Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Taj Part 3

Pertanyaanku tidak terjawab, tetapi tidak diabaikan. Aku mengetahui bahwa Jahangir mengkhawatirkan masa depan kami. Jika Shah Jahan menolak perintah, Jahangir akan murka. Mereka mengalami kebuntuan, dan selama berhari-hari kekasihku mondar-mandir di balkon. Khusrav pasti akan menertawakannya. Tampaknya, jiwa Khusrav telah terbang langsung ke Lahore dan berbisik di telinga Mehrunissa. Karena, Mehrunissa mengetahuinya. Sebuah pesan datang dari ayahku, memberi tahu bahwa Jahangir telah menyerahkan semua jagir Shah Jahan kepada Shahriya, termasuk Hissan Feroz, tanah tradisi seorang putra mahkota. Mehrunissa telah mendorong menantunya, yang pandai melakukan hal bodoh, selangkah lebih dekat
ke singgasana, mendorong dirinya sendiri selangkah lebih jauh untuk memerintah setelah kematian Jahangir.
"Aku sudah kalah," kata Shah Jahan. "Dia bergerak terlalu cepat. Aku tidak bisa melawan saat ayahku meninggal. Mehrunissa akan mengumumkan bahwa Shahriya yang akan menjadi sultan. Dia telah menjadi putra mahkota."
"Kalau begitu, kau harus memutuskan apakah akan pergi ke Kandahar atau tidak. Menurutku, paling baik kau katakan kepada ayahmu, jika kau akan menunggu hingga hujan reda. Itu akan memberi kita waktu."
"Apa gunanya penundaan jika aku tidak bisa mengambil keuntungan darinya? Aku tidak bisa membiarkan ayahku menyingkirkanku dengan begitu mudah. Bagaimana cintanya bisa menguap seperti itu?"
"Bibiku mengisapnya keluar dari tubuh ayahmu."
"Aku harus menyenangkan ayahku, tetapi juga memperlihatkan kekuatanku. Aku akan pergi ke utara setelah musim hujan, dan dia harus mengizinkan aku memimpin pasukan. Dan dia harus memberiku jagir Panjab. Itu akan melindungi punggungku dari Mehrunissa dan saudara-saudara lelakiku."
Ternyata itu tidak membuat Jahangir senang. Dia marah kepada kekasihku. Jahangir memanggil anaknya bi-daulat, bahkan menuliskan namanya di Jahangir-nama bahwa semua harus mengetahui bahwa   kekasihku   adalah   "si   pecundang".   Dia
memerintahkan kepada Shah Jahan untuk tetap berada di Burhanpur selamanya, tetapi Shah Jahan harus mengirimkan pasukannya segera.
"Tanpa pasukanku, aku bukan siapa-siapa."
"Dengan menahan mereka, kau akan membuat ayahmu marah sekali lagi."
Sejak kematian Khusrav, guntur terus-menerus menggelegar di luar, bergulung-gulung di hatiku, membuatku gemetar karena memikirkan kekasihku. Aku tidak bisa menyebut-nyebut nama Khusrav karena takut mengingatkan Shah Jahan akan kutukan yang telah secepat kilat terjadi pada hidup kami. Kami merasa terasing di atas sebuah rakit tanpa pengemudi yang terus maju membabi-buta ke arah keabadian. Kami saling mencintai. Itu satu-satunya yang membuat kami nyaman. Kami saling mengungkapkannya melalui sentuhan, bibir, tubuh, dan bersembunyi di dalamnya hingga kami merasa tidak terlihat oleh dunia di sekeliling kami.
"Ini sudah terlambat," dia berbisik, "aku yakin. Mehrunissa telah menyebarkan racunnya. Semua tidak bisa dihentikan."
"Suruh Allami Sa'du-lla Khan segera ke Lahore. Dia harus menyampaikan permohonan maaf kepada ayahmu. Ayahmu akan menerimanya, kemudian kita bisa bergerak ke Kandahar."
Dia tersenyum: "'Kita?1 Berapa kali aku harus memberi tahumu, kau tidak boleh ikut dalam peperangan. Kau bisa terluka."
"Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi sendiri. Utus Allami Sa'du-lla Khan." Sejam kemudian,
Allami Sa'du-lla Khan berangkat.
Minggu-minggu berlalu, dan kami menunggu. Hujan yang membanjiri lembah-lembah membuat istana menjadi lembap dan hangat, memenuhi seisi istana dengan aroma humus. Semangatku sedikit menurun karena aku kembali mengandung, dengan perasaan tidak enak badan pada pagi hari, dan kekuatanku melemah. Kemudian, Allami Sa'du-lla Khan kembali. Ekspresi wajahnya sama gelap dengan awan yang bagaikan melayang di atas kepala kami.
"Jahangir tidak mau menemuiku. Aku menunggu selama berhari-hari. Aku bahkan tidak diizinkan untuk masuk ke diwan-i-am. Mehrunissa menyarankan dia untuk menolakku, dan dia telah memerintahkan semua orang di istana untuk tidak lagi menyebut-nyebut namamu di depan ayahmu. Kau telah menghilang dari pandangan ayahmu. Saat ini, Na-Shudari Shahriya yang mondar-mandir di istana dengan turban merah, mengancam untuk membunuhmu jika kau memperlihatkan wajahmu di sana." Allami Sa'du-lla Khan tertawa geli. "Dia mengayunkan pedangnya, menakut-nakuti semua orang, membual bahwa dia akan mencincangmu dalam perkelahian satu lawan satu. Mehrunissa bertepuk tangan setiap dia mempertontonkan arogansinya."
"Dan Ladilli? Bagaimana kabarnya?"
"Dia tidak berubah, aku mendengar. Aku menerima sebuah pesan darinya, mengirimkan salam
sayang kepadamu. Pesan itu tidak ditulis, siapa tahu ibunya menemukan pesan itu ada padaku. Sekarang dia memiliki dua anak. Aku hanya berharap agar mereka tidak tumbuh dewasa dengan tampang mengerikan seperti Shahriya." "Ada apa dengannya?"
"Dia mengidap suatu penyakit. Dia telah kehilangan seluruh rambutnya, dan matanya terus-terusan basah. Kulitnya juga tampak mengelupas, seperti bulu yang rontok dari seekor kucing jalanan."
"Ladilli yang malang."
"Cukup," kata Shah Jahan. "Aku tidak bisa duduk di sini dan membiarkan diriku sendiri tersiksa oleh Mehrunissa dan ayahku, membiarkan Shahriya tolol itu membualkan bahwa dia akan menjadi sultan. Jika mereka di Lahore, aku bisa mencapai Agra sebelum ayahku. Apakah harta kesultanan masih ada di sana?"
"Ya. Tapi, semua akan segera dipindahkan ke Lahore untuk membayar gaji pasukan Sultan."
Shah Jahan
Aku langsung bergerak ke utara. Aku ingin Arjumand dan anak-anakku tetap tinggal di Burhanpur, karena kami tidak akan banyak beristirahat. Dengan keras kepala, dia menolak, meskipun semakin hari, dia semakin terbebani oleh kehamilannya. Aku menderita karena melihatnya merasa tidak nyaman. Lebih   banyak   lagi   bantal   yang   diletakkan   di
bawahnya untuk mengurangi guncangan kereta, tetapi, setiap malam dia ambruk kelelahan.
Tampaknya, bahkan saat aku baru menentukan keputusan, beritanya telah sampai di telinga ayahku. Aku bahkan tidak lagi merupakan bi-daulat; lebih buruk, jauh lebih buruk lagi, aku dianggap sebagai pelaku makar. Aku tidak ingin naik takhta sebelum waktuku, aku hanya ingin menyelamatkan nasibku, bukan untuk merebutnya. Aku berpikir, jika aku menahan harta karun, aku akan mampu meyakinkan ayahku. Tentu saja, aku tidak akan mampu meyakinkan Mehrunissa. Dia tahu, sekali aku memegang kendali, aku tidak akan menyisakan ruang baginya di mana pun, di dekatku, keluargaku, atau singgasanaku.
Mereka membawa sebuah kabar kepadaku bahwa Kandahar sudah jatuh ke tangan Shah Abbas. Jantung perdagangan paling kaya dari kesultanan sudah tidak lagi berada di bawah kekuasaan kami. Aku bersumpah, jika aku nanti memerintah, aku akan merebutnya kembali. Kejatuhan Kandahar membuat ayahku makin marah. Kandahar sudah kami kuasai sejak zaman kekuasaan Akbar, dan Jahangir merasa bahwa dia mengecewakan ayahnya. Tentu saja, akulah yang disalahkan; dia akan bergerak ke selatan untuk berperang melawanku. Ada yang memberi tahuku tentang apa yang dia tulis di Jahangir-nama: Apa yang bisa kukatakan dalam penderitaanku ini? Dafam kesakitan dan kelemahan, aku masih harus berkuda dan aktif,   dan daiam  keadaan ini,   aku  harus
melawan seorang anak yang tidak berbakti."
Kata-katanya menyakiti hatiku. Aku telah tersinggung karena ketidakpeduliannya, karena ketidakmampuannya sehingga lebih memilih untuk mendekatkan telinganya kepada Mehrunissa, ketidakmampuannya untuk menepati janji dan cintanya kepadaku. Tidak ada kejelekan dirinya yang keluar dari mulutku. Tetapi, dia masih murka.
1032/1622 Masehi
Pada hari kedua puluh lima perjalanan, aku mulai yakin bahwa aku tidak akan berhasil. Agra masih begitu jauh, dan seluruh kekuatan pasukan Mughal ada di antara diriku dan Agra. Ayahku telah memutuskan untuk tidak memimpin pasukan. Dia tidak bisa melawan anaknya sendiri, tidak dapat bertanggung jawab atas kematianku. Dia mematuhi hukum Timurid. Tetapi, aku telah melanggarnya, dan aku mendengar gaung kata-kata Arjumand. Arjumand tidak pernah mengungkit-ungkit hal itu lagi, tetapi aku tahu, hal itu mengganggu pikiran dan perasaannya, seperti juga mengganggu pikiran dan perasaanku. Pasukan itu akan dipimpin oleh guru lamaku, Jenderal Mahabat Khan.
Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berpengalaman. Dia tidak memberiku pilihan medan pertempuran, tetapi dengan kecepatannya, dia maju ke arahku. Balockpur adalah sebuah desa kecil di tepi sebuah lapangan yang dikelilingi perbukitan rendah, gundul dan gersang, dan tidak ada tempat
perlindungan. Aku pasti akan memilih bukit-bukit itu sendiri. Pasukanku lebih kecil, lebih mudah bermanuver, dan dengan mengerahkan para penunggang kuda yang bergerak cepat, aku pasti mampu menyerang secepat kilat, kemudian mundur. Tetapi, dia mengetahui keuntungan taktikku dalam situasi seperti itu. Lapangan terbuka memaksaku untuk berhadapan dengan kekuatan Mughal.
Sehari sebelum pertempuran, aku berkuda sendirian, tidak mampu duduk dalam keheningan gulabar: panas di sana membuat keringatku bercucuran deras. Arjumand terbaring di dipan. Hakim memberi tahu bahwa bayiku akan lahir malam itu. Pertanda baik atau buruk? Jika dia hidup, ini pertanda baik; jika dia meninggal, berarti pertanda buruk. Jika dia lelaki, berarti pertanda baik; jika dia perempuan, berarti pertanda buruk. Kami mengartikan tanda-tanda, meyakini bahwa mereka bisa menentukan nasib karena keberadaan mereka. Jika keringatku yang menetes menimpa seekor semut, aku akan menjadi pemenang; jika meleset, aku akan kalah.
Malam itu langit berawan. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan rendah, bintang-bintang tampak pudar dan jauh, seolah-olah mereka telah melepaskan tanggung jawab atas keterlibatan mereka terhadap nasibku. Andai saja bintang-bintang itu bisa mendekat, menggerakkan bumi dengan tenaga mereka, membelokkan nasibku agar menjadi baik. Itu adalah sebuah harapan kosong.  Apakah bintang-bintang itu benar-benar
peduli? Bisakah mereka melihat kedua pasukan yang menunggu datangnya cahaya fajar? Aku melihat wajah angkasa begitu dekat, bagaikan melihat sebentang tanah di hadapanku. Di mana bintangku berada? Di sana, lebih jauh daripada bintang yang terjauh. Cahayanya menyinariku, mengedipkan nasib baik di pihakku. Tetapi, kemudian, secara menakutkan karena tidak ada angin, bahkan tak ada sedikit pun angin sepoi bertiup, segumpal awan menghalangi bintang itu dariku. Mungkin, bintang itu bukan milikku, tetapi milik Mahabat Khan.
Di bukit-bukit rendah yang mengelilingi, salah satu bukit yang terdekat tampaknya adalah yang tertinggi, sebuah tonjolan di bumi, tampak bebatuan besar dan semak lantana. Aku memilih jalanku menuju puncak, dan menatap ke arah desa yang dikelilingi oleh pasukan. Aku bisa merasakan gerakan pasukanku, kuda-kuda, gajah-gajah, suara-suara bisikan, doa-doa yang digumamkan, perapian-perapian untuk memasak, yang kilau baranya tampak tersebar tak terhingga di atas tanah hitam. Pasukan masih terus mengisi hingga kejauhan, dan pemandangan perkemahan memberiku keyakinan. Orang-orang ini telah bertempur untukku selama bertahun-tahun; kami akan meraih kemenangan sekali lagi.
Aku menatap ke utara, ke arah pasukan Mughal, dan menahan napas. Aku melihat mereka samar-samar di kejauhan; begitu besar, mungkin yang kulihat saat ini hanyalah sebagian kecilnya saja. Perapian membentuk titik-titik di sepanjang
cakrawala sejauh mata memandang, kemudian terus naik hingga ke angkasa, berkelip dan berkilau tanpa terkendali, memanggil-manggilku untuk menerima kekalahan. Bagaimana dia akan menyerang? Dengan siasat banteng? Dia memiliki kekuatan untuk mengirimkan ribuan pasukan berkuda untuk mengepung pasukanku. Apakah dia akan menungguku dengan sabar, kemudian merangkulku sebelum kami saling menyerang? Apa yang akan dipikirkan oleh Mahabat Khan?
Tanah bergetar di bawahku. Isa memanjat di antara bebatuan dan semak, kemudian berdiri di sampingku. Dia membungkuk, kemudian menoleh untuk memandang pasukan Mughal, memperkirakan peluang kami. Wajahnya tidak memancarkan apa-apa.
"Anak yang  baru dilahirkan Arjumand  adalah perempuan, Yang Mulia, tapi tidak selamat." Ini   sebuah   pertanda   buruk,   aku   tahu.   Aku menundukkan kepala untuk berdoa bagi sang bayi.
"Arjumand?"
"Dia baik-baik saja, tapi kelelahan. Hakim berkata, dia harus tidur. Ada tamu bagi Anda. Mahabat Khan mengajukan pertemuan."
Sang lelaki tua itu tampak sangat ceria dan akrab. Dia telah minum dua gelas anggur dan berdiri bersandar di sebatang pohon asam. Di sampingnya ada beberapa prajuritnya, seluruhnya berjumlah selusin, siaga dan waspada.
"Yang Mulia, aku akan menunggu di dalam, tetapi   perabotannya   tidak   layak   untuk   sebuah
pertemuan dengan seorang pangeran. Aku tidak biasa minum anggur hangat-begitu manjanya aku saat ini-tapi, kau tidak memiliki anggur dingin."
"Kapal tidak bisa kemari setiap hari. Aku minta maaf. Apakah Anda membawa pesan dari ayahku?"
"Tidak. Oh, kesehatannya prima, dan dia terus-menerus mengeluh tentang anaknya yang berandal."
"Kupikir aku adalah 'bi-daulat'."
"Itu juga. Tergantung perasaannya. Perasaannya berayun-ayun dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lain, lebih buruk daripada sebelumnya." Dia meludah. "Sultan hanya mendengarkan perempuan itu. Saat ini, kekuasaan Sultan sudah tidak memiliki taji, semua diatur oleh Permaisuri. Setiap jam, aku menerima pesannya. Serang, serang: hancurkan Shah Jahan. Aku harus menang. Apakah aku membutuhkan lebih banyak pasukan? Apakah aku membutuhkan lebih banyak meriam? Aku bisa memberi perintah berdasarkan keinginanku sendiri." Dia maju selangkah ke arahku. Aku mendengar geraman peringatan Allami Sa'du-lla Khan dan dentingan pedangnya yang ditarik. Mahabat Khan mengangkat tangannya. "Aku tidak membawa pedang. Aku hanya ingin berbicara kepada Yang Mulia secara pribadi."
Kami berjalan menjauhi yang lain, tetapi tidak terlalu jauh. Aku tetap waspada terhadap teman lamaku ini. Dia telah mencapai kesuksesan karena memiliki mentalitas lihai dan cerdik; selalu ada kemungkinan jebakan yang sangat tidak diharapkan.
"Aku seorang prajurit," dia tertawa. "Bukan seorang pembunuh. Aku membiarkan urusan itu dikerjakan oleh orang lain. Kau tidak bisa menang besok. Aku tidak ingin mempermalukan muridku, karena kita pernah berteman. Jika kau menyerah, Mehrunissa meyakinkan aku jika dia akan memperlakukanmu dengan penuh rasa hormat."
"Mehrunissa? Dan ayahku? Aku tidak peduli dengan janji perempuan itu. Apa yang ayahku perintahkan?"
"Kami tidak boleh mencabut nyawamu." Aku melirik matanya yang setajam cahaya bintang dalam kelamnya malam. "Kau adalah keturunan Timurid." Aku merasakan kesedihan dalam desahannya. "Seharusnya kau tidak membunuh Khusrav. Itu tindakan buruk."
"Aku akan menentukan nasibku sendiri."
Dia berdiri menunggu keputusanku. Aku sangat berterima kasih karena penghormatannya. Bisa saja dia hanya mengirimkan pembawa pesan, bukannya datang sendirian. "Aku tidak bisa menyerah."
"Aku juga berharap demikian. Aku akan sangat kecewa jika Shah Jahan mundur sebelum berperang." Dia terkekeh. "Bahkan saat dia tahu jika dia tidak akan menang."
"Allah akan menuntun kita."
"Allah akan menuntun kita semua, beberapa ke lembah, beberapa ke puncak gunung. Siapa yang bisa mengetahui kehendak-Nya?"
Kami berjalan kembali ke para pengawal Mahabat Khan, melalui desa.  Saat itu terasa damai.
Panci-panci berada di atas perapian yang menyala-nyala, berada dalam damai, tidak memedulikan kami maupun pertempuran yang akan terjadi. Anak-anak kambing mengisap susu induk mereka, anak-anak mengintip keluar untuk melihat pangeran dan jenderal pasukan Mughal yang berjalan-jalan, bagaikan sedang berada di istana.
"Kau akan tinggal untuk makan bersama kami?"
"Tidak. Aku harus kembali ke pasukanku. Masih banyak yang harus dilakukan malam ini. Aku harus mencoba untuk mengingat semua hal yang kuajarkan kepadamu. Kuharap kau tidak menjadi terlalu pintar untuk pria tua ini."
"Pria tua yang lihai," aku terkekeh.
"Dan kau pria muda yang lihai juga. Kau telah mendapatkan pengalaman bertahun-tahun sejak aku pertama mengajarimu. Pengalaman lebih berarti daripada insting; dan akan menuntunmu lebih baik daripada ribuan kalimat instruksi."
"Kalau begitu, aku akan menurutinya."
Arjumand
Aku sedang tertidur saat dia kembali, tenggelam dalam ketidaksadaranku. Kelelahan itu terus bersarang dalam tubuhku, seakan-akan membalutku dalam kegelapan yang menyenangkan. Tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada sentuhan yang menggangguku, tetapi sesuatu berkata kepadaku, menghunjam ke dalam kegelapan yang hangat, bahwa dia datang. Para pelayan, pengasuh, Isa,
hakim, tidak ada yang mampu menggangguku, tetapi kehadirannya bisa membuatku tergugah, seakan-akan dia masuk ke dalam tidurku, dan dengan lembut membawaku kembali ke dalam cahaya. Dia berlutut di sebelahku sambil terdiam, menatap dengan matanya yang lembut dan gelap. Dia menyentuh pipiku, kemudian membungkuk untuk mengecupku, membelai rambutku. Itu adalah ungkapan kasih sayang yang paling dia sukai, untuk membelai dengan lembut dan tenang.
"Anak kita perempuan, aku diberi tahu. Aku sedih karena dia tak bertahan hidup." Kami saling memeluk dan membelai satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Allah berkehendak anak kami tidak bertahan hidup.
"Kita sudah memiliki cukup anak. Aku tidak bermaksud membangunkanmu. Aku hanya datang untuk menengokmu. Kau harus tidur lagi."
"Segera. Selalu ada waktu untuk itu, Cintaku." Dahinya berkerut dan aku membelainya agar licin kembali. "Besok kita akan menang."
"Mahabat Khan menemuiku. Dia ingin aku menyerah. Dia mematuhi perintah bibimu."
"Kalau begitu, bibiku merasa khawatir. Jika kau menang, kau akan memenangi segalanya. Apa yang tersisa baginya?"
"Jika aku kalah, aku kehilangan semuanya."
"Tidak semuanya. Apakah kau begitu cepat melupakanku?"
"Kau akan tetap bersama seorang pangeran yang terkalahkan?" Dia tersenyum sambil menunduk.
"Apa bedanya dengan seorang pangeran yang dikalahkan? Apakah cintanya akan berubah? Apakah matanya akan berubah? Apakah sentuhannya akan berubah? Apakah hatinya akan berubah?"
"Tidak."
"Kalau begitu, aku akan tetap mendampinginya. Dunia tidak berarti apa-apa bagiku tanpa Shah Jahan."
Aku terbangun lagi karena keributan orang-orang yang mempersiapkan pertempuran, perintah dan komando, derit pelana yang dikencangkan, dentingan kasar pedang-pedang yang sedang diasah, gerakan meriam, dan derap kaki kuda-kuda yang gugup. Aku merasa tidak nyaman, membenci suara-suara gaduh itu, hanya mendengar kerusuhan mereka. Aku ingin mendengar suara burung bulbul yang melatih nyanyian manisnya untuk menyambut raga fajar, cericit tupai, desir sapu yang berayun di halaman, panggilan para penjual buah di luar jendelaku.
"Isa." Dia mendekat. Aku nyaris berbisik, namun dia selalu mendengarku. "Di mana kekasihku? Panggillah dia."
"Dia sudah pergi, Agachi. Dia kemari untuk menengokmu, tapi kau tertidur begitu lelap."
"Mengapa kau tidak pergi bersamanya, Badmash? Aku memerintahkanmu untuk selalu berada di sampingnya."
"Dia menyuruhku kembali. Dia ingin aku tinggal di
sini untuk mengatur persiapan." "Untuk apa?"
"Untuk kabur, jika diperlukan. Agachi, kau harus beristirahat."
"Kuharap orang-orang berhenti memerintahku untuk melakukan sesuatu. Istirahat, istirahat, istirahat-itu hanya membuatku semakin lemah. Siapkan rath-ku. Aku ingin melihat pertempuran."
"Itu tidak akan
Perkemahan kami begitu kecil tanpa bala tentara, hanya aku sendiri, anak-anak, para pelayan, dan beberapa pengawal yang tinggal untuk menjagaku. Putra-putraku sudah berani pergi ke titik yang cukup tinggi untuk bisa melihat pertempuran; mereka tidak mengetahui seberapa pentingnya konflik itu. Mereka memercayai ayah mereka, seperti semua ayah, tidak akan terkalahkan, dan mereka ingin melihat mundurnya pasukan Mughal.
Bebatuan berada di jalan kereta dan hampir semua perbukitan rendah tidak dapat dilewati. Akhirnya, kami menemukan posisi yang cocok, sekitar satu kos dari lapangan. Dara dan Shahshuja merunduk di depanku. Aurangzeb berdiri di kejauhan; diam, serius, tetapi dengan sikap yang waspada, tidak mengharapkan kemenangan maupun kekalahan. Aku berbaring, bersandar ke bantal, menatap melalui tirai tebal ke arah badai debu yang mendekat. Dari kejauhan itu, tidak mungkin untuk mengenali  apa pun,   kecuali aliran  manusia dan
hewan, tetapi aku masih menatap ke pusat pasukan kami, mengetahui bahwa di sana, tersembunyi di suatu tempat di balik debu, Shah Jahan menunggangi Bairam dengan langkah-langkah pasti.
Pasukan kami begitu kecil! Aku merasa kecil hati. Pasukan Mughal terentang hingga jauh keluar tepi lapangan. Mereka menggetarkan bumi, menyapu tanah bagaikan gelombang raksasa. Ketika mereka saling mendekat, aku mendengar tangisan lemah para prajurit, yang terdengar di telingaku bagaikan bisikan. Dua pasukan berkuda berderap menjauh; mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengepung pasukan Mughal, sayap pasukan terentang lebar, seperti bayangan seekor burung raksasa. Meriam ditembakkan; pertempuran telah dimulai. Di kedua pihak, manusia dan hewan berjatuhan, bangkit dan berkumpul lagi, dan menyerang, berjatuhan, bangkit, dan menyerang lagi. Para penunggang kuda yang berderap ke timur dan barat tidak perlu pergi jauh-jauh-hanya satu kos, mungkin kurang-sebelum mengubah arah dan menyerang pasukan Mughal. Mereka bermaksud untuk memotong sayap besar itu, dan sebelah sayapnya sudah tampak kacau karena serangan tersebut, goyah, kemudian mundur. Sayap yang lain masih berada dalam formasi rapat. Debu mengepul ke arah kami, kabut kuning kecokelatan yang membuat pemandangan pertempuran menjadi samar-samar. Para prajurit yang ada di belakang mendorong ke depan, melambaikan pedang, menghantam perisai, berteriak. Mereka melakukan
gerakan maju yang mantap dan mengancam, tetapi akhirnya mereka hilang dari pandangan.
Sepanjang hari, aku menyaksikan dan menunggu. Yang terdengar hanyalah suara, yang terlihat hanyalah darah. Kedua pihak tidak mundur, tetapi tetap terpaku di posisi awal mereka. Seperti pasang surut, salah satu pihak mundur, kemudian maju lagi, mundur, dan maju lagi. Barisan pasukan kami agak goyah, tetapi kemudian bisa bertahan. Aku mengetahui, jika lini depan pecah dan berantakan, artinya Shah Jahan akan kalah.
Senja datang begitu cepat, tanpa angin sejuk yang nyaman, tetapi hawa panas dan berdebu, memudarkan cahaya matahari menjadi lapisan kuning keruh yang menggantung di atas bumi. Kami tidak menyaksikan lebih lama. Para prajurit akan mundur untuk beristirahat, memulihkan kekalahan mereka, tewas karena luka-luka mereka, atau membalut luka-luka ringan. Saat kami mencapai perkampungan, orang pertama mulai berjalan kembali. Mereka berlapis debu dan keringat, dengan kewaspadaan di atas keinginan dan kekuatan mereka. Beberapa membopong rekan mereka, mengerang kesakitan, beberapa terjatuh dan tenggelam dalam tidur abadi, yang lain berjalan terseok-seok, terus-menerus. Beberapa pasti gugur; adakah kesempatan mereka untuk hidup dengan luka-luka parah di tubuh mereka?
Malam telah menjelang, perapian dinyalakan dan makanan dimasak sebelum kekasihku datang. Matanya merah; wajahnya tidak berbeda dengan
yang lain-berdebu, kelelahan, janggutnya berwarna kusam seperti tanah. Aku mengambilkan anggur dan dia minum dengan lahap. Aku mengusap wajahnya dengan tuval, yang berubah warna menjadi cokelat karena tanah. Sentuhan dingin itu menghilangkan sedikit kekhawatirannya.
Pertama-tama, dia berbicara kepada Isa: "Apakah kau sudah menyiapkan segalanya?"
"Ya, Yang Mulia."
Dia menyentuh wajahku, dengan penuh permintaan maaf, sikap ingin dimaklumi.
"Kita harus bergerak cepat. Tidak banyak waktu lagi. Saat fajar, mereka akan tahu jika aku telah kalah.11 []
20
Taj Mahal
1067/1657 Masehi
Gopi berjongkok di depan sebuah panel marmer dan dengan hati-hati memahat untuk membersihkan serpihan-serpihan. Dia menggosok batu dengan tangan yang kasar dan kapalan, kemudian terus memahat bunga-sekuntum marigold-dengan cermat dari marmer tersebut. Dia mewarisi keahlian ayahnya, dalam kesabaran, dalam keterampilannya. Di sampingnya, Ramesh memanaskan dan mengasah pahat. Mereka bekerja di dalam bayangan sebatang pohon gulmohar di luar dinding yang mengelilingi Taj Mahal.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak makam itu selesai dibangun. Tetapi, pekerjaan masih terus berlanjut. Sebuah landasan besar telah dibangun, yang memberi ilusi bahwa makam itu tidak memiliki bobot. Di keempat sudutnya berdiri empat menara yang indah, tinggi dan ramping, bagaikan pohon palem. Kehadiran mereka membuat Sultan gembira. Mereka memberikan keseimbangan dan harmoni bagi landasan, yang akan tampak seperti gurun marmer
jika tidak ada hiasan menara-menara. Masjid-masjid berdiri di sisi lain monumen. Bangunan-bangunan itu kecil dan sederhana seolah-olah membungkuk dengan penuh penghormatan dalam kemegahan makam.
Tetapi, bangunan itu tidak dirancang dan dibangun agar tahan terhadap debu. Dengan perhatian dan kepedulian yang sama seperti sebelumnya, Sultan telah memerintahkan untuk membangun bagh. Bagh itu terletak di kaki makam besar, terbagi menjadi empat bagian; jalan setapak dari batu yang menanjak dan terentang dari utara ke selatan, dan dari timur ke barat, bertemu di dua kolam air mancur berisi bunga-bunga teratai yang terpahat dari marmer, dan di antara jalan setapak itu ada kanal-kanal lebar. Lapisan air jernih yang tak bergerak akan memantulkan makam yang berkilauan, tetapi agar tidak mengganggu pemandangan, kolam-kolam air mancur itu hanya akan diletakkan di kanal-kanal utara dan selatan. Agar sepadan dengan penampilan makam, Shah Jahan menghabiskan biaya besar untuk menciptakan taman. Pipa-pipa bawah tanah, tangki-tangki penyimpanan air raksasa, dan susunan bak-bak penampungan akan terus-menerus mengalirkan air ke pepohonan dan tanaman-mangga, jeruk, limau, delima, apel, jambu batu, nanas, mawar, tulip, lily, iris, dan marigold. Aliran utama air tersebut dibawa oleh pipa-pipa bawah tanah yang dikubur di bawah jalan setapak dari batu bata. Untuk memastikan bahwa setiap
kolam air mancur menerima jumlah air yang sama, sehingga pancaran air mereka sama tinggi, air tidak langsung dialirkan ke pipa tembaga yang memasok dua kolam itu. Tetapi, di bawah dua kolam dipasang sebuah wadah tembaga. Air mengalir sepanjang kanal, mengisi dua wadah tersebut, kemudian langsung mengalir melalui pipa-pipa dan memancar ke udara. Air untuk kolam air mancur dan taman itu diambil dari Jumna oleh sekelompok kerbau, dituangkan ke bak penampungan, dan dialirkan ke tangki. Dari sana, air akan mengalir ke bawah. Tekanan air akan meningkat sehingga arusnya akan terus berjalan ke arah ujung selatan taman. Perancangan itu dihitung dengan sangat teliti. Di dekat makam, Shah Jahan tidak hanya ingin ada tanaman bunga, tetapi lebih jauh, untuk melindungi para peziarah dari terik matahari, akan ada pepohonan.
Tidak sekali pun Gopi memandang ke arah Taj Mahal. Kepalanya masih tertunduk, dan saat dia mengangkat kepala, bagaimanapun caranya, dia akan menghindari pandangan ke arah monumen yang menjulang itu. Bangunan itu masih membuatnya merasa pedih.
Ayahnya tidak mampu menyelesaikan jali. Dia telah semakin menua dan rapuh, tangannya tidak mampu menggenggam pahat. Tangan-tangan itu kaku dan membeku, menjadi sebentuk cakar-cakar, jadi Gopi meneruskan pekerjaan yang tersisa beberapa sentimeter lagi. Dibandingkan dengan hasil karya megah ayahnya yang hampir rampung,
sisa pekerjaannya tinggal sedikit lagi, tetapi tetap saja, tidak bisa dikerjakan terburu-buru. Segalanya harus tepat. Gopi membutuhkan waktu setahun untuk memahat bagian terakhir, kemudian, bagaikan membentuk tanah liat, dia memahat tepi-tepi marmer itu dengan motif bunga-marigold dan lily yang sempurna, dengan sulur-sulur dan dedaunan. Motif-motif itu diisi dengan campuran safeda dan hirmich, serta pigmen warna. Bahan ini sama dengan yang digunakan pada lukisan dinding yang dia lihat di gua-gua, yang digambar berabad-abad lalu oleh seniman-seniman yang terlupakan. Isian itu akan menjadi sekeras marmer, dan akan diglasir sehingga bersinar bagaikan batu. Gopi tersenyum mengingat kebanggaan ayahnya yang membuncah saat pekerjaan mereka selesai. Dia telah memuji Gopi, seakan-akan Gopi-lah yang melakukan semua pekerjaan itu. Bagi Gopi, tampaknya setelah kematian ibunya, Murthi telah melunak, menjadi pemimpi, hanya bisa berkomunikasi dengan dunia lain. Keempat anggota keluarga itu melakukan ziarah ke kuil kecil untuk mengucapkan terima kasih. Beberapa orang lain yang datang ke sana bersikap menjaga rahasia, waspada, karena meskipun terpencil, kuil itu adalah tempat yang rapuh. Kening Durga diolesi saffron dan kum-kum, dinaungi kain sutra, dan dihiasi dengan sebuah rantai emas dan berlian. Mereka mempersembahkkan buah-buahan dan bunga, kemudian persembahan itu diberkati dan dikembalikan. Saat mereka pergi, Murthi tampaknya merasa tenang dan damai.
mim
"Kita akan kembali ke desa," dia mengumumkan. "Ibumu sangat merindukan kampung halaman kita. Jika saja dia bisa pulang bersama kita. Tapi, pertama-tama, kita harus melihat jali kita. Aku ingin melihat di mana jali itu diletakkan, melihat bagaimana cahaya jatuh di permukaannya."
Para pekerja membungkus jali dengan karung goni dan meletakkannya bertumpuk di atas sebuah kereta. Mereka memerhatikan kereta itu hingga lenyap dari pandangan, masuk ke dalam kerumunan pekerja dan hewan. Gopi melihat tubuh ayahnya mengerut, seakan-akan sebagian dari dirinya terbawa oleh kereta. Jali itu adalah representasi tujuh belas tahun hidupnya, dan seluruh keterampilannya.
"Saat mereka sudah memasangnya," kata Murthi, "kita akan pergi.
Mereka mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh menuju rumah. Perjalanan itu akan melelahkan dan sulit, tetapi Murthi merasa yakin mampu menjalani. Saat mereka telah membuang semua barang yang tidak penting dan mengumpulkan yang akan mereka bawa-perhiasan Sita yang akan menjadi milik anak perempuannya, peralatan Murthi, dan sekantong kecil uang rupee-mereka pergi ke Taj Mahal,
Mereka mendekati para prajurit yang menjaga Taj Mahal, tetapi sebelum bisa lewat, mereka dihentikan.
"Mau ke mana kalian?"
"Ke dalam. Untuk melihat."
Para prajurit memandang Murthi, lalu memandang putra-putra dan putrinya. Tidak diragukan lagi: wajah mereka, pakaian mereka, tingkah laku mereka, semua orang pernah menggunjingkan seperti apa keluarga Murthi ini.
"Kalian tidak boleh masuk."
Murthi terkejut. "Kenapa?"
"Kau Hindu. Itu tidak diizinkan. Sekarang, pergilah."
"Memang aku Hindu. Apa ada yang salah?" Murthi bertanya. "Aku bekerja selama tujuh belas tahun untuk makam ini. Aku tidak pernah ditanya apakah aku Hindu atau bukan. Aku memahat jali, yang sekarang berdiri mengelilingi makam Permaisuri. Aku hanya ingin melihatnya, tidak lebih. Lalu, aku akan pergi tanpa keributan."
"Kalian tidak bisa masuk. Kalian bisa melihatnya dari sini."
"Aku hanya ingin melihat jaliku. Cahaya ...."
"Aku telah memberi tahumu. Kau tidak mungkin masuk. Orang-orang Hindu tidak diizinkan masuk."
Murthi masih bertahan. Dia membandel, tetapi, begitu juga para prajurit. Mereka menghadang jalannya, tidak dengan kasar, tetapi tidak sabar karena Murthi tidak mau mengerti. Dengan perlahan, Gopi menggamit lengan ayahnya, tetapi Murthi menepisnya. Murthi berdiri sambil menatap bangunan, mencoba untuk memandang ke balik dinding-dinding marmer raksasa.
Baru sore hari,  ketika cahaya memudar dan
makam itu tampak mengambang dalam kilauan cahaya merah muda yang samar, dia menyerah dan mau ditarik dari situ. Wajahnya tampak berkerut-kerut dan muram. Dia bersandar ke putra-putranya; putrinya berjalan di depan mereka. Perjalanan ke Guntur sudah terlupakan. Murthi terbaring di dalam gubuk dan tidak bisa pergi. Jiwanya terikat dengan sebongkah marmer itu; dia telah mempersembahkan hidupnya kepada jali itu, dan dia akan merasa bebas hanya dengan melihatnya.
Gopi mengunjungi pamannya, Isa. Ketika duduk di kamar Isa yang mewah di istana, Gopi berpikir, betapa berbedanya nasib dua saudara itu. Mungkin hanya kemewahan itu yang membedakan Isa. Wajahnya lebih bercahaya, tubuhnya lebih kuat, dan sikapnya penuh kepercayaan diri.
"Ayahku sekarat."
"Aku akan memanggil hakim."
"Tidak. Hakim tidak dapat menyembuhkannya. Dia berharap untuk melihat jali karyanya, tetapi mereka tidak mengizinkannya masuk. Tolonglah, apakah Paman bisa meminta izin kepada Sultan untuk membiarkan adik Paman masuk?"
Isa menatap ke bawah, ke arah sungai yang mengalir ke Taj Mahal. Pantulannya menyilaukan di bawah matahari tengah hari, marmernya memantulkan cahaya ke angkasa, berdiri sendirian dan terisolasi. Makam itu membutuhkan teman yang
sama indahnya, tetapi di dunia ini tidak ada yang bisa mengimbanginya. Isa telah lama memikirkan makam itu; ia memiliki nyawa, ia bernapas. Dia membayangkan batu-batu yang terangkat dan disusun, ketika makam itu mendesah. Isa menyadari bahwa makam itu kesepian. Ia adalah benda sempurna di dunia yang penuh ketidaksempurnaan, dan merupakan karya agung. Mungkin makam Shah Jahan sendiri, refleksi makam itu dalam warna hitam, suatu hari akan menjadi teman bagi makam Permaisuri. Tetapi, mengapa hitam-warna yang menyeramkan? Mungkin Sultan berharap mengingatkan dunia akan dosa-dosanya. Makamnya akan berdiri untuk selamanya, seperti Taj Mahal, tetapi akan menjadi kain kafan semata, bukan cadar sutra. Saat itu, makamnya akan tampak jelek, menggunduk, dan tidak terbentuk di bawah sinar matahari; dan pada malam hari, makamnya tidak akan terlihat, sementara Taj Mahal akan muncul dan berkilauan, bermain-main dengan cahaya, seperti juga bermain-main dengan permukaan air. Bahkan, sungai sekalipun tidak mampu memantulkan warna hitam. Shah Jahan akan menerima hukumannya dengan erangan dan penderitaan di dalam kekelaman itu, hidup selamanya di dalam kegelapan. Sultan berharap agar dunia mengetahui bahwa dialah yang merusak satu-satunya manusia yang pernah dia cintai.
Apakah hidup mereka bisa berbeda? Isa tidak tahu. Tidak terlalu mencintai bukan berarti tidak mencintai sama sekali. Cinta tidak bisa diukur dalam
porsi seperti makanan maupun minuman, diatur agar tidak luber dan membanjir. Mungkinkah manusia mencintai dengan berlebihan, dan karenanya, merenggut kehidupan itu sendiri?
"Adik Paman sekarat karena patah hati." Gopi memecah kesunyian.
"Itu tidak bisa kusembuhkan. Apa yang bisa kulakukan?"
"Paman memiliki kekuasaan untuk menghukum mati seseorang. Paman bisa menyelamatkan adik Paman."
"Kekuasaan? Apakah kau mengerti arti kekuasaan? Kau berpikir, karena dia Mughal Agung, maka kekuasaannya tidak terbatas? Kekuasaan Sultan terbatas, karena dia hanya seorang manusia. Dia bisa mencabut nyawa, tetapi tidak menciptakan nyawa; dia bisa mengubah arah alur sungai, tetapi tidak bisa menciptakan setetes air. Dia bisa membuatmu menjadi seorang yang terhormat, tetapi tidak bisa memberikan kehormatan kepadamu. Dia bisa berpura-pura jika dia adalah tuhan, tetapi dia bukan. Jika memang begitu, dia akan meniupkan nyawa kepada orang mati, dan makam itu tak akan pernah dibangun. Dan dia juga tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah hukum dewa-dewa atau siapa pun yang memuja mereka. Kita adalah orang Hindu, kita tidak bisa masuk."
"Bahkan Paman sekalipun?" Gopi mencemooh, tidak percaya.
Isa tidak menjawab.
Murthi semakin melemah, meratapi kesedihannya. Kematian mengukir kulitnya, memahat wajahnya; biasanya dia yang melakukan itu terhadap marmer; membentuk sesosok mayat dari tulang, daging, darah, dan jantung.
Isa berjalan bersama keponakan-keponakannya menuju ghat. Dia mengamati Gopi menyulut api pembakaran jenazah, kemudian mengulangi kata-kata pendeta. Adiknya telah mengerut; dia tenggelam dalam taburan bunga-bunga. Api menyala-nyala, membakar kayu, kain, dan daging. Dia terdiam sampai hanya debu yang tersisa, dan para keponakannya berjongkok di samping sisa-sisa pembakaran, menatap dan menunggu ayah mereka naik ke langit bersama kepulan asap.
"Apakah sekarang kau akan kembali ke desa?" Isa bertanya kepada Gopi.
"Mengapa? Aku tidak begitu ingat desa kita. Aku hanya setuju pulang karena ayahku menginginkan itu. Aku harus menemukan pekerjaan di sini untuk menghidupi adik-adikku."
"Masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di sana," Isa menunjuk ke arah Taj Mahal. Gopi ingin menolak, ingin mengutuk monumen itu, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Monumen itu telah menghidupi ayah dan keluarganya; sekarang akan menghidupinya.
"Aku akan bekerja, selama masih ada pekerjaan."
Hasrat Sultan terhadap perempuan tidak pernah melemah. Para budak, devadais, gadis-gadis nautch, putri-putri, begum-begum; yang paling cantik, yang paling molek, semua tidur dengannya sepanjang siang dan malam. Dia tidak pernah bisa terpuaskan. Iblis telah hidup di antara kedua kakinya; dia telah meminum ramuan untuk meningkatkan kekuatannya, namun akibatnya saluran kencingnya mengalami penyumbatan. Dia tidak bisa membuang air kecil dan merintih kesakitan. Dia bergelayutan kepada Isa, bagaikan seorang anak yang takut hantu, hingga hakim memberinya ramuan opium yang kuat.
Selama Shah Jahan tertidur, Isa pergi ke pertempuran di Lai Quila dan mencari kabar tentang Delhi. Dia mendengar bisikan-bisikan sudah tersebar di seluruh penjuru kota: sang Sultan sedang sekarat, sang Sultan sedang sekarat. Pintu-pintu tertutup, toko-toko dipasangi jeruji, chai dan paan wallah mencair seiring datangnya malam. Ketika menerima panggilan, dengan cepat Dara datang, dan derap kudanya yang berpacu bergema di keheningan kota dan jauh ke seluruh penjuru kesultanan. Berita itu juga sampai di telinga Shahshuja, Subadar Bengal; Murad, Subadar Gujarat; dan Aurangzeb, Subadar Deccan. Isa merasakan mereka mondar-mandir di istana mereka yang jauh.
Dalam kegelapan, di bawah maidan, dia melihat sosok-sosok yang berkumpul di bawah jharoka-i-darshan. Satu orang, dua orang, sepuluh
orang, seratus. Di dalam istana, para pejabat muncul diam-diam, berkumpul di diwan-i-am untuk menatap ke atas awrang kosong di bawah kanopi emasnya.
Semua menatap ke arah timur. Kegelapan mulai memudar, angkasa berubah warna menjadi keemasan; fajar sudah merekah, tetapi Sultan tidak muncul. Para pejabat dan orang-orang menunggu, bahkan setelah matahari meninggi dan menyengat di punggung mereka.
Isa mengetahui pikiran mereka: Sultan telah meninggal. Dan dia mendengar orang-orang di bawah meratap, karena sang Sultan adalah ayah yang adil dan bijaksana bagi mereka. Mereka juga meratapi sesuatu yang tidak mereka ketahui.
mim
Shah Jahan terbangun dalam kesakitan, gigi-giginya bergemeletuk, dan berbisik kepada Isa: "Agra ... Agra ... aku harus melihatnya."
"Dia tidak bisa dipindahkan," kata hakim.
"Sembuhkan ayah kami," Dara dan Jahanara memohon, tetapi hakim membungkuk ketakutan karena ketidakmampuannya.
Dara memanggil seorang wazir: "Sebarkan sebuah pengumuman. Sultan Shah Jahan saat ini sedang sakit, dan akan segera pulih. Kirimkan kabar itu ke seluruh penjuru negeri."
Wazir mematuhi perintah itu. Dia menempelkan pengumuman di gerbang-gerbang Lai Quila dan mengirim   pembawa   pesan   ke   seluruh   penjuru
Hindustan. Tetapi, pembawa pesan lain dengan cepat membawa pesan ke saudara-saudara lelaki Dara: Sultan sekarat dan Pangeran Dara mengambil alih kekuasaan kesultanan.
Selama dua hari dua malam, Sultan terbaring dalam tidur yang panjang. Saat akhirnya dia terbangun, rasa sakit sudah menghilang dari tubuhnya, tetapi di wajahnya, kelelahan membekas.
"Agra. Aku harus pergi mengunjunginya, Isa," dia memerintah, "katakan kepada Mir Manzil untuk mempersiapkan perjalananku." Dia menatap Dara, kemudian melihat tatapan ingin tahu di mata sang anak. "Ada apa, Dara?"
"Adik-adikku mengumumkan rencana dan tujuan mereka. Mereka yakin Ayah sudah meninggal. Saat ini Shahshuja menyebut dirinya sendiri Sikander Kedua, dan Murad melemparkan koin-koin."
"Dan Aurangzeb?" Shah Jahan tidak bisa menyembunyikan kengeriannya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Dara. "Dia tidak berbicara sepatah kata pun, tetapi saat ini dia bergerak ke arah kita dengan pasukannya."
"Pasukannya? Dia Shah Jahan berteriak.
"Putra-putraku yang bi-daulat! Nafsu mengalahkan kasih sayang mereka. Bawa aku ke awrang. Aku harus memperlihatkan diriku sendiri."
Para pejabat dipanggil dan Ahadi menyusun barisan di sekitar diwan-i-am. Shah Jahan, dibantu oleh Dara dan Isa, menaiki tangga ke podium dan perlahan-lahan duduk di singgasana merak. Para pejabat menyadari penyakit Sultan yang parah:
tangannya yang bergetar dan lehernya yang lemah. Dia telah kehilangan kekuatan. Sebaliknya, mereka juga menyadari kekuasaan Dara.
"Aku baik-baik saja," sang Sultan berbicara, tetapi suaranya nyaris tak terdengar di telinga mereka. "Putraku tersayang dan satu-satunya yang setia, Pangeran Dara, akan memerintah hingga aku cukup kuat untuk kembali mengerjakan tugasku sekali lagi."
Isa melihat selubung-selubung, gelap dan mengerikan, menutupi wajah-wajah mereka yang mendongak. Dia bisa membaca pikiran mereka: apakah Dara cukup kuat? Dari pengamatannya, Isa tahu bahwa sang Sultan membuat suatu kesalahan. Dibutakan oleh cinta, dia telah meletakkan kesultanan ini di atas kesetiaan yang terbagi, bagaikan pasir yang bergerak.
"Aku memerintahkan putra-putraku untuk kembali ke posisi mereka sebagai bagian dari hukuman. Aku masih Padishah Hindustan."
mm
Butuh waktu sepuluh hari untuk mencapai Agra, dan segera setelah mereka tiba, Sultan memasuki makam besar dan pintu-pintu perak tertutup di belakangnya. Dia berlutut di sarkofagus dan mengecup marmer dinginnya.
"Kekasihku, kekasihku ...." Bisikannya bergema ke seluruh penjuru kubah. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Putra-putraku berbaris menyerangku. Mereka tidak mematuhi perintah ayah
mereka, sang Sultan. Kata-kataku hanya akan menjadi debu di tengah angin. Di saat aku jatuh sakit, mereka melawanku. Putra kesayangan kita Dara adalah pendukung setiaku; cinta kita telah menumbuhkan kesetiaan di hatinya. Aku telah mengirimnya untuk berperang melawan adiknya Shahshuja dan aku tidak bisa bernapas karena ketakutan. Aku tidak pernah merasa takut jika menghadapi peperangan; tetapi saat ini, aku gemetaran seperti seorang pengecut. Jagalah Dara ... tuntunlah dia ... berikan dia kekuatanmu, Arjumand Sayangku."
Shah Jahan terjaga semalaman di makam hingga Dara menemuinya, dengan penuh kemenangan, karena Shahshuja telah kalah dan saat ini kembali ke Bengal. Dara tertawa puas dan kegembiraannya bergema di sekeliling makam.
Sang Sultan masih berlutut, "Dan Aurangzeb?"
Dara terdiam. "Sekarang dia maju bersama Murad. Aurangzeb telah mendukung Murad sebagai sultan," dia terkekeh, "aku akan mengalahkan Murad semudah aku mengalahkan Shuja."
"Tapi, ada Aurangzeb di sisinya," Shah Jahan berkata dengan lembut. Dia menoleh ke arah Isa. "Apakah kau percaya Aurangzeb akan mengizinkan Murad menjadi sultan?"
"Siapa yang bisa membaca pikiran Aurangzeb yang sebenarnya, Yang Mulia?"
"Kalau begitu, aku harus memimpin pasukan melawan mereka. Hanya pengalaman dan kehadiranku yang bisa mengalahkan Aurangzeb."
"Tidak!" Dara berteriak. "Aku akan memimpin su-atu hari nanti. Aku harus menghadapi Aurangzeb." Dia berbalik dan berjalan dengan marah keluar dari makam, seperti seorang anak yang mainannya direbut.
Shah Jahan, yang perasaannya terluka, menatap Isa: "Apakah aku salah?"
"Tidak, Yang Mulia. Hanya Yang Mulia yang bisa mengalahkan Aurangzeb. Dara tidak memiliki pengalaman."
"Tapi aku membuatnya tidak senang."
"Itu akan berlalu," tetapi, ketika Isa mengatakan itu, dia merasakan sang Sultan mengubah pendiriannya, dan dia merasa ngeri.
Isa sudah menduga ini sebelumnya. Di tepi Sungai Chambal, sementara Shah Jahan dan Isa menunggu di makam, Aurangzeb mengalahkan Dara. Ribuan orang mati dalam pertempuran sepanjang hari, dan saat Dara mundur, pasukannya bubar. Dengan lusuh dan lelah, dia kembali ke Agra. Sang ayah, yang mencintai dan memaafkannya, menghiburnya meskipun saat ini Aurangzeb berbalik menjebak Murad. Aurangzeb mengikat Murad dan mendudukkannya di atas seekor gajah, yang membawanya ke sebuah penjara entah di mana. Pada saat itu juga, tiga gajah yang sama dikirim ke titik-titik yang lain, ke arah yang berlainan.
"Monster itu!" Shah Jahan murka. "Penipu. Dia selalu ingin menjadi sultan."
"Dia bersumpah akan memenjarakanku juga," Dara berkata dengan putus asa. "Dia membenciku."
"Kita akan mengalahkan bi-daulat itu. Kita akan menyusun pasukan lain." Kemudian, bagaikan ingin mengingkari setiap kekuatan takdir yang semakin mendesaknya, Shah Jahan mengumumkan: "Shah Jahan saat ini adalah sultan Hindustan."
Isa mengawasi pasukan baru yang berbaris ke dataran berdebu di luar Agra. Matahari berkilau di pelindung kepala, meriam dan jezail mereka. Para manusia dan hewan tampak tak terhingga, tetapi Isa tahu, pasukan ini tidak kuat. Agra telah kekurangan tukang jagal, juru masak, dan tukang kayu. Mereka bukan tandingan Aurangzeb.
Dan Aurangzeb, yang merantai kaki gajah tunggangan perangnya di sebuah tiang di atas bumi, menikmati kemenangannya, hanya mengalahkan Dara karena pengkhianatan komandan pasukan Dara, Khallihillah Khan. Dara menuju ke barat, sementara Aurangzeb menuju Agra.
1068/1658 Masehi
Di medan perang, Shah Jahan menatap ke bawah. Para prajurit mendongak. Tidak ada yang bergerak. Dari atap masjid, meriam ditembakkan. Dia tidak mengernyit saat tembakan itu mengenai dinding-dinding benteng dan tercebur ke kanal yang melingkari.
"Bi-daulat," dia berteriak, dan mengayunkan kepalan tangannya ke pasukan yang mengelilingi
Padishah, sang Mughal Agung, sultan Hindustan, Shah Jahan, Penakluk Dunia. "Bi-daulat."
Teriakannya tidak terdengar; pasukan itu tidak menghilang. "Apa yang telah kulakukan?"
"Yang Mulia merasa sakit," kata Isa. "Dan Aurangzeb ingin menjadi sultan."
"Dia tidak bisa merampas dariku, kecuali aku mati," Shah Jahan berkata dengan marah. "Aku jatuh sakit selama tiga hari, dan pasukan besar menyerang. Apa yang dia harapkan akan terjadi padaku dalam tiga hari itu? Aku akan mati? Badmash."
"Dia mengaku, dia datang hanya untuk membantu Yang Mulia," sahut Isa. "Untuk memberi perlindungan dari putra-putra Anda yang lain."
"Dia pembohong. Dara, di mana Dara? Jika saja dia mendengarkanku, putra kesayanganku itu akan menyelamatkan aku. Aurangzeb tahu, Dara tidak akan pernah menyakitiku."
"Aku tahu," kata Isa pelan. "Dara bertempur untuk membela Yang Mulia, tapi dia tidak memiliki pengalaman Aurangzeb dalam pertempuran. Siapa yang tahu saat ini dia berada di mana? Anda terlalu mencintai Dara, Yang Mulia, dan tidak cukup mencintai Aurangzeb. Anda memberi Dara impian bahwa dia akan menjadi sultan, tetapi dengan tetap menahannya di sisi Anda, Anda membuatnya lemah. Setiap belaian, setiap kecupan kasih sayang akan melemahkan kekuatannya untuk bertahan melawan Aurangzeb. Dan setiap kecupan, setiap belaian,   hanya   membuat   kebencian   Aurangzeb
semakin besar. Sekarang, dia membenci Dara."
"Aku mengutukmu Isa, karena memberi tahuku saat sudah terlambat. Memperingatkan? Kau sudah meramalkan upacara di atas makam kami. Oh Tuhan, di mana Dara?"
"Dia pergi jauh."
"Kita harus memberinya waktu-waktu untuk kabur, untuk membangkitkan pasukan lain dan mengalahkan Aurangzeb."
Tasbih mutiara sang Sultan berdetik-detik, menghitung pergantian waktu. Suara putaran tasbih seakan bisa didengar dari seberang sungai. Saat ini, satu-satunya yang memberi Shah Jahan ketenangan adalah Tuhan, dan dia pergi menghadap-Nya di Masjid Mina-hanya di sana tersedia kedamaian bagi sang Sultan.
Taktya Takhta.
Kalimat itu terukir di hatinya. Dia tidak dapat menghapusnya. Bisikannya sendiri bergema setelah bertahun-tahun, dan tidak bisa dicabut. Di antara jeda kata-kata, ada kilatan peristiwa-peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Kekuasaan sang Sultan telah menguap. Dia menjadi sesosok hantu yang berbisik dari balik singgasana, tetapi tidak ada yang bisa mendengarnya.
Shah Jahan pergi menuju Masjid Mina. Sembahyang tidak membuatnya lebih nyaman; usia mengiris tubuhnya, menyisakan garis-garis keriput di wajahnya.
"Aku akan mengundang Aurangzeb untuk datang kepadaku dan mendiskusikan masalah ini. Lalu, dia
harus kembali ke posisinya." Sesaat, Shah Jahan merasa murka, kejam, dan berbahaya, tetapi kemudian dia tenang kembali. "Aku akan memohon agar dia kembali ke Deccan, untuk pergi dengan damai. Aku akan memaafkannya."
mim
Isa pergi. Dia membawa Alamgir, sebilah pedang yang dibentuk dari batu meteorit. Gagangnya terbuat dari emas, bertatahkan berlian. Di ujung gagangnya yang membulat ada sebuah batu seukuran kepalan tangan. Sarung pedangnya juga terbuat dari emas, dihiasi mutiara, berlian, dan zamrud. Bilah pedangnya yang menyeramkan dan melengkung tidak pernah kehilangan kilauan atau ketajamannya. Alamgir: Penakluk Jagat Raya.
Aurangzeb menunggu Isa di istana Dara di dekat Jumna, kediaman Pangeran Shah Jahan dan istrinya Arjumand. Isa tenggelam dalam kenangan. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah masuk ke sini. Aurangzeb berdiri di tempat Arjumand menebarkan perhiasan peraknya dan memenangi kembali hati pangerannya. Aurangzeb berdiri di atas rumput, tampak tidak peduli. Dia mengambil pedang dari Isa dan mencabut pedang itu dari sarungnya. Matahari berkilau di bilah tajamnya.
"Alamgir. Pedang ini dibuat dengan penuh perhitungan. Apa lagi yang ayahku kirimkan, Isa?"
"Dia mengundang Anda untuk mendiskusikan masalah ini."
Isa membuat Aurangzeb geli. Dia tersenyum dan
berbalik menatap benteng.
"Tidak diragukan lagi, dia ingin aku kembali ke posisiku. Dia memerintahkanku untuk berlari ke sana, berlari ke sini. Beberapa tahun ini aku sudah berlari untuknya, menyerang Kandahar, menyerang Samarkand. Aku telah mendaki pegunungan dingin dan menyusuri gurun panas atas perintahnya. Aku adalah putranya yang penurut, bukankah begitu, Isa?"
"Anda berbicara seakan-akan tugas Anda telah selesai."
"Memang belum,"  ada semangat dalam nada
suaranya;    matanya    tidak   pernah    lepas   dari
benteng,    tetapi    menerawang    dengan    penuh
keinginan. "Salah siapa ini semua? Salahku? Aku
telah mencintainya, tapi seluruh cintanya mengalir
deras bagi si perampas, Dara."
"Dara tidak merampas takhta, Yang Mulia. Sultan ii
"Kau juga hanya akan berkata yang baik-baik tentang Dara. Kau mencintainya seperti dia anakmu sendiri. Mengapa? Karena ibuku mencintainya. Putra pertama-aku melihat ibuku menghujani Dara dengan kasih sayang. Dia menerima semua kecupannya, sementara yang lain terlupakan."
"Anda beruntung karena bisa menimpakan kesalahan kepada banyak pihak, Yang Mulia."
"Kau memiliki lidah yang berbisa, Isa. Suatu hari, mungkin kau akan kehilangan lidahmu."
"Apakah Anda mengira aku akan takut kepada seorang   anak   yang   pernah   kugendong   dengan
tanganku?"
"Kau merasa terlalu yakin dengan belas kasihku."
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, Yang Mulia."
"Ah, Isa." Aurangzeb tersenyum maklum dalam sikap yang bersahabat, sambil menepuk lengannya. Itu adalah tindakan yang kaku dan formal. Bagi Isa, Aurangzeb dewasa tidak berbeda dengan Aurangzeb kecil. "Aku tidak akan menyakitimu, tapi Dara telah menyakitiku. Dia membenciku. Dia telah meracuni pikiran ayahku untuk melawanku, seperti Mehrunissa meracuni Jahangir. Jika aku mundur dari sini, dia akan kembali. Dan sekali lagi, kami akan bertempur, dan aku akan kembali meraih kemenangan. Si tolol itu tidak tahu apa-apa tentang pertempuran; dia hanya mengetahui toleransi konyolnya terhadap semua umat manusia. Dia akan lebih mencintai orang Hindu daripada kaum Muslim; dia akan memberi mereka kebebasan untuk beribadah, kebebasan untuk mengembangkan agama Hindu, dan menumpas kaum yang benar-benar beriman. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kita harus menumpas orang Hindu agar tidak bangkit kembali."
Tekad Aurangzeb menakutkan Isa. Dia percaya bahwa dirinya sendiri adalah pembela keimanan, Pedang Tuhan yang sebenarnya. Babur, Akbar, Jahangir, dan Shah Jahan juga memercayainya, tetapi tidak seperti ini, tidak seperti ini.
"Kalau begitu, tidak akan ada kedamaian dalam hidup Anda," kata Isa. "Jika Anda mengobarkan
perang terhadap rakyat Anda, mereka juga akan mengobarkan perang untuk melawan Anda. Singgasana akan guncang dan jatuh, karena ia hanya berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh Akbar, dan diteruskan oleh kakek serta ayahmu. Mereka mengeluarkan suatu hukum agar semua diperlakukan dengan adil. Jika Anda menebar kebencian, Anda akan menerima kebencian juga. Apa yang Anda lakukan akan bergema seiring waktu, seperti gema peristiwa masa lampau. Tidak ada celah konsekuensi bagi tindakan Anda. Aurangzeb akan menjadi sebuah nama yang dibenci oleh generasi-generasi berikutnya."
"Kau berbicara seperti si tolol Dara."
"Mungkin aku juga tolol, Yang Mulia."
"Kalau begitu, aku hanya membuang waktu. Kau boleh kembali ke ayahku dan menyampaikan pesanku-dia harus menyerahkan benteng kepadaku."
"Dia akan menolak."
"Jangan bicara atas nama Sultan, Tolol."
"Dan jangan bicara seolah-olah Anda sudah menjadi sultan, Yang Mulia."
"Kelancanganmu membuatku marah. Selamanya aku tak akan pernah mengingat jika kau menggendongku saat kanak-kanak."
Isa kembali ke benteng dan melapor kepada Shah
Jahan. Dia sudah menerka bagaimana hasilnya; Shah Jahan menolak.
"Kita harus memberi Dara beberapa waktu lagi.
Bahkan saat ini, dia sedang menyiapkan pasukan. Aku tahu dia akan menyelamatkanku."
"Tapi, dia tidak bisa mengalahkan Aurangzeb, Yang Mulia. Hanya keahlian Anda yang bisa melakukan itu, dan semua itu terperangkap di dalam dinding-dinding ini. Dara tidak memiliki cukup pengalaman."
"Ah, tapi Tuhan ada bersamanya. Kau selalu mengungkit-ungkit masalah, Isa. Apakah Aurangzeb memberi tahumu apa yang akan terjadi padaku?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Dia berusaha membunuhku. Aku tahu itu."
Takhta, dia berbisik pada dirinya sendiri, dan selama sesaat, dia berpikir jika suaranya terdengar seperti suara Khusrav. Seharusnya dia menurut kepada Arjumand.
Gopi, Ramesh, dan Savitri berkumpul bersama di gubuk mereka. Jalanan sepi, keheningan menggantung bersama debu. Mereka telah melihat pasukan mengepung benteng. Mereka tidak mengetahui apa yang sedang terjadi; tampaknya guntur akan segera menggelegar di atas kepala mereka. Selama dua hari, mereka terus bersembunyi, seperti yang dilakukan semua orang di kota. Kemudian, pada hari ketiga, karena kelaparan, Gopi memberanikan diri ke pasar untuk membeli makanan. Dia pergi dengan cepat, sembunyi-sembunyi, tetapi para prajurit tidak memerhatikannya.
Seorang pria tinggi yang berpakaian sederhana,
dikelilingi oleh pengawal, memasuki pasar. Dia mungkin seorang biasa, tetapi dalam sikapnya terlihat kekuasaan besar. Dia berhenti, dan memandang sekeliling dengan sikap menghina dan berkuasa.
"Siapa itu?" Gopi bertanya kepada seorang prajurit.
"Pangeran Aurangzeb, putra Sultan."
Dua ulama Muslim mendekati sang Pangeran dan membungkuk dengan hormat. Wajah mereka memancarkan ketaatan yang sangat dalam. Orang ketiga mengikuti, membawa sebuah karung goni. Gopi mengamati mereka mengambil karung goni itu dan melemparkan isinya ke kaki Aurangzeb. Gopi merasa jantungnya sakit saking terkejut. Di sana, masih dihiasi berlian, masih teroles kum-kum, masih terbungkus dalam kain sutra, tergeletak Durga karya ayahnya.
Rantai berlian sudah dilepaskan dan diserahkan kepada seorang budak dan para ulama mengambil sebuah palu besar berkepala besi. Aurangzeb menggenggamnya dengan kedua tangan dan mengayunkannya di atas kepala. Dengan kekuatan dahsyat, dia mengayunkannya ke arca Durga dari marmer itu, membuatnya pecah berkeping-keping.
Melihat serpihan-serpihan marmer tersebar di antara debu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Gopi merasakan sebuah ketakutan yang sangat dalam dan tak beralasan. Dan perasaan itu diikuti oleh kebencian terhadap Aurangzeb, yang mengalir deras bagaikan gelombang air sungai.[]
21
Kisah Cinta
1032/1622 Masehi
Arjumand
Kekasihku harus mengucapkan selamat berpisah kepada Bairam, dan itu hampir menghancurkan hatinya. Hewan tua yang sudah tergores-gores itu telah menjadi teman yang paling dia cintai dan percayai, sama lembutnya dengan Isa, sama setianya dengan Allami Sa'du-lla Khan, dan di peperangan, dia sama beraninya dengan Mahabat Khan. Tetapi, kesetiaannya yang tangguh akan berujung pada sebuah penolakan yang hebat apabila dia dibuat kesal atau diburu-buru. Itulah alasan terpenting mengapa kami harus meninggalkannya saat ini. Tampaknya, ia mengerti bahwa kami memang harus berpisah; ia melingkarkan belalainya di sekeliling tubuh Shah Jahan dalam rangkulan yang penuh kasih dan air mata berlinang di matanya yang keriput. Ia telah membawa kekasihku pergi ke seluruh penjuru negeri tanpa mengeluh, telah ikut dalam pertempuran yang tak   terhitung   jumlahnya,    dan    selalu   berani,
bagaikan kesatria yang sesungguhnya. Shah Jahan menepuk belalainya dan menangis seperti seorang anak kecil; dia memohon kepada mahout-yang setiap saat dalam hidupnya adalah untuk mematuhi perintah sang pangeran-untuk mengurus sahabat lamanya, menjaga dan merawatnya.
Keheningan daerah ini yang tidak alami menggaungkan setiap suara, sehingga rencana kabur kami seakan-akan terdengar sangat keras. Meskipun orang-orang hanya berbisik, sepertinya mereka sedang berteriak. Kelelahan akibat tenaga mereka terkuras di peperangan panjang, mereka bangkit dan naik ke atas pelana kuda, membangunkan unta-unta yang bertemperamen buruk, melipat shamiyana, mengisi muatan ke kereta, meninggalkan yang terluka, meriam, dan gajah-gajah.
Ketika kami meninggalkan perkemahan, sekali lagi Shah Jahan menoleh ke belakang di atas pelananya. Bairam mengangkat belalainya yang hitam ke arah langit dan menjeritkan tangisan kepedihan, kemarahan, dan kehilangan yang begitu mengerikan. Pasti jeritan itu menyebar ke seluruh penjuru negeri, untuk memberi tahu rakyat bahwa pangeran mereka kabur karena kalah.
Dataran ini begitu kosong, berwarna abu-abu keperakan. Cahaya bulan memudarkan warna sebenarnya perbukitan dan pepohonan yang ungu kusam, bebatuan besar dan ngarai-ngarai, membuat mereka bagaikan sebuah ilusi. Kami berjalan di dalam kabut, dan bergerak di dalam kegelapan.
Kami tidak bisa melihat ke mana kami pergi, atau dari mana kami berjalan.
Hanya anak-anak yang menyambut kepergian kami dengan keceriaan mereka. Mereka dibangunkan oleh Isa, dibantu berpakaian, dan meskipun sedikit mengeluh, mereka menikmati kegairahan dan kerahasiaan kepergian kami. Anak-anak perempuan memegangiku dengan ketakutan. Dara, putraku yang tertua, menerima kekalahan kami secara filosofis, meskipun belum mengerti apa artinya itu. Lengan-lengan kecilnya di sekeliling leherku memberiku kenyamanan dan kasih sayang. Shahshuja tampak acuh tak acuh dan tidak menampakkan emosi; Aurangzeb tetap terbangun, dan ketika kami bergerak keluar dari Burhanpur, wajahnya menegang. Dia menerima kekalahan ini sebagai penghinaan pribadi. Matanya berkilat, tetapi dia tidak meneteskan air mata. Dia juga tidak mencari kenyamanan maupun memberikannya.
Hanya lima ribu penunggang kuda, para prajurit yang loyal, bergerak bersama kami. Sisa pasukan itu, bagaikan asap yang tertiup angin, menyebar pada malam hari. Beberapa akan kembali ke Deccan, beberapa ke desa mereka di utara. Kekasihku tidak lagi mampu menyatukan mereka. Dia tidak lagi mampu membayar mereka, dan mereka tidak bisa menerima alasannya. Aku tidak ragu, banyak yang akan bergabung dengan Mahabat Khan; sang Mughal Agung akan membayar mereka tinggi untuk memburu putranya.
Saat fajar, kami sudah berjalan bermil-mil. Pada siang hari, hawa panas kembali menyengat, menusuk kuda-kuda dan manusia, membuat jalan kami silau dengan baju zirah, pedang, perisai, senapan musket, dan kain-kain alas. Kami tidak bisa beristirahat, seperti orang-orang dan hewan-hewan yang kami lalui, yang berteduh di kerindangan pohon. Kabar kekalahan sampai di telinga kami dengan cepat. Semua mengetahuinya. Desa-desa tertutup, sepi; kami melihat beberapa orang yang ketakutan saat mengamati kami mendekat dari dalam, dan berdoa agar kami tidak mendatangi gubuk mereka yang reyot. Tanah ini tampak terpencil, terselubung kedamaian yang menipu, tetapi aku tahu, kedamaian itu jauh sekali dari kami. Kesultanan yang tak terbatas telah mengerut menjadi segenggam tanah. Ke mana kami akan pergi, ke mana kami akan bersembunyi? Tanah ini tidak menyediakan tempat persembunyian; mata Jahangir menusuk ke setiap celah dan sudut. Tidak ada tempat rahasia; selalu ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, lidah yang berkhianat. Kekalahan kami sangat mencekam. Kami terus bergerak ke selatan. Selama dua hari dua malam, rombongan kami bergerak perlahan, menyakitkan, setiap langkah lebih waspada daripada sebelumnya. Kuda-kuda berjatuhan, dan mereka mati sambil mendesah berat. Para prajurit berjalan kaki, menoleh ke belakang dengan ketakutan karena melihat debu yang diterbangkan pasukan Mughal. Cakrawala masih terlihat jernih.
Kekasihku memimpin di depan, mencari-cari tempat perlindungan di bumi ini. Tidak ada yang bisa ditemukan; istana-istana tertutup, benteng-benteng dipalangi. Para rana, nawab, amir, pejabat, semua mengabaikan kehadiran kami, seakan-akan Jahangir telah merentangkan tangan dan menutup mata mereka. Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Kemurkaan sultan atau ketakutan pangeran-tidak ada pilihan. Setiap hari, dia kembali dengan kelelahan dan putus asa yang tergambar jelas di wajahnya. Debu menyelimuti dari turban hingga ujung jari kakinya, mengubah warna kulitnya, mengecilkan kekuasaannya yang sebelumnya membanggakan menjadi kekakuan yang menyeramkan. Aku tahu, aku adalah beban baginya, sebongkah batu yang terseret-seret di kakinya.
"Pergilah. Kau bisa lebih cepat tanpa kami."
"Tidak." Dia berbaring di sampingku, beristirahat sejenak di bawah keteduhan keretaku; kami saling mendekat. Matanya berwarna merah karena debu dan kelelahan, dan aku mencucinya dengan lembut, menyeka wajahnya.
"Kita akan selamat. Tidak akan ada bahaya yang mengancam kita. Baik Sultan maupun Mehrunissa tidak akan menyentuh ujung rambut kita sekalipun."
"Aku tahu." Seulas senyuman tersungging di wajahnya yang kelelahan, sedih, yang tampak tidak tertahankan. "Mereka tidak akan melanggar hukum Timurid. Aku yang telah melanggarnya."
"Itu masa lalu. Kita tidak bisa mengubah yang sudah terjadi."
"Kalau begitu, kau tidak akan menyalahkan aku?"
"Kita sama-sama bersalah. Kita tidak boleh memikirkan hal itu lagi. Khusrav sudah meninggal. Kau masih hidup. Kau harus selamat."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu. Atau, kau ingin ditinggalkan?"
"Tidak. Tapi, kami memperlambat pergerakanmu."
"Mahabat Khan hanya dua hari di belakang kita." Dia tersenyum penuh kasih. "Macan tua itu memberiku waktu. Dia pasti mengetahui lolosnya kita, meskipun kita sudah menyelinap diam-diam. Jahangir mengirimkan Parwez untuk bergabung dengannya."
"Bukan Shahriya? Itu akan memberinya sedikit pengalaman," aku berkata dengan pahit.
"Mehrunissa tidak ingin membahayakan nyawanya. Seorang calon sultan harus tetap aman, tersembunyi di harem." Dia menciumku. "Apakah kau baik-baik saja?"
"Ya, selalu jika aku ada di pelukanmu," aku menjawab dengan tidak jujur, tetapi itu membuatnya senang dan dia memejamkan mata, beristirahat di sampingku, di dalam kereta.
Dia tertidur dan aku memerhatikan. Garis-garis kelelahan itu masih ada di wajahnya, istirahat singkat tak akan menghilangkannya. Aku mencoba melicinkan garis-garis itu dengan jariku, tetapi tanda kelelahan segera muncul kembali, dan dia berbalik. Aku tahu, penampilanku juga sama saja.
Meskipun aku tidak berperang, aku merasa jika aku remuk-redam di dalam. Tubuhku sakit; dan gemetaran. Aku belum pulih benar dari persalinan yang terakhir; dan prosesnya sulit. Setiap anak menyebabkan luka di tubuhku, untuk memulihkan diri setiap kali terasa semakin lama. Dengan kelahiran Dara, aku bisa kembali aktif dan ceria dalam memulihkan kesehatanku. Tetapi, saat ini aku semakin melankolis. Aku hanya ingin tidur dan beristirahat, untuk menjatuhkan diri di kenyamanan hangat hamam yang menyegarkan, saat angin sepoi menurunkan suhu tubuhku dan aku dapat terbaring tanpa bergerak. Berapa lama? Berapa lama lagi? Aku tidak bisa menepis layar keabadian yang terbentang di antara kami.
Shah Jahan terbangun saat senja. Dia tidak tampak lebih segar, tetapi khawatir; dia memimpikan sosok-sosok Jahangir, Mehrunissa, Mahabat Khan, Parwez, dan pasukan berkuda yang terus menghantui.
"Ke mana kita harus pergi?"
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang mau menyembunyikan kita. Mungkin kita bisa kembali ke Burhanpur. Aku masih memiliki kekuasaan di sana."
"Tapi untuk berapa lama? Pasukanmu pasti telah memberi tahu mereka bahwa kita kalah. Pangeran-pangeran Deccan akan siap berkhianat dan menyerahkan kita kepada Jahangir untuk menjilatnya."
"Semua pangeran akan berkhianat, bukan hanya mereka   yang   ada   di   Deccan."   Dia   mendesah.
"Mahabat Khan akan mengira bahwa kita kembali ke Burhanpur. Jika kita terus ke barat, mungkin kita bisa menemukan perlindungan dari salah seorang pangeran Rajput."
"Yang mana? Jaipur bergabung dengan Mahabat Khan. Malwarjuga."
"Kalau begitu kita akan ke Mewar."
"Karan Singh akan selalu ingat penaklukan ayahmu dengan tanganmu sendiri."
"Dia juga akan ingat kebaikan hati kita kepadanya. Aku akan mengirimkan seorang pembawa pesan untuk memintanya memberi kita perlindungan dari ayahku. Dia mungkin merasa senang karena bisa membangkang perintah Sultan."
"Atau membunuh kita."
"Semua orang bisa melakukan itu, Cintaku. Pengkhianatan adalah sifat alamiah semua manusia. Aku tidak akan memercayai seseorang yang mengatakan bahwa itu bukan sifat alamiah. Keselamatan kita tergantung kepada hasrat atau kehadiran kita, dan dua-duanya berada di luar kendali. Mereka bisa berubah dari menit ke menit, hari ke hari. Suatu hari kita mungkin bisa disambut, keesokan harinya ditolak, tergantung badai yang berkecamuk di hati dan pikiran manusia. Mereka akan menatap kita dan berpikir: apa yang bisa kita dapatkan? Pikiran itu akan selalu ada dalam benak mereka siang dan malam, dan saat mereka mengamati kita, kita harus mengamati mereka. Apakah aku berharga bagi mereka? Apakah tidak? Aku    tidak    bisa    menjanjikan    kekayaan    dan
kehormatan yang besar, tetapi mereka tahu, semakin putus asa seorang pangeran, ia akan semakin murah hati."
Wajahnya memancarkan keputusasaan akan kata-kata yang diucapkan. Sebuah titik terkecil di bumi ini bagi kami tampak seperti tempat tak terbatas untuk bersembunyi. Kami hanya bisa menerima kemurahan hati seorang manusia. Jika hatinya tak tergoyahkan, kami akan tetap tersembunyi selamanya; jika hatinya goyah, mungkin kami akan diserahkan dalam keadaan terantai.
"Kirimkan seorang pembawa pesan ke Karan Singh kalau begitu. Dia mungkin akan menawarkan tempat bagi kita. Tapi, apa lagi yang bisa kita lakukan?"
"Tidak ada. Aku juga akan menyuruh Allami Sa'du-lla Khan dan para prajurit yang akan kita tinggalkan untuk terus berjalan ke selatan, menuju Burhanpur. Mahabat Khan akan mengikuti mereka sementara kita berbelok ke barat menuju Mewar."
Hanya seratus penunggang kuda yang menemani kami dalam perjalanan. Sisanya terus bergerak ke selatan di bawah pimpinan Allami Sa'du-lla Khan. Selama sebulan, atau jika mungkin lebih lama, mereka akan menuntun Mahabat Khan, Parwez, dan pasukan Mughal menjauh dari Mewar sebisa mungkin. Kemudian, mereka akan berpisah, dan setelah melepaskan diri dari pengejaran, mereka akan bersatu kembali dan bergabung dengan pangeran mereka di Udaipur.
Kami tidak lagi tampil seperti rombongan pangeran kesultanan, dengan putri dan keluarga istananya. Tetapi, setelah melepaskan pakaian dan perhiasan mewahnya, Shah Jahanku tampak mirip seorang pejabat rendahan yang bepergian untuk mengunjungi kerabatnya yang kaya dan berkuasa. Memang dia mirip pejabat rendahan, karena hanya memiliki seorang istri? Para prajurit juga tidak lagi mengenakan seragam berwarna khas pemimpin mereka, tetapi tampak bagaikan para dacoit. Kami maju dengan kekhawatiran yang berkurang, karena telah mengetahui bahwa pasukan Mughal bergerak ke selatan, tetapi masih dengan kewaspadaan yang sama. Suba-suba yang kami lalui adalah daerah kekuasaan Mughal dan semua kerajaan Rajput berada di bawah perintahnya. Kami memulai perjalanan saat senja dan beristirahat saat fajar, bersembunyi di bawah bayangan bukit-bukit dan hutan. Kami membangun perkemahan di ngarai-ngarai atau hutan-hutan belantara, tersembunyi dari matahari dan pandangan mata manusia.
Anak-anak menderita. Mereka tidur dengan gelisah, dan ketidaknyamanan kami membuat mereka lemah. Mereka terisolasi, bertengkar, berkelahi dan berbaikan, memilih musuh dan sekutu bagaikan raja-raja kecil. Dara dan Jahanara akan bergabung untuk melawan Aurangzeb dan Raushanara, dan kadang-kadang Shahshuja dan Aurangzeb akan bergabung. Tetapi, Dara dan Aurangzeb tidak  pernah bersatu.   Mereka hanya
memilih saudaranya yang bisa bergabung ke sana kemari. Shah Jahan mengizinkan anak-anak lelaki untuk menunggang kuda bersama para prajurit; itu adalah hal yang akan mereka pelajari sebelum mendapatkan pendidikan tata cara pertempuran yang sebenarnya. Aurangzeb paling pemberani; Dara memilih berada di dekat Isa, dan beberapa buku masih kami bawa bersama kami. Semua anak membaca Quran, Babur-nama, dan Jahangir-nama. Sungguh suatu ironi yang pedih karena kami membawa bukti cinta bagi Shah Jahan, sementara kami dikejar-kejar oleh pasukan yang haus akan darah.
Di perbatasan Mewar kami bertemu dengan Sisodia Karan Singh dan pasukan berkudanya. Karan Singh turun dari kuda dan menyentuh lutut Shah Jahan; mereka berangkulan dengan penuh kasih sayang. Kekasihku tidak bisa menyembunyikan kelegaan karena telah menemukan sekutu di dunia yang terisolasi ini.
"Kalian boleh tinggal selama yang kalian inginkan," Karan Singh berucap.
"Aku hanya akan tinggal selama keselamatan kita semua bisa terjamin. Kami membutuhkan istirahat. Arjumand sangat letih dan lemah, dan aku harus memberinya waktu untuk memulihkan kekuatannya."
"Dia akan beristirahat di istanaku di dekat danau, di Jag Mandir. Keberaniannya juga sama seperti leluhurku, Ratu Padmini, yang memilih menjadi pemimpin para perempuan untuk melakukan
jauhar daripada diambil sebagai tawanan. Aku akan menghormati Arjumand sebagaimana aku menghormati leluhurku."
Tentu saja, aku mengetahui legenda Ratu Padmini. Tiga abad yang lalu, Raja Pathan, Ala-ud-din Khilji mendengar kecantikan Ratu Padmini yang tak terkira. Dia adalah istri dari paman rana yang berkuasa, Bhim Singh. Ala-ud-din Khilji menyerang Chitor dan berkata bahwa dia akan menarik pasukannya mundur jika dia diperbolehkan untuk melihat Padmini. Seorang Muslim tidak mungkin bisa melihat seorang putri Hindu secara langsung, tetapi untuk berdamai dengan Khilji dan menghindari peperangan, Rana mengizinkan Raja Pathan untuk melihat bayangan Padmini di sebuah cermin. Khilji begitu terpesona dengan keelokan Padmini, sehingga dia melanggar janjinya dan menggandakan kekuatan untuk menyerang Chitor. Tetapi, ketika dia hampir mencapai kemenangan, sang putri memimpin semua perempuan Rajput untuk bersembunyi ke dalam gua bawah tanah, dan mereka melakukan jauhar. Para pria Rajput kemudian mengenakan jubah saffron mereka dan tewas dalam pertempuran.
Kami meninggalkan debu, tanah kotor, dan jalanan keras di belakang dan dibawa ke istana yang bagaikan sebuah awan marmer mengambang di atas air. Istana ini beratap rendah dan damai di permukaan   danau,   dan   ketika   sampan-sampan
membawa kami menuju istana, aku tidak bisa lagi membayangkan pengungsian yang lebih damai daripada ini. Aku menikmati keheningannya, percikan air yang menerpa, angin sejuk menyapa kulitku yang terbakar, marmer dingin di kakiku, dan udara tanpa debu yang mencekik.
Jag Mandir bukanlah seperti bangunan Hindu secara arsitektur, melainkan bangunan Muslim. Kekasihku memerhatikannya dengan sangat tertarik, dan setelah kami berada di dalam istana, dia menghabiskan beberapa hari untuk menjelajahi setiap sudut istana dengan ditemani Karan Singh. Sang Sisodia telah memerhatikan istana batu paras merah di Lai Quila, dan istana Akbar yang sama indahnya meskipun tidak lagi digunakan, di Fatehpur Sikri. Batu paras merah tidak ada di sini, jadi dia menggunakan marmer. Cahaya yang bermain di permukaan batu dan pantulan bangunan di permukaan air dengan sempurna membuat kekasihku bahagia. Ketika bulan bersinar, saat kami berada di balkon untuk memandang ke pantai di kejauhan, pemandangan berubah menjadi keperakan. Shah Jahan akan menatapnya selama berjam-jam, dan jatuh cinta dengan keindahannya.
Selama berhari-hari dan berminggu-minggu, kami beristirahat dalam kedamaian. Pertempuran, kekalahan, kerasnya perjalanan kami, saat ini terasa jauh dan tidak nyata. Ini adalah realitas yang kami alami: kami tidak bisa mencari yang lain. Ketika terbangun dalam cahaya lembut yang bersinar di kamar kami, mandi dalam kenyamanan
hamam, berbaring dalam keadaan harum dan beristirahat dengan angin yang menyejukkan tubuhku hingga senja, dan kemudian mendengarkan para penyanyi yang melantunkan kisah para pangeran Rajput yang perkasa dengan keberanian mereka, serta bagaimana mereka melawan Mughal Akbar-begitulah hari-hari kami berlalu. Saat istana sudah hening, kami akan berbaring bersama dan bercinta, hingga kami kelelahan dan puas. Kelembutan dan hasrat Shah Jahan tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang. Kami tidak pernah membicarakan masa depan kami; karena kami tahu, kami tidak memilikinya. Saat-saat Shah Jahan menjadi putra mahkota kesultanan Hindustan telah luput dari perbincangan kami. Kami hanya hidup untuk masa kini, menikmati keindahan bulan, bintang, keelokan langit malam, warna-warni fajar dan senja. Tetapi, kami tahu bahwa ini semua hanya impian. Jauh di tepi cakrawala, Mehrunissa mengancam. Meskipun Karan Singh
menyembunyikan kami, pihak lain memiliki mata dan mengetahui keberadaan kami di Jag Mandir. Kami mendengar bisikan-bisikan tentang perlawanan terhadap Mehrunissa, dan ayahku menulis pesan bagi kami bahwa para pejabat sedang tenggelam dalam ketidaknyamanan, tidak senang karena Mehrunissa bersikeras mengejar Shah Jahan kekasihku.
Aku tahu, Shah Jahan berusaha untuk menyembunyikan kekhawatiran dariku. Tanpa menyadari aku yang sedang memerhatikan, dia akan
mengerutkan wajah dan menatap kesultanan yang mengelilingi kami dengan penuh kerinduan. Pada hari keseratus pengungsian kami, Allami Sa'du-lla Khan datang. Dia tampak lebih kurus dan lelah. Dia telah menuntun Mahabat Khan sejauh mungkin ke selatan, hingga ke Mandu, kemudian pasukan Mughal yang telah merasa bahwa mereka tertipu, telah kembali dan mulai mencari kami. Tak lama lagi, mereka akan menemukan persembunyian kami. Aku menghabiskan setiap hari dalam ketakutan yang mencekik, merasa ngeri karena kami harus lari lagi dari pulau persembunyian kami. Setiap malam, aku selalu berdoa agar kami diberi sehari lagi untuk hidup. Kekuatanku kembali pulih, tetapi perasaanku menjadi suram lagi ketika aku menemukan diriku mengandung sekali lagi. Ah, jika saja kita bisa memisahkan kenikmatan dari konsekuensinya, tentu kita bisa merasakan betapa manisnya kebahagiaan dan kenikmatan cinta. Aku tidak memberi tahu kekasihku; wajahnya telah berkerut dan semakin tirus sementara dia menantikan bahaya mendekat.
Pada malam hari, saat kami tertidur, Isa memanggil kami, dan meskipun masih mengantuk, kami bisa merasakan kegentingan dalam suaranya. Dia menggenggam lentera dan di bawah cahaya kuning yang pucat, aku melihat anak-anak telah berkumpul bersama, menggosok-gosok mata mereka untuk menghilangkan kantuk. Dia telah menyiapkan anak-anak tanpa membangunkanku, untuk memberiku waktu istirahat lebih lama.
Mahabat Khan yang lihai telah kembali ke Ajmer,
dan saat ini bergerak cepat menuju Udaipur.
"Dia hanya sekitar satu hari dari sini," Karan Singh berkata saat kami terburu-buru menyusuri koridor; bayangan kami terentang jauh di belakang, enggan untuk meninggalkan kedamaian ini. "Pasukannya berderap dan tidak akan berhenti untuk beristirahat hingga mereka mencapai pantai itu. Aku akan mengirimkan pasukan untuk menahannya."
"Tidak. Kau telah cukup membantu kami. Waktu sehari lebih lama daripada yang kami butuhkan. Kami akan lolos dari kejarannya lagi."
Tidak ada bulan di langit pada malam kepergian kami. Angkasa begitu gelap dengan gumpalan awan yang siap menurunkan hujan, dan Jag Mandir hanya berupa sesuatu yang pipih dan tidak berbayang di permukaan air. Tidak ada pantulan, tidak ada keindahan, dan kami tidak bisa lagi melihatnya meskipun belum mencapai pantai. Istana itu sudah menjadi kenangan. Semua hanya impian semata. Perasaan tak berdaya menghantam begitu tiba-tiba.
Kami bergerak di bawah musim hujan. Hujan turun dengan deras, memudarkan dunia di sekeliling kami. Kami bergerak dalam sebuah kelompok yang rapat dan tidak bersemangat, terasing dari makhluk hidup lain. Kami terus bergerak mencari tempat perlindungan yang kering dan nyaman. Debu telah berubah menjadi lumpur, dan arus sungai menjadi bergelora. Mereka menghantam, menerpa dengan dahsyat ke tepian, menghancurkan dan merenggut semua kehidupan di kedua sisinya, membanjir ke
daratan, menjadi sebuah danau raksasa yang menenggelamkan desa-desa dan ladang-ladang. Air penuh dengan kematian; sapi, lelaki, perempuan, anak-anak, anjing liar; bau bangkai mereka memenuhi udara. Kerusakan lain, bukan hanya mayat-mayat, tetapi pepohonan yang tumbang, tanah dan lapisan yang becek, mencekik kami. Lumut dan jamur tumbuh di dipan-dipan yang lembap, shamiyana tercabik, pakaian kami robek dengan mudah.
Seluruh dunia penuh keringat, panas, dan hujan. Bahkan rambutku pun terasa seperti rontok dari kepalaku; menusuk-nusuk wajah dan belakang leherku, bagaikan akar yang mencengkeram tanah tanpa daya.
Shah Jahan
Aku tidak bisa bergerak ke utara; ayahku menunggu kami, aku tidak bisa bergerak ke timur; Mahabat Khan berpacu mengejar kami. Aku tidak bisa bergerak ke barat; Persia sedang berperang melawan kami. Mungkin, untuk menyakiti Jahangir, Shahinshah bisa memberi kami perlindungan, sebagaimana yang mereka lakukan kepada kakek buyutku Humayun. Tetapi, bergerak semakin menjauhi ayahku adalah tindakan tolol. Akan terlalu lama untuk kembali dan mengklaim singgasana setelah kematiannya. Aku harus tetap berada di dalam perbatasan kesultanan.
Jadi, kami bergerak ke selatan. Di Deccan, kami
akan menemukan perlindungan, meskipun hanya sementara, agar Arjumand bisa beristirahat. Dia bisa saja tetap berada di Jag Mandir, dalam perlindungan Karan Singh, tetapi aku tak bisa membayangkan akan kesepian tanpa kehadirannya dalam pelarian yang panjang dan tanpa akhir ini. Aku membutuhkan rasa nyaman darinya, keberaniannya, cintanya: aku tidak bisa mengharapkan itu semua dari orang lain di dunia ini. Jika dia tidak ada, aku benar-benar sendirian; tanpanya, aku sangat tak berdaya. Saat aku menatap wajahnya yang memukau, mendengar suara lembutnya yang bagaikan sutra, yang masih mengingatkanku akan mengepulnya asap dupa, merasakan sentuhan jari-jarinya di wajah dan bibirku, aku selalu bisa melupakan kekalahan kami dalam sekejap, dan selama satu menit, satu jam, masalahku terlupakan. Dia tidak pernah mengeluh atau memprotes, sementara pasukanku mulai melakukan hal itu. Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka mengikuti putra bi-daulat Jahangir dan imbalan mereka hanya sedikit. Pengkhianatan bersembunyi di hati semua orang, kecuali di hati Arjumand.
Jalan yang kami tempuh berkelok-kelok. Kami tidak bisa menyeberangi sungai yang meluap, jadi kami bergerak ke utara dan selatan untuk menemukan tempat penyeberangan. Tempat istirahat kami adalah gubuk-gubuk di desa, benteng yang tidak lagi digunakan, dan gua. Dalam ketidaknyamanan itu, Penakluk Dunia bisa berkuasa.
Hujan sudah mereda, dan matahari menyinari bumi dengan terik. Selama beberapa hari, kami berjalan menyusuri dataran hijau lembut yang dipenuhi bunga, semak-semak, dan hewan-hewan yang baru lahir. Saat-saat indah ini terlalu singkat. Kami telah lepas dari terpaan hujan, dan hanya untuk dihancurkan oleh panas. Kami membuka baju zirah kami yang berkarat dan hanya membawa pedang serta perisai, pertahanan yang hampir tak berarti untuk menghadapi pertempuran. Hari-hari berlalu tanpa arti; mereka datang dan pergi, kami bergerak lebih jauh ke selatan. Pada hari kesembilan puluh, kami mencapai perbatasan luar Mandu.
Kami tidak dapat bergerak lebih jauh. Arjumand mengalami pendarahan. Hakim mencoba menghentikan pendarahan itu semampunya, dan melarang dia bergerak. Aku berdoa. Pendarahan itu terhenti, tetapi bayi kami meninggal. Aku meratap, bukan menangisi si bayi, tetapi menangisi Arjumand, yang begitu pucat dan lelah. Jika aku bisa memberikan nyawa dan darahku kepadanya, aku akan melakukan itu. Aku tetap berada di sisinya selama berhari-hari, tidak memedulikan bahaya. Sepuluh hari berlalu hingga dia bisa duduk kembali; Isa dan aku membopongnya dan memberinya makan. Perlahan-lahan, warna kulitnya kembali cerah dan kekuatannya pulih. Kami tidak bisa bergerak hingga dia pulih kembali.
Aku tidak layak untuk mendapatkan kemewahan itu. Allami Sa'du-lla Khan datang kepadaku, ditemani oleh seorang prajurit yang telah diutus
untuk menyampaikan pergerakan Mahabat Khan.
"Yang Mulia, Mahabat Khan beberapa hari di belakang kita. Dia sudah mendekati Indore."
"Arjumand tidak bisa bepergian."
"Dia harus bisa."
'"Harus1? Kau mengatakan 'harus' kepadaku, ketika aku berkata bahwa dia tidak bisa? Maafkan aku, temanku, karena memberimu perintah seolah-olah aku ini seorang pangeran."
"Memang begitu, Yang Mulia," Allami Sa'du-lla Khan tersenyum getir. Giginya merah karena paan. Dia telah semakin kurus, seperti kami semua; kegemukan hanya akan terjadi di istana. Berapa lama aku telah mengenalnya? Sepertinya sudah berabad-abad, dan kesetiaannya tidak pernah goyah. Aku tahu dia hanya memiliki sedikit kekayaan, dan aku terus menerus terkejut karena dia begitu setia terhadap seseorang yang jatuh miskin seperti aku. Mehrunissa pasti akan memberikan imbalan besar untuk pengkhianatannya.
"Suatu hari, Anda akan menjadi Padishah. Hingga saat itu, kita harus terus berlari. Kita tidak dapat bergerak ke selatan. Mahabat Khan sudah mengirimkan satu detasemen ke sana, di bawah perintah saudara Anda, Parwez. Kita tidak bisa kembali. Kita hanya bisa bergerak ke timur atau ke barat, dan hanya ada satu jalan sempit untuk keluar dari tanduk banteng Mahabat Khan."
"Kau menyarankan kita menyerah?"
"Tidak. Siapa yang mengetahui apa yang akan dilakukan     Mehrunissa?     Ayahmu    tidak     akan
melukaimu, tetapi Mehrunissa bukan keturunan Timurid. Dia bisa membujuk ayahmu untuk mencabut nyawamu." Shah Jahan mengangkat bahu. "Aku menyarankan kita bergerak ke barat."
Kami tenggelam dalam keputusasaan. Pilihan itu juga berbahaya. Aku merasakan penyerahan diri begitu membebani hatiku.
Seorang prajurit mendekat saat kami sedang berkumpul, dan di belakang seorang prajurit muncul seorang pria kecil dan kurus. Dia maju beberapa langkah.
"Yang Mulia, lelaki ini berkata, dia ingin menolong Yang Mulia."
Aku menatap wajahnya yang berjanggut. Dia membalas tatapanku dengan berani, menunggu untuk dikenali. Pakaiannya sudah usang, turbannya berdebu. Dia berdiri dalam sikap seorang lelaki yang terbiasa membawa senjata, siaga, waspada, dan cekatan.
"Siapa kau? Mengapa kau ingin menolongku?"
"Pangeran Shah Jahan tidak mengingat saya? Tidak apa-apa. Itu adalah suatu kejadian tidak penting dalam hidup seorang pangeran besar."
"Kau mencemoohku dengan pujianmu?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak akan menghina orang yang telah menyelamatkan hidupku." Dia melihat bahwa aku masih kebingungan. "Nama saya Arjun Lal. Beberapa tahun yang lalu, saat Anda bepergian ke Burhanpur, Anda melewati seorang lelaki, adiknya, dan sepupunya. Mereka akan dihukum mati karena telah berencana membunuh
seorang thakur. Anda mendengar permohonan keadilan saya, dan malah memerintahkan agar sang thakur dihukum mati."
"Shabash. Aku ingat. Apakah dia dihukum mati?"
Lelaki itu tersenyum getir, "Tidak oleh para petugas. Aku disiksa, kemudian dilepaskan. Thakur itu diizinkan untuk hidup . sebentar."
"Aku tidak ingin mendengar lebih jauh. Biarkan itu menjadi rahasiamu. Bagaimana aku bisa menolongmu saat ini?"
"Sayalah yang bisa menolong Anda. Saya bisa menuntun Anda menemukan jalan yang aman. Saya mengenal dengan baik jalan-jalan dan lembah-lembah ini; semua adalah rumah saya. Saya tahu sebuah tempat bagi Anda untuk beristirahat hingga keadaan aman bagi Anda dan sang Putri untuk bepergian."
Aku tidak memiliki pilihan. Pada malam hari, dengan hati-hati dan perlahan, kami bergerak membawa Arjumand ke timur di atas rath-nya. Orang itu membawa kami menyusuri jalan berkelok-kelok melewati lembah-lembah,
sungai-sungai yang kering, dan menuju sebuah gua dalam yang tampak tak berujung. Akhirnya, kami tiba di sisi lain, jauh dari Mahabat Khan dan saudaraku. Mereka harus mencari jejak kami selama berbulan-bulan dan tidak akan menemukan kami. Kami beristirahat di sebuah lembah kecil yang tersembunyi, hingga kekuatan Arjumand pulih.
"Saat aku sudah menjadi sultan, datanglah dan mintalah   apa   yang   kau   inginkan.   Pasti   akan
kukabulkan."
"Jika bisa bertahan hidup selama itu, Yang Mulia, saya akan mendatangi Anda hanya untuk memohon keadilan. Saya adalah seorang petani, dan saya ingin kembali ke tanah saya."
"Aku akan mengingat apa yang kau lakukan bagi kami."
Bagaimana aku bisa menandai dan menghitung hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun? Dengan cepat kami mendapatkan perlindungan dan kenyamanan, seperti orang yang tertidur lelap. Kami hidup dengan apa yang bisa kami curi dari kota-kota dan desa-desa. Saat ini, para pangeran yang pernah kami perangi dan telah takluk memberiku dukungan karena kepentingan mereka. Setelah mereka sudah tidak merasa ada kepentingan lagi, mereka mengenyahkanku. Pasukanku mengembang dan menyusut, tergantung persekutuan yang bisa kuciptakan. Aku, Shah Jahan, memohon bantuan dari orang-orang kejam dan tidak penting, para lelaki yang tidak adil. Aku memberi kasih sayang berlebihan, sangat berterima kasih kepada semua yang menyediakan atap di atas kepala kami, makanan bagi perut kami, tetapi dalam hati aku berjanji akan menghukum pengkhianatan.
Kami bergerak ke arah timur, beristirahat sebentar dan mengumpulkan perbekalan kami yang hanya segelintir, hingga kami mendengar Mahabat Khan dan saudaraku semakin dekat. Jumlah pasukan di bawah pimpinan mereka tidak pernah berkurang-lebih   dari   tiga   puluh   ribu   anggota
pasukan berkuda, lima puluh gajah perang, tiga belas meriam, dan tak terhingga banyaknya unta yang membawa cadangan perbekalan. Mereka bergerak dengan penuh martabat, perlahan dan mantap, dalam keyakinan bahwa akhirnya mereka akan mengalahkan, menaklukkan, kemudian tenggelam.
Di Surguja, jauh di dalam perbukitan, aku bertempur dengan Mahabat Khan lagi. Bukan karena pilihanku, tetapi karena pengkhianatan. Pertempuran ini terjadi saat musim dingin kedua. Kami menikmati keramahan Nawab, tuan rumah yang baik dan murah hati. Dia adalah seorang penikmat dan pemuja musik, dan setiap malam kami mendengarkan para lelaki dan perempuan yang berkumpul di istananya untuk menghiburnya. Dan apa yang tidak dia berikan kepada kami? Hadiah, makanan, taman untuk berjalan-jalan, kuda, gajah. Dia tidak berekspresi berlebihan, tetapi peduli, seolah menganggapku anak lelakinya sendiri; dia sudah tua dan hanya memiliki anak perempuan. Dia memiliki banyak istri, yang melayaninya sesering yang dia inginkan dan sebatas kemampuannya, tetapi sayangnya dia tidak memiliki ahli waris lelaki. Aku yakin bahwa dia menyayangiku, dan akan tetap berada di kerajaan terpencil itu selama musim dingin jika Malik Ambar tidak mengirimkan peringatan. Ambar adalah jenderal Abyssinia yang memimpin pasukan gabungan para  pangeran Deccan yang
telah kutaklukkan bertahun-tahun lalu, dan musuh lamaku telah mencegat pembawa pesan yang kembali ke Surguja. Si pembawa pesan memberi tahu Mahabat Khan tempat persembunyian kami. Ambar mengirimiku pesan bahwa Mahabat Khan sudah semakin mendekati kami.
Tetapi terlambat. Bahkan ketika kami terburu-buru pergi dari keramahan Nawab, pasukan Mughal sudah berada lima atau enam kos dari Surguja. Mereka telah meninggalkan gajah-gajah dan meriam mereka untuk bergerak semakin cepat. Aku tidak bisa menghadapi pasukan berkuda yang begitu besar dengan mengharapkan apa pun selain kekalahan. Aku mengirim Arjumand, anak-anak, dan Isa untuk meneruskan perjalanan. Mereka harus bergerak cepat dan tidak berhenti hingga aku dan pasukanku bergabung kembali dengan mereka. Di mana kami bisa bertemu, aku tidak bisa memperkirakan.
"Mereka terlalu banyak, Yang Mulia," Allami Sa'du-lla Khan memperingatkan. "Kita juga harus bergegas."
"Kita akan tertangkap. Yang paling baik kita lakukan adalah memberi mereka sengatan kecil, seperti seekor lalat yang menggelisahkan gajah. Perbukitan ini adalah satu-satunya keuntungan kita. Tidak mungkin bagi pasukan besar seperti mereka bertempur di bukit-bukit dan ngarai-ngarai."
"Apa bedanya itu? Kita hanya memimpin dua ribu lima ratus anggota pasukan. Berapa banyak yang akan mundur saat melihat sebesar apa pasukan
yang akan mereka hadapi?"
"Tapi, kita akan menyerang dengan cepat. Aku belajar dari Malik Ambar, bagaimana sebuah pasukan kecil dapat mengganggu pasukan raksasa. Kita akan bersembunyi di bukit-bukit-ya, seperti para gerilyawan, kita akan memukul mereka dengan cepat, lalu mundur. Itu akan membingungkan mereka, memperlambat gerakan mereka."
Kami membagi pasukan kecil ke dalam lima pimpinan, masing-masing lima ratus penunggang kuda, jumlah yang sangat kecil dibandingkan pasukan yang mendekati kami. Tetapi, sebuah sungai bisa dibelokkan oleh sebatang pohon kecil yang melintang menahan arusnya. Kami tidak akan bertempur, tetapi menyerang tiba-tiba, bergerak cepat untuk menghantam sisi-sisi pasukan musuh, dan, sebelum pasukan itu berbalik, kembali mundur ke ngarai-ngarai yang tak bisa mereka capai.
Pasukan Mughal telah tiba, dan aku tidak bisa menahan kepercayaan diriku menguap. Pasukan itu sangat mengesankan, disiplin dan terkendali di bawah pimpinan kehebatan Mahabat. Bagaimanapun, seperti pasukan-pasukan besar lain, mereka tampil dengan arogan karena merasa tidak terkalahkan.
Aku menyerang sisi kanan, memotong dan mengacaukan para manusia dan kuda-kuda, dan saat komando diberikan untuk menyerangku, aku berbalik dan mundur ke lembah-lembah yang gelap. Kemudian, komandan-komandan lain, satu per satu, menyerang  sisi-sisi berbeda  monster kaku  yang
hanya bisa menerkam, tetapi tidak bisa menghancurkan serangga-serangga yang
mendengung di sekitarnya. Selama tiga hari tiga malam, meskipun merasa takut dan kehilangan sejumlah besar kuda dan prajurit, kami mengacaukan Mahabat Khan. Pada hari keempat, kami mundur, dengan harga diri yang sama seperti ketika kami berderap maju. Saat ini, setelah beristirahat di lapangan datar, aku berharap bisa bertempur di daerah terbuka.
Aku bertemu kembali dengan Arjumand dan anak-anakku sepuluh hari kemudian di Jaspur. Mereka sama khawatirnya dengan aku. Anak-anak, dengan penyesuaian cepat mereka yang khas kanak-kanak, telah terbiasa berada dalam situasi menekan, perjalanan menyusuri tempat-tempat yang menyulitkan, malam-malam tanpa tidur saat melewati desa-desa yang sedang terlelap dan bukit-bukit yang mencekam. Kami harus berhenti selama beberapa hari, karena kami menunggu kelahiran seorang anak lagi. Anak itu lelaki, dinamai Murad, dan kami terkejut karena dia bertahan hidup. Tetapi, tidak ada waktu lagi untuk bersantai, Arjumand sendiri masih tidak mengeluh. Kami kehilangan tiga ratus lima puluh prajurit dalam pertempuran; itu adalah kehilangan yang besar. Para prajurit yang terluka ditinggalkan di Jaspur, kemudian kami bergerak lebih jauh ke timur. Mahabat Khan akan kembali, mungkin dengan pasukan yang lebih kecil, karena dia adalah seseorang yang cepat belajar ilmu peperangan.
Daerah ini membantuku, tetapi memperlambat perjalanan kami saat ini. Bukit-bukit curam dan lembah-lembah dalam menyulitkan gerakan kami. Kami hanya bergerak beberapa kos setiap harinya, memutar dan menerobos, bagaikan seekor ular buta yang mencari jalan keluar.
1035/1625 Masehi
Pada musim dingin ketiga, kami mencapai Bengal. Daerah ini tidak mengalami musim dingin. Bengal panas dan lembap, tanah-tanah pecah oleh sungai-sungai kecil yang tak terkira jumlahnya, semua tidak bisa dilewati kecuali dengan membayar perahu-perahu kepada para pemilik kapal. Arjumand tidak tahan dengan iklim ini. Dia jatuh sakit, demam datang dan pergi, serta gemetaran seperti sedang terbaring di atas salju daerah utara. Keringatnya membuat dipan lembap, dan bersama dengan keringat, kekuatannya juga menguap.
Aku diberi tahu tentang sebuah benteng di tepi salah satu sungai. Benteng itu menyediakan kenyamanan, obat, dan karena tempat itu adalah jangkauan terjauh Jahangir, aku mencari tempat peristirahatan bagi Arjumand. Tempat itu kecil, dibangun dengan dinding-dinding batu bata yang memiliki celah-celah untuk meriam, dan menghadap ke arah laut. Laut sendiri berada di luar jangkauan pandangan kami, tetapi kapal-kapal besar dengan tiang-tiang tinggi mengambang di permukaan air di balik dinding. Aku tidak pernah melihat kapal besar seperti   ini  sebelumnya.   Benteng  ini juga  tidak
seperti benteng kami; bentuknya kaku dan tidak dihiasi apa-apa. Orang yang membangun benteng ini tidak memiliki perasaan keindahan, hanya memikirkan kegunaan semata. Tetapi, benteng ini akan memberikan perlindungan dan tempat peristirahatan bagi Arjumand-ku.
Isa
Pangeran Shah Jahan, Allami Sa'du-lla Khan, dan aku pergi bersama lima puluh prajurit berkuda. Benteng itu terdiri dari beberapa bangunan rendah dan, di setiap sudutnya, ada gereja mereka. Ada beberapa orang dari daerah kami yang bisa ditemui, tetapi yang lain adalah para feringhi. Mereka berpakaian tebal yang menguarkan bau tubuh mereka, karena mereka bukan orang-orang yang percaya akan kekuatan air yang membersihkan. Di mataku, mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang pernah menghina Agachiku bertahun-tahun yang lalu di Agra. Mereka semua berjanggut dan membawa jezail.
Mereka tidak memandang Shah Jahan dengan ramah. Dia menunggangi kudanya dengan tegak, tidak memedulikan ketidakramahan yang mereka tunjukan. Selama bertahun-tahun dalam situasi yang menekan, orang-orang tidak akan dapat mengabaikan kekuasaan seorang pangeran, yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Kekuasaan itu melekat pada seseorang, dan terlihat meskipun oleh seorang yang tidak peduli sekalipun. Tetapi, orang-orang ini tidak memperlihatkan penghargaan
mereka kepada Shah Jahan; wajah mereka keras dan dingin seperti udara yang panas. Komandan benteng itu adalah seorang pria tinggi kekar, tidak bertutup kepala, dengan rambut yang tergerai ke bahunya. Dia ditemani oleh pendeta-pendeta yang kecil, misterius, dan waspada, yang mengenakan baju hitam dari leher hingga mata kakinya. Mereka mengingatkanku kepada para mullah; kekerasan hati berkilat di mata mereka. Di leher, mereka memakai seuntai salib kayu yang mereka mainkan tanpa henti. Mereka tampaknya lebih berkuasa daripada sang komandan, dan kesombongan mereka terlihat dari tatapan mencemooh ke arah Pangeran Shah Jahan di atas kudanya. Sang komandan memberi penghormatan sekenanya, karena dia mengetahui siapa yang datang kepadanya. Para pendeta tidak berusaha untuk menunjukkan penghormatan.
"Aku ingin meminta waktu untuk berlindung di benteng Anda," Shah Jahan berkata kepada sang komandan. "Istriku sakit, dan aku diberi tahu bahwa di sini Anda memiliki obat yang bisa menyembuhkannya."
Sang komandan bermaksud hendak menjawab, tetapi tanpa permisi, seorang pendeta maju dan langsung berkata kepada sang Pangeran. "Aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat para prajurit."
"Aku bicara jujur," Shah Jahan menyahut dengan sabar. "Istriku berada di kereta. Kami akan menjemputnya, tetapi kalian tidak boleh menatap wajahnya. Kami sudah berjalan lama, lama sekali, dan anak-anak membutuhkan istirahat di sini."
Perlahan-lahan, lebih banyak feringhi yang berkerumun, menatap sang Pangeran dengan campuran rasa penasaran dan kebencian. Mereka tidak mencoba menyembunyikan kesombongan mereka. Aku tidak mengetahui berapa banyak yang tinggal di benteng ini, sepanjang tepi sungai. Mereka menyembah seorang perempuan, dan memaksa semua orang yang datang untuk melakukan hal yang sama. Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa manusia harus memaksa orang lain untuk beribadah seperti mereka. Apakah itu muncul dari ketakutan-bukan keyakinan? Ketakutan akan kesendirian, kecurigaan bahwa Tuhan mungkin ada jika mereka membayangkan-Nya, dan keyakinan bahwa dengan meningkatkan jumlah mereka, itu akan membuat mereka yakin bahwa mereka bukan orang tolol?
"Mungkin saja," kata si pendeta pelan, sambil mendongak. "Tapi itu tergantung kepada Pangeran sendiri."
"Aku akan melakukan apa yang kau inginkan."
"Kalau begitu, kau harus datang ke tempat ibadah dan mengucapkan terima kasih atas keselamatanmu. Bunda yang terberkati akan menunjukkan kasih sayangnya yang besar."
"Pangeran tidak bisa melakukan itu," sahut Shah Jahan. "Aku tidak memintamu beribadah di masjid-masjid kami. Mengapa kau memintaku untuk berdoa di tempat ibadahmu?"
"Itu syarat dari kami. Jika kau tidak mau memenuhinya,    kau   harus    pergi."   Dia    berbicara
seolah-olah memenangi suatu skirmish, dan dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Shah Jahan. "Obatnya juga akan tersedia bagi istrimu. Pikirkanlah keputusanmu."
Shah Jahan menatap sang komandan dengan penuh rasa ketidakpercayaan; pria itu hanya mengangkat sebelah bahunya sedikit dan membiarkannya jatuh lagi. Dia telah diperintah oleh sang pendeta. Sang pangeran mengalihkan tatapannya ke arah sang pendeta. Matanya semakin gelap dan kelelahannya menguap. Dia memerhatikan si pendeta: seorang lelaki gemuk dengan janggut kemerahan, wajahnya berwarna seperti tomat busuk, dan matanya selalu berkedip-kedip. Tetapi, di sekitar mulutnya, terlihat kekuatannya. Bibirnya mengatup dan tampak tegas, tidak menampakkan kelemahan. Shah Jahan menatap tajam, tetapi hanya untuk mengingat wajah lelaki itu.
"Apa yang akan kau tawarkan jika aku berpindah keyakinan?" Shah Jahan bertanya. Aku tahu, kesopanannya hanya ada di permukaan; di dalam hati, dia murka. "Selain obat yang kami inginkan?"
"Perlindungan," si pendeta menjawab dengan tegas.
"Ah . perlindungan." Shah Jahan bertanya-tanya mendengar kata itu. "Perlindungan dari apa? Bisakah tuhanmu membuat semua kesulitanku menghilang? Apakah perlindungan semacam itu?"
"Perlindungan dari dosa-dosamu. Saat kau mengaku dosa, kau akan dimaafkan dan kau akan
mengalami kegembiraan."
"Tapi, bagaimana jika aku ... berbuat dosa lagi?"
"Dengan mengakui dosamu, kau akan dimaafkan. Tapi, kau akan mengerti bagaimana sifat dosa itu dan berhenti melakukannya."
"Sungguh tidak mudah bagi orang sepertiku untuk mencegah diri dari perbuatan dosa. Tapi, tampaknya itu adalah penawaran yang adil. Setiap dosa dihapuskan. Dan berhala yang kau sembah itu yang memberi pengampunan?"
"Itu bukan berhala," si pendeta menukas tajam. "Perawan Maria adalah simbol Tuhan Yang Mahakuasa."
"Dia sangat mirip dengan berhala umat Hindu. Kau menaunginya dengan sutra juga. Apa bedanya? Aku tidak melihat perbedaan. Aku bisa memasuki sebuah kuil dan menyembah, lalu semua dosaku akan diampuni. Pengampunan ini ditentukan olehmu. Apakah perawanmu penuh dengan pengampunan?"
"Kau mencemoohku."
"Dan kau menipuku, dan menganggap bahwa Pangeran Shah Jahan seperti seorang tolol. Aku meminta perlindungan, dan kau melakukan tawar-menawar. Kesehatan istriku bukanlah saman di pasar. Karena aku membutuhkan pertolonganmu, kau pikir kau bisa membuatku berpindah keyakinan. Ayah dan kakekku memberikan kebebasan kepada kaummu untuk melakukan apa yang kalian inginkan-sebenarnya kau telah mencoba siasatmu ini di istana Mughal Agung Akbar juga, dan dia kehilangan kesabaran-dan kau bahkan tidak memiliki
kesopanan untuk memperlakukanku dengan kepedulian yang sama terhadap orang lain yang seagama dengan kalian. Aku bahkan tidak melihat secangkir air pun ditawarkan, sesuai dengan tradisi semua orang di negeri ini, kepada pengemis paling miskin sekalipun."
"Dan apa yang akan kau lakukan, Pangeran Shah Jahan?" si pendeta merasa geli karena kemarahan Shah Jahan yang dingin. "Mengirimkan pasukan? Kau memiliki bala tentara yang terlalu kecil. Ayahmu akan merasa senang jika bisa mengetahui di mana kau bersembunyi. Sekarang pergilah, sebelum kami mengirimkan pesan kepada Mughal Agung untuk memberi tahu bahwa putranya bersembunyi di suba ini."
"Dan istriku?"
"Kami tidak bisa menolongnya."
Pendeta itu berbalik dan berjalan menjauh. Yang lain berdiri sambil menatap kami dengan sikap menantang, menunggu reaksi Shah Jahan. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi perlahan-lahan memandang berkeliling ke arah benteng dan wajah-wajah yang memerhatikan kami. Dia memutar arah kudanya, dan kami mengikuti Shah Jahan untuk bergabung bersama rombongan utama. Dalam perjalanan singkat itu, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak menoleh untuk memandang gerbang benteng yang tertutup, atau orang-orang yang sedang mengamati kami. Aku tidak bisa mengira-ngira apa yang sedang dia pikirkan, wajahnya sebeku batu. Anak-anak datang untuk
menyambut kami; anak-anak lelaki ingin menjelajahi benteng yang aneh itu. Dia mengabaikan mereka semua, kecuali Dara. Saat turun dari kudanya, Shah Jahan menggamit Dara dan mereka duduk bersama Arjumand di rath-nya. Perhatian dan kasih sayangku tak sebanding dengan perhatian dan kasih sayangnya, tetapi aku membawa yang lain sedekat mungkin ke benteng, sebisa mungkin berusaha agar tidak membahayakan mereka. Sungguh mustahil untuk bisa memperkirakan temperamen feringhi-feringhi itu. Aurangzeb mengangkat lengannya agar aku bisa mengangkatnya, supaya dia bisa melihat lebih jelas. Dia menoleh sekali lagi untuk menatap rath yang tertutup.
"Ayahmu sedang memiliki banyak pikiran, Yang Mulia. Mereka membuatnya khawatir dan tidak memberinya cukup waktu untuk menemanimu, seperti yang dia inginkan."
"Lalu, Dara?"
Aku tidak bisa segera menjawab. Aurangzeb menatapku. Kepedihan terlintas, kemudian selapis kesadaran diri yang lembut menggantikannya. Tidak ada penjelasan yang bisa memuaskan anak ini, hanya cinta ayahnya.
"Dia adalah putra tertua dan harus diajak berdiskusi. Kalau kau sudah lebih besar, ayahmu juga akan mendiskusikan berbagai masalah denganmu. Kau harus ingat, Yang Mulia, bahwa ayahmu bisa meninggalkan kalian semua di Agra bersama kakekmu. Tapi, dia ingin membawa kalian
bersamanya."
"Ibuku yang menginginkan itu."
"Ayahmu juga. Dia tidak bisa mengabaikanmu."
"Mengapa tidak bisa? Allah akan menjaga kita."
Itu adalah jawaban yang aneh. Dia telah mempelajari Quran, seperti saudara-saudaranya, tetapi keyakinannya lebih kuat daripada yang lain. Allah adalah satu-satunya yang memberi Aurangzeb kenyamanan, dengan dingin menggantikan kebutuhannya akan kasih sayang. Kami bergerak ke utara untuk keluar dari iklim yang buruk dan berat, yang menyelubungi Agachiku bagaikan kafan penuh keringat, membuatnya kelelahan.
Kami menyeberangi Damador dan berbelok ke timur hingga mencapai tepi Sungai Jumna. Meskipun kami masih jauh dari Agra, pemandangan sungai itu memenuhi hati kami dengan kerinduan. Kami bisa membayangkan air jernih yang sama mengalir melewati benteng, menyusuri kota yang akrab. Kami mengingat pemandangan, aroma, dan teman-teman yang kami miliki di sana. Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu dengan mereka, dan kami tenggelam dalam keheningan menyedihkan yang sudah lama kami rasakan. Shah Jahan membenamkan tangannya ke sungai, membiarkan air dari kotanya, rumahnya, mengalir di antara jemarinya.
Arjumand mandi di sungai; dia bangkit setelah berendam seperti yang dilakukan orang-orang di Sungai Gangga, lebih segar dan kuat. Kegembiraan
dan tawanya sudah kembali. Dia berbicara tentang segala hal yang dia lakukan waktu kecil di Agra, berceloteh tentang orangtua dan kakek-neneknya, seakan-akan dia bisa bertemu dengan mereka kapan saja. Kami belum pernah begitu dekat ke rumah sebelumnya, dan kami merasa diri kami tertarik ke arah tempat itu. Keinginan untuk kembali begitu kuat; keinginan untuk beristirahat di istana sejuk di tepi Sungai Jumna, untuk menunggang kuda dan bermain chaugar di maidan dekat benteng, untuk duduk saat matahari terbenam sambil menyesap anggur-kemewahan yang sangat dirindukan oleh Shah Jahan-dan berbincang hingga bulan muncul dan menyinarkan cahayanya ke seluruh dunia. Betapa jelasnya kami mengingat detail-detail terkecil dari kehidupan kami sebelumnya; kemudaan kami adalah sebuah mimpi yang terkenang dan kami saling menghibur dengan menceritakan dan mengulangi cerita itu lagi.
Shah Jahan memandang ke arah Agra di utara dan menghabiskan berjam-jam berdua bersama Arjumand. Mereka pasti duduk di tepi sungai bersama-sama, dan kami tidak ragu-ragu jika dia sudah terlalu lelah untuk meneruskan. Dia ingin pergi ke utara, melihat dinding-dinding benteng merah yang akrab, bersujud di gerbangnya, dan masuk ke dalam.
Tetapi, itu tidak bisa dilakukan. Mahabat Khan masih mengejar. Pasukan Mughal yang khawatir Shah Jahan akan menyerang benteng, memblokade jalan kami dan mulai bergerak ke selatan untuk
menghadang kami. Sekali lagi, jeda itu terlalu singkat; kami kembali berputar dan bergerak cepat ke selatan. Kami kembali menyusuri rute yang telah kami lalui, kali ini menghindari benteng feringhi, hingga kami tiba di batas kesultanan, tepi dunia kami. Di sana, kami pergi ke barat. Kami bergerak di sepanjang jalan sempit yang bagaikan seutas tali; di satu sisi terbentang Hindustan, dan di sisi lain adalah tanah tempat aku dilahirkan. Aku sering menatap ke selatan; desaku itu hanya kenangan samar dalam ingatanku. Hanya warna hijaunya yang cerah dan kedamaian lembut kehidupan di sana yang teringat di benakku. Aku tidak membicarakan hal-hal itu kepada Agachiku; kehidupan lampauku terlalu terpisahkan oleh jarak dan waktu. Aku tahu, aku tidak bisa kembali. Bagaimana kabar adikku Murthi? Bagaimana kabar Sita? Mereka pasti telah melupakan aku. Orangtuaku mungkin sudah meninggal. Betapa berbeda dan membosankannya hidup di sana saat ini. Karma telah merenggutku dari kenyamanan itu dan menjerumuskanku ke dalam kehidupan yang terus bergulir ini.
Sekali lagi, di dekat Kawardha, Shah Jahan bertempur dengan Mahabat Khan. Itu bukan pertempuran, hanya skirmish yang singkat, adu pedang, karena kedua pasukan kelelahan. Kami mundur, dan Mahabat Khan tetap berada di posisinya meskipun dia mampu membuat kami kewalahan dengan pasukannya yang besar. Seekor harimau pun akan mundur dari perkelahian setelah memamerkan kekejamannya.
Shah Jahan begitu tenang. Dia duduk di shamiyananya, dan di hadapannya terbentang secarik dokumen yang dia tulis dengan tangannya sendiri. Dia menyuruhku memanggil Allami Sa'du-lla Khan dan saat kami kembali, kami berdiri menunggu sampai dia menyelesaikan suratnya. Surat itu ditujukan kepada sang Penguasa, Penakluk Dunia, Raja Sungai-Sungai, Raja Lautan, Calon Penghuni Surga, sang Padishah, Sultan Hindustan, Mughal Agung Jahangir.
"Ayah," Shah Jahan membacanya, tanpa mendongak, "Aku, putramu yang paling berdosa, memohon ampunanmu. Karena perbuatanku di masa lalu, aku telah diperlakukan sebagaimana yang layak kudapatkan. Ayah pasti akan berpikir jika aku adalah putra yang paling tidak tahu terima kasih, yang tidak menghormati cinta dan penghargaanmu. Beberapa tahun terakhir ini, saat aku menjelajah seluruh penjuru negeri, aku telah berpikir dalam-dalam tentang sikapku yang salah dalam menerima kebaikanmu, dan merasa bahwa diriku tidak mampu menjalani keadaan seperti ini lebih lama lagi. Aku takut terhadap kebencian kita, begitu juga istri dan anak-anakku, dan kami hanya ingin hidup dalam kedamaian dan harmoni dengan ayahku yang tercinta. Aku menyerahkan hidupku kepadamu, dan Ayah bisa melakukan apa yang Ayah inginkan."
Dia menyegelnya dan memberikannya kepada Allami Sa'du-lla Khan.
"Kau harus menyerahkannya secara pribadi,"
perintah Shah Jahan.
"Mehrunissa tidak akan mengizinkannya. Aku harus memberikannya kepada wazirnya, Muneer si orang kasim. Apakah kalian akan dimaafkan atau tidak, semua tergantung kepada Mehrunissa."
"Mehrunissa akan siap untuk mendengarkan. Kekuatan Mahabat Khan telah terlalu kuat. Setiap tahun, selama pengejaran, dia semakin bertambah kuat."
Allami Sa'du-lla Khan mengangkat bahu. "Mehrunissa bukan ayahmu. Siapa yang tahu apa yang dia pikirkan tentang dirimu atau Mahabat Khan? Tapi, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku, Yang Mulia. Aku akan membisikkan penyerahan dirimu ke setiap sudut istana, sehingga semua tahu kau tidak lagi bersalah."
Kami menunggu dengan tegang di dekat Burhanpur. Tidak mungkin memperkirakan keberadaan Jahangir. Jika dia ada di Agra, Mehrunissa akan segera menjawab. Jika dia ada di Lahore, kami harus menunggu, dan jika dia ada di Kashmir, kami harus menunggu lebih lama. Karena pesan itu membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tangan kami-seratus delapan belas hari-kami memperkirakan dia berada di antara Lahore dan Kashmir. Jawabannya tidak ditulis oleh tangan Jahangir, tetapi oleh tangan Mehrunissa. Kekuasaannya begitu jelas. Dia memaafkan. Kesepakatan damainya tidak sekeras yang kami kira. Shah Jahan harus menyerahkan benteng-bentengnya dan menerima jabatan sebagai
Gubernur Balaghat, sebuah suba yang terpencil dan tak berguna.
Shah Jahan juga harus mengirimkan Dara dan Aurangzeb kepada Mehrunissa sebagai sandera.
Shah Jahan segera menerima syaratnya dan menunggu pembawa pesan istana datang membawa firman, yang menjelaskan kesepakatan damai kami. Saat pesan itu tiba, Shah Jahan menempelkan dahinya ke kertas itu, menandakan rasa malu dan kepatuhannya terhadap Sultan. Tetapi, dia masih mengkhawatirkan tipu daya Mehrunissa yang mungkin membahayakan nyawanya. Karena itu, dia dan Arjumand memutuskan untuk tetap tinggal di Deccan.
Mahabat Khan mengirimkan sepuluh ribu penunggang kuda untuk menjemput dua pangeran muda itu. Arjumand memerintahkan aku untuk menemani mereka kembali ke istana. Dia memeluk mereka dengan kasih sayang yang sama, mencium wajah dan tangan mereka. Aku melihat ekspresi penolakan di wajah Aurangzeb.
"Kau akan menjaga mereka, Isa. Lindungi mereka dari bahaya."
Ketika kami pergi, Dara sering kali menoleh untuk menatap orangtuanya, tetapi Aurangzeb tidak sekali pun melakukannya.[]
22
Taj Mahal
1608/1658 Masehi
Pengkhianatan, pengkhianatan, pengkhianatan. Kata itu sendiri terasa mengerikan, busuk seperti terurainya tubuh seorang manusia. Kata itu menggelapkan udara dan menyesakkan setiap tarikan napas dengan keputusasaan. Kata itu tidak dapat diusir menjauh; bebannya tidak bisa ditanggung oleh manusia. Pengkhianatan akan mengubah nasib dan terasa menyiksa sepanjang jalan yang berubah itu. Meskipun kata itu singkat, konsekuensinya begitu hebat. Jika seorang lelaki yang dikhianati tidak penting, pengaruhnya hanya akan terjadi pada satu orang, satu keluarga, satu desa, kemudian memudar dan dilupakan. Tetapi, jika yang dikhianati adalah seorang pangeran, aksi itu, seperti denyutan di inti bumi terdalam, akan terus terasa selamanya.
Atau, apakah pengkhianatan adalah hasrat alamiah setiap manusia? Isa mengingat kepercayaan Shah Jahan: bergantung kepada kepentingan atau ketidakpentingan, taktya takhta.
Apakah kehidupan para raja sekalipun, dengan begitu banyak pemburu keuntungan di sekeliling mereka, akan menjadi pilihan-pilihan yang pahit?
"Dara. Selamatkan Dara. Selamatkan adikmu," sang Mughal Agung Shah Jahan memerintah putrinya, Jahanara. "Aurangzeb mencintaimu. Dia hanya akan mendengarkan permohonanmu, bukan permohonanku. Tuhan mencintai semua yang kucintai. Ini adalah kutukan dalam hidupku. Aku sangat mencintai dan menjaga putraku itu, aku berharap dia bisa menjadi sultan dalam keadaan damai, tetapi tidak ada yang bisa mengungkap rahasia Tuhan, Raja Yang Mahakuasa. Saat ini aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun lagi, tetapi aku berdoa agar dia bisa hidup layak dan bertahan untuk bisa menjadi sultan di seluruh Hindustan. Siapa yang bisa disalahkan jika takdir mengalahkan perintah seorang sultan? Apakah itu salah sang sultan sendiri? Karena cintanya, dia melakukan hal-hal bodoh. Apakah itu kejahatan? Aku terlalu mencintai Dara, sementara tidak cukup mencintai Aurangzeb. Karena ketidakadilan itu, seorang raja bisa mengalami kejatuhan-bukan karena pasukan besar yang bisa dia pimpin atau kekuasaan yang dia miliki, tetapi karena pembagian cinta yang tidak adil. Karena itu, aku akan dianggap bersalah oleh Aurangzeb; karena itu, aku akan dihukum, dan karena itu juga, Dara yang akan paling menderita. Ah, jika saja dia bisa lolos, jika saja dia tidak dikhianati oleh orang-orang yang dia percayai. Dipercaya? Apakah dia tidak
menyelamatkan nyawa manusia yang mengkhianatinya dari kemurkaanku? Aku pasti akan menghukum mati Malik Jiwan karena kejahatannya. Aku bahkan akan memerintahkannya untuk diinjak-injak oleh gajah, tetapi Daraku tersayang berdiri di antaraku dan bangsat itu. Dia memohon agar aku melunakkan hatiku, dan mendengarkan suara lembut dan pelannya. Aku memaafkan Malik Jiwan. Oh Tuhan, betapa saat ini aku menyesal karena telah mendengarkannya. Andaikan Jiwan tewas saat itu, saat ini Dara akan selamat di bawah perlindungan Shahinshah, bukannya terkurung di penjara bawah tanah Aurangzeb. Karena aksi sekecil itu, seperti pasir yang bisa membendung sungai, butir demi butir, takdir akan mengubah hidup manusia. Cepat, Jahanara, cepat. Aurangzeb akan mendengarkanmu. Manfaatkan kasih sayangnya untuk menyelamatkan Dara. Aku sudah kehilangan Shahshuja, dibunuh oleh gerilyawan di Bengal, dan Aurangzeb berkhianat dengan menangkap Murad. Hanya Tuhan yang tahu di mana dia mengurungnya. Empat gajah dengan howdah yang sama meninggalkan perkemahan Aurangzeb pada saat fajar. Di mana Murad berada? Hanya Aurangzeb yang mengetahuinya. Dan putra Arjumand tersayang itu telah menghabisi saudara-saudaranya. Bagaimana mungkin, dari kecantikan dan cinta yang begitu besar, kejahatan itu bisa terlahir?"
Shah Jahan kebingungan, murung, dan meratap; dia duduk di seberang Sungai Jumna, menatap ke
arah Taj Mahal. Mereka terpisahkan oleh air: keduanya terpenjara di dalam dinding-dinding marmer. Penjara Shah Jahan adalah dinding-dinding istananya yang penuh perhiasan. Shah Jahan telah diperintahkan menyerah kepada putranya dalam waktu tiga hari, tetapi mereka tidak akan dapat berdamai. Aurangzeb masih berada di luar istana, Shah Jahan dengan kukuh bertahan di dalam. Isa dan Jahanara berharap agar mereka saling bertemu, untuk bisa berdamai. Akhirnya Sultan bersedia, tetapi dia memerintahkan para perempuan budak Tartar untuk menunggu Aurangzeb yang bi-daulat di balik semak-semak. Ketika ayah dan anak itu akan berpelukan satu sama lain, para perempuan itu akan menyerang. Tetapi bagaimana bisa, tanpa cinta, kepercayaan bisa timbul? Aurangzeb tetap menolak untuk datang. Dia berhasil menyadap sebuah pesan dari ayahnya untuk Dara: "Anakku terkasih, anakku tercinta." Kalimat itu memenuhi tubuhnya dengan perasaan melankolis yang pahit. Kekuasaan berganti, tetapi cinta tidak. Dia membalikkan punggungnya ke arah benteng dan mengejar Dara.
"Cepat, cepat," Jahanara memerintah.
Kuda-kuda merasakan cambuk dan berlari kencang; mata mereka melotot kelelahan, mulut mereka berbusa, dan bulu mereka berkilat bekas lecutan dan keringat. Jalan dari Agra ke Delhi yang disinari rembulan lurus menuju cakrawala. Delapan
penunggang kuda berada di depan sebagai penunjuk jalan, Isa di samping rath. Para lelaki, perempuan, dan hewan-hewan yang tidur di tepi jalan itu terbangun dari tidurnya untuk mengamati kuda-kuda yang berpacu, kemudian kembali tertidur saat mereka lewat.
Sang Mughal Agung Aurangzeb menunggu Jahanara dan Isa di menara benteng Delhi. Benteng itu telah dibangun oleh ayahnya dan pekerjaannya belum selesai. Kerangka bangunan masih berdiri di sekeliling sang Sultan ketika dia menatap ke bawah dari darwaza Delhi. "Kemari dan lihatlah."
Di bawah, kerumunan besar berkumpul. Para prajurit kesultanan membentuk jalan sempit melewati rakyat yang memenuhi kota, bergelantungan di pohon, duduk di atap, terdiam dengan muram, dan menunggu. Layang-layang berputar-putar di angkasa, burung-burung bangkai merunduk dengan harga diri tinggi di tepi sungai. Angkasa tampak pudar, berwarna biru kusam. Di dalam, sebuah upacara sedang disiapkan. Seekor gajah yang sakit dan kurus, sisi-sisi tubuhnya penuh dengan goresan bekas luka, berayun-ayun lemah. Howdahnya terbuka. Di belakangnya, duduk seorang budak dengan sebuah pedang algojo; kekejaman pedang itu bukanlah terlihat dari ketajamannya, melainkan dari lapisan kering darah yang telah mengerak. Gajah kedua masih kuat dan sehat,   dan   dihias   dengan   megah.   Howdahnya
terbuat dari emas bertatah batu-batu mulia, dan di dahinya ada sebuah penutup dari emas dan zamrud. Ujung-ujung gadingnya dilapisi emas.
"Jemput dia," Aurangzeb memerintah.
Dara muncul dari penjara bawah tanah, berkedip silau karena melihat sinar matahari. Dia terikat erat pada seuntai rantai, pakaiannya robek dan usang, debu mengerak di wajah dan tubuhnya. Dia berjalan pelan dan para prajurit menyeretnya ke arah gajah yang lemah. Tetapi, dengan harga diri tinggi, Dara tetap tenang.
Isa mengerang.
Jahanara meratap. "Adikku, maafkanlah adikku ini. Kejahatannya hanya mematuhi perintah ayahnya, yang sangat dia cintai. Dia adalah seorang anak yang baik dan penurut, dan saudara yang baik bagi kita semua. Aku tidak memintamu, aku memohon, seperti manusia termiskin di tanah ini-lihat, aku berlutut dan mencium kakimu-bukan untuk kebebasannya, tetapi untuk hidupnya. Penjarakan dia di daerah paling terpencil dalam kesultanan besar ini. Kurung dia di antara bebatuan di pegunungan, atau di hutan belantara terdalam. Bangunlah sebuah benteng dan jagalah agar dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah melihat wajahmu lagi, seperti yang telah kau lakukan terhadap adikmu Murad. Kau telah mengalahkan Dara, membelenggunya dengan rantai, memperlakukannya dengan kejam. Sekarang, seperti Allah, tunjukkanlah kemurahan hatimu. Kau selalu mengaku bahwa  kau sangat mencintaiku.
Lihatlah dia dengan mata cintaku. Biarkan cintamu melembutkan kebencianku. Aku akan mengabdi kepadamu sepanjang hidupku, dengan cinta dan kasih sayang. Jika kau mencintaiku, maafkan dia."
"Bisakah cinta berpengaruh dalam situasi seperti ini?" Aurangzeb bertanya perlahan.
"Pada saat-saat tertentu, cinta diperlukan untuk menjaga situasi. Cinta adalah hal yang paling rapuh, dan jika kita tidak memerintahkan orang lain untuk menghormatinya, cinta akan hancur menjadi debu. Cinta tidak bisa diperlakukan kasar."
"Jadi, kau akan menggunakan cintamu untuk menyelamatkan adikmu?"
"Apa lagi yang kumiliki? Aku tidak memiliki pasukan, aku tidak bisa menggunakan senjata. Aku adalah kakakmu. Aku perempuan lajang. Darah kita sama. Aurangzeb, saat aku terbaring sakit dan sekarat, kau pergi sejauh seribu kos untuk berlutut di sisiku. Itu adalah bukti kau mencintaiku. Buktikan cintamu sekali lagi untukku saat ini, ampuni Dara."
"Dan saat aku tiba di sisimu, ayahku memerintahkan aku keluar, bagaikan seekor anjing paria yang menyelinap ke dalam untuk mengendus-endus dan memohon sedikit kasih sayang. Aku tidak pernah menerima itu darinya. Apakah aku juga tidak patuh? Apakah aku tidak menuruti setiap perintahnya? Aku telah melayani ayahku lebih setia daripada yang pernah Dara lakukan, tetapi karena Dara tidak bisa melihatku, dia menghalangiku dan ayahku, seperti awan gelap yang    menyembunyikan    matahari    dari    mata
pemujanya.  Katakan padaku,  kakakku tersayang, siapa yang memohon ampunan bagi Khusrav?" "Ibu kita."
"Apakah itu menyelamatkannya?" Aurangzeb menatap mata Jahanara. Matanya sendiri tidak berkedip, melekat di wajahnya yang keras, bagaikan arang yang membara. Mata Jahanara kelabu dan digenangi air mata. Tatapannya goyah dan dia mengalihkannya.
"Apakah itu menyelamatkannya? Ibuku juga menangis, seperti yang kau lakukan saat ini. Apakah itu menyelamatkan Khusrav?"
"Tidak."
"Kalau begitu, mengapa aku harus menuruti permohonanmu saat ini? Taktya takhta. Itu adalah pertanyaan ayahku terhadap Khusrav-pilihan kejam bagi seorang pangeran yang buta. Dia tidak memiliki pilihan. Sekarang, aku tidak memberi Dara pilihan: makam adalah takdirnya. Saat kau melihatnya, ayahku akan ingat jika aku hanya menirunya." Senyum Aurangzeb yang tipis mencemooh Dara. "Apa lagi yang bisa dilakukan oleh seorang putra untuk menyenangkan ayahnya, selain meneladaninya?"
Aurangzeb menatap ke halaman lagi. Para prajurit telah mundur selangkah, melepaskan pegangan mereka terhadap Dara. Dia berdiri goyah tetapi tetap tegak, menatap berkeliling, saat ini menyadari siapa yang mengelilinginya: para prajurit, para pejabat, pelayan, budak, algojo, dan, di balik istana,     tanpa     kasatmata     hadir     beberapa
perempuan. Meskipun ada banyak sekali manusia, lalat-lalat yang berdengung di atas kepala mereka terdengar begitu jelas. Mereka hinggap, bergetar, terbang dan hinggap kembali, menyiksa ketidakberdayaannya. Akhirnya, dia mengangkat kepala untuk menatap saudaranya, di atas menara darwaza Lahore. Di sebelah kanannya, kakaknya Jahanara berdiri, tersedu-sedu, berurai air mata, dan tampak lusuh; di sebelah kirinya, Isa yang setia berdiri dengan sinar matahari yang memantul dari air mata yang mengalir di pipinya. Aurangzeb sendiri hanya terlihat seperti sesosok hitam yang menghalangi matahari. Dara mendesah; kerumunan bergoyang dengan tidak nyaman, dalam kepedulian yang hening.
Itu adalah suatu pertanda buruk. Tetapi, Aurangzeb mengabaikannya. Dia ingin menikmati, untuk menunjukkan dia gembira; kebencian tidak akan pernah bisa menghilang begitu cepat, dan tidak ada yang bergolak di hatinya. Perasaannya begitu membeku dan dingin, tidak mampu berdegup kencang dengan kepuasan karena kekalahan kakaknya. Dia tidak mampu mengenali Dara, tetapi hanya bisa melihat seorang asing yang baru saja memasuki hidupnya. Kepalan tangan Aurangzeb mengencang dan melonggar, seiring denyut nadinya. Dia tiba-tiba menyadari dengan jelas, bahwa dia membelenggu kakaknya dengan rantai, dalam kebencian, hanya sebagai sandera bagi cinta Shah Jahan. Kebenciannya bisa mengalahkan kebutuhannya   untuk   dicintai,   meskipun   rasa   iri
masih ada, masam dan pahit. Tetapi, ada sedikit emosi yang bercampur dengan kebenciannya yang menderu. Dia merasa nyaman dengan hal ini. Dia bisa mengampuni Dara, bahkan bisa membebaskannya. Semua bergantung pada kekuasaannya. Dia adalah sang Mughal Agung-bukan ayahnya. Semua akan dia lakukan, and ai saja ayahnya bersedia datang. Apabila Shah Jahan bisa datang dengan cepat ke sisinya, memohon seperti yang dilakukan oleh Jahanara, sekali saja merengkuhnya dengan penuh kasih sayang, sama dengan yang dia lakukan terhadap Dara, dia akan memberikan kehidupan bagi Dara. Anugerah kehidupan ini sudah cukup murah hati; Dara tidak akan pernah mendapatkan kebebasan, tetapi akan hidup terpenjara di balik dinding-dinding batu seperti adiknya, Murad.
Aurangzeb mengangkat tangannya.
Dara dibawa ke sebuah podium yang tinggi. Gajah yang terluka mendekat di sisinya dan Dara diangkat ke howdah yang terbuka, dirantai dalam posisinya. Di belakangnya, duduk sang algojo, pedangnya terangkat. Sang gajah berayun-ayun dengan goyah.
Para pejabat berjalan dengan membisu. Sang pengkhianat, Malik Jiwan, berjalan ke lapangan terbuka. Dia adalah seorang lelaki tinggi, berkilauan dan bersikap angkuh dengan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh Aurangzeb. Dia mengharapkan sambutan, tetapi terkejut karena keheningan yang mencekam.   Dia  ingin   naik  ke   darwaza  Lahore,
mencari kenyamanan di sisi Aurangzeb. Tetapi, sang Alamgir, Penakluk Jagat Raya-Aurangzeb menjuluki dirinya sendiri seperti nama pedang suci-menghentikannya dengan satu jari. Malik Jiwan mendekati gajah yang dihiasi dengan indah, kemudian menaikinya. Setelah dia duduk di dalam howdah, gerbangnya terbuka.
Dengan perlahan, dua hewan besar itu melewati gerbang dan menuruni jalan di antara dinding-dinding tinggi. Para prajurit menoleh sekali, kemudian memalingkan wajah mereka. Aurangzeb merasa tersinggung dengan sikap mereka. Apakah Dara, Dara tercinta yang lembut, telah memperlakukan mereka dengan berbeda saat mereka meraih kemenangan? Dia menatap kakak perempuannya. Jahanara membuang muka, ekspresinya sama datar dengan wajahnya sendiri. Gajah-gajah itu melewati gerbang kedua. Kerumunan di kedua sisi bergerak, desahan mereka terdengar bagaikan badai. Aurangzeb mendengar tangisan pertama, menyedihkan, ratapan yang menyayat hati. Tangisan itu mulai bergema di mulut setiap orang ketika Dara melewati mereka, menuju jalan-jalan sempit di kota yang tertutup tembok. Saat ini pasar-pasar kosong; perdagangan terhenti. Rakyat menangis dengan keras saat melihat pangeran mereka.
"Mengapa ayah kita tidak datang?" Aurangzeb menoleh ke arah Jahanara.
"Apakah kau akan mengampuni Dara jika bertemu dengan ayahmu?"
"Mungkin. Jika dia memohon kepadaku." Dia mengamati Dara menghilang di antara kerumunan. "Mengapa dia tidak mencintaiku seperti dia mencintai Dara? Apa yang kulakukan hingga dia menahan kasih sayangnya kepadaku? Atau, apakah itu keinginan ibu kita? Ya. Ibu membenciku."
"Kau tidak akan percaya kemampuannya dalam hal itu." Jahanara berkata datar, acuh tak acuh, terganggu oleh tangisan kerumunan yang semakin keras. Masa kecilnya telah dirusak dan dihancurkan, terbakar dan bernoda darah. "Ibu kita akan meratap seperti aku, jika melihat salah seorang anaknya menghancurkan yang lain. Dia mencintai kita begitu dalam."
Kerumunan meratap untuk Dara dan mengutuk Malik Jiwan. Lolongan kesedihan dan kemarahan terdengar di seluruh kota, begitu kuat, begitu mengancam. Tamasha terdengar semakin keras, mereka mendengar para prajurit maju, pedang yang memukul-mukul perisai, mendorong orang-orang agar mundur. Aurangzeb bergerak dengan gugup.
"Mereka ingin membunuh pengkhianatmu. Mereka akan menentangmu."
"Itu tidak akan terjadi. Mereka akan mengetahui siapa yang berkuasa, bukan Dara mereka yang lembut, tetapi aku!"
Dia memberi tanda.
Seorang prajurit berlari untuk membalikkan iring-iringan itu sebelum bergerak lebih jauh. Aurangzeb tidak takut kepada rakyatnya, dia takut kepada cinta mereka bagi Dara. Mereka tidak akan diizinkan
untuk menangis terlalu lama.
"Ayo, kita harus menyambut saudara kita setelah tur kemenangannya di Delhi."
Jahanara dan Isa mengikuti sang Sultan menyeberangi taman, menuju diwan-i-am. Aurangzeb naik ke podium di atas kerumunan orang, dan Jahanara kembali ke tempat tinggal terlindung para perempuan. Isa tetap berada di kejauhan. Para pejabat berkumpul di bawah langit-langit yang berpilar batu paras. Aurangzeb duduk di awrang emasnya, bersandar ke bantal-bantalnya.
mm
Lalat-lalat mengerumuni luka-luka di sisi tubuh sang gajah. Tidak ada yang membuat mereka bubar, meskipun gajah itu berjalan goyah, berayun-ayun, dan meskipun kerumunan meratap. Ketika bayangan gajah itu menimpa Gopi, dia mencium bau busuk, bau kematian; aroma menyesakkan dan jahat yang memenuhi lubang hidungnya. Dia menahan napas dan mendongak untuk melihat Pangeran Dara. Dia terkejut, karena sang pangeran juga memandangnya. Tatapan itu tidak berkilat karena kemarahan atau ketakutan, tetapi datar dan penuh perhatian. Dia seperti menilai sosok Gopi, dan Gopi merasa dia mendapat anugerah karena bisa diperhatikan oleh seorang pangeran; kemudian, tatapannya beralih, mencari wajah lainnya. Apa yang dia cari? Seorang penyelamat? Tidak ada yang bisa diharapkan dari kerumunan itu, hanya rasa iba dan air mata, dan kekuatan mereka semua tidak
sebanding dengan lapisan baja para prajurit kesultanan, perisai Aurangzeb. Tatapan Gopi mengabur dan dia juga mulai menangis. Betapa kacaunya nasib para pangeran dan rakyat mereka! Seperti semua yang melihat, dia menangisi Dara dan dirinya sendiri. Kekuasaan Dara tidak akan keras, tetapi lembut, penuh kepedulian, dan di atas semua itu, dia akan bersikap toleran terhadap banyak agama di tanah ini. Aurangzeb telah mengumumkan rencananya. Seperti Timur-i-leng, dia akan menjadi Pedang Tuhan. Dia akan menumpas orang-orang dengan sekuat tenaga; menghancurkan kuil-kuil dan gereja-gereja, dia akan membawa mereka semua kepada Allah. Kerumunan meratap karena masa depan mereka, mengetahui bahwa peristiwa pada hari itu akan bergema selama bertahun-tahun kemudian.
Para prajurit berbalik dan gajah-gajah itu berputar perlahan untuk kembali ke benteng. Ketika Malik Jiwan lewat, Gopi memungut segumpal kotoran hewan dan melemparkannya ke howdah emas. Lemparan itu mengenai sang pengkhianat, yang mengerutkan tubuh untuk menghindari sentuhan jijik dan kemarahan rakyat. Seorang prajurit kesultanan menusuk Gopi dengan gagang tombaknya, tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan pembangkangannya. Prajurit itu berjanggut kelabu, seorang lelaki yang agak gemuk, berkeringat karena kepanasan. Helmnya berkilauan, dan jalinan rantai penutup kepala yang menggantung tampak berkarat.
"Apa yang akan terjadi dengan sang Pangeran?"
Si prajurit memberi isyarat dengan mengacungkan telunjuknya ke leher. Gopi berkerenyit. Dia adalah seorang Acharya, pemahat dewa-dewa, dan kekerasan seperti itu membuatnya takut.
Sikap sang prajurit melunak. "Itu adalah karma mereka. Saudara membunuh saudara. Bagaimana bisa tidak, jika Shah Jahan membunuh abangnya sendiri, Khusrav? Aku adalah pengawal Khusrav dan melayaninya dengan setia, tetapi saat aku berada di Burhanpur untuk melindungi dirinya dari sang adik, aku gagal. Kenangan itu menghantuiku. Shah Jahan adalah pangeran yang pemberani saat itu, kemenangan bersinar di wajahnya ... hingga hari itu. Istrinya, Arjumand yang jelita, memohon dan meratap untuk keselamatan jiwa pangeranku Khusrav, tetapi Shah Jahan tidak mendengarkannya."
"Kau pernah melihat Permaisuri?" Gopi tidak percaya, seorang prajurit biasa pernah melihat wajah Mumtaz-i-Mahal.
"Ya. Sebentar. Dia memiliki mata yang sangat cemerlang, Temanku, dan saat matanya menatapmu, kau akan merasa terbakar. Matanya membuatmu memimpikan untuk memilikinya. Aku merasakan hasrat terhadap kecantikannya, dan hal itu membuatku takut."
Prajurit itu bisa mengenang sensualitas dan penderitaan sang Permaisuri. Gopi hanya bisa melihatnya sebagai sebongkah marmer yang dia pahat.
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Aku tidak tinggal untuk menyaksikan kematian-nya. Shah Jahan membebaskanku. Aku kembali ke desaku, Sawai Madhapur, tetapi tidak bisa menetap di sana lama-lama. Hujan tidak juga turun, dan daerahku sangat berdebu. Aku kembali untuk melayani Shah Jahan, dan sekarang melayani Aurangzeb. Tetapi, aku sudah terlalu tua, dan saat ini semua akan memburuk."
Kerumunan bubar dan para prajurit mengikuti komandan mereka kembali ke benteng. Gopi berjalan menyusuri pasar yang sepi. Keheningan mencekam menggantung di atas kota; tiba-tiba, kota itu terasa kosong.
Gopi telah menyusuri tepi Sungai Jumna ke arah Agra. Dia telah dipanggil ke Delhi oleh si lelaki tua, Chiranji Lal. Dialah yang membangun kuil Hindu di luar Agra, yang telah menugaskan ayahnya untuk memahat sang dewi, Durga. Saat ini, dia ingin agar Gopi memahat patung Durga yang lain. Mereka telah mendiskusikan hal itu, tetapi karena ketidakpastian situasi, belum ada keputusan yang bisa diambil. Saat ini berbahaya bagi umat Hindu untuk mereka membangun kuil lain, hukuman dari Aurangzeb pasti akan sangat keras. Mullah-mullahnya memata-matai rakyat yang berbeda keyakinan dengan ketat, diam-diam melaporkan, bahkan meskipun hanya melihat kedua telapak tangan yang ditangkupkan untuk berdoa. Gopi merasa lega karena dia telah lolos dari tugas itu.
Perjalanan ke Agra cukup lama. Dia mengikuti sungai, kadang-kadang berjalan kaki, dan jika bisa, dia menumpang kereta. Perjalanan itu memberinya waktu untuk berpikir. Dia merasa tidak nyaman dan tidak yakin. Dia yang bertanggung jawab akan adik-adiknya; hidup mereka, masa depan mereka ada di tangannya. Mereka bisa tetap tinggal di Agra, dia memiliki pekerjaan. Makam itu terus-menerus membutuhkan perawatan, perbaikan, sentuhan-sentuhan tambahan, gerbang-gerbang yang akan dihiasi marmer. Seorang lelaki dengan keterampilan pasti selalu bisa mendapatkan pekerjaan. Putri Jahanara sedang berencana untuk membangun sebuah masjid marmer raksasa di seberang Lal Quila. Tetapi, dia mengingat Aurangzeb menghancurkan patung Durga yang telah dengan susah payah dipahat oleh ayahnya. Dia merasa hidupnya sendiri terancam kehancuran. Dia memikirkan kampung halaman yang dia tinggalkan saat masih kecil, bertahun-tahun yang lalu, meskipun kenangan itu samar-samar. Dia bisa mengingat ladang-ladang, kedamaian, kenyamanan dari sebuah keluarga yang terlupakan. Di sana juga akan tersedia pekerjaan, meskipun tidak dibayar setinggi di sini tentu saja, setidaknya, di sana dia memiliki status. Di bawah kekuasaan Raja, dia akan memahat Lakshmi, Ganesha, atau Syiwa. Kemudian, Gopi merasakan kesepian yang mendalam. Usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi karena ibunya sudah meninggal, tidak ada yang bisa mencarikan pengantin untuknya. Calon istrinya, sudah pasti,
harus berasal dari kasta yang sama dengannya. Kesempatan seperti apa yang tersedia untuk menemukan satu keluarga Acharya di Agra? Selain itu, adik perempuannya juga menjadi beban. Usianya juga sudah cukup untuk menikah, dan lebih baik jika dia lebih cepat pergi ke rumah suaminya kelak.
"Kita akan kembali ke desa kita," dia berkata cepat kepada adik-adiknya saat dia memasuki gubuk mereka. "Aku akan meminta paman kita Isa untuk mengantar kita. Dia sudah tua dan saat ini, seseorang harus merawatnya."
Setelah membuat keputusan, Gopi merasa sedikit lega. Setelah makan siang, dia dan adik lelakinya menyusuri jalan setapak berdebu menuju Taj. Ketika mereka mendekat, makam itu semakin besar dan tinggi, dan saat mereka mencapai dindingnya, makam itu membuat mereka merasa kerdil, dengan kemegahannya yang dingin. Makam itu berkilau di bawah terik matahari, memaksa mereka untuk menutupi mata mereka dari cahayanya. Makam itu bergetar di udara, bagaikan terbuat dari sutra yang menggantung. Gopi berhenti, terkesiap. Selama bertahun-tahun, dia telah terbiasa dengan para prajurit yang menjaga monumen. Hari ini, monumen itu kosong. Dengan memindahkan prajuritnya, Aurangzeb telah membuat makam ini menjadi tidak penting. []
Kisah Cinta
1036/1626 Masehi
Isa
Jahangir mendekat mengamati kami. Dia sedang bersandar di awrang, wajahnya gelap karena bayangan podium. Aku melihat kilatan di matanya ketika dia membungkuk ke depan untuk melihat dua anak lelaki ini. Sudah empat tahun dia tidak melihat cucu-cucunya. Tampaknya dia ingin tahu dan begitu berharap, mungkin ingin mencari sosok Shah Jahan di wajah mereka.
Panji-panji sutra yang tergantung di diwan-i-am bergoyang diterpa angin sepoi. Para pejabat berkumpul di belakang pagar bercat merah cerah, bulu-bulu di turban mereka mengangguk-angguk dan bergoyang ketika mereka menoleh untuk melihat kami mendekat. Aku mendengar bisikan yang tidak jelas. Bagaimana Jahangir akan menyambut putranya yang bi-daulat? Dengan kebaikan hati atau dengan kekejaman? Di sebelah kanan podium, di belakang jali, aku merasakan kehadiran    Mehrunissa.    Jahangir    hanya    akan
bertindak berdasarkan keinginan Mehrunissa. Jika Mehrunissa berbicara: Kebaikan hati, maka itu akan menjadi keuntungan bagi kami. Dan jika tidak ....
Aku mencoba untuk mengetahui perasaannya sebelum memasuki istana bersama Dara dan Aurangzeb, tetapi tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku. Mungkin dia begitu murka akan ketidakpatuhan Shah Jahan dan keponakannya Arjumand-Arjumand, darah dagingnya sendiri, yang telah kabur bersama suaminya untuk memberontak. Dia telah mengharapkan persekutuan dari Arjumand, bukan permusuhan.
Gurz-bardar yang tampak serius mendekati pagar kayu dan membuka gerbang. Kami berjalan ke dalam, dengan kawalannya melewati pagar perak yang berisi para pejabat tinggi, kemudian masuk ke dalam sebuah pagar emas. Di sana, kami melakukan kornish kepada Mughal Agung Jahangir.
Setelah empat tahun perjalanan-ketidak-nyamanan, perlindungan yang buruk, kecurigaan, benteng-benteng aneh, dan kesulitan-kemegahannya bagaikan embusan dingin bagiku. Aku bisa mencium aroma dingin berlian, mutiara, dan zamrud, begitu manis dan ringan. Debu dan tanah, teman kami yang setia, telah tersembunyi di balik karpet-karpet sutra Persia, dan tulang belulang orang-orang di sekitar kami mengenakan baju yang berupa daging. Aku merasa debu seakan-akan masih mencekik kerongkongan kami dan tanah masih menyulitkan gerakan kami. Ketidaknyamanan itu hanya membuat kaku gerakan
kami, seolah-olah kami baru saja turun dari kuda setelah menungganginya dalam perjalanan panjang. Kami menyadari bahwa kami sedang menatap sekeliling istana Mughal Agung dengan penuh kekaguman. Dari batas terluar kesultanan hingga ke pusat, tatapan ke arah matahari sendiri dan perasaan hangat di dekatnya, merupakan perjalanan mental yang belum selesai. Pasti kami masih berada dalam impian dan ketika terbangun, kami akan menemukan bahwa diri kami sedang berada di Burhanpur, bersama Shah Jahan dan Arjumand.
Anak-anak lelaki itu berdiri berjauhan. Dara, yang berusia sepuluh tahun, lebih tinggi sekepala daripada adiknya, sikapnya lebih bangga dan lebih tegak daripada Aurangzeb yang berusia tujuh tahun. Dia juga tampak lebih tabah, terlihat wajahnya gemetar karena air mata yang akan tumpah, namun dengan seluruh kekuatan, dia menahannya. Mereka mengenakan pakaian khas pangeran, biru pucat dan turban hijau pucat dari sutra, masing-masing dengan berlian berukuran besar, takauchiya tebal dari kain sutra yang ditenun rapat dan sulaman benang emas mengelilingi pinggang mereka. Sandal mereka dihiasi bordir mutiara.
Perjalanan kami dari Burhanpur memakan waktu empat puluh hari, perjalanan lambat yang dikawal oleh Mahabat Khan. Meskipun mereka berdekatan, putra-putra Shah Jahan itu tetap saling membisu satu sama lain. Ada perbedaan ganjil pada kedua
pangeran kecil itu: mereka tidak memiliki kesamaan apa pun, kecuali penampilan fisik mereka. Aku mencoba mendorong mereka agar bisa bersahabat, karena mereka terlalu muda untuk bermusuhan, tetapi alam sendiri yang mengatur mereka menjadi bertolak belakang seperti begitu. Seperti Shah Jahan dan Arjumand yang saling jatuh cinta secepat kilat, Dara dan Aurangzeb secepat kilat dan secara insting-karena itu adalah bagian rahasia dari sifat alamiah kita-saling membenci. Dari kedua anak itu, Dara lebih ramah dan penurut. Dia juga berusaha untuk berteman dengan adik lelakinya itu, tetapi sikap dingin dan acuh tak acuh Aurangzeb segera membuatnya menyerah. Usahaku juga tidak mampu membuat mereka bersatu. Aku berpikir, mungkin mereka adalah reinkarnasi dua musuh lama, yang membawa kenangan lama ke dalam hidup masing-masing saat ini.
Dara adalah pangeran yang ceria; dia mudah tertawa dan menikmati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sifatnya lebih mirip Arjumand. Perangainya juga memiliki kelembutan dan kehangatan seperti ibunya, dan dia lebih merindukan Arjumand daripada Aurangzeb. Aku juga melihat sebagian sifat Shah Jahan pada dirinya, bahkan juga sedikit sifat Jahangir. Keingintahuannya tidak terbatas: bunga-bunga, hewan-hewan, kuil-kuil, orang-orang, misteri Tuhan dengan ciptaan-Nya, semuanya membuatnya tertarik. Dia sering memintaku menemaninya, karena aku memiliki banyak pengetahuan tentang  tempat-tempat  yang  kami
lalui daripada sang jenderal tua Mahabat Khan. Baginya, tanah ini adalah selembar halaman kosong yang harus ditulisi sejarah strategi, penaklukan, dan peraturan. Dara sering menghindar dari sang jenderal.
Sementara, Aurangzeb memiliki visi yang sempit tentang dunia. Dia adalah seorang bocah yang tabah, sering kali merasa betah sendirian dan menunggang kuda sambil membisu di sebelah sang Jenderal. Kadang-kadang, dia juga menampakkan sedikit keingintahuan, tetapi keingintahuannya itu hanya berupa sejauh mana gerakan para prajurit yang mengawal kami. Dia akan mendengarkan kisah-kisah menegangkan tentang peperangan dan penyerangan, tentang tuntutan dan strategi mundur, dan penaklukan negara lain. Saat jenderal berhenti bercerita, Aurangzeb akan meminta: lagi. Dia akan menunjukkan ketertarikan khas seorang bocah lelaki terhadap semua cerita itu. Tetapi, dengan cepat dia akan kembali berubah menjadi diam dan murung. Kadang-kadang, aku melihatnya sedang melirik penuh kedengkian terhadap kemegahan Mahabat Khan dan kemewahan pengawalannya. Meskipun itu dia lakukan secara diam-diam, ekspresi yang dia tunjukkan, meskipun dia masih kecil, terasa mengganggu. Seperti halnya semua Muslim yang taat bersembahyang lima kali sehari, dan saat Mahabat Khan menunaikan ritual ini, Aurangzeb melakukannya dengan khusyuk. Tidak ada yang bisa bergerak hingga sang pangeran menyelesaikan sembahyangnya. Karena kekerasan
hatinya ini, aku berkata: "Dalam peperangan, tidak akan ada waktu untuk bersembahyang, Yang Mulia." Aurangzeb menjawab dengan tegas: "Dalam peperangan, pasti selalu ada waktu."
Bahkan di istana pun, Aurangzeb menunjukkan ketidakacuhannya. Selama mereka menunggu tanda yang diberikan oleh sang kakek, Dara memandang berkeliling dengan tatapan senang-dia kembali ke dunia yang akrab setelah terasing sekian lama-tetapi Aurangzeb hanya menatap tanpa berkedip ke arah kakeknya.
Jahangir berdiri dengan kaku, seperti seekor singa tua yang berusaha menegakkan diri. Tidak ada yang bisa membantu, karena penguasa monarki itu duduk sendirian di podiumnya dan hanya ketika dia sampai ke tangga terakhir, seorang budak boleh melangkah maju. Dia telah menua dengan cepat dalam empat tahun ini. Waktu telah membuat wajah dan tubuhnya membengkak, membuat garis-garis keriput penuh kekhawatiran di pipi dan dahinya. Kulitnya telah menipis, memerah, dan matanya yang merah membara dengan lebih gelap. Dia bergerak perlahan, menyeret kaki kanannya, dan saat ini udara tampak lebih sulit untuk masuk ke dalam tubuhnya. Meskipun kami hanya beberapa langkah di hadapannya, dia berhenti dua kali untuk menghela napas, menariknya dalam-dalam, berdengung seperti alat mekanis yang telah berkarat. Tetapi, sang Mughal Agung tidak kehilangan sedikit pun kemegahannya. Emblem kesultanan di turbannya-susunan zamrud besar di
atas sebuah bros emas dengan berlian-mutiara di lehernya, gelang-gelang emas di lengannya, dan sabuk emas di sekeliling pinggangnya, semua menampilkan kebesarannya. Aroma parfum cendana menguar dari tubuhnya.
Dia berhenti di depan kedua cucunya. Wajahnya sedikit berubah ketika memerhatikan mereka dengan teliti seperti mengamati burung bangau yang pernah dia pelajari dengan teliti, meneliti perilaku mereka. Tangannya kaku, jari-jari bercincinnya tampak bengkok; dan bergetar bagaikan sedang mengalami demam.
"Siapa kau?" dia bertanya kepada Dara. "Dara, Paduka. Putra Pangeran Shah "Aku tahu putra siapa kau ini. Putra anakku yang bi-daulat." Dia mendesah dengan berat. "Seorang ayah harus membawa beban pengkhianatan putranya. Dalam usia tuaku, aku hanya mengharapkan kedamaian. Tetapi, aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku selama empat tahun ini untuk berperang melawan putraku sendiri. Ayahmu." Dia menatap Aurangzeb, mengabaikan tubuh kaku cucunya. Punkah bulu-bulu meraknya berayun-ayun di udara hangat, menerpa wajah kami. "Tapi aku senang karena dia sudah kembali berpikiran waras saat aku masih hidup. Kita mengalami kedamaian di kesultanan ini, tetapi karena dia dan ketidakpatuhannya, kita kehilangan Kandahar yang jatuh ke tangan bandit Persia itu." Tampaknya dia ingin menumpahkan amarahnya, tetapi segera menahannya karena menyadari acara
ini. "Itu adalah masa lalu dan kita harus menerima kehilangan itu, hingga kita bisa merebutnya kembali." Dia merentangkan tangannya dengan perlahan, seperti seekor elang yang membentangkan sayapnya yang kuat. "Ke sini."
Dara yang terlebih dahulu menyambut pelukan sang Sultan. Sultan mengecup kedua pipinya. Aurangzeb mengikuti dan juga menerima kecupan kakeknya. Para pejabat di belakang kami berteriak, "Shabash, shabash." Dalam teriakan mereka, aku bisa mendengar kelegaan. Jahangir, dengan perlakuan penuh kasih terhadap darah dagingnya sendiri, telah menunjukkan kepatuhannya terhadap hukum, apa pun yang disarankan oleh Mehrunissa. Mehrunissa bukan keturunan Timur.
Anak-anak lelaki itu didudukkan di atas karpet, dan para budak membawa mangkuk-mangkuk berisi berlian, zamrud, dan batu mirah. Jahangir membenamkan tangannya ke dalam batu-batu mulia itu dan menuangkannya kepada kedua anak lelaki itu. Seorang budak lain membawa dua bungkus pedang dari emas dan pulquar besi dengan pegangan bertatahkan perhiasan; masing-masing anak mendapatkan satu sebagai hadiah. Khandas yang sama indahnya juga diselipkan ke patkas mereka. Aurangzeb tidak bisa mengendalikan kegairahannya untuk memeriksa senjata itu, dan tanpa berpikir, dia mulai mencabut bilah pedang dari bungkusnya. Geraman para prajurit pengawal Sultan membuatku buru-buru menahan tangan Aurangzeb. Dia    memandang    berkeliling    dengan    terkejut,
perlahan-lahan menyadari fakta bahwa dia hanya berjarak sepanjang sebilah pedang dengan jantung kesultanan. Kapten Ahadi dengan perlahan mengambil senjata-senjata itu dan meletakkannya di luar jangkauan Aurangzeb.
"Bagaimana kabar putraku?" Jahangir bertanya kepadaku, mendongak ke atas kepala anak-anak itu.
"Dia mengirimkan cinta dan rasa hormatnya kepada Padishah, Yang Mulia."
"Mengapa dia tidak datang sendiri, kalau begitu?" Jahangir bertanya dengan kesal. Dia sudah lelah dengan upacara ini dan mulai menunjukkan perasaan tidak nyamannya.
"Yang Mulia, Pangeran Shah Jahan hanya ingin melayani Yang Mulia dengan seluruh kemampuannya yang terbaik, dan sebagai putra yang patuh, dia merasa tidak boleh meninggalkan posisinya."
"Burhanpur bukan daerah kekuasaannya. Itu daerah kekuasaanku. Dia harus pergi ke Balaghat." Dia terkekeh. "Itu adalah tempat menyedihkan bagi seorang putra yang paling menyedihkan." Dia mulai terbatuk-batuk, berusaha bernapas, hingga hakim terburu-buru maju untuk memberinya ramuan obat. Jahangir melambai untuk menyuruh kami pergi. "Bawa mereka untuk menemui Permaisuri sekarang. Aku akan beristirahat; meskipun tubuhku harus tetap berada di tempat ini, jiwaku mengembara di lembah-lembah Kashmir yang sejuk." Kemudian, dia menambahkan dengan tajam: "Aku hanya menyeret diriku sendiri ke sini untuk menyambut mereka."
Kami membungkuk dan dia mundur, bukan ke
podiumnya, tetapi ke gulabar yang terletak di taman.
mm
Mehrunissa menerima kami di istana Jahangir. Kami melalui halaman istana berbatu paras merah yang sangat indah untuk menuju ruangannya yang menghadap ke Sungai Jumna. Dia berbaring di dipan, punggungnya bersandar ke jali yang menyaring cahaya matahari dan angin dingin ke dalam ruangan. Dokumen-dokumen kenegaraan bertumpuk rapi di sisinya, dan di atas meja di hadapannya, ada Muhr Uzak. Muneer, yang semakin gemuk dan licik, kemakmuran posisinya tampak dari gumpalan-gumpalan lemak di tubuhnya, berdiri dengan sikap pelayanan berlebihan, tetapi penuh kecurigaan terhadap kami. Ketidaksukaannya terhadap diriku tidak bisa disembunyikan, dan aku bisa merasakan kemenangannya.
Meskipun Jahangir semakin tua, Mehrunissa tampak awet muda. Memang, matanya telah sedikit menggelap, tetapi kecantikannya masih tampak jelas. Rambut panjangnya yang hitam hingga ke pinggang belum dinodai uban, dan pinggangnya masih ramping. Kekuasaannya tergambar dalam sikapnya yang tegak, dan dalam keheningan itu, dia menunjukkan kekuasaan untuk merendahkan orang lain. Kekuatan adalah kebisuan, karena yang berkuasa tidak perlu bernegosiasi; mereka hanya perlu memerintah. Senjata itu diam-diam memberinya sebuah ketenangan.
Anak-anak membungkuk, dan seperti Jahangir, Mehrunissa mengamati mereka dari dekat. Mereka adalah sultan-sultan masa depan, jika Shah Jahan naik takhta setelah kematian ayahnya. Atau, apakah Mehrunissa menganggap putra dan cucu Jahangir sebagai pelarian yang gagal, yang harus disingkirkan. Dia masih mendukung klaim Shahriya dan masih memiliki ambisi untuk memimpin Hindustan, meskipun belum ada keturunan dari Ladilli. Dia memberi isyarat; kedua anak itu duduk. Muneer mengantarkan jalebis, mithai, dan lassi. Dara memilih makanan dari piring emas itu dengan penuh selera; Aurangzeb tidak mengacuhkan makanan-makanan manis itu dan hanya meneguk lassi. Diam-diam, mereka waspada terhadap posisi Mehrunissa, dan tampaknya lebih terpesona karena kecantikannya dibandingkan kekuasaannya.
"Bagaimana kabar Arjumand?" tanya Mehrunissa.
"Ini adalah waktu yang sulit baginya, Paduka. Perjalanan tanpa henti membuat kesehatannya tidak pernah membaik. Tetapi, dia baik-baik saja dan mengirimkan salam kepada bibinya."
"Salam?" Sebelah alisnya terangkat. "Shah Jahan mengirimkan  cinta   kepada  ayahnya;   Arjumand hanya    mengirimkan    salam   kepada    Permaisuri. Apakah dia marah kepadaku, Isa?"
"Saya tidak bisa mengatakannya, Paduka."
"Meskipun kau mengenal setiap sudut dalam jiwanya, bahkan lebih baik daripada suaminya? Kau selalu bersikap hati-hati dan terlalu bermoral, tidak seperti  Muneer yang  akan melakukan  apa saja
untuk mendapatkan bakshees. Ini semua adalah kesalahan Shah Jahan; dia memiliki anggapan sendiri terhadap semua peristiwa ini."
"Tetapi, bukankah Padishah ..." aku terdiam, menyadari bahwa aku benar-benar berbicara kepada Mehrunissa, "... telah mengambil kembali jagir Hissan Feroz dan memberikannya kepada Shahriya? Shah Jahan merasa dirinya dikhianati karena itu."
"Sebuah gelar, sebuah daerah-dia terlalu menganggap serius hal-hal itu."
"Sebuah kesultanan, Paduka, juga tidak lebih daripada sebuah gelar, sebuah daerah. Tapi, saat ini Pangeran hanya berharap bisa berdamai dengan Paduka."
"Apakah dia masih berusaha menggapai ambisinya?"
"Apa lagi yang akan dimimpikan seorang putra sejati seorang Mughal, Paduka Permaisuri?"
Dia tersipu: "Lidahmu yang licin hanya akan membuatmu kehilangan kepala. Shahriya juga adalah putra sejati Padishah, dan lebih patuh daripada Shah Jahan." Dia melunakkan cemoohannya dengan sebuah senyum manis. "Kesalahpahaman terjadi pada masa lalu, dan kami tidak bersekongkol melawan Shah Jahan. Kau harus menyampaikan itu kepadanya."
"Saya akan menyampaikan salam Anda ... dan ampunan Anda, Paduka."
"Kuharap dia akan menyimpannya dalam hati selama bertahun-tahun."
Tatapannya tidak menjadi goyah, tetapi dia ti-
dak bisa menyembunyikan perasaan tidak enaknya. Dia sudah merasakan sebuah perubahan dalam rencana lamanya, dan kendali kekuasaan sudah mulai lepas dari genggamannya. Saat ini sudah waktunya untuk berkompromi, untuk sedikit mengakui perubahan jaminan keamanan saat dia tidak lagi memerintah pasukan besar. Kami menatap kedua anak Shah Jahan. Mereka telah tertidur, terbaring kaku dan lemah, tidak berbeda dengan anak-anak lain yang kelelahan karena kemeriahan suatu acara.
"Mereka akan tetap aman." Pertanyaan yang tak terucapkan di antara kami ternyata dijawab oleh Mehrunissa. Kemudian, dia terdiam dan meneruskan.
"Aku juga akan mematuhi hukum Timurid. Apakah Shah Jahan juga?" Aku tidak menjawab. "Mengapa kau ragu-ragu menjawabnya, Isa? Apakah dia bukan keturunan Timur-i-leng juga, sebagai putra ayahnya? Atau, apakah hukum Timurid tidak berlaku bagi Penakluk Dunia?"
"Dia akan mematuhinya."
"Berdasarkan pernyataan seorang budak?" Dia mencemooh. "Arjumand tidak bisa menyelamatkan Khusrav. Mengapa aku harus percaya bahwa kau bisa menyelamatkan menantuku?" Dia bersandar kembali ke bantal-bantalnya. "Taktya takhta. Ada sifat presisi dalam kalimat itu, suatu pilihan yang tegas. Jika saja di antara kedua kata itu ada kata ketiga, yaitu kabur."
"Ada tempat pengungsian. Shahinshah akan selalu memberi perlindungan bagi putra-putra Mughal."
"Pengungsian. Selama berapa lama? Selamanya? Tidak, para pengungsi selalu kembali ketika bala tentara menyerang tempat perlindungan itu. Taktya takhta. Shahriya tidak memiliki ambisi menduduki singgasana, tetapi aku memaksakannya karena ambisiku sendiri. Dan saat ini, aku mempersembahkan makam kepadanya. Dia adalah seorang tolol yang lemah, terlalu mudah puas, terlalu kekanak-kanakan. Dia tidak akan memiliki kekuatan untuk memerintah kesultanan ini. Aku yang memilikinya."
"Tentu saja."
"Lidahmu, Isa-jagalah lidahmu. Aku masih seorang permaisuri, dan kau adalah seorang budak yang jauh dari perlindungan tuanmu."
"Seorang pelayan."
"Sama saja." Dia kembali berpikir-pikir; ambisi dan pengakuan. Kedua kata itu tidak berguna; aku akan meneruskannya kepada Shah Jahan. Dia sedang melakukan penawaran bagi nyawa Shahriya.
"Jika Shah Jahan yang menjadi sultan, Shahriya akan cukup puas dengan menjadi gubernur: Lahore, Punjab, sejauh mungkin yang Shah Jahan inginkan. Ladilli akan memastikan bahwa dia tidak akan meneruskan ambisinya untuk menaiki takhta." Cahaya dari jali menyinarkan pola samar di wajahnya. Sinar matahari begitu lembut, berubah menjadi warna keemasan yang pudar, dan mengubahnya dari permaisuri menjadi seorang perempuan yang semakin tua. "Ladilli mengirimkan cintanya kepada Arjumand.  Dia selalu mencintai
Arjumand, seolah-olah Arjumand adalah kandungnya sendiri. Dia terus-menerus berkata tentang Arjumand: 'Arjumand begitu kuat, Arjumand begitu berani.'"
"Saya akan menyampaikan salamnya kepada Yang Mulia Putri Arjumand."
"Cinta. Kau selalu mengacaukan pesan-pesan yang dititipkan padamu, Isa. Cinta." Dia tiba-tiba terdiam. "Betapa besar yang Arjumand bayar untuk cintanya! Anak-anak yang terus lahir, tahun-tahun penuh penderitaan. Dia bisa saja tinggal di sini dengan mudah, di sisiku, bukannya menjelajah seluruh penjuru negeri bersama . Shah Jahan itu." Dia tertawa dengan hampa. "Setidaknya, dia akan mendapatkan istirahat dari permintaan Shah Jahan yang tak ada hentinya. Aku sudah memberi tahunya bertahun-tahun yang lalu ... tapi tidak usah memikirkan hal itu. Dia pasti mengingat nasihatku. Karena cintanya, dia tidak mematuhinya. Bayi, kematian, bayi, kematian. Rasa sakit itu! Sekali saja sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak bisa menahan sakit, aku membencinya. Berbaring di sana, menjerit dan melolong bagaikan binatang liar. Untuk apa? Seorang anak."
"Dia pasti bertambah gemuk dan berat."
"Kecantikan sang Putri tidak berubah."
"Kesetiaanmu begitu berlebihan, Isa. Alam tidak pernah memperlakukan seorang perempuan berbeda dengan yang lain. Alam memperlakukan kami dengan kejam pada akhirnya." Dia melambai untuk menyuruhku pergi. "Cobalah untuk mengingat apa
yang kita bicarakan, Isa, dan sampaikanlah dengan akurat."
"Baiklah, Paduka." Aku mendekati anak-anak.
"Tinggalkan mereka. Saat mereka terbangun, aku akan menyuruh seseorang mengantarkan mereka ke kamar tidur mereka."
Arjumand
Aku merindukan Dara dan Aurangzeb; aku ingin sekali merengkuh mereka dalam pelukanku. Berbulan-bulan telah berlalu, dan seperti benteng-benteng yang berlubang, aku merasakan dua kehampaan yang menyakitkan dalam hatiku. Aku memang terhibur oleh kekasihku dan anak-anak yang lain, tetapi, setiap aku menatap wajah mereka, aku merindukan dua anak lelakiku itu.
Aliran air tenang Sungai Tapti yang melewati istana menyejukkan hatiku. Selama berjam-jam, aku memandangi air biru yang jernih dari balkon. Di bawah, orang-orang bekerja perlahan; para petani memandikan kerbau-kerbau mereka, hingga punggung kerbau-kerbau itu berkilau seperti batu; para perempuan memukul-mukulkan cucian mereka ke batu, bruk, bruk; anak-anak lelaki berkecipak dan berenang telanjang, tubuh mereka keemasan di bawah sinar matahari. Di arah utara, di tempat sungai berkelok, kuil-kuil kecil berwarna putih seperti titik-titik di tepi sungai. Mereka pasti telah berada di sana sejak zaman dahulu, aku menduga, dan pemandangan itu memberiku perasaan damai setelah  perjalanan   bertahun-tahun.   Di  seberang
sungai, sawah-sawah perlahan menanjak ke arah bukit-bukit berkabut di kejauhan.
Aku merasa tenang, tetapi Shah Jahan tidak. Dia merasakan bahwa sudah tiba waktunya untuk bergerak ke utara dan mengambil alih takhta, dan setiap hari dia memandang ke arah sana. Dia memasang orang-orangnya di celah-celah benteng Asigarh. Dari titik pengamatan itu mereka bisa melihat ke seberang bukit, ke arah Agra. Saat ini ada tujuan penantian kami. Perdamaian telah memperkuat posisinya: Shah Jahan bukan lagi bi-daulat. Ayahku mengirim pesan yang menyebutkan bahwa secara terbuka, para pejabat mendukung klaim kekasihku. Karena dukungan Mehrunissa, Shahriya menjadi tidak populer. Hanya Parwez yang masih menjadi calon kuat, tetapi dia tidak ingin menyaingi saudaranya. Hanya Shahriya, yang seperti Khusrav, telah tersentuh oleh impian kekuasaan yang tak terbatas. Ini memengaruhi semua yang ada dalam jangkauannya, seperti suatu wabah yang tidak bisa disembuhkan, karena Mughal Agung mampu untuk memerintah dunia. Kehormatan adalah racun yang memabukkan; ia membuat manusia semakin penting dan berpikir bahwa mereka adalah tuhan.
Aku tidak bisa mengendalikan keraguanku. Permaisuri! Betapa membebaninya gelar itu, betapa menyesakkannya posisi itu. Aku tidak memiliki keinginan atau kemampuan untuk memainkan peran seperti Mehrunissa. Aku akan lebih senang berada di Tapti-atau di tepi sungai yang lebih sejuk, karena
aku merasa musim kemarau di daerah ini tidak tertahankan-dan mengamati waktu berlalu dalam kenyamanan dan tanpa kelelahan. Jiwaku tidak lagi menginginkan untuk berperang, untuk memasuki intrik-intrik istana yang tanpa henti. Perjalanan kami telah memberiku perasaan bebas dari kecemburuan terselubung, para perempuan yang berdebat, peraturan istana; jika saja kami bisa tinggal di sini-tetapi aku tahu, itu tak akan pernah terwujud.
1037/1627 Masehi
Seorang pembawa pesan datang saat musim dingin. Dia dikawal oleh ribuan penunggang kuda dan Shah Jahan menerimanya di istana. Pesannya singkat: Jahangir telah wafat di Kashmir. Jiwanya akan tetap berada di pegunungan, dan jika bisa bernapas, dia akan merasakan udara bersih yang sejuk. Kekasihku memerintahkan dilakukannya seratus hari masa berkabung di seluruh kesultanan. Aku berdoa, semoga Jahangir menemukan kedamaian yang dia cari. Meskipun menangisi kematian ayahnya, kekasihku tahu bahwa dia harus bergerak cepat. Kami pergi ke masjid besar di Asigarh. Di sana, setelah membaca Quran, dia mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang sultan. Dia berdoa: "Ya Tuhan! Anugerahkanlah rahmat-Mu yang tak terhingga kepada keyakinan Islam dan penjaga keyakinan itu, dengan kekuasaan yang lama dan penghormatan mulia dari budak sultan, putra sultan, raja,   putra   raja,   pemerintah   dua   benua   dan
penguasa dua lautan, kesatria yang berjalan di jalan Tuhan, Sultan Abdul Muzaffar Shahabuddin Mohammed Shah Jahan Ghazi."
Dia hanya melakukan gerakan tubuh satu kali, dan tidak menyia-nyiakan waktu. Dia telah menyiapkan para pengikutnya, dan mulai bergerak ke utara menuju Agra. Perjalanan kami tidak lagi rahasia, kami melaju menyusuri daerah yang terhampar dalam perasaan kemenangan. Para raja, nawab dan umara, gubernur suba, semua datang untuk memberikan penghormatan kepada Mughal Agung Shah Jahan. Yang berkibar di atas gajah-gajah bukan lagi panji-panji kecil berwarna merah, simbol pangeran, melainkan
bendera-bendera simbol kesultanan.
Aku merasa diriku sedikit berubah. Daerah ini tidak mekar bagi kami, orang-orangnya masih malu-malu dan miskin. Keluarga-keluarga Adhivasi masih berlindung di bawah kerindangan pohon-pohon kering kerontang, mengamati kami dengan ketidakpercayaan seumur hidup mereka. Panasnya matahari tidak meredup meskipun sang Mughal lewat; sungai-sungai tidak berhenti mengalir. Aku adalah permaisuri, aku mengatakannya keras-keras kepada diriku sendiri dalam suasana paling pribadi rath-ku, seolah-olah ingin membangunkan diriku sendiri dari mimpi. Tetapi, Arjumand tetap terbaring, tidak berubah.
Meskipun Shah Jahan telah bersikap tegas, tantangan dari Shahriya masih tetap mengancam. Mehrunissa      berlindung      dan      bersembunyi,
memanipulasi menantunya, menyusun kekuatan pasukan, dan menabuh genderang peperangan.
mim
Shah Jahan
Untuk menggenggam tongkat kekuasaan, melaju di belakang bendera kenegaraan, bukannya di belakang ayahku, bagaikan merasakan getaran terhalus bumi ini. Perlakuan ini tidak kusukai, tidak kupercayai. Orang-orang itu yang meletakkan kepala di tangan mereka seolah sedang menyembah tuhan membuatku sebal. Aku harus segera menghentikan kebiasaan itu. Gerakan membungkuk sudah cukup bagiku. Itu adalah peraturan pertama yang kusahkan, dan karena perkataanku itu, semua orang di kerajaan ini berhenti melakukan kornish. Sebagai pangeran dan gubernur, aku tidak memiliki kekuasaan untuk itu. Saat itu, kata-kataku bukan hukum; ayahku selalu tampil di depanku. Saat ini, begitu adanya. Napasku, pikiranku, detak jantungku, sekarang tak terhingga nilainya. Tetapi, bersamaan dengan kekuasaan besar ini muncullah suatu perasaan yang mengiringi, kesendirian yang begitu sepi. Aku bergerak di dalam dunia yang terpisah dari makhluk hidup lainnya; mereka berada di sisiku, mengelilingiku, tetapi jarak di antara kami tidak terkira jauhnya. Teman-teman lama memandangku sebagai manusia baru. Apakah benar yang kulihat di wajah mereka? Rasa segan, ketakutan, kewaspadaan, pelayanan berlebihan? Sekali waktu, mereka pernah mendekatiku sebagai
teman, tetapi sekarang mereka menjaga jarak, bukan dariku, Shah Jahan, tetapi dari sang Mughal Agung. Bahkan Allami Sa'du-lla Khan pun berubah. Tindakanku yang kedua adalah menjadikannya Vakil-ku. Dia telah setia selama bertahun-tahun ini, dan aku percaya, dia memiliki kualitas yang Akbar anggap penting dari seorang perdana menteri: "Kebijaksanaan, kehormatan dalam bersikap, keramahan, keteguhan, kemurahan hati, seseorang yang mampu berdamai dengan semua orang, yang jujur dan berketetapan hati dalam hubungan antarmanusia dan dengan orang asing, tidak memihak kawan atau lawan, bisa dipercaya, cerdas, berpandangan jauh ke depan, terampil dalam berbisnis, layak mengetahui rahasia-rahasia negara, tidak membuang waktu dalam bertransaksi, dan tidak terpengaruh oleh begitu banyak tugasnya." Tetapi, bahkan dia, yang sekarang sudah menduduki posisi penting, saat ini menunjukkan perbedaan besar terhadap diriku.
Satu-satunya teman yang kumiliki, yang tidak menunjukkan perubahan terhadap diriku, tetap jujur dan transparan seperti air, adalah Arjumandku tersayang. Baginya, aku belum pernah menjadi seorang pangeran, dan saat ini aku bukan seorang sultan baginya. Aku adalah suaminya, kekasihnya, hatiku masih terjalin erat dengan hatinya. Cinta kami adalah kepercayaan; keduanya saling membaur seakan-akan disatukan oleh logam paling kuat. Aku tidak dapat bernapas tanpa kehadirannya; jika dia tidak ada, kesepian begitu
melanda. Kesepian itu tidak pernah merasukiku dalam-dalam, tetapi selalu mengancam dan membuatku khawatir saat dia berada di sisiku, pengap dan berat bagaikan suatu malam tanpa angin. Saat kami bergerak ke utara, sekali lagi dia adalah tempatku menemukan ketenangan. Tugas-tugas kenegaraan sudah menghabiskan banyak waktuku. Sebelum fajar, aku harus menunjukkan kehadiranku di jharoka bagi para pejabat dan rakyat. Tampilnya wajahku menunjukkan aku tetap memerintah dan hal ini membuat mereka nyaman. Sepanjang pagi kuhabiskan dengan pertemuan bersama para pejabat dan menteri, serta pembantu pemerintahan. Meskipun aku belum dilantik menjadi sultan hingga kami tiba di Agra, keyakinanku bertambah karena bukti dukungan mereka.
Tetapi, Shahriya masih terus menekan, dipanas-panasi oleh Mehrunissa. Bagaimana bisa Mehrunissa kehilangan tongkat kekuasaan? Hanya orang-orang yang pernah benar-benar kehilangan kekuasaan akan menikmati hal itu. Aku tidak bisa mengenyahkan ketidaknyamananku. Dahulu, Khusrav yang mengancam, saat ini Shahriya. Aku harus bertindak cepat, karena jika tidak, kesultanan akan menjadi tidak stabil oleh peperangan, dan tidak akan ada perdamaian hingga salah satu dari kami menang.
"Asingkan dia," Arjumand memberi saran, sambil membelai lenganku. Kami duduk berdua di kharghah-nya setelah makan malam. Para pelayan
sudah disuruh pergi dan dia menuangkan anggur. Itulah saat-saat yang paling kunikmati, bersandar di sampingnya, di atas dipan, mendengarkan suara jangkrik. "Perintahkan penangkapannya, kemudian asingkan dia." Dia begitu murah hati, tidak seperti rasa dendamku, dan aku menerima kepeduliannya itu.
"Tapi, dia akan kembali. Jika aku adalah Shahriya, aku juga akan melakukannya. Aku akan mengumpulkan kekuatan pasukan dan bersiap untuk berperang. Bagaimana seorang lelaki bisa memalingkan wajah dan hatinya dari kesempatan untuk menjadi Mughal Agung? Ini adalah singgasana paling kaya di muka bumi."
"Kalau begitu, penjarakan dia selamanya." Arjumand mencari-cari jawaban di wajahku dan dia terlalu mudah menyimpulkan. "Tapi, kau tidak akan begitu, iya kan? Dia idiot dan para pengikutnya akan segera meninggalkannya. Tunggu sebentar saja, ambisinya akan mati."
"Bukan ambisinya yang kutakuti, tetapi ambisi Mehrunissa. Baginya, semua ini tidak akan berakhir. Aku hanya bisa menghancurkan kekuasaannya dengan ...."
"Tidak, Sayangku. Biarkan Shahriya. Ini bukan kesalahannya. Darahnya adalah darahmu dan darah Khusrav, itu akan menodai hidup kita sekali lagi."
"Jika Khusrav masih hidup, seperti apa situasi saat ini? Pengklaim takhta lain, lebih banyak perang? Perebutan takhta akan melemahkan kesultanan ini."
"Dia adalah keluarga kita."
"Kekuasaan tidak memiliki sifat kekeluargaan."
Meskipun terdengar kasar, aku benar, dan Arjumandku merasa sebal mendengarnya. Dia mundur, seolah-olah aku telah menusuknya. "Jika aku menunjukkan belas kasih terhadap Shahriya, semua pangeran baru yang sombong akan memberontak terhadap kekuasaanku. Mereka akan berpikir bahwa Shah Jahan tidak memiliki keberanian."
"Biarkan mereka berpikir seperti itu. Lalu, hancurkan mereka. Tapi, tugas seorang raja adalah untuk menjadi ayah bagi rakyatnya."
"Aku juga telah membaca nasihat kakekku," kataku tajam. Seorang raja juga harus memiliki hati yang teguh, agar semua pemandangan apa pun yang tidak dia setujui tidak akan membuatnya goyah, begitu Akbar menulis. "Shahriya melakukan pengkhianatan terhadapku, sang Padishah, dan harus mati."
Aku telah mengatakannya. Itu adalah sebuah hukum. Aku mengamati dan menunggu, tetapi Arjumand tidak berusaha lebih lanjut untuk mendebatku. Kekuasaanku membuatnya takut, meskipun aku tidak menginginkan itu. Tetapi, singgasana dan diriku harus terlindung. Kekuasaan seorang raja adalah pertunjukan kekuasaan Tuhan, seberkas sinar matahari yang menyinari jagat raya. Aku mengenakan kiyan khura yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada para penguasa. Hal itu tidak bisa diganggu-gugat.
Arjumand tidak bisa mengerti. Melalui kecintaannya kepadaku, dia telah mencurahkan semua ambisinya. Pada saat beberapa perempuan di harem mempraktikkan perdagangan, mengumpulkan kekayaan; yang lain merengek-rengek meminta jagir besar atau hadiah yang hebat, tidak ada yang dapat memuaskan permintaan mereka Arjumand justru seperti seorang sanyasi, dia hanya memiliki sedikit kebutuhan. Kebutuhan
mendasarnya-makanan, minuman, cinta-sudah cukup terpuaskan. Seorang raja tidak bisa menolak untuk mengagumi kekayaan spiritual itu, tetapi tugasnya tidak mengizinkannya untuk merengkuhnya. Dia mungkin cemburu terhadap kesederhanaan seorang manusia suci, karena beban seorang raja begitu berat, tetapi dia tidak bisa meninggalkan tugasnya untuk mengembara seperti biri-biri. Aku tidak pernah bisa meniru tindakan Gautama. Siddharta adalah seorang pangeran kerajaan, suami dari istrinya, ayah dari anaknya, dan dia meninggalkan tugas-tugasnya untuk menjadi seorang petapa. Dia mengkhianati istrinya, anaknya, tugasnya, bebannya. Apakah memang dia harus dibebani oleh masalah kekuasaan? Sudah pasti, seorang Buddha akan membelanya, dan berkata: "dia menjadi 'Yang Tercerahkan'", tetapi aku tidak bisa menerimanya. Apa yang lebih dibutuhkan oleh dunia: lebih banyak dewa atau raja yang lebih baik?
Arjumand memerhatikan wajahku yang penuh pikiran.   Intuisi,   keajaiban   perempuan,   kekuatan
yang    lebih    besar   daripada    kekuasaan    raja, mengatakan   kepadanya   bahwa   aku   tidak   akan tergoyahkan. Dia telah meneteskan air mata bagi Khusrav, tetapi kali ini dia tidak menangisi Shahriya. "Kau sudah berubah."
Wajahnya tetap berada di dalam bayangan gelap, berpaling; aku mendengar kesedihannya. Aku bergerak keluar dari ruangan terang, cahaya kuning menyinari kesendiriannya, mengubahnya menjadi berwarna keemasan dan misterius. Hatiku tergerak oleh wajahnya yang muram. Aku ingin menyentuh bibir, mata, dan pipinya, merasakan kelembutan kulitnya, tetapi saat aku menggerakkan tangan, dia menjauh.
"Bagaimana aku bisa tetap menjadi seorang anak lelaki yang pertama kali melihatmu di Pasar Malam Bangsawan Meena bertahun-tahun yang lalu? Dunia ini tidak membeku. Waktu tidak bisa ditahan, kita tidak bisa mengubahnya menjadi keabadian. Aku bukan anak lelaki, dan kau juga bukan anak perempuan lagi. Aku adalah seorang sultan, aku harus berubah. Aku memiliki tugas, aku memiliki kekuasaan. Anak lelaki itu tidak akan mampu memerintah; sementara lelaki dewasa ini bisa. Kehidupan membuat hati dan pikiran kita semakin keras. Dan karena tindakan kita sendiri, kita bisa mengubah kehidupan dan nasib rakyat. Jika kita hanya rakyat jelata, sudah pasti kita akan menjalani kehidupan sederhana dan tanpa masalah. Tapi, itu bukan takdir kita." Kepalanya tertunduk, terbebani   oleh  kata-kataku,   rambut  panjangnya
yang berkilauan menyentuh dipan. "Apa yang kau inginkan?"
"Saat ini tidak ada; sudah terlambat. Kita bukan lagi anak-anak. Kau adalah Sultan, aku Permaisuri. Kesempatan apa yang kita miliki untuk melepaskan itu semua? Mungkin aku juga akan berubah dalam beberapa tahun lagi. Itu bukan keinginanmu, tapi kau berkata, kita tidak dapat menjalani hidup tanpa tersentuh dan terpengaruh oleh aksi orang lain. Tapi, cintaku padamu tidak akan pernah berubah. Cintaku tidak bisa dicuri, tidak bisa dikotori, dan mungkin, karena kekuatannya sendiri, aku akan tetap menjadi seorang anak perempuan yang kau lihat untuk pertama kalinya." Dia meraih tanganku dan mencium punggung tanganku, bagaikan akan berpisah. "Tinggallah di sini malam ini."
Aku bangkit. "Aku akan kembali."
"Jangan. Kalau begitu, jangan malam ini. Aku tidak ingin mimpi masa lampauku kembali. Mimpiku terbuka selapis demi selapis-pertama darah, dan seraut wajah yang tidak kukenal keluar dari balik kabut."
Aku tidak kembali kepadanya malam itu. Aku mengirimkan pesan kepada ayahnya di Lahore. Itu adalah keputusan ketiga dalam masa pemerintahanku: Hukum mati Shahriya dan anak-anak lelakinya. Aku tidak ingin dihantui oleh balas dendam anak-anaknya, karena dalam hukum Muslim, mereka bisa meminta keadilan dari istana bagi kematian ayah mereka. Aku tetap terjaga. Taktya   takhta.   Bisakah   seorang   raja   menaiki
singgasananya tanpa meninggalkan jejak kaki berupa darah? Hanya jika dia beruntung, dan putra satu-satunya. Aku bersumpah untuk memastikan, jika saatnya tiba, aku akan mengendalikan nasib putra-putraku sendiri. Mereka tidak akan menumpahkan darah saudaranya.
Pada hari yang sama saat kami mencapai Agra, Shahriya tewas, bersama dua putranya. Aku tidak bertanya bagaimana itu dilakukan; perintah sultan sudah dipatuhi. Negara ini hanya memiliki seorang raja.
Kota Agra menyambutku. Lelaki, perempuan, anak-anak, para pejabat dan pengemis, para prajurit, berbaris di jalanan. Aku bergerak di antara mereka, mabuk karena keriuhan suara mereka-Zindabad, Padishah, Zindabad-irama genderang dan musik yang begitu ceria. Kelopak bunga ditaburkan kepadaku dan aku menebarkan koin-koin emas bagi orang-orang yang menghadiri perayaan dan bergembira. Aku melewati darwaza Hathi Pol di Lal Quila, turun dari tungganganku, dan mencium tanah. Lebih dari empat tahun sudah berlalu sejak terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di dalam benteng ini. Aku memandang berkeliling, mencari perubahan, tetapi hanya ada sedikit perubahan. Dinding-dinding batu paras merah tua istana ini masih menjulang ke langit biru terang di atas. Bagaimanapun, tamannya semakin bertambah indah. Ini adalah keinginan ayahku, dan dia telah banyak melakukan perubahan dengan pelebaran dan penambahan   bunga-bunga,   mencurahkan   banyak
waktu untuk merawat mereka.
Di diwan-i-am, para pejabat kesultanan telah menunggu. Aku melihat kehadiran Karan Singh di antara mereka, berkilauan dengan perhiasan dan emas, berdiri di belakang pagar merah terang. Sisodia Mewar tampak puas dengan posisiku. Dengan kekuasaanku, kekuasaannya pasti akan bertambah. Dia akan membungkuk, tetapi aku merangkulnya. Tersembunyi di balik pilar, di kejauhan, Mahabat Khan bersembunyi. Bukannya tidak berani, tetapi posisinya telah ditentukan di luar keinginannya. Dia telah menua; janggutnya telah berubah warna menjadi kelabu dan bagian bawah matanya semakin cekung, tetapi wajahnya masih menampakkan martabat seorang komandan.
Beberapa bulan yang lalu, ada peristiwa ganjil yang melibatkan dirinya dengan ayahku. Tidak adanya tugas yang harus dikerjakan selalu mengubah pikiran untuk melakukan kekacauan, dan Mahabat Khan, yang tidak lagi ditugasi memburuku, termakan oleh hal itu. Karena kegilaan atau kebosanannya, dia memasuki perkemahan ayahku, lalu menahannya. Kemudian, dia menangkap Mehrunissa, membawa mereka berdua ke tendanya, dan menyandera mereka. Tidak ada yang mengetahui apa yang dia inginkan. Dalam sehari itu, dia memegang kekuasaan kesultanan di tangannya, tetapi Mehrunissa mencoba kabur. Dia mengerahkan pasukan Mughal dan seorang diri memimpin mereka untuk melawan Mahabat Khan. Bahkan sebagai seorang jenderal pun, Mehrunissa bisa menang; dia
membunuh beberapa orang dalam skirmish, tetapi aku mengira bahwa Mahabat Khan tersadar kembali, lantas meninggalkan medan perang. Aku bersumpah, aku akan mengungkap peristiwa ini lebih lanjut.
Dia tidak gemetar atau mundur saat aku berjalan ke arahnya dengan sengaja. Aku berhenti selangkah darinya; sorot matanya tidak melemah, meskipun aku melihat kesedihan. Aku mengingat tangan kuatnya di tubuhku yang memandu tanganku yang kecil dalam permainan pedang, mengangkat perisai beratku lebih tinggi, dengan tegas memberikan instruksi tentang ilmu peperangan kepadaku. Aroma tubuhnya masih sama: keringat, debu, bubuk mesiu, logam, bercampur darah. Aku tahu, diam-diam dia berkata: Insya Allah. Jika aku memerintahkan kematiannya, dia akan mengalami hal itu. Dia membungkuk; aku menerimanya.
"Yang Mulia tampak sehat," dia berkata, dan tidak bisa menahan diri untuk menambahkan: "Tidak diragukan lagi, akulah yang membuatnya tetap berada dalam kondisi seperti ini."
"Ya, memang begitu." Aku menepuk perutku. "Perjalanan melelahkan tidak membuatku lembut dan gemuk seperti seorang perempuan. Apa yang kau inginkan?"
Dia menatap, mencoba membaca pikiranku, dan dengan lega merasakan beban masa lalunya terangkat. Dia tidak bisa mengira, ke arah mana timbangan akan berayun.
"Aku adalah seorang jenderal tua. Sejak muda,
aku melayani kakek dan ayahmu. Aku hanya akan menjadi seseorang yang kau perintahkan. Aku menunggu perintahmu."
"Kalau begitu, pimpinlah pasukanku, Sobat Tua. Aku tidak bisa menyangkal jika selama empat tahun kau tidak pernah memberiku kedamaian sedikit pun. Tapi, jika kau membangkang perintah ayahku, aku tidak akan menghormatimu. Kau bisa melayani sultan ketiga dengan kesetiaan yang sama seperti yang telah kau berikan kepada dua sultan sebelumnya." Aku lalu berbalik: "Dan kau harus menjelaskan kekacauan yang kau lakukan nanti."
Dia tersipu. Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang begitu malu. Aku mengira bahwa dia tidak memiliki penjelasan, dan masih kebingungan terhadap tindakannya yang ganjil. Manusia selalu menemukan misteri terbesar dalam tindakannya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyeberangi pagar emas dan menaiki tangga menuju podium. Podium itu sempit dan gelap, seperti peti mati. Tirai-tirai dan pilar-pilar ini dimaksudkan untuk menjaga sultan dari pengamatan seseorang yang mengancam. Aku meletakkan pedang di sisi tubuhku dan merendahkan tubuhku untuk duduk di awrang. Ini adalah tempat duduk kakekku, sebuah mebel sederhana yang ditutup oleh emas tempa dan dihiasi oleh batu-batu mulia. Bentuknya setengah lingkaran dan dibuat rendah, tidak benar-benar merefleksikan kekuatan dan kemegahan Mughal Agung. Seperti matahari, benda
ini seharusnya memancarkan sinar kekuasaan; tetapi, benda ini merunduk bagaikan katak yang merendahkan tubuh. Chatr di atas kepalaku terbuat dari emas padat, dihiasi oleh berlian. Langit-langit dari perak tempa samar-samar memantulkan para pejabat yang sedang berkumpul, dan atap kayunya tampak lapuk. Benda ini akan diubah.
Aku menatap ke bawah: baris demi baris wajah mendongak. Seiring ketinggian yang semakin berubah, pemandangan berubah. Dunia telah mengerut; aku telah membesar dalam kemegahan, dan aku menatap jiwa-jiwa manusia. Awrang terasa nyaman; aku bersandar ke batalnya dan merasa seluruh jiwaku terserap ke dalam jiwa kekuasaan negara ini. Tetapi, aku juga merasakan kesendirian yang suram dan tidak bisa dicegah. Di sebelah kiri maupun kanan, aku tak menemukan teman; tawa telah menghilang dan keheningan menggantikannya. Aku memandang para pejabat yang berkumpul, diam-diam mencari kehadiran Arjumand di balik jali; kupikir, aku melihat wajahnya dari balik bayangan dan kehadirannya yang samar itu membuatku merasa nyaman. Di bawahku, berdiri putra-putraku: Dara, Shahshuja, Aurangzeb, dan Murad. Mereka menatap penuh kekaguman, kemudian membungkuk dengan canggung. Bahkan aku pun tidak bisa merengkuh mereka: mereka tidak diizinkan untuk melangkah ke podium. Dara dan Aurangzeb telah tumbuh-mereka telah meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki masa remaja. Dara menatapku dengan penuh kasih sayang-perpisahan
kami telah membuatnya tertekan-tetapi wajah Aurangzeb dingin bagaikan batu.
Aku adalah Pemerintah Dunia yang sesungguhnya.
Formalitas itu masih terus berlangsung: pembacaan Quran di masjid, Durbad dan pemberian dukungan kepada diriku. Upacara ini menghabiskan waktu seminggu. Para pangeran dan pejabat mendatangiku, membawa hadiah-hadiah tak terhingga harganya, yang akan memenuhi ruang harta karun. Isinya sudah luber; tidak ada yang bisa menghitung kekayaan yang tersimpan di ruangan-ruangan di bawah harem. Setiap hari aku menatapnya, darah dan otot kesultanan, darah dan ototku sendiri. Bagaimana kekayaan seperti ini tidak bisa membangkitkan nafsu manusia?
Seorang sultan tidak boleh melupakan teman, perbuatan baik, atau musuh, dan aku memiliki banyak orang yang harus diingat. Setiap orang diperlakukan dengan adil. Aku memberikan posisi Mir Saman bagi ayah Arjumand, dan memanggil Mehrunissa untuk menghadapku di Agra. Dia datang dengan ragu-ragu. Arjumand dan aku menerimanya di harem secara pribadi, duduk bertiga saja di balkon.
Malam itu, sebelum dia datang, aku menghadiahi Arjumand dengan benda yang paling berharga yang bisa dihadiahkan seorang sultan kepada orang kepercayaannya. Dia menerima kotak emas itu dengan ragu, dan membiarkannya tergeletak di pangkuan saat tatapannya mencari wajahku.
"Bukalah." "Apa ini?"
"Kau akan melihatnya." Dia masih terdiam. "Itu adalah jantungku, tentu saja. Apa lagi yang bisa kuberikan kepada permaisuriku?"
Dia mengintip ke dalam, menyangka bahwa itu adalah sebuah batu mulia, kemudian mengerutkan wajah dan perlahan-lahan menyingkirkan benda berat itu.
"Aku melihat benda ini di meja Mehrunissa bertahun-tahun yang lalu. Saat aku menyentuhnya, dia marah."
"Kau akan menyimpan Muhr Uzak. Itu adalah simbol kekuasaanku, dan kepercayaanku. Kau akan mengimbangi keputusanku dengan kebaikan hati dan cintamu; kau akan menjadi penyeimbang ketidakadilanku, jika aku terbutakan oleh keserakahan."
Dia memegangnya sebentar, kemudian menyerahkannya kepadaku. Logam menjadi hangat karena sentuhannya.
"Kau adalah raja, Sayangku, bukan aku. Aku tidak ingin memerintah seperti Mehrunissa. Aku tahu, kau akan bersikap baik dan murah hati terhadap rakyatmu, seperti yang telah kau lakukan selama bertahun-tahun ini kepadaku."
Aku membuka telapak tangannya dan mengembalikan segel itu kepada pemegangnya. "Seorang sultan membutuhkan kendali. Kau harus menjadi penuntunku untuk menunjukkan kebaikan dan keburukan."
"Jika kau menginginkannya. Dan ..." dia menambahkan dengan suram, ". jika kau mendengarkan."
"Pendapat dan suara merdumu akan membuatku mendengarkan."
Dia meletakkan Muhr Uzak di meja emas di samping dipan. Benda itu ada di sana, dalam jangkauannya, bukan jangkauanku. Mehrunissa segera melihat segel kenegaraan itu-lebih berharga dan berkuasa dibandingkan emas atau pasukan-tetapi dia tidak menampakkan rasa malu, hanya sikap menyerah. Dia menerima kekalahan dan menunggu perintahku.
Aku membeku. Tahun-tahun penuh kesulitan selama ini, dan lebih buruk lagi, hilangnya cinta dan kepercayaan ayahku, telah ditebarkan olehnya. Memang, ayahku juga salah; untuk mendapatkan cinta Mehrunissa, dia memalingkan wajah dariku, tetapi aku tidak bisa menyalahkan dirinya. Mehrunissa telah memanfaatkan kelemahan ayahku untuk ambisinya sendiri, dan aku menjadi sangat menderita. Dia juga, yang telah memindahkan beban kekuasaanku ke dalam kehidupan Shahriya. Seberapa sering, selama empat tahun terakhir ini, aku telah mengutuk nama Mehrunissa? Setiap aku berdoa, aku selalu menyebutnya racun hatiku, dan saat ini aku tidak bisa menatapnya tanpa kebencian di mataku.
Arjumand segera bangkit dan memeluk bibinya. Dalam dirinya ada pengampunan. Arjumandku tampak lebih  tua,  tubuhnya  menggemuk karena
bertahun-tahun sakit dan melahirkan anak, wajahnya kusam karena kelelahan. Tetapi, bagiku dia tetap saja lebih cantik.
"Yang Mulia," Mehrunissa membungkuk. Dia langsung menyadari bahwa dia akan terlindung dari badai di balik lindungan keponakannya. "Aku datang untuk memberikan penghormatan sepenuh hati kepada Mughal Agung. Kuharap, tentu saja, bisa tetap di Lahore untuk meratapi kematian suamiku, ayahmu, tapi aku harus mematuhi panggilanmu."
Dia duduk di sebelah Arjumand, mendesah dalam kesedihan, meskipun kesedihannya sama sekali tidak mengurangi kecemerlangan pakaian dan perhiasannya.
"Aku hanya berharap bisa melihat wajah ayahku sebelum kematiannya. Aku tidak bertemu dengannya empat tahun ini."
"Insya Allah," dia menjawab dengan datar. "Dia sekarang sudah berada dalam kedamaian. Satu-satunya keinginanku hanyalah kembali ke Lahore dan membangun sebuah monumen bagi kebesarannya."
"Tidak lebih?"
"Kita bisa mendiskusikan masalah-masalah itu nanti," Arjumand mengalihkan kemarahanku. "Bagaimana kabar Ladilli? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia berduka," Mehrunissa mengungkapkan setiap kesempatan untuk menyalahkanku dari kalimat itu. "Dia sangat mencintai Shahriya, dan kematiannya sangat memengaruhi Ladilli."
"Kau menikahkan Ladilli dengannya hanya untuk
mendapatkan kekuasaan."
"Apakah kau menyalahkanku?" Kilatan semangatnya telah kembali. "Aku tidak bermaksud untuk tetap menjadi seorang perempuan lemah yang konyol, menghabiskan waktu dan energinya di dalam haram. Menghitung perhiasan, mengoleskan wewangian di tubuhku, menunggu suamiku mengunjungiku selamanya-itu bukan kehidupan yang kuinginkan. Ayahmu hanya terlalu senang untuk memberikan itu padaku ...." Dia menunjuk Muhr Uzak. "Dia berkata: 'Lakukan apa yang kau inginkan.' Dia hanya ingin menikmati hidupnya sendiri. Beban kenegaraan membuatnya lelah dan mengganggunya dari kenikmatan yang dia dapatkan dari melukis dan, tentu saja, minum-minum. Pikirannya telah melemah. Aku tidak bisa membiarkan kesultanan ini terpecah-belah karena ketidakpeduliannya. Aku memerintah semampu yang kubisa. Kau mengerti kekuasaan sebagaimana diriku. Aku tidak mendapatkannya dengan mudah. Apa pengaruhnya bagiku saat ini? Aku hanya akan menjadi sebatang lilin yang berkelip-kelip sepanjang malam yang sepi, tanpa ada yang menyadari cahayaku."
Mehrunissa menunggu tanggapan dariku. Keheningan membuat otot-otot wajahnya berkerut. Aku menatap Arjumand. Aku akan melakukan apa pun yang dia inginkan. Dia melingkarkan lengannya dengan penuh belas kasih di sekeliling bahu Mehrunissa.
"Bibi   akan   membangun  makam   besar  untuk
Jahangir.   Dan   makam  itu  akan   sama  indahnya dengan yang Bibi bangun untuk kakekku." Jadi, aku memaafkannya.
Ada hal lain yang tidak bisa kulupakan. Aku memanggil Mahabat Khan ke diwan-i-khas keesokan paginya.
"Kau kuperintahkan untuk pergi ke hutan yang mengelilingi Mandu dan mencari seorang rakyat jelata bernama Arjun Lal, jika dia masih hidup. Jika kau menemukannya, sampaikan salam dari Sultan Shah Jahan, dan katakan ini: 'Shah Jahan tidak melupakan kesetiaannya, dan sebagai ungkapan terima kasih, Shah Jahan akan mengembalikan tanah miliknya, dan dua kali besar tanah yang dia miliki sebelumnya. Sejak hari ini, dia akan hidup dalam kedamaian di kesultanan ini."
Wazir menuliskan perintah ini, dan satu perintah lain: "Kau harus memimpin dua puluh ribu prajurit ke Bengal. Di tepi Sungai Hoogli, kau akan menemukan sebuah benteng feringhi. Kau akan menghancurkannya hingga rata dengan tanah, dan yang tidak gugur dalam pertempuran harus kau bawa ke istana sebagai tahanan. Satu, hanya satu orang, yang ingin kutemui. Seorang pendeta dengan janggut merah, berwarna seperti wortel. Dia hanya akan hidup hingga aku melihat wajahnya.
Wazir menuliskan perintah-perintahku ini. Arjumand membubuhkan segel resmi kenegaraan itu pada keduanya.[]
24
Isa meratap. Air matanya berkilauan di bawah sinar matahari, mengaburkan wajah orang-orang, serta mengubah istana marmer dan batu paras menjadi bentuk yang mengerikan. Keheningan ini begitu mencekam. Relief-relief manusia yang membeku mengelilinginya-para prajurit, pejabat, pangeran, dan sang Sultan. Dan seorang pangeran, terpisah, bagaikan terpahat dari sebongkah batu yang lain. Dia memandang ke sekelilingnya dengan ekspresi penyesalan. Dia telah merasakan kematiannya sendiri, mengetahui bahwa segalanya yang bisa dia lihat akan menghilang. Apakah manusia yang meninggal, ataukah dunia ini yang mati? Manusia nyaris tidak bisa mengetahui dengan pasti tentang kematian. Saat Dara meninggal, dia akan menghilang dari pandangan kami. Atau, apakah itu adalah suatu pikiran yang arogan? Apakah kami yang menghilang dari pandangan Dara? Teka-teki itu sedikit mengobati hatinya yang sakit. Ini adalah suatu pengurangan, tetapi apa yang dikurangi, dari
Taj Mahal
1069/1659 Masehi
apa? Jika satu jiwa kembali ke Brahma, itu bersifat abadi, sementara dunia ini tidak abadi. Kalau begitu, kami semua yang dikurangi, bukan manusia yang mati. Kesimpulan ini tidak bisa membuatnya merasa lebih enak. Semua manusia dari semua keyakinan mencari keselamatan: semua kepercayaan bergantung kepada hal itu. Kami semua mencari keselamatan, tetapi tidak ada buktinya, dan kami percaya karena memang diwajibkan untuk percaya.
mim
Keheningan membuat sang Sultan merasa gelisah, dan Aurangzeb menatap wajah-wajah muram itu. Dia melihat kesedihan, tetapi tidak bisa mengerti bahwa dia adalah sumber kesedihan itu. Dia adalah seorang pahlawan; dan di sana berdiri seorang penjahat. Tetapi, keheningan memutarbalikkan posisi mereka, dan entah bagaimana, udara juga seakan-akan mendukung siasat ini. Dia tenggelam dalam pikiran buruk-jika dia yang berada di dalam belenggu rantai itu, wajah mereka akan terlihat gembira. Dia telah mengadili Dara dengan seadil-adilnya. Sultan adalah bayangan Allah, Pedang Tuhan. Dara telah gagal. Dia telah menampilkan belas kasih terang-terangan kepada umat Hindu. Dia berdosa. Kematian telah menunggu.
Insting Aurangzeb berkata bahwa darah tidak bisa ditumpahkan di depan umum. Perasaan kerumunan orang itu tidak stabil, kemarahan di sekelilingnya hampir meledak; setetes darah saja
akan mengakibatkan banjir. Dia tidak menatap Dara. Tetapi, dia memberi isyarat untuk membawa tahanan pergi. Para pengawal mendorong Dara menuju penjara bawah tanah istana. Para algojo mendongak; Sultan mengangguk.
mim
Di bawah istana, udara terasa dingin. Angin bertiup dari Sungai Jumna. Dara bisa mencium aroma debu dan air. Dia merasakan kelegaan alamiah dari hawa panas yang telah menerpa punggungnya sepanjang pagi. Tangga menuju ke bawah ini tidak berakhir juga. Ketika mereka turun lebih dalam, suasana semakin gelap, api berkobar dengan lebih terang. Begitu jauh dari sinar matahari, waktu seakan-akan berhenti berdetak. Sebuah ruangan batu, berlantai tanah, dan sebatang kayu. Dara mengalami kesendirian yang menyedihkan dan sepi. Dia melihat wajah ibunya dengan sangat jelas, seperti yang dia lihat saat masih kanak-kanak, dari bawah, ketika dia berbaring di pangkuannya. Wewangian ibunya menyelimuti tubuh Dara, seperti mawar yang beraroma musk. Mereka mendorong wajahnya hingga menempel ke tanah, kepalanya di atas balok kayu itu. Dara mencari lagi kenyamanan bahu ibunya, yang tertutup oleh rambut hitamnya yang panjang. Tak!
mim
Tak,  tak,  tak.   Shah Jahan  mendengarkan  para
perempuan yang mencuci membanting-banting cucian mereka ke batu. Kerbau-kerbau berkubang dan menenggelamkan diri ke sungai. Jantungnya melonjak, bagaikan sebuah busur yang ditarik oleh tangan tak kasatmata. Dalam keremangan sinar matahari dan debu, Taj Mahal bergelombang; hanya kubahnya yang masih tampak nyata, disangga oleh udara hampa. Dia mengerang: Arjumand, Arjumand, memanggil kekasihnya untuk keluar dari marmer kukuh itu dan datang ke sisinya. Arjumand sering kali datang, pada malam hari. Shah Jahan bermimpi, kekasihnya itu bersandar ke tubuhnya, menyembuhkan kesepiannya. Dia biasanya terbangun saat itu, dengan kepala tertunduk, seolah-olah tadi dia mengecup tulang bahu Arjumand. Tubuh, dia kemudian meminta, menginginkan kenyamanan di ranjangnya yang sepi. Para perempuan telah menunggu panggilannya, mengetahui kebutuhannya, dan berbaring di sebelahnya. Tetapi, saat dia memanggil-manggil, bukan nama mereka yang dia sebut.
mm
Isa berbalik. Seorang prajurit memanggilnya. Seorang lagi berdiri sambil membawa sebuah mangkuk emas yang berkilauan di tangannya, bagaikan sebuah bola api.
"Apa yang ada di dalamnya?"
"Kami ingin segera bertemu dengan Shah Jahan."
"Paduka," Isa mengoreksi, tetapi para prajurit itu tidak   memerhatikan.   Negeri   ini   hanya   memiliki
seorang Yang Mulia-Aurangzeb. Isa tidak memberikan izin untuk masuk, tetapi mereka langsung masuk ke dalam Saman Burj. Shah Jahan sedang bersandar di dipannya, di sebelah pagar marmer, memandang keluar, punggungnya bersandar ke pilar, bayangannya terperangkap oleh sudut-sudut tak terhingga dari berlian-berlian yang dipasang di dinding kamarnya. Dia tidak menatap para prajurit itu, tetapi menatap mangkuknya. Ketakutan membayang di wajahnya, tatapannya beralih. Dia membuang muka, dan Isa langsung tahu apa yang ada di dalam mangkuk besar itu.
"Pergilah." Dia bergerak cepat dan mendorong para prajurit itu. Sebilah belati menyentuh lehernya, ujung pedang menempel di dadanya.
"Siapa kau, berani-beraninya memerintah kami? Padishah Aurangzeb mengirimkan hadiah untuk ayahnya. 'Di sini terbaring cinta dan jantung hatinya', kata Padishah."
Seorang prajurit membuka tutup mangkuk.
Mata Dara menatap dengan kosong.
Gopi melangkah dengan hati-hati melalui gerbang, ke dalam sinar matahari yang terik. Taman itu tampak sepi, tak ada seorang pun yang menjaga makam. Dia menatap kanal sempit yang panjang; air tidak memancar di kolam air mancur. Citra putih berkilauan terpantul di air gelap. Dia mendengarkan dengungan lemah serangga-serangga dan tidak bisa mendengar suara manusia; mereka berada jauh, di
seberang sungai, di balik dinding-dinding tinggi. Dunia telah memejamkan matanya; makam ini adalah miliknya. Dia ragu-ragu ketika mencapai bayangan gerbang. Dia berhenti, masih bersiap terhadap sesuatu yang menghadang, kekuasaan brutal para prajurit kesultanan yang menyuruhnya mundur. Dia tidak percaya, dia bisa ada di taman, menatap keindahan ini-taman yang hijau dan disirami, semak-semak mawar, bunga-bunga lily kana, dan bunga-bunga marigold. Bagi Muslim, marigold adalah bunga kematian. Jumlah bunga itu sangat banyak dan warnanya sangat beragam. Di taman juga berbaris segala jenis pohon: mangga, limau, siprus. Siprus juga tampak di ukiran makam; pohon khas Timur.
Gopi berjalan menyusuri jalan setapak di samping kolam air mancur, menatap bayangannya bergerak dalam citra yang samar. Bangunan makam menjulang saat dia mendekat. Dari kejauhan-dia hanya pernah melihatnya dari balik dinding-bangunan ini tidak memiliki kemegahan semacam ini. Ketika dia masuk ke dalam bayangannya, dia merasakan keajaiban. Keindahannya bagaikan ilusi, diciptakan untuk memberikan efek kerapuhan. Makam ini menjulang di atasnya, dan dia meregangkan leher untuk menatap ke atas kubah. Dia tidak mampu lagi menatapnya ketika mendekati suatu landasan tiang dan terburu-buru menaiki tangga menuju pintu. Ukiran-ukiran marmer merentang tinggi di atasnya. Di sebuah sudut lengkungan,  lebah-lebah sudah
membangun sarang yang hitam dan besar. Gopi mendorong pintu perak itu hingga terbuka, dan melihat jali.
Dari pagar, Gopi memandang. Cahaya tersebar melalui marmer berpola garis dan lengkung di jendela barat, disamarkan, dan diredupkan. Cahaya itu menimpa jali dan mengubah tekstur asli batu menjadi sesuatu yang rapuh, transparan, terang, hingga batu itu sendiri berubah menjadi sumber cahaya. Dalam kegelapan, Gopi berpikir, marmer itu akan bersinar karena sumber cahayanya sendiri. Pola-pola yang dihias di situ: dedaunan dan bunga-bunga, berwarna merah, hijau, biru, berkilau bagaikan cacing-cacing pendar yang menerangi taman pada malam hari. Berdasarkan instingnya, Gopi mengetahui panel mana yang telah dipahat ayahnya, yang telah menghabiskan banyak waktu melelahkan dalam hidupnya. Dia tertarik oleh jali itu, jari-jarinya meraba marmer yang dipoles, menyentuh setiap bagian bagaikan meraba tubuh perempuan, mencoba meraih ayahnya melalui batu dingin itu. Kesedihan melanda Gopi: ayahnya menciptakan keindahan seperti ini, tetapi tidak pernah bisa menatap dan menciumnya.
Akhirnya, dia melihat sarkofagus di dalam. Dengan hati-hati, dia masuk melalui pintu dan berjalan mengitari bongkah marmer, tetapi tidak menyentuhnya. Dia tidak bisa mengerti perilaku aneh kaum Muslim: mereka membangun monumen bagi orang mati, sementara tubuh mereka fana, tidak berharga setelah kematian. Dia mendongak,
menatap lampu emas yang tidak menyala, kemudian menatap kubah besar. Dia mendesah karena kemegahannya, dan suaranya bergema lembut, seolah-olah meledeknya. Saat ini Gopi merasakan kedamaian, mengetahui bahwa dia memiliki banyak waktu untuk menjelajahi bangunan ini. Karena menghormati aura makam ini, dia melangkah tenang dan perlahan-lahan mengelilingi ruangan ini, memerhatikan pola cahaya, terpukau oleh begitu dahsyatnya pembangunan makam ini. Di setiap ruangan, dia bisa memandang jali ayahnya dari jendela. Sekarang dia memilikinya, akhirnya, setelah bertahun-tahun ini. Jali itu adalah hasil karya ayahnya, juga hasil karya Gopi sendiri. Masa kanak-kanaknya telah terpaku dalam pahatan ini, bersama masa kanak-kanak yang lain, kehidupan, dan kematian-adik-adiknya, ayahnya, ibunya. Jiwa mereka juga ada di dalam makam ini, bersama orang lain yang jumlahnya tak terhingga, yang telah bekerja selama bertahun-tahun untuk mewujudkan suatu keindahan dari bumi.
Gopi menyentuh dinding-dinding ruangan, ujung-ujung jarinya membelai berlian, ruby, zamrud, dan mutiara yang tersusun menjadi bentuk bunga, semua bernilai sangat tinggi.
Tiba-tiba, dia menyadari bahwa dia kemari untuk mengucapkan selamat tinggal. Keberanian untuk memasuki makam ini, ketakutannya yang menekan akan hukuman, telah menghilang karena hasrat ini. Dia tidak tahu apa yang harus dia hadapi, dan dia berharap,   saat   ini   semua   akan   tetap   menjadi
misteri. Selama bertahun-tahun ini, dia membayangkan makam ini kosong bagaikan cangkang kerang, tidak terisi oleh kemegahan seperti ini. Bagaimana dia bisa pergi? Bagaimana dia bisa kembali ke sebuah desa yang sulit dia ingat, dua ribu kos di selatan? Dia tidak bisa meninggalkan jiwa ayah dan ibunya. Tidak, dia menetapkan hatinya sendiri. Ini adalah makam yang tidak bisa dia tinggalkan. Dia merasakan kebutuhan makam ini akan keterampilannya, dan kebutuhan dirinya sendiri akan keindahan makam ini.
Gopi berjalan ke luar, menuju terik matahari, menuruni tangga dan menyusuri jalan setapak menuju gerbang. Dia tidak menoleh ke belakang. Dia tenggelam dalam pikirannya; hidupnya harus berubah untuk menyisakan ruangan bagi cinta barunya. Dia tidak bisa kembali ke sekelompok orang asing itu-pasti saat ini dia akan menjadi orang asing di desa kecil yang terletak di tengah sawah-sawah hijau. Dia memiliki keluarga di sini, adik lelaki dan perempuan, dan seorang paman-jauh, tetapi menyayanginya. Dia akan tetap tinggal. Dia tidak akan pernah lupa bahwa dia seorang Acharya. Itu adalah identitasnya, profesinya, dan, jika dewa-dewi mengizinkan, dia akan menemukan seorang perempuan dari kastanya sendiri untuk dinikahi, seorang istri untuk Ramesh, dan seorang suami untuk Savitri.
Dia kembali ke posisinya di luar dinding, di bawah bayangan sebatang pohon peepul. Kemudian, seperti   yang   telah   dilakukan   oleh   ayah   dan
kakeknya, Gopi berkontemplasi di depan sebongkah marmer. Marmer itu berbentuk kubus, panjang sisi-sisinya tiga puluh sentimeter. Dia memejamkan mata, melihat sebentuk dewa dalam batu tersebut-bukan Durga, tetapi Ganesha, dewa keberuntungan, ilmu pengetahuan, dan kekayaan.
mm
1076/1666 Masehi
Tahun-tahun berlalu; debu dan usia terus membebani. Istana tampak seperti reruntuhan magis tembok-tembok masif Lal Quila. Bangunan itu tampak terabaikan, kecuali titik-titik cahaya yang tersebar di relung-relung marmer pada malam hari; juga, kecuali para prajurit yang menjaganya, tidak mengizinkan siapa pun masuk. Tugas mereka ringan; kesultanan ini sudah melemah, kericuhan sudah mereda, dan hanya keheningan serta beberapa sosok yang masih menghantui istana.
Shah Jahan dimakamkan di bawah marmer dan sinar matahari. Dia telah merindukan kematiannya sendiri; kehidupan semakin terenggut dari seluruh tubuhnya, mengerutkannya menjadi sebuah eksistensi yang samar. Setiap hari, Isa membacakannya Ain Akbari atau Babur-nama, dan kadang-kadang, Shah Jahan akan mendengarkan Isa membacakan surat dari Sultan, putranya sendiri. "'Aku berharap bisa mendapatkan penilaian baik darimu,'" Isa membacakan, '"dan aku tidak tahan jika kau mengambil kesimpulan yang keliru dari diriku. Seperti yang kau bayangkan, naiknya
aku ke atas singgasana membuatku menjadi kurang ajar dan bangga. Kau tahu, berdasarkan pengalaman lebih dari empat puluh tahun, betapa membebaninya sebuah mahkota itu, betapa sakit dan sedihnya hati ini, ketika seorang penguasa mundur dari muka publik. Tampaknya, kau berpikir, seharusnya aku mengurangi waktu dan perhatianku terhadap persatuan dan keamanan kesultanan ini, dan akan lebih baik jika aku memikirkan dan memutuskan rencana-rencana untuk menambah kekuasaanku. Sebenarnya, aku sama sekali tidak menyangkal bahwa penaklukan harus dilakukan untuk menekankan kekuasaan suatu monarki yang agung, dan aku setuju, aku seharusnya merasa tindakanku akan mempermalukan darah Timur yang agung, leluhur kita yang terhormat, jika aku tidak berusaha memperluas batas-batas negara saat aku berkuasa. Tetapi, di sisi lain, aku tidak bisa disalahkan untuk kelalaian yang memalukan itu. Kuharap kau mengingat, tidak semua penakluk terbesar selalu merupakan raja paling agung. Bangsa-bangsa di bumi ini sering kali dikuasai oleh kaum barbar yang nyaris tidak beradab, dan penaklukan paling besar dalam beberapa tahun yang singkat ini telah hancur berantakan. Raja yang paling hebat adalah ia yang menetapkan tujuan utama hidupnya untuk memerintah rakyatnya dengan adil."
"Aku tidak ingin mendengarkan surat-suratnya!" Shah Jahan berseru karena tersinggung. "Surat-surat   itu   hanya   mengingatkan   kembali
kenangan yang telah terlupakan. Aku sudah tua. Seharusnya dia mengenyahkanku dari pikirannya, seperti dia menyingkirkanku dari kehidupannya."
"Dia meminta maaf, Yang Mulia," Isa berbicara dengan lembut.
"Dariku? Delapan tahun telah berlalu, dan dia masih memohonkan ampun dari seorang pria tua untuk seorang sultan? Untuk apa ampunanku?"
"Yang Mulia tidak pernah memberikan ampunan."
"Bagaimana aku bisa? Dia membunuh dua putraku, memenjarakan seorang lagi. Bagaimana seorang ayah bisa memaafkan? Katakan padaku, Isa. Putra-putra Arjumand terbaring dalam makam mereka; suaminya terkurung dalam penjara ini. Tidak akan pernah ada ampunan dariku."
Isa tidak mendebat lagi. Setiap kali, semua sama saja. Kata-katanya tidak pernah didengar. Jahanara juga, yang begitu menyayangi ayahnya, tidak akan pernah memaafkan.
Segera setelah menerima sepucuk surat, Shah Jahan akan menuju Masjid Mina. Jika dia memohon kematian Aurangzeb, itu tidak terkabul. Jika dia memohon kematiannya sendiri, itu pun tidak terkabul. Waktu terus berjalan, seiring dia mendengarkan musik, makan, minum, bercengkerama dengan budak-budak perempuan setiap malam. Hasratnya tidak berkurang-tubuh, aroma wewangian, dan kelembutan mereka membuatnya senang. Kenikmatan bisa sedikit menghibur jiwanya yang sepi.
Kemudian, suatu hari, saat Isa datang untuk
membangunkannya, doa itu telah terjawab. Shah Jahan terbaring di dipannya, menatap ke luar, ke arah warna merah jambu pucat matahari terbit yang bersinar lembut di kubah Taj Mahal. Isa menutup mata Shah Jahan, perlahan-lahan mengecup pipi montoknya, dan memeluk jenazah sultannya. Setelah puas dengan perpisahan pribadinya, dia memanggil Jahanara.
Dia datang pada malam hari, saat pemakaman selesai. Shah Jahan terbaring di samping Arjumand, tertutup sebuah bongkah marmer sederhana. Kegelapan menyelimuti pusat makam itu. Isa menghirup aroma dupa dan menghancurkan kelopak mawar yang masih tersebar di lantai. Dia membungkuk dan mencium batu dingin tempat Arjumand terbaring. Bibirnya tetap melekat di batu itu, berubah pula menjadi dingin, air mata mengalir dan jatuh ke batu marmer. Entah berapa lama dia berada di sana untuk membelai makam itu. Tiba-tiba, dia menyadari cahaya lentera, dan suara langkah sesosok manusia. Dengan cepat, dia mundur ke sudut.
Isa mengenali sang Sultan di dalam cahaya kuning lentera. Aurangzeb berdiri diam, menatap kedua makam itu. Dia meletakkan lentera di bawah, merunduk ke arah makam ibunya. Dia meletakkan dahinya terlebih dahulu di batu dingin itu, kemudian bibirnya. Dia melakukan ritual yang sama di makam ayahnya. Ketika berdiri dan berbalik, dia melihat Isa.
"Apakah aku membuatmu terkejut, Isa?"
"Tidak, Yang Mulia. Anda adalah anak mereka."
Cahaya lentera terangkat ke atas, menyinari wajah Aurangzeb. Sudah bertahun-tahun Isa tidak bertemu dengannya. Matanya bersinar terlalu terang, berkilat dengan kesedihan. Sebelum cahaya meredup, Isa menyadari juga rasa kesepian yang melanda wajah setiap penguasa tertinggi negeri ini.
"Aku melihat wajah ayahku untuk terakhir kali— dia tampak tidak bertambah tua."
"Yang Mulia beruntung. Dia tidak melihat wajah Yang Mulia."
"Apakah itu kesalahanku? Hidupnya adalah gaung dari masa lalu. Dia pun tidak melihat wajah ayahnya."
"Kalau begitu, kesalahan itu sudah terkubur di dalam makam ini."
"Kesalahan! Aku tidak harus memilih jalan yang berbeda. Aku menumpas saudara-saudaraku dengan alasan yang sama dengannya. Tapi, dia menyalahkan dan mengutukku karena perbuatanku itu. Itu tidak adil."
Kemudian, dengan suara yang lebih rendah, dia melanjutkan: "Tapi, aku tidak mencabut nyawanya; juga nyawa Murad. Saat itu, aku bertanya-tanya, apakah jika ibuku masih ada, semua akan berbeda?"
"Mungkin? Apakah Anda akan mendengarkan suara ibu Anda memohon ampunan bagi Dara?"
"Mungkin, tetapi kami sudah ditakdirkan terlibat konflik ini seumur hidup. Keseimbangan cinta-insya Allah." Dia mengambil lentera itu. "Dan kau, Isa?"
"Aku mencintai kalian semua, Yang Mulia. Tidak ada yang kuperlakukan berbeda."
"Kau tidak memanfaatkan apa pun dari kami, tidak seperti banyak orang lain. Aku akan menjagamu hingga akhir hayatmu."
Saat sang Sultan pergi, Isa kembali ke dalam perenungannya. []
25
Arjumand
Rasa sakit itu mulai terasa lagi dalam bulan pertama pemerintahan kekasihku. Perasaan itu menusuk, seperti biasanya, tanpa peringatan, dalam cahaya pucat lembut saat fajar, berputar-putar dan menanti di dalam perutku sepanjang malam gelap. Aku tidak tahan memikirkan seorang anak lagi. Kali ini, ia berada di dalam tubuhku, terasa berat bagaikan sebongkah batu gelap dan kusam, membebani jiwaku. Selama berhari-hari, aku tenggelam dalam perasaan kacau, seakan-akan aku hidup dalam sebuah mimpi buruk. Aku terbaring kaku dalam ruangan gelap, bahkan tidak mampu untuk melihat tubuhku sendiri. Aku mendengar suara-suara mendesis, bisikan-bisikan yang tidak bisa kukenali di balik dinding-dinding kamarku.
Yang membangunkanku dari kegelapan adalah sentuhan kekasihku, kecupannya di bibirku. Aku melihat wajahnya, penuh kekhawatiran, matanya merah dan mengantuk. Aku tersenyum, mencoba
Kisah Cinta
1037/1627 Masehi
menghilangkan beban rasa bersalahnya. Dia telah meminta kehangatan tubuhku pada hari pelantikannya sebagai sultan di Agra. Dia tidak bisa disalahkan untuk hasratku sendiri. Tetapi, aku masih merasa lemah karena tatapannya, dan darahku mengalir deras karena sentuhannya. Kami telah menahan diri selama berbulan-bulan, tetapi pada malam itu, percintaan kami adalah bagian dari perayaan yang tidak terkendali.
"Hakim telah menyarankan agar kau beristirahat dan tidak bergerak," kekasihku berbisik. "Tidak ada yang boleh mengganggumu."
Aku tidak bisa menahan kekecewaanku. "Berapa lama aku menunggumu naik takhta? Dan saat ini aku tidak bisa menikmatinya, harus terus berada di kamar sakit ini siang dan malam."
"Kau akan segera sembuh."
"Sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat. Itu adalah seumur hidupku. Aku merasa bagaikan .." Aku tidak bisa mengatakan firasat burukku yang tergantung di hatiku, bagaikan cadar yang tak bisa tertembus.
"Apa?"
"Tidak. Aku merasa tidak ada yang berubah. Aku masih menjadi putri, aku masih kecil dan terlindung."
"Tapi, kau bukan lagi Putri Arjumand Banu. Sekarang kau adalah permaisuri jantungku, jiwaku, dan kesultanan ini. Kau adalah Perempuan Terpilih dalam Istana."
"Itu adalah nama yang cantik. Mumtaz-i-Mahal. Tapi, lidahku terasa ganjil untuk menyebutkan nama
itu. Biarkan orang lain memanggilku begitu, Sayangku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang selalu sama bagimu-Arjumand. Aku masih perempuan yang sama."
"Apa pun keinginanmu, Sayangku." Dia mengecupku, kemudian berdiri. Aku merasa dia memudar dari pandanganku, dan aku merasa khawatir. Tetapi, aku menahan lidahku. "Tapi, sejak saat ini, dunia akan mengenalmu sebagai permaisuriku, Mumtaz-i-Mahal."
Betapa anugerah itu tidak bisa dinikmati. Nama itu menghilang dari ingatanku saat aku terbaring membeku dalam hawa panas yang membebani. Setelah dimandikan oleh pelayanku, disuapi dan diperhatikan oleh Isa, aku mengutuk anakku yang belum terlahir ini karena telah menyulitkan diriku. Ia terbentuk di dalam tubuhku, membuatku tidak bisa menikmati kedamaian atau istirahat, dan aku berbaring jam demi jam, hanya bisa mendengar dan melihat samar-samar semua orang yang mendatangiku.
Mungkin, ia mendengar kutukanku. Tuhan meng-ampuniku. Aku merasa, pada suatu dini hari, ia mulai lepas dari tubuhku, seperti sesosok jiwa yang terbang meninggalkan cangkangnya di dunia. Aku tidak berteriak; darah tidak bisa dibendung, dan dalam menit-menit yang berlalu, aku merasakan tubuhku menjadi ringan, membuatku melayang, seolah-olah jiwaku juga lepas dari tubuhku. Baru pada saat itu, ketika dengan kukuh aku berpegangan ke tubuhku, aku berteriak. Isa datang,
melihat darah di dipan dan segera berlari memanggil hakim. Dia memberiku ramuan untuk membuatku tertidur, dan menghentikan pendarahanku dengan tumbuhan herbal. Aku tertidur selama berhari-hari, dan saat terbangun, aku merasa segar.
Aku tidak dapat menahan ketidakpercayaanku. Aku terbangun, menyangka akan melihat atap yang berbeda di atas kepalaku, suara yang berbeda di luar ruangan, tanah yang berbeda, wajah-wajah yang berbeda, aroma yang berbeda. Aku begitu sensitif terhadap aroma negeri ini, dan bisa mengatakan di mana aku berada dari embusan angin paling lembut yang menerpa debu dari beras, gandum, moster, aroma hutan lembap atau gurun yang terpapar terik matahari. Jaspur, Mandu, Burhanpur, Sungai Jumna, Sungai Tapti, Sungai Gangga; setiap tempat memiliki aromanya sendiri. Di sini, aromanya adalah campuran antara bau sungai, manusia, baju zirah, gajah, kuda, dan harum kekuasaan.
Aku menikmati kedamaian dan kestabilan; ketakutan jika harus kembali hidup dalam pengembaraan, terguncang-guncang dengan kasar di dalam rath, sejak fajar hingga senja, masih menghantuiku. Tetapi, sekali lagi Permaisuri Mughal Agung terbangun, menatap suatu hari penuh kenikmatan. Aku dimandikan, dibantu berpakaian, dan diolesi wewangian, yang memakan waktu jauh lebih lama  karena kebiasaan  permaisuri sebelum
diriku. Tak terhitung jumlah perempuan dan kasim yang menungguku, membuatku merasa terperangkap dan dibekap hingga sesak napas setelah beberapa hari. Aku telah terbiasa dengan kehadiran seorang pelayan saja di toiletku, dan untuk kebutuhan lain, sudah ada Isa. Kami tenggelam dalam kehadiran banyak orang, formalitas, dan ritual. Kupikir, sebenarnya aku lebih kelelahan daripada saat berada dalam perjalanan yang menyulitkan. Aku tidak pernah hidup di istana sebelumnya, dan ternyata mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Kedatangan dan kepergianku selalu diperhatikan, setiap kata yang kuucapkan diulangi, setiap sikapku diartikan. Aku harus bersikap dengan kehormatan tinggi seorang permaisuri di antara para perempuan di harem, tetapi tidak bisa merasa cukup tertarik untuk memainkan peran ini.
Selir-selir Jahangir masih tetap tinggal di harem dengan para pembantu mereka yang tidak terhitung jumlahnya, semua bersaing ingin menjadi yang paling penting. Harem terus dijaga oleh budak-budak perempuan Tartar yang muram, yang sekarang menunjukkan penghormatan terpaksa. Dari segala kebingungan itu-dan membuat diriku lega-aku tidak perlu bersaing dengan istri-istri Shah Jahan yang lain. Tidak diragukan lagi, aku masih akan menjadi permaisuri, tetapi kecemburuan pasti akan merongrong jiwaku. Siapa yang akan dipilih oleh suamiku untuk menikmati malamnya, siapa yang dia tolak, seperti yang dilakukan oleh Jahangir
dan Akbar, akan menyebabkan wajah-wajah cemberut, pertengkaran, dan kedengkian.
Di luar kebiasaan, aku tidur di gulabar yang didirikan di halaman. Seperti juga keturunan Timur, aku tidak tahan dengan atap di atas kepalaku. Ini adalah suatu keuntungan, karena dalam bulan pertama masa kekuasaannya, kekasihku mulai memisah-misahkan istana. Harta karun sudah berlimpah ruah. Dia tidak bisa menahan kesabarannya untuk membangun dan meningkatkan kemegahan Mughal Agung. Jika ayahnya mencintai lukisan dan taman, Shah Jahanku mengekspresikan dirinya dalam kemegahan bangunan. Atap kayu diwan-i-am telah diruntuhkan dan para pekerja mulai menggantinya dengan batu paras seperti pilar dan dinding benteng. Pekerjaan juga sudah dimulai di bagian lain istana, menggunakan batu yang sangat dia sukai, marmer putih. Dia selalu mengingat pertemuan dengan ayahnya dalam diwan-i-khas yang gelap dan suram, dan selama bertahun-tahun ini terus menginginkan untuk bisa mengubahnya menjadi ruangan terang dan indah, yang cocok bagi seorang sultan.
Bertambahnya kekuasaan ini membuat kekasihku semakin bersemangat. Energinya tidak terbatas. Dia terbangun sebelum fajar untuk menampilkan dirinya di jharoka-i-darshan, dengan sabar menerima petisi-petisi yang diikat di rantai keadilan. Dia akan kembali ke sisiku untuk tertidur selama satu atau dua jam, kemudian akan menghabiskan sepanjang pagi di diwan-i-am untuk mendengar petisi lain, dan
membereskan pertentangan di antara para pejabatnya. Kemudian, setelah makan kudapan, dia akan bertemu dengan menteri-menterinya untuk mendiskusikan manajemen kesultanan, menerima mereka di diwan-i-khas atau ghusl khana. Setelah masalah-masalah kenegaraan diselesaikan, dia akan kembali memikirkan bangunannya; hasratnya terhadap detail membuat seluruh perhatian para pekerjanya yang jumlahnya tak terhingga tercurah. Dia memanggil mereka dari semua daerah di kesultanan; Muslim dan Hindu, mencari kemampuan dan keindahan yang tak terbatas oleh prinsip-prinsip yang dianut seseorang. Mereka datang dari Multan, Lahore, Delhi, Mewar, Jaipur, dan beberapa bahkan datang dari Turki, Isfahan, dan Samarkand. Pada malam hari, suamiku akan minta ditemani olehku. Kami akan menghabiskan satu atau dua jam menyaksikan perkelahian gajah di maidan, kemudian kami akan kembali ke gulabar, hanya ditemani oleh beberapa pelayan dan Isa, sementara para musisi dan penyanyi istana menghibur kami. Pada saat makan malam, anak-anak, keluarga, dan teman-teman lain akan bergabung bersama kami di istana.
Jika seorang sultan mencintai rakyatnya, seorang permaisuri pun harus begitu. Saat ini aku memiliki kekayaan yang tak terbatas. Sudah menjadi tradisi bagi seorang Mughal Agung untuk menyimpan sebuah tas kulit besar berisi uang, satu lakh mata uang dam, untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.   Seseorang akan  berdiri di  depan
pintu gerbang istana. Aku memastikan jika tas itu selalu dikosongkan, dan setiap hari akan selalu diisi. Aku tidak lagi harus memohon bantuan. Aku adalah permaisuri, dan sementara kekasihku membangun istana-istana, aku membangun tempat-tempat yang lebih sederhana: sekolah, rumah sakit untuk orang-orang yang mengidap penyakit, rumah-rumah bagi para tunawisma. Aku memberi makan orang miskin. Ketika telah terbiasa, aku tidak bisa sepenuhnya mengingkari jika aku membenci posisi ini.
Pada bulan kedelapan pemerintahan Shah Jahan, Mahabat Khan kembali dari Bengal. Kami memerhatikan debu yang mengepul karena pijakan pasukannya yang mendekat. Di belakang, terbelenggu rantai, orang-orang yang tersisa dari benteng feringhi berjalan. Saat itu musim kemarau dan panasnya sangat menyengat. Aku tidak merasakan iba kepada orang-orang yang tidak menunjukkan belas kasih kepadaku atau kekasihku, karena kami membutuhkan. Aku tidak bisa memaafkan penghinaan mereka kepadaku bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih anak-anak. Mereka telah berjalan sejauh dua ribu kos, terantai bersama, menderita karena konsekuensi tindakan mereka yang kasar.
Yang paling bergembira adalah Sadr dan para mullah. Mereka akhirnya yakin bahwa kekasihku akhirnya       akan       mulai       mengampanyekan
penghancuran orang-orang kafir. Orang-orang Kristen hanya merupakan gangguan kecil bagi mereka, tetapi mereka puas karena hukuman itu. Orang-orang Hindu adalah musuh utama mereka, dan mereka ingin supaya Shah Jahan mengirimkan pasukan untuk menyerang negeri orang Hindu. Dia tidak mengoreksi kepercayaan mereka. Jika pembalasan dendamnya disalahartikan, tetapi bisa membuat orang-orang fanatik itu sedikit terhibur, dua tujuan bisa tercapai sekaligus.
Mahabat Khan memasuki diwan-i-khas untuk melapor kepada sultannya.
"Yang Mulia, aku menemukan Arjun Lal si gerilyawan-pembuat onar yang sulit untuk ditangkap itu. Dia mengerahkan pasukannya selama berhari-hari, meskipun aku sudah memberikan jaminan kepadanya. Akhirnya, aku menjebaknya di ngarai, dan dia masih akan melawan seluruh pasukan." Dia berhenti untuk menenggak habis secawan anggur dingin. Dia tidak bisa menyembunyikan apresiasinya; kenikmatan istana ini adalah pasokan harian es yang dibawa melewati Sungai Jumna dari Pegunungan Himalaya.
"Aku meneriakkan salam dari Sultan Shah Jahan. Itu membuatnya tenang. Tentu saja, di daerah liar seperti itu, mereka tidak mendengar Yang Mulia naik takhta. Dia menerima salam perdamaian Anda, dan aku mengembalikan tanahnya ditambah dua kali luas tanahnya."
Dia berdiri untuk menuju balkon, dan menatap ke  arah  maidan,   di   antara  Sungai Jumna  dan
benteng.
"Aku menangkap pendeta itu-hidup-hidup. Si komandan tewas dalam pertempuran. Dia adalah orang baik." Dia tidak akan mengingkari rasa hormatnya. "Dia gugur dalam tugasnya."
"Berapa orang yang terbunuh?"
"Beberapa ratus. Aku membawa yang tersisa. Banyak yang telah menganut agama Kristen, dan aku tidak ingin meninggalkan mereka di sana untuk meneruskan ibadah mereka."
Para tawanan terbaring kelelahan di atas tanah, tampak terbujur kaku dengan ganjil. Mereka tidak mendongak menghadap istana; harapan sudah terbang, begitu juga seluruh keingintahuan mereka. Mereka menunggu kematian. "Berikan mereka pilihan. Mereka harus meninggalkan agama mereka atau mati."
Wazir telah dikirim untuk meneruskan perintah Sultan. Betapa cepatnya para lelaki dan perempuan mengingkari tuhan mereka. Jika kekuatan lain mengizinkan mereka hidup, bukankah itu suatu bukti kekuasaan yang mengagumkan? Tuhan orang Kristen tidak melindungi mereka selama perjalanan panjang itu; banyak yang telah tewas di perjalanan, dan Dia masih tidak mengacuhkan penderitaan, kelaparan, dan kehausan mereka. Saat ini, Tuhan lain menolong mereka, Tuhan yang diyakini Mughal Agung dan seluruh umat Islam, dan mereka semua menyembah-Nya. Hanya para pendeta feringhi yang menolak. Mereka berdiri berjauhan dan menggelengkan kepala dengan penuh
ketetapan hati.
"Jemput mereka."
Pendeta yang memimpin mereka memiliki janggut di wajahnya yang berwarna seperti jagung, sedikit kemerahan dengan helai-helai yang berubah menjadi kelabu. Dia tidak membungkuk, dan yang lain, mengikuti contohnya, tetap menegakkan tubuh. Tangan mereka terikat. Sang pemimpin, yang wajahnya tirus dan keras, memiliki sorot mata penuh kemarahan membara di kepalanya bagaikan api yang berkobar dan menghanguskan.
"Kau mengingatku."
"Ya." Suara si pendeta keras dan brutal. Dia terbiasa untuk memerintah, dan dengan ragu-ragu, dia meneruskan perlahan, "Kau telah menghina pemuka agama ...."
"Sudah pasti. Dan kau, tentu saja, tidak. Sejak pertemuan pertama kita, aku telah membaca kitab suci kalian. Di sana dikatakan, bahwa manusia harus menunjukkan belas kasihnya kepada sesamanya, dan banyak lagi hal-hal menarik lain. Seperti kami, kalian juga memercayai akhirat, suatu nirwana yang kalian sebut sebagai surga. Tapi, ganjaran itu tergantung tindakan seseorang dalam kehidupan saat ini. Apakah kau akan masuk surga, Pendeta, saat kau mati?"
"Ya, aku akan masuk surga. Aku telah menjalani hidup dengan ketakutan kepada-Nya dan menyanyikan pujian untuk-Nya. Tuhan akan memberikan ganjaran untuk cintaku."
"Kalian sangat pemilih dalam cinta kalian. Kau
mencintai Tuhan, bukan manusia. Apakah itu tidak ganjil untukmu karena Tuhan, Tuhan kalian, berkata bahwa Dia mencintai seluruh umat manusia?"
"Hanya orang-orang yang mengikuti ajaran-Nya."
"Kalau begitu, Dia juga pemilih. Dia menetapkan syarat untuk belas kasih-Nya."
"Bukankah Tuhan Anda juga begitu?"
"Memang benar. Dan itu selalu membuatku bingung. Tapi aku bukan ...."
Shah Jahan merasa ragu-ragu. Sepatah kata saja yang terlontar tanpa sengaja, pemuka agama kami akan mendengarnya. Dan dia harus meredakan kemarahan mereka. "Aku adalah seorang manusia yang benar-benar beriman, tetapi tugas seorang sultan adalah untuk mencintai rakyatnya dengan adil. Aku tidak bisa hanya mengikuti perintah Tuhan. Aku juga mendengarkan akal sehatku. Kau juga begitu?"
"Tuhan adalah akal sehatku."
Aku tidak bisa mencegah kebencianku. Orang ini dan para pemuka agama kami sama saja: keras kepala, terlalu memerhatikan peraturan detail, dan berpikiran sempit. Inti hakiki dari kehidupan dan cinta telah menguap dari hati mereka; jiwa-jiwa kering tetap melekat di tubuh mereka.
"Dan apakah Dia tidak mengatakan apa-apa tentang derma pada orang-orang yang membutuhkannya? Tuhanku memerintahkan agar kami bersedekah."
"Apakah seorang pangeran butuh derma? Itu hanya layak diberikan kepada fakir miskin."
"Perbedaan yang tipis, karena pangeran juga bisa menjadi miskin. Apakah saat ini kau tidak takut kepadaku?"
"Aku tidak takut terhadap hukuman Tuhan atas tindakanku." Dia menatap dengan berani. "Dan aku tidak takut terhadapmu."
"Kalau begitu, aku tidak bisa menahanmu untuk menerima janji Tuhan untukmu."
Kalimat Shah Jahan membuat si pendeta merasa bangga. Dia akan menjadi martir, dan Sultan adalah alat yang menyebabkan pengorbanannya.
"Kau percaya jika kekuatan Tuhanmu akan menyelamatkanmu?"
"Dia akan menyelamatkan jiwaku dari kerusakan abadi. Dia Mahakuasa."
"Kau sama bodohnya dengan orang-orang lain, Pendeta. Kau percaya jika kau memiliki kekuatan yang akan menyelamatkanmu dari takdir. Perbedaan antara diriku dan dirimu sangat samar. Sebagai penguasa kesultanan, aku mengerti ketidakabadian kekuasaan; sebagai pendeta, kau memaksa dirimu memercayai keabadian kekuasaan. Saat bilah pisau dijatuhkan dan Tuhan tidak menunggu untuk menerima jiwamu, ke mana kau akan pergi?"
"Dia akan ada di sana."
"Tapi belum. Kau akan dipenjara selama dua tahun, dan dicambuk setiap hari. Pada akhir masa tahananmu, kau akan meninggalkan Kesultanan Mughal Agung." Dengan khawatir, Sultan menegakkan punggungnya. Selain seorang pendeta, lelaki     ini     adalah     seorang     feringhi     yang
terus-menerus mengganggu singgasana. "Selain itu, pasukan Mughal akan menghancurkan Surat dan mengusir semua kaummu."
Aku juga merasa kecewa; untuk pertama kalinya, aku berharap agar kekasihku tidak menunjukkan kemurahan hatinya. Aku mengirim Isa untuk menjemput Sultan, yang segera meninggalkan podium dan menghampiriku. Aku tidak berbicara hingga dia duduk di sampingku.
"Apakah kau tidak seharusnya lebih keras?"
"Aku tidak bisa menghukum mati seorang yang mengaku sebagai wakil Tuhan-meskipun dia bersikap bagaikan wakil iblis. Kejahatannya hanyalah kurang belas kasih, dan itu akan merusak kita semua. Aku telah cukup menghukumnya dan kaumnya."
"Tapi, apakah mereka akan belajar? Mereka menjadi terlalu berani."
"Kau ingin dia menjadi contoh bagi orang lain?" Dia menunggu, dengan lembut membelai-belai janggutnya. Ekspresinya tidak bisa dibaca, bahkan olehku sekalipun. Ekspresi itu menunjukkan sosok seorang sultan, tidak tergoyahkan, menunggu di balik topeng. Keheningannya membuatku berpikir.
"Tidak. Maafkan aku. Aku hanya terbakar kemarahan terhadap pria itu saja. Dia membuatku jijik."
"Tapi itu tidak cukup. Contoh hanya akan mengurangi keadilan. Dan kematiannya akan membawa masalah-masalah tertentu ke dalam pikiran kita. Kita membutuhkan kapal-kapal feringhi
untuk membawa orang-orang beriman ke Makkah. Rute lewat darat begitu keras dan berbahaya."
"Kau memang benar, tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaan terhadap orang itu dan kaumnya darimu."
Dia berdiri dan kembali ke awrang. Aku tahu, jika aku bersikeras, dia akan menuruti keinginanku. Para prajurit membawa si pendeta dan para tawanan lain dari diwan-i-am. Aroma busuk tubuh mereka dan sikap sok suci pergi bersama mereka. Aku bukan satu-satunya orang yang kecewa; para mullah juga. Semua pendeta haus darah.
1039/1629 Masehi
Waktu berlalu dengan manis dan tenang. Kami tidak meninggalkan Agra, bahkan pada musim panas. Aku tidak ingin pergi ke Kashmir di utara untuk menghindari hawa panas. Aku merasa sangat damai karena tetap berada di sini.
Pada musim semi, kami mengadakan Pasar Malam Bangsawan Meena-sebuah gaung dari masa lalu kami-di taman-taman istana. Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku yang kekanak-kanakan karena bisa lepas dari beatilha-ku sekali lagi, hanya karena itu mengingatkanku pada pertemuan pertama kami. Jika aku tetap memakai cadarku hari itu, hidupku akan jauh berbeda. Aku bisa saja mencintainya, tetapi dia tidak akan mencintaiku. Bagaimana seseorang bisa jatuh cinta kepada secarik kain?
Istri-istri para omrah berkumpul di istana sebelum fajar. Kali ini, aku bukan seorang gadis kecil yang kesepian dan tersesat di belakang Mehrunissa; saat ini mereka berkumpul di sekelilingku, wajah-wajah yang tak terhitung, tertawa cekikikan, tertawa lepas. Udara begitu panas karena kegairahan malam nanti. Aku tidak ingin membuat semua mata terpesona; apa yang harus kujual kepada seorang sultan Hindustan? Perak, bukan emas dan berlian, adalah keajaiban yang mengubah hidupku. Isa berpikir bahwa logam biasa itu tidak layak untuk dijual oleh seorang permaisuri.
"Itu akan memukaunya sekali lagi, Isa. Kami akan kembali pada peristiwa dua puluh dua tahun yang lalu."
Masa lalu terkenang kembali bagaikan mimpi, dan aku berpikir, sungguh menyenangkan untuk bisa menjadi seorang gadis kecil lagi, yang tanpa berdosa menunggu keajaiban takdirnya. Tetapi, entah mengapa, aku merasa seakan-akan ada kegelapan dan kesuraman yang menyelubungi tubuhku, memenjara jiwaku dalam kabut dingin dan kelam.
"Ada apa?" Isa membuyarkan pikiranku.
"Aku tidak tahu. Sesaat, aku merasa dingin."
"Dalam hawa sepanas ini, kau beruntung karena bisa merasa dingin, Agachi." Dia menatapku penuh perhatian. Aku merasa sungguh-sungguh dan tidak tersenyum. "Kau sakit?"
Aku sangat bersyukur karena kehadirannya yang
terasa akrab. Dia adalah bayangan hidupku. Hanya sekali, karena rasa hormatnya, dia memanggilku "Yang Mulia"; aku langsung mengoreksinya. Keakrabannya adalah pengingat bahwa aku tidak selalu berada dalam posisi tinggi seperti saat ini.
Sebagai permaisuri, aku mendapatkan tenda di posisi yang paling enak: di dekat pintu masuk, di dalam lingkaran cahaya lentera dan lilin. Aku tidak bisa menahan diri untuk melirik ke daerah gelap tempat dulu aku berada, di luar cahaya. Ada seorang perempuan di sana, seorang istri omrah rendah. Aku kecewa. Entah bagaimana, aku berharap untuk bisa melihat seorang gadis kecil, Arjumand yang lain.
Dentuman dundhubi mendekat; jantungku juga berdegup kencang karena suara kerasnya. Sultan Shah Jahan, yang lebih cerah daripada Jahangir, ayahnya, begitu tampan dan percaya diri, memasuki Pasar Malam Royal. Turbannya dari sutra merah tua dan emas, berlian yang melekat di bros yang menahan bulu burung bangau panjang tampak sebesar mulut yang menganga penuh kekaguman. Dia mengenakan seuntai kalung mutiara panjang, masing-masing butirannya seukuran telur merpati; sabuk emasnya dihias seperti jalinan rantai penutup kepala dan dihiasi dengan zamrud. Sarapa-nya, dibawa dari Varanasi, berat oleh sulaman benang emas berbentuk bunga dan dedaunan, semua dihiasi oleh batu-batu mulia yang senada. Dia ditemani oleh Allami Sa'du-lla Khan, Mahabat Khan, dan ayahku.    Tanpa    ragu-ragu,    dia    menghampiri
tendaku, dan dengan sikap berolok-olok, dia memerhatikan barang daganganku, setumpuk kecil perhiasan perak. Perhiasan itu sama dengan yang telah dia beli dua puluh dua tahun yang lalu.
"Siapa namamu?"
"Aku Arjumand, Yang Mulia."
"Siapa ayahmu?"
"Dia adalah putra Ghiyas Beg, Itiam-ud-daulah. Kau menatapku. Apakah kau belum pernah melihat seorang perempuan sebelumnya?"
"Aku tidak bisa menahan diri melihat kecantikan seperti kecantikanmu. Apakah kau menyuruhku untuk berpaling?"
"Tidak. Ini adalah Pasar Malam Royal dan ini adalah hakmu. Apakah kau akan membeli perhiasan di tendaku?"
"Untuk apa uang bagi seseorang sepertimu?"
"Fakir miskin selalu lebih membutuhkannya daripada aku. Aku akan memberikannya kepada mereka."
"Fakir miskin yang mana?"
"Apakah Yang Mulia tidak menyadari keberadaan mereka di luar benteng? Mereka meringkuk di dinding-dindingnya."
"Ya, aku menyadarinya. Aku akan membeli semua barang daganganmu ... nah, apakah kau akan menjualnya semua kepadaku?"
"Semuanya untuk dijual. Seorang gadis pasar malam yang malang tidak menyimpan barang apa pun untuk dirinya sendiri. Tapi, barang-barang itu harus membuatmu bahagia."
"Aku akan merasa bahagia jika bisa membeli
semuanya. Berapa harganya?" "Satu lakh."
Sultan tertawa keras. "Harganya sudah naik, tapi aku setuju dengan penawaran itu. Aku akan bertemu denganmu lagi."
"Jika itu keinginanmu."
Memang benar.
Dia mengunjungiku satu jam setelah tengah malam. Aku sudah tertidur, tetapi segera terbangun karena kecupannya. Kilauan lembut lampu samar-samar membuatnya bersinar. Dia telah membuka jubah, dan pakaian sutranya terjatuh saat dia berlutut, kemudian berbaring di sampingku. Tubuhnya hanya berubah sedikit, tetap kencang dan berotot. Aku merasakan kekukuhannya di pahaku.
Sudah hampir-berapa lama?-berbulan-bulan, hampir setahun saat ini. Kami saling menahan diri, meskipun baginya, keadaan ini lebih mudah. Aku telah memilihkan selir-selir untuknya; mereka cantik, tetapi bukan berasal dari keluarga terhormat. Mereka orang-orang Turki, Kashmir, Bengal, dan Panjabi, Muslim dan Hindu. Mereka tetap berada di harem, hidup dengan nikmat, dan aku memastikan bahwa tidak ada di antara mereka yang dua kali dipanggil untuk menemaninya. Aku tidak bisa selalu menahan kecemburuanku, karena dia juga terus-menerus membutuhkannya. Aku sendiri tidak bisa memuaskannya karena takut akan kehadiran seorang anak lagi. Hakim, dengan rasa puas yang sedikit kejam,  telah menjadi penjaga
keadaan selibatku terus-menerus.
Malam ini berbeda. Aku tidak bisa menahan kerinduanku akan cintanya lagi. Tubuhku sakit dan bagaikan menjerit karena menginginkan kehangatannya. Kecupannya semanis minuman anggur dan tangannya, yang sudah lama tidak menyentuhku, membelaiku dengan hangat. Aku bagaikan seorang gadis muda yang baru pertama kali menemaninya tidur. Dia juga tidak bisa menyembunyikan gairahnya, bahkan setelah beberapa tahun ini.
"Aku merindukanmu," dia berbisik. "Dalam pikiranku, semua perempuan adalah dirimu. Aku hanya memanggil namamu-Arjumand."
"Kekasihku, aku telah mendengarmu dalam hatiku. Aku masih belum bisa bernapas karena kehadiranmu. Seluruh tubuh dan jiwaku menjadi bagian darimu, dan kerinduanku padamu telah terasa sakit, tak tertahankan."
Aku berharap agar kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir; aku ingin memeluknya terus dan merasakan seluruh tubuhnya. Aku begitu gembira mendengar bisikannya: Arjumand. Arjumand. Kemudian, dia berbaring di sampingku. Kami tertidur dalam keadaan saling berpelukan. Saat aku terbangun, dia sudah pergi. Sudah hampir fajar, dan aku mendengar dentuman dundhubi yang mengisyaratkan kehadirannya di jharoka-i-darshan.
mm
1040/1630 Masehi
Setiap tindakan pasti memiliki konsekuensi. Lama setelah kami melupakan, akan selalu ada gaung yang terdengar; keras atau pelan, gaungnya membangkitkan takdir kita. Tubuh adalah kelemahan kita; kita tidak bisa menahan hasrat kebutuhannya. Melalui tubuh, Tuhan telah memberikan hukuman yang tidak adil terhadap kita. Aku menangis, aku marah; bahkan seorang permaisuri pun tidak lebih kuat daripada benih suaminya. Aku tidak lebih daripada seekor binatang di bumi ini yang berkembang biak dengan subur. Doa, air mata, dan ramuan, tidak ada yang bisa mencegah tumbuhnya anak di dalam tubuhku. Perempuan-perempuan lain tidur dengan para lelaki setiap malam dan memuaskan hasrat mereka, tetapi tidak ada yang tumbuh di dalam rahim mereka. Tetapi, setelah semalam bersama suamiku tercinta, sekali lagi aku merasa sedih karena aku hamil. Ini adalah kehamilanku yang keempat belas.
Ketika gelombang kemarahan yang bercampur dengan rasa putus asa hilang, aku menjadi tenang. Ini mengejutkan kekasihku, hakim, dan Isa. Mereka mengira aku akan mengalami kesedihan mendalam hingga saat melahirkan. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan kekecualian ini. Hal ini merasuki tubuhku diam-diam, menyejukkan jiwaku yang kacau. Musim dingin berlalu bagaikan gumaman. Pada saat fajar, aku dibawa dari gulabar ke balkon istana. Di sana, aku berbaring di atas dipan, sementara Isa membaca untukku. Atau, jika aku
kelelahan, aku akan memandang peristiwa-peristiwa yang selalu berganti di bawah balkonku. Pada saat matahari terbit, orang-orang mandi dan beribadah, pada pagi hari mereka mencuci baju dan bekerja, kerbau-kerbau dan gajah-gajah berkubang pada sore hari, setelah bekerja, dan saat matahari terbenam, orang-orang mandi lagi untuk beribadah.
Tetapi, ketika pikiranku tenang, kedamaian kesultanan terancam dan terganggu. Pangeran-pangeran di daerah terluar kesultanan yang selama ini cenderung tenang, saat ini mencoba mengusik perasaan sang sultan baru. Mereka berpikir bahwa dia terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya, dan masalah di Deccan sekali lagi mulai muncul lagi. Ribuan orang dan harta yang tak terhitung sedang disebarkan ke daerah-daerah yang keras dan gersang, agar bisa menjadi taman-taman yang hijau dan indah. Tetapi, benteng-benteng, gurun-gurun, dan Pegunungan Vindhya adalah perbatasan yang melindungi kerajaan selatan yang kaya dari penaklukan. Kami mengetahui kekayaan yang tersimpan di sana, sebesar kekayaan yang tersimpan di Mughal.
Shah Jahan tidak bisa mengirimkan Dara-putra tertua setiap raja harus mendapatkan pengalaman militer di Deccan-karena dia masih anak-anak. Kami juga tidak dapat menugaskan Mahabat Khan. Sudah terbukti, sang Jenderal telah menunjukkan kecenderungan untuk melakukan kericuhan jika dia terlalu banyak memimpin kekuatan, dan kekasihku tidak   memercayakan    seluruh   pasukan   Mughal
kepadanya.
Shah Jahan mendatangiku di balkon dan duduk di sebelahku, menatap tajam ke arah sungai yang melengkung dan berkelok-kelok menuju hawa panas yang samar, tepinya yang berpasir berwarna putih dan terang. Dia tampak merana.
"Aku telah mengharapkan masalah itu tidak terjadi lagi. Kekuatan kita sudah terkuras oleh perang-perang yang tidak ada gunanya itu," dia mendesah. "Tetapi, tikus-tikus terus menggerogoti perbatasanku, mengancam kedamaian negeriku, dan Shah Jahan tidak akan dikenang sebagai raja yang membebaskan mereka. Raja lain bisa saja melepaskan mereka. Aku akan maju sendiri ke selatan untuk menumpas mereka." Dia meraih tanganku dan menempelkan telapak tanganku di bibirnya.
"Kau ingin aku ikut bersamamu?"
"Ya. Mungkin tahun depan atau lebih lama dari itu kita baru bisa kembali. Aku tidak bisa tahan berpisah denganmu selama itu."
"Hakim tidak ingin aku bepergian. Dan perjalanan ini pasti akan berat."
"Aku bukan lagi anak bi-daulat yang menghindari kejaran pasukan ayahku. Kita akan bergerak perlahan dan jika kau membutuhkan istirahat, kita akan tinggal di satu tempat selama yang dibutuhkan." Dia membelai tonjolan di perutku dengan lembut. Wajahnya melunak karena cinta dan kesedihan. "Maafkan aku."
"Untuk apa? Untuk anakku? Aku menginginkanmu
malam itu. Aku telah menginginkan dan menanti terlalu lama, sehingga aku ingin bercinta dengan sangat indah." Aku mengecup tangannya. "Perintahkan Mir Manzil untuk membangun rath yang paling mewah untuk kenyamananku." "Itu akan dilakukan."
Mir Manzil mematuhi perintah itu secara harfiah; dia membuat sebuah rath yang memancarkan keagungan seorang permaisuri. Ukurannya sebesar kamar, dengan permadani-permadani Persia dan banyak dipan, diisi dengan bulu-bulu unggas yang paling lembut. Atap dan pilar-pilarnya dilapisi emas tempa dan dihiasi oleh batu-batu mulia. Tetapi, dipan sebanyak itu pun tidak dapat membuat jalan yang tidak rata menjadi mulus; Sultan sendiri tidak mampu memerintahkan permukaan bumi untuk menjadi rata dan mulus.
Meskipun aku tidak menunggang gajah, rathku akan diikuti oleh tujuh gajah kebesaran. Setiap gajah akan dipasangi meghdambar emas dan biru langit, yang tepinya dilapisi oleh bantal-bantal beludru dan sutra. Tetapi, mereka akan tetap kosong selama perjalanan. Kali ini, posisiku tidak di tengah pasukan besar, tetapi dekat di belakang suamiku.
Setiap hari, dua jam sebelum fajar merekah di kegelapan malam, pasukan mulai bergerak ke selatan. Pasukan pertama akan meninggalkan perkemahan dengan meriam berat yang ditarik oleh seratus gajah, diiringi oleh tiga puluh ribu siphais. Bersama mereka, diikat ke sebuah gerobak besar
yang ditarik kerbau, ada perahu kerajaan. Saat menyeberangi sungai, kami akan tetap merasa nyaman hingga ke seberang.
Kemudian, satu jam sebelum fajar, kekasihku akan bangun. Dengan iringan dundhubi, sanj, dan karana, dia akan menunjukkan dirinya di jharoka sebelum naik ke gajahnya. Pistol isyarat kecil akan ditembakkan untuk menunjukkan posisinya, para pejabat dan istri-istri mereka akan berteriak: "Manzil Mubarak!"
Hanya sedikit perubahan yang terjadi dalam perjalanan sejak hari-hari kekuasaan Jahangir, kecuali, tentu saja, posisiku yang lebih penting. Seratus ribu penunggang kuda dan para petugas istal mereka, bersama barang bawaan dan perbekalan, mengikuti kami, dan barisan itu membutuhkan waktu satu hari untuk melewati satu titik.
Perjalanan ke selatan ini terasa cukup nyaman. Hakimku, Wazir Khan, bergerak di sebelah rath-ku dan jika melihat aku merasakan kelelahan, dia akan memerintahkan barisan untuk berhenti. Dia memiliki kekuasaan yang sama dengan sang Sultan dalam hal ini, tetapi untunglah aku tidak mengalami kelelahan semudah yang kubayangkan. Tetapi, perutku semakin membesar dan terus membesar saat kami mendekati Burhanpur, dan aku merasa, di dalam hawa panas yang kering dan berdebu, aku sulit bernapas dengan beban kandunganku. Aku tidak ingin terlalu lama menunda perjalanan, hanya ingin buru-buru maju, untuk melintasi daerah yang
kejam ini, meninggalkan gurun, dan tiba di kenyamanan Burhanpur. Aku menenangkan diri dengan memikirkan air sejuk Sungai Tapti mengalir melalui istana, dan suara-suara pelan orang-orang yang bekerja di tepi sungai. Aku ingin anak ini lahir di sana, dalam kedamaian, bukan di jalan seperti ini, meskipun gulabar menyediakan kemewahan dan kenyamanan.
Kami mencapai Burhanpur pada pertengahan musim panas, sebuah tempat peristirahatan indah setelah perjalanan yang sangat melelahkan. Wazir Khan tidak lagi sering merengut, tetapi, merasa tenang dengan kestabilan kondisiku, tersenyum dan bercanda denganku. Aku tetap mempekerjakannya selama bertahun-tahun ini.
Kedatangan kami begitu tepat pada waktunya. Aku hanya sempat beristirahat beberapa hari, ketika aku merasakan rasa sakit pertama sebelum melahirkan. Rasa sakit ini tajam dan brutal, lebih kuat daripada saat kelahiran anak-anakku yang lain, dan aku tidak bisa mengendalikan jeritanku. Untuk pertama kalinya, kesakitan alamiah ini membuatku takut. Mereka menahan tubuhku dan memeras seluruh kekuatan dari dalamnya. Aku berkeringat seakan-akan darah mencucur dari setiap pori-pori dan setiap tetesnya membuatku semakin lemah.
"Di mana kekasihku?" aku bertanya kepada Isa di antara rasa sakitku. Mereka datang terlalu cepat, dan bisikanku terdengar begitu kasar karena jeritanku.
"Dia di Asigarh."
"Kirim seseorang untuk menjemputnya. Cepat." Nada suaraku yang sangat serius membuat Isa ketakutan. Aku tidak bisa menerangkannya. Masih ada hari dan tahun yang tak terhingga bagiku untuk menatap        kekasihku, tetapi, sesuatu
menggerakkanku untuk memberikan perintah itu.
"Semua akan selesai dengan cepat, Agachi."
Betapa kesepiannya kita dalam merasakan kesakitan. Cinta, kebahagiaan, bahkan kesedihan kita, bisa dibagi dan diceritakan kepada orang lain, tetapi rasa sakit adalah iblis yang harus dilawan sendirian. Sepanjang sore dan malam, rasa sakit menyerang tanpa henti, semakin lama semakin hebat, bercokol di tubuhku bagaikan rontaan ular yang sekarat. Aku tidak bisa melihat atau mendengar, dan tidak bisa merasakan hal lain. Semua indraku tertutup, menjadi tak berfungsi di bawah serangan rasa sakit.
"Pasti bayinya besar. Seorang anak lelaki!" Samar-samar aku mendengar ucapan hakim. Isa dan pelayan menahan tubuhku. Perempuan lain berada di luar pandanganku. Bayangan melompat dari cahaya lampu, menutupiku, mengamati dan menunggu bagaikan burung yang mengintai mangsanya, merunduk di atas pohon. Kemudian, aku merasakan si bayi, berdenyut, mendorong-dorong dinding dalam tubuhku. Kedua tangan hakim menjulur dan meraba-raba ke dalam tirai kasa yang rapat, meraih ke dalam dan memegang. Aku hanya berdoa agar dia bisa menariknya lepas dariku, membebaskanku ke permukaan dalam udara sejuk dan jernih, dari rawa
gelap tempatku tenggelam saat ini. Tetapi, itu tak akan terjadi. Kami bertarung bersama bayi ini. Aku mendorong, Wazir Khan menarik. Kemudian, saat semua kekuatanku habis dan aku kehilangan harapan, begitu lelah sehingga aku tidak peduli, bayiku lahir. Aku merasakan kelegaan, bisa lolos, dan perasaan tenggelam itu memudar.
Lalu, setelah itu pasti aku tertidur. Saat terbangun, aku menemukan Isa menggenggam tanganku erat-erat.
"Apa jenis kelaminnya?"
"Anak perempuan, Agachi. Apakah kau merasa sehat?"
"Seorang anak perempuan. Aku berdoa meminta itu. Kami sudah cukup memiliki anak lelaki." Tubuhku terasa jauh, di luar jangkauan. Aku tidak bisa memikirkan jawaban pertanyaan Isa, kecuali bahwa aku mengalami kelelahan yang sangat dan berat.
"Aku sangat lelah, Isa. Di mana kekasihku?"
"Dia akan segera datang. Tidurlah sekarang. Saat dia datang, aku akan membangunkanmu."
"Tidak, aku tidak ingin tidur," dengan samar aku melihat wajahnya di luar tirai kasa. "Temanku Isa." Aku tidak bisa menerangkan mengapa aku menginginkan dia tahu kasih sayangku.
"Budakmu."
"Pelayan," aku mengoreksi. "Dan sahabatku. Aku akan merindukanmu."
"Tapi aku tak akan pergi," suaranya terdengar khawatir.
Dia terus menggenggam tanganku, "Kau begitu
dingin."
"Aku memang merasa dingin. Apakah mereka memandikanku?"
"Belum. Hakim pikir, lebih baik pagi saja melakukannya."
"Ya, itu lebih baik." Aku berusaha untuk tetap terbangun, untuk membicarakan ketakberdayaan yang mulai menyelinap ke dalam tubuhku, menyeret beban berat di belakangnya, "Kau harus berjanji padaku tentang satu hal, Isa. Kau akan selalu bersama kekasihku."
"Aku berjanji. Dan aku akan selalu bersamamu, Agachi."
Aku merasa Isa bergerak seakan-akan hendak pergi, dan aku mempererat genggamanku di tangannya. Kupikir, genggaman itu menahanku ke dunia.
"Jangan pergi."
"Aku tak akan pergi. Yang Mulia sudah ada di sini." Dengan lembut, dia melepaskan genggamannya dan melangkah ke samping.
Kekasihku membungkuk. Debu dan keringat karena perjalanan dari Asigarh menempel di wajahnya. Aku merasa tenang karena keakraban janggut, hidung, mulut, dan matanya. Sentuhannya membuatku nyaman."
"Aku tidak bisa melihatmu."
"Bawakan lampu."
Aku melihat nyala terang lampu, tetapi dia masih berada di luar jangkauan pandanganku. Aku menariknya   lebih   dekat,   dan   samar-samar  aku
melihat kontur wajahnya. Dia tampak kebingungan; wajahnya tirus karena rasa putus asa. Aku merasakan dia memelukku, menarikku lebih dekat ke tubuhnya. Apa yang tidak bisa diperintahkan oleh seorang Mughal Agung? Dia bisa meminta cahaya, tetapi tidak bisa menyingkirkan kegelapan. Kegelapan merayap semakin dekat. Meskipun wajahnya berada di sisi wajahku, tampaknya dia semakin menjauh. "Tinggallah."
"Aku di sini, kekasihku Arjumand. Ada apa?"
"Tidur," aku berbisik. "Aku harus segera tidur. Tetaplah bersamaku." Dia mengecup mata dan pipiku, menyapu bibirku dengan jarinya yang lembut. "Aku memimpikan sebuah mimpi yang sama. Mengapa mimpi itu tidak mau pergi dariku? Mimpi itu terus-menerus datang. Aku melihat ... aku melihat seraut wajah. Wajah itu tampak begitu ramah, dengan mata yang ganjil, tetapi aku tidak tahu wajah siapa itu. Seorang lelaki. Tampan dan megah bagaikan pangeran. Tetapi, itu hanya seraut wajah. Kepala tanpa tubuh. Ia terbaring di gurun, bagaikan sebongkah batu. Apa artinya itu?"
"Tenangkan dirimu, Sayangku. Itu hanya mimpi." Pelukannya semakin erat, menahanku agar tidak menjauh dari jangkauannya. Aku mendengarnya memanggil hakim. Mereka berbicara, aku tidak dapat mendengar perkataan mereka. Aku merasa mataku semakin berat dan masih berusaha melawannya.
"Kekasihku, aku akan segera tertidur. Aku tidak
bisa menahannya lebih lama, karena terlalu kuat untukku." Embusan napasnya terasa di napasku, ingin mengisi tubuhku, manis dan sejuk. "Kau harus berjanji kepadaku."
"Apa pun yang kau inginkan."
Shah Jahan
Aku merasakan air mata mengalir di pipiku, menetes dan membasahi cekungan di lehernya. Air mataku menggelitiknya; dia tersenyum sedikit. Dia mencoba untuk menyeka wajahku, tetapi tidak mampu menggerakkan tangannya.
"Jangan menikah lagi, Pangeranku Sayang. Berjanjilah padaku. Kalau tidak, putra-putraku akan bertempur melawan perempuan-perempuan yang kau nikahi dan akan terjadi pertumpahan darah yang hebat. Buatlah mereka saling mencintai ... perlakukan mereka dengan adil ... seperti rakyatmu." "Aku berjanji."
"Dan berjanjilah ...." Dia membutuhkan rasa nyaman, janji yang akan dia bawa dalam tidurnya yang tak akan berakhir, kata-kata yang diucapkan oleh Mughal Agung Shah Jahan-kekasihnya. "Kau tidak akan ... melupakan Arjumandmu?"
"Tidak akan. Tidak akan pernah, tidak akan pernah, selamanya, selamanya."
"Cium aku."
Di antara air mataku, dia merasakan bibirku di bibirnya. Senyuman itu tidak lembut, tetapi bergelora serta penuh hasrat dan emosi seperti masa muda kami.
Dengan cintaku, aku menghirup napas terakhirny
EPILOG
1148/1738 Masehi
Udara, beraroma amis karena kematian, menggantung di atas tanah dengan berdebu dan berbau busuk, menghilangkan harapan. Angkasa yang menyilaukan membakar mata manusia, matahari pun serasa menolak untuk bergerak. Burung-burung nazar bertengger di bumi bagaikan patung-patung dewa yang menunggu untuk dipuja, seekor kera yang berwarna perak berkilau duduk di pohonnya, membisikkan rahasia menyedihkan kepada dedaunan. Burung kakaktua, yang cemerlang bagaikan zamrud, mengintip ke bawah dengan penuh kebencian. Sungai tersumbat oleh mayat-mayat, mengalir perlahan menuju keabadian.
Kesultanan Mughal telah runtuh.
Para prajurit Persia menebas semak belukar yang tampak bagaikan mendekat di belakang mereka, mencium aroma daging busuk dan bau masam tubuh mereka sendiri. Selama sesaat, mereka meletakkan pedang masing-masing, baju zirah mereka gelap oleh   karat   dan   darah,   kemudian   meneruskan
perjalanan mereka yang sudah ditentukan. Mereka masuk melalui sebuah gerbang dan menemukan diri mereka berada di dalam sebuah taman raksasa istana, dinding-dindingnya dipagari oleh kamar-kamar batu paras berwarna merah. Ada tiga gerbang lain, di dinding utara adalah sebuah lengkungan raksasa yang dibangun dari marmer dan bertuliskan huruf Persia. Di gerbang besar-yang dipenuhi sulur-sulur tanaman rambat dan dinodai oleh kotoran burung, dan dengan sedih tak berdaya untuk menahan kedatangan mereka ke dalam area di baliknya-mereka berhenti untuk menatap tulisan di sana. Debu dan tanah yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun menyamarkannya. Dengan tidak sabar, mereka berjalan melewati lengkungan itu, menuju sebuah taman luas yang dipenuhi tumbuhan liar.
Apa itu? Mereka bertanya.
Sebuah makam. Taj Mahal, jawab seseorang.
Tanpa bayangan, makam itu mengambang di atas bumi, hanya terikat oleh jalinan-jalinan tipis imajinasi mereka. Warnanya seputih matahari pada tengah hari, dan mereka melindungi mata mereka dari kecemerlangannya. Makam itu tampak hidup, bergetar di udara yang berkilauan, tidak takut oleh kedatangan para penakluk yang lemah ini. Makam itu sudah berdiri sejak dahulu, dan masih akan tetap di sana hingga akhir zaman, sementara semua yang menatapnya akan berubah menjadi debu, yang merupakan asal mereka. Makam itu menjulang sangat tinggi di luar akal sehat; tidak ada manusia
yang cukup berani untuk menghancurkannya. Kekuatannya disebabkan oleh sesuatu yang ia jaga, yang tidak sepadan bagi siapa pun. Kenyataan ini memberikan kedamaian melankolis bagi makam itu; keabadiannya berbaur dengan debu di dalamnya, debu impian dan hasrat yang dirasakan semua manusia, jika mereka ada di dalam batas-batas tubuh fana mereka.
Para prajurit mendengarkan. Semua gerakan dan suara telah menghilang. Mereka sendirian; mereka telah melangkah keluar dari dunia yang biasa, menuju dunia lain. Tidak ada burung di angkasa, monyet-monyet berkumpul di luar gerbang, tidak ada binatang-binatang kecil yang merayap di antara taman yang terbengkalai ini. Sinar matahari tertahan dan rasanya sejuk dan segar. Aroma pepohonan limau menggantung di udara, meskipun mereka tidak melihat sebatang pohon limau pun, dan mereka menyangka telah mendengar suara-suara dan ratapan. Ada kolam-kolam air mancur yang menuju ke bangunan, saat ini hitam dan kosong; seperti arang sisa pembakaran, dan jalan setapak dari serpihan batu di kedua sisi tampak retak dan ditumbuhi rumput. Para prajurit akhirnya berhenti di landasan makam dan mendongak, menatap ke angkasa, dan melihat bahwa kubah itu adalah bagian dari angkasa, karena warna putihnya hampir sama dengan warna sinar-sinar yang melingkari matahari.
Mereka menaiki tangga sempit, kaki mereka meninggalkan    jejak    debu    yang    berantakan,
kemudian mendekati pintu-pintu hitam yang berdiri bagaikan gigi membusuk di latar depan fasad marmer yang berornamen. Mereka membaca tulisan di atas.
Bagaimana bunyinya?
Kemurnian hati akan memasuki taman-taman Tuhan.
Seorang prajurit menghantam pintu dengan pedangnya, dan mereka mendengarkan gaung di ruang kosong ini, bagaikan mendapatkan sebuah jawaban. Pedang itu telah menggores pintu besar. Mereka mengamati bekas goresannya dan saling berbisik: perak. Pintu terbuka dengan mudah. Bau tidak enak menguar, dari debu dan kotoran kelelawar, tetapi di atas, bagaikan kepulan asap, tercium aroma dupa yang harum. Mereka mencari-cari di mana dupa itu dibakar, tetapi keharuman itu bagaikan jiwa-jiwa yang menebarkan aroma wewangian. Mereka menyentuh dinding. Perhiasan, mereka berbisik; kemudian tawa mereka meledak, dan semakin keras, dipantulkan oleh kubah tinggi.
Seorang prajurit memukul hiasan mawar dengan gagang pedangnya, menghancurkan marmer, dan mengambil sebutir ruby. Gemanya terdengar bagaikan rintihan kesakitan. Mereka mendongak dan melihat sebuah lampu emas raksasa yang tergantung dari pusat kubah. Hati mereka membengkak dengan perasaan rakus. Mereka telah menunggu-nunggu rampasan perang, dan di sini, harta itu menunggu untuk dipetik.
Di balik tabir marmer, yang diukir begitu rumit bagaikan cadar, begitu halus sehingga cahaya yang lewat bisa mengalir bagaikan air, mereka melihat sebuah sarkofagus. Sarkofagus itu terletak di tengah, tepat di bawah kubah, berupa marmer berwarna seputih salju, dihiasi dengan bunga-bunga dan dedaunan berwarna-warni cerah dan bertatahkan perhiasan. Di sampingnya, meskipun lebih tinggi, ada sebuah sarkofagus lagi, gelap di dalam bayangan.
Apa yang tertulis di situ?
Di sini terbaring Arjumand Banu, bergelar Mumtaz-i-Mahal, perempuan terpilih di istana, hanya Allah yang Mahakuasa.
Siapa dia?
Seorang permaisuri.[]
Tentang Taj Mahal
• Lokasi: Agra. Uttar Pradesh. India bagian Utara, di tepi Sungai Yumna
"Dibangun selama 22 tahun (1631-1653) oleh Shah Jahan. Maharaja kelima dari Dinasti Mughal India.
"Tinggi bangunan 55 meter.
• Kubah berdiameter 18 meter dengan tinggi 44 meter.
•Shah Jahan pernah berencana untuk membangun makam bagi dirinya. Taj Mahal berbahan dasar pualam hitam, berhadapan dengan Taj Mahal: Mumtaz-i-Mahal.
•Taman Taj Mahal. Charbagh. dirancang sedemikian rupa sehingga mencitrakan empat elemen surga—air. susu, madu. dan anggur—yang mengalir abadi
•Kaligrafi di Taj Mahal mencantumkan 15 surah dalam Al-Quran.
•Pada 1983. UNESCO menetapkan Taj Mahal sebagai Tujuh Keajaiban Dunia,
• Beberapa pihak di Eropa mengklaim bahwa pendesain Taj Mahal adalah seorang arsitek Italia. Ccronimo Vcroneo.
• Tidak ada waktu kunjungan bagi wisatawan pada hari Jumat, namun orang Muslim diperkenankan menunaikan shalat Jumat di masjid Taj Mahal.
Sumber: New Woild En<y<1opedu

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified