Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Tears of Heaven Part 2


Tidak diragukan lagi bahwa mereka sangat memusuhi kami, mereka meneriaki dan memaki-maki kami karena menjadi teman dan pendukung bangsa Palestina. Salah seorang dari tentara itu adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjang hitam dan keriting serta mata biru yang dingin. Tingkah lakunya sangat mengerikan, ia betul-betul murka ketika aku mengatakan kepadanya bahwa aku seorang Kristiani. Ia membentak, "Kamu orang Kristen tapi berani-beraninya membantu orang-orang Palestina! Dasar jalang!"
Mereka menjatuhi kami sebuah hukuman pura-pura. Aku terlibat dalam pertengkaran hebat dengan orang-orang itu sampai aku tidak menyadari bahwa hal itu terjadi. Yang ada di benakku adalah sekelompok orang brengsek ini telah menggiring kami keluar dari rumah sakit agar mereka dapat membunuhi pasien-pasien kami. Rekan-rekanku kemudian memberitahuku bahwa kami diminta menyerahkan semua barang kami, melepas seragam putih kami, dan berdiri menghadap tembok. Dua buah  buldoser  telah  bersiap   untuk  merobohkan
tembok tersebut dan mengubur kami. Sekelompok tentara dengan senapan mesin berdiri seolah-olah bersiap untuk menembaki kami.
Jika dipikir-pikir kembali, aku ingat bahwa apa yang mereka katakan itu memang benar. Aku ingat melepas jubah dokterku, kemudian berjalan menuju ke depan sebuah tembok. Aku bahkan ingat saat itu aku mengamati kalau-kalau buldoser-buldoser itu hendak mengubur mayat-mayat di balik tembok yang rendah tersebut. Namun, aku dibutakan oleh amarah, bahkan terlalu marah untuk menjadi paranoid. Hukuman pura-pura berhasil jika dapat men-ciptakan rasa takut. Tapi, pagi itu aku terlalu marah untuk merasa takut. Kami ditahan di halaman tersebut selama lebih dari satu jam. Pada sekitar pukul sembilan seperempat atau setengah sepuluh pagi, seorang petugas Israel tiba dan memberi tahu mereka untuk membawa kami ke markas Israel. Kami pergi ke sana dengan berjalan kaki melalui sebuah jalan raya yang sejajar dengan jalan utama kamp. Markas tersebut adalah sebuah gedung berlantai lima atau enam di atas sebuah bukit. Dapat kulihat tentara-tentara Israel berdiri di lantai atas, mengamati kamp-kamp dengan menggunakan teropong.
Di hadapan kru film Israel, mereka menjamin akan menempuh segala kemungkinan untuk menjaga keselamatan pasien-pasien kami. Mereka juga menjamin bahwa kami akan dibantu untuk meninggalkan Beirut Barat. Kami juga diberi makan dan minum. Dua orang dokter pria dan satu orang perawat wanita dibolehkan kembali ke Rumah Sakit Gaza
untuk menolong para pasien, tetapi sisanya diangkut dengan dua buah truk tentara Israel ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di luar wilayah kamp, dan diminta untuk tetap berada di sana. Meskipun kebanyakan dari kami mengatakan ingin kembali ke Rumah Sakit Gaza, para petinggi Israel itu memperingatkan kami bahwa keadaan di sana sangat rawan. Hanya tiga orang itulah yang dikawal untuk pergi ke rumah sakit.
Sementara itu, di dalam kamp, para pembunuh itu sedang sibuk. Perawat asal Swedia yang ditinggalkan di Rumah Sakit Gaza kemudian memberikan kesaksian bahwa setengah jam setelah kami pergi, ia mendengar suara rentetan tembakan senapan mesin yang berlangsung selama dua puluh sampai tiga puluh menit, berbarengan dengan jeritan wanita dan anak-anak. Setelah itu, suasana menjadi sunyi senyap. Peristiwa itu terjadi antara pukul 7.30 hingga 8.30 pagi.
Seorang wartawan koresponden BBC yang tiba pada pukul 9.30 pagi di Rumah Sakit Gaza mengatakan bahwa mayat-mayat ditumpuk dalam satu tumpukan terdapat sepuluh mayat atau lebih berjajar di jalan utama kamp, jalan yang baru saja kami lewati dengan berjalan kaki. Kebanyakan dari mayat itu adalah wanita dan anak-anak. Setengah jam kemudian, seorang kru film asal Kanada merekam Jalan Sabra yang dipenuhi mayat-mayat yang ditumpuk di setiap ruas jalan.
Para wartawan yang tiba setelah itu menyaksikan buldoser-buldoser sedang merobohkan bangu-
nan-bangunan sekaligus mengubur mayat-mayat di dalam puing-puing. Para pasien, mahasiswa kedokteran asal Jerman, dan perawat Swedia yang ditinggalkan di Rumah Sakit Gaza dievakuasi oleh Palang Merah Internasional.
Tentara-tentara Israel itu kemudian menurunkan kami di halaman gedung Kedubes Amerika Serikat di Beirut Barat. Aku tidak mau masuk, aku ingin kembali ke kamp. Tapi aku tahu aku tak bisa. Sementara teman-teman yang lain masuk ke gedung kedutaan, aku memutuskan pergi ke Commodore Hotel untuk berbicara dengan para wartawan di sana, dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Paul Morris ikut bersamaku.
Hari baru berganti siang ketika kami tiba di Commodore Hotel. Kami memasuki ruang pers, tempat para kru televisi baru saja kembali dari kamp dan memutar ulang apa yang baru saja mereka rekam di Sabra dan Shatila.
Pertama-tama, ada adegan penembakan di jalan utama kamp, jalan yang baru kami lalui pagi tadi. Tumpukan mayat terlihat di kedua sisi jalan. Setelah kami melewati jalan itu, orang-orang yang dikumpulkan itu ditembaki para tentara. Kemudian, tampilan chse-up mayat-mayat yang terletak di gang-gang kecil di kamp. Mayat-mayat yang ditumpuk di atas mayat-mayat lainnya tubuh-tubuh yang terpotong, dengan tangan-tangan yang terlepas tubuh-tubuh yang membusuk dan membengkak yang pastinya telah mati sehari atau dua hari yang lalu. Mayat-mayat yang tungkai lengan dan
kakinya masih terikat pada potongan-potongan besi, dan mayat-mayat yang dipenuhi tanda bekas habis dipukuli sebelum akhirnya dibunuh. Mayat anak-anak bocah perempuan dan laki-laki serta wanita dan pria yang sudah renta. Beberapa mayat masih digenangi merahnya darah, lainnya tergenang dalam cairan darah yang sudah kecokelatan, bahkan menghitam. Mayat-mayat wanita dengan baju yang terlepas dari tubuhnya, tetapi kondisinya terlalu rusak sehingga sulit mengatakan apakah mereka habis diperkosa atau disiksa hingga tewas.
Kamp-kamp itu dijaga ketat oleh tank-tank Israel, sehingga bahkan seorang anak kecil pun tak bisa menyelinap keluar. Kami meminta dua ribu orang yang bersembunyi di Rumah Sakit Gaza untuk melarikan diri, padahal mereka tak punya tempat untuk bersembunyi. Jadi, mereka semua ditangkap setelah keluar dari rumah sakit, dan banyak dari mereka yang kemudian dibunuh. Orang-orang yang penuh harapan untuk kembali hidup dalam kedamaian kini tinggal tubuh-tubuh yang rusak. Mereka ini adalah orang-orang yang beberapa bulan setelah pengeboman telah kembali dari tempat-tempat perlindungan untuk hidup dan tinggal di dalam kamp.
Beberapa hari yang lalu mereka tampak sangat optimis. Mereka percaya terhadap janji-janji Amerika dan negara-negara adikuasa lainnya bahwa mereka akan hidup dalam kedamaian jika orang-orang PLO itu pergi. Mereka semua mengira dijanjikan kesempatan untuk hidup tenang dan tenteram.
Beberapa hari yang lalu, aku menyaksikan saat-saat mereka menata kembali kehidupan dan rumah mereka. Aku pernah berbincang-bincang dengan wanita-wanita yang menyaksikan putra-putra, saudara-saudara, dan suami-suami mereka dievakuasi bersama-sama dengan PLO demi kesepakatan damai. Wanita-wanita ini pun kemudian mengambil senjata-senjata yang mereka tinggalkan untuk diserahkan kepada tentara-tentara Lebanon atau dilemparkan ke tong sampah. Aku pernah makan di rumah mereka dan minum kopi Arab bersama mereka. Keahlian bedahku memungkinkanku untuk merawat beberapa orang, menyelamatkan mereka, hanya untuk kemudian dikembalikan ke jalan, tanpa senjata, ditembaki lagi, dan kali ini berhasil. Aku benci ketidaktahuanku yang membuatku tertipu sehingga percaya bahwa kami semua punya harapan nyata akan terwujudnya perdamaian di Sabra dan Shatila sebuah kesempatan nyata untuk sebuah kehidupan baru. Sebagaimana setiap orang dari Barat, kupikir segalanya akan baik-baik saja setelah PLO pergi. Kupikir, keberadaan mereka itulah yang telah menyebabkan semua penyerangan terhadap kamp-kamp itu.
Aku mengira para orang lanjut usia dapat segera beristirahat setelah PLO pergi, dan anak-anak dapat tumbuh dewasa bukannya menerima peluru-peluru bersarang di kepala mereka, dan menyerahkan leher mereka untuk digorok. Aku merasa bodoh, benar-benar bodoh. Tak pernah terlintas di pikiranku bahwa hal ini akan terjadi. Saat itu benar-
benar suram. Aku merasa ditinggalkan oleh Tuhan, manusia, dan dunia yang tidak kenal belas kasihan. Bagaimana mungkin seorang anak kecil mengalami penderitaan dan teror dengan menyaksikan adegan-adegan penyiksaan, orang-orang yang mereka cintai dibunuh, rumah-rumah mereka dibom dan dilindas buldoser. Luka mental dan psikologis yang mereka alami mungkin takkan bisa hilang. Ada perbedaan yang sangat besar antara mati seketika dan menyaksikan orang-orang yang dicintai disiksa dan dibunuh, sambil menunggu giliran untuk mati juga.
Aku meninggalkan ruang press di Commodore Hotel dalam keadaan betul-betul lelah, baik fisik maupun mental. Aku tak ingin bertemu atau berbicara dengan orang-orang, jadi Paul membawaku ke sebuah flat kosong milik temannya. Aku bisa sendirian di sana. Mengapa hal ini terjadi? Segala perasaanku lenyap seolah-olah hatiku telah mati rasa. Hati yang telah diinjak-injak dan dibunuh di gang-gang di Sabra dan Shatila, dan dikuburkan di sana. Bagiku, tak ada lagi yang berharga di dunia ini. Segalanya telah usai.
Per datang ke flat untuk menemuiku pada malam harinya, dan menanyakan apakah aku sudah merasa lebih baikan untuk mengunjungi kamp keesokan harinya. Aku tidak ingat apakah aku berkata ya atau tidak. Akan tetapi, esok paginya, tanggal 19 September, kami dapat kembali ke Sabra dan Shatila. Kami melihat mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, pastilah banyak keluarga mati bersama, dan kuperhatikan ada mayat seorang pria
(kemungkinan seorang ayah) yang kelihatannya berusaha menggunakan tubuhnya untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari para pembunuh. Mereka semua dibantai tanpa ampun.
Jumlah mayat yang telah dihitung sebanyak seribu lima ratus. Kami mencoba kembali ke kamp lagi pada siang harinya, tapi ternyata kamp tersebut dijaga oleh tank-tank dan tentara Lebanon, kami juga melihat lima belas buah tank Israel meninggalkan tempat itu.
Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Tidak penting bagiku siapa yang menjadi pemicunya, yang penting adalah siapa yang mengendalikan keseluruhan operasi ini dan yang memerintahkannya. Tentunya orang-orang Israel yang bertanggung jawab. Mereka telah menginvasi Lebanon. Mereka telah menduduki Beirut Barat. Sama sekali tak masuk akal jika dikatakan bahwa mereka tak berkaitan dengan semua pembantaian ini, karena peristiwa itu terjadi ketika orang-orang Israel menyerbu para "teroris" Palestina. Kamp-kamp pengungsi Palestina itu pastilah sasaran utama mereka. Namun, belum jelas apakah orang-orang yang memasuki kamp untuk membantai orang-orang tak bersenjata itu adalah orang-orang Israel. Mereka makan makanan Israel dan membaca koran-koran Israel. Mereka adalah prajurit upahan Israel. Kamp-kamp tersebut pada malam hari diterangi oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan Israel ke angkasa sehingga para pembunuh itu dapat melakukan perbuatan keji tersebut.
Kami diminta untuk percaya bahwa orang-orang Israel yang dilengkapi kekuatan besar itu menginvasi Beirut Barat hanya untuk menangkap orang-orang Palestina. Entah bagaimana, mereka bisa melupakan tujuan awal mereka. Mereka membiarkan pasukan militer independen menyelinap di depan batang hidung mereka dan membantai wanita, anak-anak, dan pria-pria renta. Ini benar-benar mustahil.
Beberapa dari kami ingin mengetahui secara pasti apa yang telah kami saksikan itu. Dalam keadaan penuh amarah seperti itu, memang mudah menyalahkan Israel sebagai penyebab kematian orang-orang itu. Namun, para pembunuh tersebut tidak mengenakan seragam tentara Israel. Pada Senin 20 September, beberapa orang dari tim medis asing kami mendiskusikan pembantaian itu, dan kami berusaha mencermati beberapa fakta.
Pertama, bahwa pada Jumat malam itu, setelah keberangkatan para staf rumah sakit berkebangsa-an Palestina serta Azzizah Khalidi, sekelompok pemuda yang tidak dikenal para pegawai rumah sakit memasuki Rumah Sakit Gaza. Mereka berpakaian rapi, dan tidak seperti para penghuni kamp, mereka tidak tampak bersedih. Pada awalnya, mereka mencoba  mengajak bicara  orang-orang asing  dalam bahasa Arab,  namun mereka  beralih ke bahasa Jerman karena gagal menjelaskan dalam bahasa Arab. Mereka menanyakan keberadaan anak "yang tadi pagi lehernya akan digorok oleh suku Kata'eb". Mereka bicara dalam bahasa Jerman yang sempur naktar deutsch, begitu kata para pekerja medis asal
Jerman. Jadi, siapa sebenarnya mereka?
Kedua, seorang bocah laki-laki yang dikenal cukup baik di kalangan tim dokter, terakhir kali terlihat masih hidup pada hari Jumat antara pukul sepuluh hingga sebelas pagi di Rumah Sakit Gaza. Ia ditemukan tewas di dalam stadion pada hari Sabtu bersama anak-anak lainnya. Selama masa penawanan kami di markas besar Israel pada 18 September, seorang jenderal Israel memberi tahu kami bahwa stadion tersebut di bawah pengawasan para tentara Israel dan di sana mereka membangun semacam klinik. Bocah ini dibunuh setelah pukul sebelas pagi pada 17 September, di tempat yang seharusnya dijaga orang-orang Israel.
Ketiga, sebagian besar area pembantaian di kamp Sabra dan Shatila dapat dilihat oleh orang-orang Israel dari markas mereka. Jadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak tahu.
Keempat, semua jalan menuju kamp diawasi para tentara Israel. Merekalah yang menghalangi penduduk kamp yang hendak melarikan diri. Mereka itulah yang menggiring penduduk tersebut kembali ke kamp untuk dibantai oleh para pembunuh. Mereka itulah yang mengizinkan para wartawan memasuki area kamp setelah pembantaian berdarah itu dilakukan.
Kelima, orang-orang Israel itu banyak melakukan upaya untuk menimbulkan kesan pada kami bahwa mereka sebenarnya mencoba menyelamatkan kami dari "suku Haddad". Setidaknya, sebanyak tiga kali mereka  (orang-orang Israel) jelas-jelas
berbicara dengan "orang-orang Haddad" dalam bahasa Inggris, sehingga kami dapat mendengar bahwa mereka sedang merundingkan keselamatan kami. Permainan yang bodoh. Apakah mereka mencoba menanamkan kesan pada kami bahwa mereka telah menyelamatkan kami dari orang-orang Haddad? Lalu, mengapa mereka tidak mampu menyelamatkan orang-orang Palestina yang tak berdaya?
Keenam, mereka mencoba meyakinkan kami bahwa para tentara yang berada di sekitar Jalan Sabra, jalan utama kamp, sesaat sebelum pembantaian adalah orang-orang Haddad bersama beberapa orang Kata'eb. Anehnya, kedua suku tersebut membiarkan diri mereka terlihat oleh kami dan para wartawan serta orang-orang di sekitar kawasan itu, tetapi kemudian membantah campur tangan mereka dalam pembantaian tersebut. Hal ini membuat kami bertanya-tanya, siapa pembunuh sebenarnya. Berbagai pernyataan dari para petinggi atau pejabat pemerintah Israel memberi kesan bahwa yang bertanggung jawab terhadap pembantaian tersebut adalah orang-orang Kata'eb maupun Haddad. Tentunya orang-orang Israel itu tahu siapa yang melakukannya secara rasional, sebuah markas tentara pada saat terjadi konflik bisa dipastikan akan mewaspadai identitas orang-orang bersenjata yang terlihat dalam jarak satu kilometer.
Pada Rabu 22 September, dua orang dari kami kembali ke kamp Sabra dan Shatila dan berbicara kepada beberapa orang yang selamat dari pembantaian tersebut. Kami lantas mengetahui bahwa
banyak dari tentara yang melakukan pembunuhan itu tidak berbicara bahasa Arab dan bahwa di antara mereka terdapat beberapa orang Afrika berkulit hitam. Siapakah orang-orang bertampang Afrika ini? Apakah mereka tentara bayaran yang diimpor Israel untuk melakukan tugas ini? Dari manakah mereka datang?
Ada petunjuk lainnya bahwa beberapa pembunuh ini bukan orang-orang Arab, bukan juga orang-orang Lebanon. Kami menemukan fakta bahwa ketika dua orang dokter dan seorang perawat meninggalkan markas Israel pada 18 September untuk kembali ke Rumah Sakit Gaza, seorang kolonel ber-kebangsaan Israel mengeluarkan surat izin jalan dalam tulisan tangan berbahasa Ibrani seraya mengatakan kepada tiga orang petugas medis bahwa surat ini akan memudahkan mereka memasuki kamp. Mereka dibawa ke dalam sebuah jip Israel sampai setengah perjalanan menuju Rumah Sakit Gaza, lalu diturunkan di suatu tempat di dekat situ untuk melanjutkan dengan berjalan kaki. Salah seorang dokter mendesak agar surat izin tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab karena ia menganggap bahwa orang-orang Haddad, sebagai orang Lebanon, tidak bisa membaca tulisan Ibrani. Lalu, kolonel itu mengatkan bahwa surat izin jalan dalam bahasa Ibrani itu bisa dijadikan jaminan keselamatan bila diperlihatkan kepada "orang-orang Haddad". Namun, atas desakan dokter itu, akhirnya surat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kiranya,   siapa   pun   yang   menguasai   kamp-kamp
tersebut hanya bisa membaca tulisan Ibrani dan bukan Arab.
Selain itu, selama masa penawanan kami di halaman markas untuk diinterogasi, salah seorang pekerja medis wanita telah membuat sebuah dokumen tertulis untuk membuktikan bahwa ia bukan simpatisan PLO. Dokumen tersebut, ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab, menyatakan bahwa keberadaannya di sini adalah semata-mata untuk menolong rakyat Lebanon yang menderita. Salah seorang tentara yang menerima dokumen tersebut berusaha keras membaca bagian dokumen yang berbahasa Inggris, tetapi tidak membaca terjemahannya dalam bahasa Arab.
Hingga hari ini, aku masih berpikir siapa sebenarnya orang-orang bersenjata yang menyerbu kamp-kamp itu serta membunuh orang-orang di dalamnya. Beberapa orang dari kami menarik kesimpulan bahwa pembantaian tersebut adalah atas perintah Israel. Tidak terlalu penting apakah mereka menggunakan tentara bayaran maupun tentara mereka sendiri. Upaya mengaitkan pembantaian itu dengan para milisi Falangis mungkin memiliki dua tujuan pertama untuk melanggengkan permusuhan umat Islam dengan Kristen, dan kedua untuk mengguncang Lebanon. Mereka yang merencanakan pembantaian ini tahu bahwa suatu hari mereka harus pergi. Akan tetapi, suku Haddad dan Kata'eb adalah orang-orang Lebanon, dan mereka akan selalu berada di sana. Mereka yang selamat dari pembantaian itu akan hidup terus-menerus dalam
ketakutan, bahkan setelah orang-orang Israel mundur dari Beirut Barat, mereka tidak akan pernah merasa tenteram.
Aku berharap hal sebaliknya yang akan terjadi. Kuperkirakan bahwa orang-orang Kristen Lebanon akan marah karena dijadikan kambing hitam oleh orang-orang Israel. Kuharap pengorbanan 2.4DD orang Palestina dan Lebanon yang gugur di kamp Sabra dan Shatila (ini adalah pengumuman resmi yang dikeluarkan Palang Merah Internasional pada 22 September, berdasarkan perhitungan jumlah mayat yang ada) tidak akan sia-sia. Sebaliknya, mereka menyumbangkan sesuatu bagi persatuan rakyat Palestina dan Lebanon pada tahun-tahun mendatang. []
Tujuh
Setelah tinggal untuk sementara waktu di Kedutaan Amerika, banyak dari para kolegaku yang memutuskan pergi dari Lebanon. Aku tidak mau pergi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan teman-teman baikku tanpa mengetahui apakah mereka selamat atau mati terbunuh, dan jika mati, apakah tubuh mereka telah ditemukan dan dikuburkan. Bagaimana pula dengan para staf Rumah Sakit Gaza? Mereka semua menghilang. Apakah mereka masih hidup, sudah mati, atau sedang ditawan? Aku tak bisa pergi sebelum menemukan informasi lebih banyak tentang mereka.
Aku tahu pasti bahwa jika aku orang Palestina, aku pasti sudah dibantai seperti korban-korban lainnya. Mereka tidak merasa perlu memeriksa surat-suratku. Jelas-jelas orang Cina berbeda dengan orang Arab. Mereka hanya menyodokku dengan senapan sambil memaki-makiku. Oleh karena masih hidup dan selamat, aku berkewajiban untuk berbicara atas nama mereka yang gugur, yang tubuhnya terkubur di dalam puing-puing, dan yang tidak dapat lagi bersuara, untuk berbicara atas nama mereka yang masih hidup dan setiap detik berada dalam penderitaan menunggu maut, dalam kebisuan, tanpa suara. Tidak bersuara mewakili orang-orang yang dalam beberapa minggu terakhir ini
mulai mengisi tempat di hatiku adalah sebuah kejahatan. Aku bukan hanya orang yang berhasil selamat dari kebiadaban itu, melainkan juga saksi dari peristiwa itu.
Kami yang memutuskan tidak pergi berkumpul untuk menyusun sebuah dokumen berisi detail kejadian-kejadian di seputar pembantaian itu. Kebanyakan datanya diambil dari buku harianku, dengan sumbangan-sumbangan dari teman-teman lainnya dalam tim. Sebagai jaminan keasliannya, kutulis namaku di situ. Memang tidak menguntungkan mencantumkan namaku dalam sebuah pernyataan yang menyerang para pembunuh itu. Hal itu akan membuatku berada dalam bahaya, tetapi aku harus bertanggung jawab terhadap apa yang kukatakan dalam dokumen itu, jadi aku menandatanganinya. Dr. Paul Morris dan dr. Per Miehlumshagen bersedia menandatangani sebagian. Ini sangat berarti bagiku. Mereka pun memutuskan bahwa sudah waktunya aku tidur sejenak dan kemudian mengantarku ke tempat tidur. Aku ingin dokumen itu dikirim secepat mungkin, sehingga apabila aku mati, setidaknya dunia memiliki catatanku mengenai apa yang telah terjadi, termasuk siapa yang kuanggap bertanggung jawab terhadap pembantaian itu. Itu merupakan pernyataan kami, suatu catatan fakta. Ketika ada telepon dari London yang meminta dokumen itu, aku segera bangun dan pergi ke salah satu kantor badan amal untuk mengirimkan dokumen itu melalui mesin teleks kepada suamiku, Francis, di London.
Seorang wanita Kristen Lebanon yang baik hati
mengirimkan dokumen itu lewat mesin teleks untukku. Pengiriman itu membutuhkan waktu empat puluh menit. Dia terlihat sedih mengetahui apa yang telah terjadi pada orang-orang di kamp. Seiring melihat lembar tanda terima pengiriman yang keluar dari mesin teleks tersebut, aku merasakan kelegaan yang luar biasa karena pernyataan kesaksian kami telah berhasil terkirim. Di dalam dokumen itu, aku meminta Francis untuk menyebarluaskan pernyataan tersebut seluas-luasnya, dan memperingatkannya bahwa jika ada kabar aku tewas karena menginjak ranjau, pasti itu bukanlah kecelakaan. Aku menatap ke luar jendela, dan melihat semua jalan dipenuhi pasukan, mobil, dan tank Israel. Apa pun yang terjadi, kataku dalam hati, tidak akan ada yang dapat menghentikan penyebarluasan dokumen tersebut ke seluruh pelosok dunia. Ketika meninggalkan kantor badan amal tersebut, aku tidak lagi merasa cemas dan gelisah. Sejak saat itu, tidak masalah jika tiba-tiba aku mati terkena bom, karena aku telah melakukan apa yang harus kulakukan.
Keesokan harinya, aku kembali ke Sabra dan Shatila. Lebih banyak lagi mayat yang ditemukan di bawah reruntuhan puing-puing, dan bau busuk dari mayat-mayat tersebut memenuhi udara, membuatku merasa mual. Meskipun begitu, orang-orang telah kembali tinggal di dalam kamp. Sebagai orang Palestina, ke mana lagi mereka bisa pergi? Setelah diusir dari negeri mereka sendiri, Palestina, mereka dioper-oper dari satu negara Arab ke negara Arab lainnya,   dan   dari   Lebanon   Selatan   ke   Beirut.
Sebagian besar dari mereka sudah lelah ber- kelana terus-menerus. Mereka semua merasa sedih dan marah terhadap pembantaian itu, tetapi mereka tahu kakek mereka sendiri telah kehilangan rumah ketika melarikan diri dari pembantaian yang terjadi di Palestina. Kali ini, mereka ingin bertahan di Sabra dan Shatila.
Perjalanan kami kembali ke kamp merupakan saat-saat yang penuh kesedihan seiring kami mengetahui hal-hal yang buruk telah menimpa teman-teman dan kerabat-kerabat kami. Akan tetapi, saat itu juga merupakan saat yang sungguh melegakan bagi kami karena mengetahui bahwa orang-orang yang kami sangka telah mati ternyata masih hidup.
Seorang tenaga kebersihan di Rumah Sakit Gaza melihatku, lalu berlari ke arahku dan melingkarkan lengannya ke bahuku dengan bahagia karena mengetahui aku masih hidup. Namun, ketika ia melihat kalung salib di leherku, ia terpaku, lalu menjauh dariku. Dua orang anaknya telah mati dipenggal oleh orang-orang Kristen, dan simbol Kristiani menjadi sebuah simbol kematian baginya. Tetapi, ia berhasil menguatkan dirinya dan menerima kenyataan bahwa pembantaian itu tak ada hubungannya dengan agama Kristen. Tuhan tidak mengkhianati makhluk-Nya, tidak pernah, dulu maupun sekarang. Sebaliknya, manusialah yang sekali lagi mengkhianati Tuhan. Aku mendekapnya erat-erat di dadaku, dan wanita itu menangis cukup lama.
Rumah Sakit Gaza luluh lantak, dan semua peralatan medis di dalamnya telah dijarah oleh para
tentara bersenjata yang menduduki kamp-kamp tesebut. Nasib rumah sakit kini menjadi tidak menentu, orang-orang Israel ingin menutup semua institusi milik Palestina. Pusat Penelitian Palestina di Beirut pun ditutup. Semua arsip di dalamnya juga dirampas oleh para tentara Israel. Mereka pun ingin mengumumkan Bulan Sabit Merah sebagai organisasi ilegal.
Di seluruh penjuru Beirut, para tentara Israel mebangun pembatas-pembatas jalan dan menghentikan semua kendaraan agar para penumpangnya dapat digeledah, dan jika ditemukan orang Palestina, mereka akan menawannya. Ruas-ruas jalan ditutup untuk umum dan dilakukan pencarian orang-orang Palestina dari rumah ke rumah. Para pemilik bangunan diperintahkan untuk menyerahkan para penyewa Palestina. Orang-orang Lebanon yang ketahuan berusaha menyembunyikan orang Palestina dipukuli. Semua hak milik orang-orang Palestina dianggap sebagai harta rampasan perang.
Pada hari-hari itu, apabila seseorang ketahuan memiliki kartu identitas berkewarganegaraan Palestina, ia bisa saja diciduk begitu saja tanpa alasan. Banyak dari mereka menghilang. Jadi, dapat dibayangkan betapa leganya aku ketika bertemu dengan sejumlah pegawai PRCS yang masih hidup di lantai enam kantor Palang Merah Internasional. Aku merasa senang, terutama melihat ketiga wajah temanku Ummu Walid, wanita yang menjadi Direktur PRCS di Lebanon, Hadla Ayubi, Direktur humas PRCS, dan sahabatku Azzizah Khalidi, administrator
Rumah Sakit Gaza. Palang Merah Internasional telah memberikan suaka kepada mereka di dalam sebuah bangunan, demi menghindarkan mereka dari usaha penculikan maupun pembunuhan.
Kehidupan mereka bagaikan di ujung tanduk. Walaupun begitu, mereka tetap menjaga kehormatan diri serta bersikap tegar. Aku menangis ketika melihat ketiga orang itu, tetapi Hadla menenang-kanku dan memintaku untuk tetap tegar. Setelah dua hari dalam perlindungan, mereka secara suka rela meninggalkan bangunan itu untuk kembali bekerja. Hal itu tidak mudah, mereka harus berunding tentang status resmi PRCS, tentang pembukaan kembali Rumah Sakit Gaza, dan tentang keselamatan para pasien serta stafnya.
Hadla Ayubi adalah orang yang memegang tanggung jawab mengoordinasi ratusan sukarelawan medis asing selama masa pendudukan Israel. Tugas ini sungguh sulit karena membutuhkan kesabaran yang luar biasa, kebijaksanaan, dan pengertian. Para anggota PRCS telah mengalami berbagai penderitaan selama penyerangan, dan banyak tenaga asing yang tidak dapat memahami hal itu. Jika Rumah Sakit Akka dibom, dan tidak dapat digunakan sampai diperbarui lagi, ada dua reaksi yang mungkin muncul dari para tenaga asing ini. Sebagian dari mereka akan memahami situasi itu dan bahkan mungkin membantu para staf PRCS membersihkan puing-puing. Namun, sebagian lainnya akan menemui para wartawan Barat dan mengatakan kepada mereka bahwa kedatangan mereka ke Beirut hanya tentara bersenjata yang menduduki kamp-kamp tesebut. Nasib rumah sakit kini menjadi tidak menentu, orang-orang Israel ingin menutup semua institusi milik Palestina. Pusat Penelitian Palestina di Beirut pun ditutup. Semua arsip di dalamnya juga dirampas oleh para tentara Israel. Mereka pun ingin mengumumkan Bulan Sabit Merah sebagai organisasi ilegal.
Di seluruh penjuru Beirut, para tentara Israel mebangun pembatas-pembatas jalan dan menghentikan semua kendaraan agar para penumpangnya dapat digeledah, dan jika ditemukan orang Palestina, mereka akan menawannya. Ruas-ruas jalan ditutup untuk umum dan dilakukan pencarian orang-orang Palestina dari rumah ke rumah. Para pemilik bangunan diperintahkan untuk menyerahkan para penyewa Palestina. Orang-orang Lebanon yang ketahuan berusaha menyembunyikan orang Palestina dipukuli. Semua hak milik orang-orang Palestina dianggap sebagai harta rampasan perang.
Pada hari-hari itu, apabila seseorang ketahuan memiliki kartu identitas berkewarganegaraan Palestina, ia bisa saja diciduk begitu saja tanpa alasan. Banyak dari mereka menghilang. Jadi, dapat dibayangkan betapa leganya aku ketika bertemu dengan sejumlah pegawai PRCS yang masih hidup di lantai enam kantor Palang Merah Internasional. Aku merasa senang, terutama melihat ketiga wajah temanku Ummu Walid, wanita yang menjadi Direktur PRCS di Lebanon, Hadla Ayubi, Direktur humas PRCS, dan sahabatku Azzizah Khalidi, administrator
Rumah Sakit Gaza. Palang Merah Internasional telah memberikan suaka kepada mereka di dalam sebuah bangunan, demi menghindarkan mereka dari usaha penculikan maupun pembunuhan.
Kehidupan mereka bagaikan di ujung tanduk. Walaupun begitu, mereka tetap menjaga kehormatan diri serta bersikap tegar. Aku menangis ketika melihat ketiga orang itu, tetapi Hadla menenang-kanku dan memintaku untuk tetap tegar. Setelah dua hari dalam perlindungan, mereka secara suka rela meninggalkan bangunan itu untuk kembali bekerja. Hal itu tidak mudah, mereka harus berunding tentang status resmi PRCS, tentang pembukaan kembali Rumah Sakit Gaza, dan tentang keselamatan para pasien serta stafnya.
Hadla Ayubi adalah orang yang memegang tanggung jawab mengoordinasi ratusan sukarelawan medis asing selama masa pendudukan Israel. Tugas ini sungguh sulit karena membutuhkan kesabaran yang luar biasa, kebijaksanaan, dan pengertian. Para anggota PRCS telah mengalami berbagai penderitaan selama penyerangan, dan banyak tenaga asing yang tidak dapat memahami hal itu. Jika Rumah Sakit Akka dibom, dan tidak dapat digunakan sampai diperbarui lagi, ada dua reaksi yang mungkin muncul dari para tenaga asing ini. Sebagian dari mereka akan memahami situasi itu dan bahkan mungkin membantu para staf PRCS membersihkan puing-puing. Namun, sebagian lainnya akan menemui para wartawan Barat dan mengatakan kepada mereka bahwa kedatangan mereka ke Beirut hanya
buang-buang waktu. Menurut mereka, orang-orang PRCS tidak seharusnya meminta bantuan sukarelawan medis asing karena memang "tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan". Mereka tidak menjelaskan kepada pers bahwa dibutuhkan banyak bantuan medis, tetapi banyak rumah sakit hancur. Sering kali aku merasa ingin sekali mengajak mereka membersihkan puing-puing dan mengepel bangsal-bangsal operasi, sehingga pekerjaan-pekerjaan medis pun dapat kembali berjalan.
Orang-orang semacam ini memang menyusahkan, selalu minta perhatian untuk hal-hal yang remeh, membuat Hadla menjadi lelah karenanya. Kendatipun begitu, ia selalu bersikap baik dan pengertian. Ia sering menertawakanku karena merasa kesal dengan rekan-rekanku sesama sukarelawan, dan mengingatkanku bahwa siapa pun yang telah mau bersusah payah datang untuk membantu orang Palestina harus diperlakukan dengan baik.
Hadla pulalah yang mendatangi semua klinik dan rumah sakit PRCS untuk memperingatkan para stafnya agar memerhatikan dengan saksama larangan membawa senjata ke dalam lembaga-lembaga tersebut. Tidak seorang pun baik orang Lebanon maupun Palestina yang diperbolehkan masuk ke klinik atau rumah sakit jika mereka bersikeras membawa senjata mereka. Mereka harus meninggalkan senjata mereka di luar rumah sakit, bahkan di tengah-tengah terjadinya serangan pasukan Israel. Ia menjelaskan kepadaku bahwa hal ini penting karena lembaga-lembaga medis milik PRCS sepenuhnya ber-
sifat kemanusiaan, dan bukan tempat berkumpul para pejuang. Kebijakan tidak membolehkan mem bawa senjata ini tidak membuat rumah sakit dan klinik milik PRCS terhindar dari serangan bom.
Hadla bertindak penuh martabat. Sebagai seorang buangan dari Jericho, ia mengaku berasal dari kalangan borjuis Palestina. Ia adalah seorang wanita yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk rakyatnya melalui pekerjaannya di PRCS. Sangat disiplin, sopan, dan baik hati. Ia adalah orang yang sesuai untuk menangani segala hal yang berhubungan dengan urusan diplomatik PRCS, sehingga membuat kami menjadi sayang dan kagum kepadanya. Aku sering membicarakan Hadla dengan suamiku. Ketika akhirnya bertemu Hadla, Francis berkomentar, "Hadla benar-benar seorang lady."
Rumah Sakit Gaza masih ditutup sehingga semua pasiennya sekali lagi bertebaran di berbagai rumah sakit darurat. Aku bekerja di salah satu rumah sakit darurat tersebut, di daerah pinggiran di bagian selatan Beirut. Rumah sakit darurat tersebut tadinya adalah sebuah toko yang ramai dan sesak. Para pasien dari Rumah Sakit Akka dan Rumah Sakit Gaza yang selamat dari pembantaian terbaring di ranjang-ranjang yang dapat dilipat. Masa depan para pasien itu tidak menentu, dan para tentara sering menyerbu masuk serta mengancam mereka. Tak jarang, hanya berkat campur tangan para petugas Palang Merah Internasional lah para pasien akhirnya tidak jadi ditangkap. Beberapa hari setelah aku mulai bekerja di sini, Ummu Walid dan Hadla
datang mengunjungi para pasien. Pastilah sangat sulit bagi mereka untuk berbicara dengan para pasien itu. Meskipun demikian, kedua wanita itu memasang wajah tegar. Mereka membagi-bagikan sejumlah kecil uang kepada setiap pasien, mereka juga menyelipkan uang tersebut di bawah bantal orang-orang yang tengah tertidur selama kunjungan mereka. Semuanya berlangsung dengan tenang, dan hanya pada saat mereka berbalik untuk meninggalkan rumah sakit itulah kulihat Ummu Walid menangis dalam perjalanan pulang, sementara Hadla melingkarkan kedua lengannya ke bahu wanita itu untuk menenangkannya.
Orang-orang Palestina yang telah kehilangan rumah mereka tinggal di jalanan, banyak dari mereka yang hanya berjongkok di pinggir jalan, di luar kafe-kafe, pusat-pusat perbelanjaan, terkadang berbaring beralaskan kasur dan selimut seadanya di trotoar. Setiap hari, semakin banyak dari mereka yang menghilang, mereka telah diciduk pada malam sebelumnya oleh tentara-tentara Israel. Hari-hari itu sungguh buruk. Aku merasakan dorongan untuk berjalan-jalan, berjalan dari satu ujung Sabra ke ujung lainnya, dari satu ujung Shatila ke ujung lainnya. Tetapi pada saat bersamaan, aku merasa berat melakukannya. Wanita dengan bayinya yang hampir menjadi milikku, dan orang-orang yang bersembunyi di Rumah Sakit Gaza aku sama sekali tak dapat menemukan satu pun dari mereka.
Sebaliknya, aku menemukan lebih banyak lagi kehancuran dan mayat membusuk yang dibaringkan
untuk diidentifikasi oleh sanak saudara mereka yang tengah berduka. Aku dapat merasakan kehidupan telah lenyap dari kamp-kamp itu, kini daerah itu hanya berisi tanah yang permukaannya tidak rata, rumah-rumah yang hancur, dan para penghuni yang luntang-lantung dengan wajah lesu seraya mencari-cari orang yang telah mati. Kami semua berasumsi bahwa setiap gundukan tanah di sini adalah sebuah kuburan massal, dan cukup dengan mengikuti arah bau anyir dari mayat-mayat yang membusuk saja, kami akan bisa menemukan tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa. Sanak saudara tak diizinkan membongkar kuburan massal untuk mengidentifikasi mayat-mayat, sebaliknya, para tentara itu memercikkan air jeruk limau ke mayat-mayat tersebut untuk mengaburkan jejak-jejak. Terkadang hanya gelang, kalung, atau potongan bajulah yang menjadi satu-satunya petunjuk untuk mengidentifikasi sesosok mayat.
Bahkan, setelah diumumkan pada 22 September bahwa jumlah mayat yang ditemukan sebanyak 2.400 mayat, masih ditemukan lebih banyak mayat lagi. Mayat-mayat itu ditemukan bercampur dengan reruntuhan puing-puing, di dalam garasi atau gudang-gudang yang terbengkalai. Di luar kamp, di Rumah Sakit Akka, para perawat diperkosa dan dibunuh, para dokter dan pasien ditembak mati. Seiring berjalan di lorong-lorong kamp sambil melihat rumah-rumah yang hancur berantakan, aku ingin menangis keras-keras, tetapi aku terlalu lelah secara   mental,   bahkan   untuk   sekadar  menangis.
Bagaimana mungkin anak-anak kecil itu dapat kembali tinggal di tempat ini, tempat sanak saudara mereka disiksa lalu dibunuh? Jika PRCS tak dapat berfungsi secara legal, lantas siapa yang akan merawat para janda dan yatim piatu tersebut?
Tiba-tiba, sesosok kecil merangkulkan tangannya ke tubuhku. Ia adalah Mahmud, bocah cilik yang mengalami patah tulang pada pergelangan tangannya ketika sedang membantu ayahnya membangun kembali rumah mereka yang hancur. Ia selamat dan pergelangan tangannya telah pulih, tetapi kini ayahnya sudah meninggal. Mahmud menangis, tetapi ia senang mengetahui aku masih hidup, karena dari tempat persembunyiannya selama terjadi pembantaian, ia melihat para tentara sedang membawa kami pergi. Ia mengira mereka telah membunuhku.
Dengan segera aku dikelilingi sekumpulan anak. Anak-anak tanpa rumah, tanpa orangtua, tanpa masa depan. Namun, mereka adalah anak-anak Sa-bra dan Shatila. Salah seorang dari mereka melihat kamera saku yang kubawa-bawa dan minta dipotret. Lalu, mereka semua berdiri untuk minta dipotret. Mereka ingin agar aku menunjukkan foto mereka kepada orang-orang di seluruh dunia. Bahkan jika mereka dibunuh dan kamp-kamp dirobohkan, dunia akan mengetahui bahwa mereka adalah anak-anak Sabra dan Shatila, dan mereka tidak takut. Ketika aku sedang memfokuskan kameraku, mereka semua mengangkat tangan mereka dan membuat huruf "V" dengan jari telunjuk dan jari tengah, tepat
di depan rumah-rumah mereka yang telah hancur, tempat banyak keluarga mereka mati terbunuh karenanya. Wahai sahabat-sahabat kecilku, kalian telah mengajariku apa itu keberanian dan perjuangan yang sesungguhnya.
Ketika sore itu aku tengah dalam perjalanan pulang menuju Mayfair Residence di Hamra aku diberi apartemen di sana aku melewati tank-tank besar Israel dengan para tentaranya. Dalam benakku, yang kulihat hanyalah anak-anak kamp Palestina yang sedang mengangkat tangannya dengan gaya menantang, membentuk huruf "V" sebagai simbol victory (kemenangan). Selama masih ada anak-anak Palestina, bangsa Palestina akan terus ada. Malamnya, aku duduk dengan kelelahan, lalu menulis sepucuk surat untuk suamiku di London:
Sayang,
Aku merasakan kelelahan fisik datang dan pergi, tetapi aku tidak takut, sejarah telah mengajarkan kita sebaliknya. Pernahkah terpikirkan oleh budak-budak di masa lalu bahwa suatu hari mereka akan bebas dan dianggap sebagai manusia? Namun inilah kesaksian kami bahwa sejarah akan terus berulang dan kami akan menang. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok, mungkin bukan generasi sekarang, bahkan mungkin bukan generasi berikutnya namun karena kami manusia, suatu hari kami pasti menang. Ya, hal itu memang membutuhkan kegigihan, disiplin, pengorbanan, dan harga yang sa-
ngat mahal namun sesuatu yang merupakan hak kita, pastilah suatu hari akan kita peroleh kembali.
Sayangku, kita hanyalah dua individu kecil dalam gelombang sejarah pembebasan ini. Mungkin di suatu tempat kita akan terhanyut, menjadi error margin terpinggirkan tetapi kita tahu ke mana gelombang itu akan mengalir, dan tiada yang dapat menghentikannya. Mungkin kedengarannya retoris namun di segenap sejarah orang-orang yang memperjuangkan keadilan, tidak ada yang terdengar terlalu retoris.
Aku menangis bagai seorang prajurit muda yang bersiap bertempur di medan perang, tetapi tumbang bahkan sebelum pertempuran dimulai. Meskipun demikian, aku tertawa, tertawa penuh kemenangan, karena aku tahu masih ada jutaan orang lainnya yang akan melanjutkan perjuangan itu sesudahku.
Aku sudah menatap wajah sang maut dan telah kulihat kekuatan serta keburukannya, tetapi aku juga telah menatap ke dalam matanya, dan melihat ketakutannya. Anak-anak kami akan datang karenanya, dan mereka tidak takut. []
Delapan
Hal yang tak terelakkan pun terjadi. Rumah Sakit Gaza dibuka kembali pada 1 Oktober 1982. Para staf berkebangsaan Palestina kembali dengan menghadapi risiko yang luar biasa besar. Keadaan sangat sulit. Orang-orang diciduk oleh para tentara dan banyak dari mereka tak pernah kembali. PRCS masih belum diizinkan berfungsi sebagai suatu lembaga yang legal. Orang-orang Palestina bekerja di bawah perlindungan Palang Merah Internasional, yang melakukan tindakan mulia dengan menyerahkan segala pengelolaan rumah sakit kepada mereka. Yang membuat keadaan menjadi sulit antara lain adalah kehadiran orang-orang asing yang diutus untuk membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah sakit. Banyak dari mereka adalah orang baru, dan beberapa dari mereka tidak bisa memahami apa yang telah dialami orang-orang Palestina itu. Hal ini menimbulkan sejumlah masalah. Orang-orang PRCS sudah cukup mendapat kesulitan karena harus bekerja secara diam-diam sebagai sebuah organisasi. Lebih buruk lagi, para dokter dan perawat Palestina itu yang sudah melalui cukup banyak kesulitan masih diperintah-perintah oleh tenaga-tenaga asing yang kebanyakan tidak terlalu berkualitas, di dalam Rumah Sakit Gaza yang notabene adalah milik mereka.
Selama beberapa hari setelah pembantaian, Rumah Sakit Gaza didatangi taksi-taksi dari Damaskus. Mereka diutus oleh para pejuang yang telah dievakuasi ke Suriah. Biasanya, sopir taksi datang ke rumah sakit dengan membawa sederetan nama dan salah seorang staf PRCS akan pergi bersamanya untuk mencari orang-orang di dalam daftar itu. Orang-orang tersebut biasanya adalah sanak saudara para pejuang yang dievakuasi. Para pejuang itu ingin mengambil keluarga mereka dari kamp-kamp agar terhindar dari pembantaian berikutnya yang mungkin akan terjadi. Sering taksi-taksi itu meninggalkan kamp tanpa membawa seorang penumpang pun dan kembali membawa berita buruk kepada para pejuang yang berharap-harap cemas bahwa orang-orang yang mereka cintai tidak dapat ditemukan.
Aku hanya dapat menerka-nerka bagaimana perasaan para pejuang Palestina yang telah dievakuasi tersebut. Ketika meninggalkan keluarga mereka, mereka memercayakannya pada bangsa-bangsa Barat yang menjamin keamanan keluarga mereka. Mereka meninggalkan Lebanon setelah sepuluh minggu pengeboman, agar serangan-serangan Israel atas Lebanon berakhir dan pertikaian penduduk sipil Lebanon maupun Palestina terhindarkan. Mereka melakukan sebagaimana yang diminta banyak pemimpin Lebanon dan Arab. Kini, mereka yang bersembunyi di Suriah, Tunisia, Aljazair, Yunani, dan negara-negara lainnya itu tentulah merasa dikhianati dan berharap mereka tetap tinggal
tak peduli apa pun yang diinginkan pemimpin-pemimpin itu. Jika mereka tetap tinggal, Israel akan terdesak keluar dari Lebanon, namun karena mereka pergi, keluarga mereka dibantai habis.
Kondisi moral penduduk kamp telah merosot hingga tingkat paling rendah. Seperti yang dikatakan dr. Morris kepada beberapa wartawan, "Pembantaian tersebut merupakan pukulan terakhir terhadap mereka. Pada sore dan malam hari, setelah bekerja, saya mengunjungi kamp-kamp itu semata-mata untuk berbicara dengan mereka dan mendengarkan keluh kesah mereka."
Aku baru mengenal Laila Syahid setelah peristiwa pembantaian tersebut. Ia adalah seorang ber-kebangsaan Lebanon-Palestina, yang pada saat itu bekerja untuk PRCS, dan kami bertemu ketika ia menawarkan diri membantu para sukarelawan asing yang selamat dari pembantaian untuk meninggalkan Beirut. Aku tidak ikut pergi, dan kami lebih saling mengenal setelah rekan-rekan sejawatku pergi. Ia seorang yang sangat berpendidikan, menguasai berbagai bahasa, penuh semangat, dan periang. Aku pun jadi menyukai dan mengaguminya. Ialah yang membuatku tetap bersemangat setelah peristiwa pembantaian itu, aku mendapat banyak kekuatan darinya. Ia sering mengingatkanku untuk tidak lupa makan, bersikeras menyuruhku untuk tidak lupa tidur, dan berusaha menenangkanku ketika amat tertekan.
Ia mengajakku menemui beberapa orang Palestina yang selamat dari pembantaian, dan kami
mencatat baik-baik pernyataan-pernyataan mereka. Aku tahu dokumentasi seperti ini, meskipun amat kelam, sangatlah penting bagi sejarah bangsa Palestina. Laila mencintai rakyatnya dan hal ini membuatku sangat tersentuh. Caranya melewatkan waktu berjam-jam untuk mendengarkan keluh kesah mereka yang selamat, bahkan anak kecil sekalipun, begitu menggugahku. Dia acap kali menangis ketika mendengar hal-hal mengerikan yang menimpa mereka. "Tahukah Anda, pembantaian ini tidak hanya merupakan sebuah pembunuhan besar-besar atas rakyatku," ujarnya padaku. "Ini adalah pembasmian seluruh masyarakat kami. Keutuhan keluarga kami tercerai-berai akibat proses evakuasi. Prasarana-prasarana yang memungkinkan rakyat kami untuk betahan hidup juga hancur karena perang pabrik-pabrik, bengkel-bengkel, lembaga-lembaga pelatihan, perusahaan-perusahaan dagang. Sudah teramat banyak tenaga tercurah untuk membangun sarana-sarana ini supaya kami, rakyat Palestina, dapat hidup normal seperti yang lainnya. Sekarang semua itu telah hancur, banyak dari kami yang terpaksa kembali hidup sebagai pengungsi yang bergantung pada bantuan asing. Apa yang harus dilakukan orang-orang yang selamat itu untuk bertahan hidup?" Pemahamanku tentang kondisi Palestina sangatlah sedikit, dan Laila dengan sabar menjelaskan kepadaku bahwa bangsa Palestina menderita tidak hanya di Lebanon, tetapi juga di wilayah-wilayah yang diduduki Israel.
Bagiku, Laila, Hadla, Azzizah, Ummu Walid, dan
banyak pegawai PRCS lainnya adalah wanita-wanita yang sangat istimewa. Mereka tidak hanya cakap dan berdedikasi, tetapi juga luar biasa rendah hati selalu sabar dan mudah ditemui oleh orang-orang yang membutuhkan. Melihat mereka bekerja adalah pengalaman yang sangat menarik. Pintu kantor mereka selalu terbuka dan orang-orang berdatangan dan duduk di sekitar mereka. Setiap orang akan bergantian menceritakan persoalannya dan meminta dicarikan jalan keluarnya, dan pembicaraan itu berlangsung selama yang diinginkan orang-orang itu. Kelincahan mereka dalam berganti-ganti menanggapi satu orang ke orang lainnya tanpa menjadi bingung itulah yang membuatku kagum, karena banyak persoalan yang diajukan itu benar-benar mengejutkan.
Pada sore hari ketika rumah sakit kembali dibuka, temanku Laila dan aku bertemu dengan nenek Muna di sebuah toko kecil di kamp Shatila. Muna adalah seorang bocah laki-laki berusia sebelas tahun, korban terakhir yang dirawat di Rumah Sakit Gaza sebelum kami diciduk gerombolan pembunuh itu. Ia berbaring di bawah tumpukan mayat dan berpura-pura mati. Dua puluh tujuh anggota keluarganya tewas. Lukanya perlahan sembuh berkat perawatan, namun neneknya tidak.
Wanita berusia tujuh puluh tahun itu telah berjalan sejauh dua puluh kilometer dari Lebanon Selatan ke kamp Shatila untuk mengunjungi anak-anak dan cucu-cucunya. Ketika tiba, ia menemukan seluruh keluarganya tewas, kecuali suaminya yang
sudah renta dan si kecil Muna.
Putra sulungnya, Abu Zuhair, adalah seorang pejuang di Tel al-Zaatar. Tel al-Zaatar adalah sebuah kamp pengungsi Palestina yang diserang dan diblokade selama enam bulan pada 1976 sebelum akhirnya disetujui gencatan senjata yang mengizinkan diungsikannya para penduduk sipil di kamp itu. Namun, selama evakuasi berlangsung, sebanyak tiga ribu orang Palestina dibunuh. Hanya sedikit pemberitaan internasional tentang pembantaian Tel al-Zaatar. Buldoser berdatangan dan meratakan kamp tersebut beserta mayat-mayatnya. Jeruk limau dipercikkan ke atas mayat-mayat tersebut, daging mereka terurai dan kamp Tel al-Zaatar lenyap ditelan bumi.
Abu Zuhair selamat dari pembantaian itu, melarikan diri melalui pegunungan menuju kamp Shatila. Nenek Muna, seorang hajah, dengan kepala terbalut sehelai kain syal lebar Palestina berwarna putih, berbicara dengan air mata tergenang, sementara Laila dan aku mendengarkan, "Kenapa kamu mati, Abu Zuhair? Apa gunanya kamu ber-susah payah datang kepadaku melintasi pegunungan dengan membawa sepucuk Kalashnikov, jika akhirnya kamu dibantai bagaikan domba di kamp Shatila? Apa lagi yang bisa kukatakan?
"Merpati-merpati kami masih di sini. Bunga anyelir menyebarkan semerbak wanginya. Burung gereja menyanyikan lagu-lagu mereka sebagaimana biasanya. Tetap saja Abu Zuhair tidak ditemukan.
"Beirut, kau rampas semua yang kumiliki. Kau
ambil kerlip terakhir yang kupunya dalam hidupku. Hatiku tergeletak mati di jalanmu.
"Abu Zuhair, pohon tinggi nan muda dicerabut dengan kejam dari akarnya di atas tanahmu. Semoga darah yang mengucur dari mereka yang mati bercampur dengan darahmu. Semoga ibunya merasakan kepedihan yang sama.
"Siapakah yang menggali kuburmu, Abu Zuhair? Siapakah yang membawa bencana ini kepada kami? Apa yang bisa kukatakan demi mengenangmu?
"Hatiku penuh dengan celaan terhadap dunia yang tak berperasaan ini. Bahkan seratus kapal, ataupun dua ratus ekor kuda jantan, takkan sanggup menanggung pedih di hatiku ini.
"Apa yang bisa kukatakan? 'Ibu,1 katamu padaku, 'ziarahilah kuburan kami dan doakanlah mereka yang dikubur di dalamnya.1
"Aku pergi ke kuburan itu dan memeluk batu-batu nisan di sana dengan lemah lembut. Kumohon kepadanya untuk memberi sedikit ruang bagimu agar kamu dapat bernapas. Aku berkata, 'Tolong peluklah dengan hangat tubuh-tubuh mereka yang kucintai di dalamnya, rawatlah mereka, kupercayakan mereka semua kepadamu.1
"Kuratapi keremajaanmu dan kuratapi semua gadis muda yang tak pernah sedetik pun mengenal kebahagiaan atau kesenangan, mereka menyambut kehidupan dengan penuh harapan dan angan-angan, dan berakhir diinjak-injak dan dikoyak-koyak keganasan.
"Oh Tuhan, aku tak sanggup meneruskannya.
Ialah yang tertampan dan terkuat di antara pemuda-pemuda. Ia selalu mendahulukan jalan bagi yang lainnya, memudahkan langkah mereka.
"Tubuhmu yang muda bercampur dengan tanah terlalu cepat, matamu terisi pasir.
"Apa lagi yang dapat kuberikan untuk negeriku? Hatiku sudah penuh dengan kesedihan dan celaan terhadap kehidupan.
"Betapa irinya aku kepada kalian yang masih hidup, sementara orang-orang yang kucintai mati. Apakah mereka mati kehausan? Atau apakah kalian mempunyai belas kasihan untuk memberi mereka minum?
"Kumohon kepada setiap burung yang lewat untuk mengantarkan kerinduan dan rasa cintaku kepadamu, untuk kemudian kembali membawa berita tentang orang-orang yang kucintai.
"Anakku, tubuhmu bertaburan peluru. Siapakah yang mengirimmu kepadaku, sang gagak pembawa kabar burukkah? Mengapa kau membebankan semua bencana ini sekaligus padaku? Kurangkanlah sedikit, oh Tuhan. Tuhan tunggulah sampai setidaknya setahun, lalu Kau boleh mewujudkan takdirnya.
"Kumohon pada kalian, para pembawa peti jenazah, bergeraklah perlahan. Janganlah terburu-buru. Biarkanlah aku melihat orang-orang yang kucintai sekali lagi.
"Aku menuju kuburan dan berkeliling tanpa tujuan. Aku memanggil Abu Zuhair, lalu aku memanggil Ummu Walid (adik perempuannya). Tak ada jawaban. Mereka tidak di sana. Mereka mengikuti Ummu
Zuhair (istri Abu Zuhair) dan anak-anaknya. Mereka semua pergi pada suatu malam purnama semua yang kucintai.
"Anakku, kamu tidak lagi berada di sisiku. Gunung-gunung itu kini memisahkan kita.
"Nabil (keponakan laki-laki Abu Zuhair) memanggil ibunya. 'Bu,1 katanya, 'kepada siapa Ibu menitipkan aku?'
"Zahra menjawab, 'Kutinggalkan kamu dalam pengasuhan paman-pamanmu. Mereka akan menceritakan kepadamu tentang aku dan membawamu ke kuburanku sehingga mataku dapat menatapmu dan hatiku dapat meraihmu.' Namun, Abu Zuhair telah pergi dan ia tak dapat membawa pesan Zahra.
"Zuhair (putra Abu Zuhair) bertanya kepada ayahnya, 'Kepada siapa Ayah memercayakanku?'
"Kakekmu akan datang untukmu. Kamulah yang melanjutkan hidupnya.
"Tapi apa yang ditinggalkan kehidupan untuk kami? Hati kami telah mati rasa. Air mata kami telah mengering karena menangisi semua laki-laki dan perempuan yang telah mati.
"Ke mana aku dapat meminta tolong? Ke mana anak-anakku?
"Anakku, semoga Tuhan menunjukkan kepadamu jalan yang suci, dan semoga cinta dan perhatianku menjadi penerang yang menemanimu menyusuri jalan itu.
"Tuhan Yang Maha besar, berikanlah aku kesabaran. Wahai pemuda, menjauhlah, kalian membuka kembali lukaku dan aku menjadi sangat lelah.
Apa yang dapat kukatakan?"
Kata-kata sang Hajah, istri Yusuf Hassan Muhammad, menyebabkan teman Palestinaku, Laila, menangis. Ia menjelaskan padaku kira-kira apa yang dikatakannya. (Sepulang ke London, aku meminta kaset rekamanku diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.) Banyak orang Barat yang mengira kehidupan di Timur Tengah kurang bernilai, dan kita tidak bisa menerapkan standar hidup dan mati orang Barat atas orang-orang Palestina. Aku benci orang-orang yang berkata demikian, karena mereka tidak tahu apa-apa dan bersikap rasialis. Siapa pun yang mengatakan orang-orang Palestina kebal rasa sakit adalah orang yang keji. Setiap kali membaca terjemahan kata-kata sang Hajah untuk anak-anak dan cucu-cucunya, aku menangis, tetapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku dapat merasakan secuil pun penderitaannya.
Malam itu, aku meninggalkan kamp Shatila dan merasa sangat tertekan. Laila pergi ke London keesokan harinya, dan dalam keputus asaan, aku menulis sebuah surat terbuka, sebuah surat yang ingin menggugah kesadaran dunia. Pers Inggris mungkin akan menolak untuk mempublikasikannya, tetapi setidaknya aku telah menuliskannya. Apa lagi yang dapat kulakukan demi orang-orang di kamp?
SURAT TERBUKA 1 Oktober 1982
Nama saya dr. Swee Chai Ang (Nyonya Khoo). Saya adalah seorang dokter bedah ortopedis wanita,
anggota Asosiasi Dokter Inggris, dan anggota Royal College Surgeons di London, dan menetap secara permanen di Britania Raya. Saya meninggalkan London pada 15 Agustus 1982 dalam rangka menjawab panggilan tugas menjadi dokter bedah ortopedis di Beirut.
Saya menulis surat ini kepada Anda dari Beirut Barat, dari Rumah Sakit Gaza, rumah sakit bagi kamp Sabra dan Shatila. Saya adalah salah satu anggota tim dokter asing yang bertugas saat terjadi pembantaian ribuan orang Lebanon dan Palestina di kamp-kamp antara 15 hingga 18 September 1982.
Saya merawat beberapa korban, menyaksikan pengeboman dan penghancuran rumah-rumah di kamp. Rumah-rumah itu ada/ah tempat tinggal orang-orang Palestina dan Lebanon.
Mereka yang mati memang sudah mati, dan tidak ada satu pun dari kami yang dapat membuat mereka hidup kembali. Saya kini menyerukan kepada Anda atas nama mereka yang selamat dari pembantaian kebanyakan wanita dan anak-anak kecil.
Banyak dari rumah mereka telah dibom, diledakkan, dilindas dengan buldoser, dan dijarah. Tidak ada listrik dan terjadi kelangkaan air. Meskipun begitu, ribuan orang telah kembali untuk hidup di antara tumpukan puing-puing ini, karena mereka tidak punya tempat lagi selain di sana.
Musim dingin di Lebanon segera tiba, dan ribuan orang di sini tidak akan mempunyai atap
untuk melindungi tubuh mereka.
Selain itu, ada pula masalah mencari nafkah. Seiring banyaknya penduduk pria berusia antara 15 hingga 60 tahun yang telah mati ditembak, ditahan, atau dipaksa pergi dari rumah mereka, keluarga-keluarga tersebut kini kehilangan pencari nafkah.
Saya melihat banyak wanita dari kamp-kamp ini berkeliaran di jalanan untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka yang masih kecil. Dalam kultur di tempat ini, perbuatan itu adalah kehinaan terburuk bagi wanita-wanita ini terutama ketika tubuh-tubuh suami mereka tengah membusuk di dalam puing-puing.
Sementara kedamaian kembali ke Beirut, klub-klub malam, bioskop-bioskop, rumah bordil, dan taman-taman hiburan kembali dibuka. Perputaran uang dan bank kembali berjalan. Namun, sekitar 250 ribu orang masih hidup dalam kesengsaraan dan perasaan waswas.
Mereka tidak punya hak, izin bekerja, maupun izin untuk hidup di reruntuhan dan puing-puing ini. Reruntuhan serta puing-puing ini secara resmi dinyatakan ilegal dan banyak penghuninya diminta segera pergi dari rumah mereka yang sebagian telah hancur tanpa tahu harus pergi ke mana.
Sebagai seseorang yang berasal dari negara Dunia Ketiga, saya telah melihat banyak kemiskinan dan penderitaan. Akan tetapi, ini adalah yang terburuk yang pernah saya lihat.
Mereka membutuhkan setiap bantuan dan du-
kungan yang dapat Anda berikan. Banyak dari mereka yang secara mental telah siap menanggung kelaparan atau mati kedinginan, namun mereka meminta saya untuk memohon kepada Anda agar me-nganggap mereka sebagai manusia seperti diri Anda sendiri dan mereka berharap diakui status mereka sebagai manusia.
Jika Anda masih mempunyai ruang di hati untuk orang-orang ini, tolong hubungi mereka melalui saya di Rumah Sakit Gaza. Terima kasih.
dr. Swee Chai Ang, MBBS, M.Sc., FRCS Dokter Bedah Ortopedis
Rumah Sakit Gaza, kamp Sabra dan Shatila, Beirut Barat
Sama sekali tidak ada jawaban untuk suratku itu, meskipun Francis sudah berusaha keras agar koran New Statesman di London mau memublikasikannya. Pers Inggris tidak tertarik mempublikasikan surat tersebut karena "tidak ada nilai pemberitaannya". Baik namaku yang terkesan asing maupun penderitaan orang-orang yang selamat dari pembantaian di kamp, setelah dua minggu berlalunya peristiwa itu tidak memiliki nilai jual. Di Beirut, kami terus melanjutkan kerja keras kami.
Pembantaian itu dan akibat-akibat yang ditimbulkannya menyebabkan aku sakit lumayan parah. Kuperiksa suhu tubuhku, dan aku merasa sulit tidur. Sedikit demi sedikit barulah aku bisa berjalan-jalan di sekitar kamp-kamp dan pukulan karena me-
nemukan kengerian demi kengerian membuat setiap langkahku terasa menyiksa.
Lantai demi lantai, Rumah Sakit Gaza mulai kembali berfungsi. Namun, Rumah Sakit Gaza bukan hanya sebuah rumah sakit. Lantai-lantai teratas dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak punya rumah lagi di kamp dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Mereka bukan para pasien rawat inap yang membutuhkan opname di rumah sakit. Banyak dari mereka yang tetap berada di rumah sakit karena tidak memiliki rumah ataupun sanak saudara. Pada zaman dahulu, sebuah rumah sakit juga berfungsi sebagai tempat penampungan, dan Gaza menjalankan kedua fungsi itu ketika kembali dibuka, tetapi para administrator Rumah Sakit Gaza asal Inggris sama sekali tidak menyukai hal itu.
Suatu hari, seorang rekan menghampiriku dan berkata dengan nada sarkastis, "Bisakah Anda mengusir beberapa dari para penghuni liar itu? Ini kan rumah sakit dan kita di sini bukan untuk menyantuni penghuni-penghuni liar."
Kata-katanya membuatku kesal. Berani-beraninya ia menganggap orang-orang Palestina itu penghuni liar, di dalam Rumah Sakit Gaza yang merupakan milik mereka.
"Kenapa tidak Anda saja yang melakukannya?" balasku. "Anda ditugaskan di sini dan mendapat kehormatan memegang kendali lakukanlah! Secara pribadi, saya pikir mereka semua punya alasan untuk berada di sini. Contohnya, Profesor Arnauti. Dia berusia tujuh puluh dua tahun. Saya tahu, di Ing-
gris Anda dapat menangani seorang penderita bronkitis dengan rawat jalan. Tapi para pasien di Inggris kan punya rumah. Rumah Arnauti dan keluarganya berada di Jerusalem. Kalau Anda dapat mengusahakan kepulangannya ke Jerusalem untuk menjalani perawatan, maka lakukanlah. Namun, sampai Anda dapat melakukannya, jangan pernah berani-berani mengusirnya, dasar tidak tahu malu, sok kuasa!"
Rekanku terkejut menghadapi ketajaman lidahku, dan beredarlah komentar di kalangan sukarelawan asing bahwa aku adalah orang yang gampang naik darah, dan lain sebagainya. Memang begitulah diriku. Orang Palestina memang bisa diam saja menghadapi perlakuan sewenang-wenang, tetapi tak ada alasan bagiku bersikap demikian. Para administrator ekspatriat akhirnya mengerti bahwa aku bisa bersikap sekeras laki-laki Inggris mana pun. Sejak saat itu, mereka tidak pernah mengusik diriku.
Tak ada kedamaian di kamp. Trauma akibat pembantaian masih terekam dengan jelas dalam pikiran setiap orang dan mereka terus-menerus diusik oleh para tentara itu. Rumah-rumah mereka digeledah, perkakas rumah tangga diubrak-abrik, dan para penduduk dibawa ke pusat-pusat tahanan militer. Orang-orang menjadi putus asa. Pada malam hari, tank-tank besar melintas dengan kecepatan tinggi di jalan-jalan kamp yang sempit.
Pada suatu malam, aku melihat salah satu dari tank-tank ini tiba-tiba berhenti di depan sebuah ru mah yang sebagian telah hancur, dan tanpa mem berikan peringatan terlebih dahulu, sebuah roket di-
tembakkan ke arahnya, meluluhlantakkannya dalam sekejap menjadi tumpukan puing. Aku terus berjalan. Ujung jalan utama kamp Shatila tampak sesak. Sepanjang hari, buldoser-buldoser terus-menerus meratakan rumah-rumah itu dan merusak pipa-pipa air utama dan pipa pembuangan kotoran dari kamp. Air minum tercemar oleh limbah kotoran, dan tempat itu menjadi kotor dan berantakan.
Berbelok ke sebuah gang di kamp itu, aku berjalan menuju stadion olahraga. Sebelumnya, aku merasa tidak sanggup mengunjungi kawasan ini. Pada saat matahari terbenam, tempat itu tampak menyeramkan. Banyak orang yang telah dibunuh di sini, banyak yang dikuburkan di sini, seakan-akan aku mendengar suara-suara mereka bergema dengan lirih di tanah kosong ini. Tempat ini telah digempur tanpa henti oleh pesawat-pesawat Israel ketika pertempuran berlangsung. Selama pembantaian, tempat ini diduduki para tentara Israel, dan orang-orang di kamp mengatakan kepadaku bahwa banyak pria, wanita, dan anak-anak diangkut dengan menggunakan truk ke stadion ini oleh tentara-tentara itu, dan banyak dari mereka yang "menghilang".
Pada 18 September, tanggal terjadinya pembantaian, di stadion itu ditemukan mayat seorang bocah yang pernah kurawat. Bersama-sama dengan anak-anak kecil lainnya, ia diledakkan dengan menggunakan granat tangan yang dilempar ke tengah kerumunan. Di sekeliling stadion itu, aku dapat melihat banyak sekali pakaian, kebanyakan pakaian
wanita. Mereka yang selamat dengan marah menceritakan kepadaku bahwa banyak wanita dipaksa bertelanjang bulat, lalu diperkosa para tentara itu sebelum akhirnya dibunuh. Mereka mengatakan bahwa para tentara Israel menyaksikan kejadian itu, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Bahkan, orang-orang Israel itulah yang membawa tentara-tentara ini menuju stadion.
Seorang warga Lebanon Kristen yang selamat dari pembantaian membawaku ke rumahnya yang sebagian telah hancur, dan memberiku sebuah kesaksian yang direkam dalam kaset. Ia tinggal dekat stadion itu, dan dari tempat persembunyiannya, ia dapat melihat apa yang tengah terjadi. Ia merasa sangat geram karena ada manusia yang tega berbuat seperti itu kepada sesamanya. Ia mengakhiri rekamannya seraya berteriak, "Jangan sampai ada lagi! Bahkan seorang wanita tujuh puluh tahun pun diperkosa secara brutal dan dibunuh!" Ia gemetar saking marahnya, dan istrinya keluar untuk menenangkannya.
Kutinggalkan keduanya yang masih berdiri di atas reruntuhan rumahnya, lalu bergegas menuju rumah sakit, kalau-kalau bantuanku dibutuhkan.
Sekembaliku ke ruang UGD Rumah Sakit Gaza, seorang pemuda dengan cemas menunggu kedatanganku. Ia membawa istrinya. Ia menduga istrinya itu mengalami gangguan mental yang parah. Dan ternyata memang benar, wanita itu mengalami kesulitan tidur selama sebulan terakhir setelah menyaksikan pembantaian itu. Ia hanya makan sedikit,
menangis setiap saat, dan menjerit-jerit pada malam hari. Aku tahu ia membutuhkan seorang psikiater, tapi di sini tidak ada psikiater. Lantas kukeluarkan setabung penuh cairan valium dan menyuntikkannya pada salah satu pembuluh vena di lengannya. Aku menoleh ke arah suaminya dan berkata, "Ini akan membuatnya tertidur selama dua jam. Gangguan mentalnya akan berkurang ketika ia bangun nanti. Ini saya berikan beberapa obat penenang. Anda harus membujuknya meminumnya sampai ia bisa menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak gila. Siapa pun yang melihat apa yang telah terjadi memang akan menunjukkan reaksi yang sama." Ia memapah wanita itu dan membawanya pulang ke kamp. Terlalu banyak kasus seperti itu.
Pada malam itu, aku mendengar pengumuman dari radio Arab bahwa Lebanon akan tetap mengurus 50 ribu orang Palestina, mereka akan dipindahkan ke lembah Beka'a. Akan tetapi, terdapat hampir setengah juta orang Palestina di Lebanon. Ke mana sisanya akan pergi? Lamunanku dibuyarkan oleh bunyi guntur pertama yang kudengar di Lebanon sebentar lagi hujan akan turun. Musim dingin yang keras di Lebanon akan tiba dalam beberapa minggu. Di manakah orang-orang Palestina itu akan melalui musim dingin kali ini?
Sementara guntur bergemuruh di kejauhan, kami mendengar suara mesin kendaraan yang berhenti tepat di samping rumah sakit. Kendaraan itu adalah sebuah mobil lapis baja, diikuti oleh sebuah jip militer. Seorang pria berseragam tentara, kemung-
kinan seorang perwira, muncul. Dalam bahasa Arab yang nyaring, ia meminta dokter. Enam orang bawahannya jatuh dari atap salah satu rumah di kamp itu ketika sedang berusaha menangkap orang-orang Palestina. Aku bertanya kepadanya apa ia berke-bangsaan Lebanon. Betul, katanya, dan ia berasal dari Ba'albek.
Aku bergidik ngeri mendengar kata Ba'albek. Selama pembantaian, seorang korban memberitahuku bahwa para tentara yang menyerbu rumah mereka bukan orang-orang Israel, melainkan para pria bersenjata dengan aksen Ba'albek. Apakah orang-orang ini adalah orang-orang yang sama? Para tentara ini bisa jadi ikut berperan dalam pembantaian di kamp, dan mereka berada di garis belakang untuk melakukan penangkapan dari rumah ke rumah. Setelah semua yang terjadi itu, kini mereka memiliki keberanian untuk mendatangi rumah sakit Palestina dan meminta perawatan. Aku benar-benar marah.
Ini saatnya untuk balas dendam, ujarku dalam hati. Kemudian, dengan suara lantang kukatakan kepada mereka bahwa di sini tidak ada dokter. Mudah saja bagiku membuat mereka percaya karena mereka menganggapku tidak lebih dari seorang perawat Asia bertubuh kecil.
Tetapi, aku merasa seseorang menarik jubah putihku dengan pelan, ia Azzizah, administrator rumah sakit. Ia ingin berbicara kepadaku berdua saja. "Kumohon, Swee," katanya, "kamu harus merawat orang-orang ini. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi percayalah padaku,  keluargaku telah cukup
banyak menderita dan aku memintamu untuk melakukannya, demi kita semua. Kami dipaksa untuk meninggalkan Jerusalem, lalu terjadilah penyerangan itu, lalu pembantaian semua kepedihan ini masih terasa, tetapi kita tak dapat menolak memberikan bantuan medis kepada siapa pun. Kami adalah PRCS, Bulan Sabit Merah Palestina, dan prinsip-prinsip yang kami pegang menuntut kami memberikan perawatan medis kepada semua orang, bahkan kepada musuh-musuh kami."
Kutatap wajah gadis cantik campuran Lebanon-Palestina ini, tampak sedih dan letih dengan segala penderitaan yang telah ia lalui, tetapi tetap bersikap sangat baik. Ingatanku kembali pada masa sembilan tahun lalu, ketika aku mengucapkan sumpah dokter saat kelulusan di Singapura, untuk merawat para pasien tanpa memandang ras, warna kulit, maupun keturunan. Ya, ini adalah bagian dari sumpah Hipokrates yang diucapkan semua dokter dengan sepenuh hati. Kami semua dulu adalah mahasiswa kedokteran yang idealis. Azzizah telah mengingatkanku akan dasar-dasar etika kedokteran. Jadi, aku kembali menemui para korban, meminta maaf kepada si perwira Ba'albek itu, seraya mengatakan bahwa kesalahpahaman timbul karena bahasa Arabku yang buruk, dan aku pun mulai merawat para tentaranya. Luka-luka mereka untungnya ringan, namun bagaimanapun mereka berterima kasih atas pertolongan medis yang kuberikan.
Waktu menunjukkan sekitar pukul tiga pagi ketika kami selesai membersihkan, menjahit, dan mem-
balut luka-luka mereka. Mereka diberi suntikan antitetanus dan antibiotik pencegah kuman. Akhirnya, kami menjadi cukup akrab, dan aku bahkan menasihati si perwira bahwa anak buahnya bekerja terlalu berat selama berjam-jam. Ia mengatakan kepadaku bahwa mereka digaji sangat rendah dan bekerja untuk waktu yang lama, jauh dari keluarga mereka di Ba'albek. Katanya, mungkin kecelakaan ini bisa menjadi alasan yang bagus baginya untuk memulangkan sebentar beberapa orang dari mereka.
Ketika mobil-mobil lapis baja itu akan meninggalkan Rumah Sakit Gaza, para tentara itu menunjukkan kepadaku foto-foto keluarga mereka dan mengundangku untuk mengunjungi desa mereka di Ba'albek, yang menurut mereka adalah tempat yang paling indah di Lebanon. Kecelakaan semacam ini memang mendorong orang untuk saling memahami satu sama lain.
Semua pasien masih terjaga. Mereka tadi melihat dua mobil lapis baja itu, dan ketika aku menuju lantai bagian ruang bedah, mereka bertanya apa yang diinginkan orang-orang itu di rumah sakit. Mereka menjamuku dengan bercangkir-cangkir teh Arab. Aku akrab dengan para pasienku, dan aku merasa bahagia bersama mereka. Namun, malam itu, aku juga merasa sangat sedih karena baru saja mendengar bahwa kontrakku dengan agen sukarelawan tidak akan diperbarui. Aku diminta oleh orang-orang Lebanon yang menjadi sponsorku untuk meninggalkan negeri itu.
Mereka    mengatakan "tidak ada permintaan
untuk dokter bedah ortopedis", tetapi kupikir "hukum permintaan dan penawaran" semacam itu tidak berlaku dalam situasi kami. Aku menjalankan Departemen Ortopedis Rumah Sakit Gaza dan merupakan satu-satunya dokter di kamp yang memegang English Surgical Fellowship. Terdapat daftar yang luar biasa panjangnya dari korban perang yang cacat badan dan menunggu giliran dibedah agar dapat tegak kembali. Aku menatap para pasienku, mereka yang terinfeksi, dengan luka fraktura yang belum dijahit sambil menunggu operasi, mereka dengan luka-luka lebar yang basah menunggu pengeringan dan pencangkokan kulit atau penambalan, mereka yang terkena serpihan bom dan peluru yang harus dikeluarkan dari badan mereka, para wanita yang panggulnya retak atau patah dan membutuhkan pemasangan tulang panggul palsu.
Aku tahu bahwa Abu Ali, pengawas bangsal operasi berkebangsaan Palestina, selama beberapa hari yang lalu telah mempertaruhkan hidupnya dengan menyeberangi pos-pos penjagaan militer untuk mendapatkan alat-alat bedah ortopedis yang lebih baik. Ia melakukannya supaya dapat melengkapi bangsal operasinya sehingga mampu melakukan bedah rekonstruktif yang sulit. Setiap pria dewasa Palestina berusia antara empat belas hingga enam puluh tahun bisa saja ditahan di pos penjagaan tersebut karena dicurigai sebagai "teroris", dan bergabung dengan orang-orang yang "menghilang". Abu Ali telah memberitahuku bahwa bangsal operasi akan siap digunakan untuk operasi bedah ortopedis
pada akhir pekan depan, sehingga kami dapat benar-benar menangani luka-luka perang yang telah berumur cukup lama, beberapa di antaranya sekitar lima bulan. Sekarang, aku diberi tahu bahwa atasanku ingin agar aku segera pergi. Aku bahkan tidak ingin memberi tahu kabar buruk ini kepada para staf rumah sakit dan pasien-pasienku. Mereka telah cukup menderita, dan aku hanya akan membuat mereka bertambah sedih jika aku memberi tahu bahwa kepergianku itu karena alasan "tidak ada permintaan untuk seorang dokter bedah ortopedis" yang tidak masuk akal.
Dengan mudah aku dapat menebak alasan sebenarnya pencabutan diriku itu. Tentunya itu tidak ada kaitannya dengan PRCS. Tidak perlu diragukan lagi, rekan-rekanku sesama sukarelawan asing itulah yang mengadu bahwa aku telah bersikap kasar dan jahat kepada mereka, dan bahwa aku telah membuat mereka berada dalam bahaya karena terang-terangan bersikap anti-Israel. Mungkin pula mereka telah menolak bekerja denganku.
Sementara orang-orang bergembira, aku pun berusaha ikut bergembira. Para wanita membuat teh, anak-anak duduk berkeliling, dan radio memainkan musik Arab sementara kami mengobrol dan tertawa. Untuk sementara, kami berhasil tidak memikirkan kebobrokan dunia nyata. Pada pukul empat pagi di Rumah Sakit Gaza, kami merasa bahagia.
Pagi berikutnya, dr. Amir, seorang dokter berkebangsaan Lebanon, melakukan semua tugas operasi.  Aku menatap melalui kaca jendela bangsal
operasi dan menyaksikan si dokter muda yang antusias itu bekerja, dan merasa bangga terhadapnya. Di bawah, di Departemen Korban Perang, seorang dokter Palestina merawat semua luka fraktura dan menjahit luka-luka, dan para petugas jaga pagi berkeliling serta memberikan perintah kepada para perawat. Mungkin keputusan sponsor-sponsorku itu cukup beralasan. Mungkin memang waktunya bagiku untuk pergi. Aku meminta izin cuti sehari kepada rekan-rekanku orang Lebanon dan Palestina untuk mengunjungi Lebanon Selatan, dan dengan senang hati mereka melepasku pergi.[]
Sembilan
Ini adalah kunjungan pertamaku ke Lebanon Selatan. Aku meninggalkan kamp tersebut bersama Ellen Siegel, seorang perawat perempuan yang menjadi sangat dekat denganku selama dan sesudah peristiwa pembantaian. Ia berdarah campuran Amerika-Yahudi dan datang ke sini untuk bertugas dan menjadi teman bagi orang-orang Palestina dan Lebanon. Katanya, "Kami, warga Amerika, bukan hanya bisa mengirim 'hadiah' pecahan bom kepada orang-orang di Lebanon." Kemudian, secara sukarela, ia mempraktikkan keterampilannya sebagai perawat untuk membantu orang-orang di Lebanon. Sebagai seorang Yahudi, ia merasa sangat peduli terhadap nasib rakyat Palestina, orang-orang yang menurutnya telah dianiaya secara keji oleh bangsa Yahudi, bangsanya sendiri.
Ellen benar-benar lincah dan bersemangat. Ia mengenakan kacamata besar dan berwarna, di balik kacamata itu tampak matanya yang hijau dan bulu matanya yang lentik. Rambutnya berwarna gelap dengan keriting-keriting yang besar dan halus. Ia berbicara lambat, dengan aksen Amerika yang kental. Dengan tubuhnya yang tinggi langsing, Ellen tampak bagaikan seorang wanita Amerika kulit putih kelas menengah yang kita lihat di film-film. Segala hal pada diri Ellen begitu cantik, gerakannya sangat
anggun, dan tutur katanya lembut serta feminin. Ia juga adalah salah seorang wanita paling berani yang pernah kutemui. Selama hidupnya, ia harus berjuang keras melawan rasialisme anti-Arab di Amerika, dan ia juga harus menghadapi serangan-serangan orang-orang Yahudi Amerika yang ber-seberangan dengannya karena penentangannya terhadap Israel dan dukungannya kepada rakyat Palestina.
Kagum akan diri Ellen, aku menanyakan usianya. Ia memberitahuku bahwa usianya empat puluh tahun. "Aku tidak memercayainya, Ellen," kataku. "Kamu terlihat seperti di akhir usia dua puluhan."
"Oh," jawabnya, "itu pasti karena aku mencurahkan seluruh hidupku untuk bekerja demi rakyat Palestina, aku lupa bahwa aku tumbuh dewasa. Kamu baru saja memulainya, Swee. Ini adalah perjuangan yang panjang, sangat panjang. Suatu hari, kamu juga akan berusia empat puluh tahun dan kamu merasa sama sekali belum berusia empat puluh, karena banyak hal yang harus dilakukan, dan kamu merasa seakan-akan kamu baru saja memulainya." (Ellen memang benar. Ketika berusia empat puluh, aku melewatkan enam tahun hidupku mendukung perjuangan orang-orang Palestina. Aku memang masih merasa bahwa aku baru saja mulai.)
Setelah meninggalkan kamp, kami pergi ke Kola, sebuah jembatan dekat Arabic University. Di samping jembatan ini terdapat sebuah terminal tak resmi yang di sana kita bisa mendapatkan sebuah taksi "layanan" untuk pergi ke selatan. Taksi-taksi
itu berupa mobil Mercedes yang dapat memuat hingga lima orang penumpang, yang mengantarkan kita ke tempat-tempat yang biasa dituju. Ongkos perjalanannya dibagi berlima sehingga cukup murah bagi para penumpang untuk bepergian. Tidak ada bus maupun kereta di Beirut. Orang-orang yang sangat kaya memiliki mobil pribadi, mereka naik mobil pribadi atau berkeliling dengan taksi sedangkan kami hanya bisa berjalan kaki atau menggunakan "layanan" tersebut.
Saida dan Sour adalah kota-kota di Lebanon Selatan, dahulu kala kota-kota itu bernama Sidon dan Tyre.
"Saida! Saida!" teriak sekumpulan sopir taksi, sementara yang lainnya, merasa tidak mau kalah, juga berteriak, "Sour! Sour!", bahkan lebih kencang. Tempat itu lebih terdengar seperti pasar ikan yang terletak di tengah pusat keramaian.
Sopir taksi kami, setelah dua puluh menit berteriak-teriak, mendapatkan lima orang penumpang. Di jok belakang ada Ellen, aku, dan seorang wanita, kami tidak bertanya apakah ia orang Lebanon atau Palestina, karena pada masa itu kebanyakan orang Palestina tidak mau mengaku sebagai orang Palestina. Ia berusia paruh baya, mengenakan syal yang menutupi rambutnya, dan tubuhnya yang berlemak terbungkus rapi oleh berlapis-lapis baju. Wataknya periang, bersahabat, dan menyenangkan. Ia membawa sebuah sangkar besi berisi dua ekor ayam betina putih yang berkotek-kotek ramai. Di jok depan terdapat dua orang pria yang mulai mengobrol
dengan si sopir begitu mereka memasuki mobil, seolah-olah mereka adalah kawan lama. Mereka membicarakan berbagai hal, mulai dari keluarga mereka hingga politik internasional dan lokal, tentang Ayatullah Khomeini, masa depan Lebanon, Margaret Thatcher, orang-orang Palestina, dan banyak lagi. Benar-benar pembicaraan yang berat, pikirku.
Lalu lintas di jalan raya Saida sangat buruk. Kami merambat di tengah-tengah antrean panjang mobil dalam lalu lintas yang luar biasa macetnya. Alasan terjadinya kemacetan ini? Pos-pos pemeriksaan yang menyebalkan itu. Pertama, kami distop seperti orang-orang lainnya di pos pemeriksaan "resmi" AB (Angkatan Bersenjata) Lebanon. Di sana kami harus menunjukkan surat-surat kami, bagasi mobil pun dibuka dan diperiksa. Lalu, kami distop di pos pemeriksaan suku Kata'eb milisi Kristen Lebanon yang dijadikan kambing hitam oleh tentara Israel atas pembantaian di Sabra dan Shatila. Kemudian, kami distop di pos pemeriksaan suku Haddad orang-orang Kristen Lebanon yang bekerja untuk Israel. Mereka terutama berasal dari Lebanon Selatan dan lebih dikenal sebagai Tentara Lebanon Selatan (South Lebanese Army). Lalu, kami distop lagi di pos pemeriksaan AB Israel, dan masih ada lagi pos pemeriksaan AB Israel, dan lagi, dan lagi.
Sopir kami memaki-maki dan menyumpah serapah di setiap pos pemeriksaan. Tidak, ini tidak sepenuhnya benar. Setiap kali mendekati sebuah pos pemeriksaan, ia akan disuruh berhenti oleh para tentara bersenjatakan senapan M16 dan tank-tank.
Ia menyapa mereka dalam bahasa Arab, "Semoga Tuhan menyertai kalian."
Setelah kami melewati pos pemeriksaan, ia akan mulai menyumpah dan mengutuk, "Jahanam, bangsat!" dan melontarkan serentetan sumpah serapah dalam bahasa Arab yang melebihi batas kesopanan sehingga tidak dapat kuterjemahkan.
Kemacetan itu memberi kesempatan kepada kami untuk memandangi kedua tepian jalan raya. Di satu tepian jalan, kami melihat sebuah pemandangan yang porak-poranda, barak-barak tentara, tank-tank besar dan truk-truk bersenjata, sebuah desa yang hancur dibom, buldoser-buldoser raksasa dengan tulisan-tulisan Ibrani di atasnya jenis yang sama kami lihat pada 18 September melindas rumah-rumah di kamp dan mengubur mayat-mayat di bawah puing-puing kamp Shatila.
Di tepian jalan yang lain, terdapat sebentang pantai berpasir yang berdampingan dengan laut. Di sana terlihat orang-orang yang sedang memancing, dan bahkan di beberapa area tertentu berjemur! Lebanon ternyata adalah sebuah tempat yang penuh kejutan!
Taksi itu membawa kami ke Kota Saida, dan dengan membayar lagi tiga lira Lebanon, si sopir mengantarkan kami menuju sebuah kamp pengungsi Palestina yang bernama Ain al-Halwah, tepat di pinggiran kota. Ain al-Halwah 'mata' atau 'pemandangan yang indah' dalam bahasa Arab adalah tempat tinggal tujuh puluh ribu orang Palestina sebelum penyerbuan Israel. Ketika berjalan memasuki kamp
itu, Ellen dan aku disambut oleh pemandangan berupa sebuah area yang hangus, dengan dinding-dinding batu bata yang berdiri setinggi tak lebih dari tiga atau empat kaki, tak ada pohon, rumah, toko, atau bahkan bangunan yang setengah hancur bekas dibom. Di salah satu sudut kamp itu ada sederet gubuk yang masih baru dibangun, terbuat dari seng yang penyok. Di dalamnya terdapat beberapa keluarga Palestina yang kembali ke kamp.
Kami mengucapkan "Halo" kepada anak-anak itu. Mereka memiliki senyum yang sama seperti anak-anak di Sabra dan Shatila. Aku tahu anak-anak ini akan menorehkan bab berikutnya dari sejarah Palestina, dan sebagaimana anak-anak yang berada di utara, mereka tidak takut.
Kamp-kamp lainnya di dekat Saida juga tampak menyedihkan, dengan buldoser-buldoser yang sedang membersihkan sisa-sisa puing, dan keluarga-keluarga Palestina yang menyaksikan sisa-sisa terakhir dari puing rumah mereka tengah diangkut.
Hari menjelang malam, dan kami harus segera kembali ke bagian utara Beirut. Di Saida, kami mengunjungi dua tempat yang menarik. Yang pertama adalah sebuah benteng, kubu pertahanan yang dibangun menghadap Laut Tengah sewaktu Perang Salib. Benteng itu dekat dengan pelabuhan yang masih ramai dengan orang-orang hilir mudik, selain kapal-kapal perang Israel, tidak ada lagi kapal lainnya. Benteng itu kini diduduki oleh tentara-tentara Israel dan Haddad. Beberapa orang wanita dan anak-anak berkumpul di sekelilingnya. Para wanita
itu menanyakan sanak saudara mereka yang hilang, dan anak-anak terlihat seperti para yatim piatu yang mencari-cari "sosok seorang ayah", ingin menyentuh senjata dan helm para tentara itu. Sangat mungkin bahwa beberapa dari anak-anak itu menjadi yatim piatu gara-gara mereka.
Dengan adanya rambu-rambu jalan berbahasa Ibrani yang baru dicat, pos-pos pemeriksaan tentara Israel dan Haddad, dan para tentara yang berjaga-jaga di berbagai persimpangan jalan, semakin jelas bahwa daerah selatan memang di bawah pendudukan. Dan situasi itu akan terus bertahan untuk waktu yang lama.
Tempat lainnya yang kukunjungi bersama Ellen adalah Masjid Saida. Ini adalah pertama kalinya dalam enam tahun belakangan ini aku berada di dalam sebuah masjid, yang terakhir kalinya adalah di Masjid Negara Malaysia. Masjid Saida jauh lebih kecil daripada Masjid Negara Malaysia, tetapi sama-sama cantiknya. Suasananya yang tenang, dengan mo-zaik-mozaik yang simetris dan geometri yang sempurna mencerminkan suatu dunia yang berbeda surga Tuhan. Kebudayaan Islam mungkin saja menawan, sempurna, dan indah, tapi semua yang berada di sekelilingku adalah dunia nyata yang menjadi tempat tinggal umat Islam, dunia yang miskin, penuh penderitaan, peperangan neraka dunia.
Setelah mengunjungi Masjid Saida, tiba saatnya bagi kami untuk pulang ke utara. Ellen dan aku sama-sama kelelahan ketika tiba di Beirut, dan memutuskan untuk kembali ke Mayfair Recidence di
Hamra alih-alih ke kamp Sabra, karena kami selama beberapa hari belakangan ini belum sempat tidur maupun mandi.[]
Sepuluh
Dasanya senang bisa kembali ke apartemen. Mayfair Residence adalah sebuah bangunan apartemen yang cantik, berisi flat-flat studio lengkap dengan perabotnya. Setiap apartemen berisi ruang tamu merangkap ruang tidur, kamar mandi, dapur kecil, dan sebuah balkon kecil yang menghadap ke Kota Hamra yang indah. Dari atas balkon ini, aku pernah sekali memotret dua buah tank besar yang memblokade jalan dan sebuah truk yang menurunkan para tentara yang memasuki rumah-rumah untuk menangkap para penghuninya. Kebanyakan dari mereka yang ditahan adalah laki-laki Palestina berusia sekitar empat belas hingga enam puluh tahun, namun sejumlah besar warga Lebanon juga ikut ditangkap.
Suatu hari, terjadi kegemparan di loket resepsi di salah satu blok flat tersebut. Ben Alofs, seorang sukarelawan dari Belanda yang kami juluki "Big Ben", mencengkeram leher pemilik flat tersebut sambil berteriak, "Bajingan, kamu bekerja sama dengan mereka!" dan mengguncang-guncangnya seolah-olah ia anak kecil. Ben selalu berbicara dengan lembut dan sopan, dan pernah mengikuti pendidikan untuk menjadi pendeta. Aneh juga melihatnya marah begitu. Alasannya sederhana si pemilik tersebut atas   keputusannya   sendiri   telah   mengkhianati
sebuah keluarga Palestina yang tinggal di flat tersebut dan menyerahkannya kepada para tentara. Namun, meskipun si pemilik itu telah bersedia bekerja sama, flat-flat itu tetap saja digeledah.
Orang-orang Palestina dan teman-teman Lebanon mereka diburu layaknya hewan. Mereka yang cukup beruntung untuk selamat dari hukuman dan dibebaskan, membawa bekas luka yang mengerikan, beberapa dari mereka menjadi pincang akibat dipukuli. Akan tetapi, orang-orang itu lebih beruntung daripada mereka yang lenyap begitu saja tanpa jejak.
Teman satu apartemenku di Mayfair Residence adalah seorang perawat muda yang cantik dari New Jersey. Kami menjulukinya "Mary Elizabeth Taylor" karena wajahnya yang rupawan dan punya banyak penggemar. Mary tidak hanya cantik, tetapi juga ramah dan terlalu murah hati. Ia tiba dengan para wanita Amerika lainnya tak lama setelah aku tiba di Beirut, dengan membawa bertas-tas penuh makanan, obat-obatan, sabun cuci, batu baterai, dan barang-barang keperluan lainnya yang kemudian ia bagi-bagi kepada siapa pun yang membutuhkannya. Sebagaimana layaknya para sukarelawan medis Amerika, Mary datang ke Lebanon untuk menolong orang-orang di sana, dan secara pribadi untuk melawan kebijakan bantuan perang yang diberikan Amerika di Lebanon. Katanya padaku, "Jika pemerintah kami tidak mengirimkan bom-bom itu, Lebanon tidak akan menjadi seperti ini."
Walaupun ingin bekerja dengan kami di kamp-
kamp pengungsi Palestina, Mary diperintahkan oleh para administrator perawat Inggris untuk bekerja purnawaktu di American University Hospital. Di antara para sukarelawan Inggris itu terdapat sentimen kuat anti-Amerika, beberapa dari mereka menyalahkan semua orang Amerika atas bencana yang terjadi di Lebanon ini. Para perawat dan dokter Amerika yang secara sukarela menangani para korban perang Lebanon menjadi target kebencian dari beberapa sukarelawan Inggris yang tidak membedakan antara kebijakan luar negeri yang agresif dari pemerintah Amerika dan para warga Amerika yang bersusah payah datang ke sini untuk mendukung orang-orang yang disakiti oleh pemerintah mereka sendiri.
"Karena kalianlah, orang-orang Amerika, yang telah menyebabkan ini semua," kata mereka kepada Mary, "lebih baik kamu menjauh dari kami dan lakukan tugas-tugasmu di American University Hospital."
Mary menentang aturan itu dengan cara bekerja selama empat puluh jam penuh seminggu di American University Hospital, lalu bekerja tiga puluh jam lagi di bangsal-bangsal operasi di Rumah Sakit Gaza. Ia membantu Abu Ali membetulkan kembali bangsal-bangsal operasi dan memilah-milah alat-alat bedah.
Suamiku, Francis, dan aku punya teori yang sederhana sebagai berikut, orang-orang yang murah hati memiliki golongan darah O. Mary cocok dengan teori kami, ia punya golongan darah O. Golongan darahnya itu membuatnya dapat mendonorkan
darahnya kepada siapa saja. Sayangnya, tidak seorang pun diizinkan mendonorkan darahnya lebih dari sekali dalam tiga bulan. Mary berbohong, dan aku merasa ngeri melihatnya mendonorkan darahnya dua kali sehari. Ketika aku menyampaikan keberatan akan tindakannya itu, ia hanya menjawab, "Jangan khawatir, Swee. Kakek moyangku berasal dari Irlandia. Kami semua kuda pekerja yang tangguh. Lihat, aku sangat kuat, kan seekor kuda pekerja yang sangat tangguh!"
Itulah ciri khas Mary, aku tidak dapat melukiskannya dalam kata-kata kebahagiaan yang diberikan Mary kepada kami semua karena kemurahan hatinya dan wataknya yang ramah.
Ketika Ellen Siegel dan aku kembali dari Saida malam itu, Mary sudah pulang, dan ia telah mencuci dan memutihkan semua baju kerjaku. Ia juga telah memasakkan makan malam untuk kami. "Dengar ya, tidak baik pulang terlambat," kata Mary, "kentang-kentangnya sudah pada berminyak dan lembek!"
Sewaktu kami duduk dan melahap kentang masakan Mary yang sudah berminyak dan lembek itu, ada panggilan telepon untuk Nona Ellen Siegel. Panggilan itu memintanya untuk memberikan kesaksian di hadapan Komisi Kahan Israel.
Hanya Ellen satu-satunya yang bersemangat untuk memberikan kesaksian di hadapan Komisi Kahan. Aku menolaknya karena menurutku itu termasuk salah satu "rekayasa Israel" dan aku sama sekali tak mau mempertimbangkannya. Aku tahu sedang terjadi sebuah demonstrasi besar-besaran
di Tel Aviv. Sebanyak empat ratus ribu warga Israel memprotes penyerangan ke Lebanon dan pembantaian di kamp-kamp pengungsi. Sejumlah besar tentara Israel telah dipenjara karena menolak ikut serta dalam penyerangan tersebut. Aku juga tahu tentang pembentukan Komisi Penyelidik oleh Israel, namun komisi penyelidik itu tengah didirikan di seluruh dunia, setahuku ada lima.
Aku telah melihat lebih dari cukup kematian dan kehancuran yang ditimpakan Israel kepada rakyat di Lebanon. "Mereka tak punya hak untuk membentuk komisi apa pun," sahutku pada Ellen ketika ia telah selesai berbicara di telepon.
Akan tetapi, Ellen tampak sangat serius dengan hal itu. "Kita semua harus pergi ke Jerusalem," ujarnya padaku, "dan memberi kesaksian di hadapan orang-orang Israel. Kita mesti membuat mereka mengetahui tanggung jawab Israel atas semua ini." Ia menunjukkan padaku kesaksiannya sendiri, yang baru saja ia tulis, dan berencana memberikannya kepada seorang teman yang bekerja sebagai wartawan dan akan pergi ke Jerusalem untuk mendapatkan beberapa kesaksian sebagai bukti untuk dipertimbangkan oleh Komisi Kahan.
"Kamu mau ikut denganku, Swee?" tanyanya. "Akan menyenangkan jika kamu juga ikut karena kamu seperti bayi yang baru lahir untuk semua urusan ini. Kamu belum dipengaruhi oleh pendapat-pendapat benar-salah dalam hal-hal Timur Tengah. Kesaksianmu akan sangat penting untuk komisi itu. Seperti kita juga seharusnya memburu para pen-
jahat perang Nazi, kita juga harus memberi sedikit kejelasan tentang apa yang telah terjadi di Sabra dan Shatila. Jika kamu bersedia ikut, mungkin yang lainnya, seperti Paul, Louise, dan Ben, juga akan ikut." Ellen benar-benar persuasif, tapi aku memintanya memberiku waktu untuk mempertimbangkannya.
Malam itu, aku terjaga di tempat tidur dan merenung. Aku harus berhati-hati untuk tidak mencampurbaurkan antara negara Israel yang agresif dan menyulut peperangan ini yang penyerangannya ke Lebanon telah menyebabkan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan hidup merana dan empat ratus ribu orang Israel yang berdemonstrasi di Tel Aviv menuntut diakhirinya perang. Komisi Kahan tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk di bawah tekanan. Sudah banyak terjadi pembantaian orang-orang Palestina sejak berdirinya negara Israel Deir Vassin hingga Tel al-Zaatar, Yordania hingga Lebanon, Lebanon Selatan hingga Beirut. Ini adalah pertama kalinya Israel membentuk penyelidikan semacam ini.
Aku memikirkan keadaan orang-orang di kamp yang selamat dari penyerbuan dan pembantaian dan kini hidup dalam kesengsaraan. Aku juga memikirkan mayat-mayat yang tertimbun di bawah puing-puing dan di kuburan-kuburan massal. Aku memikirkan betapa susah payahnya aku mendapatkan fakta-fakta tentang pembantaian tersebut, dan betapa banyak reporter Barat yang tidak ingin mendengarnya. Hanya karena aku adalah seorang
wanita kulit berwarna dan berasal dari negara Dunia Ketiga mereka bahkan tidak mau mewawancaraiku. Aku juga memikirkan orang Inggris yang mengepalai tim sukarelawan kami, yang telah berusaha memblokir pernyataanku tentang pembantaian yang kukirim melalui mesin teleks. Ia dan sukarelawan lainnya dengan jelas mengungkapkan pendapat mereka bahwa petugas medis seharusnya hanya menjalankan tugas mereka dan tidak usah banyak omong, menyerukan pendapat seperti yang kulakukan berarti melakukan sesuatu di luar peranku "yang semestinya". Lebih jauh lagi, aku semestinya tidak mengungkapkan pernyataan anti-Israel apa pun.
Aku mengingat kembali betapa inginnya mereka membuatku diam. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa alangkah lebih baik jika pembantaian itu tidak terjadi, karena dengan begitu, aku tidak akan mengungkapkan pernyataan apa pun yang menyerang para pembunuh itu! Untuk pertama kalinya, aku bisa sedikit memahami perasaan para korban Palestina itu. Berkali-kali mereka dilukai, dan pernyataan-pernyataan yang menyuarakan nasib mereka terus dibungkam.
Akhirnya, aku membuat satu keputusan. Politik Israel bisa jadi sangat rumit dan ruwet, Komisi Kahan mungkin memiliki motif tersendiri. Pada akhirnya, semua itu tidak jadi masalah, asalkan kesaksianku dapat memberiku kesempatan untuk membeberkan kondisi orang-orang di kamp kepada siapa pun yang mau mendengarnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kuberitahu-
kan kepada Ellen keputusanku untuk ikut bersamanya. Ia merasa sangat senang. Kemudian, kami pergi menemui tiga orang anggota tim asing lainnya dr. Paul Morris, Louise Norman, dan "Big Ben" si perawat asal Belanda. Ellen menjelaskan kepada mereka persis seperti yang telah ia jelaskan kepadaku, dan mereka juga setuju untuk ikut bersama kami. Norman adalah perawat Swedia yang ditinggal di ruang ICU Rumah Sakit Gaza setelah dua puluh orang dari kami diperintahkan keluar pada pagi hari tanggal 18 September. Kami menulis semua pernyataan kami dan memberikannya kepada Ellen untuk dikirim ke Komisi melalui teman wartawannya.
Dua hari berikutnya, Komisi Kahan menghubungi Ellen. Mereka mengiriminya sebuah pesan teleks melalui Palang Merah Internasional yang memberitahukan bahwa mereka telah menerima kesaksiannya, serta nama-nama para dokter dan perawat di Rumah Sakit Gaza yang ikut memberikan pernyataan, dan telah memerintahkan Menteri Pertahanan Israel, Ariel Sharon, dan Angkatan Bersenjata Israel, untuk menemui dan mengawal kami ke hadapan Komisi.
Aku merasa sangat senang, aku tak sabar menunggu orang-orang yang berusaha mencegahku mengirim pernyataan melalui teleks mendengar kabar ini!
Di Rumah Sakit Gaza keesokan harinya, aku memberitahukan semuanya kepada PRCS. Aku memberi tahu Azzizah bahwa kontrakku tidak akan diperbarui. Yang lebih penting lagi, aku memberitahu-
kan kepadanya keputusanku untuk memberikan kesaksian di Israel. Hari-hariku di Rumah Sakit Gaza tinggal sedikit lagi, tetapi aku meminta Azzizah untuk tidak memberitahukan hal ini kepada para pasien karena aku tidak tega mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Aku tetap melanjutkan tugas jagaku seperti biasa, sambil sesekali berhenti untuk berfoto bersama para pasienku.
Bocah laki-laki yang menderita disentri-tifus kini keadaannya jauh lebih baik. Beberapa hari sebelumnya, ia menderita penyakit melaena pendarahan usus. Ia membutuhkan transfusi darah berkali-kali, tetapi persediaan darah menipis. Seorang perawat pria Palestina yang merawatnya menghampiriku pada suatu sore dan memberitahuku bahwa rumah sakit kehabisan persediaan darah. Jika hal itu terjadi, biasanya kami pergi ke Pasukan Perdamaian Multinasional dan meminta donor darah.
Jadi, kami menuju barak Prancis untuk menanyakan perwira yang berwenang jika ada anak buahnya yang bergolongan darah O positif yang mau menyumbangkan darahnya. Sayangnya, semua bawahannya ternyata telah mendonorkan darah untuk sebuah rumah sakit lain sehari sebelumnya, sehingga mereka tidak dapat membantu. Lalu, ia tiba-tiba teringat akan pasukan Italia, mereka baru saja melintas di jalanan dan mungkin dapat membantu kami. Ia memerintahkan salah seorang tentaranya untuk membawa kami ke barak Italia, dan mengajariku bahasa Italia untuk mengatakan, "Kami membutuhkan golongan darah O positif.
Sampai di barak Italia, aku agak kesulitan menyampaikan maksudku kepada sang pemimpin pasukan. Namun, dengan segera aku mengetahui bahwa ia sangat khawatir mengutus anak buahnya ke kamp pengungsi Palestina, meskipun hanya untuk menyumbangkan darah. Mungkin dalam pikirannya ia takut kalau-kalau darah anak buahnya itu malah akan membantu para teroris. Setelah aku bujuk sebisaku, ia akhirnya setuju. Tiga orang tentara Italia dengan golongan darah O positif dikawal dengan tiga buah mobil bersenjata akhirnya tiba di Rumah Sakit Gaza pada pukul lima pagi. Aku lagi-lagi teringat akan anggapan dunia bahwa orang-orang Palestina adalah teroris. Mungkin ini adalah pertama kalinya orang-orang Italia itu mengunjungi sebuah kamp pengungsi Palestina.
Di dalam rumah sakit, aku memutuskan membawa para tentara Italia itu untuk melihat pasien cilik kami, yang saat itu keadaannya benar-benar parah. Para tentara itu kemudian merasa malu karena menyangka akan menemukan seorang teroris yang terluka. Mereka memberikan darah mereka, lalu pergi. Beberapa hari setelah itu, mereka kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi pasien itu dan membawakannya bunga serta beberapa bingkisan kecil. Salah seorang dari mereka bahkan akhirnya berteman dekat dengan anak itu. Ia bahkan berpotret bersama anak itu dan ayahnya, dan aku dengan senang hati menjadi sang fotografer.
Lalu, aku menemui Profesor Arnauti yang renta di tempat tidurnya. Ia adalah "pemukim liar" dari Je-
rusalem yang pernah hendak diusir oleh rekanku dari Inggris. Arnauti telah dua kali kehilangan tempat tinggalnya, pertama, ketika ia dipaksa meninggalkan Jerusalem, kedua, ketika rumahnya di Beirut dibom oleh tentara Israel. Kami menyebutnya Socrates, dan ia adalah salah seorang yang paling bijak yang pernah kutemui. Ia mampu berbicara banyak bahasa dan memiliki wawasan politik yang sangat luas. Sekarang ia adalah seorang pria renta dan tidak punya keinginan untuk pergi ke mana pun kecuali kembali ke tempat kelahirannya. Namun, ia khawatir akan mati di pengasingan, di dalam salah satu rumah sakit milik PRCS di Beirut. Ia fasih berbicara bahasa Inggris dengan aksen Oxford. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada profesor itu, tetapi kemudian aku mengurungkannya. Aku hanya berucap dalam hati semoga ia selamat dan berharap agar ia dapat mengunjungi tanah tercintanya, Jerusalem, sebelum meninggal.
Lalu, ada anak-anak laki-laki, Milad, Muna, dan Essau. Ada pula anak-anak perempuan di ruangan sebelah yang lebih kecil, Laila, Fatimah, dan sau-dari-saudari mereka, serta para pria dan wanita yang terluka dan menunggu giliran operasi minggu depan. Sungguh berat membayangkan meninggalkan mereka.
Aku membawa surat imbauan yang kurencanakan untuk kukirim kepada presiden Lebanon. Surat itu ditandatangani lebih dari dua puluh orang petugas paramedis asing, yang semuanya menaruh perhatian pada penderitaan rakyat akibat perang
dan mereka yang ditahan tanpa alasan. Namun, surat itu tak pernah terkirim karena kami menyadari bahwa hal ini akan membahayakan PRCS, dan kebanyakan orang yang menandatangani surat ini bekerja pada PRCS. Ini bukan waktunya bersikap provokatif. []
Sebelas
Umat Islam menjalani masa berkabung selama empat puluh hari setelah kematian seseorang, dan 26 Oktober adalah hari ke-40 setelah pembantaian di Beirut. Ellen menyarankan agar kami, para petugas medis asing, berkumpul di luar Rumah Sakit Gaza dan bersama-sama meletakkan karangan bunga di kuburan massal. Kami mengundang pers untuk meliput peristiwa ini, seraya berharap hal ini akan menarik perhatian orang-orang kepada kamp pengungsi. Karangan bunga telah dibeli dan pers pun tiba, tetapi prosesi tersebut dibatalkan. Pemerintah Lebanon sedang berada di bawah tekanan pemerintah Israel untuk menutup PRCS. Sebuah prosesi yang menyebabkan timbulnya perhatian kepada kamp dan pembantaian itu hanya akan memicu reaksi dan menjadi dalih untuk menutup PRCS. Prosesi dibatalkan, dan kami terpaksa meminta maaf kepada pers. Beberapa dari kami berjalan dengan perlahan ke kuburan massal untuk mengenang para korban.
Orang-orang di kamp sudah terlebih dahulu menuju kuburan massal dan di atas sebuah gundukan besar tanah tergeletak sekumpulan karangan bunga dan bendera-bendera hitam. Banyak dari rumah di Shatila telah habis dilindas buldoser, dan kamp itu
menjadi seperti lapangan sepak bola tanpa rumput, tentunya. Aku berbicara dengan sekelompok janda. Salah seorang dari mereka memberitahuku bahwa mereka melihat seekor merpati putih terbang pada waktu fajar dari kuburan massal tersebut. Menurut mereka, itu adalah pertanda bahwa arwah anak-anak dan suami yang mereka cintai telah menemukan kedamaian. Kebetulan hari itu juga adalah hari ulang tahunku hari ulang tahun yang diliputi kesedihan. Walaupun langit tampak biru cerah dan sinar matahari terasa hangat dan bersahabat, itu semua tak dapat mengurangi kepedihan hati kami. Selain itu, kegagalan kami memperingati hari berkabung ini membuat kesedihan kami bertambah dalam.
Ellen dan aku kembali ke rumah sakit tepat pada waktunya untuk mencegah persiapan pesta perpisahan. Pihak rumah sakit ingin membelikan permen dan kue untuk pesta perpisahan.
"Itu semua tidak perlu tidak ada perpisahan. Kami hanya akan berjalan-jalan ke Jerusalem, dan kalian tunggu saja kami di sini, kami akan kembali kepada kalian," jelas kami kepada teman-teman di PRCS.
Pada saat bersamaan, sekerumunan kecil orang telah berkumpul di luar Rumah Sakit Gaza. Orang-orang di kamp telah mendengar bahwa para dokter dan perawat dari Rumah Sakit Gaza akan pergi ke Jerusalem untuk memberikan kesaksian. Mereka merasa tergetar, dan banyak dari mereka mulai membicarakan Jerusalem  dan   Palestina.   "Bu  Dokter,
sampaikan salam kami kepada Akka, kepada Haifa," kata mereka, "dan sampaikan cium kami kepada Jerusalem. Semoga Tuhan melindungi kalian!"
Sepanjang sejarah, banyak orang telah menguasai tanah Jerusalem. Raja David merampasnya dari penduduk asli, kemudian pasukan Romawi mengambilnya dan menjarahnya, lalu datanglah pasukan Islam Turki 'Utsmani, dan kemudian Inggris, serta psukan Zionis. Banyak yang bisa mengklaim Jerusalem atas dasar alasan keagamaan atau sebagai bagian dari Kekaisaran.
Akan tetapi, bagi orang-orang Palestina penghuni kamp ini, Jerusalem adalah rumah mereka. Mereka ingin sekali berada di Jerusalem untuk menyambut kedatangan kami, di pengasingan ini mereka tak dapat menunjukkan sepenuhnya keramah-tamahan khas Arab kepada kami. Mungkin suatu hari, mereka akan kembali ke rumah orangtua mereka, menunggu untuk menyambut teman-teman mereka dari luar negeri.
Ellen telah mengepak tas-tas bawaannya. Kami bersiap untuk pergi. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada para staf rumah sakit, Hadla, Ummu Walid, dan Azzizah ketiga wanita yang bersama-sama mengurus Rumah Sakit Gaza pada masa-masa tersulit dan kepada orang-orang lainnya yang telah berjuang dan tetap tegar meskipun mengalami tekanan, baik secara fisik maupun mental. Ketika Azzizah mengucapkan selamat tinggal dan kemudian menghilang dari pandanganku, air mataku berlinang dan aku merasa goyah. "Swee, kamu tidak boleh
rapuh," bisik sebuah suara di telingaku. "Kamu takkan bisa melakukan apa pun untuk menolong orang-orang ini jika kamu rapuh seperti ini." Itu suara Ellen. Aku menguatkan diriku, lalu kami meninggalkan apartemen Hamra.
Ketika kemudian kami kembali ke Hamra, hal pertama yang kudengar adalah seorang dokter asal Inggris dengan riang mengumumkan bahwa aku telah dipesankan tiket pesawat ke London pada 30 Oktober. Para kolega ekspatriatku itu pasti sangat senang dengan kepergianku!
Selama dua hari berikutnya, jauh dari kamp Sabra dan Shatila, aku mencicipi suasana Beirut dalam kedamaian. Pada suatu siang, aku berjalan menuju flat ibunda Ama di Hamra tatkala seorang pria tiba-tiba terburu-buru menghampiriku. Dengan pemahaman bahasa Arabku yang terbatas, aku menduga bahwa ia ingin aku mengikutinya. Setiap kali seseorang memintaku untuk mengikutinya, itu selalu untuk mengunjungi seorang pasien yang keadaannya parah, sehingga aku mengira pria itu punya anggota keluarga yang sedang sakit parah. Tetapi ketika ia mulai meraih lenganku, menawariku 100, 200, 300, 400, dan akhirnya 500 lira, dan mulai berbicara tentang "servis" satu jam, setengah jam, dan seterusnya, aku tersadar bahwa ia menyangkaku seorang wanita penghibur. Transaksi ini terhenti seketika begitu kutunjukkan kartu identitas dokterku. Dengan sangat malu ia segera menghilang ke dalam gang.
Ama berlari ke arahku. Ia menyaksikan seluruh
kejadian ini dari kejauhan dan menjadi khawatir. Namun, aku meyakinkannya bahwa aku sudah "besar", dan segalanya dapat kubereskan dengan baik. Ia membawaku ke apartemen ibunya dan menceritakan kejadian itu kepadanya. Ini adalah perkenalan pertamaku dengan situasi sosial yang suram dari Kota Beirut.
Ama adalah kawan Misha, dan Misha adalah kawan Paul, dan melalui hubungan itulah kami akhirnya saling mengenal. Ibunda Ama telah menjadi teman sekaligus mentorku. Sebagaimana halnya ibu-ibu Palestina di Beirut, ia sangat mengkhawatirkan dua putranya yang berusia remaja. Mereka berusia di atas empat belas tahun, dan di Beirut, pria Palestina yang berusia empat belas hingga enam puluh tahun rentan terhadap penangkapan dan pemeriksaan. Sehingga, ibunda Ama sama sekali tidak bisa merasa tenang. Suaminya, untungnya, telah melarikan diri pada waktu yang tepat. Selama masa pendudukan Israel di Beirut Barat, kompleks apartemen mereka sering digeledah, tetapi anak-anaknya berhasil bersembunyi selama masa-masa penyerangan tersebut. Memiliki sebuah flat mewah di ujung kawasan distrik Hamra yang mahal tidak membuat mereka terhindar dari penindasan.
Ibunda Ama adalah tambang emas sejarah Palestina bagiku. Aku benar-benar melahap segala yang dikatakannya tentang Palestina. Kami sering menghabiskan waktu berjam-jam membahas liputan koran-koran mengenai peristiwa terakhir, dan aku terus-menerus   bertanya   kepadanya.   Ayah   Ama
adalah seorang intelektual Palestina kelas atas dan seorang pemikir politik, dan sayangnya aku tak sempat bertemu dengannya. Namun, ibunda Ama sudah cukup buatku. Ia adalah seorang wanita aristokrat Suriah berdarah Palestina, pandai bicara, dan tak pernah berhenti membordir meskipun sedang menganalisis beberapa rencana perdamaian internasional untukku, dan memperkirakan masa depan Palestina. Sebagaimana wanita-wanita Palestina lainnya di kamp, ia tengah membordir sehelai kain lebar bergambar peta Palestina yang ia ingat semasa kecilnya.
"Awalnya, beberapa tahun yang lalu, orang-orang Palestina di Yordania ditempatkan di tenda-tenda," jelasnya. "Lantas sebuah dinding muncul di sekitar tenda. Sebuah atap dibangun di atasnya. Sebatang tanaman hijau muncul. Lalu lebih banyak lagi tanaman hijau. Lalu, suara ayam-ayam, kambing dan dalam waktu singkat, kamp tersebut menjadi sebuah desa, dengan sekolah-sekolah, toko-toko, dan seterusnya." Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan, "Kami membuat kesalahan dari waktu ke waktu. Setiap kali terjadi kesalahan, rakyat kami membayarnya dengan mahal. Mungkin rakyat Palestina butuh satu atau dua generasi lagi untuk mengubah kamp-kamp menjadi desa, namun itu akan terjadi lagi."
"Siapakah orang Palestina itu?" tanyanya. "Kami berada di mana-mana. Israel takkan bisa melenyapkan kami, tidak seorang pun bisa. Setiap generasi lebih kuat daripada generasi sebelumnya. Kami
belajar sungguh-sungguh belajar. Belajar dari kesalahan, belajar dari kekuatan. Tujuannya untuk menang, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, namun pada saatnya nanti."
Ibunda Ama telah mempersiapkan berdus-dus buku yang siap dikirimkan ke Suriah, tempat yang aman dari serangan Israel. Baginya, buku-buku ini lebih penting daripada emas dan perhiasan. "Buku-buku ini adalah rekaman tertulis tentang perjuangan Palestina," ujarnya. Aku benar-benar mengingat saat-saat berharga bersama ibunda Ama, dan apartemennya menjadi rumah kedua buatku.
Rumah ketigaku adalah kantor Federasi Mahasiswa Kristen Sedunia (World Students' Christian Federation WSCF). Francis, suamiku, adalah seorang pendukung setia Pergerakan Mahasiswa Kristen (Student Christian Movement SCM) Singapura, cabang dari WSCF. SCM cabang Singapura terancam dibubarkan pemerintah Singapura karena selalu mendukung perjuangan hak-hak orang-orang yang terintimidasi. Dibandingkan dengan banyak organisasi kaya di Eropa, kantor WSCF di Beirut lebih sederhana, miskin, dengan fasilitas seadanya, tetapi pintunya terbuka bagi orang-orang buangan sepertiku. Yusef Hajjar, yang menjalankan kantor tersebut, selalu membuatkan kopi Arab. Kemudian, ia serta rekannya, Jacqueline, akan mendengarkan semua keluh kesahku dengan sabar meskipun mereka mungkin tidak percaya dengan segala yang kukatakan. Aku turun tangan membantu para juru tik dan tukang fotokopi mereka membuat salinan
surat-surat terbuka dan berbagai kesaksian tentang orang-orang Palestina.
Di kantor itulah aku bertemu Janet Stevens, wartawati Amerika yang beberapa tahun kemudian terbunuh dalam sebuah serangan bom di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut. Setelah meninggal, Janet selalu digambarkan sebagai "seorang wanita Amerika yang menawan" oleh pers Timur Tengah. Aku ingat membaca liputannya tentang penyerbuan tersebut, sebagai seorang wartawan, tulisannya tidak kenal kompromi, dan aku menghormatinya. Ia seorang teman sejati dan pemberani bagi masyarakat Lebanon dan Palestina. Masa-masa itu sangatlah sulit, dan kantor Yusef mungkin juga diawasi.
Situasi itu benar-benar mengingatkanku akan kantor SCM di Singapura, tempat Francis dan aku menghabiskan waktu berjam-jam mengetik dan mengopi pernyataan dan tulisan tentang kelompok-kelompok tertindas. Yusef selalu berkata begini, "Ketika krisis berlangsung dan kehidupan menjadi sulit, umat Kristiani akan menjadi satu-satunya pihak yang melanjutkan perjuangan."
Aku selalu membalas dengan sarkastis, "Hanya segelintir umat Kristiani, maksudmu."
Pada 28 Oktober 1982, dua hari setelah kami meninggalkan Rumah Sakit Gaza, Ellen Siegel diminta menghubungi juru bicara Departemen Luar Negeri Israel, Isaac Leor. Ia meminta kami pergi ke Ba'abda di Beirut Timur, tempat ia ditugaskan. Kami dijadwalkan menghadap Komisi Kahan pada 1 No-
vember. Waktunya bagiku untuk memberi tahu para sponsorku tentang rencanaku ini.[]
Dua Belas
Ketua organisasi yang mensponsori kedatanganku ke Lebanon adalah seorang pria Kristen Lebanon yang kaya, ia menikah dengan seorang wanita Amerika. Biasanya aku merasa tak perlu mengganggunya, tetapi ia memintaku menemuinya setelah mendengar bahwa aku hendak memberikan kesaksian di hadapan orang-orang Israel. Aku duduk dan menunggu di luar kantornya sementara ia sedang rapat dengan beberapa orang diplomat. Beberapa saat kemudian, sepasang pejabat penting keluar dari kantornya. Ketika mereka telah pergi, sekretarisnya memberitahuku bahwa aku boleh masuk dan berbicara dengannya.
Duduk di dalam ruang kantornya yang ber-pendingin dan berperabot mewah, ia memalingkan wajahnya dari hadapanku ketika aku masuk. Ia memutar-mutar kursinya, memberi isyarat kepadaku untuk duduk, dan melirik ke arahku dengan sudut matanya. "Kenapa Anda selalu memberi saya masalah?" tanyanya dengan wajah muram.
"Masalah apa?" aku balas bertanya."Vaa .... ," katanya, "pertama tentang pesan teleks Anda. Itu sudah cukup buruk. Lalu Anda mengupayakan agar majalah-majalah dan koran-koran Timur Tengah memuat pernyataan Anda. Demi keselamatan Anda sendiri, saya sarankan agar Anda segera pergi, dan
jika Anda menganggap bahwa kami ingin mengusir Anda, sebenarnya bukan kami bermaksud demikian. Sekarang, saya dengar Anda hendak pergi ke Israel. Saya harap Anda menyadari bahwa Israel dan Lebanon masih berperang, dan kepergian Anda ke Israel untuk berpartisipasi dalam komisi penyelidikan semacam ini akan membawa akibat politis."
Seraya mencerna apa yang dikatakannya, aku tersadar bahwa ucapannya memang benar. Tetapi aku tetap kukuh dan menolak mendengarkan alasan-alasannya. Sebaliknya, aku bersikeras bahwa aku harus pergi. Kami mencapai jalan buntu, dan ucapannya semakin bernada mengancam. Ia mem-peringatkanku akan kontrakku dengan organisasi sosial di Inggris yang mengutusku. Aku bukan seorang agen independen yang bebas untuk membuat publisitas. Organisasi sosialku di Inggris bisa jadi akan mengambil tindakan hukum terhadapku karena melanggar kontrak. Barulah saat itu aku mengerti bahwa ia pasti berada di bawah tekanan dari luar, dan pasti akulah yang menjadi penyebabnya.
Untuk membebaskannya dari tanggung jawab, aku menawarkan untuk mengundurkan diri. Sehingga, aku dapat pergi ke Jerusalem sebagai individu yang bebas, tidak terkait dengan organisasinya. Ia menerima usulku ini, tetapi memperingatkanku bahwa jika aku melakukannya, aku akan mendapat kesulitan untuk kembali bekerja di Lebanon. Sebab, untuk melanjutkan pekerjaanku membantu orang-orang Palestina, aku harus tergabung dalam sebuah organisasi Lebanon. Ia mencoba membujukku bahwa
lebih masuk akal jika aku tetap tutup mulut dan menjadi "semata-mata ahli bedah" bagi rakyat Palestina. Apalagi, ia memperingatkanku bahwa aku hanyalah seorang pengungsi dan tidak punya negara, jika aku membuat terlalu banyak publisitas yang tidak menyenangkan, pemerintah Inggris bahkan mungkin tidak akan mengizinkanku kembali ke Inggris, dan itu berarti aku benar-benar berada dalam masalah. Tapi tak ada gunanya, aku telah memutuskan untuk pergi, dan itulah yang kuinginkan.
Mengenai argumen bahwa para pekerja sosial harus bersikap netral, aku bahkan tidak peduli. Aku ingat sebuah puisi Pastor Niemoller yang pernah dibacakan Francis untukku. Puisi itu tentang sikap tidak berani berbicara. Pasukan Nazi menyerang kaum komunis, Yahudi, serikat-serikat dagang, dan orang-orang cacat dan tak seorang pun yang berani berbicara. Ketika Nazi menyerang yang lainnya, tidak ada lagi orang yang tersisa untuk berbicara mewakili mereka, karena semua orang sudah mati terbunuh.
Aku harus menyuarakan kebenaran selagi masih hidup dan masih punya suara. Ben dan Louise, yang juga disponsori oleh organisasi yang sama, tidak diizinkan memberikan kesaksian. Akhirnya hanya ada Ellen, Paul Morris, dan aku sendiri. Paul dan Ellen tidak bekerja untuk organisasi yang sama denganku sehingga tidak mendapat tekanan yang sama.
Kembali ke Mayfair Residence, aku menulis kepada sponsorku, pertama-tama untuk menyatakan secara resmi pengunduran diriku dan kedua,
untuk mengatakan kepadanya bahwa aku harus menyuarakan nasib rakyat Sabra dan Shatila. Jika karena itu aku harus keluar dari Lebanon dan rencana masa depanku sendiri akan terancam, maka ya sudahlah. Aku juga berterima kasih pada organisasiku karena telah menjadi tuan rumah yang baik, kenyataannya memang mereka telah bersikap sangat baik kepada para sukarelawan. Aku meminta maaf karena telah membuat mereka kesal dengan bertindak menentang pendapat mereka.
Pada sore itu, beberapa sukarelawan medis asal Inggris dan Eropa datang menemuiku di Mayfair. Aku tak tahu apakah mereka bertindak atas perintah suatu pihak atau karena kecewa terhadapku, tetapi apa pun alasannya, mereka menuduhku membahayakan keselamatan mereka dengan memberikan kesaksian di Jerusalem. "Sadarkah kamu bahwa dengan berbicara terang-terangan seperti ini, kami semua akan terkena dampaknya?" salah seorang dari mereka bertanya.
"Kamu membahayakan nyawa setiap orang," sahut yang lainnya, "dan semua kerja keras yang telah kita lakukan dengan baik di sini. Jika kamu bersikap terang-terangan anti-Israel dan seluruh tempat ini diledakkan dengan bom seberat lima ratus kilogram, kamulah yang pertama-tama harus bertanggung jawab."
Surat kaleng dan tekanan dari rekan-rekan satu timku itulah yang bagiku terasa paling berat. Pada akhirnya, Mary turun tangan. Ia memindahkanku ke bawah ke apartemen seorang temannya,
Jill Drew. Lantas ia menempelkan sebuah pengumuman besar di pintu apartemen kami, yang ber-tuliskan, "Dr. Swee telah keluar dari Mayfair. Dia tidak lagi di sini."
Meskipun tetap berada di Beirut, aku setengah bersembunyi dari rekan-rekanku, dan Jill menjagaku.
Apa aku benar-benar membahayakan keselamatan seluruh tim, sebagaimana yang dinyatakan oleh beberapa orang? Aku harus merenungkannya. Aku sudah mengundurkan diri. Aku juga secara resmi telah meninggalkan Mayfair. Aku melakukan ini berdasarkan keyakinanku sendiri dan keinginanku untuk berbicara bagi orang-orang di kamp, untuk meminjamkan suaraku bagi mereka.
Para kolega Eropa yang paling keras memprotesku tidak pernah sekali pun mengunjungi kamp-kamp tersebut. Aku teringat akan perkataan temanku, Laila orang yang membawaku menemui Hajah, istri Yusuf Hassan Muhammad, di kamp Shatila. "Swee," katanya, "aku benar-benar minta maaf karena mengatakan ini, tapi beberapa rekan asingmu itu menganggap kunjungan ke sini adalah piknik, padahal orang-orang kami menderita dan sekarat."
Memang santer terdengar kabar di Beirut bahwa beberapa sukarelawan asal Inggris bersikap sangat tidak sensitif dengan menggelar pesta disko saat pemberitaan tentang pembantaian itu tersebar. Aku sungguh merasa tersinggung karena kelakuan mereka itu. Jill, Mary, Charlotte, dan perawat-perawat Amerika lainnya berperan penting dalam meyakinkanku bahwa pendapatku itu benar. Aku tak
dapat mengerti mengapa para sukarelawan Inggris itu membenciku karena memutuskan untuk pergi, sedangkan para sukarelawan Amerika mendukungku.
Pada akhirnya, aku memutuskan bahwa jika seorang Palestina dari Sabra dan Shatila merasa keberatan dengan kepergianku, aku akan membatalkannya.
Untuk membuatku senang, Jill Drew membuat sebuah lelucon. Sementara kami mendengarkan dari pesawat telepon lainnya, ia memutar nomor telepon Isaac Leor. Akhirnya, seorang tentara Israel mengangkatnya. Jill menirukan aksen Arab dan menanyakan Isaac.
Ketika si tentara itu mengatakan bahwa Isaac tidak ada, Jill berkata, "Tolong sampaikan padanya untuk menelepon Jamilah. Ia tahu nomorku. Kami akan berkencan, dan aku menunggunya."
Jamilah adalah nama Arab yang lazim diberikan untuk para gadis yang berarti 'cantik1. Kami semua meledak tertawa sambil membayangkan wajah Isaac Leor yang memerah karena sangat malu telah menerima pesan seperti itu. Memang kejam, tapi cara itu sangat ampuh untuk menenangkan diriku.
Malam itu, kami makan malam di tempat Jill Drew dan menyanyikan lagu-lagu Kristiani. Kami bernyanyi, "Ketika aku membutuhkan seorang teman, apakah kamu di sana? Ketika aku kelaparan dan kehausan, apakah kamu di sana?" Kami kembali membaca cerita tentang orang Samaria yang baik, dan mengingatkan kami akan pentingnya memperbarui komitmen kami dalam beragama.  Aku juga
diam-diam memohon maaf kepada Tuhan seandainya aku telah keliru membuat pilihan karena memutuskan memberikan kesaksian, seandainya memang aku telah bersikap keras kepala dan menolak untuk mendengarkan nasihat. Terkadang memang sulit untuk mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan. []
BAGIAN KETIGA
Dari Jerusalem ke Inggris
1982 -1984
Tiga Belas
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ellen dan aku berangkat. Para perawat Amerika mampir untuk mengucapkan selamat tinggal, begitu pula Big Ben dan Louise hanya begitu saja. Kami tidak mengadakan pesta perpisahan yang meriah yang biasanya dilakukan orang-orang asing jika sebuah tim akan pergi. Dr. Paul Morris menunggu kami di luar Mayfair. Ia menolak datang ke Residence karena tak mau berurusan dengan para sukarelawan asing yang tinggal di situ. Lalu, Jill memutuskan ikut bersama kami sejauh ia bisa.
Kami berempat mencegat taksi dan meminta sopir untuk mengantarkan kami ke Ba'abda, Beirut Timur. Kami menemukan kantor Kementerian Luar Negeri Israel di samping sebuah supermarket besar. Dengan membawa semua barang kami, kami berjalan menuju kantor yang dipenuhi tentara Israel yang berseragam lengkap. Kedatangan kami menimbulkan keingintahuan mereka karena kami datang dari kamp pengungsi Palestina.
Jill harus meninggalkan kami. Aku merasa sedih harus berpisah dengannya. Ia memutuskan pulang dari Beirut Timur dengan berjalan kaki dan menuju kamp untuk memberi tahu orang-orang di kamp bahwa kami telah sampai dengan selamat. Kekha-
watiran terbesarnya adalah bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kami selama perjalanan dari Beirut Barat menuju kantor Israel, karena perjalanan itu melalui jalan raya tak bertuan. Seseorang bisa saja melempar bom kepada kami dan membunuh kami semua, dan dengan demikian melenyapkan para saksi dari kamp. Kemudian, mereka bahkan bisa menyalahkan orang-orang Palestina atas peristiwa itu. Untunglah hal itu tidak terjadi. Mungkin kami bukan orang-orang yang terlalu penting. Setelah tiba di kantor itu, apa pun yang menimpa kami jelas menjadi tanggung jawab orang-orang Israel.
Kantor kementerian Israel adalah sebuah bangunan besar dan terang yang mengingatkanku pada aula sebuah sekolah di Singapura. Lantai bawahnya tidak banyak dipenuhi perabotan, tetapi di lantai atas terdapat banyak perabotan mewah. Pilihan warnanya tidak menarik dan mengesankan. Meja-mejanya terbuat dari logam dan dicat biru keabu-abuan. Di seluruh aula lantai bawah terdapat tumpukan besar selebaran stensilan.
Terdapat sebuah papan tulis yang masih dipenuhi coret-coretan kapur. Jelas baru saja diadakan ceramah di sini. Sepintas kulihat tulisan di papan tulis dan di berkas-berkas catatan berisi mengenai "efektivitas biaya" penyerangan Israel. Terdapat angka-angka bantuan perang Amerika yang menghabiskan biaya hingga miliaran dolar Amerika antara 1948 hingga 1982, dan efisiensi uang yang telah dikeluarkan. Betapa menjijikkannya memikirkan penderitaan yang dialami orang-orang Palestina dan
Lebanon akibat "efektivitas biaya" semacam ini! Isaac Leor mengenalkan kami kepada Avi dan Egal, dua orang perwira Pasukan Pertahanan Israel yang akan mengawal kami ke Israel. Ia memperingatkan kami untuk menyatakan hal yang sebenarnya, tetapi aku mengatakan bahwa itulah alasanku pergi ke Jerusalem. Kami kemudian dibawa ke sebuah mobil van biru Volkswagen yang khusus disewa untuk acara-acara tertentu sehingga kami tidak akan bepergian dengan menggunakan jip militerbiasa. Di dalamnya sudah ada tiga orang tentara Israel. Keamanan kami terjamin dengan adanya dua buah mobil baja Israel, lengkap dengan tentaranya, yang melaju di depan dan di belakang kami.
Kami menuju selatan, di atas jalan raya yang pernah kami gunakan beberapa hari yang lalu menuju Saida. Bedanya, kali ini kami tidak distop di pos-pos pemeriksaan. Orang-orang Kata'eb melambaikan tangan kepada kami, begitu pula dengan orang-orang Haddad dan orang-orang Israel. Kami hanya berhenti pada satu atau dua pos pemeriksaan ketika para tentara yang mengawal kami mengobrol dengan teman-teman mereka tentara-tentara itu juga melambai kepada kami.
Jalanan terasa semakin kasar dan bergelombang daripada sebelumnya. Di jalanan ada beberapa lubang akibat terjangan peluru dan bom, dan permukaan jalan menjadi rusak total akibat dilalui kendaraan-kendaraan militer yang besar. Debu mengepul tebal dan membuat mataku perih, matahari bersinar terik tanpa henti. Aku menemukan sebuah
jas dan menggunakannya untuk menutup wajahku supaya terhindar dari matahari dan debu. Itu juga membuatku tidak terlihat oleh orang-orang Palestina sedang bepergian dengan orang-orang Israel!
Egal dan Avi berusia sekitar empat puluh tahun, dan berbicara bahasa Inggris dengan baik. Avi mengenakan pakaian sipil, tetapi membawa sepucuk pistol canggih yang tergantung di sabuknya. Paul, yang tahu lebih banyak tentang senjata, memberitahuku bahwa Avi bukan membawa pistol, melainkan sebuah senapan mesin ukuran mini. Praktis sekali! Kupikir, aku ingin memilikinya suatu hari nanti. Egal berseragam tentara dan terdapat tanda-tanda bintang tersemat di kedua bahunya, jadi ia pasti seorang perwira. Ia seorang yang periang, dan siapa pun dapat merasakan bahwa ia sangat menyenangkan dan bersahabat.
Avi, sebaliknya, betul-betul pendiam. Ia juga benar-benar tinggi menurutku setidaknya 190 cm. Paul memberitahuku bahwa Avi adalah salah seorang anggota Mossad, Agen Rahasia Israel. Bahkan ketika aku mengatakan kepadanya bahwa ia mengingatkanku pada Christopher Reeves dalam Superman, Avi tidak berkomentar apa-apa. Menurutku, ini semakin memperkuat dugaan Paul.
Tiga orang tentara Israel lainnya, sebaliknya, masih sangat muda, mungkin berusia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan. Salah seorang dari mereka terus-menerus memerhatikan majalah berita yang kubawa, Monday Morning, tapi tidak pernah berkata apa-apa. Akhirnya, aku menanyainya apa-
kah ia ingin membacanya ia merasa sangat senang atas tawaran itu, dan menghabiskan sisa perjalanan itu dengan membacanya. Dua tentara lainnya larut dalam perdebatan dengan Paul yang mengecam kebijakan luar negeri Israel di Lebanon. Perdebatan itu berlangsung terus dan terus, dan menjadi sangat meresahkan, karena kedua belah pihak tidak mau mengalah. Aku berusaha membuat Paul tutup mulut dan tidak membuang-buang waktu, tapi ia tetap bersikeras.
Tidak seorang pun di dunia ini yang dapat menyuruh Paul diam. Beberapa hari sebelumnya, ia melintasi pos pemeriksaan Israel dan Haddad di Lebanon Selatan. Seorang tentara Israel menyetopnya dan ingin melihat surat-suratnya. Paul berkata kepada tentara itu, "Memangnya kamu siapa ingin melihat surat-suratku? Kamu orang asing di negeri ini, sama juga seperti aku. Kamu tak punya hak untuk melihat surat-suratku."
Semua orang terdiam. Paul mengajak berdebat seorang tentara yang bersenjatakan senapan mesin, dan beberapa orang tentara lagi menatap dari atas dua buah tank besar. Ia seharusnya memilih tempat lain yang lebih aman untuk berdebat. Namun, sungguh menakjubkan, ia berhasil melakukannya ia melewati pos pemeriksaan itu tanpa perlu menunjukkan surat-suratnya! Orang-orang ajaib memang punya keberuntungan yang ajaib pula.
Dari tempat dudukku di dalam van itu, aku dapat melihat garis pantai Laut Tengah. Aku mulai mencintai Laut Tengah selama beberapa bulan ter-
akhir ini. Airnya tenang, biru, mengempas ke garis pantai Lebanon dan tetangganya, Palestina. Sepanjang sejarah, berapa banyak penderitaan dan pertumpahan darah yang telah ia saksikan? Apakah ia diam karena tidak berperasaan, atau karena jauh di lubuk kearifannya ia menganggap konflik antarmanusia begitu kecil? Penderitaan umat manusia yang fana sepertinya tenggelam jauh ke dasar hamparan biru yang tenang itu. Aku pasti telah tertidur sebentar karena mendadak aku terbangun. Van yang kami tumpangi telah berhenti di tepi jalan raya. Di atas kami ada sebuah papan besar ber-tuliskan "Selamat datang di Israel".
Egal turun, dan dengan suara yang nyaring serta riang berkata kepada kami bertiga, "Mulai sekarang, jalan-jalan raya yang Anda lalui akan mulus dan bagus sehingga Anda semua bisa rileks." Jelaslah ia juga tidak menikmati perjalanan di jalanan Lebanon yang bergelombang.
Memang benar, jalan raya yang kami lalui terasa mulus dan rata, tidak berlubang dan permukaannya diaspal dengan baik. Terlihat di sana-sini banyak kelompok anak sekolah membawa rangkaian bunga, jelas-jelas mereka sedang berpiknik di daerah perbatasan. Sudah sejak lama aku tak pernah melihat anak-anak yang riang gembira. Pemandangan itu mengingatkanku akan anak-anak di Inggris pada hari libur. Dengan segera ingatanku kembali ke kamp.
Anak-anak Palestina kira-kira juga berusia sebaya dengan mereka,  tetapi bedanya, mereka
terkurung di dalam kamp, berkeliaran di antara reruntuhan dan puing-puing, kebanyakan dari mereka adalah yatim piatu. Ini akan menjadi musim dingin yang tidak menyenangkan bagi orang-orang yang tak memiliki tempat tinggal. Mereka yang tewas setidaknya tidak perlu lagi menderita. Bagaimana dengan anak-anak di bangsal ortopedisku, yang terluka akibat terkena pecahan peluru dan bom? Banyak dari mereka yang takkan pernah bisa berjalan lagi. Sedangkan anak-anak Israel itu tampak begitu tak berdosa dan bahagia dan aku berharap kepada Tuhan bahwa mereka tak akan mengalami apa yang menimpa anak-anak di seberang perbatasan, anak-anak yang sengsara dan menderita. Aku tak dapat berhenti untuk terus berdoa demi anak-anak Israel ini, semoga mereka tidak akan dihukum karena kesengsaraan dan penderitaan yang ditimpakan oleh orang dewasa Israel kepada anak-anak lainnya. Aku berdoa mereka tidak harus menebus dosa orang lain.
Rombongan kami berhenti di depan sebuah hotel kibbutz (komunitas kolektif Israel) di bagian utara Israel. Kami turun dari van, dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku melihat rumput hijau. Ellen menjadi sangat kesal. Aku mengikutinya ke ruangan tempat menggantung jas, dan meledaklah tangisnya.
"Kamu tahu kan, Swee," ujarnya, "ini keterlaluan. Setiap rumah di sini dibangun di atas reruntuhan rumah orang lain. Masyarakat di sini dibangun atas dasar ketidakadilan." Hal ini terlalu sulit untuk
kumengerti, karena aku baru bertemu dengan teman Palestina pertamaku kurang dari tiga bulan yang lalu.
Pada pagi hari sebelum kami pergi, seseorang menyerahkan sebuah karangan bunga mawar merah kepada Ellen. Kini, aku mengikuti Ellen pergi ke lapangan dan membantunya menanam di atas tanah yang dulunya milik Palestina. Hari sudah gelap ketika kami menyelesaikan misi kecil-kecilan ini, dan kami kembali ke hotel.
Kembali ke ruang lobi hotel kibbutz, kami diperkenalkan kepada perwira tinggi yang merupakan atasan Egal, seorang pejabat penting Pasukan Pertahanan Israel (Israeli Defence Force, IDF). Saat itu, aku memutuskan untuk mencari sendiri beberapa informasi. Aku ingin mengetahui apakah IDF telah memainkan peranan dalam penyerangan di Lebanon. Aku memutuskan untuk menanyakannya pada atasan Egal.
"Pak," tanyaku, "apakah nama pasukan Israel yang kini tengah menduduki Lebanon?" Dalam ke-tidaktahuanku,  aku menduga bahwa jika Israel Defence  Force  didirikan  untuk  mempertahankan (defend) keamanan di Israel, pastilah ada kesatuan lain yang menyerang Lebanon.
Atasan Egal tampak sangat tidak senang mendengarnya, ia menjadi bersikap kaku dan menjawab, "Tentu saja IDF. Kami di Israel hanya punya satu pasukan reguler, tidak banyak seperti di negeri yang baru saja Anda tinggalkan. Tidak seperti Lebanon yang punya tujuh belas pasukan, kami ma-
nunggal dan satu."
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa "pertahanan" (defence) hanya sebuah eufemisme, dan bahwa Pasukan Pertahanan Israel juga merupakan Angkatan Perang Israel.
Setelah menyantap beberapa kudapan di kibbutz, kami melakukan perjalanan ke Tel Aviv. Hari itu gelap, tetapi di sepanjang jalan kulihat rambu-rambu besar bersinar yang menunjuk arah ke Acco (Akka), Haifa, dan Jaffa. Aku memikirkan teman-teman Palestinaku yang telah memintaku untuk menyapa tempat-tempat ini, mungkin adalah tempat asal mereka.
Kami tiba di Tel Aviv saat larut malam. Komisi Kahan telah memesan kamar untuk kami di Hotel Moriah, sebuah hotel bintang lima yang besar. Sebelumnya aku tidak pernah menginap di hotel mewah. Kamar-kamarnya luas, dengan dua tempat tidur di setiap kamar untuk satu orang. "Bodoh," pikirku, "bagaimana bisa satu orang tidur di atas dua tempat tidur? Mungkin mereka mengharap aku menyetel alarm pada pukul tiga pagi dan berganti kasur."
Kamar mandinya sangat luas, dengan fasilitas pancuran air panas dan dingin, sebuah bak mandi yang panjang, handuk-handuk yang besar, dan ubin hijau bermotif cantik yang menutupi seluruh lantai dan dindingnya. Jendela kacanya besar dengan gorden yang tebal. Ellen, Paul, Avi, Egal, dan aku masing-masing mendapatkan sebuah kamar. Kamarku sendiri terasa sungguh luas, tetapi lengang dan
angkuh, tanpa kehangatan dan keramahtamahan seperti orang-orang di kamp. Tidak pula kurasakan kehangatan sebuah rumah yang kudapat di Mayfair Residence, tempat kentang-kentang berminyak dan lembap buatan Mary menyambutku setiap kali aku pulang ke kamp.
Ruang makannya juga luar biasa luas, dengan bermacam-macam pilihan menu makanan. Namun, aku telah kehilangan selera makanku dan terpaksa kuberikan telur dadar isi jamur kepada Paul dan membujuknya untuk melahapnya demi aku. Aku telah belajar untuk tidak membuang-buang makanan, bahkan makanan buatan orang Israel.
Seusai makan, Egal dan Avi membawa kami ke bar hotel dan memesankan kami bir. Keduanya berusaha keras untuk bersikap ramah dan bersahabat kepada kami. Sebuah grup band tengah memainkan lagu, dan Egal berusaha menghibur kami dengan nyanyiannya sendiri. Sayangnya, aku benar-benar merasa tidak nyaman dan tidak bisa membalas keramahan mereka. Aku merasa sangat tertekan dan terpaksa menelan tablet valium dosis lima miligram untuk membuatku tertidur. Tak seorang pun dari kami yang tahu apa yang akan kami hadapi pada acara dengar pendapat keesokan harinya.
Pada 1 November, Avi dan Egal membawa kami ke universitas tempat Komisi Penyelidikan digelar. Acara dengar pendapat itu bersifat terbuka dan pers juga hadir dengan sangat antusias. Sejauh ini, hanya kamilah saksi non-Israel yang akan membuat kesaksian.  Selain para wartawan, juga terdapat
sejumlah besar petugas keamanan dan militer. Seperti biasa, aku punya anggapan yang keliru. "Jadi, orang-orang Israel kira kita datang dari Rumah Sakit Gaza untuk meledakkan ruang sidang ini?" tanyaku kesal pada Ellen, merasa cukup terhina dengan keamanan yang sangat ketat ini. Ia menjelaskan bahwa bukan itu masalahnya, tetapi di luar sana banyak sekali kaum ekstremis Israel yang bahkan tidak mau menerima pembentukan Komisi Penyelidikan pembantaian di Lebanon ini. Itulah sebabnya pasukan keamanan dan tentara dikerahkan untuk berjaga-jaga.
Merasa terganggu dengan kerumunan massa dan kilatan cahaya lampu kamera yang menyala tanpa henti, aku terpaksa bertanya-tanya apakah publisitas seperti ini tidak terlalu berlebihan? Saat itu aku telah mengetahui bahwa pembantaian Sabra dan Shatila hanyalah salah satu dari banyak pembantaian terhadap rakyat Palestina sejak tragedi Deir Yassin pada 1948. Mengapa mendadak muncul publisitas sebesar ini?
Tak ada waktu untuk memikirkannya karena kami segera digiring menuju ruang kuliah tempat proses pengadilan digelar. Ellen adalah saksi pertama, dan ia membawa sekantong besar koran dan majalah berbahasa Ibrani yang ia kumpulkan dari kantor PBB, tempat kami ditahan pada pagi hari tanggal 18 September. Koran-koran tersebut bertanggal 15, 16, 17, dan 18 September, tanggal-tanggal terjadinya pembantaian. Seiring berjalan masuk ke ruang "pengadilan", ia berkata padaku,
"Israel yang membawa semua koran ini, sekarang mereka dapat mengambilnya kembali."
Paul dan aku duduk di luar sambil menunggu dipanggil. Lalu tibalah giliranku. Sebagai seorang dokter, aku telah berkali-kali berada di ruang pengadilan untuk memberikan kesaksian medis demi atau melawan sekumpulan orang. Tetapi aku tidak menyadari bahwa dalam sebuah Komisi Penyelidikan, para hakimlah yang mengajukan pertanyaan dan tidak ada para pengacara yang saling memeriksa bukti-bukti. Setelah mengucapkan sumpah seperti biasa, para hakim memintaku untuk menuturkan peristiwa-peristiwa selama tiga hari pembantaian, sejak tanggal 15 hingga pagi hari tanggal 18 September. Sejak saat itu, ketertarikanku pada hadirin di dalam ruangan, pada pers, bahkan pada hakim, hilang sudah. Aku merasa sangat kecewa, karena aku tahu hanya segelintir di antara mereka yang benar-benar peduli dengan orang-orang di kamp.
Pers ingin mendapatkan beritanya, pejabat pemerintah Israel ingin membuktikan kepada dunia bahwa sistem demokrasi yang mereka anut sangatlah hebat sehingga mereka pun memberikan kesempatan kepada rakyat Palestina untuk mengemukakan pendapatnya. Pengusutan ini semestinya diberi nama "Penyelidikan terhadap Pembantaian di Kamp-Kamp Pengungsi Palestina". Akan tetapi sebaliknya, Komisi tersebut menamainya "Penyelidikan Kasus Lebanon", karena menolak untuk menyebut nama Palestina.
Jadi, bahkan setelah terbunuh, keberadaan
orang-orang Palestina tidak diakui. Aku dapat mendengar di dalam batinku bergema suara, "rakyat Palestina, rakyat Palestina", terus-menerus. Tetapi meskipun aku berbicara, aku tahu forum ini tidak akan memberikan keadilan yang kucari demi orang-orang yang sangat kucintai. Dengan segera perasaanku berubah dari kecewa menjadi marah dan mengatakan kepada Komisi tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Orang-orang Israel mengatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya, padahal kami memberitahukan kejadian itu melalui gelombang radio kepada mereka, memohon mereka untuk menghentikan pembantaian itu. Mereka mencegah aksi pembunuhan terhadap orang-orang asing, tapi apakah mereka memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang Palestina? Kami tahu bahwa para tentara yang menarik picu senapan-senapan itu sepenuhnya dapat menjawab pertanyaan para pejabat tinggi Israel tersebut.
Setelah itu, aku diberi tahu bahwa kesaksianku itu bertentangan dengan kesaksian para pejabat IDF yang telah terlebih dahulu memberikan kesaksian. "Kalau begitu, mereka pasti telah berbohong," kataku kepada para wartawan yang menunggu di luar. "Saya tidak tahu apa yang telah mereka katakan kepada Komisi, tetapi apa yang saya katakan di bawah sumpah adalah sama persis dengan apa yang saya tulis di buku harian saya."
Pers bersikeras dan seolah-olah berperan menjadi penyidik hukum. Aku tahu aku tidak perlu menjawab pertanyaan mereka yang mana pun, tapi rasa
cintaku kepada orang-orang di kamp mendorongku untuk berbicara kepada siapa pun yang mau mendengarkan, termasuk para wartawan yang hanya ingin mendapatkan berita, para hakim yang mungkin menganggap diriku tidak lebih sebagai seorang "simpatisan PLO", dan publik yang beranggapan bahwa orang-orang Palestina adalah ras yang lebih rendah dari manusia. Aku sudah sangat rindu pada kamp-kamp di Beirut, pada orang-orang di sana yang kucintai, pada lantai keenam Rumah Sakit Gaza.
Amarahku semakin bertambah seiring aku berulang-ulang mengatakan kepada para wartawan itu, "Kami berdua puluh dua orang, bekerja nonstop selama tujuh puluh dua jam tanpa makan, minum, maupun tidur untuk menyelamatkan segelintir nyawa, sementara di luar sana di kamp-kamp, ribuan penduduk sedang sekarat. Seandainya saya mengetahuinya, saya akan berlari ke jalan dan melakukan sesuatu untuk menghentikannya."
Pernyataan itu memang dimuat keesokan harinya di koran-koran. Namun, tak satu pun koran memuat pesan yang lebih penting yang berusaha kusampaikan kepada mereka bahwa meskipun tak ada yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan nyawa mereka yang telah melayang, masih ada banyak hal yang dapat kita lakukan bagi mereka yang masih hidup dan menghadapi berbagai penderitaan hingga hari ini. Mereka masih tinggal di dalam reruntuhan bangunan dan puing-puing, mereka tidak punya sarana dan fasilitas yang layak, dan hidup dalam kesengsaraan yang amat berat karena musim dingin
hampir tiba. Di Jerusalem, pada 1982, tak seorang pun mau mendengarnya. Mungkin Komisi Kahan adalah kemenangan sistem demokrasi Israel, tapi komisi itu tidak berbuat apa pun untuk mengurangi penderitaan rakyat Palestina.
Dalam perjalanan keluar, kami bertemu dengan Komisaris Tinggi Inggris. Ia mengkhawatirkan kami dan menempuh segala risiko untuk datang ke universitas demi meyakinkan bahwa kami selamat. Namun, ia merasa agak bingung apakah aku seorang Singapura, Malaysia, atau Inggris. Aku sendiri juga tidak yakin, tetapi setelah memikirkannya sesaat, kukatakan padanya, "Saya rasa, cara terbaik untuk mengetahuinya adalah fakta bahwa jika saya mati di sini, jasad saya akan dibawa pulang ke London, dan itu mungkin akan menjadi urusan departemen Anda."
Paul merasa hal itu sangat memalukan untuk dikatakan kepada Komisaris Tinggi, tetapi hanya itu cara yang mudah untuk menggambarkan keadaanku, dan itulah satu-satunya gagasan yang terlintas di pikiranku saat itu. Kenyataannya, aku telah lama mengkhawatirkan di manakah aku akan dikubur.
Setelah memberikan kesaksian kepada Komisi, kami dibawa Egal dan Avi mengunjungi tempat-tempat yang menarik di Israel. Bagi orang dari Asia Tenggara sepertiku, nilai penting Tembok Ratapan tak begitu terasa. Tempat kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem telah berubah menjadi sebuah gereja yang merupakan sebuah objek wisata yang ramai. Tidak seperti bayanganku tentang kandang domba
tempat Yesus dilahirkan.
Rumah Sakit Hadassah, sebuah rumah sakit besar milik Israel, dikelola dengan baik dan memiliki peralatan yang modern, sebagaimana halnya rumah sakit-rumah sakit besar yang ditujukan untuk pembelajaran mahasiswa di Inggris. Tidak ada lubang bekas bom, tembok yang retak, kaca jendela yang hancur, dan puing-puing seperti di Rumah Sakit Gaza. Terkecuali segelintir tentara Israel yang terluka, selebihnya tidak ada yang mengingatkanku akan perang yang sedang terjadi. Para pasien di sana sama seperti pada umumnya ditemukan di rumah sakit kanker, diabetes, serangan jantung, kasus-kasus pembedahan, dan sebagainya. Tidak ada anak-anak yang terkena sindrom "Awal Reagan", tidak ada luka-luka terkena pecahan cluster bomb, tidak ada luka bakar akibat bom fosfor. Selain itu, ada air, listrik, tumbuh-tumbuhan dalam pot, gorden, dan lantai yang mengilap. Aku teringat akan kamar dr. Habib di Rumah Sakit Gaza, yang akan menjadi milikku setelah ia pergi. Suatu hari, sebuah granat besar menerobos tembok kamar itu, membuat kamar beserta isinya hancur menjadi puing-puing, untungnya tidak melukai siapa pun.
Kemudian, kami dibawa menuju Yad Vashem. Dalam keadaan normal, aku tidak ingin mengunjungi tempat itu, karena pada masa lalu aku telah menghabiskan waktu berjam-jam menangis dan bermimpi buruk tentang penganiayaan bangsa Eropa terhadap kaum Yahudi, pertama-tama oleh para kaisar Rusia,  kemudian oleh tentara Nazi. Namun,  aku
tidak ingin menyinggung tuan rumah Israelku, jadi aku ikut saja bersama mereka.
Untunglah aku memutuskan ikut. Seorang profesor wanita Israel ahli sejarah, ia sendiri selamat dari kamp Auschwitz di Perang Dunia Kedua yang mengerikan itu telah mengambil cuti untuk mengajak kami berkeliling. Ia adalah seorang wanita yang ramah dan sangat prihatin dengan pembantaian Sabra dan Shatila. Ia berbalik dan meraih lenganku seraya berkata, "Dokter, sekarang Anda telah melihat penderitaan yang dialami bangsa Yahudi. Tolong percayalah pada saya, kami sangat tertekan dengan apa yang terjadi di Lebanon, dengan pembantaian orang-orang di kamp-kamp pengungsi itu. Berita itu tersiar tak lama sebelum Rosh Hoshanah dan seluruh penduduk di desa kami membatalkan semua perayaan. Kami merasa terlalu sedih untuk merayakannya, banyak dari kami yang malah ikut berduka-cita."
Ketulusannya yang nyata dan kesedihan di wajahnya yang mengiringi kata-katanya itu menunjukkan kepadaku bahwa tidak semua orang Israel ingin melihat orang-orang Palestina dianiaya dan dibantai. Pasti terasa sangat pedih bagi orang-orang Yahudi yang pernah menderita di bawah kekuasaan Nazi, melihat bangsa mereka sendiri menyengsarakan orang lain.
Di sini terdapat dua bangsa Yahudi dan Palestina yang punya banyak kesamaan. Di Yad Vashem, aku menonton sebuah film tentang bagaimana Nazi mengindoktrinasi anggotanya dengan se-
mangat anti Yahudi. Nazi menganggap bangsa Yahudi sebagai ras yang lebih rendah dari manusia. Sebagian tentara Israel kini menganggap orang-orang Arab sebagai makhluk yang lebih rendah dari manusia. Mengapa mereka tidak belajar dari masa lalu? Apakah upaya menciptakan sebuah rumah bagi para korban penganiayaan Nazi dan rasialisme Eropa harus menimbulkan penderitaan orang-orang lain, yaitu rakyat Palestina?
Mungkin di sini ada sesosok iblis yang sedang menggelar permainan berebut-kursi atau putar-kado, membuat bangsa Yahudi dan Palestina menderita secara bergantian. Bagaimana jika bangsa Yahudi dan Palestina sama-sama memutuskan tidak mengikuti permainan ini dan mencampakkan kado itu? Tentulah demi membangun sebuah rumah bagi sekelompok manusia, kita tidak perlu mengusir kelompok manusia lain. Pasti sangat mungkin bagi keduanya untuk hidup bersama. Banyak yang mengatakan bahwa Israel terlalu kecil untuk menjadi rumah bagi kedua bangsa tersebut. Kurasa, ide tentang ruang sangatlah relatif. Dibesarkan di Singapura, salah satu negara paling padat di dunia, untukku Israel atau Palestina terasa sangat luas. Pasti sangat mungkin bagi beberapa juta orang Yahudi dan Arab untuk tinggal di sana sebagai warga negara yang rukun.
Jumlah penduduk Singapura hampir sama banyaknya dengan Israel, dan kami bisa menciptakan sebuah rumah bagi semua orang di sebuah area yang luasnya hanya 226 mil persegi. Israel jauh
lebih luas daripada Singapura, jadi tak seorang pun dapat melontarkan argumen "terlalu padat" kepada seorang warga Singapura. Lalu, ada kamp Shatila dengan luas sekitar 2DD meter persegi, yang menjadi rumah bagi puluhan ribu penduduk Palestina. Ada sebuah pepatah mengatakan, jika menginginkan sebuah rumah, kamu akan membuatnya. Jadi ini bukan masalah ruang, melainkan masalah ideologi intoleransi.
Seiring mengucapkan salam perpisahan kepada profesor Israel itu, aku menatap ke arah boulevard pepohonan yang ditanam untuk mengenang para sahabat bangsa Yahudi, mereka yang telah melindungi orang-orang Yahudi dari tentara Nazi, mereka yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan manusia lainnya, dan aku menangis. Mungkin, jika aku dilahirkan satu generasi sebelumnya di Eropa dan bukan di Asia Tenggara, aku juga akan menjadi salah satu dari banyak orang yang merasa sangat gusar terhadap ketidakadilan yang menimpa para korban holocaust yang dilakukan tentara Nazi, sampai-sampai aku akan menutup mata terhadap penderitaan dan perampasan hak milik yang menimpa warga Palestina.
Tidak ada "jika" dan "tetapi"! Aku datang dari neraka dunia bernama Kamp Pengungsi Palestina. Sementara orang-orang di sini berbicara tentang "moral" dan "kesadaran", "keadilan" dan "ketuhanan", di sana mayat-mayat yang tak utuh terkubur di bawah puing-puing dan kuburan-kuburan massal, mayat-mayat yang telah membayar dengan
nyawa mereka demi "moral" ini. Mereka yang masih hidup, yang kehilangan tempat tinggal dan hidup sengsara, telah kehilangan hak asasi mereka demi membayar pendirian negara "berketuhanan" ini. Rakyat Palestina yang dikurung dan disiksa di penjara dan kamp-kamp tahanan telah kehilangan kebebasan atas nama "demokrasi" yang digaungkan oleh negara Israel. Masa kanak-kanak dan kewanitaan bangsa Palestina terenggut demi membayar "feminisme progresif negara Israel yang sangat memikat dunia Barat.
Kembali ke Hotel Moriah, kami bersiap untuk pergi. Ellen dan aku akan meninggalkan Timur Tengah, tetapi Paul Morris akan kembali ke Lebanon. Paul betul-betul tidak peduli akan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin akan dihadapinya karena perjalanan kami ke Jerusalem itu. Ia berkeliling di kawasan Arab di Kota Jerusalem dan membeli banyak sekali mainan untuk anak-anak di kamp, termasuk sebuah tambur untuk Essau, anak laki-laki yang terkena cluster bomb. Ia berencana mengatakan kepada Essau bahwa tambur itu adalah hadiah istimewa dari Swee karena Essau begitu menyayangiku. Hal ini membuat kesedihanku sedikit berkurang karena mungkin aku tidak akan dapat bertemu lagi dengan si kecil Essau.
Kemudian, kami menerima sebuah pesan bahwa seorang pengacara Palestina bernama Felicia Langer akan datang menemui kami. Avi, personel IDF yang masih muda yang kami duga juga anggota Mossad jelas tidak menyukainya. Ia mengatakan
kepadaku betapa buruknya kelakuan Felicia, seorang wanita tua yang jelek dan tidak ramah. Jadi aku duduk di lobi hotel dan menghampiri setiap wanita tua buruk rupa yang ada di sana untuk menanyakan apakah ia adalah Felicia Langer. Banyak dari mereka yang sangat gusar dengan pertanyaanku. Ketika salah seorang wanita itu bertanya mengapa aku mengiranya sebagai Felicia Langer, aku hampir saja keceplosan menjawab karena ia tua dan berwajah buruk.
Akhirnya, datanglah seorang wanita dengan ciri-ciri yang bertolak belakang dengan penggambaran Avi. Felicia adalah seorang wanita muda yang menarik dan feminin. Aku menoleh kepada Avi dan melemparkan tatapan yang lama dan tajam kepadanya. Ia merasa sangat malu telinganya sampai memerah dan cepat-cepat meminta maaf. Aku sangat menyukai Felicia dan menyimak dengan saksama percakapannya dengan Ellen. Barulah belakangan aku mengetahui bahwa Felicia Langer adalah seorang pahlawan sejati, sangat gigih memperjuangkan keadilan bagi rakyat Palestina. Aku sangat bersyukur berkesempatan bertemu dengannya dan mendengarkannya, dan aku memberikan salinan pernyataanku tentang peristiwa pembantaian tersebut.
Walaupun kunjungannya sangat singkat, dampaknya sangat kuat pada diriku dan memberiku kebahagiaan yang aneh dan tak dapat dijelaskan.
Avi mengantarku dan Ellen ke bandara. Saat itu, pemuda yang malang itu terserang sakit kepala
yang parah, mungkin karena harus menjaga kami bertiga. Ia meninggalkan kami berdua di bandara dan melanjutkan perjalanannya dengan mobil ke Lebanon bersama Paul Morris.
Aku tahu bahwa apa yang dikatakan orang-orang kepadaku di Beirut adalah benar, hari-hariku di Lebanon telah usai. Namun, aku senang karena telah melakukan perjalanan ke Jerusalem. Aneh. Jerusalem adalah Kota Suci, titik pertemuan tiga agama monoteisme. Sebagai seorang Kristiani, aku telah lama ingin melakukan ziarah rohani ke Jerusalem, dan kini orang-orang Palestinalah yang membawaku ke sana. Selain berbicara atas nama penduduk di kamp-kamp Sabra dan Shatila, aku juga punya kesempatan untuk bertemu dengan para warga Yahudi di Israel yang gigih memperjuangkan perdamaian dan keadilan, dan berani bersikap. Banyak dari mereka yang juga harus membayarnya dengan amat mahal. Para anggota IDF yang menolak bertugas di Lebanon dijebloskan ke penjara. Felicia sendiri tahu bahwa ada kemungkinan suatu hari nanti ia akan dibunuh. Walaupun demikian, banyak orang seperti Felicia yang terus melawan ketidakadilan di Israel. Aku melihat keberanian baik dari orang-orang Yahudi maupun Palestina.
Kami memasuki pesawat, dan seiring pintu pesawat ditutup, aku merasa seakan-akan mengalami deja vu. Bandara Tel Aviv mengingatkanku pada bandara di Singapura. Ketika pesawat lepas landas, aku kembali merasa terbuang bukan dari Singapura, melainkan dari Timur Tengah. Melalui jendela pesa-
wat dapat kulihat matahari terbenam. Indah dan kemerahan, matahari yang terbenam itu memancarkan kehangatan dan sinarnya ke penjuru Lebanon, ke penjuru Palestina yang diduduki Israel, ke penjuru Beirut dan Jerusalem, ke penjuru kemenangan dan kekalahan, tulus tanpa prasangka, sebagaimana yang senantiasa dilakukannya sejak awal waktu. Kini, setelah terusir dari Jerusalem, aku dapat membayangkan bagaimana perasaan orang-orang Palestina.
Ellen tampaknya bisa membaca pikiranku, karena ia mulai membicarakan pengusiran bangsa Palestina dan izin dari Israel bagi bangsa Yahudi dari seluruh dunia untuk kembali ke Palestina. Sepuluh tahun yang lalu, ia dan seorang wanita Palestina, dr. Ghada Karmi, berdiri di luar Kedubes Israel, masing-masing membawa sebuah plakat. Di atas plakat milik si wanita Palestina, tertulis kalimat berikut, "Aku seorang Arab Palestina. Aku dilahirkan di Jerusalem. Jerusalem adalah rumahku. Tapi aku tak bisa kembali ke sana." Kata-kata di plakat Ellen ber-tuliskan kalimat berikut, "Aku seorang Yahudi Amerika. Aku lahir di Amerika. Israel bukan rumahku. Tapi aku bisa kembali ke sana."
"Pikirkan ketidakadilan itu, Swee," kata Ellen. "Mengapa aku bisa memiliki dua rumah, satu di Amerika dan satu lagi di Israel, sedangkan orang-orang Palestina tidak memiliki satu rumah pun? Bagaimana bisa aku menggunakan hak kembaliku ke Israel sebelum orang-orang Palestina juga diberi hak yang sama?"
Aku menatap ke luar jendela, matahari telah terbenam. Beirut dan Jerusalem sudah bermil-mil jauhnya. Kegelapan membentang di luar, dan aku merasa kesepian dan tersesat.[]
Empat Belas
Aku tiba di Bandara Heathrow London dan disambut oleh suami tercintaku yang telah kehilangan berat badan sebanyak lima belas kilogram selama aku pergi. Baru saat itulah aku tahu bahwa ia sebenarnya menyangka aku telah tewas terbunuh pada peristiwa pembantaian itu. Kekeliruan timbul karena setelah pembantaian itu, sebuah daftar berisi nama-nama orang yang selamat diberitakan dalam koran-koran besar di Inggris, dan namaku tidak ada dalam daftar itu. Kurasa, aku dapat dengan mudah menjelaskannya, aku adalah seorang wanita kulit berwarna dan seorang pengungsi. Para wartawan koresponden Inggris mungkin tidak memasukkan namaku ke dalam daftar orang-orang Inggris yang selamat, sedangkan organisasi amal yang mengirimku mungkin merasa bukan tanggung jawab mereka untuk mengecek apakah aku masih hidup. Francis menelepon Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington, yang lalu menghubungi Kedubes Amerika Serikat di Beirut. Kedubes kemudian berusaha mencariku dan bahkan bertanya kepada lembaga di Beirut yang mensponsoriku, meskipun pesan itu jelas-jelas tidak disampaikan. Aku tak dapat menyalahkan siapa-siapa karena tidak ada satu pihak pun yang merasa wajib bertanggung jawab   atas   pengungsi   seperti   diriku.
Kekeliruan seperti itu bisa terjadi. Tapi Francis tidak bisa menerimanya. Setelah 15 September, ia tidak mendengar kabar apa pun tentangku, kecuali bahwa aku berada di Sabra dan Shatila, dan di sana ribuan orang mati terbantai. Pertama kali ia mendengarku masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja adalah pada 22 September 1982 ketika menerima pesan teleks dariku yang memintanya untuk mengedarkan pernyataanku seluas-luasnya.
Teman-teman lamaku senang sekali melihatku kembali ke London meskipun berat badanku merosot menjadi hanya tiga puluh kilogram lebih sedikit dan aku merasa sangat lemas.
Tidak boleh ada waktu yang terbuang percuma. Seperti diriku, banyak orang yang baru mengetahui kondisi rakyat Palestina setelah aksi penyerangan Israel ke Lebanon itu. Kesengsaraan rakyat Palestina di Lebanon benar-benar memprihatinkan, dan mungkin mereka hanya tinggal punya sedikit waktu. Pembantaian atau serangan terhadap kamp-kamp tersebut dapat terjadi lagi kapan saja, begitu pasukan penjaga perdamaian multinasional pergi meninggalkan tempat itu. Setiap usaha harus dilakukan untuk memublikasikan kesengsaraan para yatim piatu dan janda yang masih tinggal di tengah-tengah puing-puing. Suara mereka mesti didengar.
Pembantaian itu telah memberikan sebuah pelajaran yang menyakitkan buatku bahwa keterampilan bedahku ternyata tidak berguna. Aku bisa saja merasa puas telah menyelamatkan nyawa se-
gelintir orang, tetapi ribuan nyawa lainnya dapat diselamatkan apabila dunia mengetahui apa yang tengah terjadi, jika saja pada waktu itu aku menyadari apa yang tengah terjadi, berhenti mengoperasi, dan mempublikasikan fakta bahwa ada pembantaian sedang berlangsung di sana. Kini aku tahu sudah, dan aku tidak punya alasan untuk berpaling. Aku berutang kepada mereka yang gagal ku-selamatkan. Dalam saat-saat keputusasaan, aku tergoda untuk menduga bahwa orang-orang akan tetap berpaling, meskipun mereka tahu tentang pembantaian itu dan dapat membantu menghentikannya. Andaikan mereka tidak tahu, itu salahku karena tidak memberitahukan fakta itu. Tapi, jika aku telah berbicara sejujur-jujurnya, dan mereka mengetahuinya, dan masih membiarkan peristiwa itu berlanjut, merekalah yang harus hidup dengan rasa bersalah.
Aku tidak akan menyerah pada sikap sinis. Jika akan terjadi pembantaian lagi, aku akan meyakinkan bahwa tak seorang pun akan dapat berkata bahwa mereka tidak tahu mereka harus mengakui bahwa mereka tidak peduli. Aku sangat lelah dan kehabisan tenaga, tapi kuputuskan untuk berbicara kepada siapa pun yang mau mendengarkan, selama dan sesering yang diperlukan. Aku harus melampaui batasan-batasan profesiku sebagai dokter, ahli bedah, dengan menjadi seorang manusia terlebih dahulu.
Itulah satu-satunya saat dalam hidupku aku berharap punya mata biru dan rambut pirang, dan namaku adalah Mary, bukannya Swee Chai. Sa-
yangnya, perawakanku yang khas Asia Tenggara, nama dan logatku yang terdengar asing, yang menghalangiku mendapatkan pekerjaan sebagai dokter bedah Inggris di hari-hari pertamaku sebagai pengungsi, sekarang menghalangiku memublikasikan tulisanku demi orang-orang Palestina. Kecuali segelintir koran, tak seorang pun mau mewawancaraiku. Bahkan, banyak wartawan yang bertanya kepadaku apakah ada anggota tim dokter berkebangsaan Inggris yang mau berbicara tentang kondisi kamp, karena kapan pun mereka siap mencetak hasil wawancara dengan anggota tim dokter Inggris. Aku mengerti posisi pers. Siapa sih di Inggris yang mau mendengarkan penuturan seorang dokter wanita beretnis Cina tentang nasib para pengungsi yang berada tiga ribu mil jauhnya? Hanya satu dokter Inggris yang mau berbicara kepada pers, ia adalah Paul Morris, tapi sayangnya ia kembali ke Lebanon sehingga tak dapat dihubungi.
Kadang-kadang aku merasa sangat benci kepada para dokter dan perawat Inggris yang menjadi sukarelawan di Lebanon, karena mereka sebenarnya dengan mudah dapat membantu orang-orang Palestina itu, yaitu dengan berbicara atas nama Palestina. Namun, mereka menolak melakukannya.
Jadi, aku sendiri yang harus melakukan kampanye dari mulut ke mulut, bersusah payah menyebarluaskannya ke kelompok-kelompok kecil di Inggris sekolah, kampus, gereja, dan masjid dan pertemuan-pertemuan informal seperti pesta minum teh, atau kelompok teman-temanku sendiri. Hal itu tidak
hanya melelahkan, tetapi juga membutuhkan banyak biaya. Francis harus membiayai sebagian besar kegiatanku ini karena aku telah keluar dari pekerjaanku.