Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Last Empress Part 10


43



SEBAGAIMANA DILAKUKAN Dewan Istana suamiku empat puluh tahun sebelumnya, kami sedang menuju Tanah Air Manchu yang aman. Setelah berada dalam pelarian selama lebih dari enam bulan, kami tiba di ibu kota lama dari Sian. Rencana awal adalah untuk melintasi Tembok Besar, tetapi kami terpaksa mengubah rute saat Rusia menyerbu dari Utara dan mulai mencaplok Manchuria. Kami beralih ke Barat Daya, tempat kami berharap barisan pegunungan akan membentengi kami.

Aku memiliki sedikit kenangan akan lanskap yang kami lewati atau keindahan dari ibu kota kuno. Aku begitu jengkel oleh masalahmasalah yang kecil yang mengganggu. Tandutandu tidak dibuat untuk perjalanan jauh. Tanduku sudah mulai rusak dari awal perjalanan. Selain memperbaiki atap yang bocor, Li Lienying harus membenahi kerusakan lainnya terusmenerus. Begitu mendengar bunyi decitan, dia tahu di mana letak masalahnya. Karena tidak punya peralatan atau perlengkapan cadangan, dia harus memanfaatkan sebaik mungkin apa pun yang bisa dia temukan di sepanjang perjalanan—dahan bambu, seutas tali berjumbai, sebuah batu untuk memukul sesuatu ke tempatnya.

Ketika tanduku akhirnya roboh, para penandu mengangkutku dengan kursitandu tanpa atap. Itu juga tak berlangsung lama: Aku terpaksa berjalan, hingga kursinya selesai diperbaiki. Dan sepatusepatu kami rusak dengan cepat sebelum sempat menggantinya. Tentu saja tak mungkin membeli sepasang sepatu baru. Pada akhir perjalanan, sebagian besar dari kami terpaksa berjalan telanjangkaki. Kami mendapatkan lukaluka di tumit kami yang terkadang jadi infeksi—beberapa penandu meninggal karenanya.

Guanghsu dan aku bergantian menunggangi keledai yang tampak begitu menyedihkan. Ada harihari ketika Li Lienying tak bisa menemukan apa pun untuk memberi makan hewan itu dan dia terusmenerus terjatuh.

Minum air menjadi masalah lain. Setelah perjalanan sepanjang lima ratus mil, kami tiba di ibu kota Provinsi Taiyuan. Sumursumur di desa terdekat telah diracun oleh Boxers yang bertekad “meninggalkan kaum barbar itu hanya tanah tandus”.

Kaisar dan aku terserang luka lepuh di sekitar mulut akibat serangan virus. Dan kami telah kehabisan obat-obatan. Sangat konyol mendengar nasihat tabib untuk menyeimbangkan asupan makan saat kami nyaris tak bisa menemukan makanan. Kami sudah begitu terbiasa tak memiliki meja dan kursi; kami makan dengan berjongkok dan tak lagi merasa terganggu oleh serangan kutu.

Saat musim gugur tiba, udara jadi begitu dingin pada malam hari. Guanghsu dan aku terserang batuk seratus hari dan kehilangan suara kami. Kami selalu berusaha makan tiap hari, tetapi sering pula harihari kami lalui tanpa makan sama sekali. Kaisar membantu mengubur beberapa kasim yang dia sukai. Untuk kali pertama, anakku menumbuhkan rasa belas kasih pada orangorang di bawahnya. Perjalanan yang keras telah mengguncangnya sekaligus mendidiknya. Meskipun kesehatannya tidak baik, kondisi mentalnya tampak membaik. Dia mencatat apa yang dia lihat di jalan dan terus sibuk menulis dalam jurnalnya.

Li Lienying jadi panik ketika persediaan makan dan minum kami habis. Gubernur Shantung, Yuan Shihkai-lah, datang pada waktunya dengan membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Anakku berbicara dengan lelaki yang dulu disebutnya pengkhianat sejak reformasinya gagal. Meskipun dia tak akan melupakan Yuan Shihkai atas pengkhianatan terhadap dirinya, Guanghsu menunjukkan rasa terima kasihnya. Kami menyantap sup biji teratai yang sedap dan kue dadar ayambawang hingga perut kami penuh, sampaisampai kami harus membaringkan punggung kami hanya untuk bernapas.


Pada 1 Oktober, kami meninggalkan Taiyuan menuju Tung-kuan. Mengarah ke barat yang seharusnya tinggal seratus sepuluh kilometer lagi, kami berjalan melewati Provinsi Shanhsi untuk tiba di Sian, negara bagian Muslim yang masih dikuasai oleh loyalis Jenderal Tung. Walau Dewan Istana meyakini bahwa kami pasti bisa mengatasi mereka, Kaisar dan aku jadi mencurigai para Pengawal Kerajaannya—orangorang yang hanya mengakui kekuasaan jenderal Tung.

Sisir giokku hilang. Li Lienying, yang biasa membawanya, memercayai sisir itu dicuri saat dia sedang tidur. Dia mengutuki dan bersumpah akan menangkap pencurinya. Kukatakan padanya aku tak keberatan meminjam sisir orang lain, tetapi Li Lienying menolaknya: “Aku tak mau kau akhirnya mendapatkan telurtelur kutu dari orang lain.”

Saat kami tiba di Tungkuan, aku menerima telegram dari Li Hungchang yang melaporkan bahwa proses negosiasi menemui jalan buntu. “Pihak Sekutu meminta kita menuniukkan bukti hukuman yang dijatuhkan,” tulis Li.

Aku diharapkan menyerahkan Jenderal Tung dan Pangeran Ts'eng. Ebook by : Hendri Kho by Dewi KZ  http://kangzusi.com/ Aku tak pernah merasa dipermainkan seperti ini. Betapapun aku mencari alasan yang tepat, aku akan menakhianati rakyatku sendiri.

Baru saat Yung Lu tiba, Jenderal Tung menuruti perintah Kaisar untuk mengurangi kekuatan pasukannya sejumlah lima ribu personel. Dia menarik mundur pasukannya dengan kejauhan sebagaimana yang diminta Sekutu, ke luar Kota Peking, yang artinya kelemahan lagi di pihak kami.

Li Hungchang mengirim transkrip dari negosiasi hari itu sebagai jawaban atas keluhanku atas tuntutan pihak asing:


SEKUTU:          Tidakkah orangorang seperti Pangeran Ts'eng dan orangorang TopiBesinya pantas mendapatkan hukuman mati?

LI:         Mereka tak berhasil meraih tujuannya.

SEKUTU:          Enam puluh orang terbunuh dan seratus enam puluh terluka di kedutaan.

LI:         Jumlah kematian orangorang TopiBesi, Boxers, dan warga sipil Cina mencapai ribuan.

SEKUTU:          Apa yang akan kaulakukan jika Pangeran Wales dan sepupusepupu Ratu telah menyerang menteri Cina di London?

LI:         TopiBesi bukanlah orangorang pandai.


Di bawah tekanan Li Hungchang, pada 13 November, kukeluarkan dekrit yang mengumumkan hukuman. Pangeran Ts'eng Junior dan saudarasaudaranya dipenjara seumurhidup di Mukelen, dekat Manchuria. Sepupu-sepupunya akan ditempatkan dalam tahanan rumah atau mendapatkan penurunan jabatan dan akan kehilangan seluruh hak istimewa mereka. Hukuman bagi mantan Gubernur Shantung diabaikan karena dia telah meninggal. Gubernurgubernur lain yang gagal melindungi para misionaris Kristen akan dibuang seumur hidup, diasingkan ke perbatasan terpencil di Turkistan, dan dihukum kerja paksa. Tuan Pedang Merah dan dua pemimpin lainnya, yang merupakan kerabat jauh kerajaan, akan dieksekusi. Pihak Sekutu menganggap hukuman itu tidak cukup.

Mereka menyebut bahwa apa yang baru terjadi di Cina, “tak pernah ditemui dalam sejarah manusia, kejahatan melawan hukumhukum negara, melawan hukumhukum kemanusiaan, dan melawan peradaban.”

Aku tak punya pilihan lain selain mengeluarkan dekrit lain yang menjatuhkan hukuman lebih keras. Aku gagal memuaskan Sekutu sekali lagi karena katakataku tak mereka percayai—dan aku jelas akan mencari jalan untuk membantu para kriminal itu menghindari hukuman.

Demi membuktikan diriku sendiri, aku mengundang media massa asing untuk menyaksikan sebuah eksekusi terbuka yang akan diadakan di pasar sayur di Jalan Penjual Hijau di pusat Kota Peking.

Penduduk lokal menderita rasa malu luar biasa saat orangorang asing yang tinggi, berhidung mancung, dan berambut pirang datang dengan kamera potret mereka. “Mustahil mengetahui berapa besar upah yang dibayar bagi para algojo itu,” George Morrison dari harian Times menulis tentang kejadian itu. “Dua alas ditaruh. Ada keramaian besar, beragam wartawan, dan juru potret yang sibuk mengambil foto. Jarang terjadi sebuah eksekusi disaksikan oleh begitu banyak kebangsaan .... Satu tebas untuk tiap kasusnya sudah mencukupi.”

Para wartawan bersorak saat batok kepala menggelinding.

Aku merasa sangat malu.

Atas permintaan Sekutu, kuperintahkan eksekusi dari sepuluh tambahan pemimpin Boxers. Kecuali dua pemenggalan yang diadakan secara terbuka, sisanya kuberikan kesempatan bunuhdiri secara terhormat.

Anggota keluarga datang memohon keselamatan nyawa orangorang yang mereka kasihi. “Yang Mulia mendukung Boxers,” mereka menangis, berkumpul di luar istanaku. Petisi mereka ditulis dengan darah.

Aku bersembunyi di balik gerbangku, mengintip keluar seperti seorang pengecut. Kukirim Li Lienying untuk memberikan istri dan anakanak mereka sejumlah tael untuk musim dingin. Mustahil memaafkan diriku sendiri.

Li Hungchang berdebat majumundur dengan Sekutu terkait nyawa Jenderal Tung. Mereka akhirnya menyerah hanya setelah pemahaman diraih, bahwa Jenderal itu akan berguna untuk menjamin kestabilan di barat laut Cina. Tung dicopot dari jabatannya, tetapi dia tetap diperbolehkan mempertahankan gelar Panglima Kansu jika dia meninggalkan ibu kota segera dan selamanya.

Yung Lu mengumpulkan sejumlah uang dari dana Angkatan Bersenjatanya dan mengirim tael itu ke Jenderal Tung. Jumlah itu akan mencegahnya dari menyulut pemberontakan kembali.


Kaisar Guanghsu dan aku menerima Artikel Dua Belas, sebagaimana ia disebut, dari negaranegara sekutu, menyangkut prasyarat akhir. Anggotaanggota Penasihat Klan dan Dewan Istana mengirim telegram pada Li Hungchang untuk meminta pengubahan substansial. Li menjawab bahwa dia tidak bisa melakukan apa pun lagi. “Sikap kekuatan asing begitu tegas dan muatannya tak terbuka untuk diskusi,” ujarnya. “Pihak Sekutu telah mengancam untuk membatalkan negosiasi dan menyuruh pasukan mereka untuk maju.”

Pada musim semi 1901, Kaisar dan aku memberi izin bagi Li Hungchang untuk menerima persyaratan itu. Tak ada katakata yang bisa digunakan untuk menggambarkan rasa malu dan sakitku. Pada waktu bersamaan, aku mengetahui bahwa Li sedang sakit parah, begitu sakitnya hingga dia harus dibantu oleh para pelayannya ke meja perundingan. Li tidak mengungkapkan pada saat itu akan hal yang paling mengecewakanku: bahwa Sekutu awalnya memintaku mengundurkan diri sebagai kepala pemerintahan dan mengembalikan kekuasaan Kaisar Guanghsu; bahwa seluruh pendapatan Cina akan dikumpulkan oleh menteri luar negeri; dan bahwa urusan militer Cina akan diawasi oleh orang asing.

“Apa yang telah kuraih jauh dari harapan,” bunyi memorandum Li. “Alasan aku tergesa menandatanganinya adalah karena aku takut waktuku hampir habis. Alangkah sayangnya jika aku mati sebelum menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh Yang Mulia padaku.”

Pada 7 September 1901, setelah membuat Cina jatuh berlutut, Sekutu menandatangani kesepakatan perdamaian. Aku akan menderita siksa abadi karena Cina dipaksa meminta maaf pada Jerman dan Jepang, yang artinya ganti rugi yang sangat besar dan penyerahan kekayaan alam. Cina diperintahkan menghancurkan fasilitasfasilitas pertahanannya sendiri dan harus menerima kehadiran militer asing secara permanen di Peking.


44


SUATU PAGI PADA 6 OKTOBER, Sekutu mulai menarik diri dari Peking dan aku bisa berangkat meninggalkan Sian menuju kediamanku. Iringiringan kami akan menempuh perjalanan sejauh seribu seratus kilometer dalam perjalanan pulang. Setelah hampir setahun di pengasingan, semua upaya dikerahkan untuk mengembalikan harga diri. Tak ada tidur secara kasar kali ini. Guanghsu dan aku masingmasing menaiki kereta tertutup berhias bendera dan panjipanji. Kami dikelilingi pasukan berkuda dalam balutan sutra memukau. Gubernurgubernur provinsi diberitahukan tentang iringiringan kami dan memastikan setiap jengkal tanah bersih dari bebatuan. Dalam sebuah upacara untuk mengusir rohroh jahat, kasim-kasim berjalan di depan menyapu jalanan dan menabur serpih kapur kuning untuk mengundang rohroh baik. Setiap kami berhenti untuk istirahat atau bermalam, perjamuan diadakan. Anggota Dewan Istana bersulang atas keberuntungannya lepas dari cobaan berat.

Namun, aku tak bisa menahan rasa sedihku.

Cina telah mendapatkan tendangan keras dan beban berat utang akan terus membuat kami berlutut hingga waktu yang tak terhitung. Tetapi menurut Li Hungchang, bukanlah belas kasih dari kekuatan Baratlah yang telah mengurangi tuntutannya. Yang mereka harapkan adalah gagasan bahwa Cina suatu hari nanti akan menjadi pangsa pasar yang luas. Naluri bisnis mereka mengatakan untuk tidak menanam benih kebencian di hati rakyat Cina—para pelanggan masa depan mereka—atau untuk menghancurkan kemampuan beli Cina atas barangbarang asing. Pemerintahku merupakan alat yang berguna, terutama ketika kekuatan asing mempertimbangkan kemungkinan Guanghsu dijadikan sebagai kaisar boneka.

Guanghsu tak pernah mengatakan bahwa dirinya ingin mundur, tetapi tindakannya menunjukkan demikian. Dia adalah tahanan dalam tandunya sendiri. Naluriku mengatakan bahwa dia merasa begitu terperangkap, hingga tak mau lagi mencari jalan keluarnya.

Aku berusaha menjelaskan padanya tentang mengawali proses peralihan bentuk pemerintahan kita ke bentuk republik. Aku mulai dengan mengatakan, “Sebagaimana kau sendiri bisa lihat, upaya kita tak banyak hasilnya.”

Tanggapan Guanghsu hanya, “Semua terserah padamu, Ibu.”

“Tetapi aku ingin tahu pendapatmu,” desakku.

“Aku tak tahu apa yang kupikirkan,” ujarnya. “Hal terbesar yang kuketahui menjadi Kaisar Cina adalah bahwa aku tak tahu apaapa.”

Memang mudah dewi-kz berpurapura mati—Aku harus memaksa untuk menelan katakata itu ke dalam tenggorokanku.

“Menjadi republik akan membuatmu lebih berkuasa daripada sekarang.” Aku menghela napas dan melanjutkan.

“Kekaisaran Jepang tumbuh makmur dan Cina pun bisa.”

Anakku memberi tatapan letih dan mendesah.


Pergi bolakbalik dari ibu kota, Yung Lu bersemangat membahas kandidat yang akan memimpin parlemen yang diajukan.

“Aku tak mempertimbangkan orang lain saat Li Hun-chang dan kaulah yang menjaga langit Cina dari keruntuhan,” ujarku padanya. “Bukankah jabatan barumu sekarang sebagai Perdana Menteri Cina?”

“Benar, untuk saat ini. Tetapi aku ingin mengingatkan Yang Mulia bahwa Li Hungchang dan aku sudah memasuki usia tujuh puluhan dan dalam kesehatan yang kurang baik.”

“Kita bertiga tampaknya berada di perahu yang sama, sayangnya.”

Kami saling tersenyum dan kutanyakan siapa yang ada di pikirannya.

“Yuan Shihkai,” ujar Yung Lu. “Li Hungchang dan aku telah mempertimbangkan beberapa nama dan pilihan kami berujung padanya.”

Tentu aku kenal dengan Yuan Shihkai, yang barubaru ini datang membantuku dalam perjalanan kami menuju pengasingan. Dia telah mengukir prestasinya di Barat Daya pada masa Perang CinaJepang. Setelah kembali dari Indocina, dia ditunjuk oleh Li untuk mengambil alih Angkatan Bersenjata Utara selaku panglima mudanya. Yuan terkenal akan gaya mengajarnya yang tepatsasaran. Beberapa tahun kemudian, saat Yung Lu menggabungkan kekuatannya dengan Angkatan Bersenjata Utara dan membentuk Angkatan Bersenjata Baru, Yuan ditunjuk sebagai Komandannya.

Yuan Shihkai telah membuktikan kesetiaannya padaku dengan menyelamatkan nyawaku di tengah kekacauan reformasi Seratus Hari. Dia dipromosikan ke jabatan Gubernur Senior dan menanggungjawabi provinsiprovinsi kunci, sementara tetap memegang peran militernya. Bekerja bersama Li Hungchang dan Yung Lu, Yuan telah belajar dari guruguru terbaik.

Peristiwa terkini juga telah menjadikan Yuan Shihkai sebagai tokoh yang dikenal di Cina. Menurut persyaratan dari persetujuan traktat, Cina tak diizinkan memiliki kehadiran militer di wilayah Peking yang lebih luas. Selain menanggung hina, persyaratan itu membuat mereka yang semestinya berkuasa segera akan merasa berada dalam posisi lemah dan tak masukakal.

Yuan mempelajari isi traktat itu dan hukum intemasional, serta memunculkan gagasan untuk mendirikan kepolisian Cina. “Tak ada butir dalam perjanjian yang menyatakan bahwa Cina tak bisa memiliki penegak hukumnya,” dia menyatakan dalam proposalnya.

Beberapa minggu setelah aku menyatakan persetujuanku atas usulnya, Yuan Shihkai menyamarkan tentaranya dengan seragam polisi—mereka tampak seperti anggota Kepolisian Inggris. Dalam seragam canggihnya, anak buahnya berpatroli sepanjang pesisir dan berjalan mengelilingi kedutaan di Peking. Para wartawan asing yang memiliki maksud buruk tak bisa mengomentari apa pun akan hal itu.

Berkat Yuan Shihkai, aku sekarang bisa tidur.


Ketika arakarakan kepulangan tiba di kota dekat T’ientsin, aku menaiki kereta, yang masih menjadi pengalaman baru untukku. Lokomotif menarik dua puluh satu kereta mengagumkan yang diberikan pada negara oleh Yuan Shihkai. “Ruangan bergerak” adalah sebutan dari Li Lienying. Keretaku memiliki dinding dilapisi sutra, sofa empuk, dan wastafel porselen yang menempel di dinding dengan keran air panas dan dingin. Kereta ini bahkan memiliki toiletnya sendiri.

Walaupun Guanhsu tak memberikan pendapatnya mengenai kepemimpinan Yuan Shihkai dalam parlemen, dia mengerti bahwa kami tidak memilihnya karena dia kenalan pribadi. Impian Yuan akan kemakmuran Cina adalah yang terpenting. Kami sudah mulai mengandalkannya untuk melaksanakan dekrit.

Aku menyaksikan perjuangan anakku melawan dirinya sendiri—logika melawan perasaannya. Sering kali, suasana hati Guanghsu yang buruk akan kembali. “Aku lebih baik mati daripada mendukung pengkhianat” ucapnya. Dia akan memecahkan piringpiring dan menendangi kursinya.

“Ini masalah memanfaatkan talenta dengan baik” ujarku padanya. “Kau boleh saja menggantinya jika kautemukan orang yang lebih baik.”

Saat kutahu Yung Lu jatuh pingsan dalam perjalanannya untuk bergabung dengan kami di T’ientsin, kukirimkan pesan doa agar kesehatannya segera pulih dan meminta agar dia segera datang begitu kondisinya memungkinkan. Ketika Yung Lu memasuki mobil pribadiku, ditemani dengan tabibnya, dia tersenyum dan berujar, “Aku telah ditendang keluar oleh dewa kematian!” Dia berusaha terdengar seolah tak pernah sakit. “Mungkin karena aku belum makan dan Neraka tak mau menerima hantu yang lapar.”

“Jangan pernah kautinggalkan aku.” Aku tak bisa menahan air mataku.

“Yah, aku juga tak diberi tahu jika tubuhku memilih untuk berhenti.”

“Bagaimana kondisimu?”

“Aku baikbaik saja. Tetapi dadaku bersiul seperti bunyi harpaangin.” [Wind harpa atau aeolian harp adalah alat musik berbentuk kotak dengan senar berukuran sama yang membunyikan satu nada saat angin bertiup melewatinya. Populer pada abad ke19.]

“Itu paru-parumu.”

Dia mengangguk. “Karenanya, itu membuat masalah penggantian diriku jadi penting. Kaubutuh bantuan dari Li Hungchang dan aku untuk membujuk Dewan Istana agar menerima Yuan Shihkai.”

“Tetapi Guanghsu membencinya.”

Yung Lu mendesah. “Ya, aku tahu.”

“Dan Li Hungchang belum mengirimkan konfirmasi untuk Yuan,” ujarku. “Apakah dia memiliki pertimbangan lain yang menahannya?”

“Li khawatir akan loyalitas Yuan setelah kepergianku. Dia meyakini bahwa Yuan Shihkai kemungkinan tak akan mau mengabdi pada orang yang lebih rendah-pikirannya.”

“Guanghsu? Beraniberaninya dia!”

“Yah, mungkin bukan lebih rendahpikirannya, tetapi lebih kurang motivasi. Kaisar tidak bisa memberi inspirasi dan dia tidak peduli.”

Aku tak bisa menyangkalnya. “Itulah kemalanganku.”

Aku mendesah. “Tetapi dia anakku.”

“Bagaimana mungkin Guanghsu mengharapkan loyalitas Yuan?” tanya Yung Lu. “Yuan Shihkai merupakan pilihan kita karena apa yang bisa dia berikan untuk Cina. Tetapi begitu kau pergi, Yuan bisa berhenti menganggap Cina sebagai Cina kepunyaan anakmu.”

“Apakah itu pula yang ditakuti Li Hungchang?”

Yung Lu mengangguk.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Itu terserah pada Guanghsu untuk membiarkan Yuan Shihkai tahu siapa Kaisar sesungguhnya.”


Saat keretaku berangkat menuju Stasiun Paoting Peking, aku mendapatkan kabar bahwa Li Hungchang telah meninggal.

Kelompok pemusik yang menyambut kedatangan kereta sedang memainkan musik ceria saat kurir itu menjatuhkan dirinya ke depan kakiku. Aku harus menyuruh lelaki itu mengulang pesannya sebanyak tiga kali. Pikiranku jadi kosong selagi aku berusaha menahan emosiku.

“Li Hungchang tidak meninggal!” Aku terusmenerus menekankan. “Dia tak bisa meninggal!”

Li Lienying menahan lenganku untuk menjagaku agar tidak terjatuh. Dinasti Manchu sebagaimana kukenal telah berakhir.

“Yuan Shihkai datang menemui Yang Mulia,” seseorang mengumumkan.

Yuan muncul di hadapanku mengenakan pakaian berkabung putihnya. Dia mengonfirmasi kabar kematian itu. “Raja Muda telah lama sakit,” dia berucap dengan keyakinan. “Dia terus memaksakan dirinya sampai proses negosiasinya tuntas.”

“Mengapa aku tak diberitahukan lebih awal akan kondisi kritisnya?” tanyaku.

“Raja Muda tak ingin kau diberi tahu. Dia takut kau akan menghentikan tugasnya jika diberi tahu.”

Duduk di kursi sinagasana buatanku, kutanyakan apakah Kaisar telah diberi tahu dan jika Li Hungchang meninggalkan pesan buatku. Yuan Shihkai menjawab bahwa Raja Muda telah mengatur beberapa rencana sebelum kematiannya, termasuk agar S.S. Huan mengambil alih tugas pendanaan militer.

Aku tak ingat ketika Yuan Shihkai meninggalkanku. Yung Lu datang dan berkata bahwa dia mengantarkan pesan terakhir temannya, Li Hungchang. Pesan itu adalah konfirmasi finalnya pada Yuan Shihkai sebagai penggantinya.

Tampaknya selain diriku, hanya kekuatan Barat yang menyadari Li Hungchang telah menjadi pemimpin sesungguhnya bagi Cina. Lilah yang telah melindungi dan menjaga keutuhan Dinasti Manchu dan pengabdiannya telah membuatku bertahan.

Aku tak perlu menggunakan imajinasiku untuk mengetahui bahwa proses negosiasi yang demikian beratlah yang telah mengambil nyawa Li Hungchang. Dia telah berjuang mempertahankan setiap inci dan setiap peser bagi kedaulatan Cina. Terlalu gegabah untuk menuduhnya sebagai pengkhianat. Dia telah mengalami begitu banyak penghinaan dan rasa malu. Transkriptranskrip negosiasi hariannya menunjukkan keberaniannya. Mungkin hanya generasi masa mendatanglah yang bisa mengenali dan menghargai jasanya. Li Hungchang maju ke meja perundingan dengan mengetahui dia tidak punya apa pun untuk ditawarkan dan bahwa kerugian akan menjadi bagian dari setiap kesepakatan.

“Negaraku diperkosa” merupakan tanggapan pertamanya setelah menerima draft traktat yang diajukan oleh kekuatan asing. “Saat domba diserang oleh segerombolan serigala, akankah serigalaserigala itu membiarkan domba untuk berunding? Akankah sang domba membantu memutuskan bagaimana ia akan dimakan nantinya?”

Li Hungchang adalah seorang pakar bisnis dan kepandaiannya dalam berunding telah menyelamatkan negaranya, tetapi dengan mengorbankan nyawanya. “Membagibagi Cina sama artinya dengan menciptakan negara Boxers baru,” dia memberi dalih kepada pihak asing saat mereka mengancam untuk meninagalkan proses negosiasi. “Menyuruh Ratu Yang Mulia untuk turun membuat urusan bisnis memburuk karena semua orang di Cina akan memberi tahu kalian bahwa Janda Kaisarlah, bukan Kaisar, yang akan memastikan semua utang pada kalian terbayar lunas.”

Li dengan sukarela mengambil peran sebagai kambing hitam agar Kaisar dan aku bisa menyelamatkan harga diri kami.

Aku yakin Li memiliki penyesalan. Dia telah memberikanku begitu banyak, tetapi yang bisa kuberikan sebagai balasannya hanyalah kekecewaan demi kekecewaan. Sungguh mengherankan melihat dia belum menggulingkan rezim Guanghsu. Dia tak akan memerlukan bala tentara untuk melakukannya. Selama ini, dia sudah mengetahui kelemahanku. Integritas dan rasa kemanusiaannya sungguh mengagumkanku. Dia adalah hadiah terbaik yang diberikan Langit pada Dinasti Ch'ing.




45



PANJIPANJI SELAMAT DATANG di temboktembok Kota Terlarang menutupi kerusakan yang diakibatkan oleh serangan artileri asing. Ketika tandu mendekati istanaku, kulihat banyak patung dan ornamen yang telah dirusak atau dicuri. Istana Laut, tempat semua barang berhargaku disembunyikan, telah dijarah. Kantorkantor di Yingfai telah dibakar. Jarijari patung giokputih Buddha patah. Panglima Komando Sekutu, Jenderal Count Waldersee dari Jerman, dikatakan telah tidur di ranjangku bersama seorang pelacur terkenal bernama Kembang Emas.

Tak ingin diperingatkan akan penginjakan harga diriku, aku pindah ke Istana Ketenangan yang paling sederhana, di ujung timur laut Kota Terlarang. Lokasinya yang terpencil dan penampilannya yang tak terawat membuatnya jadi satusatunya gedung yang tak dijamah oleh orangorang asing.

Tiga hari setelah kepulangan Dewan Istana, Guanghsu dan aku meneruskan audiensi dan menerima utusanutusan asing. Kami berusaha memasang senyum di wajah kami. Terkadang emosi kami lepas dan katakata tak terduga akan tergelincir keluar. Akibatnya, penerjemah sering kali dipecat. Seorang Menteri Luar Negeri di kemudian hari mengatakan raut wajahku seperti “antara menangis dan tersenyum”—semacam seringai miring yang dia duga akibat serangan stroke. Dia juga mendeteksi “bengkak di seputar mata Yang Mulia Ratu”. Dia benar—aku sering menangis pada malam hari. Yang lain menyadari aku menggerakkan daguku dan terlihat sulit untuk duduk diam. Mereka juga benar: Aku masih berusaha membebaskan diriku dari kutukutuku.

Aku memaksakan diriku untuk meminta maaf. Dengan upaya keras, aku berhasil mengucapkan salam kebahagiaan dan kesehatan kepada para perwakilan asing dan membubarkan mereka dengan anggukan anggun.

Saat nama Li Hungchang disebutkan pada audiensi-audiensi semacam itu, yang sering kali terjadi, aku tak mampu mengendalikan air mataku.

Li Lienying terus mengawasiku dari dekat. Dia akan meminta waktu istirahat dan membawaku ke belakang balairung dan di sanalah aku akan jatuh berlutut dan menangis kencang. Dia menyimpan sebuah baskom berisi air dan peralatan rias wajah di balik tirai. Aku berusaha tak menggosok mataku agar bengkaknya mereda.


Anak perempuan Yung Lu akan menikah dan dia meminta restuku. Mempelai prianya adalah Pangeran Ch'un Junior—putra bungsu saudariku dan saudara Kaisar Guanghsu. Aku memiliki keraguan pada diri Ch'un, hingga baru-baru ini, saat aku bertemu lagi dengannya. Ch'un baru saja kembali dari perjalanannya ke Jerman untuk meminta maaf atas nama Kaisar atas kematian Baron van Ketteler. Pangeran. Ch'un tampak banyak berubah. Dia tidak lagi begitu memaksa dan lebih banyak mendengarkan. Untuk kali pertamanya, dia memuji Li Hungchang dan mengakui serta menghargai pencapaian diplomatiknya. Aku menyampaikan restuku tidak hanya karena Yung Lu telah menerima sebagai menantunya, tetapi juga karena Pangeran Ch'un merupakan harapan terakhir dari garis darah Dinasti.

Aku menghadiri pesta pernikahannya dan menemukan Yung Lu dan. istrinya, Willow, tampak amat bahagia meskipun batuk Yung Lu semakin parah. Tak ada seorang pun dari kami yang menyangka bahwa dia akan segera memperoleh cucu, yang kelak menjadi Kaisar terakhir Cina.

Bukannya menghadirkan grup opera tradisional, para tamu dihibur dengan pertunjukan. gambarbergerak tanpa suara yang menampilkan lomba pacuan kuda. Gagasan itu datang dari Yuan Shihkai, tentu saja, yang telah meminjam film itu dari seorang teman diplomatnya pada salah satu kedutaan. Itu merupakan pengalaman menyenangkan bagiku. Awalnya, kukira apa yang kami saksikan adalah bayangbayang hantu. Aku terusterusan memajumundurkan kepalaku antara layar dan proyektor filmnya.

Yuan Shihkai memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta bantuanku. Dia mengatakan, “Yang Mulia, Angkatan Kepolisianku menemui kesulitan. untuk mendisiplinkan pangeranpangeran kerajaan.”

Kuberikan. Yuan izin menegakkan hukum dan sebaliknya kuminta padanya untuk membantuku mengatasi skandal terbaru.

“Muridmurid senior yang menentang kebijakanku untuk menghapuskan sistem ujian kerajaan lama telah melancarkan protes di luar istanaku,” ujarku. “Mereka menuntut agar aku menarik dukunganku terhadap sekolahsekolah gayaBarat. Kemarin, tiga murid berusia tujuhpuluhtahun menggantung diri.”

Yuan Shihkai memahami misinya. Dalam tempo seminggu, polisipolisinya mengusir bersih para pengunjuk rasa.


Ketika Yung Lu sudah terlalu sakit untuk menghadiri audiensi, Yuan Shihkai menggantikan posisinya. Aku tak terbiasa melihat orang lain menduduki tempat Yung Lu dan sulit untuk tak mengacuhkan perasaan ganjil itu. Dewan Istana tanpa Li Hungchang dan Yung Lu rasanya bukan seperti Dewan Istanaku. Mungkin aku mulai merasakan bahwa tak lama lagi aku akan kehilangan Yung Lu. Aku begitu rindu mendengarkan suaranya, tetapi dia tak bisa mendatangiku dan etika melarangku untuk mengunjunginya di rumahnya. Willow berbaik hati dengan terus memberi tahuku tentang kondisi suaminya, tetapi aku tak merasa puas.

Aku tak pernah tak sesenang ini untuk menghadiri audiensi, tetapi situasinya begitu rentan dan menuntut kehadiranku. Yuan Shihkai adalah seorang Cina Han di tengahtengah Dewan Istana Manchu. Dia berkompeten, cerdas, dan memiliki karisma, tetapi tetap saja, Kaisar Guanghsu menolak untuk sekadar melihat ke arahnya saat berbicara padanya. Pangeran Ch'un juga tak akur dengan Yuan. Perbedaan pendapat terkecil sekalipun bisa berubah jadi pertikaian. Kedua pihak tak mau mengalah, kecuali jika aku ikut campur.


Pada pagi Februari 1902 yang sangat dingin, Robert Hart datang untuk sebuah audiensi pribadi. Aku telah bertahun-tahun lamanya ingin bertemu dengan orang ini. Aku bangun sebelum fajar terbit dan Li Lienying membantuku berpakaian.

Menatap bayanganku di cermin, aku memikirkan apa yang akan kukatakan pada lelaki Ingaris itu. Kita sudah akan bangkrut jika saja dia tak pandai menjalankan jasa bea cukai yang telah menyumbangkan satu pertiga dari pendapatan tahunan Cina. “Bahkan Li Hungchang dan Yung Lu tak mampu mengaturnya,“ jelasku pada Li Lien ying, “karena separuh dari tugas Hart adalah untuk mengumpulkan pajak dari pengusaha asing. “

“Robert Hart telah jadi teman baik Cina,” ujar kasim. “Aku bisa tahu Yang Mulia pasti senang pada akhirnya bisa lihat seperti apa dirinya.”

“Tolong, jadikan aku sebaik yang kaubisa.”

“Bagaimana dengan tata rambut phoenix, Tuan Putri? Akan membutuhkan waktu lebih lama dan berat perhiasannya mungkin akan membuat lehermu sakit, tetapi itu akan sebanding dengan hasilnya.”

“Baiklah. Aku tak punya apaapa untuk menghargai Sir Robert. Penampilanku akan mengungkapkan rasa terima kasihku, Andai aku lebih muda dan lebih cantik.”

“Kau tampak mengagumkan, Tuan Putri. Satusatunya yang kauperlukan untuk melengkapi penampilanmu adalah kuku panjang.”

“Kukuku belum tumbuh lagi semenjak kita meninggalkan Peking.”

“Aku punya ide, Tuan Putri. Mengapa tak kaukenakan sepasang kuku emasmu?”

Pada pukul delapan, Sir Robert Hart diantar menuju balairung. Dia duduk sepuluh kaki jaraknya dariku. Usianya enam puluh tujuh tahun. Kesan pertamaku adalah dia tampak lebih seperti orang Cina daripada Inggris. Badannya tak begitu tinggi dan tubuhnya tak sebesar yang kubayangkan. Ukuran tubuhnya ratarata. Dia mengenakan jubah resmi kerajaan Cina berwarna ungu berendaemas. Dia melakukan kowtow yang sempurna sembari mendoakan keselamatan dan umur panjang dalam bahasa Mandarin fasih, walaupun kusadari dia memiliki aksen Selatan.

Aku ingin sekali menanyakan banyak hal padanya, tetapi aku tak tahu bagaimana memulainya. Karena ada beberapa pejabat dan menteri yang juga hadir, aku tak bisa membicarakan apa yang ada di pikiranku begitu saja; aku harus berhatihati akan apa yang kukatakan pada orang asing. Aku mengawali dengan formula basabasi kerajaan dan menanyakan perjalanannya—waktu keberangkatannya, berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk tiba di Peking. Kutanyakan apakah perjalanannya lancear dan apakah cuacanya menyenangkan. Aku juga menanyakan apakah dia sudah cukup makan dan apakah tidurnya nyenyak.

Waktu dua puluh menit kami sudah hampir habis dan aku merasa belum mengenal temanku dengan baik. Dia mengatakan padaku bahwa dia memiliki kediaman di Peking, tetapi jarang berada di rumah karena kerjanya menuntutnya untuk sering bepergian.

Setelah minum teh, aku memintanya untuk bergerak tiga langkah mendekat—demi menghormati tamuku, sekaligus aku ingin melihat wajahnya lebih jelas.

Lelaki itu memiliki mata lembut tetapi tajam. Aku menganggapnya lucu karena dia tampaknya juga penasaran ingin melihat diriku lebih saksama. Mata kami bertemu dan kami berdua tersenyum dan sedikit malu. Kubilang bahwa aku tak bisa cukup mengucapkan terima kasihku atas apa yang telah diberikannya pada Kaisar. Kukatakan padanya bahwa awalnya dia direkomendasikan oleh Pangeran Kung, kemudian oleh Li Hungchang.

“Aku mengagumi pengabdianmu ujarku. “Kau telah bekerja untuk Cina selama empat puluh satu tahun, benar?”

Sir Robert tersentuh mengetahui aku mengingat tahun pengabdiannya.

“Kau memiliki aksen Ningpo.” Aku tersenyum. “Apa kau pernah tinggal di Selatan Cina? Aku dari Wuhu, di Provinsi Anhwei, tak jauh dari Ningpo.”

“Yang Mulia sangat perhatian. Aku mendarat di Ningpo saat kali pertama tiba di Cina. Aku berusia dua puluh lima tahun saat itu dan jadi penerjemah murid. Aku belum bisa meninggalkan gaya lamaku.”

“Aku senang dengan aksenmu, Sir Robert,” Ujarku. “Jangan pernah kau perbaiki.”

“Seseorang selalu berusaha meninggalkan masa lalunya, tetapi dia tak akan pernah bisa,” ucapnya.

Kemudian waktu kami pun habis.


Pada 11 April 1903, aku terguncang oleh sebuah berita: Yung Lu telah meninggal. Guanghsu dan aku tengah mempersiapkan sebuah proposal untuk pembentukan pemerintahan parlemen saat kabar itu tiba. Aku merasa jantungku copot dan harus meminta anakku untuk menyelesaikan pemeriksaan dokumendokumen yang ada. Li Lienying mengantarku ke ruangsamping tempat aku bisa sendiri untuk sementara. Aku jadi pusing dan jatuh pingsan. Li Lienying memanggilkan tabib. Guanghsu ketakutan. Dia mendatangi istanaku dan menemaniku sepanjang malam.

Sebenarnya, Yung Lu telah menyiapkanku untuk menerima kematiannya sejak berbulanbulan lalu. Dia telah bekerja tanpa kenal lelah dengan Kaisar yang tak punya semangat, berusaha memuluskan hubungannya dengan Yuan Shihkai. Baik kubu konservatif maupun radikal menggunakan teror sebagai cara untuk memperoleh keinginannya. Sungguh sulit mengendalikan situasinya tanpa Li Hungchang.

Tabib menemani Yung Lu pada saatsaat pertemuan kami di Kota Terlarang. Dalam rangka mengenalkan Guanghsu dan aku pada orang yang dia percayai, Yung Lu datang ke audiensi setiap harinya dan beberapa hari terakhir, dia datang dengan menggunakan penyangga. Betapapun sakit dirinya, dia selalu mengenakan jubah resminya dengan kerah putih yang kaku.

Bersamasama, kami menerima S.S. Huan, “pria penghasil uang” yang direkomendasikan Li Hungchang dan yang hubungannya dengan Yuan Shihkai akhirakhir ini tengah menjadi sensitif. Huan mengajukan proposal agar tanggung jawab Yuan diperluas hingga menyangkut kepala perdagangan. Hal itu menunjukkan adanya ketidakharmonisan antara keduanya. Yung Lu dan aku mengerti ketakutan Huan terhadap Yuan Shihkai, yang Angkatan Kepolisiannya digosipkan bertanggung jawab atas menghilangnya sejumlah rival kuatnya.

Di ranjang sakitnya, Yung Lu telah bicara dengan Yuan Shihkai dan S.S. Huan. Kedua lelaki itu berjanji untuk berdamai dan menanggalkan perbedaan di antara mereka.

Dua hari kemudian, Willow memberi tahuku akan kondisi kesehatan suaminya yang memburuk. Dengan mengabaikan etika, aku pergi ke kediaman Yung Lu dalam tanduku untuk menemuinya kali terakhir.

Yung Lu terlihat lemah dan kurus, kulitnya lebih pucat daripada seprai putihnya. Tubuhnya terbaring kaku dan lurus, dengan kedua tangan di sisi pahanya. Dia terserang stroke dan tak lagi dapat bicara. Matanya membuka lebar dan bola matanya membesar.

Willow berterima kasih atas kedatanganku, kemudian meninggalkan kami. Aku duduk di sisi Yung Lu dan berusaha bersikap tenang.

Dia mengenakan jubah keabadiannya. Di bawah topi upacaranya, rambutnya diminyaki dan diwarnai hitam mengilat.

Aku mendekat dan menyentuh wajahnya. Susah untuk tak menangis dan aku memaksakan diriku untuk tersenyum. “Kau akan pergi dalam perjalanan berburu dan aku akan bergabung denganmu. Aku akan menyiapkan busurnya dan kau akan menembak. Aku ingin kau membawakanku bebek liar, kelinci dan rusa. Mungkin bukan rusa, melainkan babi liar. Aku akan membuat api unggun dan membakar hasil buruanmu. Kita akan minum anggur ubi manis dan kita akan berbincang…“

Air mata menggenangi matanya.

“Tetapi kita tak akan berbincang tentang Boxers atau kedutaan, tentu saja. Hanya kenangankenangan manis kita bersama. Kita akan bicara tentang temanteman kita, Pangeran Kung dan Li Hungchang. Aku akan mengatakan padamu betapa rindunya aku saat kau pergi ke Sinkiang. Kau berutang tujuh tahun yang manis padaku. Kau sudah tahu ini, tetapi aku akan tetap mengatakannya padamu: Aku perempuan yang bahagia saat bersamamu.”

Air mata perlahan turun dari ujung matanya.





45



PANJIPANJI SELAMAT DATANG di temboktembok Kota Terlarang menutupi kerusakan yang diakibatkan oleh serangan artileri asing. Ketika tandu mendekati istanaku, kulihat banyak patung dan ornamen yang telah dirusak atau dicuri. Istana Laut, tempat semua barang berhargaku disembunyikan, telah dijarah. Kantorkantor di Yingfai telah dibakar. Jarijari patung giokputih Buddha patah. Panglima Komando Sekutu, Jenderal Count Waldersee dari Jerman, dikatakan telah tidur di ranjangku bersama seorang pelacur terkenal bernama Kembang Emas.

Tak ingin diperingatkan akan penginjakan harga diriku, aku pindah ke Istana Ketenangan yang paling sederhana, di ujung timur laut Kota Terlarang. Lokasinya yang terpencil dan penampilannya yang tak terawat membuatnya jadi satusatunya gedung yang tak dijamah oleh orangorang asing.

Tiga hari setelah kepulangan Dewan Istana, Guanghsu dan aku meneruskan audiensi dan menerima utusanutusan asing. Kami berusaha memasang senyum di wajah kami. Terkadang emosi kami lepas dan katakata tak terduga akan tergelincir keluar. Akibatnya, penerjemah sering kali dipecat. Seorang Menteri Luar Negeri di kemudian hari mengatakan raut wajahku seperti “antara menangis dan tersenyum”—semacam seringai miring yang dia duga akibat serangan stroke. Dia juga mendeteksi “bengkak di seputar mata Yang Mulia Ratu”. Dia benar—aku sering menangis pada malam hari. Yang lain menyadari aku menggerakkan daguku dan terlihat sulit untuk duduk diam. Mereka juga benar: Aku masih berusaha membebaskan diriku dari kutukutuku.

Aku memaksakan diriku untuk meminta maaf. Dengan upaya keras, aku berhasil mengucapkan salam kebahagiaan dan kesehatan kepada para perwakilan asing dan membubarkan mereka dengan anggukan anggun.

Saat nama Li Hungchang disebutkan pada audiensi-audiensi semacam itu, yang sering kali terjadi, aku tak mampu mengendalikan air mataku.

Li Lienying terus mengawasiku dari dekat. Dia akan meminta waktu istirahat dan membawaku ke belakang balairung dan di sanalah aku akan jatuh berlutut dan menangis kencang. Dia menyimpan sebuah baskom berisi air dan peralatan rias wajah di balik tirai. Aku berusaha tak menggosok mataku agar bengkaknya mereda.


Anak perempuan Yung Lu akan menikah dan dia meminta restuku. Mempelai prianya adalah Pangeran Ch'un Junior—putra bungsu saudariku dan saudara Kaisar Guanghsu. Aku memiliki keraguan pada diri Ch'un, hingga baru-baru ini, saat aku bertemu lagi dengannya. Ch'un baru saja kembali dari perjalanannya ke Jerman untuk meminta maaf atas nama Kaisar atas kematian Baron van Ketteler. Pangeran. Ch'un tampak banyak berubah. Dia tidak lagi begitu memaksa dan lebih banyak mendengarkan. Untuk kali pertamanya, dia memuji Li Hungchang dan mengakui serta menghargai pencapaian diplomatiknya. Aku menyampaikan restuku tidak hanya karena Yung Lu telah menerima sebagai menantunya, tetapi juga karena Pangeran Ch'un merupakan harapan terakhir dari garis darah Dinasti.

Aku menghadiri pesta pernikahannya dan menemukan Yung Lu dan. istrinya, Willow, tampak amat bahagia meskipun batuk Yung Lu semakin parah. Tak ada seorang pun dari kami yang menyangka bahwa dia akan segera memperoleh cucu, yang kelak menjadi Kaisar terakhir Cina.

Bukannya menghadirkan grup opera tradisional, para tamu dihibur dengan pertunjukan. gambarbergerak tanpa suara yang menampilkan lomba pacuan kuda. Gagasan itu datang dari Yuan Shihkai, tentu saja, yang telah meminjam film itu dari seorang teman diplomatnya pada salah satu kedutaan. Itu merupakan pengalaman menyenangkan bagiku. Awalnya, kukira apa yang kami saksikan adalah bayangbayang hantu. Aku terusterusan memajumundurkan kepalaku antara layar dan proyektor filmnya.

Yuan Shihkai memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta bantuanku. Dia mengatakan, “Yang Mulia, Angkatan Kepolisianku menemui kesulitan. untuk mendisiplinkan pangeranpangeran kerajaan.”

Kuberikan. Yuan izin menegakkan hukum dan sebaliknya kuminta padanya untuk membantuku mengatasi skandal terbaru.

“Muridmurid senior yang menentang kebijakanku untuk menghapuskan sistem ujian kerajaan lama telah melancarkan protes di luar istanaku,” ujarku. “Mereka menuntut agar aku menarik dukunganku terhadap sekolahsekolah gayaBarat. Kemarin, tiga murid berusia tujuhpuluhtahun menggantung diri.”

Yuan Shihkai memahami misinya. Dalam tempo seminggu, polisipolisinya mengusir bersih para pengunjuk rasa.


Ketika Yung Lu sudah terlalu sakit untuk menghadiri audiensi, Yuan Shihkai menggantikan posisinya. Aku tak terbiasa melihat orang lain menduduki tempat Yung Lu dan sulit untuk tak mengacuhkan perasaan ganjil itu. Dewan Istana tanpa Li Hungchang dan Yung Lu rasanya bukan seperti Dewan Istanaku. Mungkin aku mulai merasakan bahwa tak lama lagi aku akan kehilangan Yung Lu. Aku begitu rindu mendengarkan suaranya, tetapi dia tak bisa mendatangiku dan etika melarangku untuk mengunjunginya di rumahnya. Willow berbaik hati dengan terus memberi tahuku tentang kondisi suaminya, tetapi aku tak merasa puas.

Aku tak pernah tak sesenang ini untuk menghadiri audiensi, tetapi situasinya begitu rentan dan menuntut kehadiranku. Yuan Shihkai adalah seorang Cina Han di tengahtengah Dewan Istana Manchu. Dia berkompeten, cerdas, dan memiliki karisma, tetapi tetap saja, Kaisar Guanghsu menolak untuk sekadar melihat ke arahnya saat berbicara padanya. Pangeran Ch'un juga tak akur dengan Yuan. Perbedaan pendapat terkecil sekalipun bisa berubah jadi pertikaian. Kedua pihak tak mau mengalah, kecuali jika aku ikut campur.


Pada pagi Februari 1902 yang sangat dingin, Robert Hart datang untuk sebuah audiensi pribadi. Aku telah bertahun-tahun lamanya ingin bertemu dengan orang ini. Aku bangun sebelum fajar terbit dan Li Lienying membantuku berpakaian.

Menatap bayanganku di cermin, aku memikirkan apa yang akan kukatakan pada lelaki Ingaris itu. Kita sudah akan bangkrut jika saja dia tak pandai menjalankan jasa bea cukai yang telah menyumbangkan satu pertiga dari pendapatan tahunan Cina. “Bahkan Li Hungchang dan Yung Lu tak mampu mengaturnya,“ jelasku pada Li Lien ying, “karena separuh dari tugas Hart adalah untuk mengumpulkan pajak dari pengusaha asing. “

“Robert Hart telah jadi teman baik Cina,” ujar kasim. “Aku bisa tahu Yang Mulia pasti senang pada akhirnya bisa lihat seperti apa dirinya.”

“Tolong, jadikan aku sebaik yang kaubisa.”

“Bagaimana dengan tata rambut phoenix, Tuan Putri? Akan membutuhkan waktu lebih lama dan berat perhiasannya mungkin akan membuat lehermu sakit, tetapi itu akan sebanding dengan hasilnya.”

“Baiklah. Aku tak punya apaapa untuk menghargai Sir Robert. Penampilanku akan mengungkapkan rasa terima kasihku, Andai aku lebih muda dan lebih cantik.”

“Kau tampak mengagumkan, Tuan Putri. Satusatunya yang kauperlukan untuk melengkapi penampilanmu adalah kuku panjang.”

“Kukuku belum tumbuh lagi semenjak kita meninggalkan Peking.”

“Aku punya ide, Tuan Putri. Mengapa tak kaukenakan sepasang kuku emasmu?”

Pada pukul delapan, Sir Robert Hart diantar menuju balairung. Dia duduk sepuluh kaki jaraknya dariku. Usianya enam puluh tujuh tahun. Kesan pertamaku adalah dia tampak lebih seperti orang Cina daripada Inggris. Badannya tak begitu tinggi dan tubuhnya tak sebesar yang kubayangkan. Ukuran tubuhnya ratarata. Dia mengenakan jubah resmi kerajaan Cina berwarna ungu berendaemas. Dia melakukan kowtow yang sempurna sembari mendoakan keselamatan dan umur panjang dalam bahasa Mandarin fasih, walaupun kusadari dia memiliki aksen Selatan.

Aku ingin sekali menanyakan banyak hal padanya, tetapi aku tak tahu bagaimana memulainya. Karena ada beberapa pejabat dan menteri yang juga hadir, aku tak bisa membicarakan apa yang ada di pikiranku begitu saja; aku harus berhatihati akan apa yang kukatakan pada orang asing. Aku mengawali dengan formula basabasi kerajaan dan menanyakan perjalanannya—waktu keberangkatannya, berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk tiba di Peking. Kutanyakan apakah perjalanannya lancear dan apakah cuacanya menyenangkan. Aku juga menanyakan apakah dia sudah cukup makan dan apakah tidurnya nyenyak.

Waktu dua puluh menit kami sudah hampir habis dan aku merasa belum mengenal temanku dengan baik. Dia mengatakan padaku bahwa dia memiliki kediaman di Peking, tetapi jarang berada di rumah karena kerjanya menuntutnya untuk sering bepergian.

Setelah minum teh, aku memintanya untuk bergerak tiga langkah mendekat—demi menghormati tamuku, sekaligus aku ingin melihat wajahnya lebih jelas.

Lelaki itu memiliki mata lembut tetapi tajam. Aku menganggapnya lucu karena dia tampaknya juga penasaran ingin melihat diriku lebih saksama. Mata kami bertemu dan kami berdua tersenyum dan sedikit malu. Kubilang bahwa aku tak bisa cukup mengucapkan terima kasihku atas apa yang telah diberikannya pada Kaisar. Kukatakan padanya bahwa awalnya dia direkomendasikan oleh Pangeran Kung, kemudian oleh Li Hungchang.

“Aku mengagumi pengabdianmu ujarku. “Kau telah bekerja untuk Cina selama empat puluh satu tahun, benar?”

Sir Robert tersentuh mengetahui aku mengingat tahun pengabdiannya.

“Kau memiliki aksen Ningpo.” Aku tersenyum. “Apa kau pernah tinggal di Selatan Cina? Aku dari Wuhu, di Provinsi Anhwei, tak jauh dari Ningpo.”

“Yang Mulia sangat perhatian. Aku mendarat di Ningpo saat kali pertama tiba di Cina. Aku berusia dua puluh lima tahun saat itu dan jadi penerjemah murid. Aku belum bisa meninggalkan gaya lamaku.”

“Aku senang dengan aksenmu, Sir Robert,” Ujarku. “Jangan pernah kau perbaiki.”

“Seseorang selalu berusaha meninggalkan masa lalunya, tetapi dia tak akan pernah bisa,” ucapnya.

Kemudian waktu kami pun habis.


Pada 11 April 1903, aku terguncang oleh sebuah berita: Yung Lu telah meninggal. Guanghsu dan aku tengah mempersiapkan sebuah proposal untuk pembentukan pemerintahan parlemen saat kabar itu tiba. Aku merasa jantungku copot dan harus meminta anakku untuk menyelesaikan pemeriksaan dokumendokumen yang ada. Li Lienying mengantarku ke ruangsamping tempat aku bisa sendiri untuk sementara. Aku jadi pusing dan jatuh pingsan. Li Lienying memanggilkan tabib. Guanghsu ketakutan. Dia mendatangi istanaku dan menemaniku sepanjang malam.

Sebenarnya, Yung Lu telah menyiapkanku untuk menerima kematiannya sejak berbulanbulan lalu. Dia telah bekerja tanpa kenal lelah dengan Kaisar yang tak punya semangat, berusaha memuluskan hubungannya dengan Yuan Shihkai. Baik kubu konservatif maupun radikal menggunakan teror sebagai cara untuk memperoleh keinginannya. Sungguh sulit mengendalikan situasinya tanpa Li Hungchang.

Tabib menemani Yung Lu pada saatsaat pertemuan kami di Kota Terlarang. Dalam rangka mengenalkan Guanghsu dan aku pada orang yang dia percayai, Yung Lu datang ke audiensi setiap harinya dan beberapa hari terakhir, dia datang dengan menggunakan penyangga. Betapapun sakit dirinya, dia selalu mengenakan jubah resminya dengan kerah putih yang kaku.

Bersamasama, kami menerima S.S. Huan, “pria penghasil uang” yang direkomendasikan Li Hungchang dan yang hubungannya dengan Yuan Shihkai akhirakhir ini tengah menjadi sensitif. Huan mengajukan proposal agar tanggung jawab Yuan diperluas hingga menyangkut kepala perdagangan. Hal itu menunjukkan adanya ketidakharmonisan antara keduanya. Yung Lu dan aku mengerti ketakutan Huan terhadap Yuan Shihkai, yang Angkatan Kepolisiannya digosipkan bertanggung jawab atas menghilangnya sejumlah rival kuatnya.

Di ranjang sakitnya, Yung Lu telah bicara dengan Yuan Shihkai dan S.S. Huan. Kedua lelaki itu berjanji untuk berdamai dan menanggalkan perbedaan di antara mereka.

Dua hari kemudian, Willow memberi tahuku akan kondisi kesehatan suaminya yang memburuk. Dengan mengabaikan etika, aku pergi ke kediaman Yung Lu dalam tanduku untuk menemuinya kali terakhir.

Yung Lu terlihat lemah dan kurus, kulitnya lebih pucat daripada seprai putihnya. Tubuhnya terbaring kaku dan lurus, dengan kedua tangan di sisi pahanya. Dia terserang stroke dan tak lagi dapat bicara. Matanya membuka lebar dan bola matanya membesar.

Willow berterima kasih atas kedatanganku, kemudian meninggalkan kami. Aku duduk di sisi Yung Lu dan berusaha bersikap tenang.

Dia mengenakan jubah keabadiannya. Di bawah topi upacaranya, rambutnya diminyaki dan diwarnai hitam mengilat.

Aku mendekat dan menyentuh wajahnya. Susah untuk tak menangis dan aku memaksakan diriku untuk tersenyum. “Kau akan pergi dalam perjalanan berburu dan aku akan bergabung denganmu. Aku akan menyiapkan busurnya dan kau akan menembak. Aku ingin kau membawakanku bebek liar, kelinci dan rusa. Mungkin bukan rusa, melainkan babi liar. Aku akan membuat api unggun dan membakar hasil buruanmu. Kita akan minum anggur ubi manis dan kita akan berbincang…“

Air mata menggenangi matanya.

“Tetapi kita tak akan berbincang tentang Boxers atau kedutaan, tentu saja. Hanya kenangankenangan manis kita bersama. Kita akan bicara tentang temanteman kita, Pangeran Kung dan Li Hungchang. Aku akan mengatakan padamu betapa rindunya aku saat kau pergi ke Sinkiang. Kau berutang tujuh tahun yang manis padaku. Kau sudah tahu ini, tetapi aku akan tetap mengatakannya padamu: Aku perempuan yang bahagia saat bersamamu.”

Air mata perlahan turun dari ujung matanya.
 Melihat tubuhku meninggalkan dirinya sendiri merupakan pengalaman menakutkan. Namun, tak ada yang dapat kulakukan. Aku terus mengikuti nasihat tabib dan memaksakan diri menelan ramuan terpahit, tetapi tiap paginya aku merasa lebih buruk daripada hari sebelumnya.

Tubuhku mulai menghancurkan dirinya sendiri dan aku tahu waktuku akan segera tiba. Di hadapan Dewan Istana aku berusaha menutupi kondisiku. Riasan wajah membantu. Begitu pula dengan bantalan kapas yang disumpal dalam bajuku. Hanya Li Lienying yang tahu tubuhku tinggal tulangbelulang dan bahwa fesesku hanya cairan. Aku pun mulai batuk darah.

Aku berusaha menyiapkan anakku, tetapi tak ingin mengungkapkan kondisiku sesungguhnya. “Kelangsunganmu bergantung pada dominasimu,” kukatakan padanya.

“Ibu, aku merasa tak sehat dan tak yakin.” Guanghsu menatapku dengan sedih.

Dinasti telah kehabisan jiwanya, adalah pikiran yang muncul di benakku.

Ahli nujumku menyarankan agar aku mengundang grup opera. untuk membawakan lagulagu senang. “Itu akan membantu mengusir keluar rohroh jahat,” ucapnya.


Surat perpisahan dari Robert Hart sampai padaku. Dia akan kembali ke tempat asalnya di Inggris untuk selamanya. Dia akan berangkat pada 7 November 1908.

Aku hampir tak tahan memikirkan akan kehilangan teman baikku lagi. Meskipun aku sedang tidak dalam kondisi memungkinkan untuk menerima tamu, aku memanggilnya.

Mengenakan jubah resmi Mandarinnya, dia membungkuk khidmat.

“Lihat kita,“ ujarku. “Kita berdua sudah berambutputih.” Aku bahkan tak punya tenaga. untuk menyuruhnya duduk, maka aku hanya menunjuk ke arah kursi.

Dia mengerti dan duduk.

“Maafkan aku karena tak bisa menghadiri upacara perpisahanmu,” ucapku. “Aku sedang tak sehat dan kematian tengah menantiku.”

“Juga aku.” Dia tersenyum. “Akan tetapi, kenangan-kenangan baiklah yang berarti.”

“Aku sangat setuju, Sir Robert.”

“Aku datang untuk mengucapkan terima kasihku atas pemberianmu yang begitu banyak selama bertahuntahun ini.”

“Aku hanya bisa mendapatkan pujian atas usahaku untuk menemuimu kali ini. Sekali lagi, Dewan Istana menentangnya.”

“Aku tahu betapa sulitnya membuat pengecualian. Orangorang asing memiliki reputasi buruk di Cina. Memang sudah sepantasnya.”

“Umurmu tujuh puluh dua tahun, bukan, Sir Robert?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Dan kau telah tinggal di Cina selama ......”

“Empat puluh tujuh tahun.”

“Apa yang bisa kukatakan? Kau seharusnya bangga.”

“Tentu saja.”

“Aku percaya kau telah menyiapkan rencana. Untuk orang lain agar mengambil alih tugastugasmu. “

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Yang Mulia. Layanan bea cukai merupakan mesin yang sudah diminyaki dengan baik. Ia akan berjalan sendiri.”

Sungguh mengejutkanku bahwa dia tak pernah menyebutkan penghargaan yang dia terima dari Ratu Inggris atau membicarakan istrinya yang berkebangsaan Inggris, yang telah berpisah darinya selama lebih dari tiga puluh dua tahun. Dia menyebutkan tentang selir Cinanya selama sepuluh tahun dan ketiga anak yang mereka miliki. Kematiannya. Penyesalannya. Dia menyebutkan kesedihannya. “Dialah yang lebih bijak,” ujarnya, dan berharap andai dia lebih bisa melindunginya.

Kukatakan padanya mengenai masalahku dengan kedua putraku—hal yang tak pernah kubagi dengan orang lain. Kami sedih merenungi fakta bahwa mencintai anak kami tak cukup untuk membantunya bertahan dalam hidup.

Ketika kuminta Sir Robert memberi tahuku masa terbaiknya di Cina, dia menjawab bahwa bekerja di bawah Pangeran Kung dan Li Hungchang adalah masa terbaiknya. “Mereka berdua adalah orang yang berani dan cerdas,” ujarnya, “dan keduanya sangat keras kepala dengan cara mereka sendiri.”

Terakhir, kami menyebut tentang Yung Lu. Dari cara Sir Robert memandangiku, aku tahu dia memahami semuanya.

“Kau pasti telah mendengarkan rumornya!” ucapku.

“Bagaimana tidak? Rumor dan kabar rekayasa dari hasil karya para wartawan Barat dan sebagian dari kebenarannya.”

“Apa yang kaupikirkan?”

“Apa yang kupikirkan? Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan, sejujurnya. Kalian berdua tampak seperti pasangan. Maksudku, kalian bekerja dengan baik berdua.”

“Aku mencintainya.” Terkejut oleh pengakuanku sendiri, aku menatapnya.

Dia tidak tampak terkejut. “Jika demikian, aku senang untuk arwah temanku. Aku sudah lama merasa bahwa dia menyimpan perasaan padamu.”

“Kami berusaha sekuat yang kami bisa. Yang tampaknya masih kurang daripada yang seharusnya. Itu sangat sulit.”

“Aku memiliki kekaguman besar pada Yung Lu. Walaupun kami berteman, aku tak sempat mengenalnya dengan baik hingga saat kekacauan di kedutaan. Dia menyelamatkan kami dengan menembakkan bolabola api ke atas atap. Setelahnya, dia mengirim lima semangka untukku. Aku yakin kaulah yang telah mengirimnya.”

Aku tersenyum.

“Hanya ingin tahu,” ujar Robert Hart, “bagaimana caramu membuat Dewan Istana menyetujuinya?”

“Yung Lu dan aku tak pemah membahas untuk mengirim semangka.”

“Aku mengerti. Yung Lu sangat pandai menebak pikiranmu.”

“Benar.”

“Kau pasti merindukannya.”

“'Kerja ulat sutra, hingga mati melepas benang terbaiknya.’” Aku membacakan baris pertama dari sebuah puisi berusiaseributahun.

Sir Robert mengakhiri kalimatnya: “'Air mata lilin mengering saat ia menghabisi dirinya.”'

“Kau orang asing yang sungguh luar biasa, Robert Hart.”

“Aku kecewa Yang Mulia tak menganggapku sebagai orang Cina. Aku sudah menganggap diriku sebagai orang Cina.”

Hal itu membuatku begitu senang.

“Aku tak ingin kau pergi,” kukatakan saat sudah waktunya untuk berpisah. “Tetapi aku mengerti bahwa sehelai daun harus jatuh dari akar pohonnya. Ingatlah bahwa kau memiliki rumah dan keluarga di sini, di Cina. Aku akan merindukanmu dan akan selalu menanti kepulanganmu.”

Kami berdua hampir menangis. Dia berlutut dan menempelkan keningnya ke lantai untuk waktu yang lama.

Aku ingin mengatakan “sampai bertemu lagi di kemudian hari,” tetapi sudah jelas tak akan ada lagi kemudian hari.

“Aku ingin mengantarmu pergi, Sir Robert, tetapi aku terlalu lemah untuk berdiri dari kursiku. Pada saat kau tiba di Inggris, kau mungkin akan mendengar berita kepergianku.”

“Yang Mulia ...”

“Aku ingin kau bergembira atas kebebasan yang akhirnya bisa dinikmati oleh rohku.”

“Baik, Yang Mulia.”






47



AJALKU SUDAH TERLUKIS di seluruh wajah mereka ketika para tabib memohon diberikan hukuman karena gagal menyembuhkanku. Kusuruh mereka pulang agar aku bisa memiliki waktu untuk membuat rencana yang diperlukan.

Hal menyedihkan dari sekarat adalah kemuramannya. Orangorang di sekitarmu tak lagi menggoda atau bercanda dan mereka menjaga suara mereka tetap rendah dan berjalan secara jinjit. Semua orang menunggu saat datangnya ajal, tetapi harihari belum juga menunjukkan habisnya.

Li Lienying satusatunya orang yang menolak untuk menyerah. Dia menjadikan penyembuhanku sebagai panggilan agamanya dan menjagaku dari segala hal yang dia percaya akan menggangguku. Dia menyembunyikan berita kondisi Guanghsu dan aku tak mengira kesehatan anakku telah mencapai titik kritis. Aku berencana mengunjungi Yingfai untuk menemuinya, begitu aku bisa bangkit dari ranjangku.

Pada 14 November 1908, aku terbangun oleh suara tangisan keras. Aku pikir saatku pasti telah tiba karena kelopak mataku terasa begitu berat. Sisi kanan tubuhku terasa panas, sementara sisi kirinya dingin. Dengan pandangan kaburku, aku melihat kasimkasim berlutut memenuhi ruangan.

“Naga telah menaiki surga!” Itu suara Li Lienying.

“Aku belum mati,” gumamku.

“Ini putramu, Tuan Putri. Kaisar Guanghsu baru saja meninggal!”

Aku dibawa ke kamar Guanghsu. Melihat anakku, membawa kembali kenanganku akan hari ketika Tung Chih meninggal. Aku menengadah dan berkata, “Demi ampunan Langit! Guanghsu baru tiga puluh delapan tahun.”

Mayatnya masih hangat. Wajahnya seabuabu seperti saat dia masih hidup.

Ini pasti bagaimana rasanya tenggelam. Airnya hangat. Paruparuku terasa tertutup. Rohku menyambut kegelapan abadi.

“Kembalilah, Yang Mulia,” Li Lienying menangis. “Kembali, Tuan Putri!”

Kemudian aku teringat akan tugasku—nama penerus yang belum kusebutkan.

Kupaksa diriku memanggil Penasihat Agung.

Aku tak tahu sudah berapa lama mereka menunggu di hadapanku. Saat kubuka mata lagi, aku melihat Yuan Shihkai berdiri di sisi kiriku dan Pangeran Ch'un Junior di sisi kanan. Ruangan dipenuhi orang.

“Penerusnya, Yang Mulia?” semua bertanya pada waktu bersamaan.

“Puyi,” hanya itu yang kukatakan.

Kunamakan putra Pangeran Ch'un Junior, Puyi yang berusiatigatahun—cucu Yung Lu dan anak keponakanku—sebagai Kaisar baru Cina. Garis darah Kerajaan makin menipis.

Aku tak bisa menggerakkan lengan dan kakiku, hanya bisa mendengarkan napas beratku sendiri. Badanku sudah terisi penuh obatobatan. Aku tak lagi merasa sakit. Pikiranku sudah melambat, tetapi belum berhenti.


Kasimkasimku membantuku menduduki singgasana untuk audiensi terakhir. Karena aku tak lagi bisa duduk tegak, tukang kayu meninggikan lengan kursiku dengan tiang kayu yang panjang. Li Lienying menyangga lenganku dengan sebuah tongkat dan menutupiku dengan kain emas.

Aku teringat hari terakhir Kaisar Hsien Feng saat dia diberdirikan dengan posisi sama. Membuat orang yang sekarat tampak lebih hebat daripada keadaan sebenarnya dimaksudkan untuk menggambarkan kekuasaan dan aku sendiri telah melihat pengaruh yang diberikannya. Tetap saja, aku merasa konyol. Suamiku pasti merasakan keganjilan yang sama. Akan tetapi, aku mengerti bahwa jika aku ingin perintahku dijalankan, hal ini jadi keharusan.

Aku juga melakukannya demi orangorang yang masih menaruh keyakinannya padaku, terutama pada para gubernur dan pejabat tingkatrendah yang menghitung kalender mereka pertama “pada masa pemerintahan Kaisar Tung Chih” dan kemudian “pada masa pemerintahan Kaisar Guanghsu”. Aku berutang pada mereka akan penampilan akhirku.

Sekretaris Agung mendekat agar dapat mendengarkanku.

Li Lienying menatap hiasanhiasan di papan rambutku. Khawatir akan beratnya, dia mengatur ulang beberapa kawat untuk menahan semua pada tempatnya. Tampaknya usahanya berhasil, tetapi masih ada kemungkinan tubuhku akan terjatuh.

Para kasim berdiri di belakang singgasana, tersembunyi dari pandangan. Li Lienying telah memberi tahu mereka cara memegang talitali yang menahan Kursi Naga dan diriku pada posisi yang tepat.

Aku tak menyangka atas kejernihan pikiranku. Tetapi penyampaiannyalah yang harus kulalui.


“Sudah kehendakku untuk mati,” kumulai. “Aku harap kalian bisa mengerti bahwa tak ada ibu mana pun yang ingin hidup lebih lama daripada anaknya. Aku tak mencapai apa pun sepanjang hidupku selain mempertahankan keutuhan Cina. Memandang kembali kenangankenanganku sepanjang lima puluh tahun ke belakang, aku telah menghadapi bencana dari dalam dan serangan dari luar yang mendatangi kita bertubitubi.” Dengan susah payah, aku menghela napas dan mengeluarkan suaraku. “Kaisar baru adalah seorang anak kecil, baru menginjak usia ketika ajaran menjadi hal terpenting…”

Aku merasa malu untuk melanjutkan karena aku menggunakan katakata yang sama saat Tung Chih menjadi Kaisar, kemudian dengan Guanghsu. “Aku menyesal aku tak akan berada di sini untuk membimbing Puyi, tetapi itu bukan merupakan kemalangan baginya .... Aku harap kalian semua akan berusaha lebih baik daripada yang kuraih dalam membentuk karakter Kaisar.”

Kenangan Tung Chih dan Guanghsu memenuhi pikiranku. Aku bisa mendengar suara Nuharoo membentakku untuk menghentikan usahaku mendisiplinkan Tung Chih. Kemudian muncul mata berbinar Guanghsu saat dia bicara penuh semangat tentang reformasi: “Ito adalah temanku, Ibu!”

“Merupakan harapan terbesarku,” kupaksa diriku melanjutkan, “agar Kaisar Puyi menekuni pelajarannya dengan rajin dan agar di kemudian hari dia membawakan secercah sinar baru pada pencapaian agung dari para leluhurnya.”

Apa yang kukatakan selanjutnya tak hanya mengagetkan Dewan Istana, tetapi juga seluruh rakyat. Kudeklarasikan bahwa permaisuri dan selir harus dilarang memegang kekuasaan tertinggi. Hanya itu satusatunya cara untuk melindungi Kaisar Muda dari orangorang seperti Nuharoo, Alute, dan Mutiara. Aku tak akan membuat keputusan ini jika saja keponakanku, Lan, tak menyuarakan kekecewaannya setelah mengetahui dia tak akan menjabat sebagai Wali untuk Puyi. Dia memberi tahuku bahwa dia bertekad untuk mengincar kedudukannya yang semestinya.


Kekuatanku mulai menghilang. Leherku mulai terberati oleh beban papan rambutku. Seberapa pun kuatnya aku berusaha, aku tak lagi bisa menggumamkan katakata.

“Apa yang kaulihat, Tuan Putri?” Li Lienying bertanya.

Aku melihat ukiran naga pada langitlangit. Aku ingat pernah memimpikan naganaga ini sebelum aku memasuki Kota Terlarang. Kini aku telah melihat mereka semua, seluruhnya yang berjumlah 13.844.

“Apa…”       Aku teringat peringatan ahli nujumku tentang tanggal buruk untuk meninggal.

“Apa tanggal sekarang?” Li Lienying menebak.

Aku ingin mengangguk, tetapi tak bisa.

“15 November 1908, Tuan Putri. Itu tanggal yang baik.”

Pikiranpikiran aneh mulai bermunculan dari dalam kepalaku: Aku salah telah tinggal. Apa aku tahu langkah-langkahnya? Katakata tak akan bisa menghentikan banjir.

“Tuan Putri?” Kudengar suara Li Lienying dan kemudian dalam sekejap, aku tak bisa mendengar—

“Ini adalah akhir dari hidupku, tetapi tidak bagi yang lain, Anggrek.” Aku bisa melihat ayahku bicara di atas ranjang kematiannya.

Kupejamkan mataku dan menatap saksama diri Li Lienying. Aku merasa sedih harus meninggalkannya.

Kabut putih tebal menyelubungiku. Di tengah kabut, ada cairan kuning telur yang lembut seperti matahari merah. Kuningtelur itu mulai bergoyanggoyang seperti lampion Cina di tengah terpaan angin lembut. Aku mendengar alunan musik lama dan mengenali bunyinya. Itu berasal dari merpati putih Antehai. Aku ingat dirinya mengikatkan peluit dan lonceng di kaki merpatinya. Aku melihat mereka sekarang. Ratusan ribu merpati putih beterbangan mengitari istanaku. Bunyinya adalah.”Wuhu, Kota Kelahiranku nan Permai.”





Lembar Akhir



ANGGREKPUTRI YEHONALA, Permaisuri Tzu Hsiwafat pada usia tujuh puluh tiga.

Cina mulai mengalami keruntuhan usai pemakamannya. Negara memasuki masamasa kelam karena berkuasanya kembali panglima perang dan tak adanya keteraturan hukum. Sementara kekuatan Barat membagibagi pesisir Cina menjadi hak kepemilikan kolonial, jepang memasuki Utara Cina, mendirikan apa yang akan kita sebut dengan Kerajaan Manchuria.

Pada 1911, Sun Yatsen mendarat di Shanghai. Dia berhasil menyulut pemberontakan militer dan mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai Presiden Pertama Sementara dari Republik Cina Baru.

Pada 12 Februari 1912, Kaisar Puyi menyerahkan kekuasaannya pada Yuan Shihkai, yang menyatakan dirinya sebagai Presiden Republik, mengambilnya dari Sun Yatsen, kemudian segera membentuk dinastinya sendiri. Yuan Shihkai tak lama meninggal akibat stroke dan dia diejek sebagai “Kaisar delapanpuluhtigahari”.

Pada 1919, seorang panglima perang bernama Chiang Kaishek menyebut dirinya sebagai murid Sun Yatsen. Setelah kematian Sun pada 1925, Chiang Kaishek menjadi presiden baru Republik. Dia menggantungkan pemerintahannya pada dukungan militer dan keuangan dari Amerika serta berjanji untuk membangun Cina yang demokratis.

Pada 1921, disokong oleh orangorang komunis Soviet, Mao Tsetung, seorang pelajar pemberontak dan prajurit gerilya dari Provinsi Hunan, mendirikan, bersama dua belas pengikutnya, Partai Komunis Cina.

Pada 1924, Jepang menjadikan Puyi sebagai kaisar boneka Manchuria dan mendorongnya untuk “merebut kembali Kekaisaran Cina”.

Pada 1937, Jepang menyerang Cina. Sang Reformis Kang Yuwei melanjutkan tinggal di Jepang. Dia berpisah dengan muridnya, Liang Chichao, yang kemudian bergabung dengan Sun Yatsen, kemudian dengan Yuan Shihkai. Dia akhirnya berhenti mengikuti keduanya dan memilih menjadi warga sipil.

Li Lienying meninggalkan Kota Terlarang setelah penguburan Janda Kaisar. Dia pergi untuk tinggal di sebuah biara dekat makam Maharani kesayangannya hingga ajalnya tiba.



Tentang Penulis



ANCHEE MIN dilahirkan di Shanghai pada 1957, saat Mao Zedong sang pemimpin komunis berkuasa. Pada 1984 Min pindah ke Amerika, yaitu setelah kematian Ketua Mao, eksekusi Nyonya Mao, dan kondisi politik yang semakin panas. Min menerbitkan buku pertamanya, sebuah memoar berjudul Red Azalea, di Amerika pada 1994, yang segera menjadi New York Times Notable Book. Karya Anchee Min lainnya sebelum The Last Empress berturutturut adalah Katherine (1995), Becoming Madame Mao (2000), Wild Ginger (2002), dan Empress Orchid (2004)yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Penerbit Hikmah pada Januari 2008.

Anchee Min tinggal di Los Angeles bersama suami dan anak perempuannya. Selain menulis Min juga dikenal sebagai seorang pelukis, musisi, dan fotografer.




Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified