Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Bittersweet Rain Sandra Brown Part 3


Bab 10

STEVE?" Tak ada cahaya lampu di daJam kamar Steve, tetapi pesawat televisi hitam-putih meman-tulkan riak-riak cahayanya di dinding.
"Laura Jane," ujar Steve, terkejut.
"Aku tidak yakin kau ada di sini. Kau sudah tidur?"
Steve segera menarik selimut putih menutupi dadanya yang telanjang. Ia berbaring telentang di ranjangnya yang kecil. Ketika Laura Jane masuk, membuka pintu cukup Jebar agar bisa menyelinap, Steve berbaring sambil menopang tubuhnya dengan siku. "Tidak, aku tidak tidur, tetapi apa yang kaulakukan di sini? Kalau kakak-mu tahu kau ada di sini...."
"Tidak mungkin. Aku baru saja melihatnya pergi dengan mobil barunya. Ia dan Caroline.... Oh, Steve. Aku jadi tak mengerti semua ini!" Laura Jane menghambur masuk dan menjatuh-kan dirinya ke pelukan Steve. Otomads tangan Steve menyambut Laura Jane. Laura Jane yang menangis, membenamkan wajahnya di dada
Steve.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Apa yang tidak kaumengerti?"
"Rink. Aku tak mengerti dia sama sekali. Ia berkelahi denganmu gara-gara kau menciumku. Ia membuat aku merasa seakan kita melakukan perbuatan memalukan. Tetapi, kalau yang kau-lakukan salah, mengapa ia dan Caroline melaku-kan hal yang sama? Kalau hal itu tidak boleh kita lakukan, mengapa mereka lakukan? Mereka kan juga tidak menikah."
"Kau melihat mereka? Berciuman?" "Ya. Di sana, di dekat ayunan tua. Mereka tidak melihat aku ketika itu."
Steve menyibakkan rambut dengan jari-jarinya. Steve tidak ingin mengecewakan Laura Jane se-perti sebelumnya, maka ia menjawab dengan hati-hati, "Kurasa, kau melihat sesuatu yang se-harusnya.tidak boleh kau lihat."
Laura Jane mengangkat kepala. "Memang, se-harusnya aku tidak diam di situ dan melihat mereka, bukan? Haney bilang kita tidak boleh mencuri dengar percakapan orang, kalau orang itu tidak tahu kau ada di situ." "Itu tidak sopan, ya."
Laura Jane berusaha mengumpulkan kekuatan · seperti anak kecil yang menyesali perbuatan salah-nya. "Aku tahu aku salah. Tetapi aku mendengar suara mereka, lalu kuikuti suara itu. Ketika aku sampai di sana, kulihat Rink mencium Caroline. Mereka bersandar di pohon sambil berpelukan."
Ketika jari-jari Laura Jane mempermainkan rambut yang tumbuh lebat di dadanya, baru Steve menyadari ia hanya mengenakan celana dalam di balik selimut. Laura Jane duduk di pinggir ranjang, pinggul gadis itu menyentuh lekuk pinggangnya.
Laura Jane menceritakan bagaimana Caroline mengakhiri ciuman mereka. "Caroline bilang me-reka seharusnya tidak berciuman karena orang-orang akan menganggap mereka tidak bermoral. Ketika mendengar kata-kata Caroline, Rink hanya berdiri tak bergerak. Rink kelihatan seperti hen-dak memukul sesaatu, bukan Caroline. Rink kelihatan ingin terus menciumi Caroline."
Suara Laura Jane bergetar. "Caroline bilang, begitu pembacaan surat wasiat selesai, ia akan meninggalkan rumah." Sambil bersandar di ping-gang Steve, Laura Jane meletakkan kepalanya di dada Steve. "Aku tak ingin ia pergi meninggalkan rumah kami. Aku sayang Caroline. Aku sayang Rink. Aku ingin kami tinggal bersama-sama seperti sekarang selamanya."
Dengan satu tangannya Steve memegang teng-kuk Laura Jane, menenangkannya. Tangan yang satu lagi mengelus punggung gadis itu. Steve berhasil menyambungkan potongan-potongan cerita menjadi satu cerita utuh. Ia ingat, ia mendengar Caroline mengingatkan Rink tentang perbuatan Roscoe yang memisahkan mereka. Barangkali pada suatu ketika dulu, mereka saling menyayangi. Tetapi kemudian Rink pergi dari rumah, Caroline menikah dengan ayah Rink. Kini, masing-masing masih saling mencintai, ke-duanya terperangkap dalam situasi yang sulit untuk dipisahkan. "Ya, semuanya benar-benar kacau balau," gumam Steve di balik rambut Laura Jane.
Laura Jane mengangkat kepala dan meman-dang Steve. "Kau tahu apa yang kuharapkan?"
Jari telunjuk Steve menelusuri wajah gadis itu, mengagumi kecantikannya yang asli, ke-murnian pikirannya, tak tercemar perasaan deng-ki. Kualitas kepribadian sepcrti itu sangat ber-harga buat Steve karena jarang ia menemukan orang dengan kualitas seperti itu. Sebelum me-ngenal Laura Jane, Steve menganggap pikiran manusia penuh kebusukan, termasuk pikirannya sendiri. "Apa yang kauharapkan?" tanya Steve lembut.
"Babwa mereka berdua saling mencintai seperti kita."
Betapa ingin Steve tertawa, ingin menangis, ingin mencium Laura. Ia memikirkan kedua hal yang pertama, dan melakukan hal yang terakhir. Ditariknya tubuh Laura Jane dengan lembut ke dekatnya, diciumnya bibir perempuan itu dengan lembut pula.
"Steve?" bisik Laura Jane.
"Hmmm?" Steve mencium wajah Laura Jane, terkagum-kagum merasakan kulit gadis itu yang demikian halus dan membiarkan tubuh mereka berpelukan.
"Kau tidak memakai kaki plastikmu."
Seketika Steve menghentikan ciumannya dan mengikuti arab pandangan Laura Jane sampai ke ujung ranjang, ke tempat ia meletakkan kaki palsunya. "Ya," jawab Steve tegas. "Aku tidak memakainya."
"Coba kulihat kakimu. Ayolah." Laura men-julurkan tangan hendak menarik seprai yang menutupi tubuh Steve.
Steve langsung menyambar kaki palsunya dan memeganginya. "Jangan."
Suara Steve terdengar dingin, keras, tidak se-perti biasanya kalau ia bicara dengan Laura Jane. Sejenak sikap Steve membuat gadis itu takut, tetapi hanya sesaat. Berikutnya Laura Jane meletakkan tangannya di atas tangan Steve dan jarinya mencoba menarik seprai yang menutupi badan Steve. "Ayolah, Steve. Aku ingin melihat-nya."
Dengan marah Steve menepiskan tangan Laura Jane. Ia melepaskan pegangannya pada seprai, dan meletakkan tangan di bawah kepalanya. Laura Jane ingin melihatnya? Baik, lebih baik membiarkannya melihat kakinya. Lebih baik membiarkan Laura Jane jijik melihatnya sekarang sebelum ia jatuh cinta lebih dalam padanya,
seperti yang dialaminya. Lebih baik Laura Jane lari meninggalkannya sambil berteriak ketakutan dan jijik melihatnya sekarang daripada nanti. Ia sudah lama menyembunyikan cacatnya, akan le-bih baik bila Laura Jane tahu lebih cepat, akan lebih baik untuk mereka berdua.
Dengan hati pedih, Steve membiarkan Laura Jane menyingkapkan selimut dari tubuhnya. Udara sejuk yang bertiup dari AC menerpa tubuhnya. Rahangnya terasa sakit karena ia mengertakkan rahang. Matanya menatap langit-langit, berusaha memusatkan pandangan pada pola yang dibentuk cahaya yang dipancarkan televisi. Ia tidak ingin melihat wajah Laura Jane yang ketakutan. Ia berharap dapat menutup telinganya agar tidak mendengar respons yang diperdengarkan Laura Jane.
Steve tidak menyalahkan Laura Jane, tentunya. Ia selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Dunia Laura Jane adalah dunia penuh kelem-butan dan keindahan, seperti kepompong yang lembut dan anggun. Sementara dunianya, dunia hutan belantara dengan hukum rimba, dunia asing bagi Laura Jane, dunia dari planet lain.
"Oh, Steve."
Reaksi Laura Jane ternyata tidak seperti yang dibayangkan Steve. Suaranya membuat napasnya seperti berhenti sesaat, membuatnya gemetar; suaranya emosional, penuh kelembutan. Steve menundukkan kepala, memandang tubuhnya tepat ketika tangan Laura Jane terjulur hendak menyentuh pahanya yang buntung. Meskipun jelas Steve merasakan sentuhan malu-malu, lem-but, walaupun ia melihat tangan Laura Jane menelusuri kulitnya yang kasar dan berbulu, ia tetap tak percaya akan penglihatannya. Tubuh-nya seperti mengerut di balik sikap Laura Jane yang manis, tetapi dadanya seperti mau me-ledak.
"Steve, kau menawan." Ketika menatap Steve, mata Laura Jane berkaca-kaca. Steve mencari-cari, tetapi tak menemukan kesan jijik di mata gadis itu, tak ada rasa iba, yang ada hanya cinta dan kekaguman.
Dengan suara tercekik, Steve menarik tubuh Laura Jane ke dadanya. Tangannya memegang kedua pipi gadis tersebut, meremas rambut Laura Jane ketika Laura Jane menyentuhkan bibirnya ke bibir Steve.
Steve mencium Laura Jane dengan gairah baru. Dimasukkannya lidahnya jauh ke dalam ke mulut perempuan muda itu. Diputar-putarnya lidahnya, menikmati seluruh kemanisannya. Belajar dari Steve, Laura Jane menggigit kecil bibir Steve, mengisap lidahnya yang kembali dimasukkan ke mulutnya, dan membelai rongga di antara kedua bibir Steve dengan lidahnya.
"Oh, Tuhan, Laura Jane." Steve mendekap kepala gadis itu di bahunya untuk menghentikan ciuman Laura Jane yang penuh gairah, agar ia bisa bernapas kembali dan akal sehatnya bekerja. Kejantanannya mengeras dan menyentak-nyentak di balik celananya. Setiap bagian tubuhnya yang tersentuh kulit Laura Jane seperti panas terbakar. Steve berencana mengendalikan hasratnya dengan membelai payudara Laura Jane. Namun dada yang penuh lagi lembut di telapak tangannya itu ternyata malah membuatnya makin meng-inginkan Laura Jane, bukan melulu karena de-sakan gairah tetapi berkat pertolongan yang di-berikan gadis itu.
"Aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku," kata Laura Jane. Tangannya mengelus dada dan perut Steve.
Tanpa kegembiraan sedikit pun Steve tertawa. Hasratnya bergejolak. "Aku pun demikian."
"Jantungku berdetak cepat." Diambilnya ta-ngan Steve, lalu ditekankannya ke dada kirinya. Tangan Steve menyentuh bagian lunak itu dengan lembut. Ia mengertakkan gigi. "Begitu pun jantungku."
"Apakah begini rasanya kalau orang bercinta?" bisik Laura Jane, bertanya.
Steve tidak mampu menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan anggukan.
"Kita tidak bisa bercinta karena kita belum menikah, bukan?"
Steve mengerang dan mendekap Laura Jane erat-erat. "Ya, Sayang, tidak boleh. Kita tidak boleh melakukannya. Tidak fair buat dirimu."
Tidak fair juga buat dirinya. Bila ia mulai melakukannya, Steve yakin ia akan mengingin-kan hal itu setiap hari sepanjang hidupnya.
Laura Jane yang kini duduk, meletakkan ta-ngannya di pipi Steve. "Kalau begitu, Steve," katanya dengan cara berpikir sederhana, "sebaik-nya kita menikah."
Segerombolan orang berkumpul di pekarangan The Retreat. Hari itu cuaca mendung. Awan kelabu pekat menutupi seluruh bumi. Hujan belum turun. Andai hujan turun, tentu akan disambut gembira karena cuaca takkan lembap lagi.
Hari ini hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti. Dua kali Granger Hopkins mengatur waktu untuk pembacaan surat wasiat Roscoe. Sudah dua kali tertunda. Pada kesempatan per-tama, Rink tanpa diduga dipanggil pulang ke Atlanta untuk mengurus masalah perusahaan pe-nerbangan Air Dixie. Yang kedua, Granger yang minta ditunda. Karena ada kliennya yang lain yang lebih membutuhkan pertolongannya.
Diam-diam Caroline gembira dengan penun-daan-penundaaan tersebut. Ia butuh waktu be-berapa minggu untuk mencari tempat tinggal, rumah yang lebih kecil tetapi cantik, rumah yang jauh dari kora tetapi tidak terlalu terpencil untuk perempuan yang tinggal sendirian. Namun, sampai saat ini ia merasa tidak punya semangat untuk memulai pencariannya. Pekerjaan di pe-mintalan dijadikannya alasan.
Mereka memintal kapas lebih banyak daripada sebelumnya. Ia dan Rink selalu ke pemintalan dini hari dan pulang ke rumah setelah malam. Panen kapas musim ini hampir sudah dipintal semua, digulung dan siap dibawa ke gudang untuk dijual ke beberapa pedagang. Pesanan Delta Mills sudah diterbangkan ke Jackson seperti yang dijanjikan Rink.
Mereka berdua sama-sama merasakan kepuasan yang amat sangat, tetapi juga perasaan kehilangan yang tak terucapkan dengan kata-kata. Kalau bukan tuntutan pekerjaan di pemintalan, mereka tak punya alasan untuk menghabiskan waktu bersama. Sejak kejadian malam itu, di ayunan, tak pernah ada kesempatan buat mereka untuk ber-mesraan; tetapi hasrat mereka tetap hidup, tetap menggelora, tetap memancar di antara mereka.
Granger batuk-batuk sambil menutup mulut dengan tangan untuk menarik perhatian mereka. "Kurasa, kita sudah siap." Ia duduk di samping meja kecil, tempat ia meletakkan amplop manila.
Laura Jane dan Rink duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam penuh kasih.
Caroline duduk di kursi sebelah kiri. Haney, yang, juga diundang,, duduk di sebelah kanan mereka, agak di belakang.
Granger mengambil kacamata berkerangka me-tal dari saku kemejanya dan meletakkannya di hidungnya yang besar. Dengan hati-hati ia mem-buka amplop, mengeluarkan dokumen yang ber-halaman-halaman dan meluruskan dokumen yang kaku itu. Ia mulai membacakan isinya.
Roscoe tidak suka menyumbang. Ia mengomel tiap kali melihat istrinya, Marlene, menyumbang-kan uangnya untuk kegiatan amal. Bila ia me-nyumbang, sumbangan yang dilakukannya bukan dilakukan atas dasar kemurahan hati, tetapi lebih untuk menghindari pajak. Dalam surat wasiatnya, anehnya, Roscoe mewariskan sejumlah uang ke-pada gereja, sebagai anggota gereja yang tidak setia, dan kepada berbagai komunitas sosial lain-nya.
Granger berhenti sejenak, menuang air ke gelas dari teko yang disediakan di meja oleh Haney untuknya, meneguknya, lalu melanjutkan. Ia membaca dengan suara tanpa emosi, tetapi dengan sikap berat hati. Setelah seluruh isi surat wasiat dibacakan, jelaslah apa sebabnya ia mem-bacakan surat wasiat tersebut dengan sikap demi-kian. Setelah selesai membacakan, ia melipat kertas-kertas itu lalu memasukkannya kembali ke amplop. Ia melepas kacamatanya dan me-masukkannya kembali ke saku kemeja.
Ketiga orang lainnya di dalam ruangan itu diam tak bergerak. Bahkan Laura Jane, yang tidak memahami isi surat wasiat ayahnya s-penuhnya, mengerti isi surat wasiat yang sangat tidak fair itu.
"Ia tidak mewariskan apa pun untuk Rink," kata Laura Jane kepada Granger, tetapi matanya perlahan menyapu ruangan sampai akhirnya ter-tuju pada saudara laki-lakinya, yang wajahnya tampak seperti terbuat dari batu... atau es.
"Bajingan tua brengsek," maki Haney sambil menarik napas ketika meninggalkan ruangan de-ngan gusar. Ia menolak uang yang diwariskan untuknya sebagai imbalan "bertahun-tahun meng-abdikan diri merawat Laura Jane".
Perlahan Caroline bangkit dari duduk dan dengan ragu-ragu melangkah ke arah orang yang seharusnya menjadi ahli waris. "Rink, aku ma—" Rink mendongak seketika, matanya nanar me-natap Caroline, menghentikan kata-kata Caroline sebelum keluar dari mulutnya. Rink bangkit dari kursi dengan gaya anggun seperti macan tutul, tapi juga sekaligus memancarkan kebencian di air mukanya. Ia meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun. Dengan perasaan sangat me-nyesal Caroline memandanginya. Laura Jane de-ngan gugup mempermainkan saputangan dengan jemarinya.
Granger mengikuti Rink dan berhasil menge-jarnya di halaman. "Rink, maafkan aku." Ia menyambar lengan kemeja Rink dan berhasil menghentikan langkahnya keluar dari rumah. "Aku tidak suka membacakan isi surat wasiat itu. Aku sudah membujuk Roscoe agar memper-timbangkannya kembali."
"Kau lebih tahu apa yang terjadi, selamatkan saja dirimu," jawab Rink ketus.
"Aku sudah membujuk ibumu untuk memper-tahankan rumah ini dan pemintalan atas nama-nya. Ibumu menandatangani surat wasiat jauh sebelum ia meningggal, bahwa ia mewariskan rumah itu kepada Roscoe, bila ia meninggal dunia. Waktu itu aku sudah berpikir itu bukan gagasan yang baik. Tentu saja, sekarang...."
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada orang yang tidak berdarah Winston memiliki The Retreat. Rumah itu sekarang menjadi milik keluarga Dawson." Nada bicaranya pedas lagi tajam ketika menyebut nama Dawson.
"Bila kau mengira Caroline memengaruhi keputusan Roscoe, kau keliru."
"Begitukah?"
"Ya," jawab si pengacara. "Caroline sama sekali tidak peduli soal rumah itu, sebagaimana sikap-nya ketika mendapatkan beasiswa."
Rink memutar kepala seketika. "Apa yang kautahu tentang hal itu?"
"Aku tahu," jawab Granger sambil merendah-kan suara. "Sama seperti aku tahu segala yang dilakukannya terhadap Caroline secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak mengerti sikapnya. Aku mengira ia seperti bandot yang suka daun muda, kecuali... yah, ia melakukan itu dengan perem-puan lain." Ia menatap. Rink dalam-dalam. "Baru belakangan aku tahu. Baru belakangan. Bertahun-tahun lamanya ia memperalat Caroline untuk menarikmu pulang, bukan?"
Rink tidak menjawab. Jelas, si pengacara tahu segala yang terjadi, hanya satu potongan penting yang kurang. Ia tidak tahu apa yang pernah terjadi antara Rink dan Caroline bertahun-tahun sebelumnya. "Yah, bila itu yang ia inginkan sebelum ia meninggal, sudah terkabul. Karena ia sangat yakin berhasil mendapatkan aku kali ini."
Ia pergi, membiarkan pintu di belakangnya terbanting.
Dari kamar tamu, Caroline melihatnya pergi. Ia sudah mendapatkan apa yang selalu didamba-kannya. The Retreat. Tetapi apa imbalannya? Pria yang dicintainya.
"Caroline, apa yang bisa kulakukan dengan pemintalan kapas itu?" tanya Laura Jane bingung ketika muncul di belakang ibu tirinya. "Aku hanya pernah ke sana beberapa kali dalam hidupku."
Perasaan iba melihat perempuan muda yang bingung itu mengalihkan kepedihan yang me-landa Caroline. Ia memeluk Laura Jane. "Kau jangan terlalu mengkhawatirkan pemintalan kapas itu. Ayahmu hanya mewarisimu keumungan yang didapat dari pabrik."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku dapat gaji tahunan untuk mengawasi pemintalan itu bagimu. Granger akan memberi-tahu kita berdua dan mengawasi segalanya. Tak usah cemas. Semuanya akan berjalan sebagaimana dulu."
"Kau akan tinggal di sini, kan? Kau tidak akan pergi?"
"Kau dengar apa yang dibacakan Granger. Daddy memberikan The Retreat ini padaku." Ia meletakkan pipinya ke rambut Laura Jane dan membiarkan rambut itu mengisap air mata yang menitik jatuh dari matanya. Caroline tidak bisa dikelabui. Keputusan Roscoe bukan atas dasar kebajikan. Roscoe tahu, dengan memberikan The Retreat kepadanya, ia yakln akan membuat Rink sangat membencinya. Ia kini memang menjadi pemilik rumah ibu Rink. Andai ada sesuatu yang dicintai Rink, itu adalah The Retreat.
"Kau tetap di sini, tetapi Rink akan pergi," kata Laura Jane sedih.
"Ya, Rink tidak akan tinggal di sini." Kemudian Caroline menyuruh gadis itu menemui Haney, supaya ia bisa menangis sendirian.
"Apa yang kaulakukan?"
"Menunggumu."
"Aku mendapat kehormatan itu?"
"Kurasa kita harus bicara."
"Jangan pura-pura bodoh, Rink."
"Bodoh?" ulang Rink, alis matanya yang hitam berkerut. "Kini kau menjadi nyonya rumah, yang sejak dulu kaudambakan."
Cahaya lampu di teras itu remang-remang. Hari sudah larut malam. Karena ia tidak pulang untuk makan malam, Caroline tidak yakin Rink akan pulang. Kecuali demi Laura Jane. Ia tidak akan meninggalkan rumah sebelum berpamitan dengan adiknya. Oleh sebab itu ia menunggu sampai mendengar deru mobil Rink memasuki pekarangan rumah. Cepat-cepat ia turun untuk menemuinya begitu pria itu masuk lewat pintu depan. Ia berdiri di anak tangga kedua. Rink di anak tangga pertama. Rink menatapnya dengan sorot mata menantang.
"Aku tidak menyalahkanmu bila kau marah." "Terima kasih. Aku senang mendapat restumu." "Rink, jangan begitu." "Jangan begitu apa?"
"Jangan salahkan aku gara-gara surat wasiat Roscoe! Aku tak tahu-menahu soal itu. Aku sama bingungnya denganmu. Mengapa kau tidak menentangnya?"
"Membuat Roscoe dan seluruh- penduduk kota puas karena tahu betapa hal itu merisaukan aku? Tidak, terima kasih."
Roscoe sudah matfl. Begitu yang ingin diteriak-kan Caroline. Kapan perang antara ayah dan anak ini akan berakhir? Dengan berusaha se-tenang mungkin, Caroline berkata, "Tak peduli apa isi lembar surat wasiat itu, The Retreat tetap milikmu, Rink. Selamanya akan menjadi milikmu. Kau bisa tinggal di sini seumur hidupmu bila mau."
Rink tertawa, tetapi bukan tawa gembira. "Isi surat wasiaj itu menetapkan hanya Laura Jane yang bisa menempati rumah ini selama hidupnya, bukan aku. Kemurahan hatimu sungguh terpuji, Mom," kata Rink sambil membungkukkan badan sampai pinggang.
Caroline tersentak mendengar kata-kata Rink yang menyakitkan, tetapi ia tetap mengangkat dagu. "Aku mengerti, kau ingin menyakitiku. Baiklah. Andai hal itu membuat perasaanmu lebih enak, silakan. Silakan panggil aku dengan sebutan menjijikkan sekalipun."
Secepat kilat tangan Rink terjulur, menangkap ikat pinggang yang melilit pinggang Caroline dan menariknya ke tubuhnya. Tindakan itu membuat napas keduanya memburu. Dililitkan-nya ikat pingang itu di tinjunya, menyebabkan tangannya bersentuhan dengan perut Caroline. Rahangnya kaku ketika ia mengertakkan gigi. Dipejamkannya matanya rapat-rapat.
Dalam waktu sekejap, setarikan napas, Rink meletakkan kepalanya di dada Caroline dan me-rintih. Kemudian ia melepaskan Caroline sambil memaki-maki.
"Maafkan aku, Caroline, maafkan," katanya sambil menarik napas. "Ya, aku marah besar. Bukan padamu. Padanya. Sialnya, tak ada cara untuk menghidupkannya kembali. Ia sudah mati. Aku tidak kuasa melawan bajingan itu. Aku tak punya cara untuk memuntahkan kemarahan da-lam diriku."
Dipukulkannya tinjunya pada pegangan tangga yang terbuat dari kayu ek. Secara naluriah, Caroline mendekat untuk menenangkannya tetapi ia menarik tangannya kembali sebelum menyen-tuhnya. Rink bisa salah sangka, mengira ung-kapan cintanya sebagai sikap iba dan akan sangat membencinya.
"Ke mana saja kau tadi?" tanya Caroline lembut.
Rlnk menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya mengembang dan kancing bajunya ter-buka, menampakkan bulu dadanya yang ikal lagi lebat. "Bawa mobil. Keliling-keliling kota." Rink menatap Caroline. "Ini rumahku, Caroline. Lepas dari ketidaksempurnaannya, aku suka kota ini. Aku tidak bisa mengingkari cintaku pada kota ini meski penduduknya punya kekurangan, sebagaimana aku tidak bisa mengurangi cintaku pada Laura Jane karena ia punya kekurangan. Aku selalu merindukan pulang lagi ketika aku harus pergi meninggalkannya."
"Jadi, kau mau pergi?"
"Besok pagi."
Seperti tertusuk pisau tepat di jantung, Caro-line memegangi dadanya. Wajahnya muram. Begitu cepat! Rink akan pergi dan kali ini ia takkan pernah kembali lagi. Sekarang ia bisa meminta Laura Jane menemuinya bila ingin bertemu dengannya. "Rink, ia itu monster ma-cam apa sih? Manusia macam apa dia itu, sampai tidak mewariskan apa pun kepada putranya, kepada dirimu?"
Rink melihat air mata dan kepedihan di wajah Caroline dan tahu itu ditujukan untuk dirinya, untuk segala yang tak pernah ada. Betapa ingin Rink memeluknya. Ingin ia membenamkan kepalanya di Caroline dan mencium aroma tu-buhnya. Ingin ia menekankan bibirnya di kulir Caroline. Betapa ingin ia dihibur Caroline. Ingin ia sejenak melupakan kenangan bercinta dengan Caroline yang pernah dialaminya. Pada saat se-perti ini, ia hampir tak mampu menahan ke-inginan meminta hal itu dari Caroline. Tetapi ia ingat kata-kata yang dimaksudkan untuk diingat-nya.
Kau tak bisa lagi memiliki perempuan itu sekarang, Rink. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Winston takkan merelakan dirimu memiliki Caroline. Karena aku sudah terlebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Caroline istri-ku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali.
"Ia meninggali aku warisan, Caroline," kata Rink kasar. "Warisan yang amat banyak." Rink melewati Caroline dan naik ke lantai dua. Perlahan Caroline mengikutinya dan masuk ke kamar tidurnya. Ia melepas mantelnya, berbaring di ranjang, membayangkan dirinya takkan pernah tenang.
Tetapi ketika terdengar dering telepon beberapa saat kemudian, ia gembira dan bangun dari tidur untuk menerima telepon dan menempel-kannya di telinga. "Halo."
Begitu mendengar suara di telepon, Caroline langsung- meletakkan telepon dan lari ke pintu kamar, bahkan tanpa memakai mantel luarnya. Kakinya yang telanjang seperti terbang melintasi lorong berlantai kayu yang gelap itu. Ia me-nerobos masuk ke kamar Rink, langsung men-dekati ranjangnya. Tangannya langsung mendarat di punggung Rink yang tanpa baju. "Rink, Rink, bangun."
Rink berbalik dan memandang Caroline de-ngan mata tak percaya. Mata Caroline mem-belalak, rambutnya acak-acakan, dadanya turun-naik, payudaranya hampir tumpah ke luar dari gaun tidurnya. "Apa....?"
"Pemintalan terbakar!"
Kaki Rink yang telanjang langsung turun ke lantai berbarengan, hampir menubruk Caroline. Tangannya menyambar celana jins yang terlipat di kursi. "Dari mana kau tahu?"
"Barnes yang menelepon."
"Parah?”
"Ia belum tahu."
"Bagaimana pemadam kebakaran?"
"Sudah dihubungi."
"Ada apa ribut-ribut di sini?" Haney bertanya dari ambang pintu sambil mengikat tali mantelnya di pinggang. "Kedengarannya seperti orang yang lagi main basket dan...."
"Pemintalan terbakar."
"Oh, Tuhan!"
Caroline meninggalkan kamar Rink sambil lari. Rink hampir siap berpakaian, Caroline hen-dak pergi ke pabrik bersamanya. Ia memakai baju yang diambilnya, kemeja tua dan celana selutut dari bahan denim. Kakinya hanya mengenakan sepatu sandal." Bukan pakaian yang cocok untuk melihat tempat yang kebakaran, tetapi ia sudah mendengar langkah kaki Rink menuruni anak tangga. Cepat-cepat ia lari mengejarnya.
"Rink, tunggu!"
"Kau di sini saja," teriak Rink sambil lari ke pintu depan.
"Tidak bisa." Caroline sudah berada di belakang Rink.
"Ada apa?" Laura Jane yang keliharan seperti boneka berpipi kemerahan, memakai baju tidur, dan membelalak, menuruni anak tangga.
"Pemintalan terbakar, Rink dan Caroline akan pergi ke sana," Haney memberi penjelasan.
'Pemintalan kapas terbakar?" ulang Laura Jane.
Sumpah serapah yang keluar dari mulut Rink membuat telinga siapa pun yang mendengar merah, ketika ia berusaha menghidupkan mesin mobilnya. Haney dan Laura Jane berdiri di teras, tangan mereka bergandengan, sementara Caroline meminta Rink membukakan pintu mobil.
"Kau tak usah ke sana!" teriak Rink.
"Kalau kau tak membukakan pintu ini, aku akan naik mobilku, sehingga kau takkan tahu aku nanti berada di mana."
Kata-kata kotor keluar dari mulut Rink, tetapi pintu mobil dibukanya juga, lalu Caroline naik.
Steve mendengar suara ribut-ribut itu. Ia ber-jalan memasuki halaman dengan langkahnya yang terpincang-pincang. Ia hanya mengenakan T-shirt. "Ada apa?"
"Kebakaran di pemintalan," jawab Caroline.
"Aku akan membantu."
"Jangan, Steve!" cegah Laura Jane.
"Sreve, kau tinggal di rumah bersama Laura Jane dan Haney," kata Caroline lewat jendela mobil.
"Benar. Kau di sini saja," ujar Rink pendek. Mobil mulai bergerak, tetapi Steve masih me-megangi pintu mobil dan Rink tidak bisa mem-percepat lajunya.
Sambil menatap mata Rink dengan sorot tulus, ia berkata," Kau butuh pertolonganku lebih dari-pada mereka. Aku ikut."
"Steve!" teriak Laura Jane, langsung lari men-dekati Steve, menyelipkan tangannya di ping-gang Steve. "Jangan pergi. Aku mengkhawatirkanmu.
"Hei," jawab Steve, membuat Laura Jane mengangkat kepalanya, "aku berharap kau bisa menenangkan Haney dan menyiapkan sarapan pagi untuk kami waktu kami kembali. Oke?"
Mata Laura Jane berbinar-binar memandang Steve. "Baiklah, Steve. Hati-hati."
"Pasti." Steve cepat-cepat mencium bibir Laura Jane dengan lembut, lalu mendorongnya sebelum masuk ke mobil, duduk di sebelah Caroline.
Sejenak Rink menatap laki-laki itu dengan pandangan nanar, kemudian ia menekan pedal gas, dan dengan suara mencicit mobil melaju cepat.
Mereka lega. Kebakaran tidak terlalu besar, hanya satu bagian bangunan yang terbakar. Un-tung saja Barnes bertindak cepat, mobil pemadam kebakaran pun sudah ada di sana ketika Rink tiba.
Tanpa memedulikan apa pun, Caroline lari ke ruang kerjanya untuk memeriksa buku-buku besar yang tersimpan di sana. Rink segera mengejarnya dan menyambar pinggangnya, menariknya ke luar. Caroline meronta-ronta. Setelah agak tenang, Rink memegang bahu Caroline dan mengguncang-guncangnya.
"Jangan pernah lakukan hal tolol seperti itu lagi. Kau membuat aku ketakutan setengah mati." Melihat air muka Rink yang menakutkan, Caroline tidak berani membantah sepatah kata pun.
Banyak hal yang harus dilakukan. Rink mengawasi para pekerja yang memindahkan bal-bal kapas yang siap dikirim. Steve, meskipun kakinya pincang, bekerja lebih keras daripada siapa pun. Caroline menghalau orang-orang menjauh. Ia harus merasa yakin tak seorang pun ada di dalam bangunan itu. Dalam waktu dua jam, api bisa dipadamkan.
Caroline dan Rink dipanggil kepala pemadam kebakaran dan Sheriff. "Tempat ini dibakar, Rink," kata kepala pemadam kebakaran. "Mereka membakarnya secara sengaja, tetapi kabel-kabel pemintalan yang sudah tua ikut mempercepat kebakaran."
Rink mengibaskan rambut. "Ya, aku tahu kondisinya sangat menyedihkan. Parahkah kerusakannya?'
"Tak seberapa bila kami tidak segera sampai di sini."
"Untung kapas-kapas itu banyak yang sudah dikemas dan dikirim ke gudang." Setelah tidak sibuk kerja lagi, Caroline baru menyadari ke-letihan yang menggayuti tubuhnya.
"Anda tahu siapa kira-kira yang membakar pabrik, Mrs. Lancaster?" tanya Sheriff kepada Caroline.
"Saya tahu." Barnes, mandor pabrik yang men-jawab. "Salah seorang pembakar pabrik menele-pon saya. Saya rasa ia sadar telah melakukan kejahatan dan merasa ketakutan pada menit ter-akhir. Ia tidak memberitahukan namanya, tetapi saya yakin ia salah seorang karyawan yang kau pecat beberapa minggu lalu, Rink."
Atas permintaan Sheriff, Rink menyebutkan nama para karyawan yang ia pecat. Petugas itu menggaruk-garuk telinga. "Memalukan sekali. Apa yang mereka kerjakan ketika bekerja pada Anda?"
"Mereka tidak bekerja padaku. Mereka bekerja pada ayahku," jawab Rink. Rink melirik Caroline yang keletihan. "Aku rasa cukup untuk saat ini, aku ingin mengantar Caroline pulang."
"Silakan. Kami akan menghubungi Anda bila ada yang perlu kami bicarakan."
Steve memilih duduk di bak truk mobil Rink sewaktu pulang. Ia tidur telentang dan tidak bergerak sampai Rink menghentikan mobil di pintu belakang rumah. Haney dan Laura Jane tergopoh-gopoh menemui mereka.
Rink lari ke pintu mobil satu lagi, membuka-kan pintu bagi Caroline. Caroline terpeleset dari mobil dan jatuh ke pelukan Rink. Steve bangun dari tidurnya tepat ketika Laura Jane mendekati-nya, langsung memeluknya, tanpa memedulikan jelaga dan debu hitam yang melekat di tubuh Steve.
"Kau tidak apa-apa, Steve?"
"Tentu, aku baik-baik saja."
"Hmmm, tidak kelihatan kau tidak apa-apa," sela Haney. "Ya, ampun, lihat tampang kalian bertiga. Belum pernah aku melihat muka seperti kalian. Sebaiknya kalian bertiga cepat mandi. Aku sudah menyediakan sarapan untuk kalian."
Mereka masuk rumah. Laura Jane melepaskan pelukannya pada Steve dengan enggan, Steve melangkah menuju tempat tinggalnya.
"Steve." Veteran itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Rink, yang berhenti di ambang pintu dan berkata kepada pria itu, "Terima kasih."
"Terima kasih kembali," jawab Steve. Mereka berpandangan beberapa saat, kemudian saling melempar senyum lebar.
Mata Laura Jane memancarkan sorot penuh kasih kepada dua laki-laki itu. Haney berusaha menahan air mata yang hampir menitik di pipinya. Caroline menggenggam tangan Rink.
Di loteng, di dalam kamarnya, Caroline me-lepaskan bajunya. Dibiarkannya pakaiannya ter-geletak di lantai kamar mandi. Ia ingin mem-buang baju-baju itu. Bau asap yang melekat di baju itu tidak bisa hilang meskipun dicuci. Ia hanya berharap bau asap tidak melekat di rambutnya.
Bau asap di rambut Caroline bisa dihilangkan dengan shampoo. Caroline berdiri di bawah ke-ran pancuran, membiarkan air hangat meng-hilangkan kotoran dan jelaga. Ketika akhirnya mematikan keran, Caroline merasa tubuhnya se-gar kembali. Kakinya menginjak tumpukan pakaiannya, tak berani mengangkatnya. Ia menggelung rambutnya dengan handuk. Ia baru saja selesai memakai mantel mandi ketika terdengar suara pintu kamarnya diketuk.
"Masuk."
Caroline mengira yang datang Haney atau Laura Jane. Bahwa yang muncul adalah Rink sungguh di luar dugaannya. Namun pria itulah yang kini melangkah masuk ke kamarnya, mem-bawa baki berisi secangkir kopi dan segelas jus jeruk.
"Haney bilang sebaiknya kau minum ini dulu sebelum turun ke ruang makan."
Pikiran Rink tak tertuju pada apa yang dikata-kannya. Kata-kata itu meluncur keluar dengan sendirinya dari mulutnya karena seluruh konsen-trasinya tertuju pada perempuan yang rambutnya digelung dengan handuk basah dan mengenakan mantel, menonjolkan lekuk liku tubuhnya. Kulit-nya begitu halus. Bau sabun beraroma bunga honeysuckle tertangkap penciumannya. Matanya besar dan berbinar-binar ketika menatap Rink. Suara Caroline agak tercekat ketika bicara.
"Terima kasih. Kopinya wangi sekali."
Caroline juga rupanya terkesima. Rambut Rink basah. Ia mengenakan celana jins belel model ketat yang pinggangnya rendah, menonjolkan kejantanannya. Dadanya yang bidang tertutup bulu hitam, ikal dan agak basah. Matanya ber-binar-binar ketika menatap Caroline.
Rink meletakkan baki di meja, tetapi tampak enggan meninggalkan kamar Caroline. Kemudian sulit mengatakan siapa yang bergerak lebih dulu. Apakah ia merentangkan tangan, seperti hendak memeluk Caroline? Atau Caroline yang melang-kah mendekati Rink lebih dulu? Mereka tidak ingat. Yang mereka tahu, tiba-tiba saja Caroline sudah berada dalam pelukan Rink dan Rink mendekapnya erat-erat.
Air mata bercucuran dari mata Caroline ketika memeluk Rink. Semua ketakutan, kecemasan beberapa jam lalu, tersalur lewat matanya. Rink menarik handuk pembungkus rambut yang me-nutupi kepala Caroline dan melemparkannya ke lantai. Tangannya menyibakkan rarnbut Caroline yang basah dan ia membenamkannya wajah Caroline ke dadanya yang hangat. Rink menunduk.
"Ada masalah yang belum kita selesaikan, ma-salah antara kau dan aku, Caroline."
Caroline mengangkat wajahnya yang ber-cucuran air mata, menatap Rink. Sambil terse-nyum ia berkata, "Ya, kita harus menyelesaikannya.
"Urusan itu sudah kedaluarsa," kata Rink tenang, membiarkan ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Caroline.
"Sudah melewati batas waktu."
Rink menjulurkan tangan ke belakang, menutup pintu.




Bab 11
SUARA pintu ditutup adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Tak ada lampu yang dinyalakan. Sinar matahari baru saja me-rangkak naik di ufuk timur, satu-satunya cahaya alam, menyelinap menembus tirai tipis kamar. Wangi bunga magnolia yang tumbuh di luar menerobos masuk.
Caroline memeluk Rink, bukan lagi pelukan gadis remaja, tetapi perempuan dewasa yang membutuhkan Rink, dan ingin memberikan selu-ruh dirinya kepada pria itu.
Rink merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya juga memancarkan gelombang energi seperti yang dirasakan Caroline ketika pertama kali mengenal Rink. Gelombang yang berdaya isap, membuat Caroline hendak men-dekat. Seperti yang dirasakannya saat ini. Karena ingin gelombang energi itu menguasai dirinya, sebagaimana menguasai Rink, Caroline mendekap Rink erat-erat, melingkarkan tangannya di ping-gang Rink yang ramping. Bulu dada Rink yang lebat menggelitik hidung Caroline. Di dada yang bidang itu, Caroline tersenyum.
Rink balas memeluk Caroline. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus pung-gung Caroline yang ramping. Tangan itu kemu-dian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Caroline yang penuh. Dipegangnya bokong itu dengan lembut, dielusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat.
Kejantanan Rink bereaksi. Keduanya merasa-kan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema.
"Caroline, Caroline," desah Rink sambil men-ciumi rambut Caroline yang basah, lalu menjauh-kan tubuh wanita itu agar bisa menunduk dan mencium bibir Caroline yang membuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Caroline membiarkan Rink mendomi-nasinya, membiarkan lidah Rink menyelinap ma-suk ke mulutnya. Itu menunjukkan kepemilikan Rink, yang tak disesalinya. Lidah pria itu dengan penuh cinta menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Caroline.
Seluruh pancaindra Caroline tergetar. Getaran yang merayap masuk ke dalam tubuhnya dengan halus. Kemudian mencapai puncaknya ketika Rink menjulurkan lidah makin jauh ke dalara mulutnya, berputar-putar makin cepat, sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya seperti me-layang-layang.
Sekujur tubuh Caroline bergetar. Rambut Rink tersangkut di antara jemarinya, ketika ia mem-belai bagian belakang kepala laki-laki tersebut. Harum sabun mandi Rink, cologne-nyz, aroma tubuhnya yang khas, memenuhi penciuman Caroline, memabukkannya. Ketika menggigit-gigit kecil bibir Rink, ia mengecap rasa mint pasta gigi yang dipakai Rink. Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan 'Rink membuat napas Caroline makin memburu dan percaya diri.
Caroline tahu, meskipun tidak sampai bercinta dengan Rink saat itu, ia merasakan dirinya seperti sudah menyatu dengannya. Senantiasa menyatu, dan akan selalu menyatu. Takdir telah menggaris-kan demikian. Sejak pertama kali mengenal Rink dua belas tahun lalu, jalan hidupnya sudah ditentukan.
Sambil mengangkat kepala, Rink meletakkan tangannya di pundak Caroline, menjauhkan diri dari Caroline beberapa inci. Mata Caroline yang sayu tampak berbinar-binar saat menatap mata Rink yang juga sayu memabukkan. Perlahan-lahan Rink membuka ritsleting celana jinsnya dan menurunkannya. Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Caroline, ia melemparkan celananya ke samping. Rink berdiri telanjang bulat di hadapan Caroline.
Mata Caroline beralih ke tubuh Rink. Andai ia pria, pasti ia akan iri hati melihat bentuk tubuh Rink. Tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang. Bulu ikal yang tumbuh lebat di dadanya mengusik Caroline untuk mempermainkannya. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekujur tubuhnya membentuk garis hitam seperti pita pemisah di bagian perutnya, membentuk lingkaran di seputar pusar, dan le-nyap di kerimbunan yang tumbuh di sekeliling kejantanan Rink.
Kejantanan yang kini mengeras. Air kehidupan bagai mengaliri jantung Caroline ketika ia mengamatinya. Sejenak ia memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang menyerang-nya. Ia merasa seperti mau pingsan. Desakan yang menggebu menyerang dirinya seperti men-cekiknya. Itulah gelora hasrat yang murni, dipicu perasaan cinta, sebagian alasan mengapa ia sangat mencintai Rink.
"Kau tidak apa-apa?"
Caroline membuka mata, melihat Rink ter-senyum padanya. Caroline tertawa malu-malu, bak gadis remaja "Ya, ya, Rink, aku tidak apa-apa. Hanya saja kau begitu tampan, dan aku begitu menginginkanmu."
Rink mengecup bibir Caroline dengan kelem-butan yang tulus. "Terima kasih untuk pujianmu. Kita lihat apa lagi yang bisa kita lakukan."
Rink mencari-cari tali pengikat mantel Caroline, menggamitnya dengan jari-jarinya. Ia menarik tali itu dan membuka ikatannya. Dengan gerakan perlahan tetapi lembut, diselipkannya tangannya ke balik kerah mantel mandi yang lebar itu lalu diturunkannya.
"Ya, ampun, betapa cantiknya dirimu." Suara gumam Rink tak terdengar lagi ketika ia melihat payudara Caroline. Seakan tidak percaya pada penglihatannya bahwa ada payudara sesempurna itu, cepat-cepat ia meloloskan mantel itu dari tubuh Caroline dan membiarkan matanya me-mandangi tubuh Caroline yang kini tanpa sehelai benang pun dengan kagum. Sorot matanya me-mancarkan gairah yang meluap-luap, dan seperti hendak menelannya bulat-bulat.
Kemudian ujung jarinya, perlahan, sangat per-lahan, Caroline hampir tidak merasakan sen-tuhannya, mengarah ke tempat yang sama de-ngan arah matanya. Menatap payudara Caroline yang penuh, perut dan pinggulnya yang mulus. "Oh, Tuhan. Kau cantik sekali. Begitu cantik dan menawan."
Caroline merasakan ketulusan kata-kata Rink yang menggetarkan tubuhnya saat pria itu me-nundukkan wajah ke dekat payudaranya. Dengan penuh kekaguman Rink menggenggam salah satu dan memijatnya. Caroline mengangkat tangan dan meletakkannya di rambut Rink. Ia mencon-dongkan tubuh ke dekat Rink, agak terhuyung-huyung.
Rink mencium Caroline. Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak payudaranya. Rink memandanginya, tersenyum, kemudian mencondongkan badan dan menciuminya. Berulang-ulang.
"Rink," ujar Caroline, lirih memanggil nama-nya. Pria itu tidak memedulikannya.
Rink terus beraksi makin panas. Caroline men-jerit, tersentak kaget, dan melengkungkan pung-gungnya sehingga Rink makin leluasa bergerak. Rink merasakan pipinya panas ketika makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Caroline. Rink menciumi payudara Caroline yang satu lagi, membuat Caroline mengerang, mendesah, dan menjambak rambutnya.
"Sayangku." Rink membenamkan wajahnya di antara payudara Caroline, sudah lama ia ingin sekali melakukannya. Sambil merentangkan tangan di punggung Caroline, ia menarik tubuh wanita itu serapat mungkin ke tubuhnya. Di-dekapnya erat-erat beberapa saat, kemudian di-tegakkannya tubuhnya. Dengan sorot mata penuh cinta ia menatap wajah wanita tersebut. Ia mengangkat salah satu tangan Caroline, men-dekatkannya ke bibir, menciumnya, dan berkata, "Sentuh aku, please__"
Rink menuntun tangan Caroline ke bagian tubuhnya yang seakan memiliki nyawa sendiri itu. Ketika Rink menarik tangannya sendiri, tangan Caroline tinggal di bagian tubuhnya ter-sebut. Dengan napas tercekat karena takut me-nyakiti, Caroline menggenggamnya.
"Oh, Tuhan." Sambil membisikkan nama Caroline dan kata-kata cinta, Rink menggenggam tangan kekasihnya itu dan menuntunnya melaku-kan hal yang memberikan kenikmatan padanya sampai ia tak kuasa lagi menahan perasaan itu lebih lama. Napasnya yang memburu menerpa telinga Caroline ketika ia mengerang, "Caroline, Sayang... cukup, hentikan."
Sambil memegang kedua pipi Caroline, Rink menciumi wanita itu dengan penuh gairah, lidah-nya bermain-main di dalam mulut Caroline. Tanpa menghentikan ciumannya, Rink merebah-kan Caroline di ranjang, lalu menindihnya. Caroline siap menyambutnya, dan Rink menyu-supkan pinggulnya di antara paha Caroline yang membuka. Perut Rink bergesekan dengan perut wanita itu, dadanya bergesekan dengan payudara Caroline.
Rink mendaratkan hujan ciuman pada teng-gorokan dan leher Caroline dengan penuh gairah. "Kalau harus menunggu lebih lama...."
"Jangan tunggu lagi," sahut Caroline, sambil melengkungkan tubuh ke arah Rink.
Karena butuh waktu dua belas tahun untuk mengalami hal seperti ini, Rink tidak mau ter-buru-buru mewujudkan keinginannya. Tangannya meluncur di atas payudara wanita itu. Puncaknya menunggu belaian lembut jari-jarinya. Rink me-nyingkirkan jari-jarinya dan menggantinya dengan mulut, menciumi payudara Caroline sampai wa-nita itu nyaris lupa diri.
Rink menurunkan tubuhnya. Tangannya mem-belai perut Caroline, terus ke bawah, terkagum-kagum merasakan kehalusan kulitnya. Kemudian jari-jarinya tiba di delta yang putih lembut itu dan menikmatinya. Diletakkannya telapak ta-ngannya di situ dan dibiarkannya jari-jarinya bergerak di antara kedua paha Caroline.
Rink menjauh, memberi jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Caroline. Mereka saling menatap, mengamati perasaan mendalam yang terpancar di wajah masing-masing setiap kali kejantanan Rink menyentuh bagian paling intim Caroline itu. Tak kenal malu dan harga diri lagi, Caroline mengelus dada Rink dan mencengkeram bulu-bulu di dada itu.
"Rink, lakukan sekarang__"
Dengan sekujur tubuh tegang, Rink mengarah-kan dirinya memasuki pelabuhan hangat di tu-buh Caroline dan menurunkan tubuhnya sendiri. Ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya....
Tubuh Rink kaku dan matanya, mendadak terang, menatap tajam Caroline. Napas memburu membuat dadanya bergerak naik-turun dengan cepat ketika ia menumpukan badannya pada siku.
"Caroline." Caroline melihat bibir Rink me-nyebut namanya. Ia menyebutkannya dengan suara yang hampir tak terdengar saking takjub-nya. "Kau masih perawan__"
"Ya, ya!" pekik Caroline gembira. Ia memegangi leher Rink, mencegah pria itu mengang-kat tubuhnya. "Aku selalu milikmu, Rink. Hanya kau. Aku milikmu."
Rink terdiam sejenak, tapi kemudian sambil menggeram senang, kembali ia memeluk Caroline dan menindihnya di ranjang. Gerakan tubuhnya kali ini lembut tetapi mantap. Pemanasan pan-jang tadi membuat Caroline siap menerimanya. Ketika tubuhnya menyerah pada laki-laki itu, Caroline merasakan kesakitan sesaat. Jeritannya dibungkam bibir Rink. Keduanya mendesah se-rentak karena emosi luar biasa ketika akhirnya Rink menyatu seutuhnya dengannya.
Mereka melebur. Tubuh Caroline mendekap-nya. Lama keduanya tak bergerak. Mereka me-nikmati perasaan menyatu, keintiman dua anak manusia, meleburnya mereka karena cinta, hasrat, dan penderitaan.
"Aku tak percaya. Betapa nikmatnya. Oh, Caroline, jangan sampai ini hanya sekadar mimpi."
"Ini bukan mimpi, Rink," bisik Caroline. "Aku bisa merasakan tubuhmu menyatu dengan tubuhku."
Sambil mengangkat kepala, Rink tersenyum. Dikecupnya bibir Caroline. "Betulkah?" bisik Rink, dan memastikan Caroline bisa merasakan-nya.
Caroline menengadah sambil menggeram pe-lan. "Ya, ya."
Rink mulai bergerak. Karena ia memikirkan Caroline, gerakannya tak terlalu dalam dan pelan, tetapi kenikmatannya tidak kurang, menarik Caroline ke dunia yang menghanyutkan. "Apakah aku menyakitimu?" "Tidak, Sayang, tidak."
"Caroline... Caroline__" Rink tak lagi mampu
menahan gairahnya yang terus meninggi. Ketika mencapai puncaknya, Rink merasakan kenik-matan paling dahsyat yang pernah dirasakannya selama hidupnya. Kenikmatan itu terus mem-buncah bagai takkan berakhir. Dan ketika akhir-nya kenikmatan itu berlalu, Rink terkulai di pelukan cinta Caroline dalam keadaan lelah, puas, dan bahagia.
"Lama sekali Rink dan Caroline turun," keluh Laura Jane. Ia khawatir sarapan yang disiapkan-nya bersama Haney menjadi dingin dan tak bisa dinikmati Steve lagi.
"Kalian sarapan saja dulu," saran Haney.
"Aku tak keberatan menunggu mereka," jawab
Steve.
"Jangan, kau sudah kelaparan. Aku tahu kau sudah lapar." Laura Jane menuangkan sesendok telur orak-arik ke piring Steve. "Berapa lembar ham yang kau mau?"
"Dua," jawab Steve.
"Tiga saja," ujar Laura Jane.
Haney meletakkan teko kopi di meja. "Aku akan naik, menyuruh mereka segera turun. Aku yakin mereka tertidur. Tetapi mereka perlu makan setelah begadang semalaman." Haney naik sambil mengoceh, · tetapi Steve dan Laura Jane tidak memedulikannya. Mereka asyik sendiri.
Dari anak tangga paling atas, Haney melirik pintu kamar Rink dengan perasaan ingin tahu. Pintu itu terbuka, tetapi ketika ia melongokkan kepala ke dalam, ia tidak melihat Rink di sana. Begitu pun di kamar mandi, tidak ada. Paling tidak, ia tidak menjawab ketika Haney me-manggilnya perlahan.
"Hmmm!" Haney mendengus, sambil me-mukulkan tangan ke paha. "Di mana kau ber-ada...?' Haney melirik kamar tidur Caroline. Pintunya tertutup rapat.
Haney menyipitkan mata. "Tadi aku menyu-ruh Rink naik membawa baki untuk Caroline. Sekarang, baki itu tidak ada, ia pun lenyap. Pintu kamar Caroline tertutup, aku yakin mereka berduaan."
Haney berbalik ke arah tangga lagi. "Hmmm, jelas aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, tetapi aku tidak mendengar me-reka bercakap-cakap." Ketika sampai di anak tangga paling bawah, Haney mendongakkan ke-pala menatap ke atas, mengangguk gembira. "Memang lebih pantas ia dengan Rink daripada menikah dengan ayahnya, si bandot tua itu," gumam Haney sambil melangkah balik ke dapur.
"Mereka akan turun?" tanya Laura Jane.
"Tidak. Sebentar lagi barangkali." Haney ber-balik, hendak mencuci piring.
"Mengapa tidak sekarang?"
"Mereka lagi tidur, itulah sebabnya."
"Tetapi mereka kan harus mengisi perut dulu. Kau yang bilang begitu. Biar aku yang mem-bangunkan mereka dan menyuruh mereka...."
"Kau duduk saja," perintah Haney, membalik-kan tubuh dari bak cucian dan membersihkan air sabun dari jarinya. "Mereka sangat letih. Sudahlah, kau urus saja urusanmu sendiri, urus pria kelaparan yang duduk bersamamu itu."
Tersinggung mendengar suara Haney yang tegas, Laura Jane perlahan kembali ke tempat duduknya. Steve menangkap sorot mata Haney tapi tidak memahaminya. Sekilas Steve melempar pandang ke langit-langit. Haney memerhatikan Steve ketika perlahan-lahan pria itu memahami situasi yang terjadi.
Mata Steve berbinar jail. "Laura Jane, bagai-mana kalau sesudah sarapan kau ikut aku ke kandang kuda? Sudah beberapa hari kau tidak menengok anak kudanya."
Laura Jane memandang Steve, kegembiraannya kembali. "Tetapi kurasa kau butuh tidur pagi lni.
"Tidak," jawab Steve santai. "Aku tidak letih. Bila Haney mengizinkan, aku ingin kau bersama-ku sepagian ini, membantuku."
"Oh, Steve," ujar Laura Jane, sambil mengepal-kan tangan. "Aku mau."
Haney bertukar pandang dengan Steve, dan Steve mengedipkan mata.
"Mengapa kau tidak berterus terang padaku?" tanya Rink sambil menjumput rambut Caroline dan mengusapkannya di bibir. Rink berbaring telentang. Caroline menelungkup, bersandar di tubuh Rink.
Caroline menarik beberapa helai rambut di dada Rink dan mempermainkannya dengan jari-jarinya. "Karena aku ingin tahu seberapa dalam cintamu padaku. Bila aku memberitahumu ayah-mu dan aku tak pernah berhubungan intim, kau akan percaya?"
"Bisa saja. Aku bisa tahu cukup cepat."
Caroline menggeleng. "Aku tidak ingin hubungan intim pertama kita hanya sekadar ujian."
Mata Rink menatap wajah Caroline dengan penuh kasih sayang. "Aku paham maksudmu. Tetapi bagaimana bila aku memercayaimu dengan seluruh jiwa ragaku?"
"Kalau begitu tak ada yang merintangimu mendatangiku, Rink." Caroline menyentuh dada Rink dan melihatnya bereaksi. "Tetapi aku tidak akan pernah tahu seberapa dalam cintamu pada-ku. Karena kau yang datang padaku, meskipun yakin aku sudah ternoda tetapi kau tetap mencintaiku, aku tahu kau bersedia mengorbankan keangkuhanmu demi cintamu."
Sambil menarik tubuh Caroline, Rink men-ciuminya. Ketika akhirnya menghentikan ciuman-nya, ia berkata, "Aku bukan hendak mendiskusi-kan masalah ini sekarang, tetapi mengapa kau tidak pernah tidur dengan Roscoe? Jangan bilang ia begitu baik sehingga membiarkanmu tetap perawan."
"Tidak, aku tidak ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin kami." Caroline memejamkan mata dan tubuhnya gemetar. "Ia masuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalani-nya, karena aku masih mencintaimu." Caroline meletakkan tangan Rink ke pipinya, seperti orang linglung ia menggosok-gosokkan punggung jari-jari Rink ke pipinya. "Tetapi aku telah membuat kesepakatan dan berniat menjalaninya."
Caroline terdiam. Rink menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Caroline berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. "Apa yang terjadi kemudian, Caroline?"
"Ia menciumku beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Aku melihat hal-hal yang tak mungkin dapat kulihat sehari hari bila tidak tinggal bersamanya. Ia menelan sejumlah obat sakit perut, obat-obat seperti itulah.
"Aku sadar ketika ia tidak datang ke kamarku lagi, ia rupanya impoten dan itu akibat penyakit di perutnya. Tentu saja aku tahu pasti fakta itu sekarang. Kami tidak pernah membicarakannya. Egonya pasti hancur bila ia mencoba dan ter-nyata gagal. Kami hidup secara platonis."
Setelah diam sejenak, Rink bertanya, "Terpikir-kah kau untuk menceritakan semua itu padaku?"
"Maksudmu, supaya kita tidak membencinya? Entahlah, Rink. Aku sendiri menanyakannya pada diriku setiap hari. Mengapa aku tidak mengatakannya padamu dan mengakhirinya?" Caroline menelusuri hidung Rink dengan jari. "Aku juga punya harga diri. Aku ingin kau mencintaiku lebih daripada apa pun."
"Cinta sekali. Aku sangat menginginkanmu. Tetapi setiap kali aku membayangkan dirimu dan laki-laki itu, aku...."
"Ssst," ujar Caroline, menghentikan kata-kata Rink dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu. "Aku tahu. Aku tahu siksaan yang harus kautanggung."
"Kau tahu apa yang ia katakan padaku setelah kau meninggalkan kamar rumah sakit di hari ia meninggal?" Caroline menggeleng.
"Aku mengatakan padamu ia meninggalkan warisan. Inilah warisannya. Roscoe bilang aku takkan pernah bisa memilikimu karena harga diriku takkan membiarkan aku melakukan hal itu." Mata Rink penuh cinta menatap Caroline, dan bibimya bergerak, menyunggingkan senyum. "Ia keliru, bukan? la tidak mengira cintaku sedemikian besar padamu." Rink mengelus wajah Caroline. "Kemudian ia mengatakan aku harus selalu ingat kau sudah jadi istrinya, bahwa dialah yang memilikimu pertama kali."
Caroline menatap Rink, terkejut. "Maksudmu, ia dengan sengaja membuat kesan agar kau percaya bahwa...."
"Ya."
"Oh, sayangku." Caroline mencium pipi Rink dengan lembut dan menepiskan rambut yang jatuh di atas alisnya. "Kukira, kau hanya mengira-ngira, tidak kusangka ia benar-benar ingin kau memercayainya."
Rink tertawa sinis. "Ia kenal benar diriku. Hampir saja ia berhasil memisahkan kita." "Aku senang kita tidak berpisah." "Oh, Tuhan," gumam Rink, "begitu pun aku." Diputar-putarnya sejumput rambut Caroline. "Kalau kuingat detik-detik yang sangat menyiksa-ku itu. Kubayangkan dirimu bersama dia, hatiku sakit sekali. Ternyata, kau tetap orang yang sama." Rink menyentuh bibir Caroline. "Caro-line, kekasih yang kukenal di suatu musim panas di pinggir hutan. Tetap sama. Selalu sama." Rink menarik tubuh Caroline dan menciuminya sampai mereka berdua kehabisan napas. "Tetap sama, tapi tidak serupa."
Melihat air muka Rink yang melembut, Caroline menangkap kesan Rink menganggap pernikahannya dengan Roscoe sudah berakhir. "Tidak serupa? Bagaimana bisa?" tanya Caroline nakal, sambil menekuk lutut dan menjulurkan kaki ke udara. Dijulurkannya kakinya seperti penari balet. Rink memerhatikannya. Kaki itu indah sekali, ramping, panjang. Kuku kakinya dipoles cat kuku warna cokelat muda Rink membayangkan hal-hal yang erotik melihat ibu jari tersebut.
Rink menanggapi godaan Caroline. "Umpama-nya...." Rink menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Caroline. "Payudaramu." Ia memegang salah satunya dan meremasnya.
"Kenapa dengan payudaraku?"
"Lebih besar." Ia menggelitik puncaknya.
"Ada yang lain?"
"Kau lebih lembut, lebih berisi, lebih dewasa, tetapi sikapmu tetap malu-malu seperti gadis remaja. Kau seperti yang kukhayalkan selama bertahun-tahun. Bahkan lebih."
"Kau kecewa?"
Rink menelusuri tulang leher Caroline dengan lidah lalu menciumi lekuk payudaranya. "Tidak, oh, tidak." Rink melirik Caroline. Sorot matanya penuh penyesalan. "Tetapi aku takut kau beru-bah."
"Tidak akan pernah, Rink Lancaster," Caroline mencium alis Rink. "Tidak akan pernah."
"Tetapi kau tidak... kau tahu. Yang ditulis di majalah-majalah perempuan."
Tiga jari Caroline mempermainkan bibir Rink. "Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Aku sudah merasakan milikmu. Aku melihatnya, me-rasakannya di dalam tubuhku, tahu bagaimana rasanya ketika bersamamu. Aku ingin menyaksi-kan kau mencintaiku."
Tangan Rink erat mendekap tubuh Caroline. "Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu. Men-cintaimu. Tingkahku seperti bajingan beberapa minggu ini, mencemoohmu, menyakitimu. Se-makin aku mencintaimu, semakin buruk ke-lakuanku."
Sambil tertawa kecil, Caroline merebahkan kepala di dada Rink dan meletakkan tangannya di bagian bawah perut laki-laki itu. "Kau me-mang menyakitiku kadang-kadang. Tetapi aku tahu apa sebabnya. Dan aku memaafkanmu. Aku mencintaimu."
Rink memegang tangan Caroline dan me-nurunkannya. "Keberatan?"
Caroline menggenggam tubuh Rink. "Sama sekali tidak. Aku juga suka menyentuh tubuh-
mu.
Tangan Rink langsung ke dada Caroline dan mengelusnya. "Ayo tidur sebentar." "Kau ingin tidur?"
"Tidak juga. Tetapi aku ingin kau di sam-pingku ketika aku bangun."
Hari menjelang petang ketika mereka berdua turun. Sambil bergandengan, saling tersenyum, mereka tidak melihat Laura Jane dan Steve sam-pai tiba di teras rumah.
"Steve ingin bicara denganmu, Rink," Laura Jane memberitahu. Tingkah Laura Jane seperti gadis kecil yang tidak sabar hendak membuka kado ulang tahunnya. Matanya berbinar-binar. Ia kelihatan resah.
Rink menatapnya dulu, kemudian Steve, yang dengan gelisah memutar-mutar topi jeraminya. "Caroline dan aku sudah lapar sekali. Bisakah kita membicarakannya setelah makan siang?"
"Ya."
"Tidak." Mereka menjawab serentak.
Carojine, menangkap apa yang ada di benak Steve, menyela dengan diplomatis. "Aku yakin akan lebih baik bila kita bicara setelah makan siang." Sambil memandang mesra Rink, Caroline melepaskan gandengan tangannya dan mengham-piri Laura Jane. "Adakah Haney sudah menyiap-kannya?" Diajaknya gadis itu ke kamar makan. "Apa yang akan disampaikan Steve kepada Rink?" tanya Caroline lembut.
"Kami akan menikah," Laura Jane menjawab.
"Kalau begitu, kusarankan kita menunggunya sampai Rink mengisi perut." Caroline menggeng-gam tangan Laura Jane, memberi dukungan.
Selagi makan siang, Haney membawa telepon nirkabel ke ruang makan. "Dari Sheriff."
Sheriff menelepon hendak memberitahu me-reka sudah menangkap orang-orang yang mem-bakar pemintalan Lancaster Gin. Salah seorang di antaranya adalah yang menelepon Barnes dan memperingatkannya soal kebakaran. Ia mengaku sakit hati dan menghasut yang lain. "Tak ada gunanya mereka mengaku tidak bersalah. Aku tahu, kami sudah mendapat pengakuan resmi dari tiga orang lainnya menjelang makan malam."
"Terima kasih, Sheriff. Tetapi usahakan ke-luarga mereka tetap aman, terjamin makan, sewa, apa pun kebutuhan mereka selama beberapa bulan. Kirimkan tagihannya pada saya."
Rink meletakkan telepon dan menyampaikan berita itu kepada yang lain. Begitu acara makan selesai, meja langsung dibereskan, Laura Jane dengan gembira meminta semua orang ke ruang baca. "Ayo, Steve," katanya sambil menyenggol Steve.
Steve menelan ludah. "Rink, dengan restumu, aku ingin menikahi Laura Jane."
Tanpa menunjukkan perasaannya tentang per-mintaan itu, Rink duduk di kursi kulit di bela-kang meja lebar. Ia menyeruput es teh yang dibawanya dari ruang makan. "Dan bila aku tidak merestui?"
Mata Steve tidak menunjukkan keraguan se-dikit pun. "Aku akan tetap menikahinya."
Rink menatap Steve lama, suasana tegang. Tak satu pun mengalihkan pandangan. Akhirnya Rink berkata, "Ladies, maafkan, kami ingin bicara empat mata. Dan, Caroline, tolong tutup pintu itu.

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Naluri." Ia menepis ranting pohon cemara dan berjalan ke arah tempat terbuka. Caroline duduk di bawah pohon, sebuah buku tergeletak di pangkuannya. Ia belum selesai membacanya, matanya tertuju ke depan, melihat Rink muncul di antara pepohonan. Rink berjalan ke dekat pohon, meletakkan tangannya di batang pohon, menatap Caroline yang mendongakkan wajah. "Tidak tahukah kau, berbahaya bagimu berada di hutan sendirian?"
"Mengapa? Ini hutanku."
"Tetapi pemerkosa bisa muncul dan memper-kosamu."
"Itulah yang kumau."
Sambil tertawa, Rink duduk di sisinya dan memeluknya. Beberapa kali Rink mengecup wa-jah Caroline, menekankan bibirnya, menyiratkan kepemilikannya atas Caroline. Caroline membiar-kan pria itu melakukannya beberapa saat, baru kemudian mendorongnya. "Tunggu. Pertama, aku ingin tahu apa yang kaukatakan pada Steve."
"Kukatakan padanya, bila ia sekali saja menya-kiti Laura Jane, aku akan membunuhnya."
"Kau tidak boleh begitu!"
Rink mengangkat bahu dan tersenyum jail. "Yah, aku mengatakannya dengan baik-baik."
"Tetapi kau setuju mereka menikah?"
"Ya, aku setuju," jawab Rink.
Caroline mendekap Rink erat-erat. "Rink, aku bahagia sekali."
Rink agak menjauhkan diri, menatap Caroline. "Oya? Kau rasa itu yang terbaik untuk Laura aner
"Ya, aku yakin. Laura Jane sangat mencintai-nya. Dan kau tidak perlu khawatir Steve me-nyakitinya. Steve sangat memuja Laura Jane. Steve tak pernah menyinggung soal masa lalunya, tetapi aku yakin itu masa yang sangat tidak menyenangkan. Waktu perang, ia kehilangan kaki. Aku yakin sosok Laura Jane bak peri baginya. Steve hampir tak tahan untuk tidak menyentuhnya."
"Kelihatannya ia juga orang yang tulus," kata Rink. "Aku mengajukan syarat bahwa Laura Jane harus tetap tinggal di The Retreat. Aku tidak yakin Laura Jane bisa betah tinggal di rumah lain. Steve setuju, tetapi ia minta diberi tanggung jawab lebih. Ia tidak mau dianggap menikahi Laura Jane karena harta warisannya, dan ia hanya karyawan biasa."
"Itu yang aku harapkan darinya. Ia bekerja lebih keras dibandingkan yang lain, padahal ia cacat.
"Itu sudah karakternya. Ia bilang padaku, atau mungkin memperingatkan aku—itu kata yang lebih baik, bahwa pernikahan mereka tulus." Alisnya berkerut. "Menurutmu, Laura Jane bisa tidur dengan laki-laki?"
Caroline tertawa dan membenamkan hidung-nya ke leher Rink. "Aku malah punya kesan Laura Jane mengejar-ngejar Steve berbulan-bulan lamanya. Justru Steve yang mencoba menjauh demi kebaikannya."
"Tetapi apakah Laura Jane mengerti tanggung jawab yang bertalian dengan seks?"
"Rink." Sambil meletakkan tangan di pipi Rink dan meminta seluruh perhatiannya, Caro-line berkata, "Laura Jane dilahirkan dengan ke-kurangan dalam hal belajar. Tetapi emosi dan tubuhnya tetap perempuan. Tak ada yang bisa menghapus kebutuhan biologis, juga kebutuhan akan makanan atau udara. Laura Jane pasti lebih bahagia daripada hari-hari sebelumnya. Steve sangat mencintainya. Ia akan mengasihi Laura Jane. Mereka bisa mengatasi masalah di antara mereka."
Caroline melihat ketegangan Rink menyurut, air mukanya tampak lebih santai. Hal itu me-nyulut rasa ingin tahu Caroline, tentang seberapa jauh Rink menghargai pendapatnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku?" tanya Caroline.
"Bagaimana dengan kebutuhanmu selama bertahun-tahun belakangan itu, apa yang kaulakukan pada dirimu?"
"Aku hidup dalam kenangan dan mimpi. Ke-nangan akan dirimu di tempat ini. Mimpi yang kutahu takkan pernah terwujud."
Rink duduk di rumput yang lembut bersama Caroline dan membuka kancing blus wanita itu. "Kau memikirkan aku? Sekali-sekali?"
"Setiap hari. Setiap jam. Meskipun tak pernah bisa berjumpa denganmu lagi, aku akan meng-ingatkanmu sampai ajal menjemputku."
Sesaat Rink memejamkan mata, meresapi kata-kata Caroline. Ketika membuka mata, ia menatap Caroline dengan sorot berbinar-binar. "Aku men-dengar suara guntur. Atau itu suara debar jan-tungku?"
Caroline tersenyum. Ia pernah mengatakan hal itu suatu ketika dulu. "Guntur. Sebentar lagi hujan turun."
"Kau takut?"
"Aku lebih suka hujan."
"Sayangku, oh, sayangku," bisik Rink di mulut Caroline. "Oh, Tuhan, aku cinta padamu."
Caroline menolong Rink melepas kemejanya. Rink berdiri dan Caroline seperti penonton yang sudah tidak tahan hendak membuka ikat ping-gang Rink, membuka ritsleting celananya, dan melepaskannya. Rink memegang celana dalam biru mudanya, lalu meloloskannya.
Tanpa pakaian selembar pun, Rink mirip keliaran di sekelilingnya. Di bawah cahaya malam, deru hujan, tubuhnya berdiri tegak seperti ma-nusia purba. Apalagi ketika melihat titik hujan jatuh menerpa kulitnya yang kecokelatan.
Sambil berlutut di samping Caroline, Rink menariknya duduk ke sisinya, membuka blusnya. Bra Caroline berenda-renda cantik, sangat ber-beda dengan bra yang dipakainya beberapa tahun yang lalu. Rink menyentuh payudara Caroline yang berbalut bahan sutra.
"Lihat akibat perbuatanmu," kata Caroline ketika melepas branya setelah Rink membuka pengaitnya. "Kau tidak malu pada dirimu sendiri?"
"Ya," jawab Rink dengan menyesal, tetapi wajahnya sama sekali tak menampakkan penye-salan.
Rink membuka kancing rok Caroline dan melepaskannya, membiarkan tubuh Caroline ha-nya terbalut celana dalam. Kemudian ia mem-bungkuk untuk melepaskan tali sepatu sandal yang dipakai Caroline, yang melingkari kakinya yang indah. Ketika sandal sudah terlepas, Rink mengelus-elus dan memijat kakinya. Caroline memiringkan badan, menopang tubuh dengan siku. Ia memerhatikan apa yang dibuat Rink dengan bahagia. Tetapi ketika Rink menunduk dan mencium ujung ibu jari kakinya, ia tergetar karena bergairah.
"Rink," gumam Caroline lembut, dan me-rebahkan tubuh di rerumputan yang hijau.
Rink menindih tubuh Caroline. Caroline me-renggut rambut Rink yang basah ketika pria itu menciuminya dengan panas. Rink menikmati bibir Caroline seperti orang yang tengah me-makan buah yang lezat. Kemudian, selembut titik hujan, bibirnya menciumi pipinya, berhenti di daun telinganya. Lidah Rink mempermainkan lubang telinganya. Diciuminya leher dan dadanya.
Titik-titik hujan jatuh menimpa dada Caroline, membuat bagian itu mengilap. Rink menyeruput titik-titik air tersebut. Bibir Rink terasa hangat di kulitnya yang dingin ketika laki-laki tersebut menciumi payudaranya. "Aku tak pernah lupa bagaimana rasanya dirimu. Tidak pernah."
Caroline menggeliat di bawah tubuh Rink, bergoyang, mencengkeram kejantanan Rink. Me-reka memang pasangan yang serasi, napas mereka melayang ke udara. Rink mengelus bagian yang diinginkan Caroline tapi tidak diungkapkannya. Caroline menggumamkan nama Rink dengan lirih.
"Jangan dulu," ujar Rink dengan suara gemetar di atas perut Caroline. 'Yang ini untukmu."
Rink bergerak makin ke bawah, menghujani rusuk Caroline dengan ciuman. Bibirnya terus bergerak turun sampai pusar, menciumi bagian itu, membuat Caroline menggeliat dan menge-rang. Beberapa kali Rink memasukkan ujung lidahnya ke dalam pusar Caroline. Kemudian, menggunakan hidung dan dagunya, ia menurun-kan celana dalam Caroline sampai ke kaki, baru melepaskannya dengan menggunakan kakinya.
Caroline merasa hampir hancur berkeping-keping karena menahan tekanan gairah di dalam tubuhnya. Ia merasa tidak mampu menahan lebih lama lagi. Tetapi Rink baru saja mulai. Bibir pria itu menciumi bagian bawah tubuhnya, mengembuskan napas di situ.
"Rink...." Panggilannya tenggelam di antara bibirnya yang gemetar ketika mencengkeram ram-but Rink.
Dengan lembut tangan Rink membetulkan posisi Caroline, menyentuhnya. Tapi Caroline tidak siap menerima ciuman manis Rink di bagian tubuhnya itu. Bibirnya yang penuh cinta, lidahnya yang terus menggoda, melambungkan Caroline ke puncak kenikmatan dunia, yang merampas semua akal sehatnya. Rink terus mem-bangkitkan gairah Caroline, sampai wanita itu merasa seluruh tubuhnya seperti hendak meledak. Rink telah membangunkan gunung berapi di dalam tubuh Caroline. Ketika merasa gunung itu hendak memuntahkan laharnya, Rink segera menindihnya.
Tangan yang mencengkeram pahanya, kaki Caroline yang menjepit pahanya, kata-kata cinta yang meluncur keluar dari bibir wanita itu, makin membangkitkan hasrat Rink. Tubuhnya tak menyisakan kesempatan untuk hal lain, kecuali mendorong tubuhnya untuk bergerak makin cepat, sampai akhirnya mereka merasa tubuh mereka seperti meledak dan bermandikan titik-titik cahaya yang terang benderang.
Setelah mereka berhasil mencapai puncak, kembali ke dunia nyata, titik-titik cahaya pun meredup. Mereka kembali berada di dunia yang remang-remang dan berkabut. Mereka terselu-bung kabut warna keperakan yang melingkupi hati dan pikiran mereka beberapa saat yang lalu. Dan tubuh mereka yang masih berpaut itu ber-mandikan air hujan yang turun membasahi bumi.





Bab 12

PENGANTIN wanita mengenakan gaun putih. Model gaun dari sutra itu sederhana namun serasi dengan potongan tubuhnya yang ramping. Tubuhnya tidak tenggelam di balik gaunnya, tidak seperti jika ia mengenakan gaun kuno berekor yang bermeter-meter panjangnya dan berenda-renda. Kakinya dibalut stoking tipis dan sepatu putih. Rambut di bagian pinggir ditarik sampai tengah, dijepit sepasang bunga camelia putih, bunga kesayangannya. Ia kelihatan cantik sekali. Matanya berbinar-binar, memancarkan ke-gembiraan hatinya. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.
Pengantin prianya justru tampak gugup. Ia kelihatan resah dan berkali-kali menelan ludah, mengubah posisi kaki. Ia menarik-narik ujung dasinya, setelan pakaian yang tidak akrab dengan-nya. Ia diberitahu tidak harus mengenakan se-telan seperti itu, tetapi ia memaksa. Ia ingin menjadikan hari ini tak terlupakan bagi pengan-tin wanita. Ia ingin memperlihatkan kepada setiap orang perkawinannya adalah sah dan kedua-nya melakukannya dengan kesadaran penuh dan perasaan bangga.
Caroline menyentuh tangan Steve, menenang-kannya ketika mereka berdiri menunggu pengan-tin wanita. Steve tersenyum penuh rasa terima kasih pada Caroline. Tetapi ketika istri pendeta mulai memainkan lagu pernikahan dengan piano, mata Steve hanya tertuju pada Laura Jane. Begitu pun mata Laura Jane. Matanya yang besar dan kecokelatan mencari-cari Steve begitu memasuki ruang depan dan tertuju padanya ketika ia me-nuruni tangga yang melingkar, pandangannya tetap tidak beralih dari Steve.
Hanya beberapa orang yang diundang untuk menyaksikan upacara pernikahan tersebut. Rink dan Caroline. Pendeta, yang memimpin upacara pemakaman ayahnya, beserta istri, dan Granger. Dan Haney, yang menangis ketika sepasang pe-ngantin itu mengucapkan janji setia mereka. Untunglah, upacaranya singkat.
Steve mengecup lembut bibir istrinya dan segera mencopot dasi.
"Steve." Steve berbalik dan melihat Rink mengulurkan tangan. "Selamat datang di keluarga kami."
Steve tersenyum lebar sambil menyalami kakak iparnya. "Terima kasih, Rink. Aku bahagia bisa menjadi anggota keluarga ini."
"Selamat, Steve," kata Caroline dan mencium pipi Steve. "Laura Jane." Caroiine memeluk Laura erat-erat. "Semoga selalu bahagia."
"Pasti akan selalu, selalu," jawab Laura Jane gembira, sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Ayo kita minum sekarang. Kurasa Steve ingin minuman dingin."
Semua orang kelihatan gembira ketika me-masuki ruang makan, yang sudah siap dengan hidangan ham dan kalkun, bermacam salad, sayur-sayuran, kue pengantin tiga susun dan makanan-makanan kecil lain, yang disiapkan Haney. Juga tersedia kopi dan jus. Ketika Rink tertangkap basah menuangkan bourbon ke gelas Steve, pendeta tertawa. Pesta itu sederhana tapi meriah,' dan Caroline gembira untuk Laura Jane.
Setelah semua selesai makan, juru foto mem-buat potret mereka. Dasi yang tadi dilepas Steve hilang sehingga harus diganti. Caroline merapikan rambut Laura Jane dan menambah lipstiknya. Setelah acara pemotretan selesai, tak seorang pun yang matanya tidak berbinar-binar.
Para ramu mohon diri, meninggalkan para penghuni rumah dengan meja makan yang porak poranda. Pengantin pria dan wanita istirahat di lantai dua. Menjelang pernikahannya, barang-barang Steve dipindahkan ke kamar Roscoe. Pasangan pengantin itu akan menempati kamar tersebut karena lebih besar daripada kamar Laura Jane. Caroline merencanakan mendekorasi ulang agar lebih menarik dan sesuai dengan kepribadian penghuninya.
Setelah membantu Haney bersih-bersih, Rink dan Caroline pergi menonton di bioskop di kota. Sewaktu pulang ke rumah, suasana sunyi dan gelap. Mereka mengendap-endap ke lantai dua, tidak ingin mengganggu si pengantin baru. Mereka naik ke kamar tidur Rink. Setelah me-ngunci pintu, Rink menyalakan lampu di sam-ping ranjang.
"Aku bosan harus mengendap-endap seperti ini terus," keluh Rink. "Aku benci salah satu di antara kita harus turun dari ranjang dan menye-linap ke lorong menjelang pagi. Mengapa kau tidak pindah saja ke sini bersamaku, atau aku pindah ke kamar tidurmu?"
"Karena."
"Alasan yang masuk akal." Rink membuka sepatu bot dan kemejanya dan melepas celana panjangnya. "Mungkin aku harus menuliskannya supaya ingat."
"Sudahlah, jangan -menggodaku. Aku belum ingin siapa pun tahu soal ini."
"Mereka sudah tahu," kata Rink yang telah melepas celana dalamnya. Diempaskannya tubuh-nya ke sofa empuk berlapis kulit, tempat yang paling disukainya di rumah.
Caroline membuka sweter dan menatap Rink dengan kaget. "Benarkah?"
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Rink mengangguk dan memerhatikan Caroline yang melipat kemejanya dengan rapi dan meletakkan-nya di sandaran kursi. Branya sewarna kulit. Ada sulaman bunga mawar pada branya. Kelopak bunganya mengeliling bagian puncak. Seakan hendak membalas tahun-tahun saat tidak punya bra cantik, kini Caroline selalu memakai bra yang indah.
Menangkap nada suara Caroline, Rink berkata, "Steve dan Haney, aku yakin tahu. Mereka tidak buta, Caroline. Dua belas tahun aku menyimpan perasaan cintaku padamu. Aku rasa tidak mung-kin bisa disembunyikan lagi beberapa hari ter-akhir ini. Sekarang aku lebih bahagia dibanding-kan sebelumnya. Dan itu jelas terpancar, sayang-ku."
Wajah Caroline memerah ketika ia melepas rok, tampil dengan celana dalam yang warnanya senada dengan bra, berenda dan terbuat dari sutra. Kejantanan Rink langsung bereaksi.
"Aku juga tidak suka sembunyi-sembunyi, te-tapi demi reputasiku, jangan biarkan setiap orang tahu rahasia ini. Nanti aku dianggap perempuan murahan."
Caroline mengambil sikat dan menyikat ram-butnya. Cahaya lampu menerpa helai-helai ram-but yang tergerai. Caroline membelakangi Rink. Lekuk tubuhnya sangat indah. Celana dalam itu hampir tak dapat menyembunyikan daya tarik seksual Caroline. Bagian tubuh yang tertutup renda dan stoking tersebut adalah bagian tubuh yang ingin sekali disentuh Rink. "Bagaimana bisa kau dianggap perempuan murahan?" tanya Rink dengan suara berat.
Caroline mengeluarkan botol kecil dari tas, lalu menuangkan beberapa tetes isinya ke telapak tangan. Digosok-gosokkannya dan dibalurkannya ke lengannya. Oh, Tuhan! Perempuan ini sung-guh membuatnya gila!
"Karena secara hukum kau anak tiriku."
"Dan di luar hukum?"
Caroline membalikkan badan, menghadap ke arah Rink yang duduk di kursi, melihat tubuh-nya yang bergairah. Caroline tersenyum malu tapi amat menawan. "Di luar hukum, kau ke-kasihku."
"Kemarilah." Buru-buru Rink melepas celana dalamnya dan melemparkannya ke lantai.
Caroline menghampirinya dan berdiri dengan patuh ketika Rink melepas celananya, menyebab-kan pengikat stokingnya tergantung rendah di pinggul dan tali stokingnya menjuntai di paha sampai ke bagian atas stoking. Rink menyelipkan tangannya ke balik bagian atas salah satu stoking dan dengan lembut mencubitnya. Jari-jari Caroline memegang telinga Rink ketika pria itu mencondongkan tubuh untuk menciumi paha dan perutnya.
Rink meminta Caroline duduk di pangkuan-nya, dan kejantanannya pun lenyap dalam tubuh Caroline. Tangan Caroline melingkari leher Rink dan punggungnya melengkung, menyebabkan laki-laki tersebut bisa beraksi di dadanya. Rink menciumi payudaranya. Akhirnya bra Caroline berhasil dibukanya. Dibenamkannya wajahnya.
Paha Caroline rapat menjepit paha Rink ketika ia bergerak di pangkuan kekasihnya, menggerakkan pinggul dengan gerakan berputar. Tangan Rink mengelus bagian belakang paha Caroline sampai ke pinggul, memegangnya erat-erat. Sambil membenamkan kepala pria itu di dadanya, Caroline membungkuk dan membisikkan kata-kata cinta seirama gerakan Rink. Rink bergerak makin cepat, terus makin cepat. Kemudian, ketika tubuh Caroline bergetar karena ke-nikmatan yang melandanya, Rink pun mencapai puncak.
Caroline terpuruk di sisi tubuh Rink dan selama beberapa menit mereka tidak bergerak. Akhirnya Rink membelai bagian belakang kepala Caroline. Diciumnya pundak wanita itu. Ketika melihat Caroline masih saja tidak bergerak, ia bertanya lembut, "Ada yang tidak beres?"
"Di kursi? Jadi apa aku sekarang?"
Sambil tersenyum, Rink mencium telinga Caroline. "Perempuan istimewa, perempuan can-tik dengan gairah yang diidamkan laki-laki." Dipeluknya Caroline erat-erat. "Aku biasa duduk di kursi ini dan mengkhayalkan dirimu. Di sinilah aku membayangkan kau, membayangkan bagaimana bercinta denganmu." Rink mengelus pipi Caroline dengan buku-buku jarinya. "Kha-yalan yang selalu memenuhi benakku, Caroline."
Caroline mengangkat kepala. Sinar matanya selembut sinar rembulan yang tenang meng-hanyutkan. "Begitukah?'
"Ya." Rink menyentuh rambut Caroline, bibir-nya, payudaranya. "Aku masih tidak percaya ini sungguh-sungguh nyata."
"Aku tidak percaya ini diriku, bertingkah se-perti ini. Kau selalu memberi pengaruh buruk padaku."
Binar-binar cinta di mata Rink berganti de-ngan sorot mata nakal. "Tidakkah itu membuat-mu bahagia?"
"He-eh." Mengimbangi gaya Rink, Caroline memutar pinggulnya.
Rink mengerang. "Ya ampun, Caroline. Kau mau membunuhku? Tidak bisakah kita me-nunggu sampai di ranjang?"
Setelah itu, bertutupkan selimut tipis, Rink menemukan telinga Caroline dalam kegelapan dan berbisik, "Kau tahu, andai Haney juga punya pacar, kita bisa membentuk kelab." Caroline menarik bulu dada Rink, menyebabkan laki-laki itu menjerit perlahan. "Maksudku, Steve dan Laura Jane di satu kamar, dan kita—"
"Aku tahu maksudmu." Caroline berhenti ter-senyum, dan menguap. "Tak terbayangkan olehku bagaimana perasaan Steve sekarang ini, tetapi aku tidak tahu apa pendapat Laura Jane tentang perkawinan."
Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hal itu. Keesokan paginya, pasangan pengantin baru itu sarapan bersama Caroline dan Rink. Mereka berdiri di pintu dapur dengan tangan bergandengan. Steve tersenyum malu-malu. Laura Jane berseri-seri. Kepada mereka, gadis itu mengatakan dengan gembira, "Kurasa semua orang di muka bumi ini harus menikah."
Pemintalan mulai dibereskan. Caroline bersyukur Rink berada di dekatnya. Ia tidak tahu harus mulai membersihkan dari mana setelah kebakaran itu. Tak lama sesudah pembersihan selesai, Rink menyinggung soal memperbaruinya. Rink meng-ungkapkan semua rencananya pada Caroline, dan Caroline menyetujuinya. Rencana itu termasuk mengganti semua mesin tua dan membeli yang baru, mengganti kabel-kabel, dan membuat pe-mintalan kapas Lancaster Gin menjadi pemin-talan kapas paling modern di negara ini.
"Kita dapat untung besar sekali tahun ini. Bank bersedia memberikan kredit pinjaman jang-ka panjang untuk biaya renovasi dengan bunga ringan. Kita harus memanfaatkan kemurahan hati mereka."
"Aku setuju."
Mereka bekerja lembur di musim panas yang terik, tetapi keduanya tetap bersemangat. Kerap mereka harus menahan diri untuk tidak saling menyentuh. Banyak mata memerhatikan, dan mereka tahu hal itu dan tidak ingin memberi kesempatan kepada orang-orang untuk meng-gosipkan mereka. Gosip tentang mengapa Rink tidak segera kembali ke Atlanta telah beredar. Itu saja sudah membuat Caroline cemas.
"Rink?" Mereka beristirahat sejenak di ruangan kantor pemintalan.
"Hmmm?" Rink menyentuhkan kaleng mi-numan dingin ke dahinya.
"Kapan kau kembali ke Atlanta?" Caroline berusaha bicara sewajarnya tetapi tahu ia tidak berhasil ketika Rink menurunkan kaleng mi-numan dan menatapnya tajam.
Rink menyeruput minumannya. "Ingin men-jauhkan diri dariku?" Rink menggoda.
Sorot mata Caroline memancarkan binar-binar cinta. "Tentu saja tidak," sahut Caroline tenang. "Aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukan semua ini di pemintalan ini. Aku kan mendapat gaji, tetapi tak ada alasan bagimu untuk meng-habiskan waktu dan tenagamu di sini."
Rink meletakkan kaleng minumannya di meja, di tumpukan majaJah bisnis lama. Sambil berdiri, pria itu menggeliat dan berjalan ke jendela, tempat ia biasa memerhatikan para pekerja menurunkan bahan bangunan dari truk. "Pabrik ini punya arti besar bagiku, terlepas dari suka atau tidak suka Roscoe padaku. Aku tidak mendapat keuntungan finansial darinya, gara-gara surat wasiatnya, tetapi pemintalan ini tetap sangat menarik minatku. Pemintalan ini milik keluarga ibuku sebelum Roscoe mengambil alih dan men-jadikannya miliknya. Karena ini bagian dari wa-risan keluargaku dan membawa namaku, aku harus peduli padanya. Andai alasan-alasan itu tidak cukup kuat, anggap saja aku melindungi warisan adik perempuanku."
"Aku cinta padamu."
Rink berbalik menghadap ke arah Caroline seketika. Ungkapannya tak terduga dan tampak-nya tak ada kaitan dengan bahan pembicaraan sebelumnya. "Mengapa? Maksudku, apa yang membuatmu mengatakan itu sekarang?"
"Karena, andai situasi ini menimpa laki-laki lain, ia pasti sudah meninggalkan tempat ini sejak lama, karena perasaan pedih dan marah mengalami situasi di sini."
"Itulah yang diinginkan Roscoe. Tetapi seka-rang, aku tidak mau terperangkap siasatnya."
"Itulah alasan satu-satunya kau masih di sini, untuk menantang Roscoe?"
Rink tersenyum dan mendekati Caroline. Rink menarik tangan Caroline, mendorongnya ke su-dut, di antara dinding dan lemari arsip. Ruangan sempit itu cukup untuk membuat mereka terhindar dari pandangan orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan. "Kau tak ada sangkut pautnya dengan keberadaanku di sini," kata Rink, dan mulai menciumi Caroline.
Rink terasa asin. Ia mandi keringat. Ia benar-benar laki-laki sejati. Caroline menyukai sifat jantannya. Feminitasnya bereaksi terhadap ke-jantanan Rink. Sambil merapat, Caroline me-nekankan tubuhnya yang penuh gairah ke tubuh pria itu. Rink mendaratkan ciuman di leher Caroline, hendak menggigit dan menggelitiknya. Tangannya menggenggam payudara Caroline dan mengelus-elusnya.
"Kau tak boleh bebas seperti ini," gumam Caroline. "Aku atasannya."
"Bukan atasanku. Secara hukum, aku tidak bekerja untuk perusahaan ini, ingat?"
Caroline mengerang pelan ketika jari-jari Rink mempermainkan payudaranya dari balik blus. Sambil menunduk, Rink membuka kancing blus Caroline yang paling atas dengan giginya, kemu-dian bibirnya dengan panas menikmati bagian hangat di balik blus tersebut. "Tetapi aku tetap punya hak mengontrol hal tertentu," kata Caroline dengan napas tersengal.
"Tidak diriku, kau tidak berhak." Tangan Caroline menyelinap ke balik celana jins Rink dan menekan bagian keras di situ. "Baiklah. Berarti, aku bohong," kata Rink dengan suara parau. "Kau punya hak penuh untuk mengontrol segalanya."
"Aku merasa tempat ini selalu bising," kata Caroline sambil memandang ke sekeliling bangunan yang berdinding seng itu.
"Memang begitu. Namun ini tempat barbecue paling enak di wilayah Mississippi. Mereka punya resep keluarga yang didatangkan dari Tennessee. Kau mau apa, iga atau daging iris?"
"Nanti aku boleh menjilati jariku?"
"Tentu."
"Kalau begitu, aku minta iga saja."
Mereka tersenyum ketika pelayan berlalu se-telah menerima pesanan mereka. Mereka harus bicara dengan berteriak karena suara musik yang terdengar dari jukebox di sudut ruangan terlalu nyaring. Beberapa orang melantai di lantai dansa yang penuh debu, berdansa two-step atau hanya melangkah mengikuti irama lagu sambil ber-pelukan rapat, tergantung perasaan romantise yang melanda mereka.
Asap tebal memenuhi ruangan. Di dindingnya yang dibuat dari panel-panel murahan dipasang lampu neon warna merah muda dan biru, me-nerangi berbagai merek bir. Poster seorang model yang tengah tersenyum lebar, berambut palsu dan berdada montok, menghiasi dinding. Di belakang bar, jam dinding bergetar di bawah air terjun yang mengalir. Hiasan yang digerakkan listrik itu membuat Caroline pusing bila me-mandanginya terlalu lama.
Caroline dan Rink menikmati kebersamaan mereka. Mereka punya kebiasaan mencari tempat-tempat baru untuk dilewatkan bersama selama beberapa jam setiap malam, demi memberi waktu berduaan buat Steve dan Laura Jane di rumah. Steve mengatakan kepada mereka secara sem-bunyi-sembunyi ia sudah mengutarakan pada Laura Jane niatnya berbulan madu, tetapi ia merasa Laura Jane pasti takut kalau bepergian terlalu jauh. Ia.hanya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang indah-indah saja. Karena itu ia tidak ingin menyinggung soal bulan madu tersebut.
"Kau sering datang ke sini?" tanya Caroline, sambil meletakkan tangan di meja dan agak mencondongkan tubuh ke arah Rink.
"Sering. Ketika aku SMA, waktu belum cukup umur untuk membeli bir, aku dan teman-teman-ku beramai-ramai datang ke tempat ini dengan mobil. Mereka tidak takut menjual bir kepada kami. Kata ayahku...." Mendadak Rink meng-hentikan kata-katanya, Caroline tahu itu karena Rink menyebut Roscoe dengan akrab.
"Lanjutkan," desak Caroline lembut. "Apa yang Roscoe katakan padamu?"
"Ia memberitahu aku pada masa larangan menjual minuman keras, ini tempat berkumpul penyelundup minuman keras. Terutama wiski, di tempat ini bisa didapat dengan mudah di-banding tempat lain di negara bagian ini."
Rink merenung sambil mempermainkan tem-pat garam seperti orang linglung. Caroline meng-genggam tangan Rink, membuat pria itu menga-rahkan pandangan kepadanya. "Kalian berdua selalu bertengkar? Apa tidak ada saat manis sedikit pun yang bisa kauingat, untuk melupakan yang tidak enak?"
Rink tersenyum getir. "Ada beberapa, ya. Se-perti ketika aku ingin mengisap cerutu. Usiaku waktu itu dua belas tahun. Ia memperbolehkan aku mengisapnya. Aku seperti anjing sakit dan ia gembira melihatnya. Ia selalu mengejek aku soal itu selama beberapa tahun, tetapi aku tidak keberatan. Kemudian waktu aku tertangkap ka-rena mencoret-coret bus sekolah sainganku. Roscoe membelaku mati-matian di hadapan pengurus sekolah, malah mengingatkan mereka bahwa anak laki-laki harus nakal, kalau tidak mereka tidak normal."
Dahi Rink berkerut. "Ada polanya, Caroline, yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Bila aku terlibat dalam tindakan kenakalan, Roscoe selalu membelaku. Ia menyukaiku bila aku membuat onar. Bila aku melakukan sesuatu yang baik, ia tidak mentolerir tindakanku. Ia ingin aku seperti dirinya, suka membuar keri-butan, huru-hara, selalu melanggar aturan. Aku tidak dididiknya menjadi anak baik, tetapi aku tidak pernah memperdaya siapa pun atau menya-kiti seseorang." Rink melihat Caroline menatapnya dalam-dalam. "Aku ingin kau tahu soal ini. Aku menyesali ia dan aku tidak saling menyayangi."
"Aku tahu kau ingin bisa menyayanginya, Rink."
"Andai nanti aku punya anak laki-laki atau perempuan, aku ingin menyayangi mereka apa adanya. Aku takkan pernah mencoba mengubah kepribadian mereka. Aku bersumpah untuk itu."
Mereka bergenggaman tangan di atas meja dan tidak melepaskannya sampai makanan me-reka datang.
Menjelang mereka selesai makan, tempat itu makin gaduh. Lebih banyak peminum dan penari yang datang ketimbang orang yang hendak ma-kan. Suara mereka sangat ingar bingar. Begitu menerima bon dari pelayan, mereka langsung pergi ke kasir di ujung bar. Tagihan makanan mereka sedang dijumlah ketika Caroline men-dengar suara orang bicara.
"Pasti senang ya, Virgil, langsung masuk setelah Daddy pergi?"
Tangan Rink yang tengah memegang uang seketika tak bergerak. Caroline melihat urat nadi di pelipis Rink menonjol dan rahangnya menge-ras karena marah.
Virgil mengikik. "Benar sekali, Sam. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada membiarkan ayahmu menyelesaikan masalahmu, begitulah."
Dengan tenang Rink meletakkan uang di bar. "Rink, ayo pergi," ajak Caroline sambil meng-gandeng lengan Rink. Pria itu menepis tangan Caroline seperti mengusir lalat. Caroline melirik ke sekelilingnya. Seseorang mengecilkan suara musik dari jukebox. Seketika para penari berhenti.
Yang lain bergerak menjauhi Virgil dan Sam, yang jelas terlalu mabuk dan bodoh untuk menya-dari apa yang baru mereka sulut. Ketika Rink berbalik menghadapi mereka, sorot maranya me-mancarkan binar yang membuat Caroline takut.
"Apa katamu tadi?" Bibir Rink hampir tak bergerak ketika mengucapkan pertanyaan ter-sebut, suaranya tenang dan mematikan. Salah seorang dari mereka melirik temannya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Mr. Lancaster," ujar manajer bar, "mereka orang baru di kota ini. Mereka tidak tahu apa-apa tentang keluarga Anda. Mereka hanya ber-gurau. Tak perlu Anda pedulikan. Saya yang akan mengusir mereka pergi."
Manajer itu seharusnya tidak usah ikut cam-pur, karena Rink ridak akan memedulikannya. "Apa yang kaukatakan tadi?" ulang Rink dengan suara lebih keras. Ia maju mendekati kedua pria itu, yang berdiri di dekat bar.
"Hmmm, kami tadi hanya bilang, betapa ber-untungnya Anda, karena punya ayah yang sudah melatihnya lebih dulu sebelum ia meninggal."
Caroline mengangkat tangannya yang gemetar untuk menutupi mulutnya dan mencoba meng-hindari sorot mata ingin tahu orang-orang yang diarahkan padanya. Ia tahu bahwa yang mereka ingat adalah meskipun ia sekarang hidup lebih baik, ia tetaplah putri Peter Dawson, keluarga miskin.
Virgil hampir tak bisa bicara karena tertawa geli mendengar kepiawaian Sam berkata-kata. "Kurasa seprainya pun belum dingin ketika kau masuk. Apakah ayahmu mengajarinya beberapa taktik yang menyenangkan, Nak? Apakah ia memberimu apa yang ia...."
Virgil tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya. Bahkan ia tidak ingat kapan ia mulai menanya-kannya. Tinju Rink mendarat di dagunya, mem-buatnya terempas dari bangku dan melayang jatuh ke panggung. Ia sudah pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Sam menyaksikan apa yang terjadi pada temannya dengan mulut ternganga karena ter-kejut. Ia segera turun dari kursi dengan ke-takutan. Ia meringis ke arah Rink.
"Ia... ia... ia tidak bermaksud apa-apa dengan perkataannya, Mr... eh... Lancaster. Kami hanya bercanda dengan...."
Ia melihat tinju melayang, mencoba meng-hindar, tetapi tinju Rink keburu mendarat di tulang pipinya. Ia menjerit kesakitan dan jatuh terjerembab. Rink berdiri di hadapannya, mengangkang, napasnya memburu, tinjunya di-kepalkan kemudian diturunkannya ke samping.
"Minta maaf padanya," perintahnya dengan suara perlahan tapi mengancam. "Sekarang."
Sam berjalan sempoyongan menahan sakit, kedua tangannya memegang pipinya, seakan hen-dak menjaganya supaya tidak retak. Satu-satunya suara yang bisa diucapkannya hanya gumaman tak jelas.
"Minta maaf padanya!" bentak Rink.
Caroline segera mendekati Rink dan me-megangi lengannya. "Sudahlah, Rink," mohon Caroline mengiba. "Ayo pergi. Ia sudah tidak bisa bicara. Tidak apa-apa. Cepat tinggalkan tempat ini. Aku tidak tahan melihat semua mata memandangku. Ayo, mari cepat pergi!"
Rink menggeleng seperti hendak menjernihkan pikiran. Kemudian ia berbalik ke arah kasir, dengan marah menepiskan tumpukan bon, sam-bil memasukkan uang kembalian ke saku celana jins, menggandeng tangan Caroline, dan me-nuntunnya ke pintu.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah, tetapi mesin pickup itu bukan mesin mobil sport. Rink menyumpah-nyumpah ketika akhirnya mesinnya terbatuk-batuk dan tidak bisa lari secepat yang diingin-kannya. Ketika tiba di rumah, ia segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Garoline, tetapi ia tidak menunggu Caroline turun, ia langsung masuk ke rumah. Caroline mengikuti-nya dan menemukannya mondar-mandir di ruang kerja seperti kucing yang terperangkap. Dengan bijaksana Caroline menutup pintu ketika memasuki ruangan dan melemparkan tas ke kursi terdekat.
Rink melotot pada Caroline. "Kaulihat apa yang dipikirkan orang-orang? Mereka mengira kau sudah tidur dengan ayahku."
"Dulu aku kan memang istrinya. Mereka se-harusnya mengira apa?"
Rink mengumpat dan menyibakkan rambut. "Aku rasa aku jadi bahan tertawaan penduduk kota ini. Pasti setiap orang senang menggosipkan hal itu. Aku mengambil alih apa yang ditinggal-kan si bandot tua."
Keegoisan Rink membuat Caroline bingung. "Apakah kau pernah memikirkan bagaimana pe-msaanku, apa yang mereka pikir tentang dirikuT Caroline memegang dadanya. "Mereka mengira aku merayu ayahmu agar mau mengawiniku. Kini mereka berpikir aku merayu anak tiriku. Apa pun yang mereka katakan tentang dirimu tidak seburuk yang mereka katakan tentang aku. Aku benar-benar anak miskin, ingat? Bagi mereka aku tetap orang miskin dan selalu miskin. Semua itu tidak ada kaitannya dengan aku punya moral atau tidak. Itu stigma yang kubawa sejak lahir." "Tetapi sebagai istri Roscoe kau harus bisa meng-hapus stigma itu, bukan?"
Caroline menghindar menjawab pertanyaan itu, tetapi ketika ia melihat senyum mengejek di wajah Rink, ia merasa harus menjawab. "Ya."
"Hmmm, mungkin demi nama baikmu, sa-yang ia meninggal," kata Rink keji. "Paling tidak, kau punya uang banyak. Aku yakin isi surat wasiatnya kini sudah menjadi rahasia umum. Setiap orang tahu aku tidak diwarisi apa pun. Seluruh kota mungkin tahu aku mengemis-ngemis padamu karena kau yang mendapat The Retreat."
"Pakai akal sehatmu, Rink. Itu tidak mungkin. Setiap orang tahu kesuksesan usaha penerbangan-mu.
"Mereka semua tahu betapa aku sangat men-cintai tempat ini juga. Mereka mungkin mengira aku ini tak ubahnya kuda pejantan buatmu sehingga bisa tetap tinggal di sini."
Caroline seakan habis ditampar tangan Rink. "Aku tidak suka kau bicara seperti itu."
"Mengapa kau tidak mau membicarakannya? Mari hadapi kenyataan. Tidakkah memang itu yang kulakukan?" tanya Rink. "Apa tujuanku ada di sini? Laura Jane sudah punya Steve yang bisa menjaganya. Haney sibuk sepanjang hari seperti induk ayam. Yang kulakukan hanyalah menjaga nyonya rumah agar tetap bahagia dan puas di tempat tidur."
"Jangan berani-berani mengatakan kau me-ngorbankan diri. Kau juga bahagia."
Caroline mengutuki matanya yang berkaca-kaca karena perasaan marah dan sakit hati.
"Aku merasa begitu sampai akhirnya aku sadar setiap orang mengira aku menggantikan Roscoe di tempat tidur."
"Tetapi kau kan tidak seperti itu! Kau tahu itu, Rink."
"Akibatnya sama saja."
"Karena mereka berpikir aku sudah tidur de-ngan ayahmu?"
"Ya." Kata-kata itu meluncur keluar dari mulut Rink seperti roket. Akibat pernyataan itu adalah keheningan yang mencekam. Akhirnya Rink ber-kata, "Bahkan sudah mati pun, ia masih bisa memisahkan kita."
Caroline berbalik menghadap Rink, kema-rahannya memuncak. "Bukan dia. Kau. Keang-kuhan dirimu. Keangkuhan dirimulah yang me-misahkan kita."
"Bagaimana dengan keangkuhanmu?" Rink ba-lik bertanya.
"Aku?" tanya Caroline, marah.
"Ya, keangkuhanmu."
"Apa yang pernah aku banggakan?"
"Bahwa kau sarjana. Bahwa kau menikah de-ngan laki-laki paling kaya di daerah ini. Bahwa kau tinggal di rumahnya yang besar. Bahwa status sosialmu lebih tinggi daripada orang-orang yang dulu memandang rendah dirimu."
"Aku sudah bilang sejak pertama kali kau kembali ke sini bahwa aku suka tinggal di sini."
"Tetapi apa yang akan dikatakan orang bila satu-satunya alasan Roscoe menikah denganmu adalah untuk menarikku pulang ke rumah; bah-wa perkawinanmu hanyalah kepura-puraan? Apa-kah kau masih bisa mendongakkan kepala?"
Kebungkaman Caroline menjawab pertanyaan Rink. Ia menjatuhkan diri di kursi. Bahu Rink terkulai. Dengan suara yang lebih tenang, Rink berkata, "Aku tak tahan membayangkan mereka berpikir kau istri ayahku. Dan kau tidak tahan mereka berpikir yang sebaliknya tentang dirimu." Rink menengadah dan tertawa. "Oh, Tuhan, betapa manis pembalasan yang dilakukannya. Kendati siasat pertamanya tidak berhasil, me-Aiisahkan kita—berusaha meyakinkanku bahwa ia sudah tidur denganmu—siasatnya yang ini membuat kita menyerah."
Rink melangkah ke pintu. "Aku benci menga-kuinya, Caroline, tetapi kita berhasil dipermain-kannya. Seperti yang diyakininya."
Caroline merasa hatinya hancur berkeping-keping ketika Rink menutup pintu, meninggal-kan ruangan itu.




Bab 13

AKU menyuruh anak itu berlutut di hadapanku, itu yang ingin kulakukan," gerutu Haney sambil menarik seprai Caroline. "Bila ada anak muda yang perlu dihukum...."
Caroline duduk di depan cermin, memijat-mijat kepala, berusaha menghilangkan rasa pening yang menyerangnya. Tetapi usahanya tak berhasil Sekujur tubuhnya sakit seakan ia habis digebuki. Memang demikianlah yang dirasakan Caroline. Gara-gara habis bertengkar dengan Rink.
Haney, si pengurus rumah, menumpuk seprai di lantai dan membentangkan seprai baru. Terde-ngar suara gemeresik ketika ia menghamparkannya di tempat tidur. Rapi seperti tentara, Haney menyelipkannya di bawah kasur. "Apa ia tidak bilang padamu semalam, meninggalkan pesan, ia akan keluar rumah malam-malam seperti maling?"
"Tidak, ia... eh... kami mengobrol sebentar. Ia naik, beberapa menit kemudian aku tidur. Aku tidak tahu ia sudah pergi sampai kau mem-bangunkan aku pagi ini."
"Aku sudah mengajarkan tatakrama pada anak itu, begitu pun ibunya. Bayangkan, bisa-bisanya ia mengepak barang lalu pergi tanpa pamit. Naik mobil pickup-nya ke lapangan udara, lang-sung terbang dengan pesawatnya. Sumpah, aku tak tahu apa masalah anak itu."
Sekali itu Caroline berharap Haney tidak ter-lalu banyak mengoceh. Satu-satunya orang yang ingin ia ajak bicara hanyalah Rink. Luka hatinya masih belum lenyap. Tiap kali mendengar nama Rink disebut, lukanya kembali membuka dan hatinya berdarah. "Kufasa, ia hanya merasa terlalu lama menelantarkan bisnisnya di Atlanta."
Haney memandang sinis. Aku tahu apa yang terjadi, begitu batin Haney kepada wanita muda itu. Yang ia ingin tahu, apa yang terjadi di antara mereka, yang menyebabkan Rink men-dadak meninggalkan rumah. Berminggu-minggu mereka bersama dan saling menggoda. Pasti ada yang menyebabkan Rink pergi terburu-buru, ten-tu hal yang berkaitan dengan Caroline. Haney membungkuk dan mengambil cucian kotor. "Aku tak tahu apa yang harus kusampaikan pada Laura Jane. Pasti ia sedih sekali karena Rink pergi tanpa pamit padanya."
"Kau bilang ia meninggalkan surat untuk Laura Jane."
"Itu tidak sama, bukan?"
Kesabaran Caroline menyusut. Ia berjalan ke lemari, mengambil pakaian untuk mandi, dan secara halus mengisyaratkan ingin sendirian di kamar. "Ia tidak akan terlalu sedih Rink pergi, karena ada Steve yang menjaganya."
"Lalu siapa yang akan menjagamu?"
Langkah Caroline terhenti sebelum mencapai pintu kamar mandi, ia membalikkan badan me-natap Haney. Haney menaikkan alis, lalu meleng-gang keluar, merasa menang, dengan tangan penuh seprai kotor.
Caroline mandi dan berpakaian. Ia tidak me-medulikan penampilannya. Ia tidak akan bertemu Rink di rumah. Ia akan bekerja sebagaimana biasanya, ke pemintalan, memeriksa kemajuan pembangunannya. Lebih baik ia menampilkan diri sebagai penanggung jawab dan pengambil keputusan. Mungkin saja beberapa karyawan me-manfaatkan ketidakhadiran Rink sebagai kesem-patan untuk bekerja malas-malasan.
Sewaktu tiba di pabrik, ia menyadari Rink bukan hendak menurutkan kata hatinya ketika pergi ke Atlanta malam itu. Barnes sudah me-nunggunya di kantor.
Karyawan itu berdiri ketika Caroline masuk; dengan langkah terseret, resah, ia berusaha meng-hindari pandangan Caroline. "Rink—Mr. Lancaster—menelepon saya dari Adanta pagi tadi."
Caroline berusaha bersikap biasa-biasa 'ketika mendengar berita itu, tetapi tangannya gemetar ketika ia membuka laci meja untuk menyimpan tasnya. "Oh?"
Barnes menelan ludah. "Ya, Ma'am. Dan ia bilang saya harus membantu Anda semampu saya agar semuanya berjalan lancar. Ia juga me-ngatakan kepada saya agar segera meneleponnya bila ada yang tidak biasa."
"Terima kasih, Barnes," sahut Caroline tenang. Rink tidak benar-benar meninggalkannya. Ia ma-sih peduli, memastikan dirinya tidak ditinggalkan di pemintalan yang belum berjalan. Tapi mung-kin saja ia semata-mata ingin melindungi warisan milik Laura Jane.
Mandor itu memutar-mutar topi di tangannya. "Anda kenal saya dan beberapa karyawan lain... hmmm, kami biasa bersama Rink. Memang, ia masih muda ketika meninggalkan tempat ini untuk pertama kalinya, tetapi kami tetap me-nyukainya. Ia selalu memerhatikan kami, Anda tahu yang saya maksud? Sangat berbeda dengan ayahnya yang keji, maksud saya, tak pernah menghargai orang lain. Rink selalu peduli pada kami, meskipun kami hanya pekerja."
"Ya, aku mengerti apa yang kaumaksud, Barnes."
"Baiklah, begitu saja," ujar Barnes sambil me-langkah ke pintu, dalam hati memaki-maki. Ya ampun, ia tidak bermaksud membuat Caroline sedih. "Bila Anda perlu sesuatu, Anda tinggal menelepon saya."
"Ya. Terima kasih."
Setelah Barnes pergi, Caroline berjalan ke jendela, dan menatap pemandangan di luar. Mu-sim panas sudah hampir berlalu. Bunga dan pepohonan tidak lagi hijau berseri. Mereka mulai sekarat, mengerut dan kering karena letih, me-nunggu ajal. Begitu pula yang ia rasakan. Minggu-minggu yang sangat indah yang dilewati-nya bersama Rink membuat jiwanya hidup. Seka-rang ia merasa dirinya mengerut layu seperti bunga-bunga musim panas yang mulai kehilangan keceriaan hidup.
"Memang tidak berjodoh, Caroline," batin Caroline pada dirinya sendiri. Benarkah pepatah yang mengatakan jodoh sudah ditentukan jauh sebelum orang dilahirkan? Apa benar nasib yang menentukan malapetaka yang menimpa sese-orang? Atau semua ini terjadi karena ia harus menebus dosa-dosa ayah mereka, seperti yang ditulis dalam Alkitab?
Bukan penyebabnya yang jadi masalah, karena akhir ceritanya tak bisa diubah lagi. Rink benar. Mereka berdua terlalu angkuh. Ia suka jadi keluarga Lancaster. Rink yakin ia tidak akan melepaskannya. Daripada harus mengemis-ngemis, Rink memilih tidak bertemu dengannya selama ia memiliki The Retreat.
Caroline menegakkan kepala. Jantungnya ber-debar cepat.
Selama ia memiliki The Retreat.
Apakah ia rela melepaskan rumah itu? Apa arti rumah itu tanpa Rink di rumah itu? Tidakkah bagian itu yang senantiasa menjadi misteri-nya, bagian yang menariknya untuk masuk ke dalamnya? Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Rink Lancaster. Bahkan sewaktu tinggal bersama Roscoe di rumah itu, menyusuri lorong-lorongnya, ia mengkhayalkan Rink yang tinggal di sana, sewaktu masih anak-anak, semasa remaja, dan sebagai pemuda. Tanpa Rink, rumah itu terasa seperti kumpulan kamar cantik yang di-kelilingi empat dinding.
Rumah itu takkan pernah menjadi miliknya. Rumah itu senantiasa milik Rink. Keputusan hukum secara tertulis di atas kertas takkan bisa mengubahnya.
Tetapi mampukah ia melepaskannya?
Suara ketukan perlahan di pintu membuatnya mengalihkan pandangan dari buku besar. "Masuk."
Granger melangkah masuk ke ruangan yang remang-remang, yang hanya diterangi cahaya lam-pu kehijauan di meja Roscoe. "Haney bilang kau ada di sini. Aku harap kedatanganku tidak mengganggumu."
Caroline tersenyum pada si pengacara. "Masuklah, Granger. Aku tak merasa diganggu."
"Kau lembur. Apa perlu seperti itu?"
Ya, harus. Karena kalau tidak menyibukkan diri dengan bekerja, ia akan teringat pada Rink. Kendati sibuk bekerja ia tetap ingat pada Rink, tetapi paling tidak, kesibukan itu mengurangi rasa sakitnya. Sebulan sesudah Rink pergi, rasa sakitnya tidak terlalu parah lagi, meskipun tetap terasa karena tidak ada obatnya.
"Tugas pembukuan harus diselesaikan. Kalau dikerjakan di pemintalan, selalu terganggu, jadi aku mengerjakannya di rumah setelah jam kerja. Haney sudah menawarimu minum? Kopi?"
"Tidak usah, terima kasih." Granger duduk di hadapan Caroline, di kursi bersandaran tegak. "Bagaimana keadaan di pemintalan?"
"Sibuk, bising, tapi baik-baik saja, kau tahu sendiri. Kemarin kau ke sana. Apakah ada ma-salah, Granger?" Air muka Granger seperti orang yang hendak dihukum gantung. "Ada apa me-nemuiku?" Wajah Caroline pucat. Rink. Ada sesuatu yang menimpa Rink.
Granger menangkap kepanikan yang menyer-gap Caroline. "Tidak, tidak. Aku bukan hendak menakut-nakutimu. Tidak ada masalah besar." Granger memerhatikan permadani di bawah kursinya sejenak. "Hanya saja kau telah diundang dan aku tidak tahu bagaimana kau akan menang-gapinya."
"Undangan apa?"
"Undangan untuk acara penghargaan Roscoe sebagai warga kota terbaik pada festival musim gugur ini."
Yang dimaksud Granger adalah pekan raya yang setiap tahun disponsori Kamar Dagang Winstonville. Caroline tak mengira dirinya terlibat festival itu, begitu pun Roscoe. "Mereka ingin memberikan penghargaan? Mengapa? Mengapa mereka tidak memberikan penghargaan itu kepada orang yang masih hidup?"
Granger mengangkat bahu. "Itulah yang men-jadi pertanyaanku. Bukan berarti aku tidak meng-hargai Roscoe," katanya, cepat-cepat menambah-kan, selalu loyal. "Tetapi tampaknya komite peng-hargaan ini sudah memutuskan hal itu sejak musim semi lalu. Mereka tidak ingin berubah pikiran dan ingin kau mewakili menerima penghargaan itu pada pembukaan festival."
Caroline berdiri sambil berkacak pinggang, melangkah ke jendela. Hari hujan, hujan bulan September yang menyedihkan. Hujan yang mem-buatnya sedih. Tidak seperti hujan rintik-rintik di musim panas yang mencium dan mengelus kulit yang telanjang seperti tangan atau bibir. Ia menekankan dahinya ke kaca jendela yang di-ngin. Mampukah ia menghilangkan kerinduannya pada Rink?
Foto pria itu terpampang di koran dua hari yang lalu. Steven melihatnya dan Laura Jane buru-buru memperlihatkannya pada Caroline. Satu lagi kota yang memberi izin mendarat pada perusahaan penerbangan Air Dixie. Di foto itu Rink bersalaman dengan Walikota, tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih di wajahnya yang hitam. Rambutnya tergerai di dahi. Betapa ingin Caroline menyentuh wajah itu, mengelusnya seperti dulu.
"Kau merindukannya ya?" tanya Granger per-lahan.
"Roscoe?"
"Rink."
Caroline berbalik. "Kau tahu?"
Wajah Granger yang penuh keriput mirip anjing bassethound tersenyum penuh arti. "Aku menangkap sesuatu di antara kau dan Rink jauh sebelum ia kembali ke rumah. Dengar dulu—" Ia mengangkat tangan ketika melihat Caroline membuka mulut—"aku bukan memancing-mancing. Memang sebaiknya aku tidak tahu hal itu. Tetapi hari itu, waktu di sini untuk meng-hadiri pernikahan Laura Jane, aku melihat kalian berdua. Aku yakin betul kalian berdua saling jatuh cinta. Betulkah?"
"Ya."
Caroline kembali ke posisinya di dekat jendela, sesaat mereka terdiam. "Apakah aku dianggap ikut campur bila ingin tahu ke mana Rink pergi?"
Caroline menggeleng. "Kau sahabat baikku, Granger. Ketika Roscoe menikah denganku, aku tahu kau terkejut, tetapi kau tetap menghormati dan bersikap sopan padaku. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu untuk halitu." Caroline kembali menghadap Granger. "Saat ini pun aku sangat berterima kasih padamu. Sebagai teman, aku mau mengatakan pada-mu bahwa terlalu banyak orang yang tidak se-nang bila Rink dan aku tinggal serumah."
"Terutama ayahnya."
"Benar, ayahnya. Dan pernikahanku dengan-nya."
"Harga diri Rink."
"Oh, ya, aku tahu." Caroline tersenyum. Kemudian ia menatap si pengacara dan berkata dengan suara rendah, "Meski menikah dengan Roscoe, aku tidak pernah tidur dengannya."
"Aku tahu itu."
Caroline tertawa kecil. "Kau penuh dengan kejutan malam ini. Kukira kau akan terkejut."
"Aku lega. Kau terlalu baik untuk Roscoe, Caroline."
Caroline kembali duduk di kursinya. "Ia me-mang melakukan hal-hal yang menakutkan, tetapi yang paling mengerikan adalah yang dilakukan-nya terhadap Rink."
"Aku setuju."
"Kau tahu semua akal busuknya?"
"Lebih dari yang kaukira."
"Lalu mengapa kau tetap berteman dengannya begitu lama?"
"Sebagai pengacaranya. Roscoe tidak punya teman. Ia tidak mau berteman dengan siapa pun. Aku tetap bersamanya, sebagian supaya ia tetap pada jalurnya. Aku juga banyak mendapat perlakuan kasar darinya, tetapi aku ridak suka melihat apa yang akan ia lakukan bila aku tidak melindungi bisnisnya."
Caroline menumpukan siku di meja dan ber-topang dagu, sambil menggosok-gosok dahi. "Ia tidak pantas menerima penghargaan itu."
"Kau mau dengar nasihatku?"
"Ya."
"Terima saja, tersenyum dengan anggun."
"Dan jadi munafik?"
"Jangan mengecewakan mereka, Caroline," kata Granger, bicara atas nama seluruh penduduk kota. "Mereka butuh sosok panutan untuk disayang dan dibenci, dicemburui dan ditiru. Berikan apa yang mereka inginkan. Cuma satu jam, beri kesempatan pada Roscoe apa yang seharusnya ia lakukan."
"Kurasa kau benar juga."
Grangcr berdiri dan Caroline berjalan di ski-nya. Sambil bergandengan tangan mereka berjalan ke arah pinui. "Aku akan menyampaikan kepada mereka besok bahwa kau bersedia menerima penghargaan itu mewakili Roscoe.”
"Granger," ujar Caroline, berhenti di pintu. "Apa yang harus dilakukan, secara hukum, untuk mengalihkan akte The Retreat kepada orang lain?"
Kali ini Caroline benar-benar membuat Granger terkejut. "Kau tidak hendak menjualnya, kan?" tanya Gtanger, sangat terkejut.
"Tidak. Aku ingin memberikannya kepada orang lain."
Granger mengamati wajah Caroline dan me-nemukan jawabannya di sana. Karena itu ia tidak menanyakannya lebih lanjut. Ketika me-renungkan pertanyaan Caroline, ia menarik daun telinganya sendiri, membuatnya tampak semakin lebar. "The Retreat sudah menjadi milikmu, kau bisa berbuat sesukamu terhadap rumah itu. Ku-rasa itu mungkin keteledoran Roscoe, tetapi tidak ada ketentuan yang melarangmu mengalihkannya kepada orang lain, hanya saja Laura Jane harus diperbolehkan tetap tinggal di rumah itu seumur hidupnya."
"Aku paham. Yang itu tidak akan memenga-ruhinya."
"kalau bagitu tidak ada masalah bila kau hendak mengalihkan kepemilikannya. Bila kau yakin be-nar itu yang kau mau."
Sambil mcrenung, Caroline mengangguk. "Ka-pan festival musim gugur itu diselenggarakan?"
"Minggu keriga bulan Oktober. Masih sebulan lagi." Granger meletakkan tangannya pada pegangan pintu. "Mereka minta alamat Rink. Mai yakin mereka ingin mengundangnya juga."
Caroline mengalihkan pandangan dari Granger. "Apakah kau bisa mengubah aktenya sebelum minggu ketiga bulan Oktober?" Ketika ia kembali memandang Granger, pria itu tersenyum padanya dengan penuh kasih.
"Kau tahu, andai tidak terlibat dengan keluarga Lancaster, kurasa aku sudah jatuh cinta padamu."

***
Hei!
Caroline berhenti di jalan setapak dan meman-dang ke balik kantong belanjaannya ke arah gadis muda yang menyapanya dengan kasar. "Kau bicara denganku?"
"Bukankah kau Mrs. Lancaster?"
"Ya." Gadis muda itu tidak lebih dari dua belas tahun, tetapi matanya memakai perona mata ungu mengilap dan eyeliner biru yang tebal sekali. Rambutnya yang hitam dipotong pendek, disisir tegak di bagian atas kepala. Salah satu daun telinganya ditindik tiga. Klip kertas yang berwarna-warni tergantung di setiap lubang itu. Daun telinga yang satunya lagi memakai anting-anting berbentuk bintang berukuran besar yang berkilat-kilat. Bibirnya dipoles lipstik warna putih.
Pakaiannya tak kalah ramai dengan riasan wajahnya: rok mini warna hijau dipadu dengan blus oranye; kemeja putih dengan gambar bibir merah darah dan lidah menjulur. Caroline me-ngira gadis itu pasti mengenakan pakaian untuk bermain drama. Orangtua macam apa yang membiarkan gadis dengan pakaian seperti itu berkeliaran di jalan? Namun gadis itu menarik perhatiannya. "Dari mana kau tahu namaku?"
"Aku kenal Mr. Lancaster, Rink Lancaster. Tetapi itu dulu. Namaku Alyssa."
Caroline membelalak karena terkejut. Ini rupanya putri Marilee, yang sangat dikasihi Rink sebelum ibunya memaksa mereka berpisah. "Apa kabar, Alyssa?"
"Baik, kurasa. Kau yang menikah dengan ayah Rink, bukan?"
"Dengan Roscoe. Ia meninggal beberapa bulan yang lalu."
"Tentu, aku tahu itu. Semua orang tahu. Beberapa waktu yang lalu aku melihatmu dan Rink di Dairy Mart."
"Mengapa kau tak menyapanya?"
Gadis itu mengangkat bahu dengan sikap tidak sopan. "Tidak ingin saja. Mungkin ia juga nggak ingat aku."
"Tidak ingat, bukan nggak ingat."
"Heh?"
"Maafkan aku. Aku mengoreksi bahasamu."
"Tak apa-apa. Ibuku selalu melakukan hal itu, tetapi nggak... tidak, tampaknya tidak berhasil juga."
Caroline tertawa. Tetapi hatinya sedih ketika melihat teman-teman yang bersama Alyssa. Ia bisa mengerti pengaruh teman sebaya jauh lebih kuat daripada nasihat orangtua dalam hal ini. Gadis-gadis yang bersama Alyssa itu seperti baru keluar dari tempat rehabilitasi.
Seketika Caroline merasa malu sendiri, telah beropini berdasarkan penampilan saja. Ia meng-hakimi gadis-gadis tersebut. Bagaimanapun, ketika salah satu gadis itu, yang tidak lebih tua daripada Alyssa, menyalakan rokok, ia tidak bisa menyem-bunyikan rasa terkejutnya.
"Bagaimana kabar ibumu?" Caroline ingat Marilee yang bertubuh kecil tapi seksi, berambut pirang yang panjang, bermata kebiruan dan sinis.
"Ia sudah kawin lagi. Suaminya bajingan. Le-bih parah dari sebelumnya. Aku tidak suka tinggal bersamanya." Kemudian, seperti baru sa-dar ia terlalu banyak bicara tentang dirinya, ia menarik diri dan berkata, "Yah, aku harus pergi."
"Tunggu!" Caroline terkejut sendiri ketika me-nyadari dirinya meneriakkan kata itu. Ketika gadis tersebut meliriknya dari balik bulu mata yang dipoles maskara hitam pekat, Caroline ke-hilangan kata-kata. Di balik riasan berlebihan itu Caroline melihat pemberontakan, kecurigaan, dan kerapuhan. Sepertinya gadis kecil itu harus hidup di balik topeng mengerikan dan ingin keluar dari sana. "Bagaimana kalau kau me-nemuiku di rumah—The Retreat—sekali-sekali? Aku ingin mengenalmu lebih jauh."
Alyssa mencibir sambil mendengus. "Tak usah pura-pura."
"Tidak, aku sungguh-sungguh." Apa sebabnya Caroline memaksakan hal itu ia sendiri tak mengerti. Gadis tersebut menyentuh hatinya de-ngan cara yang ia sendiri tidak mengerti. Rink pasti tidak suka melihat anak yang sangat di-kasihinya kelihatan seperti gadis kesepian. Andai bisa menolong, Caroline ingin menolongnya. "Aku ingin menjadi sahabatmu."
Bola mata yang kebiruan itu memancarkan sorot keraguan. "Mengapa?"
"Karena aku sering mendengar cerita tentang dirimu dari Rink."
"Oh ya? Apa yang ia bilang?" Dagunya agak terangkat dengan sikap menantang. Namun Caroline tahu gadis itu terkejut dan tertarik untuk mendengarnya.
"Ia bilang dulu kau anak yang amat manis. Ia sangat menyayangimu dan tidak senang ketika harus berpisah denganmu."
"Ia bukan ayah kandungku."
"Aku tahu. Tetapi ia mengasihimu seperti anak kandungnya." Gadis kecil itu menggigit bibir dan Caroline merasa sesaat jantungnya berhenti berdebar karena melihat gadis itu seperti mau menangis. "Rink akan datang ke sini be-berapa minggu lagi untuk menghadiri Fesrival musim gugur. Bagaimana kalau kau datang dan menemuinya?"
Alyssa mengangkat bahu. "Mungkin. Aku si-buk."
"Oh, begitu. Aku pikir Rink akan gembira sekali bila bisa berjumpa denganmu. Ibumulah yang mengacaukan semuanya."
Tanpa menjawab, Alyssa melirik ke arah teman-temannya di belakang, yang menantinya dengan tidak sabar. "Maaf, aku harus pergi."
"Aku senang bisa berkenalan denganmu, Alyssa. Tolong pertimbangkan untuk menjengukku."
"Ya, baik."
Caroline memandang gadis yang menyusuri trotoar itu. Anak yang malang. Namun perasaan Caroline lebih ringan ketimbang minggu-minggu sebelumnya.
"Kau bangga pada diriku, Steve?"
"Aku selalu bangga padamu."
Laura Jane dan suami yang baru dinikahinya dua bulan yang lalu itu berbaring di ranjang berukuran besar di ruangan yang dulunya suite Roscoe. Kamar-kamarnya hampir tidak bisa di-kenali lagi. Caroline mengubahnya sebagai hadiah pernikahan. Kertas dindingnya sudah diganti te-tapi arsitekturnya tak diubah. Tirai jendelanya baru, handuk dan peralatan kamar mandi, perma-dani yang terhampar di lantai, juga baru. Sofa panjang dan kursi santai berikut meja untuk minum teh menggantikan meja kerja di ruang duduk.
Laura Jane merapat pada suaminya. Dengan santai jari-jarinya mengelus perut Steve. "Tetapi maksudku kau benar-benar bangga karena aku sendiri yang membeli barang-barang itu hari ini. Aku tidak salah menghitung uang kembaliannya, kan?"
Tangan Steve makin rapat mendekap Laura Jane. Setelah dua bulan tidur dengannya, ia hampir yakin tidak akan pernah melepaskan pelukannya. "Kau melakukan segalanya dengan sangat benar. Aku tahu kau mampu melakukan-nya."
Steve menemani Laura Jane ke toko makanan. Tetapi ketika ia meminta istrinya yang mengurus pembayarannya, mata Laura Jane memancarkan ketakutan. Namun Laura Jane meneliti bon yang diberikan pelayan kepadanya dan dengan hati-hati menghitung jumlah uang yang harus dibayar, kemudian menunggu kembaliannya. Ketika me-reka meninggalkan toko itu, mata Laura Jane berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja berhasil pada konser piano pertamanya.
"Aku takut mencoba. Aku ingat Rink dulu sering mengajakku ke kota. Ia ingin mengajari aku melakukan segalanya sendiri, tetapi aku selaJu takut salah dan ia kecewa padaku. Aku bahkan tidak ingin mencoba."
Steve mengubah posisi kepalanya di bantal sehingga ia bisa melihat Laura Jane. "Kau tidak takut mengecewakan aku?" goda Steve dan istri-nya menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Steve.
"Sama sekali tidak. Aku ingin menyenangkan-mu lebih dari siapa pun. Karena itulah aku ingin mencobanya, dan melakukannya sebaik mungkin. Aku tahu aku tidak sepintar orang-orang. Aku tidak ingin kau menyesal menikah denganku."
Steve berbaring menyamping dan memeluk Laura Jane. "Sayangku," bisiknya di antara rambut wanita itu. "Bagaimana mungkin aku menyesal menikah denganmu? Aku selalu cinta padamu, apa pun yang kaulakukan, atau tidak kaulakukan. Kau tidak perlu mengejar cintaku, Laura Jane, kau sudah mendapatkannya. Untuk selamanya."
"Steve," bisik Laura Jane sambil mengelus dada suaminya. "Aku sangat mencintaimu." Sam-bil duduk, Laura Jane melepas gaun tidurnya lewat kepala dan melemparkannya ke kaki ranjang.
Sikap Laura Jarre yang polos itu membuat Steve makin menyayanginya. Ia seperti anak-anak jika menyangkut soal ketelanjangan. Karena jiwanya masih polos, ia merasa tidak ada yang perlu ditutupi pada tubuhnya. Seperti Hawa sebelum makan buah kuldi di taman Surga, hatinya terbebas dari prasangka dan takut. Sikap spontan itu makin menyenangkan suaminya, dan Steve malu mengingat bagaimana ia menikmati kepolosan sikap Laura Jane.
Laura Jane mengajarkan sesuatu pada Steve soal tubuhnya. Dulu Steve tak suka melihat kakinya, semenjak ia kehilangan salah satunya. Ia benci kakinya. Yang mengejutkannya, Laura Jane justru menyayangi tubuhnya. Ia selalu men-cari-cari alasan untuk menyentuhnya. Tangan istrinya yang halus bak porselen itu terasa seperti menyalurkan kekuatan yang menyembuhkan pada kaki kirinya. Laura Jane menggetarkan jiwanya dengan sikap ingin tahunya, dan membangkitkan gairahnya menuju puncak hasrat yang belum pernah dirasakannya. Setiap belaiannya merupa-kan ungkapan cinta yang tulus pada Steve. Selama hidupnya, belum pernah Steve diperhati-kan orang lain seperti itu.
Kini, sambil tersenyum manis, Laura Jane berbaring di samping Steve dan meletakkan tangannya yang kurus di pinggang pria itu. Steve mempermainkan rambut Laura Jane yang panjang dan menciumnya. Tak lama kemudian mereka saling membelai. Steve mengelus punggung Laura Jane ketika wanita itu menindih tubuhnya. Laura Jane meletakkan telapak tangannya di pipi Steve dan berulang-ulang menciuminya. Lidahnya yang seperti lidah anak kucing menggelitik telinga Steve, keterampilan baru yang didapat Laura Jane dari Steve.
Laura Jane agak menurunkan tubuhnya dan mencium leher dan dada Steve. Steve hampir terlompat dari ranjang.
"Laura Jane," desah Steve.
"Hmmm?" gumam istrinya, tidak mau ber-henti. "Ketika kau melakukan hal ini padaku, rasanya nikmat. Apakah kau tidak merasa nikmat juga diperlakukan begini? Kalau tidak enak, aku akan berhenti."
Tangan Steve mengelus rambut Laura Jane. "Jangan, jangan berhenti," jawab Steve tergagap.
"Jangan sampai...." Steve membetulkan posisi tubuh istrinya di atas tubuhnya dan dengan gerakan perlahan tapi menyenangkan Steve menyatukan tubuh mereka.
Sambil bertopang pada rangan, Laura Jane memajukan tubuhnya dan menyentuhkan salah satu payudaranya ke bibir Steve. Steve menciumi-nya sampai kemerahan. Lidahnya beraksi. Wanita itu mendesah.
Hasrat dalam tubuh mereka menggelegak sam-pai akhirnya Steve memegangi pinggul Laura Jane dan bergerak. Laura Jane membenamkan kepala Steve ke payudaranya yang kecil sementara tubuh mereka sama-sama bergetar. Lama sesudah itu mereka tetap berpelukan. Kemudian dengan lembut Laura Jane mencium dahi suaminya dan berbaring di sampingnya.
"Aku bahagia kau mengajariku cara bercinta," kata Laura Jane.
Steve tertawa. "Begitu juga aku."
"Moga-moga semua orang di dunia ini sebahagia kita."
"Aku rasa tidak mungkin. Tak ada orang yang sebahagia aku." Steve mendaratkan ciuman mesra di bibir istrinya.
"Aku berharap Caroline bisa bahagia. Sejak Rink pergi, ia kelihatan tidak pernah gembira." Persepsi Laura Jane yang seperti itu seharusnya mengejutkan Steve, tapi ternyata tidak. Steve merasa kadang-kadang istrinya jauh lebih peka daripada orang lain. "Apa kaupikir ia merindukan Rink?"
"Ya, kurasa begitu, Sayang."
"Aku juga." Sejenak Laura Jane terdiam dan Steve mengira wanita itu tertidur. Kemudian Laura Jane berkata, "Aku khawatir Caroline akan meninggal seperti Daddy."
Steve memegang dagu istrinya dan menaikkan-nya. "Apa maksudmu?"
"Caroline sakit."
"Ia tidak sakit. Dan ia tidak akan mening-gal."
"Daddy sering mengelus perut ketika mengira tak ada yang melihat. Atau ia memejamkan mata seperti merasa ada yang sakit di bagian tubuhnya."
"Apa hubungannya dengan Caroline?"
"Ia melakukan hal yang sama. Kemarin malam, ketika pulang dari pemintalan, aku memerhati-kannya dari teras. Ia menggantung jaketnya dan menaiki dua anak rangga pertama. Kemudian ia berhenti dan bersandar pada pegangan tangga. Ia memegang kepala lama sekali. Kelihatannya ia seperti sesak napas. Aku baru ingin mendekati dan menolongnya tetapi ia kembali tegak. Ke-lihatannya ia harus bersusah payah sampai ke atas."
Terdorong perasaan peduli atas apa yang di-lihatnya, Laura Jane membungkuk. "Steve, Caroline belum akan meninggal dunia, bukan?"
"Tidak, tidak, pasti tidak," sahut Steve, me-yakinkan Laura Jane dan mengelus-elus rambut-nya. "Ia mungkin hanya letih saja."
"Aku berharap begitu. Aku tidak ingin ada yang meninggal lagi sampai aku meninggal. Ter-utama kau," kata Laura Jane sambil mendekap Steve erat-erat. "Jangan meninggal, Steve."
Steve balas mendekap erat Laura Jane. Ia merasakan napas istrinya yang lembut menyentuh kulitnya dan tahu Laura Jane tertidur. Ditutupi-nya tubuh wanita itu dengan selimut lalu di-peluknya sekali lagi. Tetapi Steve tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang di kegelapan ka-mar, dahinya berkerut. Ia juga mengkhawatirkan Caroline. Apalagi mengingat apa yang baru saja disampaikan Laura Jane padanya, perasaannya jadi makin khawatir.



Bab 14

FESTIVAL Musim Gugur ternyata diberkati— cuaca cerah. Acara pembukaan dilakukan di pagi hari yang ceria. Caroline memutuskan me-makai setelan jas barunya. Udara akan agak dingin.
Setelah. mengetuk pintu kamar Caroline per-lahan, Haney masuk membawa baki. "Aku tidak suka mengganggumu. Kau harus tidur lebih ba-nyak. Tetapi aku tahu kau pasti jengkel padaku bila membiarkan kau tidur terus."
"Terima kasih, Haney." Di atas baki itu ter-hidang seteko teh, minuman yang dipilih Caro-line belakangan ini ketimbang kopi, segelas jus jeruk, dan dua potong kue muffin. "Aku tidak tidur. Hanya berbaring, bermalas-malasan."
"Itu pun baik untuk tubuh sekali-sekali. Ter-utama hari ini, yang akan banyak menguras tenagamu. Mau kupijat? Atau kusiapkan air mandi?"
"Aku sudah menyiapkan pakaian," kata Caro-line, sambil duduk di kursi di samping meja tempat Haney meletakkan baki. Caroline me-nuangkan teh ke cangkir. "Barangkali enak juga mandi pakai air panas. Udara di luar dingin."
Haney ke kamar mandi, sambil terus mengo-ceh soal acara yang akan dilangsungkan akhir pekan ini. Caroline hampir tak mendengarkannya ketika menyeruput teh. "Airnya sudah siap. Kenapa kau tidak memakan muffin-nya?"
"Aku tidak lapar." Setiap kali membayangkan berdiri di hadapan orang banyak untuk menerima penghargaan itu, Caroline langsung mulas. Andai ia melahap makanan dalam keadaan begitu, akan sangat berbahaya.
Haney mengamati Caroline yang bangkit dari duduk dan berjalan ke lemari untuk mengambil jubah mandi berbahan handuk. Di balik gaun tidurnya, Haney melihat berat badan Caroline banyak bgrkurang. Tubuhnya yang dulu ram-ping kini hanya tinggal tulang dibalut kulit, menurut Haney. "Apakah ia akan hadir?" Haney membungkuk, merapikan seprai tempat tidur Caroline.
"Siapa?" Haney memandang Caroline dengan sorot mata yang membuat Caroline merasa malu, membuatnya menunduk dan menjawab, "Ah, entahlah." Caroline masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, menutup pembicaraan yang menyinggung soal Rink.
Sejam kemudian, saat Caroline menuruni tang-ga, Steve bersiul. Laura Jane bertepuk tangan.
Wajah Haney memancarkan ekspresi prihatin bercampur bangga.
"Wow, luar biasa!" puji Steve.
Caroline tertawa dan ketiga orang yang me-merhatikannya memandangnya dengan penuh kagum sambil berseru-seru. Caroline jarang sekali tertawa belakangan ini. "Bagaimana kelihatan-nya?"
"Kau tampak cantik sekali, Caroline," puji Laura Jane bersemangat. "Oh, kau sangat cantik."
"Ia terlalu kurus," komentar Haney sambil menarik bagian bahu gaun Caroline.
"Kurasa, kalau mereka ingin membicarakan aku—mereka pasti akan melakukannya—aku akan membuat diriku jadi bahan pembicaraan. Di samping itu, aku mewakili warga kota terpilih kota ini. Aku harus mengenakan pakaian yang pantas."
Caroline memakai setelan warna krem yang terbuat dari wol. Blusnya abu-abu muda, mirip warna matanya. Rambutnya dihias dengan jepitan yang warnanya hampir sama dengan setelan jas-nya. Rambutnya disisir agak jatuh di dahi. Riasan wajahnya sederhana, untuk menyamarkan ling-karan hitam di bawah mata. Anting-anting mu-tiara menempel di telinganya. Stokingnya kuning gading muda. Ia mengenakan sepatu berhak rendah dari bahan suede warna kekuningan dan sarung tangan dengan warna senada.
"Kalian juga kelihatan keren," puji Caroline ketika memerhatikan mereka dengan bangga. Laura Jane memakai gaun warna biru muda, terkesan molek seperti boneka. Steve memakai jas yang dikenakannya waktu pernikahan, dengan dasi kupu-kupu yang biasa dikenakan pada acara resmi. Haney juga mengenakan gaun cantik.
"Mobil sudah menunggu," kata Steve, sambil menjulurkan tangan hendak menggandeng Laura Jane. "Lady Laura Jane, Lady Caroline." Steve berbalik dan Caroline menggandeng tangan Steve yang satu lagi. "Haney, ayo," ajak Steve, dan mereka pun pergi meninggalkan The Retreat.
Auditorium SMU penuh sesak. Tak pernah ge-dung itu sepadat hari ini, bahkan saat latihan football sekalipun.
Caroline duduk di podium, diapit anggota-anggota keluarganya dan Haney, yang dipaksanya menemaninya walaupun tidak disukai para pe-jabat, dan beberapa pejabat tersebut.
Untuk menenangkan perasaan gugup, Caroline mengamati bendera Amerika di sudut panggung. Gambar bintang-bintang di bendera itu tampak seperti agas yang beterbangan di padang yang biru. Garis-garisnya seperti gelombang laut. Ben-dera itu diam.
Caroline merasa mual.
Sekilas ia melempar pandang ke arah hadirin. Yang dilihatnya hanyalah lautan wajah yang me-mandangnya penuh rasa ingin tahu. Caroline mengalihkan pandangan ke tangannya yang ber-ada di pangkuannya, ia melihat telapak tangannya mengilap karena keringat. Jika memakai sarung tangan, tangannya akan kepanasan meskipun udara saat ini dingin. Ia berusaha menekan rasa mual yang sudah sampai di tenggorokannya. Ia menyesal tadi mengikat pita di lehernya terlalu ketat.
Perutnya berbunyi. Mengapa tadi ia tidak makan kue muffin dulu? Andai tadi ia memakan-nya, mungkin ia sudah memuntahkannya seka-rang. Tetapi sekalipun tidak, ia merasa ingin muntah. Ia akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan seluruh penduduk kota.
Mengapa panas sekali udara di sini? Kulitnya terasa lengket. Ia melihat sekelilingnya. Tak ada yang kelihatan resah. Steve dan Laura Jane ber-bisik-bisik. Haney bertemu teman gerejanya dan asyik mengobrol. Walikota, melanggar aturan dilarang merokok di dalam gedung, mengisap cerutu sambil berbicara dengan suara keras pada hakim wilayah. Bau asap cerutunya membuat perut Caroline makin seperti teraduk-aduk.
Waktu pandangannya tertuju pada Walikota, pria itu meminta maaf pada si hakim karena harus ke belakang panggung. "Well, kita bisa mulai sekarang. Aku sudah khawatir kau tidak bisa datang, Nak. Bagaimana kabarmu, Rink?"
Caroline menelan ludah. Ia. bemapas dengan mulut, berusaha menekan rasa mual. Sekujur tubuhnya sesaat terasa dingin, sesaat kemudian panas. Telinganya serasa terbakar.
Ia mendengar Rink menyapa orang-orang di sekeliiing Caroline. Dengan ekor matanya, Caroline melihat Haney menghampiri Rink de-ngan tergesa-gesa. Rink menghentikan ocehan Haney dengan mendaratkan ciuman di pipinya. Haney tampak terkesima, wajahnya merah padam bak gadis remaja, kemudian ia memeluk Rink. Laura Jane melompat dari kursi dan berlari menghampiri Rink. Steve pun berdiri lalu kedua laki-laki itu berjabat tangan.
Kemudian ia melihat pria yang mengenakan celana cokelat itu melangkah ke arahnya. Ia berdiri tepat di hadapannya. Caroline dapat me-rasakan gelombang panas dan energi yang ter-pancar keluar dari tubuh Rink. Karena seluruh mata penduduk kota tertuju ke arah mereka, Caroline hanya tersenyum kecil dan mengangkat kepala sedikit ketika memandang Rink. "Halo, Rink."
Rink menatapnya dan tampak hanya sesaat berhasil menyembunyikan perasaan terkejutnya. Ia melihat lingkaran hitam di mata Caroline. Pipinya tirus. Mukanya pucat. Caroline kelihatan seperti orang yang tak pernah tidur dan makan.
Tetapi ia kelihatan tetap cantik.
Rink harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk meredam perasaan ingin mendekap Caroline erat-erat. Dua bulan terakhir ini ia sangat tersiksa. Bisa dibilang menit-menit yang dilaluinya penuh kepedihan, karena ia tidak bisa mengerjakan apa-apa, kecuali memikirkan Caroline, merindukannya.
Persetan dengan temperamennya. Persetan de-ngan keangkuhannya. Rink marah gara-gara dua pemabuk di tempat minum bicara sembarangan. Ia memuntahkan frustrasinya pada Caroline. Kali ini Caroline membalas tindakannya. Sikap itu mengejutkan Rink dan membuatnya makin ma-rah. Terutama karena apa yang dikatakan Caroline benar-benar tepat mengenai sasaran. Roscoe tidak dapat disalahkan lagi. Ia sendiri yang menciptakan penderitan ini bagi dirinya, bagi Caroline. Ia pergi tanpa pamit. Pria dewasa macam apa yang berperilaku demikian?
Pria yang tengah jatuh cinta?
Ah, memang orang yang tengah jatuh cinta bisa kejam dan gila. Cinta bisa membuat sese-orang bertingkah seperti orang tolol. Bahkan sekalipun menyadari perilakunya seperti orang bodoh tidak akan mampu mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap seperti orang tolol. Cinta membuat seseorang mampu berjabat tangan de-ngan sikap dingin yang mengejutkan dan berkata hambar, "Halo, Caroline. Kau tampak cantik sekali," padahal yang ingin dilakukan Rink adalah merangkul wanita itu, meminta maaf, menuntut-nya sebagai miliknya, dan tidak ingin siapa pun ada di antara mereka.
Rink duduk di sebelah Caroline. Ujung celana-nya menyentuh kaki Caroline, dengan hati-hati Caroline menggeser kakinya. Rink melihat Caroline dengan sadar menarik ujung roknya ketika duduk kaku di panggung. Oh, Tuhan, perempuan ini begitu memesona. Ia masih ke-lihatan seperti gadis remaja yang dikenalnya di hutan, gadis kecil putri keluarga Dawson, yang berjuang mati-matian untuk mendapat pengakuan status. Rink merasa sesak karena memendam cintanya pada Caroline. Ingin ia berteriak pada wanita itu, "Mengapa kaupedulikan pendapat orang-orang tentang dirimu? Statusmu jauh di atas orang-orang itu."
Yang mengejutkannya kemudian adalah ke-nyataan bahwa dirinya tidak berbeda dengan Caroline. Kerinduannya pada Caroline jauh lebih besar ketimbang memikirkan masa depannya. Namun saat ini ia harus menerima kenyataan ia harus jauh dari Caroline demi menjaga reputasinya di mata orang banyak. Caroline pernah menjadi istri ayahnya. Apakah orang-orang itu menganggap itu pernikahan yang normal? Ia lebih tahu dari-pada mereka. Bahkan kalaupun tidak....
Rink menoleh ke arah Caroline seketika, mem-buat Caroline terkejut karena ia pun tengah menatapnya. Mereka bertemu pandang.
Diamatinya setiap bagian wajah Caroline. Di-rekamnya setiap detail yang ada. Di matanya, Caroline masih secantik saat pertama kali ia mengenalnya. Bahkan kini seribu kali lebih men-cintainya dibandingkan musim panas dua belas tahun yang lalu.
Dan Rink yakin, dengan cintanya yang buta, kalaupun ia tidak tahu bagaimana situasi per-nikahan Caroline dengan ayahnya, ia tetap men-dambakannya. Ia mencintai Caroline lebih dari-pada siapa pun, lebih daripada opini masyarakat yang menganggap cintanya tidak masuk akal, lebih daripada keinginannya menantang ayahnya, lebih daripada apa pun, ia sangat mencintai Caroline Dawson.
"Maka kini kami mohon Mrs. Caroline Lancaster, janda Mr. Roscoe, untuk naik ke podium."
Mata Rink tertuju ke mikrofon yang ditinggal-kan Walikota, yang memanggil Caroline. Ia tidak mendengarkan pidatonya yang berbunga-bnga. Jelas Caroline pun tidak mendengarkannya. Ke-tika para hadirin bertepuk tangan meriah, Caroline kelihatan terkejut.
Rink melihat Caroline berusaha menenangkan hati dan bangkit dari duduk dengan anggun. Ia meletakkan tas dan sarung tangannya di kursi, kemudian berjalan ke podium dengan gaya seo-rang ratu. Senyum yang diberikannya kepada Walikota sangat manis dan para hadirin tampak menyukainya. Rink mengamati wajah setiap orang. Kau tak perlu cemas. Mereka menerima dirimu.
Caroline menerima penghargaan dengan ta-ngan yang satu dan tangan yang lain menjabat tangan Walikota. Pria itu bergeser, menyerahkan mikrofon pada Caroline. "Andai masih hidup, Roscoe pasti akan sangat bangga menerima peng-hargaan Anda sekalian ini. Saya dan seluruh keluarga menerimanya atas namanya dan mengu-capkan terima kasih."
Tak ada basa-basi dalam pidato Caroline yang singkat. Apa yang dikatakan Caroline adalah yang sebenarnya. Ia tidak mengulang pujian yang tadi diucapkan Walikota tentang Roscoe. Ia hanya menerima penghargaan itu mewakili Roscoe. Ia memberi orang-orang ini apa yang mereka inginkan, pahlawan yang mereka tunjuk hari ini. Menurut hemat Rink, semua itu baik.
Kemudian mata Rink beralih kepada Caroline. Mukanya pucat seputih benda antik yang di-simpan dalam lemari pajangan di The Retreat. Caroline berhenti sejenak dan memejamkan mata, seperti berjuang keras untuk bernapas dan men-jaga keseimbangan tubuh. Ia maju selangkah lagi dan terjerembap. Walikota berhasil menyam-bar sikunya dan memanggil-manggil namanya.
Rink melompat dari kursi. Caroline melihat ke arahnya, mengerjap-ngerjapkan mata seperti hendak memfokuskan pandangan pada Rink. Kemudian perlahan-lahan matanya terpejam, lututnya menekuk lemas, dan ia pingsan di lantai.
Riuh rendah suara orang-orang terkejut melihat hal itu dan bangkit dari duduk. Laura Jane menjerit dan mencengkeram lengan Steve. Haney berteriak, "Oh, Tuhan!" sambil meletakkan ta-ngan di dadanya yang lebar. Mereka yang dekat dengan Caroline berlari menghampirinya, mengangkatnya dari panggung.
Rink, dipenuhi perasaan cemas yang amat sangat, menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun, meminta mereka menjauh. "Tolong, minggir, minggir. Cepat—minggir! Persetan, minggir!"
Akhirnya Rink berhasil berada di dekat Caroline. Ia berlutut dan memegangi tangan Caroline. Tangan itu terkulai dalam genggaman-nya. "Caroline, Caroline. Ya ampun, tolong pang-gilkan dokter. Caroline, Sayang. Oh Tuhan, Caroline, bicaralah padaku!"
Rink meloloskan ikatan pita blus Caroline, dan membuka beberapa kancingnya. Dilepaskan-nya jas Caroline, yang menyebabkan masalah. Dilepasnya topi di kepala wanita itu, lalu di-lemparkannya. Rambutnya yang hitam digerai. Dengan gerak tangan terlatih, sigap, lagi cekatan, Rink memukul-mukul pipi Caroline. Kelopak mata wanita itu bergerak-gerak. Rink mendesah lega. "Istirahatlah, Sayang. Ada apa? Kenapa? Tidak, tak usah bicara. Dokter sudah dipanggil."
"Rink," bisik Caroline sambtl tersenyum. "Rink."
"Kau pingsan, Sayang." Dengan lemah Caroline mengangkat tangan dan mengelus pipi Rink, membelai rambutnya.
Seperti dikomando, orang-orang yang berkeru-mun di sekeliling mereka serentak menaikkan alis. Terdengar seseorang bergumam, "Wah, bu-kan main."
"Kau akan segera sembuh. Pasti. Aku yakin." Rink mengangkat tangan Caroline dan meletak-kannya di bibir, lalu menekan telapak tangannya. Diangkatnya tubuh Caroline ke pangkuannya, hingga Caroline tidak terbaring di lantai lagi. "Dokter akan segera kemari."
"Aku tak perlu dokter."
"Tak usah banyak bicara. Kau baru saja ping-san. Karena terlalu gembira, makanya kau ping-san. Kau akan...."
"Aku hamil, Rink."
Kata-kata Caroline yang perlahan itu meng-hentikan semburan kata-kata yang hendak melun-cur keluar dari bibir Rink. Ia menatap Caroline tanpa berkata-kata. Caroline tertawa kecil melihat wajah Rink yang terkesima. "Itulah penyebabnya. Aku akan punya anak."
Caroline menatap orang-orang yang berkeru-mun karena ingin tahu. Para pemuka masyarakat menyimak informasi tersebut dengan sangat antu-sias, yang menyingkap gosip yang mereka dengar berbulan-bulan belakangan ini. Mereka inilah yang dulu menganggap Caroline dan keluarganya rendahan. Kepada mereka inilah Caroline ber-usaha menanamkan reputasinya, berjuang men-dapatkan pengakuan.
Kini baru Caroline menyadari, bertahun-tahun ia membuang waktu untuk memperjuangkan hal yang ternyata tak bermakna. Matanya kem-bali tertuju pada Rink. Menatap mata keemasan itu, yang selalu menatapnya dengan mesra, kasih, hasrat dan cinta. Disentuhkannya pipinya ke pipi Rink, dan berkata, "Aku akan punya anak darimu, Rink."
Mata Rink berbinar-binar. Sambil mempererat dekapannya pada Caroline, ia menunduk dan mendekatkan bibir ke telinga Caroline. "Aku cinta padamu," bisik Rink. "Aku cinta padamu, Caroline."
Kemudian, secepat angin, Rink menekuk kaki, menggendong tubuh kekasihnya itu. "Tolong beri kami jalan. Anda dengar, ia bilang ia hamil. Aku akan membawanya pulang. Walikota, tolong matikan cerutu Anda. Asap itu membuat saya mual, padahal saya si calon ayah, bagaimana dengan calon ibu ini? Haney, tolong ambilkan barang-barang Caroline di sana, di kursinya. Steve, tolong bawa mobil ke sini. Laura Jane, kau tidak apa-apa, kan? Itu baru adikku yang manis.”
Beberapa saat lamanya Rink memberi perintah, sementara Caroline bersandar di dadanya dengan nyaman. Rink menyeruak di antara orang banyak, meyakinkan setiap orang bahwa Caroline baik-baik saja, bahwa Caroline pingsan karena luapan emosi kegembiraan, hawa panas ba-ngunan, dan sarapan yang kurang. "Saya akan membawanya pulang sekarang untuk memberinya makan dan menidurkannya. Saudara-saudara, sila-kan teruskan acara dan selamat bersenang-senang. Caroline akan baik-baik saja. Saya tahu, ibu yang sedang hamil memang sering mengalami hal ini."
Rink tersenyum pada Caroline, dan seluruh warga kota menyaksikan mereka meninggalkan gedung. Caroline melingkarkan tangannya di le-her Rink.
"Sudah bangun?" Rink memiringkan tubuh dan memberikan ciuman manis di dahi Caroline.
"Dari tadi kau di sini?" Caroline tertidur dengan tangan digenggam Rink.
"Setiap detik."
"Berapa lama aku tidur?" Caroline menggeliat.
"Beberapa jam. Tidak terlalu lama. Aku malah ingin kau tetap di ranjang sampai beberapa hari lagi."
Mata Caroline membelalak. "Hanya tidur?"
"Salah satunya," jawab Rink penuh arti dan mendekap Caroline erat-erat. Sejenak ia mem-benamkan wajah di leher Caroline yang wangi serta lembut, kemudian ia mengangkat kepala untuk menciumnya.
Bibir Rink menyentuh bibir Caroline dengan lembut. Dengan lidahnya ia menelusuri garis bibir Caroline. Ketika bibir Caroline agak mem-buka, lidahnya segera dimasukkan ke mulut ke-kasihnya itu. Caroline melingkarkan tangan di leher Rink, dan menarik tubuh pria itu lebih rapat ke tubuhnya.
Rink tak kuasa menahan desakan yang sejak beberapa jam yang lalu ditahannya karena takut membahayakan Caroline. Ia berbaring di samping wanita itu di ranjang, dan memeluk tubuh Caroline yang hangat dan masih mengantuk. Bibir mereka saling melumat. Tak henti-hentinya mereka tersenyum. Tetapi akhirnya Rink menatap Caroline dengan wajah serius.
"Tadinya kapan kau akan memberitahu aku soal bayi ini, Caroline?"
Rink masih berpakaian lengkap, tetapi kancing kemejanya sudah dibuka. Caroline menyelipkan tangannya ke balik kemeja, mengelus dadanya yang bidang. "Setelah akhir pekan ini. Bila kau tidak hadir pada acara Festival Musim Gugur ini, aku akan meneleponmu."
"Begitukah?"
"Bila tidak, Haney yang akan menelepon."
"Ia tahu?"
"Kurasa ia curiga. Dan Steve. Mereka memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi aku merasa mereka selalu memerhatikan aku."
"Bukan aku curiga, tapi aku merasa ada yang tidak beres. Berat badanmu berkifrang terus." Tangan Rink yang diletakkan di rusuk pindah ke paha.
"Kata dokterku aku normal saja. Aku memang kurang nafsu makan. Sedikit saja aku makan, selalu keluar lagi."
"Mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Aku tak tahu apa aku harus memukulmu atau menciummu."
"Menciumku."
Rink mengabulkan permintaan Caroline. Rink mengelus perut wanita itu. "Ada anakku di dalam sana. Oh Tuhan, mukjizat yang sangat ind,ah," kata Rink sambil memeluk Caroline. Sekali lagi diciumnya Caroline dengan lembut dan hasrat menggelora.
Tangan Rink menyelinap ke payudaranya. Ia hanya menyisakan pakaian dalam ketika mem-buka pakaian wanita itu dan menyuruhnya segera berbaring di ranjang begitu mereka tiba di ru-mah. Bahan sutra itu terasa hangat karena pan-caran panas dari tubuh Caroline. Rink menyen-tuh payudara Caroline, melepas bra berenda yang menutupinya. Diciuminya bagian itu. "Caroline, maukah kau menikah denganku?"
Caroline tersenrak. Bibir Rink dengan panas terus beraksi. "Bagaimana bisa aku menolak? Kau memintanya dengan begitu manis."
Rink menindih tubuh Caroline dan me-megangi wajahnya dengan dua tangan. "Aku ingin kau tahu sesuatu, yang tidak kusadari sampai hari ini." Matanya tajam menatap Caroline. "Andaipun kau benar-benar menjadi istri Daddy, aku akan tetap mencintaimu dan menginginkanmu seperti sekarang ini."
Rink melihat mata Caroline berkaca-kaca. Ia juga melihat air mata menitik jatuh di pipinya. "Aku cinta padamu." Caroline memegang kepala Rink dan menekannya ke bawah, minta dicium. "Ya, aku mau menikah denganmu."
"Secepatnya?" desak Rink. "Baru empat bulan Daddy meninggal. Orang akan menggunjingkan kita."
Caroline menggeraikan rambutnya di bantal dan tertawa. "Setelah peristiwa pagi ini, ke-khawatlran seperti itu tak perlu lagi." Caroline mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. "Kurasa lebih cepat lebih baik."
"Minggu ini?"
"Besok," bisik Caroline, dan Rink tersenyum. "Apa yang ingin kita lakukan setelah kita me-nikah? Di mana kita akan tinggal?"
"Di sini, di The Retreat. Aku harus bolak-balik, ke Atlanta dan ke sini untuk bisnisku." "Aku ikut bolak-balik bersamamu." "Tidak takut naik pesawat denganku?" "Aku tidak pernah takut melakukan apa pun bersamamu."
Pernyataan itu mendorong Rink kembaJi men-daratkan ciumannya. "Sementara kita tinggal di sini, apa yang akan kita lakukan, pindah tempat tidur setiap beberapa malam?" goda Rink.
"Bagaimana kalau kita memakai ranjangmu saja, dan kamar ini kita jadikan kamar anak kita?"
Rink memandang ke sekeliling kamar, kemu-dian kembali menatap Caroline dengan penuh kemesraan. "Andai Mama masih hidup, ia pasti senang sekali."
Bibir mereka kembali saling melumat. "Aku tidak bosan-bosan menciummu. Oh, Tuhan, aku sangat merindukanmu."
Dada dengan bulu yang lebat itu menggesek-gesek dada Caroline, yang masih basah akibat sentuhan bibirnya. Rink menggenggam tangan Caroline yang diletakkan di perut bagian bawah-nya. Gelora seperti merembes masuk ke perut lalu menuju paha Caroline, seperti mentega yang meleleh. Sambil menciumi leher Rink, Caroline bergumam, "Rink, buka pakaianmu."
"Brengsek!" maki Rink dan duduk. Pipinya memerah, dan jantungnya berdebar cepat. "Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Kita harus menunda reuni kita. Aku sudah bilang pada Haney akan mengajakmu turun makan malam begitu kau bangun."
"Oh, astaga!" Caroline menyibakkan selimut dan menurunkan kaki dari ranjang. "Baru aku ingat. Kita akan kedatangan tamu saat makan malam."
"Tamu? Siapa?"
"Kejutan. Tolong ambilkan pakaianku." Caroline segera beranjak ke meja rias, mengambil sikat dan merapikan rambutnya. "Apakah aku kelihatan seperti habis...? Kau tahu maksudku."
Dengan cemas Caroline memerhatikan wajah-nya di cermin ketika ia menepukkan bedak di bibirnya yang habis diciumi.
Rink memberinya gaun dari bahan wol, pi-lihan yang diambilnya dari lemari. Dipeluknya Caroline dari belakang, tangannya menggenggam payudara kekasihnya. Jari-jarinya beraksi. "He-eh. Kau kelihatan seperti habis... kau tahu."
Rink membenamkan wajah di leher Caroline, tepat di belakang telinga, dan menciumi bagian yang sensitif itu. Sambil mengerang, Caroline menarik napas, "Rink, aku tidak akan siap bila kau tidak berhenti."
"Aku siap." Rink menekankan kejantanannya ke bokong Caroline. "Aku sudah siap sejak beberapa jam yang lalu. Kau tahu betapa cantik-nya dirimu ketika sedang tidur?"
"Kau tahu apa yang kumaksud. Siap untuk makan malam."
"Oh, makan malam. Persetan." Rink pura-pura menarik napas, menarik tangannya dan menjauh dari Caroline.
Setelah tenang, mereka turun untuk bergabung dengan Steve dan Laura Jane di teras. Tanpa bertanya, Steve menuangkan minuman bourbon campur air untuk Rink yang mendudukkan Caroline di sofa dengan sangat hati-hati.
"Terima kasih," kata Rink sambil menerima gelas minuman. Ia menatap adik iparnya dan tersenyum. Andai masih ada keraguan dalam hati Rink tentang pernikahan Laura Jane, yang ia perlu ia lakukan hanya memandang Laura Jane dan Steve. Kebahagiaan terpancar di wajah Laura Jane seperti lampu mercusuar yang me-mancarkan sinar terang benderang di lautan pada malam hari. Steve rileks, tidak lagi tegang dan defensif. Ia sudah merencanakan beberapa peru-bahan untuk kandang kuda yang sangat produk-tif. Ia berbicara dengan Rink pada posisi yang sederajat sekarang. Kedua pria itu makin saling mengenal dan saling menyukai.
Ketika bel rumah berbunyi, Caroline, membuat Rink cemas, melompat dan lari ke teras. "Aku yang buka. Nikmati saja minuman ka-Jian."
"Bagaimana ia menyuruhku menikmati mi-numan sementara ia melompat-lompat seperti kelinci?' tanya Rink. "Ia seharusnya berhati-hati selama beberapa bulan pertama ini, bukan?"
"Aku rasanya tidak percaya Caroline akan punya anak," kata Laura Jane kepada kakak laki-lakinya.
"Yang aku tidak percaya adalah aku orang yang terakhir mengetahui hal itu," sahut Rink sambil menatap Steve dengan tatapan menyelidik.
"Mengapa kau tidak meneleponku dan memberi isyarat?"
Steve mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. "Itu bukan kewajibanku."
Rink mengernyit. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi terdiam karena kemunculan Caroline di ambang pintu. "Rink, ada yang ingin bertemu denganmu."
Gadis remaja itu menatap ke sekeliling ruangan yang asing baginya dengan sorot mata gugup. Ia menggigit-gigit bibir. Yang membuat Caroline lega, ia tidak memoles bibirnya dengan lipstik mencolok. Ia juga tidak memakai anting-anting berbentuk jepitan kertas di telinga, dan tata riasnya tidak semencolok waktu itu. Pakaian-nya sederhana. Rambutnya masih memakai jeli, tetapi disisir ke belakang seperti model.
"Caroline bilang aku boleh datang ke sini," kata Alyssa defensif, sambil menoleh ke arah Caroline. "Aku sudah bilang padanya mungkin kau tidak ingat aku lagi, tetapi ia bilang kau tetap ingat, jadi...."
Caroline melihat perubahan air muka Rink, dari heran, terkejut, lalu gembira. Ia meng-gumamkan nama gadis remaja itu, mengulanginya, makin lama makin keras. Rink merentangkan tangan ketika berada di dekatnya. Tetapi ia tidak ingin membuat gadis remaja tersebut takut. Sesaat ia berhenti dengan tangan tetap direntangkan.
383
Caroline mengamati Alyssa, yang datang ke The Retreat naik taksi. Ia melihat bibir gadis remaja itu bergetar, matanya berkaca-kaca. Alyssa berusaha keras menahan air matanya agar tidak menitik, tetapi gagal. Sisa ketegarannya tak ber-tahan lagi, ia lari menghambur ke dalam pelukan Rink, menggosok-gosokkan wajah di dada Rink dan memeluk pinggang pria itu.
"Ia tidak terlalu buruk."
Mereka ada di kamar tidur Caroline, berganti pakaian hendak tidur.
"Sama sekali tidak. Hanya salah didik. Perlu diperbaiki. Aku tidak yakin ia pernah mendapat pendidikan. Seharusnya kau lihat ia ketika aku berkenalan dengannya. Ia kelihatan seperti wajah yang ada di film-film horor."
"Sudah berapa lama kalian bersahabat?" Rink duduk di ranjang sambil membuka sepatu dan kaus kaki.
"Beberapa minggu. Kami berjumpa dua kali di kota untuk minum milkshake. Aku mengun-dangnya ke sini malam ini untuk makan malam dengan kemungkinan kau masih di sini." Caroline membalikkan badan. "Aku gembira kau masih di sini," katanya lembut.
"Aku juga,” jawab Rink. "Kau memberi aku alasan lagi untuk mencintaimu. Terima kasih, Caroline."
"Terima kasih kembali." Letupan emosi yang memenuhi hatinya membuat suara Caroline pa-rau seperti suara Rink.
"Kau lihat air mukanya ketika kita mengajak-nya ke Pekan Raya besok? Kurang ajar si jalang Marilee itu. Aku yakin ia tidak pernah membawa anak itu ke mana-mana."
"Kau memberi pengaruh baik padanya."
"Tidak sebanding dengan kebaikanmu. Aku ingin kita bersamanya sesering mungkin."
"Aku juga begitu. Namun kau yakin ingin pergi ke Pekan Raya itu besok?"
"Mengapa tidak?" tanya Rink, sambil melepas celana.
Caroline menatap cermin dan dengan malas-malasan menepis rambutnya ke belakang. "Seluruh warga kota akan ada di sana. Setelah peris-tiwa hari ini...."
Caroline tidak sempat menyelesaikan per-kataannya. Rink datang ke belakangnya, mem-balik tubuhnya, dan menciuminya. Akhirnya ia mengangkat kepala. "Aku akan membawamu berkeliling di Pekan Raya. Kita akan menyapa setiap orang yang kita temui. Dan aku akan mengatakan kepada setiap orang, siapa pun yang ingin tahu dan tidak ingin tahu, betapa aku sangat mencintaimu dan tidak sabar untuk me-lihat anakku."
Caroline meletakkan dahinya di dada Rink. "Aku sangat mencintaimu. Kau sangat baik."
"Kau juga sangat baik," bisik Rink, sambil menjauhkan tubuhnya dengan lembut. Matanya menatap seluruh tubuh Caroline penuh hasrat. Baju tidur yang menampakkan lekuk tubuh Caroline sangat menggairahkannya, menonjolkan payudara, pangkal pahanya. "Kau cantik sekali, Caroline."
Rink mengelus seluruh tubuh Caroline yang terbalut satin, lalu perlahan-lahan menurunkan-nya dengan gerakan tangan yang piawai. Payu-dara Caroline bereaksi ketika jemari Rink rerus bergerak. Punggung tangannya mengelus pahanya, membuat Caroline menggelinjang.
Caroline tahu, sejenak lagi ia akan lupa diri. "Rink, tunggu." Tangan Rink terentang, ibu jarinya mengelus-elus. "Aku... aku punya sesuatu untuk kuberikan padamu."
"Aku juga punya sesuatu yang ingin kuberikan padamu," gumam Rink sambil membenamkan kepala. Lidahnya ikut beraksi, sementara ibu jarinya meraba-raba dan menemukan yang dicari. "Apakah pemberianmu bisa menunggu?"
"Aku... aku kira... begitu."
"Aku tidak," kata Rink sambil mengambil tangan Caroline dan meletakkannya di kejan-tanannya.
Rink mengaitkan jarinya pada celana dalam Caroline dan menariknya ke bawah sehingga Caroline bisa melepaskannya. Caroline berdiri di hadapan Rink dalam keadaan telanjang bulat. Rink menggendongnya ke ranjang. Caroline berbaring, Rink membuka celana dalamnya dan menindihkan tubuhnya yang juga tanpa selembar pakaian pun di atas tubuh Caroline.
Ia berlutut di antara paha Caroline. "Aku cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, Caroline. Dulu aku mengumpat datangnya hari baru. Ka-rena aku terbangun dengan pikiran melayang padamu, mencari dirimu, memikirkan apa yang kaulakukan, kauinginkan, ingin sekali melihat wajahmu. Kini aku menantikan datangnya hari baru, karena aku bangun tidur untuk mencintai-mu dan tahu kau pun mencintaiku."
Rink menyentuh perut Caroline dengan bibir-nya. Ia yakin bayinya tidur dengan aman di dalam perut perempuan yang sangat dicintainya itu. Caroline meletakkan tangannya di kepala laki-laki yang dicintainya dengan takjub karena ternyata hidup menganugerahkan kebahagiaan sedemikian rupa. Hasrat dan cinta saling bertaut, menerpa tubuh Caroline seperti angin sepoi-sepoi.
Dengan tangan yang masih mengelus payudara Caroline, Rink menunduk, mencium tubuh Caroline. Ia tidak ingin menahan diri lebih lama lagi, ia ingin memberikan segalanya.
"Tidak akan melukai bayinya?' Rink menaikkan tubuhnya ke atas tubuh Caroline dan menyatukan diri mereka.
"Ya."
Rink menguasai Caroline dengan perasaan yang meluap-luap, penuh cinta dan kasih sayang. Pinggulnya bergerak berirama. Caroline men-dekap Rink erat-erat. Mereka saling memberi dan menerima sebagai ungkapan cinta mereka yang membara. Setelah mencapai puncak, mereka menikmatinya berbarengan, bersama berpacu me-raih puncak surga dunia sambil berpelukan.
Beberapa saat kemudian, selagi mengeringkan tubuh sesudah mandi, Caroline berkata, "Kau tidak memberiku kesempatan untuk memberikan hadiahku padamu."
"Maksudmu, mau tambah lagi?" Sambil meng-goda Rink menepuk bokong Caroline yang naik ke ranjang. "Aku tidak mampu memberikan yang lebih istimewa daripada apa yang barusan kuberikan padamu."
"Ini serius." Caroline beranjak ke lemari antik dan membuka lacinya. Dari dalam laci ia me-ngeluarkan gulungan kertas. Diberikannya gu-lungan kertas itu kepada Rink, lalu ia berdiri di jendela, membelakangi Rink.
Bulan purnama memancarkan sinar keperakan di permukaan rumput yang terhampar luas. Su-ngai yang berkelok-kelok di antara pepohonan di kejauhan tampak seperti pita yang berkilauan. Caroline sangat mencintai tempat ini. Tetapi ia jauh lebih mencintai laki-laki yang menempati tempat ini.
Caroline mendengar suara gemeresik kertas. Ia tahu Rink sedang membaca tulisan yang berisi keputusan The Retreat dialihkan menjadi miliknya. Suara langkah kaki Rink yang men-dekati Caroline diredam ketebalan permadani di sekelilingnya.
"Aku tidak bisa menerima ini, Caroline. The Retreat ini milikmu."
Caroline berbalik menghadap Rink. "Tidak pernah akan menjadi milikku, Rink. Rumah ini senantiasa akan menjadi milikmu. Itulah sebabnya aku sangat mencintai tempat ini. Tanpa kau di dalamnya, rumah ini tidak punya arti apa-apa. Kaulah detak jantungnya. Sebagaimana arti diri-mu bagiku."
Caroline mendekati Rink dan meletakkan ta-ngannya di dada pria itu. "Karena cintaku pada-mu, aku memberikan apa yang kurasa sangat kucintai di dunia ini. Cintailah aku, tinggalkan keangkuhan dirimu, cintai aku apa adanya."
Rink menatap Caroline beberapa saat, kemu-dian menatap kertas di tangannya. Digulungnya kertas itu dengan hati-hati, dan disimpannya di lemari. "Aku terima dengan satu syarat. Bahwa kau bersedia tinggal di The Retreat ini bersamaku seumur hidupmu. Kau berjanji kita akan selalu saling mencintai di sini dan punya anak di sini. Kita tidak akan pernah membiarkan kepedihan hidup yang pernah menimpa diri kita terjadi lagi."
Caroline tersenyum bahagia. "Aku berjanji."
Rink menciumnya sebagai tanda sumpah setia. Kemudian ia memeluk Caroline dan menggen-dongnya kembali ke tempat tidur mereka.



The End

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified