Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 2

6



SEMENJAK KECIL, Tung Chih telah diajari untuk menganggapku sebagai bawahannya ketimbang sebagai ibunya. Dan kini pada usianya yang ketiga belas, aku harus berhatihati atas ucapanku padanya. Seperti mengendalikan layanglayang di bawah embusan angin yang berubahubah, aku berusaha menahan genggamanku pada seutas benang tipis. Aku belajar untuk menahan diri ketika embusan angin mengencang.

Suatu pagi tak lama setelah pertemuan terakhirku dengan Jenderal Tseng, Antehai meminta waktuku sebentar. Kasim itu ingin menyampaikan satu hal penting padaku dan dia meminta pengampunanku sebelum mulai bicara.

Aku berkata “bangkit” beberapa kali, tetapi Antehai tetap berlutut. Ketika kusuruh dirinya untuk mendekat, dia menyeret lututnya mendekatiku dan berhenti di tempat aku bisa mendengarkan bisikannya.

“Baginda Yang Mulia telah terjangkiti oleh penyakit yang parah,” Antehai berujar sedih.

Aku bangkit. “Apa maksudmu?”

“Tuan Putri, Anda harus kuat…” Dia menarik lengan jubahku hingga aku kembali duduk.

“Penyakit apa itu?” Aku kembali bangkit.

“Itu penyakit ... yah, dia mendapatkannya dari rumah bordil lokal.”

Selama sesaat, aku tak sanggup mencerna maksud perkataannya.

“Aku diberi tahu mengenai ketidakberadaan Tung Chih selama beberapa malam,” Antehai melanjutkan, “maka aku mengikutinya. Maafkan aku tak bisa menyampaikan informasi ini lebih cepat.”

“Tung Chih adalah pemilik ribuan selir,” bentakku. “Dia tak perlu…” Aku berhenti, menyadari kebodohanku. “Sudah berapa lama dia biasa mengunjungi rumah pelacuran?” tanyaku, berusaha tetap tenang.

“Sudah beberapa bulan.” Antehai berusaha menyangga lenganku.

“Yang mana yang dia datangi?” tanyaku, bergetar.

“Berbedabeda. Baginda Yang Mulia takut dikenali, jadi dia menghindari tempattempat yang biasa didatangi anggota Kerajaan.”

“Maksudmu Tung Chih pergi ke tempat yang biasa didatangi rakyat jelata?”

“Ya.”

Aku tak bisa menenangkan pikiranku.

“Jangan biarkan kesedihan menguasaimu, Tuan Putri!” tangis Antehai.

“Panggil Tung Chih!” Aku mendorong kasim itu pergi.

“Tuan Putri.” Antehai menjatuhkan dirinya di depanku. “Sebelumnya kita harus membahas strategi.”

“Tak ada yang mesti dibahas.” Kuangkat tanganku dan menunjuk ke arah pintu. “Aku harus mendengarkan kebenaran dari anakku. Itu tugasku.”

“Tuan Putri!“ Antehai membenturkan keningnya ke atas lantai. “Seorang pandai besi tak akan menempa batang besinya ketika dingin. Tolonglah, Tuan Putri, pikirkanlah kembali.”

“Antehai, jika kautakut pada anakku, apa kau juga tak takut padaku?”


Seharusnya aku dengarkan Antehai, dan menunggu. Jika saja aku bisa mengendalikan emosiku, sebaik yang biasanya kulakukan di hadapan Dewan Istana, Antehai tak akan menanggung akibatnya. Aku tak akan kehilangan putraku dan Antehai.

Berdiri di depanku, Tung Chih tampak seperti baru keluar dari kolam air. Keringat membanjiri keningnya. Sambil menggenggam saputangan, dia terusterusan menyeka muka dan lehernya. Wajahnya dipenuhi bisul, dan jerawat menandai garis rahangnya. Tadinya kukira kondisi kulitnya disebabkan oleh usianya yang makin dewasa, bahwa elemen dalam tubuhnya sedang tak seimbang. Ketika kutanyakan tentang rumah pelacuran, dia tidak mengakuinya. Baru ketika kupanggil Antehailah, Tung Chih akhirnya mengakui semua perbuatannya.

Aku tanyakan apakah dia sudah menemui Tabib Sun Paotien. Tung Chih menjawab bahwa dia merasa tak perlu menemuinya karena dia tak merasa sakit.

“Panggilkan Sun Paotien,” perintahku.

Putraku menatap Antehai dengan menyipitkan mata.

Keadaan menjadi kacau saat Tabib Sun Paotien tiba. Semakin Tung Chih berusaha berbohong, semakin sang Tabib mencurigainya. Akan makan waktu berharihari sebelum Sun Paotien memberitakan penemuannya, yarig kutahu akan menghancurkanku.

Kukirim Antehai ke istana Tung Chih. Kubatalkan audiensi hari itu, dan memeriksa barangbarang milik anakku. Selain opium, kutemukan bukubuku cabul.

Kupanggil Tsaichen, putra Pangeran Kung yang berusia lima belas tahun, teman terdekat Tung Chih. Kutekan dan kubujuk Tsaichen sampai dia mengakui bahwa dialah yang meminjamkan bukubuku itu dan dialah yang membawa Tung Chih ke rumah bordil. Tanpa menunjukkan rasa bersalah, Tsaichen menjelaskan bahwa rumah bordil ibarat “rumahrumah opera” dan para pelacurnya adalah “aktrisaktrisnya”.

“Panggil Pangeran Kung!” perintahku.

Pangeran Kung sama terkejutnya dengan diriku, yang membuatku menyadari bahwa situasinya lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Ketika kularang Tsaichen menemui anakku lagi, Tung Chih semakin kesal.

“Aku akan mengantarkanmu,” ujar anakku pada temannya.

“Tsaichen akan pergi bersama ayahnya!” ujarku pada anakku. Kemudian kuperintahkan Antehai mengunci pintu agar Tung Chih tak bisa keluar.

“Kalian semua mayat hidup!” Tung Chih berteriak-teriak, menendang Antehai dan kasimkasim lainnya. “Lumut! Ular berbisa!”

Awalnya Tung Chih tak menunjukkan minat untuk memilih pendampingnya. Walau demikian, Nuharoo tetap bersikeras untuk menjalankannya. Ketika kupanggil Tung Chih untuk menetapkan tanggal pemilihan para gadis, dia malah ingin membahas perihal “kelakuan tak pantas” Antehai dan hukuman yang tepat baginya.

Tak kuacuhkan anakku dan berkata, “Apa yang terjadi pada kita berdua mestinya tak mengganggu tugastugasmu.” Kusodorkan laporan Kerajaan ke hadapannya. “Ini tiba tadi pagi. Aku ingin kau memeriksanya.”

“Misionaris asing berhasil mengumpulkan pengikut,” ucap Tung Chih sembari membolakbalik kertas dokumen secara sekilas. “Ya, aku sudah tahu hal itu. Mereka telah menarik hati para bandit dan gelandangan dengan menawarkan makanan. dan tempat tinggal gratis, dan. mereka telah membantu para kriminal. Masalahnya bukan agama, sebagaimana yang mereka sebutkan.”

“Kau belum melakukan apa pun untuk mengatasinya.”

“Memang belum.”

“Mengapa?” Aku berusaha menjaga agar nada suaraku tetap terdengar tenang, tetapi tak bisa. “Apa menggauli para pelacur di seluruh kota lebih penting?”

“Ibu, semua traktat melindungi orangorang Kristen. Apa lagi yang bisa kuperbuat? Ayahlah yang menanda tanganinya! Kau mencoba mengatakan bahwa aku tengah meruntuhkan dinasti, padahal bukan aku. Bangsa asing sudah memasuki Cina jauh sebelum aku dilahirkan. Lihat ini: Para misionaris menuntut uang ganti sewa atas penggunaan kuilkuil Cina selama tiga ratus tahun ke belakang yang dulunya mereka nyatakan sebagai properti milik Gereja. Apa itu masuk akal?”

Aku tak mampu berkata apa pun.

“Aku ingin beranggapan bahwa para misionaris itu sebagai lelaki dan wanita yang baik,“ lanjut anakku, “bahwa hanya aturan moral mereka sajalah yang cacat. Aku setuju dengan Pangeran Kung bahwa ajaran Kristen menaruh penekanan terlampau besar pada belas kasih dan mengabaikan nilai keadilan. Akan tetapi, ini bukan masalahku, dan kau tak seharusnya menjadikannya begitu.”

“Bangsa asing tak punya hak untuk membawa hukum mereka ke Cina. Dan itu jadi masalah yang mesti kau tangani, anakku. “

“Mengurus negara ini membuatku sakit, titik. Maaf, Bu, aku harus pergi.“

“Aku belum selesai. Tung Chih, kau belum cukup mengerti untuk tahu apa yang mesti kaulakukan.”

“Bagaimana aku belum cukup tahu? Kau telah jadikan dokumendokumen kerajaan sebagai buku pelajaranku. Aku selalu dianggap lemah sejak kecil. Kaulah yang bijaksana ... Sang Buddha Tua yang serba tahu segalanya: Aku tak kirimkan matamata untuk memeriksa kamarmu dan mengosongkan lemarimu. Tetapi itu tak berarti bahwa aku bodoh dan tak tahu apaapa. Aku sayang padamu Ibu, tetapi—“ Dia berhenti, kemudian meledak dalam tangis.


Pada masamasa terkelam dalam hidupku, aku akan pergi pada Antehai dan memintanya untuk menenangkanku. Perbuatanku sungguh memalukan.

Tak bisa dibayangkan bagi setiap wanita memikirkan tubuhnya disentuh oleh seorang kasim, makhluk dari dunia hitam. Tetapi aku merasakan diriku sama rendahnya dengan kasim.

Malam itu, suara Antehai menenangkanku. Dia membantuku membebaskan diri dari kenyataan. Aku dibawa ke bagian dunia lain untuk menikmati petualangan asing. Kegembiraan akan memenuhi air muka Antehai selagi dia meniup lilin dan mendatangi pembaringanku untuk berbaring di sisiku.

“Aku telah temukan pahlawanku” bisik Antehai. “Sama seperti diriku, dia orang yang sangat malang. Dilahirkan pada 1371 dan dikastrasi pada umur sepuluh tahun. Untungnya, majikan yang dia layani adalah seorang Pangeran yang berlaku baik padanya. Sebagai balasannya, dia memberikan jasa luar biasa dan membantu Pangeran menjadi Kaisar dari Dinasti Ming…”

Bunyi dari burung hantu di luar jadi hening dan awan-awan yang memantulkan sinar rembulan tampak tak bergerak di luar jendela.

“Namanya Cheng Ho, petualang terhebat di dunia. Kaubisa temukan namanya di semua buku tentang pelayaran, tetapi tak ada satu pun yang mengungkapkan identitas sebenarnya sebagai kasim. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa penderitaan yang demikian pedihlah, yang telah menempanya menjadi orang hebat. Kemampuannya menghadapi penderitaan hanya bisa dimengerti olehku, sesama rekan kasimnya.”

“Bagaimana kautahu bahwa Cheng Ho seorang kasim?” tanyaku.

“Kuketahui secara tak sengaja, di buku daftar nama-nama kasim milik Kerajaan, sebuah buku yang tak ada seorang pun tertarik untuk membacanya.”

Pada diri Cheng Ho, Antehai menemukan mimpi yang dapat diraih. “Selaku Laksamana armada pengangkut harta, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi bahari ke pelabuhanpelabuhan di seluruh Asia Tenggara dan Laut Hindia.” Antehai berbicara penuh semangat. “Pahlawanku berkelana jauh hingga ke Laut Merah dan Afrika Timur, menemukan lebih dari tiga puluh negeri dalam tujuh ekspedisinya. Kastrasi menjadikannya lelaki yang rusak, tetapi tak pernah memadamkan ambisinya.”

Dalam kegelapan malam, Antehai berjalan menuju jendela dalam jubah sutra putihnya. Menghadap terang bulan, dia mengumumkan, “Mulai saat ini aku akan memiliki hari ulang tahun.”

“Bukankah kau sudah punya hari ulang tahun?”

“Yang itu dibikinbikin karena tak seorang pun, termasuk diriku sendiri, yang tahu kapan persisnya aku lahir. Hari ulang tahunku yang baru adalah 11 Juli. Itu akan jadi hari peringatan dan perayaan ekspedisi laut pertama Cheng Ho, yang berangkat pada 11 Juli 1405.”

Dalam mimpiku malam tadi, Antehai berubah menjadi Cheng Ho. Dia berpakaian dalam jubah istana Ming yang megah dan berlayar ke tengah laut lepas, menuju cakrawala jauh.

“…Dia memperkenalkan kekuatan dari dua generasi Kekaisaran Cina.” Suara Antehai membangunkanku. Namun, dia tengah terlelap dalam tidurnya.

Aku duduk dan menyalakan lilin. Aku menatap kasimku yang sedang tertidur, dan tibatiba merasa remuk saat pikiranku kembali ke Tung Chih. Aku ingin sekali pergi menemui anakku dan merangkulnya.

“Tuan Putri.” Antehai berbicara dengan mata terpejam. “Apa kautahu, armada Cheng Ho melibatkan lebih dari enam kapal besar? Krunya hampir mencapai tiga puluh ribu! Mereka punya satu kapal untuk mengangkut kudakuda, dan satu lagi mengangkut hanya air minum!“




7



NUHAROO MEMANGGILKU pada hari peringatan delapan tahun kematian suami kami. Setelah bertukar salam, dia memberitahukan niatnya untuk mengganti semua nama istana di Kota Terlarang. Dia memulainya dari istananya sendiri. Bukannya Istana Kedamaian dan Panjang Umur, nama barunya menjadi Istana Meditasi dan Perubahan. Nuharoo mengatakan bahwa guru fengshuinya menyarankan agar namanama istana yang ditinggali para wanita sebaiknya diganti sekali dalam sepuluh tahun untuk membuat arwaharwah yang ingin menghantui istana lama mereka jadi bingung.

Aku tak suka dengan ide itu, tetapi Nuharoo bukan tipe orang yang mau mengalah. Masalahnya adalah, jika kami mengubah nama istana, namanama yang turut menyertainya juga terpaksa diubah—gerbang istana, tamannya, jalan setapaknya, tempat tinggal pelayannya. Namun, dia terus saja melanjutkan rencananya. Kini, gerbang Nuharoo beralih nama menjadi Gerbang Renungan yang sebelumnya bernama Gerbang Angin yang Tenang. Tamannya sekarang berganti nama dari Keajaiban Alam Liar menjadi Kebangkitan Semi. Jalan setapaknya beralih nama dari Jalur Sinar Rembulan jadi Jalur Pikiran jernih.

Menurutku, namanama yang baru tidak semenarik yang lama. Nama lama untuk kolam Nuharoo adalah Riak Semi terdengar lebih bagus daripada nama barunya, Tetes Kebijakan Zen [Ajaran Buddha yang merupakan perpaduan dari bentuk Mahayana Buddha yang berkembang di India dengan filsafat Taoisme dari Cina. Zen menekankan renungan dan meditasi pribadi, daripada pembelajaran doktrin dan kitab]. Aku juga lebih suka Istana Penghimpunan daripada Istana Kehampaan Besar.

Selama berbulanbulan, Nuharoo menghabiskan waktunya memilih namanama itu. Lebih dari seratus papan dan plang nama diturunkan, dan plang dengan nama-nama baru dibuat dan dipasang. Serbukserbuk gergaji memenuhi udara saat tukang kayu menghaluskan papan nama. Nodanoda cat dan tinta tampak di manamana selagi Nuharoo menyuruh pelukis kaligrafi, yang gaya lukisnya tampak kurang sempurna di matanya, untuk mengulang karyanya.

Aku bertanya pada Nuharoo apakah pihak Istana telah menyetujui namanama baru ini. Dia menggeleng. “Akan butuh waktu lama untuk menjelaskan urgensi hal ini pada Dewan Istana, dan mereka tak akan menyukainya karena biaya yang harus dikeluarkan. Lebih baik aku tak merepotkan mereka.”

Dia mulai menyebutkan istana dengan namanama baru, seorang diri. Hal itu menimbulkan banyak kebingungan. Tak ada orang dalam departemendepartemen Kerajaan, yang biasa menerima perintah hanya dari Dewan Istana, diberi tahu. Tukang kebun menemui kesulitan besar mencari tahu di mana mereka seharusnya bekerja. Para pemikul tandu pergi ke tempat yang salah untuk mengantarjemput penumpangnya, dan Departemen Persediaan membuat kekacauan dengan mengirim barang ke alamat yang salah.

Nuharoo mengatakan bahwa dia telah membuat nama baru yang mengesankan untuk Istanaku. “Apa kausuka dengan 'Istana Tiada Bingung'?”

Namanya selama ini adalah Istana Musim Semi nan Panjang.

“Apa yang kauharap untuk kukatakan?”

“Katakan kau menyukainya, Putri Yehonala!” Dia memanggilku dengan gelar resmiku. “Itu adalah hasil kerja terbaikku. Kau harus menyukainya! Keinginanku adalah namanama baru ini akan menginspirasimu untuk mundur dari kesibukan duniamu, dan menemukan kesenangan yang lebih menenangkan.”

“Aku akan senang sekali jika bisa meletakkan jabatan mulai hari esok, jika saja aku bisa melupakan ancaman penggulingan kekuasaan.”

“Aku tak memintamu untuk menghentikan audiensi,” ucap Nuharoo, menepuk kedua pipinya dengan saputangan sutranya. “Lelaki bisa begitu licik dan perilaku mereka harus diawasi.”

Sungguh mengejutkanku mengetahui bahwa dia tidak sungguhsungguh saat menyuruhku untuk menyerahkan urusan pemerintahan pada para lelaki. Yang membuatku tak pernah habis pikir adalah melihat bagaimana dirinya bisa mencapai kekuasaan dengan menampakkan diri seolah tidak ingin berurusan sedikit pun dengannya.

Aku merasa lega mengetahui bahwa sebagian besar istana yang namanya diubah adalah area tinggal bagian dalam yang ditempati para selir. Karena tak ada catatan resmi tentang perubahan ini, semua orang kecuali Nuharoo, terus menyebut gedunggedung ini dengan nama lama mereka. Agar Nuharoo tak tersinggung, kata “lama” dilekatkan pada semua nama. Sebagai contoh, istanaku disebut Istana Musim Semi nan Panjang nan Lama.

Pada akhirnya, Nuharoo sendiri merasa lelah atas permainan ini. Dia akhirnya mengakui bahwa namanama baru itu membingungkan. Kasim rumahnya begitu kebingungan hingga mereka kehilangan arah sendiri saat berusaha menjalankan perintah. Nuharoo bermaksud mengirim kue bijiteratai padaku, tetapi kiriman itu berakhir di meja penjaga gerbang.

“Para kasim terlalu tolol,” ujar Nuharoo menyimpulkan. Dengan demikian, semuanya diubah kembali seperti semula, dan namanama baru itu segera terlupakan.


Antehai mengirim Li Lienying, yang sekarang merupakan murid kepercayaannya, untuk memijat kepalaku. Dengan pijatan yang lembut, aku merasa ketegangan tubuhku larut seperti lumpur dalam air. Aku memandang bayanganku di cermin dan menyadari bahwa keriput sudah merayapi kening mulusku. Kedua mataku memiliki kantong di bawahnya. Meski kecantikan wajahku tetap terpelihara, pancaran masa muda wajahku telah hilang.

Tak kuberi tahukan Antehai mengenai percakapanku dengan Tung Chih, tetapi sepertinya dia merasakannya. Dia mengirim Li Lienying untuk menjagaku pada malam hari dan memindahkan matras tidurnya ke luar kamar tidurku. Beberapa tahun kemudian, aku akan mengetahui bahwa kasimku telah mendapatkan ancaman dari putraku. Antehai diancam agar tak turut campur kalau tak ingin dihilangkan—yang artinya dibunuh. Untuk memastikan agar tak ada kasim yang menjadi akrab denganku, Antehai menggilir tugas pelayan kamarku. Butuh waktu cukup lama untukku menyadari maksudnya.

Di antara semua pelayanku, aku menyukai Li Lienying, yang telah melayaniku semenjak dirinya masih bocah kecil. Perangainya ramah dan memiliki kecakapan seperti Antehai, meski aku tak dapat berbincang leluasa dengannya sebagaimana dengan Antehai. Sebagai orang yang mahir melayani orang lain, Li Lienying adalah seorang yang terampil dengan tangannya, sementara Antehai adalah seorang seniman. Sebagai contoh, Antehai telah merancang berbagai cara untuk membawa Yung Lu memasuki pekarangan dalamku sekali waktu. Dia mengatur perbaikan jembatan dan genteng di sekitar istanaku sehingga pekerja dari luar harus dibawa masuk, yang akan dikawal oleh para pengawal kerajaan. Antehai meyakini rencananya akan memberi Yung Lu kesempatan untuk mengawasi. Rencana itu belum berhasil, tetapi Antehai terus berupaya mewujudkannya.

Li Lienying adalah kasim yang jauh lebih populer daripada Antehai. Dia memiliki kepandaian untuk menjalin pertemanan, kemampuan yang tak dimiliki oleh Antehai. Para pelayan tak pernah tahu kapan Antehai akan muncul menginspeksi pekerjaan mereka. Dan jika Antehai merasa tak puas, dia akan mencakmencak, berusaha “mendidik” mereka.

Rumor mulai berembus di kalangan para pelayan bahwa posisi Antehai sebagai kepala kasim akan segera digantikan oleh Li Lienying. Antehai terbakar rasa cemburu dan menduga Li telah merebut perhatianku. Suatu hari, Antehai menemukan satu alasan untuk menginterogasi Li. Saat Li protes, Antehai menyalahkan sikapnya yang dianggap tak sopan dan memerintahkan hukum cambuk padanya.

Untuk menunjukkan keadilan, aku juga memerintahkan hukum cambuk pada Antehai, menahan makanannya selama tiga hari, dan menempatkannya di ruang para kasim. Seminggu kemudian, aku pergi mengunjunginya. Dia sedang duduk di ruangan sempitnya, memeriksa lukalukanya. Ketika kutanyakan apa saja yang telah dia lakukan selama masa hukumannya, Antehai menunjukkan padaku sesuatu yang dia buat dari sisasisa kayu dan bahan kain.

Aku terkejut akan apa yang kulihat. “Sebuah kapal naga kecil!” Itu merupakan miniatur kapal, ditirukan dari salah satu armada Cheng Ho. Kapal itu tak lebih besar dari lengan Antehai, tetapi memiliki detail yang rumit, dengan layar, tiangtiang kapal, dan peti muatan yang sangat kecil.

“Suatu hari nanti aku ingin berlayar ke Selatan untuk melihat situs makam Cheng Ho di Nanking,” ujar Antehai. “Aku akan menghaturkan persembahan dan memohon pada arwahnya agar menerimaku sebagai murid dari jauh.”

Akhir musim panas 1869 sangat panas dan lembap. Aku harus mengganti pakaian dalamanku dua kali sehari. Jika aku tidak menggantinya, keringat akan melunturkan tinta celupnya ke jubah resmi kerajaanku. Karena Kota Terlarang hanya memiliki sedikit pohon, panas yang menerpa makin tak tertahan. Terpaan sinar terik matahari memanggang jalur setapak dari bebatuan. Setiap kali para kasim menuangkan air ke permukaan tanah, kami dapat mendengar bunyi desisan dan melihat uap air berwarna putih membubung ke udara.

Dewan Istana berusaha memendekkan waktu audiensi. Bongkahan es didatangkan, dan para tukang kayu membuat bangkubangku pengganti untuk menaruh bongkah es itu. Tamu yang dipanggil menghadap, yang mengenakan jubah resmi kerajaan yang tebal, akan menduduki tepat di atas es. Tengah hari, tumpahan air akan menggenang di bawah kursi. Hal itu membuatnya tampak seolah menteri-menteri itu mengompol.

Nuharoo mengenakan pakaian warna hijaulumutnya ketika dia memasuki Balairung Pemeliharaan Jiwa sewaktu masa reses audiensi. Para kasim mulai membuat kipas dari kayu untuk mendatangkan angin. Nuharoo kesal karena kipaskipas itu membuat bunyibunyi berisik, seperti suara jendela dan pintu terbanting.

Nuharoo duduk dengan anggunnya di kursi di depanku. Kami saling menatap pakaian, riasan wajah, dan tatanan rambut satu sama lain saat bertukar sapa. Aku benci mengenakan riasan wajah pada musim panas dan mengenakannya hanya tipistipis saja. Kuhirup teh dan berusaha menampilkan diri tertarik. Saat ini, aku sudah cukup kenal dengan Nuharoo hingga dapat memperkirakan bahwa undangan yang datang dari dirinya tak akan ada hubungannya dengan urusan penting negara. Pada masa lalu, Aku telah berusaha keras untuk mengajarkan sedikit padanya akan urusanurusan Istana. Namun, dia akan segera mengalihkan topik atau langsung mengabaikanku.

“Karena kau akan segera balik ke audiensi, aku akan sampaikan singkat saja.” Sembari tersenyum, Nuharoo menghirup tehnya. “Aku tengah berpikir tentang bagaimana orang yang telah mati akan senang mendengarkan orang hidup menangis pada hari arwah mereka kembali pulang. Bagaimana kita bisa tahu jika suami kita tidak menginginkan hal yang sama?”

Aku tak tahu maksud dari perkataannya, maka aku hanya menggumamkan masalah tumpukan kertas dokumen kerajaan yang tengah menggunung di atas mejaku. “Kenapa kita tak bisa membuat bayangan Surga untuk menyambut arwaharwah?” ujar Nuharoo. “Kita bisa mendandani para pelayan dalam kostum Dewi Bulan dan menempatkan mereka secara acak di atas kapal yang dihias di Sungai Kun Ming. Para kasim bisa bersembunyi di balik bukit dan di belakang paviliun, serta memainkan suling dan kecapi. Tidakkah Hsien Feng akan menyenanginya?”

“Aku takut itu akan mahal,” ujarku datar.

“Aku tahu kau akan berkata begitu!” Bibirnya mengerucut. “Pangeran Kung pasti penyebab suasana hatimu yang masam. Omongomong, aku sudah mulai memerintahkan dilangsungkannya pesta ini. Baik Dewan Istana punya uangnya atau tidak, Menteri Pendapatan akan bertanggung jawab untuk membayar perayaan mengenang kematian Kaisar. Ini hanya hal kecil.”

Di tengah audiensi, aku menyempatkan waktu mengurusi halhal yang dianggap oleh Pangeran Kung tak penting. Sebagai contoh, sebuah artikel merebut perhatianku. Artikel ini diterbitkan dalam Berita Terkini Istana, harian yang dibaca oleh sebagian besar pejabat pemerintah. Harian itu mencetak ulang esai pemenang pertama ujian pegawai kerajaan tahunan, berjudul “Penguasa yang Melebihi Kaisar Pertama Cina.”

Penulisnya memuji anakku habishabisan. Pilihan judulnya saja mengejutkan. Tulisan ini mengungkapkan padaku bahwa sesuatu yang tak sehat tengah berkembang di jantung pemerintahan sendiri.

Aku meminta diberikan daftar pemenang ujian dari para juri. Ketika daftar tersebut kuterima, kulingkari nama penulis itu dengan kuas tinta merah. Aku mencoretnya dari peringkat pertama dan mengirimkan kembali daftar itu,

Bukannya aku tak menyukai pujian, melainkan aku bisa membedakan antara pujian yang pantas diterima dan pujian yang ditujukan untuk menjilat. Sayangnya, orang-orang cenderung menerima berita yang disampaikan dari surat kabar begitu saja. Yang kucemaskan adalah jika aku gagal menghentikan kecenderungan memuji ini, rezim anakku pada akhirnya nanti, akan kehilangan kritik yang berharga.


“Aku belum mendengar kicauan burung merpati. Apa yang terjadi pada mereka?” Aku bertanya pada Antehai.

“Merpatimerpati itu telah pergi” jawab kasim. Meski gerakannya masih penuh gaya dan sikapnya tampak anggun, Antehai tampak gugup dan mata besarnya sudah kehilangan cahayanya. “Burungburung itu pasti memutuskan untuk menemukan rumah yang lebih ramah.”

“Apa itu karena kau telah mengabaikannya?”

Antehai diam. Lalu dia membungkuk. “Kubiarkan mereka pergi, Tuan Putri.”

“Mengapa?”

“Karena sangkarnya tak sesuai untuk mereka.”

“Sangkarsangkar mereka begitu luas! Rumah merpati kerajaan sama besarnya dengan kuil! Seberapa besar yang mereka butuhkan? Jika kaupikir mereka butuh ruangan lagi, minta saja pada tukang kayu untuk meluaskannya. Kau bahkan bisa menjadikannya dua tingkat, kalau kau mau. Buat jadi dua puluh sangkar, empat puluh sangkar, seratus sangkar!”

“Bukan ukurannya yang jadi masalah, Tuan Putri, atau jumlah sangkarnya itu sendiri.”

“Lalu apa yang jadi masalahnya?”

“Masalahnya adalah sangkar itu sendiri.”

“Itu tak pernah menjadi masalah buatmu sebelumnya.”

“Tapi sekarang ya.”

“Mustahil.”

Kasim itu menundukkan kepalanya. Setelah sejenak, dia bergumam, “Sangat menyakitkan terkungkung.”

“Merpati hanya binatang, Antehai! Imajinasimu mulai kacau.”

“Mungkin. Namun itu imajinasi yang sama dengan menganggap kegagalan sebagai kebahagiaan dan keagungan dalam hidupmu, Tuan Putri. Hal baiknya adalah, merpati tak sama seperti beo. Merpati bisa terbang bebas, sementara beo dirantai. Beo dipaksa untuk melayani, untuk menyenangkan orang dengan menirukan suarasuara manusia. Tuan Putri, kita juga telah kehilangan beo kita.”

“Yang mana?”

“Konfusius. “

“Bagaimana bisa?”

“Burung itu menolak mengatakan apa yang telah diajarinya. Ia telah bicara dengan bahasanya sendiri dan oleh karena itu, mesti dihukum. Kasim yang telah melatihnya telah berusaha sebisa mungkin. Dia telah mencoba berbagai trik yang dikenal berhasil pada masa lalu, termasuk melaparkan diri. Namun, Konfusius keras kepala dan tak mau mengucapkan satu patah kata pun. Ia mati kemarin.”

“Konfusius malang,“ Aku ingat burung yang cantik dan pandai itu, yang merupakan hadiah dari suamiku untukku. “Apa yang bisa kukatakan? Konfusius memang benar saat mengatakan bahwa manusia dilahirkan jahat.”

“Merpatimerpati itu beruntung,” ujar Antehai, menatap langit. “Jauh mereka terbang ke angkasa dan menghilang di balik awan. Aku tak menyesal telah membantu mereka membebaskan diri, Tuan Putri. Aku sesungguhnya merasa senang dengan apa yang telah kulakukan.“

“Bagaimana dengan pipa buluh yang kauikatkan pada kakikaki merpati itu? Apa kaubiarkan mereka membawa musik bersama mereka? Mereka akan diberikan makanan di bawah atap mana pun jika membawa musik.”

“Aku sudah singkirkan musik itu, Tuan Putri.”

“Semuanya?”

“Ya, semuanya.”

“Mengapa kau mau melakukan hal itu?”

“Bukankah mereka burungburung kerajaan, Tuan Putri? Tidakkah mereka berhak atas kebebasan?”


Pikiranku disibukkan oleh Tung Chih. Tiap menitnya aku ingin tahu di mana dia berada, apa yang sedang dia lakukan, dan apakah Tabib Sun Paotien berhasil mengobatinya. Kuperintahkan menu makanan Tung Chih diantarkan padaku karena aku tak yakin dia diberi makanan yang menyehatkan. Kukirim kasimkasim mengikuti temannya Tsaichen untuk memastikan bahwa kedua anak itu tetap tak berhubungan.

Aku merasa resah dan merasa terperangkap dalam kekuatan misterius yang mengatakan bahwa anakku tengah dalam bahaya. Baik Tung Chih maupun Tabib Sun Paotien menghindariku. Tung Chih bahkan menyibukkan diri dengan mengurusi dokumendokumen kerajaan agar aku meninggalkannya sendiri. Namun, kecemasanku tak juga hilang. Rasa itu bahkan berubah jadi ketakutan. Dalam mimpimimpi burukku, Tung Chih meminta pertolonganku dan aku tak mampu meraihnya.

Sebagai usaha untuk mengalihkan pikiran, aku memerintahkan pertunjukan opera ponpon dan mengundang kalangan dalam Istana untuk bergabung denganku. Semua orang terkejut karena opera ponpon dianggap sebagai hiburan orangorang kelasbawah. Aku sudah pernah melihat pertunjukan opera semacam itu di desa saat aku masih kecil. Setelah ayahku diturunkan pangkatnya, ibuku memanggil pertunjukan untuk menceriakan suasana hatinya. Aku ingat betapa aku sangat menikmatinya. Setelah tiba di Peking, aku ingin sekali menontonnya lagi, tetapi aku diberitahukan bahwa pertunjukan rendahan semacam itu dilarang di istana.

Anggota grup opera itu tak banyak, hanya dua wanita dan tiga pria, dan memiliki kostum lama dan properti yang menyedihkan. Mereka menemui kesulitan melewati gerbang karena pengawalnya tak memercayai bahwa aku telah memanggil mereka. Bahkan, Li Lienying tak bisa meyakinkan para pengawal, dan rombongan itu akhirnya baru diizinkan masuk setelah. Antehai muncul.

Sebelum pertunjukan, aku menyambut kepala rombongan secara pribadi. Dia seorang pria bertubuh kerempeng dengan mata rabun. Kuduga jubah yang dia kenakan adalah yang terbaik dimilikinya, tetapi itu pun dipenuhi dengan tambalan. Aku menyampaikan rasa terima kasihku atas kedatangannya dan menyuruh. para pelayan dapur untuk memberi mereka makan sebelum memulai pertunjukan.

Panggungnya sederhana. Tirai merah polos jadi latar belakangnya. Kepala grup duduk di atas bangku. Dia menyetem erhunya [Alat musik dengan dua senar yang dikenal sejak abad ke14 dan menjadi alat musik yang populer digunakan pada operaopera Cina pada abad ke19.], instrumen dengan dua senar, dan mulai memainkannya. Dia membuat suara yang mengingatkanku pada suara kain disobek. Musik itu terdengar seperti tangis kesedihan, tetapi anehnya ia terdengar lembut di telingaku.

Ketika sandiwara telah dimulai, aku melihat sekeliling dan menyadari hanya aku sendiri yang tinggal di kursi penonton selain Antehai dan Li Lienying. Semua orang diamdiam beranjak pergi. Alunan lagunya terdengar tak sama seperti ingatanku. Nadanya terdengar seperti suara angin bertiup tinggi ke angkasa. Jagat raya serasa disesaki oleh suarasuara kain sobek. Kubayangkan mungkin seperti inilah suara arwaharwah yang dikejar akan terdengar. Dalam benakku bisa kulihat lapangan bebatuan dan hutan-hutan cemara perlahanlahan tertutupi pasir.

Musik itu perlahan menghilang. Ketua grup merendahkan kepalanya ke atas dada seolaholah tertidur. Panggung pertunjukan hening. Kubayangkan Gerbang Surgawi membuka dan menutup dalam kegelapan.

Dua wanita dan seorang pria memasuki panggung. Mereka mengenakan blus biru besar. Masingmasing mereka membawa tongkat bambu dan genta Cina dari tembaga. Mereka mengelilingi ketua grup dan memukuli lonceng mereka sesuai dengan irama erhunya.

Seolah baru saja terbangun, lelaki itu mulai menyanyi. Lehernya memanjang seperti burung kalkun dan nada suaranya memekakkan telinga, seperti capung berderak di tengah musim panas yang paling menyengat:


Ada lobster tua

Yang hidup dalam lubang di bawah batu raksasa.

Ia keluar untuk melihat dunia

Dan ia pun kembali.

Kuangkat batu untuk menyapanya.

Semenjak aku melihatnya

Lobster itu menetap dalam lubangnya.


Hari demi hari,

Tahun demi tahun,

Perlahan


Terbungkus kegelapan dan genangan air,

MakhIuk yang penuh keyakinan

Tentunya lobster ini.


Ia mendengar suara bumi

Dan menyaksikan perubahannya.

Jamur di punggungnya mulai tumbuh

Menjadi rumput nan indah.


Memukul gentanya mengikuti alunan lagu, tiga orang lainnya bergabung menyanyi:


Oh lobster,

Tak kuketahui apa pun tentangmu.

Dari mana asalmu?

Di mana keluargamu?

Apa yang membuatmu pindah

dan bersembunyi dalam lubang ini?


Aku ingin anakku bisa tinggal untuk menyaksikan seluruh pertunjukannya.





8



AKU MEMULAI MEMBAcA Kisah Kehidupan Tiga Dinasti, sejarah Kaisar Cina pada masa setelah Dinasti Han, mencakup empat ratus tahun. Buku enam jilid itu setebal dan seberat batu bata. Buku ini hanya berisi catatancatatan kemenangan, satu kemenangan mengikuti yang lainnya seolah tiada akhir. Aku berharap bisa mengetahui keinginan para karakternya, tidak hanya petualangan militernya. Aku ingin tahu mengapa orangorang ini berperang, bagaimana setiap pahlawannya dibesarkan, dan peran apakah yang dimainkan ibunya.

Usai menuntaskan jilid pertama, kusimpulkan buku ini tak akan bisa memberi apa yang kucari. Aku bisa saja menyebut namanama dari semua karakter yang ada, tetapi aku tetap tak mengerti diri mereka sebenarnya. Puisi dan syair mengenai peperangan terkenal mereka sangat indah, tetapi aku tak dapat menangkap arti peperangan itu bagi mereka. Sangat tak masuk akal bagiku mengetahui orangorang akan berperang tanpa adanya alasan. Pada akhirnya, aku menenangkan diriku dengan berpikir bahwa aku akan aman—dan meraih halhal besar—selama aku bisa membedakan antara orangorang baik dan jahat. Pada masa lima puluh tahunku berkuasa di balik singgasana, akan kuketahui bahwa bukan itulah masalahnya. Sering kali rencanarencana terburuk ditampilkan oleh orang-orang terbaikku, dan dengan niatan paling baik sekalipun.

Aku belajar untuk lebih memercayai naluriku daripada penilaianku. Perspektif dan pengalamanku yang kurasa kurang membuatku jadi lebih awas dan berhati-hati. Sekali waktu, rasa ketidakamananku akan membuatku meragukan naluriku sendiri, yang mengakibatkan keputusankeputusan yang kelak kusesali. Sebagai contoh, kutahan persetujuanku ketika Pangeran Kung menyarankan agar kami menggunakan guru Inggris untuk mengajari Tung Chih tentang masalah dunia. Dewan Istana juga tak menyetujui ide itu. Aku setuju dengan para Penasihat Agung bahwa Tung Chih berada dalam usia yang rentan dan masih bisa dengan mudahnya dimanipulasi dan dipengaruhi.

“Paduka Yang Mulia harus memahami apa yang telah diderita bangsa Cina,” satu penasihat mendebat. “Kenyataan bahwa bangsa Inggris bertanggung jawab atas kejatuhan dinasti kita belum juga tertanam kuat dalam benak Tung Chih.” Yang lain menyetujuinya: “Mengizinkan Tung Chih dididik oleh Inggris sama artinya dengan pengkhianatan terhadap para leluhur kita.“

Kenangan akan kematian suamiku masih kuat dalam ingatan. Bau asap dari terbakarnya rumah kami—Taman Agung Bundar, Yuan Ming Yuan—belum juga hilang. Tak dapat kubayangkan putraku berbicara dalam bahasa Inggris dan berkawan dengan musuhmusuh ayahnya.

Setelah malammalam kulalui tanpa tidur, aku telah memutuskan. Kutolak proposal Pangeran Kung dan mengatakan padanya bahwa “Yang Mulia Kaisar Muda Tung Chih harus memahami dirinya sendiri terlebih dulu.”

Akan kuhabiskan sisa hidupku menyesali keputusanku kelak.

Jika Tung Chih telah belajar berkomunikasi dengan orangorang Inggris, atau pergi atau menuntut ilmu di luar, dia mungkin bisa menjadi kaisar yang berbeda. Dia mungkin akan terinspirasi oleh pencapaian mereka dan menyaksikan kepemimpinan mereka. Dia mungkin akan mengembangkan Cina yang lebih berpandangan ke depan, atau setidaknya tertarik untuk mencobanya.


Sore itu tak berawan ketika Nuharoo mengumumkan bahwa semua telah siap untuk pemilihan final calon mempelai bagi Tung Chih. Kuikuti saja kemauannya karena kupikir itulah yang seharusnya. Untuk memastikan dukungan dari Nuharoo di Istana, aku perlu menjaga hubungan baik dengannya. Aku merasa tak siap menyaksikan Tung Chih menikah; aku belum bisa menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi lelaki dewasa. Rasanya baru kemarin dia masih bayi yang kutimangtimang. Tak pernah kurasakan perih yang begitu menghunjam, mengingat masamasa kebersamaan dengan anakku pada saat kecilnya yang terampas.

Karena peraturan yang ditetapkan oleh Nuharoo dan juga jadwal Istanaku, aku nyaris tak pernah hadir dalam masa kanakkanak Tung Chih. Meski aku menyimpan bekas goresan di bingkai pintu yang menandai tinggi badan anakku yang terus tumbuh seiring tahun, aku tahu sebagian kegemaran atau pikirannya, tetapi dia sangat membenci liarapan yang kumiliki atas dirinya. Dia kesal jika aku bertanya padanya, bahkan salam yang kusampaikan tiap paginya membuat wajahnya merengut. Dia mengatakan pada semua orang bahwa Nuharoo lebih menyenangkan. Kenyataan bahwa aku dan dia saling bersaing untuk merebut kasih sayangnya makin memperburuk masalah. Bisa dimengerti mengapa Tung Chih tidak menaruh hormat padaku; aku sangat membutuhkan cintanya. Namun semakin aku memohon, semakin dia tak ingin bersamaku.

Kini, tibatiba, dia sudah tumbuh dewasa. Masaku untuk bisa berdekatan dengan dirinya telah habis.

Dengan senyum terkulum di wajahnya, Tung Chih memasuki balairung utama berpakaian serba emas. Tak seperti ayahnya dulu, dia akan turut berpartisipasi dalam pemilihan. Ribuan gadis cantik dari seluruh penjuru Cina dibawa memasuki gerbang Kota Terlarang untuk berjalan di hadapan Kaisar.

“Tung Chih tak pernah bisa bangun pagi, tetapi hari ini dia bangun sebelum para kasim,” Nuharoo memberi tahuku.

Aku tak yakin apa harus menganggapnya sebagai berita baik. Kunjungannya ke rumah bordil menghantuiku. Dengan bantuan Tabib Sun Paotien, penyakit Tung Chih tampak sudah terkendali. Namun, tak ada yang bisa memastikan bahwa penyakit itu tak akan kambuh lagi.

Tung Chih akan diberi kewenangan lebih besar untuk melakukan apa yang dia inginkan dalam kehidupan pribadinya kini, setelah dia secara resmi naik takhta. Baginya, pernikahan sama dengan kebebasan.

“Kebandelan Tung Chih disebabkan oleh kebosanannya,” ujar Nuharoo. “Kalau tidak, bagaimana kaubisa jelaskan tentang prestasi akademisnya?”

Aku sangsi guruguru Tung Chih mengatakan yang sebenarnya mengenai kemajuan akademisnya. Nuharoo akan segera memecat seorang guru jika dia berani melaporkan nilai buruknya. Aku berusaha menguji kejujuran guru-guru itu terhadap prestasi Tung Chih sebenarnya, dengan mengusulkan agar Tung Chih mengikuti ujian pegawai kerajaan. Ketika guru utama menjadi panik dan menghindari pembahasan topik itu, aku tahu kebenarannya.

“Tung Chih perlu diberi tanggung jawab agar jadi lebih matang,“ saran Pangeran Kung.

Aku merasa hanya itu satusatunya pilihan yang masuk akal. Namun, aku tetap saja merasa khawatir. Tung Chih naik takhta sama artinya aku menyerahkan kekuasaan. Meskipun selama ini aku selalu menantikan saatsaat pengunduran diriku, tetapi aku mencurigai bukan Tung Chihlah yang akan mengambil alih kekuasaanku sekarang, melainkan Dewan Istana dan Pangeran Kung.

Nuharoo juga bersemangat menantikan pengunduran diriku. Dia mengatakan bahwa dia sangat menantikan kebersamaanku: “Akan banyak sekali yang bisa kita lakukan bersama, terutama saat cucucucu kita nanti lahir.” Apa dia akan merasa lebih aman saat aku mundur dari jabatan? Ataukah dia memiliki niatan lain? Tung Chih sebagai pemegang kendali, berarti Nuharoo akan memiliki pengaruh lebih besar atas keputusankeputusan yang dia ambil. Bukankah sudah kuketahui selama ini bahwa Nuharoo sesungguhnya tak sama dengan apa yang dia tampilkan?

Aku putuskan untuk menyetujui proposal Dewan Istana, bukan karena aku percaya Tung Chih sudah siap, melainkan karena sudah saatnya baginya untuk mengendalikan hidupnya sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sun Tzu dalam bukunya Seni Peperangan, “Seseorang tak akan tahu caranya berperang sebelum dirinya benar-benar terjun dalam peperangan.”


Pada 25 Agustus 1872, pemilihan calon istri Kerajaan usai. Tung Chih belum genap tujuh belas tahun.

Nuharoo dan aku merayakan “masa bahagia pengunduran diri” kami. Kami akan disebut Ibu Suri Agung meskipun dia baru berusia tiga puluh tujuh dan aku hampir tiga puluh delapan.

Calon istri Kaisar terpilih adalah seorang gadis cantik delapan belas tahun bermata kucing bernama Alute. Dia adalah anak dari seorang pejabat Mongol yang merupakan relasi lama kerajaan. Ayah Alute adalah kerabat pangeran yang merupakan sepupu jauh suamiku.

Tung Chih beruntung memperoleh wanita seperti itu. Istana tak akan menyetujui pilihannya hanya semata karena kecantikannya. Alasan pihak kerajaan memilih Alute adalah karena pernikahan ini akan membantu memulihkan perselisihan antara pihak kekuasaan Manchu dan klan Mongol yang berkuasa.

“Meski Alute seorang Mongol, dia tak pernah diperbolehkan bermain di bawah sinar terik matahari atau menunggang kuda,” ujar Nuharoo bangga, mengingat Alute merupakan pilihannya. “Itu sebabnya kulitnya sangat cerah dan wajahnya begitu lembut.”

Aku tak terlalu terkesan dengan Alute. Dia sangat pemalu sampaisampai kukira bisu. Saat kami diberi kesempatan menghabiskan waktu bersama, perbincangan tak berjalan. Dia akan menyetujui apa pun yang kukatakan sehingga aku tak bisa mencari tahu kepribadiannya lebih mendalam. Nuharoo mengatakan aku terlalu muluk. “Selama menantu kita melakukan apa yang kita katakan, apa gunanya mengetahui pikirannya?”

Pilihanku jatuh pada seorang gadis tujuh belas tahun yang tampak penuh semangat, bernama Foocha. Meski wajahnya tak seeksotis Alute, Foocha juga sangat memenuhi kualifikasi. Dia memiliki bentuk wajah lonjong, bermata sipit melengkung ke atas, dan berkulit kecokelatan sedikit terbakar matahari. Dia seorang anak gubernur dan telah dididik sastra dan puisi secara pribadi, yang tak umum. Foocha tampak manis, tetapi penuh semangat. Saat Nuharoo dan aku menanyakan apa yang akan dia lakukan jika suaminya menghabiskan terlalu banyak waktu bermainmain dengannya dan mengabaikan urusanurusan negara, Foocha menjawab, “Aku tak tahu.”

“Dia seharusnya menjawab bahwa dia akan membujuk suaminya untuk mengerjakan tugasnya, bukannya mengejar kesenangan,“ Nuharoo mengambil sebatang pena dan meneoret nama Foocha dari daftar.

“Tetapi bukankah kejujuran yang memang kita cari?” debatku, meski mengetahui Nuharoo tak akan bisa diminta untuk mengubah pikirannya.

Tung Chih tampak tertarik pada Foocha, tetapi dia sungguh jatuh hati pada Alute.

Aku tak mendesak Tung Chih untuk memilih Foocha sebagai Permaisurinya. Foocha akan menjadi istri kedua Tung Chih.


Pernikahan Kerajaan direncanakan akan dilansungkan pada 16 Oktober. Persiapannya, terutama pembelian barangbarang dan materi upacara, mulai dilaksanakan di bawah pengawasan Nuharoo. Sebagai upaya membungkamku, Nuharoo mengizinkanku untuk memilih tema pernikahannya dan menyarankan agar Antehai diberi tanggung jawab memimpin tugas pembelian.

Ketika kukatakan pada kasimku akan keputusan Nuharoo ini, dia sangat senang. Namun kuperingatkan dia, “Ini akan jadi perjalanan jauh yang melelahkan dalam jangka waktu yang singkat. “

“Jangan khawatir, Tuan Putri. Akan kutaklukkan Kanal Besar.”

Aku tertarik pada ide Antehai. Kanal Besar merupakan hasil karya sejarah luar biasa yang menghampar sejauh delapan ratus mil, menghubungkan Tungchow di dekat ibu kota dengan Hangchow di Selatan.

“Seberapa jauh kau bersedia berlayar lewat kanal?” tanyaku.

“Hingga ke ujungnya, Hangchow,” jawab Antehai. “Ini akan membuat mimpi jadi kenyataan! Jumlah barang yang diminta untuk kubeli akan membutuhkan armada dengan beberapa kapal, mungkin sebesar armada Cheng Ho! Kepala kasim dari Dinasti Ch'ing yang Agung akan menjadi Pemimpin Pelayaran! Oh, tak dapat kubayangkan bagaimana perjalanan ini nantinya! Aku akan berhenti di Nanking untuk mencari sutra terbaik. Aku akan berziarah ke situs makam Cheng Ho. Tuan Putri, kau telah menjadikanku manusia paling bahagia di dunia!” Tak pernah kupikir kesayanganku tak akan pernah kembali.

Kejadian yang mengelilingi kematian Antehai tetap menjadi sebuah misteri. Tetapi jelas, itu merupakan pembalasan musuhmusuhku. Satusatunya pikiran yang menghiburku adalah bahwa saat itu Antehai betulbetul bahagia. Tak pernah kusadari betapa besarnya rasa sayangku padanya dan betapa aku sangat membutuhkannya, hingga saat dia telah pergi. Bertahuntahun berikutnya, aku berkesimpulan bahwa itu tak terlalu buruk untuknya. Meski dia memperoleh restuku dan memiliki kekayaan besar, dia sudah muak hidup dalam tubuh seorang kasim.




8



AKU MEMULAI MEMBAcA Kisah Kehidupan Tiga Dinasti, sejarah Kaisar Cina pada masa setelah Dinasti Han, mencakup empat ratus tahun. Buku enam jilid itu setebal dan seberat batu bata. Buku ini hanya berisi catatancatatan kemenangan, satu kemenangan mengikuti yang lainnya seolah tiada akhir. Aku berharap bisa mengetahui keinginan para karakternya, tidak hanya petualangan militernya. Aku ingin tahu mengapa orangorang ini berperang, bagaimana setiap pahlawannya dibesarkan, dan peran apakah yang dimainkan ibunya.

Usai menuntaskan jilid pertama, kusimpulkan buku ini tak akan bisa memberi apa yang kucari. Aku bisa saja menyebut namanama dari semua karakter yang ada, tetapi aku tetap tak mengerti diri mereka sebenarnya. Puisi dan syair mengenai peperangan terkenal mereka sangat indah, tetapi aku tak dapat menangkap arti peperangan itu bagi mereka. Sangat tak masuk akal bagiku mengetahui orangorang akan berperang tanpa adanya alasan. Pada akhirnya, aku menenangkan diriku dengan berpikir bahwa aku akan aman—dan meraih halhal besar—selama aku bisa membedakan antara orangorang baik dan jahat. Pada masa lima puluh tahunku berkuasa di balik singgasana, akan kuketahui bahwa bukan itulah masalahnya. Sering kali rencanarencana terburuk ditampilkan oleh orang-orang terbaikku, dan dengan niatan paling baik sekalipun.

Aku belajar untuk lebih memercayai naluriku daripada penilaianku. Perspektif dan pengalamanku yang kurasa kurang membuatku jadi lebih awas dan berhati-hati. Sekali waktu, rasa ketidakamananku akan membuatku meragukan naluriku sendiri, yang mengakibatkan keputusankeputusan yang kelak kusesali. Sebagai contoh, kutahan persetujuanku ketika Pangeran Kung menyarankan agar kami menggunakan guru Inggris untuk mengajari Tung Chih tentang masalah dunia. Dewan Istana juga tak menyetujui ide itu. Aku setuju dengan para Penasihat Agung bahwa Tung Chih berada dalam usia yang rentan dan masih bisa dengan mudahnya dimanipulasi dan dipengaruhi.

“Paduka Yang Mulia harus memahami apa yang telah diderita bangsa Cina,” satu penasihat mendebat. “Kenyataan bahwa bangsa Inggris bertanggung jawab atas kejatuhan dinasti kita belum juga tertanam kuat dalam benak Tung Chih.” Yang lain menyetujuinya: “Mengizinkan Tung Chih dididik oleh Inggris sama artinya dengan pengkhianatan terhadap para leluhur kita.“

Kenangan akan kematian suamiku masih kuat dalam ingatan. Bau asap dari terbakarnya rumah kami—Taman Agung Bundar, Yuan Ming Yuan—belum juga hilang. Tak dapat kubayangkan putraku berbicara dalam bahasa Inggris dan berkawan dengan musuhmusuh ayahnya.

Setelah malammalam kulalui tanpa tidur, aku telah memutuskan. Kutolak proposal Pangeran Kung dan mengatakan padanya bahwa “Yang Mulia Kaisar Muda Tung Chih harus memahami dirinya sendiri terlebih dulu.”

Akan kuhabiskan sisa hidupku menyesali keputusanku kelak.

Jika Tung Chih telah belajar berkomunikasi dengan orangorang Inggris, atau pergi atau menuntut ilmu di luar, dia mungkin bisa menjadi kaisar yang berbeda. Dia mungkin akan terinspirasi oleh pencapaian mereka dan menyaksikan kepemimpinan mereka. Dia mungkin akan mengembangkan Cina yang lebih berpandangan ke depan, atau setidaknya tertarik untuk mencobanya.


Sore itu tak berawan ketika Nuharoo mengumumkan bahwa semua telah siap untuk pemilihan final calon mempelai bagi Tung Chih. Kuikuti saja kemauannya karena kupikir itulah yang seharusnya. Untuk memastikan dukungan dari Nuharoo di Istana, aku perlu menjaga hubungan baik dengannya. Aku merasa tak siap menyaksikan Tung Chih menikah; aku belum bisa menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi lelaki dewasa. Rasanya baru kemarin dia masih bayi yang kutimangtimang. Tak pernah kurasakan perih yang begitu menghunjam, mengingat masamasa kebersamaan dengan anakku pada saat kecilnya yang terampas.

Karena peraturan yang ditetapkan oleh Nuharoo dan juga jadwal Istanaku, aku nyaris tak pernah hadir dalam masa kanakkanak Tung Chih. Meski aku menyimpan bekas goresan di bingkai pintu yang menandai tinggi badan anakku yang terus tumbuh seiring tahun, aku tahu sebagian kegemaran atau pikirannya, tetapi dia sangat membenci liarapan yang kumiliki atas dirinya. Dia kesal jika aku bertanya padanya, bahkan salam yang kusampaikan tiap paginya membuat wajahnya merengut. Dia mengatakan pada semua orang bahwa Nuharoo lebih menyenangkan. Kenyataan bahwa aku dan dia saling bersaing untuk merebut kasih sayangnya makin memperburuk masalah. Bisa dimengerti mengapa Tung Chih tidak menaruh hormat padaku; aku sangat membutuhkan cintanya. Namun semakin aku memohon, semakin dia tak ingin bersamaku.

Kini, tibatiba, dia sudah tumbuh dewasa. Masaku untuk bisa berdekatan dengan dirinya telah habis.

Dengan senyum terkulum di wajahnya, Tung Chih memasuki balairung utama berpakaian serba emas. Tak seperti ayahnya dulu, dia akan turut berpartisipasi dalam pemilihan. Ribuan gadis cantik dari seluruh penjuru Cina dibawa memasuki gerbang Kota Terlarang untuk berjalan di hadapan Kaisar.

“Tung Chih tak pernah bisa bangun pagi, tetapi hari ini dia bangun sebelum para kasim,” Nuharoo memberi tahuku.

Aku tak yakin apa harus menganggapnya sebagai berita baik. Kunjungannya ke rumah bordil menghantuiku. Dengan bantuan Tabib Sun Paotien, penyakit Tung Chih tampak sudah terkendali. Namun, tak ada yang bisa memastikan bahwa penyakit itu tak akan kambuh lagi.

Tung Chih akan diberi kewenangan lebih besar untuk melakukan apa yang dia inginkan dalam kehidupan pribadinya kini, setelah dia secara resmi naik takhta. Baginya, pernikahan sama dengan kebebasan.

“Kebandelan Tung Chih disebabkan oleh kebosanannya,” ujar Nuharoo. “Kalau tidak, bagaimana kaubisa jelaskan tentang prestasi akademisnya?”

Aku sangsi guruguru Tung Chih mengatakan yang sebenarnya mengenai kemajuan akademisnya. Nuharoo akan segera memecat seorang guru jika dia berani melaporkan nilai buruknya. Aku berusaha menguji kejujuran guru-guru itu terhadap prestasi Tung Chih sebenarnya, dengan mengusulkan agar Tung Chih mengikuti ujian pegawai kerajaan. Ketika guru utama menjadi panik dan menghindari pembahasan topik itu, aku tahu kebenarannya.

“Tung Chih perlu diberi tanggung jawab agar jadi lebih matang,“ saran Pangeran Kung.

Aku merasa hanya itu satusatunya pilihan yang masuk akal. Namun, aku tetap saja merasa khawatir. Tung Chih naik takhta sama artinya aku menyerahkan kekuasaan. Meskipun selama ini aku selalu menantikan saatsaat pengunduran diriku, tetapi aku mencurigai bukan Tung Chihlah yang akan mengambil alih kekuasaanku sekarang, melainkan Dewan Istana dan Pangeran Kung.

Nuharoo juga bersemangat menantikan pengunduran diriku. Dia mengatakan bahwa dia sangat menantikan kebersamaanku: “Akan banyak sekali yang bisa kita lakukan bersama, terutama saat cucucucu kita nanti lahir.” Apa dia akan merasa lebih aman saat aku mundur dari jabatan? Ataukah dia memiliki niatan lain? Tung Chih sebagai pemegang kendali, berarti Nuharoo akan memiliki pengaruh lebih besar atas keputusankeputusan yang dia ambil. Bukankah sudah kuketahui selama ini bahwa Nuharoo sesungguhnya tak sama dengan apa yang dia tampilkan?

Aku putuskan untuk menyetujui proposal Dewan Istana, bukan karena aku percaya Tung Chih sudah siap, melainkan karena sudah saatnya baginya untuk mengendalikan hidupnya sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sun Tzu dalam bukunya Seni Peperangan, “Seseorang tak akan tahu caranya berperang sebelum dirinya benar-benar terjun dalam peperangan.”


Pada 25 Agustus 1872, pemilihan calon istri Kerajaan usai. Tung Chih belum genap tujuh belas tahun.

Nuharoo dan aku merayakan “masa bahagia pengunduran diri” kami. Kami akan disebut Ibu Suri Agung meskipun dia baru berusia tiga puluh tujuh dan aku hampir tiga puluh delapan.

Calon istri Kaisar terpilih adalah seorang gadis cantik delapan belas tahun bermata kucing bernama Alute. Dia adalah anak dari seorang pejabat Mongol yang merupakan relasi lama kerajaan. Ayah Alute adalah kerabat pangeran yang merupakan sepupu jauh suamiku.

Tung Chih beruntung memperoleh wanita seperti itu. Istana tak akan menyetujui pilihannya hanya semata karena kecantikannya. Alasan pihak kerajaan memilih Alute adalah karena pernikahan ini akan membantu memulihkan perselisihan antara pihak kekuasaan Manchu dan klan Mongol yang berkuasa.

“Meski Alute seorang Mongol, dia tak pernah diperbolehkan bermain di bawah sinar terik matahari atau menunggang kuda,” ujar Nuharoo bangga, mengingat Alute merupakan pilihannya. “Itu sebabnya kulitnya sangat cerah dan wajahnya begitu lembut.”

Aku tak terlalu terkesan dengan Alute. Dia sangat pemalu sampaisampai kukira bisu. Saat kami diberi kesempatan menghabiskan waktu bersama, perbincangan tak berjalan. Dia akan menyetujui apa pun yang kukatakan sehingga aku tak bisa mencari tahu kepribadiannya lebih mendalam. Nuharoo mengatakan aku terlalu muluk. “Selama menantu kita melakukan apa yang kita katakan, apa gunanya mengetahui pikirannya?”

Pilihanku jatuh pada seorang gadis tujuh belas tahun yang tampak penuh semangat, bernama Foocha. Meski wajahnya tak seeksotis Alute, Foocha juga sangat memenuhi kualifikasi. Dia memiliki bentuk wajah lonjong, bermata sipit melengkung ke atas, dan berkulit kecokelatan sedikit terbakar matahari. Dia seorang anak gubernur dan telah dididik sastra dan puisi secara pribadi, yang tak umum. Foocha tampak manis, tetapi penuh semangat. Saat Nuharoo dan aku menanyakan apa yang akan dia lakukan jika suaminya menghabiskan terlalu banyak waktu bermainmain dengannya dan mengabaikan urusanurusan negara, Foocha menjawab, “Aku tak tahu.”

“Dia seharusnya menjawab bahwa dia akan membujuk suaminya untuk mengerjakan tugasnya, bukannya mengejar kesenangan,“ Nuharoo mengambil sebatang pena dan meneoret nama Foocha dari daftar.

“Tetapi bukankah kejujuran yang memang kita cari?” debatku, meski mengetahui Nuharoo tak akan bisa diminta untuk mengubah pikirannya.

Tung Chih tampak tertarik pada Foocha, tetapi dia sungguh jatuh hati pada Alute.

Aku tak mendesak Tung Chih untuk memilih Foocha sebagai Permaisurinya. Foocha akan menjadi istri kedua Tung Chih.


Pernikahan Kerajaan direncanakan akan dilansungkan pada 16 Oktober. Persiapannya, terutama pembelian barangbarang dan materi upacara, mulai dilaksanakan di bawah pengawasan Nuharoo. Sebagai upaya membungkamku, Nuharoo mengizinkanku untuk memilih tema pernikahannya dan menyarankan agar Antehai diberi tanggung jawab memimpin tugas pembelian.

Ketika kukatakan pada kasimku akan keputusan Nuharoo ini, dia sangat senang. Namun kuperingatkan dia, “Ini akan jadi perjalanan jauh yang melelahkan dalam jangka waktu yang singkat. “

“Jangan khawatir, Tuan Putri. Akan kutaklukkan Kanal Besar.”

Aku tertarik pada ide Antehai. Kanal Besar merupakan hasil karya sejarah luar biasa yang menghampar sejauh delapan ratus mil, menghubungkan Tungchow di dekat ibu kota dengan Hangchow di Selatan.

“Seberapa jauh kau bersedia berlayar lewat kanal?” tanyaku.

“Hingga ke ujungnya, Hangchow,” jawab Antehai. “Ini akan membuat mimpi jadi kenyataan! Jumlah barang yang diminta untuk kubeli akan membutuhkan armada dengan beberapa kapal, mungkin sebesar armada Cheng Ho! Kepala kasim dari Dinasti Ch'ing yang Agung akan menjadi Pemimpin Pelayaran! Oh, tak dapat kubayangkan bagaimana perjalanan ini nantinya! Aku akan berhenti di Nanking untuk mencari sutra terbaik. Aku akan berziarah ke situs makam Cheng Ho. Tuan Putri, kau telah menjadikanku manusia paling bahagia di dunia!” Tak pernah kupikir kesayanganku tak akan pernah kembali.

Kejadian yang mengelilingi kematian Antehai tetap menjadi sebuah misteri. Tetapi jelas, itu merupakan pembalasan musuhmusuhku. Satusatunya pikiran yang menghiburku adalah bahwa saat itu Antehai betulbetul bahagia. Tak pernah kusadari betapa besarnya rasa sayangku padanya dan betapa aku sangat membutuhkannya, hingga saat dia telah pergi. Bertahuntahun berikutnya, aku berkesimpulan bahwa itu tak terlalu buruk untuknya. Meski dia memperoleh restuku dan memiliki kekayaan besar, dia sudah muak hidup dalam tubuh seorang kasim.

 Sudah lewat dari tengah malam dan semua suara di pekarangan Kota Terlarang sudah lenyap. Kunyalakan lilin dengan harum bunga melati kesukaan Antehai, dan membacakan sebuah puisi yang kurangkai untuknya.


Betapa terangnya sungai dan Bukit Selatan,

Dengan padang merentang bagai benang emas.

Seberapa seringnya, dengan segelas arak di tangan, kau hadir di sini

Untuk membuat kita bertahan, meski bagai mabuk.

Di tengah Kolam Lili, begitu terang lampion baru dinyalakan,

Kau mainkan Alunan Air di kegelapan malam.

Ketika kukembali, embusan angin berhenti,

terang bulan membuka jalan

Bersama rerumputan hijau, sungai pun melambai.




10



USAI PERNIKAHAN TUNG CHIH, Nuharoo dan aku meminta ahli nujum untuk memilih tanggal yang dinilai membawa keberuntungan bagi Kaisar untuk menaiki takhta. Tanda perbintangan menunjukkan pada 23 Februari 1873. Meskipun Tung Chih sudah mulai mengerjakan tugastugas kerajaan, menduduki takhta belum dianggap sah hingga upacaraupacara seremonial yang panjang dan rumit selesai dilangsungkan. Upacara ini bisa memakan waktu berbulanbulan: seluruh anggota klan senior harus hadir, dan semuanya harus mengunjungi kuil-kuil leluhur mereka dan melakukan ritualritual persembahan di altar yang diwajibkan. Tung Chih harus memintakan izin pada para arwah leluhur dan memohonkan restu dan perlindungan mereka.

Tak lama setelah pentahbisannya sebagai Kaisar, Tsungli Yamen, Biro Urusan Luar Negri, menerima catatan dari para duta besar beberapa negara asing yang meminta diadakannya audiensi. Biro ini telah menerima permintaan semacam ini sebelumnya, tetapi pihak Istana selalu menjadikan usia Tung Chih yang masih muda sebagai alasan untuk tak mengabulkannya. Kini Tung Chih mengabulkan permintaan itu. Dengan bantuan Pangeran Kung, dia berlatih tata cara audiensi secara menyeluruh.

Pada 29 Juni 1873, anakku menerima duta besar Jepang, Inggris Raya, Prancis, Rusia, Amerika Serikat, dan Belanda. Para tamu berkumpul pada pukul sembilan pagi dan dibawa masuk ke Paviliun Sinar Ungu, sebuah bangunan besar yang berundakundak tempat Tung Chih duduk di atas kursi singgasana.

Aku merasa cemas karena itu adalah kali pertama anakku berhadapan dengan dunia. Aku tak tahu akan ditantang seperti apakah dia, dan berharap dia bisa meninggalkan kesan yang kuat. Kukatakan padanya bahwa Cina tak bisa lagi menanggung kesalahpahaman.

Aku tak akan menghadiri pertemuan itu, tetapi kukerjakan apa yang bisa kulakukan sebagai seorang Ibu: Kupastikan anakku mendapatkan sarapan yang baik dan menangani pakaiannya secermat mungkin—memeriksa kancingkancing pada jubah naganya, batu permata pada topinya, rendarenda pada hiasan bajunya. Setelah apa yang diperbuatnya pada Antehai, aku telah bersumpah untuk menahan rasa sayangku pada Tung Chih, tetapi aku tak sanggup menepati janjiku. Aku tak bisa tak mencintai anakku.


Beberapa hari kemudian, Pangeran Kung mengirimiku salinan publikasi asing bernama The Peking Gazette (Harian Gazette). Harian itu menunjukkan bahwa Tung Chih cukup sukses dalam audiensinya: “Para menteri mengakui bahwa kebajikan agung memancar dari diri Kaisar sehingga mereka merasa takut dan gemetar meski mereka tak menatap diri Kaisar Yang Mulia.”

Aku bisa mundur sekarang adalah pikiran yang saat itu melintas dalam benakku. Aku akan menyerahkan urusan-urusan istana pada orang lain, memberiku waktu untuk bisa mengejar kesenangan pribadi yang selama ini hanya bisa kuimpikan. Berkebun dan opera merupakan dua minatku yang ingin kukerjakan. Satu hal pasti, aku selalu ingin mencoba menanam sayuran. Keinginanku menanam tomat dan kol telah membuat Menteri Kerajaan bidang Pertamanan kerepotan, tetapi akan kucoba lagi. Opera selalu menjadi hiburan yang menyenangkan buatku, dan mungkin aku akan mengikuti pelajaran vokal agar aku bisa menyanyikan lagulagu kesukaanku. Dan tentu, aku memimpikan kehadiran cucu: dalam kunjungan khususku ke Alute dan Foocha, aku berjanji pada menantuku akan meningkatkan peringkat jika mereka berhasil mengandung. Aku rindu saatsaat membesarkan Tung Chih ketika bayi dan menginginkan sebuah kesempatan baru.

Ketika aku duduk mengerjakan lukisan untuk anakku, aku berusaha menggambar berbagai objek lukis berbeda. Selain bunga dan burung, aku juga melukis ikan di kolam, tupai bermain di pohon, rusa di tengah padang luas. Beberapa lukisan terbaikku kupilih untuk disulam. “Untuk cucucucuku,” kataku pada penjahit kerajaan.

Anakku ingin mulai memugar rumah tamanku yang lama, Yuan Ming Yuan, yang telah dibakar habis oleh bangsa asing sembilan tahun lalu. Jika saja aku tak mengkhawatirkan biayanya, aku akan sangat senang. “Yuan Ming Yuan adalah simbol kebanggaan dan kekuatan Cina,” anakku mendesak. “Ibu, ini akan jadi hadiah untuk ulang tahunmu yang keempat puluh dariku.”

Kukatakan padanya bahwa aku tak bisa menerima hadiah semacam itu, tetapi dia mengatakan akan menanggung biayanya.

“Dari mana dananya akan berasal?” tanyaku.

“Paman Pangeran Kung sudah menyumbang dua puluh ribu tael,” anakku menjawab penuh semangat. “Teman-teman, relasi, para menteri, dan pegawai lainnya diharapkan akan menyusul Ibu, untuk sekali ini saja, cobalah untuk menikmati hidup.“

Sudah sembilan tahun lamanya semenjak kali terakhirnya aku mengunjungi Yuan Ming Yuan. Tempat itu semakin dirusak oleh terpaan angin, cuaca, hewan perusak, dan pencuri. Rumput liar setinggi badan manusia menutupi seluruh area. Selagi berdiri di sisi pilarpilar batu yang rusak, aku dapat mendengar derak suara roda gerobak dan suara langkah kaki kasimkasim, dan teringat leembali akan hari ketika kami nyaris tak berhasil menyelamatkan diri dari serangan musuh yang kian mendekat.

Aku tak pernah menceritakan pada Tung Chih bahwa Yuan Ming Yuan adalah tempat dia dibesarkan dalam kandungan. Pada saat itu aku memiliki segalanya—Kaisar Hsien Feng hanya ingin menyenangkan hatiku. Meski begitu singkat, rasanya begitu nyata, dan masa itu datang pada saat aku benarbenar merasa putus asa. Telah kuhabiskan semua yang kupunya untuk menyogok Kepala Kasim Shim untuk menghabiskan satu malam bersama Kaisar. Ketika Hsien Feng mengejekku, nyaris kukorbankan nyawaku dengan berani menantangnya terangterangan.

Keterusterangankulah yang membuatnya menghormatiku, kemudian mengagumiku. Aku ingat suara lembut Hsien Feng memanggilku, “Anggrekku.” Aku ingat akan hasratnya yang tak habishabisnya terhadap diriku, dan juga hasratku terhadap dirinya. Kesenangan yang kami berdua rasakan. Tetes air mata bahagia kami. Kasimkasimnya sangat takut Kaisar akan menghilang pada tengah malam, sementara para kasimku menanti di gerbang untuk menyambutnya. Sebagai “putri malam”, aku memang harus selalu menyiapkan diriku layaknya sepiring hidangan yang disuguhkan pada Baginda Kaisar, tetapi Kaisar sendirilah yang menawarkan dirinya padaku. Dia sendiri merasa sangat gembira akan perasaan cintanya.

Di kemudian hari, ketika Hsien Feng menghabiskan waktunya dengan wanitawanita lain, rasanya aku sudah begitu dekat dengan kematian. Mustahil bagiku untuk terus hidup, tetapi aku tak dapat mengambil nyawaku sendiri karena Tung Chih tengah hidup dalam kandunganku.

Tempat pertama yang ingin dibangun kembali oleh Tung Chih adalah istana tempat dulu kuhabiskan banyak waktu bersama Hsien Feng. Aku berterima kasih pada Tung Chih dan bertanya bagaimana dia bisa tahu betapa istimewanya istana itu bagiku. “Ibu,” jawabnya sambil tersenyum, “Ketika Ibu diam tentang suatu hal, aku tahu hal itu adalah yang paling Ibu sayangi.”


Aku tak pernah meragukan niat Tung Chih. Aku tak tahu bahwa alasan utama anakku begitu bersemangat memugar Yuan Ming Yuan adalah untuk menjauhkanku darinya, agar dia dapat meneruskan kehidupan rahasianya yang nantinya akan menghancurkannya.

Para penasihat kerajaan mendorong keinginan Tung Chih karena mereka ingin aku mundur. Mereka benci menerima perintahperintahku dan menantikan saat mengurus negara tanpa campur tanganku. Dengan persetujuan dari mereka, Tung Chih memerintahkan pemugaran segera dimulai, bahkan sebelum dananya cukup terkumpul. Proyek ini sudah menemui masalah  sedari awal. Saat kepala pemasok kayu tertangkap dalam kasus penggelapan, pendanaan pun dihentikan. Proyek ini adalah awal dari mimpi buruk yang tak kunjung habis.

Pejabat lokal menulis surat keluhan ke Istana dan menuduh Tung Chih terlalu menuruti kerakusanku. Dia mengutarakan bahwa pemugaran Yuan Ming Yuan adalah bentuk penyalahgunaan dana negara. “Dinasti sebelum kami, Dinasti Ming, adalah salah satu dari enam belas penguasa Cina yang bertahan paling lama,“ ungkap pejabat itu. “Namun KaisarKaisar Ming yang datang belakangan menghamburhamburkan energi mereka pada kesenangan. Pada akhir abad ke16, Dinasti Ming telah jatuh koma, menanti untuk disingkirkan. Kas kosong, pungutan pajak mustahil, dan tandatanda tradisional dari ketidakbecusan pemerintah—banjir, kekeringan, dan kelaparantampak di manamana. Orangorang memindahkan kesetiaan mereka ke pemimpin baru karena Dinasti telah kehilangan mandat dari Langit.”

Pihak Istana tidak memerlukan pejabat rendah untuk mengingatkannya bahwa kondisi negara masih kacau akibat pemberontakan Taiping terbaru dan bahwa pemberontakan kaum Muslim di Barat belum juga berhasil dipadamkan. Walau demikian, Dewan Istana memprotes para pejabat yang “menghalangi bakti Kaisar sebagai seorang anak terhadap ibunya.” Tung Chih berkehendak merealisasikan keinginannya, tetapi setelah berjalan setahun dan setelah menanggung pengeluaran yang begitu besar, dia ditekan oleh Pangeran Kung untuk meninggalkan proyek tersebut.

Selama bertahuntahun, aku akan disalahkan atas segala sesuatu yang terjadi pada Yuan Ming Yuan, tetapi aku sudah tak berada pada posisi untuk menasihati Tung Chih—aku telah mundur secara resmi. Yang membingungkanku adalah sikap Pangeran Kung yang berubah pikiran. Dialah yang pertama mendukung pelaksanaan restorasi dengan memberikan donasi untuk memulai pemugaran, tetapi dia kini jadi salah seorang yang memohon kepada Tung Chih untuk membatalkan proyek tersebut.

Dengan mengamuk, Tung Chih menuduh pamannya telah menggunakan bahasa yang kasar, kemudian menurunkan pangkatnya. Nuharoolah yang membujuk Tung Chih untuk mengembalikan posisi pamannya beberapa minggu kemudian.

Aku tak mau turut campur karena aku merasa Tung Chih perlu belajar bagaimana menjadi seorang Kaisar. Terlalu mudah baginya untuk menyuruh orangorang di sekitarnya tanpa pernah merasakan kesusahannya.





11



PADA HARI YANG HANGAT di musim panas 1874, aku melihat kasimku Li Lienying memotong bunga bunga gardenia di tamanku. Dia memindahkan dan membuang kuncup bunga dan daun pinggirnya, kemudian memotong tangkainya menjadi sepanjang tiga inci, dengan hatihati memastikan potongannya di bawah awal tangkai. “Akar baru akan tumbuh dari sini,“ dia menjelaskan sambil memasukkan potongan bunga ke dalam suatu wadah. “Pada musim semi berikutnya, tanaman ini akan mulai bermekaran di taman.” Sebulan kemudian, potongan-potongan yang dilakukannya gagal menumbuhkan dedaunan baru.

Untuk menguji apakah akarnya tumbuh, Li Lienying pelanpelan mencabut setangkai. Dia tak merasakan perlawanan, yang menunjukkan bahwa akarakarnya tidak tumbuh kembali. Dia mengatakan pada dirinya sendiri untuk bersabar dan menunggu lagi selama beberapa hari. “Telah kulakukan hal ini selama bertahuntahun,“ ujarnya padaku. “Inilah caraku merawat tamantaman gardenia lama.” Namun, tanaman itu mulai layu dan pada akhirnya mati. Kasim tersebut percaya bahwa itu merupakan pertanda Langit mengenai 'hal buruk yang akan terjadi'”.

“Tak akan terjadi apaapa,” Penanggung jawab taman menenangkan Li. “Itu mungkin karena salah penangananmu. Mungkin airnya terkontaminasi oleh air kencing hewan atau ada serangga tersembunyi di balik lumut. Masalahnya, tanamantanaman ini mati karena terlalu banyak stres.”

Aku jadi berpikir tentang anakku. Selama ini dia tampak seperti tanaman hias dalam rumah, terlindungi hingga sekarang dari kekerasan dan ketidakpastian yang ada di taman luar.

Tung Chih menderita pilek yang tak kunjung sembuh selama berbulanbulan. Dia mulai menderita demam, dan saat musim gugur, tubuhnya sudah sangat lemah.

“Tung Chih perlu keluar rumah dan berolah raga,” saran Pangeran Kung.

Pamanpaman anakku yang lain, Pangeran Ts'eng dan Pangeran Ch'un, menduga kesenangan Tung Chih pada malam hari merupakan penyebab memburuknya kesehatannya. Ketika Tabib Sun Paotien meminta diadakannya pertemuan untuk membahas kondisi kesehatan Tung Chih sebenarnya, permintaannya ditolak.

Aku tak sanggup melihat Tung Chih terbaring di atas ranjangnya. Itu mengingatkanku pada harihari ketika ayahnya sekarat. Aku memanggil Alute dan Foocha serta istriistrinya yang lain dan bertanya pada mereka, selagi mereka bersimpuh di hadapanku, jika mereka mengetahui apa yang tengah terjadi pada suami mereka.

Pengakuan mereka mengejutkanku. Tung Chih tak pernah berhenti mengunjungi rumahrumah bordil. “Yang Mulia Kaisar lebih memilih bungabunga di tempat liar,” keluh Foocha. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/

Alute tak mau menjawab pertanyaanku. Kujelaskan bahwa aku tak bermaksud turut campur atau menyinggungnya, dan bahwa aku tak tertarik mengusik kehidupan pribadinya.

Dengan alis bertaut membentuk dua pedang, Alute mengatakan bahwa sebagai Permaisuri Cina, dia mempunyai hak untuk tak menjawab. “Ini antara Tung Chih dan aku,” ungkapnya keras kepala. Kulit putihnya yang lembut bagai porselen berubah jadi merah jambu.

Aku berusaha tak menunjukkan kejengkelanku. Kukatakan padanya bahwa aku hanya bermaksud membantu.

“Aku tak meragukan niatmu,” ujar Alute padaku. “Hanya saja ... aku tak merasa lebih rendah dalam status.”

Aku bingung. “Apa yang kaubicarakan? Siapa yang membuatmu merasa 'lebih rendah dalam status'?”

Alute mengangguk ke arah istriistri yang lain. “Semua orang di sini takut mengungkapkan pikirannya di hadapanmu, tetapi aku akan melakukannya. IbuSuri, Tung Chih merupakan tanggung jawabmu, bukan kami.”

Aku merasa tersinggung. “Alute, kau tak punya hak berbicara atas nama yang lain.”

“Aku akan bicara atas namaku sendiri, kalau begitu. Sebagai ibu dari Kaisar, pernahkah kautanyakan pada putramu ada masalah apa dengan dirinya?”

“Aku tak akan mendatangimu untuk meminta bantuan jika aku bisa bicara sendiri padanya.”

“Pasti ada alasan kenapa dia meninggalkan Kota Terlarang untuk mendatangi rumah pelacuran.”

“Kau sedang marah, Alute. Kau benarbenar berpikir itu salahku?”

“Ya.”

“Sebutkan faktanya, Alute.”

Gadis itu menggigit bibirnya, kemudian berkata,

“Kaisar Tung Chih baikbaik saja denganku, sampai saat kausuruh dirinya untuk mendatangi Foocha. Kau tak bisa terima jika dia memiliki anak denganku, bukannya dengan Foocha. Itu sebabnya Tung Chih jadi muak pada kami semua karena dia muak padamu!”

Yang dikatakan Alute mungkin ada benarnya, tetapi aku tak terima atas kekasarannya. “Alute, beraninya kau! Kau tak punya hak untuk bersikap begitu kasar padaku.”

“Tetapi anak dalam perutku punya!”

Aku terkejut. Kuminta Alute mengulang perkataannya barusan.

“Aku hamil!“ ungkapnya bangga.

“Oh, Alute!” Aku sangat gembira. “Kenapa tak kauberi tahu aku? Selamat! Bangkit! Bangkit! Yah, aku harus membagi kabar gembira ini dengan Nuharoo! Kami akan mempunyai cucu!”

“Belum tentu, Yang Mulia.” Alute menghentikanku.

“Sampai Tung Chih kembali padaku, aku tak yakin punya kekuatan untuk meneruskan kehamilanku.”

“Tung Chih sedang…” Kucoba menemukan katakata yang tepat untuk menenangkannya. “Memang menyakitkan mengetahui dia bersama wanitawanita lain. Percayalah padaku, Alute, aku tahu bagaimana rasanya.”

“Aku benci apa yang kaukatakan.” Alute mulai menangis.

“Yah,” ucapku, merasa bersalah, “bersyukurlah kau memiliki anak dari Tung Chih.”

“Bukan keputusanmu atau aku, untuk menentukan apakah anak ini akan lahir ke dunia. Tubuhku dan jiwaku begitu sakit, hingga bisa kurasakan dia mencari pembalasan. Aku takut sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi.”

“Adalah kehendak Langit memberikanmu anak, Alute. Benih naga akan bertahan, bagaimanapun caranya, “

Tanpa meminta izin, Alute berjalan ke jendela dan berdiri dengan punggung membelakangiku. Di luar, pohonpohon eik besar tampak gundul.

“Kacangkacang eik sudah jatuh di manamana,“ ujar Alute, menggelenggelengkan kepalanya. “Susah untuk berjalan tanpa menginjaknya. Ini pertanda buruk. Apa yang harus kulakukan? Aku tak siap menghadapi penderitaan.“

“Alute,” ucapku lembut, “aku yakin tak ada yang salah. Kau hanya lelah, itu saja.”

Dia tak mengacuhkanku, terus menatap jendela. Suaranya terdengar lemah dan jauh. “Semakin keras suaranya. Aku dengar suara kacangkacang berjatuhan dan pecah di tanah siang dan malam.”

Kutatap punggung menantuku dari belakang. Rambut hitam lurusnya dikepang rumit dan diikat pada sebilah papan. Jepit rambut bunga merah jambu dengan taburan permatanya berkilat di tengah cahaya. Tibatiba kupahami mengapa dia merupakan pilihan pertama Tung Chih: sama seperti dirinya, Alute punya pikirannya sendiri.


Pada pagi awal musim dingin, Tabib Sun Paotien mengumumkan bahwa putraku tak akan bertahan hidup.

Aku gemetar di depan tabib seperti anak pohon diterpa badai. Mata dalam benakku melihat lampionlampion merah melayang turun dari langitlangit.

Aku berusaha memahami perkataan tabib, tetapi tak bisa. Dia menjelaskan tentang kondisi Tung Chih, tetapi terdengar seperti dia sedang berbicara dalam bahasa asing. Kemudian aku pasti jatuh pingsan. Saat sadar, Li Lienying berada di hadapanku. Dia mengikuti instruksi dari tabib, menekan ibu jarinya di antara hidung dan atas bibirku. Aku berusaha mendorongnya pergi, tetapi aku tak punya kekuatan.

“Tung Chih telah dikunjungi oleh bungabunga surga…” aku akhirnya mendengarnya bicara.

“Katakan pada Tabib Sun Paotien”—aku menarik napas dan menangis—“kalau ada kesalahan, aku tak akan segan menghukumnya!”

Usai makan siang, Tabib datang lagi. Sembari berlutut, dia mulai membacakan laporannya. “Kondisi kesehatan Baginda Yang Mulia sangat sulit. Aku tak bisa memastikan penyakit apa yang menyerangnya terlebih dulu, cacar atau penyakit kelamin. Bagaimanapun, kondisinya parah, dan di luar kemampuanku untuk menyembuhkan, bahkan mengendalikannya.”

Tabib mengakui bahwa sulit baginya mengungkapkan kenyataan sebenarnya. Tim medisnya telah dituduh membhawa kesialan pada Kaisar. Semua orang berusaha menutupnutupi kondisi Tung Chih.

Aku meminta maaf pada Tabib dan berjanji akan mengendalikan emosiku.

Sebuah upaya dilakukan untuk menstabilkan kondisi Tung Chih. Pada Desember 1874, lukaluka pada tubuhnya mengering dan demamnya mereda. Kalangan Istana merayakan tandatanda pemulihan. Tetapi itu terlalu prematur. Beberapa hari kemudian, demam Tung Chih kembali, dan kali ini terus bertahan.

Aku tak bisa mengingat bagaimana kuhabiskan hari-hariku. Hanya satu hal yang bisa kupikirkan: menyelamatkan anakku. Aku menolak memercayai bahwa Tung Chih akan meninggal. Sun Paotien menyarankan agar aku mencari pendapat kedua dari para dokter Barat. “Mereka punya alatalat untuk mengambil cairan tubuh dan contoh darah Baginda Kaisar,” bisiknya, menyadari tak semestinya dia memberikan saran itu. “Akan tetapi, kuragukan hasil diagnosis mereka akan berbeda.”

Dewan Istana menolak permintaanku atas kehadiran dokter Barat, cemas jika orangorang asing itu akan mengambil keuntungan dari kondisi Tung Chih dan melIihat kesempatan untuk melancarkan serangan.


Aku berbaring di isi anakku yang tengah demam. Kudengar napas beratnya turunnaik. Pipinya terbakar. Pada saatsaat sadar, dia akan merintih dan mengerang dengan suara lemah.

Tung Chih meminta agar Nuharoo dan aku meneruskan tugas perwallan. Aku menolak pada awalnya karena aku tahu tak akan sanggup memusatkan pikiran pada urusanurusan Istana. Namun, Tung Chih memaksa. Ketika kubacakan dekritnya pada negara, kusadari arti bantuanku untuknya.

Tulisan tangan dengan tinta pada kertas nasi merupakan kaligrafi terakhir yang ditulis anakku. Di atas segalanya, aku paling sedih memikirkan cucuku tak akan pernah melihat cara ayahnya memegang pena kuasnya.

“Aku memohon pada dua Permaisuri untuk mengasihani bangsaku dan mengizinkanku untuk mengurus diri sendiri,” isi dekrit Tung Chih. “Dengan mengurusi kepentingan negara untuk sementara, kedua Permaisuri akan menunjukkan besarnya kebaikan mereka padaku, dan akan kuhaturkan pada mereka rasa terima kasihku yang tak terkira.”

Setiap hari usai audiensi, aku pergi duduk di sisi Tung Chih. Aku bicara dengan Tabib Sun Paotien dan para pelayan Tung Chih. Kuperiksa lukaluka bernanah yang muncul di kulit anakku dan berharap lukaluka itu ada di tubuhku. Aku memohon ampunan Langit dan berdoa: “Tolong jangan bersikap terlalu kejam pada seorang Ibu.” Kuperintahkan agar tak ada seorang pun yang boleh mengganggu istirahat Tung Chih, tetapi Tabib menyarankan agar aku membiarkan anakku bertemu dengan siapa pun yang diinginkannya. “Baginda Yang Mulia mungkin tak akan punya kesempatan lagi.”

Aku menyetujuinya. Namun, aku tetap duduk di sisi anakku dan memastikan tak ada yang akan melelahkannya. Alute menolak datang ketika Tung Chih memanggilnya. Dia berkata bahwa dia tak akan memasuki ruangan jika aku berada di sana.

Aku mengalah.


Pukul dua pagi, anakku membuka matanya. Meski kedua pipinya masih hangat, semangatnya tampak baik. Dia memintaku duduk di sisinya. Kubantu dia menegakkan sandaran kepalanya. Aku memintanya membiarkanku menyuapinya dengan bubur. Dia menggeleng.

“Mari kita bersenangsenang berdua sebelum aku mati.” Dia mengulas senyum lebar.

Aku menangis dan mengatakan padanya bahwa aku tak tahu kesenangan seperti apa yang sedang dia bicarakan. Bagiku, kesenanganku akan langsung berakhir jika dia meninggal.

Tung Chih menggenggam tanganku dan meremasnya. “Aku rindu pada bulan,” ujarnya. “Apa Ibu mau membantuku keluar ke pekarangan?”

Kubungkus pundaknya dengan selimut dan membantunya bangkit dari ranjangnya. Berpakaian saja sudah membuatnya kepayahan, dan tak lama, dia kehabisan napas.

Dengan lengannya di kedua bahuku, dia berjalan menuju pekarangan.

“Malam yang indah,” desahnya.

“Terlalu dingin, Tung Chih!” ujarku. “Mari kita kembali ke dalam.”

“Sebentar saja, Ibu. Aku sedang menikmatinya.”

Dengan sinar rembulan di belakang, pepohonan dan semaksemak tampak bagai potonganpotongan kertas berwarna hitam.

Kutatap anakku, dan tangisku meledak. Cahaya bulan menerangi wajahnya, membuatnya tampak bagai pahatan batu.

“Ibu, ingatkah kau ketika berusaha mengajariku puisi? Aku benarbenar payah.”

“Ya, tentu saja. Pelajaran itu terlalu berat buatmu. Itu terlalu berat bagi anak mana pun.”

“Sebenarnya adalah karena aku tak terinspirasi. Guruguruku mengatakan padaku bahwa aku harus merasakannya terlebih dulu, kemudian menjelaskannya.” Tung Chih tertawa lemah. “Dulu aku menulis, tetapi tak merasakan apaapa. Percaya atau tidak, semenjak harihariku hampir habis, aku begitu penuh dengan inspirasi.”

“Hentikan, Tung Chih.”

“Ibu, aku punya sebuah puisi untukmu, di sini.” Dia menunjuk ke kepalanya. “Boleh aku membacakannya?”

“Aku tak mau mendengarnya.”

“Ibu, kau akan menyukainya. Puisi ini berjudul 'Untuk yang Tercinta...’”

“Tidak, aku tak mau dengar.”

Dengan suara pelan, Tung Chih memulai:


Berpisah, tetapi untuk perjalanan pulang

Dalam mimpimimpi yang melekat

Sepanjang lorong berhias dan birai berkelok,

Di pekarangan, hanya bulan musim semi

yang menerangi penuh simpati,

Karena bagi kami yang berpisah,

kelak tetap bersinar saat gugurnya bungabunga.





Baca Kelanjutannya....




Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified