Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Tears of Heaven Part 3


Dalam beberapa bulan, aku telah melakukan lebih dari dua ratus pertemuan. Terkadang dalam satu hari, pada paginya aku berbicara dengan anak-anak sekolah di London, pada jam makan siang dengan mahasiswa-mahasiswa universitas di daerah Midlands, dan pada petangnya melakukan pertemuan di beberapa gereja di Skotlandia. Kutunjukkan kepada orang-orang slide potret kamp yang kuambil dengan kamera sakuku dan kuceritakan kepada mereka kondisi para penduduk kamp. Cara berkampanye yang tidak efisien ini membantuku bertemu dengan banyak sekali orang yang gigih, yang sangat ingin membantu orang-orang Palestina, dan segala usahaku terbayar pada akhirnya. Francis telah membelikanku sebuah proyektor mini, dan aku menyusun gambar-gambar slide itu untuk ditunjukkan melalui alat itu. Kami berdua menertawakan apa yang kami kerjakan itu, dan ia menyebut usahaku ini sebagai "tur keliling".
Terungkaplah sebuah hal yang penting. Masyarakat di Inggris ternyata peduli. Meskipun negara itu sedang mengalami resesi ekonomi, orang-orang merespons penderitaan rakyat Palestina. Di mana pun aku mengadakan tur kelilingku, para hadirin akan bertanya kepadaku bagaimana mereka bisa membantu. Banyak dari mereka yang tak pernah bertemu seorang Palestina pun sepanjang hidupnya,
tetapi mereka bereaksi terhadap ketidakadilan yang menimpa orang-orang Palestina dan ingin membantu. Orang-orang yang menawarkan bantuan datang dari berbagai strata sosial dan latar belakang politik. Banyak dari mereka merupakan pekerja biasa seper-tiku dan ingin membantu menanggulangi peristiwa yang mereka anggap sebagai tragedi kemanusiaan. Rakyat Inggris memiliki tradisi panjang kedermawanan kepada orang-orang yang membutuhkan, dan tanggapan mereka terhadap penderitaan orang-orang Palestina bukanlah yang pertama. Mereka telah memberikan bantuan ke Kamboja, Bangladesh, berbagai tempat di Afrika, dan kini mereka pun ingin membantu rakyat Palestina. Banyak dari mereka tidak tahu politik di balik peristiwa itu dan tidak peduli siapa yang benar maupun salah, mereka hanya ingin membantu seperti orang Samaria yang baik. Para pengangguran, pensiunan, mahasiswa, pekerja berupah rendah, dan kaum etnis minoritas semuanya ingin melakukan sesuatu untuk membantu.
Akhirnya, kelompok kami Francis dan aku, dan para sukarelawan yang kembali dari Lebanon dan orang-orang Palestina di Inggris bersama-sama mendiskusikan cara agar kami dapat membantu orang-orang di kamp. Tak seorang pun dari kami yang merupakan politisi, tapi banyak dari kami yang merupakan pekerja medis dan sosial. Kami setuju untuk membentuk organisasi amal medis demi membantu orang-orang di Libanon. Kami memutuskan bahwa organisasi amal ini tidak boleh memihak aliran mana pun dan membantu siapa saja yang mem-
butuhkan, dan harus tidak bersifat politis dan sepenuhnya bersifat kemanusiaan. Organisasi ini akan menyalurkan kedermawanan orang-orang di Inggris kepada mereka yang mengalami penderitaan. Nama "Bantuan Medis untuk Rakyat Palestina" (Medical Aid for Palestinians, MAP) dipilih, sehingga kami dapat menghindari isu-isu politis yang berkaitan dengan Palestina dan dapat berguna bagi orang-orang Palestina di mana pun mereka berada, baik yang hidup di tengah-tengah pendudukan maupun dalam pembuangan.[]
Lima Belas
Ellen Siegel kembali ke Washington DC. Setahun telah berlalu, tetapi ia juga tak dapat melupakan para penduduk di kamp pengungsi Lebanon. Dengan dukungan organisasi-organisasi di Amerika Serikat, ia menyelenggarakan acara peringatan setahun tragedi pembantaian Sabra dan Shatila, dan mengundang Ben Alofs, Louise Norman, dan aku untuk pergi ke Washington pada September 1983. Acara ini memberi kami kesempatan untuk memperingati para korban tragedi Sabra dan Shatila. Ini adalah kunjungan pertamaku ke Amerika Serikat, negara adikuasa di seberang Lautan Atlantik jika dilihat dari Inggris, atau Lautan Pasifik jika dilihat dari Singapura.
Kami bertiga diundang ke sinagoge Ellen untuk menghadiri upacara Yom Kippur. Upacara itu berlangsung lama dan dilakukan dalam bahasa Ibrani. Upacara itu benar-benar tak dapat kupahami. Tuan rumahku para Yahudi Amerika memberitahuku bahwa upacara itu merupakan penebusan dosa. Menurutku, ada baiknya juga aku tidak memahami isi upacara itu karena aku mendeteksi suasana sedih dan muram di sepanjang acava, dan mungkin upacara itu akan membuatku muram seandainya aku mengerti apa yang dikatakan sang rabi.
Ketika aku menghadiri sebuah upacara bebe-
rapa hari kemudian di Shiloh, sebuah gereja Baptis khusus kulit hitam, aku begitu tersentuh. Setelah berterima kasih kepada sang pendeta dan jemaatnya karena telah mengenang arwah para korban di kamp, aku tidak tahan lagi dan menangis di tengah-tengah lagu "Amazing Grace". Ini adalah pertama kalinya sejak di Lebanon aku menangis di depan umum. Seorang wanita kulit hitam yang baik hati di sebelahku menyodorkan beberapa helai tisu selama upacara berlangsung. Aku telah melakukan banyak upaya untuk membantu orang-orang di kamp, tetapi ini adalah pertama kalinya aku mengingat mereka di hadapan Tuhan dan berdoa untuk mereka.
Kami melakukan beberapa wawancara di radio dan televisi. Salah satu peristiwa yang berkesan adalah konferensi pers dengan perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) untuk PBB di New York.Jill Drew dan aku menjadi pembicara dalam konferensi pers tersebut. Ruangan pers dipenuhi para wartawan yang semuanya datang karena mereka telah salah mengartikan press release yang disampaikan oleh perwakilan PLO. Mereka mengira akan mendengar komentar PLO tentang berbagai peristiwa di Lebanon. Pada waktu itu, pertempuran di Tripoli, Lebanon Utara, menjadi berita utama di koran-koran Amerika. Menurut pers, PLO di Lebanon telah terpecah menjadi beberapa kelompok yang mendukung dan yang menentang pemimpin PLO, Yasser Arafat, dan kelompok-kelompok itu saling berseteru satu sama lain. Peristiwa ini telah me-
nyebabkan banyak orang menjadi bingung, dan pers ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sebaliknya, perwakilan PLO mengutus Jill Drew dan aku seorang perawat dan seorang dokter berbicara tentang penderitaan yang dihadapi rakyat Palestina. Segelintir wartawan yang tidak simpatik merasa sangat jengkel dan menyerang Jill serta aku karena telah membuang-buang waktu mereka dengan cerita-cerita yang "tidak punya nilai jual"! Akan tetapi, secara keseluruhan, konferensi pers itu berlangsung dengan baik, dan kebanyakan koran Afrika dan Asia menulis cerita mengenai peringatan peristiwa pembantaian, mengingatkan para pembaca mengenai kesulitan yang tengah dihadapi rakyat Palestina.
Kami makan siang bersama Deputi Perwakilan PLO untuk PBB di ruang jamuan PBB. Ruangan itu menghadap ke laut dan sungguh menyenangkan. Aku sama sekali tidak ingat apa hidangan yang kami santap, tetapi aku akan selalu mengingat lembar kuitansi yang diterima tuan rumah kami. Ia menandatangani kuitansi itu dengan namanya, diikuti dengan tulisan "PLO" dalam huruf besar. Aku berpikir, setidaknya di ruang jamuan ini, di tengah-tengah Kota New York, seorang anggota PLO diterima dan diperlakukan sebagaimana layaknya utusan-utusan lainnya dan tidak diperlakukan dengan sewenang-wenang serta menerima berbagai julukan buruk seperti di tempat-tempat lainnya yang pernah kusing-gahi. Membahagiakan sekali melihat seorang anggota PLO diperlakukan dengan hormat seperti itu.
Di seluruh penjuru Amerika Serikat, orang-orang membicarakan Martin Luther King dan impiannya. Rakyat Palestina, sebagaimana orang-orang kulit hitam Amerika, punya impian juga. Impian itu adalah perdamaian dalam keadilan, kebebasan dalam keamanan impian setiap insan di muka bumi. "Bersama kita akan bekerja dan berjuang untuk mewujudkan impian itu," kataku kepada teman-teman Amerika. []
Enam Belas
Organisasi amal kami, Bantuan Medis untuk Rakyat Palestina (Medical Aid for Palestinians, M-AP), terbentuk pada 1984 membutuhkan waktu hampir dua tahun bagi kami untuk mewujudkan misi kami. Namun, begitu diluncurkan, MAP menghasilkan kemajuan yang mantap, berkat dukungan rakyat Inggris yang menyumbangkan waktu, uang, dan bahan-bahan kebutuhan pokok. Kami terus berhubungan erat dengan orang-orang Palestina di kamp-kamp pengungsi. Sebagai sebuah organisasi kecil yang tidak memiliki dana berlimpah sebagaimana layaknya organisasi-organisasi besar lainnya, kami selalu merasa diri kami sebagai kawan rakyat Palestina, bukan sekadar sebuah "badan amal". Beberapa orang dari kami yang dekat dengan teman-teman di kamp tahu bahwa sikap "mengasihani" seperti itu akan menyinggung perasaan mereka, tapi kami hanya penghubung bagi orang-orang di Inggris yang ingin menyumbang sehingga dapat tersampaikan langsung kepada mereka. Para pendukung kami tidak melakukannya berdasarkan belas kasihan, sebagaimana halnya para pendukung tujuan mulia lainnya. Mereka melakukannya karena rasa solidaritas, berlandaskan rasa saling menghormati. Kami tidak ingin sikap paternalistik timbul dalam diri kami. Satu hal yang membuatku terutama sangat
bersyukur, pengalamanku bersama rakyat Palestina telah memberiku kesempatan untuk mengenal orang-orang Inggris. Berkat kegiatanku itu, aku tidak lagi merasa waswas sebagai seorang wanita kulit berwarna dan bertubuh pendek. Memberikan ceramah dan mengumpulkan dana bagi rakyat Palestina telah membuatku bersinggungan dengan orang-orang Inggris yang sejati, dan aku akan selalu mengingat kemurahan hati mereka, kehangatan dan kebaikan mereka terhadap orang-orang yang menderita, sebuah sisi lain dari Inggris yang untunglah kujumpai. Beramal bukanlah karena rasa belas kasihan. Kata bahasa Inggris charity asalnya bermakna 'cinta1, dan aku menemukan bahwa banyak orang di Inggris sanggup mencintai, bahkan mencintai orang-orang yang belum pernah mereka temui.
MAP terus mengumpulkan sejumlah kecil dana dan sumber daya kami yang terbatas itu digunakan untuk mendukung proyek peningkatan kesehatan rakyat Palestina. Kami sering mengirimkan sejumlah kecil obat-obatan dan peralatan atau memanfaatkan sumbangan uang itu untuk membantu pendidikan para pekerja kesehatan yang tinggal di wilayah pendudukan Israel. Bahkan, kami pernah membawa beberapa orang yang terluka untuk dirawat di Inggris.
Milad Farukh adalah seorang bocah laki-laki Lebanon yang terluka akibat bom Israel pada 1982. Ia adalah bocah yang diselamatkan Paul Morris dengan menyuapkan makanan ke mulutnya karena si kecil itu menolak makan dan minum setelah melihat
di depan matanya adik laki-lakinya terbakar hangus terkena bom. Setelah Ellen Siegel dan aku meninggalkan Lebanon pada 1982, Paul melanjutkan tugasnya di Lebanon. Ia mengelola sebuah klinik bagi kaum Muslim yang miskin di Beirut, berusaha melanjutkan pelayanan medisnya. Sayangnya, ia mendapat ancaman dan kliniknya diledakkan oleh sekelompok milisi bersenjata. Paul meninggalkan tempat itu, namun kembali mengunjungi Beirut pada 1984. Ia menemukan Milad di kamp pengungsi. Milad saat itu telah berusia sebelas tahun dan beratnya hanya dua puluh lima kilogram sepuluh hingga dua puluh kilogram lebih rendah dari berat rata-rata anak-anak seusianya. Luka di tumitnya mengalami infeksi yang parah dan ia tetap saja belum bisa berjalan.
Paul telah meminta MAP untuk mensponsori perawatan Milad di Inggris, dan kami setuju. Kami tak punya uang untuk membiayai perawatannya dan harus mengumpulkan dana. Profesor Jack Stevens, Ketua Departemen Ortopedis di Newcastle-upon Tyne, tempatku bekerja saat itu, setuju untuk merawat Milad secara gratis sehingga kami hanya perlu mengumpulkan dana untuk biaya pesawat dan akomodasinya. Sementara itu, Milad menunggu di Siprus untuk mendapatkan visa ke Inggris dan persetujuan dari London. Sambil menunggu, stabilitas di Siprus telah membantunya menambah berat badannya sebanyak lima belas kilogram dalam waktu tiga bulan. Ia tidak hanya tumbuh dengan cepat, tetapi kakinya juga berangsur-angsur membaik!
Tatkala ia tiba di Inggris, perawatan intensif
ti-dak diperlukan. Berada jauh dari Lebanon yang tercabik-cabik dan mendapatkan cukup makanan selama bulan-bulan penantian telah membuat keadaan Milad jauh lebih baik. Pemeriksaan dengan mesin pemindai radioisotop menunjukkan bahwa tulang dan pembuluh darah di kaki Milad membaik dalam waktu cepat. Saat itu ia tampak bugar dan sehat.
Saat itu adalah saat menggembirakan bagi kami yang sempat melihat kondisi Milad pada 1982, dan itu adalah salah satu dari sedikit cerita yang berakhir dengan bahagia. Andai saja Lebanon memiliki makanan alih-alih peluru, kami takkan perlu mengirim anak-anak seperti Milad yang jumlahnya ribuan untuk dirawat di Inggris.[]
BAGIAN KEEMPAT
Kembali Ke Beirut
Musim Panas 1985
Tujuh Belas
Musim semi tiba terlambat di Inggris pada 1985. Aku bekerja sebagai Petugas Pencatat Senior Bidang Ortopedis di sebuah rumah sakit bernama Dryburn, di Kota Durham yang antik dan indah, di timur laut Inggris. Aku sudah mulai bisa melupakan kengerian Sabra dan Shatila, membuang semua kekejian yang tersimpan dalam museum pikiranku, mengingatnya hanya pada saat-saat tertentu, seperti pada saat peringatan pembantaian di kamp, saat kami mengenang dan menangisinya. Dan, sebagaimana setiap orang yang selamat pada 1982, aku harus memintal kembali benang-benang kehidupanku sendiri dan melanjutkannya.
Milad, yang baru saja meninggalkan Inggris, telah bersekolah di Siprus. Ia harus banyak mengejar ketertinggalannya selama ia di Lebanon, dan ia harus meraih kembali masa kecilnya yang masih tersisa sebelum masa itu berlalu. Muna, Nabil, Huda, dan Ali telah dapat melakukan perjalanan dari Beirut untuk mengunjunginya di Siprus. Aku dapat merasakan luka-luka mentalku akibat perang itu sama seperti kaki Milad, lambat laun sembuh. Untuk pertama kalinya sejak 1982, aku bisa meluangkan pikiranku untuk memulai sebuah proyek penelitian perawatan luka-luka fraktura aku mungkin tak bisa melakukan-
nya jika belum benar-benar sembuh secara mental.
Aku belum kembali mengunjungi orang-orang di Sabra dan Shatila, tapi aku tahu anak-anak pasti telah tumbuh besar dalam tiga tahun terakhir ini, muda-mudi pasti telah menikah dan punya anak. Rumah-rumah yang hancur berantakan telah dibangun kembali dan rumah-rumah baru dibangun di atas reruntuhan yang diratakan dengan buldoser. Terpisah dari putra, ayah, dan suami mereka akibat evakuasi dan penahanan, para wanita memungut kembali serpihan-serpihan hidup mereka. PRCS telah memperbaiki sepenuhnya Rumah Sakit Gaza dan Akka. MAP baru saja menawarkan sejumlah uang untuk membantu membangun kembali sistem pembuangan kotoran di kamp Sabra. Senantiasa ada ancaman terjadinya kembali pembantaian, tetapi para penduduk kamp melanjutkan pembangunan kembali rumah-rumah mereka, sebongkah demi sebongkah batu bata, dari satu sudut ke sudut lainnya, jalan demi jalan, sekali lagi, dengan semangat juang yang selalu mereka tunjukkan.
Pada Mei tahun itu, pepohonan mulai berbunga dengan semarak. Oleh karena musim dingin berlangsung sangat lama dan sangat dingin, kejayaan musim semi terasa seolah-olah mustahil terjadi. Aku sedang berjalan ke Rumah Sakit Dryburn di Durham, di sepanjang jalan setapak favoritku. Awan gema-wan berwarna merah muda dan putih nan indah mengiringi langkahku, sedangkan rerumputan hijau yang lembut terasa bagai beludru. Kegembiraanku ini diusik oleh suara "bip-bip" panjang, lalu mati di-
susul dengan suara "pip-pip" yang susul-menyusul. Ini berarti keadaan darurat. Aku berlari menuju rumah sakit, dan menggunakan telepon terdekat untuk menghubunginya.
"Ibu Ang," sahut seorang operator, "ada panggilan telepon dari Beirut." Betapa leganya aku mengetahui bahwa itu bukan panggilan darurat untuk melakukan operasi pembedahan.
Sebuah suara lain terdengar dari kejauhan, "Swee, mereka menyerang kamp-kamp kami lagi. Mereka telah menduduki Rumah Sakit Gaza, menembaki para perawat dan pasien kami, serta membakar peralatan medis kami. Kami sangat putus asa."
Aku terhenyak. Aku sudah merasa hal ini akan terjadi. Empat bulan lagi genaplah tiga tahun sejak pembantaian Sabra dan Shatila pada 1982, tetapi kini terjadi lagi pembantaian. Aku belum tahu siapa yang menyerang, tetapi hak orang-orang Palestina untuk berada di pengasingan dan hak mereka untuk hidup sekali lagi diganggu. Hampir selama empat dekade lamanya para penduduk kamp ini, yang dirampas haknya untuk tinggal di tanah air mereka, hidup di pengasingan. Berulang kali mereka diancam dengan pembantaian, pengeboman, lemparan granat, deportasi. Banyak dari mereka diciduk dan lenyap dari muka bumi. Namun, mereka masih terus berjuang untuk mempertahankan identitas mereka dan untuk meraih kembali hak hidup mereka yang hilang, hak untuk memiliki tanah air mereka.
Setiap kali luka-luka lama tampak akan sembuh,  luka-luka baru tertorehkan.  Berapa banyak
siksaan dan penderitaan yang sanggup mereka tanggung? Berapa lama mereka sanggup untuk terus bertahan?
Keesokan harinya, temanku menelepon lagi dari Beirut. "Swee," ujarnya, "para wanita telah kembali ke rumah sakit dan bertempur melawan para penyerang itu, dan kini kami telah merebut kembali Rumah Sakit Gaza."
Akan tetapi, kemenangan ini hanya bertahan sebentar. Temanku itu tidak pernah menelepon kembali, tetapi aku membaca di surat kabar bahwa kamp-kamp di sekitar Rumah Sakit Gaza kembali diserang. Banyak dari para wanita yang berjuang merebut kembali Rumah Sakit Gaza dibunuh. Kamp-kamp Sabra dan Shatila serta rumah Milad, kamp Bourj el Brajneh, dikepung oleh tank-tank musuh dan dibom tanpa henti sepanjang Mei itu, bulan Ramadhan bagi umat Islam. Seperti pembantaian 1982, kamp dikepung dari segala penjuru dan tak seorang pun, bahkan Palang Merah Internasional, dibolehkan memasuki kamp-kamp tersebut untuk mengevakuasi para korban.
Jadi, setelah hampir tiga tahun tidak ada kabar beritanya, kamp-kamp tersebut kembali menjadi berita utama di koran-koran internasional! Banyak komentator media dan pakar Timur Tengah memperdebatkan peristiwa tersebut. Apakah ini pengulangan peristiwa Tripoli, ketika orang-orang Palestina terpecah belah dan saling berperang sendiri? Atau apakah ada penjelasan lain? Kolom-kolom tajuk rencana terus-menerus membahasnya.
Akan tetapi, muncul dua fakta dari kesimpangsiuran kabar ini. Kamp-kamp tersebut melawan, dan perlawanan itu dilakukan secara bersatu padu. Tidak seperti pembantaian pada 1982, kali ini ada tembakan perlawanan. Tidak seperti pada "Pertempuran Tripoli" pada 1983, rakyat Palestina tidak saling memerangi. Bersamaan dengan berita-berita mengerikan tentang orang-orang yang mati dan terluka, anak-anak yang sekarat akibat penyakit infeksi yang mematikan dan kurang makan, kami mendengar bahwa orang-orang Palestina yang tengah mempertaruhkan hidup mereka berkata, "Ketika mati, aku tidak ingin dikenang sebagai anggota faksi Palestina ini atau faksi itu, tetapi hanya sebagai seorang Palestina yang berasal dari Sabra dan Shatila."
Terdapat berbagai laporan mengenai gadis-gadis remaja yang mempersenjatai diri mereka dengan bahan peledak dan menghambur ke tank-tank musuh. Koran-koran menjuluki mereka sebagai "pelaku bom bunuh diri", penduduk kamp menjuluki mereka para syuhada. Kamp-kamp tersebut telah menggali parit untuk melindungi para pria, wanita, dan anak-anak hingga orang terakhir yang tersisa. Para pejuang Palestina kalah jumlah 1:20 dan hanya punya senjata seadanya. Mereka hanya memiliki senapan ringan dan granat tangan untuk mempertahankan kamp mereka dari serangan tank, bom, dan mortir. Babak baru sejarah Palestina tengah ditulis oleh kamp-kamp itu babak kebangkitan kembali perlawanan rakyat Palestina. Untuk mencatat babak
baru itu dengan semestinya, aku juga menulis sebuah "tajuk rencana", memberikan penjelasan versiku sendiri mengenai peristiwa tersebut:
SABRA-SHATILA, SIMBOL PERJUANGAN RAKYAT PALESTINA
Pergerakan rakyat Palestina, yang lahir akibat penderitaan selama bertahun-tahun, memiliki dua pilar penting:
1) Semangat perlawanan,
2) Kemampuan untuk bersatu padu.
Di Beirut tahun 1982, rakyat Palestina bersatu, tetapi banyak prasarana mereka yang hancur. Pertama, keluarga mereka tercerai-berai karena evakuasi para pria, lalu para wanita dan anak-anak dibantai, rumah-rumah di kamp dihancurkan dan diratakan oleh buldoser. Operasi itu bertujuan menghilangkan semua jejak keberadaan rakyat Palestina di Sabra Shatila, Beirut.
Oleh karena itu, pada saat itu semangat perlawanan pun surut. Salah satu dari kedua pilar ini goyah dan ini merapuhkan kekuatan perjuangan rakyat Palestina. Oleh karena itu, semangat untuk bersatu pun melemah, sebagai mana yang terlihat pada peristiwa di Tripoli, Lebanon, 1983.
Sejak 1982 dan seterusnya, perjuangan rakyat Palestina menyadari apa yang akan terjadi jika mereka tidak memiliki: 1) semangat perlawanan, maupun 2) kemampuan untuk bersatu padu.
Peristiwa di Sabra Shatila pada 1985 telah mem-
perlihatkan kepada dunia semangat juang rakyat Palestina. Mereka telah mendapatkan kembali semangat berjuang.
Oleh karena itu, ketika musuh-musuh rakyat Palestina hendak mengulangi lagi peristiwa pembantaian Sabra Shatila 1982, mereka harus berhadapan dengan perlawanan tangguh rakyat Palestina. Apalagi, perlawanan yang berani dari para penduduk kamp ini menginspirasi segenap rakyat Palestina dan menghidupkan kembali persatuan pergerakan rakyat Palestina.
Pada 1982, pembantaian Sabra Shatila berlangsung tanpa mendapat perlawanan. Pada 1985, Sabra Shatila menghadirkan rakyat Palestina yang bersatu, bersatu padu dan setia dalam perjuangan mereka.
Sabra Shatila mungkin saja secara fisik telah hancur dalam pertempuran ini. Akan tetapi, orang-orang di sana akan membangunnya kembali. Mereka telah memberikan kepada seluruh dunia sebuah standar heroik mengenai persatuan, perjuangan, kegigihan, dan keberanian. Dan semangat Sabra Shatila itu akan hidup di dalam dada setiap rakyat Palestina dan rakyat di seluruh dunia yang berjuang demi tegaknya keadilan dan kemenangan! 2 Juni 1985, Inggris Raya
Namun, setelah menulis kata-kata optimistis ini, aku menjadi sangat, sangat putus asa. Aku khawatir bahwa meskipun mereka telah berjuang, Sabra dan Shatila bisa saja jatuh dan para penduduk kamp dibantai dan diusir. Sejarah Palestina penuh
dengan babak-babak perjuangan, pertempuran Ka-ramah pada 1968 di Yordania, pengepungan Tel al-Zaatar pada 1976, perjuangan heroik yang kini menjadi warisan bagi bukan hanya rakyat Palestina, melainkan juga bagi semua orang yang tertindas di seluruh dunia. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang dokter sepertiku dalam keadaan seperti ini? Aku sadar betapa berharganya Sabra dan Shatila bagiku. Orang-orang Palestina terbuang dan berjuang sejak tahun kelahiranku, 1948. Meskipun demikian, mereka tetap manusia, walaupun berada dalam keadaan yang sangat tidak manusiawi.
Mungkin saja esok Sabra dan Shatila sudah tidak ada, tetapi kami orang-orang non-Palestina yang mendapat kehormatan menjadi teman mereka masih memiliki tugas untuk membantu dengan rasa solidaritas, sebelum semuanya terlambat.
Pada puncak masa pengepungan Beirut 1982, terdapat hampir seratus orang sukarelawan medis dari seluruh dunia yang bekerja sama dengan PRCS (Bulan Sabit Merah Palestina), untuk merawat mereka yang terluka di Lebanon. Selama masa pembantaian Sabra dan Shatila, terdapat dua puluh dua orang dokter dan perawat asing sukarela di Rumah Sakit Gaza. Kami merawat para korban dan beberapa dari kami berbicara atas nama mereka kepada seluruh dunia, mengimbau agar dunia tidak melupakan orang-orang di kamp.
Kini, sekali lagi Palestina diserang. Dari jarak tiga ribu mil jauhnya, kami dapat merasakan penderitaan dan kepedihan mereka. Kami ingin kembali
ke kamp tersebut.
Namun, keadaan kini berbeda. Semua mata sedang tertuju pada wabah kelaparan di Etiopia. Tidak ada lagi Rumah Sakit Gaza yang bisa kami tuju, rumah sakit kamp Sabra itu telah dibakar, dijarah, dan diduduki para penyerang baru itu. Rumah Sakit Akka juga dikepung oleh para milisi, dan meskipun tidak dibakar, tidak dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah rumah sakit. Dengan ketiadaan dua rumah sakit ini, perawatan para korban yang terluka menjadi sangat sulit, jika tidak mau dikatakan mustahil.
Beirut Barat dan Lebanon pada umumnya menjadi tempat yang berbahaya bagi orang asing. Orang-orang Barat terutama menjadi sasaran empuk penculikan. Bandara Internasional Beirut terlibat dalam insiden pembajakan pesawat yang melibatkan pesawat TWA dan secara umum tidak menerima kedatangan dari luar negeri. Banyak penerbangan dari Kota Beirut dipenuhi orang-orang asing yang pergi meninggalkan Lebanon.
Kamp-kamp dikelilingi tank-tank dan para tentara bersenjata sehingga sulit bahkan bagi Palang Merah Internasional sekalipun untuk mengevakuasi anak-anak yang terluka. Mungkinkah seorang dokter atau perawat dapat memasuki kamp-kamp tersebut?
Organisasi amal kami mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk menolong mereka. Seseorang menyarankan untuk membuat pengumuman agar para
dokter dan perawat sukarelawan kembali ke kamp-kamp itu. Para anggota MAP lainnya terkejut dengan saran ini, karena kami semua benar-benar menyadari bahaya yang menunggu di sana. Seseorang lainnya menanyai wanita yang mengusulkan ide itu, apakah ia sendiri mau pergi ke sana. Pertanyaan itu tentu membuatnya agak malu, tapi bagaimanapun, akhirnya kami memutuskan bahwa memang sebaiknya kami mencari para sukarelawan di antara kami terlebih dahulu. Aku mengajukan diri untuk kembali ke kamp tersebut karena pernah berada di sana sebelumnya, dan merasa punya tanggung jawab untuk merespons situasi itu. Aku juga sepenuhnya sadar akan keadaan kamp yang porak-poranda, dan aku merasa sanggup mengatasinya. Sebagai seorang dokter bedah, aku telah melakukan banyak operasi di dalam bangunan-bangunan yang setengah hancur tanpa air dan listrik, dan aku merasa akan sanggup melakukannya lagi. Bahkan, jikalau Sabra dan Shatila sudah luluh lantak saat aku tiba di sana, aku masih merasa harus mengunjungi orang-orang di kamp, untuk meyakinkan mereka bahwa kami masih mengingat mereka dan datang kembali untuk menjumpai mereka. Setidaknya inilah yang dapat kulakukan sebagai seorang teman.
Kami tahu bahwa keputusan mengutus sebuah tim ke kamp-kamp tersebut berisiko tinggi, dan hanya sedikit organisasi amal di Inggris yang siap melakukannya. Organisasi amal kami berusia kurang dari setahun dan kebanyakan dari kami sangat khawatir kami akan dianggap sembrono dan tidak ber-
tanggung jawab. Kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdebat, dan akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pemungutan suara. Sembilan orang anggota menentang kepergianku kembali ke kamp, dan dua orang menyetujuinya. Kedua orang itu adalah aku dan Francis, yang kupaksa untuk memberikan suara yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Rekan-rekanku sangat mengkhawatirkan keselamatanku, dan itulah sebabnya, mereka memutuskan untuk menentang kepergianku.
Akan tetapi, akhirnya mereka berubah pikiran dan berusaha semampu mereka untuk mendukungku kembali ke kamp. Kami membuat pengumuman bagi para calon sukarelawan, dan sangat tersentuh ketika melihat lusinan dokter, perawat, serta teknisi berkumpul untuk menawarkan bantuan mereka. Mereka siap datang ke Lebanon meskipun telah diperingatkan akan bahaya-bahaya yang mungkin mengancam.
Dalam empat minggu, MAP telah memobilisasi sebuah tim yang terdiri dari enam orang sukarelawan medis dan setengah ton peralatan kedokteran, dan kami bersiap untuk pergi ke Beirut pada awal Juli. Peralatan kedokteran tersebut untuk Rumah Sakit Haifa, yang terletak di dalam sebuah kamp tepat di sebelah selatan Shatila, Bourj el Brajneh. Sebelum penyerangan ke kamp, Rumah Sakit Haifa berfungsi sebagai pusat rehabilitasi untuk penderita kelumpuhan tubuh bagian bawah. Selama terjadi penyerangan, banyak penduduk kamp Bourj el Brajneh yang meninggal karena tidak adanya fasilitas
kedokteran di kamp itu sendiri dan mereka yang sakit maupun terluka tak dapat meninggalkan kamp. Oleh karenanya, PRCS berencana mengubah Rumah Sakit Haifa menjadi sebuah rumah sakit umum dengan bangsal-bangsal operasi dan sebuah unit gawat darurat. Selain peralatan kedokteran, masyarakat Inggris juga menyumbangkan dana kepada kami untuk membeli sebuah mobil ambulans yang akan digunakan sebagai klinik berjalan. Aku memberi tahu para pegawai di Rumah Sakit Dryburn bahwa aku akan pergi untuk menikmati liburan musim panas dan mengambil jatah enam minggu cuti tahunan.
Sementara menyiapkan berbagai hal, kami menerima sebuah pesan bahwa gencatan senjata dibatalkan. Setelah empat puluh hari penyerangan dan penyerbuan, kamp-kamp itu tetap menolak untuk menyerah ke tangan musuh. Para penduduk kamp yang jumlahnya lebih sedikit dan bersenjatakan seadanya itu menyerang balik dengan gagah berani sehingga seribu orang milisi yang mengepung kamp tersebut terluka. Korban dari pihak Palestina jum-lah-nya lebih banyak, yaitu enam ratus delapan pu-luh orang gugur, dua ribu orang terluka, dan seribu lima ratus orang hilang. Kamp-kamp itu telah di-bom dan dihajar roket selama empat puluh hari se-hingga kini tinggal tersisa puing-puing. Sebanyak tiga puluh ribu orang Palestina kehilangan tempat tinggal. Namun, semangat juang mereka tetap tinggi.
Dalam tim medis kami terdapat seorang staf perawat berkebangsaan Inggris yang juga seorang
bidan, Alison Haworth, seorang perawat terlatih dengan banyak pengalaman penanganan pertolongan pertama, John Thorndike, seorang ahli anestesi, John Croft, seorang temanku berkebangsaan Lebanon sejak 1982, Immad, dan kawan lama yang baik hati, "Big Ben" si perawat asal Belanda, Ben Alofs. Ben mahir berbahasa Arab dan kami semua sangat menyukainya. Ia terbang dari Amsterdam untuk bergabung dengan kami ketika mendengar kabak buruk penyerangan ke kamp itu.[J
Delapan Belas
Pada 1982, pesawat dipenuhi para turis yang hendak berlibur. Kali ini, pesawat yang kutumpangi benar-benar lengang, tetapi terbang langsung menuju Beirut. Sehingga, kami pun dapat mendarat di sana. Perusahaan penerbangan yang kami gunakan telah menyetujui untuk menerbangkan peralatan medis dan bedah kami secara gratis.
Seiring pesawat tersebut mendarat, kami dapat melihat pesawat TWA yang baru-baru ini dibajak terparkir di tepi landasan. Petugas keamanan bandara bersikap longgar, barang-barang bawaanku bahkan tidak diperiksa. Kami dipertemukan dengan para perwakilan Komite Bantuan Norwegia (Norwegian Aid Committee NORWAC), sebuah organisasi yang akan bekerja sama dengan kami. NORWAC sangat disegani di Lebanon. Mereka telah bekerja di sini sejak perang sipil yang pertama dan sejak awal bersikap netral, memberikan bantuan kepada semua pihak yang sedang terlibat konflik. Hal ini sulit dilakukan di Lebanon karena negara ini terpecah belah, tetapi orang-orang Norwegia itu berhasil mempertahankan sikap tidak memihak kepentingan politik mana pun.
Sang koordinator, Synne, menjadi sopir ambulans yang menjadi sarana transportasi kami. Ia seorang
wanita yang cekatan dan efisien, serta punya wajah yang lumayan dalam usia sekitar awal tiga puluhan. Kami dibawa dari bandara menuju kamp-kamp yang terletak di pinggiran selatan Kota Beirut. Bourj el Brajneh adalah kamp pertama dalam rute tersebut. Meskipun belum pernah bertugas di sana, aku mengingatnya sebagai sebuah kamp yang selain dihuni warga Palestina, juga banyak dihuni warga Lebanon. Bahkan, kamp tersebut sekarang adalah kamp terbesar di Beirut, setelah kehancuran Sabra dan Shatila.
Namun, seiring kami melewati gerbang kamp Bourj el Brajneh, dalam pandangan sekilas, tampak suasana yang nyaris tak terbayangkan, apartemen-apartemen di sana tampak seperti sekumpulan sarang lebah yang terbongkar dan tak beraturan. Kami dapat melihat bahwa kamp tersebut rusak parah, bangunan-bangunannya tanpa tembok dan terlihat akan roboh. Pintu gerbang kamp dijaga oleh sejumlah tentara yang bersenjatakan senapan mesin dan peluncur roket. Synne memberi tahu kami bahwa jika kami ingin memasuki kamp sekarang, akan membutuhkan waktu lama hanya untuk memeriksa barang-barang kami, dan karena hari sudah menjelang gelap, kami harus memprioritaskan menemui Ummu Walid, Direktur PRCS di Lebanon.
Ummu Walid dikenal akan ketangguhan dan kemampuannya untuk tetap tegar dalam keadaan sesulit apa pun. Bahkan, aku tak pernah melihatnya kehilangan kendali atau bersikap emosional kecuali sekali yaitu ketika ia menangis dalam perjalanan
keluar dari rumah sakit setelah pembantaian pada 1982. Namun, kali ini Ummu Walid yang menyambut kami sangat berbeda dengan Ummu Walid yang kuingat. Peperangan di kamp itu pastilah telah meruntuhkan dinding pertahanan wanita Palestina ini. Walaupun ucapan pertamanya setelah kami saling berpelukan adalah, "Swee, kamu masih kuat?" aku dapat melihat bahwa ia telah mengalami banyak sekali penderitaan. Ia berada di Lebanon selama tahun-tahun terakhir ini. Ia telah kehilangan berat badan cukup banyak dan terdapat lingkaran gelap di sekitar kedua matanya, dan raut wajahnya menampakkan duka. Meskipun begitu, ia memiliki aura yang menunjukkan bahwa ia menolak untuk kalah. Ia tampak bagaikan mercusuar yang telah dihantam ombak, tetapi masih tegak berdiri, dan aku merasa bertambah tegar setelah bertemu dengannya.
"Ya, Ummu Walid, masih kuat," jawabku tanpa berpikir, walaupun aku dapat merasa diriku tengah berjuang untuk menahan tangis.
"Kami telah kehilangan Rumah Sakit Gaza," ujar Ummu Walid. "Mereka telah membakarnya, dan tidak seorang pun dari kami yang diizinkan pergi ke sana lagi. Tapi kamu tidak boleh terlalu sedih karenanya. Kini, kita harus memusatkan seluruh daya kita pada pembangunan Rumah Sakit Haifa. Ingat, bukankah kita membangun kembali Rumah Sakit Gaza dari puing-puing? Seperti itu juga kita akan membuka Rumah Sakit Haifa."
Seiring kata-katanya terngiang-ngiang di telinga, kami mengucapkan selamat malam kepadanya
dan melanjutkan perjalanan ke Hotel Mayflower, tempat kami akan bermalam. Dulu, pada 1982, Hotel Mayflower adalah sebuah tempat yang ramai. Saat itu, hotel tersebut dibanjiri para wartawan setelah Hotel Commodore penuh. Terdapat pula banyak sukarelawan dan pejabat dari lembaga swadaya masyarakat dan bantuan kemanusiaan. Dulu, aku biasa pergi ke Hotel May flower untuk menemui berbagai orang, termasuk orang-orang dari komisi-komisi Eropa untuk penyelidikan invasi Israel. Para utusan dari Komite Internasional Palang Merah dan para koordinator dari berbagai lembaga kesehatan dan bantuan kemanusiaan biasa menghabiskan waktu di bar hotel tersebut. Dulu, tempat itu selalu ramai sekali sehingga hampir tidak mungkin kami mendapat tempat duduk di sana.
Namun, kini Hotel Mayflower tampak benar-benar lengang. Enam orang anggota tim kami, dua orang Norwegia, dan empat orang asing lainnya menggenapi keseluruhan penghuni hotel tersebut. Meskipun begitu, para staf hotel masih sama seperti dulu Abu George di bagian bar, tetapi kali ini hanya ia sendiri yang melayani para pengunjung, Musthafa di bagian resepsionis. Kami seperti teman lama yang bertemu kembali, tetapi keadaan saat itu terasa ganjil.
Anggota tim kami lainnya telah pergi untuk makan malam, tetapi aku ingin sendiri dan tinggal di dalam hotel. Ruang makan itu luas dan kosong. Aku duduk sendiri di pojok. Aku memesan telur dadar dan diberi tahu bahwa hotel tidak memiliki per-
sediaan telur. Ini bukan seperti Hotel Mayflower yang kuingat.
Abu George dan Musthafa tidak siap untuk berdiskusi tentang politik denganku walaupun aku sangat ingin mengetahui alasan mengapa kamp-kamp diserang, terutama mengapa yang melakukannya adalah Amal sebuah kelompok Muslim Lebanon yang pernah menjadi sekutu orang-orang Palestina. Baru-baru ini, salah seorang pegawai hotel diculik, dan karenanya suasana di tempat ini terasa tidak nyaman. Di luar, terdengar suara tembakan senapan mesin yang sepertinya hanya berjarak beberapa jalan.
"Jangan khawatir, Dokter Swee," kata mereka kepadaku, "kelompok Druze dan Amal saling bertempur sendiri. Mereka akan segera berhenti."
Memang benar, setelah kira-kira lewat tiga per empat jam, suara tembak-menembak berhenti. Amal adalah sebuah partai Lebanon, begitu pula Partai Sosialis Progresif (partai Druze milik Walid Jumblatt). Partai-partai politik di Lebanon memiliki senapan dan tank serta mesin peluncur roket, dan bukannya berdebat, mereka malah memilih jalan baku tembak. Pada waktu itu, di Beirut, jika seseorang memutuskan bergabung dengan sebuah partai politik, ia juga diberikan kesempatan untuk menjadi anggota kelompok milisi dari partai tersebut. Itu artinya, ia akan diberi sebuah senapan mesin dan sepucuk revolver, dan mungkin juga beberapa buah granat tangan sebagai tambahan!
Kata amal bermakna 'harapan' dan Amal pada
awalnya didirikan oleh Imam Musa Sadr, yang kemudian menghilang secara misterius. Musa Sadr mendirikan pergerakan Amal untuk memberikan kesempatan kepada kaum Syi'ah Lebanon yang merupakan mayoritas warga Muslim di Lebanon untuk lebih mengembangkan potensi mereka. Tujuan si pendiri betul-betul mulia. Selama tahun-tahun pembentukan partai Amal, warga Palestina telah banyak membantu dan melatih mereka. Sulit bagi kami untuk memahami, bagaimana bisa kini sebagian pihak dari Amal malah menyerang warga Palestina.
Kaum Syi'ah sendiri adalah orang-orang yang sangat sengsara, sebagian besar telah mengalami berbagai penderitaan. Untungnya, tidak semua kaum Syi'ah memusuhi warga Palestina. Terdapat satu juta orang Syi'ah di Lebanon, dan jika mereka semua menyerang kamp-kamp, keadaan akan menjadi sangat sulit. Orang-orang Palestina sangat membenci milisi Amal yang menyerang mereka dan memilih bulan Ramadhan, yang merupakan bulan suci umat Islam, sebagai waktu untuk melakukan penyerangan. Akan tetapi, warga Palestina tidak memiliki rasa permusuhan terhadap mayoritas kaum Syi'ah yang tak punya kaitan dengan penyerangan di kamp-kamp.
Esok hari adalah tanggal S Juli. Kami mulai bertugas pagi-pagi sekali karena kami semua sangat ingin mengunjungi kamp-kamp tersebut. Kamp Sabra sepenuhnya hancur dan telah diubah menjadi benteng pertahanan Amal. Oleh karena itu, pintu masuk Sabra bukan merupakan jalan yang aman
untuk memasuki kamp Shatila. Pintu masuk lainnya menuju Shatila, yang letaknya di seberang Rumah Sakit Akka di jalan sepanjang bandara, lebih aman, karena selain milisi Amal, di sana terdapat pula pasukan resmi Angkatan Bersenjata Lebanon. Kehadiran pasukan ini adalah bagian dari perjanjian gencatan senjata. Namun, tetap saja ada beberapa pos pemeriksaan Amal yang harus kami lalui. Karena adanya perlawanan dari warga Palestina, pasukan Amal telah gagal menaklukkan kamp tersebut, sehingga mereka sebatas mengontrol pintu masuk saja. Akan tetapi, pengepungan berlanjut meskipun ada gencatan senjata.
Kehancuran di kamp Shatila sangat mengerikan. Setiap bangunan rusak akibat serangan. Pada sejumlah bangunan, terdapat satu atau lebih lubang bekas terkena bom. Beberapa lubang lainnya berukuran lebih kecil. Ada pula beberapa bangunan yang temboknya berlubang akibat peluru. Di beberapa bangunan lainnya terdapat lubang bekas bom maupun peluru. Terdapat pula tumpukan puing-puing. Masjid Shatila, yang tak tersentuh selama penyerangan 1982, luluh lantak sehingga tak dapat dikenali lagi bahkan kubahnya hancur lebur. Di udara tercium bau busuk campuran bau mayat serta sampah. Mereka yang terluka maupun meninggal tidak diperbolehkan dibawa ke luar kamp, dan beberapa mayat terpaksa dikuburkan di dalam Masjid Shatila. Lalat-lalat berkerumun di sekitar tumpukan sampah. Di mana-mana terlihat orang-orang yang terluka.
Mobil ambulans NORWAC berhenti di sebelah sebuah bangunan yang hancur yang akan digunakan sebagai Klinik Norwegia. Sementara Synne dan seorang perawat Norwegia lainnya membicarakan beberapa hal berkenaan dengan perencanaan pembangunan klinik tersebut termasuk letak pintunya, karena terdapat tiga lubang besar bekas terkena bom kula-yangkan pandanganku ke tepi lain jalan raya di dekat kamp. Sesosok kecil muncul di antara tumpukan puing-puing dan sampah tersebut. Ia bertubuh kurus dan pendek, mungkin usianya tidak lebih dari sepuluh tahun, mengenakan kaus warna putih dan celana panjang hitam. Ia melambai kepada kami sambil tersenyum lebar. Aku tidak ingat apakah pada 1982 pernah bertemu dengannya tetapi ia pasti baru berumur tujuh tahun saat ini. Pada hari itu, anak itu memanggul senjata. Ia tampak sangat bangga dengan dirinya dan berjalan dengan mantap. Kemudian, seorang anak laki-laki yang lebih besar muncul di belakangnya, juga memanggul senjata, dan keduanya lantas menghilang ke arah Masjid Shatila. Jadi, mereka itulah para pejuang yang mengalahkan pasukan Amal. Anak-anak ini adalah para pejuang perlawanan Palestina yang hendak dihancurkan oleh pasukan Amal dan tank-tank raksasa mereka.
Tak lama setelah itu, kami tiba di Bourj el Brajneh, kamp terbesar di Beirut. Jalan raya yang menuju kamp itu setengah beraspal. Pintu gerbangnya diawasi oleh Brigade Keenam Lebanon, sebuah brigade Syi'ah yang lagi-lagi adalah bagian dari per-
janjian gencatan senjata tersebut. Baru saja kami melintasi pintu gerbang tersebut, terdapat sebuah pos pemeriksaan pasukan milisi Amal. Jalan itu kemudian terbagi menjadi dua, satu cabang menuju bagian kamp Lebanon, satu cabang lagi menuju kamp Palestina Bourj el Brajneh.
Saat kami menyusuri jalan yang menuju kamp Palestina, tampak sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh beberapa orang Palestina. Mulai saat ini, aku mulai terbiasa dengan orang-orang Palestina yang memanggul senjata. Lagi pula, mengapa tidak? Setiap orang di Lebanon memiliki senjata, mengapa orang-orang Palestina tidak bisa memilikinya? Tanpa adanya senjata di dalam kamp itu, pembantaian yang mengerikan seperti yang terjadi pada 1982 pastilah akan terulang kembali. Seiring kami berjalan lebih jauh lagi ke dalam kamp, tampak jalanan di sana berlumpur dan penuh genangan air dari saluran pembuangan.
Bourj el Brajneh merupakan kamp yang padat penduduk. Bagian dari kamp yang dihuni warga Palestina berukuran sekitar empat kilometer persegi dan berisi sekitar dua puluh lima ribu orang penduduk. Bangunan-bangunan di sana saling berdempetan dan banyak dari bangunan itu yang terdiri dari dua atau tiga lantai. Blok-blok rumah dipisahkan oleh gang-gang sempit yang kebanyakan hanya dapat dilalui satu orang, dapat juga dilewati dua orang, asalkan mereka berjalan menyamping memunggungi tembok. Saluran pembuangan yang terbuka, puing-puing, dan jaringan pipa air yang ruwet
tampak di sepanjang gang-gang sempit tersebut. Bangunan-bangunan yang terletak di pinggir kamp mengalami kerusakan yang sama parahnya dengan bangunan di kamp Shatila. Namun, ketika kami masuk ke bagian yang lebih dalam dari kamp tersebut, terlihat banyak bangunan yang relatif masih utuh.
Ketika berjalan menuju bagian dalam kamp, kami melihat di samping sebuah bangunan yang hancur terkena bom di seberang Rumah Sakit Haifa sekelompok orang yang berkerumun di sekitar sebuah meja besar. Melihat kedatangan wajah-wajah baru, yaitu kami, mereka berkata dalam bahasa Inggris, "Selamat datang, siapa nama Anda? Kemarilah, lihat bingkisan kecil dari saudara-saudara kami orang-orang Amal." Di atas meja itu terlihat potongan mortir, longsongan granat, dan pecahan bom, semuanya dalam tumpukan besar. Itu semua adalah contoh dari amunisi yang dimuntahkan pasukan Amal ke kamp selama empat puluh hari terakhir ini. Penduduk kamp telah bertahan selama empat puluh hari pengeboman dan blokade pasukan musuh sehingga semangat juang mereka kini sangat tinggi. Merasa bangga dan menang, mereka tampak sangat bersemangat dan tak henti-hentinya mengobrol dengan kami.
Rumah Sakit Haifa dalam kondisi setengah hancur. Namun, kini reaksiku adalah memperkirakan perbaikan apa saja yang perlu dilakukan untuk mengubah pusat rehabilitasi tersebut menjadi sebuah rumah sakit yang berfungsi baik. Aku dapat mengira-ngira   bahwa,   meskipun   banyak   pekerjaan
harus dilakukan untuk membetulkan bangunan tersebut, Rumah Sakit Haifa masih sangat mungkin untuk diperbaiki. Rumah sakit itu memiliki tiga lantai di atas permukaan tanah dan dua lantai di bawah tanah. Dua lantai teratas penuh dengan lubang-lubang bekas bom dan membutuhkan banyak perbaikan. Lantai bawah tanah pertama akan diubah menjadi sebuah bangsal operasi, dengan sebuah ruangan bagi para korban di sepanjang koridor. Lantai di bawahnya akan digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan bom. Para staf rumah sakit tengah membersihkan bangunan tersebut. Pembangunan serta perbaikan telah dimulai. Peralatan bedah dan mesin anestesi yang kami kirimkan telah tiba, dan sepanjang sisa hari itu, Alison, kedua John, dan aku sibuk melakukan inventarisasi. Masih belum ada tempat bagi kami untuk tidur sehingga kami kembali ke Hotel Mayflower dengan perasaan lelah namun puas karena telah melewatkan hari itu dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat.[]
Sembilan Belas
Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi Rumah Sakit Haifa. Tempat itu kini tampak berbeda. Rumah sakit itu sekarang dipenuhi dengan para pengunjung dari kamp. Kasur-kasur telah diletakkan di kamar-kamar di lantai pertama, dan kamar-kamar tersebut mulai terlihat seperti layaknya ruangan-ruangan di rumah sakit. Salah satu kamar bahkan telah dibersihkan dan kasur-kasur dimasukkan ke dalamnya sehingga tim dokter Inggris dapat tinggal di situ. Para wanita Palestina telah membawakan beberapa seprai putih yang bersih untuk kami dan telah mengepel bersih lantai rumah sakit, dan mereka juga membawakan kami teh dan air minum. Rumah sakit ini jadi terasa terlalu mewah jika dibandingkan dengan kamp yang berantakan di luar. Di lantai bawah tanah pertama, ruangan UGD dipenuhi pasien dan dua orang dokter Palestina tampak sudah sibuk melakukan pekerjaan.
Di tengah-tengah kesibukan ini, Ummu Walid tiba. Ia datang untuk memantau pembangunan bangsal operasi yang baru dan untuk membayar para staf dan kuli bangunan. Ia berkeliling lantai demi lantai, memberi sejumlah perintah dalam bahasa Arab, yang sayangnya masih belum dapat kupahami. Kemudian, ia pergi ke Rumah Sakit Akka.
Pekerjaan membangun bangsal operasi lang-
sung dimulai. Di lantai bawah tanah, para kuli bangunan semuanya berasal dari kamp mulai merobohkan dinding untuk membuat sebuah ruang yang lapang untuk bangsal operasi. Keriuhan yang terjadi sungguh luar biasa dan hal itu diperparah dengan kunjungan mendadak para wartawan Associated Press yang tampaknya ingin sekali meliput berita pembukaan Rumah Sakit Haifa. Salah seorang wartawan pada mulanya tampak agak terkejut melihat seorang wanita berparas Cina memimpin tim dokter Inggris, tetapi kemudian kami menjadi cukup akrab dan tak lama setelah itu ia berbicara dengan semua anggota tim, juga dengan warga Palestina.
Para staf di Rumah Sakit Haifa sama mengesankannya dengan para staf di Rumah Sakit Gaza pada 1982, meskipun jumlahnya lebih sedikit. Nidal, perempuan administrator rumah sakit, banyak mengingatkanku pada Azzizah, hanya saja ia berusia sepuluh tahun lebih tua sekitar awal tiga puluh atau empat puluh tahun. Ia bekerja tanpa henti dan tanpa pamrih sehingga setiap orang menghormatinya. (Ia gugur terkena lemparan bom besar yang menghantam rumahnya di Bourj el Brajneh pada Mei 1986. Pemakamannya dihadiri lebih dari lima ribu orang di Beirut. Namun, bagi kebanyakan dari kami, Nidal takkan pernah mati. Dedikasinya yang tanpa pamrih dan keberaniannya akan selalu hidup dalam ingatan kami.) Ia sangat dicintai oleh semua orang. Pekerjaannya tidaklah mudah karena harus berhadapan tidak hanya dengan pengelolaan harian rumah sakit, tetapi juga dengan masalah-masalah
baru yang muncul dari pembukaan bagian UGD.
Ia juga harus mengurusi para stafnya dan menyemangati mereka untuk bekerja dengan kompak. Penyerangan dan pembantaian tahun 1982 telah diikuti dengan pertikaian di Tripoli tahun 1983. Para staf medis itu punya loyalitas masing-masing kepada berbagai kelompok di PLO. Sangat menyenangkan melihat para dokter yang berasal dari berbagai kelompok bekerja sama dengan harmonis di dalam rumah sakit milik PRCS. Para staf rumah sakit sering membicarakan pentingnya persatuan dan tiga orang dokter Palestina dari kelompok yang berbeda memintaku untuk memotret mereka dalam pose berdiri bersama-sama dan saling berangkulan. Mereka hanya sedikit mengerti bahasa Inggris dan pengetahuanku tentang bahasa Arab bahkan lebih sedikit lagi, tapi mereka ingin dipotret untuk menunjukkan kepadaku bahwa mereka bersatu padu sebagai rakyat Palestina.
Dr. Ridha adalah direktur medis rumah sakit itu muda, antusias, gesit, tekun, dan sepenuhnya mencurahkan perhatiannya demi para stafnya. Ia seolah-olah bisa berada di lima tempat sekaligus. Ia seaktif dan sedinamis dr. Rio Spirugi, tetapi tidak bertemperamen panas seperti dr. Rio. Mencakup Ridha, Rumah Sakit Haifa mempunyai lima orang dokter Palestina muda dan mereka bergantian menangani departemen perawatan korban perang, klinik pasien rawat jalan, dan bangsal-bangsal rumah sakit. Aku dapat memperkirakan bahwa mereka akan kebanjiran sangat banyak pekerjaan begitu
Rumah Sakit Haifa berfungsi kembali. Populasi penduduk kamp membengkak menjadi hampir tiga puluh ribu orang dengan kedatangan para pengungsi yang kembali ke rumah mereka.
Pada tengah hari, ketika kebanyakan pasien telah dirawat dan pulang ke rumah, para staf rumah sakit duduk bersama untuk menikmati makan siang. Hampir tiga tahun sejak terakhir kalinya aku menyantap makanan di kamp dan aku benar-benar menikmatinya. Ketika berada di London, aku menghabiskan banyak waktu untuk mencoba dengan sia-sia membuat masakan seperti yang dibuat para koki di Rumah Sakit Gaza. Masakan dari kamp terasa sangat istimewa bagiku. Orang-orang kamp mampu membuat makanan apa pun terasa nikmat, bahkan hanya dengan memanfaatkan sayur-sayuran dan kacang-kacangan biasa.
Hal yang lebih berharga lagi buatku daripada makanan kamp itu adalah suasana saat makan. Orang-orang di rumah sakit PRCS berkumpul bersama dan berbagi makanan, direktur dan petugas kebersihan mendapat jatah yang sama. Berbeda sekali dengan di rumah sakit umum di Inggris, di sana orang-orang mendapat jatah tempat makan berdasarkan status sosial dan pekerjaan mereka. Disalah satu rumah sakit di London tempatku pernah bekerja, terdapat sedikitnya enam ruang makan yang berbeda satu untuk para konsultan dan para pengelola senior rumah sakit, satu untuk para dokter junior, satu untuk para teknisi, satu untuk para perawat, satu untuk para kuli bangunan, dan satu
lagi untuk warga masyarakat!
Di Rumah Sakit Haifa, selama waktu makan siang, kami tukar-menukar informasi dan ucapan selamat dari teman-teman. Aku baru mengetahui bahwa sang profesor bedah dari Rumah Sakit Gaza, para perawat favoritku, dan rekan-rekanku yang lain yang bekerja di sana masih hidup. Beberapa di antara mereka berada dalam kondisi yang buruk, tetapi masih hidup. Di Timur Tengah, orang-orang saling memberikan ucapan selamat "Alhamdulillah!" yang berarti 'Puji Tuhan!' Terkadang, seseorang yang benar-benar sekarat di atas tempat tidurnya juga masih mengucapkan "Alhamdulillah!" Kehidupan itu sendiri adalah anugerah dan berkah dari Tuhan. Kami memang sedang duduk di atas tumpukan rong-sokan, tapi kenyataan bahwa kami masih hidup dan berkumpul bersama adalah sebuah alasan untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan. Abu Ali, pengawas bangsal di Rumah Sakit Gaza, masih tetap bekerja dan akan mengunjungi Rumah Sakit Haifa keesokan harinya untuk membantu pembangunan bangsal operasi di sini. Aku senang mendengarnya masih hidup dan tak sabar ingin segera melihatnya besok.
Sore harinya, kami melakukan lebih banyak inventarisasi dan pengaturan barang-barang. Ada sedikit kekacauan karena beberapa peralatan yang diselamatkan dari Rumah Sakit Gaza sebelum dibakar, tercampur baur. Beberapa set peralatan ortopedis dipasangi sekrup-sekrup dari stainless steel sekaligus   dari   vitalium.   Beberapa   bagian   mesin
anestesi dari Rumah Sakit Gaza hilang dan sulit menemukan onderdil pengganti dalam keadaan pasca penyerbuan seperti ini.
Pagi berikutnya, aku pergi ke Hotel Mayflower untuk wawancara dengan sebuah stasiun televisi bernama Visnews. Pengalaman ini sangat mengesankan karena si pewawancara tidak mengerti bahasa Inggris, sedangkan aku tidak mengerti bahasa Prancis dan tidak ada penerjemah. Si pewawancara mengucapkan beberapa kalimat yang kuduga merupakan suatu pertanyaan dan kujawab dengan mengira-ngira apa yang ditanyakannya itu, sepanjang yang kumau. Wawancara itu berlangsung dengan baik karena aku mengatakan apa yang ingin kuutarakan, yang secara garis besar terangkum dalam dua pokok pikiran berikut ini.
Pertama, masyarakat Inggris telah menyumbangkan tabungan dan tenaga mereka untuk membantu pembangunan kembali Rumah Sakit Haifa, karena mereka ingin mendukung sebuah lembaga kesehatan yang akan merawat semua orang yang membutuhkan perawatan. Setelah bertahun-tahun bekerja sama dengan PRCS, aku tahu mereka bekerja berdasarkan filosofi itu, merawat kawan maupun musuh dengan perlakuan yang sama, tanpa meminta bayaran, sehingga aku tidak memiliki keraguan untuk mendukung mereka. Kedua, aku berada di Beirut sepanjang masa-masa yang sulit pada 1982, tetapi aku telah melihat perlakuan manusiawi yang ditunjukkan orang-orang Lebanon maupun Palestina yang bekerja sama untuk melawan serangan
tentara Israel dan memberikan bantuan kepada para korban perang. Saat itu, terlihat rasa persatuan yang hebat di antara orang-orang Lebanon dan Palestina, baik di Beirut maupun di Lebanon Selatan. Namun, mengapa kini pada 1985 mereka tercerai-berai?
Semalam, di Beirut terjadi secara bersamaan setidaknya empat pertempuran pasukan Amal menyerang warga Palestina di Bourj el-Brajneh gara-gara beberapa masalah yang terjadi di pos pemeriksaan, suku Druze dan suku Amal berbaku hantam di jalanan di Hamra, sementara pasukan Kristiani dan Muslim tembak-menembak di sepanjang Garis Hijau, bekas-bekas lintasan misil tampak memanjang di udara dari berbagai tempat di pegunungan. Sementara warga Lebanon bertempur dengan sesama warga Lebanon, juga dengan warga Palestina, daerah perbatasan di selatan Lebanon yang masih diduduki Israel tampak sangat tenang.
Aku berkata bahwa mungkin karena orang-orang di sini tidak sanggup menyerang Israel, mereka terpaksa menyerang sesamasituasi yang disebut para penduduk lokal sebagai "perang saudara". Aku yakin si wartawan Prancis itu tidak mengerti apa yang kukatakan, tetapi ia tampak puas dengan wawancaraku dan menawarkan untuk mengantarku kembali ke kamp Bourj el-Brajneh. Ia menyetir seperti layaknya orang Lebanon. Pasti ia telah lama tinggal di Lebanon karena cara menyetirnya ngebut, sembrono, dan tidak sabaran, padahal tindak-tanduknya sangat sopan dan menawan.
Ketika kembali ke Rumah Sakit Gaza, aku melihat dr. Ridha sedang mengatur sekonvoi pasien ortopedis yang hendak menemuiku. Kebanyakan dari mereka masih muda, tidak seperti pada 1982. Mereka mendapatkan luka-luka itu karena mempertahankan kamp. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda dan anak lelaki, beberapa lagi adalah wanita. Luka-luka ortopedis yang paling sering kutangani disebabkan peluru berkecepatan tinggi, dengan kata lain, luka-luka karena terkena peluru senapan M16. Luka fraktura gabungan yang diiringi kerusakan di bagian saraf dan pembuluh darah merupakan hal yang lazim terjadi jika anggota tungkai tubuh seperti tangan atau kaki terkena peluru M16. Kebanyakan yang terluka di bagian tungkai terpaksa diamputasi pada waktu mereka menemuiku. Oleh karena pusat pembuatan tungkai palsu di Rumah Sakit Akka telah diledakkan, sebanyak 167 pasien yang telah diamputasi dari seluruh kamp di Beirut harus menunggu tanpa kepastian, sampai segala sesuatu tertangani. Hal yang paling sulit adalah mengeluarkan para korban semacam mereka ini dari kamp. Kebanyakan dari mereka telah berjuang untuk mempertahankan kamp dan karena itu mereka diincar oleh para milisi Amal yang masih mengontrol pos-pos pemeriksaan dan sebagian besar wilayah di Beirut Barat.
Pada masa awal peperangan, Palang Merah Internasional telah berhasil melakukan negosiasi supaya sekelompok orang dapat meninggalkan kamp untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Mereka ditangkap begitu meninggalkan kamp. Bebe-
rapa dari mereka ditembak ketika sedang dirawat di beberapa rumah sakit Lebanon di Beirut. Kebanyakan korban lebih punya peluang selamat jika dibangun rumah sakit di dalam kamp, sehingga mereka dapat dirawat tanpa berisiko diculik begitu keluar dari kamp. Bagi para korban di Bourj el-Brajneh, pembangunan Rumah Sakit Haifa adalah harapan mereka untuk mendapatkan perawatan operasi bedah.
Pembangunan rumah sakit tersebut dilakukan dengan penuh semangat. Aku tertawa sambil berkata kepada dr. Ridha, "Dengan semangat seperti ini, pembangunan bangsal operasi mungkin akan selesai dalam waktu seminggu atau kurang dari itu. Di London, dalam kurun waktu yang sama, kami mungkin baru bisa menyusun rencana."
"Ah, tapi ini kan pembangunan yang dilakukan PRCS," kata dr. Ridha dengan mimik serius. "Kami telah punya banyak pengalaman membangun dan membangun-kembali   bangunan   selama   bertahun-tahun." "
Aku tidak lupa akan kehancuran dan pembangunan kembali Rumah Sakit Gaza dan Akka yang berkali-kali berlangsung dalam kurun waktu beberapa bulan saja pada 1982. Orang-orang Palestina telah belajar membangun rumah dan gedung secepat bom-bom dan granat dapat meluluhlantak-kannya. Ini adalah buah dari pengalaman selama bertahun-tahun.
Sekitar waktu makan siang, Abu Ali muncul. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasa-
anku karena bertemu dengan kawan lama ini, ia tidak berubah sedikit pun selama tiga tahun terakhir. Ia baru saja tiba dari Rumah Sakit Akka dan membawakan kami beberapa "oleh-oleh". Dari kedua tas jinjing polythene nya, ia menuangkan satu set alat bedah untuk operasi abdominal mayor, kemudian satu set peralatan bedah mikro.
"Dari mana kamu dapatkan semua itu?" tanyaku, benar-benar takjub.
"Dari Gaza," jawabnya. "Awalnya mereka mencuri barang-barang itu, tapi kini tidak dicuri lagi." Hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia mendapatkan semua barang "bukan curian" itu! Ia meletakkan semua itu di atas meja dan mulai mengecek, menghitung dan mengamati setiap gunting bedah, wadah jarum jahit, dan retraktor sebelumnya, kebanyakan retraktor tidak lengkap seolah-olah barang-barang itu adalah sahabatnya yang sudah lama menghilang.
Ketika ia telah selesai menyimpan semua peralatan tersebut, aku berkata, "Ikutlah denganku pada sesuatu yang perlu kamu lihat, sesuatu yang sangat istimewa." Aku membawanya ke ruang penyimpanan alat bedah yang kini penuh dengan peralatan dan perlengkapan yang kubawa dari London. Ekspresi kegembiraan yang tampak di wajah si pengawas bangsal rumah sakit ini membuat semua jerih payah kami untuk mendapatkan alat-alat itu terasa tidak sia-sia.
Sore itu, Abu Ali tampak sibuk memasang kabel ke gagang gergaji gips, melabeli alat-alat, dan
menyusun perlengkapan bedah. Tak lama setelah itu, ia membawa masuk Nuha, seorang perawat bangsal bedah yang sangat cakap. Wanita yang bertutur kata halus ini adalah lulusan Sekolah Perawat PRCS di Lebanon. Dengan segera Nuha mulai mengkoordinasikan para staf rumah sakit untuk mempersiapkan perban, pembalut pembedahan, dan perlengkapan operasi laparotomi (pembedahan dinding abdomen). Oleh karena aku sedang tidak ada pekerjaan, Nuha memberiku sebatang jarum dan beberapa helai benang putih, lalu memperlihatkan cara menjahit kain perlengkapan operasi laparotomi. Selama bertahun-tahun menjadi dokter bedah, baru pertama kalinya aku melihat kain perlengkapan operasi laparotomi dijahit dengan tangan. Mesin-mesin jahit di rumah sakit telah dijarah oleh orang-orang yang menyerbu kamp. (Ketika kembali ke Inggris, aku memberi tahu para perawat Rumah Sakit Dryburn tentang "kain perlengkapan laparotomi yang dijahit dengan tangan", lalu mereka membelikan sebuah mesin jahit untuk disumbangkan kepada Rumah Sakit Haifa.)[]
Dua Puluh
Keesokan paginya, sebuah mobil dari kantor Konsulat Inggris di Beirut Barat tiba untuk menjemput kami. Rencananya, kami akan menunggu di konsulat kedatangan Sir David Miers, Duta Besar Inggris untuk Beirut, yang sedang menyeberang dari Beirut Barat ke Timur untuk menemui kami. Kantor konsulat tersebut terletak di dekat pantai, jauh dari lokasi kamp-kamp.
Pagi itu terasa hangat dan cerah, bersuasana khas Laut Tengah. Kami melewati lalu lintas yang padat di sepanjang jalan raya yang dipenuhi berbagai toko dan kios di tepi jalan. Pada 1982, setengah bagian dari kota ini berisi bangunan-bangunan yang hancur terkena bom dan pantai serta jalan pesisirnya dipasangi ranjau. Aku merasa senang melihat keadaannya kini kembali "normal". Meskipun demikian, keadaan normal tersebut hanya terlihat di luarnya. Memang tidak ada lagi serangan bom udara, tetapi situasi kota ini masih jauh dari aman. Pertempuran antar kelompok masih terus terjadi, begitu pula penculikan dan pembalasan dendam.
Kantor konsulat tersebut adalah sebuah gedung yang dijaga ketat oleh para tentara Angkatan Bersenjata Lebanon. Setelah surat-surat kami diperiksa, kami disambut dengan ramah. Kemudian,
Sir David menelepon, ia telah berusaha melintasi Garis Hijau pagi itu, tetapi jalur penyeberangan ditutup. Menurut para staf di konsulat, itu adalah usaha Sir David yang keenam kalinya untuk menyeberang dari Beirut Timur ke Beirut Barat sejak beberapa hari terakhir ini. Merasa kecewa, kami meninggalkan kantor Konsulat Inggris tersebut untuk kembali ke Bourj el-Brajneh.
Kami tiba di Rumah Sakit Haifa sekitar pukul 11 siang. Alison langsung bekerja di klinik pembalutan. John, sang teknisi anestesi, melakukan tugas berat memindahkan mesin anestesi yang diselamatkan dari Rumah Sakit Gaza, sementara John yang lain dan aku singgah ke bagian UGD. Di sana kami dikerumuni segerombolan anak-anak yang meminta kepingan-kepingan bom dikeluarkan dari tubuh mereka. Jika kepingan itu berukuran kecil, biasanya lebih baik didiamkan saja, kecuali mengganggu sistem saraf atau menyebabkan infeksi. Kepingan bom yang lebih besar yang diakibatkan ledakan bom atau granat sering kali menyebabkan anggota tubuh yang kemasukan kepingan tersebut harus diamputasi atau menyebabkan luka dalam yang parah. Dengan situasi yang kembali relatif tenang, anak-anak suka sekali mendapatkan kepingan bom itu agar dapat membanding-bandingkan "kenang-kenangan" logam yang dikeluarkan dari tubuh mereka. Kulihat, John Thorndike senang melakukan pembedahan semacam ini.
"Sudah waktunya membangun sebuah klinik khusus untuk pembedahan jenis ini,"   ia   terus-
terusan mengingatkanku. Aku tahu kami tak dapat melakukannya karena bagaimanapun, bangsal operasi yang tengah dibangun sebentar lagi akan siap digunakan. Begitu bangsal tersebut dapat digunakan, kami akan melakukan pekerjaan lainnya.
Sementara itu, Ben Alofs telah pergi untuk mengawasi pembangunan klinik lainnya yang tengah berlangsung di ujung lain kamp. Dulunya, bangunan itu adalah sekolah bagi anak-anak Palestina, tetapi serangan di bulan Ramadhan telah menyebabkan bangunan itu dipenuhi lubang-lubang besar di dinding dan atap, dan lantainya pun remuk. Staf PRCS berharap dapat mengubahnya menjadi sebuah klinik untuk melayani kebutuhan orang-orang yang tinggal di tepi lain kamp, sehingga para pasien rawat jalan yang membanjiri Rumah Sakit Haifa dapat ditampung di sana. Selain tugas-tugas klinis biasa yang dilakukannya di Rumah Sakit Haifa, Ben juga telah diberikan tugas mengerjakan dekorasi sekaligus mengecat bangunan, bahu-membahu dengan tim konstruksi kamp.
Sore itu, Alison dan aku akan memanfaatkan giliran tidur kami di rumah sakit. Sedangkan kedua John (John Croft dan John Thorndike) itu kembali ke hotel untuk mengganti baju sekaligus mandi. Sebelum hari berganti malam, kami berjalan-jalan ke sekitar kamp. Beberapa saat kemudian barulah aku menyadari betapa parahnya keadaan kamp Bourj el-Brajneh pasca-pertempuran. Meskipun lantai-lantai teratas Rumah Sakit Haifa telah diledakkan, kondisinya masih jauh lebih baik daripada rumah-rumah penduduk. Potongan-potongan genting, dinding, dan jendela yang diledakkan kini tergeletak di lantai rumah-rumah yang sudah runtuh. Pagar dan perabot rumah tangga dari kayu terbakar hingga menghitam. Terdapat sebuah kuburan massal berisi delapan puluh mayat dengan kondisi yang sudah tidak utuh dan tidak teridentifikasikan. Bangunan-bangunan perlahan-lahan runtuh akibat kawah-kawah bekas bom di tanah. Dilihat dari besarnya skala kehancuran, pertempuran yang terjadi pasti sangat dahsyat.
Tiba-tiba, kami dikelilingi oleh sekelompok pemuda dan anak laki-laki. "Halo, siapa nama Anda?" tanya mereka. "Apa yang Anda lakukan di sini?"
Kami menjelaskan bahwa kami tenaga sukarelawan medis dari Inggris yang bertugas di Rumah Sakit Haifa. Mereka tampak begitu gembira mengetahui bahwa orang-orang dari belahan dunia lain mendengar apa yang tengah menimpa rakyat Palestina, dan dengan senang hati mengajak kami berkeliling kamp untuk memperlihatkan keadaan di sana. Salah seorang pemuda yang lebih tua, yang mengenakan belat di pergelangan tangannya yang terluka, menjelaskan bahwa ia adalah seorang mahasiswa kedokteran di American University of Beirut, tetapi sudah lama tidak kembali ke bangku kuliah sejak penyerangan pasukan Israel. Ia sangat ingin melanjutkan pendidikan kedokterannya, tetapi karena merasa masih muda dan mampu secara fisik, ia percaya bahwa lebih utama baginya tetap tinggal di dalam  kamp untuk melindungi  warganya dari
serangan dan pembantaian. Itu adalah pengorbanan yang telah dipilihnya. Ia tidak akan meninggalkan kamp Bourj el-Brajneh bahkan meskipun seandainya ditawari kembali berkuliah sampai ia merasa yakin bahwa para penduduk di kamp hidup dengan damai.
Ia memperlihatkan kepada kami semua kehancuran yang terjadi, kemudian berbalik seraya bertanya, "Kenapa orang-orang membenci kami, rakyat Palestina? Kenapa mereka ingin menghancurkan kami seperti ini?" Aku tak dapat menjawabnya.
Aku mencoba menghiburnya dengan membandingkan gerakan perlawanan penduduk kamp itu dengan pertempuran di Karamah yang melegenda. Kata "karamah" berarti 'martabat' dalam bahasa Arab. Karamah adalah sebuah kamp pengungsi Palestina yang terletak dekat Jericho. Pada 1968, sebanyak 450 warga Palestina berjuang melawan pasukan Israel yang berjumlah sepuluh ribu personel dan berhasil mengusir tank-tank mereka. Pasukan Israel membalas di kemudian hari dengan mengirim pasukan udara dan mengebom Karamah hingga kamp itu lenyap ditelan bumi. Akan tetapi, gerakan perlawanan rakyat Palestina lahir dan tumbuh dari sana. Kerumunan anak-anak muda ini tampak sangat gembira mendengar seorang asing sepertiku berbicara tentang Karamah. Mereka gembira melihat masih ada orang-orang seperti kami dari belahan lain dunia yang mengetahui dan terinspirasi oleh perjuangan rakyat Palestina.
Kami berpisah dengan menyisakan sebuah ungkapan kemenangan, para pemuda ini memberitahu-
ku bahwa mereka akan menjadikan kamp Bourj el-Brajneh sebagai sebuah benteng dan akan mempertahankannya hingga titik darah penghabisan terhadap serangan musuh mana pun.
Malamnya, ketika kami kembali ke ruang para sukarelawan di rumah sakit, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ini mungkin beberapa tahun aku merasa yakin dan bahagia. Aku merapikan diri, lalu mulai menulis sepucuk surat yang panjang untuk suamiku di London. Tak lama setelah mulai menulis, aku mendengar seseorang mendorong pintu dengan sangat perlahan dan memasuki kamar kami. Ia adalah seorang pemuda berpakaian seragam militer. Pada awalnya, ia tampak sangat malu menemukan Alison dan aku di dalam kamar itu, alih-alih John dan Ben. Kelihatannya, ia adalah anggota "klub penggemar Ben Alofs", yang berkembang pesat setiap hari. Semua penduduk kamp mengagumi Ben, tetapi budaya lokal yang masih kuat menyebabkan hanya para pemuda yang dapat menemuinya, dan mereka sering kali mencari-carinya. Kusangka pemuda ini ingin mendengarkan radio milik Ben. Setelah sebelumnya tampak agak gelisah, teman kami itu lantas mulai merasa nyaman dan menerima tawaran kami untuk duduk bersama kami. Ia masih sangat muda dan bertubuh pendek, mungkin sekitar 160 cm atau kurang dari itu. Wajahnya kekanak-kanakan, rambutnya keriting kecil-kecil berwarna cokelat terang.
Kemudian, Ben masuk kamar dan terlihat terkejut sekaligus senang. "Hei!" serunya, "kamu tidak
bilang kamu seorang Fedayeen! Wow!" wajah Ben berseri-seri dan dihiasi senyuman lebar. Kawan Ben ini berseragam militer lengkap berwarna hijau berbelang-belang cokelat dan sepatu bot yang berlumur lumpur dari kamp. Di bahunya tersandang sepucuk senapan Kalashnikov tua dan berkarat. Begitu melihat Ben, ia tampak lega. Ia kemudian meludahkan kuaci biji bunga matahari yang dikulumnya, agar dapat berbicara.
Ia menunjuk dirinya sendiri seraya berkata, "Aku Mahmud." Lalu katanya lagi, "Amal sangat, sangat jahat. Palestina sangat, sangat baik." Setelah itu, perbendaharaan kata bahasa Inggrisnya pasti telah habis, karena ia kemudian berbalik ke arah Ben dan mulai berbicara dalam bahasa Arab. Kami lantas mengetahui bahwa Mahmud baru berusia enam belas tahun, bahwa ia berdarah Lebanon dan berasal dari golongan Syi'ah, namun telah menjadi pejuang Palestina sejak usia belia. Keluarganya berasal dari Lebanon Selatan dan rumahnya telah dihancurkan oleh pasukan Israel. Mereka melarikan diri ke kamp Bourj el-Brajneh. Ia menganggap dirinya seorang Palestina dan selalu ingin bersama dengan rakyat Palestina. Ibunya juga merasakan hal yang sama, dan ketika kedua kakak laki-lakinya bergabung dengan pasukan Amal, si kecil Mahmud dan ibunya memilih tetap tinggal bersama warga Palestina di Bourj el-Brajneh.
Ia memberi tahu Ben bahwa lima hari yang lalu, ibunya ditembak oleh seorang penembak jitu dan terluka ketika ia tengah pergi ke luar untuk
mendapatkan makanan bagi penduduk kamp. Mahmud melihat Palang Merah Internasional membawa ibunya pergi dalam sebuah mobil ambulans, tetapi tak dapat mengikutinya karena ia pasti akan dibunuh begitu terlihat oleh pasukan Amal. Sudah lama ia tak mendapatkan berita mengenai ibunya dan ia merasa sangat khawatir. Dapatkah Alison dan aku membantunya menemukan ibunya yang mungkin telah dibawa ke Rumah Sakit Makassad milik Lebanon?
Ada satu masalah kecil. Demi alasan keamanan, ia tidak mau memberikan nama keluarganya kepada kami. Satu-satunya informasi yang kami dapatkan adalah kakak laki-laki tertuanya bernama Ahmad, jadi mungkin ibunya bernama Ummu Ahmad (Ummu berarti 'ibu'). Ia akan membawakan fotonya untuk kami besok pagi dan akan sangat berterima kasih apabila kami dapat menemukannya dalam keadaan masih hidup. Kami setuju melakukan hal ini untuknya. Ia pun tampak lega dan mulai mengobrol dan bercanda dengan Ben. Tiba-tiba, ia memutuskan untuk membuat kami terkesan dengan kegaga-hannya sebagai tentara. Ia melepas kausnya dan memperlihatkan kepada kami semua bekas luka di dada dan lengannya, menunjuknya satu per satu sambil berkata, "Lihat, ini bekas peluru M16. Di sini, di sini, dan di sini juga. Semuanya peluru M16 yang ditembakkan oleh pasukan Amal. Tapi tak masalah, aku tidak takut."
Aku menatap wajah pemuda Lebanon yang masih belia ini, dan tiba-tiba wajah itu berubah
menjadi sesosok pejuang kemerdekaan yang gagah perkasa.
Hari berikutnya, Alison dan aku melakukan pengecekan lantai demi lantai di Rumah Sakit Makassad, melambai-lambaikan selembar foto Ummu Ahmad sambil menanyakan jika seseorang pernah melihat wanita ini. Ahmad adalah nama yang sangat lazim dipakai di Lebanon, seperti halnya nama John di Inggris. Tidak seorang pun di London yang sudi menjelajahi bangsal demi bangsal, departemen demi departemen di Rumah Sakit St. Thomas atau rumah sakit yang lebih besar lainnya untuk melakukan hal semacam itu, menanyakan siapa yang pernah melihat ibu dari John. Fakta bahwa ia ditembak lima hari yang lalu tidak membantu, karena setiap hari banyak sekali orang yang tertembak di Beirut. Menyebutkan bahwa ia berasal dari kamp Bourj el-Brajneh menyebabkan orang-orang di rumah sakit itu kehilangan minat. Memangnya siapa di Rumah Sakit Makassad yang mau mengingat-ingat seorang wanita Palestina yang terluka? Akhirnya, karena mereka sedemikian tampak tidak peduli, kuputuskan untuk menggertak mereka.
"Tolong perhatikan, ya," kataku, "wanita ini mungkin memang berasal dari kamp pengungsi Palestina, tapi ia orang Lebanon dan punya dua anak laki-laki yang merupakan pejuang Amal, dan keluarganya sedang mencari-carinya." Menyebut-nyebut kata Amal, seorang perawat yang sedang bertugas di departemen korban perang menengadah ke arah kami, memandang wajah di foto itu dengan sak-
sama, lalu memeriksa buku catatan pasien-pasiennya. Rumah Sakit Makassad telah menampung dan merawat wanita ini sejak enam hari yang lalu, jelasnya padaku, tetapi luka-lukanya tidak membutuhkan perawatan inap sehingga Palang Merah Internasional mentransfernya ke sebuah rumah sakit milik suku Druze untuk menjalani pemulihan. Partai Sosialis Progresif Druze bersikap simpatik kepada warga Palestina, membolehkan mereka menggunakan fasilitas rumah sakitnya dan mengizinkan para pengungsi kamp berlindung di wilayah mereka.
Beirut dan semua daerah di Lebanon memang terbagi-bagi menjadi wilayah-wilayah yang diawasi oleh berbagai partai politik dan milisi. Jadi, jika suku Druze menerima para pengungsi Palestina di wilayah mereka, itu berarti selama berada dalam wilayah itu, orang Palestina aman dari kelompok-kelompok milisi tertentu. Namun, jika para pengungsi tersebut tak sengaja berkeliaran di luar wilayah kekuasaan Druze, mereka berisiko ditangkap oleh kelompok milisi lain. Ummu Ahmad untuk sementara masih selamat. Kami kembali ke Rumah Sakit Haifa untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada Mahmud, sekaligus mengembalikan foto ibunya.
Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan sekali lagi pernyataan orang-orang Palestina bahwa kelompok Amal adalah saudara mereka, dan memikirkan betapa peperangan di kamp itu sangat menyakitkan bagi orang-orang Palestina. Ketika kelompok Amal menyerang mereka, rasanya bagaikan diserang oleh keluarga sendiri. Ketika memandang keluarga
Mahmud, aku melihat fakta itu. Anak-anak dari keluarga Syi'ah ini tercerai-berai menjadi kawan serta lawan warga Palestina, dan sang ibu terluka ketika berusaha membantu kawan-kawan Palestinanya. Adakah kawan yang lebih baik daripada wanita itu?
Beberapa hari berikutnya dipenuhi kesibukan berkeliling ke sekitar kamp Shatila, Rumah Sakit Ak-ka, dan Rumah Sakit Haifa. Para staf PRCS juga berusaha meningkatkan pelayanan medis di dalam kamp Shatila sehingga jika terjadi penyerangan lagi, kamp tersebut mempunyai peralatan medis yang memadai. Dulu, rumah sakit milik PRCS biasanya ditempatkan di ujung kamp sehingga PRCS dapat membuka pelayanan medis bagi kedua belah pihak, yaitu warga Lebanon maupun Palestina. Namun, peperangan yang terjadi selama bulan Ramadhan itu memaksa PRCS menelaah kembali kebijakannya, karena rumah sakit yang terletak di luar kamp tidak dapat merawat para korban yang terkepung di dalam kamp. Terlebih lagi, rumah sakit di luar kamp sangat rentan terhadap serangan dari berbagai kelompok milisi, para pekerja Palestina juga sangat mudah ditangkap. Penyerangan baru-baru ini terhadap kamp membuktikan kepada penduduk Palestina bahwa mereka dapat mempertahankan diri mereka sendiri. Jika selama masa penyerangan di sana juga terdapat fasilitas medis yang layak, maka tidak akan banyak orang yang meninggal.
Dalam waktu singkat, klinik NORWAC di kamp Shatila mulai berfungsi. Para rekan Norwegia memintaku untuk menjalankan dua klinik ortopedis da-
lam seminggu di kamp Shatila. Klinik NORWAC melengkapi klinik milik PRCS di kamp Shatila. Para dokter dan perawat PRCS di klinik ini berjuang keras untuk menyelamatkan banyak nyawa selama masa penyerangan, walaupun tidak ada fasilitas untuk merawat para korban pertempuran. Diharapkan klinik NORWAC ini dapat mengambil alih sebagian pekerjaan klinik PRCS, sementara PRCS mengadakan beberapa perubahan struktural agar bisa berfungsi sebagai sebuah rumah sakit.
Sebagian besar waktuku kini didominasi oleh pekerjaan administrasi, termasuk berkeliling ke bangsal-bangsal bersama rekanku anggota NORWAC Synne, yang berusaha mengorganisasikan peralatan dan perlengkapan operasi bedah, serta menyusun jadwal rapat. Tim dokter Inggris bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh pengabdian, dan berusaha mengatasi masalah yang awalnya timbul dalam hal penyesuaian diri. Bagi Alison dan kedua John, ini adalah kunjungan pertama mereka ke Lebanon dan aku kagum melihat cara mereka menyesuaikan diri. Tanggung jawab administrasi, melebihi tugas-tugas klinik yang biasa kulakukan, membuatku lebih sulit mencuri-curi waktu senggang untuk berjalan-jalan di sekitar kamp, sebagaimana yang kulakukan pada 1982. Namun, aku dapat merasakan dan melihat kehadiran para warga kamp Shatila, meskipun melalui tembok-tembok ruang klinikku, melalui lembaran-lembaran nota pengeluaranku yang bercampur aduk. Aku tidak perlu berbicara dengan mereka untuk mendengar suara-suara me-
reka, tidak perlu memandang mereka untuk memahami semangat mereka yang tak pernah pupus. Aku terus bergumul dengan rutinitasku, melayani para korban perang dan menuliskan rencana-rencana terperinci untuk pengelolaan rumah sakit yang mereka usulkan. Memang belum ada fasilitas untuk merawat luka komplikasi, jadi sebagai gantinya, seseorang akan menuliskan laporan dan berbagai rekomendasi, dan secara psikologis ini sangat membantu kebanyakan pasien, mereka tidak lagi berputus asa, tetapi malah menjadi tidak sabaran untuk menunggu. Mungkin para staf medis pun sama-sama merasa berat menghadapi hal ini.
Di suatu siang yang terik, aku tiba di Shatila untuk menemui para pasien ortopedis di klinik NORWAC, setelah aku selesai melakukan tugas jaga di Rumah Sakit Haifa. Aneh klinik tersebut dikunci dan tak seorang pun berada di lorong utama kamp, semua rumah juga kosong tak bepenghuni. Kemudian, seorang gadis kecil muncul dan memberitahuku bahwa setiap orang di kamp telah pergi ke Masjid Shatila. Hari itu adalah peringatan empat puluh hari gugurnya para syuhada Palestina selama masa peperangan di kamp. Setelah berjalan melewati puing-puing bangunan dan sesekali terantuk sisa-sisa puing, aku tiba di reruntuhan Masjid Shatila.
Aku berdiri dalam keadaan tercengang, di hadapanku ada sebuah kerumunan besar orang-orang Palestina pria, wanita, anak-anak, tua dan muda. Bendera-bendera Palestina yang tak terhitung jumlahnya berkibar-kibar. Foto-foto para syuhada ber-
ukuran besar diarak di atas galah dan dilambai-lambaikan. Genderang ditabuh. Musik berirama khas Palestina dikumandangkan. Orang-orang menari dan menyanyikan slogan-slogan militan. Aku merasakan air mata mengalir deras ke pipiku. Aku menangis karena hanya ada reruntuhan dan puing-puing di sekitar sini, dan banyak yang telah gugur. Namun, peringatan pada hari ini tidaklah bernuansa duka, melainkan harapan dan kemenangan. Bagaimana bisa orang-orang Palestina ini merayakannya dengan gegap gempita, aku bertanya pada diriku sendiri. Lalu, aku menyadari bahwa hanya dengan memiliki cita-cita kemenanganlah kita dapat menghapus penderitaan akibat kematian, kehancuran, dan perpisahan. Hari ini, bangkitlah semangat kemenangan di tengah-tengah dinding yang roboh dan di antara puing-puing kamp Shatila, di dalam masjid tua yang sebagian telah hancur. Suasana kemenangan ini kejayaan, kegembiraan, keteguhan di tengah kesulitan yang tak terperikan akan selalu kukenang dan ingin kubagi dengan orang-orang yang sedang menderita di seluruh penjuru dunia.
Kamp Shatila telah menerima gempuran habis-habisan. Selama empat puluh hari dan empat puluh malam, bom, granat, dan proyektil diluncurkan ke arah kamp yang padat penduduk dan hanya berukuran tiga puluh enam ribu meter persegi ini. Namun, kamp Shatila tetap teguh berdiri dan melahirkan para syuhada. Hari ini, penduduk kamp merasa bangga dan berjaya. Mereka mengenang bagaimana dalam satu hari saja, enam ratus bom, granat, dan
roket menghujani rumah-rumah mereka, tetapi mereka pantang menyerah. Mereka mengenang bagaimana, di lain hari, mereka kehabisan amunisi, mereka maju ke garis depan dan berpura-pura menembak, menirukan gemuruh suara ledakan untuk men-ciptakan kesan seolah-olah mereka membalas serangan.
Alih-alih menyerah, empat gadis Palestina melintasi pos pemeriksaan dengan menyamar dan membawa kembali tiga puluh lima ribu butir amunisi dan para penduduk kamp melanjutkan pertempuran. Hari ini, Shatila bukan menangisi kuburan massal pembantaian yang terjadi pada 1982, melainkan memberikan penghormatan sekaligus memperingati mereka yang telah mengorbankan nyawa demi mempertahankan rumah-rumah penduduk.
Setelah acara peringatan tersebut, aku kembali ke klinik dan bertemu Hannah, seorang perawat dari Rumah Sakit Gaza tempatku bekerja pada 1982. Ia tampak lebih kurus dan matanya memancarkan kesan melankolis. Hampir tiga tahun telah berlalu, tetapi aku masih mengingat saat berada di ruang perawatan pasien kecelakaan di Rumah Sakit Gaza, ekspresi wajahnya yang panik ketika ia menyadari bahwa tabung nitro oksida keliru dilabeli dengan oksigen. Ia berusaha bertahan selama mungkin di Beirut, bahkan setelah pembantaian 1982, sampai akhirnya ia ditahan. Sesudah dibebaskan, ia pergi ke luar negeri.
Ketika mendengar berita penyerangan terhadap kamp, ia meninggalkan kuliahnya di Belgia dan
walaupun harus menanggung risiko, ia kembali ke sini. Seraya memeluk gadis yang sedang tersedu-sedu itu, aku dapat merasakan betapa kurusnya ia. "Hannah, tolonglah, kuatkanlah dirimu," ujarku padanya. Biasanya, kata-kata seperti itu akan membuat orang-orang tergugah.
Namun, ia mengusap air matanya, menatapku, dan berkata, "Aku mencobanya, tapi sampai berapa lama?" Aku tahu jawabannya, tapi memutuskan lebih baik tidak terlalu banyak bicara. Untunglah, segerombolan pasien telah berkumpul di sekitar klinik. Dengan segera ia membuang rasa sedihnya dan mulai mengerjakan tugas-tugas keperawatannya.
Kemudian, ketika hari menjelang sore dan para pasien telah pergi, aku bertanya padanya tentang teman dekatnya, Nahla. Aku diberi tahu bahwa Nahla tengah terluka dan kini sedang dalam persembunyian.
"Ia terus-menerus bertempur selama empat puluh hari dan empat puluh malam," jelas Hannah. "Lalu, kamp kehabisan peluru, dan empat orang wanita pergi ke luar untuk membeli peluru. Ia termasuk salah satu dari mereka. Saat kembali ke kamp, mereka mengikatkan peluru di tubuh mereka untuk melewati pos penjagaan Amal. Namun, belakangan pasukan Amal mengetahui hal ini. Mereka menjadi sangat, sangat marah. Mereka ingin membunuhnya. Kamu tidak bisa mendatangi tempat persembunyian Nahla karena pasukan Amal akan mengikutimu dan membunuhnya."
Ini gila, padahal Nahla sedang menjalani pela-
tihan untuk menjadi perawat di Rumah Sakit Gaza. Sekarang ia menghadapi ancaman kematian hanya gara-gara membela warganya. Tinggi, berkulit putih, dan anggun, Nahla termasuk salah satu wanita tercantik yang pernah kulihat dalam hidupku. Membayangkan ia ikut bertempur dengan gagah berani membuatku bangga. Namun, menyadari bahwa saat ini ia terluka dan dikejar-kejar ke seluruh Beirut, aku menjadi sangat gusar. Aku tidak berani berharap dapat bertemu dengannya, kesempatan untuk menjadi temannya sudah merupakan suatu kehormatan besar bagiku.
Hari berikutnya, ibu Nahla mengontakku dan ingin datang bertemu denganku. Putrinya telah mengirimiku salam dan sebuah hadiah, sebuah taplak meja berbahan kain yang di atasnya tersulam gambar bendera Palestina dan matahari terbit. Nahla telah meminta ibunya untuk memberikannya kepadaku. Taplak meja itu dulu terpasang di meja bacanya dan ibunya mengatakan bahwa Nahla berharap setiap kali aku menatap warna-warni bendera Palestina tersebut, aku akan mengingat dirinya. Lalu, ibu Nahla menyadari bahwa ia sendiri tidak membawa hadiah untukku. Tergesa-gesa ia mengaduk-aduk keranjang rotannya. Ia menemukan sepasang garpu dan sendok dan diberikannya kepadaku. Aku memeluknya dengan sangat erat, mengembalikan garpu dan sendok itu, dan menciuminya berulang kali. Aku tahu sekarang dari siapa Nahla mewarisi sifat dermawan dan semangat berkorban.[]
Dua Puluh Satu
Keesokan harinya, aku pergi ke Hamra kawasan perbelanjaan di Beirut Barat dan membeli seikat bunga untuk kuletakkan di kuburan para syuhada di Masjid Shatila. Namun, aku kehilangan bunga-bunga itu dalam perjalanan antara Hamra dan masjid. Meskipun begitu, aku tetap menuju masjid untuk memberikan penghormatan. Saat itulah untuk pertama kalinya aku memasuki reruntuhan Masjid Shatila. Seiring memasuki pintunya, kuperhatikan betapa bersih dan indah bagian dalam bangunan itu. Lima puluh orang syuhada tersebut dikuburkan di pelataran utama masjid. Tersebar bunga di mana-mana. Alih-alih batu nisan, foto-foto dan bendera-bendera Palestina menandai setiap makam para syuhada. Dari sekilas pandang atas foto-foto itu, aku tahu bahwa semua syuhada itu masih sangat muda. Tidak hanya muda, tapi kebanyakan dari mereka adalah wanita sedangkan wanita di belahan lain dunia tengah mengejar karier, mencari suami, dan merencanakan berkeluarga. Dalam foto-foto itu, mereka tampak cantik dan tersenyum, gadis-gadis ini mengorbankan masa muda dan kehidupan mereka yang berharga demi rakyat dan negara mereka tanpa mengharap pamrih.
Para pasien di Shatila adalah orang-orang
yang sangat bersemangat. Aku sering kali merasa kagum melihat bagaimana mereka memahami dengan baik kondisi mereka sendiri, bagaimana mereka mengetahui dengan persis letak setiap peluru atau pecahan bom dalam tubuh mereka, juga bagian vital tubuh mereka manakah yang dikoyak oleh peluru tersebut. Lebih dari itu, aku mengagumi kesabaran mereka berhadapan denganku. Hampir semuanya tahu bahwa karena keterbatasan alat-alat bedah, aku tak dapat melakukan operasi besar terhadap mereka. Namun, mereka tetap memenuhi janji untuk menjalani pemeriksaan dan mendiskusikan keadaan mereka denganku.
Dokter sukarelawan asal Belgia yang bekerja untuk NORWAC biasa menertawakanku karena membiarkan Klinik Spesialis Ortopedisku menjadi sebuah klub sosial yang besar. Namun, aku merasa bahwa dengan membiarkan selusin pasienku duduk bersama-sama, menyimak penuturan setiap orang mengenai luka-lukanya, dan membiarkan mereka mempelajari bagaimana membalut luka dan melatih menggerakkan tungkai mereka yang lumpuh, aku mendapatkan semacam dorongan moral, dan itu membantu mengurangi keprihatinanku atas kurangnya fasilitas perawatan pasien yang ada. Tak lama kemudian, para pasien itu saling melepas plester gips mereka sebelum menemuiku, mereka juga membawakan trafo agar gergaji gips buatan Inggris yang kami bawa dapat memakai listrik dari mesin generator kamp. Aku yakin bahwa seandainya diberi cukup waktu, orang-orang ini akan menjadi para
teknisi ortopedis yang hebat, meskipun aku mengkhawatirkan apa pendapat Asosiasi Ortopedis Inggris tentang klinikku yang banyak melanggar peraturan dan kondisinya di bawah standar. Tapi, baik di bawah standar ataupun tidak, kami tetap berhasil menjalankan klinik ini.
Suatu hari, aku harus mengeluarkan sebutir peluru dari telapak tangan seorang pemuda Palestina, peluru itu menyebabkan telapak tangannya tak bisa ditutup. Peluru itu tersangkut di tulang metakarpal ketiga. Tidak ada obat bius dan aku harus mengoperasinya tanpa menggunakan sarung tangan, masker bedah, maupun topi. Aku didampingi seorang perawat yang menggenggam sebatang lilin.
Sebelum memulai, aku memperingatkan dia,"Ini akan menyakitkan kami kehabisan obat bius."
Ia   menjawabnya   dengan   tegas, "Doctora, Anda lupa, saya orang Palestina." Apa yang dapat kukatakan kepada pasien yang menjawab dengan kata-kata seperti itu? Operasi itu berhasil dilakukan bahkan tanpa menggunakan pembiusan lokal.
Setelah operasi itu, aku mulai melakukan lebih banyak lagi operasi dengan atau tanpa bius lokal di rumah-rumah penduduk, di ruang duduk, di dipan, atau di dapur. Biasanya, seorang juru rawat Palestina ikut denganku dan kami membawa sebotol anti septik, perban, pisau bedah, benang bedah, wadah jarum, gunting bedah, dan alat-alat lainnya untuk melakukan operasi bedah kecil-kecilan sambil sekaligus mengunjungi para penduduk di rumah-rumah mereka yang sebagian telah hancur. Me-
nakjubkan betapa cepatnya aku terbiasa melakukan operasi dengan peralatan seadanya. Namun, untuk perawatan luka-luka yang lebih serius, kami harus menunggu sampai Shatila memiliki rumah sakit yang layak.
Sementara itu, diadakan renovasi besar-besaran atas bunker perlindungan di kamp Shatila. Bangunan tersebut diubah menjadi sebuah kamar operasi, dengan bangsal-bangsal, ruangan kecil untuk resusitasi, dan berbagai fasilitas pemulihan. Ruangan-ruangan ini akan disambungkan dengan klinik PRCS, dan kelak di kemudian hari, semua bangunan ini akan membentuk apa yang disebut dengan Rumah Sakit Shatila. Para penduduk kamp ingin bersiap siaga seandainya pasukan Amal kembali menyerang. John Thorndike, dengan pengalamannya yang luas di bagian gawat darurat dan penanganan kecelakaan, dipindahkan dari Rumah Sakit Haifa ke kamp Shatila untuk membantu pembangunan tempat itu.
Pada suatu sore, aku memutuskan bahwa inilah waktunya untuk mengunjungi kamp Sabra, atau apa yang masih tersisa di sana, serta Rumah Sakit Gaza. Aku memilih untuk menyusuri jalan raya yang sama yang pernah kami lalui di bawah paksaan para tentara pada pagi 18 September 1982. Aku berharap, beberapa anggota tim mau bergabung denganku untuk menapaktilasi perjalanan kami waktu itu sehingga penduduk kamp dapat melihat bahwa kami telah kembali.
Taksi antar jemput atau taksi "layanan"    me-
nurunkanku di Rumah Sakit Akka, dan setelah melintasi jalan raya, aku berada di ujung selatan kamp Shatila, di sinilah Jalan Sabra berawal. Jalan raya tersebut dipenuhi pos-pos pemeriksaan yang jaraknya berdekatan satu sama lain. Seiring aku mulai menyusuri jalan tersebut, terdengar sebuah suara melengking, "Itu dokter yang pernah pergi ke Komisi Israel!"
Orang-orang mulai berteriak keras di sepanjang jalan untuk menarik perhatianku,membuat para tentara di pos-pos pemeriksaan keheranan. Saat itu menjadi sebuah reuni besar. Lupa akan keberadaan buldoser-buldoser dan pria-pria bersenjata yang berwajah tak bersahabat, kami berpelukan dan mengucapkan salam. Para janda keluar dari tempat perlindungan mereka yang telah hancur, anak-anak yatim piatu bermunculan, begitu juga dengan para orang tua. Kami semua merasa sangat gembira. Lalu, sekali lagi, anak-anak berbaris di depan rumah-rumah mereka yang hancur terkena bom, mengangkat kedua tangan mereka dengan jemari membentuk huruf "Y" yang berarti kemenangan, dan meminta untuk dipotret, seperti halnya anak-anak pada 19-82. Kali ini, tanda kemenangan itu mereka acungkan dengan ekspresi teguh dan menantang. Bahkan senyum di wajah mereka lebih lebar dan kualitas foto yang dihasilkan lebih bagus seiring meningkatnya kemampuan memotretku. Aku diajak memasuki rumah-rumah penduduk kamp, disuguhi kopi dan minuman dingin, sedangkan penduduk kamp lainnya mampir untuk sekadar menyapaku.
Di luar di Jalan Sabra, buldoser-buldoser melibas reruntuhan rumah-rumah dengan ganas, mengaduk-aduk debu-debu, puing-puing, sampah-sampah bercampur dengan pipa-pipa air serta kabel-kabel listrik. Penduduk kamp memberitahuku bahwa buldoser-buldoser tersebut tiba dari Suriah. Pemerintah Suriah rupanya terobsesi dengan dugaan bahwa kamp Sabra, Shatila, dan Bourj el-Brajneh terhubung oleh sebuah jaringan terowongan bawah tanah. Oleh karena rakyat Palestina selalu membantah pernyataan tersebut, Suriah mengancam akan meratakan kamp-kamp tersebut untuk membuktikannya.
Sebanyak empat puluh buah buldoser dari Suriah dan lima ratus teknisi konstruksi dan insinyur asal Suriah tiba di Beirut, mereka mengaku datang untuk membantu pembangunan kembali kamp-kamp, tetapi penduduk kamp meragukannya. Dan terowongan-terowongan itu? Jelas bahwa sejauh ini mereka belum menemukannya. Mereka hanya menemukan sistem-sistem pembuangan kotoran, pipa-pipa air, rumah-rumah yang telah hancur, tumpukan puing-puing, dan tentu saja, penduduk Palestina yang sangat berang. Para wanita dan anak-anak di kamp berencana menghalang-halangi buldoser-buldoser tersebut dan mencoba menghentikan mereka membawa pergi sisa-sisa rumah mereka. Namun, saat menatap kekacauan yang disebabkan oleh pancaran air bersih dan air pembuangan dari pipa-pipa yang pecah dan membanjiri jalanan di kamp, aku tidak bisa menahan kejengkelanku akan perlakuan sinting
terhadap orang-orang yang tak bersalah ini. Mereka hanya meminta hak yang selayaknya diperoleh setiap manusia di muka bumi ini, tanah air.
Perjalanan yang kurencanakan hanya berlangsung sepuluh menit dari Rumah Sakit Akka ke Rumah Sakit Gaza, ternyata menjadi dua jam, karena aku berhenti di banyak rumah penduduk untuk menyapa mereka. Akhirnya, tampaklah Rumah Sakit Gaza. Mula-mula, Rumah Sakit Gaza tidak terlihat seperti sebuah rumah sakit, tetapi lebih mirip sebuah benteng yang telah diserang. Dinding-dindingnya masih hitam berjelaga dan di semua tingkat, kaca-kaca jendela hancur berantakan. Pintu utama terkunci dan bangunan tersebut dijaga para tentara. Mereka menyuruhku untuk pergi. Saat aku berbalik untuk meninggalkan tempat itu, seorang teman lama muncul, dan aku langsung mengenalnya sebagai salah seorang staf administrasi Rumah Sakit Gaza. Ia pasti mengatakan sesuatu yang meyakinkan para tentara itu karena mereka lantas membolehkanku memasuki rumah sakit.
Perjalanan dari lantai ke lantai Rumah Sakit Gaza adalah salah satu pengalamanku yang paling menyedihkan dan aku merasa bersyukur bahwa Azzi-zah dan Hadla tidak berada di sini dan melihat keadaan yang mengenaskan ini. Di setiap lantai, kaca-kaca jendela serta pintu-pintu hancur lebur menjadi serpihan-serpihan kecil, kasur-kasur serta bantal-bantal tercabik-cabik, kabel-kabel dan kawat-kawat listrik tercerabut dan terbengkalai di atas lantai. Semua perlengkapan rumah sakit yang bisa
dibawa telah hilang. Alat-alat lainnya yang lebih berat dan tidak dapat dipindahkan atau bernilai jual rendah telah remuk redam. Dinding-dinding berselimutkan jelaga tebal dan lantai-lantainya beralaskan abu. Jelaga dan abu lebih parah lagi di lantai-lantai atas.
Di lantai enam, tujuh, dan delapan, aku merasa seakan-akan berada di dalam sebuah tungku api yang bertahun-tahun tak dikosongkan. Di lantai sembilan dan sepuluh terdapat lubang-lubang besar yang menghiasi dinding-dinding, aku diberi tahu bahwa lubang-lubang ini dibuat dan dipakai para penyerang untuk menembak ke arah kamp-kamp. Aku mengintip ke luar dari salah satu lubang ini dan melihat kamp Sabra yang telah rata dengan tanah. Di lantai, aku mengambil beberapa butir peluru M16. Terdapat pula kotak-kotak amunisi yang telah kosong, berlabel "Made in USA". Para penyerang kamp pada Ramadhan 1985 ini membawa senjata-senjata buatan Amerika. Amarahku yang tadi muncul kini sirna dan aku merasa menggigil dingin bercampur tegang.
"Doctora, tidak apa-apa," kata teman Palestinaku itu. "Kami akan mempersiapkan rumah sakit ini lagi. Kami akan membersihkan dinding-dinding ini, membawa obat-obatan, dan membuka rumah sakit ini kembali." Aku tahu dari nada suaranya bahwa ia bersungguh-sungguh dalam setiap kata-katanya. Aku sudah pernah mendengar kata-kata ini dan melihat pembuktiannya paling tidak dua kali sebelumnya, yaitu pada Agustus 1982 setelah penye-
rangan di Beirut dan pada September 1982 setelah pembantaian. Aku sering bertanya-tanya, dari mana orang-orang ini mendapatkan kekuatan mereka.
Hari beranjak sore, dan aku harus pergi sebelum keadaan menjadi rawan untuk melintasi pos-pos pemeriksaan. "Swee, saya mohon. Ibu ingin Anda datang untuk minum kopi bersama kami." Aku berbalik dan mencari asal suara itu. Ia adalah seorang wanita muda. Kurasa aku mengenali wajahnya. Tentu saja, ia Muna, kakak perempuan Huda. Ia telah tumbuh dewasa. Ia lebih tinggi dan cantik sekarang, tetapi aku masih mengenalnya sebagai Muna. Tiga tahun sudah berlalu sejak terakhir kali aku melihat ia dan Huda, dulu aku senang berkumpul dengan keluarga mereka.
Aku menengadah ke arah blok-blok bangunan yang tinggi di seberang Rumah Sakit Gaza, dan di lantai tujuh terlihat seorang wanita Palestina berdiri di atas balkon, melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Ia mengenakan kerudung putih. Tiga tahun telah berlalu sejak aku terakhir kali mengunjunginya. Aku sangat senang melihat rumah mereka masih utuh. Muna dan aku berlari menaiki tangga karena lift tidak berfungsi akibat putusnya aliran listrik. Kebanyakan flat di blok ini kosong karena keluarga-keluarga Palestina yang tinggal di dalamnya telah pergi menghindari serangan. Namun, di blok yang sama terdapat banyak keluarga Syi'ah Lebanon kehadiran mereka itulah yang menghalangi keseluruhan blok tersebut dihancurkan. Kami tiba di lantai tujuh, nyaris pingsan karena berjalan tergesa-
gesa. Kemudian, pintu di hadapan kami terbuka lebar dan dari dalam seseorang menyambutku dengan ciuman dan pelukan hangat, dialah ibu Muna.
Flat tersebut keadaannya masih seperti pada 1982 bersih, rapi, dan dirawat dengan baik. Akan tetapi, banyak dari perabotan indah di situ sudah tidak ada, termasuk kain sulaman cantik khas Palestina yang dibuat oleh ibu Muna. Aku tak berani menanyakan detail peristiwa yang terjadi. Ibu Muna membawakan kopi Arab untuk kami, lalu duduk di atas kursi, menatapku, tersenyum lagi dan lagi, dan mulai menyebut-nyebut beberapa ayat yang memuji-muji Allah. Aku dimintanya duduk di atas sebuah kursi berlengan yang lebar. Kurasa, kursi ini terlalu besar untuk diangkut oleh para penjarah itu.
Aku teringat bahwa dulu rumah Muna ramai. Pada 1982, ayah, ibu, dua orang anak perempuan, empat orang anak laki-laki, dan dua orang menantu perempuan tinggal di dalam flat berisi tiga kamar ini. Biarpun demikian, rumah ini terasa luas bila dibandingkan standar kamp pengungsi. Kini, flat itu tampaknya kosong, kosong dari perabotan dan dari orang-orang. Hanya ada Muna dan kedua orangtua-nya. Selebihnya telah menghilang.
Keluarga ini telah mengalami banyak penderitaan dan turut andil dalam perjuangan para syuhada. Kedua kakak laki-lakinya dijebloskan ke penjara kamp Ansar yang terkenal kejam oleh para tentara Israel pada 1982, dan nasib mereka tidak pernah terdengar lagi. Sejak saat itu, keluarganya menunggu dengan cemas kepulangan mereka, tetapi
seiring hari berganti menjadi bulan, dan bulan berganti menjadi tahun, mereka mulai sadar bahwa putra-putra mereka itu mungkin takkan pernah muncul lagi. Sungguh berat bila ada anggota keluarga kita menghilang. Para keluarga yang tahu pasti bahwa orang yang mereka cintai telah meninggal akan berduka dan kemudian menerima kenyataan bahwa orang itu telah meninggal. Mereka menguburkannya, mengunjungi makamnya, dan mendoakan arwahnya. Namun, keluarga-keluarga dari orang-orang yang menghilang akan selalu bertanya-tanya di manakah mereka berada dan apakah mereka masih hidup. Seandainya masih hidup, keluarga-keluarga itu akan bertanya-tanya apakah orang-orang yang mereka cintai tengah disiksa dan menderita, dan jika mati, di mana jasadnya berada. Keluarga-keluarga itu akan selalu dihantui pertanyaan.
Putra ketiga mereka ditangkap oleh pasukan Amal pada hari pertama peperangan di kamp pada 1985. Ia dibariskan menghadap tembok bersama para tawanan lainnya untuk dihukum mati. Mungkin Tuhan masih menyayanginya dan mendengar doa-doa sang ibu. Beberapa orang Syi'ah yang bukan anggota Amal ikut campur tangan dan memohon pembebasannya. Akhirnya, ia dibawa ke lembah Be-ka'a dan keluarga ini menerima kabar bahwa ia masih hidup. Muna mengeluarkan album keluarganya dan menunjukkan padaku foto-foto keluarga mereka yang menjadi milik mereka yang berharga. Foto-foto momen bahagia dari pernikahan kedua kakak laki— lakinya, dan foto dari kakak laki-lakinya yang kini
berada di Beka'a. Juga terdapat foto-foto Huda dan Hisham yang sekarang, bersama Milad, tinggal di Siprus bersama Paul Morris dan bersekolah di sana. Di lembar terakhir album foto itu terlihat foto-foto berharga yang telah menguning dimakan waktu, foto-foto kedua orangtuanya yang masih muda dan bahagia di Palestina. Kemudian, ibunya, yang semenjak tadi hanya duduk berdiam diri dan melemparkan senyumnya yang ramah dan manis kepadaku, tiba-tiba angkat suara.
Muna berkata, "Ibu ingin tahu mengapa Anda datang kembali ke Beirut, apa yang Anda suka dari Beirut?"
Hanya satu jawaban jujur. Aku tidak berani menyatakannya sejak kembali tiba di Beirut. Tapi, kali ini aku harus mengatakan dengan jujur. Aku anggota Amal ikut campur tangan dan memohon pembebasannya. Akhirnya, ia dibawa ke lembah Beka'a dan keluarga ini menerima kabar bahwa ia masih hidup. Muna mengeluarkan album keluarganya dan menunjukkan padaku foto-foto keluarga mereka yang menjadi milik mereka yang berharga. Foto-foto momen bahagia dari pernikahan kedua kakak laki-lakinya, dan foto dari kakak laki-lakinya yang kini berada di Beka'a. Juga terdapat foto-foto Huda dan Hisham yang sekarang, bersama Milad, tinggal di Siprus bersama Paul Morris dan bersekolah di sana. Di lembar terakhir album foto itu terlihat foto-foto berharga yang telah menguning dimakan waktu, foto-foto kedua orangtuanya yang masih muda dan bahagia di Palestina. Kemudian, ibunya, yang se-
menjak tadi hanya duduk berdiam diri dan melemparkan senyumnya yang ramah dan manis kepadaku, tiba-tiba angkat suara.
Muna berkata, "Ibu ingin tahu mengapa Anda datang kembali ke Beirut, apa yang Anda suka dari Beirut?"
Hanya satu jawaban jujur. Aku tidak berani menyatakannya sejak kembali tiba di Beirut. Tapi, kali ini aku harus mengatakan dengan jujur. Aku sungguh pedih harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Aku merasa mendapat pertanda bahwa kami takkan pernah bertemu lagi, setidaknya untuk jangka waktu yang lama, sangat lama.[]
Dua Puluh Dua
Sangat kontras dengan Rumah Sakit Gaza, Rumah Sakit Akka secara ajaib selamat dari kehancuran fisik. Tanah yang di atasnya dibangun Rumah Sakit Akka adalah milik seorang Syi'ah Lebanon bernama Syekh Khabalan. Pengaruhnya telah membuat Rumah Sakit Akka terhindar dari serangan para tentara milisi Amal yang mengganas di Rumah Sakit Gaza. Oleh karena itulah, tim dokter Inggris beruntung mendapatkan sebuah bangunan yang masih utuh. Rumah Sakit Akka, yang pertama kali kulihat setelah ia hancur berkeping-keping oleh serangan bom Israel pada 1982, kini telah sepenuhnya pulih. Rumah sakit itu adalah sebuah bangunan bertingkat yang indah, tiga lantai di atas dan dua lantai di bawah tanah lengkap dengan bangsal-bangsal perawatan, laboratorium biokimia dan hematologi, sebuah departemen sinar-X dengan fasilitas pemindai, ruang-ruang penelitian dan perpustakaan, bangsal-bangsal operasi bedah, dan sebuah sekolah pelatihan bagi para perawat yang dijalankan oleh PRCS. Kendatipun demikian, setelah peperangan di kamp, Rumah Sakit Akka tidak dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah rumah sakit karena banyak ruangan telah diubah menjadi pusat pengungsian sementara.
Apalagi, pasukan milisi telah memutus pasokan air ke rumah sakit. Di Rumah Sakit Akka itulah, di tengah-tengah keriuhan dan kekacauan, aku menemukan segelintir kawan lama yang kukenal pada 1982 para staf Rumah Sakit Gaza yang selamat dari penyerbuan, para perawat juga dokter, dan sang profesor tua Arnauti, yang kami juluki sebagai "Socrates".
Rambut abu-abu profesor kini berubah sepenuhnya putih, tetapi secara mental ia masih sehat. Aku duduk di sebelahnya dan kami mengobrol tentang Palestina, tentang Jerusalem. Ia bertanya apakah aku sejujurnya yakin bahwa orang-orang Palestina akan dapat kembali ke Palestina, suatu hari nanti.
Aku menjawab, "Pasti, tapi aku tak yakin apakah Anda dan aku masih hidup untuk melihat hari itu."
Jawabanku membuatnya sangat senang, ia gembira melihat keyakinanku itu. Saat aku sedang mengobrol dengan sang profesor tua, seseorang menghampiri kami dan memberitahuku bahwa Ummu Walid ingin bertemu denganku. Di kantornya, kulihat Ummu Walid sedang berbicara dengan sekitar dua puluh empat orang, membahas berbagai hal dalam satu waktu. Setelah urusannya dengan orang-orang itu selesai dan mereka pergi, ia menghampiri Synne dan aku. Ummu Walid ingin bertemu dengan kami untuk mendiskusikan kemungkinan mendirikan semacam bangsal operasi di kamp Ain al-Halwah di Saida, Lebanon Selatan.
Keadaan di kamp Ain al-Halwah sangat menegangkan, penduduk di sana setiap hari hidup dalam ketakutan akan terjadinya serangan pasukan musuh. Penduduk kamp berkebangsaan Palestina yang berjumlah tujuh puluh ribu orang tidak mempunyai fasilitas UGD maupun bangsal operasi. Jika kamp tersebut diserang dan digempur roket, penduduk yang terluka tidak akan dapat diungsikan ke mana pun, dan banyak dari mereka akan mati. Staf PRCS dan komite kamp telah membuat rencana untuk mengubah sebuah gua menjadi rumah sakit. Ummu Walid hanya meminta kami untuk memindahkan beberapa barang ke Ain al-Halwah, apalagi jika dibandingkan orang-orang Palestina, kemungkinan kami diculik dan dibunuh di pos-pos pemeriksaan jauh lebih kecil.
Jadi, setelah mobil ambulans disesaki oleh mesin pemacu jantung, kateter, alat-alat bedah, mesin bius portable, lampu operasi, gergaji gips, kantong-kantong transfusi darah, dan meja rawat yang dapat dilipat, Synne dan aku langsung pergi ke selatan menuju Saida. Terakhir kalinya aku melihat Saida adalah pada 1982 ketika Ellen dan aku memesan taksi "layanan" untuk membawa kami ke selatan. Kenangan terakhirku tentang kamp Ain al-Halwah adalah sebuah area yang luas, rata dengan tanah akibat pengeboman, seperti kamp Sabra yang kulihat pada 1985. Tidak satu pun bangunan yang terdapat di kamp Ain al-Halwah yang tingginya lebih dari 1,2 meter benar-benar pemandangan tragis. Hari ini, tepatnya tiga tahun kemudian, kamp Ain
al-Halwah menyambutku dengan pemandangan yang sama sekali berbeda.
Kamp tersebut telah dibangun kembali. Di sana terdapat rumah-rumah bata yang rapi, toko-toko, kabel-kabel listrik, dan perkantoran. Jalan raya utama kamp diaspal dengan mulus, kendaraan-kendaraan bermotor dan sepeda lalu-lalang menuju berbagai arah. Tidak banyak debu dan yang pasti tidak ada sampah. Kamp tersebut tampak bersih. Para penduduk kamp terlihat rapi dan bersih dalam pakaian-pakaian sederhana yang bersih pula. Aku tidak akan begitu berduka di London seandainya tahu bahwa kamp Ain al-Halwah telah diperbaiki seperti ini. Hari itu menjadi hari yang sangat menyenangkan bagiku, melihat kebangkitan kembali Kota Ain al-Halwah.
Rumah sakit yang direncanakan akan dibangun di kamp ini berada di dalam gua yang terlindung dari serangan pasukan musuh. Pekerjaan pembangunan telah mulai dilakukan dengan antusiasme yang sangat besar. Para penduduk kamp punya kepedulian untuk menyelesaikan pembangunan rumah sakit ini, untuk mengejar "tenggat waktu", untuk bersiap-siap merawat para korban yang akan banyak berjatuhan seandainya pasukan Amal memutuskan untuk menyerang mereka. Rumah sakit tersebut membutuhkan sebuah mesin sinar-X dan kami gembira karena masyarakat Inggris telah menyumbangkan uang untuk membeli mesin sinar-X portable.
Tak lama setelah itu, aku membaca berita di surat kabar bahwa empat orang pemimpin kamp Ain
al-Halwah telah dibunuh dan muncul spekulasi bahwa pembunuhan itu disebabkan oleh pertikaian antara kelompok pendukung dan penentang Arafat di dalam kamp. Spekulasi ini terbukti tidak berdasar.
Kami membawa lebih banyak lagi alat-alat kedokteran ke kamp Ain al-Halwah dan berkesempatan berbicara dengan salah seorang pemimpin kamp yang selamat. Pers menyebarkan berita yang keliru, jelasnya. Para penduduk kamp justru telah menahan para pembunuh itu. Mereka mengaku telah dibayar oleh pasukan Israel. Para penduduk kamp merasa berang terhadap pembunuhan itu dan menyatakan bahwa mereka akan berusaha lebih keras lagi untuk menjalin persatuan.
Seorang wanita Inggris yang tinggal di dekat kamp memberi tahu kami seperti apa prosesi penguburan para pemimpin yang gugur itu. Di bagian terdepan prosesi itu berjalan para pembawa peti mati dan peti-peti itu ditaburi bunga-bunga dan dihiasi bendera-bendera Palestina. Mereka ini diikuti oleh orang-orang yang memanggul senjata, menembak ke udara. Lalu, di belakangnya terdapat para penduduk kamp, berjalan dengan tangan saling memegang bahu. Para pemimpin dari semua faksi PLO ikut ambil bagian dalam prosesi itu. Semua orang berteriak dengan serempak. Meskipun tak dapat mengerti apa yang diteriakkan orang-orang itu, wanita itu mengatakan bahwa mereka mengucapkannya berbarengan, dan pesan persatuan terasa jelas. Jika kamp Ain al-Halwah diserang, para warga Palestina yang tinggal di situ akan mempertahan-
kannya dengan rasa persatuan dan kesetia-kawanan.
Tatkala pulang dari selatan, kami baru tahu bahwa Ummu Walid jatuh sakit. Awalnya kami sulit memercayainya, karena terkadang kami lupa bahwa Ummu Walid, betapapun tegarnya, adalah manusia biasa. Untuk pertama kalinya, Ummu Walid mengeluhkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Ia selalu menjadi menara sumber kekuatan dan tidak pernah membiarkan rintangan apa pun menghalanginya mencapai tujuan. Mungkin temperamennya yang tinggilah yang membuatnya kini berkeluh kesah, tetapi sepertinya lebih diakibatkan oleh bertumpuknya peristiwa-peristiwa yang menimpanya.
Terlalu banyak orang Palestina yang menderita, terutama para janda dan yatim piatu. Itu baru satu masalah, ditambah lagi ia tidak berhasil mendapatkan izin untuk pembangunan kembali Sabra dan Shatila, walaupun ia telah bernegosiasi selama berjam-jam. Izin hanya diberikan untuk pendirian kembali dua ratus rumah di kamp. Bagaimana bisa tiga puluh ribu orang yang kehilangan tempat tinggal dapat ditampung dalam hanya dua ratus rumah? Lalu, dengan hancurnya Rumah Sakit Gaza, ia harus mencari uang untuk membiayai perawatan para pasien yang dulu bisa dirawat secara gratis di Rumah Sakit Gaza. Klinik pasien rawat jalan di Rumah Sakit Akka sekarang telah berfungsi, tetapi kondisi kerja para stafnya jauh dari layak.
Ia sedang berada di Rumah Sakit Akka pada pagi hari ketika terjadi masalah di klinik gigi. Ter-
dapat antrean panjang pasien. Tiba-tiba, seorang pria yang mengaku anggota pasukan Amal muncul dan meminta perawatan segera. Sang dokter gigi Palestina tidak memperbolehkannya melangkahi antrean. Orang-orang di dalam antrean mulai memaki-maki, sang dokter mengancam akan bunuh diri jika ia terus-menerus ditekan. Ummu Walid harus mengatasi situasi tersebut dan membujuk si dokter gigi untuk memprioritaskan orang tersebut, bertentangan dengan kebijakan PRCS yang merawat semua pasien secara adil.
Selanjutnya, tubuh seorang perawat PRCS, yang telah menghilang selama seminggu, ditemukan dalam sebuah tumpukan sampah. Ia dibunuh setelah diperkosa secara brutal oleh banyak pria. Kemudian, semua peralatan laboratorium di Rumah Sakit Gaza yang dijarah pasukan Amal saat penyerangan telah dijual dan PRCS harus membelinya kembali.
Ia tiba di rumah dan mengetahui bahwa sebuah keluarga yang tinggal di sana telah ditembak mati tanpa alasan yang jelas. Mereka tak pernah terlibat apa pun. Peristiwa demi peristiwa hampir semuanya tidak menyenangkan dan menjijikkan telah menyita kekuatan yang tersisa pada wanita tangguh dan pemberani ini.
Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengan Ummu Walid. Meskipun masih lemah, ia sudah dapat menguasai diri dan kembali menjadi pribadi yang tangguh seperti biasanya.
Hampir tiba saatnya bagiku untuk meninggalkan Beirut, tapi sebelum pergi, aku ingin berkunjung
ke kamp Shatila, dengan harapan dapat bertemu lagi dengan Hannah dan mengetahui apakah Nahla baik-baik saja dan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tatkala aku hendak pergi ke sana, hari sudah beranjak sore, sehingga aku membatalkan rencanaku itu. Namun, seseorang yang baik hati menawariku untuk mengantarkanku ke tempat Hannah mungkin berada. Kami melewati Masjid Shatila, melalui gang-gang kamp yang sempit dan berliku-liku, di setiap pinggirnya tampak puing-puing dan rumah-rumah setengah hancur. Kami akhirnya tiba di sebuah rumah di kamp.
Pada awalnya, aku mengira ini pasti rumah Hannah, tapi kemudian aku mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah kantor Serikat Umum Wanita Palestina (General Union of Palestinian Women, GUPW) di kamp Shatila. Orang yang mengantarku itu menduga Hannah berada di situ karena pada hari itu salah seorang anggota GUPW melangsungkan pernikahan. Namun, kedua mempelai membatalkan perayaan pernikahan itu. Mereka telah merencanakan hari besar ini berbulan-bulan lalu, tapi tak mungkin mereka mengadakan upacara pernikahan setelah banyak penduduk kamp tewas dan luka-luka mereka masih segar. Aku bertemu kedua mempelai itu dan berdoa agar mereka diberikan kebaikan.
Ketika aku bersiap-siap untuk pulang, seseorang datang dan memberitahukan bahwa lima orang Palestina telah diculik pasukan Amal di pos perbatasan dan bahwa kamp tersebut dikepung dan diserang. Sangat berbahaya melintasi pos peme-
riksaan pada saat itu. Karena tak dapat meninggalkan tempat tersebut, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengenal para wanita yang mengajakku makan malam bersama itu. GUPW aktif melakukan banyak kegiatan. Selama penyerangan Ramadhan, mereka berusaha mengurus kamp itu, merawat orang-orang yang sakit dan terluka, menyalurkan makanan kepada penduduk kamp, dan mendukung gerakan perlawanan kamp. Selama masa-masa damai, mereka mengelola taman kanak-kanak dan sekolah-sekolah kejuruan. Mereka juga mengajar para wanita Palestina membuat kain sulaman khas Palestina, upaya ini tidak hanya menyediakan sumber pendapatan bagi penduduk kamp, tetapi sekaligus melestarikan kesenian dan kebudayaan tanah air mereka dalam bentuk barang-barang, seperti bantal, taplak meja, syal, rok, saputangan, pembatas buku, dan bendera. Di mana pun terdapat sehelai kain, sebatang jarum, dan segulung benang, kenangan tentang Palestina akan terwujud menjadi barang.
Mereka dengan rajin mengumpulkan daftar orang-orang yang diculik dan hilang sejak peperangan di kamp dimulai. Jumlahnya sebanyak lima belas ribu orang dari ketiga kamp di Beirut Barat. Terdapat bukti kuat bahwa orang-orang itu dibawa ke tempat-tempat penyiksaan, dan di sana mereka dianiaya dan dibunuh. Beberapa jasad yang dibuang ditemukan, tetapi masih ada seribu lima ratus lagi yang belum jelas nasibnya. Mereka menghilang begitu saja.
Kemudian, seorang wanita muda dipanggil ke kantor itu, ia adalah istri salah seorang pejuang. Lalu, seorang wanita yang lebih tua dipanggil, ia adalah ibu dari dua orang pejuang yang gugur. Makanan yang dihidangkan sangat sederhana, terdiri dari kentang, roti yang tidak diberi ragi, dan hummus kuah yang dibuat dari buncis dan bawang putih tetapi merupakan kehormatan bagiku berkesempatan makan bersama para wanita ini. Tidak berlebihan jika kukatakan bahwa setiap orang dari mereka pantas disebut sebagai pahlawan.
Aku tiba-tiba teringat punya sebuah misi kecil-kecilan. Sebelum aku meninggalkan London, seorang wanita perwakilan dari Miners' Support Group (Kelompok Pendukung Buruh Tambang) di Yorkshire telah singgah ke rumahku dan memberiku 24 buah kartu ucapan dari 24 keluarga buruh tambang di desanya, untuk diberikan kepada para penduduk di kamp. Para buruh tambang batu bara di Inggris telah melakukan pemogokan selama setahun, sejak 1984 hingga 1985. Selama pemogokan berlangsung, mereka menghadapi keadaan yang serbasulit dan banyak keluarga buruh tambang harus menjual perabotan rumah tangga dan barang-barang lainnya untuk bertahan hidup. Selama pemogokan, para buruh tambang Inggris mendapatkan bantuan dari organisasi yang serupa dengan GUPW. Para istri buruh tambang, ibu, saudara perempuan, dan nenek mereka bergotong royong mendirikan Miners' Support Group. Mereka menjalankan dapur-dapur umum,   memasak  sup untuk  dibagi-bagikan  kepada
komunitas mereka, berkeliling ke segenap penjuru Inggris untuk menggalang pengumpulan dana, dan menyemangati setiap orang selama masa-masa penuh kesulitan itu. Sebagaimana para wanita Palestina, mereka menjadi tulang punggung komunitas para buruh tambang. Pers Inggris mencemooh berakhirnya pemogokan itu sebagai suatu "kekalahan", tetapi teman-teman Palestinaku di kamp Shatila menyebutnya sebagai sebuah kemenangan. Alasan mereka sederhana, kelompok mana pun yang mampu bertahan selama setahun dalam keadaan seperti itu berarti telah meraih kemenangan yang sebesar-besarnya.
Jadi, sementara para komentator Inggris membicarakan kekalahan yang dialami para buruh tambang, para warga Palestina di kamp Shatila memberi selamat kepada para penambang karena mampu melakukan pemogokan yang berlangsung lama dan dilakukan dengan gagah berani. Mungkin orang-orang Palestina itu sangat memahami apa arti perjuangan, mereka lebih memahaminya daripada pers Inggris. Salah seorang dari para wanita Palestina ini memberitahuku bahwa pers Barat memperlakukan warga Palestina sama seperti mereka memperlakukan para penambang Inggris.
"Mereka secara konsisten mendistorsikan fakta atau menolak memublikasikan kondisi kami," ujarnya. "Biarpun begitu, bahkan seandainya koran-koran tidak mau memublikasikan fakta tentang kami, kisah kami akan selalu tertulis, akan selalu tertulis dengan darah para syuhada kami."
Papan pengumuman GUPW telah hancur terkena bom, tetapi mereka memutuskan memajang kartu-kartu ucapan dari Yorkshire itu di dinding bersama-sama dengan foto-foto para pahlawan mereka.
Bangunan Rumah Sakit Haifa di kamp Bourj el-Brajneh menjadi semakin luas dalam waktu singkat. Bangsal operasi kini sepenuhnya berfungsi dengan baik, bangsal-bangsal perawatan menampung para pasien rawat inap, dan para staf medis Palestina melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, ini adalah babak baru kesuksesan pembentukan dan pembangunan kembali Palestina. Aku tinggal punya satu tugas lagi, mendapatkan mobil ambulans untuk Rumah Sakit Haifa. Begitu ambulans itu bisa difungsikan, berarti aku telah berhasil memanfaatkan semua dana yang terkumpul di Inggris dan takkan ada lagi kewajiban administratif yang harus kulakukan. Rakyat Inggris luar biasa dermawan dan kebanyakan dana yang terkumpul untuk membantu penduduk kamp selama terjadi peperangan itu tidak hanya berasal dari orang-orang kaya, tetapi juga dari rakyat biasa. Sebagian besar dana yang dikirim dari Inggris telah digunakan untuk membeli mesin sinar-x, peralatan resusitasi, serta pembiayaan bangsal operasi.
Pada kunjungan keduaku ke Lebanon ini, kulihat banyak hal telah berubah. Bahkan sebagai orang asing, mudah bagiku untuk melihat betapa masyarakat di sini telah terpecah belah. Sungguh menyedihkan. Suatu hari, seorang pasien Lebanon berusia dua puluh satu tahun meninggal, dan aku
hanya dapat bersyukur kepada Tuhan karena telah mengakhiri penderitaannya. Pria ini berasal dari sebuah keluarga Syi'ah miskin, mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah karena luka yang dideritanya sejak penyerangan pasukan Israel pada 1982. Selama tiga tahun terakhir, Rumah Sakit Haifa yang sebelum serangan Ramadhan merupakan pusat rehabilitasi, telah menjadi rumahnya.
Malangnya, selama penyerangan Ramadhan di kamp Bourj el-Brajneh, ia seperti yang lainnya juga mengidap gastroenteritis (muntaber) yang parah. Kamp tersebut, yang dikepung selama empat puluh hari, tak diizinkan mendapat bantuan air, makanan, maupun obat-obatan. Penyerangan yang berlangsung terus-menerus mengakibatkan para penduduk kamp harus hidup berjejal-jejal di dalam bunker perlindungan selama berhari-hari. Dalam kondisi seperti ini, penyakit-penyakit menular seperti muntaber, infeksi kulit, dan saluran pernapasan dengan mudah menyebar. Seorang dewasa yang sehat akan menganggap dirinya beruntung jika dapat bertahan hidup setelah mengalami kondisi demikian. Bagi seorang penderita lumpuh, terserang penyakit diare berarti kematian.
Bagian bawah tubuhnya mati rasa dan ia pasti telah duduk selama berjam-jam, mungkin berhari-hari, dalam genangan beraknya. Ketika penyerangan kamp berakhir, tubuhnya menjadi benar-benar kurus dan borok telah melebar hingga ke pantat. Ia terserang diare terus-menerus, yang berarti luka-lukanya tak bisa dijaga tetap bersih. Rumah Sakit
Gaza dihancurkan dan Rumah Sakit Haifa se- dang direnovasi sehingga ia dipindahkan ke Rumah Sakit Akka. Namun, tidak mungkin untuk merawat pasien seperti dia di Rumah Sakit Akka. Kala itu, Rumah Sakit Akka baru mulai menanggulangi akibat- akibat perang selama Ramadhan, dan lebih buruk lagi, tidak ada persediaan air! Pemecahan yang lo- gis adalah memindahkannya ke salah satu rumah sakit swasta Lebanon yang mempunyai pipa air, fasilitas infus, dan cukup banyak perawat untuk mengurusnya.
Oleh karena pasien ini berkebangsaan Lebanon, kami berpikir untuk membujuk beberapa badan amal Lebanon untuk mendanai perawatannya di salah satu rumah sakit ini. Pada saat itulah, baru kutahu betapa sulit bagi seorang Lebanon miskin mendapatkan perawatan medis. Badan-badan amal Sunni, Kristen, Druze, atau Syi'ah hanya mau membantu komunitas mereka sendiri dan mereka biasanya telah mempunyai lusinan kasus yang harus didanai. Badan amal Syi'ah yang kami dekati ingin tahu dari desa mana pasien itu dan keluarganya berasal, karena terdapat banyak desa Syi'ah di Lebanon Selatan, di Beka'a, dan di wilayah-wilayah lainnya di negeri itu. Setelah kami memberikan informasi yang diminta, badan amal tersebut menyarankan agar aku menemui seorang syekh yang berasal dari wilayah tersebut untuk meminta bantuannya. Dengan halus sang syekh menolak untuk menemuiku. Jadi, pemuda itu masih tetap menderita, dan para perawat di Rumah Sakit Akka melanjutkan memandi-
kannya dengan persediaan air yang dibatasi dengan ketat hanya untuk keperluan minum.
Kami juga telah sangat lama meminta bantuan kepada Menteri Kesehatan tapi hanya Tuhan yang tahu kapan bantuan itu akan datang. Akhirnya pasien itu terserang koma dan meninggal dengan badan tinggal tulang berbalut kulit yang pecah-pecah. Kematiannya meninggalkan pelajaran yang mendalam bagiku. Memang pasukan Israellah yang menyebabkannya lumpuh, tetapi ia meninggal dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi gara-gara berbagai masalah yang ada di Beirut Barat. Dua hari sebelum meninggal, ia memohon kepadaku untuk membawanya kembali ke Rumah Sakit Haifa begitu bangsal-bangsal perawatan dibuka kembali. Sulit untuk memenuhi permintaannya.
Dari pengalamanku di Beirut Barat selama invasi Israel pada 1982, kulihat orang-orang Lebanon yang kutemui bersikap hangat, murah hati, dan bersahabat. Mereka tidak pernah bersikap diskriminatif terhadap warga Palestina, tidak juga terhadap sesama warganya sendiri meskipun berbeda agama maupun keyakinan. Namun, pada 1985, mereka tampaknya terobsesi dengan perbedaan di antara mereka sendiri. Sekarang, seorang sopir taksi Syi'ah tidak akan mau pergi ke wilayah Sunni, dan begitu pula sebaliknya. Dan bila seorang menyebut-nyebut kata "kamp pengungsi Palestina" kepada seorang sopir taksi, ia akan diusir ke luar. Saat melewati daerah Lahut dekat Near East School of Theology aku teringat bahwa pada 1982, bangunan itu diubah
menjadi rumah sakit darurat atas usaha bersama warga Lebanon dan Palestina. Sebagai hasilnya, ratusan nyawa pasti telah berhasil diselamatkan.
Pada saat itu, tak seorang pun ditanya apakah ia seorang Palestina ataupun Lebanon. Jika ia orang Lebanon, ia takkan ditanya apakah ia beragama Kristen atau Islam. Orang Islam tidak ditanya apakah ia pengikut aliran Sunni atau Syi'ah. Kini, kehangatan, kedermawanan, dan semangat persatuan tampaknya telah diganti dengan permusuhan antar golongan, sinisme, dan rasa ketakberdayaan. Kini, dengan uang apa saja dapat dibeli, senjata, kesetiaan sesama milisi, kebaikan hati, perawatan medis, dan mungkin bahkan prinsip-prinsip yang mendasar.
Lebanon telah membuatku sangat sedih. Tempat ini telah terlalu banyak melihat tank, senjata, dan perang. Para pemuda, bukannya pergi ke sekolah atau bekerja, terpaksa memanggul senjata dan berjuang untuk bertahan hidup. Alih-alih mengucurkan uang untuk kesehatan dan kemakmuran, uang mengalir masuk ke dompet-dompet para penjual senjata. Meminjam kalimat seorang kawan ber-kebangsaan Lebanon, "Lebanon telah menjadi medan pertempuran berbagai kekuatan politik dari luar dan putra-putra Lebanon menjadi mangsa meriam mereka. Kehidupan menjadi tak berharga. Jika seseorang ditembak mati, hanya segelintir orang akan bertanya mengapa atau siapa yang melakukannya."
Yang lebih meresahkan adalah bagaimana para pemuda dan remaja menggantungkan diri kepada
kekuatan, sering kali dalam bentuk senjata dan keanggotaan dalam suatu milisi. Pikiran-pikiran ini terus berkecamuk dalam pikiranku seiring aku melewati Mayfair Residence, tempat tinggal kami pada 1982. Tiba-tiba, seseorang memanggilku dari seberang jalan, "Doctora, Doctoral"
Aku tidak mengenali pria ini, tapi ia berkata bahwa ia mengenalku sebagai salah seorang dokter yang bertugas di Lahut pada 1982. Ia mengundangku minum kopi bersamanya, kemudian mengenalkan dirinya sebagai seorang dokter. Ia adalah anggota Partai Sosialis Progresif Suriah sebuah nama yang sama sekali tidak kukenal. Dengan sabar ia menjelaskan kepadaku garis kebijakan partai politiknya. Sebagian besar penjelasannya tidak terlalu membuatku tertarik, kecuali bahwa partai ini tidak memihak golongan mana pun. Sungguh langka partai yang tak memihak golongan mana pun di Beirut pada 1985!
Di bawah kaca meja sang dokter, terpajang foto seorang wanita muda yang cantik. Aku pernah melihat wajahnya di poster-poster yang terpampang di dinding-dinding di seluruh Beirut dan bahkan di Lebanon Selatan, dan aku sering mengira-ngira siapa gerangan dirinya. Dokter itu memberitahuku bahwa wanita itu adalah seorang gadis delapan belas tahun yang melakukan misi bunuh diri menyerang barak-barak Israel di selatan, wanita Lebanon pertama yang melakukan serangan bom bunuh diri terhadap pasukan Israel.
Sang dokter dengan bersemangat berbicara
tentang wanita kedua yang melakukan misi serangan bunuh diri. Ia menceritakan bagaimana gadis itu mendatangi dirinya pada suatu pagi dan membawakannya seikat bunga nan cantik. Gadis itu lantas mengatakan padanya bahwa ia hendak pergi ke suatu tempat, tetapi ia tak bisa memberitahukan ke mana persisnya. Ia akan "melakukan sesuatu yang berarti, sesuatu yang indah demi Lebanon". Baru setelah terjadinya misi serangan bunuh diri, sang dokter mengetahui ke mana perginya gadis itu.
Orang-orang Barat kebanyakan menganggap mereka yang melakukan misi serangan bunuh diri ini sebagai orang gila atau "teroris". Sebagian lagi yang lebih toleran hanya mendesah dan berkata, "Kasihan sekali! Menyia-nyiakan hidup!"
Tapi bagi kebanyakan orang di Lebanon, mereka adalah pahlawan yang gagah berani. Sebagaimana rekan-rekan Palestina mereka di Masjid Shatila, kedua gadis ini sangat cantik. Mereka bisa saja memilih kehidupan yang bahagia bersama suami yang menyayangi mereka dan anak-anak yang lucu-lucu. Akan tetapi, mereka telah memilih menyerahkan hidup mereka demi kemerdekaan rakyat dan negara mereka. Pandanganku menjadi kabur karena air mata dan aku harus meninggalkan tempat itu sebelum terlihat memalukan. Aku merasa malu akan anggapan negatifku beberapa saat lalu terhadap Lebanon. Terbukti, kedua gadis muda ini telah menghapuskan segala kesan sektarianisme yang kudapatkan selama aku di sini. Mereka tidak memilih untuk "menyerang  Palestina demi menyenangkan
pasukan Israel". Mereka juga tidak mencari-cari alasan atas berbagai kekacauan di Lebanon. Mereka memilih bertarung dengan musuh dan melakukannya dengan gagah berani dan semangat rela berkorban.
Sudah tiba waktunya bagi tim dokter Inggris untuk meninggalkan negeri ini. Di Inggris, kami harus melakukan banyak publikasi ke media massa dan penggalangan dana. Kami juga melihat bahwa kami perlu memulai program pelayanan medis jangka panjang di Lebanon. Hal ini harus didiskusikan dengan MAP sekembalinya kami ke London. Untuk saat ini, setelah pembangunan kembali Rumah Sakit Haifa dan Shatila tuntas dilakukan, para dokter bedah harus melakukan operasi bagi para korban yang sudah lama menunggu. Jika kamp kembali diserang, kami harus mengerahkan lebih banyak bantuan medis untuk menangani para korban perang.
Pada malam keberangkatan, yaitu pada Agustus 1985, aku baru mengetahui bahwa Immad dan Alison telah bertunangan. Aku pastilah seorang pemimpin tim yang kurang perhatian dan tidak peka karena tidak menyadari bahwa keduanya saling mencintai. Tetapi Alison begitu giat bekerja selama bertugas di Beirut sehingga aku tidak menyadarinya. Seandainya saja aku tahu, aku akan berusaha membujuk mereka untuk bersama-sama mengambil cuti. Namun, yang luar biasa adalah Alison kini menolak meninggalkan Rumah Sakit Haifa, dan ingin tetap tinggal di sana untuk membantu penduduk kamp. Aku selalu menghargai dedikasinya, tetapi bagaimana dengan Immad yang akan pulang dengan
anggota tim lainnya ke London? Ia memohon kepada Immad untuk mengizinkannya tetap tinggal, rumah sakit membutuhkan bantuannya, dan Immad harus menghormati keinginannya.
Belakangan, Alison tertembak oleh seorang penembak jitu dan terjebak dalam sebuah serangan di sebuah kamp lain. Akhirnya, ia harus diungsikan keluar dari kamp dan diterbangkan pulang ke London karena terserang pneumonia (radang paru-paru) dan mengalami penurunan berat badan yang drastis akibat bekerja terlalu berlebihan. Alison selamat sepenuhnya berkat belas kasih Tuhan. Seandainya sesuatu terjadi pada dirinya, aku akan merasa bersalah karena telah mengizinkannya tetap tinggal di Beirut. []
Dua Puluh Tiga
Ketika membaca bab ini, Anda mungkin akan menerka-nerka siapakah Nabila Brier, dan mengapa tiba-tiba aku memutuskan menulis tentangnya. Seperti banyak orang yang bekerja sama dengan warga Palestina, aku telah belajar untuk tidak terlalu banyak bertanya tentang latar belakang pribadi mereka atau memotret mereka. Sering kali aku hanya punya perasaan biasa-biasa saja terhadap teman-teman Palestinaku, sampai mendadak aku mendengar bahwa mereka telah dibunuh. Barulah setelah itu aku mulai menghargai mereka, tapi su-ndah terlambat. Mungkin aku harus belajar untuk mengatakan dengan sejujurnya perasaanku kepada orang-orang yang kucintai pada saat mereka masih hidup dan masih dapat mendengarku. Begitulah yang terjadi pada Nabila, kami selalu memanggilnya kapan pun kami membutuhkan bantuannya, tetapi aku hampir tidak pernah teringat akan dirinya ketika mulai menulis buku ini.
Barulah setelah ia pergi, saat-saat yang pernah kami jalani bersama menjadi terasa sangat berharga. Aku mulai memikirkannya, dan secepat mungkin berusaha meyakinkan diriku bahwa bayangan wajahnya tidak akan sirna dari ingatanku seiring berjalannya waktu. Ketika kami masih hidup dan
berkumpul bersama, kami selalu disibukkan oleh terlalu banyak pekerjaan, dan sering kali kami terlalu sibuk untuk melewatkan waktu bersama-sama. Kami selalu berjanji bahwa suatu hari kami akan duduk bersama-sama dan mengobrol tentang hal-hal selain pekerjaan untuk saling mengenal. Kemudian tiba-tiba, salah seorang dari kami menyadari bahwa ini tidak mungkin lagi kami lakukan.
Nabila Brier ditembak mati pada 18 Desember 1986 di Beirut Barat. Banyak dari kami yang mengenalnya terlalu kaget untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Aku masih sangat jelas mengingat pertemuan pertama kami dengan Nabila. Kami pertama kali bertemu dengannya pada suatu waktu di penghujung Juli 1985. Masyarakat Inggris telah menyumbangkan sejumlah uang untuk pembelian mobil ambulans bagi Rumah Sakit Haifa di kamp Bourj el-Brajneh. Selama sebulan penuh, aku telah berusaha untuk mendapatkan mobil ambulans bekas sebuah tugas yang hampir mustahil dilakukan. Waktu itu, perang bulan Ramadhan baru saja usai, benar-benar tidak ada mobil ambulans bekas yang layak pakai di Beirut. Kami mendapat beberapa tawaran mobil bekas yang baru berjalan dua kilometer saja, sudah mogok di tengah jalan. Akhirnya, seorang rekan Norwegia memberitahuku untuk menemui Nabila Brier, petugas lapangan UNICEF di Beirut.
Nabila baru kembali dari Konferensi Wanita 1985 di Nairobi. Dalam acara itu ia berbicara sebagai utusan UNICEF di Beirut. Aku diberi tahu agar datang ke kantornya antara pukul 07.45 hingga
08.00 pagi untuk membicarakan masalah ambulans itu. Aku tiba pukul delapan kurang sedikit, Nabila telah menungguku di dalam kantornya. Ia seorang wanita Palestina yang menarik, berusia tiga puluhan, dengan sorot mata yang tajam dan cerdas. Nabila punya sebuah mobil ambulans yang disumbangkan oleh rakyat Denmark kepada GUPW. Mobil tersebut bukan mobil ambulans tipe kecelakaan, melainkan jenis yang bisa dipakai untuk memindahkan pasien harian yang tak dapat berjalan. Dengan kata lain, mobil itu lebih mirip minibus daripada ambulans. Mobil itu dimaksudkan untuk mengangkut pasien anak-anak dan wanita dari dan ke rumah, taman kanak-kanak, rumah sakit, dan pusat-pusat perawatan.
Mobil ini masih baru, berasal dari Eropa. Namun, pemerintah Lebanon memungut pajak kendaraan hingga 50.000 lira Lebanon (2.500 poundster-ling) dan organisasi tersebut tak sanggup membayarnya. Sehingga mereka tidak bisa menggunakan ambulans tersebut. Terlebih lagi, situasi keamanan di Beirut Barat sangat buruk. Lembaga-lembaga milik warga Palestina menghadapi tekanan yang terang-terangan. Oleh karena itu, GUPW mengalami kesulitan untuk berfungsi secara terang-terangan dan harus menjalankan sebagian kegiatan mereka secara diam-diam. Mereka memutuskan untuk menyumbangkan mobil ambulans itu kepada kami, dan kami dapat menggunakan dana yang terkumpul di Inggris itu untuk membayar pajaknya. Lagi pula, uang yang kami peroleh itu tidak cukup untuk mem-
beli ambulans, hanya cukup untuk membayar pajaknya.
Nabila sangat berani dan tegar, baru belakangan aku tahu bahwa ia berada di bawah tekanan yang sangat besar. Ia telah kehilangan banyak anggota keluarganya. Ia memberitahuku, "Keluargaku telah membayar utang darah mereka di Lebanon." Kata-kata yang aneh untuk kebanyakan orang, tetapi mereka yang akrab dengan sejarah Palestina tahu bahwa banyak keluarga Palestina yang tinggal di Lebanon telah kehilangan banyak anggota keluarga mereka.
Pers sering bertanya, "Apakah orang-orang Palestina membenci orang-orang Amal?" Pertanyaan ini mengandung muatan tertentu. Orang-orang ingin tahu apakah penderitaan warga Palestina yang ditimbulkan oleh Amal adalah penderitaan yang terburuk. Mereka yang menganiaya orang-orang Palestina selalu senang menunjukkan bahwa penderitaan yang mereka timpakan kepada orang-orang Palestina bukanlah penderitaan yang paling hebat. Karena itulah, orang Israel sering dengan segera menunjukkan bahwa orang-orang Arab pun berlaku sama kejamnya terhadap orang-orang Palestina.
Rata-rata keluarga yang tinggal di kamp pengungsi Palestina di Lebanon kehilangan anggotanya karena serangan-serangan pasukan Israel maupun pasukan Arab. Tidak terkecuali keluarga Nabila. Namun, ia keliru saat mengira bahwa sudah cukup banyak darah keluarganya yang tertumpah sama sekali ia tak menyangka bahwa satu setengah
tahun kemudian ia akan menjadi korban berikutnya. Empat orang bersenjata membunuh Nabila. Benar-benar tindakan yang tercela dan menjijikkan! Apakah perlu sampai mengutus empat orang pengecut bersenjatakan senapan mesin untuk menghadapi wanita pemberani berdarah Lebanon-Palestina ini, yang tidak bersenjatakan apa-apa selain keberanian dan kejujuran? Dengan kematian Nabila, mungkin keluarganya telah cukup menumpahkan darah untuk memuaskan jahanam-jahanam ini. Satu-satunya hal yang melegakanku adalah Nabila meninggal seketika, ia tidak disiksa atau diperkosa, tubuhnya tidak dimutilasi, seperti yang biasanya dilakukan para pembunuh.
Apa yang telah dilakukan Nabila sehingga ia pantas mati? Ia adalah seorang Palestina dan bekerja demi perdamaian. Sebagai seorang dokter, hubunganku dengannya hanya sebatas mengatur pengiriman suplai obat-obatan ke Lebanon, tidak hanya untuk kamp-kamp Palestina, tetapi juga untuk lembaga-lembaga kemanusiaan Lebanon. Peti-peti besar berisi obat-obatan dan barang-barang kebutuhan lainnya seperti selimut dan pakaian datang dari seluruh dunia dengan bertuliskan "Mrs. Nabila Brier, c/o UNICEF, Beirut". Barang-barang ini kemudian disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan, warga Palestina di kamp-kamp pengungsi, kaum Syi'ah Lebanon dari daerah-daerah miskin, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Tidak ada komisi, pajak, pemotongan, dan sogokan, hal-hal yang sangat umum di kalangan
petugas bea cukai yang korup di Beirut.
Kematian Nabila merupakan teror terhadap banyak pekerja sosial di sini. Dengan tewasnya Nabila, terbukti bahwa kerja kemanusiaan dan bantuan sosial dapat mengakibatkan seseorang kehilangan nyawa. Mungkin inilah tujuan para pengacau ini, yaitu untuk menakut-nakuti orang-orang yang ingin menolong warga yang kehilangan hak-haknya di Lebanon. Selama terjadinya penyerangan 1985, tak seorang pun diperbolehkan mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Jika ada wartawan yang melaporkan keadaan sebenarnya kamp, ia akan mendapat ancaman. Aku mendapat ancaman karena bersikap vokal menentang penyerangan kamp. Mereka yang membantai warga Palestina tidak ingin ada saksi yang berbicara menentang aksi kejahatan yang mereka lakukan.
Supaya aku mendapatkan semua informasi yang relevan tentang peperangan di kamp, Nabila datang menemuiku di Hotel Mayflower pada pagi hari menjelang keberangkatanku pada 1985. Ia menyerahkan kepadaku laporan UNICEF tentang serentetan serangan yang baru-baru ini terjadi terhadap kamp. Perincian jumlah warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal, kerusakan kamp-kamp termasuk sekolah, taman kanak-kanak, dan klinik, semuanya dicatat dengan saksama dalam laporan tersebut. Kedatangan Nabila menemuiku itu pastilah diawasi oleh mereka yang menyerang dan menghancurkan kamp. Semakin keras upayanya untuk menyebarluaskan fakta yang sesungguhnya, ia se-
makin membahayakan dirinya sendiri. Namun, tanpa orang-orang seperti Nabila, keadaan akan semakin parah. Kekejaman dan kekejian yang terjadi di sini tidak akan terdengar oleh dunia luar. Jika ada seseorang yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk mewartakan kebenaran, ia adalah Nabila.
Mereka telah cukup lama mengincar Nabila. Pada Desember 1985, suaminya mendapat ancaman penculikan jika keduanya tetap tinggal di Beirut. Mereka meninggalkan Beirut dan mengunjungi kami di London. Phil, wanita Irlandia ahli anestesi yang bekerja di Rumah Sakit Gaza pada 1982, mengundang kami semua untuk makan malam bersama. Acara makan malam yang sederhana itu berlangsung dalam suasana akrab dan kami sangat senang melihat Nabila berada di London. Pembicaraan kami berkisar tentang kebutuhan para penduduk kamp seperti bagaimana mengirimkan pakaian kepada mereka yang kehilangan tempat tinggal, bagaimana membuat mereka dapat melalui musim dingin di Lebanon dengan cukup nyaman. Acara makan malam itu adalah kali terakhir kami berjumpa dengannya. Nabila segera kembali ke Beirut dan melanjutkan pekerjaannya dengan UNICEF, walaupun menerima banyak ancaman.
Kematian Nabila benar-benar mengejutkan kami. Temanku, Phil, terlalu syok untuk bereaksi terhadap berita itu. Namun, beberapa saat setelah itu, ia berteriak, "Seandainya aku tak pernah tahu sedikit pun tentang orang-orang Palestina, Lebanon, atau Israel! Tidak pernah ada sedetik pun perda-
maian di antara mereka!!" Phil menangis tersedu-sedu di ujung telepon, ia tengah melakukan piket sebagai ahli anestesi di bagian ICU di sebuah rumah sakit besar di London. Rekan-rekannya di rumah sakit itu pasti mengira Phil telah gila, ia pergi untuk menerima telepon dan kembali dengan terisak-isak. Memang, keadaan di Beirut sudah tak waras. Wahai Tuhan Yang Mahabesar, berilah kami kesabaran dan anugerahkanlah kepada kami kekuatan.
Kini, aku semakin mengerti apa itu arti perjuangan. Hari ini kami bersama-sama, saling berbagi, tertawa dan menangis bersama esok, salah seorang dari kami diambil begitu saja untuk selamanya. Meskipun begitu, kami tetap melanjutkan kehidupan kami, inilah satu-satunya cara untuk menghormati mereka yang telah mengorbankan nyawa dengan sukarela.
Di samping tempat tidurku terdapat sebuah kotak berisi banyak sekali slide foto. Slide bergambar alat-alat musik yang penuh hiasan, sulaman, para nelayan di laut, perhiasan, potret para penari, petani, bunga-bunga anggrek...S//dei-s//dei ini sangat indah, berwarna-warni dan elok, menunjukkan kebudayaan dan masyarakat di negeri lain. Slide-slide ini adalah tentang Palestina dan kebudayaannya. Nabila lah yang memberikannya untukku. Ia ingin agar aku memperlihatkannya kepada orang-orang di seluruh dunia. Kini, permintaan-permintaannya kepadaku terasa pedih untuk kukenang. Tapi aku masih ingat dengan jelas kesimpulannya, "Teman-teman kami  hanya mengenal kami  melalui pen-
deritaan yang kami alami. Tetapi, mereka juga sebaiknya mengetahui bahwa sejarah Palestina tidak melulu dipenuhi dengan pembantaian. Kami juga memiliki kebudayaan, kami menghargai keindahan dan kesenian sebagaimana bangsa lain." Mungkin seperti itulah kami harus mengingat Nabila, seorang wanita Palestina yang cantik, antusias, pandai, berbudaya, dan berani, tidak ada musuh rakyat Palestina yang dapat mencabut kenangan itu dari kami.[]
BAGIAN KELIMA
Dari Beirut ke Jerusalem
1985 -1988
Dua Puluh Empat
Tim medis kami kembali ke London pada Agustus 1985. Ketika kami tengah berada di Beirut, muncul respons luar biasa dari masyarakat di Inggris, mereka ingin mendukung kerja sosial organisasi amal kami. Dr. Rafiq Hussaini, Direktur MAP, benar-benar harus bekerja keras selama kepergian kami. Ia adalah seorang berdarah Palestina kelahiran Jerusalem dan menikah dengan seorang wanita berkebangsaan Inggris. Sebelum menjadi Direktur sekaligus pendiri MAP, ia bekerja di Loughborough dan merupakan seorang peneliti mikrobiologi di Universitas Birmingham. Ia meninggalkan posisi itu agar dapat mengemban tanggung jawab memimpin dan mengambil keputusan bagi organisasi amal kami. Ia juga adalah saudara sepupu dr. Azzizah Khalidi, wanita Palestina yang mengelola Rumah Sakit Gaza pada 1982. Seperti Azzizah, ia adalah seorang yang lembut, sabar, dan senantiasa optimistis menghadapi bencana yang paling buruk sekalipun.
Sebelum keberangkatan kami, organisasi amal ini telah memasang sebuah iklan kecil yang mengatakan bahwa kami membutuhkan tenaga sukarelawan dokter. Iklan ini berhasil menarik minat sekitar enam puluh pendaftar. Uang pun mengalir masuk. Walaupun hanya sedikit dana yang kami peroleh dari
institusi-institusi ternama, kami menerima cukup banyak dana dari para penyumbang perorangan. Kantor kami dibanjiri berbagai macam sumbangan, selembar uang kertas satu poundsterling dari seorang pensiunan, selembar uang kertas lima poundsterling dari seorang janda, sumbangan lainnya berasal dari seorang pengangguran, dan masih banyak lagi.
Sumbangan-sumbangan tersebut biasanya diiringi dengan sebuah surat. Salah satu contoh yang sering kutemui adalah sebagai berikut:
"Yang terhormat Medical Aid for Palestinians (MAP),
"Saya membaca berbagai upaya yang Anda lakukan di Lebanon. Mohon diterima sumbangan kecil-kecilan dari saya ini sebesar 2 untuk mendukung perjuangan Anda. Saya minta maaf tidak dapat memberi lebih karena saya adalah pengangguran. Semoga Tuhan memberkati kalian semua. Dari....11
Surat-surat yang menyertai sumbangan semacam itu membuatku yakin bahwa kedermawanan tidak berbanding lurus dengan kekayaan. Semakin miskin seseorang, semakin siap ia untuk menyumbang berapa pun jumlahnya. Pertama kali kami menerima cek senilai lima puluh poundsterling adalah dari seorang pengangguran, dan aku menangis karenanya. "Uang tunjangan" yang diterima para pengangguran di Inggris setiap minggu adalah sebesar dua puluh satu poundsterling. Jadi, cek yang ia berikan itu senilai dengan uang yang didapatnya dari  pemerintah  untuk  dua  minggu.   Cek  kedua
senilai itu kami terima dari seorang pensiunan dengan sebuah catatan, "Yang terhormat MAP, tolong terimalah ini untuk mendukung kerja sosial Anda semua. Maaf, jumlahnya tak lebih...." Yang ketiga adalah dari seorang wanita yang menulis, "Yang terhormat MAP, saya adalah seorang janda. Namun saya ingin memberikan ini untuk anak-anak di kamp pengungsi di Lebanon, karena mereka lebih membutuhkannya daripada saya...."
Kantor kami juga berkembang. Banyak orang yang datang untuk membantu, mereka menempelkan prangko, mengeposkan surat-surat, merapikan dus-dus, dan menyusun acara-acara penggalangan dana bagi warga Palestina. Para simpatisan kamilah yang membuat proyek kami untuk Lebanon dapat terus berjalan, merekalah yang menggalang dana dan melakukan berbagai pekerjaan. Sering kali ketika orang-orang di Lebanon berterima kasih kepadaku atas setiap pekerjaan yang telah kulakukan, mereka tidak menyadari bahwa upaya tim medis kami bisa berhasil berkat bantuan banyak orang di Inggris. Mereka adalah sahabat sejati orang-orang Palestina dan Lebanon, kendatipun mereka tak pernah punya kesempatan untuk bertemu muka.
Pada 1986, MAP pindah ke kantor baru. Untuk menghemat biaya sewa, Rafiq Hussaini menyewa basement sebuah gedung perkantoran di London. Ruangan itu tampak terbengkalai sebelum kami pindah ke sana. Namun, setelah kami bekerja cukup keras membenahinya, ruangan itu menjadi lebih pantas untuk ditempati. Dindingnya kami cat warna
krem, kami pasang karpet yang nyaman di lantai, ventilasi udara yang efektif, dan lampu penerangan yang memadai. Di sini, kantor kami dilengkapi dengan word processor, sebuah ruangan desain, dan sebuah ruang pameran dan penjualan. Kami memasang delapan buah pesawat telepon, sebuah mesin teleks, dan faksimile.
Oleh karena MAP sangat bergantung pada keberadaan para sukarelawan, tersedia banyak sekali meja dan kursi di aula utama, sehingga para sukarelawan dapat duduk dan bekerja di sana. Mereka membuat bon-bon tanda terima, surat-surat pernyataan terima kasih, dan dus-dus berisi barang-barang dagangan, seperti t-shirt bersablon, mug, kartu ucapan, dan kain berhias sulaman khas Palestina. Dinding-dinding biasanya dipenuhi lukisan-lukisan yang disumbangkan ke MAP untuk dijual.
Sejak 1985 hingga 1987, organisasi amal kami telah mengirim ke Beirut lebih dari enam puluh orang sukarelawan medis dari sembilan kewarga negaraan yang berbeda-beda. Sering kali, Lebanon menjadi tempat yang sangat berbahaya, bom, granat, dan tembakan dari para penembak jitu adalah kenyataan yang harus dihadapi. Namun, bagi orang asal Eropa, penculikan adalah ancaman utama. Lebih dari sekali kami harus mengungsikan orang-orang kami dari Lebanon karena nyawa mereka benar-benar terancam. Meskipun begitu, para dokter, perawat, dan petugas kesehatan tetap berdatangan, dengan sukarela menyumbangkan keahlian dan tenaga untuk mempertaruhkan nyawa demi merawat
para korban yang terluka maupun yang terserang penyakit di Lebanon.
Biaya hidup yang kami berikan kepada para sukarelawan sangatlah rendah, hanya cukup untuk sekadar menyambung hidup di dalam kamp-kamp pengungsi. Kami berhasil menyeleksi orang-orang terbaik, yaitu mereka yang memiliki komitmen tinggi, bukannya mereka yang menyangka bahwa tugas di Lebanon itu akan mendatangkan keuntungan materiil. Para dokter dan perawat kami terkadang bahkan menawarkan untuk membiayai sendiri kepergian mereka ke Lebanon.
Semua staf kami harus memberikan pelayanan kepada siapa pun di Lebanon, tanpa memandang ras, warna kulit, ataupun agama. Sudah cukup banyak penggolong-golongan di negara itu, kedatangan tenaga kesehatan asing tidak boleh membuat keadaan bertambah buruk.
Dalam program Lebanon, aspek "birokrasi" sangatlah penting. Kami harus yakin bahwa kami menjelaskan keadaan di Lebanon kepada para sukarelawan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kami harus melakukannya dengan sistematis. Kami harus memaparkan risiko-risiko yang akan mereka hadapi dan para sukarelawan harus menandatangani formulir pernyataan bahwa mereka memahami bahaya yang akan dihadapi dan bersedia menanggung risikonya.
Walaupun tidak bisa membayar mahal para sukarelawan, kami harus membayar biaya asuransi untuk menjamin mereka dari ancaman perang, perang
sipil, dan penyerbuan. Klausul-klausul tersebut mem-buat biaya premi asuransi menjadi lebih besar daripada biasanya. Lebih parah lagi, kami tak dapat menemukan perusahaan asuransi yang mau memberikan polis yang meliputi risiko penculikan di Lebanon.
Kami harus senantiasa menghadapi sebuah dilema, haruskah kami tetap mengirim para sukarelawan tersebut ke wilayah yang demikian berbahaya dan kondisinya tak menentu? Tapi kami menganggap bahwa kami punya kewajiban untuk bertindak sebagai penghubung antara orang-orang Lebanon yang membutuhkan bantuan dan orang-orang Inggris yang ingin memberikan bantuan. Sangatlah tidak bertanggung jawab jika kami membiarkan hubungan di antara mereka itu terputus. Jadi, kami melanjutkan program pengiriman sukarelawan ini dan berusaha mengatasi kekhawatiran yang ditimbulkannya. Rafiqlah yang harus menanggung beban tanggung jawab terbesar dari program sukarelawan ini. Namun, beberapa dari kami, seperti aku, masih berangkat tidur setiap malam dengan kekhawatiran akan menerima telepon SOS jarak jauh dari para sukarelawan kami. Pada saat itu, aku telah kembali ke jabatanku sebagai Pegawai Pencatat Senior Bidang Ortopedis di Royal Victoria Infirmary, Newcastle-upon Tyne. Tanggung jawab klinis yang diemban untuk jabatan ini sangat banyak, tetapi tanggung jawab program Lebanon ini terus meningkat meskipun energiku terus menipis.
Rafiq tengah cuti dari tugas-tugas MAP untuk
mengunjungi keluarganya di Yordania ketika bencana itu terjadi. Pada Januari 1987, kantor kami menerima sebuah pesan teleks yang menggemparkan dari para sukarelawan kami yang sedang bertugas di kamp Bourj el-Brajneh. Isinya sebagai berikut:
Kami, sebagai petugas medis asing yang tinggal dan bertugas di kamp Bourj el-Brajneh, menyatakan bahwa situasi di kamp sedang dalam keadaan kritis dan tidak manusiawi. Kamp ini kini telah dikepung selama lebih dari dua belas minggu dan kami beserta dua puluh ribu orang penghuninya berada dalam keadaan yang sangat kekurangan dan memprihatinkan. Air minum adalah kebutuhan paling mendasar manusia. Kebanyakan rumah di sini tidak memiliki persediaan air minum dan mereka harus mengambilnya setiap hari dari keran-keran di jalanan. Padahal, setiap orang yang melakukannya menghadapi risiko yang sangat besar. Beberapa wanita yang sedang mengambil air untuk keluarganya telah tewas tertembak. Persediaan makanan benar-benar kosong. Tidak ada makanan bayi maupun susu, dan bayi-bayi ini terpaksa minum teh dan air. Tidak ada tepung dan roti, tidak ada makanan segar sehingga ibu-ibu hamil dan anak-anak menderita kekurangan gizi. Para warga memakan makanan basi dan terserang muntaber. Banyak keluarga yang kini tak punya persediaan makanan. Sekarang musim dingin dan
pasokan listrik ke kamp diputus sejak dua setengah bulan yang lalu. Orang-orang kedinginan dan terserang radang paru-paru. Banyak tumpukan sampah yang tidak dapat dibersihkan dan tikus-tikus dengan cepat berkembang biak. Seorang wanita tua yang tidak mampu bangkit dari tempat tidurnya, kakinya digerogoti tikus-tikus itu selama tiga malam berturut-turut, sebelum akhirnya diselamatkan. Pengeboman yang terus-menerus memaksa para penduduk berkumpul di bunker-bunker perlindungan yang berventilasi buruk dan tak punya sanitasi, atau menanggung risiko terkena bom di rumah mereka sendiri. Ratusan anak-anak terserang penyakit kudis dan banyak yang menderita infeksi kulit. Sekitar tiga puluh lima persen rumah-rumah di Bourj el-Brajneh kini telah hancur. Di rumah sakit, banyak obat-obatan yang habis dan kami tak punya lagi perban. Bangunan rumah sakit menjadi tidak stabil karena terus-menerus dilempari granat. Para pasien serta perawat terluka karena pecahan bom. Air menetes dari dinding dan jamur tumbuh di setiap ruangan. Kami menyatakan keadaan ini tidak manusiawi, dan berdasarkan alasan-alasan kemanusiaan kami meminta penyerangan dihentikan dan agar organisasi-organisasi bantuan internasional mengirimkan makanan serta obat-obatan.
DR. PAULINE CUTTING, DOKTER AHLI BEDAH INGGRIS
BEN ALOFS, JURU RAWAT BELANDA
SUSAN WIGHTON, JURU RAWAT SKOTLANDIA
23 Januari 1987
Mike Holmes mengontakku dan memintaku datang ke kantor MAP untuk membahas keadaan tersebut. Aku tiba di sana dan kami membaca pernyataan itu. "Swee," kata Mike setelah kami selesai membaca pesan itu, "apa yang akan kita lakukan?"
Mike adalah pegawai humas kami yang baru. Seorang pendukung rakyat Palestina yang penuh semangat, ia baru saja tiba dari Skotlandia untuk bergabung dengan kami di MAP. Sebagaimana para pegawai lainnya yang menghabiskan waktu berjam-jam bekerja di kantor kami, menggalang dana, dan menyebarluaskan publikasi tentang situasi di kamp, Mike belum pernah pergi ke Timur Tengah.
"Aku tidak tahu, Mike," balasku. "Tapi kelihatannya semua orang di sana perlahan-lahan akan mati sekarat karena blokade yang berkepanjangan. Sekarang hari Jumat. Sebaiknya akhir pekan ini kita sebarkan panggilan darurat dan mengumpulkan semua orang. Bisakah kamu memberi tahu teman-teman Pauline dan Suzy tentang apa yang terjadi?" "Tentu," ucap Mike.
"Oh,   dan   sebaiknya   kita   memastikan   agar orang-orang yang sepanjang waktu hanya mengobrol dan tak pernah mengerjakan tugas, tidak datang ke kantor kita dan mengganggu pekerjaan kita."
Dengan segera Mike berangkat untuk mengerjakan semua instruksiku. Hal yang membuat kami sangat jengkel adalah penyerangan itu sepertinya telah berlangsung selama sekurang-kurangnya tiga bulan, tapi tidak ada pemberitaan di media massa Inggris. Kami berasumsi bahwa para sukarelawan kami di Bourj el-Brajneh pasti telah berusaha menghubungi kami, tetapi mereka tidak berhasil melakukannya karena terkepung. Kami tahu bahwa Rasyidiyah, sebuah kamp pengungsi Palestina dekat Sour, juga sedang diserang, dan kami tengah berupaya untuk menolong orang-orang di sana, tapi kami tak pernah menyadari bahwa kamp-kamp Beirut di Bourj el-Brajneh dan Shatila pun sedang diserbu dan diduduki. Pers Barat berkonsentrasi pada kemelut PLO di Magdoushe, sebuah desa Kristen dekat Saida, tapi tak ada satu pun pemberitaan tentang kamp.
Kami sangat marah membaca pernyataan tiga orang sukarelawan kami, dan marah pada diri kami sendiri karena tidak menyadari betapa buruk keadaan di sana. Rasanya sangat berat menyampaikan kabar ini kepada keluarga para sukarelawan, tapi kami tahu kami harus melakukannya. Salah seorang sukarelawan kami di kamp Bourj el-Brajneh adalah seorang ahli fisioterapi berkebangsaan Austria bernama Hannes. Meskipun bertugas di kamp Bourj el-Brajneh, ia tidak ikut menandatangani pesan teleks tersebut. Kami tahu ia masih hidup karena koordinator NORWAC di Beirut telah melakukan kontak dengannya melalui radio setelah pesan teleks itu dikirim. Suatu hari, polisi mendatangi kantor
kami di London, mereka telah diminta oleh polisi Austria untuk mencari informasi tentang kami. Ternyata ibu Hannes yakin bahwa putranya telah mati dan kami menyembunyikan fakta itu darinya! Jadi, kami harus berusaha agar semua keluarga, termasuk keluarga Hannes, mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tak lama kemudian, kami menerima pesan yang memilukan dari para sukarelawan kami di Beirut:
Kami menyatakan bahwa situasi di kamp Bourj el-Brajneh tidak dapat ditoleransi lagi. Kamp ini telah dikepung oleh pasukan musuh selama lebih dari 14 minggu. Dua minggu yang lalu kami mengirim pernyataan bahwa sebentar lagi persediaan makanan di kamp akan habis dan keadaan menjadi kritis. Kami masih terkepung dan sekarang orang-orang di kamp mulai kelaparan. Kami melihat anak-anak mengais-ngais tumpukan sampah demi mendapatkan sisa-sisa makanan. Hari ini, seorang wanita ditembak ketika sedang mengumpulkan rerumputan di pinggiran kamp agar dapat memberi makan ketujuh anaknya yang sudah tak punya lagi makanan. Beberapa wanita dan anak-anak membahayakan nyawa mereka dengan keluar dari kamp dan banyak anak kecil dijebloskan ke penjara. Beberapa dari mereka yang kehabisan makanan kini memakan anjing dan kucing agar dapat bertahan hidup. Kami menyerukan kepada semua pihak yang berperang untuk menghentikan per-
tempuran dan kami menyeru PBB untuk mengupayakan gencatan senjata dengan segera, sehingga organisasi bantuan internasional dapat masuk dengan membawa makanan dan obat-obatan, agar pembantaian ini dapat dihentikan.
Orang-orang di kantor kami di London sangat sedih menerima berita ini. Aku punya firasat bahwa sebentar lagi sesuatu yang buruk akan terjadi. Bencana ini mengingatkan kembali pada masa-masa suram 1982, ketika kamp-kamp dikepung. Saat itu, kami menyerukan agar dunia internasional mengirimkan bantuan, tapi tak satu pihak pun menjawabnya. Ketika penyerbuan dihentikan pada 1982 dan dunia luar diperbolehkan memasuki kawasan bekas perang, jalanan dipenuhi mayat-mayat yang bergelimpangan. Kali ini, penyerbuan tersebut mendapatkan perlawanan dari orang-orang di kamp sehingga pembantaian tidak mudah dilakukan.
Namun, peperangan kali ini telah menguras banyak energi. Mungkin penduduk kamp akan kelaparan sehingga akhirnya menyerah. Kemudian, saat keluar dari tempat-tempat perlindungan, mereka akan diberondong peluru. Ini sudah pernah terjadi, pengepungan Tel-al Zaatar pada 1976 baru berakhir setelah enam bulan dan berujung pada terbantainya tiga ribu orang justru setelah kamp tersebut menyetujui gencatan senjata dan evakuasi oleh Palang Merah Internasional. Seorang teman wartawan memberitahuku kondisi Tel-al Zaatar tak lama setelah penyerangan itu. Ia mengunjungi kamp ter-
sebut ketika buldoser sedang meratakannya. Mayat-mayat berserakan di mana-mana. Buldoser-buldoser melindas mayat-mayat itu dan membenamkannya ke dalam tanah.
Kelaparan adalah senjata yang efektif. Semua orang yang pernah mengalaminya pasti tahu seperti apa rasanya. Kelaparan dapat membuat bahkan orang-orang Palestina yang terkenal tabah itu menyerah kalah. Lalu ada pula kehausan. Aku ingat kisah yang diceritakan seorang anak yatim piatu dari Tel al-Zaatar, "Di malam hari, ibu-ibu pergi mengambil air minum. Sumur-sumur berada di tempat-tempat terbuka yang ditembaki terus-menerus. Ibu-ibu memberi ciuman perpisahan kepada anak-anak mereka sebelum keluar rumah, karena mereka tidak tahu apakah akan dapat melihat anak-anak mereka lagi." Dari kesepuluh wanita yang pergi mengambil air minum di Tel al-Zaatar pada suatu malam, hanya empat yang kembali, sisanya tewas tertembak.
Pada Januari 1987, berita yang sampai di kantor MAP mengabarkan bahwa warga Palestina di kamp telah meminta fatwa para ulama agar mereka diizinkan memakan mayat. Ini menunjukkan bahwa kematian membayangi mereka semua yang berada di kamp. Bahkan pada puncak serangan pasukan Israel pada 1982, tak seorang pun yang terpaksa harus memakan kucing maupun anjing, pada 1987 orang-orang bahkan terpikir untuk memakan tubuh manusia.
Aku beranjak ke rak penyimpanan dokumen di dalam kantor dan menarik keluar sebuah dokumen
bertuliskan "Sukarelawan Medis". Di dalamnya terdapat empat bundel formulir lengkap dengan foto-foto Ben Alofs, Pauline Cutting, Susan Wighton, dan Hannes. Aku merasa sedih memikirkan bahwa aku mungkin takkan pernah melihat mereka lagi. Ben telah kukenal sejak 1982, Pauline dan aku hanya pernah bertemu sekali, Susan dan Hannes hanya kukenal lewat penuturan Alison yang telah bergabung dalam tim dokter pertama yang kami kirimkan ke Lebanon pada 1985.
Namun, karena telah berulang-ulang melihat formulir dan foto mereka, aku merasa seolah-olah telah mengenal mereka sepanjang hidupku. Mereka adalah empat orang pemuda-pemudi yang hebat, yang pergi jauh hanya untuk menolong orang-orang asing, apa yang telah mereka lakukan sehingga pantas menerima nasib seperti itu di dalam kamp?
Pada Agustus 1985, dalam sebuah ruangan kecil dipenuhi para wartawan, aku pertama kali bertemu Pauline Cutting. Aku baru saja kembali dari Beirut dan sedang berbicara dalam sebuah konferensi pers mengenai keadaan di kamp-kamp pengungsi Palestina. Karena tubuhku sangat pendek, tak seorang pun dapat melihatku karena tertutup kerumunan orang. Pemimpin organisasi amal kami, Mayor Derek Cooper, membawakanku sebuah kursi dan aku berdiri di atasnya sementara aku berbicara. Ketika aku sedang melepaskan sepatuku untuk naik ke atas kursi, Mayor Cooper berbisik kepadaku, "Ada seorang dokter bedah muda cantik yang ingin menjadi sukarelawati ke Lebanon. Anda mau ber-
bicara dengannya setelah ini?"
Demikianlah pertemuanku dengan Pauline. Sekarang, hampir satu setengah tahun berlalu, tetapi aku masih mengingatnya dengan baik. Ia mempunyai wajah yang sensitif, dan terlihat seolah-olah secara naluriah dapat merasakan penderitaan orang lain. Semoga Tuhan melindunginya dari segala keburukan!
Tak ada gunanya mencemaskan keselamatan para sukarelawan kami di kamp yang tengah diserang, atau merasa bersalah karena kondisi menjadi sedemikian buruk. Kami harus melakukan sesuatu, berusaha sebisa mungkin mengabarkan keadaan ini, menyerukan supaya penyerangan tersebut dihentikan, dan kami harus berupaya membawa pulang orang-orang kami. Aku memutuskan meninggalkan pekerjaanku sebagai dokter bedah ortopedis di National Health di Inggris sampai semua masalah ini beres.
Pada awal Februari 1987, beberapa peristiwa di Lebanon sekali lagi menarik perhatian media massa Inggris, para penculik mengancam akan membunuh beberapa orang sandera jika tuntutan mereka tidak dipenuhi dalam tenggat waktu yang ditentukan. Terry Waite juga telah diculik. Mike Holmes berhasil mengupayakan supaya aku tampil di sebuah acara stasiun televisi BBC untuk mendiskusikan masalah penyanderaan di Lebanon. Tentu saja aku menganggap bahwa para sukarelawan kami yang terperangkap di kamp-kamp adalah sandera juga. Bahkan, semua warga Palestina yang terke-
pung dalam penyerbuan di kamp Shatila, Bourj el-Brajneh, dan Rasyidiyah semuanya adalah sandera.
Setelah program itu selesai, aku memperkenalkan diriku kepada editor program siaran berita luar negeri BBC dan menunjukkan kepadanya salinan pernyataan para sukarelawan kami. Sebagai seorang yang pernah disandera, ia memahami penderitaan orang-orang yang terperangkap dalam penyerangan. Aku berkata padanya, "Nyawa dua puluh lima ribu warga Palestina dan para sukarelawan kami bergantung pada liputan Anda mengenai situasi ini." Ia menyetujui untuk membuat liputan tentang kamp tersebut, dan sebagai hasilnya, kantor kecil kami dibanjiri para wartawan selama beberapa hari berikutnya.
Meskipun telah diberitakan besar-besaran secara internasional, penyerangan tersebut tidak juga dihentikan. Setiap kali Nabih Berri pemimpin pasukan milisi Amal yang menyerbu kamp mengumumkan bahwa penyerangan akan dihentikan dan kiriman makanan akan diizinkan memasuki kamp, tak lama kemudian tersiarlah berita bahwa konvoi bala bantuan telah diusir dan bahkan ditembaki.