Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Ibu Sinder Part 3


Ibu Sinder menengahi dengan berkata, "Bisa-bisa saja, Nduk, tapi membatik itu tidak mudah. Bagaimana kalau belajar meramu jamu saja dulu, Nduk? Tapi ikut membiayai lho."

“Tentu, tentu, Bu. Jangan khawatir," jawab Darsi.

Wanita-wanita yang lain mengamini.

Setelah wanita-wanita itu pergi, Ibu Sinder berpikir bagaimana mengajar mereka meramu jamu. Ia menemukan jawabannya.

Hari-hari berikutnya Ibu Sinder sibuk mempersiapkan tempat untuk mengajar meramu jamu. Semula ia putus asa. Tempatnya terlalu sempit. "Ah, asal mulai saja dulu," gumamnya.



Sementara itu revolusi kemerdekaan berkecamuk dengan dahsyatnya. Misi Sekutu datang untuk mengadakan pembicaraan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia. Tentara Inggris mendarat di Pulau Jawa atas nama Sekutu. BKR, Badan Keamanan Rakyat, dibentuk di mana-mana. Konflik bersenjata terjadi antara pasukan-pasukan Inggris dengan pejuang-pejuang kemerdekaan. Meledaklah "Pertempuran Lima Hari" di Semarang. Menyusul pertempuran-pertempuran yang dahsyat antara Tentara Inggris dan para pejuang di Surabaya. Pertempuran Ambarawa menyusul. Tentara Inggris didesak masuk Semarang kembali. Pengangkatan Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat Jenderal. Presiden dan Wakil Presiden hijrah ke Jogyakarta. Bandung jadi lautan api. Tawanan-tawanan perang Jepang diserahkan kepada Sekutu oleh Republik.

Bulan Mei 1946, Herman baru muncul kembali di kediaman Ibu Sinder.

Melihat kemenakannya kembali Ibu Sinder begitu gembira, sampai meneteskan air mata

"Ibumu bagaimana, Her?" tanya Ibu Sinder kepada kemenakannya yang sudah menyandang pangkat Letnan Satu itu.

"Masih tetap di dalam kota. Bu. Ibu baik-baik saja."

"Di mana saja kau selama ini, Her?" tanya Ibu Sinder.

"Ceritanya panjang. Bu. Pada kesempatan lain aku akan bercerita. Siapa tahu pengalamanku akan digubah Bude menjadi 'Serat Herman Kesampar Kesandung'."

Ibu Sinder tersenyum, lalu dengan gaya penuh kasih sayang menjewer telinga Herman sambil berkata, "Kakak dan adik sami mawon. Suka menggoda ibunya."

"Bu, ada kejadian yang perlu kusampaikan kepada Bude, tapi dengan syarat Bude jangan menangis," kata Herman.

"Heh, Anak bandel, ayo lekas katakan."

"Aneh, aneh. Bu, entah kebetulan entah bagaimana, aku tidak tahu, tapi aku bertemu lagi dengan Mbak Ivonne." Dengan sengaja Herman berkelakar agar budenya tidak terkejut. Dengan sengaja ia berkata Mbak Ivonne".

"Nduk, kau dan Suhono... Apa kelanjutannya?"

Herman meneruskan, "Aku bertemu lagi dengan Ivonne di Salatiga. Aku mendapat tugas untuk menyerahkan para interniran yang sudah di tangan Republik kepada pihak Sekutu. Aku mengawal truk-truk interniran dari Salatiga ke Srondol, dekat Semarang. Di Srondol interniran itu diserahkan ke Sekutu dan selanjurnya diangkut ke Semarang. Tahu-tahu di Salatiga Ivonne berada dalam truk yang kukawal itu. Aku terkejut bukan main, tapi ia tampak lebih sehat daripada waktu di interniran Jepang. Republik merawatnya dengan baik. Ivonne sangat terkesan akan perlakuan Republik terhadap kaum interniran."

Dengan sabar Ibu Sinder mendengarkan cerita kemenakannya. Gumamnya, "Syukurlah, anakku selamat. Lalu bagaimana, Her?"

"Lagi-lagi Mbak Ivonne yang lebih dulu mengenali diriku," lanjut Herman. "Aku dalam seragam tentara sudah. Yang ditanyakan pertama-tama keadaan Ibu. Kujawab kalau Bude baik-baik saja. kemudian ia menanyakan Mas Hono. Kujawab bahwa kami belum menerima berita. Aku minta padanya, kalau ia di Semarang supaya menemui ibuku di Semarang. Kuberikan alamat Ibu kepadanya. Ia tampak senang sekali. Aku titip sesuatu padanya. Ambon telah diduduki oleh Belanda. Ivonne yang berada di daerah pendudukan Belanda tentu lebih mudah untuk menghubunginya di Ambon. Nah, kalau sudah ada beritanya, aku minta agar ia mengabari ibuku di Semarang. Kalau Ibu Semarang sudah menerima berita, tidak terlalu sulit untuk meneruskan berita itu kepada Bude. Mbak Ivonne menyanggupinya, malah kalau mungkin dia sendiri yang akan ke Ambon mencari Suhono, terlepas Suhono sudah beristri atau belum. Ia juga ingin mendapat kepastian bahwa Mas Hono masih segar-bugar. Lagi-lagi ia berkata, bahwa ia masih tetap mencintai Mas Hono.”

"Anakku, Ngger, Ivo, begitu dalam cintamu kepada Suhono. Aku tidak mengira. Semoga Tuhan melindungimu, Ivo," gumam Bu Sinder.

Kata Herman lebih lanjut, "Ivonne menangis sewaktu harus berpisah dengan aku di Srondol. Katanya, 'Selama hayat masih dikandung badan, aku akan tetap mencari Suhono sampai ketemu’."

Sepeninggal Herman, Ibu Sinder tampak lebih gembira. Harapannya, kalau tidak ada aral melintang, Suhono pasti akan mengabari Winarsih.

Setahun sudah revolusi kemerdekaan berlangsung. Setapak demi setapak kekuasaan Republik menjadi semakin nyata dan mantap. Perkiraan dunia internasional bahwa Republik akan hanya mampu bertahan beberapa bulan saja meleset sama sekali. Landasan kekuasaan dan kekuatan Republik terletak di Pulau Jawa dan Sumatera. Di kedua pulau itu Belanda hanya mampu menduduki kota-kota besar saja, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Palembang, Padang, dan Medan, dan kota-kota itu dikepung oleh pasukan-pasukan Republik. Belanda belum memiliki kekuatan untuk bisa melebarkan sayapnya. Bala bantuan berangsur-angsur didatangkan dari Negeri Belanda untuk memperkuat kedudukan Belanda.

Hari Minggu, pagi-pagi, Ibu Sinder sedang asyik membatik. Suasana tenang dan damai di rumah sederhana itu, seolah-olah suasana revolusi tidak menyentuh kehidupan wanita berusia lepas setengah abad itu. Pesawat radio tua mengumandangkan suara siaran klenengan Radio RRI Yogyakarta.

Lagi-lagi Ibu Sinder dikejutkan oleh kedatangan wanita-wanita yang begitu saja masuk dan langsung ikut duduk di atas tikar pembatikan, mengelilingi Ibu Sinder. Ibu Sinder terus saja asyik membatik seperti tidak menghiraukan kehadiran wanita-wanita itu. Ibu Sinder yang di kampung itu lebih terkenal dengan panggilan "Ibu Prapto" memang menjanjikan untuk melanjutkan kisahnya tentang Wong Agung Menak, atau Amir Ambyah, sebuah kisah Arab sebelum tarikh Nabi, kepada wanita-wanita itu.

"Sudah sampai di mana ya, dulu itu?" tanya Ibu Sinder.

"Imam Suwongso akan berangkat ke medan perang dan berpamitan pada Kadarwati, Bu," kata Sukiyem. (Baca: Kadarwati, Wanita dengan lima Nama, Pandir Kelana)

Mulailah Ibu Sinder dengan kisahnya. Baru separuh jalan, terdengar suara seorang wanita, "Kulo nuwun."

Begitu melihat wanita itu berdiri di muka pintu, Darsi menegur, "Lho, Bu Mirah. Silakan, silakan."

Ibu Sinder berhenti membatik, melepaskan kacamata lalu menatap wanita yang masih saja berdiri di muka pintu itu. "Silakan, Bu Mirah," sambutnya.

Ibu Sinder hendak bangkit berdiri, tapi wanita yang dipanggil "Bu Mirah" itu mencegahnya dengan berkata, "Silakan melanjutkan. Bu, aku akan ikut mendengarkan."

Wanita-wanita itu bergeser memberikan tempat bagi Bu Mirah. Setelah Bu Mirah duduk ia memperkenalkan diri dengan berkata, "Aku Mirah, Bu, penduduk Kampung Balokan."

"Bu Mirah, siapa yang tak mengenal Bu Mirah di kampung ini?" kata Bu Sinder. "Aku Suprapto."

"Maaf, Bu, sudah agak lama aku bermukim di Balokan, tapi belum sempat sawan unjuk hidung."

Ibu Sinder tersenyum, mengamati wajah yang cantik menarik itu. Segera Ibu Sinder dapat menangkap bahwa yang menyebut dirinya Mirah itu bukanlah seorang wanita pedagang candak kulak biasa.

"Boleh kulanjutkan dulu ya, Jeng," kata Bu Sinder kemudian.

"Jangan panggil aku 'Jeng', Bu. Terlalu berat bagiku. Kuwalat aku nanti. Aku anak desa, Bu."

Ibu Sinder hanya tersenyum dan melanjutkan kisahnya. Dengan indahnya Ibu Sinder mengisahkan cumbu rayu Imam Suwongso yang hendak meninggalkan istrinya, Kadarwati, berangkat ke medan laga. Wanita-wanita itu hanyut dalam kisah Imam Suwongso-Kadarwati yang dibawakan oleh Ibu Sinder. Nama Kadarwati yang terus disebut-sebut itu sangat mengejutkan Bu Mirah. Ia teringat kembali perjalanan hidupnya yang sudah dibuangnya jauh-jauh dari ingatannya. Bu Mirah berusaha keras untuk menguasai perasaannya, namun emosi yang disembunyikannya itu tidak luput dari ketajaman penglihatan Ibu Sinder.

Dengan sengaja Ibu Sinder memperpendek ceritanya. Kata Ibu Sinder mengakhiri ceritanya, 'Sekian dulu ya, lain kali kulanjutkan. Aku tidak sampai hati membiarkan tamuku duduk-duduk di lantai."

Wanita-wanita itu tahu bahwa Ibu Sinder ingin berbicara dengan Bu Mirah. Wanita-wanita itu berbenah lalu minta diri pulang ke pondokan masing-masing. Setelah wanita-wanita itu pergi Ibu Sinder mempersilakan tamunya duduk di atas kursi. Ibu Sinder menghentikan pembatikannya, masuk ke dalam dan tidak lama kemudian keluar membawa dua gelas kopi.

“Tidak usah repot-repot, Bu," kata Mirah.

"Ah, ada tamu penting. Silakan, Jeng," kata Ibu Sinder.

Ibu Sinder memandang wajah Bu Mirah dengan tajam, seolah-olah ia sedang mempelajarinya, kemudian ia berkata, "Maaf ya, Bu, setuju atau tidak aku akan memanggil Bu Mirah dengan 'Jeng' saja."

"Aduuuuh, kuwalat aku nanti, Bu. Aku bukan priyayi, aku anak desa, Bu. Ayahku dulu hanya opas di Asistenan. Aku memang pernah melayani Ndoro Sisten. Aku sering mbantu-mbantu Ndoro Den Ayu. Hanya itu, Bu," kata Mirah.

Mirah dapat melihat pada wajah Ibu Sinder bahwa ia tidak percaya pada kata-katanya.

Kata Ibu Sinder, "Aku sudah banyak mendengar tentang Jeng Mirah dari anak-anak. Kasihan mereka, padahal hatinya baik-baik. Kita kurang mau melihat mereka sebagai manusia biasa."

"Aku masih harus banyak belajar dari Bu Prapto. Sangat menarik. Wanita-wanita itu selalu kumpul-kumpul di rumah Ibu, mendengarkan Ibu berkisah dan Ibu menganggap wanita-wanita itu seperti anak sendiri saja. Itu yang kudengar dari mereka sendiri," tanggap Bu Mirah.

Sejenak Ibu Sinder diam, lalu ia menjawab, "Yaah, bayangkan. Jeng. Mereka tidak memiliki hiburan apa-apa dan pekerjaannya ya itu-itu saja. Rasa rendah diri begitu mencekam mereka. Melihat bioskop pun tak pernah. Batin mereka memerlukan santapan. Mudah-mudahan dengan kisah-kisahku itu mereka agak merasa terhibur. Hanya itu yang dapat kulakukan. Jeng."

Mirah mulai mengagumi wanita usia lewat setengah abad itu, terutama pancaran pribadinya yang penuh kasih sayang itu. Melihat potret di dinding rumah itu Mirah bertanya, "Siapa saja itu. Bu?"

Ibu Sinder mengambil potret itu dari gantungannya lalu menjelaskan, "Ini Bapak almarhum, waktu masih bekerja di Perkebunan Gula Madugondo. Musibah menimpanya, kecelakaan. Tuhan memang sudah menghendaki demikian. Ini anakku Suhono, ia di Ambon sekarang, dan ini kemenakanku Herman, jadi tentara sekarang."

Bu Mirah mengamati potret-potret itu satu demi satu, lalu menggantungkannya kembali pada tempatnya semula.

"Ibu begitu hafal dan begitu menghayati kisah-kisah yang Ibu ceritakan. Mengherankan, Bu," kata Mirah.

Ibu Sinder tersenyum, lalu berkata, "Ya, ya, aku tidak bisa percaya begitu saja kalau Jeng Mirah itu anak Opas Asisten. Tak apalah. Menurut ukuran pendidikan zaman sekarang, aku ini buta huruf. Aku kurang menguasai huruf Latin. Yang kukenal huruf Jawa dan Arab Gondil. Sebentar ya. Jeng, akan kuperlihatkan sesuatu." Ibu Sinder hendak menguji tingkat pendidikan Bu Mirah yang mengaku anak desa itu.

Ibu Sinder masuk kamarnya. Kemudian ia kembali lagi dengan membawa serta beberapa buku tulis. Bu Mirah bangkit lalu membantu Ibu Sinder meletakkan buku-buku tulis itu di atas meja. Bu Mirah terheran-heran melihat buku-buku tulis yang sudah tua-tua tapi cukup terpelihara itu.

Bu Mirah mengambil buku tebal tulisan tangan, judulnya Serat Mahabharata. Buku-buku lain diamatinya. "Siapa yang menulis buku-buku tebal ini. Bu?"

Sambil tersenyum Ibu Sinder menjawab, "Dulu waktu suamiku masih hidup aku sudah sering membatik, tapi kadang-kadang bosan. Kebetulan seorang teman memiliki buku-buku yang menarik. Kukutib. Itulah."

Melihat buku-buku tulisan lainnya Mirah mengenali tulisan tangan Ibu Sinder kembali, tapi jelas bukan kutipan. Melihat Mirah terheran-heran itu Ibu Sinder berkata, "Gubahanku sendiri, Jeng. Dulu suamiku suka mendengarkan aku berkidung dan yang disukainya gubahanku sendiri."

Mata Ibu Sinder berkaca-kaca dan tanpa disadarinya mata Bu Mirah pun ikut menjadi kemerah-merahan. "Apa Ibu sekarang juga suka menulis atau menggubah?" tanyanya kemudian.

"Masih, Jeng, tapi tidak segiat seperti dulu-dulu lagi," jawab wanita lewat setengah umur itu. "Aku harus membatik dan membuat jamu. Jeng, kalau tidak dari mana aku akan mendapat uang untuk hidup?"

Tampak bahwa Bu Mirah benar-benar mengagumi Ibu Sinder, hanya ia menyayangkan bahwa wanita itu tidak berkesempatan mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Pikirnya, ada persamaan keinginan antara dirinya dengan Ibu Sinder. Sama-sama ingin meringankan beban penderitaan yang dipikul oleh wanita-wanita sesat jalan itu, tapi ia tak mau tergesa-gesa. Masih banyak waktu. Bu Mirah minta diri kepada Ibu Sinder. "Kalau ada waktu mampir ya. Jeng," undang Bu Sinder.

Bu Mirah mengiyakan. Sepeninggal Bu Mirah, Ibu Sinder mengembalikan buku-bukunya dalam almari kecil khusus untuk menyimpan buku-buku itu. Siapa gerangan Bu Mirah itu? Bagaimana ia bisa terdampar di Balokan, wanita secantik itu dan tampaknya terpelajar.

"Aku tak boleh mendesaknya," gumamnya. "Ia merahasiakan sesuatu."

Hubungan persahabatan antara Ibu Sinder dan Bu Mirah semakin erat dan akrab. Mereka bersepakat untuk bekerjasama. Tempat untuk latihan keterampilan wanita-wanita sesat jalan dipindahkan ke rumah Bu Mirah yang jauh lebih luas daripada rumah Ibu Sinder, bahkan tidak hanya terbatas pada latihan kemahiran ramu-meramu jamu saja, tapi diperluas dengan berbagai latihan keterampilan lainnya, seperti sulam-menyulam dan juga membatik.

Bu Mirah dan Bu Salyo, seorang wanita dari Jawatan Sosial, memberikan pelajaran masak-memasak, di samping mengajar baca-tulis. Yang oleh Bu Mirah dan Bu Salyo dianggap menggelikan ialah bahwa Ibu Sinder dengan tekun selalu mengikuti pelajaran baca-tulis. Ibu Sinder ingin lebih mendalami tulis-menulis huruf Latin. Benar ia memang pernah memperolehnya sewaktu masih kecil, tapi jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan penguasaan huruf Jawanya. Dalam jangka waktu yang singkat Ibu Sinder sudah dapat menguasai sepenuhnya bacaan-bacaan berhuruf Latin.

Pikirnya, mengapa ia tidak dulu-dulu meningkatkan kemahiran berhuruf Latin itu. Seperti orang-orang lainnya, bahasa Indonesia dipahaminya sambil jalan dan kini koran menjadi bacaannya sehari-harinya, sekalipun koran-koran bekas yang dijelajahinya. Ia tidak malu-malu untuk bertanya kepada Bu Salyo atau Bu Mirah kalau ia tidak mampu untuk memahami sesuatunya. Dalam pada itu, Bu Mirah yang selalu mencoba untuk menutup-nutupi tingkat kepandaiannya, lambat-laun tidak bisa lagi menyembunyikannya. Penguasaan Bahasa Belandanya masih tetap ditutup-tutupinya dengan rapatnya, apalagi latar belakang kehidupannya. Ibu Sinder maupun Ibu Salyo tetap menahan diri untuk tidak bertanya-tanya. Mereka merasakan bahwa Bu Mirah ingin melupakan masa lampaunya.

Setapak demi setapak latihan-latihan dan pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh tiga wanita berbeda usia itu membawa hasil yang menggembirakan. Di antara wanita-wanita asuhan mereka ada yang meninggalkan pekerjaannya yang tak layak itu. Ada yang menjadi penjual jamu keliling, penjual nasi pecel, menjadi pekerja batik, bahkan ada yang mampu membuka warung kecil-kecilan. Bu Mirah-lah yang mendukung usaha wanita-wanita itu dengan sedikit modal.

Sebenarnya Bu Mirah mampu berbuat banyak lagi, tapi ia tidak ingin dinilai oleh lingkungannya sebagai seorang janda yang berada, menurut ukuran Kampung Balokan. Usaha candak-kulak tetap dilakukan dan berjalan lancar, tidak lagi terbatas pada jual-beli pakaian, kain-kain saja, tapi sudah berkembang sampai jual-beli perhiasan, sekalipun kadang-kadang cadangan perhiasan sendiri yang diperdagangkan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Di luar Balokan revolusi kemerdekaan berlangsung dengan dahsyatnya. Wanita-wanita sesat jalan itu juga tidak luput dari dampak revolusi. Pemuda-pemuda pejuang juga menjadi pengunjung setia kampung itu.

Persetujuan Linggarjati ditandatangani, namun harapan untuk mencapai suatu penyelesaian secara tuntas merupakan suatu impian belaka. Di Balokan sendiri sedang berlangsung revolusi perbaikan nasib wanita-wanita sesat yang dibina oleh tiga serangkai: Ibu Sinder, Bu Salyo, dan Bu Mirah, sekalipun lamban lajunya dan terbatas pada kelompok-kelompok tertentu saja.

Tanggal 21 Juli 1947. Belanda mengadakan serbuan umum di semua medan pertempuran. Pecahlah Agresi Militer Belanda yang pertama. Pasukan-pasukan Belanda yang sudah diperkuat dengan kehadiran Divisi 7 Desember yang didatangkan dari Negeri Belanda itu mampu memperluas wilayah pendudukannya.

Di samping lewat radio. Ibu Sinder kini mengikuti perkembangan bangsa lewat surat-surat kabar. Ia masih tetap harus banyak bertanya kepada Bu Salyo dan Bu Mirah.

Pagi itu Ibu Sinder sedang asyik membatik. Berita-berita pertempuran mencemaskannya. Ia mengkhawatirkan kemenakannya yang sudah agak lama tak kunjung muncul. Cinta kasih Ibu Sinder tertumpah pada Herman. Pemuda tentara yang diharap-harapkan kedatangannya itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Ibu Sinder bangkit dan langsung memeluk kemenakannya.

Setelah Herman mandi dan berganti pakaian. Ibu Sinder dan kemenakannya itu lalu duduk-duduk di atas kursi tamu di ruang depan. Mengamati wajah kemenakannya. Ibu Sinder serta-merta teringat pada anaknya, Suhono, yang sampai saat itu belum ada beritanya. Ibu Sinder juga melihat bahwa Herman agak berwajah murung.

"Kau tampak kurang gembira, Her. Ada apa?"

Lama Herman terdiam. Ibu Sinder bertanya lagi, "Apa kau sedang mengemban tugas yang berat, Ngger?"

"Aku baru saja kembali melaksanakan tugas. Bu. Mengungsikan kereta-kereta api dari Purwokerto ke Yogya dan Sala. Cukup berat, penuh rintangan, tapi atas restu Ibu berhasil dengan baik."

(Baca: Kereta Api Terakhir, Pandir Kelana.)

"Lha apa yang kaurisaukan, Her? Itu kalau aku boleh tahu," tanya budenya.

Lama Herman tidak menjawab, kemudian ia berkata, "Nasib, nasib. Bu. Aku berjumpa seorang gadis. Cantik, Bu, tinggi, langsing, tapi tidak kurus, pekulitannya jatuh sedang, tapi ia itu gadis penuh teka-teki."

Ibu Sinder kini mulai tertarik akan cerita kemenakannya itu.

"Lho, teka-teki apa, Ngger?"

"Di Purwokerto aku berjumpa dengan seorang gadis yang benar-benar gadis idamanku. Candra-nya seperti yang kukatakan tadi. Yaa sepertiiiii... siapa yaaa?" lanjut Herman.

"Dewi Larasati, begitu, Her."

"Ibu ini setiap wanita selalu dicari-cari persamaannya di dunia pewayangan. Gambaran Dewi Larasati itu bagaimana ya. Bu?"

'Tinggi, langsing berisi, kulit jatuh sedang,, wajah manis, tidak kenes, tapi kalau berbicara selalu kena, merak ari, nggemesake dan pandai masak," jawab Ibu Sinder sambil tersenyum.

"Itu, itu, Bu! Ya begitu itu candra-nya gadis itu. Nah, tapi Bu, terbukti dia sudah punya calon. Di Stasiun Purwokerto ia menghilang bersama calon suaminya. Lemes aku, Bu. Kereta api yang kukawal berangkat, dinihari. Eee, tiba-tiba saja ada seorang gadis berlari-lari mengejar kereta api. Ia ingin ikut, padahal kereta penumpang dan gerbong-gerbong sudah penuh, sampai di atap kereta. Aku terkejut bukan main. Yang lari-lari itu Retno, gadis idamanku itu. Cancut tali wondo aku. Kusaut gadis itu, sehingga dia berhasil naik lori yang kutumpangi. Tapi setelah kuamati dengan saksama, dia bukan Retno. Rupanya sama, Bu. Dalam segala hal sama, ya badannya, ya pekulitan-nya, ya lagean-nya, ya wajahnya. Semua sama, sampai bajunya, Bu, tapi aku yakin dia bukan Retno. Bedanya terletak pada ciri khas gadis yang baru itu. Ia memiliki tahi lalat tepat di antara dua alisnya. Retno tidak punya. Jelas itu, Bu."

Mendengar cerita kemenakannya itu Ibu Sinder mengangguk-angguk.

"Nekat aku, Bu," lanjut Herman. "Kutanyakan padanya, apa dia punya saudara yang bernama Retno Windrati. Tidak katanya. Saudara kembar. Juga tidak. Kemenakan, juga tidak. Aneh, Bu. Dan yang sangat menjengkelkan, dia tidak mau menyebut namanya, siapa orangtuanya, dan di mana dia tinggal. Baru di Sala ia memberikan namanya kepadaku. Entah ngarang entah tidak. Namanya Retno Widuri. Kutanyakan kepadanya, bagaimana aku bisa menghubunginya. Jawabannya tidak masuk akal. Dialah yang akan menghubungi aku. Kuberikan kepadanya alamat Bude di sini. Sekalipun aku seperti dipermainkan saja, tapi ia memberikan suatu kepastian padaku. Ini Bu, lihat, cincin bermata mirah ini diberikannya kepadaku. Ini, Bu."

Ibu Sinder mengamati cincin bermata mirah yang terselip pada jari kelingking kemenakannya. Ia mengangguk-angguk lalu berkata, "Jangan sampai hilang, Her. Merah delima asli."

"Ada hal yang aneh lagi. Bu," Herman melanjutkan, "Retno yang satunya itu juga memiliki cincin bermata mirah seperti ini. Persis, Bu. Apa aku ini diganggu setan. Bu?"

Lama Ibu Sinder diam, tidak menanggapi apa yang diceritakan oleh kemenakannya itu. Ibu Sinder menduga, bahwa dua wanita itu anak kembar yang dipisahkan. Dua-duanya tidak tahu bahwa mereka anak kembar. Tentu kelahiran anak kembar itu serba istimewa. Hari lahirnya jatuh pada weton ibunya, mungkin jamnya malah sama. Supaya tidak ada aral melintang, menurut kepercayaan orang Jawa, salah satu harus diberikan pada orang lain. Itu dirahasiakan. Kebetulan kemenakannya berjumpa dengan mereka berdua di satu tempat bersamaan waktu. Pikir Ibu Sinder, tidak baik kalau kemungkinan itu kukatakan pada Herman, apalagi nanti Herman yang membuka rahasia itu, bukannya orangtuanya. Kemudian Ibu Sinder berkata, “Tidak mustahil, Her, ada orang yang begitu mirip satu dengan lainnya. Yang penting bagimu ya gadis yang memberimu cincin bermata mirah itu. Lupakan yang lain, ia sudah punya calon. Kalau ia tidak bersedia memberi alamatnya kepadamu, tentu tidak tanpa alasan. Apa dia masih legan, masih bebas?"

"Itu kutanyakan juga, Bu, dan aku yakin ia tidak berbohong. Ia masih prei, Bu."

"Ia telah berjanji untuk menghubungimu, Ngger! Tunggu saja kelanjutannya bagaimana."

"Justru itu. Bu, yang membuatku penasaran," kata Herman. "O ya lupa aku. Nuwun sewu. Bu, aku juga cerita tentang Bude. Begitu tertariknya gadis itu pada apa yang kuceritakan, sampai ia sungguh-sungguh ingin bertemu dengan Bude. Surat untukku nanti juga akan dijatuhkan di sini. Bu."

"Nah, istirahat saja dulu, Her. Ia pasti akan menyuratimu, bahkan akan mencarimu di sini. Tidak begitu saja Retno memberikan cincinnya kepadamu. Kukira cincin itu pemberian orangtuanya. Sesuatu yang sangat berharga baginya diberikan begitu saja padamu, Her. Artinya banyak itu."

Keesokan harinya Herman meninggalkan rumah budenya dan beberapa minggu kemudian Ibu Sinder menerima surat dari kemenakannya. Herman bertugas di sekitar Lamongan, Jawa Timur. Herman memberikan alamatnya kepadanya: Letnan Satu Herman, d.a. Markas Pertempuran Ronggolawe I, Lamongan, Jawa Timur—dengan pesan, apabila ada surat dari Retno Widuri supaya dikirimkan kepadanya.


Jalannya revolusi semakin rumit dan kompleks. Gejala perpecahan terasa akan meningkat di antara kekuatan sosial yang mendukung dan menolak Persetujuan Linggarjati. Bulan Agustus 1947. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memerintahkan penghentian tembak-menembak kepada Republik dan Belanda. Dianjurkan agar kedua belah pihak kembali ke jalan perundingan.

Pada tanggal 4 Agustus penghentian tembak-menembak antara pasukan-pasukan Republik dan Belanda diumumkan. Agresi Belanda yang pertama telah lewat dan menjadi kenyataan sejarah. Wilayah Republik menjadi semakin sempit.

Ibu Sinder tetap tekun mengikuti berita-berita lewat radio dan kadang-kadang ia memperoleh koran-koran. bekas dari Bu Salyo yang berita-beritanya sudahi ketinggalan beberapa hari.

Pagi itu Ibu Sinder sedang menjelajahi berita-berita yang termaktub dalam koran usang. Tiba-tiba Ibu Sinder dikejutkan oleh suara seorang wanita: "Kulo nuwun." Melihat ke arah pintu yang terbuka, terbayang olehnya samar-samar seorang wanita yang tinggi langsing. Sambil melepaskan kacamatanya Ibu Sinder menjawab, "Monggo, silakan." Berdiri di hadapannya seorang wanita remaja tinggi langsing berisi, wajah manis menarik, pekulitan jatuh sedang. Cepat Ibu Sinder tanggap bahwa wanita yang di hadapannya itu tak lain ialah wanita yang dipersoalkan oleh kemenakannya, tapi segera ia melihat bahwa wanita itu tidak memiliki tahi lalat di antara alisnya. Bukan, ini pasti yang satunya, pikir Ibu Sinder.

Ibu Sinder yang hanya berdiri mematung tanpa berkata-kata dan mengamati dari ubun-ubun sampai kaki membuat tamu itu menjadi agak gelisah. Agak ragu wanita itu berkata, "Aku Retno Windrati, Bu. Teman Herman. Apa Mas Herman kemenakan Ibu?"

"Ooo, maaf, maaf, ada tamu tidak ku-monggo-kan. Mari, mari silakan duduk. Jeng." Setelah Windrati duduk Ibu Sinder bertanya, "Mau minum apa. Jeng? Aku hanya punya kopi dan teh."

“Tak usah repot-repot. Bu. Hanya sebentar kok."

"Eee, kopi ya. Jeng. Kebetulan aku punya kopi murni," Ibu Sinder dengan akrabnya menawarkan.

"Baik, Bu, tapi jangan kental-kental."

Sambil tersenyum Ibu Sinder masuk ke dalam rumah dan tak berapa lama kemudian ia muncul kembali membawa dua cangkir kopi. "Silakan, silakan. Jeng. Sudah tidak begitu panas lagi," kata Ibu Sinder.

Sambil minum Windrati merasa bahwa dirinya sedang diamati oleh Ibu Sinder.

"Betul, Jeng, aku budenya Herman," kata Ibu Sinder. "Herman bertugas di Lamongan sekarang. Ada keperluan apa. Jeng?"

"Kalau sekiranya Ibu tidak berkeberatan, aku hanya ingin titip surat saja untuk Mas Herman. Maaf, Bu, aku tidak dapat tinggal lama. Masih ada keperluan lain."

Ibu Sinder merasa bahwa tamunya itu tidak ingin berbicara banyak-banyak. Ia tampak gelisah saja, takut kalau Ibu Sinder akan banyak bertanya.

Setelah surat untuk Herman itu disampaikan, Windrati meninggalkan rumah Ibu Sinder. "Kapan-kapan aku sowan lagi. Bu," kata Windarti waktu hendak pergi.

Sepeninggal tamunya itu Ibu Sinder membaca alamat si pengirim: Retno Windrati, d.a. Raden Patah, Pakem, Yogyakarta.

"Layak Herman nibotangi."

Segera Ibu Sinder memasukkan surat itu dalam amplop yang sudah berperangko, menulis alamat Herman, berdandan asal saja, lalu pergi mengeposkan surat. Kotak pos umum letaknya tidak jauh dari rumah.

Beberapa minggu kemudian Herman datang. Diceritakannya kepada budenya bahwa ia telah menerima surat Windrati. Windrati minta menemuinya di Pakem. "Besok pagi aku akan langsung ke Pakem, Bu," kata Herman.

Sengaja Ibu Sinder tidak banyak bercerita tentang kehadiran Windrati di rumahnya. "Cantik memang wanita" itu," itu saja komentarnya. "Kalau yang lain juga secantik itu, pantas untukmu, Her."

"Maunya, Bu," kata Herman bersungut-sungut.

Keesokan harinya Herman berangkat menuju Pakem, dekat Kaliurang. Ibu Sinder sendiri sangat berkeinginan untuk mendengar hasil pertemuan Herman dan Windrati. Baru beberapa hari kemudian Herman muncul lagi di hadapannya. Ia tampak gembira bercampur bingung. Kata kemenakannya itu, "Sudah kuduga semula, Bu, Windrati dan Widuri anak kembar, dipisahkan satu dengan lainnya. Mereka tidak tahu bahwa mereka punya saudara kembar. Orang-tua masing-masing merahasiakannya. Akhirnya mereka bertemu di Pakem. Itu ringkasnya. Bu, apa mungkin ada wanita kembar yang dalam segala hal sama. Bu?"

“Tidak mustahil, Ngger, tapi biasanya perangainya tidak sepenuhnya mirip, selalu ada kelainan-kelainan, bagaimanapun mirip lahiriahnya. Nakula dan Sadewa secara lahiriah sama, seperti jambe sinigar, tapi perangainya berbeda. Apa dua wanita itu lahiriah dan perangainya sangat berdekatan?"

"Aneh, aneh, Bu. Kehidupan daya tarik dan daya ikat batin dua gadis itu begitu kuat. Apa yang dialami dan dirasakan oleh yang satu bisa dihayati oleh yang lain, tentu pada waktu-waktu tertentu. Pada saat-saat tertentu apa yang kualami bersama Widuri dalam perjalanan kereta api itu, dihayati pula oleh Windrati, Bu. Akhirnya rasa kasih sayang dua gadis itu tertumpu padaku. Widuri mengalah, dengan berbagai pertimbangan yang semula sulit untuk bisa diterima oleh Windrati, namun akhirnya Windrati sadar akan keadaan Widuri. Widuri masuk biara, Bu. Anehnya, Windrati bagiku tak ubahnya seperti Widuri saja. Aku gembira, bahagia, tapi kalau aku ingat bahwa Widuri sampai masuk biara, sedih juga rasa-rasanya."

"Her, aku dapat ikut merasakan apa yang sedang kauderita sekarang ini. Jangan kau terlalu tergesa-gesa mengira bahwa Widuri masuk biara itu adalah suatu pelarian. Kukira tidak, Ngger. Panggilan cinta yang lebih luhur sifatnya yang menentukan pilihannya. Widuri mengalah, tapi hakikatnya dialah sebenarnya yang memperoleh kemenangan. Ia sudah berada dalam pangkuan cinta kasih Allah di dunia yang fana ini."

Herman mengangguk-angguk. Ia merasa lega dengan apa yang dikatakan oleh budenya itu, sebab ia sendiri juga mempunyai keyakinan itu.



Ibu Sinder tidak mengeluh tentang nasibnya di Gandekan itu. Saudara-saudaranya tidak ada lagi yang menjenguknya. Ibu Sinder dapat memahaminya. Mereka malu untuk datang. Sekalipun demikian, ia tidak ada niat sama sekali untuk pindah tempat. Ia merasa bahagia dapat berbuat sesuatu untuk sesamanya yang memerlukan kasih sayang, apalagi dengan adanya Bu Mirah itu ia merasa dirinya lebih berguna. Hidupnya hanya untuk anaknya Suhono. Ibu Sinder tahu bahwa Suhono tidak akan merasa terhina dengan kehadiran ibunya di kawasan Balokan itu. Pendapat dan tanggapan orang lain tidak penting baginya.

Pulang dari pasar, seorang laki-laki berusia menjelang empat puluhan sudah menunggunya. Pembantunya, Jakem, sudah menjamunya dengan minuman. Tamu itu memperkenalkan dirinya dengan nama Subronto.

"Bu, kiranya aku tak perlu bicara berputar-putar. Aku hanya ingin minta nasihat, Ibu," ucap Pak Bronto.

"Nasihat apa, Dik? Kalau aku bisa membantu, mengapa tidak? Tapi kalau aku tidak bisa membantu Dik Bronto ya maaf saja," kata Ibu Sinder.

"Barangkali apa yang akan kukemukakan ini akan mengejutkan Ibu," kata Subronto, "tentu Ibu kenal dengan wanita yang bernama Sarti."

"Ya aku kenal. Ia kadang-kadang kemari."

"Sarti banyak bercerita tentang Ibu. Aku hendak mengawini Sarti, Bu," lanjut Subronto.

Ibu Sinder diam, ia hanya mengamati tamunya. Pikirnya, apa benar yang dikatakan tamunya itu. Ibu Sinder tahu bahwa di antara wanita-wanita asuhannya itu ada yang semula dikawini orang, tapi perkawinan yang sifatnya tipu muslihat belaka. Setelah dikawini dan dinikmati, akhirnya laki-laki jahanam itu menjerumuskan wanita-wanita itu ke Balokan. Tapi persoalan yang kini sedang dihadapinya itu lain sama sekali sifatnya. Tamunya itu akan berbuat yang sebaliknya. Subronto hendak mengawini wanita yang sudah terlanjur tersesat di Balokan itu. Ibu Sinder tahu bahwa Sarti terjerumus di kampung maksiat itu karena bujukan teman-temannya. Tahu-tahu Sarti sudah tak mampu keluar dari sumur kenistaan. Kembali ke desanya lagi sudah tak mungkin, karena kehadirannya di Balokan sudah diketahui oleh orang-orang sedesanya. Ibu Sinder tahu, Sarti hatinya baik dan ada harapan ia bisa menjadi wanita yang baik bila kesempatan itu ada padanya. Sarti sedang menekuni batik-membatik.

"Apa Dik Bronto bersungguh-sungguh?" tanya Ibu Sinder.

"Aku memang bersungguh-sungguh, tapi nasihat Ibu akan sangat menentukan ya atau tidaknya. Terus terang, Bu, semula Sarti hanya langganan iseng saja, tapi lambat-laun aku menyukainya dan kini aku tidak rela lagi Sarti dimiliki orang lain. Bagaimana kemungkinannya, Bu? Apa Sarti bisa menjadi seorang istri yang baik. Ibu tahu apa yang kumaksudkan."

Sekali lagi Ibu Sinder diam. Sulit baginya untuk memberikan jaminan, bahwa Sarti akan menjadi wanita yang baik, menjadi istri yang setia. Ibu Sinder ingat akan pengalaman Tardiyo. Ia mengawini seorang wanita sesat jalan. Bulan-bulan pertama segala sesuatunya berjalan dengan baik, tapi kemudian ada masa-masa di mana jiwa wanita itu bergolak. Lari dari suaminya dan mengulang kembali pekerjaannya di Balokan. Begitu sabarnya Tardiyo menghadapi tingkah laku istrinya itu. Istrinya dibawanya kembali pulang. Tapi hal semacam itu masih saja berlangsung. Berapa lama Tardiyo bisa bertahan?

"Kalau Dik Bronto minta jaminan kepadaku, aku tidak dapat memberikan. Dik, dan dengan sangat menyesal aku belum dapat memberikan nasihat apa pun sekarang. Langkah yang akan ditempuh Dik Bronto begitu sangat terpuji. Aku perlu minta pertimbangan Bu Mirah. Apa Pak Bronto kenal dengan Bu Mirah?"

"Siapa yang tidak pernah mendengar nama Bu Mirah," jawab Subronto. "Aku sendiri secara pribadi belum mengenalnya, tapi aku telah mendengar banyak tentang usahanya di Kampung Balokan ini. Malah kadang-kadang aku tidak habis berpikir, mau-maunya Bu Mirah bermukim di Balokan, padahal kalau dia mau, bermukim di mana pun ia mampu. Baiklah, Bu, kalau begitu. Kapan aku dapat sowan kembali. Bu?"

"Datanglah lusa malam. Dik."

Subronto lalu pamit dan meninggalkan rumah Ibu Sinder.

Ibu Sinder langsung menyuruh pembantunya untuk menyampaikan surat kepada Bu Mirah. Semula ia berniat untuk datang sendiri ke rumah Bu Mirah, tapi dibatalkannya. Harinya kurang cocok, sebab hari itu sedang ada latihan masak-memasak di rumah Bu Mirah.

Keesokan harinya Bu Mirah datang. Langsung dua wanita itu membicarakan maksud kedatangan Subronto. Mendengar penjelasan Ibu Sinder itu Bu Mirah bertanya, "Pekerjaan Subronto apa. Bu?"

"O ya aku lupa bertanya. Apa itu penting. Jeng?"

"Penting, Bu," jawab Bu Mirah. "Ibu tentu maklum, Sarti bukannya anak desa lagi, yang mau hidup sesederhana mungkin. Ia sudah terbiasa dengan pakaian yang serba baik, sekalipun itu pinjaman. Ia sudah terbiasa mengenakan perhiasan-perhiasan yang menyolok, sekalipun itu semua barang sepuhan, barang tiruan. Sarti tidak bisa begitu saja melepaskan kebiasaan itu. Lambat-laun kebiasaan itu tentu bisa diubah, tapi makan waktu. Bu."

"Kau benar. Jeng, tapi bagaimana pendapat Jeng Mirah?" tanya Ibu Sinder.

“Tentang Sarti sendiri, ada harapan bisa kembali ke kehidupan yang wajar, tapi itu juga sangat tergantung pada sikap Pak Bronto. Ia harus memiliki kesabaran dan bersedia berkorban. Sebaiknya kita jelaskan segala kemungkinan itu kepada Pak Bronto dan sebaiknya Ibu Sinder yang menyampaikannya. Aku akan bicara dengan Sarti, tidak terang-terangan secara langsung. Bu, sebab kita belum tahu apa Pak Bronto sudah membicarakannya dengan Sarti," jawab Bu Mirah.

Sesuai dengan apa yang telah disepakati antara Ibu Sinder dan Subronto, Subronto datang lagi ke rumah Ibu Sinder. Ia masih tetap pada pendiriannya untuk menikahi Sarti.

Dengan tenang dan mantap Ibu Sinder menjelaskan kesulitan-kesulitan yang akan timbul sesudah perkawinan itu berlangsung.

"Kemungkinan-kemungkinan itu sudah kuperhitungkan dan kupertimbangkan masak-masak. Bu, namun mungkin aku masih memerlukan nasihat-nasihat lebih lanjut. Tidak untuk diriku saja, tapi juga untuk Sarti. Aku juga mohon agar Ibu Sinder suka memberikan nasihat-nasihat kepada Sarti."

"Apa kau sudah meminangnya. Dik?"

"Belum, Bu, dari sini aku akan langsung menjumpainya. Aku sudah berjanji."

Sementara itu Bu Mirah juga sudah memberikan petuah-petuahnya kepada Sarti di rumahnya.

“Tik, seandainya ada orang yang ingin me-ngawinimu, apa pendapatmu. Tik?"

"Mustahil, Bu, ada orang yang masih mau mengawiniku. Paling-paling aku hanya dijadikan langganan tetapnya saja, lebih tidak."

"Kalau kemungkinan itu ada bagaimana?" sekali lagi Bu Mirah bertanya.

"Aku hanya ingin mendapatkan kepastian dari orang itu apa dia mau menerima aku seperti aku sekarang ini. Titik," jawab Sarti. "Bila ia sanggup, Sarti tak akan mengecewakan. Masih ada tapinya. Bu. Ya, terus terang saja aku juga mempunyai hak untuk menerimanya atau menolaknya. Kalau orangnya seperti Bah Tong, biar kaya seperti apa pun, emoh aku untuk dijadikan istrinya. Yaa, tak usah seganteng Den Herman, separuhnya bolehlah."

Mendengar nama Herman disebut-sebut itu Ibu Mirah tertawa lalu berkata, "Jangan kaubawa-bawa Den Herman, Tik."

Sarti ikut tertawa lalu berkata, “Tidak, Bu, hanya bergurau saja. Teman-teman banyak yang kepingin ditiduri Den Herman, tapi semua menghormatinya. Bu, dan kebetulan Den Herman memang bukan orang yang suka iseng. Entah di tempat lain. Sungguh, Bu, sering kami bergurau. Yang pantas bagi Den Herman hanya Bu Mirah sendiri."

"Hus, jangan omong seenaknya kau ya. Awas!" kata Mirah. Bagi Mirah percakapan yang demikian itu dianggapnya wajar-wajar saja. Ia sadar di mana ia berada dan dengan siapa ia bicara. “Tik, apa kau pernah memiliki langganan tetap?" pancing Bu Mirah.

"Pernah, Bu, sekarang pun masih langgananku, tapi agak aneh orang itu. Ia marah-marah kalau aku main dengan orang lain. Dia kan tahu, itu pekerjaanku. Orangnya baik sekali. Umurnya sih sudah empat puluhan, tapi masih kelihatan muda. Terus terang ya, Bu, dia satu-satunya orang yang mampu memberikan kepuasan kepadaku. Kalau yang lain, kosong blong. Tapi ya bagaimana lagi. Yaaa, pura-pura puas saja, Bu, biar tamu-tamu itu puas, lega, dan mau datang lagi".

"Kalau orang itu memintamu jadi istrinya bagaimana?" tanya Mirah.

"Mau, mau, biar nggak kecukupan asal bisa memberi penghidupan dan pengayoman kepadaku, aku akan setia padanya. Kiting, Bu, aku tidak bohong."

Kini Bu Mirah mendapat kepastian bahwa Sarti memang suka kepada Pak Subronto. Sekalipun itu belum bisa dipakai sebagai jaminan, tapi harapan akan menjadi baik ada. Cepat-cepat Mirah menyampaikan hasil wawancaranya itu kepada Ibu Sinder.

Akhirnya perkawinan dilangsungkan. Pikir Ibu Sinder, "Kita tunggu saja perkembangannya lebih lanjut. Semoga Tuhan memberkati."



Pada suatu malam datang Bu Mirah untuk berbincang-bincang. Dengan tabungan simpan-pinjam, wanita-wanita asuhannya sudah mampu mengurangi ketergantungan pada Bah Tong dan tabungan itu juga dapat membantu mereka yang kekurangan uang pada saat pembayaran pemondokan harus dilakukan.

Sedang asyiknya berbincang-bincang tiba-tiba saja Ibu Sinder dan Bu Mirah mendengar jerit seorang wanita, disusul dengan ratap tangis. Begitu kerasnya tamparan seorang induk semang yang mendapat julukan "Bu Blekok" itu, sampai terdengar pula oleh Ibu Sinder dan Bu Mirah. Pondokan Bu Blekok tidak begitu jauh dari rumah Ibu Sinder. Wanita yang tergolong masih muda usia untuk seorang induk semang itu posturnya tinggi kurus kering. Sudah beberapa kali Ibu Sinder mendekati Bu Blekok untuk mencoba melunakkan sikapnya yang kejam itu, tapi tetap kurang membawa hasil. Mendengar rintihan wanita yang baru dihajar itu Bu Mirah bangkit hendak menolongnya, tapi Ibu Sinder mencegahnya dengan berkata, "Sabar, Jeng, tak ada gunanya sekarang. Jeng Mirah sendiri tahu bahwa perlakuan semacam itu masih saja terjadi. Tidak di tempat itu saja."

Bu Mirah mengangguk, dan dengan mata berkaca-kaca ia lalu berkata, "Akan kutangani pondokan sebelah itu. Masih saja banyak wanita yang kurang percaya akan manfaat paguyuban simpan-pinjam itu. Wanita-wanita itu sulit untuk disuruh belajar menabung."

“Tak perlu putus harapan. Jeng," Ibu Sinder menanggapi. "Biar lamban asal bisa berhasil."

Pembicaraan Ibu Sinder dan Bu Mirah terhenti oleh munculnya dua pemuda berseragam yang begitu saja masuk rumah. Herman dan temannya, Bargowo (Baca: Rintihan Burung Kedasih, Pandir Kelana). Bu Mirah segera dapat mengenali pemuda jangkung dan ganteng itu. Herman memperkenalkan Bargowo kepada Ibu Sinder dan Bu Mirah. Herman menggandeng budenya masuk, Mirah menemani Bargowo duduk di ruang tamu yang sempit itu.

Herman membuka ranselnya lalu mengeluarkan sehelai kain baju. "Oleh-oleh untuk Ibu," katanya.

Ibu Sinder mengamatinya lalu berkata, "Pandai kau memilihkan, Her. Sesuai untuk seorang setua aku ini. Terima kasih."

Sementara itu Mirah dan Bargowo hanya saling mencuri pandang saja. Ibu Sinder dan Herman muncul kembali lalu menempati dua kursi yang masih kosong. Kini Mirah dapat dengan lebih leluasa mengamati Bargowo, kalau Bargowo sedang berbicara dengan Herman atau dengan Ibu Sinder. Pikir Mirah, pemuda itu sudah benar-benar dewasa sekarang. Syukurlah, ia tidak mengenaliku kembali.

Pembicaraan kemudian melaju sampai pada soal siapa Mirah itu. Kata Bu Sinder, "Nak Bargowo, mbakyumu ini bukan bakul candak-kulak sembarangan. Intan berlian pun di-candak-ku-lak-kan lho."

"Ibu ini lho, membuka-buka rahasia," kata Bu Mirah.

Herman yang sudah mengenal Bu Mirah sebelumnya hanya diam saja.

"Mbakyu, kalau aku di-candak-kulak-kan laku berapa?" potong Bargowo.

Mendengar kata-kata Bargowo itu Ibu Sinder tersenyum. Bu Mirah yang tertawa renyah.

"Kalau Den Bargowo yang gagah perkasa itu, mahal. Aku sendiri yang akan membeli. Cukup kuat untuk mengisi bak kamar mandi di rumahku," jawab Bu Mirah gurau.

Bargowo tertawa lalu menanggapi, "Apa Mbak Mirah tidak punya pembantu? Kubantu mengisi bak nanti, asal dikasih makan yang cukup saja."

"Awas, Mbak," potong Herman, "yang namanya Bargowo alias Birowo alias entah siapa lagi ini, sudah terkenal paling suka makan dan banyak lagi."

"Jangan khawatir, Den, aku akan menyediakan nasi sak ceting penuh," jawab Ibu Mirah.

Baik Bu Mirah maupun Bargowo sadar bahwa Ibu Sinder tampak sudah kangen dengan Herman. Begitu Bu Mirah minta diri kepada Ibu Sinder, Bargowo juga berpamitan.

"Maaf, aku juga mau pulang, Bu, ditunggu kawan-kawan di pondokan, sekaligus mengantar Mbak Mirah," katanya.

“Terima kasih, Den," tanggap Bu Mirah. "Aku bisa pulang sendiri. Rumahku di tengah-tengah Balokan sana. Tidak pantas untuk dikunjungi Den Birowo."

Jawab Bargowo bergurau sambil tertawa lebar, "Aku bukan anak kecil lagi. Mbak. Barangkali aku lebih mengenal Balokan daripada Mbak Mirah." Bargowo pun lalu mengantar Bu Mirah pulang.

Sehabis mandi dan makan malam bersama Bu Sinder, Herman lalu menunggui budenya yang berbaring-baring di atas tempat tidur.

"Kau kelihatan resah, Her?"

"Ibu selalu tahu apa yang sedang kurasakan. Aku mengkhawatirkan persatuan bangsaku ini. Bu. Semenjak Perjanjian Renville ditandatangani, perpecahan antara kita dengan kita semakin memuncak. Apalagi Muso kembali ke tanah air. Kalau begini terus-terusan, bakal pecah perang saudara, padahal Belanda itu sedang siap-siap untuk menyerbu kembali."

"Mudah-mudahan apa yang kaurisaukan itu tak akan terjadi. Tapi kalau semuanya itu memang sudah kehendak Yang Mahakuasa, ya mau apa? Bharatayuda itu pada hakikatnya juga perang saudara. Pihak yang benar pasti akan menang, bagaimanapun beratnya cobaan-cobaan yang menimpanya."

"Aku tidak memuji lho. Bu. Aku kagum, benar-benar kagum, Bu."

"Apa yang kaukagumi, Her?" Ibu Sinder bertanya.

"Begitu kerasnya kemauan. Ibu. Setua Bude masih mau belajar. Tekun mengikuti perkembangan keadaan. Menjelajahi isi koran."

"Orang tak akan pernah terlalu tua untuk belajar, Ngger," jawab Bu Sinder. "Apa yang masih dapat kukejar akan kukejar. Kalau masih pantas untuk duduk di bangku sekolah begitu, aku masih mau juga. Yaa mumpung ada kesempatan. Bu Salyo dan Bu Mirah begitu baik. Sabar menjelaskan hal-hal yang tidak dapat kupahami. Tuntunan mereka begitu berharga bagiku. Jangkauan pengetahuanku tentang bumi Indonesia ini semakin bertambah meluas, serba terbatas tentunya. Duniaku yang lampau hanya terbatas pada cerita, kisah, serat, dan babad saja. Aku menikmatinya memang, tapi aku kurang berpijak pada kenyataan hidup kekinian.

"Bayangkan, Her, baru beberapa waktu yang lalu aku paham apa Indonesia itu. Baru aku tahu bahwa yang namanya Indonesia itu terdiri dari pulau-pulau besar-kecil, baru tahu di mana letak kota Ambon. Mungkin karena Suhono berada di Ambon itulah menjadi cambuk bagiku untuk lebih tahu tentang Indonesia. Ketahuilah, Her, apa yang kudapat di sekolah lingkungan Keraton itu belum mampu untuk membuka mata dan telingaku. Lain dengan ibumu, Her. Warsih sampai mencapai tingkat MULO, cas-cis-cus berbahasa Belanda, tapi kau jangan salah paham, Ngger. Aku tak pernah menyesal."

Sambil geleng-geleng kepala Herman bergumam, "Coba, andaikata Bude mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, pasti luar biasa. Bu. Bude pasti akan bisa menjadi profesor seperti Purbatjaraka. Javanicus yang hebat. Sayang, sayang...."

"Jangan mengada-ada kau, Her. Aku hanya ingin memahami duniamu saja sekarang ini. Lebih tidak. Sudah malam, istirahatlah," kata Bu Sinder sambil tersenyum.



Pagi iru Ibu Sinder tidak sedang membatik. Ia hanya duduk-duduk saja di tikar pembatikan. Angan-angannya saja yang sedang mengembara. Semenjak Herman bertemu dengan Ivonne, ia masih saja belum memperoleh berita tentang Suhono, tapi firasatnya memberi petunjuk padanya bahwa anaknya selamat. Suara gamelan lirih-lirih melatarbelakangi lamunan Ibu Sinder. Sekonyong-konyong suara gamelan menghilang, disusul dengan siaran berita pemerintah. Ibu Sinder bangkit dari tempat duduknya, menuju ke pesawat radio, memutar-mutar kenop agar siaran pemerintah itu bisa lebih jelas terdengar. Ibu Sinder terkejut mendengar berita bahwa Muso dan kawan-kawannya memproklamasikan berdirinya Republik Sovyet di Madiun. Pemerintah akan bertindak tegas terhadap pengkhianatan itu. Dengan keterbatasan pengetahuannya Ibu Sinder mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Yang dapat dipahaminya ialah bahwa Muso mbaleb, memberontak terhadap Pemerintah. "Hakikatnya seperti Prabu Anom Kangsadewa, yang membentuk negara dalam negara Mandura, memberontak terhadap kekuasaan Prabu Basudewa," gumamnya.

Tak seberapa lama kemudian datang berlari-lari Bu Mirah. Masih dengan napas terengah-engah ia berkata, "Pemberontakan, Bu. Muso membentuk negara dalam negara. Memproklamasikan Republik Sovyet di Madiun."

"Kebetulan aku juga mendengarnya Jeng, lewat radio," jawab Bu Sinder. "Aku belum sejauh itu untuk dapat memahami persoalannya sepenuhnya. Jeng. Bagaimana duduk perkaranya?"

Sambil duduk timpuh di dekat Ibu Sinder, Mirah mencoba secara sederhana menjelaskan duduk perkara pemberontakan Madiun itu. "Muso dan kawan-kawannya membentuk Republik Sovyet, Bu. Republik Sovyet itu negara yang mengingkari adanya Tuhan. Pemerintah akan menumpas pengkhianat-pengkhianat itu."

"Apa itu berarti bahwa perang saudara tak dapat dihindari Jeng? Dalam cerita pewayangan juga ada kejadian semacam. Dalam lakon Kang-sadewa. Jeng."

"Ya, yaa, semacam itulah. Bu. Republik kita ini bertubi-tubi sudah mendapat percobaan."

"Jer busuki mawa bea, Jeng."

Mirah mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan. "Den Herman bertugas di mana. Bu?" tanya Mirah. "Pasti ia akan ikut bergerak ke Madiun juga."

Dari beberapa wanita asuhannya Ibu Mirah memperoleh kabar bahwa Bargowo sering muncul di rumah Ibu Sinder. Melihat gelagat Mirah, Ibu Sinder merasa bahwa Mirah tidak hanya ingin tahu di mana Herman, tapi yang ingin diketahuinya ialah di mana Bargowo berada. Mirah tahu bahwa Herman selalu bersama Bargowo.

"Aku kurang tahu. Jeng," jawab Ibu Sinder. "Akhir-akhir ini Herman tak pernah mengatakan padaku di mana ia bertugas dan sejak ia pulang yang terakhir itu ia belum pernah muncul. Menyurati pun tidak. Pejuang-pejuang itu seperti berlari-lari kian kemari saja."

Ibu Sinder melihat bahwa Mirah agak kecewa. Ia lalu mencoba memancing dengan berkata, "Herman biasanya bersama Nak Bargowo. Syukurlah ada kawannya."

Bu Mirah menunduk, air mata berlinang-li-nang, diam. Melihat Bu Mirah menangis Ibu Sinder berkata, "Kalau ada sesuatu yang ingin kaupercayakan kepadaku, katakan. Jeng. Aku akan mendengarkan."

Terdengar isak tertahan dan tanpa minta diri kepada Ibu Sinder, Mirah begitu saja meninggalkannya. "Nduk, kau sudah terlalu lama merendam derita," gumam Bu Sinder. "Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada anakku yang satu ini. Ampunilah, ampunilah."

Lewat jam dua belas malam sudah, RRI Jogyakarta telah menghentikan siarannya. Ibu Sinder masih saja duduk-duduk di ruang depan. Tiba-tiba pintu rumah diketuk orang. Melihat jam dinding Ibu Sinder bergumam, "Sudah jam satu dinihari. Bukan Herman, ketukannya terlalu halus."

Ibu Sinder bangkit, mendekati pintu lalu menyapa, "Sinten nggiih?"

"Aku, Bu, Mirah."

"Ooo, Jeng Mirah, mari, mari," kata Bu Sinder sambil membukakan pintu. Dalam keremangan lampu yang hanya lima belas Watt itu Ibu Sinder masih mampu melihat bahwa mata Mirah merah membengkak. Pikirnya, "Anakku habis menangis."

Setelah dua wanita itu duduk. Ibu Sinder bertanya, "Jeng, kau datang malam-malam tentu ada hal penting yang ingin kausampaikan. Ada apa, Jeng?"

Bu Mirah tidak menjawab, langsung ia turun dari kursi tempat duduknya, beralih duduk di lantai sambil erat-erat memegang lutut Ibu Sinder. Mirah menangis tersedu-sedu. Ibu Sinder membelai-belai rambutnya yang tebal, ngandan-andan, hitam-pekat itu, lalu berkata, "Aku bisa memahami apa yang sedang kaurasakan. Aku ibumu sendiri, Nduk, setidak-tidaknya pengganti ibumu. Katakanlah apa yang terkandung dalam hatimu, agar kau bisa lega." Ibu Sinder membiarkan Mirah tetap duduk di lantai.

Sambil meletakkan pipinya pada lutut Ibu Sinder, Mirah berkata, "Aku hendak waleh, Bu— hendak membuka rahasia hidupku di hadapan Ibu. Aku mohon dengan sangat Ibu suka mendengarkannya."

"Katakanlah, Nduk, aku akan mendengarkan," kata Ibu Sinder sambil membelai-belai rambut Mirah.

Mulailah Mirah mengungkapkan perjalanan hidupnya:

"Zaman Jepang aku seorang asisten apoteker. Aku bekerja di salah sebuah apotek di Semarang. Pada suatu hari ada pengumuman. Bagi yang memenuhi syarat diberikan kesempatan untuk sekolah dokter di Singapura, di luar Jawa, Bu. Aku lalu ikut ujian, lulus. Semula orangtuaku tidak menyetujui, karena tidak di Pulau Jawa, tapi aku tetap bersitegang. Orangtuaku terpaksa mengalah dan mengabulkannya. Ingat aku pesan Ibu, 'Nduk, waspadalah selalu. Kadang-kadang kau bisa keras kepala. Wujud lahiriahmu mampu menumbuhkan gejolak berahi laki-laki.’

"Aku memang sadar akan kekuatan dan kelemahanku. Aku diberangkatkan bersama beberapa calon mahasiswa laki-laki dan perempuan lainnya. Tiba di Singapura kami diasramakan dan dipekerjakan sebagai pelajar jururawat. Itu lazim. Bu, agar kita mengenal lebih dulu kehidupan rumah sakit. Kira-kira sebulan kemudian calon mahasiswa laki-laki dipindahkan, entah ke mana dan akhirnya aku sendiri dipindahkan juga. Aku dipondokkan di sebuah asrama bersama beberapa wanita lainnya. Wanita-wanita itu tidak ada yang berasal dari Jawa. Ada yang dari Muangthai, dari Serawak, Malaya, Brunei, Indo Cina, Pontianak, dan sebagainya. Bagiku hal itu juga tidak kuanggap aneh. Aku heran, mata pelajaran yang diberikan kepada kami bukannya mata pelajaran calon dokter. Kami diajari masak-memasak makanan Nippon. Belajar bersolek dan berpakaian pakaian Nippon dan tentu pelajaran bahasa Nippon.

"Lambat-laun aku mulai curiga. Kutanyakan kepada ibu asrama yang wanita Jepang itu. Kami mau dijadikan apa? Jawabnya tidak memuaskan. Ia pura-pura tidak tahu. Kemudian kutanyakan kepada pemimpin sekolah. Jawabnya, kami dididik untuk menjadi pengatur rumah tangga. Aku terkejut bukan main. Aku protes, tapi aku malah mendapat tamparan. Aku mogok makan. Datang seorang Nippon dengan wajah licik. Aku diancam. Bu. Kalau aku tidak menurut, keluargaku akan dihabisi. Aku tahu bahwa Nippon tidak sedang menakut-nakuti saja, sebab aku juga mendengar kabar bahwa di Pontianak dan Serawak banyak orang yang dibunuh tanpa alasan yang masuk akal. Aku menurut. Menyesal aku, mengapa aku menentang keberatan orangtuaku. Memang teman-temanku selatihan itu cantik-cantik semua dan fasih-fasih berbahasa Nippon. Dalam soal penguasaan bahasa Nippon aku memang tidak kalah dengan mereka.

"Selesai latihan aku ditempatkan di sebuah perkebunan karet di Malaya. Aku langsung diangkat sebagai kepala rumah tangga administrator perkebunan karet itu, menggantikan wanita Nippon asli. Sebenarnya suatu kehormatan bagiku. Aku membawahi semua pegawai dan pelayan-pelayan wanita yang tidak sedikit jumlahnya. Pikirku, untuk apa sekian banyak wanita diperlukan, padahal yang dilayani hanya seorang saja. Tuan Harada namanya, tampan orangnya. Baru kemudian aku mengetahui bahwa wanita-wanita itu memang disediakan untuk tamu-tamu yang datang di perkebunan itu. Akulah yang terpilih untuk melayani Tuan Harada. Aku pasrah, memang sudah nasib, tapi kebetulan Harada itu seorang Jepang yang baik dan sopan. Ia tidak menggangguku sama sekali, sekalipun sudah menjadi kewajibanku untuk memandikannya setiap kali ia mandi. Aku mulai benci kepada Nippon. Aku ditipu, dijerumuskan, tapi anehnya, tak ada rasa benci serambut bambu pun kepada Harada. Bahkan ia minta maaf kepadaku atas perlakuan Nippon terhadap diriku, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab yang menguasai diriku adalah Dinas Rahasia Nippon.

"Kami selalu berduaan saja dalam gedung yang besar dan megah itu, dan tanpa kami sadari, kami saling jatuh cinta. Kepadaku ia berkata terus terang bahwa ia sudah beristri dan beranak dua. Ya, pada akhirnya kami hidup sebagai suami-istri sudah. Dalam pengasingan itu, aku masih bisa meneguk setetes air kebahagiaan.

“Tapi itu tidak berlangsung lama. Bu. Harada diganti orang Nippon lain yang gila perempuan. Wanita-wanita pelayan itu dijelajahi ganti-berganti. Semula aku menolak, akibatnya perkosaanlah yang terjadi. Kebencianku kepada Nippon semakin memuncak.

"Pada suatu hari datang seorang tamu pembesar Nippon. Aku sudah bertekad untuk membalas dendam. Administrator itu kubuat cemburu sejadi-jadinya. Ia masuk perangkap. Baku hantam berlangsung antara administrator itu dengan tamunya. Sekalipun aku begitu bencinya kepada administrator itu, tapi setelah aku tahu bahwa ia betul-betul dalam kesulitan, kumintakan maaf juga pada tamu pembesar itu. Ia hanya dipindahkan. Terbukti tamu itu adalah seorang jenderal tentara Jepang di Saigon. Aku dibawanya ke Saigon. Semakin jauh aku dari tanah air. Jenderal Jepang itu cukup baik. Aku memperoleh kesempatan memperoleh simpati seorang jenderal lain yang sangat tinggi kedudukannya. Aku selalu bersikap seperti percaya sepenuhnya kepada Nippon, sangat setia kepada perjuangan Nippon. Hasilnya aku mendapat kepercayaan penuh dan pada suatu hari aku mendapat kesempatan untuk berlibur ke Jakarta, atas izin Jenderal Tanaka yang sangat berpengaruh itu. Aku diangkut dengan pesawat terbang. Tiba di Jakarta aku dititipkan pada seorang mayor Dinas Rahasia Jepang. Aku dihormatinya, karena aku titipan Jenderal Tanaka.

"Nasib buruk memang belum berakhir. Jenderal Tanaka meninggal di Birma. Pesawat terbang yang ditumpanginya jatuh. Aku tidak mempunyai pelindung lagi. Aku turun derajat, aku jadi gula-gula mayor itu. Tidak itu saja, aku dipinjam-pinjamkannya kepada teman-temannya, bahkan kepada sopirnya sekalipun, kalau sang sopir Jepang itu mampu menyediakan wanita-wanita kepadanya. Aku bertekad untuk membalas dendam. Aku akhirnya ditempatkan di sebuah rumah foya-foya, Kurabu namanya, di Semarang. Nasib masih tetap sama. Aku harus melayani Jepang-Jepang ganti-berganti.

"Aku memutar otak, bagaimana caranya aku bisa melampiaskan dendamku. Pada suatu hari aku dihubungi oleh seorang mandor Kurabu, secara diam-diam. Ia berkata bahwa ada kawan yang ingin menjumpaiku. Aku menyetujuinya. Kuat dugaanku bahwa orang yang ingin bertemu denganku itu adalah seorang pejuang anti-Jepang. Berdasarkan pembicaraan Jepang-Jepang yang kulayani itu, aku dapat menangkap bahwa gerakan anti-Jepang itu ada di mana-mana. Aku dapat berjumpa dengan pemuda itu, bersembunyi di semak belukar di halaman rumah itu. Dalam remang-remang kuamati wajahnya. Aku merasa pernah berjumpa dengan pemuda itu, tapi tak ingat lagi kapan dan di mana. Aku dijadikan mata-matanya. Kata-katanya sangat berkesan. 'Kita tidak mau dijajah lagi. Nippon tidak, Belanda tidak. Sekutu pun tidak. Kita harus merdeka’. Bulu kudukku berdiri mendengar kata-kata pemuda yang lebih muda dariku itu. Aku menyadap berita dari Jepang-Jepang. Semula aku acuh tak acuh saja terhadap peperangan yang sedang berlangsung, tapi setelah aku menjadi pembantu gerakan di bawah tanah itu, aku baru sadar bahwa Jepang sebenarnya sudah kalah di mana-mana.

"Aku khawatir kalau-kalau aku akan kehilangan kesempatan untuk membalas dendam. Kepada pemuda itu aku minta disediakan pakaian bakul yang sederhana, beberapa setel. Rencanaku sudah matang dan aku sudah bertekad untuk membalas dendam, apa pun akibatnya. Malam yang kunanti-nanti tiba. Sudah kusediakan minuman keras banyak-banyak yang kucampuri obat tidur yang kuperoleh dari seorang dokter Jepang. Tidak itu saja, kusediakan beberapa botol bensin. Barang-barang itu memang mudah didapat, tersedia di Kurabu. Hanya obat tidurnya yang agak sulit, tapi aku kerap kali berpura-pura dihinggapi penyakit tak bisa tidur. Obat tidur itu kukumpulkan saja sampai mencapai jumlah yang agak banyak.

"Malam itu sengaja tamu-tamu itu kuberi minum tanpa batas. Mereka mabuk-mabukan. Aku sengaja menari-nari dan satu demi satu melepaskan pakaianku sampai aku hanya bercelana dalam saja. Tamu-tamu itu makin menjadi gaduh dan bergairah, tapi banyak juga yang sudah terpengaruh obat tidur itu. Tepat jam satu dinihari tamu-tamu bergelimpangan mabuk. Sambil tetap menari-nari, kutuangkan minuman keras dan bensin di atas babut dan tak lama kemudian aku meloncat ke atas jendela, kulempar korek api yang menyala di atas babut. Ruangan itu berubah menjadi lautan api. Kusaksikan Jepang-Jepang itu gulung koming, mati terbakar. Aku sudah seperti orang kesurupan saja. Berteriak-teriak kegirangan. Puas rasanya.

"Sadar diri kembali aku loncat keluar, langsung menuju semak-semak dan dalam semak-semak itu aku berganti pakaian. Karena ributnya keadaan, dengan mudah aku dapat meloloskan diri keluar Kurabu. Aku anak Semarang, tahu betul liku-liku jalan-jalannya. Aku menuju ke Selatan dengan tujuan Magelang, pulang.

"Aku baru sadar bahwa aku dikejar-kejar Dinas Rahasia Jepang, tapi... tapi... Tuhan melindungiku. Tiba di sebelah utara kota Magelang, di Secang, pekik merdeka terdengar di mana-mana. Indonesia telah merdeka. Proklamasi. Aku dihinggapi penyakit mimpi-mimpi buruk di siang hari bolong. Bayangan Jepang-Jepang yang hangus terbakar itu mengikutiku. Pada akhirnya aku terdampar di Yogya dan memilih kampung Balokan itu sebagai tempat aku berteduh. Pemukiman yang cocok bagi wanita seperti aku ini. Aku bukannya orang yang miskin. Hadiah-hadiah yang pernah kuterima dari Jepang-Jepang itu kusimpan baik-baik. Perhiasan.

"Impian buruk itu lenyap. Bu, setelah aku bertemu dengan Den Bargowo. Dik Bargowo itulah sebenarnya pemuda yang menjumpaiku di semak-semak halaman Kurabu itu. Penyembuhan yang bersifat timbal-balik. Bu. Bargowo mengaku terus terang bahwa akibat rasa takut yang dihayatinya selama menjadi pimpinan gerakan anti-Jepang itu, ia kehilangan kemampuannya, tapi sembuh kembali setelah berjumpa denganku di Balokan ini.

"Kami saling mencintai. Bu. Sampai sekarang Dik Bargowo belum tahu siapa aku ini sebenarnya. Aku pelacur yang sudah dilewati sekian banyak laki-laki, baik sebagai pelacur kelas tinggi maupun sebagai pelacur tanpa kelas. Apa yang harus kuperbuat. Bu? Namaku sebenarnya... Kadarwati, tapi bukan Kadarwati dalam Kisah Wong Agung Menak, aku Kadarwati, wanita yang tak pantas dicintai siapa pun, apalagi oleh Dik Bargowo. Aku tidak berani lagi menatap wajah orangtuaku di Magelang. Biarlah Kadarwati hilang ditelan zaman."

Mendengar kisah nyata yang diceritakan oleh Mirah itu. Ibu Sinder ikut menangis. Sambil tetap membelai-belai rambut Kadarwati yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Ibu Sinder berkata, "Hidup tetap mengandung harapan. Jeng. Sejak semula aku tidak percaya bahwa kau adalah orang kebanyakan. Aku sudah menduga bahwa kau menyembunyikan sesuatu. Tenangkanlah dirimu. Aku ingat kata-kata pengasuhku yang dulu, yang berkata, 'Bahagialah umat yang masih memperoleh cobaan dari Penciptanya. Itu bukti kasih sayangNya.'"

Mendengar kata-kata terakhir itu Mirah menangis tersedu-sedu. "Aku sampai tidak berani lagi menghadap Tuhan, Bu."

"Bangkitlah, Nduk," kata Bu Sinder tegas, "temani ibumu salat subuh, aku masih punya persediaan rukuh."

Kadarwati mengikuti Ibu Sinder mengambili wudhu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Ibu Sinder dan Bu Mirah tanpa kenal lelah berusaha keras untuk meringankan beban penderitaan wanita-wanita asuhannya. Pemberontakan Madiun sudah dapat ditumpas, tapi di sana-sini masih berkeliaran pasukan-pasukan kecil yang masih saja mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Herman dan Bargowo muncul sebentar di rumah Ibu Sinder untuk kemudian pergi lagi.

Ibu Sinder masih tetap tekun membatik untuk menyambung hidup. Hari itu ia sangat mengharap-harap kedatangan kemenakannya. Harapannya terkabul, Herman muncul di hadapannya sesudah subuh, dalam keadaan segar-bugar.

Sepintas kilas Herman menceritakan apa yang dialaminya sewaktu ia mengikuti gerakan Divisi Siliwangi menumpas pemberontakan. Ia dan kawan-kawannya ditugaskan ikut bergerak ke daerah Karesidenan Pati. "Perang saudara jauh lebih kejam sifatnya daripada perang biasa. Kekuatan induk pemberontak sudah dipatahkan, tapi bunuh-membunuh, dendam-mendendam, balas-membalas di antara sesama umat masih terjadi di mana-mana. Tentara mencoba untuk mengatasi keadaan, tapi daerah benturan terlalu luas untuk dapat diatasi segera. Tak terbilang korban berjatuhan, baik di kalangan yang mendukung pemberontakan, maupun di antara mereka yang menentangnya. Kadang-kadang timbul semacam perang antara desa yang satu dengan desa yang lain dan di antara penduduk desa itu sendiri," Herman mengakhiri ceritanya.

"Aku lalu ingat apa yang diceritakan dalam Serat Mahabharata. Perang Bharatayuda adalah perang antar saudara juga. Abimanyu misalnya, dikeroyok sampai luka-lukanya itu arang-keranjang. Sangkuni tubuhnya disobek-sobek oleh Sang Bima. Dursasana di-juwing-juwing, darahnya di-kokop, dihirup oleh Werkudara. Itu baru apa yang dikisahkan di antara para kesatria, lalu di antara para prajurit kedua belah pihak sendiri bagaimana? Belum pernah ada peperangan sebelumnya yang kekejamannya mampu melampaui kekejaman Perang Bharatayuda itu. Bedah Ngalengka pun tidak."

Herman mengangguk-angguk lalu berkata, "Semoga bangsaku terhindar dari malapetaka semacam itu lagi."

"Kau ditugaskan di mana sekarang, Her?" tanya Ibu Sinder yang semakin hari semakin besar perhatiannya pada jalannya revolusi. Herman sadar akan peningkatan perhatian budenya itu.

"Karesidenan Pati benar-benar dalam keadaan porak-poranda, Bu. Pangrehpraja banyak yang ikut memberontak dan yang masih setia kepada pemerintahan pusat banyak yang dihabisi nyawanya. Kekosongan pemerintahan itu harus diisi kembali. Kawan-kawanku banyak yang ditetapkan sebagai pangrehpraja sementara. Siliwangi yang bertugas menumpas pemberontakan di Karesidenan Pati sudah ditarik kembali. Pasukan-pasukan baru didatangkan. Aku cemas, Bu, cemas! Belanda pasti akan menyerbu kembali, padahal kita belum siap sepenuhnya untuk menghadapi mereka."

Sambil tersenyum Ibu Sinder menanggapi, "Aku kurang paham tentang ketentaraan. Yang kuketahui hanya apa yang dikisahkan dalam perang Bharatayuda itu, seperti gelar Emprit Neba, Supit Urang, dan sebagainya. Itu pun hanya gambar saja. Aku masih ingat, pada waktu Proklamasi dulu, apa kalian sempat berpikir, sudah siap apa belum, Her? Apakah kalian juga mempersiapkan diri terhadap kemungkinan datangnya tentara Belanda yang jauh lebih lengkap senjatanya itu? Tidak kan, Her? Aku tidak tahu seluk-beluk tentara. Walaupun jadi lemah sebagai akibat dari pemberontakan Madiun, Her, kukira kalian sekarang ini lebih siap daripada saat-saat sekitar Proklamasi, terutama bekal kesiapan pengalaman. Ah, entah, Her, aku tidak tahu.... Lho, lho, ada apa, Ngger, kau menangis?"

Herman yang matanya berkaca-kaca itu tersenyum, lalu berkata, “Tenggorokanku seperti tersumbat. Bu, mendengar keterangan Bude. Lain sama sekali dengan budeku yang dulu. Aku terharu. Bu."

Sambil menjewer telinga kemenakannya dengan penuh kasih sayang Ibu Sinder menyahut, "Heh, anak pintar merayu. Windrati bagaimana, Her?"

"Baik-baik saja. Bu. Orangtuanya dari Purwokerto mengungsi ke Wonosobo. Ia masih kuliah kedokteran, di Klaten," jawab Herman. "O ya, Bu, aku teringat akan tahapan terakhir jangka Jayabaya. Bagaimana itu bunyinya..."

Melihat kemenakannya dalam kesulitan mengingat-ingat ramalan itu Ibu Sinder menyela, "Tutupe jangka lan waca, ingsun masitani: Tebu sakuyun, ana wedon sala Lor Kulon, akemul mori putih, ateken tebu wulung."

"Ya itu, Bu. Kok ya betul ya? Wedon-nya itu ya Belanda. Sudah mati mau kembali, ya sekarang ini...."

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara tembakan dan ledakan yang beruntun. Herman tidak melanjutkan kata-katanya. Telinganya dipusatkan pada suara tembakan dan ledakan itu. Sayup-sayup terdengar suara deru pesawat-pesawat terbang. "Latihan perang-perangan... tak mungkin... mustahil... Belanda!" gumamnya. Herman menyambar ransel yang terletak di atas kursi di sampingnya, cepat sungkem kepada budenya itu lalu berkata, "Nyuwun pangestu, Landi" Kemudian ia lari keluar rumah... entah ke mana perginya.

Ibu Sinder tetap duduk di tempatnya mematung. Ia belum menyadari apa yang baru saja terjadi, begitu cepatnya Herman meninggalkan rumah. Kemudian sambil tersenyum Ibu Sinder bergumam, "Herman, Herman, seperti Sentiaki saja. Begitu kewajiban memanggil... bias, kabur. Kalau betul itu Belanda..., ya, wedon itu mayat yang dibalut kain kafan sudah, tapi mengapa berselimut mori putih? Ia akan mati untuk kedua kalinya. Kalian akan menang, Her. Ya Allah, lindungilah anakku. Amin."



Kota Yogyakarta berhasil diduduki oleh tentara Kerajaan Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta tertawan dan diasingkan ke Pulau Bangka. Pemerintahan pusat sudah dialihkan ke Sumatera di bawah pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara.

Hari itu kawasan Kampung Balokan dan sekitarnya dikejutkan oleh gencarnya suara tembakan. Serdadu-serdadu Belanda memasuki lorong-lorong kampung, menggeledah rumah-rumah, mencari senjata, dan pemuda. Penduduk berlari-lari terbirit-birit masuk rumah masing-masing dan menutup pintu-pintu rumah. Justru itulah yang dikehendaki oleh Belanda. Pintu-pintu masuk gang dan lorong dijaga oleh serdadu-serdadu, sehingga tak seorang pun dapat meninggalkan kampung. Ibu Sinder yang sudah pasrah itu tetap tenang-tenang saja. Ia tetap membatik dan membiarkan pintu-pintu rumahnya terbuka. Di sana-sini terdengar tembakan. Beberapa puluh pemuda sudah menjadi korban kekejaman Belanda. Ditembak mati di tempat, entah apa salahnya.

Tiba giliran lorong di muka rumah Ibu Sinder yang digeledah. Tiba-tiba Ibu Sinder khawatir kalau masih ada barang milik Herman yang tertinggal. Ia bangkit lalu memeriksa rumahnya dengan saksama, tidak ditemukan apa-apa. Pembantunya, menggigil-gigil ketakutan duduk di atas lincak kecil di dapur. Melihat pembantunya yang ketakutan itu Ibu Sinder berkata, “Tinggal di situ saja, Nduk." Ibu Sinder lalu duduk kembali di tikar pembatikannya. Begitu ia duduk, seorang opsir Belanda tinggi besar memasuki rumahnya. Ibu Sinder tetap duduk, diam, menengadah menatap muka Belanda itu. Kacamatanya dilepaskannya. Belanda itu memerintahkan kepada anak buahnya. "Geledah rumah ini!" Dua serdadu bukan Belanda masuk dan menggeledah rumah. Mereka keluar membawa setumpuk buku-buku tulis dan dilempar-lemparkan begitu saja ke lantai. Melihat buku-buku tulis itu berserakan di atas lantai. Ibu Sinder bangkit lalu membenahinya, satu demi satu diletakkannya di atas meja tamu. Serdadu-serdadu itu melaporkan kepada komandan Belanda itu bahwa mereka tidak berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan, hanya buku-buku tulis itu saja. Opsir Belanda itu membuka-buka buku tulis, sambil memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah rumah-rumah lainnya. Begitu asyiknya Belanda tinggi besar itu membuka-buka buku-buku itu, sampai dia lupa bahwa ia sedang menjalankan tugas. Datang seorang sersan Belanda totok lainnya yang melaporkan sesuatu, lalu pergi lagi. Kemudian opsir Belanda itu bertanya dalam bahasa Jawa halus, "Apa buku-buku ini tulisan Nyonya semua?"

Jawab Ibu Sinder dalam bahasa Jawa halus pula, "Benar, Tuan, tulisanku sendiri."

Sambil bertolak pinggang opsir itu berkata, "Sangat menarik. Nyonya. Aku pernah belajar sastra Jawa di Universitas Leiden. Simpan baik-baik. Nyonya. Sampai ketemu lagi." Opsir itu memberi hormat lalu meninggalkan rumah Ibu Sinder.

Cepat Ibu Sinder menyambar peci TNI Herman yang terbukti tertinggal di atas pesawat radio lalu disembunyikan di antara lipatan setagennya. Menyentak duduk di atas kursi Ibu Sinder bergumam, "Untung tidak ketahuan."

Tak lama kemudian terdengar jelih-jelih wanita di rumah sebelah. "Eei, eei, bajingan-bajingan, pegang-pegang, bangsat."

Mendengar wanita menjelih-jelih itu Ibu Sinder tersenyum. "Sempat-sempatnya," gumamnya.

Lalu terdengar suara laki-laki dalam bahasa Belanda, "Mollige meid zegl Padat-berisi, heh!"

Terdengar gelak tawa. Seorang Belanda lain berkata, "Zeg Piet, zelfs bij de hoeren heb je geen kans. Laat staan bij de prinsessen (Pelacur-pelacur saja menolak kamu. Apalagi putri-putri Istana)."

Kemudian terdengar suara sentuhan sepatu-sepatu pada aspal lorong, makin jauh, makin jauh. Sepi kembali lorong di muka rumah Ibu Sinder. Masih terdengar tembakan-tembakan lagi di kejauhan. Sore harinya orang-orang Kampung Balokan dan Gandekan merawat dua belas jenazah pemuda yang gugur ditembus peluru-peluru Belanda.

Hujan rintik-rintik. Pagi-pagi sekali Bu Mirah datang.ke rumah Ibu Sinder. Melihat Bu Mirah yang duduk dengan kepala tunduk di hadapannya itu Ibu Sinder bertanya, "Ada apa lagi. Jeng, apa aku bisa menolongmu? Kau tampak bingung pagi ini."

"Aku selama ini hanya menyulitkan Ibu saja."

"Mengapa menyulitkan, katakanlah, Nduk."

Mirah menjelaskan, "Ibu Sinder tentu masih ingat penggeledahan kampung Balokan yang terakhir. Wanita-wanita asuhanku diperiksa satu demi satu. Setelah itu seorang opsir Belanda datang. Aku juga ditanyai macam-macam. Jawabanku asal saja, untuk tidak menanyai latar belakang kehidupanku. Rupa-rupanya wanita-wanita itu melaporkan bahwa akulah induk semang mereka. Hakikatnya benar memang, tapi tidak dalam arti aku ini seorang germo. Kata-kata opsir Indo-Belanda itu kasar sekali. Rupa-rupanya kedatangan mereka lain tujuannya. Mereka memerlukan wanita-wanita untuk melayani serdadu-serdadu tentara Kerajaan. Aku diancam. Kalau aku tidak bisa menyediakan dua puluh sampai tiga puluh wanita setiap malamnya, Balokan akan diobrak-abrik. Kujawab bahwa serdadu-serdadu Belanda akan diterima dengan tangan terbuka di kampung Balokan. Opsir itu marah-marah. Aku harus membawa wanita-wanita itu ke suatu tempat yang akan ditentukan oleh tentara Kerajaan. Aku sebagai pemimpin harus ikut dan opsir Belanda itu berkata bahwa akulah yang harus melayaninya. Sakit rasa hatiku mendapat perlakuan yang begitu merendahkan martabatku. Kujawab bahwa aku harus berembuk dengan teman-temanku dulu. Aku diberi waktu sehari.

"Keesokan harinya dengan pengawalan ketat opsir itu datang lagi. Mula-mula wanita-wanita itu menolak. Melayani serdadu Belanda sama saja dengan perbuatan khianat. Setelah kukatakan pada mereka bahwa mereka di seberang sana bisa mencari keterangan yang diperlukan kaum gerilya, mereka baru mau, tapi aku harus tetap di tengah-tengah mereka. Teman-teman itu tidak sadar bahwa kalau aku ikut mereka, aku pun akan dijamah oleh Belanda-Belanda itu.

"Mengapa, mengapa aku masih harus menelan pil-pil pahit? Kalau hal itu terjadi beberapa tahun yang lalu aku tak akan mempedulikannya, tapi sekarang ini?! Aku sudah menjadi manusia kembali. Mengapa aku harus mengulang kehidupanku yang lama? Aku bisa lari, tapi siapa yang akan memperhatikan wanita-wanita itu? Dan lagi kalau Balokan sampai diobrakabrik, aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Apa yang harus kuperbuat, Bu? Apa yang akan dikatakan oleh Bargowo? Itulah, Bu, yang membuat aku bingung, padahal nanti sore mereka akan datang menjemput wanita-wanita itu. Termasuk aku."

Ibu Sinder tak kuasa menahan air matanya. Ia menangisi nasib Mirah yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.

"Menyuruhmu melakukan pekerjaan yang terkutuk itu, berarti aku ikut menanggung dosa," jawab Ibu Sinder. "Melarangmu pergi ke seberang sana, sama saja dengan menganjurkan pengkhianatan terhadap wanita-wanita asuhanmu. Apalagi kalau sampai terjadi Balokan diobrak-abrik. Bagi wanita-wanita asuhanmu kiranya tak ada persoalan. Melayani siapa pun bagi mereka sama saja. Masalahnya, mereka merasakannya sebagai suatu pengkhianatan, tapi kini mereka sudah menemukan pembenaran setelah kaujelaskan bahwa di seberang sana pun mereka bisa bermanfaat bagi perjuangan. Demi perjuangan jadinya. Bagimu lain letak persoalannya. Apakah kau dapat menerima pembenaran itu. Jeng? Demi perjuangan? Hati sanubarimu sendiri yang perlu kautanyai. Tidak ada orang lain yang bisa menolongmu. Aku pun tidak, tapi itu tidak berarti bahwa aku lalu mau cuci tangan. Tidak, Jeng. Aku sekadar memberi nasihat. Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun. Langkah mana yang menurut keyakinan hati nuranimu masih dapat diampuni oleh-Nya... Jalan itulah yang harus kaulalui....",

Serta-merta Mirah memeluk Ibu Sinder, menciuminya sambil berkata, "Matur nuwun. Bu, matur nuwun."

Mirah pun pulang. Ibu Sinder masih saja duduk lunglai di atas tikar pembatikan. Gumamnya, "Ya Tuhan, ampunilah hambaMu, apa pun pilihannya. Ampunilah hambaMu ini, bila aku menunjukkan jalan yang tidak Kauridhoi."

Bu Mirah sore itu bersama-sama teman-teman wanitanya diangkut dengan truk menuju ke suatu tempat yang telah disiapkan tentara Belanda.



Suatu pagi yang cerah. Ibu Sinder duduk-duduk di atas lantai rumah di tepi lorong. Terdengar suara burung perkutut yang hinggap di atas atap rumah tetangganya. Suaranya berat, bening, dan keras. Tak lama kemudian seorang laki-laki setengah umur lewat diikuti anak-anak kecil. Ia menjinjing sebuah sangkar berisi seekor burung perkutut betina.

"Perkututnya lepas. Pak. Itu di sana, di atas atap," kata Bu Sinder.

“Terima kasih. Bu," jawab laki-laki itu.

Apa burung jantan itu mau masuk sangkar kembali sekalipun dipancing perkutut betina? pikir Ibu sinder.

Pada saat menoleh ke kiri, ke arah jalan besar. Ibu Sinder melihat orang-orang berlari-lari dan tak seberapa lama kemudian terdengar gemuruhnya suara kendaraan bermotor. Konvoi kendaraan-kendaraan panser lewat. "Mau ke mana mereka?" gumamnya. Ibu Sinder mengikuti suara gemuruh itu sampai lepas dari pendengarannya.

Ibu Sinder tidak beranjak dari lantai. Terpengaruh oleh deru kendaraan-kendaraan itu mulutnya bergerak-gerak dan kalimat demi kalimat terucap sayup-sayup, "Tekane bebantu saka Nusa Tembini, kekulitan jenar, dedeg cebol kepalangi iku kang bakal ngebroki tanah Jawa. Pangrehe muni sakumuring jagung suwene, nuli boyong nyang nei garane dewe Nusa Tembini. Tanah Jawa bali nyang asale sakawit. Itu semua sudah lewat. Jepang-Jepang sudah pergi. Tutupe jangka lan weca, ingA sun wasitani: Tebu sakuyun, ana wedon saka Loi Kulon, akemul mori putih, ateken tebu wulung. Kuwat saka samono wis dudu bageyaningsun. Ing tembe ana dewe kang bageyan kaya ingsun iki... Jangkaj terakhir Prabu Jayabaya. Apa Ranggawarsita yang melanjutkan? Apa ada orang lain lagi?"

Tanpa diketahuinya, seorang yang memakai kain dan berkebaya putih bersih, sudah di hadapannya. Mendengar sapa wanita itu Ibu Sinder agak terkejut. "Apa ini rumah Ibu Sinder?"

Ibu Sinder menjadi semakin heran, ada wanita yang tak dikenalnya menanyakan dirinya. Di Gandekan itu ia lebih terkenal dengan nama Ibu Prapto. "Betul, Dik," jawab Bu Sinder. "Aku sendiri."

"Oooo, kebetulan kalau begitu. Boleh aku bicara sebentar. Bu?"

"Mari, mari masuk. Dik," ajak Ibu Sinder.

Setelah dua wanita itu duduk, wanita yang berpakaian jururawat itu berkata, "Hanya sebentar saja. Bu. Aku diutus Dokter Ivon."

"Dokter Ivon siapa. Dik?"

"Pesan Dokter Ivon, kalau Ibu Sinder bertanya tentang dirinya, katakan saja Ivon Madugondo'. Begitu."

"Ivo, kau sudah menjadi dokter sekarang," gumam Ibu Sinder.

"Dokter Ivon ingin bertemu dengan Ibu," lanjut jururawat itu. “Terserah Ibu, kapan dan di mana. Saran Dokter agar Ibu ke Rumah Sakit Bethesda saja. Aman, katanya. Rupa-rupanya Dokter sudah tak sabar menunggu. Kalau Ibu Sinder bisa pagi ini, aku diminta untuk mengantar."

Ibu Sinder berpikir sejenak, kemudian ia berkata, "Baik, Dik, aku ikut sekarang saja. Sebentar ya. Dik, aku berbenah dulu."

Ibu Sinder masuk ke dalam dan setelah berganti pakaian yang cukup baik, kepada pembantunya ia berpesan, "Aku pergi ya, tidak lama. Kalau kau takut sendirian, kau ke rumah Bu Noyo saja."

Pembantu wanita yang masih remaja itu mengangguk. Kemudian diantar oleh wanita jururawat yang bernama Sri Hartati itu. Ibu Sinder berangkat menuju Rumah Sakit Bethesda.

Sementara itu Dokter Ivonne van Hoogendorp berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya sambil sesekali melihat ke jalan besar lewat jendela. Mudah-mudahan Sri bisa menemukan rumah Ibu, tapi apa Ibu Sinder masih di Yogya? pikirnya.

Melihat sebuah becak berhenti di jalan besar dan dua wanita turun. Dokter Ivonne lari ke luar ruang kerjanya, langsung menyongsong kedatangan Ibu Sinder yang dijemput oleh Sri Hartati itu. Tiba di pintu gerbang gedung. Ibu Sinder langsung dipeluk oleh Ivonne dan diciumi bertubi-tubi. Orang-orang di sekitar pintu gerbang yang melihat agak terheran-heran. Ibu Sinder tidak mampu berkata-kata, ia mendekap Ivonne sambil menangis. Air mata bercucuran meleleh lewat pipi-pipinya. Kemudian Ivonne menggandeng Ibu Sinder menuju ke ruang kerjanya. Mula-mula dua wanita berlainan kulit itu hanya saling pandang-memandang saja. Ivonne pun mencucurkan air mata.

Kata Dokter Ivonne dalam bahasa Indonesia yang baik, "Syukurlah, Ibu tampak sehat dan tidak berubah. Masih seperti Raden Ayu Suprapto di Madugondo".

Sambil memegang tangan-tangan Ivonne Ibu Sinder menjawab dalam bahasa Indonesia, "Kau juga masih tetap cantik, Ivo, maaf. Dokter Ivo."

Ivonne hanya tersenyum mendapat pujian Ibu Sinder. "Bu, aku ikut belasungkawa atas kepergian Bapak. Herman yang menceritakan," ucapnya.

“Terima kasih, Ivo," kata Ibu Sinder. "Herman sudah menceritakan pertemuannya dengan kau. Zaman sudah berubah, Ivo."

Dokter Ivonne diam dan lagi-lagi matanya berkaca-kaca, kemudian ia berkata, "Banyak yang ingin kusampaikan kepada Ibu. Mas Hono baik-baik saja. Bu. Aku sudah bertemu dengannya."

"Suhono? Kau berjumpa dengan Hono? Di mana?" tanya Ibu Sinder cepat dan penuh emosi.

Dengan tenang Ivonne menjawab, "Ibu tak perlu cemas. Suhono sehat-sehat saja."

Ibu Sinder agak curiga, mengapa Ivonne tidak segera berterus-terang kepadanya. "Ceritakan apa adanya, Nduk," katanya perlahan.

Ivonne melihat adanya perubahan pada sorot mata Ibu Sinder. Bukan Ibu Sinder yang baru saja menangis, tapi Ibu Sinder yang tabah, tawakal, dan siap menghadapi kenyataan hidup. Lega hati Ivonne.

"Aku menjumpainya di Nusakambangan," kata Ivonne.

"Penjara Nusakambangan? Lalu bagaimana?" Dengan tenang Ibu Sinder bertanya.

"Dari Semarang aku diangkut dengan pesawat terbang menuju Batavia, maaf, Jakarta. Aku bertemu kembali dengan Papi dan Mami. Mereka baik-baik saja. Bu. Semula Papi dan Mami mengajakku pulang ke Holland, Negeri Belanda, aku menolaknya dengan alasan aku ingin menyelesaikan studiku. Sebenarnya Papi dan Mami tahu bahwa aku masih hendak mencari Mas Hono. Mereka memahaminya. Bu. Aku tidak perlu masuk kuliah lagi, aku langsung memperoleh diploma, langsung disumpah sebagai dokter. Maklum masa darurat.

"Aku mencari keterangan kian kemari, apa Ir. Suhono masih di Ambon. Dari Departemen Openbare Werken (Pekerjaan Umum) aku mendapat keterangan bahwa Mas Hono ditangkap dan ditawan. Ia mendukung perjuangan Republik di Ambon. Dari Ambon ia dipindahkan ke penjara Makasar. Tidak lama di Makasar. Suhono dipindahkan ke Nusakambangan. Banyak pejuang-pejuang Republik yang ditahan di Nusakambangan. Dari Dinas Rahasia, aku memperoleh izin untuk mengunjunginya... tapi dengan syarat aku harus bersedia membujuknya agar ia mau bekerjasama dengan Pemerintah Belanda. Itu kusanggupi. Aku berangkat ke Nusakambangan. Di sanalah aku bertemu dengan Suhono, Bu. Kumis dan jenggotnya dibiarkannya tumbuh. Justru ia tampak sangat tampan. Bu. Sorot matanya menyala-nyala. Ia seorang pembela Republiek sejati. Aku sangat menghormati dan menghargainya, sekalipun aku bukan seorang pendukung Republiek. Kami masih saling mencintai. Bu, walaupun kami berbeda pendirian.

"Kusampaikan kepadanya, bahwa Pemerintah Belanda mengharap agar Suhono bersedia bekerjasama dengan Pemerintah Federaal Belanda. Sebagai seorang insinyur tenaganya sangat diperlukan. Ia hanya tersenyum saja. Ia menolak. Ia akan tetap setia kepada Republik, apa pun akibatnya. Maaf, Bu, perlu kusampaikan kepada Ibu, kami memang berbeda pendapat. Aku berada di pihak Belanda dan Suhono berada di pihak Republik. Kami berdebat dengan sengitnya, tapi setelah reda kembali, kami berpeluk-pelukan seperti tak terjadi apa-apa. Suhono tetap mencintaiku, sebaliknya aku juga tetap mencintainya. Ketahuilah, Bu, aku akan menunggu sampai keadaan menjadi lebih jelas.

"Sekarang ini rupa-rupanya Belanda sudah kehilangan harapan untuk menang. Hampir tiga bulan sejak 19 Desember, Belanda tidak mencapai apa-apa. Herman dan kawan-kawannya masih tetap utuh. Perhitungan Jenderal Spoor meleset. Ia minta waktu tiga bulan lagi. Aku berpendapat bahwa itu pun tidak ada gunanya. Belanda harus bersedia berunding lagi dengan pihak Republik untuk mencapai penyelesaian yang memuaskan kedua belah pihak. Sukarno dan Hatta baik-baik saja. Bu, di Bangka. Itulah yang ingin kusampaikan kepada Ibu."

Ibu Sinder diam, kemudian ia berkata lirih, "Hono, duniamu memang bukan duniaku lagi. Kau sudah cukup memiliki bekal untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. Tuhan melindungimu, Hono." Kemudian kepada Ivonne Ibu Sinder berkata, "Ngger, Ivo, serahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Hanya Tuhan-lah yang Maha Mengetahui. Sabarlah! Kalau Tuhan memang mengizinkan, apa pun rintangannya, kalian berdua akan menemukan apa yang kalian inginkan. Orang Jawa percaya, bahwa lahir, jodoh, dan mati ada di tangan Tuhan. Manusia bisa berikhtiar, tapi akhirnya Tuhan-lah yang menentukan. Aku ada pesan untukmu... Kalau kau bersedia, berjanjilah kepadaku...."

"Apa yang harus kujanjikan. Bu?"

Lama Ibu Sinder tidak menjawab, seolah-olah ia sedang menikmati suara burung jalak yang sedang gembira berkicau di atas pohon regenboom yang dahan-dahannya tampak dari kamar kerja Dokter Ivonne. Serta-merta Dokter Ivonne juga memperhatikan suara burung itu. Kicaunya bersahut-sahutan.

"Sepasang burung berpacaran, membuat sarang, bertelur, anak-anaknya keluar dari telur masing-masing. Dirawatnya anak-anaknya sampai menjadi besar. Diajarinya mereka terbang, diajarinya mereka menangkap belalang dan serangga. Apabila anak-anaknya itu telah cukup mahir dan cekatan untuk menentukan kehidupannya... anak-anaknya dilepaskannya. Mungkin hanya diiringi dengan puji syukur kepada Sang Pencipta alam ini. Burung itu memberikan petunjuk kepadaku janji apa yang harus kaupenuhi, kau dan Suhono. Kalian berdua sudah lebih dewasa. Kalian sudah mandiri. Nah, pesanku, Ivo. Kalau kalian nanti akan menentukan sesuatunya... kalau kalian menentukan sesuatu... janganlah diriku dijadikan pertimbangan. Kuambali, kuulangi... janganlah ibumu dijadikan pertimbangan.”

"Apa yang Ibu maksud?"

“Tak usah kau bertanya-tanya. Yang perlu kauingat, Ivo... janganlah ibumu dijadikan pertimbangan... itu saja, Ivo. Kukira cukup, antarkan aku keluar gedung ini," kata Bu Sinder tegas.

Nada kata-kata Ibu Sinder seperti perintah saja, tapi oleh Ivonne dirasakannya sebagai permintaan seorang Ibu kepada anaknya. Ivonne mengantar Ibu Sinder sampai di tepi jalan. Dan Ivonne masih sempat berkata, "Maaf, Bu, aku tidak bisa menjemput dan mengantar Ibu pulang. Bukannya aku tidak ingin, tapi aku tidak mau menyukarkan Ibu. Apa yang akan dikatakan orang-orang kampung nanti. Ibu bisa dicurigai."

"Aku memahaminya, Nduk. Oleh karena itu, aku yang kemari. Itu lebih baik."

Becak berhenti. Ibu Sinder naik dan becak melaju menuju Gandekan, diikuti sepasang mata berwarna kelabu yang semakin redup.

Tiba di dekat Balokan Ibu Sinder melihat bahwa kawasan itu sedang digeledah oleh pasukan-pasukan Belanda lagi. Becak berhenti di muka lorong kampung. Ibu Sinder turun, membayar. Kemudian becak tersebut cepat-cepat pergi meninggalkan kampung itu.

Begitu Ibu Sinder membuka pintu rumah, ia melihat seorang serdadu Belanda sedang menggumuli pembantunya. Mulut pembantunya itu dibungkam. Melihat gerakan-gerakan tubuh Belanda itu ia sadar bahwa ia datang terlambat. Tanpa pikir panjang. Ibu Sinder memungut tempayan untuk membatik, diangkatnya tinggi-tinggi dan dipukulkannya pada punggung serdadu Belanda itu, bertubi-tubi. Serdadu itu mengaduh, melepaskan cengkeramannya, menatap Ibu Sinder. Sorot mata Ibu Sinder yang berwibawa dan mencerminkan kemarahannya itu mengejutkan serdadu Belanda itu. Cepat ia membenahi celananya, memungut topi pet dan senjatanya, lalu pergi meninggalkan rumah.

Munah, wanita remaja yang malang itu, menangis sambil memegang erat-erat kaki Ibu Sinder. Ibu Sinder masih tetap berdiri mematung sambil meremas-remas jari-jarinya. Setelah reda amarahnya, ia lalu duduk di atas tikar. Munah menyembunyikan mukanya di pangkuan Ibu Sinder. Dengan rasa penuh kasih sayang Ibu Sinder membelai-belai rambut Munah sambil berkata, 'Tenanglah, Nduk. Belanda keparat itu tak akan selamat... Astaga... apa yang kukatakan tadi... aku mengutuk.... Ya, ampun... Duh, Gusti, ampunilah hambaMu ini, sampai berucap kutukan yang tidak Kauridhoi...."

Sambil menangis tersedu-sedu Muriah berkata, "Bu, kalau aku mengandung bagaimana. Bu?"

“Terimalah cobaan Tuhan, Nduk. Kusiapkan jamu untukmu. Sana mandi-mandi biar segar."

Munah bangkit lalu masuk ke belakang dan tak lama kemudian terdengar suara guyuran air. Munah mandi.



Tanggal 1 Maret pagi-pagi Ibu Sinder dikejutkan oleh tembakan dan dentuman yang beruntun. Tidak hanya di sekitar Stasiun Tugu saja, tapi menyeluruh. Pemuda-pemuda bersenjata mengenakan janur kuning di leher melewati lorong di muka rumah Bu Sinder. Teriakan-teriakan "Merdeka" menggema di mana-mana. Suasananya seperti sewaktu zaman "siap-siapan" saja, tapi dibarengi dengan gegap-gempitanya suara tembakan dan dentuman. Di sana-sini bau asap mesiu mulai menusuk-nusuk hidung. Peluru nyasar menembus atap genting rumah. Kepingan-kepingan genting jatuh berserakan ke lantai. Ibu Sinder melihat-lihat apa yang terjadi. Bagian atap tanpa langit-langit di atas dapur itu kelihatan menganga lebar. Kawan-kawan Herman menyerbu, tapi apa Belanda mau pergi begitu saja? pikirnya.

Mendengar tembakan-tembakan dan dentuman-dentuman itu penduduk bukannya ketakutan lalu bersembunyi dalam rumah dan menutupi pintu-pintu, tidak! Mereka keluar rumah sambil bersorak-sorak, berteriak-teriak, "Merdeka, merdeka!"

Pertempuran itu tidak berlangsung lama, menjelang waktu Iohor suara tembakan semakin surut, di sana-sini masih terdengar, untuk kemudian berhenti sama sekali.

Keesokan harinya pasukan-pasukan Belanda lagi-lagi menggeledahi rumah-rumah penduduk, melampiaskan amarahnya terhadap penduduk kampung-kampung yang tidak tahu-menahu duduk persoalannya. Korban tembusan peluru bergelimpangan di setiap kampung, karena Belanda asal tembak saja. Tetapi, entah mengapa, lorong rumah Ibu Sinder terhindar dari penggeledahan dan kekejaman balas dendam pasukan-pasukan Belanda.

Penduduk Yogya semakin merasa tertekan hidupnya. Tidak berlangsung lama memang, hanya tiga bulan saja, namun yang tiga bulan itu rasanya seperti bertahun-tahun saja. Berdasarkan persetujuan Roem-Royen akhir bulan Juni, pasukan-pasukan Belanda berangsur-angsur meninggalkan kota dan beberapa hari kemudian TNI memasuki kota Yogyakarta, kelompok demi kelompok. Rakyat mengelu-elukan kedatangan tentaranya, merasa lega dan gembira, terlepas dari penindasan dan ancaman moncong senapan dan bayonet.

Ibu Sinder pun ikut mengelu-elukan kedatangan Bung Karno dan Bung Hatta di tepi jalan. "Jayabaya benar. Kapan Herman pulang?" ucapnya dalam hati.

Menjelang perayaan 17 Agustus 1949, muncul di hadapan Ibu Sinder, kemenakannya yang sangat dirindukannya itu. Ia segar-bugar. Dipeluknya kemenakannya itu sekuat-kuatnya, seolah-olah tidak hendak dilepaskannya kembali.

Herman hanya tinggal beberapa hari saja di rumah Ibu Sinder, ia berangkat lagi, tapi keberangkatan kemenakannya kali ini tidak disertai perasaan waswas dalam hati budenya.

Bu Mirah sudah jarang muncul di rumah Ibu Sinder. Kepemimpinan pengurusan kesejahteraan wanita-wanita sesat jalan itu sudah diserahkan kepada Darsi dan Tomblok. Permulaan bulan Oktober nama Bu Mirah hanya tinggal kenang-kenangan belaka di kampung wanita sesat itu. Ia menghilang entah ke mana.

Pagi itu seperti biasa Ibu Sinder sedang asyik membatik. Pikirannya masih saja tertumpu pada kepergian wanita yang dikasihinya itu. Mengapa Mirah begitu saja pergi tanpa berpamitan, meninggalkan berita selembar pun tidak. Kalau Mirah pulang ke orangtuanya di Magelang, pasti ia akan memberitahu. Pasti ada hal lain, kemungkinan besar menyangkut hubungannya dengan Bargowo. Apa Mirah tidak berani lagi menghadapi perjumpaan dengan pemuda tinggi, gagah, dan ganteng itu? Entahlah, entah, semoga Tuhan memberikan petunjukNya kepadanya.

Mendengar suara orang ber-kulo nuwun, Ibu Sinder menoleh dan menundukkan kepalanya agar bisa lebih jelas melihat orang yang berdiri di muka pintu. Gelas-gelas kacamatanya mengganggu penglihatannya pada jarak agak jauh. Berdiri di hadapannya seorang yang tinggi atletis, kumis dan jenggot dibiarkan tumbuh, dan berambut gondrong. Jantung Ibu Sinder tersentak seperti hendak berhenti berdenyut. "Hono!" serunya.

Ibu dan anak jatuh dalam pelukan masing-masing. Ibu Sinder menangis tersedu-sedu. Tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sambil mendekap ibunya, Suhono pun tak mampu mengendalikan air matanya. Setelah Suhono berhasil menguasai perasaannya kembali, ia tersenyum lalu berkata, "Ibu kok gembeng, ya. Bu, aku ingin minum kopi tubruk gula jawa. Ada, Bu?"

Mendengar kata-kata canda dan permintaan yang sederhana itu. Ibu Sinder sadar lingkungan kembali. Ia melepaskan pelukannya, memukul-mukul dada anaknya sambil menjawab, "Heh, Anak manja. Datang-datang sudah minta-minta. Tentu ada."

Suhono tertawa. "Boleh melihat-lihat rumah ya. Bu?"

Ibu dan anak masuk ke dalam dan hanya dengan pandangan mata ke kanan dan ke kiri saja Suhono sudah menjelajahi seluruh rumah.

Koper kecil yang dijinjingnya diletakkannya di atas kursi makan. Ia sendiri lalu duduk. Ibu Sinder masuk dapur dan tak lama kemudian membawa segelas minuman kopi panas gula aren. Dengan nikmatnya Suhono menghirup minumannya. Sudah terlalu lama Ibu Sinder tidak pernah lagi berbincang-bincang dengan anak tunggalnya itu. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai dan apa yang akan dikatakannya. Tidak hanya dirinya saja, tapi anaknya pun berubah. Ia tampak bersungguh-sungguh, serius, tidak seperti dulu lagi. Mata yang mencerminkan canda dan kelakar itu sudah tak nampak lagi. Terlampau lama menderita batin barangkali, pikir Ibu Sinder.

"Sudah lama di rumah ini. Bu?" Suhono memecah kesunyian.

"Sejak zaman Jepang sudah. Sepeninggal ayahmu, aku pindah kemari."

"Dengan usaha apa Ibu menyambung hidup?" Ibu Sinder tersenyum.

"Ibumu bukan orang yang miskin, Ngger. Sekalipun harta kekayaan dihabiskan oleh Romo Bendoro, tapi apa yang sudah di tangan ibumu tak pernah dijamahnya dan Ibu Bendoro pun pandai menyimpan apa yang ada padanya. Tidak semuanya amblas. Namun begitu aku tak hendak mempertontonkannya kepada teman-teman kampung ini. Aku hidup dari membatik dan menjual jamu."

Suhono mendengarkannya dengan penuh perhatian dan mata berkaca-kaca. "Selama ini aku belum pernah berbuat apa-apa untuk Ibu," gumamnya perlahan. "Aku berutang budi begitu banyak. Aku harus mampu mengimbanginya, entah kapan."

"Kau tak perlu memikirkan hal itu, Ngger. Aku sudah bersyukur kepada Allah Yang Maha Murah, kau kembali selamat."

Suhono diam saja. Dengan nada ragu Ibu Sinder melanjutkan, "Ivo menceritakan semuanya sudah, Hon."

Terkejut Suhono mendengar apa yang dikatakan ibunya itu. "Ivo, Bu? Ibu berjumpa dengan Ivo? Di mana. Bu?"

"Zaman pendudukan Belanda dulu. Dokter Ivo menyempatkan diri untuk datang ke Yogya. Kami sempat bertemu dan berbicara di Rumah Sakit Bethesda. Ia masih tetap cantik. Ivo-lah yang memberitahu kepadaku bahwa kau berada di Nusakambangan. Ia benar-benar mencintaimu, Hon."

Suhono memandang lurus ke depan, kemudian ia berkata, "Ivon-lah yang menceritakan bahwa Bapak sudah tiada. Ia mendengarnya dari Herman. Sakit apa Bapak, Bu?"

Mendengar pertanyaan anaknya itu Ibu Sinder diam, sulit untuk menjawab. Suhono melihat bahwa Ibunya segan untuk mengatakannya. "Dianiaya Jepang, Bu?" tanyanya.

“Tidak, tidak, Ngger. Tangan Tuhan yang mengambilnya kembali ke pangkuanNya... bapakmu disambar petir," jawab Ibu Sinder lirih.

Lagi-lagi Suhono diam dan melihat lurus ke muka. Lama ia tak berkata-kata sekecap pun. Angan-angannya berpindah-pindah, dari masa lampau ke masa depan yang masih belum menentu baginya. Hubungannya dengan Ivonne masih mengganjal kehidupannya. Mendengar penjelasan ibunya bahwa Ivonne masih tetap mencintainya, hatinya tergerak. Ia sendiri juga masih tetap mencintai wanita Indo-Belanda itu. Di hadapannya duduk ibunya yang telah dilanda berbagai penderitaan sepeninggal kepergian-nya ke Ambon. Ayahnya sudah tiada. Perselisihan batin berkecamuk dalam diri Suhono. Ibu Sinder, sebagai seorang ibu, cepat tanggap terhadap apa yang sedang bergolak dalam hati dan pikiran anaknya itu.

"Ada hal yang kiranya perlu kauketahui Hon. Aku telah minta kepada Ivo agar ia berjanji kepadaku. Ivo menyanggupinya," ucap Ibu Sinder tenang—mantap.

"Janji apa yang disanggupinya. Bu?" Dalam hati Suhono khawatir ibunya telah minta kepada Ivo agar ia menjauhi dirinya. Suhono belum tahu tentang perkembangan hubungan antara ibunya dan Ivo.

"Aku minta, bila ia hendak memutuskan sesuatunya kelak, jangan diriku sampai dijadikan bahan pertimbangan," jawab Ibu Sinder. "Akulah yang mendesakkan padanya. Ia menyanggupinya. Sekarang ini aku minta janjimu, Hono. Janji yang sama. Kalau Ivo bisa menyanggupinya, mengapa kau tidak?'

Suhono memegang tangan-tangan ibunya lalu berkata, "Ibu memaksaku?"

"Ya, aku memaksamu. Kau harus berjanji kepadaku. Sekarang juga," jawab Ibu Sinder tegas.

Masih saja Suhono bungkam. Ia merasa heran ibunya bisa setegas itu. Ia tahu benar apa yang dimaksudkan ibunya itu. Menyangkut soal hubungannya dengan Ivonne.

Ibu Sinder melihat bahwa anaknya masih belum bisa memberikan jawaban. "Hono, Anakku, pandanglah aku." Suhono menatap wajah dan mata ibunya yang mencerminkan tekad yang pasti. Ibu Sinder melanjutkan, "Aku ingin meninggalkan dunia ini dengan perasaan ikhlas. Tiada guna aku hidup dalam kecukupan, tapi meredam sesuatu yang masih saja akan mengganggu kalbuku. Memang kau anak tunggalku, Hono, tapi dalam perjalanan hidupku akhir-akhir ini, dalam batin dan hati sanubariku, anakku tidak lagi hanya tunggal. Suhono, Herman, Kadarwati, dan... Ivo adalah anak-anakku sejati."

Terharu Suhono mendengarkan penjelasan ibunya. Ia memahami sepenuhnya apa yang dikatakan oleh ibunya itu. Suhono masih memberanikan diri untuk bertanya, "Ibu sayang pada Ivo?"

"Ya! Kasih sayang yang timbal-balik sifatnya," jawab Ibu Sinder. Tiba-tiba ibu dan anak dikejutkan oleh ledakan petir yang menggelegar dan disusul hujan yang turun seperti diguyurkan dari langit.



Wanita berusia lewat setengah abad itu sedang asyik membatik. Ia sedang mulai mengerjakan batik gubahan terbarunya yang diberinya nama "Pangastuti". Empat lembar sudah terselesaikan, sama dalam segala-galanya. Ia menghendaki agar hasil babaran-nya pun sama pula.

“Tinggal yang satu ini. Untuk yang termuda, Herman," gumamnya. Tiba-tiba ia mendengar suara, "Kulo nuwun." Ibu Sinder melepaskan kacamatanya, mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan melihat seorang laki-laki berdiri termangu-mangu di hadapannya. Kata orang itu, "Aku hendak menyampaikan sesuatu. Bu."

Ibu Sinder bangkit lalu menyilakan tamunya masuk dan duduk. Kata tamu yang tidak memperkenalkan dirinya itu lagi, "Maaf, Bu, aku tidak bisa tinggal lama. Aku hanya ingin menyerahkan portepel ini kepada Ibu. Itu saja."

"Apa isinya? Untukku?" tanya Ibu Sinder.

"Betul, Bu, untuk Ibu. Silakan Ibu mempelajarinya nanti. Maaf, Bu, aku ditunggu teman di stasiun," jawab laki-laki itu singkat.

Lelaki itu menyerahkan portepel yang berisi surat-surat, dan langsung minta diri pergi meninggalkan rumah Ibu Sinder. Oleh Ibu Sinder, portepel itu hanya diletakkan di pangkuannya saja. Ia mencoba mengingat-ingat wajah tamunya yang baru saja pergi.

"Astaga, wajahnya mirip benar dengan wajah Jeng Mirah. Ah, tidak salah lagi. Ia pasti Kadarman, kakak Kadarwati. Jeng Mirah pernah menceritakannya Portepel ini pasti dari Jeng Mirah."

Perlahan-lahan Ibu Sinder mengurai tali-temali portepel itu. Isinya terbukti surat-surat resmi. Surat-surat itu dibacanya berulang-ulang. Ia belum mau percaya pada apa yang dibacanya itu. Surat-surat itu adalah formulir sertifikat tanah dan rumah atas nama Raden Ayu Suprapto. Sehelai surat terselip pada portepel bagian dalam. Dengan tangan gemetar dicabutnya surat itu lalu dibacanya. Surat dari Kadarwati, dalam bahasa Jawa, berhuruf Latin:

"Katur Ibu Sinder,

Semoga suratku ini tidak akan mengejutkan Ibu. Aku mohon maaf sebesar-besarnya bahwa aku tidak sempat mohon diri kepada Ibu, karena aku segera diperlukan seorang yang amat kucintai. Orang yang memerlukan perawatanku untuk selama-lamanya. Tidak akan ada orang lain yang sanggup dan bersedia merawatnya selain Mirah yang dijumpainya di rumah Ibu Sinder. Selesailah sudah riwayat Mirah, berakhir sudah penderitaannya, tapi ia tak bisa lagi menyandang nama Kadarwati ataupun Mirah. Kadarwati sudah mati di tanah rantau, Mirah hilang di markas Belanda. Untuk terakhir kali ini ingkang putra menggunakan nama aslinya, Kadarwati. Sebagai persembahan cinta kasih Ananda, kuharap Ibu berkenan menerima apa yang termaktub dalam surat-surat ini. Kadarwati, alias Mirah, akan sangat berbahagia bila Ibu bersedia menerimanya dengan tulus ikhlas, bersedia nglenggahi gubuk persembahan Mirah. Persembahan yang asal-usulnya tidak dari hadiah-hadiah yang pernah diterima dari sekian banyak laki-laki, tapi persembahan atas hasil jerih payah ber-candak-kulak di Balokan. Permintaan Ananda, terimalah Mirah yang hina-dina ini sebagai anak Ibu sendiri.

Putra tresna,

Mirah Kadarwati."

Tersentak Ibu Sinder bangun dari lamunannya. Ia sadar bahwa kini ia bukan Nyonya Suprapto, bukan Ibu Sinder lagi. Ia Ibu Climen sekarang.

"Aku mau apa lagi," pikir Ibu Climen. "Sudah menjadi kodrat umat, bahwa induk harus rela melepaskan anak-anaknya. Semoga Suhono dan Ivo memperoleh kebahagiaan di negara dingin sana. Semoga Mirah menemukan kebahagiaan dari kesetiaannya yang tulus ikhlas itu, dan semoga Herman berhasil dengan studinya di luar negeri, bisa menjadi kebanggaan Winarsih dan kebanggaanku. Puji syukur, ya Allah, atas limpahan cinta-kasihMu kepada umatMu."

"Bu, sudah ada tamu datang. Bu," tegur Munah yang dipercayainya untuk memimpin dapur Warung Climen.

Ibu Sinder bangkit dari kursi bambu tutul, membelai-belai rambut pirang anak kecil berwajah tampan bermata biru, dalam gendongan embok-nya, Munah! Ibu Climen langsung menuju ruang depan untuk menyongsong kedatangan tamu-tamu pengunjung warungnya.




Selesai



Pandir Kelana, nama samar-an RM Slamet Danusudirdjo, major jenderal purnawirawan, semenjak tahun 1980, memasuki jajaran pengarang novel dan lebih mengkhususkan diri pada kisah-kisah sekitar revolusi kemerdekaan Indonesia. Perwira tinggi tempaan Perjuangan Bersenjata ini, mengikuti pendidikan militer di Eropa Barat, Negeri Belanda dan Belgia, dan di Eropa Timur, Uni Sovyet.

Jabatan-jabatan non-militer yang pernah diembannya, antara lain, sebagai deputi Ketua BAPPENAS, direktur jenderal Bea & Cukai, anggota Dewan Pertimbangan Agung RI, dan terakhir, sebagai rektor Institut Kesenian Jakarta.

Dari rencana tulis yang berjumlah 13 episode, 5 buah telah diterbitkan, ialah Kereta Api Terakhir, Kadarwati, Wanita dengan Lima Nama, Ibu Sinder, Rintihan Burung Kedasih, dan Suro Buldog, Orang Buangan Tanah Merah; dan yang non-masa Revolusi, Tusuk Sanggul Pudak Wangi, yang mengisahkan lahirnya kerajaan Majapahit.

Sudah menjadi tekad Pandir Kelana, dengan ridho Tuhan yang Mahakuasa, untuk dapat mempersembahkan episode yang ke-13 nanti, pada ulang tahunnya yang ke-75, yang jatuh pada hari Sabtu Wage, 4 April, tahun 2000. Di samping tanda-tanda jasa yang lain, negara juga menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama padanya.





Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified