Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Taj Part 1a

Siapa pernah menyangka di balik keindahan dan kesucian cinta yg tercermin dari Taj mahal,tersimpan keangkuhan hati manusia?
atau,pernahkah kita menduga ketulusan cinta shah jahan kepada arjumand banu,mumtaz mahal sang penghias istana,harus ternoda oleh sisi gelap nan menyakitkan?
Tat kala Taj Mahal selesai dibangun,kesulitan mughal justru terkoyak dari dalam istana,perseteruan dua anak shah jahan,dara dan Aurangzeb,dalam memperebutkan singgasana merak kesultanan makin memanas dan mencapai puncaknya,ketika aurangzeb melakukan pemberontakan,aurangzeb lalu memenggal kepala dara dan menunjukkanya dihadapan sang ayah,shah jahan
maka berulanglah sebuah penghianatan terhadap hukum Timurid yang diciptakan leluhur mereka,Timur-i-leng:jangan sakiti saudaramu,meskipun mereka mungkin layak mendapatkanya.
ini tak ubahnya sebuah karma akibah shah jahan membunuh saudaranya,Khusrav,demi mengamankan kekuasaanya.
Novel ini menjanjikan kisah Taj mahal dari sudut pandang berbeda,dimana kesetiaan berbalut nafsu angkara akan takhta,melanjutkan tradisi penggambaran indah john shors dalam Taj Mahal:kisah cinta abadi(Mizan,2006)pembaca diajak menikmati eksotika india masa silam dengan segala kegemerlapanya.
sama menakjubkanya dengan bangunan Taj mahal yang di deskripsikanya-Sunday
 -observer-
Novel yang sangat memukau......
-asia magazine-
Timeri N Murari
Novel yang penuh gairah dan eksotis!
memesona hingga halaman terakhir
-THE GUARDIAN-

Hanya membiarkan setetes air mata ini jatuh. Taj Mahal, berkilau tanpa noda. menerangi kelokan waktu
untuk selamanya....
O Sultan! Kau Ingin menghentikan waktu dengan kea|aiban keindahan
dan menjalin rangkaian bunga yang akan menautkan kematian tak terbentuk dengan bentuk keabadian'.
Meskipun begitu, penanda cintamu tak akan lekang oleh waktu, tak akan runtuh, tak akan goyah oleh bergantinya kesultanan, tak akan terpengaruh oleh pasang surut kematian. membawa pesan kasihmu yang abadi dari masa ke masa.
Makam itu masih berdiri dan tak bergerak di tempatnya.
Di sini, di bumi yang berdebu, makam itu merengkuh kematian dengan lembut, dan menyelubunginya dengan serpihan kenangan.
—Rabindranath Tagore
TAJ MAHAL
sebuah cinta abadi

MIZAN PUSTAKA: KRONIK ZAMAN BARU adalah salah satu lini produk {product line) Penerbit Mizan yang menyajikan buku-buku bertema umum dan luas yang merekam informasi dan pe-mikiran mutakhir serta penting bagi masyarakat Indonesia.
Sebuah Monumen Cinta nan Abadi
Timeri N. Murari
mizan
.KRQMK.ZAAIAN.BABL1..
TAJ:
TRAGEDI DI BALIK TANDA CINTA ABADI Diterjemahkan dari Taj: A Story of Mughal India Copyright ©Timeri N. Mur ari 2004 Published by the Penguin Group Penguin Book India Pvt. Ltd, 11 Community Centre, Panchsheel Park, New Delhi 110 o 17, India. All rights reserved Hak terjemahan ke dalam bahasa Indonesia pada Penerbit Mizan Penerjemah Maria M. Lubis Penyunting: Andhy Romdani Proofreader: M. EkaMustamar Cetakan I, November 2007 Cetakan II, Januari 2008 Hak cipta dilindungi undang-undang All rights reserved Diterbitkan oleh Penerbit Mizan PT Mizan Pustaka Anggota IKAPI Jin Cinambo No. 135, Cisaranten Wetan, Ujungber ung, Bandung 40394 Telp. (022) 7834310 -fo Faks.(022)782288 e-mail: kronik@mizan.com http://www.mizan.com Desain sampul: Andreas Kusumahadi ISBN 979-433-486-3
Didistribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU) Jin Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146 Ujungber ung, Bandung 40294 Telp. (022) 7815500 (hunting) -f O Faks 0)22) 7802288 e-mail: mizanmu @fcdg .centrin.net id Perwakilan: Jakarta: 0)21)7661724; Surabaya: 0)31)60050079. 8281857; (ubkassar: 0)411)871369
Untuk seorang perempuan cantik, istriku Maureen, dengan penuh cinta
Pujian untuk Taj
"Hanya seorang novelis sejarah sekaliber Timeri N. Murah yang bisa berseluncur begitu dekat dengan mulut kawah gunung berapi. Struktur novel ini sama menakjubkannya dengan bangunan Taj Mahal yang dideskripsikannya."
-Bill A it ke n, Sunday Observer
"Novel dengan pergantian ritme cerita yang eksotis, sensual, dan keras secara bergantian ...."
-The Guardian
"Sebuah buku tentang kesederhanaan yang sangat dahsyat
-Gloucestershire Echo
"Novel yang sangat memukau dan membuat para penikmat buku ini bisa membaca makna-makna simbolis di dalamnya."
-Asia Magazine
Tentang Penulis
Timeri Murari telah menulis beberapa novel, skenario, dan naskah drama. Filmnya, The Square Circle, masuk ke dalam sepuluh film terbaik versi majalah Time. Dia mengadaptasi    film    tersebut    ke
dalam naskah drama dan menyutradarainya di Teater Leicester Haymarket. Novelnya yang berjudul The Arrangements of Love, diterbitkan oleh Penguin pada 2004. Dia juga menulis kolom mingguan di media The Hindu.
Saat ini Timeri N. Murari tinggal di India. Untuk mengenal sang penulis lebih dalam, kunjungi http://timerimurari.com.
Dinasti Mughal Agung
imur-ileng
Babur 1483-1530 t 1526-1530
Humayun
1508-1556 Kamran t 1530-1556
Askar Hii <fal
Akbar 1542 -1605 1530 -1605
Hakim
GhiyaS Beg
Jahangir (Salim) Murad      Danival 1569-1627  _     _   _   _.
t 1S05 - 16??
Kushrav Panuez Shah Jahan Shahhya (Khurrum) — — — -
1592 -1666 I 1627 -1658
fvfchrunissa ftsaf Khan
       Sher
ladilti
Atkun
A)umand (Mimtaz-i-lubhal) 1595 -1630
Jahanara (Begum Sahib) 1614-
Dara Shukoh 1615-1659
Shahshuja    Raushanara    Ajrangzeb    MJrad    Kudsiya 1616-        1617- «amgir     1624-    1630-
1660 1671        1618-1707    1661       1706
t 1658-1707
ahadur Shah 1643-1712 I 1707 -1712
Catatan Penulis
Masa lalu adalah prolog bagi masa kini. Peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi tiga ratus tahun yang lalu masih terus bergaung di India modern. Konflik berkepanjangan antara orang-orang Hindu dan Muslim—dan pembentukan negara Pakistan—kemungkinan besar di-sebabkan oleh tindakan Aurangzeb, anak lelaki Shah Jahan dan Arjumand.
Semua karakter dalam novel ini-kecuali Murthi, Sita, dan anak-anak mereka benar-benar hidup tiga abad yang lalu, tetapi aku yakin bahwa seorang lelaki seperti Murthi pernah hidup dan wafat saat membangun Taj Mahal, bersama-sama dua puluh dua ribu orang lain.
Ada seorang lelaki bernama Isa yang berjalan di bawah bayang-bayang Mughal Agung Shah Jahan. Selain namanya, tidak ada lagi kisah tentangnya yang bisa diketahui.
Saat dibangun, makam akbar di Agra disebut Mumtaz Mahal. Tetapi, berabad-abad kemudian, karena erosi waktu dan kenangan, bangunan itu
hanya dikenal dengan nama Taj Mahal. Jali, tabir, yang mengelilingi sarkofagus Arjumand dan Shah Jahan dikenal sebagai hasil karya ukiran terbaik di seluruh India.
Dalam novelku, bab-bab yang bernomor ganjil menceritakan tahun 1607-1630, dan merupakan kisah kehidupan Shah Jahan dan Arjumand: kisah cinta mereka, pernikahan mereka, dan pe-nobat-an resmi Shah Jahan sebagai Mughal Agung. Bab-bab bernomor genap mengungkapkan kisah dari 1632-1666 dan mendeskripsi-kan tahun-tahun kekuasaan Shah Jahan setelah itu: pembangunan Taj Mahal, kisah Murthi, dan pemberontakan Aurangzeb terhadap ayahnya. Selain itu, diberikan juga tanggal berdasarkan sistem kalender Islam tradisional, tahun Hijriah.[]
TAKTYA TAKHTA? (Takhta atau Makam?) —Sebuah peribahasa Mughal
PROLOG
1150/1740 Masehi
Hujan menghantam bumi dengan sangat deras. Saat itu tidak dapat ditentukan, apakah masih siang atau sudah malam; waktu bergulir begitu cepat, tak terasa, bagaikan manusia dan binatang diterkam oleh kebutaan. Tidak ada yang bisa didengar kecuali suara sungai, menggemuruh dan menggelegar bagaikan naga raksasa Sang Syiwa. Bumi bagaikan pecah berkeping-keping di bawah kedahsyatan hujan dan hampir pasrah akan nasib manusia, binatang, tanaman, dan rumah, seakan tak mampu lagi menanggung mereka yang membebaninya.
Dari bawah sebuah lengkungan batu raksasa, seekor monyet dunia lama menatap ke luar, ke arah tirai air yang terbentuk. Selama hidupnya, ia tidak pernah menyaksikan kedahsyatan seperti ini, dan di wajah sinisnya yang berkerenyit, ada selarik ketakutan. Bulu-bulunya tertidur, berwarna cokelat-jingga gelap bersemburat kelabu, dan di tempat-tempat yang bulunya terlepas tampak kulit
sang monyet yang berwarna hitam; bekas-bekas gigitan, yang sudah lama dan sudah sembuh, mengoyak dagingnya dalam lengkung-lengkung bekas luka. Di dekat dinding batu berkerumun beberapa ekor kera yang terdiri dari lima belas kera langour. Ia bukan anggota kelompok itu. Mereka tampak anggun, langsing, dan berbulu mengilap; sementara sang monyet itu gemuk dan jelek, tetapi ia telah membunuh pemimpin mereka sehingga saat ini mereka tunduk kepadanya. Ia menjaga mereka dengan penuh kesungguhan, dan mereka menerima kekuasaannya dengan pasrah. Dengan keempat kakinya, sang monyet berjalan. Hujan menerpa punggungnya, bagaikan murka karena keangkuhan sang monyet, tetapi bukannya berteduh, ia malah bergerak menuju tangga sebuah taman yang terbengkalai. Kelima belas kera langour yang ketakutan terhadap badai, juga ketakutan jika ditelantarkan, menjerit-jerit. Lalu, dengan putus asa, mereka mengikuti sang pemimpin. Sang monyet tua tampaknya tidak peduli pada kericuhan di belakangnya. Ia memerhatikan air mancur yang membanjir dan ubin yang terbenam di bawah tanaman perdu rapat; ia mengambil sekeping ubin yang patah dan melemparkannya ke air mancur.
Di bawah tembok, sang monyet duduk di atas kaki belakangnya dan memicingkan mata untuk memandang sebuah bangunan luas berwarna putih bersih, yang tampak dalam kegelapan. Sesuatu menjulang tinggi seperti bukit, membelah malam yang menyelimuti. Sepertinya benda itu tidak hanya
menghalangi kegelapan pantai, tetapi juga bagaikan menolaknya, sehingga tampak menyerupai sebuah aura terang di antara tembok-temboknya dan malam kelam. Ia tidak menaiki tangga, tetapi mengitarinya, waspada untuk tidak melakukan kebiasaan lama. Akhirnya, setelah yakin, ia menemukan sebuah pijakan di ubin marmer dan melompat naik ke sebuah fondasi batu.
Ada celah di tebing itu, tempat kegelapan menyelinap masuk, dan ia mengikutinya, melangkah hati-hati di atas serpihan-serpihan marmer yang tersebar di lantai. Air hujan juga bisa masuk, meninggalkan kubangan-kubangan air. Ia mengendus ke-lembap-an dan kekosongan, tetapi juga mencium aroma wangi dupa—ia tidak menyukainya—kemudian bau manusia, yang masam dan tidak enak. Ia penasaran dan tidak takut. Sang monyet melangkah lebih jauh, menapaki dedaunan kering, dan melihat sebuah tabir yang dipahat dan dihias dengan indah, melompat cepat ke atas, menghindari celah-celah yang terbuka di ubin marmer.
"Siapa itu!" sebuah suara terdengar.
Sang monyet membeku, mendengarkan suara sebuah tongkat yang berdetak ribut. Seorang pria muncul dari lantai bawah, lemah, renta, dan buta.
"Ah, ternyata kau. Aku bisa mengendus baumu. Kemari, kau tak perlu takut kepadaku."
Suara orang itu bergema. Suara hujan tidak dapat menembus keheningan di dalam ruangan tertutup itu.   Sang monyet mengamati  pria itu,
mengetahui dia buta dan tidak berbahaya, dan teman-teman sang monyet pun sudah berkumpul di sekelilingnya, mengibaskan air dari bulu-bulu mereka yang lembap.
"Tidak ada makanan di sini. Hanya ada batu, dan siapa yang bisa makan batu? Aku telah menyentuh semua benda di sini, semua dingin dan licin, seperti permukaan air es. Aku tidak tahu tempat apa ini, atau mengapa tempat ini dibangun. Bisakah kau menceritakannya kepadaku, Hanuman?"
Sang monyet menggaruk-garuk dadanya dan mengabaikan pria itu.
"Kau sendiri juga tidak tahu. Bagimu, seperti juga aku, tempat ini hanyalah tempat berteduh dari hujan.11 []
Kisah Cinta
1017/1607 Masehi
Arjumand
Apakah guntur yang membangunkanku? Aku duduk, terkejut, mendengarkan dengan saksama. Saat ini seharusnya belum masuk musim monsun-musim pancaroba, tetapi udara begitu terasa mengancam, dan membeku, bagaikan menunggu untuk meledak murka. Aku bisa mendengar kehampaan, kecuali kaokan pertama gagak-gagak, burung-burung bulbul yang berlatih menyenandungkan nada memukau, dan tupai-tupai yang bercericit nyaring. Langit tampak memucat, dengan sisa-sisa malam yang masih menggantung di tepi cakrawala. Pohon-pohon mangga, peepul, dan banyan di luar jendela pun terlihat samar dalam kelembutan cahaya.
Mungkin mimpiku yang telah membuatku terjaga, meskipun aku tidak bisa benar-benar mengingatnya. Gelegar guntur membuat jantungku terlonjak, dan saat ini masih berdegup kencang. Apakah ini sebuah peringatan? Aku tidak merasakan ketakutan, tidak merasakan beban, seperti seorang
terpidana mati yang akan menikmati fajar terakhirnya di dunia. Tetapi, aku sendiri terkejut, sepertinya aku merasakan kelegaan, kebahagiaan. Kegembiraan memang tidak menyebar di sekelilingku, tetapi ada di dalam diriku sendiri, dalam sisa-sisa impianku yang manis.
Aku menatap hamparan luas keperakan di atas langit kemerahan, lalu memandang bayangan gelap tempat bumi dan kahyangan bertemu, yang membara dengan semburat merah terang. Di kejauhan, aku melihat suatu objek, tetapi tidak bisa memastikan apa itu. Sebongkah karang? Seorang manusia? Objek itu terang dan menyilaukan. Apa yang mungkin akan diramalkan oleh peramal bintangku dari mimpi seperti ini? Kekayaan? Kebahagiaan? Cinta? Hasrat yang dimiliki oleh semua makhluk? Tetapi, tanpa petunjuk sang cenayang, aku tahu bahwa hari-hari esok akan penuh arti, yang bisa saja penting. Aku menghadapinya dengan berani, tak sabar menunggu.
Zenana masih berada dalam kegelapan, tetapi kesibukan pagi mulai terdengar di luar dan aku bisa mendengar panggilan para pedagang jalanan, roda kereta kerbau yang berkeretak, dan seorang anak bernyanyi dengan suaranya yang bening dan merdu. Dari jauh, irama dundhubi menandakan hadirnya sang Mughal Agung Jahangir di jharoka-i-darshan. Setiap hari, satu jam sebelum matahari terbit, dia memamerkan dirinya sendiri kepada para pejabat dan rakyat jelata dari atas Lal Quila. Kehadirannya bisa meyakinkan orang-orang
bahwa dia masih hidup dan kesultanan aman tenteram. Dia harus membuktikan keberadaannya setiap hari. Aku bisa membayangkan dia duduk di singgasana peraknya, menatap ke timur, ke tepi dunia, tempat kesultanannya berujung. Sudah lazim diketahui bahwa seekor unta membutuhkan waktu enam belas hari untuk melintas dari perbatasan timur ke perbatasan barat, daerah di antara Persia dan Bengal, dan enam belas hari lagi dari Himalaya di utara ke Dataran Deccan di selatan. Pusat kemegahan ini adalah Sultan Agra, tetapi ke mana pun dia pergi ke daerah kekuasaannya, itu adalah pusatnya.
Dundhubi juga merupakan tanda bagi penghuni rumah kami untuk bangun. Suaranya terdengar akrab; karena memang selalu terdengar sama. Seumur hidup, aku telah mengikuti gerakan-gerakan dari suara-suara ini: para budak yang menyalakan api di dapur, kibasan sapu yang berirama, dan perputaran manusia penghuni rumah dari ruangan-ruangan di bawah. Dari dalam, aku mendengar bisikan para ibu, nenek, dan bibi. Hari ini, aku bisa mendengar nada tertentu dalam suara mereka, suatu keributan kecil, bagaikan mereka juga terbangun oleh gelegar guntur. Tadi aku berpikir jika aku satu-satunya yang terbangun karena itu, tetapi keributan yang melanda seluruh zenana membuatku merasa kecewa.
"Apakah kau sudah bangun, Arjumand?" ibuku memanggil.
Biasanya, harem tidak terbangun dini hari, dan
para perempuan biasanya membutuhkan setengah hari untuk membersihkan diri dan berpakaian, tetapi hari ini kegiatan benar-benar membingungkan. Para pelayan dan budak berlari bolak-balik, mengambil, membawa, dan meletakkan sesuatu seperti yang diperintahkan oleh bibiku Mehrunissa, ibuku, nenekku, para istri, serta kerabat perempuan lain. Peti-peti perhiasan, gulungan sutra, kotak-kotak tempat gading, perak, dan giok yang tersimpan dalam satu tempat, karena malam ini akan berlangsung Pasar Malam Bangsawan Meena. Seperti komet, acara ini hanya akan berlangsung sekali dalam setahun, pada akhir musim semi, dan memicu kegairahan para perempuan dalam lingkungan istana.
"Apakah kau akan bersiap?" Mehrunissa bertanya kepadaku.
"Apakah aku juga harus ikut?"
"Mengapa tidak? Sekarang kau sudah cukup besar. Seseorang mungkin bisa memerhatikan dan melamarmu."
Pada tahun 1017 ini usiaku baru dua belas tahun, sudah hampir waktunya untuk menikah. Aku adalah anak semata wayang dan hidupku begitu terkungkung dan tidak menarik.
Pendidikanku-membaca, menulis, melukis, musik, sejarah, dan Quran-sudah sangat layak dan cukup bagi seorang istri pejabat. Pernikahanku yang dijodohkan sudah pasti akan merupakan penyatuan hampa antara dua tubuh dan dua kekayaan. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghindari masa
depanku ini. Tentu saja aku memimpikan romansa; semua gadis pun mengalaminya.
"Atau tawarkan sesuatu yang lain," salah satu kerabatku mengusulkan dengan keras, menyebabkan tawa berderai.
"Aku tidak punya apa-apa untuk dijual," sahutku, mengabaikan maksudnya.
"Kau bisa menjual apa pun-buah-buahan, rempah-rempah, ukiran. Itu tidak penting. Tapi, tentu saja," Mehrunissa menambahkan dengan malu-malu, "jika di tendamu ada barang-barang berharga, kau bisa menarik para pejabat, bahkan mungkin sang Sultan sendiri."
"Apa yang akan Bibi jual?"
"Perhiasan emas dan sutra yang kurancang sendiri." Bibiku mengulurkan tangannya ke salah satu petinya, mengangkat gelang-gelang dan kalung-kalung zamrud berhiaskan intan, cincin-cincin bermata batu mirah dan safir, kemudian dengan asal menumpahkannya ke luar. Dia mengerutkan wajah melihat perhiasannya.
"Apakah kau pikir ini sudah cukup bagus?"
"Memang ada yang lebih bagus?"
Dia mengangkat bahu, masih merasa ragu, kemudian menatapku dengan tatapan yang diam-diam menyiratkan spekulasi. Meskipun sangat cantik, Mehrunissa adalah seorang perempuan yang berkepribadian sangat sulit. Dia mendera atau menyiksa siapa saja yang tidak menuruti keinginannya, dan bahkan suaminya, Jenderal Sher Afkun, yang keberaniannya di medan perang tidak
perlu dipertanyakan lagi, bertekuk lutut di bawah bayang-bayangnya. Bibiku selalu ingin menyilaukan dan memikat hati orang lain. Jika bisa memetik bulan dan bintang dari angkasa, dia akan memasangnya di atas tumpukan logam-logam, batu-batu berharga, dan lembaran-lembaran sutra.
"Tapi mereka tidak akan datang untuk membeli, hanya untuk memandang kita. Mereka hanya akan memandang dan memandang, tapi tidak memperlihatkan keberanian."
"Dalam kesempatan apa lagi mereka bisa melihat kita? Para perempuan pasar biasa bisa menunjukkan wajah mereka ke dunia dan pergi ke mana pun mereka suka, tapi kita harus menghabiskan seumur hidup kita dalam kungkungan purdah."
"Lebih baik tidak bisa dilihat, tapi bisa melihat segalanya." kata Mehrunissa tajam. "Itu akan membuat para pria membayangkan kita dan berkhayal."
"Dan hanya itu yang bisa mereka lakukan," aku menimpali dengan keras kepala. "Siapa lagi yang akan datang ke pasar malam, selain Sultan?"
"Banyak pejabat agung." Dia merendahkan suaranya, terdengar bersiasat, "Bahkan mungkin sang pangeran, Shah Jahan. Siapa tahu ada peristiwa menakjubkan yang akan terjadi malam ini?"
Dia mendesah penuh harap. Semua perempuan berubah karena merasa bersemangat, tetapi tampaknya hanya Mehrunissa yang tersihir kegairahan menyambut acara. Malam ini, dia bisa melupakan rumah tangga dan anak perempuannya
yang masih kecil, sekali lagi berpura-pura menjadi seorang gadis, memimpikan romansa dan menulis puisi bagi seorang kekasih yang akan, dengan embusan keajaiban, merebut hatinya. Aku bertanya-tanya, apakah dia sudah memiliki seorang kekasih dalam impiannya.
"Apa yang Bibi harapkan akan terjadi?" aku bertanya.
"Aku hanya memperkirakan keadaan nanti," dia menukas dengan ceria. "Di mana Ladilli?"
"Masih tidur." Ladilli adalah putri bibiku, dan seperti aku, dia adalah anak tunggal. Dia adalah sahabatku, seorang gadis pemalu dan pendiam, yang tidak pernah memiliki keberanian.
Aku tidak memiliki banyak barang untuk dipajang di tendaku seperti Mehrunissa. Aku masih muda dan belum menikah, dan bukannya kalung rantai yang berat dan beberapa gelang emas, kebanyakan perhiasanku terbuat dari perak. Aku mengumpulkan gelang kaki, cincin hidung, gelang, kalung, dan cincin milikku, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Mereka sama sekali tidak berharga apa-apa-hanya seribu rupee, mungkin tidak sampai.
Ketika aku menatap perhiasanku, aku bagaikan tersambar dan tergetar oleh gelegar guntur lagi. Ada sebuah impian yang selalu terbayang kembali, yang mengingatkanku bahwa hari ini akan berbeda. Dalam mimpiku, aku melihat sesuatu yang berwarna merah, tetapi tidak bisa memastikan apakah itu merah darah atau merah sutra-dalam mimpiku, mereka  bagaikan berbaur silih berganti-dan  aku
mendengar suara seseorang, suara pria, lembut, tetapi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Aku tidak melihat wajahnya dalam mimpiku; aku hanya tahu kami menunggu satu sama lain.
"Pikiranmu tampaknya melayang jauh, Agachi," Isa membuyarkan lamunanku. "Kau tampak tidak bersemangat seperti begum-begum yang lain."
Isa adalah seorang chokra-pengemis yang memainkan sulap jalanan-yang ditemukan dan dibebaskan oleh kakekku, Ghiyas Beg, tiga tahun yang lalu. Meskipun dia beberapa tahun lebih tua daripada diriku, tubuhnya masih kecil dan kurus. Isa bercerita kepada kami bahwa dia diculik dari sebuah desa di utara Golconda oleh seorang tukang sulap ketika dia masih kecil, dan mereka menjelajah bersama-sama selama bertahun-tahun. Dia telah berusaha kabur dari majikannya, tetapi tertangkap dan sedang dipukuli dengan bertubi-tubi saat kakekku menemukannya. Dia diizinkan masuk ke dalam harem karena dia mengaku telah menjadi kasim, yang dipastikan oleh kasim Mehrunissa, Muneer. Kadang-kadang, aku meragukan kisah tentang Isa ini, tetapi dia melayaniku lebih setia daripada yang bisa dilakukan para pelayan perempuan.
"Aku bermimpi, Isa, dan aku sedang mencoba untuk mengingat-ingatnya."
"Saat kau tertidur, mimpimu akan kembali," kata
Isa.
"Mungkin. Ini, tolong bawakan." Aku memberikan
perhiasan   perakku   yang   terbungkus   kain   sutra kepadanya. "Apakah yang lain sudah siap?" "Ya, Agachi."
Bazaar diadakan di taman-taman di istana Sultan. Istana Sultan tersembunyi jauh di dalam benteng Lai Quilla yang berdiri bagaikan sebuah bukit kecil dari batu paras berwarna merah, di tepi Sungai Jumna. Istana ini dibangun oleh ayah Padishah, Akbar Agung. Akbar adalah orang yang begitu murah hati memberikan pekerjaan kepada kakekku saat dia pertama kali tiba di Hindustan dari Persia. Mereka berkenalan karena dipertemukan oleh seorang pemilik karavan unta, yang mengantarkan kakekku Ghiyas Beg kepada Mughal Agung; jika ini tidak terjadi, mungkin kami masih tidak beruntung dan miskin, seperti ribuan manusia yang menyesaki jalanan Agra.
Kemajuan kakekku begitu cemerlang-tetapi dengan segera mengecewakan lagi. Dia maju pesat ketika melayani Akbar, tetapi karena salah menilai sang Sultan, dia terlalu banyak menerima upeti. Ada kebiasaan di Persia dan Hindustan untuk menerima hadiah sebagai imbalan suatu perbuatan, tetapi menurut Akbar, menteri-menterinya tidak boleh melakukan praktik seperti ini, dan dia memecat kakekku. Sejak kematian Akbar dua tahun yang lalu, kakekku ingin melayani anaknya juga, Jahangir. Mungkin akhirnya hati Jahangir luluh juga, karena kami diberikan suatu hadiah besar, yaitu diundang ke Pasar Malam Bangsawan Meena. Karena itu, bisa dimengerti    jika     peristiwa     ini     menyebabkan
kegairahan yang begitu besar di tempat tinggal kami.
Prosesi keluarga kami dari rumah menuju benteng yang berjarak empat kos tidak begitu besar: hanya tiga tandu. Muneer membuka jalan di antara kerumunan dengan sebuah lathi yang dia gunakan dengan penuh kekejaman dan sukacita. Aku mengajukan protes kepada Mehrunissa, tetapi tampaknya dia juga menikmati kegembiraan yang sama setiap mendengar lecutan kayu di tubuh manusia.
Aku memilih untuk berjalan, dengan Isa yang mengikuti selangkah di belakangku, menghadapi debu, panas, tetapi bisa melihat pemandangan kota besar yang menakjubkan, daripada di dalam selubung tandu yang menutup. Tidak ada kota lain yang sebesar dan seberagam ini di seluruh dunia. Di sini, aku melihat para lelaki dan perempuan dari Bengal, Persia, Yunani, Uzbekistan, Cathay, para kaum feringhi dari laut-laut barat, orang-orang Afghan, dan orang-orang dari setiap suba di Hindustan. Di sini, pasar di tepi jalan menjual kekayaan dunia: porselen, emas, perak, gading, sutra, batu mirah, intan, rempah-rempah, budak, kuda, dan gajah. Di belakang kami berbaris prosesi kecil pengemis. Isa memberi masing-masing satu dam atau satu jetal, tergantung kelusuhan mereka. Jika dia sedang berjalan sendirian, mungkin dia akan mengusir mereka dengan seruan atau umpatan. Orang-orang miskin selalu bersikap kasar terhadap sesama mereka.
Kami memasuki Lai Quila melalui darwaza Amar Singh. Darwaza Delhi dan darwaza Hathi Pol diperuntukkan untuk jalur pasukan perang Mughal, yang menempati setengah bagian benteng. Kami melewati para prajurit kesultanan yang mengenakan seragam-seragam merah terang, baju-baju zirah berkilauan, dan dipersenjatai dengan pedang dan perisai. Kami melangkah dari satu dunia ke dunia yang lain.
Benteng itu sendiri berbentuk seperti busur raksasa dengan "tali busur" yang menghadap ke sungai. Temboknya setinggi tujuh belas meter dan tebalnya tiga meter, dengan puncak yang dibentuk bergerigi mirip mata gergaji. Ada menara-menara yang dibangun teratur di sepanjang tembok, masing-masing berjarak dua kos, semua dijaga oleh para prajurit kesultanan. Kami menunggu sebentar di halaman Amar Singh dengan orang-orang lain yang tak terhitung jumlahnya, sebelum diizinkan memasuki lorong sempit menuju istana. Komandan penjaga duduk di kejauhan, di atas sebuah panggung, dan memeriksa apakah kami betul-betul diundang. Sekarang, jalan menanjak dengan curam, di antara dua tembok tinggi. Di puncak tanjakan terhampar sebuah area luas. Di depan kami ada sebuah diwan-i-am berpilar dengan atap kayu dan langit-langit dari perak tempa. Istana sendiri berdiri di ujung taman di sebelah kanan kami, di tembok utara benteng, menghadap ke sungai. Istana itu dibangun dengan indah dari batu paras merah, dinding-dinding      dan      pilar-pilarnya      ditutupi
ukiran-ukiran detail yang tersusun rapi. Meskipun berukuran besar, tampaknya istana itu begitu indah dan rapuh.
Karena suatu alasan, sang Sultan sendiri jarang menempatinya. Dia tinggal dan tidur dalam sebuah bargah yang didirikan di taman. Ini adalah sebuah tenda raksasa yang rumit dan memiliki banyak ruangan, dihiasi dengan permadani-permadani indah dari Persia dan Kashmir, dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan dan lembaran-lembaran sutra yang ditempeli batu-batu berharga. Timur-i-leng, penakluk Mongol pertama, telah membuat peraturan bahwa tidak boleh ada keturunannya yang tidur di bawah atap bangunan, dan setiap sultan mematuhi perintahnya. Area benteng lainnya dipenuhi oleh pasar, kantor-kantor administrasi, dan bengkel-bengkel kerja yang tak terhitung jumlahnya.
Hanya ada sedikit perubahan selama tiga tahun keterasingan kami, tetapi aku merasakan sesuatu yang baru: istana, air-air mancur, hamba sahaya istana dalam busana mereka yang cemerlang, para musisi, penampil akrobat, gajah-gajah, dan kuda-kuda, bahkan udara sendiri tampaknya sedang bernyanyi. Acara itu bukan sekadar pendekatan kekuasaan. Seluruh kesultanan memiliki satu detak jantung-detak jantung Jahangir-dan kami semua berada dekat dengannya. Keramaian, kericuhan, dan hawa panas membuat orang-orang merasa pusing: tandu-tandu yang berjumlah tak terhingga membawa harem-harem pangeran dan para pejabat mendorong   serta   menerobos   untuk   menurunkan
bawaan berharga mereka di tangga istana. Harem-harem sultan menempati bagian paling luas dari bangunan ini dan merupakan tempat yang sulit untuk dimasuki, karena, selain para perempuan penghuninya, tempat ini juga menyimpan harta Mughal Agung yang tak terhingga.
Pertama, kami harus melewati selapis penjaga istana, semua bersenjata jezails, sebuah senapan panjang, atau tombak. Mereka tidak mendekati para perempuan, tetapi para pelayan pria dalam rombongan kami diperiksa dengan ketat. Lapisan berikutnya, yang menjaga koridor-koridor di dalam istana sendiri, dipenuhi oleh budak-budak perempuan dari Uzbekistan. Mereka adalah kesatria yang sama kejamnya dengan para penjaga istana, dan sama-sama dipersenjatai. Sosok mereka seperti lelaki, dengan bahu lebar yang kukuh, lengan-lengan kuat, dan sikap yang kaku. Mereka memeriksa kami, para perempuan, dan kadang-kadang terlalu akrab, meskipun ada beberapa tangan yang tampaknya terlalu kasar bertindak. Tetapi, aku tidak. Di dalam harem sendiri ada para kasim. Satu-satunya tugas mereka adalah untuk mencegah para lelaki yang bisa berpasangan dengan perempuan mana saja memasuki harem. Tetapi, mereka dikenal mudah terpengaruh, sehingga ceroboh dalam menjalankan tugas.
Aku belum pernah melihat begitu banyak perempuan yang bersukacita berkumpul bersama di satu tempat dan waktu yang sama. Aku tidak bisa menghitung   jumlah   mereka,   tetapi   Isa,   yang
tampaknya tahu banyak hal, mengatakan bahwa ada lebih dari delapan ribu orang. Mungkin saja: Akbar memiliki empat ratus istri dan lima ribu selir, dan kebanyakan di antara mereka masih tinggal di istana. Kebanyakan pernikahan mereka adalah persekutuan politik, seperti juga pernikahan Jahangir. Pernikahan-pernikahan mata ini berakhir setelah periode waktu yang disepakati dan para perempuan akan kembali ke rumah mereka, bergelimang hadiah emas dari Mughal Agung. Perkawinan dengan nikah berlangsung seumur hidup dan para istri mendapatkan gaji yang memuaskan, dihadiahi jagir-jagir besar, dan kekayaan masih bertambah karena usaha-usaha mereka dalam bidang perdagangan dan jasa. Para perempuan dari berbagai negara dan bahasa berkumpul bersama: orang-orang Rajput, Kashmir, Persia, Bengal, Tartar, Mongol, Tibet, Rusia, Circasia.
Istana mirip dengan sebuah sarang lebah raksasa dengan banyak ruangan. Ukuran dan kemewahan perabot ruangan-ruangan itu beragam, tergantung derajat kemuliaan penghuninya. Udara begitu pengap dan harum dengan parfum-parfum yang tampaknya menguar dari dinding-dinding, dan aku merasa bagaikan sedang menapaki daging yang lembut dan wangi belerang. Kami bergerak maju dengan lambat, sebagian karena kerumunan manusia yang padat, dan sebagian lagi karena Mehrunissa mengenal banyak perempuan, jadi dia sering berhenti untuk menyapa setiap orang yang dia kenal dengan begitu akrab dan ramah; meskipun
setelah itu dia akan melontarkan komentar pedas dalam bisikan rendah. Kebanyakan perempuan menatap kami dengan terkejut. Tetapi, jika Mehrunissa bersalah karena ketidakjujurannya, mereka juga sama saja. Di lapangan, perhatian ini diukur dengan kedekatan seseorang dengan sang Sultan. Hubunganku dengan Sultan begitu jauh, tidak penting sama sekali. Tetapi, aku bisa mengartikan setiap tatapan: mengapa kami diundang? Apakah kakekku sudah dimaafkan? Segera, aku menemukan diriku sendiri terserang sesak napas, bukan karena udara yang pengap-angin sepoi-sepoi yang sejuk menerpa dari Sungai Jumna-tetapi karena persahabatan yang palsu.
Aku berhasil menuju balkon dan menatap ke bawah, ke taman istana. Salah satu keunikan Mughal adalah karena istana ini dipenuhi nuansa oasis keindahan alami. Taman-taman tidak menampakkan suatu kesan permanen, tetapi merupakan sesuatu yang mengesankan kehidupan nomadik para leluhur mereka; air, pepohonan, dan bunga-bunga yang jarang ditemui. Bagian tengah padang rumput luas dipenuhi dengan setiap bunga yang bisa dibayangkan-mawar, melati, kemboja, kana, violet-dan dipagari oleh pepohonan besar yang teduh, serta kolam air mancur yang terus-menerus mengalir. Air memancar penuh irama, dengan tiga puluh enam pasangan kerbau yang bergantian membawa air dari sumur sepanjang siang dan   malam.    Pemandangan   ini    sendiri   begitu
menyejukkan dan menenangkan dalam sengatan panas musim kemarau. Para pekerja lelaki mulai mendirikan tenda-tenda untuk bazaar, tempatku nanti duduk, dan menawarkan tumpukan kecil perhiasan perakku. Jalan setapak tanah di antara benteng akan segera tertutup karpet.
"Ternyata kau di sana. Aku sudah mencarimu ke mana-mana." Mehrunissa menarik seorang perempuan mungil dan pemalu di belakangnya, begitu lembut dan rapuh bagaikan pakaian sutra yang dia kenakan.
"Yang Mulia, ini keponakanku, Arjumand."
Aku mengangguk kepada Jodi Bai, permaisuri Jahangir. Dia berdiri sambil menunggu dengan gugup, bahkan tampak tidak senang, bagaikan menungguku untuk berbicara. Aku tidak bisa menemukan apa yang harus kukatakan kepada perempuan pendiam yang murung ini, dan hanya mengamatinya saat Mehrunissa berceloteh riang tentang pasar malam. Jodi Bai berasal dari Rajput dan merupakan penganut Hindu, ibu sang Pangeran Shah Jahan. Aku tidak mengira bibiku begitu akrab dengan Permaisuri, dan pertunjukan perhatian yang begitu mencolok ini menunjukkan maksud terselubung Mehrunissa. Mehrunissa
memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat, seperti seorang ahli matematika.
"Oh, dia benar-benar perempuan konyol," Mehrunissa berbisik saat Jodi Bai melesat meninggalkan kami, bagaikan seekor binatang liar mungil yang bersembunyi di balik rerumputan tinggi.
"Lalu, mengapa Bibi begitu akrab dengannya?"
"Karena aku tidak bisa kurang ajar terhadap istri Jahangir." Dia menoleh ke belakang, ke arah kamar-kamar yang sesak. "Selain itu, aku tidak tahu bagaimana dia sebenarnya. Seorang permaisuri! Tidak heran, Jahangir mabuk-mabukan hingga hampir mati."
"Mereka bilang, Jahangir sudah minum sebelum menikahinya. Dua saudara lelakinya juga meninggal karena minum."
"Dan dia tidak akan hidup terlalu lama lagi jika terus bersamanya."
"Mengapa Bibi begitu peduli terhadap hal itu?"
"Bukan urusanmu."
Mehrunissa tiba-tiba pergi, menggabungkan diri ke dalam kerumunan manusia, tawa, dan celoteh, bagaikan seekor burung yang melayang dibawa angin. Aku tahu, di balik kecantikan bibiku, suatu arus ambisi sedingin es mengalir deras. Aku tidak bisa meramalkan ambisinya, karena tersembunyi rapat di dalam pikiran rahasianya, yang tidak diketahui oleh seorang pun.
mim
Pada saat yang sudah dijanjikan, tiga jam sebelum tengah malam, kami mendengar suara perempuan di kejauhan mengumumkan, "Zindabad Padishah, Zindabad Padishah." Keributan mereda saat sang Sultan mendekat, dan semua perempuan bangkit untuk memberi salam kepadanya.
Jahangir melangkah santai di atas karpet be-
ludru yang terhampar, terlibat dalam pembicaraan serius dengan kakekku, Ghiyas Beg. Sang Padishah mengenakan turban sutra merah tua, yang dari atasnya mencuat sehelai panjang bulu burung bangau yang mengangguk-angguk. Mengapit bulu itu, ada lingkaran-lingkaran emas yang bertatah susunan batu mirah dan berlian, masing-masing seukuran buah kenari. Di bagian tengah, menahan bulu di tempatnya, ada sebuah bros dengan susunan zamrud yang berkilauan. Di pinggangnya, dia mengenakan sebuah sabuk emas, yang dihiasi dengan intan-intan dan batu mirah. Pedang Humayun tersemat di pinggang sebelah kirinya, dan di sebelah kanan terdapat sebuah belati melengkung dengan gagang berhias batu mirah terbungkus dalam sarungnya. Seuntai kalung dengan tiga lapis mutiara tergantung di lehernya, dan di setiap lengan ada gelang-gelang emas yang bertatah berlian, sebuah gelang yang tebal di atas sikunya, dan masing-masing tiga buah di setiap pergelangan tangannya. Jari-jarinya juga dihiasi cincin-cincin bermata batu mulia, dan kakinya mengenakan sandal bersulam benang emas dan butir-butir mutiara. Di belakangnya dua pria berjalan, yang seorang membawa sebuah wadah panah dan sebuah busur besar, yang lain membawa sebuah buku. Di belakang sang pembawa buku, ada seorang anak lelaki Abyssinia yang membawa pena dan tinta, karena Jahangir memiliki hasrat keingintahuan tentang dunia, dan akan segera mencatat setiap pikiran dan kesannya dengan teliti.
Tenda kecilku didirikan agak jauh dari gerbang, di bawah keteduhan sebatang pohon neem. Mehrunissa berada di dekat cahaya paling terang, dekat kolam air mancur. Aku mengatur perhiasanku dan mengatur sekali lagi, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuat tampilan yang menarik. Pernak-pernik milikku tergeletak begitu saja di atas karpet biru kecil.
"Siapa yang akan membeli ini semua, Isa?"
"Seorang pria yang paling beruntung, Agachi. Aku bisa merasakannya."
"Dia pasti seorang pria tolol. Dia pasti akan memiliki kesempatan lebih baik di tempat lain, di pasar malam ini, selain di sini."
Sekarang para pejabat tidak lagi mengikuti sang Sultan, tetapi menyebar di jalan setapak di antara tenda-tenda. Aku benar-benar canggung tanpa cadarku di hadapan para pria yang benar-benar asing ini, meskipun diam-diam, inilah yang kuharapkan. Waktu semalam bagaikan tidak cukup bagiku; jiwaku melayang tinggi bagaikan seekor burung yang menderita karena jerat yang mengikat kakinya.
Lamunanku buyar karena kedatangan kakekku.
"Kau benar-benar tersembunyi, Arjumand."
"Ini tenda yang diberikan untukku. Aku satu-satunya yang masih gadis."
Kakekku tertawa. "Tapi, kau gadis yang cantik!"
Aku tersenyum. Kakek selalu mengatakan hal itu. Dia adalah seorang lelaki baik yang tenang, tinggi dan kurus, dengan mata yang berwarna mirip langit
malam, seperti mataku.
"Apakah Kakek akan membeli sesuatu? Kumohon.
Soalnya, tidak ada orang lain yang akan membeli barangku."
"Tidak, barangmu seharusnya merupakan keberuntungan bagi lelaki lain. Sebentar lagi akan ada yang membelinya." Lalu, kakekku berbisik: "Tapi, jika mereka semua bertindak bodoh, aku akan kembali dan membeli semuanya. Ingatlah, beri aku harga yang cocok untukku."
"Aku melihat Kakek dengan Sultan."
"Ya. Dia cukup baik untuk menerima kehadiranku yang bersahaja ini."
"Apa yang kalian bicarakan? Apakah dia akan memberi Kakek tugas?"
"Aku akan menceritakannya nanti." Kakek mencubit pipiku dengan penuh rahasia.
Lalu, Kakek pergi, dan beberapa lelaki lain berjalan lambat ke arahku, kebanyakan menatapku, saling berbisik dan tergelak, tetapi tidak berani untuk mendekat. Para perempuan lain, seperti para wanita di pasar betulan, merayu dan memanggil-manggil mereka, tetapi aku tidak bisa bersikap seberani itu. Malahan, aku hanya memerhatikan tamasha: Aku melihat Jahangir berhenti di tenda Mehrunissa, membeli sesuatu, berbisik kepada bibiku itu, lalu berjalan lagi. Mehrunissa tampak gembira dan puas, tetapi, dengan segera dia mengalihkan perhatiannya kepada seorang pejabat lain.
Saat itulah aku merasakan ada tatapan se-
seorang mengarah kepadaku. Tatapan itu begitu kuat, menginginkan aku untuk menoleh ke arahnya. Aku nyaris bisa merasakan kelembutannya. Tubuhku begitu lemas, dan saat aku menoleh, melalui tenda-tenda yang menghalangi, di ujung jalan setapak, aku melihat sang pangeran, Shah Jahan.
Melalui celah terbuka tenda di antara kami, tempat cahaya lilin berkilauan dan menciptakan bayangan-bayangan gelap yang memagari, mataku terpaku oleh tatapannya. Berwarna hitam kelam, penuh kerinduan, kesepian, berbinar karena cahayanya sendiri, mata sang pangeran bukan hanya memancarkan sorot menyala seorang pangeran, sang pemberi perintah, seorang Mughal, tetapi binar mata seorang anak lelaki yang ketakutan. Aku tahu, akulah yang menyebabkan ketakutannya itu, tetapi aku tidak bisa membuang muka darinya. Dia bagaikan guntur yang menyambarku dalam kegelapan. Dialah warna merah dalam mimpiku, bukan merah darah, tetapi warna merah turban pangeran, sang putra mahkota. Dalam mimpiku, aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, dan dia menggenggamnya seakan tahu bahwa akulah satu-satunya teman dalam kesepian dan keagungannya sebagai pangeran. Dia menghilang dari tatapanku; kali ini giliranku yang merasa takut, khawatir kehilangan harapan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku menoleh ke arahnya dan memeriksa jalan setapak sempit yang dipadati para perempuan yang sedang sibuk dan  tertawa,   serta  para  lelaki   terhormat.   Aku
berharap mereka menghilang dari bumi ini; dan dalam hati aku juga mengutuk mereka. Kemudian, aku melihatnya berusaha menerobos kerumunan dengan kasar. Sepertinya dia bagaikan berlari, kemudian harapan itu, ketenangan yang damai, merengkuhku dalam-dalam, membuatku tenggelam dalam sebuah impian lembut yang penuh kehangatan.
Shah Jahan
Aku, Pangeran Shah Jahan, bukan lagi seorang anak lelaki bernama Khurrum, tetapi sudah menjadi Penakluk Dunia dan ahli waris Sultan Jahangir, Padishah dari Hindustan, meskipun masih berusia lima belas tahun. Kebanggaan menyelubungi karena aku adalah anak lelaki kesayangan ayahku, dan diundang untuk menghadiri Pasar Malam Bangsawan Meena. Tubuhku bergetar karena kegairahan menyambut acara tersebut, karena kehadiranku bukan hanya sebagai simbol perwakilan ayahku, tetapi juga simbol kesultanan. Mereka semua mengesahkan aku sebagai ahli waris kesultanan agung ini, di atas tiga saudara lelakiku. Bisa memerintah, untuk memegang tongkat kekuasaan, adalah satu-satunya ambisi dari seorang pangeran muda. Dan pada malam ini, aku merasa bahwa pasar malam kali ini bisa menjadi peristiwa yang semakin melapangkan jalanku.
Pasar Malam Bangsawan Meena pertama kalinya diadakan oleh kakek buyutku, Sultan Humayun. Ini adalah ide yang sangat bagus,  karena menurut
peraturan kebangsawanan, para perempuan bisa tampil tanpa cadar di hadapan sekelompok pria yang terpilih. Cadar-cadar sutra yang sepanjang tahun dikenakan di sini, selama semalam, tidak lagi tampak. Dunia sempit harem akan dibebaskan; selama beberapa jam yang singkat, kami bisa melihat wajah-wajah para perempuan terhormat yang tidak tertutup.
Meskipun hawa panas dan udara seperti tak bergerak, orang-orang terus berdatangan ke istana ketika malam menjelang. Tenda-tenda sudah ditegakkan oleh para pekerja pria di taman, dan, tak diragukan lagi, para perempuan sudah memilah-milah barang-barang yang akan mereka tawarkan. Aku bisa mendengar mereka tawar-menawar dan berdebat seperti para perempuan di chowk-pasar jalanan. Dan jika beruntung, para pembeli juga bisa mendapatkan bukan hanya barang-barang yang mereka beli, tetapi juga para perempuan penjualnya sendiri. Aku pernah mendengar segelintir pejabat yang sedang menyombongkan penaklukan mereka, yang memuji penuh hasrat akan malam-malam menakjubkan di Pasar Malam Bangsawan itu. Aku juga bukannya belum berpengalaman dalam hal ini. Aku pernah menghabiskan waktu bersama budak-budak perempuanku, dan kadang-kadang, sekadar untuk hiburan, pergi ditemani para penari di pasar dan membayar kehadiran mereka. Tetapi, aku telah belajar dari pengalaman, bahwa karena posisiku sebagai pangeran, aku menghargai keberadaan para
perempuan yang menemaniku. Aku tidak mendengarkan bisikan mereka, karena mereka hanya berbisik untuk memujiku, untuk mendapatkan hadiah dan kekayaan. Para penyair menulis dan menyanyikan lagu cinta, tentang para lelaki dan perempuan yang merana dan sekarat karena penyakit ganjil itu, tetapi cinta bagiku hanyalah ilusi; istana adalah sebuah gurun yang kering kasih sayang.
Saat dimandikan dan didandani, aku tersenyum karena pikiranku sendiri. Dan, melihat hal ini, para budak perempuan menggodaku tentang malam ini: aku akan bertemu seorang putri. Seorang peramal bintang sudah meramalkan jika sang pangeran akan beruntung. Dia akan jatuh cinta dan hidup selamanya dalam kebahagiaan. Aku menertawakan godaan mereka dan tidak memercayainya. Tetapi, aku bertanya-tanya: mengapa aku begitu bersemangat? Apakah ini karena pikiran akan melihat wajah-wajah perempuan yang sempat kupandang sekilas, kudengar berbicara, tetapi tidak benar-benar bisa kutatap dengan jelas?
Mencocokkan suara dengan wajah, tangan dengan wajah, mata dengan wajah adalah permainan yang menyenangkan. Apa lagi yang bisa kuharapkan: semalam atau dua malam penuh kenikmatan, mungkin bisa seminggu, atau sebulan? Aku menganggap pikiran ini membosankan. Aku bisa memilih setiap perempuan di dalam kamar ini untuk memuaskan hasratku. Tetapi, aku merasa bagaikan ada guntur yang menunggu untuk menggelegar di
udara. Apakah ini suatu perasaan hampa?
Ada dua orang yang menemaniku, Nawab dari Ajmer dan seorang pejabat, Allami Sa'du-lla Khan. Mereka juga mengenakan pakaian semewah pakaianku, dan meskipun lebih tua, mereka tampak penasaran dan bersemangat. Mereka juga belum pernah menghadiri pasar malam bangsawan. Mereka pergi ke balkon, memerhatikan taman; yang berkilauan dengan cahaya, lilin-lilin berkelap-kelip di setiap relung, lentera-lentera tergantung di pepohonan dan tenda, sinarnya tertangkap dan dipantulkan lagi oleh air mancur. Mereka melihat bayangan-bayangan dan mendengar suara tawa.
"Kita harus bergegas, kita harus pergi."
"Tunggu sebentar," perintahku. "Minumlah sedikit anggur dulu, tunggu dan nikmati kesenangan yang akan datang."
Mereka mematuhi, tetapi hanya karena aku yang berbicara. Mereka tidak mundur, tetapi masih berdiri di balkon sambil menatap ke bawah dengan penuh hasrat, bagaikan orang-orang tolol yang belum pernah melihat perempuan. Aku ingin mereka mendampingiku untuk menghabiskan waktu, berbicara tentang perburuan atau olahraga kami.
"Duduk!"
Mereka duduk, gelisah, menggeliat seperti cheetah. Aku juga merasa begitu, tetapi seorang pangeran harus selalu menunjukkan pengendalian diri, karena jika tidak, dia tidak memiliki kekuasaan. Tetapi, aku kehilangan perhatian mereka saat kami mendengar   dundhubi   bertalu-talu,    menandakan
ayahku Jahangir mendekat. Dari balkon, kami melihat ayahku Jahangir memasuki taman, diikuti oleh rombongan panjang para pengikutnya.
Sesaat, semua hening, semua memberi hormat, kemudian celoteh dan musik terdengar kembali.
"Tunggu beberapa menit lagi, hingga ayahku sudah sibuk dengan urusannya."
Saat aku merasa kehebohan sudah mereda, dan Sultan sendiri tidak akan mencuri perhatian dari kedatanganku, kami turun.
Ini adalah pasar malam yang sebenarnya; para perempuan harum berjongkok di tenda mereka, di depan tumpukan kain sutra, peti-peti perhiasan indah dari emas dan perak, mainan, parfum, gading berukir, hingga patung-patung kecil dari marmer. Udara dipenuhi suara dan tawa mereka yang merdu, serta diwarnai alunan musik lembut. Mereka segera menyadari kehadiranku dan para perempuan yang berada di dekat pintu masuk mulai tertawa dan bertepuk tangan. Sorot mata mereka berani dan mengundang, setiap perempuan memanggilku untuk membeli barang dari tenda mereka sendiri, beberapa menarik lengan bajuku seperti para chokra di pasar sebenarnya. "Lihatlah barang-barangku, coba yang ini; ini murah, terutama untuk Shah Jahan. Lihatlah sutra ini . di sini ada sebuah vas dari Bengal." Kehidupan mereka sangat bergantung pada penjualan ini, begitu juga antusiasme mereka. Aku berjalan menyusuri jalan di antara tenda, menandai beberapa wajah dan tubuh, beberapa cantik, beberapa tidak, tua dan muda, kurus dan gemuk.
Mereka semua liar dan menggoda, bagaikan burung yang terlepas dari sangkar mereka, berputar-putar dan mencicit-cicit di taman. Celoteh mereka yang tidak ada hentinya menyiksaku, dan semua bagaikan sudah diatur, untuk menghindari seorang perempuan yang begitu gigih menawarkan, aku berbalik.
Bagaimana aku bisa menerangkan diriku yang tiba-tiba tak berdaya, dan lumpuhnya semua indraku? Perempuan itu berlutut di seberang jalan, diam dan sendirian, jauh dari tamasha. Memang benar, kecantikannya-wajah oval yang sempurna, matanya yang besar, mulutnya yang bagaikan kuncup mawar, dan, rambut hitam berkilaunya yang berhias rangkaian melati-memikat mataku. Tetapi, kesyahduannya yang membuatku terpaku. Dia melihat sekelilingnya, memandang segalanya, dengan kegembiraan yang sangat. Senyuman lembut tersungging di wajahnya, dari dalam hati, tidak seperti tawa para perempuan lain yang terdengar dangkal. Aku melihat sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain: kejujuran. Aku merasa, jika aku berbicara, dia akan mendengarkan diriku, bukan mendengarkan seorang pangeran. Jantungku, jantungku, terasa sakit karena berdegup kencang, dan saat dia menoleh dan melihatku melalui bukaan tenda, degupnya bagaikan terhenti. Aku benar-benar takut-bahkan seluruh kekuatan yang kumiliki untuk menguasai dunia pun tak akan bisa menghentikan ledakan ketakutan ini-bahwa dia akan membuang muka dariku. Dengan segera, aku
merasa bahwa ketertarikanku akan pudar bukan karena rayuannya, tetapi karena pengabaiannya. Tetapi, dengan segera aku tidak lagi merasa khawatir. Dia tetap terdiam, menatapku, ingin tahu, tampak bahagia, dan-apa ini?-aku merasa bagaikan kami pernah bersentuhan.
Aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa tiba di sampingnya. Aku sudah sampai di sana, melihat tendanya yang menjajakan perhiasan perak, benda-benda mungil dan sederhana, dan dia hanya ditemani oleh seorang chokra. Aku tidak mampu menahan diri; kata-kata dan perasaan bagaikan akan meledak dari diriku.
"Aku merasa, sepertinya kita telah bersentuhan," aku berkata dengan keras, tidak mampu mengendalikan kekuasaan lidahku yang lebih terbiasa memerintah daripada mengutarakan isi hati. Aku mencoba lagi, "Tapi, itu tidak mungkin terjadi dari kejauhan. Tapi, aku merasakan lenganmu menyentuh lenganku dengan lembut. Mencintai secepat kilat bagaikan menantang hidup itu sendiri. Ini adalah suatu lompatan penuh keyakinan, bagaikan memasuki sebuah medan perang tanpa perlindungan baju zirah, memercayai bahwa entah bagaimana, kita tidak akan terbunuh. Tapi, bahkan jika kita terbunuh, keberadaanku tidak akan berharga tanpa kehadiranmu. Kau harus memberi tahu siapa dirimu. Aku harus mendengar suaramu dan merasa yakin jika kau benar-benar ada, bukan sebuah mimpi yang akan menghilang bagaikan air yang menguap dalam hawa panas."
"Arjumand Banu, Yang Mulia."
Suaranya melayang di udara dengan begitu syahdu, lembut, dan manis. Canggung karena tatapan tajamku, dia menurunkan pandangannya dengan malu-malu dan mulai membungkuk penuh penghormatan. Hal itu sudah cukup membuat jantungku sakit dan aku langsung maju untuk mencegahnya, menyentuh bahunya. Aku merasa bagaikan tersambar petir.
"Kulitmu membakarku, dan menyebabkan jantungku berdegup bagaikan genderang perang."
"Yang Mulia hanya mengatakan kepadaku apa yang juga sudah kurasakan." Tampaknya, dia memiringkan kepalanya dan menyapu punggung tanganku dengan pipinya. "Mungkin hanya karena hawa panas."
"Tidak, tidak. Hawa panas hanya menyengat permukaan kulitku, menyebabkan kita merasa sedikit tidak nyaman. Sesuatu merasuki tubuhku, jauh ke dalam dagingku, membakar jantungku, dan mengacaukan pikiranku. Bahkan aku tidak tahu apa yang kubicarakan."
"Kata-kata Anda sangat manis, Yang Mulia," dia bergerak dengan lembut, dan tanganku terjatuh. Aku masih merasakan kelembutan pipinya yang menggoda, bagaikan sebuah segel yang dicapkan ke kulitku. "Lidah Anda terlalu terlatih untuk terpeleset di depan seorang gadis."
"Ini," aku mencabut belatiku dari sarungnya. "Jika ini hanya mimpi, akhirilah segera. Aku tak berdaya menahan manisnya semua ini.  Rasa ini
bercampur aduk dengan perasaan dalam hatiku, dan satu-satunya suara yang bisa kudengar dalam kepalaku hanyalah denyut darah yang berulang: 'Arjumand ... Arjumand.1 Apakah kau tidak merasakan hal yang sama saat kita pertama kali saling menatap?"
"Ya, Yang Mulia. Tapi, rasanya bagaikan aku kembali tertidur dan tenggelam dalam mimpi ...."
"Mimpi apa?"
"Aku tidak bisa menceritakan apa pun. Tapi, saat aku terbangun pagi ini, aku merasa seperti saat aku melihat Anda pertama kali di sini." Dia menatap wajahku dengan hati-hati, memandang jauh ke balik kulit dan tulangku, menerawang melalui mataku sendiri untuk mengetahui apa yang ada di baliknya. "Anda memang nyata. Ini bukan lagi impian."
Aku berlutut di hadapannya, ketika dia juga berlutut di tendanya, dan dengan berani mengulurkan tangan untuk dia sentuh.
"Rasakan demam di tubuhku lagi. Kau juga sedang terjaga, seperti diriku."
Dengan malu-malu, dia menyentuh tanganku, dan sekali lagi, kami merasakan kejutan dalam sentuhan satu sama lain. Tampaknya, kilat yang membelah langit dalam musim monsun telah menyala di antara kami. Aku berharap kami tetap saling bersentuhan, tetapi dia melepaskan pegangannya, sekarang merasa yakin kami bersama-sama, tidak terpisah dalam impian yang berbeda.
"Aku akan duduk di sini selamanya dan me-
natapmu."
Dia tertawa, dan suara lembutnya membuatku merasa bagaikan sedang melayang di antara nada-nada musik indah yang ganjil.
"Kalau begitu, kita akan terus menua dengan hanya saling berpandangan."
"Kehidupan apa yang lebih baik daripada itu? Kuharap ada suatu hari, dengan matahari yang penuh bayanganmu. Bayangan-bayangan ini menipuku. Mereka membengkokkan hidungmu, padahal bentuknya sempurna. Mereka menggelapkan matamu, tetapi aku tahu matamu bening dan indah. Tapi, mereka tidak dapat mengubah bentuk mulutmu atau lengkung pipimu."
"Apakah Anda hanya melihat sebagian kecil sosokku? Tak terhingga jumlah perempuan lain di istana ini yang jauh lebih cantik daripada diriku."
"Tidak. Tidak ada yang bisa mengalahkanmu. Yang mereka tampilkan hanyalah kebohongan di permukaan. Aku melihat jauh ke dalam matamu dan wajahmu. Aku merasakan bahwa aku telah mengenalmu seumur hidupku, tetapi aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa menahannya, tetapi syukurlah aku bisa melihatmu malam ini."
"Ya," suaranya tiba-tiba terdengar ragu-ragu. "Tapi, aku mungkin akan selalu memandang Yang Mulia, dari hari ke hari, tahun ke tahun, tetapi Anda tak akan pernah memimpikan kehadiranku."
"Tapi aku mengalaminya, aku memimpikannya," aku berkata dengan tegas, berharap bisa meyakinkannya. "Hanya perlu suatu tatapan yang
bisa mendekatkan kita. Bukankah kau merasakan tatapan itu melampaui penglihatan, melampaui sentuhan, melampaui pendengaran? Aku merasakan sentuhanmu di hatiku dari kejauhan, seperti kau merasakan sentuhanku. Bahkan, melalui cadar, aku bisa mengetahui cintamu. Memang begitu, betul bukan?"
"Memang tidak ada yang lain, Yang Mulia."
Aku berharap dia tidak mengatakan kalimat itu. Aku merasakan guncangan, getaran yang mulai merobek perasaanku.
"Jika saja aku ini bukan pangeran aku
berkata.
"Jika Anda bukan pangeran, perasaanku tidak akan berkurang."
Aku menatap matanya. Matanya lebar, tak berkedip, membuatku bisa melihat kebenaran yang dia ucapkan. Aku merasakan getarannya mereda, dan tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Aku tertawa keras, dan mendengarnya berbisik: "Tapi, bagaimana aku memanggil Anda?"
"Kekasihku, cintaku. Kau adalah kekasihku satu-satunya, cintaku."
"Kekasihku," dia bergumam dalam bisikan, memuaskan diriku secara utuh, membuatku merona dengan keinginan untuk memeluknya.
Kami masih berlutut, saling menatap, berharap untuk tidak melepaskan pandangan, melewatkan senyuman, atau gerakan tubuhnya. Kami tidak dapat mengalihkan pandangan. Tak ada yang bisa mengetahui,   berapa   lama   waktu   sudah   berlalu
dalam keadaan seperti ini. Aku merasakan sentuhan di bahuku, membuyarkan keheningan lembut dunia kami, dan mendongak dengan kesal. Allami Sa'du-lla Khan membungkuk dengan penuh permintaan maaf, dan melihat kilatan amarahku, dia mundur teratur. Kerumunan di sekeliling kami terdiam, menatap kami.
"Biarkan mereka. Aku Shah Jahan. Sekarang mundurlah."
"Yang Mulia, Anda seharusnya berkeliling juga. Para perempuan bertanya-tanya, di mana Shah Jahan, agar mereka bisa memberi hormat. Anda tidak bisa mengabaikan keinginan mereka."
"Aku akan segera datang. Pergilah." Dia mundur, dan aku kembali ke kekasihku. "Aku akan berbicara dengan ayahku tentang kita."
Dia membungkuk, tanda menerima. "Jika ini adalah keinginannya
"Ini adalah keinginanku," aku berkata dengan tegas, lalu bangkit. Dia tidak bergerak, masih berlutut, tetapi wajahnya terangkat, terus menatap wajahku. Aku berharap bisa membungkuk cepat dan menyentuhkan bibirku ke bibirnya, tetapi aku tidak melakukannya. Dia tahu apa yang kuharapkan dan tersenyum menggoda.
"Pasti ada waktu lain, saat kita tidak perlu menghadapi pandangan mata banyak orang." Dari tendanya, dia mengangkat sebuah perhiasan perak. "Apakah kekasihku ingin membeli sebuah kenang-kenangan? Setelah menghabiskan begitu banyak waktu, Anda tidak bisa pergi dengan tangan kosong, dan setidaknya aku harus mendapatkan
satu atau dua rupee."
"Apa yang akan kau lakukan dengan rupee itu?"
"Mendermakannya kepada orang miskin. Mereka lebih membutuhkannya daripada kami."
"Orang miskin!" Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
"Apakah kekasihku tidak menyadari keberadaan mereka? Mereka hidup di luar istana ini."
"Saat aku bersamamu, aku hanya sedikit menyadari kehadiran yang lain. Di dunia tidak ada lagi hal lain, hanya kita berdua yang hidup. Jika ini untuk orang miskin, aku akan membeli semuanya. Berapa harga semua?"
Dia mengerutkan kening dan memerhatikan tumpukan perhiasannya, lalu menatapku, memberiku senyuman Jenaka.
"Sepuluh ribu rupee." "Aku setuju."
Dia mulai tertawa, mengintipku dari balik tirai rambut yang jatuh ke wajahnya. Aku tidak bisa menahan kebahagiaan, berharap bisa menculik dan membawanya kabur. Tetapi, aku menoleh ke arah budakku dan meletakkan kantong uang yang dia bawa di atas lantai tenda kecil gadis itu.
"Aku akan menemuimu lagi."
"Jika itu keinginan Anda."
Arjumand
Lalu, dia menghilang. Aku ingin dia tetap di sini, duduk selamanya, tanpa perlu berbicara. Kehadiran dirinya,   sosoknya  yang  menjelma,   sudah  cukup
untuk menyembuhkan sakitku dan membuatku nyaman. Aku melirik punggungnya, yang bergerak di antara kerumunan, kemudian menghilang dari pandanganku. Dia telah pergi, pertemuan kami serasa tidak nyata, hanya dalam mimpiku, dan aku masih menunggu semua ini kembali nyata.
Isa mengumpulkan tumpukan kecil perhiasanku dan memandang berkeliling, mencari sehelai kain untuk membungkusnya.
"Ini," aku membuka syal sutraku yang berwarna kuning pucat dengan pinggiran bersulam benang emas, dan dengan hati-hati membungkus perhiasanku di dalamnya. Aku menalikan simpulnya dengan tidak terlalu erat, kemudian memberikannya kepada budakku.
"Hitung uangnya," kata Isa. "Kau sungguh beruntung, Agachi. Sepuluh ribu rupee! Hanya seorang pangeran yang bisa begitu baik."
Tiba-tiba aku merasa resah. Aku memutar leherku untuk mencari Shah Jahan. Bagaimana jika ada seorang gadis lain, di tenda lain, yang juga menerima jumlah uang yang sama? Aku tahu itu tidak akan terjadi, tetapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.
"Isa. Pergilah dan cari tahu apakah Pangeran masih ada di taman. Cepat!"
Dari tatapan Isa, aku tahu dia mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Kegembiraan dan kepedihan tidak bisa kusembunyikan. Aku tidak terlindung oleh cadar. Isa menyelinap di antara kerumunan; aku menggenggam kantong koin yang
menjadi simbol kenyamananku. Tiba-tiba, aku menyadari para perempuan lain di sekelilingku, tenda-tenda di seberang jalan, tenda-tenda di sisi yang lain, dan yang ada di belakangku. Aku dikelilingi tatapan mereka. Tak mungkin aku tidak bisa merasakan kecemburuan mereka. Rasa iri yang pahit terpancar dari mata mereka, dan meskipun mereka tersenyum saat tatapanku beradu dengan tatapan mereka, aku bisa merasakan hawa dingin yang menguasai hati mereka. Mereka hanya melihat kekasihku sebagai Pangeran Shah Jahan, dan yang juga mereka lihat hanyalah bayangan mereka sendiri dari cermin emas. Mereka tidak bisa menatap jauh ke dalam, tidak bisa menatap menembusnya; hasrat akan kekayaan menguasai mereka. Kekasihku hanyalah sekantong emas di tanganku, kekuasaan kesultanan yang tak terbatas, dia adalah Shah Jahan, Penakluk Dunia. Mata mereka membuatku merasa kotor; mereka ingin memercayai bahwa aku bersiasat dan penuh perhitungan, melancarkan jampi-jampi manis yang telah mereka latih, memikatnya dengan ramuan sihir yang bisa mengikat hatinya.
"Dia sudah pergi, Agachi. Dia pergi sendirian."
"Mengapa dia pergi?"
"Agachi, tidak ada orang yang bisa memberi tahu pergerakan Shah Jahan kepada seorang pelayan hina. Aku hanya mengetahui dia pergi." Isa ragu-ragu. "Setiap orang tahu, dia telah membeli perhiasanmu dengan harga sepuluh ribu rupee. Beberapa orang percaya, harganya sama dengan
satu lakh. Aku mengatakan kepada seorang idiot, harganya sama dengan sepuluh lakh." Dia tertawa sendiri. "Apakah kau ingin terus di sini?" Satu lakh sama dengan satu juta.
"Untuk apa? Ayo kita pulang."
Aku tidak bisa tidur. Udara masih terasa panas, pengap dengan bau dupa dan dengung nyamuk-nyamuk yang mengganggu. Aku merasa dikuasai sesuatu.
Cinta itu pedih, terasa seperti kerinduan yang tidak tercapai. Dunia meranggas dan mati, orang-orang menghilang, hanya dia yang ada. Diriku bagaikan terbagi dalam dua kutub: tubuhku terkubur dalam getaran, denyutan, dan kesakitan; perasaan dan pikiranku melayang ke arah lain. Manusia yang mencintai hidup dalam keberadaan yang terpisah, yang tidak bisa mereka kendalikan. Perasaan ini ringan, lalu terkubur ketakutan; diriku melayang, kemudian tenggelam dalam kegelapan; semua bagaikan bernyanyi, kemudian menghilang, menjadi air mata perpisahan yang pahit. Harapan, harapan, harapan, adalah suara detak jantungku.
Aku mendengar Ladilli datang saat cahaya sudah berubah menjadi kelabu pudar. Dia menyelinap ke tempat tidurnya dan berbaring terdiam. Aku berpura-pura tidur, tetapi merasakan kehadiran orang lain di sisi tempat tidurku, mendengar denting lembut gelang kaki, dan desir kain sutra yang jelas. Aku mengintip dan melihat Mehrunissa berdiri di dekatku, menatap dengan tajam. Tidak ada cukup cahaya untuk bisa membaca ekspresinya, tetapi
aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran dan tatapannya yang tajam. Dia melirik ke arah Ladilli, kemudian menghilang.[]
2
Taj Mahal
1042/1632 Masehi
Malam tidak dihiasi bulan ketika Murthi pertama kalinya menatap ke arah Agra. Dia meninggalkan istrinya yang sedang menyiapkan makan malam bersama anak lelakinya yang berusia tiga tahun dan para pengembara lain, lalu berjalan sendirian dalam kegelapan malam menuju kota yang berkilauan di kejauhan. Ini merupakan tindakan yang berani, dan dia cukup puas karena bisa menemukan keberanian seperti itu dalam dirinya. Malam terasa mengancamnya. Di atasnya, kubah langit raksasa yang melengkung terlihat cerah, yang selalu membuatnya mengalami rasa takut dan rasa malu yang sangat. Kemegahannya membuat dia merasa bagaikan seekor semut yang berjalan terseok-seok menapaki kehidupan, tanpa peduli keagungan alam semesta. Tetapi, di dekat sana ada bahaya yang lebih besar: para dacoit-gerombolan bandit-yang menunggu untuk mengiris leher pengembara untuk mendapatkan sekeping koin; binatang-binatang liar, tua atau terluka, yang sangat gembira menemukan
mangsa dengan mudah. Dia menoleh ke belakang dan melihat perapian tempat memasak, berkelap-kelip dan kecil. Dia berpikir untuk kembali, menunggu hingga pagi, tetapi dia masih terus berjalan, tidak mampu mengendalikan dorongan dalam dirinya. Dia menaiki sebuah tanjakan kecil, terpeleset tanah dan kerikil yang rontok, menyambar semak lantana untuk pegangan, kemudian mencapai puncak bukit. Tanah kembali menurun ke arah Sungai Jumna. Jauh di depan sana, di cakrawala, Agra tampak jelas terbentang.
Murthi mendesah tak percaya, dan duduk di tanah, siku bertumpu ke lututnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aku akan tersesat di sini, dia berpikir, kuharap aku tidak pergi.
Dia merasakan pedihnya kerinduan akan rumah, dan cahaya di kejauhan memudar ketika air mata menggenang di matanya. Dia membiarkannya mengalir di pipinya yang cekung, menetes ke jiba-nya yang kumal. Dia membersihkan ingus ke arah samping, kemudian menyeka mata dan hidungnya dengan tuval koyak yang tergantung di bahunya. Rumah, bagaikan langit malam, begitu jauh dan saat ini hanya sebuah kenangan. Dia mengetahui butuh waktu bertahun-tahun hingga dia bisa melihat rumahnya lagi. Murthi tidak bisa membayangkan seandainya dia tak akan pernah kembali-pikiran itu membuatnya takut. Dia tahu, dia akan kembali ke kampung halamannya, keluarganya, teman-temannya; dia tersenyum saat membayangkan  kisah-kisah yang  akan dia  ceritakan
kepada mereka, tentang perjalanannya ke kota Mughal Agung.
Dia pergi dari desa bukan karena keinginannya sendiri, melainkan diperintahkan untuk melakukan perjalanan yang keras ini ke arah utara. Dia adalah seorang Acharya, pematung dewa-dewi, seperti yang telah dilakukan keluarganya dari generasi ke generasi. Ini membuatnya merasa bagaikan tak akan mati, karena berkesinambungan-bukan hanya dagingnya, tetapi juga pikiran dan jiwanya. Perajin seperti dirinya telah membangun sebuah kuil megah di Madurai, di Kancheepuram, di Thirukullakundrum, dan di desanya, dia dihormati karena kemampuannya memahat. Seperti ayah dan kakek moyangnya, dia bisa mengubah batu menjadi sutra, melihat sebentuk dewa-dewi pada batu granit dan marmer, serta mewujudkannya menjadi nyata dalam pandangan manusia.
Tetapi, suatu hari, alur hidupnya yang panjang tiba-tiba terputus. Dengan muram, dia memikirkan pengkhianatan dari dewa-dewi yang telah dia ciptakan dengan begitu indah.
Ayahnya telah diberi perintah oleh junjungan mereka, Raja Guntikul, dan diberi tahu dengan riang, bahwa dia harus melakukan perjalanan ke Agra. Sang Raja telah mendengar bahwa Mughal Agung, sepupu jauhnya, seorang Muslim, telah memerintahkan seniman-seniman dari berbagai penjuru negeri untuk membangun sebuah monumen besar untuk permaisurinya yang telah meninggal, Mumtaz-i-Mahal.    Orang-orang    Muslim   biasanya
membangun sebuah makam untuk orang-orang yang meninggal, bukan membakarnya saja di ghat-tepi sungai. Bangunan itu bukan untuk disembah. Karena kebaikan hatinya, sang Raja mengirimkan perajin terbaiknya untuk membantu membangun konstruksi monumen tersebut.
Ayah Murthi berterima kasih kepada sang Raja untuk kehormatan ini, tetapi menyatakan bahwa dia sudah terlalu tua untuk menempuh perjalanan melelahkan ke Agra. Mungkin salah seorang anaknya akan lebih mudah untuk pergi. Sang Raja langsung menerima penggantian ini dan memberikan sejumlah uang untuk bekal perjalanan, beserta sebuah hadiah patung Krishna dari gading untuk sang Mughal Agung Shah Jahan.
Hanya dengan memicingkan mata menentang cahaya, Murthi bisa mengenali siluet benteng yang besar. Benteng itu berwarna gelap dan menyeramkan, dengan cahaya yang berkelip-kelip dari menara-menara tinggi di atas kota; sebuah bukit di tepi sungai. Selama perjalanan ini, dia telah melewati begitu banyak benteng, tetapi tidak ada yang sebesar ini.
Keesokan harinya, di bawah sinar matahari yang terang, benteng itu tampak membuat cakrawala menjadi kecil. Tembok-tembok merahnya yang tinggi dan warna air sungai membuat Murthi ciut nyali. Sita, istrinya yang sedang hamil, mendekatinya   untuk   meminta  perlindungan,   dan
anak lelakinya, Gopi, bergelantungan di kakinya. Teman-teman seperjalanannya, para pedagang keliling, perajin seperti dirinya, semua harus bekerja untuk monumen tersebut, menatap dengan kekhawatiran dan mengajukan pertanyaan yang sama.
"Bahkan pada malam hari," dia berkata, "benteng itu tampak menakutkan. Di sanalah Mughal Agung tinggal."
"Apakah dia seorang dewa?" tanya Gopi.
"Bukan. Dia manusia biasa. Tapi, jauh, jauh lebih agung daripada raja kita. Negerinya sangat besar, aku diberi tahu." Dia tidak mengetahui sejauh mana batas-batas kesultanan ini; dia hanya mengetahui bahwa waktu tiga bulan telah habis hanya untuk menempuh sebagian kecil kesultanan ini.
"Kau bisa melihatnya kalau mau," salah seorang pedagang keliling berkata. Dia sering datang ke kota itu dan menceritakan kehebatannya.
"Dan berbicara dengannya?"
Si pedagang keliling, seorang bania dari Gujarat, tertawa puas karena kebodohan Murthi.
"Dia tak akan memerhatikan seseorang seperti dirimu. Setiap hari, sebelum fajar, dia akan memperlihatkan dirinya, dari jharoka-i-darshan." Si pedagang keliling menunjuk ke arah sebuah celah benteng yang terbuka. "Dari sana."
"Kalau begitu, kita akan melihatnya," kata Murthi. Pasti sang Mughal merupakan pemandangan yang menakjubkan.
Air sungai bergulung-gulung dan pecah ketika
menerpa benteng raksasa. Ketika mereka mendekat, Murthi melihat sebuah bangunan kecil, seukuran rumah biasa, dengan sebuah kubah, terbuat dari batu bata dan semen. Cat putihnya telah ternoda dan tampak pula kehitaman karena air hujan, dan tampak pula tanda-tanda retak. Sepertinya bangunan itu dibangun dengan serampangan dan terburu-buru. Yang menarik perhatian Murthi adalah para prajurit yang menjaganya. Ada sekitar dua puluh pengawal, beberapa berkumpul di kerindangan pohon lemon, yang lain bertugas menjaga. Mereka mengenakan seragam kerajaan yang berwarna merah, cahaya matahari memantul di tombak dan perisai mereka.
"Apa yang mereka jaga?" tanya Murthi. "Tampaknya seperti bangunan kutcha, seperti gubuk."
"Itu adalah makam Permaisuri," jawab si pedagang keliling.
"Itu? Berarti makamnya sudah dibangun." Murthi merasa marah. "Kita tidak perlu datang sejauh ini. Semua orang tolol juga bisa membangunnya. Mengapa aku harus dikirim kemari?"
"Itu hanya tempat peristirahatannya sementara."
"Seperti apa sang Permaisuri?"
"Cantik, kata mereka. Tapi, siapa yang pernah melihatnya?"
Murthi menatap si pedagang keliling dan kehilangan kekhawatirannya. Dia tahu pria ini tidak tahu apa-apa dan sekarang hanya membual. Sepanjang perjalanan, dia telah menanyakan hal yang  sama:   "Seperti  apa  dia?"  dan  dia  selalu
mendapatkan jawaban yang sama. "Siapa yang pernah melihatnya?" Tidak ada orang yang mengetahui bagaimana kecantikan sang Permaisuri, dan hal ini mengganggunya. Dia telah memahat dewa-dewi yang sudah dilihat dan dipuja oleh semua orang; kuil-kuil yang menjulang megah ke angkasa, tempat para lelaki dan perempuan mempersembahkan bunga-bunga, buah-buahan, dan permintaan mereka. Bagaimana dia bisa mengerjakan sebuah bangunan bagi seorang perempuan yang sudah meninggal yang belum pernah dia lihat? Suatu hari, dia pasti bisa bertemu seseorang yang bisa bercerita kepadanya, seperti apa perempuan ini. [ ]
Kisah Cinta
1017/1607 Masehi
Isa
"Kau tampak lelah, Agachi."
"Aku tidak tidur nyenyak," jawab Arjumand.
Dia duduk di kerindangan sebatang pohon rain, dan meskipun wajahnya tertutup bayangan, berbintik-bintik oleh cahaya matahari, aku bisa melihat bagian bawah matanya yang menghitam. Kehitaman itu membentuk lengkungan gelap dan warna kelabu matanya merupakan warna awan mendung. Beberapa minggu sudah lewat sejak pasar malam yang penuh keajaiban itu, dan dia hanya mendengar bisikan-bisikan kabar angin tentang cinta Shah Jahan kepadanya. Kabar angin berembus di sekitar rumah tentang Shah Jahan yang mabuk kepayang dan berjalan mondar-mandir di koridor-koridor istana bagaikan hantu yang ingin mencari kedamaian abadi. Tetapi, Arjumand sendiri belum mendengar kabar apa-apa dari Shah Jahan. Dia menunggu dan terus menunggu, semakin layu di hadapanku. Sebuah buku puisi tergeletak terbuka di
pangkuannya, tetapi dia tidak pernah membalik halamannya.
"Saat aku tertidur, aku bermimpi aku sedang terjaga, dan saat aku terjaga, aku hanya bisa memimpikan dirinya. Aku memimpikan sentuhannya lagi, bagaimana dia menatapku, dan apa yang dia katakan, serta suaranya. Itu memang nyata."
"Ya, Agachi. Aku menyaksikannya."
Aku siaga di dekatnya. Aku sudah menyelesaikan tugasku mengantar dan mengambil barang, terburu-buru dan berderap di seluruh penjuru rumah. Saat keluarga ini tinggal di benteng, rumahnya lebih kecil, tetapi saat Ghiyas Beg bekerja untuk Akbar, mereka pindah ke rumah ini. Rumah ini memiliki banyak, terlalu banyak ruangan, dan dihiasi dengan taman yang sangat luas. Taman ini adalah duplikat salah satu taman di istana-setiap pejabat pasti meniru Mughal Agung-tetapi kolam air mancur kami tidak berair, hanya ada dedaunan, debu, dan bunga-bunga mati. Kolam air mancur ini dibuat oleh seorang pejabat, tetapi entah bagaimana, Jahangir merasa kecewa. Sang pejabat kehilangan kekayaan dan tanahnya dalam semalam. Hampir semua tanah di negeri ini dimiliki langsung oleh sultan. Akbar telah menetapkan sebuah sistem yang mengatur sebagian pendapatan diterima secara langsung, dari petani ke pengurus harta kesultanan. Sisanya diberikan melalui jagir-jagir-daerah kecil yang dipimpin oleh seorang pejabat militer-kecil atau besar, sebagai imbalan pelayanan,   dan   pemasukan   yang   didapat   oleh
pemilik harta dikenai pajak yang proporsional. Dengan jentikan jari, seorang sultan bisa membuat seorang miskin menjadi pangeran dan seorang pangeran menjadi miskin.
"Apakah dia akan menemuiku lagi, Isa?"
Aku bisa mengenali maksud terselubung dalam pertanyaannya. Mana bisa dia menemui sang Pangeran lebih sering dari balik kisi-kisi yang melingkupi harem?
"Tentu saja." Itu adalah satu-satunya jawaban menghibur yang bisa kuberikan. Aku tidak menambahkan, jika itu adalah karmamu. Aku lebih memilih menggunakan kata itu daripada sebuah kata Muslim, kismet. Keberuntungan. Karma mengandung pola-pola alam semesta yang detail dan utuh, pergerakan suatu kekuasaan di luar persepsi kita. "Apakah kau ingin aku melakukan sedikit sihir untuk menghiburmu, Agachi?"
"Itu adalah muslihat biasa, bukan sihir."
"Orang-orang desa percaya jika itu sihir. Semua tergantung kepada kepercayaan, Agachi. Bagaimana Tuhan bisa bertahan jika kita tidak memercayai-Nya?"
Arjumand menatapku dengan serius, tetapi kemudian tersenyum. Senyuman itu bagaikan sehelai kelopak bunga yang melayang jatuh dan menimpa permukaan air yang tenang, menyebabkan gelombang air yang lembut, hampir tidak kentara, tetapi masih terus terlihat lama setelah kelopak bunga itu menghilang.
"Ya, perlihatkan aku sedikit sihir. Bawakan ke-
mari . Shah Jahan. Tepat di sini. Di tamanku ini, tepat di kakiku. Ayolah, Isa. Itu adalah permintaan sederhana yang kuajukan kepada seorang penyihir besar."
"Ah, Agachi, kau memang benar. Aku hanya menampilkan muslihat-muslihat murahan. Jika sang badmash yang menculikku, dari keluargaku, cukup ahli, aku pasti bisa memunculkan Shah Jahan dari udara kosong." Ya, penculikku memang seorang badmash-bajingan tolol.
Arjumand menatapku dengan sedih. "Kau tak bisa mengingat apa-apa tentang keluargamu?"
Sebelum aku bisa menjawab, kami mendengar jeritan mengerikan dari rumah. Itu adalah suara perempuan, tinggi dan melengking, dan bahkan, saat jeritan itu sudah berhenti, sepertinya suara lengkingan itu masih berputar di udara, bagaikan seekor elang yang tidak mampu hinggap di tanah. Kami berlari secepat yang kami bisa, berdesak-desakan dengan para pelayan dan anggota keluarga.
Kami mengira akan melihat darah dan kematian, tetapi kami hanya menemukan Mehrunissa berjalan mondar-mandir dengan penuh kemurkaan, lalu selama sesaat dia terdiam. Suaminya, yang gagal untuk meredakan amarahnya, duduk di atas dipan. Kami tidak tahu apa yang telah terjadi, jadi kami semua menunggu, memerhatikan, dan mengawasi. Ladilli sudah bergabung dengan ayahnya, mencari perlindungan dari badai yang sedang menerpa. "Apakah ini balas budi yang kudapatkan?" tiba-tiba
Mehrunissa berteriak, entah kepada siapa, karena tidak ada yang menjawab.
"Ini adalah posisi yang penting," protes Sher Afkun. Tampak jelas bahwa dia sedang berusaha terus-menerus meyakinkan istrinya, tetapi Mehrunissa mengabaikannya.
"Tapi, di mana tempat itu? Ayolah. Katakan pada mereka, di mana lokasi posisi penting itu." Lengannya melambai ke arah kami. "Tunjukkan kepada mereka, seberapa murah hati Sultan kepada kita. Dan setelah semua yang kulakukan." Sher Afkun terdiam dan Mehrunissa membentak: "Bengal. Di mana Bengal? Jaraknya seribu kos dari sini!"
"Tapi aku akan menjadi Diwan. Itu adalah posisi yang sangat penting. Bengal adalah tanah yang kaya. Dengan cara apa lagi sang Sultan bisa menunjukkan bahwa dia memaafkan kita?"
Mehrunissa ternyata tidak melunak. "Dengan memberimu sebuah jabatan di sini sebagai Mir Saman . atau sesuatu yang lain." Mehrunissa membuang muka dari suaminya, dan dengan yakin bahwa dirinya tidak diperhatikan oleh orang lain (aku berdiri sambil bersembunyi dalam bayang-bayang), wajahnya berubah. Sekarang, dia bisa sendirian lagi, menatap cermin pada malam hari, ketika semua orang tidur. Pada saat-saat seperti itu, kita bisa membuka siasat-siasat dalam hidup kita, melepaskan pikiran-pikiran dan impian rahasia kita bagaikan iblis yang mewujud. Yang kulihat saat ini membuatku takut, dan hanya sebagian membuatku yakin akan bisik-bisik yang
telah kudengar. Jahangir sendiri menginginkan Mehrunissa. Dia juga telah tenggelam dalam hasrat cinta sejak pasar malam itu. Sudah tentu, pasar malam itu merupakan suatu peristiwa bersejarah bagi keluarga ini. Sosok Jahangir sudah menjelma di mata dan hadapan Mehrunissa. Diwan, Mir Saman-jabatan-jabatan ini hanya suatu siasat sang Sultan untuk mengasingkan Sher Afkun. Mehrunissa telah memalingkan wajahnya untuk melihat dari arah mana arus kekuasaan berpusat, dan sudah menemukannya, bagaikan seorang awam yang tiba-tiba bisa mengetahui rahasia si penyihir, dan dia tahu bagaimana caranya untuk memanfaatkan hal ini sesuai keinginannya. Saat inilah waktunya untuk menampilkan kemarahan tanpa ditutup-tutupi, tetapi sebelum dia berbalik, bibirnya sudah menyunggingkan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.
Dia berjalan ke arah dipan, mengecup dahi Sher Afkun dan mencubit pipi Ladilli, suatu tindakan menyakitkan yang meninggalkan bekas merah di wajah anak perempuannya. "Maafkan aku; aku sudah marah. Aku hanya khawatir dengan usahaku di sini." Dia mendesah dengan dramatis, seolah kemarahannya tadi hanyalah hal sepele. Sudah diketahui secara luas jika dia memiliki sebuah usaha yang sukses, merancang dan membuat pakaian bagi para perempuan di harem. Dia bahkan bisa menggambar pola untuk kain-kain . bunga-bunga, buah-buahan, bentuk-bentuk geometris, yang disulam dengan benang emas dan perak.
"Yang sudah terjadi, terjadilah. Aku sangat bangga kepadamu. Tentu saja, kita akan pergi."
Sehari sebelum keberangkatan mereka ke Bengal, rumah ini mendapat kehormatan karena kunjungan Jahangir.
Bukan hal yang sederhana dan murah untuk menghibur sang Mughal Agung. Selain persiapan makanan dan hiburan, ada suatu kebiasaan untuk memberi sultan dengan hadiah yang berlimpah. Hadiah yang layak bagi Mughal Agung adalah emas dan berlian, kuda dan budak. Semua bisa ditawarkan; semua bisa diterima. Orang-orang yang raja pilih untuk dikunjungi pasti mengeluarkan banyak simpanan, dan aku mengira bahwa dia sering melakukan ini hanya untuk mengancam atau bahkan untuk hiburan semata. Dia juga bisa menolak hadiah-hadiah, mungkin hanya menerima sebuah perhiasan sederhana sebagai tanda kesopanan, atau bisa juga menerima segalanya, tergantung apakah dia merasa puas atau tidak. Apabila hati Sultan tak terpuaskan, biasanya para pejabat akan mengalami penurunan status menjadi orang miskin.
Pada malam kunjungan Jahangir, aku menjaga hadiah-hadiah yang dipamerkan di atas sehelai karpet Persia yang mahal. Para perempuan telah menghiasi diri mereka sendiri dengan segala perhiasan-gelang, kalung, anting, anting-anting hidung, gelang kaki-dan sekarang mereka berbaring
di atas karpet dengan saling berimpit, bagaikan emas, berlian, batu mirah, dan mutiara yang bergelombang. Para perempuan harem tampak ganjil, bagaikan berkilauan karena kepolosan mereka, seperti merak yang digunduli.
Ada juga piring-piring serta cawan-cawan emas dan perak, gelas-gelas kristal, dan sebuah vas yang dibawa jauh dari Cathay, yang paling berharga karena kelangkaannya dibandingkan barang-barang lain.
Ghiyas Beg adalah seorang lelaki yang mengerti Jahangir. Hadiahnya sederhana, tetapi penuh makna. Dia telah membeli vas itu dari seorang pelaut feringhi, seorang pria bertubuh besar yang sedang mabuk, yang sering datang ke pasar. Benda itu berupa tabung tembaga panjang dengan pelat-pelat kaca kecil yang ditempel di ujung lainnya. Aku tidak mengerti kegunaannya, hingga Arjumand menyelinap ke dalam ruangan itu-seperti seorang gadis kecil yang berjingkat-jingkat di antara banyak orang dewasa. Dia mengambil dan memeriksanya, pertama-tama mengintip dari salah satu ujungnya, kemudian dari ujung yang lain, mengarahkannya kepadaku bagaikan sebuah senapan jezail. Dia mulai tertawa.
"Apa itu, Agachi?"
"Ini membuat benda-benda tampak besar dan kecil. Dari ujung yang satu, kau tampak kecil, tapi dari ujung lain, aku sulit melihatmu karena kau begitu besar. Ini."
Dia memberikannya kepadaku, dan pergi ke ujung
ruangan. Dia berpose seperti seorang gadis nautch-penari, tangan di pinggulnya, kemudian berputar di atas jari kakinya. Aku tidak bisa menurunkan kaca itu hingga dia mendekat dan menatap dari ujung yang lain.
"Kau bodoh, Isa. Coba lihat dari ujung yang lain juga."
"Satu sisi saja sudah cukup, Agachi." Dengan penuh kekaguman, aku mengembalikan alat itu ke atas karpet. "Bahkan majikanku Lekraj juga tidak akan mampu melakukan sihir seperti ini. Tapi, dia memang pesulap yang bodoh."
"Apakah kau ingin menghukumnya suatu hari, karena semua yang telah dia lakukan kepadamu?"
"Tidak. Dia sudah cukup menderita."
"Kau anak baik, Isa." Selama sesaat, wajahnya tampak berbayang gelap. "Ada ruangan kecil untuk itu di sini." Aku mengharapkan dia meneruskan dan menerangkan maksudnya. Kata-katanya aneh, karena hidupnya selalu penuh kebaikan, dan dia adalah anggota keluarga kesayanganku, bahkan jauh melebihi Ladilli.
"Bibiku mengirimku kemari untuk menjemputmu."
"Aku tidak bisa meninggalkan penjagaanku."
"Kalau begitu, pinjami aku belatimu. Aku akan menggantikanmu berjaga."
Itu merupakan sebuah perintah, dan dia mengulurkan tangannya. Dengan ragu-ragu, aku memberinya senjataku, meskipun merasa khawatir jika sesuatu terjadi padanya saat aku pergi.
"Apakah kau mau menceritakan apa yang dia
katakan kepadamu?" "Tentu saja, Agachi."
Jawabanku membuatnya tersenyum, bagaikan aku memberinya pujian. Saat aku menoleh ke belakang, dia masih tersenyum, dan menyelipkan belatiku ke balik kain di pinggangnya.
mim
Mehrunissa duduk di depan cerminnya, mengoleskan kajal di sekeliling matanya, sementara sang budak menyikat rambutnya. Dia menyuruh mereka keluar saat aku masuk, dan melangkah menuju kotaknya yang terkunci, membukanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak gading kecil dari balik lipatan baju.
"Isa, kau harus menjaga barang ini dengan nyawamu."
"Baik, Begum." Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya, mencoba memberanikan diri. Benda ini sudah pasti sangat berharga.
"Kau tidak boleh memberi tahu siapa pun jika aku memberikan ini kepadamu," dia mengulurkannya dan menatap galak ke arahku. "Aku akan membuatmu kehilangan nyawa jika terjadi sesuatu pada benda ini. Kau mengerti, Badmash?"
"Ya, Begum." Ketakutan membuatku berkeringat, dan suaraku bergetar. "Saya mengerti. Apa yang harus saya lakukan dengan benda ini?"
"Aku belum selesai, Bodoh. Kau akan mengantarkannya, secara pribadi, kepada Sultan."
"Yang Mulia, bagaimana saya bisa mendekati Padishah?"
"Karena aku tidak bisa, Bodoh." Dengan hati-hati, Mehrunissa memilih sehelai kain sutra mewah dan membungkus kotak dengan kain itu. "Kotak ini disegel. Jika aku mendengar segelnya rusak, aku akan mengatur supaya gajah meremukkanmu hingga mati."
Aku tidak bisa untuk tidak memercayainya. Hal itu adalah tindakan eksekusi yang biasa terjadi, suatu hiburan bagi Sultan dan orang-orang, dan aku ini seorang budak, yang tidak bisa lolos dari hukuman seperti itu. Selain ketakutan, aku merasa sebal: mengapa aku yang dipilih? Mengapa bukan ayahnya, suaminya, atau saudara lelakinya yang menyerahkan hadiah berharga ini kepada Mughal Agung? Tetapi, dalam pikiran kalutku ini, aku tahu bahwa mereka tidak boleh mengetahui hadiah ini. Dan itu membuat tugasku lebih berbahaya, karena aku harus melakukannya dengan cepat dan rahasia.
Mehrunissa bisa membaca pikiranku. "Kau akan memberikan kepada Mughal Agung secara terbuka, sebagai hadiah darimu."
"Dia tidak akan menerima hadiah dari seorang hina seperti saya."
"Dia akan menerimanya," kata Mehrunissa dengan yakin, lalu kembali menatap cermin. Aku masih berdiri, memegang kotak gading itu, ukirannya menekan telapak tanganku. "Aku akan mengawasimu, Isa. Ingatlah itu."
Aku melihat bayangan Mehrunissa, sekeras kaca yang ada di hadapannya, berbayang-bayang dalam cahaya   lilin.   Sosoknya   begitu   berkesan   dalam
pikiran dan hatiku, dan hingga aku menyerahkan hadiah itu kepada Jahangir, aku terus dihantui dan diikuti oleh mata besar tersebut.
Sebelum meninggalkan kamarnya, aku menyembunyikan hadiah itu di balik tumpukan bajuku dalam-dalam dan kembali ke tempat penjagaanku. Arjumand melihat keringat yang membutir di wajahku.
"Kau tampak sakit. Apakah kau tidak enak badan, Isa?"
"Tidak apa-apa, Agachi." Aku mengambil kembali belatiku, yang hangat karena genggaman tangannya, dan menghindari tatapannya.
Dia menyentuhkan punggung tangannya ke dahiku untuk mengetahui apakah aku demam atau tidak. Aku tersentuh akan kepeduliannya, tetapi tetap saja, aku masih tidak bisa membalas tatapannya. Berlawanan dengan tatapan Mehrunissa yang penuh ancaman, tatapan Arjumand begitu lembut.
"Aku tidak akan bertanya padamu apa yang diperintahkan oleh bibiku. Itu membuatmu tidak senang."
"Ya, Agachi. Dia mengawasi kita." Aku tidak berani melihatnya, tetapi Arjumand menatapku, dan dia menggelengkan kepala. Keberanianku timbul, dan aku merogoh ke dalam, mencoba mengambil kotak gading. Arjumand menghentikan tanganku.
"Jangan. Aku tidak bisa menjaga rahasia, dan jika kau menunjukkannya kepadaku, aku akan memberi   tahu   orang   lain.   Jika   kau   mendapat
masalah dengan Mehrunissa, itu tidak akan menyenangkan."
"Memang betul. Terima kasih, Agachi." Kepercayaan Arjumand malah semakin menambah penderitaanku. Bagaimana seorang pelayan bisa mengabdi kepada banyak tuan atau nyonya majikannya, dan tetap jujur kepada salah seorang dari mereka? Itu adalah harapanku, tetapi tidak mungkin.
Sebelumnya, sehari setelah Pasar Malam Bangsawan Meena, aku dipanggil oleh Mehrunissa. Dia duduk bersila di sebuah meja gading kecil, kepalanya menunduk, rambutnya bagaikan dua aliran deras hujan yang berwarna gelap di samping wajahnya, mempelajari Ain-i-Akbari. Teks panjang tentang pemerintahan itu ditulis oleh Menteri Akbar, Abui Fazl. Hal-hal tentang kesultanan begitu mengesankan Mehrunissa. Tidak diragukan lagi, dia sedang mempersiapkan diri untuk suatu posisi penting. Akhirnya, dia mendongak.
"Ceritakan semua kepadaku."
"Semuanya, Begum?"
"Tentang semalam, Bodoh. Setiap kata yang terucap di antara mereka."
"Aku tidak mendengar. Aku .." "Kau   memiliki   telinga  gajah,   dan  aku   akan mencabutnya dari kepala tololmu jika kau tidak segera menceritakan yang sebenarnya."
Sulit sekali untuk bersikap berani di hadapan
Mehrunissa. Tidak mungkin. Aku berbicara. Dia mendengarkan dengan teliti, kemudian menyuruhku pergi. Aku meratapi pengkhianatanku terhadap Arjumand, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menceritakan hal itu kepadanya.
Kami mendengar kedatangan Padishah: dentuman dundhubi, tiupan terompet, dan para prajurit yang mengamankan jalan. Ahadi, pengawal pribadi kerajaan, berderap di depan Jahangir. Jahangir berbaring santai di atas tandu perak, sementara para budak terburu-buru menebarkan kelopak mawar dan membuka gulungan permadani Kashmir. Para lelaki di rumah terburu-buru keluar, dan saat Jahangir berdiri dari tandunya, mereka mempertunjukkan kornish, meletakkan kepala di telapak tangan mereka, mempersilakan Sultan menikmati rumah mereka. Jahangir tampak ceria, bahkan bersemangat, dan merangkul Ghiyas Beg dengan penuh keakraban. Dia juga melakukan hal yang sama, bahkan dengan lebih hangat, kepada suami Mehrunissa. Kepada ayah Arjumand, dia tersenyum dan menyambut uluran tangannya, lalu berjalan dengan goyah ke dalam rumah. Wajahnya tampak lebih gemuk, dan saat dia berbicara, kedengarannya ada bisikan suara lain dari dalam mulutnya. Ini membuat napasnya cepat habis dan dia terbatuk-batuk.
Selangkah di belakang, pengiringnya berjalan-seorang pembawa pedang dan seorang pembawa
buku. Tidak diragukan lagi, di dalam Jahangir-nama pasti banyak lukisan Mehrunissa yang jelita, tetapi tidak ada satu pun dapat menandingi hadiah yang akan kupersembahkan kepada Sultan atas perintah Mehrunissa, pada malam kedatangannya.
Seperti biasa, Jahangir memeriksa semua hadiah yang dipersembahkan kepadanya, tetapi hanya memilih satu benda yang menunjukkan kebaikannya terhadap keluarga kami. Benda yang dipilihnya adalah alat yang diberikan oleh Ghiyas Beg, dan saat dia meletakkan alat itu di depan matanya, dia menemukan jika dia mampu melihat bulan bagaikan hanya berjarak beberapa langkah. Dia tertawa puas.
"Apa nama benda ini?"
"Saya tidak tahu, Padishah," jawab Ghiyas Beg. "Saya menemukannya di pasar, dan hanya berharap benda ini bisa menarik perhatian Yang Mulia."
"Benda ini menakjubkan. Sekarang aku bisa meneliti berbagai hal-bintang-bintang, binatang, burung-bahkan aku bisa melihat wajah rakyatku dan membaca pikiran mereka."
Kemudian mereka masuk ke ruang dalam, tempat minuman anggur disajikan bagi sang Sultan. Dalam hal ini, dia merasa seleranya terpuaskan setelah menghabiskan dua puluh botol anggur dalam sehari, meskipun dia tidak merasakan efek yang menyenangkan tanpa beberapa pil opium yang ditambahkan ke dalam setiap gelas. Kakek buyutnya Babur telah mencatat bagaimana rasanya: "selama berada dalam pengaruhnya, aku bisa menikmati banyak   taman   bunga   yang   memesona".   Aku
menyuguhkan   minuman   anggur   dan   meletakkan hadiah Mehrunissa di atas baki. "Apa ini?"
Aku membungkuk dalam-dalam. "Padishah, ini hadiah sederhana dari hamba."
Jahangir mengambil kotak gading itu dan membuka segelnya. Ternyata isinya adalah lukisan Mehrunissa. Dalam lukisan itu, dia sedang berbaring di dipan, menampilkan seluruh kecantikannya bagi mata sang Sultan, dan sang Sultan tidak mengangkat kepalanya dari kenikmatan memandang bentuk yang terlukis di situ. Kulit Mehrunissa seputih susu, rambutnya hitam, panjang, dan terurai dengan misterius di atas dadanya, menuju pinggangnya, dan wajahnya berbentuk jantung hati.
"Siapa yang memberimu ini?" dia bertanya kepadaku.
"Tidak . tidak ada, Padishah. Ini adalah sebuah hadiah .."
Aku begitu ketakutan untuk berbicara lebih banyak. Jahangir membawanya ke tempat terang dan menelitinya dari dekat, dan tampaknya, hal itu secara jelas membuatnya lebih puas. Dia mendesah dengan keras; aku tahu sang Sultan tidak mampu menolak Mehrunissa. Dengan keberaniannya, Mehrunissa telah memikat hati Sultan. Ghiyas Beg ingin memeriksa hadiah itu, tetapi Jahangir menutup kotak itu dan menahannya.
"Ini bukan apa-apa, Temanku. Hanya sebuah teka-teki. Aku harus memberikan penghargaan bagi pelayanmu untuk kecerdasannya." Dia melemparkan
sebuah cincin bermata zamrud kepadaku, dan dengan tangkas aku menangkapnya. "Izinkan para perempuan menemani kita, Ghiyas. Mendengar nyanyian mereka pasti akan menambah kegembiraan kita."
Ghiyas Beg tidak dapat menolak perintahnya, dan memanggil para perempuan dari tempat tinggal mereka, di balik jali, tempat mereka melihat dan mendengar semuanya. Jahangir mengizinkan mereka membuka cadar. Dia berhak untuk melihat wajah mereka. Kadang-kadang, dia mengizinkan rekannya yang istimewa untuk melihat wajah-wajah perempuan miliknya. Tetapi, dia kecewa karena Mehrunissa tidak ada di antara mereka. Mehrunissa masih ada di zenana, menunggu-dia tahu apa yang akan terjadi-perintahnya yang khusus.
"Apakah semua ada di sini?"
"Semua, kecuali putriku Mehrunissa, Padishah. Sher Afkun, kau harus menjemputnya."
Sher Afkun segera pergi untuk menjemput Mehrunissa. Aku bisa melihat ketidaksukaan Sher Afkun, tetapi Jahangir tidak sabar. Akhirnya, tirai terbuka dan Sher Afkun kembali dengan Mehrunissa. Mehrunissa mempertunjukkan kornish, dan tetap menunduk hingga sang Sultan mengizinkannya menegakkan tubuh. Karena mengenal Mehrunissa dengan baik, aku merasa bahwa dia tertawa di balik beatilha-nya.
"Kau boleh membukanya," perintah Jahangir.
Mehrunissa tidak segera melakukannya. Kemudian,   perlahan-lahan,  dia  membuka cadarnya,
dan sang Sultan bertepuk tangan dengan penuh kegembiraan. Pada malam yang sama, Jahangir mengangkat Ghiyas Beg ke posisi Itiam-ud-daulah, Pilar Pemerintahan.
Betapa cepatnya keberuntungan keluarga ini berubah. []
Taj Mahal
1042/1632 Masehi
"Aku membuat patung-patung dewa," kata Murthi. "Dewa-dewa itu tidak ada," sang petugas menukas. Dia mengumpulkan kertas-kertasnya dan menatap Murthi. Dia segera melihat wajah kurus berkulit gelap, tampak masih muda, tetapi sudah kusam karena janggut kelabu, atau tangannya yang kuat, lecet, kapalan, dan tergores karena terbiasa memegang peralatan.
Di belakang Murthi, para lelaki dan perempuan menunggu dengan sabar. Ada beribu-ribu manusia; bagaikan sebuah aliran sungai yang mendengung, mengisi parit-parit, menenggelamkan semak-semak, dan membanjiri pepohonan. Mereka berjongkok atau berbaring dengan sabar di bawah keteduhan bayangan. Anak-anak menatap dengan malu-malu ke sekeliling mereka, banyak sekali orang berkerumun; para pedagang keliling memenuhi udara dengan teriakan mereka dan aroma makanan dagangan mereka: samosa, bhaji, gula-gula, roti, chai, jeruk.   Udara tampak  berdebu  kekuningan,
kering dan membara, dan terasa pengap-harus diisap dengan hati-hati melalui mulut.
"Aku seorang Acharya," Murthi bersikeras. Kata-katanya tidak berarti apa-apa bagi si petugas, dan keheningan melanda kedua pria tersebut, mengasingkan mereka dari kericuhan di sekitar. Lalat-lalat mendengung; akhirnya, itulah satu-satunya yang Murthi ketahui. Dia tidak bisa bergerak. Dia sudah lelah dan lesu; tetapi perjalanan ini belum berakhir.
Tempat tinggal mereka adalah maidan di tepi sungai, tidak seberapa jauh dari benteng. Tempat tidur mereka sesak karena banyaknya penghuni, memasak dan makan di udara terbuka, dan saat fajar, ketika orang lain melihat sang Sultan, Murthi mandi di Sungai Jumna dan berdoa. Setiap hari, lebih banyak pekerja yang datang, dan perlahan-lahan, tanpa terencana dan dengan sendirinya, sebuah kota kecil mulai tumbuh. Para pedagang keliling lalu tinggal di situ, membangun lapak-lapak kecil, mengetahui banyak orang yang menghuni. Gubuk-gubuk juga muncul di antara debu, rendah, reyot, terbuat dari jerami usang, tetapi menawarkan perlindungan dari matahari dan dinginnya malam. Gubuk Murthi sendiri hanya memiliki satu ruangan kecil, dengan sebuah ceruk di sudut untuk memasak; perabotan Sita hanya berupa tiga panci keramik dan sebuah sendok kayu. Sudut lain dibiarkan menjadi tempat ritual: sebuah lampu minyak menyala saat fajar dan senja di depan sebuah patung Lakshmi. Milik mereka yang
paling berharga, perkakas milik Murthi-pahat-pahat, sebuah palu, dan sebuah puputan-tersembunyi di sebuah lubang di balik patung tersebut.
mim
Agra telah membuat Murthi bingung sekaligus bersemangat, dan selama berhari-hari, dia berkeliling bersama Sita dan Gopi, dengan malu-malu mengamati pergerakan manusia yang memusingkan dan tanpa henti. Mereka mendengar beragam bahasa yang tidak mereka mengerti, melihat orang-orang dari daerah yang belum pernah mereka ketahui, dan mengamati, selama berjam-jam, karavan unta raksasa yang tiba dan menurunkan barang-barang bawaan dari Persia, Bengal, Samarkand, Kashmir, dan Rajputana. Orang-orang terhormat dan para pangeran melewati mereka, tinggi di atas howdah, dengan para prajurit yang berkeliaran, para perempuan yang ditandu, dan para pelayan di belakang mereka.
Dengan waspada, mereka mengamati benteng besar itu juga, mendesah penuh keseganan karena ukuran dan kemegahannya, tidak mampu membayangkan apa atau siapa yang dilindungi di dalamnya. Para prajurit galak, berseragam merah dengan baju zirah yang berkilau, tampak sangat menarik ketika melakukan pergantian tugas setiap jam, setiap genderang berbunyi. Suatu pagi, satu jam sebelum fajar, saat cahaya kelabu pucat baru saja muncul dalam selarik garis tipis di antara bumi dan surga, mereka berkumpul dalam jumlah ratusan
di maidan antara sungai dan benteng, untuk bisa melihat Mughal Agung Shah Jahan dalam jharoka-i-darshan. Lonceng berdentang, rantai emas diturunkan.
"Apa itu?" Murthi bertanya.
"Untuk keadilan. Kau bisa mengaitkan petisimu di rantai itu. Katanya Padishah akan mempelajarinya, dan melakukan tindakan. Siapa yang tahu?" Murthi mengangkat Gopi ke bahunya dan, mencoba melihat sang Sultan yang belum tampak, menunggu suatu penampilan yang megah. Orang-orang melakukan namaste, berharap bisikan mereka bisa terbawa naik ke bukaan di tembok yang tinggi. Sebaliknya, mereka ingin diberkahi, dilindungi oleh kekuasaannya.
"Apakah dia dewa?" tanya Gopi, kesulitan bernapas karena merasa tegang.
"Bukan. Seorang manusia. Tapi bagi kita," Murthi berbicara dengan datar, "dia sama dengan dewa."
Mereka menunggu; sang Sultan menunggu; tidak bergerak bagaikan marmer. Jarak yang memisahkan mereka bagaikan sejauh bentangan alam semesta, dan hanya seorang manusia yang bisa menyeberanginya, tetapi Sultan masih tampak diam dan membeku. Akhirnya, saat matahari sudah terbit sepenuhnya dan terbebas dari kegelapan, sang Sultan bangkit dan menghilang. Sekarang rantai emas sudah dinaikkan lagi.
"Apakah orang-orang menggunakannya?" Murthi menatap celah di tembok tersebut.
"Kadang-kadang."
"Siapa yang bertugas?" Murthi bertanya dengan tidak sabar.
Sang petugas, dengan bosan, meludah ke samping. Dia mengangguk ke arah benteng dan paviliun-paviliun marmer yang mulai berdiri di belakang tembok tinggi. "Dia," sahutnya, lalu dia tertawa. "Kita mulai lagi. Kau ingin pekerjaan .."
"Aku dikirim ke sini. Aku memberimu hadiah dari Raja untuk Padishah."
"Dia akan menerimanya. Aku akan menyerahkannya secara pribadi. Sekarang, apakah kau pemotong batu?"
"Bukan. Aku seorang pematung. Seorang Achar-ya. Aku memahat dewa-dewa."
"Tidak ada dewa di sini. Kau harus memotong marmer, atau pergi. Yang lain menunggu."
Murthi tidak bergerak. Di belakang si petugas ada banyak shamiyana yang berwarna terang, para petugas yang datang dan pergi, membawa gulungan gambar dan pena, berbicara dalam bisikan yang terdengar serius. Kadang-kadang, mereka akan keluar untuk menatap batu, semak-semak, dan segerumbul pohon limau di belakang shamiyana, membandingkannya dengan gambar dan menggerakkan tangan sambil berbicara, kemudian menghilang lagi.
"Aku akan berbicara dengan mereka," Murthi menunjuk.
"Jika itu kemauanmu. Ayolah."
Tetapi, Murthi masih tidak bergerak, tetap berjongkok,     kebingungan.      Dia     tidak     bisa
menyia-nyiakan keterampilan turun-temurun hanya untuk memotong marmer. Setidaknya dia mempunyai kebanggaan. Dia tidak bisa kembali, tidak bisa tetap di sana; dia tenggelam dalam penderitaan dan ketidakpastian. Si petugas kembali memeriksa kertas-kertasnya, siap menulis dengan pena, seakan-akan Murthi sudah tidak ada lagi di situ.
"Apakah orang-orang akan beribadah di bangunan ini?"
"Tidak," akhirnya si petugas menjawab. "Ini adalah makam."
"Ah, kalau begitu, kalian akan menginginkan patung Permaisuri."
"Tidak. Quran melarang manusia untuk memasang patung-patung mereka di dalam bangunan. Dan Allah sendiri tidak memiliki ukuran atau bentuk."
Murthi mengangguk bagaikan mengerti, tetapi si petugas tahu, kata-katanya tidak berarti bagi Murthi.
"Seperti apa sang Permaisuri?"
"Bagaimana aku bisa tahu? Sekarang pergilah, atau kau tidak akan memotong batu. Ada banyak orang lain."
Seorang lelaki muncul dari sebuah shamiyana. Dia tinggi dan langsing, janggutnya tersisir rapi dan berwarna kelabu menarik. Dia mengenakan kain muslin yang indah dan mahal, yang membuat orang-orang bisa melihat ke lipatan kurtanya. Jari-jarinya bercincin dan dia mengenakan gelang emas di kedua lengannya.
Isa memeriksa kerumunan. Ribuan lelaki dan perempuan, mungkin sebanyak dua puluh ribu, pikir Isa, menunggu dengan sabar. Para petugas duduk di barisan meja kecil yang rendah, mencatat detail-detail fisik setiap pekerja, baik lelaki maupunn perempuan: bekas luka, bekas cacav, bibir tebal, kutil, dan mata juling. Setiap hari pembayaran upah, deskripsi ini harus diperiksa sebelum uang berpindah tangan. Akbar telah menetapkan aturan kepada prajuritnya agar orang asing tidak bisa dibayar. Isa melihat seorang pria berjongkok gelisah di depan seorang petugas yang sedang mengabaikannya. Selama beberapa saat, tidak ada yang mereka bicarakan. Si lelaki melihatnya, menatapnya, lalu mengalihkan pandangan. Isa kembali ke shamiyana dan memanggil si petugas. "Siapa pria itu?"
"Seorang lelaki konyol. Dia memahat dewa-dewa, katanya. Aku mengatakan kepadanya, di sana tidak akan ada patung-patung. Tapi, dia tidak mau pergi," si petugas mengangkat bahu.
"Pertanyaanku, siapa dia? Cari tahu dari mana dia datang, lalu kembali dan ceritakan kepadaku."
Si petugas kembali ke posisinya dan mengambil penanya. Dia tidak mengerti mengapa Isa tertarik, tetapi dia mematuhinya, dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Murthi. Saat sudah mencatat jawabannya, dia kembali ke Isa.
"Dia datang dari Guntikul, di selatan .."
"Aku tahu."
"Dia seorang Acharya. Namanya Murthi. Ayahnya
pemuja Krishna, kakeknya pemuja Lakshmi. Dia dikirim oleh Raja. Aku menawarkan pekerjaan sebagai pemotong batu, tapi dia tidak mau menerimanya."
"Beri dia pekerjaan," kata Isa.
"Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan di sini."
"Keterampilannya bisa digunakan untuk hal lain. Jangan sebut-sebut ini. Awasi dan laporkan langsung kepadaku bagaimana kehidupannya."[]
Taj Mahal
1042/1632 Masehi
Shah Jahan
"Kau sedang bermimpi, Yang Mulia."
"Tidak bolehkah seorang pangeran bermimpi?"
"Tidak boleh jika di medan perang. Aku bisa membunuhmu tiga kali-di sini, di sini, dan di sini." Pedang Jenderal Mahabat Khan menyentuh leherku, jantungku, dan perutku. "Dalam medan perang, seorang raja adalah jantungnya. Jika ia terbunuh, kekalahan sudah tidak bisa lagi terelakkan. Saat kau menjadi sultan, ingatlah nasihat kakekmu, Akbar: 'Suatu monarki seharusnya selalu berhasrat untuk menaklukkan, jika tidak, negara-negara tetangganya akan mengangkat senjata melawannya.'"
"Aku belum menjadi sultan. Masih ada waktu untuk bermimpi."
Seorang prajurit mengambil pedang dan perisaiku. Debu sisa pertempuran kami menggantung di udara, dan pasir lembap karena keringat kami. Sang Jenderal berjalan di sampingku ketika kami menuju
ke hamam. Cara dia berjalan mirip dengan Akbar, yang juga telah dia dampingi dalam banyak pertempuran. Dia kuat, kekar, dan penuh bekas luka. "Kau terlalu banyak memimpikan gadis itu-Arjumand."
"Mimpiku membebaskan kesendirian yang sunyi. Tidak diragukan lagi, para jenderal menjalani kehidupan tanpa mimpi."
"Begitu juga seharusnya para pangeran dan sultan."
Ar-ju-mand. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bermimpi dan merasakan tubuhku menjadi sebuah tempat yang tersia-sia, dihantui oleh ruhnya. Dia masuk ke tempat yang belum pernah dimasuki oleh seorang pun, dan tidak ada yang bisa masuk ke sana. Aku telah menjadi kesultanannya, kerajaannya, subjeknya. Belenggu ini terasa berat, mencekik, dan melekat rapat bagaikan besi di hatiku. Hanya dia yang bisa membebaskanku dari rasa sakit, dari keberadaanku yang bagaikan mimpi, yang tidak kuketahui dengan pasti, apakah aku hidup atau berada di dunia lain.
"Apa yang harus kulakukan?"
Sang Jenderal telah menjadi guru pribadiku hampir seumur hidupku, sejak saat aku sudah cukup kuat untuk mengangkat pedang. Dia telah mengajariku seni-seni rumit permainan pedang, menunggang kuda, bergulat, dan taktik-taktik di medan perang. Seperti semua leluhurku, aku terlahir sebagai pemberani. Tidak bisa tidak.
"Lupakan dia," tukasnya kasar, berteriak mengatasi percikan air. Dia menikmati kemewahan di
istana, budak-budak wanita yang terlihat menarik di matanya, dan memijat tubuhnya, tertawa ketika dengan kurang ajar dia mencubit paha seorang budak dengan tangannya. Cubitan itu membekaskan noda basah di choli si budak. "Aku tahu, itu adalah nasihat yang salah bagimu, Shah Jahan. Tapi, aku belum pernah menjadi seorang bangsawan. Aku benar-benar terkesan pada peribahasa Istana: 'Jika sang raja bersabda pada siang hari, saat ini malam hari, kita harus berkata, lihatlah bulan dan bintang-bintang.' Tapi, kau telah bertanya kepadaku dan aku telah menjawabnya. Camkan, kau bisa melakukannya. Lupakan dia."
"Aku tidak bisa."
"Kau pasti bisa, suatu saat."
"Sudah berbulan-bulan lewat sejak aku melihatnya. Tapi, sepertinya baru kemarin kami berbicara dan saling menatap. Bahkan, jika aku memiliki lukisan dirinya, pasti lukisan itu tidak akan begitu jelas. Satu-satunya kenikmatanku hanyalah dengan memanggil kenangan itu. Aku memoles kenangan itu bagaikan sebuah berlian besar yang diberikan Humayun kepada Babur. Katanya, harga berlian itu bisa memberi makan seluruh penduduk dunia selama dua hari. Dia sama berharganya dengan berlian itu bagiku. Setiap saat aku bermimpi, aku melihat dia begitu segar, rambutnya yang seperti sutra, kulitnya yang bagaikan gading dalam cahaya lampu. Aku bertanya-tanya, apa yang akan kulihat pada siang hari? Aku iri, iri kepada orang-orang yang telah     Tuhan      tempatkan     di     sampingnya.
Budak-budaknya, pelayannya, ibunya, ayahnya, bibinya, pamannya. Mereka jauh lebih beruntung daripada aku."
"Kalau begitu, jadilah seorang sanyasi. Mengembaralah untuk mencari Tuhan, pakailah baju karung berdebu, dengan patung Arjumand yang tergantung di lehermu. Cinta tidak layak bagi para pangeran. Kau bukan seorang prajurit atau orang biasa. Kau adalah Shah Jahan. Kau akan menikahi seorang perempuan yang memang sudah seharusnya. Bukan demi cinta, tetapi demi politik. Apakah Babur menikah karena cinta? Apakah Humayun juga begitu? Apakah .?"
"Ya, dia begitu. Humayun begitu." "Dan  ingatlah   bencana  yang  terjadi   karena tindakannya."
Mahabat Khan mengabaikan fakta lain bahwa kakek buyutku dengan konyol mematuhi instruksi ayahnya: "Jangan menyerang saudara-saudara lelakimu, meskipun mereka mungkin layak mendapatkannya" dan hasilnya membawa masalah bagi dirinya. Tidak ada hubungannya dengan cinta kakek buyutku kepada Hamida. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama.
"Apakah Akbar begitu? Jahangir?"
"Aku mendengar ayahku terobsesi kepada Mehrunissa."
Mahabat Khan melirikku, kemudian memandang para perempuan yang sedang menunggu kami. Dengan bijaksana, dia menolak untuk tenggelam dalam pembicaraan ini, dan juga mengingatkanku.
Perjalanan sang Sultan ke liang kubur masih jauh dan dia pasti akan mendengar bisikan paling halus sekalipun di lingkungan istana. Sedikit saja ada kesalahpahaman dengan nama perempuan itu, hidup kami pasti terancam.
Mehrunissa! Dia adalah sebuah teka-teki, suatu lingkaran berbelit-belit yang harus kuurai di tempat rahasia dan pribadi dalam pikiranku sendiri. Ah, jika aku bisa berbicara dengan seseorang yang bisa kupercayai, seseorang yang tidak akan begitu saja meneruskan kata-kataku, mengartikan kata-kata itu untuk kepentingannya sendiri, ke telinga ayahku. Apa yang diinginkan oleh Mehrunissa? Aku mendengar bahwa ambisinya tidak terbatas, sebagaimana kesultanan ini sendiri. Dia tidak bisa menjadi permaisuri, karena ibuku, Jodi Bai, adalah istri pertama ayahku. Tetapi, Mehrunissa juga sudah menikah dan tidak bisa bercerai; para mullah yang mengawasi tidak akan mengizinkan ayahku menikah dengan seorang janda cerai. Aku meragukan apakah Mehrunissa ingin menjadi seorang selir yang tinggal di dalam harem, dikelilingi para perempuan lain dan dihancurkan kebosanan. Itu akan menjauhkannya dari singgasana. Kupikir, jika ayahku memang terobsesi, entah bagaimana caranya, dia pasti akan membawa Mehrunissa ke dekatnya, dan telinganya akan selalu siap mendengar bisikan perempuan itu. Mungkin Mehrunissa bisa menjadi sekutuku, menggemakan bisikanku sendiri: Arjumand, Arjumand.
"Aku   sudah   mengajukan   pertemuan   dengan
ayahku, tapi dia menundanya."
"Tidak diragukan lagi, dia berharap hasratmu terhadap gadis itu akan memudar dan kau akan kembali mendapatkan akal sehatmu. Saat itu dia baru mau menerimamu."
"Dia pasti berpikir jika aku bisa melupakannya, karena dia menyetujui kedatanganku besok. Tapi, api itu masih membara dalam diriku. Aku akan meminta .."
"Berbicaralah kepada ayahmu dengan lembut. Tidak ada yang bisa meminta atau memerintah di tanah ini kecuali dia. Dan tetaplah berpikir logis." Dia memilih seorang gadis Kashmir dan mendorongnya ke arahku. "Ambillah perempuan ini untuk memuaskan hasrat itu. Yang kau rasakan itu hanya nafsu."
"Bukan. Ini cinta." Aku memberi isyarat agar gadis itu menjauh.
"Baiklah, ingat nasihatku. Pikirkan dengan saksama sebelum kau berbicara dengan Padishah. Para lelaki sering kali memenggal kepala mereka sendiri dengan lidah mereka. Yang bisa kukatakan hanyalah, ingatlah, kau adalah pangeran Shah Jahan."
Istanaku terletak jauh di dekat hulu sungai dari benteng. Aku yang merancangnya sendiri, dan lebih disempurnakan lagi dengan saran-saran para ahli bangunan dan seniman ayahku. Aku menghabiskan banyak waktu bersama mereka, mengamati mereka mengonstruksi model-model bangunan yang telah didirikan oleh ayahku di Agra dan Delhi. Hal ini
membuatku tahu bahwa batu yang keras dan padat bisa dibentuk selentur tanah liat dan digunakan untuk menciptakan rancangan-rancangan yang rumit. Orang-orang Hindu, yang merupakan ahli bangunan paling hebat di dunia, telah menemukan bahwa atap raksasa dan tembok-tembok besar bisa disangga dengan bobot mereka sendiri. Kuil-kuil dan istana-istana mereka, seperti salah satu yang ada di Gwalior, berbentuk lengkungan indah, disangga oleh keseimbangan bobot lengkungan itu sendiri. Itu adalah salah satu contoh yang sudah kami pelajari. Atas perintah kakekku, merekalah yang membangun istana di Fatehpur-Sikri, yang sekarang sudah tidak digunakan lagi. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana keterampilan mereka bisa menjadikan batu menyerupai kayu, dan bagaimana mereka bisa menyempurnakan suatu sistem konstruksi untuk menyangga sebuah bangunan untuk selamanya?
Istanaku sendiri lebih sederhana, menyerupai sebuah kolam air mancur. Bangunannya bertingkat-tingkat ke bawah seperti jatuhnya air, dengan jalan masuk di tingkat paling atas. Di luar, di atap setiap fondasi, aku membuat sebuah taman dan memenuhinya dengan beragam jenis semak berbunga.
Dulu bangunan ini dibangun untuk kenikmatanku, sekarang tampaknya tidak cocok untuk kesendirianku. Istanaku menggemakan kehampaan hatiku. Saat senja, aku memandang ke arah rumahnya, yang terlihat di antara pepohonan. Aku membayangkan  dia   sedang  menatap   keluar,   ke
arahku, dan pada waktu-waktu lain dia mengamati saat aku menyusuri kota untuk melakukan tugas-tugas kenegaraan. Jika saja aku bisa melihatnya sebentar . tetapi dia begitu tersembunyi di balik layar kemurnian yang terkutuk.
"Siapkan seorang perempuan dan bawa dia kepadaku."
Malam itu dingin, aroma bunga tercium semanis anggur kuning. Aku bisa membayangkan tubuhku tak berjiwa, melupakan jikalau aku memiliki perasaan dan pikiran, dan berpura-pura jika aku hanya memiliki tubuhku. Para musisi, tersembunyi di balik layar semak-semak, memainkan raga malam. Melodinya begitu lembut, melankolis, meratapi hari-hari yang bergulir. Lupakan. Lupakan. Lupakan. Sungguh tidak mudah untuk membuat otak buta, tidak seperti menutup mata, karena di sana tidak ada suatu kenangan tunggal semata, tetapi keseluruhan jagat raya ingatanku.
Perempuan yang mereka bawa untukku masih muda dan bertubuh montok. Dia hanya mengenakan gelang kaki dan gelang tangan, rambutnya terurai hingga pinggul. Kulitnya begitu mulus dan putih; menyentuhnya bagaikan menyentuh emas. Aroma tubuhnya harum karena wewangian. Rekan-rekannya melepaskan pakaian dan turbanku, lalu mulai mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Hasratku juga mulai bangkit, karena pengaruh cinta dan minuman anggur.
Mereka berbisik di telingaku, menjanjikan kenikmatan     yang     belum     pernah     kuketahui
sebelumnya. Tawa mereka bagaikan musik, yang melenakan hati. Di atas kepalanya, bulan tampak bagaikan sekeping koin perak yang baru dipoles dan tampak pudar, diselubungi awan tipis, dan bintang-bintang terang yang dingin bagaikan serbuk perak.
"Banteng telah menerkam rusa," aku mendengar sebuah bisikan dan nada itu begitu lembut memasuki telingaku.
Semua berjalan begitu memabukkan, diiringi alunan musik, dan selama sesaat keriuhan jangkrik yang   mengerik   pada   malam   ini   menjadi   bisu. Kemudian,    jangkrik-jangkrik    itu    mengerik    lagi serempak.
Oh, Arjumand!
Prajurit yang menjaga pintu masuk diwan-i-khas menerima belatiku yang berhias emas dan batu mirah. Bahkan aku pun tidak bisa mendekati ayahku dengan membawa sejata. Sang Padishah duduk di singgasana, dikelilingi oleh para menteri yang berdiri, di antara mereka terdapat Ghiyas Beg, kakek kekasihku. Aku membungkuk dan ayahku menyambut kedatanganku dengan acuh tak acuh. Karena dia tidak mempersilakan aku duduk, aku juga tetap berdiri.
Para menteri bergiliran berbicara, dan ayahku mendengarkan kata-kata mereka dengan saksama. Ketika mulai menduduki takhta, perhatian ayahku mengagetkan orang-orang yang memercayai Akbar,
yang yakin jika ayahku tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Akbar sempat berpikir untuk melantik abangku Khusrav menjadi sultan baru, tetapi ketika ajal menjemputnya, Akbar mengubah pikirannya dan mewariskan takhta kepada ayahku, yang menerimanya dengan sangat antusias, dan segera berusaha masuk ke dalam kerumitan kesultanan ini dengan segala urusannya. Akbar meninggalkan kami sebuah negeri yang stabil, harta karun melimpah, dan hukum yang memberikan keamanan dan keadilan bagi rakyat kami. Melawan protes para mullah, dia menghapuskan jizya, pajak yang harus dibayar oleh orang-orang kafir. Dan karena kebanyakan rakyat kami beragama Hindu, hal itu membuat mereka merasa nyaman karena diperlakukan setara dengan kaum Muslim. Dia mereformasi hukum pajak bagi para petani, mengubah pembayaran dari setiap tahun Islam menjadi setiap tahun Masehi, dan dalam waktu-waktu sulit membantu mereka dalam hal keuangan. Dia melarang pernikahan kanak-kanak dan mencoba melarang suttee, kebiasaan Hindu yang kejam-membakar janda hidup-hidup, termasuk mewariskan sistem pemerintahan negeri saat ini melalui empat menteri.
Tengah hari sudah lewat saat rutinitas berakhir dan para menteri pergi. Sang Padishah tampak lesu. Matanya berwarna seperti buah ceri muda, bukan karena kelelahan, melainkan karena kebiasaan minumnya yang berlebihan.
"Khurrum!" Dia memanggil nama kecilku. "Mendekatlah padaku."
Dia memelukku. Aku mencium aroma cendana yang terasa akrab. Kenangan masa kecilku kembali muncul, ketika dia memainkan beberapa permainan denganku apabila waktu dan keadaan mengizinkan. Dia bangkit, menguap, dan kami berjalan ke kamarnya. Dia merangkulku erat-erat. Sejak abangku Khusrav melakukan pemberontakan dan percobaan pembunuhan sang Padishah, diriku mendapatkan perhatian dan penghormatan lebih dari ayahku. Selain nama dan gelarku, aku juga diberi sebuah jagir Hissan-Feroz yang luas. Bertahun-tahun yang lalu, Akbar sempat memberikan jagir yang sama kepada ayahku. Tetapi, aku yakin kasih sayangnya kepadaku juga disebabkan oleh kurangnya kasih sayang Akbar kepada dirinya. Dia ingin memperbaiki keadaan, dan tidak mengharapkan aku tumbuh sehampa dan kekurangan kasih sayang seperti dirinya.
"Apa yang kau inginkan, Khurrum?"
Meskipun dia mengetahui alasan mengapa aku meminta pertemuan dengannya, dia bertanya hanya demi sopan-santun kebangsawanan, bagaikan memperingatkan aku bahwa apa yang dia tunjukkan tidak bisa diterima begitu saja. Aku harus bernegosiasi tentang masalah ini dalam batas-batas protokoler yang tepat.
"Mengapa aku harus menginginkan sesuatu?"
"Kau akan tahu jika orang-orang menginginkan pertemuan    dengan    Padishah    karena    mereka
menginginkan sesuatu-dan aku satu-satunya yang bisa memberikan hal itu kepada mereka." Kami memasuki kamarnya; memandang ke luar, ke arah Sungai Jumna. Dinding batu paras merah ruangan ini dipahat dengan elok, tetapi tidak cocok dengan bayanganku tentang tempat tinggal indah seorang sultan. Para budak melangkah maju untuk melepaskan turbannya, ikat pinggang dan selendang emasnya, serta belati emas dengan sebutir berlian besar di ujung gagangnya. Dia mengambil segelas minuman anggur yang sudah didinginkan.
"Kita memiliki masalah dengan Rajput lagi. Mewar menolak untuk memberi penghormatan. Dia tidak akan puas hingga kita menghancurkannya. Kupikir penghancuran Chitor oleh Akbar telah membuatnya jera." Dia menyandarkan punggungnya ke dipan, tampak muram, dan tiba-tiba ingat jika aku berada di dekatnya, lalu tersenyum kepadaku. "Ayo, katakan kepadaku, apa yang kau khawatirkan? Jika bisa, aku akan menghilangkannya."
Aku tahu, aku harus berbicara dengan mengesankan; aku berdoa semoga lidahku tidak akan membeku karena keinginanku yang menggebu-gebu. Jika aku tidak bisa meyakinkan Padishah sekarang, Arjumand dan aku tidak akan memiliki harapan. Ayahku menghabiskan isi gelas anggurnya dan menyuruhku lebih mendekat. Wajahnya berkerut-kerut karena masa mudanya yang keras. Matanya tampak buram, setengah tertutup   dalam   sikapnya   yang   biasa   saat   dia
mendengarkan dengan saksama. Aku tidak bisa memperkirakan suasana hatinya. Apakah sedang pemurah dan baik? Ataukah sedang kasar dan kejam? Sosoknya begitu kaku; topeng khas seorang sultan.
"Padishah, Sultan Hindustan, Penakluk Dunia, Pembela Keyakinan, Prajurit Tuhan, Ayahku. Ayah tampak baik-baik saja."
"Aku memang baik-baik saja," dia menyetujui, "jika anakku tidak bertingkah seperti bangsawan yang menjilat. Kau adalah anakku yang paling kusukai dan kusayangi; kau tak perlu bertingkah dengan formalitas seperti itu di hadapanku."
Dia mencubit pipiku dan membelai wajahku; kebiasaannya jika menunjukkan kasih sayang. Aku membungkuk karena keramahannya, tidak sepenuhnya memercayai ayahku. Jika aku tidak menghormatinya dengan formalitas seperti ini, dia pasti akan kecewa. Selama sesaat, aku merasa beruntung karena dia mengizinkan aku untuk duduk di sebelahnya. Tangannya masih memegang lenganku.
"Bicaralah, bicaralah," dia kembali mengambil minuman anggur. Dua gelas lagi, dan perhatiannya akan mengembara.
"Aku sedang di Pasar Malam Bangsawan Meena
ii
"Tamasha yang menyenangkan! Kupikir aku harus mengatur agar acara itu diselenggarakan lebih sering. Setiap bulan, bukannya hanya setiap tahun. Para    perempuan   juga    sangat    menikmatinya.
Bagaimana menurutmu?"
"Jika acara itu menyenangkan bagi para perempuan, maka harus diselenggarakan lebih sering."
"Aku akan memikirkannya lebih dalam." Perhatiannya terganggu oleh seorang budak yang memijat lehernya.
"Bukan, di sana, Bodoh . ah."
"Aku tahu sebentar lagi pernikahanku akan segera diatur .."
Perhatiannya kembali dengan cepat, dan tiba-tiba dia menjadi waspada.
"Kebahagiaanku dan pilihan siapa pengantinku ada di tangan Ayah, dan aku akan menerima siapa pun yang Ayah nilai cocok, baik untukku maupun untuk kesultanan. Di pasar malam, aku melihat seorang gadis yang menurutku paling cantik. Dia menjual perhiasan perak. Mungkin Ayah juga melihatnya. Dia berasal dari keluarga yang sangat baik. Kakeknya adalah Ghiyas Beg, Itiam-ud-daulah Ayah." Aku berhenti sesaat, mencoba memperkirakan efek kata-kataku. Sang Padishah tidak berkata apa-apa, seperti telah mengetahui apa yang akan kukatakan selanjutnya.
"Bibinya adalah Mehrunissa, putri Ghiyas Beg. Dia adalah istri .."
"Aku mengenal suaminya," dia berkata dengan cepat, jarinya mengetuk-ngetuk lenganku dengan tidak sabar. "Aku juga telah melihat gadis itu. Dia manis."
"Dia cantik jelita," dengan lembut aku mem-
bantah ayahku. "Otak dan hatiku dipenuhi perasaan kepadanya." Aku menahan napas, tetapi tidak bisa mengendalikan lidahku. "Aku mencintainya."
"Begitu cepat! Hanya sesaat kau bersamanya, dan kau sudah mengatakan kau mencintainya."
Aku mendengar suara gema, pelan dan penuh rasa cemburu. Saat masih seumurku, dia hidup dalam kesendirian, di bawah bayangan Akbar. Hidupnya, harapannya, impiannya, semua ditentukan oleh kakekku yang berkuasa. Sungguh tidak mungkin untuk menyuarakan kebutuhan akan kasih sayang. Akbar tidak memberikannya sama sekali kepada anak-anaknya. Ayahku menikah karena Akbar menginginkan persekutuan yang kuat dengan pangeran Rajput, Rana daerah Malwar. Jika Jahangir mencintai perempuan lain, dia pasti tidak bisa mengungkapkannya karena takut kepada Akbar. Kuharap dia akan memutuskan hal ini berdasarkan kenangan pribadinya, bahwa dia akan memberiku kebahagiaan yang pernah dia ingkari. Dari tekanan lembut jari-jarinya, denyut nadinya yang meningkat, aku merasakan harapan. Aku mencari tanda-tanda di wajah dan matanya, sikap tubuhnya, di lipatan sarapa-jubah
kebesaran-sutranya, di gulungan kancing-kancing emas serta ornamen-ornamen mutiara dan berliannya, bahkan di seberkas sinar matahari suram yang menyinari lemari perak di sudut ruangan.
Dan ayahku mengamatiku. Tatapannya penuh rasa ingin tahu, bagaikan dia menemukan orang yang    berbeda    di   dalam    diri    anaknya.    Aku
membayangkan bisa menemukan kebaikan hati dan simpati di sana. Dia akan mengerti kerinduanku, rasa sakitku, karena dia juga harus mengalami kebingungan yang sama karena perasaannya terhadap Mehrunissa. Dia pernah melihat Mehrunissa sekali, saat masih muda, ketika ayah Mehrunissa pertama kali melaksanakan tugas dari Akbar. Mungkin sejak saat itu dia sudah mencintai Mehrunissa, tetapi tidak ingin mengungkapkannya kepada Akbar. Aku telah mengetahui ketertarikan ayahku terhadap Mehrunissa dari salah seorang budak perempuan kesayangannya, tetapi ayahku tidak pernah membicarakan hal-hal yang begitu pribadi denganku. Dia telah mengubur cintanya untuk mematuhi ayahnya; aku yakin saat ini dia tidak akan menolak ungkapan perasaanku. "Akbar," dia mulai berbicara perlahan, membaca pikiranku, "sering menceramahiku tentang tugas-tugas seorang pangeran. Sudah takdir kita untuk memerintah. Tuhan sendiri yang memilih kita untuk tujuan itu. Kita bukan dacoit ataupun perampok yang merebut kerajaan. Kita adalah keturunan Ghengis Khan dan Timur-i-leng, dan kesultanan yang telah kita bangun dari Hindustan berasal dari kualitas kita sebagai penguasa. Seorang pangeran hanya boleh memikirkan keuntungan bagi kerajaannya. Jika ia lebih memikirkan dirinya sendiri, kerajaan setelahnya, semua akan hilang. Kau harus membaca kitab Arthasastra karya Kautiliya. Dengan bijaksana, orang-orang Hindu telah menuliskan tugas-tugas seorang pangeran. Sebelum melakukan
segala sesuatu, pertama-tama yang kupikirkan adalah keuntungannya bagi kesultanan, atau bagaimana efeknya terhadap negara. Saat kau sudah naik takhta, kau akan belajar untuk berpikir dengan cara ini. Sekarang, untuk pertanyaanmu tentang gadis ini, Arjumand, aku mempertimbangkannya bukan sebagai ayah seorang anak lelaki yang kucintai, tetapi sebagai seorang sultan yang memikirkan putra mahkotanya. Hidup kita, Putraku, bukan untuk diri kita sendiri. Hidup kita hanya untuk kerajaan. Bagaimana pernikahan dengan Arjumand bisa memperkuat kesultanan? Pikirkanlah hal itu."
Aku sudah tahu jika aku kalah, dan aku tidak bisa berpikir jernih di antara degup jantungku yang kencang. Dalam keputusasaan, aku menukas cepat, "Itu akan membuatku bahagia."
"Ah, Badmash, kau tidak mendengarkan aku." Dia menonjokku perlahan. "Membuatmu bahagia? Kukatakan kepadamu, hidup kita bukan milik kita sendiri. Seorang rakyat jelata bisa berkata, 'Aku akan melakukan itu,' dan melakukannya. Kepada siapa tindakan itu berakibat? Hanya kepada dirinya sendiri, mungkin hanya bagi keluarga terdekatnya. Tapi, jika Shah Jahan yang berkata, 'Aku akan melakukan itu karena itu membuatku bahagia,' itu akan berakibat kepada seluruh kesultanan. Apa yang ada dalam diri Arjumand? Kekayaan? Kekuasaan? Sebuah kerajaan? Persekutuan politik? Apakah menikahinya akan mendamaikan kita dengan seorang    musuh,    seperti    yang    selalu    Akbar
sarankan? Apakah itu akan memperluas kerajaan? Jika jawabannya 'y3' untuk setiap pertanyaan, kau bisa mendapatkan restuku untuk menikahinya."
Matanya masih menyorotkan kasih sayang, tetapi di baliknya, aku bisa menemukan tatapan penuh kekuasaan.
"Kau sudah tahu jika jawabannya 'tidak'."
"Maka masalah ini sudah diputuskan." Dia menarikku ke pelukannya dengan penuh kasih sayang, dan aku bisa merasakan aroma masam minuman anggur dari napasnya.
"Setelah pernikahanmu yang untuk kepentingan negara, ambillah dia sebagai istri keduamu, jika kau masih merasakan cinta yang sama kepadanya. Kau masih muda, kau akan melupakan hasratmu ini."
"Aku ingin dia menjadi istriku yang pertama dan satu-satunya," aku mulai membandel. "Aku tidak akan .."
"Jangan memerintah dalam pertemuan denganku." Alis ayahku bertaut, dan tatapannya menjadi galak, menepis kasih sayangnya. "Kau akan melakukan apa yang kuperintahkan. Nikmatilah tubuh perempuan lain. Begitu banyak di antara mereka. Pilihlah siapa saja yang kau mau, dan berhentilah memikirkan gadis itu. Sekarang pergilah, aku lelah."
"Kumohon .."
"Pergilah."
Aku terlalu lama ragu-ragu untuk mematuhi perintahnya, dan melihat kemarahannya mulai memuncak. Aku tidak ingin membuat sang Sultan
lebih kesal lagi. Aku bangkit dan membungkuk, tetapi saat aku mencapai ambang pintu, dia memanggilku lagi.
"Aku sudah memilih istrimu."
Aku berlalu tanpa mendengarkan pilihannya.[]
6
Taj Mahal
1043/1633 Masehi
Murthi merasa sangat kecewa. Dia memicingkan mata, menatap istrinya, di dalam cahaya yang lemah. Lampu ini merupakan sebuah wadah keramik kecil yang berisi minyak. Sumbunya, beberapa helai kain katun yang digulung, melingkar di dalam minyak, dengan sedikit bagian yang muncul di mulut wadah. Dia mendesah, membuat nyala api bergoyang; bayangan menari dan membeku kembali. Tubuh Sita tampak berkilat, sarinya yang basah kuyup membungkus tubuh lemahnya yang mungil, seolah dia baru saja berendam di sungai. Di sampingnya, Lakshmi, istri tetangga Murthi, berjongkok sambil menggendong si bayi. Seperti Sita, bayi itu sedang tidur. Murthi berjalan terseok-seok keluar dan berjongkok di pintu masuk.
Murthi sangat menginginkan seorang anak lelaki lagi. Setiap hari saat fajar, dia berdoa agar anak yang akan lahir adalah anak lelaki. Sebelum Gopi, dia memiliki dua anak lelaki; yang pertama meninggal saat dilahirkan, yang kedua meninggal
saat berusia delapan bulan.
Ram, Ram, dia berbisik, mengapa membebaniku dengan anak perempuan ini? Bagaimana dia bisa berguna? Anak-anak lelaki, itulah yang kuminta. Anak-anak lelaki akan mempelajari pekerjaanku, memeliharaku saat aku tua. Seorang anak lelaki tidaklah cukup.
Dia menatap Gopi; Gopi sedang bermain gilli dan dandu dengan anak-anak lelaki lain. Murthi berdiri dan berjalan menyusuri jalan setapak, menuju kedai di sudut. Beberapa pria sedang berjongkok di sekitar pintu masuk, menenggak arak dari gelas-gelas keramik. Sebuah kota telah tumbuh di sekitar maidan, tidak terencana dan berantakan. Kota itu semakin melebar, berkembang terus setiap hari. Kebanyakan tempat tinggal berupa gubuk, seperti miliknya, meskipun ada beberapa rumah-rumah bata yang dibangun untuk para petugas. Ada empat bangunan kantor besar yang mengatur kehidupan dan kemajuan pembangunan monumen. Kota ini dinamakan Mumtazabad.
Murthi menyesap segelas arak yang kuat, dan memisahkan diri dari orang lain. Lelaki-lelaki lain juga merupakan buruh kasar: liar, keras, hanya ingin mabuk, untuk melupakan hasrat mereka. Mereka orang-orang Panjabi: lebih tinggi dan lebih kekar daripada Murthi. Murthi telah menemukan dua keluarga dari negaranya, mereka berbicara bahasa Telugu, dan meskipun bukan berasal dari kasta yang sama, setidaknya mereka memiliki hubungan dengan kampung halamannya. Salah seorang dari
mereka adalah pemotong marmer, yang seorang lagi adalah tukang tembok. Tidak seperti Murthi, mereka melakukan perjalanan panjang ke utara untuk mencari kerja. Raja tidak memerintahkan mereka untuk datang kemari. Ada beberapa orang Tamil juga, dan orang-orang Nair, dan mereka semua-meskipun tidak terlalu akrab dengan bahasa satu sama lain-setidaknya merasa memiliki identitas yang sama.
Mereka semua bekerja, kecuali Murthi. Ini membuat Murthi bingung dan khawatir. Setiap hari dia dibayar, berbaris dalam antrean panjang untuk menerima upah, tetapi setiap saat dia bertanya, jawabannya selalu: Tunggu. Orang-orang lain yang menunggu tidak menerima apa-apa. Mengapa aku diberi upah? Dia sering berpikir begitu. Dia tidak bisa menemukan jawabannya. Dia tidak berani bertanya kepada petugas, karena khawatir tidak akan diberi upah lagi. Hingga dua hari sebelum si bayi lahir, Sita masih juga bekerja. Dia akan kembali bekerja besok; mereka tidak akan mampu hidup hanya dari upah Murthi sendiri.
Sita, dengan ribuan perempuan lain, telah mengubah alur sungai. Mengapa alur sungai harus diubah, tidak ada yang mengetahui, tetapi itulah yang diperintahkan kepada mereka. Sungai mengalir dalam sebuah saluran yang cukup jauh dari lokasi monumen, lalu membelok ke dekat benteng. Perlahan-lahan, dengan usaha yang keras, sementara para lelaki menggali saluran baru untuk mendekatkan sungai ke lokasi, Sita membawa tanah
segar di dalam sebuah keranjang anyaman kecil dan menumpahkannya ke air. Para perempuan ini diawasi; mereka tidak bisa berhenti atau bermalas-malasan. Beberapa pria menggali dengan cangkul, yang lain menyekop tanah ke barisan panjang baskom yang dibawa oleh para perempuan. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, saluran itu melebar, dan akhirnya sungai sudah terbendung. Sita berhenti memikirkan hal ini, hanya menunggu upahnya dibayarkan pada sore hari. Lalu, pada malam hari, para perempuan lain mengambil alih tempatnya dan bekerja di bawah cahaya ribuan lampu.
Tiga puluh tujuh pria berdiri diam dalam keremangan senja, menunggu Sultan di teras marmer benteng. Isa berdiri agak jauh; seperti mereka, dia mengawasi kesibukan di seberang sungai, sosok-sosok kecil yang mondar-mandir di dalam bayangan, membungkuk di bawah bawaan mereka yang berbeda-beda.
Seorang gadis budak menyalakan lampu dan meletakkan lilin-lilin di relung-relung. Cahaya berkelip-kelip di wajah para pria itu. Mereka telah datang dari berbagai penjuru dunia, diperintahkan oleh Mughal Agung. Ismail Afandi, seorang Turki yang gemuk dan periang, Perancang Kubah; Qazim Khan dari Persia, perajin emas dan perak; Amarat Khan, juga dari Persia, seorang pria dingin bermata sayu, Ahli Kaligrafi; Chiranji Lal, seorang Hindu dari
Delhi, seorang ahli pemotong dan pengukir batu mulia; Mir Abdul Karim, yang telah bekerja untuk Sultan Jahangir dan telah diberi hadiah besar berupa delapan ratus budak dan empat ratus kuda. Dia, bersama Markarrinat Khan, seorang Persia lainnya, adalah administrator pembangunan monumen. Semua pria ini adalah majikan bagi para pekerja terbaik-pembuat perhiasan, pelukis, para tukang bangunan yang terlatih-dari Hindustan dan dari jauh seperti Chatay, Samarkand, dan Shiraz. Di bawah perintah Shah Jahan, Isa telah memanggil mereka semua, menjanjikan kekayaan besar yang akan menjadi imbalan karena keterampilan mereka.
Monumen tersebut, dipahat dari kayu, dilukis, masih belum selesai, berdiri di belakang mereka di lantai marmer. Benda itu adalah ancaman bisu yang menghantui hidup mereka. Mereka tidak menatapnya, tetapi memandang ke seberang sungai, dan mencoba membayangkan benda itu berubah, menjulang tinggi ke langit, tetapi tidak ada yang mampu melakukannya. Itu tidak nyata, impian semata. Sebagai ahli, para perajin itu menyadari bahwa monumen yang mereka lihat itu terasa akrab, tetapi ganjil. Monumen itu menyerupai Guri Amir, makam Timur-i-leng di Samarkand; tetapi bukan; mirip makam Akbar di Sikander, tetapi garis-garisnya lebih bersih dan tajam; mirip makam Ghiyas Beg, sang Itiam-ud-daulah, tetapi ini jauh lebih besar.