Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Tears of Heaven Part 4


Pada Jumat 13 Februari, berita pagi menyiarkan bahwa sekali lagi Nabih Berri berjanji akan menghentikan penyerangan supaya makanan dapat dikirim ke kamp. Keluarga Cutting datang ke kantor MAP, berharap kami akan dapat menghubungi putri mereka, Pauline, melalui radio. Mereka adalah orang-orang yang sangat tabah dan luar biasa pengertian. Kami semua tahu pasti betapa cemasnya
mereka tetapi mereka tak pernah sekali pun menyalahkan kami karena membiarkan Pauline terlibat dalam situasi berbahaya seperti ini, dan mereka selalu mendukung segala kegiatan organisasi kami. Setiap kali ditanya tentang putri mereka, mereka selalu mengatakan bahwa ia hanyalah salah satu dari ribuan orang yang terperangkap dalam pengepungan tersebut.
Pada pukul sembilan malam, kami akhirnya berhasil menghubungi Pauline. Penyerangan belum juga dihentikan dan rumah sakit dibanjiri para korban perang. Empat belas kaki telah diamputasi pada hari itu. Enam orang meninggal dan delapan belas orang terluka. Konvoi makanan telah ditembaki dan sang sopir ditembak di bagian kepala.
Para sukarelawan memberi tahu kami, "Kami akan tinggal dengan para penduduk kamp sampai bahaya ini usai. Kami akan tetap bersama mereka hidup atau mati bersama mereka."
Aku merasa sangat bangga dengan mereka, namun ketika memandang ke seberang ruangan tempat orangtua Pauline berada dan memikirkan orangtua Suzy dan ibu Hannes, aku tahu, ini saatnya bagiku untuk kembali ke Beirut.[]
Dua Puluh Lima
Kami harus membentuk sebuah tim untuk menggantikan Pauline dan teman-temannya di kamp Bourj el-Brajneh, dan kami harus mengggalang dana untuk membeli obat-obatan dan peralatan untuk mengganti alat-alat yang sudah usang di kamp. Kami sangat sibuk selama beberapa hari berikutnya.
Mengganti tim medis tidaklah semata-mata menukar dua kelompok orang. Banyak hal harus dibereskan sebelum rencana itu dapat diwujudkan. Harus diadakan gencatan senjata, pengenduran pengepungan, dan pengawalan atas tim yang keluar dari kamp sementara tim pengganti mereka memasuki kamp. Tidak ada tanda-tanda ke arah sana. Situasi di kamp semakin memburuk seiring meningkatnya serangan, bahkan terjadi pula serangan dari para penembak jitu. Lebih gawat lagi, di luar kamp meletus perang sipil di antara penduduk Lebanon di Beirut, perang itu adalah yang terparah selama ini.
Oleh karena itu, kami meminta empat ribu "kantong darah". Setengahnya untuk diserahkan kepada Palang Merah Lebanon dan setengah lainnya kepada PRCS (Bulan Sabit Merah Palestina). Kami juga memperoleh obat bius, alat-alat bedah, antibiotik, plester Paris, dan segala kebutuhan sebuah rumah
sakit berat seluruhnya empat ton. Kami juga membentuk sebuah tim yang terdiri dari delapan orang sukarelawan medis. Untuk mengurangi risiko penculikan, kami memberangkatkan para tenaga medis yang memiliki paspor non-Inggris.
Kami pergi menuju Beirut pada 2 Maret 1987, kali ini melalui Siprus, karena bandara Beirut lagi-lagi ditutup. Sayangnya, aku hanya bisa pergi sampai Siprus karena visa masukku ke Lebanon ditolak. Aku tidak terkejut menerima perlakuan seperti itu dari para petinggi Lebanon. Jelas sekali bahwa orang-orang yang menyerang kamp tak ingin teman-teman dan pendukung Palestina datang ke kamp, dan mereka pasti mengenali namaku. Mereka pasti telah menekan Kedutaan Lebanon untuk tidak memberiku visa.
Kami mendapat kabar bahwa Pauline Cutting telah menerima ancaman pembunuhan. Segala sesuatu menjadi bertambah suram dan aku merasa tak berdaya. Harian The Guardian di Inggris memuat profil diriku dengan judul "Malaikat dengan Sayap Terbelenggu". Kurasa, judul berita utama itu sangat tepat, setidaknya tentang sayap yang terbelenggu.
Sisa anggota tim melanjutkan perjalanan ke Lebanon dengan kapal, membawa tiga puluh sembilan peti berisi obat-obatan dan peralatan medis. Mereka dipimpin oleh Mayor Derek Cooper, Ketua MAP. Ketika mereka tiba di Beirut Timur, Mayor Cooper dan Lady Pamela, istrinya, dianjurkan oleh Duta Besar Inggris untuk tidak menyeberangi Garis Hijau. Semua orang pemegang paspor Inggris men-
jadi sasaran penculikan di Lebanon. Sang Duta Besar telah cukup kerepotan menangani masalah penculikan Terry Waite dan John McCarthy, serta Pauline dan Suzy yang terperangkap di kamp. Ia tidak mau tambah direpotkan dengan penculikan Mayor Cooper dan Lady Pamela.
Jadi, kelima sukarelawan yang tidak memegang paspor Inggris tak seorang pun dari mereka pernah datang ke Beirut, pergi menuju Beirut Barat tanpa pasangan Cooper. Tugas mereka adalah mengirimkan 39 peti berisi obat dan peralatan medis melintasi Garis Hijau, dan tiba di kamp Bourj el-Brajneh, merundingkan gencatan senjata, dan masuk ke kamp untuk menggantikan tim yang tengah terperangkap di dalamnya. Mereka dengan penuh keberanian mengajukan diri secara sukarela untuk melakukannya. Sebagai pemimpin tim, aku pasti telah sinting karena membiarkan mereka pergi!
Sementara itu, aku pergi ke Mesir dengan pesawat. Aku menduga, di Kairo ada orang yang pernah mendengar upayaku membantu rakyat Palestina. Mungkin perwakilan pemerintah Lebanon di sana mau memberiku visa. Konsulat Inggris di Kairo menulis surat rekomendasi kepada Sekretaris Pertama di Kantor Bagian Hubungan Luar Negeri Kedutaan Prancis, meminta mereka untuk mempercepat pengurusan visa tersebut, sehingga aku dapat pergi ke Beirut dalam rangka misi kemanusiaan. Aku berhasil mendapatkan visaku pada 30 Maret 1987, dua puluh delapan hari setelah meninggalkan London.
Ketika menghubungi orang-orang di London,
aku baru tahu bahwa kelima orang sukarelawan itu belum berhasil memasuki kamp. Penyerangan belum dihentikan dan 63 orang wanita telah tertembak oleh para penembak jitu. Mereka terluka ketika hendak membawakan makanan bagi para penduduk kamp yang kelaparan. Dua puluh satu orang wanita gugur. Kamp Shatila kehabisan bensin dan mereka membakar perabotan rumah tangga supaya tetap hangat. Para pemuda kamp Shatila rela kelaparan supaya para wanita dan anak-anak tetap bisa makan. Pauline telah menerima sebuah surat ancaman pembunuhan.
Pasukan penjaga perdamaian Suriah telah pindah ke Beirut dan telah menghentikan perang sipil yang terjadi di luar kamp. Namun, para tentara Suriah itu belum juga dikerahkan ke sekitar kamp Palestina, dan Suriah tampaknya membiarkan pasukan Amal melanjutkan pengepungan dan penembakan terhadap wanita dan anak-anak. Kedua orangtua Pauline telah mengirim telegram kepada Hafiz al-Assad, Presiden Suriah, memohon agar pengepungan tersebut dihentikan sehingga putri mereka dapat pulang. Tak ada perubahan. Pasukan penjaga perdamaian Suriah tetap menjaga jarak dan pengepungan pun terus berlanjut.
Kurasa, mungkin Damaskus memegang posisi kunci dalam situasi ini. Pasukan penjaga perdamaian Suriah baru saja tiba di Beirut dan berhasil menghentikan perang di antara warga Lebanon. Jadi, jika Suriah mampu menghentikan perang sipil antara kelompok Druze, Amal, dan faksi Lebanon lainnya,
tentunya mereka dapat memaksa pasukan Amal menghentikan pengepungan kamp. Presiden Assad pernah menyatakan bahwa Palestina adalah bagian dari Suriah Raya, ini berarti ia berpihak kepada Palestina.
Walaupun hubungan antara Suriah dan PLO pada waktu itu sangat tegang karena berbagai sebab, Suriah akan bisa memahami bahwa ada alasan kemanusiaan untuk melakukan gencatan senjata dan mengizinkan pasokan untuk para penduduk yang kelaparan. Banyak dari kami menyadari bahwa jika Suriah memerintahkan penghentian pengepungan atas kamp itu, hubungan antara Suriah dan Amal akan tegang. Padahal, Amal adalah salah satu sekutu utama Suriah dalam pertempuran melawan Israel. Akan tetapi, demi menyelamatkan nyawa banyak orang, mungkin Presiden Assad akan menganggap bahwa ini adalah harga yang pantas untuk dibayar. Tapi maukah dia?
Cepat atau lambat, aku harus berbicara kepada Suriah untuk menyediakan pengawalan bagi orang-orang kami ketika mereka keluar dari kamp. Aku memutuskan bahwa lebih baik aku segera melakukannya, sebagai persiapan sebelum tiba di Beirut. Jadi, aku menulis sebuah surat kepada Presiden Assad:
Yang Mulia
Presiden Hafiz al-Assad        3D Maret 1987
Yang Mulia,
Saya berharap Anda telah menerima telegram dari orangtua dr. Pauline Cutting yang memohon dihentikannya pengepungan sehingga putri mereka dapat pulang.
Saya adalah Ketua Tim Paramedis Internasional yang berangkat dari London menuju Beirut pada 2 Maret 1987. Rakyat Inggris telah mengutus kami, berharap bahwa kami dapat menggantikan tim dr. Cutting yang saat ini berada di kamp Bourj el-Brajneh di Beirut Barat. Mungkin saya terkesan tidak sopan, sebagai seorang dokter asing, saya berani meminta secara langsung kepada Yang Mulia. Saya benar-benar memohon supaya Anda memaafkan saya dan sudi bersabar menyimak permohonan saya. Saya pertama kali menginjakkan kaki di Lebanon pada 1982, sebagai sukarelawan yang membantu rakyat yang menderita di Lebanon dan menjadi korban serangan Israel. Saya telah banyak melihat penderitaan dan kekejaman, dan saya adalah salah seorang dokter yang pernah terkepung di kamp Sabra dan Shatila selama pembantaian berlangsung. Dibesarkan sebagai seorang pemeluk Kristiani, saat itu barulah saya membuktikan dengan mata kepala sendiri, kisah pedih rakyat Palestina dan kisah itu ditulis dengan darah. Saya kemudian memberi kesaksian di hadapan Komisi Kahan di Israel atas nama penduduk kamp. Saya merasa harus menyuarakan nasib wanita dan anak-anak tak berdosa yang dibunuh secara brutal ketika Israel men-
duduki kamp-kamp tersebut. Kali ini, lagi-lagi jerit tangis wanita dan anak-anak Palestina di kamp Shatila dan Bourj el-Brajneh terdengar oleh saya. Bukan hanya saya yang mendengarnya, melainkan juga masyarakat internasional, termasuk masyarakat di Inggris. Lima bulan pengepungan atas kamp-kamp ini mengakibatkan bencana kelaparan, kematian, dan kesengsaraan. Para korban terus menderita dan tewas. Masyarakat internasional dan masyarakat Inggris telah memberikan tanggapan yang luar biasa terhadap penderitaan warga Palestina ini. Kini, kami mempunyai obat-obatan dan makanan bagi mereka yang kelaparan. Para dokter dan perawat dari seluruh dunia telah meninggalkan negeri mereka dan menyumbangkan tenaga secara sukarela demi rakyat Palestina, meskipun mengetahui risiko yang harus mereka hadapi.
Di seluruh dunia, orang-orang menyimak dengan antusias berita masuknya pasukan penjaga perdamaian Suriah. Mereka berharap agar pengepungan kamp dihentikan sehingga bala bantuan dapat diserahkan kepada warga Palestina yang telah lama menderita. Namun, yang kami dengar justru berita-berita tentang para wanita yang ditembaki dan tewas ketika berusaha keluar untuk membeli makanan bagi anak-anak mereka, rombongan bala bantuan yang ditembaki ketika berusaha membawakan makanan bagi penduduk kamp.   Pastilah   tindakan-tindakan   seperti   ini
bertentangan dengan kebijaksanaan Yang Mulia dan pasukan penjaga perdamaian Suriah. Komunitas internasional dapat terus memberikan sumbangan makanan dan obat-obatan. Para dokter dan perawat dapat terus menyumbangkan tenaga mereka. Dr. Pauline Cutting dan timnya dapat terus bekerja sendirian hingga kepayahan di kamp Bourj el-Brajneh yang tengah terkepung, sampai seluruh kamp binasa akibat kelaparan, penyakit, dan berbagai luka yang diderita. Namun, hanya Yang Mulia yang dapat mengakhiri penderitaan yang kelewat batas ini. Pada 1982, di puncak pembantaian Sabra dan Shatila, kami menyeru Angkatan Bersenjata Israel untuk menghentikan pembantaian tetapi permohonan kami tidak digubris, dan pembantaian terus berlanjut. Saya membawa fakta ini ke hadapan Komisi Kahan di Israel. Kini, pada 1987 ini, saya menyerukan kepada Yang Mulia untuk menggunakan segala kekuasaan Yang Mulia untuk mengakhiri penderitaan warga Palestina di kamp-kamp yang diserang, serta untuk melindungi nyawa para wanita dan anak-anak. Saya juga memohon Yang Mulia memberikan perlindungan kepada dr. Pauline Cutting dan timnya dan mengizinkan tim dokter yang baru yang telah berada di Beirut Barat selama hampir sebulan untuk menggantikan posisi mereka. Dengan cara ini, Yang Mulia tidak hanya mengabulkan permohonan kedua orangtua dari dokter asal Inggris itu, yang kini sedang dalam
kecemasan yang luar biasa, tetapi juga masyarakat Inggris yang mensponsori seluruh upaya ini. Dengan penuh harap saya menunggu instruksi Yang Mulia, dan secara pribadi saya akan menelepon kedutaan Yang Mulia di Siprus pada minggu ini.
Dr. Swee Ang
Agar surat itu dapat sampai ke Suriah, aku mengirimnya dari Kairo melalui faks kepada Mike Holmes di kantor MAP London, dan memintanya untuk membawa surat itu ke kuasa usaha Bagian Urusan Suriah di Kedutaan Lebanon di London. Kedutaan Suriah baru-baru ini ditutup dan Kedutaan Lebanon lah yang menangani kepentingan pemerintah Suriah. Mike juga membawa beberapa guntingan surat kabar tentang diriku, dan semuanya itu dikirimkan dalam sebuah map diplomatik kepada sang Presiden.
Aku tahu bahwa siapa pun di Damaskus yang membuka surat untuk Presiden itu mungkin mengira aku gila dan hanya akan memasukkan surat itu ke keranjang sampah. Untuk memastikan hal itu tidak terjadi, aku meminta Mike memberi tahu mereka bahwa aku bersiap-siap untuk menyiarkan isi surat itu melalui sebuah radio Arab. Dengan demikian, seluruh warga Timur Tengah akan mendengarnya dan Presiden juga akan mendengar apa yang telah kutulis. Pada malam yang sama, aku baru mengetahui bahwa Mike telah pergi menemui kuasa usaha itu
dan telah memberitahukannya persis seperti yang kukatakan. Sekarang, aku hanya tinggal kembali ke Siprus dan mendatangi Kedutaan Suriah untuk mencari informasi.
Tanggal 2 April, aku menelepon Kedutaan Suriah di Siprus untuk mencari tahu apakah ada perkembangan lebih lanjut. Sepertinya, tak seorang pun di sana yang mengetahui tentang tim paramedis Inggris yang tengah terperangkap di kamp Bourj el-Brajneh. Namun, Sekretaris Pertama dengan ramah menyanggupi untuk mengecek ke Damaskus. Setelah meninggalkan nomor teleponku kepada sekretarisnya, aku pergi sambil menunggu perkembangan selanjutnya.
Pagi berikutnya, pada pukul sembilan, Kedutaan Suriah menelepon dan memintaku agar segera menghubungi mereka dan mengirimkan surat asli yang kutulis kepada Presiden, bersama dengan dokumen perjalananku. Mereka ingin mengirim surat itu kepada Presiden pada pagi itu juga. Surat yang dibawa Mike di London bukan yang asli dan tidak ditandatangani olehku, dan kini jelas-jelas mereka ingin agar surat itu dibuat dengan benar.
Setelah berputar-putar sekitar hampir sebulan hanya untuk mendapatkan visa dari perwakilan pemerintah Lebanon, harus kuakui bahwa aku terkesan dengan efisiensi kerja rekan mereka, yaitu pemerintah Suriah. Sekretaris Pertama Kedutaan Suriah menganjurkan aku menunggu beberapa hari lagi.
Tiga hari kemudian, tanggal 6 April, siaran bu-
letin berita pagi BBC, World Service, mengumumkan bahwa pasukan penjaga perdamaian Suriah tengah bergerak untuk mengambil alih posisi pasukan Amal di kamp Shatila, dalam rangka mengupayakan gencatan senjata. Ini berarti makanan akan bisa dipasok ke dalam kamp Shatila. Dua hari berikutnya, pasukan penjaga perdamaian Suriah memberlakukan gencatan senjata di kamp Bourj el-Brajneh. Hari berikutnya lagi, Sekretaris Pertama Kedutaan Suriah di Siprus mendorongku untuk pergi ke Beirut dan ke kamp Bourj el-Brajneh, untuk menemui orang-orang kami. Ia pasti sudah bosan melihatku berkeliaran di Kedutaan Suriah setiap hari, menanyakan apakah aku dapat menemui Presiden Assad, dan menanyakan pula jika ada balasan untuk suratku.
Ia meyakinkanku bahwa tidak akan ada masalah ketika aku mencapai wilayah yang diawasi oleh pasukan Suriah di Beirut. Aku pun pergi dan membeli tiket feri yang berangkat malam hari dari Larnaca menuju Jounieh.
Tepat pada pukul tujuh pagi tanggal 10 April, kapal feri dari Siprus berlabuh di dermaga Jounieh. Matahari telah terbit dan aku melemparkan pandangan ke laut. Para tentara Lebanon memasuki feri dan berbaris di sepanjang tepi jalan menuju dermaga. Mereka melakukan penjagaan sangat ketat, tetapi tidak kasar. Para penumpang wanita bersegera mengulaskan lipstik dan menyemprotkan parfum ke tubuh mereka seraya menatap ke luar ke arah kerumunan yang menunggu dengan tidak sabar di luar kapal. Orang-orang melompat dengan gem-
bira seraya menyapa orang-orang terkasih yang berjajar di kedua tepian. Seorang tentara yang masih muda berteriak kencang dalam bahasa Inggris, "I love you!" Seorang wanita muda wajahnya merona merah karena malu dan berusaha menyembunyikan senyumnya. Minggu-minggu penuh kekhawatiran dan ketidakpastian, dan ditutup dengan malam panjang yang kulalui tanpa tidur di atas dek kapal feri yang ramai, mungkin turut menyebab-kanku merasa bahwa kedatanganku kembali ke Beirut ini seolah-olah adalah mimpi.
Betulkah aku telah berhasil? Apakah ini pelabuhan Beirut Timur yang pernah kusinggahi pada 1982? Aku melewati pos bea cukai dan pos pemeriksaan, dan seiring berjalan ke luar, aku menangkap sesosok berambut pirang dan berjaket biru pudar, Oyvind, koordinator NORWAC. Ia melambai dengan penuh semangat dan aku membalasnya. "Selamat datang, Swee!" Oyvind berteriak kencang dari arah kerumunan. Tinggi dan berusia pertengahan tiga puluhan, Oyvind adalah seorang yang sangat sabar dan bertutur kata lembut sisa-sisa dari masa pendidikannya sebagai seorang pendeta. Ia kerap tertawa dan matanya yang ramah menunjukkan bahwa ia adalah seorang pria yang mencintai kehidupan dan orang-orang.
Oyvind membawaku ke sebuah taksi yang menunggu di tepi jalan dan kami meletakkan koper besarku, koper yang sama yang kugunakan pada 1982 ke dalam bagasi. Taksi pun melaju. Beirut Timur terlihat lebih makmur dan lebih rapi daripada
tahun 1982, jalan-jalan raya terasa halus dan terdapat lampu-lampu lalu lintas yang dipatuhi oleh para pengguna jalan. Terdapat toko-toko dan perkantoran. Gambar-gambar besar Presiden Lebanon, Amin Gemayel, terpampang di mana-mana. Kami menuju Garis Hijau, Oyvind memutuskan untuk menggunakan penyeberangan sipil yang telah terbebas dari ancaman para penembak jitu. Kemacetan di penyeberangan benar-benar parah. Kami memutuskan untuk turun, berjalan melintasi Garis Hijau tersebut dengan menenteng koperku, dan menumpang taksi lainnya di Beirut Barat. Di mataku, Beirut Timur tampak tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di Timur Tengah. Namun, ketika melintasi Garis Hijau menuju Beirut Barat dan melihat dinding-dinding yang bolong terkena peluru, bangunan-bangunan yang hancur terkena bom, dan jalanan yang kotor serta penuh debu, juga lalu lintas yang kacau, aku tahu ini bukan mimpi, aku telah kembali ke tempat yang sama. "Halo, Beirut," gumamku, "aku datang!"
Taksi menderu di jalanan yang sempit. Aku bisa tinggal bersama rekan-rekan Norwegia di flat NORWAC di Hamra. "Bagaimana rasanya kembali ke sini?" Oyvind tahu bahwa permohonan visaku ditolak di kedutaan-kedutaan Lebanon di London, Roma, Athena, dan Siprus. Ia tahu bahwa aku nyaris tidak mendapatkannya. "Fantastis!" kataku. Hanya itu kata terbaik yang dapat kutemukan untuk menggambarkan perasaanku. Bahkan setelah bertahun-tahun terjadi perang, Beirut masih tetap sebuah
kota yang sangat indah. Sang sopir bertanya, "Apakah Anda mencintai Beirut?" Aku menjawab bahwa aku memang mencintainya, dan ia meneruskan perkataannya, "Pertama kali saya membawa putra saya yang masih kecil ke atas gunung dan menunjukkan padanya pemandangan Kota Beirut dari puncak itu, ia menangis. Ia bertanya mengapa orang-orang berusaha menghancurkan kota seindah ini."[]
Dua Puluh Enam
Masyarakat Lebanon masih hangat, bersahabat, dan ramah. Meskipun mereka tampak marah, kemarahan mereka tidak lagi ditujukan kepada sesamanya. Sungguh menyedihkan bahwa sekian lama Lebanon menjadi ajang pertempuran. Banyak prasarana ekonomi yang hancur akibat perang. Mata uang lira Lebanon nyaris sepenuhnya kolaps. Selama bertahun-tahun, berbagai upaya telah dilakukan untuk membuat Lebanon menjadi labil dan terpecah belah, dan mengubah putra-putranya menjadi sasaran tembak. Upah sangat rendah dan pekerjaan sulit didapat. Banyak pemuda yang terpaksa bertempur demi bertahan hidup. Mereka bergabung dengan berbagai pasukan milisi, dan tatkala bertugas, mereka menembak sesamanya. Namun, tatkala tidak bertugas, mereka tidak harus membunuh. Barulah saat itu kita betul-betul bisa menghargai kebaikan mereka sisa-sisa keramahan khas bangsa Arab dan kehangatan yang tetap bertahan meskipun menghadapi kekejaman. Dalam mimpi, aku dapat mendengar suaraku yang berteriak kencang, "Biarkan Lebanon hidup tenang, berikan anak-anak kesempatan untuk tumbuh dewasa. Tak perlu ada lagi senjata, tak perlu lagi tank-tank. Biarkan mereka!" Setelah tiga belas  tahun peperangan,  aku
merasakan  orang-orang   ini  menginginkan  perdamaian. Tingkat toleransi mereka menakjubkan. Tidak ada aturan lalu lintas mereka berlalu lalang di jalan dengan saling pengertian. Jika terjadi kecelakaan yang tak menyebabkan timbulnya korban, maka "malisy" tidak mengapa. Jika timbul korban, maka "alhamdulillah" (puji Tuhan) bahwa tak ada yang meninggal. Di sini, tidak seorang pun harus berkhotbah tentang perlunya saling memaafkan, semua berjalan dengan sendirinya.
Aku ingin sekali menemui banyak orang, orang-orang yang tidak pernah kudengar kabarnya selama bertahun-tahun, baik warga Palestina maupun Lebanon. Oyvind meyakinkanku bahwa tim MAP di Bourj el-Brajneh masih hidup dan dalam keadaan mental yang baik. Kami dipanggil ke klinik PRCS di kamp Mar Elias. Kamp ini merupakan kamp pengungsi Palestina yang berukuran kecil, yang pada awalnya merupakan sebuah kamp bagi para warga Kristen Palestina, kelompok ini cukup besar jumlahnya. Pada tahun-tahun terakhir ini, kebanyakan keluarga Kristiani telah meninggalkan Beirut dan Mar Elias menjadi pusat administratif hampir semua partai politik Palestina, seperti Fatah Intifada partai Abu Musa yang merupakan pecahan Fatah, Sa'iqah, Front Demokratik Pembebasan Palestina, dua partai pecahan dari Front Pembebasan Palestina, Partai Nidal Dewan Revolusioner Fatah (Abu Nidal), dan lain-lain semua kecuali kelompok yang setia terhadap Arafat. Mereka yang setia pada Arafat ini harus beraktivitas secara diam-diam karena pe-
merintah Suriah dengan agresif memburu mereka.
Selain kantor-kantor partai politik ini, terdapat berbagai perwakilan bala bantuan dari Eropa dan United Nations Relief and Work Agency (UNRWA), dan tentunya PRCS. Meskipun Ummu Walid masih memegang PRCS di Lebanon, kini ada direktur-direktur wilayah seperti dr. Muhammad Utsman di Beirut, dr. Ali Abdullah di Saida, dan banyak lagi. Sangat menyenangkan bertemu kembali dengan Ummu Walid, dan aku diperkenalkan dengan dr. Utsman. Klinik PRCS di Mar Elias merawat sebanyak seratus lima puluh hingga dua ratus orang pasien rawat jalan setiap harinya, sekarang sebuah rumah sakit baru tengah dibangun. Ke mana pun aku pergi Lebanon, Mesir, Sudan, pastilah kutemukan PRCS mendirikan sebuah bangunan, klinik atau rumah sakit, pada saat damai maupun perang.
Pemerintah Suriah telah mencanangkan gencatan senjata dan kamp-kamp tidak lagi diserang, tetapi masih tetap dikepung. Jalan masuk ke kamp ditutup dan dijaga oleh Pasukan Khusus Presiden Assad dan Pasukan Intelijen Suriah. Para wanita Palestina kini diperbolehkan keluar untuk membeli makanan bagi keluarga mereka. Sebelum pasukan Suriah bergerak, para wanita dibunuh jika mencoba memasuki ataupun meninggalkan kamp untuk membeli makanan dan mendapatkan air. Banyak dari mereka terluka maupun terbunuh. Tak seorang pun kini berani menembaki para wanita Palestina di hadapan pasukan penjaga perdamaian Suriah. Sungguh menakjubkan betapa takutnya mereka terhadap pa-
sukan Suriah baik orang-orang Lebanon maupun Palestina!
Hari sudah siang sebelum aku meninggalkan Mar Elias, tetapi aku ingin mengunjungi kamp Shatila dan Bourj el-Brajneh. Menurut perjanjian gencatan senjata, para wanita tidak perlu izin khusus dari Pasukan Intelijen Suriah untuk memasuki atau pun meninggalkan kamp jadi kuputuskan untuk mencobanya. Aku membeli sehelai kerudung, mengikatkannya di kepalaku, dan tiba di perbatasan Sabra-Shatila.
Pasar Sabra diliputi hiruk pikuk kehidupan dan banyak orang yang berbelanja maupun berjualan. Selain kios-kios yang menjual sepatu, baju, dan alat-alat mandi, ada kios-kios yang menjual ikan, daging, buah-buahan, dan sayur-mayur. Kelihatannya suasana di sini baik-baik saja, dan para pengunjung yang tidak berjalan hingga kamp Shatila mungkin tidak menyadari keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi, pasar tersebut tidak terletak di kamp Sabra bagian Palestina pasar ini terletak di bagian Lebanon. Pada 1982, kamp Sabra dan Shatila merupakan rumah bagi warga Palestina maupun Lebanon, mereka hidup bersama selama bertahun-tahun. Ketika Israel menyerang dan mengirim para pembunuhnya untuk menghabisi penduduk kamp, kedua warga ini sama-sama menderita. Namun, setelah 1985, ketika perang kamp pertama dimulai, para penyerang menjalankan siasat mengisolasi warga Palestina.
Kamp Sabra jatuh ke tangan lawan pada 1985,
dan banyak keluarga Palestina yang tewas terbunuh dan pergi untuk menyelamatkan diri. Sehingga, yang tersisa hanyalah para keluarga Lebanon yang menjadi saksi atas apa yang terjadi pada para tetangga mereka orang-orang Palestina di Shatila. Bagian kamp Sabra yang pernah ditinggali oleh warga Palestina letaknya berdekatan dengan Rumah Sakit Gaza. Rumah-rumah milik warga Palestina dihancurkan sehingga walaupun dilakukan gencatan senjata, mereka yang melarikan diri tak punya tempat untuk kembali. Rumah-rumah tersebut belum dibangun kembali. Di seberang jalan raya, kamp Shatila membuat gerakan perlawanan yang hebat dan tidak jatuh ke tangan lawan. Akan tetapi, kamp tersebut dikepung musuh sejak 1985.
Kamp itu dikepung total selama hampir dua tahun sejak Mei 1985 hingga April 1987, pengepungan hanya sempat dihentikan selama beberapa bulan. Semua jalan masuk dan keluar kamp dikelilingi tank dan pasukan milisi sehingga tak seorang pun dapat masuk ataupun keluar dari kamp. Kamp menerima serangan dalam skala besar-besaran, bom-bom berjatuhan serta roket-roket diluncurkan ke rumah-rumah penduduk. Pernah terjadi gencatan senjata, dan hanya diberlakukan jam malam yang ketat. Selama enam bulan terakhir pengepungan kamp Shatila, pasar terus melanjutkan penjualan segala jenis buah-buahan yang lezat, daging, dan sayur-mayur, sementara warga Palestina di kamp Shatila kelaparan. Ketika mereka meminta makanan, yang mereka terima hanyalah peluru serta mortir.
Ketika para pemimpin spiritual Muslim mengizinkan warga Palestina yang kelaparan di kamp Shatila untuk memakan jasad manusia, penduduk kamp menyeru kepada dunia,
Sepanjang sejarah, berbagai negara dan masyarakat telah terhapus karena peperangan, bencana alam, dan wabah penyakit, tetapi bukan karena kelaparan yang dipaksakan seperti yang kami alami ini. Apakah kalian menggunakan wabah kelaparan sebagai senjata, untuk membuat kami lapar sehingga menyerah? Di manakah kesadaran orang-orang abad ke-20 ini? Jika kami memang mati dengan cara seperti ini, biarkanlah tercatat dalam sejarah manusia bahwa dunia yang mengizinkan pembantaian di Sabra dan Shatila kurang dari lima tahun yang lalu, kini membiarkan kami mati dengan cara seperti ini.
Kalian bilang kami boleh memakan daging dari jasad manusia. Tapi, bagaimana kami bisa memakan jasad orang-orang yang kami cintai, saudara kami, saudari kami, ayah, ibu dan anak-anak kami?
Para pemuda kamp Shatila rela kelaparan agar orang-orang tua, para korban yang terluka, wanita, dan anak-anak tetap bisa mendapatkan makanan. Shatila mati perlahan-lahan. Akan tetapi, mereka menyongsong kematian dengan penuh kebanggaan dan martabat. Jelas bahwa tak suatu apa pun baik
pembantaian, dua tahun pengepungan, maupun embargo makanan yang dapat meruntuhkan semangat penduduk kamp Shatila. Pengepungan diperketat dan bom-bom terus menghujani reruntuhan dan puing-puing bangunan kamp sepanjang pagi dan malam. Pada awal 1987, musim dingin yang menusuk tulang di Lebanon menyebabkan berjangkitnya wabah kelaparan, penyakit, dan banjir di kamp. Aku berandai-andai jika Shatila dapat bertahan dari semua itu.
Kamp kecil ini, dua ratus yard luasnya, telah menjadi simbol gerakan perlawanan penduduk Palestina yang gigih. Kamp ini telah menjadi seperti Alamo atau Stalingrad bagi warga Palestina.
Di Barat, hanya tersiar segelintir kabar mengenai Shatila. Aku tidak tahu apa yang akan kusaksikan di sana dan jantungku berdetak semakin cepat seiring aku meninggalkan pasar Sabra menuju kamp Shatila. Jalanan tidak rata dan berlumpur, setengah tergenang banjir dengan sampah-sampah mengapung. Aku dapat melihat bagian belakang Rumah Sakit Gaza. Bangunan itu tampak kosong serta terpencil. Seiring aku terus berjalan, bagian depan Rumah Sakit Gaza yang berselimutkan jelaga mulai tampak. Bangunan-bangunan di sebelahnya tampak kosong, keluarga-keluarga di dalamnya pasti telah pergi, pikirku.
Tiba-tiba terdengar bentakan, "Stop!" Dan tiba-tiba muncul seorang pria bersenjata yang berbaju luntur. Ia adalah seorang intelijen Amal berusia sekitar dua puluhan, bertubuh langsing. Menurutku,
ia tampan, tetapi aku kemudian melihat matanya memerah dan tangannya gemetaran, dan otomatis aku mulai menerka-nerka apakah ada yang salah dengannya. Tubuh gemetar, mata merah sangat mungkin ia mengisap ganja dan mungkin juga meng-konsumsi obat perangsang. Perilakunya kasar. Aku berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, pria Amal ini bersenjata dan sejauh mata memandang, hanya aku satu-satunya makhluk hidup selain dia. Saat melirik ke arah pistolnya, kusadari ia tidak memakai peredam suara. Yah, setidaknya jika ia menembakku, seseorang akan mendengarnya.
Aku hanya bisa berdoa karena aku benar-benar tak dapat menebak apa yang akan ia lakukan. Syukurlah aku membawa beberapa pucuk surat untuk para penghuni kamp Shatila. Surat-surat itu ditulis oleh keluarga-keluarga Palestina yang berada di Eropa untuk saudara-saudara mereka di kamp semua kalimat yang setipe seperti "Bagaimana kabarmu? Aku berdoa untuk keselamatanmu". Pria itu berbicara bahasa Inggris cukup baik. Setelah ia membuatku tegang dengan menggeledah tas tanganku, surat-suratku, sepatuku, ia tampaknya mendadak memutuskan bahwa aku tidak sedang berupaya menyelundupkan senjata ke dalam kamp, dan bahwa aku berkata jujur saat menyatakan aku melakukan kunjungan biasa. Ia membiarkanku lewat. Kejadian itu benar-benar menegangkan sampai-sampai aku tak ingin lagi berkeliaran di sekitar kamp Sabra tanpa alasan yang benar-benar jelas.
Sepanjang perjalananku menuju kamp Shatila,
aku sering distop oleh anggota pasukan Amal, beberapa di antaranya berseragam militer dan beberapa lagi berpakaian sipil, tetapi mereka semua bersenjata. Perjalanan itu membuatku stres. Aku memikirkan para wanita di kamp Shatila yang harus melalui situasi ini setiap hari, saat pergi ke pasar untuk membeli makanan bagi keluarga mereka, dan saat pulang sambil menenteng belanjaan. Jika orang-orang Amal bisa melecehkan dan mengancam seorang dokter sepertiku yang baru saja tiba dan jelas-jelas orang asing, aku dapat membayangkan seperti apa perlakuan mereka terhadap wanita-wanita Palestina. Gencatan senjata memang diberlakukan, tetapi aku yakin, jika bukan karena tentara Suriah, aku pasti akan masuk ke dalam daftar orang-orang "hilang" atau bahkan tertembak.
Setelah distop secara "tidak sah" oleh orang-orang itu, akhirnya aku tiba di markas resmi pasukan milisi Amal. Markas itu berupa sebuah blok berisi gedung-gedung flat setinggi empat lantai yang telah rusak akibat tembakan meriam. Melalui lubang-lubang bekas tembakan meriam, aku dapat melihat tumpukan kantong-kantong pasir dan para tentara bersenjatakan senapan mesin. Pada dinding bagian luar terpampang sebuah foto besar pemimpin Amal, Nabih Berri. Selusin lebih tentara Amal berjaga di pos-pos pemeriksaan. Dokumen perjalanan serta barang-barang bawaanku diambil untuk diperiksa. Di dalam bangunan yang tinggi tersebut, terlihat lebih banyak lagi tentara. Mereka tampak berbadan besar dan seram, aku merasa betul-betul takut. Aku tak
pernah mengalami ketakutan seperti ini sebelumnya, bahkan saat intimidasi yang kuterima pada September 1982. Sebagai orang asing, aku bisa saja diculik. Dan karena aku adalah kawan orang-orang Palestina, aku bisa saja ditembak mati. Mereka sepertinya bisa membaca pikiranku dan salah seorang di antara mereka mengokang senapan mesinnya dan menodongkannya ke arahku.
Aku harus melakukan sesuatu sebelum aku jatuh lemas. Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahuku, dan mengatakan kepada mereka selantang mungkin bahwa aku punya janji dengan seorang perwira Suriah di pos pemeriksaan Shatila. Mendengar kata "Suriah", mendadak mereka bersikap lebih lunak. Mereka mengembalikan dokumen perjalanan serta barang-barang bawaanku dan memberi isyarat kepadaku untuk pergi ke pos pemeriksaan Suriah.
Kejadian ini memberiku sebuah kalimat bermanfaat yang untuk seterusnya pasti kuucapkan setiap kali distop oleh pasukan Amal, "Aku punya janji dengan seorang perwira Suriah di pos pemeriksaan." Kalimat ini membuatku terhindar dari bahaya.
Sebagai seorang dokter, aku merasa geli menyadari bahwa kedua kakiku, yang sedetik sebelumnya hampir-hampir tak dapat menahan berat tubuhku, kini memutuskan sendiri untuk berlari menuju pos pemeriksaan Suriah yang terletak di jalan masuk kamp Shatila. Aku ingin berlambat-lambat sehingga tak seorang pun tahu bahwa aku sebenarnya takut, tetapi kakiku tak mau berkompromi se-
dikit pun. Pos pemeriksaan Suriah hanyalah berjarak selemparan batu, aku mengatakan kepada tentara Suriah bahwa aku hendak menyerahkan beberapa pucuk surat kepada para penduduk di kamp. Mereka membuka semua surat itu dan membaca isinya dan akhirnya memutuskan untuk mengizinkanku mengunjungi kamp selama tak lebih dari satu jam. Mereka menyimpan dokumen perjalananku, seraya mengatakan bahwa mereka akan merobeknya jika aku tinggal lebih lama dari enam puluh menit. Hal itu, menurutku, adalah kesepakatan yang pantas, apalagi setelah perlakuan yang kuterima dari pasukan Amal. Aku berterima kasih kepada para tentara Suriah itu dan memasuki kamp Shatila.
Tempat itu secara fisik tak dapat dikenali lagi, sepenuhnya luluh lantak. Di mana-mana terdapat puing-puing, bangunan-bangunan yang sudah rubuh, terabaikan, dan rusak parah. Para warga Palestina berdiri di kedua sisi jalan raya kamp. Kali ini tak ada orang yang melambaikan tangan atau berteriak memanggilku. Tak ada tawa, tak ada sambutan. Tak seorang pun bergerak. Aku tak pernah melihat suasana kamp Shatila yang sebegitu dinginnya. Aku tak dapat memercayainya, alangkah muramnya. Apa yang telah terjadi di sini? Kemudian, aku melewati pria Palestina pertama yang kujumpai di jalan tersebut. Ia masih saja tidak bergerak, tetapi menggumamkan ucapan selamat datang, "Antan, Doctora, ahlan."
Kata-kata itu terus terulang senyampang aku melangkah memasuki kamp. Sambil berdiri atau du-
duk, orang-orang Palestina menyambutku dengan sangat, sangat muram, sama sekali tanpa bergerak.
Samar-samar kuingat jalan yang kutempuh dari kunjunganku pada 1985. Aku berbelok ke kiri ke salah satu lorong sempit kamp yang menuju Masjid Shatila. Begitu aku masuk ke dalam lorong itu, dan bangunan-bangunan yang hancur terkena tembakan meriam menghalangi pandangan orang-orang di pos militer Amal dan Suriah, beberapa bocah dan seorang wanita menghampiriku dan mengantarkanku ke Rumah Sakit Shatila.
"Siapa nama Anda?" tanya anak-anak.
Aku menatap mereka dan bertanya, "Siapa nama kalian?" Yang paling kecil, seorang gadis kecil yang manis, melemparkan senyum lebarnya kepadaku, memasukkan tangannya ke dalam mulutnya dan wajahnya memerah. Rombongan itu kemudian mendampingiku menuju Rumah Sakit Shatila, memberitahuku agar menemui Chris Giannou, seorang dokter keturunan Kanada-Yunani.
Chris dan aku pernah bertemu sekali sebelumnya, yaitu pada 1983 di Paris. Ia telah sangat lama memberikan komitmennya kepada rakyat Palestina dan pernah ditahan pasukan Israel pada masa awal serangan 1982. Chris pergi ke kamp Shatila tahun 1985 untuk mendirikan sebuah rumah sakit dan tetap tinggal di dalam kamp yang dikepung tersebut selama hampir dua tahun. Jika ada seorang dokter asing yang menyerahkan segalanya demi rakyat Palestina, Chris Giannoulah orangnya. Keahlian bedahnya, kemampuannya mengelola administrasi ru-
mah sakit, kesabaran dan keberaniannya, bahkan kehidupan pribadinya, semua diberikannya kepada rakyat Palestina.
"Halo, Chris!" sapaku
Ketika hendak memeluknya, aku menangis. Sudah lebih dari empat tahun sejak terakhir kalinya kami bertemu. Sekarang Chris hanyalah sesosok tulang berbalut kulit.
"Tidak apa-apa," ujarnya. "Jangan mengkhawatirkan kami. Bagaimana kabar Francis? Kemarilah, akan kutunjukkan padamu seisi rumah sakit ini. Kami memiliki segalanya. Rumah sakit ini akan berfungsi lebih baik untuk melayani setiap orang. Lihat, para wanita bahkan membawakan sekotak cokelat. Ambillah," ia menawariku sepotong cokelat.
"Tidak, buat kamu saja, Chris," kataku. "Kamu butuh lebih banyak makan daripada aku. Sudahkah belakangan ini kamu becermin?"  Aku  mengatakan hal yang bodoh dan kami berdua terbahak. Di sini tidak ada kaca untuk becermin.
Setelah aku berjalan-jalan sebentar melihat-lihat isi Rumah Sakit Shatila, tampaklah betapa bangunan ini telah jauh berkembang daripada sekadar sebuah bunker perlindungan yang sempit pada 1985. Kini, rumah sakit tersebut terdiri dari sejumlah blok yang terpisah satu sama lain. Bangunan utama didirikan di atas bunker perlindungan bawah tanah. Bunker perlindungan itu sekarang diubah menjadi sebuah bangsal operasi yang efisien dan aman, di atasnya terdapat dua buah bangsal untuk pasien rawat inap. Lantai teratas rusak parah dan tak
dapat digunakan. Bangsal operasinya bersih dan semua peralatan bedah tersusun dengan rapi. Di sini, tim operasi bedah telah melakukan lebih dari tiga ratus operasi penyelamatan selama enam bulan terakhir. Bangsal itu tidak terlalu luas, maksimal sekitar tiga puluh dengan ketinggian dua puluh kaki. Namun, bangsal operasi itu terbagi dua sehingga mereka dapat melakukan dua operasi sekaligus.
Departemen UGD dan pasien rawat jalan berada di klinik lama milik PRCS yang dibangun pada 1985, dipisahkan dari bangsal operasi dan blok bangsal perawatan oleh sebuah lorong sempit. Klinik itu juga memiliki departemen sinar-X. Mesin sinar-X portable telah difungsikan semaksimal mungkin dan telah disesuaikan untuk menghasilkan pemetaan urogram intravenous dan pemetaan khusus lainnya. Terdapat pula sebuah laboratorium, bank darah, dan sebuah ruangan untuk praktik dokter gigi. Apotek dan klinik obat berada di bangunan lain. Di seberang klinik ini terdapat "kantor" Chris Giannou yaitu sebuah ruang dapur. Di sana, Giannou, sang kepala dokter bedah kamp Shatila dan Direktur Rumah Sakit Shatila, biasa duduk di kursi kayu, menghadap meja kayu bujur sangkar dan melaksanakan tugas-tugas administrasinya. Para pengunjung biasanya dipersilakan duduk di atas tumpukan kantung beras di atas lantai, atau di atas sebuah tabung besar berisi minyak goreng, minyak parafin, atau sabun detergen.
"Perlengkapan kantorku ini beranggaran rendah," kata Chris terkikik. Ruang di sebelahnya ada-
lah sebuah dapur besar dengan luas dua puluh kaki, dan di ruangan inilah mereka tiga kali sehari memasak makanan rumah sakit. Ruang makan para staf, di sebelah dapur, berukuran setengah kali ruang dapur. Ruangan itu mempunyai sebuah meja panjang dari kayu dan dua deret bangku dari kayu pula, tempat para staf rumah sakit duduk untuk makan dan melakukan rapat. Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang paling praktis dan efisien yang pernah kudatangi. Banyak dari staf PRCS yang mengenaliku, dan di dalam rumah sakit ini, jauh dari intaian pasukan Amal, kami bebas untuk saling memberikan peluk sayang.
Saat bergegas meninggalkan tempat itu, kudengar dari seluruh penjuru ruangan orang-orang berkata, "Kami baik-baik saja, Doctora Swee, kami baik-baik saja. Jangan khawatir. Kembalilah dan temuilah kami lagi." Dengan kata-kata yang meneguhkan hati ini terngiang-ngiang di telingaku, aku tergesa-gesa pergi menuju pos pemeriksaan Suriah untuk mengambil dokumen perjalananku dan meninggalkan Shatila. []
Dua Puluh Tujuh
Malam itu, sepulang ke flat NORWAC di Hamra, aku merasa sangat lelah, tapi tak bisa tidur. Ketika akhirnya tertidur, aku menangis dalam mimpiku. Kamp Shatila kini telah mempunyai makanan, tapi akankah warga Palestina di dalamnya cukup kuat untuk membangun kembali komunitas mereka yang telah hancur? Mereka telah terpenjara di dalam puing-puing bangunan selama hampir dua tahun. Shatila kini benar-benar menjadi tempat yang melarat dan berbahaya sebuah kamp konsentrasi. Melarat, karena tempat itu tak lebih dari sebuah kumpulan puing, tanpa air, listrik, maupun harapan hidup. Berbahaya, karena Amal bisa menembakkan peluru dan meriam ke arah kamp kapan saja tanpa memberi peringatan.
Aku terbaring di tempat tidur sambil memikirkan temanku Nahla, aku berharap dapat bertemu dengannya. Pada 1982, ia bekerja bersamaku di Rumah Sakit Gaza, ia sedang melakukan kerja praktik untuk menjadi perawat. Pada 1985, ketika Sabra dan Shatila diserang, Nahla menghentikan studi ke-perawatannya dan ikut berjuang mempertahankan kamp. Ketika kamp Shatila kehabisan amunisi, dengan gagah berani Nahla melewati tank-tank Amal untuk membeli peluru. Empat orang wanita mem-
bawa kembali tiga puluh lima ribu butir peluru ke dalam kamp. Pada 1985, Nahla terluka dan harus bersembunyi. Aku tak dapat mengunjunginya karena ia sedang dalam daftar "incaran" pasukan Amal.
Pada saat berada dalam perjalanan ke Beirut pada April 1987, aku baru mengetahui bahwa Nahla telah meninggal. Kini, reuni yang pernah kami rencanakan takkan pernah terlaksana. Aku terus-menerus bertanya-tanya, apakah nasib Nahla adalah cerminan nasib kamp Shatila. Namun, Nahla adalah sosok yang tegar, dan meskipun karier militernya hanya sebentar dan ia gugur dalam usia muda, ia telah menjadi seorang mayor ketika kehilangan nyawanya. Aku tak bisa tidur malam itu sehingga aku menggubah sebuah puisi untuk Nahla. Dalam puisi itu, aku meratapi kematiannya, dan terutama betapa ingin aku berada di sisinya saat ia gugur. Pada saat kematiannya, Nahla baru saja bertunangan, dan aku memikirkan gaun pengantin yang takkan pernah dipakainya.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Sesaat sebelum fajar, aku memutuskan tidak jadi tidur. Aku bangun, mandi, lalu menunggu Oyvind bangun. Kami akan pergi menemui pasukan Suriah hari ini untuk merundingkan cara supaya Pauline Cutting dan timnya dapat keluar dari kamp dengan aman. Amal telah memberikan ancaman resmi akan membunuh Pauline dan Susan apabila mereka berani keluar dari kamp tersebut. Kami tahu bahwa mereka bersungguh-sungguh dengan perkataan mereka. Hanya pasukan Suriah yang dapat menghentikannya,  se-
hingga Oyvind dan aku pun memutuskan untuk bernegosiasi langsung dengan Jenderal Ghazi Kanaan, Kepala Pasukan Intelijen Suriah di Lebanon.
Kami tiba di Beau Rivage yang dulunya adalah sebuah hotel terkenal di Lebanon. Kini, hotel itu diambil alih oleh pasukan Suriah sebagai markas besar intelijen militer mereka. Jenderal Kanaan sedang pergi ke Damaskus, tetapi deputinya bersedia menemui kami. Setelah pengalaman burukku dengan pasukan Amal di kamp Shatila kemarin, pasukan Suriah jadi terlihat jauh lebih beradab. Aku memberikan kepada deputi Jenderal Kanaan selembar salinan surat yang kutulis untuk Presiden Assad, dan bertanya apakah mereka bersedia mengawal tim medis kami keluar dari kamp. Sulit berkomunikasi dengan mereka karena para perwira Suriah di kantor ini hanya berbicara bahasa Arab dan Prancis, dan Oyvind dan aku hanya bisa bahasa Inggris, Norwegia, dan Cina. Tetapi tampaknya mereka bisa menerka-nerka apa yang kami katakan dan mengutus Mayor Walid Hassanato, perwira intelijen Suriah yang bertugas menangani kamp Beirut, supaya mengantarku ke Bourj el-Brajneh untuk menemui tim MAP.
Mayor Walid berusia tiga puluhan awal, mempunyai wajah bulat dengan kumis yang tergunting rapi. Kesan pertamaku terhadapnya adalah tindak-tanduknya menyenangkan dan beradab. Sulit membayangkan ia berlaku kasar terhadap orang-orang Palestina yang tercatat dalam daftar sasarannya, tetapi banyak orang di kamp yang berkata ia bisa
berubah mengerikan ketika menggunakan kekuasaannya sebagai perwira intel.
Mayor Walid memutuskan untuk mengantarkan Oyvind dan aku ke kamp Bourj el-Brajneh untuk menanyai Pauline Cutting dan timnya yang terperangkap di sana apakah mereka ingin meninggalkan tempat itu. Kami diantar ke mobilnya, lalu kami berangkat. Seluruh situasi ini terasa sangat aneh bagiku. Bagaimanapun, untunglah aku mampu menjaga hubungan baik dengan Mayor Walid, meskipun aku telah lupa hampir semua kata bahasa Arab yang pernah kupelajari, sedangkan Mayor Walid tidak bisa berbicara selain dalam bahasa Arab.
Satu-satunya kalimat yang bisa kukatakan dalam bahasa Arab adalah, "Terima kasih." Jadi, aku mengucapkannya kapan pun kelihatannya pantas untuk diucapkan. Mayor Walid sangat baik dan sopan, dan setiap kali aku mengucapkan terima kasih, ia menjawab, "Terima kasih kembali, Dokter," dalam bahasa Arab.
Ia menurunkan kami di sebuah kantor milik seorang anggota faksi pendukung Suriah-Palestina di Bourj el-Brajneh dan memberitahukan bahwa ia akan kembali pada pukul satu siang untuk menjemput kami. Dengan demikian, kami berkesempatan untuk berbicara kepada orang-orang kami. Setelah Mayor Walid pergi, aku menuju Rumah Sakit Haifa untuk mencari Pauline dan rekan-rekannya. Rumah sakit itu masih berdiri, tapi keadaannya sungguh menyedihkan. Pauline Cutting tampak sangat, sangat kurus. Begitu juga dengan Ben Alofs. Dan aku
bertemu Susan Wighton serta Hannes untuk pertama kalinya. Mereka semua dalam keadaan baik.
Sulit untuk memberi tahu mereka bahwa inilah waktunya pulang ke rumah, kembali berkumpul dengan keluarga mereka. Sebab, kenyataannya, tidak seorang pun dari mereka yang ingin pergi. Penduduk Bourj el-Brajneh juga akan merasa sedih. Untuk sesaat, aku memikirkan apakah aku berhak membujuk tim tersebut pulang. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengutarakannya. Enam bulan dalam pengepungan yang mengerikan ini sudah cukup bagi mereka dan mereka butuh istirahat. Jika mereka ingin kembali setelah menemui keluarga mereka, MAP selalu dapat mengirim mereka kembali ke sini. Setelah berpelukan hangat dan memberi salam, aku memberanikan diri bertanya, "Kapan kalian ingin pulang? Keluarga kalian sangat mengkhawatirkan keadaan kalian. Aku harus menyusun rencana dengan para tentara Suriah itu untuk mengawal kalian."
Hening total. Aku merasa telah mengucapkan sesuatu yang tak pantas diucapkan. Namun, akhirnya Pauline mengatakan bahwa mereka dapat pergi meninggalkan tempat itu pada Senin 13 April. Mereka mengatakan ingin menghabiskan beberapa hari lagi di kamp Mar Elias bersama teman-teman mereka. Mereka yakin bahwa kamp Mar Elias sangat aman. Mereka tampaknya lupa bahwa beberapa anggota tim telah menerima ancaman pembunuhan terang-terangan, belum lagi banyak wartawan menunggu mereka di luar kamp.
"Aku harus membicarakannya dengan Ummu
Walid dan penduduk di Mar Elias," kataku. "Tapi, jika kami berhasil membawa kalian semua keluar dari sini pada Senin pagi dan mungkin setelah itu pergi ke kamp Mar Elias, setelah itu kami bisa menanganinya sendiri. Aku juga harus menghubungi Duta Besar Inggris untuk mengupayakan agar kalian dapat menyeberangi Garis Hijau dan naik kapal bandara Beirut masih ditutup. Kurasa, visa kalian semua kini telah habis masa berlakunya."
Kami semua menyetujui rencana ini, kemudian aku berkeliling di dalam rumah sakit. Kedua lantai atas telah meledak terkena bom dan sisa bangunan Rumah Sakit Haifa tidak memiliki aliran air maupun listrik. Dinding-dindingnya tampak suram, lembap, dan berjamur. Namun, aku gembira bertemu dengan kawan-kawan lamaku Nuha, dr. Ridha, Ahmad Diep sang teknisi anestesi, dan yang lainnya. Mereka semua adalah petugas medis PRCS dan telah melewati empat masa peperangan di kamp selama dua tahun ini. Aku pertama kali bertemu dr. Ridha, Direktur Rumah Sakit Haifa, dan Nuha, sang perawat bangsal perawatan, pada 1985. Aku telah mengenal Ahmad Diep sejak masa kerjaku di Rumah Sakit Gaza pada 1982, ia termasuk salah seorang yang bekerja selama berjam-jam di bangsal operasi di basement selama terjadi pembantaian di Beirut, sampai Azzizah memerintahkannya untuk meninggalkan rumah sakit itu pada hari Jumat, tepat sebelum rumah sakit diserang oleh para pembunuh. Ia seorang ahli anestesi yang hebat, dan aku dapat memercayainya untuk melakukan pembiusan pasien-pasien beri-
siko tinggi dalam pembedahan besar. Teman-temanku terlihat lelah, namun sangat bersemangat untuk bercerita kepadaku tentang peperangan di kamp baru-baru ini.
Saat kami mengobrol, seseorang tiba-tiba datang dengan membawa sebuah pesan untukku, "Doctora, Mayor Walid telah sampai dan ingin agar Anda berangkat sekarang."
Ben Alofs menatapku dengan tatapan tercengang dan berkata, "Ini si Walid Hassanato, orang Suriah itu?"
Aku tahu bahwa ia terkejut, tapi tidak mungkin menjelaskan semuanya dalam waktu singkat begini. "Ya," kataku, "Mayor Walid Hassanato. Ia telah menyanggupi untuk mengawal kepulangan kalian nanti."
Ben terlihat semakin heran. Alasannya, Suriah lah yang memasok senjata kepada pasukan Amal serta memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka. Banyak penduduk kamp menganggap tentara Suriah sebagai sekutu pasukan Amal. Suriah men-justifikasikan dukungannya terhadap Amal dengan menegaskan reputasi Amal sebagai bagian penting dari "Perlawanan Lebanon Selatan" anti-Israel. Ini sesuai dengan sikap anti-Zionis Suriah, Israel telah menduduki Lebanon Selatan, Palestina, Dataran Tinggi Golan, serta wilayah-wilayah Arab tetangganya, wilayah-wilayah yang menurut Suriah secara historis termasuk bagian dari "Suriah Raya". Oleh karena itu, Suriah mendukung Amal dalam pertempurannya melawan Israel.
Tak seorang pun pernah memberikan penjelasan yang meyakinkan mengapa tank-tank dan senjata-senjata yang dipasok Suriah kepada Amal untuk mmerangi Israel malah digunakan untuk menyerang kamp-kamp pengungsi Palestina. Setelah bertanya kepada kelompok-kelompok yang berbeda, menurut dugaanku, pasukan Amal mendapat tekanan dari Israel untuk menyerang warga Palestina. Di wilayah selatan, warga Palestina menuduh pasukan Amal telah membuat persetujuan dengan Israel untuk menghapuskan populasi Palestina sehingga dengan demikian, keamanan perbatasan Israel di utara terjamin. Tentunya pasukan Amal membantah hal ini. Akan tetapi, para warga Palestina mengatakan mereka telah menangkap tiga orang penasihat pasukan Israel yang bekerja sama dengan pasukan Amal ketika para pejuang Palestina mengepung desa Mag-doushe, dekat Saida, pada 1986. Jika hal ini benar, Amal pasti telah bekerja sama dengan Israel, dan hal ini akan menjelaskan mengapa mereka bersikap sangat keji terhadap orang-orang Palestina.
Namun, Amal mempunyai penjelasan sendiri tentang peperangan di kamp itu. Berkali-kali aku distop oleh para perwira Amal dan diberi tahu bahwa warga Palestina membawa terlalu banyak bencana di Lebanon. Jika bukan karena warga Palestina, kata mereka padaku, Lebanon tidak akan pernah dibom dan dihancurkan oleh pasukan Israel. Lebanon telah cukup banyak menderita karena menampung warga Palestina. Amal takut serangan besar-besaran yang dilakukan Israel pada 1982 akan terulang
kembali. Mereka terutama merasa kesal karena para warga Palestina di kamp-kamp pengungsian berani mempersenjatai diri mereka sendiri. Salah seorang dari pasukan Amal bertanya padaku, "Katakan kepadaku, Dokter, ibu kota Arab mana yang pernah mengizinkan sekelompok pengungsi membawa-bawa senjata?"
Tentu saja ia tidak sadar sedang berbicara kepadaku yang selamat dari pembantaian Sabra-Shatila 1982. Pembantaian itu bisa berjadi karena orang-orang Palestina tidak bersenjata. Aku telah melihat keadaan kamp Shatila dan Bourj el-Brajneh pada 1987. Bagaimana bisa orang-orang itu meminta warga Palestina untuk menyerahkan hak mereka mempertahankan diri? Supaya peristiwa pembantaian 1982 terulang kembali? Para pejuang remaja Palestina di kamp Shatila takkan pernah dapat dibujuk untuk menyerahkan senapan Kalashnikov mereka, tidak setelah penderitaan yang mereka alami pada 1982 dan pengepungan pada dua tahun terakhir. Mereka telah kehilangan hak atas tanah air mereka, rasa aman di pengungsian, dan kini eksistensi mereka tengah terancam. Siapa yang berani meminta mereka untuk menyerahkan hak hidup mereka? Seorang pejuang wanita di kamp Shatila berkata kepadaku, "Mereka terpaksa mengakui keberadaan kami karena kami telah melawan. Mereka ingin membuat kami tidak dikenal, meniadakan kami, dan mengubur kami di kuburan massal, tapi kami akan bertempur sampai titik darah penghabisan."
Beberapa dekade terakhir ini, di Timur Tengah
terjadi setidaknya empat konflik besar. Konflik-konflik itu adalah konflik antara Iran dan Irak, antara Israel dan negara-negara Arab, antara Israel dan Palestina, serta antara negara-negara Arab dan Palestina. Kecuali perang Iran-Irak, konflik-konflik lainnya berkisar pada masalah Israel dan Palestina.
Konflik antara Israel dan negara-negara Arab telah menyebabkan berbagai perang antara Israel dan negara-negara Arab. Israel telah menyerang dan menduduki tidak hanya Jalur Gaza dan Tepi Barat, melainkan juga Dataran Tinggi Golan, yang merupakan bagian dari Suriah. Pasukan udara Israel telah menyerang berbagai negara Arab-Irak, Tunisia, Suriah, Lebanon, dan Mesir adalah beberapa contoh di antaranya. Aku mendengar bahwa para politisi Israel membual bahwa mereka telah bertempur dan memenangi lima perang besar melawan tetangga-tetangga Arab mereka, tahun 1948, 1956, 1967, 1973, dan 1982. Perang yang terakhir itu bukan merupakan perang "murni" antara Israel dan salah satu tetangganya. Walaupun hingga sekarang Lebanon masih menderita akibat kehancuran ekonomi dan sosial yang dideritanya, perang 1982 sebenarnya merupakan perseteruan antara Israel dan PLO.
Konflik Palestina-Israel terjadi karena Israel hanya dapat berdiri di atas kehancuran negeri Palestina dan terusirnya rakyatnya. Pada 1988, negara Israel merayakan empat puluh tahun eksistensinya, sementara orang-orang Palestina yang ter-
usir memperingati hilangnya tanah air mereka. Agar Israel dapat berkembang, semua jejak eksistensi Palestina harus dihapuskan. Luka-luka yang diakibatkan oleh Israel terus memburuk, bom-bom Israel menyebabkan kematian dan kehancuran, penyiksaan dan mutilasi di kamp-kamp tawanan Israel, seperti kamp Ansar, tak akan pupus dari ingatan. Setelah ini semua berlangsung, orang-orang Israel memprotes bahwa orang-orang Palestina menolak untuk "mengakui" negara Israel. Setelah dipaksa untuk menyerahkan negara mereka, rumah mereka bahkan hidup mereka rakyat Palestina kini diminta untuk menyerahkan jiwa mereka kepada sang pemenang.
Konflik Palestina-Arab lebih rumit lagi. Beberapa orang beralasan bahwa konflik tersebut merupakan konflik antara negara-negara tuan rumah dan para pengungsi. Namun, orang-orang Palestina ini adalah orang-orang terusir, bukan pengungsi, dan mereka ingin pulang. Prinsipnya, negara-negara tuan rumah itu mendukung mereka, paling tidak pada prinsipnya. Akan tetapi, ketika orang-orang Palestina ini menggunakan negara-negara tuan rumah sebagai basis serangan terhadap Israel, negara-negara ini mengalami penderitaan akibat pembalasan Israel, sebuah roket yang ditembakkan ke Galilea akan meratakan lusinan desa di Lebanon. Inilah yang menyebabkan konflik antara Palestina dan Arab. Namun, keberanian rakyat Arab patut dihargai, meskipun harus menerima akibat itu, mereka masih   mendukung   perjuangan   rakyat   Palestina.
Masalah yang lebih fundamental dalam konflik Su-riah-Palestina diakibatkan sebuah persoalan yang tak terpecahkan. Apakah Palestina bagian dari Suriah Raya? Apakah Arafat pemimpin PLO atau Assad pemimpin Suriah yang berhak berbicara atas nama rakyat Palestina?
Aku bukan orang Arab, dan bukan pula Muslim. Aku bukan orang Eropa sehingga tidak punya beban untuk merasa bersalah akan kekejaman Nazi maupun merasa bertanggung jawab atas Mandat Pemerintah Inggris di Palestina. Mendukung rakyat Palestina bagiku bukanlah suatu urusan politik, ini adalah tanggung jawab kemanusiaanku. Orang-orang Palestina berusaha agar dapat pulang ke tanah air mereka. Oleh karena gagal melakukannya, mereka menuntut hak mendapatkan kehidupan yang layak di tanah pembuangan hak untuk eksis di muka bumi. Tuntutan mereka bisa dimaklumi. Aku mendukung mereka. Karena tak punya kecenderungan terhadap aliran politik tertentu, aku dapat meminta tentara Suriah untuk melindungi para sukarelawan medis kami, sehingga tugas kami di dalam kamp dapat berlanjut.
Beberapa orang mendiskusikan fakta bahwa beberapa hari sebelumnya, Suriah telah mendukung penyerangan Amal ke kamp-kamp. Kini tentara Suriah mengambil alih penjagaan di jalan-jalan masuk kamp untuk mencegah penembakan para wanita Palestina dan mengawal konvoi-konvoi makanan masuk ke dalam kamp. Aku tak punya perkiraan mengapa mereka melakukannya dan atas alasan apa.
Jika orang-orang Suriah kini menjadi teman warga Palestina, maka mereka kini temanku juga untuk sementara waktu. Aku tidak mau berspekulasi tentang apa yang akan terjadi besok, atau pada minggu berikutnya. Kondisi aman ini sama rentannya dengan cairan di padang pasir. Namun, saat ada kesempatan bernapas, makan, maupun hidup, orang-orang harus memanfaatkannya. Para wanita keluar-masuk kamp untuk membawa makanan dan air minum bagi keluarga mereka. Selama gencatan senjata yang dijalankan oleh pasukan Suriah berlangsung, para penduduk kamp memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin.
Ketika kami kembali ke kantor tempat sang Mayor Suriah menjemput kami, aku dapat melihat sebuah kerumunan besar telah berkumpul untuk menyambut konvoi bala bantuan PBB yang membawa karung-karung berisi tepung. Anak-anak dan wanita bertepuk tangan serta bersorak-sorai seiring pasukan tentara Suriah mengawal konvoi tersebut melaju ke dalam kamp. Sementara itu, di belakang kantor sang Mayor, jenazah seorang wanita digali dari sebuah kuburan sementara untuk dibawa ke pemakaman. Ia adalah salah seorang wanita yang tewas saat mencoba mendapatkan makanan bagi penduduk kamp selama berlangsung pengepungan. Saat jenazah tersebut diangkat, dibungkus dalam sebuah kantong plastik besar, dan diangkut melewati gedung kantor itu, baunya yang busuk sangat menyesakkan pernapasan. Bau itu mengingatkanku pada mayat-mayat yang dimutilasi dan dirusak pada
pembantaian 1982. Apakah kamp sedang merayakan gencatan senjata, atau tengah meratapi hilangnya orang-orang yang mereka cintai?
Oyvind dan aku memberi tahu Mayor Walid bahwa orang-orang kami akan bersiap untuk meninggalkan kamp pada Senin 13 April. Ia meminta kami menghubungi Duta Besar Inggris dan memintanya untuk menyiapkan penjagaan di sepanjang Garis Hijau, karena pasukan Suriah tidak mengawasi kawasan Beirut Timur yang dihuni oleh penduduk Kristen. Jadi, Pauline dan anggota tim MAP lainnya akan menjadi tanggung jawab pasukan Suriah dari kamp Bourj el-Brajneh sampai mereka tiba di kantor Konsulat Inggris di Beirut Barat. Dari sana, dalam perjalanan menuju Jounieh untuk naik feri, mereka akan menjadi tanggung jawab Duta Besar Inggris, John Gray.
Setelah menyepakati rencana ini, kami mengucapkan selamat tinggal kepada Mayor Walid. Sang Duta Besar Inggris dengan ramah menerima kami dan menyetujui untuk menyediakan pengamanan bagi Pauline, Susan, Hannes, Bendan Chris Giannou, jika ia juga memutuskan meninggalkan kamp. Ibu Chris telah menghubungi Ummu Walid dan menyampaikan kekhawatirannya tentang putranya, dan Ummu Walid merasa ini waktunya bagi Chris meninggalkan kamp Shatila untuk beristirahat.
Demikianlah, Senin tanggal 13 April menjadi hari pergantian besar-besaran anggota tim kami. Para perawat dan dokter asing yang baru akan memasuki kamp Bourj el-Brajneh dan Shatila, dan me-
reka yang telah bekerja tanpa kenal lelah selama masa pengepungan kamp dapat meninggalkan tempat itu. Aku diminta menelepon kantor Mayor Walid pada pukul sembilan pagi. Para prajuritnya menunjukkan kantornya kepadaku, dan kulihat ternyata ia baru saja bangun. Ia tampak malu karena aku tiba-tiba muncul di kantornya dan melihatnya sedang berusaha mengenakan sepatu dan kaus kaki. Aku mencoba meyakinkannya bahwa bagiku tidak masalah melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bukan hanya karena aku seorang dokter, tapi aku juga telah menikah dan berbahagia dengan pernikahanku. Aku mengeluarkan dari dompetku selembar foto suamiku, Francis, yang berpose bersama kucing betina kesayangannya yang berbulu hitam-putih, Me-owie.
Para serdadu sang Mayor melihat foto itu dari dekat, lantas menyatakan kekagumannya akan kecantikan si kucing Meowie dan keramahan yang terpancar dari wajah suamiku. Mereka lantas mengungkapkan keprihatinan karena aku belum mempunyai anak, sehingga suamiku yang malang hanya ditemani si kucing, sementara aku pergi jauh. Mereka bahkan menyarankan Francis untuk mencari seorang istri Suriah yang dapat memberinya banyak anak. Aku merasa saran mereka itu sama sekali tak dapat kuterima. Tapi kuduga, mereka hanya ingin mengakhiri kunjunganku.
Para perwira intelijen Suriah pertama-tama menuju kamp Bourj el-Brajneh untuk mengawal para sukarelawan asing ke kamp Mar Elias. Kemudian,
kami menuju kamp Shatila untuk menanyakan Chris Giannou, apakah ia mau ikut pergi atau tidak. Pada malam sebelumnya, aku telah mengirim pesan kepada Chris untuk memintanya mengepak barang dan bersiap-siap seandainya ia mau pulang ke Kanada. Mayor Walid menghentikan mobilnya di pos pemeriksaan kamp dan memberitahuku lewat penerjemahnya untuk pergi dan menjemput Chris. Aku menemukannya sedang berada di dapur rumah sakit. Kukatakan kepadanya bahwa Mayor Walid sedang menunggu di pos pemeriksaan untuk mengawalnya ke Kedutaan Inggris.
Chris menolak mentah-mentah. "Dengar," katanya, "aku tidak bisa pergi begitu saja. Banyak sekali hal yang harus kulakukan. Selain itu, jika aku pergi sekarang, akan berdampak buruk terhadap mental penduduk kamp. Aku akan coba berbicara dengan ibuku dan meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja."
"Baiklah, Chris," jawabku, "aku harus bilang bahwa aku bangga sekali dengan rasa tanggung jawabmu, tapi setidaknya maukah kamu keluar sebentar dan berterima kasih kepada Mayor Walid yang telah datang jauh-jauh untuk menjemputmu? Kalau tidak, aku akan terlihat bodoh di hadapannya." Lantas, ia keluar bersamaku dan kami menuju pos pemeriksaan. Ia berbicara kepada Mayor Walid dalam bahasa Arab, sebelum akhirnya kembali ke kamp. Mayor Walid tampak tidak terlalu senang dengan penolakan Chris terhadap tawaran bantuannya.   Namun,  pandanganku  sekilas kepada  Chris
Giannou seiring kami pergi meninggalkan tempat itu, dengan tubuhnya yang tinggal tulang berbalut kulit dan berlapiskan sehelai selimut tua yang compang-camping, berjalan kembali dengan bangganya ke kamp Shatila pada pagi hari tanggal 13 April, akan selalu terekam dalam ingatanku.
Pada hari Minggu Paskah, aku membujuk Oyvind untuk mengambil cuti sehari dan pergi ke pegunungan. Aku ingin sendirian di flat NORWAC untuk membaca Injil, untuk berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah memulangkan Pauline serta timnya, sesudah mendengar berita dari BBC World Service bahwa mereka telah tiba dengan selamat di Inggris. Aku membuka bagian Surat Paulus kepada Jemaat di Roma. Aku membaca, "Tetapi dalam semuanya itu, kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8: 37-39). Selama bertahun-tahun, aku telah banyak melihat kehancuran dan kematian, tapi aku telah melihat begitu banyak cinta dan kesetiaan yang membuatku yakin bahwa Tuhan ada.
Setelah perenunganku usai, Tuhan mengirimkan kepadaku seorang pengunjung yang luar biasa, dr. Said Dajani. Aku pertama kali bertemu de-
ngannya pada 1982 dan selalu menghormatinya. Ia mendirikan sekolah keperawatan PRCS di Lebanon dan merupakan Direktur medis para dokter PRCS di Lebanon selama bertahun-tahun. Ia telah mengajar di berbagai sekolah kedokteran di Lebanon, dan banyak dari mereka yang pernah diajarnya kini menjadi spesialis yang terkenal. Ia hampir berusia delapan puluh tahun dan seluruh rambutnya telah memutih, tetapi wajahnya masih menyiratkan ketangguhan seorang anak muda. Kami mengobrol selama berjam-jam dan pria tua yang malang itu menangis. Empat setengah tahun terakhir yang penuh penderitaan ini sudah cukup baginya. Sekolah keperawatan PRCS miliknya telah ditutup, dibuka, dan ditutup lagi beberapa kali. Saat ini, sekolah itu ditutup kembali. Istrinya terserang kanker payudara dan lututnya terserang arthritis. Akan tetapi, ia mengatakan suatu hal yang luar biasa, "Tebersit di pi-kiranku bahwa entah bagaimana caranya, aku akan meninggal di Palestina jadi aku tidak mungkin mati di sini."
Kemudian, ia berbicara tentang Palestina dengan antusias. Akan menyenangkan sekali jika dr. Dajani dapat kembali ke Palestina dan kami semua mengunjunginya di sana! Aku menatap wajah sang dokter Palestina yang lembut dan baik hati ini, dan memikirkan penderitaan dan kesedihan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Meskipun begitu, tidak ada kebencian ataupun permusuhan hanya keyakinan dan seulas senyum cerah yang tersungging di wajahnya ketika ia berbicara tentang Palestina.
Ia menceritakan kepadaku tiga pertempuran yang pernah ia menangkan dalam hidupnya.
Pertempurannya yang pertama bukan berkenaan dengan masalah Palestina, tetapi untuk berhenti merokok. Ia dulu terbiasa merokok sembilan puluh batang sehari. Ia harus berjuang keras untuk melawan keinginannya itu, tetapi ia menang dan akhirnya berhenti merokok.
Lalu, ia menuturkan sebuah kisah yang menggugah. Pada 1947, dr. Dajani sedang dalam perjalanan menuju Amerika Serikat untuk menghadiri konferensi para dokter sebagai Direktur medis Palestine Medical Services. Saat singgah di Paris, ia mendengar kabar tentang diputuskannya pemisahan negara Palestina dan ia tahu akan terjadi masalah besar di negerinya. Ia tahu, ia bisa saja melanjutkan perjalanannya ke Amerika Serikat dan melupakan Palestina atau kembali. Saat itu, terjadi pertempuran hebat dalam dirinya sebuah suara berkata, "Dajani, kamu pengecut, kabur sajalah." Suara lain menyahut, "Tidak, kamu bukan pengecut, kamu harus kembali." Akhirnya, ia kembali ke Jaffa untuk memimpin layanan medis selama masa-masa sulit tersebut.
Kemudian, pada 1983, Kedutaan Amerika di Beirut Barat dibom. Amerika membalasnya dengan menyerang dan mengebom Beirut Barat. Pada saat itu, keadaan sangat buruk, dan teman-teman dari Australia, Denmark, serta Spanyol menawarinya untuk keluar dari negara itu. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk tetap tinggal. "Lari?" tanyanya pa-
da diri sendiri. "Tidak, aku bukan pengecut." Jadi, ia tetap tinggal. Kemudian, meletuslah perang dan masa-masa penuh teror pasukan Amal terhadap warga Palestina. Ia tetap tinggal. Kini, dengan antusias ia berbicara tentang pembukaan kembali Sekolah Keperawatan yang telah ditutup selama peperangan di kamp. Aku merasa bangga bertemu dengan seorang rekan senior yang memiliki keberanian serta kekuatan moral yang hebat.
Dr. Dajani menceritakan kepadaku ketika ia sedang mendirikan pusat layanan medis di Kota Sour di Lebanon Selatan, sebuah kawasan dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Pada suatu hari, ia melewati sebuah rumah dan mendengar anak-anak menangis. Ia mendorong pintu rumah itu hingga terbuka. Kedua orangtuanya terlalu malu untuk mengatakan kepadanya mengapa anak-anak itu menangis, namun terlihat jelas bahwa mereka kelaparan. Sehingga, Said Dajani pergi ke luar, mengambil roti, keju, dan buah zaitun dan memberikannya kepada anak-anak itu. Anak-anak itu kemudian mulai tertawa dan bermain-main, tetapi sang dokter dan orangtua mereka menangis.
Sebelum Rumah Sakit Sour selesai dibangun, ia biasa melewatkan malam dengan tidur di atas pasir. Pada suatu pagi, ia terbangun dan menemukan bahwa seseorang telah menyelimutinya dengan sehelai selimut usang. Ia merasa sangat berterima kasih, tapi tak pernah menemukan orang yang melakukannya. Kisah semacam ini biasa terjadi di Lebanon sebuah tempat yang dilimpahi kebajikan dan
kedermawanan para penduduknya, di tengah-tengah kemiskinan dan peperangan.
Lalu, aku memberitahunya tentang semua masalah yang kuhadapi tatkala hendak mengajukan permohonan visa. Ia sangat kesal dan berkata, "Mereka menolakmu memberikan visa karena tidak ingin kamu membantu warga Palestina. Apakah membantu orang-orang Palestina itu suatu kejahatan? Bagaimana orang-orang bisa menjadi sekejam itu?"
Namun, aku mengatakan kepadanya untuk tidak usah khawatir, mereka harus berusaha lebih keras sebelum dapat mencegahku menjadi kawan orang-orang Palestina. Ia tertawa, mengucapkan salam perpisahan, dan mendoakan kami semua agar selalu dalam kebaikan.[]
Dua Puluh Delapan
Hari-hari berikutnya menjadi sangat sibuk dan semrawut. Untunglah dr. Alberto Gregori yang berkebangsaan Italia itu mau bekerja untuk MAP sebagai dokter bedah sukarelawan di Rumah Sakit Haifa sementara aku berkeliling melakukan tugas-tugas lainnya. Alberto adalah orang yang hebat dan dicintai penduduk kamp. Mereka menjulukinya "Abu Garfil" seperti nama boneka kucingnya, Garfield. Tak lama kemudian, penampilannya terlihat seperti orang Palestina dan ia memang distop di pos pemeriksaan untuk ditanya-tanyai karena pasukan intelijen Suriah mengiranya sebagai warga Palestina yang menyamar menjadi dokter Italia.
Seorang rekannya di MAP, seorang ahli anestesi Australia bernama dr. Murray Luddington, pergi ke kamp Shatila. Akhirnya, Murray terkena "virus" Palestina. Beberapa hari setelah memasuki kamp, ia menulis surat pengunduran diri permanen kepada rumah sakit pemerintah Inggris sebelumnya, pihak rumah sakit masih membuka kesempatan baginya untuk kembali bekerja di sana. Ia meminta pihak rumah sakit untuk mencari ahli anestesi lain karena ia telah memilih tinggal bersama para warga Palestina di kamp Shatila. Tak lama kemudian, penampilannya jadi lebih kumuh daripada para pen-
duduk kamp, sampai-sampai mereka harus memberinya pakaian yang pantas. Bahasa Arabnya meningkat pesat, dan tak lama kemudian, ia dapat berdebat dengan koki rumah sakit dan menjawab pertanyaan pasukan Amal di pos perbatasan dengan kata-kata yang tidak terlalu sopan. Ia tidak pernah dikira sebagai orang Palestina, tetapi jenggotnya yang lebat membuatnya hampir saja ditawan oleh para tentara itu. Pada saat itu, hanya kelompok Hizbullah Syi'ah Lebanon yang memelihara jenggot dan pasukan Suriah maupun Amal tidak bisa akur dengan pasukan Hizbullah.
Tak lama kemudian, Alberto harus pergi, dan aku harus mengambil alih posisinya sebagai dokter bedah di Rumah Sakit Haifa. Alangkah senangnya jika aku dapat tinggal di Rumah Sakit Haifa untuk bekerja sepantasnya sebagai seorang dokter bedah. Namun, pada saat itu, orang-orang Palestina membutuhkan lebih dari sekadar seorang dokter bedah. Mereka memerlukan seseorang untuk mengurusi segala sesuatu dan mengelola pasokan peralatan rumah sakit, merundingkan pengiriman bahan bakar dan makanan ke dalam kamp, dan mengungsikan para korban keluar dari kamp ke beberapa negara Eropa untuk mendapatkan perawatan khusus. Sebagai pemimpin tim, aku harus melakukan semua itu pada siang hari, sekaligus merangkap menjadi dokter bedah tetap pada malam hari. Hal ini penting karena pada malam hari masih banyak orang yang terluka dan memerlukan operasi bedah. Karena penyerangan masih berlanjut, mereka tak dapat di-
pindahkan ke luar kamp untuk mendapatkan perawatan.
Tidak selalu mudah bagiku melewatkan malam di kamp, setelah pada siang hari pontang-panting disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah sakit. Baik saat akan tidur di Rumah Sakit Haifa atau di klinik yang terletak di pojok seberang kamp, biasanya aku mengobrol hingga tengah malam atau sibuk meladeni orang-orang yang ingin menyampaikan berbagai keluhan yang tidak selalu bersifat medis. Suasana di dalam kamp masih terasa tegang. Aku sering terlonjak ketika mendengar pintu dibanting, menyangka ada sebuah ledakan. Suatu peristiwa sederhana, seperti seruan dari pengeras suara masjid Bourj el-Brajneh yang meminta sumbangan donor darah, membuatku bergegas keluar dari klinik, menaiki tanjakan, menuju Rumah Sakit Haifa karena mengira telah terjadi pertempuran, dan para korban membutuhkan pertolongan. Biasanya, seruan semacam itu adalah pengumuman untuk permintaan donor darah, dan bukan seruan darurat. Sikapku yang tegang dan gelisah itu benar-benar tak beralasan karena para dokter PRCS luar biasa cekatan. Mereka telah berhasil bekerja selama pengepungan kamp dan telah menyelamatkan banyak sekali nyawa, dan apa pun yang bisa kukerjakan, mereka bisa mengerjakannya lebih baik.
Suatu hari, pada pukul empat pagi, Ahmed Diep, ahli anestesi, dengan panik menggedor pintu klinik. "Doctora Swee!" teriaknya. "Ada operasi bedah perut mendesak di Rumah Sakit Haifa!"
Kami berlari menuju rumah sakit melewati tanjakan yang bergelombang, melalui lorong-lorong kamp yang berliku-liku, meloncati puing-puing, pipa-pipa air, dan beberapa kubangan air. Di dalam ruang UGD Rumah Sakit Haifa, terbaring seorang pemuda yang telah menembak perutnya sendiri. Para dokter PRCS sudah berusaha menyadarkannya, memberikan infus darah untuknya. Nuha, perawat bangsal operasi, telah siap untuk melakukan operasi bedah mayor abdomen. Dr. Nassir, dokter bedah tetap yang bertugas pada malam itu, sudah berganti baju dan bersiap-siap di bangsal. Mereka memanggilku karena beberapa luka tembakan tersebut bisa jadi sangat parah dan akan lebih baik apabila ada seorang dokter bedah senior yang siap membantu.
Dr. Nassirlah yang lebih berperan dalam operasi tersebut, aku hanya membantunya. Peluru itu, seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, menembus bagian depan abdomen, mengenai dua usus kecil pada dua tempat yang berbeda, bagian tepi liver, usus besar di tiga tempat berbeda, dan menembus ke luar tulang pelvis bagian belakang. Ahmed Diep memberikan pembiusan yang sempurna, dan baik Nuha maupun dr. Nassir melakukan operasi yang sangat sukses.
Satu-satunya kesalahan ada padaku. Aku memutuskan mencoba untuk tidak melakukan de-functioning colostomy suatu prosedur yang dianggap perlu oleh kebanyakan dokter bedah dalam keadaan semacam ini. Prosedur itu dilakukan dengan mengeluarkan dari tubuh sebagian usus besar pada
suatu titik yang tidak terkena luka dan membuat sebuah lubang, sehingga seluruh isi usus dapat dibuang melalui lubang tersebut. Dengan cara ini, tidak ada kotoran yang keluar melalui bagian perut yang terluka sehingga mengurangi risiko terjadinya kontaminasi selama proses pemulihan. Aku mengambil risiko yang tidak perlu, dan bahkan memberitahukan dr. Nassir bahwa kemungkinan paling buruk, pasien tersebut hanya akan mengalami fecal fistula (atau pembuangan abnormal) melalui luka tembak keluar (exit wound), dan kami akan menanggulangi persoalan itu jika memang terjadi. Ternyata, si pasien memang mengalami hal tersebut, dan harus menjalani operasi kedua untuk defunc-tioning colostomy dan re seksi fecal fistula.
Syukurlah pasien itu selamat. Menjelang berakhirnya operasi pertama, Nuha menyodorkan pisau bedah kepadaku karena mengira aku akan melakukan colostomy. Ia hampir saja menjatuhkan pisau bedah itu ke lantai ketika aku berkata, "Mungkin operasi ini akan berhasil, Nuha. Kita coba saja." Sekarang, aku merasa malu mengingat kata-kata dokter bedah yang pertama kali mengajariku cara membedah, "Hal yang perlu dilakukan adalah mengantisipasi masalah dan menghindarinya. Jangan sengaja membuat masalah, lalu mencoba memecahkannya." Selama beberapa bulan kemudian, Nuha masih tertawa setiap kali kami membicarakan hal itu.
Oleh karena semua kamp masih dikepung, setiap barang keperluan rumah sakit yang dibawa masuk ke dalam kamp harus melalui negosiasi khusus
dan mendapatkan izin tertulis dari Pasukan Intelijen Suriah, yang selanjutnya harus memberitahukan pasukan Amal bahwa mereka telah mengizinkan barang-barang tersebut. Keadaan menjadi sangat, sangat susah. Misalnya saja, hanya demi mendapatkan izin meninggalkan kamp Shatila untuk seorang dokter Palestina yang ingin mengunjungi ayahnya di sebuah rumah sakit di Beirut Barat, aku harus bolak-balik lima kali ke kantor pasukan intelijen Suriah itu. Dalam setiap kunjungan, aku harus menunggu selama tiga atau empat jam, sering kali di bawah terik matahari, terkadang sampai hari berganti malam. Birokrasinya benar-benar bertele-tele.
Para warga Palestina tidak membutuhkan keterampilan medisku karena PRCS memiliki banyak dokter dan perawat yang terlatih. Pada masa puncak perang kamp, sebanyak enam puluh dokter dan perawat PRCS terperangkap di dalam kamp. Ini tidak mengejutkan, mengingat bahwa sebelum 1982, PRCS memberikan layanan medis berdasarkan permintaan di Beirut Barat dan di seluruh kawasan Lebanon bagian selatan. Kini, pada masa gencatan senjata, yang dibutuhkan berbagai rumah sakit di kamp adalah persediaan obat-obatan, oksigen, ni-tro-oksida, dan peralatan bedah, serta persiapan persediaan berbagai kebutuhan, kalau-kalau terjadi lagi serangan ke kamp. Seseorang harus melewati pos pemeriksaan dengan membawa berbagai barang kebutuhan tersebut. Hanya orang Palestina yang dapat membujukku seorang dokter bedah Inggris yang terlatih untuk bersedia bertugas sebagai sopir
truk dan menunggu berjam-jam di kantor intelijen Suriah untuk mendapatkan izin membawa barang-barang tersebut ke dalam kamp.
Pertama kali aku berusaha mendapatkan izin untuk membawa sebuah mobil ambulans berisi obat-obatan ke dalam kamp, aku membutuhkan waktu yang sangat lama. Izin tersebut harus didapatkan dari Intelijen Suriah sehingga birokrasinya berputar-putar. Setelah permohonan tersebut dicatat, hari-hari berlalu tanpa jawaban. Aku mengancam akan pulang ke Inggris dengan membawa semua obat-obatan tersebut sekaligus mengumumkan kepada masyarakat Inggris bahwa pemerintah Suriah mencegah upaya pengiriman bantuan obat-obatan ke dalam kamp. Mereka menjadi sangat marah padaku, tetapi akhirnya sikap mereka melunak. Sebanyak empat ton obat-obatan yang disumbangkan oleh warga Inggris, sedikit demi sedikit mengalir ke dalam kamp.
Para warga Palestina di kamp Bourj el-Brajneh membetulkan sebuah mobil ambulans tua yang bobrok untuk kubawa mengambil pasokan makanan, obat-obatan, kabel listrik, selimut, parafin, perabotan rumah tangga dan bahkan pernah sebuah peti mati untuk dibawa masuk atau keluar kamp. Tatkala kupikir-pikir lagi, aku merasa ngeri membayangkan komentar rekan-rekanku sesama dokter di Inggris tentang diriku, seorang Fellow of the Royal College of Surgeons of England, turun pangkat menjadi sopir ambulans tidak, lebih parah lagi, sopir truk.Aku senang sekali menjadi sopir truk, tapi dalam mas-
yarakat Inggris yang memerhatikan kelas-kelas sosial, profesi dokter disegani, sedangkan sopir truk tidak.
Bahkan, aku pun bukan seorang sopir truk yang andal, karena aku dilahirkan dengan kepekaan-arah yang rendah. Sering kali aku menyetir ke arah timur, padahal sebenarnya aku hendak pergi ke arah barat, dan di Lebanon hal itu bisa jadi sangat berbahaya. Suatu hari, aku mengambil jalan yang salah, menyusuri jalan pesisir pantai. Barulah belakangan kusadari bahwa aku berada di perlintasan nonsipil Garis Hijau. Kawasan ini dikenal sebagai "Perlintasan Museum" dan hanya kendaraan-kendaraan yang mendapatkan izin khusus dari pasukan militer yang dapat melaluinya. Tentu saja aku ditahan di pos pemeriksaan dan diinterogasi. Beberapa saat kemudian, para tentara itu merasa yakin bahwa aku memang benar-benar tersesat. Salah seorang dari mereka melompat masuk ke dalam ambulans dan mengarahkanku kembali ke tempat yang ingin kutuju. Sejak saat itu, aku berusaha selalu membawa kompas ke mana pun aku bepergian.
Mengendarai sebuah mobil baru di Beirut Barat bukanlah hal yang mudah. Mengemudikan mobil ambulans yang tua dan bobrok tanpa lampu sein, atau spion, serta persneling yang hampir copot, benar-benar sebuah tantangan. Kaca mobil sudah lenyap entah ke mana, tetapi ajaibnya, alat pembersih kaca (wiper) masih berfungsi dan akan bekerja setiap kali ada guncangan sekecil apa pun. Pertama kali aku membawa ambulans itu keluar dari kamp Bourj
el-Brajneh, para tentara Suriah di pos pemeriksaan tercengang melihat "barang" ini melaju keluar dari kamp dan mereka berlari menghampirinya. Mereka tidak melihat ada seorang sopir di dalamnya. Aku begitu kecil sehingga mereka tak dapat melihatku, dan mengira bahwa barang rongsokan itu berjalan sendiri!
Ada hal lain lagi yang membuatku kesulitan mengmudikan ambulans itu. Orang-orang Inggris terbiasa berkendaraan di sebelah kiri jalan. Di Beirut, Anda harus berkendaraan di sebelah kanan tapi pada kenyataannya, Anda dapat melaju di mana pun semau Anda. Ketika Anda mendekati sebuah persimpangan, jangan berhenti. Bisa-bisa Anda menunggu seharian untuk dapat melintasinya. Terus saja mengemudi sambil berharap semoga kendaraan-kendaraan lainlah yang berhenti. Ini semacam tes ketahanan saraf. Tidak ada prinsip-prinsip mengemudi yang baik yang diajarkan di Sekolah Mengemudi Inggris dapat diterapkan di sini. Jika lampu menyala merah, Anda harus tancap gas dan melintasinya dengan cepat. Jika tidak, sopir di belakang Anda akan berang. Para pejalan kaki biasa menyeberangi jalan semaunya dan sering kali menyeberang begitu saja di depan mobil-mobil.
Aku biasanya berhenti di pos pemeriksaan Suriah dan menunjukkan kepada seorang perwira intelijen surat izin mengemudi ambulans yang ditandatangani Mayor Walid Hassanato, yang isinya seperti ini, "Doctora Swee diizinkan mengemudikan ambulans keluar dari kamp dan masuk kembali de-
ngan membawa lima tabung oksigen dan lima tabung nitro-oksida serta tiga puluh kotak obat-obatan untuk Rumah Sakit Haifa. Ia dan mobil ambulans tersebut harus diperiksa secara saksama ketika keluar dan masuk kamp. Tanggal ..." Surat izin tersebut hanya berlaku untuk satu kali perjalanan, dan aku harus mengajukan permohonan surat izin baru setiap kali melakukan perjalanan mengambil berbagai kebutuhan rumah sakit.
Setelah perwira intelijen itu yakin bahwa surat izinku tersebut asli, ia akan mengizinkan aku keluar kamp. Para tentara Suriah biasanya berjalan ke arah jalan utama yang menuju bandara dan menghentikan lalu lintas di sekitarnya, sehingga aku dapat langsung melintasi jalan utama tersebut tanpa menabrak kendaraan lainnya. Kurasa, mereka tidak mempercayai kemampuan menyetirku maupun kelayakan mobil rongsokan ini.
Jika aku melaju ke arah utara melalui jalan utama bandara, setelah beberapa belokan, aku akan segera tiba di Kola, jalan layang dekat Arab University. Itu kalau mobil ambulans itu tidak terperosok ke lubang jalan bekas terkena bom dan bannya terjebak di dalamnya. Biasanya, seseorang yang baik hati akan membantuku mengeluarkan ambulans dari lubang itu. Dalam perjalanan, aku biasa melewati Rumah Sakit Akka, Stadion Olahraga, jalan masuk kamp Shatila yang bernama Fakhani, dan beberapa pos pemeriksaan. Selain berhenti di tiap pos pemeriksaan untuk menunjukkan kartu identitasku, aku juga berhenti untuk merawat para pasien,  me-
meriksa mereka dan memberi resep obat, atau menulis surat pengantar untuk ditunjukkan pada klinik PRCS di kamp Mar Elias.
Para tentara Amal, tentara Suriah, dan semua orang yang melintas di jalan raya di daerah pinggiran Beirut bagian selatan dengan segera mengetahui bahwa sopir yang mengemudikan mobil ambulans tua ini juga adalah seorang dokter. Mereka tahu bahwa aku akan berhenti di berbagai pos pemeriksaan untuk memeriksa orang-orang yang terserang penyakit kulit, batuk dan pilek, diare dan muntah, nyeri dan ngilu. Mobil ambulans itu selalu membawa banyak persediaan "obat-obatan untuk pos pemeriksaan", dan terkadang aku akan melakukan perjalanan tambahan dan saat kembali, biasanya aku mendapat lebih banyak lagi permintaan untuk pemeriksaan. (Untuk menuju kamp Shatila, misalnya, aku harus melalui semua pos pemeriksaan Amal. Ini berarti aku bisa saja harus menemui keluarga para tentara Amal di sepanjang perjalananku. Awalnya, para tentara Amal menghentikan mobilku dan mengancamku dengan mesin peluncur roket mereka, tapi sesaat kemudian mereka membawa anak-anak atau istri-istri mereka untuk kuperiksa. Lalu, pasukan Suriah juga melakukan hal yang sama.)
Jika cuacanya tidak terlalu panas, aku mengenakan sehelai kerudung ala Hizbullah yang lebar di sekujur kepalaku. Ini menjadi tanda bagi setiap orang bahwa aku seorang yang beriman kepada Tuhan, dan bukan orang asing yang menyukai per-
gaulan bebas. Ini membuat para pria berhenti menanyakan namaku, dan apakah aku sudah menikah atau sedang mencari pacar. Tak seorang pun berani menatapku.
Jalan raya yang membentang dari Kola ke kamp Mar Elias selalu mengalami kemacetan. Jadi, untuk menghemat waktu, aku mengambil jalan-jalan tikus di sisi jalan yang salah. Jika seorang tentara menghentikan mobilku karena menyetir di jalur yang salah, aku cukup berkata, "Maa arif, ana ajnabiya." (Saya tidak tahu, saya orang asing di sini.)
Kamp Mar Elias menjadi semacam markas besar bagiku karena empat ton obat-obatan dan peralatan bedah disimpan di gudang PRCS di sana. Mobil ambulansku berukuran kecil dan Mayor Walid tak pernah mengizinkanku untuk memuati banyak barang di dalamnya. Pengepungan masih berlangsung dan pasukan Amal setiap kalinya hanya membolehkan sedikit obat-obatan dibawa masuk ke dalam kamp. Mereka sebenarnya sangat jengkel kepada pasukan Suriah yang telah mengizinkanku membawa barang-barang keluar masuk kamp. Sehingga, mereka pernah mengancam akan menembakku saat melintasi wilayah yang dikuasai pasukan Amal. Namun, aku percaya bahwa hidupku ada di tangan Tuhan, dan aku berusaha untuk tidak takut. Aku juga yakin bahwa pasukan Suriah akan bertindak tegas jika aku terbunuh dalam perjalanan atas seizin mereka. Bahkan, saat keamanan di sekitar kamp sangat buruk dan terjadi pertempuran, para bawahan Mayor Walid sering kali mencegahku untuk
pergi mendekati kamp. Setelah keadaan membaik, mereka akan memerintahkanku melanjutkan perjalanan.
Setelah ambulans terisi dengan persediaan obat-obatan dari kamp Mar Elias, aku akan pergi menuju kamp-kamp lain, baik kamp Shatila maupun Bourj el-Brajneh. Terkadang, ketika ambulans membawa tabung oksigen, aku menjadi sangat khawatir, karena sebutir peluru yang menembus tabung tersebut akan membuat seisi mobil meledak. Untungnya, belum pernah seorang pun mencobanya. Di pos pemeriksaan kamp, aku biasanya berhenti, turun, dan menunjukkan surat izinku kepada seorang perwira Suriah. Lalu, setiap kotak obat harus diturunkan dari ambulans, dibuka, dan diperiksa. Pintu-pintu ambulans digedor, roda-roda dan jok kursi juga diperiksa. Para wanita penghuni kamp lantas keluar dan menggotong kotak-kotak obat, kantong-kantong infus, dan peralatan bedah ke rumah sakit. Para wanita Palestina harus menggotong barang-barang ini dengan tangan mereka sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam perjanjian gencatan senjata dan jumlah barang yang diizinkan. Cara ini sangat tidak efisien untuk melakukan berbagai hal, dan terkadang para wanita itu harus menghabiskan waktu dua sampai tiga jam di pos pemeriksaan. Namun, ini sudah jauh lebih baik daripada kondisi saat pengepungan kamp, dan kami merasa berterima kasih atas segala upaya yang mereka lakukan demi ini semua.
Kehidupan di dalam kamp yang tengah dike-
pung masih memilukan. Sementara Kota Beirut terang benderang pada malam hari dengan lampu-lampu listrik, kamp-kamp pengungsi Palestina masih gelap total. Anak-anak sering kali tersandung ketika melewati puing-puing dan kabel-kabel yang malang melintang di tengah kegelapan sehingga tumit mereka patah. Tidak ada listrik. Bahkan batu baterai dan aki tidak diizinkan dimasukkan ke dalam kamp. Generator-generator listrik di dalam kamp sudah usang dan terlalu sering dipakai sehingga perlahan-lahan harus dipensiunkan, membuat hidup menjadi semakin sulit. Warga Palestina berhasil mendapatkan atau "menyedot" listrik dari rumah-rumah keluarga Amal yang tinggal di dekat kamp. Mereka tak pernah memberitahuku bagaimana atau kapan ini dilakukan. Namun, aku sering diminta untuk membawakan sekian meter kabel ke kamp sehingga mereka dapat mengalirkan listrik dari bangunan-bangunan milik Amal ke klinik-klinik serta rumah sakit-rumah sakit.
Aku pernah mendapat kesulitan karena masalah listrik ini. Ada pertukaran pasukan Suriah, dan Alberto membawa letnan yang baru datang untuk melihat-lihat keadaan Rumah Sakit Haifa. Sebagai orang baru, ia terperangah melihat keadaan di kamp yang sangat parah dan menanyakan jika ia dapat melakukan sesuatu untuk membantu kami. Pengelola rumah sakit menanyakan apakah generator mereka dapat diangkut ke luar kamp untuk diperbaiki. Dengan adanya listrik, rumah sakit setidaknya memiliki penerangan dan orang-orang di sana dapat
membersihkan dinding-dindingnya. Sang letnan Suriah menjawab bahwa ia tak dapat mengizinkannya. Namun, tiba-tiba ia memiliki ide cemerlang untuk membolehkan Rumah Sakit Haifa "menyedot" listrik dari markas Suriah yang jaraknya sekitar setengah kilometer. Aku diminta untuk mendapatkan satu kilometer kabel campuran yang terdiri dari empat kabel individual, berdiameter dua puluh lima sentimeter, untuk dipergunakan pihak rumah sakit menyedot listrik dari markas Suriah.
Namun, saat kami tengah menjalankan rencana ini, Mayor Walid kembali dari Damaskus dan menghentikan upaya kami ini. Kami semua dikumpulkan dan harus menghadapi amarahnya. Rumah Sakit Haifa masih berada dalam kegelapan untuk beberapa waktu lamanya. Amarah sang Mayor membuatku khawatir, karena ia bisa dengan mudahnya membatalkan izin mengemudikan mobil ambulans dan pengangkutan obat-obatan ke dalam kamp. Sejauh ini, ia telah membolehkanku melakukan banyak hal demi warga Palestina, yang dianggapnya merupakan "tugas kemanusiaan".
Mayor Walid menanyaiku beberapa kali, apakah aku tengah berusaha membantu para warga Palestina "pro-Arafat". Pemerintah Suriah saat itu memusuhi pemimpin PLO, Yasser Arafat. Namun, aku mengatakan bahwa aku berada di sini untuk membantu semua warga Palestina. Bahkan, aku juga mengatakan kepadanya, jika aku bersedia menolong tentara Amal yang telah menyerang kamp maka jelaslah bahwa tidak mungkin aku bersikap
diskriminatif dan berpihak kepada warga Palestina pendukung Arafat. Hal itu adalah masalah internal antara Suriah dan Palestina, dan aku tak punya kekuasaan bahkan hak untuk mencampurinya. Jawaban itu sangat memuaskan Intelijen Suriah.
Akhirnya, para perwira Suriah memberikan izin kepada kami untuk membawa keluar generator dari Rumah Sakit Haifa untuk diperbaiki. Namun, sebenarnya generator tersebut sudah tak dapat diperbaiki lagi. Para perwira Suriah itu tahu bahwa sebenarnya aku mengeluarkan mesin itu untuk membuangnya, dan bahwa aku akan membawa masuk generator yang baru ke dalam kamp. Namun, mereka merasa sangat muak terhadapku yang membuntuti mereka sepanjang siang dan malam untuk mendapatkan izin mengeluarkan mesin itu dari kamp.
Kazim Hassan Badawi, temanku yang menjabat sebagai pengelola PRCS di luar kamp, diminta dr. Utsman membantuku mengurusi generator yang rusak tersebut. Kazim bertubuh tinggi, berkulit cerah, serta bermata cokelat. Ia adalah seorang ahli statistik, tetapi pelayanannya terhadap PRCS sungguh-sungguh hebat. Kazim dan aku pertama kali bertemu pada 1985 di Rumah Sakit Haifa ketika jam makan siang. Pada saat kami sedang bersantap, tiba-tiba ia mencopot kausnya dan menunjukkan padaku parut di perutnya. Alison, yang baru saja tiba di Rumah Sakit Haifa dan tengah menyesuaikan diri, tercengang melihatku yang mencoba memeriksanya sementara mulutku masih penuh makanan. Pada 1987, Kazim telah dipindahkan dari Rumah
Sakit Haifa untuk bekerja di kamp Mar Elias yang tidak dikepung oleh pasukan musuh.
Kami pergi pagi-pagi sekali untuk menyewa sebuah forklift yang akan kami gunakan mengeluarkan generator usang tersebut dari Rumah Sakit Haifa. Kami lalu kembali dengan membawa generator baru. Kami telah menurunkan generator itu dari forklift tersebut dan baru saja akan meninggalkan rumah sakit tatkala seseorang datang dengan membawa pesan bahwa Mayor Walid ingin bertemu dengan kami. Kami menuju kantornya yang terletak di pinggiran kamp. Tak jauh dari rumah sakit, dua perwira intelijen Suriah menahan kami dan menangkap Kazim. Mereka membawanya pergi. Kami terlalu senang karena telah berhasil mengganti generator yang lama, sampai-sampai kami lupa bahwa Kazim adalah seorang pria Palestina. Amat berbahaya bagi seorang pria Palestina berkeliaran di sekitar kantor pasukan intelijen Suriah. Kami tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah jebakan. Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berjumpa dengan Kazim. Aku mengetahui dari seorang kawannya bahwa ia dipukuli, dituduh sebagai pendukung Arafat, dan digiring ke penjara di ibu kota Suriah, Damaskus. Pada waktu itu, istrinya yang orang Lebanon tengah hamil enam bulan, dan kemudian ia melahirkan anak pertama mereka.
Peristiwa itu membuatku terguncang, sampai aku benar-benar tak sanggup bekerja selama beberapa hari. Tetapi, seorang wanita pengacara Palestina kenalanku mengajakku bicara. Ia mengatakan
kepadaku bahwa aku harus berhenti memikirkan Kazim dan melanjutkan tugasku memasok berbagai persediaan ke kamp. Agak lebih muda daripada Ummu Walid dan berkepribadian sangat kuat, kawanku itu menatapku yang tengah duduk muram dan berkata, "Swee, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi kamu harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Para tentara Suriah itu melakukan hal ini, pertama karena mereka memang menginginkan Kazim, dan kedua karena mereka ingin menekanmu supaya kamu berhenti bekerja untuk rakyat kami. Bekerja dengan kami, orang Palestina, kamu harus bisa menyusut hingga sebesar ini." Ia menyatukan jempol dan jari telunjuknya. "Dan pada saat-saat tertentu, kamu harus menjadi sebesar ini," dan ia membentangkan kedua tangannya selebar-lebarnya. Ia memelukku erat-erat, lalu meneruskan, "Banyak sekali pekerjaan yang bisa kamu lakukan, dan kamu harus melanjutkan tugas itu."
Tentu saja ia benar. Aku berusaha bangkit kembali dan melanjutkan tugas mengisi ambulans rongsokan dengan makanan dan obat-obatan untuk kamp, membuang jauh-jauh peristiwa mengerikan itu di belakangku. Namun, terkadang ketika aku berjalan melewati kantor Kazim di kamp Mar Elias, kata-katanya terngiang-ngiang di telingaku, "Bisakah kamu menungguku sampai aku kembali dari kantor Walid Hassanato?"
Aku pergi ke kantor intelijen militer Suriah beberapa kali untuk meminta penjelasan. Tidak ada jawaban.
Tugas lain yang sebenarnya tidak kusukai adalah mengurus kepergian para korban warga Palestina ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan khusus. Pertama, hanya segelintir warga Palestina penghuni kamp yang mempunyai dokumen perjalanan, mereka hanya membawa kartu identitas pengungsi bertulis-kan nama, tempat, dan tanggal lahir. Kartu identitas tersebut harus diserahkan kepada pemerintah Lebanon supaya dibuatkan dokumen perjalanan yang layak. Akan tetapi, prosedurnya sangat lama dan rumit, kecuali jika dipercepat dengan cara menyogok para pejabat Lebanon.
Setelah dokumen perjalanan diperoleh, masalah selanjutnya adalah mendapatkan visa. Kebanyakan negara Barat enggan memberi visa kepada para warga Lebanon-Palestina, dan mereka baru akan membuatnya jika ada permintaan dari rumah sakit atau pusat spesialis, bersama-sama dengan jaminan uang. Oleh karena sistem pelayanan pos di Lebanon telah hancur, bahkan sebuah surat rekomendasi sederhana pun harus dikirim melalui kurir.
Ketika visa telah jadi, seseorang aku, misalnya harus mendatangi kantor Intelijen Suriah dengan membawa salinan catatan medis dan fotokopi dokumen perjalanan serta visa. Para pejabat di sana akan memastikan bahwa pasien yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan perawatan di luar negeri tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang terlibat kegiatan pro-Arafat. Ini akan memakan waktu beberapa hari, dan jika si pasien dinyatakan "bersih", izin tersebut akan diberikan.
Jika si pasien berasal dari kelompok politik yang ber-seberangan, aku akan dipanggil menghadap ke kantor Intelijen Suriah dan diberi tahu untuk tidak menolong para pendukung Arafat melarikan diri. Sering kali aku akan dilepas begitu saja karena aku orang asing dan hanya tahu sedikit tentang kelompok-kelompok politik di Palestina. Terkadang, sang pejabat intelijen Suriah akan terheran-heran terhadap ketidak tahuanku sehingga ia akan berkata, "Dengar, Doctora Swee, kami semua ingin memudahkan upaya Anda menolong para korban. Tapi kami melihat bahwa Anda sedang dimanfaatkan oleh para pendukung Arafat, dan itu sangat buruk." Aku biasanya mendengarkan ceramah panjang itu dengan penuh perhatian, melalui penerjemahku yang merangkap sopir, lalu akhirnya meminta maaf sedalam-dalamnya karena telah bersikap naif.
Kadang-kadang, setelah ceramah yang berkepanjangan itu, para perwira Suriah bersedia memberikan izin bahkan bagi para pendukung Arafat untuk meninggalkan kamp. Misalnya, Mayor Walid pernah mengizinkan empat orang yang telah diamputasi kakinya untuk keluar dari kamp Bourj el-Brajneh dan mendapatkan perawatan di Eropa. Ia menjelaskan bahwa walaupun mereka itu pendukung Arafat, mereka bukanlah ancaman terhadap keamanan di sini, karena mereka tak punya kaki. Atas alasan kemanusiaan, ia memperbolehkan mereka pergi.
Setelah menerima izin tertulis dari pihak intelijen, kami harus mengurus tiket pesawat. Para keluarga pasien diberi tahu, lalu kami melapor kepada
Palang Merah Internasional supaya mengirim salah satu utusan ke kamp dan mengangkut si pasien untuk dibawa ke bandara. Barulah ketika pesawat lepas landas, aku dapat meyakinkan diriku bahwa para pasienku telah berangkat dengan selamat, karena selalu terdapat kemungkinan mereka diculik atau ditawan di salah satu pos pemeriksaan di sepanjang jalan menuju bandara.
Barulah setelah pesawat MEA pergi, aku bisa mengembuskan napas lega dan kembali ke kamp, ditemani para kerabat yang meratapi kepergian para pasien tersebut. Sisa anggota keluarga yang masih berada di sini biasanya tidak punya dokumen perjalanan maupun visa, apalagi uang untuk membiayai mereka mendampingi si pasien ke luar negeri. Sering kali terpikir olehku bahwa mereka tak akan bertemu satu sama lain dalam waktu yang lama.
Bilal Chebib dan Samir Ibrahim al-Madany adalah dua anak laki-laki yang cacat akibat terkena tembakan penembak jitu pada Desember 1986. Bilal berasal dari Bourj el-Brajneh dan merupakan pasien dr. Pauline Cutting. Samir berkebangsaan Lebanon. MAP menerapkan kebijakan untuk tidak memihak kelompok mana pun dan berusaha menolong baik orang-orang Palestina maupun Lebanon secara adil, jika memungkinkan. Pusat Penelitian Tulang Belakang di Rumah Sakit Stoke Mandeville di Inggris menawarkan diri untuk merawat kedua anak ini. Pauline menghubungiku dari London pada akhir April 1987 dan memintaku untuk mengirim bocah-bocah itu karena segala persiapan di Inggris telah rampung
dikerjakan untuk menerima kedatangan mereka.
Namun, meskipun aku telah berusaha mempercepat proses di Beirut, aku dan anak-anak itu tak dapat berangkat sebelum 4 Juni 1987. Walaupun kedua anak itu berumur di bawah sepuluh tahun, aku masih harus melalui semua prosedur birokratis yang sama. Oleh karena mereka berdua lumpuh dari pinggul ke bawah, aku harus terbang ke Inggris bersama mereka. Kami semua dijadwalkan pergi pada 2 Juni. Akan tetapi, Bandara Internasional Beirut ditutup pada hari itu gara-gara terjadi pembunuhan Perdana Menteri Lebanon, Rashid Karami.
Kantor MAP kami di London mengirimiku sebuah pesan teleks yang panjang yang mengeluhkan kerepotan yang kutimbulkan akibat tertundanya kebe-rangkatan kami. Ketika menerima pesan tersebut, aku merobek-robeknya karena frustrasi. Setelah terjadinya pembunuhan terhadap Rashid Karami, kemungkinan akan pecah lagi perang sipil. Setiap orang di sini bersikap waspada, termasuk para tentara Suriah. Tentunya aku tak dapat berbuat apa-apa karena bandara ditutup. Untunglah situasi membaik setelah empat puluh delapan jam, dan aku pergi bersama anak-anak itu pada 4 Juni. Aku harus mengendarai mobil ambulans rongsokan itu sambil membawa bocah-bocah tersebut serta kursi roda mereka ke Bandara Internasional Beirut.
Kami tiba di Bandara Heathrow pada malam hari, dan aku merasa lega karena dapat menyerahkan kedua anak itu ke tangan Pauline.
Aku kembali ke Beirut sekali lagi. Musim panas
telah berlalu dan kamp masih tetap setengah diduduki. Para pria Palestina di dalam kamp masih tidak diperbolehkan meninggalkan kamp tanpa izin khusus. Jika berada di luar, mereka tak dapat kembali tanpa mendapatkan izin khusus. Para pejabat PCRS diancam dan diusik. Suatu hari, enam orang pria bersenjata berpakaian sipil memasuki kantor Ummu Walid di Rumah Sakit Akka. Mereka mengunci pintu dan mengancamnya dengan senjata mereka. Salah seorang dari mereka berkata, "Ummu Walid, kami mengenal Anda, Anda adalah pendukung Arafat." Di dalam kantornya tergantung sebuah foto besar bergambar besar Yasser Arafat mungkin satu-satunya foto yang terpampang terang-terangan di Beirut.
Ia menjawab, "Aku orang Palestina. Jika aku tidak mendukung Arafat, lantas siapa yang memimpin PLO, siapa lagi yang dapat kudukung? Kalian semua orang Suriah kalian mendukung Presiden kalian, Hafiz al-Assad. Jika kalian bersedia mendukung Arafat, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mendukung Presiden kalian."
Para pria bersenjata itu kemudian meninggalkannya. Beberapa minggu kemudian, ia ditawan dan alat-alat kantornya disita. Oleh karena ia adalah Ketua PRCS Lebanon, mereka tak dapat menyiksanya secara fisik. Akan tetapi, mereka menciduk dr. Amir Hamawi dokter Lebanon yang kami cintai, yang pernah mengampu Rumah Sakit Gaza. Mereka membawanya dan meninju kedua matanya. Namun, Ummu Walid bergeming dan mengatakan kepada
mereka bahwa seharusnya mereka malu karena menyiksa seorang dokter. Ia dibebaskan dan dikembalikan ke kantornya di Rumah Sakit Akka pada keesokan harinya untuk melanjutkan pekerjaannya demi PRCS di Lebanon. Penawanannya tidak membuatnya goyah sedikit pun.
Seiring bulan September semakin dekat, mental penduduk kamp merosot lebih rendah daripada sebelumnya. Para warga Palestina di kamp Shatila mulai melakukan demonstrasi menentang pengepungan kamp. Pengepungan ini telah berlangsung lebih dari dua tahun, dan orang-orang tak sanggup lagi bertahan. Ketika pemerintah Suriah memberlakukan gencatan senjata beberapa bulan sebelumnya, harapan-harapan yang muncul dari benak mereka sangat tinggi. Para penduduk kamp mengira dapat menata kembali hidup mereka. Tapi tidak. Sekolah-sekolah tetap ditutup. Pasukan Amal melarang mereka membangun kembali rumah-rumah mereka dan melarang pengangkutan bahan-bahan material ke dalam kamp. Dua tahun penyerangan dan pengepungan telah menghancurkan institusi-institusi sosial seperti sekolah bagi anak-anak, pekerjaan bagi para pria dewasa, dan kehidupan rumah tangga bagi para wanita, serta telah mengubah kamp menjadi penjara dengan kehidupan yang statis karena tak ada mobilitas.
Di dalam kamp tak ada masa depan, harapan, keamanan, dan tawa. Keadaan ini pastilah sangat berat, sampai-sampai para warga Palestina pernah berkata kepadaku, "Kami merasa seolah-olah kami
tak punya apa-apa lagi untuk diberikan."
Setiap hari, kami melihat lebih banyak kasus depresi dan ketegangan mental. Suatu hari, seorang dokter Palestina memasuki rumah sakit dan berulang-ulang memukul dinding dengan kepalan tangannya, lalu berteriak, "Kenapa mereka membiarkan kami hidup begini? Kami ingin tahu, berapa lama seseorang akan mati dalam situasi seperti ini!" Seperti orang-orang lainnya, ia tak dapat meninggalkan kamp sejak dua setengah tahun yang lalu. Ia bertugas selama empat peperangan di kamp, dan merupakan salah seorang yang selamat dari serbuan pasukan Israel pada 1982 dan pembantaian Sabra-Shatila. Ia kehilangan keluarganya pada peristiwa pembantaian Tel al-Zaatar.
Syahadah, seorang wanita perawat Palestina yang lincah dan menarik, adalah salah seorang teman baruku yang kukenal pada 1987. Ia menggendong keponakan laki-lakinya untuk menemuiku pada suatu hari. Bocah malang itu telah kehilangan kedua orangtuanya pada pembantaian 1982. Ia sering terbangun dengan rasa takut pada tengah malam karena memimpikan ibunya. Sambil menangis, ia mengatakan bahwa ia tak dapat mengingat rupa kedua orang tuanya, kecuali bahwa ibunya sangat cantik. Syahadah berusaha keras melipur rasa kehilangan keponakannya itu dengan cara menjadi ibu walinya.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa para tentara itu juga telah menciduk Syahadah sehingga bocah laki-laki itu kehilangan satu-satu-
nya keluarganya yang masih ada. Meskipun begitu, ketika mengantar para perawat Rumah Sakit Shatila membeli makanan untuk persediaan rumah sakit, aku harus mengagumi keteguhan dan kemampuan mereka untuk berpikir jauh ke depan. Misalnya, pernah mereka mendapati bahwa kacang kalengan yang dipesan pihak rumah sakit dilabeli, "TANGGAL KEDALUWARSA 1989". Gadis-gadis itu berkeberatan dan menolak menerima kaleng-kaleng tersebut, seraya berkata mereka hanya bersedia menerima makanan yang bertahan dalam jangka waktu lima tahun. Dua tahun tidak cukup, secara mental mereka telah bersiap menghadapi serangan berikutnya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda menyerah, dan mereka berusaha bertahan untuk waktu yang lebih lama.[]
Dua Puluh Sembilan
September 1987 adalah peringatan lima tahun pembantaian Sabra dan Shatila. Keadaan di kamp masih tetap suram, dan seiring musim dingin di Lebanon akan datang, kami semua mengalami kembali penderitaan yang pernah kami alami sebelumnya.
Tim MAP telah bertambah dengan kedatangan para sukarelawan dari Malaysia. Dr. Alijah Gordon, seorang warga Malaysia asli Amerika, telah menggalang kampanye nasional untuk pencarian para sukarelawan di Malaysia. Melalui usahanya yang tak kenal lelah, para penduduk Malaysia dapat memberikan dukungan mereka bagi para warga Palestina di Lebanon dengan cara mengirimkan bantuan obat-obatan serta sukarelawan. Dalam beberapa minggu pelaksanaan kampanyenya, Alijah telah merekrut dan mengirim empat orang sukarelawan medis untuk bekerja dengan kami di kamp. Kini, tidak ada lagi kekurangan tenaga sukarelawan medis asing bagi kamp pengungsi Palestina di Lebanon. Sampai tahap ini, sebanyak tujuh puluh orang dari sepuluh negara telah direkrut MAP. Media massa di Barat juga telah menyiarkan banyak sekali liputan tentang penderitaan warga Palestina. Baik Pauline Cutting maupun
Susan Wighton telah menerima penghargaan dari Ratu Elizabeth atas pelayanan mereka terhadap orang-orang Palestina dan atas keberhasilan mereka bertahan selama masa pengepungan.
Namun, bagi para warga Palestina di kamp-kamp di Beirut, keadaan masih tak menentu. Mereka masih tak punya air, listrik, ataupun bahan-bahan material untuk menutupi lubang-lubang besar di dinding. Mereka tak punya masa depan dan keamanan, anak-anak tak bisa bersekolah, para pria dewasa tak punya kebebasan untuk bepergian. Jika rumah-rumah di kamp tidak diperbaiki dan dibangun kembali, musim dingin yang akan datang merupakan bencana bagi mereka. Bagi mereka yang menghindari kesengsaraan di kamp dengan berteduh di gudang-gudang kosong, garasi-garasi, tangga-tangga rumah, atau tepian jalan raya di Lebanon, musim dingin merupakan masa yang sangat suram. Para wanita yang mencoba menyelundupkan semen dan bahan material dalam kantong makanan akan ditahan. Situasi ini adalah jalan buntu pasukan Suriah tak mampu menekan pasukan Amal untuk memperbolehkan bahan-bahan material memasuki kamp. Aku berpikir untuk membawa kantong-kantong semen dengan berlabelkan "tepung" supaya dapat dimasukkan ke dalam kamp Shatila. Namun, ketika melihat dua orang gadis Palestina yang punya gagasan serupa diperintahkan memakan semen di pos pemeriksaan, aku membatalkan ide tersebut.
Susan Wighton kembali ke kamp Bourj el-Brajneh.   Meskipun   menerima   berbagai   ancaman
yang membahayakan nyawanya dan disarankan untuk tidak kembali, ia tetap datang untuk melanjutkan program pengobatan preventif di dalam kamp. Kembalinya Susan membangkitkan moral penduduk kamp yang sedang merosot. Ia membawa medali yang diterimanya dari Ratu dan meletakkannya di dalam masjid kamp Bourj el-Brajneh. Ia berkata, "Di situlah seharusnya medali itu berada."
Pada awal September, aku berencana kembali ke Eropa, untuk membuat publikasi tentang kamp dalam rangka peringatan lima tahun pembantaian Sabra dan Shatila. Sebelum pergi, aku menulis sebuah seruan:
Para korban yang selamat dari pembantaian di kamp Sabra dan Shatila, kini lima tahun setelah invasi Israel meminta kepada Anda semua untuk memberikan bantuan. Kedua kamp pengungsi ini pernah menampung sebanyak 80.000 orang warga Palestina. Sejak 1982, kamp-kamp itu berturut-turut menghadapi invasi Israel, Pembantaian Sabra-Shatila, dan serangan selama dua tahun terakhir. Kini, kamp Sabra telah hancur dan kamp Shatila tinggal puing-puing. Sebagai tambahan, banyak yang mati terbunuh, terluka, atau hilang, dan ribuan orang telah mengungsi.
Kini, pada 1987, sebanyak 30.000 orang warga Palestina hidup di sisa-sisa reruntuhan kamp Shatila dan wilayah sekitarnya. Mereka kehilangan tempat tinggal, hidup entah di tepian jalan atau mendekam di antara reruntuhan dan
puing-puing kamp Shatila. Ketiadaan air, listrik, obat-obatan, bahkan makanan, sekaligus rasa takut akan terjadinya lagi serangan atas kamp, telah membuat kehidupan menjadi benar-benar tak terperikan.
Kini orang-orang ini harus menghadapi cuaca dingin, lembap, dan musim dingin yang ganas tanpa rumah, kehangatan, dan masa depan. Ini adalah Tahun Internasional Perlindungan bagi para penduduk yang kehilangan rumah mereka.
Tulisanku terhenti oleh sebuah suara, "Doctora Swee ...." Suara itu membawaku kembali ke dunia nyata aku berada di dalam sebuah rumah sakit yang telah dihantam 248 tembakan meriam selama serangan terakhir. Bangsal-bangsalnya ditembus angin dan sinar matahari karena ada lubang-lubang besar bekas bom. Rumah sakit ini tak punya pasokan air, listrik, dan mengalami banjir ketika hujan.
"Ada apa?" tanyaku.
Aku berbalik, dan melihat seorang gadis cilik delapan tahun terbaring di atas ranjang, dengan perban yang baru diganti oleh seorang perawat Palestina. Kedua kakinya terkena luka bakar yang parah dan hampir-hampir seluruh kulit serta tulang keringnya terkelupas. Ia telah menunggu selama berming-gu-minggu supaya dapat dipindahkan ke Eropa untuk mendapatkan perawatan khusus. Saat ia memanggilku, kusangka ia ingin tahu kapan ia dapat berangkat.
Betapa kelirunya aku! Ia hanya ingin men-
ciumku. Saat membungkuk ke arah ranjangnya dan merengkuh kepalanya dengan tanganku, aku memandang betapa cantiknya ia. Alih-alih mengamati luka bakar yang parah di sekujur kakinya, aku menatap kedua bola matanya yang berwarna gelap dan indah, serta rambut hitamnya yang keriting. Meskipun menderita, wajahnya tetap menyiratkan rasa belas kasih dan sayang. Ia benar-benar seorang gadis cilik dari kamp Shatila.
"Ibu akan datang menemuiku besok?"
"Mungkin, insya Allah," jawabku. Aku tahu itu bohong. Besok aku akan berangkat ke Eropa untuk melakukan perundingan, mungkin dalam sebuah ruang konferensi yang mewah dengan kaca-kaca jendela yang besar dan meja-meja yang dipoles, berbicara kepada para politisi yang berwibawa dan para pengucur dana yang akan menjelaskan alasan mengapa mereka tak dapat membantu kami. Meskipun begitu, aku harus tetap mencoba membujuk mereka. Setelah lima tahun bergelut dalam masalah ini, aku telah menjadi seorang yang bermuka tebal dan keras hati.
Aku tak pernah mengucapkan selamat tinggal. Di dalam kamp-kamp pengungsi Palestina, hidup, mati, dan perpisahan bercampur aduk sehingga kami tak pernah mengucapkan selamat tinggal. Para penduduk hidup dengan harapan akan masa depan yang lebih baik. Ungkapan yang menggambarkan harapan mereka adalah, "Kami tengah menunggu. Tahun depan kami akan berada di Jerusalem."
Ketika sedang berada di Eropa, mengusahakan
publikasi tentang keadaan di kamp, aku bertemu Yasser Arafat, pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Ia datang untuk berpidato dalam konferensi di Jenewa yang diikuti sebanyak 240 LSM. Setelah itu, para peserta konferensi diundang ke sebuah acara resepsi yang digelar oleh PLO. Seperti peserta lainnya, aku juga menghadiri resepsi tersebut. Saat berlangsungnya acara yang dipadati oleh para perwakilan LSM Eropa itu, Yasser Arafat menganugerahkan kepada beberapa orang Bintang Palestina, penghargaan tertinggi yang diberikan PLO. Aku tak tahu sama sekali harus berbuat apa ketika namaku tiba-tiba dipanggil Ketua PLO tersebut ingin memberikan penghargaan kepadaku! Bagaimana bisa aku menerima penghargaan semacam itu, padahal banyak sekali warga Palestina yang kukenal lebih pantas menerimanya daripada aku? Banyak sekali teman Palestinaku yang memberikan lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan bisa kuberikan. Aku tak beranjak. Ketika namaku dipanggil untuk yang ketiga kalinya, aku harus beranjak menuju kursi sang Ketua untuk menghindari rasa malu.
Aku merasa sangat terhormat, tapi juga merasa rendah diri, dan berkata kepadanya, "Sebagaimana halnya orang-orang Palestina, saya juga berasal dari sebuah pergerakan yang tak memiliki pahlawan individual. Kehormatan yang Anda berikan kepada saya ini seharusnya dipersembahkan kepada rakyat Palestina yang gagah berani yang kini tengah dikepung di dalam kamp pengungsi di Lebanon,
para syuhada Palestina, kepada Nahla, Nabila, dan Nidal, dan banyak lagi lainnya yang telah mengorbankan nyawa mereka demi perjuangan. Juga kepada mereka yang menderita dalam penjara-penjara Israel, kepada anak-anak yang akan menulis babak baru sejarah Palestina, kepada teman-teman di seluruh dunia yang terus menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina dalam keadaan yang paling sulit sekali pun. Dan kepada penduduk Shatila, yang tak punya atap untuk melindungi kepala mereka dari datangnya musim dingin Lebanon, yang tetap kuat bertahan menghadapi serangan-serangan dan pembantaian demi pembantaian. Terima kasih atas penghargaan Anda, tetapi saya tahu kepada siapa penghargaan ini seharusnya diberikan, yaitu kepada orang-orang yang tindakan mereka terus menginspirasi kami setiap hari, dan saya hanya bersedia menerimanya karena mereka tidak hadir di sini untuk menerimanya, karena keadaan mereka hari ini ...." Aku kesulitan untuk melanjutkannya, tetapi sang Ketua melingkarkan lengannya ke bahuku untuk me-nenangkanku.
Malam itu, aku teringat bagaimana orang-orang Palestina selalu berusaha untuk berterima kasih kepada teman-teman mereka, bahkan pada saat mereka sebenarnya tidak perlu melakukannya. Mereka juga tidak perlu memberikan penghargaan maupun penghormatan kepadaku. Keyakinan dan kepercayaan mereka terhadapku melebihi apa pun yang dapat kuminta. Dengan menganugerahiku Bintang Palestina, Arafat sebenarnya telah memberiku
status sebagai warga Palestina. Aku menerka-nerka, apakah ia tahu bahwa ia memberikan penghargaan ini kepada seorang buangan dari negara lain, yaitu Singapura.
Selama berada di Eropa untuk mengusahakan publikasi tentang keadaan di kamp, aku tetap mengikuti perkembangan situasi di sana. Suhu udara menurun sejak Oktober. Kemudian, tibalah bulan November, hujan mulai mengguyur dan kamp-kamp kebanjiran. Bangunan-bangunan yang setengah hancur terkena bom akhirnya roboh menimpa anak-anak serta melukai mereka. Langit pun kelabu, dan suasana mental di kamp terasa lebih suram. Udara terasa dingin dan lembap setiap waktu. Tidak satu pun bangunan di kamp Shatila yang kedap air. Derasnya air hujan mengguyur melalui lubang-lubang bekas bom, air juga terus-menerus menetes dari lubang-lubang bekas terkena peluru. Ke mana pun aku pergi di Eropa, aku berusaha menggugah orang-orang supaya memedulikan hak-hak para warga Palestina untuk mendapatkan atap yang dapat melindungi kepala mereka dari cuaca buruk.
Sejauh ini, bangunan rumah sakit adalah yang paling kecil kerusakannya dibandingkan bangunan-bangunan lain yang hancur di Shatila. Namun, dr. Kiran, salah seorang sukarelawan ahli anestesi dari MAP yang bekerja di Shatila, tidur di lantai yang basah dengan matras yang tembus air. Media massa sudah tak menaruh perhatian pada kamp. Tidak ada lagi pemberitaan tentang kamp. Jauh dari sorotan kamera dan kaset rekaman, tersembunyi dari
para wartawan, para warga Palestina terus menanggung penderitaan dalam keheningan, diabaikan oleh dunia yang tak kenal belas kasihan.
Sekali lagi aku kembali ke Beirut, setelah gagal mengumpulkan bantuan internasional untuk mewujudkan pembangunan kembali kamp-kamp. Seperti halnya setiap orang di dalam kamp, aku menjadi sangat tertekan.
Kemudian, sesuatu terjadi. Pada suatu hari yang suram dan lembap di bulan Desember, ketika banjir di kamp Shatila telah mencapai betis, kami mendapat kabar bahwa para warga Palestina di wilayah-wilayah yang diduduki Israel di Gaza dan Tepi Barat telah bangkit melawan pasukan Israel. Hari itu adalah tanggal 9 Desember 1987. Buletin berita itu menyebutkan bahwa para warga Palestina di wilayah-wilayah yang diduduki Israel tengah berdemonstrasi menentang pendudukan Israel, dan anak-anak kecil melempari batu ke arah para tentara Israel yang bersenjata lengkap. Berita ini bagaikan udara segar yang berembus di tengah-tengah kamp Beirut yang sedang dalam keadaan tertekan. Tiba-tiba, setiap orang di Shatila membicarakan "Perlawanan di Wilayah-wilayah Pendudukan".
Belum lama berselang, aku telah menyaksikan anak-anak di kamp menggambar mayat-mayat di dinding dengan gentian vioiet semacam iotion antiseptik untuk kulit yang mereka ambil dari klinik Susan Wighton. Gambar-gambar tersebut merupakan bukti terampasnya masa kecil mereka. Tapi,
sekarang semua anak itu berkumpul seraya mendengarkan dengan penuh semangat orang-orang dewasa yang membicarakan perlawanan di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Mereka mengacungkan tanda "Y" dengan jari mereka di tiap-tiap lorong pada setiap orang yang lewat.
Aku selalu yakin bahwa orang-orang Palestina di pembuangan dan orang-orang Palestina di wilayah yang diduduki adalah dua bagian dari satu tubuh yang terpisah, mereka ingin bersatu kembali. Kemenangan satu pihak akan mengilhami pihak lainnya. Sekarang keyakinanku terbukti. Orang-orang buangan yang berada di kamp-kamp Lebanon menjadi bangkit dan terilhami dengan apa yang sedang terjadi di wilayah-wilayah yang diduduki Israel. Mereka mendengar perkembangan gerakan perlawanan saudara-saudari mereka yang hidup di bawah pendudukan Israel. Mereka bersukacita.
Dua puluh tahun sudah pendudukan Israel berlangsung di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Rakyat Palestina hidup di bawah kekuasaan Israel, dalam kepiluan dan kesengsaraan, selama dua dekade. Namun, sekarang mereka berdiri tegak dan mengatakan kepada para penjajah itu bahwa mereka takkan lagi mengalah.
Seperti kebanyakan orang Palestina yang berada di kamp-kamp Lebanon, aku tak dapat mengunjungi wilayah-wilayah pendudukan Israel. Tapi aku ingin mengetahui wilayah-wilayah itu, dan aku telah mendengar cerita orang-orang yang telah mengunjungi atau berasal dari wilayah-wilayah tersebut
dan telah mengalami kehidupan di bawah kekuasaan Israel. Aku menanyakan pada seorang kawan perempuan Palestina yang berasal dari Jalur Gaza, bagaimana keadaan di sana. Menurutnya, kehidupan di sana sangat sulit. Selain kondisi kehidupan yang sangat keras rumah-rumah yang berdempetan, sanitasi yang buruk, dan kemiskinan mereka pun harus menghadapi penindasan para penjajah. Israel memberlakukan jam malam, menahan orang-orang, membatasi gerak, mengancam menutup kamp-kamp, dan menghancurkan dengan sewenang-wenang rumah-rumah penduduk. Ia sudah bertunangan dengan seorang pria Palestina yang tinggal di luar negeri, tapi permohonannya untuk meninggalkan Gaza supaya dapat menikah dengan pria itu ditolak. Sering kali, pemerintah Israel memanggilnya untuk diinterogasi terkadang hanya untuk melecehkan atau mengancamnya, terkadang untuk membuatnya berharap-harap bahwa ia akan diizinkan pergi, dan mereka tertawa-tawa melihat kekecewaannya ketika ia diberi tahu bahwa semua itu bohong.
Suatu hari, ia menerima pesan dari pemerintah Israel supaya datang ke kantor mereka untuk mendapatkan izin ke luar negeri. Ia mengira hal itu bohong belaka sehingga ia benar-benar tidak siap ketika diberi tahu agar meninggalkan wilayah pendudukan Gaza melalui jalan darat menyeberangi Gurun Sinai, menuju Mesir. Ia juga diberi tahu bahwa ia tak boleh kembali ke keluarganya di Gaza selamanya. Kawanku itu mengatakan padaku bahwa ia
harus segera pergi sebelum izin ke luar negerinya dicabut oleh penguasa Israel. Setelah empat tahun menunggu, ia harus pergi sedemikian tergesa-gesa sehingga bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada semua teman dan keluarganya. Ia hanya mendapatkan tiket sekali jalan dari wilayah yang diduduki Israel ke tempat pembuangan bersama suaminya.
Lahan-lahan yang terbaik telah diambil alih oleh Israel. Dari seorang kawan lainnya, aku mendengar bahwa rakyat Palestina di Tepi Barat yang berusaha mempertahankan lahan leluhur mereka diusir melalui berbagai penindasan. Sebagian rumah penduduk dihancurkan, sedangkan rumah-rumah lainnya disegel oleh tentara Israel, dan keluarga-keluarga yang terusir terpaksa tinggal di tenda-tenda. Untuk mengeringkan lahan pertanian dan pohon-pohon zaitun milik warga Palestina, tentara Israel mengebor sumur-sumur yang sangat dalam sehingga menyedot semua air di tanah. Mereka membelokkannya untuk mengairi taman-taman bermain dan kebun-kebun milik para pendatang baru yang berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Setiap orang Palestina tidak diizinkan melakukan pengeboran sumur, dan mereka dipaksa untuk membeli air yang dicuri pemerintah Israel dari mereka.
Setiap pukul empat pagi, para pemuda Palestina yang bertubuh kekar akan dikumpulkan di berbagai pusat industri untuk menunggu seleksi. Para pemilik pabrik, proyek-proyek pembangunan, dan pertanian Israel akan datang untuk memilih buruh Palestina
yang akan mereka pekerjakan pada hari itu, membawa pergi orang-orang Arab yang telah mereka pilih bagaikan pemilik-pemilik budak di Abad Pertengahan. Para pemilik budak di Abad Pertengahan harus memelihara budak mereka, tetapi pemerintah Israel akan mengembalikan para pekerja itu pada penghujung hari, setelah para pengusaha itu menguras tenaga mereka. Lebih dari seratus ribu orang tenaga kerja dipilih setiap harinya. Jadi, orang-orang Palestina, selain dirampas rumah dan tanah mereka, kini juga dijadikan budak-budak upahan harian untuk mengolah lahan yang merupakan tanah mereka sendiri. Lalu, ke mana perginya kesusilaan, moral, dan ketuhanan? Apa jadinya dengan perintah Tuhan kepada bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, mengenai hubungan mereka dengan orang-orang di luar bangsa mereka, "Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir, akulah Tuhan, Aliahmu" (Imamat 19: 34).
Segala sesuatu yang berhubungan dengan Palestina dilarang. Orang-orang yang diketahui memiliki barang-barang yang bercorak warna bendera Palestina akan dipenjara, tak peduli apakah mereka pendukung PLO atau tidak. Anak-anak berusia tiga atau empat tahun juga akan dipenjara jika bersikap anti-Israel. Kebanyakan orang Palestina yang pernah ditawan di penjara-penjara Israel menuturkan kisah-kisah serupa tentang cara-cara penyiksaan yang dilakukan orang-orang Israel di dalam penjara.
Banyak dari mereka, termasuk anak-anak, juga mengalami pelecehan seksual oleh para penginterogasi Israel. Kawan-kawanku itu bisa tak habis-habisnya menggambarkan kekejian orang-orang Israel terhadap orang-orang Palestina.
Ketika mencoba memahami bagaimana bisa orang-orang Palestina bertahan menghadapi kekejaman seperti ini, aku diberi tahu sebuah kata bahasa Arab yang merupakan bagian dari kosakata keseharian warga Palestina yang hidup di wilayah pendudukan sumud. Artinya ketabahan, kesabaran. Bagiku, semangat ini sangat jelas terungkap dari terjemahan lirik lagu ini, yang mengungkapkan perasaan orang-orang Palestina ketika mereka dipukuli, ketika rumah-rumah mereka diledakkan oleh pasukan Israel, ketika tanah-tanah mereka dirampas, ketika mereka diusir dan diancam dibunuh:
AKU BERTAHAN
Aku bertahan, dengan tabah, aku bertahan
Di tanah airku, aku bertahan
Jika mereka merampas rotiku, aku bertahan
Jika   mereka   membunuh   anak-anakku,   aku
bertahan
Jika mereka meledakkan rumahku, oh rumahku Dalam bayang-bayang dinding-dindingmu, aku bertahan.
Dengan harga diri, aku bertahan
Dengan sebatang tongkat, sebilah pisau, aku
bertahan
Dengan selembar bendera di tanganku, aku bertahan
Dan jika mereka memotong tanganku serta benderaku
Dengan tanganku yang lain, aku bertahan.
Dengan tanahku, dan kebunku, aku bertahan Dengan keteguhan imanku, aku bertahan Dengan kuku-kukuku dan gigiku, aku bertahan Dan jika luka-luka di tubuhku bertambah Dengan luka-luka dan darahku, aku bertahan.
Ini adalah lagu yang dinyanyikan para warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel, mereka yang harus berhadapan dengan pasukan yang dipersenjatai paling lengkap di dunia, hanya bersenjatakan tubuh mereka dan batu-batu. Namun, setelah Desember 1987, televisi di rumah-rumah di seluruh penjuru Eropa Barat dan Amerika Serikat menayangkan gambar-gambar anak-anak Palestina yang dengan gagah berani melemparkan batu ke arah tank-tank dan mobil-mobil lapis baja Israel. Saat penyerangan Israel ke Lebanon pada 1982, aku sudah menganggapnya sebagai pertempuran antara David dan Goliath. Namun, sekarang sepertinya situasi ini benar-benar pengulangan dari kisah David melawan si raksasa Goliath dengan hanya bersenjatakan batu. Semakin Israel berusaha memukul mundur orang-orang Palestina, semakin kuat perlawanan mereka. Gambar-gambar memuak-
kan yang memperlihatkan para tentara Israel memukuli orang-orang Palestina dan dengan sengaja mematahkan tungkai mereka, wanita-wanita Palestina yang tengah hamil ditendangi, penggunaan gas air mata terhadap para demonstran anti-pendu-dukan, dan penggunaan amunisi untuk melawan orang-orang Palestina yang tak bersenjata, mengejutkan dunia Barat yang beradab baru dua puluh tahun setelah serangan pertama dimulai.
Orang-orang Israel beraliran liberal menyatakan keprihatinan atas tingkat kekerasan yang terjadi di wilayah-wilayah pendudukan mereka takut para tentara itu akan menjadi bertambah brutal setelah memukuli para wanita dan anak-anak. Seperti jika seseorang memukuli binatang, orang itu akan menjadi bertambah brutal seiring ia melakukannya berulang-ulang.
Hingga baru-baru ini, seperti kebanyakan orang, aku percaya bahwa Angkatan Bersenjata Israel yang superefisien itu tidak akan melakukan kekerasan sekejam itu, aku mengira mereka tidak akan sanggup melakukannya. Pada awal 1983, ketika pertama kali kembali ke London setelah pembantaian Sabra dan Shatila, aku diwawancarai oleh seorang editor sebuah majalah Arab Saudi. Ia seorang yang sangat pendiam dan mendengarkan dengan penuh perhatian setiap kata yang kuucapkan. Pada akhir wawancara, ia bertanya padaku, "Apakah Anda pernah menangis ketika memikirkan orang-orang Palestina?"
"Demi Tuhan, tentu saja," kataku. "Jika   saya
tidak menangis, berarti saya binatang."
"Saya tahu itu, Dokter," sahutnya. "Terima kasih telah menjadi teman kami." Kemudian ia menggulung lengan kemejanya, dan di lengannya terlihat luka lama yang lebar akibat tembakan senapan mesin. "Saya berusia sepuluh tahun ketika peristiwa itu terjadi," jelasnya. "Para tentara Israel itu mendatangi rumah saya di Tepi Barat."
Tidak ada kamera televisi di Tepi Barat pada waktu itu sehingga kekejaman terus berjalan tanpa ada yang merekamnya. Barulah dua puluh tahun kemudian, media massa Barat memublikasikan kekejian yang menimpa warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Gaza. Barulah setelah timbulnya perlawanan besar-besaran yang dimulai pada 1987, wajah sebenarnya dari pendudukan Israel pun tampak.[]
Tiga Puluh
Saat itu adalah musim dingin yang panjang dan tidak menyenangkan. Pada suatu pagi, aku terbangun di dalam klinik Bourj el-Brajneh. Ketika kubuka mataku, kulihat wajah Dolly Fong yang tersenyum. "Selamat pagi, Swee. Tidurmu nyenyak?" Ia menyambutku dengan secangkir kopi. Hari Minggu yang normal, tidak ada kerjaan rutin, tapi jika kamp diserang, klinik akan menjadi pusat resusitasi bagi para korban. Kecuali pada saat-saat ketika Susan Wighton kembali, Dollylah satu-satunya orang asing di klinik ini. Ia telah mengurus klinik ini sejak Juli 1987. Penduduk kamp selalu menyebut klinik ini sebagai klinik Suzy, atau klinik Dolly, sesuai dengan nama dua orang dokter asing sukarelawan yang melayani mereka. Namun, nama sebenarnya adalah Klinik Samir al-Khatib. PRCS membangun klinik ini pada 1985 dan menamainya dengan nama seorang dokter mereka yang tewas di tangan Israel.
Dolly Fong termasuk salah seorang dari 11 sukarelawan medis yang dikirim warga Malaysia untuk bertugas di Lebanon. Bagiku, para sukarelawan asal Malaysia ini sangat istimewa. Mereka pekerja keras dan tidak menuntut macam-macam, dan juga secara naluriah merasakan penderitaan orang-orang
Palestina. Banyak dari mereka yang melepaskan kesempatan kerja atau bisnis untuk bertugas di Lebanon.
Ada Mathina Gulam Mydin, seorang perawat Malaysia yang bekerja di daerah selatan untuk melayani orang-orang Palestina maupun kaum Syi'ah Lebanon. Aku masih ingat malam ketika ia menerima kabar bahwa neneknya meninggal. Mathina sangat dekat dengan neneknya dan merasa takut ia takkan pernah melihatnya lagi setelah pergi ke Lebanon. Ketakutannya itu terbukti, tetapi ia tidak menyesal kehilangan kesempatan mengucapkan selamat tinggal kepada neneknya. Meskipun sangat sedih, ia bisa menguasai dirinya dengan baik. Oleh karena keesokan harinya ia bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sangat sedikit dari kami yang tahu bahwa ia duduk sambil menangis sepanjang malam.
Lalu ada Tengku Mustapha Tengku Mansoor, seorang ahli farmasi Malaysia yang juga adalah seorang pangeran. Namun, meskipun seorang pangeran, ia tak pernah memanfaatkan uang yang diperolehnya berkat statusnya itu. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, juga untuk menafkahi istri dan anak-anaknya serta lima belas ekor kucingnya. Ketika mendengar seruan dibutuhkannya para petugas medis di Lebanon, Tengku meninggalkan keluarga dan apoteknya, dan bergabung dengan kami. Para penduduk kamp menyayanginya. Aku masih ingat dengan jelas malam-malam saat ia bertugas. Pada pukul satu atau dua dini hari, teman-teman Palestinanya biasa memanggil melalui
kaca-kaca jendela Rumah Sakit yang retak, "Mustapha, Amir Mustapha, kemarilah dan minum kopi bersama kami." Amir adalah bahasa Arab untuk menyebut "pangeran".
Yang lainnya, juru rawat Pok Lui, dr. Naidu, dr. Hor, juru rawat Hamidah, juru rawat Hadji Rosnah, dr. Yussef, dan petugas paramedis Buddit dan Ahmed, mereka semua adalah orang-orang berhati emas. Orang-orang Palestina senang sekali bertemu dengan orang-orang dari negara Dunia Ketiga yang bersimpati kepada bangsa Palestina, karena mereka tidak memiliki semangat paternalistik yang terkadang ditunjukkan oleh para sukarelawan Eropa. Aku tidak sekadar merasa bangga akan hal itu. Aku dilahirkan di Pulau Penang yang indah di Malaysia. Riam sungai yang jernih, Ayer Itam, mengalir dekat rumah kami, kemudian bergabung dengan sungai besar nan tenang yang bermuara ke lautan. Taman milik Kakek dipenuhi semak-semak gardenia yang lebar, pohon-pohon buah yang tinggi, dan tanaman berbunga merah dan biru yang tak pernah kuketahui namanya. Aku dan adik laki-lakiku paling suka pohon-pohon asam. Saat kanak-kanak, kami dilarang mendekati pohon mangga, cempedak, rambutan, dan belimbing, tapi kami boleh sebebas-bebasnya mendekati pohon asam. Buahnya terlalu masam untuk dimakan, dan kami selalu menyerahkan se-genggam buah asam kepada orang-orang dewasa untuk digunakan memasak di penghujung hari. Seperti itulah rumahku semasa kanak-kanak, sebuah surga tropis. Sebelas tahun lamanya aku hidup di
pengasingan, jauh dari Asia Tenggara, aku bahkan tidak dapat mengunjungi rumah kakekku di Penang. Kini, orang-orang Palestina telah membawa kembali orang-orang Palestina, Dolly dan Suzy bertekad untuk mengubah sisa-sisa bangunan menjadi sebuah rumah. Sehingga, lantai atas yang terkena bom itu pun disulap menjadi taman.
Saat memangkas cabang-cabang mawar itu, aku memikirkan kamp Rasyidiyah di Lebanon Selatan dan bagaimana selama pengepungan dan pengeboman para warga Palestina bisa membangun sebisa dilakukan, namun setelah secara sembunyi-sembunyi memasuki kamp Rasyidiyah, aku melihat rumah sakit yang baru dibangun tersebut. Batu bata dan semen telah dibawa masuk ke dalam kamp tepat sebelum pengepungan dimulai. Pengepungan kamp Rasyidiyah sama parahnya dengan yang terjadi di kamp-kamp di Beirut, tetapi para penduduk Rasyidiyah berhasil membangun sebuah rumah sakit dengan tangan mereka sendiri saat kamp tengah diserang dan dikepung. Jadi, sebuah taman bunga mawar untuk Klinik Samir al-Khatib tidaklah aneh, sebaliknya sangat masuk akal.
Pada Januari 1988, lebih dari dua setengah tahun setelah serangan pertama pasukan Amal ke kamp-kamp pengungsi, Nabih Berri, pemimpin mereka, bangan ditunda selama enam jam. Sampai di London, secara kebetulan aku bertemu dengan Mike Holmes dan Susan Rae di Bandara Heathrow. Susan adalah penggalang dana untuk kantor MAP di Skotlandia. Keduanya hendak melakukan perjalanan
ke wilayah-wilayah pendudukan, dan ini adalah perjalanan pertama Mike ke Timur Tengah. Hampir seratus orang Palestina telah terbunuh sejak dimulainya perlawanan, yaitu enam minggu sebelumnya, dan ratusan orang lagi terluka. Mike membawa sumbangan dalam bentuk tunai untuk membantu para korban membayar biaya rumah sakit. Setiap kali seorang warga Palestina mendaftarkan diri untuk mendapat perawatan rumah sakit, para pegawai Israel mengenakan biaya lebih dari seribu dolar Amerika Serikat sebagai deposito awal. Orang-orang Palestina yang tak mampu membayarnya tidak akan mendapat perawatan.
Ketika melihat paspor Mike yang baru, aku tertawa. "Bagaimana kamu akan meyakinkan para tentara Israel itu bahwa kamu seorang turis tulen, bukan seorang pendukung Palestina yang pergi ke sana karena adanya perlawanan?" tanyaku, karena aku tahu bahwa Mike sama sekali tak bisa berbohong.
Lucu juga menyaksikan Susan dan Mike memasuki bagian keberangkatan Bandara Heathrow bersama serombongan orang Israel dan peziarah Kristen yang akan berangkat ke Tel Aviv. Saat melambaikan tangan kepada mereka, aku berteriak, "Sampaikan salam ciumku untuk Jerusalem!" Segelintir orang Israel menoleh dan memandangku mereka pasti bertanya-tanya, apa urusan wanita Cina ini dengan Jerusalem.
Mereka dijemput oleh Susan Wighton di bandara  Tel  Aviv.  Suzy,   yang  sebelumnya  pernah
bertugas di wilayah-wilayah pendudukan, sangat mengkhawatirkan teman-teman Palestinanya ketika mendengar kekejaman tentara Israel dan pembunuhan terhadap orang-orang Palestina, jadi ia pergi mendahului teman-temannya untuk mengunjungi warga di sana.
Oleh karena aku tak dapat mengunjungi wilayah-wilayah pendudukan, dengan putus asa aku menunggu Mike kembali untuk mendengar perkembangan peristiwa di sana. Buletin-buletin berita di London menunjukkan kekejian Israel terhadap para demonstran Palestina, tetapi aku ingin tahu semangat para pelaku perlawanan tersebut. Jika tak dapat berada di sana bersama mereka, aku ingin merasakan semangat mereka.
Di kepalaku tersirat berbagai pertanyaan. Berapa lama orang-orang Palestina yang berada di bawah pendudukan Israel itu akan sanggup meneruskan gerakan perlawanan mereka? Berapa lama mereka dapat bertahan dipukuli, dipenjara, dan kelaparan? Jika pemogokan massal terus dijalankan, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Siapa yang akan membawakan susu bagi anak-anak Palestina? Apakah orang-orang ini sekuat dan setangguh penduduk kamp Shatila? Apa yang dapat kami lakukan untuk mendukung mereka?
Oleh karena aku sangat ingin mendengar laporan Mike tentang perjalanannya, aku membuat janji bertemu dengannya di kantor MAP London. Kantor Mike juga merupakan ruangan teleks, dan karena ia adalah petugas MAP bagian publikasi,
maka teleponnya sering berdering. Ia juga menerapkan kebijakan pintu terbuka sehingga para sukarelawan bebas keluar-masuk kantornya.
Aku mendapatkan saran dari para wartawan yang pernah mewawancaraiku untuk selalu menggunakan tape recorder, jadi aku membawa sebuah tape recorder. Kami duduk di kantornya dan aku menyetel tape recorderku. Mike menceritakan bahwa hari pertamanya di wilayah pendudukan bagaikan "pembaptisan dengan api". Ia mengatakan kepadaku bahwa ia lebih banyak memahami pendudukan Israel dan keberanian bangsa Palestina dari pengalaman-pengalaman yang berlangsung selama dua puluh empat jam tersebut, daripada yang pernah didapatnya seumur hidupnya. Ia dan Susan Rae tiba di Bandara Tel Aviv pada pukul lima pagi, tanggal 17 Januari 1988. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, mereka meluncur menuju kota tua Nablus, yang dinamakan demikian setelah berlangsungnya serangan pasukan Napoleon. Saat itu, para penduduk kota ini melawan, dan sejak saat itu menjadi "kota yang tidak bisa dirampas Napoleon".
Dalam perjalanan, mereka hampir saja terjebak dalam sebuah demonstrasi warga Palestina, sementara para tentara Israel menembakkan senapan mereka ke arah kerumunan massa. Ketika menceritakan hal itu kepadaku, Mike bergidik. Ia mengatakan bahwa untuk sesaat ia mengira mereka berdua akan terperangkap dalam demonstrasi tersebut dan akan dipukuli, ditembak, serta ditangkap seperti yang lainnya. Untungnya, demonstrasi itu berarak
menjauh ke arah yang berlawanan, diikuti oleh para tentara Israel itu, dan mereka melanjutkan perjalanan ke Nablus.
"Bagaimana pendapat kamu tentang Nablus?" tanyaku.
"Aku pertama kali terkena gas air mata di sana, dan itu sangat tidak menyenangkan. Tapi orang-orang Palestina itu sama sekali tidak takut," sahut Mike. "Ketika kami sampai di Nablus, para tentara Israel menyemburkan gas itu ke rumah-rumah warga Palestina. Itu bukan semata-mata gas sianida sulfat biasa, tapi versi baru gas itu CSS1S, CS560, lebih berbahaya daripada gas yang asli." Ia menunjukkan kepadaku foto sebuah kaleng gas air mata. "Lihat, ini dibuat di Pennsylvania," ujarnya. "Lihat tanggalnya. Tertulis 1988. Bahkan jika kaleng itu keluar dari pabrik pada Tahun Baru, berarti kaleng itu hanya butuh waktu kurang dari tiga minggu untuk tiba di Israel dan ditembakkan ke para demonstran Palestina." Mike jelas sekali tampak kesal dan berhenti sebentar untuk menyulut sebatang rokok sebelum melanjutkan kisahnya.
"Tak lama setelah kami sampai di sana, para warga Palestina keluar untuk menemui kami, dan salah satu yang mereka perlihatkan kepada kami adalah koleksi peluru karet mereka. Orang-orang mengira peluru karet tidak terlalu berbahaya. Tapi sebenarnya peluru karet tidak seaman yang dikira. Ketika kami di sana, seorang bocah laki-laki empat tahun tertembak di kepalanya oleh sebutir peluru karet. Ia tidak sadarkan diri dan satu pupilnya mulai
melebar. Para dokter Palestina mengatakan bahwa peluru karet tersebut telah menyebabkan pendarahan dalam di otak, dan ia harus dipindahkan ke Rumah Sakit Hadassah untuk menjalani operasi bedah otak." Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang kukunjungi pada 1982 bersama Paul Morris dan Ellen Siegel, setelah memberikan kesaksian di hadapan Komisi Kahan Israel. Aku tahu itu rumah sakit yang bagus, dan aku menanyakan pada Mike bagaimana hasil operasinya.
"Aku tak tahu apakah anak itu selamat. Setidaknya butuh waktu satu jam untuk pergi dari Nablus ke Hadassah. Seandainya aku mempunyai kepala yang terluka parah, yang tengah mengalami pendarahan dalam, hal terakhir yang kuinginkan adalah diangkut di sepanjang jalanan yang rusak selama satu jam. Dan banyak waktu terbuang percuma karena dokter Palestina harus menelepon dokter Israel lama sekali untuk memintanya menerima pasien itu. Bukannya meminta pasien segera dikirim ke rumah sakit, sang dokter di Rumah Sakit Hassadah bersikeras agar kerabat si anak membawa 1.200 shekel Israel sebagai deposito awal. Jika tidak, anak itu akan dikembalikan ke kamp."
Cara pembayaran ditempat semacam ini membuat Mike berang, terutama karena bocah itu ditembak oleh tentara Israel.
Setelah itu, Clare Moran, salah seorang pegawai kami yang paling cakap dan dapat diandalkan, masuk ke ruangan dan mulai mengetik dengan kecepatan enam puluh kata per menit menggunakan
mesin tik di kantor Mike. Kami menyerah dan pindah duduk di sebelah mesin penyeduh kopi yang terletak di bawah tangga, berharap mendapatkan ketenangan untuk bercakap-cakap.
"Kami masih di Nablus," lanjut Mike, "dan diundang untuk mengunjungi kantor Federasi Umum Perserikatan Perdagangan. Mereka punya daftar nama para korban, dan ingin tahu apakah MAP dapat membantu perawatan mereka. Saat kami sedang berbincang-bincang, aku benar-benar mengira dinding bangunan tersebut akan ambruk ke arahku. Aku kaget, tetapi orang-orang Palestina itu tertawa itu hanya suara pesawat terbang Israel yang melampaui ambang suara. Mereka melakukan itu setiap waktu untuk menekan orang-orang Palestina." Mike mulai tertawa. Ia masih agak malu karena tak dapat membedakan suara ledakan bom dengan suara pesawat-pesawat yang melaju melampaui ambang batas suara.
"Kemudian, kami pergi mengunjungi rumah yang lain, tetapi sayangnya para tentara Israel itu melihat kami. Mereka tahu kami orang asing dan mereka ingin menghentikan kami. Lalu sekelompok anak-anak Palestina mengantarkan kami ke dalam sebuah rumah dan sang pemiliknya mengunci pintu agar para tentara itu tidak dapat mengejar kami. Tapi mereka tetap berdiri di luar, menggedor pintu, dan berbicara melalui walkie-talkie mereka. Setelah sekitar sepuluh menit berlalu, mereka pergi dan anak-anak mengetuk pintu dan mengatakan kepada kami bahwa keadaan sudah aman sehingga kami
bisa pergi. Anak-anak itu telah berpindah ke belakang rumah dan mulai melemparkan batu-batu tentara Israel. Tentara-tentara itu lalu mengejar anak-anak itu dan melupakan kami! Kami diselamatkan oleh anak-anak Palestina! Mereka sungguh ajaib. Mereka ada di mana-mana dan tidak takut terhadap apa pun."
"Jadi kamu telah jatuh hati kepada anak-anak Palestina, Mike?" tanyaku.
"Mengapa tidak? Mereka telah menyelamatkan kami," jawabnya seraya tersenyum. Lalu lanjutnya, "Kami mengunjungi keluarga-keluarga Palestina, banyak dari mereka yang hidup dalam kemelaratan. Seorang pria berkata pada kami, 'Lihatlah keadaan yang mengenaskan ini. Saya melahirkan anak-anak saya ke dunia demi Palestina. Lihatlah putra-putra dan putri-putri saya tubuh mereka memar dan luka gara-gara dipukuli tentara Israel. Tapi ketika perban itu dibuka, mereka akan kembali lagi keluar rumah untuk berdemonstrasi menentang para penjajah. Saya sangat bangga kepada mereka. Dan ketika kami berbicara kepada anak-anak itu, mereka mengatakan hal yang sama tentang orangtua mereka."
Saat pembicaraan kami tiba di situ, tiga orang mahasiswa bergabung bersama kami. Merekalah yang dengan sukarela membantu kami mendapatkan mobil ambulans baru. Salah seorang dari mereka, seorang gadis muda yang sangat kusayangi, sangat senang melihatku kembali dari Lebanon. Ia menghambur ke arahku, membentur mesin penyeduh kopi milik Mike, dan membuat tape recorderku    mati.
Gadis yang malang itu merasa sangat malu, tapi sesaat kemudian kami semua terbahak. Mike dan aku pergi ke ruang mesin fotokopi, dan ia melanjutkan kisahnya yang mengharukan tentang wilayah-wilayah pendudukan, sementara aku terus merekamnya.
"Kami mengunjungi kamp Ballata," ucapnya. "Kami melihat betapa kehidupan orang-orang di sana sangat menderita akibat pendudukan. Terdapat selokan-selokan yang menganga dan baunya sangat menjijikkan. Para penonton televisi tidak akan bisa mencium bau busuk. Berdasarkan hukum yang ditetapkan penjajah, para penduduk tidak diperbolehkan menutup selokan-selokan tersebut. Tapi, orang-orang Palestina tidak memendam rasa permusuhan terhadap rakyat jelata Israel. Kami bertemu dengan seorang lelaki yang telah dideportasi beberapa minggu lalu. Istri serta anak perempuannya telah dipukuli yang dengan sukarela membantu kami mendapatkan mobil ambulans baru. Salah seorang dari mereka, seorang gadis muda yang sangat kusayangi, sangat senang melihatku kembali dari Lebanon. Ia menghambur ke arahku, membentur mesin penyeduh kopi milik Mike, dan membuat tape recorderku mati. Gadis yang malang itu merasa sangat malu, tapi sesaat kemudian kami semua terbahak. Mike dan aku pergi ke ruang mesin fotokopi, dan ia melanjutkan kisahnya yang mengharukan tentang wilayah-wilayah pendudukan, sementara aku terus merekamnya.
"Kami mengunjungi kamp Ballata," ucapnya.
"Kami melihat betapa kehidupan orang-orang di sana sangat menderita akibat pendudukan. Terdapat selokan-selokan yang menganga dan baunya sangat menjijikkan. Para penonton televisi tidak akan bisa mencium bau busuk. Berdasarkan hukum yang ditetapkan penjajah, para penduduk tidak diperbolehkan menutup selokan-selokan tersebut. Tapi, orang-orang Palestina tidak memendam rasa permusuhan terhadap rakyat jelata Israel. Kami bertemu dengan seorang lelaki yang telah dideportasi beberapa minggu lalu. Istri serta anak perempuannya telah dipukuli yang dengan sukarela membantu kami mendapatkan mobil ambulans baru. Salah seorang dari mereka, seorang gadis muda yang sangat kusayangi, sangat senang melihatku kembali dari Lebanon. Ia menghambur ke arahku, membentur mesin penyeduh kopi milik Mike, dan membuat tape recorderku mati. Gadis yang malang itu merasa sangat malu, tapi sesaat kemudian kami semua terbahak. Mike dan aku pergi ke ruang mesin fotokopi, dan ia melanjutkan kisahnya yang mengharukan tentang wilayah-wilayah pendudukan, sementara aku terus merekamnya.
"Kami mengunjungi kamp Ballata," ucapnya. "Kami melihat betapa kehidupan orang-orang di sana sangat menderita akibat pendudukan. Terdapat selokan-selokan yang menganga dan baunya sangat menjijikkan. Para penonton televisi tidak akan bisa mencium bau busuk. Berdasarkan hukum yang ditetapkan penjajah, para penduduk tidak diperbolehkan  menutup  selokan-selokan  tersebut.   Tapi,
orang-orang Palestina tidak memendam rasa permusuhan terhadap rakyat jelata Israel. Kami bertemu dengan seorang lelaki yang telah dideportasi beberapa minggu lalu. Istri serta anak perempuannya telah dipukuli oleh para tentara. Ia mengatakan bahwa mereka tidak membenci orang Inggris maupun Amerika, mereka bahkan tidak membenci Yahudi. Katanya, 'Mereka bukanlah musuh kami. Musuh kami adalah para tentara dan penjajah yang menduduki negeri kami. Usirlah mereka, maka kami akan hidup damai sebagaimana dulu. Ia benar-benar seorang yang berlapang dada!"
Aku pun punya pendapat yang sama. Selama bertahun-tahun, rakyat Palestina digambarkan sebagai orang-orang yang dipenuhi kebencian. Seperti Mike, aku menemukan fakta yang berkebalikan dengan itu. Banyak orang Palestina yang kutemui siap untuk memaafkan dan melupakan kesalahan bangsa Israel. Terkadang, saat aku terus-menerus mengungkit-ungkit pembantaian Sabra dan Shatila, kawan-kawan Palestinaku memintaku untuk melupakannya dan melangkah menuju kehidupan yang membentang di hadapan kita. Namun, aku menemukan sebuah kutipan hebat bagi mereka di Yad Vas-hem, Israel. Kutipan itu berbunyi, "Kealpaan mengarah pada pengasingan, sedangkan kenangan adalah rahasia keselamatan." Aku mendesak mereka untuk mempelajari kata-kata bijak Yahudi ini.
Kadang-kadang, ketika Mike menceritakan orang-orang Palestina yang membuatnya tergugah, ia akan berkata seperti ini, "Kau tahu, ketika men-
dengar pria itu bertutur, aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku." Aku mencatat kata-kata itu di pinggir catatanku" sesuatu yang tersangkut di tenggorokan" agar ketika nanti menulis ulang catatan itu, aku ingat bahwa pada bagian itu Mike nyaris menangis.
"Sang ibu Palestina yang cemas ini harus pergi menghadap Petugas Keamanan Israel untuk meminta pembebasan putranya yang berusia sembilan tahun, yang telah ditangkap gara-gara melemparkan batu. Tak lama sebelumnya, ayah sang anak ditawan oleh pasukan Israel, dan ia masih tercatat dalam daftar orang yang dicari. Jadi, sang ayah itu tak dapat pergi meminta pembebasan anaknya dan terpaksa mengutus istrinya. Istrinya itu adalah seorang guru. Tentara Israel itu berkata kepadanya, 'Anda seorang guru. Anda tidak seharusnya mengajari putra Anda yang masih berusia sembilan tahun untuk membenci kami.' Ia membalas, 'Seorang bocah sembilan tahun seharusnya tidak membenci siapa pun. Penjajahan ini telah mengajarinya untuk membenci tentara, saya tidak mengajarinya begitu. Hentikan penjajahan ini, dan biarkan putra saya belajar untuk mencintai rakyat kalian.'
"Anak-anak Palestina bermunculan di mana-mana, membuat tanda kemenangan dengan jemari mereka yang mungil. Anak-anak ini tidak kenal takut. Para tentara Israel menahan bocah tiga tahun karena melempari mereka dengan batu, dan mereka mengancamnya, 'Kamu baru tiga tahun dan seharusnya tidak tahu cara melempar batu ke arah kami.
Seseorang pasti telah mengajarimu. Katakan kepada kami siapa yang mengajarimu, kalau tidak ....' Anak itu menjawab, 'Kakakku.' Begitulah. Serombongan tentara bersenjata lengkap menggiring si bocah dan mengempasnya masuk ke rumah untuk mencari kakaknya. Mereka menemukan kakaknya di pojok sedang bermain ia hanya setahun lebih tua dari adik laki-lakinya!"
Semakin Mike terlarut dalam emosinya, semakin kental terdengar aksen Skotlandianya. Terkadang aku harus menghentikan penuturannya dan memintanya mengulangi apa yang dikatakannya. Ia akan menggerakkan tangannya dengan putus asa, menyebutku "dasar orang asing" dan mengulanginya lagi.
Rombongan Mike meneruskan perjalanan ke Gaza dan mengunjungi rumah sakit serta beberapa klinik. Mike kesulitan memperkirakan kebutuhan obat-obatan di sana karena ia bukan petugas medis. Namun, ia berusaha memperkirakan jenis-jenis luka yang ia lihat. Luka-luka para korban perlawanan tampak sangat parah. Sebagian besar dari mereka tidak mendapatkan perawatan yang layak. Para tentara Israel dengan sengaja mematahkan tungkai orang-orang Palestina itu sehingga mereka akan pincang dalam waktu lama. Sebuah tungkai yang patah membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh, dan membutuhkan jangka waktu yang sama untuk melatihnya agar dapat kembali berfungsi seperti sediakala. Sebagai seorang dokter bedah ortopedis (bedah tulang), aku tahu bahwa tak ada
cara untuk mempercepat proses penyembuhan tulang. Jika empat tungkai seseorang patah semua, ia akan tak berdaya selama setahun. Sementara itu, jika ia satu-satunya pemberi nafkah, keluarganya akan kelaparan.
"Rumah Sakit Shifa di ibu kota Gaza dipenuhi para korban Palestina," ujar Mike padaku. "Tempat itu dipenuhi orang-orang yang luka memar dan le-bam. Orang-orang dengan lengan yang patah, kaki yang patah, dada dan perut yang remuk. Seorang pemuda tujuh belas tahun yang sedang dalam perjalanan mengunjungi bibinya, tertembak di salah satu kakinya dan dikejar-kejar pasukan Israel yang melemparkan gas air mata ke arahnya. Seolah-olah itu tidak cukup, mereka menggerebek rumah sakit dan mematahkan kaki yang satunya. Ketika dibaringkan di tempat tidur, pemuda itu berteriak, 'Aku benci tentara Israel. Mereka harus meninggalkan Pelestina dan memberikan hak-hak warga Palestina!' Ia terbaring di samping seorang pria Palestina berusia empat puluh lima tahun yang kedua testisnya remuk akibat perlakuan tentara Israel. Di samping pria empat puluh lima tahun itu terbaring putranya yang berusia tiga belas tahun, kedua lengannya patah gara-gara tentara Israel.
"Satu hal yang sering dikatakan orang-orang Palestina kepada kami adalah, 'Jika Shatila dapat bertahan selama tiga tahun penyerangan dan pengepungan yang terus-menerus, kami juga bisa bertahan menghadapi pendudukan ini."
Lalu ia menunjukkan kliping sebuah artikel di
koran lokal berbahasa Inggris. Di sana, dalam tulisan bercetak tebal, tertulis kisah yang baru saja disampaikannya kepadaku. Bagiku, penuturannya itu menjelaskan situasi yang sebenarnya kisah itu menunjukkan bahwa perjuangan bangsa Palestina yang berada di pengasingan dan bangsa Palestina yang hidup di wilayah pendudukan memiliki hubungan yang sangat erat. Apakah orang-orang ini sama kuat dan teguhnya seperti para penduduk kamp Shatila? Sekarang aku punya jawabannya. Momentum perlawanan tersebut terbentuk oleh keteguhan orang-orang Palestina di Lebanon. Shatila telah mengarungi perjalanan dari tempat pengasingan ke tanah air mereka, dari Beirut menuju Jerusalem.[]
Tiga Puluh Satu
Seandainya aku sedang menulis suatu kisah romantis tentang para warga Palestina dan menginginkan sebuah akhir cerita yang bahagia, maka bab ini tidak perlu ditulis. Akan jauh lebih memuaskan secara emosional, baik bagi pembaca maupun aku, untuk mengakhiri buku ini dengan kisah gerakan perlawanan yang telah meraih perhatian khalayak dunia, seperti yang kutulis pada bab sebelumnya. Sayangnya, ini tidak mungkin. Tragedi yang menimpa warga Palestina di Lebanon terus berlanjut. Sebagai kawan mereka, kami masih tinggal bersama mereka, di dalam rumah-rumah dan kehidupan mereka yang porak-poranda. Terdapat setengah juta orang Palestina di Lebanon. Setelah membaca buku ini, Anda sudah mengetahui penderitaan mereka. Gerakan perlawanan tersebut memberi mereka martabat dan makna baru dalam hidup. Namun, seiring tahun 1988 terbentang di hadapan mata, penderitaan yang serupa masih berlanjut. Pengepungan kembali dijalankan seiring sirnanya perhatian media massa. Para sukarelawan medis MAP di Lebanon melanjutkan tugas mereka secara diam-diam di dalam kamp-kamp pengungsi dan tempat-tempat perlindungan. Mereka juga mulai bertanya padaku,
"Berapa lama lagi?"
Musim semi tiba kembali di Lebanon. Saat itu April 1988. Aku kembali lagi ke Beirut untuk keenam kalinya. Kali ini untuk kunjungan singkat, terutama untuk mengamati keadaan di sana, sehingga MAP dapat memanfaatkan sebaik-baiknya sumber daya yang terbatas. Aku juga ingin menemui para sukarelawan kami dan berbicara dengan mereka. Banyak dari mereka yang telah tinggal di sana untuk waktu yang lama, dalam kondisi kamp yang mengenaskan, bertahan menghadapi serangan-serangan udara, tembakan meriam dan bom, serta ketiadaan tempat tinggal bersama-sama para warga Palestina selama musim dingin yang panjang.
Penderitaan yang memilukan selama musim dingin 1987-1988 hanya benar-benar bisa dipahami oleh mereka yang tinggal di dalam kamp. Dinding-dinding kamp yang penuh dengan lubang besar bekas serangan bom ditutup seadanya dengan gun-tingan-guntingan kecil plastik polythene. Hujan dan embusan angin dingin menerobos masuk. Pintu kayu serta daun jendela yang tersisa dibakar selama berlangsungnya musim dingin yang menusuk tulang, ketika para warga kehabisan bensin dan kayu bakar. Setahun telah berlalu, tetapi perbaikan dan pembangunan kembali rumah-rumah yang hancur masih sepenuhnya dilarang. Sehingga, jendela-jendela masih saja tidak memiliki daun jendela. Meskipun demikian, setahun lagi telah berlalu.
Pada perjalanan kali ini, aku melakukan banyak sekali   kunjungan,   termasuk   ke   lembah   Beka'a,
Beirut, dan Lebanon Selatan. Kamp terbesar di Beka'a adalah Bar Elias, yang diawasi oleh para tentara Suriah. Sebagian besar warga Palestina datang kemari dari Lebanon Selatan atau Beirut, terutama setelah serangan 1982 dan peperangan kamp tahun 1985 hingga 1988. Beberapa orang dari kami menemui kepala PRCS di sana untuk mendiskusikan bagaimana MAP dapat memberikan dukungan yang terbaik bagi mereka. Aku terkesan melihat betapa rumah sakit di sana telah difungsikan dengan baik walaupun kekurangan fasilitas dan peralatan. Terdapat sekitar seratus ribu orang warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal, mereka hidup di tempat-tempat penampungan di sekitar kamp, dalam kondisi yang terus memburuk. Tepat di atas jalan raya terdapat Anjar, pusat penahanan yang dikontrol oleh pasukan Intelijen Suriah. Di sana, para tawanan Palestina diinterogasi dan disiksa sebelum akhirnya diangkut ke Suriah.
Pada musim semi, hujan deras telah berhenti dan matahari menghangatkan kembali pegunungan dan pantai. Namun, di Beirut, tak ada yang mengingatkan kami akan keindahan musim semi selain mungkin senyum Rita yang menyinari hati kami. Rita Montanas adalah seorang petugas kesehatan masyarakat asal Jerman yang berusia tujuh puluh lima tahun. Ia adalah orang terakhir yang bergabung dengan MAP. Ia memulai rutinitas hariannya dengan membagi-bagikan susu kepada para pengungsi yang hidup di tempat-tempat perlindungan di sepanjang kota yang porak-poranda.
Kegiatan pembangunan kembali masih dilarang di kamp-kamp yang hancur lebur, blokade pengiriman bahan-bahan material terus berlanjut dan para penduduk tetap tak punya tempat tinggal. Tahun Internasional Perlindungan bagi Tunawisma, 1987, telah datang dan pergi. Selain berbagai resolusi yang diputuskan pada konferensi-konferensi tingkat internasional, tidak ada hasil yang konkret. Resolusi-resolusi yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak mempunyai tempat tinggal itu tak punya arti apa pun bagi orang-orang yang hanya punya pilihan antara tinggal di puing-puing kamp mereka dan di tempat-tempat penampungan pengungsi yang porak-poranda di luar kamp di jalanan Kota Beirut.
Orang-orang di tempat penampungan pengungsi menjuluki Rita "Mama Halib". Halib berarti susu dalam bahasa Arab. Mereka kemudian memanggilnya "Mama Rita" ketika menyadari bahwa ia membawakan lebih dari sekadar susu bagi anak-anak mereka. Ia juga membawakan baju-baju, buku-buku, obat-obatan dan terutama, ia membawa rasa persahabatan yang dibutuhkan di tempat-tempat penampungan yang suram dan terabaikan itu. Aku tahu Tuhan telah memberi Rita kehangatan hati serta senyum untuk membawa secercah kebahagiaan di tempat-tempat penampungan yang porak-poranda. Ia juga mempunyai kesabaran yang luar biasa ia bekerja selama mungkin untuk melayani orang-orang. Laila Syahid, kawan Palestinaku, pernah berkata kepadaku, "Terkadang, ketika menatap teman-teman yang dimiliki bangsa Palestina, aku percaya
bahwa Tuhan tahu kami telah terlalu banyak menderita. Pada saat-saat yang sangat buruk sekali pun, kami dianugerahi teman-teman yang sangat istimewa."
Tempat-tempat penampungan itu sangat tak bermartabat, benar-benar suatu penghinaan bagi para warga Palestina. Mereka telah mengubah tenda-tenda menjadi rumah-rumah, kamp-kamp menjadi kota-kota buangan. Kini, kota-kota mereka dihancurkan, identitas mereka dihilangkan, dan mereka dipaksa untuk berjongkok di tempat-tempat penampungan semacam ini. Setiap ruang disekat dengan tirai-tirai hitam menjadi ruang-ruang kecil untuk setiap keluarga kecil. Sebuah ruang seluas 15x15 meter digunakan untuk menampung beberapa ratus orang. Di dalam tempat pengungsian yang berpenerangan buruk ini, tak pernah ada cukup cahaya untuk bisa melihat. Tetapi, kita dapat mengetahui betapa sesaknya ruangan ini dari baunya. Over produksi karbondioksida, kelembapan, serta depresi para penghuninya menciptakan suasana penuh tekanan. Aku teringat sebuah buku yang ditulis temanku, Rosemary Sayigh, berjudul Palestinians, from Peasants to Revolutionaries (Bangsa Palestina, dari Petani Menjadi Pejuang Revolusioner). Tempat-tempat penampungan itu membuatku sangat sedih dan terpikir untuk menulis sebuah buku b e rj u d u I: Pales tinians, from Re volu tionaries to Refugees (Orang-Orang Palestina, dari Pejuang Revolusioner Menjadi Pengungsi). Di dalam tempat penampungan seperti ini, tanah air Palestina tampak
sungguh jauh. Di sini, perjuangan tampak terhenti, begitu pula kehidupan.
Namun, aku keliru. Mereka hanya tampak tak berdaya saja, tetapi sebenarnya tidak demikian. Ketika pos-pos pemeriksaan itu ditiadakan, para penduduk di tempat-tempat penampungan kembali ke kamp-kamp yang hancur lebur untuk hidup di sana! Daripada menjadi pengungsi tanpa identitas, mereka lebih memilih menjadi tahanan yang bermartabat di dalam puing-puing serta reruntuhan kamp Palestina. Orang-orang di dalam tempat penampungan tidak lupa bahwa mereka adalah bangsa Palestina. Lagi-lagi ini menjadi awal dari proses transformasi tempat pengungsian menjadi tempat pengasingan. Populasi penduduk kamp Shatila, Bourj el-Brajneh, dan Rashidiyah lagi-lagi meningkat. Toko-toko mulai dibuka, anak-anak meminta untuk pergi ke sekolah. Para wanita mulai membuat kain-kain bordir khas Palestina semua kembali berjalan seperti dulu.
PRCS ikut membangun kembali kamp-kamp itu. Mereka mulai lagi memperbaiki rumah sakit-rumah sakit serta klinik-klinik mereka. Rumah Sakit Shatila dan Rumah Sakit Haifa sedang diperbarui.
Aku ingin mengunjungi Rumah Sakit Rasyidiyah dan menemui tim MAP yang bertugas di sana. Oyvind dan aku naik ambulans yang penuh berisi berbagai persediaan obat-obatan dan barang-barang lain. Kami melaju ke selatan, menuju kamp Rasyidiyah. Rute perjalanan kami menempuh jalan raya bergelombang yang sama yang pernah ku-
lewati bersama Ellen Siegel, Paul Morris, dan Angkatan Bersenjata Israel ketika hendak menuju Jerusalem pada 1982. Di sebelah kanan kami, ombak Laut Tengah berdebur dengan malas di sepanjang pesisir pantai. Di sebelah kiri kami, padang rumput dipenuhi bunga anggrek yang kembali tumbuh setelah invasi 1982. Kini terlihat bentangan hijau dihiasi titik-titik buah jeruk dan jeruk limau. Aroma pepohonan jeruk yang tengah berbuah dan bunga-bunga melati yang bermekaran mengharumkan udara sekitar. Padang rumput itu diselimuti bunga-bunga aster yang berwarna kuning cerah. Terletak di dekat Kota Sour, Rasyidiyah berjarak tiga jam perjalanan dari Beirut, asalkan pos-pos pemeriksaan di sepanjang jalan tidak terlalu banyak menimbulkan masalah.
Meskipun sejak 1982 telah berpindah tangan, pos-pos pemeriksaan itu tetap saja ada. Dari Beirut hingga Sungai Awali, tepat di sebelah utara Saida, pos-pos pemeriksaan itu kini dijaga oleh pasukan Suriah. Dari Awali hingga persis di sebelah selatan Saida, pos-pos pemeriksaan dijaga oleh pasukan kum Lebanon-Sunni yang merupakan anggota partai Mustafa Saad. Mulai dari sana, pos-pos pemeriksaan di semua jalur menuju Kota Sour dijaga oleh pasukan Amal. Lebih jauh lagi ke selatan adalah wilayah di bawah kontrol pasukan Unifil, dan kemudian wilayah-wilayah pendudukan Israel.
Selain Rasyidiyah, terdapat pula kamp-kamp lainnya di dekat Sour. Kamp-kamp yang lebih kecil adalah Qasmieh, Al-Bas, dan Bourj el-Shemali. Mes-
kipun kamp-kamp ini tidak dikepung, warga Palestina yang tinggal di sana tidak merasa aman karena sering terjadi penculikan dan pembunuhan.
Kamp Rasyidiyah berjarak sekitar tujuh belas kilometer dari perbatasan Israel, atau "Wilayah Palestina yang Diduduki" begitu orang-orang di kamp menyebutnya. Tidak seperti kamp Shatila, kamp tersebut sangat luas. Penduduk di sana dapat menanam sayur-mayur, buah-buahan, dan bunga-bunga di dalam kamp. Salah satu garis batasnya adalah Laut Tengah, dengan bentangan pantainya yang berpasir. Garis batas lainnya adalah tanaman anggrek, jeruk, serta lemon. Berkat adanya pohon-pohon jeruk serta berbagai tanaman lainnya, kamp Rasyidiyah tidak mati kelaparan selama terjadinya pengepungan pasukan musuh.
Seperti kamp Ain al-Halwah di Saida, Rasyidiyah dihancurkan oleh pasukan Israel pada 1982, seperti Ain al-Halwah, kamp itu kini dibangun kembali. Kamp itu pernah dibom oleh pasukan Amal hingga hancur selama perang kamp terakhir yang berlangsung dari Oktober 1986 hingga April 1987, dan jalan masuk ke sana masih dijaga oleh para tentara Amal. Para penduduk Rasyidiyah telah mulai memunguti serpihan-serpihan reruntuhan. Puing-puing dari rumah-rumah yang menjadi korban ledakan dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan bangunan untuk memperbaiki area-area yang hancur. Pria, wanita, dan anak-anak sibuk bekerja di ladang. Tanaman sayur-sayuran mulai tumbuh. Kios-kios mulai dibuka. Di dalam kamp ini, Anda lebih
baik menggunakan sepeda untuk bepergian daripada berjalan kaki karena jarak antarbangunan cukup jauh. Sebagian besar bangunan asli Rasyidiyah dibangun di atas dataran tinggi, tetapi ada bangunan-bangunan baru di daerah dekat pantai, berupa deretan rumah-rumah bata berlantai satu yang telah rusak parah akibat dibom. Di luar kawasan itu terdapat pantai berpasir halus di sepanjang pesisir Laut Tengah. Pada masa sebelum perang, kegiatan memancing, berenang, dan berjemur di bawah cahaya matahari sangat mungkin dilakukan. Namun, perang telah menghancurkan potensi bahan pangan dan rekreasi di sini. Daerah itu dipenuhi para penembak jitu yang berjaga-jaga setiap waktu.
Dr. Salah, Direktur PRCS di Rasyidiyah, tengah sibuk membantu mengecat rumah sakit yang hampir siap digunakan. Seperti warga pria Palestina lainnya, dr. Salah telah terjebak dalam pengepungan untuk waktu yang sangat lama. Karena pengepungan kamp Rasyidiyah terjadi sangat tiba-tiba dan tak disangka-sangka, dr. Salah baru mengetahui bahwa ialah satu-satunya dokter di kamp yang dikepung itu. Padahal, saat peperangan terakhir itu, kamp tersebut dihuni oleh tujuh belas ribu penduduk. Ia merawat para korban yang terluka, menangani orang-orang yang sakit, ikut berperan dalam pembangunan rumah sakit selama masa pengepungan, dan mengurusi kebutuhan obat-obatan kamp. Ia terlihat betul-betul lelah, tapi tetap ramah dan sabar. Ia telah berhasil meraih rasa hormat para penghuni kamp, termasuk para sukarelawan MAP.
Para sukarelawan MAP adalah dr. Kiran Gargesh dan Susan Bernard, seorang perawat bangsal rumah sakit. Kiran adalah seorang ahli anestesi berkebang-saan India yang pertama kali bergabung dengan MAP pada 1986. PRCS nyaris putus asa mencari orang untuk mendirikan layanan anestesi di dalam rumah sakit yang baru dibangun di kamp Ain al-Halwah. Aku ingat betul pertemuan pertama kami. Kiran adalah seorang dokter pria vegetarian yang lembut. Ia datang ke kantor MAP London untuk menemuiku. Saat itu ia sedang terserang flu yang parah, begitu pula aku. Namun, meskipun aku sedang sakit, aku bisa melihat ada sesuatu pada dirinya yang membuatku yakin bahwa ia memiliki sifat tak mementingkan diri sendiri sifat yang jarang dimiliki orang. Ia pergi ke Lebanon pada 1986, dan sejak saat itu bekerja tanpa mengenal lelah dan sama sekali tak pernah mengeluh. Ia tidak hanya membaktikan diri sebagai seorang ahli anestesi, tetapi juga sebagai seorang pengajar anestesi. Ia telah bertugas di kamp Ain al-Halwah dan Shatila. Sekarang ia bertugas di Rasyidiyah.
Kiran dan Susan berhasil memasuki kamp Rasyidiyah ketika pengepungan kamp agak dikendurkan. Mereka ingin membantu PRCS mendirikan sebuah bangsal operasi di dalam kamp. Susan telah berangkat dari kantor MAP di London menuju Lebanon untuk menjalani masa tugas tiga bulan. Namun, ia merasa berat untuk kembali ke London dan memilih tinggal di Rasyidiyah. Ia sekarang sibuk membangun bangsal operasi tersebut.  Kiran sekali lagi mulai
melatih para teknisi anestesi untuk bekerja bagi PRCS di Rasyidiyah. Aku ikut bergabung dalam salah satu sesi pelatihan dan menikmati setiap menit pengajaran yang diberikannya.
Aku merasa senang dapat berbicara lagi dengan Kiran. Jiwanya luar biasa stabil, dan aku jadi sangat tenang melihat orang yang berjiwa sangat stabil sekalipun bisa jatuh cinta pada warga Palestina. Aku sering berpikir bahwa aku sudah gila ini pastilah satu-satunya cara untuk menjelaskan obsesiku terhadap orang-orang Palestina. Pada musim panas 1987, aku kembali ke Beirut bersama empat orang sukarelawan medis baru asal Malaysia. Kami transit di Siprus dan menginap di hotel sambil menunggu penerbangan ke Beirut. Sang manajer hotel mengenaliku dan menyapaku, "Anda takkan kembali ke Lebanon lagi, kan, bersama para sukarelawan baru ini? Mengapa Anda terus-terusan kembali? Anda tahu, semua orang di Lebanon itu gila, dan di sana sangat berbahaya."
Para sukarelawan Malaysia kemudian menatapku mereka telah diberi pembekalan tentang bahaya yang mungkin akan mereka hadapi di Lebanon. Setelah hening sebentar, aku menjawab, "Ya, saya tahu mereka semua gila. Tapi kami juga gila."
Meledaklah tawa sang manajer, lalu ia memesankan minuman untuk kami semua. Selama para dokter dan perawat dari seluruh dunia melupakan kepentingan diri mereka sendiri dan terus menawarkan hidup dan keahlian mereka demi orang-orang di Lebanon, aku akan terus terilhami dengan kegilaan
ini. Namun, Kiran selalu bersikap tenang ia selalu bersikap layaknya seorang dokter, sepenuhnya yakin akan kehidupan, dan memberi cinta kepada warga Palestina. Tak peduli betapa berat keadaan di sana seperti pada masa-masa pengepungan, atau selama terjadinya serangan udara pasukan Israel, atau ketika teman-temannya gugur dalam peperangan ia tetap tenang dan penuh percaya diri. Mungkin itu disebabkan ajaran filosofi India yang dianutnya, aku tak tahu pasti, tapi aku sangat berterima kasih atas pembawaannya yang begitu tenang.
Kami semua dijamu oleh para warga Palestina di kamp Rasyidiyah dengan cara tersendiri. PRCS serta Serikat Umum Wanita Palestina duduk bersama-sama dan menyuguhi kami makan malam. Para perwakilan komite masyarakat kamp juga bergabung dalam acara makan malam tersebut. Kami membicarakan perlawanan, perlunya tanah air bagi bangsa Palestina, masa depan warga Palestina di Lebanon. Makanannya enak dan merupakan hasil olahan kamp sendiri. Menunya adalah terung goreng yang garing, salad yang lezat, roti pitta Arab yang baru dipanggang, nasi yang dimasak dengan bawang putih, jahe cardamom, kacang almond, dan jeruk lemon segar. Sebagai minumannya adalah teh mint serta kopi Arab. Juga ada permen-permen khas Arab dan puding sebagai hidangan penutup, tetapi aku tidak mencicipinya karena aku tidak suka makanan manis. Kami terus berbincang-bincang hingga larut, kemudian berpisah. Tak ada listrik di Rasyi-
diyah, jadi aku harus menggunakan senter. Namun, Kiran dan Susan telah terbiasa bergerak dengan gesit dalam kegelapan.
Kami kembali ke flat untuk sukarelawan medis di Rasyidiyah. Flat ini terletak di lantai atas sebuah bangunan yang telah dibom dan terdapat lubang-lubang besar bekas tembakan peluru di dinding-dindingnya. Namun, penginapan ini masih memadai dalam keadaan darurat seperti ini. Susan membuatkan kami kopi lagi kali ini Nescafe. Udara sangat dingin dan kami membersihkan badan dengan menggunakan air dingin yang ditimba menggunakan ember-ember plastik dari sumur terdekat. Penerangannya menggunakan lampu kerosin berukuran kecil. Kompornya adalah sebuah perkakas yang dibawa Susan dari Swedia. Saat itu, membuat secangkir kopi adalah pekerjaan yang cukup sulit, karena Susan harus memompa selama setengah jam untuk mendapatkan tekanan yang cukup agar parafinnya terbakar. Namun, alat-alat yang mereka miliki sangat sederhana. Kami duduk sambil mengobrol hingga kami tak kuat lagi menahan kantuk. Aku telah belajar bahwa saat-saat seperti ini sungguh berharga, dan sungguh menyebalkan karena kami harus tidur.
Penembakan dan pengeboman terhadap Rasyidiyah sangatlah dahsyat. Terdapat sebuah pekubu-ran luas yang baru dibuat untuk mengebumikan mereka yang berkorban nyawa selama terjadinya perang terakhir. Terlebih lagi, kamp ini adalah salah satu kamp yang diserang oleh pasukan udara Israel.
Terkadang hanya berupa suara pesawat mereka yang memecahkan ambang batas suara untuk menakut-nakuti penduduknya, terkadang mereka juga menjatuhkan bom-bom ke atas kamp. Kamp tersebut rusak berat selama terjadinya serangan terakhir, tapi penduduknya tetap bertahan. Rasyidiyah masih tegak berdiri. Pasukan Israel telah sering mengebom kamp Rasyidiyah tetapi setiap kali terjadi, kamp itu kembali dibangun. Anak-anak kamp Rasyidiyah berdiri dan berpose di hadapanku dengan penuh kemenangan sebagaimana kawan-kawannya di kamp Shatila.
Peringatan peristiwa pembantaian dan peperangan datang bergantian, kalender bangsa Palestina penuh dengan berbagai peristiwa. Kami memperingati dan mengenang kawan-kawan kami. Pada sekitar pukul tujuh pagi, tanggal 6 April 1988, aku berada di flat NORWAC di Hamra. Aku baru saja tiba pada malam sebelumnya dari kamp-kamp pengungsi dan sudah bersiap pergi menuju Bourj el-Brajneh. Seorang kawan Palestina tiba di flat sesaat sebelum aku berangkat. "Kamu mendengar kabar terbaru?" tanya pria itu padaku.
"Kabar apa?" aku balik bertanya. Aku tidak mendengarkan siaran BBC pagi itu.
Sahutnya, "Lebih baik kamu mendengarnya dariku sebelum kamu pergi ke luar hari ini. Abu Jihad telah dibunuh."
Aku tak tahu harus memercayainya atau tidak. Aku belum pernah bertemu dengan pemimpin Palestina, Abu Jihad. Namun, aku pernah bertemu
dengan istrinya, Ummu Jihad, pada sebuah pertemuan dalam suatu konferensi internasional di Je-newa. Kami menyetel radio dan mendengarkan berita. Para pria bersenjata telah menggerebek rumah Abu Jihad di Tunis dan telah membunuhnya serta tiga orang lainnya di hadapan istri serta putranya yang berusia tiga tahun. Para pembunuh itu bahkan merekam peristiwa pembunuhan itu. Bayangan bahwa keluarganya harus hidup dengan dibayang-bayangi peristiwa semacam itu membuatku muak.
Setiap  orang  di  Lebanon  terkejut PRCS, orang-orang baik di dalam maupun di luar kamp, warga Palestina maupun Lebanon. Mereka menjadi tak berdaya selama beberapa hari.
Orang-orang Israel menuduh Abu Jihad sebagai pemimpin gerakan perlawanan di wilayah-wilayah pendudukan. Rakyat Palestina menuduh bahwa Israel membunuhnya demi menghentikan gerakan perlawanan. Bagi orang-orang Palestina di Lebanon, yang moral mereka bangkit seiring terjadinya perlawanan di wilayah-wilayah pendudukan sejak akhir 1987, gugurnya Abu Jihad merupakan sebuah pukulan telak. Aku menemui Ummu Walid pada hari tersiarnya berita pembunuhan tersebut. Saat itu adalah pertama kalinya kami berdua duduk bersama selama lebih dari satu jam tanpa mengatakan apa pun. Ia hanya menangis dan aku menatapnya dalam diam. Seperti warga Palestina lainnya yang terperangkap di dalam kamp-kamp di Lebanon yang setengah dikepung, ia bahkan tak dapat menghadiri pemakamannya. Di mana Abu Jihad akan dikubur-
kan? Tak seorang pun yang tahu. Abu Jihad tetap menjadi seorang buangan, baik saat hidup maupun mati. Para penduduk di kamp Bourj el-Brajneh meminjam sebuah meja lebar dari klinik Samir al-Khatib dan menghamparkan sehelai bendera Palestina di atasnya, serta mengadakan upacara mengheningkan cipta. Pidato-pidato dan doa-doa yang dipanjatkan disiarkan melalui alat pengeras suara masjid.
Semakin sering aku berbicara kepada para warga Palestina, semakin jelas pesan yang muncul. Orang-orang Israel mengira hanya ada satu Abu Jihad. Namun, orang-orang Palestina memberitahuku, "Di dalam kamp-kamp pengungsi di Lebanon dan di dalam gerakan perlawanan massal di wilayah-wilayah pendudukan, kami semua adalah Abu Jihad."
Orang-orang di wilayah-wilayah pendudukan menjawab aksi pembunuhan itu dengan cara meningkatkan perlawanan. Semakin banyak yang terbunuh, terluka, dan tertawan oleh pasukan Israel, tapi semakin banyak yang bangkit melawan Israel. Orang-orang Palestina di kamp Shatila mengatakan kepadaku bahwa MAP harus memprioritaskan gerakan perlawanan tersebut. Mereka ingin semua bantuan dialirkan ke wilayah-wilayah pendudukan, bahkan meskipun harus mengorbankan penduduk Shatila. Sangat pedih bagiku mendengarnya, karena aku tahu betapa mereka sangat menderita dan betapa mereka sangat membutuhkan dukungan kami. Aku tahu berapa banyak yang mereka butuhkan untuk pembangunan kembali rumah-rumah mereka.
Semangat juang mereka berkurang karena pengepungan tak kunjung dihentikan tiga tahun setelah dimulainya pengepungan tersebut dan hampir enam bulan setelah Berri mengumumkan bahwa penarikan pasukan pengepungan tengah dilakukan. Biarpun begitu, para penduduk kamp ingin menyumbangkan sisa-sisa kekuatan mereka demi gerakan perlawanan saudara-saudara mereka di wilayah-wilayah pendudukan.
Kemudian, suatu dimensi lain muncul. Suriah mengizinkan jenazah Abu Jihad dikuburkan di negara itu. Lusinan bus berisi penuh penumpang berangkat dari Beirut menuju Suriah untuk menghadiri pemakamannya. Apakah ini berarti permulaan sebuah dialog baru antara Suriah dan Palestina? Dalam waktu kurang dari sebulan, masa tahanan temanku, Kazim Hassan Baddawi, selama setahun di penjara Suriah akan berakhir. Aku sering terpikir untuk mengunjungi istri dan putra mereka yang masih kecil, tapi belum juga kulaksanakan aku takut ia akan menyalahkanku atas penahanannya. Kazim bukan satu-satunya orang Palestina yang dipenjara, setidaknya terdapat dua ribu orang warga Palestina yang dipenjara sebagai tahanan politik oleh pasukan keamanan Suriah. Akankah mereka akhirnya dibebaskan? Namun, berbagai harapan pernah pupus sebelumnya, dan aku telah belajar bahwa kita harus mampu menanggung kekecewaan.
Pesawat-pesawat pengebom Israel memecahkan ambang batas suara di Lebanon Selatan. Desa-desa di selatan,  sebagaimana kamp-kamp peng-
ungsi Palestina, diserang. Pada Mei 1988, dua ribu tentara Israel menyeberang ke Lebanon Selatan. Orang-orang di Lebanon memberitahuku, "Tentara Israel gagal melumpuhkan gerakan perlawanan di wilayah-wilayah pendudukan, jadi mereka melampiaskannya kepada kami dengan cara mengancam akan menyerang Lebanon lagi."
Serangan itu dilancarkan dari berbagai jurusan, dengan sasaran warga Palestina di Lebanon. Saida dan Lebanon Selatan dibom pesawat-pesawat Israel dan ditembaki dari laut oleh kapal-kapal perang Israel. Kamp-kamp Beirut diserang dari arah pegunungan, tidak hanya oleh pasukan Israel, tetapi juga oleh pasukan anti-PLO. Kamp Shatila dan Bourj el-Brajneh digempur tanpa henti sejak Mei 1988. Kedua kamp tersebut diratakan, rumah-rumah serta rumah sakit dibumi hanguskan.
Kamp Shatila akhirnya runtuh pada 27 Juni 1988, diikuti kamp Bourj el-Brajneh beberapa hari kemudian. Aku mendengar berita mengenai kejatuhan kamp Shatila di London, setibanya aku dari kunjungan penggalangan dana di negara-negara Teluk. Para penduduk di seluruh negara Teluk ingin mendukung gerakan perlawanan dan pembangunan rumah sakit serta klinik agar dapat merawat para korban Palestina. Aku bisa bilang apa? Setiap kali memikirkan Shatila, aku masih menangis. Hampir enam tahun telah berlalu sejak pertama kali aku bertemu dengan penduduk Sabra dan Shatila. Pemahamanku akan rakyat Palestina tumbuh seiring aku hidup bersama-sama dengan mereka. Mereka itulah yang
mengajariku, seorang dokter bedah wanita yang lugu, arti keadilan. Mereka itulah yang menginspirasiku untuk berjuang tanpa henti demi terciptanya dunia yang lebih baik. Setiap kali aku merasa ingin menyerah, mereka akan menguatkanku dengan menunjukkan teladan tindakan mereka.
Kenangan akan serangan Israel pada 1982, hari-hari setelah evakuasi pasukan PLO, ketika aku berbagi harapan-harapan dengan mereka untuk menata kembali kehidupan mereka, hanya untuk dihan- curkan kembali dengan terjadinya pembantaian Shabra-Shatila, tahun-tahun pengepungan di kamp-kamp, setiap kali tertoreh sebuah luka baru yang dalam dan berdarah yang tak dapat diobati oleh seorang dokter bedah hal-hal semacam ini kini adalah bagian dari kesadaran diriku setiap hari. Kadang-kadang aku bertanya-tanya, mengapa hidup ini sangat menyakitkan. Kadang-kadang aku membayangkan, mengapa aku tidak dikuburkan di kuburan massal itu, di dalam puing-puing, bersama orang-orang lain pada 1982. Pada waktu yang lain, aku membayangkan jika aku tertembak mati pada 1987, saat sedang mengusahakan memasok barang-barang kebutuhan ke dalam kamp, aku bisa saja dikuburkan di samping kawan-kawanku di Masjid Shatila.
Namun, ini hanyalah angan-angan belaka. Aku masih hidup, dan aku tahu bahwa selama aku masih hidup, masih banyak hal yang harus kukerjakan. Hidup atau mati, aku hanya ingin bersikap jujur kepada  rakyat  Palestina.  Sekarang,   setelah  kamp
Shatila lenyap, cahaya itu telah padam. Ia telah bertahan hingga titik penghabisan. Pasukan Israel telah gagal menghancurkan Shatila, selama tiga tahun pasukan Amal di bawah kepemimpinan Nabih Berri telah mencoba, dan juga gagal. Namun, enam tahun serangan gencar dari faksi-faksi dukungan Suriah akhirnya meratakan apa yang tersisa di atas petak tanah berukuran dua ratus yard luasnya ini. Ketika kamp dirobohkan, delapan orang menolak untuk menyerahkan diri. Di antara mereka adalah Amni, Ketua Serikat Umum Wanita Palestina di Shatila. Ia adalah salah seorang dari mereka di Shatila yang memintaku untuk mendukung gerakan perlawanan.
Kejatuhan kamp Shatila merupakan pukulan berat bagi kami. Namun, hal itu takkan meruntuhkan gerakan perlawanan dan tuntutan akan diberikannya tanah air bangsa Palestina. Pada 1982, aku telah menyaksikan pembantaian warga Palestina di Beirut. Dari 1985 hingga 1988, aku telah menyaksikan kebangkitan mereka kembali. Aku telah melihat semangat mereka yang tak terkalahkan dalam mempertahankan martabat mereka di dalam kamp-kamp yang dikepung di Lebanon. Hari ini, mereka telah membawa kembali ke tanah air leluhur mereka, perjuangan demi mempertahankan keberadaan Palestina. Aku tidak lagi takut atau pesimistis. Aku ingat Amni yang mengatakan kepada para penduduk di Jalur Gaza bahwa penduduk Shatila tengah berjuang demi Gaza. Para penduduk Gaza menjawab bahwa mereka tengah berjuang demi rakyat Shatila.
Setelah memantapkan dasar gerakan perlawanan ini, Shatila pun hancur. Akan tetapi, keberadaan kamp Shatila secara fisik tidaklah penting. Shatila tetap hidup di hati kami semua. Suatu hari, kami akan membangunnya kembali di atas tanah air bangsa Palestina. Sampai hari itu tiba, kami akan memberikan penghormatan kepada para syuhada Shatila, dengan terus-menerus memberikan dukungan kepada rakyat yang tengah berjuang dalam gerakan perlawanan.
Berapa lama rakyat Palestina yang hidup dalam pendudukan mampu bertahan dalam gerakan tersebut? Pertanyaan itu tidaklah penting untuk saat ini. Yang penting adalah perlawanan itu telah dimulai.
Suatu generasi baru Palestina telah tumbuh di wilayah-wilayah pendudukan dan di kamp-kamp Lebanon, dalam keadaan paling buruk sekalipun. Mereka telah melupakan apa itu rasa takut. Mereka telah memilih untuk mati berdiri daripada hidup berlutut di hadapan musuh. Sebuah lagu diciptakan Mustafa al-Kurd di medan perjuangan di wilayah-wilayah pendudukan, berjudul "Batu dan Bawang". Bersama sebongkah batu untuk menghadapi pasukan militer Israel, serta sebutir bawang untuk mengurangi efek gas air mata, para demonstran Palestina telah menaklukkan rasa takut. Lagu itu berbunyi:
Telah mati rasa takut yang bersemayam di hati kami
Rasa takut yang membunuh harapan dan
menghadang langkah kami
Yang memadamkan cahaya
Rasa takut itu mati dan aku menguburnya
dengan tanganku sendiri
Rasa takut adalah monster yang menindas kami
Yang menganiaya kami
Yang memecahkan guci dan menumpahkan isinya
Rasa takut itu mati dan aku menguburnya dengan tanganku sendiri
Mereka punya sebuah mimpi. Dan aku berbagi mimpi itu dengan mereka, mimpi tentang sebuah dunia yang tampak jelas di tengah-tengah semburan gas air mata dan reruntuhan yang berasap di kamp-kamp pengungsi. Sebuah dunia tempat seorang bocah sebelas tahun tak perlu belajar cara menggunakan sepucuk Kalashnikov atau mesin peluncur roket untuk membela keluarganya. Sebuah dunia yang damai, adil, dan aman, tempat aku tak perlu mengatakan kepada seorang anak, "Pergilah ke sekolah," hanya untuk mengetahui bahwa sekolahnya telah dibom, atau mengatakan kepada seorang gadis, "Bantulah ibumu menyiapkan makan malam," hanya untuk melihatnya kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ibu dan keluarganya telah dibunuh. Sebuah dunia tempat kami tak perlu lagi takut terkubur hidup-hidup di dalam puing-puing. Sebuah dunia tempat aku tak perlu lagi memperbaiki bagian-bagian   tubuh   yang   patah   hanya   untuk
melihatnya dipatahkan lagi, atau memeluk tubuh remuk seorang bocah dengan tanganku dan bertanya, "Mengapa?" atau mendengar orang-orang bertanya, "Berapa lama lagi?" Sebuah dunia tanpa penjara, tanpa penyiksaan, tanpa rasa sakit, tanpa kelaparan, dan tanpa kartu-kartu identitas pengungsi, tempat aku dapat berteduh di rumahku sendiri dan mendengarkan nyanyian ibuku seraya menutup mata di penghujung hari. Tempat itu adalah mimpi kami, Jerusalem kami.[J
CATATAN PENUTUP
Dua puluh tahun
pasca-pembantaian
Sabra-Shatila
2002
Dari Beirut menuju Jerusalem adalah mimpi abadi setiap orang Palestina di pengasingan. Diusir dan dibuang ke pengasingan sejak tanah air Palestina diubah menjadi Israel pada 1948, jutaan warga yang merana di kamp-kamp pengungsi di seluruh Lebanon, Suriah, Yordania, dan negara-negara /ainnya tak pernah berhenti berharap untuk dapat pulang dan memperoleh hak kembali ke tanah air mereka. Jika bukan tahun ini, maka tahun depan mereka akan tiba di Jerusalem.
Bagi teman-teman dan keluarga mereka yang tertinggal di Gaza dan Tepi Barat dan hidup di bawah pendudukan sejak 1967, Palestina juga merupakan sebuah gagasan yang takkan mati. Mereka semua sangat sadar akan sejarah mereka yang menyakitkan dan panggilan untuk berkorban lebih banyak lagi demi Palestina yang merdeka dan damai. Sejak kanak-kanak, setiap orang Palestina dapat menceritakan ketidakadilan yang mereka terima pembantaian, pengusiran, penyerbuan, pendudukan, kematian, dan penghancuran.
Dua puluh tahun yang lalu, terjadi pembantaian Sabra-Shatila. Aku sedang bertugas di kamp, baru tiba sebulan sebelumnya sebagai sukarelawan dokter bedah untuk merawat para korban selama serangan pasukan Israel di Lebanon.
Pembantaian    anak-anak, wanita, orang tua,
dan orang-orang lemah yang tak bersenjata sungguh menyentakkanku. Aku merasa sangat gusar karena harus menemukan kebenaran tentang orang-orang yang berani dan murah hati melalui kematian mereka. Hingga saat itu, aku tak pernah tahu bahwa para pengungsi Palestina itu ada. Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel, membenci orang-orang Arab, dan memandang PLO sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti.
Pengalamanku di Sabra-Shatila membuatku sadar bahwa orang Palestina adalah manusia. Upaya pihak-pihak adikuasa yang berkonspirasi untuk menjelek-jelekkan mereka, pupus sudah. Bagaimana mungkin mereka adalah orang jahat, jika mereka adalah korban ketidakadilan yang amat besar? Seperti orang-orang lain, aku harus menghadapi kenyataan yang pahit, aku harus bertobat kebodohan dan prasangkaku telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina.
Mereka yang selamat mendorongku untuk memberikan kesaksian di hadapan Komisi Penyelidikan Kahan bentukan pemerintah Israel. Dan, dalam perjalanan melintasi perbatasan Lebanon menuju Jerusalem, aku sadar sedang menempuh perjalanan yang diimpikan oleh para pengungsi. Tanpa disengaja, aku sedang melakukan ziarah ke tanah air mereka dan "pulang ke rumah".
Buku ini adalah kesaksianku. Pada tahun-tahun berikutnya, berulang kali aku kembali ke Lebanon dan wilayah-wilayah pendudukan untuk me-
lanjutkan tugasku sebagai dokter bedah yang merawat para korban. Melalui organisasi-organisasi amal seperti MAP yang dibentuk oleh sebagian dari kami, kami menyeru masyarakat Inggris dan masyarakat lainnya untuk menyumbangkan dukungan materi berupa obat-obatan bagi institusi-institusi kesehatan Palestina yang tengah terkepung. Aku tak pernah berkata "tidak" terhadap setiap kesempatan untuk berbicara tentang mereka demi mereka yang telah gugur maupun yang bertahan dalam pertemuan-pertemuan yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia.
Momen peringatan memang penting. Momen semacam itu membuat kita mengingat tragedi itu, momen tersebut juga merupakan saat-saat untuk berharap. Dengan tidak pernah melupakan peringatan-peringatan seperti ini, berarti kita mengambil langkah awal menuju keselamatan. Kami ingat peristiwa "penyaliban" mereka, dan kami menegaskan keyakinan kami akan "kebangkitan" mereka.
Pada peringatan yang pertama, beberapa dari kami, para dokter dan perawat, pergi ke Amerika Serikat untuk berbicara di hadapan rakyat Amerika. Orang-orang di Barat harus menghadapi kenyataan tentang pembantaian tersebut untuk pertama kalinya, mereka harus mengakui bahwa rakyat Palestina adalah korban ketidakadilan yang sangat berat.
Pada peringatan yang ke-10, kami membawa serta para imam, rabi, dan pendeta untuk melakukan kebaktian di gereja-gereja di London, untuk memberikan   penghormatan   kepada   para   korban
yang gugur dalam peristiwa Sabra-Shatila. Sebuah pertemuan yang sederhana, tetapi 1992 adalah tahun optimisme dalam keheningan, seiring dijalankannya perundingan-perundingan damai.
Intifada perlawanan yang pertama di Gaza dan Tepi Barat telah berkobar sejak 1987. Liputan media massa mengenai peristiwa itu menunjukkan ribuan anak-anak Palestina yang tak bersenjata melawan keganasan tentara Israel. Itu adalah perang batu melawan tank-tank Daud (David) kecil melawan raksasa Goliath. Akibat yang ditimbulkan sungguh tak sebanding, ratusan warga Palestina gugur, ribuan lagi terluka, penawanan besar-besaran, pemberlakuan tahanan rumah serta jam malam terhadap seluruh penduduk, penghancuran rumah-rumah secara sewenang-wenang, penutupan sekolah-sekolah, penggeledahan rumah sakit-rumah sakit. Kekejaman yang dilakukan demi menumpas gerakan perlawanan telah melanggar hukum internasional, dilakukan di wilayah pendudukan, dan sebenarnya pendudukan itu sendiri ilegal.
Selama Intifada yang pertama, aku bertugas di rumah sakit Al—Ahli di Gaza sebagai konsultan dokter bedah PBB dan telah merawat banyak dari mereka yang terluka. Bangunan rumah sakitku itu sering diserang dari udara oleh para tentara yang memburu para pemuda, bangsal-bangsal ibu-ibu hamil diserbu oleh para tentara Israel yang bersenjata lengkap suatu penghinaan terhadap ibu-ibu yang tengah melahirkan. Para pasien yang terbaring di meja-meja operasiku diancam. Seorang kru televisi
BBC memfilmkan "Kehidupan di Bawah Pendudukan", menampilkan beberapa orang dari kami yang sedang bertugas di bawah kondisi-kondisi yang tak terpe-rikan seperti itu. Para juru rawat pria menghabiskan dua tahun di penjara menyusul perekaman film itu. Para tentara itu membuat masa tugasku di Gaza menjadi tak tertahankan, dan perlu waktu bertahun-tahun sebelum aku dapat kembali.
Gerakan perlawanan menentang serangan Israel pada 1982 di Lebanon mengilhami gerakan Intifada. Tanpa Sabra-Shatila, takkan ada simpati masyarakat internasional untuk Intifada. Singkat kata, Sabra-Shatila adalah pemicu dan katalisator bagi gerakan Intifada.
Pada 1992, proses perdamaian yang dimulai di Madrid diulur-ulur, tahun 1993, pembicaraan rahasia di Oslo menawarkan beberapa hak otonomi bagi Palestina. Meskipun ada keraguan mendalam terhadap kebebasan baru ini, banyak yang berharap ini akan menjadi langkah maju menuju kembalinya kebang-saan mereka. Paling tidak, mereka ditawari masa istirahat sehingga sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, serta institusi-institusi sosial dapat dibuka dan dibangun kembali. Mungkin keamanan akan kembali di bumi mereka. Tank-tank diharapkan akan pergi dan jam-jam pengawasan akan dihapuskan agar anak-anak dapat keluar menikmati sinar matahari dan bermain-main lagi.
Harapan-harapan seperti ini tentunya terlalu optimistik. Pembangunan permukiman Israel, yang ilegal   menurut  undang-undang   internasional,   di-
percepat. Tidak ada yang dapat pindah antara Gaza dan Tepi Barat, dan di dalam kota-kota di Tepi Barat, tanpa persetujuan Israel. Jerusalem Timur tetap dicaplok. Masih tak ada hak kembali bagi jutaan orang buangan di pengasingan.
Pada Oktober 2000, gerakan provokatif Ariel Sharon di Masjid Al-Aqsa dengan mengerahkan 2.000 tentara Israel, menyulut Intifada kedua. Penindasan yang datang kemudian bahkan lebih parah daripada yang dihadapi Intifada pertama.
Lebih banyak lagi kematian dan kehancuran, jumlahnya pun terus bertambah. Pada November 2002, Amnesti Internasional memublikasikan hasil-hasil penyelidikannya dan menuduh Israel telah melakukan pembunuhan ilegal, penyiksaan, serta penggunaan rakyat Palestina sebagai tameng manusia. Di antara "pelanggaran-pelanggaran berat" terhadap hukum internasional adalah perlakuan buruk terhadap para tahanan, penghancuran tanpa dasar rumah-rumah penduduk, terkadang sekaligus dengan penghuni di dalamnya, serta pemblokiran bantuan medis bagi para korban. Mereka menghimbau Inggris beserta negara-negara penanda-tangan Konvensi Jenewa lainnya agar mengadili para tentara Israel karena "bertanggung jawab atas kejahatan perang di Jenin dan Nablus".
Tahun 2002 adalah peringatan peristiwa Sabra-Shatila yang ke-20. Aku melakukan kunjungan ke Lebanon dan wilayah Palestina yang diduduki. Pada bulan Mei, aku melihat kehancuran besar-besaran yang dialami rakyat Palestina di Gaza
dan Tepi Barat sebagaimana yang digambarkan dalam laporan Amnesti Internasional. Rumah-rumah dibom dan dilindas dengan buldoser, mobil-mobil ambulans yang mengangkut para pasien dalam kondisi kritis ditembaki, sekolah-sekolah juga dibom. Pada saat aku berada di sana, hampir empat puluh wanita hamil harus melahirkan di pos-pos pemeriksaan Israel karena jalan menuju rumah sakit diblokir. Hasilnya, beberapa ibu dan bayi meninggal. Baik Gaza maupun Tepi Barat dibagi menjadi wilayah-wilayah kecil yang dikepung tank-tank, jam-jam malam diberlakukan kembali dan diperpanjang. Meskipun begitu, rakyat Palestina tetap tabah.
BBC ingin aku kembali mengunjungi kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila di Lebanon untuk mengundang para korban yang selamat agar berbicara tentang hari-hari traumatis pada September 1982. Setelah kunjungan yang memupuskan semangatku ke Wilayah-wilayah Pendudukan, aku takut dengan apa yang akan kulihat di Beirut. Aku tahu kondisi fisik mereka telah compang-camping. Apakah dunia sudah melupakannya? Banyak hal yang terjadi di tempat-tempat lainnya, tapi adakah perubahan bagi para pengungsi itu? Apakah mereka masih bercita-cita untuk kembali ke Palestina?
Walaupun demikian, sekali lagi Beirut membuatku bangkit kembali. Dalam dunia mereka yang terlantar, dalam kamp Shatila yang hanya berisi tumpukan puing, aku bertemu pemuda-pemuda yang lahir setelah peristiwa pembantaian. Sebuah generasi baru telah tumbuh dewasa. Anak-anak yang
selamat dari pembantaian Sabra dan Shatila kini telah mempunyai anak mereka sendiri. Para orangtua kini menjadi kakek dan nenek. Orang-orang Palestina buangan ini kini telah terpisah dari tanah air mereka selama empat generasi, namun anak-anak mereka yang masih kecil dapat mendengar cerita yang sama dari orangtua mereka tentang tempat-tempat seperti Ramallah, Hebron, Akka, Haifa, Gaza, Al-Quds. Banyak dari mereka pernah pergi ke Lebanon Selatan untuk memandang perbatasan yang menuju Galilee, tempat keluarga-keluarga mereka dipaksa untuk mengungsi pada 1948. Meskipun tak ada kepastian akan masa depan, mereka tahu, suatu hari mereka akan kembali. Dan jauh dalam lubuk hatiku, aku berdoa bersama mereka dari Beirut menuju Jerussalem, tahun depan mereka akan kembali ke Palestina.
dr. Ang Swee Chai
November 2DD2

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified