Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Ibu Sinder Part 2


Paduan suara kodok besar-kecil melatarbelakangi desah dan rintihan. Beberapa waktu kemudian kembali dua insan berlainan jenis itu menyelusuri jalur rel sempit, berbalik arah. Ivonne mengajak temannya itu beristirahat duduk-duduk di atas rel. Suhono menurut saja.

"Indah, indah lingkungan ini," gumam Ivonne. "Holland dan Insulinde, tambatan hatiku. Jiwa ragaku milikmu berdua. Dua tahun yang lalu aku ikut Papi dan Mami berlibur di negeri datar di tepi laut itu. Holland selalu memberikan kesan tersendiri kepadaku. Aku mencintainya, tapi di sana aku merasa kehilangan sesuatu. Kehilangan negeri yang sepanjang tahun dimanjakan oleh sang surya. Begitu aku menginjakkan kakiku kembali di bumi ini, lagi-lagi aku merasa kehilangan sesuatu. Kehilangan sejuknya kelahiran kembali alam di musim semi dan melankolinya musim gugur. Salju di musim dingin memiliki daya tarik tersendiri. Aku selalu merasa terombang-ambing oleh dua dunia. Tak pernah aku bisa mantap berdiri di atas kedua kakiku. Tidak hanya lingkungan alamnya saja yang sangat berpengaruh terhadap diriku, tapi juga lingkungan sosialnya. Yang satu bebas-individualistis, yang lain akrab-komunal."

"Yang mana yang paling kausukai, Ivo?"

"Itulah persoalannya, Hono," jawab Ivonne sambil menengadah melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit raya. "Aku tidak tahu. Dua-duanya begitu mengikat jiwaku. Mungkin aku telanjur salah berpijak. Masa kecilku kulewatkan di bumi ini, sampai aku lulus pendidikan dasarku di Europese Lagere School (Sekolah Dasar untuk anak-anak Belanda). Pendidikan sekolah menengah kuselesaikan di Holland, lima tahun lamanya. Kembali di Jawa, aku memasuki Geneeskundige Hogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran) dulu. Tiga tahun sekali aku berlibur di Holland. Itulah sebabnya aku hidup di antara dua dunia. Menjawab pertanyaanmu yang kaukemukakan di pesta dansa waktu itu, apa aku bisa mencintai seorang Inlander, dengan tegas kini dapat kujawab... ya! Tapi apa aku bersedia menjadi istri seorang Jawa, aku belum bisa menjawabnya. Benar, Nenek seorang wanita Jawa, tapi aku tak pernah hidup dalam lingkungan keluarga Jawa. Aku sangsi apa aku mampu menyesuaikan. Terus terang, sekarang ini aku mencintai seorang insinyur Jawa. Maaf, Hono, sesuai dengan pertanyaanmu, aku mencintai seorang Inlander dengan sepenuh hatiku. Tetapi untuk menjadi istri insinyur itu, aku masih ragu-ragu. Sebaliknya, aku tidak ingin insinyur itu menjadi seorang Belanda. Akan hilang nilai pengikatnya bagiku." Dengan serta-merta Ivonne mendekap Suhono sambil berkata terbata-bata, "Aku mencintaimu, Hono."

Isak tangisnya menyayat-nyayat hati insinyur muda itu. "Sudahlah, Ivo. Kita berdua masih memerlukan waktu pengendapan untuk pemahaman diri, menguji hati kita masing-masing. Kita tidak perlu tergesa-gesa mengambil keputusan. Biarlah waktu berlalu dulu. Jangan salah paham. Aku mencintaimu, Ivo."

Setelah Ivonne mampu mengatasi emosinya, Suhono mengajaknya pulang dengan berkata, "Sudah agak malam, mari kuantar pulang."

Sementara itu Sinder Suprapto dan istrinya duduk-duduk santai di atas tikar tempat pembatikan. Suprapto menikmati minuman teh gula Jawa, menemani Ibu Sinder yang sedang membatik. Sambil membatik Ibu Sinder berpikir apakah tepat saatnya untuk mempersoalkan hubungan anaknya dengan Ivonne. Tiba-tiba Suprapto bertanya, "Apa yang sedang kaupikirkan. Bu?"

"Aku merisaukan hubungan yang semakin akrab antara Suhono dan Non Ivo. Tampaknya mereka tidak sedang main-main."

“Tak perlu kaurisaukan, Ro. Mereka sudah dewasa dan lagi, apa salahnya punya menantu nonik. Bukan nonik sembarangan. Kau tahu sendiri, Ivo baik hatinya. Calon dokter lagi. Dua-duanya bisa mandiri."

Kini Ibu Sinder memperoleh ketegasan bahwa suaminya menyetujui keakraban anaknya dengan Ivo, bahkan tak berkeberatan bila Ivo jadi menantunya. Pikir Ibu Sinder, memang tak ada salahnya, tapi hatiku belum merelakannya. Ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa.

"Aku tahu, Ivo anak baik dan begitu hormat dan sayang kepadaku tampaknya. Tetapi entah. Pak, otakku meluluskan, tapi hatiku belum. Selalu merasa waswas saja, seperti membiarkan dua anak kecil bermain-main di tepi sumur."

"Ah, kau terlalu takut pada bayanganmu sendiri, Ro," kata Suprapto.

Tiba-tiba Ibu Sinder berhenti membatik dan bergeser menghadap suaminya. Ditatapnya muka dan mata suaminya, lalu berkata, "Pak, ada hal yang perlu kusampaikan padamu. Kalau kau memang setuju dan merestui hubungan Suhono dan Non Ivo, ada ketidakserasian yang perlu disingkirkan." Sebelum suaminya sempat bertanya-tanya. Ibu Sinder meneruskan kata-katanya. "Dalam cerita wayang ada kisah yang mirip. Raden Arjuna dan Dewi Banowati, permaisuri Jakapitana. Dua-duanya membiarkan anak-anaknya bermain cinta. Itu cerita wayang, tapi hal semacam itu tidak mustahil bisa terjadi dalam kehidupan kita."

Segera Suprapto dapat menangkap apa yang dimaksud oleh istrinya. Contoh itu menyangkut hubungannya dengan Fien van Hoogendorp. Ia terperanjat bercampur malu istrinya mengetahuinya, padahal ia cukup hati-hati. Suprapto masih memberanikan diri bertanya untuk mendapat kepastian. "Apa yang kaumaksudkan. Bu?"

Sambil tersenyum Ibu Sinder menjawab, "Maaf, Pak, bukan maksudku membongkar-bongkar kejadian-kejadian yang telah lewat. Sejak aku nikah denganmu. Pak, aku sadar bahwa aku beruntung memperoleh suami yang ganteng, gagah, tapi aku sadar pula bahwa cobaan dan godaan akan selalu membuntuti perkawinan kita. Kau seorang pria yang mempunyai daya tarik kuat bagi wanita dan kau bukannya seorang Resi Bisma. Aku cukup terlatih untuk menghadapi kemungkinan itu. Aku hidup dan dididik dalam lingkungan yang padat persoalan wanita. Duniaku dulu dunia laki-laki. Wanita wajib tunduk pada aturan-aturan yang ditentukan oleh kaum pria. Winarsih mungkin secara naluriah memberontak terhadap adat yang mengekangnya. Aku tidak. Aku menerima apa adanya, sehingga apa pun yang terjadi di sekitarku itu bagiku adalah hal yang lumrah saja. Bibi Dumilah selalu berkata, 'Di rumah ia sepenuhnya suamimu, tapi begitu keluar pintu, kau harus bisa mengikhlaskannya’. Ajaran Bibi itu kupegang teguh. Sampai kini aku bisa menerimanya. Aku tak akan menghalang-halangi hubunganmu dengan Nyonya Besar, Pak. Dulu aku hanya mengkhawatirkan kedudukanmu, tapi sekarang ini lain duduk ceritanya. Pak. Seandainya itu sampai diketahui oleh Nona Ivo dan Suhono, lalu bagaimana? Itulah yang akhir-akhir ini kurisaukan. Risi, tidak enak rasanya."

Mendengar penjelasan istrinya yang diucapkan dengan tenang dan mantap itu Suprapto tak mampu berkata-kata. Ia menunduk dan matanya mulai berkaca-kaca. Setelah ia mampu menguasai perasaannya, ia pun berkata, "Ro, kau boleh percaya boleh tidak. Aku tidak memulainya, bahkan aku mula-mula mencoba menghindarinya. Aku sadar siapa aku dan siapa dia, tapi wanita itu bukannya orang yang mudah menyerah begitu saja. Ia sadar akan daya tarik yang dimilikinya. Tapi bukan daya tariknya yang mengalahkan diriku, Win, tapi kenekatannya. Wanita itu seolah-olah tidak mempedulikan martabatnya lagi sebagai Nyonya Besar. Akhirnya aku memilih jalan yang lebih aman. Kupenuhi kemauannya. Dengan demikian ia bisa dikendalikan, sehingga tidak membahayakan dirinya, martabat suaminya, maupun kedudukanku sebagai sinder. Win, kau tentu akan berkata, ah, itu alasan yang dicari-cari untuk pembenaran diri. Terserahlah, Ro. Kini keadaan makin lebih rumit lagi. Percayalah, Win, aku tak akan berkeberatan melepaskannya, tapi Nyonya Besar belum mau mundur selangkah pun."

Masih tetap menatap suaminya itu Ibu Sinder berkata, "Kalau aku boleh bertanya. Pak, bagaimana tanggapan Nyonya Besar terhadap hubungan Hono dan Nona Ivo?"

"Dia tidak hanya menyetujui, tapi malah ikut mendorong," jawab Suprapto.

Ibu Sinder mengalihkan pandangan ke arah halaman. "Begitu besarkah cinta Nyonya terhadap dirimu, Pak?" gumam Bu Sinder seperti kepada dirinya sendiri.

"Apa maksudmu. Bu?"

"Lewat anaknya dan anak kita ia ingin tetap menjalin hubungan dengan dirimu, Pak."

Suprapto diam. Ibu Sinder melanjutkan, "Ketahuilah, Pak, kukira Nyonya Besar jujur terhadap diriku. Ia menyukaiku dan ketahuilah. Pak, aku juga menyukainya. Kau pasti tahu juga bahwa Nyonya Besar pandai berbahasa Jawa. Waktu pesta dansa dulu aku sendiri terheran-heran. Ia mengajakku bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Begitu halus budi bahasanya. Lahiriah ia tampak tinggi hati, tapi sebenarnya hatinya baik. Dengan jujur dapat kukatakan padamu. Pak, seandainya dia itu wanita Jawa dan masih bebas, aku tak akan keberatan ia jadi maru-ku."

Tiba-tiba suami-istri yang sedang sibuk bercakap-cakap itu terganggu oleh ketukan pada pintu depan rumah. Percakapan pun terhenti.

"Suhono pulang. Pak. Tolong bukakan pintu. Lain kali saja kita lanjutkan," kata Bu Sinder mengakhiri percakapan.




JENAR CEBOL KEPALANG

Jarum-jarum jam waktu berputar dengan cepatnya. Api peperangan telah membakar seluruh daratan Eropa. Balatentara Dai Nippon di kawasan Asia-Pasifik unggul di mana-mana. Manchuria, Tiongkok Timur, Hongkong, Filipina, Indo-Cina, Muangthai, Birma, Malaya, Sumate-ra, Borneo, Sulawesi, dan Maluku telah jatuh dalam kekuasaan Dai Nippon.

Akhirnya pada bulan Maret tahun 1942, Jenderal Ter Poorten di Kalijau menandatangani penyerahan tanpa syarat Tentara Hindia-Belanda kepada balatentara Dai Nippon. Hapuslah Nederlands-Indie dari peta bumi politik dunia. Pulau Jawa dikuasai oleh balatentara Dai Nippon dengan pusat pemerintahan tetap di Batavia, dengan nama barunya Jakarta.

Sementara itu sepasukan tentara Jepang menduduki Madugondo. Van Hoogendorp dan pegawai-pegawainya diperintahkan untuk tetap terus bekerja. Serta-merta penduduk mengibarkan bendera Merah-Putih. Pihak balatentara membiarkannya. Di sana-sini berkumandang Indonesia Raya. Rakyat Madugondo bergembira dan berbesar hati. Masa penjajahan Belanda telah lewat, zaman kemerdekaan akan menyusul. Namun kegembiraan itu hanya berlangsung singkat. Balatentara Dai Nippon melarang pengibaran bendera Merah-Putih dan yang boleh berkibar hanyalah bendera Dai Nippon saja. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dilarang, diganti dengan kewajiban menyanyikan lagu Kimigayo— lagu kebangsaan Jepang.

Pada suatu pagi hari, Sinder Suprapto dan istrinya duduk-duduk santai di atas lincak di depan rumah. Berbagai macam pikiran dan harapan berkecamuk dalam benak Suprapto. Tiba-tiba Ibu Sinder yang duduk di sampingnya itu bertanya, "Apa yang sedang kaupikirkan. Pak?"

"Aku tak mengira, dalam beberapa hari Belanda begitu saja menyerah pada balatentara Nippon," jawab Suprapto penuh emosi. "Habislah riwayat Belanda di bumi kita ini. Kemerdekaan sudah di ambang pintu."

"Ramalan Jayabaya menjadi kenyataan sudah."

"Apa yang dikatakan Jayabaya, Bu?" Sinder Suprapto bertanya. "Begini bunyinya," jawab Ibu Sinder. "Tekane bebantu saka Nusa Tembini, ke-kulitan jenar, dedeg cebol kepalang, iku kang bakal ngebroki tanah Jawa kene. Pangrehe mung sakumur-ing jagung suwene, nuli boyong nang negarane dewe Nusa Tembini. Tanah Jawa bali nyang asale sakawit (Datanglah bantuan dari Nusa Tembini, berkulit kuning, pendek-pendek tubuhnya. Merekalah yang menduduki Pulau Jawa dan memerintah selama umur jagung. Mereka pulang ke negerinya Nusa Tembini. Pulau Jawa kembali pada asal-mulanya)."

Sambil termenung Sinder Suprapto berkata, "Kalimat terakhir itu. Bu, merupakan suatu teka-teki. Pulau Jawa kembali pada asal mulanya. Apa itu akan berarti bahwa Belanda akan kembali lagi?"

“Tidak pernah ada jangka yang menggunakan kata-kata terang-benderang," jawab Bu Sinder. “Tafsiran setiap orang bisa beda-beda. Aku tidak percaya Belanda akan menjajah kembali tanah Jawa ini. Jangka Jayabaya itu ada penutupnya. Pak. Bunyinya begini: Tutupe jangka lan weca ingsun wasitani: Tebu sakuyun, ana wedon saka lor kulon, akemul mori putih, ateken tebu wulung (Tentang penutup ramalan itu kuberikan petunjuk sebagai berikut: Serumpun tebu, ada mayat hidup dari barat laut, berselimut kain kafan, bertongkat tebu ungu tua).”

"Ro, kau lebih tahu tentang persoalan ramalan. Tentang jangka yang pertama itu jelas, kecuali kalimat terakhir. Apa makna jangka yang kedua itu. Bu?" potong Suprapto.

Sambil tersenyum Ibu Sinder menjawab, “Tadi kukatakan, ramalan atau jangka itu bisa diartikan atau ditafsirkan macam-macam. Menurut pendapatku kalimat 'tanah Jawa bali asale sakawit' berkaitan dengan jangka kedua. Ada mayat hidup dari barat laut. Mayat tetap mayat, jadi ada yang sudah mati tapi kembali lagi. Berselimut kain kafan. Kalau sudah diselimuti kain kafan pasti akan dikubur. Bertongkat tebu ungu tua. Untuk apa tongkat itu? Pertama, mayat hidup itu berdiri saja susah, harus pakai tongkat. Kedua, tongkat itu juga bisa dipakai sebagai senjata."

Percakapan suami-istri itu terganggu oleh dering bunyi pesawat telepon. Sinder Suprapto bangkit, lari menuju pesawat telepon di ruang depan rumah. Langsung ia mengangkat tangkai telepon, "Ya, haloo... haloo... Sinder Suprapto di sini.... Baik, Tuan, baik."

Ibu Sinder yang sudah berdiri di samping suaminya bertanya, "Ada apa. Pak?"

Dengan wajah tegang Suprapto menjawab, “Telepon dari Sekretaris, disuruh kumpul di Besaran. Hari Minggu, ada apa?"

Suprapto keluar ke halaman rumah. Ibu Sinder mengikutinya.

Suprapto mengenakan seragam putih-putihnya. Kepada istrinya dia berpesan, "Jangan pergi-pergi ya. Bu. Tunggu sampai aku kembali." Ibu Sinder mengangguk. Suprapto berangkat.

"Zaman akan berubah. Ya Tuhan, lindungilah Suhono," gumam Ibu Sinder.

Suprapto naik sepeda menuju Besaran. Tiba di Besaran rekan-rekan sekerjanya banyak yang sudah tiba lebih dahulu. Van Hoogendorp sendiri yang memeriksa apa pegawai-pegawai yang harus hadir pagi itu sudah ada semua. Administrator itu gelisah. Tak lama kemudian sebuah mobil sedan memasuki halaman, diikuti oleh dua truk, yang satu kosong, lainnya memuat serdadu-serdadu Jepang bersenjata lengkap.

Beberapa pembesar Jepang keluar dari mobil. Van Hoogendorp menyongsongnya dan mempersilakan mereka duduk di atas kursi yang memang disediakan untuk mereka. Serdadu-serdadu Jepang turun dari truk dan menyebar mengepung gedung Besaran itu. Suasana menjadi semakin tegang. Bagi pegawai-pegawai Madugondo lainnya tidak disediakan tempat duduk. Mereka berdiri menghadap pembesar-pembesar Jepang itu. Jepang-jepang itu duduk tegak di atas kursi masing-masing dengan pedang-pedang samurai tegak di antara kaki-kaki mereka. Duduk mematung melihat lurus ke depan. Wajah Van Hoogendorp menjadi semakin pucat, tapi ia berusaha keras untuk tidak memperlihatkan ketakutannya kepada pegawai-pegawainya.

Rasa tegang memuncak pada saat seorang pembesar Jepang yang duduk di tengah berdiri lalu mengucapkan pidatonya. Seorang Jepang lain ikut berdiri, menerjemahkan isi pidato dalam bahasa Belanda.

Kata pembesar Jepang itu, "Tuan-tuan, mulai hari ini. Perkebunan dan Pabrik Gula Madugondo dikuasai oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon. Tuan-tuan supaya lebih giat bekerja. Untuk kemakmuran bersama di Asia Timur Raya. Balatentara Dai Nippon percaya bahwa Tuan-tuan akan taat dan setia kepada Pemerintah Balatentara. Barangsiapa menghambat kelancaran jalannya pemerintahan, sengaja atau tidak sengaja, akan dihukum mati. Pimpinan Madugondo akan dipegang oleh Yamaguci San. (Jepang yang disebut namanya itu berdiri, membungkuk sambil berkata, "Haik, Fukuda San," lalu duduk kembali.) Selesai!"

Pembesar itu memalingkan kepalanya ke arah Van Hoogendorp yang duduk di sebelahnya. Kata pembesar Jepang itu, “Tuan Administrator, Tuan dan istri Tuan supaya siap berangkat. Sekarang juga." Penerjemah menjelaskan sesuatu kepada Van Hoogendorp. Administrator itu menjadi semakin pucat. Ia masuk ke dalam rumah dan seperempat jam kemudian keluar lagi sambil menjinjing sebuah koper kecil, diikuti oleh istrinya, Fien van Hoogendorp, yang juga membawa koper kecil. Seorang sersan tentara Jepang membimbing Van Hoogendorp suami-istri naik truk kosong. Sesaat sebelum meninggalkan pendapa Besaran itu, Fien van Hoogendorp, dengan mata merah, masih sempat memandang ke arah Sinder Suprapto. Pandangan mata sekejap yang penuh arti bagi Suprapto. Pandangan mata minta diri. Suprapto hanya mengangguk kecil.

Setelah itu pembesar-pembesar Jepang dan pegawainya pergi meninggalkan Madugondo. Pegawai-pegawai teras yang ditinggal begitu saja saling pandang-memandang. Apa yang harus diperbuat. Pimpinan Madugondo sudah tidak ada lagi. Kata Masinis Kepala kepada Sekretaris, “Tuan Vermeulen, siapa yang memegang tampuk pimpinan di Madugondo sekarang ini? Jonkheer sudah dibawa pergi."

“Tadi disebut nama Yamaguci," jawab Sekretaris yang tampak kebingungan itu, "pembesar Jepang yang berdiri lalu membungkuk-bungkuk tadi. Tapi kapan ia akan kemari lagi, aku tidak tahu."

“Tuan Sekretaris, Tuanlah yang paling senior di Madugondo ini. Pimpinlah Madugondo sebelum ada kepastian," kata Sinder Suprapto.

Pegawai-pegawai teras yang lain menyetujui desakan Suprapto, sekalipun Vermeulen sendiri sebenarnya tidak bersedia untuk memegang pimpinan. "Baiklah," katanya. "Nah, mari pulang. Besok kita kerja seperti biasa." Kepada kepala rumah tangga Besaran, Sekretaris memerintahkan agar tetap menjaga gedung Besaran itu.

Tiga hari kemudian Yamaguci muncul di Madugondo. Ia membawa serta stafnya, yang terdiri dari lima orang ahli perkebunan dan pabrik gula. Terbukti Yamaguci pandai berbahasa Indonesia. Sepasukan tentara Jepang tetap diperbantukan padanya di bawah pimpinan Sersan Mayor Kongga. Dua minggu kemudian setelah ia sudah memahami seluk-beluk Madugondo, pegawai-pegawai Belanda totok disingkirkannya. Mereka diangkut pergi entah ke mana. Pegawai-pegawai Indo-Belanda masih tetap diperbantukan. Yamaguci tidak lama tinggal di Madugondo. Ia digantikan oleh seorang Jepang lain bernama Yoshisawa, yang sama sekali tidak paham bahasa Indonesia.

Pada suatu hari Wedono-Demang mendapat perintah untuk mengumpulkan rakyatnya di alun-alun Madugondo. Yoshisawa mengucapkan pidatonya dalam bahasa Jepang. Orang mengira bahwa pidatonya itu akan diterjemahkan. Terbukti tidak. Selesai berpidato, rakyat yang mendengarkannya itu bertepuk tangan gegap-gempita, sekalipun rakyat tidak tahu apa isi pidatonya itu. Yoshisawa bukannya bangga pidatonya mendapat sambutan tepuk tangan, tapi sebaliknya, ia marah-marah sambil mengumpat-umpat, "Bagero, bagero!"

Suprapto dan Sugondo pulang bersama-sama. "Nippon gila," kata Sugondo. "Apa dia tidak tahu bahwa kita belum paham bahasa Nippon? Ee, rakyat tepuk tangan, marah-marah dia. Apa maunya?"

"Memang baru zaman edan, mau apa?" tanggap Suprapto.

Beberapa hari kemudian baru diketahui mengapa Yoshisawa itu marah-marah. Isi pidatonya itu sebetulnya merupakan suatu ancaman, karena terbukti banyak terjadi pencurian tebu oleh penduduk. Penerjemah yang diharapkan datang, sampai akhir pidato tak juga muncul karena terserang malaria.

Kehidupan di Madugondo semakin mencekam. Pegawai-pegawai takut membuat kesalahan, sebab bukan teguran yang diterimanya, tapi tamparan. Pegawai-pegawai Indo-Belanda ada yang terpaksa menyerahkan anak-anak gadisnya kepada penguasa-penguasa Jepang itu. Mereka ditakut-takuti dengan bayangan interniran yang penuh derita itu.

Pada suatu malam, seperti biasanya, Suprapto dan Ibu Sinder berbincang-bincang di atas tikar pembatikan. Pada wajah Sinder Suprapto tergambar adanya rasa ketidakpastian.

"Kau selalu kelihatan gusar. Pak. Ada apa?"

“Terus-terang, Bu, mula-mula dalam hati kusambut hangat kedatangan Nippon di bumi kita ini, tapi lambat-laun aku sangsi. Benarkah Nippon akan memerdekakan kita? Tidak ada tanda-tanda ke arah itu. Malahan kekejaman-kekejaman makin merajalela saja. Kemarin Mandor Darmin dihajar habis-habisan oleh Tuan Mikimoto si pengawas bangsat itu."

"Apa kesalahannya, Pak?" Ibu Sinder bertanya.

"Sebenarnya ia tidak bersalah. Ia kedapatan sedang merokok di tepi kebun. Kalau di tengah-tengah kebun aku bisa mengerti, sebab kalau ceroboh melempar puntung rokok, bisa mengakibatkan kebakaran. Ini di tepi kebun, jauh lagi. Ee, dihajar sampai bengkak mukanya. Aku protes. Kutanyakan kepadanya mengapa Darmin sampai dihajar. Dia mengumpat-umpat dalam bahasa Nippon. Hanya kata-kata 'Bagero' saja yang dapat kutangkap. Daripada cari perkara, aku. pergi. Ke mana Nippon maunya? Anehnya, ada dua Nippon lainnya, sama-sama pengawas, beda sekali sikapnya. Tindakan-tindakan keduanya benar-benar wajar. Akhirnya kuketahui bahwa mereka bukan orang Jepang. Mereka orang Formosa (Taiwan). Mereka juga tidak suka pada Jepang. Setan-setan gundul itu mau menangnya sendiri saja."

"Hati-hati, Pak. Jangan asal bicara. Jangan gegabah. Kita sekarang ini sedang menghadapi orang-orang cupet nalar."

"Aku mau tidur, besok kerja berat," kata Suprapto sambil bangkit meninggalkan tempat pembatikan.

Madugondo telah berubah wajah. Pemuda pekerja kebun maupun pabrik disusun dalam satuan-satuan barisan. Mereka memperoleh latihan-latihan dasar militer. Senapan-senapan kayu menjadi pegangan pemuda-pemuda sehari-harinya. Pagi, siang, sore, setiap tempat terbuka, tidak pernah kosong dari pemuda-pemuda yang berlatih. Berbagai organisasi kepemudaan dibentuk, seperti Keibondan yang tugasnya menjaga keamanan kampung, Seinendan yang disiapkan untuk serdadu-serdadu pada waktunya. Tamparan dan tendangan menjadi alat dan cara untuk menegakkan disiplin. Sersan Mayor Kongga memegang pimpinan semua organisasi kepemudaan di Madugondo. Ia menjadi seorang yang paling ditakuti. Seperti Nippon-nippon lainnya yang memegang kekuasaan, Kongga juga memelihara beberapa wanita gula-gula, di antaranya seorang gadis Indo.

Nippon menegakkan kepatuhan dengan jalan menanamkan rasa takut pada bawahannya. Pegawai-pegawai pabrik tidak luput dari rasa takut itu. Tampar dan tempeleng adalah ganjaran bagi orang-orang yang melakukan kekeliruan kecil, dan aniaya bagi mereka yang berbuat salah, menurut ukuran Nippon. Dua orang pembantu masinis mati di ujung bayonet kena tuduhan sabotase. Mesin-mesin uap pabrik memang sudah tua-tua. Bocor adalah hal yang biasa-biasa saja. Masinis-masinis sanggup memperbaikinya dengan cepat. Dua pembantu masinis itu terlambat melaporkan, akhirnya bayonet Kongga-lah yang bicara.

Bulan berganti tahun. Lambat-laun balatentara Dai Nippon tidak mampu lagi menutup rapat udara di atas Pulau Jawa. Pesawat-pesawat terbang Sekutu kadang-kadang muncul. Latihan-latihan menghadapi bahaya udara ditingkatkan. Setiap rumah harus memiliki lubang perlindungan. Lampu-lampu tidak boleh memancarkan sinarnya ke mana-mana, harus diselubungi agar sinar yang sudah terbatas itu hanya mengarah ke bawah.

Bahan makanan makin langka, sebab petani harus menyerahkan bagian terbesar dari hasil panen kepada Nippon, untuk keperluan logistik perang mereka. Mayat orang yang tinggal kerangka dan kulit, begitu saja tergeletak di tepi jalan. Nippon juga giat membangun kubu-kubu pertahanan. Dikerahkannya penduduk untuk dijadikan pekerja Romusha. Ribuan mati keletihan dan kelaparan di berbagai tempat.

Madugondo juga tidak luput dari penderitaan sebagai akibat usaha perang yang dijalankan oleh Nippon. Sepulang dari kebun, Suprapto menemukan istrinya membatik dengan mata merah membengkak. Ia langsung saja mendekatinya dan bertanya, "Ada apa lagi. Bu? Salahku apa?"

"Kau sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang sedang aku rasakan. Mari kuantar ke gudang belakang."

Suprapto mengikuti istrinya menuju ke gudang. Begitu membuka pintu, Suprapto melihat seorang yang tidur di atas tikar. Suprapto terkejut bukan main berhadapan dengan manusia yang tinggal kerangka berkulit itu, tapi melihat dada orang itu masih naik-turun ia merasa lega. "Siapa dia?" tanyanya.

Ibu Sinder tidak menjawab pertanyaan suaminya, ia hanya berkata, "Biarkan dia tidur, Pak. Mari kujelaskan." Suami-istri lalu kembali duduk di tempat pembatikan.

"Aku menemukan orang itu tergeletak di halaman depan," kata Ibu Sinder. "Semula kukira orang itu sudah meninggal. Ternyata belum. Dibantu Embok dan Diman kuangkat orang itu ke gudang. Kutidurkan di situ. Orang itu sudah kelaparan, tapi terlalu berbahaya untuk begitu saja menyuruhnya makan. Kubuatkan tajin beras merah. Kusuapi sendok demi sendok. Perutnya tidak boleh terlalu kenyang. Kuberikan minuman air hangat gula aren, hanya secangkir. Ia lalu tidur, kecapekan. Besok baru boleh makan bubur yang cair."

Tanpa disadari, mata Suprapto ikut berkaca-kaca mendengarkan penjelasan istrinya itu. "Ribuan orang sudah bernasib seperti dia," gumamnya.

Dua minggu kemudian seorang berusia sekitar tiga puluh tahun sedang bersih-bersih di halaman depan rumah Sinder Suprapto. Dialah orang yang ditolong oleh Ibu Sinder. Kini ia menjadi pembantu keluarga itu. Diceritakannya pengalamannya kepada Suprapto dan istrinya. Karsimin, begitu namanya, bersama beberapa orang lainnya ditunjuk oleh desanya untuk mewakili desa menjadi pekerja Romusha. Ia berasal dari desa Sumberpucung dekat Lumajang. Bersama orang-orang Romusha lainnya ia diangkut dengan kereta api ke Banten. Di Banten ia bersama ribuan Romusha lainnya membangun jalur kereta api ke Malingping di Banten Selatan. Ia tak tahan penderitaan yang menimpanya: kerja berat, makan kurang. Akhirnya bersama beberapa teman lainnya ia melarikan diri. Terdamparlah ia di Madugondo hanya dengan celana goni sebagai penutup tubuh. Sekalipun sudah kuat kembali ia tidak berani kembali ke desanya. Takut ditangkap polisi. Suprapto mengizinkannya untuk tinggal di rumahnya, sampai keadaan memungkinkan untuk meneruskan perjalanan ke Sumberpucung. Karsimin bukannya orang miskin di desanya. Ia memiliki sebidang tanah yang hasilnya cukup untuk menghidupi istri dan dua anaknya. Suprapto tahu bahwa ribuan orang melarikan diri dari Banten dan ia tahu pula bahwa Nippon sama sekali tidak berusaha untuk mengembalikan mereka ke tempat kerjanya. Mereka toh akan tetap menerima pekerja-pekerja baru yang datang dari seluruh penjuru Pulau Jawa.

Sinder Sugondo sedang mengawasi pemuatan batang-batang tebu ke atas lori. Setelah seluruh lori-lori sudah dipenuhi dengan batang-batang tebu, Sugondo memerintahkan masinis lokomotif untuk segera berangkat ke lapangan penimbunan dekat pabrik. Perlahan-lahan kereta api tebu atau yang lazim disebut muntit melaju, diikuti oleh pandangan mata Sinder Sugondo. Lega rasa hati Sugondo, sebab gandengan lori-lori itu adalah gandengan yang terakhir untuk hari itu. Sugondo terkejut bukan kepalang ketika melihat lori yang paling belakang keluar rel dan mulai miring-miring. Ia dan pekerja-pekerjanya berlari-lari mengejar kereta api. Maksudnya akan menahan lori yang miring-miring itu, namun terlambat sudah. Lori itu terguling dan membawa serta empat lori lainnya. Muatan tebu tumpah-ruah dan lima lori tergeletak di tepi jalur. Kereta api tebu berhenti. Sugondo kebingungan. Tidak sulit untuk mengembalikan lori-lori di atas rel, tapi masalahnya, ia tidak memiliki cukup pekerja untuk memuat tebu-tebu ke atas lori lagi, tepat pada waktunya. Ia akan terlambat masuk lapangan penimbunan. Salah-salah malah ia nanti dituduh menjalankan sabotase. Sugondo sudah kehilangan akal sama sekali. Masinis lokomotif dan pekerja-pekerja menunggu-nunggu perintahnya, tapi ia masih saja berdiri mematung. Sementara itu masinis melihat sebuah dresin sedang mendekat.

"Itu Sinder Prapto!" teriaknya.

Suprapto sendiri dari jauh sudah melihat lori-lori yang terguling. "Darmin," perintahnya. "Kau balik kanan. Bawa dresin ini. Kerahkan semua tenaga yang ada kemari. Sinder Sugondo dalam kesulitan."

Suprapto meloncat turun dan Darmin memerintahkan pendayung-pendayung untuk kembali. Begitu melihat wajah Sugondo, Sinder Suprapto sadar, bahwa ia harus berbuat sesuatu. Suprapto, menepuk-nepuk bahu temannya sambil berkata, "Jangan khawatir, akan kubantu. Pekerja-pekerjaku akan datang. Mari mulai. Jangan sampai kehilangan waktu."

Sugondo, Suprapto, dan pekerja-pekerja mulai mengembalikan lori-lori ke atas rel. Kemudian batang-batang tebu dimuat kembali ke lori-lori. Tak lama kemudian Mandor Darmin datang berlari-lari diikuti oleh pekerja-pekerja Sinder Suprapto. Pemuatan kembali selesai dalam waktu cukup singkat. Kereta api tebu berangkat lagi. Sugondo ikut naik.

Sebelum berangkat Sugondo masih bertanya, "Bagaimana dengan kau. Mas Prapto?"

"Cepat, berangkatlah. Jangan sampai terlambat," jawab Suprapto tegas.

Semula Suprapto hendak melihat-lihat bagian kebun yang lain. Pekerjaan pemuatan batang-batang tebu ke lori sudah separuhnya selesai. Kini ia sendiri sudah kehilangan waktu yang sulit terkejar. Suprapto dan Mandor Darmin meloncat naik dresin dan melaju ke tempat pemuatan yang menjadi tanggung jawab Sinder Suprapto. Pekerja-pekerjanya berlari-lari di belakang dresin. Tiba di tempat, mereka langsung bekerja, namun waktu tidak tersedia lagi. Sinder Suprapto akan tetap terlambat tiba di lapangan penimbunan tebu.

Kereta api tebu Suprapto memasuki lapangan penimbunan. Sudah menunggu di tempat itu Nippon pengawas yang dibencinya, Mikimoto. Di sampingnya berdiri Sersan Mayor Kongga. Dibiarkannya Suprapto dan anak buahnya membongkar muatan tebu dan menumpuknya di lapangan itu. Suprapto tahu bahwa ia akan menerima hukuman. Ia tahu apa hukuman itu, sebab Kongga berdiri di sana. Begitu selesai, kepada anak buahnya Suprapto memerintahkan, "Lekas pulang. Jangan lama-lama tinggal di sini. Biar aku sendiri yang menghadapi."

Lingkungan lapangan penimbunan memang sudah agak gelap. Suprapto terlambat dua jam.

"Suprapto San, kemari!" bentak Mikimoto.

Suprapto mendekat. Nippon itu membentak, "Bagero, kau terlambat! Malas kau! Tahu kau, Suprapto, gula tidak boleh terlambat di medan perang. Mengerti?!"

"Mengerti, Mikimoto San,” jawab Suprapto asal saja.

Langsung saja tangan Mikimoto diarahkan ke pipi Suprapto. Secara naluriah Suprapto memalingkan kepalanya. Tangan Mikimoto menyambar angin. Nippon pengawas itu naik pitam. Kakinya maju menyambar perut Suprapto. Kongga membantu kawannya menghajar Suprapto. Suprapto sadar bahwa ia tak boleh melawan. Ia membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan dua Nippon itu.

Suprapto pura-pura jatuh pingsan. Kongga dan Mikimoto meninggalkan lapangan penimbunan. Dibiarkannya Suprapto menggeletak di atas tanah. Tiba-tiba muncul Mandor Darmin dan Mandor Durahman. Mereka memberanikan diri untuk menolong sindernya, dengan risiko dihajar pula oleh Nippon-nippon itu. Dua orang Nippon itu membiarkannya. Suprapto dipapah pulang oleh mandor-mandornya. Kepada anak buahnya itu Suprapto berpesan, "Jangan kau-ceritakan apa yang dialami Ndoro Sinder Sugondo. Tutup mulut saja. Darmin, kau menghadap Pak Sinder Sugondo. Katakan padanya aku minta agar Sinder Gondo tutup mulut tentang lori-lori yang terguling itu. Lekas."

Durahman memapah sindernya pulang. Darmin lari menuju rumah Sinder Gondo.



Akhir tahun 1944. Nippon sudah terdesak di semua medan pertempuran. Pulau Jawa tidak hanya sering diintai oleh pesawat-pesawat terbang Sekutu saja, tapi beberapa kota seperti Surabaya dan Semarang telah langsung diserangnya. Sementara itu Nippon juga makin takut pada gerakan-gerakan bawah tanah yang bersifat anti-Nippon. Pikirnya, bila gerakan-gerakan anti-Nippon itu dibiarkan, dapat tumbuh menjadi gerakan pemberontakan. Penangkapan-penangkapan membabi-buta lebih sering dilakukan dengan tuduhan agen Sekutu atau mata-mata musuh. Beberapa sinder Indo-Belanda ditahan dan dianiaya sampai meninggal. Tuduhannya yang itu-itu juga, mata-mata musuh. Beban kerja Sinder Suprapto dan Sinder Sugondo semakin menjadi berat karena kekurangan sinder, namun penguasa perkebunan tidak mau tahu tentang kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh para sinder.

Minggu pagi hujan rintik-rintik dibarengi dengan kilatan halilintar dan gemuruhnya guntur. Sinder Suprapto sedang menikmati sarapan pagi ditunggui istrinya.

Seusai makan Suprapto bertanya kepada istrinya, "Win, kau tampak gelisah saja akhir-akhir ini. Ada apa. Bu?"

"Entahlah, Pak. Selalu ada-ada saja. Serba salah. Memegang gelas lepas, dandang di atas tungku api terguling. Tergelincir di kamar mandi. Aku sendiri tidak tahu, mengapa?"

"Kau terlalu mengkhawatirkan anakmu, Suhono, Win," tanggap Suprapto. "Serahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Tenanglah. Badanmu agak susut sekarang. Jangan sampai jatuh sakit. Bu."

"Kau benar Pak, wajah Suhono selalu terbayang-bayang di mukaku. Aku sudah mencoba untuk mengatasinya," kata Ibu Sinder.

"Ah, mungkin Hono yang kangen. Kalau kau juga selalu memikirkannya, Hono akan terpengaruh. Bu. Ro, aku berangkat ya."

Suprapto berangkat meninggalkan rumah. Di bawah hujan rintik-rintik Ibu Sinder melepas suaminya sampai ke tepi jalan. Suprapto langsung menuju tempat tunggu dresin. Durahman dan pendayung, Katam dan Dipo, sudah menunggunya. Dalam perjalanan menuju kebun. Mandor Durahman berkata, "Ndoro, apa tidak bisa ditambah mandornya. Tambah sinder kukira sulit, Ndoro. Aku dan Darmin sama pendapat. Ngadimun dan Paijo kiranya pantas sudah untuk dijadikan mandor kebun Ndoro."

"Sudah kita ajukan kepada Mikimoto. Nippon-nippon tidak mau mengerti saja. Ah, percu..."

Tiba-tiba udara berubah menjadi terang-benderang. Hanya sekejap! Sedetik kemudian suara ledakan dahsyat menyusul. Sepi kembali. Tahu-tahu Katam dan Dipo sudah tidak berada di tempat duduknya lagi, jatuh terpelanting di tepi jalur, pingsan. Beberapa pekerja kebun melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi di hadapan mereka.

Darso, Subehan, dan Jito berdiri mematung, menganga. Mereka tidak percaya melihat apa yang baru saja disaksikannya itu. Dresin Sinder Suprapto disambar petir. Untuk beberapa saat kaki-kaki tiga pekerja itu seperti terpaku di tanah. Mereka baru sadar kembali setelah melihat orang-orang berlari-lari di atas jalur rel. Langsung mereka membuang pacul-paculnya dan lari menuju tempat musibah. Dresin masih tetap berdiri di tempat. Orang-orang yang datang menolong itu, begitu melihat keadaan Sinder Suprapto dan Mandor Durahman memalingkan kepalanya. Wajah keduanya berwarna biru kehitam-hitaman, terbakar. Mandor Gumbreg, anak buah Sinder Sugondo memerintahkan, "Di, Sardi, lekas beri tahukan Ndoro Sinder Gondo. Lekas!"

Pekerja yang diperintah oleh Gumbreg itu lari mencari Sinder Sugondo. Sekitar setengah jam kemudian baru Sugondo tiba di tempat. Ia melihat dua sosok tubuh yang diselimuti sarung. Duduk lunglai di sampingnya, pendayung Katam dan Dipo. Dua pendayung itu selamat, tak ada tanda-tanda cedera sedikit pun. Sugondo menyingkap sarung. Begitu melihat wajah temannya, ia tidak mampu menahan tangisnya. Pekerja-pekerja di sekitarnya yang sudah mampu menguasai perasaannya, begitu mendengar tangis Sugondo, jadi ikut menangis kembali.

Sugondo sadar bahwa ia harus berbuat sesuatu. Ia bangkit, melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian memerintahkan, "Angkat Sinder Suprapto, letakkan di dresinku. Mandor Durahman di dresin yang ini. Ayo lekas!"

Mandor Gumbreg menampar-nampar pipi-pi-pi Katam dan Dipo. Mereka sadar lingkungan kembali, tapi mereka seperti orang yang bingung saja. Sugondo memerintahkan lagi, "Gumbreg, kau di dresin ini. Aku di sana. Ke rumah sakit. Ayo lekas!"

Dua pekerja tanpa diperintah langsung loncat naik ke tempat pendayung. Dua dresin itu melaju menuju Madugondo. Hujan rintik-rintik, kilat berloncatan dari gumpalan awan yang satu ke gumpalan yang lain. Ledakan gemuruh menyusul.


Dua wanita sebaya usia sedang duduk-duduk di atas kursi rotan di beranda belakang rumah. Melihat wajah-wajah dua wanita lewat lima puluhan itu orang tidak akan menduga bahwa mereka itu adalah kakak-beradik. Yang seorang berwajah tenang berwibawa, sedangkan yang lain berwajah cerah cerdas.

"Sebaiknya Mbak Tik tinggal bersamaku saja dulu di Semarang," Winarsih membuka pembicaraan. "Masih ada kamar untuk Mbak Tik."

“Terima kasih, Sih. Aku menunggu kedatangan Jeng Gondo. Sudah kuputuskan untuk bermukim di Yogya."

"Mengapa memilih Yogya, Mbak?" Winarsih bertanya.

"Entahlah, sejak kecil aku tertarik pada kota itu. Aku senang kalau diajak Romo Bendoro pesiar ke Yogya," jawab Winarti.

"Aneh, orang Sala asli, memilih Yogya," tanggap Winarsih.

"Kalau dianggap aneh, ya memang aneh, tapi mungkin ada pengaruhnya dari Bibi Dumilah. Ibumu asal Yogya. Almarhumah banyak bercerita tentang kota Yogya."

"Mbak, aku kadang-kadang heran. Kau lebih dekat dengan ibuku. Bibi Dumilah. Aku lebih dekat dengan ibumu. Ibu Bendoro," gumam Winarsih.

"Memang serba kebalikan. Sliramu Landa (Kau Belanda), aku Jawa."

Winarsih tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Mungkin kau lebih beruntung, Mbak. Kau bisa menikmati hasil kebudayaan Jawa. Aku iki Landa dudu, Jawa dudu, Bongbei nganggo kelu (Aku ini Belanda bukan, Jawa pun bukan, orang Bombai pakai)."

Ibu Sinder tersenyum. "Bongbei apa Jawa, kita sama sekarang. Sama-sama janda. Sama-sama punya anak tunggal laki-laki. Kuhargai, Sih, kau menawarkan tempat berteduh, tapi aku melihat jauh ke depan. Waktu masih kecil pun kau dan aku selalu bertengkar saja, tapi kalau berpisah, saling merindukan."

Winarsih mengangguk-angguk lalu berkata, "Kau betul, Mbak, tapi untuk sementara saja, sebelum Mbak Tik punya tempat tinggal."

"Sekali lagi terima kasih, Jeng, tapi aku sudah menentukan pilihanku. Jeng Gondo menawarkan rumah kepadaku. Temannya mau menjual rumahnya. Murah lagi, sekalipun letak rumah itu agak kurang menguntungkan. Dekat Balokan, kampung tempat wanita-wanita sesat jalan. Tapi tak apalah. Di sana pun untuk sementara sifatnya, aku hanya menunggu sampai Suhono pulang. Itu saja."

"Mbak, andaikata kau itu seorang lelaki, kau tak perlu pusing-pusing cari rumah. Hak waris pakai Dalem Kusumojaten dan hak waris bagi hasil tanah persawahan Romo Bendoro akan jatuh kepada Mbak Tik. Sayang Ibu Bendoro tidak menurunkan seorang laki-laki. Hak-hak itu kembali ke tangan Keraton."

"Begitulah ketentuannya. Sudahlah, untuk apa mempersoalkannya. Kalau soal lama diungkit-ungkit rasa sesal saja yang akan timbul. Seandainya harta kekayaan Romo Bendoro tidak dihabiskan di gelanggang adu ayam, wanita, dan meja judi... Seandainya, kalau... dan seterusnya. Sudahlah!"

Pembicaraan Winarti dan Winarsih tiba-tiba terganggu oleh kedatangan Ibu Sugondo yang muncul begitu saja di hadapan mereka. Istri sinder itu langsung lewat halaman samping masuk beranda.

"Lho, Jeng Gondo, kapan datangnya?" tanya Ibu Sinder sambil berdiri

"Baru saja, Mbakyu. Pulang ke rumah sebentar, aku lalu langsung kemari. Kebetulan sekali, rumah belum dijual," jawab Ibu Sugondo.

"Mari, mari duduk, Jeng. Kenalkan dulu, Adik," kata Ibu Sinder.

Bu Gondo menceritakan hasil pertemuannya dengan pemilik rumah di Kampung Gandekan itu, yang letaknya tidak jauh dari Kampung Balokan. Rumah belum terjual.

"Aku ingin melihat rumah itu, Jeng, berikanlah padaku nama dan alamat pemiliknya," kata Ibu Sinder menanggapi hasil perjalanan Ibu Sugondo ke Yogya itu.

“Tak usah, Mbakyu, aku sendiri yang akan mengantar Mbakyu," jawab Bu Gondo.

Beberapa hari kemudian Ibu Sinder diantar oleh Bu Gondo berangkat menuju Yogyakarta. Mereka menginap semalam di rumah Winarsih. Tiba di Yogya dua wanita itu menginap di sebuah losmen yang cukup baik. Keesokan harinya langsung menuju ke Gandekan. Ibu Mangun yang akan menjual rumah itu kebetulan sedang bepergian. Pak Mangun yang ada di rumah. Setelah dipersilakan duduk. Ibu Sugondo langsung membuka pembicaraan, "Pak Mangun, kami datang untuk melihat-lihat rumah. Apa Pak Mangun masih tetap berniat menjual rumah ini?"

"Kuasa rumah ini bukan aku. Dik, tapi istriku. Rumah warisan, tapi memang betul, istriku masih tetap ingin menjualnya. Kalau Adik ingin melihat-lihat, silakan," jawab Pak Mangun.

Ibu Sinder dan Bu Gondo lalu melihat-lihat rumah, diantar oleh Pak Mangun. Tidak memerlukan waktu lama, sebab rumah itu rumah kecil dan sama sekali tidak ada halamannya. Tempat buang air dan air leding tersedia, bahkan di dalam kamar mandi itu ada sumurnya. Ibu Sinder merasa cocok dengan rumah itu. Rumah berimpit-impitan dengan rumah tetangga, di tepi gang kecil beraspal. Saluran pembuangan air cukup baik.

Tak seberapa lama kemudian Bu Mangun pulang. Mereka langsung membicarakan harga dan cara pembayaran. Ibu Mangun tidak berkeberatan kalau pembayarannya dilakukan dalam bentuk perhiasan emas dan sebagian lagi dalam bentuk uang tunai. Ibu Sinder memang tidak ingin kehilangan waktu. Emas perhiasan sudah dibawa, tersimpan rapi, aman, dalam kantong, dijahit pada setagennya. Di lain pihak Bu Mangun ingin secepatnya melepaskan rumahnya. Ia merasa risi karena semakin banyak rumah di sekitarnya yang dijadikan pemondokan bagi wanita-wanita sesat jalan.

Setelah tawar-menawar, kedua belah pihak sepakat tentang harganya. Pembayaran akan dilakukan dalam bentuk perhiasan emas saja, diperhitungkan berat dan karatnya. Ongkos garapan tidak diperhitungkan. Nilai emas ditetapkan pada hari jual-beli. Lalu Ibu Sinder menghitung-hitung, bahwa hanya dengan gelang sebelah yang dibawanya itu rumah sudah dapat terbeli.

Ibu Sugondo memang wanita yang cekatan dalam persoalan jual-beli. Ia tahu sudah bahwa Ibu Sinder membawa perhiasan dan agar tidak kehilangan waktu. Bu Gondo menawarkan, "Bagaimana, Yu, kalau hari ini kita selesaikan. Apa Yu Mangun bisa membawa juru taksir gadai ke Kemantren? Nanti kami akan membawa barangnya."

"Baik, tapi sulit untuk mencari juru taksir hari ini dan lagi Kemantren harus diberitahu juga. Itu urusanku semua. Bagaimana kalau besok pagi jam sebelas kita bertemu lagi di Kemantren?" jawab Bu Mangun setelah berpikir sejenak.

Ibu Sinder dan Ibu Sugondo menyetujuinya. Mereka lalu pulang ke losmen. Tiba di losmen Bu Gondo langsung membayar biaya penginapan dan mengajak Ibu Sinder pergi. Waktu Ibu Sinder bertanya mengapa mereka begitu tergesa-gesa pergi. Ibu Gondo hanya menjawab, "Nanti akan kujelaskan, Mbakyu."

Mula-mula mereka naik becak, kemudian ganti naik andong, naik becak lagi, seolah-olah berkeliling tanpa tujuan. Akhirnya mereka berhenti di muka sebuah losmen dan di losmen itulah mereka menginap.

Atas desakan Ibu Sinder, Bu Gondo sambil tertawa menjawab, "Begini, Mbakyu. Orang tahu sudah bahwa kita punya perhiasan. Ah, sekadar untuk amannya, jangan sampai orang tahu kita menginap di mana. Justru sekarang ini kupilih losmen yang agak murahan. Siapa yang akan mengira Mbakyu membawa perhiasan." Ibu Sinder tersenyum.

Keesokan harinya dua wanita itu langsung pergi ke Kemantren. Bu Mangun memang wanita yang gesit. Juru taksir gadai sudah ada di tempat dan Kemantren pun sudah menyiapkan surat-surat jual-beli. Sekalipun surat-surat itu bersifat sementara, tapi sah hukumnya. Dengan surat-surat rumah dan tanah di tangan. Ibu Sinder dan Ibu Sugondo lagi-lagi berkeliling-kelilirtg. Mereka menemukan losmen yang sederhana, tapi bersih. Sesuai perjanjian, dua minggu kemudian Bu Mangun harus sudah mengosongkan rumahnya, tapi ia akan tetap menunggu sampai Ibu Sinder datang.

Keesokan harinya Ibu Sinder dan Ibu Sugondo pulang ke Madugondo lewat Semarang, menginap semalam di rumah Bu Sastro lagi. Esok paginya naik kereta api, turun di Brebes dan melanjutkan perjalanan pulang ke Madugondo naik dokar.

Penguasa Nippon Madugondo hanya memberi waktu satu setengah bulan kepada Ibu Sinder untuk meninggalkan rumah dinas itu dan hanya dalam waktu sebulan rumah dinas itu sudah bisa dikosongkan. Perabot rumah tangga dibagi-bagikan kepada mandor-mandor. Ibu Sinder hanya membawa serta apa yang sangat diperlukan saja. Rumah barunya terlalu kecil. Mbok Soma tetap tinggal di Madugondo, ikut anaknya yang diperistri seorang mandor kebun. Karsimin memberanikan diri untuk pulang ke kampung halamannya. Sedangkan Diman ikut Ibu Gondo.

Selesai membenahi rumah, Ibu Sinder dikejutkan oleh kedatangan tetangga-tetangganya. Ia mempersilakan tamu-tamunya masuk. Tetangga-tetangganya itu membawa minuman dan makanan dan memperkenalkan diri kepada Ibu Sinder.

"Apa kami boleh membantu. Bu?" tanya mereka kepada Bu Sinder.

“Terima kasih, sudah hampir selesai," jawab Ibu Sinder.

"Kalau perlu apa-apa silakan datang. Bu," kata salah seorang, "pindah rumah memang repot."

Tetangga-tetangga yang berdatangan meninggalkan rumah Ibu Sinder. Di atas meja kecil di sudut ruang depan itu Ibu Sinder melihat teko minuman, gelas, dan berbagai penganan yang ditinggalkan oleh tetangga-tetangga yang belum, dikenalnya itu.

"Begitu baik orang-orang kampung ini," gumam Ibu Sinder.

Tak lama setelah itu muncul seorang lelaki yang belum dikenalnya. "Saya ketua RT di sini. Bu. Selamat datang di kampung kami. Martotenoyo nama saya, tapi teman-teman sekampung memanggil saya Pak Noyogenggong. Rumah saya hanya beberapa puluh meter saja dari sini. Kalau perlu bantuan, datang saja. Bu," katanya sambil melihat ke arah jam dinding antik.

"Terima kasih. Dik. Maaf ya. Ibu belum sempat lapor," jawab Ibu Sinder.

"Ah, tidak apa-apa, tidak perlu tergesa-gesa. Saya pergi dulu, Bu. Mau ke kelurahan," kata Pak Noyo.

Keesokan harinya Ibu Sinder pergi ke kelurahan mendaftarkan diri sebagai penduduk baru. Kemudian ia memerlukan datang di rumah

Pak Noyogenggong. Ketua RT itu sedang pergi. Ia diterima oleh istrinya, yang di kampung itu dipanggil dengan sebutan Den Nganten. Ia hampir sebaya usianya dengan Ibu Sinder, lebih muda sedikit.

"Memperkenalkan diri, Bu," kata Ibu Sinder. "Suprapto nama mendiang suamiku."

"Oo, Ibu yang menempati rumah Bu Mangun? Aku Martotenoyo. Teman-teman kampung gemar bercanda, Bu. Tanpa bubur merah nama suamiku diganti. Noyogenggong, Bu," kata Bu Marto sambil tertawa.

Melihat setumpuk kain batik di atas meja, Ibu Sinder menyeletuk, "Dik Marto membatik?"

"Ah, tidak, Bu, ini hanya dagangan. Hanya satu-dua yang batik asli, lainnya cap-capan. Aku juga jualan di pasar, ya lumayan untuk tambah-tambah belanja."

Ibu Sinder mengamati kain-kain itu satu demi satu.

"Ibu membatik?" tanya Bu Marto.

"Sudah lama tidak mengerjakan. Mudah-mudahan belum lupa," jawab Ibu Sinder.

"Kalau nanti Ibu membatik lagi, hasilnya jangan diberikan orang lain ya, Bu. Aku nanti yang menjualkan."

"Sampaikan Pak Marto ya Bu, aku datang unjuk hidung," Ibu Sinder mohon diri.

“Tentu, tentu, Bu."

Beberapa hari kemudian Ibu Sinder mengadakan selamatan. Yang diundang hanya tetangga dekat saja. Rumahnya terlalu kecil. Bu Martotenoyo banyak membantu. Selesai selamatan Bu Noyo tetap tinggal. Kepada Bu Noyo Ibu Sinder bertanya, "Di mana aku bisa beli kain mori, Bu? Tidak perlu cap Sen, asal agak halus saja."

"Jangan khawatir, Bu. Aku punya hubungan. Tidak perlu bayar creng, nyicil tiga bulan," jawab Bu Noyo.

Keesokan harinya Ibu Sinder diantar Bu Noyo membeli peralatan untuk membatik dan secara kebetulan Bu Noyo masih bisa mengusahakan kain mori cap Sen beberapa lembar. Atas tanggungan Bu Noyo, kain mori bisa dicicil tiga bulan.

Ibu Sinder mendapatkan seorang pembantu anak gadis desa yang baru belasan tahun umurnya, Jakem namanya. Ibu Sinder bertekad untuk bisa menyambung hidup dengan membatik. Ia melihat adanya peluang yang baik. Kain batik dibeli orang tidak untuk dipakai, tapi untuk disimpan. Harga terus menanjak. Ibu Sinder juga melihat peluang lain, jual-beli, atau jual jamu-jamu.

Suatu malam Ibu Sinder duduk-duduk di ruang depan yang sempit itu, sambil mendengarkan siaran "Ketoprak Mataram". Jakem, pembantunya, duduk di atas tikar di dekatnya. Pikir Ibu Sinder, Beda benar dengan rumah di Madugondo. Jatah lampu listrik hanya seratus lima puluh Watt saja. Tanpa disadarinya ia teringat akan suaminya yang sudah tiada itu. "Pak, mengapa kau meninggalkan aku?" gumam Bu Sinder.

Ibu Sinder terkejut mendengar Jakem bertanya, "Ada apa, Bu?"

"Ah, tidak ada apa-apa."

Semula Jakem memanggil "Ndoro" kepada Ibu Sinder. Ibu Sinder melarangnya. Lamunannya beralih ke anaknya yang sudah untuk sekian tahun lamanya tidak pernah ada beritanya. Namun firasatnya sebagai wanita lewat lima puluh tahun itu memberinya petunjuk bahwa Suhono baik-baik saja.

Sementara itu tersebar luas berita di antara keluarga dan handai-tolan Ibu Sinder, bahwa Sinder Suprapto ditangkap Kenpetai Nippon. Ia dituduh menjadi mata-mata musuh dan mati dianiaya. Tersiarnya berita semacam memang tidak tanpa alasan. Kebetulan di Madugondo ada seorang masinis pembantu bernama Suprapto juga. Dialah yang ditangkap dengan tuduhan sabotase, karena ketel uap pabrik meledak. Saat itu Suprapto itulah yang sedang mendapat tugas jaga.

Akibat pemberitaan yang simpang-siur itu, saudara-saudara mendiang Sinder Suprapto dan Ibu Sinder, takut untuk mengunjungi Ibu Sinder di Gandekan. Mula-mula Ibu Sinder agak heran mengapa surat-suratnya tidak mendapat tanggapan yang diharapkan. Isi surat hanya suatu pemberitahuan bahwa ia bermukim di Yogya.

Beberapa surat balasan yang diterimanya bernada hambar-hambar saja. Baru kemudian ia mengetahui bahwa tersiar berita tentang sebab-musabab meninggalnya suaminya, yang salah alamat itu.

Pada suatu hari datang menjenguk saudara sepupu Ibu Sinder. Raden Mas Pujitomo, yang datang bersama seorang wanita dan seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun. Begitu Ibu Sinder mempersilakan tamu-tamunya duduk, wanita itu tidak bersedia duduk di atas kursi. Ia duduk di atas tikar pembatikan yang ada di sudut ruangan. Anak kecil itu seperti melekat saja pada wanita itu, bermanja-manja tiduran di atas pangkuannya. Ibu Sinder mengulangi ajakannya agar wanita itu mau duduk di atas. Tetapi wanita itu tetap menolak dengan menjawab, "Di sini saja, Ndoro, Ndoro Mas rewel."

Yang dimaksud dengan "Ndoro Mas" itu tidak lain ialah anak kecil itu. Ibu Sinder tahu bahwa anak kecil itu adalah anak saudara sepupunya dengan wanita yang duduk di bawah itu. Canggung rasanya Ibu Sinder melihat istri saudaranya duduk di bawah. Ia sudah merasa asing dengan tata-cara Kusumojaten. Lebih-lebih waktu mendengar wanita itu menyebut "Ndoro Mas" kepada anaknya sendiri. Tiba-tiba anak itu bangkit lalu menempati kursi di samping ayahnya. Istri Pujitomo tetap duduk bersila di atas tikar. "Dulu Bibi-bibi juga begitu. Akulah yang sudah berubah," gumam Ibu Sinder dalam hati.

Kemudian Pujitomo yang duduk sambil memegang tongkat membuka pembicaraan dengan berkata, "Diajeng, aku datang untuk menjenguk Diajeng. Keluarga di Sala baik-baik saja, tak kekurangan suatu apa..."

Belum lagi Pujitomo dapat melanjutkan kata-katanya, terdengar suara bakiak-bakiak bersentuhan pada aspal lorong di depan rumah dan tak seberapa lama kemudian lewat wanita-wanita yang hanya berkain dan ber-BH saja. Kata-kata jorok dan tak senonoh masuk telinga Pujitomo.

Setelah wanita-wanita itu lewat Pujitomo melanjutkan, "Maafkan aku, Diajeng. Kalau aku boleh bertanya, mengapa Diajeng memilih tempat tinggal seperti ini. Apa tidak ada tempat lain yang lebih sesuai dengan martabat Diajeng?"

Dalam bahasa Jawa tinggi-halus Ibu Sinder menjawab, "Kangmas harus dapat memahami bahwa aku dengan sangat tergesa-gesa harus meninggalkan Madugondo. Aku tidak mempunyai simpanan begitu banyak untuk mampu membeli rumah yang lebih baik."

"Aneh Diajeng," potong Pujitomo. "Kau bisa pulang ke Sala. Kalau tidak untuk selamanya ya untuk sementara. Keluarga sanggup menampung Diajeng. Sekali lagi jangan kau sakit hati. Masuk kampung ini saja orang sudah merasa risi. Rasa-rasanya seperti semua orang memperhatikannya."

"Kangmas, aku memang tidak punya jalan lain. Aku tidak mau merepotkan keluarga di Sala. Hanya sementara saja di sini, Kangmas, sambil menunggu Suhono pulang."

Tiba-tiba saja terdengar seorang wanita menjelih-jelih. Rupa-rupanya wanita itu sedang dihajar oleh seseorang. Terdengar kata-kata, "Sundel! Awas, kalau kau minggu depan tak membawa uang pulang. Kau harus pergi. Sana kembali ke desa."

Ibu Sinder menunduk. Iba hatinya mendengar ratap tangis wanita di rumah sebelah. Wanita itu sedang dihajar induk semangnya. Raden Mas Pujitomo diam, geleng-geleng kepala dan tak lama kemudian ia minta diri kepada Ibu Sinder. Pergi menggandeng anaknya Raden Mas Hendro. Bibi Podang, yang bekas pesinden itu, membuntutinya.



Pada suatu hari Ibu Sinder mempunyai keinginan yang kuat untuk melihat-lihat Kampung Balokan di malam hari. Keinginannya itu disampaikannya kepada Bu Noyo. Sambil tertawa Bu Noyo berkata, "Aneh Ibu Prapto. Jauh-jauh dari Brebes tidak ingin melihat Keraton, atau Taman Sari, atau Imogiri, eee malah kepingin melihat Balokan di waktu malam. Baiklah, kuantar nanti. Bu."

Pada malam yang sudah ditentukan, dua wanita itu masuk kampung Balokan. Mereka jalan-jalan santai lewat lorong-lorong sempit dan halaman orang. Oleh Bu Noyo ditunjukkan warung-warung di mana wanita-wanita itu menunggu tamu-tamunya. "Wanita-wanita itu duduk-duduk saja di warung itu. Nanti akan berdatangan laki-laki hidung belang. Itu, tuu, Bu, lihat," jelas Bu Noyo.

Ibu Sinder menyaksikan kedatangan beberapa kaum pria di warung itu. Mereka lalu duduk-duduk sambil bercanda dengan wanita-wanita sesat jalan itu. Minum-minum dan makan-makan. Setelah terjadi kecocokan, si pria hidung belang dan si wanita sesat itu pergi.

"Ke mana mereka, Bu Noyo?" tanya Ibu Sinder. "Mari, kita ikuti saja," jawab Bu Noyo.

Dua sejoli pria-wanita itu masuk rumah sewaan milik Bu Gombloh. Di ruang depan duduk-duduk beberapa pasang pria-wanita. "Ini tempat mereka main, Bu," kata Bu Noyo. "Rumah sewan, yang punya Bu Gombloh namanya. Mari masuk saja."

Ibu Sinder membuntuti Bu Noyo. Begitu masuk, Bu Noyo menemui Bu Gombloh yang sedang duduk-duduk. "Lho, Bu Noyo. Mari duduk," tegur Bu Gombloh.

"Kenalkan, Ibu Prapto. Warga baru di Gandekan," jawab Bu Noyo.

Meja-kursi untuk menerima tamu itu letaknya di sudut ruang tengah. Tampak dari tempat itu petak-petak yang pintu-pintunya hanya ditutupi dengan sehelai gorden saja. Sebentar kemudian keluar seorang pemuda hanya mengenakan celana kolor, diikuti oleh seorang wanita yang menutupi tubuhnya dengan sehelai kain. Mereka menuju ke belakang, ke sumur untuk membersihkan diri. "Masih perlu kain. Bu? Kali ini banyak yang baik, tapi ya cap-capan semua. Sayang kalau tidak diambil. Bu," kata Bu Noyo kepada Ibu Gombloh.

"Ah, tidak. Bu, baru krisis. Tamunya tidak banyak akhir-akhir ini. Entah apa sebabnya."

Sengaja Bu Noyo banyak berbicara untuk mengulur-ulur waktu. Maksudnya, memberi kesempatan kepada Ibu Sinder untuk melihat-lihat. Tak lama kemudian mereka minta diri, dan melanjutkan peninjauannya. Kadang-kadang mereka juga disapa orang. Jawab Bu Noyo wajar-wajar saja, "Maaf, Den, ditunggu suami." Tapi setelah yang menyapa itu sudah agak jauh. Ibu Noyo menyeletuk, "Heh, laki-laki nggak tahu diri. Masa wanita setua kita mau diajak main. Gila!"

Ibu Sinder hanya tersenyum. Sambil terus berjalan. Ibu Noyo menjelaskan, "Kampung Balokan ini campur-aduk. Bu. Warung merah, rumah hijau, dan rumah penduduk biasa berimpit-impitan, tapi penduduk di sini bisa hidup berdampingan tanpa kesulitan. Bu. Umumnya wanita-wanita itu dari desa datangnya. Rupa-rupanya kehidupan di desa semakin sulit. Makin banyak saja yang datang. Tentu germo-germo itu pilih-pilih. Cukup ya. Bu?"

“Terima kasih Bu," jawab Bu Sinder. "Baru kali ini aku sempat melihat perkampungan semacam ini. Sekali lagi terima kasih."

Ibu Noyo singgah sebentar di rumah Ibu Sinder. Melihat gawangan dan mori yang hampir selesai dibatik Ibu Noyo ternganga. "Waduh, waduh, waduuuuh! Tidak salah lagi. Jangan diberikan orang lain ya. Bu? Untuk aku ya. Bu. Sekar Tanjung, bukan main ukel-nya. Jarang yang bisa mengerjakan serapi ini, rumit, memerlukan ketekunan dan keterampilan."

"Di mana ada tukang babar yang mengerjakan babaran yang baik. Bu?" tanya Ibu Sinder.

"Ada Bu, ada. Den Bekel, di Wirobrajan sana. Agak mahal sedikit, tapi batikan semacam ini kalau tidak di-babar baik-baik, waduuh... sayang."

Hubungan Ibu Sinder dengan Bu Noyo semakin akrab. Ibu Sinder yang membatik. Ibu Noyo yang memasarkan.



Pada suatu hari datang Winarsih, atau Bu Sastro, yang diantar oleh Herman, anaknya, yang kini sudah duduk di Sekolah Menengah Tinggi, SMT. Dengan mata berlinang-linang Ibu Sinder memeluk adiknya. Winarsih menginap di rumah Ibu Sinder. Sehabis makan malam wanita kakak-beradik itu berbincang-bincang. Sedangkan Herman pergi menjumpai kawan-kawannya dari GASEMA—Gabungan Sekolah Menengah Mataram.

Kata Ibu Sastro yang lebih dikenal sebagai "Ibu Sep" karena mendiang suaminya semasa hidupnya pernah menjabat Kepala Stasiun, "Macam-macam berita yang masuk telingaku, Mbak. Ada yang mengatakan Mbak Tik sudah jadi germo sekarang ini."

"Ah, biarkan mereka berkisah," potong Bu Sinder. 'Terus terang aku betah di sini, Sih. Tetangga-tetangga baik dan wanita-wanita sesat itu bukannya orang jahat. Baik-baik sebenarnya mereka. Umumnya mereka datang dari desa. Di desa mereka kelaparan karena setoran padi makin berat. Terpaksa mencari hidup di kota. Biarlah aku tetap di sini saja. Nantinya terserah Suhono."

"Ah, aku sendiri tidak mempedulikan desas-desus itu. Aku tahu keadaan Mbak Ajeng. Punt uit (titik)!" Winarsih menanggapi.

"Aku sudah pasrah, Sih," kata Ibu Sinder.

"Kau bisa hidup hanya dengan membatik, Mbak?"

Sambil tersenyum Ibu Sinder menjawab, "Ketahuilah, Sih. Harga kain batik tangan itu begitu memuncak sekarang, tapi aku juga tidak hanya bertumpu pada membatik saja. Aku pedagang candak kulak sekarang, jual-beli apa saja. Barang datang sendiri, pembeli pun datang sendiri. Dan aku bisa hidup."

"Syukurlah, Mbak."

Sejenak Bu Sastro diam, kemudian ia berkata, "Mbak, sebenarnya aku agak mencemaskan Herman. Ia dengan beberapa temannya kelihatannya sibuk, tapi bukannya sibuk belajar atau sibuk berolahraga atau latihan Seinendan, tidak. Mbak. Ada kesibukan yang mereka rahasiakan. Sudah kuingatkan. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan. Jawabnya, ya-ya saja, tapi jalan terus."

"Dugaanmu apa. Sih?"

"Ondergrondse actie barangkali. Mbak, gerakan bawah tanah. Heh, anak bengal," keluh Bu Sastro, "mau melawan Nippon."

"Melawan Nippon? Itu bermain-main dengan api," Ibu Sinder menanggapi,

“Tolong, Mbak, nasihatilah anakmu Herman. Mungkin mau nurut," kata Winarsih. "Oo, kalau bapaknya masih ada, dihajar dia."

Ibu Sinder tersenyum, lalu katanya, "Banyak hal yang kita, sebagai orangtua, sudah tidak bisa mengikuti lagi. Tetapi nanti akan kucoba Sih."

Herman pulang. Dengan sengaja Winarsih pergi tidur lebih dulu. Ia memberi kesempatan kepada kakaknya agar bisa bebas berbicara dengan Herman.

Herman menemani Ibu Sinder duduk-duduk sambil mendengarkan klenengan lewat radio.

"Sudah ke mana saja, Ngger?" tanya Ibu Sinder.

"Ah, ke mana, Bu? Main-main di tempat kawan-kawan kok. Boleh tanya. Bu?" kata Herman. "Itu, Bu, tentang ramalan Jayabaya. Katanya orang kulit kuning mata sipit itu hanya seumur jagung di sini. Sudah berapa tahun sampai sekarang?"

Ibu Sinder tersenyum. Mendengar pertanyaan Herman itu Ibu Sinder merasa bahwa Herman memang sedang berbuat sesuatu.

"Jangka tetap jangka, Her. Tafsirannya bisa macam-macam. Seumur jagung tidak berarti umur tanaman jagung. Itu hanya perlambang saja. Arti yang sebenarnya aku tidak tahu."

"Bu, Ibu percaya pada ramalan Jayabaya?" potong Herman.

Ibu Sinder agak kebingungan. Jawaban apa yang akan diberikan. "Ramalan tetap ramalan, Ngger. Bisa benar, bisa meleset," jawabnya tegas.

"Aku percaya. Bu," kata Herman cepat. "Nippon kalah terus sekarang ini. Mundur terus. Bu. Menurut orang-orang pandai di Jakarta, pasti Nippon akan kalah. Tinggal menunggu waktu saja. Nippon kalah, Belanda kembali, apa kita mau menyembah Belanda lagi?"

Dalam sinar mata kemenakannya itu. Ibu Sinder dapat menangkap tekad yang bulat untuk berbuat sesuatu. Entah apa yang akan dikerjakannya, tapi jelas sesuatu yang dapat membahayakannya. Anak muda sering kehilangan pengamatan kewaspadaan. Ia hanya dapat memperingatkan saja.

"Ngger, aku wanita tidak makan sekolahan," kata Bu Sinder. "Aku hanya pesan, Her, waspadalah selalu, jangan sampai kau kehilangan pengamatan yang jernih. Itu saja, Her, pesan Bude."

Sejenak Herman diam. Ia mencoba memahami apa yang dipesankan oleh budenya itu. Budenya dapat menduga bahwa ia sedang mengerjakan sesuatu yang berbahaya. Memang begitulah kenyataannya.

"Matur nuwun, Bu, aku akan waspada selalu...."

Bu Sastro yang sambil tiduran mendengarkan percakapan anaknya dan kakaknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Ia tahu, anaknya seorang yang keras kepala. Kalau ia sudah mempunyai maksud tertentu, sulit untuk mencegahnya. Namun ibunya itu juga tahu, bahwa anaknya tidak akan mengerjakan sesuatu tanpa dipikirkannya dengan semasak-masaknya, apalagi kalau barang sesuatunya itu mengandung risiko.

"De mens wikt, God beschikt—manusia berikhtiar, tapi Tuhan yang menentukan," gumam Winarsih.

Bu Sastro hanya tinggal semalam di rumah Ibu Sinder. Keesokan harinya ia dan Herman pulang ke Semarang. Ibu Sinder mengantarkannya sampai ke Stasiun Tugu.

Sementara itu, rumah yang berimpitan dengan rumah Ibu Sinder semakin padat penghuninya. Wanita-wanita sesat jalan, banyak yang mondok pada Bu Denok, seorang wanita setengah umur, gemuk, pendek, dan berwajah bundar. Bu Denok bersikap sopan terhadap Ibu Sinder. Kadang-kadang ia datang berkunjung. Orang tak akan mengira Bu Denok adalah induk semang wanita-wanita sesat. Ia seorang periang, murah senyum dan tawa, tapi kalau sudah sedang marah ia berubah sifat sama sekali. Berteriak-teriak tak mempedulikan lingkungannya, mengumpat-umpat dengan menyemprotkan kata-kata kotor tak senonoh. Tak jarang pula wanita-wanita yang dianggap bersalah itu dihajarnya habis-habisan.

Dengan caranya yang khas, yaitu dengan jalan bercerita dan berkisah. Ibu Sinder mencoba melunakkan sikap yang kadang-kadang meledak-ledak itu.

Pagi itu Bu Denok berkunjung ke rumah Ibu Sinder. Ia ikut duduk di atas tikar pembatikan. Sudah menjadi kebiasaan Ibu Sinder menerima teman-teman akrabnya sambil membatik.

"Bu, aku datang sebenarnya untuk minta maaf kepada Ibu," kata Bu Denok.

"Lho, Dik, minta maaf karena apa? Dik Denok tidak punya kesalahan apa-apa terhadap diriku. Ada apa, Dik?"

"Begini, Bu," jawab Bu Denok, "Ibu Prapto tahu, aku kadang-kadang kehilangan keseimbangan. Terus terang saja Bu, entah bagaimana, kalau sedang pusing aku bisa marah tak terkendali."

"Oooo, itu, Dik," jawab Bu Sinder sambil tersenyum.

"Bukan itu saja. Bu," kata Bu Denok cepat. "Sehabis marah-marah, aku jadi les-lesan, Bu. Lemas!"

Kini Ibu Sinder tahu bahwa Bu Denok mengidap darah tinggi. Kemudian ia berkata, "Ah, itu bisa diobati. Dik. Mau coba? Nanti kubuatkan jamunya, tapi Dik Denok juga harus berusaha untuk menahan diri. Tidak boleh makan banyak-banyak, sak madyo saja dan banyak makan sayuran dan buah, Dik. Kurangi makan garam."

"Sungguh, Bu, pesan Ibu akan kukerjakan. Asal bisa sembuh saja," Bu Denok menanggapi.

"Baik, kalau begitu besok kemari lagi ya. Dik? Jamunya akan kusiapkan, tapi kalau Dik Denok tidak mengurang-ngurangi, jamu itu tak ada gunanya. Tidak akan manjur."

Bu Denok memenuhi apa yang dipesankan oleh Ibu Sinder itu. Ia taat minum jamu ramuan Ibu Sinder, mengurangi makan garam, dan banyak makan sayuran dan buah-buahan. Bentak-bentak dan teriak-teriakan makin lama makin kurang terdengar, untuk kemudian lenyap sama sekali.

Kesembuhan Bu Denok menarik perhatian tetangga-tetangga Ibu Sinder.yang lain dan Bu Denok secara terus terang menceritakan kemanjuran jamu-jamu yang diberikan Ibu Sinder kepadanya. Akibatnya, tetangga-tetangga yang mengidap penyakit tertentu berdatangan dan Ibu Sinder mencoba memberinya jamu yang kiranya cocok, tapi kalau ia kurang tahu jamu apa kiranya yang diperlukan, ia memberikan nasihat agar pergi berobat ke dokter saja.

Jamu Ibu Sinder makin terkenal di antara penduduk di sekitar kampung Gandekan, bahkan sampai meluas ke kampung Balokan. Semula Ibu Sinder memberikan jamu-jamu itu secara cuma-cuma saja. Ia senang dapat menolong sesama umat, tetapi lambat-laun sangat memberatkan uang belanjanya. Terpaksa ia lalu memungut biaya untuk pembelian bahan bakunya, seperti laos, kencur, kapulaga, jahe, kunir, asem, dan sebagainya. Ibu Sinder masih tetap mengandalkan kehidupannya pada kain batiknya, yang tidak kekurangan pemesan. Sementara itu lingkup kehidupan Ibu Sinder tetap terbatas pada kampung Gandekan dan sekitarnya saja. Apa yang terjadi di luar lingkungan itu tidak menyentuh kehidupan Ibu Sinder.

Pada suatu sore hari Ibu Sinder diajak Bu Noyo berjalan-jalan. Ibu Sinder memenuhi ajakan sahabat karibnya itu. Setelah menyelusuri Jalan Malioboro, Bu Noyo mengajak Ibu Sinder mampir di Warung Harjo dekat Kepatihan. Mereka masuk restoran kecil itu. Di sudut ruangan duduk dua perwira, shodanco dari Pasukan Pembela Tanah Air, PETA. Setelah duduk, Ibu Sinder memperhatikan dua pemuda PETA yang sedang lahap makan itu. Pikirnya, "Gagah-gagah dan tangkas prajurit-prajurit itu. Bangsaku belajar olah keprajuritan sekarang ini."

Ibu Sinder teringat akan pembicaraannya dengan kemenakannya Herman. Gumamnya dalam hati, "Apa ada hubungannya dengan prajurit-prajurit muda ini? Ah, itu soal Herman."

Ibu Sinder terkejut mendengar tawaran, "Mau pesan apa, Bu?"

"Ah, apa saja, Bu. Dik Noyo lebih tahu apa yang enak di sini. Aku manut saja," jawab Ibu Sinder.

Bu Noyo lalu memesan gudeg komplet dan es kopyor kepada seorang pelayan. Tak seberapa lama kemudian pesanan datang. Kedua wanita itu menikmati hidangan itu. Bu Noyo tampak gelisah. Ia seperti mengharap-harap sesuatu. Sebentar-sebentar melihat ke jalan. Kegelisahan Bu Noyo tidak luput dari pengamatan Ibu Sinder. Tiba-tiba seorang lelaki berusia sekitar enam puluhan masuk. Begitu melihat Bu Noyo lelaki itu langsung menegurnya, "Lho, Dik Noyo. Njanur gunung, masuk restoran."

"Ah, sekali-kali kan boleh, Mas," jawab Bu Noyo. "Oya, kenalkan, Bu Prapto, sekampung dengan aku."

Ibu Sinder mengangguk, sedangkan laki-laki yang tampak masih gagah untuk umurnya itu berkata, "Aku Darsosugondo, Bu, teman Pak Martotenoyo. Dipun sekecakaken, monggo."

Darsosugondo lalu mencari tempat duduk. Ia memilih tempat di sudut, tapi dari tempat itu ia dapat mengamati Bu Noyo dan Bu Sinder. Ibu Sinder dan Bu Noyo meninggalkan Warung Harjo lebih dulu daripada Darsosugondo. Mereka langsung pulang.

Sepekan kemudian Bu Noyo berkunjung ke rumah Ibu Sinder. Setelah berbincang-bincang tentang pesanan dan penjualan kain batik gubahan Ibu Sinder, Bu Noyo berkata hati-hati, "Mbakyu, masih ingat priyantun yang kita jumpai di Warung Harjo dulu? Itu, Pak Darsosugondo."

"Masih, masih, ingat aku, yaa," jawab Bu Sinder. "Ada apa. Bu, mau pesan kain lengkap dengan destarnya apa?"

Mendengar jawaban Ibu Sinder itu Bu Noyo tertawa terbahak-bahak.

"Oo, lebih dari itu Mbakyu," jawab Bu Noyo. "Bukan hanya kain dan destar gubahan Ibu Sinder yang diingininya, tapi juga sang penggubah."

Ibu Sinder tampak agak terkejut. Tanggapnya, "Maksudnya?"

"Maaf ya, Mbakyu. Aku tak dapat menahan ketawa. Begini letak persoalannya," kata Bu Noyo. "Sudah agak lama Pak Darsosugondo mengamati Ibu Prapto. Terus terang. Mas Darso sedang menduda. Istrinya meninggal empat tahun yang lalu. Anak-anaknya sudah mentas semua. Ia kesepian jadinya. Ia minta tolong kepadaku untuk dicarikan jodoh. Waktu Ibu Prapto berkunjung ke rumahku beberapa waktu yang lalu ia melihat Ibu. Sejak itu ia tertarik pada pribadi Ibu Prapto. Nah, inggih nyuwun pangapunten, akulah yang mengatur pertemuan Mas Darso dan Mbakyu di Warung Harjo. Sekarang Bu Prapto sudah mampu melihat penampilan Mas Darso. Ia pensiunan Anjun Lanbao. Sumonggo."

Sambil tersenyum Ibu Sinder bergumam, "Wah, aku baru ditontoni—wanita setua aku ini. Kukira hanya mau pesan kain dan destar."

Lagi-lagi Bu Noyo terpingkal-pingkal mendengar gumam Ibu Sinder itu. Ibu Sinder melanjutkan, "Dik Noyo, matur nuwun. Bu Noyo memperhatikan nasibku. Kuakui terus terang, Mas Darso memang pria yang masih kelihatan tampan. Sampun dados penggalih ya, Dik. Aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Aku punya anak yang harus diminta pertimbangannya, tapi ia jauh di Ambon sana, di seberang. Sampai sekarang tidak pernah ada hubungan antara diriku dan anakku itu. Maklum zaman perang. Aku tak berani memutuskan apa-apa tanpa persetujuan anakku itu. Ketahuilah, Mbakyu. Dia anak tunggal dan dia pun belum tahu bapaknya sudah tidak ada lagi."

Bu Noyo yang melihat mata Ibu Sinder berkaca-kaca ikut menangis. Ia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.

"Maafkan aku, Mbakyu, kalau aku menyinggung perasaan Mbakyu," katanya pelan. "Aku dapat memahaminya."

“Tak apa. Dik. Suatu kehormatan bagiku. Mas Darso memperhatikan diriku. Harap disampaikan. Aku belum bisa memutuskan apa-apa. Purbowisesa (wewenang) ada pada anakku."

Setelah peristiwa hari itu. Bu Noyo tak pernah menyinggung-nyinggung lagi persoalan Darsosugondo. Namun keakraban hubungan antara Ibu Sinder dan Bu Noyo tidak terpengaruh karenanya.



Seperti biasanya pagi itu Ibu Sinder sedang tekun membatik. Semula ia mengira batik gubahannya itu akan kurang mendapatkan pasaran, terbukti tidak. Kali ini gubahannya diberinya nama "Sekar Kedaton".

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan kemenakannya, Herman. Ibu Sinder sama sekali tidak mengharapkan kedatangannya. Ia bangkit merangkul kemenakannya lalu membimbingnya masuk rumah. Herman meletakkan ranselnya di atas tempat tidur budenya, lalu duduk di depan budenya di meja makan. Herman tampak agak gelisah. Melihat kegelisahan kemenakannya itu Ibu Sinder bertanya, "Ibumu baik-baik saja, Her?"

"Baik-baik saja, Bu."

"Kau datang tiba-tiba ada keperluan apa, Her?"

"Ada hal penting yang perlu kusampaikan kepada Bude. Aku berjumpa dengan Ivonne, Bu."

Ibu Sinder agak terperanjat mendengar nama "Ivonne" diucapkan oleh kemenakannya itu. Kata Ibu Sinder cepat, "Berjumpa Nona Ivo di mana, Ngger?"

"Di kamp interniran, Bu," jawab Herman. "Ceritanya begini. Aku punya kenalan seorang tukang kayu, orang Cina. Pada suatu hari ia mendapat order untuk memperbaiki kamp interniran Bangkong, bekas susteran. Kayu-kayunya banyak yang dimakan rayap. Nippon khawatir kalau atapnya runtuh. Secara sambil lalu kukatakan pada Cina itu, apa aku boleh ikut? Aku ingin melihat interniran Belanda-Belanda perempuan. Cina itu tak berkeberatan. Aku menyamar sebagai pembantu tukang kayu Cina itu. Di salah satu gang aku berjumpa seorang wanita yang agak kurusan. Semula aku tak mengenalinya, tapi wanita itu terus membuntuti saja. Tiba di tempat sepi wanita Indo-Belanda itu memberanikan diri bertanya. Ia menegurku dalam bahasa Indonesia, yang bengkak-bengkok. Kata wanita itu, 'Kau tukang kayu?'

"'Betul, Nona’ jawabku. 'Aku pembantunya Cina yang sedang memperbaiki atap gedung. Ada apa, Nona?'

"Lama ia mengamati wajahku, lalu berkata. ‘Aku dulu punya kawan yang mirip dengan kau. Sebelum aku diinternir. Dulu, di Madugondo’ Mendengar kata-kata wanita itu baru aku mengenali Ivo kembali. Kukatakan padanya, apa tidak ada tempat yang aman untuk berbicara. Aku diminta untuk mengikutinya dan membawa serta alat-alat pertukangan. Aku mengerti maksudnya. Kalau berjumpa dengan wanita-wanita lain, rasa-rasanya aku mau dimakan saja oleh mereka. Maklum, Bu, semua wanita dan sudah beberapa tahun mereka berada di situ. Akhirnya kami menemukan tempat yang sepi. Ivo pura-pura menunjukkan tiang yang sudah penuh rayap dan harus diganti karena berbahaya. Aku pura-pura jongkok memeriksa tiang itu. Kukatakan pada Ivo, ‘Aku mengenalmu sekarang. Kau Ivonne, bukan?'

"Aku langsung berbicara dalam bahasa Belanda. Kukatakan padanya bahwa aku saudara sepupu Suhono. Baru Ivo ingat siapa aku ini. Kami pernah berjumpa di pemandian. Ia ingin merangkulku, tapi tidak berani. Ia menangis. Pertama-tama yang ditanyakan. Bude. Kukatakan Bude sehat-sehat saja. Di Yogya sekarang dan kuceritakan bahwa Pakde Prapto sudah meninggal. Yaa, kukatakan padanya apa adanya. Akhirnya baru ia menanyakan Suhono. Belum sempat bicara banyak-banyak aku sudah dipanggil Bah Kwee. Ivonne pesan agar aku mau menyampaikan salam hormatnya kepada Bude. Kepadaku ia berkata bahwa ia masih tetap mencintai Suhono.

"'Sampaikan kepada Suhono’ katanya, 'aku tetap mencintainya’ Itu, Bu, yang ingin kusampaikan."

Mendengar cerita Herman itu Ibu Sinder diam, matanya berkaca-kaca.

"Ivo, kau masih ingat pada ibumu. Ya Tuhan, lindungilah anakku yang satu itu," gumam Bu Sinder.

Ibu Sinder bangkit dari tempat duduknya, lari menuju ke kamar mandi. Herman mendengar isak tertahan budenya yang bersembunyi di kamar mandi itu. Tak lama kemudian Ibu Sinder duduk kembali menemani kemenakannya. Tampak ia membasuh mukanya. "Bagaimana keadaanmu sendiri, Her? Tidak ada apa-apa, Her?" tanya Bu Sinder.

"Ah, biasa-biasa saja. Bu. Nippon pasti kalah. Bu, dan kita sudah bertekad, tidak mau dijajah siapa pun. Tidak Nippon, tidak Belanda, tidak Sekutu. Maaf, Bu, aku mau pergi sebentar. Ingin bertemu dengan kawan-kawan di sini."

"Tobiil, sampai lupa. Minum kopi dulu, Her," seru Bu Sinder, sambil menghilang ke dapur.

Setelah menghabiskan kopinya Herman pergi. Ibu Sinder melanjutkan membatik, tapi tidak banyak kemajuan. Ia mengenang kehidupannya kembali. Masa-masa jayanya di Madugondo. Terbayang-bayang di hadapannya sepasang muda-mudi yang sedang menjadi buah bibir orang.

Suhono dan Ivonne. "Suhono, kalau kau memang masih mencintai Nona Ivo, kini aku akan merestuinya sepenuh hati," ucap Bu Sinder dalam hati.




MAYAT DARI BARAT - UTARA

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mengejutkan kota Yogyakarta. Beberapa hari kemudian suasana kota berubah total. Ibu Sinder yang selama ini seolah-olah mengurung diri, mulai terbuka matanya. Ia ingat apa yang dikatakan oleh kemenakannya, Herman. Apa kita mau menyembah Belanda lagi?! Harapan tumbuh dalam hati Ibu Sinder. Mungkin dalam jangka waktu yang tak lama lagi ia akan dapat bertemu kembali dengan anaknya, Suhono. Perang sudah berakhir.

Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya. Ibu Sinder sedang asyik membatik. Tiba-tiba terdengar suara sentuhan bakiak bakiak pada lantai lorong di muka rumah. Ibu Sinder menoleh dan lewat pintu rumah yang terbuka itu ia melihat beberapa wanita lewat. Seorang di antara mereka berhenti di muka pintu, menyapa Ibu Sinder dengan berkata, "Sudah hampir selesai. Bu?"

"Ya, begitulah," jawab Ibu Sinder. "Barangkali besok lusa sudah dapat langsung di-babar, Nduk. Jangan berdiri saja di muka pintu, ayo masuk."

“Terima kasih. Bu, sebentar lagi kami datang," jawab wanita itu. “Tak pantas berpakaian begini."

Memang wanita itu berpakaian sangat minim, hanya berkain dan ber-BH saja. Wanita itu minta diri lalu meninggalkan rumah Ibu Sinder. Ibu Sinder meneruskan membatik.

Tak lama kemudian wanita-wanita yang baru lewat itu datang, tapi sekarang tidak berpakaian serba minim lagi. Sopan-sopan mereka berdandan, bahkan ada yang mengenakan perhiasan. Sentuhan bakiak-bakiak pada lantai lorong tidak terdengar. Wanita-wanita itu meninggalkan sandal masing-masing di tepi lorong lalu berbondong-bondong masuk rumah. Ruang yang sempit itu dipenuhi oleh wanita-wanita yang ingin mendengarkan Ibu Sinder berkisah. Sambil terus membatik Ibu Sinder menyambut mereka dengan berkata, "Ambil tikar lagi. Kalian sudah tahu di mana tempatnya."

Dua wanita langsung pergi ke belakang, yang seorang mengambil tikar lalu digelarnya dekat Ibu Sinder, yang lain langsung ke dapur. Piring-piring berisi berbagai makanan diletakkan di atas tikar, lengkap dengan cangkir dan gelas berisi minuman teh dan kopi. Wanita-wanita itu lalu berdesak-desakan mengelilingi Ibu Sinder. Ibu Sinder masih saja dengan tekunnya membatik. Wanita-wanita itu mengagumi hasil karya Ibu Sinder.

Seorang wanita yang bernama Tomblok bertanya, "Kalau sudah jadi nanti bisa laku berapa, Bu?"

"Aku belum tahu dengan pasti, Nduk, tergantung pada hasil babaran-nya nanti," jawab Bu Sinder sambil tersenyum.

"Ah, kalau batikan Ibu Sinder pasti langsung diambil Toko Mataram," celetuk Paikem.

"Namanya apa, Bu, kain corak semacam ini?" tanya Tinah.

"Ooo goblok, masa tidak tahu. Wahyu Tumurun itu," tanggap Darsi.

"Ah, kain semacam itu hanya Bendoro-Bendoro saja yang boleh pakai. Kalau kita-kita ini parang rusak saja sudah terlalu moncer," Paikem menimpali lagi

"Lain dulu lain sekarang, Nduk," Bu Sinder menanggapi. "Kita sudah merdeka. Siapa pun boleh memakai kain Wahyu Tumurun. Tidak ada larangan. Zaman sudah berubah".

"Wah, kalau aku yang pakai dikira Den Ajeng nanti," kata Emi.

"Den Ajeng tai kucing, paling banter dikira gundik Cina," sela Umik, wanita bertubuh padat menggairahkan.

Wanita-wanita yang lain tertawa. Ada yang meneruskan, "Gundik Bah Tong" Lagi-lagi wanita-wanita itu tertawa. Nama Bah Tong memang tidak asing lagi bagi mereka. Kebanyakan mereka adalah langganan Bah Tong. Pakaian dan perhiasan yang mereka pakai mereka sewa dari Bah Tong. Bah Tong orangnya gemuk, pendek ipel-ipel, kepala gundul penuh pitak bekas luka-luka.

"Bah Tong, heh. Tokek Cina loyo, mejen sudah," celetuk Umik, "Mana bisa ia piara gundik. Biar duitnya berkarung-karung, kalau hanya di-uyel-uyel saja siapa yang mau." Gelak tawa meledak.

Ibu Sinder membiarkan saja wanita-wanita itu berbincang-bincang. Ia sudah biasa mendengar obrolan wanita-wanita itu. Ia tersenyum penuh pengertian. Tanya Tinah, wanita yang sangat muda usianya, "Kapan Den Herman kemari lagi, Bu?"

Herman pernah datang pada waktu Ibu Sinder sedang bercerita Kisah Panji Asmarabangun kepada wanita-wanita itu. Kebetulan waktu itu Herman ikut mendengarkan, sehingga wanita-wanita itu mengenalnya.

"Hus, jangan sembarangan!" bentak Tomblok. "Jangan kauganggu-ganggu Den Herman. Sundel cengkir! Masih banyak pemuda lainnya!"

Ibu Sinder tidak menghiraukan bentakan Tomblok. Jawabnya, "Mungkin hari-hari ini ia akan datang. Sering jedal-jedul sekarang."

Kini justru yang membentak itu yang menanggapi. "Kalau Den Herman, biar dia setiap malam datang akan kulayani dengan senang hati. Gratisan boleh."

Kulit-kulit kacang pun bertaburan ke arah Tomblok.

"Gebleg, aksini, melarang, eee, jebule arep dipek dewe."

Ibu Sinder tersenyum. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung wanita-wanita itu membicarakan kemenakannya. Ia memahami bahwa wanita-wanita itu tak pernah lagi mengenal lingkungan kehidupan yang sopan dan terpuji.

"Bu, bagaimana kelanjutannya, Bu?" suara Ti-nah meningkah.

Ibu Sinder memang telah berjanji akan melanjutkan Kisah Ramayana. "Sudah sampai di mana, ya?"

"Sampai perjumpaan Dewi Sinta dan Prabu Rama, Bu. Di Taman Soka," sahut Emi.

"Oya, baiklah," Ibu Sinder menanggapi.

"Wauto... Tiba saat yang dinanti-nanti oleh seluruh barisan prajurit kera. Prabu Ramawijaya diantar oleh adiknya Lesmana, Wibisana, Sugriwa, dan Anoman memasuki Taman Soka yang indah laksana kaswargan itu. Dewi Sinta didampingi oleh Dewi Trijata, anak Wibisana. Dengan penuh kesabaran dan ketawakalan Dewi Sinta yang sudah mandi jamas dan berdandan itu menunggu kedatangan sang suami yang sangat dirindukannya. Rombongan Prabu Rama tiba. Suami dan istri berdiri tegak berhadap-hadapan. Bertahun-tahun mereka dipisahkan oleh nasib, oleh kejamnya angkara murka. Baik Prabu Rama maupun Dewi Sinta tetap berdiri mematung, tak sepatah kata pun terucap. Mereka hanya saling pandang saja. Prabu JRama-wijaya dalam seragam tempur keprajuritan, darah Rahwanaraja masih melekat pada seragamnya. Ia tampak tampan dan perkasa. Sebaliknya, Dewi Sinta tampak pucat, kurus kering, sebagai akibat dari penderitaannya, namun kecantikannya masih tetap menyilaukan siapa yang tahan memandangnya. Namun apa yang diharap-harapkan oleh pengiring Prabu Rama belum saja terjadi. Kemesraan yang mereka bayang-bayang-kan sebelumnya, tapi yang mereka saksikan kini, kebekuan belaka. Bahkan mereka terperanjat melihat Prabu Ramawijaya memalingkan muka, membalik membelakangi Dewi Sinta.

"Hati Dewi Sinta terasa seperti disayat-sayat sembilu, merasa dirinya tidak diperlukan lagi oleh suaminya, merasa tidak dipercayai lagi. Ia tahu bahwa suaminya itu meragukan kesuciannya Dewi Sinta tetap tegak berdiri disaksikan oleh Raden Lesmana, Wibisana, Sugriwa, Anoman, dan Trijata. Mereka semua menundukkan kepala, tak kuasa melihat Dewi Sinta.

“Tiba-tiba Dewi Sinta memerintahkan, 'Anakku Ngger Senggana, buatkan api unggun bagiku. Aku akan melakukan pati obong’

"Anoman tak percaya akan apa yang didengarnya itu. Ia masih saja berdiri menunduk. Perintah Dewi Sinta tegas, 'Angger Ramandaya-pati, ibumu memerintahkan’.

"Syahdan, kayu api unggun raksasa telah disiapkan di tengah alun-alun Alengka. Seluruh wadyabala Ramawijaya dengan hati berdebar-debar menunggu kedatangan Dewi Sinta. Tidak lama kemudian muncul Dewi Sinta dalam pakaian putih-putih mendekati kayu api unggun. Dengan tenang ia memerintahkan, 'Angger Senggana, nyalakan’ Dalam sekejap api unggun menyala-nyala. Api menjilat-jilat ke angkasa. Barisan Pancawati bergerak mundur, tidak tahan panasnya api unggun. Kecantikan Dewi Sinta tampak menyilaukan. Dengan tenangnya ia memasuki lautan api itu. Terdengar geram barisan kera. Namun, beribu-ribu prajurit Ramawijaya itu melihat suatu keajaiban yang belum pernah dilihatnya. Api yang menjilat-jilat itu tidak kuasa melukai kulit Dewi Sinta.

"Tiba-tiba angin puyuh berdesis-desis dan menderu-deru di tengah lapangan itu dan dalam sekejap padamlah api unggun. Tampak Dewi sinta dalam gandengan Hyang Batara Hendra, segar-bugar. Tepuk tangan gegap-gempita. Prabu Ramawijaya mendekat dan menerima Dewi Sinta kembali dari tangan Hyang Batara Hendra. Lenyaplah utusan Hyang Giri Nata itu. Yang tinggal hanyalah Prabu Ramawijaya dan Dewi Sinta yang sedang berpegangan tangan. Terharu wadyabala Pancawati melihat adegan kemesraan gustinya."

Kemudian Ibu Sinder berkidung mengisahkan kemesraan Ramawijaya dan Dewi Sinta. "Nah, Anak-anakku, itulah Kisah Sinta Obong."

Wanita-wanita yang mendengarkan Ibu Sinder itu diam. Mereka mencucurkan air mata, di sana-sini terdengar isak. Wanita-wanita bukannya menangisi nasib Dewi Sinta, tapi sebenarnya sedang menangisi nasibnya sendiri. Ibu Sinder memahaminya. Matanya ikut berkaca-kaca.

Darsi memecah keheningan suasana dengan bertanya, "Bu, mengapa Prabu Ramawijaya berbuat begitu kejam terhadap istrinya, padahal ia Ratu Binatara titisan Betara Wisnu. Mengapa?"

Sambil tersenyum Ibu Sinder menjawab, "Itulah kebesaran jiwa Prabu Rama. Ia tahu dengan pasti istrinya masih tetap suci murni. Prabu Dasamuka tak pernah kuasa menyentuh Dewi Sinta. Tapi, ya tapi, apa prajurit-prajurit Prabu Rama mau percaya? Prabu Rama ingin menghapus keragu-raguan itu. Martabat dan kehormatan tahtanya bisa goyah karenanya. Sebaliknya Dewi Sinta pun memahaminya. Hanya bukti keajaiban saja yang bisa meyakinkan wadyabala Ramawijaya itu dengan laku obong, dan dengan datangnya Betara Indera, kesangsian itu hapus."

Wanita-wanita itu mengangguk-angguk, memuji-muji kewicaksanaan Prabu Rama.

Tiba-tiba mereka mendengar tembakan dan ledakan gencar di kejauhan. Pertempuran sedang berlangsung. Entah di mana. Wanita-wanita itu diam, gemetar.

Keesokan harinya tersiar kabar bahwa Gedung Kenpeitai diserang pemuda di bawah pimpinan seorang pemuda ganteng bernama Suharto. Sore-sore suara gaduh terdengar di lorong-lorong sekitar rumah Ibu Sinder. Tak lama kemudian pemuda-pemuda bersenjatakan klewang, bambu runcing, tombak, parang, keris, dan senjata api lewat di muka rumah. Pemuda-pemuda itu berteriak-teriak, "Merdeka, merdeka! Siaaap, siaaap!"

Ibu Sinder tidak sedang membatik. Ia duduk-duduk saja di atas kursi tamu. "Inikah yang selama ini kauperjuangkan, Her? Ramalan Jayabaya benar. Seumur jagung, tiga setengah tahun, bukan tiga setengah bulan. Lalu apa yang dimaksud dengan 'Tutupe jangka lan weca, ingsun wasitani: Tebu sekuyun, ana wedon saka lor Kulon, akemul mori putih, ateken tebu wulung – Tentang penutup ramalan itu kuberikan petunjuk sebagai berikut: serumpun tebu, ada mayat hidup dari barat laut, berselimut kain kafan, bertongkat tebu ungu tua '? Apa tafsirku itu benar? Hanya Tuhan yang Mahatahu," ucapnya dalam hati.

Kini Ibu Sinder tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, bersikap acuh tak acuh terhadap perkembangan tanah airnya. Tidak, kini ia tekun mengikuti berita-berita lewat radio.

Ketenangan wanita usia lewat setengah abad itu lagi-lagi diganggu oleh kedatangan wanita-wanita tetangganya. Mereka berpakaian aneka ragam, sopan-sopan. Tanpa dipersilakan mereka langsung masuk lalu duduk-duduk di atas tikar pembatikan. Ibu Sinder bangkit dari tempat duduknya, lalu menggabungkan diri dengan wanita-wanita itu. Mereka berbincang-bincang simpang-siur.

"Ada apa, Nduk?" tanya Ibu Sinder.

"Rame, rame Bu," jawab Tomblok. "Zaman siap-siapan sekarang ini. Markas-markas Nippon diserang pemuda, direbut senjatanya. Nippon-Nippon menyerah. Dulu gagahnya begitu, nglentruk sekarang."

"Bu, wah. Bu, senjata bertruk-truk di tangan pemuda," timpal Emi. "Aku lihat sendiri. Bu. Dibagi-bagikan."

Setelah kesimpang-siuran pembicaraan itu reda Darsi bertanya, "Bu, merdeka sudah kita sekarang. Merdeka itu bagaimana sih. Bu?"

"Aku bukan wanita yang makan sekolahan, Nduk," jawab Bu Sinder. "Kalau tak salah, merdeka itu artinya, kita tidak diperintah bangsa lain lagi. Belanda tidak, Nippon pun tidak. Yang kuasa kita sendiri."

"Raja kita sekarang kata orang Bung Karno. Betul, Bu?" tanya Tinah.

"Ya begitulah," jawab Bu Sinder.

"Ngarsa Dalem Kanjeng Sinuwun lalu bagaimana, Bu? Bukan raja lagi beliau?" Tomblok bertanya.

Ibu Sinder sendiri agak kebingungan. Setelah berpikir sejenak ia berkata, "Ngarsa Dalem ya tetap ngasta Sultan. Raden Werkudara itu kan tetap raja di Jodipati, tapi ia tunduk pada Prabu Yudistira, Ratu Ngamarta. Begitu juga Ngarsa Dalem. Beliau tetap Ngarsa Dalem Sultan Yogya, taat kepada Bung Karno. Begitu kira-kira, Nduk. Aku sendiri juga kurang paham."

Tinah mengangguk-angguk sambil bergumam, "Oooo, begitu."

"Heh, kemayu, kaya ngerti-ngertio, Tiin, Tin," bentak Tomblok.

"Bu, kalau sudah merdiko, apa pekerjaan kita-kita ini masih diperbolehkan. Bu?" tanya Darsi.

Lama Ibu Sinder diam. Ia tidak tahu apa jawabannya. Setelah berpikir sejenak ia berkata, "Begini, Nduk. Jangan kalian merasa tersinggung, ya? Merdeka atau tidak, kalian sedang sesat jalan, melakukan pekerjaan yang tidak layak bagi kemanusiaan. Aku tahu, Nduk, kalau kalian bisa menemukan jalan lain, pasti kalian akan meninggalkannya. Itu aku yakin. Nah, apabila kita sudah merdeka, tentunya apa yang kurang pada tempatnya, wajib kita jauhi. Di alam merdeka kiranya tidak pantas kalau masih ada kampung... masih ada... maaf ya, Nduk... masih ada kampung seperti Balokan ini. Tapi apa itu mungkin dihapus begitu saja? Tentu tidak. Entah di belakang hari."

"Bu, apa kiranya... kiranya..." tanya Paikem.

"Apa yang kaumaksudkan, Nduk. Katakanlah," jawab Ibu Sinder.

"Apa kami boleh belajar membatik, Bu? Siapa tahu. Kalau kami dilarang melacurkan diri oleh Ngarsa Dalem, lalu bagaimana? Kami harus punya kepandaian lain," kata Tinah.

Tomblok kini yang mengangguk-angguk, Tinah membalas, "Heh, Yu Tomblok, kemayuuuu, kaya ngerti-ngertio, woooo."

"Eee, lonte ijo, njaluk tak krawus kowe ya" bentak Tomblok.


Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified