Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Bittersweet Rain Sandra Brown Part 2


Bab 5

CAROLINE bangun lebih lambat daripada yang diinginkannya. Ia memakai mantel dan tu-run ke dapur untuk mengambil secangkir kopi sebelum mulai bekerja di perpustakaan. Haney bersenandung sambil mencuci piring. Ia tidak suka memakai mesin pencuci piring." "Selamat pagi. Kau kelihatan senang sekali." "Rink sarapan banyak," jawab Haney dengan wajah berseri-seri.
Caroline tersenyum. Cara Haney menyebut nama Rink seperti menyebut nama anak laki-laki berusia empat tahun. "Ia sudah bangun dan pergi
"Ya." Haney mengiakan sambil mengarahkan pandangan ke pintu belakang. Caroline melang-kah ke pintu belakang sambil menghirup kopi. Tampak Rink berdiri di samping salah satu kuda terbaik milik keluarga Lancaster, berbicara dengan Steve. Caroline melihat Rink melompat naik ke atas pelana, kakinya yang panjang teren-tang di badan kuda, dan ia membetulkan letak kakinya yang memakai sepatu boot di sanggurdi. Kuda jantan itu berjingkrak-jingkrak sebelum Rink menarik tali kendali kuat-kuat. Kuda ter-sebut memberi respons seketika. Setelah meng-ucapkan terima kasih kepada Steve, Rink dan kudanya berpacu menuju tanah lapang yang mengarah ke jalan raya.
Caroline memandanginya sejauh matanya mampu memandang. Rambut Rink yang hitam berkilat di bawah sinar matahari pagi. Otot paha dan punggungnya tampak menonjol ketika tanpa kesulitan ia melompati pagar dan menga-rahkan kudanya ke pepohonan.
Waktu Caroline membalikkan badan, Haney memandanginya dengan sorot mata penuh ingin tahu. Caroline yang gugup memegang teng-gorokannya. "Aku harus menelepon beberapa orang, aku akan ke perpustakaan," gumam Caroline sebelum meninggalkan dapur dengan tergesa-gesa. Ia memang tidak mampu menahan diri untuk tidak hanyut bersama Rink, tetapi ia harus sangat berhati-hati jangan sampai ada yang menyadari sikapnya itu.
Perawat rumah sakit yang bertugas jaga tidak banyak memberikan informasi baru ketika Caroline meneleponnya. "Ia belum bangun. Ia tidur nyenyak hampir semalaman. Ia bangun sekali, tapi segera kami beri obat penenang."
"Terima kasih," katanya sebelum memutus hubungan telepon dan memutar nomor telepon Granger. "Apakah ada hal yang harus kulakukan tetapi belum kuselesaikan?" tanyanya pada penga-cara itu. "Bukannya aku mau lancang, ikut campur soal kesepakatan kerja maupun urusan pribadi Roscoe, aku hanya ingin membantu se-batas yang aku mampu."
"Aku tidak pernah menganggapmu lancang," kata Granger lembut. "Lagi pula itu hakmu untuk memerhatikannya."
"Aku bukan memikirkan diriku. Aku hanya ingin kepastian segala yang menyangkut Laura Jane sudah diatur dengan baik. Juga Rink, tentu saja.
Pengacara itu terdiam. Caroline tahu ia tengah mengingatkan dirinya akan kerahasiaan dalam profesinya. "Aku tidak tahu semua keinginan Roscoe, Caroline. Sumpah, aku tidak tahu. Ia membuat surat wasiat baru beberapa tahun lalu, tetapi ia meminta aku mengurusnya. Aku yakin akan ada beberapa pasal yang ia buat untukmu. Aku rasa tidak akan ada kejutan."
Caroline juga sangat berharap demikian, tetapi ia tidak mengungkapkan kecemasannya kalau-kalau ada kejutan. Setelah selesai bertukar pikiran tentang beberapa masalah bisnis, mereka saling mengucapkan selamat tinggal.
Begitu diletakkan, telepon itu langsung ber-dering. "Halo?"
"Miz Lancaster?"
Suara hiruk-pikuk yang terdengar di telepon jelas menunjukkan telepon itu datang dari pabrik pemintalan kapas. "Ya."
"Saya Barnes. Ingat mesin pintal yang pernafi saya ceritakan beberapa hari lalu? Pagi ini suara mesinnya berisik sekali, karena itu kami matikan."
Caroline mengusap dahinya. Kerusakan sema-cam ini tidak boleh terjadi, sebab sekarang sedang musim panen kapas. Mesin itu digunakan untulc memisahkan kapas dari bijinya. Meski hanya satu mesin yang rusak pada masa panen, mereka bisa kehilangan berjam-jam masa produksi.
"Aku segera ke sana," jawab Caroline cepat.
Buru-buru Caroline menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin, lalu lari naik ke lantai dua. Setengah jam kemudian, ia sudah mandi dan berpakaian rapi; mengenakan rok dari bahan poplin dan blus dari bahan rajut berkerah. Ia memakai sepatu berhak rendah. Rambutnya di-ekor kuda, dililit pita warna cerah. Caroline tidak pernah memakai baju mewah ke pabrik pemintalan kapas. Alasannya, tidak praktis. Alasan lainnya, ia ingin para pekerjanya menganggap dirinya bagian dari mereka, bukan sekadar istri si bos.
Ia pamit pada Haney, menjelaskan ke mana ia akan pergi. Kemudian ia mengambil dompet, lalu lari ke pintu depan. Rink baru saja menarik kudanya. Ketika melihat Caroline, Rink me-nyerahkan kudanya pada Steve yang menunggu-nya, lalu lari menghampiri Caroline.
"Mau ke mana, terburu-buru? Ke rumah sakit?"
Dari ekspresi wajahnya, Caroline tahu Rink mengira ketergesa-gesaannya karena kondisi ayah-nya yang memburuk. Kendati keduanya tidak pernah rukun, batin Caroline, Rink peduli juga pada ayahnya dan tidak suka melihatnya menang-gung penderitaan. Cepat-cepat Caroline me-nenangkannya, "Tidak. Aku menelepon ke rumah sakit tadi pagi. Roscoe belum bangun, tetapi mereka bilang sepanjang malam ia tenang. Aku mau ke pabrik pemintalan kapas."
"Ada masalah?"
"Ya. Dengan salah satu mesin."
Rink mengangguk. "Parah?"
"Kukira, mungkin. Mandor terpaksa harus me-matikannya." Caroline melihat Rink berpikir ke-ras dan sebelum mempertimbangkan lebih jauh, ia berkata, "Mau temani aku ke sana, Rink?" Pandangan mata Rink beralih ke Caroline, mem-buat Caroline harus menelan ludah. "Barangkali, bila kau melihatnya, kau tahu apa masalahnya. Aku butuh bantuanmu. Kalau minta bantuan orang lain, ia mungkin saja akan menarik ke-untuiigan dalam situasi seperti ini."
Rink menatap Caroline begitu lama dan tajam,
membuat Caroline berpikir pria itu akan menolak
ajakannya. Kemudian Rink mengulurkan tangan.
"Aku yang mengemudi."
Caroline meletakkan kunci mobil Lincoln ke telapak tangan Rink, lalu berlari ke mobil, mengambil sisi yang berlawanan. Cara Rink me-ngemudikan mobil sama seperti ia mengerjakan pekerjaan lainnya, agresif. Terdengar suara ban mobil mencicit nyaring ketika dibelokkan, kerikil beterbangan dan debu mengepul.
"Mesin ini sering mogok?" tanya Rink pada Caroline.
"Beberapa kali, ya." -
"Baru-baru ini?"
"Ya."
Caroline berharap mereka bisa terus bercakap-cakap. Dekat dengan Rink mengacaukan pe-rasaannya. Aroma tubuh Rink bak udara pagi yang menyegarkan, seperti angin, seperti bau kuda, wewangian, dan aroma laki-laki. Gambaran Rink yang duduk di kuda muncul kembali dalam benaknya.
Masih segar dalam ingatannya, Rink yang. datang ke tempat pertemuan mereka dengan I berkuda. Caroline merasa tubuhnya menciut me-1 lihat kuda yang demikian besar. Rink tertawa melihat ia gugup dan memaksanya naik kuda bersamanya. Dengan enteng Rink mengangkat tubuh Caroline ke punggung kuda. Untunglah hari itu Caroline memakai rok lebar sehingga ia bisa duduk mengangkang.
Bahkan sampai saat ini Caroline masih ingat bagaimana rasanya bulu-bulu kuda itu menyen-tuh pahanya yang telanjang, perut Rink yang menyentuh pinggulnya ketika pria itu duduk di belakangnya, gerakan naik-turun paha Rink yang menyentuh pahanya, kekokohan lengannya yang memegang tali kendali ketika mengajaknya ber-keliling. Tubuh Rink terasa hangat dan agak basah karena keringat. Rink meletakkan dagunya di rambutnya. Bahkan ia masih bisa merasakan napas Rink di pipinya, di kelopak matanya. Ia mencium bau yang sama hari ini seperti dua belas tahun lalu.
Tidak banyak yang ia ingat ketika menunggang kuda di bawah pepohonan pendek yang rindang; yang ia ingat hanyalah dadanya yang berdebar-debar ketika Rink meletakkan tangannya di ba-wah dadanya. Ia ingat, saat itu tak ada yang ia takutkan kecuali khawatir Rink tidak suka ketika pria itu menyenggol payudaranya. Ia tidak mam-pu membeli pakaian daJam cantik berenda seperti yang dipakai gadis-gadis sebayanya. Branya hanya bra biasa, berwarna putih, sekadar fungsional dan tak menarik. Caroline ingin merasa lembut, memikat, dan seksi di tangan Rink. Ia takut ia tidak terasa seperti itu.
Kini ia mengamati tangan Rink yang me-nu-gang kemudi. Tangan yang indah. Berwarna gelap dan kokoh, ramping dan terawat. Kukunya dipotong pendek. Bulu-bulu hitam halus tumbuh pada buku-buku tangan, punggung tangan, dan pergelangan tangan.
"Ayo kubantu turun," kata Rink, sambil meng-ulurkan tangan kepada Caroline.
Caroline menurunkan kakinya dari punggung kuda, tubuhnya agak dimiringkan dan tangannya di pundak Rink. Tangan Rink memegang lengan bagian bawahnya ketika Caroline perlahan turun dari punggung kuda. Namun, kendati kaki Caroline sudah menyentuh tanah, Rink tidak melepaskan genggamannya, tangannya menyeng-gol payudara Caroline. Saat itu Rink mendesah-kan namanya.
"Caroline. Caroline."
Caroline tersentak, panggilan Rink bukan ha-nya ada dalam angan-angannya tetapi betul-
betul terjadi.
"Ada apa?" Ia menatap Rink, kecemasannya tak dapat disembunyikan. Matanya bagai ber-kabut dan sendu, teringat ciuman yang me-mabukkan yang pernah mereka lakukan. Dadanya naik-turun dengan cepat, seperti yang terjadi pada hari itu ketika tangan Rink menggenggam payudaranya, memijatnya perlahan, mengusapnya sampai payudaranya menegang.
Rink menatap Caroline penuh keheranan. "Aku bertanya apakah ada tempat parkir khusus
untukmu."
"Oh. Y-ya. Dekat pintu. Ada tandanya." Rink mengarahkan mobil ke tempat yang bertuliskan nama Caroline di aspal dan memati-kan mesin mobil. Setelah itu Caroline kembali melihat Rink menghunjamkan tatapan heran lagi. "Sudah siap masuk?" Rink seperti tidak yakin Caroline siap.
Caroline merasa harus segera menjauhkan diri dari mobil, dari kenangan manis itu. Hampir meneriakkan kata ya, ia membuka pintu mobil dan hampir terjatuh karena terburu-buru men-jauh dari mobil.
Suara hiruk pikuk dan debu yang mengepul di pabrik pemintalan kapas adalah sambutan selamat datang yang sudah akrab. Caroline melangkah masuk bersama Rink menuju kantor ayahnya.
Rink melihat tak banyak yang berubah. Para pekerja yang datang mengerumuni mereka adalah orang-orang yang sudah dikenalnya.
"Barnes!" serunya. "Masih di sini?"
"Sampai mati." Ia menggenggam tangan Rink. "Senang berjumpa lagi denganmu, Nak."
Yang lain pun menyalami Rink dengan gem-bira. Rink menanyakan kabar keluarga mereka, mengingat nama-nama yang mungkin sudah di-lupakan orang lain. Namun orang-orang ini su-dah seperti keluarga Rink. Mereka bagian dari dirinya bak darah yang memberi kehidupan se-lama hidupnya.
"Apa masalahnya?" tanya Rink pada Barnes, sambil berjalan ke mesin pemintalan yang rusak di deretan mesin.
"Tua, umumnya," jawab mandor itu resah. "sudah terlalu tua, Rink. Tak tahu apakah masih bisa dipakai. Terutama kalau panen tahun ini sebaik tahun lalu. Harus dihidupkan siang dan malam."
Rink menjumput kapas yang mencuat keluar dari mesin dan mengelusnya dengan jari-jarinya. Ada serpihan daun dan pasir terselip di antara serat-seratnya. Barnes dan Caroline menghindari pandangan mata Rink ketika memerhatikan ka-pas itu dengan saksama. "Kualitas apa kapas ini?"
"Menengah," jawab Caroline, akhirnya, ketika melihat Barnes terdiam.
"Keluarga Lancaster selalu memproduksi kapas kualitas terbaik. Apa yang terjadi di sini?"
"Mari ke kantor, Rink," ajak Caroline lembut. Ia langsung berbalik dan berjalan lebih dulu, berharap Rink mengikutinya dan tidak ber-argumentasi dengannya di depan karyawan.
Caroline duduk di kursi kulit di belakang meja ketika Rink masuk ke ruangan dan mem-banting pintu, sampai membuat kacanya bergetar.
"Dulu ini pemintalan kapas terbaik di negara bagian ini," kata Rink marah tanpa basa-basi.
"Sekarang pun masih."
"Tidak mungkin bila kualitas kapas yang di-produksi seperti itu, tidak mungkin. Andai aku petani kapas, hasil panenku pasti akan kupintal di pabrik pemintalan lain. Tidak bisakah kita memintal kapas yang lebih baik?"
"Sudah kubilang, yang jadi persoalan adalah peralatannya. Mesin-mesin itu...."
"Sudah kuno," potong Rink. "Brengsek, apakah Daddy tidak ingin memperbaiki atau mem-perbaruinya?"
"Ia merasa tidak perlu," jawab Caroline, pelan.
"Tidak perlu!" ulang Rink dengan suara nya-ring. "Lihatlah tempat ini. Lebih mirip kandang dinosaurus ketimbang pabrik pemintalan kapas modern. Kita tidak jujur pada diri kita, juga pada para penanam kapas. Aneh mereka tidak membawa kapas mereka ke pabrik pemintalan kapas yang lain—" Mendadak Rink berhenti bicara, matanya disipitkan. "Atau banyak yang sudah pindah?"
"Kita kehilangan beberapa tahun lalu, ya."
Rink mengaitkan ujung sepatu botnya ke kaki kursi, lalu menarik kursi itu ke dekatnya. Rink, setelah duduk di kursi, mencondongkan tubuh ke meja dan berkata dengan nada yang tidak bisa diterima Caroline. "Ceritakan semua yang terjadi padaku."
"Beberapa penanam kapas yang biasa menjual panennya pada Lancaster Gin memang ada yang membawa kapas mereka ke pemintalan lain. Mereka hanya membayar biaya pemintalan kemu-dian menjual langsung ke pedagang."
Caroline duduk resah di kursi kulit yang berderit sementara Rink memandanginya. "Jadi mereka lebih suka repot-repot mengusung panen kapas mereka ke tempat lain dan membayar ongkos memintalnya ketimbang menjualnya ke-pada kita, memintalnya, mengepaknya, dan menjualnya ke pedagang kapas." Caroline mengangguk. Rink menyuarakan apa yang masih terpendam dalam benak mereka. "Mereka mendapat lebih banyak uang dengan cara itu, daripada memintalnya di tempat kita, karena mereka hanya membayar mereka dengan ongkos lebih murah untuk kapas yang kualitasnya lebih rendah."
"Kurasa begitulah cara berpikir mereka."
Rink bangkit dari kursi dan berjalan ke jendela. Ia membalik tangannya, lalu memasukkannya ke saku jins. Kelihatannya ia sedang memandang alam sekitar, tetapi Caroline tahu bukan pemandangan itu yang tengah dilihatnya. "Kau tahu akar persoalan ini, bukan? Tahu, kan?" ulang Rink, langsung membalikkan badan ketika Caroline tidak cepat menjawab pertanyaannya.
"Ya."
"Tetapi kau tidak melakukan apa-apa." "Apa yang bisa kulakukan, Rink? Pertama-tama, tugasku hanya mengurus pembukuan. Aku belajar tentang proses pemintalan kapas, pemasarannya, hanya dengan mendengarkan, mengamati, menjengkelkan diriku sendiri dengan berada di antara para pekerja. Aku bukan pengambil keputusan."
"Kau kan istrinya! Tidakkah itu membuatmii punya hak untuk melakukan sesuatu?" R'~l mengangkat kedua tangannya. "Kutarik keml ucapanku. Mereka yang menjadi istri Roscoe Lancaster tidak akan mengkritik, melakukan api
pun yang dikerjakan Roscoe, mereka hanya pas-rah melakukan perintah... istri-istri yang tugasnya menyenangkan suami."
Caroline mengangkat dagu, mengepalkan ta-ngan, dan berkacak pinggang. "Aku pernah me-ngatakan padamu aku tidak akan pernah bicara soal hubunganku dengan Roscoe padamu."
"Dan aku pernah mengatakan padamu aku tidak peduli apa yang kaulakukan dengan Roscoe di ranjang."
Keduanya tahu apa yang mereka katakan se-betulnya tidak benar. Rink merasa agak malu karena menyadari ia berbohong. Caroline dengan bijaksana memilih tidak menantangnya. "Andai menghinaku adalah hal terbaik yang bisa kau-lakukan untuk memecahkan masalah ini, kurasa kau tidak usah ikut campur."
Rink mengumpat dan menyibakkan rambut dengan jari-jarinya dengan kesal. Mereka saling pandang sampai akhirnya diam-diam mengalah. "Aku akan menolong semampuku," gumam Rink.
"Kau bisa memperbaiki mesinnya?" tanya Caroline, menekan kesombongannya.
"Aku butuh beberapa peralatan, tetapi kurasa bisa kuperbaiki. Aku pernah membongkar mesin pesawat terbang dan memperbaikinya. Pasti mesin ini tidak lebih rumit daripada mesin pesawat terbang. Tetapi aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Caroline. Perbaikan yang kulakukan bu-kan jawaban atas masalahmu."
"Aku paham." Caroline melunak, tubuhnya tidak setegang tadi ketika ia tersenyum malu-malu, meminta maaf atas perilakunya. "Apa pun bantuanmu, sangat kuhargai."
Kali ini umpatan Rink makin kasar, tetapi hanya dalam hati. Umpatan itu ditujukan kepada dirinya sendiri karena perasaan bersalah. Tak ada hal yang lebih diinginkannya saat itu kecuali memeluk Caroline, melindunginya, mengecup bibirnya, merapatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya. Betapa tololnya dirinya dulu. Pikiran itu membawanya membayangkan tubuh Caroline berpelukan dengan ayahnya. Oh, Tuhan! Ter-kadang ia merasa seperti akan gila bila mem-bayangkan hal itu.
Kendati demikian ia tidak bisa menyalahkan Caroline, seperti yang ingin ia lakukan. Tiap kali menatap Caroline, ia makin menginginkan wanita itu. Ia harus segera meninggalkan tempat ini. Segera. Sebelum ia melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan dirinya sendiri. Namun itu pun tidak bisa ia lakukan, apa pun alasannya. Laura Jane. Ayahnya. Tetapi terutama karena Caroline. Berjumpa lagi dengan Caroline dua belas tahun kemudian membuat Rink tidak bisa serta merta meninggalkannya.
"Kau tahu di mana bisa mencariku," kata Rink sambil berjalan keluar pintu.
Caroline bekerja di kantor menyelesaikan surat-surat, sementara Rink dibantu karyawan mencari perkakas yang dibutuhkan. Sejam kemudian Caroline berdiri di belakangnya, ketika ia tengah membongkar bagian dalam mesin besar. "Rink, aku akan pergi ke rumah sakit sebentar. Kalau aku belum kembali tapi pekerjaanmu sudah se-lesai, kau bisa minta tolong salah seorang kar-yawan mengantarmu pulang."
Rink tersenyum getir. "Tak usah repot. Aku masih agak lama di sini." Caroline nyengir. Rink melihat tangan Caroline setengah terangkat hendak menyentuh lengannya. Namun ia tak jadi melakukannya, malah cepat-cepat mengucap-kan selamat tinggal dan pergi.
Rumah sakit terasa sejuk dan tenang setelah dari pemintalan kapas yang berisik dan hiruk-pikuk. Roscoe masih terbaring di ranjang, ta-tapannya lekat pada layar televisi, walaupun ia mematikan suaranya. Tubuhnya dipasangi selang untuk makanan dan untuk mengeluarkan ko-toran. Layar monitor berkedip, mengeluarkan suara mencicit dan merekam kerja organ tubuh-nya yang penting. Kondisinya tampak sangat mengenaskan. Caroline tersenyum ceria dan de-ngan berani mendekatinya.
"Halo, Roscoe." Caroline mencium pipi Roscoe yang pucat pasi. "Bagaimana keadaanmur
"Ucapan itu terlalu kasar buat perempuan peka seperti kau," jawab Roscoe. Diamatinya pakaian Caroline dan bertanya, "Kau pulang dari pabrik?"
"Ya. Sepagian ini, sebenarnya, kalau tidak, aku pasti datang lebih awal ke sini. Ada masalah dengan salah satu mesin pemintal."
"Masalah apa?"
"Aku belum tahu pasti. Masalah di bagian mesinnya. Rink sedang memeriksanya. Bunga dari anak-anak Sekolah Minggu ini cantik sekali."
"Apa maksudmu, Rink sedang memeriksanya?"
Caroline memerhatikan rangkaian bunga yang diantar ke rumah sakit sewaktu ia belum tiba dan membaca kartu nama pengantarnya, agar ia tahu kepada siapa ia akan mengucapkan terima kasih. Namun ia berbalik seketika mendengar kata-kata Roscoe. Tak pernah Caroline melihat air muka Roscoe sedemikian mengerikan. Atau penyakit yang dideritanya membuat wajahnya kelihatan penuh kebencian?
"Jawab pertanyaanku, brengsek!" bentak Rocscoe nyaring, di luar dugaan Caroline. "Apa yang dilakukan Rink di pabrik pemintalan kapas itu?"
Caroline yang merasa sangat terkejut tidak segera dapat mengucapkan kata-kata dari mulut nya. "Aku... aku memintanya memeriksa mesin pintal yang rusak. Ia insinyur. Ia bisa—"
"Tanpa izinku kau minta putraku ikut campui urusan di pemintalan?" Roscoe berusaha duduk "Ia sudah melepaskan haknya atas pemintalan Lancaser Gin ketika ia pergi dari rumah dua belas tahun yang lalu. Aku tidak ingin ia ada di pabrik, mendekatinya sekalipun. Kau mengerti, perempuan?"
Keringat bercucuran di dahinya. Matanya membeliak karena marah.
Caroline takut melihat kemarahan Roscoe dan memikirkan nyawanya. "Roscoe, tenanglah. Yang kulakukan hanya meminta Rink memeriksa mesin yang rusak. Ia bukan ikut campur dalam bisnis di sana."
"Aku kenal anak itu. Ia akan mencari-cari kesalahan di sana, menasihatimu tentang bagai-mana mengatur keuanganku." Roscoe menunjuk Caroline dengan jari telunjuknya, dan berbicara dengan suara melengking, "Kau dengar, dengarkan sebaik-baiknya. Kau tidak boleh memakai satu sen pun uang pemintalan itu tanpa seizinku."
Caroline serasa ingin menepis jari telunjuk yang diarahkan kepadanya itu, yang menuduhkan sesuatu tidak pada tempatnya. "Tidak akan pernah, Roscoe," jawab Caroline jujur.
"Rink juga tidak pernah ada."
"Dan salah siapa itu?"
Pertanyaan Caroline yang tidak cukup bijak-sana itu menggema di ruangan yang steril dan berbalik menyerangnya. Beberapa menit lamanya Caroline merasa tidak dapat bernapas, hanya mampu melirik tubuh suaminya yang tak berdaya, yang sudah lemah, yang menyiratkan bahaya, seperti binatang jinak yang terluka dan kini berusaha menghancurkan siapa pun yang mencoba mendekatinya.
Roscoe memperdengarkan tawa yang mengeri-kan, kemudian ambruk di atas bantal. "Itukah yang dikatakan Rink padamu? Bahwa aku mengusirnya karena ia mempermalukanku dengan menghamili anak gadis keluarga George?"
Mata Caroline tertuju pada tangannya. Ujung jarinya terasa kaku, AC rumah sakit hanyalah sebagian penyebabnya. Telapak tangannya basah karena keringat. "Tidak. Kami tidak bicara soal itu," kata Caroline jujur.
"Hmm, supaya kau tidak mendapat informasi yang salah, sebaiknya kuluruskan. Aku tidak menyuruh Rink meninggalkan rumah selama dua belas tahun. Tetapi ia tahu aku marah sekali padanya, tetapi bukan karena ia menghamili gadis itu." Roscoe tertawa terkekeh. "Aku sudah mengira ia bisa melakukan kenakalan se-perti itu. Bagaimanapun ia anak laki-laki. Mereka akan menidurinya bila dapat kesempatan, bukan?"
Caroline membuang muka. Kata-kata Roscoe bak tombak yang dihunjamkan ke tubuhnya. "Kurasa memang demikian."
Tawa Roscoe makin nyaring. "Percayalah pada-ku. Laki-laki akan melakukan apa pun, mengata-kan apa saja, asal bisa menyusup ke balik rok perempuan. Apalagi kalau gadis itu agak penurut.
Caroline memejamkan mata, ingin menghapus air matanya, ingin menghapus kata-kata Roscoe, ingin menghapus perasaan malu yang menyergap dirinya.
"Tentu mereka tidak suka tertangkap basah seperti yang dialami Rink. Ketika Frank George datang menemuiku dan mengatakan Rink meng-hamili anak gadisnya, Marilee, aku langsung mengatakan padanya Rink akan menikahi putri-nya. Itu tindakan terhormat yang harus dilaku-kan, bukan?"
"Ya." Sakit rasanya harus mengucapkan kata itu.
"Hmmm, tetapi anak bajingan itu berkata bukan ia yang menghamilinya. Benar-benar me-malukan. Bukan karena Rink tertangkap basah ketika membuka celananya, tetapi ia tidak mau mengakui kecerobohannya. Kemudian Rink me-ngatakan padaku, bila aku memaksanya menikahi gadis itu, ia akan pergi dari rumah dan takkan pernah kembali."
Roscoe menarik napas panjang, seakan ingatan akan peristiwa tersebut menyakiti hatinya. "Aku harus melakukan apa yang menjadi kewajibanku, bukan demikian, Caroline? Aku harus memaksa-nya menikahi gadis itu. Ia yang memutuskan pergi dari rumah setelah itu, bukan aku. Maka-nya, tak perlu mengasihani Rink, apa pun yang dikatakannya padamu. Ia yang berbuat, ia yang harus menanggung akibat perbuatannya seumur hidupnya."
Roscoe terdiam, beberapa saat Caroline hanya melempar pandang ke luar jendela. Bila ia berbalik, Roscoe akan menangkap keputusasaan yang melanda perasaannya saat itu, Roscoe pasti akan tahu. Setelah berhasil mengendalikan perasaan, barulah Caroline kembali ke pinggir ranjang.
Roscoe memejamkan mata ketika Caroline menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya.
Caroline mengira Roscoe sudah tidur. Perlahan-lahan ia beranjak meninggalkan kamar, tetapi secepat kilat Roscoe mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat. Caroline terkejut dan merasa sesak napas.
"Kau tetap berperilaku sebagai istri, kan, Caroline?"
Sorot mata Roscoe yang berapi-api membuat Caroline takut sekali, juga pertanyaannya. "Tentu saja. Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau akan menyesal bila melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya sebagai istri yang tengah berduka, sangat sedih menyaksikan suaminya dalam keadaan sekarat." Jari-jari Roscoe mencengkeram pergelangan tangan Caroline yang rapuh sampai membuat Caroline merasa tulang pergelangannya mau remuk. Dari mana Roscoe punya kekuatan seperti itu?
"Jangan bicara soal kematian, Roscoe."
"Mengapa tidak? Itu kenyataannya. Tetapi kau harus ingat ini." Kembali Roscoe berusaha du-duk. Air ludah terkumpul di ujung bibirnya yang biru ketika ia mendengus pada Caroline. "Sampai aku mati pun, kau tetap istriku. Dan sebaiknya kau berperilaku seperti itu."
"Aku berjanji," kata Caroline, yang mengucap-kan janji dengan panik, dan berusaha melepaskan tangannya. "Maksudku, aku akan bersikap seperti itu."
"Aku bukan pemeluk agama yang patuh, tetapi ada satu hal yang aku yakini. Berniat melanggar hukum Tuhan sama berdosanya dengan melaku-kannya. Kau belajar tentang hukum itu waktu di Sekolah Minggu, kan?"
"Ya," jawab Caroline, hampir menangis, putus asa, takut pada Roscoe, dan tidak tahu apa sebabnya ia merasa seperti itu.
"Pernah terpikir ingin melanggar hukum Tuhan?"
"Tidak."
"Misalnya berzina?"
"Tidak!"
"Kau istriku."
"Ya."
"Sebaiknya kaucamkan itu."
Sesudah itu kekuatan Roscoe lenyap. Kembali ia jatuh terkulai di bantalnya, sesak napas. Caroline melepaskan tangannya dari cengkeraman Roscoe, lalu lari ke pintu. Ia ingin melarikan diri dari tempat itu tetapi hati nuraninya menegurnya, dan ia segera memanggil perawat. "Suami saya," katanya dengan napas megap-megap. "Saya... saya kira ia perlu disuntik. Ia sangat kacau."
"Kami akan menanganinya, Mrs. Lancaster," jawab perawat itu ramah. "Kalau boleh saya bicara, Anda kelihatan sangat letih. Sebaiknya Anda pulang saja dulu."
"Ya, ya," jawab Caroline, mencoba mengum-pulkan kekuatan. Jantungnya berdebar-debar. Ia gemetar ketakutan. Mengapa ia merasa demikian takut pada suaminya sendiri? "Saya rasa, ya."
Granger melangkah keluar dari lift ketika Caroline akan masuk. "Caroline, ada apa?" Granger terkejut melihat air muka Caroline.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku mau ke pemin-talan. Ada masalah di sana, tetapi jangan beritahu Roscoe soal kepergianku. Ia sedang kacau." De-ngan napas tak beraturan, Caroline menyandar-kan diri ke dinding lift, seakan itu tempat persembunyian yang aman baginya dari ancaman teror yang menakutkan.
"Ada yang bisa kubantu...."
"Tak usah," jawab Caroline, sambil meng-geleng saat pintu lift mulai tertutup. "Aku tak apa-apa. Cepat temui Roscoe. Ia membutuhkan-mu."
Pintu lift tertutup di antara mereka. Caroline menutup mulut dengan tangan, menekan ke-sedihan yang dirasakannya mulai menyesakkan tenggorokannya. "Tuhan, oh, Tuhan," rintihnya, tidak menyangka Roscoe bisa begitu menakutkan. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Tubuhnya panas-dingin.
Caroline berusaha menguatkan diri untuk ber-jalan di sepanjang lobi lantai satu rumah sakit tanpa sedikit pun kelihatan dalam keadaan ter-tekan. Ketika sampai di mobil, gemetar tubuhnya berkurang. Dengan jendela mobil terbuka, Caroline mengemudikan mobil menyusuri tepi sungai. Angin menerpa rambutnya, merftbawa aroma musim panas. Lalu lintas tidak ramai dan ia mengemudi dengan cepat, berusaha mengusir ketakutan yang mencekam dirinya beberapa saat lalu.
Ia biarkan pikirannya mengembara. Roscoe tak mungkin tahu apa yang terjadi antara ia dan Rink musim panas itu. Rink tidak mungkin menceritakan hal tersebut padanya. Jelas. Tak seorang pun pernah melihat mereka berdua atau menggosipkan mereka di kota. Tidak, Roscoe pasti tidak tahu. Ia juga tak mungkin berpikiran Caroline dan Rink saling tertarik. Roscoe mengira ia dan Rink baru saling mengenal beberapa hari lalu.
Ancaman terselubung dan peringatan yang diungkapkan Roscoe semata-mata hanyalah kha-yalan dan perasaan bersalah dalam dirinya. Ba-rangkali kata-kata yang dengan cermat dipilihnya tadi bukan dimaksudkan sebagai ancaman. Ya, batin Caroline sambil menggeleng. Kata-kata Roscoe ingin dianggapnya punya makna yang sebaliknya. Namun mengapa Roscoe mengatakan demikian?
Apa lagi yang dipikirkan Roscoe? Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali berpikir, men-duga-duga, merasa ketakutan dan curiga. Pria yang otaknya biasa aktif seperti otak Roscoe pasti merasa tersiksa ketika hanya bisa terbaring di ranjang sepanjang hari. Roscoe paling benci duduk berdiam diri, tidak melakukan aktivitas apa pun. Makanya, kekuatan mental adalah satu-satunya yang tersisa dalam dirinya, sehingga pikirannya bekerja lebih keras untuk kompensasi bagi tubuhnya yang kini tak berdaya lagi.
Perasaan sakit hati dan marah memperbesar segala yang melintas di benak Roscoe, membesar-besarkan masalah kecil. Ia memiliki istri yang tiga puluh tahun lebih muda darinya. Ia punya putra yang tampan dan sangat jantan. Saat ini keduanya tinggal serumah. Roscoe menggabung-gabungkan fakta tersebut, yang kemudian me-nimbulkan kecurigaan yang menakutkan.
Roscoe keliru! Caroline tidak melakukan per-buatan yang tidak boleh dilakukan seorang istri.
Namun kecurigaan Roscoe ada benarnya. Mem-bayangkan bercinta dengan Rink sudah termasuk melanggar hukum Tuhan. Dan Caroline merasa tidak mampu menghilangkan bayangan itu.
Ia harus menghapus pikiran tersebut dari benaknya. Barangkali bila ia memperlakukan Rink sebagai teman, meskipun kelihatan ganjil, bersikap sebagai ibu tiri yang menjaga kedamaian dalam keluarga, kenangan akan masa lalunya akan lenyap. Ia harus melihat kesalahannya dengan sudut pandang baru, menempatkannya ke masa sekarang, dan melupakan segala yang pernah terjadi di masa lalu.
Ketika tiba kembali di pabrik pemintalan kapas, sinar matahari sore yang sudah condong ke Barat masuk menyinari lantai melalui jendela yang terletak jauh tinggi di tembok. Caroline memandang ke sekelilingnya dengan jengkel. Pabrik sudah ditinggalkan para pekerja, hanya ada Rink, yang telentang di lantai, satu kaki ditekuk, mengamati kerja mesin pemintal. Rink sedang memukul besi mesin. Suaranya yang nya-ring menggema, menenggelamkan suara langkah kaki Caroline. "Ke mana orang-orang?" Suara besi beradu berhenti. Kepala Rink muncul dari balik salah satu peralatan dan ia duduk. Disekanya keringat di dahinya dengan sapu-tangan. "Hai, aku tidak mendengar kau datang. Aku menyuruh orang-orang pulang satu jam lebih cepat. Tak ada yang bisa mereka kerjakan selama aku membetulkan mesin ini." Rink mengarahkan ibu jarinya ke balik bahu, ke mesin yang tengah diperbaikinya. "Debu di mana-mana. Kalau ada kabel yang tidak beres di ruangan ini, bisa berbahaya."
Seharusnya Caroline memarahi Rink yang me-nyuruh para karyawan pulang lebih cepat, karena Rink tidak berhak melakukan hal itu, tetapi itu tidak dilakukannya. Sewaktu mengemudi mobil tadi, Caroline yakin keputusan yang dibuat Roscoe diambil karena ia harus tinggal di rumah sakit. Tindakan yang dilakukan tanpa izin darinya adalah hal yang sangat dibenci Roscoe. Tetapi Caroline membela diri, bila Roscoe tidak tahu, itu tidak akan menyakiti hatinya. Pada akhirnya, apa yang baik untuk pemintalan Lancaster Gin adalah apa yang Roscoe ingin Caroline lakukan.
Caroline berjongkok di dekat Rink. "Bagai-mana? Sudah ketemu masalahnya?"
"Ya, dan cukup rumit."
"Bisa diperbaiki?"
"Sementara." Rink menarik napas dan me-nyeka keringat di alis dengan lengan baju. "Bagaimana kondisi Daddy hari ini?"
Mengingat apa yang terjadi di dalam ruangan rumah sakit membuat Caroline menggigil. "Tidak terlalu baik. Hampir sama saja." Rink mengamati Caroline, tetapi Caroline tidak ingin memper-lihatkan perasaannya. Cepat-cepat ia mengubah topik pembicaraan dengan bertanya, "Kau sudah makan?"
"Belum. Aku kepanasan dan badanku kotor untuk makan." Memang benar, badan Rink ko-tor. Wajahnya berminyak dan berkeringat. Mem-buat giginya jadi kelihatan lebih putih ketika ia tersenyum. "Lagi pula, aku tak mau membuang waktu."
Caroline tersenyum lalu merogoh kantong kertas putih. "Kubawakan makan siang untukmu. Kau tidak perlu berhenti bekerja—kau bisa me-minum makan siang ini." Caroline memasukkan sedotan ke gelas plastik.
"Apa ini?"
Caroline menyerahkan gelas tinggi dan dingin itu ke tangan Rink, lalu berdiri. "Milk shake cokelat."




Bab 6

APA maksudnya? Brengsek, mana aku tahu, Rink menjawab pertanyaannya sendiri ketika berada di kamar mandi dan hendak menyalakan keran air. Ia melepas pakaiannya yang berkeringat, penuh minyak dan debu. Ia menyeruput minumannya dan meletakkannya di meja.
Pertama, milk shake cokelat. Jelas, itu tawaran persahabatan sebagai tanda berdamai. Sepanjang sore Caroline tinggal di pemintalan. Ia bilang akan menyelesaikan urusan administrasi, tetapi ternyata ia lebih banyak berlutut di samping Rink dan menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk membantunya, atau apakah ada yang bisa diambilkannya. Seperti perawat piawai yang membantu dokter bedah, Caroline segera mem-berikan perkakas kepada Rink tiap kali Rink menjulurkan tangan.
Mereka mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting. Kebanyakan tentang topik yang mereka ketahui. Mereka bicara soal keluarga. Yang tak satu pun ada kesamaan di antara mereka.
"Kaulihat Laura Jane hari ini?" tanya Caroline. "Tidak. Kaulihat?"
"Tidak. Kemarin ia kelihatan depresi sekali. Aku takut itu gara-gara ia kini tahu keadaan Roscoe yang memburuk."
"Mungkin. Tetapi bisa saja karena sesuatu yang berkaitan dengan Steve Bishop." "Mengapa kau bilang begitu?" "Tolong berikan obeng itu lagi." "Yang gagang merah atau kuning?" "Merah. Karena pagi tadi, ketika ia mengeluar-kan kuda untukku, Steve kelihatan pendiam sekali."
"Mungkin kau mengintimidasinya." "Oh, Tuhan, aku ingin melakukan hal itu." Rink mengharapkan argumentasi. Meskipun kelihatan tidak suka dengan apa yang dikatakan-nya, Caroline tidak memberi komentar. Karena lantai pabrik sangat berdebu, Caroline duduk di bangku dekat Rink—terlalu dekat. Meskipun kepala Rink ada di kolong mesin, meskipun cidak langsung melihat wajah Caroline, ia tetap menyadari keberadaan Caroline. Aroma tubuhnya seperti memenuhi seluruh ruangan, seperti hawa panas petang itu. Di balik pakaiannya, butir-butir keringat mengucur deras. Tetapi ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Caroline, rasanya sejuk dan kering. Ingin Rink menempel-kan tangan itu ke wajah, leher, dan dadanya.
Sambil mengumpat karena teringat peristiwa petang itu, Rink menyeruput minumannya lagi. Itu baru sebagian dari tubuhnya yang ia ingin disentuh tangan Caroline.
Dalam perjalanan pulang, Caroline banyak bicara. Ketika hampir tiba di pintu gerbang, Caroline menoleh ke arahnya dan berkata, "Sik-kan mandi lama-lama. Aku akan minta Haney menunda makan malam supaya kau sempat men-dinginkan badan dan beristirahat. Kusiapkan minuman untukmu. Apa yang kau suka?"
Yang diinginkannya dari Caroline saat itu adalah penjelasan mengapa mendadak ia bersikap ramah padanya. Apakah Roscoe memintanya me-lakukan hal itu? Atau ini memang gagasannya? Mengapa tiba-tiba Caroline bersikap seperti ibu tiri yang berusaha mengambil hati anak tirinya? Hmmm, apa pun siasatnya, ia takkan berhasil, batin Rink sambil melangkah ke bawah pancuran air. Ia takkan pernah menganggap Caroline se-bagai ibu tirinya, dan andai Caroline menganggap ia bisa berperilaku seperti itu, berarti ia tidak ingat sama sekali pengalaman di musim panas itu. Musim panas. Mengingat peristiwa itu saja sudah membuat jantung Rink berdebar-debar.
Rink memaki dirinya. Dua belas tahun kemu-dian, ia masih saja bertingkah seperti orang tolol. Hei, Rink Lancaster, laki-laki yang patah hati. Hah! Ia tidak pernah mendapat kesulitan dengan perempuan kecuali saat harus melepaskan diri dari perempuan yang membosankannya. Apakah aneh bila perasaannya terhadap Caroline muncul bak air bah?
Musim panas itu penuh konflik. Ia merasa sangat bahagia sekaligus sangat sedih, seingatnya. Saat tidak bersama Caroline, ia ingin waktu cepat berputar agar ia bisa sege'ra bersamanya. Saat bersama Caroline, saat yang sangat di-nikmatinya setiap detiknya, ia berharap waktu tidak cepat berlalu agar ia tidak berpisah darinya. Ia frustrasi karena tidak bisa mengajak Caroline pergi ke tempat kencan biasanya, dan takut ada yang melihat mereka bersama. Ia selalu kelaparan tetapi tidak ada yang ingin dimakannya. Ia dililit gairah sepanjang waktu tetapi tidak tahu bagaimana menyalurkannya. Ia tidak bisa me-lakukan hal itu dengan Caroline tetapi juga tidak ingin melakukannya dengan perempuan lain.
Ia hanya menginginkan Caroline Dawson. Ia tidak bisa memiliki perempuan itu.
Siang-malam ia berdebat dengan dirinya sen-diri. Caroline masih di bawah umur, ya Tuhan. Lima belas tahun! Kau hanya cari masalah, Lancaster. Masalah besar.
Namun setiap menunggu Caroline di pinggir hutan, ia cemas kalau-kalau Caroline tidak muncul. Kecemasannya tidak hilang, sampai ia melihat Caroline berdiri di antara pepohonan yang bermandikan cahaya matahari.
Namun suatu hari, di hari terakhir itu, mata-hari tidak bersinar. Hari itu turun hujan....
Matahari bersinar cerah saat ia meninggalkan rumah. Hari itu, bahkan lebih dari hari-hari sebelumnya, ia sangat ingin berjumpa dengan Caroline. Ia dan ayahnya bertengkar pagi itu. Roscoe mengubah peraturan untuk pembelian kapas. Apa yang dilakukan Rocoe bukan sesuatu yang melanggar hukum ataupun etika. Ketika Rink menyinggung masalah itu, Roscoe marah sekali. Berani-beraninya anak yang masih ingusan, putranya yang tak punya pengalaman bekerja, memberi nasihat bagaimana ia harus menjalankan bisnis dan mengatur hidupnya? Ia belum mem-buat Lancaster Gin, pabrik pemintalan kapasnya, mencapai sukses.
Rink muak melihat apa yang terjadi, tetapi ia tidak punya kekuataan untuk menentangnya. Ia merasa harus berbicara dengan Caroline. Caroline akan mendengarkannya.
Caroline sudah menunggunya di sana, duduk di bawah pohon sambil melipat kaki. Wajahnya terangkat ketika melihat Rink bergegas men-dekatinya. Tanpa sepatah kata pun Rink ber-lutut di hadapan Caroline, memegang kedua pipinya lalu mencium bibirnya. Lidahnya dijulur-kan masuk ke dalam mulut Caroline, menemukan mata air manis yang sangat berbeda dari kepahitan yang baru dialaminya bersama ayahnya. Ciuman Caroline selalu melayang jauh dari ke-muraman yang menyelimuti rumahnya yang cantik.
Ketika pada akhirnya ia melepaskan bibir Caroline, ia bergumam, "Oh, Tuhan, betapa senangnya bisa bertemu denganmu." Kemudian kembali ia mendaratkan bibirnya di bibir Caroline. Perlahan-lahan, tanpa basa-basi, ia merebahkan Caroline ke tanah, di atas rumpunan lembut tanaman pakis dan lumut. Tanpa me-lawan, Caroline berbaring dan Rink ikut di sampingnya, menyilangkan salah satu pahanya ke tubuh Caroline.
Rink mengangkat kepala dan memandangi Caroline. Mata Caroline yang keabu-abuan me-mancarkan keteduhan di balik bulu matanya. Bibirnya basah dan memesona karena ciuman-nya. Rambutnya dibiarkan tergerai di belakang kepalanya seperti untaian benang sutra yang terhampar di padang hijau. Angin yang bertiup menerpa pipinya dengan lembut.
"Kau cantik sekali," bisik Rink. Ia membungkuk dan mencium kelopak mata Caroline.
"Kau juga tampan."
Rink menggeleng, menyangkal. "Aku bajingan egois. Kaupikir aku ini siapa, datang menemuimu seperti ini, menciumimu, merasa yakin kau ber-sedia dicium, bahkan tanpa berbasa-basi lebih dulu? Mengapa kaubiarkan aku melakukan semua ini padamu?"
Tangan Caroline yang mulus terangkat dan menepis rambut yang jatuh di dekat alis. "Karena kau butuh aku seperti ini hari ini," jawab Caroline.
Rink meletakkan kepalanya di lekukan bahu Caroline. Caroline meletakkan tangannya pada leher Rink. "Kau benar. Daddy dan aku bertengkar hebat pagi tadi."
"Aku sedih mendengarnya."
"Begitu pun aku, Caroline." Suara Rink ter-dengar parau, nada suara orang yang sangat putus asa. "Mengapa ia dan aku tidak bisa saling menyayangi? Atau saling menyukai?"
"Kau tidak bisa?"
Rink diam, mencari jawaban yang pas. Ia paham, betapa pentingnya bersikap begitu. "Tidak. Kami tidak bisa. Sedikit pun. Aku sangat membenci situasi ini, tetapi demikianlah ada-nya."
"Coba ceritakan keadaannya padaku."
"Ia menikah dengan ibuku untuk mendapat-kan nama baik dan uang ibuku. Ia tidak men-cintai ibuku dan Ibu tahu hal itu. Ayahku orang yang harus disalahkan atas ketidak-bahagiaan ibuku selama hidupnya dan menyebab-kan ia mati muda. Maksudku, Ibu meninggal karena sakit hati. Dan ayahku tidak menyukai aku karena aku tahu perbuatannya dan ia tidak tahan melihat sikapku. Banyak orang yang ber-hasil dibodohinya, tetapi ia tidak bisa menipu putranya sendiri dan itulah yang menyulut ke-marahannya."
Jari-jari Caroline yang menenangkan itu terus mengelus rambut Rink. "Mungkin kau terlalu menghakiminya. Bagaimanapun ia manusia biasa, Rink, bukan dewa. Ia juga bisa berbuat ke-keliruan. Apa orang tua harus tanpa cela?" Caroline mengelus leher Rink dan menekan ri-ngan rahangnya sampai Rink mengangkat kepala dan menatapnya.
"Kurasa kau agak picik. Maafkan aku mengata-kan hal ini. Kau menuntut kesempurnaan dan tidak bisa menerima kegagalan dalam dirimu sendiri. Kau mengharapkan hal yang sama dari orang lain dan itu tidak fair, Rink. Tidak adil memaksakan ukuranmu pada orang lain. Kita semua kan hanya manusia biasa."
Caroline mengelus bibir Rink dengan ujung jarinya. "Aku sedih mendengar hubunganmu de-ngan ayahmu tidak sebagaimana mestinya. Se-buruk apa pun ayahku, aku tidak bisa berbuat lain, kecuali menyayanginya. Alasannya, terutama, karena ia sangat membutuhkan cinta." Caroline tersenyum ceria pada Rink. "Bersabarlah, Rink. Jangan suka tidak sabar. Bertahun-tahun sudah ayahmu hidup dengan cara begitu. Tidak mudah menerima perubahan." Mata Caroline berkaca-kaca. "Terapi aku kagum kau berani mempertahankan prinsipmu, kendati sikapmu menyulut kemarahan ayahmu."
Perlahan Rink tersenyum, penuh kelembutan. "Kau sungguh istimewa, kau tahu? Bagaimana kau bisa menganggap semua itu baik? Hmmm' Mengapa setiap kali bersamamu aku tak merasa-kan kegelapan, tidak kehilangan harapan? Menga-pa aku selalu merasa punya jalan keluar ketika bersamamu? Dan aku merasa kau juga bisa menegurku, mengembalikan kepercayaan diriku?"
Kegembiraan yang dirasakan Caroline men-dengar apa yang dikatakan Rink jelas terpancar. Mata Caroline meredup karena perasaan malu. "Betulkah aku melakukan semua hal itu untukmu?"
Mata Rink yang keemasan melembut. Ia me-rapatkan tubuhnya ke rubuh Caroline, dan me-nindihnya. Rink menegang. "Banyak hal yang kaulakukan untukku," ujar Rink parau, sambil menggerakkan tubuhnya ke tubuh Caroline. Mata Caroline membeliak, tubuhnya gemetar. Sambil mengumpat dirinya, Rink menjauh. "Brengsek! Apa yang terjadi atas diriku? Aku tidak boleh melakukan hal seperti itu padamu. Maafkan aku."
Sambil meraih Rink, Caroline berkata, "Bukan soal itu." Caroline mengangkat tangan dan memperlihatkan kulitnya yang meremang. "Udaranya lebih dingin. Kurasa mau hujan."
Kata-kata itu belum lama meluncur keluar dari bibir Caroline, titik hujan sudah jatuh menimpa wajahnya. Rink menutupi tubuh Caroline dengan punggung dan menatap awan tebal di langit. Titik hujan jatuh makin cepat dan deras. Keduanya tertawa girang seperti anak-anak ketika merebahkan diri di tanah dan membiarkan air hujan membasahi tubuh mereka. Badai yang mengamuk di musim panas itu perlahan mereda, hujan yang tadinya lebat kini tinggal titik-titik air gerimis.
Rink menopang tubuh dengan siku dan me-mandangi Caroline. Wajah Caroline tetap cantik biarpun tidak memakai kosmetik. Ia malah ke-lihatan segar dan memikat sekali. Mata Rink tertuju ke leher Caroline, dan turun lagi. Napas-nya memburu. Blus putih yang dikenakan Caroline basah kuyub dan membentuk buah dadanya. Hari ini Caroline tidak memakai bra.
Rink menatap Caroline dengan pandangan bertanya-tanya.
Suara Caroline rendah dan parau karena pe-rasaan malu. "Aku tidak punya sesuatu yang cantik untuk kupakai. Kupikir... bila aku tidak roemakai apa-apa, jadi kelihatan tidak terlalu jelek... aku... oh...." Caroline seperti mau menangis dan melipat tangannya di dada. "Aku tidak bermaksud...."
"Ssst," ujar Rink, perlahan menurunkan tangan Caroline ke samping. Beberapa saat lamanya, satu-satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik hujan. Rink menatap CaroJine dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu memperlihatkan segalanya, payudara yang lembut, puncaknya yang mencuar.
"Kurasa, kudengar suara geledek," bisik Caroline dengan tubuh gemetar.
Rink mengangkat tangan dan memegang ke-mejanya yang basah. "Bukan. Itu suara debar jantungku."
Rink membungkuk dan menyentuh bibir Caroline dengan bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan manis, sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menjilat ujung-ujung bibir Caroline, dengan lembut menelusuri garis bibir-nya. Telinga Rink menangkap suara mendesah yang keluar dari tenggorokan Caroline. "Oh, Caroline," desah Rink.
Ciuman pun berubah. Tidak lagi lembut. Rink memiringkan bibir di atas bibir Caroline, ber-usaha membukanya. Lidahnya dijulurkan masuk ke mulut Caroline. Tangannya memeluk ping-gang Caroline, makin rapat, sesenti demi sesenti, pelan, peJan, sampai akhirnya tangannya diletakkan di pinggang Caroline, agak mencengkerara, kemudian pelan-pelan naik, sampai akhirnya mencapai buah dada Caroline.
Seumur hidup Rink, tidak pernah ia merasa-kan memegang payudara perempuan seperti payudara Caroline yang belum tumbuh sepenuh-nya tetapi sudah penuh itu, terasa demikian nikmat di tangannya. Digenggamnya bagian yang lembut itu, diremas, dan dipijatnya dengan ge-rakan memutar. Ia mengeksplorasi payudara itu dengan ekstra lembut agar Caroline tidak terkejut, namun dengan piawai membangkitkan sensualitas Caroline agar ia ikut merespons. Caroline merapatkan tubuhnya ke tubuh Rink, setiap gerakan tanpa disengaja menimbulkan rangsangan dan semakin membangkitkan hasrat.
Ketika jari-jari Rink menyentuh puncak payu-daranya, Caroline melengkungkan punggung dan mendesah lembut. Bagian tubuh yang sensitif itu mencuat. Jari-jari Rink terus mempermain-kannya dengan hati-hati sampai puncak itu me-ngeras. Sementara jarinya sibuk dengan payudara, lidahnya sibuk menjilati langit-langit mulut Caroline. Suara yang keluar dari tenggorokannya tanpa disadarinya dan napasnya yang panas lagi memburu menerpa wajah dan leher Caroline.
Tangan Rink membuka kancing blus CaroJine paling bawah, dan kancing-kancing lainnya de-ngan cepat. Caroline tercekat dan memegang tangan dan baju basah yang dipegang Rink. "Rink, jangan," bisik Caroline, yang sebenarnya berarti ya. Caroline menggeleng ke kanan dan ke kiri. Giginya menggigit-gigit bibir bawahnya.
"Sayang, oh, sayangku," gumam Rink. "Aku tidak ingin menyakirimu. Aku hanya ingin me-lihatnya, menyentuhnya."
Bibir Rink kembali menciumi bibir Caroline dengan gerakan mengisap. Rink merasa seperti mendapat kehidupan dan cinta dari Caroline ketika berhasil membuka blusnya dan menggeng-gam payudara Caroline yang lembut. Ketib telapak tangannya merasakan kelembutan payu-dara itu, Rink tersulut gelora, yang lebih panas, lebih menggebu, hampir sulit dikendalikan, yang belum pernah dirasakannya selama ia pernah merasakan dorongan seks dalam hidupnya.
Dan ia menyadari seketika itu, tak ada perem-puan mana pun di dunia yang bisa membuatnya merasa menjadi laki-laki sejati, seperti yang di-rasakannya saat itu. Ia telah menemukan orang-nya, perempuan yang membuat dirinya menjadi laki-laki sejati.
Rink mengelus, mendorong payudara Caroline tinggi-tinggi dengan tangannya, membelai pun-caknya dengan ibu jari. Ia merendahkan tubuh-nya beberapa sentimeter, lalu mencium teng-gorokan dan leher Caroline. Kemudian ia mengu-lum salah satu puncak yang kemerahan itu dan mengisapnya dengan lembut. Caroline menge-rang. Ia merenggut rambut Rink dan memegang kepala pria tersebut erat-erat. Jiwa Rink dipenuhi gelora cinta ketika mendengar Caroline mendesah nikmat karena apa yang dilakukannya dengan penuh cinta untuk Caroline.
Caroline agak menaikkan lutut, nalurinya me-mintanya melakukan hal itu, tanpa disadarinya. Rink mengelus lutut Caroline yang telanjang.
Kakinya yang panjang lagi mulus terasa halus sekali ketika tangannya mengelusnya sampai jauh ke atas. Rok dari bahan katun yang dikenakan Caroline sama sekali tidak menghalangi Rink. Ia tidak mau berhenti untuk memuaskan keinginan-nya sampai ia berhasil meyentuh celana dalam Caroline.
Caroline melengkungkan punggungnya lebih tinggi, tangannya mencengkeram bahu Rink. "Rink, Rink." Rintihan Caroline menyiratkan kenikmatan sekaligus ketakutan; yang keduanya dipahami Rink.
"Tak apa-apa, Sayang. Aku tidak akan me-nyakitimu. Sumpah, aku tidak akan pernah me-nyakitimu."
Sentuhan tangan Rink terasa selembut kapas. Ia terus membelai dan mengelus, sampai akhirnya tak ada lagi pakaian yang melekat di tubuh Caroline. Jari-jari Rink mengelus kewanitaan Caroline.
"Oh, Tuhan," desah Rink, menenggelamkan bibimya di leher Caroline. "Kau begitu cantik. Oh, Tuhan...."
Jari-jari Rink terus mempermainkan, membuka, dan menemukan. Ketika Caroline menggeliat-geliatkan tubuh, Rink tahu ia berhasil menemukan sumber keajaibannya. Dengan piawai ia agak menekan, membentuk lingkaran-lingkaran, dan mengelus bagian tubuh itu sampai terdengar suara mengerang dari tenggorokan Caroline, dengan kepala terkulai ke belakang. Suara rintihan Carolie berbaur dengan gemerisik angin dan hujan yang jatuh membasahi pepohonan.
Rink mengamati wajah Caroline, yang teng-gelam dalam kenikmatan, tidak menyadari ekspre-sinya. Dilihatnya mata Caroline mengerjap-ngerjap ketika ia menyadarkan Caroline dan perlahan mengembalikannya ke dunia nyata, lepas dari cengkeraman kenikmatan yang menghanyutkan itu.
Kenyataan menimbulkan kebingungan. Caro-line menurunkan roknya yang terlipat-lipat sam-pai pinggang. "Rink?" Caroline memanggil Rink dengan nada tinggi. "Rink, apa yang terjadi atas diriku? Peluk aku. Aku takut sekali."
Rink merendahkan tubuhnya, seperti hendak memberi perlindungan pada Caroline. Ia men-dekap Caroline erat-erat, tangannya memegang kedua sisi kepala Caroline. Ia mengecup lembut seluruh wajah Caroline dan menenangkannya. "Kau tidak tahu apa yang terjadi atas dirimu, Caroline?" Letupan emosi di hatinya membuat suaranya terdengar parau.
Caroline mencari-cari mata Rink, memerhati-kan bibir Rink, menyentuhnya, seperti orang yang mengagumi keindahan yang dimiliki Rink dan apa yang baru saja diperkenalkan pria itu padanya. "Tetapi kau tidak... maksudku... kau tidak... berada dalam tubuhku."
Sambil mendesah lirih, Rink menekankan dahinya ke dahi Caroline. "Tidak, aku tidak melakukannya. Tetapi aku ingin sekali. Aku ingin berada jauh di dalam tubuhmu, memenuhi diri-mu dengan diriku, memberimu segala yang ku-punya." Rink mencium Caroline, seakan tengah bercinta, menciumi bibir Caroline dengan lidah-nya, memasukkan lidahnya jauh ke dalam mulut Caroline. Tetapi ciuman itu malah makin meng-ingatkannya pada apa yang tak boleh dilakukan-nya, lalu ia melepaskannya.
Caroline menangis tersedu-sedu. Air matanya bercampur air hujan. Rink menyeka air mata dari pipi Caroline dengan ibu jarinya. "Jangan menangis." Rink bangkit dan menarik Caroline berdiri juga, mendekapnya erat-erat. Caroline masih saja menangis. "Mengapa kau menangis, Caroline?" Oh, Tuhan, andai ia sampai melanggar janjinya dan melukai Caroline, ia takkan pernah memaaikan dirinya. Apakah Caroline tidak meng-hargainya lagi sekarang, takut dengannya? "Kata-kan, kenapa kau menangis?"
"Kau takkan datang menemuiku lagi. Setelah peristiwa hari ini. Setelah apa yang kulakukan, kau akan menganggapku perempuan murahan."
Kelegaan menyelimuti hati Rink. "Oh, sayang-ku," bisik Rink sambil mendekap tubuh Caroline lebih erat ke tubuhnya. "Aku mencintaimu."
Perlahan-lahan Caroline mengangkat kepala dan menatap Rink. "Kau mencintaiku?"
"Aku mencintaimu," kata Rink, karena ia tahu itulah perasaannya yang sesungguhnya ter-hadap Caroline. Andai ia tidak mencintainya, mereka masih akan berbaring di rerumputan dan ia akan memuaskan hasratnya. "Aku men-cintaimu. Betapa pun sulit, aku akan datang ke sini lagi besok." Rink memeluk Caroline erat-erat, menciuminya sampai Caroline sesak napas. Kemudian, sambil mendekap Caroline seakan ia sudah menjadi miliknya, Rink berbisik di telinga Caroline, "Kita hampir melewati batas, Caroline." Rink agak menjauhkan dirinya dari Caroline, mencari-cari mata Caroline. "Kau mengerti apa yang kumaksud, bukan?"
"Tentu saja!" jawab Caroline sambil terisak pelan. "Aku tahu, apa pun yang terjadi di antara kita takkan ada masa depan."
"Bukan tidak ada masa depan. Aku akan mencari jalan keluar. Malam ini."
"Malam ini? Apa maksudmu?"
"Aku akan mencari cara bagaimana supaya kita bisa berkencan dengan pantas, berada di antara orang banyak, tidak lagi bertemu sem-bunyi-sembunyi begini."
Caroline memeluk lengan atas Rink. "Jangan, Rink, jangan lakukan hal itu. Biarkan seperti sekarang ini, selama kita bisa."
"Aku bisa mati kalau begini terus."
"Mengapa?"
"Bila berduaan saja seperti ini, sulit bagiku untuk menghentikan apa yang sudah kumulai."
Caroline terdiam dan membisu beberapa saat, hanya memandangi tenggorokan Rink sementara jarinya menelusuri kerah kemeja Rink. Caroline membasahi bibir. "Rink, aku tidak keberatan bila kau... Aku bersedia bila kau ingin me... ....
Dengan jari telunjuk Rink menaikkan dagu Caroline. "Tidak." Suara Rink tenang tetapi berwibawa. "Aku tidak suka main sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku tidak suka memperu-mit masalah, mengambil risiko menyakitimu, dengan bercinta denganmu." Ia menundukkan wajah hendak mencium Caroline yang tak jauh darinya. Rink memejamkan mata rapat-rapat, mengembuskan napas, dan mengertakkan gigi. Ketika membuka mata kembali, Rink berkata," Aku ingin sekali. Oh Tuhan. Aku ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang kukatakan padamu, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hatimu."
"Ya, dan aku percaya padamu."
"Kalau begitu serahkan segalanya padaku. Tak ada yang perlu kaukhawatirkan. Aku akan mem-bereskan segalanya, sehingga kita tidak perlu bertemu sembunyi-sembunyi seperti ini lagi."
"Kau yakin, Rink?" Perasaan cemas itu masih terpancar di wajah Caroline. Rink tahu Caroline mengkhawatirkan dirinya, bukan diri Caroline, dirinya sendiri.
"Aku yakin. Besok aku akan membawa berita baik. Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita berada ini." Tangan Rink mendekap wajah Caroline. "Oh, Tuhan, Caroline, cium aku lagi." Bibir Rink mencari-cari bibir Caroline, tetapi ciumannya hanya ciuman kecil. Ia tidak yakin dirinya bisa memenuhi janjinya. Ia ingin me-nikahi Caroline, dan tak peduli apa pun risiko-nya.
"Besok, besok," kata Rink berulang-ulang sam-bil mundur, merentangkan tangannya, sampai akhirnya ujung jari mereka berpisah. Rink lari menembus hutan di bawah rintik hujan ke tempat ia memarkir mobilnya, ingin cepat-cepat tiba di rumah....
"Kau tolol," kata Rink pada dirinya di depan cermin setelah keluar dari kamar mandi. Wajah-nya jadi kabur, yang tepat menggambarkan diri-nya setelah peristiwa dua belas tahun yang lalu itu. "Apa yang membuatku berpikir sepolos itu, mengira segalanya berjalan sesuai rencanaku?" Ia menghabiskan minumannya, membiarkan cairan itu menuruni tenggorokannya tanpa menikmati rasanya sedikit pun. Ia hanya menyesali es batu yang mencair itu mengurangi rasa bourbon-nyz. Ia teringat apa yang terjadi malam itu ketika ia menemui ayahnya di ruang kerja, meminta waktu untuk bicara. Seperti racun yang masih mengendap, kebencian dan kemarahan menyeli-muti dirinya setiap kali ia ingat ketololan dirinya yang begitu percaya diri. Betapa bodohnya. Be-tapa tololnya. Dirinya seperti Daud yang berdiri di hadapan Goliat. Oh, ia punya keberanian seperti itu. Hanya saja ia tidak punya ketapel dan batu. Sementara Roscoe punya meriam.
Ia melangkah masuk ke ruang kerja dan ber-kata, "Daddy, aku sudah menemukan gadis yang ingin kunikahi."
"Pasti kau bisa menemukannya," jawab Roscoe sambil memindahkan cerutunya dari sudut bibir yang satu ke sudut lainnya. "Frank George me-neleponku tadi malam. Marilee hamil. Sudah tiga atau empat bulan. Ia bilang, mata putrinya sampai bengkak karena menangis sebab kau tidak datang lagi menemuinya. Selamat, anakku. Kau sebentar lagi menjadi suami dan ayah."
Sampai detik ini kata-kata ayahnya itu masih sangat dibencinya sampai ke tulang sumsum. Kata-kata bandit itu. Kata-kata bajingan yang penuh kebencian, manipulasi, kelicikan.
Dan Caroline, Caroline-nya yang dijumpainya di tepi sungai di bawah rintik hujan, kini menjadi istri ayahnya. Kini bajingan itulah yang harus didengarkan kata-katanya oleh Caroline, bicara dengannya, memberikan ketenangan dan kehidupan pada Caroline. Dengan Roscoe, Caroline memberikan bibirnya yang manis, payu-daranya, pahanya.
Rink menutup mata dengan telapak tangan, sementara ingatan akan kebersamaannya dengan Caroline melintas seperti film di benaknya. Mem-bayangkan semua itu saja Rink merasa hampir tidak sanggup.
Sekujur tubuhnya terasa sakit. Celakanya, tak ada benda apa pun yang bisa menyembuhkan lukanya.
"Terima kasih, Steve."
"Terima kasih kembali."
"Rink bilang pemanggang rotinya rusak. Haney harus membeli yang baru. Tetapi kata Haney, tak perlu beli yang baru kalau yang lama ini bisa diperbaiki. Rink ingin memper-baikinya tetapi ia sibuk bekerja di pemintalan. Aku sudah bilang padanya, tak perlu mencemas-kan benda itu. Kau mau melakukannya untukku. Kau tidak keberatan, bukan?"
"Tentu saja tidak. Aku senang bisa memper-baikinya." Ia menyibukkan diri dengan merapi-kan meja kerja di garasi, tempat alat-alat kecil disimpan.
"Kau marah padaku, Steve?"
Steve berhenti bekerja dan menatap Laura Jane. Laura Jane mengenakan baju berkerah ting-gi. Kulitnya kelihatan lembut dan halus seperti bunga magnolia yang tengah merekah. Hasrat menyergap Steve seperti palu godam. Ia berbalik seketika. "Mengapa aku harus marah padamu?"
Laura Jane mengembuskan napas dan duduk di anak tangga paling atas. Dengan resah, jari-jarinya mempermainkan ikat pinggang yang me-lilit di pinggangnya. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam sampai dagunya hampir menyentuh dada. "Karena aku menciummu kemarin," jawab Laura Jane lembut. "Sejak kejadian itu, kau marah padaku."
"Sudah kukatakan, aku tidak marah."
"Lalu mengapa kau tidak mau menatap wajah-ku?"
Steve menatapnya kemudian. Suara Laura Jane yang bernada tinggi, penuh kemarahan, memaksa Steve mengangkat kepala dan memandang Laura Jane tanpa bisa berkata-kata. Ia tidak pernah melihat gadis itu marah atau meninggikan suara-nya tanpa alasan. Kecil kemungkinan Laura Jane berani balik menatapnya. Air muka Laura Jane kelihatan seperti ekspresi perempuan yang merasa direndahkan.
Steve menelan ludah dengan susah payah. "Aku memandangmu sekarang."
"Matamu menghindariku. Matamu tak pernah memandangiku lagi. Mengapa, Steve?" tanya Laura Jane, sambil turun dari tangga dan men-dekati Steve. "Mengapa? Kau tidak menyukai wajahku lagi?"
Mata Steve nanar menatap Lauara Jane, mulai dari rambutnya yang halus kecokelatan sampai ke kakinya yang ramping mengenakan sandal. Ketika sekali lagi matanya tertuju pada wajah gadis itu, Steve berkata dengan suara parau, "Bukan, Laura Jane, aku sangat suka meman-dangimu."
Laura Jane tersenyum, tetapi sesaat senyumnya memudar. "Benarkah gara-gara aku ingin men-ciummu? Apakah aku melakukan kesalahan?""
Steve menggosok-gosokkan tangannya ke paha, mengeringkan telapak tangannya yang basah pada celana jins. "Kau tidak melakukan kesalahan."
Laura Jane mengernyitkan dahi. "Kurasa, aku melakukan kesalahan. Perempuan yang kulihat di televisi mencium kekasihnya lama-lama. Mereka saling memiringkan kepala. Aku rasa mereka membuka mulut mereka ketika berciuman."
Sekujur tubuh Steve bergetar. "Laura Jane," katanya parau, "kau tidak boleh bicara seperti itu dengan pria."
"Kau bukan pria biasa, namamu Steve."
"Benar, kau tidak boleh bicara soal ingin menciumku."
Laura Jane kelihatan bingung. "Mengapa?"
"Karena ada hal-hal antara laki-laki dan perem-puan yang... yang... belum menikah yang tidak boleh dibicarakan."
"Boleh melakukannya, tetapi tidak boleh mem-bicarakannya?" tanya Laura Jane, semakin bi-ngung.
Steve tertawa, meskipun tengah mengungkap-kan hal serius. Rupanya Laura Jane lebih cerdik darinya. "Seperti itulah."
Laura Jane menggelayut di badan Steve dan meletakkan tangannya di dada Steve. Kepalanya ditengadahkan ketika hendak menatap wajah Steve. "Kalau begitu tak perlu kita membicara-kannya. Kita berciuman saja." Suara Laura Jane sehalus napasnya yang menerpa kerongkongan Steve.
Tangan Steve menggenggam tangan Laura Jane. "Kita tidak boleh melakukan hal itu juga."
"Kenapa, Steve?"
Kemarahan seperti menyayat-nyayat sekujur tubuhnya. Ia harus mengeraskan hati untuk melepaskan genggaman tangan Laura Jane dan de-ngan hati-hati menurunkannya ke samping. "Ka-rena tidak boleh." Steve kembali ke meja dan mengambil pelana yang sedang dibersihkannya ketika Laura Jane masuk mencarinya.
Dengan sedih Laura Jane memandangi Steve yang keluar dari bengkel dan berjalan ke halaman. Ia mengambil pemanggang roti, benda yang dijadikan alasan untuk menemui Steve, dan kem-bali ke rumah. Ketika melihat mobil Caroline memasuki pekarangan, Laura Jane berhenti.
"Halo, Laura Jane. Apa yang kaulakukan de-ngan benda itu di halaman?" Caroline bertanya, sambil menunjuk pemanggang roti.
"Steve memperbaikinya untuk Haney. Aku baru mau masuk rumah."
Gaya bicara Laura Jane menarik perhatian Caroline. "Bagaimana keadaan Steve? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini."
Laura Jane mengangkat bahu. "Ia baik-baik saja, kurasa. Sikapnya aneh kadang-kadang."
"Aneh?"
"Ya. Sepertinya ia tidak ingin menjadi temanku lagi."
"Aku tidak yakin."
"Benar. Sejak aku menciumnya."
Caroline menghentikan langkah. "Kau men-ciumnya?" Caroline melihat ke sekelilingnya de-ngan cemas, berharap tak ada orang yang men-dengar pernyataan itu dan lega Rink tak ada di sekitar situ.
"Ya." Laura Jane menatap Caroline dengan pandangan polos dan tenang ketika melihat wajah Caroline yang tampak kesal. "Aku mencintainya."
"Kau mengungkapkan itu padanya?"
"Ya. Tidak baikkah?"
"Tidak baik, ya." Caroline tahu ia harus me-milih kata-kata yang hendak diucapkannya de-ngan hati-hati. Ini cinta pertama Laura Jane, barangkali ini cinta monyet. Bagaimana cara menjelaskan dengan hati-hati tetapi tidak mem-buatnya takut? "Mungkin kau terlalu terburu-buru. Barangkali kau membuat Steve terkejut. Jangan-jangan Steve yang ingin menciummu ter-lebih dahulu."
"Kurasa ia tidak akan melakukan hal itu dan aku sudah tidak sabar."
Caroline tersenyum. "Beri waktu untuknya, kurasa nanti ia akan melakukannya."
"Menurutmu, Rink akan melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Menciummu. Ia ingin menciummu."
Beberapa detik dalam enam puluh detik yang sama, Caroline terkesima. "Laura Jane, kau tidak boleh berkata begitu. Rink tidak akan melakukan hal itu."
"Lalu mengapa ia selalu memandangimu?"
Bibir Caroline terasa kering. "Oh ya?"
"Setiap kali, di saat kau tidak melihatnya. Dan kata-katanya begitu tajam padamu waktu di pemintalan kapas."
"Bukan kepadaku. Kepada setiap orang, para pekerja, para penanam kapas, dan juga kepada ayahmu."
"Tetapi kau yang memintanya. Aku rasa, ia awalnya tidak mau, bukan?"
Caroline mengingat-ingat apa yang terjadi ma-lam itu, setelab Rink memperbaiki mesin pintal. Sepanjang petang, Caroline memikirkan cara un-tuk membangun kembali hubungannya dengan Rink dan mengira telah berhasil melakukannya. Namun sekembalinya ke rumah, sesudah mandi dan duduk untuk makan malam bersama, Rink malah menunjukkan sikap makin bermusuhan dengannya. Caroline tidak tahan menerima ke-nyataan iru. Kendati kemajuan yang dicapainya sedikit, Caroline tidak mau menyerah.
Selama makan malam dan sesudahnya, waktu mereka duduk di ruang tamu bersama Haney dan Laura Jane, Caroline berusaha bersikap ra-mah pada Rink, sehingga Rink tak lagi meman-dang Caroline dengan wajah bermusuhan. Akhir-nya ia berhasil mengumpulkan keberanian me-minta tolong Rink memeriksa beberapa mesin lainnya, yang dirasanya perlu diperiksa. Dengan sikap enggan, Rink mengiakan permintaan Caroline. Selama tiga hari penuh Rink bekerja keras di pabrik, sebagaimana pekerja yang makan gaji.
"Aku bersyukur, Rink ada di sini memberi bantuan sementara ayahmu sakit. Ia bekerja keras sekali."
"Kau juga. Kau kelihatan letih sekali, Caroline."
Caroline memang merasa letih. Sangat letih. Ia masih harus bersikap sangat hati-hati terhadap Rink, berharap komunikasi yang berhasil dijalin di antara tnereka tidak mengarah ke hubungan yang intim. Dan Roscoe. Caci makinya makin pedas setiap kali Caroline menjenguknya, yang paling sedikit sekali sehari, dua kali bila ia merasa mampu menghadapinya. Ia tidak mem-beritahu Roscoe perihal pekerjaan yang dilakukan Rink di pemintalan karena tahu Roscoe pasti tidak akan setuju. Tak satu pun hal yang dilaku-kannya kini menyenangkan hati Roscoe. Semua dikritiknya, mulai dari cara berpakaian sampai cara menerima nasihat yang diberikan dokter, seakan perintah yang tidak boleh dilanggar.
"Aku memang merasa letih," kata Caroline pada Laura Jane. "Soal Steve," katanya, kembali pada topik pembicaraan, "mungkin perasaannya lagi tidak enak saja. Jangan terlalu memaksanya. Biasanya pria tidak suka diperlakukan begitu. Kurasa, kalau kalian nanti mau berciuman lagi, biarkan ia yang berinisiatif, jangan kau."
"Kurasa begitu," gumam Laura Jane, sambil menunduk.
Caroline memahami alasan Steve yang tiba-tiba dingin. Jelas ia jatuh cinta pada Laura Jane tetapi tidak ingin perasaan cintanya membuat Laura Jane melakukan sesuatu yang bisa menyu-lut kemarahan Rink. Ia menaruh simpati pada keduanya. "Ayo kita makan," ajak Caroline ra-mah, sambil menggamit tangan perempuan yang lebih muda tersebut.
"Rink ke mana?"
"Entahlah. Ia bilang akan makan bersama—"
Perkataan Caroline terputus suara klakson nya-ring, dan ketika ia dan Laura Jane berbalik, mereka melihat Rink menghentikan mobil pickup-nyz di belakang mobil Lincoln. Rink melompat keluar dari mobil itu.
Wajahnya yang berseri-seri mengingatkan Caroline pada pemuda tampan yang pernah di-kenalnya di pinggir hutan, yang hampir mendo-rongnya menyongsong dan merentangkan tangan untuk menyambutnya tanpa memedulikan sekeli-lingnya.
"Itu mobilmu, Rink?" tanya Laura Jane sambil berjingkrak dan bertepuk tangan kegirangan. "Aku suka warnanya."
"Cavalier blue," jawab Rink, sambil mengang-guk pada Caroline. "Aku perlu kendaraan pribadi selama di sini. Kurasa, yang kubutuhkan ken-daraan jenis pickup seperti ini. Bagaimana cara membawa mobil ini dan pesawat terbangnya kembali ke Atlanta, itu yang belum aku tahu." Semua tertawa. Perasaan Caroline luluh ketika memandang Rink, melihat rambutnya yang ter-tiup angin dan sorot matanya yang berseri-seri.
"Aku lapar sekali. Makan malamnya sudah siap?" Rink melingkarkan satu tangan ke bahu Caroline dan tangan lainnya ke pundak Laura Jane. "Mari kutemani ke ruang makan, Nona-Nona."
Sebelum mereka mencapai teras rumah, Haney muncul di ambang pintu dan berseru, "Caroline, Rink! Syukurlah kalian sudah di sini. Dokter rumah sakit menelepon. Kondisi Mr. Lancaster memburuk. Dokter bilang sebaiknya kalian segera ke rumah sakit."




Bab 7

HANYA satu lampu kecil redup yang me-nerangi ranjang kamar Roscoe di rumah sakit. Semacam lampu sorot. Sinar lampu diarah-kan ke bawah, sehingga cahayanya tepat me-ngenai wajah pria yang tengah menderita ke-sakitan itu. Perawat sedang membungkukkan ba-dan di dekat Roscoe ketika Rink dan Caroline memasuki kamar. Dengan tangan yang ditusuk selang, Roscoe mengibaskan tangan, menyuruh perawat itu keluar dari kamarnya.
"Cepat keluar dari sini, tinggalkan aku. Tak ada yang kaukerjakan di sini."
"Tetapi Mr. Lancaster...."
"Keluar!" bentaknya kasar. "Aku ingin bicara dengan istri dan putraku." Kata istri dan putra, kedua kata itu, diucapkan Roscoe dengan nada mengejek.
Perawat itu pun segera meninggalkan kamar. Sol sepatunya yang terbuat dari karet berderit pedahan saat melangkah di lantai yang berlapis vinyl. Caroline mendekati ranjang Roscoe dan memegang tangannya. "Kami langsung ke sini begitu dokter menelepon."
Mata Roscoe yang hitam, bak peluru, menatap Caroline bagai moncong senapan yang ditodong-kan. Air muka Roscoe jelek sekali. Bayang-bayang kehidupan yang hancur terpancar dari mukanya, bukan secara fisik tetapi spiritual— kehancuran yang menggerogotinya selama ber-tahun-tahun dari dalam, yang baru sekarang muncul ke permukaan. "Kuharap aku tidak membuat kalian terpaksa harus meninggalkan sesuatu yang lebih penting," kata Roscoe sinis dan menarik tangannya dari genggaman Caroline.
Caroline tidak mau terpancing. Dengan tenang ia menanggapi, "Tentu saja tidak, Roscoe. Kau tahu aku datang ke sini untukmu."
Roscoe tersenyum sinis. "Agar kau segera tahu aku sudah mati? Supaya kau langsung tahu, kau sudah bebas dariku?"
Tubuh Caroline tersentak seperti orang yang ditinju keras di kepala. "Mengapa kau berkata seperti itu? Apa kaupikir aku ingin kau me-ninggal? Bukankah aku sejak dulu mendorong-mu segera memeriksakan diri ke dokter? Tak ada alasan kau meragukan pengabdianku padamu.
"Itu karena kau tidak punya kesempatan saja." Tatapan Roscoe bergeser ke Rink, yang berdiri di ujung ranjang, mukanya tanpa ekspresi.
"A-apa maksudmu mengatakan begitu?"
Caroline tergagap, membuat mata Roscoe kem-bali tertuju padanya.
"Maksudku, karena pria yang begitu kau-dambakan kini tinggal satu atap denganmu. Kau bisa tergoda untuk tidak setia pada suamimu, yang kaukatakan untuknya kauabdikan hidupmu."
Caroline merasa napasnya mau putus. Tanpa mampu berkata-kata ia menatap suaminya. Se-ringai licik mengembang di bibirnya. Matanya berapi-api seperti nyala api neraka.
"Maksudmu, Rink?" tanya Caroline, menegas-kan.
"Rink." Roscoe mengulangi, menirukan Caro-line. "Rink, Rink. Tentu saja dia! Sudah pasti yang kumaksud Rink."
Caroline membasahi bibir. "Tetapi Rink dan aku... kami tidak punya... kami tidak pernah...."
"Jangan bohong padaku." Roscoe duduk dan membentak Caroline. Ia seperti iblis yang ber-wajah seram, terikat selang-selang plastik di ran-jang. "Jangan coba berpura-pura di hadapanku, Nona Cilik. Aku tahu semua cerita tentang dirimu dan Rink."
Caroline menjauhkan diri dari Roscoe, bahu-nya condong ke depan, tangannya dilipat di perut. Matanya mencari-cari Rink. Rink ber-geming. Ia tetap berdiri kaku di ujung ranjang ayahnya yang sekarat. Matanya menyorotkan ke-bencian yang dalam. Dialah yang memecah ke-heningan yang menakutkan di ruangan itu.
"Kau tahu soal Caroline pada malam kau memberitahuku tentang Marilee yang hamil, bu-kan?"
Roscoe ambruk di bantal, Napasnya terdengar seperti bunyi lembaran kertas yang dilipat-lipat. Secara fisik, jelas tenaganya banyak tersedot un-tuk mengungkapkan pesan kemenangannya. Na-mun air mukanya berbinar memancarkan ke-puasan ketika ia menatap putranya dengan sorot mata penuh kedengkian.
Roscoe tertawa. "Aku tahu. Semuanya," kata-nya sinis. "Kau harusnya sadar, tak mungkin kau pergi menyelinap ke hutan setiap hari tanpa membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku akan mengagumi kecerdikanmu, bila kau tfersikap le-bih cerdik."
"Jadi kau pernah membuntutiku dan melihat kami bersama," tanya Rink dengan suara tetap tenang dan rendah.
"Hah, tentu saja tidak!" jawab Roscoe, senang. "Aku tak mau merepotkan diriku ikut campur urusanmu. Aku hanya penasaran, kenakalan apa yang kaulakukan. Cukup kusuruh begundal-begundal mengikutimu. Mereka memberikan la-poran yang sangat menarik. Kau menemui gadis miskin di tepi sungai setiap hari."
Caroline terisak memilukan hati. Namun Roscoe sama sekali tidak memedulikannya. Yang jadi sasarannya adalah putranya, seperti biasanya. Selama ini Caroline hanya diperalatnya.
"Gadis yang kautemui setiap hari secara sem-bunyi-sembunyi hanya gadis di bawah umur, kata anak buahku, tetapi tubuhnya sangat meng-giurkan." Roscoe membasahi bibirnya. Caroline memejamkan mata, dan berusaha meredam pe-rasaan muak. Tubuh Rink agak gemetar karena berusaha mengendalikan kemarahan yang me-nyergapnya. "Kami tertawa geli ketika tahu pe-rempuan pujaanmu ternyata putri Peter Dawson." Roscoe mengedipkan mata pada Rink. "Tetapi aku kagum akan seleramu pada perempuan, anakku. Ia perempuan ingusan, tetapi waktu itu kau berani menanggung risikonya, bukan?"
"Mari kita luruskan permasalahannya," sela Rink. "Kau tahu yang dikandung Marilee bukan anakku, bukan?"
"Kurasa, bayi itu mungkin saja anakmu atau anak laki-laki lain, dan kau tidak bisa membukti-kan sebaliknya. Setiap orang di kota tahu Marilee bisa diajak tidur siapa saja."
"Bukan anakmu?"
Rink menoleh, melihat Caroline menatapnya. Suaranya terdengar parau, menyiratkan ketidak-percayaan dan... perasaan lain. Gembira? Matanya berkaca-kaca. "Bukan, Caroline," jawab Rink. "Bayi itu bukan anakku."
"Tetapi kau pernah tidur dengan Marilee, bukan?" Roscoe bertanya dari ranjang.
Mata Rink tetap tertuju pada Caroline ketika menjawab pertanyaan Roscoe, "Ya. Tetapi itu terjadi jauh sebelum ia hamil. Aku tidak pernah kencan dengan perempuan lain selama musim panas itu setelah mengenal Caroline. Alyssa bu-kan anakku." Rink kembali menghadap ke aiah ayahnya. "Dan kau tahu soal itu. Waktu itu kukatakan padamu bayi itu bukan anakku, ka-rena hampir setahun aku tidak tidur dengan Marilee. Tetapi kau memaksaku menikahinya juga. Mengapa?"
"Senang aku mengetahui kau lupa bahwa kau sendiri yang memilih menikahinya."
"Karena kau mengancamku akan memasukbn Laura Jane ke panti asuhan bila aku menolak mengawini Marilee!" teriak Rink, mengeluarkan kemarahan menggelegak yang sejak tadi diredam-nya.
"Ya ampun!" Caroline menutup muka dengan tangan. Akankah mimpi buruk ini tidak pernah berakhir? Roscoc memaksa Rink menikahi gadis yang mengandung anak laki-laki lain? Bagaimana ia bisa melakukan hal itu?
"Mengapa kau memaksaku menikahi Marilee' Mengapa kau tidak menyangkal pernyataan ayah Marilee bahwa aku bukanlah ayah bayi itu dan mengusirnya dari rumah? Aku yakin kau bukan orang yang takut menanggung akibat skandal ini. Kau bukan orang yang peduli norma masya-rakat. Dan aku tahu si tua George itu tidak mengancammu. Mengapa kau memaksaku me-ngawininya?" Suara Rink meninggi, pertanyaannya itu terasa seperti tetap menggema di dalam ruangan setelah keluar dari mulutnya.
"Uang," jawab Roscoe, pendek. "Ayahnya pu-nya banyak uang. Aku lagi butuh uang. Se-sederhana itu masalahnya. Aku menjualmu, anak-ku, senilai dua puluh lima ribu dolar."
Rink terpaku. Kendati sudah tahu kebreng-sekan ayahnya, sama sekali tak terlintas dalam benaknya bahwa uang menjadi penyebab pe-maksaan itu. "Tetapi kau tidak mencegahku ber-cerai setelah Alyssa lahir," kata Rink.
"Itu tidak termasuk dalam kesepakatan. George hanya menginginkan suami untuk putrinya yang malang dan ayah untuk cucunya. Ia ingin nama keluarga terhormat menempel di belakang nama cucunya, tercetak di akte kelahirannya."
"Terhormat," lanjut Roscoe sambil menatap langit-langit. "Kita suka yang berbau kehormatan, bukan?"
"Selain itu," lanjut Roscoe, "itu cara yang lebih bagus untuk menyelamatkanmu dari ke-salahan besar."
"Kesalahan apa?"
"Mengawini gadis miskin, itulah maksudku." Roscoe mengarahkan pandangannya ke arah Caroline.
"Jangan libatkan dia dalam masalah ini," kata Rink mengancam. "Soal ini tak ada sangkut pautnya dengan Caroline."
Roscoe tertawa geli, mengejek. "Semuanya terkait dengan Caroline. Aku tidak mau kau meng-hamili perempuan seperti Caroline, bukan? Se-galanya bisa jadi sangat kacau balau."
"Bukan itu masalahnya." Rink mengucapkan kata-kata itu sambil mengertakkan gigi.
"Dari apa yang dilaporkan informanku, hu-bungan kalian makin intim. Mereka bilang kau sulir mengendalikan keinginanmu untuk tidak menyentuhnya." Roscoe menyipitkan mata rae-mandang putranya. Bibirnya mencemooh. "Dasar anak bodoh. Tahu kau betapa sulit bagiku untuk menahan rasa geli ketika kau bilang sudah me-nemukan gadis yang ingin kaunikahi?"
Caroline terkejut, matanya tertuju pada Rink. Rink meliriknya sekilas, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk menanggapi tatapan mata ke-abu-abuan Caroline yang penuh tanda tanya itu.
Roscoe melanjutkan kata-katanya tanpa pe-rasaan. "Marilee memang gadis binal. Ia mem-biarkan lelaki mana saja merayap di antara kedua kakinya. Tetapi paling tidak, ia datang dari ke-luarga terhormat." Mata Roscoe dialihkan pada Caroline. "Paling tidak, ia bukan putri pemabuk."
"Lalu, mengapa kau menikahi aku?" tanya Caroline, memecah kebisuannya akhirnya. Roscoe harus mempertanggungjawabkan semua sakit hati yang dideritanya. Selama ini ia pikir Rink meng-hamili Marilee dan terap menemui dirinya. Siasat Roscoe berhasil dilaksanakan dengan baik. Ia berhasil meraih apa yang diinginkan dengan sengaja menghancurkan kehidupan mereka berdua, dirinya dan Rink. Caroline merasa takkan ke-hilangan apa pun bila melawan Roscoe sekarang.
"Aku menikahimu karena ingin membuat investasi yang menguntungkan," jawab Roscoe singkat.
"Apa maksudmu?" Perasaan Caroline galau, membuatnya tidak ingin tahu lebih jauh kelan-jutannya. Namun ia.harus tahu. Rahasianya harus tersingkap malam ini. Ia tidak yakin akan mam-pu bertahan bila harus menghadapi hal seperti ini lagi lain kali. Lebih baik ia tahu segalanya sekaligus. "Investasi apa?"
"Terkutuklah aku," kata Rink perlahan, ketika mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Kau bisa menebaknya, kan?" tanya Roscoe sambil tawa terkekeh.
"Tolong jelaskan padaku, salah satu dari kalian, apa duduk persoalannya?" teriak Caroline.
"Kurasa, kau tinggal dengan penolong miste-riusmu, Caroline," kata Rink pelan.
Caroline menatap Rink sampai awan ketidak-mengertian menguap, memahami segalanya bila saja ia menyelidikinya. "Soal beasiswa?" Caroline bertanya dengan suara parau, sambil menatap Roscoe.
"Aku harus menjauhkan dirimu dari kota, menjaga kalau-kalau Rink suatu hari bercerai, kemudian memutuskan kembali padamu."
"Kau yang membiayai semua sekolahku?" Caroline mencoba menyimpulkannya. "Sebegitu pentingnyakah, hanya demi menjaga reputasi dan nama keluargamu?"
"Oh, bukan hanya itu," jawab Roscoe. "Kau harus dipersiapkan untuk menyempurnakan selu-ruh rencananya."
"Rencana apa?" tanya Caroline
"Bahwa kau harus menjadi Mrs. Lancaster, Mrs. Roscoe Lancaster."
Dengan tetap melipat tangan di perut, Caroline agak membungkukkan badan. Perasaan terhina memenuhi dirinya. "Kau merencanakan semua ini sejak bertahun-tahun lalu? Kau berhasil me-wujudkannya?"
"Coba pikir, bagaimana kau bisa dapat pe-kerjaan di bank itu begitu lulus dari univesitas? Apa kau pikir hanya kebetulan aku bertemu denganmu di bank itu? Sudah kusiapkan pe-kerjaan untukmu di pemintalan bila waktunya tiba. Ingin mendengar cerita selanjutnya?"
"Tetapi mengapa?" teriak Caroline. "Mengapa?"
Roscoe tidak menjawab, ia hanya melirik Rink, Rink-lah yang memberi jawaban atas pertanyaan Carolne. "Karena aku menginginkan dirimu. Dan Roscoe tahu itu. Dan ia akan melakukan apa pun, dengan cara paling licik sekalipun, termasuk bila harus menikahimu, agar aku tidak memilikimu."
"Kau memang anak cerdas," kata Roscoe sambil melirik.
"Kau juga menyuruh Laura Jane menulis surat padaku bahwa Caroline sudah menikah."
"Itu kan pekerjaan yang mudah dilakukan. Laura Jane mau melakukan apa pun yang ia tahu bisa membuat aku senang dan melupakan-nya dalam waktu beberapa jam. Kau harus ba-nyak belajar soaJ pengabdian dan kehormatan dari adik perempuanmu yang tolol itu, anakku."
"Kehormatan." Rink mengumpat kata itu.
"Bertahun-tahun lamanya kau memanipulasi kehidupan kami hanya karena dendammu ter-hadap Rink?" kata Caroline, yang masih tidak percaya ada pria yang bisa terobsesi rasa benci seperti itu. "Kau anggap aku tidak pantas bersan-ding dengan Rink, tetapi kau menikahiku. Kau-berikan nama keluargamu padaku, membawaku tinggal di The Retreat ini. Aku tak mengerti."
"Kau mudah dibujuk, Sayangku. Aku tahu itu karena latar belakangmu. Keluarga kami, nama keluarga Lancaster dan rumah The Retreat akan mewujudkan mimpi yang tak pernah bisa kaudapat. Rumah dan nama keluarga adalah umpan yang sulit kautolak, bukan? Meskipun rumah dan nama keluarga itu milik kekasih yang sangat kaurindukan. Sebetulnya, aku harus berterima kasih padamu karena membuat segala-nya menjadi mudah. Kau pandai bicara dan jujur, itu kelebihanmu. Kau beradab. Hanya Tuhan yang tahu mengapa kau punya sifat seperti itu, tetapi yang jelas itu suatu keuntungan. Wajahmu yang cantik, menarik untuk dipandang, membuat orang yakin orang tua busuk seperti aku ini bisa terpesona olehmu. Yah, Caroline, terima kasih, kau membuat segalanya menjadi mudah."
Caroline berbalik karena malu. Ia diperalat dengan cara yang paling memalukan. Tetapi aneh-nya, ia malah menyalahkan dirinya sendiri ke-timbang akal busuk suaminya. Andai ia tidak terlalu polos... Andai ia tidak terlalu cepat men-jatuhkan tuduhan pada Rink. Andai ia tidak terlalu ambisius. Andai, andai, andai... Apa yang dilakukan Roscoe untuk menyakiti hatinya yang lebih daripada ia menyakiti dirinya sendiri?
Sorot mata lelaki yang sekarat itu tampak berbinar-binar, ditujukan kepada mereka berdua. "Bagaimana rasanya tinggal di bawah satu atap? Tersiksa? Minggu ini minggu paling menyenang-kan, melihat kalian berdua menggeliat. Kalian pikir tak ada yang tahu, bukan? Oh, betapa menyenangkannya melihat kalian berusaha me-nyembunyikannya, melihat kalian berdua ber-usaha tidak saling pandang dan menjauhkan diri."
Mata Roscoe tertuju pada Rink. "Kau mulai menginginkannya kembali, bukan, anakku? Kau hampir tak dapat menahan gairah di antara kedua kakimu, bukan? Pernah kaubayangkan Caroline di ranjang bersamaku dan apa yang kami lakukan di sana?"
Caroline berbalik, murka dan merasa terhina. "Hentikan, Roscoe!"
"Lihadah dia, anakku. Tubuhnya indah sekali, bukan?"
"Diam!" teriak Rink.
"Perempuan sempurna. Setiap sentimeter sa-ngat mulus, sangar perempuan."
"Jangan bicara seperti itu tentang dirinya, brengsek!"
Roscoe tertawa mengejek. "Aku tidak mengata-kan apa yang tidak terpikir olehmu. Pernahkah terpikir olehmu bagaimana rasanya menciumnya? Memeluknya? Melepas pakaiannya? Menidurinya? Kau pernah merindukan istri ayahmu, anakku?"
"Oh, Tuhanl" Dengan perasaan remuk redam, Caroline lari keluar dari kamar.
Roscoe tertawa ketika melihat Caroline pergi.
"Kau bajingan!" maki Rink kepada ayahnya dengan suara tenang mematikan.
"Aku memang bajingan." Dengan susah payah Roscoe berusaha bangkit dan menopang tubuh-nya dengan siku. "Aku akan terpanggang di api neraka, tapi aku menikmati setiap detiknya ka-rena hidupmu lebih tersiksa lagi di dunia ini. Sejak kau dilahirkan, kau selalu membuat ma-salah denganku."
"Karena yang kulihat hanya kebobrokan dalam dirimu. Karena kau membunuh ibuku, layaknya menembakkan peluru ke otaknya."
"Mungkin. Mungkin. Ia perempuan lemah. Tidak penah melawanku. Tetapi kau selalu me-nantangku. Kau selalu menantangku. Aku tak tahan melihat sorot matamu yang menatapku dengan sorot mata kebenaran. Makin tambali usiamu, kau makin menyiksaku. Kau menegur hati nuraniku dan aku tidak ingin menjadi ma-nusia yang punya hati."
Jari telunjuknya yang kurus lagi gemetar di-arahkan kepada Rink. "Ya, aku mendapatkan kembaJi anakku, putraku. Memang makan waktu lama untuk mendapatkannya, tetapi aku berhasil. Kau tak bisa lagi memiliki perempuan itu seka-rang, Rink. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Winston takkan merelakan dirimu me-miliki Caroline." Roscoe berhenti sejenak, kemu-dian melanjutkan, "Karena aku sudah teriebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Caroline istriku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali!"
Keempat orang di dalam limusin itu duduk diam saat mobil melaju di bawah pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pema-kaman. Rink dan Caroline memandang ke luar jendela. Laura Jane duduk di antara mereka, mempermainkan saputangan di antara jemarinya. Haney, yang duduk di belakang, mengamati mereka, juga dalam diam. PaJing tidak, membisu semampunya.
"Sepertinya banyak sekali yang melayat," komentar Haney, sambil memandang ke arah iring-iringan mobil yang berderet di belakang mobil jenazah dan limusin mereka.
Tak ada yang memberi tanggapan. Akhirnya Caroline berkata, "Kebanyakan penduduk kota, kurasa."
"Tak banyak yang kuingat soal pemakaman Mama. Ada yang kauingat, Rink?" Laura ber-tanya takut-takut. Saat sorot mata Rink tajam seperti itu, Laura Jane merasa takut.
"Ya," jawab Rink sambil menggigit bibir. "Aku masih ingat." Setelah menyadari ia berbicara dengan adik perempuannya, Rink menoleh dan tersenyum lembut padanya. Digamitnya tangan Laura, lalu diciumnya dan digenggamnya erat-erat. "Banyak orang yang menghadiri pema-kamannya juga."
"Kukira begitu," jawab Laura Jane, sambil tersenyum, lega karena tidak ada lagi sorot mata dingin dan cemas di wajah Rink.
"Orang pasti akan ramai membicarakannya," ujar Haney, menduga-duga.
"Karena kalian tidak membuat acara doa ke-matian di gereja. Pendeta kaget. Orang lain pun akan merasa begitu."
"Biar saja mereka keheranan, aku tidak peduli apa yang orang-orang katakan," kata Rink ketus.
"Kau tidak tinggal di sini," kilah Haney. "Kami tinggal di sini."
"Tak ada misa di gereja," kata Rink, menegaskan. "Kau dengar, Haney?" Sorot matanya yang tajam dan rak mau dibantah, serta suaranya yang berwibawa, membuat Haney tak mengo-mentari lebih lanjut.
"Ya, Sir." Ia menaikkan duduknya karena gu-sar. Rink kembali memandang ke luar jendela.
Caroline iba melihat Haney dan Laura Jane. Manusia-manusia polos seperti mereka harus hi-dup bersama orang seperti Roscoe. Mereka juga takkan mengerti mengapa Rink bersikap dingin menghadapi kematian ayahnya. Buat dirinya sen-diri, mereka akan mengira kematian ini sangat mengej utkannya.
Haney memegang tangan Caroline dan ber-kata, "Kau sangat tabah, Caroline. Tetapi waktu menangis akan tiba. Ketika sudah sendirian, hiruk-pikuk ini sudah berlalu, kau pasti akan menangis."
Haney keliru. Caroline tidak akan menitikkan setetes air mata pun untuk pria yang pernah menjadi suaminya itu. Air matanya sudah kering saat ia meninggalkan kamar di rumah sakit karena penghinaannya. Rink mengikutinya ke luar beberapa saat kemudian, air mukanya juga tegang. Pandangannya dingin menakutkan. Sam-pai detik itu pun, kesan itu yang tetap tinggal di wajahnya.
Bermalam-malam, mereka duduk berjaga di kursi besi ruang tunggu rumah sakit. Mereka tidak bicara. Mereka tidak saling pandang. Betapa sering Caroline ingin meminta maaf karena me-nuduh Rink mengkhianati cinta mereka gara-gara Marilee. Betapa ingin ia mengelus, me-meluknya, menangisi hari-hari yang memisahkan mereka selama bertahun-tahun. Bahkan sampai saat ini pun mereka masih terpisah. Garis wajah-nya dan tubuhnya mengatakan demikian. Itu sebabnya Caroline memutuskan menjaga jarak dan berdiam diri.
Roscoe tak sadarkan diri setelah Rink mening-galkan kamarnya. Ketika menemui Caroline dan berlutut di hadapannya, dokter menggenggam tangannya. "Takkan lama lagi. Anda boleh pulang kalau mau. Toh ia tidak akan tahu Anda ada di kamar atau tidak."
Caroline menggeleng. Ia tidak ingin melihat wajah Roscoe lagi. Ketika dokter memberitahunya Roscoe meninggal, Caroline meninggalkan rumah sakit bersama Rink, dengan air mata yang me-ngering dan hati hampa.
Kini ia harus berpura-pura berduka, seperti kebanyakan istri yang ditinggalkan suami. Limusin berhenti. Ia dibantu turun oleh petugas pemakaman dan diajak ke tenda yang dibangun di dekat liang kubur. Ia duduk di kursi yang disediakan, duduk dengan kaku, Rink di sebelah-nya, Laura Jane di sebelah Rink. Haney memilih berdiri di belakang Laura Jane, meletakkan ta-ngannya di bahu perempuan muda itu untuk menenangkannya.
Caroline berusaha menutup telinga, tidak mau mendengarkan khotbah Pendeta. Matanya nanar memandang peti mayat yang penuh bertabur mawar putih. Ketika acara doa kematian berakhir, ia menerima ucapan duka cita dari para pelayat. "Ia tegar sekali ya?" bisik mereka pada satu sama lain.
"Tanpa setitik air mata pun." "Tentu saja, sejak Roscoe dioperasi, ia sudah tahu semua ini hanya masalah waktu." "Ya. Ia sudah mempersiapkan diri." "Kendati demikian, ia harusnya memperlihat-kan kesedihan. Kau tahu bagaimana orang yang mendapat musibah. Mereka jadi emosional di depan orang banyak."
"Aku tak tahu bagaimana nasib pabrik pemin-talan kapasnya nanti."
"Caroline tetap akan menjalankannya, kurasa." "Bagaimana dengan Rink?" "Ia akan tinggal di sini." "Ia akan kembali ke Atlanta." "Aku tidak tahu pasti." Caroline mendengar desas-desus yang diper-gunjingkan orang itu ketika berjalan ke arah limusin yang menunggunya. Namun sedikit pun - ia tidak merasa terganggu oleh gosip itu. Ke-licikan dan tipu muslihat Roscoe yang amat keji terhadap dirinya masih segar dalam ingatannya. Kalau sampai tidak bisa mengendalikan diri, ia akan kehilangan muka karena akan berteriak-teriak seperti orang gila. Oleh sebab itu ia biarkan saja mereka menganggap dirinya sebagai orang yang pandai menahan emsoi. Ia tidak akan berdoa atau menangisi kepergian Roscoe Lancaster. Roscoe tidak hanya menyakitmya, tetapi juga satu-satunya pria yang pernah ia kasihi. Tak ada kata maaf dalam hatinya buat kejahatan yang dilakukannya.
"Syukur, akhirnya selesai sudah," kata Rink ketika ia duduk di bangku belakang sambil menjabat tangan pendeta untuk terakhir kalinya.
Namun segalanya belum berakhir. Sepanjang petang penuh sesak oleh orang-orang yang ber-datangan ke The Retreat untuk menyampaikan penghormatan terakhir pada Roscoe. Caroline yakin umumnya mereka datang karena didorong perasaan ingin tahu. Mereka ingin melihat peru-bahan apa yang dilakukan Caroline pada rumah yang ditinggalkan Marlena Winston Lancaster. Ia mendapat kesan kebanyakan dari mereka ke-cewa ketika melihat tak ada yang berubah di rumah itu. Apakah mereka berharap dindingnya ditempeli wallpaper dan lampu remang-remang?
Rupanya tak pernah rasa ingin tahu mereka tentang Caroline terpuaskan. Caroline yang du-duk dengan penuh wibawa dalam kemuraman diam-diam memerhatikan para pelayat yang mengamatinya. Ia penasaran, apa yang diharap-kan orang-orang itu. Apakah mereka berharap melihat dirinya mengenakan sesuatu selain baju hitam pekat? Apakah mereka mengharapkan dirinya menangis tersedu-sedu? Atau mereka berharap melihatnya kini tertawa-tawa karena suaminya yang sudah tua tapi kaya itu sudah meninggal? Sabagaimana mereka kecewa melihat tak ada perubahan dalam The Retreat, begitu pun perasaan mereka ketika melihat dirinya. Putri keluarga Dawson itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk berbicara banyak dengannya.
Akhirnya, para pelayat itu pamit, sampai akhir-nya rumah kosong. Bayang-bayang malam yang panjang mulai menyelinap di antara jendela, membentuk jalur-jalur di lantai kayu. Haney sibuk membereskan gelas dan tisu bekas pakai, dan membuang debu rokok dari asbak. "Ada yang mau makan malam?" "Aku tidak mau, terima kasih, Haney," jawab Caroline dengan galau.
"Tidak, terima kasih." Rink menuang rai-numan bourbon ke dalam gelas tinggi. "Tidurlah, Haney. Kau sudah bekerja keras sepanjang hari." Haney mengangkat baki yang penuh gelas-gelas. "Setelah selesai mencuci gelas-gelas ini, aku tidur. Ada hal lain yang kaubutuhkan,
Caroline?"
Caroline tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu menggeleng. "Selamat malam, Haney."
"Hmmm, di kulkas banyak makanan bila ada yang lapar. Selamat malam."
Haney meninggalkan Caroline dan Rink ber-duaan di kamar tamu. Caroline menyandarkan kepak di bantal sofa dan memijat-mijat pelipis-nya sambil memejamkan mata. Ia membuka kancing blusnya dan melepas separu, menarik napas lega.
Setelah membuka setelan jas hitamnya, Rink menggulung lengan kemeja. Ia berdiri di salah satu sudut jendela yang tinggi. Satu tangan dimasukkan ke saku celana, tangan yang lainnya sesekali mendekatkan gelas minuman ke bibirnya. Ini pertama kalinya mereka berduaan sejak me-ninggalkan rumah sakit dua malam yang lalu. Sepertinya mereka tak punya bahan obrolan.
Perlahan mata Caroline membuka. Diamatinya Rink dari seberang ruangan. Asyik ia memper-hatikan siluet tubuh Rink di saat malam mulai menjelang itu.
Rambutnya yang hitam tampak kontras sekali dengan kerah kemejanya yang putih. Bahunya bidang. Caroline memerhatikan garis rompi yang dikenakan Rink sampai ke pinggangnya. Bokong-nya kecil tapi kelihatan bagus di balik celana yang dijahit rapi itu, pahanya kencang, ramping lagi panjang. Tak ada hal lain yang diinginkan Caroline saat itu kecuali mendekatinya. Ia bisa merasakan bagaimana tangannya menyelinap di antara kemeja Rink, memeluk erat perutnya yang ia tahu rata tapi keras. Caroline merasakan dadanya sesak karena menekan keinginan merasakan kekokohan punggung Rink yang bersentuhan dengan payudaranya. Ia ingin meletakan pipinya di bahu laki-laki itu, menikmati bau tubuhnya, menghirup aroma tubuhnya, setiap nuansa diri-
nya.
Selagi Caroline asyik mengamatinya, mendadak Rink tampak tegang dan mengumpat, "Apa-apaan mereka itu?" Rink meletakkan gelas mi-numan di meja antik lalu menghambur ke luar ruangan. Air mukanya tampak tegang. Karena terkejut, Caroline melompat dari sofa dan cepat-cepat lari ke jendela.
Tampak Steve dan Laura Jane di halaman. Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Tangan Steve merangkul pundak Laura Jane, tubuh me-reka rapat. Laura Jane merebahkan kepala di dada Steve. Steve menunduk, menempelkan kepalanya ke kepala Laura Jane. Caroline melihat bibir Steve bergerak-gerak, berbicara pada gadis itu dengan lembut. Kemudian dilihatnya bibir Steve mengecup pelipis Laura Jane, memberikan ciuman lembut.
Caroline menghambur ke luar dengan kaki yang hanya mengenakan stoking, karena tahu apa yang dilihat Rink. Ia harus mengejar Rink sebelum,...
Caroline bisa membayangkan apa yang bakal terjadi, ia mendengar pintu kasa depan dibanting Rink keras-keras, langkahnya menggema di lantai teras rumah. "Laura Jane!" seru Rink.
Caroline mengejar Rink, tergesa-gesa menuruni anak tangga. "Rink, jangan."
Laura Jane mengangkat kepala dari dada Steve, tetapi tidak kelihatan ia hendak menjauhkan diri dari Steve. Sebaliknya, ia malah menggan-deng Steve ke hadapan Rink yang memanggilnya. Caroline melihat langkah Steve yang bimbang. Steve bukanlah orang lugu seperti Laura Jane. Seketika ia menangkap kegusaran yang terkan-dung dalam suara Rink. Namun Steve tidak mengalihkan pandangan dari Rink ketika mereka mendekati pria itu. "Ya, Rink?" ujar Laura Jane. "Dari mana kau?"
"Aku dari tempat tinggal Steve, nonton tele-visi." Laura Jane tersenyum pada Steve. "Steve ingin menghiburku, melupakan kedukaanku ka-rena ditinggal Daddy."
Api kemarahan yang menggelora dalam hati Rink seperti disiram bensin. "Hmmm, kau tahu ini sudab larut malam. Sebaiknya kau cepat pergi tidur."
"Tadi Steve juga bilang begitu padaku," jawab Laura Jane sambil menarik napas. "Selamat ma-lam, semuanya." Laura Jane tersenyum manis pada Steve sebelum masuk rumah.
Rink membiarkan beberapa detik berlalu, sam-pai akhirnya terdengar suara pintu depan ditutup Laura Jane. Kemudian ia cepat-cepat mendekati Steve. "Jangan pernah sentuh adikku lagi, paham? Jika aku melihatmu menyentuhnya sekali lagi, kau akan kehilangan pekerjaan dan langsung harus pergi dari sini."
"Aku tidak mengerayangi Laura Jane, Mr. Lancaster," jawab Steve dengan nada datar. "Aku hanya ingin menghiburnya. Ia sedih karena ke-hilangan ayah dan... beberapa hal lainnya."
"Hmmm, tapi ia tidak perlu 'hiburan' dari-mu."
"Rink," sela Caroline sambil memegang ta-ngan Rink, mengingatkan. Rink menepis tangan Caroline.
"Apa maksud__"
"Kau tahu apa yang kumaksud. Kau pura-pura menghiburnya, padahal kau menginginkannya."
Steve menggigit bibir bawahnya. Caroline tahu hanya karena takut kehilangan pekerjaan, harus meninggalkan The Retreat dan Laura Jane-lah yang menyebabkan Steve tidak menanggapi kata-kata Rink.
"Terserah apa yang Anda pikirkan tentang saya, Mr. Lancaser, tetapi begitulah faktanya. Saya tak pernah melakukan sesuatu yang me-nyakiti Laura Jane, dan takkan pernah."
Rink menatap Steve dengan marah. "Kalau begiru, berarti tak ada masalah, bukan? Tetapi untuk lebih meyakinkan, jangan sampai aku salah paham apa yang kaulakukan, jauhilah Laura Jane." Setelah mengatakan itu Rink berbalik dan masuk ke rumah.
Setelah melempar pandang minta maaf pada Steve, Caroline buru-buru mengejar Rink. Ia berhasil mengejarnya ketika sampai di teras, di-tariknya tangan Rink berbalik menghadap ke arahnya. "Kau keterlaluan! Apakah memuntahkan kemarahanmu pada Steve memberikan kepuasan padamu? Kau merasa lebih enak sekarang?"
"Tidak juga."
Rink membalik situasi, kini ia yang menjadi penyerang. Dicengkeramnya kedua lengan Caroline, didorongya masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Di-pepetnya Caroline ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali de-ngan wajah Caroline, napasnya memburu. Ia bertanya, "Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Caroline?"




Bab 8

CIUMAN Rink makin lama makin liar. Bibirnya berputar-putar di bibir Caroline, memaksa Caroline membuka mulut dan mem-biarkan lidahnya masuk ke mulutnya. Pahanya dimajukan, menghimpit tubuh Caroline. Satu tangannya yang bebas meremas payudara Caroline. Rink melakukannya tanpa kelembutan sedikit pun. Yang sengaja dilakukan Rink untuk merendahkan Caroline.
Caroline meronta-ronta. Tangannya yang bebas mendorong dada Rink yang kokoh dan me-mukul-mukuli bahunya. Ia berusaha menghindar-kan bibirnya dari ciuman Rink, tetapi sia-sia. Teriakan Caroline dibungkam bibir Rink.
Ini bukan Rink. Caroline yakin, Rink takkan pernah menyakitinya seperti ini. Rink bertingkah seperti orang kesetanan karena perasaan marah yang dipendam selama bertahun-tahun. Musuh besarnya sudah mati, yang menyebabkan ia tak tahu lagi siapa yang harus diajak bertengkar. Frustrasi yang menyergap perasaannya mendorong ia memuntahkan kemarahannya pada Caroline, yang tanpa disadarinya diperalat untuk mewujud-kan rencana Roscoe. Memahami situasi itu, cara paling baik untuk membela dirinya adaJah de-ngan tidak melawan Rink sama sekali. Ia pasrah dalam pelukan Rink.
Setelah beberapa saat berlalu, akal sehat Rink kembali bekerja. Ia menyadari Caroline tidak lagi meronta-ronta melawannya. Bibirnya dengan lembut mencium bibir Caroline. Tangannya tidak lagi meremas-remas payudara Caroline, melainkan mengelusnya dengan lembut, dan ia menarik tangannya dengan perasaan sesal.
Kelembutan seperti inilah yang harus dilawan Caroline. Kekasaran yang dialaminya beberapa saat lalu bukanlah berasal dari pria yang ia kenal dan cintai, melainkan dari laki-laki yang hidupnya hancur berkeping-keping oleh kelicikan dan kegetiran hidup. Kini sentuhan Rink adalah sentuhan yang amat dikenalnya, yang mengingat-kannya akan kenangan manis di musim panas itu, sentuhan yang telah menawan hatinya.
"Rink." Panggilan itu lebih mirip desah lem-but, menyiratkan kerinduan dan keputusasaan.
"Apakah aku menyakitimu?"
"Tidak."
"Aku tidak bermaksud begitu"
"Aku tahu."
Rink mencondongkan tubuh ke depan, me-letakkan tangannya, dari siku sampai ke ujung jari, ke dinding di belakang Caroline. Dahinya disandarkan pada dinding di atas kepala Caroline. Embusan napas Rink menyentuh rambut Caroline. "Mengapa keinginanku tidur denganmu melebihi keinginanku bernapas? Mengapa aku tidak bisa melupakanmu? Setelah semua yang terjadi saat ini, mengapa aku masih saja ingin memilikimu?"
Rink merapatkan tubuh ke tubuh Caroline. Posisi tubuh seperti itu jelas membuat mereka bergairah, membuat jantung mereka berdebar-debar. "Seharusnya kita bisa berbaring di ranjang dengan posisi seperti ini kan, Caroline?"
"Oh, Tuhan." Caroline menenggelamkan hi-dungnya ke leher Rink. "Jangan bicara seperti itu, Rink."
"Itu yang kaubayangkan. Itu yang aku bayang-kan."
"Jangan membayangkannya." "Aku selalu membayangkannya." Tubuh mereka saling memancarkan panas. Dada Caroline rapat menekan dada Rink yang bidang. Perut mereka saling menggesek diiringi tarikan napas berat. Rink memperbaiki posisi tubuhnya sehingga Caroline bisa merasakan dorongan hasratnya yang menggebu. Kejantanan Rink menutup kewanitaan Caroline. Paha mereka saling menekan.
Dengan masih berpakaian, masih berdiri, tanpa bergerak, mereka bercumbu. Mereka bercinta.
Keintiman rohaniah, bukan jasmaniah. Namun masing-masing merasakan kenikmatan yang jauh lebih dalam dibanding percintaan nyata.
Rink membenamkann wajahnya ke rambut Caroline, menelusupkan hidungnya di antara helai-helai rambut Caroline. Berulang-ulang Rink menggumamkan nama Caroline. Emosi mereka yang menggelora membuat tubuh mereka ge-metar. Kemudian mereka diam tak bergerak.
Menit-menit berlalu dan mereka masih saja tidak bergerak atau bicara. Mereka hanya berdiri dalam diam, menikmati kedekatan tubuh satu sama lain, menyesali apa yang tak pernah terjadi, meratapi mimpi yang takkan pernah terwujud.
Perlahan-lahan Rink menarik tubuhnya, sampai tubuh mereka tak lagi bersentuhan. Rink menatap wajah Caroline dengan sorot mata penuh kemarahan dan tuntutan. Caroline menengadah-kan kepala, balik menatap Rink. "Bagaimana kau bisa hidup bersamanya, Caroline?" tanya Rink. Rink menjauhkan diri dari dinding dan menyibakkan rambut. Ia tidak mengulang per-tanyaannya, tetapi ekspresi mukanya yang tegang menuntut Caroline menjawab pertanyaannya.
"Ia suamiku." Pernyataan sederhana yang di-ucapkan Caroline itu cukup menjawab semua pertanyaan Rink. Tetapi ternyata pernyataan itu malah menyulut kemarahan Rink.
"Mengapa kau menikah dengannya? Mengapa, oh Tuhan? Setelah apa yang terjadi di antara kita, bagaimana bisa kau menikah-dengan ayah-ku?"
"Kau tidak fair, Rink!" tukas Caroline, yang tersulut kemarahan juga. "Kau yang meninggal-kan aku, bukan sebaliknya."
"Kau tahu apa sebabnya aku kawin dengan Marilee."
"Tidak tahu, sebelum kejadian dua hari yang lalu, aku tidak tahu."
Rink meletakkan tangan di paha dan menatap Caroline marah. "Jadi, kau menganggap aku main-main dengan perempuan lain, sementara aku menantang semua, bahkan akal sehatku, demi memilikimu?"
Kekasaran sikap Rink mendorong Caroline untuk menantang balik. "Bagaimana seharusnya aku bersikap? Kau meninggalkan aku tanpa pesan satu kata pun. Aku dengar kau menikah dengan Marilee George karena ia hamil. Apa lagi yang harus kupikirkan?"
Rink mengumpat dan membalikkan badan karena tidak ingin mendengar alasan yang di-kemukakan Caroline. "Aku tidak bisa menemui-mu untuk menyampaikan kenyataan itu. Kau tidak akan percaya padaku, sebagaimana yang lainnya."
"Aku mungkin bisa."
"Kau bisa?" tanya Rink sambil membelalakkan mata ke arah Caroline. Mata Caroline menentang tuduhan Rink. "Tidak, tidak mungkin kau percaya," ujar Rink pada Caroline. "Kau akan ber-anggapan seperti yang lain, bahwa akulah ayah si bayi itu."
Rink berjalan ke sofa dan mengempaskan tubuhnya di situ. Kakinya diselonjorkan. Ia menggosok-gosok mata dengan ibu jari dan jari tengahnya. "Selain itu, aku takut kau terlibat terlalu jauh, bila aku mencoba menemuimu lagi. Aku tahu, orang di kota ini suka bergosip dan aku diawasi seperti pesakitan. Segala yang kulaku-kan akan dilaporkan. Aku tidak mau mengambil risiko melibatkanmu dalam kesulitan."
Caroline berjalan keliling ruangan, mengum-pulan kartu-kartu di karangan bunga yang di-kirimkan sebelum pemakaman. "Jadi siapa ayah bayi itu, Rink?" Dengan acuh tak acuh Rink menyebutkan nama seorang pria. Caroline ber-balik karena terkejut. "Bukankah dia pria yang menikah dengan Marilee setelah kau bercerai?"
Rink tertawa. "Marilee ingin segera kembali kepada kekasihnya. Tetapi sebelum perceraian, ia menguras uangku. Itulah hukuman yang harus kuterima karena tidak menginginkannya."
"Kau pernah menginginkannya," ujar Caroline dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, teringat yang dikatakan Rink pada malam mereka berada di kamar Roscoe di rumah sakit.
Rink mendongak. "Kau menuduhku begitu? Astaga, waktu itu aku masih muda, Caroline." Rink kelihatan tersinggung. "Sekadar mengumbar nafsu—Ya, aku kencan dengannya beberapa kali. Setiap laki-laki di kota pernah kencan dengannya. Tetapi aku masih ingat untuk memakai kontra-sepsi, agar ia tidak hamil. Teman-teman mainku yakin aku tak pernah ingin menikahinya."
Caroline menunduk, mengamati ibu jarinya. "Benarkah kau tidak...."
"Caroline." Kepala Caroline terangkat men-dengar panggilan Rink yang lembut. "Kau ingin tahu apakah aku kencan ketika bersamamu?" Mata Caroline nanar menatap Rink. "Tidak," jawab Rink. "Aku tidak bersama perempuan lain sepanjang musim panas itu."
"Apakah kau benar-benar mengatakan kepada Ros... ayahrcm... kau ingin rnenikah dengan aku?"
"Ya. Aku mengatakan padanya aku sudah menemukan gadis yang ingin kunikahi."
Mereka saling pandang beberapa saat, sebelum Caroling mengangkat kepala dan berbalik. "Bayi-nya, Alyssa?"
Rink tersenyum, sebelum berkata dengan air muka sedih, "Ia gadis baik."
Suara Rink yang lembut membuat Caroline kembali menghadap ke arahnya.
"Kau menyayanginya?" tanya Caroline.
Tanpa malu-malu Rink mengangkat wajahnya. "Ya," jawabnya, sambil tertawa kecil. "Sinting, ya? Tetapi setelah ia lahir, aku ingin membesar-kannya."
Hati Caroline tersentuh mendengar perkataan Rink. Ia duduk di sebelah Rink di sofa. "Bukan ingin ikut campur urusanmu, Rink. Tetapi bila lcau bersedia menceritakannya padaku, aku akan mendengarkan."
Rink memandang wajah Caroline. "Kau selalu bersedia mendengarkan. Coba ceritakan, apakah lcau duduk di dekat kaki Daddy dan mendengar-kan baik-baik ketika ia mencurahkan isi hatinya padamu?"
Caroline menggumamkan suara seperti tercekik sambil berdiri. Rink menangkap tangannya dan memintanya tetap duduk di sofa. "Maafkan aku. Duduklah." Ketika Caroline meronta berusaha melepaskan tangannya, dengan gerakan cepat Rink menariknya dan mendudukkannya kembali di sofa. "Aku sudah minta maaf. Aku tak sengaja, itu kebiasaan yang sulit kuhilangkan. Bila kau ingin mendengar cerita tentang perkawinanku yang menyakitkan itu, aku bersedia menceritakan-nya pada,mu. Kau sudah tahu tentang kebreng-sekan diriku yang lainnya, kau juga harus tahu soal itu."
"Sudah kubilang, aku tidak ingin ikut campur urusanmu."
"Dan aku percaya," potong Rink. "Oke?" Setelah Caroline mengangguk, Rink melepaskan genggamannya pada tangan Caroline. "Marilee tidak lagi mencintaiku, seperti yang kuharapkan. Roscoe benar tentang hal itu. Ia mengakui ia harus mengatakan aku ayah anaknya hanya agar tidak dibuang keluarganya. Akhirnya kami me-ninggalkan kota ini, yang tak bisa ditolaknya, kami pindah ke Atlanta. Di sana aku harus bekerja karena tidak ingin minta satu sen pun dari ayabku. Perkawinan kami memburuk, tetapi aku sangat menyayangi Alyssa. Begitu bayi itu dilahirkan, ayah kandungnya muncul lalu ia dan Marilee membawanya pergi."
"Kau tidak keberatan?"
"Tidak. Aku juga ingin cepat-cepat terbebas darinya. Tetapi aku mengkhawatirkan bayi itu. Marilee bukanlah ibu yang baik. Ketika ia mengajukan gugatan cerai dengan alasan men-dapatkan penyiksaan mental, aku tidak menyang-kal, tetapi ia masih belum puas. Ia menuntut uang jaminan. Di satu sisi, aku ingin membiar-kan ia dan kekasihnya yang brengsek itu. Pendek cerita, aku harus kerja siang-malam bertahun-tahun hanya agar terbebas darinya. Aku sedih harus kehilangan Alyssa, tetapi Marilee menuntut anak itu di bawah asuhannya."
"Apa Alyssa tahu kau bukan ayah kandung-nya?" Caroline tidak dapat menahan rasa ingin tahunya tentang gadis yang terpaksa hidup ter-pisah dengan ayah kandung yang tak pernah dilihatnya.
"Oh ya," jawab Rink kesal. "Usia Alyssa ham-pir tiga tahun ketika surat cerainya keluar. Ia menangis, memelukku erat-erat ketika Marilee menariknya dari dekapanku. Mereka kembali ke Winstonville, aku tetap tinggal di Atlanta. Alyssa memanggilku Daddy, menangis ingin bersama ayahnya. Namun, Marilee mengatakan padanya bila ia ingin bersama ayahnya, ia harus ikut ibunya tinggal di Winstonville karena aku bukan-lah ayahnya."
"Oh, Rink," gumam Caroline, gemetar mem-bayangkan peristiwa yang mengerikan itu.
"Sekarang usianya sebelas tahun. Kudengar ia agak binal, momok bagi siswa SMP di Winston-ville." Rink menggeleng sedih. "Memalukan se-kali, karena Alyssa itu gadis kecil baik-baik. Seperti yang kauketahui, ia punya sederet 'ayah tiri'. Aku tidak yakin ia ingat padaku."
Setelah diam beberapa saat, Caroline berkata, "Apakah perusahaan penerbangan Air Dixie ber-jalan baik sekarang ini?"
"Belum sepenuhnya. Aku raendapat izin ter-bang ketika kuliah semester pertama. Waktu tinggal di Atlanta, dapat banyak jam terbang, aku dapat izin jadi pilot penerbangan carter. Aku terus mengumpulkan jam terbang, mening-katkan kualifikasiku agar mendapat izin me-nerbangkan pesawat yang lebih besar. Aku ber-temu rekan kerjaku dan kami merencanakan punya pesawat carter sendiri. Kalau ada peru-sahaan penerbangan yang bangkrut, pesawat-pesawatnya dijual dengan harga murah, dan kami berhasil mengumpulkan uang untuk membelinya. Bisnis kami maju sekali sehingga kami berhasil melunasi utang jauh sebelum waktu yang ditetap-kan, banyak permintaan yang tak dapat kami penuhi. Kami membeli pesawat yang lebih besar, makin lama makin banyak."
"Dan akhirnya sampai di sini."
"Ya."
Lingkaran cahaya lampu jatuh menyinari me-reka. Rambut Caroline yang hitam tergerai sam-pai ke bahu, menyatu dengan rok hitam yang dipakainya. Hanya sebagian wajah dan lehernya yang kelihatan putih di bawah sinar lampu yang kekuningan itu. Matanya berbinar-binar ketika menatap mata Rink.
"Caroline?" panggil Rink lembut.
Dada Caroline berdegup cepat. Tidak pantas sebenarnya merasa seperti itu di hari pemakaman suaminya, tetapi Caroline yakin, andai saja Rink berani melangkah lebih berani, ia akan pasrah dan tak ada yang bisa menghalanginya. Ia masih mencintai pria ini, dan tak pernah berhenti mencintainya. Tetapi cintanya terhadap Rink bu-kan lagi cinta remaja. Cintanya pada Rink adalah cinta perempuan dewasa terhadap pria dewasa. Kendati cepat naik darah, tidak bisa menerima kelemahan manusia lain, marah terhadap hu-bungannya dengan Roscoe, cinta Caroline pada Rink tidak berkurang.
"Ya, Rink?"
"Apakah kau pernah ingat aku sewaktu tidur dengan ayahku?"
Barangkali belati yang dihujamkan ke dadanya takkan lebih sakit ketimbang kata-kata yang dilontarkan Rink padanya saat itu. Caroline me-nangis pilu dan bangkit dari sofa. "Keparat kau, Rink! Jangan pernah menyinggung soal itu de-nganku."
Rink pun bangkit dari duduk dan berhadap-hadapan dengan Caroline. Dagunya agak di-angkat dengan sikap angkuh. "Aku ingin tahu. Apakah pernah hati kecilmu terusik, bagaimana kau bisa menikah dengan Daddy setelah kita menjadi sepasang kekasih?"
"Aku ingin menjadi kekasihmu, ingat. Kau yang tidak ingin menjadi kekasihku. Kau tidak berani mengambil risiko."
"Benar. Aku tidak berani mengambil risiko yang bisa menyakitimu."
"Aku ingin kau menyakitiku." Caroline me-ngatakan hal itu dengan sangat emosional di antara sedu sedannya.
Rink mengertakkan gigi dan suaranya me-rendah. "Aku ingin menyakitimu dengan cara seperti tadi itu, ya. Aku ingin menjadi orang pertama, yang menyakitimu, yang memungkin-kan kau menjadi milikku untuk selamanya." Rink maju selangkah, dengan emosi yang meng-gelegak. "Tetapi harga diriku disalahgunakan. Dan lebih tololnya, perasaanku terhadapku lebih istimewa, tidak bisa dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah kuajak kencan."
"Pacarmu memang banyak, kan?"
"Ya."
"Sebelum dan sesudahnya."
"Ya."
"Lalu, mengapa kau menyalahkan aku menikah dengan Roscoe?"
"Karena kau bilang kau mencintaikul"
"Apakah kau juga mencintai gadis-gadis itu, Rink? Cintakah?" Seketika Rink memalingkan wajah, tetapi Caroline sempat melihat ekspresi bersalah di wajahnya. "Kau tidak ada di sini waktu itu, Rink. Kau sudah menikah dengan perempuan lain. Sepanjang yang kutahu, aku hanyalah boneka mainan bagimu selama musim panas itu. Paling tidak, kau kan bisa menulis surat, atau menelepon, atau apalah. Aku tidak yakin kau pernah mengingatku. Andai kau ingat pun, paling aku sebagai gadis sederhana diban-dingkan gadis-gadis yang biasa bersamamu."
"Kau tahu apa sebabnya aku tidak mengontak-mu. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam per-soalanku dengan Marilee. Ketika masalahku beres, kau sudah kuliah dan aku mendapat kabar kau sudah menikah. Aku menghapus harapan untuk bertemu denganmu. Kabar berikutnya yang ku-dapat, kau sudah berbagi ranjang dengan ayahku!"
Caroline menutup wajahnya dengan kedua tangan. la dapat menangkap gelombang ke-bencian yang ditujukan kepadanya. Caroline menurunkan tangan, dengan berani balik menatap mata Rink yang penuh kemarahan. "Kita tidak bisa begini terus, Rink," katanya lembut. "Kita saling menghancurkan."
Bahu Rink terkulai. Untuk kesekian kali ia menyibakkan rambut. "Aku tahu. Aku akan meninggalkan tempat ini besok pagi."
Hati Caroline hancur berkeping-keping. Ia tidak bermaksud menyuruh Rink pergi, ia hanya ingin mereka berdua berdamai. "Kau tidak harus meninggalkan tempat ini. Aku yang akan pergi. Ini rumahmu. Ini hanya tempat tinggal semen-tara bagiku. Aku tahu, setelah Roscoe meninggal, aku tidak berhak tinggal di sini lagi."
"Bila kau pergi dan aku tinggal, apa kata orang nanti? Mereka akan bilang aku mengusir janda ayahku. Tidak. Aku akan kembali ke Atlanta besok."
"Tetapi pembacaan surat wasiat dan pabrik pemintalan kapas...." Caroline mencoba memberi alasan yang masuk akal agar Rink tetap tinggal di situ. Memang tak ada masa depan untuk mereka berdua, tetapi ia tidak kuasa melihat Rink meninggalkannya untuk kesekian kalinya. Jangan pergi dulu. Nanti saja, jangan seftarang.
"Aku akan datang ke sini lagi pada hari pembacaan surat wasiat. Setelah itu baru kita atur bagaimana yang terbaik. Menurutku lebih baik kau di sini besama Laura Jane. Soal pemin-talan kapas...." Rink tersenyum sinis. "Jalankan saja seperti saat kau menjalankannya semasa Roscoe masih hidup."
Mata Caroline yang muram membingungkan Rink. Ia maju beberapa langkah agar berada dekat Caroline. Ia merangkul Caroline, men-dekatkannya. Kepala Caroline terkulai ke bela-kang ketika Rink menunduk ke dekat muka-nya.
"Jangan pandang aku seperti itu. Kaukira aku ingin meninggalkan tempat ini? Rumahku? Tem-pat tinggalku? Laura Jane dan Haney?" Suara Rink tiba-tiba merendah. "Kau?' Ia menarik tubuh Caroline lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya. "Keparat kau. Keparat kau, Caroline."
Bibirnya didaratkannya di bibir Caroline de-ngan penuh gairah, tetapi sekali ini Caroline memang sudah menunggu. Ia membuka mulut dan membiarkan bibir Rink melumatnya. Lidah Rink meluncur masuk ke mulut Caroline yang manis tapi hangat. Diciuminya Caroline berlama-lama. Pertama ia memiringkan kepala ke satu sisi, kemudian pindah ke sisi lain, seperti ingin menikmati seluruh bibir Caroline secara utuh. Tangannya memegangi muka Caroline, sementara bibirnya menciumi bibir wanita tersebut.
Mendadak Rink menghentikan ciumannya. Ke-mendadakan itu membuat Caroline gamang. Suara Rink parau, suara orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Caroline. "Brengsek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya untuk pertama kali?"
Sedegup detak jantung kemudian, Caroline sendirian.
"Laura Jane?" Steve berlutut di antara jerami dan memegang bahu Laura Jane. "Apa yang kaulakukan di sini?"
"Hmmm?" Laura Jane terbangun dari tidur, berguling ke pinggir, lalu telentang lagi. "Steve?" gumam Laura Jane. "Sudah pagikah?" tanya gadis itu lembut sambil menggeliat malas, melengkung-kan punggung dan memajukan dadanya ke arah Steve.
"Hampir pagi," jawab Steve sambil memaling-kan mata dari dada Laura. "Apa yang kaulakukan disini?”
Laura duduk sambil menepiskan jerami yang ada di rambutnya. Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap masuk ke kandang kuda, menerpa bahunya yang telanjang. Udaranya terasa masih agak dingin seperti udara malam, tetapi tumpukan jerami tempat Laura Jane berbaring hangat dan baunya tajam menyengat hidung. Kuda-kuda di dalam kandang meringkik, ber-teriak minta makan pagi. Titik-titik debu halus melayang-layang beterbangan di udara yang ber-mandikan sinar matahari pagi.
Mata Laura Jane yang masih mengantuk ter-tuju pada Steve. Ia tersenyum dan mengelus pipi Steve, yang kemerahan dan segar setelah bercukur. "Semalam Caroline dan Rink berteng-kar. Aku dengar mereka saling berteriak dari kamarku. Haney sudah tidur, karena itu aku tidak ke kamarnya. Membuatku merasa ingin pergi keluar dari rumah. Mengapa Caroline dan Rink selalu bertengkar? Aku tidak mengerti, Steve."
Laura Jane menyandarkan tubuhnya, meletak-kan kepalanya di dada Steve, tangannya memeluk pinggang Steve. "Akhirnya, aku datang ke sini. Pintu kamarmu dikunci dan lampunya mati. Aku tahu kau sudah tidur pulas. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku berbaring saja di sini, di kandang kuda yang kosong, dan tertidur pulas. Perasaanku lebih tenang bila berada di dekatmu."
Laura Jane makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Steve. Perasaan Steve galau. Ia mengumpat Rink Lancaster dan ancamannya setelah melihat kejadian di halaman rumah itu. Apakah Rink mengira ia tega menyakiti Laura Jane? Tidak bisakah kakak laki-laki Laura Jane yang keras kepala itu melihat bahwa ia mencintai perempuan ini? Yang baginya bak mata air kemurnian dan kebaikan di dunia ini, dunia yang selama ini dirasakannya hanya penuh dengan kebencian, pembunuhan, darah, dan perang?
Semalam ia baru saja berjanji takkan membiar-kan dirinya berduaan saja dengan Laura Jane, takkan pernah menyentuh gadis itu. Karena kalaii sampai tertangkap basah melakukan hal itu, ber-arti ia harus meninggalkan tempat ini untuk selamanya. Itulah yang takkan kuasa dilakukan-nya.
Saat ini, ia tahu tak mungkin ia mampu mengindahkan peringatan Rink Lancaster pada-nya. Keberadaannya yang demikian dekat dengan tubuh Laura Jane yang lembut menghalau semua ancaman itu dari benaknya. Tanpa merencanakan atau memikirkan konsekuensi tindakannya, ta-ngan Steve mendekap Laura Jane erat-erat.
"Aku yakin, itu karena mereka berduka ke-hilangan ayahmu. Mereka akan segera meluruskan perbedaan di antara mereka. Wajar buat seseorang yang biasanya mengurus rumah tangga menga-lami stres ketika seseorang yang biasanya tinggal bersamanya pergi."
"Aku sangat menyayangi mereka berdua. Aku ingin mereka bisa bersahabat."
Steve membenamkan pipinya di rambut Laura Jane. Tangannya yang besar lagi kasar mengelus punggung gadis itu. Ketika itu Laura Jane me-ngenakan baju tidur dari bahan katun lembut, dengan hiasan renda di bagian dada. Baju tidur model tangan setali yang diikatkan di bahunya. Mantel tipis yang tadinya dikenakan Laura Jane menutupi baju tidurnya dilepaskannya ketika duduk. Kulit Laura Jane terasa hangat dan lembut.
"Kalau segalanya sudah beres, mereka bisa bersahabat. Mereka tidak akan bertengkar lagi. Aku yakin."
Laura Jane mengangkat kepalanya dari dada Steve, menengadah, menatap Steve. Sorot mata-nya yang kecokelatan memancarkan keyakinan dan penuh cinta. "Kau begitu baik, Steve. Mengapa tidak semua orang sebaik dirimu?"
"Aku tidak baik," jawab Steve, tercenung, sambil menelusuri pipi Laura dengan jari telun-juknya. "Aku bukan orang baik-baik, sampai aku berjumpa denganmu. Kebaikan apa pun yang kumiliki, berasal dari dirimu."
"Aku cinta padamu, Steve."
Steve memejamkan mata, menekan perasaan marah. Didekapnya tubuh Laura Jane makin erat, ditekannya kepala Laura dalam-dalam ke lehernya "Jangan bilang begitu, Laura Jane."
"Aku ingin mengatakannya padamu. Karena aku memang sangat mencintaimu. Kurasa, bila kau mencintai seseorang, kau harus mengungkap-kannya, bukan?"
"Kurasa begitu, ya," jawab Steve. Tanggul pertahanan emosi yang dibangunnya mulai retak. Tekanan yang datang demikian besar. Ia harus menemukan jalan keluar untuk menyalurkannya dan berharap ia berhasil. Oh Tuhan, tolonglah.
Laura Jane menjauhkan tubuhnya dan menatap Steve dengan sorot mata menuntut. Bulu mata Laura Jane yang panjang lagi lembut seperti rangkaian rambut halus menghiasi matanya, mengelus lembut perasaan laki-laki yang keras lagi sinis dan tak berperasaan seperti Steve. Laura Jane menatap Steve dengan penuh harap, menye-rahkan putusan ke tangan Steve. Steve harus menyuarakan perasaannya.
"Aku juga mencintaimu, Laura Jane."
Sambil tersenyum, Laura Jane mendekap Steve. Seperti anak kecil, ia melingkarkan tangannya di leher Steve dan memeluknya. "Oh, Steve. Aku cinta padamu. Aku cinta padamu." Diciuminya seluruh wajah'Steve selembut kepak sayap kupu-kupu. "Aku cinta padamu." Laura Jane sampai di bibir Steve, sejenak ragu, teringat kata-kata Caroline yang mengingatkannya untuk berhati-hati.
Steve menghirup napas Laura Jane, merasakan getaran kegembiraan yang terpancar dari tubuh perempuan yang demikian dekat dengan tubuh-nya. Ia seperti orang yang hampir mati teng-gelam. Persetan! Ia bertanya pada dirinya sendiri. Rink Lancaster tidak bisa berbuat apa-apa pada-nya untuk hal yang tak pernah dilakukannya. Sekali seseorang pernah mengalami ancaman ke-matian ratusan kali, tiap kali ia harus meng-hadapinya, menyongsongnya.
Selain itu, ia sangat mencintai perempuan ini.
Bibir Steve mencium bibir Laura Jane dengan lembut. Getaran-getaran kecil yang keluar dari dada Laura mengalir ke tenggorokan Steve, bergetar seirama dengan getar tubuhnya. Tidak per-nah ia merasakan perasaan seperti yang dirasakan-nya ketika bersama Laura Jane. Ia kenal banyak perempuan, tetapi bukan perempuan seperti Laura Jane, bukan perempuan yang penuh cinta dan bisa dipercaya, polos, tulus, dan tidak mementingkan diri sendiri.
Secara alamiah Laura membuka mulutnya, membiarkan bibir Steve melumat bibirnya, mem-buat Steve mendesah. Lidahnya menjelajahi bibir Laura Jane, menikmatinya. Laura Jane menekan-kan bibirnya makin kuat ke bibir Steve, tubuh-nya yang dirapatkan ke tubuh Steve membuat Steve dapat merasakan payudara Laura dan pun-caknya yang menegang menyentuh dadanya. Steve makin erat mendekap tubuh Laura Jane sementara lidahnya bermain-main di dalam mulut Laura.
Kedua orang itu berguling-guling, hanyut da-lam kenikmatan yang baru mereka temukan. Pengalaman baru buat Steve juga buat Laura Jane. Keduanya berbaring di atas jerami. Steve meletakkan kakinya yang utuh di atas paha Laura Jane, dan kaki gadis itu yang ramping menjepit kaki Steve.
"Laura Jane." Steve menyebut namanya. De-ngan berani ia mencoba menekan dorongan seksualnya yang menggelora, tetapi payudara Laura ada di bawah tangannya, payudara yang kencang. Akhirnya Steve tak tahan lagi untuk tidak menyentuh payudara itu dengan jari-jari-nya.
"Steve, Steve," desah Laura. "Oh, Steve, ber-cintalah denganku, Steve."
Steve rersentak. Ditatapnya wajah Laura yang berbinar-binar. "Tidak bisa," jawab Steve lembut. "Kau sadar apa yang kaukatakan?"
"Ya." Jari-jari Laura menelusuri wajah Steve yang keras dengan penuh cinta. "Aku tahu apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki. Aku ingin kita melakukannya."
"Kita tidak boleh melakukan itu."
Laura membasahi bibir dan matanya meman-carkan keraguan. "Kau tidak mencintai aku?"
"Aku cinta padamu. Karena itulah aku tidak bisa melakukannya denganmu'. Aku tidak bisa melakukan itu denganmu, kecuali kau sudah menjadi istriku."
"Oh." Laura Jane tampak kecewa. Matanya memandang bibir Steve. Jari-jarinya menyentuh wajahnya. "Apakah kita harus berhenti ber-ciuman?"
Sambil tersenyum, Steve menundukkan wajah dan menciumi bibir Laura Jane. "Tidak." jawab Steve. "Tidak."
"Selamat pagi." Caroline memasuki dapur dan langsung melangkah ke mesin pembuat kopi. Dituangkannya secangkir penuh kopi. Ketika ia berjalan menuju meja, matanya berusaha menghindari pandangan Rink, yang sudah duduk lebih dulu di ruangan itu.
"Aku menelepon dokter pagi ini," kata Haney, sambil membalik-balik telur di wajan.
"Dokter? Mengapa?"
"Wajahmu itu tidak keruan, itulah sebabnya," jawab Haney tanpa merasa bersalah. "Aku tahu kau kurang tidur. Lihat lingkaran hitam di bawah matamu. Kau lihat, Rink? Kau perlu obat tidur atau penenang atau obat sejenis itulah."
"Tidak, aku tidak memerlukannya," jawab Caroline sambil duduk di seberang Rink. Meski-pun Rink dilibatkan dalam percakapan itu, Caroline tidak menatapnya dan Rink pun tetap membisu.
"Jangan sok tahu," nasihat Haney. "Tak ada yang orang yang menyediakan hadiah untuk menjadi janda paling berani tahun ini. Tak ada yang akan menyalahkanmu bila kau sedih dan mengungkapkan semua kedukaanmu. Wajar sese-orang berduka bila kehilangan suami."
Mendengar perkataan itu, Caroline mem-beranikan diri melirik Rink. Rink tengah me-natapnya dari balik cangkir kopi. Caroline mem-buang pandang lebih dulu. "Aku tidak perlu dokter."
Haney menarik napas, tidak memedulikan ke-gusaran Caroline. "Hmmm, sarapan yang banyak, paling tidak," kata Haney. Ditumpuknya telur di piring, lalu disodorkannya ke hadapan Caroline. "Ayo, makanlah. Aku akan ke atas, mem-bangunkan Laura Jane. Kupikir ada baiknya membiarkan ia tidur."
"Ia tidak tidur," jawab Caroline, sambil meng-duk krim di dalam kopinya. "Tadi aku ke kamarnya sebelum turun." Caroline ingin turun bersama Laura Jane, memakainya sebagai perisai untuk menghaddpi perasaan Rink, apa pun situasinya pagi itu. "Ia tidak ada di kamar."
Rink meletakkan garpunya di piring. Haney berbalik, tangannya memegang piring berisi roti bakar. "Ke mana dia? Kau tidak melihatnya sepagian ini?" tanya Rink pada Haney.
"Bukankah tadi sudah kubilang, ia masih ti-dur?"
Rink melemparkan serbet ke meja dan bangkit. Ia melangkah ke pintu belakang dan menendang-nya. "Rink!" Caroline berteriak dari kursinya dan mengejarnya. Ketika ia sampai di anak tangga teras, Rink tampak menuju kandang kuda. "Rink!" panggil Caroline sambil terus mengejar-nya dan mempercepat langkah.
Sesampainya di pintu kandang kuda, ia ber-balik ke arah Caroline. "Diam!"
"Kau tidak boleh memperlakukan mereka begitu, Rink!" cegah Caroline, keberatan, tapi dengan suara hampir berbisik.
"Jangan ikut campur."
Caroline merasa harus ikut campur karena melihat Rink akan lebih bijaksana bila tidak melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan kesempatan Laura Jane untuk mendapatkan ke-bahagiaan. "Laura Jane bukan anak kecil lagi."
"Berdasarkan kemampuan berpikirnya, ia masili kecil." Rink membuka pintu. Berkat perawatan cermat yang dilakukan Steve, pintu itu tidak bersuara. Rink memasuki bangunan yang hanya diterangi lampur kecil itu, Caroline mengikuti di belakangnya. Sepatu botnya mengeluarkan suara gemerisik di lantai ketika ia tiba di kandang kuda di tempat Steve dan Laura Jane berbaring.
Keduanya mendengar langkah itu, melihat ekspresi marah di wajah Rink, yang membuat mereka saling menjauhkan diri. Sialnya, Rink sempat melihat Steve mencium Laura Jane, adik-nya, dengan mesra. Melihat tubuh Laura Jane yang dirapatkan ke tubuh Steve, melihat Steve mengelus-elus payudara Laura Jane.
Teriakan marah Rink membuat darah Caroline serasa membeku seketika. Rink langsung meng-hampiri Steve, mencengkeram kemejanya, dan mengempaskannya ke lantai. Perbuatan Rink, Caroline yakin, hampir meretakkan kaki palsu Steve.
Rink mendaratkan tinjunya di perut Steve dan membuat Steve terpental ke sisi kandang. Kemudian, sebelum sempat ia berdiri, tinju Rink kembali menghantam dagunya.
Laura Jane berteriak dan mengentak-entakkan kaki. Ia menghambur ke arah kedua laki-laki yang berkelahi itu, tetapi Caroline menyambarnya dan menariknya ke tepi. Naluri petarung Steve bangkit dan ia berdiri untuk membalas si penye-rang. Ketika hantaman tinju bersarang di hidung Rink, membuat hidungnya mengucurkan darah, Laura Jane kembali berteriak dan lari meninggal-kan tempat itu.
"Hentikan!" teriak Caroline. "Hentikan, kalian berdua!"
Tinju dan kaki saling hantam. Mereka bergulat di kandang kuda itu, saling mendaratkan tinju.
Caroline menghambur di antara dua lelaki yang tengah berkelahi itu. "Hentikan. Kalian berdua. Demi Tuhan, apakah kalian sudah ke-hilangan akal sehat?" Akhirnya Caroline berhasil berdiri di antara kedua petarung tersebut, yang megap-megap dan berlumuran darah.
Ketika Rink akhirnya bisa bernapas normal lagi, ia menatap Steve dengan penuh kebencian. "Aku ingin kau meninggalkan tempat ini petang ini juga."
"Ia tetap tinggal di sini," sergah Caroline yang membelakangi Steve dan dengan tegas menghadapi Rink. "Ia tetap di sini sampai aku memecatnya. Roscoe yang memintaku mempe-kerjakannya di sini. Akulah satu-satunya orang yang boleh memecatnya. Paling tidak, sampa'i saat pembacaan surat wasiat itu dan kau meng-ambil hartamu, The Retreat. Sementara ini, se-bagai janda Roscoe, aku yang mengambil keputusan mengenai segala sesuatu yang menyang-kut apa pun di sini."
"Persetan denganmu," jawab Rink. "Ini soal Laura Jane, bukan The Retreat. Ia memang putri tirimu, tetapi ia adikku."
"Aku tahu. Semua ini berkaitan dengan Laura Jane." Dada Caroline turun-naik karena letupan emosi. Ketika menatap Rink dengan sikap me-nantang, ia justru merasa makin mencintai Rink dan ingin menghapus luka di wajahnya. Tetapi ia tidak mau menyerah oleh perasaan itu. "Steve sama sekali tidak memperalat Laura Jane. Ia mencintainya, Rink. Laura Jane juga mencintai-nya."
"Laura Jane tidak tahu apa yang dilakukan-nya.
"Tidak, ia tahu. Ia mencintai Steve. Apakah kau tak punya perasaan lagi? Emosimu tumpul? Membuatmu tidak mampu melihat hal yang demikian jelas? Kalau kau menyuruh Steve pergi, bayangkan apa pendapat Laura Jane tentang dirimu. Kau orang yang dipujanya. Ia menga-gumi setiap langkah yang kaulakukan. Segalanya akan hancur bila kau mematahkan hatinya de-ngan bertindak seperti itu. Tolong, jangan laku-kan hal itu, kumohon."
"Ini demi kebaikannya."
"Bagaimana kau tahu apa yang terbaik untuk dirinya?"
"Aku tahu."
"Seperti Roscoe yang tahu apa yang terbaik untukmu? Apakah kau akan memisahkan mereka seperti Roscoe memisahkan kita?"
Rink seperti orang yang kena tinju, bahkan lebih mematikan daripada hantaman tinju Steve. Matanya nanar menatap Caroline, tetapi Caroline bergeming. Akhirnya Rink mengalihkan pan-dangan pada Steve, yang tanpa sadar mengelus pahanya yang terluka. Rink memandanginya te-tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun se-belum meninggalkan kandang.
Caroline merasa seluruh jiwa raganya seperti terbang, ia merasa tubuhnya lemas. Beberapa saat lamanya ia berdiri di tempat, memandangi jerami yang berserakan di lantai dengan mata berkaca-kaca. Ia berhasil menyudutkan Rink dan pria itu pasti sangat membenci tindakannya itu. Sambil menarik napas panjang, ia mengangkat kepala dan berbalik menghadap Steve. Wajahnya bengkak-bengkak.
"Kau tidak apa-apa?"
Steve mengangguk, sambil menyeka bibirnya yang sudah tak keruan bentuknya dengan sapu-tangan. "Aku lebih parah." Steve mencoba ter-senyum tetapi kemudian meringis kesakitan.
"Biar kuminta Haney mengobati lukamu."
Steve kembali mengangguk dan Caroline ber-balik. Ketika tiba di ambang pintu kandang, Steve berkata, "Mrs. Lancaster." Caroline me-natapnya. Dengan langkah terpincang-pincang Steve menghampiri Caroline. "Terima kasih. Apa pun akibatnya, saya sangat menghargai pembelaan Anda untuk saya."
Caroline tersenyum getir dan langsung menuju rumah. Dengan galau ia masuk lewat pintu belakang. Dilihatnya Rink duduk memangku Laura Jane. Laura Jane membenamkan wajah ke leher Rink dan menangis tersedu-sedu. "Kau marah padaku. Aku tahu kau marah."
"Tidak," hibur Rink lembut sambil mengelus punggungnya. "Aku tidak marah. Aku hanya tidak mau hal buruk menimpa dirimu, Laura Jane, hanya itu."
"Yang dilakukan Steve padaku bukan hal bu-ruk. Aku mencintainya, Rink."
Mata Rink bertemu mata Carolirie dari balik kepala Laura Jane. "Aku tidak yakin kau me-ngerti apa arti mencintai pria, Laura Jane. Atau apa makna laki-laki itu mencintaimu."
"Aku tahu! Aku mencintai Steve dan Steve mencintaiku. Ia takkan menyakiti aku."
Rink tidak mau mengakui kekeliruannya. "Kita akan bicara soal ini nanti. Maafkan aku, aku kehilangan kesabaran."
Namun Laura Jane tidak mau ditenangkan dengan cara itu. Ia mengangkat kepala dan mencengkeram kemeja Rink. "Kau tidak boleh berkelahi dengan Steve lagi. Berjanjilah, kau tidak akan berkelahi lagi dengannya."
Rink tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap mata Laura Jane yang tajam dan akhirnya berkata, "Aku berjanji, aku tidak akan berkelahi dengan Steve lagi."
Perlahan Laura Jane melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Rink dan dengan manis mencium pipi Rink. "Aku akan membantu Haney mengobati luka-lukanya." Bagi Laura Jane, persoalan sudah selesai. Ia meninggalkan dapur dan menaiki anak tangga.
"Aku tidak jadi pergi hari ini," kata Rink dengan nada tertahan ketika tinggal mereka ber-dua di ruangan itu.
Hati Caroline melonjak kegirangan, tetapi itu hanya reaksi sementara. Dengan sikap angkuh ia menaikkan dagu. "Apa yang membuatmu beru-bah pikiran? Apakah kau takut, ketika kau tidak ada, aku akan memengaruhi adik perempuanmu dan menghancurkan reputasi keluargamu?"
Rink menatap Caroline dalam-dalam, baru menjawab, "Seperti itulah."
Mata Caroline berkaca-kaca. Rink tahu persis bagaimana menyakiti Caroline. "Bagimu, aku hanya barang mainan, bukan, Rink? Kau cium aku, bila kau merasa ingin menciumku, tetapi tidak cukup baik untuk menjadi anggota ke-luargamu."
"Aku tidak jadi pergi."
Hanya itu yang dikatakan Rink sebelum me-langkah ke luar ruangan.




Bab 9

"SELAMAT pagi, Mrs. Lancaster."
"Mrs. Lancaster, hari ini cuaca cerah ya?" Caroline membalas salam yang ditujukan ke-padanya ketika memasuki pabrik pemintalan. Musim panen sudah di depan mata. Para pekerja mulai lembur memintal kapas yang mulai ber-datangan. Jam kerja yang panjang, jam-jam kerja yang melelahkan, debu, panas, dan berisik. Na-mun tetap terpancar kesan bangga di wajah para pekerja di pabrik pemintalan kapas itu; air muka yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah terlihat di wajah mereka. Bukan rahasia lagi, setiap orang tahu dari mana datangnya perasaan seperti itu. Rink.
Semua peralatan, setelah diperbaiki baru-baru ini, bisa kembali dioperasikan dengan hasil me-muaskan. Para petani kapas yang pada musim-musim panen yang lalu menjual hasil panennya ke pemintalan lain, kini kembali membawanya ke pemintalan kapas keluarga Lancaster. Bukan rahasia lagi, setiap orang tahu mengapa terjadi hal itu, juga.
Rink.
Keberadaannya di pemintalan kapas yang ha-nya beberapa minggu itu membawa perubaban drastis. Umumnya para pekerja menyambut ke-datangan Rink. Yang bersedia bekerja keras men-dapat kenaikan upah. Yang biasanya datang ter-lambat atau melalaikan tugas dipecat. Caroline melihat yang dipecat adalah para pekerja yang suka melalaikan tugas. Mereka adalah orang-orang yang dipekerjakan Roscoe untuk tugas khusus, pekerjaan, yang menurut perkiraan Caroline, lebih baik tidak diketahuinya. Dulu ia pernah meminta Roscoe memberhentikan mereka. Dari peristiwa itu ia sadar, lebih baik baginya jika tidak mencampuri urusan pribadi Roscoe.
"Ia suka bikin masalah," kata Caroline.
Roscoe waktu itu hanya tersenyum manis. "Ia melakukan... tugas-tugas... bagiku, Caroline. Ka-lau mereka 'membuat onar dengan salah satu karyawan pabrik, tolonglah, tak usab kauhirau-kan."
"Tetapi ia pekerja pabrik juga."
"Memang seharusnya begitulah kesannya." Me-lihat ekspresi Caroline yang tidak menerima, Roscoe hanya menambahkan secara diplomatis. "Aku akan bicara dengannya, bila ia menimbul-kan banyak masalah bagimu."
Sekarang barulah Caroline tabu mereka itulah yang diperintahkan Roscoe memata-mati Rink musim panas itu.
Rink, dengan persetujuan Caroline, tidak mau menunda waktu semenit pun untuk menendang orang-orang yang tak berguna dan menaikkan gaji karyawan yang bisa dipercaya lagi setia. Mereka menghormati Rink. Mereka bekerja keras bukan karena takut pada Rink, seperti waktu mereka bekerja pada ayah Rink, mereka bersedia bekerja keras karena menyukai Rink. Rink punya kemampuan memotivasi mereka. Ia memberi kritik-kritik yang membangun pada mereka. Ia memberikan pujian bila mereka pantas dipuji. Ia ikut bekerja keras bersama mereka. Tak heran, batin Caroline, Rink menjadi pebisnis yang sukses.
Sepuluh hari telah berlalu sejak peristiwa per-kelahian di kandang kuda antara Steve dan Rink. Rink lebih banyak menghabiskan waktu di pemintalan. Caroline senang Rink di sana. Keberadaannya menambah kepercayaan diri Caroline. Caroline tahu beberapa pekerja itu dipecat karena mengkritik Caroline.
Meskipun tidak diungkapkan secara gamblang, keduanya berusaha berdamai.
Suatu pagi di pemintalan, waktu Caroline sibuk mengurus surat-surat bisnis, Rink masuk ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Caroline, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, bila kau tidak sibuk."
Caroline tersenyum manis dan merentangkan tangan ke arah kertas-kertas yang berserakan di mejanya. "Oh, tidak. Aku tidak sibuk."
Rink tersenyum ganjil. "Ini penting, kalau tidak, aku tidak akan mengganggumu."
Sambil berdiri, Caroline bertanya, penasaran, "Siapa?" Kejutan.
Dengan jari-jari menempel di punggung Caroiine, Rink mengajak wanita itu melewati ruang pemintalan yang bising, ke luar, menuju mobil yang memuat lima ratus bal kapas, siap diantar ke gudang.
Seorang pria bertubuh tambun dengan setelan warna putih dan topi Panama, seperti dalam drama-drama Tennessee William—tampak men-jumput kapas dari dalam bal sambil mengisap cerutu yang menyebarkan bau menyengat dan tidak menyenangkan, mengingatkan Caroline pada Roscoe. Tetapi tak terlihat kepribadian men-dominasi seperti Roscoe pada orang itu, yang kini mengangkat kepala dan tersenyum ramah ketika melihat Caroline yang bersama Rink ber-jalan menghampirinya.
"Mr. Zachary Hamilton, kenalkan, Mrs. Caroline Lancaster."
"Mr. Hamilton." Caroline menjulurkan tangan. Tangan Caroline yang kecil tenggelam dalam genggaman tangan Hamilton yang menyalami Caroline dengan tulus. Andai kenal kakeknya, ingin Caroline membayangkan rupa kakeknya seperti Mr. Hamilton ini.
"Senang bisa berkenalan dengan Anda, Mrs. Lancaster. Sangat senang sekali. Anda punya... uh... ehm... anak tiri Anda, Rink, ini, mengata-kan pada saya, berkat pengelolaan Anda yang saksama, pabrik kapas keluarga Lancaster berkera-bang pesat."
Pipi Caroline langsung memerah ketika ia melirik Rink, kemudian kembali menghadap tamunya. "Rink sangat banyak membantu saya, saya rasa. Tetapi saya sangat bangga dengan produk kapas yang kami hasilkan sekarang."
"Mr. Hamilton calon pembeli kapas kita dari Delta Mills di Jackson."
Caroline menghadap ke arah Rink, karena itu hanya Rink yang melihat alis Caroline yang terangkat dan mulutnya yang ternganga kecil karena terkejut. Mata Rink berbinar nakal. Susah payah ia menekan dorongan hatinya untuk ter-tawa.
"Saya... saya mengerti," gagap Caroline lalu kembali menghadap ke arah calon pembeli kapas-nya. Setiap petani kapas di daerah Selatan atau penjual kapas kenal baik perusahaan Delta Mills. Mereka memproduksi tekstil kualitas terbaik di
dunia.
"Kami akan dengan senang hati memberikan contoh kapas kami kepada Anda, Mr. Hamilton," kata Caroline setenang mungkin. Ia merasa
adrenalinnya mengalir cepat ke seluruh tubuhnya. Bila ia dan Rink berhasil menjual kapas mereka ke perusahaan Delta Mills, itu berarti lompatan bisnis besar buat mereka.
"Terima kasih atas sambutanmu, Rink, aku sudah mengambil contohnya." Ia mengambil se-jumput kapas dari bal dan merentangkannya sehingga ia dapat mengira-ngira panjang rata-rata serat kapasnya. "Ini kapas berkualitas prima," katanya kagum. "Panjangnya cukup. Kurasa kau bisa menjualnya kepada kami sebagian."
Baik Caroline maupun Rink berusaha menekan lonjakan kegembiraan hati mereka. "Kami sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan pem-beli lain," kata Rink, pura-pura menolak.
"Aku menghormati keputusanmu, Rink," kata pembeli itu. "Berapa banyak bal kapas yang bisa kaujual kepadaku?"
Sementara Caroline berdiri di sampingnya, dengan perasaaan resah berganti-ganti posisi ber-dirinya, Rink tawar-menawar dengan si calon pembeli. Akhirnya mereka sepakat atas sejumlah kapas yang akan dikirim dan harga per balnya. Harga paling mahal yang pernah. diperoleh pe-mintalan Lancaster Gin.
"Tentu saja, kami akan mengantar kapas Anda dengan pesawat," kata Rin tanpa pikir panjang ketika mengantar Mr. Hamilton menuju kamar kerja Caroline untuk menandatangani kontrak.
"Dengan pesawat?" tanya Mr. Hamilton, menatap Rink tidak percaya. Tetapi bukan hanya Mr. Hamilton yang terkejut, Caroline juga.
"Kami berikan servis istimewa kepada pembeli pilihan kami," jawab Rink sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ke-tika Mr. Hamilton berbalik hendak melangkah masuk ke ruang kantor, Rink mengedipkan mata pada Caroline yang masih terkejut dan tidak dapat berkata-kata.
Setelah Mr. Hamilton meninggalkan tempat itu, Caroline memandang Rink dengan jengkel. "Dengan pesawat?" tanyanya, dengan nada tinggi. "Mengapa tidak dikirim dengan kereta api?"
Rink tertawa, lalu membuka laci, membuka lemari, mencari-cari sesuatu. "Tidak masalah," jawab Rink seenaknya. "Aha, aku tahu pasti ada di sini." Ia mengeluarkan sebotol minuman bourbon dari laci lemari paling bawah. "Ada gelas minuman? Ah, persetan dengan gelas." Rink membuka tutup botol, mendongakkan kepala dan langsung menenggak minuman dari botol. Wajahnya meringis ketika carian yang membakar itu mengalir turun ke tenggorokannya. "Aku punya pesawat barang yang sudah kuperbaiki sendiri. Kita kan ingin menanamkan citra baik pada perusahaan Delta Mills, bukan? Apa kaupikir mereka akan me-ngacukan perusahaan yang bisa mengantarkan kapas mereka dengan pesawat terbang?"
"Tetapi biaya bahan bakarnya saja sudah berapa... Rink, biayanya sangat mahal."
"Tidak, bila aku yang mengangkut dan me-nerbangkan pesawat itu," jawab Rink, sambil melempar senyum lebar pada Caroline. "Yang harus dibayar cuma biaya bahan bakar dan be-berapa jam terbangku. Tetapi bila kontrak kerja sama dengan Delta Mills berkesinambungan, itu investasi besar, menurutku. Bagi kita." Rink mengangkat botol sebagai tanda hormat pada Caroline sebelum kembali menenggak minuman bourbon itu, kemudian menyodorkannya ke ha-dapan Caroline. "Ini."
Terhanyut kegembiraan untuk merayakannya, Caroline menatap botol minuman, dan tergoda ingin meminumnya juga. "Tapi aku tidak biasa," katanya, berbohong dan malu-malu, dan melem-par pandang ke arah pintu.
"Tentu saja kau bisa minum."
"Bagaimana bila ada yang datang dan melihat kita minum-minum di sini?"
"Mereka akan mengerti. Kita baru saja me-nandatangani kontrak kerja besar. Di samping itu, aku sudah memberitahu mereka, siapa pun tidak boleh masuk ke ruang kerja ini tanpa mengetuk pintu lebih dulu."
"Kau selalu masuk tanpa mengetuk."
Rink kelihatan jengkel. "Kau mau minum atau tidak?"
Dengan berani Caroline memegang leher botol dan meniru gerakan Rink, kepalanya ditengadah-kan dan ia membiarkan minuman itu meluncur turun ke tenggorokannya. Caroline terbatuk-batuk dan berdecap-decap, air matanya menitik dan ia merasakan perutnya terbakar. Rink mengambil botol minuman dari tangan Caroline ketika melihat Caroline terbungkuk-bungkuk ka-rena batuk. Ia menepukkan telapak tangannya pada punggung Caroline dan tertawa terbahak-bahak.
"Lebih enak?" Perlahan Caroline menegakkan tubuh, menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Kurasa ya," jawab Caroline dengan suara parau, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Oh Tuhan, Caroline. Tadi aku khawatir se-kali," kata Rink penuh semangat. "Aku takut ia bilang tidak atau meninggalkan kita tanpa mem-buat kesepakatan pasti."
"Mengapa kau tidak memberitahu aku lebih dulu ia akan ke sini?"
"Aku tidak ingin membuatmu berharap."
"Aku senang kau tidak memberitahuku. Aku suka kejutan." Oh ya?
"Ya." Caroline melempar senyum pada Rink, senyumnya makin lebar ketika menyadari kembali apa yang tengah mereka rayakan. "Ya, ya, ya."
Semua itu tidak direncanakan. Sama sekali tidak direncanakan. Rink memeluk pinggang Caroline, mengangkat tubuh perempuan itu be-berapa sentimeter dari lantai lalu memutar-mutarnya. Keduanya tertawa-tawa. Rink menengadah ketika memandang Caroline. Caroline tersenyum dengan posisi tubuh yang masih terangkat dan meletakkan tangannya di bahu Rink.
"Kita berhasil! Kita berhasil membuat kontrak kerja sama paling mahal dalam sejarah peru-sahaan Lancater Gin. Kau sadar apa arti ke-sepakatan ini, Caroline? Pembeli-pembeli baru akan berdatangan ke sini. Petani kapas akan berdatangan ke tempat kita," kata Rink, men-jawab pertanyaan Caroline. "Bukan tahun ini, tetapi tahun depan. Kita bisa mengembangkan perusahaan ini." Rink mendekap Caroline, me-mutarnya seperti orang yang berdansa waltz.
Ketika Rink menurunkan tubuh Caroline, wa-jar bila timbul keinginan Rink untuk mencium wanita itu. Bibir Rink mencium bibir Caroline. Bukan ciuman kekasih, tetapi ciuman antar-kawan, merayakan kesuksesan pekerjaan mereka.
Namun begitu bibir mereka bersentuhan, nuansa ciuman pun berubah. Mustahil mereka bersentuhan tanpa merasakan sentuhan itu se-bagai sentuhan sepasang kekasih. Sewaktu me-rasakan bibir Caroline yang lembut, basah, dan pasrah menyentuh bibirnya, seketika gelora hasrat langsung menguasai Rink. Rink mengangkat ke-pala hendak melihat reaksi Caroline.
Matanya memandang wajah Caroline lekat-lekat, mengamati garis-garisnya. Pipinya yang kemerahan, rambutnya yang pirang, sorot matanya yang bening bak titik hujan yang berkilau, bibirnya, semua menarik hatinya.
Caroline menanti penuh harap, merasakan na-pas Rink yang makin memburu, melihat sorot matanya yang makin berbinar.
Ia menginginkannya. Oh, Tuhan, ia masih menginginkan Caroline. Betapa ingin ia melumat Caroline, menjadikannya pelabuhan terakhirnya, selama-lamanya. Namun Caroline sudah ber-sumpah akan setia sampai mati pada ayahnya. Dan Rink yakin, kendati telah meninggal dunia, pengaruh orang seperti ayahnya yang sudah di liang kubur akan tetap ada. Caroline masih menjadi milik Roscoe dan karena alasan itulah Rink tak berani mewujudkan apa yang sangat didambakannya. Gejolak hasrat dalam tubuhnya seperti mencekik dirinya, ia harus melepaskan cengkeraman itu dan melepaskan Caroline.
Ia tidak ingin melakukannya. Pertama, ia me-narik tangannya dari belakang pinggang Caroline ke samping. Dibiarkannya kedua tangannya ter-kulai di sisi tubuhnya. Seperti ada perekat tak kasatmata yang melekatkan keduanya, perlahan-lahan mereka saling menarik diri sebelum akhir-nya Rink melangkah mundur. Yang terakhir dilepaskannya dari Caroline adalah matanya, yang tetap memandangi Caroline dan harus dipaksanya agar berpaling.
Caroline kecewa dan terguncang, tetapi ber-usaha tidak memperlihatkannya ketika Rink membalikkan badan untuk melihatnya sebelum membuka pintu.
"Kurasa aku akan mengundang seluruh karya-wan minum bir untuk merayakan peristiwa ini. Ini bisa mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan kapas berkualitas untuk perusahaan Delta Mills."
"Kurasa itu hal yang baik sekali, Rink. Ku-tunggu kau di rumah?"
Rink mengangguk. "Aku takkan terlambat."
Di toserbalah pertama kali Caroline mendengar hal yang ramai digosipkan orang-orang.
Haney menelepon pemintalan, meminta Caroline singgah ke toko sebelum pulang. Caro-line mencatat barang-barang yang diminta Haney. "Terima kasih atas bantuanmu."
"Terima kasih kembali," jawab Caroline. "Aku akan pulang secepatnya. Rink akan keluar seusai kerja, berarti kau bisa menyiapkan makan malam setengah jam lebih lambat daripada biasanya."
Caroline tengah mendorong kereta belanja di lorong toserba sambil memeriksa daftar barang yang harus dibeli waktu ia melihat dua ibu yang memandanginya terang-terangan. Caroline kenal mereka. Salah seorang di antaranya peng-gosip nomor satu di kota itu. Ia punya putri yang usianya sama dengan Caroline, yang kini menikah dengan buruh pabrik. Kabarnya, karena suka mabuk, menantunya itu sering dipecat dari pekerjaannya. Sementara putrinya dulu sangat populer, salah satu anggota "geng", kelompok yang tidak mau bergaul dengan Caroline. Namun yang menyakitkan, kini justru putri keluarga Dawson yang pemabuk itu menikah baik-baik! Ibu yang satunya lagi menuju ke bagian penatu, bertukar gosip sambil memeriksa pakaian kotor yang akan dicuci.
Tidak perlu menghindari mereka, batin Caroline, meyakinkan diri agar bisa melakukan hal itu. la mengangkat dagu dan sengaja men-dorong kereta belanja melewati mereka. "Halo, Mrs. Lane, Mrs. Harper."
"Mrs. Lancaster," jawab mereka serentak. Sikap pura-pura mereka jelas terlihat. "Kasihan sekali Anda," kata salah seorang ibu. "Bagaimana ke-adaan Anda sekarang, setelah Mrs. Lancaster meninggal?"
"Saya rasa pemakamannya berjalan sangat baik. 'Sangat baik," sahut ibu yang lain.
"Terima kasih, saya baik-baik." Seharusnya Caroline langsung mendorong kereta belanjanya, karena ia berhasil memaksa ibu-ibu itu untuk bersikap santun, tetapi salah seorang di antara mereka mengajak Caroline bicara.
"Pasti Anda terhibur Rink ada di rumah pada saat seperti ini."
Hati-hati, Caroline, batin Caroline mengingat-kan dirinya. Mereka ganas seperti ikan piranha, dan mereka bisa mencabik-cabik dirimu.
"Kepulangan Rink ke The Retreat sangat ber-arti buat Laura Jane dan Haney, pengurus rumah tangga kami. Terutama, dalam situasi seperti sekarang ini, mereka senang sekali Rink ada di rumah lagi."
Ibu-ibu itu benar-benar menyimak setiap kata yang meluncur keluar dari mulut Caroline. "Bera-pa lama ia akan tinggal di sini? Bukankah bisnisnya sukses di Adanta? Di mata dia, pastilah kita hanya orang-orang kampung."
"Rink sangat mencintai Winstonville. Nama kota ini kan diambil dari nama keluarga ibunya, Anda tahu. The Retreat akan senantiasa menjadi rumahnya."
Jawaban Caroline makin membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Mereka makin rapat, seperti binatang buas yang mengerumuni mangsa dan siap melahapnya. "Tetapi bagaimana dengan Anda? Setelah Anda menikah dengan Mr. Lancaster, tidakkah The Retreat itu akan menjadi milik Andai Atau Anda merencanakan tinggal di sana bersama-sama? Seperti satu keluarga besar?"
"Kami memang satu keluarga besar," sabut Caroline sambil tersenyum dingin. "Satu keluarga besar yang sangat bahagia."
"Oh, pasti," jawab mereka, mengiakan penuh semangat.
"Salam saya untuk Sarah," kata Caroline ke-pada ibu teman sekelasnya sambil menjauh. "Saya dengar ia punya anak lagi."
"Yang keempat." Mata yang tak berwarna itu memandangi Caroline yang memakai gaun dari katun dengan iri. "Sayang sekali Mr. Lancaster tidak memberikan seorang anak pun. Anak bisa menjadi hiburan yang menyenangkan di saat duka." kulah keprihatinan yang paling palsu yang pernah didengar Caroline dalam hidupnya. Andai Caroline tidak sedang bergulat menahan marah, ia pasti sudah menertawai sikap yang sangat berpura-pura itu.
"Untuk apa anak baginya, Flo?" Sepasang mata yang lain, yang sama dengkinya, penuh prasangka, menatap tubuh Caroline. "Kan ada Rink yang bisa menemaninya tinggal di rumah itu dan memberikan hiburan yang dibutuhkannya.
"Oh, ya, Rink. Kita tidak boleh lupa, ada Rink tinggal bersama dia."
"Selamat sore, ladies" sahut Caroline, bergegas. Ia memaksakan diri mengambil barang-barang dalam daftar yang harus dibeli sebelum langsung pergi ke kasir dan meninggalkan toserba ter-sebut. Penghinaan itu membuat matanya terasa
panas.
Selama Roscoe hidup, tak seorang pun berani berkata seperti itu padanya, yang mungkin karena takut pembalasan yang akan dilakukan Roscoe. Mereka harus menghormati istri Roscoe Lancaster, seberapa dalam pun iri hati mereka. Ternyata, menjadi jandanya tidak demikian situasinya. Ia kembali menjadi Caroline Dawson dan tampaknya stigma latar belakang kehidupan itu akan tetap melekat padanya seumur hidup. Tak peduli betapa pun bersihnya hidup seseorang, bila ia dibesarkan dari golongan terbuang, moral-nya akan tetap diragukan.
Mengapa ia tidak meninggalkan kota ini, yang penuh orang-orang picik dan penuh prasangka?
Untuk alasan yang sama, Rink juga tidak bisa meninggalkan kota ini. Akar mereka sudah ter-tanam terlalu dalam. Rink berada pada status sosial paling tinggi dalam masyarakat, sementara dirinya paling bawah; tetapi cintanya terhadap kota ini sama dalamnya dengan Rink. Menjeng-kelkan memang, menjadikan kota ini sebagai kota kelahiran, tanpa ada harapan untuk bisa mengubahnya. Tidakkah orang-orang itu melihat bahwa ia mampu mengelola salah satu pabrik pemintalan kapas yang terbaik, terbesar, di daerah sini? Tidakkah mereka memperhitungkan bahwa ia punya gelar sarjana? Atau justru prestasi-prestasi yang dicapainya menyulut kecemburuan mereka?
Mengapa ia harus menghukum dirinya seperti ini? Mengapa ia tidak tinggal di kota lain saja, di tempat yang tidak tahu latar belakang hidup-nya?
The Retreat.
Sepanjang ingatannya, ia selalu mengkhayalkan dirinya tinggal di rumah itu, di The Retreat.
Dan kini, ketika Rink menuntut rumah itu adalah rumah warisannya, apa yang akan ia lakukan? Meninggalkan kota kelahirannya? Tak-kan pernah kembali lagi ke kota ini?
Tidak. Ia akan mencari rumah tinggal lain di Winstonville dan kembali berkhayal tinggal di rumah itu, The Retreat. Namun ia takkan pernah bisa meninggalkannya secara utuh. Takkan pernah.
Ia banyak berdiam diri sepanjang makan malam. Mereka makan ayam goreng di ruang makan utama, Rink mengumumkan acara makan itu sebagai acara perayaan keberhasilan mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Delta Mills. Haney dan Laura Jane ikut gembira, Caroline sulit menikmati kegembiraan itu setelah menerima penghinaan halus di toserba tadi pagi.
Ia melihat Rink menatapnya dengan sorot mata bertanya-tanya karena sikapnya yang lebih banyak diam, yang terasa amat mengganggu. Selama makan malam, Caroline dengan susah payah berusaha menyembunyikan stresnya.
Setelah makan malam, Caroline berjalan-jalan di halaman. Cuaca malam itu sejuk lagi bersih. Angin sepoi-sepoi di musim panas meniup de-daunan yang melayang-layang di atas kepalanya. Caroline duduk di ayunan di bawah pohon besar di pojok rumah. Itulah bagian The Retreat yang paling disukainya. Ada suara riak air sungai yang mengalir di dekatnya. Lumut menutupi hampir seluruh permukaan tanah di sekeliling pepohonan. Tanaman kecil tumbuh lebat. De-ngan ujung sepatunya yang hampir tidak me-nekan rumput yang lembut, ia seperti orang tolol membiarkan dirinya terayun-ayun.
"Ada apa, Caroline?"
"Kau pasti berdarah Indian. Kau selalu berhasil menguntitku."
"Aku ke sini bukan hendak bicara soal ke-turunan. Jawab pertanyaanku. Ada apa?"
"Bagaimana kau tahu aku di sini?"
"Aku tahu saja." Rink memegang tali ayunan, menghentikan gerakannya, dan mencondongkan tubuh ke arah Caroline. "Katakan, brengsek, untuk terakhir kali aku bertanya, ada apa?"
Caroline memalingkan muka dengan resah. "Tak ada apa-apa."
"Ada. Apa?"
"Tidak ada."
"Aku tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum kau menjawab pertanyaanku. Gigitan nyamuk di sini sangat menyakitkan, apalagi se-telah gelap. Jadi kau lebih suka diserang gerom-bolan pengisap darah itu, atau kauceritakan pada-ku apa yang mengganggu pikiranmu? Apa yang terjadi di pemintalan? Aku? Atau apa?"
"Kota ini!" teriak Caroline, meledak sambil bangkit. Rink terpaksa melepaskan pegangannya pada tali ayunan. Ledakan kemarahan Caroline yang mendadak itu mendorong Rink menepi dan memberi jalan pada Caroline. Ayunan yang ditinggalkan Caroline terayun-ayun. Caroline ber-jalan ke arah pohon besar, tangannya diletakkan pada pohon, dan dahinya bersandar di sana. "Ada apa dengan kota ini?" "Kota ini penuh orang-orang picik!" Rink tertawa kecil. "Kau baru tahu?" "Tidak. Aku tahu hal itu sejak bisa berjalan di belakang ibuku yang mendorong kereta pa-kaian bersih yang harus diantarnya. Aku tahu penduduk kota ini penuh prasangka dan suka menghakimi." Caroline berbalik dan menyandar-kan bahunya pada batang pohon yang kokoh. "Hanya, kukira dengan memiliki titel sarjana, pekerjaan bagus, nama keluarga baru, akan me-ningkatkan status diriku di mata mereka, sehing-ga mereka tidak merendahkan aku lagi."
"Kau harusnya lebih tahu. Kalau kau dilahir-kan di sini dengan anggapan tertentu, anggapan itu akan melekat pada dirimu selamanya."
"Aku tahu itu. Aku hanya agak melupakannya, dan hari ini aku diingatkan kembali."
"Ada apa?"
Caroline mengibaskan rambut dan sambil me-ngerjapkan matanya yang berkaca-kaca, ia me-natap Rink, kemudian kembali membuang pan-dang. "Terlalu tolol dan dangkal bila aku kecewa karenanya."
"Kalau begitu, ceritakan padaku supaya kita sama-sama tidak kecewa."
Sambil menarik napas, Caroline menyebut dua nama wanita yang bicara dengannya di toserba. Rink mendengus kasar. "Baru mendengarnya saja aku sudah tidak suka. Teruskan."
"Mereka... mereka mengatakan betapa berun-tungnya aku, yang masih punya kau setelah kematian Roscoe, bisa tinggal satu atap dengan-mu. Mereka memberi tekanan pada bagian ka-limat itu. Mereka bilang... yah, kau bisa menebak apa yang mereka katakan...."
"Mereka bilang kita tinggal sebagai keluarga bukan sekadar saling menyapa. Begitu?"
Caroline mengangkat kepala, menatap Rink. "Ya."
Rink mengumpat. "Mereka mencurigai bisa terjadi sesuatu yang tidak pada tempatnya."
"Ya."
"Berarti, ada yang tidak benar yang dilakukan?"
"Ya."
"Bahwa hubungan kita bukan seperti hu-bungan anak tiri dengan ibu tirinya?"
Caroline tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk. Keheningan menguasai keduanya. Jengkerik mulai bernyanyi gembira. Kodok me-ngorek sedih. Keduanya merasa tidak bisa untuk tidak saling pandang. Dada Caroline turun-naik karena jantung yang berdebar cepat. Caroline yakin sekali, dengan melihat denyut di dahi Rink, bahwa jantung Rink pun berdenyut cepat seperti jantungnya.
"Lupakan saja ocehan para perempuan tua itu, Caroline. Bergosip itu hiburan buar mereka. Kalau bukan menggosipkan kita, siapa lagi yang akan jadi sasaran mereka? Begitu kehangatan berita kematian Roscoe menyurut, mereka akan mencari-cari bahan gosip mereka."
"Aku tahu itu. Logikaku mengatakan begitu. Hanya saja aku tak tahan menerima sindiran mereka yang sangat menghina. Aku tak suka diriku dijadikan objek gosip mereka." Mata me-reka kembali saling pandang sesaat, penuh ke-mesraan, sebelum dialihkan. Apa yang digosipkan orang sebetulnya tidak sepenuhnya khayalan belaka.
"Tidak masuk akal bila salah satu di antara kita ke luar dari rumah sebelum semua urusan hukum selesai," kata Rink, memberi aJasan. "Bu-kankah hal itu justru akan memicu orang untuk makin menggosipkan kita?"
"Kurasa begitu. Setiap orang ingin tahu siapa yang akan keluar dari rumah ini. Mereka bilang kau tidak suka padaku."
"Sebagai istri ayahku, maksudmu."
Caroline merasa lidahnya tergigit ketika meng-iakannya. "Ya."
"Mengapa mereka mengira aku tidak senang padamu?"
"Karena latar belakang hidupku dulu." Caro-line mengubah posisinya. Pakaiannya tersangkut kulit kayu pohon. "Karena perbedaan usia antara Roscoe dan aku."
Ketika mata mereka kembali bertemu pandang kali ini, tak ada halangan menghadang lagi. "Nanti juga berlalu," bisik Rink sambil merapat-kan tubuh ke Caroline. "Aku tidak akan pernah suka kau menjadi istrinya."
"Jangan, Rink." Caroline ingin menjauhkan diri, tetapi jalannya terhalang pohon.
"Mengapa kau meresahkan gosip itu, Caroline?" tanya Rink, lembut, dan makin merapatkan tubuhnya. "Suara hatimu masih jernih, kan? Kau tahu pasti, tak ada yang tidak beres di The Retreat."
"Tentu saja."
Rink terus merapatkan tubuh. "Tak ada pelang-garan norma yang terjadi di antara kita, bukan?"
"Ya."
"Dusta."
Kata terakhir itu tercetus dari mulut Rink dengan penuh kemarahan. Ibu jari Rink me-nelusuri tenggorokan Caroline, lalu jari-jari lain-nya yang kokoh melingkari lehernya. Dengan satu ibu jarinya, Rink mengangkat kepala Caroline.
"Katakan, tak ada daya tarik di antara kita." Sambil merintih pelan, Caroline memalingkan mukanya ke samping. Namun Rink tak mem-biarkannya membuang muka. "Ayo katakan padaku, bahwa tiap kali kau menatapku, aku hanyalah anak tirimu. Bilang padaku kau tidak ingat apa yang pernah terjadi di antara kita.
Coba katakan kau tidak ingat lagi apa yang terjadi waktu turun hujan hari itu. Katakan padaku kau tidak ingin aku menciummu lagi. Bilang kau tidak pernah ingin merasakan sen-tuhanku lagi. Mampukah kau mengatakan semua itu padaku, Caroline?" Satu-satunya jawaban yang diberikan Caroline hanya isakan. "Itulah hal yang ada dalam benakku," kata Rink marah.
Bibir Rink menutup bibir Caroline. Caroline memukul-mukul Rink dengan perasaan galau, tapi akhirnya tangannya berhenti di pundak Rink dan tak lagi menolak Rink. Rink makin merapat-kan tubuhnya ke tubuh Caroline. Seperti potongan puzzle yang didesain untuk disusun satu persatu membentuk satu gambar, begitulah bentuk tubuh Rink dan Caroline—cocok sekali. Bibir Rink menciumi bibir Caroline, menuntut bibir perem-puan itu mematuhi apa yang diperintahkannya. Lidah Rink menjilati garis bibir Caroline.
"Balas ciumanku, Caroline. Kau ingin men-ciumku. Kau ingin menciumku juga."
Caroline memenuhi permintaan itu. Sambil mendesah pasrah, Caroline melingkarkan tangan-nya pada leher Rink. Bibirnya terbujuk lidah Rink. Lidah itu pun akhirnya memasuki mulut Caroline tanpa perlawanan, disambut dengan hangat dan mesra. Rink mengelus bibir Caroline, berhenti sesaat, membuat letupan hasrat yang hendak diredam Caroline tak kuasa lagi dilawan-nya.
Tanpa ampun lagi Rink membangkitkan hasrat Caroline terhadap dirinya. Ciumannya yang ber-tubi-tubi. Simbol kejantanan Rink yang ada di antara kedua paha Caroline memancarkan gelom-bang kerinduan dalam dirinya yang tak mampu diredam Caroline lebih lama lagi. Ia ingin Rink mengisi kekosongan yang menyakitkan dirinya itu. Hanya Rink yang mampu mengisi ke-kosongan itu dan memberikan kepuasan seutuh-nya.
Rink membuka kancing gaun Caroline, me-nyelipkan tangannya ke baliknya. Payudara Caroline terbungkus kamisol berenda. Seluruh indra Rink menggelora saat tangannya menyen-tuh payudara Caroline yang penuh lagi hangat. Dibelainya bagian itu perlahan tetapi seperti punya kekuatan menghipnotis dan merangsang-nya.
Rink mengucapkan sumpah serapah seiring ungkapan kenikmatan yang terdengar bak lagu cinta di telinga Caroline. Ia menangkap desah putus asa Rink seperti yang dirasakan jiwanya, menanggung rindu, terbelenggu siksa memendam hasrat yang tak mungkin dipenuhi. Rink menge-lus renda dan satin yang menutupi payudaranya, mencari dan menyentuh puncaknya dengan ujung jari. Sentuhan itu memberikan kenikmatan yang amat sangat pada Caroline. Bagian yang peka itu memberi respons, menegang. Rink me-nenggelamkan kepalanya di antara payudara itu dan menyentuh salah satu puncaknya dengan bibir.
Caroline merasakan gelenyar ciuman itu sam-pai ke perutnya, bahkan mencapai bagian tubuh-nya yang jauh di bawahnya lagi. Setiap simpul saraf tubuhnya bangkit, sekaligus merintih pedih. Caroline yakin, bila tidak segera menghentikan semua itu, ia akan kalah.
Caroline melepaskan pelukannya pada Rink. "Jangan, Rink, jangan," cegah Caroline. Ia me-nutupi payudaranya dengan kedua tangan, beru-saha meredam gelombang gairah yang menggebu. "Aku tidak bisa. Kita ridak boleh melakukannya.'
Rink merasakan dadanya sesak dan panas tiap kali menarik napas. Rambutnya kusut masai karena remasan jari-jari Caroline. Matanya me-natap penuh gairah, dikerjap-kerjapkan untuk menyadarkan dirinya. "Mengapa? Karena ayah-ku?"
Caroline menggeleng, membuat rambutnya ter-gerai. "Bukan, bukan," tukas Caroline sedih sam-bil membetulkan gaunnya. "Karena penduduk kota ini. Karena aku tidak ingin menjadi orang yang seperti mereka duga. Aku tidak mau me-lakukan apa yang mereka bayangkan, perbuatan rendah tak bermoral; pertama-tama merayu Roscoe, kini anaknya."
"Aku tak peduli apa yang mereka pikirkan."
"Aku peduli!" Caroline menyadari ia menangis. Air mata bercucuran membasahi pipinya. "Seperti yang kaukatakan tadi, kita akan tetap seperti saat kita dilahirkan. Kau berdarah Winston dan Lancaster. Apa pun yang kaulakukan, tetap akan dianggap pantas. Mereka tidak akan berani meng-kritikmu. Tetapi aku, aku yang datang dari golongan rendah, begitulah diriku senantiasa di mata mereka. Aku harus peduli pada apa yang mereka pikirkan."
Menit-menit berlalu, mereka saling meman-dang. Rink lebih dulu memalingkan muka sambil melontarkan makian. "Tidak bisa aku tinggal serumah denganmu tanpa terdorong perasaan ingin bercinta denganmu."
"Aku tahu."
"Nah, aku sudah mengungkapkannya. Itukah yang ingin kau dengar?" teriak Rink.
"Bukan, Rink. Aku tidak perlu mendengar pengakuanmu itu, aku sudah tahu." Ketika Rink berbalik dan memandangnya, Caroline berkata lembut, "Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Apa kaupikir tidak demikian yang kurasakan?"
Bisa saja ini hanya dorongan hasrat sesaat, tetapi Caroline melihat mata Rink berkaca-kaca. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak sepatah kata pun meluncur keluar dari bibirnya. Kedua tangannya sebentar dikepalkan dan dilepaskan di sisi tubuhnya. Badannya berdiri tegak me-nahan emosi. Kelihatannya ia hampir tak mampu menahannya lebih lama lagi.
Caroline menyeka air mata di pipinya. "Kau mengerti mengapa aku tidak bisa bersamamu, Rink? Apa yang mereka katakan benar. Aku sangat menginginkanmu. Namun, seperti kau tidak bisa melupakannya, begitu juga mereka. Aku ini istri Roscoe."
Rink berbaJik, membelakangi Caroline be-berapa menit lamanya. Ketika ia membalikkan rubuhnya kembali menghadap Caroline, air mukanya sudah berubah, kelihatan keras. "Apa yang akan kaulakukan setelah pembacaan surat wasiat?"
Caroline tidak menyembunyikan air matanya lagi. "Satu-satunya haJ yang dapat kulakukan, apa yang kutahu harus kulakukan. Aku harus meninggalkan rumah ini."
Rink mengangguk seketika, kemudian berbaJik dan berjalan ke arah hutan. Caroline duduk di bangku ayunan sambil menutup muka. Ia me-nangis tersedu-sedu.
Tak satu pun dari mereka melihat bayangan yang melinras di antara pepohonan, yang men-jauh dari tempat itu.



Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified