan bahwa majikannya terlalu terpukul sehingga tak mampu meninggalkan istananya.

Dewan Istana sudah mulai mempersiapkan upacara pemakamannya. Kurirkurir dikirim agar para gubernur provinsi bisa memulai perjalanan mereka ke ibu kota.

Setelah sang Tabib dan timnya mengundurkan diri, Kota Terlarang jadi begitu sunyi. Suara derap kaki menghilang, begitu pula bau pahit yang menyerbak dari obat-obat herbal Tung Chih.

Para kasim dan pelayan membungkus semua tempat tinggal dengan kain sutra putih. Pakaian duka yang dulu pernah dikenakan oleh mendiang suamiku disiapkan, setelah beres dicuci dan disetrika, untuk dikenakan oleh putranya.

Tung Chih dipindahkan untuk kali terakhirnya dari tempat tidurnya. Aku membantu menggantikan pakaiannya. jubah keabadiannya terbuat dari benang emas. Putraku tampak seperti boneka tidur dengan tangankaki kaku. Kubersihkan wajahnya dengan kapas. Aku tak suka dengan cara penata rias kerajaan mendandani wajah anakku, lapis demi lapis cat, dengan lapisan lilin di atas riasannya. Putraku tampak tak bisa dikenali; kulitnya tampak begitu mengilat.

Akhirnya, aku ditinggalkan sendiri bersama Tung Chih. Kusentuh riasan wajahnya. Kuhapus bersih semua lapisan catnya. Kulitnya kembali seperti sediakala, meski bekasbekas luka menodainya. Aku membungkukkan badan, mengecup kening, mata, hidung, pipi, dan bibirnya. Kusapu seluruh wajahnya dengan minyak biji kapas, dimulai dari keningnya. Aku berusaha menahan getaran tanganku dengan bertopang pada lengan kursiku. Kuwarnai bibir dan pipinya dengan sentuhan merah untuk membuatnya tampak sebagaimana yang kuingat. Kubiarkan wajahnya selebihnya tak terusik.

Tung Chih memiliki kening lebar yang indah. Alis matanya telah tumbuh ke dalam bentuk tetapnya, layaknya dua sapuan kuas yang begitu cantik. Ketika Tung Chih masih kecil, warna alis matanya begitu tipis sehingga membuatnya tampak seperti tak memiliki alis. Nuharoo tak pernah puas dengan riasan wajah yang biasa dikenakan Tung Chih untuk audiensi. Terutama alisnya. Sering kali dia telat hadir pada audiensi karena Nuharoo memaksakan untuk merias ulang wajahnya.

Kedua mata jernih anakku sungguh menjadi hiburan hatiku. Sama sepertiku, matanya memiliki satu lipatan kelopak dan berbentuk kacang almond. Menurut mendiang ibuku, yang terbaik dari wajah Tung Chih adalah hidung lurusnya. Hidungnya sangat selaras dengan tulang pipinya yang tinggi, yang merupakan karakteristik orang Manchu. Bibirnya penuh dan tampak sensual. Dalam kematiannya pun, dia tetap tampan.

Kuikuti saran biksu dan berusaha menganggap kematian anakku sebagai peristiwa alami yang terjadi dalam hidup. Namun penyesalan, entah bagaimana caranya, telah merasuk batinku. Hatiku tenggelam dalam larutan racunnya.


Peti mati Tung Chih seukuran dengan peti mendiang ayahnya. Peti ini akan dipikul oleh 160 orang. Ketika Li Lienying memberi tahuku bahwa sudah waktunya untuk menyampaikan salam perpisahan, aku bangkit berdiri hanya untuk terjatuh di atas lututku. Li menopang lenganku dan aku berdiri seperti orang renta. Kami maju ke arah peti, di mana aku akan melihat anakku untuk kali terakhirnya.

Li Lienying bertanya apakah Tung Chih ingin membawa mainan lama kesukaannya, kertas miniatur Kota Peking, bersamanya. Lingkardalam kota akan tetap bersamanya; lingkarluar akan ditinggalkan untuk upacara pembakaran kertas, untuk membantu melepaskan arwah Tung Chih pergi.

“Ya,” ucapku.

Di depan peti, sang Kasim memohon pengampunan anakku karena harus memisahkan sebagian dari lingkar dalam kota agar muat ke dalam peti. “Ini adalah Gang Tangga milik Yang Mulia,” ucap Lienying. “Seperti yang bisa dilihat Paduka Yang Mulia, ia tampak seperti tangga yang menjulur naik ke tepi gunung. Di sini ada Gang Tas dan Gang Semen, jalanan yang bisa kita masuki tetapi tidak jelajahi. Dan sekarang, di sisi ini, jalanan Soochow. Baginda Yang Mulia pernah menanyakanku apakah jalanjalan asli ini sebelumnya dibuat oleh orangorang dari Selatan Mereka mungkin bukan berasal dari Soochow, tetapi Hangchow. Yang Mulia tak pernah punya waktu untuk meneliti detaildetail dan perbedaanperbedaan kecil yang ada, tetapi sekarang waktu berada di sisi Yang Mulia. “

Sekilas pikiranku berkelana ke tempat lain, dan Li Lien-ying berubah jadi Antehai. Apa yang akan dikatakan Antehai akan semua ini? Tak pernah ada acara peringatan mengenangnya. Hanya sedikit yang menyebut tentang dirinya setelah eksekusi. Para istri dan selirnya membagi-bagi harta peninggalannya, dan dengan segera melupakannya. Tak ada yang berduka untuknya. Secara diamdiam, aku menyewa pengukir batu untuk membuat tablet bagi kubur Antehai. Karena statusku, aku tak pernah bisa mengunjungi makamnya dan tak punya bayangan seperti apa tempat peristirahatan terakhirnya. Adalah kernalangan bagi Tung Chih, tak pernah mengenal Antehai sebagai teman.

Selesai membenahi peti jenazahnya, Li Lienying terus berbicara dengan mayat anakku. “Aku tak pernah punya kesempatan untuk menjelaskan padamu arti dari 'Gang Dewa Kuda' atau 'Kuil Dewa Kuda. Leluhur Yang Mulia mungkin akan menanyakanmu halhal ini, dan penting bagimu untuk mempersiapkan diri. Orangorang Manchu pada masa lalu adalah orangorang yang hidup dengan menunggang kuda. Tanpa bantuan dari kudakuda mereka, tak mungkin mereka bisa menaklukkan Cina. Bangsa Manchu mengagumi, menghargai, dan menghormati kuda. Kuilkuil yang dibangun di Peking didirikan untuk menghormati kudakuda yang menurut legenda, tewas dalam peperanganpeperangan penting. Mungkin dalam kehidupan selanjutnya, Yang Mulia memiliki kesempatan untuk mengunjungi jalanjalan dan kuilkuil yang dibangun untuk menghormati kudakuda itu.”

Dalam kematiannyalah, Tung Chih baru berkesempatan mempelajari kota tempat tinggaInya. Dengan bantuan kasimku, kubakar sisa kota, lingkarluar kota, untuk dibawa bersama arwah anakku. Namanamanya disalin dari aslinya: Gang Sumur Manis, Gang Sumur Pahit, Gang Sumur MataTiga, Gang Sumur MataEmpat, Toko Domba, Toko Babi, Toko Keledai. Toko sayurmayur terletak di sebelah pabrik anakpanah Dinasti, dan lapangan latihan militer, Tempat Pagar Besar, yang dipenuhi prajurit dan kudakuda dari kertas.

Yang juga termasuk dalam persembahan pembakaran ini adalah area pusat perbelanjaan kertas di Peking, mencontoh dari Gang Kebaikan Kerajaan, yang membentang bermilmil jauhnya. Li Lienying tak melupakan tempat eksekusi, yang disebut Pasar Penjagalan. Semua ini, menurutnya, akan dibutuhkan oleh Tung Chih sebagai penguasa pada kehidupan berikutnya. Kuperintahkan agar Tungku Keramik yang terkenal juga disertakan, yang merupakan toko buku terbesar, dibangun di atas bekas area tungkupembakaran porselen yang terbengkalai. Mengingat anakku akan memiliki banyak waktu untuk memerhatikan detail, kami menambahkan Gang Ekor Anjing, Gang Penebang Kayu, dan Gang Tirai Terbuka.

Saat itu dingin dan gelap, ketika kukembali ke istanaku. Li Lienying hendak menutup jendelajendela, tetapi kuhientikan dia. “Biarkan saja terbuka. Arwah Tung Chih mungkin akan datang berkunjung.”

Di luar, bulan pucat besar yang menggantung di atas pepohonan gundul memicu kembali kenangan. Aku teringat kejadian di Jehol ketika Tung Chih memohon padaku untuk mengizinkannya mandi di sebuah mata air panas. Aku menolaknya karena dia sedang pilek. Aku ingat menghirup udara segar dan bermimpi bisa membesarkan Tung Chih di sana. Kami berdiri di antara pepohonan bambu tinggi liar malam itu. Dedaunannya menarinari tertiup semilir angin. Sulur yang lebat menutupi pohonpohon eik usia ratusan tahun, menggantung sepanjang empat puluh atau lima puluh kaki bagai tirai surgawi. Jalur berbatunya disinari cahaya bulan, seterang malam ini. Bayangbayang bunga melati di sisi jalan tampak bagai gulungan ombak beku.

Aku pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan yang bisa membantuku menyusun obituari untuk Tung Chih. Sebuah buku tipis, Rumah Pemulihan bagi BungaBunga Plum Salju, menarik perhatianku. Pengarangnya adalah J.Z. Zhen dari awal Dinasti Ch'ing. Aku tak bisa menaruh bukunya kembali, begitu mulai membacanya:


Di selatan Cina, terutama di Soochow dan Hangchow, berseminya pohon plum salju begitu populer. Pohon ini menjadi objek lukis para pelukis terkernuka. Akan tetapi, keindahan pohon ini terletak pada kepedihannya: bentuk abnormal dan dahan yang membengkok dengan tonjolantonjolan raksasa dan akar pohon yang terlihat adalah yang digemari. Pohon-pohon yang berdiri tegak dan sehat dianggap tak menarik dan tak bernilai seni. Dedaunannya dipangkas habis dan pohon itu dibiarkan gundul.

Begitu para penanam pohon memahami keinginan pelanggan mereka, mereka mulai membentuk pepohonan mereka. Untuk menahan pertumbuhan alami, pepohonan itu diperlakukan layaknya kaki wanita. Dahandahannya dipelintir mengikuti rangka sedemikian rupa untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan. Pohonpohon itu tumbuh mengarah ke samping dan ke bawah. Saat diperlihatkan pada umum, orangorang menganggapnya “menakjubkan” dan “elegan”.

Bungabunga plum salju di seluruh Cina kini tengah sakit karena para penanamnya telah mengundang cacingcacing untuk membuat batang dan dahan yang melintir, berwujud simpul. Dahandahannya yang berbentuk tak keruan menyebabkan pohon tersebut sekarat, sementara pedagang memperoleh untung.

Seorang lelaki mengumpulkan kekayaan keluarganya dan pergi ke kebun bibit setempat. Dia membeli tiga ratus pot plum salju yang sakit. Mengubah rumahnya menjadi rumah pemulihan, orang itu mulai merawat pohonpohonnya. Dia memotong rangkanya, menghancurkan potnya, dan menanam pohon itu di tanah. Dia biarkan pohon itu tumbuh secara alami dan menyuburkan tanahnya dengan pupuk kompos. Meski pohon plum salju yang terparah tak berhasil sembuh, populasi selebihnya berhasil pulih.


Tung Chih sama seperti pohonpohon plum salju itu, pikirku sambil menutup buku. Semenjak lahirnya, dia sudah dibengkokkan dan dipelintir menjadi suatu hasil karya mutakhir. Aku menginginkan dia bisa berenang di sungai dekat kota kelahiranku, Wuhu. Aku bahkan ingin melihatnya menunggangi punggung kerbau layaknya anak lakilaki yang kukenal saat aku kecil. Tetapi Tung Chih adalah plum salju yang harus dibatasi, dikungkung, dan dibengkokkan. Pelajaran sekolahnya menyertakan semua hal, kecuali akal sehat. Dia diajarkan akan harga diri tetapi tidak pemahaman, pembalasan dendam tetapi tidak belas kasih, dan kebijaksanaan universal tetapi tanpa kebenaran. Serangkaian audiensi dan seremonial yang tak kunjung habis mendorongnya pada keputusasaan. Tung Chih mencapai bentuk yang diharapkan, tetapi dengan pengorbanan atas kehidupannya. Dia dicegah dari memperoleh pemahaman akan dirinya sendiri dan dunia, direnggut dari pilihanpilihan dan kesempatan yang ada. Bagaimana mungkin dia akan tumbuh seimbang?

Bersenangsenang dengan para pelacur mungkin merupakan upaya Tung Chih untuk mengenali dirinya yang sebenarnya di balik topeng kekaisaran. Mungkin dia mewarisi tabiat pemburu dan merasa perlu mengejar kebebasan dan merasakan petualangan. Tiga ribu selir memperebutkan benih naganya, telah mematikan jiwa pemburu dalam dirinya. Jika saja aku mencoba melihatnya dari sudut pandangnya, aku mungkin bisa memahami penderitaannya. Setelah pemakamannya, kutemukan lagi barangbarang tak senonoh dalam kamarnya. Barangbarang ini tersembunyi di dalam bantalbantalnya, di dalam kain seprai, dan di bawah ranjangnya. Bukubuku ini menampilkan kualitas dan selera paling rendah. Sisi tersembunyi dari kehidupan anakku, sang Kaisar Cina.

Aku ingat suatu ketika, suamiku berkata padaku, “Kau datang menyerang tempat tidurku layaknya tentara.” Dia mengatakannya dengan nada suara jijik. Aku telah berperan memaksakan ketidaksenangan yang sama terhadap anakku, yang membuat kematiannya bagai pembalasan nyata.


Kukirim Li Lienying untuk mengundang menantuku, Alute, minum teh. Tanpa kusangka, dia mengirim dewikzpesan balasan mengancam untuk bunuh diri.

Aku bingung dan meminta penjelasan padanya.

“Aku berhak untuk memimpin Istana begitu anakku lahir,“ Alute menuntut pada pesan balasannya. “Dan ku harap kau akan menyerahkan kekuasaan. Akan tetapi, aku telah diberitahukan bahwa kau tak akan mau mundur karena kau hidup hanya demi kekuasaan itu. Aku tak punya pilihan lain, selain menghilangkan diriku dari dunia yang rendah ini. Kuputuskan bahwa anak dalam kandunganku harus turut menemaniku.”

Aku tak pernah menganggap serius Alute saat dia bertingkah seperti ini. Aku tak pernah ambil pusing ketika dia merasa tidak perlu bersikap manis atau sopan di hadapanku. Dia tak menyukai hadiah pernikahan dariku, sebuah baju musim panas berwarna hijau muda dengan sulaman sutra. Dengan terangterangan, dia mengkritik seleraku dan mendesak untuk menata ulang seluruh istananya. Ketika kuundang dirinya ke opera kesukaanku, Paviliun Bunga Peoni, dia membuang mukanya sepanjang pertunjukan. Dia berpendapat sebagai Janda Kerajaan, tak sepantasnya aku menonton opera roman yang konyol.

Aku merasa jengkel, tetapi kubiarkan saja. Kupikir jika dia bersikap seperti itu padaku, pasti dia akan berlaku sama pada para kasimnya, pelayannya dan para selir, yang pada akhirnya nanti akan mencelakakannya. Kota Terlarang adalah tempat para wanita berkomplot satu sama lain. Sepertinya Alute menjadikan sikap diamku sebagai undangan untuk hinaanhinaan selanjutnya.

Akankah Alute sanggup memimpin suatu negara, jika cucuku lakilaki, dan dia mengambil alih pusat pemerintahan? Dia tampaknya meyakini bisa menangani krisis nasional tanpa berbekal pendidikan atau pengalaman. Sebagai orang luar, dia hanya melihat sisi kemewahan dan keagungan dari kedudukanku. Sebaliknya, aku bisa melihat bayangan pedang bermata dua. Jika saja Alute menampilkan sisi kecerdasan dan kebaikan dari dirinya, dengan senang hati aku akan membantunya.

Semua yang dilakukan Alute hanya menunjukkan padaku bahwa dirinya hanya seorang gadis yang manja dan tidak punya ide sedikit pun akan akibat dari tindakan-tindakannya. Bukannya mengambil bagian dalam proses pemakaman suaminya, dia malah menghabiskan waktunya bersama para anggota kerajaan senior, rivalrival politikku.

Jika saja Alute memberikanku pilihan, aku akan bisa menunjukkan jalan padanya. Tetapi dia tak mampu memahami bahwa proses alihkekuasaan akan melibatkan pertentangan antargolongan politik di Istana dan di pemerintahan negara secara keseluruhan. Dia tak tahu bahwa akan muncul perlawanan. Alute memberi tahukanku bahwa dirinya tidak memerlukan bantuanku, dan bahwa dia sudah berkeras hati untuk tak memercayaiku.

Bagaimana mungkin seorang gadis polos yang tidak mengenalku bisa begitu membenciku? Kebingunganku lebih besar daripada rasa marahku. Meski Alute adalah pilihan Nuharoo, kukira Nuharoo juga tak menyadari dalamnya kebencian Alute terhadap diriku.

Aku khawatir akan Alute, dan aku meneemaskan kondisi cucuku. Kenyataan bahwa Alute telah mempertimbangkan untuk mengambil nyawa janinnya sungguh menakutkanku. Apa yang akan diperbuatnya pada Cina jika dirinya diberikan kekuasaan penuh?

Kutulis balasan untuk Alute, setelah dia menampik secara kasar proposalku untuk menawarkan solusi yang masuk akal bagi perselisihan kami: “Para Menteri, Gubernur, dan Panglima Jenderal Cina tak akan mau mengabdi kecuali jika pemimpin mereka bisa membuktikan dirinya pantas mendapatkan kesetiaan dan nyawa mereka. Tugas ini tak akan semudah menghadiri pesta makan malam, membuat sulaman, atau menonton opera.”


Alute menjawab suratku dengan aksi bunuh diri.

Dia meninggalkan sebuah surat terbuka, yang mungkin tak ditulisnya sendiri. Bahasanya kabur dan kiasan yang digunakan tak jelas artinya.

“Saat burung mati, lagunya sedih,” awal surat Alute. “Saat wanita mati, katakatanya baik. Ini adalah kondisi yang kutemui pada hari ini. Suatu ketika, seorang wanita pergi menuju kematiannya, dan dia tak mampu berjalan tegak. Seseorang yang melihatnya berkata padanya, 'Apa kau takut?' Jawab wanita itu, 'Ya.’ ‘Jika kau takut, mengapa tak berbalik saja?' Wanita itu menjawab, 'Rasa takutku adalah kelemahan pribadi, tetapi kematianku adalah tugas publik...’”

Apakah Alute meyakini bahwa kematiannya merupakan tugas mulia? Aku melihat tindakan yang dia lakukan hanyalah bentuk protes dan hukuman bagiku semata. Tidak saja aku telah kehilangan Tung Chih, tetapi anaknya yang belum dilahirkan. Tak ada musuh yang bisa menghancurkanku melebihi ini.

Pelayan Alute mengatakan bahwa majikannya merasa senang dengan keputusannya untuk mengakhiri hidupnya. Alute menjadikan aksi bunuh dirinya sebagai peristiwa yang harus dirayakan. Dia menghadiahi para pelayannya dengan uang dan tanda mata karena menolongnya. Para pelayan dipanggil untuk menyaksikan aksi bunuh dirinya. Alute memerintahkan bahwa siapa pun yang berani menghentikannya akan dicambuk hingga mati. Ketika pagi hari yang direncanakan itu tiba, Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Alute menghirup opium, kemudian mendandani dirinya dengan mengenakan jubah keabadian. Para pelayan kemudian disuruh pergi. Alute mengunci dirinya di kamar, dan pada sore hari dia ditemukan meninggal.

Opium yang dihirup Alute diselundupkan ke Kota Terlarang oleh ayahnya, yang sudah mengetahui rencana anaknya. Walaupun dia tak setuju, sebagai bangsawan loyal yang telah dianugerahi gelar kerajaan yang tinggi dari pernikahan putrinya, dia menyetujui keinginan anaknya.

Dia takut perilaku salah putrinya akan mengorbankan kehidupan baiknya. Setelah ayahnya menyediakan opium yang cukup untuk membunuh Alute, dia menuliskan laporan untuk Dewan Istana bahwa dia tidak tahumenahu akan tindakan anaknya.

Kupanggil ayah Alute dan kutanyakan apakah dia telah mengatakan suatu hal yang membuat Alute marah. Lelaki itu menjawab, “Kukatakan padanya agar berhenti mengusik kemarahan Baginda Ratu Yang Mulia.”

Aku merasa kasihan pada Alute karena dia tidak menerima dukungan dari keluarganya. Lebih dari itu, aku membencinya karena tindakannya membunuh cucuku yang belum dilahirkan. Kemudian terbit dugaanku bahwa aku tak pernah menerima konfirmasi akan kehamilan Alute dari tabib mana pun, juga tak pernah kulihat perutnya yang membesar.

Tabib Sun Paotien tiba atas panggilanku. Dia melaporkan bahwa pemeriksaan tak pernah dilakukan karena Alute tak pernah mengizinkannya masuk.

Apakah mungkin semuanya hanyalah tipuan?

Jika kehamilannya hanya tipuan, aksi bunuh diri Alute jadi lebih masuk akal. Hidupnya akan berakhir hanya sebagai salah seorang wanita Tung Chih yang terbuang. Dia tidak akan diberikan peran sebagai Wali Kaisar, mengingat dia tak memiliki keturunan. Dengan menemani Tung Chih ke kuburnya, perbuatannya akan dinilai sebagai satu kebajikan dan akan dihargai oleh rakyat. Sebaliknya, suratnya menyiratkan bahwa tanggung jawab sepenuhnya atas kematiannya tertuju pada diriku.

Di balik sikap malumalu Alute, tersimpan pikiran yang keras dan ambisius. Karakter yang tak tenang, dengan ambisi raksasa.

Lawanlawanku memanfaatkan Alute dengan baik. Aku sangat muak melihat ayahnya, yang tampak begitu tak berbahaya. Aku tak akan memaafkan orang yang bisa mendorong anaknya untuk menghabisi nyawanya sendiri. Jika begini cara Alute dibesarkan, mungkin suatu keberuntungan dia tidak memiliki anak.

Dalam imajinasi Alute, aku merupakan ancaman besar. Dia mungkin telah membayangkan kehidupannya sebagai Wali Kekaisaran, dan hanya aku satusatunya rintangan yang harus dia atasi. Cara Alute menulis suratnya terdengar begitu percaya diri. Fakta bahwa dia seperti meyakini dirinya tengah mengandung seorang bayi laki-laki adalah bukti tersendiri bahwa dirinya menderita gangguan jiwa.

Ada atau tidak adanya cucuku, kemungkinan itu akan tetap terus menghantuiku. Yang membuatku sedih adalah mengetahui bahwa kematian suaminya tak juga membangkitkan rasa simpati dalam diri Alute. Jika dia pernah sungguhsungguh mencintai Tung Chih, dia tak akan tega membunuh anak suaminya.

Aku sangat terluka memikirkan kemungkinan bahwa kehidupan putraku mungkin telah terampas dari cinta satusatunya. Pikiran itu mengarah pada kemungkinankemungkinan lain, seperti alasan di balik ketagihan Tung Chih pada para pelacur. Apa karena kasih sayang yang tak diterimanya? Tung Chih bukanlah malaikat, melainkan seorang anak yang selalu haus akan cinta.

Aku berusaha menghentikan pikiranku agar tak berkutat pada rasa bersalah. Kukatakan pada diri sendiri bahwa Tung Chih dan Alute pernah menjadi sepasang kekasih sejati dan itu pasti ada artinya, dan akan tetap begitu.


Sebelum musim semi, seorang pejabat Kerajaan menuduhku “telah memicu kambuhnya penyakit Kaisar” Aku tak ambil pusing akan pendapat ini; ide itu begitu menggelikan. Yang tak kuduga adalah bahwa kisah itu telah beredar cukup luas dan akhirnya dimuat dalam sebuah jurnal Inggris terkemuka. Berita ini menjadikanku sebagai pusat skandal internasional—tersangka utama dari “pembunuhan” Kaisar Tung Chih.

“Alute yang penuh kasih sedang mengunjungi Tung Chih yang tengah sakit di pembaringannya,” bunyi artikel itu. “Dia mengeluhkan kelakuan ibu mertuanya yang suka ikut campur dan selalu mendominasi, dan dia menantikan dengan senang hati hari ketika Tung Chih akan sembuh. Pada saat itulah, Janda Kaisar Putri Yehonala yang gusar, masuk. Dia masuk kamar dengan mengamuk, menjambak rambut Alute dan menghajarnya. Sementara itu, Tung Chih yang sedang menderita sakit saraf yang parah, menyebabkan demamnya kembali kambuh, dan pada akhirnya membunuhnya.”





13




KUBAYANGKAN ES MENGAPUNG di atas sungai ketika tengah mencair, begitu tipis dan rapuh. Es itu tak tampak bagai es, tetapi seperti kertas nasi. Tung Chih tak pernah tahu seperti apa salju di Selatan Cina. Dia sudah terbiasa dengan Salju Peking, dengan es yang keras. Dia tak pernah diperbolehkan berseluncur di atas sungai istana yang beku; sebaliknya, dia hanya menonton sepupusepupunya bermain sepanjang hari. Hal yang masih boleh dilakukan oleh Tung Chih hanyalah mengikat tali jerami di sekitar sepatunya agar dia dapat berjalan di atas es dengan bantuan kasimkasimnya.

Dalam kenangan masa kecilku, musim salju selalu dingin dan lembap. Saat angin barat laut bertiup kencang menerpa jendela dan membuat kacakaca jendela berderak seolah ada yang mengetuknya, Ibu akan mengumumkan bahwa musim salju terdingin telah tiba. Karena temperatur tak pernah mencapai titik beku di Selatan, hanya sedikit rumah di sana yang memiliki pemanas.

Aku ingat Ibu mengeluarkan semua pakaian musim dingin kami dari peti cendana. Kami memakai jaket katun tebal, topi dan syal, serta semua orang akan berbau kayu cendana. Saat dalam rumah terlalu dingin, orangorang akan keluar ke jalan untuk mengangatkan badan mereka di bawah matahari. Sayangnya, musim dingin di Selatan sering kali tidak bermatahari. Udaranya lembap dan langit berwarna abuabu sepanjang musim dingin.

Hari ini aku terbangun di ruangan yang cukup penghangat. Li Lienying sangat lega melihatku tak menyingkirkan makananku hinaga nyaris menangis. Dia menghidangkan makanan citarasaSelatan: bubur panas dengan tahu yang diawetkan, sayurmayur dan kacangkacangan, dengan ganggang laut panggang dan biji wijen. Dia mengatakan bahwa selama ini aku sakit dan telah tertidur sepanjang hari.

Aku menengadah ke atas dan merasakan leherku kaku dan pegal. Kusadari lampionlampion merah di ruangan telah berganti putih. Pikiran akan Tung Chih kembali, dan hatiku kembali merasakan perihnya tikaman. Aku bersusah payah bangkit dari ranjang. Mataku menangkap tumpukan dokumen di atas meja.

“Apa yang mesti kuketahui?” tanyaku.

Tak ada jawaban. Li Lienying menatapku seolah tak mengerti. Kusadari bahwa aku masih terbiasa dengan cara Antehai, dan Li Lienying masih belum memahami peranannya sebagai sekretaris kasimku.

“Kaubisa terangkan dengan singkat padaku, dimulai dari cuaca.”

Li Lienying adalah pelajar yang cepat. “Angin salju telah membawa badai debu dari gurun,” dia mengawalinya, sembari membantuku berpakaian. “Kemarin malam, tungkeu arang dinyalakan di pekarangan.”

“Teruskan.”

“Li Hungchang memindahkan tentaranya dari Chihli atas perintahmu. Dia telah mengamankan Kota Terlarang. Para gubernur dari delapan belas provinsi telah bergegas kemari. Sebagian dengan keretanya dan sebagian lagi dengan menunggang kuda. Mereka sedang memasuki gerbang saat ini. Yung Lu telah diberi tahu akan situasinya dan akan datang ke sini beberapa hari lagi.”

Aku terkejut. “Aku tak memerintahkan atau memanggilnya.”

“Permaisuri Nuharoo yang melakukannya.”

“Kenapa dia tak memberi tahuku?”

“Permaisuri Nuharoo datang ke sini beberapa kali saat Yang Mulia tertidur,” Li Lienying menjelaskan, “Katakata persisnya adalah, 'Tung Chih tak meninggalkan keturunan, dan seorang Kaisar baru harus dipilih”.

“Ke Balairung Pemeliharaan Jiwa! Siapkan tandu!” perintahku.


Nuharoo tampak lega saat melihatku memasuki balairung. “Tiga kandidat sudah dipilih…” Dia menyodorkanku catatan dari diskusi hari itu, “Seluruh anggota Klan Kerajaan hadir.”

Meski rasa lelahku tak juga surut, aku berusaha tampil seolah tak pernah meninggalkan urusan Kerajaan. Kuteliti namanama kandidat itu. Kandidat pertama adalah seorang bayi berusia dua bulan bernama P'ulun, cucu dari anak sulung Kaisar Tao Kuang—saudara suamiku, Pangeran Ts'eng. Mengingat generasi “Tsai” Tung Chih diikuti oleh generasi “P'u” bayi ini adalah satusatunya kandidat yang memenuhi aturan hukum keluarga Kerajaan, yang menyebutkan bahwa penerus takhta tak bisa anggota keluarga dari generasi yang sama dengan pendahulunya.

Dengan cepat, kucoret P'ulun. Alasanku adalah karena suamiku pernah. mengatakan bahwa kakek P'ulun, Pangeran Tseng, telah diadopsi dari keturunan anggota rendah keluarga Kerajaan, jadi bukan berasal dari garis darah sesungguhnya. “Dari pendahulu kami, tak ada cucu dari anak adopsi yang menaiki singgasana,” ungkapku.

Alasan sebenarnya di balik penolakanku adalah karena aku mengetahui lelaki macam apa Ts'eng itu. Selain kegemarannya bersenangsenang, dia adalah seorang radikal politik yang korup. Dia benarbenar tidak menghormatiku, hingga saat dia mendengar tentang kematian anakku. Dia tahu aku akan memiliki kuasa untuk memilih penerusnya.

Ketika penasihat Pangeran Ts'eng, seorang pejabat Istana, menunjukkan dokumen dari catatancatatan Dinasti Ming yang membuktikan keabsahan Pangeran, kuperingatkan Dewan Istana. “Masa pemerintahan Pangeran Ming yang satu itu berakhir dengan bencana, dengan pangerannya sendiri tertangkap dan terbunuh oleh kaum Mongol.”

Kandidat terpilih kedua adalah putra sulung Pangeran Kung, Tsaichen, teman lama Tung Chih. Sekeras apa pun usahaku, aku tak bisa melupakan kenyataan bahwa dialah yang mengenalkan Tung Chih pada rumahrumah bordil. Kutolak Tsaichen dengan mengatakan, “Hukum mensyaratkan agar ayah Kaisar yang masih hidup harus mundur dari pemerintahan, dan kupikir Istana tak dapat berfungsi dengan baik tanpa peranan Pangeran Kung, “

Ingin sekali aku berteriak pada Nuharoo dan Dewan Istana: Bagaimana mungkin kita memercayakan tanggung jawab kenegaraan pada seorang hidung belang? Aku akan menyuruh Tsaichen dipenggal, kalau saja dia bukan anak pangeran Kung!

Pilihan terakhir adalah Tsait’ien, keponakanku yang berusia tiga tahun, putra dari Pangeran Ch'un, adik bungsu suamiku, yang juga suami dari saudariku, Rong. Kami terpaksa melanggar aturan “takbolehdarigenerasiyang-sama” jika memilih Tsait'ien, tetapi kami sudah kehabisan pilihan.

Pada akhirnya, baik Nuharoo dan aku, menjatuhkan pilihan pada Tsait'ien. Kami memberitahukan akan mengadopsi anak itu jika Dewan Istana menerima proposal kami. Sebenarnya, selama ini aku memang berpikir untuk mengadopsi Tsait'ien. Ide itu datang ketika kutahu ketiga anak saudariku meninggal secara “kecelakaan” ketika bayi. Kematian mereka dianggap sebagai takdir, tetapi aku sadar akan kondisi mental Rong. Pangeran Ch'un mengeluhkan kondisi istrinya yang makin memburuk, tetapi tak ada tindakan yang diambil dan Rong tidak diberikan perawatan. Aku mencemaskan kemungkinan hidup Tsait’ien begitu dia dilahirkan. Telah kusarankan pada Rong untuk menyerahkan bayinya agar diadopsi, tetapi dia tetap memaksa untuk merawatnya sendiri.

Berat badan Tsait'ien di bawah normal untuk anak seusianya dan geraknya kaku seperti kayu. Para pengasuhnya melaporkan bahwa dia menangis sepanjang malam, sementara ibunya terus meyakini bahwa memberi makan anaknya hingga kenyang akan membunuhnya.

Ayah si anak mendorongnya untuk diadopsi. “Aku bersedia melakukan apa pun untuk membantu putraku terbebas dari ibunya,” ujar Pangeran Ch'un padaku. “Apa tak cukup ketiga putraku meninggal di bawah pengasuhan saudarimu?” Ketika kusampaikan akan kekhawatiranku tentang perpisahan dirinya dari Tsait'ien, dia berkata akan baikbaik saja, mengingat dia masih memiliki beberapa anak lain dari para istri dan selirselirnya.


Selanjutnya, Dewan Istana mendengarkan laporan akan karakter dan sejarah Ayah sang kandidat. Aku tak terkejut mendengar Pangeran Ch'un dianggap sebagai lelaki “berkepribadian ganda” Kuketahui dari suamiku, Kaisar Hsien Feng, bahwa “seluruh tubuh Pangeran Ch'un akan gemetar dan jatuh pingsan jika melihat ayahnya marah.” Akan tetapi, dia juga dikenal sebagai “pembual besar” di keluarga. Pangeran Ch'un mewakili golongan garis keras dari klan Manchu. Sementara mengaku tak memiliki minat dalam politik, dia telah menjadi rival lama saudaranya sendiri, Pangeran Kung.

“Suamiku hanya bisa menjadi lelaki jujur karena kebohongankebohongannya terlalu bodoh,” saudariku sering kali berkata. Pangeran Ch'un tak hentihentinya memberitahukan pada dunia akan filosofi hidupnya. Dia selalu menunjukkan kemuakannya pada kekuasaan dan kekayaan. Di ruang tamunya, terpampang sebuah kuplet dari kaligrafinya sendiri, memperingatkan kepada anak-anaknya betapa kekayaaan akan menjatuhkan, merusak, dan menyebabkan kehancuran. “Tanpa kekuasaan berarti tanpa bahaya,” bunyi baris itu. “Dan tanpa kekayaan berarti tanpa kehancuran.” Walaupun Ch'un seorang pangeran, dia tak memiliki jabatan penting atau diserahi tugastugas negara. Akan tetapi, dia tak pernah malu untuk menuntut kenaikan pendapatan tahunannya. Dia bahkan mengkritik Pangeran Kung, mengeluhkan kompensasi yang diterima saudaranya untuk mengadakan pestapesta demi menjamu para diplomat asing.

Meski semua hambatan itu, dan dengan upaya keras Yung Lu dari belakang untuk membujuk para anggota Klan, Dewan Istana akhirnya memberikan persetujuannya atas Pangeran Ch'un. Tsait’ien dipertimbangkan dengan serius, dan akhirnya terpilih. Satusatunya rintangan tersisa adalah bahwa Tsait'ien merupakan sepupu pertama Tung Chih dan secara hukum tak dapat memimpin secara resmi menggantikan mendiang Tung Chih. Dengan kata lain, Tung Chih tak dapat mengadopsi sepupunya sebagai anak sekaligus penerus.

Setelah perdebatan yang berlangsung berharihari, Dewan Istana memutuskan untuk mengadakan kembali pungutan suara terbuka.

Di luar angin berembus, dan lampionlampion di lorong berkedip. Hasil suara dihitung: tujuh orang memilih cucu Pangeran Ts'eng, P'ulun, tiga orang memilih putra Pangeran Kung, Tsaichen, dan lima belas orang menjatuhkan suaranya pada putra Pangeran Ch'un, keponakanku, Tsait'ien.

Meski Pangeran Ch'un memberitahukan pada Dewan Istana bahwa persetujuan istrinya mengenai pengadopsian resmi Tsait'ien tidak diperlukan, aku tetap menekankan bahwa keputusanku tak akan sah tanpa adanya persetujuan dari Rong.


Rumputrumput liar setinggi lutut memenuhi pekarangan dan sulursulur menutupi jalan setapak. Di dalam wisma utama saudariku, popokpopok bayi, makanan, piring-piring, botolbotol, mainan, dan bantalbantal terserak di manamana. Kecoak melintasi ruangan dan talatlalat hingap dari satu jendela ke jendela lain. Kasim dan pelayan Rong berbisik pada Li Lienying bahwa majikan mereka tak membolehkan bersihbersih.

“Anggrek!” Rong datang menyambutku. Dia tampak seperti habis bangun tidur. Rong mengenakan piama merah jambu terang bergambar bungabunga, dan pada kepalanya, dia mengenakan topi wol yang cocok digunakan saat menghadapi badai salju. Napasnya berbau busuk. Kutanyakan bagaimana kabarnya, dan mengapa dia mengenakan topi itu.

“Makhlukmakhluk aneh telah menjajah pikiranku,” ujar Rong, mengantarku menyusuri lorong yang sangat berantakan. “Aku mengalami sakit kepala akhirakhir ini.“

Kami memasuki ruang tamu, dan dia terjatuh ke sebuah bangku besar. “Makhlukmakhluk itu telah memakanku.” Meraih baki perak yang dipenuhi kue, dia mulai memakan. “Mereka suka yang manismanis, kautahu. Mereka akan tinggalkan aku sendiri setiap kali aku makan kue. Makhlukmakhluk licik dan keji.'

Saudariku tak tagi langsing dan cantik seperti dulu. Orangorang di Wuhu dulu biasa bilang, “Ketika seorang wanita menikah dan melahirkan, dia akan berubah dari “kuntum bunga menjadi sebuah pohon.” Rong justru jadi beruang. Badannya dua kali lebih besar daripada sebelumnya. Kutanyakan bagaimana perasaannya mengetahui anaknya terpilih sebagai Kaisar.

“Aku tak tahu.” Dia mengeluarkan suara kunyahan yang berisik. “Ayahnya seorang penipu.”

Aku tanyakan apa maksudnya.

Dia menyeka mulutnya dan bersandar lebih dalam pada punggung kursi. Perutnya membuncit seperti bantal. “Aku bersyukur aku tak hamil.” Dia menyeringai. Sisa remahremah kue menempel di mulutnya. “Tetapi kukatakan pada suamiku kebalikannya.” Dia mencondongkan badannya padaku dan berbisik, “Dia berkata itu mustahil karena kami sudah tidak melakukan hal itu selama bertahuntahun. Kukatakan padanya bahwa kehamilan ini disebabkan oleh iblis.” Dia mulai terbahak. “Itu benar-benar menakutkannya!”

Aku tak tahu harus berkata apa. Ada masalah serius pada diri saudariku.

“Anggrek, kau benarbenar kurus. Kau tampak menyedihkan. Berapa berat badanmu?”

“Sedikit di atas 55 kilo,” jawabku.

“Aku merindukanmu setelah pemakaman Ibu.” Tangis Rong segera meledak. “Kau tak pernah mau mengunjungiku, kecuali kalau ada urusan penting.”

“Kautahu itu tak benar, Rong,” ucapku, merasa bersalah.

Seorang kasim datang membawakan teh.

“Bukankan sudah kuberi tahu rumah ini tak menyuguhkan teh?” Rong membentak sang Kasim.

“Kupikir mungkin tamunya ingin…”

“Keluar sana,” perintah. Rong.

Si kasim memungut cangkircangkirnya dan memberikan Li Lienying tatapan marah.

“Dasar idiot,” ujar Rong. “Tak pernah belajar.”

Kupandang saudariku. kemudian berkata pelan, “Aku ke sini ingin bertemu Tsait'ien.”

“Si kecil pengurasuang lagi tidur siang,” jawab Rong. Kami mendatangi kamar anaknya. Tsaitien sedang tidur di balik selimutnya, meringkuk seperti anak kucing. Dia sangat mirip dengan Tung Chih. Aku mendekat untuk menyentuhnya.

“Aku tak ingin anak ini.” Suara Rong terdengar begitu jelas. “Dia hanya memberiku kesusahan dan aku sudah muak padaya. Terus terang, Anggrek, dia akan lebih baik tanpaku.”

“Tolong, hentikan Rong.”

“Kau tak mengerti. Aku juga takut pada diriku sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tak merasakan cinta untuk anak ini—dia berasal dari dunia hitam. Dia membuat ketiga saudaranya mati agar dia bisa mendapatkan gilirannya memasuki tubuhku dan hidup. Saat hamil, aku sangat menginginkannya, tetapi setelah dia lahir, aku tahu aku telah membuat kesalahan besar. Aku selalu memimpikan ketiga anakku yang telah mati.” Rong mulai menangis. “Arwaharwah mereka mendatangiku untuk menyuruhku mengambil tindakan terhadap adik mereka.”

“Kau akan melupakannya, Rong.”

“Anggrek, aku tak tahan lagi. Tolong ambil anakku. Kau akan benarbenar menolongku, tetapi kau mesti berliatihati dengan rohnya yang dikuasai iblis. Dia akan merenggut ketenanganmu. Strategi liciknya adalah menangis sepanjang hari. Tak ada orang di sini yang bisa tidur! Anggrek, bantu aku. Cekik anak ini dari iblis yang merasuknya, jika perlu!”

“Rong, aku tak akan mengambilnya karena kau ingin menelantarkannya. Tsait'ien adalah anakmu, dan dia berhak mendapatkan cintamu. Biar kuberi tahu padamu, Rong, satusatunya hal yang kusesali adalah tak cukup memberikan cinta pada Tung Chih.”

“Oh, Mulan, sang pahlawan!” tangis Rong.

Terbangun oleh suara ibunya, Tsait'ien membuka matanya. Sejenak kemudian, dia menangis tanpa suara.

Seolah jijik, Rong meninggalkannya dan kembali ke kursinya.

Kuangkat Tsait'ien dan kugendong. Kuusapusap punggungnya dengan lembut. Badannya berbau air kencing.

Rong datang dan merenggut anaknya dariku. Dia menaruhnya kembali ke tempat tidur dan berkata, “Lihat, kau kasih dia hati, dia akan minta jantung!”

“Rong, dia baru tiga tahun.”

“Bukan, umurnya sudah tiga ratus tahun! Jagonya menyiksa. Dia berpurapura menangis, padahal bersenang-senang.“

Rasa marah dan sedih menyapuku. Aku merasa tak bisa tinggal di ruangan itu lebih lama. Aku mulai berjalan ke arah pintu.

Rong mengikuti. “Anggrek, tunggu sebentar.

Aku berhenti dan menengok ke belakang.

Dia menjepit hidung anak itu dengan jarijarinya.

Tsaitien mulai berteriak, berjuang mencari udara.

Rong terus menekan. “Nangis, nangis, nangis! Apa yang kauinginkan?”

Tsait'ien berusaha membebaskan diri, tetapi ibunya tak mau melepaskannya.

“Apa kaumau aku membunuhmu? Agar kaubisa diam? Mau begitu?” Rong menaruh tangannya di seputar leher Tsait'ien sampai dia tercekik. Rong tertawa histeris.

“Rong!” Aku kehilangan kendali dan menerjang ke arahnya. Kukukuku tanganku menekan pergelangan tangannya.

Saudariku berteriak.

“Lepaskan Tsait'ien!” bentakku.

Rong berusaha melawan, tetapi tak mau melepaskan anaknya.

“Dengarkan, Rong.” Kupelintir pergelangan tangannya lebih kuat. “Ini Permaisuri Tzu Hsi yang bicara. Aku akan memanggil penjaga dan kau akan didakwa karena membunuh Kaisar Cina.”

“Lelucon bagus, Anggrek!” sembur Rong.

“Kesempatan terakhir, Dik, lepaskan Tsait'ien atau kuperintahkan penangkapan dan pemenggalanmu.”

Kudorong Rong menghadap tembok dan kutekan dagunya dengan siku kananku, “Mulai dari sekarang, baik kau setuju atau tidak pada adopsi, Tsait'ien adalah putraku.”



 Baca Kelanjutannya...