Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Ibu Sinder Part 1


Ibu Sinder

Pandir Kelana

Ibu Sinder / Pandir Kelana. — Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1991. 248 hlm. :ilus.;18cm.
ISBN 979-511-178-7
Pdf : ac-zzz.blogspot.com
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan PT Gramedia
PRAKATA

IBU SINDER, wanita dengan latar belakang didikan dan asuhan tradisional Ningrat-Jawa, dihadapkan pada tantangan zaman yang berubah-ubah dengan cepatnya. Mampukah wanita itu mengatasinya, tanpa harus mengorbankan hakikat jatidirinya? Novel Ibu Sinder ini yang akan memberikan jawabannya.

Digubah-tulis dalam bahasa sederhana yang lancar, para pembaca diajak untuk ikut menghayati suasana perikehidupan di zaman Penjajahan Belanda, zaman Pendudukan Balatentara Jepang, dan zaman Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Ciri khas novel-novel Pandir Kelana ialah, yang satu berkait dengan yang lain. Pelaku-pelaku pendamping dalam novel Ibu Sinder ini, tampil sebagai pelaku utama dalam novel Kereta Api Terakhir, Kadarwati, Wanita dengan Lima Nama, Suro Buldog, Orang Buangan Tanah Merah, dan Rintihan Burung Kedasih. Dan para pembaca tidak perlu membacanya secara berurutan, karena setiap novel merupakan kebulatan cerita tersendiri.

Pandir Kelana juga menulis novel dengan latar belakang fakta sejarah, bukan legenda, seperti Tusuk Sanggul Pudak Wangi, yang menggambarkan lahirnya Kerajaan Majapahit di tahun 1293.

Mudah-mudahan, para pembaca masih akan dapat menikmati bacaan-bacaan kultural-eduka-tif selanjutnya, melalui pena Pandir Kelana.




WARUNG CLIMEN

Tidak jauh dari Pasanggrahan Ambarukmo, di tepi jalan raya antara Yogya dan Sala, berdiri sebuah bangunan rumah setengah batu yang tampaknya masih agak baru, dihuni oleh seorang wanita berusia lewat setengah abad. Bagian depan rumah yang berbentuk Joglo itu sudah diubah menjadi sebuah warung sederhana, lengkap dengan papan nama berhuruf Jawa berbunyi "Warung Climen", yang artinya warung sederhana. Keistimewaan warung itu adalah hidangan opor bebeknya. Orang yang semula apriori menolak daging bebek, setelah mencoba opor bebek "Warung Climen", berubahlah seleranya. Ia menjadi penggemar masakan daging bebek.

Letak rumah kediaman yang telah menjadi restoran kecil itu memang agak menyendiri, jauh dari tetangga dan tidak terlalu dekat dengan jalan raya. Halamannya luas, disediakan untuk tempat parkir kendaraan. Perabot-perabot warung seperti meja, kursi, lincak, tempat sendok-garpu, tempat abu rokok, semuanya terbuat dari bahan bambu tutul. Ruangan tampak bersih, terawat, rapi dan teratur, mampu memberikan suasana akrab-santai kepada pengunjung-pengunjungnya.

Tidak hanya hidangan masakannya saja yang menjadi buah bibir, tapi si pemilik warung pun mengundang perhatian orang. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab "Warung Climen" oleh penduduk desa dan kampung di sekitarnya diberi julukan "Warung Ndoro Ayu". Karena salah dengar, tersebar luas menjadi "Warung Ayu". Orang lalu mengira pemiliknya seorang wanita muda yang cantik menggiurkan.

Munculnya seorang wanita usia senja misterius di tempat itu sendiri, sudah menimbulkan tanda tanya. Kabut teka-teki menyelubungi kehadirannya. Siapa sebenarnya wanita itu? Pribadinya memang sangat menarik. Setua itu ia masih tampak cekatan, langsing berisi, dan atraktif. Ia selalu mengaku sebagai orang desa biasa, tapi wajah cantik, mata membelalak dengan sorotnya yang berwibawa itu, sulit menyembunyikan asal-usulnya. Tingkah laku dan sikapnya tak ubahnya seperti kebanyakan pemilik warung—sopan-santun, grapyak (ramah tamah), andap-asor (merendah)—namun, wibawa yang memancar dari Wajah yang menarik itu memaksa orang untuk menaruh hormat kepadanya.

Berbagai cerita dan kisah bermunculan. Ada yang berkata bahwa wanita itu masih kerabat Keraton. Ada juga desas-desus, bahwa ia janda seorang bupati daerah pesisiran. Lain orang, lain ceritanya. Namun pemilik "Warung Climen" itu membiarkan saja cerita khayal bertebaran, sebab hal itu malah meningkatkan jumlah pengunjung yang berdatangan. Bahkan akhirnya pemilik warung itu menerima panggilannya yang tetap. Ia terkenal sebagai Ibu Climen.

Pagi itu Ibu Climen sedang menikmati pemandangan indah di belakang rumahnya. Di kejauhan, kebiru-biruan, berdiri megah Gunung Merapi, gagah, perkasa, penuh misteri. Asap tebal menjulang tinggi keluar dari puncaknya yang tajam, bermandi-mandi sinar matahari pagi. Tampak di hadapannya desa dan dukuh, tenang dan damai dalam pangkuan kaki gunung yang sulit diramalkan kemungkinan erupsinya. Tanaman padi kememping (berbutir muda) bergerak-gerak, mengangguk-angguk, mengikuti arah embusan angin. Gumam wanita usia senja itu, "Selamat jalan, Anak-anakku."




MADUGONDO

Bersandar pada tongkat kayu kesayangannya, seorang laki-laki berkulit putih, berambut pirang, tubuh tinggi, kokoh, kekar, berdiri mematung melepaskan pandangannya jauh ke ufuk timur. Bulan berbentuk sabit yang sedang diamatinya, sudah agak tinggi letaknya di atas cakrawala. Angin kumbang meniup-niup berputar-putar, menggerak-gerakkan lautan daun kecoklat-coklatan, tanaman tebu yang hampir siap tebang. Tinggi di udara sekelompok burung bangau santai terbang menyongsong kehadiran sang bulan, seolah-olah mereka belum sadar, bahwa malam telah tiba. Bintang-bintang berkedip-kedip berhamburan di angkasa raya. "Indah, misterius, Insulinde, mijn tweede Vader-land (Indonesia, tanah airku yang kedua)," gumam laki-laki itu.

Sekonyong-konyong tanpa disadarinya, gambaran peristiwa besar yang sedang berlangsung di dunia Barat begitu saja mendesak penampilan keindahan alam yang sedang dikaguminya itu. Terbayang-bayang di hadapannya topan peperangan yang sedang menyapu bumi Eropa. Bohemia dan Moravia begitu cepatnya jatuh dalam kekuasaan Jerman Nazi. Sementara itu Polandia sedang mati-matian bertempur menghadapi Divisi-divisi Lapis Baja Adolf Hitler di front barat dan Divisi-divisi Artileri Joseph Sta-lin di front timur. Sebenarnya nasib Polandia sudah dapat diramalkan sebelumnya. Negeri yang patriotik itu akan bertekuk lutut dalam beberapa hari saja.

"Blitzkrieg, blitzkrieg... Quo Vadis, Europa (Perang kilat, perang kilat... akan ke mana Eropa)?" desahnya.

Van Hoogendorp, begitu nama orang itu, tergugah dari lamunannya ketika mendengar teguran, "Apa yang sedang kaupikirkan, Pap?"

Menoleh, melihat anak tunggalnya yang bernama Ivonne, Van Hoogendorp menjawab, "Kau, Ivo? Indie (Indonesia) begitu indah, ya?"

Lalu ajak Ivonne, "Mari, Pap, pulang. Makan malam sudah siap."

"Mari, mari," tanggap ayahnya.

Melewati jalan inspeksi di tengah-tengah tanaman tebu, ayah dan anak santai berjalan menuju sebuah bangunan besar—megah dan anggun. Rumah kediaman resmi Administrator Perkebunan dan Pabrik Gula Madugondo. Rumah besar itu terletak tepat di tengah-tengah kota

Perang kilat, perang kilat... akan ke mana Eropa? Indonesia kecil yang juga bernama Madugondo. Lahan perkebunan itu merupakan bagian dari Tanah Partikelir, Particuliere Landerij Gondo Arum, milik sebuah perusahaan Belanda, CV. Gebroeders van Zanten.

Memasuki halaman luas berkerikil halus, diayomi oleh sepasang pohon regenboom (pohon trembesi) besar dan rindang, lima ekor anjing Dalmatia menyongsong kedatangan Jonkheer dan Freule van Hoogendorp. Anjing-anjing itu melonjak-lonjak kegirangan, seperti majikan-majikannya itu baru kembali dari suatu perjalanan yang jauh saja.

"Bimo, kom, kom, Bimo! Jangan nakal, ya!" tegur insinyur pertanian lulusan Wageningen itu sambil membelai kepala anjing yang terbesar di antara anjing-anjing yang lain.

Sesudah lulus dari Landbouwkundige Hoge-school—Sekolah Tinggi Pertanian di Negeri Belanda, Hendrik van Hoogendorp yang berdarah biru itu langsung mengabdikan dirinya pada perkebunan gula. Berpindah-pindah dari pabrik gula yang satu ke pabrik gula yang lain. Administrator itu masih baru di Madugondo.

Nyonya Van Hoogendorp sudah menunggu kedatangan suaminya di pendapa rumah yang berlantaikan marmer Carara, putih bersih mengkilat, dengan saka-saka guru yang bergaya Yunani—mengenakan gaun panjang berwarna ungu muda. Dia seorang wanita Belanda-Indo, berwajah cantik, atraktif, namun memberikan kesan agak tinggi hati. Kalau sang suami pandai menyesuaikan diri dengan tradisi dan adat-istiadat lingkungannya, sebaliknya istrinya yang berdarah campuran Belanda-Jawa itu malah bertingkah laku kebelanda-belandaan yang berlebihan. Logat, lafal, gaya bahasanya meniru-niru ucapan Belanda totok yang baru saja menginjakkan kakinya di bumi Nederlands-Indie (Hindia-Belanda).

Tabiat dan penampilan anak tunggalnya, Ivonne, lebih dekat pada ayahnya. Ivonne seorang mahasiswi menjelang tingkat Semi-Arts (Drs. Med) pada Geneeskundige Hogeschool—Sekolah Tinggi Kedokteran—di Batavia. Ia seorang wanita yang tergolong tinggi menurut ukuran manusia Jawa, tapi pendek menurut ukuran orang Belanda. Wajannya suatu perpaduan wajah Ayah dan Ibu: manis, menawan, tidak cebleh (hambar), putih-kuning langsat.

Dengan langkah-langkahnya yang mantap tegap, Van Hoogendorp menaiki tangga pendapa, melepaskan anaknya dari rangkulannya, menggandeng istrinya, dan perlahan-lahan berjalan lewat ruang tengah gedung yang lebar-memanjang, menuju beranda belakang rumah. Ivonne membuntutinya. Lima anjing yang terlatih dan berdisiplin itu berhenti di tangga pendapa yang paling atas, duduk berjajar menghadap halaman dan sabar menunggu sampai majikan-majikannya muncul kembali di pendapa.

Di beranda belakang itu lazimnya keluarga Van Hoogendorp bersantap malam. Dua orang pelayan berseragam putih-putih dengan serbet lebar-panjang di pundak masing-masing membantu majikan-majikannya menempati kursinya. Wajah-wajah datar tanpa senyum, kaku, beku, melayani keluarga administrator makan malam mengelilingi sebuah meja bundar penuh dengan berbagai macam hidangan rijsttafel (hidangan Indonesia)—yang terlalu banyak porsi dan jenisnya untuk dapat dihabiskan oleh tiga orang.

Memang, dua kali dalam seminggu keluarga Van Hoogendorp bersantap malam masakan Jawa. Fien van Hoogendorp yang kebelanda-belandaan itu sangat menyukai sambal bajak—bahkan ketika makan roti pun, kadang-kadang sambal bajak dinikmatinya sebagai beleg (lapis).

Angin sejuk sepoi-sepoi mengembus-embus lewat beranda belakang yang terbuka itu, ikut meningkatkan selera makan ketiga anak-beranak itu.

Malam itu, ketiganya agak kurang bergairah untuk berbincang-bincang. Selesai makan, Van Hoogendorp langsung menuju ruang kerjanya yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur juga. Di sudut ruangan, tersembunyi di belakang penyekat kayu berukir, terdapat sebuah dipan panjang dan lemari pakaian. Di atas dipan itulah kadang-kadang Van Hoogendorp tertidur, bila ia sampai larut malam membaca surat-surat atau buku bacaan.

Tak lama kemudian administrator itu memasuki pendapa lewat pintu penghubung, hanya dalam pakaian piyama. Ia langsung duduk di kursi goyang di sudut pendapa itu, setelah lebih dulu mematikan lampu-lampu di sekitarnya dengan maksud agar dirinya tidak terlihat oleh orang-orang yang lewat di jalan. Anak tunggalnya muncul, mengenakan celana panjang gaya Marlene Dietrich, lalu duduk di atas lantai menemani ayahnya.

Melihat ayahnya mengepul-ngepulkan asap cerutunya, Ivonne menyeletuk, "Apa yang sedang Papi risaukan?"

"Aku kurang mengerti, mengapa Inggris dan Prancis begitu lamban bereaksi. Apa mereka begitu tolol untuk tidak mengetahui apa yang tersembunyi di dalam benak si Adolf itu. Jelas Hitler bermaksud untuk menguasai seluruh daratan Eropa."

"Ooooo, itu yang mengganggumu, Pap. Apa itu akan berarti bahwa Perang Dunia II akan meletus, Pap?" Ivonne menanggapi.

"Itulah yang kucemaskan. Dan jangan lupa, Japan (Jepang) pasti tak akan tinggal diam," jawab Van Hoogendorp.

"Apa Holland dapat mempertahankan neutra-liteit-nya, Pap?" tanya Ivonne.

"Kali ini sulit. Eropa memang urusan kawan-kawan di Holland, tapi kalau menyangkut Nederlands-Indie, kita akan terlibat langsung."

"Kalau begitu Papi juga memperhitungkan kemungkinan Japan bergerak ke Selatan. Apa Japan begitu kuatnya untuk mampu mencapai Pulau Jawa, Pap?" Ivonne bertanya.

"Entahlah, tapi Indie satu-satunya wilayah yang kaya minyak. Bahan itu sangat diperlukan oleh si mata sipit. Sudahlah! Laat de boel maar waaien, de wereld blijft toch steeds draaien—biarlah berantakan, dunia akan tetap berputar," gumam Van Hoogendorp.

"Falsafah siapa itu, Pap?" cepat Ivonne bertanya.

"Don Quixote," jawab Van Hoogendorp sambil tertawa. Ivonne ikut tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba perhatian ayah dan anak itu beralih ke dua orang yang sedang lewat di jalan besar. Tampaknya sejoli suami-istri—seorang laki-laki bertubuh kokoh, atletis, dan seorang wanita langsing, padat berisi, mengenakan kain kebaya.

Begitu lepas pandang Van Hoogendorp menyeletuk, "Suprapto, sinder (pengawas kebun) Jawa. Baik kerjanya. Cantik istrinya."

"Aha, Papi memuji-muji nyonya yang lewat itu. Kalau aku lebih tertarik pada yang laki-laki. Posturnya mengesankan. Jarang ada orang Jawa yang setinggi dan segagah dia."

"Kata orang, anak tunggalnya hampir jadi insinyur. Sudah tingkat lima di Bandung."

"Ziet hij er goed uit (Apa dia tampan), Pap?"

"Mana aku tahu, aku belum pernah melihatnya. Tanyakan saja pada orangtuanya," kata ayahnya.

"Ah, liburan yang akan datang pasti dia akan pulang," gumam Ivonne. Tapi belum lagi sempat menanggapi gumam anaknya, Fien van Hoogendorp muncul di hadapan mereka.

"Gezzzellig, gezzzelig (Asyik, asyik), apa yang kalian bicarakan?"

"Perkembangan daratan Eropa, Mam. Papi sangat mengkhawatirkannya."

Fien yang mengenakan sarung kawung dan baju putih berenda itu tampak jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya. Tak ubahnya seperti kakak-beradik saja dengan Ivonne.

"Ah, laat de boel maar waaien, de keuken blijft toch steeds dampen. Biarlah berantakan, dapur tetap mengepul."

Agak terkejut mendengar ucapan ibunya itu Ivonne bertanya, "Mam, kata-kata siapa itu?"

Sambil tersenyum ibunya menjawab, "Don Quixote van Hoogendorp."

Suami-istri dan anak tertawa terbahak-bahak dalam paduan. Fien van Hoogendorp lalu menggabungkan diri duduk menempati kursi goyang di samping suaminya. Malam itu keluarga Van Hoogendorp berbincang-bincang, lagi-lagi tentang Hitler dengan Mein Kampf (Perjuanganku)-nya.

"Nationaal Socialisten Bond—Himpunan Nasional-Sosialis—atau NSB di Holland sangat pro-Nazi. Mereka musuh dalam selimut. Di Madugondo juga ada simpatisan-simpatisan NSB. Die klootzakken (Bangsat-bangsat itu)."

"Nou zzzeg, de Jonkheer begini te vloeken (Haa, Jonkheer mengumpat)."

"Maaf, masih banyak surat-surat yang belum sempat kubaca tadi siang." Van Hoogendorp berdiri lalu melangkah menuju ruang kerjanya.

Sambil menggandeng ibunya, Ivonne masuk rumah. Tak lama kemudian seorang petugas jaga berseragam kelabu memakai striwel (pembalut kaki) tanpa sepatu, membawa pergi anjing-anjing. Di kejauhan terdengar bunyi suara kokokbeluk—burung hantu—berulang-ulang.

Pagi hari yang cerah. Seorang wanita Jawa berusia lewat empat puluhan, mengenakan kain kebaya dari bahan lurik hijau gadung santai berjalan melewati kediaman resmi Administrator yang oleh penduduk diberi nama Statiran atau Besaran. Wanita itu baru saja pulang dari rumah istri teman sekerja suaminya, Sinder Sugondo.

Sugondo baru di Madugondo, sinder pindahan dari Perkebunan Gula, Sragi, dekat Pekalongan. Orang Jawa kedua yang mencapai tingkat sinder di Madugondo.

Di tengah jalan menuju rumahnya, wanita itu berpapasan dengan beberapa nyonya Belanda-Indo, istri-istri sinder dan masinis. Sambil tertawa-tawa kecil nyonya-nyonya itu menyapa wanita yang berjalan menunduk itu dengan kata-kata dalam bahasa Belanda yang melanggar segala aturan gramatika. Kata salah seorang nyonya, "Morgen, Mevrouw, jij morgen halen mijn was yaa (Selamat pagi, Nyonya, besok kauambil cucianku yaa)."

Wanita Jawa yang memang tidak paham bahasa Belanda itu hanya mengangguk saja membalas sapa nyonya-nyonya Indo itu, tapi ia dapat merasakan bahwa dirinya sedang menjadi sasaran ejekan. Perlakuan semacam itu tidaklah baru terjadi pagi itu saja. Sikap wanita-wanita Indo itu memang sopan, tapi kata-kata yang terlontar tidaklah sesuai dengan sikap sopan mereka.

Setiba di rumah kembali, istri Sinder Suprapto yang di Madugondo terkenal dengan panggilan Ibu Sinder itu menyentakkan diri duduk di atas kursi rotan di sudut ruang tamu. Biasanya ia acuh tak acuh saja terhadap ejekan istri-istri kawan sekerja suaminya, tapi entah mengapa kejadian pagi itu sangat menyentuh martabatnya sebagai seorang istri sinder. Masih terbayang-bayang di hadapannya wajah-wajah dengan senyum palsu, sopan santun yang dibuat-buat, dan lontaran kata-kata hinaan yang tidak dipahaminya.

"Mengapa mereka begitu gairah untuk menghina orang? Apa sebenarnya yang tersembunyi di belakang sikap mereka itu? Irikah mereka terhadap kedudukan suamiku, atau tidak relakah mereka ada seorang Jawa yang memegang jabatan sinder? Atau karena suamiku yang tampan itu tidak begitu saja mau diajak main-main oleh sembarang wanita? Entahlah, entah!" Tanpa disadarinya wanita senja usia itu mulai menggali-gali kembali masa silamnya yang sudah begitu jauh berada di belakang punggung kehidupannya.

Lamunan Ibu Sinder meluncur mundur puluhan tahun ke belakang. Ia seperti sedang berdiri di tepi jalan, memandang pagar tembok setinggi tiga insan bersusun. Melihat pintu gerbang, gapura-regol lebar, bermahkotakan relief denawa-raksasa, menyeringai mempertontonkan gigi-gigi taringnya yang sebesar buah pisang. Mata menonjol bak buah kelapa gading. Dua buah daun pintu kokoh kuat dari kayu jati tua, yang sudah puluhan tahun tahan guyuran air hujan dan terik panasnya sinar matahari.

Ibu Sinder seperti melihat dirinya sendiri melangkah lewat pintu gerbang yang lebar itu. Dua kereta berkuda dapat lewat berdampingan. Terbelalak mata dibuatnya begitu berhadapan dengan sebuah bangunan rumah berbentuk joglo—besar, megah, berwibawa—dikitari oleh halaman-halaman luas, tanah keras ditaburi butir-butir pasir halus, tapi tidak berdebu. Pohon-pohon sawo kecik berjajar-jajar, menambah semarak lingkungan pendapa terbuka, dengan tempat saka-guru-nya terbuat dari kayu nangka mulus tanpa cacat. Atap sirap kayu ulin, berlantai batu semen yang digarap rapi, teliti, rata-rata air.

Dua perangkat gamelan menghias pendapa itu. Seperangkat di sebelah barat dan yang lain di sebelah timur. Kyai Kumbang Mara dan Nyai Laras Maya. Kumbang Mara bunyi suaranya mantap, anggun; sedangkan Nyai Laras Maya, bening, genit. Bangunan rumah itu sendiri dikenal dengan nama "Dalem Kusumojaten", kediaman Bendoro Raden Mas Kusumojati, pujangga kebudayaan Keraton.

Ibu Sinder melihat dirinya kembali sebagai anak kecil yang bernama Raden Ajeng Winarti, mengenakan kain parang rusak, telanjang dada, berlari-lari kejar-kejaran dengan adiknya, Raden Ajeng Winarsih. Terbayang pula ayahnya, seorang pria ningrat, buah bibir wanita-wanita kerabat Keraton. Ia terlalu sadar akan ketampanannya. Di sampingnya berdiri ibu kandungnya, garwa-padmi (istri utama), Raden Ajeng Kusumaningrum, sehari-harinya Ibu Bendoro sebutannya. Duduk sila, tiga garwa-ampil (istri pendamping), Bibi Dumilah, ibu kandung Winarsih, Bibi Senik dan Bibi Mari yang tidak dikaruniai keturunan.

BRM. Kusumojati bukannya seorang bangsawan yang sudah merasa puas dengan keempat istrinya. Di luar dinding Kusumojaten ia masih memiliki kekasih-kekasih, silih berganti. Masyarakat tidak mempersoalkannya. Wajar-wajar saja bagi seorang bangsawan terhormat waktu itu untuk punya "simpanan" di mana-mana.

Tabiat dan kebiasaan Winarti dan Winarsih bertolak belakang satu dengan lainnya. Winarsih anak yang sulit dikendalikan. Jiwa bebasnya tidak mau tunduk kepada segala tradisi dan aturan adat yang dirasakannya sebagai perintang kebebasannya. Winarsih dipondokkan pada Controleur—Pejabat Pamong Praja Belanda— Hartman, sahabat karib BRM. Kusumojati, Keluarga Hartman yang kebetulan tidak mempunyai anak itu sangat tertarik oleh kelincahan, keterbukaan, dan kebebasan Winarsih—tingkah laku yang kurang berkenan di Dalem Kusumo-jaten. Namun, berkat asuhan Hartman, Winarsih bisa berkembang menjadi anak gadis yang tertib dan cerdas. Dengan mudahnya ia menyelesaikan pendidikan dasarnya pada Europese Lagere School, sekolah rendah yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda. Tiga tahun kemudian ia memperoleh diploma Sekolah Menengah, MULO. Tingkat pendidikan yang cukup tinggi bagi seorang wanita waktu itu.

Winarti tetap tinggal di Dalem Kusumojaten dan memperoleh pendidikan seperti anak-anak gadis kerabat Keraton lainnya. Di samping pendidikan formal gaya Keraton, ia beruntung diasuh secara khusus oleh ayah-ibu dan bibi-bibinya. Winarti anak gadis yang serba ingin tahu, cerdas otak dan memiliki ingatan yang kuat. Dari Bibi Mari ia mewarisi kepandaian meramu jamu-jamu dan bahan-bahan kecantikan tradisional. Ia memperoleh keterampilan masak-memasak dan sulam-menyulam di bawah bimbingan Bibi Senik dan ibunya sendiri. Ibu Bendoro mengajar Winarti keterampilan batik-membatik. Pengetahuan dan keterampilan seni kebudayaan diterimanya dari ayahnya. Winarti menguasai eni tari dan seni karawitan.

Namun di atas segala itu. Bibi Dumilah-lah yang membentuk watak dan kepribadiannya. Melatih olah pikir dan memperluas cakrawala angan-angan dan jangkauan pengetahuannya sampai melintasi batas tembok-tembok tinggi Kusumojaten. Buku-buku tulisan tangan berhuruf Jawa yang ditekuninya di bawah bimbingan Dumilah, mengantar angan-angannya menjelajahi dunia di luar tembok Dalem Kusumojaten. Kisah dan cerita tentang Wong Agung Menak, Amir Ambyah, membawanya ke negeri Arab sebelum zaman Nabi. Lewat kisah-kisah Abu Nawas dan Harun Al Rasyid ia menjelajahi Negeri Baghdad. Serat Sejarah Nabi-Nabi membawanya ke alam Timur Tengah dan Negeri Rum.

Pertumbuhan dan perkembangan tanah leluhurnya dipelajarinya lewat serat-serat Babad, antara lain Babad Tanah Jawi. Namun sebenarnya yang membentuk watak dan kepribadiannya ialah dunia pewayangan. Dengan ketekunan yang mengagumkan diejanya berulang-ulang Serat Kisah Ramayana dan Mahabharata. Tokoh-tokoh wayang itu hidup dalam angan-angannya, tabiat dan perangainya, kekuatan dan kelemahannya. Intisari dari tiap-tiap lakon diolahnya bersama Bibi Dumilah.

Seperti halnya gadis-gadis lain menjelang masa remaja, Winarti pun wajib menjalani masa pingitan. Masa yang oleh kebanyakan gadis dianggap sebagai "hukuman" belaka, tapi bagi Winarti masa itu lewat tanpa dirasakannya sebagai pembatasan kebebasannya. Masa itu dimanfaatkannya untuk lebih mendalami segala sesuatu yang diterimanya dari pengasuh-pengasuhnya, terutama didikan dan ajaran yang diterimanya dari Bibi Dumilah. Kadang-kadang Bibi Dumilah membawa pulang buku-buku langka yang dipinjamnya dari perpustakaan Keraton.

Sambil tersenyum, Ibu Sinder ingat kembali pada masa-masa sewaktu ia mendapat lamaran dari seorang jejaka yang belum pernah dijumpainya. Dengan terus terang ayahnya mengatakan padanya, bahwa jejaka itu bukannya jejaka yang murni. Ia pernah memiliki istri-selir, tapi tidak memiliki anak, dan sebelum "jejaka" datang melamar, istri-selirnya itu sudah diceraikannya. Hal itu pun tidak mengejutkan Winarti, sebab dalam lingkungan kerabat Keraton masalah seperti itu bukanlah hal yang luar biasa. Apalagi sang pelamar telah berjanji tidak akan memelihara istri-selir lagi. Mula-mula kepada Winarti diperlihatkan potret orang yang melamarnya. Begitu Winarti melihat potret itu ia merasa bahwa dialah bakal suaminya. Dan pada waktu calon suaminya itu berkunjung ke Dalem Kusumojaten, Winarti mendapat kesempatan untuk mengintip. Begitulah ia melihat "jejaka" itu, ia semakin yakin bahwa pria itulah yang akan didampinginya dalam kehidupannya.

Tersenyum-senyum geli Ibu Sinder terkenang akan peristiwa yang pada mulanya tidak dimengertinya. Pada suatu sore hari, ia diajak ayahnya pesiar berkendaraan kereta yang ditarik oleh empat kuda sama warna. Begitu mendekati Taman Sriwedari, kusir diperintahkan oleh ayahnya untuk memperlamban laju kuda-kudanya. Semula ia tidak mengerti mengapa. Baru kemudian setelah nikah ia diberitahu oleh suaminya, bahwa pada saat itu suaminya nongkrong di tepi jalan menontoni Winarti. Tanya Winarti kepada suaminya, "Apa kesanmu saat itu, Pak?"

"Sungguh mati, kukira Dewi Supraba turun dari kayangan," jawab Suprapto.

"Heh, dasar!" Ibu Sinder menanggapi pujian suaminya.

"Win, waktu kau mengintip dan melihat aku, apa kesanmu?" Suprapto balik bertanya.

"Rasa-rasanya seperti Betara Yamadipati keluar dari Kawah Candradimuka untuk mencabut nyawaku." Ibu Sinder lalu bangkit, lari, dikejar-kejar suaminya.

Hilang senyum pada wajahnya, kini Ibu Sinder mengangguk-angguk mengenang petuah-petuah Bibi Dumilah sebelum ia meninggalkan Dalem Kusumojaten, diboyong oleh suaminya. Mengiang di telinganya kata-kata, "Ndoro Ajeng, bercerminlah pada Ibu Bendoro selalu. Ibundalah yang mengayomi Dalem Kusumojaten. Bibi-Bibi Ndoro Ajeng sebagai maru-nya diperlakukan sebagai saudara kandung sendiri. Terbukti di dunia yang nyata ini ada wanita yang seperti Wara Sembadra, Ibunda. Ia selalu berlaku adil, tidak membeda-bedakan maru-nya yang satu dengan maru-nya yang lain. Sebaliknya bibi-bibimu mencintainya dengan tulus ikhlas. Ngger, kaulah yang tetap tinggal di Kusumojaten. Winarsih pulang waktu libur saja. Tanpa terkecuali bibi-bibimu mendapat kesempatan yang sama untuk dapat mengasihimu.

"Nduk, kau sudah memiliki bekal cukup untuk mendampingi suamimu dan kau juga sudah cukup matang untuk mampu mengatasi segala sesuatu yang bisa timbul dalam kehidupan perkawinan. Ketahuilah, Jeng, suamimu adalah seorang laki-laki yang mampu menumbuhkan gejolak batin pada kaum Hawa. Ndoro Ajeng beruntung menjadi pilihannya. Tapi sebaliknya, kegagahan suami juga bisa membawa beban yang berat untuk diemban, bisa terjadi hal-hal yang Ndoro Ajeng tidak inginkan. Lihatlah Ayahanda. Tabahlah dan terimalah kenyataan hidup sebagaimana adanya dan bijaksanalah. "Maaf, Ngger, aku pernah menanyakan tentang bakal perjalanan hidupmu di kelak kemudian hari kepada seorang tua. Kehidupanmu akan penuh suka, tapi juga tidak luput dari duka. Kau ber-Wuku Sinto. Ingatlah selalu, Jeng, berbahagialah umat hamba Allah yang masih menerima cobaan dari-Nya. Itu limpahan kasih dari Sang Pencipta."

Ibu Sinder yang semula seolah-olah hendak memberontak terhadap perlakuan istri-istri rekan-rekan suaminya, kini sadar, bahwa ia harus tetap tabah menghadapi segala duka dalam kehidupannya. Semula ada perasaan iri kepada adiknya, Winarsih, yang mengenyam pendidikan Belanda, dan bisa cas-cis-cus berbahasa Belanda, tapi keirian itu kini lenyap. Ia merasa menyesal dan sambil mencucurkan air mata Ibu Sinder bergumam, "Ya Allah, ampunilah hamba-hambaMu. Mereka sedang alpa dan tidak sadar akan perbuatannya. Ya Allah, jauhkanlah hambaMu ini dari rasa dendam dan amarah. Amin." Hatinya kembali tenang, pikirannya kembali jernih dan wajahnya kembali cerah.

Tiba-tiba Ibu Sinder dikejutkan oleh bel sepeda yang nyaring berbunyi dan disusul dengan suara, "Surat, Ndoro Ayu"

Ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menyongsong kedatangan pengantar pos. Pengantar pos itu menyerahkan sebuah sampul surat kepada Ibu Sinder.

'Terima kasih. Pak," kata Ibu Sinder.

"Monggo," jawab Pak Pos sambil menaiki kembali sepedanya.

Masih tetap berdiri di muka pintu Ibu Sinder mengamati surat yang ditujukan kepadanya. Surat dari anaknya, Suhono. Langsung sampul surat disobeknya dan dibacanya surat yang berbahasa dan berhuruf Jawa itu.

"Sembah sungkem mugi katur Ibu/Bapak.

Dengan sengaja berita gembira ini tidak Ananda sampaikan lewat telegram. Ananda khawatir kalau hanya akan mengejutkan Ibu dan Bapak saja. Atas ridho Tuhan Yang Mahamurah dan atas doa restu Ibu dan Bapak, Ananda telah lulus ujian dengan predikat cum laude. Kini Ananda menyandang gelar insinyur sudah. Ananda belum bisa lekas pulang, karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Betawi. Tak lain, Ananda mohon doa restu. Salam Ananda untuk Mandor Darmin. Namung semanten atur kulo. Nuwun.

Putro tresno

Ir. Suhono."

Ibu Sinder lalu duduk kembali di tempat semula. Surat itu dibacanya berulang-ulang. Ia belum bisa percaya bahwa anak tunggalnya itu sudah menyandang gelar insinyur. Mata berkaca-kaca, air mata gembira dan bahagia meleleh-leleh lewat pipi-pipinya. Wanita berwajah tenang dan tajam itu bergumam, "Ya Allah, segala puji bagiMu, ya Allah. Matur sewu nuwun."

Ketika sadar diri kembali, tanpa pikir panjang. Ibu Sinder lari ke luar rumah, mencari suaminya yang sedang bekerja di kebun. Ia belum tahu dengan tepat di mana suaminya berada, tapi ia tahu bagian kebun mana yang dipertanggungjawabkan kepada suaminya itu. Ia ingin sesegera mungkin menyampaikan berita gembira itu kepada suaminya.

Menyelusuri jalur kereta api, pengangkut tebu. Ibu Sinder berlari-lari menuju kebun Sinder Suprapto. Di tengah jalan tali-temali sandalnya lepas. Ia berjalan terus tanpa alas kaki.

Pekerja-pekerja kebun yang melihat Ibu Sinder berlari-lari itu berhenti bekerja sejenak. Terheran-heran mereka, bercampur rasa cemas. Celetuk seorang pekerja, "Ada apa Ndoro Ayu itu berlari-lari?"

Lalu seorang mandor lari mencegatnya sambil menegur keras-keras, "Ada apa, Ndoro?"

Terengah-engah Ibu Sinder menjawab, "Ah, tidak ada apa-apa. Di mana kira-kira Ndoro Sinder berada sekarang ini?"

'Terus saja, Ndoro, di sana... lha itu apa dresin (kereta inspeksi kebun yang didayung oleh dua orang)-nya. Itu, Ndoro," jawab Mandor Darmin.

Di kejauhan tampak sebuah dresin sedang melaju mendekat. Ibu Sinder mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil melambai-lambaikan surat yang dipegangnya erat-erat.

Di bangku dresin itu duduk Sinder Suprapto, berpakaian seragam lapangan berwarna kelabu. Sinder yang bertubuh kokoh kuat, tinggi, dan berkumis tebal, melihat istrinya berdiri di tengah jalur rel sambil melambai-lambaikan sesuatu, bergumam, "Astaga, ada apa? Tak pernah Ndoro Ayu menyusul sejauh ini. Ayo cepat, cepat!"

Pendayung dresin Parjo dan Paimo mengerahkan segala kekuatannya untuk mempercepat laju dresin. Begitu dresin berhenti, Suprapto meloncat dan cepat menghampiri istrinya sambil bertanya, "Ada apa. Bu?"

Terbata-bata Ibu Sinder menjawab, "Hono... Hono, Paaak."

Sinder Suprapto semakin menjadi cemas. Disambarnya surat yang masih dalam genggaman tangan Ibu Sinder, dan segera dibacanya. Setelah diketahuinya bahwa surat itu berisi berita menyenangkan, Suprapto lalu membacanya dengan suara keras-keras, berulang-ulang.

Yakin sepenuhnya bahwa anaknya memang sudah menyandang gelar insinyur, sinder itu berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil berkata, "Hono lulus... Lulus! Dia insinyur sekarang... Insinyur! He, kemari semuanya!"

Sinder Suprapto memanggil pekerja-pekerja-nya. Berbondong-bondong anak buahnya mendekat.

"Ada apa, Ndoro?" tanya Mandor Durasim.

"Anakmu, Sim, anakmu, Suhonoooo... insinyur sekarang... Insinyur, Sim!"

Mendengar jawaban sindernya itu Darmin-lah (Baca : Suro Buldog, Orang Buangan Tanah Merah, Pandir Kelana) yang paling terharu. Ia tak mampu menahan gejolak emosinya. Ia menangis sambil bergumam, "Den Hono... insinyur.... Ndoro Sinyur seperti Tuan Besar Statir." Darmin tak mampu berkata-kata lagi. Ia mengenal Suhono sejak insinyur muda itu masih remaja tanggung.

Pekerja-pekerja lainnya hanya mengangguk-angguk saja. Mereka tak tahu apa itu insinyur, tapi setelah Mandor Durasim menyalami Sinder

Suprapto dan istrinya, mereka ikut-ikutan menyalami majikannya.

"Ndoro, Den Hono bisa jadi Tuan Besar Statir nantinya," celetuk Darmin setelah mampu menguasai emosinya.

Suprapto tahu bahwa mandornya itu tak tahu beda insinyur pertanian dan insinyur sipil, tapi untuk tidak mengecewakan anak buahnya itu Suprapto menjawab, 'Tentu, tentu, Min."

"Wah, bakal ada kenduri nih," celetuk Durasim.

Sambil tertawa bangga Sinder Suprapto menjawab, "Tentuuuuu. Jangan khawatir. Ndoro Ayu yang berkidung nanti."

Kemudian kepada pendayung-pendayung dresin Suprapto memerintahkan agar mengantar istrinya pulang. Sinder Prapto kembali bekerja memeriksa tanaman-tanaman yang harus bersih dari daun-daun kering yang rontok.

Malamnya, sambil tiduran, suami-istri itu masih saja membicarakan keberhasilan anaknya. "Anakku insinyur, anakku Suhono," gumam Sinder Suprapto.

Dengan cepat Ibu Sinder menanggapi, "Apa? Anakmu, Pak? Anakku! Aku yang melahirkan. Kalau Suhono sedang rewel, bandel, Bapak selalu bilang, itu anakmu dihajar. Tetapi kalau Suhono sedang mujur, kau selalu bilang... anakku, anakku.... Heh, enak."

Suprapto tertawa sambil mendekap istrinya. Katanya, "Win, kau masih tetap cantik dan menggairahkan seperti seperempat abad yang lalu." Dekapan semakin ketat.

"Heh, Sinder bandel... bandel... ban... ban..." tanggap Ibu Sinder.

Terdengar di kejauhan, sepasang kucing mengeong-ngeong seperti sedang berkelahi saja.



Pagi itu Sinder Suprapto sedang memberikan petunjuk kepada mandor-mandornya, "Kebun harus terus diawasi, sekalipun daun-daun kering sudah dibersihkan. Bahaya kebakaran masih tetap ada. Udara begitu panas akhir-akhir ini. Jangan sampai ada pekerja melempar puntung rokok sembarangan. Sepele saja tampaknya, tapi bisa besar akibatnya."

Anak buah Sinder Suprapto tidak hanya segan terhadap majikannya itu, tapi mereka juga menghormati dan menyayanginya. Sinder Suprapto merupakan kebanggaan pekerja-pekerja-nya. Orang Jawa, Inlander, yang mencapai pangkat sinder. Suprapto terkenal keras orangnya, disiplin, tapi ia memperlakukan pekerja-pekerjanya dengan baik dan adil. Tak segan-segan sinder itu membela hak-hak anak buahnya. Adalah hal yang biasa bila Sinder Suprapto suami-istri berkunjung ke rumah pekerjanya untuk melihat-lihat kehidupan mereka.

Pekerja-pekerja selalu membanding-bandingkan pimpinan mereka satu dengan lainnya. Sinder-sinder Indo-Belanda itu sama kerasnya dengan Sinder Suprapto, tapi sombong-sombong dan lagi sering mengumpat-umpat kasar menyakitkan hati. Sementara Sinder Sugondo yang juga orang Jawa itu masih baru di Madugondo. Pekerja-pekerja masih belum berani menilai.

Kebetulan pada saat Sinder Suprapto memberikan petunjuk-petunjuk kepada anak buahnya, di kejauhan ia melihat Sinder Dirk Baumann sedang marah-marah. Kebun kuasa Sinder Suprapto berbatasan dengan kebun Sinder Baumann yang Indo-Belanda itu. Tampak berdiri di hadapan Baumann Mandor Durahman, orang Madura. Suprapto tahu betul sifat Durahman. Lekas naik pitam bila ia diperlakukan tidak adil, apalagi kalau ia dihina. Rupa-rupanya Baumann dan Durahman sedang bertengkar mulut. Cepat Suprapto mendekati. Ia masih sempat mendengar umpatan Sinder Baumann. "Bangsat Inlander, babi kau!"

Durahman tampak menjadi marah. Mukanya merah. Tangannya gemetar memegang-megang, goloknya. Melihat kemungkinan yang bisa terjadi, Sinder Suprapto berteriak, "Durahman?! Awas!"

Mandor Durahman terkejut ada orang yang memanggilnya. Ia menengok ke arah datangnya suara, dan segera melihat Sinder Suprapto, yang tinggi, kokoh-kuat dan berwibawa. Durahman mengurungkan niatnya untuk menghunus golok kerjanya.

Suprapto mendekat, lalu kepada Dirk Baumann ia bertanya, "Ada apa, Dirk, kau mengumpat-umpat?"

"Bukan urusanmu, Suprapto. Kau tak berhak turut campur. Durahman mandorku, bukan mandormu," jawab Dirk Baumann.

Dengan tenang Suprapto menanggapi. "Memang Durahman mandormu. Kau mengumpatnya itu hakmu. Umpatan kasarmu itu yang tak bisa diterima mandormu."

"Kausangka aku takut, Suprapto?! Kausangka aku akan menyerahkan kepalaku begitu saja pada Inlander Madura itu. Salah terka kau, Suprapto. Tinjuku akan lebih dulu menyumbat mulut Inlander kerbau itu."

Sinder Suprapto kehilangan pengamatan dirinya mendengar kata-kata Baumann. "Hati-hati dengan kata-katamu, Dirk. Aku juga Inlander. Jangan gampang menghina kau." Jawaban Dirk Baumann semakin menyakitkan hati. Katanya, "Kau sendiri yang harus jaga mulut, Suprapto. Kalau kau ingin membela die vuile Madurees (orang madura busuk), silakan. Ini Indische Jongen (anak Indo) dari Meester Cornelis."

"Ini de vuile Javaan (orang jawa busuk) dari Banyumas. Kalau mau coba, silakan Belanda singkong," potong Sinder Suprapto.

Mendengar ucapan Belanda singkong itu Dirk Baumann naik pitam. Langsung saja tinju kanan Baumann meluncur ke arah rahang Suprapto. Suprapto hanya memalingkan kepalanya saja dan sebelum Baumann sempat menyarangkan tinju kirinya pada hidung Suprapto, sepatu kebun Suprapto sudah lebih dulu bersarang pada perut Baumann. Baumann mengaduh, mundur terhuyung-huyung. Suprapto menunggu. Baumann kembali menyerang. Ia bermaksud untuk menyekap lawannya. Suprapto mengelak, membalik, dan dengan kaki kanannya mendorong pantat Baumann. Oleh daya lajunya sendiri ditambah daya dorong kaki Suprapto, Baumann meluncur menerobos tanaman tebu dan jatuh telungkup. Baumann bangkit, mendekati Suprapto lagi. Tinjunya lepas. Lagi-lagi Suprapto mengelak dan dengan disertai kata-kata 'Maaf. Dirk' sepatu kirinya bersarang pada bagian tubuh Baumann yang paling lemah. Baumann roboh terlentang, berguling-guling kesakitan sambil memegang bagian tubuhnya itu dengan kedua belah tangannya. Ia sudah tak mampu berdiri lagi.

Kepada Mandor Durahman, Suprapto lalu memerintahkan, "Dur, pergi kau. Lekas kembali kerja! Ini bukan urusanmu lagi."

Mandor Durahman, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, meninggalkan tempat itu.

Perkelahian itu disaksikan oleh pekerja-pekerja Baumann dan Suprapto. Mereka menyaksikan bahwa Baumann-lah yang menyerang lebih dulu tapi mereka tidak dapat memahami pertengkaran mulut antara Baumann dan Suprapto yang diucapkan dalam bahasa Belanda itu. Kemudian mereka melihat Sinder Suprapto dengan tenang meninggalkan tempat itu, sedangkan Baumann masih saja menyeringai berguling-guling.

Sore hari Suprapto dipanggil Van Hoogendorp. Rupa-rupanya Baumann langsung melaporkan kejadian itu kepada administratornya. Sinder Suprapto sendiri tidak terlalu terkejut atas panggilan itu. Ia tahu bahwa ia akan diadili.

Sinder Suprapto menghadap administratornya di ruang kerjanya. Begitu masuk, Van Hoogendorp menyambutnya dengan kata-kata, "Silakan duduk Meneer Suprapto."

Dengan panggilan "Meneer" itu Suprapto tahu bahwa Tuan Besar Statir itu tidak sedang berbaik hati. Lazimnya ia dipanggil dengan kata "Sinder" saja. Setelah dipersilakan duduk, Sinder Suprapto lalu menempati kursi di hadapan meja kerja Van Hoogendorp. Van Hoogendorp membuka kotak cerutu lalu berkata, "Kau suka cerutu, Suprapto?"

"Maaf, Tuan, aku tidak merokok."

Van Hoogendorp menyalakan cerutunya, menyedot-nyedotnya lalu mengepulkan asapnya ke arah langit-langit. Ia membuka percakapan dengan berkata, "Meneer Suprapto, apa benar kau tadi siang berkelahi dengan Sinder Baumann?"

"Betul, Tuan Administrator," jawab Suprapto. "Ia menghina bangsaku dengan kata-kata Inlander kerbau. Kata-kata yang tak pantas diucapkan oleh seorang sinder, Tuan..."

Belum lagi sempat melanjutkan penjelasannya, Van Hoogendorp memotong, "Pantaskah seorang sinder berkelahi, Meneer Suprapto?"

Jawab Suprapto tidak langsung, "Aku tidak berkeberatan kalau hanya kata 'Inlander' yang digunakan—sekalipun secara pribadi aku menolaknya, tapi itu kata resmi bagi bangsa Jawa seperti aku ini. Tambahan kata-kata 'babi' dan 'kerbau' itu yang tak dapat kuterima, sekalipun kata-kata itu dilontarkan kepada seorang mandor. Dan lagi bukan aku yang memulai, Tuan. Sinder Baumann yang lebih dulu menyerang. Terpaksa aku bela diri, Tuan."

Van Hoogendorp mengangguk-angguk, mengembuskan asap cerutu kuat-kuat lalu berkata, “Tapi Mandor Durahman bukan anak buahmu, Sinder. Durahman orangnya Sinder Baumann. Kau tidak punya hak mencampuri urusan Sinder lain."

'Tuan benar, aku memang tak punya hak. Semula aku hanya hendak mencegah terjadinya perkelahian antara sinder dan mandor. Kalau itu terjadi akan merendahkan martabat sinder. Tuan."

“Tapi apa yang terjadi, Sinder? Perkelahian antara sinder dengan sinder. Notabene di hadapan pekerja-pekerja kebun. Itu lebih vataal (parah) Meneer Suprapto."

"Benar, Tuan Administrator, tapi kalau Baumann menampar pipi kiriku apa aku harus mengantarkan pipiku yang kanan, Tuan?"

Mendengar jawaban Suprapto itu Van Hoogendorp menahan-nahan senyum. Ia lalu'berkata, "Sudah, sudah, kali ini kau kuberikan peringatan lisan. Belum secara tertulis. Jangan kauulang perbuatanmu itu. Mengerti?"

"Terima kasih, Tuan Administrator," jawab Suprapto.

"Durahman akan kupecat. Bayangkan, Sinder, seandainya kau tidak menengahinya, apa yang bakal terjadi?" lanjut Van Hoogendorp.

"Kukira tidak akan sejauh itu, Tuan. Aku yakin Durahman tidak akan menggunakan goloknya, Tuan. Sinder Baumann yang menghinanya, Tuan. Jonkheer paham tentang sifat-sifat orang Madura. Orang Madura tidak suka dihina, Tuan."

"Kau tak perlu menggurui, Sinder! Apa pun alasannya, Durahman harus mendapat hukuman."

Sinder Suprapto segera melihat adanya peluang untuk meringankan hukuman Mandor Durahman. Majikannya sudah melunak pendiriannya. "Jonkheer, aku mohon agar Durahman dipindahkan ke kebunku saja. Kujamin ia tak akan berbuat gegabah lagi. Durahman kerjanya baik, Tuan, dan lagi ia satu-satunya tenaga di Madugondo yang paling berpengalaman mengatasi kebakaran kebun, Tuan," kata Suprapto.

Lama Van Hoogendorp diam, kemudian ia berkata, "Baik, Sinder Durahman kutempatkan di kebunmu. Menggantikan Mandor Jasmin yang meninggal, tapi hukuman tetap kujatuhkan. Gajinya kupotong separuhnya, selama setahun."

"Hukuman yang cukup adil, Jonkheer," Sinder Suprapto menanggapi.

Dengan nada marah Van Hoogendorp membentak, "Aku tidak minta pendapatmu, Sinder!"

Suprapto menunduk, diam. Pikirnya, "Aku lebih baik diam sekarang. Apa yang kuinginkan sudah tercapai."

Van Hoogendorp lalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain. "Anakmu baik-baik saja, Sinder? Siapa namanya?"

"Dapat kulaporkan, Jonkheer, anakku Suhono baru saja lulus dari Technische Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik), Tuan."

Nada kata-kata Van Hoogendorp semakin menjadi akrab. Katanya, "Aha, itu berita gembira. Gefeliciteerd—aku mengucapkan selamat— Sinder. Harus dirayakan."

Van Hoogendorp bangkit dari tempat duduknya, mendekati meja kecil di sudut ruangan lalu menuangkan anggur Bourbon dalam dua gelas anggur kristal. Ia mendekati sindernya sambil bergurau, "Aku tak peduli kau minum apa tidak, tapi kalau kau menolak ajakanku sekarang ini, kaulah yang akan kupecat."

Suprapto berdiri, menerima gelas dari tangan majikannya sambil berkata, "Ajakan Jonkheer bagiku merupakan perintah yang menyenangkan, Tuan."

Van Hoogendorp mengangkat gelas tinggi-tinggi lalu berkata, "Untuk Ingenieur Suhono."

Suprapto mengangguk hormat sambil berkata, "Suatu kehormatan bagiku, Jonkheer."

Administrator dan Sinder perlahan-lahan meneguk minumannya. Dalam hati kecilnya Suprapto tersenyum. Ia tahu betul bahwa majikannya itu paling suka dipanggil "Jonkheer". "Apa boleh buat, sedikit menjilat tak apa. Durahman selamat. Itu yang penting," gumamnya dalam hati.

Lalu Van Hoogendorp membunyikan bel tiga kali. Seorang pelayan muncul. "Nyonya Besar diminta datang ya."

Pelayan yang berpakaian putih bersih itu menghilang dan tak lama kemudian terdengar suara genit, "Wat is 'm aan de hand, Herik?—Apa yang sedang terjadi, Henk?"

Van Hoogendorp menyongsong kedatangan istrinya, menggandengnya lalu berkata, "Ada berita besar, Fien. Suhono, anak Sinder Suprapto, lulus. Ia menyandang titel ingenieur sekarang."

"Oyaaa, gefeliciteerd, Sinder," kata Fien van Hoogendorp sambil mengulurkan tangannya. Dengan hormatnya Suprapto mengangguk dan menjabat tangan istri administrator itu. Suprapto merasa tangan-tangannya ditekan-tekan. Ia tetap menunduk. Kata Fien lebih lanjut, "Perlu dipestakan. Bagaimana, Henk? Meneer Suprapto, Ivonne anakku juga baru saja lulus Semi-Arts. Telegram baru kuterima beberapa hari yang lalu."

"Atas nama keluargaku aku pun mengucapkan selamat, Nyonya... Jonkheer, gefeliciteerd." Sekali lagi Suprapto menjabat tangan administrator dan istrinya. Lagi-lagi Suprapto merasakan pijatan tangan Fien van Hoogendorp.

"Ajak anakmu kemari kalau dia pulang dan jangan terkejut kalau ada undangan pesta," kata Van Hoogendorp. Suprapto mengangguk sambil berkata, "Suatu kehormatan, Jonkheer."

"Nou, Sinder, kupikir sudah cukup. Sekretaris akan menyelesaikan kepindahan Durahman," kata Van Hoogendorp.

Suprapto menghabiskan minuman anggur, minta diri kepada suami-istri Van Hoogendorp lalu meninggalkan kediaman resmi administrator itu. Ia langsung pulang. Pikirannya tidak hanya tertuju pada anaknya, Suhono, tapi juga pada... Fien van Hoogendorp.

Begitu tiba di rumah, langsung Ibu Sinder bertanya, "Bagaimana hasilnya. Pak?"

"Mari duduk-duduk dulu. Bu. Tidak apa-apa kok." Mereka berdua lalu duduk di ruang makan. Suprapto melanjutkan, "Tidak apa-apa. Bu. Durahman dipindah ke kebunku. Dihukum memang, tapi cukup ringan. Gajinya dipotong separuh untuk setahun."

Ibu Sinder sebenarnya sangat mencemaskan suaminya. Ia tahu suaminya bisa keras kepala. "Alhamdulillah! Bapak sendiri bagaimana?"

Sambil tersenyum Suprapto menjawab, "Aku hanya mendapat peringatan lisan. Tuan Statir malah menanyakan Suhono. Suasana berubah jadi akrab, bahkan Nyonya Statir ikut hadir dalam pembicaraan. Ivon, anak Tuan Statir, juga baru lulus Semi-Arts, hampir dokter. Akan diadakan pesta untuk anakku Suhono dan Ivon."

"Apa Pak, anakmu? Anakku! Aku yang mengandungnya. Aku yang melahirkan. Bapak kan tak berbuat apa-apa," gurau Ibu Sinder. "Betul, betul, tapi tanpa aku mana kau bisa mengandung," balas Suprapto, sambil tertawa terbahak-bahak. Ibu Sinder hanya tersenyum. "Aku akan memberitahu Durahman nanti," lanjut Sinder Suprapto.

Sesudah mandi dan makan malam Sinder Suprapto meninggalkan rumah. Pergi ke rumah Mandor Durahman.

Di sudut halaman belakang gedung Besaran itu berdiri agak menyendiri sebuah bangunan kecil seperti sebuah pavilyun. Bangunan itu masih baru, khusus disediakan bagi Fien van Hoogendorp. Di dalam bangunan itu Fien menekuni hobinya, melukis. Fien bertemu dengan Henk van Hoogendorp waktu ia masih mahasiswi pada Academie Voor Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa)  Negeri Belanda.

Kegemarannya melukis masih dipertahankan, sekalipun Fien sudah menjadi Nyonya Besar. Bangunan itu merupakan dunia Fien sendiri. Jarang-jarang suaminya mengganggunya bila istrinya sedang berada di sanggar lukisnya. Baru kalau Fien mengundangnya untuk mengagumi lukisan yang sudah selesai, suaminya datang menjenguknya.

Malam itu Van Hoogendorp sedang tidak berada di rumah. Ia sedang menghadiri rapat dewan direksi di Batavia dan malam itu Fien mengasingkan dirinya di sanggar lukisnya. Fien tampak gelisah malam itu. Ia berjalan mondar-mandir di ruangan yang tidak terlalu luas itu. Sebentar-sebentar berhenti, memusatkan indera pendengarannya. Kembali ia mencoba menyelesaikan lukisannya, sebuah pemandangan alam—namun ia sedang kehilangan gairah. Kalau Nyonya Besar sedang berada di bangunan itu tak seorang pun berani mengganggunya, kecuali seorang pembantu wanita yang sebaya usianya dengannya. Mbok Wongso, yang waktu masih kecil bernama Saidah, ikut Fien sebagai pembantu. Teman bermain malah.

Duduk di atas dipan lebar bersepraikan kain damast, Fien memukul-mukul pahanya sambil bergumam, "Mana dia, jangan-jangan ada halangan. Pot verdorie!"

Sunyi sudah lingkungan Besaran itu. Hanya burung hantu yang setia hinggap pada ranting pohon mahoni di halaman belakang itu saja yang kadang-kadang mengganggu keheningan suasana dengan suaranya yang kurang sedap didengar. Fien tidak menghiraukannya. Ia sudah terbiasa dengan bunyi burung itu. Malah kalau burung itu tidak memperdengarkan suaranya, Fien selalu bertanya-tanya mengapa burung itu membisu.

Tiba-tiba pintu belakang kamar diketuk orang. Tiga kali. Fien meloncat, membuka pintu dengan hati-hati sekali. Mbok Wongso berdiri di hadapannya. Begitu melihat pamong-nya, Fien bertanya dalam bahasa Jawa, "Endi ndarane (Mana Majikannya) , Mbok?"

"Sampun wonten kamar kulo, Ndoro Nyonya (Sudah di kamar saya)," jawab wanita itu dalam bahasa Jawa halus yang hanya digunakan bila sedang tak ada orang lain kecuali Fien.

Lagi-lagi dalam bahasa Jawa Fien memerintahkan, "Ndang diaturi mlebu (Cepat dipersilahkan masuk), Mbok. Cepat, yo."

Sebenarnya Fien menguasai bahasa Jawa, baik yang halus maupun yang ngoko, tapi ia tak mau menunjukkannya kepada siapa pun. Ibunya yang mengajarnya. Dengan Mbok Wongso pun, kalau di depan banyak orang Fien menggunakan bahasa Belanda. Mbok Wongso bisa berbahasa Belanda sekalipun bengkak-bengkok, Fien-lah yang mengajarinya sejak kecil.

Seorang lelaki yang mengenakan pakaian kerja perkebunan menyelinap masuk. Fien langsung memeluknya sambil berkata, "Zo Inlander. Rasa-rasanya setahun sudah sejak pertemuan kita yang terakhir."

Laki-laki itu mendekap kekasihnya sambil menjawab, "Zo, Indische meid, laten we feesl gaan vieren. Accoord? Gadis Indo, mari kita berpesta. Setuju?"

Dipan lebar-panjang di sudut ruangan lukis itu menjadi saksi mati apa yang dilakukan Suprapto dan Fien van Hoogendorp. Sambil tiduran dalam pelukan masing-masing, Suprapto berkata, "Zo Indische meid, masih benci sama Inlander?"

"Zo Inlander, masih benci sama wanita Indo?" balas Fien manja.

Dua insan itu tertawa ditahan-tahan, khawatir didengar orang.

"Zeg Prap, istrimu sudah mulai curiga belum?" tanya Fien van Hoogendorp.

"Aku murid setia mendiang ibuku. Apa kata ibuku? Begini. Laki-laki itu seperti anjing. Sekalipun ia diberi makanan yang sehat, bersih, tapi ia masih suka mencium-cium bangkai tikus."

Belum lagi Suprapto mampu meneruskan kata-katanya, Fien memotong, "Zo, aku ini bangkai tikus, ya?"

Cepat Suprapto menutup mulut kekasihnya dengan ciumannya. Kemudian ia melanjutkan, "Kalau laki-laki mau main perempuan, ia harus bisa menjadi pencuri yang ulung. Jangan sampai ketahuan istrinya, bagaimanapun tajamnya indera keenamnya. Kalau tidak bisa menjadi pencuri ulung, jangan coba-coba main perempuan. Nah, kaulah yang mengajarku menjadi pencuri ulung itu."

"Bandiet" jawab Fien van Hoogendorp.

"Bagaimana dengan Jonkheer-mu, Schat?" Suprapto balik bertanya.

Sambil tersenyum manja Fien menjawab, "Aku sudah bilang. Henk terlalu mementingkan pekerjaannya. In bed is hij een hulpeloze kerel—di tempat tidur ia tak berdaya. Aku tak pernah puas dengannya. Kau tahu sendiri temperamenku, Prap. Dan ia tak pernah mencurigaiku."

"Kalau aku boleh tanya, mengapa kau memilih seorang Inlander sebagai lover, bukan orang Indo atau Belanda? Tidak kekurangan persediaan di Madugondo ini dan siapa yang bisa menolak ajakan wanita secantik Fien van Hoogendorp?"

"Dengarkan, Schat, kebetulan kau memiliki daya tarik yang begitu kuat bagiku. Orang Jawa bisa tutup mulut, discreet, tidak Indo-Belanda. Mereka suka membual, suka menyombongkan dirinya. Itu tidak kusukai, berbahaya. Kalau Belanda totok umumnya mlempem, seperti krupuk terkena air."

Mendengar keterangan Fien itu Suprapto tertawa keras-keras. Cepat Fien membungkam mulut kekasihnya. Selanjutnya Suprapto tidak tinggal lama di sanggar lukis itu. Ia tidak langsung pulang, tapi menyempatkan diri untuk melihat-lihat kebun yang dipertanggungjawabkan kepadanya. Dinihari baru ia pulang.

Sementara itu, sepeninggal suaminya, Ibu Sinder langsung melanjutkan membatik di beranda belakang rumahnya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan kain batik gubahannya sendiri yang diberinya nama "Merak Reraton". "Siapa tahu aku memerlukannya," gumamnya.

Tanpa disadarinya, Ibu Sinder mengenang kehidupannya yang telah lalu sebagai istri Suprapto. Benar memang bahwa suaminya itu tak pernah berniat untuk beristri lebih dari seorang, tapi itu tidak berarti bahwa ia tidak pernah mempunyai kekasih di luar dirinya. Sekalipun ia sudah terbiasa melihat tingkah laku laki-laki seperti itu di lingkungan Kusumojaten, tapi setelah kejadian semacam mengenai dirinya sendiri, mula-mula sakit juga hatinya. Namun lambat-laun rasa sakit hati itu diusirnya dari kalbunya. Masih jelas dalam ingatannya apa yang dikatakan oleh Bibi Dumilah. "Terimalah segala kenyataan hidup apa adanya. Bakal suamimu seorang pria yang memiliki daya tarik kuat bagi wanita. Jangan sampai apa yang bisa terjadi itu merusak kehidupan keluarga." Namun demikian Ibu Sinder merasakan bahwa suaminya masih tetap mengasihi dirinya. Di luar rumah, ia milik orang lain, tapi bagi Suprapto dirinyalah di atas segala-galanya—dan sekalipun sudah bersama-sama menjadi tua, kehangatan hubungan tidaklah menjadi pudar.

Pernah ia mempersoalkan perlakuan wanita-wanita Indo itu pada suaminya. Suprapto menjadi marah-marah karenanya. Semula ia hendak bertindak, entah bagaimana caranya, tapi Ibu Sinder mencegahnya.

"Sudahlah, Pak, tak ada gunanya. Apa kau lalu akan memusuhi sekian banyak orang? Perbuatan wanita-wanita itu hanya didorong oleh rasa rendah diri saja. Mengaku dirinya Belanda tapi hitam-pekat seperti tiang telepon."

Suaminya lalu tertawa terbahak-bahak. Dengan nada gurau disindirnya suaminya dengan berkata, "Sebenarnya ada jalan yang mudah. Pak."

"Apa, apa. Bu? Bagaimana, bagaimana?" dengan cepat suaminya bereaksi.

Dengan tenang Ibu Sinder berkata, "Gampang, Pak, layanilah keinginan mereka."

Lagi-lagi suaminya tertawa terbahak-bahak, berdiri meninggalkannya sambil berkata, "Mandor Darmin saja tidak akan mau." Kini Ibu Sinder sendiri yang tertawa.

Ia sudah tahu bahwa suaminya kini sedang hangat-hangatnya berkasih-kasihan dengan istri majikannya. Itulah sebenarnya yang mencemaskannya malam itu. Mengapa harus dengan istri majikan? Sekalipun wanita itu memang sumbut (pantas) untuk berbuat dosa, tapi sangat membahayakan kedudukannya sebagai sinder bila ketahuan.

Semula ia kurang percaya bahwa hal itu memang benar terjadi, tapi sikap Fien van Hoogendorp begitu berlebihan terhadap dirinya. Wanita itu bersikap terlalu ramah terhadap dirinya. Bahkan pernah terjadi hal yang tidak pernah terjadi pada istri sinder yang lain. Pada suatu hari ia pulang dari pasar. Nyonya Besar itu menyalipnya dalam mobilnya. Begitu Fien melihat dirinya, ia menghentikan mobilnya. Ia mempersilakan dirinya untuk naik. Ia diantarnya pulang dalam mobilnya dan yang sangat mengejutkannya, Fien van Hoogendorp itu menggunakan bahasa Jawa yang halus terhadap dirinya. Baru hari itu Bu Sinder tahu bahwa Fien pandai berbahasa Jawa. Tak seorang pun di Madugondo yang mengetahuinya. Namun ia tidak berani menceritakan kejadian itu kepada suaminya. "Ah, biarlah Mas Prapto merasa bahwa aku tidak tahu-menahu tentang hubungannya dengan istri majikannya. Lebih menggairahkan baginya," gumam wanita yang sedang membatik itu.

Ibu Sinder terbangun dari lamunannya mendengar pintu depan rumah dibuka orang. Suaminya pulang. Ibu Sinder bangkit dari tikar pembatikannya lalu menyongsong kedatangan suaminya. Suprapto tidak merasa heran bahwa istrinya itu belum tidur, sebab hal itu sudah menjadi kebiasaan istrinya. Ibu Sinder selalu menunggu kedatangan suaminya sambil mengerjakan sesuatu—membatik, menyulam, atau membuat karangan tembang. Suprapto seperti biasanya mencoba untuk bertingkah laku wajar-wajar saja, sekalipun malam itu ia baru mengunjungi Fien van Hoogendorp.

Namun daya tangkap Ibu Sinder lebih tajam daripada permainan sandiwara suaminya. Suprapto mengira bahwa ia bisa mengelabui istrinya. Sangkaannya itu meleset sama sekali. Banyak hal-hal kecil yang diabaikannya, yang tidak luput dari pengamatan Ibu Sinder. Sebaliknya sikap wajar-wajar istrinya menyesatkan suaminya. Dalam hati Ibu Sinder tersenyum geli atas sikap suaminya itu. "Pada saatnya nanti, barangkali perlu aku mempersoalkannya," pikirnya.

Seperti biasa Suprapto menegur, "Belum tidur, Bu?"

"Aku ingin kain batik itu lekas selesai," jawab Bu Sinder.

Suprapto membuka sepatunya lalu langsung pergi ke kamar mandi. Segala sesuatunya sudah disiapkan oleh istrinya. Air panas dalam beberapa termos besar, handuk, sabun, sikat dan pasta gigi, sandal, ember besar, sarung, dan piyama. Sambil bersiul-siul Suprapto keluar dari kamar mandi lalu langsung duduk di samping istrinya yang masih duduk membatik. Sudah tersedia teh panas dan gula merah di atas tikar. Suprapto memang suka minum teh dengan gula merah, gula jawa.

"Aku sudah tak sabar menunggu kedatangan Suhono. Ingin tahu aku, apa yang akan dikatakan orang-orang Madugondo. Anak Sinder Suprapto sudah jadi insinyur. Apa yang akan dikatakan oleh nyonya-nyonya Belanda hitam itu. Musuh-musuhku."

"Jangan berkata begitu, Pak," potong Bu Sinder. "Mereka bukan musuh. Mereka hanya sedang lupa saja."

Suprapto melanjutkan tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh istrinya itu, "Aku mau tahu, Ro. Coba lihat saja, nanti mereka akan berebut menyodor-nyodorkan anak perempuannya. Bakal ramai jalan di muka rumah."

Kadang-kadang Suprapto memanggil istrinya dengan "Ro". Semula Suprapto menyebut istrinya "Ndoro". Berulang-ulang Ibu Sinder melarangnya, tapi rasa-rasanya canggung bagi Suprapto untuk memanggil istrinya dengan "Win" begitu saja. Lambat-laun panggilan "Ndoro" itu berubah menjadi "Ro" saja.

"Jangan terlalu membangga-banggakan Suhono, Pak. Tidak baik dan tidak ada perlunya."

"Coba lihat nanti. Indo-indo hitam itu pasti akan berubah sikapnya terhadap dirimu, Ro," kata Suprapto. "Kalau aku salah ramal, cukurlah kumisku sebelah."

Ibu Sinder memandang wajah suaminya. Ia tertawa terpingkal-pingkal, suatu hal yang jarang terjadi. Lazimnya Ibu Sinder hanya tersenyum saja, tapi begitu membayangkan suaminya berkumis tebal, tapi tinggal sebelah saja, ia tak mampu menahan tawanya.

"Bu, ayo tidur," ajak Suprapto.

"Silakan duluan. Pak, aku menyusul."

Tiga hari kemudian, sore hari, sebuah dokar memasuki halaman rumah Ibu Sinder. Turun seorang remaja muda. Melihat tamu itu turun. Ibu Sinder langsung menyongsongnya sambil berkata, "Kau, Her, kukira siapa? Ayo masuk. Sudah dibayar dokarnya?"

Sambil menjinjing koper Herman menjawab, "Sudah, Bu." (Baca: Kereta Api Terakhir, Pandir Kelana)

Herman anak tunggal Winarsih. Ibu Sinder membimbing kemenakannya masuk kamar tamu, kemudian mereka duduk-duduk di beranda belakang.

"Kami sudah menerima surat Bude. Ibu Semarang dengan menyesal tak dapat datang. Aku mewakilinya. Bu. Kapan Mas Hono pulang?"

"Hari-hari ini barangkali," jawab Ibu Sinder. "Masih banyak urusan yang harus diselesaikannya."

"Mas Hono sudah punya calon belum. Bu?" Herman memberanikan diri untuk bertanya.

"Belum—ah, Hono, yang dipentingkan hanya buku-bukunya saja," jawab Ibu Sinder.

"Jadi rebutan nanti. Bu," tanggap Herman. Ibu Sinder tersenyum.

Ibu Sinder pergi ke dapur dan kembali membawa makanan dan minuman. "Prei, Ngger?"

"Begitulah, Bu, vakansi, dua minggu."

Sambil mengamati kemenakannya itu Ibu Sinder berkata, "Kau mirip benar dengan kakakmu, Her. Kau pidekso, jatuh serba sedang. Kakakmu Hono seperti Pakde. Wajah-wajah kalian berdua yang mengikuti garis Ibu. Kelas berapa sudah?"

"Baru kelas satu. Bu."

"Nah, mandi-mandi saja dulu, Her. Pakde biasanya magrib baru pulang."

Herman masuk ke kamarnya, berganti pakaian lalu langsung pergi ke kamar mandi. Herman sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga Suprapto, sebaliknya Suhono juga dianggap anak sendiri oleh ibunya Herman. Baik

Herman maupun Suhono pandai menyesuaikan diri. Dalam lingkungan Ibu Sinder mereka lebih bersikap kejawaan. Sebaliknya di rumah Ibu Sep, ibunya Herman, mereka lebih bersikap bebas.

Tiga hari kemudian dokar lain memasuki halaman rumah. Turun seorang pemuda berbadan tegap, kokoh, atletis. Insinyur Suhono pulang.

Ibu Sinder yang melihat dokar memasuki halaman rumah, langsung berlari menyongsong kedatangan anaknya, diikuti oleh Herman. Sambil menangis gembira Ibu Sinder memeluk anaknya.

"Bu, kok menangis? Tidak malu sama Herman...? Kapan datang, Her?"

Ibu Sinder melepaskan pelukannya. Suhono dan Herman saling berjabatan. Suhono membimbing ibunya masuk rumah. Koper-koper Suhono, diangkut Herman masuk ke kamar yang khusus disediakan bagi Suhono. Kemudian, bertiga mereka duduk-duduk di beranda belakang. Tak jemu-jemunya Ibu Sinder mengamati anak tunggalnya.

"Aku tak berubah. Bu. Masih seperti dulu-dulu saja."

"Kau sudah menjadi orang, Hon," kata Bu Sinder.

Dengan mata berlinang-linang Suhono turun dari kursi lalu menyungkemi (mencium lutut) ibunya. Ibu Sinder menciumi anaknya, air mata meleleh-leleh lewat pipi-pipinya. Masih tetap duduk bersila di atas lantai, Suhono berkata, "Ibu dan Bapak yang membentuk diriku, Bu. Matur sembah nuwun (Beribu-ribu terima kasih)."

“Tuhan melindungimu, Ngger," lagi-lagi Ibu Sinder menciumi.

Suhono sambil bergumam. "Duduklah kembali. Bapak dan ibumu hanya sekadar memenuhi kewajiban sebagai orangtua. Gusti Allah melimpahkan kasihNya kepada bapak dan ibumu, mampu membesarkanmu dan masih diberikanNya izin untuk menyaksikan kau menjadi orang. Allahu Akbar."

Suhono duduk kembali. "Jurusan apa yang kaupilih kelak, Her?" ia bertanya kepada sepupunya.

"Belum tahu, Mas, mungkin mengikuti jejak Mas Hono saja."

"Ah, jangan. Dokter saja, Her."

Ibu Sinder membiarkan anak dan kemenakannya berbincang-bincang, meninggalkan tempat dan memanggil koki pembantunya. "Mbok, pergi ke Mbok Mandor Darmin. Minta manggar-nya," kata Ibu Sinder.

"Lho, Den Hono sudah pulang?" Mbok Soma menanggapi.

"O ya, lupa aku. Sudah, sudah Mbok. Itu di sana," kata Ibu Sinder.

Mbok Soma yang mengasuh Suhono sejak kecil lari keluar dapur, langsung menghampiri Suhono. Didekapnya momongannya itu kuat-kuat sambil berkata, "O Allaaaah, Ndoro Siwur."

"Bukan siwur, Mbok. Sinyur!" Suhono membetulkan.

"Nggih, nggih, sinyur, sinyur! Sinyur niku napa, Den?" tanya Mbok Soma.

Setelah berpikir sejenak Suhono menjawab, "Yaa seperti Tuan Besar Statir".

"Tobil, tobil (Astaga, astaga) Tuan Besar." Mbok Soma bergumam sambil mengangguk-angguk. "Dulu masih suka ngempeng Embok. Sekarang Tuan Besar... E, Ndoro Mas, itu ya, putri-putrinya Ndoro Demang... cantik-cantik. Ada tiga, masih perawan semua. Tinggal pilih saja Den."

"Betul Mbok?" Suhono menanggapi dengan berpura-pura tertarik.

"Eee, Den Bagus, dikandani (dibilangi)," jawab Mbok Soma.

"Sudah, sudah. Mbok, anakmu sudah ketagihan gudeg manggar," potong Bu Sinder.

Mbok Soma melepaskan Suhono lalu lari ke luar rumah menuju ke rumah Darmin. Kepada Herman Ibu Sinder berkata, 'Tolong, Her, beri tahu Pakde sana. Pakai sepeda Bapak saja."

"Baik, Bu."

Tidak lama kemudian Sinder Suprapto datang, boncengan sepeda dengan kemenakannya. Langsung ia menuju beranda belakang. Begitu berhadapan dengan anaknya, diamatinya Suhono dari ujung rambut sampai jari-jari kakinya. "Ingenieur Suhono. Welkom thuis (Sselamat datang)," serunya. Ayah dan anak lalu berpeluk-pelukan. Perlahan-lahan Suprapto menampar pipi Suhono sambil berkata, "Kau tak mengecewakan bapakmu."

"Ee, Bapak ini bagaimana," celetuk Ibu Sinder, "Suhono sudah orang sekarang, kok ditampar begitu? Jangan diperlakukan seperti anak kecil."

Suprapto tertawa-tawa lega lalu menjawab teguran istrinya, "Awas ya kau, Win. Awas kalau kau nanti malam ngeloni (tidur dengan) insinyur muda."

"Kan masih boleh ya. Bu," potong Suhono manja. Empat insan yang sedang dilanda kebahagiaan itu tertawa dalam paduan.

Suprapto tidak tinggal lama di rumah. Ia kembali ke pekerjaannya. Dan setelah mandi Suhono lalu asyik berbincang-bincang dengan ibunya. Herman mengundurkan diri ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin mengganggu keakraban ibu dan anaknya itu.

Malam itu mereka kembali melanjutkan berbincang-bincang sampai dinihari. Benar apa yang dikatakan oleh Suprapto. Malam itu Ibu Sinder tidur di kamar anaknya.

"Ibu masih tetap tampak muda dan cantik," kata Suhono sambil tiduran.

Mendengar pujian anaknya itu Ibu Sinder tersenyum lalu menjawab, "Kau juga masih tetap seorang perayu. Kau benar-benar anak Ibu dan Bapak. Tubuh gagah perkasa kauwarisi dari bapakmu, wajahmu lebih dekat pada ibumu. Waspadalah selalu, Ngger. Kalau tidak hati-hati banyak godaan. Seperti ayahmu."

Suhono bangkit, duduk di samping ibunya lalu bertanya, "Ada apa lagi dengan Bapak?"

Sambil tersenyum dan memijat hidung anaknya. Ibu Sinder menjawab, "Tidak ada apa-apa, Ngger. Kau tahu sendiri, bapakmu selalu menjadi incaran wanita. Apalagi kau, Ngger. Kau memiliki daya tarik yang kuat. Bisa menyulitkan. Asal kau selalu waspada saja."

"Aku akan selalu berusaha. Bu," kata Suhono sambil merebahkan diri kembali di samping Ibunya.


 Sesuai dengan apa yang telah dijanjikannya kepada anak buahnya, Sinder Suprapto mengadakan selamatan. Yang diundang hanya mandor-mandornya dan pekerja-pekerja yang tua-tua saja. Rumahnya tidak sanggup menampung keseluruhan pekerjanya. Semua yang hadir ikut bangga atas keberhasilan anak sinder Jawa itu.

Di mata para pekerja, Suhono disamakan dengan martabat Tuan Besar Statir. Sama-sama sinyurnya.

Sehabis selamatan Ibu Sinder membacakan hasil karya sastra tembangnya. Lirih-lirih Ibu Sinder berkidung. Suara emasnya sayup-sayup berkumandang di ruang depan rumah. Hadirin terharu mendengarkan kisah Sinta Obong ditembangkan dalam tembang Megatruh. Terutama saat Dewi Sinto setapak demi setapak mendekati api unggun besar yang menjilat-jilat itu. Suhono dan Herman mengagumi keahlian bertembang Ibu Sinder.

Hari telah larut malam ketika tamu-tamu meninggalkan rumah Sinder Suprapto.

Sementara itu seperti asap diembus-embuskan angin, berita kedatangan Insinyur Suhono cepat tersebar di Madugondo. "Anak Sinder Suprapto menyandang gelar insinyur."

Semula istri-istri sinder lainnya mencemoohkannya. Tidak mungkin anak sinder Inlander bisa jadi insinyur, apalagi anak si babu cuci itu. Namun akhirnya kenyataan tak bisa dibantah lagi. Sikap wanita-wanita itu segera berubah, terutama mereka yang memiliki anak perempuan cukup umur untuk dikawinkan.

Setiap pagi banyak ibu-ibu yang sengaja lewat rumah Ibu Sinder, hanya ingin melihat insinyur muda yang sedang menjadi buah bibir Madugondo. Penampilan pribadi Insinyur Suhono tidak mengecewakan mereka yang melihatnya. Suasana bisik-bisik menambah populernya Suhono. Yang seorang mengatakan, "Rudolf Valentino ada di Madugondo". Yang lain berkata, "Ramon Navaro... Garry Cooper." Penampilan Suhono semakin dibesar-besarkan.

Sikap ibu-ibu sinder lain terhadap Ibu Sinder berubah sama sekali. Mereka tidak lagi menghormat-mengejek, tapi menghormat-berpamrih. Ibu Sinder merasakan perubahan itu, tapi ia tetap bersikap rendah hati seperti sediakala.

Setelah waktunya dianggap baik, Sinder Suprapto mengajukan surat kepada Administrator Van Hoogendorp lewat sekretaris perusahaan, apa sekiranya Van Hoogendorp berkenan menerima Ingenieur Suhono untuk melapor.

Membaca surat sindernya yang begitu sopan itu Van Hoogendorp sangat berkesan. Apalagi dalam surat itu ia selalu disebut "Jonkheer".

Surat balasan datang. Van Hoogendorp menetapkan waktu pagi hari pada jam kerja. Itu berarti bahwa Suhono akan diterima secara dinas.

Pada hari dan jam yang telah ditentukan, Suhono mengenakan setelan jas putih-putih dan berdasi hitam. Ayahnya memakai pakaian jas tutup putih, pakaian kerja kantor. Dan begitu tiba di Besaran, pelayan pribadi Van Hoogendorp melaporkan kedatangan mereka kepada tuannya. Langsung ayah dan anak itu diterima di ruang kerja Administrator. Van Hoogendorp mendekati Suhono, berjabatan tangan, lalu mempersilakan Suprapto dan Suhono duduk di atas kursi-kursi di depan meja kerjanya. Administrator itu menawarkan cerutu. Dengan sopan Suprapto menolak. Suhono menerima tawaran itu. Van Hoogendorp menyalakan korek api dan mempersilakan Suhono lebih dulu menikmati lisongnya.

"Willem I, sungguh nikmat dan harum," celetuk Suhono.

"Meneer Suhono, tampaknya kau penggemar cerutu juga," kata Van Hoogendorp.

"Betul, Jonkheer, aku memang suka cerutu, tapi uang saku terlalu kecil untuk bisa membeli cerutu setiap hari."

Van Hoogendorp tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Suhono. Katanya, "Sebentar lagi kalau kau sudah menerima pengangkatanmu, kau boleh merokok cerutu sepuas-puasmu."

Kini tiga insan itu tertawa bersama-sama.

Kata Van Hoogendorp, "Enfin, alk gekheid op een stokje—sudahlah, sudah. Meneer Suhono, Madugondo bangga akan gelar insinyur yang kauraih itu.

“Tuan menjunjung tinggi nama baik perkebunan kita."

"Jonkheer, atas nama orangtuaku dan atas nama diriku sendiri, perkenankanlah aku mengucapkan terima kasih. Atas dorongan Jonkheer, aku mampu memperoleh gelar itu. Ayah dan Ibu selalu mengatakan bahwa Jonkheer selalu menanyakan kemajuan studiku. Itulah yang merupakan cambuk bagiku untuk selekasnya menyelesaikan studiku itu. Hal yang sangat membesarkan hati, Jonkheer. Sekali lagi terima kasih."

Kata-kata sopan yang diucapkan dalam bahasa Belanda yang nyaris sempurna itu sangat berkesan di hati Administrator. Kata Van Hoogendorp kemudian, 'Tuan Suhono, kebetulan sekali anakku Ivonne juga baru saja lulus ujian Semi-Arts. Bagaimana kalau kita rayakan bersama Meneer Suhono?"

Suhono berdiri, mengulurkan tangan sambil berkata, "Perkenankanlah aku mengucapkan selamat Jonkheer. Dengan seizin Jonkheer aku ingin berkenalan dengan putri Jonkheer."

Suprapto mengagumi tingkah laku anaknya itu. Ia mengikuti jejak anaknya menyalami Van Hoogendorp. Van Hoogendorp pun makin tertarik kepada Suhono. Budi bahasanya berciri Jawa, tapi sikapnya correct menurut aturan sopan santun Barat.

"Sebentar ya, akan kuminta datang istri dan anakku. Mudah-mudahan mereka tidak sedang bepergian," kata Van Hoogendorp.

Van Hoogendorp meninggalkan ruangan. Jantung ayah dan anak berdebar-debar. Jantung Suprapto berdebar-debar karena akan bertemu dengan Fien van Hoogendorp, Suhono berdebar-debar ingin melihat wajah Ivonne.

Wah, payah! Kalau nanti Hono pacaran dengan Ivon... Ah, mudah-mudahan Fien tetap discreet—memegang teguh rahasia, pikir Suprapto. Tidak seberapa lama kemudian Van Hoogendorp muncul bersama Fien dan Ivonne.

"Fien, Ivonne, kenalkan... Ingenieur Suhono," kata Van Hoogendorp. "O ya, Ivonne, kenalkan Sinder Suprapto, Ayah Suhono."

Suhono menundukkan kepalanya dan dengan gaya hormat tapi correct, menjabat tangan Fien lebih dulu, baru kemudian ia menjabat tangan Ivonne. Sejenak pandangan mata dua insan muda berlainan jenis itu bertemu, tapi temu pandang yang sekejap itu merasuk ke dalam hati masing-masing. Mata tajam Nyonya Van Hoogendorp mampu menangkap apa yang sedang dirasakan oleh dua insan dewasa itu. Ia tersenyum dalam hati.

Dengan tangan agak gemetar Suprapto menyalami Fien dan Ivonne. Suhono dan Suprapto tetap berdiri tegak. Melihat adegan yang kaku itu Van Hoogendorp berkata, "Wel, mari, mari duduk di sana saja."

Lima insan itu lalu menuju kursi-kursi tamu yang tersedia di ruangan itu. Dengan sopannya Suhono membantu Fien dan Ivonne menempati tempat duduknya dan dia sendiri baru menempati kursinya setelah Van Hoogendorp dan ayahnya duduk. Ia menempati kursi di samping Ivonne. Dalam waktu yang sesingkat itu Suhono berhasil merebut simpati Fien dan Ivonne.

Van Hoogendorp mengulangi lagi tawarannya dengan berkata, "Fien, aku bermaksud merayakan keberhasilan Suhono dan Ivonne. Bagaimana?"

Fien van Hoogendorp yang memang suka berpesta itu langsung menjawab, "Aku setuju, Henk. Kalau bisa sesegera mungkin, sebab kalau terlalu lama bisa menjadi basi nanti. Begitu kan, Tuan Suhono?"

Cepat Suhono menanggapi, "Nyonya, panggillah aku cukup dengan Suhono saja. Kalau Nyonya memanggilku dengan Tuan, bisa pingsan aku nanti."

Van Hoogendorp suami-istri dan Ivonne tertawa. "Apa itu juga berlaku bagiku, Tuan Insinyur?" sambung Van Hoogendorp.

Suhono berdiri, mengangguk lalu menjawab, "Dengan segala senang hati, Jonkheer." Ia duduk kembali.

Van Hoogendorp merasa dirinya dihormati oleh Suhono dengan panggilan "Jonkheer" terus-menerus itu. Ia ingin menunjukkan kerendahan hati dan jiwa besarnya. "Suhono," katanya, "aku juga mempunyai permintaan. Kalau kau masih saja memberanikan diri memanggilku 'Jonkheer', kutarik kembali tawaran pesta itu."

"Berat bagiku, Jonkheer, tapi permintaan seorang administrator kepada warga Madugondo sudah merupakan perintah. Tuan," jawab Suhono.

Van Hoogendorp tertawa terbahak-bahak. "Suhono, aku bukan diktator seperti Hitler," kata administrator itu. "Zo, het spijt me wel—ya maaf saja—aku dan Suprapto masih harus bekerja. Fien, Ivonne, kalian atur pesta itu, ya? Terserah kepadamu kapan akan diadakan."

Van Hoogendorp berdiri diikuti oleh yang lain. Fien mengulurkan tangannya kepada Suprapto dan Suhono. Begitu juga Ivonne. Ivonne masih sempat berkata, "Sampai bertemu lagi, Tuan Suhono."

"Jangan sebut aku Tuan," kata Suhono cepat. "Aku merasa seperti kakek-kakek saja. Suhono atau Hono saja cukup." Lagi-lagi keluarga Van Hoogendorp tertawa.

"Baik, Suhono," kata Ivonne. "Sebaliknya, kalau kau memanggilku dengan sebutan bermacam-macam, pantang aku menerima ajakan dansa nanti. Panggillah aku Ivon atau Ivo saja." Suhono hanya mengangguk.

Ibu dan anak meninggalkan ruang kerja Administrator Van Hoogendorp, kemudian Suprapto dan Suhono minta diri kepada Van Hoogendorp.

Tiba di rumah kembali, tak henti-hentinya Suprapto memuji-muji anaknya. Katanya, "Bu, kalau kau ikut hadir tadi, kau akan terheran-heran. Sekali bicara, suami, istri, dan anak langsung dalam genggaman anakku."

"Apa anakmu? Anakku!" sangkal Ibu Sinder.

Ayah, ibu dan anak tertawa. Herman hanya tersenyum.

Suhono mulai menampakkan dirinya pada masyarakat Madugondo. Pertama-tama ia berkunjung ke rumah mandor-mandor ayahnya, kemudian ia bersama ayah dan ibunya bertamu pada Sinder Sugondo dan Wedono-Demang Madugondo. Suhono memang sudah mengenal ketiga anak perempuan Pak Wedono Demang. Suhono beranggapan bahwa mereka masih terlalu muda baginya.

Sementara itu, jalan di muka rumah Ibu Sinder mulai ramai dilewati gadis-gadis Indo anak-anak pegawai perkebunan. Semua ingin menarik perhatian Insinyur Suhono. Gerak-gerik Suhono terus diamati oleh ibu-ibu Madugondo. Suhono sendiri kelihatan agak gelisah dan kegelisahannya itu tidak luput dari pengamatan ibunya. Yang ditunggu-tunggu oleh Suhono memang belum pernah menampakkan dirinya lewat rumah. Itulah yang membuat Suhono kesal. Suhono sendiri dengan sengaja menghindari jalan di muka Besaran.

Pada suatu pagi hari, di halaman depan rumah. Ibu Sinder bertanya kepada anaknya, "Siapa yang kauharap-harapkan lewat, Ngger?"

"Bukan siapa-siapa. Bu. Aku hanya sekadar berangin-angin saja," jawab Suhono hampa.

Dengan senyumnya yang menarik Ibu Sinder menanggapi, "Ibumu bukan orang yang buta, Ngger. Nona Ivon memang cantik."

Suhono terkejut bercampur malu mendengar tanggapan ibunya itu. Ibu Sinder melanjutkan, "Aku wanita kolot, Hon, wanita kuno. Ibumu lebih suka mempunyai menantu wanita Jawa daripada wanita Belanda. Bagaimana kalau kau kuajak melihat-lihat di Sala, Hon?"

"Ah, Ibu, belum apa-apa Ibu sudah curiga. Aku belum punya niat untuk beristri. Masih ingin menikmati kebebasan."

"Bukan maksudku untuk memaksamu memilih jodoh, Anakku. Apa yang kauanggap baik lakukanlah. Ibumu masih cukup sabar untuk menunggu kedatangan seorang cucu." Suhono merangkul ibunya lalu dibimbingnya masuk rumah. Sambil berjalan Suhono berkata, "Aku dapat memahaminya, Bu, tapi apa Ibu benar-benar rela aku dimiliki orang lain?"

Ibu Sinder bergumam, "Heh, anak tambeng (bandel)!" Dalam hati Ibu Sinder membenarkan kata-kata anaknya. Ia belum bisa merelakan anak yang dicintainya itu dimiliki wanita lain, sekalipun hal itu disembunyikannya dalam-dalam di lubuk hatinya. Ya kalau wanita itu baik, kalau tidak?

Suhono sendiri tahu akan keresahan hati ibunya. Ia selalu hati-hati bila menyinggung persoalan beristri. Ia memang belum memiliki pilihan tertentu.

Sore harinya Suhono mengajak saudara sepupunya berenang. Begitu Suhono menampakkan dirinya dalam celana renang menaiki tangga papan terjun, gadis-gadis Madugondo baru dapat menyaksikan bagaimana harmonisnya tubuh Suhono yang atletis itu. Suara bisik-bisik terdengar, "Itu Suhono, insinyur baru. Anak Sinder Suprapto."

Suhono meloncat-loncat di atas papan, mengambil ancang-ancang, lalu dengan indahnya terjun ke dalam air, dikagumi oleh gadis-gadis yang sedang berendam-rendam dalam air yang kebiru-biruan itu. Melihat gadis-gadis remaja yang dengan berbagai cara mencoba menarik perhatian Suhono itu, Herman tersenyum-senyum. Tiba-tiba perhatian Herman tertarik oleh seorang gadis dewasa yang sedang jalan menuju tepian kolam dalam pakaian renang berwarna merah jambu. Tidak mata Herman saja yang terbelalak, perhatian Suhono pun terarah pada warna merah jambu itu juga. Sebaliknya, penampilan Suhono yang bertubuh harmonis-atletis itu juga tidak luput dari perhatian wanita dalam pakaian renang merah jambu itu.

Suhono melambaikan tangannya, disambut dengan lambaian tangan Ivonne. Perlahan-lahan Ivonne turun masuk ke air dan dengan gaya katak berenang menuju tiang-tiang papan loncat. Pada saat itu Suhono yang sudah berdiri di atas papan loncat yang tertinggi mempertontonkan kemahirannya berloncat indah. Ia meluncur ke dalam air tepat di hadapan Ivonne. Ombak mengganggu jalur renang Ivonne, tapi setelah tahu bahwa yang mengganggunya itu Suhono, Ivonne tersenyum sambil berkata, "Stoute jongen—anak nakal!"

"Selamat sore, Ivo. Kau tampak cantik dalam warna merah jambu," tegur Suhono.

"Masih kalah pagi aku," jawab Ivonne tanpa memberikan reaksi terhadap pujian Suhono.

Keduanya lalu berenang menepi. Suhono loncat ke tepian lalu membantu Ivonne naik. Suhono memanggil sepupunya, Herman, dan memperkenalkannya kepada Ivonne.

"Aku tidak tahu kau masih punya adik, Hono. Suhono in klein formaat—Suhono bentuk kecil."

Mendengar komentar Ivonne, Suhono hanya tersenyum saja. Herman cepat-cepat terjun ke dalam air. Ia tak ingin mengganggu kebersamaan Suhono dan Ivonne. Sedangkan pasangan muda itu lalu duduk-duduk di atas kursi besi yang tersedia dekat pagar pemandian.

"Kau masih akan lama di Madugondo, Hono?"

"Sampai aku ada penempatan, Ivo. Kau sendiri bagaimana?"

"Sampai hari-hari terakhir liburan. Sebulan di perkebunan membosankan," kata Ivonne.

"Ada rencana ke kota lain?" tanya Suhono.

Mata kelabu Ivonne berkedip-kedip, jawabnya, “Tergantung keadaan. Di Madugondo sulit mencari teman yang sebaya."

"Oo, kalau begitu aku masih terlalu muda bagimu," potong Suhono bergurau.

"Ah, jij... zvij zullen zien – Ah kau... Kita lihat nanti."

Percakapan antara Suhono dan Ivonne semakin menjadi hangat. Mereka lupa bahwa mereka datang untuk berenang-renang, tidak untuk berjemur-jemur saja. "Zeg Hono, untuk apa kau datang kemari? Berjemur diri?"

"Menunggu kedatanganmu," gurau Suhono. Lagi-lagi Ivonne berkata, "Ah, jij, ondeugende Ingenieur—insinyur nakal. Mari berenang."

Ivonne menarik tangan Suhono lalu berdua mereka terjun ke dalam air. Dalam kesempatan itu Ivonne mengundang Suhono untuk datang ke Besaran. Suhono menyanggupinya.

Tiba di rumah kembali Herman lapor kepada Ibu Sinder tentang pertemuan Suhono dan Ivonne. "Bu, Ivonne wanita cantik, baik lagi. Tidak sombong, sekalipun ia anak Tuan Besar. Ia juga menyapa gadis-gadis lainnya dengan ramahnya. Bu, aku dikira adik Mas Hono."

"Her, kau belum pernah merasakan tinju kakakmu, ya," ancam Suhono bergurau. "Begitu saja lapor. Mata-mata ya kau!"

Ibu Sinder tersenyum lalu berkata, "Aku ini harus bangga atau khawatir?"

"Ibu, Ibu! Belum apa-apa sudah melihat Ivo sebagai menantu," balas Suhono.

"Nhaa, Ibu kan tidak rela Mas Hono direbut orang. Nonik lagi," sambut Herman.

Sambil bersungut-sungut Ibu Sinder menjawab, "Adiknya sami mawon (sama saja). Sudah, sudah."

Sehabis santap malam Suhono minta diri kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke Besaran. Reaksi Sinder Suprapto lain sama sekali, beda dengan reaksi Ibu Sinder. Ia bangga anaknya berteman dengan Ivonne. Namun sebenarnya yang dirisaukan oleh Ibu Sinder agak lain sifatnya. Tidak hanya soal anaknya, Suhono, berteman dengan Ivonne, tapi menyangkut suaminya yang mempunyai hubungan gelap dengan ibunya. Itulah yang membuat Ibu Sinder agak risau dan kikuk. Mudah-mudahan tidak akan ada apa-apa, pikir Ibu Sinder.

Tiba di Besaran dalam pakaian santai Suhono sudah ditunggu kedatangannya oleh Ivonne di pendapa Besaran. Lewat telepon Ivonne sudah diberitahu tentang kedatangan Suhono malam itu. Begitu Suhono dan Ivonne duduk, muncul Van Hoogendorp suami-istri.

"Wel, jongelui, ik weet niet wat jullie doen, maar wij hebben onze bridge avond. Veel plezier dan maar – Baik, Anak-anak muda. Aku tidak tahu apa yang akan kalian kerjakan, tapi kami malam ini akan main bridge. Bersenang-senanglah." sambut Van Hoogendorp.

Setelah sekitar satu jam berbincang-bincang, Suhono minta diri. Pulang. Ivonne tampak kecewa, Suhono terburu-buru meninggalkannya. Begitu tiba di rumah, pertanyaan bertubi-tubi menyambutnya. "Wah susah, jadi tertuduh aku ini. Seperti di pengadilan saja," kata Suhono. Gelak tawa pun meledak.



Beberapa hari kemudian para sinder dan pegawai tinggi perkebunan dikejutkan oleh undangan Administrator Van Hoogendorp. Suami-istri beserta anak-anak remajanya diundang untuk menghadiri pesta dansa menghormati warga Madugondo yang berhasil mencapai gelar insinyur dan semi-arts. Suhono dan Ivonne van Hoogendorp.

Madugondo memang sedang mengalami masa sibuk. Pabrik sedang giat-giatnya giling tebu. Masyarakat terkemuka Madugondo tambah lebih sibuk lagi, terutama wanita-wanita dan kaum remajanya. Pesta dansa di Besaran tidak terjadi setiap hari. Penjahit-penjahit di Tegal dan Cirebon sibuk melayani pesanan gaun-gaun panjang baru yang memenuhi syarat untuk hadir pada pesta Besaran itu. Bahkan ada yang memesan gaun-gaun itu pada penjahit-penjahit ternama di Semarang. Secara diam-diam Ibu Sinder juga mempersiapkan diri.



Malam yang dinanti-nantikan itu tiba. Untuk malam itu Sinder Suprapto mengenakan pakaian Jawa resmi gaya Sala, lengkap dengan keris pusakanya yang pendoknya dihiasi intan-intan kecil. Ir. Suhono malam itu menampilkan diri dalam setelan smoking.

Selesai berdandan Sinder Suprapto dan Insinyur Suhono duduk-duduk di ruang tamu menunggu Ibu Sinder selesai bersolek. Begitu Ibu Sinder muncul, ayah dan anak itu berdiri menganga melihat penampilan Ibu Sinder. Di luar dugaan, Ibu Sinder melepaskan sifat rendah hati dan kesederhanaannya. Ia tidak hendak mengecewakan anaknya yang malam itu menjadi tamu kehormatan. Ibu Sinder mengenakan pakaian gaya Sala yang hanya boleh dipakai oleh seorang wanita bangsawan Keraton. Kain batik Merak Reraton gubahannya, kebaya panjang berwarna ungu tua berenda keemasan, sanggul gelung tekuk dihiasi dengan tusuk konde emas bertatahkan berlian warisan mendiang ibunya. Selop beludru bersulam. Peniti-peniti emas dan bros lambang keningratan Keraton Surakarta.

Tertegun suami dan anak melihatnya. "Winarti," gumam Suprapto.

"Ibu, Ibu..." Langsung Suhono mendekati ibunya sambil berkata, "Ibu begitu cantik, anggun dan berwibawa."

"Untukmu, Hono," dengan tenang Ibu Sinder menjawab.

Mata Suhono berkaca-kaca. Ia terharu mendengar kata-kata ibunya: "Untukmu, Hono." "Matur sembah nuwun, Bu," gumam Suhono.

"Aku sudah siap," kata Bu Sinder. "Mari berangkat. Jangan sampai terlambat."

Berkendaraan dokar yang sudah dipesan sebelumnya keluarga Suprapto berangkat menuju Besaran, kediaman resmi Administrator Van Hoogendorp.

Sementara itu di pendapa Besaran berdiri berjajar Van Hoogendorp, Fien van Hoogendorp, dan Ivonne, menerima kedatangan tamu-tamu. Setelah berjabat tangan, tamu-tamu diantar pelayan-pelayan menuju ke beranda belakang dan menempati kursi masing-masing. Untuk kaum remaja disediakan tempat khusus. Rombongan musik Hawaian dari Semarang memeriahkan suasana pesta.

Tiba di Besaran, Suprapto suami-istri dan Suhono menunggu gilirannya untuk berjabat tangan dengan keluarga Van Hoogendorp. Van Hoogendorp terpesona melihat penampilan Ibu Sinder malam itu. Ia tersenyum lega. Kini ia memperoleh kepastian sudah. Ia tidak ragu-ragu lagi.

Ivonne sendiri yang mengantar keluarga Suprapto ke dalam. Begitu memasuki beranda belakang, pribadi Ibu Sinder menarik perhatian tamu-tamu yang sudah lebih dulu berada di situ. Di sana-sini terdengar suara bisik-bisik. Ada yang memberikan tanggapannya tentang penampilan Ibu Sinder, ada pula yang membisikkan sesuatu mengenai Suhono. Jelas terdengar, "Itu insinyurnya, hij is het – itulah dia."

Keluarga Suprapto sebagai tamu kehormatan mendapat tempat di baris kursi paling depan, dekat dengan keluarga Van Hoogendorp. Di baris kursi itu sudah hadir Sekretaris Vermeulen, Masinis Kepala Ten Hoeve, Sinder Kepala Ravenbeck, dan tokoh-tokoh Madugondo lainnya, termasuk Demang Wedono suami-istri. Sinder Sugondo dan sinder-sinder lainnya duduk di baris kursi kedua. Berpuluh-puluh pasang mata masih saja diarahkan kepada Ibu Sinder, Suhono, dan Ivonne.

Ivonne kembali ke pendapa untuk mendampingi orangtuanya lagi. Malam itu tak seorang pun yang berani datang terlambat. Tepat pada waktunya, Van Hoogendorp suami-istri dan Ivonne memasuki ruang pesta. Tamu-tamu berdiri. Setelah Fien dan Ivonne duduk, Van Hoogendorp langsung naik podium pendek di tengah ruangan dan langsung mengucapkan pidato sambutannya.

"Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan, Tuan Suprapto dan Raden Ayu—" Van Hoogendorp pada saat mengucapkan kata "Raden Ayu" menganggukkan kepala ke arah Ibu Sinder sebagai tanda hormat. Yang hadir menjadi terheran-heran. Pertama-tama karena Van Hoogendorp berkata "Raden Ayu" itu dengan nada tegas penuh rasa hormat, kedua ia mengangguk hormat, hal yang belum pernah terjadi. Ibu Sinder hanya seorang istri sinder. Mengapa administrator itu begitu menaruh hormat padanya?

"Madugondo malam ini boleh bangga, sekaligus perlu bergembira. Salah seorang warganya telah berhasil memperoleh gelar insinyur. Suhono namanya. Anak Sinder Suprapto dan Raden Ayu. (Tepuk tangan) Di samping itu aku dan istriku malam ini juga ingin merayakan keberhasilan anakku Ivonne, yang sudah mencapai tingkat semi-arts. (Tepuk tangan) Mudah-mudahan dapat mengikuti jejak Ir. Suhono untuk selekasnya memperoleh gelar dokter. (Lagi-lagi meledak tepuk tangan) Meneer Suhono dan Juffrouw Ivonne, silakan tampil di podium ini."

Dengan sigap Suhono berdiri, melangkah menuju tempat duduk Ivonne dan menawarkan lengannya kepada anak administrator itu. Ivonne bangkit, menerima gandengan Suhono. (Tepuk tangan) Begitu mereka berada di atas podium, Van Hoogendorp melanjutkan pidatonya.

"Kuperkenalkan... Ingenieur Suhono dan anakku Dokteranda-Medisch Ivonne. Keduanya malam ini menjadi feestvarken—tokoh-tokoh perayaan kita. (Tepuk tangan) Tentu para remaja Madugondo sudah tak sabar lagi menunggu kesempatan berlantai. Wel. Meneer Latumahina, begint U maar. Polonaise" (Tepuk tangan)

Kemudian berkumandanglah lagu mars, Mijn Sarimarijs. Van Hoogendorp turun dari podium, langsung menghampiri istrinya. Suhono dan Ivonne berpasangan berdiri di belakang Van Hoogendorp dan istri. Tamu-tamu berdiri berpasang-pasangan sambil menunggu isyarat dari Van Hoogendorp. Suprapto dan Ibu Sinder tetap duduk. Latumahina mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berkata, "Polonaise, voor-waarts... Mars – Polonaise, maju... jalan!"

Pesta semacam itu tidaklah asing bagi Ibu Sinder. Di masa remajanya ia sudah sering menyaksikannya di rumah Controleur Hartman. Adiknya, Winarsih, yang paling suka berdansa. Sementara itu barisan polonaise semakin menjadi panjang berbaris membelok-belok seperti ular. Latumahina membawa barisan itu masuk ruang tengah yang memang sudah disiapkan untuk berdansa. Lantai marmer ditaburi bedak, agar menjadi licin, mudah untuk melantai.

Lagu mars menghilang, muncul lagu waltz lamban. Barisan polonaise memecah, mulailah pasangan dansa berputar-putar. Van Hoogendorp suami-istri meninggalkan ruang dansa, kembali duduk menemani Suprapto dan istri. Melihat Sinder Sugondo dan istri yang juga tetap tinggal di tempatnya Van Hoogendorp dan Fien mengangguk.

Van Hoogendorp yang menempati kursi di samping Ibu Sinder berkata pada wanita itu, "Raden Ayu pandai menyembunyikan asal-usul. Tuan Residen yang memberitahukan kepadaku siapa sebenarnya Raden Ayu."

Suprapto menerjemahkannya bagi Ibu Sinder. "Asal-usul tidak penting, Yongker," jawab Ibu Sinder. "Apalagi di Madugondo ini. Tuan Besar lebih mementingkan hasil kerja nyata daripada keturunan. Yongker sendiri tak pernah menonjol-nonjolkan asal-usul Tuan. Aku hanya mengikuti jejak teladan Yongker saja."

Suprapto menjadi penerjemah lalu lintas pembicaraan. Jawaban Ibu Sinder menyentuh hati Van Hoogendorp, apalagi Ibu Sinder menyebutkan "Yongker". Administrator itu tahu bahwa yang dimaksudkan adalah Jonkheer. Suaminya dibuatnya terperanjat juga Ibu Sinder menggunakan kata-kata "Yongker".

Sekalipun Fien van Hoogendorp sepenuhnya memahami apa yang dikatakan oleh Ibu Sinder, ia tidak bereaksi sama sekali. Sebaliknya, Ibu Sinder juga pandai menyembunyikan perasaannya. Pikirnya, selama istri administrator itu tidak berbahasa Jawa, ia tak akan memancing-mancing Fien van Hoogendorp agar ia berbahasa Jawa.

Malam itu Fien bersikap wajar-wajar saja terhadap Ibu Sinder. Ada perasaan aneh yang merayapi hati sanubari Ibu Sinder. Ia sama sekali tidak marah atau cemburu terhadap Fien, bahkan sebaliknya, rasa simpati yang tumbuh. Sikap akrab Fien malam itu tampak tidak dibuat-buat. Teringatlah ia akan ibu kandungnya. Ibu Bendoro. Ibunya sama sekali tidak mencemburui bibi-bibinya, malah begitu sayangnya Ibu Bendoro itu kepada maru-maru-nya. Ibunya itu juga tidak membenci pacar-pacar ayahnya.

"Wanita Indo ini bukan maru-ku, hakikatnya sama dengan 'simpanan-simpanan' Ayah dulu. Ibu Bendoro, dalam kenyataan, memang harus membagi cinta suami dengan wanita-wanita lain juga, di luar bibi-bibi. Aku juga harus membagi cinta suami dengan Fien van Hoogendorp. Ya Tuhan, segala puji dan syukur untukMu. Allah menghapus amarah dan rasa benci dari sanubariku. Ya Allah, matur sewu nuwun," ucap Bu Sinder dalam hati.

"Raden Ayu, apa Ingenieur Suhono sudah memperoleh penempatan?" tanya Fien kepada Ibu Sinder.

Suprapto tetap berfungsi sebagai penerjemah. Jawab Ibu Sinder, "Belum, Nyonya Besar. Tampaknya ia tak begitu tergesa-gesa. Ia ingin beristirahat dulu di Madugondo."

"Oo, kebetulan kalau begitu. Ivonne liburan besar. Ada temannya di Madugondo," kata Fien. Ibu Sinder mengangguk. Ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Ia khawatir kalau hubungan anaknya dan anak Fien akan menjadi semakin akrab. Anaknya memiliki daya tarik kuat bagi wanita, sebaliknya Ivonne pun sangat menarik.

Tiba-tiba Suhono muncul di hadapan Fien. Setelah mengangguk ke arah Van Hoogendorp, Suhono lalu mengangguk di hadapan Fien. Fien minta izin kepada Ibu Sinder dan suaminya. Ia berdiri lalu menerima gandengan Suhono. Dua sejoli itu berjalan menuju ruang tengah. Mulailah pasangan Fien-Suhono melantai mengikuti alunan irama slow-fox. Fien merasakan bahwa Suhono adalah seorang pedansa yang baik. "Kau danseur kelas wahid, Suhono," pujinya.

"Terima kasih. Nyonya," jawab Suhono sambil menundukkan kepala.

Sambil berdansa, pikiran Fien masih saja tertumpu pada Ibu Sinder. Ia benar-benar menaruh simpati pada istri kekasihnya itu. Rasa penyesalan tumbuh dalam dirinya, namun rasa itu cepat-cepat diusirnya. Pikirnya, Ah asal ia tidak tahu saja, apa salahnya.

Irama slow-fox berubah menjadi irama Wiener Waltz. Beberapa pasangan menepi. Hanya mereka yang pandai mengikuti irama itu yang tinggal. Mulai tampak bahwa pasangan Fien-Suhono jauh melampaui kemahiran pasangan yang lain. Semakin banyak pasangan yang menepi, terpukau mereka melihat pasangan Fien-Suhono berputar-putar dengan indahnya. Suhono sadar bahwa sekian puluh pasang mata sedang diarahkan kepadanya, lalu ia berbisik, "Nyonya, jangan cemas. Ikuti saja langkah-langkahku." Fien mengangguk. Sebenarnya Fien agak khawatir kalau ia membuat salah langkah, tapi Suhono begitu pandainya membimbing, sehingga salah langkah pun tak tampak. Variasi demi variasi yang belum dikenal di kota kecil Madugondo itu dipertontonkan oleh pasangan Suhono-Fien. Ivonne yang sudah diajak menepi oleh Ravenbeck ikut terpesona melihat pasangan Fien-Suhono. Ia lari ke beranda belakang, menarik ayahnya, sambil berkata terbata-bata, “Papi, mari, mari. Hebat pasangan Mami dan Suhono." Van Hoogendorp mengajak Suprapto dan Ibu Sinder agar ikut menyaksikan. Bersama-sama mereka menuju ruang tengah. Kini tinggal pasangan Suhono-Fien saja yang masih bergaya. Lainnya menepi, menyaksikan. Pikir Suhono, "Wah, demonstrasi jadinya."

Latumahina yakin bahwa Suhono-Fien bukan tukang dansa kemarin sore. Ia membisikkan sesuatu kepada anak buahnya. Wiener waltz berubah menjadi irama tanggo, irama yang sangat ditakuti oleh pedansa. Fien menjadi agak gentar. Lagi-lagi Suhono berbisik, "Ikuti saja, Mam."

Fien agak terperanjat mendengar kata "Mam" itu. Panggilan "Mam" menenangkannya, seolah-olah ia sedang berdansa dengan anaknya sendiri saja. Ia mengendurkan kekakuannya dan mengikuti bimbingan Suhono dengan perasaannya. Tepuk tangan pun meledak.

Seluruh ruangan yang luas itu dimanfaatkan Suhono untuk menampilkan gaya dan variasinya. Bisik-bisik terdengar, "Rudolf Valentino! Greta Garbo! Luar biasa! Geweldig-geweldig!”

Berpuluh-puluh pasang mata mengikuti gerak-gaya pasangan Fien-Suhono. Sepasang mata Van Hoogendorp hampir tidak percaya melihat apa yang dilihatnya. Istrinya begitu lincah mengikuti bimbingan Suhono. Hati Ivonne van Hoogendorp semakin tertambat pada pribadi Suhono. Sinder Suprapto bangga melihat anaknya, tapi Ibu Sinder mencemaskan daya tarik anak tunggalnya.

Latumahina yang melihat bahwa Fien tampak agak kecapekan, mengubah irama menjadi slow-waltz, untuk beberapa saat, kemudian berhenti sama sekali. Lagi-lagi tepuk tangan meledak-ledak.

Suhono dan Fien membungkukkan badan membalas penghormatan pengagum-pengagumnya. Belum sempat Suhono menggandeng Fien untuk "diserahkannya" kembali pada Van Hoogendorp, Fien sudah lari meninggalkannya, memeluk suaminya. Serta-merta Van Hoogendorp berkata, "Je bent geweldig, Fien. Niet gedacht – Kau hebat, Fien. Tidak kusangka."

Suhono mendekati Van Hoogendorp, mengangguk sambil berkata, "Nyonya memang luar biasa."

Van Hoogendorp melangkah ke tengah ruangan dan dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi ia berkata, "Wel, kita semua kecapekan. Mari kita makan-makan dulu."

Remaja-remaja bersorak-sorak ramai. Tamu-tamu menuju halaman belakang. Sudah tersedia meja-meja penuh berbagai macam hidangan. Ivonne berkeliling, menyilakan tamu-tamunya, tapi ia selalu kembali lagi pada Suhono. Van Hoogendorp dan pegawai-pegawainya bergerombol di depan, minum-minum. Botol-botol minuman keras dari anggur sampai Bols Jenever tersedia melimpah. Van Hoogendorp sendiri memang seorang penggemar anggur. Suprapto, Sugondo, dan Demang-Wedono dalam pakaian kebesaran Jawa tak ketinggalan. Tampak hubungan Suprapto dan Sinder Baumann sudah kembali akrab.

"Suprapto, je bent een goede pencakker zeg—kau memang jago pencak silat," tegur Baumann.

"Nou, net scheelt maar een haar, of ik krijg een platte neus – Hanya terpaut serambut, hidungku bisa menjadi semakin pesek, " jawab Suprapto bergurau. Dua sinder itu lalu tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, duduk-duduk di kursi rotan di bawah pohon mangga. Ibu Sinder dan Nyonya Besar. Suhonp mendekat, maksudnya bila dua wanita itu memerlukan penerjemah ia dapat membantunya, namun dengan herannya ia diusir oleh Fien van Hoogendorp. "Ga weg jij nieuwbakken, Ingenieur. Ik heb wat te bepraten met je moeder. Kijk, Ivonne staat daar naar je uit te kijken - Pergi kau, Insinyur hijau. Ada yang harus kubicarakan dengan ibumu. Lihat, kau ditunggu Ivon."

Suhono meninggalkan Fien dan langsung mendekati Ivonne. Melihat ibunya dan Fien akrab dan asyik bercakap-cakap, Suhono menganga seperti melihat hantu di siang hari bolong. Ia menggapai Ivonne dan berkata, "Ivo, lihat ibu-ibu kita. Lancar mereka bercakap-cakap. Bahasa apa yang kiranya digunakan, Esperanto?"

Ivonne, yang kini mengarahkan pandangannya ke ibunya, juga dibuat terheran-heran. "Barangkali Bahasa Melayu," tanggapnya.

Waktu bercakap-cakap itu Fien selalu siaga saja. Kalau ada orang di dekatnya, ia berhenti berbicara. Ibu Sinder kini tahu bahwa Fien tidak menghendaki orang lain tahu bahwa ia fasih berbahasa Jawa. Ia lalu menyesuaikan.

Ivonne begitu bergairah untuk mengetahui bahasa apa kiranya yang digunakan dua ibu itu. Tetapi begitu ia mendekat, dua wanita itu diam. Dan kini, karena sadar bahwa sudah terlalu banyak orang yang memperhatikannya, Fien berkata dalam bahasa Jawa halus, "Nyuwun pangapunten inggih, Mbakyu, sampun radi nguwa-tosaken. Monggo, kulo ngrumiyini – Maaf ya, Mbakyu, sudah agak mengkhawatirkan. Mari, saya mendahului."

Fien bangkit, pergi berkeliling menyapa tamu-tamunya.. Begitu Fien pergi, Suhono langsung menempati kursi yang kosong itu. Kepada ibunya ia berkata, "Bu, asyik betul berbicara. Apa yang diperbincangkan?"

Ibu Sinder tahu bahwa anaknya ingin menjebaknya. Jawabnya sambil memijat hidung anaknya, "Ah, biasa-biasa saja. Sana pergi, urusi itu pacarmu." Sambil geleng-geleng kepala Suhono pergi mencari Ivonne kembali.

Tak lama kemudian musik bergema lagi. Remaja-remaja kembali memadati ruang dansa. Suhono berdansa dengan nyonya-nyonya lain dan setelah ia merasa bahwa sudah cukup banyak nyonya-nyonya yang diajaknya berdansa, ia baru berpaling pada Ivonne. Terbukti Ivonne pun danseur yang cukup tangguh. Tepat jam satu dinihari, Van Hoogendorp menutup pesta dansa. Ia, Fien, dan Ivonne menempatkan diri kembali di pendapa. Satu demi satu tamu-tamu meninggalkan Besaran, setelah berjabatan tangan dengan keluarga Van Hoogendorp.

Keluarga Suprapto berjalan kaki pulang. Tiba di rumah, yang paling banyak bicara Sinder Suprapto. Tak henti-hentinya ia memuji-muji anaknya. "Heh, Bu, itu Tuan Besar dan Nyonya sudah dalam genggaman Suhono, apalagi si Nonik calon dokter itu. Sudah tidak bisa lepas dia dari Suhono."

"Jangan berlebihan memuji-muji. Pak," kata Bu Sinder. "Hono, jangan didengarkan ocehan ayahmu. Kau jangan lupa daratan, Hono."

"Ah, apa yang dapat kubanggakan. Bu? Aku hanya seorang penganggur," jawab putranya itu.

"Apa? Penganggur?" potong Sinder Suprapto. "Heh, tunggu saja. Gupermen nanti yang akan merengek-rengek agar kau mau kerja dengan Gupermen. Lihat saja nanti."

Ibu Sinder dan Suhono diam saja. Mereka sudah mengenal tabiat Suprapto. Suhono berpikir, ibunya begitu akrab dan lancar bercakap-cakap dengan Nyonya Besar. Aneh! Karena itu kemudian Suhono memberanikan diri untuk bertanya, "Bu, bahasa apa yang Ibu gunakan dengan Nyonya Besar?"

Suprapto yang tampak agak terperanjat. Melihat reaksi suaminya itu Ibu Sinder segera tanggap bahwa suaminya dan Nyonya Besar itu pasti sering menggunakan bahasa Jawa pula. Cepat Ibu Sinder menjawab, "Bahasa Melayu pasar, Ngger."

Suhono masih belum percaya. Sepanjang yang diketahuinya, ibunya kelihatannya tidak begitu mahir berbahasa Melayu pasar, apalagi Fien. Karena ibunya kelihatannya tidak bersedia mengungkapkannya, ia lalu tidak bertanya-tanya lagi. Pikirnya, ada dua kemungkinan. Ibu yang berpura-pura tidak bisa berbahasa Belanda selama ini, atau Fien van Hoogendorp yang berpura-pura tidak paham bahasa Jawa. Tante Winarsih bukan main fasihnya berbahasa Belanda. Apa benar Ibu sama sekali tidak paham bahasa Belanda? Ah, Ibu tak bisa terus-menerus berpura-pura. Satu-dua hari dapat menyembunyikannya, tapi bertahun-tahun... tidak mungkin. Kemungkinan kedua yang lebih masuk akal, Fien yang menguasai bahasa Jawa, tapi ia malu untuk menggunakannya. Berbahasa Jawa akan merendahkan derajatnya sebagai seorang istri Belanda totok yang berkedudukan tinggi. Tapi mengapa dengan Ibu ia bersedia menggunakannya?

Sehabis membaca surat dari kemenakannya, Herman, yang mengabarkan bahwa ia sudah tiba kembali di Semarang, Ibu Sinder meneruskan pembatikannya. Diangkatnya canting batik tinggi-tinggi, meniupnya, lalu diletakkannya paruh canting itu pada kain mori yang sudah digambarinya motif-motif wayang Arjuna-Sembadra. Sambil membatik pikirannya tertumpu pada hubungan anaknya, Suhono, dengan Ivonne yang semakin menjadi akrab. Pikirnya, anaknya tidak sedang bermain-main, sebaliknya tampaknya Ivo juga tidak sedang iseng. Yang mengherankan. Tuan Besar dan Nyonya Besar tidak menghalang-halanginya. Bahkan sudah sering mengundang makan malam. Anaknya seperti acuh tak acuh saja terhadap panggilan penempatan yang tak kunjung tiba. Aneh! Risi rasanya. Ayahnya berpacaran dengan ibunya. Anaknya berpacaran dengan anaknya. Apalagi kalau Suhono dan Ivo itu bersungguh-sungguh lalu tahu tingkah laku orangtuanya. Apa jadinya nanti. Ah, seperti Arjuna dengan Banowati saja. Anak-anaknya juga berpacaran.

Malam itu, dua remaja dewasa sedang berjalan-jalan menyelusuri jalur kereta api tebu. Sejuknya sinar bulan yang hampir purnama, angin sepoi-sepoi yang membelai-belai rambut masing-masing, heningnya suasana yang hanya diganggu oleh derik cengkerik dan serangga malam, mendorong dua remaja dewasa berlainan jenis itu untuk jatuh dalam pelukan masing-masing. Terengah-engah Ivonne berbisik, "Suhono, Suhono, Suhono." Sebaliknya Suhono tidak memberikan kesempatan pada Ivonne untuk berbisik-bisik dan Ivonne membiarkannya. Melihat gubuk di tengah-tengah lahan yang sedang disiapkan untuk ditanami tebu itu, Suhono berbisik, "Ada gubuk, Ivo, mudah-mudahan tak ada orangnya."

Ivonne diam dan membiarkan dirinya digandeng Suhono menuju gubuk itu. Gelora jiwa dua insan itu memang sudah terlalu menggebu-gebu. Gubuk beratap daun-daun tebu kering dan beralas anyaman kulit bambu tidak menghalang-halangi sepasang muda-mudi itu untuk melanjutkan niatnya. "Hati-hati, Hono, aku sedang subur-suburnya," bisik Ivonne di telinga Suhono.



Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified