Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Taj Part 2b

 
Musuh bergerak ke arah kami, berupa segerombolan debu, kuda, manusia, dan gajah. Mereka tampak hanya ingin bergerak tanpa henti ke arah kami dan menghancurkan pasukan kami. Mereka tidak memiliki strategi, hanya untuk mengerahkan kekuatan melawan kekuatan. Shah Jahan tertawa saat dia melihat betapa rapatnya mereka berdesakan, tidak mampu menghadapi dua puluh ribu pasukan berkuda yang mengepung sisi-sisi pasukan mereka. Mereka memiliki sedikit persenjataan, tetapi tidak memiliki meriam. Saat musuh sudah berada di dalam jangkauan, Shah Jahan mengangkat tangannya dan melambai ke depan. Meriam-meriam kami segera menembakkan peluru. Serpihan daging dan logam dari musuh kami segera bertebaran. Sekali lagi meriam ditembakkan, menghasilkan lebih banyak serpihan. Jeritan manusia dan hewan menjadi hening, tidak mampu mengatasi raungan jezail dan meriam yang terus-menerus ditembakkan. Shah Jahan merentangkan kedua lengannya ke samping dan perlahan-lahan menyatukannya hingga kedua telapak tangannya menempel. Di kejauhan, di antara asap biru dan debu cokelat, aku melihat para penunggang kuda menyerang sisi-sisi pasukan musuh. Matahari berkilauan pada pedang dan darah, logam beradu logam, gajah meniupkan teriakannya,     kuda-kuda     meringkik.     Manusia
menebas manusia lain seakan-akan mereka adalah pohon yang ditebang, lengan dan kepala jatuh bergelimpangan, perut-perut terbelah dan memancarkan darah. Tanah menyerapnya, berubah warna menjadi kusam dan gelap. Udara berdentang-dentang dengan nyanyian peperangan, dengan seruan untuk membunuh: "Ba-kush, Ba-kush; Mar, Mar." Bairam berdiri tanpa bergerak, tidak ada musuh yang bisa mencapai kami.
Pada tengah hari, pertempuran mereda. Musuh kami mundur dengan panik, meninggalkan senjata, jasad teman-teman mereka, hewan-hewan yang terluka, dan para prajurit yang meratap. Lima ribu pasukan musuh tewas, dan dari pihak kami seribu delapan ratus lima puluh prajurit gugur. Pasukan Mughal maju ke medan perang, menusukkan pedang ke tubuh mayat dan mengambil cincin-cincin emas serta barang berharga dari mereka. Aku mendongak; burung-burung nazar terbang melingkar di langit. Bagaimana mereka tahu? Apakah suara peperangan bisa sampai ke telinga mereka yang tertutup bulu? Apakah para dewa membisikkan berita lewat angin? Mereka datang dari segala penjuru, mengepak-ngepak di udara seolah merayakan pembantaian itu. Shabash, shabash.
1028/1618 Masehi Arjumand
Sebuah kursi emas sudah diletakkan di samping singgasana sultan, tetapi Shah Jahan masih berada di tempat sebelumnya, duduk di bantal-bantal di
hadapan singgasana. Di satu sisi ada sebuah piring emas besar yang dipenuhi batu-batu mulia, berlian, batu mirah, zamrud, dan mutiara. Di sampingnya ada sebuah piring emas lain yang penuh dengan koin emas. Saudara-saudara lelakinya berdiri di belakang Shah Jahan, dan di belakang mereka para pejabat istana berkumpul.
"Kau begitu pendiam," kata Mehrunissa.
"Aku merasa sangat bangga." Aku menempelkan dahiku ke kisi-kisi yang dingin. Aku berharap tidak perlu ada kemenangan lagi. Sungguh lega rasanya bisa meninggalkan Deccan dan kembali ke Agra yang bercuaca sejuk, menyegarkan, setelah panas menyengat di daerah selatan. Aku berdoa agar kesultanan ini tetap damai selama bertahun-tahun, agar kami bisa hidup bersama-sama dalam kedamaian cinta kami. "Tapi aku sedikit lelah. Semua karena kemeriahan ini. Setiap kami kembali, derajat pangeranku semakin tinggi di mata ayahnya, tapi kuharap akan ada perdamaian saat ini, agar kami bisa menjalani hidup normal."
"Shah Jahan adalah pemimpin yang hebat. Semua tergantung ayahnya dan berkait dengan masalah-masalah kesultanan."
"Kirimlah Mahabat Khan lain kali, kumohon, Bibi. Aku ingin tinggal di sini sementara waktu."
"Siapa yang menyuruhmu pergi bersamanya? Jika Jahangir yang pergi ke Deccan, aku akan berbahagia melepasnya ke sana dan tinggal di sini."
"Kami saling berjanji tidak akan pernah berpisah."
Mehrunissa mengangkat bahu.   "Kalau begitu,
pikirkanlah dengan otakmu sendiri. Kau gila karena ingin mengikutinya ke mana saja."
"Dia juga menginginkan itu."
"Lain kali, tinggallah di Agra," Dia menatapku melalui bayangan gelap. "Kau tampak lelah." Tangannya menyentuh tonjolan di perutku. "Lagi. Apakah kalian berdua tidak pernah berhenti? Kau harus beristirahat, Arjumand. Tolaklah dia."
"Bagaimana bisa?" Aku tidak bisa menahan air mata di saat peristiwa menyenangkan ini terjadi. "Aku tidak akan tahan melihat dia merasa sedih."
"Biarkan dia begitu," kata Mehrunissa dengan kasar. "Apa yang dia pikirkan tentangmu, seekor sapi? Dalam lima tahun, kau telah melahirkan lima bayi."
"Empat," aku berkata tanpa berpikir. "Ini yang kelima. Yang pertama tidak hidup."
"Itu sudah lebih dari cukup. Suruh dia pergi ke perempuan lain untuk memuaskan nafsunya. Ya Tuhan, pria itu seperti kerbau karena begitu banyak meminta darimu." Suaranya merendah. "Aku tidak mengizinkan Jahangir tidur denganku lebih dari sebulan sekali. Jika hasratnya tidak bisa ditahan, aku menyuruhnya tidur dengan salah seorang budaknya. Aku akan memberimu beberapa budak perempuan."
"Tidak. Aku akan memuaskan suamiku sepanjang dia memiliki hasrat kepadaku seorang. Dia tidak memperistri perempuan lain, dan dia juga tidak ingin tidur dengan perempuan lain."
"Tapi, setiap kali kau mengandung bayi lagi.
Lihatlah tubuhmu; bandingkan dengan tubuhku."
Pinggangnya begitu ramping, kulitnya bersinar sehat, rambut panjangnya yang terjalin tebal jatuh ke pinggangnya. Aku tidak bisa mengingkari kemudaannya; kemudaanku tampak memudar, bagaikan kelopak mawar yang dijepit di antara halaman buku, tipis, usang, dan rapuh. "Aku tidak tampak tua."
"Kau akan begitu jika terus melahirkan bayi. Tidakkah kau melihat perempuan-perempuan jelata? Gemuk, jelek, dan berat, dikelilingi anak-anak? Kau akan mulai tampak seperti begitu." Mehrunissa menatapku dengan penuh arti: "Sudah pasti kau menikmatinya juga. Tapi, terlalu banyak kenikmatan bisa berakibat fatal."
Aku tidak bisa mengingkari kenikmatan itu. Kadang-kadang, kenikmatan itu tidak sekadar kenikmatan fisik. Aku tidak bisa terangsang oleh hasrat sehebat yang suamiku miliki, atau merasakan gairah yang kurasakan sewaktu muda. Tubuhku terasa kaku, bagaikan tinggal di dunia lain, tidak bisa merasakan sentuhan bibir dan tangannya, juga gerakan tubuhnya yang mantap. Tetapi, ketika aku menatapnya yang sedang tenggelam dalam kenikmatan, aku juga merasa bahagia. Jika kenikmatan ragawi tidak bisa kurasakan, tidak begitu dengan perasaanku. Pada malam kemenangannya, aku tidak bisa memerintahkan tubuhku untuk menyambut sentuhannya dengan penuh gairah. Tubuhku terbaring dengan pasif, masih  sakit  setelah kelahiran  Raushanara.   Rasa
pedih itu lebih terasa daripada sebelumnya, organ intimku terasa membara karena gerakannya. Pertempuran menyalakan gairahnya; cintaku membuatnya tenang. Aku mencintainya; aku tidak bisa menolaknya.
Dundhubi bertalu-talu menandakan kehadiran Jahangir. Di belakangnya, ayahku berjalan, membawa sebuah buku bersampul kulit yang berat. Jahangir berjalan perlahan, bersandar di samping kakekku. Tampaknya dia semakin menua, sementara Mehrunissa justru tampak semakin muda. Dia berhenti sesekali untuk bernapas dalam-dalam, seakan-akan tidak mampu menarik udara ke dalam tubuhnya.
"Dia tampak tidak sehat."
"Kesehatannya prima," kata Mehrunissa dengan tajam. "Tidak ada masalah dengan Sultan, jadi jangan mulai menyebarkan kabar angin, atau kau akan terlibat masalah." Mehrunissa gagal menyembunyikan kemarahan dalam suaranya yang bergetar. "Sultan akan hidup selama bertahun-tahun lagi."
"Tentu saja begitu," aku menjawab dengan patuh, dan saat itu dia merasa terhibur.
Bukannya menaiki singgasana, Jahangir mendekati Shah Jahan dan mencium keningnya dengan mesra. Mereka saling merangkul dengan penuh kasih, kemudian berbalik, masih saling berangkulan, untuk menatap para pejabat.
"Aku bangga terhadap anakku, Shah Jahan. Sekali  lagi,   dia  telah   membuktikan  bahwa  dirinya
adalah seorang kesatria yang hebat. Dia telah mengalahkan tikus-tikus Deccan itu. Mereka kalah dalam satu pertempuran dan, seperti pengecut, ketika Mughal Agung mendekat, mereka menyerah dalam perang yang mereka kobarkan. Damai, mereka menangis kepada Shah Jahan. Mereka menerima semua peraturanku, dan saat ini harta karun berlimpah bersama persembahan mereka."
Sang Sultan berbicara selama satu jam, hanya berhenti sebentar-sebentar untuk menghela napas dalam-dalam, seakan-akan dia tenggelam, dan untuk membiarkan para pejabat mengungkapkan antusiasme mereka: Zindabad Shah Jahan, Zindabad. Dia akan membacakan puisinya yang memuji Shah Jahan, tetapi kertasnya terselip dan tidak bisa ditemukan.
Saat pidato Sultan selesai, Shah Jahan duduk lagi di atas bantal. Seorang punggawa membawa salah satu piring emas ke hadapan Sultan. Sultan menenggelamkan tangannya ke dalam tumpukan batu-batu mulia, kemudian menaburkannya ke kepala Shah Jahan seperti menuangkan air. Warna pelangi batu-batu mulia itu berjatuhan di tubuh kekasihku; seperti embun, perhiasan itu menempel di turbannya, lengan bajunya.
Sekali lagi, Jahangir menaburkan berlian dan batu mirah, lagi dan lagi hingga piring itu kosong. Kemudian, punggawa lain memberikan piring yang berisi koin emas. Koin-koin emas itu bertaburan bagaikan sinar matahari. Shah Jahan terus menundukkan     kepala,     ketika     koin-koin     itu
berdentang dan bergulir di atas tubuhnya. Itu adalah suatu darshan dari cinta dan kepercayaan seorang ayah. Jika ada lebih banyak elemen berharga dalam kerajaan, Jahangir pasti akan menggunakannya untuk menganugerahi anaknya.
Pertunjukan kasih sayang secara terang-terangan itu belum juga selesai. Jahangir mengambil buku dari ayahku dan meletakkannya di atas kepala Shah Jahan, seolah-olah buku itu adalah simbol tertinggi dari kekuasaannya yang tak terbatas.
"Hadiah paling berharga yang bisa diberikan seorang ayah kepada putranya adalah kumpulan pikirannya. Melalui hal itu, dia tidak hanya mencurahkan kasih sayang, tetapi juga pengalamannya, pengamatannya, dan
pengetahuannya. Ini adalah duplikat pertama Jahangir-nama. Shah Jahan bisa menemukan banyak hal dalam buku ini, yang mungkin bisa dia setujui, tetapi semua tergantung pilihannya sendiri. Tetapi, dia tidak akan menemukan ketidakjujuran dalam kasih sayangku untuknya. Dengan segala hormat, dia adalah putraku yang pertama, dan aku berdoa kepada Allah, agar hadiahku yang amat berharga bisa membawa keberuntungan baginya. Buku lain akan disebarkan ke seluruh penjuru kota di kesultanan ini, agar semua bisa mengetahui cinta seorang ayah kepada putranya."
Shah Jahan dengan takzim menerima buku dari ayahnya. Dia mencium sampulnya, kemudian mencium tangan ayahnya. Jahangir membantunya berdiri dan menuntunnya ke kursi emas di samping
singgasana. Dia mendudukkan Shah Jahan di sana, kemudian menduduki singgasananya. Belum pernah ada seorang pangeran pun sebelumnya yang diizinkan untuk duduk di sebelah raja dalam istana. Pangkatnya juga dinaikkan hingga dia membawahi pasukan sebanyak tiga puluh ribu zat dan dua puluh ribu showar.
Aku adalah orang pertama yang membaca buku itu. Ini adalah suatu keindahan yang langka. Gambar-gambar terselip di setiap halaman, hampir semua adalah karya seniman favorit Jahangir, seorang Hindu, Bishandas. Aku tidak membaca aksara-aksaranya karena benda itu adalah hadiah bagi kekasihku-meskipun aku membolak-baliknya lebih sering daripada halaman lain, dan jari-jariku membelai namanya yang tertulis di situ-tujuanku hanya untuk memahami jalan pikiran Jahangir. Dia menuliskan banyak hal: Laila dan Majnun, sepasang burung bangau miliknya yang ditangkap sejak berusia sebulan dan dirawat oleh tangannya sendiri. Burung kesayangan itu telah mendampinginya ke seluruh penjuru negara, sehingga dia bisa mengamati kebiasaan mereka, bagaimana mereka saling mematuk untuk bertukar tanda saat mereka akan mengerami telur, bagaimana sang induk memberi makan anak-anaknya dengan belalang dan jangkrik. Jahangir juga menulis, bagaimana dia melihat bintang jatuh di angkasa, berjalan ke arahnya, menggalinya dan menemukan bahwa benda itu terbuat dari logam. Dia pernah memiliki sebilah pedang, Alamgir, yang terbuat dari logam
yang jatuh dari langit. Untuk menyelidiki sifat alamiah keberanian, Jahangir pernah memerintahkan untuk meneliti organ dalam seekor singa untuk menemukan sumber keberaniannya, tetapi dia tidak bisa menemukan penjelasan yang memuaskan. Tidak ada yang tidak penting di kesultanan ini baginya, baik itu keajaiban maupun administrasi harian, keajaiban alam maupun metode membiakkan babi. Aku belajar banyak tentang ayah mertuaku dari Jahangir-nama, termasuk gerakan yang dia perintahkan untuk membunuh penasihat favorit ayahnya, Abdul Fazl, dan bahwa dia telah melemparkan kepala orang itu ke lubang pembuangan. Buku itu sangat jujur, bahkan dia mengaku jika dia terlalu banyak minum: dua puluh poci anggur yang dicampur dengan empat belas sloki opium setiap hari. Dia juga mencatat tragedi tentang kasih sayangnya yang tak berbalas kepada sang ayah, Akbar. Cinta bisa melukai, entah karena kekurangan kasih sayang, atau terlalu banyak kasih sayang!
Saat itu siang hari, tetapi langit gelap serasa sore hari saat Aurangzeb lahir. Bumi basah karena hujan, pepohonan, rerumputan, dan tanaman berwarna hijau terang bagaikan bulu burung kakaktua. Malam begitu gaduh dengan dengkung katak yang tanpa henti. Musim hujan menerpa bumi, membengkokkan dan merusak pepohonan seperti ranting kering, membentuk sebuah alur sungai baru yang meraung
dan bergemuruh melewati istana, merah karena lumpur, bagaikan darah yang bercampur dengan air. Air jatuh dari daun ke daun, dari atap ke talang, berkumpul di kubangan-kubangan setinggi mata kaki di halaman. Setiap saat hujan berhenti, udara terasa bersih.
Rasanya aku sedang berada di dalam kuali, dalam musim yang malam harinya berubah menjadi pagi dengan kilatan petir berwarna biru dan guntur yang mengguncang dinding-dinding istana, dan saat itulah Aurangzeb pertama kali menangis. Dia bukan menangis karena ketakutan-mata gelapnya menatap sekeliling tanpa rasa takut, dia mendengar amukan alam tanpa rasa khawatir-tetapi karena marah. Dia murka, tangannya yang terkepal meninju-ninju udara, bagaikan ingin melempar kembali kilat dan guntur itu ke udara. Dia adalah seorang bayi mungil dan aku tidak menyangka dia akan hidup, kecuali bahwa aku melihat kekerasan jiwanya, keteguhan untuk bertahan hidup. Dia seperti menunggu di antara langit dan bumi, bertarung melawan elemen-elemen alam. Dengan tampilnya sifat kematian dalam dirinya, bagaimana aku bisa mencintainya? Aku menoleh dan mengizinkan perempuan lain untuk menyusuinya. Jika dia harus meninggal, aku tidak akan menderita.
Tetapi, dia hidup. Peramal bintang pribadi Jahangir, Jatik Ray, yang tambun karena kesuksesannya, meramal berdasarkan zodiak. Dalam cahaya lilin yang berkelip-kelip, sebuah bayangan melompat    dan   menari    dalam   suatu    gerakan
misterius, dan dia membuat perhitungan. Kertasnya lembap, tinta terukir bagaikan air mata hitam dari angka-angka yang tertulis. Kami menunggu. Putraku yang baru lahir, terbaring dalam rengkuhan Satium-nissa, tampaknya juga tertarik; ada ekspresi keingintahuan dalam wajahnya yang mungil dan berkerut-kerut. Aku merasakan sebuah firasat yang tidak bisa kumengerti. Mungkin guntur, yang mengubah perasaan kami semua, terasa diam, mengancam, menunggu untuk meledak saat kilat menyambar. "Kemuliaan," Jatik Ray akhirnya berbisik. "Bintangnya menunjukkan bahwa dia akan menjadi seorang raja yang hebat. Dia akan memerintah sebuah kerajaan yang lebih luas daripada kesultanan ini. Surya menuntun hidupnya, dia akan mengguncang dunia." Jatik Ray terdiam, seakan-akan tidak bisa membaca ramalan hidup anak lelakiku lebih jauh lagi.
"Katakan kepada kami," perintah Shah Jahan. "Tapi hidupnya akan menyedihkan; aku tidak bisa meramalkan lebih, kecuali," Jatik Ray menatap kami dengan gugup, "dia akan menjadi seseorang yang sangat hebat."
Dia tidak mengatakan hal lain, tetapi menutup bukunya, melirik sekilas ke arah si bayi dengan diam-diam sebelum meninggalkan ruangan.
"Dia meramalkan hal yang sama untuk semua anak kita," Shah Jahan tertawa. "Bahkan Jahanara. Aku hanya memercayai ramalannya untuk Dara, karena aku tahu akan menjadi apa dia setelah aku meninggal.    Akulah    yang   mengendalikan    nasib
mereka, bukan bintang-bintang atau angka-angka yang diperhitungkan orang tolol itu."
mim
Padishah sudah menghujani kekasihku dengan kekayaan melimpah, emas dan batu-batu mulia, pangkatnya sebagai komandan pasukan sebanyak tiga puluh ribu zat dan sepuluh lakh sowar-aku bisa membangun rumah sakit dan sekolah untuk orang miskin. Rumah sakit didirikan bagi para perempuan yang membutuhkan perawatan terbaik: mereka tidak lebih berharga dibandingkan sapi-sapi yang berkeliaran di jalanan Agra, mengais-ngais buah-buahan, sayur-sayuran busuk, dan sampah. Bagaimana nasib mereka, sementara aku saja tidak bisa mencegah terisinya rahimku oleh benih Shah Jahan. Seperti aku, mereka hanya bisa memprotes dalam kebisuan yang hening dan membawa beban di perut mereka bagaikan budak. Hakim pribadiku, Wazir Khan, merawat penderitaan mereka, dan setiap hari aku mengunjungi mereka bersama Isa. Bahkan aku pun tidak bisa mengubah kebiasaan bahwa pendidikan hanya untuk anak-anak lelaki. Sekolah-sekolah dibuka bukan saja diperuntukkan bagi anak-anak lelaki Muslim, tetapi juga Hindu dan Sikh, dan setiap agama lain di negeri ini. Aku tidak bisa menyelamatkan anak-anak perempuan dari kungkungan rumah mereka dan pekerjaan domestik yang membosankan.
Kesibukanku menarik perhatian Mehrunissa. Aku mendengar bisikan yang datang dari mulutnya, yang
merupakan sebuah peringatan: dia sudah bertingkah seakan-akan dia adalah seorang permaisuri. Kebutuhan rakyat jelata seharusnya merupakan kepedulian Padishah, bukan dia.
Mehrunissa, Mehrunissa, Mehrunissa. Dundhubi bertalu-talu mengalunkan namanya ke seluruh kesultanan dengan syahdu. Jantung kekuasaan berada dalam genggamannya: dia mengacungkan satu jari saja, pajak bisa dinaikkan atau diturunkan; jari yang lain, seorang pejabat jatuh atau naik pangkat; jari ketiga, perdagangan terhenti atau ada jalur perdagangan baru; jari keempat, undang-undang dikeluarkan atau ditarik. Jahangir masih bermain peran sebagai sultan, melakukan pertemuan harian dengan menteri-menterinya di ghusl-khana, menampilkan        dirinya        di
jharoka-i-darshan pada saat fajar dan sore hari. Pada waktu itu, saat bayangan benteng jatuh ke maidan, dia akan muncul untuk menyaksikan perkelahian gajah, atau hukuman mati. Metode hukuman ditentukan sesuai dengan kejahatan; penghancuran kepala terpidana oleh seekor gajah (menurut kabar, Akbar memiliki seekor gajah yang bisa menentukan apakah seseorang akan mati atau tetap hidup), pemotongan alat vital oleh pedang algojo, atau ... banyak lagi, semua ditampilkan di maidan.
Tetapi, Mehrunissa yang memerintah. Gumaman para pejabat begitu pelan, dan tersebar diam-diam; mereka tidak bermaksud agar perkataan mereka sampai di telinga Jahangir, hanya mereka yang mau
mendengarkan, yang ingin mengakhiri kekuasaan Mehrunissa. Tetapi, sang Sultan dan Permaisuri begitu dekat satu sama lain, sehingga tak mungkin bisa memisahkan mereka.
Ini tidak menjadi perhatianku. Aku hanya berusaha mendengarkan bisikan-bisikan tentang kekasihku, dan tidak ada yang kudengar. Dia tetap menjadi kepercayaan Jahangir, dan banyak menghabiskan waktu menemani ayahnya. Pendapat-pendapatnya didukung dengan kuat oleh ayahku dan kakekku sendiri, dan jika Mehrunissa berpikir sebaliknya, dia tidak pernah mengungkapkannya langsung di depan mereka.
Ketidakpedulianku juga bersifat pribadi, sangat pribadi, dan selain itu, ada hal lain yang mengusik pikiranku. Sekali lagi, benih Shah Jahan terbentuk di rahimku. Aku tidak lagi bisa mengingat kapan pembuahan ini terjadi. Aku benar-benar bahagia dan menerima sepenuhnya kelahiran Dara, tetapi saat kelahiran anakku yang lain, aku bahkan tidak memedulikan musim apa saat itu. Aku tidak memberi tahu siapa pun, tetapi, dengan alasan penyakit ringan, aku menyuruh Isa menjemput Wazir Khan. Saat dia datang, aku memerintahkan para perempuan untuk menjauhi ruangan agar tidak bisa mendengar apa-apa, tetapi masih bisa melihat, karena aku tidak boleh ditinggalkan sendirian bersama seorang lelaki. Aku berbaring di dipan, tersembunyi dari matanya di balik tirai tebal. Dia berlutut di sampingku, dan mengulurkan tangan ke organ   intimku.   Aku   menahan   tangannya,   dan
mendengar seruan kagetnya. Seharusnya aku menuntunnya untuk memeriksaku. Beberapa perempuan menggunakan alasan sakit hanya untuk merasakan sentuhan lelaki.
"Aku tahu gejalanya. Kau tidak perlu memeriksaku."
"Lagi? Ini terlalu cepat, Yang Mulia. Saya sudah memberi tahu Yang Mulia, setidaknya beristirahatlah setahun; tubuh Yang Mulia harus beristirahat. Semangat Yang Mulia sangat kuat, tetapi sayangnya, tubuh Yang Mulia tidak memiliki kekuatan yang sama."
"Katakan kepada suamiku. Aku tidak bisa menolaknya." Aku meremas tangannya. "Aku ingin kau memberiku ramuan." Aku mendengar lagi penyangkalan dalam suaraku, aliran darah di wajahku. Aku ingin membunuh benih pangeranku yang tercinta, darah dagingku sendiri.
"Yang Mulia, sungguh tidak bijaksana untuk menggugurkannya. Seratus hari sudah lewat, dan sudah begitu terlambat."
"Aku yang menentukan apa yang baik atau yang buruk, Bodoh." Aku tidak bermaksud kasar, tetapi tidak mampu menahan ketidaksabaran dan ketakutanku, perasaan ngeri akan beban berat yang menghancurkan tulangku, darahku, perutku.
"Tubuh Yang Mulia akan berkembang dan terbiasa dengannya, dan setiap kali akan melahirkan seorang bayi. Ini adalah kehamilan yang keenam."
"Dan ini akan menjadi yang terakhir. Bawakan ramuan untukku dan tidak boleh ada yang tahu,
atau terimalah konsekuensi kemarahanku. Tidak, tidak, maafkan aku. Aku berbicara begitu karena kekalutan. Aku akan memberimu emas."
"Saya sudah melayani Anda begitu lama, Yang Mulia. Saya akan melakukan apa yang Anda perintahkan, bukan untuk emas, tapi karena keinginan Yang Mulia sendiri. Tapi, lain kali, bahkan jika Yang Mulia memerintahkan hukuman mati untuk saya, saya akan menolak. Suatu hari, Yang Mulia mungkin tidak bisa pulih dari penyakit yang tumbuh di perut Yang Mulia. Tolaklah suami Anda."
"Ya, lebih baik untuk menolak, tapi berapa lama aku bisa melakukan itu?"
"Setahun atau dua tahun."
Aku tidak bisa menahan tawaku.
"Bisakah kau tahan tidak menyentuh perempuan selama itu?"
"Saya memiliki empat istri, Yang Mulia, jadi tidak
ada yang menolak kebutuhanku. Shah Jahan harus ii
"Cukup."
Dia segera terdiam; dengan lembut menarik tangannya, lalu pergi. Kemudian terdengar sebuah suara langkah yang terburu-buru dan tidak teratur di lantai marmer.
"Agachi," panggil Isa. "Aku mendengar Sultan sakit. Beberapa orang berkata, dia sekarat ...."[]
16
Taj Mahal
1050/1640 Masehi
Makam itu baru berupa kerangka, tiang-tiangnya yang panjang dan berwarna pucat membentuk siluet di latar depan langit malam yang jernih dan kerangka bangunan dari batu bata yang kukuh. Bangunan itu tampak tak bernyawa, dingin. Shah Jahan telah membayangkan cahaya dan ruang-ruang; bukannya suatu benda mati yang menyesakkan. Hal ini membebaninya. Dia telah gagal. Dia memukul kepalanya; para punggawa merasakan kemarahannya. Afandi bercucuran keringat dan terbatuk-batuk karena menghirup debu dari ruangan pusat. Lantai di bawah tertutup oleh serpihan batu, udara lembap karena campuran semen, batu yang belum dipoles, dan keringat ribuan orang. Di atasnya, kubah tampak seperti tengkorak yang pecah, menampakkan surga di atas. Jika sudah selesai, beratnya akan menjadi seribu dua ratus ton. Dia berdoa. Dia melihat bibir Muhammed Hanif, Sattar Khan, Chiranji Lal, Baldeodas, dan Abdul Haqq bergerak-gerak tanpa
suara. Vang lain diam-diam bergerak mundur ke bayangan yang lebih gelap.
"Ini belum selesai, Padishah," Isa menginterupsi.
Shah Jahan berputar, sarapanya menerpa bayangan di dinding, bagaikan sayap burung besar yang mengepak di sana. Dia menyadari siapa yang berbicara, siapa yang menginterupsi, dan amarahnya sirna. Sarapa itu kembali melekat di tubuhnya dan tak bergerak, bagaikan bulu rajawali yang kembali merunduk.
"Harus selesai segera. Segera. Kau mendengarku, Hanif?" Shah Jahan menatap ke dalam bayangan. Hanif, kepala tukang batu, dengan ragu-ragu melepaskan diri dari perlindungan teman-temannya.
"Akan segera selesai, Padishah. Sesegera mungkin," dia menjawab dengan pelan, mencoba menghibur sang Padishah.
Dinding-dinding dan balkon-balkon sudah selesai, tetapi masih ada celah besar untuk memasang jali, tempat jendela-jendela akan dipasangkan; itu semua bukan tanggung jawab Hanif. Orang lain yang harus menanggung kesalahan. Kubah-kubah yang lebih kecil hampir selesai. Lorong tempat orang-orang berdiri sudah menjulang setinggi dua puluh empat meter dan suara mereka bergema dalam ruangan yang luas.
Sang Sultan memandang berkeliling. Para pekerja sedang berkerumun di sudut-sudut, menatap ke bawah, ke arahnya, dari balkon-balkon, mendongak dari    arah    bawah,    tidak    bergerak,    membisu,
seakan-akan setiap tubuh berkulit gelap itu telah dipahat ke dinding batu putih untuk selamanya. Kehadiran Padishah membuat mereka membeku, merunduk, berlutut, berdiri, mengukir, dan mengangkut. Baru setelah dia pergi, mereka bergerak dan bernapas lagi, sambil berbisik: sang Padishah, sang Padishah.
mm
Sita menjerit. Murthi, yang menunggu di luar, mulai bergerak, kemudian bersandar sambil duduk di tanah. Para perempuan bersama Sita. Murthi mengisap beedi dan mengembuskan napas bersamaan dengan kepulan asap; Ram, Ram. Pasti anaknya lelaki. Seorang putra belum cukup. Sita menjerit lagi. Gopi dan Savitri mencengkeram Murthi dengan ketakutan. Dia memeluk mereka. Ini hanya seorang bayi, dia menenangkan mereka-mencoba tidak memikirkan kesakitan Sita. Membuat anak adalah dharmanya; dharma para perempuan adalah untuk melahirkan mereka. Dia merasa bangga terhadap dirinya sendiri; dia memiliki kekuatan untuk membuahi. Dengan keberuntungan, berita kelahiran akan sampai di telinga pelindungnya. Mungkin akan ada hadiah yang dikirimkan, sebuah cangkir perak atau bahkan emas untuk putranya. Dia belum bisa memecahkan teka-teki ini; dan hal ini membuat kepalanya sakit. Selama beberapa tahun ini, bayangan telah merengkuh dan melindunginya, tidak kasatmata, karena tersembunyi di belakang dinding-dinding   benteng.   Dia   merinding   karena
mengingat penderitaannya di tangan sang wazir.
Sang wazir telah membawanya ke sebuah sudut yang jauh dari orang lain, dengan diam-diam.
"Siapa kau?"
"Murthi. Aku memahat jali."
"Aku tidak bertanya apa pekerjaanmu,  Tolol. Apakah kau mengenal Isa?" "Tidak. Siapa Isa?"
"Aku yang bertanya, Tolol. Isa, pelayan sang Sultan, budaknya, hamba sahaya yang berjalan dalam bayangannya."
"Bahadur," Murthi berbicara dengan berani, "bagaimana aku bisa mengenal seseorang dengan pangkat setinggi itu? Aku hanya seorang pemahat. Aku bekerja untuk Baldeodas."
"Kau menandatangani petisi."
Murthi berpikir untuk mengingkarinya, tetapi dia tidak bisa. Keberaniannya segera menguap. Dia telah melakukannya untuk istrinya, anak-anaknya, dan anak-anak orang lain. Seorang lelaki tidak bisa mati tanpa melakukan satu aksi keberanian. Dia telah melakukan tugasnya, dan saat ini harus menerima konsekuensinya.
"Ya. Apakah aku membuat Sultan marah?"
"Tentu saja."
"Tapi, dia memberi kami makanan."
"Itu tidak mengurangi amarahnya. Dia mengirimku untuk mencarimu. Aku bisa meredakan amarahnya, jika kau memberi tahu apa yang kau tahu tentang Isa."
"Tidak ada, Bahadur. Aku tidak tahu apa-apa
tentang Isa. Aku telah mengatakan itu."
"Kalau begitu, aku tak bisa menolongmu. Kau akan mendapat masalah besar. Ikuti aku."
Sang wazir mencengkeram lengan Murthi dan menyeretnya menjauh dari lokasi pembangunan, sepanjang sungai, dan menuju benteng. Murthi menatapnya dengan penuh rasa ngeri. Tidak ada yang memerhatikannya, mereka tidak menyadari apa-apa karena sibuk dengan tugas mereka sendiri-sendiri. Dia dibawa ke sisi terjauh benteng, ke sebuah bangunan yang gelap dan menyeramkan, dan wazir menyerahkannya ke tangan seorang prajurit. Dia tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan wazir, tetapi si prajurit memeganginya dengan kasar, mengambil rangkaian kunci dari dinding, kemudian mendorongnya ke dalam kegelapan total, tempat para lelaki dan perempuan dalam jumlah tak terhingga terbaring, beberapa menangis, yang lain membisu, putus asa. Dia dimasukkan ke dalam sebuah sel, kemudian pintu dibanting. Murthi menemukan dirinya tinggal di satu sel bersama para pencuri, pembunuh, pemerkosa. Dia menangis, tidak mampu mengerti, kejahatan apa yang dia lakukan. Selama dua hari dia meringkuk di sana, membisu, murung, selalu ketakutan. Pada hari ketiga, pintu terbuka dan sipir memanggil.
"Murthi!"
Murthi bergeser di antara para tahanan lain yang bau, kakinya menapak ke lantai tanah yang sangat kotor. Dia bisa merasakan akhir hidupnya. "Kau Murthi? Cepat, aku tidak memiliki waktu
sepanjang hari."
Sipir membawanya keluar, menuju matahari yang terik dan menyilaukan. Seorang prajurit menunggu. Dia tidak dicengkeram dengan kasar, tetapi disentuh dengan lembut.
"Ikuti aku."
Murthi mengikuti sang prajurit tanpa mampu merasakan apa-apa, dan tiba-tiba menemukan dirinya sendiri di luar gerbang benteng.
"Chulo-ji, chulo," sang prajurit mengusirnya dan membalikkan tubuh.
Murthi berjalan dengan goyah, terpana dengan apa yang telah terjadi. Kemudian, setelah lepas dari perasaan kebas, dia mulai berlari. Dia berlari menuju sungai, ketakutan akan ditangkap lagi, mengalami kembali mimpi buruk. Dia melihat kerumunan di bawah jharoka-i-dharsan, tempat Shah Jahan duduk di atas singgasana emasnya, sambil menatap ke bawah. Saat itu sudah sore dan Murthi menyelinap di antara kerumunan untuk melihat tamasha. Seekor gajah berdiri sambil berayun-ayun di pusat maidan, di depan sebuah balok kayu yang ternoda; lalat mendengung mengitarinya. Sekelompok lelaki yang mengenakan topi ketat berjalan keluar dari benteng. Di tengah-tengah, mereka menyeret seorang pria yang pingsan. Murthi menatap, nyaris bisa mengenali wajah yang pucat, berkerut karena ketakutan; itu adalah sang wazir yang arogan. Lelaki itu didorong hingga jatuh ke tanah. Para algojo meletakkan kepalanya di balok, yang   lain  memegangi   lengan   dan  kakinya.   Dia
menjerit ketika bayangan sang gajah jatuh ke tubuhnya. Hewan besar itu mengangkat kaki kanannya sesuai perintah, menahannya sebentar seakan-akan mencoba menyeimbangkan tubuh, kemudian dengan lembut, perlahan-lahan, menurunkan kakinya ke kepala si wazir. Para algojo menghindar dengan cekatan ketika tengkoraknya pecah. Murthi berbalik dan mendorong kerumunan, gemetar ketakutan. Bisa saja dia, bukannya si wazir, yang ditahan di bawah gajah itu. Siapa yang membalikkan keberuntungannya? Apakah mungkin Isa yang misterius? Siapa pun dia, Murthi bertekad untuk menemukan lelaki itu.
"Hazoor, kau memiliki putra," para perempuan memanggilnya.
Murthi tersenyum lebar, bertepuk tangan, kemudian terburu-buru masuk. Sita berbaring dengan lemas dan kelelahan, basah oleh keringat; wajahnya tampak tenang seperti seseorang yang telah melewati penderitaan hebat. Murthi memeriksa bayinya. Seorang putra. Seorang putra. Sekarang, hari tuanya pasti berada dalam kenyamanan.
1054/1644 Masehi
Isa mengamati Shah Jahan duduk di sebuah landasan. Saat ini sang Sultan berulang tahun. Dua kali setahun, menurut perhitungan kalender matahari dan kalender bulan, berat sang Sultan ditimbang dengan emas. Ini adalah tradisi Hindu, tuladana, yang diadopsi oleh Humayun sekitar seratus   tahun   yang   lalu.   Setiap   Mughal   yang
berkuasa selalu mengikuti kebiasaan ini. Saat ini adalah hari kelahiran Shah Jahan dalam tahun Islam, dan upacara berlangsung secara tertutup di dalam harem, sementara peringatan ulang tahun dalam tahun Masehi dirayakan besar-besaran. Para perempuan berkumpul di sekitar timbangan. Tiangnya terbuat dari emas, setinggi tubuh manusia. Dari sebuah palang emas, tergantung sebuah landasan di satu sisi, dan di sisi yang lain tergantung sebuah mangkuk besar untuk menampung koin. Para budak meletakkan kantong-kantong koin emas dalam mangkuk tersebut, mengisinya dengan hati-hati, hingga sang Sultan perlahan-lahan terangkat dari lantai. Para perempuan berseru-seru dan bertepuk tangan, Shah Jahan tersenyum, dan beratnya dicatat. Shah Jahan memiliki bobot tubuh seberat delapan puluh satu kilogram. Koin-koin emas itu diangkat dan dibagikan kepada fakir miskin.
Kegembiraan Shah Jahan berlangsung singkat. Cahaya seakan-akan langsung menghilang dari matanya. Dia meninggalkan para perempuan yang sedang menikmati pesta perayaan dan mendengarkan para penyanyi, dan terburu-buru menyusuri koridor-koridor harem. Isa mengikuti. Mereka memasuki sebuah kamar di sudut. Cahaya bulan mengintip di antara jali, membuat marmer berwarna keperakan. Hakim yang sedang berlutut di samping dipan dengan segera berdiri karena menyadari sosok yang datang. Shah Jahan menyuruhnya mundur.
"Bagaimana keadaannya?"
"Yang Mulia, dia sulit bernapas, dan hanya sedikit yang bisa saya lakukan. Saya telah menempelkan kain-kain dingin di tubuhnya."
Shah Jahan berlutut di samping Jahanara. Dia nyaris tidak mampu menatap putri kesayangannya, yang mewarisi wajah Arjumand. Keadaan Jahanara sungguh menyedihkan. Wajah dan tubuhnya terluka parah, kulitnya menghitam; Shah Jahan masih bisa mencium bau terbakar. Dua puluh hari yang lalu, pakaiannya terbakar api dari sebatang lilin yang terbakar. Dua pelayan tewas karena mencoba memadamkan api yang menyelubungi tubuhnya.
"Jahanara, Jahanara," Shah Jahan berbisik. Jahanara tidak menjawab. Shah Jahan nyaris tidak bisa melihat gerakan tubuh Jahanara untuk bernapas. Rambutnya botak di satu bagian, kulit kepalanya hangus.
"Imbalan yang besar menantimu, jika kau bisa menyelamatkan hidupnya."
"Kita hanya bisa memohon kepada Allah," sang hakim menjawab, berdoa agar dia bisa menyelamatkannya-karena hadiah dari Padishah akan membuatnya jauh lebih kaya daripada yang dia inginkan.
Dara juga ada di sana, matanya cekung, kelelahan karena terus berjaga di samping kakaknya, dan dia bergoyang-goyang sambil berdoa. Isa berdiri, mengingat jeritan Arjumand yang menghilang di perbukitan Deccan yang keras. Untuk apa dia mengalami rasa sakit itu? Apakah untuk ini,
sosok Jahanara yang tak terbentuk, yang terbaring di dipan dalam penderitaan yang tak terperi? Jahanara merintih, menggemakan suara ibunya bertahun-tahun yang lalu, dan Isa mengingat seorang anak berwajah cerah, disayangi hampir seperti mereka menyayangi Dara. Isa merasakan kasih sayang yang membuncah setiap gelombang kesakitan menyerbu tubuh rusak sang Putri. Dia tidak akan dapat tertolong, karena tubuhnya bukan terbuat dari besi, atau batu. Tubuhnya akan hancur dengan mudah, dalam cengkeraman kesakitan yang secepat kilat.
Isa mendengar suara gaduh di luar dan menengok ke arah koridor. Berjalan secepat kilat ke arahnya, bayangan sosok itu timbul-tenggelam di sepanjang dinding-Aurangzeb. Pakaian dan wajahnya kotor, keringat membuat jejak-jejak di wajahnya; dia tampak kelelahan. Aurangzeb telah menunggang kuda secepat mungkin dari Deccan, sebuah perjalanan yang pasti akan menghancurkan orang yang berfisik lebih lemah. Aurangzeb berjalan dengan tegak, gelisah, seakan-akan rasa sakit berada di luar pengertiannya.
"Isa, apakah dia hidup?"
"Iya, Yang Mulia."
Aurangzeb mencabut belati dari sabuknya, dan menyerahkannya kepada Isa. Sang pangeran membungkuk ke Shah Jahan, mengabaikan Dara, dan berlutut di samping Jahanara. Mata hitamnya berkilat. Dalam usia muda Aurangzeb yang sulit dikendalikan, Jahanara adalah teman terdekatnya.
Aurangzeb menggenggam tasbih di kepalannya dan berdoa. Dia tidak menangis maupun meratap; doanya diucapkan dalam kebisuan, dalam kemarahan. Dia tidak memerhatikan jika sang Sultan menatapnya sambil terpana, bagaikan melihat sesosok hantu. Keterpanaan itu berubah menjadi kecurigaan, dan mata sang Sultan menyipit dengan ketidakpercayaan. Dara membungkuk dan berbisik di telinga ayahnya. Kedatangan Aurangzeb yang tiba-tiba telah membuatnya merasa tidak nyaman juga.
"Siapa yang menyuruhmu datang?" Shah Jahan bertanya.
Aurangzeb tidak menjawab. Dia terus berdoa. Karena menghormati tindakannya, Shah Jahan menunggu.
"Siapa yang menyuruhmu datang?"
"Tidak ada. Dia adalah kakak perempuanku, dan aku mengkhawatirkan nyawanya. Aku tidak bisa menunggu tanpa melakukan apa-apa di luar sana."
"Kau datang sendiri?"
"Seorang putra sultan tidak dapat bepergian sendiri."
"Berapa banyak?"
"Lima ribu penunggang kuda."
Shah Jahan mengerutkan alis, mencemooh.
"Begitu banyak? Apakah Aurangzeb khawatir akan diserang? Atau, apakah dia merencanakan penyerangan?"
"Tidak dua-duanya," Aurangzeb menatap ayahnya.   Sorot   matanya   tidak   menantang   maupun
melunak. Tatapannya datar, bagaikan mereka setara. "Pasukanku berjumlah lima belas ribu zat, aku hanya datang dengan sepertiganya. Siapa yang bisa mereka lukai?"
"Tidak ada." Shah Jahan menjawab dengan dingin. "Kau akan segera kembali ke markasmu. Berani-beraninya kau meninggalkannya tanpa izinku! Kau dan pasukanmu harus kembali saat ini juga. Berapa lama perjalanan yang kau tempuh?"
"Sepuluh hari, sepuluh malam."
"Begitu lama? Kembalilah hingga aku, sultanmu, memberimu izin untuk berkeliaran di negeri ini," Shah Jahan mencemooh.
Bibir Aurangzeb tampak bergerak. Sulit dikatakan apakah dia tersenyum atau menyeringai. Dia membungkuk kepada ayahnya, menatap Jahanara cukup lama, wajahnya melembut, kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan. Isa mengikuti, mengulurkan belati sang Pangeran.
"Aku akan menyiapkan agar Yang Mulia bisa mandi dan makan."
"Kau mendengar ayahku," kata Aurangzeb. "Aku tidak bisa tinggal." Dia ragu-ragu, menatap kembali ke dalam ruangan, seakan-akan ingin bertanya kepada Isa, tetapi menahan diri. Tetapi, Isa merasakan bahwa Aurangzeb ingin menanyakan sesuatu. Ekspresi kebingungan itu begitu akrab: Apa yang telah kulakukan? Mengapa dia tidak mencintaiku?
Tetapi, Aurangzeb hanya menggenggam lengan Isa, kemudian berjalan kembali menyusuri koridor,
bayangannya semakin gelap dan menghilang di belakangnya.
1056/1646 Masehi
Dengan penuh rasa hormat, Murthi membawa Durga ke kuil, terbungkus di dalam sebuah karung goni. Patung itu tidak berat, tetapi Murthi sering berhenti untuk beristirahat. Dia tidak ingin menjatuhkan dan merusak patung marmer itu, apalagi mematahkan salah satu lengannya. Selama bertahun-tahun, Durga telah berjasa dalam hidupnya. Ini adalah suatu ritual ibadah, lebih daripada sekadar tenaga dan waktu yang telah dia habiskan untuk sang dewi, sehingga dia sangat berhati-hati-jika kita menyakiti Durga, dia akan menyakiti kita; tetapi kebaikan akan diganjar dengan kebaikan juga.
Pembangunan kuil sudah hampir selesai. Kuil itu kecil. Gopuramnya menyentuh dahan terendah pohon banyan dan garbhagriha-nya hampir setinggi manusia. Cahaya matahari membuat dinding-dinding marmer menjadi bersemburat kuning seperti buah limau. Dinding batu bata yang terluar dibangun rendah untuk memuaskan tradisi, bukan untuk perlindungan, dan belum selesai. Chiranji Lal dan sekelompok orang menunggu. Seorang pendeta telah melakukan perjalanan jauh dari Varanasi untuk memberkati patung ini. Tumpukan tinggi beras, ghee, susu, madu, dupa, kelapa, pisang raja, dan bunga-bunga sudah menanti. Puja, yang panjangnya bervariasi tergantung kepentingannya, tidak hanya akan makan waktu berjam-jam, tetapi
hingga berhari-hari. Sang Brahmin adalah seorang pria muda yang kurus, tampak bangga karena terpelajar, tetapi belum berpengalaman. Dia bertelanjang dada, dengan garis suci yang menggores pundak hingga pinggangnya. Segumpal rambut tumbuh dari kepalanya yang tercukur gundul, seperti air yang memancar dari batu. Para musisi dengan seruling dan tabla duduk di karpet lusuh di sampingku. Sang pendeta mengambil patung dariku, membuka bungkusnya, dan dengan hati-hati meletakkannya di altar. Lengan-lengan Durga terentang dari tubuhnya bagaikan dahan pohon. Murthi telah memberi cat emas untuk mahkotanya, warna biru dan perak untuk tepi sarinya. Ekspresinya memancarkan senyuman yang dikulum. Kita harus memerhatikan dengan teliti untuk melihat bagaimana senyumnya terbentuk, karena hanya tampak sedikit lekukan di bibirnya. Sang dewi berdiri, setengah tubuhnya dalam kegelapan, setengah lagi dalam sinar matahari, tanpa sengaja memantulkan pembagian spiritual dalam dunianya. Murthi mendengar orang-orang yang terkesiap kagum dan merasakan kebanggaan tak terkira karena pencapaiannya. Ini adalah dharmanya; untuk memahat dewa-dewi. Murthi sang Acharya.
"Aku tidak bisa terus di sini," dia menyesal, meskipun dia sudah sering menyaksikan upacara. Seluruh bagian sastra akan dilantunkan, api dinyalakan untuk membakar beras dan ghee. Pada saat   itu,   beras   dan   ghee   akan   diletakkan   di
garbhagriha. Di antara garbhagriha dan landasan patung akan diletakkan sebuah piring tembaga yang tebal: kekuatan dewa-dewi yang sebenarnya akan muncul dari simbol-simbol yang terukir di piring tersebut. Orang-orang itu mengerti; Murthi harus bekerja untuk membuat jali. Dia mengambil darshan dari pendeta dan kembali ke pekerjaannya.
Jali itu tergeletak di tanah yang berdebu, setengah jadi. Benda itu juga setengah tertutup, sedikit mirip si pendeta, bagian bawahnya masih berupa marmer utuh. Batang tumbuhan yang indah tumbuh dari bongkah polos tersebut, begitu indah dan rapuh, sehingga rasanya tidak mungkin bisa dipercaya jika dua bentuk itu berasal dari batu yang sama. Yang satu menjulang; yang lain tergeletak kaku.
"Bagaimana kabar ibumu?" dia bertanya kepada Gopi saat mulai bekerja, tap, tap, tap.
"Dia menangis dan terbaring dengan mata terpejam rapat." Wajah anak lelakinya berkerut karena kekhawatiran.
"Dia kelelahan bekerja, tapi dia akan segera pulih. Dia tidak sekuat dulu."
Murthi bekerja sepanjang hari, berkonsentrasi dalam kebisuan, hingga cahaya mulai memudar. Dia hampir menyelesaikan sebentuk daun. Daun itu tumbuh dari bongkahan, hanya ujungnya yang tampak, mengangguk diterpa angin yang tak terasa.
Saat mereka berjalan pulang perlahan-lahan, Murthi merasa tubuhnya kaku sehabis bekerja. Dia mengendus aroma masakan di perapian, menghirup
wangi makanan yang terbawa angin. Mumtazabad begitu bersih dan teratur. Mungkin kota itu sudah ada selama berabad-abad. Kota ini membuatnya merasa betah, nyaman, serasa kampung halamannya sendiri. Jalanan, orang-orang, bahkan anjing-anjing liar pun sekarang sudah terasa akrab. Dia merasa damai. Patung pujaannya sudah selesai; tinggal jali yang belum rampung. Dia menoleh ke belakang, melihat kubah yang belum selesai menjulang di antara pepohonan. Matahari telah mengubah warna kubah menjadi merah jambu terang. Sisa makam itu dikelilingi oleh kerangka batu bata. Saat dia kembali ke kampung halaman, dia akan menceritakan kemegahan ini kepada teman-teman lamanya. Sudah pasti, mereka tidak akan memercayainya. Orang-orang itu harus melihat sendiri sebelum bisa mengerti. Sebuah sketsa di tanah tetaplah tanah, imajinasi tidak bisa mengubahnya menjadi marmer, tidak bisa membuatnya menjulang tinggi ke langit. Dia berharap agar makam besar itu segera selesai. Dia ingin melihat di mana mereka memasang jali yang dia kerjakan, bagaimana benda itu bisa menangkap dan menguraikan cahaya, bagaimana bayangan jatuh ke lantai marmer. Dia tidak peduli jika namanya tidak akan pernah dikenal, itu tidak penting. Siapa yang tahu nama-nama resi atau orang-orang yang membangun kuil-kuil raksasa di Varanasi, atau yang memahat dewa-dewi di sisi bukit dan gua-gua? Kehidupan ini hanyalah suatu tugas bagi manusia.
Para perempuan berkerumun di pintu masuk rumahnya, berdesakan dan berbisik, mengintip ke dalam.
Jantungnya melompat. "Ada apa?" "Sita sekarat."
Murthi mendorong agar bisa masuk. Sita terbaring, napasnya terputus-putus. Wajahnya kaku, pucat; Murthi mengetahui tanda-tanda kehidupan yang akan segera berakhir, tanpa bisa dicegah.
"Pergilah," Murthi menyuruh Gopi. "Larilah ke benteng. Katakan kepada para prajurit untuk memberi tahu Isa bahwa istriku Sita sedang sekarat. Kita membutuhkan hakim. Larilah!"[]
Kisah Cinta
1031/1621 Masehi
Arjumand
Aku sangat berduka saat kakekku meninggal. Sebagian dari diriku juga menghilang; kakekku membawa bagian itu bersamanya. Kita memulai kehidupan dengan sebuah lingkaran penuh, bersama begitu banyak orang: para ayah, para ibu, para kakek, para nenek, saudara lelaki, sepupu, dan saudara perempuan. Kemudian, ketika mereka meninggal, satu demi satu, setiap kematian akan melubangi lingkaran itu. Kita mengerut, mengecil, dan menyusut, hingga semua yang ada dalam kehidupan kita hanyalah diri kita sendiri.
Kakekku meninggal saat tertidur. Kami semua dipanggil, dan aku melihat wajahnya yang tenang dan damai. Sungguh sulit membayangkan seorang anak muda yang menempuh perjalanan panjang dari Persia untuk mencari peruntungan dengan melayani Mughal Agung Akbar. Kemudaannya tersembunyi di dalam tubuhnya yang renta, tersembunyi dalam lipatan-lipatan  sutra,   tersembunyi  oleh  dukacita
Mughal Agung Jahangir, Permaisuri Nur Jehan, Pangeran Shah Jahan, Putri Arjumand, dan Putri Ladilli. Para pangeran, bangsawan, rana, nawab, amir, semua datang untuk menyampaikan belasungkawa mereka kepada seorang anak lelaki kelaparan yang tersembunyi di balik seorang lelaki hebat. Jahangir telah memerintahkan sebulan masa berduka bagi kematian Itiam-ud-daulah-nya, Pilar Pemerintahannya, penasihatnya yang bijaksana, sekaligus temannya.
Aku mencium Kakek, aroma tubuhnya yang akrab serasa memudar, sudah digantikan sebagian oleh aroma masam kematian yang menguar dari dalam tubuhnya. Kekasihku mencium Kakek dan menangis juga. Mereka telah menjadi dekat, sang lelaki tua dan lelaki muda, seakan-akan saling mencari perlindungan satu sama lain. Mehrunissa menangis paling keras. Kakekku bukan hanya seorang ayah baginya, melainkan juga teman dan penasihat, serta gurunya. Kakekku telah menuntun nasib Mehrunissa, seperti Tuhan menuntun nasibnya. Mehrunissa tampak lebih daripada sekadar berduka; selama berhari-hari dia kelihatan tenggelam dalam mimpi. Dia tidak makan maupun minum, tetapi duduk terdiam sambil menatap air Jumna. Selama bertahun-tahun, dia bersandar kepada ayahnya dan saat ini hampir bisa mandiri. Tetapi, kemuramannya tidak berlangsung lama. Jahangir memberinya izin untuk membangun sebuah makam bagi Itiam-ud-daulah. Makam itu dibangun di dalam kota, di tepi Sungai Jumna.  Dia mengerahkan banyak
tenaga untuk memilih para pembangun beserta rancangan mereka. Dia mengetahui apa yang dia inginkan.
Jahangir merasa ironis karena dia berhasil menghindari kematian, dan kematian itu malah menimpa Ghiyas Beg. Penyakitnya sendiri masih terus terasa, meninggalkan jejak di wajahnya. Dia mengalami kesulitan untuk bernapas dalam udara panas yang kering, dan terus-menerus ingin pindah lebih jauh ke utara. Dia sangat menyukai Kashmir. Dia ingin duduk di taman-taman yang telah dia rancang dan mengamati ikan-ikannya, yang masing-masing ditempeli cincin emas, berenang-renang di kolam air mancur. Tetapi, dia selalu ingin ke sana bukan karena alasan kesehatan semata; dia menatap syahdu ke utara, ke pegunungan tinggi di atas bebatuan dan salju yang memagari, ke arah tanah leluhurnya. Aku telah mendengar bisikan bahwa dia berharap bisa menaklukkan tanah itu. Dia bermimpi untuk bisa memerintah Samarkand.
m/m
Setahun sebelum kematian kakekku, aku juga merasa sedih. Ada banyak alasan untuk itu: sekali lagi aku mengandung. Sekali lagi, perutku membesar, sekali lagi penderitaan mencengkeram jiwaku. Pada kehamilanku yang terakhir, racun hakim berhasil menggugurkan bayiku, dan aku jatuh sakit serta lemas selama beberapa hari. Dipan selalu ternoda darah. Tetapi, keluarnya batu janin dari
dalam rahimku membuat pikiranku yang melayang-layang merasa nyaman.
Setelah itu, aku memutuskan untuk menolak kekasihku secara lebih tegas. Saat kami berbaring bersama, dia bisa merasakan kekakuan tubuhku ketika dia membelaiku-tubuhku membeku, seperti marmer dan terasa berat.
"Lagi?" dia berbisik dengan kasar. Betapa cepatnya waktu berlalu, bagaikan saat terakhir kami bercinta berlangsung sesaat yang lalu. "Aku merasa seperti berbaring bersama mayat."
"Mengapa kau berkata kejam kepadaku?" "Karena kau tidak lagi mencintaiku." Dia berbicara   dengan   sebal,   merasa   terhina   bagaikan seorang anak lelaki yang ingin kemauannya dituruti.
"Aku mencintaimu. Cintaku tidak berubah sejak pertama kali aku melihatmu."
"Lalu, mengapa kau menolakku?" Dia berbaring telentang, tidak lagi menatapku, tetapi menatap langit-langit, menginginkan aku memohon maaf kepadanya. Oh, betapa sakitnya mencintai. "Jika kau masih mencintaiku, kau akan mengizinkanku bercinta denganmu."
"Aku lelah. Aku baru saja kehilangan seorang anak, dan tubuhku masih terasa sakit."
"Aku bertanya-tanya, bagaimana kau bisa kehilangan anakku," dia berkata, seperti tak berdosa di balik kekejaman permintaannya akan cinta yang tak terpuaskan. "Sekarang sudah dua kali. Berapa kali lagi akan terjadi?"
"Hal seperti ini terjadi pada beberapa perem-
puan. Siapa yang bisa memperkirakannya?" aku berbisik dengan penuh ketakutan. Aku tidak tahu apakah dia mengira-ngira, atau mungkin mengetahuinya. Aku berdoa agar dia tidak mendengar keraguan dalam penyangkalanku.
"Aku tahu," dia memelukku dengan lembut, kemarahannya tiba-tiba menghilang. "Para lelaki tidak bisa mengerti rasa sakit yang diderita perempuan. Aku selalu membutuhkanmu. Aku tidak bisa menahan cintaku. Setiap aku melihatmu, aku selalu berharap untuk mencium wajah dan matamu, memeluk tubuhmu, dan bercinta denganmu." Bibirnya menyapu bibirku. Rasanya lembut bagaikan kelopak bunga, manis, penuh maaf, seakan-akan aku yang berdosa.
"Saat kau sudah lebih baik, kita akan bercinta lagi, aku akan menunggu."
"Kita harus menunggu selama beberapa saat. Hakim berkata, aku harus beristirahat sebelum mengandung lagi."
"Selamanya?" Kekasarannya datang dan pergi, seperti napas yang diembuskan dalam hawa dingin, dan aku tidak bisa mengendalikan ketakutan serta kemarahannya.
"Tentu saja tidak. Aku tidak keberatan jika kau bercinta dengan salah satu gadis budak hingga aku siap untukmu."
"Jadi, kau pikir aku sehina itu-untuk bercinta dengan seorang budak perempuan. Kau terlalu mulia untukku sekarang."
"Tolonglah,   kau  memutarbalikkan  kata-kataku
untuk membela dirimu sendiri."
"Bagaimana aku membela diriku sendiri?"
Dia duduk, punggungnya tegang karena kemarahan. Aku menyentuhnya, dia mengerenyit, seolah-olah jari-jariku ini batu bara. Tetapi, jika sentuhanku menyakitinya, kata-katanya lebih membuatku terbakar. Aku hanya bisa menghiburnya dengan cara menyerah dalam rengkuhannya, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Kekuatan benihnya menakutkan aku; hal itu tidak bisa dibayangkan. Ayahnya, kakeknya, dan kakek buyutnya tidak bisa begitu cepat membuahi rahim para perempuan, dan terus-menerus menghamili mereka bagaikan buah labu. Waktu-waktu kenikmatan bersama kami yang singkat ini sudah terganggu, karena kemarahannya dan kekeraskepalaanku. Mengapa cinta begitu menyulitkan, menuntut, dan melelahkan?
"Tidak ada arti selain yang kukatakan."
Dia setengah berbalik, terkejut dengan suaraku yang meninggi. Aku menentang tatapannya, menolak untuk menurunkan pandanganku dengan patuh.
"Ayah dan kakekmu juga bercinta dengan budak perempuan. Jika kau tidak bisa mengendalikan hasratmu, puaskanlah gairahmu bersama mereka. Lihat aku. Aku seorang perempuan, dan aku mencintaimu, tetapi kau memperlakukan aku seperti seekor sapi betina dalam kandangmu. Anak, anak, anak-bagaimana aku bisa merawatmu jika aku menghabiskan hidupku dengan mengandung anak-anakmu, yang menekanku bagaikan batu?"
"Mungkin aku harus menikahi istri kedua."
"Dan ketiga, keempat, dan kelima. Akbar memiliki empat ratus istri. Apa yang menahanmu?"
Dia menundukkan kepala sambil terdiam. Akhirnya, aku memalingkan wajah darinya dan memejamkan mata. Aku tidak berharap untuk mengingat kata-kataku, amarah di wajahnya, dan suaraku yang sinis.
"Aku tidak bisa," dia berkata pelan.
Sebelum aku bisa memeluknya dan meminta maaf, dia sudah menghilang. Selama tiga puluh lima hari, kami tidak saling berbicara. Kami telah berjanji untuk tidak hidup terpisah dan saat ini, dalam kedekatan satu sama lain, seluruh kesultanan bagaikan terentang di antara kami. Rasa sakitku semakin parah. Jika kami berpisah, aku bisa mengetahui bahwa dia masih mencintaiku. Tetapi, di sini dia terus menyendiri dan menyibukkan diri, bahkan tidak melirik ke arah zenana saat dia datang dan pergi. Aku memerhatikannya, tidak hanya dengan mataku sendiri, tetapi juga dengan mata orang lain: Isa, Allami Sa'du-lla Khan, Satium-nissa, Wazir Khan, semua memerhatikan. Apakah dia merana? Apakah dia membisikkan namaku? Apakah dia juga merasa seperti seorang mayat hidup? Tidak, mereka menjawab, suara mereka berbisik karena peduli terhadap kesedihanku, dia tertawa dan bermain-main. Jadi, aku juga melakukan hal yang sama. Aku mengundang semua istri petinggi untuk makan malam di istana. Para penari dan penyanyi   menghibur   kami   setiap   malam.   Aku
tertawa terlalu keras, berbicara terlalu banyak, bertepuk tangan hingga telapak tanganku sakit. Aku tidak banyak tahu bagaimana caranya hidup dalam kehampaan seperti ini, dalam keceriaan palsu ini.
"Isa. Kau harus membangun sebuah tenda kecil di taman, tempat dia duduk. Lakukanlah dengan cepat dan diam-diam. Malam ini harus sudah siap."
Bagaimana seorang pangeran menundukkan kepala dengan malu kepada seorang perempuan? Dia terbuat dari emas dan marmer, tetapi aku hanya terbuat dari daging dan tidak ada yang lebih membuatku menderita daripada hidup tanpa cinta Shah Jahan. Aku akan menyerah dengan pasrah terhadap rasa malu yang begitu hina itu. Rasa sakit ini tidak bisa lebih buruk lagi. Tetapi, bagaimana jika dia menolak tawaranku? Aku tidak mampu memikirkan hal itu.
Aku mengenakan churidar, blus, dan touca kuningku. Perhiasan perakku tidak lagi hanya segenggaman tangan, tetapi sudah memenuhi beberapa kotak. Aku memilih hanya yang bisa kuingat. Isa mendirikan tenda, menutupinya dengan permadani. Aku mengambil tempat dan menyebarkan daganganku. Malam itu begitu hening; bulan tergantung di atas air bagaikan pedang perak.
"Apakah dia akan datang?" Isa bertanya. "Aku tidak tahu. Berdoalah agar dia datang. Bawakan anggur.  Perintahkan para musisi untuk
tetap diam hingga dia memasuki taman."
"Apakah kau menginginkan aku tetap tinggal?"
"Ya ... tidak ... berdirilah di sana."
Isa berdiri di dalam kegelapan bayangan. Aku duduk, mengatur dan menyusun perhiasanku dengan gugup, seperti yang kurasakan untuk pertama kalinya bertahun-tahun yang lalu. Kenangan masa lalu selalu kembali. Bagaimana jika Shah Jahan tidak datang? Dia mungkin pergi ke utara, ke selatan. Dia sedang berburu. Dia sedang tinggal di istana ayahnya. Dia sedang bersama seorang gadis pelacur. Dia minum-minum dengan teman-temannya. Dia akan masuk,
menertawakanku, dan pergi ke tempat tidurnya sendiri. Kepalaku sakit memikirkan semua kemungkinan itu. Tidak ada yang memberiku harapan; aku tidak layak menerima kebahagiaan dua kali dalam hidupku.
Aku tidak melihatnya datang. Dia berhenti di batas sinar bulan. Dia pasti sudah berdiri di sana selama beberapa saat, kemudian menghampiriku dengan cepat menyusuri taman, menuju tendaku.
"Ah, gadis pasar malamku yang mungil, berapa harganya perhiasanmu?"
"Sepuluh ribu rupee."
"Aku tidak memilikinya. Apakah sepuluh ribu kecupan bisa menggantinya?"
"Dari Shah Jahan, satu kecupan saja lebih dari cukup."
Aku menerima sepuluh ribu kecupan malam itu. Aku juga menerima benih anaknya yang ketujuh.
mm
Suatu pagi, Ladilli datang menemuiku. Tampaknya dia melayang tertiup angin pagi hari, terbang bagaikan tidak mampu mengendalikan nasibnya sendiri. Tindak-tanduknya menyiratkan perasaan, kabut tebal seakan menyelubunginya-tidak bisa ditembus, tetapi bisa disibakkan oleh tangan seseorang. Itu semua membuat kesabaranku habis. Aku selalu kesulitan menerka perasaannya, bahkan amarah pun selalu tersembunyi di balik kebisuan.
"Ada apa, Ladilli? Kulihat kau hanya duduk-duduk dan terus mengeluh, lakukanlah dari seberang ruangan. Aku bisa merasakan napasmu yang berat."
"Aku akan menikah."
"Kalau begitu, kau pasti bahagia." Wajahnya tidak memancarkan ekspresi apa pun. Dia terlalu tua untuk menikah, bahkan lebih tua daripada usiaku saat menikahi Shah Jahan. Tetapi, dia menerima nasibnya dengan pasrah. "Betulkah?"
Dia mengangkat bahu. "Ibuku mengatakannya pagi ini. Aku akan menikah dengan Shahriya."
"Ah!" aku tidak bisa memikirkan harus berkata apa lagi.
Aku tidak pernah menyukai adik lelaki bungsu Shah Jahan; dia membuatku merasa tidak nyaman. Di istana, dia dikenal sebagai Na-Shudari, "ahli melakukan hal-hal tak berguna". Wajahnya tampak seperti terbuat dari tanah liat, dagingnya selalu tampak bergelayut. Sosoknya tidak pernah tampil dengan wajah ceria seperti para lelaki lain. Ibunya adalah seorang budak, dan Jahangir menghujaninya
dengan hadiah, kemudian mengirimnya untuk tetirah di   Meerut.   Shahriya   adalah   pilihan   yang   tak sebanding bagi Ladilli. "Tolaklah."
"Arjumand, kau tahu, aku tidak bisa melakukannya. Ibuku akan berteriak kepadaku selama berhari-hari. Aku tidak bisa menahannya. Kupikir lebih mudah untuk langsung berkata 'y3'-" Dia menggenggam tanganku. "Kau harus berbicara dengannya. Aku yakin ibuku akan mendengarkanmu."
"Apa yang harus kukatakan kepadanya? Apakah ada seorang lelaki lain yang kausukai?"
"Ya!" Cahaya membanjiri wajahnya. Aku tidak bisa menahan perasaan sedih yang hebat karena pancaran kebahagiaannya yang tulus. Hal itu pasti akan menghilang selamanya. "Namanya Ifran Hassan. Dia seorang lelaki terhormat."
"Aku belum pernah mendengar namanya." "Dia   bukan   seorang   lelaki   terhormat   yang berkedudukan tinggi. Dia penguasa jagir di dekat Baroda."
"Apakah kau sudah berbicara dengannya?"
"Tentu saja belum. Tapi, aku tahu dia me-nyukaiku; dia mengirimi aku ini." Dia mengenakan sebuah liontin perak kecil di lehernya. Bentuknya bundar dan bisa dibuka; isinya kosong. "Aku mempunyai sebuah benda emas yang persis seperti ini, dan mengirimkan benda itu kepadanya."
"Aku akan berbicara kepada ibumu," dan aku melepaskan tanganku seakan lembut, mengetahui bahwa dengan melakukan itu, aku akan melepaskan
hidupku dari hidupnya. Mehrunissa tidak akan pernah berubah pikiran. "Ini pasti akan sulit. Jabatan Ifran Hassan sangat rendah, sementara Shahriya adalah seorang pangeran."
Dengan segera, aku menyesali keterusteranganku. Bahu Ladilli turun seakan-akan dia telah mendengar sebuah bisikan, memastikan bahwa seumur hidup, dia tidak akan mendapatkan keinginannya. Dalam beberapa hari, Mehrunissa akan memastikan pilihannya dengan lebih tegas.
"Kau benar. Dia tak akan pernah mendengar. Seorang pangeran! Memang tolol."
Hanya itulah kilatan kemarahan yang pernah kulihat darinya. Hal itu juga membuatnya terkejut; dia tersipu, bangkit, kemudian keluar dengan terburu-buru.
Shah Jahan
Aku kecewa mendengar Mehrunissa memilih adikku yang bajingan untuk menjadi menantunya. Shahriya dilahirkan oleh seorang budak, dan dia hampir terlupakan seumur hidupnya. Aku melihatnya sekali dua kali bersama teman-temannya, berjalan-jalan sambil mabuk di taman istana. Hidupnya tidak jelas, tidak penting, dan saat ini, tangan Mehrunissa telah meraih ke dalam kegelapan dan menarik Shahriya ke dalam jangkauan cahaya. Aku pernah menjadi pilihan pertama bagi Ladilli; pilihannya yang kedua juga dipertimbangkan secara matang. Aku tidak peduli dengan siapa Ladilli menikah, tetapi aku bisa melihat alasan  Mehrunissa.  Dia pasti  akan bisa
mengendalikan Ladilli, dan melalui Ladilli, bisa mengendalikan Shahriya. Mungkin Sultan Shahriya, seorang raja boneka yang idiot.
"Bahkan bibiku sendiri pun tak akan berani," kata Arjumand. "Kau adalah anak lelaki Jahangir yang berperingkat pertama."
"Tapi untuk berapa lama?" aku meminta nasihat kepada ayah Arjumand, Asaf Khan. Wajahnya yang panjang tampak menyembunyikan sesuatu, terlatih oleh disiplin-disiplin dalam politik. Aku mencintai anak perempuannya, aku memiliki kesetiaannya. "Anda bertemu dengan Sultan setiap hari. Apakah aku anak lelakinya yang berada di peringkat pertama?"
"Ya." Jawabannya cepat dan singkat. Aku tidak merasakan penghiburan dalam suaranya. "Mehrunissa hanya mengumpulkan musuh."
"Siapa yang tidak? Tapi, dia menguasai Jahangir, dan aku tidak menguasai siapa pun. Saat ini, dia mengendalikan Shahriya, dan aku tidak mengendalikan siapa pun. Ayahku sakit. Siapa yang akan dia pilih?"
"Pilihan Mehrunissa." Arjumand berbisik. "Meh-runisa tahu, aku tidak seperti Ladilli, aku akan menentangnya."
Saat-saat kedamaian kami telah menghilang. Mehrunissa mulai menekanku ke tepi jurang. Di satu sisi, aku melihat sebuah celah, lubang tak berdasar. Tak ada orang yang mampu keluar kembali dari situ, bahkan seorang pangeran sekalipun. Di sisi lain, aku melihat gunung yang tak bisa ditembus.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Tidak ada," Asaf Khan menjawab dengan pelan. "Apa yang bisa kau lakukan? Kau harus menunggu. Jika kau bergerak tiba-tiba, Jahangir akan ketakutan. Pikirannya saat ini tercurah sepenuhnya kepada kesehatannya. Dia merindukan Kashmir."
"Apakah saat ini ayahku menyadari apa yang dilakukan oleh bibiku?"
"Ya. Mehrunissa cukup bijaksana karena tetap memberi informasi kepada Jahangir. Dia menyetujui pernikahan Ladilli dengan Shahriya. Sultan berpikir bahwa mereka pasangan yang cocok. Dia tertawa dan berkata kepadaku: 'Pikirkan kemenanganmu, Teman Lama. Adikmu adalah permaisuri, anak perempuannya seorang putri!'"
"Dan ..."
"Hanya itu yang dia katakan." "Dia    tidak    mengatakan    apa-apa    tentang Arjumand?"
"Tidak. Mungkin Sultan berpikir bahwa itu tidak penting. Jangan mencari arti dari apa yang tidak dia katakan."
"Apa lagi yang bisa kulakukan? Dia mengabaikan Arjumand, dan dengan begitu, dia menghinaku."
"Perhatiannya sedang pecah. Kami sudah cukup bermasalah untuk mengartikan kata-kata Mehrunissa. Kita tunggu dan lihat saja. Aku akan mendukungmu dalam ghusl-khana."
Aku tidak perlu menunggu terlalu lama.
Mereka mengatakan kepadaku bahwa pernikahan Ladilli     lebih     megah    daripada     pernikahanku.
Mehrunissa memberi piring-piring dan cangkir-cangkir emas kepada para tamu, batu-batu mulia kepada para perempuan, serta menebarkan koin emas dan perak kepada orang-orang, dan perayaannya berlangsung tiga hari penuh.
Aku tidak menghadirinya karena mengaku sakit. Arjumand pun tidak; anak yang dia kandung meninggal satu jam setelah dilahirkan.
Sesaat setelah pernikahan, Mehrunissa melakukan gerakannya. Aku diperintahkan untuk menuju ke selatan.
Deccan mendidih. Udara panas tanpa henti di daerah Hindustan itu tampaknya terus menyebabkan pemberontakan. Siapa yang akan memerintah di tempat yang jauh ini? Bahkan jika aku menyerang ke selatan dan mengalahkan tikus-tikus itu untuk kedua kalinya, apakah ayahku akan memberi imbalan yang lebih besar? Dapatkah dia menghujaniku dengan emas dan berlian untuk kedua kalinya? Dia hanya akan menggumam: Shabash. Dan jika aku gagal, Mehrunissa akan meraih kemenangan. Bagaimana seorang pangeran yang tidak mampu menaklukkan Deccan bisa memerintah Hindustan? Kemenangan-kemenanganku pada waktu lampau akan dilupakan. Dia tidak akan menyebut-nyebut hal ini jika aku pulang dalam kekalahan.
Jarak Deccan juga sangat jauh dari Agra. Aku tidak  akan mampu  mendengar bisikan-bisikan  di
istana hingga lama kemudian, saat Asaf Khan mengirim berita untukku.
Dalam kegelisahan, aku meminta pertemuan dengan ayahku. Seisi istana sedang sibuk mempersiapkan kepindahan ke Lahore. Kashmir melambai-lambai, memanggil-manggil sang Sultan, pusat kekuasaan, untuk bergerak menjauh dari Deccan, bahkan dari Agra. Jahangir terbaring di ghusl-khana; kain putih yang didinginkan dengan es diletakkan di dahinya. Matanya masih tertutup meskipun wazir mengumumkan kehadiranku. Dia bernapas lewat mulut seperti singa, sekarat di dalam bayangan, tersengal-sengal untuk bisa bertahan hidup.
"Udara," ayahku berbisik, "sungguh sulit untuk masuk ke dalam tubuhku yang renta. Udara menghindariku. Di Kashmir ... ah, Kashmir ... di sana udara begitu harum, menerpa dengan keras, tidak takut kepadaku."
"Apakah Ayah ingin aku kembali ke Deccan?"
"Kau telah menerima perintahku. Mengapa kau datang dan menanyakan hal itu kepadaku lagi?"
Sebelah matanya terbuka bagaikan pintu penjara yang berderit. Cahaya berbinar di dalamnya. "Aku tidak tahu mengapa kau terus-menerus menggangguku."
"Ini adalah pertemuan pertamaku dalam waktu yang cukup lama."
"Rasanya seperti yang keseratus kalinya. Apakah itu saja yang kau inginkan? Aku berharap kembali ke dalam mimpiku, terbaring di dekat kolam air mancur
di tamanku, dan mendengarkan alunan musiknya yang mendamaikan."
"Jika aku menyerang Deccan
"Kau membantah. Saat ini, aku memberi tahumu, jika kau akan memegang komando dan tetap tinggal di sana hingga kita mengalahkan tikus-tikus itu. Jika ... jika ... apa itu 'jika1? Kata 'jika' tidak pantas dikatakan oleh seorang sultan. Ini bukan sebuah pasar malam tempat kau tawar-menawar dan berkata, 'jika ...."' Matanya memerah dan menyala seperti tungku batu bara. Dia berteriak: "Aku memerintahkanmu untuk menyerang."
"Aku mohon maaf, Paduka. Paduka salah mengerti maksudku. Aku tidak bermaksud untuk mempertanyakan perintah Paduka."
"Kupikir seharusnya tidak." Sorot matanya mulai melunak, dan perlahan-lahan kelopaknya memejam. "Aku tidak salah mengerti akan perintahku."
"Apakah aku dimaafkan, Paduka? Aku tidak bisa pergi dengan pikiran bahwa aku membuat Ayah marah."
"Ya, ya. Sini."
Dia melambai memanggilku. Aku berlutut, dan dia merangkulku seperti tanpa sadar. Jika dia akan pergi ke utara dan aku ke selatan, aku tidak ingin kemarahan menguasai benaknya. Pasti itu akan semakin mengobarkan bisikan-bisikan Mehrunissa. Ya, ya, pasti itu yang dikatakan Mehrunissa.
"Aku mohon izinmu, Ayah, untuk mengajak abangku Khusrav bersamaku. Dia telah dirantai di istana ini selama bertahun-tahun dan perjalanan ke
Deccan bisa menjadi perubahan dalam hidupnya yang membosankan."
Ayahku tampak ragu-ragu, seperti mempertimbangkan apakah dia akan membuka matanya lagi. Tetapi, kelopak matanya masih terpejam, hanya cahaya tipis setajam silet yang berkilat. "Dan Ayah tak akan terus melihatnya, dia tak akan lagi mengingatkan Ayah akan pengkhianatannya."
"Dia memang mengganggu karena meratap sepanjang waktu. Melihatnya membuatku merasa melankolis. Karena itu menambah rasa sakitku, kupikir aku tak dapat menahannya lagi. Ajak dia, bawa dia."
Kami pergi ke selatan setelah beberapa hari ayahku pergi ke utara. Dia telah mengumumkan niatnya, hanya untuk mengunjungi Lahore, tetapi mungkin dia bisa berubah pikiran; Kashmir masih memanggil-manggilnya. Kami berpelukan sebelum berpisah. Dia tampak lebih kuat, tetapi siapa yang dapat menjamin kami bisa bertemu lagi? Dia melambai ke arah Khusrav dari jauh.
"Manzil Mubarak."
"Manzil Mubarak."
Aku menemui ayah Arjumand. Asaf Khan berjanji untuk mengirimkan pesan ke Deccan seminggu sekali, melaporkan keadaan kesehatan Sultan dan pikiran-pikiran Mehrunissa. Keduanya saling berkaitan. Jika ayahku meninggal, Mehrunissa bisa bergerak secepat kilat untuk memilih seorang pengganti; jika ayahku semakin kuat, Mehrunissa akan menunggu. Dia telah menunjuk adik lelakiku
Parwez sebagai Subadar Lahore, serta membawa Ladilli dan Shahriya bersamanya. Ketika Arjumand, aku, dan anak-anakku pergi ke selatan, aku merasa bahwa kami meluncur di atas sungai yang membawa kami lebih jauh menembus batas cakrawala.
Khusrav masih terantai kepada pengawalnya. Mereka telah terbiasa dengan kehadiran satu sama lain, dan dia tidak ingin dipisahkan dari temannya yang semata wayang itu. Aku tidak memercayai pengawal selain Allami Sa'du-lla Khan untuk menjaga Khusrav. Aku yakin, entah bagaimana penglihatannya sudah pulih. Dan, meskipun dia tidak bisa melihat sejelas aku, dia bisa melihat. Setelah makan bersama untuk pertama kalinya, aku memerintahkan dia untuk tetap bersama temannya.
"Saudaraku, aku diberi tahu bahwa aku akan pergi bersamamu, karena kasih sayangmu kepadaku," dia berkata.
"Kupikir ini akan menjadi selingan bagi kebosananmu saat terpenjara."
"Terpenjara! Di sangkar emas! Bagaimana aku bisa merasa bosan? Aku mendengar rumor dan gosip, dan dalam kegelapan, aku menyimpulkan arti setiap desis dan bisikan. 'Mengapa?1 Aku selalu memulai pertanyaanku dengan kata itu. 'Mengapa?' Mengapa Mehrunissa menikahkan anaknya dengan si pembual idiot Shahriya? Tapi, kita semua tahu jawabannya. Sangat mudah. 'Mengapa?' Mengapa Shah Jahan mengajak  abangnya  yang buta  ke
selatan bersamanya?"
"Aku sudah mengatakan alasannya kepadamu. Sekarang makanlah. Minumlah sedikit anggur." Isa memenuhi cangkirnya. Khusrav menatap cairan di cawan emasnya, tetapi tidak menyentuhnya. "Aku tidak bisa lagi menemanimu. Aku harus mendiskusikan rencana bersama komandan pasukanku."
"Ah, ya, tentu saja. Adikku memiliki posisi penting. Komando, perintah-dia tinggal mengangkat tangan dan sepuluh ribu pasukan berkuda akan maju." Dia mendesah, lalu air matanya mengalir. Sepertinya, air mata itu akan mengalir seiring keinginannya. "Jika saja aku sebijaksana Shah Jahan. Aku begitu terburu-buru dalam kebutaan ... aku terlihat konyol di hadapanmu, iya kan? Dulu, mata hatiku yang buta. Saat ini, mata kepalaku yang buta. Dua kebutaan. Betapa sialnya! Jika saja mataku yang buta terlebih dahulu, mungkin aku masih memiliki kedua penglihatan itu."
"Kau memang melihat."
"Sedikit. Kau membenciku karena itu? Bayangan buram Shah Jahan duduk di depanku. Dia menunjukkan ketidaksabarannya; mungkin, dia bahkan menunjukkan ketidaksukaannya. Aku mengasihi ayahku tercinta dengan cara yang sama. Aku duduk dan menatapnya, tetapi dia segera menghilang. Jika aku sebijaksana Shah Jahan, saat ini aku akan maju di depan ribuan pasukanku yang akan mati karena menjalankan perintahku. Tapi, apakah itu sudah cukup? Shah Jahan bisa memimpin
pasukan dua puluh, tiga puluh kali-tetapi dia tidak bisa. Belum."
"Aku adalah putra mahkotanya."
"Tapi, apakah kau putra mahkota Mehrunissa? Itu pertanyaannya."
Dia lalu berbisik. "Kau harus mencari tahu, apa yang akan diperbuat oleh Khusrav."
"Apa yang akan diperbuat oleh Khusrav?"
"Bunuh Mehrunissa. Secepat kilat. Sebelum dia bergerak. Kirim pasukan berkuda ke sana." Khusrav mencengkeram lenganku dengan kuat. "Tanpa bisikan Mehrunissa, kau akan tetap menjadi putra mahkota Jahangir hingga dia meninggal. Dan jika hal itu terjadi dalam waktu dekat, Tuhan merestui."
"Penjagaan Mehrunissa terlalu ketat. Sekarang, giliranku untuk bertanya-'mengapa?"1
"Karena kematian Mehrunissa akan melukai Jahangir. Dia akan meratap, seperti halnya aku. Dia akan mondar-mandir di istananya, terbutakan oleh kepedihan. Dia akan tersandung dan jatuh ke dalam palung kesepian. Selamanya." Khusrav terkekeh-kekeh puas dan bertepuk tangan. Siang dan malam, dia memimpikan kematian Jahangir. Aku tidak bisa menyalahkannya. Tetapi, aku tidak bisa memercayainya.
"Ketika kau bertanya 'mengapa?1 dan mendapat jawaban, kau akan bertanya 'mengapa?' lagi? Mengapa Khusrav menginginkan nyawa Mehrunissa?"
"Untuk menyelamatkan nyawanya sendiri." Dia menatapku. "Taktya takhta. Aku tidak menginginkan takhta maupun makam, Saudaraku."
Udara semakin panas, rumput-rumput layu dan mati; batuan dan tanah tampak mengancam, angkasa bagaikan perisai yang berkilauan. Aku juga memimpikan Kashmir, bukan merindukan ayahku, tetapi ingin melepaskan diri dari kebencian Khusrav yang mendarah daging. Arjumand terbaring di keretanya. Kibasan punkah tak mampu menepis panas di pantai ini. Dia tidak pernah mengeluh, tetapi selalu tersenyum penuh kasih kepadaku. Senyumannya tidak pernah berubah; selalu memancarkan kecantikannya, meskipun saat ini senyuman itu lebih lambat tersungging. Tetapi, saat dia tersenyum, aku tidak bisa menahan kebahagiaan atau curahan cintaku. Dia sedang mengandung anak ketujuh kami. Kami tidak lagi memperdebatkan apakah dia harus tinggal di Agra yang nyaman. Aku tidak akan pernah menolak keinginannya, dan saat ini aku tidak menginginkannya. Kehadiran Arjumand selalu memberiku kenyamanan.
Aku selalu mengajak Dara di sampingku. Dia menunggang kuda poni putihnya, dan keingintahuannya tentang daerah ini tak pernah terbatas; aku mengajarinya, karena dia baru mulai berlatih. Anak-anak yang lain tetap bersama pengasuh mereka, di balik tempat tinggal Arjumand. Dua anak lelakiku yang lain, Shahshuja dan Murad, adalah anak-anak pendiam dan penurut; hanya Aurangzeb yang menampakkan semangat ketangguhan dan kemandirian. Tingginya belum mencapai pinggangku, tetapi dia sudah meminta kepadaku dengan terus terang agar mengizinkannya
berkuda. Aku melarangnya. Dia terlalu kecil dan masih terus membutuhkan penjagaan. Ada ekspresi penasaran dan kekesalan yang dia sembunyikan saat berada di dekat Dara.
Dara mengerti kekuatan secara alamiah. Kekuatan mengalir saat aku melaju, berhenti saat aku berhenti. Kekuatan juga melingkupiku, terlihat dari satu batas cakrawala hingga batas cakrawala yang lain. Aku tahu sumber kekuatan itu adalah ayahku, tetapi ketika jarak di antara kami semakin lebar, kekuatanku juga berkurang. Orang lain memerintah tanah yang kami lewati-para rana, amir, diwan, mir bakshi-tetapi ketika aku tiba di suba mereka, kekuasaanku melingkupi kekuasaan mereka. Perjalanan itu sangat lambat; seorang pangeran tidak bisa lewat tanpa dikenali. Setiap hari, saat fajar, tengah hari, dan senja, aku berhenti, menerima kunjungan semua yang datang untuk membayar pajak atau mempersembahkan hadiah. Dan setiap aku berhenti, sebuah pesta menanti dan tidak dapat ditolak. Jadi, aku menyaksikan pertunjukan kesetiaan dan kasih sayang yang berulang-ulang dan tak berhenti. Kata-kata tak pernah berganti, hanya orang yang mengucapkannya yang berganti.
Dua hari sebelum kami mencapai Burhanpur, kami berpapasan dengan beberapa prajurit di jalan; seratus orang yang dipimpin oleh seorang Mir Bakshi. Mereka didampingi oleh Sadr, komandan suba. Mereka menunggu di dekat pilar yang terbuat dari tengkorak manusia, yang tingginya dua kali
tinggi manusia dan diameternya pun dua kali. Pilar itu terbuat dari lumpur dan bata, dan dihiasi tengkorak-tengkorak. Mereka tidak memiliki mata maupun daging lagi, hanya tulangnya yang tertinggal. Pembangunan pilar-pilar ini adalah kebiasaan yang pertama kali dipraktikkan oleh Timur-i-leng. Sementara pilar ini dibangun oleh Akbar, sebuah monumen bagi ketegasannya dalam memberi hukuman. Kami tidak lagi mengikuti tradisi ini.
Di tanah dekat para penunggang kuda, tiga orang tergeletak dalam keadaan terikat.
Aku memberi izin kepada Mir Bakshi dan Sadr untuk mendekat. Mereka datang dengan ragu-ragu; kehadiranku tidak disambut. Sadr melakukan kornish yang begitu formal. Mir Bakshi tampak lebih menghormatiku. Aku mengabaikan keduanya, dan langsung maju mendekati orang-orang yang terikat itu. Mereka masih hidup, terikat dengan tali, kepala mereka gundul. Darah mengental terlihat di sisi kepala satu orang tersebut, menggelapkan janggutnya. Orang ketiga tampak tidak terluka, tetapi terikat lebih kencang. Mereka terbaring tak berdaya, wajah-wajah hampa mereka menekan tanah. Mereka tidak mengharapkan keadilan dariku.
"Ini adalah masalah sepele, Yang Mulia," kata Mir Bakshi. Kekuasaannya berkurang saat aku berdiri di dekatnya. "Ini tidak perlu mengganggu pikiran sang Pangeran."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Tidak ada, Tuanku," salah seorang lelaki yang
terikat berteriak.
Dengan isyarat dari Mir Bakshi, seorang prajurit menusuk lelaki itu dengan ujung tombaknya.
"Kau hanya boleh menusuk jika aku memerintahkannya. Dengan kehadiranku, tidak ada yang boleh dilakukan tanpa kekuasaanku."
Sadr bergerak menghampiriku dalam posisi terlalu dekat; aku menyuruhnya untuk menjauh. Dia mundur beberapa langkah, sementara matanya berkilat.
"Orang-orang ini bermaksud membunuh thakur di desa itu." Dia menunjuk ke arah perbukitan. "Kami telah berhasil mencegah mereka melakukan rencana pembunuhan itu. Tunjukkan senjatanya kepada Pangeran."
Tiga pedang berkarat jatuh ke tanah, diikuti sebilah belati.
"Mengapa mereka ingin membunuh thakur?"
"Siapa yang tahu mengapa rakyat jelata ini melakukan sesuatu?" dia bertanya dengan penuh ketidakpercayaan.
"Aku bertanya kepadamu. Jawablah dengan cepat. Aku tidak akan memberi toleransi terhadap kekasaran seorang mullah."
"Kemarahanku hanya memuncak," dia berbisik, menyadari bahwa hanya profesi sucinya yang saat ini dapat mencegahnya menghadapi kematian.
"Ceritakan kepadaku," aku berkata kepada orang yang terikat. Matanya mengingatkanku akan harimau yang terperangkap, penuh amarah tak tertahankan,    karena    dia    harus    takluk    oleh
kehidupan dengan begitu kejam.
"Yang Mulia, thakur itu adalah orang jahat. Dia telah membuat hidup kami menderita .."
"Itu bukan alasan untuk merencanakan pembunuhan."
"Tidak, Yang Mulia." Matanya berkilat dingin. "Thakur menginginkan istri saya yang cantik. Dia membawa istriku dengan paksa, menahannya, menggunakannya, dan saat dia sudah bosan, dia memberikan istriku kepada anak buahnya. Dia meninggal karena kekejaman mereka."
"Mengapa kau tidak meminta keadilan?"
"Keadilan?" Suaranya terdengar pahit. "Thakur adalah seorang Muslim. Dia teman Sadr dan Mir Bakshi. Aku beragama Hindu. Saat aku pergi meminta keadilan itu, mereka justru berkata bahwa itu bukan urusan mereka. Apa yang bisa kulakukan? Aku meratap, aku menangis, aku memohon. Mereka menertawakanku. Saat istriku meninggal, aku mencari keadilanku sendiri. Lelaki ini adalah adikku, yang ini sepupuku. Kami memang pergi mengejar thakur, tetapi kami tertangkap. Kalau mau, Yang Mulia boleh menghukum mati kami."
Saat harapan sudah hampir sirna, keberanian manusia akan semakin menonjol. Tatapannya tidak goyah, dia tidak berkedip. Aku menghormatinya.
"Siapa namamu?"
"Arjun Lal. Adikku Prem Chand, dan sepupuku Ram Lal."
Aku menoleh kepada Sadr: "Apakah ini benar?" "Dia tidak datang kepada kami karena istrinya.
Dia cuma mengarang cerita saja."
"Tentu saja aku tahu dia berbohong. Apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang Hindu?" Aku membelokkan kepala kudaku, seperti akan beranjak. "Siapa nama istrinya?"
"Lalitha." Tatapannya tiba-tiba melemah, tidak berdaya, penuh kepasrahan dan kebencian karena sadar bahwa dia terjebak siasatku.
"Bebaskan mereka. Hukum mati sang thakur."
Burhanpur tidak berubah. Angkasa yang kejam, elang-elang, tumbuhan-tumbuhan yang kering, semuanya sama. Istana masih menghadap ke arah bukit-bukit yang berwarna keunguan, seakan-akan bangunan itu menampakkan perasaan merasa getir karena selama bertahun-tahun terpaku menatap pemandangan yang tak pernah berubah.
Arjumand melahirkan seorang anak perempuan. Akan tetapi, bayi kami meninggal seminggu kemudian. Arjumand masih lemah dan kelelahan, Isa menjelaskan, meskipun saat aku kembali dari pertempuran singkat melawan tikus-tikus Deccan itu, Arjumand masih menunjukkan kegembiraan ketika aku mendekatinya. Dia hanya berbicara sedikit tentang kehilangannya yang tersembunyi dalam tawa dan nyanyian. Dia masih mau mendengarkan kisah keberhasilanku dengan gembira.
"Setiap kau menang," dia berkata kepadaku, "pikirkanlah Mehrunissa. Kekuasaannya melemah ketika kekuasaanmu semakin besar."
"Kekuasaan apa yang kumiliki di sini, dengan jarak begitu jauh dari ayahku?"
"Ini." Dia melambai ke arah perbukitan. "Kau adalah Mughal di sini. Kau memiliki pasukan, kau memiliki daerah kekuasaan; ayahmu tidak bisa merampas semua ini darimu; hanya kau yang bisa mempersembahkan ini semua kepadanya. Ini adalah daerah taklukanmu."
Arjumand berkata jujur. Di sini, sebenarnya akulah sang Mughal Agung. Semua menyerahkan benteng mereka, daerah mereka kepadaku. Aku menerimanya atas nama sang Sultan, tetapi dengan namaku sendiri. Berdasarkan hal ini, kami menjalani kehidupan yang damai; kami memiliki satu sama lain, kami memiliki anak-anak kami. Hanya udara panas dan lalat yang tidak menyambut para pendatang. Berita yang sampai ke tanganku mengabarkan bahwa kesehatan ayahku sudah membaik, dan pembawa pesan dari Asaf Khan terus membawakan kami kabar-kabar dari istana. Dan Mehrunissa menahan dirinya.
mm
Apa lagi? Tidak ada. Semua kehidupan tidak abadi.
Saat itu malam yang hening, tanpa angin. Arjumand sedang terlelap. Dalam tidurnya, dia kembali menjadi seperti seorang gadis yang pertama kali kulihat. Garis-garis usia dan kekhawatiran menghilang dari wajahnya yang cantik, kembali tampak seperti wajah anak-anak. Aku terus menatapnya, dalam bayangan, malam demi malam,
hingga aku tertidur.
Aku dibangunkan oleh Isa pada waktu subuh. Aku bangkit perlahan dari tempat tidur dan mengikutinya ke koridor. Pembawa pesan dari Asaf Khan menunggu: sang Sultan sedang sakit parah, mendekati kematian.
Aku berdiri di balkon, mengamati matahari menyinari perbukitan. Cakrawala masih berwarna ungu kusam, tidak berubah warna sedikit pun.
"Panggil Allami Sa'du-lla Khan kemari. Beri tahu dia untuk membawa dua prajurit, orang-orang yang bisa kita percaya."
Kamar Khusrav gelap, cahaya belum masuk. Dia terbaring sambil terlelap, pengawalnya terbaring di lantai, di sudut kamar. Dalam kelelapan tidur, sosoknya juga berubah. Dia tampak tidak buta, tetapi tampak seperti seorang teman kecil di masa mudaku. Dia merasakan kehadiranku, terbangun, dan bangkit. Dia menatap mataku, dan mengetahui apa yang terpancar.
Dia berbisik: "Taktya takhta?"[]
Taj Mahal
1056/1646 Masehi
Makam itu sudah selesai. Bangunan itu berdiri di antara kepulan debu, tanah, dan serpihan-serpihan sisa bangunan, dari tanah kasar dengan jejak roda kereta, lubang-lubang, parit-parit, serpihan marmer, serbuk batu bata, dan kayu. Makam itu masih tampak seperti kerangka di depan angkasa biru, sebuah pilar menyerupai es sedang menangkap bayangannya, di atas iring-iringan yang mendekat dari bangunan sementara berukuran kecil, di tepi Sungai Jumna.
Para mullah memimpin barisan, membacakan ayat-ayat Quran. Kemudian, Shah Jahan menghampiri, kepalanya ikut menunduk untuk memanjatkan doa, jari-jarinya dengan cepat menghitung tasbih mutiara. Beberapa langkah di belakangnya, empat anak lelakinya mengikutinya: Dara, Shahshuja, Aurangzeb, dan Murad. Sebuah peti mati sederhana: berupa sebuah kotak yang terbuat dari marmer dingin, polos, di panggul para lelaki yang berkeringat di bawahnya. Sebuah jalan
menuju gerbang makam terus menanjak hingga setinggi enam meter. Iring-iringan itu berjalan dengan perlahan, udara dipenuhi oleh gumaman mereka, dan aroma dupa masih menguar ketika mereka menghilang ke dalamnya. Kemudian, seperti kerumunan padat yang berkumpul untuk menyaksikan upacara, aroma itu memudar perlahan.
Hanya Isa yang masih tinggal di belakang, memerhatikan dari balkon marmer ke arah sungai. Baginya, makam ini tampak seperti tonjolan dari bumi, tidak proporsional: tampak terlalu tipis, terlalu tinggi, entah bagaimana terlihat rapuh. Tentu saja, makam ini belum selesai. Sebuah landasan belum selesai dibangun, panjang dan lebarnya dua kali makam, seperti sebuah kolam marmer raksasa yang membuat marmer tampak seperti mengambang. Kemudian, menara-menara akan menjulang di atas dua masjid, dan akhirnya taman akan dibangun pula. Isa mengetahui harga bangunan ini yang sangat fantastis: seribu tiga puluh enam karung emas telah digunakan untuk memasang pagar yang mengelilingi sarkofagus dan lampu-lampu besar yang tergantung dari kubah. Seribu tiga puluh enam karung perak pun telah digunakan untuk pintu-pintu. Setiap ragam batu mulia dan semimulia, dalam jumlah yang tak terhitung, telah disusun dalam bentuk bunga-bunga dan tanaman yang menghiasi interiornya. Berlian, batu mirah, zamrud, mutiara, topaz, giok, safir, batu pirus, batu akik, wonderstone, batu cornelian, kristal, malachite, agate, lapis lazuli, batu kaca, cangkang kerang,
onyx, chrysoprase, chalcedony, dan jasper. Batu-batu itu telah dipilih dan disusun dengan presisi matematis oleh seorang ahli perhiasan bukan hanya untuk merefleksikan cahaya yang berbeda-beda, melainkan untuk memancarkan konfigurasi astrologis yang diinginkan ke peti mati. Sejumlah besar marmer merupakan hadiah dari para pangeran Rajput. Dua puluh ribu pekerja telah bekerja siang dan malam secara bertahun-tahun, dan akan terus melakukan hal tersebut. Isa paham betul bahwa harta karun Mughal di bawah kakinya akan sangat sulit digenggam, tak ubahnya aliran Sungai Jumna.
Dia berhenti di pintu masuk diwan-i-khas. Dalam bayang-bayang gelap, sebuah singgasana merak berdiri. Singgasana ini dibangun oleh Shah Jahan, tetapi meskipun mewah dan cahaya berwarna madu menyinari kaki-kakinya, singgasana itu tampak terpencil, terabaikan. Di bawah patung singa emas, dibangun sebuah landasan emas pula. Landasan itu memiliki lebar sekitar satu meter dan panjang sekitar satu setengah meter, ditutupi dengan bantal-bantal. Di atasnya tergantung sebuah kanopi, juga terbuat dari emas, yang disangga oleh dua puluh pilar yang masing-masing setebal lengan manusia, dihiasi dengan zamrud. Di puncak kanopi, ada dua patung merak dari emas yang tampak lebih indah dibandingkan dengan burung merak asli. Bulu-bulu patung merak emas yang penuh perhiasan memantulkan setiap warna dengan kecemerlangan yang sama. Di antara mereka, ada
sebuah pohon yang berbuah zamrud, batu mirah, berlian, dan mutiara. Bebadat Khan, ahli perhiasan istana, membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menghiasi singgasana.
Isa duduk di atasnya, mencoba untuk merasakan kekuasaan Mughal Agung, tetapi hanya bisa merasakan kenyamanan. Ketika dia duduk, suatu emosi aneh merasukinya, berasal dari singgasana itu sendiri-perasaan kesepian yang dingin dan menyedihkan.
Murthi mengabaikan upacara itu. Dia bertarung dengan batu, dengan keras, terus-menerus, dan tak kenal lelah bekerja. Tap, tap, tap; setiap serpihan yang dia pahat mengiris hatinya. Pekerjaan ini harus selesai segera, segera, segera. Dia bekerja lebih keras, lebih cepat, tanpa pernah bersantai. Dengan setiap ketukan pahat, dia mendengar menit-menit, jam-jam, dan hari-hari bergulir. Dia berpacu dengan waktu; saat ini mereka berlari dan terus berlari. Satu tahun berlalu dalam kehidupannya, satu tahun lagi mendekati kematian. Tangannya yang terkepal kencang terasa sakit, buku-buku jarinya menonjol. Dalam musim dingin, selama musim hujan, jari-jarinya sakit, dan dia harus memaksa tangannya untuk menggenggam pahat. Gopi bekerja di ujung jali yang lain, menggosok marmer dengan pasir kasar. Di bagian atasnya, marmer itu telah menjadi mulus selicin kaca.   Murthi   merasa   bangga   terhadap   putra
sulungnya ini. Dia bekerja dengan kesabaran tinggi seperti ayahnya. Ke atas dan ke bawah. Ke atas dan ke bawah. Ke atas dan ke bawah. Anak-anak lelaki yang lebih kecil berkumpul di perapian, bermain dengan api, melemparkan ranting dan serpihan kayu untuk membuat apinya menari.
Murthi merasa kehilangan Sita. Awalnya, ke-matian Sita membuatnya terkejut; kemudian, rasa sakit mulai timbul, mencekiknya. Sepertinya saat ini Sita masih mengulurkan tangan untuk menuangkan cinta dari hatinya, bagaikan menuangkan darah. Dia mengingat kemudaan Sita, tawanya di perkampungan, sikap malu-malunya saat hari pernikahan, yang semua telah menghilang. Dia merasa telah menyia-nyiakan semua itu dengan sikap dingin yang disengaja. Sita seharusnya bisa melahirkan anak-anak, dan dia telah mengecewakan Murthi. Sita telah berubah menjadi lemah dan lesu, bukan hanya tubuhnya, tetapi juga jiwanya. Oh, Murthi tidak pernah bermaksud mengatakan hal itu. Tidak dapat diragukan lagi, Murthi tahu bahwa sejak awal Sita tidak pernah mencintainya. Dia telah dipilih untuk seorang lelaki lain, dan hanya menerima Murthi saat abangnya menghilang, seakan-akan dia hanyalah sebatang logam yang Sita pungut dari sisi jalan. Dan yang bisa Murthi lakukan hanyalah menghukumnya, dan karena itu, menghukum dirinya juga.
Hakim memang datang, tetapi sudah terlambat. Sang hakim menyentuh nadi Sita; ternyata sudah berhenti berdetak. Di akhir kehidupannya, usia Sita
telah tercabut, hanya kemudaan dan kenangan yang tertinggal. Saat ini, semua yang tersembunyi di balik permukaan seolah menyeruak. Murthi berlutut dan menyentuhkan bibirnya ke dahi Sita. Ada beberapa helai uban di rambutnya; Murthi tidak pernah menyadari-dia hanya melihat kecantikan Sita, lengkungan pipinya, dan kulitnya yang sehalus sutra.
Para perempuan memandikan Sita dan memakaikan bajunya. Mereka menyisiri rambutnya, membubuhkan kum-kum di dahinya, dan rangkaian bunga di lehernya. Mereka tetap berada di belakang, menonton upacara, mendengarkan suara dari kulit tiram, menenangkan bayi-bayi yang menangis, ketika sekelompok kecil orang yang berduka menyusuri jalanan Mumtazabad menuju ghat.
Isa memerhatikan usungan jenazah itu lewat. Usungan itu sederhana, terbuat dari batang-batang bambu yang diikat. Tubuh Sita cukup ringan untuk dipanggul oleh empat orang saja. Isa menatap wajah Sita, hanya hidung dan matanya yang bisa dia ingat; sisanya tersembunyi di balik karangan bunga dari kuntum-kuntum mawar. Dia tidak mengiringi upacara itu sampai ke ghat. Sambil berdiri di kejauhan, dia memerhatikan pendeta menggumamkan sastra, menebarkan ghee dan beras, menyalakan dupa. Ritual itu memakan waktu yang cukup lama. Awalnya, api terlihat menyala,
bergoyang-goyang di bawah sinar matahari, kemudian perlahan-lahan memudar.
Kematian selalu merenggut, Isa mengenang.
Istana itu tertutup. Bangunannya kosong; para prajurit, budak, punggawa, wazir, musisi, penyanyi, dan pelayan telah berada di luar. Keadaan begitu hening. Debu menebal, daun-daun kering bertebaran di lantai ruangan, burung-burung merpati berkicau perlahan.
Shah Jahan tidak duduk di singgasana, di dipan, ataupun di atas permadani. Dia berlutut di atas lantai yang dingin. Dia tidak bergerak, tidak juga bersuara. Dia tidak makan maupun minum. Dia terus begitu selama delapan hari delapan malam. Jiwanya kelam dan melankolis, tidak memikirkan apa-apa. Perasaannya hampa. Dia tidak menangis, tidak memukuli pelipisnya, tidak menangis keras-keras. Isa mengawasi, terus berjaga tanpa pernah tidur.
Setiap jam, Sultan menggeliat dan meronta untuk mengendalikan kekuatan jahat yang merobeknya. Setiap amarahnya menggelegar, dia akan melemah, lelah, lesu, tetapi tidak pernah bangkit.
Awalnya, Isa berpikir bahwa ini adalah tipuan cahaya. Sinar matahari dan kegelapan silih berganti terlihat di dinding-dinding ghusl-khana, dan ketika cahaya menerpa wajah sang Sultan, sinar dan kegelapan itu menampakkan sesuatu dari dalam dirinya, bagaikan air yang menghapus sosoknya dari
sebuah papan tulis. Saat sang Sultan pertama kali berlutut, hanya ada tujuh uban di janggut hitamnya. Seiring berlalunya jam, hari, dan malam, janggutnya semakin memutih. Isa melihat tahun-tahun berganti, menorehkan kekuasaan di tubuh sang Sultan, mengubah warna setiap helai rambut menjadi putih. Garis-garis di jidatnya mulai tampak, awalnya hanya satu, kemudian diikuti yang lain, bagaikan tanah yang pecah-pecah di depan matanya. Saat fajar hari kedelapan, wajah Shah Jahan mirip seorang tua, karena seluruh rambut di janggutnya sudah berwarna putih. Dia mendongak, mengangkat wajahnya menentang matahari.
"AR-JU-MAND!" Suaranya mirip raungan seekor harimau yang terluka parah. "ARJUMAND! ARJUMAND!" Jam demi jam, dia masih memanggil nama Arjumand, hingga akhirnya dia hanya bisa berbisik, "Arjumand."
Isa mendengarkan gaung yang membahana di seluruh istana, seakan-akan ada seribu suara yang memanggil nama sang Permaisuri, AR-JU-MAND. Dari sudut-sudut, dari lengkungan gerbang yang indah, dari paviliun, gema itu terbawa oleh angin sejuk yang lembut, terus berputar-putar, dan akhirnya menghilang.
Shah Jahan memberi isyarat. Dia tidak mampu berdiri. Isa mengangkatnya. Saat sang Sultan berdiri, Isa terkejut. Sebelumnya, tinggi mereka sama. Saat ini, dia harus menunduk untuk memandang sang Sultan. Dia memeriksa Shah Jahan dari    dekat.    Sang   Sultan    tampak    mengerut,
seakan-akan mengecil di dalam pakaiannya. Kematian selalu bisa merenggut siapa pun.
Murthi juga tampak semakin lemah. Perlahan-lahan, dia berjalan menjauhi api yang mulai padam, dipapah oleh putranya. Debu beterbangan dan jatuh di jiba serta dhoti putihnya yang bersih. Dia tidak menyadari bajunya kotor oleh warna abu-abu.
"Dia sudah meninggal," Murthi berkata kepada Isa. Suaranya bergetar menunjukkan kesedihan.
"Aku tahu."
"Kupikir dia hanya mencintaimu. Aku tidak memperlakukannya dengan baik karena hal itu."
"Apakah kau bertanya kepadanya?"
"Tidak pernah. Kau bagaikan hantu. Kami tidak pernah membicarakanmu. Tampaknya, dari cara dia menatapku beberapa kali ... aku membayangkan dia sangat menginginkan agar aku bisa berubah menjadi dirimu."
"Ya, kau membayangkan. Dia telah melupakan aku. Jika kau telah melupakan, memaafkan, Sita pasti akan bahagia. Saat ini sudah terlambat. Tapi, kau memilikinya dan anak-anakmu yang lain."
Isa mengulurkan tangan ke arah keponakannya. Gopi menghindar dengan malu-malu, tetapi mendekat dengan tingkah ganjil dan membiarkan Isa menepuk kepalanya. Dia sudah terlalu tinggi untuk diperlakukan begitu, dan perlakuan itu sudah terlambat. Isa mengeluarkan sekeping koin emas dari udara dan mengulurkannya.
"Bagaimana Paman melakukan itu?"
"Saat aku masih kecil, aku diculik dari desa dan dijual kepada seorang pesulap. Aku masih bisa mengingat beberapa triknya. Ini, ambillah."
Gopi menerimanya dengan gembira. Di satu sisi koin tercetak simbol kerajaan, yang lain bergambar sosok mirip Mughal Agung.
"Apakah kau menginginkan lagi sesuatu?" "Tidak ada!" Murthi menjawab dengan kasar, kemudian berjalan melewati Isa, dan tidak menoleh ke belakang.
Murthi tidak bermaksud untuk menunjukkan kemarahan seperti itu, tetapi dia melihat bahwa abangnya sama sekali tidak melawan. Dia semakin merasa pahit. Empat belas tahun sudah dia bekerja. Betapa sia-sianya! Abangnya bisa mengangkat Murthi untuk menjabat sebuah posisi, memberinya harta, tetapi dia tidak menolong apa-apa. Isa adalah seorang lelaki kaya, kebutuhannya tercukupi, memakai perhiasan, berpakaian dari kain sutra. Tangannya lembut, tidak ada goresan, sementara tangan Murthi tergores-gores dan menebal. Murthi sendiri tampak lebih tua dibandingkan usianya sendiri, merasa tubuh maupun jiwanya sakit.
Setelah hukuman mati wazir dilaksanakan, Murthi sangat ingin mengungkap siapa Isa sebenarnya. Setiap malam, Murthi bertanya-tanya kepada orang-orang   di   sekitar   benteng:    Siapa   Isa?
Beberapa orang mengenalnya, beberapa tidak. Seorang budak, seorang teman, seorang menteri, seorang penyihir, seorang peramal bintang; dia tidak memiliki gelar apa pun, bukan jagir, bukan zat. Murthi tidak mendapatkan penjelasan apa-apa. Jadi, dia menunggu untuk bisa bertemu dengan Isa. Dia sempat melihat Isa, ketika Mughal Agung mendekat dan melintas, tetapi Isa terlalu jauh. Para pengawal selalu membentuk barisan pertahanan di jalan. Akhirnya, suatu kesempatan membawa Mughal Agung bertandang ke lokasi pekerjaan. Shah Jahan datang untuk memeriksa jali. Baldeodas memanfaatkan kesempatan dengan menjilat dan membujuk, menerangkan dan menunjuk-nunjuk. Para pemahat berdiri sambil terdiam, penuh penghormatan. Shabash, Shah Jahan berkata kepada masing-masing pemahat. Dia hanya memberikan pujian kepada Baldeodas.
"Siapa Isa?" Murthi berbisik kepada seorang prajurit.
"Itu dia, di sana!"
Murthi menoleh, dan terkesiap. Di tubuh terbalut sutra itu, Murthi melihat hantu kakak lelakinya, Ishwar. Memang, tahun-tahun berlalu telah menipu penglihatannya, membohongi kenangannya. Ketika rombongan Kesultanan mulai menjauh. Murthi mengumpulkan keberanian.
"Ishwar," dia memanggil.
Pria itu berhenti, kemudian berbalik. Dia memisahkan diri dari sisi Sultan, kemudian mendekati Murthi. Isa tidak menyadari jika Shah Jahan juga
berbalik untuk melihat siapa yang memanggil. "Kau kakakku, Ishwar?" "Ya."
Mereka tidak berpelukan. Cukup lama mereka terdiam. Isa menanti dengan sabar, menunggu Murthi berbicara lagi.
"Kau yang menyuruh wazir dihukum mati?"
"Ya." Senyuman Isa membuat Murthi bergidik. "Si tolol itu yakin, jika bisa memenjarakanmu, dia bisa memenjarakan aku. Dia mengancam untuk memberi tahu Sultan bahwa aku menggunakan pengaruhku untuk menolong dan melindungimu. Dia iri karena Sultan memercayaiku, dan berencana untuk menjebakku. Aku membawanya ke hadapan Sultan dan menyuruhnya menceritakan semua. Saat dia selesai bercerita, Sultan bertanya kepadaku, apa yang ingin kulakukan terhadap wazir. Aku berkata: hukum mati dia. Dia dihukum mati. Kau menyaksikannya."
"Siapa kau?" Murthi hampir tidak bisa mengerti kekuasaan Isa. Seorang manusia telah dihukum mati karena ucapannya. "Kau tidak memiliki pangkat, tidak memiliki posisi."
"Aku melayani Sultan."
"Apakah kau pernah melihat sang Permaisuri?
Seperti apa dia? Aku harus tahu. Ceritakan padaku ii
"Itu akan memakan waktu terlalu lama. Dia pemberani. Dia terlalu mencintai." Isa bergumam kepada dirinya sendiri dengan nada tersendiri-Agachi. "Shah Jahan tidak akan pernah
menyakitiku.  Wazir itu tidak mengerti siapa aku sebenarnya." "Siapa kau?"
"Aku adalah kenangan sang Permaisuri Mumtaz-i-Mahal."
Terlihat kontras dengan kecemerlangan Dara, Aurangzeb tampak polos. Dia hanya mengenakan pakaian katun dan tidak memakai perhiasan, bahkan sebuah cincin sekalipun.
Mereka duduk di harem menemani Shah Jahan. Para perempuan membuka cadar mereka, kecuali Jahanara. Dia duduk di sudut, bukan karena kesopanan, tetapi karena menyembunyikan lukanya yang mengerikan. Ketika pulih, dia memohon kepada Shah Jahan untuk memaafkan Aurangzeb, dan sang Sultan menuruti keinginannya. Dia kembali menghadiahkan jagir-jagir dan gelar bagi putra ketiganya; Aurangzeb bahkan diberi gelar sebagai Subadar Deccan dan zatnya ditingkatkan.
Shah Jahan memerhatikan putra-putranya. Mereka sangat berbeda, tidak hanya dari pakaian mereka-Aurangzeb pendiam dan selalu mengamati sekitar, sementara Dara begitu bersemangat, terbuka, begitu supel. Selama pesta perayaan, Dara bisa berbicara tentang apa pun, berdiskusi dan berdebat dengan para tamu lain. Betapa dia mirip dengan Akbar-toleran, memedulikan rakyatnya, dan sangat menentang pengaruh para mullah yang begitu menekan.
"Apakah kau juga meyakini din—i—illah, seperti Akbar?" Aurangzeb bertanya dengan sopan. Itu adalah pertama kalinya dia berbicara sepanjang malam.
"Akbar yakin bahwa dirinya sendiri adalah tuhan. Aku tidak. Din—i—illah adalah agama yang Akbar ajarkan kepada para pengikutnya, campuran Islam, Hindu, Kristen, Buddha. Orang-orang tidak dapat beribadah dengan ritual yang membingungkan seperti itu. Aku hanya percaya bahwa mereka harus dibebaskan untuk mengikuti keyakinan mereka, dan jika aku bisa mendukung perdamaian kembali antara para pemeluk agama ini, aku akan merasa puas."
"Kami harus memanggilmu Padishah-ji," Aurangzeb berkomentar. Dia membungkuk dengan mencemooh.
"Dan apakah aku harus memanggil adikku sebagai Hazrat-ji? Kau begitu dikenal karena ketaatanmu."
Aurangzeb melirik sekilas ke arah ayahnya. Sang Sultan telah menyadari perubahan wajahnya, dan menarik diri dari perbincangannya sendiri untuk menunggu jawaban Aurangzeb.
"Ya. Aku hanya memiliki ambisi sederhana. Aku menuruti perintah ayahku. Jika dia senang, aku juga senang. Aku tidak bisa menyetujui keyakinanmu. Aku adalah seorang Muslim yang taat. Jika aku telah berbakti kepada ayahku sehingga dia sangat puas, satu-satunya yang kuinginkan adalah berlibur ke suatu daerah sunyi, tempat aku bisa beribadah."
"Aku harus mengingat-ingat itu," kata Dara.
"Aku akan mengingatkanmu."
"Lihat! Lihat!" Pembicaraan mereka terputus karena para perempuan berseru-seru dari jendela. Mereka menunjuk-nunjuk.
Bulan telah bergerak dari balik awan dan angkasa berwarna kelabu keperakan. Di kejauhan, Taj Mahal mengambang di atas air. Mereka menatap bangunan itu sambil menahan napas. Marmer putih yang polos memancarkan keindahan surgawi. Pemandangan ini bagaikan seorang perempuan jelita menatap sebuah cermin yang dengan setia memantulkan setiap kesempurnaan. Tampaknya ada sebuah cahaya yang memancar dari dalam, yang memantul di permukaan air gelap bagaikan malam yang mengelilingi makam itu. Mereka tidak mengalihkan pandangan mereka selain ke bangunan itu-kubah yang mirip mutiara raksasa mengambang di langit malam-mereka hanya menatap citra yang dipancarkan makam itu. Pemandangan itu sangat memuaskan hati dan mata, membuat orang-orang yang menyaksikan jadi membisu, dan berdoa. Saat akhirnya mereka mengalihkan pandangan, makam itu tampak memancarkan kesedihan dalam cahaya yang dingin, tampak bersinar, melalui selubung kemegahan-sebuah kesedihan yang abadi.
Aurangzeb mundur saat sang Sultan sedang menatap makam. Sekilas pandangan saja sudah cukup. Dia meninggalkan istana dan berkuda sendirian ke arah kota, menjelajahi jalan-jalan sepi yang tertidur, hingga dia tiba di sebuah pintu masjid makam itu. Dia mengetuk dan memasuki sebuah bangunan kecil yang rendah. Ruangan itu sangat
sederhana, hanya terisi oleh sebuah karpet, dipan, dan bantal-bantal. Aurangzeb membungkuk dalam-dalam kepada seorang pria yang sedang duduk berselonjor. Lelaki itu terburu-buru bangkit, terkejut, dan membungkuk lebih dalam.
"Duduklah. Akulah yang akan tetap berdiri karena kehadiranmu. Seorang wakil Tuhan lebih terhormat daripada seorang putra sultan."
Shaikh Waris Sarhindi tidak menerima penghormatan sang Pangeran, dia juga berdiri. Dia adalah seorang penganut Sunni ortodoks, seorang mullah seperti ayahnya, Shaikh Ahmad Sarhindi. Akbar telah mengingkari ajaran ayahnya; Jahangir telah mengirim ayahnya ke penjara. Saat ini, Shah Jahan tidak begitu menghormatinya karena dia mengampanyekan warisan ayahnya: kekuasaan Islam dan kematian orang-orang kafir.
"Aku telah menemani abangku, Dara. Aku merasa dia terlalu bergelimang kemewahan, seperti makanan." Aurangzeb bersendawa. "Siapa yang akan kau dukung?"
"Yang Mulia, tentu saja. Kami semua akan mendukung Yang Mulia. Yang Mulia akan memperbaiki keyakinan, dan akan menjadi Pedang Tuhan yang sebenarnya."
"Aku berjanji.11 []
19
Arjumand
Dalam tidurku, aku merasakan kekasihku pergi. Aku terbangun dan mendengar bisikan. Saat itu menjelang fajar, cahaya terlihat begitu samar, hawa terasa dingin menyejukkan, tetapi juga terasa membekukan. Ujung-ujung sinar matahari akan segera menyebarkan udara panas yang tak akan berhenti, bahkan saat senja.
Aku bangkit dan menatap ke luar. Pangeranku berdiri di balkon, tenggelam dalam pikirannya, kemudian tiba-tiba berbalik dan berjalan terburu-buru ke koridor. Dia menuju ke sayap barat, menuju kamar Khusrav. Aku melihat bayangan-bayangan lain mengikutinya. Isa menghampiriku.
"Ada apa ini, Isa?"
"Sang Sultan sakit parah," dia menjawab dan mengangkat bahu. "Lagi."
"Apa yang suamiku inginkan?"
"Allami Sa'du-lla Khan," lalu dia menambahkan
Kisah Cinta
1031/1621 Masehi
dengan pelan, "dan para prajurit."
Aku berlari menyusuri koridor. Allami Sa'du-lla Khan menunggu di luar kamar Khusrav bersama dua prajurit.
"Di mana Pangeran Shah Jahan?" "Di dalam, Yang Mulia. Apakah aku harus memanggilnya?" "Tidak."
Saat itu masih gelap. Aku nyaris tidak bisa melihat dua bayangan yang bergabung dalam peristiwa itu. Aku mendengar bisikan tajam Khusrav. Suaranya terdengar kasar dan keras, memenuhi ruangan dengan cemoohnya, "Taktya takhta?"
Kemudian, setelah terdiam beberapa saat, suamiku menjawab dengan tegas: "Takhta."
"Tidak," aku berbisik.
Kekasihku menatapku, tetapi tidak bergerak. Suaranya keras, bagaikan bukit-bukit batu, dan ucapannya juga sama kerasnya.
"Pergilah. Ini urusanku."
Si pengawal terbangun dari tidurnya, dan mengangkat senjatanya. Pertama-tama, dia menatap Khusrav, kemudian menatapku. Dia ragu-ragu, tidak yakin harus berbuat apa.
"Tusuk. Tusuklah cepat," Khusrav berbisik. "Dia tidak bersenjata. Bunuh dia, Tolol." Khusrav merangkak dengan kedua kaki dan tangannya. Sang pengawal masih ragu-ragu. Kepalanya menoleh ke arah pintu, dan dia berusaha mengintip keluar, seperti ingin melihat ke balik tembok. Dia adalah seorang   lelaki   muda,   masih   belum   terbangun
sepenuhnya. Janggutnya hitam dan kasar. "Aku akan menjadikanmu Gubernur Bengal jika aku menjadi Padishah. Tusuk!"
Kekasihku merunduk sambil menunggu. Dia bisa saja berteriak, tetapi masih terdiam. Sang pengawal saat ini menyadari bahwa ada orang-orang di luar kamar. Perlahan-lahan, dia menurunkan pedangnya. Khusrav mendesis putus asa, penuh kemarahan.
"Ini bukan nasib Anda, Yang Mulia," kata sang pengawal. "Saya adalah prajurit Anda, tapi saya hanya seorang diri. Terlalu banyak pertempuran yang harus saya hadapi sebelum Anda menjadi Padishah. Anda telah kehilangan begitu banyak. Tuhan tidak menggariskan itu kepada Anda." Dengan hati-hati, dia meletakkan pedang dan belatinya di permadani seraya mendekati Khusrav. Dia berlutut, meraih tangan Khusrav, kemudian menempelkannya di dahi. Itu adalah sebuah tanda kasih sayang, simbol perpisahan yang menyedihkan. Khusrav membungkuk dan memeluk si pengawal.
"Oh Tuhan, impianku," Khusrav berbisik. Dia melepaskan temannya, kemudian meraih setumpuk perhiasan dari meja kecil: cincin-cincin, rantai emas, dan gelang lengan. "Ini. Simpan ini sebagai kenangan."
"Saya tidak membutuhkan perhiasan itu, Yang Mulia."
"Ambillah. Biarkan seseorang mendapatkan kebaikan hati Khusrav yang tolol."
Dia menyerahkan semuanya kepada si pengawal: sebuah cincin jatuh dan bergulir, tetapi dua orang
itu mengabaikannya. Sang pengawal bangkit dengan gugup, tangannya penuh dengan emas dan berlian. Mungkin perhiasan itu adalah batu-batu mulia dari daerah hulu sungai. Dia menatap Khusrav sebentar, mencoba mengenang wajahnya; ruangan itu terang sekarang. Kemudian, dia menatap Shah Jahan.
"Saya tidak bisa membunuh seorang pangeran," tetapi, sebelum kekasihku bisa menerima pengakuan itu, sang pengawal menambahkan dengan dingin, "saya membiarkan para pangeran yang melakukannya."
Dalam keterkejutan, kami menyaksikannya pergi. Dia berjalan dengan harga diri seorang lelaki yang baru saja mendapat kemenangan. Khusrav terkekeh. "Pria yang bijaksana. Dia membiarkan para pangeran yang membunuh. Tanpa kita, tanpa ambisi kita, para prajurit kembali menjadi manusia. Tidak diragukan lagi, dia akan kembali ke desanya dan menceritakan kisah kepada anak-anaknya tentang kegilaan pangerannya." Sebuah pikiran terlintas di benak Khusrav dan dia menyentuh bahu Shah Jahan dengan lembut: "Jangan sakiti dia. Biarkan dia pergi. Setidaknya, seorang dari kita telah mengungkapkan kejujuran malam ini. Malam ini? Tidak, hari ini. Aku berbicara berdasarkan waktu, dan aku harus akurat."
"Tinggalkan kami," Shah Jahan mengulangi perintahnya kepadaku.
"Mengapa?" tanya Khusrav. "Apakah kau tidak menginginkan   Arjumand   cantikmu  untuk   menjadi
saksi kematianku?" Khusrav menoleh ke arahku, memicingkan mata. "Dia memiliki darah yang sama dengan Mehrunissa si pelacur itu."
"Aku datang bukan atas perintah Mehrunissa. Aku bukan ayahku."
Shah Jahan meraih lenganku dan menuntunku ke pintu. Tetapi, aku meronta, melepaskan diri darinya.
"Kau tidak boleh membunuhnya. Tolonglah, aku mohon kepadamu, Sayangku, Suamiku. Kau tidak boleh membunuhnya."
"Tidak boleh? Ini harus dilakukan. Dia masih memiliki pengikut; bayangannya akan menghantui singgasana. Biarkan bayangannya jatuh dalam sebuah makam."
"Kirim dia ke pengasingan. Biarkan dia tetap terantai. Penjarakan dia. Tapi, jangan bunuh dia."
Shah Jahan menatapku dengan kemarahan yang berlebihan. Aku tahu, dia tak akan berubah pikiran. Aku belum pernah melihat kekerasan hati di wajahnya sebelum ini; dan ini membuatku takut.
"Apa yang kau rasakan terhadap kakakku?"
"Tidak ada. Aku hanya berbicara karena cintaku kepadamu. Kematiannya akan menjadi kutukan kita, kutukan bagi anak-anak kita, dan cucu-cucu kita. Lihatlah dia. Kebutaannya sudah menghantui hidup kita. Kematiannya akan membuat kita semakin tersiksa. Jika kau membunuhnya, kau akan menjadi orang pertama yang melanggar hukum Timurid. Leluhurmu, Timur-i-leng, pertama kali memproklamasikannya tiga ratus tahun yang lalu: 'Jangan sakiti saudaramu, meskipun mereka mungkin
layak mendapatkannya.1 Itu sudah dipatuhi oleh semua pangeran keturunannya. Babur berkata kepada Humayun, Humayun kepada Akbar, Akbar kepada Jahangir. Mereka mematuhi hukum itu, apa pun provokasi yang mereka dapatkan. Hukum itu yang melindungi Khusrav dari amarah ayahmu. Darah Khusrav adalah darahmu sendiri, kau tak boleh mengucurkannya melalui tanganmu. Itu akan memengaruhi kehidupan kita selama beberapa generasi."
Shah Jahan mulai tertawa. Dia menggeram, kemudian memeluk dan menciumku.
"Aku tidak tahu jika aku menikahi seorang perempuan cenayang, selain dia jelita. Yang akan terjadi adalah singgasana akan aman bagiku."
"Aku tidak menginginkan itu seperti sebuah hadiah." Aku mendorongnya. Aku tidak bisa mengendalikan kehampaan yang timbul di hatiku. Seperti asap pekat, kehampaan itu mencekikku. "Pada hari pertemuan kita, aku memimpikan warna merah. Warna itu tetap terlihat di benakku, bahkan ketika aku terjaga. Aku tidak tahu apa artinya hal itu. Saat aku bertemu denganmu, kupikir itu adalah warna kebangsawanan pangeran mahkota. Tapi aku salah. Itu adalah warna darah. Warna itu akan menghancurkan kita, Sayangku. Biarkan dia."
"Dengarkan istrimu," Khusrav berseru. "Aku tidak takut terhadap kematian. Setiap hari, aku terbangun dengan mengharapkan seseorang membunuhku. Hukum Timur-i-leng-lah yang membuat ayahku sendiri tidak bisa membunuhku.
Kau juga tidak bisa. Aku bersumpah, aku tak akan menginginkan takhta, bukan bagiku sendiri, tetapi demi dirimu."
"Semua orang menawarkan aku kehidupan dengan mengorbankan kepentingan mereka. Sungguh murah hati." Shah Jahan menoleh ke arahku, dengan sangat lembut menggamit lenganku, dan menuntunku menjauhi Khusrav. "Aku telah mendengarkanmu, seperti tradisi kita, tapi aku tak bisa membiarkannya hidup."
"Dan apa," Khusrav berseru kepadanya, "yang akan terjadi dengan Parwez dan Shahriya? Apakah mereka akan mati juga? Tapi mereka tidak ada di sini, sendirian dan tak berdaya; mereka ada di Lahore, dikelilingi pasukan."
"Tidak. Kumohon, Sayangku. Kau tak boleh melakuk annya."
"Aku harus melakukannya."
Aku menangis sepanjang hari untuk suamiku, anak-anakku, dan diriku sendiri. Aku belum pernah merasakan ketakutan seperti yang sekarang menyelubungiku. Rasa takut ini memeras air mata kepedihan dari mataku. Warna merah dalam mimpiku adalah darah; dan memang sudah terjadi. Aku telah mengartikannya, karena keinginanku sendiri, sebagai turban kekasihku. Aku tak mampu merendahkan pandanganku dan melihat tangan yang berdarah. Air mataku tidak bisa mencucinya hingga bersih, tetapi menetes dan terus menetes. Dan ketika air mataku menyentuh daging tubuhku, mereka   berubah   juga   menjadi   darah.   Bahkan helai-helai rambutku, yang kugunakan untuk menyeka air mata itu, berubah juga menjadi merah.
Aku mencoba menutup telingaku, tetapi suara-suara masih menyelusup di antara jemariku. Bahkan seandainya tiba-tiba aku tuli, aku masih bisa mendengar bisikan-bisikan. Para prajurit telah masuk ke ruangan. Khusrav menghadap ke arah Makkah, ke arah matahari terbit, bersembahyang dalam keheningan, kemudian bangkit untuk berdiri di depan jendelanya, memandang dunia di luar. Dia tidak ingin melihat wajah-wajah algojonya, seperti yang telah dia alami saat mereka membuatnya buta. Dia pasrah, tanpa melawan, ketika selembar kain dengan koin yang ditalikan di bagian tengah dipakaikan ke tubuhnya, tanda mereka akan menebas lehernya. Mereka mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di dalam sebuah peti mati sederhana. Aku tidak diberi tahu di mana mereka menguburnya. Berapa banyak pembunuhan yang bisa diterima oleh bumi?
Hal itu dilakukan dengan terburu-buru; terlalu terburu-buru. Sekali lagi, sebuah pesan tentang keadaan ayahku sampai: Jahangir masih hidup. Dan pesan itu diikuti oleh surat dari Jahangir sendiri.
Aku telah menerima laporanmu bahwa Khusrav meninggal karena sakit perut empat puluh hari yang lalu. Aku berdoa agar dia mendapatkan ampunan dan tempat di sisi Tuhan. Aku juga menerima pesan dari mata-mataku yang memperingatkan   bahwa   Shah   Abbas   yang
kejam, Shahinshah kerajaan terkutuk, Persia, akan menyerang Kandahar. Kita harus menghadapinya dengan pasukan terbesar yang bisa kupimpin. Kau harus berangkat ke utara bersama semua pasukanmu segera.
mm
Jiwa Khusrav sepertinya bangkit dari tempat persembunyiannya; aku merasakan ada suatu aura mengerikan di sekeliling kami. Berbulan-bulan setelah kematiannya, aku terus-menerus merasakan kehadirannya yang mencemooh. Jiwanya memerhatikan saat aku tertidur, kemudian menungguku terbangun; jiwanya tergantung di awan gelap yang bergumpal rendah di atas perbukitan, memancarkan kesuraman di daerah ini. Semua tempat di istana terasa mencekam dan kami bergerak dengan perlahan, pelan, tidak ingin mengagetkan hantu Khusrav. Aku bersembahyang, tidak lima kali sehari, tetapi lusinan kali. Aku membaca Quran; tetapi semua tidak bisa mengusir kepedihan yang menguasaiku. Dan saat ini, datanglah perintah Jahangir: bergerak.
Kekasihku tidak segera menjawab panggilan ayahnya. Dia mondar-mandir di balkon, berhenti untuk menatap perbukitan yang keras dan tidak ramah. Aku mengetahui apa yang dia lihat. Bukan hanya sekadar tanah, tetapi tanah-nya. Dia telah bertempur; orang-orang telah tewas; batu-batu, parit-parit, dan benteng-benteng ini adalah kerajaannya.   Jika   dia   meninggalkan   daerah   ini,
semua akan menghilang. Dan tanpa semua itu, dia hanya akan berada di bawah kendali ayahnya. Dan Mehrunissa.
"Aku bisa melihat campur tangan Mehrunissa dalam hal ini," dia berkata kepadaku.
"Tapi, Shahinshah memang menuju Kandahar."
"Aku tahu, tapi, mengapa ayahku menginginkan pasukanku?"
"Kau adalah putranya yang paling berpengalaman."
"Tapi dia berkata, 'Pasukan terbesar yang bisa kupimpin1. Bukan 'kau pimpin'. Mengapa dia tidak tetap tinggal di tempat tidurnya? Aku bisa mengalahkan keparat Persia itu sendiri. Jika kita berpindah, aku akan kehilangan semua ini."
"Dan jika tidak ...?"
"Aku sudah kalah," kata Shah Jahan. "Dia bergerak terlalu cepat. Aku tidak bisa melawan saat ayahku meninggal. Mehrunissa akan mengumumkan bahwa Shahriya yang akan menjadi sultan. Dia telah menjadi putra mahkota."
"Kalau begitu, kau harus memutuskan apakah akan pergi ke Kandahar atau tidak. Menurutku, paling baik kau katakan kepada ayahmu, jika kau akan menunggu hingga hujan reda. Itu akan memberi kita waktu."
"Apa gunanya penundaan jika aku tidak bisa mengambil keuntungan darinya? Aku tidak bisa membiarkan ayahku menyingkirkanku dengan begitu mudah. Bagaimana cintanya bisa menguap seperti itu?"
"Bibiku mengisapnya keluar dari tubuh ayahmu."
"Aku harus menyenangkan ayahku, tetapi juga memperlihatkan kekuatanku. Aku akan pergi ke utara setelah musim hujan, dan dia harus mengizinkan aku memimpin pasukan. Dan dia harus memberiku jagir Panjab. Itu akan melindungi punggungku dari Mehrunissa dan saudara-saudara lelakiku."
Ternyata itu tidak membuat Jahangir senang. Dia marah kepada kekasihku. Jahangir memanggil anaknya bi-daulat, bahkan menuliskan namanya di Jahangir-nama bahwa semua harus mengetahui bahwa   kekasihku   adalah   "si   pecundang".   Dia
memerintahkan kepada Shah Jahan untuk tetap berada di Burhanpur selamanya, tetapi Shah Jahan harus mengirimkan pasukannya segera.
"Tanpa pasukanku, aku bukan siapa-siapa."
"Dengan menahan mereka, kau akan membuat ayahmu marah sekali lagi."
Sejak kematian Khusrav, guntur terus-menerus menggelegar di luar, bergulung-gulung di hatiku, membuatku gemetar karena memikirkan kekasihku. Aku tidak bisa menyebut-nyebut nama Khusrav karena takut mengingatkan Shah Jahan akan kutukan yang telah secepat kilat terjadi pada hidup kami. Kami merasa terasing di atas sebuah rakit tanpa pengemudi yang terus maju membabi-buta ke arah keabadian. Kami saling mencintai. Itu satu-satunya yang membuat kami nyaman. Kami saling mengungkapkannya melalui sentuhan, bibir, tubuh, dan bersembunyi di dalamnya hingga kami merasa tidak terlihat oleh dunia di sekeliling kami.
"Ini sudah terlambat," dia berbisik, "aku yakin. Mehrunissa telah menyebarkan racunnya. Semua tidak bisa dihentikan."
"Suruh Allami Sa'du-lla Khan segera ke Lahore. Dia harus menyampaikan permohonan maaf kepada ayahmu. Ayahmu akan menerimanya, kemudian kita bisa bergerak ke Kandahar."
Dia tersenyum: "'Kita?1 Berapa kali aku harus memberi tahumu, kau tidak boleh ikut dalam peperangan. Kau bisa terluka."
"Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi sendiri. Utus Allami Sa'du-lla Khan." Sejam kemudian,
Allami Sa'du-lla Khan berangkat.
Minggu-minggu berlalu, dan kami menunggu. Hujan yang membanjiri lembah-lembah membuat istana menjadi lembap dan hangat, memenuhi seisi istana dengan aroma humus. Semangatku sedikit menurun karena aku kembali mengandung, dengan perasaan tidak enak badan pada pagi hari, dan kekuatanku melemah. Kemudian, Allami Sa'du-lla Khan kembali. Ekspresi wajahnya sama gelap dengan awan yang bagaikan melayang di atas kepala kami.
"Jahangir tidak mau menemuiku. Aku menunggu selama berhari-hari. Aku bahkan tidak diizinkan untuk masuk ke diwan-i-am. Mehrunissa menyarankan dia untuk menolakku, dan dia telah memerintahkan semua orang di istana untuk tidak lagi menyebut-nyebut namamu di depan ayahmu. Kau telah menghilang dari pandangan ayahmu. Saat ini, Na-Shudari Shahriya yang mondar-mandir di istana dengan turban merah, mengancam untuk membunuhmu jika kau memperlihatkan wajahmu di sana." Allami Sa'du-lla Khan tertawa geli. "Dia mengayunkan pedangnya, menakut-nakuti semua orang, membual bahwa dia akan mencincangmu dalam perkelahian satu lawan satu. Mehrunissa bertepuk tangan setiap dia mempertontonkan arogansinya."
"Dan Ladilli? Bagaimana kabarnya?"
"Dia tidak berubah, aku mendengar. Aku menerima sebuah pesan darinya, mengirimkan salam
sayang kepadamu. Pesan itu tidak ditulis, siapa tahu ibunya menemukan pesan itu ada padaku. Sekarang dia memiliki dua anak. Aku hanya berharap agar mereka tidak tumbuh dewasa dengan tampang mengerikan seperti Shahriya." "Ada apa dengannya?"
"Dia mengidap suatu penyakit. Dia telah kehilangan seluruh rambutnya, dan matanya terus-terusan basah. Kulitnya juga tampak mengelupas, seperti bulu yang rontok dari seekor kucing jalanan."
"Ladilli yang malang."
"Cukup," kata Shah Jahan. "Aku tidak bisa duduk di sini dan membiarkan diriku sendiri tersiksa oleh Mehrunissa dan ayahku, membiarkan Shahriya tolol itu membualkan bahwa dia akan menjadi sultan. Jika mereka di Lahore, aku bisa mencapai Agra sebelum ayahku. Apakah harta kesultanan masih ada di sana?"
"Ya. Tapi, semua akan segera dipindahkan ke Lahore untuk membayar gaji pasukan Sultan."
Shah Jahan
Aku langsung bergerak ke utara. Aku ingin Arjumand dan anak-anakku tetap tinggal di Burhanpur, karena kami tidak akan banyak beristirahat. Dengan keras kepala, dia menolak, meskipun semakin hari, dia semakin terbebani oleh kehamilannya. Aku menderita karena melihatnya merasa tidak nyaman. Lebih   banyak   lagi   bantal   yang   diletakkan   di
bawahnya untuk mengurangi guncangan kereta, tetapi, setiap malam dia ambruk kelelahan.
Tampaknya, bahkan saat aku baru menentukan keputusan, beritanya telah sampai di telinga ayahku. Aku bahkan tidak lagi merupakan bi-daulat; lebih buruk, jauh lebih buruk lagi, aku dianggap sebagai pelaku makar. Aku tidak ingin naik takhta sebelum waktuku, aku hanya ingin menyelamatkan nasibku, bukan untuk merebutnya. Aku berpikir, jika aku menahan harta karun, aku akan mampu meyakinkan ayahku. Tentu saja, aku tidak akan mampu meyakinkan Mehrunissa. Dia tahu, sekali aku memegang kendali, aku tidak akan menyisakan ruang baginya di mana pun, di dekatku, keluargaku, atau singgasanaku.
Mereka membawa sebuah kabar kepadaku bahwa Kandahar sudah jatuh ke tangan Shah Abbas. Jantung perdagangan paling kaya dari kesultanan sudah tidak lagi berada di bawah kekuasaan kami. Aku bersumpah, jika aku nanti memerintah, aku akan merebutnya kembali. Kejatuhan Kandahar membuat ayahku makin marah. Kandahar sudah kami kuasai sejak zaman kekuasaan Akbar, dan Jahangir merasa bahwa dia mengecewakan ayahnya. Tentu saja, akulah yang disalahkan; dia akan bergerak ke selatan untuk berperang melawanku. Ada yang memberi tahuku tentang apa yang dia tulis di Jahangir-nama: Apa yang bisa kukatakan dalam penderitaanku ini? Dafam kesakitan dan kelemahan, aku masih harus berkuda dan aktif,   dan daiam  keadaan ini,   aku  harus
melawan seorang anak yang tidak berbakti."
Kata-katanya menyakiti hatiku. Aku telah tersinggung karena ketidakpeduliannya, karena ketidakmampuannya sehingga lebih memilih untuk mendekatkan telinganya kepada Mehrunissa, ketidakmampuannya untuk menepati janji dan cintanya kepadaku. Tidak ada kejelekan dirinya yang keluar dari mulutku. Tetapi, dia masih murka.
1032/1622 Masehi
Pada hari kedua puluh lima perjalanan, aku mulai yakin bahwa aku tidak akan berhasil. Agra masih begitu jauh, dan seluruh kekuatan pasukan Mughal ada di antara diriku dan Agra. Ayahku telah memutuskan untuk tidak memimpin pasukan. Dia tidak bisa melawan anaknya sendiri, tidak dapat bertanggung jawab atas kematianku. Dia mematuhi hukum Timurid. Tetapi, aku telah melanggarnya, dan aku mendengar gaung kata-kata Arjumand. Arjumand tidak pernah mengungkit-ungkit hal itu lagi, tetapi aku tahu, hal itu mengganggu pikiran dan perasaannya, seperti juga mengganggu pikiran dan perasaanku. Pasukan itu akan dipimpin oleh guru lamaku, Jenderal Mahabat Khan.
Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berpengalaman. Dia tidak memberiku pilihan medan pertempuran, tetapi dengan kecepatannya, dia maju ke arahku. Balockpur adalah sebuah desa kecil di tepi sebuah lapangan yang dikelilingi perbukitan rendah, gundul dan gersang, dan tidak ada tempat
perlindungan. Aku pasti akan memilih bukit-bukit itu sendiri. Pasukanku lebih kecil, lebih mudah bermanuver, dan dengan mengerahkan para penunggang kuda yang bergerak cepat, aku pasti mampu menyerang secepat kilat, kemudian mundur. Tetapi, dia mengetahui keuntungan taktikku dalam situasi seperti itu. Lapangan terbuka memaksaku untuk berhadapan dengan kekuatan Mughal.
Sehari sebelum pertempuran, aku berkuda sendirian, tidak mampu duduk dalam keheningan gulabar: panas di sana membuat keringatku bercucuran deras. Arjumand terbaring di dipan. Hakim memberi tahu bahwa bayiku akan lahir malam itu. Pertanda baik atau buruk? Jika dia hidup, ini pertanda baik; jika dia meninggal, berarti pertanda buruk. Jika dia lelaki, berarti pertanda baik; jika dia perempuan, berarti pertanda buruk. Kami mengartikan tanda-tanda, meyakini bahwa mereka bisa menentukan nasib karena keberadaan mereka. Jika keringatku yang menetes menimpa seekor semut, aku akan menjadi pemenang; jika meleset, aku akan kalah.
Malam itu langit berawan. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan rendah, bintang-bintang tampak pudar dan jauh, seolah-olah mereka telah melepaskan tanggung jawab atas keterlibatan mereka terhadap nasibku. Andai saja bintang-bintang itu bisa mendekat, menggerakkan bumi dengan tenaga mereka, membelokkan nasibku agar menjadi baik. Itu adalah sebuah harapan kosong.  Apakah bintang-bintang itu benar-benar
peduli? Bisakah mereka melihat kedua pasukan yang menunggu datangnya cahaya fajar? Aku melihat wajah angkasa begitu dekat, bagaikan melihat sebentang tanah di hadapanku. Di mana bintangku berada? Di sana, lebih jauh daripada bintang yang terjauh. Cahayanya menyinariku, mengedipkan nasib baik di pihakku. Tetapi, kemudian, secara menakutkan karena tidak ada angin, bahkan tak ada sedikit pun angin sepoi bertiup, segumpal awan menghalangi bintang itu dariku. Mungkin, bintang itu bukan milikku, tetapi milik Mahabat Khan.
Di bukit-bukit rendah yang mengelilingi, salah satu bukit yang terdekat tampaknya adalah yang tertinggi, sebuah tonjolan di bumi, tampak bebatuan besar dan semak lantana. Aku memilih jalanku menuju puncak, dan menatap ke arah desa yang dikelilingi oleh pasukan. Aku bisa merasakan gerakan pasukanku, kuda-kuda, gajah-gajah, suara-suara bisikan, doa-doa yang digumamkan, perapian-perapian untuk memasak, yang kilau baranya tampak tersebar tak terhingga di atas tanah hitam. Pasukan masih terus mengisi hingga kejauhan, dan pemandangan perkemahan memberiku keyakinan. Orang-orang ini telah bertempur untukku selama bertahun-tahun; kami akan meraih kemenangan sekali lagi.
Aku menatap ke utara, ke arah pasukan Mughal, dan menahan napas. Aku melihat mereka samar-samar di kejauhan; begitu besar, mungkin yang kulihat saat ini hanyalah sebagian kecilnya saja. Perapian membentuk titik-titik di sepanjang
cakrawala sejauh mata memandang, kemudian terus naik hingga ke angkasa, berkelip dan berkilau tanpa terkendali, memanggil-manggilku untuk menerima kekalahan. Bagaimana dia akan menyerang? Dengan siasat banteng? Dia memiliki kekuatan untuk mengirimkan ribuan pasukan berkuda untuk mengepung pasukanku. Apakah dia akan menungguku dengan sabar, kemudian merangkulku sebelum kami saling menyerang? Apa yang akan dipikirkan oleh Mahabat Khan?
Tanah bergetar di bawahku. Isa memanjat di antara bebatuan dan semak, kemudian berdiri di sampingku. Dia membungkuk, kemudian menoleh untuk memandang pasukan Mughal, memperkirakan peluang kami. Wajahnya tidak memancarkan apa-apa.
"Anak yang  baru dilahirkan Arjumand  adalah perempuan, Yang Mulia, tapi tidak selamat." Ini   sebuah   pertanda   buruk,   aku   tahu.   Aku menundukkan kepala untuk berdoa bagi sang bayi.
"Arjumand?"
"Dia baik-baik saja, tapi kelelahan. Hakim berkata, dia harus tidur. Ada tamu bagi Anda. Mahabat Khan mengajukan pertemuan."
Sang lelaki tua itu tampak sangat ceria dan akrab. Dia telah minum dua gelas anggur dan berdiri bersandar di sebatang pohon asam. Di sampingnya ada beberapa prajuritnya, seluruhnya berjumlah selusin, siaga dan waspada.
"Yang Mulia, aku akan menunggu di dalam, tetapi   perabotannya   tidak   layak   untuk   sebuah
pertemuan dengan seorang pangeran. Aku tidak biasa minum anggur hangat-begitu manjanya aku saat ini-tapi, kau tidak memiliki anggur dingin."
"Kapal tidak bisa kemari setiap hari. Aku minta maaf. Apakah Anda membawa pesan dari ayahku?"
"Tidak. Oh, kesehatannya prima, dan dia terus-menerus mengeluh tentang anaknya yang berandal."
"Kupikir aku adalah 'bi-daulat'."
"Itu juga. Tergantung perasaannya. Perasaannya berayun-ayun dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lain, lebih buruk daripada sebelumnya." Dia meludah. "Sultan hanya mendengarkan perempuan itu. Saat ini, kekuasaan Sultan sudah tidak memiliki taji, semua diatur oleh Permaisuri. Setiap jam, aku menerima pesannya. Serang, serang: hancurkan Shah Jahan. Aku harus menang. Apakah aku membutuhkan lebih banyak pasukan? Apakah aku membutuhkan lebih banyak meriam? Aku bisa memberi perintah berdasarkan keinginanku sendiri." Dia maju selangkah ke arahku. Aku mendengar geraman peringatan Allami Sa'du-lla Khan dan dentingan pedangnya yang ditarik. Mahabat Khan mengangkat tangannya. "Aku tidak membawa pedang. Aku hanya ingin berbicara kepada Yang Mulia secara pribadi."
Kami berjalan menjauhi yang lain, tetapi tidak terlalu jauh. Aku tetap waspada terhadap teman lamaku ini. Dia telah mencapai kesuksesan karena memiliki mentalitas lihai dan cerdik; selalu ada kemungkinan jebakan yang sangat tidak diharapkan.
"Aku seorang prajurit," dia tertawa. "Bukan seorang pembunuh. Aku membiarkan urusan itu dikerjakan oleh orang lain. Kau tidak bisa menang besok. Aku tidak ingin mempermalukan muridku, karena kita pernah berteman. Jika kau menyerah, Mehrunissa meyakinkan aku jika dia akan memperlakukanmu dengan penuh rasa hormat."
"Mehrunissa? Dan ayahku? Aku tidak peduli dengan janji perempuan itu. Apa yang ayahku perintahkan?"
"Kami tidak boleh mencabut nyawamu." Aku melirik matanya yang setajam cahaya bintang dalam kelamnya malam. "Kau adalah keturunan Timurid." Aku merasakan kesedihan dalam desahannya. "Seharusnya kau tidak membunuh Khusrav. Itu tindakan buruk."
"Aku akan menentukan nasibku sendiri."
Dia berdiri menunggu keputusanku. Aku sangat berterima kasih karena penghormatannya. Bisa saja dia hanya mengirimkan pembawa pesan, bukannya datang sendirian. "Aku tidak bisa menyerah."
"Aku juga berharap demikian. Aku akan sangat kecewa jika Shah Jahan mundur sebelum berperang." Dia terkekeh. "Bahkan saat dia tahu jika dia tidak akan menang."
"Allah akan menuntun kita."
"Allah akan menuntun kita semua, beberapa ke lembah, beberapa ke puncak gunung. Siapa yang bisa mengetahui kehendak-Nya?"
Kami berjalan kembali ke para pengawal Mahabat Khan, melalui desa.  Saat itu terasa damai.
Panci-panci berada di atas perapian yang menyala-nyala, berada dalam damai, tidak memedulikan kami maupun pertempuran yang akan terjadi. Anak-anak kambing mengisap susu induk mereka, anak-anak mengintip keluar untuk melihat pangeran dan jenderal pasukan Mughal yang berjalan-jalan, bagaikan sedang berada di istana.
"Kau akan tinggal untuk makan bersama kami?"
"Tidak. Aku harus kembali ke pasukanku. Masih banyak yang harus dilakukan malam ini. Aku harus mencoba untuk mengingat semua hal yang kuajarkan kepadamu. Kuharap kau tidak menjadi terlalu pintar untuk pria tua ini."
"Pria tua yang lihai," aku terkekeh.
"Dan kau pria muda yang lihai juga. Kau telah mendapatkan pengalaman bertahun-tahun sejak aku pertama mengajarimu. Pengalaman lebih berarti daripada insting; dan akan menuntunmu lebih baik daripada ribuan kalimat instruksi."
"Kalau begitu, aku akan menurutinya."
Arjumand
Aku sedang tertidur saat dia kembali, tenggelam dalam ketidaksadaranku. Kelelahan itu terus bersarang dalam tubuhku, seakan-akan membalutku dalam kegelapan yang menyenangkan. Tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada sentuhan yang menggangguku, tetapi sesuatu berkata kepadaku, menghunjam ke dalam kegelapan yang hangat, bahwa dia datang. Para pelayan, pengasuh, Isa,
hakim, tidak ada yang mampu menggangguku, tetapi kehadirannya bisa membuatku tergugah, seakan-akan dia masuk ke dalam tidurku, dan dengan lembut membawaku kembali ke dalam cahaya. Dia berlutut di sebelahku sambil terdiam, menatap dengan matanya yang lembut dan gelap. Dia menyentuh pipiku, kemudian membungkuk untuk mengecupku, membelai rambutku. Itu adalah ungkapan kasih sayang yang paling dia sukai, untuk membelai dengan lembut dan tenang.
"Anak kita perempuan, aku diberi tahu. Aku sedih karena dia tak bertahan hidup." Kami saling memeluk dan membelai satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Allah berkehendak anak kami tidak bertahan hidup.
"Kita sudah memiliki cukup anak. Aku tidak bermaksud membangunkanmu. Aku hanya datang untuk menengokmu. Kau harus tidur lagi."
"Segera. Selalu ada waktu untuk itu, Cintaku." Dahinya berkerut dan aku membelainya agar licin kembali. "Besok kita akan menang."
"Mahabat Khan menemuiku. Dia ingin aku menyerah. Dia mematuhi perintah bibimu."
"Kalau begitu, bibiku merasa khawatir. Jika kau menang, kau akan memenangi segalanya. Apa yang tersisa baginya?"
"Jika aku kalah, aku kehilangan semuanya."
"Tidak semuanya. Apakah kau begitu cepat melupakanku?"
"Kau akan tetap bersama seorang pangeran yang terkalahkan?" Dia tersenyum sambil menunduk.
"Apa bedanya dengan seorang pangeran yang dikalahkan? Apakah cintanya akan berubah? Apakah matanya akan berubah? Apakah sentuhannya akan berubah? Apakah hatinya akan berubah?"
"Tidak."
"Kalau begitu, aku akan tetap mendampinginya. Dunia tidak berarti apa-apa bagiku tanpa Shah Jahan."
Aku terbangun lagi karena keributan orang-orang yang mempersiapkan pertempuran, perintah dan komando, derit pelana yang dikencangkan, dentingan kasar pedang-pedang yang sedang diasah, gerakan meriam, dan derap kaki kuda-kuda yang gugup. Aku merasa tidak nyaman, membenci suara-suara gaduh itu, hanya mendengar kerusuhan mereka. Aku ingin mendengar suara burung bulbul yang melatih nyanyian manisnya untuk menyambut raga fajar, cericit tupai, desir sapu yang berayun di halaman, panggilan para penjual buah di luar jendelaku.
"Isa." Dia mendekat. Aku nyaris berbisik, namun dia selalu mendengarku. "Di mana kekasihku? Panggillah dia."
"Dia sudah pergi, Agachi. Dia kemari untuk menengokmu, tapi kau tertidur begitu lelap."
"Mengapa kau tidak pergi bersamanya, Badmash? Aku memerintahkanmu untuk selalu berada di sampingnya."
"Dia menyuruhku kembali. Dia ingin aku tinggal di
sini untuk mengatur persiapan." "Untuk apa?"
"Untuk kabur, jika diperlukan. Agachi, kau harus beristirahat."
"Kuharap orang-orang berhenti memerintahku untuk melakukan sesuatu. Istirahat, istirahat, istirahat-itu hanya membuatku semakin lemah. Siapkan rath-ku. Aku ingin melihat pertempuran."
"Itu tidak akan
Perkemahan kami begitu kecil tanpa bala tentara, hanya aku sendiri, anak-anak, para pelayan, dan beberapa pengawal yang tinggal untuk menjagaku. Putra-putraku sudah berani pergi ke titik yang cukup tinggi untuk bisa melihat pertempuran; mereka tidak mengetahui seberapa pentingnya konflik itu. Mereka memercayai ayah mereka, seperti semua ayah, tidak akan terkalahkan, dan mereka ingin melihat mundurnya pasukan Mughal.
Bebatuan berada di jalan kereta dan hampir semua perbukitan rendah tidak dapat dilewati. Akhirnya, kami menemukan posisi yang cocok, sekitar satu kos dari lapangan. Dara dan Shahshuja merunduk di depanku. Aurangzeb berdiri di kejauhan; diam, serius, tetapi dengan sikap yang waspada, tidak mengharapkan kemenangan maupun kekalahan. Aku berbaring, bersandar ke bantal, menatap melalui tirai tebal ke arah badai debu yang mendekat. Dari kejauhan itu, tidak mungkin untuk mengenali  apa pun,   kecuali aliran  manusia dan
hewan, tetapi aku masih menatap ke pusat pasukan kami, mengetahui bahwa di sana, tersembunyi di suatu tempat di balik debu, Shah Jahan menunggangi Bairam dengan langkah-langkah pasti.
Pasukan kami begitu kecil! Aku merasa kecil hati. Pasukan Mughal terentang hingga jauh keluar tepi lapangan. Mereka menggetarkan bumi, menyapu tanah bagaikan gelombang raksasa. Ketika mereka saling mendekat, aku mendengar tangisan lemah para prajurit, yang terdengar di telingaku bagaikan bisikan. Dua pasukan berkuda berderap menjauh; mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengepung pasukan Mughal, sayap pasukan terentang lebar, seperti bayangan seekor burung raksasa. Meriam ditembakkan; pertempuran telah dimulai. Di kedua pihak, manusia dan hewan berjatuhan, bangkit dan berkumpul lagi, dan menyerang, berjatuhan, bangkit, dan menyerang lagi. Para penunggang kuda yang berderap ke timur dan barat tidak perlu pergi jauh-jauh-hanya satu kos, mungkin kurang-sebelum mengubah arah dan menyerang pasukan Mughal. Mereka bermaksud untuk memotong sayap besar itu, dan sebelah sayapnya sudah tampak kacau karena serangan tersebut, goyah, kemudian mundur. Sayap yang lain masih berada dalam formasi rapat. Debu mengepul ke arah kami, kabut kuning kecokelatan yang membuat pemandangan pertempuran menjadi samar-samar. Para prajurit yang ada di belakang mendorong ke depan, melambaikan pedang, menghantam perisai, berteriak. Mereka melakukan
gerakan maju yang mantap dan mengancam, tetapi akhirnya mereka hilang dari pandangan.
Sepanjang hari, aku menyaksikan dan menunggu. Yang terdengar hanyalah suara, yang terlihat hanyalah darah. Kedua pihak tidak mundur, tetapi tetap terpaku di posisi awal mereka. Seperti pasang surut, salah satu pihak mundur, kemudian maju lagi, mundur, dan maju lagi. Barisan pasukan kami agak goyah, tetapi kemudian bisa bertahan. Aku mengetahui, jika lini depan pecah dan berantakan, artinya Shah Jahan akan kalah.
Senja datang begitu cepat, tanpa angin sejuk yang nyaman, tetapi hawa panas dan berdebu, memudarkan cahaya matahari menjadi lapisan kuning keruh yang menggantung di atas bumi. Kami tidak menyaksikan lebih lama. Para prajurit akan mundur untuk beristirahat, memulihkan kekalahan mereka, tewas karena luka-luka mereka, atau membalut luka-luka ringan. Saat kami mencapai perkampungan, orang pertama mulai berjalan kembali. Mereka berlapis debu dan keringat, dengan kewaspadaan di atas keinginan dan kekuatan mereka. Beberapa membopong rekan mereka, mengerang kesakitan, beberapa terjatuh dan tenggelam dalam tidur abadi, yang lain berjalan terseok-seok, terus-menerus. Beberapa pasti gugur; adakah kesempatan mereka untuk hidup dengan luka-luka parah di tubuh mereka?
Malam telah menjelang, perapian dinyalakan dan makanan dimasak sebelum kekasihku datang. Matanya merah; wajahnya tidak berbeda dengan
yang lain-berdebu, kelelahan, janggutnya berwarna kusam seperti tanah. Aku mengambilkan anggur dan dia minum dengan lahap. Aku mengusap wajahnya dengan tuval, yang berubah warna menjadi cokelat karena tanah. Sentuhan dingin itu menghilangkan sedikit kekhawatirannya.
Pertama-tama, dia berbicara kepada Isa: "Apakah kau sudah menyiapkan segalanya?"
"Ya, Yang Mulia."
Dia menyentuh wajahku, dengan penuh permintaan maaf, sikap ingin dimaklumi.
"Kita harus bergerak cepat. Tidak banyak waktu lagi. Saat fajar, mereka akan tahu jika aku telah kalah.11 []
20
Taj Mahal
1067/1657 Masehi
Gopi berjongkok di depan sebuah panel marmer dan dengan hati-hati memahat untuk membersihkan serpihan-serpihan. Dia menggosok batu dengan tangan yang kasar dan kapalan, kemudian terus memahat bunga-sekuntum marigold-dengan cermat dari marmer tersebut. Dia mewarisi keahlian ayahnya, dalam kesabaran, dalam keterampilannya. Di sampingnya, Ramesh memanaskan dan mengasah pahat. Mereka bekerja di dalam bayangan sebatang pohon gulmohar di luar dinding yang mengelilingi Taj Mahal.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak makam itu selesai dibangun. Tetapi, pekerjaan masih terus berlanjut. Sebuah landasan besar telah dibangun, yang memberi ilusi bahwa makam itu tidak memiliki bobot. Di keempat sudutnya berdiri empat menara yang indah, tinggi dan ramping, bagaikan pohon palem. Kehadiran mereka membuat Sultan gembira. Mereka memberikan keseimbangan dan harmoni bagi landasan, yang akan tampak seperti gurun marmer
jika tidak ada hiasan menara-menara. Masjid-masjid berdiri di sisi lain monumen. Bangunan-bangunan itu kecil dan sederhana seolah-olah membungkuk dengan penuh penghormatan dalam kemegahan makam.
Tetapi, bangunan itu tidak dirancang dan dibangun agar tahan terhadap debu. Dengan perhatian dan kepedulian yang sama seperti sebelumnya, Sultan telah memerintahkan untuk membangun bagh. Bagh itu terletak di kaki makam besar, terbagi menjadi empat bagian; jalan setapak dari batu yang menanjak dan terentang dari utara ke selatan, dan dari timur ke barat, bertemu di dua kolam air mancur berisi bunga-bunga teratai yang terpahat dari marmer, dan di antara jalan setapak itu ada kanal-kanal lebar. Lapisan air jernih yang tak bergerak akan memantulkan makam yang berkilauan, tetapi agar tidak mengganggu pemandangan, kolam-kolam air mancur itu hanya akan diletakkan di kanal-kanal utara dan selatan. Agar sepadan dengan penampilan makam, Shah Jahan menghabiskan biaya besar untuk menciptakan taman. Pipa-pipa bawah tanah, tangki-tangki penyimpanan air raksasa, dan susunan bak-bak penampungan akan terus-menerus mengalirkan air ke pepohonan dan tanaman-mangga, jeruk, limau, delima, apel, jambu batu, nanas, mawar, tulip, lily, iris, dan marigold. Aliran utama air tersebut dibawa oleh pipa-pipa bawah tanah yang dikubur di bawah jalan setapak dari batu bata. Untuk memastikan bahwa setiap
kolam air mancur menerima jumlah air yang sama, sehingga pancaran air mereka sama tinggi, air tidak langsung dialirkan ke pipa tembaga yang memasok dua kolam itu. Tetapi, di bawah dua kolam dipasang sebuah wadah tembaga. Air mengalir sepanjang kanal, mengisi dua wadah tersebut, kemudian langsung mengalir melalui pipa-pipa dan memancar ke udara. Air untuk kolam air mancur dan taman itu diambil dari Jumna oleh sekelompok kerbau, dituangkan ke bak penampungan, dan dialirkan ke tangki. Dari sana, air akan mengalir ke bawah. Tekanan air akan meningkat sehingga arusnya akan terus berjalan ke arah ujung selatan taman. Perancangan itu dihitung dengan sangat teliti. Di dekat makam, Shah Jahan tidak hanya ingin ada tanaman bunga, tetapi lebih jauh, untuk melindungi para peziarah dari terik matahari, akan ada pepohonan.
Tidak sekali pun Gopi memandang ke arah Taj Mahal. Kepalanya masih tertunduk, dan saat dia mengangkat kepala, bagaimanapun caranya, dia akan menghindari pandangan ke arah monumen yang menjulang itu. Bangunan itu masih membuatnya merasa pedih.
Ayahnya tidak mampu menyelesaikan jali. Dia telah semakin menua dan rapuh, tangannya tidak mampu menggenggam pahat. Tangan-tangan itu kaku dan membeku, menjadi sebentuk cakar-cakar, jadi Gopi meneruskan pekerjaan yang tersisa beberapa sentimeter lagi. Dibandingkan dengan hasil karya megah ayahnya yang hampir rampung,
sisa pekerjaannya tinggal sedikit lagi, tetapi tetap saja, tidak bisa dikerjakan terburu-buru. Segalanya harus tepat. Gopi membutuhkan waktu setahun untuk memahat bagian terakhir, kemudian, bagaikan membentuk tanah liat, dia memahat tepi-tepi marmer itu dengan motif bunga-marigold dan lily yang sempurna, dengan sulur-sulur dan dedaunan. Motif-motif itu diisi dengan campuran safeda dan hirmich, serta pigmen warna. Bahan ini sama dengan yang digunakan pada lukisan dinding yang dia lihat di gua-gua, yang digambar berabad-abad lalu oleh seniman-seniman yang terlupakan. Isian itu akan menjadi sekeras marmer, dan akan diglasir sehingga bersinar bagaikan batu. Gopi tersenyum mengingat kebanggaan ayahnya yang membuncah saat pekerjaan mereka selesai. Dia telah memuji Gopi, seakan-akan Gopi-lah yang melakukan semua pekerjaan itu. Bagi Gopi, tampaknya setelah kematian ibunya, Murthi telah melunak, menjadi pemimpi, hanya bisa berkomunikasi dengan dunia lain. Keempat anggota keluarga itu melakukan ziarah ke kuil kecil untuk mengucapkan terima kasih. Beberapa orang lain yang datang ke sana bersikap menjaga rahasia, waspada, karena meskipun terpencil, kuil itu adalah tempat yang rapuh. Kening Durga diolesi saffron dan kum-kum, dinaungi kain sutra, dan dihiasi dengan sebuah rantai emas dan berlian. Mereka mempersembahkkan buah-buahan dan bunga, kemudian persembahan itu diberkati dan dikembalikan. Saat mereka pergi, Murthi tampaknya merasa tenang dan damai.
mim
"Kita akan kembali ke desa," dia mengumumkan. "Ibumu sangat merindukan kampung halaman kita. Jika saja dia bisa pulang bersama kita. Tapi, pertama-tama, kita harus melihat jali kita. Aku ingin melihat di mana jali itu diletakkan, melihat bagaimana cahaya jatuh di permukaannya."
Para pekerja membungkus jali dengan karung goni dan meletakkannya bertumpuk di atas sebuah kereta. Mereka memerhatikan kereta itu hingga lenyap dari pandangan, masuk ke dalam kerumunan pekerja dan hewan. Gopi melihat tubuh ayahnya mengerut, seakan-akan sebagian dari dirinya terbawa oleh kereta. Jali itu adalah representasi tujuh belas tahun hidupnya, dan seluruh keterampilannya.
"Saat mereka sudah memasangnya," kata Murthi, "kita akan pergi.
Mereka mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh menuju rumah. Perjalanan itu akan melelahkan dan sulit, tetapi Murthi merasa yakin mampu menjalani. Saat mereka telah membuang semua barang yang tidak penting dan mengumpulkan yang akan mereka bawa-perhiasan Sita yang akan menjadi milik anak perempuannya, peralatan Murthi, dan sekantong kecil uang rupee-mereka pergi ke Taj Mahal,
Mereka mendekati para prajurit yang menjaga Taj Mahal, tetapi sebelum bisa lewat, mereka dihentikan.
"Mau ke mana kalian?"
"Ke dalam. Untuk melihat."
Para prajurit memandang Murthi, lalu memandang putra-putra dan putrinya. Tidak diragukan lagi: wajah mereka, pakaian mereka, tingkah laku mereka, semua orang pernah menggunjingkan seperti apa keluarga Murthi ini.
"Kalian tidak boleh masuk."
Murthi terkejut. "Kenapa?"
"Kau Hindu. Itu tidak diizinkan. Sekarang, pergilah."
"Memang aku Hindu. Apa ada yang salah?" Murthi bertanya. "Aku bekerja selama tujuh belas tahun untuk makam ini. Aku tidak pernah ditanya apakah aku Hindu atau bukan. Aku memahat jali, yang sekarang berdiri mengelilingi makam Permaisuri. Aku hanya ingin melihatnya, tidak lebih. Lalu, aku akan pergi tanpa keributan."
"Kalian tidak bisa masuk. Kalian bisa melihatnya dari sini."
"Aku hanya ingin melihat jaliku. Cahaya ...."
"Aku telah memberi tahumu. Kau tidak mungkin masuk. Orang-orang Hindu tidak diizinkan masuk."
Murthi masih bertahan. Dia membandel, tetapi, begitu juga para prajurit. Mereka menghadang jalannya, tidak dengan kasar, tetapi tidak sabar karena Murthi tidak mau mengerti. Dengan perlahan, Gopi menggamit lengan ayahnya, tetapi Murthi menepisnya. Murthi berdiri sambil menatap bangunan, mencoba untuk memandang ke balik dinding-dinding marmer raksasa.
Baru sore hari,  ketika cahaya memudar dan
makam itu tampak mengambang dalam kilauan cahaya merah muda yang samar, dia menyerah dan mau ditarik dari situ. Wajahnya tampak berkerut-kerut dan muram. Dia bersandar ke putra-putranya; putrinya berjalan di depan mereka. Perjalanan ke Guntur sudah terlupakan. Murthi terbaring di dalam gubuk dan tidak bisa pergi. Jiwanya terikat dengan sebongkah marmer itu; dia telah mempersembahkan hidupnya kepada jali itu, dan dia akan merasa bebas hanya dengan melihatnya.
Gopi mengunjungi pamannya, Isa. Ketika duduk di kamar Isa yang mewah di istana, Gopi berpikir, betapa berbedanya nasib dua saudara itu. Mungkin hanya kemewahan itu yang membedakan Isa. Wajahnya lebih bercahaya, tubuhnya lebih kuat, dan sikapnya penuh kepercayaan diri.
"Ayahku sekarat."
"Aku akan memanggil hakim."
"Tidak. Hakim tidak dapat menyembuhkannya. Dia berharap untuk melihat jali karyanya, tetapi mereka tidak mengizinkannya masuk. Tolonglah, apakah Paman bisa meminta izin kepada Sultan untuk membiarkan adik Paman masuk?"
Isa menatap ke bawah, ke arah sungai yang mengalir ke Taj Mahal. Pantulannya menyilaukan di bawah matahari tengah hari, marmernya memantulkan cahaya ke angkasa, berdiri sendirian dan terisolasi. Makam itu membutuhkan teman yang
sama indahnya, tetapi di dunia ini tidak ada yang bisa mengimbanginya. Isa telah lama memikirkan makam itu; ia memiliki nyawa, ia bernapas. Dia membayangkan batu-batu yang terangkat dan disusun, ketika makam itu mendesah. Isa menyadari bahwa makam itu kesepian. Ia adalah benda sempurna di dunia yang penuh ketidaksempurnaan, dan merupakan karya agung. Mungkin makam Shah Jahan sendiri, refleksi makam itu dalam warna hitam, suatu hari akan menjadi teman bagi makam Permaisuri. Tetapi, mengapa hitam-warna yang menyeramkan? Mungkin Sultan berharap mengingatkan dunia akan dosa-dosanya. Makamnya akan berdiri untuk selamanya, seperti Taj Mahal, tetapi akan menjadi kain kafan semata, bukan cadar sutra. Saat itu, makamnya akan tampak jelek, menggunduk, dan tidak terbentuk di bawah sinar matahari; dan pada malam hari, makamnya tidak akan terlihat, sementara Taj Mahal akan muncul dan berkilauan, bermain-main dengan cahaya, seperti juga bermain-main dengan permukaan air. Bahkan, sungai sekalipun tidak mampu memantulkan warna hitam. Shah Jahan akan menerima hukumannya dengan erangan dan penderitaan di dalam kekelaman itu, hidup selamanya di dalam kegelapan. Sultan berharap agar dunia mengetahui bahwa dialah yang merusak satu-satunya manusia yang pernah dia cintai.
Apakah hidup mereka bisa berbeda? Isa tidak tahu. Tidak terlalu mencintai bukan berarti tidak mencintai sama sekali. Cinta tidak bisa diukur dalam
porsi seperti makanan maupun minuman, diatur agar tidak luber dan membanjir. Mungkinkah manusia mencintai dengan berlebihan, dan karenanya, merenggut kehidupan itu sendiri?
"Adik Paman sekarat karena patah hati." Gopi memecah kesunyian.
"Itu tidak bisa kusembuhkan. Apa yang bisa kulakukan?"
"Paman memiliki kekuasaan untuk menghukum mati seseorang. Paman bisa menyelamatkan adik Paman."
"Kekuasaan? Apakah kau mengerti arti kekuasaan? Kau berpikir, karena dia Mughal Agung, maka kekuasaannya tidak terbatas? Kekuasaan Sultan terbatas, karena dia hanya seorang manusia. Dia bisa mencabut nyawa, tetapi tidak menciptakan nyawa; dia bisa mengubah arah alur sungai, tetapi tidak bisa menciptakan setetes air. Dia bisa membuatmu menjadi seorang yang terhormat, tetapi tidak bisa memberikan kehormatan kepadamu. Dia bisa berpura-pura jika dia adalah tuhan, tetapi dia bukan. Jika memang begitu, dia akan meniupkan nyawa kepada orang mati, dan makam itu tak akan pernah dibangun. Dan dia juga tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah hukum dewa-dewa atau siapa pun yang memuja mereka. Kita adalah orang Hindu, kita tidak bisa masuk."
"Bahkan Paman sekalipun?" Gopi mencemooh, tidak percaya.
Isa tidak menjawab.
Murthi semakin melemah, meratapi kesedihannya. Kematian mengukir kulitnya, memahat wajahnya; biasanya dia yang melakukan itu terhadap marmer; membentuk sesosok mayat dari tulang, daging, darah, dan jantung.
Isa berjalan bersama keponakan-keponakannya menuju ghat. Dia mengamati Gopi menyulut api pembakaran jenazah, kemudian mengulangi kata-kata pendeta. Adiknya telah mengerut; dia tenggelam dalam taburan bunga-bunga. Api menyala-nyala, membakar kayu, kain, dan daging. Dia terdiam sampai hanya debu yang tersisa, dan para keponakannya berjongkok di samping sisa-sisa pembakaran, menatap dan menunggu ayah mereka naik ke langit bersama kepulan asap.
"Apakah sekarang kau akan kembali ke desa?" Isa bertanya kepada Gopi.
"Mengapa? Aku tidak begitu ingat desa kita. Aku hanya setuju pulang karena ayahku menginginkan itu. Aku harus menemukan pekerjaan di sini untuk menghidupi adik-adikku."
"Masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di sana," Isa menunjuk ke arah Taj Mahal. Gopi ingin menolak, ingin mengutuk monumen itu, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Monumen itu telah menghidupi ayah dan keluarganya; sekarang akan menghidupinya.
"Aku akan bekerja, selama masih ada pekerjaan."
Hasrat Sultan terhadap perempuan tidak pernah melemah. Para budak, devadais, gadis-gadis nautch, putri-putri, begum-begum; yang paling cantik, yang paling molek, semua tidur dengannya sepanjang siang dan malam. Dia tidak pernah bisa terpuaskan. Iblis telah hidup di antara kedua kakinya; dia telah meminum ramuan untuk meningkatkan kekuatannya, namun akibatnya saluran kencingnya mengalami penyumbatan. Dia tidak bisa membuang air kecil dan merintih kesakitan. Dia bergelayutan kepada Isa, bagaikan seorang anak yang takut hantu, hingga hakim memberinya ramuan opium yang kuat.
Selama Shah Jahan tertidur, Isa pergi ke pertempuran di Lai Quila dan mencari kabar tentang Delhi. Dia mendengar bisikan-bisikan sudah tersebar di seluruh penjuru kota: sang Sultan sedang sekarat, sang Sultan sedang sekarat. Pintu-pintu tertutup, toko-toko dipasangi jeruji, chai dan paan wallah mencair seiring datangnya malam. Ketika menerima panggilan, dengan cepat Dara datang, dan derap kudanya yang berpacu bergema di keheningan kota dan jauh ke seluruh penjuru kesultanan. Berita itu juga sampai di telinga Shahshuja, Subadar Bengal; Murad, Subadar Gujarat; dan Aurangzeb, Subadar Deccan. Isa merasakan mereka mondar-mandir di istana mereka yang jauh.
Dalam kegelapan, di bawah maidan, dia melihat sosok-sosok yang berkumpul di bawah jharoka-i-darshan. Satu orang, dua orang, sepuluh
orang, seratus. Di dalam istana, para pejabat muncul diam-diam, berkumpul di diwan-i-am untuk menatap ke atas awrang kosong di bawah kanopi emasnya.
Semua menatap ke arah timur. Kegelapan mulai memudar, angkasa berubah warna menjadi keemasan; fajar sudah merekah, tetapi Sultan tidak muncul. Para pejabat dan orang-orang menunggu, bahkan setelah matahari meninggi dan menyengat di punggung mereka.
Isa mengetahui pikiran mereka: Sultan telah meninggal. Dan dia mendengar orang-orang di bawah meratap, karena sang Sultan adalah ayah yang adil dan bijaksana bagi mereka. Mereka juga meratapi sesuatu yang tidak mereka ketahui.
mim
Shah Jahan terbangun dalam kesakitan, gigi-giginya bergemeletuk, dan berbisik kepada Isa: "Agra ... Agra ... aku harus melihatnya."
"Dia tidak bisa dipindahkan," kata hakim.
"Sembuhkan ayah kami," Dara dan Jahanara memohon, tetapi hakim membungkuk ketakutan karena ketidakmampuannya.
Dara memanggil seorang wazir: "Sebarkan sebuah pengumuman. Sultan Shah Jahan saat ini sedang sakit, dan akan segera pulih. Kirimkan kabar itu ke seluruh penjuru negeri."
Wazir mematuhi perintah itu. Dia menempelkan pengumuman di gerbang-gerbang Lai Quila dan mengirim   pembawa   pesan   ke   seluruh   penjuru
Hindustan. Tetapi, pembawa pesan lain dengan cepat membawa pesan ke saudara-saudara lelaki Dara: Sultan sekarat dan Pangeran Dara mengambil alih kekuasaan kesultanan.
Selama dua hari dua malam, Sultan terbaring dalam tidur yang panjang. Saat akhirnya dia terbangun, rasa sakit sudah menghilang dari tubuhnya, tetapi di wajahnya, kelelahan membekas.
"Agra. Aku harus pergi mengunjunginya, Isa," dia memerintah, "katakan kepada Mir Manzil untuk mempersiapkan perjalananku." Dia menatap Dara, kemudian melihat tatapan ingin tahu di mata sang anak. "Ada apa, Dara?"
"Adik-adikku mengumumkan rencana dan tujuan mereka. Mereka yakin Ayah sudah meninggal. Saat ini Shahshuja menyebut dirinya sendiri Sikander Kedua, dan Murad melemparkan koin-koin."
"Dan Aurangzeb?" Shah Jahan tidak bisa menyembunyikan kengeriannya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Dara. "Dia tidak berbicara sepatah kata pun, tetapi saat ini dia bergerak ke arah kita dengan pasukannya."
"Pasukannya? Dia Shah Jahan berteriak.
"Putra-putraku yang bi-daulat! Nafsu mengalahkan kasih sayang mereka. Bawa aku ke awrang. Aku harus memperlihatkan diriku sendiri."
Para pejabat dipanggil dan Ahadi menyusun barisan di sekitar diwan-i-am. Shah Jahan, dibantu oleh Dara dan Isa, menaiki tangga ke podium dan perlahan-lahan duduk di singgasana merak. Para pejabat menyadari penyakit Sultan yang parah:
tangannya yang bergetar dan lehernya yang lemah. Dia telah kehilangan kekuatan. Sebaliknya, mereka juga menyadari kekuasaan Dara.
"Aku baik-baik saja," sang Sultan berbicara, tetapi suaranya nyaris tak terdengar di telinga mereka. "Putraku tersayang dan satu-satunya yang setia, Pangeran Dara, akan memerintah hingga aku cukup kuat untuk kembali mengerjakan tugasku sekali lagi."
Isa melihat selubung-selubung, gelap dan mengerikan, menutupi wajah-wajah mereka yang mendongak. Dia bisa membaca pikiran mereka: apakah Dara cukup kuat? Dari pengamatannya, Isa tahu bahwa sang Sultan membuat suatu kesalahan. Dibutakan oleh cinta, dia telah meletakkan kesultanan ini di atas kesetiaan yang terbagi, bagaikan pasir yang bergerak.
"Aku memerintahkan putra-putraku untuk kembali ke posisi mereka sebagai bagian dari hukuman. Aku masih Padishah Hindustan."
mm
Butuh waktu sepuluh hari untuk mencapai Agra, dan segera setelah mereka tiba, Sultan memasuki makam besar dan pintu-pintu perak tertutup di belakangnya. Dia berlutut di sarkofagus dan mengecup marmer dinginnya.
"Kekasihku, kekasihku ...." Bisikannya bergema ke seluruh penjuru kubah. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Putra-putraku berbaris menyerangku. Mereka tidak mematuhi perintah ayah
mereka, sang Sultan. Kata-kataku hanya akan menjadi debu di tengah angin. Di saat aku jatuh sakit, mereka melawanku. Putra kesayangan kita Dara adalah pendukung setiaku; cinta kita telah menumbuhkan kesetiaan di hatinya. Aku telah mengirimnya untuk berperang melawan adiknya Shahshuja dan aku tidak bisa bernapas karena ketakutan. Aku tidak pernah merasa takut jika menghadapi peperangan; tetapi saat ini, aku gemetaran seperti seorang pengecut. Jagalah Dara ... tuntunlah dia ... berikan dia kekuatanmu, Arjumand Sayangku."
Shah Jahan terjaga semalaman di makam hingga Dara menemuinya, dengan penuh kemenangan, karena Shahshuja telah kalah dan saat ini kembali ke Bengal. Dara tertawa puas dan kegembiraannya bergema di sekeliling makam.
Sang Sultan masih berlutut, "Dan Aurangzeb?"
Dara terdiam. "Sekarang dia maju bersama Murad. Aurangzeb telah mendukung Murad sebagai sultan," dia terkekeh, "aku akan mengalahkan Murad semudah aku mengalahkan Shuja."
"Tapi, ada Aurangzeb di sisinya," Shah Jahan berkata dengan lembut. Dia menoleh ke arah Isa. "Apakah kau percaya Aurangzeb akan mengizinkan Murad menjadi sultan?"
"Siapa yang bisa membaca pikiran Aurangzeb yang sebenarnya, Yang Mulia?"
"Kalau begitu, aku harus memimpin pasukan melawan mereka. Hanya pengalaman dan kehadiranku yang bisa mengalahkan Aurangzeb."
"Tidak!" Dara berteriak. "Aku akan memimpin su-atu hari nanti. Aku harus menghadapi Aurangzeb." Dia berbalik dan berjalan dengan marah keluar dari makam, seperti seorang anak yang mainannya direbut.
Shah Jahan, yang perasaannya terluka, menatap Isa: "Apakah aku salah?"
"Tidak, Yang Mulia. Hanya Yang Mulia yang bisa mengalahkan Aurangzeb. Dara tidak memiliki pengalaman."
"Tapi aku membuatnya tidak senang."
"Itu akan berlalu," tetapi, ketika Isa mengatakan itu, dia merasakan sang Sultan mengubah pendiriannya, dan dia merasa ngeri.
Isa sudah menduga ini sebelumnya. Di tepi Sungai Chambal, sementara Shah Jahan dan Isa menunggu di makam, Aurangzeb mengalahkan Dara. Ribuan orang mati dalam pertempuran sepanjang hari, dan saat Dara mundur, pasukannya bubar. Dengan lusuh dan lelah, dia kembali ke Agra. Sang ayah, yang mencintai dan memaafkannya, menghiburnya meskipun saat ini Aurangzeb berbalik menjebak Murad. Aurangzeb mengikat Murad dan mendudukkannya di atas seekor gajah, yang membawanya ke sebuah penjara entah di mana. Pada saat itu juga, tiga gajah yang sama dikirim ke titik-titik yang lain, ke arah yang berlainan.
"Monster itu!" Shah Jahan murka. "Penipu. Dia selalu ingin menjadi sultan."
"Dia bersumpah akan memenjarakanku juga," Dara berkata dengan putus asa. "Dia membenciku."
"Kita akan mengalahkan bi-daulat itu. Kita akan menyusun pasukan lain." Kemudian, bagaikan ingin mengingkari setiap kekuatan takdir yang semakin mendesaknya, Shah Jahan mengumumkan: "Shah Jahan saat ini adalah sultan Hindustan."
Isa mengawasi pasukan baru yang berbaris ke dataran berdebu di luar Agra. Matahari berkilau di pelindung kepala, meriam dan jezail mereka. Para manusia dan hewan tampak tak terhingga, tetapi Isa tahu, pasukan ini tidak kuat. Agra telah kekurangan tukang jagal, juru masak, dan tukang kayu. Mereka bukan tandingan Aurangzeb.
Dan Aurangzeb, yang merantai kaki gajah tunggangan perangnya di sebuah tiang di atas bumi, menikmati kemenangannya, hanya mengalahkan Dara karena pengkhianatan komandan pasukan Dara, Khallihillah Khan. Dara menuju ke barat, sementara Aurangzeb menuju Agra.
1068/1658 Masehi
Di medan perang, Shah Jahan menatap ke bawah. Para prajurit mendongak. Tidak ada yang bergerak. Dari atap masjid, meriam ditembakkan. Dia tidak mengernyit saat tembakan itu mengenai dinding-dinding benteng dan tercebur ke kanal yang melingkari.
"Bi-daulat," dia berteriak, dan mengayunkan kepalan tangannya ke pasukan yang mengelilingi
Padishah, sang Mughal Agung, sultan Hindustan, Shah Jahan, Penakluk Dunia. "Bi-daulat."
Teriakannya tidak terdengar; pasukan itu tidak menghilang. "Apa yang telah kulakukan?"
"Yang Mulia merasa sakit," kata Isa. "Dan Aurangzeb ingin menjadi sultan."
"Dia tidak bisa merampas dariku, kecuali aku mati," Shah Jahan berkata dengan marah. "Aku jatuh sakit selama tiga hari, dan pasukan besar menyerang. Apa yang dia harapkan akan terjadi padaku dalam tiga hari itu? Aku akan mati? Badmash."
"Dia mengaku, dia datang hanya untuk membantu Yang Mulia," sahut Isa. "Untuk memberi perlindungan dari putra-putra Anda yang lain."
"Dia pembohong. Dara, di mana Dara? Jika saja dia mendengarkanku, putra kesayanganku itu akan menyelamatkan aku. Aurangzeb tahu, Dara tidak akan pernah menyakitiku."
"Aku tahu," kata Isa pelan. "Dara bertempur untuk membela Yang Mulia, tapi dia tidak memiliki pengalaman Aurangzeb dalam pertempuran. Siapa yang tahu saat ini dia berada di mana? Anda terlalu mencintai Dara, Yang Mulia, dan tidak cukup mencintai Aurangzeb. Anda memberi Dara impian bahwa dia akan menjadi sultan, tetapi dengan tetap menahannya di sisi Anda, Anda membuatnya lemah. Setiap belaian, setiap kecupan kasih sayang akan melemahkan kekuatannya untuk bertahan melawan Aurangzeb. Dan setiap kecupan, setiap belaian,   hanya   membuat   kebencian   Aurangzeb
semakin besar. Sekarang, dia membenci Dara."
"Aku mengutukmu Isa, karena memberi tahuku saat sudah terlambat. Memperingatkan? Kau sudah meramalkan upacara di atas makam kami. Oh Tuhan, di mana Dara?"
"Dia pergi jauh."
"Kita harus memberinya waktu-waktu untuk kabur, untuk membangkitkan pasukan lain dan mengalahkan Aurangzeb."
Tasbih mutiara sang Sultan berdetik-detik, menghitung pergantian waktu. Suara putaran tasbih seakan bisa didengar dari seberang sungai. Saat ini, satu-satunya yang memberi Shah Jahan ketenangan adalah Tuhan, dan dia pergi menghadap-Nya di Masjid Mina-hanya di sana tersedia kedamaian bagi sang Sultan.
Taktya Takhta.
Kalimat itu terukir di hatinya. Dia tidak dapat menghapusnya. Bisikannya sendiri bergema setelah bertahun-tahun, dan tidak bisa dicabut. Di antara jeda kata-kata, ada kilatan peristiwa-peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Kekuasaan sang Sultan telah menguap. Dia menjadi sesosok hantu yang berbisik dari balik singgasana, tetapi tidak ada yang bisa mendengarnya.
Shah Jahan pergi menuju Masjid Mina. Sembahyang tidak membuatnya lebih nyaman; usia mengiris tubuhnya, menyisakan garis-garis keriput di wajahnya.
"Aku akan mengundang Aurangzeb untuk datang kepadaku dan mendiskusikan masalah ini. Lalu, dia
harus kembali ke posisinya." Sesaat, Shah Jahan merasa murka, kejam, dan berbahaya, tetapi kemudian dia tenang kembali. "Aku akan memohon agar dia kembali ke Deccan, untuk pergi dengan damai. Aku akan memaafkannya."
mim
Isa pergi. Dia membawa Alamgir, sebilah pedang yang dibentuk dari batu meteorit. Gagangnya terbuat dari emas, bertatahkan berlian. Di ujung gagangnya yang membulat ada sebuah batu seukuran kepalan tangan. Sarung pedangnya juga terbuat dari emas, dihiasi mutiara, berlian, dan zamrud. Bilah pedangnya yang menyeramkan dan melengkung tidak pernah kehilangan kilauan atau ketajamannya. Alamgir: Penakluk Jagat Raya.
Aurangzeb menunggu Isa di istana Dara di dekat Jumna, kediaman Pangeran Shah Jahan dan istrinya Arjumand. Isa tenggelam dalam kenangan. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah masuk ke sini. Aurangzeb berdiri di tempat Arjumand menebarkan perhiasan peraknya dan memenangi kembali hati pangerannya. Aurangzeb berdiri di atas rumput, tampak tidak peduli. Dia mengambil pedang dari Isa dan mencabut pedang itu dari sarungnya. Matahari berkilau di bilah tajamnya.
"Alamgir. Pedang ini dibuat dengan penuh perhitungan. Apa lagi yang ayahku kirimkan, Isa?"
"Dia mengundang Anda untuk mendiskusikan masalah ini."
Isa membuat Aurangzeb geli. Dia tersenyum dan
berbalik menatap benteng.
"Tidak diragukan lagi, dia ingin aku kembali ke posisiku. Dia memerintahkanku untuk berlari ke sana, berlari ke sini. Beberapa tahun ini aku sudah berlari untuknya, menyerang Kandahar, menyerang Samarkand. Aku telah mendaki pegunungan dingin dan menyusuri gurun panas atas perintahnya. Aku adalah putranya yang penurut, bukankah begitu, Isa?"
"Anda berbicara seakan-akan tugas Anda telah selesai."
"Memang belum,"  ada semangat dalam nada
suaranya;    matanya    tidak   pernah    lepas   dari
benteng,    tetapi    menerawang    dengan    penuh
keinginan. "Salah siapa ini semua? Salahku? Aku
telah mencintainya, tapi seluruh cintanya mengalir
deras bagi si perampas, Dara."
"Dara tidak merampas takhta, Yang Mulia. Sultan ii
"Kau juga hanya akan berkata yang baik-baik tentang Dara. Kau mencintainya seperti dia anakmu sendiri. Mengapa? Karena ibuku mencintainya. Putra pertama-aku melihat ibuku menghujani Dara dengan kasih sayang. Dia menerima semua kecupannya, sementara yang lain terlupakan."
"Anda beruntung karena bisa menimpakan kesalahan kepada banyak pihak, Yang Mulia."
"Kau memiliki lidah yang berbisa, Isa. Suatu hari, mungkin kau akan kehilangan lidahmu."
"Apakah Anda mengira aku akan takut kepada seorang   anak   yang   pernah   kugendong   dengan
tanganku?"
"Kau merasa terlalu yakin dengan belas kasihku."
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, Yang Mulia."
"Ah, Isa." Aurangzeb tersenyum maklum dalam sikap yang bersahabat, sambil menepuk lengannya. Itu adalah tindakan yang kaku dan formal. Bagi Isa, Aurangzeb dewasa tidak berbeda dengan Aurangzeb kecil. "Aku tidak akan menyakitimu, tapi Dara telah menyakitiku. Dia membenciku. Dia telah meracuni pikiran ayahku untuk melawanku, seperti Mehrunissa meracuni Jahangir. Jika aku mundur dari sini, dia akan kembali. Dan sekali lagi, kami akan bertempur, dan aku akan kembali meraih kemenangan. Si tolol itu tidak tahu apa-apa tentang pertempuran; dia hanya mengetahui toleransi konyolnya terhadap semua umat manusia. Dia akan lebih mencintai orang Hindu daripada kaum Muslim; dia akan memberi mereka kebebasan untuk beribadah, kebebasan untuk mengembangkan agama Hindu, dan menumpas kaum yang benar-benar beriman. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kita harus menumpas orang Hindu agar tidak bangkit kembali."
Tekad Aurangzeb menakutkan Isa. Dia percaya bahwa dirinya sendiri adalah pembela keimanan, Pedang Tuhan yang sebenarnya. Babur, Akbar, Jahangir, dan Shah Jahan juga memercayainya, tetapi tidak seperti ini, tidak seperti ini.
"Kalau begitu, tidak akan ada kedamaian dalam hidup Anda," kata Isa. "Jika Anda mengobarkan
perang terhadap rakyat Anda, mereka juga akan mengobarkan perang untuk melawan Anda. Singgasana akan guncang dan jatuh, karena ia hanya berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh Akbar, dan diteruskan oleh kakek serta ayahmu. Mereka mengeluarkan suatu hukum agar semua diperlakukan dengan adil. Jika Anda menebar kebencian, Anda akan menerima kebencian juga. Apa yang Anda lakukan akan bergema seiring waktu, seperti gema peristiwa masa lampau. Tidak ada celah konsekuensi bagi tindakan Anda. Aurangzeb akan menjadi sebuah nama yang dibenci oleh generasi-generasi berikutnya."
"Kau berbicara seperti si tolol Dara."
"Mungkin aku juga tolol, Yang Mulia."
"Kalau begitu, aku hanya membuang waktu. Kau boleh kembali ke ayahku dan menyampaikan pesanku-dia harus menyerahkan benteng kepadaku."
"Dia akan menolak."
"Jangan bicara atas nama Sultan, Tolol."
"Dan jangan bicara seolah-olah Anda sudah menjadi sultan, Yang Mulia."


Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified