Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Taj Part 1b

Bentuk ini muncul dalam impian Shah Jahan, Isa menerangkan,    dan    mereka   mengerti.    Sebagai
seniman besar, mereka juga memimpikan dan melihat bentuk-bentuk serta citra-citra yang diubah dari batu oleh tangan mereka sendiri. Benda itu menjelma, mengawang-awang dalam pikiran sang Sultan, bagian demi bagian, sedikit di sini, sedikit di sana, dan karena terobsesi, dia telah menerjemahkan bayangan itu ke dalam gambar, murka ketika seniman-senimannya tidak mampu mereproduksi apa yang dia perintahkan, membanjiri mereka dengan pujian dan hadiah saat mereka bisa menangkap maksudnya dan menggambar citra yang dia ingat. Setelah dua tahun impian itu baru bisa dikuakkan dari balik bayangan pikirannya, dan diwujudkan ke dalam suatu model kayu di lantai.
Tetapi, ini masih belum lengkap. Mereka telah mengajukan saran yang tidak terhitung jumlahnya, tetapi semua ditolak oleh sang Sultan yang penuh amarah. Dia mengumpat dan menjuluki mereka, dan mereka gemetar, karena kekerasan yang memancar dari wajah dan pikirannya, dan kematian bisa mengancam kapan saja karena kemarahannya. Isa memerhatikan model itu, tidak mampu untuk melihat suatu kesalahan. Dia telah hidup bersama hal ini dalam waktu yang lama, sehingga tidak mampu memikirkan benda ini dalam bentuk atau sosok yang berbeda. Makamnya berdiri di bagian tengah, menjulang di atas kolom-kolom marmer, dengan masjid di kedua sisinya. Makam itu tampak damai dalam kesendiriannya, terisolasi, dan Isa sangat menyukai kesunyiannya.
Di bengkel kerja yang dibangun di istana, ra-
tusan orang membungkuk di atas gambar mereka siang dan malam, merancang pola-pola dan bentuk paling rumit untuk dinding-dinding interiornya. Sang Sultan memaksa mereka bekerja keras, menolak kebanyakan hasil karya, menginginkan rancangan itu diciptakan lebih detail, dan dibuat lebih indah sehingga semua ide dan rancangan asli telah hilang dalam lusinan kali. Mereka telah mematuhi semuanya, tetapi tetap saja tidak ada hasilnya. Sepertinya Shah Jahan ingin mewujudkan kekuatan kekuasaannya dalam kemurnian bunga-bunga yang mengancam.
Pertentangan yang rumit sedang terjadi di dalam benak sang Sultan, dan pertempuran itu tampak di monumen tersebut. Dia sedang mencoba menyeimbangkan kemegahan Mughal Agung penuh hiasan rumit yang menyesakkan dengan kesederhanaan cinta obsesifnya terhadap sang Ratu. Dia terombang-ambing di antara tekanan yang berlawanan ini. Kubah-kubah kecil, menara-menara, kubah perak, dinding-dinding ruby dan lantai berlian, fondasi-fondasi batu paras dan landasan-landasan marmer hitam, tangga-tangga emas dan pilar-pilar zamrud, dan balkon-balkon mutiara. Apa yang tidak bisa diciptakan oleh seseorang yang amat kaya raya?
Itu semua, sang Mughal Agung membayangkan, adalah surga. Tetapi, keseimbangan itu terganggu, dan tiba-tiba dia mengenang kecantikan Arjumand yang sederhana, tubuh langsingnya, garis alisnya, lengkungan  pipinya,   hidungnya   yang  lurus,   dan
senyuman yang tidak melebar di wajahnya, tetapi hanya mengambang di atas kulitnya yang bersih. Dan di antara setiap bentuk, tampak ada di sana-mungkin muslihat imajinasi-sebuah ruangan tenang yang tak berbatas. Saat dia mengenang ini semua, dia akan mengenyahkan semua perhiasan yang mendekorasi makam ini, menginginkan untuk hanya merefleksikan kecantikan sang Ratu dalam proporsi yang sebenarnya. Shah Jahan bagaikan ingin membangun patung atau melukis potretnya saja, menerapkan bentuk hidung, mulut, dan matanya ke dalam pintu, jendela, dan kubah-kubah. Putih adalah warna pagi hari, jadi saat dia menatap kreasinya itu, dia dan seluruh rakyatnya akan ingat bahwa mereka sedang meratap; bahwa luka di hatinya terlalu parah untuk disembuhkan. Oh Tuhan, dia menangis diam-diam, apa yang kulakukan kepadanya?
Saat dia meratap, Isa tetap diam dan tidak berekspresi, tidak tersentuh oleh air matanya.
Shah Jahan menyeberangi teras perlahan-lahan, jubah putihnya menyapu lantai marmer. Dia tidak memandang, atau berbicara, kepada orang-orang yang berkumpul, tetapi berjalan perlahan mengelilingi modelnya. Orang-orang yang berkumpul di situ tetap membungkuk dalam sikap kornish, meskipun Shah Jahan sudah memerintahkan bahwa tidak boleh ada orang yang boleh mempertunjukkan sikap berlebihan itu kepadanya. Dia merasakan kegugupan mereka.
"Lampu," dia memerintah.
"Baik, Padishah," mereka berkata serempak.
Mereka berlari mengambil obor, mengambil lilin-lilin dari relung-relung sehingga teras menjadi gelap, dan hanya model itu yang menyala di dalam cahaya, kecuali bayangan hitam Shah Jahan yang menimpanya.
Dalam cahaya seperti ini, pikir Shah Jahan, makam ini tampak terlalu kesepian, terlalu terisolasi. Dia harus mengakui, ada kesederhanaan yang dia nikmati dalam tiga bangunan ini; masjid-masjidnya kecil dan rendah bagaikan ingin memohon kemurahan Tuhan akan kemahakuasaan-Nya. Dia mengerutkan wajah; dia berharap untuk bisa memecahkan kesunyian tanpa merusak kedamaian. Ada sesuatu yang hilang.
Dia bergerak ke arah pagar dan orang-orang bubar untuk kemudian berkumpul lagi di belakangnya. Hari sudah malam, tetapi dia masih bisa melihat bayangan-bayangan para pekerja yang bergerak-gerak di antara berkas-berkas cahaya. Dia tidak bertanya-tanya tentang sosok-sosok kecil yang terus-menerus bekerja keras tanpa henti untuk memindahkan alur Sungai Jumna, bekerja hanya karena dia memerintahkannya. Air akan memantulkan monumennya, dan dia mengamati air gelap yang tenang, mencoba membayangkan bagaimana citra yang akan membayang di permukaan.
Mir Abdul Karim, seorang pria tinggi yang serius, mendekat dan membungkuk rendah. "Padishah, ada satu masalah."
Dia menunggu tanda agar bisa meneruskan. Shah Jahan mengamatinya. Abdul Karim bercucuran keringat. Dia mengingat sang pangeran muda, dengan tatapan yang dingin seperti tatapan rajawali. Sekarang, dalam rengkuhan usia dan kekuasaan, tatapan itu mirip tatapan seekor elang tua, bijaksana, tetapi penuh keteguhan.
"Sungainya," suara Mir Abdul Karim melemah, berdeham sebelum dia meneruskan. "Perubahan saluran menyebabkan air menyapu lokasi monumen, Padishah. Tanah tidak akan bisa menahan beban bangunan. Kita harus membangun konstruksinya lebih jauh .."
"Keringkan lokasi itu. Jangan datang kepadaku dengan masalah-masalah sepele. Kaulah yang membangun, bukan aku."
"Baik, Padishah. Itu akan dilakukan. Tapi, tidak ada batu-besi yang bisa mengisi fondasi untuk mencegah lebih banyak air yang akan menyapu lokasi."
"Belilah," dia memerintahkan dengan tidak sabar. "Mengapa pembangunan belum dimulai?" Pertanyaan itu dijawab dengan keheningan.
Akhirnya, Isa berbicara, "Padishah, modelnya belum lengkap. Quran melarang adanya perubahan jika pembangunan sudah dimulai. Para tukang bangunan hanya menunggu perintah Paduka."
"Aku harus melakukan semuanya," gerutu Shah Jahan. "Kau harus mempersiapkan gambar sebagai tambahan bagi makam, yang tidak akan merusak kesederhanaannya."
Orang-orang itu saling bertukar pandang. Sekali lagi, cahaya menerpa model itu. Mereka menatap . berharap supaya bisa menemukan jawaban, tetapi model itu tetap membisu. Dan entah bagaimana, model itu tampak bagaikan memiliki nyawa, dan sudah mulai menjelma.
"Pergilah. Besok, aku ingin jawabanmu, Isa!"
Isa tidak bergerak. Orang-orang menghilang ke dalam kegelapan taman di bawah, saling bergumam satu sama lain. Shah Jahan berbalik dari pagar.
"Seperti apa dia, Isa?" sang Mughal Agung terdengar bagaikan seorang anak kecil yang ingin diceritai suatu kisah yang sudah akrab, seperti Akbar yang minta seorang budak membacakan cerita untuknya.
mm
Dari bukit di timur lokasi, Murthi mengawasi. Dia berjongkok dengan sabar bersama Gopi dan Savitri yang sedang bermain dengan tanah di sampingnya. Si bayi bisa bertahan hidup dan tumbuh, kuat, sehat, dan berkepribadian baik. Menjaga bayi membuat Murthi merasa tidak enak. Itu adalah pekerjaan perempuan, tetapi jika dia tidak sedang bekerja, Sita menitipkan si bayi kepadanya. Saat si bayi harus disusui, Murthi akan membawanya kepada Sita, dan Sita akan terburu-buru menunda pekerjaannya untuk menyusui si bayi.
Di bawah, kerumunan sudah terbentuk. Para peramal bintang telah memperhitungkan waktu yang tepat untuk menggali tanah,  agar pembangunan
dimulai, dan para mullah sedang berkumpul, berjubah hitam seperti gagak, untuk melakukan ritual. Semua pekerjaan sudah dihentikan. Murthi menunggu. Dia mendengar suara genderang dan terompet, dan dari kejauhan di hulu sungai, dia melihat sebuah prosesi mendekat dari Lai Quila. Sang Sultan berada di atas tandu, diikuti oleh para prajurit, orang-orang terhormat, dan para petugas kerajaan. Butuh beberapa saat sebelum mereka mencapai lokasi, dan saat matahari berada di titik tertinggi pada siang hari, orang-orang yang bersembahyang membanjiri ruang kosong. Dia melihat asap dupa, kemudian sang Sultan berlutut dan mencium tanah, kemudian semua selesai. Murthi terkejut karena ritual itu begitu singkat dan sederhana. Saat sebuah kuil akan dibangun, ritual akan berlangsung berhari-hari; sesaji yang tak terhingga jumlahnya akan dipersembahkan, Veda akan dilantunkan dari fajar hingga senja, api akan membakar jeruk dengan ghee dan susu, santunan akan dibagikan kepada orang-orang miskin. Dia kecewa dengan tamasha kecil ini.
mm
Murthi menghabiskan hari-harinya dengan gelisah dan bosan. Dia bisa mengeluarkan perkakasnya, sembilan pahat dengan beragam ukuran, yang terkecil sehalus lidi, yang tampak mudah patah dalam genggaman yang kuat. Dengan desahan keras, dia akan membungkus mereka kembali di dalam   karung   goni.   Dia   sudah   mengajari   Gopi
bagaimana caranya merawat peralatan penting dan mengasah perkakas ini.
Dia menggali sebuah lubang kecil yang dalam di luar gubuknya, kemudian membuat sebuah terowongan sempit di ujung satunya, yang membuka di dalam lubang itu. Dia meletakkan selongsong panjang puputannya di mulut terowongan sehingga ketika dia memompa, debu terbang dari lubang tersebut. Selama sehari, dia meninggalkan tanah itu agar mengeras, kemudian memenuhi lubang dengan batu bara yang masih menyala. Saat Gopi meniup puputan, Murthi menempelkan ujung pahatnya di batu bara tersebut, dan saat batu bara itu merah membara, dia memindahkannya dengan capitan, dan memukulnya dengan palu di atas batu-besi yang mulus. Akhirnya, dia menjatuhkan batu bara itu ke dalam sebuah baskom berisi air agar mengeras. Lalu, dia mengizinkan Gopi untuk berlatih, dan lama sekali mereka tenggelam dalam pekerjaan mereka.
Suatu malam, saat Murthi duduk di luar gubuknya, dia melihat sekelompok orang mendekat. Salah satu atau dua orang pernah dia kenali; tetapi yang lain masih asing baginya, semua berpakaian indah. Pemimpin mereka adalah Mohan Lal, seorang pedagang rempah-rempah. Biasanya, dia berpakaian lusuh, tidak berharap memperlihatkan kekayaan melimpah dari usahanya, tetapi malam ini dia mengenakan baju baru yang bersih. Murthi segera berdiri dan memberikan namaste. Kecuali lantai tanah, tidak ada tempat lain untuk duduk. Beberapa
duduk bersila, yang lain berjongkok. Murthi menyuruh Sita untuk menyuguhkan chai; orang-orang itu memprotes, tetapi hanya untuk sopan santun, dan menunggu teh dihidangkan.
"Aku Chiranji Lal," seorang pria gemuk pendek berbicara. "Aku datang dari Delhi untuk bekerja sebagai ahli batu mulia monumen ini. Aku telah mendengar jika kau seorang Acharya."
Murthi tertawa gembira. "Ya, ya. Itulah aku, tapi bangunan ini tidak membutuhkan keterampilanku, jadi aku harus mengerjakan hal lain. Apakah Anda seorang petugas?"
Tiba-tiba, dia merasa tidak nyaman. Mereka telah datang untuk menghentikan upahnya. Mereka tahu dia tidak bekerja.
"Bukan," jawab Chiranji Lal. "Kedatangan kami kemari tidak ada hubungannya dengan monumen. Banyak penganut Hindu di antara kami, tapi kami tidak memiliki kuil untuk dipuja. Kami tidak tahu apakah akan diberi izin untuk membangun sebuah kuil. Kami berencana mendekati Padishah untuk membicarakan hal ini."
Murthi menunggu. Dia merasakan ketidaknyamanan mereka, dan, dari wajah mereka, dia melihat keberanian mereka sudah menguap saat mereka memikirkan petisi. Selama berabad-abad, kuil-kuil Hindu besar telah dihancurkan dan masjid-masjid sudah dibangun menggantikan kuil-kuil di lokasi yang sama. Para penakluk Muslim yang sukses telah menghancurkan kepercayaan mereka,    tetapi    saat    ini    mereka    merasakan
perubahan. Akbar telah memulainya dengan din-i-illah-nya, suatu agama berjiwa bebas yang menghargai seluruh kepercayaan kepada Tuhan. Ada kemungkinan pembangunan sebuah kuil kecil akan diizinkan, tetapi tetap ada risikonya.
"Aku tidak bisa membangun kuil," kata Murthi. "Keluargaku .."
"Tidak. Kami tidak ingin kau membangun sebuah kuil. Kau harus memahat sebuah patung Durga untuk kami puja. Bisakah kau melakukan hal itu?"
Murthi merasa senang. Dia berdiri dan mengangguk.
"Aku bisa melakukannya. Akan makan waktu beberapa lama. Aku tidak bisa mulai bekerja hingga aku menerima visi."
Mereka semua mengerti. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk mendapatkan suatu visi. Sosok Durga-saudara perempuan Kali, bertangan delapan, dan menunggangi seekor singa-sudah banyak diketahui. Dia ada, tetapi Murthi harus mendapatkan visi tentang Durga untuk bisa memahatnya dengan imajinasi dan penuh detail, tetapi tanpa menyinggungnya.
"Batu apa yang bisa kugunakan?"
"Marmer. Hanya itu yang kami miliki. Kami bisa membeli sebongkah marmer dari pedagang keliling yang memasok marmer untuk pembangunan monumen."
Mereka tetap tinggal selama beberapa saat, mendiskusikan detail pembayaran. Saat mereka pergi,     Murthi    segera    memberi    tahu    Sita.
Keberuntungannya sudah berubah.
Tetapi, seminggu kemudian, keberuntungannya lagi. Murthi dipanggil oleh si petugas yang mempekerjakannya. Dia gemetaran, yakin bahwa si petugas menemukan kejanggalan dalam pembayaran, dan dia harus mengembalikan seluruh upahnya atau mendapatkan hukuman.[]
7
Arjumand
Duk, duk, duk, duk, duk, duk, duk. Derap kaki kudaku, teredam debu, menghantam tanah seirama dengan detak jantungku yang membosankan. Aku merasa sesak, bukan karena udara yang berdebu, tetapi karena rasa sakit di hatiku. Betapa kilatnya racun itu sudah sampai di telingaku. Para perempuan, orang-orang kasim, para prajurit, budak, dan pelayan, semua tahu apa yang telah terjadi bagaikan mereka berada seruangan dengan Jahangir dan Shah Jahan, serta bisa mendengar setiap kata yang dibicarakan antara ayah dan anak tersebut.
Sudah tak terhitung berapa kali hal ini dibicarakan-dengan keprihatinan palsu, kesedihan tetapi penuh kepuasan, rasa iba yang berpura-pura-dan setiap kali, peristiwa itu mengalami sedikit penambahan cerita. Aku masih hidup, berharap dengan teguh, hanya karena aku tahu dia mencintaiku. Dia telah mengatakan itu dengan jujur,
Kisah Cinta
1018/1608 Masehi
kepadaku dan kepada ayahnya. Aku memimpikan kata-katanya, membisikkan dengan lembut kepada diriku, membayangkan bagaimana dia memikirkan kata-kata itu; membayangkan juga, dengan melepas kekuasaannya sebagai pangeran, selubung perlindungannya, dia akan menampakkan kerapuhannya kepadaku.
"Kau harus naik tandu, Agachi."
"Begitu pengap di sana." Aku sedang menunggangi seekor kuda poni berbulu cokelat tua, sementara Isa, yang bersenjata lathi berujung perak, berjalan di sampingku. Dia tidak menyetujui keterbukaanku, yang bertentangan dengan martabatnya. Para perempuan di istana berselonjor di tandu-tandu yang tertutup, bergosip, bermain kartu, minum-minum, bahkan kadang-kadang menghibur seorang pria secara diam-diam; hanya para prajurit, budak, dan pelayan-pelayan rumah yang berjalan.
"Bagaimana dengan debu? Di luar sini lebih berdebu. Di dalam, udara akan lebih bersih .."
"Diamlah, Isa." Aku berkata dengan tajam. Bahkan jika aku merasakan ketidaknyamanan, aku tidak akan menuruti sarannya. Debu yang berwarna kemerahan dan jernih tergantung bagaikan awan mengepul dari ujung cakrawala ke ujung satunya, di utara, selatan, timur, dan barat. Debu juga mengaburkan matahari dan langit, kemudian menempel dengan lembut di pepohonan dan semak-semak, membuat kusam hijau daun mereka yang terang.
Jahangir bergerak, dan kesultanan mengikutinya. Kami sudah dua hari keluar dari Agra. Pada hari ketiga, kelompokku akan meninggalkan iring-iringan kesultanan dan akan berbelok ke selatan, ke arah Bengal. Aku akan mengunjungi Mehrunissa dan menyambut bebasnya aku dari Agra dan formalitas berlebihan kaum bangsawan. Dari tempat aku menunggangi kudaku, aku bisa melihat pangkal hingga ujung barisan. Entah di mana, jauh di depan, Shah Jahan bergerak bersama ayahnya. Di antara kami ada arus manusia dan hewan.
Aku memanggil Isa agar mendekat dan membungkuk untuk berbisik: "Dia harus tahu jika aku berada jauh di belakangnya. Jika dia tidak datang kepadaku segera, Isa, kau harus menunggangi kuda dan memberinya ini." Aku melepaskan sebuah cincin perak dan Isa menyembunyikannya di dalam lipatan pakaian. "Jangan kau hilangkan."
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku."
Para penunggang kuda berderap ke depan dan ke belakang, ke atas dan ke bawah barisan, tetapi tidak ada yang mendekati kami.
Jahangir dan Shah Jahan memimpin iring-iringan. Mereka diikuti oleh sembilan gajah, masing-masing membawa panji-panji Mughal bergambar singa yang merunduk, siap menerjang di depan matahari terbit; kemudian empat gajah lagi yang membawa bendera-bendera hijau bergambar matahari. Setelah itu, ada sembilan kuda jantan putih tanpa penunggang yang memakai sadel, sanggurdi, dan
tali kekang emas, dan di belakang mereka ada dua penunggang kuda. Salah seorang membawa panji yang bertuliskan gelar Jahangir, "Penakluk Dunia", yang lain membawa dundhubi yang dia tabuh secara teratur untuk menandai kedatangan Mughal Agung. Tiga puluh lelaki berlari di belakang mereka, mencipratkan air wangi sehingga sang Sultan akan menapaki jalan yang harum dan tidak berdebu. Di kedua sisi sang Sultan ada hazari dengan panji-panji mereka yang terpisah, masing-masing memimpin ribuan penunggang kuda mereka.
Sedikit di belakang Jahangir, ada empat wazir yang membawa tumpukan kertas. Kertas-kertas ini berisi seluruh informasi penting bagi sang Sultan tentang daerah yang sedang dia lalui. Jika dia bertanya, mereka akan memberi tahu kepadanya nama desa dan siapa nama kepala desanya, penghasilan desa tersebut, tanaman ladang, buah-buahan, dan bunga-bunga, dan karena Jahangir adalah penguasa yang sangat ingin tahu tentang segala hal, mereka terus-menerus mencatat informasi yang ingin dia masukkan ke dalam Jahangir-nama. Sedikit di belakang beberapa orang ini, ada dua orang lagi. Mereka membawa tali, dan dari Gerbang Lal Quila, mereka mulai mengukur jarak perjalanan Jahangir. Lelaki yang di depan membuat tanda; yang di belakang berjalan ke arahnya dan meletakkan ujung talinya sebagai penanda, ketika yang pertama berjalan menjauh lagi. Di belakang dua orang ini, ada orang ketiga yang memegang bukunya, terus-menerus mencatat
jarak perjalanan ini. Jika Jahangir bertanya, "sudah seberapa jauh kita berjalan?" pria ini bisa menjawabnya. Orang keempat membawa sebuah jam pasir dan gong perunggu. Setiap jam sekali, dia menabuh gong.
Beberapa langkah dari Jahangir ada dua penunggang kuda dengan elang bertengger di lengan mereka. Lalu, sepuluh penunggang kuda mengikuti: empat orang membawa jezail-jezail kerajaan yang dibungkus dalam kantong-kantong kain keemasan, yang kelima membawakan tombak Jahangir, yang keenam membawakan pedangnya, yang ketujuh membawakan perisainya, yang kedelapan membawakan belatinya, yang kesembilan membawakan busurnya, dan yang kesepuluh membawakan sebuah wadah berisi anak panah miliknya. Setelah para pembawa senjata, di belakangnya ada Ahadi, para prajurit yang dikomandoi langsung oleh sang Padishah. Mereka diikuti oleh tiga tandu kesultanan, semua terbuat dari perak dan dihiasi mutiara dengan indah. Di belakang mereka ada dua puluh empat penunggang kuda, delapan orang membawa terompet, delapan orang membawa seruling, dan delapan orang membawa genderang. Kemudian, di belakangnya ada lima gajah kesultanan yang membawa howdah-howdah emas dan perak. Gerakan gajah yang berayun-ayun lembut dan tak teratur membuat sang Sultan tertidur. Rasanya bagaikan dininabobokan dalam buaian.
Di sisi gajah-gajah berhias megah ini masih ada
tiga gajah lagi. Gajah yang di bagian tengah membawa tiga buah perabotan perak terbaik, dipasang di atas sebuah landasan perak dan diselubungi oleh beludru. Benda itu melambangkan bahwa Jahangir adalah seorang "Pengawas Iman terhadap Muhammad". Seekor gajah lagi membawa simbol yang sama, melambangkan bahwa dia adalah "Penjaga dan Pemelihara Iman". Gajah ketiga menampilkan pelat tembaga yang diukir dengan kalimat "Allah Yang Maha Esa memberkahi Muhammad".
Empat gajah lagi mengikuti, howdah-howdah mereka dihiasi oleh lambang-lambang penting lainnya. Salah seekor gajah membawa sebuah timbangan yang berarti bahwa sang Sultan memerintah dengan adil, seekor lagi membawa sehelai bendera besar, yang jika ditiup oleh angin, menampakkan sulaman gambar buaya pada kain putih bersih yang tampak seakan hidup, menggeliat, dan memperlihatkan taringnya, yang ini melambangkan bahwa Jahangir adalah "Raja Sungai". Seekor gajah membawa bendera berukuran sama, namun bergambar kepala seekor ikan, melambangkan bahwa Jahangir adalah "Raja Lautan", sementara seekor gajah lagi membawa sebuah tombak emas tinggi di udara, "Simbol sang Penakluk". Gajah-gajah ini diikuti lagi oleh dua belas ekor gajah yang membawa para musisi.
Semua kemegahan ini ada di antara diriku dan kekasihku. Tampaknya dia berada di ujung dunia yang satu, sementara aku berada di ujung dunia
yang lain. Aku tak mampu lagi menahan beban kebisuannya. Sudah lewat tengah hari, dan aku turun dari kudaku.
"Isa, bawalah kudaku dan pergilah ke Shah Jahan. Katakan kepada ." aku tidak bisa mengatakannya, kalimat itu tercekat di kerongkonganku karena ketakutan, . "kekasihku, aku ada di sini. Dia harus menemuiku. Aku harus mengetahui apa yang akan terjadi kepadaku. Apakah cintanya padaku sudah berakhir? Haruskah aku menunggu? Aku akan menunggu jika dia memerintahkanku begitu. Aku membenci perempuan yang akan menjadi pengantinnya dengan rasa pedih sebesar rasa cintaku."
"Agachi, aku tidak bisa memberi tahu hal-hal seperti itu kepadanya."
"Kalau begitu, jemput dia dan ajaklah kemari, dan aku akan mengatakan kepadanya. Naiklah."
Isa menatap kakinya, kemudian memandang kuda di dekatnya dengan ketakutan. Orang-orang dan hewan-hewan melewati kami bagaikan arus sungai yang terbelah di bebatuan.
"Agachi, aku tidak bisa menunggang kuda. Aku akan berlari."
"Jaraknya terlalu jauh, dan aku akan menunggu terlalu lama. Naiklah sekarang dan segera pegang kendalinya. Dia akan langsung membawamu ke kekasihku, dan segeralah kembali ke sini dengan jawaban darinya."
Dengan gugup Isa mematuhi perintahku, meskipun   wajahnya   terlihat   tidak   bahagia   karena
menghadapi lonjakan kuda yang berderap. Aku hanya menunggu hingga posisi Isa seimbang dan mengarahkan kepala kuda ke arah yang benar, kemudian menampar paha belakangnya dengan keras. Kuda itu mencongklang dengan Isa berpegangan erat ke lehernya. Isa akan mengetahui pentingnya saat itu. Pada waktu-waktu lain, aku akan merasa iba dan geli karena penderitaannya, tetapi saat ini kedua perasaan itu sudah menguap dari diriku.
Sebuah tandu menunggu dan dengan lega aku masuk ke dalamnya untuk menyembunyikan air mataku dari beribu-ribu mata yang mengamatiku. Aku bergerak bersama harem, di belakang rombongan Permaisuri Jodi Bai. Dia duduk di atas seekor gajah, di dalam sebuah pitambar, singgasana beratap yang dibuat dari emas tempa dan dilapisi batu-batu mulia. Dia sedang menderita karena suatu penyakit aneh yang parah, dan lebih memilih untuk tetap tinggal di istana, tetapi Jahangir bersikeras ingin Jodi Bai menemaninya dalam perjalanan ini. Gajah tunggangan Jodi Bai diikuti oleh seratus lima puluh prajurit perempuan Uzbek yang bersenjata tombak, dan di kedua sisinya orang-orang kasim berjalan sambil membawa lathi-lathi berujung emas yang akan mereka lecutkan jika ada seorang pria yang bertindak tolol dengan mendekati rombongan. Di belakangnya ada gajah-gajah yang tak terhitung jumlahnya, membawa para perempuan lain milik Jahangir, masing-masing   ditemani   oleh   kelompok   budak,
pelayan, dan budak-budak kasim mereka.
Tentu saja, urusan negara tidak bisa dilupakan atau diabaikan sementara sang Sultan berpindah dari Agra ke Ajmer, atau ke mana pun dia memilih untuk melakukan perjalanan. Di belakang kami ada delapan puluh ekor unta, tiga puluh ekor gajah, dan dua puluh kereta yang penuh berisi catatan kesultanan. Di belakangnya, ada lima puluh unta yang membawa seratus kotak berisi sarapa milik Jahangir, tiga puluh gajah yang membawa perhiasan yang akan dibagikan sebagai hadiah kepada orang-orang yang kurang beruntung, untuk menarik simpati; dua ratus unta mengikuti di belakangnya dengan uang-uang rupee perak, seratus unta dengan uang-uang rupee emas, dan seratus lima puluh unta yang membawa jaring-jaring untuk memerangkap harimau atau nilgai-antilop-atau cheetah. Ada juga lima puluh unta yang mengangkut air untuk minum dan mandi, sementara kereta-kereta besar yang bercat warna-warni membawa hamam, tempat sang Sultan dan kami para perempuan bisa mandi tanpa terlihat orang lain. Di belakang kami semua, berjaga-jaga di bagian belakang, sang pangeran Rajput, Jai Singh, memimpin delapan ribu prajurit berkuda.
Satu kos di depan awal iring-iringan ada seorang lelaki penunggang unta yang membawa sehelai kain linen putih yang paling bagus. Jika dia melewati bangkai seekor hewan atau mayat seseorang, dia akan menutupinya dengan kain itu, lalu membebaninya    dengan    batu-batu    berat.    Ini
dilakukan agar tidak mengganggu pemandangan sang Sultan, dan sepanjang dia tidak sedang terusik oleh keingintahuan, jika dia meminta orang-orangnya membuka kain sehingga dia bisa melihat apa yang terbaring di baliknya.
Siang berlalu begitu lambat. Aku menatap ke kejauhan, melihat bayangan bukit-bukit dan pepohonan yang merentang di sepanjang daerah ini. Aku belum melihat tanda-tanda keberadaan Isa. Saat ini aku menyesal karena sudah tidak sabar. Mungkin Isa terjatuh dan tewas, sehingga pesanku akan menghilang untuk selamanya. Dengan egois, aku berdoa agar Isa tetap hidup; dan agar dia bisa menjumpai kekasihku. Aku berdoa lebih khusyuk pada saat matahari terbenam, dan cahaya perkemahan mulai menyala di area luas di depan kami.
Sehari sebelum iring-iringan kami berangkat, ada sebuah prosesi besar lain yang dipimpin oleh Kepala Rumah Tangga Kesultanan. Hewan-hewan bawaannya membawa do-ashiyana manzil, peralatan memasak, makanan, dan keperluan-keperluan lain untuk kenyamanan sang Sultan dan pengikutnya. Sang Kepala Rumah Tangga akan memilih tempat yang nyaman, di dekat sungai jika mungkin, dan sepasukan kecil pelayannya akan mendirikan perkampungan tenda. Di bagian tengah akan menjadi tempat peristirahatan sang Sultan. Tenda bertingkat dua miliknya terdiri dari beberapa ruangan yang serasi dengan kemegahan istana sendiri,    termasuk    sebuah    diwan-i-khas    dan
diwan-i-am. Di belakang tempat Sultan ada tenda-tenda untuk harem kesultanan, dan seluruh tempat tinggal ini tertutup oleh sehelai layar berwarna merah tua. Perencanaan perkampungan tenda ini tidak berubah sejak Timur-i-leng berkuasa. Setiap orang mengetahui di mana mereka harus bermalam, untuk makan, untuk mandi, dan mengandangkan hewan-hewan tunggangan. Hal ini mencegah kebingungan saat iring-iringan mencapai lokasi perkemahan pada malam hari. Sebenarnya, ada dua perkampungan seperti ini. Ketika yang satu sedang digunakan, yang lain bergerak maju agar siap untuk menyambut kedatangan sang Sultan pada malam berikutnya. Karena ini hanya sebuah perjalanan berburu, bala tentara Mughal masih berada di Agra. Sudah ditentukan bahwa iring-iringan Sultan akan tiba di lokasi yang ditentukan dalam setengah hari, dan sehari penuh jika bala tentaranya ikut bersama sang Sultan.
Aku menemukan tempat istirahatku di dalam tenda harem. Para perempuan menikmati perjalanan ini. Mereka tertawa dan berceloteh sambil menyiapkan diri mereka untuk hiburan malam. Aku masih memisahkan diri. Saat harus mandi dan berpakaian aku memilih untuk berbaring, menolak tawaran makanan dan yang ingin menemani. Aku tidak memerlukan apa-apa, penderitaanku sudah cukup menjadi makanan dan teman bagiku.
Isa menemukan aku, ketika wajahku menghadap ke tembok, dengan mata yang terpejam rapat.
"Agachi, aku tidak bisa menemukan Pangeran.
Setiap orang yang kutanyai menyuruhku bertanya kepada orang lain. Aku malu."
"Kau sudah berusaha. Sekarang, tinggalkan aku sendiri. Pergilah."
Aku tidak bisa memalingkan wajahku kepadanya dan hanya mendengar dia melangkah menjauh dengan perlahan. Saat ini ada suatu emosi baru yang membuncah di dadaku. Berani-beraninya Shah Jahan mengabaikanku! Bahkan, jika dia datang kepadaku saat ini, aku akan menolaknya, mengusirnya pergi seperti yang kulakukan terhadap Isa.
Setelah beberapa saat, aku mendengar Isa kembali dan berbisik pelan, "Agachi, seorang pembawa pesan menunggumu."
"Dari siapa?" Aku berusaha menampilkan ketidaktertarikan, tidak berani berharap.
"Dari sang Pangeran. Ayo ikut."
Aku tidak bisa bergerak, tetapi masih meringkuk memunggungi Isa.
"Ambil saja pesannya. Katakan kepadanya aku akan membalasnya beberapa hari lagi." Isa tidak bergerak untuk pergi, jadi aku duduk. "Aku menyuruhmu pergi."
"Agachi, aku mengerti kemarahanmu, tapi kau tidak akan menumpahkannya kepadaku. Hanya kau yang bisa menerimanya. Tolong, ikutlah denganku. Kau akan menyesalinya nanti jika kau menolak."
Isa masih berdiri di dalam bayangan, tetapi aku bisa melihat goresan-goresan dan memar di wajah dan lengannya.
"Maafkan aku karena menyuruhmu menunggang kuda."
"Itu adalah suatu cara untuk belajar."
Aku berdiri dengan cepat. "Aku akan menemui si pembawa pesan dan kuharap dia membawa berita yang lebih menyenangkan."
Kami keluar, menuju udara malam yang sejuk. Perkampungan buatan ini terentang sejauh mata memandang, menutupi lembah-lembah dan bukit-bukit. Lentera-lentera kuning dan api-api yang terbuka berkelap-kelip dalam gelapnya malam yang hitam kelam. Besok, semua akan menghilang secepat datangnya iring-iringan ini.
Si pembawa pesan menunggu di dalam bayangan paling gelap, di salah satu sisi tenda, betul-betul tersembunyi dari prajurit-prajurit yang sedang berpatroli dan para perempuan Uzbekistan. Dia tampak seperti makhluk yang menyedihkan, terbungkus dalam sehelai jubah usang dengan ujung turban yang menutupi wajahnya.
"Kau membawa pesan untukku?" Dia mengangguk. "Dari siapa?"
"Dari diriku sendiri, Kekasihku." Shah Jahan berbisik. "Mengapa kita harus selalu bertemu dalam kegelapan?"
"Mungkin Yang Mulia tidak mampu menatapku pada siang hari."
"Mengapa kau marah kepadaku?"
"Jadi, apa yang harus kurasakan?" aku berkata dengan dingin, hanya berharap untuk menghindari tatapannya,    melupakan   bahwa    dia   dan   aku
sama-sama ada di dunia ini. "Aku sudah menunggu berbulan-bulan. Sepatah kata, sepenggal bisikan, sebuah simbol kecil pasti bisa mengobati pedihnya hatiku. Tapi, yang kuterima darimu, saat aku mendengar kabar angin dan kebohongan yang lain, hanyalah kebisuan."
"Aku telah membahayakan hidupku untuk datang kemari dalam samaran ini. Jika aku tertangkap, nasibku akan lebih buruk dibandingkan nasib pengemis." Dia menoleh ke samping ketika seorang kasim lewat dan aku melangkah semakin mendekatinya, ke dalam bayangan yang semakin gelap. "Aku tidak bisa melepaskan diri dari sisi ayahku, dan pada malam hari aku duduk dan mendengarkan puisi-puisinya. Percayalah, satu-satunya yang kuidamkan adalah datang menemuimu."
Aku merasakan diriku melunak, tetapi tidak bisa langsung mengenyahkan kemarahan yang membara dalam dadaku.
"Seorang pembawa pesan, kalau begitu?"
"Siapa yang bisa membawa pesan lebih baik daripada diriku sendiri?" Dia berlutut di kakiku dan menundukkan kepala. "Maafkan aku, maafkan aku."
Hatiku meleleh. "Aku tidak bisa menahan rasa malu ini. Aku memaafkanmu, dan hanya bisa menyalahkan cinta untuk kemarahanku. Ini adalah rasa lapar yang tidak bisa kukendalikan. Jika cinta adalah makanan dan minuman, aku akan menjadi orang rakus dan tak akan pernah puas melahapnya."
Dia  meraih  tanganku  dan   meletakkannya  di
dahinya, kemudian berdiri.
"Akulah yang layak kau salahkan karena menunjukkan pengendalian seorang pangeran terhadap hatiku."
Tiba-tiba, aku merasakan selubung rasa malu tersibak dari hadapanku. Sebelumnya, aku belum pernah berdua saja dengan kekasihku, atau pria lain, dan pikiran serta impianku sekarang tampaknya tidak lagi menampilkan keberadaan mereka. Tetapi, jika aku mengatakan: "Aku mencintaimu", jawaban apa yang akan dia katakan untuk membuatku nyaman?
"Kau telah mendengar .?"
"Ya."
"Aku tidak bisa lagi menolak tanpa membangkitkan amarahnya. Aku harus tetap menjadi putranya yang patuh, dan sungguh kejam karena kita berdua harus terbebani oleh tanggung jawabku sendiri."
"Apakah dia tidak akan berubah pikiran?"
"Bukan dia, tapi aku, Shah Jahan, yang tidak akan berubah. Aku bisa menikahimu sebagai istri kedua .."
"Jika itu keinginanmu," aku berbisik. "Bahkan menjadi selirmu. Aku bahagia hanya jika ada di sampingmu."
"Bukan. Itu bukan keinginanku. Suatu hari, aku akan menjadi sultan, dan pasti anak kita yang akan mewarisi takhta."
Dia membungkuk ke depan dan menciumku dengan lembut."Betapa manis dirimu, bagaikan kelopak mawar."
"Ini hanya untukmu. Orang lain akan merasa kepahitan bila berada di hadapanku."
"Dan aku juga, bagi orang lain."
Tiba-tiba kami terkejut karena teriakan Isa. "Agachi!"
Orang kasim yang tadi lewat sekarang berdiri sambil menatap ke arah kami. Lathi yang dia pegang teracung dengan menakutkan, dan aku merasakan kekasihku merogoh untuk melepaskan belatinya di balik jubah. Aku menghentikan tangannya.
"Siapa itu?" suara tinggi orang kasim itu bertanya.
"Pelayanku. Aku akan menyuruhnya mengantar sesuatu. Pergilah."
"Aku akan mengantarnya keluar. Ayo, ikutlah bersamaku."
Dengan kasar dia menarik pangeranku dan Shah Jahan mengikutinya ke pintu dengan malu-malu. Aku mengawasi dan mengawasi, hingga dia sudah hilang dari pandangan, berharap dia akan menoleh kepadaku sekali lagi. Tetapi, dia sudah menghilang. Sentuhan bibirnya masih terasa sepanjang malam, hingga keesokan harinya. Rasanya dingin dan menyegarkan, tetapi tidak menyejukkan kesendirianku. Aku hanya menunggu, seperti yang dia perintahkan, tetapi janji yang dibuat ketika hasrat sedang menggelegak dapat dilupakan dengan mudah oleh para pangeran.
mim
Betapa leganya bisa lepas dari kebingungan karena begitu banyaknya orang dan hewan dalam perjalanan. Kami menempuh perjalanan lebih cepat, memilih jalur sendiri, dan lebih mengikuti rute kami sendiri daripada yang diperintahkan oleh peraturan dan keinginan Jahangir. Lima ratus penunggang kuda mengawalku, demikian juga dengan selusin pelayan dan Isa. Tetapi, aku berusaha memisahkan diri semampuku. Aku tidak ingin melakukan percakapan penuh sopan santun atau berpura-pura gembira, dan aku merasa begitu kesepian. Kadang-kadang aku sedih, kadang-kadang marah, bahkan Isa pun mengkhawatirkan perasaanku yang berubah-ubah.
Setiap malam kami berkemah di serais, semacam tempat peristirahatan terlindung yang tersebar di seluruh kesultanan, yang biasanya digunakan oleh para pengembara. Para prajurit tidak diizinkan masuk ke dalamnya, dan, karena aku memilih perlindungan mereka dari orang asing, aku tidur di khargah. Di sini juga dingin. Hawa beku terasa melingkupi tepat di atas bayangan kegelapan, tertahan di teluk oleh malam yang dingin, hanya bisa membuat kita meneruskan istirahat kurang dari satu jam setelah matahari terbit.
Aku berbaring di khargah sambil membayangkan rasanya tidur seperti yang kuinginkan, dengan ditemani oleh kekasihku. Tetapi, setiap malam itu tidak pernah menjadi kenyataan. Aku akan memilih untuk tidur di tempat terbuka dan menatap langit luas   yang  bersih.   Memikirkan jagat  raya   yang
terentang jauh di luar batas imajinasi seorang manusia ternyata bisa mengalihkan pikiranku. Angkasa menggambarkan kebesaran Tuhan dan membuat kita merasa kecil dan tak berdaya, bahkan sang Mughal Agung sekalipun.
Hal ini memberiku kenyamanan dan harapan. Aku bisa menatap bintang-bintang di angkasa secara bergantian, meyakini bahwa pergerakan mereka yang halus benar-benar bisa mengendalikan nasib manusia, mendorong manusia memilih suatu jalan dan melakukan sesuatu, mengubah tujuan hidup mereka. Tetapi, bagaimana jika tidak ada yang terjadi? Jika bintang-bintang tidak mengendalikan hidup kita, apa yang melakukannya? Hidupku begitu menderita, hampa dalam kesia-siaan. Kuharap aku bisa menghindari perangkap kekuasaan dan kekayaan ini, dan menjelajah negeri seperti seorang sunyasi.
Siapa perempuan itu? Kalimat terakhir Jahangir yang dikatakan kepada kekasihku adalah: "Aku sudah memilihkan istri bagimu." Diam-diam, aku telah mencari tahu, meskipun rasanya sakit. Tidak ada yang mengetahuinya, atau mereka tidak mau memberi tahu aku. Apakah dia benar-benar ada? Putri mana yang sepadan untuk dinikahi oleh seorang putra mahkota? Apakah dia Hindu? Muslim? Aku mencoba membayangkannya saat aku menatap langit-langit khargah yang bergaris-garis, merasa sesak karena aroma dupa. Di sekelilingku, seluruh pelayanku tertidur, dan Isa berbaring telentang di dekat  pintu   masuk.   Di  tengah  malam   ini,   aku
dikelilingi oleh para prajurit. Tetapi, tidak ada yang bisa menjaga pikiran burukku yang menyelinap.
Aku mendengar beberapa penunggang kuda datang ke perkemahan kami dan berbicara dengan petugas penjaga, kemudian terdengar gumam suara-suara pelan mendekat. Lalu, Isa terbangun dan berbisik kepada pria itu, sebelum memanggilku pelan ke dalam khargah: "Agachi."
Aku pura-pura tertidur dan menunggu dia memanggilku lagi.
"Agachi, sang Padishah mengirimkan pembawa pesan. Dia hanya mau berbicara kepadamu."
Seorang pelayan membawakan jubah untukku, yang lain menyalakan lampu. Aku menuju pintu masuk dan mengintip di antara kisi-kisi. Seorang pria berdiri dalam bayangan dan Isa mengangkat lampu sehingga aku bisa melihat wajahnya. Sang pembawa pesan bersenjata dan memiliki bekas luka yang menggores dari atas dahinya dan menghilang ke dalam turbannya. Dia mengenakan pakaian biasa di balik baju zirahnya.
"Siapa kau?" aku bertanya sambil berdiri, sehingga dia tidak bisa melihatku, hanya bisa mendengar suaraku. Dia mencoba memandang dari ujung satu ke ujung pintu yang lain.
"Pembawa pesan dari Sultan, Begum. Saya tergabung dengan Ahadi Sultan."
"Tapi kau tidak mengenakan seragam kerajaan."
"Yang Mulia tidak mau kedatangan saya diketahui," dia berbisik dengan gugup.
Aku juga merasa tidak  nyaman dengan ke-
rahasiaan kunjungan ini. Seorang prajurit seharusnya mengenakan seragam merah tua khas kesultanan, tetapi dia tampak seperti seorang dacoit.
"Apa yang kau bawa? Berikan kepada Isa. Dia akan memberikannya kepadaku."
Isa menyelipkan dua bungkusan melalui lubang pintu. Salah satu bungkusannya tipis, terbungkus kain sutra, yang lain ada di dalam tas beludru, yaitu sebuah kotak perhiasan yang rancangannya indah, dengan sosok yang menari di atasnya. Keduanya disegel dengan Muhr Uzak. "Benda-benda ini untuk Begum Mehrunissa, untuk diantarkan oleh Anda kepadanya secara pribadi. Itu hadiah dari Sultan."
Mereka memanfaatkan diriku! Betapa sakit hatiku. Aku tidak berarti apa-apa bagi Jahangir, kecuali sebagai kurirnya. Aku tidak bisa menikah dengan anaknya karena aku sama sekali tidak penting, tetapi aku bisa membawa tanda cintanya ke selatan, ke Bengal, untuk Mehrunissa. Apakah dia tidak menyadari ironi ini? Aku bisa merasakan demam cintanya kepada Mehrunissa dalam benda yang kupegang; mengapa dia tidak bisa memahami rasa pedihku? Dia telah memerintahkan Shah Jahan untuk melupakanku. Bisakah perintah seorang sultan menghapus kenangan, melenyapkan cinta? Tetapi, dia tidak memerintahkan aku untuk melupakan Shah Jahan. Aku masih bisa terus mencintainya, sementara kekasihku harus melupakanku.
Si prajurit bergerak, seperti hendak pergi.
"Tunggu. Bagaimana kabar Permaisuri?"
"Dia . tidak membaik, Begum."
Sebelum aku meninggalkan iring-iringan, aku mendengar kabar bahwa Jodi Bai semakin parah. Dia tidak mau makan ataupun minum; setiap makanan yang dia santap akan segera dia muntahkan lagi. Itu adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh hakim, tabib kesultanan, meskipun telah mencoba semua ramuan herbalnya. Semakin hari, Jodi Bai semakin lemah. Sang hakim telah melarangnya bepergian lebih jauh bersama Sultan. Perjalanan ke Ajmer hanya akan semakin membuatnya lelah, tetapi anehnya, Jahangir bersikeras agar Jodi Bai tetap mendampinginya. Dia berkata apabila dia tidak bisa terus-menerus berada di sisi Jodi Bai, dia khawatir terjadi sesuatu padanya.
"Dan Pangeran Shah Jahan?" Membutuhkan usaha yang keras untuk bisa menyebut namanya keras-keras, untuk memperlihatkan kepedulianku kepadanya dengan begitu terbuka.
"Dia baik-baik saja, Begum."
Aku menunggu sambil menahan napas. Dia tidak menambahkan apa-apa lagi, tetapi hanya berdiri di sana sambil menunggu dan membisu. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar. Shah Jahan masih terus menjadi anak yang berbakti.
"Kapan kau akan kembali?"
"Saya tidak akan kembali hingga nanti. Sang Sultan telah memerintahkan agar saya bergabung dengan rombongan Begum ke Bengal." Dia memalingkan wajah, tetapi tidak cukup cepat. Dia
masih menyimpan rahasia.
"Aku bersama lima ratus penunggang kuda. Berapa orang yang kau bawa?"
"Dua ratus."
"Semua Ahadi?"
Dia tidak menjawab pertanyaanku ini, dan mulutnya menjadi rapat dan berkerut. Dia membungkuk, berbalik dengan terburu-buru, dan menghilang dalam kegelapan.
"Coba cari tahu mengapa mereka akan mengawal kita, Isa. Tapi hati-hati."
"Aku akan sangat berhati-hati, Agachi, meskipun mungkin aku akan gagal. Para pengawal pribadi Sultan tidak akan membocorkan misi mereka kepada seorang pelayan rendahan."
Isa menyerah, meskipun bukan karena tidak berusaha. Para penunggang kuda Ahadi masih terus berjalan bersama rombongan kami, melangkah sejauh satu kos di belakang, terus mengawasi kami, tetapi tidak pernah bergabung dengan iring-iringan kami. Semua prajurit mengenakan pakaian biasa, bagaikan para dacoit yang liar, bukannya pengawal pribadi Jahangir yang terpilih.
Mereka juga membuat komandan perjalananku merasa tidak nyaman. Dia adalah seorang Rajput yang masih muda dan tampan, anak bungsu Rana Jaipur. Para pangeran Jaipur telah bergabung dengan bala tentara Mughal sejak zaman kekuasaan Babur dan Humayun; Fateh Singh selalu mengikuti leluhurnya dalam bidang militer. Biasanya, dia menunggang kuda di sampingku untuk menunjukkan
bangunan-bangunan yang menarik, dan sering harus berbalik untuk mengawasi para Ahadi, yang selalu jauh berada di belakang kami.
Bentang lahan yang kami lewati berbukit-bukit kecil dan hanya sedikit berubah. Semakin ke selatan, vegetasi tumbuh semakin subur, dan kami melalui hutan yang hijau dan menyenangkan, penuh burung-burung berwarna-warni dan beragam hewan. Di sini, bumi tampaknya tidak sekeras dan sekejam biasanya, dan setiap desa kecil dikelilingi oleh ladang gandum atau cabai, yang warna merahnya menyala terang, membara di samping warna kuning tanaman mostar yang berayun-ayun.
Kebanyakan penduduk desa bersembunyi dari kami. Hanya anak-anak yang mengintip dari balik pintu atau semak-semak, dan mengamati dengan mata lebar. Bangunan di desa-desa ini berdinding lumpur, beratap ijuk, dan dilindungi oleh pagar kawat berduri. Aku tidak melihat seorang perempuan pun, kecuali sekelebat kain sari yang berwarna terang. Bukan hanya bentang alamnya yang berubah, tetapi bahasanya, kebiasaan, dan mode pakaian. Segalanya tampak akrab-orang-orang, burung-burung, hewan-hewan-dan kami berjalan bagaikan di atas jalinan benang rapat yang warna dan teksturnya berubah, sepanjang jalur tersebut.
Suatu pagi, sebelum kami meneruskan perjalanan, Fateh Singh menawarkan apakah aku mau pergi beberapa kos ke Khajuraho untuk melihat-lihat kuil.
"Kuil-kuil itu dipahat dengan sangat indah," dia berkata dengan sebuah senyuman sekilas. "Kau akan menikmatinya."
Aku tidak mau semua prajurit menemani kami, kehadiran mereka sering kali menakutkan para penduduk. Aku melakukan perjalanan pada waktu fajar bersama Isa, beberapa pelayan, dan selusin prajurit yang dipimpin oleh Fateh Singh.
Dalam cahaya pagi yang lembut, sebuah kuil besar bagaikan tergantung di langit seperti perhiasan dari benang emas, dengan semburat warna cokelat yang benar-benar indah. Ada empat kuil yang terletak berdekatan, dan agak jauh di seberang bentang tanah yang menanjak, aku bisa melihat banyak kuil lain. Mungkin jumlahnya tiga puluh kuil. Kuil-kuil itu memiliki fondasi yang lebar dan berdiri sekitar tiga puluh meter di atas permukaan bumi. Hanya dibutuhkan perjalanan singkat melewati patung Buddha raksasa, kami sudah bisa melihat ladang-ladang gandum yang merentang ke arah tanjakan, dan kami sudah tiba di perkampungan. Pasti tidak akan ada lebih dari seratus jiwa yang tinggal di sana, dan sungguh aneh karena monumen-monumen yang sangat besar itu dibangun oleh segelintir orang saja. Sekelompok perempuan sedang berjalan menuju salah satu kuil; saat melihat kami, mereka ragu-ragu, kemudian setelah saling merapatkan diri, mereka terus berjalan, meskipun sama sekali tidak menatap para prajurit. Mereka membawa bunga-bunga, buah kelapa, dan pisang raja di atas baki kuningan, sementara dari
kuil tersebut terdengar suara dentang lonceng perlahan.
"Kuil itu sudah berusia tujuh ratus tahun," kata Fateh Singh. Dia tidak bisa menyembunyikan kekaguman terhadap keantikan mereka. Kuil-kuil itu tampak baru dipahat. "Ini adalah Kerajaan Hindu Jijhoti. Lihatlah betapa tolerannya kerajaan ini." Dia menunjuk ke kanan dan ke kiri. "Ada para penganut Buddha, dan ada Jain."
Setelah berkendara lebih dekat, aku menyadari bahwa ada banyak ukiran, masing-masing tersusun di sebuah panel seperti tangga menuju langit. Kami turun dari kuda dan berjalan menuju kuil, sementara para prajurit terus berjaga-jaga.
Ukiran-ukiran itu sangat cantik dan memesona; sosok lelaki dan perempuan di relief-relief kuil menunjukkan kemuliaan dan kecantikan abadi, saling bertaut dalam berbagai pose sensual. Entah bagaimana, bagiku, batu ini bagaikan telah berubah menjadi daging karena sentuhan sebuah pahat, dan saat ini, dagingnya dipenuhi oleh hasrat. Gambaran perempuannya sangat molek, dengan kaki-kaki panjang; para prianya tampan, tubuh-tubuh mereka yang berotot kekar bertonjolan, bagaikan sedang menahan napas sambil menunggu kami melintas. Betapa rumitnya pekerjaan itu, bahkan ukiran pakaian pun tampak seperti sutra. Begitu banyak sosok yang terekam dalam beragam pose, sehingga mereka bagaikan berputar dan menari di depan mataku, membuat batu dan daging berbaur membingungkan.
Pemandangan itu begitu menggairahkan dan mengguncang hasratku yang masih ranum. Aku membayangkan diriku sendiri bersama Shah Jahan ikut ambil bagian dalam tahan itu, membeku bersama dalam batu-batu pudar ini-tubuh kami selamanya bersatu dalam kebisuan. Aku merasakan hawa panas naik ke wajahku, dan bersyukur karena beatilha menyembunyikan pikiran nakalku.
"Sungguh aneh orang-orang Hindu menampilkan hal-hal semacam itu di tempat mereka melakukan pemujaan."
"Hanya karena semua hal ini menampilkan kemuliaan dan keindahan anugerah Tuhan," sahut Fateh Singh. Dia menunjuk beberapa patung yang dirusak dengan sengaja, kemudian berbicara dengan penuh amarah. "Lihat, bahkan Ghazi sekalipun, Dewa Penghancur, menghentikan tangannya sendiri dari penghancuran keindahan ini secara komplet."
Ini memang benar, karena tidak ada penjelasan lain, mengapa kuil-kuil ini tidak benar-benar dirusak oleh orang-orang yang melewatinya. Mereka telah melihat pahatan-pahatan itu, dan telah memindahkan hasrat dan keindahan ukiran-ukiran tersebut. Di daerah lain, banyak kuil yang dihancurkan dan masjid-masjid didirikan di lokasi tersebut. Islam menutup wajah Hindustan bagaikan cadar yang menutupi wajahku. Di Agra, dikelilingi oleh istana, aku hanya bisa melihat sekilas kehidupan seperti ini, tetapi setelah di luar lingkaran kekuasaan, semua tampak bagiku. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, aku merasa bukan seperti
orang asing di negeriku. Tanah ini berbaring di bawah kakiku seperti seekor binatang liar, menyeruduk dan berbalik, tidak sepenuhnya terbangun dan tidak benar-benar menyadari keberadaan kami.
Para perempuan telah selesai melakukan pemujaan, dan karena melihat para prajurit yang berdiri di kejauhan, mereka melihatku. Mereka berdiri sambil membisu, malu-malu, tetapi nyata-nyata ingin tahu. Aku mendekat dan berbicara dengan mereka dalam bahasa Persia, kemudian Fateh Singh menerjemahkannya ke dalam bahasa Rajasthani. Mereka tidak mengerti, tetapi tertawa cekikikan, sambil memegang sari mereka untuk menutupi wajah, dan terburu-buru kembali ke perkampungan mereka.
Sang pendeta berdiri sambil mengamati kami dari puncak tangga kuil. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain putih di sekeliling pinggangnya, yang ditarik di antara kakinya. Di dadanya, ada seuntai benang keramat dan di dahinya tergambar tiga garis horizontal lambang Siwa. Aku menaiki tangga, tetapi dia menghalangi jalanku. Dalam cahaya yang berkelip-kelip di belakangnya, aku bisa melihat sebuah patung dewa yang dihiasi rangkaian bunga.
Isa bergabung bersama rombongan kami setengah jam kemudian. Dia berkata, dia harus tinggal di belakang untuk memerhatikan pahatan-pahatan itu dengan saksama, tetapi aku melihat bahwa dahinya masih bernoda vibuthi. Kami tidak pernah
membicarakan hal itu lagi.
Tiga puluh hari kemudian, kami tiba di Gaur. Para penunggang kuda Ahadi hilang dari pandangan kami di suatu jalan yang berkelok-kelok dan Fateh Singh mengira bahwa mereka sudah pergi untuk melapor ke Mir Bakshi. Wajah familier pertama yang kutemui adalah Muneer. Dia menyambutku dengan ramah, dan sambil mengatur pembongkaran barang-barang, dia terus-menerus memprotes tentang Gaur. Kupikir Gaur adalah tempat yang paling menarik. Tempat ini terentang empat belas kos di sepanjang Sungai Gangga, dan setiap pemimpin yang sukses pernah meninggalkan kenang-kenangannya di sini. Ini adalah sebuah kota suci; Kadam Rasul menyimpan tapak kaki sang Nabi. Gaur juga merupakan lumbung bagi kesultanan dan para penduduknya hidup berkecukupan.
Bibiku Mehrunissa tinggal di salah satu istana terbesar, sebuah bangunan luas dan lapang yang dikelilingi oleh beranda, dan dibangun di atas sebuah kebun besar penuh dengan pohon mangga dan banyak buah-buahan lain. Ini adalah tempat tinggal mewah yang sudah pasti layak untuk pamanku yang berpenghasilan besar dan berposisi penting, sebagai Diwan Bengal.
Mehrunissa datang segera setelah aku mandi dan berpakaian, dan dia tampak gembira dan ceria. Aku mengira kebahagiaannya bukan disebabkan oleh kehadiranku, melainkan karena kotak perhiasan emas yang tersimpan di dalam petiku. Di sekeliling
lehernya, dia memakai seuntai kunci emas. Ladilli membuntuti Mehrunissa, bagaikan bayangannya, dan dia merangkulkan lengannya ke tubuhku. Dia telah bertambah dewasa, tetapi tingkah lakunya hanya sedikit berubah; bagiku dia selalu merupakan anak kecil yang pemalu, berapa pun usianya.
Segera setelah aku menyerahkan hadiah dari Jahangir, Mehrunissa memerintahkan kasimnya, Muneer, untuk membawa hadiah-hadiah itu ke kamarnya. Kupikir kertas-kertas itu mungkin berisi puisi, karena Jahangir menganggap dirinya sendiri sebagai penyair yang ahli. Aku tidak tahu apa-apa tentang isi kotak emas itu.
"Apakah kau akan memperlihatkan kepadaku apa isinya?" aku bertanya kepada Mehrunissa.
"Tidak, aku lega kau tidak bisa membuka segala sesuatu yang dititipkan kepadamu," dia berkata. Lalu, sambil mengecupku, Mehrunissa berbisik: "Jangan sebut-sebut hadiah ini kepada pamanmu. Dia mungkin akan salah paham."
Dia berdiri lagi, kemudian untuk pertama kalinya memerhatikan penampilanku. Aku tahu bahwa aku tampak pucat pasi dan kehilangan bobot tubuh, tetapi aku tidak perlu memberi tahu bibiku tentang penyebabnya. Tetapi, meskipun jarak yang terbentang di antara kami begitu jauh, Mehrunissa mengetahui semua yang terjadi.
"Gadisku yang malang," dia menepuk pipiku. "Kau masih sangat muda. Kau akan melupakan dia sepenuhnya."
"Aku tidak bisa, aku tahu itu."
"Kami akan memberikan beberapa hiburan untukmu. Dia bukan satu-satunya pria muda di dunia ini." "Aku tak ingin yang lain."
Mehrunissa mendesah putus asa. "Apakah karena dia putra mahkota, maka kau mencintainya?"
"Tentu saja tidak," aku membantah dengan kesal.
Mehrunissa menatapku dari dekat, mencoba mengartikan maksud jawabanku.
"Shah Jahan adalah kekasihku, bukan putra mahkota. Bahkan, jika dia seorang pengemis, aku pasti akan tetap mencintainya."
"Apa kata ibumu?"
"Sama seperti perkataan Bibi, sama seperti perkataan Sultan. 'Lupakan dia.1 Kata-kata itu sendiri seolah membunuh perasaan dalam hatiku." Aku menarik napas dalam-dalam dan memandang wajahnya. "Tolong aku, Bibi." "Bagaimana?"
"Bicaralah dengan sang Sultan. Tulislah surat kepadanya. Katakan kepadanya tentang ...."
"Tapi apakah Jahangir akan mendengarkanku? Aku hanya seorang teman dan tidak memiliki kekuasaan." Dia ragu-ragu, seperti hendak menambahkan sesuatu, tetapi berubah pikiran, dan malah menampilkan senyum manisnya. "Aku akan mencoba untuk menolong. Itu saja yang bisa kujanjikan. Sekarang, aku harus mengalihkan perhatianmu semampuku."
Apa pun benda yang ada di dalam peti, hal itu membuat Mehrunissa gembira. Aku membujuk dan
mengoreknya agar bisa memberi tahu isinya, tetapi dia hanya menggelengkan kepala, tertawa, kemudian membawaku menjelajahi kota. Dia terus merasa gembira dan dia menjadi sangat mencintai serta memerhatikan Sher Afkun, yang tampak bangga dan puas. Dia benar-benar menikmati posisi pentingnya di Bengal, dan mengalami kepuasan karena posisinya tidak dibayang-bayangi oleh kesuksesan ayah Mehrunissa. Pertunjukan kasih sayang Mehrunissa yang terang-terangan, belaian-belaian di wajah dan tubuh suaminya, dan pujian-pujian penuh kekaguman yang membuat suaminya senang hanya membuatku merasa tidak nyaman. Aku bisa membaca pikirannya lebih baik daripada suaminya sendiri, tetapi banyak yang berkata bahwa para pria mudah diperdaya dengan kecupan dan belaian, dan Mehrunissa sangat ahli dalam seni merayu seperti itu.
"Kau harus tinggal di sini seterusnya," kata pamanku. "Kau telah membuat Mehrunissa-ku begitu gembira. Hingga saat ini, dia selalu merasa sedih-hawa panas, keringat, kebosanan-dan meskipun aku berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya senang, dia tidak pernah puas. Sekarang, kau datang, dan membawa kebahagiaan besar untuk kami."
"Ya, kau harus tinggal," kata Mehrunissa, lalu tertawa bersamanya.
Dia mengetahui jika aku menyadari alasan temperamennya yang membaik. "Suamiku sayang, bisakah   kau  mengatur  sebuah  qamargah   untuk
menghibur Arjumand minggu depan? Aku sudah sangat lama tidak keluar untuk berburu. Saat terakhir aku melakukannya, Arjumand juga ikut, saat kita mendampingi Akbar. Sekarang, dia sudah mengetahui bagaimana caranya menembakkan sebuah jezail, dan kita bisa mengizinkannya menembak seekor harimau. Di daerah ini, harimau-harimau lebih besar dibandingkan di tempat-tempat lain. Arjumand, kau akan menikmatinya."
"Kumohon, jangan menyulitkan diri kalian," sahutku. "Aku tidak lagi menikmati hiburan seperti itu."
"Omong kosong. Kau akan mengaturnya kan, Sayangku?"
"Tentu saja," jawab pamanku.
Qamargah adalah sebuah bentuk perburuan yang pertama kali diperkenalkan oleh Timur-i-leng. Ribuan penunggang kuda berkumpul bersama untuk membentuk suatu bentuk bulan sabit besar yang lebarnya bermil-mil, dan perlahan-lahan, mereka terus maju hingga membentuk sebuah lingkaran. Tak terhitung jumlah hewan yang bisa terperangkap di dalam lingkaran ini: harimau, leopard, nilgai, kera, dan rusa chital. Para pemburu bergantian masuk sesuai dengan derajatnya, untuk membunuh binatang dengan metode apa pun yang mereka pilih: jezail, tombak, pedang, busur dan anak panah. Sekali waktu, Akbar memasuki area itu sambil berjalan kaki dan seekor nilgai menanduk testikelnya, membuat dia harus memulihkan diri selama berbulan-bulan.
Untuk qamargah kali ini, pamanku telah memilih hutan di sebelah timur Gaur. Di daerah itu banyak harimau, dan dia berharap untuk memamerkan kemampuan Mehrunissa berburu kepada banyak pegawai kesultanan dan keluarga mereka yang akan menemani kami.
Ada sebuah pesta perayaan yang dilangsungkan di perkemahan semalam sebelumnya. Tenda-tenda berdiri di sekitar danau yang indah, dan banyak makanan serta minuman. Para lelaki berkumpul di tenda Sher Afkun, dan para perempuan berkumpul di tenda Mehrunissa. Kegembiraan kami sama meriahnya dengan keriuhan para lelaki, karena Mahrunissa sangat menyukai penyelenggaraan pesta, dan telah menyewa penyanyi serta penari untuk menghibur kami. Kami menyesap minuman anggur dan bereksperimen dengan huqqa, dan selama berjam-jam mendengarkan para biduanita menyanyikan lagu-lagu cinta, patah hati, dan kebahagiaan. Perburuan ini akan berlangsung selama beberapa hari, dan para penunggang kuda sudah dikirim ke garis depan untuk mengarahkan hewan-hewan buruan ke lapangan yang dipilih. Sebagai Diwan, pamanku berhak untuk masuk pertama kali. Mehrunissa bersikeras untuk menemaninya, dan, sebagai tamu istimewanya, aku juga akan mendapatkan kemudahan yang sama. Kami akan menunggangi gajah masing-masing.
Meskipun perburuan harus dimulai pada dini hari, pesta perayaan kami berlangsung hingga tengah malam. Bahkan, ketika kami bersiap-siap tidur, kami
masih bisa mendengar suara-suara yang riuh dan meriah dari tenda lelaki di seberang lapangan. Pasti hanya segelintir orang yang bisa berburu pada keesokan harinya, sebagaimana yang direncanakan, pada dini hari. Beberapa perempuan menggumam dalam kantuknya tentang para lelaki konyol itu, dan aku tertidur di antara tawa mereka. Di kejauhan, aku bisa mendengar suara chital yang terdengar merdu.
Pada saat cahaya tidak membuat bayangan, saat peralihan malam menuju pagi hari, aku terbangun oleh suara teriakan dan suara pedang yang menebas mengerikan. Dalam kegelapan, awalnya kami tidak bisa menentukan dari arah mana perkelahian itu, tetapi suara-suara itu sekarang terdengar di seberang lapangan, dari tenda pamanku.
"Apa itu? Apa yang terjadi?" Para perempuan ketakutan dan berkumpul bersama.
Teriakan-teriakan itu semakin keras dan bercampur jeritan seseorang yang sekarat. Gajah-gajah terkejut dan melengking keras, para lelaki berlarian ke segala arah. Terdengar suara jezail ditembakkan sekali, kemudian sebatang pedang beradu dengan perisai. Aku melepaskan diri dari kerumunan para perempuan dan mencoba keluar dari tenda. Tiba-tiba, aku merasa lenganku dicengkeram dengan kuat.
"Mau ke mana kau?" Mehrunissa berbisik.
"Melihat peristiwa itu."
"Tinggallah di sini."
Matanya berkilat dalam cahaya redup dan tubuhnya tegang ketika dia meregangkannya untuk mendengar peristiwa itu. Aku menyadari bahwa dia tidak ketakutan, dan yang lebih parah, dia tidak tampak terkejut. Tampaknya dia benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kericuhan berhenti secepat bermulanya. Keheningan menggantung dan mencekam, bagaikan seekor elang sedang mengawasi, siap menerkam dan membunuh. Perlahan, Mehrunissa melepaskan cengkeramannya di lenganku. Setelah sesaat, kami mendengar kuda-kuda berderap dalam kegelapan malam. Aku gemetar karena kedinginan ketika berhenti di luar. Bintang-bintang di langit gelap sudah memudar dan hanya meninggalkan semburat merah jambu bagaikan darah yang bercampur dengan air. Rumput terasa lembap di kakiku yang telanjang. Di seberang lapangan, kerumunan pria sedang berkumpul di sekeliling tenda pamanku. Aku mendorong dan menyelinap sehingga bisa melihat pamanku berbaring dengan bayangan kematian yang tenang dan rumit di wajahnya. Sebuah pedang tertusuk dalam-dalam di sisi tubuhnya. Saat ini jiwanya sedang bergerak ke dunia lain, dan kami yang ditinggalkan hanya bisa menatap raga yang tersia-sia. Aku berlutut di rumput yang bergelimang darah dan mengecupnya, menghirup harum khasnya yang samar-samar dan terasa akrab, campuran keringat dan wewangian, tetapi juga sekarang bercampur dengan aroma darah. Aku lalu menangis. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah seorang
lelaki yang baik hati dan lembut. Keberaniannya sebagai seorang prajurit telah memberinya ketangguhan, suara yang membahana, yang timbul karena kawalan sepasukan prajuritnya, tetapi dia masih bersikap malu-malu, yang membuat orang menyayanginya. Lima lelaki lain tergeletak dalam posisi ganjil di sekelilingnya. Sebuah lengan terputus, jari-jarinya mencengkeram, bagaikan hendak merayap kembali ke tubuhnya.
"Angkat lampunya," aku memerintahkan.
Cahaya memancar dan menerangi wajah-wajah para pria lain yang tewas. Pria yang paling dekat telah kehilangan turbannya, dan ada sebuah bekas luka yang memanjang dari dahi dan menghilang ke balik rambut hitamnya yang tebal-sang pembawa pesan Jahangir. Saat aku berdiri lagi, M i r Bakshi mengangkat bahu dengan gerakan yang sangat tidak kentara. Suaranya lemah, dan matanya yang merah tampak tidak berekspresi.
"Dacoit," dia menggumam.
Mehrunissa meratap panjang dan keras. Aku tidak bisa menghiburnya; ada rasa dingin yang membekukan hatiku. Ladilli adalah orang yang paling kehilangan karena kematian ayahnya, dan dia menangis diam-diam, terus-menerus. Aku terus menemaninya semampuku, dan dia mencengkeram tanganku kuat-kuat. Ayahnya adalah sahabat terdekat Ladilli, dan saat ini dia tampak sangat kehilangan dibandingkan waktu-waktu lainnya.
Mir Bakhsi mengirim laporan ke Jahangir: para dacoit   telah   membunuh  Sher  Afkun.   Dia   akan
menjelajahi bumi dan langit untuk menemukan pembunuh itu. Seorang pembawa pesan tiba dari kesultanan dengan ungkapan dukacita bagi Mehrunissa. Dia mengantar salah satu janda Akbar, Salima, untuk mendampingi Mehrunissa. Sebelum meninggalkan Gaur, Mehrunissa menghabiskan banyak energi untuk merencanakan makam bagi suaminya. Makam itu dibangun di dekat danau di tepi kota, menghadap ke barat, ke arah hutan tempat dia terbunuh. Itu merupakan monumen yang sederhana dan tidak mahal.
Pada malam terakhir kami di Gaur, aku duduk bersama Ladilli, dan menyadari jika kotak emas yang kuantarkan kepada Mehrunissa tergeletak di meja gading. Ladilli, yang masih layu karena kesedihannya, tidak memerhatikan diriku. Kuncinya ada di lubang, jadi aku membukanya dan mengintip ke dalam. Sebutir berlian sebesar kepalan tanganku terletak di sebuah lapisan penuh zamrud. Aku tahu, ini adalah batu yang dikembalikan oleh Babur kepada Humayun. Kematian selalu mengiringi pemberian itu.[]
8
Taj Mahal
1044/1634 Masehi
Sita berpikir, aku mirip dengan Sita, istri Rama. Dia juga mengikuti suaminya menuju pengasingan. Sita bisa saja tetap tinggal di tempat tinggalnya yang nyaman, tetapi dia bersikeras untuk pergi bersama Rama ke hutan, karena itu adalah karmanya sebagai seorang istri. Aku meratap saat kami meninggalkan rumah kami, menginginkan Murthi untuk melakukan perjalanan sendiri: Sita istri Rama begitu tabah dalam kesepiannya; aku tidak.
Sita sangat kehilangan keluarganya, ibu, nenek, ayah, saudara-saudara perempuan,
sepupu-sepupu, dan bibi-bibi. Dia merindukan perkampungan sederhana yang terletak di tengah sawah-sawah dengan padi hijau yang berkilauan, di mana dua lahan kecil milik keluarganya berada. Hari-hari kehidupannya yang tak terhitung dihabiskan dengan menanam, merawat, memanen, dan menjemur hasil sawahnya. Dia merindukan perjalanan bersama para perempuan lain menuju tangki  air di  dekat  desanya.   Di  sana,   mereka
mencuci, mandi, dan berkumpul untuk sekadar bergunjing. Rasa kehilangan akan kuil kecil yang terletak di atas sebuah bukit batu, berjarak setengah hari perjalanan dari desa menyeruak dalam hatinya.
Di Agra tidak ada kuil; dan Sita hanya memiliki patung pemujaan kecil di gubuknya.
Dia memikirkan semua ini sambil menempuh perjalanannya menyusuri lokasi dengan membawa bebannya. Dia bertubuh kecil, lentur, dan langsing, tubuhnya hanya terdiri dari otot dan tulang, tidak ada yang lainnya. Dia berjalan cepat, menjunjung keranjang di kepalanya dengan sangat seimbang, di atas gulungan kain untuk melindungi tengkoraknya. Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan tulang pipi tinggi, mata cokelat yang teduh, dan bibir yang selalu tersenyum. Dia hanya mengenakan sebuah perhiasan, yaitu thali pernikahannya. Seluruh sisa koleksi perhiasannya yang hanya segelintir, beberapa gelang emas, anting-anting hidung, dan anting-anting, terkubur di lantai gubuk mereka.
Sita berdiri dengan sabar di antrean untuk menerima beban tanah berikutnya. Saat itu di Agra sedang musim dingin, dan dia belum pernah merasakan hawa sedingin ini. Musim dingin yang lalu terasa lembut, tetapi musim dingin saat ini begitu mematikan; orang-orang tua, orang-orang lemah, orang-orang muda, orang-orang miskin, semua meninggal. Sita merasa takut jika terbangun dalam kegelapan dengan embun lembap dan dingin yang tergantung    dan    mengancam.    Dia    tidak    lagi
mengenakan sari, tetapi berpakaian dengan gaya Panjabi, berupa kurta dan piama, lapisan-lapisan itu telah kotor karena hawa terlalu dingin untuk mandi ataupun mencuci secara teratur. Di desanya, Sita mandi setiap hari, dan saat ini dia merasa dirinya kotor, yang membuatnya semakin tenggelam dalam kepahitan.
Para lelaki mengkhawatirkan bumi. Tanahnya keras, kering, dan kejam; mereka bertempur dengan peralatan besi yang sederhana, membuat debu kuning kecokelatan mengepul dan jatuh di serpihan tanah yang keabu-abuan. Di sekelilingnya para perempuan berceloteh, tetapi Sita tidak mengerti apa-apa. Bahasa yang aneh membuatnya semakin merasa kesepian dan membuatnya jadi ceroboh. Saat ini dia mendapatkan gilirannya kembali. Dia menyerahkan keranjangnya kepada lelaki yang berdiri di tanah. Si lelaki menumpahkannya ke dalam lubang raksasa sedalam sekitar dua ratus meter, dan menerima sebuah keranjang dari seorang lelaki lain di kedalaman bumi yang gelap.
Pembangunan fondasi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Rancangan makam berupa sebuah susunan jembatan-jembatan yang melintang di atas sumur-sumur, yang pada akhirnya akan dihubungkan dengan busur-busur kuat. Inti sumur-sumur ini akan diisi dengan serpihan batu, kemudian ruangan di antaranya diisi dengan bebatuan padat. Jembatan-jembatan ini akan menyangga beban makam yang berat, sementara sumur-sumurnya akan mencegah air Sungai Jumna
menerpa bangunan itu. Batu-batu bata direndam di dalam lemak panas agar kedap air selama berabad-abad ke depan. Adukan semen yang mengikatnya juga merupakan campuran istimewa: perasan limau dan berlian, gula mentah, tanaman miju dan tepungnya, cangkang tiram dan kulit telur yang dihancurkan, serta getah pohon karet.
Sita berjongkok dan meraih salah satu sisi keranjang, sementara si lelaki memegang yang lain. Bersama-sama, mereka mengangkat dan meletakkan di kepala Sita. Dia menyeimbangkan tubuhnya, dan perlahan-lahan, dengan terkendali, dia berdiri. Itu adalah usaha yang keras. Setelah tubuhnya tegak, dia harus menyusuri jalan dalam kebingungan. Permukaan tanah bergelombang berbukit-bukit, dan Sita mengikuti sebuah jalan setapak sempit, hanya selebar kaki telanjang, menuju dinding batu penahan air. Di situlah awal sebuah jalan besar, yang sekarang hanya setinggi tiga puluh sentimeter, tetapi akhirnya akan menanjak dan terus menanjak, mengikuti ketinggian bangunan. Gajah-gajah dan kerbau-kerbau akan menapaki tanjakan yang melengkung, menghela muatan batu bata dan bebatuan. Sita menurunkan bawaannya, kemudian seorang lelaki yang berjongkok memukul-mukul tanah yang segar itu dengan balok-balok kayu besar.
Dia kembali dengan melewati rute lain. Dalam bayangan pohon banyan yang berdebu, dia melihat sekelompok anak sedang bermain. Yang paling muda masih bayi, sementara gadis tertua berusia sekitar
empat atau lima tahun. Dia yang menjaga anak-anak lain. Sita mencari Savitri dan menemukannya sedang duduk di atas tumpukan pasir dengan ceria. Sita berjongkok dan memeluk putrinya, meniup hidung Savitri, merapikan pakaiannya, kemudian kembali bergabung dalam antrean. Sita menoleh ke belakang; Savitri menangis, mengulurkan tangannya, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
Di kejauhan, dia melihat sekelompok lelaki berpakaian indah yang mendekat, dan mendengar bisikan para pekerja lain: sang Padishah, sang Padishah. Dia berdiri membeku dan melongo bersama yang lain, seperti melihat seorang dewa turun ke bumi. Sang Sultan menyeberangi tanah bagaikan kilat, para lelaki dan perempuan membungkuk rendah di hadapannya. Para prajurit mendorong dan membersihkan jalan di antara para pekerja untuk sang Padishah. Tampaknya, sang Sultan tidak memedulikan orang lain. Dia mendaki tembok batu penahan air, berdiri hingga tampak siluetnya di depan latar langit biru, terisolasi dari semua yang mengelilinginya, dan menatap bumi yang tergali. Kemudian, dia menatap langit dalam waktu yang lama dalam keheningan, dan, tampak bagi Sita, dia melihat sesuatu-sesuatu yang menjulang di atasnya, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kemudian, dia kembali ke istana.
Kelelahan, Sita berjongkok di dekat perapian. Asap membuat matanya perih dan dia menyekanya terus-menerus   dengan   lengan   kurta   yang   dia
kenakan. Panci-panci keramik berdesis, yang satu berisi nasi, yang lain berisi dhal, yang ketiga berisi brinjal, cukup untuk memberi mereka makan selama satu hari. Setiap pagi, dia membungkus makanan dingin dengan daun, membuat bekal makanan yang rapi untuk dirinya sendiri, Murthi, Gopi, dan Savitri.
Sita sedang tidak enak badan; ini adalah sebuah penyakit yang sudah lama dia ketahui. Dia sudah beberapa lama tidak datang bulan dan mengetahui, dengan gembira, bahwa dia hamil lagi. Dia membisikkan sebuah doa: seorang putra, Siwa, Wishnu, Lakshmi, seorang putra. Jika ada sebuah kuil di sekitar situ, Sita akan mandi, mengenakan sari bersih, menyelipkan rangkaian melati di rambutnya, kemudian membawa sesaji sederhana bagi para dewa. Dia akan memberi sedikit koin kepada pendeta untuk mengalunkan puja istimewa, untuk bayinya yang baru tumbuh, dan berdoa diiringi alunan puja tersebut, agar mendapatkan anak lelaki.
Cepat, cepat, cepat, cepat.
Kata-kata itu berdentam seakan-akan dikatakan dengan keras; jantungnya berpacu dengan kata-kata tersebut. Shah Jahan duduk di bantal, menatap model. Tangannya, tangan khas seorang Sultan, yang lembut, pucat, dan dihiasi emas dan berlian, membelai kubah model itu. Bangunan tersebut membebaninya, menyakitkan dirinya, bagaikan   tulang-tulangnya   terbuat   dari   marmer
putih, menghunjam dagingnya bagaikan luka yang tidak bisa sembuh. Hanya jika bangunan itu selesai, hilang sudah rasa sakitnya, lukanya menutup kembali, dan beban itu akan terangkat dari tubuhnya. "Ada sesuatu yang salah," dia berbisik. "Isa, panggilkan Ismail Afandi."
"Akan saya kerjakan, Padishah."
Tangan Shah Jahan terus-menerus membuat gerakan membelai, mencari sebuah kesalahan. Menteri-menterinya-Diwan, Mir Saman, Mir Bakshi-berdiri membisu dan tidak bergerak, tidak ada yang berani mengganggu meditasi sang Sultan.
Akhirnya, Diwan bersuara: "Padishah!"
"Ada apa?"
Sang Diwan membereskan kertas-kertasnya, menimbulkan suara gesekan. "Jika Paduka bersedia, kita harus menangani beberapa masalah. Tahun ini hujan turun terlambat dan para petani kehilangan banyak hasil panen mereka. Saya harus memberi izin untuk mengurangi pajak mereka, sebagaimana yang ditetapkan oleh Akbar. Tapi, saya pikir itu tidak mungkin. Lembaga keuangan menghabiskan jumlah yang sangat banyak untuk pembangunan makam Paduka Mumtaz-i-Mahal. Apa yang harus kita lakukan, Padishah?"
"Nanti, nanti."
"Padishah," Mir Bakshi berbicara. "Para pangeran Deccan memberontak secara terbuka. Kita harus mengirimkan bala tentara untuk menangani mereka. Siapa yang akan memimpin pasukan?"
"Selalu ada pembuat onar," jawab Shah Jahan.
"Apa yang pernah berhasil kita lakukan di sana? Aku telah mencoba, Akbar telah mencoba, ayahku juga. Masalah itu bisa menunggu." "Baik, Padishah."
"Sekarang, pergilah. Menghadaplah kepadaku nanti."
Menteri-menterinya membungkuk dan mengundurkan diri. Seperti seluruh kesultanan ini, mereka menahan napas mereka. Sang Mughal Agung tampaknya mencengkeramkan tangannya ke bumi, membekap para manusia dan hewan serta membekukan semua gerakan, hanya mengizinkan ribuan pekerja di sungai untuk meneruskan pekerjaan harian mereka yang menyibukkan.
Ismail Afandi, sang Perancang Kubah, menunggu hingga Shah Jahan menyadari kehadirannya yang tidak kentara. Tangan sang Sultan masih menempel di kubah. Di sisinya ada sebuah tungku yang terisi batu bara menyala, menguarkan hawa panas yang harum.
"Model ini tidak sempurna, Afandi." "Ya, Padishah."
Ismail Afandi masih diam dan bersikap patuh, jawabannya bermakna ganda. Kubah itu sempurna. Bukankah dia pernah membangun sebuah kubah untuk masjid besar di Shiraz, dan kubah untuk makam sultan Turki? Keahliannya belum pernah dipertanyakan, dan kubah ini sama dengan yang lain. Bagaimanapun, hanya karena alasan politis dia setuju dengan sang Sultan.
"Di sini datar ..."
"Ya, Padishah."
". seperti kubah di makam Humayun. Yang ini tidak boleh menampilkan bangunan lain mana pun yang pernah kau ciptakan. Apakah kau mengerti?"
"Sebuah kubah hanya memiliki satu bentuk, Padishah."
Tatapan Shah Jahan sangat tajam, begitu menusuk. Afandi berkerenyit. Keringat membutir di wajahnya. Mengapa dia berbicara begitu? Kebanggaan yang konyol mengusiknya, mempertanyakan mengapa dia harus didikte oleh sang Sultan dalam menghasilkan suatu karya. Sang Sultan memerintah, dia membangun: pembagian keahlian yang bersih dan sangat penting. Dia tidak akan mengambil tanggung jawab dalam komisi ini jika keikutcampuran Sultan secara terus-menerus bisa diramalkan.
"Kubah ini akan berbeda," kata Shah Jahan. "Kubah ini akan berbentuk bulat, merentang ke atas, bagaikan akan terbang."
Telapak tangan sang Sultan melengkung di udara bagaikan sedang memegang sebuah bola yang tak terlihat. Dia mengetahui bagaimana maksudnya, bahkan jika Afandi tidak mengerti. Tatapannya terpaku kepada budak-budak perempuan dan dia memanggil salah seorang dari mereka; budak itu berlutut di hadapannya. Sang Padishah menunjukkan buah dada sang budak yang mewakili bayangannya.
"Seperti ini, Afandi, seperti ini, kau lihat!"
"Ya, Padishah."
Ismail Afandi tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Buah dada wanita pada sebuah makam? Dia harus melupakan semua pengalaman meniru bentuk tubuh ini.
"Ukurlah perbandingan bentuknya."
Afandi mengeluarkan jangka dan dengan hati-hati mengukur buah dada itu. Si budak perempuan tetap diam, menatap ke kejauhan sementara Afandi mencatat hasil pengukurannya.
"Tapi, di bagian dasar, aku ingin bangunan itu melebar-jadi-seperti pinggulnya."
"Ya, Padishah."
Semua tubuh mirip satu sama lain, pikir Shah Jahan. Raga bisa memberikan kenikmatan yang manis, tetapi ia hanya sebuah wadah. Yang kupegang tidak ada bedanya dengan milik perempuan lain, perbedaannya satu sama lain tidak begitu jauh. Bahkan dalam kegelapan, aku bisa membedakan Arjumand dengan yang lain. Sekarang, meskipun semua kenangan sudah berlalu, bentuk tubuhnya, aromanya, kelembutannya, membakar indraku. Namun, yang kucintai tidak terlihat, hal itu terletak di dalamnya. Bisikan-bisikan yang tidak bisa didengar, tawa yang mengambang dalam keabadian, yang hanya bisa terdengar oleh Tuhan, sekilas pandangan penuh arti hanya bagiku; hal-hal seperti itu memenuhiku dengan begitu penuh kenikmatan.
Oh, Tuhan, betapa singkatnya waktu kami bersama; keabadian pasti akan terasa tidak lama lagi.Ll
9
Kisah Cinta
1020/1610 Masehi
Arjumand
"Dia datang! Dia datang!"
Para perempuan harem berbaris di balkon, menempel ke dinding yang berkisi-kisi, saling mendorong dan berdesakan, menyelinap ke sudut-sudut, dan mengintip di antara bahu-bahu, naik ke atas bangku dan meja. Sambil melompat-lompat dengan panik, bagaikan burung yang akan diterkam, mereka mengintip ke bawah, ke arah halaman istana. Aku duduk sendirian di dalam sebuah ruangan kosong, sambil memandang dari jendela ke arah Sungai Jumna. Arus Sungai Jumna bergerak dengan tenang dan perlahan, berwarna seperti logam yang terbakar, tidak tersentuh oleh kebahagiaan ataupun kesedihan. Seperti bumi dan langit, Sungai Jumna mengesankan keagungan tentang keabadian. Aku merasakan kehadiran Isa di dekatku. Aku bisa merasakan keprihatinannya; rasa itu benar-benar menenggelamkanku. Aku tidak bisa berbalik, karena
tahu, jika melihat wajahnya, aku akan menangis. "Dia datang .."
Jeritan kegairahan dari sisi lain istana memenuhi diriku dengan perasaan kering dan pedih yang tak tertahankan. Harapanku telah terpenjara selama dua tahun ini, dalam keheningan penantian yang begitu kejam. Sekarang, harapan itu berlutut, menundukkan kepala di atas papan, mengetahui bahwa pisau algojo tidak akan meleset-wussl-harapan itu berguling tak berdaya dalam keadaan mati, membisu di tengah riuh-rendahnya kerumunan orang. Rasanya lebih baik aku mengalami hal itu, daripada menghadapi kematian seperti ini, untuk membuka genggaman tanganku dan membiarkan kerinduanku jatuh. Tetapi, di antara semua kepedihan ini, aku masih hidup.
"Bolehkah kita melihat seperti apa pengantin Shah Jahan?"
Isa mengikutiku menuju balkon dan para perempuan itu menyadari kehadiranku. Ada beragam ekspresi iba dan simpati, beberapa orang berekspresi penuh kemenangan, beberapa lagi memancarkan ekspresi kegembiraan tertahan yang muncul saat orang lain terluka. Aku mendesak kerumunan agar bisa maju ke depan.
Iring-iringan berhenti di bawah kami dan seorang gadis dibantu keluar dari tandu oleh budak-budaknya; dia dipeluk dan disambut oleh para perempuan yang lebih tua, yang sedang menunggu di pintu masuk. Di belakangnya, berjajar
dari istana hingga ke jalan-jalan di depan benteng, berbaris karavan hadiah yang dikirimkan oleh pamannya, Shahinshah dari Persia, kepada Mughal Agung, Jahangir. Lima puluh kuda jantan Arab, empat ratus budak, emas, perak, batu-batu mulia, dan yang paling penting di antara semua, hadiah berupa persahabatan dengan Shahinshah. Hal itu mewujud dalam bentuk seorang perempuan. Dia sudah melakukan perjalanan selama berbulan-bulan, dikawal hingga ke perbatasan Kandahar oleh bala tentara Persia, dan dijemput di sana oleh pasukan Mughal.
Kandahar adalah pusat pertemuan antara dua kerajaan tersebut, pusat nadi perdagangan, sebuah kota yang kaya dan makmur. Kepemilikan kota itu jatuh bergantian dari satu penguasa ke penguasa lain secara bergantian, selama bertahun-tahun, tergantung kehebatan bala tentara masing-masing. Pada saat itu, kota Kandahar dikuasai oleh Jahangir. Hubungan di antara dua kesultanan itu berada pada kondisi yang paling tidak bisa diduga. Masing-masing mengamati yang lain dengan sudut pandang penuh kecemburuan dan kewaspadaan, keduanya diseimbangkan oleh kekuatan lain di suatu daerah pinggiran Kandahar. Bahkan saat sedang berdamai pun, persahabatan kedua negara ini tidak mulus. Bertahun-tahun yang lalu, saat Humayun kehilangan Delhi karena direbut Shershah, dia meminta perlindungan kepada Shahinshah. Sultan Persia mau melindunginya selama beberapa tahun, tetapi hanya jika Humayun berpindah aliran agama,
dari Sunni yang merupakan keyakinan Mughal, menjadi Syiah. Sang Sultan kemudian memberi bantuan dengan sebuah pasukan dan kawalan putra bungsunya, yang tewas saat perjalanan panjang untuk merebut Delhi kembali.
Kedatangan keponakan perempuan Shah di Agra merupakan tanda bahwa era baru persahabatan akan segera dimulai. Masing-masing sultan telah memilih untuk memamerkan perdamaian, karena ini adalah kepentingan mereka yang paling utama. Jahangir telah memerintahkan seniman-senimannya untuk membuat sebuah gambar singa Mughal yang sedang setengah merunduk sebagai hadiah bagi kesultanan Persia.
Usia Putri Gubaldan sebaya denganku. Dia sedikit lebih kecil dariku, gerak-geriknya ganjil dan kaku, karena sifat malu yang sangat berlebihan. Tampaknya ada segumpal asap di sekelilingnya ketika dia menggumam, dan dia membungkuk kepada banyak perempuan yang menyapanya. Di sampingnya ada seorang perempuan montok, ibunya, dan kemudian datanglah sejumlah besar dayang-dayang.
Mehrunissa, meskipun masih menjadi dayang-dayang Salima, bersikap seolah seorang permaisuri yang menyambut pengantin anak lelakinya. Tidak ada yang bisa mengerti alasan Mehrunissa untuk terus menolak ketertarikan Jahangir. Menurut kabar angin, Jahangir benar-benar tergila-gila kepadanya. Aku tidak bisa bersimpati kepadanya, karena dia telah membuatku tenggelam dalam kesedihan yang
hebat. Hanya Mehrunissa sendiri yang saat ini bagaikan sedang berdiri menyambut pernikahan mereka, karena meskipun Permaisuri Jodi Bai sempat sembuh dari sakitnya sebentar, secara misterius dia jatuh sakit sekali lagi, memuntahkan makanan dan darah, dan seminggu setelah penyakit barunya muncul, dia meninggal. Dalam duka, Jahangir telah memerintahkan agar di istana dilangsungkan masa perkabungan selama sebulan, yang dipatuhi oleh semua orang, meskipun diam-diam, seseorang bisa mendengar bisik-bisik: Jodi Bai diracun!
Cinta adalah sebuah alasan yang mengerikan. Jika seseorang bisa mati karena menginginkan sesuatu, bukankah seseorang juga bisa membunuh untuk mendapatkannya? Para lelaki telah melakukan ini, perempuan juga. Tetapi, aku tidak memiliki kekuasaan sang Mughal Agung untuk mencapai tujuanku.
Mehrunissa tersenyum ketika dia mendekatiku bersama sang Putri. Dia tahu betapa hal itu akan menyakiti hatiku, tetapi karena aku sendiri akan menyambut sang Putri, dia mengetahui bahwa aku sudah siap. Aku merasakan mata para perempuan lain mengawasiku, tak diragukan lagi berharap, karena marah dan murka, aku akan mencakar wajah gadis malang itu. Tetapi, aku hanya tersenyum, dan membungkuk saat dia lewat di depanku.
"Keponakanku, Begum Arjumand Banu."
"Aku telah mendengar kecantikanmu."
"Yang Mulia begitu murah hati. Aku tidak mengira ada kabar tidak penting seperti itu yang
sampai begitu jauh ke Ishfahan."
Selama sesaat mata kami bertemu dan aku menyadari ada senyuman lemah penuh kesedihan dalam dirinya, bukan prihatin terhadapku, tetapi lebih terhadap dirinya sendiri. Matanya berwarna cokelat, lebar, indah, dan waspada; seperti chital yang mengendus-endus bahaya dengan penuh rasa ingin tahu. Mengapa dia harus merasa takut kepadaku, aku tidak bisa menjawab. Dia yang akan menikah, bukan aku. Apakah dia sudah mendengar bahwa Shah Jahan masih mencintaiku? Pikiran itu membuatku sedikit merasa nyaman.
"Itu bukan kabar yang tidak penting." Sepertinya dia ingin berbicara lebih banyak, tetapi Mehrunissa mulai menariknya menjauh.
"Aku berdoa untuk kebahagiaan Yang Mulia dalam menyambut pernikahan."
Jika sang Putri mendengarnya, dia kelihatannya tidak bereaksi apa-apa, dan segera menghilang di tengah kerumunan perempuan. Dia hanya memiliki waktu yang singkat untuk beristirahat, karena tiga hari lagi dia akan menikah dengan Shah Jahan.
Aku berharap agar bisa kabur, menyelesaikan tugasku dan menggeliat dengan nyaman, tetapi aku harus tetap tinggal, tersenyum, mengangguk, dan berbicara. Begum Arjumand Banu yang ini adalah seorang manusia lain, bergerak di istana dalam impian memabukkan, berjalan dalam mimpi buruk, dan aku bersembunyi di baliknya, sambil meringkuk dan memejamkan mata rapat-rapat. Satu-satunya yang kuinginkan adalah keheningan, untuk duduk di
sudut taman di seberang Sungai Jumna, dalam kerindangan pepohonan limau yang indah, tempat aku menulis puisiku yang kata-katanya terkubur dalam kesedihan.
"Akan lebih sejuk jika kau ke balkon, Agachi," Isa berbisik perlahan.
"Aku tidak membutuhkan udara segar. Aku ingin pergi jauh sekali . untuk melupakan. Aku ingin pergi ke pegunungan. Maukah kau ikut bersamaku?"
"Tentu saja, Agachi. Aku hidup untuk me-layanimu. Tapi, apakah itu akan cukup jauh?"
"Tidak, itu hanya harapan. Aku akan selalu memikirkannya, menginginkannya. Aku tidak bisa melepaskan diri dari hal itu. Ambilkan aku sedikit anggur, tolonglah."
Ada jeda singkat di antara perayaan ketika sang Putri dibawa pergi untuk mandi. Saat dia tampil kembali, perayaan akan berlangsung hingga larut malam, dan para perempuan tidak akan menjalani rutinitas hidup mereka di harem, dan membuat mereka bisa memamerkan perhiasan terindah dan memakai kain sutra baru. Saat ini, mereka berbaring di dipan-dipan, berbisik dan tertawa. Dan sepertinya, setiap tatapan, setiap perkataan, adalah tentang diriku.
Aku menuruti saran Isa dan bergerak ke arah balkon, menatap Sungai Jumna. Ketika melewati lorong, aku memergoki sebuah gerakan rahasia.
Di dalam sebuah sekat, yang hanya tertutup sedikit oleh tirai muslin, ada tiga perempuan yang sedang berbaring bersama di atas dipan. Dua orang
berasal dari Kashmir, berkulit putih dan berambut panjang; mereka sedang membelai-belai seorang gadis Turki yang berbaring di antara mereka. Sang gadis Turki memiliki wajah lonjong dan bibir yang penuh, dan matanya memejam. Bisikan dan gerakan mereka membuatku gemetar.
Aku terkesiap, bagaikan terbangun dari mimpi, dan terburu-buru pergi ke balkon yang menawarkan privasi. Angin sejuk dari sungai menyegarkanku, pakaianku basah oleh keringat dan kakiku gemetar, jantungku berdegup kencang. Aku menemukan, dalam tubuhku sendiri, kenikmatan mengalir bersamaan dengan darah. Pengetahuan ini membawa kepuasan sekaligus ketakutan. Relief-relief yang pernah kulihat di Khajuraho tidak membuatku merasa bergairah. Tetapi, pemandangan tadi, bagaikan membangkitkan suatu hasrat rahasia dari dalam tubuhku. Aku tidak bisa menyalahkan mereka; hanya seorang pria pemberani atau bodoh yang bisa menyelinap di antara para pengawal, jadi para perempuan harem mendapatkan kepuasan dari sesama mereka.
Betapa lebih hebatnya jika kenikmatan itu dialami bersama seorang lelaki! Dan betapa memesonanya kenikmatan yang bisa kutemukan bersama Shah Jahan.
Shah Jahan
Aku mendengar keributan itu dan segera tahu bahwa calon pengantinku sudah tiba. Itiam-ud-daulah telah menyambutnya di perbatasan
Agra dan bergabung dengan iring-iringannya. "Seperti apa dia?" aku bertanya kepada Allami Sa'du-lla Khan.
Dia berdiri di depan jendela, menatap ke bawah. Tampaknya dia bosan dan kelelahan; aku tahu dia berharap untuk lolos dari jebakan pertanyaan ini.
"Siapa yang bisa mengetahuinya, Yang Mulia? Dia tampak kecil, rapuh. Namun aku melihat tangan-tangannya cukup cantik. Penampilannya yang lain masih menjadi sebuah misteri, yang hanya bisa dilihat oleh Anda."
"Saat itu sudah terlambat."
Aku terdiam. Akhir-akhir ini, aku bukan seorang teman yang baik, karena aku tidak berburu atau keluar bersama para penasihatku. Aku menolak untuk menunggang kuda, tidak mau bertarung, dan tidak merasakan kenikmatan lagi dari perempuan-perempuan lain. Aku berusaha melupakan semuanya dengan menenggak anggur banyak-banyak.
"Pergilah."
Allami Sa'du-lla Khan menatapku dengan ragu-ragu, tidak mampu untuk menyembunyikan kelegaannya karena bisa pergi dariku. Aku melambaikan tangan menyuruhnya pergi; dia membungkuk dan terburu-buru keluar dari ruangan. Aku menggantikan posisinya di jendela, untuk menatap ke seberang harem dengan teliti. Arjumand mungkin ada di sana, dalam area pandanganku. Aku menunjukkan diriku dengan lebih terbuka, berharap dia juga sedang memandang dari seberang. Tetapi,
apa gunanya hal ini? Hanya untuk saling melihat dan jari-jari kami bahkan tidak saling bersentuhan? Aku mengeluarkan sebuah puisi yang kutulis untuk Arjumand. Tidak seperti ayahku, aku bukan seorang penyair.
Angin sepoi indah pada fajar menebarkan aroma mawar.
Keharuman menguar dari bumi, di tempat kekasihku berdiri.
Semua kebahagiaan duniawi akan memudar; hai para pengkhayal, sadar!
Karavan kekasihku pergi, sebelum aroma harum itu pergi.
Siapa yang bisa kupercayai untuk mengantarkan puisi ini dengan aman? Jika saja aku bisa berbicara dengannya. Tahun-tahun keheningan telah meninggalkan sungai kata-kata yang meluap dalam kerongkonganku, yang terasa mencekik dan membuatku tidak bisa bernapas. Aku berharap mereka menyerbu keluar dalam suatu banjir besar, tetapi ternyata hanya bisa keluar dalam bentuk kata-kata lemah yang tidak berkesan ini.
"Padishah ingin bertemu dengan Anda, Yang Mulia," sang wazir membuyarkan lamunanku. Aku menyembunyikan puisi itu di dalam lipatan sabukku.
Penampilan ayahku telah berubah. Dia menjadi lebih pendiam dan murung, wajahnya semakin gelap, dan ada aura kepedihan di sekelilingnya. Dia bisa memerintahkan seluruh dunia untuk merunduk,
tetapi tidak kepada Mehrunissa. Dengan gugup, dia menarik-narik janggutnya, yang saat ini tampak kusam. Bahkan sarapa dan perhiasannya pun tampak meredup. Jika aku sendiri tidak sedang berperasaan muram, aku pasti akan tersenyum karena ironi ini. Kami sama-sama menderita karena cinta, dan kami juga sama-sama ditolak. Allah memang adil, tetapi kadang-kadang aku merasa ada kekejaman dalam keadilan-Nya.
"Apa yang kau inginkan?" dia berkata dengan tajam, menatapku, mungkin berharap aku tidak datang, karena penampilanku menggambarkan kondisinya sendiri. Aku mengingatkannya akan cintanya yang tak terbalas, seperti abangku, Khusrav, yang mengingatkannya akan pengkhianatan. Dia menghindari kami berdua, bagaikan tidak mampu menghadapi kelemahannya sendiri.
Tetapi, aku tidak begitu mengancam dibandingkan dengan Khusrav. Dia telah merusak kesempatannya menjadi sultan dengan hasrat gila kekuasaannya sendiri. Kegilaan itu telah ditanamkan dalam dirinya oleh kakekku, Akbar, yang secara tidak bijaksana telah memilih Khusrav untuk menjadi ahli waris takhta kesultanan, bukannya ayahku. Menjelang ajalnya, Akbar berubah pikiran lagi, tetapi tidak bisa mengubah takdir karena Khusrav sudah memilih jalannya sendiri.
Aku mengingat bagaimana Khusrav, sudah tentu, tidak senang dengan kenyataan bahwa ayahku yang naik takhta. Selama sesaat, takhta itu sempat
berada dalam genggamannya, karena Akbar, dan ketika keinginan itu tidak tercapai, obsesi terus menguasai dirinya. Jahangir, yang waspada akan hasrat Khusrav, menahan abangku di istana, hingga dia meloloskan diri dan memimpin suatu pemberontakan. Pemberontakan itu berlangsung singkat dan dua orang yang berkonspirasi dihukum mati oleh ayahku. Ini menyebabkan suatu ketidakpercayaan antara ayah dan anak yang begitu mematikan, dan semakin memburuk ketika Khusrav berencana untuk membunuh ayahku dalam sebuah perjalanan berburu.
Rencananya adalah membunuh ayahku saat dia sedang berburu di qamargah. Dalam kebingungan dengan binatang-binatang dan orang-orang, geraman, raungan, dan jeritan hewan-hewan yang terbunuh, rencana itu akan berjalan tanpa mencurigakan. Sebuah belati bisa dengan cepat dihunus, ditusukkan, dan diayunkan. Tetapi, diwan-i-qasi-i-mamalik sempat mendengar desas-desus itu, meskipun Khusrav hanya membicarakan hal itu bersama para pendukungnya. Bahkan, jika rencana itu belum sampai di telinga Jahangir, aku pasti akan diberi tahu oleh agen-agennya, karena nyawaku sendiri pasti tidak akan lebih berharga jika rencana Khusrav berhasil. Bisakah seorang Mughal Agung membiarkan seorang saudara lelaki sepertiku hidup?
Aku tidak dapat menyalahkan ayahku akan hal yang terjadi selanjutnya. Aku juga akan bertindak cepat dan keras,  tetapi karena Khusrav adalah
abangku, aku merasa sedih. Dia adalah teman kecilku yang paling dekat, meskipun kami tidak lahir dari ibu yang sama. Di dalam kehidupan para pangeran yang dibanjiri perhatian dan penghormatan, kami bersahabat. Bersama-sama, kami belajar keterampilan berperang, menunggang kuda dan bergulat, dan membaca bersama-sama; suatu ikatan yang bisa sangat membebani. Aku juga memiliki adik lelaki, Parwez, tetapi kami tidak dekat. Dan ada seorang anak lelaki yang tidak berhak menduduki takhta, seorang Na-Shudari, Shahriya, yang ibunya adalah seorang budak Panjabi. Dia bukan sainganku dalam perebutan takhta. Aku bersyukur karena satu hal: Akbar tidak meracuni hidupku. Seperti halnya semua sultan lain, kekuasannya tidak sempurna.
Ayahku tidak melakukan apa-apa hingga pagi hari menjelang perburuan. Kemudian, dia menarik Khusrav, bagaikan memetik buah, keluar dari kelompok pejabat. Banyak di antara mereka adalah pendukung Khusrav secara diam-diam, dan ayahku sudah mewaspadai hal ini, tetapi dengan bijaksana memutuskan untuk tidak mengusik mereka dengan tuduhan. Khusrav sendiri yang akan menderita karena pengkhianatannya.
Satu jam setelah fajar menyingsing, kami berkumpul di diwan-i-am. Pertemuan itu begitu serius, dan tidak ada orang yang berbicara lebih keras daripada bisikan. Khusrav dan aku berdiri tepat di bawah singgasana yang bertepi emas. Di belakang kami, dan di dalam pagar perak, berdirilah wazir dan
para petinggi lain, dan seorang gurz bardar yang membawa sebuah tongkat emas. Satu langkah di bawah kami, di balik pagar kayu merah terang, para lelaki terhormat lain berdiri, dan di sebelahnya ada gurz bardar lain yang membawa sebuah tongkat perak.
Aku berdiri sejauh mungkin dengan Khusrav. Di antara kami semua, dia tampak paling bebas dan santai. Dia tersenyum dan bercanda, tetapi terdiam saat para algojo yang memakai topeng hitam, masuk dan berbaris di depan dinding di bawah singgasana. Masing-masing membawa alat eksekusinya. Di atas mereka, kami bisa mendengar suara-suara desiran lembut dari para perempuan dan melihat wajah-wajah mereka di balik bayangan yang mengintip kami melalui celah.
Ayahku masuk, menaiki tangga ke mimbar dan duduk di singgasana. Para prajurit menjaga tangga ini, dan tidak ada seorang pun, bahkan aku, Khurrumnya, diperbolehkan mendekati sang Sultan. Di bawahnya, seorang petugas menunggu untuk mencatat peristiwa ini.
Setelah ayahku memberi isyarat, gurz bardar mendekat dan menyentuh Khusrav dengan tongkat emasnya. Khusrav maju selangkah dengan berani, mungkin memercayai ruh Akbar melindunginya, dan menatap Sultan.
"Khusrav, Khusrav, apa yang kulakukan terhadap dirimu?" Jahangir berbicara perlahan. "Aku merasa sangat pedih karena mengetahui kau menginginkan kematianku.   Apakah   Akbar   mengajarimu   untuk
membunuh ayahmu sendiri? Tentu saja tidak. Bukan kebiasaannya untuk melakukan suatu tindakan iblis. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Akbar yang menobatkan aku sebagai Padishah. Aku duduk di singgasana dengan sah. Kaulah yang tidak memiliki hak. Tanya para penasihatku, apakah ini memang benar."
Para penasihat terhormat bergerak-gerak dengan gugup. Sang Sultan membungkuk, dengan tatapan terluka dan bingung. Khusrav tidak menjawab.
"Apa yang kugenggam dalam tanganku?" sang Sultan meneruskan berbicara dalam nada lembut yang sama. "Bukankah ini pedang Humayun? Akbar, dengan tangannya sendiri, telah menyerahkan pedang ini kepadaku pada akhir hidupnya. Dia membuka turbannya, dan meletakkannya di kepalaku. Dan dia memutuskan bahwa aku akan menjadi penggantinya. Mengapa kau menolak untuk menerima keputusannya?"
"Karena .."
"Karena!" raungan Jahangir mengagetkan burung-burung gereja, sehingga mereka beterbangan. "Karena apa? Apakah ada suatu kegilaan yang mendorongmu untuk membunuh ayahmu sendiri? Apa yang harus kulakukan agar kau bisa kembali waras?"
"Bunuh aku!"
Kebodohan Khusrav mengejutkan kami semua. Kami bisa melihat jari-jari para perempuan, yang merah   tua   dan   berhias   cincin,   mencengkeram
kisi-kisi bagaikan ingin meraih Khusrav dan menutup mulutnya.
"Taktya takhta," Jahangir berolok-olok. "Takhta atau makam, peribahasa kita, dan kau telah kehilangan singgasana yang kau inginkan, digantikan dengan sebuah makam." Dia menggelengkan kepala, bertanya-tanya. "Tapi, bagaimana aku bisa melakukan ini? Kau adalah anak lelakiku. Humayun memaafkan saudara-saudara lelakinya karena Babur memerintahkan hal itu. Aku tidak bisa mengeksekusimu. Darahmu tidak akan hilang dari tanganku, darahmu hanya akan terserap di bawah singgasana dan menggemburkan tanah yang menyangganya. Ah! Kau tersenyum karena kau tahu aku tidak akan membunuhmu. Kau membaca pikiranku dengan bijaksana, karena aku tidak akan menjadi orang pertama yang melanggar hukum Timur-jangan membunuh darah dagingmu sendiri. Lalu apa, Khusrav? Pengasingan? Wajahmu berbinar karena pikiran itu. Apakah kau percaya jika aku akan membebaskanmu agar kau bisa pergi dan mencari perlindungan dari sepupuku yang menyebalkan, Shahinshah, dan kembali bersama tentara Persia? Tidak. Aku tidak akan bisa tertidur dalam kedamaian. Tetapi, jika kau tetap di sini, aku tidak akan merasa nyaman karena tatapanmu yang penuh kecemburuan. Setiap hari, aku akan melihat matamu menatap pedang dan turban kerajaan dengan penuh nafsu. Karena itu, aku sudah memutuskan .." Padishah menatap si pencatat dan berbicara dengan perlahan dan lebih jelas, agar
tidak ada yang salah mengerti. "Kau akan tetap berada di istana selamanya, kuperintahkan seorang prajurit untuk merantaimu. Dan untuk melindungimu dari kecemburuanmu sendiri, kau akan dibuat buta."
Tidak ada yang bisa berbicara. Sikap menantang Khusrav hancur berkeping-keping dan dia terjatuh. Para prajurit menahannya dan menyeretnya keluar. Sekarang, jari-jari para perempuan tergantung dengan lemah di antara kisi-kisi, bagaikan daun basah setelah badai. Mereka tidak berbicara kepada Sultan, sebagaimana hak mereka. Hanya suara tinggi mereka yang saat ini bisa menyelamatkan Khusrav, tetapi mereka juga memilih untuk diam. Sang petugas mencatat kalimat itu, kemudian menyerahkannya kepada Sultan. Sang Sultan membubuhkan segel kerajaan Muhr Uzak di kertas itu. Saat ini, tidak ada orang di negeri ini, bahkan sang Sultan sendiri, yang bisa menyelamatkan Khusrav.
Khusrav dijatuhkan ke tanah. Para algojo mengelilinginya, memegangi kakinya, lengannya, dan salah seorang menduduki dadanya, sementara yang lain memegangi kepalanya. Sebuah paku tajam yang panjang dan runcing dipanaskan di tungku. Saat warnanya mirip buah ceri, seorang algojo membuka mata Khusrav. Apa yang terakhir dia lihat? Bukan pepohonan, burung-burung, ataupun langit biru, hanya wajah-wajah buruk para penyiksanya. Paku panas itu ditusukkan ke salah satu matanya, kemudian matanya yang lain. Dia menggeliat dan meronta-ronta; mulutnya terbuka lebar. Darah dan
air mata membasahi wajahnya, menetes ke tanah. Para algojo berdiri dan dia terbaring sambil meratap, menutup luka berdarah dengan kedua tangannya. Sang hakim berlutut, membersihkan luka dan menempelkan ramuan obat ke luka berdarah sebelum membalutnya dengan kain muslin.
Aku tidak menyalahkan Khusrav maupun ayahku karena tindakan mereka. Itu adalah kismet mereka. Tetapi, aku tidak dapat memaafkan kelemahan Jahangir dalam menjatuhkan hukuman. Khusrav masih hidup, sebagai hantu yang terantai, begitu juga ambisinya. Ayahku mungkin percaya bahwa dia tidak akan dihantui oleh ruh Khusrav yang gentayangan, tetapi aku tidak. Bayangan Khusrav masih akan menghantuiku saat aku naik takhta.
Di istana, jika ayahku melihat Khusrav berjalan-jalan belenggu rantainya, meraba-raba jalan di depannya dalam kegelapan, menyusuri koridor-koridor yang rumit, dia akan memerintahkan pengawal untuk membawa Kushrav pergi.
"Semua orang menginginkan sesuatu. Tapi, tak ada yang bisa memberikan apa yang kuinginkan." "Itu bukan salahku, Ayah."
"Apa lagi yang dia inginkan, tetapi belum kulakukan?"
Tampaknya pertanyaan itu juga terus-menerus menghantui benakku. Aku bisa saja menjawab dengan keras, tetapi aku hanya menyimpannya untuk diriku sendiri: singgasana. Dia sudah bertekuk
lutut di hadapan Mehrunissa. Semakin lama Mehrunissa membuatnya menunggu, cintanya kepada Mehrunissa akan semakin dalam. Mehrunissa tidak menolak harapan Jahangir, karena dia tahu, betapa Jahangir sangat ingin lepas dari kesepian dalam kekuasaannya.
Aku tidak memedulikan kesepian Jahangir, hanya memedulikan kesendirianku. Bisakah aku memercayai Mehrunissa? Akankah dia mengubah pendirian Jahangir terhadap Arjumand, terhadapku? Aku bukannya tidak mengetahui bagaimana rapuhnya kasih sayang seorang sultan terhadap anaknya, tetapi aku bisa memanfaatkan hal itu sedikit.
"Tidak diragukan lagi, peramal bintangnya telah menyarankan agar dia menunggu waktu yang tepat."
"Ya, ya," sahut Jahangir dengan penuh ketertarikan. "Aku juga berpikir begitu. Siapa peramal bintangnya?"
"Aku tidak tahu. Kau memiliki kekuasaan untuk mengungkap semua rahasia. Cari tahu siapa orangnya, dan berilah imbalan yang sangat besar kepadanya untuk mengubah ramalannya."
"Bagaimana jika itu bukan karena si peramal, tetapi hanya karena Mehrunissa? Dengar, aku menulis puisi untuknya."
Jahangir mengambil setumpuk kertas dari meja di samping dipan. Aku melihat usahaku untuk menulis kepada Arjumand sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan hasil karyanya. Selama sesaat,    dia   tampaknya   ingin   membacakannya
keras-keras kepadaku, tetapi dia berubah pikiran dan malah menatap kata-kata itu, bagaikan sedang menatap seraut wajah. Amarahnya serasa disejukkan oleh rangkaian kata itu, karena setelah menyimpan puisi itu di meja, dia tersenyum kepadaku.
"Kau seharusnya bergairah melihat calon pengantinmu. Apakah kau lihat kuda-kuda yang dia bawa? Sangat indah. Pecundang itu berpikir bahwa dia lebih mulia daripada kita karena hanya mengirimkan seorang keponakan, bukannya putrinya sendiri. Apakah dia benar-benar yakin bahwa kita tidak cukup baik bagi kesultanan sialannya itu?"
"Itulah hal yang kuharap bisa kudiskusikan dengan Ayah."
Aku berbicara dengan hati-hati. Tidak ada yang lebih buruk, mematikan, menyengsarakan, mengancam bagaikan terkaman macan, menghancurkan seperti amukan gajah, bahkan memusnahkan seperti bencana alam yang paling besar sekalipun, daripada kebangsawanan yang terhina. Teriakannya, geramannya, bisa melompat melewati dinding-dinding istana dan benteng, mengejutkan dan menghancurkan. Lukanya bukan luka jasmaniah, tergores oleh sebuah telwar atau jamdad, tetapi tak kasatmata, jauh di dalam; hatinya pasti berdarah-darah.
"Apakah itu harus didiskusikan?" Bukan suara Jahangir yang kudengar, tetapi bisikan di baliknya.
"Apakah kita akan mengizinkan dia menghina kita seperti   ini?   Aku   Shah   Jahan,   putra   mahkota
kesultanan ini, yang sama besarnya dengan kesultanan Persia. Seharusnya dia mengirimkan putrinya, bukan seorang keponakan yang tidak penting. Apa kepentingan sang keponakan bagi Shahinshah? Akbar menikah dengan putri-putri Rana Rajput, bukan dengan keponakan atau sepupu."
"Yang kau katakan memang benar, tetapi sudah terlambat. Aku sudah menerimanya sebagai calon istrimu. Mengirimkannya kembali berarti perang." Dia tersenyum dengan murah hati. "Aku tahu hatimu sudah terpikat kepada Arjumand. Nikahilah dia sebagai istri kedua. Aku mengizinkanmu."
"Aku tidak menginginkan Arjumand sebagai istri keduaku. Mengapa aku harus membuatnya kurang mulia daripada seorang perempuan lain? Arjumand akan melahirkan putra-putraku."
"Apakah kau memang keras kepala, selain bodoh? Aku memerintahkanmu untuk menikah, dan kau berdebat denganku! Kegilaan sudah mencemari otakmu. Cinta akan berlalu. Kau bukan seorang pria biasa."
"Dan Ayah sendiri?"
"Apa?"
"Aku mengatakan
"... dan aku mendengar. Aku sudah memiliki banyak putra, dan mereka berharga-kau adalah putra kesayanganku, dan lihatlah masalah yang telah kau sebabkan terhadap diriku-dan yang kulakukan saat ini tidak memengaruhi nasib kerajaan. Aku akan memperistri Mehrunissa, temanku di kala berusia senja. Dia tidak akan ikut
campur dalam keputusanku akan seorang ahli waris-aku telah memilihmu." Nada suaranya berubah serius, seperti terancam: "Mengapa kau tidak mengizinkanku menjalani cinta ini? Kau beruntung karena bisa mencintai dan dicintai. Itu bukan keberuntungan yang biasa dimiliki seorang pangeran. Aku memberikan cinta kepada ayahku, tetapi tidak berbalas. Aku mematuhinya dalam hal pernikahan juga, tidak seperti dirimu. Aku mencintaimu, Putraku. Nah, aku sudah mengatakannya. Akbar tidak pernah membiarkan kata-kata itu terucap dari bibirnya. Dia mengungkapkan itu kepada si pecundang, Khusrav, dan lihat apa yang terjadi pada dirinya-membakar otaknya sendiri. Saat ini, di ujung usiaku, aku mencintai." Dia mendesah dengan dramatis.
Itu adalah kismetnya, nasibnya, keberuntungannya, dan hal itu membuatnya bahagia. Dia telah menemukan taman kenikmatan. Dia melihatku melunak. "Aku diberi tahu bahwa Putri Gubaldan adalah seorang yang molek. Tubuh seorang perempuan sama saja seperti tubuh orang lain. Nikmatilah dirinya."
"Bagaimana Ayah bisa mengatakan itu sementara Ayah sendiri menginginkan Mehrunissa?"
"Badmash, jangan lagi becermin kepadaku. Aku adalah sultan. Yang harus kau lakukan adalah untuk kepentingan semua pihak, bukan hanya kepentinganmu sendiri. Pergilah."
Dia berbalik dan membuka turban Kesultanannya. Seorang budak  menerimanya dan meletakkannya
dengan penuh penghormatan dan meletakkannya di meja perak. Rambut ayahku dipenuhi uban; meskipun tampak berusia lanjut, umur Jahangir baru empat puluh tahun. Dia telah menua akibat alkohol dan ketidaksabaran menanti begitu lama untuk naik takhta.
Di antara jali, sinar matahari terbenam menyelinap masuk, pecah ke dalam pola-pola yang rumit, dan menerangi diwan-i-khas dengan samar-samar. Batu merah menyerap sinarnya, menelannya, menjadikan ruangan ini redup, seperti sel-sel bawah tanah yang dikelilingi dinding di dalam benteng. Aku tidak menyukai perasaan sesak seperti ini; suasana yang suram pasti memengaruhi temperamen seorang sultan yang terperangkap di ruangan ini. Meskipun lilin-lilin dan lampu-lampu sudah dinyalakan, mereka menghasilkan kegelapan, bayang-bayang yang berkelip-kelip di dinding seberang. Aku pasti akan mengganti kurungan ini dengan sebuah ruangan yang lebih terang, disinari cahaya merah muda terang dari matahari terbit dan terbenam.
Ayahku mengabaikan kehadiranku; dia telah kembali tenggelam dalam puisinya dan wazir telah menunggu untuk mengantarku keluar. Aku membungkuk; tetapi penghormatan itu tidak dia sadari.
Isa
Apakah aku memang layak untuk dipercaya? Semua terasa bagaikan beban yang sangat berat di pundak
seorang pelayan. Secara alamiah, posisi kami dengan mudah bisa memanipulasi dan mengintimidasi para majikan. Aku terus-menerus memikirkan hal ini dalam benakku sambil berjalan dalam kegelapan menuju istana Shah Jahan. Tidak ada sinar bulan dan awan tebal menutupi bintang-bintang. Aku bahkan tidak bisa melihat tanganku sendiri, apalagi jalan di depanku.
Aku dikejutkan oleh sesosok manusia yang berjubah. Aku mencium wewangian-seorang perempuan-tetapi wajahnya tersembunyi.
"Kau Isa?"
"Ya!"
"Yang Mulia, Shah Jahan, menyuruhku memanggilmu. Pergilah!" Dan dia menghilang.
Kabut tebal mengepul bagaikan asap dari Jumna. Aku menarik mantelku lebih rapat, menutupi seluruh tubuhku, bahkan wajahku. Turban telah menghangatkan kepalaku, tetapi kedua kakiku kedinginan. Istana terselubung kegelapan. Aku sedang berpikir-pikir, apakah panggilan ini hanya muslihat semata, saat tiba-tiba sebuah pintu terbuka, dan seorang perempuan lain menarikku masuk. Dia melangkah dengan sangat mantap; aku sama sekali tidak. Aku mengikuti sosok gelapnya sebisa mungkin, tersandung dipan dan bantal, permadani dan meja. Dengan tidak sabar, dia menarik tanganku. Kami berjalan melewati sebuah taman dan menuruni beberapa tangga di dekat semak mawar menuju taman lain, kemudian lebih jauh lagi, turun menuju tingkat yang lebih rendah.
Shah Jahan menunggu di sana, terselubung jubah, dan duduk di dipan, menatap ke arah sungai. Sebuah poci minuman anggur dari emas terletak di rumput, di sebelahnya. Dia sedang menggenggam sebuah cangkir emas, menenggaknya hingga habis, kemudian mengisinya lagi dengan sikap goyah. Dia berayun-ayun, memicingkan mata untuk melihatku, kemudian melambai menyuruhku mendekat. Perempuan tadi menghilang bagaikan kabut yang memudar.
"Kau Isa, budaknya?"
"Ya, Yang Mulia. Pelayan, bukan budak." Dapatkah seorang pangeran mengerti perbedaannya? Mungkin dia tidak bisa mendengar; para pangeran biasanya hanya mendengar hal-hal yang dia inginkan.
"Aku akan menikah besok."
"Saya tahu."
"Diam! Aku tidak mengharapkannya. Aku tidak menginginkan ini . orang Persia! Aku tidak bahagia. Ini membingungkan. Seorang pangeran tidak seharusnya merasa tidak bahagia. Aku memiliki segalanya dalam hidup ini, kecuali Arjumand. Apakah kau mendengarku?" Dia membungkuk dan anggurnya tumpah. Aku tidak menjawab, dan dia berbalik dengan cepat, seperti seekor rajawali. Aku bisa menangkap kilauan matanya.
"Bodoh. Aku bertanya, apakah kau mendengarku?"
"Ya, Yang Mulia."
"Dengar. Tidak ada perempuan lain yang pernah
mengakibatkan aku seperti ini. Arjumand! Apakah kau juga merasa seperti ini, Isa?"
Aku tidak dapat menjawab secara jujur.
"Aku bertanya, pernahkah kau merasa seperti
ini?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Kau heran mengapa aku berbicara seperti ini kepadamu? Siapa lagi yang ada di sana, yang bisa menyampaikan perasaanku kepadanya tanpa menggunakan kata-kataku bagi kepentingannya sendiri? Di istana, tidak ada seorang pun yang mengerti arti cinta, mereka hanya mengerti keuntungan, kebijakan. Menyedihkan. Apakah dia menangis?"
"Ya, Yang Mulia."
"Aku pun begitu, aku juga." Dia mencengkeram poci lagi, tetapi tidak ada yang tumpah keluar. "Anggur, anggur, bawakan aku anggur lagi."
Seorang budak maju dan mengganti poci itu; embun memenuhi sisi poci menggembung yang berkilat. Aku menuangkan anggur, karena saat ini dia sudah tidak mampu melakukannya sendiri.
"Kau sangat beruntung, Isa. Ribuan kali lebih beruntung daripada aku. Apakah kau tahu mengapa? Kau melihatnya setiap hari. Kau melihat matanya bercahaya, bagaimana dia menyibakkan rambut dari wajahnya; kau melihat gerakan jari-jarinya, bagaimana dia berjalan; kau melihat dia tersenyum ... senyuman itu, yang dengan lembut bersinar di wajahnya, seperti cahaya bulan yang dipantulkan permukaan air."
"Sangat sering, Yang Mulia."
"Katakan kepadaku, bagaimana caranya menghabiskan waktu?" Dia menatapku dengan serius.
"Yang Mulia, dia tidak menatap apa-apa. Dia terbangun, mandi, berpakaian, makan sedikit, kemudian duduk sepanjang hari dengan buku puisi di pangkuannya, yang jarang dia baca. Kadang-kadang, dia pergi jauh ke luar kota; kadang-kadang, kami menghabiskan sepanjang siang untuk membantu orang miskin. Ini membuat pikirannya teralihkan ...."
"Tidak, tidak, Isa. Tidak boleh ada yang mengalihkan perhatiannya dariku. Katakan kepadanya, tolonglah. Aku memohon padamu. Aku akan memberimu imbalan besar."
"Saya tidak membutuhkan imbalan. Tapi, apa gunanya bagi Arjumand?" aku bertanya dengan pahit.
Dia menggumam sendiri. "Siapa lagi orang yang kutemui, yang bisa menghentikan napasku seperti dirinya? Dunia ini, bahkan bagi seorang pangeran, tidak dipenuhi oleh banyak orang. Dunia ini hanya terisi oleh satu orang. Arjumand." Dia menyambar lengan bajuku dan menarikku dengan kasar ke arahnya. "Jika dia menikahi orang lain, aku akan hancur. Aku bisa kabur. Aku akan kabur. Aku tidak mampu bertahan jika dia mengabaikanku."
"Andalah yang mengabaikannya," aku berhenti sebentar. "Yang Mulia."
"Kau kesal kepadaku. Apakah dia juga?"
"Tidak."
"Dia pasti lebih mengerti. Aku telah berusaha, tapi tetap tidak bisa membujuk ayahku. Dia memerintah, dan aku mematuhi. Apakah itu adalah suatu kelemahan? Aku berharap agar dia menunjukkan kekuatan dengan cara bersabar. Hak apa yang kumiliki untuk meminta ini kepadanya, selain meminta cintaku? Kau harus menyampaikan kepadanya dengan kata-kata yang sama dengan yang telah kuucapkan kepadamu."
"Dan berapa lama dia harus menunggu, Yang Mulia?"
Dia tidak menjawab.
"Selamanya?"
"Tidak, tidak selamanya," dia berbisik. "Itu pasti akan menghancurkan hatiku juga. Tidak akan lama." Dia menggelengkan kepala, mencoba berpikir jernih, lepas dari pengaruh anggur. "Tidak akan lama." Dia merogoh-rogoh ke balik sabuknya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kusut, terbungkus dalam kain sutra. "Ini, berikan ini kepadanya; sebuah puisi, tapi tidak indah, karena aku bukan penyair. Ada sepucuk surat juga untuknya di dalam sini. Apakah dia akan menghadiri pernikahanku?"
"Tidak, Yang Mulia. Itu tidak bisa terlalu diharapkan."
Dia terdiam, kemudian tenggelam dalam lamunan, berusaha mencari-cari pikiran dan perasaannya. Kabut dari arah sungai mulai mencapai tubuhnya, jatuh di bahunya, kemudian menyelubungi seluruh tubuhnya di dalam gulungannya yang lembap. Dia
tidak menyadari kepergianku.
Jalan-jalan masih gelap dan kosong. Aku berjalan dengan cepat, tidak ingin menarik perhatian. Saat aku berjalan, aku mengucapkan kembali kata-kata sang pangeran dengan tepat, berulang-ulang, sehingga semua bisa sampai di telinga Arjumand. Tiba-tiba, tiga bayangan mengelilingiku. Semua terjadi terlalu cepat. Aku ditahan dan diringkus dari belakang.
Shah Jahan
Pernikahanku bukanlah suatu pernikahan yang syahdu dan berkesan. Aku terbangun dalam kekosongan sehabis mabuk oleh irama dundhubi yang menandakan kehadiran ayahku di jharoka-i-dharsan. Fajar, waktu yang sangat kusukai karena kelembutan langit yang tampak manis, datang terlalu cepat. Aku dijemput oleh Allami Sa'du-lla-Khan, para pelayan, para petinggi, dan banyak orang lain untuk dimandikan dan didandani, dipakaikan sarapa yang berhias emas dan berlian. Sebutir batu mirah berukuran besar di turbanku berkilauan bagaikan mata ketiga. Jamdad upacara, yang bertatah berlian dan zamrud, diselipkan di sabuk emas yang melingkari pinggangku. Aku merasa terbebani oleh beratnya perhiasan itu.
Seekor kuda jantan putih sudah menunggu, berkilauan dengan pelana, kekang dan talinya, serta sanggurdi emas. Di sebelahnya ada seorang budak yang    membawa    payung    emas.    Upacara    ini
dimulai-tabla, seruling, dan sankha bergema dalam kepalaku yang sakit. Kerumunan manusia berbaris di jalan: "Zindabad Shah Jahan. Zindabad." Untuk apa aku dikaruniai umur panjang?
Para penunggang kuda berderap di sebelah kanan dan kiri, di depan dan di belakangku; tidak ada celah untuk kabur. Kami menunggang kuda menyusuri jalan menuju benteng; ayahku menunggu di istana. Bulu burung elang laut di kepalanya mengangguk-angguk diterpa angin. Dia naik dan berdiri di sampingku, melihat kelelahanku karena anggur dan tidak tidur semalaman. "Ini tidak akan menyakitkan," dia berkomentar, dan memang lebih berpengalaman dalam hal ini, meskipun dia baru saja merasakan cinta.
Kami berderap bersama. Di depan kami, para budak menebarkan kelopak mawar dalam jumlah banyak, gadis-gadis nautch menari, dan suara genderang semakin lama semakin keras saat kami tiba di harem istana. Aku melihat para perempuan mengintip ke bawah; yang lain menunggu untuk menyambut kami. Para mullah juga, sebagai simbol kesucian, untuk formalitas upacara ini, menunggu di sana. Sebuah pandal-tenda yang besar-berwarna emas telah dibangun di dalam istana. Aku dituntun ke sana dan didudukkan, kemudian sang pengantin muncul dan tiba di hadapanku. Aku belum melihat wajahnya yang masih tertutup oleh beatilha. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan aku merasa, meskipun tamasha mengelilingi kami, dia bisa merasa jika diriku jauh darinya. Tampaknya dia
mendesah saat duduk. Tidak seperti umat Hindu, upacara pernikahan umat Muslim berlangsung singkat. Seorang mullah membaca ayat-ayat suci Quran, kami menggumamkan ikrar kami satu sama lain, kemudian berdiri dan menerima restu dari ayahku, sang Sultan.
Hari itu penuh alunan musik, tahan, dan perayaan yang meriah. Ribuan orang bisa menikmati pesta yang hebat, koin-koin emas dan perak dibagikan kepada orang miskin. Para lelaki terhormat datang dalam barisan yang tak terputus, membawa semua hadiah yang bisa dibayangkan: jamdad emas, kotak-kotak berisi berlian, mutiara, zamrud, budak-budak, kuda, gajah, dan harimau berparade tanpa henti di depanku.
Pengantinku masih membisu, kepalanya menunduk, bagaikan sedang meratap. Aku tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Kekakuan yang dingin sudah terjadi di antara seorang pria dan istrinya, dan aku tidak bisa mengenyahkannya. Pada sore hari, dia dijemput dari sisiku oleh para perempuan yang tertawa dan tersipu, untuk menyiapkannya menghadapi malam pengantin.
Saat dia sudah dimandikan, diberi wewangian, dan diberi pengarahan, kemudian berbaring dalam selubung bayangan, para perempuan datang untuk menjemputku. Aku dituntun menuju kamar, pakaianku dibuka, dan dibantu untuk berbaring di sampingnya. Tubuhnya begitu muda dan kencang. Aku bisa merasakan kehangatannya, aroma kulit dan rambutnya.
Aku tahu, pada saat fajar, para perempuan akan terburu-buru masuk dan memeriksa tempat tidur. []
10
Taj Mahal
1045/1635 Masehi
Tak, tak, tak, tak, tak. Suara itu terdengar nyaring, berirama, dengan ribuan gaung. Di bawah kerindangan pohon dan tenda-tenda darurat yang sudah usang, terlindungi dari sinar matahari yang menyengat, para perajin batu memotong dan memahat. Tanah berwarna kelabu karena serpihan batu yang terlontar. Awan putih mengepul di udara, dari debu tebal yang menggantung di bahu para lelaki dan anak lelaki yang sedang membungkuk. Batu bara panas dari perapian yang jumlahnya tak terhingga membuat hawa semakin panas, sehingga debu berputar-putar dan bergulung-gulung di atas bebatuan.
Murthi berjongkok di depan sebongkah marmer. Dia tahu, marmer-marmer itu datang dari jauh, dari tambang-tambang di Rajputana. Setiap hari, kelompok-kelompok kerbau dan banteng menyeret bongkah-bongkah batu raksasa. Batu di depannya ini memiliki permukaan yang kasar, berukuran dua kali tinggi manusia dan tebalnya dua kali rentangan
tangan. Peralatannya tergeletak di dekat kakinya, seperti yang telah biasa terjadi selama beberapa hari ini. Gopi menjaga api unggun, agar batu bara tetap panas saat diperlukan. Murthi mengusap permukaan batu itu, mengetuk dengan satu jarinya-sebuah kebiasaan sehari-hari-mencoba berkomunikasi dengan jiwa batu tersebut. Selama satu jam, dia akan mengamatinya, memicingkan mata untuk melihat garis-garis potongan dan pola-pola rumit yang ada di dalam batu. Sering kali, dia akan merogoh-rogoh ke dalam karung goni kecilnya dan mengeluarkan gambar yang diberikan kepadanya. Perhitungan jali yang akan dia pahat begitu cermat, sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia hanya belum puas dengan rancangannya sendiri. Rancangan itu geometris, tidak imajinatif, terbuat dari garis-garis vertikal dan horizontal. Gambar ini tidak memuaskannya; tidak ada keindahan di dalamnya. Bagaimana dia bisa memahat garis-garis lurus? Tangannya lebih mampu membuat bentuk-bentuk yang lebih rumit: lengkungan, bentuk-bentuk cincin, bentuk yang meliuk-liuk, bagaikan sosok-sosok dewa yang sedang menari.
mim
Dia mengenang kembali hari saat dia dipanggil. Terburu-buru, dia berjalan mendekati petugas, menunggu datangnya bencana, karena saat ini para petugas telah menemukan bahwa dia tidak bekerja. Mereka akan memintanya mengembalikan uang; dua
rupee sehari memang jumlah yang sedikit, tetapi terlalu banyak baginya untuk mengembalikan sebesar itu. Tetapi, dia malah dipersilakan ke sebuah shamiyana, yang penuh dengan para petugas yang sedang membungkuk, menghadapi gambar-gambar. Mereka masih berdiri, terdiam, hingga salah seorang dari mereka menyadari kehadirannya.
"Saya Murthi, seorang Acharya."
"Mari, mari."
Mereka senang melihatnya, dan lelaki yang tadi berbicara bergeser agar Murthi bisa berdiri di sampingnya. Pria itu tinggi, cukup kurus, dengan penutup di sebelah mata dan tangan yang seperti Murthi: kuat dan bertonjolan. Dia adalah Baldeodas; berasal dari Multan.
"Pekerjaan kita hampir sama," kata Baldeodas. "Sama-sama pemahat. Aku diberi tahu, kau memahat dewa-dewi."
"Ya," Murthi menjawab dengan berani. "Tapi, tidak ada yang seperti itu di sini."
"Yang akan dibuat sama berharganya dengan itu. Apakah kau mengerti gambar?"
"Tentu saja," jawab Murthi dengan bangga. "Aku juga mengerti pengukuran."
"Lebih bagus. Lihat. Ini adalah jali yang akan diletakkan di sekeliling makam Permaisuri."
Murthi mempelajari kertas itu beberapa saat, menyerap detail-detailnya. Jari-jarinya yang kuat dan gempal menyusuri garis-garis, sementara pikirannya membayangkan ukuran gambar itu.
"Ini akan memakan waktu lama," akhirnya dia berkata. "Waktu yang cukup lama." "Tentu saja. Dan pola-polanya?" "Ini sangat sederhana."
"Orang-orang Muslim," Baldeodas berbisik, "menyukai hal-hal yang sederhana. Bisakah kau merancang yang lebih bagus?"
"Ya," jawab Murthi. "Kepada siapa aku harus menunjukkannya?"
"Kepadaku. Tapi ingat, jangan ada sosok manusia. Agama mereka melarang hal-hal seperti itu. Bunga-bunga dan dedaunan, itulah yang mereka sukai untuk monumen-monumen mereka."
Murthi merasa sedih karena mereka membatasi diri dalam kesederhanaan seperti itu. Apa artinya bunga-bunga pada dekorasi yang indah? Mereka tidak bisa menggaungkan irama rumit dunia kosmik. Dia tetap terdiam, tidak lagi mempelajari gambar itu. Baldeodas merasakan bahwa Murthi sedang mengumpulkan keberanian untuk mengajukan sebuah pertanyaan. Pria itu memiliki ketidaksabaran dalam dirinya; keras seperti batu, tergambar dalam bentuk yang dia buat. "Ada apa?"
Murthi menatap kakinya yang telanjang dan berdebu, tumitnya pecah-pecah dan kapalan. Semua itu mengingatkannya akan pendapatannya yang rendah. Kemudian, ketika dia memikirkan karya yang harus dia ciptakan, keberaniannya meningkat tajam.
"Jika aku harus melakukan pekerjaan besar seperti ini, apakah tidak cukup penting bagiku untuk
mendapatkan bayaran lebih besar?"
"Berapa upah yang kau dapatkan?"
"Dua rupee sehari. Itu tidak cukup untuk keluargaku. Istriku juga harus bekerja, sehingga anak-anakku menderita."
"Aku akan mendiskusikannya dengan bakshi. Hanya dia yang bisa membuat keputusan tentang upah. Apa yang telah kau kerjakan hingga saat ini?"
Murthi memang sudah mengira akan muncul pertanyaan seperti ini: "Hal-hal tetek bengek," dia menjawab. Kemudian, dia berdiri dengan cepat, melakukan namaste, kemudian mengundurkan diri, sebelum Baldeodas mengajukan pertanyaan lain yang membuatnya tidak nyaman.
Bagaikan bermimpi, Murthi terus memikirkan dalam-dalam bongkahan batu di kakinya. Di sebelahnya, Gopi berjongkok dengan kesabaran yang sama. Sebetulnya dia lebih memilih untuk bermain bersama teman-temannya, tetapi sudah menjadi tugasnya untuk membantu sang ayah dan mempelajari keahlian yang sudah diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi. Dia mengerti bahwa sebuah visi hanya akan datang melalui doa-doa dan meditasi, dan ini membutuhkan waktu. Hidup ini memang tidak mudah. Ayahnya tiba-tiba berdiri dan menyuruhnya menyapu tanah di sekitar mereka hingga bersih. Dia mematuhinya. Ketika sebuah ruangan seukuran bongkahan marmer sudah   dibersihkan,   Murthi   menggambar   sebuah
bingkai, kemudian, berdasarkan suatu pola, membuat titik-titik di dalam bingkai. Dia menggunakan bubuk kapur, seperti yang Sita gunakan untuk menggambar dekorasi di luar gubuknya setiap hari, setelah dia menyapu dan mencuci. Orang lain mungkin akan menggunakan kuas, tetapi Murthi dengan cepat menggambar polanya dengan bubuk kapur, menaburkan garis-garis tipis dari celah antara ibu jari dan telunjuknya. Dia bekerja selama satu jam, dan setelah menghubungkan titik-titik, dia menggambar sulur-sulur, bunga-bunga, dan dedaunan, bagaikan tanaman rambat yang melengkung dan berputar ke arah atas. Ada sebuah batang ramping di bagian pusat, tempat tanaman merambat dan melingkar ke luar bingkai. Semua garis akan terhubung kembali ke batang ini, tetapi tampak seperti terpisah. Saat pola ini selesai, dia berdiri, merasa sangat puas.
"Aku akan memanggil Baldeodas. Jagalah gambar
ini."
Saat Baldeodas melihat hasil gambar Murthi, dia merasa puas. Dia berjalan mengitarinya, mempelajarinya dari berbagai sudut, kemudian memanggil yang lain untuk meminta pendapat mereka. Mereka semua merasa puas dengan pola untuk jali tersebut, tetapi sebelum Murthi bisa memulai tugas besarnya, rancangan itu harus ditunjukkan kepada sang Sultan. Mereka tidak bisa membawa Mughal Agung ke lokasi berdebu ini, jadi seorang seniman dipanggil untuk menggambar pola karya Murthi ke sehelai perkamen yang bagus.
Saat kemeriahan sudah mereda, Baldeodas menyeret Murthi ke pinggir.
"Bakshi akan membayarmu empat rupee per hari, saat kau mulai bekerja."
Ini membuat Murthi gembira. Sebetulnya dia ingin meminta lebih dari itu, tetapi dia berpikir, lebih baik bersabar sebentar. Dia mengetahui bahwa Baldeodas mendapatkan dua puluh dua rupee per hari, tetapi itu karena dia adalah seorang petugas resmi.
"Sahib," kata Murthi. "Anda mengetahui banyak hal di sini. Apakah Anda pernah melihat Permaisuri Mumtaz-i-Mahal?"
"Belum," jawab Baldeodas. "Tidak ada orang yang pernah melihatnya."
Jawaban ini tidak memuaskan Murthi. Dia hanya mendengar jika sang permaisuri itu cantik, tetapi, di luar itu semua, apakah dia memang benar-benar ada?
Isa dan Mir Abdul Karim meletakkan rancangan itu di hadapan Shah Jahan. Sang Sultan duduk di ghusl-khana, sebuah ruangan sejuk yang dirancang dengan indah, menyatu dengan harem, dibangun dari marmer putih dan dihiasi relief bunga yang bertatah perhiasan. Setelah mandi, sang Sultan akan memanggil para penasihatnya ke ruangan ini, sementara para budak mengeringkan dan meminyaki rambutnya. Lebih banyak budak lagi yang berdiri, bersiap untuk membantunya berpakaian dan memasangkan turban di kepalanya. Beberapa saat, dia mempelajari gambar jali yang akan diletakkan di
sekeliling sarkofagus Arjumand-nya yang tercinta. Akhirnya, dia mengangguk, menandakan persetujuan, dan memalingkan wajah dari gambar ke Abdul Karim.
"Siapa yang merancang ini?" dia bertanya.
"Baldeodas, Yang Mulia."
"Bagus, sangat bagus."
Karim tidak segera mengundurkan diri. Para menteri menunggu, dengan berkas-berkas mereka, tetapi Karim mengetahui bahwa yang akan dia ungkapkan akan lebih penting.
"Apa lagi sekarang?"
"Padishah, pekerjaannya sudah maju secara pesat. Fondasinya sudah hampir selesai. Bagaimanapun, ada satu masalah yang harus dipecahkan. Kontraktor memberi tahu kita bahwa tidak ada kayu untuk perancah bangunan."
"Di mana-mana?"
"Tidak ada yang cocok untuk bangunan tinggi. Musim hujan telah memengaruhi hutan. Pohon-pohon jambu mete sudah semakin langka dan orang-orang menebanginya untuk kayu bakar. Kontraktor sudah mencari di mana-mana."
Mereka menunggu Shah Jahan selesai berpakaian. Mir Bakshi perlahan-lahan membereskan kertas-kertasnya dengan perasaan tidak enak. Masalah Deccan menekannya. Akhbar yang dia terima dari agen rahasianya telah melaporkan bahwa para pangeran kecil, yang mengetahui obsesi baru Shah Jahan, sedang merencanakan pemberontakan.     Lebih     buruk     lagi,     mereka
menggerogoti bagian selatan kesultanan bagaikan tikus-tikus. Pasukan Mughal harus menghadapi mereka, tetapi dia tidak memiliki kekuasaan untuk menggerakkan kekuatan ke sana. Selain itu, Mir Saman menghadapi masalah terus-menerus dengan musim hujan yang buruk. Panen sangat buruk, ini memengaruhi perdagangan, sehingga pemasukan berkurang.
"Batu bata," Shah Jahan berkata saat turban Kesultanan sudah diletakkan di atas kepalanya, dan menteri-menterinya melakukan kornish sebagai simbol penghormatan kekuasaan. "Bangunlah perancah dari batu bata. Bukankah itu mungkin?"
"Ya, Padishah, tapi biayanya?" Ongkos pembangunan itu menyesakkan mereka semua.
"Keluarkan, keluarkan biayanya. Simpanan harta kita penuh. Aku sudah memerintahkan agar tidak ada pengeluaran yang harus dipertanyakan, dan sekarang, kau datang kepadaku dengan masalah yang sama."
Abdul Karim mengundurkan diri dengan terburu-buru. Batu bata! Biayanya membuat dia mengerenyit. Biayanya akan sama mahalnya jika marmer yang dijadikan perancah.
Isa juga bersiap mengundurkan diri, tetapi Shah Jahan memberi isyarat agar Isa tetap tinggal, sebelum mengalihkan perhatian kepada Mir Bakshi. Dia mengalihkan pikiran untuk masalah ini, berharap jika Arjumand ada di sampingnya. Betapa seringnya Arjumand memberi saran kepada Shah Jahan dalam masalah-masalah   kenegaraan.    Bukankah   Sultan
telah memberinya simbol kekuasaan yang besar, Muhr Uzak?
"Aku telah memikirkan masalah Deccan baik-baik. Kita harus mengalahkan para pangeran pecundang itu. Aku akan memerintahkan Aurangzeb untuk memimpin pasukan. Itu akan menjadi latihan yang baik baginya. Buat rencana detailnya, kemudian bicarakan dengannya. Sekarang, apa yang bisa kulakukan dengan musim hujan? Aku bukan Tuhan."
"Lumbung masih penuh, Padishah."
"Kalau begitu, ini belum jadi masalah yang serius. Musim hujan berikutnya pasti akan lebih baik. Aku tahu itu."
Secara bergiliran, dia berdiskusi dengan para menterinya. Saat mereka meninggalkan ruangan, bersama Isa dia berdiri di teras dan mengawasi aktivitas di bagian hulu sungai. Di sana, sebuah pasukan besar sedang bekerja: para lelaki, perempuan, gajah, kerbau, dan kereta-kereta menciptakan aliran pergerakan yang konstan, di antara debu dan hawa panas.[]
Kisah Cinta
1021/1611 Masehi
Arjumand
Awalnya, ibuku begitu bersimpati terhadap kesedihanku. Dia menghibur dan membuaiku, membujuk dengan penuh simpati, tetapi dia tidak betul-betul mengerti penderitaanku. Cinta datang dengan lembut, perlahan, tidak menyambar seperti kilat. Cinta adalah kismet: jika cinta datang ke dalam kehidupan seseorang, orang itu beruntung. Jika tidak, kehidupan tanpa cinta akan terus mengalir hingga ke liang kubur. Siapa yang akan memprotes? Tidak ada. Kami adalah saman, yang akan ditukar dengan kekayaan, posisi, atau persekutuan politik. Cinta tidak akan bisa menjadi bagian kesepakatan itu. Itu hanyalah dongeng, yang dinyanyikan oleh para penyair. Aku diharapkan, seperti ibuku, nenekku-dan ketika aku merunut ke belakang lebih jauh dan lebih jauh lagi, aku melihat kami terpenjara oleh tradisi-untuk menikahi seorang lelaki yang dipilih untukku. Cinta, kasih sayang, persahabatan, semua akan tumbuh
perlahan-lahan. Tahun-tahun akan berlalu, dan kemudian, aku akan menyadari dengan terkejut: aku mencintai lelaki ini. Tetapi, siapa lagi yang ada di sana untuk kucintai? Tidak ada, tentu saja.
Kemudian, kepedulian ibuku berubah menjadi ketidaksabaran, seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Aku tidak bisa menyalahkannya. Tahun-tahun telah berlalu dan saat ini aku sudah tua, dalam usiaku yang keenam belas, semakin menyusut seperti bulan, kehidupanku sudah lama melewati titik zenith.
"Siapa yang akan menikahimu sekarang?" itu adalah pertanyaan yang terus-menerus diajukan oleh ibuku. "Kau sudah terlalu tua. Aku sudah melahirkanmu saat seusiamu. Aku dulu sudah menjadi perempuan yang berkedudukan mantap, berposisi bagus. Aku telah ...."
"Apakah Ibu mencintai ayahku?"
"Apa hubungannya dengan itu?" Nada suaranya seperti tersinggung, seolah aku telah mengucapkan sesuatu yang tidak sopan. "Kau terlalu banyak membaca puisi dan memenuhi otakmu dengan sampah." Kemudian, dengan nada yang lebih lembut, untuk menghiburku: "Kau baru bertemu sekali dengannya. Bagaimana kau bisa percaya bahwa kau mencintainya hanya dalam satu kali pertemuan?" Kalimat itu terdengar bagaikan irama dundhubi yang memperdengarkan keraguan itu sendiri. Aku tidak menyebut-nyebut pertemuan kedua yang selalu terkenang.
"Sepuluh atau dua belas kali, percayalah pada-
ku, Arjumand, aku akan mengerti. Cinta akan tumbuh perlahan-lahan. Cinta tidak akan tumbuh hanya karena sekali bertemu dengan seorang lelaki."
"Aku tidak bisa menahannya." Bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya, ketika bisikan pada diriku sendiri penuh oleh ketidakyakinan?
"Kami sudah cukup mendengar semua omong kosong ini darimu," dia menukas. "Kakekmu sudah menemukan seorang pria muda yang sangat layak. Aku telah bertemu dengannya, begitu juga bibi dan nenekmu. Kami semua merestui. Kau akan menikahinya. Dia orang Persia, Jamal Beg. Nenekmu mengenal ayahnya di Ishfahan. Mereka adalah keluarga terhormat dan Jamal akan mendapatkan posisi tinggi jika mengabdi kepada Padishah."
"Aku tidak akan menikah dengannya."
"Hanya seperti itu! Va Tuhan, mengapa aku harus mendapatkan putri seperti ini? Siapa yang menanamkan ide-ide tolol itu dalam otakmu? Apakah aku? Aku membesarkanmu sebaik yang kumampu. Jika aku mengatakan hal yang sama kepada ibuku, pasti aku sudah dipukuli keras-keras. Kau harus menemuinya."
"Aku tidak mau."
"Apakah kau tolol?" ibuku berteriak. Wajahnya berubah menjadi pucat, terbakar amarah dan penuh ketakutan. "Kau sudah lebih tua tiga tahun daripada usia pernikahan yang umum. Kau sudah tua, tua! Sebagai penghormatan terhadap kakekmu, Jamal bersedia menikahimu. Selamatkan dirimu sendiri."
"Maksud Ibu, aku harus menyelamatkan Ibu. Aku
membuat Ibu malu."
"Ya, memang benar. Semua perempuan menertawakanmu. Apakah kau mendengar bisik-bisik mereka? Mereka pasti tertawa jika kau memasuki harem. 'Dia menunggu Shah Jahan, dan badmash itu menikahi perempuan lain, dan pergi jauh.'" Dia mendesah. Itu adalah suatu ritual. Mata kelabunya yang indah menjadi basah, dan bagaikan embun pagi, air mata menetes dan mengalir di wajahnya. Ini selalu menyentuh hatiku, dan hampir membuatku menyerah. Tetapi, aku tetap bersikeras, dengan teguh bergantung kepada sebuah kenangan.
"Dia tidak pernah tidur dengan perempuan itu."
"Siapa yang memberi tahu kebohongan itu kepadamu? Itu adalah kebohongan, yang dikatakan hanya untuk membodohimu. Mereka memberimu harapan yang kekanak-kanakan."
"Semua orang tahu."
"Aku tidak." '
"Semua orang, termasuk Ibu. Pada pagi hari setelah malam pengantin mereka, saat para perempuan memeriksa tempat tidur, tidak ada noda darah."
"Itu tidak selalu terjadi. Perjalanan panjang "Dalam kasus ini, perempuan itu bukanlah seseorang yang seharusnya diharapkan," aku menambahkan dengan kejam. "Tidak ada darah. Dia berkata kepada dayang-dayangnya, bahwa Shah Jahan hanya berbicara dengannya sekali pada malam pengantin mereka. Shah Jahan melihat tubuhnya, kemudian membalikkan tubuh darinya dan
berkata, 'Aku tidak bisa.'"
"Kau tidak ada di sana, untuk mendengarkan dan melihat."
"Perempuan lain ada di sana. Sudah dua tahun sejak malam pengantin mereka. Apakah mereka memiliki anak?"
"Itu membutuhkan waktu, bagi para pangeran, begitu juga bagi para lelaki lain. Bahkan Akbar, meskipun memiliki banyak perempuan, tidak bisa melahirkan ahli waris hingga dia pergi ke seorang pir, Shaikh Salim Chisti. Bahkan, Permaisuri pun harus tinggal di ashram sebelum dia bisa mengandung seorang anak. Hal yang sama terjadi pada Shah Jahan. Lagi pula, apa hubungannya semua ini denganmu? Dia sudah menikah, dan kau belum. Yang terjadi di ranjangnya bukan urusanmu."
"Itu adalah janjinya kepada-ku. Dia berkata, dia akan datang kepadaku. Aku akan menunggu."
"Apa buktinya bahwa dia memintamu menunggu?" Sekarang ibuku berkata dengan angkuh, karena merasa menang. "Ayo. Tunjukkan kepadaku. Jika aku bisa melihat bukti bahwa dia memohon kepadamu untuk menunggunya, aku tidak akan pernah-Allah menjadi saksi-mengungkit-ungkit pernikahan denganmu lagi. Aku akan merasa bahagia karena mengetahui suatu hari kau akan menikahi putra mahkota."
"Aku tidak memiliki bukti. Ibu juga tahu itu. Hanya kata-katanya."
"Kata-katanya! Itu kata-kata Isa. Kau memercayai omongan chokra itu . si hina itu selamat
dari ganjarannya hanya karena kakekmu." "Aku memercayai Isa."
"Bagaimana," ibuku bertanya dengan penuh siasat, "jika aku bisa membuktikan bahwa dia berbohong kepadamu?"
"Aku tidak akan memercayai Ibu."
"Kau memercayai chokra, bukannya ibumu." Dia memejamkan mata, dan air mata mengalir karena kebandelanku telah melukai hatinya. Aku menghiburnya, tetapi tidak bisa menarik kembali kata-kataku.
Aku memercayai Isa. Mereka menemukannya pada saat fajar, tergeletak di sebuah selokan dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Dia telah dilemparkan ke sana bagaikan seorang paria, bergelimang sampah. Wajahnya berlumur darah kering, bagian belakang kepalanya juga berlapis darah kering. Aku tidak habis pikir bagaimana hal itu terjadi padanya. Dia dibawa ke rumah ini, dan aku merawatnya. Saat dia bisa kembali berbicara, dia menceritakan pertemuannya dengan Shah Jahan. Dia mencari-cari sesuatu, tetapi benda itu menghilang. Tetapi cincin hadiah dari Jahangir yang berharga, masih ada di jarinya. Bagaimana bisa aku tidak memercayainya? Aku ingin memercayainya. Tidak ada bedanya dengan keyakinan kita kepada Tuhan, meskipun tidak ada bukti yang benar-benar nyata. Keyakinan akan memperkuat diri kita. Isa telah mengatakan kebenaran; tidak dapat diragukan, tidak dapat digoyahkan. Dia menangis karena kehilangan surat itu. Aku juga. Surat itu
pasti bisa membuatku nyaman selama hari-hari berat yang panjang, yang akan menarikku hingga berusia lanjut. Siapa yang telah melakukan pencurian itu? Siapa yang tahu? Apakah benar bukan Jahangir? Aku menduga-duga keluargaku sendiri, yang menaruh kepedulian kepadaku, berharap untuk bisa menyelamatkanku dari siksaan penantian.
"Kau akan menemui Jamal Beg malam ini, kemudian kami akan memutuskan apa yang akan kami lakukan   denganmu."   Ibuku   pergi,   menggumam kepada   dirinya   sendiri,   kebingungan   karena kekerasan hatiku.
Shah Jahan
"Agra dhur hasta." Tempat itu berada seribu kos di selatan daerah kekuasaanku, mewakili nama ayahku, jagir luas Hissan-Firoz, yang bermula empat puluh kos di utara Delhi, dan berakhir di sini, di Lahore. Para rana, nawab, amir, petani, orang miskin, dan pedagang, semua membayar pajak kepadaku. Pendapatanku delapan lakh setiap tahun; aku membawahi sepuluh ribu zat-prajurit. Aku mempelajari seni pemerintahan. Tetapi, aku merasa hampa, sendirian. Jika ada yang memukuliku, mungkin aku akan bergaung seperti dundhubi. Jarak antara tempat ini dan Agra membebani hatiku dengan berat, berupa sebuah daerah raksasa yang memisahkanku dari Arjumand.
Istriku berubah menjadi bersikap masam, curiga, dan      jahat.      Seiring      pergantian      musim,
temperamennya semakin memburuk, segelap langit mendung musim hujan saat matahari terbenam. Keindahan Lahore, jalan-jalan lebarnya yang dipagari pepohonan, iklim sejuk yang terasa nyaman, kebun-kebun luas, gedung-gedung dan istana-istana indah, drama dan tahan, para penyanyi dan musisi yang kukumpulkan di istanaku, keramahan penduduknya, pegunungan di kejauhan, dan lembah-lembah di sekeliling kota, kemudahan karena posisinya: semua ini gagal menyenangkan hati istriku. Aku tidak dapat menyalahkannya, karena sebenarnya, dia datang kemari begitu jauh hanya untuk berbaring di ranjangnya dengan sia-sia. Pada malam pengantin kami, aku hanya mengatakan dua patah kata kepadanya, dan tidak ada lagi yang kukatakan setelah itu. Dia mengetahui bahwa aku bukannya tidak mampu; para perempuan lain bisa membangkitkan gairah dari tubuhku-aku hanya tidak bisa menghindari kebutuhanku. Dia juga mengetahui bahwa ada seseorang di antara kami: Arjumand.
Aku mendengar bahwa Arjumand kekasihku masih menunggu. Bagaimana bisa aku tidak menghargai keteguhannya? Dia membuatku merasa hina karena kesetiaannya, membuatku menjadi lebih tak berharga dibandingkan dengan lelaki paling miskin di jagirku. Hidupnya tergantung pada kata-kata budaknya: budaknya telah menyampaikan kepada Arjumand bahwa aku mencintainya, dan itu sudah cukup. Siapa yang mengawasi kami? Ayahku, mungkin? Jika memang
benar, lalu mengapa yang dikatakan akhbar-nya, tentang pengasinganku di Lahore? Bahwa aku tidak tidur dengan istriku, dan hatiku tetap terpaut pada Arjumand? Desahanku, yang bergema di seluruh penjuru istana bagaikan angin sepoi yang berbisik menerpa pohon-pohon eucalyptus, bisa terdengar oleh istriku, dan dia pasti akan mengutuk Arjumand. Hidupnya di sini telah hancur dan hampa bagaikan Chitor setelah penaklukan Akbar.
Pernikahan? Aku telah memberi janjiku kepada Arjumand, tetapi saat ini aku berada di sini, terperangkap dalam tugas-tugas kenegaraan. Perceraian? Betapa cepatnya aku bisa berlari melalui pintu itu, yang seakan-akan terbuka untukku. Seorang lelaki biasa mampu mengulangi kata-kata cerai itu tiga kali, kemudian berjalan melenggang dari perempuan yang menjadi masalah baginya itu. Tetapi, seorang pangeran harus tetap membisu, lidahnya menempel ke langit-langit mulutnya, karena sang Padishah. Kalimat itu, "Aku menceraikanmu", akan bergema di seluruh penjuru kesultanan dan negara tetangga; hal itu akan menimbulkan sepasukan besar bala tentara yang berbaris. Aku bisa menyisihkan sang putri Persia itu, mengasingkannya ke istana jauh di atas gunung, menyingkirkannya agar terlupa dari jiwa-jiwa yang lelah. Pikiran itu membuatku bahagia; tetapi itu tidak akan membuatnya bahagia. Rasa pahit itu sudah mengakar, dan dia pasti tidak akan bisa digerakkan. Dia akan memainkan peran sebagai istri tua, tersia-sia dan tidak dicintai, dan apa lagi yang
bisa dia lakukan? Sang putri mengetahui pikiranku. Dia mengerti; makanannya selalu dicicipi orang lain sebelumnya-sekali, dua kali, tiga kali. Kasimnya tidak mengizinkan siapa saja untuk memasuki ruangannya, dan saat dia berjalan-jalan ke kota, para prajurit Persia akan berbaris mengawalnya, dengan pedang terhunus. Dia berjalan di bawah bayangan dua lelaki: Raja dari segala Raja dan sang Penakluk Dunia. Mereka bagaikan gunung dan di sisi mereka, aku hanyalah sebuah bukit pasir.
Jadi, aku menunggu.
Dan Arjumand juga menunggu.
Arjumand
Aku mendengar bahwa dia mengirimkan puisi dan surat yang terbungkus kain sutra kepadaku, tetapi karena bungkusan itu dicuri, benda-benda itu tidak pernah sampai di tanganku. Surat itu tidak tergeletak dan terabaikan dalam keadaan rusak dan berlumpur di daerah Panjab-akan tetapi sampai ke tangan dingin yang harum milik Mehrunissa. Secara tidak sengaja, Isa menemukannya. Dia tidak mengintip ke dalam kotak-kotak milik Mehrunissa; dia melihat kasim Mehrunissa, Muneer, mengambil bungkusan itu dari tangan salah seorang diwan-i-qasi-i-mamalik.
Dalam sekejap, bibiku akhirnya bisa menancapkan pengaruhnya kepada Jahangir. Jahangir telah menjadi bonekanya. Dia memilih waktu yang tepat untuk menyerah. Setahun yang lalu, aku pernah
bertanya kepadanya, mengapa dia menunggu jika dia mencintai Jahangir? Aku tidak bisa mengerti; apabila aku menjadi dirinya, aku pasti akan bergerak cepat. Kita hanya memiliki hidup yang singkat di dunia ini. Dia menjawab: "Jahangir adalah sultan. Dia bisa mendapatkan semua keinginannya, kapan pun dia menginginkannya. Jika dia menunjukkan jarinya ke arah timur atau barat, utara atau selatan, seluruh kekuatan Mughal akan berbaris hingga dia memerintahkan untuk berhenti. Harus ada sedikit hal dalam hidup yang tidak bisa dicapai secara mudah, bahkan oleh seorang sultan sekalipun. Aku akan menjadi salah satunya. Di matanya, itu akan menjadikanku lebih berharga daripada singgasananya sendiri. Jika aku luluh segera karena ketertarikannya-dan bisakah kau lihat berapa banyak perempuan yang tersia-sia karena melakukannya?-dia tidak akan kehilangan seluruh hasratnya. Dalam puisinya, dia sudah memanggilku Nur Mahal. Aku adalah cahaya bagi istananya, lilin bagi hatinya."
Rumah kami begitu heboh dengan segala persiapan pernikahan. Para penjahit baju, pembuat perhiasan, juru masak, mullah, penyanyi dan penari, perangkai bunga, dan dekorator bergantian keluar masuk. Sang Sultan begitu bergairah; puisi-puisi begitu lancar mengalir dari penanya. Para pembawa pesan berlari menempuh jarak dekat untuk menyerahkannya segera ke tangannya. Bait-bait puisinya membahagiakan Mehrunissa. Aku mengira bahwa   dia   memang   benar-benar  jatuh   cinta,
meskipun bukan sang Sultan yang dia cintai, melainkan singgasana emasnya.
Mehrunissa benar-benar tenggelam dalam rancangan kostum pernikahannya. Churidar-nya dibuat dari sutra Varanasi merah yang paling bagus dan disulam dengan hasil rancangannya sendiri, berupa pola lingkaran sulur-sulur dari benang emas; gharara-nya juga terbuat dari sutra, begitu transparan sehingga nyaris tak kasatmata, dengan sulaman benang emas rumit yang memanjang; blusnya, yang sengaja dirancang untuk menonjolkan lekuk tubuhnya, dihiasi pola-pola sulaman benang emas berupa kotak-kotak yang indah. Dia akan mengenakan toucha merah yang dihiasi dengan sangat rumit oleh berlian dan mutiara, dan beatilha-nya begitu indah sehingga hanya akan memantulkan kecantikannya. Jahangir telah mengirimkan banyak hadiah: seuntai kalung mutiara, tiap butirnya seukuran buah anggur; seuntai lagi bisa mencapai pinggangnya, berat dan ruwet, terbuat dari emas dan bertatah zamrud. Mehrunissa juga akan mengenakan anting-anting, dan masing-masing mata zamrudnya seukuran batu kali. Gelangnya berupa jalinan emas dengan lebih banyak lagi zamrud, dan gelang kakinya yang terbuat dari emas berdenting setiap dia melangkah. Semua membuatnya merasa puas dan dia akan mengelus-elus batu-batu mulia itu, dan terus-menerus mengagumi bayangannya sendiri di cermin.
Dalam suatu kesempatan langka, aku bertanya
kepadanya: "Mengapa Bibi menyadap surat kami?" "Sultan memerintahkannya." "Aku tidak percaya."
"Arjumand, kau adalah keluargaku, keponakanku sendiri yang kucintai. Mengapa aku ingin menghalangi hubunganmu dengan Shah Jahan? Sebuah penyatuan antara dirimu dan putra mahkota akan menjadi keuntungan bagi kita. Segera, aku akan menjadi Permaisuri Hindustan, dan aku tidak ingin orang asing yang akan menikah dengan Shah Jahan, selain keponakanku."
Dia terdengar berkata jujur, dan senyumnya sangat manis, tetapi pernyataannya membuatku sangat ragu.
"Mengapa Jahangir ingin mencegah kami bertukar surat?"
"Masalah negara." Dia merentangkan tangannya, dalam posisi tidak berdaya, tetapi dia terlalu pandai-dia pasti mengetahui apa yang sedang terjadi. Mehrunissa tidak akan langsung mengocehkan suatu pernyataan kepada orang lain. "Putri sudah merasa sangat tidak bahagia. Dia mengatakan kepada pamannya, Shahinshah, tentang itu di dalam suratnya ...."
"Bagaimana Bibi bisa tahu?"
"Sultan memberi tahuku. Tentu saja, dia menyadap surat-suratnya. Dia tidak ingin mengecewakan Shahinshah ... belum. Dia sangat bersimpati kepadamu dan Shah Jahan. Dia mengerti sifat alamiah cinta, tapi saat ini, dia tidak ingin terlalu    terang-terangan    mendukung    hubungan
kalian."
"Tapi, Muneer mendapatkan surat-surat itu untukmu."
"Aku yang ditugaskan untuk menyimpannya dengan aman. Aku berjanji padamu, aku belum membacanya, dan aku juga tidak akan pernah membacanya."
"Kalau begitu, berikan surat itu kepadaku." "Tidak. Jika Sultan memerintahkan itu padaku, aku    akan    melakukannya.     Tapi,     dia    tidak memerintahkannya."
Dalam ungkapan simpati yang samar itu, tersembunyi sebuah muslihat jahat. Dia bisa bersembunyi di balik singgasana. Sebetulnya, manakah yang lebih menguntungkan, aku atau putri Persia itu di sisinya? Jika dia melihatku lebih menguntungkan, dia pasti akan mendukung kami; tetapi dia menahan surat kami. Tingkah lakunya membuatku bingung, sedikit membuatku takut. Mehrunissa mengulurkan tangan dan dengan lembut membelai kerutan di keningku. Aku melihat kilatan kesenangan di wajahnya, bagaikan sedang bermain-main denganku.
"Wajahmu nanti keriput, Arjumand. Kita tidak boleh berkeriput sedikit pun." Kemudian, dia berbisik dalam suaranya yang paling lembut, "Apa pendapatmu tentang Jamal?"
Aku mengangkat bahu. Aku tidak dapat terang-terangan menolak seorang lelaki hanya karena dia bukan lelaki yang kucintai. Jamal tampak berpenampilan layak, pendek dan kekar, berpakaian
rapi, dan bersikap terpelajar. Tetapi, dia terlalu sering tertawa bagaikan berharap bisa menyenangkan Itiam-ud-daulah, dan aku tahu dia memang berhasil. Pasti dia akan sangat beruntung jika bisa mengambilku dari tangan keluargaku. Siapa lagi yang akan bersedia menikahi seorang perempuan berusia enam belas tahun? Jika dia curiga atau menolak perjodohan ini, dia tidak akan menunjukkannya. Sudah pasti, seorang pria akan ingin tahu mengapa calon istrinya masih belum menikah hingga seusiaku. Mungkin dia tahu. Bayang-bayang Shah Jahan akan menghantui pernikahan kami, tetapi ambisinya pasti akan membuatnya mempersiapkan diri untuk menghadapi semua itu. Dia bermain-main dengan kehadiranku yang tak kasatmata, hanya minum sedikit, selalu penuh perhatian terhadap kakek dan ayahku, mengetahui jika aku memerhatikannya dari balik dinding-dinding kesucian. Aku melakukan itu untuk melunakkan hati ibuku, yang duduk di sampingku sambil menunjuk wajah tampannya dan sopan santunnya, seakan-akan dia adalah sebuah perhiasan yang akan kami beli di pasar malam. Tetapi, akhirnya ibuku terdiam setelah merasakan ketidaktertarikanku. Dia menangis karena patah hati dan aku mencoba untuk menghiburnya.
"Apakah Sultan akan mengizinkan kami menikah?" aku bertanya kepada bibiku.
"Aku berjanji, aku akan berbicara kepadanya." Mehrunissa menjawab dengan bersungguh-sungguh. "Aku berjanji akan membujuknya, tapi pasti akan
makan waktu."
"Berapa lama? Empat tahun? Aku telah menunggu, dia juga telah menunggu. Berapa lama lagi? Aku tidak akan kuat menahannya lagi. Kurasa, semakin lama, aku akan semakin sekarat."
"Bersabarlah."
"Untuk berapa lama? Aku tidak seperti dirimu, Bibi. Aku tidak bisa mengerti cintamu. Mengapa kau tahan untuk menyia-nyiakan beberapa tahun ini?"
"Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Ini." Dia memberiku saputangan miliknya dan aku menghapus air mataku. Kajal membuat saputangan itu gelap dan bergaris-garis. Aku meremasnya. "Apakah dia masih menunggu?"
"Ya."
"Bagaimana Bibi bisa tahu?"
"Aku tahu. Kau juga akan mengetahuinya, jika kau telah membaca puisi dan suratnya."
Aku tidak percaya bibiku tidak membacanya; rasa ingin tahunya terlalu kuat.
"Dia tidak akan berubah. Tolong, bicaralah kepada Padishah." Yang bisa kulakukan hanyalah memohon. Kepedihannya membuatku merasa hina. Bahkan seorang pengemis jalanan pun tidak akan merasakan penderitaan seperti yang kurasakan. Jika aku harus membujuk Sultan, aku akan melakukannya. Aku akan bangun sebelum fajar dan akan menjadi orang pertama yang berdiri di luar dinding-dinding benteng, di bawah
jharoka-i-dharsan, dan saat wazir menurunkan rantai keadilan, aku akan membunyikan lonceng,
menyelipkan petisiku, dan mengamatinya naik ke atas. Keadilan, keadilan-paduan suara orang-orang miskin.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu, jika aku akan berbicara pada Jahangir?" Mehrunissa menghapus noda dari pipiku. "Hatinya akan melunak. Sekarang, pergilah. Aku sibuk."