Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Taj Part 2a

Kisah Cinta
1021/1611 Masehi
Arjumand
Awalnya, ibuku begitu bersimpati terhadap kesedihanku. Dia menghibur dan membuaiku, membujuk dengan penuh simpati, tetapi dia tidak betul-betul mengerti penderitaanku. Cinta datang dengan lembut, perlahan, tidak menyambar seperti kilat. Cinta adalah kismet: jika cinta datang ke dalam kehidupan seseorang, orang itu beruntung. Jika tidak, kehidupan tanpa cinta akan terus mengalir hingga ke liang kubur. Siapa yang akan memprotes? Tidak ada. Kami adalah saman, yang akan ditukar dengan kekayaan, posisi, atau persekutuan politik. Cinta tidak akan bisa menjadi bagian kesepakatan itu. Itu hanyalah dongeng, yang dinyanyikan oleh para penyair. Aku diharapkan, seperti ibuku, nenekku-dan ketika aku merunut ke belakang lebih jauh dan lebih jauh lagi, aku melihat kami terpenjara oleh tradisi-untuk menikahi seorang lelaki yang dipilih untukku. Cinta, kasih sayang, persahabatan, semua akan tumbuh
perlahan-lahan. Tahun-tahun akan berlalu, dan kemudian, aku akan menyadari dengan terkejut: aku mencintai lelaki ini. Tetapi, siapa lagi yang ada di sana untuk kucintai? Tidak ada, tentu saja.
Kemudian, kepedulian ibuku berubah menjadi ketidaksabaran, seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Aku tidak bisa menyalahkannya. Tahun-tahun telah berlalu dan saat ini aku sudah tua, dalam usiaku yang keenam belas, semakin menyusut seperti bulan, kehidupanku sudah lama melewati titik zenith.
"Siapa yang akan menikahimu sekarang?" itu adalah pertanyaan yang terus-menerus diajukan oleh ibuku. "Kau sudah terlalu tua. Aku sudah melahirkanmu saat seusiamu. Aku dulu sudah menjadi perempuan yang berkedudukan mantap, berposisi bagus. Aku telah ...."
"Apakah Ibu mencintai ayahku?"
"Apa hubungannya dengan itu?" Nada suaranya seperti tersinggung, seolah aku telah mengucapkan sesuatu yang tidak sopan. "Kau terlalu banyak membaca puisi dan memenuhi otakmu dengan sampah." Kemudian, dengan nada yang lebih lembut, untuk menghiburku: "Kau baru bertemu sekali dengannya. Bagaimana kau bisa percaya bahwa kau mencintainya hanya dalam satu kali pertemuan?" Kalimat itu terdengar bagaikan irama dundhubi yang memperdengarkan keraguan itu sendiri. Aku tidak menyebut-nyebut pertemuan kedua yang selalu terkenang.
"Sepuluh atau dua belas kali, percayalah pada-
ku, Arjumand, aku akan mengerti. Cinta akan tumbuh perlahan-lahan. Cinta tidak akan tumbuh hanya karena sekali bertemu dengan seorang lelaki."
"Aku tidak bisa menahannya." Bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya, ketika bisikan pada diriku sendiri penuh oleh ketidakyakinan?
"Kami sudah cukup mendengar semua omong kosong ini darimu," dia menukas. "Kakekmu sudah menemukan seorang pria muda yang sangat layak. Aku telah bertemu dengannya, begitu juga bibi dan nenekmu. Kami semua merestui. Kau akan menikahinya. Dia orang Persia, Jamal Beg. Nenekmu mengenal ayahnya di Ishfahan. Mereka adalah keluarga terhormat dan Jamal akan mendapatkan posisi tinggi jika mengabdi kepada Padishah."
"Aku tidak akan menikah dengannya."
"Hanya seperti itu! Va Tuhan, mengapa aku harus mendapatkan putri seperti ini? Siapa yang menanamkan ide-ide tolol itu dalam otakmu? Apakah aku? Aku membesarkanmu sebaik yang kumampu. Jika aku mengatakan hal yang sama kepada ibuku, pasti aku sudah dipukuli keras-keras. Kau harus menemuinya."
"Aku tidak mau."
"Apakah kau tolol?" ibuku berteriak. Wajahnya berubah menjadi pucat, terbakar amarah dan penuh ketakutan. "Kau sudah lebih tua tiga tahun daripada usia pernikahan yang umum. Kau sudah tua, tua! Sebagai penghormatan terhadap kakekmu, Jamal bersedia menikahimu. Selamatkan dirimu sendiri."
"Maksud Ibu, aku harus menyelamatkan Ibu. Aku
membuat Ibu malu."
"Ya, memang benar. Semua perempuan menertawakanmu. Apakah kau mendengar bisik-bisik mereka? Mereka pasti tertawa jika kau memasuki harem. 'Dia menunggu Shah Jahan, dan badmash itu menikahi perempuan lain, dan pergi jauh.'" Dia mendesah. Itu adalah suatu ritual. Mata kelabunya yang indah menjadi basah, dan bagaikan embun pagi, air mata menetes dan mengalir di wajahnya. Ini selalu menyentuh hatiku, dan hampir membuatku menyerah. Tetapi, aku tetap bersikeras, dengan teguh bergantung kepada sebuah kenangan.
"Dia tidak pernah tidur dengan perempuan itu."
"Siapa yang memberi tahu kebohongan itu kepadamu? Itu adalah kebohongan, yang dikatakan hanya untuk membodohimu. Mereka memberimu harapan yang kekanak-kanakan."
"Semua orang tahu."
"Aku tidak." '
"Semua orang, termasuk Ibu. Pada pagi hari setelah malam pengantin mereka, saat para perempuan memeriksa tempat tidur, tidak ada noda darah."
"Itu tidak selalu terjadi. Perjalanan panjang "Dalam kasus ini, perempuan itu bukanlah seseorang yang seharusnya diharapkan," aku menambahkan dengan kejam. "Tidak ada darah. Dia berkata kepada dayang-dayangnya, bahwa Shah Jahan hanya berbicara dengannya sekali pada malam pengantin mereka. Shah Jahan melihat tubuhnya, kemudian membalikkan tubuh darinya dan
berkata, 'Aku tidak bisa.'"
"Kau tidak ada di sana, untuk mendengarkan dan melihat."
"Perempuan lain ada di sana. Sudah dua tahun sejak malam pengantin mereka. Apakah mereka memiliki anak?"
"Itu membutuhkan waktu, bagi para pangeran, begitu juga bagi para lelaki lain. Bahkan Akbar, meskipun memiliki banyak perempuan, tidak bisa melahirkan ahli waris hingga dia pergi ke seorang pir, Shaikh Salim Chisti. Bahkan, Permaisuri pun harus tinggal di ashram sebelum dia bisa mengandung seorang anak. Hal yang sama terjadi pada Shah Jahan. Lagi pula, apa hubungannya semua ini denganmu? Dia sudah menikah, dan kau belum. Yang terjadi di ranjangnya bukan urusanmu."
"Itu adalah janjinya kepada-ku. Dia berkata, dia akan datang kepadaku. Aku akan menunggu."
"Apa buktinya bahwa dia memintamu menunggu?" Sekarang ibuku berkata dengan angkuh, karena merasa menang. "Ayo. Tunjukkan kepadaku. Jika aku bisa melihat bukti bahwa dia memohon kepadamu untuk menunggunya, aku tidak akan pernah-Allah menjadi saksi-mengungkit-ungkit pernikahan denganmu lagi. Aku akan merasa bahagia karena mengetahui suatu hari kau akan menikahi putra mahkota."
"Aku tidak memiliki bukti. Ibu juga tahu itu. Hanya kata-katanya."
"Kata-katanya! Itu kata-kata Isa. Kau memercayai omongan chokra itu . si hina itu selamat
dari ganjarannya hanya karena kakekmu." "Aku memercayai Isa."
"Bagaimana," ibuku bertanya dengan penuh siasat, "jika aku bisa membuktikan bahwa dia berbohong kepadamu?"
"Aku tidak akan memercayai Ibu."
"Kau memercayai chokra, bukannya ibumu." Dia memejamkan mata, dan air mata mengalir karena kebandelanku telah melukai hatinya. Aku menghiburnya, tetapi tidak bisa menarik kembali kata-kataku.
Aku memercayai Isa. Mereka menemukannya pada saat fajar, tergeletak di sebuah selokan dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Dia telah dilemparkan ke sana bagaikan seorang paria, bergelimang sampah. Wajahnya berlumur darah kering, bagian belakang kepalanya juga berlapis darah kering. Aku tidak habis pikir bagaimana hal itu terjadi padanya. Dia dibawa ke rumah ini, dan aku merawatnya. Saat dia bisa kembali berbicara, dia menceritakan pertemuannya dengan Shah Jahan. Dia mencari-cari sesuatu, tetapi benda itu menghilang. Tetapi cincin hadiah dari Jahangir yang berharga, masih ada di jarinya. Bagaimana bisa aku tidak memercayainya? Aku ingin memercayainya. Tidak ada bedanya dengan keyakinan kita kepada Tuhan, meskipun tidak ada bukti yang benar-benar nyata. Keyakinan akan memperkuat diri kita. Isa telah mengatakan kebenaran; tidak dapat diragukan, tidak dapat digoyahkan. Dia menangis karena kehilangan surat itu. Aku juga. Surat itu
pasti bisa membuatku nyaman selama hari-hari berat yang panjang, yang akan menarikku hingga berusia lanjut. Siapa yang telah melakukan pencurian itu? Siapa yang tahu? Apakah benar bukan Jahangir? Aku menduga-duga keluargaku sendiri, yang menaruh kepedulian kepadaku, berharap untuk bisa menyelamatkanku dari siksaan penantian.
"Kau akan menemui Jamal Beg malam ini, kemudian kami akan memutuskan apa yang akan kami lakukan   denganmu."   Ibuku   pergi,   menggumam kepada   dirinya   sendiri,   kebingungan   karena kekerasan hatiku.
Shah Jahan
"Agra dhur hasta." Tempat itu berada seribu kos di selatan daerah kekuasaanku, mewakili nama ayahku, jagir luas Hissan-Firoz, yang bermula empat puluh kos di utara Delhi, dan berakhir di sini, di Lahore. Para rana, nawab, amir, petani, orang miskin, dan pedagang, semua membayar pajak kepadaku. Pendapatanku delapan lakh setiap tahun; aku membawahi sepuluh ribu zat-prajurit. Aku mempelajari seni pemerintahan. Tetapi, aku merasa hampa, sendirian. Jika ada yang memukuliku, mungkin aku akan bergaung seperti dundhubi. Jarak antara tempat ini dan Agra membebani hatiku dengan berat, berupa sebuah daerah raksasa yang memisahkanku dari Arjumand.
Istriku berubah menjadi bersikap masam, curiga, dan      jahat.      Seiring      pergantian      musim,
temperamennya semakin memburuk, segelap langit mendung musim hujan saat matahari terbenam. Keindahan Lahore, jalan-jalan lebarnya yang dipagari pepohonan, iklim sejuk yang terasa nyaman, kebun-kebun luas, gedung-gedung dan istana-istana indah, drama dan tahan, para penyanyi dan musisi yang kukumpulkan di istanaku, keramahan penduduknya, pegunungan di kejauhan, dan lembah-lembah di sekeliling kota, kemudahan karena posisinya: semua ini gagal menyenangkan hati istriku. Aku tidak dapat menyalahkannya, karena sebenarnya, dia datang kemari begitu jauh hanya untuk berbaring di ranjangnya dengan sia-sia. Pada malam pengantin kami, aku hanya mengatakan dua patah kata kepadanya, dan tidak ada lagi yang kukatakan setelah itu. Dia mengetahui bahwa aku bukannya tidak mampu; para perempuan lain bisa membangkitkan gairah dari tubuhku-aku hanya tidak bisa menghindari kebutuhanku. Dia juga mengetahui bahwa ada seseorang di antara kami: Arjumand.
Aku mendengar bahwa Arjumand kekasihku masih menunggu. Bagaimana bisa aku tidak menghargai keteguhannya? Dia membuatku merasa hina karena kesetiaannya, membuatku menjadi lebih tak berharga dibandingkan dengan lelaki paling miskin di jagirku. Hidupnya tergantung pada kata-kata budaknya: budaknya telah menyampaikan kepada Arjumand bahwa aku mencintainya, dan itu sudah cukup. Siapa yang mengawasi kami? Ayahku, mungkin? Jika memang
benar, lalu mengapa yang dikatakan akhbar-nya, tentang pengasinganku di Lahore? Bahwa aku tidak tidur dengan istriku, dan hatiku tetap terpaut pada Arjumand? Desahanku, yang bergema di seluruh penjuru istana bagaikan angin sepoi yang berbisik menerpa pohon-pohon eucalyptus, bisa terdengar oleh istriku, dan dia pasti akan mengutuk Arjumand. Hidupnya di sini telah hancur dan hampa bagaikan Chitor setelah penaklukan Akbar.
Pernikahan? Aku telah memberi janjiku kepada Arjumand, tetapi saat ini aku berada di sini, terperangkap dalam tugas-tugas kenegaraan. Perceraian? Betapa cepatnya aku bisa berlari melalui pintu itu, yang seakan-akan terbuka untukku. Seorang lelaki biasa mampu mengulangi kata-kata cerai itu tiga kali, kemudian berjalan melenggang dari perempuan yang menjadi masalah baginya itu. Tetapi, seorang pangeran harus tetap membisu, lidahnya menempel ke langit-langit mulutnya, karena sang Padishah. Kalimat itu, "Aku menceraikanmu", akan bergema di seluruh penjuru kesultanan dan negara tetangga; hal itu akan menimbulkan sepasukan besar bala tentara yang berbaris. Aku bisa menyisihkan sang putri Persia itu, mengasingkannya ke istana jauh di atas gunung, menyingkirkannya agar terlupa dari jiwa-jiwa yang lelah. Pikiran itu membuatku bahagia; tetapi itu tidak akan membuatnya bahagia. Rasa pahit itu sudah mengakar, dan dia pasti tidak akan bisa digerakkan. Dia akan memainkan peran sebagai istri tua, tersia-sia dan tidak dicintai, dan apa lagi yang
bisa dia lakukan? Sang putri mengetahui pikiranku. Dia mengerti; makanannya selalu dicicipi orang lain sebelumnya-sekali, dua kali, tiga kali. Kasimnya tidak mengizinkan siapa saja untuk memasuki ruangannya, dan saat dia berjalan-jalan ke kota, para prajurit Persia akan berbaris mengawalnya, dengan pedang terhunus. Dia berjalan di bawah bayangan dua lelaki: Raja dari segala Raja dan sang Penakluk Dunia. Mereka bagaikan gunung dan di sisi mereka, aku hanyalah sebuah bukit pasir.
Jadi, aku menunggu.
Dan Arjumand juga menunggu.
Arjumand
Aku mendengar bahwa dia mengirimkan puisi dan surat yang terbungkus kain sutra kepadaku, tetapi karena bungkusan itu dicuri, benda-benda itu tidak pernah sampai di tanganku. Surat itu tidak tergeletak dan terabaikan dalam keadaan rusak dan berlumpur di daerah Panjab-akan tetapi sampai ke tangan dingin yang harum milik Mehrunissa. Secara tidak sengaja, Isa menemukannya. Dia tidak mengintip ke dalam kotak-kotak milik Mehrunissa; dia melihat kasim Mehrunissa, Muneer, mengambil bungkusan itu dari tangan salah seorang diwan-i-qasi-i-mamalik.
Dalam sekejap, bibiku akhirnya bisa menancapkan pengaruhnya kepada Jahangir. Jahangir telah menjadi bonekanya. Dia memilih waktu yang tepat untuk menyerah. Setahun yang lalu, aku pernah
bertanya kepadanya, mengapa dia menunggu jika dia mencintai Jahangir? Aku tidak bisa mengerti; apabila aku menjadi dirinya, aku pasti akan bergerak cepat. Kita hanya memiliki hidup yang singkat di dunia ini. Dia menjawab: "Jahangir adalah sultan. Dia bisa mendapatkan semua keinginannya, kapan pun dia menginginkannya. Jika dia menunjukkan jarinya ke arah timur atau barat, utara atau selatan, seluruh kekuatan Mughal akan berbaris hingga dia memerintahkan untuk berhenti. Harus ada sedikit hal dalam hidup yang tidak bisa dicapai secara mudah, bahkan oleh seorang sultan sekalipun. Aku akan menjadi salah satunya. Di matanya, itu akan menjadikanku lebih berharga daripada singgasananya sendiri. Jika aku luluh segera karena ketertarikannya-dan bisakah kau lihat berapa banyak perempuan yang tersia-sia karena melakukannya?-dia tidak akan kehilangan seluruh hasratnya. Dalam puisinya, dia sudah memanggilku Nur Mahal. Aku adalah cahaya bagi istananya, lilin bagi hatinya."
Rumah kami begitu heboh dengan segala persiapan pernikahan. Para penjahit baju, pembuat perhiasan, juru masak, mullah, penyanyi dan penari, perangkai bunga, dan dekorator bergantian keluar masuk. Sang Sultan begitu bergairah; puisi-puisi begitu lancar mengalir dari penanya. Para pembawa pesan berlari menempuh jarak dekat untuk menyerahkannya segera ke tangannya. Bait-bait puisinya membahagiakan Mehrunissa. Aku mengira bahwa   dia   memang   benar-benar  jatuh   cinta,
meskipun bukan sang Sultan yang dia cintai, melainkan singgasana emasnya.
Mehrunissa benar-benar tenggelam dalam rancangan kostum pernikahannya. Churidar-nya dibuat dari sutra Varanasi merah yang paling bagus dan disulam dengan hasil rancangannya sendiri, berupa pola lingkaran sulur-sulur dari benang emas; gharara-nya juga terbuat dari sutra, begitu transparan sehingga nyaris tak kasatmata, dengan sulaman benang emas rumit yang memanjang; blusnya, yang sengaja dirancang untuk menonjolkan lekuk tubuhnya, dihiasi pola-pola sulaman benang emas berupa kotak-kotak yang indah. Dia akan mengenakan toucha merah yang dihiasi dengan sangat rumit oleh berlian dan mutiara, dan beatilha-nya begitu indah sehingga hanya akan memantulkan kecantikannya. Jahangir telah mengirimkan banyak hadiah: seuntai kalung mutiara, tiap butirnya seukuran buah anggur; seuntai lagi bisa mencapai pinggangnya, berat dan ruwet, terbuat dari emas dan bertatah zamrud. Mehrunissa juga akan mengenakan anting-anting, dan masing-masing mata zamrudnya seukuran batu kali. Gelangnya berupa jalinan emas dengan lebih banyak lagi zamrud, dan gelang kakinya yang terbuat dari emas berdenting setiap dia melangkah. Semua membuatnya merasa puas dan dia akan mengelus-elus batu-batu mulia itu, dan terus-menerus mengagumi bayangannya sendiri di cermin.
Dalam suatu kesempatan langka, aku bertanya
kepadanya: "Mengapa Bibi menyadap surat kami?" "Sultan memerintahkannya." "Aku tidak percaya."
"Arjumand, kau adalah keluargaku, keponakanku sendiri yang kucintai. Mengapa aku ingin menghalangi hubunganmu dengan Shah Jahan? Sebuah penyatuan antara dirimu dan putra mahkota akan menjadi keuntungan bagi kita. Segera, aku akan menjadi Permaisuri Hindustan, dan aku tidak ingin orang asing yang akan menikah dengan Shah Jahan, selain keponakanku."
Dia terdengar berkata jujur, dan senyumnya sangat manis, tetapi pernyataannya membuatku sangat ragu.
"Mengapa Jahangir ingin mencegah kami bertukar surat?"
"Masalah negara." Dia merentangkan tangannya, dalam posisi tidak berdaya, tetapi dia terlalu pandai-dia pasti mengetahui apa yang sedang terjadi. Mehrunissa tidak akan langsung mengocehkan suatu pernyataan kepada orang lain. "Putri sudah merasa sangat tidak bahagia. Dia mengatakan kepada pamannya, Shahinshah, tentang itu di dalam suratnya ...."
"Bagaimana Bibi bisa tahu?"
"Sultan memberi tahuku. Tentu saja, dia menyadap surat-suratnya. Dia tidak ingin mengecewakan Shahinshah ... belum. Dia sangat bersimpati kepadamu dan Shah Jahan. Dia mengerti sifat alamiah cinta, tapi saat ini, dia tidak ingin terlalu    terang-terangan    mendukung    hubungan
kalian."
"Tapi, Muneer mendapatkan surat-surat itu untukmu."
"Aku yang ditugaskan untuk menyimpannya dengan aman. Aku berjanji padamu, aku belum membacanya, dan aku juga tidak akan pernah membacanya."
"Kalau begitu, berikan surat itu kepadaku." "Tidak. Jika Sultan memerintahkan itu padaku, aku    akan    melakukannya.     Tapi,     dia    tidak memerintahkannya."
Dalam ungkapan simpati yang samar itu, tersembunyi sebuah muslihat jahat. Dia bisa bersembunyi di balik singgasana. Sebetulnya, manakah yang lebih menguntungkan, aku atau putri Persia itu di sisinya? Jika dia melihatku lebih menguntungkan, dia pasti akan mendukung kami; tetapi dia menahan surat kami. Tingkah lakunya membuatku bingung, sedikit membuatku takut. Mehrunissa mengulurkan tangan dan dengan lembut membelai kerutan di keningku. Aku melihat kilatan kesenangan di wajahnya, bagaikan sedang bermain-main denganku.
"Wajahmu nanti keriput, Arjumand. Kita tidak boleh berkeriput sedikit pun." Kemudian, dia berbisik dalam suaranya yang paling lembut, "Apa pendapatmu tentang Jamal?"
Aku mengangkat bahu. Aku tidak dapat terang-terangan menolak seorang lelaki hanya karena dia bukan lelaki yang kucintai. Jamal tampak berpenampilan layak, pendek dan kekar, berpakaian
rapi, dan bersikap terpelajar. Tetapi, dia terlalu sering tertawa bagaikan berharap bisa menyenangkan Itiam-ud-daulah, dan aku tahu dia memang berhasil. Pasti dia akan sangat beruntung jika bisa mengambilku dari tangan keluargaku. Siapa lagi yang akan bersedia menikahi seorang perempuan berusia enam belas tahun? Jika dia curiga atau menolak perjodohan ini, dia tidak akan menunjukkannya. Sudah pasti, seorang pria akan ingin tahu mengapa calon istrinya masih belum menikah hingga seusiaku. Mungkin dia tahu. Bayang-bayang Shah Jahan akan menghantui pernikahan kami, tetapi ambisinya pasti akan membuatnya mempersiapkan diri untuk menghadapi semua itu. Dia bermain-main dengan kehadiranku yang tak kasatmata, hanya minum sedikit, selalu penuh perhatian terhadap kakek dan ayahku, mengetahui jika aku memerhatikannya dari balik dinding-dinding kesucian. Aku melakukan itu untuk melunakkan hati ibuku, yang duduk di sampingku sambil menunjuk wajah tampannya dan sopan santunnya, seakan-akan dia adalah sebuah perhiasan yang akan kami beli di pasar malam. Tetapi, akhirnya ibuku terdiam setelah merasakan ketidaktertarikanku. Dia menangis karena patah hati dan aku mencoba untuk menghiburnya.
"Apakah Sultan akan mengizinkan kami menikah?" aku bertanya kepada bibiku.
"Aku berjanji, aku akan berbicara kepadanya." Mehrunissa menjawab dengan bersungguh-sungguh. "Aku berjanji akan membujuknya, tapi pasti akan
makan waktu."
"Berapa lama? Empat tahun? Aku telah menunggu, dia juga telah menunggu. Berapa lama lagi? Aku tidak akan kuat menahannya lagi. Kurasa, semakin lama, aku akan semakin sekarat."
"Bersabarlah."
"Untuk berapa lama? Aku tidak seperti dirimu, Bibi. Aku tidak bisa mengerti cintamu. Mengapa kau tahan untuk menyia-nyiakan beberapa tahun ini?"
"Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Ini." Dia memberiku saputangan miliknya dan aku menghapus air mataku. Kajal membuat saputangan itu gelap dan bergaris-garis. Aku meremasnya. "Apakah dia masih menunggu?"
"Ya."
"Bagaimana Bibi bisa tahu?"
"Aku tahu. Kau juga akan mengetahuinya, jika kau telah membaca puisi dan suratnya."
Aku tidak percaya bibiku tidak membacanya; rasa ingin tahunya terlalu kuat.
"Dia tidak akan berubah. Tolong, bicaralah kepada Padishah." Yang bisa kulakukan hanyalah memohon. Kepedihannya membuatku merasa hina. Bahkan seorang pengemis jalanan pun tidak akan merasakan penderitaan seperti yang kurasakan. Jika aku harus membujuk Sultan, aku akan melakukannya. Aku akan bangun sebelum fajar dan akan menjadi orang pertama yang berdiri di luar dinding-dinding benteng, di bawah
jharoka-i-dharsan, dan saat wazir menurunkan rantai keadilan, aku akan membunyikan lonceng,
menyelipkan petisiku, dan mengamatinya naik ke atas. Keadilan, keadilan-paduan suara orang-orang miskin.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu, jika aku akan berbicara pada Jahangir?" Mehrunissa menghapus noda dari pipiku. "Hatinya akan melunak. Sekarang, pergilah. Aku sibuk."
mm
Akhirnya, dia datang juga.
Dia menunggang kuda di samping ayahnya ke halaman rumah kami, saudara-saudara lelakinya berada di belakangnya. Dan setelah mereka, datanglah barisan panjang para lelaki terhormat, berkilau dan bersinar dalam cahaya matahari yang benderang, bagaikan burung langka yang indah. Beludru dan kelopak bunga melindungi kuku-kuku kuda mereka yang berderap, para perempuan berputar dan menari di depan mereka, para musisi mencapai kenikmatan tertinggi dalam lagu-lagu. Punkah bulu merak melindungi matanya dari terik matahari.
Jahangir ingin menampilkan kesederhanaan di hadapan sang Cahaya Istana, untuk menghormati tradisi. Sang pengantin pria akan menunggang kuda ke rumah calon istrinya untuk menikah. Aku diberi tahu, ini adalah sebuah replika dari pernikahan Shah Jahan. Udara mulai meningkat suhunya karena dipenuhi aroma wewangian, emas, dan hadiah-hadiah. Ada seribu pejabat menghadiri upacara    pernikahan,    masing-masing    membawa
hadiah yang dibariskan dan dicatat, kemudian dibawa ke tempat penyimpanan harta, istal-istal, harem, dan kebun binatang.
Aku tidak terlalu memerhatikan. Aku hanya mengamati Shah Jahan. Matanya terus-menerus menyapu pintu yang tertutup, mengetahui jika aku menunggu di balik kisi-kisi, dan aku juga mengetahui jika dia belum berubah. Dia menatap dengan tajam, tanpa berkedip, ke arahku, wajah tampan yang secara jujur memancarkan kerinduannya. Dia menginginkan aku mendekatinya, tetapi tentu saja aku tidak bisa meninggalkan upacara. Akan ada perayaan besar di taman istana nanti malam. Itu adalah kesempatan kami satu-satunya; kesempatan tunggal yang sangat singkat.
Shah Jahan
"Bawa dia kepadaku, Isa. Cepat. Di sana, di sudut yang tergelap, tempat kami tidak bisa terlihat."
Dalam kegelapan! Layakkah cinta diperlakukan sembunyi-sembunyi seperti itu? Tetapi, di mana lagi kami bisa bertemu? Taman itu begitu terang; lilin-lilin dan lentera-lentera berbaris di dinding, menerangi jalan setapak, tergantung di pepohonan. Cahaya berkilauan di kolam air mancur. Beberapa lelaki dan perempuan terhormat berjalan-jalan di taman, mengawasiku, membungkuk saat melewatiku. Kuharap mereka akan mengabaikanku, melupakan jika aku ini Shah Jahan. Udara dipenuhi musik dan suara merdu Hussein, penyanyi istana, yang menyanyikan lagu cinta dan rayuan. Jika saja
aku bisa membuat kerumunan ini menghilang; aku dan Arjumand kekasihku akan berdua saja dalam tempat menawan ini. Kami akan mendengarkan lagu-lagu indah bersama, tetapi saat ini aku hanya bisa mendengar kekejaman mereka yang tidak pernah memedulikan kami atas perasaan melankolis cinta yang membuat frustrasi.
Aku berjalan menuju kegelapan. Aku melihat Arjumand berjalan perlahan di belakang Isa, bergerak lambat seakan-akan sedang menikmati jalanan sewaktu malam. Tetapi, aku bisa menyadari ketidaksabaran terselubung dalam langkahnya, matanya mencari-cari di dalam kegelapan, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang hebat, takut jika aku tidak berada di sini. Dia telah berubah. Kenangan, kau menipuku. Kau menyimpan sosok seorang gadis berusia tiga belas tahun. Betapa kejamnya. Mengapa kau tidak membuatnya lebih tinggi-mengubah tubuh gadis kecil itu menjadi tubuh seorang perempuan dewasa. Kau tidak melebarkan pinggulnya, melengkungkan bibirnya, dan membesarkan dadanya. Kau tidak berusaha memberi tahuku bagaimana dia berjalan-dengan ayunan yang anggun, punggung dan bahunya begitu tegak. Betapa berbedanya cara dia bergerak dari orang-orang lain-tampaknya dia melayang di atas tanah. Tetapi, pada intinya, dia tidak berubah. Churidar, gharara, touca, dan blus yang dia kenakan masih berwarna kuning pucat dan perak, sama seperti yang kuingat pada malam pertemuan kami.   Tetapi,  mengapa  aku harus  mengutukmu,
wahai kenangan? Jika kau telah menunjukkan kepadaku kecantikannya yang baru, seberapa besar kemarahanku karena perpisahan kami, seberapa pahit kesedihan yang akan mencengkeram otakku?
Arjumand
"Di mana dia?" "Di sana."
Aku tidak melihat apa-apa, hanya kegelapan di luar cahaya, hingga ke ujung bumi. Jika aku melangkah ke depan saat ini, apakah aku akan terjatuh? Aku merasa merinding, rambut-rambut halus di lenganku berdiri. Hingga saat ini, aku masih dimanjakan oleh harapan, dibuat melayang oleh impian yang telah memperpanjang nyawaku; seluruh hidupku bisa kujalani dengan harapan dan impian. Aku ketakutan. Seperti air di atas pasir, mereka mungkin menguap saat aku melangkah ke dalam bayangan, meninggalkan hatiku dalam keadaan kering dan berdebu. Mungkin saat melihatku, dia tidak akan lagi mencintaiku. Dia akan merasa kecewa, dan bertanya-tanya, mengapa dia telah mencintai perempuan ini begitu lama? Apa yang dia miliki hingga bisa memikatnya dan menawan hatinya? Dia akan mengamati wajahku, mataku, dan hanya melihat orang lain pada diriku, bukan kekasihnya, bukan Arjumand, tetapi seorang perawan tua, kurus kering, tertekan, dan putus asa. Dia akan membungkuk dengan sopan, kemudian berlalu. Dan bagiku, di sana hanya ada kegelapan  yang abadi.   Aku berhenti.   Aku ingin
berbalik, ingin berlari. Rasa takut menenggelamkan diriku.
"Ayo, Agachi."
"Aku ... aku ... butuh udara."
"Dia menunggu." Isa mendekatiku. Wajahnya berpaling dari cahaya, dan sesaat, aku bisa melihat kesedihan di matanya. "Dia sudah tidak sabar."
Aku melangkah dari lautan cahaya ke dalam kegelapan, tetapi sebetulnya aku melangkah dari kegelapan menuju cahaya. Aku melihat kilau samar sabuk emasnya, dan bagaikan mata ketiga, sebuah bintang, sinar berlian di turbannya. "Arjumand." Bisikannya dan tangannya yang terentang, begitu kuat dan mantap, menuntunku kepadanya. Aku mengutuk kegelapan karena aku tidak bisa melihat wajahnya. Sebelum aku bisa berbicara, dia mencium tanganku, kemudian mencium telapak tanganku, jari-jariku. Janggutnya terasa lembut dan halus. Kemudian, aku mendekatkan tangannya ke bibirku dan menyentuhkan telapaknya ke pipiku. Rasa nyaman membanjiri tubuhku, begitu damai. Sentuhannya menyembuhkanku.
"Aku takut ...."
"Takut apa?"
"Jika kau melihatku, cintamu akan pudar seketika."
Dia tertawa ceria. "Dan aku berdiri di sini, tertusuk dan tertekan oleh dahan-dahan ini, gemetar dalam ketakutan jika kau tak datang, khawatir kau akan mengirimkan pesan melalui Isa untuk menyuruhku pergi."
"Dan apakah kau akan pergi?"
"Tidak. Aku akan tetap di sini selamanya, membeku dalam kepedihan, menyambut kematian. Kegelapan yang tak kuinginkan ini-aku tidak bisa melihatmu. Kemarilah. Ada seberkas sinar dari lentera itu."
Aku menuruti permintaannya. Sambil terdiam, dia menatapku lembut, seolah-olah ketakutan menyerbunya karena tidak akan bisa melihat wajahku lagi.
"Kau telah tumbuh dan semakin cantik, tetapi ada kesedihan di matamu." Dia membungkuk dan mengecup kedua mataku. "Mengapa? Aku ada di sini sekarang."
"Untuk berapa lama, Cintaku? Kau menatapku seakan tidak akan pernah melihatku lagi."
"Tidak. Aku menatapmu begitu tajam karena mataku tidak cukup lebar untuk melihat keayuanmu. Aku ingin melihat dan terus melihat. Aku tidak ingin berhenti menatapmu, bahkan saat kita bersama-sama di bawah sinar matahari. Nah, kesedihan itu sudah menghilang. Kau bahagia. Sorot matamu telah berubah! Menatap semua yang ada padamu membuat diriku lemah."
"Sekarang giliranku. Kau jauh lebih tampan dibandingkan yang mampu kuingat. Wajahmu telah berubah. Wajahmu semakin kuat, dan aku terbuai melihatmu." Aku membelai lekukan kecil yang hampir tak terlihat di wajahnya.
"Aku masih anak-anak saat aku merasa menderita karena penyakit itu."
"Anak-anak?" Aku tidak dapat menahan tawaku. "Sungguh sulit untuk dibayangkan. Kuharap aku ada di sana untuk menemanimu. Aku tidak bisa melihat matamu, kegelapan menutupinya. Apa yang kau rasakan?"
"Kebahagiaan."
"Aku bisa melihatnya sekarang. Aku mencintaimu."
"Aku telah menunggu sekian lama untuk mendengarmu mengatakan kalimat itu. Katakanlah sekali lagi."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Bibirnya kering dan manis, lembut bagaikan kelopak bunga, kulitnya dingin dan harum. Tubuhnya segar dan berotot. Bagaimana aku bisa merasakan sentuhan lembutnya membebaskan ketakutan di dalam diriku?
"Berapa lama kita harus menunggu?" "Tidak lama lagi, Cintaku, tidak lama. Segera setelah      ayahku      mengizinkan.      Dia      harus mengizinkannya."
"Aku sudah berbicara dengan Mehrunissa. Dia berjanji kepadaku, dia akan membujuk ayahmu untuk mengubah pendiriannya. Mungkin dia akan mendengarkan Mehrunissa."
Meskipun kekasihku tidak bergerak, aku bisa merasakannya menjauh, seakan-akan dia akan melepaskan diri dariku.
"Ada apa? Kau membuatku takut. Mengapa seseorang   selalu   gemetar   ketakutan   saat   ia
mencintai terlalu dalam?"
"Siapa tahu cinta bisa menghilang; siapa tahu cinta hanyalah ilusi. Jangan pernah takut. Aku akan selalu mencintaimu."
"Jadi, ada apa sebenarnya?"
"Jika Mehrunissa bisa mengubah pendiriannya tentang kita, akankah dia mampu mengubah keputusan ayahku?"
Begitu cepatnya kenikmatan itu hilang! Kami masih berdiri di dalam lingkaran cahaya rahasia ini, namun kami terperangkap di dalamnya. Dia bukan orang biasa, yang bebas seperti seorang petani atau pemburu. Dia adalah putra mahkota Shah Jahan.
"Dia akan mampu mengubah pendirian Jahangir terhadap dirimu," kataku tajam. "Ayahmu terlalu mencintaimu. Lihatlah bagaimana dia terus-menerus menuliskan anak lelakinya yang terkasih dalam Jahangir-nama. Kau adalah ahli warisnya. Dia telah menuliskannya. Bahkan Mehrunissa sekalipun tidak bisa mengubahnya."
"Siapa tahu? Tapi, jika aku memilikimu, apa peduliku?" Dia berbicara dengan ringan, tetapi tidak bisa menyembunyikan keresahannya. Singgasana adalah sebuah awan mendung yang penuh kilat, dan kami berdiri di bawah bayangannya.
"Dia berkata, dia akan beruntung apabila kita menikah karena aku adalah keponakannya."
"Ya, ya." Dia terdengar lega. "Dia tidak akan pernah menyakitimu. Betapa beruntungnya aku karena bisa bertemu denganku, Kekasihku. Tanpa
cinta, dunia ini adalah suatu tempat yang sepi. Rasanya bagaikan mengembara di gurun pasir tanpa akhir. Aku tahu, karena aku bisa melihat jejak kakiku sendiri yang berdebu."
"Bagaimana kau bisa lolos, Sayangku? Kau berkata ...."
"Ya. Aku telah merencanakan itu. Sabarlah. Segera, kau akan mendengar jika Shah Jahan telah diberi izin oleh Sultan untuk menceraikan sang putri Persia."
"Aku akan menunggu, seperti yang telah kulakukan selama ini, dan aku bersedia bertambah tua dalam penantian. Aku tidak bisa mencintai orang lain. Lebih baik aku mati daripada hidup tanpamu."
Bisikan tajam Isa mengejutkan kami. "Wazir Sultan datang, Agachi."
Kami mengintip ke taman yang terang. Tidak diragukan lagi, wazir memang telah mendekat. Kami telah terlalu lama diawasi, dan telah diberi cukup banyak waktu; saat ini semua berakhir. Shah Jahan mengecupku dengan cepat, dengan bergairah. Dari saku sarapa-nya yang dalam, dia mengeluarkan sebuah bungkusan, mendorongnya ke tanganku, dan berbisik: "Bawalah ini selalu bersamamu-untuk mengingatkanmu akan cintaku." Dia melangkah mundur ke arah taman, kemudian menyeberang untuk menemui wazir.
Napasku terhenti, seolah lenyap bersamanya. Bahkan jantungku pun tidak berdegup, karena Shah Jahan menahannya, membawa pergi bersamanya,
ketika dia membaur dalam kerumunan. Di bawah cahaya, aku bisa melihat apa yang dia berikan kepadaku: itu adalah sebuah mawar. Kelopak-kelopaknya terbuat dari batu mirah, daun dan batangnya terbuat dari zamrud; di sana sini, diletakkan dengan berseni, berlian bersinar bagaikan tetesan embun. Aku mengecupnya.
mm
Isa menceritakan kepadaku bahwa ada seratus hidangan yang berbeda disajikan pada pesta pernikahan. Hidangan itu disajikan dalam piring-piring emas yang dibawa oleh budak-budak perempuan. Piring-piring tempat makan kami pun terbuat dari emas, dan setiap tamu disuguhi cawan emas yang berisi nimbu pani dingin. Semua hidangan yang diletakkan di depan Jahangir disegel, dan segel itu baru dibuka di hadapannya. Kemudian, para budak perempuan mencicipi hidangan itu sebelum menyuguhkan untuknya. Ada lima puluh kambing panggang yang direndam dalam yoghurt berempah, ratusan ayam tanduri,
mangkuk-mangkuk murgh masala, saag biri-biri, chaat ayam, kebab seekh, kebab shammi, pasinda, doh peesah, roghan josh, shahi korma, naan, chapati, paratas, burfi, badam pistas, gulab jamuns, dan semua jenis buah-buahan yang tumbuh di Hindustan: mangga, anggur, pepaya, apel hutan, delima, semangka, jeruk, pisang raja, jambu batu, pir, leci, puding apel, dan nungus.
Aku tidak makan apa-apa. Bahkan aku tidak bisa
mencium aroma makanan. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap kekasihku yang duduk di samping ayahnya. Tatapanku tidak bisa lepas dari wajahnya.
Hati sang Sultan, yang mabuk cinta kepada Mehrunissa, dipenuhi oleh obsesi seolah-olah Mehrunissa adalah sebuah objek paling berharga yang bisa dikumpulkan dalam limpahan hartanya. Dia telah menghabiskan berminggu-minggu untuk menulis sebuah puisi yang panjang dan elok untuknya. Dia membacakannya kepada kami semua saat perayaan. Pembacaan puisi itu memakan waktu satu jam, dan Mehrunissa diserupakan dengan berbagai benda menakjubkan di jagat raya ini-matahari, bulan, bintang, berlian, batu mirah, delima, mutiara, dan gading. Betapa pahitnya rasa iri yang kurasakan karena dia bisa menyatakan cintanya secara terang-terangan.
"Dia adalah Nur Jehanku," Jahangir berkata dengan sungguh-sungguh saat akan mengakhiri epiknya, lalu menenggak minuman dari cangkir emasnya dalam-dalam untuk menghormati sang Cahaya Dunia, yang sudah menyingkirkan sikap malu-malunya, sedang memerhatikan penampilannya dengan tatapan kritis. Mehrunissa membungkuk ke arah Jahangir dan berbisik; Jahangir meletakkan cangkir, lalu merengkuh dan mengecup setiap bagian wajah pujaan hatinya itu. Apa pun yang dia katakan membuat Jahangir tersenyum, kemudian bangkit, dibantu oleh budak-budak perempuannya. Kemudian,   bersama  Mehrunissa,   dia  kembali   ke
kamar tidur yang sudah disiapkan oleh para perempuan.
Setelah kekasihku pergi, aku kembali ke taman. Saat ini taman sudah sepi, hanya ada dua sosok di sana. Salah seorang dari mereka sedang duduk, sementara yang lain berdiri di dekatnya.
Orang itu adalah Pangeran Khusrav. Tidak mampu bergerak bebas, dia duduk di tempat yang ditunjukkan oleh penjaganya, menatap tanpa melihat ke kegelapan yang dia rasakan sendiri. Aku duduk di sebelahnya.
"Siapa itu?" Dia menoleh, memicingkan mata seakan-akan aku duduk sangat jauh darinya. Sesaat, kupikir dia mengenaliku, tetapi wajahnya tidak berubah.
"Begum Arjumand, Yang Mulia."
"Ah! Kekasih adik lelakiku tersayang." Dia mengulurkan tangan dan menyentuh tubuhku dengan berani, merasakan kenikmatan dari kehadiranku. "Aku diizinkan menikmati sedikit kebebasan. Kau adalah perempuan yang sangat cantik, aku diberi tahu. Itulah yang paling kurindukan, melihat suatu kecantikan: para gadis dan perempuan, bunga-bunga dan pepohonan, bulan yang berubah dari selarik sabit di angkasa menjadi bola besar yang keperakan, cahaya fajar sebelum matahari terbit di atas cakrawala." Dia menyeka air mata yang tanpa dikehendaki mengalir terus- menerus dari matanya yang rusak.
"Mengapa kau menemaniku?"
"Aku sendirian."
"Kau juga seorang perempuan yang pandai, bukan hanya cantik. Jika kau mengatakan 'karena kau sendirian', aku pasti akan mengusirmu. Lihatlah di sekelilingmu. Adakah orang yang mengawasimu?"
"Beberapa perempuan."
"Aku akan mengatakan apa yang mereka katakan satu sama lain, 'Mengapa Arjumand menyia-nyiakan waktunya duduk bersama Khusrav; apa yang bisa dia lakukan untuknya? Dia bertindak tolol, karena Padishah tidak akan senang.' Apakah ayahku telah memuaskan nafsunya kepada pelacur Persia itu?"
"Itu kata-kata yang kejam. Dia adalah bibiku."
"Lihatlah mataku, jika kau berharap untuk melihat kekejaman." Dia menoleh dengan cepat. "Tapi, aku sering diberi tahu jika dia baik hati. Dia bisa saja mengambil nyawaku."
"Apakah kau telah menyusahkannya, atau kau merebut singgasananya?"
Dia tersenyum menyeringai. "Mungkin." Penyangkalannya terdengar hampa. "Aku adalah seorang anak lelaki yang gembira, hingga suatu hari kakekku Akbar menanamkan impian dalam kepalaku. Dia menjebakku dengan impian itu. Sekarang, aku lebih membenci kakekku daripada ayahku. Allahu Akbar," dia berbisik dengan nada mencemooh. "Dewa itu sudah mati dan kaumnya menderita. Belaian kasih sayangnya adalah kehancuranku. Pasti lebih baik jika dia menolakku. Saat ini mungkin aku bisa menjadi gubernur beberapa provinsi, bersedia menerima kebaikan hati Padishah. Tapi,"
dia tersenyum dingin, "seperti kuda jantan yang berani memimpin pacuan, aku berlari terlalu kencang dan tersandung." Dia tenggelam dalam kebisuan selama sesaat, dan, merasakan keinginannya untuk menyendiri, aku berdiri. "Ke mana kau akan pergi?" "Pulang. Sudah malam."
"Mari. Akan kutunjukkan kepadamu apa yang pernah Akbar tunjukkan ketika aku masih anak-anak. Ini adalah kutukannya, dan sudah mengubah hidupku." Dia bangkit, lalu menarik rantai emasnya yang terbelit di sekeliling pinggangnya, yang ujungnya dipegang oleh sang penjaga. "Aku tidak yakin mana di antara kami yang menjadi anjing. Dia hanya seorang pengawal, dan harus menuruti permintaanku. Tapi, aku tidak bisa lepas dari rantai ini, dan karena itu, dia adalah majikanku."
Mereka berjalan ke istana, dan aku mengikuti mereka menyusuri banyak koridor yang terang, hingga kami tiba di bagian istana yang sangat dalam. Di sini, koridor-koridor dijaga dengan ketat. Khusrav berbisik kepada sang komandan yang menatapku dari dekat, kemudian mengizinkan kami lewat. Kami menuruni tangga dan hawa semakin dingin. Kami melewati lebih banyak penjaga, dan akhirnya tiba di pintu terakhir. Di setiap pos, kami menuliskan nama kami di buku catatan yang disimpan oleh para penjaga. Kami harus melepaskan semua perhiasan dan senjata kami; Khusrav melepaskan sabuk dan belatinya, gelang lengan dan cincinnya; aku melepaskan kalungku, anting-anting, bahkan gelang kakiku, meskipun hanya mawar emas
itu yang bernilai tinggi.
"Yang akan kau lihat," Khusrav berkata, ketika pintu berat berayun membuka, "adalah jantung kesultanan. Siapa pun yang menguasai ruangan ini, akan menggenggam Hindustan." Dia menoleh ke penjaganya. "Lepaskan aku. Aku tidak bisa kabur dari tempat ini." Sang penjaga membuka rantai emas dan tetap berjaga di luar saat kami masuk. Dia memberiku sebuah lampu minyak dan menutup pintu di belakang kami. Ruangan itu dingin, hening, beku, seakan-akan tidak ada yang pernah hidup di balik dinding-dinding ini.
Aku mengangkat lampu tinggi-tinggi, dan tidak bisa mengendalikan getaran tubuhku. Jutaan api menyala, merespons cahaya kuning dari lampu, seolah-olah mereka sedang menunggu keabadian dalam sinarnya. Seluruh ruangan berkilau, dan di depan sana, aku melihat banyak ruangan lain yang memantulkan api-api lebih kecil.
"Apa yang kau rasakan?" Khusrav berbisik.
"Ketakutan."
"Ya. Pertama-tama, orang akan merasa ketakutan, karena di sini terdapat banyak alasan hingga orang merasa takut. Jiwa seorang sultan dapat dibeli dengan semua ini, jadi peluang apa yang kita miliki? Pemandangan ini menelanjangi seluruh indra dan pikiran oleh kuasa nafsu. Ada sebuah buku catatan di suatu tempat. Berikan kepadaku." Aku mengambil sebuah catatan tebal. Catatan ini bersampul kulit dan sangat berat. "Biarkan lelaki buta yang memilih." Dia membuka
satu halaman secara acak. "Bacalah. Puaskan telingaku sementara kau menikmati dengan matamu."
Aku membaca ke bagian yang ditunjuk oleh Khusrav. "Tiga ratus empat puluh kilogram mutiara, seratus dua puluh lima kilogram zamrud, seratus tiga puluh enam kilogram berlian ...." aku mendongak. Semua perhiasan itu berada dalam peti-peti terbuka, baris demi baris, seperti anggur yang dijual di tenda pasar. Beberapa batu yang kurang berharga juga ada: batu akik, opal, dan batu akik darah, batu bulan dan batu chrysoprase. Dia membalik lagi halaman catatan itu dan menunjukkan jarinya ke bawah. Aku meneruskan. "Dua ratus belati emas yang bertatah berlian, seribu pelana berhias emas, dua singgasana bertatah perhiasan, tiga singgasana berhias perak ...." Sekali lagi, dia membalik halaman. "Dua puluh tiga ribu kilogram piring emas, delapan kursi emas, seratus kursi perak, seratus lima puluh patung gajah emas yang bertatahkan batu mulia ...." suaraku melemah.
"Aku tahu. Memang sulit untuk membaca kata-kata ini sambil bernapas. Kita semua dicekik oleh hasrat ingin memiliki." Dia mengambil satu langkah hati-hati ke depan, berhenti di sebuah peti berisi batu mirah, yang merah bagaikan darah, kemudian menenggelamkan tangannya dalam-dalam di antara batu mulia itu. "Inilah yang kulakukan saat berusia sepuluh tahun dan Akbar membawaku kemari. Aku mengingat keserakahan yang mencemari hatiku saat   itu,   karena   dia   menunjukkan   semua   ini
kepadaku, dan berjanji bahwa suatu hari, semua akan menjadi milikku sepenuhnya. Kekejaman yang sangat dingin."
Sambil meraih tanganku, dia menuntunku ke ruangan lain. Pemandangan kekayaan ini, meskipun tidak mengusik hasratku, membuatku pusing. Terlalu banyak hal yang bisa dilihat, dan mataku melebar karena memandang kekayaan yang begitu dahsyat ini. Ada wadah-wadah lilin dari perak, cangkir-cangkir emas, piring-piring dan cermin-cermin perak, peti penuh topaz, koral, batu nilam, berkotak-kotak kalung dan cincin. Ada porselen-porselen Cina, ratusan bahkan ribuan piring dan cangkir perak, peti-peti berlian yang belum dipotong rantainya. Mereka semua berdebu, tak bernyawa. Andai ini jantung kesultanan, kebekuan itu benar-benar menusuk perasaan. Jantungnya tidak berdenyut, mengalirkan darah ke seluruh penjuru tanah bagi para penduduknya, tetapi tetap diam dan tak berguna.
"Aku ingin pergi sekarang."
Khusrav mengalihkan tatapannya yang kosong ke arahku. "Inilah yang ingin dikuasai oleh pelacur Persia itu."
"Dan bukankah ini yang digunakan Akbar untuk menguasaimu?"
"Ya," dia mengakui perlahan. "Melihat ini pasti akan mengubah perasaan kita." Kami melangkah ke pintu dan dia berbalik, seakan-akan ingin melihat untuk terakhir kalinya. Mungkin, dia sedang berusaha mengenang seorang anak lelaki kecil yang
melakukan hal yang sama. "Apakah kau menyentuh atau mengambil sesuatu?"
"Tentu saja tidak," aku menjawab dengan singkat.
"Jangan marah. Tempat ini diawasi dengan sangat ketat. Semua dihitung setiap hari, dicocokkan dan diperiksa lagi. Jika ada sesuatu yang hilang, kita semua akan kehilangan nyawa. Para prajurit akan mencarimu. Dan mencariku."
Aku memasrahkan diri kepada tangan penjaga yang bertugas, mengetahui bahwa tidak mungkin pergi tanpa melewati ini semua. Sang penjaga memasang kembali rantai Khusrav.
"Sekali lagi aku harus mencium kakinya," dia mencemooh. "Pasukan kecilku."
Perjalanan di tempuh gelimpang kekayaan itu, pemandangan jantung emas Mughal Agung, membuatku merasa tidak nyaman. Pemandangan itu tidak membuahkan mimpi indah, justru mimpi buruk yang akan didapat. Pemandangan itu memaksa seseorang untuk menilai harta bendanya sendiri, yang tidak akan bisa membandingi hamparan kekayaan Sultan. Tak sedikit pun aku merasa iri terhadap hal ini; mereka hanya menjadi penjara emas yang membuat para tahanannya tidak bisa kabur, sebuah proses yang membekukan hati orang-orang yang melihat. Bagaimana bisa cinta, kesetiaan, dan kepercayaan bertahan dalam ruangan dingin seperti ini? Mereka pasti akan tenggelam jauh ke dasar sumur kekayaan.
Kami kembali ke taman. Meskipun terasa hangat
dan pengap, udara segar menyambangi hidung kami. Sungguh menyenangkan bisa kembali melihat pepohonan, bunga-bunga, dan manusia lagi.
"Nah, apakah kau semakin mencintai Shah Jahan karena apa yang telah kutunjukkan kepadamu?"
Khusrav menatapku penuh selidik dan aneh, seperti yang biasa dia lakukan, bagaikan cahaya redup dan dia hanya bisa melihat sebuah sudut.
"Tidak. Bahkan jika dia bukan seorang pangeran, aku tetap mencintainya."
Khusrav tenggelam dalam kebisuan dan pikirannya, mencerna jawabanku dengan teliti. "Kebutaan memiliki beberapa keuntungan," akhirnya dia berkata. "Wajah bisa berbohong, tetapi suara tidak. Aku memercayaimu. Siapa yang berada di dekat kita?"
"Tidak ada."
"Karena aku tidak bisa melihat, aku mendengar dengan teliti. Dengarkan aku, Arjumand," dia meraih pergelangan tanganku dan mencengkeram kuat-kuat. "Kau percaya jika bibimu membisikkan namamu: 'Arjumand, Arjumand,' ke telinga ayahku tercinta saat mereka berbaring bersama? Tidak. Aku akan memberi tahu, bahwa nama yang dia bisikkan untuk Shah Jahan adalah: 'Ladilli, Ladilli, Ladilli'."[]
12
Taj Mahal
1047/1637 Masehi
Murthi duduk, matanya terpejam, napasnya pendek-pendek. Dia berdoa, seperti yang selalu dia lakukan. Keributan pada hari itu memudar, keadaan semakin damai, melembutkan garis-garis keras di wajahnya yang belum tercukur. Dia mengetahui bahwa suatu visi akan muncul: biasanya tidak pernah gagal. Memang, kali ini membutuhkan waktu yang lebih lama daripada biasanya, karena banyak gangguan. Dia tidak lagi tinggal di desanya menghuni rumahnya sendiri, berhubungan erat dengan patung-patung dewa dengan bahagia. Empat tahun telah berlalu sejak Chiranji Lal dan teman-teman menemui Murthi, memintanya untuk memahat Durga untuk kuil mereka. Dengan sabar, sekali dua kali, mereka mengingatkannya tentang hal itu. Kuil itu sedang dibangun, batu bata demi batu bata, perlahan-lahan, secara rahasia. Jauh di dalam sebuah hutan kecil yang gelap, di luar batas kota, kuil itu mulai berdiri. Tanahnya sudah diberi sesaji, puja-puja dialunkan oleh seorang pendeta,
permohonan berkah dilantunkan kepada dewa-dewa, dan tanpa diragukan lagi, berkah itu telah diterima. Sang Sultan Shah Jahan dengan penuh kepedulian menyumbangkan batu bata dan marmer. Bahan-bahan itu dibeli untuk pembangunan makam yang berdiri di tepi Jumna, tetapi disalurkan kepada mereka. Sang kontraktor, seorang Hindu dari Delhi, bercucuran keringat tegang ketika secara diam-diam dia melakukan setiap transaksi untuk kuil tersebut. Hal itu bukanlah kejahatan, tetapi berbahaya. Kerajaan Muslim besar telah mempraktikkan toleransi, dan Shah Jahan pun demikian. Tetapi, dua kali, dengan dipanas-panasi oleh para mullah, dia menghancurkan kuil Hindu di Varanasi dan Orcha. Malapetaka itu sudah berlalu, tetapi entah untuk berapa lama, hanya dewa-dewa yang tahu, sebuah kuil yang dibangun tepat di bawah hidungnya pasti akan kembali menyulut kemarahannya. Rambuj, bagaimanapun, tidak mengkhawatirkan jika setiap hari dia mendekati kematian. Dia menghamburkan bahan-bahan untuk makam itu. Bukannya membeli bongkah-bongkah marmer yang harganya sangat mahal, dia malah membeli sebuah panel, dan membayar dastur kepada tukang batu. Di sana-sini, mereka akan membangun dengan batu bata dan melapisinya dengan marmer, mengumpulkan satu rupee di sini, satu rupee lagi di sana. Jika ketahuan, praktik korupsi ini pasti akan mendapatkan hukuman berat.
Sebuah visi muncul: Durga yang sedang bangkit, duduk   di   seekor singa   yang   sudah   dijinakkan,
sedang tersenyum. Dia adalah bentuk mematikan dari Devi, istri Syiwa, dan delapan tangannya menggenggam petir untuk menghancurkan. Murthi pernah memahat patung Durga sebelumnya, sekali. Akan tetapi, dia tidak bisa membuat duplikatnya karena kedudukannya hanya sebgai seorang Acharya, dan meskipun bentuk dewa-dewi tidak berubah, setiap batu harus menunjukkan perbedaan samar suatu pose ataukah ekspresi.
Di sudut gubuk, terbungkus karung goni, tergeletak sebongkah marmer. Murthi membungkusnya dengan hati-hati. Bentuknya kotak dan kasar; setiap sisinya seukuran panjang buku jari Murthi hingga sikunya. Setelah memperhitungkan secara hati-hati, dia memilih sisi paling halus dan menyapu serpihan-serpihan yang lepas.
"Air."
Sita memberinya sebuah lota kuningan. Murthi menuangkan air, kemudian menggosok permukaan itu hingga bersih dengan sabut kelapa dan pasir. Bongkahan marmer itu sempurna, dipilih dengan teliti. Benda itu didatangkan dari Makrana di Rajputana, tempat orang-orang menggali siang dan malam, membuat sebuah lubang dalam dan mengisinya dengan bubuk mesiu, lantas meledakkan seluruh sisi bukit. Dari sana, bongkahan marmer ditarik oleh kereta-kereta gajah dan kerbau ke Agra. Proses itu tidak pernah berhenti.
Saat sisi marmer itu telah mengering, Murthi memilih sebuah kuas runcing, sepanci kecil cat hitam, dan setelah ragu-ragu lama sekali-di mana
dia harus memulai?-dan suatu doa lain untuk menuntunnya, dia memulai gambar Durga yang sangat mendetail. Pasti dibutuhkan waktu berhari-hari hingga dia merasa puas; berminggu-minggu akan berlalu sebelum dia memilih sebuah pahat dan memotong keping pertama.
Dia mengingat bagaimana dia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memindahkan gambar jali ke permukaan marmer yang tidak rata. Satu kesalahan saja, satu garis atau lengkung yang tidak beraturan, pasti akan merusak batu dan menyesatkan tangannya yang ahli. Rancangan aslinya telah terbentuk secara detail: sebatang tanaman merambat yang berdiri dalam sebuah bingkai, dan di dalam bingkai itu, dia telah memahat bunga-bunga dan dedaunan satu lapis di bawah permukaan batu. Ini akan dipenuhi oleh pasta-pasta berwarna yang akhirnya akan membeku sekeras marmer. Bagian kecil karyanya sendiri untuk jali-banyak pekerja yang mengerjakan panel-panel lain-akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk dipahat. Suatu hari, keseluruhan struktur akan dipasang di sekeliling makam sang Permaisuri. Dia tahu, bisa saja dia sudah meninggal saat pekerjaan itu selesai, tetapi Gopi akan meneruskannya, dan setiap hari dia mempelajari keahlian ayahnya. Murthi mencari kesempurnaan, dan berdoa untuk mendapatkannya. Dharmanya mengharuskan dia untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk memahat jali ini. Jika dewa-dewi tidak mengaturnya,   dia   pasti   akan   tetap   tinggal   di
desanya saat ini.
Baldeodas mengawasi pekerjaan para perajinnya. Dia tidak menyangkal bahwa dia yang berjasa merancang jali itu. Inilah yang dia inginkan; dia adalah pemahat kepala. Rancangan itu harus diterapkan dengan detail yang tepat pada setiap panel jali: tidak boleh ada satu daun pun, atau dahan, atau bunga, yang boleh berbeda. Anak-anak buahnya mengetahui hal itu. Dia berpindah dari satu batu ke batu yang lain, bersikap sangat keras dan kritis. Dia telah mengizinkan Murthi yang pertama kali menggambar polanya. Miliknya adalah model acuan dan para pemahat lain mereproduksinya dengan keterampilan seniman yang sudah lama menjadi tradisi. Mereka tidak membuat jali-jali itu berbeda, tetapi mengendalikan tangan mereka, nafsu mereka, sehingga tidak ada yang bisa menentukan siapa yang memahat jali tertentu. Tetapi, ini membutuhkan waktu. Baldeodas mengetahui salah satu kalimat dari Quran: "Kesabaran adalah sifat Tuhan; ketergesa-gesaan adalah sifat iblis". Dia berdoa kepada dewa-dewanya. Jika ada ketidaksempurnaan, sedikit cacat saja, dia akan berlutut di depan para algojo Shah Jahan. Keringatnya bercucuran karena terasa dekatnya kematian. Ghat-ghat berasap di Sungai Jumna, abu orang-orang mati membuat udara menjadi kelabu dan berbau busuk.
Baldeodas paling menyukai Murthi; pria kecil ini pendiam, tangguh, dan penuh kebanggaan. Pekerjaannya   akan  sempurna,   karena  dia   tidak
memberi toleransi terhadap ketidaksempurnaan. Dia tidak begitu yakin dibandingkan dengan para pemahat lain. Mereka hanya peniru dan mungkin kehilangan minat, konsentrasi, dan membuat pahat terpeleset, merusak simetrinya.
"Kau harus memulai," Baldeodas memerintahkan Murthi.
Murthi berjongkok di atas bongkah marmernya. Peralatannya tergeletak teratur di tanah, dengan tanda kum-kum di kepala pahatnya. Semua sudah diberkati. Murthi memilih pahat pertamanya, mengetes ujungnya, mengapitnya di antara telapak tangan dan menundukkan kepala untuk berdoa. Doanya singkat saja: "Maha Wishnu, tuntunlah tanganku dalam perjalanan panjang ini". Gopi menyerahkan dengan lembut sebuah palu kepadanya, Murthi meletakkan pahat di marmer itu, di sudut kiri atas di dalam batas yang dia gambar, kemudian menatah serpihan pertama marmernya.
mim
Shah Jahan tertawa. Tawanya terdengar tidak ceria, hanya mengekspresikan kepuasan yang hampa. Dia sudah diberi tahu jika fondasinya sudah selesai dan saat ini pekerjaan makam sendiri akan segera dimulai. Makam itu akan menjulang hingga tujuh puluh empat meter dari lantai hingga ke puncak atap, dan tingginya akan terus bertambah seiring pertambahan lebarnya, sebanyak tujuh belas meter. Bangunan itu dirancang berbentuk bujur sangkar, setiap sisinya berukuran lima puluh tujuh
meter, tetapi dinding-dinding sempit yang menghubungkan dua dinding yang tegak lurus, selebar sebelas meter di setiap sudutnya, akan membuatnya tampak berbentuk oktagonal. Butuh waktu lima tahun untuk membangun di permukaan tanah dari lubang dalam yang telah digali. Masih ada tiang-tiang tinggi yang harus diselesaikan setelah mereka menyelesaikan pembangunan makam. Lagi-lagi, tiang-tiang itu akan membuat ilusi-bahwa makam itu melayang di udara. Dan memang benar, semua ini hanyalah ilusi. Shah Jahan berharap bisa melihat makam itu selesai dibangun saat masih hidup. Harus begitu; dia tidak bisa mati sementara makam belum selesai. Tidak ada orang lain yang mencintai Arjumand sebesar cintanya. Tidak ada orang lain.
"Ismail Afandi menunggu, Padishah," Isa memberi tahunya.
Sultan memberi isyarat agar Ismail Afandi mendekat; sang Perancang Kubah melakukan kornish. Di belakangnya, sebuah model dibawa oleh seorang perancang magang dan disusun dengan hati-hati di hadapan Sultan. Itu adalah sebuah kubah, setinggi 6D sentimeter.
"Shabash," Shah Jahan berkata. "Ini sempurna, Afandi. Kau mengerti instruksiku."
"Ya, Padishah."
Shah Jahan bangkit dari dipan dan mengelilingi kubah. Dia tampak puas, tetapi kemudian wajahnya menjadi suram. "Kubah ini indah, tetapi bagaimana bangunan ini menahan bebannya sendiri? Dengan
kayu, semua tampak mudah, tetapi jika terbuat dari marmer? Pasti akan goyah dan roboh!"
"Padishah," Afandi merasa puas karena bisa menampilkan kepandaiannya. "Lihat." Dia mengangkat kubah untuk memperlihatkan sebuah kubah lagi di dalamnya. "Untuk mencapai keinginan yang Padishah inginkan, kita harus membangun dua kubah. Bagian dalam akan menahan bagian luar, menahan bebannya. Dari dasar ke puncak atap, tingginya empat puluh empat meter. Belum pernah ada satu pun bangunan yang dibangun setinggi ini."
Sang Sultan menepuk punggung Afandi. Afandi tersenyum gugup dengan gembira. Dia tidak mengungkapkan seluruh kebenaran tentang rancangan itu, tetapi ini tidak penting. Dia harus meneruskan penjelasannya, tetapi sang Sultan tersenyum lebar dan ini membuatnya merinding. Shah Jahan mengawasinya dengan
sungguh-sungguh, hingga matanya memicing.
"Kau memang pandai, Afandi. Memang benar; tidak ada bangunan yang pernah dibangun setinggi ini. Tapi, aku telah memerhatikan makam Sikander Lodi di Delhi dan kuil berkubah di Purjarpali. Kubah ganda makam Lodi terinspirasi dari kubah kuil itu. Orang-orang Hindu yang pertama kali merancang kubah ganda. Makam kakek buyutku juga menggunakan konstruksi yang sama, aku yakin."
"Itu memang benar, Padishah," Afandi berbisik. "Saya telah mempelajari bangunan-bangunan itu. Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa mencapai ketinggian tersebut."
"Bagus. Kita belajar dari orang lain."
1048/1638 Masehi
"Cepat," dia berbisik.
Dia sedang duduk di diwan-i-khas, mengamati para pekerjanya melakukan tugas. Dia merasa gelisah, tidak sabar. Tatapannya terpaku ke makam kecil yang terbuat dari batu bata, peristirahatan terakhir Arjumand. Kubah kecilnya yang polos tampak merunduk dan jelek. Hatinya pedih ketika memikirkan Arjumand di sana, saat ini berada di dalam jangkauan, tetapi jauh, bagaikan awal kisah cinta mereka. Takdir terus memainkan siasat-siasat kejamnya.
Selama sekejap, dia berharap bahwa Arjumand bisa melihat Taj Mahal berdiri. Pada siang hari, bangunan itu akan lebih indah daripada matahari; pada malam hari, kecantikannya akan mengalihkan pandangan manusia dari bulan. Sekali lagi, dia merasakan kesepiannya yang hampa. Sambil mengenang ke belakang, dia tidak bisa mengingat secara tepat kalimat yang telah dia katakan kepada Arjumand di taman istana pada malam pernikahan ayahnya. Dia ingat telah mengatakan bahwa dunia ini bagaikan gurun pasir tanpa Arjumand, hidupnya hanyalah berupa jejak-jejak kaki yang berdebu. Saat ini, dia sudah meninggal, dan dia tidak akan pernah lepas dari gurun pasir itu. Banyak yang menyarankan agar dia mencari pendamping baru, tentu saja; tetapi, tidak ada yang bisa menggantikan  kedudukan  Arjumand.   Shah Jahan
tersenyum muram karena ironi tersebut: dia adalah penguasa kesultanan dan dia tidak bahagia, sendirian.
Dia duduk di dipan untuk memerhatikan sinar matahari sore bergerak ke dinding-dinding berkisi keemasan sebelum jatuh ke pola-pola gelap di lantai. Saat matahari terbenam, cahaya akan mengubah ruangan ini. Ruangan ini akan menjadi merah, tampak penuh keajaiban. Sudah lama sekali, dia pernah berdebat keras dengan ayahnya di sini. Jahangir sedang mabuk dan terganggu oleh cintanya kepada Mehrunissa, dan permohonan Shah Jahan tidak didengar olehnya. Dalam kemarahannya, Shah Jahan telah bersumpah untuk mengubah dinding-dinding merah ruangan ini, yang membosankan. Memang, dia sudah melakukan itu, tetapi itu hanyalah sebuah kemenangan sepele. Yang sedang dibangun di dekat sungai adalah pencapaian yang sebenarnya. Namanya akan dikenang selama berabad-abad. Mereka akan berkata: Shah Jahan, Penakluk Dunia, Mughal Agung, yang membangunnya. Atau, mungkin mereka akan berkata: di sini terbaring permaisurinya, Arjumand.
Arjumand! Dia menangis, terkejut karena menyadari bahwa air mata masih mengalir dengan mudah.
"Aku menghancurkannya, aku menghancurkannya."
Kalimat itu berputar-putar dalam benaknya, di luar keinginannya, seakan-akan dia berharap untuk
tidak mengetahui apa yang melukai hatinya selama ini. Tetapi, air mata tidak bisa meringankan kepedihannya.
Dia berbicara dengan keras, dan Isa mendengarnya, tetapi tidak memperlihatkan tanda-tanda mendengar kalimatnya itu.
"Padishah, Mir Bakshi memohon pertemuan."
Sang penasihat keuangan masuk, membungkuk, melihat jejak air mata dan mengalihkan pandangan, dengan ketidaksabaran yang tersembunyi. Pikiran sang Sultan masih terganggu, waktunya tidak tepat, tetapi Mir Bakshi tidak dapat menunggu. Sejak fajar hingga senja, bahkan dalam tidurnya, tidak diragukan lagi, Sultan terobsesi dengan makam itu. Tak jelas lagi waktu yang dia gunakan untuk mengurus negaranya? Masalah-masalah itu terabaikan, sementara awan kerusakan semakin menyebar. Menteri-menterinya berusaha tanpa tuntunan sang Sultan.
"Padishah," Mir Bakshi berbicara dengan terpaksa, tanpa kata-kata pembuka. "Deccan. Tikus-tikus menggerogoti. Kita harus bertindak cepat. Akbar berkata, sebuah monarki tidak boleh berhenti menaklukkan. Kita tidak melakukan apa-apa, dan sekarang mereka bangkit melawan kita."
"Kau selalu berbicara tentang Akbar, Jahangir, Babur," Shah Jahan menggerutu. "Apakah masalah ini begitu penting?"
"Ya. Kita harus berbaris ke selatan segera."
"Aku tidak bisa meninggalkan Agra," sang Sultan
membentak. Nada suaranya membuat Mir Bakshi berhenti memprotes.
"Kalau begitu, siapa yang akan memimpin pasukan, jika bukan Sultan?" Mir Bakshi bertanya dengan sopan. "Kehadiran Sultan akan menaklukkan tikus-tikus itu. Mereka akan kehilangan keberanian saat melihat Sultan dalam posisi pemimpin kekuatannya."
"Aku tidak bisa pergi," Shah Jahan menjawab. "Aurangzeb yang akan pergi."
"Seharusnya putra tertua Anda yang memimpin bala tentara, Padishah. Dara. Gerombolan Deccan akan berpikir bahwa Aurangzeb terlalu muda, belum berpengalaman. Mereka tidak akan
menghormatinya, begitu juga Mughal Agung."
"Aku sudah mengatakan, aku tidak bisa pergi," Shah Jahan berkata dengan kesal, kehilangan kesabaran. "Aurangzeb akan pergi dan Dara tetap tinggal di sini. Dara adalah putra kesayanganku. Aku tidak bisa membiarkannya pergi berperang. Arjumand juga sangat mencintainya. Dia tidak akan memaafkanku jika Dara terluka. Dia akan menjadi sultan penerusku." Shah Jahan terdiam sebentar. "Siapkan bala tentara untuk berbaris ke sana dalam waktu sebulan. Aurangzeb akan memimpin."
Mir Bakshi mundur beberapa langkah, tidak senang, tetapi lega karena sebuah keputusan akhirnya telah dicapai. Aurangzeb, anak lelaki ganjil yang pendiam, tidak pernah mengungkapkan pikirannya dan tampil hanya sebagai bayangan yang menjelajahi istana. Dara dicintai oleh semua orang;
dia pasti akan menjadi komandan yang baik. Tetapi, Sultan telah memutuskan bahwa Aurangzeb yang akan memimpin pasukan Mughal. Mir Bakshi mengangkat bahu: ini akan memberi anak lelaki itu sedikit pengalaman.
^m
Sita berdiri di antrean dalam kerumunan, menunggu upah hariannya. Dia tidak bersemangat, kelelahan, pikirannya melayang, dan dia gemetaran. Musim dingin sudah lama berlalu, tetapi dia masih merasa kedinginan. Malam itu udara kusam karena debu, mengubah sinar Jingga matahari menjadi cahaya kecokelatan. Keringatnya mendingin, pakaiannya menempel ke tubuhnya; dia akan mandi sebelum menyiapkan makan malam. Dia berdiri dengan sabar, terlalu lelah untuk mendorong dan menyikut agar bisa maju. Dia pasti akan mendapatkan upahnya.
mim
Dalam waktu-waktu tertentu, Sita merasa tidak pernah meninggalkan desa kecilnya, tetap tinggal di sana, meskipun hanya dalam pikirannya. Tidak ada yang berubah; gubuk-gubuk, tangki-tangki, kuil-kuil di kejauhan. Ibu dan ayahnya juga masih sama. Pada saat senja, saat pohon kelapa membuat bayangan panjang yang ramping, dan sapi kurus perlahan-lahan kembali dari pemerahan susu, dia akan membantu ibunya menyiapkan makan malam di dapur. Mereka akan berbicara dengan lembut tentang hari itu,  tentang pernikahan,  kematian,
kelahiran, rayuan, panen, permusuhan turun-temurun, dan masa depan Sita sendiri. Masih ada beberapa tahun lagi untuk dinantikan, tetapi pilihan-pilihan sementara telah ditentukan diam-diam oleh Sita dan ibunya. Sejak Sita lahir, ibunya telah memerhatikan para pria muda di desa itu hingga akhirnya mengambil suatu keputusan. Anak lelaki itu berasal dari kasta yang sama, tampan, ceria, dan juga memerhatikan Sita. Dengan malu-malu, mereka saling mengamati satu sama lain saat berpapasan, tidak pernah berbicara, bahagia karena dituntun oleh nasib. Kedua keluarga mereka senang. Kemudian, tiba-tiba, dia menghilang, tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Suatu hari, dia sedang membawa sapi-sapi menuju padang penggembalaan, dan ternak-ternak kembali tanpa dirinya. Seluruh desa berusaha mencarinya, tetapi tidak ada jejak yang bisa ditemukan. Mereka bilang, seekor binatang buas menyergapnya. Sita merasa bagaikan terjatuh dari sebuah tebing. Dia meratap dengan pedih dan dengan rela menerima pilihan kedua: adik lelakinya, Murthi. Kerumunan itu sudah hampir bubar, sang petugas menatapnya. Tumpukan koinnya semakin tipis dan bukunya penuh oleh catatan.
"Kau adalah ..." dia bertanya dengan kasar.
"Sita, istri Murthi."
Si petugas memeriksa catatannya, menemukan namanya, berhenti, kemudian menatap Sita. Dia cukup cantik, tetapi tatapannya jauh dan penuh kelelahan. Kulitnya berlumpur, warna cokelat pudar
dari lumpur Jumna yang menyapu Agra. Sungai itu berarus lemah dan mengalir perlahan, bagaikan denyut nadi seorang manusia sekarat. Perempuan yang berdiri di hadapannya mengingatkan si petugas akan keadaan itu.
"Kau sempat tidak bekerja selama beberapa waktu."
"Aku sedang tidak sehat," Sita menjawab perlahan. "Aku melahirkan bayi. Lelaki. Tapi dia meninggal. Aku sakit dalam waktu yang cukup lama."
"Ah," si petugas mendesah penuh simpati.
Dia melihat catatannya dan mengetuk-ngetuk giginya yang berwarna karena daun sirih. Ada catatan di sebelah nama perempuan ini yang membuatnya bingung. Siapa yang tertarik kepada jiwa manusia ini? Dia hanya orang desa biasa. Mereka berkeliaran di atas bumi dan tidak meninggalkan catatan, seperti jenazah bayi si perempuan yang dihanguskan oleh api. Tetapi, dia tidak bisa tidak mematuhi perintah di catatannya. Dia menghitung, dua kali, setumpuk koin dan dengan lembut mendorong tumpukan itu ke arah si perempuan. Perempuan itu menatap koin-koin itu dengan penuh kebingungan, hampir ketakutan.
"Aku hanya bekerja satu hari, Sahib. Ini adalah hari pertamaku."
"Uang ini milikmu," kata si petugas, kemudian berpikir lagi dan meletakkan tangannya di atas tumpukan. "Kau istri Murthi, sang Acharya?"
"Ya."
"Kalau begitu, ambillah. Ini upah untuk hari-hari
istirahatmu. Jangan bilang siapa-siapa tentang ini."
"Anda sangat baik, Sahib. Tapi, aku khawatir Anda akan terlibat masalah."
"Aku bisa mengatasinya sendiri," dia berkata dengan datar, sedikit membual, meskipun sesaat sebelumnya, dia merasa terhibur dengan pikiran menahan uang itu untuk dirinya sendiri. Perempuan itu tidak akan pernah tahu siapa yang memerintahkannya untuk membayar, tetapi pikiran jika tindakan itu ketahuan membuatnya takut. Jadi, biarkan saja perempuan ini berpikir bahwa dia yang murah hati.
Sambil gemetaran, Sita menalikan koin-koin itu di dalam simpul sarinya dan menyelipkannya kembali ke stagennya. Dia mencoba berdiri, tetapi kegembiraan membuatnya pusing dan terjatuh.[]
Kisah Cinta
1022/1612 Masehi
Isa
Bagaikan bumi, wajah kita merefleksikan amarah atau kelembutan hati alam, tetapi jiwa kita tersembunyi. Ketika terdiam atau tertidur, wajah Arjumand memancarkan kesepian abadi, kesedihan yang menyakitkan, yang merekah bagaikan embun pagi dari jiwanya. Kepedihan memberinya kecantikan yang bercahaya, dengan getaran yang mematahkan hati. Tetapi, pada beberapa waktu tertentu, aku juga melihat kilatan sesaat, seperti tembakan jezail pada malam hari, binar di matanya: sekilas harapan. Dia telah memasrahkan diri untuk kehilangan, meskipun sejak pertemuan mereka di taman istana, sekali lagi harapan menguat kembali. Takdir mengguncang dan mendorongnya ke sana kemari.
Kemudian, seperti seorang pemimpi yang terbangun, wajahnya berubah cerah, terhibur karena kenyamanan dari kenangan singkat akan Shah Jahan, dan melanjutkan hidupnya. Dia bergerak dari
jam ke jam, dari hari ke hari, menenggelamkan dirinya dalam segala aktivitas: menunggang kuda, melukis, menulis puisi, mengunjungi rumah sakit yang dia bangun bagi orang-orang miskin dengan uang yang Shah Jahan bayarkan untuk perhiasannya-seakan-akan berpura-pura tidak peduli bahwa dia bisa menyiasati takdir dengan menyerah, dan menang dari pergulatan nasib yang dia ratapi.
Seminggu sekali, orang-orang miskin berbaris di jalanan, berjongkok di tembok kanal antara saluran pembuangan dan dinding rumah. Mereka menderita lepra, buntung, cacat, pincang, merintih-rintih, dan masing-masing memegang sebuah mangkuk. Karena suatu keberuntungan, aku bisa lolos dari nasib serupa beberapa tahun yang lalu, dan saat ini aku berharap untuk tidak harus berhubungan dengan mereka sama sekali. Tetapi, aku berjalan perlahan di belakang Arjumand, dan setiap dia membungkuk, aku menarik ghararanya menjauh dari mereka dengan tongkatku, tidak ingin-bahkan meskipun tidak sengaja-untuk menyentuh mereka.
"Berhentilah melakukan itu, Isa."
"Agachi, mereka kotor. Kau akan tertular penyakit mereka."
"Ini hanya pakaianku." Dengan kesal, dia menarik bajunya dari jangkauanku, dan kembali melakukan tindakan sebelumnya. Sambil membawa makanan di panci-panci keramik yang berat, para pelayan lain melangkah di samping kami. Arjumand memasukkan sendok ke dalam setiap panci dan menuangkan
isinya ke mangkuk-mangkuk, pada saat yang sama menyerahkan chapati ke tangan si pengemis. "Kau menyalahkan mereka karena ketidakberuntungan mereka, betulkah, Isa?"
"Ya, Agachi. Kebanyakan dari mereka itu bad-mash. Mereka bahkan bisa hidup lebih layak daripada pedagang rempah-rempah."
"Jika kau salah seorang dari mereka, bukankah kau ingin diberi makanan?"
"Ya, Agachi, tapi
Dia mengabaikan protesku, seperti biasanya. Jika Arjumand bersikukuh akan suatu masalah, tidak ada orang, bahkan ibunya atau kakeknya sendiri, yang bisa mengubahnya. Dia bisa saja menugaskan aku sendiri, atau bahkan Muneer, untuk pekerjaan amalnya ini. Tetapi, dia bersikeras untuk melakukannya sendiri. Dalam aroma busuk dan menyengat dari tubuh para pengemis itu, aku manahan napas, berharap untuk tidak menghirup bibit penyakit mereka. Hal itu menyesakkan udara. Arjumand tampaknya tidak berkeberatan, tetapi sibuk menyendoki makanan, dan bergerak terus hingga ke akhir barisan. Lalat-lalat berdengung, diam, lalu berdengung lagi. Beatilha melindungi wajah Arjumand dari gangguan mereka.
"Di mana kau tidur?" Arjumand bertanya kepada seorang perempuan muda. Dia adalah seorang gadis yang cukup cantik, tetapi kehilangan sebelah lengannya, dan bajunya yang koyak hampir tidak bisa menutupi tubuhnya.
"Di mana-mana."
"Saat ini hangat, Agachi," aku berbicara dengan dingin. "Bintang-bintang sudah cukup untuk menjadi atap tempat tinggal. Tak terhitung lamanya, aku juga tertidur .."
"Tapi kau tidak lagi bernasib demikian," dia menoleh dan mengangkat sendok besarnya. "Aku bertanya kepada mereka, bukan kepadamu, Isa. Dan tolonglah, jangan bersungut-sungut. Hanya aku yang berhak begitu."
"Tapi kau jarang melakukannya, Agachi."
Dia tertawa. Ini membuat si pengemis tersenyum lebar, seperti mendengar lelucon konyol. Jika aku tidak ada di sana untuk melindunginya, mungkin ada sesuatu yang bisa terjadi. Aku tidak bisa mengerti sepenuhnya akan kepedulian Arjumand terhadap para pecundang ini, meskipun sekali waktu dia pernah menjelaskan kepadaku.
"Kakekku dulu juga miskin," dia duduk di Osebuah bangku batu di bawah pohon peepul dan menggambar pola-pola dengan kakinya yang bersandal di atas debu. "Aku tidak pernah merasakan kehidupan selain yang bernama kenyamanan. Aku merasa sedih ketika melihat orang-orang tinggal di jalanan, kelaparan dan miskin. Sesuatu harus dilakukan untuk menolong mereka."
"Hal itu ada dalam kekuasaan Padishah."
"Sultan dan para pejabat tidak melihat hal-hal seperti ini," dia menjawab dengan datar.
"Lalu, mengapa kau harus peduli, Agachi? Mereka tidak akan memasuki taman indah ini."
"Aku memikirkan kisah yang diceritakan kakekku kepadaku. Setelah dia disergap dan dirampok dalam perjalanan kemari, dia tidak makan selama berhari-hari. Cerita itu sangat menyeramkan, tetapi tanpa penderitaan, kisah ini tidak akan berarti. Apakah sakit karena cinta begitu berbeda dari sakit karena kelaparan? Mereka sama-sama menimbulkan rasa lapar dalam tubuh, yang harus dipuaskan. Seperti orang-orang ini, aku juga telah dikalahkan. Perut mereka merintih meminta makanan, sementara hatiku menginginkan cinta. Apakah kau pernah merasa lapar akan keduanya, Isa?"
Dia memiringkan kepala, berjongkok di hadapan sinar matahari yang menyelinap di antara dedaunan, dan mengawasiku dengan hati-hati. Seperti bibinya, dia memiliki kemampuan menyebalkan untuk memberi kesan bisa membaca pikiran seseorang.
"Aku juga sering merasa lapar. Tubuhku menolak untuk mati. Selain itu, aku mencuri saat merasa tidak mampu lagi menahan lapar."
"Sultan pertama, Rabur, melakukan hal yang sama denganmu. Dan bagaimana dengan cinta?"
"Dua kali, Agachi."
"Dan kau menyerah. Sungguh memalukan, Isa. Seharusnya kau berusaha."
"Takdirku mengharuskan aku menyerah. Yang pertama aku kehilangan, yang kedua aku tidak bisa meraihnya. Seiring waktu, cinta bisa memudar, tetapi tidak akan pernah hilang. Cinta akan tetap ada  bersamaku,   seperti  rasa  lapar orang-orang
miskin. Agachi, aku bisa melakukan pekerjaan ini untukmu, jika kau memerintahkanku. Keluargamu, seperti seharusnya, tinggal di rumah."
"Aku ingin melakukannya sendiri, bukan memerintahkanmu untuk melakukannya. Quran berkata, kita harus memberi sedekah dan bersikap baik terhadap orang miskin."
"Tetapi, mereka tidak seluruhnya Muslim."
"Memang hanya sedikit," dia menjawab dengan tajam. "Kita memerhatikan mereka setelah kaum kita sendiri. Quran tidak berkata kita tidak boleh memberi makan orang-orang selain Muslim." Dia menoleh dan menatapku, dan melihat binar Jenaka di matanya. "Itu kan tidak benar, Isa?"
"Benar, Agachi."
"Apakah kau benar-benar seorang Muslim?" "Oh ya, Agachi."
Jawabanku membuatnya tertawa, seolah-olah dia mengetahui sebuah rahasia yang tak akan pernah terungkap. Aku sangat berterima kasih karena kesetiakawanannya kepadaku. Dialah satu-satunya orang yang berani bertanya demikian, karena kadang-kadang dia juga seberani bibinya. Tetapi, aku tidak bisa membayangkan bibinya, yang saat ini sudah menjadi Permaisuri Nur Jehan, memberi sedekah di antara orang-orang miskin yang bau di bawah terik matahari.
Saat itu siang hari. Kami sedikit terpisah dari kawanan kami dan orang-orang miskin, di tengah kebingungan kecil. Beberapa anjing liar, dengan tulang  dibalut kulit  dan bulu,   mencari-cari sisa
makanan. Dua penunggang kuda mendekati kami dalam udara yang berdebu. Kuda-kudanya berderap, bernoda tanah, menendang awan debu yang perlahan-lahan jatuh kembali ke jalan. Para penunggang kuda mengenakan pakaian yang tidak akrab denganku: piama-piama ketat, jiba yang menyelubungi, dan kaki mereka terbungkus kulit dari jari hingga ke lutut. Wajah mereka segelap wajahku, tetapi aku tahu, itu bukan warna kulit asli mereka. Kulit mereka mungkin berwarna jauh lebih terang, karena ada noda merah terbakar di wajah hitam mereka. Sikap mereka tampak kasar, seolah-olah tidak sedang menunggang kuda, tetapi sedang berada di atas awan. Ketika mereka mendekat, mereka menatap kami dengan tajam. Merasakan ketidaknyamananku, Arjumand mendongak dari pekerjaannya. "Siapa mereka?"
"Para feringhi." Mereka berjalan lambat dan aku melihat pedang-pedang berat yang mereka kenakan.
"Aku pernah mendengarnya," kata Arjumand. "Mereka terus-menerus membuat kakekku khawatir karena sering kali curang dalam perdagangan. Dia sama sekali tidak menyukai mereka. Kakekku bilang, mereka penuh muslihat dan tidak jujur, dan sering melanggar janji. Mereka terus-menerus memprotes, menginginkan dunia untuk bergerak ke arah mereka, kata kakekku. Saat Padishah meminta agar mereka tidak terus-menerus memberi stempel gambar perempuan yang mereka puja kepada rombongan Muslim yang akan berziarah ke Makkah dengan
kapal-kapal        mereka,        mereka        menolak mendengarkan. Abaikan saja mereka." "Ya, Agachi."
Dia kembali menekuni pekerjaannya. Hanya tinggal tiga pengemis lagi yang harus diberi makan, tetapi aku tidak bisa mematuhi perintahnya dengan mudah. Feringhi itu bergoyang-goyang di atas sadel mereka, dan dari sikap mereka, aku tahu mereka baru meminum arak. Mata kelabu mereka kemerahan, wajah mereka bengkak. Mereka berbicara satu sama lain dengan bahasa yang aneh, seakan-akan kata-kata mereka keluar dari sisi mulut, mengalir bersama ludah mereka. Mereka tertawa saat berbicara, dan salah seorang dari mereka mengarahkan kudanya kepadaku. Mereka menatap, bukan menatapku, tetapi lekuk-lekuk tubuh Arjumand. Aku merasakan ketidakberesan. Matahari bersinar menembus pakaian Arjumand yang terang, dan tubuhnya yang langsing dan kencang terbentuk samar. Aku berdiri di antara Arjumand dan mata mereka, tetapi, tanpa peringatan, pria kekar yang berkuda di depan memacu tunggangannya dan mendorongku hingga terjatuh. Saat aku sadar, aku langsung menyambar belatiku ..
Arjumand
Aku mendengar peringatan Isa dan menoleh.
Dia telah terjatuh hampir di bawah kaki-kaki kuda. Aku terburu-buru menolongnya, tetapi feringhi  yang  gempal   menghalangi  kami  dengan
kudanya. Aku bisa mencium keringat kuda, dan lebih menyebalkan lagi, keringat si lelaki-pahit dan kotor, tercemar debu. Baunya tak tertahankan. Hawa panas menetapkan hukumnya sendiri, bahwa setiap orang harus mandi setiap hari. Dia bukan berasal dari negeri ini, dan mempraktikkan kebiasaannya sendiri, dengan mandi hanya setahun sekali. Satu-satunya senjata yang kupegang hanya sendok panjang dan aku mendorong kuda dengan benda itu. Sendok itu patah di tanganku. "Pergi sana!" Perintahku hanya membuat lelaki-lelaki itu geli. Mereka tertawa terbahak-bahak. Pria kedua lebih besar, sama jeleknya, giginya kuning dan kotor. Aku mencoba mundur, tetapi para pengemis menahan langkahku, kelaparan mereka lebih dahsyat daripada ketakutan mereka. Para pelayan menatap dengan mulut menganga, dan Isa yang malang berusaha bangkit, tetapi si penunggang kuda terus menahannya agar tetap terbaring. "Tinggalkan kami."
"Kami tak akan pergi hingga bisa melihat wajahmu yang cantik," si pria gempal berbicara dengan bahasa kami, tetapi berlogat kasar. Tanpa peringatan, dia membungkuk dan menyambar beatilhaku, merobek kainnya, dan mengekspos wajahku ke matanya yang liar. Aku merasa seperti ditusuk; tidak pernah aku merasa sesakit ini. Aku belum pernah berpengalaman menghadapi lelaki seperti ini. Hidupku, yang terkurung dan terlindung, membuatku merasa tidak berdaya saat ini. Aku gemetar karena terkejut, karena para lelaki ini bisa
bertindak kasar, dan malu karena dilihat oleh makhluk-makhluk yang kasar ini. Tidak pernah ada orang asing yang pernah melihat wajahku, dan saat ini aku berdiri dalam tatapan para pengemis dan feringhi yang jahat ini. Mereka tertawa dan mencemooh, tetapi dalam kebingungan, aku tak bisa mendengar mereka. Rasa maluku berubah cepat menjadi amarah. Aku merasa dipermalukan dan dihina.
"Pergi!"
"Dia cantik."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku yang damai, aku merasakan emosi baru yang tidak menyenangkan: rasa murka. Perasaan itu membakar secepat kilat, seperti api yang menyelubungi perasaanku. Aku ingin membunuh mereka saat ini, tetapi satu-satunya senjata yang ada dalam jangkauanku hanyalah lathi milik Isa. Aku memungutnya, dan menusuk paha salah seorang penunggang kuda. Dia mendengking, dan kudanya menjauh. Aku menusuk kuda, menusuknya, menusuk yang lain. Si feringhi gempal menyambar ujung lathi dan merenggutnya dari peganganku, seolah-olah akan merobohkanku dalam kemarahannya.
"Kalian tahu siapa aku? Bibiku adalah Permaisuri Nur Jehan."
Nama itu membawa keajaiban. Pria yang mencengkeram lathi menjatuhkannya seakan-akan benda itu membakar tangannya. Tawa mereka menghilang, mereka membisu ketakutan. Tanpa berkata-kata lagi, mereka membalikkan kuda mereka
dan memacunya di jalan, tanpa menoleh ke belakang. Aku mengawasi hingga mereka hilang dari pandangan, berharap bisa mengingat setiap detail. Isa terbaring di jalan, sambil menangis. Air mata membentuk jejak di wajahnya yang kotor. Aku menghampirinya dan membantunya berdiri. Dia ragu-ragu untuk berdiri, dan kepalanya masih tertunduk.
"Aku gagal melindungimu, Agachi."
"Kau sangat berani. Usaha melawan dua lelaki itu sudah cukup. Seka wajahmu."
"Aku akan membunuh mereka."
"Jangan. Dan jangan beri tahu keluargaku. Aku tidak ingin mereka mengetahui kejadian ini."
"Tapi, Agachi, jika kau memberi tahu bibimu, dia akan memberi tahu Padishah. Sultan akan memerintahkan untuk menghukum mati mereka segera."
"Tidak, Isa. Aku sudah berkata kepadamu. Keluargaku tidak akan pernah mengizinkanku keluar lagi jika mendengar hal ini. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang mereka lakukan-tidak akan pernah. Suatu hari, mereka akan dibawa ke hadapanku."
Setelah itu, di kamar aku menangis tak terkendali. Air mataku mengalir karena amarah, rasa malu, dan aku tidak bisa mengerti mengapa perasaan itu masih menguasaiku. Aku juga gemetar, bagaikan terserang demam. Aku berharap untuk tidak bertemu siapa-siapa, menyembunyikan rasa sakitku.   Tetapi,   ibuku   datang   dan   menyentuh
dahiku; suhu badanku panas dan dia meninggalkanku sendirian di kamarku yang gelap. Aku merintih dan menderita karena sakit, sebuah rasa sakit yang tidak seperti rasa sakit biasa. Aku merasa seakan-akan ada sebuah luka yang terinfeksi jauh di dalam tubuhku, dan semakin parah. Aku tidak ingin membenci siapa pun. Pikiran itu tidak pernah terbersit di benakku hingga hari ini. Betapa beraninya mereka mempermalukan diriku! Apakah aku seorang devadasi? Gadis pelacur murahan yang bisa diperlakukan dengan sekehendak hati mereka? Apakah semua feringhi seperti itu? Dari kata-kata kakekku tentang mereka, aku mengira bahwa memang begitu.
Tuhan melindungiku dari orang-orang yang tidak beriman.
Manusia, bukan Tuhan, adalah tumpuan terakhir keadilan. Aku memercayai bisikan peringatan Khusrav: Ladilli, Ladilli. Nama itu membebaniku bagaikan batu. Dari keterpanaan, perasaanku berubah menjadi putus asa. Itu memang mungkin. Mehrunissa tidak dapat menghadapiku dengan mudah dalam segala keinginannya, tetapi dia bisa mengendalikan Ladilli, dan melalui Ladilli, mengendalikan Shah Jahan. Otakku terasa demam dan aliran darahku berdenyut begitu kencang sehingga membuatku tidak bisa tidur. Kekasihku telah memberi janji kepadaku, tetapi nasibnya, seperti nasibku, berada di luar kendali.
Ayahku adalah seorang penasihat masalah keuangan bagi sang Sultan. Aku memohon kepadanya dan kakekku. Tentu saja, sang Sultan akan mendengar suara mereka di atas bisikan Mehrunissa. Tetapi, mereka berdua sama-sama jauh dari keberadaanku setiap hari, dan lebih memedulikan masalah-masalah yang jauh lebih penting daripada hancurnya hati seorang gadis sederhana, atau kebandelan seorang anak perempuan yang kehadirannya terus mengusik ibunya, karena pria-pria lain yang diajukan selalu ia tolak.
Ini adalah masalah konspirasi, bukan diskusi. Aku menunggu setiap hari, menanti mereka sendirian, mencoba untuk tidak menarik perhatian ibuku. Tidak diragukan lagi, ibuku juga menyadari apa yang kurencanakan, karena satu malam, dia langsung meninggalkan mereka berdua dengan minuman anggur dan huqqa mereka. Mereka duduk bersandar di bantal, berbincang perlahan tentang masalah negara. Posisi Mehrunissa memperkuat posisi mereka; sang Sultan saat ini mendengar tiga suara; yang mengungkapkan satu harmoni pemikiran yang sama.
"Masuklah, Arjumand. Duduklah di sebelahku." Ayahku menepuk dipan. Kakekku tersenyum dengan ramah. Mereka berdua menatapku penuh kepedulian. Ekspresi mereka yang sama membuat mereka semakin mirip, kecuali ayahku lebih muda dan lebih tinggi, hanya bahu kakekku yang membungkuk   hingga   membuatnya   tampak   lebih
pendek. Selain rambut-rambut putih yang tumbuh di janggutnya, dia masih memiliki semangat dan energi yang sama dengan ayahku.
"Ayah tahu mengapa aku menemui Ayah?" aku bertanya kepada ayahku dengan suara rendah.
"Ya. Ibumu telah memberi tahu kami. Kau tahu, ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Jika sesuatu membuatnya khawatir, itu juga membuatku khawatir." Mereka tertawa dengan kebiasaan para lelaki memprotes istri-istri mereka. "Apa yang bisa kami lakukan?"
"Bicaralah kepada Sultan untukku. Shah Jahan ingin menikahiku."
"Kami juga mengetahuinya. Seluruh dunia mengetahui cintanya kepadamu, termasuk sang Sultan. Kalian berdua memang anak-anak bandel."
"Jika semua mengetahui ini, mengapa dia tidak bertindak? Kuharap aku masih anak-anak, agar aku tidak mengerti artinya waktu. Saat ini aku berpacu dengan waktu." Aku terdiam sebentar, kemudian melanjutkan dengan gugup. "Aku diberi tahu bahwa Mehrunissa berharap Shah Jahan menikahi Ladilli sebagai istri kedua."
Mereka menegakkan tubuh. "Siapa yang memberi tahumu?" "Khusrav."
"Telinganya sangat tajam," kata kakekku. "Terlalu tajam." Dia menatap ayahku. Aku tidak bisa membaca pikiran mereka, tetapi saat dia menatapku, aku melihat belas kasih dalam sorot matanya.   "Itu   tidak   akan   terjadi.   Kami   akan
berbicara dengan Sultan besok.  Sungguh tidak bijaksana memaksa Shah Jahan menikah lagi dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Itu hanya akan menyebabkan perpecahan." "Bagaimana dengan Ladilli?"
"Aku yakin bibimu akan menemukan suami yang cocok bagi Ladilli."
Aku meninggalkan mereka; saat aku mengamati dari balik kisi-kisi, mereka tenggelam dalam diskusi. Aku merasa menang. Mereka akan mengalahkan Mehrunissa, hanya untuk mencegah sebuah konflik antara ayah dan anak. Alasanku menjadi politis, tetapi saat ini aku tidak peduli.
Mehrunissa menerima kekalahannya hanya sebagai kemunduran kecil. Aku dijemput ke harem istana oleh Muneer, yang saat ini bergelimang perhiasan. Dia mengenakan cincin emas dengan berlian besar, batu-batu mirah dan zamrud di setiap jarinya, dan gelang-gelang emas di lengannya. Dia semakin menggemuk, simbol semakin penting posisinya. Sebagai kepala orang kasim bibiku, dia menduduki posisi dengan kekuasaan yang besar. Banyak sekali orang menyogoknya agar keinginan mereka didengar oleh bibiku; bisikannya berharga satu lakh, menurut desas-desus.
Mehrunissa menempati kamar-kamar mewah yang menghadap ke Jumna, tempat terbaik di istana. Angin sepoi-sepoi yang bertiup melalui jali membuat tumpukan kertas di sampingnya, di atas karpet bersulam indah, berantakan. Meja peraknya, hadiah    Rana    dari    Gwalior,    dipahat    dengan
adegan-adegan dalam Mahabharata, dan di atasnya terletak Muhr Uzak. Aku belum pernah melihat stempel kenegaraan sebelumnya. Benda itu lumayan tinggi dan terbuat dari emas padat. Bagian atas pegangannya ditempeli berlian besar, dan di sisi-sisinya terukir tulisan Persia. Stempel itu dirancang agar sesuai dengan genggaman tangan sang Sultan, tetapi terlalu besar untuk genggaman tangan Mehrunissa. Butuh kekuatan untuk bisa mengangkat Segel Kesultanan yang berat. Aku menekankannya ke lilin dan di sana ada cetakan lambang singa Mughal di atas sebuah nama: Jahangir. Dalam sebuah benda logam yang dingin ini terkumpul seluruh kekuasaan kesultanan, dan saat ini selalu berada di meja Mehrunissa.
Dia mengambil benda itu dariku dengan tidak sabar. "Ini bukan mainan." Dengan hati-hati, dia meletakkannya lagi dalam sebuah kotak emas bertepi beludru. Permukaannya licin dan aus karena sering digunakan, warna emasnya hampir memudar.
"Kau bahagia?"
"Sangat. Kapan kami bisa menikah? Seharusnya bisa segera."
"Selalu tidak sabar."
"Tidak sabar? Lima tahun telah tersia-sia dalam penantian sejak kami pertama kali bertemu."
"Rendahkan suaramu. Aku hanya bergurau." Dia menepuk kepalaku seolah-olah menenangkan seorang anak kecil. Dia memeriksa kertas-kertasnya, memerhatikan sehelai demi sehelai, menemukan selembar kertas dan dengan
hati-hati membacanya. Dia tidak menyerahkannya kepadaku, tetapi memberiku kesimpulan hasil diskusi mereka: "Masalah kami tidak pernah secara langsung melibatkanmu. Jahangir berharap persekutuan dengan Persia; ini sangat penting bagi kelangsungan kita. Kita tidak mengharapkan perang dengan pihak tersebut. Setelah menikahkan Shah Jahan dengan putri Persia itu, kita tidak bisa memerintahkan putri itu kembali ke tanah airnya. Shah Jahan telah memberi tahuku ..." Aku bisa mendengar perubahan mendadak dalam ekspresinya yang mencemooh. "... bahwa sang putri mandul. Dia tidak bisa melahirkan anak. Tentu saja, dia memprotes bahwa ini adalah kesalahan Shah Jahan, karena sang pangeran tidak pernah menidurinya. Tetapi, bagaimana kita bisa memercayai hal itu? Aku memutuskan bahwa mengakhiri pernikahan akan menjadi keputusan terbaik. Tetapi bukan perceraian. Shahinshah tidak akan menerima hal itu. Dia akan dikirim kembali ke Persia. Seperti biasa, aku akan bersikap murah hati. Dia akan membawa lima unta bermuatan koin emas, delapan unta bermuatan koin perak, semua perhiasan yang diberikan kepadanya sebagai hadiah sang Sultan-sebanyak dua muatan. Bagi Shahinshah sendiri, kami mengirimkan jumlah hadiah yang sama, termasuk gajah, kuda, dan lima ratus budak." Dia menatapku dari sela-sela rambutnya yang terurai dan tersenyum. "Apakah kau puas dengan apa yang telah kulakukan?"
"Ya, Bibi." Aku masih duduk tanpa bergerak,
tetapi diriku penuh kegembiraan yang nyaris tak tertahankan. "Sekarang, setelah kita menyingkirkan orang Persia itu, kapan kami bisa menikah?"
"Ah, kau tidak sabar. Ingatlah Arjumand, tidak semua orang menunggu-nunggu dan menanti-nanti pernikahan. Jika seorang pria adalah keledai, seseorang harus memikul beban yang sama." Dia tidak berkata-kata lagi, meskipun pasti, dia berbicara tentang Jahangir yang telah lelah memerintah, dan saat ini tenggelam dalam puisi, lukisan, dan Jahangir-nama-nya, dan tentu saja, terus-terusan menyesap kenikmatan dari minuman anggur. "Kita akan berkonsultasi dengan peramal. Dia akan memutuskan tanggal pernikahan kalian."
Upacara akan berlangsung pada dini hari, hampir setahun setelah pernikahan Mehrunissa. Aku tidak sabar ingin segera menjalaninya, tetapi bintang-bintang menentukan bahwa saat itulah hari terbaik.
Mehrunissa, yang saat ini kebaikan hatinya berlimpah, merancang baju pernikahanku: sebuah churidar dari kain sutra kuning, diberati sulaman emas dan pinggiran emas yang rumit, sebuah blus berpola sama yang terbuat dari bahan terbaik.
"Pemandangan seperti inilah yang paling disukai para lelaki," kata Mehrunissa ketika aku memprotes. "Tak terkecuali Pangeran Shah Jahan."
Touca terpasang dengan indah di kepalaku. Bahannya licin dan halus, ditahan oleh bros emas
besar yang mirip jaring laba-laba, dengan sebutir berlian besar tanpa cela di bagian tengah. Touca itu juga dihiasi oleh jajaran mutiara indah. Dari harta Kesultanan, bibiku menghadiahkan seuntai kalung batu mirah; rantai emas dan batu yang berwarna merah itu tergantung berlapis-lapis di dadaku, dan untuk telingaku, ada sebuah lampu kecil emas yang dihiasi merahnya batu mirah. Lenganku, dari siku hingga pergelangan, tertutup oleh gelang-gelang emas dan gelang kakiku dihiasi oleh banyak sekali lonceng kecil. Bahkan Mehrunissa melukis wajahku, mengoleskan bubuk emas di atas kedua mataku.
Aku tahu, dia berharap memperbaiki hubungan denganku setelah tindakan kejamnya selama bertahun-tahun ini, dan dengan gembira aku mengizinkannya melakukan itu.
Aku tidak bisa tidur. Saat matahari terbit, Shah Jahan akan menunggangi kuda jantan putihnya ke taman kami. Aku berjalan di antara kabut dan tiba-tiba merasa ngeri jika aku terbangun suatu saat dan menemukan bahwa ternyata hidupku tidak pernah berubah. Untuk meyakinkan diriku sendiri, aku memandang berkeliling-bukan ke arah keriuhan di dalam rumah-tetapi ke luar. Dalam kegelapan, aku bisa melihat garis tepi redup pandai yang didirikan di taman. Sesaat lagi, para pekerja akan menghiasinya dengan bunga-bunga, mawar dan melati-dan perhiasan. Pandai itu berdiri bagaikan monumen peringatan lima tahun penantianku, dan saat   upacara   telah   selesai,   pandai   itu   akan
dirobohkan kembali. Aku berharap pandai itu bisa tetap ada sebagai simbol abadi kebahagiaanku. Saat ini, Arjumand akan menikahi lelaki yang dia cintai.
Aku menatap dengan tajam dan lama, tetapi cahaya tidak juga berubah; mungkin sebuah kekuatan dahsyat menggerakkan matahari; bulan dan bintang memilih hari penting ini untuk melambatkan pergerakan mereka. Kebekuan ini masih membuatku takut. Melihatku sendirian dan terdiam, Ladilli menyelinap masuk. Selama beberapa hari, kami tidak saling berbicara, dan hal ini membuatnya kebingungan. Aku tahu, bukan dia yang harus disalahkan, tetapi apa lagi yang bisa kurasakan, selain ketakutan dan ketidakpercayaan? Dia duduk di sebelahku dan dengan lembut meraih tanganku.
"Aku sangat bahagia untukmu, Arjumand," dia berbisik. "Kau layak mendapatkan kebahagiaan saat ini. Kau begitu tabah dan kuat selama ini. Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa bertahan hidup selama ini. Aku tahu, aku pasti tidak akan mampu."
"Kau pasti bisa, saat kau mencintai seseorang," aku meremas tangannya, tetapi aku tidak bisa segera merangkulnya.
"Akankah itu? Aku meragukannya." Ladilli memiliki kekerasan hati yang mengesalkan. Ada keteguhan di dalam dirinya yang lembut dan rapuh. "Aku akan menikahi siapa pun yang diperintahkan oleh ibuku. Bagaimana aku bisa melakukan hal lain? Dia akan berteriak,   menjerit,   dan   membujuk.   Kau   tahu,
bagaimana dia memilih senjatanya dengan cerdik. Dengan kematian ayahku, aku tidak memiliki sekutu lagi. Aku akan melakukan seperti yang diperintahkan." Dia mendesah. Suara itu pelan dan tegar, terdengar tidak takut akan masa depan karena dia telah menerimanya tanpa perlawanan. Akulah yang melawan, yang mengalami kepedihan cinta dan kekecewaan. Hidup tidak akan melukai Ladilli. "Kita akan berteman lagi, betul kan?"
"Ya." Aku menjawab dengan lembut. "Semua itu salahku. Aku marah."
"Siapa yang bisa menyalahkanmu? Aku tidak tahu hingga aku menyadari kau marah kepadaku. Saat aku bertanya kepada ibuku, dia berkata, itu hanya sebuah ide bahwa aku harus menikah dengan Shah Jahan." Dia mengangkat bahu, tampak tidak terkejut. "Aku tidak berpikir jika ibuku serius."
"Jika mungkin, dia akan mengaturnya." Aku terdiam, mengetahui betapa mudahnya Ladilli bisa tersinggung. "Kau akan datang dan mengunjungiku?"
"Ya, sering. Siapa lagi yang kumiliki? Saat ini keadaan lebih mudah karena ibuku menjadi permaisuri. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya, dan aku tidak pernah melihatnya begitu puas sebelumnya. Bukan pernikahan yang membuatnya begitu bahagia." Ladilli terdiam dan tertawa pelan. "Aku masih belum bisa percaya bahwa Padishah, sang Mughal Agung, adalah ayah tiriku. Tentu saja, dia tidak akan pernah menyamai ..." Dia menghela napas dan menahan air matanya. Dia masih sering memikirkan  ayahnya.   "Bukan,  bukan  karena  itu.Pernikahan itu sendiri tidak akan pernah memuaskan ibuku. Yang paling dia inginkan adalah kedudukan penting, bisa berguna, memiliki kekuasaan, seperti burung bangau yang menyelam. Dia hanya berharap agar orang-orang menerima keputusannya, dan menang. Kaum perempuan membuatnya bosan dengan pembicaraan mereka tentang anak-anak, pakaian, dan tamasha."
"Apakah dia merasa senang terhadapku?"
"Oh, ya," Ladilli tertawa, kemudian terdiam. "Kupikir begitu, tetapi tentu saja dia tidak mengakuinya di depanku. Kau bahagia dan itu seharusnya membuat ibuku bahagia. Suatu hari, kau akan menjadi Permaisuri Arjumand."
"Ya," aku menyetujuinya, dan menambahkan dalam hati, insya Allah. Dan bagaimana sikap Mehrunissa saat hari itu tiba?
Shah Jahan menunggang kuda di samping Jahangir. Sarapa mereka, yang satu berwarna merah tua, satu lagi merah sangat gelap, dihiasi sulaman emas yang indah, dipenuhi zamrud, mutiara, dan batu nilam, terbentang mewah di punggung kuda mereka. Jahangir menyebarkan koin-koin emas dan perak ke arah kerumunan saat dia melintas. Cahaya matahari pagi memantul dari berlian di turban mereka, pada rantai di sekeliling leher mereka, dan pembungkus pedang mereka yang terbuat dari emas. Shah Jahan mengendalikan kebahagiaannya dengan ketenangan. Mereka turun dari kuda; musik berhenti. Ke-
heningan terasa, seolah-olah seluruh dunia sedang menahan napas. Mereka mengambil posisi di seberangku. Para lelaki duduk di satu sisi, para perempuan di sisi yang lain, dan di antara kami duduk para mullah. Kami saling menatap. Aku bisa melihatnya, tetapi dia tidak bisa melihatku; cadar tebal menyembunyikan wajahku. Dia hanya terlihat sebagai sosok buram di antara jaring-jaring cadarku, tetapi aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Para mullah membacakan sebuah ayat Quran, kemudian mengumumkan bahwa kami telah menikah dengan resmi. Sebuah buku, yang terjilid kulit dan dihias dengan emas, diserahkan kepada Shah Jahan. Dia menuliskan namanya di situ dan buku itu diserahkan kepadaku. Aku melihat tulisannya yang meliuk-liuk, dan dengan hati-hati menuliskan namaku di bawahnya. Ibuku membantuku berdiri, kemudian menuntunku kembali ke rumah. Hanya satu jam setelah fajar; semburat malam yang panjang masih terlihat di angkasa. Aku menoleh untuk melihat Shah Jahan merangkul Mehrunissa, nenekku, dan para kerabat lainnya dengan sopan.
Lalu, aku tertidur, masih mengenakan pakaian pengantinku, tanpa bermimpi dan sangat pulas. Saat terbangun pada senja hari, aku merasa seperti telah membuang semua kesedihan, semua kepedihan. Tubuhku terasa sangat pulih, kuat, dan ringan.
Mehrunissa telah mengatur sebuah pesta pernikahan besar di istana dan ucapan selamat serta
nyanyian terus berlangsung hingga larut malam. Setelah beberapa saat, aku dibawa oleh bibi dan ibuku, serta para perempuan lain yang lebih tua, untuk bersiap-siap menghadapi malam pengantin. Budak-budak memandikan aku dengan tangan mereka yang lembut dan bergerak perlahan. Seluruh indraku menyala dengan tajam. Aku dikeringkan dengan lembut dan dibubuhi wewangian: rambut, wajah, dan tubuhku diolesi minyak yang sangat mahal. Mereka menyikat rambutku hingga berkilat bagaikan sayap gagak di bawah sinar terang matahari, membubuhkan kajal ke mataku dan pasta merah ke bibirku.
"Jangan takut," bisik ibuku saat dia menuntunku ke tempat tidur. Alas tempat tidur terbuat dari emas, dan tiang-tiangnya berupa ukiran kaki singa.
"Aku tidak takut. Perempuan lain akan berbaring bersama orang asing pada malam pengantin mereka. Aku akan berbaring bersama Shah Jahan."
Ibuku mendesah. "Itu tak akan berbeda. Ini adalah pengalaman pertama bagimu dan cinta tidak membuatnya menjadi lebih mudah. Perempuan lain akan mempersiapkan agar menjadi sempurna."
Aku berbaring, bersandar di dipan. Tubuhku diselubungi, rambutku terurai bagaikan ekor merak di atas bantal. Di samping tempat tidur, di kedua sisi, dua perempuan menunggu sambil membisu. Dua perempuan lain mengipasiku perlahan dengan punkah. Udara yang hangat dan harum berputar, wanginya membelaiku lembut. Dari luar, aku mendengar   melodi   lembut    raga   malam   yang
dimainkan oleh sitar. Alunan itu menyeimbangkan perasaan bahagia dan kesedihan, dan memantulkan perasaan damai dalam diriku, dan menjanjikan kegembiraan malam ini. Ketika aku menunggu, pikiranku melayang membayangkan hamparan bunga penuh cinta. Segera, aku akan mengetahui kenikmatan cinta.
Pangeranku berlutut, dengan tenang, lembut, lalu mengecup wajahku, dahiku, hidungku, mataku, dan bibirku.
"Akhirnya," dia tersenyum. "Kekasihku tercinta." "Dan kau adalah milikku."
Tatapanku menyapunya; tanganku membelai janggutnya, yang harum dan berkilau, dan tenggelam dalam rambutnya yang ikal. Aku tersenyum. Aku belum pernah melihatnya tanpa penutup kepala sebelumnya. Aku tahu, suatu perasaan ketidakpercayaan akan menyelubungiku, seakan-akan dia bisa menghilang sewaktu-waktu.
"Kau bahagia?"
"Sangat. Dan kau?" Tampaknya kalimat kami hanya berupa kata-kata pendek, terengah-engah, terburu-buru.
"Ya. Aku mencintaimu. Kita tidak akan pernah berpisah lagi. Ke mana pun aku pergi, kau akan mendampingiku. Dan ke mana pun kau pergi, aku akan selalu ada di sisimu."
"Apakah itu sumpahmu?"
"Ya."
"Aku tak akan pernah mengizinkanmu melanggar janji kepadaku, selama aku hidup."
"Itu janjiku selamanya."
Pangeranku berbaring di sisiku. Kami saling menatap dan saling mengelus, tubuh kami bagaikan dibelai oleh dewa dengan tangan yang tak terhitung jumlahnya. Aku menyadari kekontrasan tubuh kami, tubuhnya yang gelap, kekar, dan berotot; tubuhku yang pucat, lembut, dan berlekuk. Tampaknya inilah saat pertama aku melihat diriku sendiri, karena selama bertahun-tahun aku belum pernah mengetahui bentuk dan rahasia tubuhku sendiri.
"Kau akan mengalami pengalaman menakjubkan malam ini, istriku." Kekasihku berkata dengan lembut. "Rasa sakit dan kenikmatan tidak dapat dipisahkan dalam cinta. Dalam kenikmatan selalu ada rasa sakit, seperti seekor ular yang akan menggigit. Itulah keseimbangan Tuhan dalam tubuh dan hati kita."
Aku tidak dapat bergerak, tak dapat bernapas. Dia merengkuhku, dan aku merasakan ketakutan karena perasaanku seolah mati. Tetapi, lama-lama perasaan itu menghilang hingga aku merasa tenang dan damai. Suara sitar masih mengalun, dari dunia lain.
Keesokan harinya, saat kami terbangun dalam pelukan satu sama lain, para perempuan masuk dan memeriksa seprai. Mereka puas melihatnya.
1023/1613 Masehi
"Kau tidak bisa ikut bersamaku."
"Aku akan ikut. Kau telah membuat janji, Kekasihku;     aku     tidak     akan     membiarkanmu
mengingkari kata-katamu kepadaku." Kami sedang berbaring di halaman istananya, di bawah cahaya bulan jernih yang membentuk bayangan hitam dan tajam. Aku bersandar di lengannya, seperti yang kulakukan setiap malam setelah pernikahan kami. Kedamaian yang kurasakan menyejukkan hatiku. Aku tidak bisa lagi mengharapkan lebih, memimpikan lebih, hanya menginginkan ini akan terjadi selamanya. Kami terlibat cinta yang begitu dalam-apakah orang lain juga merasakannya seperti kami, begitu bergairah, seakan-akan mereka tidak bisa mengingat saat terakhir mereka? Kami belum pernah berpisah lama; satu atau dua jam, dan aku merasa diriku gelisah hingga dia kembali. "Mengapa kau berusaha mengingkari janjimu kepadaku saat ini?"
"Lihat dirimu," dia mundur dan menatap bangga ke tonjolan samar di perutku. Aku juga menatap ke bawah. Betapa damainya yang kurasakan. Hatiku, tubuhku, begitu dipenuhi oleh cinta kami, dan ada bukti yang bisa kami lihat. Dia mengelus-elus perutku, membelainya terus-menerus. "Pertempuran ini akan sangat panjang dan keras. Aku tidak bisa mengambil risiko dengan membawamu ke sana."
"Tidak ada pilihan. Aku tak peduli jika itu keras dan sulit. Aku tidak peduli jika kenyamananku berkurang. Aku sangat ingin pergi denganmu."
"Anak ini ...."
"Dia juga akan ikut. Sayangku, kita tak pernah boleh berpisah. Kau sudah berjanji, dan saat ini aku menuntutmu menepatinya. Seorang pangeran tidak
boleh melanggar janji kepada istrinya. Kita akan pergi bersama-sama menghadapi pertempuran ini. Aku tidak bisa lagi hidup sendirian. Tidak akan pernah. Pasti terasa seperti lima tahun penuh penantian."
"Kali ini tidak akan sama. Kau mengandung seorang anak, kau istriku. Kau memiliki keluargamu, dan posisi di negeri ini."
"Anak ini tidak dapat berbicara atau mencintaiku seperti dirimu. Dia hanya akan mengingatkanku bahwa kau pergi. Aku tidak ingin kembali ke keluargaku, dan apa bedanya posisiku di negeri ini jika hatiku terasa hampa dan pedih? Gelar 'Putri' tidak bisa membuatku nyaman. Panggilan itu terdengar dingin dan tidak ramah; itu membuatku berjarak dengan orang lain, dalam ketidakpercayaan."
"Kau begitu lugu," dia tertawa, sebagian karena kebanggaannya, sebagian karena kekhawatirannya. Aku mencoba melicinkan keriput di sudut matanya. "Kumohon, Kekasihku, tinggallah di sini. Ini akan menjadi peristiwa yang berbahaya dan sulit, dan pertempuran pasti akan berlangsung dengan keras. Mewar Rajput telah melawan kita sejak pertama kalinya leluhurku datang dari pegunungan dan menaklukkan negeri mereka. Bahkan Akbar sekalipun tidak bisa mengalahkan mereka. Dia bisa menaklukkan Chitor, tetapi tidak dapat menghancurkan mereka. Aku khawatir, mereka tidak akan terkalahkan."
Cahaya bulan jatuh di wajahnya. Wajahnya ge-
lap dan berkilau keperakan, matanya sayu dan kelam. Janggutnya tampak aneh karena berwarna pucat, tiba-tiba membuatnya tampak lebih tua. Aku tidak bisa menahan keraguannya. Aku meraih wajahnya dan mengecupnya, kemudian menatap matanya.
"Kau tidak boleh mengatakan hal itu. Kau adalah Shah Jahan, sang Penakluk Dunia. Aku tahu, kaulah satu-satunya yang akan mengalahkan Mewar Rajput. Aku bisa merasakannya." Meskipun dia tersenyum dengan lembut, keraguan masih tampak di matanya. Aku belum pernah melihat ketidakpastian seperti ini pada suamiku ini sebelumnya. "Apa yang kau pikirkan ketika Mehrunissa memilihmu untuk memimpin bala tentara?"
"Aku adalah putra mahkota. Ayahku tidak lagi ingin melakukan pertempuran."
"Tidak. Jahangir hanya melakukan apa yang Mehrunissa perintahkan. Dia berperan sebagai sultan di diwan-i-khas, tetapi Mehrunissa-lah yang menguasai Muhr Uzak. Aku pernah melihatnya sekali di mejanya."
"Aku mendengar bahwa segel kesultanan saat ini tersimpan di harem, tapi kupikir itu rumor belaka."
"Memang benda itu ada di sana. Aku benar-benar mengenal bibiku. Dia hanya tampak menerima kekalahan setelah pernikahan kita; tetapi ada satu pertempuran dalam hidupnya. Pertempuran itu terus berlangsung, Kekasihku. Dia memilihmu untuk memimpin   pasukan   Mughal,    di   atas   Jenderal
Mahabat Khan, untuk mengetesmu. Dia berpikir jika kau akan kalah dalam peperangan ini. Dia tahu bahwa kau akan kalah. Jika Akbar tidak dapat mengalahkan Mewar Rajput, bagaimana bisa Shah Jahan, seorang pria muda dengan sedikit pengalaman berperang, bisa menaklukkannya?"
"Aku tidak akan kalah," dia berkata dengan tajam, merasa yakin bisa mengalahkan tantangan itu. Perasaannya bisa berubah begitu cepat, sebagaimana ayahnya.
"Kau tidak boleh kalah. Demi kelangsungan kita." Aku menyentuh perutku. "Demi anak kita. Jika kau kalah, kekuasaan Mehrunissa akan semakin besar. Bahkan jika kau menang, dia tidak akan kehilangan banyak. Dia pasti akan berkoar-koar membanggakan pilihannya akan pemimpin pasukan, tetapi dia akan mengawasimu lebih hati-hati lagi.
Kami berbaring sambil terdiam dan aku menunggu keputusannya. Aku merasa melayang, terselubung cahaya tebal. Aku mencoba mengusik pikirannya, bukan hatinya. Sebagai putra mahkota kesultanan besar, dia bisa bertahan dari kesepian dalam hatinya, tetapi tidak mampu bertahan dari hilangnya ambisi. Yang pertama adalah kesedihan; yang kedua adalah bahaya. Dia membutuhkan seorang teman, bukan kekasih. Akbar memiliki Jenderal Bairam Khan untuk menuntunnya. Hanya aku yang benar-benar peduli terhadap Shah Jahan. Jika dia tidak ingin berhasil, aku akan terus bersikeras. Jika dia ingin sukses, akulah satu-satunya orang  di dunia  ini yang bisa  dia
percayai
Shah Jahan
Negara Mewar terletak sekitar enam ratus kos di bagian barat Agra, setelah Jaipur. Tanah Rajput begitu keras dan mematikan, gurun pasir, semak belukar, dan lantana, yang tidak berguna bagi siapa pun. Di mana-mana, kami merasa diri kami diawasi oleh benteng-benteng granit mengancam yang tersebar di bukit-bukit batu dan tanah keras. Siapa yang bisa mengetahui perlawanan mereka seperti apa? Kerajaan kecil mereka mungkin tidak lebih daripada sebuah lapangan atau kumpulan beberapa bukit dan gurun. Orang-orang Rajput adalah satu-satunya pasukan militer Hindu yang terus-menerus melawan Mughal Agung. Banyak yang telah ditaklukkan, melalui praktik-praktik perdamaian dan pernikahan, kembali menjadi teman dan sekutu, tetapi ada segelintir yang masih membangkang.
Para rana Mewar telah melawan kami selama seratus tahun. Hampir lima puluh tahun yang lalu, Akbar telah mengepung benteng besi rana, yang dibangun tinggi di atas gunung batu. Sisi-sisinya begitu licin bagaikan es dan Akbar membutuhkan waktu setahun, bahkan dengan menggunakan sabat, untuk mengambil alih benteng tersebut. Rana sendiri telah meninggalkan benteng itu sebelum pertempuran dimulai, mundur lebih dalam menuju kerajaannya yang sulit dicapai. Akbar mengetahui hal ini, tetapi orang-orang Rajput yang
masih tersisa terus melakukan perlawanan sengit, dengan kegilaan yang tidak bisa dia mengerti. Dia telah mengalami banyak sekali kehilangan dalam pertempuran itu, dan murka, karena untuk pertama dan terakhir kalinya dalam kekuasaannya, dia telah memerintahkan pembantaian semua pihak musuh di benteng tersebut. Para perempuan Rajput, tentu saja, melakukan jauhar sebelum pemimpin mereka ditangkap. Upacara pembakaran jenazah mereka adalah simbol kekalahan.
Beberapa orang Rajput berbaris di pihak kami, Jaipur di sebelah kiri dan Malwar di sebelah kanan. Para pangeran yang lebih rendah tingkatnya, yang memimpin pasukan berkuda mereka, mengikuti di belakang, tersembunyi oleh debu. Saat mereka tidak berperang bersama kami, atau melawan kami, mereka terus-menerus saling berperang. Perselisihan mereka secara turun-temurun mengeringkan darah dan persatuan mereka, tetapi berguna untuk mendukung pertempuran ini dan mengalihkan perhatian mereka untuk bersatu melawan Mughal.
Aku menoleh ke belakang. Aku memimpin seratus lima puluh ribu manusia dan hewan menuju pertempuran. Tujuh puluh lima ribu menunggang kuda dan gajah mereka-orang-orang Rajput, Jat, Mughal, dan Dogra. Siphais dan banduq-chis sama-sama berimbang. Empat puluh meriam ditarik oleh gajah menyusuri tanah yang sulit dilalui ini. Selain pasukanku sendiri, ribuan manusia ikut untuk memberi makan dan merawat bala tentara. Lima
puluh ribu kereta bermuatan gandum mengiringi pasukan, selain sapi, kambing, dan ayam dalam jumlah yang tak terhitung. Jika bekal makanan menipis, kami akan membeli persediaan dari para penduduk, tetapi kami tidak akan merampok. Kami bukan lagi penakluk, tetapi penguasa, dan tidak boleh menyulitkan rakyat jelata. Keributan gerakan pasukan kami tidak pernah berhenti; derit pinggul gajah-gajah, lecutan kekang dan talinya, kereta-kereta yang berkeretak, roda-roda yang berdecit, lecutan cambuk-cambuk, irama dundhubi yang ditabuh, terompet yang ditiup, dan perintah tajam para komandan kepada anggota pasukan mereka.
Di depanku, lima gajah yang membawa simbol-simbol Mughal berjalan. Seperti biasa, aku menunggangi Bairam. Aku menamai gajahku seperti nama Jenderal Akbar. Gajah ini bijaksana, berani dan tidak takut apa pun, gading-gadingnya dilapisi besi. Di satu sisi, seorang petugas istal menuntun kudaku, Shaitan. Di belakangku, Arjumand berada di dalam rath. Masih cukup ruang untuk empat orang yang tidur di situ, tetapi hanya seorang pelayannya, Satiumnissa Khananam, yang ikut bersamanya. Di samping keretanya, sang hakim Wazir Khan menunggang kudanya. Dia tampak tidak nyaman dan kelelahan, tidak biasa melakukan perjalanan jauh, dan sudah pasti lebih memilih mendampingi Arjumand di istana yang mewah. Tetapi, Arjumand tidak dapat dibujuk. Aku bangga dengan kesetiaan dan keberaniannya; perempuan
lain pasti akan tinggal di belakang, melambai dari balkon, sebelum kembali dengan penuh rasa syukur ke dalam kesejukan istana yang nyaman dan ditemani para perempuan. Di sampingnya, aku hanya boleh merasakan keberanian dan keberuntungan. Isa mengatur agar Arjumand tetap merasakan sedikit kenyamanan, setiap hari berpacu dengan kudanya mendahului kami untuk memastikan bahwa tempat tinggal kami pada malam hari sejuk, bersih, dan nyaman, serta menyiapkan air mandi dan makanan. Dia akan kembali-tugas yang melelahkan di dalam hawa panas seperti ini-untuk memastikan Arjumand baik-baik saja. Dia sama khawatirnya denganku.
Sudah dua puluh hari kami keluar dari Agra-pasukan bergerak dengan kecepatan langkah Bairam, yang tidak pernah bisa berjalan cepat-saat aku menerima laporan bahwa rana Mewar, karena mendengar kedatangan kami, telah mundur ke benteng dalam kotanya di Udaipur. Aku telah memperkirakan hal ini. Dia tidak akan bisa melawanku dengan pasukannya, hanya bisa dengan strategi.
Malam itu, aku berunding dengan para komandan hazari. Mereka menyarankan untuk melakukan pertempuran yang panjang dan lama. Itulah satu-satunya nasihat yang bisa kuterima dari mereka. Aku duduk sendirian saat mereka pergi, terbungkus selimut, merasa muram. Malam ini sangat dingin. Isa menyelinap masuk perlahan. Wajahnya tampak tirus dan pucat. Pemandangan ini
membuatku takut. "Ada apa, Isa?"
"Yang Mulia Permaisuri ... dia mulai mengalami pendarahan."[]
14
Kelaparan mencengkeram negeri ini. Musim hujan belum juga tiba, bahkan sungai-sungai yang bermuara di gunung-gunung bersalju saat ini hanya berupa selokan-selokan kecil. Bumi berdebu dan keras, permukaan tanah retak dan kering. Di ghat-ghat, api berkobar setiap siang dan malam, diiringi musik misterius yang ditiup dari cangkang kerang, mengantar semakin banyak orang ke pembakaran jenazah. Manusia memakan apa pun yang bisa mereka makan-anjing, akar, kulit kayu, karena saat ini pasar tidak menjual makanan-dan saat tidak ada yang bisa dimakan, mereka akan tergeletak tak berdaya hingga maut menjemput. Jalan utama negeri ini dipenuhi mayat: para lelaki, perempuan, anak-anak, sapi, kambing, kuda; mayat-mayat yang tidak dibakar akan dimakan oleh serigala, anjing, dan burung nazar. Pepohonan, rerumputan, dan bunga-bunga layu kemudian mati, dan bentangan tanah ini menjadi berwarna seragam, cokelat kusam, semburat kematian. Langit
Taj Mahal
1049/1639 Masehi
juga berubah warna menjadi cokelat kusam.
Makam itu berdiri tanpa dipedulikan, hanya setinggi beberapa meter, marmernya kusam karena debu. Di belakangnya, sungai hanya mengalir kecil, berupa arus air yang beraroma busuk. Tepi-tepi sungai terpapar sinar matahari yang terik, bagaikan perut reptil-reptil yang telanjang.
Sita duduk di lantai gubuk mereka, terlindung dari terik matahari, tetapi tidak dari hawa panas. Tidak ada yang bisa menghindari hal itu. Hawa panas terkungkung di dalam empat dinding rendah, pengap, tidak bergerak, seakan-akan menunggu untuk menerkam penghuninya. Saat ini Sita terlihat lebih kurus, dan tulang-tulangnya tampak menonjol di bawah cahaya redup. Anak-anaknya berbaring di sebelahnya, mendengus-dengus dan menangis, tetapi dia tidak mampu membuat mereka nyaman. Mereka tidak butuh kasih sayang, hanya butuh makanan.
Murthi berjongkok di luar, lututnya menonjol di depannya bagaikan tongkat patah yang muncul dari tanah keras. Dia berkedip, mengamati awan debu gelap yang mendekat, bertanya-tanya apa yang bergerak di luar jangkauan penglihatannya. Orang-orang yang berada di dekatnya juga sama-sama menatap cakrawala yang semakin gelap.
"Padishah telah kembali," Murthi berbisik. Suaranya lemah, dan keinginannya untuk memanggil Sita ikut meredup.
"Ya," sahut tetangganya dengan pahit. "Apa gunanya untuk kita? Dia tidak melihat orang-orang
mati kelaparan; dia hanya memedulikan makam itu."
"Ah, aku mendengar bahwa orang-orang di Lahore mendekatinya dan dia membuka lumbung di sana. Kita harus mendekatinya saat dia menunjukkan diri di jharoka-i-darshan besok."
"Apakah kau ingin mati?"
"Apa bedanya jika ada seseorang yang mati? Saat ini aku kelaparan. Jika aku dihukum karena meminta diberi makan, itu lebih baik. Apakah kalian akan ikut bersamaku?"
Tetangganya, seorang Panjabi, menggaruk wajah kurusnya dengan hati-hati, seolah-olah berusaha meyakinkan diri bahwa dagingnya masih melekat di sana. Dia menoleh ke belakang, memandang rumahnya. Salah seorang anaknya meninggal, seorang lagi sekarat, dan istrinya berbaring tak bergerak.
"Kita harus mengumpulkan yang lain. Kerumunan besar berkumpul di Lahore, aku mendengar."
"Pasti akan ada orang lain."
"Kalau begitu, kau harus memimpin kita. Kau bisa mengajukan petisi kepada Padishah."
Murthi setuju. Keberaniannya melonjak atas permintaan itu, dia dilindungi. Tetapi oleh siapa? Dia masih tidak mengetahuinya, tetapi di dalam benteng raksasa di seberang sungai, sebuah tangan melindunginya. Dia sudah bertanya-tanya, tetapi tidak ada yang memberi jawaban: "Siapa yang memedulikan aku? Siapa yang memedulikan kami?" Para petugas rendahan istana hanya mengangkat bahu dan berbalik. Saat Sita terjatuh di hadapan si
petugas, dia dibopong ke rumahnya, hampir sekarat. Tanpa perlu Murthi panggil, seorang hakim muncul. Pria itu mengenakan sutra dan perhiasan yang menggambarkan betapa penting kedudukannya. Dia adalah dokter pribadi Sultan, dan dia sedang menangani Sita, menuliskan resep obat, dan memastikan obat itu datang. Murthi, yang tenggelam dalam kebingungannya, telah mencoba bertanya: "Siapa yang mengirim Anda?" Tetapi, hakim itu tidak menjawab. Murthi mengetahui bahwa sang hakim berbohong, akhirnya Murthi hanya melakukan namaste sebagai ucapan rasa terima kasih.
Beberapa hari kemudian, hakim kembali lagi untuk memeriksa keadaan Sita. Warna kulit dan kekuatan Sita telah pulih. Lalu, datanglah makanan, dikirim dari dapur istana: ikan, telur, susu, sayuran, semua berlimpah. Murthi tidak lagi bertanya siapa identitas sang dermawan. Dia malah bertanya kepada hakim sambil menunjuk makam yang menjulang:
"Bahadur, apakah Anda mengenal Permaisuri?"
"Ya," jawab sang hakim dengan lembut, dan dia menatap makam itu dalam waktu yang cukup lama.
"Seperti apa dia?"
"Perempuan pemberani," jawab sang hakim. "Terlalu berani, jika itu dianggap sebagai suatu kegagalan."
Tampak jelas bahwa sang hakim tidak ingin mendiskusikan tentang Permaisuri lebih jauh, tetapi jawabannya membuat Murthi puas. Akhirnya, seseorang yang mengenal sang Permaisuri telah
berbicara dengan penuh rasa hormat. Keberanian adalah sesuatu yang Murthi hubungkan dengan tokoh-tokoh mitologi-Bima, Arjuna-bukan manusia biasa.
Cakrawala membelah bulatan matahari yang berwarna oranye kemerahan saat Shah Jahan melangkah keluar bargah. Isa menunggu, para wazir, prajurit, dan punggawa menunggu. Shah Jahan berjalan menyusuri lantai marmer dan dundhubi ditabuh menandakan kedatangannya ke jharoka-i-darshan. Kecuali Isa, para pengikutnya berdiri agak jauh, menunggu dengan penuh penghormatan di luar pagar emas. Shah Jahan duduk di atas bantal, menatap ke arah cakrawala yang pucat, kemudian ke arah makam yang belum selesai, lalu akhirnya menatap orang-orang di bawahnya. Orang-orang berkumpul di seberang maidan hingga ke sungai. Wajah-wajah mereka mendongak, seperti titik-titik gelap di atas pakaian putih. Rantai emas keadilan telah diturunkan tanpa perintahnya. Rantai itu dibiarkan sesaat, kemudian bel berdering.
"Mengapa mereka tidak bekerja?"
"Mereka kelaparan," jawab Isa dengan cepat.
Shah Jahan menyadari nada suara Isa, tetapi tidak berkata apa-apa. Dalam cahaya fajar yang seperti limau, dia memerhatikan profil Isa. Sudah berapa tahun mereka telah saling mengenal? Dia sulit  mengingat  awal   perkenalan  mereka,   Pasar
Malam Bangsawan Meena dan chokra yang berjongkok di samping Arjumand. Saat ini, sulit untuk melihat refleksi anak lelaki itu pada diri Isa. Hidup mereka telah terikat begitu lama sehingga dia tidak pernah benar-benar memerhatikan Isa. Dia hanya mengetahui sedikit tentang lelaki ini. Isa melayaninya dengan akrab, tetapi tidak pernah melangkahi batas kedekatan. Dia tidak pernah membicarakan Arjumand; sepertinya nama Arjumand telah terlupakan. Dia biasa memanggilnya Agachi. Itu tidak pernah berubah dalam pendengaran Shah Jahan. Shah Jahan mengucapkan kata itu tanpa suara: Agachi, Lady. Tetapi, dia tidak bisa mengucapkan intonasi yang sama, dan ... kasih sayang yang sama. Apakah Isa juga mencintai Arjumand? Mungkin saja. Dia ingin membicarakan Arjumand dengan Isa, menggali sesuatu yang belum diketahuinya. Setiap orang membuka sedikit rahasianya kepada seseorang, sedikit kepada orang lain, tetapi tidak ada yang pernah mengungkapkan seluruh rahasia dalam satu orang. Tetapi, Isa tetap dingin, jauh, resmi. Pada akhirnya, mereka-meskipun terikat oleh suatu kesamaan-bukan teman.
Sang wazir mengambil petisi dari rantai keadilan dan menatap ke arah Sultan. Apakah sang Padishah ingin membacanya, atau langsung mengirimkannya kepada para petugas untuk menangani masalah tersebut? Sang Sultan, tenggelam dalam pikirannya, tidak melihat sang wazir. Isa melangkah ke depan dan dengan kesal merebut kertas itu. Wazir itu pun
merasa kesal pada orang di hadapannya. Dia ingin memprotes, tetapi memutuskan untuk menahan lidahnya. Isa membuka gulungan kertas itu. Dia menjentikkan jari dan seorang prajurit mendekat sambil membawa lentera. Cahaya kuning menerangi petisi itu, wajah sang Sultan, yang tampak lelah dan lesu, seolah-olah memudar dari dunia.
Yang Mulia Tertinggi, Penghuni Surga, Wakil Penguasa Konstelasi, sang Mughal Agung, Raja Diraja, Bayangan Allah, Pedang Tuhan, Penakluk Dunia ....
Dengan tidak sabar, Isa membuka halaman itu. Sang wazir menggeleng dengan penuh penolakan, menunggu bentakan dan amarah. Sungguh suatu ketidaksopanan, sikap tidak hormat yang akan dihukum. Tetapi, sang Sultan tersenyum lebar, tampak mencemooh sang wazir, dan mengizinkan Isa membaca petisi itu. Wazir itu tidak bisa mengerti hubungan antara dua manusia tersebut. Dia merasa posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan Isa yang tidak memiliki gelar, tidak memiliki jagir-jagir yang luas, tidak memiliki kekayaan, tidak memiliki apa-apa. Sultan bisa saja menghancurkan kepercayaan miskinnya bagaikan meremas sebutir anggur, anehnya tangan itu selalu melindunginya. Mereka jarang saling berbicara langsung satu sama lain-sering kali Isa yang berbicara, pada waktu yang lain giliran Sultan-tetapi mereka tidak pernah terpisah satu sama lain. Isa melangkah ke dalam
bayangan Shah Jahan. Atau, apakah Shah Jahan yang agung yang melangkah ke dalam bayangan Isa? Ini membingungkan sang wazir.
... Sultan Shah Jahan. Kami, rakyat Paduka, dengan rendah hati mengajukan petisi kepada Paduka. Selama dua tahun hujan tidak turun. Sungai telah mengering, panen telah gagal, dan tidak ada makanan.
Kami tidak dapat hidup. Anak-anak kami tidak makan selama berhari-hari,
dan mereka tewas karena kelaparan. Kami mengupas kulit pohon dan makan akar, seperti anak-anak kami, dan kami menjadi lemah, kemudian mati.
Kami memohon keadilan Paduka, kemurahan hati Paduka nan tanpa batas: beri kami makanan.
Shah Jahan mengintip ke bawah. Orang-orang balas menatapnya sambil terdiam. Matahari telah terbit, melepaskan diri dari cakrawala, dan cahayanya menyinari wajah-wajah mereka yang mendongak, menerangi satu per satu dari mereka.
"Siapa pemimpin mereka?" tanya sang Sultan. Isa menatap ke bawah. "Namanya Murthi. Vang lain adalah pengikutnya."
"Siapa dia?" Ada bisikan kekhawatiran dalam nada suara Sultan.
"Dia yang memahat jali," jawab Isa.
"Bagaimana kau bisa mengetahui ini?"
"Aku tahu."
Sultan menunggu. Tetapi Isa tidak mengatakan apa-apa lagi. Shah Jahan tidak menyelidiki masalah itu, tetapi hanya mengingatnya diam-diam. Hal ini membuatnya tertarik, dan membuat wazir lebih tertarik.
"Seandainya Arjumand masih hidup, apa yang akan dia lakukan?" Bisikan Sultan hanya terdengar oleh telinga Isa.
"Dia akan memberi mereka makanan."
"Kalau begitu, beri mereka makanan. Bukalah lumbung-lumbung. Bukalah ruang penyimpanan harta, belilah makanan di mana pun bisa ditemukan. Jika ada orang-orang yang menimbun makanan, hukum mereka."
Shah Jahan bangkit dari singgasananya, mengulurkan tangan dalam sikap memberkati rakyatnya dengan samar. Mereka membungkuk serempak. Keheningan pecah dan dia mendengar gumaman mereka ketika kembali ke ruangannya. Isa masih terdiam selama beberapa saat, memerhatikan kerumunan besar itu perlahan-lahan bubar. Mereka tidak akan mengetahui keputusan Sultan, tetapi segera, keputusan itu akan diumumkan di pintu-pintu benteng. Dia menatap ke bawah, tidak mampu mengenali seraut wajah pun. Satu-satunya yang membuat dia sangat waspada hanyalah keingintahuan Sultan.
1050/1640 Masehi
Makam itu mulai terbangun, bongkah demi bongkah,
merayap naik memanjat langit. Sejajar dengan setiap dinding, berdirilah kerangka dari batu bata. Dua kelompok pekerja saling berpacu menyelesaikan pekerjaan mereka. Dengan kecepatan yang sama tingginya, setingkat dengan tinggi makam itu, sebuah parit batu besar berdiri. Bangunan itu tampak seperti ular berlumpur sepanjang hampir dua puluh kos, melingkari Mumtazabad. Lebarnya cukup untuk sebuah kereta, tetapi di sana-sini, jalan diperlebar agar dua buah kereta bisa berpapasan tanpa bertabrakan. Gajah-gajah dan kerbau-kerbau menarik bongkah-bongkah marmer dan kereta bermuatan bata, naik dalam barisan yang tidak terputus. Di bagian puncak, sekelompok orang mengikatkan tali di sekeliling bongkahan marmer yang baru, mengikat ujungnya ke sebuah katrol yang selalu berada beberapa meter di atas atap bangunan. Mahout memerintah gajahnya bergerak maju, mengangkat bongkah itu hingga ke posisi yang tepat, kemudian dengan perlahan menurunkannya ke bongkahan batu di bawahnya. Setiap bongkah dipasang dengan rapat dan kukuh, dan batu-batu itu tampak mendesah bagaikan menerima posisi sesuai takdir mereka.
Dengan hati-hati, Murthi menyikat debu-debu marmer dengan tangannya yang lecet dan kapalan. Tiga tahun sudah berlalu semenjak dia memulai, dan sepuluh sentimeter persegi bagian jali sudah tampak jelas. Sepertinya batu ini hanyalah sebuah kain kafan yang menyelubungi rancangan, yang hanya perlu ditarik untuk memperlihatkan pola-pola rumit
di dalamnya.
Murthi meregangkan tangannya, yang kaku karena memegang pahat. Setiap hari, dia mulai bekerja saat fajar dan selesai saat senja, dengan istirahat singkat pada tengah hari untuk makan siang dan minum secangkir chai yang dijajakan oleh seorang pedagang. Gopi berjongkok di dekat api. Setiap kali ayahnya meletakkan sebuah pahat, dia akan meletakkannya di atas batu bara hingga warnanya menjadi kelabu seperti tembaga, kemudian akan menjatuhkannya ke tanah agar mendingin. Gopi juga telah mewarisi kesabaran dan konsentrasi tinggi seperti ayahnya. Dia mengamati ayahnya memahat pola dari batu, setiap serpihan demi serpihan kecil. Gopi belajar dari memerhatikan; manusia juga belajar dari mempraktikkan. Dia tidak pernah ragu bahwa dia memiliki bakat untuk mewarisi keahlian sang ayah. Apa lagi yang bisa terjadi? Leluhurnya telah mempraktikkan keahlian memahat; keterampilan ini sudah mengalir dalam darahnya, dan dia tidak pernah bermimpi untuk melakukan hal lain. Hidupnya didedikasikan bagi suatu kedisiplinan memahat batu. Saat tiba saatnya, dia akan memahat sebuah bongkah marmer sisa. Dia telah menggambar seekor harimau kecil di sisinya yang paling halus dan dengan sabar mulai membentuk binatang itu. Jika dia menyelesaikannya dengan puas, dia akan menjualnya di pasar seharga satu rupee.
Murthi menghirup seisap asap dari beedi dan mengembuskannya   lagi.    Dia   meraih   pahatnya,
kemudian mulai memukul dengan perlahan dan monoton. Hanya telinga yang paling tajam yang bisa membedakan variasi samar suara pahatannya. Lebih keras, lebih perlahan, lebih lembut, lebih keras. Hal ini dia lakukan secara otomatis, hampir tidak dia sadari. Kadang-kadang, saat pekerjaannya lancar, Murthi mengizinkan pikirannya mengembara. Dia mengenang ayahnya, desanya; memikirkan sang Raja yang telah mengasingkan dia ke kota yang jauh ini. Dia berharap sang Raja yang baru sakit keras segera meninggal. Kemudian, pikirannya kembali ke saudara lelakinya yang tertua, bagaimana dia menghilang secara misterius, bagaikan dicabut dari muka bumi. Dia mengingat sifatnya yang ceria, sikapnya yang pemberani dan senang bertualang. Abangnya tidak pernah ingin mengikuti profesi turun-temurun keluarganya, tetapi sudah pasti, jika dia hidup hingga dewasa, dia pasti akan melakukannya. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Murthi sangat akrab dengan abangnya. Mereka telah berteman, sebelum mengenal permusuhan, penghinaan, dan rasa iri. Dia masih merindukannya, tetapi setelah bertahun-tahun, kenangan itu semakin memudar.
Murthi melihat sepasang sandal berhias dari sudut matanya. Batu mulia itu tampak seperti mutiara, dan sulamannya dari benang emas. Dia langsung mendongak. Seorang lelaki tinggi yang berpakaian indah berdiri di sana. Murthi tidak bisa membaca ekspresinya; wajah lelaki itu memancarkan suatu kemenangan.
"Kau Murthi, orang yang menandatangani petisi?"
"Ya, Bahadur," Murthi menjawab dengan sopan, karena mungkin saja pria ini adalah seorang petugas resmi.
Murthi telah waspada terhadap masalah setelah menuliskan namanya dalam petisi. Yang membuatnya sangat terkejut, petisinya dikabulkan. Lumbung-lumbung dibuka, makanan didistribusikan ke semua orang untuk menolong mereka. Saat ini, dia merasa gugup; insting memperingatkannya agar waspada terhadap lelaki ini.
"Ikutlah denganku."
"Mengapa? Ke mana?"
"Kau berani bertanya-tanya kepadaku?" lelaki itu bertanya dengan kasar. "Aku adalah wazir sang Sultan. Ayo."
Pada saat matahari terbenam, dinding-dinding marmer diwan-i-khas berubah warna menjadi emas pucat. Bahkan batu-batu mulia yang ditempelkan ke hiasan bunga-bunga memantulkan cahaya lain. Topaz tampak seperti berlian, giok tampak bagaikan zamrud. Tidak ada yang menampilkan wajah asli sejak awal hingga akhir-dalam pengamatan Shah Jahan, semua berubah tanpa dikehendaki, dengan cepat, dan tanpa diperkirakan sebelumnya.
Dia bersandar ke dipan, mendengarkan musik, tidak bisa melihat para perempuan dengan jelas, yang lemah lembut, harum, menari di hadapannya; yang lain berlutut di sampingnya, mengelus-elus
dahinya, memijatnya. Di sisi yang lain duduklah anak lelakinya, Dara. Shah Jahan menatapnya dengan kasih sayang, dan meletakkan lengannya di atas bahu sang pria muda. Mereka menghabiskan banyak malam bersama; sang anak selalu membuat Shah Jahan merasa nyaman. Dara memiliki wajah tampan, siaga, cerdas, dan matanya mirip mata Arjumand.
"Kau ingin aku melakukan apa?"
"Tidak ada, Ayah. Biarkan mereka hidup dalam kedamaian. Itu adalah kebiasaan mereka dalam pemujaan dan tidak ada kuil di sini sebagai tempat peribadatan mereka. Mereka telah membangun kuil ini secara diam-diam. Hal ini tidak menyakiti siapa pun."
"Mereka seharusnya mengirimkan petisi kepadaku."
"Ayah mungkin bisa menolak seperti keinginan para mullah. Mereka akan meminta agar kau menghancurkannya hingga rata dengan tanah."
"Mereka masih bersikap begitu. Mereka bersikeras," Shah Jahan mendesah dengan kesal. Para mullah terus-menerus menjadi duri di sisinya; dia tidak mendapatkan kedamaian dari para pemuka agama itu.
"Bagaimana orang-orang yang mengaku mencintai Tuhan bisa memiliki pandangan sempit tentang-Nya?" Dara bertanya. "Aku tidak pernah bisa mengerti hal itu. Para pendeta Brahmin juga sama saja. Mereka terlalu fanatik terhadap keyakinan mereka, dan tidak mungkin mendiskusikan
masalah ini dengan mereka, atau dengan orang-orang Jesuit. Kita harus meneladani sikap Akbar: toleransi. Akbar percaya bahwa itu adalah batu fondasi kesultanan. Jika kita merusak kuil mereka, orang-orang Hindu akan memberontak. Mereka adalah penduduk negara kita dan harus merasa bisa hidup dan beribadah dalam kedamaian di kesultanan ini."
Shah Jahan mencubit pipi anaknya. "Kau mirip Akbar. Kau juga akan semulia dia."
"Sudah cukup bagiku untuk menerapkan aturannya yang adil. Dia menulis bahwa keadilan harus sama bagi semua orang, bagi orang Muslim, Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan Kristen."
"Ya, ya. Aku juga setuju. Tetapi, seorang Penakluk Dunia sekalipun bisa merasakan napas panas para mullah di lehernya."
Shah Jahan mengetahui bahwa semua kekuasaan terbatas, termasuk kekuasaan yang dia miliki. Kekuasaannya akan berakhir di luar jangkauan perkiraannya, saat tangan Sultan merasa ragu-ragu dan berpikir untuk mundur. Dia bisa saja menyetujui antusiasme religius para mullahnya, tetapi hanya sebentar. Saat mereka terlalu menuntut, dia akan mempererat kendalinya dengan segera untuk mengubah tujuan mereka, untuk meraih dukungan keyakinan mereka bahwa dia adalah Pedang Tuhan. Dia tidak terbiasa bersikap tidak adil. Shah Jahan menatap Dara. Jika saatnya tiba, apakah dia mampu mengendalikan para mullah? Atau, akankah dia melawan mereka dengan toleransi yang dia
tetapkan bagi semua agama? Akbar dulu kuat, kelemahannya hanyalah dia tidak bisa marah. Apakah Dara seperti Akbar juga? Dalam kasih sayangnya, Shah Jahan meyakini jika memang begitu. Dara juga mewarisi keberanian Arjumand. "Aku akan mengizinkan kuil itu berdiri."
Dara tertawa puas karena keputusan ayahnya. Dia mengetahui bahwa itu adalah tindakan yang benar. Mughal Muslim memang berkuasa, tetapi tanah ini adalah milik orang Hindu dan mereka harus diberi kebebasan untuk beribadah.
Sang wazir masuk, membungkuk, dan berkata: "Yang Mulia Pangeran Aurangzeb ingin bertemu, Paduka."
Setelah ayahnya memerintahkan, Aurangzeb masuk. Dia berdiri sesaat di pintu masuk dan membiarkan pandangannya menyapu ruangan. Sinar matahari telah menggelapkan kulitnya, perang telah membuatnya semakin keras. Dia tampak lebih langsing, lebih tegak, lebih berwibawa. Matanya menatap sang abang dengan lama, dan meskipun bola hitam matanya tidak memancarkan apa-apa, bibirnya berkerut sedikit, melambangkan cemoohan sesaat, kemudian berubah menjadi rasa cemburu yang pahit. Aurangzeb membungkuk, dan masih berdiri. Dia tidak diberi izin untuk duduk, dan mengetahui bahwa pertemuan dengan ayahnya akan berlangsung singkat. Memang selalu begitu, seolah-olah ayahnya hanya perlu berbicara sedikit kepadanya, hanya untuk memberinya perintah.
"Shabash1."   ayahnya   bertepuk   tangan,   "kau
berhasil seperti diriku dulu.  Kau telah membuat takut tikus-tikus Deccan itu hingga menyerah. Tapi, apakah mereka akan tetap merasa takut?" "Ya, mereka akan begitu."
"Mengapa kau begitu percaya diri? Kami semua telah berusaha, tetapi saat kami membalikkan punggung, mereka kembali mengangkat pedang mereka."
"Karena aku Aurangzeb," jawabannya mengejutkan, tetapi tidak ada tanda-tanda dia membanggakan diri. Dia balas menatap sang ayah dan tampaknya tumbuh semakin tinggi. "Mereka tahu aku tidak akan bersikap baik atau pemurah. Mereka tahu, aku tidak akan memberi belas kasihan."
Shah Jahan memerhatikan anak lelakinya yang ketiga ini. Wajahnya tampak seperti rajawali, matanya tajam dan berkilat, dan selalu mengawasi, hidungnya bengkok seperti paruh, dan keseluruhan sikapnya seperti menantang. Shah Jahan merasakan sikap permusuhan yang ditahan-tahan. Akhirnya, setelah mencapai keputusan, dia mengangguk.
"Kalau begitu, mereka harus diawasi terus-menerus?"
"Ya. Dan diperintah dengan keras, jika tidak mereka akan kembali melakukan siasat lama."
"Bagus," Shah Jahan merasa puas. "Kalau begitu, aku akan mengangkatmu sebagai Subadar Deccan."
Aurangzeb berkedip karena terkejut. Dia menatap abangnya, yang tidak mengatakan apa-apa, tetapi hanya tersenyum. Aurangzeb tidak bergerak.
Tugas-tugasnya, yang sebenarnya merupakan kewajiban seorang putra mahkota, akan membuatnya tetap jauh dari Agra, jauh dari istana, jauh dari kekuasaan. Tetapi, jarak bisa dipersingkat dengan pelbagai cara.
"Sebagaimana yang Sultan inginkan."
"Bagus," Shah Jahan berdiri dan merangkul Aurangzeb. Tindakannya itu tidak mencerminkan kasih sayang, hanya formalitas, simbol suatu hubungan.
"Ayo, lihatlah. Apa pendapatmu akan hal itu." Dia melambai ke langit terbuka di luar lengkungan marmer; sebuah makam berdiri di bawah cahaya yang memudar.
"Aku telah melihatnya," Aurangzeb menjawab singkat. Dia berpikir bahwa makam itu terlalu berlebihan, terlalu mewah, tetapi diam saja.
"Bagiku sendiri, aku merencanakan makam lain. Di sana!" Shah Jahan menunjuk ke tepi sungai di seberang Taj Mahal. "Bangunan itu akan memiliki detail yang sama persis, kecuali, makamku akan dibangun dengan marmer hitam. Sebuah jembatan perak akan menghubungkan keduanya."
"Aku akan memastikan makam itu dibangun," kata Dara.
Aurangzeb masih membisu. Dia membungkuk ke punggung ayahnya, kemudian dengan berani menatap tajam dan lama ke arah abangnya. Selubung itu sudah terbuka, menampakkan kebencian di baliknya.[]
Kisah Cinta
1023/1613 Masehi
Shah Jahan
Mereka menunggu kami, menatap ke bawah; kami menunggu di bawah, menatap ke atas. Sebulan penuh sudah berlalu sejak kami melakukan penyerangan ke kota ini. Kami mengepung dinding-dinding tinggi Udaipur yang menjulang di tebing-tebing curam. Dinding-dinding ini licin di semua sisinya; sebuah jalan berkelok-kelok menuntun kami ke pintu gerbang kayu yang berat. Aku belum sepenuhnya mengerti seperti apa wajah-wajah pertempuran; sudah pasti mereka mengolok-olokku. Di sana-sini jezail ditembakkan, seorang prajurit roboh. Meriam menyemburkan api, tetapi tembakan-tembakan lemah memantul di dinding-dinding; pasukan yang bertahan bersorak gembira. Pasukanku duduk atau berbaring di bawah bayangan apa pun yang bisa mereka temukan, merasa gembira karena masih hidup dan aman.
"Lakukan apa yang Akbar lakukan," komandan pasukanku menyarankan. "Bangunlah sebuah sabat."
"Aku bukan Akbar, aku Shah Jahan. Pembangunan sabat akan makan waktu setahun, dan pasti banyak nyawa pasukanku yang melayang, seperti juga nyawa pasukan Akbar."
Sabat adalah sebuah terowongan panjang berkelok-kelok mirip seekor ular kobra, dari permukaan tanah hingga mencapai pertempuran di benteng. Terbuat dari kayu dan batu bata, serta direkatkan oleh lumpur, sabat cukup lebar untuk sepuluh penunggang kuda dalam satu banjar, terlindung dan tersembunyi dari atas oleh akar pohon. Di dinding-dindingnya ada celah-celah yang bagian dalamnya lebih lebar daripada bagian luar, sehingga jezail-jezail dapat ditembakkan ke arah pasukan bertahan. Ini adalah sebuah benteng yang hidup dan bergerak. Para manusia yang membangunnya akan bekerja tanpa perlindungan dan sudah pasti akan tewas. Selama setahun penuh Akbar kehilangan dua puluh orang dalam satu hari ketika mereka membangun sabat. Kehilangan besar itu membuatnya marah.
"Kalau begitu, gali saja."
"Permukaannya terlalu kuat, dan terlalu curam."
Mereka kembali ke shamiyana mereka, sambil menunduk dan kecewa. Aku mendengar bisikan mereka: Shah Jahan tidak bisa memerintah. Aku juga mendengar bisikan Mehrunissa yang menggema dari Agra, menjelajah melewati daerah-daerah, seperti tentakel yang perlahan-lahan akan membelitku: Shah Jahan akan gagal.
Aku mengelilingi dan terus mengelilingi kota yang
terlindung tembok itu-aku sendiri tak tahu, berapa kali. Setiap hari, aku berharap untuk bisa melihat suatu kerapuhan, suatu kelemahan yang bisa kucari dan kudobrak. Dinding-dinding itu masih tidak berubah; tebing curam itu tidak bisa menjadi arena peperangan bagi pasukan penyerang. Orang-orang Rajput memiliki persediaan air dan makanan untuk setahun, dan cukup banyak prajurit tangguh untuk mempertahankan kota lebih lama daripada waktu tersebut. Serangan langsung melalui jalan curam akan berarti hilangnya nyawa dalam jumlah tak terhingga, atau lebih buruk lagi, kekalahan. Aku mendengar musik samar-samar, dan melihat kostum-kostum merah, kuning, dan biru milik para perempuan Rajputana ketika mereka melihat sampai mana pasukanku bisa maju. Warna-warna itu bergetar dalam sinar matahari, kecemerlangan mereka menyilaukan, kontras dengan warna cokelat kusam tanah ini. "Akbar, tuntun aku; berikan aku pertempuran secara langsung dan aku akan meraih kemenangan. Aku tidak bisa menaklukkan batu-batu ini."
Arjumand
Kekasihku kembali setiap senja dengan sangat muram. Saat aku mencurahkan cinta kepadanya, dia tampak tidak menyadari. Aku menghiburnya, dia hampir tidak memedulikan. Dia melangkah cepat, gelisah, murung, matanya segelap dan sebahaya malam. Tidak ada yang bisa mendekati sang Pangeran kecuali aku.
Perkemahan kami terletak tiga kos dari benteng. Tendaku didirikan di tepi danau. Di sekeliling kami terdapat reruntuhan istana yang sudah tidak dihuni, dinding-dindingnya runtuh dan patah bagaikan gigi nenek sihir. Pada malam hari, saat aku berbaring dalam pelukannya, kami mendengar babi liar, nilgai, dan harimau yang datang untuk minum, siaga, dan waspada. Lalu, jauh di bukit-bukit gelap berhutan yang mengelilingi perkemahan, kami bisa mendengar nyanyian peringatan chital yang merdu, diikuti oleh celoteh kera-kera dan gonggongan sambar-sambar yang pendek dan kasar. Seekor harimau sedang diburu. Kami mendengar aumannya yang tertahan dari kejauhan-bahkan bumi pun bergetar karenanya-kemudian keheningan, dan kembalinya aktivitas di hutan yang seakan-akan berbisik, setelah bahaya lewat. Harimau itu sudah dibunuh. Pada saat fajar, dalam kabut yang bergulung-gulung dari air, kami melihat sambar-sambar berdiri di danau, menyantap dedaunan, dan sekumpulan nilgai yang minum air sebelum hari semakin panas. Sinar matahari yang baru terbit membuat danau itu terasa penuh kesyahduan.
Pemandangan dan suara-suara itu, gerakan alamiah yang teratur, memulihkan kondisiku. Mereka memberiku kenyamanan dan mengembalikan kekuatanku. Aku mengalami pendarahan selama berhari-hari, menangis dengan pedih, karena aku tahu bahwa darah itu bukan milikku, tetapi milik anakku  yang tak  berdosa.  Wajah  hakim begitu
muram; dia tidak bisa menghentikan nyawa yang melayang. Aku berkeringat, merasa panas, warna kulitku berubah menjadi seputih kapur, dan tubuhku terlalu berat untuk dibopong. Bala tentara berhenti dari kegiatan mereka, membisu dan sabar, dan aku merasa tangan kekasihku menggenggam tanganku, mengecup wajahku, membisikkan kata-kata cinta dan penghiburan.
Kematian sudah menorehkan garisnya di wajahku; itu tak akan pernah bisa dihapus. Aku merasa tua karena penderitaan ini. Sambil memalingkan wajah ke dinding rath, dengan kebas aku mendengarkan deritan roda kereta dan gemuruh bala tentara yang berpindah tempat. Apakah aku terlalu tua untuk mengandung seorang anak? Lima tahun yang tersia-sia, kering, dan kosong-aku begitu marah terhadap waktu yang tersia-sia itu, terhadap ketidaksempurnaanku, kegagalan untuk melahirkan seorang anak.
"Bayinya meninggal," Shah Jahan berbisik. "Kita akan segera mendapatkannya lagi." Dia menyeka air mata yang mengalir dalam kebisuanku, mengecup dan merasakannya. "Jika .."
"Tidak, jangan katakan itu. Bukan kau yang harus disalahkan. Aku yang menyuruhmu menepati janji. Bahkan pada waktu-waktu mendatang pun, semua tidak akan berbeda. Aku akan ikut bersamamu. Kita tidak akan pernah berpisah."
"Seharusnya aku mengetahui kalau kau keras kepala."
"Kalau tidak, bagaimana kita bisa menikah?"
Dia tertawa dan memelukku. Sebelumnya, aku membutuhkan hiburan dan kekuatan darinya; saat ini dia membutuhkan hal itu dariku, tetapi dia membisu, seperti aku sebelumnya.
"Aku mendengar bisikan-bisikan Mehrunissa," dia berkata, "dan mulai memercayainya."
"Mereka tidak akan dapat bertahan hidup di sana selamanya."
"Aku juga tidak dapat hidup di sini selamanya. Bahkan pasukanku sendiri pun mencemoohku. Aku melihat tatapan mereka saat aku melintas, aku mendengar gumaman mereka. Mereka tahu, aku sudah kalah."
"Belum, kau belum kalah." Sudah menjadi ritual kami sebelum tertidur, berbincang dalam bisikan sehingga tidak ada orang yang mendengar. Hal ini sedikit memberi kami kenyamanan. Keinginan kami sendiri tidak akan bisa menerobos benteng tinggi itu. "Apa yang mereka makan? Apa yang mereka minum?"
"Aku diberi tahu bahwa mereka memiliki cukup perbekalan untuk setahun. Waktu yang sangat lama."
"Hanya satu tahun, bukan selamanya. Suatu hari, mereka pasti akan keluar."
"Hanya jika kita pergi. Mehrunissa sudah semakin tidak sabar. Ada yang berkata padaku, 'Hanya satu benteng kecil, dan Shah Jahan tidak bisa menaklukkannya. Haruskah aku mengirim Jahangir? Haruskah aku mengirim Mahabat Khan?1 Jika mereka datang, aku yang akan terkalahkan."
"Apa yang akan terjadi," aku berbisik, "saat kau pergi, dan orang-orang Rajput muncul ke lapangan?" Dia mengerti.
Matanya menjadi bersinar dan melebar, kegelapannya menghilang. Dia membangunkan Isa dan memerintahkan para musisi untuk memainkan musik, para penyanyi untuk menyanyi, dan membawakan minuman anggur. Kami minum dan tertawa, masa lalu tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukai kami. Kami telah menyingkirkannya jauh-jauh. Tidak ada yang mengerti keceriaan kami; mereka tersenyum maklum, percaya bahwa kami hanya tertawa untuk menepis kesedihan. Saat para penari dan penyanyi sudah lelah, kami menyuruh mereka beristirahat dan kembali ke tenda. Ketika bercinta, hasrat kami sama bergeloranya dengan saat pertama.
Shah Jahan
Aku menghancurkan bumi.
Seperti Timur-i-leng, aku menumpas. Selama sebulan, aku merusak tanah, merusakkan ladang-ladang, sapi, babi, ayam, biri-biri, kambing, unta, dan manusia-jika mereka melawanku. Pasukanku bergerak: ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, merusak jantung-jantung tanah ini, meleburkan jiwa-jiwanya. Sumur-sumur diracun, danau-danau dipenuhi oleh bangkai binatang. Pada sore hari, bumi tertutup oleh awan debu dan asap yang menyelubungi sinar matahari senja, dan dari menara-menara kota, sang Rana bisa melihat kematian kerajaan mereka. Api membara, desa-desa
diratakan dengan bumi, rakyat jelata berdiri sendiri-sendiri, ketakutan, melihat para penunggang kudaku merusak panen mereka, saman mereka, impian mereka, kehidupan mereka. Hutan terbakar dan binatang-binatang beterbangan.
Aku mengetahui jika sang Rana melihat itu semua. Benteng itu menjadi sunyi, menjadi ketakutan, tembok-tembok tinggi itu bagaikan berkerut, melangkah mundur saat ada api lain berkobar, menelan rumah, keluarga, anak-anak, dan kehidupan. Bahkan para prajurit pun bercocok tanam di atas tanah, meminum air, menyantap makanan, mencintai anak dan istri mereka. Mereka tidak bisa bertahan hanya dengan ketabahan, tidak bisa menyantap keberanian. Saat ini, aku mengetahui kelemahan sang Rana. Jika tidak ada rakyat dan tanahnya yang tersisa, tidak ada yang bisa diperintah. Dia hanya akan menjadi seorang pangeran tanpa mahkota, tinggal di kota hampa di puncak bukit yang hening.
Selama tiga puluh hari, aku memamerkan kekuatanku kepada sang Rana. Setiap matahari terbit, sambil menunggangi Bairam, aku mengambil posisi di ujung jalan yang menuju gerbang kota; setiap sore aku meninggalkannya. Setengah pasukanku masih siaga untuk bertempur. Seluruh bala tentara tidak diperlukan untuk menghancurkan bumi ini. Dia tidak dapat keluar, tidak dapat memerintah pasukan berkudanya untuk membela negeri ini. Sebuah kota dalam benteng selalu bisa bertahan, tetapi tidak akan pernah bisa menyerang, dan lama-lama akan
menjadi sel bagi penghuninya. Aku menunggu. Aku membaca Quran, membaca memoar Babur, membaca puisi. Aku memerintahkan para musisi untuk bermain; mereka menghiburku dan mungkin orang-orang terkutuk di benteng sana juga menikmati alunan musik itu.
Suatu pagi, gerbang terbuka; seorang pembawa pesan mendekat, dikawal oleh selusin prajurit yang berjalan kaki. Mereka semua tidak bersenjata. Pasukanku yang tak terhitung jumlahnya terdiam, begitu hening sehingga aku bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat di atas tanah kering. Pradhan Rana adalah seorang Brahmin. Dia membungkuk dan menatapku. Tatapannya tidak menyembunyikan kesombongannya, dan dahinya digambari dengan lambang kastanya. Orang tolol itu berharap agar aku lebih dulu memberinya salam. Aku tidak mengatakan apa-apa.
"Sisodia mengirimkan salamnya kepada Pangeran Shah Jahan. Dia telah melihat Anda merusak kerajaannya, dan itu membuatnya sedih. Dia tidak bisa mengerti kekasaran Pangeran Shah Jahan, atau kebijakannya untuk menyerang orang-orang yang cinta damai. Akbar tidak akan ...."
"Kau berhadapan dengan Shah Jahan, bukan Akbar. Sementara kau mengoceh, pasukanku meneruskan pekerjaannya. Apa yang diinginkan oleh Sisodia? Menyerah? Atau kematian kerajaannya?" aku mengingat-ingat isi Babur-nama yang kubawa. Jika Babur memiliki kepandaianku, dia pasti akan merebut kembali Farghani. Tetapi, dia tidak akan
memalingkan wajahnya ke selatan, ke arah Hindustan. Dia pasti masih akan memerintah kerajaan kecilnya hingga saat ini.
"Menyerah," sang pradhan berbicara dengan cepat dan kasar. Kata itu serasa mencekiknya. "Perintahkan kepada anak buahmu untuk berhenti."
Aku merasakan kemenangan sudah berada dalam genggamanku. "Pertama-tama, Sisodia sendiri yang harus menghadapku. Dia boleh menunggang kuda. Dia boleh ditemani oleh ... seratus anggota pasukan berkuda." Seperti Babur dan Akbar, aku mengerti kebijaksanaan perundingan dan kebutuhan untuk bersikap toleran. Dalam Arthasastra, suatu saga politik, Kautilya menyarankan kepada para pangeran untuk tidak mengumpulkan musuh-musuh yang tidak penting. Pradhan itu masih terdiam tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya melunak, dada sempitnya melebar, seperti ayam jantan yang bersiap-siap berkokok. Martabat tuannya tidak akan tercemar, dia akan keluar dari bentengnya seperti seorang Sisodia.
Bairam berbalik dan berjalan di antara kerumunan. Mereka memberi jalan dengan penuh rasa hormat        dan membungkuk, mengakui
kebijaksanaanku. Aku memaksa diriku untuk menyembunyikan kebanggaan dan kegembiraanku sendiri, jadi aku hanya berhenti sebentar untuk menyampaikan sebuah pesan singkat: "Beri tahu ayahku, sang Sultan: Mewar sudah ditaklukkan."
"Allahu Akbar!"
Aku tidak bisa menahan teriakan gembiraku. Aku
merentangkan tangan, merengkuh matahari dan angkasa, bumi dan angin, hutan-hutan dan sungai-sungai. Penakluk Dunia! Gelar itu memang cocok; hanya itu satu-satunya yang sesuai untukku. Gajahku bagaikan sebuah kereta kencana yang berjalan menuju surga, dan semua orang memberiku penghormatan. Shah Jahan! Shah Jahan! Shah Jahan! Angin kering membisikkan namaku, layang-layang menjeritkannya di angkasa, kaki-kaki Bairam menjejak bumi dengan irama yang mengalun. Aku merasa melayang, bagaikan dewa, bahkan jagat raya pun tidak bisa menampung semangat kegembiraanku. Kebahagiaanku mulai terbit tatkala gerbang terbuka perlahan, berderit dalam keheningan penantian; hal itu mengembuskan angin sejuk dari dalam tubuhku, membuatku terbang, melayang, dan melesat hingga keluar dari mulutku. Aku tidak pernah memikirkan apa pun dalam hidupku yang sama hebatnya dengan ini semua; rasanya hal lain merupakan hal sepele. Rasanya, aku tidak pernah hidup sebelumnya. Tidak, aku salah. Ketika aku pertama melihat Arjumand-itu adalah sesuatu yang lebih dahsyat, tetapi berbeda. Itu adalah keterpesonaan karena cinta; yang ini adalah kemenangan!
Arjumand
Shah Jahan membuka sandalnya, dan perlahan, dengan penuh kebanggaan, menurunkan tubuhnya ke bantal. Dia tampak begitu muda, begitu bangga, dan     rasanya    hatiku     sakit    karena     terlalu
mencintainya. Dengan ragu-ragu, aku mengalihkan pandanganku darinya dan mengintip melalui kisi-kisi ke arah kerumunan di diwan-i-am. Para pejabat berdesakan di balik pagar merah tua; mereka tumpah ruah hingga ke lantai di bawahnya, berdiri atau berjinjit agar bisa melihat pangeranku. Khusrav, Parwez, dan Shahriyar, saudara-saudara lelaki Shah Jahan, berdiri di belakangnya, wajah mereka datar, suram, ekspresi mereka tidak terbaca; apakah ada suatu rasa iri yang telah timbul? "Aku tahu, dia akan berhasil," Mehrunissa berbisik di telingaku. "Dia akan menjadi seorang pangeran yang mulia." Dia memelukku, seolah-olah aku yang meraih kemenangan itu. "Aku akan selalu membantunya. Katakan kepadanya, dia bisa mengandalkanku." Aku merasa Mehrunissa sedang menimbang-nimbang dari sorot matanya.
Kemenangan membawa kekuasaan, dan aku juga dituntut untuk mendapatkan apa yang sudah dia capai.
Di belakang pagar perak, berdiri gelisah seorang anak muda yang langsing, anak lelaki Rana dari Mewar. "Sungguh anak lelaki muda yang liar!" Mehrunissa tertawa, mencemoohnya. Turbannya tidak membungkus rambut pangeran itu, tetapi terletak tinggi di atas kepalanya dengan gaya Rajputani, seperti sebuah tambang terpilin yang kusut. Pakaiannya tidak bergaya, dan meskipun dia tampak arogan, sudah jelas bahwa dia merasa takut dan khawatir akan pertemuan itu. Karan Singh  adalah seorang  anak lelaki  yang lembut,
meskipun dia tidak terpelajar. Sungguh menyenangkan bisa ditemani oleh seseorang yang begitu polos, begitu ingin tahu banyak hal. Di istana, semua sifat itu akan menghilang secepat kilat. Selama perjalanan dari Mewar ke Ajmer, Shah Jahan mendapat pelbagai pertanyaan dari Karan Singh. Di Ajmer-saat kami menunggu Jahangir-anak pertamaku bersama Shah Jahan, yang benihnya dibuahi dalam kebahagiaan di samping danau sembilan bulan yang lalu, terlahir. Kami berdoa agar diberi anak lelaki. Tetapi, Tuhan memberi kami anak perempuan, yang diberi nama Jahanara. Dia adalah seorang bayi yang cantik dan kami mencintainya. Jahangir, yang merasa puas karena kemenangan yang dicapai-dia menganggap ini adalah kemenangannya-telah membawa seisi istana kemari, seratus kos dari Mewar, untuk merayakannya. Ajmer adalah sebuah kota kecil yang padat, cukup antik, penuh dengan bangunan-bangunan beratap datar yang rendah, dan dikelilingi oleh perbukitan Taragarh. Dua masjid kuno dan legendaris berdiri di sana: Arhai-din-ka-Jhonpra dan Dargah. Kekasihku telah membangun sebuah benteng kecil di dalam kota, tetapi Jahangir memilih untuk mendirikan tenda kerajaan di pantai Danau Sagar. Sepanjang hari, angin sepoi-sepoi berembus menyeberangi danau dari perbukitan.
Sang Sultan masuk dan menaiki singgasana. Dia tersenyum ke arah kekasihku, bertepuk tangan puas dan gembira, dan para pejabat dengan segera
mengikutinya. Wajah setiap orang memancarkan kebahagiaan, seakan-akan dibuat dari cetakan yang sama.
"Aku gembira dengan kemenanganku atas Mewar," Jahangir mengumumkan. "Sementara Akbar mengalami kegagalan, aku berhasil. Aku hanya berharap dia ada di sini bersamaku untuk merayakan kemenangan ini. Dia pasti akan bangga kepadaku, yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Jiwaku yang mulia selalu menginginkan, sebisa mungkin, untuk tidak menghancurkan kerabat lama ini. Aku hanya berharap untuk hidup dalam kedamaian dan harmoni bersama mereka. Karena alasan itu, aku tidak meminta apa-apa kepada Rana dari Mewar ..." Jahangir menatap Karan Singh. Karan membungkuk dengan gugup. Gerakannya tidak dilakukan dengan benar, tetapi Jahangir memaafkannya. "... kecuali untuk mengirimkan putranya, Patrani dari Mewar, untuk tinggal di sini dan menjadi tamuku selama beberapa waktu. Sang Rana akan tetap memiliki kerajaannya, dan satu-satunya yang kuminta darinya hanyalah kesetiaan dan cintanya ...."
"Jangan mendengus," Mehrunissa mencubitku. "Biarkan dia menjadi sultan. Kita semua tahu bahwa itu adalah pencapaian Shah Jahan. Ini membuat Jahangir senang, dan seharusnya membuatmu senang juga."
"Paling sedikit dia harus menyebut nama suamiku."
"... aku bangga terhadap putraku, Shah Jahan,
karena telah mengikuti instruksiku dengan baik. Aku akan menaikkan pangkatnya sehingga dia membawahi sepuluh ribu zat dan lima ribu sowar ...."
"Tidakkah itu membuatmu senang? Kau kaya sekarang." "... dan aku memberinya izin sejak hari ini untuk mendapatkan gulabar merahku."
"Aku sudah mengatakan, dia tidak akan melupakan pangeranmu."
Merah, bukan warna darah-itulah mimpi yang selalu menghantuiku selama beberapa tahun ini. Aku telah membayangkan genangan darah di dipan sebagai arti mimpiku, tetapi aku salah. Aku tertawa dan bertepuk tangan. Kekasihku saat ini sudah dipastikan akan menjadi putra mahkota. Awalnya adalah anugerah sebagai penguasa jagir Hissan-Feroz, dan saat ini anugerah berupa gulabar warisan. Jahangir menghujani Karan Singh dengan hadiah-hadiah berharga dan upacara berlanjut.
1025/1615 Masehi
Kapan putraku Dara terbentuk? Seorang perempuan mungkin bisa menjelaskan hal seperti ini, bukan berdasarkan perhitungan, tetapi berdasarkan insting, berdasarkan cinta. Sebuah janin terbentuk pada suatu peristiwa dahsyat. Pasti bukan pada saat-saat lain. Pembuahan Dara terjadi dalam kegembiraan, kebahagiaan, dalam tawa dan cinta. Aku mengingat belaian, ciuman, dan kemesraan yang semakin membuncah dari keintiman kami. Tubuh kami begitu penuh hasrat, darah kami bergelora. Yang kami rasakan dan jalin pada malam
itu menjadi sebentuk tubuh anak kami. Anak kami mendapatkan jiwa yang bersemangat dari peristiwa itu.
Aku tidak mengetahui bagaimana itu terjadi, tetapi kita menciptakan sifat-sifat seorang anak jauh sebelum mereka terlahir ke dunia. Mereka tidak hanya mendapatkan asupan makanan dari tubuh kita, tetapi juga dari pikiran, perasaan, dan udara yang kita hirup. Dara tidak membuatku merasa sakit, atau mungkin aku tidak menyadarinya karena sedang berbahagia. Dia lahir dengan cepat pada saat matahari terbit. Dia tidak menangis, tetapi hanya terbaring di lenganku sambil memandang berkeliling dengan keingintahuan yang besar. Matanya mirip mata Shah Jahan.
Aku tidak bisa menyerahkannya kepada para perempuan yang menunggu dengan tidak sabar untuk menyusui sang pangeran kecil ini. Sungguh suatu kehormatan bagi mereka yang air susunya diisap oleh seorang pangeran. Mereka akan diberi imbalan kekayaan dan kehormatan, posisi mereka di harem pun akan meningkat. Tetapi, aku meletakkan mulutnya yang mencari-cari di payudaraku sendiri, ingin dia mengisap air susuku. Aku memerintahkan para ibu susuan itu untuk mengundurkan diri. Aku merasa, aku harus berhati-hati. Susu mereka mungkin bisa mengubah bayi kami tersayang, membentuk jiwanya dari sifat-sifat mereka.
Yang pertama datang dan mengunjungiku adalah Shah Jahan, wajahnya lesu dan khawatir karena terjaga semalam suntuk. Dia juga mengalami rasa
sakit sepertiku, atau mungkin lebih parah. Dia mengecupku terlebih dahulu, bersyukur karena aku bertahan hidup, dan berbaring di sebelahku dengan perasaan puas dan lelah. Kemudian, dengan lembut dan setengah bermimpi, dia menghampiri putra kami. "Dia secantik dirimu."
"Anak-anak lelaki tidak cantik, mereka tampan." "Tapi yang ini begitu."
Dia meletakkan jarinya ke dalam genggaman kecil si bayi, dan si bayi mencengkeramnya. Tampaknya mereka merasakan hal yang sama, jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti yang kami rasakan satu sama lain. Keduanya tersenyum penuh kekaguman satu sama lain, dan saat Shah Jahan membungkuk untuk mengecup putranya, tawa Dara pecah.
"Janggutmu menggelitiknya. Aku hanya berdoa agar dia tumbuh dengan kuat dan tegap seperti dirimu."
"Dia adalah ahli warisku," Shah Jahan berbisik, kemudian dia mendekati telinga mungil bayi kami. "Suatu hari, kau akan menjadi Mughal Agung."
Mehrunissa menatap Dara dengan penuh rasa ingin tahu, sambil memiringkan kepala, menyipitkan mata seolah sedang menatap dari balik beatilha. Dia akan mencubit pipi bayiku, tindakan kasih sayang yang biasa dia lakukan, yang akan membuat bayiku menangis, tetapi aku menahan tangannya.
"Apa yang Bibi perhatikan?"
"Aku sedang mengaguminya," Mehrunissa tersenyum.   "Menurutku,   dia   mirip   Shah  Jahan.
Jahangir sangat senang. Dia mengirimkan hadiah." Para budak berjalan sambil memanggul sebuah buaian besar yang terbuat dari emas. Buaian itu tergantung dari sebuah palang yang disangga oleh tiang-tiang pada kedua sisinya. Benda itu setinggi seorang pria tegap, dan ada cukup ruangan untuk seorang anak lelaki kecil. Sisi-sisinya diukir dengan gajah-gajah yang sedang berjalan. Mehrunissa menciumku, tampak ragu-ragu, kemudian mengecup dahi mungil Dara dengan bibirnya. Sikap kami lebih mencerminkan perasaan yang sesungguhnya daripada perkataan kami. Aku mengawasi Mehrunissa ketika dia berjalan menjauh dari sisi tempat tidurku, perlahan-lahan dan tenggelam dalam pikirannya.
Isa
Aku mencintai Dara seperti menyayangi anakku sendiri. Saat tugas-tugasku selesai, aku akan mencarinya. Jika dia sedang bersama Arjumand dan sang Pangeran, aku tidak akan mengusiknya. Tetapi jika dia sedang bersama pengasuh, aku akan membawanya dari mereka dan kami akan keluar menuju halaman untuk bermain. Kulit dan rambutnya begitu lembut dan dia merasakan belaianku, dan menggenggam jari-jariku seakan-akan aku ini ayahnya. Usianya belum cukup untuk bisa membedakan orang. Segera, dia akan mampu melakukannya. Dia tampak seperti Arjumand, kecuali matanya yang gelap; mata itu adalah mata ayahnya.
Tempat tinggal itu tenang dan menyenangkan. Kami hidup dalam kerukunan, dan sungguh melegakan karena bisa lepas dari intrik-intrik istana kesultanan. Aku percaya bahwa Arjumand merasa senang untuk tinggal di sini selamanya, terlupakan oleh seluruh keluarganya. Dia sangat mencintai suaminya dan sesering mungkin berusaha untuk bisa mendampingi sang Pangeran. Tidak seperti orang lain, mereka tampak menikmati keintiman, meskipun banyak pasangan suami-istri lain memilih untuk menjadi orang asing, kecuali saat mereka sedang melakukan hubungan suami-istri.
Bagaimanapun, Mehrunissa tidak menyukai kedamaian seperti ini. Kemenangan Shah Jahan hanya meningkatkan kekuasaan Mehrunissa. Dia semakin bersinar karena hal ini dan, ketika sekali lagi Deccan menunjukkan perlawanan, dia membisikkan lagi nama sang Pangeran ke telinga Jahangir.
1026/1616 Masehi
"Kau harus tetap di sini, Agachi. Aku akan menjaga sang Putra Mahkota dalam perjalanan."
"Tidak. Kau bukan istrinya. Kami telah sama-sama berjanji."
Tetapi, dia mendesah saat kami mengawasi kesibukan persiapan menuju penyerbuan ke Deccan. Saat itu adalah awal musim dingin, waktu yang tepat untuk melakukan kampanye, dan jauh di selatan, hawa panas musim kemarau akan membakar kulit.
"Tapi ingat peristiwa dalam perjalanan menuju
Mewar. Kondisimu tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan."
Perutnya membesar sekali lagi; dia bergerak dengan kaku dan lemah. Bayi ini datang terlalu cepat. Seharusnya Arjumand beristirahat selama setahun atau dua tahun. Hakim mengatakan ini kepadaku setelah dia memeriksa Arjumand. Dia begitu khawatir; dan kekhawatiran sang hakim menular kepadaku. Perjalanan ke selatan lebih berat, lebih keras, dan pertempurannya mungkin lebih dahsyat.
"Kau mulai terdengar seperti perempuan tua. Mungkin kau lebih memilih untuk tetap tinggal di belakang, dalam kenyamanan?"
"Ke mana pun kau pergi, aku akan melayanimu, Agachi. Tapi, tolong sadari; apakah Dara juga bisa melakukan perjalanan ini? Dia masih terlalu kecil."
"Dia akan terbiasa," dia mendesah, seolah-olah telah melihat sebuah perjalanan panjang yang tidak memiliki akhir.
Bayi itu terlahir di dekat batas luar kesultanan, seorang anak lelaki lagi-Shahshuja. Arjumand yang kelelahan setelah melahirkan memberikannya kepada seorang ibu susuan.
Dataran itu, penduduknya, dan iklimnya tidak ramah. Bukit-bukitnya berwarna ungu kusam, tajam seperti taring, menjulang di atas hutan belantara, melindungi desa-desa        terisolasi dan
pangeran-pangeran kecil.
Burhanpur adalah sebuah kota kecil terlindung di lembah dekat Sungai Tapti, dan selalu ada iring-iringan kapal yang berlayar hilir mudik dari sini ke Surat. Air sungai menerpa dinding-dinding istana, dan dari atapnya kita bisa melihat benteng batu raksasa yang misterius di antara kabut, Asirghah, benteng tertinggi di Hindustan. Butuh waktu satu hari penuh untuk naik dari dataran di bawahnya menuju gerbang istana. Akbar membutuhkan waktu dua tahun untuk mendudukinya, dan hanya dengan suatu siasat dia akhirnya berhasil.
Istana itu berupa bangunan sederhana kecil yang terbuat dari batu bata. Tidak ada penggalian batu paras atau marmer di sini. Hawa panas tidak pernah berubah, membuat setiap batuan dan semak tampak bergoyang-goyang. Humayun, Akbar, Jahangir, dan saat ini Shah Jahan, semua pernah tinggal di istana ini, untuk bertempur melawan pangeran-pangeran kecil yang tak pernah berhenti membuat masalah. Mengapa mereka tidak menerima kekuasaan Mughal Agung dengan damai, malah terus-menerus menyeret mereka kemari?
Kelahiran Shahshuja begitu lama dan menyakitkan. Jeritan dan rintihan Arjumand membakar hatiku. Setelah itu, dia kelelahan dan kehabisan tenaga, dan terbaring di kamarnya yang menghadap bukit-bukit membeku, sungai yang mengalir, dan langit yang membara. Kadang-kadang, dia menikmati bayangan gumpalan awan yang melayang-layang, bergerak cepat, membuat bukit-bukit menjadi gelap. Kami berada ribuan kos
dari Agra, dan kami semua merasa bagaikan tinggal di dunia ganjil yang membara, dan hanya kami yang merupakan makhluk hidup di sini.
Tubuh Arjumand tidak segera kembali ke bentuknya semula, tetapi masih membengkak, berat, seakan-akan masih mengandung seorang anak. Kukira itu mengusiknya-para perempuan biasanya sangat memedulikan hal ini-tetapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada Shah Jahan. Saat Shah Jahan kembali setelah berunding dengan para komandan pasukannya, Arjumand akan bersikap ceria, tertawa, berbicara, dan bermain bersama Dara dan Jahanara, memberi kesan bahwa dia selalu bahagia sejak fajar. Tetapi, Arjumand tidak sempat beristirahat. Karena sudah menanti sang Pangeran terkasih selama bertahun-tahun, anak-anaknya berturut-turut terlahir dari tubuhnya. Hanya sembilan bulan kemudian, dia melahirkan seorang anak perempuan, Raushanara. Anak perempuan ini disusui oleh seorang perempuan desa yang bayinya meninggal, dan Arjumand bersyukur karena bisa beristirahat. Tetapi, kasih sayangnya kepada Dara tidak pernah berubah. Dia akan memeluk dan memerhatikannya, menghujani Dara dengan kecupan. Shah Jahan juga sepertinya memperlakukan hal yang sama dan terus merasa bahagia karena kelahiran putra pertamanya. Dia hanya memerhatikan, memeluk, dan mengecup anak-anaknya yang lain sebentar. Anak kesayangan telah dipilih; dia telah mendapatkan sebuah tempat di hati mereka, dan tidak ada yang bisa merebutnya
saat ini. Betapa teganya orangtua yang membuat pilihan di antara anak-anaknya sendiri!
"Isa, kau akan pergi mendampingi kekasihku berperang. Kau harus membelanya dari musuh-musuhnya."
"Aku akan mendampinginya, Agachi, tapi aku bukan seorang kesatria. Aku akan berusaha semampuku."
"Jika dia harus mati, aku akan mengikuti. Hatiku akan hancur. Aku benci orang-orang yang membahayakan Shah Jahan. Anehnya, dia menikmati ini semua, seakan-akan pertempuran ini hanyalah suatu permainan yang tidak akan mencabut nyawa seseorang. Dia seperti anak-anak yang mendapatkan mainan baru."
"Pasukan Mughal bukan mainan, Agachi. Seharusnya kau merasa bangga karena dia mengepalai kekuatan yang begitu besar. Dia akan mendapat kemenangan sekali lagi."
"Aku tahu, tetapi aku masih tetap ketakutan. Bisa saja ada sebatang anak panah, tombak, atau peluru lontar mengenainya, dan aku juga akan berhenti bernapas."
Jadi, aku menemani Shah Jahan bertempur, tetapi tidak dengan rasa bahagia. Aku duduk meringkuk dengan tidak nyaman di belakangnya, di howdahnya. Bairam telah mencium aroma peperangan; dia sudah dipasangi baju zirah berantai dan  ketika  kami berbaris,   dia  meniupkan  suara
nyaring. Gajah-gajah lain menjawabnya dan geraman mereka bergema di bukit-bukit. Tanah bergetar karena gerakan para penunggang kuda, mengalir bagaikan arus yang mengalir ke saluran-saluran air, menuju perbukitan, dan menuju lembah-lembah curam. Medan perang sudah dipilih, sebuah plato di dekat Elhchpur. Di hadapan kami berdirilah pasukan raja-raja Nizam Shahi.
Aku memandang berkeliling saat kami mendekati pasukan mereka, nyaris tidak percaya melihat ribuan prajurit yang dikomandani oleh Shah Jahan. Di sekeliling kami, Ahadi Shah Jahan menunggang kuda, dan di belakang, Mahabat Khan, bayangan Jahangir yang selalu mengawasi, mengikuti kami. Sang jenderal tua maju ke medan perang dengan dingin; dia bersandar di howdahnya, kakinya bersilang, dengan tangan di belakang kepalanya. Aku mengira bahwa posisinya ini sengaja dia lakukan untuk menenangkan dan mendukung keberanian semua orang yang melihatnya. Di sebelah kanan kami ada seorang teman baru Pangeran, Karan Singh. Sang pangeran Mewar itu memilih untuk menunggang kuda. Di bawah turban gelapnya, dia mengenakan sebuah helm besi dan tubuhnya tertutup oleh baju zirah dari jalinan logam yang sangat rapat. Di sebelah kiri kami ada teman lama sang Pangeran, Allami Sa'du-lla Khan. Shah Jahan hanya mengenakan char-aina yang paling ringan, yang terdiri dari dua pelat logam segi empat yang dilapis dengan rapi untuk melindungi dada dan punggungnya,   serta dua  pelat yang  lebih kecil
untuk melindungi sisi-sisi tubuhnya, semua disatukan dengan pengait dari emas. Helmnya dihiasi oleh sehelai bulu yang mengangguk-angguk yang ditempelkan oleh emas, dan jalinan rantai pelindung kepala tergantung hingga punggungnya. Jezail-jezailnya dibawakan oleh orang-orang yang berjalan di samping Bairam. Mereka juga terlindungi dengan rapat. Hanya aku yang tidak mempersiapkan diri untuk pertempuran, mengenakan jiba dan piama, merasa rapuh dan putus asa. Aku terus-menerus berdoa.
Shah Jahan mengangkat tangan kanannya ke sebelah kanan pasukannya, dan memutar pergelangannya sekali. Selama semenit yang terasa lama, tidak ada yang bergerak. Kemudian, sepuluh ribu penunggang kuda memisahkan diri dari pasukan utama dan mulai berderap ke selatan. Dia melakukan hal yang sama dengan tangan kirinya, dan sepuluh ribu penunggang kuda lain berderap ke utara. Ini adalah ujung-ujung tanduk banteng, yang disusun untuk menyerang musuh kami dari arah samping. Di depan kami, bergeraklah barisan meriam dan banduq-chi. Kami mencapai ujung plato dan di depan sana, pasukan musuh mulai bergerak ke arah kami.
Shah Jahan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan kami berhenti bergerak. Metode peperangan yang telah dites ini membuat musuh bisa masuk ke dalam jangkauan, untuk menipu musuh agar percaya bahwa mereka bisa berhasil menyerang.   Barikade   untuk   barisan   banduq-chi
disiapkan dalam posisinya, dan para siphai menyiapkan senjata mereka. Jauh di sebelah selatan dan utara, dua puluh ribu penunggang kuda kami akan mengepung musuh.
Shah Jahan menoleh ke arahku. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya yang gelap tampak berkilat, api membara di dalam kepalanya. Dia mirip seekor binatang buas, bersiap dan mengambil ancang-ancang, siap menerjang.
"Kau takut, Isa?"
"Aku tidak bisa berbohong, Yang Mulia. Ya. Aku tidak terbiasa berperang."
"Aku tidak bisa mengurangi ketakutanmu. Setiap pasukan memiliki tujuan yang sama: kemenangan. Dan salah satu bagian tujuan itu adalah membunuh pemimpinnya. Jika aku tidak terlihat oleh pasukanku-meskipun satu menit saja-mereka akan mengira aku tewas, dan mereka akan mundur. Aku adalah jantung mereka. Jika aku mati, semangat mereka juga akan mati. Musuh akan mengerahkan usaha terbaik mereka untuk menyerangku. Kupikir kau memilih gajah yang salah."
"Anda harus menolak permintaan Arjumand, Yang Mulia. Anda seharusnya meminta agar aku tetap di sampingnya."
"Siapa yang bisa menolak keinginan Arjumand? Bisakah kau?"
"Tidak, Yang Mulia."
Perhatiannya teralih ke arah musuh yang mendekat, dan aku segera berdoa. Sifat pengecut adalah hal yang menyedihkan. Aku tenggelam dalam
rasa mengasihani diri sendiri, dalam janji-janji menakjubkan menuju keabadian; jika mereka melindungi hidupku, aku akan mengusahakan segala cara untuk berkorban bagi kemuliaan mereka. Pada saat ini, aku tidak bisa lagi melakukan kebiasaanku; jiwaku seakan telanjang. Aku tidak bisa mengingat ayat-ayat Quran atau mengingat artinya iman.
Di kedalaman jiwaku yang gelap, aku memohon kepada Syiwa. Aku memohon maaf karena pengingkaranku, pengabaianku terhadap
dewa-dewa karena berpura-pura telah berpindah keyakinan. Sudah pasti, Syiwa akan mengerti bahwa di dalam dunia Muslim, aku, seorang Hindu yang malang, hanya bisa meraih ambisiku yang sederhana-untuk bertahan hidup-dengan
mengucapkan melalui bibirku, meyakini kepercayaan mereka. Jika aku bisa bertahan hidup, aku akan memanjatkan puja; aku akan melakukan homam untuk kehadirannya yang abadi; aku akan berziarah ke Varanasi, Badrinath, ke mana pun dia menginginkan aku pergi. Dalam rasa malu, aku akan mencukur rambutku.
Doaku terputus oleh gumaman orang-orang yang semakin keras. Para prajurit Muslim mulai berteriak, awalnya pelan, kemudian semakin keras: "Ba-kush, Ba-kush\", sementara para prajurit Hindu berteriak: "Mar, Mar." Di tengah antusiasme, aku sendiri berteriak: "Mar, Mar." Shah Jahan terkejut dan menoleh, "Kau juga ingin membunuh, Isa? Kami akan memberimu pedang." Senjatanya tiba-tiba sudah diserahkan ke tanganku. Dalam kebingungan, dia
tidak bisa mendengar-atau mungkin dia mendengar, dan berpikir bahwa itu tidak penting-bahwa aku menyuarakan jeritan Hindu.


Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified