HOME

Saturday, October 13, 2012

Bittersweet Rain Sandra Brown Part 1


Bittersweet Rain
Sandra Brown



Bab 1

ANDA yakin?" Dokter itu mengangguk muram. Seragam operasinya yang berwarna hijau masih bersih. Ia tidak cukup lama berada di ruang operasi, tidak sampai membuatnya keringatan. "Maafkan saya, Mrs. Lancaster. Penyakitnya sudah menjalar ke mana-mana."
"Tak ada cara untuk menyembuhkannya?"
"Kecuali untuk mengurangi rasa sakitnya, tidak ada." Si dokter menyentuh lengan Mrs. La'ncaster dan melirik pria yang berdiri di samping wanita itu dengan penuh arti. "Ia takkan mampu ber-tahan lama. Maksimal beberapa minggu."
"Ya, saya paham...." Mrs. Lancaster menyeka matanya dengan tisu yang basah dan kusut.
Iba hati si dokter melihat wanita itu. Ketika keluarga pasien menjadi histeris saat mendengar kondisi buruk si pasien, ia merasa mampu me-nenangkan mereka. Namun sikap berani perem-puan tersebut, yang penampilannya sangat feminin dan rapuh, ketika menerima kabar tadi membuatnya merasa seperti dokter yang belum berpengalaman dan canggung. "Andai suami Anda memeriksakannya lebih cepat, barangkali...."
Mrs. Lancaster menyunggingkan senyum getir, kehilangan harapan. "Tetapi ia tidak mau. Sudah saya bujuk dia untuk memeriksakan perutnya yang tidak enak. Ia berkeras itu cuma masalah pencernaan."
"Kita semua tahu Roscoe keras kepala," pria yang berdiri di samping Mrs. Lancaster menyela. Dengan lembut Granger Hopkins menggenggam-kan jari-jari Caroline Lancaster di lengannya. "Apakah ia boleh menjenguknya?"
"Beberapa jam lagi," sahut si dokter. "Pengaruh obat biusnya baru akan hilang nanti sore. Bagai-mana kalau Anda berdua pulang saja dulu dan beristirahat?"
Caroline mengangguk. Dibiarkannya Granger, pengacara yang juga sahabatnya, menggandengnya menuju lift. Mereka menunggu lift dalam diam. Caroline merasa agak bingung, tapi tidak terkejut. Hidupnya tidak pernah berjalan mulus-mulus saja dan tanpa masalah. Mengapa ia begitu ber-pegang pada harapan bahwa operasi besar Roscoe hanya akan membuktikan suaminya itu cuma mengidap usus buntu?
"Kau tak apa-apa, kan?" Granger bertanya lembut ketika pintu lift menutup dan mereka aman dari tatapan menyelidik orang-orang di sekeliling mereka.
Mrs. Lancaster menarik napas panjang. "Sebaik yang mampu dirasakan perempuan yang mengetahui suaminya akan meninggal. Segera."
"Maafkan aku."
Caroline menatap Granger dan tersenyum. Hati Granger luluh. Senyum Caroline, yang sering bagai minta maaf untuk kekurangan-ke-kurangan yang tak kasat mata, mampu meng-gugah perasaan pria maupun wanita. "Aku kenal siapa dirimu, Granger. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku punya sahabat seperti dirimu."
Mereka berjalan melintasi lobi rumah sakit yang baru direnovasi. Beberapa karyawan rumah sakit dan pengunjung sekilas melirik Caroline, tapi kemudian cepat-cepat membuang pandang. Wajah-wajah yang dipalingkan itu dipenuhi rasa ingin tahu tetapi tetap penuh rasa hormat. Semua orang sudah tahu. Saat warga terpandang di kota sekecil Winstonville sakit berat, beritanya akan tersebar cepat ke seluruh penjuru kota.
Granger menemani Caroline sampai ke mobil dan membukakan pintu untuknya. Caroline ma-suk ke mobil tapi tidak langsung menghidupkan mesinnya. Ia duduk, pandangan matanya jauh ke depan, tenggelam dalam pikirannya, cemas, sedih. Begitu banyak yang harus diurusnya. Dari mana ia mesti mulai?
"Rink harus diberitahu."
Nama itu menghunjam tubuh Caroline bak pemecah es, dingin, tajam, dan menusuk. Nama tersebut seakan menusuk organ-organ penting dalam tubuhnya. Nama laki-laki itu menggemu-ruh di dalam benaknya. Perasaan sakit saat men-dengar nama itu membuat Caroline merasa sekujur tubuhnya seperti lumpuh seketika.
"Caroline, kaudengar apa yang kukatakan? Aku bilang—"
"Ya, aku dengar."
"Sebelum masuk ke ruang operasi, Roscoe memintaku segera menghubungi Rink bila hasil pemeriksaan dokter tentang penyakitnya buruk."
Mata yang berwarna asap itu menatap si pengacara. "Roscoe memintamu menghubungi Rink?"
"Ya. Ia dengan tegas meminta aku mengontak Rink."
"Aneh. Kukira permusuhan di antara mereka takkan pernah terdamaikan."
"Roscoe sekarat, Caroline. Kurasa ia tahu, begitu masuk rumah sakit ia takkan pernah meninggalkannya. Ia ingin melihat putranya se-belum meninggal."
"Mereka tak pernah berjumpa atau bicara pada satu sama lain selama dua belas tahun, Granger. Aku tak bisa memastikan apakah Rink bersedia datang."
"Rink pasti datang kalau tahu situasinya seperti mi.
Akankah ia datang ke sini? Oh, Tuhan, apakah laki-laki itu akan datang ke sini? Apakah ia akan bertemu Rink kembali? Bagaimana pe-rasaannya bila mereka benar-benar bertemu? Bagaimana rupanya sekarang? Peristiwa itu sudah lama berlalu. Dua belas tahun yang lalu. Jari Caroline mencengkeram kemudi mobil Lincoln-nya yang empuk. Telapak tangannya basah. Caroline merasa sekujur tubuhnya juga basah.
"Jangan terlalu mencemaskannya," ujar Granger, yang merasakan keresahan yang me-nyergap Caroline. "Karena kau tidak kenal Rink, biar aku yang menelepon dan menyampaikan berita ini padanya."
Caroline tidak ingin mengoreksi pendapat Granger yang mengganggapnya tidak mengenal Rink. Bahwa mereka saling mengenal dengan baik merupakan rahasia selama dua belas tahun. Ia tidak ingin menyingkap rahasia itu saat ini. Ia malah menumpangkan tangannya di tangan Granger yang diletakkan di jendela pintu mobilnya. "Terima kasih untuk semuanya."
Wajah Granger bersahaja dan biasa saja, mirip muka anjing jenis basset, panjang dan murung. Pipinya menggelayut seperti tas kulit kosong yang tergantung di kedua sisi rahangnya. Waktu Caroline mengelus pipinya, wajah Granger merah padam seperti remaja. Ia sudah keriput dan bungkuk, gerakannya lamban, bicaranya lembut dan ramah, tetapi penampilan dan perilakunya itu mengelabui banyak orang. Di balik wajahnya yang biasa itu tersembunyi otak yang cerdik dan jujur. "Aku senang bila bisa menolongmu. Apa lagi yang bisa kubantu?"
Caroline menggeleng. Ia lega Granger bersedia menelepon Rink. Mana mungkin ia sanggup melakukan hal itu? "Aku harus memberitahu Laura Jane." Bola matanya yang keabu-abuan berkaca-kaca. "Menyampaikan berita seperti ini pada Laura bukan hal mudah."
"Kau yang paling mampu melakukannya." Granger mengelus tangan Caroline lalu melang-kah mundur. "Nanti sore kutelepon lagi. Bila perlu, aku bersedia mengantarmu kembali ke rumah sakit."
Caroline mengangguk, menyalakan mesin mo-bil, dan memasukkan gigi. Lalu lintas kota padat ketika ia melaju. Roscoe, suaminya, dijadwalkan dioperasi pagi dini hari tadi. Siang begini dunia sedang sibuk-sibuknya. Orang-orang membereskan urusannya sebagaimana biasanya, mereka tidak menyadari dunia Caroline Dawson Lancaster untuk kesekian kalinya kembali akan terjungkal.
Pria yang disayanginya, yang semula majikan-nya, kemudian menjadi suaminya, akan mening-gal. Masa depannya, yang selama ini tampaknya aman, kembali akan mengalamai kekacauan. Ke-matian Roscoe tidak hanya akan membuatnya kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya, tetapi juga kehilangan kehidupan baru-nya.
Caroline mengemudikan mobil melewati Lancaster Gin. Mereka akan panen raya kapas tahun ini. Mandor-mandor pabrik harus segera diberitahu perihal keadaan Roscoe. Ia yang harus memberitahukannya, karena selama beberapa bu-lan ini, sejak kesehatan Roscoe tak memungkin-kannya menjalankan bisnis, ialah yang melakukan semuanya. Para mandorlah nantinya yang akan meneruskan berita tersebut kepada para kar-yawan. Dalam waktu singkat, seluruh warga kota akan tahu Roscoe Lancaster sakit berat.
Pernikahan Caroline Dawson dengan Roscoe Lancaster menjadi peristiwa yang paling hangat digosipkan di seluruh penjuru kota, karena pria yang menikahinya itu tiga puluh tahun lebih tua daripada dirinya. Mereka mengatakan putri keluarga Dawson yang melarat berhasil menaik-kan status sosial keluarganya, tinggal di The Retreat, naik mobil Lincoln baru dan mengilap, dan selalu berpakaian bagus. Hebat! Memangnya siapa dia? Seingat mereka, Caroline hanyalah gadis berpakaian lusuh yang bekerja di Wool-worth sepulang sekolah. Kini setelah menjadi Mrs. Roscoe Lancaster, istri orang terkaya di kota, ia berlagak betul!
Sebenarnya, Caroline menghindari warga kota karena tidak tahan melihat cara mereka me-mandang dirinya, pandangan yang dirasanya pe-nuh prasangka, sorot mata penuh tuduhan bahwa ia memakai kekuatan magis untuk membuat Roscoe menikahinya setelah bertahun-tahun men-duda.
Tak lama lagi orang-orang itu pula yang akan menemuinya untuk menyampaikan penghor-matan padanya. Caroline memejamkan mata se-saat, tubuhnya gemetar membayangkannya. Ha-nya ingatan akan The Retreat yang mampu meringankan kepedihannya. Sampai saat ajal menjemputnya pun, membayangkan rumah itu walau sekilas tetap akan menggetarkan hatinya. Sejak pertama kali Caroline melihatnya, ketika masih kecil, mengendap-endap memandangi ru-mah besar itu dari celah-celah pepohonan, rumah itu sudah menawan hatinya.
Pohon-pohon ek yang rindang tumbuh menge-lilingi rumah. Cabang-cabang pohonnya yang kokoh, yang penuh ditumbuhi lumut keabu-abuan keriting yang menjuntai, terjulur menge-lilinginya seperti tangan-tangan kuat yang selalu siap memberi perlindungan. Rumah itu terletak di tengah, seperti perempuan yang penuh pesona, yang memakai rok lebar menggelembung. Din-ding batanya dicat putih bersih. Pilar bergaya Corinthian tegak menjulang di bagian depan, tiga pilar di setiap sisi pintu depan. Pilar-pilar itulah yang menyangga lantai dua rumah dengan teras yang luas di sekelilingnya. Seperangkat meja-kursi dari rotan yang berwarna putih menghiasi teras. Meja-kursi itu hanya dimasukkan pada musim dingin, pada bulan-bulan yang cuacanya terlalu dingin dan basah. Besi tempa putih, indah seperti renda pakaian dalam perempuan, memagari balkon. Daun jendela berwarna hijau daun mengapit jendela berukuran besar yang mengilap seperti cermin di bawah sinar matahari.
Pada musim panas, serangga-serangga beter-bangan dengan riang mengelilingi bunga-bunga yang bermekaran, warna mereka sangat mencolok sehingga menyakitkan mata. Tidak ada tempat di muka bumi ini yang memiliki rerumputan sehijau dan setebal rumput yang tumbuh di sekeliling The Retreat.
Keheningan menyelimuti rumah bak kabut sihir yang mengelilingi puri dalam dongeng. Sepanjang pengetahuan Caroline, rumah itu me-rupakan perwujudan semua yang didamba orang di dunia ini. Kini dia menjadi penghuni rumah tersebut. Setelah peristiwa pagi tadi, Caroline sadar ia hanya menghuni rumah itu untuk sementara waktu.
Caroline menghentikan mobil di halaman yang berbatu-batu, yang dibentuk melingkar di depan rumah. Sejenak Caroline berusaha menenangkan pikiran dan mengumpulkan seluruh kekuatan, yang mungkin dibutuhkannya beberapa jam lagi. Petang ini takkan menjadi petang yang menye-nangkan.
Ruang depan menjadi terasa remang-remang setelah sinar matahari yang membutakan di luar. The Retreat memang didesain dengan gaya rumah pertanian di zaman Perang Saudara Amerika. Di bagian tengah ada foyer yang membentang dari pintu depan sampai belakang. Di salah satu sisinya dibangun ruangan perjamuan resmi dan perpustakaan, yang digunakan Roscoe sebagai ruang kerja. Di sisi lainnya ada ruang tamu resmi dan tidak resmi, yang dipisahkan dari foyer dengan pintu geser berukuran besar yang menghilang ke dalam dinding. Seingat Caroline, pintu itu tidak pernah dipakai. Tangga besar meliuk naik dengan anggun menuju lantai dua, tempat empat kamar tidur.
Udara di dalam rumah sejuk, tempat berlindung dari udara musim panas yang lembap. Caroline melepas jas, menyangkutkannya pada gantungan mantel, lalu menarik blus sutra yang lengket di punggungnya yang basah.
"Well? Bagaimana kabarnya?"
Pengurus rumah tangga, Haney, yang bekerja di rumah itu sejak mendiang istri Roscoe, Marlena Winston, menikah dengan Roscoe Lancaster, berdiri di ambang pintu melengkung yang menuju ruang makan. Sambil berjalan dari dapur yang letaknya berseberangan dengan ruangan itu, ia mengeringkan tangannya yang terampil, kasar, dan besar, sesuai dengan ukuran bagian tubuhnya yang lain, dengan handuk tipis.
Perlahan Caroline menghampirinya lalu me-meluknya. Lengan pengurus rumah tangga yang gemuk itu balas mendekap tubuh Caroline yang ramping. "Buruk?" tanyanya lembut sambil mengelus-elus punggung Caroline.
"Yang terburuk. Kanker. Dia takkan pulang ke rumah lagi."
Dada Haney yang besar bergetar karena me-nahan tangis. Kedua perempuan itu saling meng-hibur. Haney tidak suka pada Roscoe, kendati ia sudah bekerja pada pria itu lebih dari tiga puluh tahun. Kesedihan yang dirasakannya ter-utama ditujukan pada orang-orang yang di-tinggalkan Roscoe, termasuk jandanya yang masih muda.
Semula Haney mencurigai dan menolak ke-datangan nyonya baru di The Retreat. Tetapi ketika melihat Caroline tidak mengubah tatanan rumah sama sekali, tetap membiarkannya sebagai-mana ketika almarhumah Marlena masih hidup, mulailah ia menyukai Caroline. Caroline kan tidak bisa berbuat apa-apa bahwa ia berasal dari keluarga miskin. Tetapi Haney tidak ingin ber-prasangka padanya gara-gara asal-muasai keluarga-nya. Apalagi Caroline menunjukkan sikap penuh kasih sayang dan lembut terhadap Laura Jane. Itu sudah cukup bagi Haney untuk menganggap Caroline punya hati malaikat.
"Haney? Caroline? Ada apa?" Keduanya ber-balik dan melihat Laura Jane berdiri di anak tangga bawah. Dalam usia dua puluh dua tahun, putri Roscoe itu kelihatan masih seperti gadis remaja saja. Rambutnya yang cokelat dibelah tengah dan tergerai lurus ke bawah. Rambut itu membingkai wajahnya yang lembut. Kulitnya seputih porselen. Matanya besar dan berwarna cokelat, dengan bulu mata yang panjang. Tubuh-nya berkembang sejalan perkembangan pikiran-nya. Laura Jane bak kuntum bunga yang belum mekar sepenuhnya. Lekuk tubuh perempuannya mulai tampak, tetapi takkan pernah sempurna. Seperti pikirannya yang berhenti tumbuh, begitu pun tubuhnya. Laura Jane takkan pernah beru-bah seiring berlalunya waktu.
"Operasi Daddy sudah selesai? Ia akan pulang hari ini?"
"Selamat pagi, Laura Jane," sapa Caroline sambil menghampiri anak tirinya, yang lima tahun lebih muda darinya. Digandengnya lengan gadis itu. "Mau menemaniku jalan-jalan di luar? Udara cerah hari ini."
"Mau. Tetapi kenapa Haney menangis?" Haney tampak tengah menyeka mata dengan kain handuk.
"Ia sedih."
"Kenapa?"
Caroline menarik tubuh gadis muda itu ke arah pintu depan dan menggandengnya menuju ke teras. "Karena Roscoe. Sakitnya parah, Laura Jane."
"Aku tahu. Ia selalu mengeluh sakit perut."
"Kata dokter, perutnya tidak bisa disembuhkan lagi."
Mereka berjalan menyusuri rerumputan taman yang terawat rapi.
Dua minggu sekali, setiap musim, didatangkan sekelompok tukang kebun untuk merapikan ta-man The Retreat. Laura Jane memetik sekuntum bunga daisy dari rumpunnya yang tumbuh di dekat jalan setapak batu yang penuh lumut. "Daddy kena kanker?"
Terkadang kecerdasan gadis ini mengejutkan mereka. "Ya, benar," sahut Caroline. Ia tidak ingin menutup-nutupi keadaan ayahnya. Itu tin-dakan yang keji.
"Aku banyak mendengar soal kanker di tele-visi," katanya sambil menghentikan langkah dan menatap Caroline. Kedua perempuan yang ham-pir sama tinggi itu saling memandang. "Daddy bisa meninggal karena kanker."
Caroline mengangguk. "Ia memang akan me-ninggal, Laura Jane. Kata dokter, ia bisa me-ninggal dalam waktu seminggu atau lebih."
Bola mata yang cokelat itu tetap tak berkaca-kaca. Laura Jane mendekatkan bunga daisy ke hidungnya dan menciumnya. Kemudian ia me-noleh pada Caroline lagi. "Ia akan ke surga, kan?"
"Kurasa begitu... Ya, ya, pasti, ke surga."
"Kalau begitu Daddy akan bersama Mama lagi. Sudah lama Mama berada di sana. Pasti Mama senang berjumpa dia. Dan aku masih tetap punya kau, Haney, dan Steve." Ia melirik ke arah kandang kuda. "Dan Rink. Rink selalu mengirimiku surat setiap minggu. Katanya ia selalu menyayangi dan merawatku. Apakah Rink akan melakukannya, Caroline?"
"Tentu saja." Caroline mengatupkan bibir, me-nahan tangis. Akankah Rink pernah menepati janji? Bahkan terhadap adik perempuannya?
"Tetapi mengapa Rink tidak mau tinggal ber-sama kita?" tanya Laura Jane.
"Mungkin ia akan segera ptilang." Caroline tidak ingin memberitahu Laura bahwa tidak lama lagi Rink memang akan tiba di rumah sampai ia melihat sendiri Rink muncul.
Laura Jane jadi tenang. "Steve menungguku. Kuda betinanya melahirkan semalam. Ayo kita lihat."
Diraihnya tangan Caroline, lalu ditariknya me-nuju kandang kuda. Caroline iri melihat kegem-biraan Laura dan berharap ia pun bisa menerima kematian Roscoe dengan pikiran sesederhana putri Roscoe itu.
Udara di kandang kuda hangat, berbaur de-ngan bau kuda, kulit, dan jerami yang tajam. "Steve," panggil Laura Jane riang.
"Di sini," jawab suara bernada rendah.
Steve Bishop bekerja sebagai manajer kandang kuda keluarga Lancaster. Mengembang-biakkan kuda-kuda keturunan murni termasuk salah satu kesukaan Roscoe, tapi ia tidak terlalu memeduli-kan perawatan kuda. Bishop muncul dari lorong salah satu kandang kuda. Tubuhnya tidak terlalu .tinggi, tetapi sangat tegap. Wajahnya persegi dan kasar, tetapi terkadang terpancar ekspresi yang melembutkan kekasarannya. Ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang, seperti biasanya se-helai bandana diikatkan di kepalanya, dan topi koboi dari jerami menutupi kepalanya. Celana jinsnya sudah tua dan kumal, sepatu botnya penuh debu, kemejanya penuh bercak keringat. Tetapi ia tersenyum berseri-seri ketika melihat Laura Jane berlari mendekatinya. Hanya saja, sorot kepedihan dan keputusasaan tak pernah lenyap dari matanya, kendati bibirnya tersenyum. Wajahnya kelihatan lebih tua daripada usianya, yang baru tiga puluh tujuh tahun.
"Steve, kami ingin melihat anak kuda itu," kata Laura Jane terengah-engah.
"Di sana." Steve menoleh ke arah kandang kuda yang baru ditinggalkannya.
Laura Jane masuk ke kandang kuda. Steve menatap Caroline dengan pandangan bertanya. "Kanker," ujar Caroline menjawab pertanyaan Steve yang tak terucap. "Tinggal menunggu waktu."
Steve menyumpah pelan sambil memandang perempuan muda yang berlutut di tumpukan jerami, mengelus-elus anak kuda. "Kau sudah memberitahunya?"
"Ya. Ia bisa menerimanya lebih baik daripada kita semua."
Steve menggangguk dan tersenyum sendu pada Caroline. "Ya. Pasti."
"Oh, Steve. Anak kuda betina ini cantik sekali ya?"
Steve menepuk bahu Caroline dengan penuh kesadaran, kemudian masuk ke dalam kandang. Caroline mengikutinya, dan mengawasinya saat pria itu dengan gerakan kaku berlutut di sebelah Laura Jane. Perang Vietnam membuat Steve ke-hilangan separo kaki kirinya. Ia tidak kentara memakai kaki palsu, kecuali bila ia harus ber-lutut, seperti saat itu.
"Ia cantik sekali, kan? Dan induknya kelihatan sangat bangga pada anaknya." Steve mengelus surai kuda betina itu, tetapi matanya tetap tertuju pada Laura Jane. Caroline terus memerhatikan-nya, ketika Steve menjulurkan tangan untuk menjumput jerami yang menempel di rambut Laura Jane. Jari-jarinya mengelus pipi Laura Jane yang sangat halus. Laura Jane menatap Steve dan mereka saling tersenyum.
Sejenak Caroline tertegun menyaksikan ke-mesraan di antara kedua orang itu. Apakah mereka saling mengasihi? Caroline bingung men-dapati kenyataan ini. Caroline bersikap taktis, ia berniat meninggalkan tempat itu, tetapi Steve melihatnya. "Mrs. Lancaster, bila ada yang bisa saya lakukan..." Steve tak melanjutkan kata-katanya.
"Terima kasih, Steve. Untuk sementara ini lakukan saja apa yang menjadi tugasmu seperti biasa."
"Baik, Mrs. Lancaster." Steve tahu, Carolinelah yang menolongnya bisa menjadi karyawan Roscoe. Wanita itu masih karyawan Roscoe ketika Steve Bishop melamar pekerjaan sebagai manajer kandang kuda, dengan memanfaatkan air muka penuh kegetiran sebagai senjatanya di hadapan Roscoe. Rambutnya diekor kuda sampai pung-gung, rompinya yang terbuat dari bahan denim dipenuhi lencana perdamaian dan tambalan slogan antiperang dan anti-Amerika. Dengan air mukanya yang masam dan tampak suka ber-kelahi, Steve menantang Roscoe untuk berani memberikan pekerjaan, kesemparan padanya, se-mentara banyak orang lain yang menolak.
Caroline tahu akal muslihat Steve dan bisa menebak bagaimana karakter pria itu yang se-benarnya. Ia orang yang putus asa. Caroline otomatis merasa dekat dengannya. Caroline tahu bagaimana sakitnya hidup dengan predikat ter-tentu, tahu bagaimana rasanya bila orang menilai diri kita dari penampilan dan latar belakang kehidupan yang tidak bisa kita tolak. Karena veteran perang itu mengatakan pernah bekerja di peternakan kuda di California sebelum perang, Caroline membujuk Roscoe agar bersedia mem-pekerjakannya.
Roscoe tak pernah menyesali keputusannya menerima Steve. Steve memotong pendek rambutnya dan mengubah penampilannya, seakan hendak mengatakan tak perlu lagi ia memamer-kan simbol-simbol pemberontakannya. Ia bekerja giat, sepenuh hati, dan membuktikan kemahiran-nya dalam merawat kuda-kuda keturunan murni. Pria itu hanya butuh dukungan untuk me-mantapkan rasa percaya dirinya.
Caroline merenungkan semua itu ketika kem-bali ke rumah. Steve dan Laura saling mencintai. Ia menggeleng, tersenyum, saat memasuki se-rambi. Telepon berdering, secara otomatis ia mengangkatnya sebelum Haney. "Halo?"
"Caroline, ini Granger."
"Ya?"
"Aku sudah bicara dengan Rink. Ia akan datang secepatnya, mungkin malam ini.
Banyak hal yang harus diselesaikan petang itu, banyak orang yang harus diberitahu. Roscoe tidak punya sanak saudara kecuali putra dan putrinya, karena itu masalah kerabat tak perlu dipikirkan. Tetapi penduduk kota, juga warga Mississippi, ingin tahu penyakit Roscoe. Caroline berbagi tugas dengan Granger untuk meng-hubungi mereka lewat telepon.
"Haney, sebaiknya segera siapkan kamar Rink. Dia akan datang malam ini."
Mendengar berita itu, pengurus rumah tangga tersebut tampak seperti ingin menangis. "Puji Tuhan, Puji Tuhan. Aku sudah lama berdoa agar anakku yang satu itu mau pulang. Ibunya yang di surga pasti menari-nari hari ini. Pasti ia senang sekali. Yang dibutuhkan kamar itu hanya seprai baru. Aku selalu membersihkannya, kalau-kalau suatu hari ia kembali menempatinya. Tuhan, Tuhan, aku ingin sekali segera berjumpa dengannya."
Carolie berusaha tidak memikirkan saat ketika ia harus berjumpa anak kesayangan itu, berbicara dengannya. Ia menyibukkan diri dengan setum-puk tugas yang harus diselesaikannya.
Ia juga tidak memikirkan kematian Roscoe yang semakin dekat. Itu akan dipikirkannya nanti, saat ia sendirian. Tidak juga waktu ia berkunjung ke rumah sakit petang hari itu dan duduk di samping ranjang suaminya, ia tidak membiarkan benaknya dipenuhi pikiran Roscoe takkan pernah meninggalkan tempat itu, Suaminya masih di bawah pengaruh obat bius, tetapi Caroline merasa tangannya ditekan pelan waktu ia menggenggam tangan Roscoe dan meremasnya sebelum pamit.
Saat makan malam, ia memberitahu Laura Jane tentang kabar kepulangan Rink. Gadis itu melompat dari kursi, menyambar tangan Haney, dan menari-nari mengelilingi ruangan. "Ia me-mang berjanji suatu hari akan pulang, bukan, Haney? Sekarang Rink pulang. Aku ingin mem-beritahu Steve." Laura langsung lari keluar lewat pintu belakang menuju kandang kuda, ke tempat tinggal Steve.
"Gadis itu akan mempermalukan dirinya sen-diri bila ia tidak membiarkan pemuda itu sen-dirian."
Caroline tersenyum penuh arti. "Aku tidak berpendapat begitu." Haney menengadah dan menaikkan alis karena penasaran, tetapi Caroline tidak meneruskan kata-katanya. Ia mengambil gelas es teh lalu berjalan ke teras depan. Waktu duduk di kursi goyang bercat putih, ia menyandarkan kepala pada bantalan kursi bersarung kain kembang-kembang dan memejamkan mata.
Inilah saat yang paling disukainya ketika menghuni The Retreat, waktu hari menjelang malam, ketika sinar lampu di dalam rumah menyelinap ke luar dari celah-celah jendela, yang kelihatan seperti kemilau permata. Bayang-bayang memanjang dan berwarna-warni, saling menyatu sehingga tak ada sudut atau bentuk yang jelas.
Warna langitnya sangat khas, gradasi ungu yang cantik. Pepohonan menjulang di latar depannya. Kodok mengorek di sungai. Suara jangkerik menggema di udara tak berangin dan lembap dengan nada tinggi melengking. Tanah di delta itu menyebarkan bau yang subur. Setiap kuntum bunga menghamburkan harum yang unik dan memabukkan.
Setelah lama beristirahat, Caroline membuka mata. Ketika itulah ia melihat pria tersebut.
Ia berdiri tak bergerak di bawah dahan pohon ek yang menjulur. Jantung Caroline seperti berhenti berdetak dan pandangannya kabur. Ia tidak tahu apakah sosok pria itu sungguhan atau hanya ilusi. Kepalanya pening, dicengkeramnya gelas es teh erat-erat supaya tidak lolos dari cengkeraman jemarinya yang kaku dan dingin.
Pria tersebut bergerak menjauh dari dahan pohon dengan gerakan seperti harimau dan da-lam diam, makin lama makin dekat sampai akhirnya ia tiba di anak tangga batu yang me-nuju teras.
Ia hanya salah satu dari banyak bayangan yang ada, tetapi siluet maskulinnya jelas terlihat ketika ia berdiri dengan kaki terbuka lebar. Secara fisik, waktu tampaknya bermurah hati padanya. Ia tidak lebih kurus daripada saat per-tama kali Caroline berjumpa dengannya. Ke-gelapan malam menyembunyikan wajah pria itu dari pandangan Caroline, tetapi Caroline dapat melihat kilatan giginya yang putih ketika ia mulai tersenyum.
Senyumnya ramah, sebagaimana juga nada bicaranya.
"Well, kalau tak salah, kau Caroline Dawson." Ia meletakkan sebelah kakinya yang mengenakan sepatu bot di anak tangga dan membungkukkan badan, satu tangan bertopang di lutut. Ia me-natap Caroline, sinar lampu dari pintu utama menerpa wajahnya. Dada Caroline terasa sesak oleh perasaan sakit... dan cinta. "Ya, tapi sekarang sudah menjadi Lancaster, bukan?"
Wajah itu! Wajah yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi dan khayalannya. Wajah tetap pa-ling memesona yang pernah dilihatnya. Tampan ketika berusia dua puluhan, dan makin tampan dalam usia tiga puluhan. Rambut hitam, yang bagai menggambarkan keliaran jiwanya dengan helai-helainya yang tak bisa dikendalikan. Sorot matanya, yang memikat Caroline sejak pertama kali melihatnya, menggugah perasaannya lagi. Orang yang tidak punya imajinasi akan me-nyebutnya cokelat muda. Padahal warnanya ke-emasan, seperti warna madu murni, liquor paling mahal, seperti batu ratna cempaka berkilau.
Terakhir kali ia berjumpa pria itu, mata tersebut penuh gairah. Besok... Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita ini. Oh, Tuhan, Caroline, cium aku lagi. Kemudian: Besok, besok. Hanya saja ia tidak muncul keesokan harinya, dan selamanya.
"Lucu," komentarnya dengan nada yang mem-buat Caroline berpikir sebaliknya, "kita menyan-dang nama keluarga yang sama."
Tak ada tanggapan untuk yang satu itu. Ingin rasanya Caroline berteriak bahwa mereka bisa memakai nama keluarga yang sama beberapa tahun yang lalu andai pria itu bukan penipu, andai ia tidak mengkhianatinya. Ada beberapa hal yang lebih baik tidak diungkapkan. "Aku tidak melihat mobilmu."
"Aku terbang, mendarat, dan berjalan kaki kesini.
Landasan pacu kira-kira satu setengah kilo-meter jauhnya. "Oh. Mengapa?"
"Mungkin karena ingin tahu bagaimana sam-butan yang akan kuterima."
"Ini kan rumahmu, Rink."
Ia memaki. "Yeah, tentu rumahku."
Caroline membasahi bibir dengan lidah dan berharap punya keberanian untuk tetap meng-hadapinya. Ia takut kakinya tak mampu me-nopang tubuhnya. "Kau tidak menanyakan kabar ayahmu."
"Granger sudah memberitahu aku."
"Kalau begitu kau tahu ia sekarat."
"Ya. Dan ia ingin bertemu aku. Rupanya keajaiban tak pernah lenyap."
Komentarnya yang menyakitkan itu membuat Caroline bangkit dari duduk tanpa berpikir dua kali. "Ia sakit keras, Rink. Bukan seperti yang kaukenal dulu."
"Andai masih tersisa satu tarikan napas dalam tubuhnya pun, ia persis seperti aku mengingatnya."
"Aku tak mau berdebat denganmu tentang hal itu."
"Aku bukan berdebat."
"Dan aku takkan membiarkan kau mengecewa-kannya atau Laura Jane atau Haney. Mereka ingin bertemu denganmu."
"Kau tidak akan membiarkan? Astaga, astaga. Kau betul-betul menganggap dirimu nyonya rumah The Retreat, ya?"
"Tolonglah, Rink. Beberapa minggu ke depan segalanya akan cukup sulit tanpa...."
"Aku tahu, aku tahu." Tarikan napas panjang-nya terdengar sampai ke tempat Caroline berdiri tegang di teras, tangannya mengepal erat. Ia meletakkan gelas es teh di pagar teras karena takut menjatuhkannya. "Aku juga tidak sabar hendak bertemu mereka," katanya dan melirik ke arah kandang kuda. "Aku lihat Laura Jane keluar dari rumah itu beberapa saat yang lalu, tetapi aku tidak ingin muncul tiba-tiba dalam gelap dan mengejutkannya. Aku mengingatnya sebagai gadis kecil. Tak kusangka ia sudah dewasa sekarang."
Ingatan akan Laura Jane dan Steve yang berlutut di tumpukan jerami di kandang kuda, jari-jari Steve mengelus pipi Laura, melintas di benak Caroline. Ia tidak tahu apa pendapat Rink bila tahu hubungan asmara adik perem-puannya itu. Ia jadi resah menerka-nerka. "Ia perempuan dewasa sekarang, Rink."
Caroline merasakan tatapan mata Rink pada dirinya, menelusuri, menganalisis, menilai. Tu-buhnya seperti dilumuri brendi yang menyentuh setiap inci. "Dan kau," katanya lembut. "Kau juga perempuan dewasa sekarang, bukan, Caroline? Perempuan dewasa."
Caroline sama sekali tidak berubah. Kecantikan gadis lima belas tahun yang dikenalnya kini mendewasa. Ia berharap bertemu Caroline yang gendut, kumal, kusut, berambut kusam, dan berpaha besar. Ternyata ia masih ramping, dengan pinggang yang seolah akan patah bila ditiup angin. Dadanya berisi dan lembut, namun tetap tegak, bulat, dan mengundang. Sialan! Seberapa sering ayahnya menyentuhnya?
Ia menaiki anak tangga perlahan-lahan, seperti pemangsa yang kelaparan tetapi hendak menyiksa korban sebelum melahapnya. Matanya yang ke-emasan, berkilat dalam kegelapan, nanar menatap Caroline. Senyum lebar di bibirnya menyiratkan pemahaman yang licik, seakan pria itu tahu apa yang ada dalam benak Caroline yang ingin di-lupakannya, bagaimana bibir pria itu menyentuh bibirnya, lehernya, dadanya.
Caroline berbalik. "Aku panggilkan Haney. Mungkin ia...."
Tangan Rink menyambar pinggang Caroline, membuat langkahnya terhenti. Ia memaksa Caroline menghadap ke arahnya "Tunggu seben-tar," katanya tenang. "Setelah dua belas tahun, tidakkah kau merasa kita bisa saling menyapa dengan lebih akrab?"
Tangannya yang bebas menyentuh tengkuk Caroline dan mendorong wajah wanita itu ke wajahnya. "Ingat, kita sekarang keluarga," bisik-nya dengan nada mengejek. Kemudian bibirnya mencium bibir Caroline, kasar dan penuh ke-marahan. Diciuminya bibir Caroline dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam ketika ia memikirkan Caroline, Caroline-nya yang polos, yang berbagi tempat tidur, tubuhnya, dengan ayahnya.
Caroline menyarangkan tinju ke dada pria itu. Terdengar suara mengerang keras. Lututnya lemas. Ia berusaha memberontak. Ia memberon-tak lebih keras. Karena ia ingin memeluk laki-laki itu, mendekapnya erat, merasakan kembali getaran yang pernah dirasakannya ketika berada dalam pelukannya.
Tetapi ini bukanlah pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan bibirnya.
Ketika ia berhasil melepaskan diri, Rink me-masukkan tangan ke saku celana jinsnya dan tersenyum mengejek penuh kemenangan melihat ekspresi marah dan bibir merah Caroline. "Salam, Mom," dengusnya.



Bab 2

CAROLINE merasa napasnya sesak. Dadanya turun-naik menahan amarah dan perasaan terhina. "Kasar sekali bicaramu. Bagaimana kau bisa sekejam itu?"
"Bagaimana kau bisa menikah dengan laki-laki tua bajingan yang kebetulan ayahku itu?"
"Ia bukan bajingan. Ia sangat baik padaku."
Tawa Rink pendek. "Oh, jadi ia sangat baik padamu. Karena mutiara di telingamu itu? Berkat berlian yang gemerlap di jarimu? Kau sekarang orang terhormat di dunia ya, Caroline si gadis sungai? Kini kau penghuni rumah mewah The Retreat. Tidakkah kau ingat, kau pernah me-ngatakan padaku kau bersedia melakukan apa pun agar bisa menghuni rumah ini?" Rink agak memiringkan badan ke arah Caroline ketika mengucapkan kata-kata itu sambil mendengus. "Biar kutebak apa yang kaulakukan pada ayahku sampai ia mau menikahimu."
Caroline menampar muka Rink keras-keras. Itu dilakukan Caroline tanpa berpikir panjang.
Sedetik yang lalu Rink melontarkan penghinaan-nya, detik berikutnya Caroline mendaratkan tela-pak tangannya di pipi Rink. Membuat telapak tangannya terasa panas. Ia berharap demikian pula pipi Rink.
Rink melangkah mundur sambil tersenyum sinis. Senyum yang membuat amarah Caroline lebih menggelegak daripada ucapannya yang me-nyakitkan. "Apa pun yang kulakukan pada ayah-mu, jauh lebih baik daripada apa yang kaulaku-kan padaku selama dua belas tahun ini. Ayahmu nelangsa, sendirian di rumah ini, menyesali dirimu.
Tawa Rink kembali terdengar. "Menyesali? Indah sekali, Caroline. Menyesali." Rink menekuk salah satu lututnya, sehingga berat badannya bertumpu pada kaki yang satu lagi dengan sikap angkuh. "Mengapa aku sulit membayangkan ayahku menyesali sesuatu? Apalagi kepergianku."
"Aku yakin ia ingin kau tinggal di sini."
"Ia bahagia kalau tidak berurusan denganku, begitu juga sebaliknya," jawab Rink kasar. "Ja-ngan bermanis-manis lagi. Kalau kaupikir Roscoe sayang padaku, kau cuma berkhayal."
"Aku tidak tahu apa penyebab pertengkaran kalian dulu. Yang jelas, sekarang ia sakit parah, Rink. Ia sekarat. Janganlah mempersulit situasi yang sudah sulit."
"Siapa yang punya gagasan menghubungi aku, kau atau Granger?"
"Roscoe."
"Granger bilang begitu. Tetapi aku tidak per-caya."
"Tetapi begitulah adanya."
"Kalau begiru, ia punya alasan lain."
"Roscoe ingin melihat putranya sebelum me-ninggal!" teriak Caroline. "Itu alasan yang cukup kuat!"
"Tidak untuk Roscoe. Ia manusia licik, mani-pulatif, bajingan. Andai ia ingin aku di sisinya menjelang ajalnya, percayalah, ia pasti punya alasan."
"Tidak pantas kaubicara seperti itu tentang ayahmu padaku. Ayahmu suamiku."
"Itu masalahmu."
"Caroline? Siapa—Oh, Tuhan. Rink!" Haney menghambur keluar melewati pintu kasa lalu memeluk Rink erat-erat. Rink membalas pelukan-nya. Caroline berkaca-kaca ketika melihat ke-getiran dan kesinisan di wajah Rink berganti dengan senyum riang. Matanya yang keemasan memancarkan kebahagiaan, giginya yang putih berkilat di balik senyumnya yang lebar.
"Haney! Oh, aku sangat merindukanmu."
"Seharusnya kau lebih sering mengirim surat padaku," gerutu Haney sambil menegakkan tu-buh dan pura-pura marah.
"Maafkan aku," jawab Rink singkat, sementara matanya tetap menyiratkan kebandelan seperti dulu, saat Haney menangkap basah ia mencuri kue dari stoples. Dan ia selalu berhasil meloloskan diri. Seperti yang dilakukannya sekarang lni.
"Jadi kau sudah bertemu Caroline," kata Haney, sambil menatap keduanya dengan mata berbinar-binar.
"Oh, ya. Aku sudah bertemu Caroline. Kami sedang mengobrol."
Perempuan tua itu tidak melihat lirikan mata yang sekilas dilemparkan Rink kepada Caroline. "Makanmu pasti tidak benar, aku yakin. Kerja keras mencari uang, muncul di berbagai surat kabar terus, tetapi badanmu tetap saja seperti orang kurang makan. Ayo masuk. Aku sudah menghangatkan makan malammu."
"Dan pecan pie. Baunya tercium dari sini," goda Rink, sambil mendorong tubuh Haney ke pintu.
"Aku membuatnya bukan khusus untukmu saja.
"Jangan begitu, Haney. Kita kan sudah kenal lama."
"Kebetulan juga kami masak ayam untuk makan malam."
Pada minggu-minggu pertama kepindahannya sebagai nyonya rumah yang baru di The Retreat ini, Caroline merasa dirinya seperti tamu tak diundang. Tetapi bulan-bulan berlalu. Laura Jane bisa menerimanya sebagai sahabat. Haney pun mulai menyukai dirinya. Tetapi saat ini, melihat Rink di rumah ini, mendengar derap sepatu botnya di lantai kayu dan suaranya yang meng-gema di ruangan yang berlangit-langit tinggi, kembali Caroline merasakan dirinya seperti orang asing. Rink-lah pemilik rumah ini. Bukan diri-nya.
Ketika mengikuti mereka sampai ke dapur, Caroline melihat Haney menyuruh Rink duduk di meja bundar dari kayu ek yang penuh ber-macam-macam hidangan. Rink mengamati ruangan itu. "Tak ada yang berubah," kata Rink hangat.
"Dapurnya kucat lagi beberapa tahun yang lalu," ujar Haney. "Tetapi kuberitahu ayahmu aku tak akan mengganti warna catnya. Aku ingin segalanya tetap sama seperti ketika kau masih tinggal di sini."
Rink menelan, dan menggeser-geser makanan di piringnya dengan garpu. "Aku tidak akan tinggal di rumah ini selamanya, Haney. Hanya sampai Daddy... kembali pulih seperti semula."
Tangan Haney yang sibuk bekerja langsung berhenti. Ia menatap Rink seperti menatap anak laki-laki momongannya. "Aku tak ingin kau pergi dari rumah ini lagi, Rink. Ini rumahmu."
Mata Rink melirik Caroline sesaat, lalu kem-bali pada piring makanannya. "Tak ada gunanya lagi aku tinggal di sini," ujar Rink marah sebelum menyuapkan makanan ke mulut.
"Siapa bilang? Masih ada Laura Jane," Caroline mengingatkan Rink dengan suara lembut. Karena tidak mau hanya berdiri di dekat pintu, Caroline memaksakan diri melangkah masuk ke dapur. Caroline tidak ingin Rink tahu kedatangan pria itu di rumah ini membuatnya merasa terancam di rumahnya sendiri. Ia toh belum menjadi janda Roscoe. Sebagai istri, Caroline merasa pu-nya hak tetap tinggal di rumah ini. Caroline berjalan ke lemari es, mengambil segelas teh es yang sebetulnya tak diinginkannya.
"Diberkatilah dia, Rink," ujar Haney sambil mengelap gelas yang sudah mengilap bersih. "Tiap hari ia menyuruhku memeriksa kotak pos, kalau-kalau ada surat darimu. Demi dia, kau tidak boleh meninggalkan rumah ini, kendati kau bertengkar hebat dengan ayahmu."
"Aku benci tidak bisa tinggal di sini untuk dia. Apakah ia baik-baik saja?" "Tentu, tentu. Sangat cantik." "Bukan itu maksudku."
Haney meletakkan gelas di meja. "Aku tahu yang kaumaksud," ujar Haney datar. "Ya, Laura baik-baik saja. Aku tahu dari pertanyaan-per-tanyaanmu tentang dia di dalam surat-suratmu bahwa kau tidak dapat membayangkan bagai-mana keadaan Laura, Rink. Laura memang tidak pandai secara akademis, tetapi banyak hal yang dipelajarinya dari sekelilingnya. Kau memang tidak ada di sini untuk melindunginya, tetapi perasaan posesifmu sekuat induk beruang terhadap anaknya. Laura tumbuh menjadi perem-puan cantik. Ingat. Ia sudah dewasa sekarang, barangkali tak bisa lagi diperlakukan seperti benda rapuh yang mudah. pecah. Ia perempuan muda yang cantik. Bila kebetulan warga setempat berjumpa dengannya, sedikit yang menyadari ia berbeda."
"Tetapi ia berbeda," tukas Rink.
"Tidak terlalu," sela Caroline. "Ia tahu perkem-bangan dunia, tetapi emosinya tidak stabil. Aku lebih mencemaskan kelabilan jiwanya ketimbang perkembangan mentalnya. Andai orang yang di-cintainya mengecewakannya, sakit hatinya pasti sulit disembuhkan."
Mata Rink tak beralih sedikit pun dari wajah Caroline ketika ia mengelap mulutnya dengan serbet dari bahan katun. Dilemparkannya serbet itu, lalu menarik kursinya dari meja. "Terima kasih untuk ceramahnya, Kakak Caroline. Akan selalu kucamkan hal itu."
"Aku bukannya bermaksud—"
"Begitulah yang kaumaksud," potong Rink sambil mengambil teko kopi, menuang isinya ke dalam cangkir.
"Rink Lancaster, tidak pantas kau bersikap begitu pada Caroline." Haney terkejut melihat sikap bermusuhan kedua orang di hadapannya. Belum lima menit mereka berkenaJan, tetapi sudah saling bermusuhan. Jelas Rink tidak setuju ayahnya mengambil wanita muda seperti Caroline sebagai istri. Namun Rink sendiri sudah dua belas tahun meninggalkan rumah. Apakah ada pengaruh pernikahan Roscoe bagi dirinya? Ke-cuali kalau menyangkut The Retreat. "Mana tata krama yang ibumu dan aku ajarkan? Ingat, Caroline istri ayahmu. Ia harus kauhormati se-bagaimana mestinya."
Rink, yang terus menatap Caroline, mencibir sinis. "Ibu tiriku. Aku selalu lupa hal itu."
"Itu Laura Jane datang," seru Haney sambil memandang kedua orang yang ada di dapur tersebut. "Jangan kacaukan hatinya, Rink. Cukup satu kejutan yang harus ia terima hari ini dan ia berhasil mengatasinya dengan baik."
Suara Laura Jane yang lembut menembus pintu kasa sebelum ia membukanya. Laura berdiri tertegun. Tubuhnya yang ramping seperti patung dewi Yunani, diam tak bergerak di ambang pintu ketika melihat kakak laki-lakinya. Sesaat ia bengong, baru kemudian tampak berseri-seri, keceriaan terpancar di matanya, di pipinya, dan akhirnya seulas senyum ceria tersungging di bibir-nya. "Rink," panggilnya lirih.
Ia langsung menghambur mendekati Rink, melingkarkan tangannya yang kurus di leher kakak laki-lakinya itu dan membenamkan wajah di leher kemeja Rink. Rink balas memeluk Laura, mengangkatnya, lalu mengayun-ayunnya ke de-pan dan ke belakang sambil tetap mendekapnya. Matanya dipejamkannya rapat-rapat untuk menekan emosi yang menguasai perasaannya. Laura Jane-lah yang pertama melepaskan pelukan. Dengan jemarinya yang kelihatan rapuh seperti tanpa "semangat hidup, dielusnya wajah kakak laki-lakinya, rambutnya, bahunya, seakan hendak meyakinkan diri bahwa kakaknya benar-benar ada di hadapannya.
"Kau jangkung sekali," komentar Laura. "Dan tegap." Laura tertawa, memegang otot lengan Rink.
"Kau cantik dan begitu dewasa." Rink menga-mati tubuh Laura, gadis muda yang cantik dan halus. Kemudian keduanya tertawa bahagia ka-rena bisa berjumpa. Kembali mereka berpelukan.
"Daddy akan meninggal, Rink," ujar Laura Jane serius ketika akhirnya mereka saling me-lepaskan pelukan. "Caroline sudah memberitahumu...”
"Ya," jawab Rink pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telun-juknya.
"Tetapi sekarang kau sudah ada di rumah. Haney, Caroline, dan Steve... Oh, ya ampun! Aku lupa memperkenalkannya padamu." Laura berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Laura Jane meraih tangan-nya dan menariknya maju. "Steve Bishop, ini kakakku, Rink."
Steve melepaskan jarinya dari genggaman tangan Laura untuk menyalami Rink, yang memandangnya dengan sorot mata penuh selidik. "Mr. Lancaster, apa kabar?"
"Panggil Rink saja," jawab Rink, menjabat tangan Steve kuat-kuat. "Sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Setahun lebih sedikit."
Rink melirik adik perempuannya lalu kembali memandang si manajer kandang kuda. "Laura Jane pernah menyebut namamu dalam suratnya."
"Salah satu kuda betina melahirkan kemarin, Rink," Laura Jane memberitahu Rink dengan suara riang. "Steve yang menolongnya melahir-kan."
"Saya harus kembali untuk melihat keadaan mereka," kata Steve.
"Tinggallah di sini sebentar, minum teh dan menikmati kue-kue kecil bersama kami," ajak Haney.
Sejenak Steve menatap Rink, lalu memalingkan wajah. "Terima kasih. Saya harus segera melihat anak kuda yang baru lahir itu."
"Besok pagi aku akan menjenguknya, Steve: Boleh?" Laura Jane bertanya sambil menggeng-gam tangan Steve lagi.
"Tentu saja," jawab Steve lembut sambil ter-senyum melihat kepolosan sikap Laura. "Ia pasti rindu sekali padamu bila kau tidak menjenguknya.
Steve melepaskan genggaman tangan Laura dan keluar lewat pintu belakang. "Selamat malam, Steve," ucap Laura.
"Selamat malam, Laura," jawab Steve. Kemu-dian Steve menyentuh pinggir topi koboinya sebagai salam hormat kepada yang lain, meng-hilang di kegelapan malam dengan langkah ter-pincang-pincang.
Rink menatap kepergiannya lalu menutup pintu. Haney sibuk memotong kue pecan pie dan menyendokkan es krim vanila ke atasnya.
"Aku tidak mau, Haney. Terima kasih," ujar Caroline. Lewat ekor matanya, ia melihat Rink memandanginya. "Hari ini aku letih sekali. Ku-ra$a aku mau isdrahat dulu."
"Ada yang kaubutuhkan?" tanya Haney, pri-hatin.
"Tidur nyenyak," jawab Caroline. Dicon-dongkannya badannya ke arah Laura Jane, lalu diciumnya pipinya. "Selamat malam. Besok pagi kita sama-sama ke rumah sakit dan kau bisa menemui ayahmu."
"Ya, aku mau. Selamat malam. Kau juga gembira Rink pulang, kan, Caroline?"
"Ya, tentu saja." Caroline menegakkan tubuh dan bertemu pandang dengan Rink. "Haney sudah menyiapkan kamarmu. Selamat malam, Rink."
Sebelum Rink sempat menjawab, Caroline su-dah keluar pintu, meninggalkan ruang makan menuju loteng. Ternyata berat buat Caroline untuk berada dalam satu ruangan dengan Rink. Selain itu, Rink, Laura Jane, dan Haney, yang mengasuh mereka sepeninggal Marlena, perlu waktu bersama mereka tanpa dirinya.
Suara langkah kakinya di lorong atas teredam karpet Oriental yang terhampar di sepanjang lorong. Dua lampu di sisi ranjang menerangi kamar tidurnya. Salah satu lampu itu dimatikan-nya. Berada dalam kegelapan terasa lebih nyaman bagi Caroline malam itu; seakan kegelapan mam-pu menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dilihatnya, tak ingin dipikirkannya. Caroline ber-diri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang The Retreat yang luas 4an dataran landai ditumbuhi rerumputan yang mengarah ke sungai. Bulan separo tampak di langit, tetapi ia dapat melihat pantulannya di permukaan air dari kejauhan. Segalanya terasa begitu damai.
Caroline hanya butuh ketenteraman. Tiga pu-kulan berat menghantamnya hari ini. Ia tahu suaminya akan meninggal. Steve bersikap lebih daripada sekadar teman terhadap Laura Jane, bahkan lebih daripada mengasihani. Dan Rink, yang kini pulang.
Sambil menarik napas dalam, ia menjauhi jendela dan membuka pakaiannya. Setelah bathtub dipenuhi air hangat, Caroline berendam di dalam bathtub yang penuh busa wangi sambil memejamkan mata. Saat itulah dibiarkannya dirinya menangis. Untuk Roscoe. Selama ini Roscoe frustrasi gara-gara penyakitnya, tetapi laki-laki itu berkeras tidak mau memeriksakan diri ke dokter. Buat pria yang penuh vitalitas seperti Roscoe, kenyataan dirinya diserang penyakit sulit diterima. Barangkali akan jauh lebih baik bila maut segera menjemputnya. Memaksa Roscoe yang selalu penuh semangat dan ambisi berbaring tak berdaya dan hanya bisa mengeluh kesakitan di ranjang rumah sakit selama berbulan-bulan juga sangat tidak manusiawi.
Caroline berendam di bathtub beberapa lama sampai air matanya mengering dan air mandinya dingin. Ia ingin cepat-cepat tidur. Seisi rumah sudah senyap. Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya ketika ia menarik bedcover ran-jang. Caroline terlonjak karena terkejut.
Dari pintu kamar yang dibukanya sedikit, Caroline melihat sosok seseorang di bawah cahaya remang-remang, berdiri di lorong rumah yang sunyi. "Ada apa?"
"Aku mau bicara denganmu."
Rink langsung menerobos masuk. Karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan, Caroline tak pu-nya pilihan lain kecuali membiarkan pria itu masuk dan menutup pintu kamarnya. Rink ber-diri di tengah kamar, pelan-pelan berbalik, memerhatikan semua perabot yang ada di dalam kamar. Ia melangkah ke dekat jendela, tangannya menyentuh tirai, seperti mengingat-ingat suasana kamar itu di masa lalu. Diamatinya barang-barang antik yang ada di meja rias. Ia melirik ke arah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Apakah ia mencari sosok anak laki-laki kecil seperti dulu?
"Dulu ini kamar tidur ibuku," ucap Rink akhirnya.
Tangan Caroline yang berkeringat saling meng-genggam di pinggang. "Ya, aku tahu. Kamar yang cantik. Salah satu yang kusuka di rumah ini.
"Cocok untukmu," komentar Rink, sambil mengamati pantulan tubuh Caroline yang berdiri di belakangnya di cermin. "Sebagaimana cocok untuk ibuku. Kamar ini sangat perempuan."
Ketika Rink tak juga mengalihkan pandangan dari dirinya, sadarlah Caroline akan pakaian yang membungkus tubuhnya. Pakaian tidur beri-kut jubah luarnya itulah yang jelas membuat tatapan mata Rink yang penuh hasrat tersebut tertuju padanya. Caroline sadar ia belum menge-nakan apa-apa di balik baju tidur, meskipun tubuhnya tertutup dari dada sampai ujung kaki. Dan yang paling meresahkannya adalah mengetahui Rink menyadari hal itu juga.
Tatapan matanya yang tajam berhenti di dadanya, di pinggangnya, di bawah pinggangnya. Seperti merespons perintah tanpa kata-kata, bagian-bagian tubuh itu bangkit dan bereaksi. Dada Caroline menegang. Pangkal pahanya bagai merekah. Caroline memaki-maki tubuhnya, menyumpahi diri, tetapi juga tak berdaya menekan dorongan hasrat yang menggebu-gebu, mengaliri setiap simpul saraf tubuhnya karena sorot mata keemasan itu.
Rink menggenggam segelas bourbon, lalu me-neguknya dengan penuh kenikmatan. Ia betul-betul menikmati cairan minuman keras yang membakar tenggorokan itu mengalir turun me-nuju perutnya. "Rupanya Daddy tetap menyukai wiski mahal," komentar Rink. "Dan perempuan cantik. Kau kelihatan sangat cantik di dalam kamar ini, Caroline, apalagi dengan sinar lampu remang-remang yang menimpa rambutmu." Kembali Rink mengamati sekujur tubuh Caroline lewat cermin, kemudian berbalik dan menjauh.
Rink melangkah ke arah kursi malas di pojok kamar dan merebahkan diri di kursi itu. Tetapi rupanya kursi tersebut dirancang untuk tubuh perempuan, bukan Rink. Ujung sepatu botnya menggantung. Dengan satu tangan dipeganginya botol minuman keras yang diletakkannya di pe-rur, sementara tangannya yang satu lagi diletak-kan di bawah kepala, sambil matanya tetap memandangi Caroline bak burung rajawali yang mengincar mangsa. Caroline berdiri resah di tempat yang sama dengan ketika Rink memasuki kamar.
"Ibu dan Daddy tidak pernah tidur bersama di kamar ini," kata Rink enteng, tetapi Caroline tidak tertipu. Tak pernah Rink mengatakan se-suatu tanpa alasan. "Masih segar dalam ingatanku peristiwa hari itu, ketika Daddy meminta ibuku tidak mempersoalkan keinginannya pindah ke kamar tidurnya sendiri setelah Laura Jane lahir. Berjam-jam lamanya Ibu menangis. Sejak itu Daddy tidak pernah tidur bersama Ibu lagi." Kembali Rink meneguk wiskinya dan tertawa keras. "Kurasa Daddy tak pernah memaafkannya gara-gara Laura Jane."
"Ia mengasihi Laura Jane," protes Caroline. "Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik buat Laura."
Kembali tawa Rink meledak, kali ini lebih keras lagi. "Oh ya? Ia memang pandai melakukan hal-hal seperti itu. Melakukan hal yang dipikirnya baik untuk seseorang."
Caroline memaksa dirinya bergerak. Ia melang-kah ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya, mengencangkan tali pinggang baju tidurnya. "Jadi masalah ini yang hendak kaubicarakan denganku?"
"Tentang suami-istri yang tidur seranjang?' tanya Rink, sambil menaikkan salah satu alis matanya. "Atau tentang Laura Jane?"
Jelas Rink mencari gara-gara. Di mana kelem-butan laki-laki ini? Kelembutan yang pernah ditunjukkan pria itu kepadanya ketika mereka berjumpa sembunyi-sembunyi atau ketika mereka saling mencurahkan isi hati? Rink seperti orang asing baginya, padahal dulu ia begitu akrab dengannya.
Kemeja Rink tidak dikancing, terbuka. Dada-nya kelihatan bergerak naik-turun tiap kali ia menarik napas. Caroline masih ingat penampilan Rink ketika ia pertama kali melihatnya, air sungai menitik turun di dadanya yang bidang dan rambut hitamnya yang kusut. Perutnya masih keras dan rata sekarang, tetap berotot. Sebaris rambut hitam membelah tubuh itu menjadi dua bagian yang sempurna, sebelum akhirnya ter-tutup garis pinggang celana jinsnya. Di balik celana jins yang ketat itu membayang kejantanan-nya.
Dengan gugup Caroline cepat-cepat mem-buang pandangan dari tubuh Rink. "Mengapa kau ingin membicarakan masalah itu denganku? Aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran antara kau dan ayahmu."
Rink merasa kata-kata Caroline lucu dan ia tertawa geli beberapa saat, sambil tetap dengan asyik menghabiskan wiski. Kemudian ia bangkit dari kursi malas dan berjalan menghampiri Caroline. Sinar lampu kamar yang satu-satunya itu memantulkan bayangan hitam tubuh Rink. Ia menakutkan, berbahaya, dan memikat. Caroline berusaha tidak menunjukkan perasaan takutnya terhadap Rink. Bukan takut mem-bayangkan apa yang akan dilakukan Rink ter-hadap dirinya, tetapi takut terhadap respons yang muncul dari dalam dirinya bila Rink benar-benar melakukan sesuatu.
"Aku butuh mobil besok pagi. Aku menemui-mu untuk meminjam mobil."
"Oh, boleh," sahut Caroline sambil menarik napas lega. "Kuambilkan kuncinya." Caroline bangkit dari ranjang, berusaha sebisa mungkin tidak bersinggungan dengan tubuh Rink ketika bangkit. Namun ketika ia melewati Rink, sesaat pahanya menyentuh paha Rink dan ia merasakan ototnya berkontraksi. Caroline cepat-cepat bergerak menjauh menuju lemari tempat ia menyim-pan tas. Dengan jari-jari gemetar, Caroline men-cari-cari kunci mobilnya, yang akhirnya ditemukannya dan langsung diletakkannya di telapak tangan Rink. "Mau ke mana kau pagi-pagi?"
"Aku ingin menemui dokternya sebelum ber-temu Daddy. Aku akan kembali menjelang siang untuk mengantarmu dan Laura Jane ke rumah sakit, bila kau bersedia."
"Ya, boleh saja. Tetapi pagi-pagi ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu." "Urusan di pemintalan kapas?" "Ya, aku harus memeriksa pembukuannya." "Ya, kudengar soal itu dari Granger. Katanya, kau banyak membantu pekerjaan Daddy sebelum menikah dengannya." Rink maju selangkah lebih dekat. Napasnya yang hangat dan berbau bourbon mahal menerpa wajah Caroline.
"Granger berlebihan." Caroline berusaha memiringkan tubuh, tetapi dengan sengaja Rink juga memiringkan tubuh. Yang terjadi, taktik yang semula dilakukan untuk menghindari Rink malah membuat tubuh mereka lebih rapat.
"Aku tidak yakin. Aku berani bertaruh kau sangat diperlukan Daddy dalam banyak hal, bukan?"
Mata Caroline berkilat marah ketika melirik Rink. "Mengapa kau menyindirku terus-menerus, Rink?"
"Karena aku selalu tergelitik untuk melihat reaksimu dengan mengganggumu, itulah alasan-nya. Caroline, yang begitu muda, begitu manis, begitu sederhana, begitu... polos." Kata-kata itu meluncur deras dari bibir Rink bak air yang mengucur dari keran yang terbuka.
Caroline mengangkat tangan, tetapi Rink me-nangkap tangan itu dan memelintirnya ke bela-kangnya, menarik tubuh Caroline mendekat ke tubuhnya. Dada Caroline menempel di dada Rink yang bidang. Ibu jari kaki Caroline ber-singgungan dengan ujung sepatu bot Rink. Wajah Rink hanya beberapa inci dari wajahnya. Ketika ia berbicara, setiap kata yang meluncur dari bibirnya diucapkan dengan penuh amarah.
"Pernah kubiarkan kau menamparku, tetapi bila kau berani menamparku lagi, kau akan menyesali perbuatanmu."
"Apa yang akan kaulakukan? Balas menampar-ku?"
Rink tersenyum mengejek. "Oh, tidak akan. Bukan begitu caraku membalasnya. Aku akan melakukan sesuatu yang sangat tidak kausukai." Rink merapatkan tubuh Caroline ke tubuhnya yang bereaksi, membuat Caroline seketika me-ngerti maksud ucapan Rink. Rink menundukkan kepalanya lebih dekat. "Atau kau menyukainya, Caroline? Hmm?" Gesper ikat pinggang Rink menyentuh pakaian tidur Caroline, menggores perutnya. "Di mata setiap orang kau memang Mrs. Roscoe Lancaster. Tetapi bagiku kau tetap Caroline Dawson. Gadis muda yang melintas hutan untuk bekerja di musim panas... sambil perlahan-lahan membuatku gila."
Caroline menatap Rink. Sorot matanya menan-tang. Penuh amarah, bak awan badai yang berembus dari Teluk yang membawa hujan, angin, dan petir. Rambut Caroline yang tadi dipuji Rink tergerai dari wajahnya ke punggung. "Jadi kau masih ingat, Rink. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah kau masih punya ke-nangan akan hal itu."
Sesaat mata Rink membelalak, kemudian me-nyipit. Ia menatap wajah Caroline dengan panas, lama berhenti di bibirnya, kemudian turun dari leher ke buah dadanya, yang kini agak menyem-bul dari balik baju tidurnya, lalu kembali ke atas lagi. Sorot matanya memancarkan per-golakan, pertanda terjadi pergulatan di dalam diri Rink.
"Ya," jawab Rink kasar. "Ya, brengsek! Aku masih mengingatnya."
Caroline dibebaskan begitu mendadak sehingga ia terhuyung dan bersandar di meja riasnya. Ketika keseimbangan tubuhnya kembali, Rink melangkah keluar dari kamar dengan sikap murka.
Sialan! Ia berharap ia tidak ingat semua kenangan manis itu.
Di kamarnya, Rink membuka kemeja, mengisi gelas dengan minuman keras dari botol yang dicurinya di lemari minuman keras ayahnya, lalu merebahkan diri di kursi malas yang selalu diletakkan di dekat jendela. Diteguknya wiski itu, tetapi karena minuman itu sudah kehilangan rasa, diletakkannya gelas tersebut dengan jengkel. Ia membungkuk, membuka sepatu bot, lalu me-lemparkannya ke permadani sehingga menimbul-kan suara gedebuk perlahan.
Sambil bersandar, kepalanya di bantalan kursi yang empuk, dibiarkannya pikirannya menerawang ke masa lalu, ke suatu musim panas ketika ia berusaha kabur dari pemintalan kapas, pengawasan ayahnya, dan panas matahari Mississipi yang menyengat. Ia pergi ke tepi sungai, tanpa pakaian selembar pun terjun ke sungai yang airnya dingin. Ketika ia naik ke darat kembali, sewaktu sedang mengeringkan tubuh dan memakai celana jins, ia melihat perempuan itu....
"Astaga!" teriak Rink. Jari-jarinya meraba-raba hendak menutup ritsleting celana jins. "Sudah berapa lama kau di situ?" Rink ingin tertawa melihat reaksinya. Kalau Rink hanya terkejut melihatnya, gadis itu seperti lumpuh.
Rink tidak mengira gadis itu akan menjawab, tetapi kemudian dengan tergagap ia berkata, "Aku... aku baru saja sampai di sini."
"Hmmm, baguslah, karena aku tadi berenang telanjang bulat. Bila kau datang lebih cepat, kita berdua bisa malu."
Senyum Rink lebar dan penuh percaya diri, penuh keangkuhan. Meski si gadis yang memakai kaus kaki pendek dan sepatu murahan itu masih terkejut dan gemetar, ia berusaha membalas ter-senyum dengan malu-malu. "Kuharap aku tidak mengganggumu," katanya dengan kesopanan yang, dalam situasi seperti ini, membuat Rink geli.
"Tidak, aku sudah selesai. Udara panas sekali. Aku jadi ingin berenang."
"Ya, udaranya memang panas. Karena itulah aku mengambil jalan pintas ini. Di sini lebih teduh ketimbang di jalan raya."
Sejak awal Rink sudah tertarik pada gadis itu. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi juga karena penampilannya yang berbeda. Roknya yang terbuat bahan katun bersih dan licin, tetapi sudah ketinggalan zaman. Blusnya juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, menebarkan aroma sabun cuci, bukan wewangian Youth Dew, yang sepertinya dipakai semua gadis masa itu.
Di balik blus gadis tersebut, Rink melihat garis-garis branya yang putih, yang pastilah sangat tidak nyaman. Gadis-gadis umumnya memakai model yang disebut push-up bra—bra untuk menaikkan payudara, yang bertujuan, Rink yakin, membuat teman kencan mereka tergila-gila.
Ia mengalihkan pandangannya dari payudara si gadis, merasa malu pada dirinya sendiri karena membuat analisis seperti yang dilakukannya ter-hadap gadis-gadis yang dikenalnya. Ia hanya gadis kecil. Lima belas? Enam belas? Paling-paling. Ia tampaknya takut sekali padanya.
Tetapi ya ampun, gadis itu cantik sekali. Kulitnya bersih; matanya kelabu bagai kabut yang melayang rendah di rawa-rawa; tubuhnya indah, molek, menunjukkan lekuk feminin. Ram-butnya mengilap, seperti kayu mahoni yang di-pernis. Tiap kali angin meniup pepohonan di atas kepalanya, sinar matahari menerpa rambut-nya seperti kilatan cahaya di rambut yang lebat itu.
"Kau mau ke mana?"
"Ke kota. Aku kerja di toserba Woolworth."
Rink tidak pernah mengenal gadis yang harus bekerja pada musim panas. Umumnya mereka menghabiskan musim panas dengan berjemur di dekat kolam renang, milik pribadi atau milik umum, sampai bertemu seseorang yang mereka kenal dan merencanakan pesta untuk malam harinya.
"Namaku Rink Lancaster."
Ia menatap Rink dengan sorot mata aneh. Rink mengira karena ia telanjang bulat. Gadis itu berusaha menekan rasa ingin tahunya, tetapi matanya terus berkelebat ke dada Rink, perutnya, dan ritsleting celana jinsnya yang belum tertutup. Biasanya itu justru menaikkan rasa percaya diri Rink, meyakinkannya bahwa dengan mudah gadis itu bisa ditaklukkannya. Ia menganggap reaksi seperti itu sebagai pemberitahuan si gadis tertarik padanya dan bisa diajak kencan. Tetapi sorot mata gadis tersebut yang demikian polos justru menjengkelkan hatinya. Dengan tatapan matanya yang selalu tertuju ke ritsleting celana-nya, Rink resah menyadari hasrat yang tak di-inginkannya makin menggebu saat itu.
Untuk menunjukkan sikap santunnya, ia maju selangkah hendak menyalaminya. Sesaat gadis itu terkejut, tetapi kemudian ia pun menyambut tangan Rink dengan malu-malu. "Caroline Dawson," jawabnya dengan suara gemetar, sambil menatap mata Rink.
Mereka berpandangan.
Waktu bergulir, serangga berderik di atas ke-pala mereka, pesawat menderu di langit tinggi, air mengalir membasahi batu-batuan di tepi su-ngai yang berlumut. Sesudah beberapa lama baru-lah keduanya bergerak dan melepaskan tangan masing-masing.
"Dawson?' Rink mengulang nama keluarga si gadis dan heran mendengar suaranya sendiri jadi sama seperti sepuluh tahun yang lalu, sebelum terjadi "perubahan". "Putri Pete Dawson?"
Gadis itu menunduk dan Rink melihat bahu-nya terkulai. Bodoh! Mengapa ia mengajukan pertanyaan dengan nada tidak percaya seperti itu? Setiap orang kenal siapa Pete Dawson. Se-panjang hari kerjanya main kartu, minta uang pada orang bodoh yang kebetulan bertemu atau berbicara dengannya, sampai ia mendapat uang cukup untuk membeli minuman yang bisa di-nikmatinya sampai keesokan hari.
"Ya," jawab gadis itu lembut. Kemudian, meski agak gemetar, ia mengangkat kepala dengan sikap percaya diri yang membuat Rink lega kembali, dan berkata, "Aku harus segera pergi, kalau tidak nanti aku terlambat kerja."
"Aku senang berkenalan denganmu."
"Aku juga."
"Hati-hati berjalan di hutan." Gadis itu ter-tawa. "Apa yang lucu?"
"Kau memperingatkanku agar berhati-hati, se-mentara kau sendiri berenang di sungai." Gadis itu menunjuk sungai. "Mungkin saja di sana ada ular berbisa, dan siapa yang tahu ada makhluk-makhluk lain apa di sana. Mengapa kau tidak berenang di kolam renang di kota saja?"
Rink mengangkat bahu. "Aku merasa kepanasan."
Ia kepanasan. Tuhan, ia merasa sangat ke-panasan. Ketika tertawa, gadis itu menengadahkan kepalanya ke belakang, menampakkan lehernya yang putih, mulus, dan begitu mengundang. Rambutnya mengilap menutupi leher dan bahu. Bau sabun cuci dan tepung kanji mulai tercium lebih wangi di hidung Rink daripada parfum mahal mana pun. Bau itu begitu membaur dengan aroma kulitnya yang segar. Tawanya yang renyah dan tulus menyentuh hati Rink. Tawa itu mengelus bagian hatinya yang sakit luar biasa.
Ya, Rink kepanasan. Terbakar karena cuaca yang panas. "Pukul berapa kau pulang kerja?" Rink sama terkejutnya seperti Caroline ketika mendengar pertanyaan yang mendadak meluncur keluar dari mulutnya tersebut.
"Pukul sembilan." Dengan hati-hati Caroline mulai melangkah mundur.
"Malam hari? Kau pulang sendirian malam hari?'
"Ya. Tetapi aku tidak lewat hutan. Aku hanya lewat di sini pada siang hari."
Sejenak Rink membayangkannya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenal-nya, di kota Winstonville ini atau di Ol'Miss.
"Aku akan terlambat kerja," ujar Caroline dan makin menjauhkan diri, namun Rink me-rasakan keengganan dalam diri gadis itu.
"Ya, tentu. Jangan sampai terlambat. Sampai nanti, Caroline."
"Sampai jumpa, Rink."
Banyak yang tak terucapkan dengan kata-kata pada waktu mereka berpisah. Rink ingin mereka bertemu lagi. Caroline tak pernah membayangkan mereka bisa berjumpa lagi.
Rink masuk ke mobil convertible-nya. tanpa lewat pintu. Ia langsung melaju pulang ke ru-mahnya, The Retreat, dengan kecepatan tinggi dan masuk ke kamarnya, naik dua anak tangga sekali langkah, dan....
Kini, sebagaimana sebelumnya, bayangan Caroline memenuhi benaknya. Rink ingat memasuki kamar yang sama di suatu sore dua belas tahun yang lalu. Dilemparkannya pakaiannya ke lantai tetapi ternyata pakaian itu jatuh ke kursi yang sama. Ia duduk santai di kursi yang sama saat ini, dengan bayangan perempuan yang sama memenuhi benaknya. Caroline masih menyimpan misteri, masih sulit dipabami, menghantui dan menguasai-nya.
Dan kini, seperti waktu itu, ia sadar, upaya apa pun yang ia lakukan tak mungkin bisa mengobati luka hatinya, tak bisa meredam gejo-lak hasratnya yang membara.




Bab 3

HARI masih pagi ketika ia terbangun. Caroline ingin tidur lebih lama, tidak ingin bangun, tak ingin menghadapi rangkaian krisis berupa penyakit yang diderita Roscoe dan bertemu Rink yang kini kembali tinggal di Winstonville.
Ia mendengar suara pintu depan di lantai bawah dibuka dan ditutup kembali dengan per-lahan sekali. Disibakkannya penutup ranjangnya, lalu berjalan menyusuri lorong yang menuju teras rumah di lantai dua. Sinar matahari belum lagi menerangi pucuk pepohonan, namun cahaya-nya yang berwarna jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Sebuah bintang dan bulan separo tampak jelas di langit yang bersih. Kabut ber-gulung naik, meninggalkan permukaan rumput yang berembun. Lagi-lagi udara akan lembap hari ini.
Tepat di bawah lantai ia berdiri, Caroline melihat Rink memasuki serambi. Rink tampak terpaku di anak tangga paling bawah dan melempar pandangan ke sekeliling rumah, yang Caroline tahu pasti tempat yang sangat disayangi Rink. Tempat yang sangat berarti buat Rink, sepenting tarikan napasnya. Caroline merasa iba, membayangkan Rink, yang memaksakan diri ber-tahun-tahun tinggal jauh dari rumah yang sangat disayanginya.
Dengan langkah pelan Rink menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Ia mengenakan celana jins dan mantel bergaya sport, gaya ber-pakaian yang terlalu mewah untuk koboi pekerja, tetapi cocok buat Rink. Celana jinsnya belel modis, dikanji dan disetrika licin. Caroline terus mengamati Rink yang merogoh saku depan, mencari-cari kunci mobil.
Rink membuka pintu mobil lebar-lebar. Saat itulah tanpa disengaja ia melihat Caroline yang memandanginya dari teras rumah di lantai dua. Rink menopangkan tangan pada atap mobil, balas menatap Caroline.
Caroline tetap berdiri terpaku, tidak berbicara, tidak pula memberi salam pada Rink, hanya matanya yang bicara. Mereka saling menatap. Saiing memandang. Beberapa saat lamanya, di pagi hari yang berlangit keemasan, mereka saling menatap. Di keremangan sinar matahari pagi sosok mereka seperti tidak nyata, di luar jang-kauan waktu. Dalam keakraban yang hening itu mereka melepaskan semua pertahanan diri. Keduanya hanyut mengikuti suara hati mereka.
Tak ada apa pun lagi di dunia ini yang mampu menyelamatkan keduanya.
Sampai akhirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rink memasuk mobil Lincoln-nya dan melaju pergi. Dengan perasaan sedih Caroline kembali ke kamar dan berganti pakaian. Dipandanginya dirinya di depan cermin, ber-tanya-tanya, "Bagaimana bisa terjadi seperti ini?"
Satu-satunya pria yang pernah dicintainya, atau pria yang hampir pernah dicintainya, hanyalah Rink Lancaster. Sesaat mereka menikmati sesuatu; yang sangat istimewa dan langka. Paling tidak, begitulah buat Caroline. Dibiarkannya dirinya berkhayal mendapatkan sesuatu yang kecil ke-mungkinannya bisa diraihnya. Ia tolol sekali waktu itu, begitu memercayai cerita Rink di musim panas itu. Padahal kata-kata Rink tidak punya arti apa-apa. Dirinya hanyalah sekadar| mainan baru buat Rink.
Namun nasib yang tak bisa ditebak menentu-kan lain—dia menikah dengan ayah Rink. Ayah Rinkl Ketika Roscoe melamarnya untuk menjadi istri, lamaran itu bak jalan untuk mewujudkan; mimpi-mimpinya. Untuk mendapatkan kehor-matan, uang. Orang-orang yang selama ini me-rendahkannya, menghinanya selama hidupnya, harus menghormatinya.
Rink sudah pergi, takkan pernah muncul kem-bali. Mengapa tak pernah terlintas dalam benak-nya ada kemungkinan Rink akan kembali? Bagaimana perasaannya bila Rink benar-benar kembali? Benarkah selama ini ia bersikap jujur terhadap dirinya? Apakah ia menikah dengan Roscoe ka-rena ingin membahagiakan Roscoe, membantu mengurus bisnisnya, menjadi teman Laura Jane, bukan karena ingin membuat Rink cemburu dan sedih sebab laki-laki itu meninggalkan diri-nya seenaknya? Tidakkah ini hanya pembalasan untuk perasaan sakit hati yang harus ditanggung-nya ketika Rink meninggalkannya? Tidakkah diam-diam ia berharap Rink mendengar kabar pernikahannya, teringat peristiwa di musim panas dua belas tahun yang lalu, menyulut murka dalam hati Rink?
Caroline tersenyum getir saat melihat pantulan dirinya di cermdn. "Ia hanya geli, Caroline. Ia cuma geli dan jijik."
Haney sudah ada di dapur ketika Caroline turun beberapa saat kemudian untuk minum kopi. "Selamat pagi."
"Pagi sekali kau bangun," komentar Haney dari balik punggungnya.
"Aku harus membayar gaji karyawan, ingin kuselesaikan secepatnya supaya bisa beristirahat." Caroline menyeruput kopi. "Kau juga bangun lebih pagi daripada biasanya."
"Aku ingin menyiapkan sarapan istimewa un-tuk Rink."
"Ia sudah pergi, Haney."
Haney berbalik dan menatap Caroline, seakan memintanya menegaskan kembali apa yang di-dengarnya. "Sudah pergi?"
"Ya, kira-kira sejam yang lalu."
Haney menggelengkan kepala, sambil berdecak. "Tidak teratur makannya dia itu. Aku sibuk membuat sarapan, ia malah keluar lebih cepat, bahkan sebelum aku sempat menghidangkan-nya.
Caroline meletakkan tangannya di pundak Haney, menghiburnya. "Mengapa tidak diberikan kepada Laura Jane? Minta Laura memanggil Steve ke sini untuk menikmatinya bersamanya. Aku yakin mereka akan senang."
"Baiklah," sahutnya, sambil menggerutu. "Te-tapi suasana tetap lain kalau tanpa Rink. Tidak ada yang sama lagi di rumah ini sejak Rink menikah dengan perempuan itu dan meninggal-kan kota ini."
Haney betul dalam hal itu, batin Caroline sambil berjalan ke pintu belakang menuju kamar kerja Roscoe. Dengan perasaan sakit ia menge-nang peristiwa yang terjadi hari itu, hari Rink tidak muncul di tempat pertemuan mereka. Hari itu, di tempat kerjanya, dengan perasaan hancur Caroline mendengar kabar tentang Rink Lancaster yang akan menikah dengan Marilee George, gadis dari keluarga terkemuka di kota Winstonville. Dunia Caroline pun berubah.
Caroline memeriksa pembukuan cepat-cepat tanpa berpikir. Waktu ia menelepon ke pabrik pemintalan kapas, mandor jaga pagi melaporkan segalanya berjalan lancar.
"Tetapi ada satu mesin yang tidak beres. Na-mun Anda tak perlu mencemaskannya pada saat seperti sekarang ini."
"Aku yakin kau mampu mengatasinya, seperti biasa, Barnes. Selama Roscoe masih hidup, tang-gung jawab tetap ada pada Roscoe, aku akan memberikan laporan kepadanya."
"Baik, Ma'am," jawab mandor itu sebelum menutup telepon.
Caroline tahu beberapa karyawan laki-laki di pabrik tidak suka menerima perintah dari perem-puan, terutama perintah darinya, putri Pete Dawson. Namun, andai pun perkiraannya itu benar, mereka tidak akan pernah berani meng-ungkapkan pendapat mereka itu. Mereka sangat takut pada Roscoe. Tetapi apa yang akan terjadi bila Roscoe tiada?
"Ada masalah?"
Caroline seketika mendongak dan melihat Rink di ambang pintu. Caroline sadar alis mata-nya berkerut karena dilanda perasaan cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri. "Masalah kecil. Kau kan paham keadaan di pabrik pemin-talan kapas ini."
"Sebetulnya, aku tidak tahu." Rink menjawab sambil melangkah masuk. Jaket sport disampirkan di pundak, ditahan jari telunjuknya. Tiga kancing pertama kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan lehernya yang kecokelatan dan bulu dadanya yang hitam lebat. "Aku meninggalkan kota kelahiranku ini sebelum banyak terlibat dengan urusan di pemintalan." Kini Rink berdiri di dekat mejanya. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sampai wajahnya sejajar dengan wajah Caroline. "Bagaimana kalau kauberitahu aku, boss ladyr
Tersulut perasaan marah, Caroline langsung bangkit, menyebabkan kursi berodanya meluncur ke belakang. Mereka berhadapan seperti dua petinju yang siap bertanding di arena, menanti-kan bunyi bel untuk memulai pertandingan.
"Rink, Haney memintaku datang ke sini untuk memberitahumu. Ia menyiapkan sarapan untuk-mu dan ia ingin kau memakannya." Dengan riang Laura Jane memasuki ruangan dan me-meluk Rink, kakak laki-lakinya. "Selamat pagi, Caroline. Aku juga diminta membawakan sarapan untukmu. Haney berpesan kau tidak boleh menolaknya."
Mereka tidak jadi berdebat lagi, tetapi Rink tidak membiarkan Caroline lolos begitu saja. Ia menjulurkan tangan ke hadapan Caroline. "Caroline." Caroline ridak punya pilihan lain, kecuali membiarkan tangannya digenggam tangan Rink dan membiarkan dirinya dituntun ke meja makan. Namun Rink tidak melepaskan geng-gaman tangannya meski mereka sudah berada di ruang makan. Kalau Rink menggenggam tangan Laura Jane, itu tidak jadi masalah. Tetapi bila telapak tangan Rink bersentuhan dengan telapak tangannya, jari-jarinya mencengkeram kuat jemarinya seakan ia miliknya, bulu roma Caroline jadi bergidik.
Kendati makanan yang dihidangkan Haney sangat istimewa, Caroline tidak dapat menikmati-nya. Rink kelihatan tidak terlalu senang melihat Steve duduk di samping Laura Jane. Steve ber-kali-kali melemparkan pandang resah ke sekeliling ruangan, seperti mengisyaratkan ingin segera di-izinkan meninggalkan ruang makan. Sikap per-musuhan antara Rink dan Caroline demikian kentara, meskipun mereka tetap bersikap sopan. Haney tidak habis mengerti, ia malah tersinggung karena ketegangan di antara kedua orang itu menghancurkan segala upayanya untuk menjadi-kan saat itu sebagai hari istimewa menyambut kepulangan kembali Rink ke rumah.
"Mengapa semua marah-marah?" tanya Laura Jane tiba-tiba.
Semua mata tertuju padanya, terkesima. Hanya Laura Jane yang kelihatan gembira, menikmati kehadiran orang yang dikasihinya. Tetapi komen-tarnya memang benar, dan ia bisa menangkap ketegangan yang terjadi di meja makan.
Caroline-lah akhirnya yang membuka suara, "Kami semua mengkhawatirkan kondisi Roscoe," katanya lembut, sambil mengulurkan tangan, mengelus tangan Laura Jane.
"Tetapi Rink sudah di sini. Juga Steve." Laura menatap Steve dengan mesra. "Kita harus ber-gembira."
Laura Jane membuat yang lain merasa malu pada diri mereka sendiri. Rink tidak lagi menatap Steve dengan pandangan curiga atau kelihatan tegang setiap kali mendapati Steve menatap Laura Jane. Ia dan Caroline berhenti saling menatap penuh permusuhan; keduanya bahkan mengobrol tentang orang-orang yang dikenal Rink beberapa tahun yang lalu. Caroline memberitahu Rink siapa saja yang menikah, siapa yang bercerai, siapa yang makin kaya, dan siapa yang menjadi miskin.
Begitu selesai makan, Steve berdiri, mengucap-kan terima kasih pada Haney, kemudian langsung berjalan ke arah dapur. "Tunggu sebentar, Steve," panggil Laura Jane. "Aku ikut, aku ingin me-nengok anak kuda itu."
"Kita akan pergi ke rumah sakir, Laura Jane," kata Rink singkat.
"Tetapi aku ingin melihat anak kuda itu. Aku sudah janji pada Steve akan menengoknya di kandang pagi ini."
Steve langsung menangkap maksud Rink. "Laura Jane, ayahmu akan kecewa bila kau tidak menjenguknya. Anak kuda itu tidak akan pergi kemana-mana," canda Steve. "Kau bisa men-jenguknya kapan saja kau mau."
"Baiklah, Steve," Laura menyetujui dengan suara lirih. "Aku akan menemuimu begitu kem-bali."
Steve mengangguk, sekali lagi berterima kasih pada Haney dan cepat-cepat berlalu. Ia tidak menatap Rink ketika meninggalkan ruangan.
Caroline buru-buru bangkit. "Aku akan ber-siap-siap, Rink. Laura Jane, mau dandan dulu sebelum pergi?"
"Ya, kurasa."
Mereka turun ke lantai bawah kembali be-berapa menit kemudian. Rink sudah menunggu mereka di teras. Haney berdiri di sampingnya, memegang vas berisi bunga-bunga mawar yang baru dipotong. "Haney akan menyusul dengan mobilnya, karena ia ingin membawa bunga ma-war untuk Daddy. Dan ia ingin pulang dari rumah sakit lebih dulu. Laura Jane, kau ikut mobil Haney saja, pegangi vas bunganya supaya airnya tidak tumpah."
"Biar aku saja yang memeganginya." Caroline buru-buru menawarkan diri. Tatapan mata Rink yang tajam padanya mengisyaratkan sikap tidak setuju.
"Aku ingin bicara denganmu selama perjalanan." Tanpa bisa dibantah, Rink mengantar Caroline dengan mobil Lincoln-nya, sementara Haney me-laju dengan mobil station wagon, yang sebenarnya milik The Retreat tetapi dipercayakan kepadanya.
"Apakah kau bertemu dokternya tadi pagi?" tanya Caroline, memecah keheningan.
"Ya. Ia menceritakan apa yang disampaikannya padamu dan Granger."
"Apakah... apakah dokter memberitahukan ka-pan...
"Bisa terjadi kapan saja."
Mereka melaju di jalan tol, menuju pusat kota, sebelum Rink menyinggung hal lain, "Siapa Steve?"
"Steve Bishop." Caroline langsung bersikap defensif. Ia yakin tahu apa yang bakal terjadi dan tidak ingin hal itu terjadi.
Rink mencibir kesal. "Bisa memberi penjelasan lebih mendetail lagi?"
"Ia veteran Perang Vietnam."
"Karena itukah jalannya pincang? Cedera se-waktu perang?"
"Ia kehilangan kaki kirinya dari lutut ke ba-wah." Caroline mengatakan hal itu sambil me-malingkan wajah ke arah Rink. Rink terus meng-arahkan pandangan ke jalan, namun Caroline melihat tangan Rink mencengkeram kemudi dan i otot-otot tangannya menonjol. Air mukanya te- f gang, menyiratkan kekerasan hati, tak tergoyah-kan. Dan keangkuhan. Keangkuhan vang ber-lebihan.
Caroline tahu Rink ingin tidak menyukai Steve. Mengetahui Steve cacat seumur hidup akan membuatnya sulit melakukannya. "Ketika I melamar pekerjaan, ia bersikap getir dan agak kasar. Tetapi aku yakin itu cuma cara yang digunakannya untuk mempertahankan diri meng-hadapi penolakan. Sebetulnya Steve pribadi yang sangat berhati-hati, pekerja keras, dan jujur."
"Aku tidak suka kedekatannya dengan Laura."
"Mengapa?"
"Kau masih perlu bertanya?" tanya Rink, sam-bil memalingkan kepala. "Tidak sehat dan ber-bahaya, itu sebabnya. Laura Jane tidak punya urusan untuk berkeliaran di dekat laki-laki lajang sepanjang waktu."
"Aku tidak melihat salahnya. Laura Jane juga lajang."
"Dan masih lugu soal seks. Sangat lugu. Aku tidak yakin Laura Jane paham perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan mengapa ada per-bedaan."
"Ia pasti tahu!"
"Baiklah, kalau begitu makin kuat alasan buat Laura Jane untuk tidak perlu sering bersama Steve. Karena aku yakin Steve mengerti per-bedaan itu."
"Kurasa Steve baik terhadap Laura. Ia sangat baik hati dan penyabar. Ia memang pernah terluka, bukan hanya secara fisik. Steve tahu bagaimafia rasanya menjadi orang yang terbuang dan merasa ditolak seperti yang dirasakan Laura Jane selama ini."
"Bagaimana bila ia memanfaatkan rasa suka Laura? Secara seksual...."
"la tidak akan melakukan hal seperti itu."
Rink mendengus. "Pasti begitu. Ia kan laki-laki dan Laura Jane perempuan cantik, sementara banyak kesempatan bagi mereka untuk hal itu."
"Sepertinya kau tahu banyak."
Kata-kata tajam itu meluncur keluar dari bibir -Caroline tanpa bisa ditahannya. Rink mengerem mobil di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Caroline. Air mukanya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Caroline. Caroline sudah memulai, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah-setengah.
"Kau jelas sangat paham soal memanfaatkan gadis lugu, membohonginya, membuat janji-janji yang tidak akan pernah kautepati."
"Maksudmu soal janji di musim panas itu?"
"Ya! Aku heran, bisa-bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili Marilee. Kau pasti kehabisan tenaga. Atau kauanggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati hal yang lebih menyenangkan?"
Rink membiarkan Caroline bicara panjang-lebar sebelum membuka pintu mobil dan me-nutupnya kembali keras-keras. Saat itulah Caroline baru menyadari Haney dan Laura JaMe sudah berdiri menunggu di pintu masuk rumah sakit dan memandangi mereka. Caroline merasakan jari-jemarinya dingin ketika ia mengepalkannya, tetapi ia mencoba tetap bersikap tenang ketika Rink membukakan pintu mobil dan membantunya keluar. Ia berusaha menunjukkan sikap tenang saat mereka bersama-sama memasuki lobi rumah sakit lalu menaiki lift.
Perawat yang bertugas di lantai kamar Roscoe memberitahu mereka boleh masuk sekaligus asal tidak terlalu lama. "Ia tidak bisa tidur. Ke-sakitan," kata perawat itu kepada mereka dengan sedih.
"Mungkin sebaiknya aku masuk lebih dulu dan memberitahu Roscoe kalian datang men-jenguknya," kata Caroline. Tak ada yang ke-beratan. Rink bersikap dingin dan menjauhkan diri. Haney, tidak seperti biasanya, berdiam diri. Laura Jane membelalak dan tampak ingin kabur.
Caroline mendorong pintu kamar rumah sakit yang berat dan melangkah memasuki kamar. Rumah sakit memberikan kamar yang paling besar dan paling mahal. Karangan bunga ber-deret-deret di sepanjang kusen jendela dan di meja teve. Caroline tidak suka mengakuinya, tapi Roscoe memang tidak disukai orang-orang yang pernah berurusan dengannya. Tetapi banyak yang menghormati atau takut padanya, terbukti dari tumpukan kartu ucapan cepat sembuh dan deretan %arangan bunga yang dikirim untuk-nya.
Roscoe tidak tampak menakutkan sekarang ketika ia membuka mata dan melihat kedatangan Caroline. Kulitnya abu-abu kekuningan, pucat seperti mayat. Lingkaran hitam tampak di seputar matanya. Bibirnya biru. Tetapi matanya tetap tajam dan berbinar-binar sebagaimana biasanya. "Selamat pagi." Caroline membungkukkan ba-dan ke arah Rocoe, menggenggam tangan Roscoe dan mencium keningnya. "Kata perawat kau tidak tenang sepanjang malam. Sama sekali tidak bisa istirahat?"
"Tak usah mengatur-ngatur aku, Caroline." Roscoe menarik tangannya. "Aku akan segera pergi ke alam keabadian untuk beristirahat." Roscoe tertawa dengan susah payah. "Atau untuk dibakar, aku yakin demikian. Kau sudah menyelesaikan semua pembayaran gaji?"
"Ya," jawab Caroline, sambil melangkah mundur dan menerima penolakan Roscoe atas per-hatian yang diberikannya dengan penuh penger-tian. Roscoe sakit parah. Bisa dipahami kalau ada sikapnya yang tidak menyenangkan. "Pagi ini. Aku akan mengantarkan ceknya ke pemintalan petang nanti."
"Bagus. Aku tidak ingin mereka mengira aku sudah mati." Roscoe meletakkan salah satu tangannya di perut dan meringis kesakitan, sambil menyumpah-nyumpah.
Ketika rasa sakit Roscoe mereda, Cardline ber-kata lembut, "Kau bersedia menerima tamu lain?"
"Siapa?"
"Laura Jane dan Haney."
"Haney! Perempuan munafik. Ia sangat mem-benciku sejak pertama kali mengenalku. Ia mengira aku menikahi Marlena karena uangnya dan ingin memiliki The Retreat. Ia menyalahkan aku sebagai orang yang menyebabkan Rink kabur dari rumah. Ia menimpakan kesalahan padaku atas setiap kejadian yang tidak beres dalam keluarga ini."
Caroline pura-pura menentang Roscoe. "Mengapa kau tidak memecatnya beberapa tahun yang lalu?"
Roscoe tertawa keras-keras dan baru berhenti ketika rasa sakit kembali menyerangnya. "Karena aku suka bertengkar dengannya. Ia mempertajam otakku. Sekarang ia menjengukku untuk menge-jekku yang terkapar di ranjang ini. Ha!" Caroline pernah menyaksikan sikap Roscoe yang seperti ini, tetapi ia tidak pernah memedulikan-nya dan membiarkannya sampai semua berlalu. Caroline menyesali Roscoe yang memilih bersikap seperti itu selama hari-hari terakhir mereka ber-sama. "Sudahlah, Roscoe. Tak usah marah-marah: Haney memetik bunga mawar dari taman untuk-mu."
Roscoe mendengus menyetujui bertemu Haney, pengurus rumah tangganya. "Laura Jane tidak perlu datang ke sini. Tempat ini pasti sangat menakutkan anak bodoh itu. Apakah ia tahu aku tidak akan pulang ke rumah lagi?"
Caroline membuang pandang, menghindari ta-tapan mata Roscoe yang tajam menembus. "Ya. Aku memberitahu dia kemarin."
"Apa katanya?" :
"Ia bilang kau akan pergi ke surga dan bersama-sama Marlena."
Roscoe tertawa sampai sakit kembali menye-rangnya. "Hmmm, hanya orang tolol yang berpikir demikian."
Kata-kata yang diucapkan Roscoe sungguh menyinggung perasaan Caroline, tetapi ia berusaha tetap tenang. Hampir tak pernah ia mendebat Roscoe tentang apa pun, bahkan termasuk cara Roscoe menyelesaikan masalah. "Boleh ku ajak mereka masuk?"
"Ya, ya," jawab Roscoe, sambil melambaikan tangan dengan gerakan lemah. "Lebih baik kita. segera menyelesaikannya."
"Ada seorang lagi, Roscoe."
Suara Caroline yang tenang membuat mata Roscoe kembali menatapnya nanar. Roscoe me-mandang Caroline dengan tatapan mata tajam,, menyelidik, membuat Caroline merasa tidak enak. "Rink? Rink yang datang?"
Caroline mengangguk. "Begitu Granger me-. neleponnya." ·
"Bagus, bagus, aku ingin berjumpa putraku, untuk menyampaikan beberapa hal padanya se-belum ajalku tiba."
Hati Caroline dipenuhi perasaan gembira. Ini-lah saat bagi kedua laki-laki keras kepala itu untuk menyelesaikan pertengkaran di antara me-reka. Cepat-cepat Caroline berjalan ke pintu; tidak sempat menangkap sorot mata dingin dan licik yang terpancar dari mata Roscoe ketika melihat Caroline melangkah keluar dari kamar-nya.
Laura Jane yang pertama kali masuk ke kamar. Ia lari menghambur ke ranjang dan melingkarkan tangan di leher ayahnya, memeluknya erat-erat. "Aku rindu Daddy pulang ke rumah," katanya. "Kita punya seekor anak kuda. Cantik sekali."
"Hmmm, baguslah, Laura Jane," jawab Roscoe, lalu dengan lembut mendorong badan Laura Jane menjauh darinya. Caroline mengamati, ber-harap sekali saat itu Roscoe membalas luapan sayang spontan yang diperlihatkan putrinya kepadanya. "Memetik bunga mawar, kulihat," Roscoe menggumam dengan nada marah sambil melirik pengurus rumah tangganya dengan alis berkerut.
Haney kerap jadi sasaran kemarahan Roscoe selama bertahun-tahun. Ia tidak akan termakan kata-kata Roscoe sekarang. "Ya. Ini hanya se-bagian dari mawar yang ada. Yang lainnya di-letakkan di ruang makan."
Roscoe mengagumi keberanian Haney. Sudah tiga puluh tahun mereka perang dingin, dan Roscoe menganggap Haney sebagai lawan yang seimbang baginya. "Persetan dengan bunga-bunga itu. Kau tidak bawa makanan untukku?"
"Kau tahu, kau tidak boleh menyantap ma-kanan yang bukan berasal dari rumah sakit."
"Apa bedanya?" teriak Roscoe. "Hah? Coba jawab."
Roscoe menatap perempuan-perempuan itu se-orang demi seorang dengan tatapan marah, baru kemudian memalingkan kepala ke arah putranya dengan sorot mata berapi-api. Beberapa saat kedua pria itu saling menatap. Tak ada yang bergerak. Akhirnya dada Roscoe bergerak per-lahan, memperdengarkan suara tawa rendah, de-ngan nada yang agak parau. "Masih marah padaku, Rink?"
"Aku sudah melupakan kemarahan itu beberapa tahun yang lalu, Sir."
"Itukah sebabnya kau pulang kembali? Berdamai dengan orang tua ini sebelum ia meninggal. Atau ingin menghadiri pembacaan surat wasiatnya?"
"Aku tidak punya kepentingan dengan surat wasiat itu."
Dengan bijaksana Haney maju selangkah. Ia kbawatir pertemuan ini berubah menjadi tidak menyenangkan. "Aku akan mengajak Laura Jane pulang sekarang. Laura Jane, cium Daddy, ayo kita pulang." Gadis itu dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Haney.
Roscoe tidak memedulikan kepergian mereb. Matanya tetap tertuju pada putranya. Caroline dibiarkan sendirian bersama dua generasi Lancaster yang hidup terpisah selama bertahun-tahun itu.
"Kau tampak tampan, Rink," kata Roscoe menganalisis. "Keras dan licik juga. Kelicikanmu tidak kelihatan di foto-foto penuh senyum yang muncul di surat kabar, tetapi aku melihatnya."
"Aku punya guru yang hebat." Tawa yang sama, tawa yang penuh kelicikan, kembali menggema di dalam ruangan. "Kau benar sekali, sonny, kau memang punya guru yang hebat. Satu-satunya orang yang tahu cara bertahan hidup di dunia ini. Bersikap licik ter-hadap setiap orang dan tak seorang pun bisa mengalahkanmu." Roscoe memberi isyarat dengan sikap tidak sabar, "Kalian berdua, duduk."
"Aku lebih suka berdiri, terima kasih," jawab Rink. Caroline duduk di bangku yang tersedia. Tak pernah ia melihat air muka Roscoe semasam itu. Pantas saja Rink terpaksa meninggalkan ru-mah. Ia tahu persaingan di antara mereka, tetapi tak terbayangkan situasinya seperti ini.
"Dari berita-berita yang kubaca, perusahaan penerbanganmu membuatmu kaya raya."
"Rekanku dan aku sejak semula melihat pe-luang untuk Air Dbcie. Sampai saat ini kami memang sudah melampaui target."
"Kau punya filosofi bagus. Mengangkut pe-numpang, menurunkan penumpang, tarif rendah, pesawat tak pernah berhenti terbang. Kau meraup untung sementara penerbangan lain tak sanggup bertahan di bisnis penerbangan." Andaipun Rink terkejut mendengar ternyata ayahnya mengikuti kesuksesan perusahan pener-bangannya, ia tidak memperlihatkannya. "Seperti yang kukatakan, kami senang dengan kesuksesan ltu.
Perawat masuk ruangan dengan membawa baki berisi jarum suntik. "Saya ingin menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, Mr. Lancaster."
"Suntikkan saja jarum itu ke bokongmu sen-diri, jangan ganggu bokongku," teriak Roscoe pada si perawat.
"Roscoe," ujar Caroline, terkejut dengan ke-kasarannya.
"Dokter yang memerintahkannya, Mr. Lancaster," jawab perawat itu tegas.
"Aku tak peduli omong kosong dokter. Ini hidupku, hanya ini yang kumiliki, dan aku tidak ingin mendapat suntikan penghilang rasa sakit. Aku ingin merasakan segalanya. Mengerti? Sekarang, cepat keluar dari sini."
Si perawat mengatupkan bibir, menunjukkan sikap tidak setuju, tetapi ia keluar juga dari kamar.
"Roscoe, ia hanya melakukan...."
"Tak usah mengatur-atur aku, Caroline!" Tak pernah Roscoe bicara dengan nada seperti itu pada Caroline sebelumnya. Caroline segera mun-dur, seperti habis. ditampar. Ia diam, mengatup-kan bibir. "Jika yang kudapat darimu hanyalah perasaan iba yang menyebalkan, kau tak usah datang lagi."
Sambil menarik napas panjang, Caroline me-nyambar tas lalu meninggalkan kamar dengan sikap penuh wibawa. Begitu pintu kamar tertutup kembali, Rink berbalik ke arah ayahnya.
"Kau memang manusia brengsek." Mata Rink yang keemasan tampak berapi-api. Setiap otot di tubuhnya yang atletis menegang karena me-nahan marah. "Kau tidak berhak bicara padanya seperti itu, aku tak peduli betapa parah sakitmu."
Roscoe tertawa geli, suara tawanya seperti tawa iblis, sejahat ekspresi yang terpancar di wajahnya. "Aku punya hak. Dia istriku. Ingat?"
Rink mengepalkan tinjunya di paha. Ia tidak tahan untuk tidak mendengus marah sebelum meninggalkan kamar itu.
Mula-mula Rink tidak melihat Caroline. Terapi kemudian ia melihat Caroline di ujung lorong. Ia tersandar di dinding, memandang jauh ke luar jendela. Rink mendekatinya dari belakang. Ia mengangkat tangan hendak menyentuhnya, sejenak berhenti untuk mempertimbangkan tin-dakannya, tetapi kemudian berpikir, Persetan, lalu ia pun meletakkan tangannya di pundak Caroline. Serta merta Caroline bereaksi, diam terpaku.
"Kau tidak apa-apa?"
Oh, Tuhan, batin Caroline. Mengapa ia mengajukan pertanyaan itu, dengan suara yang khas tersebut? Nada bertanyanya, pertanyaan yang diajukan Rink persis seperti yang pernah diajukannya pada suatu waktu dulu. Kata-kata yang sama, kalimat yang sama, kepedulian yang me- ' nyentuh perasaan, dengan getar suara parau yang sama pula. l
Perlahan Caroline menoleh sedikit dan me-mandang Rink dari balik pundak. Matanya ber-kaca-kaca. Bisa jadi air matanya karena peng-hinaan yang dilontarkan suaminya. Namun se-sungguhnya bukan karena alasan itu. Air mata Caroline air mata penuh kenangan. Caroline menatap mata Rink, terlambung ke kenangan lama, ke masa dulu, ke malam pertama itu....

Sinar lampu mobil menyorot di belakangnya; Caroline mempercepat langkah. Ia sebenarnya tidak suka berjalan kaki sendirian ketika pulang. Memang, ia bisa menunggu ayahnya, tetapi siapa pun tahu ia tak bisa dipastikan kapan pulang. Selain itu, dalam kondisinya sekarang, ayahnya juga tidak bisa menolong andai seseorang menyerangnya.
Caroline serasa hampir mati menanggung malu petang itu ketika Rink Lancaster tahu ia putri laki-laki yang terkenal sebagai pemabuk di kota itu. Rink akan tahu mereka tinggal di rumah reyot; ibunya menjadi kuli cuci agar ada yang bisa dihidangkan di meja makan dan mereka mampu membeli pakaian bekas layak pakai dari langganannya untuk Caroline.
Caroline langsung tahu siapa Rink sebenarnya,
Setiap orang di kota itu kenal keluarga Lancaster. Ia sering melihat Rink dari kejauhan, ketika pria itu melaju dengan mobil sport merahnya dengan kecepatan tinggi, atapnya terbuka, me-nyebabkan angin mempermainkan rambutnya yang hitam. Biasanya ada gadis duduk di sebelah-nya, tangan kirinya tersampir di bahu Rink. Suara radionya berdentam nyaring. Rink mem-bunyikan klakson mobil keras-keras dan me-lambaikan tangan pada setiap orang yang dikenal-nya, termasuk Sheriff, yang memaklumi pelang-garan yang jelas-jelas dilakukan Rink, yang me-larikan mobil dengan kecepatan lebih daripada semestinya. Setiap orang kenal Rink Lancaster, bintang football, kapten regu basket, juara lari, serta ahli waris rumah The Retreat dan pabrik pemintalan kapas terbesar di lima county.
Sosok Rink memenuhi benak Caroline selama jam-jam kerjanya di Woolworth. Saat ini Caroline tergesa-gesa berjalan pulang agar segera bisa naik ke tempat tidur untuk melamun tentang Rink dan apa yang dikatakan pria itu padanya hari itu. Tentulah Rink tidak akan ingat padanya....
"Hai, Caroline." Mobil itu melintas dari bela-kang Caroline dan berhenti di sisinya. Dengan takjub Caroline memandang wajah Rink yang tersenyum padanya sambil memiringkan tubuh ke arah kursi penumpang di sebelahnya dan membukakan pintu mobil. "Ayo naik. Aku antar kau ke rumah."
Caroline melihat ke kiri dan kanan, seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan. "Ku-rasa sebaiknya jangan."
Rink tertawa. "Mengapa?" Karena pria seperti Rink Lancaster tidak akan mengajak gadis seperti Caroline Dawson ber-keliling naik mobil sport, itulah sebabnya. Na-mun Caroline tidak mengatakannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Debar jantung-nya terasa sampai ke tenggorokannya, membuat-nya tak mampu berkata-kata.
"Ayolah, naik," bujuk Rink dengan senyum yang amat memesona. Caroline pun duduk di jok kulit dan menutup pintu mobil. Bangku mobil yang empuk itu menghanyutkannya ke alam kemewahan, dan ia harus berusaha keras menahan keinginanhatinya mengelus kelembutan jok mobil tersebut. Alat-alat di dasbor mobil seperti memancarkan beribu kelip warna-warni ke arah Caroline.
"Kau suka milk shake cokelat?" Baru sekali Caroline mencicipinya selama hidupnya. Ketika ibunya baru gajian dan mereka makan siang di sebuah kedai di kota, ibunya membelikan milk shake cokelat untuk mereka nikmati berdua dalam rangka merayakan hari istimewa itu. "Ya."
"Aku tadi berhenti di Dairy Mart. Kau pilih saja sendiri." Rink memiringkan kepala ke arah gelas kertas yang terselip di antara tempat duduk.
Gelas itu tertutup, tetapi sedotannya mencuat dari lubang di bagian atasnya.
"Terima kasih," ujar Caroline malu-malu. Di-ambilnya gelas itu lalu diisapnya isinya melalui sedotan. Rasanya dingin, mantap, dan enak. Caroline tersenyum senang. Rink balas tersenyum.
Radionya tidak dibunyikan keras-keras dan atap mobilnya tidak dibuka. Rink tidak ingin ada yang melihat ia bersama Caroline. Caroline mengerti dan tidak keberatan. Rink datang men-jemputnya; ia membelikannya milk shake cokelat. Itu saja sudah cukup buat Caroline.
"Bagaimana kerjamu tadi?"
"Aku menjual satu set piring makan."
"Oh ya?"
"Perabot jelek. Kurasa aku tidak bisa makan dengan piring seperti itu."
Rink tertawa. "Tapi kau kan tidak ingin men-jual piring seumur hidupmu?"
"Ya."
"Apa yang ingin kaulakukan?"
Kuliah, jawab Caroline dalam hati dengan perasaan putus asa. "Entahlah. Aku suka mate-matika. Aku jadi juara dua tahun berturut-turut."
Caroline merasa perlu menunjukkan kelebihan dirinya, bercerita pada Rink tentang sesuatu yang membuatnya takkan lupa peristiwa malam ini, karena ia tahu, ia sendiri tidak akan pernah melupakannya seumur hidup. Dia, Caroline Dawson, berkeliling dengan mobil Rink Lancaster! Tetapi, apa peduli Rink? Ia bisa memilih gadis mana pun yang ia suka, gadis yang lebih tua dan lebih bergaya daripada dirinya. Gadis yang berpakaian lebih. indah dan suka berkumpul di klub, gadis-gadis yang ibunya duduk dalam komite dan naik mobil mewah, gadis-gadis yang merasa malu bicara dengan Caroline Dawson.
"Matematika, heh? Mungkin aku butuh per-tolonganmu untuk mengerjakan tugas akademis-ku. Aku nyaris tidak lulus kuliah matematika."
"Apakah kau suka kuliah?"
"Tentu saja. Asyik sekali. Tetapi aku senang sudah keluar."
"Kau sudah lulus?"
"Enam minggu yang lalu."
"Kuliah jurusan apa?"
"Pilihanku antara pertanian atau teknik. Aku merasa cukup banyak tahu tentang pertanian, karena itu aku memilih teknik."
"Itu akan sangat membantu di pabrik pemin-talan kapasmu."
"Kurasa begitu." Tanpa menanyakan arah, Rink keluar dari jalan raya ke jalan kecil yang menuju rumahnya.
"Kau tak perlu mengantarku sampai rumah," kata Caroline cepat-cepat.
"Di sini gelap gulita seperti dalam tero-wongan."
"Aku tidak takut, sungguh. Tolong, berhenti di sini saja."
Tanpa membantah, Rink mengerem mobil. Caroline tidak ingin Rink mengantarnya sampai ke rumah. Karena kalau ya, ia harus memberi penjelasan tentang semuanya pada ibunya. Hari ini terlalu istimewa. Ia tidak ingin berbagi ke-istimewaan hari ini dengan orang lain. Ia ter-utama tidak ingin Rink berjumpa ibunya di rumahnya yang reyot.
Setelah mesin mobil dimatikan, segalanya jadi senyap. Rink mematikan lampu mobil dan me-nurunkan atapnya. Sinar rembulan yang putih keperakan menimpa wajah mereka. Sementara angin yang bertiup semilir mempermainkan rambut mereka.
Rink merentangkan tangan ke sandaran tempat duduk Caroline. Lutut Rink menyentuh lutut Caroline ketika ia berputar hendak menatap Caroline. Rink tidak menggeserkan lututnya. Caroline dapat mencium aroma cologne yang dipakai Rink, melihat bayang-bayang kumis halus yang tumbuh. Rink bukan anak-anak lagi, ia laki-laki dewasa. Caroline belum pernah berken-can, belum pernah berduaan saja dengan pria.
Menyadari Rink tak bicara sepatah kata pun, Caroline melanjutkan menyedot minuman. Rink mengamatinya dengan saksama. Caroline melihat Rink memerhatikan bibirnya yang menyedot minuman. Terdengar suara keras ketika akhirnya minumannya habis. Ia menatap Rink dengan perasaan malu.
Rink tersenyum. "Enak milk sbake-nya?"
"Enak sekali. Terima kasih." Caroline memberi-kan gelas kosongnya kepada Rink, yang lalu menyelipkannya ke bawah bangku.
Ketika tegak kembali, Rink agak memiringkan tubuh sehingga wajah mereka berhadapan. Ma-lam itu percakapan mereka berakhir karena rasa ingin tahu yang besar. Caroline mengamati Rink dengan teliti, begitu juga pria itu. Caroline melihat tatapan Rink menjelajahi seluruh wajah, rambut, leher, dan dadanya, dan hal itu membuat Caroline merasa tubuhnya panas dan seperti dijalari perasaan nikmat yang aneh, yang mem-buat tubuhnya bagai melayang. Namun ada pe-rasaan berat yang menggelayuti bagian bawah tubuhnya. Semacam hawa panas, yang tak pernah dirasakannya namun terasa nikmat; perasaan ter-larang tetapi terasa menyenangkan, perasaan yang kini mulai menjalari pembuluh nadinya.
Rink meletakkan ibu jarinya di bibir bawah Caroline, menelusuri bibir bawah itu dengan jarinya yang berkuku terawat rapi. Caroline me-rasa seperti akan mati kehabisan napas. Men-dadak ia merasa tidak bisa bernapas.
"Kau cantik sekali," kata Rink dengan suara parau.
"Terima kasih."
"Berapa usiamu?"
"Lima belas."
"Lima belas." Rink memaki pelan dan me-malingkan wajah dari Caroline. Namun, seakan tak mampu mengendalikan dorongan hatinya, kembali ia memandangi Caroline. "Aku memikir-kanmu sepanjang hari sejak bertemu denganmu di hutan itu." Tangannya mengelus pipi Caroline sekarang, dan ibu jarinya mengelus bibir bawah-nya.
"Begitukah?"
"Mmm," Rink bergumam. "Sepanjang petang hanya kau yang ada dalam benakku."
"Aku juga memikirkanmu."
Pernyataan Caroline kelihatan menyenangkan hati Rink. Ia tersenyum sambil memiringkan tubuh. "Apa yang kaupikirkan?"
Pipi Caroline memerah, ia merasa lega ke-gelapan menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena disergap perasaan malu. Untuk menghindari tatapan Rink, Caroline mengarahkan pandangannya ke leher Rink, ke bagian yang tak tertutup kemeja. "Banyak hal," jawab Caroline dengan suara parau, sambil mengangkat bahu, seakan yang dipikirkannya bukan hal pen-ting.
"Banyak hal?" Rink tersenyum. Namun itu hanya sekadar senyum sekilas, yang tidak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah Caroline. "Apakah kau memikirkan...." Rink tampak men-cari kata-kata yang tepat.
"Bermesraan?" adalah kata yang muncul dalam benak Caroline. Itu yang dipikirkan anak ingusan ketika kencan, bukan? Bukankah itu yang dibisik-kan di kelompok gadis sebayanya, yang tidak pernah mengajaknya bergabung?
Namun ternyata bukan itu yang hendak diucapkan Rink. Ia berkata, "Apakah kau memikirkan kita... bersama? Mungkin saling menyentuh?"
"Menyentuh?" ulang Caroline dengan napas sesak.
"Berciuman?"
Bibir Caroline membuka, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia tidak men-dengar suara apa-apa, kecuali debar jantungnya sendiri.
"Kau pernah dicium?"
"Beberapa kali," jawab Caroline, berbohong. "Kau masih terlalu kecil," gumam Rink, sambil menutup mata sejenak sebelum akhirnya mem-bukanya kembali. "Apakah kau takut bila aku menciummu? Apakah aku boleh menciummu?"
"Aku tidak takut padamu, Rink."
"Dan yang lain?" desak Rink lembut sambil mengelus rambut Caroline.
"Aku... kurasa aku ingin kau... menciumku." "Caroline..." bisik Rink sambil bergerak men-dekat. Caroline merasakan napas Rink menerpa wajahnya dulu dan ia memejamkan mata. Kemu-dian bibir Rink menyentuh bibirnya—lembut, tak bergerak, ragu-ragu. Ketika Caroline tidak menarik bibirnya, Rink memiringkan kepala, lalu menekan lebih keras. Berkali-kali bibir Rink bertemu bibir Caroline, mengecup sekilas-sekilas—ciuman-ciuman kecil, yang malah mem-buat Caroline terbakar keinginan menggebu yang muncul dari dalam dirinya, sesuatu yang tickk ia ketahui namanya. Bahkan kalau ia menyebut-nya sebagai "bermesraan" pun, istilah itu tidak tepat. Karena siapa pun bisa melakukan hal itu, tetapi perasaan seperti ini bukanlah perasaan yang bisa dialami setiap orang.
Rink memegangi wajah Caroline dengan kedua tangannya dan menyentuhkan bibirnya yang kali ini membuka di bibir Caroline. Caroline merasa-kan lidah Rink yang basah setarikan napas jauh-nya dari bibirnya, kemudian lidah itu mendarat di bibirnya, menjilatinya dengan lembut.
Rink mendesah lembut sebelum akhirnya lebih menekankan lidahnya ke bibirnya. Mata Caroline membeliak karena terkejut. Badannya kaku. Na-mun, kenikmatan yang dirasakannya karena apa yang dilakukan Rink mengalahkan penolakan dirinya, bibirnya pun membuka. Lidah Rink menyelinap masuk di antara bibirnya. Lidah itu menyentuh ujung lidahnya, mengelus, menjilat, lalu masuk makin jauh ke dalam mulutnya.
Ketika tangan Rink mendekap tubuhnya erat-erat, Caroline mencengkeram kemeja bagian de-pan Rink. Caroline merasakan perasaannya tak karuan, ia merasa tubuhnya limbung karena hal yang belum ia kenal—terangsang. Dorongan hen-dak merapatkan tubuhnya ke tubuh Rink begitu menggebu sampai hampir tak dapat dikendalikan-nya. Ia menikmati tetapi sekaligus takut pada hasrat yang dibangkitkan Rink dalam dirinya.
Rink mundur dengan penuh sesal, mencium bibir CaroUne yang basah dengan lembut, kemu-dian menjauhkan diri. Dengan berat hati ia berusaha menjaga jarak di antara mereka. Tangan-nya ditarik dari punggung Caroline, kembali diletakkan di kedua pipi Caroline. Mata Caroline masih terpejam. Saat membuka matanya yang berat, Caroline merasa sekujur tubuhnya seperti disergap perasaan lemas. "Kau tidak apa-apa?"
Kini, di lorong rumah sakit yang dingin ini, Caroline menjawab pertanyaan Rink seperti dua belas tahun yang lalu, seperti peristiwa di malam yang sejuk itu—setelah mereka berciuman untuk pertama kalinya. "Ya, Rink, aku tidak apa-apa." Rink juga tampaknya terperangkap dalam ke-nangan itu. Dipandanginya Caroline beberapa saat, sebelum akhirnya buru-buru berbalik dan berkata, "Sebaiknya kita segera berangkat."




Bab 4

IA cantik sekali." "Kau juga cantik."
Tangan Laura Jane yang mengelus leher anak kuda itu terhenti, matanya yang hitam teduh menatap Steve, yang bicara dengan suara sangat lembut. "Apa kau sungguh-sungguh menganggap-ku cantik?"
Ekspresi yang diperlihatkan Laura Jane mem-buat Steve memaki-maki dirinya sendiri. Gadis itu terlalu rapuh, menelan bulat-bulat segalanya. Seharusnya ia tidak mengungkapkan apa yang melintas dalam pikirannya. Perasaan Laura Jane sangat halus, dan dapat hancur berkeping-keping dengan mudah.
Steve bangkit dari hamparan jerami yang me-nutupi lantai kandang kuda dengan bertumpu pada satu kakinya yang utuh. "Kau sangat can-tik," ulang Steve, menegaskan, lalu memalingkan wajah dari Laura Jane dan meninggalkan kandang kuda.
Mereka harus lebih sering menjaga jarak. Laura Jane tidak mengerti betapa berada di dekatnya, wangi tubuhnya, kehangatan kulitnya yang lem-but, sangat besar pengaruhnya pada diri Steve. Andai gadis itu tahu respons yang dibangkitkan-nya dalam tubuhnya, tentu ia akan merasa takut dekat dengannya.
Steve menurunkan pelana kuda dari gan-tungannya di dinding. Rink mengatakan padanya kemarin sore ia ingin berkuda pagi-pagi sekali, dan Steve ingin menyiapkan keperluan berkuda-nya sebaik mungkin. Ia paham apa sebabnya Rink menunjukkan sikap tidak suka padanya secara terang-terangan. Rink bukan orang buta. Bukan pula orang yang berperasaan tumpul. Rink menangkap kerinduan hatinya pada Laura Jane. Steve sadar, perasaan hatinya pada Laura Jane sangat jelas terlihat, seterang papan iklan dengan lampu-lampu neon di sekelilingnya.
Steve tidak menyalahkan Rink yang menaruh curiga pada dirinya. Laura Jane adik kandungnya, adik yang sangat istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus seumur hidup. Andai Steve punya saudara perempuan seperti Laura Jane dalam hidupnya, ia pun akan melindunginya sebaik-baiknya seperti Rink.
Kendati demikian, ia tetap tidak bisa berhenti mencintai Laura, bukan? Ia tidak fnencari cinta. Ia tidak mengira dirinya bisa mencintai seseorang. Namun ternyata sekarang ia mencintai seseorang dan sangat merindukannya saat gadis itu tidak

berada di sisinya. Saat ini Laura Jane berdiri dekat sekali dengannya ketika ia mengoleskan sabun pelana di pelana kudanya. Setiap kali tangannya menggosok pelana dengan kain lap, ujung sikunya hampir menyentuh payudara Laura Jane.
Steve berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya, bergulat mengusir bayangan bagai-mana rasa payudara itu di telapak tangannya yang kasar atau betapa halus kulit lehernya bila disentuh bibirnya.
Laura Jane, yang kelihatan agak kecewa karena Steve tidak bicara lebih lanjut perihal kecantikan-nya, mengelus-elus anak kuda sebagai ungkapan pamit lalu mengikuti Steve. "Kakimu sakit?"
Tanpa mengangkat muka, Steve menjawab, "Tidak. Kenapa?'
"Karena kulihat dahimu mengerenyit, seperti yang kerap kaulakukan bila kakimu sakit."
"Aku hanya berkonsentrasi pada pekerjaanku, itu saja."
Laura Jane mendekati Steve. "Kalau begitu aku bantu kau, Steve. Mari kubantu."
Steve menjauhkan diri dari Laura Jane, pura-pura hendak mengambil kain lap yang lain. Darahnya bergejolak. Laura Jane begitu manis, sangat manis, tetapi perasaan yang ditumbuhkan gadis itu dalam hatinya jauh dari manis. Berada di dekat Laura Jane membuat Steve seperti orang liar yang dibelenggu tapi berada di dekat perawan yang akan dikorbankan. "Tidak. Kau tidak perlu membantuku. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat."
"Kaupikir aku tidak bisa mengerjakan hal seperti ini, begitu? Memang, tak seorang pun menganggap aku mampu mengerjakan sesuatu."
Steve mengangkat kepala seketika dan me-lemparkan kain lap. "Bukan begitu, tentu saja aku yakin kau mampu."
Steve melihat kekecewaan di wajah Laura Jane, penderitaan di matanya yang kelam dan bagai tak berdasar. Gadis itu menggeleng, rambutnya yang cokelat lagi halus tergerai menyentuh bahu-nya. "Semua orang menganggap aku tolol dan tidak berguna."
"Laura Jane," ujar Steve dengan suara lirih, lalu meletakkan tangan di bahu Laura. "Tidak pernah aku menganggapmu begitu."
"Lalu, mengapa kau tidak memperbolehkan aku membantumu?"
"Karena ini pekerjaan yang kotor, aku tidak ingin kau terkena kotoran."
Seperti anak kecil yang minta penegasan, Laura Jane melirik Steve. "Hanya itu alasannya? Sungguh?"
"Sungguh."
Seharusnya Steve menarik tangannya dari bahu Laura Jane, tetapi ia membiarkan tangannya tetap di pundak gadis itu. Laura Jane agak menengadah sehingga cahaya lampu kandang
yang kekuningan menimpa wajahnya. Wajah Laura Jane jadi kelihatan seperti wajah malaikat, hanya saja matanya lebih berbinar-binar. Andai tidak mengenal Laura Jane dengan baik, barang-kali Steve akan mengira binar-binar mata gadis itu mengisyaratkan keinginan bermesraan.
"Aku tahu aku bukan perempuan cerdas. Te-tapi aku terampil dalam beberapa hal."
"Tentu saja, kau punya kelebihan." Oh, Tuhan! Bibir gadis itu begitu lembut, agak basah, dan tampak kemerah-merahan ketika mengucapkan kata-kata tersebut. Betapa ingin Steve mengecup-nya. Ingin mendekapnya erat-erat, merapatkan tubuhnya lekat-lekat, merasakan kelembutan tu-buh yang indah itu mendekap tubuhnya yang tinggi besar, penuh parut, dan tidak berbentuk. Bersentuhan dengan tubuh Laura Jane bak mengoleskan obat penyembuh bagi tubuhnya yang cedera, bagi jiwanya yang terluka.
"Banyak hal yang kuamati. Umpamanya, Rink, yang kutahu merasa tidak bahagia. Ia memang tertawa dan berusaha kelihatan bahagia, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia dan Caroline tidak pernah rukun. Apakah kau me-nangkap hal itu?"
"Ya."
"Aku tidak mengerti apa sebabnya mereka begitu." Laura mengernyitkan dahi, berpikir. "Atau barangkali mereka sebenarnya saling me-nyukai, tetapi berusaha menyembunyikan perasaan itu, supaya orang-orang tidak menganggap mereka saling menyukai."
Steve tersenyum mendengar dugaan Laura Jane. Itu pula kesimpulan yang diambilnya setelah makan siang bersama mereka hari itu. Keduanya siap bertengkar atau berkasih-kasihan. Steve merasa sikap mereka cenderung pada pi-lihan yang kedua. Steve mengelus dagu Laura Jane. "Mungkin dugaanmu benar."
Laura Jane tersenyum lalu merapatkan tubuh-nya ke Steve. "Menurutmu, aku ini cerdas? Dan cantik?"
Mata Steve yang hitam mengamati wajah Laura Jane. "Kau cantik."
"Kau juga tampan." Dengan jari-jarinya yang mulus, semulus porselen, Laura Jane mengelus pipi Steve yang kasar, kemudian jari telunjuknya menelusuri pipi Steve sampai ke ujung dagu.
Steve merasakan sentuhan tangan Laura Jane tidak sekadar pada wajahnya saja. Sentuhan itu seperti arus listrik, mengalir sampai ke perutnya. Steve menarik napas dalam-dalam, dan agak menjauhkan diri, menurunkan tangannya dari bahu Laura Jane. "Jangan," cegah Steve tanpa bermaksud menyinggung perasaan Laura Jane.
Gadis itu langsung menjauhkan diri, seperti orang habis ditampar.
"Oh Tuhan, Laura Jane, maafkan aku. Maaf-kan." Steve menjulurkan tangan, mengelus gadis itu untuk menghiburnya, tetapi ia tidak mampu
melakukan hal itu. Laura Jane menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menangis. "Tolong, jangan menangis."
"Aku memang orang yang menakutkan.' . "Menakutkan? Kau sama sekali tidak menakut-kan." Tak pernah Steve merasa perasaannya ter-sayat-sayat seperti saat ini. Apa beda dirinya dengan bajingan, bila ia menyentuh gadis lugu seperti Laura Jane, meskipun ia juga kesal bila tidak menyentuhnya. Menunjukkan perasaan ka-sihnya pada Laura sama artinya dengan bunuh diri; Rink akan membunuhnya bila mengetahui hal itu. Tapi bagaimana ia bisa tega melukai hati Laura Jane dengan cara seperti ini, membuat Laura Jane merasa ditolak, tidak dikasihi, tidak diinginkan? "Kau orang yang sangat baik," ucap Steve. "Kau orang paling baik yang pernah ku-kenal."
"Tidak, aku tidak baik." Laura mengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata, menatap Steve. "Aku menyayangi Rink sepanjang hidup-ku. Kupikir, bila ia pulang ke rumah lagi, semua-nya akan beres. Kuanggap ia orang paling kuat, laki-laki paling baik di dunia. Tetapi ketika sudah di rumah, ternyata ia tidak demikian." Laura Jane menjilat bibirnya. "Ternyata, kaulah pria itu." Payudara Laura Jane yang tidak terlalu besar berguncang di balik baju musim panasnya. Air mata masih terus menitik jatuh di pipinya. "Steve, aku lebih menyayangimu ketimbang Rink!"
Sebelum Steve sempat bereaksi, Laura Jane sudah menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Steve, mencium bibirnya, lalu lari keluar dari kandang kuda.
Steve merasakan jantungnya berdetak cepat, debarannya terasa sampai ke gendang telinga. Ia merasa bahagia sekaligus sedih. Tuhan, apa yang harus ia lakukan menghadapi hal seperti ini?
Tak ada. Jelas, tidak ada.
Steve mematikan lampu kandang kuda, lalu masuk ke tempat tinggalnya yang terawat rapi tapi sepi, yang terletak di bagian belakang. Ia mengempaskan diri di ranjangnya yang kecil, menutupi wajahnya dengan lengan. Ia tidak per-nah merasa seputus asa ini sejak siuman di rumah sakit angkatan darat waktu itu dan men-dapati ia akan pulang" dengan... salah satu kaki yang tinggal separo.
"Oh, maafkan aku, Rink. Aku tidak tahu kau ada di sini."
"Tidak apa-apa," jawabnya dalam keremangan.
"Ini kan rumahmu."
Caroline membiarkan pintu kawat kasa di belakangnya menutup dan duduk di kursi go-yang. Ia menarik napas, menghirup dalam-dalam udara malam yang sejuk. Ia memejamkan mata-nya yang letih sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi goyang. "Ini rumahmu, Rink. Aku hanya tamu selama—"
"Selama ayahku masih hidup."
"Ya."
Rink tidak menanggapi. Ia terlalu letih untuk berargumentasi. "Kau tidak kembali ke rumah sakit."
"Aku sudah menelepon. Akhirnya mereka me-nyuntiknya agar ia tidur. Kata dokter, aku tidak perlu datang. Roscoe tidak mengenali siapa pun. Menurutku akan lebih baik bila aku tinggal di rumah, banyak urusan pabrik yang harus di-selesaikan. Sebentar lagi akan panen kapas, segala-nya harus dipersiapkan."
"Aku tidak suka berada di rumah sakit saat Roscoe sadar dan menyadari telah kehilangan waktunya sehari."
Caroline mengelus dahinya seakan kepalanya sudah sakit akibat teriakan marah yang akan dilontarkan Roscoe. "Aku juga."
"Seringkah ia memperlakukanmu seperti hari ini?”
"Tidak. Tak pernah. Aku pernah melihat ia memarahi orang-orang. Diam-diam aku menemui dan menenangkan mereka. Hari ini pertama kalinya aku menjadi sasaran kemarahannya."
"Kalau begitu kau beruntung," kata Rink. "Ia selalu bersikap begitu pada ibuku, selalu, bahkan hal kecil sekalipun bisa menyulut kemurkaannya. Keterlaluan"—Rink meninju lengan kursi—"ada saat aku ingin sekali menghantam mulutnya yang jahat itu sekuat-kuatnya. Bahkan ketika masih kecil pun, aku sangat membencinya karena membuat ibuku tidak bahagia padahal ibuku sudah memberikan segalanya padanya. Segalanya." Rink melirik Caroline. Caroline mengira Rink malu karena kelihatan sangat emosional di ha-dapannya. "Mau kubuatkan minum?" tanya Rink
pendek.
"Tidak, terima kasih."
Rink menarik napas dalam kegelapan. "Maaf-kan, aku lupa. Kau tidak suka minuman keraskan?"
"Meski dibesarkan di rumaii Peter Dawson? Tidak," jawab Caroline sambil tertawa kecil. "Aku tidak suka minuman beralkohol."
"Kalau begitu aku juga tidak minum." Rink bersandar di salah satu pegangan kursi yang didudukinya dan meletakkan gelas di lantai.
"Jangan begitu. Aku tidak keberatan kau mi-num. Aku tahu kau bukan peminum seperti ayahku."
Komentar itu terlalu pribadi. Caroline menatap Rink kalau-kalau pria itu menangkap sesuatu dalam kata-kata yang baru saja diucapkannya. Mata Rink yang keemasan beradu pandang de-ngan mata Caroline dalam kegelapan yang me-misahkan mereka. Caroline lebih dulu membuang muka.
"Kata Haney, ayahmu sudah meninggal," ujar Rink akhirnya. Ia sama sekali tidak menyentuh gelas yang diletakkannya di lantai.
"Ya. Suatu pagi mereka menemukannya tewas di parit di tepi jalan tol. Katanya, serangan jantung. Kurasa akhirnya ia berhasil juga me-racuni dirinya."
"Ibumu?"
"Ia meninggal beberapa tahun yang lalu." Tak terlihat emosi apa pun terpancar di mata Caroline, karena ia memandang jauh ke depan. Usia ibu Caroline belum lagi lima puluh tahun. Tetapi ia bungkuk dan keriput ketika akhirnya dengan penuh syukur meninggal karena letih dan putus asa.
Rink bangkit dari kursi, lalu duduk di anak tangga paling atas, yang lebih dekat dengan tempat duduk Caroline. Sambil menyilangkan kaki, Rink memiringkan tubuh dan bertumpu pada siku. Pundaknya menyentuh kerangka kursi goyang, hampir menyentuh betis Caroline. "Coba ceritakan padaku, Caroline. Apa yang terjadi setelah peristiwa musim panas itu, setelah aku pergi?"
Betapa ingin Caroline menjulurkan tangan dan membelai rambut Rink, menyibakkan ram-but hitam tebal itu dengan jemarinya. Tubuh Rink tinggi lagi ramping, sifat maskulinnya tetap terpancar biarpun ia dalam keadaan diam.
"Aku menyelesaikan SMU-ku, dan dapat bea-siswa untuk melanjutkan ke universitas."
"Beasiswa? Bagaimana bisa?" Seketika Rink menoleh ke arah Caroline dan kepalanya hampir saja mengenai tulang kering Caroline. Segera Rink mundur. "Entahlah."
Rink menegakkan tubuh dan memandang Caroline dengan tatapan mata penuh tanda ta-nya. "Entahlah?"
Caroline menggeleng. Ia tidak dapat memusat-kan pikiran. Pikirannya berserak kacau balau bak daun-daun yang berguguran ditiup angin musim gugur ketika disentuh Rink. Kini Rink duduk sambil bertekuk lutut, kedua tangannya memeluk lutut. Jari-jari tangan kiri Rink yang tergantung seperti hendak terjulur menyentuh kaki Caroline.
Rink menunggu penjelasan Caroline, sehingga Caroline terpaksa harus memusatkan pikiran dan memberikan jawaban, membuatnya tergagap ke-tika mulai menjawab. "Suatu hari, Kepala Sekolah memanggilku ke kantor. Itu beberapa hari se-belum pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah bilang aku dapat beasiswa dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Orang itu akan menanggung semua biaya kuliahku. Bahkan aku dapat uang tambahan lima puluh dolar sebulan. Sampai hari ini aku tidak tahu siapa orang yang memberikan beasiswa itu padaku."
"Ya, ampun," ujar Rink sambil menahan na-pas. Haney pernah menceritakan padanya di salah satu suratnya yang biasanya berisi gosip, tentang "anak perempuan Dawson" yang akan kuliah ("Kau barangkali tidak ingat padanya. Ia beberapa tahun di bawahmu. Anak Peter Dawson. Begitulah, gadis itu ke kota dan melan-jutkan sekolahnya, semua orang heran bagaimana ia mampu membiayai kuliahnya"). Lama sesudah itu Rink mendapat surat dari Laura Jane ("Daddy menceritakan padaku hari ini, ada gadis yang bernama Caroline Dawson menikah dengan teman kuliahnya. Daddy bilang, dulu gadis itu tinggal di sini, dan katanya kau mungkin me-ngenalnya").
"Setelah meraih gelar sarjana, aku kembali ke kota ini," lanjut Caroline.
"Pernikahanmu pasti tidak bertahan lama."
Tatapan mata Rink yang penuh selidik mem-bingungkan Caroline. "Pernikahan?"
"Dengan teman kuliahmu."
Caroline menatap Rink, seakan Rink sudah linglung. "Aku tak mengerti arah pembicaraan-mu, Rink. Pergi kencan pun aku tak pernah, apalagi menikah. Agar bisa dapat beasiswa terus, aku harus mempertahankan nilai kuliahku rata-rata B. Aku menghabiskan waktu dengan terus-menerus belajar. Bagaimana kau bisa mengira aku sudah menikah?"
Rink juga terkejut. Mungkinkah Laura Jane mengarang-ngarang cerita itu? Tidak. Laura Jane tidak mengenal Caroline, setelah bekerja di peru-sahaan Roscoe baru ia mengenalnya.
Roscoe.
Sepintas kecurigaan menyelinap di benak Rink. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengeri-kan, bahkan untuk dipikirkan sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Roscoe...
"Aku dengar kau menikah. Aku lupa siapa yang menyampai-kan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya menikah...."
"Dengan ayahku."
Setelah terdiam lama, Caroline menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama ber-tahun-tahun. "Apa yang terjadi antara kau dan Marilee?"
"Perang Dunia Ketiga,” jawab Rink sambil tertawa. Caroline tidak memberi tanggapan se-patah kata pun. Ia duduk dengan sikap tegang, jari-jarinya bertaut. "Sejak awal sudah beran-takan. Ia tidak menginginkan bayi itu. Ia man-faatkan kehamilannya untuk menjeratku agar menikahinya, dan setelah Alyssa lahir, kami mengurus perceraian."
"Kau pernah melihat anak itu? Alyssa?" "Tidak. Tidak pernah," jawab Rink. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, tapi dari nada bicaranya jelas ia menutup topik pembicaraan. Sikapnya itu menyakitkan hati Caroline, mengetahui Rink tidak mencintai anaknya, anak satu-satunya. Bisa-bisanya ia punya perasaan seperti itu? Bertahun-tahun setelah kenangan musim panas yang indah tersebut, Caroline bermimpi punya anak dari Rink. Bayi itu akan jadi bukti istimewa yang ditinggalkan Rink buat dirinya, bagian diri Rink untuk dicintai karena Rink tak tinggal di kota itu lagi.
"Akhirnya kami bercerai—perceraian yang me-makan waktu bertahun-tahun—dan aku lebih memusatkan perhatian pada bisnis penerbangan yang baru kurintis."
"Aku bangga padamu, Rink," komentar Caroline dengan lembut dan tulus, membuat Rink menoleh.
Senyumnya getir. "Ya, tapi aku kerja seperti orang gila supaya bisa mencapai target. Itulah satu-satunya hal yang memenuhi benakku dan menghindarkan aku memikirkan... hal-hal lain."
"Hal lain? Rumah?"
Lama mata Rink tertuju pada Caroline. Sorot matanya tajam menusuk. "Ya," jawabnya pendek lalu berdiri. Dengan membelakangi Caroline, Rink menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar rumah. "The Retreat. Laura Jane. Daddy. Pabrik kapas. Winstonville kampung halamanku. Sebetulnya aku tidak pernah ingin meninggalkan-nya."
"Kau mempunyai kehidupan baru di Atlanta...."
"Ya." Hanya itu yang dijawab Rink. Tepat sekali, ingin ia menambahkan. Dulu rumahnya terlalu baru, terlalu mewah. Tidak punya karakter atau kelembutan. Pesta-pestanya terlalu kasar.
Para perempuannya... Para perempuannya terlalu glamor, terlalu bergaya kosmopolitan, penuh ke-pura-puraan. Ia bisa masuk ke balik topeng mereka dan begitu juga sebaliknya.
Hidup yang dijalaninya kini penuh kepalsuan. Bukan berarti ia tidak bangga pada bisnis pener-bangan Air Dixie-nya. Ia bangga. Perusahaan penerbangan itu jelas merupakan prestasi yang patut dibanggakan, karena untuk mencapai sukses seperti sekarang dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun.
Tetapi bukti kesuksesan tersebut tak punya arti apa-apa bagi dirinya. Akar kehidupannya ada di sini, di kota ini, di tanah yang amat kaya ini, di rumah ini. Kehidupan yang lainnya hanyalah kepalsuari. Ia tidak pernah memaafkan ayahnya yang membuatnya kabur dari rumah ini. Tidak akan pernah.
Mendadak ia berbalik menghadap ke Caroline. "Mengapa kau menikahinya?"
Caroline hampir takut melihat kemarahan yang terpancar di mata Rink. "Aku tak mau mem-bicarakan kehidupan pribadiku bersama ayahmu denganmu, Rink."
"Aku tidak ingin tahu kehidupan pribadimu. Aku hanya bertanya, mengapa kau menikahinya. Ia kan pantas menjadi kakekmu, ya ampun!" Rink maju, mencondongkan badan ke dekat Caroline, kedua tangannya bertumpu pada pe-gangan kursi goyang, mengurung Caroline yang
berada di tengahnya. "Mengapa? Mengapa kau kembali ke kota ini setelah lulus jadi sarjana? Tak ada gunanya kau tinggal di sini."
Caroline merasa lehernya kaku karena men-dongak agar bisa menatap Rink. "Ibuku masih hidup. Aku kembali, dapat pekerjaan di bank, dan menabung selama beberapa bulan agar bisa keluar dari rumah yang mirip kandang babi itu, kemudian mengontrak rumah di kota. Aku ber-jumpa ayahmu di bank. Ia sangat ramah padaku. Ketika ia menawarkan pekerjaan dipabrik pemintalan kapasnya, aku terima. Ia melipat-gandakan gajiku, dibandingkan dengan gajiku di bank, yang membuat aku bisa memakamkan ibuku dengan terhormat."
Napas Rink memburu, wajahnya memerah. Rambutnya yang hitam bergelombang tergerai di dahinya. Sejak dulu kemejanya tidak pernah ia kancing semuanya. Begitu juga sekali ini. Mata Caroline sejajar dengan dadanya yang bi-dang. Rink sungguh pria sejati; ia tampak sangat jantan, sangat menarik sekaligus berbahaya. Caroline ingin memejamkan mata supaya tidak melihat semua daya tarik yang ada pada diri Rink.
"Setelah beberapa lama aku mulai datang ke The Retreat ini untuk bekerja di sini, bukan di pemintalan kapas."
"Aku yakin kau pasti senang sekali, diundang ke The Retreat."
"Ya!" seru Caroline defensif. "Kau tahu betapa aku sangat menyukai rumah ini. Untuk ukuran gadis lugu yang setiap hari harus berjalan kaki menembm hutan, rumah ini seperti istam dakm dongeng. Aku tak menyangkal hal itu, Rink."
"Lanjutkan. Aku terpesona. Apakah ayahku seperti Pangeran Tampan dalam dongeng kha-yalanmu?"
"Sama sekali tidak. Jauh dari itu. Setelah ibuku meninggal, aku lebih banyak menghabis-kan waktuku di sini. Ayahmu menyerahkan ham-pir semua urusan bisnis padaku. Laura Jane dan aku menjadi sahabat. Roscoe yang mendukung persahabatan kami, karena Laura tidak punya teman sebaya."
Tergesa-gesa Caroline membasahi bibir. Rink menatap gerakan lidah Caroline dengan penuh gairah. "Segalanya berlangsung perlahan-lahan. Rasanya hubungan kami sudah sewajarnya setelah aku banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Ketika ayahmu melamarku untuk menjadi istri-nya, aku mengiakan. Ia bisa mewujudkan semua mimpiku, yang tak mungkin bisa kudapat de-ngan cara lain."
"Nama baru."
"Ya."
"Pakaian."
"Ya."
“Uang.
"Ya."
"Rumah bagus."
"Rumah yang selalu kudambakan."
"Untuk semua itukah kau jual dirimu pada ayahku?" bentak Rink.
"Dalam beberapa hal, kurasa demikian." Reaksi yang ditunjukkan Rink membuat Caroline me-rasa dirinya seperti manusia tidak berharga. Na-mun ia berusaha membela diri. "Aku ingin menjadi sahabat karib Laura Jane. Aku ingin menolong ayahmu."
"Jadi motivasinya pengorbanan."
"Tidak," kilah Caroline sambil menunduk. "Aku ingin tinggal di The Retreat. Aku ingin orang menghormatiku karena aku istri Roscoe. Ya, aku menginginkan semua itu. Aku dibesarkan di rumah gubuk, hidup susah setiap hari, me-ngenakan pakaian rombeng sementara gadis-gadis sebayaku memakai baju dan rok cantik; aku harus bekerja sepulang sekolah setiap hari, juga di hari Minggu, sementara para gadis lain bisa pergi ke Dairy Mart, nonton pertandingan foot-ball, sedangkan aku hanyalah anak pemabuk; kau takkan bisa memahami semua itu, Rink Lancaster!"
Sambil menyebut nama Rink, Caroline ber-gerak hendak bangkit, tetapi Rink bergeming dari tempatnya. Tubuh Caroline berhadapan de-ngan Rink. Rink mencengkeram lengan Caroline. Napas keduanya memburu, keduanya seperti habis berlari cepat.
Caroline tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap Rink. Bila berbuat begitu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Maka pandangannya hanya diarahkannya sampai ke bagian lekukan tenggorokan Rink yang berbentuk V, mengamati denyut nadinya yang cepat. Caroline merasakan tubuh bagian bawahnya ber-getar; lemas karena gairah. Bibirriya gemetar ketika mengucapkan kata-kata, "Tolonglah, biarkan aku lewat, Rink, kumohon."
Rink tidak memedulikan permintaan Caroline. Ia malah membenamkan wajahnya di leher Caroline. Seperti orang yang tak berdaya, Caroline menengadahkan leher. Bibir Rink menciumi leher-nya, di bagian depan, di bagian belakang, mening-galkan uap basah yang diembuskan napasnya, yang menggelitik dan menggairahkan Caroline.
"Meski tahu kau istri ayahku, tahu alasan kau menikahinya, mengapa aku tetap menginginkan dirimu?" Dengan gerakan makin liar karena di-penuhi perasaan putus asa, Rink menciumi sisi lain leher Caroline. Caroline mendongakkan ke-pala, membiarkan Rink menciuminya.
Dengan lemah Caroline melawan respons diri-nya sendiri, "Tidak, tidak, Rink, jangan."
"Aku sangat merindukanmu sampai sakit rasa-nya." Rink terus menciumi leher Caroline dengan penuh gairah. Bahkan giginya menggigit-gigit kecil. "Aku menginginkanmu. Mengapa, mengapa kau orangnya, mengapa?"
Caroline mengerang. "Oh, Tuhan, kumohon...." gumamnya sambil menarik napas. Yang paling diinginkan Caroline saat itu, lebih dari-pada apa pun, adalah memasrahkan diri pada Rink. Ia membutuhkan Rink sebagaimana Rink membutuhkannya, untuk menggantikan tahun-tahun penuh kepedihan yang harus mereka jalani. Dalam beberapa menit yang sangat berharga itu, mereka ingin melupakan segalanya, kecuali diri mereka berdua.
Namun hal itu tak mungkin dilakukan. Ke-sadaran akan hal yang tak mungkin itu memberi-kan kekuatan bagi Caroline untuk menahan letupan emosinya dan kembali bergulat untuk menjauhkan diri dari Rink.
Secepat tangannya memeluk Caroline, secepat itu pula Rink melepaskan cengkeraman dan men-jatuhkan tangannya di kedua sisi badannya. Ia melangkah mundur, napasnya memburu dan ce-pat. Buru-buru Caroline berjalan ke pintu depan.
"Caroline." Panggilannya menghentikan lang-kah Caroline dan seperti perintah yang menyu-ruhnya membalikkan badan. "Aku selalu sulit menerima hal-hal yang tidak kusukai. Aku tidak berhak melukaimu dengan cara itu. Seharusnya aku tidak ikut campur."
Sosok Rink menjadi kabur karena air mata yang merebak di matanya. Caroline mengerti, betapa Rink mengorbankan keangkuhan dirinya untuk mengatakan hal itu. Caroline melempar senyum lembut, senyum yang penuh makna, yang artinya tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. "Betulkah begitu, Rink?" ujar Caroline tenang. Kemudian ia masuk dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Caroline, berbaring di ranjang dengan pakaian lengkap karena malas mengganti pakaian, me-natap langit-langit. Merenung. Ia tidak tahu apakah esok ia berharap bertemu Rink lagi atau tidak. Tetapi Rink ada di rumah....
"Hai."
"Sedang apa di sini?"
"Memancing." Rink memiringkan kepala ke arah tangkai yang mencuat di permukaan lumpur di tepi sungai. Tali pancing tampak bergetar di dalam air. Rink memang tidak terlalu serius memancing. "Kau lebih awal daripada kemarin."
Wajah Caroline memerah, ia memalingkan wajah dari pria dengan senyum yang amat me-nawan itu. Ketika keluar rumah setengah jam lebih awal, Caroline mengatakan pada dirinya bahwa alasan kepergiannya bukanlah karena ke-mungkinan Rink ada di hutan dan ia akan punya waktu untuk bercengkerama bersama pria itu. Caroline berusaha tampil sebaik-baiknya, memakai rok dan blus yang terbaik, menyisir rapi rambutnya setelah ia mencucinya sampai kulit kepalanya terasa geli, memeriksa kuku-kuku tangannya.
la harus lari dalam kegelapan hutan menuju rumah setelah turun dari mobil Rink kemarin malam. Rink menciumnya. Setelah itu Rink bersikap lembut padanya, menanyakan apakah ia baik-baik saja. Namun ia tidak mengira akan berjumpa lagi dengan Rink.
Ternyata sekarang Rink ada di sini, duduk di bawah pohon willow dengan mengenakan celana jins pendek dan kaus tanpa lengan; kelihatan sangat percaya diri dan tampan seperti bintang film. Otot-otot tangan dan kakinya yang atletis tampak menonjol. Bulu-bulu halus di tangan dan kaki Rink memesona Caroline, tetapi setelah memandanginya beberapa saat, perutnya terasa seperti diaduk-aduk.
"Aku minta Haney, yang mengurus rumah kami, membuatkan beberapa potong sandwich. Kau suka daging kalkun asap?"
"Entahlah. Aku belum pernah mencobanya."
"Hmm, sekarang kau akan mencobanya," kata Rink sambil tersenyum. Ia menggelar tikar di rumput dan meminta Caroline duduk. Kemudian ia membuka keranjang dan menyodorkan se-potong sandwich yang dibungkus plastik pada Caroline. Mereka mengobrol sambil makan.
"Apakah kau akan mulai kerja di pemintalan kapas? Omong-omong, daging kalkun ini enak juga."
"Aku senang kau menyukainya." Rink bersan-dar di batang pohon sambil mengunyah. "Kurasa begitulah," jawabnya sambil menerawang. "Bila Daddy dan aku bisa sepakat dalam beberapa hal." Caroline ingin menanyakan hal apa saja, tetapi tidak jadi. Ia tidak mau Rink berpikir ia ikut campur urusan Rink.
Namun Rink meliriknya, dan melihat sikapnya yang mendengarkan dengan saksama, ia melanjut-kan, "Kau tahu, ayahku tidak ingin menambah-kan modal ke pemintalan agar mendapat untung lebih banyak. Ia sudah puas dengan apa yang didapatnya dari pemintalan sekarang. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk mening-katkan, memperbarui, menjadikan tempat bekerja yang lebih nyaman buat para karyawan. Aku belum berhasil meyakinkannya bahwa bila ia menambahkan modal lagi ke pabriknya itu seka-rang, nantinya ia akan memanen hasilnya dalam jangka waktu panjang."
"Mungkin kau harus mengalah dalam beberapa hal pada awalnya."
"Mungkin juga," jawab Rink, ragu-ragu. Ia memasukkan tangan ke keranjang, mengeluarkan sekaleng minuman dingin. Ia mengedipkan mata pada Caroline. "Aku ingin sekali minum bir dingin, tetapi takut tertangkap basah meminum-nya bersama gadis di bawah umur seperti dirimu. Aku bisa dipenjara."
Andai tertangkap basah, mereka jelas takkan mencemaskan apa yang sedang mereka minum, keduanya menyadari hal itu. Mereka selesai makan siang dan dengan rapi Caroline membantu Rink memasukkan makanan yang tersisa ke keranjang. Caroline bersandar di batang pohon, menggantikan Rink. Rink berbaring di samping-nya sambil menopang kepalanya dengan tangan. Ia memandangi Caroline.
"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanyanya.
Caroline bertemu pandang dengannya. "Ibumu."
"Ibu?" Nada terkejut dalam suara Rink tak bisa disembunyikannya.
"Aku ikut sedih mendengarnya sudah mening-gal, Rink. Ia perempuan yang sangat baik."
"Kapan kau bertemu ibuku?"
"Tidak pernah, tetapi ia sesekali ke Woolworth. Aku selalu menganggap ia perempuan yang... yang paling rapi yang pernah kukenal."
Rink tertawa. "Ya, memang. Aku tidak pernah melihat ibuku dalam keadaan tidak rapi."
"Ia juga cantik, dan selalu berpakaian indah." Ekspresi Caroline raelembut. "Ia meninggal ka-rena apa, Rink?"
Rink mengamati tepi rok Caroline, jarinya menelusuri sulaman pada pinggir rok itu. "Patah hati," jawab Rink pelan.
Caroline melihat kepedihan di wajah Rink, membuat perasaan Caroline tersentuh. Ingin ia merebahkan kepala Rink di dadanya, menghibur-nya, mengelus rambutnya. "Bagaimana bisa orang yang tinggal di rumah seperti rumahmu patah hati?"
Rink tidak menanggapi pertanyaan Caroline, ia malah balik bertanya. "Kau suka The Retreat?" Mata Caroline berbinar. "Itu rumah paling indah di dunia," jawab Caroline kagum dan Rink tertawa. Caroline memerah. "Yah, paling tidak, itu rumah paling indah yang pernah kulihat."
Rink kelihatan terkejut. "Kau pernah masuk?"
"Oh, tidak, tidak pernah. Tetapi aku sering melewati rumah itu. Aku suka berdiri meman-danginya. Aku bersedia melakukan apa pun un-tuk bisa tinggal di rumah seperti itu." Mata Caroline menerawang jauh. "Kau mungkin ber-pikir aku sinting."
Rink menggeleng. "Aku juga suka The Retreat. Aku juga tidak pernah bosan memandanginya. Suatu hari nanti kuundang kau ke rumah."
Mereka berdua tahu Rink tidak akan melaku-kannya, dan selama beberapa saat kemudian mereka tidak sanggup berpandangan. Akhirnya Caroline berkata, "Adik perempuanmu cantik sekali. Aku pernah melihatnya dengan ibumu beberapa kali."
"Namanya Laura Jane."
"Aku tak pernah melihatnya di sekolah. Apakah ia pergi ke sekolah khusus?"
Rink mematahkan sebatang rumput dan meng-gigiti batangnya. Giginya rata dan putih sekali. "Ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Ia tidak sepenuhnya terbelakang, tetapi perkembangan otaknya lambat. Ia tidak bisa belajar secepat anak yang lain."
Pipi Caroline terasa panas. "Aku... aku minta maaf... aku tidak bermaksud...."
"Hai," ujar Rink sambil menarik tangan Caroline. "Tidak apa-apa. Laura Jane gadis yang menakjubkan. Aku sangat mencintainya."
"Beruntung sekali ia punya kakak laki-laki seperti dirimu."
Kembali Rink menopang kepalanya dengan tangan dan melemparkan pandangan nakal pada Caroline. Sinar matahari menimpa lentik bulu matanya yang hitam. "Begitukah?"
"Ya."
Keduanya hanya saling pandang ketika tak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Mata Rink tertuju pada tangan Caroline yang diletak-kan di pahanya. Diambilnya, dibalik dan diamati-nya garis-garis tangan pada telapak tangan itu. Telunjuk Rink menelusuri tangan Caroline mulai dari telapak sampai ke lekukan tangan yang paling sensitif. Sentuhan tangan Rink membuat sekujur tubuh Caroline menggelenyar. Dadanya bergemuruh tak menentu. Ia heran merasakan payudaranya tiba-tiba menegang.
"Aku harus pergi," katanya dengan napas memburu.
"Aku tidak ingin kau pergi," sahut Rink de-ngan suara parau. Tatapannya perlahan bertemu pandangan Caroline. "Aku berharap kita berdua bisa seharian di sini, seperti ini, mengobrol."
"Aku yakin kau punya ba-nyak teman untuk mengobrol. Mereka bisa ngobrol denganmu, kan?"
"Mereka sangat suka bicara," jawab Rink. "Tak ada yang suka mendengarkan, hanya men-dengarkan, seperti yang kaulakukan, Caroline."
Sambil memandang Caroline dengan bola matanya yang keemasan, perlahan Rink berdiri. Tangannya menepis rambut Caroline ke belakang leher yang jenjang. Ditariknya Caroline merapat ke tubuhnya. Caroline tidak menolak sedikit pun sampai akhirnya bibir Rink menyentuh bibirnya. Kedua terhanyut, saling mendesah nikmat.
Bihk Rink. sama lembutnya dengan malam kemarin, tetapi karena Caroline memberi respons, Rink jadi langsung bergairah. Ciumannya makin lama makin panas.
Caroline hanyut dalam arus hasrat menggebu Rink. Jiwanya menggelora tidak menentu, ter-perangkap dalam gairah, keharuman tubuh, sen-tuhan tubuh Rink pada tubuhnya. Menit berikut-nya, Caroline berbaring tertindih paha Rink yang telanjang, sementara Rink membungkuk di atas tubuh Caroline. Lidahnya menjelajahi mulut Caroline dengan penuh gairah sementara jari-jari Caroline mencengkeram rambut Rink.
Rink mengangkat kepalanya, terengah-engah, lalu kembali menghujani Caroiine dengan ciuman hangat. "Caroline, jangan pasrah, katakan jangan. Jangan biarkan aku melakukannya." Rink me-narik kerah blus Caroline ke bahunya, lalu me-nyelipkan tangannya ke balik blus itu. Kulit Caroline terasa hangat dan halus tersentuh te-lapak tangannya. Ia mempermainkan tali bra Caroline. Ujung jarinya mengelus dada Caroline, dan ia mendesah. "Kau masih di bawah umur. Masih anak-anak. Tuhan, tolong. Kau belum cukup umur untuk tahu lebih jauh, tetapi aku boleh. Kita bermain api, Sayang. Hentikan aku. Tolonglah." Kembali Rink menciumi Caroline, lama.
Keresahan merayapi perasaan Caroline. Kakinya bergerak-gerak meronta. Dadanya berdebar-debar, ia ingin menutupinya dengan tangannya. Dengan tangan Rink. Caroline melingkarkan tangannya di leher Rink.
Namun Rink menarik tubuhnya, menarik na-pas, memejamkan mata rapat-rapat. "Tidak boleh diteruskan, Caroline. Kalau tidak kita hentikan, segalanya akan tak terkendali. Kau mengerti apa yang kumaksud?"
Seperti orang tolol, Caroline mengangguk, ber-harap Rink kembali memeluknya, menciuminya lagi, menyentuh tubuhnya di bagian yang dirasa-kannya membengkak dan hangat.
Rink membantu Caroline berdiri. Caroline bergelayut di badan Rink dan pria itu mendekap-nya erat-erat, membelai punggungnya, membisik-kan kata-kata manis di balik rambutnya. Tanpa malu-malu, lengan Caroline memeluk pinggang Rink. Ketika laki-laki tersebut menjauhkan tubuh Caroline darinya, senyumnya tampak getir. "Aku takkan pernah memaafkan diriku bila kau dipecat dari pekerjaanmu," bisik Rink.
"Oh, ya ampun!" ujar Caroline, sambil me-mukul-mukulkan telapak tangan ke pipinya yang memerah. "Jam berapa sekarang?"
"Kau masih punya waktu bila pergi sekarang."
"Sampai jumpa," kata Caroline sambil me-masukkan blusnya kembali ke rok dan meng-gelengkan kepala untuk merapikan rambutnya.
Rink menggenggam tangannya. "Aku tidak bisa menjemputmu nanti malam."
"Aku juga tidak berharap begitu, Rink," jawab Caroline polos.
"Aku ingin, tetapi ada yang harus kulakukan nanti malam."
"Tidak apa-apa. Sungguh." Caroline mulai melangkah. "Terima kasih untuk makan siang-nya." Sambil berbalik, ia menghilang di balik pepohonan. Rink mengejarnya.
"Caroline!" Rink memanggilnya dengan nada penuh wibawa, membuat Caroline menghentikan larinya dan berbalik.
"Ya?"
"Aku tunggu kau besok. Di sini. Oke?"

Ekspresi Caroline yang berseri-seri bersaing dengan kecerahan sinar matahari ketika ia ter-senyum pada Rink. "Ya," jawabnya sambil ter-tawa. "Ya... ya... ya...."
Rink menemui Caroline keesokan harinya, sehari setelah itu dan hari-hari selanjutnya, hampir setiap hari dalam beberapa minggu berturut-turut. Bila sempat, Rink menjemput Caroline dari tempat kerja dan mengantarnya sampai ke dekat rumah.
Caroline memiringkan tubuh dan memandang bulan yang memancarkan sinarnya di antara dahan pepohonan di luar jendela. Betapa mem-bahagiakannya hari-hari itu. Ia hidup dalam kegembiraan, hari-hari penuh ciuman, sekaligus kesedihan karena ia menginginkan sesuatu yang lebih daripada ciuman. Rink mengutarakan niat-nya menempuh masa depan bersama Caroline. Caroline juga menceritakan semua rahasia pri-badinya. Mereka sama-sama mengungkapkan ra-hasia yang tak pernah diketahui orang lain.
Setiap jam yang mereka curi untuk dilewati bersama sangat membahagiakan, sebagian di-karenakan sinar matahari musim panas yang hangat. Karena suatu hari ketika mereka bertemu, turun hujan.
Itulah hari yang paling indah daripada hari-hari yang mereka lewati bersama.
Caroline tersedu-sedan, dibiarkannya air mata membasahi pipinya. Ia berdoa memohon ampun tetapi tak yakin doanya dikabulkan. Karena ia ingin menangis untuk Roscoe, suaminya, tetapi air mata yang menitik turun malah untuk Rink, kekasihnya.





Bittersweet Rain
Sandra Brown



Bab 1

ANDA yakin?" Dokter itu mengangguk muram. Seragam operasinya yang berwarna hijau masih bersih. Ia tidak cukup lama berada di ruang operasi, tidak sampai membuatnya keringatan. "Maafkan saya, Mrs. Lancaster. Penyakitnya sudah menjalar ke mana-mana."
"Tak ada cara untuk menyembuhkannya?"
"Kecuali untuk mengurangi rasa sakitnya, tidak ada." Si dokter menyentuh lengan Mrs. La'ncaster dan melirik pria yang berdiri di samping wanita itu dengan penuh arti. "Ia takkan mampu ber-tahan lama. Maksimal beberapa minggu."
"Ya, saya paham...." Mrs. Lancaster menyeka matanya dengan tisu yang basah dan kusut.
Iba hati si dokter melihat wanita itu. Ketika keluarga pasien menjadi histeris saat mendengar kondisi buruk si pasien, ia merasa mampu me-nenangkan mereka. Namun sikap berani perem-puan tersebut, yang penampilannya sangat feminin dan rapuh, ketika menerima kabar tadi membuatnya merasa seperti dokter yang belum berpengalaman dan canggung. "Andai suami Anda memeriksakannya lebih cepat, barangkali...."
Mrs. Lancaster menyunggingkan senyum getir, kehilangan harapan. "Tetapi ia tidak mau. Sudah saya bujuk dia untuk memeriksakan perutnya yang tidak enak. Ia berkeras itu cuma masalah pencernaan."
"Kita semua tahu Roscoe keras kepala," pria yang berdiri di samping Mrs. Lancaster menyela. Dengan lembut Granger Hopkins menggenggam-kan jari-jari Caroline Lancaster di lengannya. "Apakah ia boleh menjenguknya?"
"Beberapa jam lagi," sahut si dokter. "Pengaruh obat biusnya baru akan hilang nanti sore. Bagai-mana kalau Anda berdua pulang saja dulu dan beristirahat?"
Caroline mengangguk. Dibiarkannya Granger, pengacara yang juga sahabatnya, menggandengnya menuju lift. Mereka menunggu lift dalam diam. Caroline merasa agak bingung, tapi tidak terkejut. Hidupnya tidak pernah berjalan mulus-mulus saja dan tanpa masalah. Mengapa ia begitu ber-pegang pada harapan bahwa operasi besar Roscoe hanya akan membuktikan suaminya itu cuma mengidap usus buntu?
"Kau tak apa-apa, kan?" Granger bertanya lembut ketika pintu lift menutup dan mereka aman dari tatapan menyelidik orang-orang di sekeliling mereka.
Mrs. Lancaster menarik napas panjang. "Sebaik yang mampu dirasakan perempuan yang mengetahui suaminya akan meninggal. Segera."
"Maafkan aku."
Caroline menatap Granger dan tersenyum. Hati Granger luluh. Senyum Caroline, yang sering bagai minta maaf untuk kekurangan-ke-kurangan yang tak kasat mata, mampu meng-gugah perasaan pria maupun wanita. "Aku kenal siapa dirimu, Granger. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku punya sahabat seperti dirimu."
Mereka berjalan melintasi lobi rumah sakit yang baru direnovasi. Beberapa karyawan rumah sakit dan pengunjung sekilas melirik Caroline, tapi kemudian cepat-cepat membuang pandang. Wajah-wajah yang dipalingkan itu dipenuhi rasa ingin tahu tetapi tetap penuh rasa hormat. Semua orang sudah tahu. Saat warga terpandang di kota sekecil Winstonville sakit berat, beritanya akan tersebar cepat ke seluruh penjuru kota.
Granger menemani Caroline sampai ke mobil dan membukakan pintu untuknya. Caroline ma-suk ke mobil tapi tidak langsung menghidupkan mesinnya. Ia duduk, pandangan matanya jauh ke depan, tenggelam dalam pikirannya, cemas, sedih. Begitu banyak yang harus diurusnya. Dari mana ia mesti mulai?
"Rink harus diberitahu."
Nama itu menghunjam tubuh Caroline bak pemecah es, dingin, tajam, dan menusuk. Nama tersebut seakan menusuk organ-organ penting dalam tubuhnya. Nama laki-laki itu menggemu-ruh di dalam benaknya. Perasaan sakit saat men-dengar nama itu membuat Caroline merasa sekujur tubuhnya seperti lumpuh seketika.
"Caroline, kaudengar apa yang kukatakan? Aku bilang—"
"Ya, aku dengar."
"Sebelum masuk ke ruang operasi, Roscoe memintaku segera menghubungi Rink bila hasil pemeriksaan dokter tentang penyakitnya buruk."
Mata yang berwarna asap itu menatap si pengacara. "Roscoe memintamu menghubungi Rink?"
"Ya. Ia dengan tegas meminta aku mengontak Rink."
"Aneh. Kukira permusuhan di antara mereka takkan pernah terdamaikan."
"Roscoe sekarat, Caroline. Kurasa ia tahu, begitu masuk rumah sakit ia takkan pernah meninggalkannya. Ia ingin melihat putranya se-belum meninggal."
"Mereka tak pernah berjumpa atau bicara pada satu sama lain selama dua belas tahun, Granger. Aku tak bisa memastikan apakah Rink bersedia datang."
"Rink pasti datang kalau tahu situasinya seperti mi.
Akankah ia datang ke sini? Oh, Tuhan, apakah laki-laki itu akan datang ke sini? Apakah ia akan bertemu Rink kembali? Bagaimana pe-rasaannya bila mereka benar-benar bertemu? Bagaimana rupanya sekarang? Peristiwa itu sudah lama berlalu. Dua belas tahun yang lalu. Jari Caroline mencengkeram kemudi mobil Lincoln-nya yang empuk. Telapak tangannya basah. Caroline merasa sekujur tubuhnya juga basah.
"Jangan terlalu mencemaskannya," ujar Granger, yang merasakan keresahan yang me-nyergap Caroline. "Karena kau tidak kenal Rink, biar aku yang menelepon dan menyampaikan berita ini padanya."
Caroline tidak ingin mengoreksi pendapat Granger yang mengganggapnya tidak mengenal Rink. Bahwa mereka saling mengenal dengan baik merupakan rahasia selama dua belas tahun. Ia tidak ingin menyingkap rahasia itu saat ini. Ia malah menumpangkan tangannya di tangan Granger yang diletakkan di jendela pintu mobilnya. "Terima kasih untuk semuanya."
Wajah Granger bersahaja dan biasa saja, mirip muka anjing jenis basset, panjang dan murung. Pipinya menggelayut seperti tas kulit kosong yang tergantung di kedua sisi rahangnya. Waktu Caroline mengelus pipinya, wajah Granger merah padam seperti remaja. Ia sudah keriput dan bungkuk, gerakannya lamban, bicaranya lembut dan ramah, tetapi penampilan dan perilakunya itu mengelabui banyak orang. Di balik wajahnya yang biasa itu tersembunyi otak yang cerdik dan jujur. "Aku senang bila bisa menolongmu. Apa lagi yang bisa kubantu?"
Caroline menggeleng. Ia lega Granger bersedia menelepon Rink. Mana mungkin ia sanggup melakukan hal itu? "Aku harus memberitahu Laura Jane." Bola matanya yang keabu-abuan berkaca-kaca. "Menyampaikan berita seperti ini pada Laura bukan hal mudah."
"Kau yang paling mampu melakukannya." Granger mengelus tangan Caroline lalu melang-kah mundur. "Nanti sore kutelepon lagi. Bila perlu, aku bersedia mengantarmu kembali ke rumah sakit."
Caroline mengangguk, menyalakan mesin mo-bil, dan memasukkan gigi. Lalu lintas kota padat ketika ia melaju. Roscoe, suaminya, dijadwalkan dioperasi pagi dini hari tadi. Siang begini dunia sedang sibuk-sibuknya. Orang-orang membereskan urusannya sebagaimana biasanya, mereka tidak menyadari dunia Caroline Dawson Lancaster untuk kesekian kalinya kembali akan terjungkal.
Pria yang disayanginya, yang semula majikan-nya, kemudian menjadi suaminya, akan mening-gal. Masa depannya, yang selama ini tampaknya aman, kembali akan mengalamai kekacauan. Ke-matian Roscoe tidak hanya akan membuatnya kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya, tetapi juga kehilangan kehidupan baru-nya.
Caroline mengemudikan mobil melewati Lancaster Gin. Mereka akan panen raya kapas tahun ini. Mandor-mandor pabrik harus segera diberitahu perihal keadaan Roscoe. Ia yang harus memberitahukannya, karena selama beberapa bu-lan ini, sejak kesehatan Roscoe tak memungkin-kannya menjalankan bisnis, ialah yang melakukan semuanya. Para mandorlah nantinya yang akan meneruskan berita tersebut kepada para kar-yawan. Dalam waktu singkat, seluruh warga kota akan tahu Roscoe Lancaster sakit berat.
Pernikahan Caroline Dawson dengan Roscoe Lancaster menjadi peristiwa yang paling hangat digosipkan di seluruh penjuru kota, karena pria yang menikahinya itu tiga puluh tahun lebih tua daripada dirinya. Mereka mengatakan putri keluarga Dawson yang melarat berhasil menaik-kan status sosial keluarganya, tinggal di The Retreat, naik mobil Lincoln baru dan mengilap, dan selalu berpakaian bagus. Hebat! Memangnya siapa dia? Seingat mereka, Caroline hanyalah gadis berpakaian lusuh yang bekerja di Wool-worth sepulang sekolah. Kini setelah menjadi Mrs. Roscoe Lancaster, istri orang terkaya di kota, ia berlagak betul!
Sebenarnya, Caroline menghindari warga kota karena tidak tahan melihat cara mereka me-mandang dirinya, pandangan yang dirasanya pe-nuh prasangka, sorot mata penuh tuduhan bahwa ia memakai kekuatan magis untuk membuat Roscoe menikahinya setelah bertahun-tahun men-duda.
Tak lama lagi orang-orang itu pula yang akan menemuinya untuk menyampaikan penghor-matan padanya. Caroline memejamkan mata se-saat, tubuhnya gemetar membayangkannya. Ha-nya ingatan akan The Retreat yang mampu meringankan kepedihannya. Sampai saat ajal menjemputnya pun, membayangkan rumah itu walau sekilas tetap akan menggetarkan hatinya. Sejak pertama kali Caroline melihatnya, ketika masih kecil, mengendap-endap memandangi ru-mah besar itu dari celah-celah pepohonan, rumah itu sudah menawan hatinya.
Pohon-pohon ek yang rindang tumbuh menge-lilingi rumah. Cabang-cabang pohonnya yang kokoh, yang penuh ditumbuhi lumut keabu-abuan keriting yang menjuntai, terjulur menge-lilinginya seperti tangan-tangan kuat yang selalu siap memberi perlindungan. Rumah itu terletak di tengah, seperti perempuan yang penuh pesona, yang memakai rok lebar menggelembung. Din-ding batanya dicat putih bersih. Pilar bergaya Corinthian tegak menjulang di bagian depan, tiga pilar di setiap sisi pintu depan. Pilar-pilar itulah yang menyangga lantai dua rumah dengan teras yang luas di sekelilingnya. Seperangkat meja-kursi dari rotan yang berwarna putih menghiasi teras. Meja-kursi itu hanya dimasukkan pada musim dingin, pada bulan-bulan yang cuacanya terlalu dingin dan basah. Besi tempa putih, indah seperti renda pakaian dalam perempuan, memagari balkon. Daun jendela berwarna hijau daun mengapit jendela berukuran besar yang mengilap seperti cermin di bawah sinar matahari.
Pada musim panas, serangga-serangga beter-bangan dengan riang mengelilingi bunga-bunga yang bermekaran, warna mereka sangat mencolok sehingga menyakitkan mata. Tidak ada tempat di muka bumi ini yang memiliki rerumputan sehijau dan setebal rumput yang tumbuh di sekeliling The Retreat.
Keheningan menyelimuti rumah bak kabut sihir yang mengelilingi puri dalam dongeng. Sepanjang pengetahuan Caroline, rumah itu me-rupakan perwujudan semua yang didamba orang di dunia ini. Kini dia menjadi penghuni rumah tersebut. Setelah peristiwa pagi tadi, Caroline sadar ia hanya menghuni rumah itu untuk sementara waktu.
Caroline menghentikan mobil di halaman yang berbatu-batu, yang dibentuk melingkar di depan rumah. Sejenak Caroline berusaha menenangkan pikiran dan mengumpulkan seluruh kekuatan, yang mungkin dibutuhkannya beberapa jam lagi. Petang ini takkan menjadi petang yang menye-nangkan.
Ruang depan menjadi terasa remang-remang setelah sinar matahari yang membutakan di luar. The Retreat memang didesain dengan gaya rumah pertanian di zaman Perang Saudara Amerika. Di bagian tengah ada foyer yang membentang dari pintu depan sampai belakang. Di salah satu sisinya dibangun ruangan perjamuan resmi dan perpustakaan, yang digunakan Roscoe sebagai ruang kerja. Di sisi lainnya ada ruang tamu resmi dan tidak resmi, yang dipisahkan dari foyer dengan pintu geser berukuran besar yang menghilang ke dalam dinding. Seingat Caroline, pintu itu tidak pernah dipakai. Tangga besar meliuk naik dengan anggun menuju lantai dua, tempat empat kamar tidur.
Udara di dalam rumah sejuk, tempat berlindung dari udara musim panas yang lembap. Caroline melepas jas, menyangkutkannya pada gantungan mantel, lalu menarik blus sutra yang lengket di punggungnya yang basah.
"Well? Bagaimana kabarnya?"
Pengurus rumah tangga, Haney, yang bekerja di rumah itu sejak mendiang istri Roscoe, Marlena Winston, menikah dengan Roscoe Lancaster, berdiri di ambang pintu melengkung yang menuju ruang makan. Sambil berjalan dari dapur yang letaknya berseberangan dengan ruangan itu, ia mengeringkan tangannya yang terampil, kasar, dan besar, sesuai dengan ukuran bagian tubuhnya yang lain, dengan handuk tipis.
Perlahan Caroline menghampirinya lalu me-meluknya. Lengan pengurus rumah tangga yang gemuk itu balas mendekap tubuh Caroline yang ramping. "Buruk?" tanyanya lembut sambil mengelus-elus punggung Caroline.
"Yang terburuk. Kanker. Dia takkan pulang ke rumah lagi."
Dada Haney yang besar bergetar karena me-nahan tangis. Kedua perempuan itu saling meng-hibur. Haney tidak suka pada Roscoe, kendati ia sudah bekerja pada pria itu lebih dari tiga puluh tahun. Kesedihan yang dirasakannya ter-utama ditujukan pada orang-orang yang di-tinggalkan Roscoe, termasuk jandanya yang masih muda.
Semula Haney mencurigai dan menolak ke-datangan nyonya baru di The Retreat. Tetapi ketika melihat Caroline tidak mengubah tatanan rumah sama sekali, tetap membiarkannya sebagai-mana ketika almarhumah Marlena masih hidup, mulailah ia menyukai Caroline. Caroline kan tidak bisa berbuat apa-apa bahwa ia berasal dari keluarga miskin. Tetapi Haney tidak ingin ber-prasangka padanya gara-gara asal-muasai keluarga-nya. Apalagi Caroline menunjukkan sikap penuh kasih sayang dan lembut terhadap Laura Jane. Itu sudah cukup bagi Haney untuk menganggap Caroline punya hati malaikat.
"Haney? Caroline? Ada apa?" Keduanya ber-balik dan melihat Laura Jane berdiri di anak tangga bawah. Dalam usia dua puluh dua tahun, putri Roscoe itu kelihatan masih seperti gadis remaja saja. Rambutnya yang cokelat dibelah tengah dan tergerai lurus ke bawah. Rambut itu membingkai wajahnya yang lembut. Kulitnya seputih porselen. Matanya besar dan berwarna cokelat, dengan bulu mata yang panjang. Tubuh-nya berkembang sejalan perkembangan pikiran-nya. Laura Jane bak kuntum bunga yang belum mekar sepenuhnya. Lekuk tubuh perempuannya mulai tampak, tetapi takkan pernah sempurna. Seperti pikirannya yang berhenti tumbuh, begitu pun tubuhnya. Laura Jane takkan pernah beru-bah seiring berlalunya waktu.
"Operasi Daddy sudah selesai? Ia akan pulang hari ini?"
"Selamat pagi, Laura Jane," sapa Caroline sambil menghampiri anak tirinya, yang lima tahun lebih muda darinya. Digandengnya lengan gadis itu. "Mau menemaniku jalan-jalan di luar? Udara cerah hari ini."
"Mau. Tetapi kenapa Haney menangis?" Haney tampak tengah menyeka mata dengan kain handuk.
"Ia sedih."
"Kenapa?"
Caroline menarik tubuh gadis muda itu ke arah pintu depan dan menggandengnya menuju ke teras. "Karena Roscoe. Sakitnya parah, Laura Jane."
"Aku tahu. Ia selalu mengeluh sakit perut."
"Kata dokter, perutnya tidak bisa disembuhkan lagi."
Mereka berjalan menyusuri rerumputan taman yang terawat rapi.
Dua minggu sekali, setiap musim, didatangkan sekelompok tukang kebun untuk merapikan ta-man The Retreat. Laura Jane memetik sekuntum bunga daisy dari rumpunnya yang tumbuh di dekat jalan setapak batu yang penuh lumut. "Daddy kena kanker?"
Terkadang kecerdasan gadis ini mengejutkan mereka. "Ya, benar," sahut Caroline. Ia tidak ingin menutup-nutupi keadaan ayahnya. Itu tin-dakan yang keji.
"Aku banyak mendengar soal kanker di tele-visi," katanya sambil menghentikan langkah dan menatap Caroline. Kedua perempuan yang ham-pir sama tinggi itu saling memandang. "Daddy bisa meninggal karena kanker."
Caroline mengangguk. "Ia memang akan me-ninggal, Laura Jane. Kata dokter, ia bisa me-ninggal dalam waktu seminggu atau lebih."
Bola mata yang cokelat itu tetap tak berkaca-kaca. Laura Jane mendekatkan bunga daisy ke hidungnya dan menciumnya. Kemudian ia me-noleh pada Caroline lagi. "Ia akan ke surga, kan?"
"Kurasa begitu... Ya, ya, pasti, ke surga."
"Kalau begitu Daddy akan bersama Mama lagi. Sudah lama Mama berada di sana. Pasti Mama senang berjumpa dia. Dan aku masih tetap punya kau, Haney, dan Steve." Ia melirik ke arah kandang kuda. "Dan Rink. Rink selalu mengirimiku surat setiap minggu. Katanya ia selalu menyayangi dan merawatku. Apakah Rink akan melakukannya, Caroline?"
"Tentu saja." Caroline mengatupkan bibir, me-nahan tangis. Akankah Rink pernah menepati janji? Bahkan terhadap adik perempuannya?
"Tetapi mengapa Rink tidak mau tinggal ber-sama kita?" tanya Laura Jane.
"Mungkin ia akan segera ptilang." Caroline tidak ingin memberitahu Laura bahwa tidak lama lagi Rink memang akan tiba di rumah sampai ia melihat sendiri Rink muncul.
Laura Jane jadi tenang. "Steve menungguku. Kuda betinanya melahirkan semalam. Ayo kita lihat."
Diraihnya tangan Caroline, lalu ditariknya me-nuju kandang kuda. Caroline iri melihat kegem-biraan Laura dan berharap ia pun bisa menerima kematian Roscoe dengan pikiran sesederhana putri Roscoe itu.
Udara di kandang kuda hangat, berbaur de-ngan bau kuda, kulit, dan jerami yang tajam. "Steve," panggil Laura Jane riang.
"Di sini," jawab suara bernada rendah.
Steve Bishop bekerja sebagai manajer kandang kuda keluarga Lancaster. Mengembang-biakkan kuda-kuda keturunan murni termasuk salah satu kesukaan Roscoe, tapi ia tidak terlalu memeduli-kan perawatan kuda. Bishop muncul dari lorong salah satu kandang kuda. Tubuhnya tidak terlalu .tinggi, tetapi sangat tegap. Wajahnya persegi dan kasar, tetapi terkadang terpancar ekspresi yang melembutkan kekasarannya. Ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang, seperti biasanya se-helai bandana diikatkan di kepalanya, dan topi koboi dari jerami menutupi kepalanya. Celana jinsnya sudah tua dan kumal, sepatu botnya penuh debu, kemejanya penuh bercak keringat. Tetapi ia tersenyum berseri-seri ketika melihat Laura Jane berlari mendekatinya. Hanya saja, sorot kepedihan dan keputusasaan tak pernah lenyap dari matanya, kendati bibirnya tersenyum. Wajahnya kelihatan lebih tua daripada usianya, yang baru tiga puluh tujuh tahun.
"Steve, kami ingin melihat anak kuda itu," kata Laura Jane terengah-engah.
"Di sana." Steve menoleh ke arah kandang kuda yang baru ditinggalkannya.
Laura Jane masuk ke kandang kuda. Steve menatap Caroline dengan pandangan bertanya. "Kanker," ujar Caroline menjawab pertanyaan Steve yang tak terucap. "Tinggal menunggu waktu."
Steve menyumpah pelan sambil memandang perempuan muda yang berlutut di tumpukan jerami, mengelus-elus anak kuda. "Kau sudah memberitahunya?"
"Ya. Ia bisa menerimanya lebih baik daripada kita semua."
Steve menggangguk dan tersenyum sendu pada Caroline. "Ya. Pasti."
"Oh, Steve. Anak kuda betina ini cantik sekali ya?"
Steve menepuk bahu Caroline dengan penuh kesadaran, kemudian masuk ke dalam kandang. Caroline mengikutinya, dan mengawasinya saat pria itu dengan gerakan kaku berlutut di sebelah Laura Jane. Perang Vietnam membuat Steve ke-hilangan separo kaki kirinya. Ia tidak kentara memakai kaki palsu, kecuali bila ia harus ber-lutut, seperti saat itu.
"Ia cantik sekali, kan? Dan induknya kelihatan sangat bangga pada anaknya." Steve mengelus surai kuda betina itu, tetapi matanya tetap tertuju pada Laura Jane. Caroline terus memerhatikan-nya, ketika Steve menjulurkan tangan untuk menjumput jerami yang menempel di rambut Laura Jane. Jari-jarinya mengelus pipi Laura Jane yang sangat halus. Laura Jane menatap Steve dan mereka saling tersenyum.
Sejenak Caroline tertegun menyaksikan ke-mesraan di antara kedua orang itu. Apakah mereka saling mengasihi? Caroline bingung men-dapati kenyataan ini. Caroline bersikap taktis, ia berniat meninggalkan tempat itu, tetapi Steve melihatnya. "Mrs. Lancaster, bila ada yang bisa saya lakukan..." Steve tak melanjutkan kata-katanya.
"Terima kasih, Steve. Untuk sementara ini lakukan saja apa yang menjadi tugasmu seperti biasa."
"Baik, Mrs. Lancaster." Steve tahu, Carolinelah yang menolongnya bisa menjadi karyawan Roscoe. Wanita itu masih karyawan Roscoe ketika Steve Bishop melamar pekerjaan sebagai manajer kandang kuda, dengan memanfaatkan air muka penuh kegetiran sebagai senjatanya di hadapan Roscoe. Rambutnya diekor kuda sampai pung-gung, rompinya yang terbuat dari bahan denim dipenuhi lencana perdamaian dan tambalan slogan antiperang dan anti-Amerika. Dengan air mukanya yang masam dan tampak suka ber-kelahi, Steve menantang Roscoe untuk berani memberikan pekerjaan, kesemparan padanya, se-mentara banyak orang lain yang menolak.
Caroline tahu akal muslihat Steve dan bisa menebak bagaimana karakter pria itu yang se-benarnya. Ia orang yang putus asa. Caroline otomatis merasa dekat dengannya. Caroline tahu bagaimana sakitnya hidup dengan predikat ter-tentu, tahu bagaimana rasanya bila orang menilai diri kita dari penampilan dan latar belakang kehidupan yang tidak bisa kita tolak. Karena veteran perang itu mengatakan pernah bekerja di peternakan kuda di California sebelum perang, Caroline membujuk Roscoe agar bersedia mem-pekerjakannya.
Roscoe tak pernah menyesali keputusannya menerima Steve. Steve memotong pendek rambutnya dan mengubah penampilannya, seakan hendak mengatakan tak perlu lagi ia memamer-kan simbol-simbol pemberontakannya. Ia bekerja giat, sepenuh hati, dan membuktikan kemahiran-nya dalam merawat kuda-kuda keturunan murni. Pria itu hanya butuh dukungan untuk me-mantapkan rasa percaya dirinya.
Caroline merenungkan semua itu ketika kem-bali ke rumah. Steve dan Laura saling mencintai. Ia menggeleng, tersenyum, saat memasuki se-rambi. Telepon berdering, secara otomatis ia mengangkatnya sebelum Haney. "Halo?"
"Caroline, ini Granger."
"Ya?"
"Aku sudah bicara dengan Rink. Ia akan datang secepatnya, mungkin malam ini.
Banyak hal yang harus diselesaikan petang itu, banyak orang yang harus diberitahu. Roscoe tidak punya sanak saudara kecuali putra dan putrinya, karena itu masalah kerabat tak perlu dipikirkan. Tetapi penduduk kota, juga warga Mississippi, ingin tahu penyakit Roscoe. Caroline berbagi tugas dengan Granger untuk meng-hubungi mereka lewat telepon.
"Haney, sebaiknya segera siapkan kamar Rink. Dia akan datang malam ini."
Mendengar berita itu, pengurus rumah tangga tersebut tampak seperti ingin menangis. "Puji Tuhan, Puji Tuhan. Aku sudah lama berdoa agar anakku yang satu itu mau pulang. Ibunya yang di surga pasti menari-nari hari ini. Pasti ia senang sekali. Yang dibutuhkan kamar itu hanya seprai baru. Aku selalu membersihkannya, kalau-kalau suatu hari ia kembali menempatinya. Tuhan, Tuhan, aku ingin sekali segera berjumpa dengannya."
Carolie berusaha tidak memikirkan saat ketika ia harus berjumpa anak kesayangan itu, berbicara dengannya. Ia menyibukkan diri dengan setum-puk tugas yang harus diselesaikannya.
Ia juga tidak memikirkan kematian Roscoe yang semakin dekat. Itu akan dipikirkannya nanti, saat ia sendirian. Tidak juga waktu ia berkunjung ke rumah sakit petang hari itu dan duduk di samping ranjang suaminya, ia tidak membiarkan benaknya dipenuhi pikiran Roscoe takkan pernah meninggalkan tempat itu, Suaminya masih di bawah pengaruh obat bius, tetapi Caroline merasa tangannya ditekan pelan waktu ia menggenggam tangan Roscoe dan meremasnya sebelum pamit.
Saat makan malam, ia memberitahu Laura Jane tentang kabar kepulangan Rink. Gadis itu melompat dari kursi, menyambar tangan Haney, dan menari-nari mengelilingi ruangan. "Ia me-mang berjanji suatu hari akan pulang, bukan, Haney? Sekarang Rink pulang. Aku ingin mem-beritahu Steve." Laura langsung lari keluar lewat pintu belakang menuju kandang kuda, ke tempat tinggal Steve.
"Gadis itu akan mempermalukan dirinya sen-diri bila ia tidak membiarkan pemuda itu sen-dirian."
Caroline tersenyum penuh arti. "Aku tidak berpendapat begitu." Haney menengadah dan menaikkan alis karena penasaran, tetapi Caroline tidak meneruskan kata-katanya. Ia mengambil gelas es teh lalu berjalan ke teras depan. Waktu duduk di kursi goyang bercat putih, ia menyandarkan kepala pada bantalan kursi bersarung kain kembang-kembang dan memejamkan mata.
Inilah saat yang paling disukainya ketika menghuni The Retreat, waktu hari menjelang malam, ketika sinar lampu di dalam rumah menyelinap ke luar dari celah-celah jendela, yang kelihatan seperti kemilau permata. Bayang-bayang memanjang dan berwarna-warni, saling menyatu sehingga tak ada sudut atau bentuk yang jelas.
Warna langitnya sangat khas, gradasi ungu yang cantik. Pepohonan menjulang di latar depannya. Kodok mengorek di sungai. Suara jangkerik menggema di udara tak berangin dan lembap dengan nada tinggi melengking. Tanah di delta itu menyebarkan bau yang subur. Setiap kuntum bunga menghamburkan harum yang unik dan memabukkan.
Setelah lama beristirahat, Caroline membuka mata. Ketika itulah ia melihat pria tersebut.
Ia berdiri tak bergerak di bawah dahan pohon ek yang menjulur. Jantung Caroline seperti berhenti berdetak dan pandangannya kabur. Ia tidak tahu apakah sosok pria itu sungguhan atau hanya ilusi. Kepalanya pening, dicengkeramnya gelas es teh erat-erat supaya tidak lolos dari cengkeraman jemarinya yang kaku dan dingin.
Pria tersebut bergerak menjauh dari dahan pohon dengan gerakan seperti harimau dan da-lam diam, makin lama makin dekat sampai akhirnya ia tiba di anak tangga batu yang me-nuju teras.
Ia hanya salah satu dari banyak bayangan yang ada, tetapi siluet maskulinnya jelas terlihat ketika ia berdiri dengan kaki terbuka lebar. Secara fisik, waktu tampaknya bermurah hati padanya. Ia tidak lebih kurus daripada saat per-tama kali Caroline berjumpa dengannya. Ke-gelapan malam menyembunyikan wajah pria itu dari pandangan Caroline, tetapi Caroline dapat melihat kilatan giginya yang putih ketika ia mulai tersenyum.
Senyumnya ramah, sebagaimana juga nada bicaranya.
"Well, kalau tak salah, kau Caroline Dawson." Ia meletakkan sebelah kakinya yang mengenakan sepatu bot di anak tangga dan membungkukkan badan, satu tangan bertopang di lutut. Ia me-natap Caroline, sinar lampu dari pintu utama menerpa wajahnya. Dada Caroline terasa sesak oleh perasaan sakit... dan cinta. "Ya, tapi sekarang sudah menjadi Lancaster, bukan?"
Wajah itu! Wajah yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi dan khayalannya. Wajah tetap pa-ling memesona yang pernah dilihatnya. Tampan ketika berusia dua puluhan, dan makin tampan dalam usia tiga puluhan. Rambut hitam, yang bagai menggambarkan keliaran jiwanya dengan helai-helainya yang tak bisa dikendalikan. Sorot matanya, yang memikat Caroline sejak pertama kali melihatnya, menggugah perasaannya lagi. Orang yang tidak punya imajinasi akan me-nyebutnya cokelat muda. Padahal warnanya ke-emasan, seperti warna madu murni, liquor paling mahal, seperti batu ratna cempaka berkilau.
Terakhir kali ia berjumpa pria itu, mata tersebut penuh gairah. Besok... Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita ini. Oh, Tuhan, Caroline, cium aku lagi. Kemudian: Besok, besok. Hanya saja ia tidak muncul keesokan harinya, dan selamanya.
"Lucu," komentarnya dengan nada yang mem-buat Caroline berpikir sebaliknya, "kita menyan-dang nama keluarga yang sama."
Tak ada tanggapan untuk yang satu itu. Ingin rasanya Caroline berteriak bahwa mereka bisa memakai nama keluarga yang sama beberapa tahun yang lalu andai pria itu bukan penipu, andai ia tidak mengkhianatinya. Ada beberapa hal yang lebih baik tidak diungkapkan. "Aku tidak melihat mobilmu."
"Aku terbang, mendarat, dan berjalan kaki kesini.
Landasan pacu kira-kira satu setengah kilo-meter jauhnya. "Oh. Mengapa?"
"Mungkin karena ingin tahu bagaimana sam-butan yang akan kuterima."
"Ini kan rumahmu, Rink."
Ia memaki. "Yeah, tentu rumahku."
Caroline membasahi bibir dengan lidah dan berharap punya keberanian untuk tetap meng-hadapinya. Ia takut kakinya tak mampu me-nopang tubuhnya. "Kau tidak menanyakan kabar ayahmu."
"Granger sudah memberitahu aku."
"Kalau begitu kau tahu ia sekarat."
"Ya. Dan ia ingin bertemu aku. Rupanya keajaiban tak pernah lenyap."
Komentarnya yang menyakitkan itu membuat Caroline bangkit dari duduk tanpa berpikir dua kali. "Ia sakit keras, Rink. Bukan seperti yang kaukenal dulu."
"Andai masih tersisa satu tarikan napas dalam tubuhnya pun, ia persis seperti aku mengingatnya."
"Aku tak mau berdebat denganmu tentang hal itu."
"Aku bukan berdebat."
"Dan aku takkan membiarkan kau mengecewa-kannya atau Laura Jane atau Haney. Mereka ingin bertemu denganmu."
"Kau tidak akan membiarkan? Astaga, astaga. Kau betul-betul menganggap dirimu nyonya rumah The Retreat, ya?"
"Tolonglah, Rink. Beberapa minggu ke depan segalanya akan cukup sulit tanpa...."
"Aku tahu, aku tahu." Tarikan napas panjang-nya terdengar sampai ke tempat Caroline berdiri tegang di teras, tangannya mengepal erat. Ia meletakkan gelas es teh di pagar teras karena takut menjatuhkannya. "Aku juga tidak sabar hendak bertemu mereka," katanya dan melirik ke arah kandang kuda. "Aku lihat Laura Jane keluar dari rumah itu beberapa saat yang lalu, tetapi aku tidak ingin muncul tiba-tiba dalam gelap dan mengejutkannya. Aku mengingatnya sebagai gadis kecil. Tak kusangka ia sudah dewasa sekarang."
Ingatan akan Laura Jane dan Steve yang berlutut di tumpukan jerami di kandang kuda, jari-jari Steve mengelus pipi Laura, melintas di benak Caroline. Ia tidak tahu apa pendapat Rink bila tahu hubungan asmara adik perem-puannya itu. Ia jadi resah menerka-nerka. "Ia perempuan dewasa sekarang, Rink."
Caroline merasakan tatapan mata Rink pada dirinya, menelusuri, menganalisis, menilai. Tu-buhnya seperti dilumuri brendi yang menyentuh setiap inci. "Dan kau," katanya lembut. "Kau juga perempuan dewasa sekarang, bukan, Caroline? Perempuan dewasa."
Caroline sama sekali tidak berubah. Kecantikan gadis lima belas tahun yang dikenalnya kini mendewasa. Ia berharap bertemu Caroline yang gendut, kumal, kusut, berambut kusam, dan berpaha besar. Ternyata ia masih ramping, dengan pinggang yang seolah akan patah bila ditiup angin. Dadanya berisi dan lembut, namun tetap tegak, bulat, dan mengundang. Sialan! Seberapa sering ayahnya menyentuhnya?
Ia menaiki anak tangga perlahan-lahan, seperti pemangsa yang kelaparan tetapi hendak menyiksa korban sebelum melahapnya. Matanya yang ke-emasan, berkilat dalam kegelapan, nanar menatap Caroline. Senyum lebar di bibirnya menyiratkan pemahaman yang licik, seakan pria itu tahu apa yang ada dalam benak Caroline yang ingin di-lupakannya, bagaimana bibir pria itu menyentuh bibirnya, lehernya, dadanya.
Caroline berbalik. "Aku panggilkan Haney. Mungkin ia...."
Tangan Rink menyambar pinggang Caroline, membuat langkahnya terhenti. Ia memaksa Caroline menghadap ke arahnya "Tunggu seben-tar," katanya tenang. "Setelah dua belas tahun, tidakkah kau merasa kita bisa saling menyapa dengan lebih akrab?"
Tangannya yang bebas menyentuh tengkuk Caroline dan mendorong wajah wanita itu ke wajahnya. "Ingat, kita sekarang keluarga," bisik-nya dengan nada mengejek. Kemudian bibirnya mencium bibir Caroline, kasar dan penuh ke-marahan. Diciuminya bibir Caroline dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam ketika ia memikirkan Caroline, Caroline-nya yang polos, yang berbagi tempat tidur, tubuhnya, dengan ayahnya.
Caroline menyarangkan tinju ke dada pria itu. Terdengar suara mengerang keras. Lututnya lemas. Ia berusaha memberontak. Ia memberon-tak lebih keras. Karena ia ingin memeluk laki-laki itu, mendekapnya erat, merasakan kembali getaran yang pernah dirasakannya ketika berada dalam pelukannya.
Tetapi ini bukanlah pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan bibirnya.
Ketika ia berhasil melepaskan diri, Rink me-masukkan tangan ke saku celana jinsnya dan tersenyum mengejek penuh kemenangan melihat ekspresi marah dan bibir merah Caroline. "Salam, Mom," dengusnya.



Bab 2

CAROLINE merasa napasnya sesak. Dadanya turun-naik menahan amarah dan perasaan terhina. "Kasar sekali bicaramu. Bagaimana kau bisa sekejam itu?"
"Bagaimana kau bisa menikah dengan laki-laki tua bajingan yang kebetulan ayahku itu?"
"Ia bukan bajingan. Ia sangat baik padaku."
Tawa Rink pendek. "Oh, jadi ia sangat baik padamu. Karena mutiara di telingamu itu? Berkat berlian yang gemerlap di jarimu? Kau sekarang orang terhormat di dunia ya, Caroline si gadis sungai? Kini kau penghuni rumah mewah The Retreat. Tidakkah kau ingat, kau pernah me-ngatakan padaku kau bersedia melakukan apa pun agar bisa menghuni rumah ini?" Rink agak memiringkan badan ke arah Caroline ketika mengucapkan kata-kata itu sambil mendengus. "Biar kutebak apa yang kaulakukan pada ayahku sampai ia mau menikahimu."
Caroline menampar muka Rink keras-keras. Itu dilakukan Caroline tanpa berpikir panjang.
Sedetik yang lalu Rink melontarkan penghinaan-nya, detik berikutnya Caroline mendaratkan tela-pak tangannya di pipi Rink. Membuat telapak tangannya terasa panas. Ia berharap demikian pula pipi Rink.
Rink melangkah mundur sambil tersenyum sinis. Senyum yang membuat amarah Caroline lebih menggelegak daripada ucapannya yang me-nyakitkan. "Apa pun yang kulakukan pada ayah-mu, jauh lebih baik daripada apa yang kaulaku-kan padaku selama dua belas tahun ini. Ayahmu nelangsa, sendirian di rumah ini, menyesali dirimu.
Tawa Rink kembali terdengar. "Menyesali? Indah sekali, Caroline. Menyesali." Rink menekuk salah satu lututnya, sehingga berat badannya bertumpu pada kaki yang satu lagi dengan sikap angkuh. "Mengapa aku sulit membayangkan ayahku menyesali sesuatu? Apalagi kepergianku."
"Aku yakin ia ingin kau tinggal di sini."
"Ia bahagia kalau tidak berurusan denganku, begitu juga sebaliknya," jawab Rink kasar. "Ja-ngan bermanis-manis lagi. Kalau kaupikir Roscoe sayang padaku, kau cuma berkhayal."
"Aku tidak tahu apa penyebab pertengkaran kalian dulu. Yang jelas, sekarang ia sakit parah, Rink. Ia sekarat. Janganlah mempersulit situasi yang sudah sulit."
"Siapa yang punya gagasan menghubungi aku, kau atau Granger?"
"Roscoe."
"Granger bilang begitu. Tetapi aku tidak per-caya."
"Tetapi begitulah adanya."
"Kalau begiru, ia punya alasan lain."
"Roscoe ingin melihat putranya sebelum me-ninggal!" teriak Caroline. "Itu alasan yang cukup kuat!"
"Tidak untuk Roscoe. Ia manusia licik, mani-pulatif, bajingan. Andai ia ingin aku di sisinya menjelang ajalnya, percayalah, ia pasti punya alasan."
"Tidak pantas kaubicara seperti itu tentang ayahmu padaku. Ayahmu suamiku."
"Itu masalahmu."
"Caroline? Siapa—Oh, Tuhan. Rink!" Haney menghambur keluar melewati pintu kasa lalu memeluk Rink erat-erat. Rink membalas pelukan-nya. Caroline berkaca-kaca ketika melihat ke-getiran dan kesinisan di wajah Rink berganti dengan senyum riang. Matanya yang keemasan memancarkan kebahagiaan, giginya yang putih berkilat di balik senyumnya yang lebar.
"Haney! Oh, aku sangat merindukanmu."
"Seharusnya kau lebih sering mengirim surat padaku," gerutu Haney sambil menegakkan tu-buh dan pura-pura marah.
"Maafkan aku," jawab Rink singkat, sementara matanya tetap menyiratkan kebandelan seperti dulu, saat Haney menangkap basah ia mencuri kue dari stoples. Dan ia selalu berhasil meloloskan diri. Seperti yang dilakukannya sekarang lni.
"Jadi kau sudah bertemu Caroline," kata Haney, sambil menatap keduanya dengan mata berbinar-binar.
"Oh, ya. Aku sudah bertemu Caroline. Kami sedang mengobrol."
Perempuan tua itu tidak melihat lirikan mata yang sekilas dilemparkan Rink kepada Caroline. "Makanmu pasti tidak benar, aku yakin. Kerja keras mencari uang, muncul di berbagai surat kabar terus, tetapi badanmu tetap saja seperti orang kurang makan. Ayo masuk. Aku sudah menghangatkan makan malammu."
"Dan pecan pie. Baunya tercium dari sini," goda Rink, sambil mendorong tubuh Haney ke pintu.
"Aku membuatnya bukan khusus untukmu saja.
"Jangan begitu, Haney. Kita kan sudah kenal lama."
"Kebetulan juga kami masak ayam untuk makan malam."
Pada minggu-minggu pertama kepindahannya sebagai nyonya rumah yang baru di The Retreat ini, Caroline merasa dirinya seperti tamu tak diundang. Tetapi bulan-bulan berlalu. Laura Jane bisa menerimanya sebagai sahabat. Haney pun mulai menyukai dirinya. Tetapi saat ini, melihat Rink di rumah ini, mendengar derap sepatu botnya di lantai kayu dan suaranya yang meng-gema di ruangan yang berlangit-langit tinggi, kembali Caroline merasakan dirinya seperti orang asing. Rink-lah pemilik rumah ini. Bukan diri-nya.
Ketika mengikuti mereka sampai ke dapur, Caroline melihat Haney menyuruh Rink duduk di meja bundar dari kayu ek yang penuh ber-macam-macam hidangan. Rink mengamati ruangan itu. "Tak ada yang berubah," kata Rink hangat.
"Dapurnya kucat lagi beberapa tahun yang lalu," ujar Haney. "Tetapi kuberitahu ayahmu aku tak akan mengganti warna catnya. Aku ingin segalanya tetap sama seperti ketika kau masih tinggal di sini."
Rink menelan, dan menggeser-geser makanan di piringnya dengan garpu. "Aku tidak akan tinggal di rumah ini selamanya, Haney. Hanya sampai Daddy... kembali pulih seperti semula."
Tangan Haney yang sibuk bekerja langsung berhenti. Ia menatap Rink seperti menatap anak laki-laki momongannya. "Aku tak ingin kau pergi dari rumah ini lagi, Rink. Ini rumahmu."
Mata Rink melirik Caroline sesaat, lalu kem-bali pada piring makanannya. "Tak ada gunanya lagi aku tinggal di sini," ujar Rink marah sebelum menyuapkan makanan ke mulut.
"Siapa bilang? Masih ada Laura Jane," Caroline mengingatkan Rink dengan suara lembut. Karena tidak mau hanya berdiri di dekat pintu, Caroline memaksakan diri melangkah masuk ke dapur. Caroline tidak ingin Rink tahu kedatangan pria itu di rumah ini membuatnya merasa terancam di rumahnya sendiri. Ia toh belum menjadi janda Roscoe. Sebagai istri, Caroline merasa pu-nya hak tetap tinggal di rumah ini. Caroline berjalan ke lemari es, mengambil segelas teh es yang sebetulnya tak diinginkannya.
"Diberkatilah dia, Rink," ujar Haney sambil mengelap gelas yang sudah mengilap bersih. "Tiap hari ia menyuruhku memeriksa kotak pos, kalau-kalau ada surat darimu. Demi dia, kau tidak boleh meninggalkan rumah ini, kendati kau bertengkar hebat dengan ayahmu."
"Aku benci tidak bisa tinggal di sini untuk dia. Apakah ia baik-baik saja?" "Tentu, tentu. Sangat cantik." "Bukan itu maksudku."
Haney meletakkan gelas di meja. "Aku tahu yang kaumaksud," ujar Haney datar. "Ya, Laura baik-baik saja. Aku tahu dari pertanyaan-per-tanyaanmu tentang dia di dalam surat-suratmu bahwa kau tidak dapat membayangkan bagai-mana keadaan Laura, Rink. Laura memang tidak pandai secara akademis, tetapi banyak hal yang dipelajarinya dari sekelilingnya. Kau memang tidak ada di sini untuk melindunginya, tetapi perasaan posesifmu sekuat induk beruang terhadap anaknya. Laura tumbuh menjadi perem-puan cantik. Ingat. Ia sudah dewasa sekarang, barangkali tak bisa lagi diperlakukan seperti benda rapuh yang mudah. pecah. Ia perempuan muda yang cantik. Bila kebetulan warga setempat berjumpa dengannya, sedikit yang menyadari ia berbeda."
"Tetapi ia berbeda," tukas Rink.
"Tidak terlalu," sela Caroline. "Ia tahu perkem-bangan dunia, tetapi emosinya tidak stabil. Aku lebih mencemaskan kelabilan jiwanya ketimbang perkembangan mentalnya. Andai orang yang di-cintainya mengecewakannya, sakit hatinya pasti sulit disembuhkan."
Mata Rink tak beralih sedikit pun dari wajah Caroline ketika ia mengelap mulutnya dengan serbet dari bahan katun. Dilemparkannya serbet itu, lalu menarik kursinya dari meja. "Terima kasih untuk ceramahnya, Kakak Caroline. Akan selalu kucamkan hal itu."
"Aku bukannya bermaksud—"
"Begitulah yang kaumaksud," potong Rink sambil mengambil teko kopi, menuang isinya ke dalam cangkir.
"Rink Lancaster, tidak pantas kau bersikap begitu pada Caroline." Haney terkejut melihat sikap bermusuhan kedua orang di hadapannya. Belum lima menit mereka berkenaJan, tetapi sudah saling bermusuhan. Jelas Rink tidak setuju ayahnya mengambil wanita muda seperti Caroline sebagai istri. Namun Rink sendiri sudah dua belas tahun meninggalkan rumah. Apakah ada pengaruh pernikahan Roscoe bagi dirinya? Ke-cuali kalau menyangkut The Retreat. "Mana tata krama yang ibumu dan aku ajarkan? Ingat, Caroline istri ayahmu. Ia harus kauhormati se-bagaimana mestinya."
Rink, yang terus menatap Caroline, mencibir sinis. "Ibu tiriku. Aku selalu lupa hal itu."
"Itu Laura Jane datang," seru Haney sambil memandang kedua orang yang ada di dapur tersebut. "Jangan kacaukan hatinya, Rink. Cukup satu kejutan yang harus ia terima hari ini dan ia berhasil mengatasinya dengan baik."
Suara Laura Jane yang lembut menembus pintu kasa sebelum ia membukanya. Laura berdiri tertegun. Tubuhnya yang ramping seperti patung dewi Yunani, diam tak bergerak di ambang pintu ketika melihat kakak laki-lakinya. Sesaat ia bengong, baru kemudian tampak berseri-seri, keceriaan terpancar di matanya, di pipinya, dan akhirnya seulas senyum ceria tersungging di bibir-nya. "Rink," panggilnya lirih.
Ia langsung menghambur mendekati Rink, melingkarkan tangannya yang kurus di leher kakak laki-lakinya itu dan membenamkan wajah di leher kemeja Rink. Rink balas memeluk Laura, mengangkatnya, lalu mengayun-ayunnya ke de-pan dan ke belakang sambil tetap mendekapnya. Matanya dipejamkannya rapat-rapat untuk menekan emosi yang menguasai perasaannya. Laura Jane-lah yang pertama melepaskan pelukan. Dengan jemarinya yang kelihatan rapuh seperti tanpa "semangat hidup, dielusnya wajah kakak laki-lakinya, rambutnya, bahunya, seakan hendak meyakinkan diri bahwa kakaknya benar-benar ada di hadapannya.
"Kau jangkung sekali," komentar Laura. "Dan tegap." Laura tertawa, memegang otot lengan Rink.
"Kau cantik dan begitu dewasa." Rink menga-mati tubuh Laura, gadis muda yang cantik dan halus. Kemudian keduanya tertawa bahagia ka-rena bisa berjumpa. Kembali mereka berpelukan.
"Daddy akan meninggal, Rink," ujar Laura Jane serius ketika akhirnya mereka saling me-lepaskan pelukan. "Caroline sudah memberitahumu...”
"Ya," jawab Rink pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telun-juknya.
"Tetapi sekarang kau sudah ada di rumah. Haney, Caroline, dan Steve... Oh, ya ampun! Aku lupa memperkenalkannya padamu." Laura berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Laura Jane meraih tangan-nya dan menariknya maju. "Steve Bishop, ini kakakku, Rink."
Steve melepaskan jarinya dari genggaman tangan Laura untuk menyalami Rink, yang memandangnya dengan sorot mata penuh selidik. "Mr. Lancaster, apa kabar?"
"Panggil Rink saja," jawab Rink, menjabat tangan Steve kuat-kuat. "Sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Setahun lebih sedikit."
Rink melirik adik perempuannya lalu kembali memandang si manajer kandang kuda. "Laura Jane pernah menyebut namamu dalam suratnya."
"Salah satu kuda betina melahirkan kemarin, Rink," Laura Jane memberitahu Rink dengan suara riang. "Steve yang menolongnya melahir-kan."
"Saya harus kembali untuk melihat keadaan mereka," kata Steve.
"Tinggallah di sini sebentar, minum teh dan menikmati kue-kue kecil bersama kami," ajak Haney.
Sejenak Steve menatap Rink, lalu memalingkan wajah. "Terima kasih. Saya harus segera melihat anak kuda yang baru lahir itu."
"Besok pagi aku akan menjenguknya, Steve: Boleh?" Laura Jane bertanya sambil menggeng-gam tangan Steve lagi.
"Tentu saja," jawab Steve lembut sambil ter-senyum melihat kepolosan sikap Laura. "Ia pasti rindu sekali padamu bila kau tidak menjenguknya.
Steve melepaskan genggaman tangan Laura dan keluar lewat pintu belakang. "Selamat malam, Steve," ucap Laura.
"Selamat malam, Laura," jawab Steve. Kemu-dian Steve menyentuh pinggir topi koboinya sebagai salam hormat kepada yang lain, meng-hilang di kegelapan malam dengan langkah ter-pincang-pincang.
Rink menatap kepergiannya lalu menutup pintu. Haney sibuk memotong kue pecan pie dan menyendokkan es krim vanila ke atasnya.
"Aku tidak mau, Haney. Terima kasih," ujar Caroline. Lewat ekor matanya, ia melihat Rink memandanginya. "Hari ini aku letih sekali. Ku-ra$a aku mau isdrahat dulu."
"Ada yang kaubutuhkan?" tanya Haney, pri-hatin.
"Tidur nyenyak," jawab Caroline. Dicon-dongkannya badannya ke arah Laura Jane, lalu diciumnya pipinya. "Selamat malam. Besok pagi kita sama-sama ke rumah sakit dan kau bisa menemui ayahmu."
"Ya, aku mau. Selamat malam. Kau juga gembira Rink pulang, kan, Caroline?"
"Ya, tentu saja." Caroline menegakkan tubuh dan bertemu pandang dengan Rink. "Haney sudah menyiapkan kamarmu. Selamat malam, Rink."
Sebelum Rink sempat menjawab, Caroline su-dah keluar pintu, meninggalkan ruang makan menuju loteng. Ternyata berat buat Caroline untuk berada dalam satu ruangan dengan Rink. Selain itu, Rink, Laura Jane, dan Haney, yang mengasuh mereka sepeninggal Marlena, perlu waktu bersama mereka tanpa dirinya.
Suara langkah kakinya di lorong atas teredam karpet Oriental yang terhampar di sepanjang lorong. Dua lampu di sisi ranjang menerangi kamar tidurnya. Salah satu lampu itu dimatikan-nya. Berada dalam kegelapan terasa lebih nyaman bagi Caroline malam itu; seakan kegelapan mam-pu menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dilihatnya, tak ingin dipikirkannya. Caroline ber-diri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang The Retreat yang luas 4an dataran landai ditumbuhi rerumputan yang mengarah ke sungai. Bulan separo tampak di langit, tetapi ia dapat melihat pantulannya di permukaan air dari kejauhan. Segalanya terasa begitu damai.
Caroline hanya butuh ketenteraman. Tiga pu-kulan berat menghantamnya hari ini. Ia tahu suaminya akan meninggal. Steve bersikap lebih daripada sekadar teman terhadap Laura Jane, bahkan lebih daripada mengasihani. Dan Rink, yang kini pulang.
Sambil menarik napas dalam, ia menjauhi jendela dan membuka pakaiannya. Setelah bathtub dipenuhi air hangat, Caroline berendam di dalam bathtub yang penuh busa wangi sambil memejamkan mata. Saat itulah dibiarkannya dirinya menangis. Untuk Roscoe. Selama ini Roscoe frustrasi gara-gara penyakitnya, tetapi laki-laki itu berkeras tidak mau memeriksakan diri ke dokter. Buat pria yang penuh vitalitas seperti Roscoe, kenyataan dirinya diserang penyakit sulit diterima. Barangkali akan jauh lebih baik bila maut segera menjemputnya. Memaksa Roscoe yang selalu penuh semangat dan ambisi berbaring tak berdaya dan hanya bisa mengeluh kesakitan di ranjang rumah sakit selama berbulan-bulan juga sangat tidak manusiawi.
Caroline berendam di bathtub beberapa lama sampai air matanya mengering dan air mandinya dingin. Ia ingin cepat-cepat tidur. Seisi rumah sudah senyap. Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya ketika ia menarik bedcover ran-jang. Caroline terlonjak karena terkejut.
Dari pintu kamar yang dibukanya sedikit, Caroline melihat sosok seseorang di bawah cahaya remang-remang, berdiri di lorong rumah yang sunyi. "Ada apa?"
"Aku mau bicara denganmu."
Rink langsung menerobos masuk. Karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan, Caroline tak pu-nya pilihan lain kecuali membiarkan pria itu masuk dan menutup pintu kamarnya. Rink ber-diri di tengah kamar, pelan-pelan berbalik, memerhatikan semua perabot yang ada di dalam kamar. Ia melangkah ke dekat jendela, tangannya menyentuh tirai, seperti mengingat-ingat suasana kamar itu di masa lalu. Diamatinya barang-barang antik yang ada di meja rias. Ia melirik ke arah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Apakah ia mencari sosok anak laki-laki kecil seperti dulu?
"Dulu ini kamar tidur ibuku," ucap Rink akhirnya.
Tangan Caroline yang berkeringat saling meng-genggam di pinggang. "Ya, aku tahu. Kamar yang cantik. Salah satu yang kusuka di rumah ini.
"Cocok untukmu," komentar Rink, sambil mengamati pantulan tubuh Caroline yang berdiri di belakangnya di cermin. "Sebagaimana cocok untuk ibuku. Kamar ini sangat perempuan."
Ketika Rink tak juga mengalihkan pandangan dari dirinya, sadarlah Caroline akan pakaian yang membungkus tubuhnya. Pakaian tidur beri-kut jubah luarnya itulah yang jelas membuat tatapan mata Rink yang penuh hasrat tersebut tertuju padanya. Caroline sadar ia belum menge-nakan apa-apa di balik baju tidur, meskipun tubuhnya tertutup dari dada sampai ujung kaki. Dan yang paling meresahkannya adalah mengetahui Rink menyadari hal itu juga.
Tatapan matanya yang tajam berhenti di dadanya, di pinggangnya, di bawah pinggangnya. Seperti merespons perintah tanpa kata-kata, bagian-bagian tubuh itu bangkit dan bereaksi. Dada Caroline menegang. Pangkal pahanya bagai merekah. Caroline memaki-maki tubuhnya, menyumpahi diri, tetapi juga tak berdaya menekan dorongan hasrat yang menggebu-gebu, mengaliri setiap simpul saraf tubuhnya karena sorot mata keemasan itu.
Rink menggenggam segelas bourbon, lalu me-neguknya dengan penuh kenikmatan. Ia betul-betul menikmati cairan minuman keras yang membakar tenggorokan itu mengalir turun me-nuju perutnya. "Rupanya Daddy tetap menyukai wiski mahal," komentar Rink. "Dan perempuan cantik. Kau kelihatan sangat cantik di dalam kamar ini, Caroline, apalagi dengan sinar lampu remang-remang yang menimpa rambutmu." Kembali Rink mengamati sekujur tubuh Caroline lewat cermin, kemudian berbalik dan menjauh.
Rink melangkah ke arah kursi malas di pojok kamar dan merebahkan diri di kursi itu. Tetapi rupanya kursi tersebut dirancang untuk tubuh perempuan, bukan Rink. Ujung sepatu botnya menggantung. Dengan satu tangan dipeganginya botol minuman keras yang diletakkannya di pe-rur, sementara tangannya yang satu lagi diletak-kan di bawah kepala, sambil matanya tetap memandangi Caroline bak burung rajawali yang mengincar mangsa. Caroline berdiri resah di tempat yang sama dengan ketika Rink memasuki kamar.
"Ibu dan Daddy tidak pernah tidur bersama di kamar ini," kata Rink enteng, tetapi Caroline tidak tertipu. Tak pernah Rink mengatakan se-suatu tanpa alasan. "Masih segar dalam ingatanku peristiwa hari itu, ketika Daddy meminta ibuku tidak mempersoalkan keinginannya pindah ke kamar tidurnya sendiri setelah Laura Jane lahir. Berjam-jam lamanya Ibu menangis. Sejak itu Daddy tidak pernah tidur bersama Ibu lagi." Kembali Rink meneguk wiskinya dan tertawa keras. "Kurasa Daddy tak pernah memaafkannya gara-gara Laura Jane."
"Ia mengasihi Laura Jane," protes Caroline. "Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik buat Laura."
Kembali tawa Rink meledak, kali ini lebih keras lagi. "Oh ya? Ia memang pandai melakukan hal-hal seperti itu. Melakukan hal yang dipikirnya baik untuk seseorang."
Caroline memaksa dirinya bergerak. Ia melang-kah ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya, mengencangkan tali pinggang baju tidurnya. "Jadi masalah ini yang hendak kaubicarakan denganku?"
"Tentang suami-istri yang tidur seranjang?' tanya Rink, sambil menaikkan salah satu alis matanya. "Atau tentang Laura Jane?"
Jelas Rink mencari gara-gara. Di mana kelem-butan laki-laki ini? Kelembutan yang pernah ditunjukkan pria itu kepadanya ketika mereka berjumpa sembunyi-sembunyi atau ketika mereka saling mencurahkan isi hati? Rink seperti orang asing baginya, padahal dulu ia begitu akrab dengannya.
Kemeja Rink tidak dikancing, terbuka. Dada-nya kelihatan bergerak naik-turun tiap kali ia menarik napas. Caroline masih ingat penampilan Rink ketika ia pertama kali melihatnya, air sungai menitik turun di dadanya yang bidang dan rambut hitamnya yang kusut. Perutnya masih keras dan rata sekarang, tetap berotot. Sebaris rambut hitam membelah tubuh itu menjadi dua bagian yang sempurna, sebelum akhirnya ter-tutup garis pinggang celana jinsnya. Di balik celana jins yang ketat itu membayang kejantanan-nya.
Dengan gugup Caroline cepat-cepat mem-buang pandangan dari tubuh Rink. "Mengapa kau ingin membicarakan masalah itu denganku? Aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran antara kau dan ayahmu."
Rink merasa kata-kata Caroline lucu dan ia tertawa geli beberapa saat, sambil tetap dengan asyik menghabiskan wiski. Kemudian ia bangkit dari kursi malas dan berjalan menghampiri Caroline. Sinar lampu kamar yang satu-satunya itu memantulkan bayangan hitam tubuh Rink. Ia menakutkan, berbahaya, dan memikat. Caroline berusaha tidak menunjukkan perasaan takutnya terhadap Rink. Bukan takut mem-bayangkan apa yang akan dilakukan Rink ter-hadap dirinya, tetapi takut terhadap respons yang muncul dari dalam dirinya bila Rink benar-benar melakukan sesuatu.
"Aku butuh mobil besok pagi. Aku menemui-mu untuk meminjam mobil."
"Oh, boleh," sahut Caroline sambil menarik napas lega. "Kuambilkan kuncinya." Caroline bangkit dari ranjang, berusaha sebisa mungkin tidak bersinggungan dengan tubuh Rink ketika bangkit. Namun ketika ia melewati Rink, sesaat pahanya menyentuh paha Rink dan ia merasakan ototnya berkontraksi. Caroline cepat-cepat bergerak menjauh menuju lemari tempat ia menyim-pan tas. Dengan jari-jari gemetar, Caroline men-cari-cari kunci mobilnya, yang akhirnya ditemukannya dan langsung diletakkannya di telapak tangan Rink. "Mau ke mana kau pagi-pagi?"
"Aku ingin menemui dokternya sebelum ber-temu Daddy. Aku akan kembali menjelang siang untuk mengantarmu dan Laura Jane ke rumah sakit, bila kau bersedia."
"Ya, boleh saja. Tetapi pagi-pagi ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu." "Urusan di pemintalan kapas?" "Ya, aku harus memeriksa pembukuannya." "Ya, kudengar soal itu dari Granger. Katanya, kau banyak membantu pekerjaan Daddy sebelum menikah dengannya." Rink maju selangkah lebih dekat. Napasnya yang hangat dan berbau bourbon mahal menerpa wajah Caroline.
"Granger berlebihan." Caroline berusaha memiringkan tubuh, tetapi dengan sengaja Rink juga memiringkan tubuh. Yang terjadi, taktik yang semula dilakukan untuk menghindari Rink malah membuat tubuh mereka lebih rapat.
"Aku tidak yakin. Aku berani bertaruh kau sangat diperlukan Daddy dalam banyak hal, bukan?"
Mata Caroline berkilat marah ketika melirik Rink. "Mengapa kau menyindirku terus-menerus, Rink?"
"Karena aku selalu tergelitik untuk melihat reaksimu dengan mengganggumu, itulah alasan-nya. Caroline, yang begitu muda, begitu manis, begitu sederhana, begitu... polos." Kata-kata itu meluncur deras dari bibir Rink bak air yang mengucur dari keran yang terbuka.
Caroline mengangkat tangan, tetapi Rink me-nangkap tangan itu dan memelintirnya ke bela-kangnya, menarik tubuh Caroline mendekat ke tubuhnya. Dada Caroline menempel di dada Rink yang bidang. Ibu jari kaki Caroline ber-singgungan dengan ujung sepatu bot Rink. Wajah Rink hanya beberapa inci dari wajahnya. Ketika ia berbicara, setiap kata yang meluncur dari bibirnya diucapkan dengan penuh amarah.
"Pernah kubiarkan kau menamparku, tetapi bila kau berani menamparku lagi, kau akan menyesali perbuatanmu."
"Apa yang akan kaulakukan? Balas menampar-ku?"
Rink tersenyum mengejek. "Oh, tidak akan. Bukan begitu caraku membalasnya. Aku akan melakukan sesuatu yang sangat tidak kausukai." Rink merapatkan tubuh Caroline ke tubuhnya yang bereaksi, membuat Caroline seketika me-ngerti maksud ucapan Rink. Rink menundukkan kepalanya lebih dekat. "Atau kau menyukainya, Caroline? Hmm?" Gesper ikat pinggang Rink menyentuh pakaian tidur Caroline, menggores perutnya. "Di mata setiap orang kau memang Mrs. Roscoe Lancaster. Tetapi bagiku kau tetap Caroline Dawson. Gadis muda yang melintas hutan untuk bekerja di musim panas... sambil perlahan-lahan membuatku gila."
Caroline menatap Rink. Sorot matanya menan-tang. Penuh amarah, bak awan badai yang berembus dari Teluk yang membawa hujan, angin, dan petir. Rambut Caroline yang tadi dipuji Rink tergerai dari wajahnya ke punggung. "Jadi kau masih ingat, Rink. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah kau masih punya ke-nangan akan hal itu."
Sesaat mata Rink membelalak, kemudian me-nyipit. Ia menatap wajah Caroline dengan panas, lama berhenti di bibirnya, kemudian turun dari leher ke buah dadanya, yang kini agak menyem-bul dari balik baju tidurnya, lalu kembali ke atas lagi. Sorot matanya memancarkan per-golakan, pertanda terjadi pergulatan di dalam diri Rink.
"Ya," jawab Rink kasar. "Ya, brengsek! Aku masih mengingatnya."
Caroline dibebaskan begitu mendadak sehingga ia terhuyung dan bersandar di meja riasnya. Ketika keseimbangan tubuhnya kembali, Rink melangkah keluar dari kamar dengan sikap murka.
Sialan! Ia berharap ia tidak ingat semua kenangan manis itu.
Di kamarnya, Rink membuka kemeja, mengisi gelas dengan minuman keras dari botol yang dicurinya di lemari minuman keras ayahnya, lalu merebahkan diri di kursi malas yang selalu diletakkan di dekat jendela. Diteguknya wiski itu, tetapi karena minuman itu sudah kehilangan rasa, diletakkannya gelas tersebut dengan jengkel. Ia membungkuk, membuka sepatu bot, lalu me-lemparkannya ke permadani sehingga menimbul-kan suara gedebuk perlahan.
Sambil bersandar, kepalanya di bantalan kursi yang empuk, dibiarkannya pikirannya menerawang ke masa lalu, ke suatu musim panas ketika ia berusaha kabur dari pemintalan kapas, pengawasan ayahnya, dan panas matahari Mississipi yang menyengat. Ia pergi ke tepi sungai, tanpa pakaian selembar pun terjun ke sungai yang airnya dingin. Ketika ia naik ke darat kembali, sewaktu sedang mengeringkan tubuh dan memakai celana jins, ia melihat perempuan itu....
"Astaga!" teriak Rink. Jari-jarinya meraba-raba hendak menutup ritsleting celana jins. "Sudah berapa lama kau di situ?" Rink ingin tertawa melihat reaksinya. Kalau Rink hanya terkejut melihatnya, gadis itu seperti lumpuh.
Rink tidak mengira gadis itu akan menjawab, tetapi kemudian dengan tergagap ia berkata, "Aku... aku baru saja sampai di sini."
"Hmmm, baguslah, karena aku tadi berenang telanjang bulat. Bila kau datang lebih cepat, kita berdua bisa malu."
Senyum Rink lebar dan penuh percaya diri, penuh keangkuhan. Meski si gadis yang memakai kaus kaki pendek dan sepatu murahan itu masih terkejut dan gemetar, ia berusaha membalas ter-senyum dengan malu-malu. "Kuharap aku tidak mengganggumu," katanya dengan kesopanan yang, dalam situasi seperti ini, membuat Rink geli.
"Tidak, aku sudah selesai. Udara panas sekali. Aku jadi ingin berenang."
"Ya, udaranya memang panas. Karena itulah aku mengambil jalan pintas ini. Di sini lebih teduh ketimbang di jalan raya."
Sejak awal Rink sudah tertarik pada gadis itu. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi juga karena penampilannya yang berbeda. Roknya yang terbuat bahan katun bersih dan licin, tetapi sudah ketinggalan zaman. Blusnya juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, menebarkan aroma sabun cuci, bukan wewangian Youth Dew, yang sepertinya dipakai semua gadis masa itu.
Di balik blus gadis tersebut, Rink melihat garis-garis branya yang putih, yang pastilah sangat tidak nyaman. Gadis-gadis umumnya memakai model yang disebut push-up bra—bra untuk menaikkan payudara, yang bertujuan, Rink yakin, membuat teman kencan mereka tergila-gila.
Ia mengalihkan pandangannya dari payudara si gadis, merasa malu pada dirinya sendiri karena membuat analisis seperti yang dilakukannya ter-hadap gadis-gadis yang dikenalnya. Ia hanya gadis kecil. Lima belas? Enam belas? Paling-paling. Ia tampaknya takut sekali padanya.
Tetapi ya ampun, gadis itu cantik sekali. Kulitnya bersih; matanya kelabu bagai kabut yang melayang rendah di rawa-rawa; tubuhnya indah, molek, menunjukkan lekuk feminin. Ram-butnya mengilap, seperti kayu mahoni yang di-pernis. Tiap kali angin meniup pepohonan di atas kepalanya, sinar matahari menerpa rambut-nya seperti kilatan cahaya di rambut yang lebat itu.
"Kau mau ke mana?"
"Ke kota. Aku kerja di toserba Woolworth."
Rink tidak pernah mengenal gadis yang harus bekerja pada musim panas. Umumnya mereka menghabiskan musim panas dengan berjemur di dekat kolam renang, milik pribadi atau milik umum, sampai bertemu seseorang yang mereka kenal dan merencanakan pesta untuk malam harinya.
"Namaku Rink Lancaster."
Ia menatap Rink dengan sorot mata aneh. Rink mengira karena ia telanjang bulat. Gadis itu berusaha menekan rasa ingin tahunya, tetapi matanya terus berkelebat ke dada Rink, perutnya, dan ritsleting celana jinsnya yang belum tertutup. Biasanya itu justru menaikkan rasa percaya diri Rink, meyakinkannya bahwa dengan mudah gadis itu bisa ditaklukkannya. Ia menganggap reaksi seperti itu sebagai pemberitahuan si gadis tertarik padanya dan bisa diajak kencan. Tetapi sorot mata gadis tersebut yang demikian polos justru menjengkelkan hatinya. Dengan tatapan matanya yang selalu tertuju ke ritsleting celana-nya, Rink resah menyadari hasrat yang tak di-inginkannya makin menggebu saat itu.
Untuk menunjukkan sikap santunnya, ia maju selangkah hendak menyalaminya. Sesaat gadis itu terkejut, tetapi kemudian ia pun menyambut tangan Rink dengan malu-malu. "Caroline Dawson," jawabnya dengan suara gemetar, sambil menatap mata Rink.
Mereka berpandangan.
Waktu bergulir, serangga berderik di atas ke-pala mereka, pesawat menderu di langit tinggi, air mengalir membasahi batu-batuan di tepi su-ngai yang berlumut. Sesudah beberapa lama baru-lah keduanya bergerak dan melepaskan tangan masing-masing.
"Dawson?' Rink mengulang nama keluarga si gadis dan heran mendengar suaranya sendiri jadi sama seperti sepuluh tahun yang lalu, sebelum terjadi "perubahan". "Putri Pete Dawson?"
Gadis itu menunduk dan Rink melihat bahu-nya terkulai. Bodoh! Mengapa ia mengajukan pertanyaan dengan nada tidak percaya seperti itu? Setiap orang kenal siapa Pete Dawson. Se-panjang hari kerjanya main kartu, minta uang pada orang bodoh yang kebetulan bertemu atau berbicara dengannya, sampai ia mendapat uang cukup untuk membeli minuman yang bisa di-nikmatinya sampai keesokan hari.
"Ya," jawab gadis itu lembut. Kemudian, meski agak gemetar, ia mengangkat kepala dengan sikap percaya diri yang membuat Rink lega kembali, dan berkata, "Aku harus segera pergi, kalau tidak nanti aku terlambat kerja."
"Aku senang berkenalan denganmu."
"Aku juga."
"Hati-hati berjalan di hutan." Gadis itu ter-tawa. "Apa yang lucu?"
"Kau memperingatkanku agar berhati-hati, se-mentara kau sendiri berenang di sungai." Gadis itu menunjuk sungai. "Mungkin saja di sana ada ular berbisa, dan siapa yang tahu ada makhluk-makhluk lain apa di sana. Mengapa kau tidak berenang di kolam renang di kota saja?"
Rink mengangkat bahu. "Aku merasa kepanasan."
Ia kepanasan. Tuhan, ia merasa sangat ke-panasan. Ketika tertawa, gadis itu menengadahkan kepalanya ke belakang, menampakkan lehernya yang putih, mulus, dan begitu mengundang. Rambutnya mengilap menutupi leher dan bahu. Bau sabun cuci dan tepung kanji mulai tercium lebih wangi di hidung Rink daripada parfum mahal mana pun. Bau itu begitu membaur dengan aroma kulitnya yang segar. Tawanya yang renyah dan tulus menyentuh hati Rink. Tawa itu mengelus bagian hatinya yang sakit luar biasa.
Ya, Rink kepanasan. Terbakar karena cuaca yang panas. "Pukul berapa kau pulang kerja?" Rink sama terkejutnya seperti Caroline ketika mendengar pertanyaan yang mendadak meluncur keluar dari mulutnya tersebut.
"Pukul sembilan." Dengan hati-hati Caroline mulai melangkah mundur.
"Malam hari? Kau pulang sendirian malam hari?'
"Ya. Tetapi aku tidak lewat hutan. Aku hanya lewat di sini pada siang hari."
Sejenak Rink membayangkannya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenal-nya, di kota Winstonville ini atau di Ol'Miss.
"Aku akan terlambat kerja," ujar Caroline dan makin menjauhkan diri, namun Rink me-rasakan keengganan dalam diri gadis itu.
"Ya, tentu. Jangan sampai terlambat. Sampai nanti, Caroline."
"Sampai jumpa, Rink."
Banyak yang tak terucapkan dengan kata-kata pada waktu mereka berpisah. Rink ingin mereka bertemu lagi. Caroline tak pernah membayangkan mereka bisa berjumpa lagi.
Rink masuk ke mobil convertible-nya. tanpa lewat pintu. Ia langsung melaju pulang ke ru-mahnya, The Retreat, dengan kecepatan tinggi dan masuk ke kamarnya, naik dua anak tangga sekali langkah, dan....
Kini, sebagaimana sebelumnya, bayangan Caroline memenuhi benaknya. Rink ingat memasuki kamar yang sama di suatu sore dua belas tahun yang lalu. Dilemparkannya pakaiannya ke lantai tetapi ternyata pakaian itu jatuh ke kursi yang sama. Ia duduk santai di kursi yang sama saat ini, dengan bayangan perempuan yang sama memenuhi benaknya. Caroline masih menyimpan misteri, masih sulit dipabami, menghantui dan menguasai-nya.
Dan kini, seperti waktu itu, ia sadar, upaya apa pun yang ia lakukan tak mungkin bisa mengobati luka hatinya, tak bisa meredam gejo-lak hasratnya yang membara.




Bab 3

HARI masih pagi ketika ia terbangun. Caroline ingin tidur lebih lama, tidak ingin bangun, tak ingin menghadapi rangkaian krisis berupa penyakit yang diderita Roscoe dan bertemu Rink yang kini kembali tinggal di Winstonville.
Ia mendengar suara pintu depan di lantai bawah dibuka dan ditutup kembali dengan per-lahan sekali. Disibakkannya penutup ranjangnya, lalu berjalan menyusuri lorong yang menuju teras rumah di lantai dua. Sinar matahari belum lagi menerangi pucuk pepohonan, namun cahaya-nya yang berwarna jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Sebuah bintang dan bulan separo tampak jelas di langit yang bersih. Kabut ber-gulung naik, meninggalkan permukaan rumput yang berembun. Lagi-lagi udara akan lembap hari ini.
Tepat di bawah lantai ia berdiri, Caroline melihat Rink memasuki serambi. Rink tampak terpaku di anak tangga paling bawah dan melempar pandangan ke sekeliling rumah, yang Caroline tahu pasti tempat yang sangat disayangi Rink. Tempat yang sangat berarti buat Rink, sepenting tarikan napasnya. Caroline merasa iba, membayangkan Rink, yang memaksakan diri ber-tahun-tahun tinggal jauh dari rumah yang sangat disayanginya.
Dengan langkah pelan Rink menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Ia mengenakan celana jins dan mantel bergaya sport, gaya ber-pakaian yang terlalu mewah untuk koboi pekerja, tetapi cocok buat Rink. Celana jinsnya belel modis, dikanji dan disetrika licin. Caroline terus mengamati Rink yang merogoh saku depan, mencari-cari kunci mobil.
Rink membuka pintu mobil lebar-lebar. Saat itulah tanpa disengaja ia melihat Caroline yang memandanginya dari teras rumah di lantai dua. Rink menopangkan tangan pada atap mobil, balas menatap Caroline.
Caroline tetap berdiri terpaku, tidak berbicara, tidak pula memberi salam pada Rink, hanya matanya yang bicara. Mereka saling menatap. Saiing memandang. Beberapa saat lamanya, di pagi hari yang berlangit keemasan, mereka saling menatap. Di keremangan sinar matahari pagi sosok mereka seperti tidak nyata, di luar jang-kauan waktu. Dalam keakraban yang hening itu mereka melepaskan semua pertahanan diri. Keduanya hanyut mengikuti suara hati mereka.
Tak ada apa pun lagi di dunia ini yang mampu menyelamatkan keduanya.
Sampai akhirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rink memasuk mobil Lincoln-nya dan melaju pergi. Dengan perasaan sedih Caroline kembali ke kamar dan berganti pakaian. Dipandanginya dirinya di depan cermin, ber-tanya-tanya, "Bagaimana bisa terjadi seperti ini?"
Satu-satunya pria yang pernah dicintainya, atau pria yang hampir pernah dicintainya, hanyalah Rink Lancaster. Sesaat mereka menikmati sesuatu; yang sangat istimewa dan langka. Paling tidak, begitulah buat Caroline. Dibiarkannya dirinya berkhayal mendapatkan sesuatu yang kecil ke-mungkinannya bisa diraihnya. Ia tolol sekali waktu itu, begitu memercayai cerita Rink di musim panas itu. Padahal kata-kata Rink tidak punya arti apa-apa. Dirinya hanyalah sekadar| mainan baru buat Rink.
Namun nasib yang tak bisa ditebak menentu-kan lain—dia menikah dengan ayah Rink. Ayah Rinkl Ketika Roscoe melamarnya untuk menjadi istri, lamaran itu bak jalan untuk mewujudkan; mimpi-mimpinya. Untuk mendapatkan kehor-matan, uang. Orang-orang yang selama ini me-rendahkannya, menghinanya selama hidupnya, harus menghormatinya.
Rink sudah pergi, takkan pernah muncul kem-bali. Mengapa tak pernah terlintas dalam benak-nya ada kemungkinan Rink akan kembali? Bagaimana perasaannya bila Rink benar-benar kembali? Benarkah selama ini ia bersikap jujur terhadap dirinya? Apakah ia menikah dengan Roscoe ka-rena ingin membahagiakan Roscoe, membantu mengurus bisnisnya, menjadi teman Laura Jane, bukan karena ingin membuat Rink cemburu dan sedih sebab laki-laki itu meninggalkan diri-nya seenaknya? Tidakkah ini hanya pembalasan untuk perasaan sakit hati yang harus ditanggung-nya ketika Rink meninggalkannya? Tidakkah diam-diam ia berharap Rink mendengar kabar pernikahannya, teringat peristiwa di musim panas dua belas tahun yang lalu, menyulut murka dalam hati Rink?
Caroline tersenyum getir saat melihat pantulan dirinya di cermdn. "Ia hanya geli, Caroline. Ia cuma geli dan jijik."
Haney sudah ada di dapur ketika Caroline turun beberapa saat kemudian untuk minum kopi. "Selamat pagi."
"Pagi sekali kau bangun," komentar Haney dari balik punggungnya.
"Aku harus membayar gaji karyawan, ingin kuselesaikan secepatnya supaya bisa beristirahat." Caroline menyeruput kopi. "Kau juga bangun lebih pagi daripada biasanya."
"Aku ingin menyiapkan sarapan istimewa un-tuk Rink."
"Ia sudah pergi, Haney."
Haney berbalik dan menatap Caroline, seakan memintanya menegaskan kembali apa yang di-dengarnya. "Sudah pergi?"
"Ya, kira-kira sejam yang lalu."
Haney menggelengkan kepala, sambil berdecak. "Tidak teratur makannya dia itu. Aku sibuk membuat sarapan, ia malah keluar lebih cepat, bahkan sebelum aku sempat menghidangkan-nya.
Caroline meletakkan tangannya di pundak Haney, menghiburnya. "Mengapa tidak diberikan kepada Laura Jane? Minta Laura memanggil Steve ke sini untuk menikmatinya bersamanya. Aku yakin mereka akan senang."
"Baiklah," sahutnya, sambil menggerutu. "Te-tapi suasana tetap lain kalau tanpa Rink. Tidak ada yang sama lagi di rumah ini sejak Rink menikah dengan perempuan itu dan meninggal-kan kota ini."
Haney betul dalam hal itu, batin Caroline sambil berjalan ke pintu belakang menuju kamar kerja Roscoe. Dengan perasaan sakit ia menge-nang peristiwa yang terjadi hari itu, hari Rink tidak muncul di tempat pertemuan mereka. Hari itu, di tempat kerjanya, dengan perasaan hancur Caroline mendengar kabar tentang Rink Lancaster yang akan menikah dengan Marilee George, gadis dari keluarga terkemuka di kota Winstonville. Dunia Caroline pun berubah.
Caroline memeriksa pembukuan cepat-cepat tanpa berpikir. Waktu ia menelepon ke pabrik pemintalan kapas, mandor jaga pagi melaporkan segalanya berjalan lancar.
"Tetapi ada satu mesin yang tidak beres. Na-mun Anda tak perlu mencemaskannya pada saat seperti sekarang ini."
"Aku yakin kau mampu mengatasinya, seperti biasa, Barnes. Selama Roscoe masih hidup, tang-gung jawab tetap ada pada Roscoe, aku akan memberikan laporan kepadanya."
"Baik, Ma'am," jawab mandor itu sebelum menutup telepon.
Caroline tahu beberapa karyawan laki-laki di pabrik tidak suka menerima perintah dari perem-puan, terutama perintah darinya, putri Pete Dawson. Namun, andai pun perkiraannya itu benar, mereka tidak akan pernah berani meng-ungkapkan pendapat mereka itu. Mereka sangat takut pada Roscoe. Tetapi apa yang akan terjadi bila Roscoe tiada?
"Ada masalah?"
Caroline seketika mendongak dan melihat Rink di ambang pintu. Caroline sadar alis mata-nya berkerut karena dilanda perasaan cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri. "Masalah kecil. Kau kan paham keadaan di pabrik pemin-talan kapas ini."
"Sebetulnya, aku tidak tahu." Rink menjawab sambil melangkah masuk. Jaket sport disampirkan di pundak, ditahan jari telunjuknya. Tiga kancing pertama kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan lehernya yang kecokelatan dan bulu dadanya yang hitam lebat. "Aku meninggalkan kota kelahiranku ini sebelum banyak terlibat dengan urusan di pemintalan." Kini Rink berdiri di dekat mejanya. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sampai wajahnya sejajar dengan wajah Caroline. "Bagaimana kalau kauberitahu aku, boss ladyr
Tersulut perasaan marah, Caroline langsung bangkit, menyebabkan kursi berodanya meluncur ke belakang. Mereka berhadapan seperti dua petinju yang siap bertanding di arena, menanti-kan bunyi bel untuk memulai pertandingan.
"Rink, Haney memintaku datang ke sini untuk memberitahumu. Ia menyiapkan sarapan untuk-mu dan ia ingin kau memakannya." Dengan riang Laura Jane memasuki ruangan dan me-meluk Rink, kakak laki-lakinya. "Selamat pagi, Caroline. Aku juga diminta membawakan sarapan untukmu. Haney berpesan kau tidak boleh menolaknya."
Mereka tidak jadi berdebat lagi, tetapi Rink tidak membiarkan Caroline lolos begitu saja. Ia menjulurkan tangan ke hadapan Caroline. "Caroline." Caroline ridak punya pilihan lain, kecuali membiarkan tangannya digenggam tangan Rink dan membiarkan dirinya dituntun ke meja makan. Namun Rink tidak melepaskan geng-gaman tangannya meski mereka sudah berada di ruang makan. Kalau Rink menggenggam tangan Laura Jane, itu tidak jadi masalah. Tetapi bila telapak tangan Rink bersentuhan dengan telapak tangannya, jari-jarinya mencengkeram kuat jemarinya seakan ia miliknya, bulu roma Caroline jadi bergidik.
Kendati makanan yang dihidangkan Haney sangat istimewa, Caroline tidak dapat menikmati-nya. Rink kelihatan tidak terlalu senang melihat Steve duduk di samping Laura Jane. Steve ber-kali-kali melemparkan pandang resah ke sekeliling ruangan, seperti mengisyaratkan ingin segera di-izinkan meninggalkan ruang makan. Sikap per-musuhan antara Rink dan Caroline demikian kentara, meskipun mereka tetap bersikap sopan. Haney tidak habis mengerti, ia malah tersinggung karena ketegangan di antara kedua orang itu menghancurkan segala upayanya untuk menjadi-kan saat itu sebagai hari istimewa menyambut kepulangan kembali Rink ke rumah.
"Mengapa semua marah-marah?" tanya Laura Jane tiba-tiba.
Semua mata tertuju padanya, terkesima. Hanya Laura Jane yang kelihatan gembira, menikmati kehadiran orang yang dikasihinya. Tetapi komen-tarnya memang benar, dan ia bisa menangkap ketegangan yang terjadi di meja makan.
Caroline-lah akhirnya yang membuka suara, "Kami semua mengkhawatirkan kondisi Roscoe," katanya lembut, sambil mengulurkan tangan, mengelus tangan Laura Jane.
"Tetapi Rink sudah di sini. Juga Steve." Laura menatap Steve dengan mesra. "Kita harus ber-gembira."
Laura Jane membuat yang lain merasa malu pada diri mereka sendiri. Rink tidak lagi menatap Steve dengan pandangan curiga atau kelihatan tegang setiap kali mendapati Steve menatap Laura Jane. Ia dan Caroline berhenti saling menatap penuh permusuhan; keduanya bahkan mengobrol tentang orang-orang yang dikenal Rink beberapa tahun yang lalu. Caroline memberitahu Rink siapa saja yang menikah, siapa yang bercerai, siapa yang makin kaya, dan siapa yang menjadi miskin.
Begitu selesai makan, Steve berdiri, mengucap-kan terima kasih pada Haney, kemudian langsung berjalan ke arah dapur. "Tunggu sebentar, Steve," panggil Laura Jane. "Aku ikut, aku ingin me-nengok anak kuda itu."
"Kita akan pergi ke rumah sakir, Laura Jane," kata Rink singkat.
"Tetapi aku ingin melihat anak kuda itu. Aku sudah janji pada Steve akan menengoknya di kandang pagi ini."
Steve langsung menangkap maksud Rink. "Laura Jane, ayahmu akan kecewa bila kau tidak menjenguknya. Anak kuda itu tidak akan pergi kemana-mana," canda Steve. "Kau bisa men-jenguknya kapan saja kau mau."
"Baiklah, Steve," Laura menyetujui dengan suara lirih. "Aku akan menemuimu begitu kem-bali."
Steve mengangguk, sekali lagi berterima kasih pada Haney dan cepat-cepat berlalu. Ia tidak menatap Rink ketika meninggalkan ruangan.
Caroline buru-buru bangkit. "Aku akan ber-siap-siap, Rink. Laura Jane, mau dandan dulu sebelum pergi?"
"Ya, kurasa."
Mereka turun ke lantai bawah kembali be-berapa menit kemudian. Rink sudah menunggu mereka di teras. Haney berdiri di sampingnya, memegang vas berisi bunga-bunga mawar yang baru dipotong. "Haney akan menyusul dengan mobilnya, karena ia ingin membawa bunga ma-war untuk Daddy. Dan ia ingin pulang dari rumah sakit lebih dulu. Laura Jane, kau ikut mobil Haney saja, pegangi vas bunganya supaya airnya tidak tumpah."
"Biar aku saja yang memeganginya." Caroline buru-buru menawarkan diri. Tatapan mata Rink yang tajam padanya mengisyaratkan sikap tidak setuju.
"Aku ingin bicara denganmu selama perjalanan." Tanpa bisa dibantah, Rink mengantar Caroline dengan mobil Lincoln-nya, sementara Haney me-laju dengan mobil station wagon, yang sebenarnya milik The Retreat tetapi dipercayakan kepadanya.
"Apakah kau bertemu dokternya tadi pagi?" tanya Caroline, memecah keheningan.
"Ya. Ia menceritakan apa yang disampaikannya padamu dan Granger."
"Apakah... apakah dokter memberitahukan ka-pan...
"Bisa terjadi kapan saja."
Mereka melaju di jalan tol, menuju pusat kota, sebelum Rink menyinggung hal lain, "Siapa Steve?"
"Steve Bishop." Caroline langsung bersikap defensif. Ia yakin tahu apa yang bakal terjadi dan tidak ingin hal itu terjadi.
Rink mencibir kesal. "Bisa memberi penjelasan lebih mendetail lagi?"
"Ia veteran Perang Vietnam."
"Karena itukah jalannya pincang? Cedera se-waktu perang?"
"Ia kehilangan kaki kirinya dari lutut ke ba-wah." Caroline mengatakan hal itu sambil me-malingkan wajah ke arah Rink. Rink terus meng-arahkan pandangan ke jalan, namun Caroline melihat tangan Rink mencengkeram kemudi dan i otot-otot tangannya menonjol. Air mukanya te- f gang, menyiratkan kekerasan hati, tak tergoyah-kan. Dan keangkuhan. Keangkuhan vang ber-lebihan.
Caroline tahu Rink ingin tidak menyukai Steve. Mengetahui Steve cacat seumur hidup akan membuatnya sulit melakukannya. "Ketika I melamar pekerjaan, ia bersikap getir dan agak kasar. Tetapi aku yakin itu cuma cara yang digunakannya untuk mempertahankan diri meng-hadapi penolakan. Sebetulnya Steve pribadi yang sangat berhati-hati, pekerja keras, dan jujur."
"Aku tidak suka kedekatannya dengan Laura."
"Mengapa?"
"Kau masih perlu bertanya?" tanya Rink, sam-bil memalingkan kepala. "Tidak sehat dan ber-bahaya, itu sebabnya. Laura Jane tidak punya urusan untuk berkeliaran di dekat laki-laki lajang sepanjang waktu."
"Aku tidak melihat salahnya. Laura Jane juga lajang."
"Dan masih lugu soal seks. Sangat lugu. Aku tidak yakin Laura Jane paham perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan mengapa ada per-bedaan."
"Ia pasti tahu!"
"Baiklah, kalau begitu makin kuat alasan buat Laura Jane untuk tidak perlu sering bersama Steve. Karena aku yakin Steve mengerti per-bedaan itu."
"Kurasa Steve baik terhadap Laura. Ia sangat baik hati dan penyabar. Ia memang pernah terluka, bukan hanya secara fisik. Steve tahu bagaimafia rasanya menjadi orang yang terbuang dan merasa ditolak seperti yang dirasakan Laura Jane selama ini."
"Bagaimana bila ia memanfaatkan rasa suka Laura? Secara seksual...."
"la tidak akan melakukan hal seperti itu."
Rink mendengus. "Pasti begitu. Ia kan laki-laki dan Laura Jane perempuan cantik, sementara banyak kesempatan bagi mereka untuk hal itu."
"Sepertinya kau tahu banyak."
Kata-kata tajam itu meluncur keluar dari bibir -Caroline tanpa bisa ditahannya. Rink mengerem mobil di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Caroline. Air mukanya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Caroline. Caroline sudah memulai, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah-setengah.
"Kau jelas sangat paham soal memanfaatkan gadis lugu, membohonginya, membuat janji-janji yang tidak akan pernah kautepati."
"Maksudmu soal janji di musim panas itu?"
"Ya! Aku heran, bisa-bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili Marilee. Kau pasti kehabisan tenaga. Atau kauanggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati hal yang lebih menyenangkan?"
Rink membiarkan Caroline bicara panjang-lebar sebelum membuka pintu mobil dan me-nutupnya kembali keras-keras. Saat itulah Caroline baru menyadari Haney dan Laura JaMe sudah berdiri menunggu di pintu masuk rumah sakit dan memandangi mereka. Caroline merasakan jari-jemarinya dingin ketika ia mengepalkannya, tetapi ia mencoba tetap bersikap tenang ketika Rink membukakan pintu mobil dan membantunya keluar. Ia berusaha menunjukkan sikap tenang saat mereka bersama-sama memasuki lobi rumah sakit lalu menaiki lift.
Perawat yang bertugas di lantai kamar Roscoe memberitahu mereka boleh masuk sekaligus asal tidak terlalu lama. "Ia tidak bisa tidur. Ke-sakitan," kata perawat itu kepada mereka dengan sedih.
"Mungkin sebaiknya aku masuk lebih dulu dan memberitahu Roscoe kalian datang men-jenguknya," kata Caroline. Tak ada yang ke-beratan. Rink bersikap dingin dan menjauhkan diri. Haney, tidak seperti biasanya, berdiam diri. Laura Jane membelalak dan tampak ingin kabur.
Caroline mendorong pintu kamar rumah sakit yang berat dan melangkah memasuki kamar. Rumah sakit memberikan kamar yang paling besar dan paling mahal. Karangan bunga ber-deret-deret di sepanjang kusen jendela dan di meja teve. Caroline tidak suka mengakuinya, tapi Roscoe memang tidak disukai orang-orang yang pernah berurusan dengannya. Tetapi banyak yang menghormati atau takut padanya, terbukti dari tumpukan kartu ucapan cepat sembuh dan deretan %arangan bunga yang dikirim untuk-nya.
Roscoe tidak tampak menakutkan sekarang ketika ia membuka mata dan melihat kedatangan Caroline. Kulitnya abu-abu kekuningan, pucat seperti mayat. Lingkaran hitam tampak di seputar matanya. Bibirnya biru. Tetapi matanya tetap tajam dan berbinar-binar sebagaimana biasanya. "Selamat pagi." Caroline membungkukkan ba-dan ke arah Rocoe, menggenggam tangan Roscoe dan mencium keningnya. "Kata perawat kau tidak tenang sepanjang malam. Sama sekali tidak bisa istirahat?"
"Tak usah mengatur-ngatur aku, Caroline." Roscoe menarik tangannya. "Aku akan segera pergi ke alam keabadian untuk beristirahat." Roscoe tertawa dengan susah payah. "Atau untuk dibakar, aku yakin demikian. Kau sudah menyelesaikan semua pembayaran gaji?"
"Ya," jawab Caroline, sambil melangkah mundur dan menerima penolakan Roscoe atas per-hatian yang diberikannya dengan penuh penger-tian. Roscoe sakit parah. Bisa dipahami kalau ada sikapnya yang tidak menyenangkan. "Pagi ini. Aku akan mengantarkan ceknya ke pemintalan petang nanti."
"Bagus. Aku tidak ingin mereka mengira aku sudah mati." Roscoe meletakkan salah satu tangannya di perut dan meringis kesakitan, sambil menyumpah-nyumpah.
Ketika rasa sakit Roscoe mereda, Cardline ber-kata lembut, "Kau bersedia menerima tamu lain?"
"Siapa?"
"Laura Jane dan Haney."
"Haney! Perempuan munafik. Ia sangat mem-benciku sejak pertama kali mengenalku. Ia mengira aku menikahi Marlena karena uangnya dan ingin memiliki The Retreat. Ia menyalahkan aku sebagai orang yang menyebabkan Rink kabur dari rumah. Ia menimpakan kesalahan padaku atas setiap kejadian yang tidak beres dalam keluarga ini."
Caroline pura-pura menentang Roscoe. "Mengapa kau tidak memecatnya beberapa tahun yang lalu?"
Roscoe tertawa keras-keras dan baru berhenti ketika rasa sakit kembali menyerangnya. "Karena aku suka bertengkar dengannya. Ia mempertajam otakku. Sekarang ia menjengukku untuk menge-jekku yang terkapar di ranjang ini. Ha!" Caroline pernah menyaksikan sikap Roscoe yang seperti ini, tetapi ia tidak pernah memedulikan-nya dan membiarkannya sampai semua berlalu. Caroline menyesali Roscoe yang memilih bersikap seperti itu selama hari-hari terakhir mereka ber-sama. "Sudahlah, Roscoe. Tak usah marah-marah: Haney memetik bunga mawar dari taman untuk-mu."
Roscoe mendengus menyetujui bertemu Haney, pengurus rumah tangganya. "Laura Jane tidak perlu datang ke sini. Tempat ini pasti sangat menakutkan anak bodoh itu. Apakah ia tahu aku tidak akan pulang ke rumah lagi?"
Caroline membuang pandang, menghindari ta-tapan mata Roscoe yang tajam menembus. "Ya. Aku memberitahu dia kemarin."
"Apa katanya?" :
"Ia bilang kau akan pergi ke surga dan bersama-sama Marlena."
Roscoe tertawa sampai sakit kembali menye-rangnya. "Hmmm, hanya orang tolol yang berpikir demikian."
Kata-kata yang diucapkan Roscoe sungguh menyinggung perasaan Caroline, tetapi ia berusaha tetap tenang. Hampir tak pernah ia mendebat Roscoe tentang apa pun, bahkan termasuk cara Roscoe menyelesaikan masalah. "Boleh ku ajak mereka masuk?"
"Ya, ya," jawab Roscoe, sambil melambaikan tangan dengan gerakan lemah. "Lebih baik kita. segera menyelesaikannya."
"Ada seorang lagi, Roscoe."
Suara Caroline yang tenang membuat mata Roscoe kembali menatapnya nanar. Roscoe me-mandang Caroline dengan tatapan mata tajam,, menyelidik, membuat Caroline merasa tidak enak. "Rink? Rink yang datang?"
Caroline mengangguk. "Begitu Granger me-. neleponnya." ·
"Bagus, bagus, aku ingin berjumpa putraku, untuk menyampaikan beberapa hal padanya se-belum ajalku tiba."
Hati Caroline dipenuhi perasaan gembira. Ini-lah saat bagi kedua laki-laki keras kepala itu untuk menyelesaikan pertengkaran di antara me-reka. Cepat-cepat Caroline berjalan ke pintu; tidak sempat menangkap sorot mata dingin dan licik yang terpancar dari mata Roscoe ketika melihat Caroline melangkah keluar dari kamar-nya.
Laura Jane yang pertama kali masuk ke kamar. Ia lari menghambur ke ranjang dan melingkarkan tangan di leher ayahnya, memeluknya erat-erat. "Aku rindu Daddy pulang ke rumah," katanya. "Kita punya seekor anak kuda. Cantik sekali."
"Hmmm, baguslah, Laura Jane," jawab Roscoe, lalu dengan lembut mendorong badan Laura Jane menjauh darinya. Caroline mengamati, ber-harap sekali saat itu Roscoe membalas luapan sayang spontan yang diperlihatkan putrinya kepadanya. "Memetik bunga mawar, kulihat," Roscoe menggumam dengan nada marah sambil melirik pengurus rumah tangganya dengan alis berkerut.
Haney kerap jadi sasaran kemarahan Roscoe selama bertahun-tahun. Ia tidak akan termakan kata-kata Roscoe sekarang. "Ya. Ini hanya se-bagian dari mawar yang ada. Yang lainnya di-letakkan di ruang makan."
Roscoe mengagumi keberanian Haney. Sudah tiga puluh tahun mereka perang dingin, dan Roscoe menganggap Haney sebagai lawan yang seimbang baginya. "Persetan dengan bunga-bunga itu. Kau tidak bawa makanan untukku?"
"Kau tahu, kau tidak boleh menyantap ma-kanan yang bukan berasal dari rumah sakit."
"Apa bedanya?" teriak Roscoe. "Hah? Coba jawab."
Roscoe menatap perempuan-perempuan itu se-orang demi seorang dengan tatapan marah, baru kemudian memalingkan kepala ke arah putranya dengan sorot mata berapi-api. Beberapa saat kedua pria itu saling menatap. Tak ada yang bergerak. Akhirnya dada Roscoe bergerak per-lahan, memperdengarkan suara tawa rendah, de-ngan nada yang agak parau. "Masih marah padaku, Rink?"
"Aku sudah melupakan kemarahan itu beberapa tahun yang lalu, Sir."
"Itukah sebabnya kau pulang kembali? Berdamai dengan orang tua ini sebelum ia meninggal. Atau ingin menghadiri pembacaan surat wasiatnya?"
"Aku tidak punya kepentingan dengan surat wasiat itu."
Dengan bijaksana Haney maju selangkah. Ia kbawatir pertemuan ini berubah menjadi tidak menyenangkan. "Aku akan mengajak Laura Jane pulang sekarang. Laura Jane, cium Daddy, ayo kita pulang." Gadis itu dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Haney.
Roscoe tidak memedulikan kepergian mereb. Matanya tetap tertuju pada putranya. Caroline dibiarkan sendirian bersama dua generasi Lancaster yang hidup terpisah selama bertahun-tahun itu.
"Kau tampak tampan, Rink," kata Roscoe menganalisis. "Keras dan licik juga. Kelicikanmu tidak kelihatan di foto-foto penuh senyum yang muncul di surat kabar, tetapi aku melihatnya."
"Aku punya guru yang hebat." Tawa yang sama, tawa yang penuh kelicikan, kembali menggema di dalam ruangan. "Kau benar sekali, sonny, kau memang punya guru yang hebat. Satu-satunya orang yang tahu cara bertahan hidup di dunia ini. Bersikap licik ter-hadap setiap orang dan tak seorang pun bisa mengalahkanmu." Roscoe memberi isyarat dengan sikap tidak sabar, "Kalian berdua, duduk."
"Aku lebih suka berdiri, terima kasih," jawab Rink. Caroline duduk di bangku yang tersedia. Tak pernah ia melihat air muka Roscoe semasam itu. Pantas saja Rink terpaksa meninggalkan ru-mah. Ia tahu persaingan di antara mereka, tetapi tak terbayangkan situasinya seperti ini.
"Dari berita-berita yang kubaca, perusahaan penerbanganmu membuatmu kaya raya."
"Rekanku dan aku sejak semula melihat pe-luang untuk Air Dbcie. Sampai saat ini kami memang sudah melampaui target."
"Kau punya filosofi bagus. Mengangkut pe-numpang, menurunkan penumpang, tarif rendah, pesawat tak pernah berhenti terbang. Kau meraup untung sementara penerbangan lain tak sanggup bertahan di bisnis penerbangan." Andaipun Rink terkejut mendengar ternyata ayahnya mengikuti kesuksesan perusahan pener-bangannya, ia tidak memperlihatkannya. "Seperti yang kukatakan, kami senang dengan kesuksesan ltu.
Perawat masuk ruangan dengan membawa baki berisi jarum suntik. "Saya ingin menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, Mr. Lancaster."
"Suntikkan saja jarum itu ke bokongmu sen-diri, jangan ganggu bokongku," teriak Roscoe pada si perawat.
"Roscoe," ujar Caroline, terkejut dengan ke-kasarannya.
"Dokter yang memerintahkannya, Mr. Lancaster," jawab perawat itu tegas.
"Aku tak peduli omong kosong dokter. Ini hidupku, hanya ini yang kumiliki, dan aku tidak ingin mendapat suntikan penghilang rasa sakit. Aku ingin merasakan segalanya. Mengerti? Sekarang, cepat keluar dari sini."
Si perawat mengatupkan bibir, menunjukkan sikap tidak setuju, tetapi ia keluar juga dari kamar.
"Roscoe, ia hanya melakukan...."
"Tak usah mengatur-atur aku, Caroline!" Tak pernah Roscoe bicara dengan nada seperti itu pada Caroline sebelumnya. Caroline segera mun-dur, seperti habis. ditampar. Ia diam, mengatup-kan bibir. "Jika yang kudapat darimu hanyalah perasaan iba yang menyebalkan, kau tak usah datang lagi."
Sambil menarik napas panjang, Caroline me-nyambar tas lalu meninggalkan kamar dengan sikap penuh wibawa. Begitu pintu kamar tertutup kembali, Rink berbalik ke arah ayahnya.
"Kau memang manusia brengsek." Mata Rink yang keemasan tampak berapi-api. Setiap otot di tubuhnya yang atletis menegang karena me-nahan marah. "Kau tidak berhak bicara padanya seperti itu, aku tak peduli betapa parah sakitmu."
Roscoe tertawa geli, suara tawanya seperti tawa iblis, sejahat ekspresi yang terpancar di wajahnya. "Aku punya hak. Dia istriku. Ingat?"
Rink mengepalkan tinjunya di paha. Ia tidak tahan untuk tidak mendengus marah sebelum meninggalkan kamar itu.
Mula-mula Rink tidak melihat Caroline. Terapi kemudian ia melihat Caroline di ujung lorong. Ia tersandar di dinding, memandang jauh ke luar jendela. Rink mendekatinya dari belakang. Ia mengangkat tangan hendak menyentuhnya, sejenak berhenti untuk mempertimbangkan tin-dakannya, tetapi kemudian berpikir, Persetan, lalu ia pun meletakkan tangannya di pundak Caroline. Serta merta Caroline bereaksi, diam terpaku.
"Kau tidak apa-apa?"
Oh, Tuhan, batin Caroline. Mengapa ia mengajukan pertanyaan itu, dengan suara yang khas tersebut? Nada bertanyanya, pertanyaan yang diajukan Rink persis seperti yang pernah diajukannya pada suatu waktu dulu. Kata-kata yang sama, kalimat yang sama, kepedulian yang me- ' nyentuh perasaan, dengan getar suara parau yang sama pula. l
Perlahan Caroline menoleh sedikit dan me-mandang Rink dari balik pundak. Matanya ber-kaca-kaca. Bisa jadi air matanya karena peng-hinaan yang dilontarkan suaminya. Namun se-sungguhnya bukan karena alasan itu. Air mata Caroline air mata penuh kenangan. Caroline menatap mata Rink, terlambung ke kenangan lama, ke masa dulu, ke malam pertama itu....

Sinar lampu mobil menyorot di belakangnya; Caroline mempercepat langkah. Ia sebenarnya tidak suka berjalan kaki sendirian ketika pulang. Memang, ia bisa menunggu ayahnya, tetapi siapa pun tahu ia tak bisa dipastikan kapan pulang. Selain itu, dalam kondisinya sekarang, ayahnya juga tidak bisa menolong andai seseorang menyerangnya.
Caroline serasa hampir mati menanggung malu petang itu ketika Rink Lancaster tahu ia putri laki-laki yang terkenal sebagai pemabuk di kota itu. Rink akan tahu mereka tinggal di rumah reyot; ibunya menjadi kuli cuci agar ada yang bisa dihidangkan di meja makan dan mereka mampu membeli pakaian bekas layak pakai dari langganannya untuk Caroline.
Caroline langsung tahu siapa Rink sebenarnya,
Setiap orang di kota itu kenal keluarga Lancaster. Ia sering melihat Rink dari kejauhan, ketika pria itu melaju dengan mobil sport merahnya dengan kecepatan tinggi, atapnya terbuka, me-nyebabkan angin mempermainkan rambutnya yang hitam. Biasanya ada gadis duduk di sebelah-nya, tangan kirinya tersampir di bahu Rink. Suara radionya berdentam nyaring. Rink mem-bunyikan klakson mobil keras-keras dan me-lambaikan tangan pada setiap orang yang dikenal-nya, termasuk Sheriff, yang memaklumi pelang-garan yang jelas-jelas dilakukan Rink, yang me-larikan mobil dengan kecepatan lebih daripada semestinya. Setiap orang kenal Rink Lancaster, bintang football, kapten regu basket, juara lari, serta ahli waris rumah The Retreat dan pabrik pemintalan kapas terbesar di lima county.
Sosok Rink memenuhi benak Caroline selama jam-jam kerjanya di Woolworth. Saat ini Caroline tergesa-gesa berjalan pulang agar segera bisa naik ke tempat tidur untuk melamun tentang Rink dan apa yang dikatakan pria itu padanya hari itu. Tentulah Rink tidak akan ingat padanya....
"Hai, Caroline." Mobil itu melintas dari bela-kang Caroline dan berhenti di sisinya. Dengan takjub Caroline memandang wajah Rink yang tersenyum padanya sambil memiringkan tubuh ke arah kursi penumpang di sebelahnya dan membukakan pintu mobil. "Ayo naik. Aku antar kau ke rumah."
Caroline melihat ke kiri dan kanan, seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan. "Ku-rasa sebaiknya jangan."
Rink tertawa. "Mengapa?" Karena pria seperti Rink Lancaster tidak akan mengajak gadis seperti Caroline Dawson ber-keliling naik mobil sport, itulah sebabnya. Na-mun Caroline tidak mengatakannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Debar jantung-nya terasa sampai ke tenggorokannya, membuat-nya tak mampu berkata-kata.
"Ayolah, naik," bujuk Rink dengan senyum yang amat memesona. Caroline pun duduk di jok kulit dan menutup pintu mobil. Bangku mobil yang empuk itu menghanyutkannya ke alam kemewahan, dan ia harus berusaha keras menahan keinginanhatinya mengelus kelembutan jok mobil tersebut. Alat-alat di dasbor mobil seperti memancarkan beribu kelip warna-warni ke arah Caroline.
"Kau suka milk shake cokelat?" Baru sekali Caroline mencicipinya selama hidupnya. Ketika ibunya baru gajian dan mereka makan siang di sebuah kedai di kota, ibunya membelikan milk shake cokelat untuk mereka nikmati berdua dalam rangka merayakan hari istimewa itu. "Ya."
"Aku tadi berhenti di Dairy Mart. Kau pilih saja sendiri." Rink memiringkan kepala ke arah gelas kertas yang terselip di antara tempat duduk.
Gelas itu tertutup, tetapi sedotannya mencuat dari lubang di bagian atasnya.
"Terima kasih," ujar Caroline malu-malu. Di-ambilnya gelas itu lalu diisapnya isinya melalui sedotan. Rasanya dingin, mantap, dan enak. Caroline tersenyum senang. Rink balas tersenyum.
Radionya tidak dibunyikan keras-keras dan atap mobilnya tidak dibuka. Rink tidak ingin ada yang melihat ia bersama Caroline. Caroline mengerti dan tidak keberatan. Rink datang men-jemputnya; ia membelikannya milk shake cokelat. Itu saja sudah cukup buat Caroline.
"Bagaimana kerjamu tadi?"
"Aku menjual satu set piring makan."
"Oh ya?"
"Perabot jelek. Kurasa aku tidak bisa makan dengan piring seperti itu."
Rink tertawa. "Tapi kau kan tidak ingin men-jual piring seumur hidupmu?"
"Ya."
"Apa yang ingin kaulakukan?"
Kuliah, jawab Caroline dalam hati dengan perasaan putus asa. "Entahlah. Aku suka mate-matika. Aku jadi juara dua tahun berturut-turut."
Caroline merasa perlu menunjukkan kelebihan dirinya, bercerita pada Rink tentang sesuatu yang membuatnya takkan lupa peristiwa malam ini, karena ia tahu, ia sendiri tidak akan pernah melupakannya seumur hidup. Dia, Caroline Dawson, berkeliling dengan mobil Rink Lancaster! Tetapi, apa peduli Rink? Ia bisa memilih gadis mana pun yang ia suka, gadis yang lebih tua dan lebih bergaya daripada dirinya. Gadis yang berpakaian lebih. indah dan suka berkumpul di klub, gadis-gadis yang ibunya duduk dalam komite dan naik mobil mewah, gadis-gadis yang merasa malu bicara dengan Caroline Dawson.
"Matematika, heh? Mungkin aku butuh per-tolonganmu untuk mengerjakan tugas akademis-ku. Aku nyaris tidak lulus kuliah matematika."
"Apakah kau suka kuliah?"
"Tentu saja. Asyik sekali. Tetapi aku senang sudah keluar."
"Kau sudah lulus?"
"Enam minggu yang lalu."
"Kuliah jurusan apa?"
"Pilihanku antara pertanian atau teknik. Aku merasa cukup banyak tahu tentang pertanian, karena itu aku memilih teknik."
"Itu akan sangat membantu di pabrik pemin-talan kapasmu."
"Kurasa begitu." Tanpa menanyakan arah, Rink keluar dari jalan raya ke jalan kecil yang menuju rumahnya.
"Kau tak perlu mengantarku sampai rumah," kata Caroline cepat-cepat.
"Di sini gelap gulita seperti dalam tero-wongan."
"Aku tidak takut, sungguh. Tolong, berhenti di sini saja."
Tanpa membantah, Rink mengerem mobil. Caroline tidak ingin Rink mengantarnya sampai ke rumah. Karena kalau ya, ia harus memberi penjelasan tentang semuanya pada ibunya. Hari ini terlalu istimewa. Ia tidak ingin berbagi ke-istimewaan hari ini dengan orang lain. Ia ter-utama tidak ingin Rink berjumpa ibunya di rumahnya yang reyot.
Setelah mesin mobil dimatikan, segalanya jadi senyap. Rink mematikan lampu mobil dan me-nurunkan atapnya. Sinar rembulan yang putih keperakan menimpa wajah mereka. Sementara angin yang bertiup semilir mempermainkan rambut mereka.
Rink merentangkan tangan ke sandaran tempat duduk Caroline. Lutut Rink menyentuh lutut Caroline ketika ia berputar hendak menatap Caroline. Rink tidak menggeserkan lututnya. Caroline dapat mencium aroma cologne yang dipakai Rink, melihat bayang-bayang kumis halus yang tumbuh. Rink bukan anak-anak lagi, ia laki-laki dewasa. Caroline belum pernah berken-can, belum pernah berduaan saja dengan pria.
Menyadari Rink tak bicara sepatah kata pun, Caroline melanjutkan menyedot minuman. Rink mengamatinya dengan saksama. Caroline melihat Rink memerhatikan bibirnya yang menyedot minuman. Terdengar suara keras ketika akhirnya minumannya habis. Ia menatap Rink dengan perasaan malu.
Rink tersenyum. "Enak milk sbake-nya?"
"Enak sekali. Terima kasih." Caroline memberi-kan gelas kosongnya kepada Rink, yang lalu menyelipkannya ke bawah bangku.
Ketika tegak kembali, Rink agak memiringkan tubuh sehingga wajah mereka berhadapan. Ma-lam itu percakapan mereka berakhir karena rasa ingin tahu yang besar. Caroline mengamati Rink dengan teliti, begitu juga pria itu. Caroline melihat tatapan Rink menjelajahi seluruh wajah, rambut, leher, dan dadanya, dan hal itu membuat Caroline merasa tubuhnya panas dan seperti dijalari perasaan nikmat yang aneh, yang mem-buat tubuhnya bagai melayang. Namun ada pe-rasaan berat yang menggelayuti bagian bawah tubuhnya. Semacam hawa panas, yang tak pernah dirasakannya namun terasa nikmat; perasaan ter-larang tetapi terasa menyenangkan, perasaan yang kini mulai menjalari pembuluh nadinya.
Rink meletakkan ibu jarinya di bibir bawah Caroline, menelusuri bibir bawah itu dengan jarinya yang berkuku terawat rapi. Caroline me-rasa seperti akan mati kehabisan napas. Men-dadak ia merasa tidak bisa bernapas.
"Kau cantik sekali," kata Rink dengan suara parau.
"Terima kasih."
"Berapa usiamu?"
"Lima belas."
"Lima belas." Rink memaki pelan dan me-malingkan wajah dari Caroline. Namun, seakan tak mampu mengendalikan dorongan hatinya, kembali ia memandangi Caroline. "Aku memikir-kanmu sepanjang hari sejak bertemu denganmu di hutan itu." Tangannya mengelus pipi Caroline sekarang, dan ibu jarinya mengelus bibir bawah-nya.
"Begitukah?"
"Mmm," Rink bergumam. "Sepanjang petang hanya kau yang ada dalam benakku."
"Aku juga memikirkanmu."
Pernyataan Caroline kelihatan menyenangkan hati Rink. Ia tersenyum sambil memiringkan tubuh. "Apa yang kaupikirkan?"
Pipi Caroline memerah, ia merasa lega ke-gelapan menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena disergap perasaan malu. Untuk menghindari tatapan Rink, Caroline mengarahkan pandangannya ke leher Rink, ke bagian yang tak tertutup kemeja. "Banyak hal," jawab Caroline dengan suara parau, sambil mengangkat bahu, seakan yang dipikirkannya bukan hal pen-ting.
"Banyak hal?" Rink tersenyum. Namun itu hanya sekadar senyum sekilas, yang tidak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah Caroline. "Apakah kau memikirkan...." Rink tampak men-cari kata-kata yang tepat.
"Bermesraan?" adalah kata yang muncul dalam benak Caroline. Itu yang dipikirkan anak ingusan ketika kencan, bukan? Bukankah itu yang dibisik-kan di kelompok gadis sebayanya, yang tidak pernah mengajaknya bergabung?
Namun ternyata bukan itu yang hendak diucapkan Rink. Ia berkata, "Apakah kau memikirkan kita... bersama? Mungkin saling menyentuh?"
"Menyentuh?" ulang Caroline dengan napas sesak.
"Berciuman?"
Bibir Caroline membuka, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia tidak men-dengar suara apa-apa, kecuali debar jantungnya sendiri.
"Kau pernah dicium?"
"Beberapa kali," jawab Caroline, berbohong. "Kau masih terlalu kecil," gumam Rink, sambil menutup mata sejenak sebelum akhirnya mem-bukanya kembali. "Apakah kau takut bila aku menciummu? Apakah aku boleh menciummu?"
"Aku tidak takut padamu, Rink."
"Dan yang lain?" desak Rink lembut sambil mengelus rambut Caroline.
"Aku... kurasa aku ingin kau... menciumku." "Caroline..." bisik Rink sambil bergerak men-dekat. Caroline merasakan napas Rink menerpa wajahnya dulu dan ia memejamkan mata. Kemu-dian bibir Rink menyentuh bibirnya—lembut, tak bergerak, ragu-ragu. Ketika Caroline tidak menarik bibirnya, Rink memiringkan kepala, lalu menekan lebih keras. Berkali-kali bibir Rink bertemu bibir Caroline, mengecup sekilas-sekilas—ciuman-ciuman kecil, yang malah mem-buat Caroline terbakar keinginan menggebu yang muncul dari dalam dirinya, sesuatu yang tickk ia ketahui namanya. Bahkan kalau ia menyebut-nya sebagai "bermesraan" pun, istilah itu tidak tepat. Karena siapa pun bisa melakukan hal itu, tetapi perasaan seperti ini bukanlah perasaan yang bisa dialami setiap orang.
Rink memegangi wajah Caroline dengan kedua tangannya dan menyentuhkan bibirnya yang kali ini membuka di bibir Caroline. Caroline merasa-kan lidah Rink yang basah setarikan napas jauh-nya dari bibirnya, kemudian lidah itu mendarat di bibirnya, menjilatinya dengan lembut.
Rink mendesah lembut sebelum akhirnya lebih menekankan lidahnya ke bibirnya. Mata Caroline membeliak karena terkejut. Badannya kaku. Na-mun, kenikmatan yang dirasakannya karena apa yang dilakukan Rink mengalahkan penolakan dirinya, bibirnya pun membuka. Lidah Rink menyelinap masuk di antara bibirnya. Lidah itu menyentuh ujung lidahnya, mengelus, menjilat, lalu masuk makin jauh ke dalam mulutnya.
Ketika tangan Rink mendekap tubuhnya erat-erat, Caroline mencengkeram kemeja bagian de-pan Rink. Caroline merasakan perasaannya tak karuan, ia merasa tubuhnya limbung karena hal yang belum ia kenal—terangsang. Dorongan hen-dak merapatkan tubuhnya ke tubuh Rink begitu menggebu sampai hampir tak dapat dikendalikan-nya. Ia menikmati tetapi sekaligus takut pada hasrat yang dibangkitkan Rink dalam dirinya.
Rink mundur dengan penuh sesal, mencium bibir CaroUne yang basah dengan lembut, kemu-dian menjauhkan diri. Dengan berat hati ia berusaha menjaga jarak di antara mereka. Tangan-nya ditarik dari punggung Caroline, kembali diletakkan di kedua pipi Caroline. Mata Caroline masih terpejam. Saat membuka matanya yang berat, Caroline merasa sekujur tubuhnya seperti disergap perasaan lemas. "Kau tidak apa-apa?"
Kini, di lorong rumah sakit yang dingin ini, Caroline menjawab pertanyaan Rink seperti dua belas tahun yang lalu, seperti peristiwa di malam yang sejuk itu—setelah mereka berciuman untuk pertama kalinya. "Ya, Rink, aku tidak apa-apa." Rink juga tampaknya terperangkap dalam ke-nangan itu. Dipandanginya Caroline beberapa saat, sebelum akhirnya buru-buru berbalik dan berkata, "Sebaiknya kita segera berangkat."




Bab 4

IA cantik sekali." "Kau juga cantik."
Tangan Laura Jane yang mengelus leher anak kuda itu terhenti, matanya yang hitam teduh menatap Steve, yang bicara dengan suara sangat lembut. "Apa kau sungguh-sungguh menganggap-ku cantik?"
Ekspresi yang diperlihatkan Laura Jane mem-buat Steve memaki-maki dirinya sendiri. Gadis itu terlalu rapuh, menelan bulat-bulat segalanya. Seharusnya ia tidak mengungkapkan apa yang melintas dalam pikirannya. Perasaan Laura Jane sangat halus, dan dapat hancur berkeping-keping dengan mudah.
Steve bangkit dari hamparan jerami yang me-nutupi lantai kandang kuda dengan bertumpu pada satu kakinya yang utuh. "Kau sangat can-tik," ulang Steve, menegaskan, lalu memalingkan wajah dari Laura Jane dan meninggalkan kandang kuda.
Mereka harus lebih sering menjaga jarak. Laura Jane tidak mengerti betapa berada di dekatnya, wangi tubuhnya, kehangatan kulitnya yang lem-but, sangat besar pengaruhnya pada diri Steve. Andai gadis itu tahu respons yang dibangkitkan-nya dalam tubuhnya, tentu ia akan merasa takut dekat dengannya.
Steve menurunkan pelana kuda dari gan-tungannya di dinding. Rink mengatakan padanya kemarin sore ia ingin berkuda pagi-pagi sekali, dan Steve ingin menyiapkan keperluan berkuda-nya sebaik mungkin. Ia paham apa sebabnya Rink menunjukkan sikap tidak suka padanya secara terang-terangan. Rink bukan orang buta. Bukan pula orang yang berperasaan tumpul. Rink menangkap kerinduan hatinya pada Laura Jane. Steve sadar, perasaan hatinya pada Laura Jane sangat jelas terlihat, seterang papan iklan dengan lampu-lampu neon di sekelilingnya.
Steve tidak menyalahkan Rink yang menaruh curiga pada dirinya. Laura Jane adik kandungnya, adik yang sangat istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus seumur hidup. Andai Steve punya saudara perempuan seperti Laura Jane dalam hidupnya, ia pun akan melindunginya sebaik-baiknya seperti Rink.
Kendati demikian, ia tetap tidak bisa berhenti mencintai Laura, bukan? Ia tidak fnencari cinta. Ia tidak mengira dirinya bisa mencintai seseorang. Namun ternyata sekarang ia mencintai seseorang dan sangat merindukannya saat gadis itu tidak

berada di sisinya. Saat ini Laura Jane berdiri dekat sekali dengannya ketika ia mengoleskan sabun pelana di pelana kudanya. Setiap kali tangannya menggosok pelana dengan kain lap, ujung sikunya hampir menyentuh payudara Laura Jane.
Steve berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya, bergulat mengusir bayangan bagai-mana rasa payudara itu di telapak tangannya yang kasar atau betapa halus kulit lehernya bila disentuh bibirnya.
Laura Jane, yang kelihatan agak kecewa karena Steve tidak bicara lebih lanjut perihal kecantikan-nya, mengelus-elus anak kuda sebagai ungkapan pamit lalu mengikuti Steve. "Kakimu sakit?"
Tanpa mengangkat muka, Steve menjawab, "Tidak. Kenapa?'
"Karena kulihat dahimu mengerenyit, seperti yang kerap kaulakukan bila kakimu sakit."
"Aku hanya berkonsentrasi pada pekerjaanku, itu saja."
Laura Jane mendekati Steve. "Kalau begitu aku bantu kau, Steve. Mari kubantu."
Steve menjauhkan diri dari Laura Jane, pura-pura hendak mengambil kain lap yang lain. Darahnya bergejolak. Laura Jane begitu manis, sangat manis, tetapi perasaan yang ditumbuhkan gadis itu dalam hatinya jauh dari manis. Berada di dekat Laura Jane membuat Steve seperti orang liar yang dibelenggu tapi berada di dekat perawan yang akan dikorbankan. "Tidak. Kau tidak perlu membantuku. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat."
"Kaupikir aku tidak bisa mengerjakan hal seperti ini, begitu? Memang, tak seorang pun menganggap aku mampu mengerjakan sesuatu."
Steve mengangkat kepala seketika dan me-lemparkan kain lap. "Bukan begitu, tentu saja aku yakin kau mampu."
Steve melihat kekecewaan di wajah Laura Jane, penderitaan di matanya yang kelam dan bagai tak berdasar. Gadis itu menggeleng, rambutnya yang cokelat lagi halus tergerai menyentuh bahu-nya. "Semua orang menganggap aku tolol dan tidak berguna."
"Laura Jane," ujar Steve dengan suara lirih, lalu meletakkan tangan di bahu Laura. "Tidak pernah aku menganggapmu begitu."
"Lalu, mengapa kau tidak memperbolehkan aku membantumu?"
"Karena ini pekerjaan yang kotor, aku tidak ingin kau terkena kotoran."
Seperti anak kecil yang minta penegasan, Laura Jane melirik Steve. "Hanya itu alasannya? Sungguh?"
"Sungguh."
Seharusnya Steve menarik tangannya dari bahu Laura Jane, tetapi ia membiarkan tangannya tetap di pundak gadis itu. Laura Jane agak menengadah sehingga cahaya lampu kandang
yang kekuningan menimpa wajahnya. Wajah Laura Jane jadi kelihatan seperti wajah malaikat, hanya saja matanya lebih berbinar-binar. Andai tidak mengenal Laura Jane dengan baik, barang-kali Steve akan mengira binar-binar mata gadis itu mengisyaratkan keinginan bermesraan.
"Aku tahu aku bukan perempuan cerdas. Te-tapi aku terampil dalam beberapa hal."
"Tentu saja, kau punya kelebihan." Oh, Tuhan! Bibir gadis itu begitu lembut, agak basah, dan tampak kemerah-merahan ketika mengucapkan kata-kata tersebut. Betapa ingin Steve mengecup-nya. Ingin mendekapnya erat-erat, merapatkan tubuhnya lekat-lekat, merasakan kelembutan tu-buh yang indah itu mendekap tubuhnya yang tinggi besar, penuh parut, dan tidak berbentuk. Bersentuhan dengan tubuh Laura Jane bak mengoleskan obat penyembuh bagi tubuhnya yang cedera, bagi jiwanya yang terluka.
"Banyak hal yang kuamati. Umpamanya, Rink, yang kutahu merasa tidak bahagia. Ia memang tertawa dan berusaha kelihatan bahagia, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia dan Caroline tidak pernah rukun. Apakah kau me-nangkap hal itu?"
"Ya."
"Aku tidak mengerti apa sebabnya mereka begitu." Laura mengernyitkan dahi, berpikir. "Atau barangkali mereka sebenarnya saling me-nyukai, tetapi berusaha menyembunyikan perasaan itu, supaya orang-orang tidak menganggap mereka saling menyukai."
Steve tersenyum mendengar dugaan Laura Jane. Itu pula kesimpulan yang diambilnya setelah makan siang bersama mereka hari itu. Keduanya siap bertengkar atau berkasih-kasihan. Steve merasa sikap mereka cenderung pada pi-lihan yang kedua. Steve mengelus dagu Laura Jane. "Mungkin dugaanmu benar."
Laura Jane tersenyum lalu merapatkan tubuh-nya ke Steve. "Menurutmu, aku ini cerdas? Dan cantik?"
Mata Steve yang hitam mengamati wajah Laura Jane. "Kau cantik."
"Kau juga tampan." Dengan jari-jarinya yang mulus, semulus porselen, Laura Jane mengelus pipi Steve yang kasar, kemudian jari telunjuknya menelusuri pipi Steve sampai ke ujung dagu.
Steve merasakan sentuhan tangan Laura Jane tidak sekadar pada wajahnya saja. Sentuhan itu seperti arus listrik, mengalir sampai ke perutnya. Steve menarik napas dalam-dalam, dan agak menjauhkan diri, menurunkan tangannya dari bahu Laura Jane. "Jangan," cegah Steve tanpa bermaksud menyinggung perasaan Laura Jane.
Gadis itu langsung menjauhkan diri, seperti orang habis ditampar.
"Oh Tuhan, Laura Jane, maafkan aku. Maaf-kan." Steve menjulurkan tangan, mengelus gadis itu untuk menghiburnya, tetapi ia tidak mampu
melakukan hal itu. Laura Jane menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menangis. "Tolong, jangan menangis."
"Aku memang orang yang menakutkan.' . "Menakutkan? Kau sama sekali tidak menakut-kan." Tak pernah Steve merasa perasaannya ter-sayat-sayat seperti saat ini. Apa beda dirinya dengan bajingan, bila ia menyentuh gadis lugu seperti Laura Jane, meskipun ia juga kesal bila tidak menyentuhnya. Menunjukkan perasaan ka-sihnya pada Laura sama artinya dengan bunuh diri; Rink akan membunuhnya bila mengetahui hal itu. Tapi bagaimana ia bisa tega melukai hati Laura Jane dengan cara seperti ini, membuat Laura Jane merasa ditolak, tidak dikasihi, tidak diinginkan? "Kau orang yang sangat baik," ucap Steve. "Kau orang paling baik yang pernah ku-kenal."
"Tidak, aku tidak baik." Laura mengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata, menatap Steve. "Aku menyayangi Rink sepanjang hidup-ku. Kupikir, bila ia pulang ke rumah lagi, semua-nya akan beres. Kuanggap ia orang paling kuat, laki-laki paling baik di dunia. Tetapi ketika sudah di rumah, ternyata ia tidak demikian." Laura Jane menjilat bibirnya. "Ternyata, kaulah pria itu." Payudara Laura Jane yang tidak terlalu besar berguncang di balik baju musim panasnya. Air mata masih terus menitik jatuh di pipinya. "Steve, aku lebih menyayangimu ketimbang Rink!"
Sebelum Steve sempat bereaksi, Laura Jane sudah menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Steve, mencium bibirnya, lalu lari keluar dari kandang kuda.
Steve merasakan jantungnya berdetak cepat, debarannya terasa sampai ke gendang telinga. Ia merasa bahagia sekaligus sedih. Tuhan, apa yang harus ia lakukan menghadapi hal seperti ini?
Tak ada. Jelas, tidak ada.
Steve mematikan lampu kandang kuda, lalu masuk ke tempat tinggalnya yang terawat rapi tapi sepi, yang terletak di bagian belakang. Ia mengempaskan diri di ranjangnya yang kecil, menutupi wajahnya dengan lengan. Ia tidak per-nah merasa seputus asa ini sejak siuman di rumah sakit angkatan darat waktu itu dan men-dapati ia akan pulang" dengan... salah satu kaki yang tinggal separo.
"Oh, maafkan aku, Rink. Aku tidak tahu kau ada di sini."
"Tidak apa-apa," jawabnya dalam keremangan.
"Ini kan rumahmu."
Caroline membiarkan pintu kawat kasa di belakangnya menutup dan duduk di kursi go-yang. Ia menarik napas, menghirup dalam-dalam udara malam yang sejuk. Ia memejamkan mata-nya yang letih sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi goyang. "Ini rumahmu, Rink. Aku hanya tamu selama—"
"Selama ayahku masih hidup."
"Ya."
Rink tidak menanggapi. Ia terlalu letih untuk berargumentasi. "Kau tidak kembali ke rumah sakit."
"Aku sudah menelepon. Akhirnya mereka me-nyuntiknya agar ia tidur. Kata dokter, aku tidak perlu datang. Roscoe tidak mengenali siapa pun. Menurutku akan lebih baik bila aku tinggal di rumah, banyak urusan pabrik yang harus di-selesaikan. Sebentar lagi akan panen kapas, segala-nya harus dipersiapkan."
"Aku tidak suka berada di rumah sakit saat Roscoe sadar dan menyadari telah kehilangan waktunya sehari."
Caroline mengelus dahinya seakan kepalanya sudah sakit akibat teriakan marah yang akan dilontarkan Roscoe. "Aku juga."
"Seringkah ia memperlakukanmu seperti hari ini?”
"Tidak. Tak pernah. Aku pernah melihat ia memarahi orang-orang. Diam-diam aku menemui dan menenangkan mereka. Hari ini pertama kalinya aku menjadi sasaran kemarahannya."
"Kalau begitu kau beruntung," kata Rink. "Ia selalu bersikap begitu pada ibuku, selalu, bahkan hal kecil sekalipun bisa menyulut kemurkaannya. Keterlaluan"—Rink meninju lengan kursi—"ada saat aku ingin sekali menghantam mulutnya yang jahat itu sekuat-kuatnya. Bahkan ketika masih kecil pun, aku sangat membencinya karena membuat ibuku tidak bahagia padahal ibuku sudah memberikan segalanya padanya. Segalanya." Rink melirik Caroline. Caroline mengira Rink malu karena kelihatan sangat emosional di ha-dapannya. "Mau kubuatkan minum?" tanya Rink
pendek.
"Tidak, terima kasih."
Rink menarik napas dalam kegelapan. "Maaf-kan, aku lupa. Kau tidak suka minuman keraskan?"
"Meski dibesarkan di rumaii Peter Dawson? Tidak," jawab Caroline sambil tertawa kecil. "Aku tidak suka minuman beralkohol."
"Kalau begitu aku juga tidak minum." Rink bersandar di salah satu pegangan kursi yang didudukinya dan meletakkan gelas di lantai.
"Jangan begitu. Aku tidak keberatan kau mi-num. Aku tahu kau bukan peminum seperti ayahku."
Komentar itu terlalu pribadi. Caroline menatap Rink kalau-kalau pria itu menangkap sesuatu dalam kata-kata yang baru saja diucapkannya. Mata Rink yang keemasan beradu pandang de-ngan mata Caroline dalam kegelapan yang me-misahkan mereka. Caroline lebih dulu membuang muka.
"Kata Haney, ayahmu sudah meninggal," ujar Rink akhirnya. Ia sama sekali tidak menyentuh gelas yang diletakkannya di lantai.
"Ya. Suatu pagi mereka menemukannya tewas di parit di tepi jalan tol. Katanya, serangan jantung. Kurasa akhirnya ia berhasil juga me-racuni dirinya."
"Ibumu?"
"Ia meninggal beberapa tahun yang lalu." Tak terlihat emosi apa pun terpancar di mata Caroline, karena ia memandang jauh ke depan. Usia ibu Caroline belum lagi lima puluh tahun. Tetapi ia bungkuk dan keriput ketika akhirnya dengan penuh syukur meninggal karena letih dan putus asa.
Rink bangkit dari kursi, lalu duduk di anak tangga paling atas, yang lebih dekat dengan tempat duduk Caroline. Sambil menyilangkan kaki, Rink memiringkan tubuh dan bertumpu pada siku. Pundaknya menyentuh kerangka kursi goyang, hampir menyentuh betis Caroline. "Coba ceritakan padaku, Caroline. Apa yang terjadi setelah peristiwa musim panas itu, setelah aku pergi?"
Betapa ingin Caroline menjulurkan tangan dan membelai rambut Rink, menyibakkan ram-but hitam tebal itu dengan jemarinya. Tubuh Rink tinggi lagi ramping, sifat maskulinnya tetap terpancar biarpun ia dalam keadaan diam.
"Aku menyelesaikan SMU-ku, dan dapat bea-siswa untuk melanjutkan ke universitas."
"Beasiswa? Bagaimana bisa?" Seketika Rink menoleh ke arah Caroline dan kepalanya hampir saja mengenai tulang kering Caroline. Segera Rink mundur. "Entahlah."
Rink menegakkan tubuh dan memandang Caroline dengan tatapan mata penuh tanda ta-nya. "Entahlah?"
Caroline menggeleng. Ia tidak dapat memusat-kan pikiran. Pikirannya berserak kacau balau bak daun-daun yang berguguran ditiup angin musim gugur ketika disentuh Rink. Kini Rink duduk sambil bertekuk lutut, kedua tangannya memeluk lutut. Jari-jari tangan kiri Rink yang tergantung seperti hendak terjulur menyentuh kaki Caroline.
Rink menunggu penjelasan Caroline, sehingga Caroline terpaksa harus memusatkan pikiran dan memberikan jawaban, membuatnya tergagap ke-tika mulai menjawab. "Suatu hari, Kepala Sekolah memanggilku ke kantor. Itu beberapa hari se-belum pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah bilang aku dapat beasiswa dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Orang itu akan menanggung semua biaya kuliahku. Bahkan aku dapat uang tambahan lima puluh dolar sebulan. Sampai hari ini aku tidak tahu siapa orang yang memberikan beasiswa itu padaku."
"Ya, ampun," ujar Rink sambil menahan na-pas. Haney pernah menceritakan padanya di salah satu suratnya yang biasanya berisi gosip, tentang "anak perempuan Dawson" yang akan kuliah ("Kau barangkali tidak ingat padanya. Ia beberapa tahun di bawahmu. Anak Peter Dawson. Begitulah, gadis itu ke kota dan melan-jutkan sekolahnya, semua orang heran bagaimana ia mampu membiayai kuliahnya"). Lama sesudah itu Rink mendapat surat dari Laura Jane ("Daddy menceritakan padaku hari ini, ada gadis yang bernama Caroline Dawson menikah dengan teman kuliahnya. Daddy bilang, dulu gadis itu tinggal di sini, dan katanya kau mungkin me-ngenalnya").
"Setelah meraih gelar sarjana, aku kembali ke kota ini," lanjut Caroline.
"Pernikahanmu pasti tidak bertahan lama."
Tatapan mata Rink yang penuh selidik mem-bingungkan Caroline. "Pernikahan?"
"Dengan teman kuliahmu."
Caroline menatap Rink, seakan Rink sudah linglung. "Aku tak mengerti arah pembicaraan-mu, Rink. Pergi kencan pun aku tak pernah, apalagi menikah. Agar bisa dapat beasiswa terus, aku harus mempertahankan nilai kuliahku rata-rata B. Aku menghabiskan waktu dengan terus-menerus belajar. Bagaimana kau bisa mengira aku sudah menikah?"
Rink juga terkejut. Mungkinkah Laura Jane mengarang-ngarang cerita itu? Tidak. Laura Jane tidak mengenal Caroline, setelah bekerja di peru-sahaan Roscoe baru ia mengenalnya.
Roscoe.
Sepintas kecurigaan menyelinap di benak Rink. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengeri-kan, bahkan untuk dipikirkan sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Roscoe...
"Aku dengar kau menikah. Aku lupa siapa yang menyampai-kan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya menikah...."
"Dengan ayahku."
Setelah terdiam lama, Caroline menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama ber-tahun-tahun. "Apa yang terjadi antara kau dan Marilee?"
"Perang Dunia Ketiga,” jawab Rink sambil tertawa. Caroline tidak memberi tanggapan se-patah kata pun. Ia duduk dengan sikap tegang, jari-jarinya bertaut. "Sejak awal sudah beran-takan. Ia tidak menginginkan bayi itu. Ia man-faatkan kehamilannya untuk menjeratku agar menikahinya, dan setelah Alyssa lahir, kami mengurus perceraian."
"Kau pernah melihat anak itu? Alyssa?" "Tidak. Tidak pernah," jawab Rink. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, tapi dari nada bicaranya jelas ia menutup topik pembicaraan. Sikapnya itu menyakitkan hati Caroline, mengetahui Rink tidak mencintai anaknya, anak satu-satunya. Bisa-bisanya ia punya perasaan seperti itu? Bertahun-tahun setelah kenangan musim panas yang indah tersebut, Caroline bermimpi punya anak dari Rink. Bayi itu akan jadi bukti istimewa yang ditinggalkan Rink buat dirinya, bagian diri Rink untuk dicintai karena Rink tak tinggal di kota itu lagi.
"Akhirnya kami bercerai—perceraian yang me-makan waktu bertahun-tahun—dan aku lebih memusatkan perhatian pada bisnis penerbangan yang baru kurintis."
"Aku bangga padamu, Rink," komentar Caroline dengan lembut dan tulus, membuat Rink menoleh.
Senyumnya getir. "Ya, tapi aku kerja seperti orang gila supaya bisa mencapai target. Itulah satu-satunya hal yang memenuhi benakku dan menghindarkan aku memikirkan... hal-hal lain."
"Hal lain? Rumah?"
Lama mata Rink tertuju pada Caroline. Sorot matanya tajam menusuk. "Ya," jawabnya pendek lalu berdiri. Dengan membelakangi Caroline, Rink menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar rumah. "The Retreat. Laura Jane. Daddy. Pabrik kapas. Winstonville kampung halamanku. Sebetulnya aku tidak pernah ingin meninggalkan-nya."
"Kau mempunyai kehidupan baru di Atlanta...."
"Ya." Hanya itu yang dijawab Rink. Tepat sekali, ingin ia menambahkan. Dulu rumahnya terlalu baru, terlalu mewah. Tidak punya karakter atau kelembutan. Pesta-pestanya terlalu kasar.
Para perempuannya... Para perempuannya terlalu glamor, terlalu bergaya kosmopolitan, penuh ke-pura-puraan. Ia bisa masuk ke balik topeng mereka dan begitu juga sebaliknya.
Hidup yang dijalaninya kini penuh kepalsuan. Bukan berarti ia tidak bangga pada bisnis pener-bangan Air Dixie-nya. Ia bangga. Perusahaan penerbangan itu jelas merupakan prestasi yang patut dibanggakan, karena untuk mencapai sukses seperti sekarang dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun.
Tetapi bukti kesuksesan tersebut tak punya arti apa-apa bagi dirinya. Akar kehidupannya ada di sini, di kota ini, di tanah yang amat kaya ini, di rumah ini. Kehidupan yang lainnya hanyalah kepalsuari. Ia tidak pernah memaafkan ayahnya yang membuatnya kabur dari rumah ini. Tidak akan pernah.
Mendadak ia berbalik menghadap ke Caroline. "Mengapa kau menikahinya?"
Caroline hampir takut melihat kemarahan yang terpancar di mata Rink. "Aku tak mau mem-bicarakan kehidupan pribadiku bersama ayahmu denganmu, Rink."
"Aku tidak ingin tahu kehidupan pribadimu. Aku hanya bertanya, mengapa kau menikahinya. Ia kan pantas menjadi kakekmu, ya ampun!" Rink maju, mencondongkan badan ke dekat Caroline, kedua tangannya bertumpu pada pe-gangan kursi goyang, mengurung Caroline yang
berada di tengahnya. "Mengapa? Mengapa kau kembali ke kota ini setelah lulus jadi sarjana? Tak ada gunanya kau tinggal di sini."
Caroline merasa lehernya kaku karena men-dongak agar bisa menatap Rink. "Ibuku masih hidup. Aku kembali, dapat pekerjaan di bank, dan menabung selama beberapa bulan agar bisa keluar dari rumah yang mirip kandang babi itu, kemudian mengontrak rumah di kota. Aku ber-jumpa ayahmu di bank. Ia sangat ramah padaku. Ketika ia menawarkan pekerjaan dipabrik pemintalan kapasnya, aku terima. Ia melipat-gandakan gajiku, dibandingkan dengan gajiku di bank, yang membuat aku bisa memakamkan ibuku dengan terhormat."
Napas Rink memburu, wajahnya memerah. Rambutnya yang hitam bergelombang tergerai di dahinya. Sejak dulu kemejanya tidak pernah ia kancing semuanya. Begitu juga sekali ini. Mata Caroline sejajar dengan dadanya yang bi-dang. Rink sungguh pria sejati; ia tampak sangat jantan, sangat menarik sekaligus berbahaya. Caroline ingin memejamkan mata supaya tidak melihat semua daya tarik yang ada pada diri Rink.
"Setelah beberapa lama aku mulai datang ke The Retreat ini untuk bekerja di sini, bukan di pemintalan kapas."
"Aku yakin kau pasti senang sekali, diundang ke The Retreat."
"Ya!" seru Caroline defensif. "Kau tahu betapa aku sangat menyukai rumah ini. Untuk ukuran gadis lugu yang setiap hari harus berjalan kaki menembm hutan, rumah ini seperti istam dakm dongeng. Aku tak menyangkal hal itu, Rink."
"Lanjutkan. Aku terpesona. Apakah ayahku seperti Pangeran Tampan dalam dongeng kha-yalanmu?"
"Sama sekali tidak. Jauh dari itu. Setelah ibuku meninggal, aku lebih banyak menghabis-kan waktuku di sini. Ayahmu menyerahkan ham-pir semua urusan bisnis padaku. Laura Jane dan aku menjadi sahabat. Roscoe yang mendukung persahabatan kami, karena Laura tidak punya teman sebaya."
Tergesa-gesa Caroline membasahi bibir. Rink menatap gerakan lidah Caroline dengan penuh gairah. "Segalanya berlangsung perlahan-lahan. Rasanya hubungan kami sudah sewajarnya setelah aku banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Ketika ayahmu melamarku untuk menjadi istri-nya, aku mengiakan. Ia bisa mewujudkan semua mimpiku, yang tak mungkin bisa kudapat de-ngan cara lain."
"Nama baru."
"Ya."
"Pakaian."
"Ya."
“Uang.
"Ya."
"Rumah bagus."
"Rumah yang selalu kudambakan."
"Untuk semua itukah kau jual dirimu pada ayahku?" bentak Rink.
"Dalam beberapa hal, kurasa demikian." Reaksi yang ditunjukkan Rink membuat Caroline me-rasa dirinya seperti manusia tidak berharga. Na-mun ia berusaha membela diri. "Aku ingin menjadi sahabat karib Laura Jane. Aku ingin menolong ayahmu."
"Jadi motivasinya pengorbanan."
"Tidak," kilah Caroline sambil menunduk. "Aku ingin tinggal di The Retreat. Aku ingin orang menghormatiku karena aku istri Roscoe. Ya, aku menginginkan semua itu. Aku dibesarkan di rumah gubuk, hidup susah setiap hari, me-ngenakan pakaian rombeng sementara gadis-gadis sebayaku memakai baju dan rok cantik; aku harus bekerja sepulang sekolah setiap hari, juga di hari Minggu, sementara para gadis lain bisa pergi ke Dairy Mart, nonton pertandingan foot-ball, sedangkan aku hanyalah anak pemabuk; kau takkan bisa memahami semua itu, Rink Lancaster!"
Sambil menyebut nama Rink, Caroline ber-gerak hendak bangkit, tetapi Rink bergeming dari tempatnya. Tubuh Caroline berhadapan de-ngan Rink. Rink mencengkeram lengan Caroline. Napas keduanya memburu, keduanya seperti habis berlari cepat.
Caroline tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap Rink. Bila berbuat begitu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Maka pandangannya hanya diarahkannya sampai ke bagian lekukan tenggorokan Rink yang berbentuk V, mengamati denyut nadinya yang cepat. Caroline merasakan tubuh bagian bawahnya ber-getar; lemas karena gairah. Bibirriya gemetar ketika mengucapkan kata-kata, "Tolonglah, biarkan aku lewat, Rink, kumohon."
Rink tidak memedulikan permintaan Caroline. Ia malah membenamkan wajahnya di leher Caroline. Seperti orang yang tak berdaya, Caroline menengadahkan leher. Bibir Rink menciumi leher-nya, di bagian depan, di bagian belakang, mening-galkan uap basah yang diembuskan napasnya, yang menggelitik dan menggairahkan Caroline.
"Meski tahu kau istri ayahku, tahu alasan kau menikahinya, mengapa aku tetap menginginkan dirimu?" Dengan gerakan makin liar karena di-penuhi perasaan putus asa, Rink menciumi sisi lain leher Caroline. Caroline mendongakkan ke-pala, membiarkan Rink menciuminya.
Dengan lemah Caroline melawan respons diri-nya sendiri, "Tidak, tidak, Rink, jangan."
"Aku sangat merindukanmu sampai sakit rasa-nya." Rink terus menciumi leher Caroline dengan penuh gairah. Bahkan giginya menggigit-gigit kecil. "Aku menginginkanmu. Mengapa, mengapa kau orangnya, mengapa?"
Caroline mengerang. "Oh, Tuhan, kumohon...." gumamnya sambil menarik napas. Yang paling diinginkan Caroline saat itu, lebih dari-pada apa pun, adalah memasrahkan diri pada Rink. Ia membutuhkan Rink sebagaimana Rink membutuhkannya, untuk menggantikan tahun-tahun penuh kepedihan yang harus mereka jalani. Dalam beberapa menit yang sangat berharga itu, mereka ingin melupakan segalanya, kecuali diri mereka berdua.
Namun hal itu tak mungkin dilakukan. Ke-sadaran akan hal yang tak mungkin itu memberi-kan kekuatan bagi Caroline untuk menahan letupan emosinya dan kembali bergulat untuk menjauhkan diri dari Rink.
Secepat tangannya memeluk Caroline, secepat itu pula Rink melepaskan cengkeraman dan men-jatuhkan tangannya di kedua sisi badannya. Ia melangkah mundur, napasnya memburu dan ce-pat. Buru-buru Caroline berjalan ke pintu depan.
"Caroline." Panggilannya menghentikan lang-kah Caroline dan seperti perintah yang menyu-ruhnya membalikkan badan. "Aku selalu sulit menerima hal-hal yang tidak kusukai. Aku tidak berhak melukaimu dengan cara itu. Seharusnya aku tidak ikut campur."
Sosok Rink menjadi kabur karena air mata yang merebak di matanya. Caroline mengerti, betapa Rink mengorbankan keangkuhan dirinya untuk mengatakan hal itu. Caroline melempar senyum lembut, senyum yang penuh makna, yang artinya tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. "Betulkah begitu, Rink?" ujar Caroline tenang. Kemudian ia masuk dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Caroline, berbaring di ranjang dengan pakaian lengkap karena malas mengganti pakaian, me-natap langit-langit. Merenung. Ia tidak tahu apakah esok ia berharap bertemu Rink lagi atau tidak. Tetapi Rink ada di rumah....
"Hai."
"Sedang apa di sini?"
"Memancing." Rink memiringkan kepala ke arah tangkai yang mencuat di permukaan lumpur di tepi sungai. Tali pancing tampak bergetar di dalam air. Rink memang tidak terlalu serius memancing. "Kau lebih awal daripada kemarin."
Wajah Caroline memerah, ia memalingkan wajah dari pria dengan senyum yang amat me-nawan itu. Ketika keluar rumah setengah jam lebih awal, Caroline mengatakan pada dirinya bahwa alasan kepergiannya bukanlah karena ke-mungkinan Rink ada di hutan dan ia akan punya waktu untuk bercengkerama bersama pria itu. Caroline berusaha tampil sebaik-baiknya, memakai rok dan blus yang terbaik, menyisir rapi rambutnya setelah ia mencucinya sampai kulit kepalanya terasa geli, memeriksa kuku-kuku tangannya.
la harus lari dalam kegelapan hutan menuju rumah setelah turun dari mobil Rink kemarin malam. Rink menciumnya. Setelah itu Rink bersikap lembut padanya, menanyakan apakah ia baik-baik saja. Namun ia tidak mengira akan berjumpa lagi dengan Rink.
Ternyata sekarang Rink ada di sini, duduk di bawah pohon willow dengan mengenakan celana jins pendek dan kaus tanpa lengan; kelihatan sangat percaya diri dan tampan seperti bintang film. Otot-otot tangan dan kakinya yang atletis tampak menonjol. Bulu-bulu halus di tangan dan kaki Rink memesona Caroline, tetapi setelah memandanginya beberapa saat, perutnya terasa seperti diaduk-aduk.
"Aku minta Haney, yang mengurus rumah kami, membuatkan beberapa potong sandwich. Kau suka daging kalkun asap?"
"Entahlah. Aku belum pernah mencobanya."
"Hmm, sekarang kau akan mencobanya," kata Rink sambil tersenyum. Ia menggelar tikar di rumput dan meminta Caroline duduk. Kemudian ia membuka keranjang dan menyodorkan se-potong sandwich yang dibungkus plastik pada Caroline. Mereka mengobrol sambil makan.
"Apakah kau akan mulai kerja di pemintalan kapas? Omong-omong, daging kalkun ini enak juga."
"Aku senang kau menyukainya." Rink bersan-dar di batang pohon sambil mengunyah. "Kurasa begitulah," jawabnya sambil menerawang. "Bila Daddy dan aku bisa sepakat dalam beberapa hal." Caroline ingin menanyakan hal apa saja, tetapi tidak jadi. Ia tidak mau Rink berpikir ia ikut campur urusan Rink.
Namun Rink meliriknya, dan melihat sikapnya yang mendengarkan dengan saksama, ia melanjut-kan, "Kau tahu, ayahku tidak ingin menambah-kan modal ke pemintalan agar mendapat untung lebih banyak. Ia sudah puas dengan apa yang didapatnya dari pemintalan sekarang. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk mening-katkan, memperbarui, menjadikan tempat bekerja yang lebih nyaman buat para karyawan. Aku belum berhasil meyakinkannya bahwa bila ia menambahkan modal lagi ke pabriknya itu seka-rang, nantinya ia akan memanen hasilnya dalam jangka waktu panjang."
"Mungkin kau harus mengalah dalam beberapa hal pada awalnya."
"Mungkin juga," jawab Rink, ragu-ragu. Ia memasukkan tangan ke keranjang, mengeluarkan sekaleng minuman dingin. Ia mengedipkan mata pada Caroline. "Aku ingin sekali minum bir dingin, tetapi takut tertangkap basah meminum-nya bersama gadis di bawah umur seperti dirimu. Aku bisa dipenjara."
Andai tertangkap basah, mereka jelas takkan mencemaskan apa yang sedang mereka minum, keduanya menyadari hal itu. Mereka selesai makan siang dan dengan rapi Caroline membantu Rink memasukkan makanan yang tersisa ke keranjang. Caroline bersandar di batang pohon, menggantikan Rink. Rink berbaring di samping-nya sambil menopang kepalanya dengan tangan. Ia memandangi Caroline.
"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanyanya.
Caroline bertemu pandang dengannya. "Ibumu."
"Ibu?" Nada terkejut dalam suara Rink tak bisa disembunyikannya.
"Aku ikut sedih mendengarnya sudah mening-gal, Rink. Ia perempuan yang sangat baik."
"Kapan kau bertemu ibuku?"
"Tidak pernah, tetapi ia sesekali ke Woolworth. Aku selalu menganggap ia perempuan yang... yang paling rapi yang pernah kukenal."
Rink tertawa. "Ya, memang. Aku tidak pernah melihat ibuku dalam keadaan tidak rapi."
"Ia juga cantik, dan selalu berpakaian indah." Ekspresi Caroline raelembut. "Ia meninggal ka-rena apa, Rink?"
Rink mengamati tepi rok Caroline, jarinya menelusuri sulaman pada pinggir rok itu. "Patah hati," jawab Rink pelan.
Caroline melihat kepedihan di wajah Rink, membuat perasaan Caroline tersentuh. Ingin ia merebahkan kepala Rink di dadanya, menghibur-nya, mengelus rambutnya. "Bagaimana bisa orang yang tinggal di rumah seperti rumahmu patah hati?"
Rink tidak menanggapi pertanyaan Caroline, ia malah balik bertanya. "Kau suka The Retreat?" Mata Caroline berbinar. "Itu rumah paling indah di dunia," jawab Caroline kagum dan Rink tertawa. Caroline memerah. "Yah, paling tidak, itu rumah paling indah yang pernah kulihat."
Rink kelihatan terkejut. "Kau pernah masuk?"
"Oh, tidak, tidak pernah. Tetapi aku sering melewati rumah itu. Aku suka berdiri meman-danginya. Aku bersedia melakukan apa pun un-tuk bisa tinggal di rumah seperti itu." Mata Caroline menerawang jauh. "Kau mungkin ber-pikir aku sinting."
Rink menggeleng. "Aku juga suka The Retreat. Aku juga tidak pernah bosan memandanginya. Suatu hari nanti kuundang kau ke rumah."
Mereka berdua tahu Rink tidak akan melaku-kannya, dan selama beberapa saat kemudian mereka tidak sanggup berpandangan. Akhirnya Caroline berkata, "Adik perempuanmu cantik sekali. Aku pernah melihatnya dengan ibumu beberapa kali."
"Namanya Laura Jane."
"Aku tak pernah melihatnya di sekolah. Apakah ia pergi ke sekolah khusus?"
Rink mematahkan sebatang rumput dan meng-gigiti batangnya. Giginya rata dan putih sekali. "Ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Ia tidak sepenuhnya terbelakang, tetapi perkembangan otaknya lambat. Ia tidak bisa belajar secepat anak yang lain."
Pipi Caroline terasa panas. "Aku... aku minta maaf... aku tidak bermaksud...."
"Hai," ujar Rink sambil menarik tangan Caroline. "Tidak apa-apa. Laura Jane gadis yang menakjubkan. Aku sangat mencintainya."
"Beruntung sekali ia punya kakak laki-laki seperti dirimu."
Kembali Rink menopang kepalanya dengan tangan dan melemparkan pandangan nakal pada Caroline. Sinar matahari menimpa lentik bulu matanya yang hitam. "Begitukah?"
"Ya."
Keduanya hanya saling pandang ketika tak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Mata Rink tertuju pada tangan Caroline yang diletak-kan di pahanya. Diambilnya, dibalik dan diamati-nya garis-garis tangan pada telapak tangan itu. Telunjuk Rink menelusuri tangan Caroline mulai dari telapak sampai ke lekukan tangan yang paling sensitif. Sentuhan tangan Rink membuat sekujur tubuh Caroline menggelenyar. Dadanya bergemuruh tak menentu. Ia heran merasakan payudaranya tiba-tiba menegang.
"Aku harus pergi," katanya dengan napas memburu.
"Aku tidak ingin kau pergi," sahut Rink de-ngan suara parau. Tatapannya perlahan bertemu pandangan Caroline. "Aku berharap kita berdua bisa seharian di sini, seperti ini, mengobrol."
"Aku yakin kau punya ba-nyak teman untuk mengobrol. Mereka bisa ngobrol denganmu, kan?"
"Mereka sangat suka bicara," jawab Rink. "Tak ada yang suka mendengarkan, hanya men-dengarkan, seperti yang kaulakukan, Caroline."
Sambil memandang Caroline dengan bola matanya yang keemasan, perlahan Rink berdiri. Tangannya menepis rambut Caroline ke belakang leher yang jenjang. Ditariknya Caroline merapat ke tubuhnya. Caroline tidak menolak sedikit pun sampai akhirnya bibir Rink menyentuh bibirnya. Kedua terhanyut, saling mendesah nikmat.
Bihk Rink. sama lembutnya dengan malam kemarin, tetapi karena Caroline memberi respons, Rink jadi langsung bergairah. Ciumannya makin lama makin panas.
Caroline hanyut dalam arus hasrat menggebu Rink. Jiwanya menggelora tidak menentu, ter-perangkap dalam gairah, keharuman tubuh, sen-tuhan tubuh Rink pada tubuhnya. Menit berikut-nya, Caroline berbaring tertindih paha Rink yang telanjang, sementara Rink membungkuk di atas tubuh Caroline. Lidahnya menjelajahi mulut Caroline dengan penuh gairah sementara jari-jari Caroline mencengkeram rambut Rink.
Rink mengangkat kepalanya, terengah-engah, lalu kembali menghujani Caroiine dengan ciuman hangat. "Caroline, jangan pasrah, katakan jangan. Jangan biarkan aku melakukannya." Rink me-narik kerah blus Caroline ke bahunya, lalu me-nyelipkan tangannya ke balik blus itu. Kulit Caroline terasa hangat dan halus tersentuh te-lapak tangannya. Ia mempermainkan tali bra Caroline. Ujung jarinya mengelus dada Caroline, dan ia mendesah. "Kau masih di bawah umur. Masih anak-anak. Tuhan, tolong. Kau belum cukup umur untuk tahu lebih jauh, tetapi aku boleh. Kita bermain api, Sayang. Hentikan aku. Tolonglah." Kembali Rink menciumi Caroline, lama.
Keresahan merayapi perasaan Caroline. Kakinya bergerak-gerak meronta. Dadanya berdebar-debar, ia ingin menutupinya dengan tangannya. Dengan tangan Rink. Caroline melingkarkan tangannya di leher Rink.
Namun Rink menarik tubuhnya, menarik na-pas, memejamkan mata rapat-rapat. "Tidak boleh diteruskan, Caroline. Kalau tidak kita hentikan, segalanya akan tak terkendali. Kau mengerti apa yang kumaksud?"
Seperti orang tolol, Caroline mengangguk, ber-harap Rink kembali memeluknya, menciuminya lagi, menyentuh tubuhnya di bagian yang dirasa-kannya membengkak dan hangat.
Rink membantu Caroline berdiri. Caroline bergelayut di badan Rink dan pria itu mendekap-nya erat-erat, membelai punggungnya, membisik-kan kata-kata manis di balik rambutnya. Tanpa malu-malu, lengan Caroline memeluk pinggang Rink. Ketika laki-laki tersebut menjauhkan tubuh Caroline darinya, senyumnya tampak getir. "Aku takkan pernah memaafkan diriku bila kau dipecat dari pekerjaanmu," bisik Rink.
"Oh, ya ampun!" ujar Caroline, sambil me-mukul-mukulkan telapak tangan ke pipinya yang memerah. "Jam berapa sekarang?"
"Kau masih punya waktu bila pergi sekarang."
"Sampai jumpa," kata Caroline sambil me-masukkan blusnya kembali ke rok dan meng-gelengkan kepala untuk merapikan rambutnya.
Rink menggenggam tangannya. "Aku tidak bisa menjemputmu nanti malam."
"Aku juga tidak berharap begitu, Rink," jawab Caroline polos.
"Aku ingin, tetapi ada yang harus kulakukan nanti malam."
"Tidak apa-apa. Sungguh." Caroline mulai melangkah. "Terima kasih untuk makan siang-nya." Sambil berbalik, ia menghilang di balik pepohonan. Rink mengejarnya.
"Caroline!" Rink memanggilnya dengan nada penuh wibawa, membuat Caroline menghentikan larinya dan berbalik.
"Ya?"
"Aku tunggu kau besok. Di sini. Oke?"

Ekspresi Caroline yang berseri-seri bersaing dengan kecerahan sinar matahari ketika ia ter-senyum pada Rink. "Ya," jawabnya sambil ter-tawa. "Ya... ya... ya...."
Rink menemui Caroline keesokan harinya, sehari setelah itu dan hari-hari selanjutnya, hampir setiap hari dalam beberapa minggu berturut-turut. Bila sempat, Rink menjemput Caroline dari tempat kerja dan mengantarnya sampai ke dekat rumah.
Caroline memiringkan tubuh dan memandang bulan yang memancarkan sinarnya di antara dahan pepohonan di luar jendela. Betapa mem-bahagiakannya hari-hari itu. Ia hidup dalam kegembiraan, hari-hari penuh ciuman, sekaligus kesedihan karena ia menginginkan sesuatu yang lebih daripada ciuman. Rink mengutarakan niat-nya menempuh masa depan bersama Caroline. Caroline juga menceritakan semua rahasia pri-badinya. Mereka sama-sama mengungkapkan ra-hasia yang tak pernah diketahui orang lain.
Setiap jam yang mereka curi untuk dilewati bersama sangat membahagiakan, sebagian di-karenakan sinar matahari musim panas yang hangat. Karena suatu hari ketika mereka bertemu, turun hujan.
Itulah hari yang paling indah daripada hari-hari yang mereka lewati bersama.
Caroline tersedu-sedan, dibiarkannya air mata membasahi pipinya. Ia berdoa memohon ampun tetapi tak yakin doanya dikabulkan. Karena ia ingin menangis untuk Roscoe, suaminya, tetapi air mata yang menitik turun malah untuk Rink, kekasihnya.




Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified