Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Tears of Heaven Part 1


DR. ANG SWEE CHAI    
Penerima Penghargaan Star of Palestine
(best-seller) Tears of Heaven
from BEIRUT JERUSALEM
KISAH PENGABDIAN SEORANG DOKTER PEREMPUAN DI KAMP PENGUNGSIAN PALESTINA
Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel. Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa orang Palestina adalah manusia. Kebodohan dan prasangka telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina. Buku ini adalah kesaksianku."
Tears of Heaven
MIZAN PUSTAKA: KRONIK ZAMAN BARU adalah salah satu lini produk (product line) Penerbit Mizan yang menyajikan buku-buku bertema umum dan luas yang merekam informasi dan pemikiran mutakhir serta penting bagi masyarakat Indonesia.
Tears of Heaven
Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina
dr. Ang Swee Chai
TEARs OF HEAVEN: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina Diterjemahkan dari From Beirut to Jerusalem Karya dr. Ang Swee Chai © 1989, 2002 S.C. Ang
Terbitan The Other Press, Kuala Lumpur, 2002
Penerjemah: Dina Mardiana
Penyunting: Andityas Prabantoro
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Cetakan I, Juli 2006
Diterbitkan oleh Penerbit Mizan
PT Mizan Pustaka
Anggota IKAPI
Jin. Cinambo No. 135 Cisaranten Wetan
Ujungberung, Bandung 40294
Telp. (022) 7834310 - Faks. (022) 7834311
e-mail: kronik@mizan.com
http\//www .mizan .com
Desain sampul: Gunawan Satari
Peta oleh Michael Troughton
ISBN 979-433-436-7
Didistribusikan oleh
Mizan Media Utama (MMU)
Jin. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146
Ujungberung, Bandung 40294
Telp. (022) 7815500 - Faks. (022) 7802288
e-mail: mizanmu@bdg.centrin.net.id
Perwakilan:
Jakarta: (021) 7661724;
Surabaya: (031) 69950079, 8286195;
Makassar: (0411) 440706
Teruntuk orang-orang Palestina dan teman-teman mereka ....
?   Kamp-kamp pengungsi Palestina di Beirut Barat
Isi Buku
Ucapan Terima Kasih ~ 13 Pengantar ™ 16
BAGIAN PERTAMA Perjalanan Ke Beirut ~ 27
BAGIAN KEDUA
Pembantaian Sabra-Shatila ~ 107 BAGIAN KETIGA
Dari Jerusalem ke Inggris ~ 213
BAGIAN EMPAT Kembali ke Beirut ~ 253
BAGIAN LIMA
Dari Beirut ke Jerusalem ~ 349 Catatan Penutup ~ 501
Ucapan Terima Kasih
Menulis buku ini bukan suatu pekerjaan mudah, pekerjaan itu telah melibatkan masa laluku selama enam tahun, menghidupkan kembali kenangan-kenangan yang sangat menyakitkan dan membuka luka-luka lama. Aku ingin berterima kasih kepada Steve Savage atas kesabaran, dorongan, dan semangatnya, begitu pula saran-sarannya dalam penyuntingan kisah ini. Tanpa bantuannya, buku ini takkan mungkin dapat dibaca. Rasa terima kasihku juga untuk orang-orang di Grafton Books.
Demikian pula pada para sukarelawan MAP, pendukung dan staf yang namanya tidak disebutkan di buku ini, dengan alasan keamanan ataupun atas keinginan mereka sendiri, atau karena tidak cukup tempat untuk menuliskannya. Mereka itulah para sahabat sejati rakyat Palestina. Merekalah yang bekerja keras agar program medis ini dapat terus berlangsung.
Sahabat-sahabatku anggota MAP yang telah bekerja sama denganku sejak awal kami bergabung, terutama Mayor Derek Cooper, sang Pendiri, dan istrinya, Lady Pamela, David Wolton, Ketua, dan dr. Riyad Kreishi, Direktur Pelaksana MAP selama kepergian dr. Rafiq Husseini aku berterima kasih atas sumbangsih dan pengertian mereka terhadapku, dan juga bimbingan mereka yang tak ternilai
harganya.
Orang Palestina selalu berusaha mengungkapkan terima kasih mereka kepada sahabat-sahabat mereka. Kini akulah yang ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka atas keteguhan mereka yang terus-menerus menjadi sumber inspirasi untukku, terutama ketika aku berada dalam keputusasaan yang mendalam. Terlebih lagi, kepada Palestine Red Crescent Society atas segala yang telah diajarkannya padaku, dan juga karena telah membuatku semoga menjadi seorang dokter dan manusia yang lebih baik daripada dulu.
Aku juga berterima kasih kepada teman-teman Yahudiku yang telah menyemangatiku untuk berani berbicara dan tidak menjadi penakut.
Kedua orangtuaku dan keluarga di Singapura, yang sudah lama tidak kutemui selama bertahun-tahun, aku berterima kasih atas kesabaran dan kesudian memaafkanku. Francis Khoo, yang telah menjalin ikatan pernikahan denganku, tiga kali ku ucapkan terima kasih. Pertama, atas usahanya yang tak kenal lelah dalam "melahirkan" MAP. Kedua, atas nasihat dan kritiknya dalam menulis buku ini. Ketiga, atas kesetiaannya kepadaku meskipun aku telah membuatnya selalu cemas dan gelisah dalam setiap tidurnya pada saat aku berada di Beirut.
Profesor Jack Stevens, Alan Apley, J.M. Walker, R.C. Buchanan, Fred Heatley, Tom Wandsworth, Ian Pinder, Jo Pooley, Peter Robson, Ron Sutton, Kevin Walsh, dan para kolega ortopedis
senior dan guru-guru yang tidak saja telah melatihku, tetapi juga telah meruntuhkan prasangka dunia kedokteran yang menentang wanita kulit berwarna menjadi seorang ahli bedah, sehingga memungkinkanku mengejar karier di bidang ortopedis.
Terakhir, terima kasih kepada banyak orang dari seluruh penjuru dunia yang terus hidup dalam keyakinan, harapan, dan cinta. Tanpa mereka, perjalanan dari Beirut ke Jerusalem ini tidak akan pernah terjadi. []
Pengantar
Kedua orangtuaku pertama kali bertemu di kamp tawanan Jepang pada masa Perang Dunia II. Ibuku baru berusia sembilan belas tahun ketika dijebloskan ke penjara. Ia adalah seorang guru sekolah yang beralih menjadi penggalang gerakan masyarakat untuk kampanye "Menentang Penyerbuan Jepang". Ayahku adalah seorang editor bahasa Cina pada sebuah surat kabar, ia juga menjadi penggalang gerakan.
Ibu sudah punya pendirian yang keras sejak usia belia. Ayahnya terlalu konservatif dan tak pernah mempercayai pendapat bahwa para wanita juga berhak bersekolah, dengan alasan itu akan menjadikan mereka ibu rumah tangga yang buruk. Bahkan, ia memiliki tiga orang anak perempuan yang semuanya tidak bisa membaca ataupun menulis. Ibu tidak mau seperti mereka, sehingga pada usia tujuh tahun ia memutuskan mendaftarkan diri kepada kepala sekolah di sekolah terdekat. Kakek benar-benar terperangah ketika mengetahuinya dan mau tak mau harus menerimanya.
Ketika usia Kakek mencapai enam puluh tahun, ia memberi tahu akan mempunyai istri keempat. Ibu benar-benar marah, dan bahkan geram ketika ibunya sendiri mendukung keputusan tersebut. Ia menolaknya mentah-mentah, kemudian mengepak barang-barangnya dan kabur dari rumah. Kakek,
yang sangat menyayangi anak perempuannya yang mandiri itu, tidak sanggup menahan kepergiannya. Tangis dan permohonannya tidak diacuhkan.
Namun, menjadi seorang wanita di tengah dunia yang dikuasai pria ada banyak untungnya juga, meskipun untuk alasan yang tidak tepat. Ketika Jepang datang, beberapa informan mengatakan bahwa Ibu termasuk anggota penting pergerakan. Ibu di Taiwan, disiksa secara keji, tetapi tidak pernah mau mengaku. Ia selamat karena tentara Jepang tidak percaya seorang wanita seperti Ibu memegang peran sebegitu pentingnya.
Kelak, ketika anak-anaknya sudah dewasa,Ibu berkata kepada kami, "Sebenarnya tidaklah seburuk itu. Pertama kali, kalian ketakutan sehingga menyerahkan teman-teman kalian. Tapi pada titik tertentu, kalian tak sadarkan diri. Ketika itu terjadi, kalian tidak lagi merasa kesakitan. Saat telah terbiasa, kalian dapat mengalahkan siksaan itu."
Setelah siksaan demi siksaan, Ibu dikurung di Penjara Outram Road di Singapura. Keadaan di sana sangat menyedihkan dan banyak tawanan yang meninggal akibat siksaan, kelaparan, dan penyakit. Sepertinya di sana tidak ada pemisahan jenis kelamin, dan di Outram itulah ia bertemu Ang Peng Liat, ayahku.
Ayah juga melarikan diri dari rumah. Tapi, tidak seperti Ibu, ia adalah kelahiran Cina yang kabur dari daerah selatan Cina untuk membebaskan diri dari rencana pernikahan dengan seorang gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ayahnya meng-
atur keluarga dengan tangan besi dan tidak mau mendengar kata "tidak" sebagai jawaban.
Ayah cepat beradaptasi, dan di usia yang kedua puluh ia mengedit sebuah harian berbahasa Cina. Perang meletus, dan ia memobilisasi korannya untuk mengangkat opini publik menentang penyerbuan Jepang. Korannya dibredel dan ia ditahan di Penjara Outram Road.
Tatkala perdamaian akhirnya tiba setelah Jepang menyerah kalah, pintu-pintu penjara dibuka. Orang-orang membanjiri tempat itu untuk bersua dengan para tawanan dan menyambut mereka dengan bunga. Empat tahun kemudian, orangtuaku tinggal di daerah itu untuk berkeluarga.
Tahun-tahun pascaperang di Singapura dan di negeri yang saat itu bernama Malaya ditandai dengan depresi ekonomi, kemiskinan, kelaparan, dan kemuakan terhadap segala sesuatu, kecuali kekayaan. Dua kakak tertuaku meninggal ketika masih bayi akibat kekurangan gizi dan infeksi penyakit. Hingga empat dekade berikutnya, Ibu masih suka menangis jika mengingatnya.
Syukurlah, Ibu mengandung lagi. Kali ini, ia kembali ke kampung halamannya di Pulau Penang untuk melahirkan bayinya. Proses kelahirannya sulit dan memakan waktu. Namun, ketika sang bidan mengangkat seorang bayi perempuan seberat empat kilogram ke hadapan sang ibu yang kelelahan, semua orang merasa lega. Dalam tradisi keluarga Cina yang masih kolot, seorang bayi perempuan dianggap kurang berharga dibandingkan bayi laki- laki,
tetapi seorang cucu perempuan mungil yang teguh hati tentu masih lebih baik daripada tidak punya cucu sama sekali. Karena itu, Kakek segera meminta berkah Dewi Pengasih, Kwan Im, serta memohon restu dan perlindungan sang Dewi agar aku terlepas dari nasib yang menimpa kedua kakak laki-lakiku.
Awal masa kecilku dihabiskan di rumah Kakek di distrik Ayer Itam di Penang. Ibu ingin agar aku diasuh di rumah pedesaannya yang luas yang di-kelilingui tetumbuhan tropis yang lebat. Ibu dari ibuku adalah satu-satunya istri Kakek yang masih hidup dan ia merasakan keindahan alam Penang mungkin adalah tempat terbaik untuk melenyapkan efek-efek trauma pascaperang.
Kakek menjadi sosok yang tenang di usia tuanya, dan menyambut kedatangan adik laki-lakiku, Lee Cyn, setahun berikutnya, dengan kegembiraan yang sama. Anak laki-laki mungkin lebih berharga daripada anak perempuan bagi orang lain, tetapi cucu perempuan Kakek ini (yaitu aku) memang "beda". Jadi, Lee Cyn dan aku diasuhnya dengan adil serta memiliki masa kecil yang sangat bahagia di Penang, dikelilingi pepohonan dan bunga-bunga, orang-orang dewasa yang mencintai kami, burung-burung merpati, seekor anjing berbulu hitam-putih, serta seekor kucing warna cokelat-jahe yang bertubuh besar.
Aku masih ingat kucing cokelat-jahe yang besar itu. Ia punya kepala yang sungguh besar dan kasih sayang yang besar pula. Kelihatannya aku
selalu dikelilingi kucing-kucing, dan bahkan di flat kecil kami sekarang ini di London, kami mempunyai seekor kucing betina jenis ang moh berusia dua belas tahun dengan nama Cina, "Meowee". Namun, kucing cokelat-jahe itulah satu-satunya kucing yang pernah kutemui yang sanggup duduk dengan tabah sementara aku mencuri makan malamnya. Nenekku hampir pingsan ketika menemukanku makan makanan Ginger (Jahe) di dalam rumah kucing dari kayu yang dibangun Kakek. Rumah kucing itu cukup untuk kami berdua dan Ginger hanya menatap sambil mendengkur.
Pekerjaan Ayah segera membawa Ibu, Lee Cyn, dan aku pindah ke Singapura beberapa tahun kemudian. Kami meninggalkan Penang dan Kakek serta Nenek yang menyayangi kami, dan menempati lantai pertama sebuah flat dengan dua kamar tidur yang tidak jauh dengan jalan utama di kawasan Serangon Atas. Mobil-mobil dan truk-truk yang lalu-lalang baik siang maupun malam hari menerbangkan debu serta asap dan kami harus berbicara dengan suara keras di tengah-tengah keriuhan.
Ayah bekerja keras sepanjang hari untuk menafkahi keluarga yang sedang berkembang. Sementara itu, Ibu membiasakan anak-anaknya yang masih kecil dengan rutinitas yang ketat. Kami diberi jadwal harian yang ditempel di samping tempat tidur kami, di ruang keluarga, dan di dapur. Jam bercerita artinya Ibu akan membacakan novel-novel dan cer-pen-cerpen karya Guy de Maupassant, Oscar Wilde, dan Edmondo de Amicis kepada kami. Dalam waktu
singkat, bacaan kami meningkat ke karya-karya Tolstoy, Gogol, dan Turgenev. Ibu membacakannya kepada kami dalam bahasa Cina dan aku tidak pernah menyadari sampai beberapa tahun kemudian bahwa para pengarangnya menulis dalam bahasa-bahasa Eropa yang berbeda-beda. Komik dilarang, begitu pula buku-buku petualangan karya Enid Blyton dan musik pop.
Pada jam bermain, Lee Cyn dan aku membuat perahu-perahu dari kertas sambil terus bermimpi bahwa suatu hari kami akan berlayar dengan perahu itu untuk mengunjungi kakek dan nenek kami di Penang. Namun, hasil didikan keluarga yang ketat membuahkan hasil pada masa-masa kami bersekolah, kami meraih nilai terbaik dalam ujian sekolah dan mendapat berbagai penghargaan dan medali.
Tak lama kemudian, Swee Kim dan Swee Hua, adik-adik perempuanku, lahir, dan baik aku maupun Lee Cyn harus berhenti membuat perahu-perahu kertas. Dengan segera aku menjadi "Kakak Sulung", dan dia "Kakak Kedua". Kedua adik peerempuanm kami membuat kami menjadi keluarga sungguhan dan flat kami menjadi rumah sungguhan.
Kemudian, Lee Cyn dan aku bersekolah di sebuah sekolah dasar tak jauh dari rumah. Pulang pergi dari dan ke Kwong Avenue Primary School dengan berjalan kaki menjadi suatu kegiatan harian yang menyenangkan. Setelah berkutat dengan jadwal yang diberikan Ibu, sekolah menjadi hal yang seru dan mengasyikkan. Tahun-tahun di sekolah adalah tahun-tahun yang penuh kesan. Aku memiliki
banyak teman, membaca banyak buku baru, tampil dalam acara pertunjukan dan drama sekolah, dan tentu saja, meraih banyak penghargaan setiap tahunnya.
Aku masih ingat teman-teman sekelasku di SD. Hatifah adalah seorang sprinter tercepat. Pada Februari 1989, aku menerima surat darinya, menyusul peluncuran buku ini dalam edisi Inggris. Ia kini tinggal di Jerman Barat dan telah membaca tulisanku dalam majalah mingguan berbahasa Jerman Der Spiegel, tentang pekerjaanku membantu orang-orang Palestina di wilayah pendudukan Gaza. Ia mengingatkanku betapa aku kagum ketika pesawat Sputnik mengorbit pada 1957, dan bagaimana aku bersumpah untuk menjadi seorang ilmuwan suatu hari nanti, saat Vuri Gargarin menjadi kosmonot pertama beberapa tahun berikutnya.
Ketika duduk di bangku SD, aku melihat dunia sebagai suatu tempat yang mengasyikkan dan sains menjadi minatku. Namun, aku juga sadar bahwa banyak hal penting terjadi di Malaya dan Singapura. Pemerintah Inggris mengakhiri kekuasaan mereka di Singapura dan aku ingat pertama kalinya kami memilih pemerintah kami sendiri pada 1959. Sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun, partai-partai politik tidak banyak berarti buatku, tetapi bayangan bahwa rakyat Singapura memiliki pemerintahan dan lagu kebangsaan sendiri adalah suatu hal yang hebat. Setiap orang adalah bangsa Singapura atau Malaysia, meskipun nenek moyang mereka berasal dari India, Cina, atau Indonesia.
Setelah melewati ujian seleksi sekolah menengah atas, aku ditempatkan di sekolah khusus wanita Raffles Girls' School. Kehidupan di sana lebih dinamis dan dengan segera aku merasa menemukan tempatku. Teman-teman sekelasku luar biasa pintar, dan untuk pertama kalinya aku harus benar-benar giat belajar untuk bertahan di jajaran siswa terbaik di kelas. Jadi, tak ada lagi kesempatan bagiku untuk bersosialisasi, pesta ataupun kencan. Membaca dan mendengarkan musik adalah hobiku, tetapi aku juga cukup tolol untuk tergila-gila pada permainan catur. Permainan tersebut sungguh-sungguh menyita waktu, apalagi dengan adanya turnamen dan latihan. Aku terpaksa mengurangi jam pelajaran musik dan waktu membacaku jika aku ingin bermain dengan baik.
Sewaktu SMA, minatku dalam bidang sains bertambah. Namun, ada suatu hal yang berubah. Aku masih menganggap dunia sebagai sesuatu yang menarik dan berbagai bidang ilmu alam menarik minatku. Tetapi, aku segera sadar bahwa sains tidak netral, sains punya peran untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Aku tidak ingat persis bagaimana pemikiran seperti ini bisa terlintas di kepalaku, tetapi pastilah itu datang dari program bimbingan karier yang diberikan Kementerian Pendidikan. Kami diberi tahu di sekolah bahwa sains, agar bermanfaat, harus diterapkan untuk mengurangi beban orang-orang yang menderita dan miskin. Aku mencamkan pesan itu baik-baik dan mulai mempertanyakan bagaimana sains dapat membantu
hal-hal seperti itu, dan juga bertanyatanya tentang kemiskinan itu sendiri, tentang kelaparan, hunian tidak layak, penyakit, dan buta huruf. Beberapa teman dekatku mulai mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaanku yang cenderung aneh dan sok filosofis.
Setelah lulus ujian "O" dan "A" Level, aku memilih belajar ilmu kedokteran di University of Singapore. Kupikir, ilmu kedokteran dapat memberi banyak manfaat. Lee Cyn mengikuti jejakku dan Ayah harus bekerja siang-malam untuk membayar uang kuliah kami.
Kemudian, aku mengambil program master di bidang kesehatan masyarakat dan ilmu kedokteran bagi kesehatan masyarakat, lalu program FRCS (di Inggris) untuk menjadi seorang dokter bedah orto-pedis. Gelar-gelar akademis dan medali-medali emas yang kuperoleh memberiku kesempatan untuk menerapkan teknologi kedokteran. Ilmu bedah juga menggabungkan tiga keahlianku, kedokteran, pekerjaan dapur (menggunakan pisau dan memotong daging), serta menjahit. Keahlian-keahlian seperti ini lebih banyak dimiliki wanita, yang memang lebih cekatan daripada rekan-rekan pria mereka.
Di sekolah kedokteran itu pulalah aku menjadi seorang pemeluk Kristen. Kedua orangtuaku, yang telah banyak melewati masa-masa penderitaan dan telah banyak melihat kematian, tetap memilih tidak memeluk agama apa pun, namun selalu menegaskan bahwa anak-anak mereka mempunyai hak untuk memilih keyakinan mereka sendiri.
Menjadi seorang Kristiani membuatku lebih banyak bertanya tentang peranku sebagai seorang dokter. Keahlian yang kami miliki dan ilmu yang kami dapat bisa saja membuat kami menghasilkan uang banyak dan mengangkat martabat kami. Akan tetapi, dokter tinggal di tengah-tengah masyarakat dan semestinya mengabdi kepada mereka.
Pada 29 Januari 1977, aku menikah dengan Francis Khoo, seorang pengacara beragama Ka-tholik, yang juga banyak mempertanyakan perannya dalam masyarakat. Sebagai seorang Baba generasi kesekian di Singapura dan lebih nyaman berbahasa Melayu daripada Mandarin, ia sangat bangga akan negara dan tempat asalnya. Ia pernah mengatakan padaku dan sampai sekarang masih bahwa jangan sampai kami meniru mental orang-orang imigran yang tidak memedulikan negeri tempat mereka tinggal. "Kita harus berakar di mana pun kita berada, jika tidak, takkan ada yang namanya bangsa Singapura ataupun Malaysia. Kita takkan menjadi siapa pun. Kita harus sepenuhnya hadir."
Ang Swee Chai Februari 1989
BAGIAN PERTAMA
Perjalanan ke Beirut
Musim Panas 1982
Satu
Musim panas 1982 adalah musim panas keenam yang kami lalui di Inggris. Suamiku, Francis, telah meninggalkan kampung halaman kami di Singapura dan aku bergabung dengannya di London. Butuh waktu beberapa lama bagi kami untuk dapat menetap di sana, tetapi pada 1982 kami tinggal di sebuah flat sempit di pusat kota.
Malam demi malam, siaran berita di televisi memberitakan penyerbuan tentara Israel ke Lebanon. Yang mengerikan terutama adalah bagaimana mereka menyerang Beirut dari udara. Francis dan aku duduk dan melihat pesawat-pesawat Israel menjatuhkan bom-bom ke atas petak-petak flat, mereka mengebom daerah-daerah sipil yang dipadati penduduk di ibu kota Lebanon. Siaran-siaran berita tersebut menampilkan gambar blok-blok bangunan yang menjulang tinggi di sepanjang pesisir Beirut, anehnya, itu mengingatkan kami pada flat tua kami di Marine Vista di Singapura. Tampak pemandangan yang mengiris hati dari orang-orang yang terluka dan tewas, banyak dari mereka adalah anak-anak. Lantas muncul pemberitaan mengenai blokade tentara Israel atas Kota Beirut. Bantuan medis bagi para korban dihalang-halangi, pasokan air, listrik, dan makanan juga diputus.
Lebanon dan Beirut adalah nama-nama yang tidak akrab buatku, sedangkan Israel sebaliknya,
gereja telah mengajarkanku bahwa anak-cucu bangsa Israel adalah orang-orang pilihan Tuhan. Teman-temanku sesama Kristiani mengatakan bahwa berkumpulnya orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia di Negeri Israel adalah pemenuhan janji Tuhan yang terdapat dalam pengabaran-pengabaran di Kitab Injil.
Aku berpihak pada Israel untuk alasan lain. Di London, aku menghabiskan waktu berjam-jam menonton acara televisi yang menyiarkan penderitaan luar biasa orang-orang Yahudi di tangan Nazi. Kedua orangtuaku juga mengalami penyiksaan dari sekutu Nazi, yaitu tentara imperialis Jepang. Sebagai seorang pengungsi di luar negeri, aku mengerti apa arti tidak punya negara. Penciptaan Negara Israel, yang memberi semua orang Yahudi sebuah rumah yang membuat mereka terbebas dari penganiayaan dan siksaan, menurutku adalah suatu tindak keadilan bahkan suatu keadilan dari Tuhan.
Koran-koran menyebutkan bahwa penyerbuan Israel ke Lebanon telah mengakibatkan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan menewaskan empat belas ribu orang, sehingga hal ini benar-benar membuatku marah. Aku tidak bisa memahami mengapa Israel melakukan hal demikian. Pasti ada alasan yang bagus untuk itu.
Kebanyakan berita yang tersebar di Inggris menggambarkan penyerbuan tersebut sebagai usaha Israel untuk menghalau PLO (Palestine Liberation Organisation, Organisasi Pembebasan Palestina) dari markasnya di Lebanon. Yang kuke-
tahui tentang PLO adalah sekelompok orang Arab yang membajak pesawat, memasang bom di mana-mana, dan membenci orang-orang Yahudi.
Beberapa seniorku di gereja mengatakan kepadaku bahwa orang-orang Palestina adalah keturunan bangsa Filistin dalam Kitab Perjanjian Lama, dan setiap orang tahu bahwa raksasa Goliath adalah termasuk orang Filistin penakluk yang meneror lawan-lawannya. Kisah David dan Goliath menjadi salah satu kisah favoritku ketika aku aktif menjadi guru sekolah Minggu, aku suka sekali bercerita pada anak-anak bagaimana si kecil David mengalahkan si raksasa Goliath (tinggiku sendiri kurang dari 150 cm).
Meskipun demikian, dari ulasan berita tersebut, tampaknya Israel telah berubah menjadi Goliath, seorang raksasa angkuh yang membawa kehancuran, teror, dan kematian kepada saudaranya, Lebanon. Seorang pemimpin Israel mengatakan kepada pers bahwa ia sungguh menyesali jatuhnya banyak korban, tetapi, katanya, untuk membuat telur dadar, terlebih dahulu kita harus memecahkan telur.
Memecahkan telur? Perkataan itu sangat mengejutkanku. Telur dadar seperti apa yang hendak dibuat Israel? Dan apakah orang-orang di Lebanon itu adalah telur-telur yang harus dipecahkan? Jelas sekali dari laporan-laporan berita tersebut bahwa orang-orang yang terbunuh, terluka, atau kehilangan tempat tinggal adalah warga sipil, dan banyak dari mereka adalah wanita dan anak-anak.
Mengebom orang-orang sipil adalah cara yang memalukan untuk melakukan perang. Bom-bom itu jatuh selama berhari-hari, di taman bermain, pemakaman, rumah penduduk, rumah sakit, sekolah, dan pabrik. Bahkan kapal Palang Merah Internasional yang membawa persediaan makanan dan obat-obatan untuk Beirut juga menjadi sasaran.
Dari apa yang kudengar, aku menyimpulkan bahwa tidak ada seorang pun yang peduli, dan bahwa Tuhan telah berpaling dari Lebanon. Melihat orang-orang yang terluka di Lebanon membuatku pedih, pertama karena mereka telah disakiti oleh Israel, kedua karena aku seorang Kristiani, dan ketiga karena aku seorang dokter. Aku tak bisa mengerti betapa tega pesawat-pesawat Israel menjatuhkan bom-bom fosfor ke penduduk sipil di dalam kota yang sangat padat tersebut. Aku meminta kepada Tuhan sebuah penjelasan, meminta-Nya untuk memberiku pemahaman.
Hingga pada suatu hari di bulan Agustus 1982, aku mendengar dari seorang rekan sejawat Bryan Mayou bahwa sebuah pesan SOS internasional telah dikirim untuk meminta pengiriman seorang dokter bedah ortopedis yang akan merawat para korban di Beirut. Tuhan telah menjawab doaku, sebagai seorang dokter bedah ortopedis, aku tahu apa yang harus kulakukan. Untuk pertama kalinya di musim panas itu, sejak perang meletus, aku merasa tenang. []
Dua
Tatkala aku merasa tidak yakin apa yang harus kuperbuat dalam hidupku, adik laki-lakiku mendorongku untuk menekuni bidang kedokteran. Kemudian, ketika aku terkaget-kaget oleh kenyataan yang mengerikan dalam sekolah kedokteran, orangtua membujukku untuk bertahan di situ. Demikian pula, ketika komunitas dokter menyudutkanku karena terlalu blak-blakan berbicara tentang Singapura, bidang bedah ortopedis menyediakan jalan bagiku untuk melarikan diri. Ketika Francis dan aku harus meninggalkan Singapura, aku ingin bekerja sebagai dokter bedah di Inggris, tetapi aku menghadapi banyak sekali prasangka dari para pria kulit putih dalam komunitas dokter Inggris. Akhirnya aku mendapat kesempatan dan menjadi anggota Royal College of Surgeons. Kini aku resmi menjadi seorang dokter bedah ortopedis, dan waktunya mempraktik-kan keahlianku untuk tujuan mulia.
Saat aku mendaftarkan diri untuk pergi ke Beirut, organisasi amal Kristen yang membuka lowongan sukarelawan tidak mau mengirimku ke sana karena aku tak memiliki paspor. Yang kupunya hanya dokumen perjalanan dari pemerintah Inggris. Organisasi tersebut khawatir aku tak dapat memasuki Lebanon tanpa paspor. Kemudian, Francis menghubungi Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, dan mereka meyakinkan kami bahwa meskipun surat
jalan tersebut tidak memberiku kuasa perlindungan dari korps diplomatik Inggris atau perwakilan konsulatnya di luar negeri, mereka akan berusaha sebisa mungkin membantuku bila aku mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan dari Kedutaan Inggris di Beirut. Berbekal jaminan itu, aku berusaha membujuk organisasi amal tersebut untuk membawaku serta. Lalu, Francis berbicara dengan Kolonel Gray dari Palang Merah Inggris untuk meyakinkan bahwa aku cukup berpengalaman untuk pekerjaan itu. Kolonel Gray sangat senang mendengarnya dan mendoakan keberuntungan berpihak pada Francis untuk upayanya itu. Beberapa saat kemudian, barulah ia sadar bahwa bukan Francis yang berencana pergi ke Beirut.
Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap pergi ke sana. Aku mengundurkan diri dari rumah sakit tempatku bekerja di Inggris, mengepak barang-barangku, dan berangkat ke bandara. Sejak Israel menutup Bandara Internasional Beirut, kami harus terlebih dulu terbang ke Larnaca di Siprus untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal feri. Cukup banyak yang ikut pergi bersama kami aku bukan satu-satunya dokter sukarelawan yang pergi ke Beirut. Secara keseluruhan, terdapat sekitar seratus tenaga medis dari berbagai penjuru dunia. Kami memiliki warna kulit yang beragam dan memeluk agama yang berbeda beda Kristen, Islam, Yahudi, dan sebagainya. Kami meninggalkan rumah kami dengan harapan dapat menolong para korban di Lebanon. Bulan-bulan berikutnya, beberapa dari
kami menjadi teman dekat.
Agustus adalah puncak musim liburan, dan pesawat jet yang lepas landas dari Bandara Heathrow di London mengangkut para turis yang dengan riang gembira hendak menikmati hangatnya matahari Siprus dan pantainya. Setelah beberapa jam bersama para pelancong tersebut, aku melangkah keluar dari pesawat yang mendarat di Bandara Larnaca.
Dalam beberapa hal, Siprus mengingatkanku pada Asia Tenggara, dan aku segera teringat rumahku di sana. Ketika dulu di Singapura aku memutuskan untuk menjadi dokter, timbul perbedaan pendapat di antara kedua orangtuaku. Ibuku tergetar hatinya memikirkan bahwa anak perempuannya akan menjadi dokter, tetapi ayahku lebih menyukai karier di bidang musik. Aku menetapkan pilihanku sendiri, dan dengan mantap aku berangkat ke sekolah kedokteran pada hari pertama kuliah.
Hal yang tidak diberitahukan siapa pun kepadaku adalah bahwa aku harus melalui hari pertama kuliah dengan membedah mayat manusia yang diawetkan dalam cairan formalin. Ruang bedah anatomi tersebut terlihat seperti seting film horor dan bau formalin yang sungguh menyengat membuatku nyaris pingsan, bau itu menjalari hidungku, menusuk-nusuk ke dalam, dan menyebabkan mataku berair.
Di tahun pertamaku terdapat dua puluh dua mahasiswa wanita dan sembilan puluh delapan mahasiswa pria, kami dibagi ke dalam enam kelompok,
dan tiap kelompok mendapat satu mayat untuk dibedah. Jasad yang malang itu akan dipotong bagian demi bagian sepanjang tahun perkuliahan kami. Potongan-potongan tungkai dan irisan-irisan paru-paru, otak, dan jantung yang disisakan para pendahulu kami tergeletak begitu saja di meja-meja bedah, di baskom-baskom, dan bahkan di lantai.
Pada meja bedah nomor satu diletakkan sesosok mayat untuk kelompok kami. Aku mengamatinya. Pada labelnya tertulis, "Pria, identitas tak diketahui, tidak diakui". Lalu, masuklah sang dosen Anatomi, ia sosok yang riang dan lincah, dan menggenggam sepotong tulang paha manusia yang digunakan sebagai alat penunjuk.
"Halo, Nona Mungil!" sapa si profesor. Dengan seringai di wajahnya, ia menepuk pelan bagian atas kepalaku dengan tulang paha itu. Kontan, aku hampir saja menjerit karena aku tak pernah sebelumnya disentuh oleh anggota tubuh manusia yang sudah mati. Untunglah pada saat itu juga terdengar bunyi hantaman keras dan seisi kelas berpaling untuk melihat apa yang terjadi. Dua mahasiswa pria jatuh tak sadarkan diri di lantai. Peristiwa tersebut menyelamatkanku hari itu, sebab perkuliahan ditangguhkan, sedangkan kedua temanku itu diangkut ke lapangan luar untuk mendapatkan udara segar dan air minum.
Gara-gara huru-hara itu, aku pulang. Sesampai di rumah, aku mengatakan pada ibuku bahwa urusanku dengan kedokteran sudah selesai. Setinggi apa  pun keinginanku untuk  mengabdikan diri
mengobati orang-orang yang sakit dan menderita, watakku terlalu lembut untuk setiap hari berhadapan dengan kematian.
Ibuku sangat terpukul mendengarnya. Ia mengingatkanku tentang kemajuan yang dicapai para wanita pada abad ke-20, lima puluh tahun yang lampau, penduduk desa di Cina masih menenggelamkan bayi-bayi perempuan mereka ke sungai. "Banyak hal yang bisa kamu berikan kepada orang-orang jika kamu mengambil kesempatan ini," ujarnya. "Sekarang kamu ingin menyia-nyiakan semua itu hanya karena kamu tidak mau mengatasi rasa takutmu terhadap mayat! Sejak kapan aku mendidikmu menjadi lemah seperti itu? Kamu membuatku kecewa!" Ibu tak dapat melanjutkan kata-katanya, ia menangis.
Pada saat itulah, aku tersadar betapa banyak masa sulit yang telah dilaluinya. Dua kali ia melepaskan pekerjaannya sebagai guru dan penulis. Kali pertama adalah untuk menggalang gerakan peralawanan terhadap pendudukan militer Jepang, dan akibatnya ia harus berakhir di dalam barak tawanan. Kali kedua adalah untuk membesarkan kami. Ia telah banyak berkorban untuk kami, anak-anaknya, ia juga telah memberi banyak hal kepada kami. Sekolahku mengajarkanku membaca dan menulis, sedangkan Ibu mendidikku. Melalui didikannya, aku belajar tentang kemiskinan dan penderitaan rakyat jelata dan kemerosotan serta pelecehan yang menimpa kaum wanita. Darinya, aku menerima  sebuah  pandangan tentang  kehidupan
sebagaimana mestinya. Aku sungguh berutang budi padanya. Namun, ia tidak berusaha mengubah keputusanku untuk berhenti kuliah di kedokteran.
Berbeda dengan tanggapan Ayah. Ketika diberi tahu bahwa aku tidak akan melanjutkan kuliah di kedokteran, ia merasa senang. Ia berkata bahwa aku telah melanggar perjanjianku dengannya, dan bertanya apakah aku akan mempertimbangkan untuk mengembalikan uang kuliah yang baru saja dibayarkannya. Keesokan harinya, aku kembali ke ruang bedah yang menyebalkan itu.
Setelah beberapa minggu berlalu, aku sangat menyukai dosen Anatomi itu, dan dengan segera merasa bagai di rumahku sendiri saat berada di dalam ruang bedah itu, sehingga aku dapat mengunyah sandwich atau minum kopi sambil memeriksa bagian-bagian mayat.
Sebagai tenaga intern, aku segera menyadari bahwa menjadi seorang dokter bukanlah sesuatu yang istimewa. Ilmu kedokteran hanyalah aplikasi teknologi untuk meredakan penyakit atau rasa nyeri. Seorang dokter adalah seorang teknisi yang dilatih untuk berurusan dengan masalah-masalah tertentu. Pemikiran mulia tentang menyelamatkan nyawa banyak orang pudar begitu saja, kami mempraktikkan "teori dan aplikasi" dan "pelatihan" untuk pengobatan darurat dan penyakit berat, dan mencoba menemukan solusinya. Orang-orang lain membetulkan mobil-mobil yang rusak atau pipa yang bocor. Mereka juga teknisi.
Aku sepenuhnya menikmati kuliah maupun
pekerjaanku di Singapore General Hospital. Aku sangat sibuk sepanjang waktu. Kehidupanku berkutat di seputar bangsal, pasien-pasien yang keluar masuk, konferensi-konferensi kedokteran, ruang-ruang operasi, dan perpustakaan. Lingkungan sosialku terdiri dari para rekan sejawat dan pasien, dan terkadang anggota keluargaku. Rumah sakit menjadi tempatku bekerja dan bermain, berbagi suka dan duka, meraih keberhasilan atau menerima kegagalan di sanalah tempatku hidup dan duniaku. Begitulah kegiatan setiap dokter muda yang bekerja ratusan jam per minggu untuk bertahan hidup.
Pada hari-hari ketika aku sedang bebas dan tidak ada "panggilan", aku berjalan-jalan ke luar rumah sakit. Cahaya matahari, awan, udara terbuka, dan trotoar di bawah kakiku, awalnya semua itu bagiku terasa bukan sungguhan. Pusat-pusat perbelanjaan yang megah dengan jendela display toko-toko yang berwarna-warni terang, wanita-wanita yang mengenakan busana elegan dan rias wajah berkelas, lalu lin-tas yang padat dan bus-bus yang penuh sesak, lampu-lampu lalu lintas yang mencolok, musik pop yang hingar-bingar terdengar hingga ke luar toko, semua itu adalah dunia yang terasa asing bagiku.
Singapura adalah kota yang supersibuk urban, modern, komersil, industrialis, dan sering serba elektronis. Orang-orang di dalamnya selalu terburu-buru. Makanan yang lezat dilahap di berbagai tempat makan. Mungkin ini memang cara yang tepat untuk makan makanan rumah sakit, tetapi di
dalam kota yang punya banyak jenis makanan yang begitu bervariasi dan berlimpah, rasanya rugi sekali bila tidak sejenak menikmatinya.
Untuk mencegah Singapura menjadi hutan beton, pemerintah telah mencanangkan kampanye besar penanaman pohon untuk menjadikan Singapura sebagai "kota asri" seperti yang tertera pada papan-papan promosi wisata. Di mana-mana terdapat taman dan kebun yang luas, yang membuat seluruh kota menjadi tempat yang menyenangkan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku jadi sangat rindu Singapura. Di Siprus, aku berjalan-jalan di bawah terik matahari, dan bunga sepatu berwarna merah membuatku ingat Asia Tenggara dan rumahku.
Karena tiba pada saat terjadi serangan udara selama tiga puluh enam jam di Beirut, kami terpaksa tinggal beberapa hari di Siprus. Salah seorang pekerja PBB di pulau itu memberi tahu kami bahwa dua puluh ribu keluarga di Lebanon telah kehilangan rumah mereka gara-gara penyerbuan Israel. Namun, jumlah korban yang tewas tidak dapat dipastikan, sebagian karena banyak mayat terpendam di bawah reruntuhan bangunan, dan sebagian lagi karena banyak orang ditawan pasukan Israel, dan tak ada jalan untuk mengetahui apakah mereka sudah mati atau masih hidup.
Sewaktu kami menunggu di Siprus, ada kabar bahwa Israel mengebom lagi kapal Palang Merah Internasional yang lain. Tampaknya, di hadapan Israel, menjadi seorang dokter tidak mem-beri   kita
imunitas. Jika mereka tega melakukan hal seperti itu terhadap Palang Merah Internasional, yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa, apa yang akan mereka lakukan terhadapku, seorang dokter sukarelawan yang hanya dilindungi oleh dokumen perjalanan? Apa yang akan mereka perbuat terhadap sukarelawan lainnya? Aku menenangkan diriku sendiri dengan berpikir, yah, tak apalah, setidaknya jika aku kena bom, orang-orang Lebanon sudah pernah memiliki seorang teman asal Singapura yang berusaha semampunya.
Kemudian terpikir olehku Francis. Kepergian kami dari Singapura telah mengorbankan kariernya sebagai pengacara, rumahnya, keluarganya, dan teman-temannya. Kini ia hanya punya aku istrinya dan ia masih saja mendukung keputusanku pergi ke Lebanon. Sewaktu di London, ia berkata padaku, "Dengarlah, Swee Chai, seandainya aku dokter, aku sendiri akan pergi. Tetapi aku bukan dokter, sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mendorongmu pergi." Lalu, ia memasang wajah tegar dan membantuku mengepak tasku. Ia mungkin tidak mengira bahwa aku tahu, jauh di dalam hatinya, perasaannya remuk redam membayangkan suatu saat nanti menerima kiriman tubuhku yang sudah tak bernyawa karena Israel mengebom rumah sakit tempatku bekerja. Pada malam sebelum aku pergi, aku menyuruhnya minum pil tidur dan memintanya berhenti memikirkan kemungkinan aku akan pulang dalam kantong mayat berwarna hitam.
Baru saja aku melangkah keluar dari lift, se-
buah   suara   membuyarkan   lamunanku,   "Dokter, apakah Anda akan pergi ke Lebanon untuk menolong bangsa saya? Terima kasih banyak, dan selamat datang."
Orang yang berbicara padaku itu mengenakan celana panjang putih dengan sabuk cokelat dan kaus katun berwarna pucat. Lelaki itu bertubuh tinggi, berkulit gelap, dan berusia paruh baya.
"Anda orang Lebanon?" tanyaku.
"Bukan, saya orang Palestina," jawabnya.
Itulah orang Palestina pertama yang aku temui. Kata "orang Palestina" terdengar tidak menyenangkan di telingaku, walaupun pria itu berbicara dalam bahasa Inggris yang sempurna dan bersikap sangat sopan. Aku sama sekali tidak menyukai ide bercakap-cakap dengan seorang berke-bangsaan Palestina. "Maksud Anda, Anda PLO?" tanyaku, diam-diam mengamati apakah ia menyembunyikan pistol atau granat tangan di suatu tempat di tubuhnya.
Pria itu menerangkan bahwa ia bukan anggota PLO, melainkan seorang dosen di sebuah universitas. Mata kuliah yang ia ajarkan adalah Kesusastraan Arab. Sambil mengembuskan napas lega, aku menyambut ajakan makan siang bersamanya. Kemudian, ia mulai bercerita tentang dirinya, dan aku takjub dengan apa yang dituturkannya.
Keluarga dari kenalan baruku itu berasal dari sebuah kota bernama Jaffa. "Anda nantinya akan mendengar komentar orang-orang tentang jeruk Jaffa yang terkenal," ujarnya. "Orang-orang Israel
bilang, merekalah yang membuat gurun itu menjadi permai, tetapi saya dilahirkan di sebuah tanah perkebunan jeruk, nenek moyang saya telah menanam jeruk selama berabad-abad. Orang-orang itu mengusir kami. Kami kehilangan tempat tinggal dan jeruk-jeruk kami, dan kami menjadi pengungsi. Keluarga saya tercerai-berai. Ibu dan saudari-saudari saya mengungsi ke Yordania. Salah seorang saudara saya sekarang di Arab Saudi, seorang berada di Yaman, dan seorang lagi di Kuwait. Ayah saya tetap tinggal di Tepi Barat dan membawa saya bersamanya. Sayangnya, daerah Tepi Barat menjadi semakin sulit untuk ditempati, sehingga ketika usia saya tiga belas tahun, saya kabur dari rumah karena sudah tidak tahan lagi. Saya menuju Beirut dan belajar di sebuah universitas di sana. Jadi, kini keluarga saya tercerai-berai. Saya hanya berharap suatu hari dapat bertemu lagi dengan mereka semua."
Baru pertama kalinya aku mendengar kisah seperti itu. "Apa pendapat Anda tentang PLO?" tanyaku.
Ia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan PLO, ia memberikan kepada mereka lima persen dari pendapatannya dan menganggap PLO sebagai pemerintahnya. Sebelumnya tak pernah ada yang menerangkan padaku bahwa PLO adalah sebuah lembaga pemerintahan. Aku pasti terlihat kaget, karena ia meminta beberapa lembar kertas. Setelah aku memberinya selembar kertas putih yang lebar, ia mulai menggambar diagram organisasi PLO,
ada Dewan Nasional dan parlemennya, Federasi Perserikatan Perdagangan, Kementerian Tenaga Kerja, Perserikatan Wanita Palestina, Perhimpunan Bulan Sabit Palestina (PRCS), Kementerian Kesehatan, dan banyak lagi. Kertas itu terisi penuh dengan semakin banyak organisasi. Tiba-tiba ia berhenti menulis, lantas berujar, "Anda tahu 'kan, kami selalu dijuluki 'teroris'. Kami berjumlah lima juta orang. Jika kami semua teroris, seharusnya kami telah menghancurkan seluruh dunia hanya dalam waktu sehari!"
Pernyataannya itu tak membuatku lantas percaya seratus persen. Melihat kertas yang digambarinya, yang sekarang penuh dengan kotak, garis, dan huruf, harus kuakui bahwa diagram tersebut memang terlihat seperti struktur sebuah pemerintah yang mewakili lima juta penduduk. Namun, gambar itu tidak cocok dengan bayanganku tentang PLO. Apakah kelompok tersebut adalah sekumpulan teroris Arab, atau apa? Apakah mereka ini para pembajak, pengebom, dan pembenci Yahudi?
Hal lain yang terdengar janggal adalah "Palestina". Meskipun kedengarannya tidak masuk akal, aku tidak tahu di mana letak "Palestina". Lalu, kuambil sebuah peta Timur Tengah dari tas tanganku. Tidak ada "Palestina" di sana. Ketika aku memintanya untuk menunjukkan di mana Palestina berada, ia menempelkan jarinya di atas Israel, lalu mengatakan bahwa itulah "Palestina yang dijajah".
"Para penjajah itu mengusir hampir satu juta orang Palestina keluar dari negeri saya pada 1948,"
jelasnya. "Mereka tidak hanya merampas tanah dan kepemilikan barang-barang dari orang-orang yang diusir itu, tetapi juga mengganti nama negeri saya menjadi Israel. Mereka yang menolak meninggalkan tanah itu disiksa, bahkan hingga sekarang."
Setelah dua jam berdiskusi sambil makan siang, akhirnya untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menyadari bahwa rakyat Palestina adalah orang-orang buangan. Yang hendak dijelaskan orang Palestina kenalanku itu adalah bahwa PLO merupakan pemerintahan mereka di tanah buangan. Meskipun aku ingin menanyakan kaitan PLO dengan penyerbuan Israel ke Lebanon, saat itu aku sudah terlambat untuk mengikuti sesi briefing bagi para dokter sukarelawan, sehingga aku harus bergegas. Ketika aku baru saja beranjak pergi, ia menghampiri dan berkata dengan nada sangat serius, "Dokter, Anda harus ke Palestina. Jika Anda sampai di sana, tolong lihatlah apa rumah ayah saya masih di sana dan kirimilah saya foto jika memang masih ada." Ia memberi tahu letak rumah ayahnya sekaligus memberikan alamat rumahnya sendiri.
Sesi briefing yang kuhadiri tidak terlalu berguna, setidaknya sejauh yang kuikuti, karena aku tidak terlalu berkonsentrasi pada hal itu. Pikiranku mengembara ke mana-mana, mengingat-ingat kembali hal-hal yang baru saja kudengar tentang orang-orang Palestina. Seandainya tak pernah menjadi sukarelawan ke Lebanon, mungkin aku takkan pernah mendengar hal-hal itu. Namun, di lain pihak, pria itu bisa jadi adalah seorang agen PLO
yang memberiku informasi yang salah. Lagi pula, mengapa aku harus memercayai ceritanya? Kalau memang PLO bukan teroris, mengapa semua orang mengatakan hal sebaliknya? Aku tak punya jalan untuk mencari tahu fakta sebenarnya, tetapi sepertinya aku akan segera menemukannya di Lebanon nanti.
Pada hari berikutnya, kami naik kapal menuju Beirut. Tidak ada kejadian istimewa dalam perjalanan itu selain satu kali diberhentikan oleh sebuah kapal meriam Israel. Kapal yang kutumpangi itu adalah sejenis kapal feri yang berlayar di sekitar Laut Tengah, dengan orang-orang yang duduk-duduk di sekitar buritan dan bermain judi di kasino kapal. Namun, terasa ada hawa yang tidak mengenakkan. Tidak seorang pun yang berminat membicarakan perang, tetapi setiap kali terlihat ada benda bergerak di cakrawala, setiap orang berbisik, "Israel." Restoran di kapal itu tutup pada siang hari, tetapi tersedia minuman.
Kebanyakan rekan sejawatku duduk-duduk di dek atas di atas bangku panjang dari kayu, sambil menatap lama dan dalam ke arah lautan. Kami telah diingatkan untuk tidak berbincang-bincang terlalu akrab dengan orang-orang asing, kendatipun mereka tampak ramah. Seorang pemuda menghampiriku dan menanyakan apakah rombongan kami akan merawat para korban perang. Lalu kujawab, "Ya." Kemudian, ia mulai menyatakan kekagumannya terhadap para tenaga medis yang bersedia menjadi sukarelawan  untuk  membantu orang-orang  yang
menderita. Namun, ia juga memberitahuku bahwa dalam beberapa hal, orang-orang Palestina dan penduduk Muslim Lebanon di kawasan Beirut Barat memang merupakan pembuat onar dan tidak pantas diberi pertolongan. Komentarnya itu membuatku yakin bahwa ia adalah orang Israel atau simpatisan Israel, dan aku segera memohon diri agar tidak terseret lebih jauh lagi dalam kontroversi. []
Tiga
Kapal tiba saat fajar di Jounieh, sebuah pelabuhan di Beirut Timur. Menurutku, pelabuhan kecil itu sepertinya pernah menjadi sebuah tempat liburan yang indah, tidak seperti saat ini, dipenuhi para tentara berseragam dengan laras senapan. Namun, para wanita berwajah khas orang-orang Laut Tengah, berpakaian cerah, dan mengenakan topi-topi cantik, untuk sementara membantuku melupakan bahwa aku mengunjungi sebuah negeri yang dilanda perang. Bahkan, di balik kehadiran para tentara itu, terlihat pegunungan hijau yang permai dan langit biru yang jernih. Di bawah langit itu terbentang Laut Tengah yang bercahaya dengan kapal-kapal nelayan yang mengarunginya.
Kami disambut oleh organisasi masyarakat Lebanon yang nantinya akan mengurus kami sekaligus bertindak sebagai atasan kami, dan mereka menempatkan kami di lantai pertama sebuah rumah sakit di Beirut Timur. Kota itu dipisahkan oleh "Garis Hijau Perdamaian" yang membagi umat Kristen di sebelah timur dan umat Islam di bagian barat. Mengapa garis itu disebut Garis Hijau Perdamaian, aku sendiri juga tidak tahu, sebab selama bertahun-tahun terjadi lebih banyak pertempuran di Garis Hijau itu daripada di daerah-daerah lainnya. Mungkin  saja  itu  karena   dahulu  pernah  terjadi
gencatan senjata antara umat Kristen dan Muslim. Jika memang demikian, jelas gencatan senjata itu telah dicabut. Beberapa jalan menghubungkan Beirut Barat dengan Timur, dan jalan-jalan itu membentuk "persilangan". Batas wilayah umat Kristiani biasanya dijaga oleh tentara Kristiani, dan batas wilayah umat Muslim juga dijaga oleh tentara Muslim. Biasanya, keduanya merupakan bagian dari pasukan Angkatan Bersenjata Lebanon, yang terbagi ke dalam brigade-brigade menurut keyakinan religius mereka. Brigade ke-6 terutama berisi Muslim Syi'ah, Brigade ke-18 Muslim Sunni, dan Brigade ke-S orang Kristen.
Selain tentara pemerintah Lebanon, ada pula banyak milisi nonpemerintah, baik Kristen maupun Muslim. Setiap milisi punya hubungan dengan sebuah kelompok politik atau keagamaan. Ada pula milisi-milisi pribadi milik tokoh-tokoh terkenal dan kaya.
Keesokan paginya, kami mengetahui bahwa persilangan Garis Hijau, yang rencananya akan kami lewati, sedang ditutup. Sehingga, seharian itu kami punya waktu bebas untuk berkeliling-keliling di sekitar Beirut Timur. Sebagai seorang yang benar-benar asing terhadap daerah itu, aku diingatkan untuk selalu memasang mata dan telinga baik-baik serta tutup mulut, terutama di hadapan tentara-tentara dan anggota milisi, sampai aku mengenali kelompok-kelompok lokal di sana serta afiliasi mereka.
Salah bicara dapat membahayakan diriku mau-
pun para kolegaku. Misalnya, ungkapan sentimen anti Israel dapat memancing reaksi permusuhan beberapa milisi Kristiani atau golongan di Angkatan Bersenjata, karena pada saat itu orang Israel merupakan sekutu orang Kristen.
Beirut Timur adalah kota besar yang sibuk. Ada toko, bank, mobil, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berseliweran dengan urusan mereka masing-masing. Orang Lebanon secara keseluruhan rupawan, dengan kulit cokelat dan raut muka khas Eropa Selatan. Para wanitanya sangat molek, dengan kehangatan dan keceriaan bak anak-anak perempuan yang bergembira di bawah cahaya matahari tropis. Satu-satunya yang mengingatkanku bahwa di sana sedang terjadi perang adalah kehadiran banyak tentara, kendaraan militer, dan tank. Seragam para tentara itu sangat menarik, sebagian mengenakan baju hijau gelap, sebagian hijau muda, dan sebagian lagi warna khaki. Beberapa tentara mempunyai tanda pangkat khusus, sedangkan yang lainnya memakai tanda berupa kain lebar berwarna yang dijahit di sera-gam mereka. Dalam waktu singkat, aku dapat mengenali warna-warna dan tanda pangkat tentara Israel, dan aku terkejut melihat sekelompok gadis Lebanon menghampiri mereka untuk memberikan bunga.
Tak berapa lama kemudian, aku sampai di sebuah kantor pos yang besar dan padat pengunjung. Aku membayar 100 lira setara dengan 30 poundsterling untuk menelepon ke London selama tiga  menit.   Aku  menelepon  Francis   untuk  me-
yakinkannya bahwa keadaanku baik-baik saja, dan memberitahunya bahwa aku mungkin akan menyeberang dari Beirut Timur ke Barat esok hari jika persilangan dibuka.
Seusai menelepon, aku menemukan sebuah toko buku dan membeli kamus Inggris-Prancis, karena kebanyakan orang Lebanon yang kutemui berbicara dalam bahasa Prancis. Setelah itu, aku membeli kue-kue kering khas Lebanon yang manis dan harum. Aku menemukan tempat yang enak untuk duduk, yaitu di tangga menuju sebuah kantor besar. Di sanalah aku mulai melahap makanan dan kamus tersebut. Makanannya memang enak, tetapi mempelajari bahasa Prancis membuatku tak dapat menyantapnya dengan nikmat!
Setelah seharian mengarungi kota, aku kembali ke rumah sakit, pergi tidur, dan terlelap dalam waktu singkat.
Keesokan harinya, kami bangun pagi-pagi sekali untuk menyeberangi Garis Hijau menuju Beirut Barat. Kami melewati jalan yang berdebu dan berliku-liku, diselingi dengan karung-karung pasir dan tentara-tentara yang berjaga-jaga setiap jarak lima puluh atau seratus meter. Pos-pos pemeriksaan tersebut dikontrol oleh anggota kelompok milisi yang berbeda. Kecuali gangguan-gangguan di pos-pos tersebut berupa pemeriksaan surat dan barang bawaan kami, tidak ada masalah berarti. Semakin mendekati Beirut Barat, jalanan menjadi semakin berdebu. Tiba-tiba saja kami sudah melewati Garis
Hijau dan menuju Beirut Barat, yang terlihat seperti apa yang telah sering kami tonton di layar televisi, bedanya kini dalam bentuk tiga dimensi yang nyata.
Saat aku tiba di Beirut Barat, serangan udara terburuk telah usai. Meskipun merasa lega karena tidak ada bom dan granat jatuh dari langit, aku terhenyak melihat kerusakan di dalam kota. Bangunan-bangunan yang luluh lantak karena dibom, tumpukan puing-puing, tembok-tembok yang runtuh, lubang-lubang besar yang menganga di jalan akibat ledakan bom dan granat keseluruhan daerah itu tampak hancur berantakan di mata pendatang dan merupakan mimpi buruk bagi penduduknya. Sisa-sisa Beirut yang tidak terkena serangan masih terlihat sangat indah. Dalam benakku, dapat kubayangkan keadaan kota ini sebelum pecah perang. "Mutiara Timur Tengah" yang tegak berdiri membelakangi pegunungan dan menghadap ombak Laut Tengah, pasti dulu kota itu adalah surga dengan pohon-pohon jeruk dan cedar, bunga-bunga mawar dan melati, yang tumbuh subur karena adanya sungai-sungai dan cahaya matahari yang melimpah.
Namun, kini kebanyakan bangunan indah dari batu halus dan pualam telah berubah menjadi reruntuhan yang menyeramkan akibat dibom. Perang telah memudarkan kilau mutiara itu, meninggalkan noda-noda yang gelap dan dalam yang mungkin takkan bisa hilang. Pengemudi kami yang merupakan orang Lebanon memberi tahu bahwa tidak semua bangunan yang hancur itu disebabkan oleh bom-bom Israel.  Ada juga yang sudah hancur sejak
"Perang Saudara Pertama" pada pertengahan 1970-an. Orang-orang Lebanon sudah bertahun-tahun tak melihat perdamaian. Sebagaimana kebanyakan orang Lebanon lainnya, pengemudi kami juga merasa muak dengan perang.
Beberapa senjata mutakhir telah diujicobakan di kota ini. Implosion bomb, juga dikenal dengan vacuum bomb, sanggup "mengisap" satu blok bangunan sepuluh lantai ke dalam tanah hanya dalam beberapa detik membuatnya menjadi tumpukan besar beton dan puing, mengubur seluruh penghuni di dalamnya hidup-hidup. Semuanya terjadi dalam sesaat. Tidak demikian halnya dengan bom fosfor, zat fosfornya menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Bila mendengar tentang fosfor, banyak orang bakal teringat pelajaran kimia di sekolah, logam ini tidak bereaksi apa-apa di dalam air, tetapi bila dikeluarkan dari air, logam itu secara spontan akan terbakar. Korban-korban bom ini mengisap fosfor ke dalam paru-paru mereka dan ditakdirkan mati mereka akan mengeluarkan gas fosfor hingga napas terakhir. Reaksi terbakar yang terjadi di kulit sering menembus hingga otot-otot dan tulang.
Selain itu, ada bom antipersonel fragmentation bomb atau cluster bomb. Bom jenis ini meledak dan tersebar cukup luas dalam bentuk kepingan-kepingan kecil. Kepingan-kepingan ini akan diam  sampai secara  tak  sengaja dicungkil  oleh
anak-anak yang ingin tahu. Kepingan itu akan meledak menjadi pecahan-pecahan kecil yang tak terhitung jumlahnya. Orang-orang yang terluka akibat pecahan-pecahan tersebut sering mengalami luka di wajah, mata, tulang, dan organ-organ tubuh. Fragmentation bomb yang dilengkapi mekanisme penunda ledakan, dijatuhkan di wilayah-wilayah padat penduduk, dan jelas sekali sasarannya adalah penduduk sipil, terutama anak-anak. Selain penemuan-penemuan yang cerdik dan kejam ini, tentu ada pula bom-bom dan granat-granat eksplosif konvensional.
Jadi, inikah yang dimaksud dengan "telur dadar"? Atau itu baru "telur-telur yang dipecahkan" saja?
Kantor atasanku orang Lebanon terletak di Hamra daerah modern di Beirut Barat yang terdiri dari Rumah Sakit American University, gedung-gedung perkantoran, hotel-hotel, apartemen-apartemen mewah, bank-bank dan pusat-pusat perbelanjaan yang selamat dari pengeboman. Hotel-hotel mewah dipenuhi para wartawan, perang Beirut merupakan berita hangat bagi mereka, dan akibatnya tarif hotel membumbung tinggi. Di hotel-hotel seperti The Commodore, steak, anggur, ikan salmon, sampanye, musik, dan bintang-bintang tamu tersedia cuma-cuma bagi mereka yang mampu membayar biaya hotel. Akan tetapi, di luar hotel-hotel yang dilengkapi kolam renang demi kenyamanan tamu-tamunya,   kota   itu   dipenuhi   orang-orang   yang
mengantre air di titik-titik tertentu.
Hamra terbagi menjadi dua dunia, para koresponden asing dengan bayaran tinggi dalam hotel-hotel besar nan mewah dan para pengungsi yang tak punya rumah. Kebanyakan gedung perkantoran dan flat telah dikosongkan para pemiliknya yang kaya-raya, yang telah terbang ke Swiss, Prancis, atau ke balik pegunungan di Beirut Timur. Orang-orang Lebanon yang berduit biasanya mempunyai tiga atau empat rumah di tiga atau empat negara berbeda. Rumah-rumah yang mereka tinggalkan kini ditempati ribuan penghuni liar dari daerah pinggiran Beirut bagian selatan dan Lebanon Selatan, yaitu daerah-daerah yang terkena ledakan bom dan granat yang jatuh dari langit dan menghancurkan rumah-rumah mereka.
Para pengungsi berkumpul di tempat-tempat perlindungan sementara di dalam gedung-gedung kosong, garasi-garasi, dan tangga-tangga. Di sana sudah didirikan pusat-pusat bantuan bagi para keluarga yang kehilangan rumah. Di pusat-pusat bantuan tersebut, lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan dan PBB membagi-bagikan air, makanan, dan selimut.
Penderitaan orang-orang ini membuat masalah-masalah kami sendiri terlihat sepele. Apa artinya jika tidak ada kertas tisu, keju Denmark, air, dan listrik? Toh kami semua tahu bahwa kami masih punya rumah di kampung halaman. Kami berada di Beirut hanya selama beberapa bulan atau setahun, sedangkan para  pengungsi itu tidak  punya ke-
pastian nasib.
Kenyataannya, ketika kembali mengunjungi Beirut hampir enam tahun kemudian, kudapati bahwa para pengungsi itu masih tinggal di tempat perlindungan sementara yang sama di dalam garasi-garasi dan bangunan-bangunan yang ditinggalkan, masih sama sesak dan suram seperti dulu. Aku masih mendengar jeritan yang sama dari anak-anak yang kelaparan dan ibu-ibu yang risau. Tapi ada satu perbedaannya. Pada 1982, aku menganggap masalah mereka akan teratasi setelah penyerbuan berakhir. Pada 1988, aku tahu bahwa mereka adalah orang Palestina dan Lebanon yang tak punya rumah dan keadaan mereka akan tetap begitu sampai bertahun-tahun lamanya.
Pada sore harinya, para dokter sukarelawan asing kembali dari sesi briefing sehari penuh yang melelahkan ke tempat tinggal sementara kami di asrama perawat di American University. Jaraknya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Rumah Sakit American University.
Keseluruhan kompleks tersebut cukup lengang sejak banyaknya mahasiswa yang pergi untuk menghindari perang. Banyak perawat rumah sakit yang juga telah pergi, kecuali sejumlah perawat dari Filipina.
Kami pun bercakap-cakap dengan mereka. "Kalian baik sekali masih mau tinggal di sini untuk merawat para korban perang," kataku. "Kalian tidak takut?"
"Tentu saja kami takut," jawab salah seorang
perawat Filipina itu. "Tapi paspor kami ditahan, jadi kami tak bisa pulang walaupun kami menginginkannya!"
Hal ini membuat marah ketiga perawat sukarelawan yang baru tiba dari Amerika Serikat, menurut mereka, menahan paspor orang-orang Filipina tersebut adalah tindakan tercela.
Rumah Sakit American University telah menyelamatkan tak terhitung nyawa. Standar kualitasnya sangat bagus dan dapat dibandingkan dengan rumah sakit pendidikan yang besar di Inggris, dengan stafnya yang terlatih serta laboratorium dan fasilitas-fasilitas teknis tercanggih. Staf dokter dan ahli bedahnya memenuhi standar internasional.
Sayangnya, rumah sakit tersebut sepenuhnya milik swasta. Waktu itu, seorang pasien harus terlebih dahulu menaruh deposito sebesar sepuluh ribu lira Lebanon (sekitar tiga ribu poundsterling) sebelum diterima pihak rumah sakit. Orang-orang yang tidak memiliki uang sebanyak itu akan ditolak. Untuk orang sepertiku, yang telah bertahun-tahun bekerja di Badan Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Inggris, nyaris tidak mungkin menyetujui pengobatan "bayar tunai di muka" semacam itu terlebih bila kami berurusan dengan orang-orang yang sekarat.
Hampir semua rumah sakit di Lebanon adalah rumah sakit swasta. Rumah Sakit American University, salah satu yang terbaik, memberlakukan standar harga yang tinggi, dan rumah-rumah sakit lainnya yang punya kualitas di bawahnya mem-
berlakukan standar harga yang lebih rendah. Jadi, Anda mendapatkan pelayanan sesuai yang Anda bisa bayar ada semacam skala perhitungan yang bergeser sesuai keadaan. Bahkan, sistem tersebut telah dikacaukan oleh serangan Israel, banyak rumah sakit lainnya yang hancur. Seorang Lebanon memberitahuku bahwa Israel mengebom semua bangunan yang mengibarkan bendera Palang Merah. Semua rumah sakit di Makassad, Babir, Akka, dan Gaza dihancurkan sehingga tidak bisa beroperasi. Di bagian selatan, rumah sakit-rumah sakit di Nabatieh dan Saida juga mengalami hal serupa. Namun, mereka tidak berani menyerang Rumah Sakit American University. Jadi, meskipun mahal, masih tersisa rumah sakit yang bagus dan berfungsi dengan baik untuk merawat orang-orang Lebanon yang menderita.
Tetapi aku tidak datang ke Beirut untuk bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Aku ingin menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan, mereka ini kebanyakan miskin dan tidak sanggup membayar biaya perawatan. Pagi berikutnya, kami tiba di kantor orang-orang Lebanon yang menjadi tuan rumah kami, dan di sana kami diperkenalkan dengan dr. Rio Spirugi. Ia adalah seorang pria kurus namun energik, berdarah Swiss-Italia. Ia pernah bekerja untuk Palang Merah Internasional, namun kemudian menjadi koordinator untuk PRCS (Palestine Red Crescent Society, Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina). Ia datang ke kantor itu untuk mencari dokter bedah, ahli anestesi, dan perawat
bedah singkatnya, sebuah tim operasi untuk bekerja di Rumah Sakit Gaza, yang dijalankan oleh PRCS. Dr. Spirugi menjelaskan bahwa Rumah Sakit Gaza menawarkan perawatan medis gratis bagi yang membutuhkan, dan aku benar-benar senang mendengarnya. Aku teringat pria Palestina yang kutemui di Siprus dan mengatakan padaku tentang pelayanan medis yang diberikan organisasi ini. Pada saat itu, tentunya, hal terakhir yang terlintas di benakku adalah bahwa aku akhirnya akan bekerja dengan PRCS.
Enam orang dari kami secara sukarela bekerja pada dr. Spirugi. Bryan Mayou, seorang konsultan bedah plastik yang brilian dari Rumah Sakit St. Thomas di London, yang telah mengajariku hampir semua hal tentang bedah rekonstruktif dan bedah mikro, akan menjadi ketua tim. Selain merupakan dosenku, Bryan juga adalah seorang temanku. Bryan pulalah yang membuatku terpanggil untuk menjadi sukarelawan ke Lebanon. Orang-orang lainnya dalam tim itu adalah dr. David Gray, seorang ahli anestesi dari Liverpool, dr. Egon, ahli anestesi dari Jerman, dua orang perawat operasi Ruth dari Denmark, dan Sheila serta aku. Dr. Spirugi terlihat cukup senang telah berhasil mengumpulkan sekawanan kecil sukarelawan. Ia membawa kami ke mobil Peugeot biru miliknya yang ditempeli lambang PRCS, dan bersama-sama kami berangkat menuju Rumah Sakit Gaza.
"Tahukah Anda," ujarnya padaku, "saya bekerja di Vietnam Selatan sebagai bagian dari Palang
Merah Internasional selama perang melawan Amerika. Tapi sayangnya Thieu mengusir saya." Ia terkikik.
Kuduga ia mengira aku orang Vietnam, jadi kujelaskan kepadanya bahwa aku orang Singapura.
"Kebanyakan dari Anda mungkin sudah pernah bekerja di negara-negara luar Eropa," lanjutnya di tengah perjalanan. "Yang harus Anda pahami adalah, PRCS tidak memangkas jumlah staf medis yang bekerja sebelum penyerangan terjadi. Namun, selama minggu pertama penyerbuan, para tentara itu menahan 150 dokter dan perawat. Banyak juga dari mereka yang hilang, dan mereka yang bertugas selama perang berlangsung kini berhenti mereka terlalu lelah. Beberapa dari mereka mengalami gangguan saraf."
Kami melewati serombongan kru televisi. "Turis," komentar dr. Spirugi. "Para wartawan ini hanya turis. Mereka menganggap perang sebagai sebuah pertunjukan besar. Karena selalu berhati-hati terhadap warna lokal, mereka tidak punya komitmen kepada apa pun. Dan mereka tidak punya kepedulian apa pun terhadap masyarakat di sini."
Para wartawan itu perlahan menghilang di belakang kami. Dr. Spirugi jelas tidak menyukai mereka, tapi aku tak dapat membayangkan bagaimana seluruh dunia akan mengetahui penyerangan Israel ini jika bukan karena "turis-turis" itu.
"Coba dengar ini!" lanjut dr. Spirugi. "Pagi ini aku bentrok dengan rombongan sinting itu di kantor. Ketika aku menanyakan jika aku dapat me-
ngajak beberapa orang dari Anda untuk bekerja di Gaza, yang mereka ingin tahu hanyalah apakah Anda mau bergabung dengan para sukarelawan lainnya untuk berwisata akhir pekan ke pegunungan. Kita kan sedang dalam perang, demi Tuhan, dan yang mereka pedulikan cuma liburan dan jalan-jalan. Gila!"
Ia terbahak. Aku tak melihat apanya yang gila. Perang itu kan tidak berlangsung di semua tempat, kami baru saja singgah di Beirut Timur, dan di sana tidak terjadi perang. Para tuan rumah kami orang-orang Lebanon tentu ingin kami melihat lebih banyak sisi Lebanon daripada sekadar tumpukan puing-puing di Beirut Barat. Namun, kami mengatakan pada dr. Spirugi bahwa kami akan merasa senang membatalkan wisata akhir pekan tersebut jika kami memang dibutuhkan di rumah sakit, dan hal itu membuatnya sangat gembira.
Ini adalah pertama kalinya aku dibawa berkeliling Beirut Barat. Selain mobil kami itu, tidak ada kendaraan lain di jalanan yang lengang dan dr. Spirugi menyetir dengan kencang. Untungnya, ia khawatir kalau-kalau tangki besar zat konsentrat klorin yang dibawanya di bagian belakang mobil akan terguling, kalau tidak, pastilah ia akan menyetir lebih kencang lagi. "Hati-hati klorinnya, itu untuk menyucihamakan seluruh Beirut Barat," katanya setiap kali melewati tikungan-tikungan tajam.
Ia mengambil rute yang membawa kami melewati Rumah Sakit Babir dan Makassad, untuk menunjukkan kepada kami puing-puing kedua rumah
sakit terbesar di Lebanon yang telah hancur itu. "Evakuasi orang-orang PLO akan segera dimulai," jelasnya ketika kami melewati Rumah Sakit Makassad, "dan setelah itu, kita akan memindahkan para korban dari rumah sakit darurat ke Rumah Sakit Gaza dan Akka."
Akhirnya, kami tiba di sebuah tempat yang disebut dr. Spirugi sebagai Rumah Sakit Akka. Kedatangan kami disambut gundukan raksasa sampah beton berton-ton puing dalam suatu kawasan yang terlihat hancur lebur. Tidak ada bangunan rumah sakit yang tersisa. Setelah memarkir mobilnya, dr. Spirugi bahkan tidak memberi kesempatan kepada kami untuk memandangi tempat itu lebih lama, ia langsung membawa kami menuju puing-puing itu. Kami tersandung kabel-kabel yang terkelupas dan potongan-potongan puing, dan sampai di sebuah tangga yang menuju bagian bawah dinding yang setengah ambruk.
Untuk sesaat, aku merasa sedikit gugup. Anak tangga yang kupijak tidak seimbang dan suasana di sekitarku bertambah semakin gelap sampai-sampai aku tak bisa melihat jari-jemariku sendiri. Tapi, lama-lama mataku menjadi terbiasa dalam gelap, dan dr. Egon mengeluarkan senter dari salah satu dari delapan sakunya. Kami menuruni tangga dengan langkah terantuk-antuk. Apakah kami akan menuju ruangan bawah tanah? Aku kemudian menyadari bahwa kami berada di basement Rumah Sakit Akka. Berton-ton puing yang ada di atas pastilah melindungi basement ini dari kehancuran total.
Rio Spirugi mulai memanggil-manggil, sepertinya dalam bahasa Arab aku tahu pasti itu bukan bahasa Cina, Prancis, atau Melayu. Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan untuk menyambutnya. Mereka adalah bagian dari staf PRCS. Terdiri dari lima atau enam orang pria dan wanita, mereka semua tampak kurus kering akibat trauma. Aku mengira-ngira apakah mereka juga menderita gangguan saraf. Kami diperkenalkan kepada mereka, lalu mereka mengajak kami berkeliling bangunan untuk melihat-lihat.
Biasanya, aku akan mengemukakan banyak sekali pertanyaan. Aku bukan orang yang dikenal pendiam. Namun, bagaimana aku bisa bertanya kepada para staf PRCS itu, yang jelas-jelas telah mengalami penderitaan luar biasa, terlebih dengan apa yang telah terjadi pada rumah sakit mereka?
Di Rumah Sakit Akka itu pulalah aku mempelajari kata pertama dalam bahasa Arab, khalas yang artinya 'tamat'. Sekolah ilmu keperawatan dan pusat lembaga Arab untuk penelitian dan perawatan khusus luka-luka telah khalas tamat riwayatnya. PRCS tidak hanya kehilangan satu rumah sakit, tiga belas klinik dan sembilan rumah sakit di berbagai penjuru Lebanon telah hancur total. Hanya Rumah Sakit Gaza karena alasan yang baru kuketahui tiga tahun kemudian yang masih tegak berdiri. Pada puncak serangan udara, ketika orang-orang Palestina mengetahui bahwa setiap rumah sakit dan klinik PRCS menjadi sasaran pengeboman, mereka membawa tiga orang serdadu Israel yang tertangkap di selatan Lebanon dan  menempatkannya di lantai
teratas Rumah Sakit Gaza, dan mengirim pesan melalui radio kepada pasukan Israel bahwa serangan ke Rumah Sakit Gaza akan berakibat hilangnya nyawa para serdadu itu. Berkat itulah Rumah Sakit Gaza selamat dari kehancuran.
Salah seorang staf yang berbicara dalam bahasa Inggris memberi tahu kami bahwa Rumah Sakit Akka dulunya adalah sebuah bangunan berlantai lima sebelum dihancurkan pasukan Israel.
"Kami baru saja membuka lantai untuk operasi jantung by pass," katanya. "Sekarang tak ada lagi yang tersisa." Kemudian, seolah-olah mendadak teringat sesuatu, ia memberi tanda kepada kami agar mengikutinya. Kami kembali menaiki tangga, pada saat kami keluar dari basement yang gelap menuju udara terbuka, sejenak kami dibutakan oleh cahaya matahari. Kami mengikuti staf itu menyusuri labirin dinding yang sebagian telah runtuh. Mereka telah menyingkirkan puing-puing dari sebuah rong-sokan yang jelas-jelas dulunya adalah tempat tidur pasien. Di sampingnya terdapat tiang kantong infus yang masih setengah terisi darah yang sekarang sudah membusuk. Dari labelnya, aku tahu kantong itu dulu digunakan untuk menginfus seorang gadis usia sembilan tahun. Salah satu serangan udara telah mengakhiri perawatannya dengan seketika, sekaligus mengakhiri hidupnya.
"Pasienku," sahut pria itu dengan nada muram. Kami kembali ke basement dalam kebisuan. Para staf PRCS ingin menyuguhi kami dengan kopi, tetapi Rio Spirugi dengan tegas menolaknya atas nama
kami semua. "Kita harus melanjutkan tugas kita," katanya, mengambil sebuah kotak untuk menampung darah. "Jika setiap kali kita berhenti untuk minum kopi, tugas kita tidak akan pernah tuntas." Ketika kami kembali menaiki tangga, tiba-tiba ia berbalik dan kembali ke bawah untuk mengecek bahwa semua keran air telah tertutup rapat. Hal ini penting karena jika aliran air dari kota kembali berjalan, berliter-liter air yang berharga dapat terbuang percuma hanya gara-gara sedikit kecerobohan. Setelah itu, ia mengingatkan para staf agar keran-keran tersebut selalu tertutup.
Tempat pemberhentian kami berikutnya adalah Rumah Sakit Gaza. Dengan segera aku menyukai tempat itu, sebuah bangunan megah dengan sebelas lantai. Dua lantai paling atas rusak berat karena bom, dan langit-langit di lantai sembilan penuh dengan lubang-lubang akibat hantaman bom dan roket. Akan tetapi, kerusakan rumah sakit itu tidak bertambah parah karena alasan yang telah kujelaskan sebelumnya. Sebagaimana Rumah Sakit Akka, di sana juga tidak ada air maupun listrik.
Selain ruang inap pasien, Rumah Sakit Gaza juga mempunyai tiga bangsal operasi yang luas, unit perawatan intensif (ICU) berisi enam dipan, tempat penyimpanan cadangan darah yang modern, laboratorium, bagian sinar-X, bagian perawatan korban dalam jumlah besar, dan bagian untuk pasien rawat jalan. Setiap lantai rumah sakit tersebut mempunyai fungsi yang berbeda, Lantai Satu untuk ICU dan bangsal   operasi,   berdempetan   dengan   ruang
recovery, Lantai Dua berisi kamar-kamar untuk para pasien ortopedis rawat inap, Lantai Tiga berisi ruangan-ruangan untuk pengobatan umum, Lantai Empat untuk pasien bedah rawat inap, dan seterusnya.
Tepat di samping Rumah Sakit Gaza terdapat rumah sakit bersalin dan ginekologi, yang disebut Rumah Sakit Ramallah. Di Rumah Sakit Gaza hanya terdapat sedikit staf. Kami diberi tahu bahwa para pasien telah dievakuasi ke rumah sakit-rumah sakit lain untuk sementara waktu dan di situlah kebanyakan staf bertugas. Padahal, Rumah Sakit Gaza terletak di salah satu wilayah yang banyak mengalami pengeboman, dan lebih sering kita tidak bisa menuju atau meninggalkan rumah sakit itu. Sejak tiga bulan yang lalu, administrator dan staf tidak pernah meninggalkan rumah sakit itu.
Tak lama sebelum serangan 1982, PRCS di Lebanon melayani setiap tahunnya satu juta pengunjung klinik dan pasien rawat inap. Seluruh pelayanan ini diberikan gratis bagi mereka yang membutuhkan tanpa memandang ras, agama, ataupun kekayaan. Banyak orang miskin Lebanon yang dirawat dengan gratis oleh PRCS. Sebagai sebuah organisasi yang sepenuhnya bergerak di bidang bantuan kemanusiaan dan sebagai anggota peninjau Komite Internasional Palang Merah, PRCS tidak pernah menyangka orang-orang Israel akan menjadikan rumah sakit dan klinik mereka sebagai sasaran serangan udara. Ketika invasi itu tiba dan rumah  sakit-rumah  sakit serta  klinik-klinik  PRCS
dihancurkan, para korban perang kehilangan pelayanan medis berharga yang justru sedang amat mereka butuhkan.
PRCS memindahkan sejumlah pasien mereka dan beberapa layanan ke sejumlah rumah sakit darurat. Rumah sakit seperti ini sering disebut rumah sakit terbuka, tetapi pada 1982, di Beirut tidak ada rumah sakit yang sanggup bertahan lama di udara terbuka. Rumah sakit-rumah sakit darurat itu terletak di basement bangunan-bangunan, seperti Near East School of Theology, atau lebih dikenal oleh penduduk lokal dengan nama "Lahut". Dr. Spirugi sangat ingin kami bisa langsung bekerja, dan ia menyarankan agar kami memulainya di Rumah Sakit Lahut pada hari berikutnya.
Kami pun berangkat menuju Lahut yang ternyata memiliki sebuah rumah sakit "sungguhan" berupa tiga lantai di bawah tanah, lengkap dengan bangsal-bangsal operasi, bangsal-bangsal pasien, UGD, ruang resusitasi, dan fasilitas sinar-X. Di sini, jauh dari kamp-kamp pengungsi dan daerah kumuh di selatan kota, tepat di tengah-tengah Hamra, PRCS melanjutkan tugasnya merawat orang-orang yang sakit dan terluka. Apotek beserta obat-obatan yang berada di Rumah Sakit Akka telah dipindahkan ke Lahut. Rio memperkenalkan kami kepada para staf dan meminta mereka untuk melibatkan kami dalam kerja besok pagi ketika kami kembali ke sana.
"Anda sekalian dapat bekerja di sini sampai Rumah Sakit Gaza dibuka kembali," ujarnya, se-
kaligus mengatakan kepada kami bahwa setelah rumah sakit itu dibuka kembali, ia berharap kami dapat memberikan layanan sementara, sampai masalah-masalah dapat ditangani. "Jangan lupa," tambahnya, "kebanyakan dari mereka telah mengalami masa-masa yang luar biasa berat selama tiga bulan terakhir. Mereka sangat butuh bantuan. Dr. Habib, misalnya, nyaris tewas, dan ia masih menderita gangguan saraf akibat pertempuran. Mungkin yang terbaik baginya adalah terus bekerja, jika ia tetap sibuk, mungkin pikirannya tidak akan dipenuhi kenangan akan hal-hal buruk. Tapi tenaganya terbatas. Banyak dari mereka telah kehilangan rumah dan anggota keluarga. Perlu waktu bagi mereka untuk sembuh. Anda semua masih segar dan energik. Jangan lupa, mereka butuh bantuan Anda."
Sebenarnya, aku tidak terlalu segar dan energik. Yang bisa disebut segar dan energik justru dr. Rio Spirugi, ia tak kenal lelah. Aku telah melihatnya seharian beraktivitas. Ia selalu melakukan tiga tugas sekaligus, berbicara dengan lima atau enam orang secara serentak, dan mungkin saja sedang memikirkan setengah lusin rencana pada saat bersamaan. Temperamennya yang berapi-api "memaksa" setiap orang untuk langsung bertindak mengingat kekacauan dan keadaan yang menyedihkan seperti ini, semangatnya itu sungguh luar biasa. Aku berutang budi kepada dr. Spirugi karena aku diberi kesempatan dan kehormatan untuk bekerja sama dengan orang-orang Palestina. Ketulusannya itulah yang membuatku langsung bekerja hampir
pada saat itu juga, pertama di Rumah Sakit Lahut, kemudian di Rumah Sakit Gaza. Banyak dari para sukarelawan yang pergi bersama kami tidak pernah bekerja untuk para korban perang, namun dikirimkan ke bagian timur dan utara Lebanon yang relatif aman.
Kami mendapat masalah di penghujung hari itu. Bryan Mayou, dokter bedah plastik berkebangsaan Inggris, tinggal di sebuah kompleks apartemen di Hamra bernama Mayfair Residence. Tempat itu kelihatan mewah, tetapi di sana tidak ada air. Sebaliknya, di hostel perawat tempat para suka-relawati menginap di American University terdapat air. Meskipun pengunjung pria dilarang keras masuk ke hostel kami, kami pikir kami dapat menutupi Bryan dengan sehelai handuk lebar dan menyelundupkannya ke kamar mandi agar ia bisa mandi di sana.
Bryan berhasil masuk ke kamar mandi, tetapi beberapa menit kemudian, ia kepergok seorang pengawas asrama yang galak. Walaupun pemandangan seorang pria Inggris setinggi sekitar 180 cm dengan setengah tubuhnya terbungkus handuk menyebabkan kami terkikik-kikik, insiden itu dianggap suatu pelanggaran serius, dan sangat memalukan tuan rumah kami orang-orang Lebanon. Kami diperingatkan untuk menghormati adat yang berlaku di sini, sangatlah tidak sopan bagi pria menyelusup masuk ke kamar mandi wanita.
Setelah peristiwa konyol itu, kami menikmati makan malam di Relief Centre, sebuah kafetaria luas
yang kini berfungsi sebagai dapur untuk membuat sup. Dalam keadaan seperti itu, kami, para sukarelawan, masih saja diperlakukan dengan sangat baik. Aku dijamu dengan okra, kacang hijau, bahkan sepotong kecil daging, nasi, yoghurt, dan roti pitta. Ketika melahap suapan pertamaku, mendadak aku tersadar bahwa aku sudah enam kali makan sejak tiba di Beirut Barat tanpa pernah merawat seorang pasien pun. "Payah!" batinku. "Aku tidak seharusnya rakus begini. Besok aku harus kerja dan berhemat."
Matahari mulai terbenam ketika aku berjalan pulang menuju American University bersama seorang teman pria asal Lebanon. Lampu-lampu penerang jalan, yang kemungkinan masih berfungsi tiga bulan yang lalu, kini tidak menyala. Di balik siluet gedung-gedung dan reruntuhan bangunan, aku masih dapat melihat keindahan Kota Beirut, garis pantai Laut Tengah, pepohonan Fiame of the Forest (flamboyan), pepohonan bugenvil dengan dedaunan warna ungu, putih, merah jambu, dan merah, juga bunga-bunga hibiscus (bunga raya) yang besar-besar. Perang tidak berhasil mengoyak keindahan ini. Pohon-pohon cedar (aras) membuatku terpikir ayat 92 dari Kitab Mazmur, "Orang yang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Lebanon". Tak lama, matahari yang berwarna merah tua tenggelam ke dalam laut, dan ribuan bintang bermunculan di langit biru yang mulai gelap.
Di luar universitas dapat kudengar sebuah nyanyian pelan yang merdu dari suatu tempat di
jalanan dalam bahasa Arab. Teman asal Lebanon itu memberi tahu bahwa yang menyanyi itu adalah para pejuang Palestina yang hendak di evakuasi pagi ini. Aku menanyakan padanya arti kata-kata dalam lagu itu, tetapi pria itu malah menangis ketika menyimak nyanyian tersebut sehingga tidak sanggup menerjemahkan untukku. Temanku itu masih muda, mungkin masih berusia remaja, dan sepuluh minggu terakhir ini sudah pasti sangat melelahkan baginya. Aku ingat kehancuran di Beirut, rumah sakit-rumah sakit, orang-orang yang terluka dan kehilangan tempat tinggal, karenanya aku berhenti bertanya. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengerti arti kata-kata dari lagu itu suatu waktu, ketika Tuhan menghendakinya. Sementara itu, aku perlu tidur lebih awal sehingga siap untuk bekerja dan bermanfaat esok paginya.[]
Empat
Pagi-pagi sekali aku terbangun oleh suara rentetan tembakan senapan mesin dari kejauhan. Suara itu mengingatkanku saat-saat ketika aku terbangun oleh suara letusan petasan pada Hari Tahun Baru Imlek di Singapura. Aku kembali melanjutkan tidurku. Lalu, Jill, salah seorang perawat asal Amerika Serikat, membangunkanku. Padahal, saat itu baru pukul setengah tujuh pagi. Sebagian besar sukarelawan tenaga medis sudah mandi dan berpakaian rapi. Hari itu, mereka semua berencana pergi ke pelabuhan untuk menyaksikan sebuah peristiwa besar evakuasi para pejuang PLO dari Beirut. Sambil menatap ke luar jendela, dapat kulihat dua buah kapal patroli besar di cakrawala. Kata teman-temanku, salah satunya adalah kapal Prancis dan satu lagi kapal Italia, mereka ditugaskan mengawasi evakuasi tersebut. Pasukan penjaga perdamaian internasional dipindahkan ke Beirut untuk melindungi penduduk sipil dan sekaligus mencegah orang-orang Israel memanfaatkan situasi tersebut untuk menimbulkan kekacauan di dalam kota.
"Kamu mau ikut atau tidak, Swee?!" bentak Mary tidak sabaran. Ia adalah salah seorang perawat asal Amerika Serikat. Haruskah aku pergi dengan Mary dan Jill?
"Tidak, lebih baik tidak usah," jawabku setelah beberapa saat ragu-ragu. Evakuasi pejuang PLO pastinya akan menjadi suatu urusan politik tingkat tinggi, dan menurutku lebih baik aku tidak terlihat bersama-sama dengan sekumpulan pejuang PLO. Sebagian karena aku merasa takut, dan sebagian lagi mungkin karena aku masih menganggap PLO adalah teroris. Bagaimanapun, aku datang ke sini untuk merawat para korban yang terluka, bukan untuk terlihat bersama-sama dengan PLO. Bayangkan jika pemerintah Singapura mendengar kabar bahwa aku bergaul dengan pejuang PLO! Apa yang akan dikatakan teman-teman Kristenku? Apa yang akan dipikirkan orangtuaku tentang diriku? Apa yang akan dipikirkan teman-teman paramedisku di Inggris tentang diriku? Semakin memikirkannya, semakin teguh aku memutuskan untuk tidak terlihat bersama-sama dengan para pejuang Palestina di mana pun memanfaatkan situasi tersebut untuk menimbulkan kekacauan di dalam kota.
"Kamu mau ikut atau tidak, Swee?!" bentak Mary tidak sabaran. Ia adalah salah seorang perawat asal Amerika Serikat. Haruskah aku pergi dengan Mary dan Jill?
"Tidak, lebih baik tidak usah," jawabku setelah beberapa saat ragu-ragu. Evakuasi pejuang PLO pastinya akan menjadi suatu urusan politik tingkat tinggi, dan menurutku lebih baik aku tidak terlihat bersama-sama dengan sekumpulan pejuang PLO. Sebagian karena aku merasa takut, dan sebagian lagi mungkin karena aku masih menganggap PLO
adalah teroris. Bagaimanapun, aku datang ke sini untuk merawat para korban yang terluka, bukan untuk terlihat bersama-sama dengan PLO. Bayangkan jika pemerintah Singapura mendengar kabar bahwa aku bergaul dengan pejuang PLO! Apa yang akan dikatakan teman-teman Kristenku? Apa yang akan dipikirkan orangtuaku tentang diriku? Apa yang akan dipikirkan teman-teman paramedisku di Inggris tentang diriku? Semakin memikirkannya, semakin teguh aku memutuskan untuk tidak terlihat bersama-sama dengan para pejuang Palestina di mana pun masih kecil di sebuah tenda perlindungan. Suami dan dua anak laki-lakinya akan dipindahkan, dan rumah mereka di daerah selatan telah dihancurkan pasukan Israel. Ia menunjukkan kepadaku foto-foto mereka, anak laki-laki yang lebih muda baru berusia empat belas tahun.
"Tapi, tanpa suami dan dua anak laki-laki, bagaimana mungkin Anda bisa mengurusnya?" tanyaku. "Bagaimana Anda akan mampu membangun kembali rumah Anda di selatan dan mengurus keluarga Anda seorang diri?"
Ia tidak berpikir sejauh itu. Ia masih diliputi kekhawatiran bahwa setelah keluarga yang dicintainya itu naik ke kapal, mungkin ia takkan pernah melihat mereka lagi. Keluarganya berasal dari kawasan Gaza, sejak meninggalkan rumah mereka di Palestina, mereka telah berpindah-pindah sebanyak tujuh kali. Wanita ini telah terbiasa dengan kemiskinan, perang, dan penindasan. Namun, kini ia bersedih karena ia bukan hanya kehilangan tempat tinggal,
melainkan keluarganya juga tercerai-berai. Aku tahu aku tidak dapat melipurnya, jadi aku hanya diam dan mendengarkan. Tiba-tiba ia menghapus air matanya, lalu mengundangku minum kopi. Betapa murah hatinya orang-orang ini meskipun menderita akibat perlakuan sewenang-wenang yang mereka terima!
Itu adalah pertama kalinya aku mengetahui bahwa para pejuang PLO tersebut adalah orang-orang yang memiliki rumah dan keluarga di Lebanon. Mereka meninggalkan istri, anak-anak, saudara, serta orangtua mereka. Pengevakuasian tersebut memaksa suami dan istri untuk berpisah, tentunya ini benar-benar mengguncang struktur keluarga mereka.
Di Rumah Sakit Lahut, aku tiba tepat pada waktunya untuk bergabung dengan tim bangsal. Aku dikenalkan pada dua orang dokter yang bekerja untuk PRCS dan seorang dokter sukarelawan asal Inggris, Paul Morris. Kami berkeliling menjenguk semua pasien dan aku diperkenalkan sebagai "spesialis dokter ortopedis Singapura yang diutus Inggris". Dari semua pasien itu, sebanyak lima puluh orang atau lebih adalah para penduduk sipil korban perang, dan banyak di antaranya adalah anak-anak. Korban terbanyak dari penyerangan itu adalah penduduk sipil yang tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi sasaran.
Banyak sekali jenis luka perang. Kepingan-kepingan besar pecahan bom, terkadang sebesar selembar papan, sanggup membuntungi tungkai kaki
dan lengan, bahkan membunuh seseorang dalam sekejap. Ada pula luka bakar permukaan (flash burn), tapi ada juga luka bakar dalam (deep burn) yang menembus ke lapisan otot. Pada waktu aku mengamati luka-luka itu, kebanyakan telah mengalami infeksi selama berminggu-minggu. Yang paling menyedihkan adalah korban-korban yang disebut oleh para perawat Amerika sebagai "Sindrom Awal Reagan", umumnya mereka adalah anak-anak yang masih shock akibat perang, tampak kurus dan ketakutan, bengong, dan menolak makanan dan minuman.
Kebanyakan dari saudara-saudara mereka tewas terbunuh dalam peristiwa pengeboman. Dari sudut pandang medis, Sindrom Awal Reagan artinya satu atau dua tungkai yang buntung, sebuah luka besar di dada yang menyebabkan anak-anak itu kehilangan sebelah paru-paru mereka, dan sebuah luka memanjang di perut yang menyebabkan hilangnya hati, ginjal, atau limpa. Semua luka itu sering disertai pula dengan patah tulang terbuka yang mengalami infeksi. Sambil merawat anak-anak itu, kata-kata pejabat Israel itu terngiang-ngiang di telingaku, walaupun ia menyesali jatuhnya para korban, untuk membuat telur dadar harus memecahkan telur-telur terlebih dahulu.
Oleh karena aku adalah satu-satunya dokter bedah ortopedis di sana, aku diminta menangani semua kasus yang berhubungan dengan kerusakan atau patah tulang. Fraktura komplikasi, yaitu tulang yang patah menembus kulit merupakan jenis frak-
tura yang paling sering kuhadapi. Aku sama sekali tidak senang dengan penanganan yang telah dilakukan terhadap para korban fraktura ini. Para dokter cenderung langsung melakukan "fiksasi internal", yang artinya mereka mencoba "masuk" ke dalam luka untuk membetulkan atau memperbaiki fraktura langsung dengan memasang pelat, sekrup, atau baut. Kemudian, mereka umumnya memilih "penutupan primer", yang artinya mereka juga sekaligus menjahit lukanya. Ini adalah pendekatan modern yang meremehkan metode-metode tradisional yang sudah lama dipraktikkan dan diuji.
Jika mereka merawat para korban sipil dalam bangsal operasi yang bersih dan dilengkapi peralatan yang memadai seperti di Eropa atau Amerika, fiksasi internal dan penutupan primer yang segera dilakukan mungkin saja akan membuahkan hasil yang cukup baik. Akan tetapi, mereka merawat para pasien yang terkena luka ledakan maupun luka tembak dalam bangsal-bangsal yang kotor, sehingga fiksasi internal merupakan tindakan yang menimbulkan bahaya besar, setiap kasus yang ditangani dengan cara demikian di zona perang seperti Beirut menyebabkan penyakit gangren, dan mengharuskan amputasi atau menimbulkan infeksi kronis pada tulang yang sangat sulit disembuhkan. Dalam kondisi seperti itu, fraktura terbuka paling baik diatasi dengan cara-cara tradisional, melalui pembersihan membuang semua jaringan yang mati dan terkontaminasi dan menutup luka secara hati-hati dengan pembalut. Jika alat untuk fiksasi
fraktura dalam tersedia, alat ini dapat digunakan untuk memperbaiki fraktura tersebut. Jika tidak, dapat digunakan belat (splint) atau traksi (traction, alat   penarik   anggota   tubuh   yang   patah   agar kembali ke susunan semula).
Luka tersebut harus diawasi setiap hari. Apabila membaik, luka tersebut dapat ditutup dengan lapisan kulit atau melalui okulasi kulit sederhana. Barulah setelah itu, ketika peradangan telah usai, lebih baik dilakukan cangkok tulang atau fiksasi internal. Kelihatannya memang agak berbelit-belit, tetapi kulihat banyak luka yang mengalami gangren akibat penutupan primer. Metode kuno, yang pada tahap perawatan awal membiarkan semua luka terbuka, masihlah yang terbaik.
Jika fraktura harus distabilkan agar pasien dapat dievakuasikan atau dipindahkan, dan jika alat fiksasi luar tidak tersedia, maka belat seperti belat Thomas yang didesain Hugh Owen Thomas asal Liverpool, yang lagi-lagi telah teruji cukup baik digunakan, atau bahkan cukup dengan menggunakan pembalut gips buatan Paris.
Dalam keadaan genting saat terjadi serangan udara, berlusin-lusin sukarelawan dari seluruh dunia semuanya bersikeras melakukan cara yang menurut mereka terbaik. Sehingga, sulit bagiku untuk menerapkan prinsip-prinsip yang paling mendasar tetapi paling aman dalam perawatan fraktura ini.
Tak lama setelah para pejuang Palestina dievakuasi, perdamaian memang terasa pulih di Beirut Barat.
Serangan udara juga berhenti. Tidak ada lagi pertempuran, orang-orang keluar dari tempat perlindungan dan persembunyian mereka untuk kembali ke rumah. Aku meninggalkan hostel para perawat di American University seiring mereka kembali bekerja, dan pindah ke tempat menginap para sukarelawan yang masih tinggal di Beirut, yaitu di May fair Residence. Namun, lama-kelamaan, kami merasa berat juga pulang-pergi setiap hari dari dan ke Rumah Sakit Gaza. Oleh karena itu, tim dokter bedah kami pindah menginap di rumah sakit itu, di sana kami ditampung dalam suatu suite luas yang kosong di lantai sembilan. Jendela-jendelanya memang sudah hancur, tetapi kerusakan akibat bom yang menghantam bagian pojok bangunan ini hanya kecil saja. Nyaman sekali berada di ketinggian seperti ini, nyamuk-nyamuk tidak akan menghinggapi kami, dan pada malam hari udaranya sejuk.
Kepindahan ke Rumah Sakit Gaza itu membuatku tersadar bahwa selama ini aku adalah seorang ibu rumah tangga yang payah. Para kolegaku dengan rajin membenahi "bagian dokter asing". Pertama-tama, mereka membersihkan lantai dari puing-puing reruntuhan, setelah itu mereka membeli perkakas rumah tangga, seperti kompor gas, cerek, panci, dan wajan, serta bahan-bahan makanan. Sedikit demi sedikit mereka mengubah suite yang kosong tak berpenghuni itu menjadi sebuah hunian yang layak dan nyaman untuk ditempati.
Sementara itu, para pasien secara bertahap dipindahkan  kembali dari  pusat-pusat perawatan
sementara Lahut, Sekolah Protestan, dan sebagai-nya dan mulai mengisi bangsal-bangsal di Rumah Sakit Gaza. Banyaknya pasien yang terdapat di lebih dari satu tempat membuatku harus melakukan inspeksi di Lahut sekaligus di Rumah Sakit Gaza. Tak banyak yang bisa kulakukan untuk menjalankan pembedahan, karena sumber daya yang sangat terbatas harus dihemat bagi keadaan-keadaan darurat, sehingga tugasku hanya sebatas membongkar luka-luka (dalam artian, menggunting dan membersihkannya dengan cara mengangkat jaringan yang rusak), mengganti plester gips, dan membubuhkan antibiotik. Beberapa pasien telah diberikan delapan jenis antibiotik yang berbeda-beda, dengan segera menjadi kebal terhadap kedelapan antibiotik tersebut. Menentukan kebijakan mengenai pemakaian antibiotik menjadi penting. Itu juga tidak mudah.
Suatu hari, ketika sedang menunggu jip yang akan mengantarku dari Rumah Sakit Gaza ke Rumah Sakit Lahut, aku bercakap-cakap dengan seorang perawat PRCS. Aku bertanya kepadanya apakah aku bisa mengunjungi kamp pengungsi. Orang-orang di sini selalu membicarakan kamp pengungsi, dan aku merasa hanya akulah satu-satunya yang belum pernah mengunjungi kamp tersebut. Saat itu, kami baru beberapa hari memulai bertugas di Gaza.
"Kamp pengungsi?" tanya wanita perawat itu. Lantas, ia tersenyum, meraih lenganku, dan membawaku keluar dari rumah sakit. Sebuah jalan kecil yang sempit memisahkan  bangunan rumah sakit
dengan deretan panjang bangunan multitingkat gabungan toko dan flat tempat tinggal. Kami berbelok ke kanan, lalu melangkah beberapa meter melintasi jalan menuju pasar yang kulalui setiap hari, tempat dr. Egon membeli jeruk, tomat, dan sayur-mayur untuk kami. Di samping pasar terdapat sebuah masjid, dan beberapa blok lagi terdapat bangunan flat serta toko. Para wanita dengan selendang putih, hitam, dan warna-warni lainnya yang menutupi rambut mereka tampak tergesa-gesa berangkat atau pulang berbelanja. Anak-anak mendorong gerobak yang memuat batu bata dan bahan-bahan material menuju reruntuhan bangunan. Di mana-mana terlihat orang-orang yang sedang membetulkan rumah mereka.
Si perawat dari Rumah Sakit Gaza yang mengantarku itu melingkarkan tangannya di bahuku. "Dokter Swee," ujarnya, "selamat datang di Sabra dan Shatila!"
Pasar yang ramai dengan kios-kios buah dan sayur-mayur serta hewan ternak adalah Pasar Sabra. Sementara, bangunan-bangunan yang mengelilinginya adalah Kamp Shatila. Bangunan-bangunan yang mengelilingi Rumah Sakit Gaza adalah Kamp Sabra.
Selama beberapa hari belakangan ini, aku menyaksikan dengan penuh minat keluarga-keluarga yang pulang untuk membetulkan bangunan yang hancur akibat bom. Setiap pagi aku menatap ke luar jendela dari lantai sembilan Rumah Sakit Gaza dan melihat orang-orang yang datang dengan barang-
barang bawaan yang sedikit tas-tas, kasur, bantal untuk mengisi bangunan tersebut. Suatu hari, mereka masuk ke bangunan yang berselimutkan debu dan lumpur, dengan kaca-kaca jendela yang pecah serta lubang-lubang di dinding. Pagi berikutnya, aku akan memandang lagi dari jendela, bangunan yang sama telah berubah. Batu bata yang masih baru mengisi lubang-lubang di dinding, kaca-kaca jendela baru terpasang, cucian dijemur, dan suara tawa anak-anak terdengar. Kukira ini hanyalah sebuah daerah di Beirut Barat yang sedang berangsur-angsur kembali normal, padahal, sepanjang waktu aku sudah berada di tengah-tengah kamp pengungsi!
Bayanganku tentang kamp pengungsi adalah lapangan luas yang dipenuhi deretan tenda. "Jadi, di mana tenda-tendanya?" tanyaku pada si perawat. "Harusnya berupa tenda-tenda, bukan?"
Ia menjelaskan bahwa ketika orang-orang Palestina di sebelah utara Galilea telah diusir pada 1948, banyak dari mereka yang menyeberangi perbatasan utara menuju Lebanon. Orang-orang dari Galilea tersebut menjadi pengungsi di Lebanon, komunitas lainnya melarikan diri ke Yordania, Mesir, Suriah, Irak, dan seluruh jazirah Arab. Atlas dunia tidak lagi memuat peta negara Palestina, tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat orang-orang terbuang yang berjumlah 750 ribu orang ini untuk mengingat tanah air mereka.
Dulu, para pengungsi itu diharapkan akan membaur ke dalam komunitas negara-negara te-
tangga sesama bangsa Arab, sehingga akhirnya mereka mengikuti jejak komunitas-komunitas lain yang tak terhitung jumlahnya yang telah terhapus dari sejarah. PBB, bersama-sama dengan organisasi kemanusiaan dan pemberi bantuan, memasok tenda-tenda dan mendirikan kamp-kamp bagi rakyat Palestina yang kini telah kehilangan tempat tinggal. Orang-orang Galilea menghuni beberapa "tenda sementara" ini di Sabra, Shatila, dan Bourj elBrajneh di pinggiran selatan Beirut.
Perawat dari Rumah Sakit Gaza itu menerangkan bahwa para pengungsi itu tidak bisa benar-benar berbaur karena mereka bukanlah pengungsi sungguhan. Mereka lebih tepat dikatakan orang-orang buangan, dan ada perbedaan antara dua hal itu. Sebagai orang-orang buangan, mereka selalu ingin pulang ke rumah. Tenda-tenda itu segera dirubuhkan oleh orang-orang Galilea sendiri.
Di tempat-tempat pembuangan, berdasarkan kenangan-kenangan dan sedikit foto rumah mereka, mereka mulai membangun kembali komunitas sendiri. Banyak dari rumah-rumah itu dibangun sedemikian rupa agar tampak sama dengan rumah di kampung halaman mereka. Setelah tenda-tenda itu digantikan dengan rumah-rumah dan flat-flat dari batu bata, kamp-kamp tersebut menjadi kota-kota orang buangan, dengan taman kanak-kanak, sekolah-sekolah, bengkel-bengkel, klinik-klinik, dan rumah sakit-rumah sakit. Mereka menamakan rumah sakit-rumah sakit mereka dengan nama Gaza, Haifa, dan Akka, seperti nama-nama kota di Palestina
supaya mereka tak pernah lupa dengan akar mereka. Selain tiadanya tenda-tenda, dan fakta bahwa para pengungsi itu adalah orang-orang buangan, ada lagi kekeliruan yang sudah jamak tentang istilah "kamp pengungsi Palestina", yaitu kata "Palestina". Memang benar kamp-kamp tersebut awalnya dibangun untuk para pengungsi dari Palestina. Namun, orang-orang Palestina itu telah mengambil pelajaran dari kesengsaraan mereka dan menerapkan sebuah prinsip nondiskriminatif yang meliputi seluruh institusinya, sehingga tidak pernah kamp-kamp tersebut khusus diperuntukkan bagi orang-orang Palestina semata.
Rumah sakit-rumah sakit yang dikelola PRCS memberikan perawatan gratis bagi semua orang yang membutuhkan. Mereka tidak mempermasalahkan negara asal, ras, ataupun agama, kata perawat itu. Sekolah-sekolah yang dikelola orang-orang Palestina memberikan pendidikan gratis bagi semua orang. Institusi-institusi kejuruan dan organisasi-organisasi wanita yang mereka kelola menjalankan kebijakan pintu terbuka. Hasilnya, lebih dari sepertiga penduduk di Sabra dan Shatila bukan bangsa Palestina, melainkan orang-orang Lebanon yang berpihak kepada rakyat Palestina atas dasar persamaan nasib, yaitu kemiskinan dan perampasan hak-hak.
Yang lebih mengejutkan, kata si perawat, ada beberapa keluarga Yahudi yang tinggal di tengah-tengah kamp tersebut. Memang jumlahnya tidak banyak,  mereka adalah keluarga-keluarga Yahudi
yang meninggalkan kampung halaman mereka sebagai bentuk protes terhadap invasi Israel. Mereka pergi bersama-sama dengan orang-orang Galilea bua-ngan dan tetap tinggal bersama-sama mereka di dalam kamp. Seperlima dari rakyat Palestina beragama Kristen.
Perawat itu tertawa melihat wajahku yang menunjukkan kebingungan karena tidak tahu apa-apa. Ia mengundangku ke rumahnya untuk minum kopi, tetapi aku menolaknya karena harus ikut jip ke Lahut.
"Bukrah," sahutku, berlagak menggunakan kata kedua bahasa Arab yang telah kupelajari, yang artinya 'sampai besok'.
Keesokan harinya, ketika aku kembali ke kamp itu, tempat itu tambah sibuk saja, pembangunan kembali kamp dilakukan dengan giat. Semakin banyak keluarga yang telah kembali. Rumah sakit-rumah sakit juga ikut sibuk dan penuh aktivitas, para stafnya yang selamat dari hukuman penjara maupun kematian kembali dengan semangat baru. Mereka membersihkan puing-puing, mengepel lantai-lantai rumah sakit, mengambil stok peralatan medis, serta memindah-mindahkan tempat tidur dan peralatan lainnya dari satu lantai ke lantai lainnya untuk menyiapkan bangsal-bangsal bagi para pasien. Rumah Sakit Akka, yang dipenuhi puing-puing saat terakhir kali kami mengunjunginya seminggu lalu, kini telah dibersihkan, basementnya pun telah dipel sampai mengilap. Tumpukan batu bata dan pipa baja telah tersedia, kemungkinan
digunakan untuk membangun kembali rumah sakit tersebut.
Saat itu benar-benar menyenangkan, pertama kalinya aku merasa menjadi bagian dari kekuatan dan semangat luar biasa orang-orang itu. Betapa ingin aku melihat Francis berada di sini, sehingga ia juga dapat merasakan semangat ini! Pasukan Israel mungkin telah gagal menghancurkan satu hal ini, semangat. Seandainya saja aku pernah mengajari Francis cara memberikan pertolongan pertama, aku mungkin akan membawanya serta sebagai sopir ambulans! Kami berdua memang pengungsi, tetapi kami harus belajar dari teman-teman di kamp ini tekad mereka untuk tetap bertahan hidup dan mengubah mimpi buruk berupa kamp yang hancur lebur menjadi tempat hunian yang layak.
Tiba-tiba saja berkobarlah naluriku untuk menghiasi flat kecil kami di pusat Kota London yang padat penduduk dengan ratusan rangkaian bunga. Di sini, di Sabra dan Shatila, di tengah-tengah kemiskinan dan penderitaan, kehidupan telah kembali, dan tidak seorang pun atau suatu apa pun yang dapat mengambilnya dari teman-teman di kamp tidak bom, granat, tidak pula penderitaan akan evakuasi.
Sejak saat itu, setiap pagi, aku akan berlari menuju lantai enam Rumah Sakit Gaza untuk sarapan bersama dengan para dokter dan perawat PRCS. Aku ingin berbincang-bincang dengan mereka tentang kamp, keadaan mereka sendiri, sementara aku  menatap ke  luar jendela  dengan keinginan
meluap-luap untuk mengamati perubahan-perubahan di kamp tersebut, pintu-pintu baru, jendela-jendela baru, dinding-dinding yang baru dicat, lubang-lubang yang ditambal semalaman. Aku kagum pada ketekunan orang-orang itu.
Pembukaan kembali Rumah Sakit Gaza secara resmi direncanakan pada 29 Agustus 1982, tetapi banyak orang yang mendatanginya beberapa hari sebelumnya untuk mendapatkan segala jenis perawatan. Mereka datang karena terkena batuk dan pilek, maupun untuk mendapatkan perawatan luka-luka perang yang telah berumur dua atau tiga bulan. Orang-orang di kamp menganggap Gaza sebagai rumah sakit mereka, mereka senang bercerita padaku tentang bagaimana pemimpin PLO, Yasser Arafat, yang mereka juluki Abu Amar, telah menolak perawatan dari Rumah Sakit American University yang terkenal itu, dan malahan memilih Rumah Sakit Gaza.
Para staf Rumah Sakit Gaza, para pegawai PRCS, adalah orang-orang pemberani. Tidak pernah kudengar sedikit pun keluhan dari mereka, dan ketabahan mereka yang luar biasa itu membuat kami, para sukarelawan asing, sering lupa bahwa seperti setiap orang di kamp mereka juga telah kehilangan rumah atau orang-orang yang mereka cintai. Aku terkenang khususnya seorang dokter bedah ortopedis muda berkebangsaan Palestina yang berasal dari Lebanon Selatan, ia seorang Muslim taat dan bangun pagi setiap hari untuk shalat. Selama pendudukan Israel di Lebanon, ia menolak meninggalkan
rumah sakit tempat kerjanya di bagian selatan sebelum semua pasien dan para staf pergi dari tempat itu dan ia diperintahkan keluar. Perang telah menyebabkan berat badannya berkurang sembilan belas kilogram. Perang juga menghancurkan rumah dan rumah sakitnya di daerah selatan. Meskipun begitu, ia tidak terlihat mendendam ataupun bersedih, bahkan ikut terjun dalam pembangunan kembali Rumah Sakit Gaza.
Direktur medis Rumah Sakit Gaza adalah Amir Hamawi, seorang dokter bedah muda berkebangsaan Lebanon. Penampilannya yang selalu ceria dan bersemangat, ketekunan dan kehangatannya, membuat orang lain merasa hidup ini agak lebih menyenangkan. Para dokter dan perawat asal Lebanon maupun Palestina bekerja bahu-membahu dengan harmonis. Profesor bedah umum yang bekerja di situ adalah salah satu dokter spesialis terbaik di Beirut, tetapi ia adalah seorang pria yang sangat pendiam, sederhana, dan tidak banyak tingkah.
Aku belajar banyak darinya. Aku juga mencoba belajar dari seorang dokter yang memiliki karakter berseberangan dengan profesor bedah umum itu. Ia koordinator staf dokter yang sangat disiplin dalam melakukan ronda di bangsal-bangsal dengan gaya bak seorang komandan yang menginspeksi pasukannya. Awalnya, kukira taktik itu sangat berguna, tetapi ketika berusaha mencontoh gayanya, aku tak pernah berhasil mendapatkan rasa segan dari orang-orang di sekitarku.
Kami, para dokter sukarelawan asing, memiliki
latar belakang yang beragam, dan hal itu terkadang menimbulkan masalah. Para staf dokter PRCS selalu bersikap sopan dan bersahabat kepada kami. Namun, beberapa kolegaku dari Barat bersikap kasar dan keras, dan beberapa di antaranya berusaha menyembunyikan kekurangan pengalaman dan ketidakcakapan mereka di balik gertakan yang tidak santun. Masalah ini tidaklah asing bagi para sukarelawan lokal dan pekerja kemanusiaan di Lebanon, umumnya hal seperti itu terjadi karena para sukarelawan dari negara-negara "maju" merasa lebih hebat daripada "penduduk asli". Bahkan, beberapa kolegaku yang lebih dungu dan bersikap bossy tidak mau mengakui fakta bahwa sang profesor bedah asal Gaza itu adalah seorang spesialis yang telah lama diakui secara internasional, jauh sebelum mereka masuk kuliah kedokteran.
Lagi pula, para dokter dari negara-negara Barat tidak dengan mudah mengakui bahwa dokter-dokter Lebanon dan Palestina itu telah mempunyai pengalaman bertahun-tahun bergelut dengan luka-luka perang. Para dokter Barat itu tidak punya pengalaman seperti itu, kecuali mereka yang pernah berada di zona perang seperti Korea atau Vietnam.
Walaupun Gaza berfungsi kembali, air dan listrik masih belum mengalir dari sumber-sumber utama. Listrik hanya didapat dari generator rumah sakit yang menggunakan bahan bakar diesel yang dijatah. Biasanya, bahan bakar tersebut cukup untuk tiga jam sehari.
Setiap kali mesin generator mulai berjalan,
terjadilah kesibukan yang luar biasa. Air dipompa ke dalam tangki-tangki yang berada di lantai-lantai atas. Toilet-toilet disiram dan dibersihkan. Peralatan laboratorium mulai difungsikan, termasuk alat-alat periksa dan mesin sinar-X. Lift-lift juga mulai berjalan, para pasien dan berbagai peralatan kedokteran dipindahkan dari lantai ke lantai. Bangsal-bangsal operasi dinyalakan, operasi dilakukan. Semuanya terjadi begitu cepat, tiga jam akan berlalu, dan setelah itu semua ruangan menjadi gelap sehingga lilin-lilin pun dinyalakan. Para pasien yang harus dipindahkan dari satu lantai ke lantai lainnya harus dilakukan secara manual karena lift-lift kembali tak berfungsi.
Suatu hari, seorang pasien dibawa masuk ke rumah sakit yang sedang dalam keadaan gelap. Seperti orang-orang lainnya, ia telah kembali untuk tinggal di dalam kamp, tetapi ia menemukan bahwa rumah dan keluarganya telah tersapu habis oleh serangan udara. Dalam keputusasaannya, ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum sebotol organofosforus. Zat ini adalah semacam insektisida, racun berdaya ampuh yang menyerang enzim vital tubuh bernama kolinesterase. Akibat yang dihasilkannya adalah pendarahan dalam, mulas yang parah, serta terhentinya pernapasan dan denyut jantung. Penangkalnya adalah atropin dalam dosis tinggi, tetapi bahkan dalam kondisi terbaik pun korban keracunan organofosforus biasanya akan memburuk dan tewas. Ia membutuhkan pertolongan untuk bernapas dan mendapatkan pernapasan ban-
tuan selama seminggu. Oleh karena tidak ada listrik, pemberian pernapasan bantuan itu harus dilakukan secara manual. Bergantian kami meremas kantong pernapasan itu, dan pada akhirnya racun tersebut melemah sehingga ia mulai sadar. Ia mulai berpikiran positif dan merasa bahagia karena tetap hidup. Berkat bagian anestetiklah, pria muda ini meskipun nyaris mustahil berhasil bertahan hidup.
Selama pendudukan Israel, serangan terhadap Beirut, dan akibat-akibat susulannya, pengelolaan Rumah Sakit Gaza diserahkan kepada Azzizah Kha-lidi, seorang wanita muda campuran Lebanon-Palestina yang cantik. Ia juga luar biasa pintar, memiliki gelar Ph.D. dari American University of Beirut yang diraihnya pada usia 26 tahun.
Di balik raut wajahnya yang jelita dan senyumnya yang selalu mengembang, ia adalah seorang pengelola yang sangat cakap. Tugasnya selama masa-masa kekacauan sungguh berat. Semuanya terasa sulit. Ada kekurangan alat-alat dan barang-barang kebutuhan. Ada pula tekanan politik. Yang paling gawat dari semua itu, ada para sukarelawan asing yang tidak sabaran serta bertemperamen buruk yang sepertinya tidak sanggup memahami keadaan di Beirut setelah serangan udara dan pengeboman selama tiga bulan. Keadaan tidak seperti di London atau New York, di sana pengelola rumah sakit tinggal mengangkat telepon untuk memesan alat-alat. Beberapa dari mereka juga sulit menerima aturan bahwa bangsal-bangsal operasi dengan lubang-lubang bekas bom yang menganga
dan kekurangan pasokan air serta listrik hanya boleh digunakan untuk operasi-operasi penyelamatan yang bersifat darurat.
Meskipun tidak semua dari kami menyadarinya, Azzizah juga harus berurusan dengan kehidupan pribadi dan sosial para stafnya, yang mungkin baru saja kehilangan tempat tinggal atau orang-orang yang mereka cintai akibat evakuasi atau kematian. Sebagai tambahan, Rumah Sakit Gaza bukan hanya sebuah rumah sakit, melainkan juga pusat penyantunan para penghuni kamp yang membawa masalah keuangan dan urusan rumah tangga mereka. Apa yang bisa Anda katakan kepada ibu dari enam anak yang masih kecil yang beberapa di antara mereka kehilangan lima anggota badan, padahal ia sendiri tidak punya suami ataupun anak laki-laki sulung yang menjadi pencari nafkah? Banyak dari masalah-masalah seperti itu yang tidak terpecahkan.
Aku nyaris mengambil spesialisasi dalam ilmu kesehatan masyarakat. Oleh karena menyadari bahwa aku hanya sedikit mengenal komunitasku di Singapura, aku meninggalkan suasana rumah sakit yang nyaman dan menghabiskan waktu dua tahun di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Singapore University. Selama belajar di sana, aku mengunjungi pabrik-pabrik dan mempelajari berbagai tipe keracunan, ketulian karena suara yang gaduh, dan kecelakaan-kecelakaan kerja. Aku juga belajar tentang kesehatan ibu hamil dan anak. Dalam pandanganku, ada kaitan nyata antara penyakit, kemiskinan, dan kebodohan. Seorang dokter dapat
bertindak sebagai seorang teknisi yang menanggulangi efek-efek dari suatu rangkaian sebab, tetapi seorang dokter juga dapat berusaha mengurangi sebab-sebab dasar dari suatu penyakit.
Tidaklah mudah mencabut akar penyebab suatu penyakit, selain memanfaatkan teknologi kedokteran, hal itu juga melibatkan upaya mendidik masyarakat serta usaha memengaruhi penguasa. Aku tidak tahan dengan semua itu, aku memang meraih medali emas atas studiku di bidang kesehatan masyarakat, tetapi aku harus meninggalkan departemen tersebut karena terlalu sering membuat gusar para birokrat dan akademisi.
Aku kembali ke rumah sakit tempatku ber-praktik. Karena berkutat di dalam bangsal-bangsal operasi dan melakukan pekerjaan selama ratusan jam seminggu, aku tidak punya waktu untuk "menimbulkan masalah" dengan mengampanyekan bahwa distribusi kekayaan yang tidak merata menyebabkan distribusi kesehatan yang tidak merata pula, bahwa lebih baik menanggulangi infeksi streptococcal saat usia muda daripada menanggulangi komplikasi lebih lanjut dari infeksi ini dengan transplantasi jantung dan ginjal. Sekarang, pernyataan jujur seperti itu sudah tidak bisa kulakukan. Sekali lagi aku menjadi seorang teknisi yang terampil dan aku memilih mengasah keterampilan sebagai seorang dokter bedah, karena ilmu bedah mengkom-binasikan tiga kegiatan yang kusukai, kedokteran, memasak, dan menjahit. (Coba pikirkan sendiri.) Aku berkonsentrasi padaurusanku sendiri dan sekali lagi
melakukan pekerjaan yang merupakan kompetensiku.
Walaupun kini aku adalah seorang dokter bedah, aku menyadari sepenuhnya bahwa Azzizah dan timnya berupaya memperluas peran rumah sakit itu sehingga dapat pula memenuhi kebutuhan sosial komunitasnya. Orang-orang mendatangi Azzizah untuk meminta bantuan makanan biasanya roti atau bahan-bahan bangunan untuk rumah mereka, atau untuk mencari pekerjaan. Menghadapi sekian banyak permintaan, pengelola rumah sakit kami yang muda belia itu tidak pernah kehilangan ketenangannya.
Tentu saja ia juga punya beberapa orang staf yang sangat baik dan setia kebanyakan adalah wanita. Mereka menolak meninggalkan rumah sakit selama perang, bahkan pada saat-saat terjadinya serangan bom, padahal mereka akan lebih aman jika berada di tempat lain. Mereka menolak meninggalkan tugas! Para wanita Arab itu, dengan cara-cara mereka yang lembut dan anggun, benar-benar mengembalikan keyakinanku akan ketegaran wanita.[]
Lima
Seminggu setelah pembukaan kembali rumah sakit secara resmi, kami kedatangan sebanyak enam puluh pasien rawat inap, pasien dalam daftar tunggu dua kali lipat lebih banyak. Tiga per empat pasien rawat inap itu adalah pasien-pasien ortopedis, tetapi dokter bedah ortopedis senior di rumah sakit itu telah diungsikan, sehingga akulah yang ditugasi sebagai penanggung jawab Bagian Ortopedis. Meskipun aku tahu aku sangat tidak berpengalaman untuk tugas ini, tapi di sini tidak ada orang lain untuk menjalankannya. Jadi, mau tidak mau aku harus mengemban tanggung jawab tersebut. Walaupun kekurangan pengalaman, aku berusaha keras untuk bekerja sebaik mungkin, karena dalam waktu singkat aku mencintai dan menghargai sepenuh hati orang-orang itu. Andai saja aku mempunyai lebih banyak tenaga sehingga dapat lebih keras lagi bekerja dan mengurangi tidurku. Kebutuhan terasa mendesak, aku sanggup bekerja terus-menerus, hanya beristirahat ketika tidak ada listrik atau air. Bahkan, belakangan operasi-operasi berskala kecil dapat dilakukan dengan pembiusan lokal dan seorang perawat menggenggam sebatang lilin.
Pada sore harinya, biasanya aku berjalan-jalan
berkeliling Sabra dan Shatila. Kesempatan-kesempatan seperti itu kini menjadi kenangan paling berkesan dari masa-masa awalku menjadi sukarelawan. Keramahan para keluarga yang tinggal di kamp membuatku merasa sepenuhnya diterima. Walaupun kemalangan menimpa mereka, aku selalu disambut dengan ramah di rumah mereka. Terkadang, sebuah rumah hanya tinggal berupa reruntuhan tembok-tembok, tapi itu tidak masalah. Lantainya akan selalu dipel sebersih mungkin dan aku selalu disuguhi kopi Arab. Sudah lama sekali aku tidak menemukan keramahan seperti itu tepatnya setelah meninggalkan Asia Tenggara, di sana penduduk Melayu dan Cina di desa nelayan selalu menerima kedatangan orang asing di rumah mereka dengan tangan terbuka. Orang-orang di kamp itu dengan senang hati memperlihatkan foto-foto keluarga mereka kepada orang asing sepertiku, foto-foto orang-orang yang mereka cintai, foto-foto pernikahan, ulang tahun, dan negeri Palestina. Mereka sering kali berusaha memberiku barang berharga milik mereka.
Gadis-gadis biasanya melepas anting, gelang, atau perhiasan lainnya dan memaksaku menerimanya. Para keluarga yang sangat miskin berusaha memaksaku menerima foto-foto keluarga mereka, atau barang jahitan seperti taplak meja. Dengan segera aku paham untuk tidak pernah memuji barang-barang di dalam sebuah rumah keluarga Palestina, karena pasti barang tersebut akan mereka berikan kepadaku sebagai hadiah. Kemurahan hati
mereka sering membuatku malu akan keegoisanku. Aku seorang Kristiani yang mengemban misi "belas kasih", aku dijuluki oleh pers Singapura sebagai "Wanita Belas Kasih" (Lady of Mercy), tetapi hanya sedikit yang bisa kuberikan kepada orang-orang ini, dan sebaliknya,  aku menerima seribu kali lipat "kasih" dari mereka. Di kamp, di Rumah Sakit Gaza, bersama orang-orang yang telah menerangi jiwaku melalui  tingkah  laku dan  tindakan  mereka,   aku merasa jauh lebih dekat dengan Tuhan daripada sebelumnya.
Rumah Sakit Gaza menjadi semakin kokoh. Dari hari ke hari kami semakin sibuk, bangsal-bangsal perawatan terisi penuh, dan lebih banyak operasi dapat dilakukan seiring pasokan air dan listrik meningkat. Banyak perawat yang muncul dari tempat persembunyian mereka dan kembali ke rumah sakit. Di antara mereka terdapat orang-orang yang sangat terampil dan berpengalaman. Mereka menjadi teman-teman terbaikku selama aku berada di kamp. Sterilisator, mesin sinar-X, dan fasilitas laboratorium sedikit demi sedikit dapat digunakan kembali. Dua minggu setelah pembukaan resmi, Rumah Sakit Gaza menjadi ramai kembali.
Rutinitas kegiatan di rumah sakit terdiri dari ronda ke bangsal-bangsal perawatan dan konferensi-konferensi tentang kasus klinis, diikuti dengan pemeriksaan pasien rawat jalan dan klinik-klinik spesialis, sesi-sesi operasi, lalu, bagi para staf medis yang bertugas pada hari itu, bekerja di ruang-ruang UGD.   Tugasku   sendiri   mulai   meluas   ke   bidang
nontrauma atau disebut ortopedik "dingin". Tugas ini mencakup perawatan pasien dengan masalah-masalah ortopedik bawaan seperti kaki yang bengkok atau terlepasnya persendian tulang pinggul, dan pasien-pasien yang mengalami penurunan kondisi fisik seperti osteoarthritis dan sakit punggung. Orang-orang mulai berdatangan dengan luka-luka yang menurutku berhubungan dengan kejadian sehari-hari, seperti fraktura atau patah tulang, luka terpotong, atau luka bakar yang bersifat domestik.
Rumah sakit menerima kunjungan orang-orang di luar pengunjung biasa, terutama para wartawan dan kru televisi. Meskipun menurutku kunjungan mereka cukup mengganggu konsentrasi, aku tetap menghargai pentingnya keberadaan media. Mereka membantu mengingatkan dunia luar tentang kamp-kamp pengungsi dan orang-orang di dalamnya. Sejauh ini, media memfokuskan diri pada perang dan kerusakan, kini kami berharap mereka juga merekam optimisme yang tengah terbangun di kamp-kamp seiring orang-orang di sini dengan segenap hati berupaya membangun kembali segala sesuatu. Mungkin untuk kali ini, kuharap, tekad orang-orang ini untuk bertahan hidup dan bersama-sama membina kembali kehidupan mereka yang telah hancur dapat mengetuk sanubari masyarakat yang tinggal di dunia Barat.
Pasien-pasien kami sangat antusias berbicara kepada para wartawan tentang perang. Pada mulanya mereka malu menghadapi kamera, tetapi sesaat kemudian   mereka   akan   menumpahkan   isi   hati
mereka dan mengenang kembali saat-saat perang yang mengerikan. Mereka akan menunjukkan kemarahan terhadap ketidakadilan, tetapi banyak yang merasa menang dan bangga karena tak ada yang bisa mematahkan semangat mereka.
Anak-anak di bangsal perawatan ortopedisku sungguh hebat. Si kecil Essau, seorang bocah laki-laki Kristen asal Palestina yang berambut hitam pendek serta keriting, mengalami luka akibat cluster bomb yang menewaskan ibunya. Kedua kakinya patah di berbagai tempat karena ledakan. Banyak luka Essau yang membusuk sehingga ia memerlukan operasi bedah ortopedis untuk mengangkat tulang-tulang yang telah mati dan membusuk. Setelah operasi, fraktura-frakturanya perlu diluruskan agar kakinya tidak bengkok. Setiap kali para reporter itu menghampiri bangsalnya, Essau biasanya akan memulai bercerita kepada mereka bahwa kelak ketika dewasa, ia akan menjadi "pejuang" agar dapat melindungi rakyat dan kampnya. Sebelum ia dicap "teroris" oleh para reporter, seorang perawat segera menyingkap bajunya untuk memperlihatkan sepasang kaki yang bengkok penuh goresan serta dikelilingi lubang-lubang luka yang besar dan bernanah. Essau yang berusia tujuh tahun itu akan menatap ke bawah dan terdiam. Tak satu pun dari kami yang merasa yakin jika ia akan dapat kembali berjalan, apa lagi untuk menjadi seorang "pejuang" ketika dewasa nanti.
Milad Faroukh adalah seorang anak laki-laki berusia   delapan   tahun   asal   Lebanon.   Ayahnya
pernah punya lahan pertanian di Lebanon Selatan. Lahan tersebut dihancurkan oleh bom Israel, dan salah satu dari bom-bom itu menghantam lapangan yang tengah digunakan Milad bermain frisbee bersama adik laki-lakinya. Adiknya tewas seketika, dan tumit Milad hancur lebur. Kolegaku asal Inggris, dr. Paul Morris, menghabiskan waktu berjam-jam, dengan sabar berusaha mengobrol dengannya untuk memecah kebisuannya, seraya membujuknya makan. Tubuhnya hanya tinggal tulang terbalut kulit, tetapi kini kepulihannya terus bertambah secara konstan. Saat untuk pertama kalinya Milad tersenyum, kami semua merasa bahwa sesosok malaikat tersenyum di tengah-tengah Lebanon yang terkoyak, wajahnya terlihat sangat tampan.
Kendatipun masih malu-malu dan tertutup, Milad menjadi sangat pemberani, dan dengan cepat belajar cara mengganti perbannya sendiri. Setelah perban yang melekat di tumitnya dilepas, tampaklah sebuah lubang bekas luka yang masih basah. Pasti terasa nyeri sekali, tetapi ia menggertakkan giginya dan dengan gagah berani membersihkan lukanya dengan boor water (hydrogen peroxide) sebelum membalutnya dengan perban baru.
Ada juga Leila. Setiap kali kami mengganti perban yang membungkus luka bakarnya yang lebar dan masih basah, ibunya serta para perawat tahu ia merasa luar biasa kesakitan. Proses pembalutan luka sedemikian besar pada seorang bocah tiga tahun semestinya menggunakan pembiusan umum, tetapi terjadi kelangkaan obat-obatan. Kami ter-
paksa melakukan apa yang kami sebut "pembiusan vokal", ibu Leila dan para perawat mengajak bicara si gadis kecil itu atau meneriakinya agar ia menurut. Dari segala penjuru, semakin banyak anak kecil berdatangan anak-anak dengan luka-luka perang, anak-anak yang terkena serpihan bom. Anak-anak ini sungguh-sungguh pemberani, di tubuh mereka terdapat bekas-bekas luka yang takkan bisa hilang. Luka-luka akibat kekejaman perang yang hanya memamerkan kecanggihan teknologi belaka. Banyak dari anak-anak itu yang kini yatim piatu dan tak punya rumah, dan mendapat tempat tinggal sementara bersama tetangga atau saudara-saudara jauh mereka.
Berkali-kali aku berdoa dalam diam meminta kekuatan, memohon pertolongan kepada Tuhan agar aku sanggup bertahan. Operasi yang paling mulus pun dapat berubah menjadi malapetaka gara-gara mati listrik secara tiba-tiba. Terkadang para perawat turun untuk membalut luka-luka hanya dengan menggunakan sabun dan air. Ini semua gara-gara perang, tapi paling tidak, ada gencatan senjata. Orang-orang di kamp merasa lega karena bom-bom dan granat-granat tidak lagi berjatuhan. Sesekali bom yang belum meletus atau ranjau darat yang tersisa meledak dan meminta korban yang tidak waspada, tetapi seiring hari berganti, kejadian-kejadian semacam ini semakin berkurang. Di luar kamp, peristiwa-peristiwa politik yang penting sedang berlangsung.
Berbagai "rencana perdamaian"   sedang   di-
bahas. Berita-berita di siaran BBC yang menarik perhatian kami, seperti pembentukan kembali Parlemen Lebanon, menjadi pembicaraan di pasar-pasar, jalanan, dan di antara para sopir taksi. Pasukan penjaga perdamaian multinasional ditempatkan di berbagai lokasi dan diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Kami diberi tahu bahwa pasukan penjaga perdamaian tersebut akan berada di sana hingga Presiden terpilih Lebanon, Bashir Gemayel, melakukan sumpah jabatan dan Angkatan Bersenjata Lebanon mampu menangani situasi di dalam negeri.
Setelah hampir satu dekade perang sipil, Lebanon kini dipenuhi pasukan bersenjata. Banyak individu yang memiliki senapan mesin atau setidaknya sepucuk pistol. Organisasi-organisasi swasta mempunyai alat peluncur roket, bahkan tank. Kini dilakukan upaya pelucutan senjata secara besar-besaran, negara yang sudah lelah dengan perang ini benar-benar serius dalam mewujudkan perdamaian. Di seluruh Beirut, orang-orang menyerahkan senjata mereka, unit-unit Angkatan Bersenjata Lebanon berkeliling kota serta kamp-kamp, memanggil para penduduk untuk menyerahkan senjata mereka. Gudang-gudang senjata juga dikosongkan oleh para tentara.
Saat itu, setiap orang berpikir bahwa perang benar-benar akan berakhir. Harga sepucuk Kalash-nikov jatuh hingga tujuh lira Lebanon (sekitar 2,5 poundsterling). Aku melihat para wanita bermunculan   untuk    menyerahkan   senjata   anak-anak
mereka. Orang-orang percaya pada usulan-usulan perdamaian, dan mereka siap menunjukkan bahwa mereka menginginkannya. Kantong pasir, penghalang jalan, dan ranjau darat secara bertahap dibersihkan. Jalanan yang diblokir dengan timbunan besar pasir juga dibersihkan sehingga dapat digunakan oleh kendaraan-kendaraan besar. Buldoser-buldoser dibiarkan lalu-lalang membersihkan jalan-jalan dan puing-puing. Toko-toko kembali dibuka. Pipa-pipa air dipulihkan dan "listrik dari pemerintah" kembali mengalir.
Hamra kembali hidup, dan berbagai barang mewah kembali muncul.  Aku  sempat mencicipi croissant, kelezatan khas Prancis yang terasa asing bagi lidah orang Singapura.
Di mana-mana terjadi euforia pascaperang, penduduk lokal tampak bersatu dan antusias. Ketika ditanyakan apakah mereka orang Lebanon atau Palestina, mereka sering menjawab, "Dua-duanya," sekaligus mengatakan tidak ada perbedaan antara keduanya. Bukannya memisahkan kedua bangsa itu, perang justru mempersatukan mereka dalam kebencian yang sama terhadap Israel. Mereka sering mengajakku melihat bangunan-bangunan yang dibom.
"Lihatlah, Doctora," begitu kata mereka. "Toko-toko, hotel-hotel roket-roket dan bom-bom Israel membuat bunyi 'wuush' dan sekarang tidak ada lagi toko-toko, rumah-rumah, maupun hotel-hotel." Kehancuran yang terlihat di depan mata seolah-olah berbicara mewakilinya.
Selasa, 14 September 1982, adalah hari yang
indah. Jalan-jalan dibersihkan dari blokade. Air di rumah sakit kembali mengalir, begitu pula dengan listrik. Alangkah senang mengetahui bahwa lampu kembali menyala dan bahwa aku dapat mencuci tanganku di bawah air mengalir. Dr. Phil McKenna, kolegaku ahli anestesi asal Irlandia, seorang teman yang menyenangkan memutuskan mengatur kembali seluruh ruangan UGD. "Karena perang telah usai," ujarnya, "kita bisa menyusun semacam sistem di sini"
Ia turun ke lantai bawah, meminta kain lap, lalu membersihkan meja dan kereta dorong di dalam ruang UGD. Kemudian, ia duduk untuk memilah-milah peralatan resusitasi, semua tabung endotrakheal disusunnya berdasarkan ukuran, laringoskop dicek ulang, begitu pula gas anestetik, hubungan antar-mesin, bahkan perban dan kain kasa.
Setelah melakukan operasi, aku turun untuk membantu para perawat menyiapkan perban untuk operasi bedah. Kami memotong kain-kain kasa berukuran besar menjadi ukuran yang lebih kecil, lalu melipatnya menjadi kotak-kotak kecil. Kami mempersiapkan perban abdominal dengan cara menjahit bagian tepi kain kasa berukuran besar yang dilipat. Bola-bola kapas dibentuk dan disiapkan untuk mesin sterilisator yang baru saja berfungsi kembali. Setelah itu, semua peralatan diletakkan pada tempatnya agar siap digunakan keesokan harinya. Dalam rutinitas seharian, membantu membuat perban-perban seperti ini adalah pekerjaan yang paling kusukai. Aku menjadi kenal dengan para perawat dan   mendapatkan   beberapa   kata   baru   dalam
bahasa Arab.
Abu Ali, pengawas bangsal operasi, memasuki awal usia paruh bayanya. Ia dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan baik. Hari itu, ia merasa sangat bangga dan senang karena mesin sterili-satornya kembali berfungsi. Sejak saat itu, sangat mungkin untuk mensterilisasi semua alat bedah. Abu Ali mulai menjelaskan kepada perawat magang tentang perbedaan antara mensterilisasi alat-alat bedah dengan mesin sterilisator, yang disebutnya sebagai "uap panas", dan mensterilisasinya dengan air mendidih, yang ia sebut sebagai "air panas". Mesin tersebut lebih efektif untuk berbagai alasan yang kemudian dijelaskannya, dan aku mengangguk setuju.
Abu Ali membuatku bertambah tegar, karena entah bagaimana, ia berhasil menyediakan semua alat bedah yang dibutuhkan untuk operasiku. Ini berarti, ia lebih cakap daripada banyak perawat operasi di rumah sakit-rumah sakit di Inggris. Sering aku menahan diri untuk tidak meminta peralatan bedah ortopedis yang canggih, karena aku tidak ingin membuat para staf ruang operasi di Rumah Sakit Gaza merasa tidak punya alat yang memadai. Namun, sering aku dibuat terkejut bercampur senang karena salah satu dari alat-alat yang kubutuhkan tetapi aku tidak berani memintanya itu diberikan kepadaku oleh salah seorang perawat cadangan. Berkali-kali aku diberi tahu pengawas operasi yang jempolan ini bahwa tidak ada kompromi dalam standar kelayakan alat-alat bedah.
Para staf operasi PRCS tampak sangat bangga dengan pekerjaan mereka, dan berusaha menjaga standar. Terkadang Abu Ali akan menggeleng dengan sedih sambil berkata padaku, "Sebelum terjadi serangan, kami memiliki sistem kerja yang baik, tapi sayangnya sistem kami itu hancur gara-gara perang. Meskipun begitu, sekarang kami mulai memulihkan standar-standar kami."
Malam itu aku tidur lebih cepat, merasa sangat puas dan berharap kembali bekerja keesokan harinya. Kami telah merencanakan untuk besok menangani beberapa kasus bedah mayor rekonstruksi ortopedis tiga kasus dengan luka infeksi fraktura pada tungkai bawah yang belum disatukan, satu kasus luka bakar dengan sepuluh persen area kulit yang akan diangkat, serta beberapa operasi minor lainnya.
Aku terbangun pada pukul sebelas malam oleh suara dentuman yang keras sekali. Terdengar seperti suara ledakan dari kejauhan, tetapi seisi gedung terasa ber-getar karenanya. Tidak seorang pun dari kami yang tahu persis apa yang terjadi. Berita tengah malam memberitahukan bahwa sebuah bom yang amat kuat telah meledak di Beirut Timur, dan bahwa Presiden terpilih Lebanon, Bashir Gemayel, termasuk salah seorang yang tewas. Kami semua terhenyak mendengar berita itu. Apakah itu berarti akan terjadi perang lagi?[]
BAGIAN KEDUA
Pembantaian Sabra-Shatila
Musim Gugur 1982
Enam
Esok harinya, ketakutan terburuk kami mulai menjadi kenyataan. Pagi itu tanggal 15 September Aku tengah terlelap di apartemen para dokter sukarelawan asing di Hamra. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh raungan suara pesawat-pesawat yang melintas di atasku. Mereka tiba dari Laut Tengah dan menuju selatan, ke daerah Beirut Barat yang menjadi lokasi kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Bandar Udara Internasional Beirut telah ditutup sejak aku tiba di negeri itu. Pesawat-pesawat itu kini terbang rendah dengan suara mesin yang mengalahkan ambang batas. Mereka bukan pesawat pengangkut penumpang biasa. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Menurut perkiraanku, pesawat-pesawat itu pastilah pesawat tempur Israel yang segera membuatku teringat akan Rumah Sakit Gaza dan kamp-kamp sekitarnya. Aku melompat turun dari tempat tidurku, menyambar sikat gigi dan handuk, mencuci muka, memakai baju dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkan teman-temanku sesama sukarelawan yang masih terlelap, bergegas menuruni tangga dan mencegat taksi untuk membawaku ke kamp. Aku tidak boleh buang-buang waktu. Begitu serangan udara itu terjadi, hilanglah kesempatanku untuk pergi dari Hamra menuju kamp, dan aku tidak akan
dapat merawat para korban.
"Tolong, cepatlah," aku memohon kepada sopir taksi, nyaris putus asa dapat sampai ke kamp. Jalanan yang bergelombang tampak lengang tidak ada mobil maupun pejalan kaki. Bahkan tidak ada orang di pos-pos pemeriksaan. Ke mana perginya orang-orang itu? Kami menuju Rumah Sakit Gaza tanpa berhenti sekali pun, dan tiba di sana pada pukul setengah tujuh pagi. Aku tidak ingat berapa uang yang harus kubayar banyak, karena taksi-taksi yang lain menolak untuk pergi ke sekitar kamp-kamp. Begitu aku keluar dari taksi, sopir taksi itu langsung berputar balik dan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Saat itu, langit sudah terang.
Aku bergegas menuju bagian UGD-tapi tak ada pasien di sana. Semua anggota PRCS sedang berada di lantai atas untuk berdiskusi. Suasananya begitu tegang. Anehnya, pesawat-pesawat itu berhenti mengudara dan belum ada bom yang jatuh. Siaran berita mengumumkan bahwa Israel tengah menduduki Beirut Barat untuk membersihkan "dua ribu orang 'teroris' PLO yang masih tersisa". Hal itu berarti ancaman bagi kamp-kamp di sini, kami tahu itu, tapi kami heran mengapa tidak ada bom yang jatuh.
Para petugas medis memulai pagi itu dengan memulangkan para pasien rawat inap yang keadaannya telah jauh membaik, sehingga tersedia tempat bagi para korban baru yang diperkirakan akan dibawa ke rumah sakit. Semua operasi yang
tidak mendesak dibatalkan, dan setiap orang diminta bersiaga menunggu para korban dibawa ke rumah sakit. Aku naik ke bangsal pemeriksaan ortopedis dan menjelaskan kepada seluruh pasienku bahwa aku tidak dapat melakukan operasi untuk mereka saat ini, karena kami memerlukan fasilitas operasi yang ada untuk merawat para korban baru.
Salah seorang pasienku berkata, "Tidak apa-apa, Doctora, kami tahu, bukan Anda yang membatalkan operasi kami. Sharonlah yang membatalkannya." Ariel Sharon adalah menteri yang membawahi Angkatan Bersenjata Israel.
Baru pada pukul delapan pagi kami mendengar ledakan pertama. Ledakan itu terdengar seperti bom-bom yang dimuntahkan dari tank, bukan dijatuhkan dari udara. Aku menuju bagian paling atas rumah sakit lantai sepuluh dan menyaksikan bom-bom meledak di rumah-rumah di kawasan Beirut Barat. Aku tahu bahwa lantai teratas sebuah bangunan bukanlah tempat teraman ketika terjadi hujan bom. Namun, ternyata tak satu bom pun mendarat di tempatku berdiri. Tak lama kemudian, beberapa orang sukarelawan asing lainnya bergabung denganku untuk mengetahui tempat ledakan-ledakan itu terjadi. Awalnya, kami melihat bom-bom itu mendarat hanya di satu daerah. Lalu, pada tengah hari, bom-bom mendarat di sekeliling Rumah Sakit Gaza, membentuk suatu lingkaran bergaris tengah sepuluh kilometer. Aku lantas teringat dengan timbunan pasir dan barikade yang baru saja dibersihkan beberapa hari lalu. Tak pernah
terpikirkan olehku bahwa hal itu akan memudahkan tank-tank yang hendak menuju jalanan di Beirut Barat. Dalam waktu singkat, Rumah Sakit Gaza terkepung oleh lingkaran asap dari gedung-gedung yang terbakar.
Para pasien yang terluka hanya bisa berjalan kaki menuju rumah sakit pada pagi itu karena jalan yang mengarah ke sana tidak dapat dilintasi ambulans. Pasien-pasien ini mengalami luka terkena pecahan bom. Kemudian, para pasien yang mengalami luka lebih parah diangkut ke ruang UGD oleh kerabat mereka. Para pasien tersebut memberi tahu kami bahwa tank-tank Israel sedang menuju Beirut Barat dari arah yang berbeda-beda sambil melancarkan tembakan ke segala penjuru. Sebelumnya, dua buah mobil ambulans PRCS telah dikirim untuk misi penyelamatan. Mobil-mobil itu tak pernah kembali.
Pengeboman semakin mendekat. Sekitar pukul empat kurang lima belas menit di sore itu, kami menyadari bahwa zona pengeboman telah mendekati jarak tiga per empat kilometer dari rumah sakit, orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan mengatakan bahwa semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh tank-tank Israel.
Pada pukul setengah lima sore, berita yang sampai ke Rumah Sakit Gaza memberitahukan bahwa tentara Israel telah menyerbu Rumah Sakit Akka dan menembak mati para perawat, dokter, serta   pasien.   Orang-orang   berlarian   ke   kamp
dengan membawa kabar bahwa tank-tank itu tengah mengejar mereka. Pada pukul lima sore, kami diberi tahu bahwa para prajurit Israel tersebut telah berada di jalan-jalan utama kamp-kamp. Aku belum pernah melihat mereka sejak kedatanganku menyeberang Garis Hijau dari Beirut Timur. Mereka telah menyerang Beirut Barat dari udara maupun dari laut, atau dari seberang pegunungan. Mengapa kali ini mereka ingin menyerang dari darat? Mungkin mereka kini berani muncul karena para pejuang PLO telah pergi. Mungkin mereka ingin mengecek kamp-kamp itu, apakah masih menyembunyikan para teroris atau tidak. Kalau memang itu tujuannya, kupikir dengan mudah aku dapat mengatakan pada mereka bahwa para pejuang PLO benar-benar sudah pergi.
Ketika malam tiba, jelaslah bahwa kami telah terkepung. Pengeboman telah berhenti, tetapi rentetan suara tembakan senapan mesin masih berlanjut sepanjang malam. Langit di atas Sabra dan Shatila diterangi peluru suar militer. Aku pasti tertidur sejenak setelah pukul empat pagi, karena itulah angka terakhir yang kuingat kubaca di arlojiku.
Sejam kemudian, aku lagi-lagi terbangun oleh raungan suara pesawat yang terbang rendah di atasku. Saat itu pagi hari Kamis, tanggal 16 September 1982. Kami kembali mendengar dengan jelas suara pengeboman dan ledakan, juga suara tembakan senapan mesin. Penembakan yang masih berlangsung itu membuatku bertanya-tanya, masihkah ada beberapa orang PLO di sekitar sini?
Orang-orang yang ketakutan mulai berdatangan ke rumah sakit. Menjelang tengah hari, korban-korban mengalir. Yang pertama adalah seorang wanita yang tertembak di siku lengannya. Semua sendi yang menopang sikunya hilang sehingga tampak di antara robekan daging yang berlumuran darah, pangkal tulang humerus, radius, dan tulang hasta yang menonjol ke luar. Ia tinggal di dalam kamp dan ditembak beberapa saat setelah ia melangkah keluar dari pintu rumahnya. Di belakangnya, muncul segerombolan wanita yang tertembak pada rahang, kepala, dada, dan perut. Kebanyakan dari mereka ditembak di jalanan dekat kamp ketika hendak membeli makanan, atau ketika hendak menuju titik-titik persediaan air untuk mengambil air dan membawanya untuk keluarga mereka. Luka-luka mereka itu merupakan luka tembak akibat peluru berkecepatan tinggi dari senapan penembak jitu. Mereka tetap dibawa masuk ke rumah sakit meskipun hanya dua bangsal operasi yang berfungsi. Oleh karena itu, Rumah Sakit Gaza tak mampu menampung semuanya. Beberapa dari mereka kemudian dipindahkan ke sebuah rumah sakit terdekat dengan menggunakan ambulans milik PRCS. Kami hanya memindahkan korban-korban yang kami perkirakan masih bisa bertahan hidup, pasien-pasien yang nyaris mati diinapkan di sana dan diberi sekadar obat pereda rasa sakit. Sisanya kami operasi sendiri di dalam bangsal-bangsal yang terletak di lantai bawah tanah Rumah Sakit Gaza.
Dalam waktu singkat, pola itu berubah. Luka-
luka para korban masih disebabkan oleh tembakan peluru, tetapi pada sekitar tengah hari, tampak jelas bahwa para penembak itu telah merangsek ke dalam rumah-rumah di Sabra dan Shatila dan mulai menembaki orang-orang di sana. Kami diberi tahu bahwa orang-orang itu bukan orang Israel, melainkan para penembak dengan aksen Ba'albek. Aku mengingat-ingat perkataan itu, tapi tak sempat bertanya macam-macam aku terus memeriksa para pasien dan melakukan operasi. Untungnya ada air dan listrik kedua kebutuhan vital itu telah kembali berjalan dua hari sebelumnya.
Tim medis yaitu kami yang terdiri dari dua orang dokter bedah, dua orang ahli anestesi, dan lima orang dokter yang tinggal di rumah sakit, bekerja tanpa henti. Dalam waktu kurang dari 24 jam, telah masuk sekitar tiga puluh pasien dengan luka sangat serius dan kemudian meninggal saat masih menerima pertolongan pertama. Sekitar tiga puluh orang lainnya cukup aman untuk dioperasi. Sekitar sembilan puluh orang yang terluka lainnya dirawat di Bagian Perawatan Korban Perang. Tiga puluh orang atau lebih lainnya dipindahkan ke Rumah Sakit Makassad.
Hanya dalam waktu 24 jam, persediaan makanan rumah sakit telah habis. Kami tidak mempunyai cukup persediaan untuk memberi makan ratusan orang yang berlindung di rumah sakit. Tidak seorang pun mau meninggalkan rumah sakit untuk membeli makanan karena penembakan dan pengeboman di luar masih terus berlangsung. Aku
terlalu sibuk untuk makan, tetapi pada suatu waktu, Azzizah Khalidi, pengelola rumah sakit, memaksaku untuk berhenti mengoperasi dan memakan seiris roti pitta dan beberapa buah zaitun yang dibawanya turun ke bangsal untukku. Beberapa saat setelah itu, barulah kutahu bahwa ia baru saja memberiku makanan terakhir yang tersisa di Rumah Sakit Gaza. Betapa sering aku menerima begitu saja perlakuan dan perhatian luar biasa yang diberikan orang-orang Palestina dengan tulus!
Ketika malam tiba, kami memperkirakan sekitar lebih dari dua ribu orang dari kamp telah memadati rumah sakit untuk berlindung. Mereka tidur di lantai dan tangga di segala penjuru rumah sakit. Ketika keluar dari bangsal operasi di lantai bawah tanah rumah sakit untuk melayani para korban yang menunggu di ruang UGD, aku terpaksa melangkahi para keluarga yang tengah berbaring atau duduk di lantai. Jumlah pasien rawat inap telah bertambah dari 45 menjadi lebih dari 80 orang hanya dalam beberapa jam. Delapan orang di antaranya dalam kondisi sangat parah.
Sepanjang malam, kamp-kamp yang mengelilingi Rumah Sakit Gaza diterangi oleh peluru suar yang ditembakkan ke udara, dan penembakan pun berlanjut. Aku tidak tidur malam itu, begitu pula anggota tim lainnya. Di antara berbagai operasi yang kulakukan adalah mengamputasi tungkai lengan atau kaki, dan membedah dada serta perut untuk mengangkat organ-organ yang rusak maupun mengalami   pendarahan.   Menangani   sebuah   luka
tembak akibat peluru berkecepatan tinggi merupakan tugas berat, tetapi menjadi tugas yang mustahil ketika pasien-pasien dengan luka demikian terus-menerus datang membanjir. Sebuah peluru yang menembus perut dapat dengan mudah memotong usus di berbagai tempat, meledakkan hati atau ginjal, dan mematahkan baik tulang belakang ataupun tulang pinggul.
Luka tembak akibat peluru berkecepatan tinggi di bagian abdomen seharusnya ditangani oleh seorang dokter bedah yang berpengalaman dengan peralatan yang lengkap, dalam waktu empat hingga enam jam. Tetapi, setelah beberapa jam berikutnya, aku sadar bahwa aku hanya dapat mencurahkan waktu tidak lebih dari dua jam untuk setiap pasien, kalau tidak, pekerjaanku tidak akan pernah beres. Dr. Per Miehlumshagen, seorang dokter bedah ortopedis sukarelawan asal Norwegia, juga melakukan hal yang sama. Ia melakukan semua operasi di bangsal yang lain. Para dokter dan perawat PRCS bekerja dengan sangat baik dan menunjukkan hasil kerja yang hebat sepanjang hari itu, sampai-sampai aku menyesal karena tidak sempat mengatakan pada mereka bahwa pekerjaan mereka sungguh luar biasa.
Aku dan Per melakukan operasi sepanjang malam hingga Jumat pagi tanggal 17 September. Rentetan suara tembakan senapan mesin masih terus berlangsung. Orang-orang yang terkena luka tembak juga masih terus mengalir ke rumah sakit. Pada sekitar pukul tujuh pagi itu, Per menemuiku
dan mengatakan bahwa kami sudah cukup banyak menangani para korban, dan bahwa aku harus beristirahat sebentar sebelum kembali memulai pekerjaan ini lagi.
"Bagaimana denganmu, Per?" tanyaku.
"Aku sudah cukup istirahat," jawab Per. Aku tidak memercayainya, tapi aku terlalu lelah untuk membantahnya.
Walaupun telah merebahkan kepalaku di atas bantal, aku merasa gelisah hingga tidak mungkin bisa terlelap. Jadi, aku bangun untuk mencari Azzizah, sambil berpikir mungkin ia bisa mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.
"Sesuatu yang gawat," ujarnya, dan hanya itu yang bisa ia katakan. Dari wajahnya yang pucat dan risau, kukira ia mungkin tidak punya cukup waktu untuk menangani semuanya. Namun, Azzizah memberitahuku bahwa ia harus mencoba menghubungi Palang Merah Internasional. Tidak ada makanan yang tersisa, semua tempat terisi penuh dengan korban-korban yang terluka, persediaan obat-obatan habis, dan para pria bersenjata di kamp-kamp yang meneror dan mengancam nyawa kami. Ia hendak meminta lebih banyak petugas medis dan dokter dan makanan bagi orang-orang yang berlindung di dalam rumah sakit, sekaligus memberi tahu Palang Merah Internasional akan kehadiran 22 petugas medis dari Eropa dan Amerika Serikat. Ia juga ingin mengontak tentara Israel yang mengepung kamp dan memohon kepada mereka agar memberi  perlindungan   bagi  para   petugas  medis
asing serta meminta mereka untuk mengendalikan para teroris yang merajalela di kamp-kamp pengungsi. Ia pergi pada pukul sepuluh pagi.
Setelah kepergiannya, aku naik ke bagian unit perawatan intensif (ICU) untuk memeriksa pasien-pasien yang telah dioperasi dua hari yang lalu. Unit tersebut dipadati para pasien yang keadaannya benar-benar parah, semuanya memakai selang infus atau alat bantu pernapasan. Aku menyeret dr. Paul Morris dan memintanya untuk memberi laporan singkat. Ia memberitahuku bahwa kamar jenazah penuh dengan tubuh-tubuh tak bernyawa. Kami turun ke kamar tersebut, yang disesaki orang-orang yang telah mati sebelum kami sempat mengoperasi mereka. Ada mayat-mayat pria renta, anak-anak, dan wanita. Oleh karena tidak cukup ruang, mereka terpaksa harus ditumpuk-tumpuk. Ini sungguh tak bisa dipercaya.
Lantai dasar rumah sakit disesaki orang-orang beberapa korban yang terluka menunggu perawatan, yang lainnya gemetar ketakutan. Kebanyakan merasa sedemikian takut sampai-sampai tidak dapat berbicara, dan satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah menggaet lengan setiap dokter atau perawat yang lewat, seolah-olah kami memiliki kekuatan supernatural untuk melindungi mereka. Aku masih belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, dan mengapa setiap orang terlihat ketakutan. Anak-anak merasa aku tidak ketakutan sehingga mereka mulai lengket denganku sambil me-manggil-manggilku sebagai dokter pemberani. Aku
sama sekali bukan pemberani, hanya tidak tahu situasi. Lagi pula, aku bekerja keras sepanjang waktu sehingga tak sempat merasa ketakutan.
Tatkala Azzizah kembali pada sekitar tengah hari, ia memberitahuku bahwa ia telah melakukan semua yang direncanakannya, tetapi sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Ia lantas memberi tahu para penghuni kamp yang bersembunyi di rumah sakit bahwa Rumah Sakit Gaza bukan tempat berlindung yang aman, dan bahwa kapan pun suku Kata1 eb, atau bahkan lebih buruk lagi suku Haddad, bisa saja menyerbu masuk. (Baik suku Kata'eb maupun suku Haddad adalah milisi Kristen Lebanon. Suku Kata'eb atau Falangi adalah sekutu Israel, tetapi suku Haddad diupah oleh mereka.) Mendengar hal itu, sekitar dua ribu orang lebih pengungsi segera pergi. Banyak dari para korban juga digotong oleh keluarga mereka, beberapa masih dengan selang infusnya. Lalu, Azzizah memerintahkan personel PRCS yang masih tersisa dua orang dokter yang tinggal di rumah sakit, serta beberapa perawat dan teknisi untuk meninggalkan rumah sakit selagi masih ada waktu. Beberapa petugas medis PRCS pada awalnya menolak untuk pergi sehingga Azzizah harus mendesak mereka.
Pada pukul setengah lima sore, ia menemui tim dokter asing seraya memberi tahu kami bahwa ia sendiri juga harus pergi. Meskipun memiliki surat-surat keterangan sipil dari pemerintah Lebanon, ia mengatakan bahwa ia sendiri dalam bahaya karena rumah sakit sudah disusupi. Aku bahkan tidak ingin
bertanya disusupi oleh siapa.
Palang Merah Internasional kemudian tiba dan membawa makanan serta peralatan pertolongan pertama. Dua dokter dan dua perawat dari Dewan Gereja Timur Tengah juga telah datang untuk membantu. Delegasi yang datang berkunjung ini juga mencakup kuasa usaha dari pemerintah Norwegia. Mereka berusaha membujuk para sukarelawan medis asal Norwegia untuk meninggalkan tempat itu, tetapi mereka semua memilih tinggal dengan para korban dan menolak pergi bersama kuasa usaha itu. Tim Palang Merah Internasional akhirnya pergi membawa enam orang anak yang keadaannya cukup parah dan Azzizah Khalidi, yang berjanji untuk kembali keesokan harinya. Ia meninggali kami segepok kunci-kunci dapur, ruang obat-obatan, ruang pasien rawat jalan, tempat parkir ambulans, dan ruang jenazah.
Rumah sakit berangsur-angsur sepi pada malam itu, walaupun pengeboman dan penembakan dengan senapan mesin masih terus berlangsung di luar kamp. Ledakan-ledakan itu kini terdengar sangat dekat, kaca-kaca jendela di ruangan ICU mulai retak dan bergetar akibat ledakan bom. Semakin banyak pasien yang secara sukarela meninggalkan rumah sakit, dan beberapa pasien lainnya dibawa pergi oleh keluarga mereka. Korban terakhir malam itu adalah seorang bocah laki-laki sebelas tahun, ditembak tiga kali dengan senapan mesin dan ditinggalkan begitu saja di bawah tumpukan dua puluh tujuh mayat. Setelah para pembunuh itu pergi,
teman-temannya menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit. Yang dapat dikatakannya kepada kami hanyalah bahwa di antara para penyerang itu ada orang-orang Israel, Kata'eb, dan Haddad. Kemudian, tiba-tiba ia shock. Lengan, kaki, dan jempol tangannya terkena peluru, tapi ia berhasil bertahan dengan luka-luka itu.
Di dalam bangsal, aku mengoperasi seorang wanita dan seorang anak. Wanita itu dibedah karena terkena luka tembak di bagian perut. Operasinya berlangsung sangat sulit karena aku harus mengangkat sepertiga hatinya, dan melakukan anastomose atau menyambung perut besar dan kecil. Ia siuman ketika seorang anak dibawa dari bangsal penyembuhan. Aku memeriksa keadaan keduanya sekaligus mengingatkan para perawat di ICU untuk memberikan transfusi darah kepada mereka. Lantas, aku diberi tahu bahwa kantong darah yang sedang ditransfusikan kepada si wanita adalah persediaan terakhir. Tidak ada kantong darah yang tersisa untuk si anak. Kami kehabisan persediaan. Anak itu terluka akibat sebuah granat yang dilemparkan ke tengah-tengah sekelompok anak kecil. Ia telah kehilangan cukup banyak darah dari pembuluh nadinya yang pecah, tetapi kondisinya sudah stabil setelah operasi. Keduanya sama-sama membutuhkan darah dan golongan darah mereka sama. Si wanita Palestina itu mendengar apa yang dikatakan para perawat kepadaku, dan memohon agar darah tersebut diberikan kepada si anak, daripada untuk dirinya. Kemudian, ia minta diberi obat pereda rasa sakit
dan ia meninggal tak lama setelah itu.
Malam itu, para sukarelawan asing berembuk untuk membicarakan apa yang akan dilakukan apabila orang-orang Israel, Haddad, dan Kata'eb benar-benar menyerbu rumah sakit. Kami memutuskan bahwa prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa para pasien kami. Aku tak punya ide yang cukup bagus untuk dilontarkan dalam diskusi itu karena beberapa dari pasien-pasien cilik kami terus mengganggu konsentrasiku dengan menanyakan kapan Mayor Saad Haddad akan datang ke rumah sakit untuk membunuh mereka. Pada waktu itu, aku sama sekali tidak tahu siapa itu Saad Haddad, tetapi aku mengatakan pada anak-anak itu bahwa jika ia adalah si pembuat onar, maka aku akan melarangnya masuk Rumah Sakit Gaza. Anak-anak itu membuatku bertanya-tanya, apakah Saad Haddad ini adalah orang yang bertanggung jawab atas jatuhnya semua korban ini. Akan tetapi, aku tidak memikirkan hal itu sama sekali.
Selama tujuh puluh dua jam, dari 15 hingga 18 September 1982, aku terus-menerus bekerja di bangsal operasi di basement Rumah Sakit Gaza yang dibanjiri pasien. Aku hanya bisa meninggalkan bangsal tersebut selama beberapa menit untuk mengecek pasien-pasien yang baru datang sehingga kami dapat memutuskan siapa yang akan dioperasi dan siapa yang tidak.
Malam itu, Paul Morris menulis surat untuk istrinya, Mary, kemudian memintaku memberikan surat itu kepadanya apabila sesuatu hal yang buruk
menimpanya.
"Hei, Paul," kataku, "kamu berkata seolah-olah akan mati. Kamu bercanda, 'kan?"
Namun, ia tampak sangat serius, jadi aku mengambil surat itu dan berjanji untuk melakukan permintaannya.
Pada Sabtu, 18 September, seorang perawat Amerika melihat beberapa orang tentara di luar Rumah Sakit Gaza pada pukul 6.45 pagi, dan salah seorang dokter diutus ke bawah untuk bernegosiasi dengan mereka. Setelah beberapa saat, aku turut bergabung dengannya sekaligus menanyakan siapa pemimpin tentara-tentara itu. Lalu, seorang pemuda berkumis maju dan berkata dalam bahasa Inggris, "Jangan takut, kami orang Lebanon." Seragamnya bersih dan masih kaku sehingga kupikir ia tidak mungkin termasuk salah seorang dari mereka yang telah menembaki penduduk kamp selama tiga hari belakangan ini.
Aku menjawab, "Tentu saja saya tidak takut. Anda mau apa?"
Ia meminta kami mengumpulkan semua petugas medis asing untuk diinterogasi. Setelah berdiskusi selama beberapa saat, ia mengizinkan seorang perawat Swedia dan seorang mahasiswa kedokteran asal Jerman untuk tetap tinggal di rumah sakit merawat para pasien di ruang ICU.
Kami dikawal keluar Rumah Sakit Gaza menuju jalan utama kamp, melewati sekumpulan pasukan bersenjata yang tampak awut-awutan, jorok, dan sangar.   Mereka   tetap  mengawasi   kami   dengan
senapan teracung, dan sekali atau dua kali hampir saja aku tidak bisa menahan diri untuk menyuruh mereka menyingkir. Kami digiring menyusuri Jalan Sabra. Di jalan itu terlihat mayat-mayat bergelimpangan. Suatu saat, mereka mendorongku sehingga aku tersandung mayat seorang pria tua. Ia mengenakan baju panjang berwarna biru dan kopiah putih. Ia ditembak di kepalanya dan kedua matanya telah dicungkil. Di kedua sisi ruas jalan, kerumunan wanita dan anak-anak dikelilingi tentara-tentara yang mengenakan seragam hijau militer, topi baseball berwarna hijau, tetapi tanpa tanda pangkat.
Menurut perkiraan kami, sebanyak delapan ratus hingga seribu orang wanita dan anak-anak dikumpulkan dalam kerumunan itu. Beberapa di antaranya bersembunyi di Rumah Sakit Gaza pada hari sebelumnya.
Buldoser-buldoser raksasa merobohkan gedung-gedung yang terkena bom dan mengubur mayat-mayat di dalamnya. Aku hampir tak dapat mengenali kamp-kamp itu. Rumah-rumah tersebut kini tinggal timbunan puing-puing. Di dalam puing-puing itu dapat kulihat gorden dan lukisan-lukisan yang baru digantung. Rumah-rumah yang baru setengah dihancurkan buldoser masih tampak segar catnya.
Para pria bersenjata berbaris di tepi Jalan Sabra, sementara kami berjalan melintasi mereka dengan todongan laras senapan. Kami dapat melihat segala yang terjadi mayat-mayat, rumah-rumah yang hancur, puing-puing, wajah-wajah yang ketakutan, ibu yang putus asa yang ingin menyerahkan
bayinya kepada kami bayi laki-laki yang sempat kugendong sebentar sebelum akhirnya dirampas para tentara itu. Kami tahu apa yang akan terjadi. Ketika, tak lama setelah itu aku dapat kembali ke sana, kususuri kamp-kamp tersebut untuk mencari ibu dan anak itu. Namun, aku tak menemukan siapa pun. Seorang pekerja PRCS Palestina ikut bersama kami dari Rumah Sakit Gaza, tetapi segera ketahuan sehingga ia diseret dan dibunuh. Sepertinya mereka diperintahkan untuk membunuh orang-orang Palestina, tetapi tidak orang-orang asing, dan mereka mematuhi perintah itu.
Aku memikirkan mereka yang telah mati, juga orang-orang yang dikelilingi para tentara bersenjata di tepi jalan. Dari wajah-wajah mereka yang ketakutan, jelas mereka tahu akan dibunuh setelah kami lewat. Tiba-tiba saja aku berharap para pejuang PLO itu belum dipindahkan. Pasti mereka akan melindungi orang-orang ini! Aku merasa semakin lama semakin marah seiring kami terus berjalan menyusuri jalan raya. Seorang dokter memang dokter, tetapi dokter juga manusia.
Kami digiring melalui kamp Shatila menuju halaman gedung PBB di ujung kamp yang jaraknya dapat ditempuh dalam sepuluh menit berjalan kaki. Gedung tersebut telah diduduki para tentara yang mengklaim sebagai orang-orang Kristen Lebanon. Di halaman gedung, surat-surat kami diperiksa, dan kami ditanya tentang afiliasi politik kami. Walaupun mereka berusaha membuat kami percaya bahwa mereka orang Lebanon, aku tetap meragukannya.
Tempat itu dipenuhi surat kabar dan majalah dengan huruf Ibrani serta kaleng-kaleng makanan dan minuman dengan label-label Israel. Para tentara itu juga menerima perintah langsung dari pejabat Angkatan Bersenjata Israel. Mereka bukan semacam tentara liar karena tidak melakukan apa pun sebelum berkonsultasi terlebih dulu dengan tentara-tentara Israel, baik secara langsung ataupun melalui radio panggil.



Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified