Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Harsh Cry of the Heron Part 1

Lian Hearn

KUDA :
Tenba kuda hitam pemberian Shigeko untuk Taeko Dua anak Raku, surai
dan ekor mereka berwarna abu¬abu
Ryume kuda tunggangan Taku
Keri kuda tunggangan Hiroshi
Ashiege kuda tunggangan Shigeko
"Cepat kemari! Ayah dan Ibu sedang bertarung!" Otori Takeo
mendengar putrinya memanggil adik-adik-nya dari kediaman
mereka di kastil Inuyama, dengan cara yang sama ia
mendengarkan semua hiruk-pikuk baik di dalam kastil dan juga
dari kota di luar kastil. Namun dia mengabaikan suara-suara itu,
sama seperti ia mengabaikan nyanyian yang mengalun dari
nightingale floor di bawah kakinya. Ia hanya berkonsentrasi pada
lawannya: Kaede, istrinya.
Mereka bertarung menggunakan tongkat: ia memang lebih tinggi,
tapi istrinya terlahir kidal dan mampu menggunakan tangan kanan
dengan sama baiknya. Sementara jari tangan kanannya putus
karena tebasan belati bertahun-tahun lalu dan harus belajar
meng¬gunakan tangan kiri.
Saat ini hari terakhir di tahun ini, hawa dingin menusuk, langit
pucat kelabu, matahari musim dingin meredup. Mereka sering
berlatih dengan cara ini di musim dingin: menghangatkan tubuh
dan membuat sendi-sendi tetap lentur, dan Kaede suka putri-putrinya melihat bagaimana perem¬puan
mampu bertarung layaknya laki-laki.
Ketiga putri mereka berlarian: Shigeko, si sulung. yang akan berusia lima belas lahun pada tahun baru
ini, kedua adiknya tiga belas tahun. Papan lantai melantunkan nyanyian di bawah langkah kaki
Shigeko, tapi si kembar menjejakkan kaki mereka begitu ringan dengan cara Tribe. Mereka sudah
sering berlarian melintasi nightingale floor sejak kecil, dan tanpa menyadari belajar untuk
membuatnya tidak bersuara.
Kepala Kaede ditutupi selendang sutra merah yang dililitkan menutupi wajahnya, maka Takeo hanya
bisa melihat matanya. Mata yang penuh dengan energi bertarung, dan gerakan-gerakannya masih
cepat serta kuat. Sulit dipercaya Kaede adalah ibu dari tiga anak: dia masih bergerak dengan
kekuatan dan kebebasan seorang gadis. Serangannya membuat Takeo menyadari akan usia dan
kelemahan fisiknya. Hentakan serangan Kaede pada tongkat miliknya mem¬buat tangannya terasa
nyeri.
"Aku mengaku kalah," ujar Takeo.
"Ibu menang!" seru ketiga putrinya dengan bangga. Shigeko lari menghampiri ibunya dengan
membawa handuk. "Untuk sang pemenang," ujarnya seraya mem¬bungkuk dan menyodorkan handuk
dengan dua tangan.
"Kita harus bersyukur karena hidup dalam damai," tutur Kaede, seraya tersenyum dan menyeka
wajahnya. "Ayah kalian belajar keahlian berdiplomasi dan tak perlu lagi ber¬tarung mempertaruhkan
nyawanya!"
"Setidaknya kini aku sudah mendapat peringatan!" sahut Takeo, memberi isyarat pada salah satu
penjaga, yang tengah menyaksikan dari taman untuk mengambil longkatnya.

Halaman 448 dari 448
"Ijinkan kami bertarung melawan Ayah!" ujar Miki, si bungsu, dengan nada me¬mohon. Dia berjalan
ke tepian beranda dan mengacungkan kepalan tangan ke arah ayah¬nya. Takeo berhati-hati untuk
tidak menatap langsung mata atau menyentuh putrinya itu selagi memberikan tongkatnya.
Takeo sadar akan rasa enggan dalam dirinya. Bahkan orang dewasa dan prajurit tangguh sekalipun,
takut pada si kembar— bahkan, batinnya dengan hati pilu, ibunya sendiri juga takut.
"Ayah ingin lihat apa saja yang telah dipelajari Shigeko," sahutnya. "Kalian berdua boleh menjajal
kebolehannya."
Selama beberapa tahun putri sulungnya menghabiskan sebagian besar waktu di Terayama, di bawah
pengawasan mantan Kepala Biara, Matsuda Shingen, mantan guru Takeo, untuk mempelajari Ajaran
Houou. Shigeko tiba di Inuyama sehari sebelumnya, untuk merayakan Tahun Baru bersama
keluarganya, juga perayaan me¬masuki usia akil balik. Kini Takeo memer¬hatikan putrinya selagi
mengambil tongkat yang tadi digunakannya serta meyakinkan kalau Miki menggunakan tongkat yang
lebih ringan. Secara fisik, Shigeko mirip ibunya: bentuk tubuh ramping yang sama serta kerapuhan
yang jelas terlihat, namun me¬miliki karakter, berpengetahuan luas berkat latihan dan pengalaman,
periang serta tegas dan tidak mudah berubah pendirian. Ajaran Houou amat keras dalam
pengajarannya, dan guru-gurunya tidak membuat pengecualian untuk usia dan jenis kelamin, namun
ia tetap menerima ajaran dan latihan yang diberikan, hari-hari panjang dalam kesendirian serta
kcsunyian, dengan sepenuh hati. Dia ke Terayama atas kemnuannya sendiri, karena Ajaran Houou
merupakan ajaran jalan kedamaian, dan sejak kecil Shigeko telah diajarkan ayahnya tentang
pandangan untuk mewujudkan wilayah yang damai tempat kekcrasan tak pernah merajalela.
Cara bertarungnya agak berbeda dari cara yang diajarkan kepada Takeo, dan dia sangat suka
memerhatikan putrinya itu, menikmati bagaimana gerakan-gerakan tradisional menyerang diubah
menjadi gerakan beladiri, dengan tujuan melemahkan lawan tanpa menyakiti.
"Jangan curang," kata Shigeko pada Miki, karena si kembar memiliki semua kemampuan Tribe—
bahkan lebih, Takeo curiga. Saat ini, kemampuan mereka ber¬kembang pesat, dan meskipun dilarang
menggunakannya dalam kehidupan sehari¬hari, terkadang godaan untuk memper¬mainkan guruguru
serta mengelabui para pelayan sulit untuk dibendung.
"Mengapa aku tidak boleh memperlihatkan apa yang sudah kupelajari?" tanya Miki, karena dia juga
baru kembali dari pelatihan—di desa Tribe bersama keluarga Muto. Kakaknya Maya akan kembali ke
sana setelah perayaan. Akhir-akhir ini jarang sekali seluruh anggota keluarga bisa berkumpul
bersama: pendidikan yang berbeda bagi tiap anak, tuntutan pada orangtua untuk mem¬beri perhatian
yang sama besarnya untuk seluruh Tiga Negara berarti perjalanan tanpa henti serta sering berjauhan.
Tuntutan dalam pemerintahan kian meningkat: perundingan dengan orang asing; penjelajahan dan
per¬dagangan; pengembangan persenjataan; pengawasan distrik lokal yang mengatur sendiri
administrasinya; percobaan pertanian; impor perajin asing dan teknologi baru; pengadilan untuk
mendengarkan keluhan serta ketidakpuasan. Takeo dan Kaede memikul beban ini bersama. Kaede
lebih banyak menangani wilayah Barat, sedang Takeo Negara Tengah dan keduanya bekerja¬sama
menangani wilayah timur, tempat adik Kaede, Ai beserta suaminya, Sonoda Mitsuru, memegang
bekas wilayah Tohan.
Miki setengah kepala lebih pendek dari kakaknya, tapi sangat kuat dan cepat; Shigeko tampak nyaris
tak mampu meng¬imbangi gerakannya, tapi adiknya tak mampu menembus pertahanannya. Dalam
beberapa saat Miki sudah kehilangan tongkatnya, yang tampak seperti terbang melayang dari
jemarinya, dan sewaktu tongkat itu membumbung tinggi Shigeko menangkapnya dengan mudah.
"Kau curang!" Miki terengah-engah.
"Lord Gemba yang mengajari," sahut Shigeko dengan bangga.
Adik kembarnya yang satu lagi, Maya, mengambil giliran selanjutnya juga kalah dengan cara yang
sama.
Shigeko berkata, pipinya bersemu merah, "Ayah, ayo bertarung denganku!"
"Baiklah," Takeo setuju karena terkesan dengan apa yang telah dipelajari putrinya dan ingin tahu
sampai di mana kemampuannya menghadapi ksatria yang terlatih.
Takeo menyerang putrinya dengan cepat, tanpa menahan tenaga, dan serangan pertama
mengejutkan gadis itu. Tongkat ayahnya mengenai dadanya; Takco menahan tikamannya agar tidak
menyakiti putrinya.

Halaman 449 dari 449
"Jika ini pedang, nyawamu pasti sudah melayang," ujarnya.
"Lagi," sahut Shigeko dengan tenang, dan kali ini siap bersiap menghadapi serangan yang akan
dilancarkan ayahnya; bergerak dengan kecepatan tanpa banyak tenaga, mengelak dari dua pukulan
dan berhasil masuk ke sisi kanan ayahnya tempat tangan yang lebih lemah, menghentak sedikit,
cukup untuk menggoyahkan keseimbangan ayah¬nya, kemudian meliukkan tubuhnya. Tongkat milik
Takeo jatuh ke tanah.
Didengarnya helaan napas si kembar, dan para penjaga terperangah.
"Bagus sekali," ujarnya.
"Ayah tidak berusaha sekuat tenaga," sahut Shigeko kecewa.
"Tentu saja ayah berusaha sekuat tenaga. Sama kuatnya seperti yang pertama tadi. Tapi, ayah sudah
dibuat lelah oleh ibumu, juga karena sudah tua dan tidak sekuat dulu lagi!"
"Tidak," pekik Maya. "Shigeko menang!"
"Tapi itu sama saja kau curang," timpal Miki dengan serius. "Bagaimana kau melaku¬kannya?"
Shigeko tersenyum, menggelengkan
kepala. "Itu yang harus kau lakukan dengan
pikiran, jiwa serta tangan di saat bersamaan.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menguasainya. Aku tidak bisa memperlihat¬kannya begitu
saja pada kalian."
"Kau melakukannya dengan sangat baik," ujar Kaede. "Aku bangga." Nada suaranya terdengar penuh
kasih sayang dan kekaguman, seperti biasa hanya tertuju pada putri sulungnya.
Si kembar saling benukar pandang.
Mereka iri, pikir Takeo. Mereka tahu ibunya tidak memiliki kasih sayang yang sama kuatnya pada
mereka. Dan dirasakan¬nya debaran perasaan ingin melindungi yang tak asing lagi atas kedua putri
kembarnya. Sepertinya ia selalu berusaha menjauhkan mereka dari segala yang bahaya—sejak
mereka lahir, ketika Chiyo ingin menyingkir¬kan bayi kedua, Miki, lalu membiarkannya mati. Ini
tindakan yang biasa lakukan pada anak kembar karena anak kembar dianggap tidak wajar bagi
manusia, membuat mereka kelihatan lebih mirip hewan, kucing atau anjing.
"Mungkin tampak kejam bagi Anda, Lord Takeo," Chiyo memeringatkannya. "Tapi lebih baik bertindak
sekarang daripada menanggung malu dan sial, sebagai ayah dari anak kembar, rakyat akan percaya
kalau Anda menjadi sasarannya."
"Bagaimana mereka bisa berhenti percaya pada takhayul dan kekejaman semacam itu bila bukan kita
yang memberi contoh?" sahutnya dengan gusar karena bagi orang yang terlahir di kalangan kaum
Hidden, ia sangat menghargai nyawa manusia lebih dari apa pun, dan tak percaya kalau
memper¬tahankan nyawa anak akan mendatangkan hinaan atau nasib buruk.
Kemudian ia terkejul oleh kekuatan takhayul ini. Kaede pun bukannya tidak ter¬pengaruh, dan
sikapnya pada putri kembar¬nya menggambarkan kegelisahannya yang bercabang. Dia lebih memilih
mereka tinggal terpisah, satu atau yang lainnya biasanya tinggal bersama Tribe; dan Kaede tak
meng¬inginkan kehadiran mereka saat perayaan usia akil balik sang kakak, takut kalau kehadiran
mereka akan mendatangkan nasib sial bagi Shigeko. Tapi Shigeko, yang sama protektifnya terhadap
si kembar seperti ayah¬nya, memaksa mereka harus hadir. Takeo senang dengan hal itu, tidak ada
yang lebih membahagiakan selain melihat semua anggota keluarga berkumpul bersama, berada
dekat dengannya. Dipandanginya mereka semua dengan penuh kasih sayang, dan sadar kalau
perasaan itu diambil alih oleh sesuatu yang lebih menggairahkan: hasrat untuk ber¬baring bersama
dan merasakan kulit istrinya. Pertarungan tongkat tadi telah membangkit¬kan kenangannya saat
pertama kali jatuh cinta pada Kaede, pertama kali mereka bertanding di Tsuwano sewaktu ia masih
berusia tujuh belas tahun sedangkan Kaede lima belas tahun. Adu tanding itu ber¬langsung di
Inuyama, tepat di tempat yang sama hari ini, untuk pertama kalinya mereka tidur bersama, terdorong
hasrat yang timbul dari keputusasaan juga kesedihan. Rumah yang lama, kastil milik Iida, nightingale
floor yang pertama habis terbakar ketika Inuyama jatuh namun Arai Daiichi membangunnya kembali
dengan cara yang hampir sama, dan kini menjadi salah satu dari Empat Kota yang termasyhur di
penjuru Tiga Negara.

Halaman 450 dari 450
"Anak-anak harus segera beristirahat," ujar Takeo, "karena perayaan di biara dimulai tengah malam,
lalu ada Jamuan Makan Tahun Baru. Acara baru akan selesai pada Waktu Macan*. Aku juga ingin
berbaring sebentar."
"Akan kuminta agar tungku disiapkan di kamar," sahut Kaede, "sebentar lagi aku akan bergabung
denganmu."
***
Sinar matahari telah memudar saat Kaede mendatangi Takeo, dan malam musim dingin mulai
menjelang. Meskipun ada tungku, hembusan napas Kaede membentuk kabut putih di tengah
dinginnya udara. Selesai mandi, aroma kulit padi dan aloe dari air masih melekat di kulitnya. Di balik
jubah tebal musim dingin tubuhnya terasa hangat. Takeo melepas sabuk istrinya lalu menyelinakan
tangan ke balik pakaiannya, menarik tubuh Kaede agar berdekatan dengannya. Kemudian dilepasnya
syal yang menutupi kepala Kaede lalu menarik, meng¬usapkan tangannya di atas kulit lembut
ber¬bulu halus.
"Jangan," ujar Kaede. "Buruk sekali." Takeo tahu kalau istrinya tak rela kehilangan rambut panjangnya
yang indah, maupun bekas luka di tengkuk lehernya yang putih, yang mencoreng kecantikan yang
pernah menjadi legenda sekaligus takhayul; tapi tidak nampak olehnya ketidaksempumaan tubuh
istrinya, yang tampak hanyalah makin bertambahnya kerapuhan yang justru di matanya membuat
sang istri semakin terlihat memesona.
"Aku menyukainya. Seperti pemain sandiwara. Membuatmu kelihatan seperti laki-laki sekaligus
perempuan, juga orang dewasa sekaligus anak-anak."
"Kau juga harus perlihatkan bekas luka¬mu." Kaede menarik sarung tangan sutra yang biasa
dikenakan Takeo di tangan kanannya, lalu membawa sisa bekas jarinya yang putus ke bibirnya.
"Apakah tadi aku menyakitimu?"
"Tidak juga. Hanya sisa rasa sakit— pukulan seperti apa pun menyakitkan persendian dan
membangkitkan rasa sakit¬nya." Takeo bicara lagi dengan suara pelan, "Saat ini aku merasa
kesakitan, tapi karena alasan lain."
"Rasa sakit semacam itu bisa kusembuh¬kan," bisik Kaede, seraya menarik tubuh suaminya,
membuka diri pada Takeo, membawanya memasuki dirinya, memper¬temukan hasrat mereka.
"Kau selalu menyembuhkan diriku," ujar Takeo kemudian. "Kau membuat diriku utuh ."
Kaede berbaring dalam dekapan Takeo, dengan kepala bersandar di bahunya. Pandangannya
menjelajahi setiap sudut kamar. Cahaya lampu bersinar dari pegangan best, tapi di balik daun
penutup jendela langit tampak kelam.
"Mungkin tadi kau sudah memberiku seorang putra," ujar Kaede, tidak mampu menyembunyikan
kerinduan dalam nada suaranya.
"Kuharap tidak!" seru Takeo. "Dua kali hamil nyaris merenggut nyawamu. Lagipula kita tidak perlu
anak laki-laki," imbuhnya dengan ringan. "Kita sudah punya tiga anak perempuan."
"Aku pernah mengatakan hal yang sama pada ayahku," aku Kaede. "Aku percaya kalau diriku bernilai
sama dengan laki-laki."
"Begitu pula dengan Shigeko," sahut Takeo. "Dia akan mewarisi Tiga Negara, juga anak-anaknya
kelak."
"Anak-anaknya! Shigeko masih anak-anak. tapi sudah cukup dewasa untuk ditunangkan. Siapa orang
yang bisa kita calonkan dengan¬nya?"
"Jangan terburu-buru. Shigeko seperti piala, perhiasan yang nyaris tak ternilai harganya. Kita takkan
melepasnya dengan percuma."
Kaede kembali pada pokok pembicaraan sebelumnya seolah hal itu menggerogoti dirinya. "Aku ingin
memberimu anak laki¬laki."
"Meskipun dengan adanya pewarisanmu sendiri serta contoh dari Lady Maruyama! Kau masih saja
bicara layaknya putri dari keluarga ksatria!"

Halaman 451 dari 451
Kegelapan dan ketenangan membawa Kaede menyuarakan kecemasannya lebih jauh lagi. "Kadang
aku berpikir si kembar menutup rahimku. Aku merasa andai mereka tidak dilahirkan aku akan
dikaruniai anak laki-laki."
"Kau terlalu banyak mendengar takhayul!"
"Mungkin kau benar. Tapi apa yang akan terjadi pada anak kembar kita? Mereka tidak bisa mewarisi,
kalau-kalau terjadi sesuatu pada Shigeko, semoga Surga tidak mem¬biarkan itu terjadi. Maka siapa
yang akan dinikahkan? Tidak satu pun keluarga bangsawan atau ksatria mau menerima si kembar,
terutama yang ternoda—maaf oleh darah Tribe serta kemampuan yang mirip ilmu sihir."
Takeo tak bisa menyangkal bahwa hal yang sama juga mengganggu pikirannya, namun ia berusaha
menyingkirkannya. Putri kembarnya masih amat muda: siapa yang tahu apa yang disiapkan nasib
untuk mereka?
Setelah beberapa saat, Kaede berkata pelan, "Tapi mungkin kita memang sudah terlalu tua. Semua
orang penasaran mengapa kau tidak mengambil istri muda, atau selir, agar bisa punya lebih banyak
anak."
"Aku hanya menginginkan satu istri," sahut Takeo dengan sungguh-sungguh. "Perasaan apa pun
yang pernah kuperlihat¬kan untuk berpura-pura, peran apa pun yang kumainkan, cintaku padamu
sederhana dan sejatj adanya—aku takkan bercinta dengan siapa pun selain kau. Pernah kukatakan
padamu, aku pernah bersumpah pada Kannon di Ohama. Aku tidak melanggar sumpah itu selama
enam belas tahun. Dan aku tak akan melanggamya sekarang."
"Kurasa aku bisa mati cemburu," aku Kaede. "Namun perasaanku tidaklah penting dibandingkan
kepentingan negara."
"Aku percaya kita dipersatukan dalam cinta yang merupakan landasan pemerin¬tahan kita yang baik.
Aku tak akan merusak¬nya," sahutnya. Takeo merengkuh Kaede lebih dekat lagi, mengusapkan
tangannya di atas bekas luka leher istrinya, merasakan tulang rusuk yang mengeras dari jaringan
yang tertinggal bekas luka bakar. "Selama kita bersatu, negara kita akan tetap damai dan kuat."
Setengah mengantuk Kaede berkata, "Kau ingat saat kita berpisah di Terayama? Kau menatap
mataku lalu aku jatuh tertidur. Aku tidak pernah menceritakan ini padamu. Aku bermimpi tentang Dewi
Putih: dia berbicara padaku. Bersabarlah, katanya: dia akan menjemputmu. Kemudian satu kali lagi di
Gua Suci kudengar suaranya mengatakan hal yang sama. Itu satu-satunya hal yang membuatku
bertahan selama dikurung di kediaman Lord Fujiwara. Di sana aku belajar bersabar. Aku terpaksa
belajar bagaimana harus menunggu, tidak melakukan apa-apa, agar ia tidak punya alasan untuk
mencabut nyawaku, Setelah itu, saat dia mati, satu¬satunya tempat yang terpikir olehku hanya¬lah
kembali ke gua suci, kembali pada sang dewi. Bila kau tidak datang, mungkin aku akan terus tinggal
di sana melayani sang dewi sepanjang sisa hidupku. Lalu kau datang: aku melihatmu, begitu kurus,
racun masih ber¬sarang di tubuhmu, tangan indahmu hancur. Aku tak pernah melupakan saat itu;
tangan¬mu di atas leherku, salju turun, jeritan pilu sang bangau...."
"Aku tak layak mendapatkan cintamu," bisik Takeo. "Cintamu adalah anugerah terindah dalam
hidupku, dan aku tak bisa hidup tanpa dirimu. Kau tahu, hidupku di¬bimbing oleh ramalan..."
"Kau pernah bilang. Dan kita sudah melihatnya terpenuhi: Lima Peperangan, campur tangan Surga—
"
Akan kuceritakan sisanya sekarang, pikir Takeo. Akan kukatakan mengapa aku tidak menginginkan
anak laki-laki, karena si peramal buta itu mengatakan hanya putraku yang bisa membawa kematian
padaku. Akan kukatakan padanya tentang Yuki, dan anak yang dilahirkannya, putraku, yang kini
berusia enam belas tahun.
Namun ia tak ingin menyakiti istrinya. Untuk apa mengorek-ngorek masa lalu? Lima pertempuran
telah menjadi bagian dari mitologi Otori, walaupun Takeo sadar hahwa ia yang memilih bagaimana
menghitung semua pertempuran itu: bisa saja jumlah mencapai enam, empat atau tiga. Kata-kata bisa
diubah dan dimanipulasi agar terkesan sarat makna. Bila suatu ramalan dipercaya, seringkali
terpenuhi. Maka ia takkan mengeluarkan ramalan yang satu itu dalam kata-kata, karena dengan
begitu justru meng-hidupkan ramalan itu.
Dilihatnya Kaede hampir tertidur. Terasa hangat di bawah selimut, meskipun udara di wajahnya terasa
dingin menusuk. Tak lama lagi ia sudah harus bangun, mandi serta ber¬pakaian resmi dan
menyiapkan diri untuk upacara menyambut datangnya Tahun Baru. Malam ini akan jadi malam yang
panjang. Tubuhnya mulai terasa rileks, dan akhirnya ia pun tertidur.*

Halaman 452 dari 452
Ketiga putri Lord Otori senang jalan ke kuil di Inuyama karena terdapat deretan patung anjing putih
yang diselingi deretan batu tempat ratusan lampu dinyalakan di malam¬malam perayaan besar.
Kelap-kelip cahaya lampu menyinari patung-patung anjing hingga terlihat hidup. Udara cukup dingin
hingga membuat wajah, jari tangan, dan kaki mati rasa, dan penuh dengan asap serta aroma dupa
dan kayu pinus yang baru ditebang.
Para peziarah pertama di Tahun Baru ini berkerumun di anak tangga curam menanjak menuju kuil.
Lonceng besar berdentang, membuat Shigeko bergidik. Ibunya berada beberapa langkah di depan,
berjalan ber-dampingan dengan Muto Shizuka, pen- damping kesayangannya. Suami Shizuka, tabib
Ishida, sedang ke daratan utama. Sang tabib diperkirakan takkan kembali hingga musim semi.
Shigeko senang Shizuka akan bersama mereka selama musim dingin karena dia salah satu dari
sedikit orang yang di¬hormati si kembar; dan Shigeko pikir, Shizuka pun menyayangi dan memahami
mereka berdua.
Si kembar berjalan mengapit Shigeko; sesekali beberapa orang dari kerumunan yang berada di
sekeliling mereka menatap lalu menjauh, tak ingin tersentuh; tapi umumnya mereka tidak terlalu jelas
terlihat di bawah sinar remang-remang.
Shigeko tahu para penjaga ada di depan dan belakang mereka, dan putra Shizuka, Taku, bertugas
menjaga ayahnya. Ia tahu kalau Shizuka dan ibunya membawa pedang pendek, dan ia pun
menyembunyikan sebuah tongkat di balik jubahnya. Ia selalu mem¬bawa tongkat karena berguna
untuk me¬lumpuhkan orang tanpa membunuh, seperti yang diajarkan Lord Miyoshi Gemba, salah
seorang gurunya di Terayama. Setengah berharap ia akan sempat mencobanya, tapi sepertinya
mereka takkan diserang di jantung Inuyama.
Namun ada sesuatu di malam ini yang membuatnya waspada: bukankah guru¬gurunya sering
mengatakan bahwa ksatria harus selalu siaga agar kematian, baik kematian dirinya maupun
lawannya, bisa terhindar?
Mereka tiba di aula utama kuil, tempat Shigeko bisa melihat ayahnya yang tampak kerdil di antara
atap tinggi dan patung raksasa dewa-dewa langit. Sulit dipercaya orang yang duduk resmi di depan
altar adalah orang yang bertarung dengannya sore tadi di atas nightingale floor. Rasa sayang dan
hormat yang mendalam pada ayahnya mengalir dalam diri Shigeko.
Setelah mempersembahkan sesajian dan berdoa di depan Sang Pencerah, para perempuan berjalan
ke kiri lalu berjalan lebih tinggi ke arah gunung menuju ke kuil sang maha pengampun, Kannon. Di sini
para penjaga tetap berada di luar gerbang karena hanya perempuan yang diijinkan masuk ke
pelataran.
Ketika Shigeko berlutut di atas anak tangga kayu di depan patung yang berkilat, Miki menyentuh
lengan kakaknya. "Shigeko," bisiknya. "Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?"
"Di sini itu di mana?"
Miki menunjuk ke ujung beranda, tempat seorang perempuan muda berjalan ke arah mereka dengan
membawa semacam bingkisan: perempuan itu berlutut di hadapan Kaede lalu mengulurkan nampannya.
"Jangan disentuh!" seru Shigeko. "Miki, ada berapa orang?"
"Dua," jerit Miki. "Dan mereka membawa belati!"
Saat itulah Shigeko melihat dua orang itu muncul dari udara, melompat ke arah mereka. Shigeko
berteriak memeringatkan sambil mengeluarkan tongkatnya.
"Mereka ingin membunuh Ibu!" pekik Miki.
Tapi Kaede telah siaga pada seruan Shigeko yang pertama. Pedang sudah di tangannya. Gadis itu
melempar nampan di depannya sambil menarik senjata miliknya, tapi Shizuka yang juga bersenjata,
mem-belokkan serangan pertama, mematikan serangan gadis itu dengan membuat senjata¬nya

Halaman 453 dari 453
melayang di udara, kemudian berbalik menghadapi para penyerang laki-laki. Kaede mendekati
perempuan itu dan meng-hempaskannya ke tanah, seraya mengunci lengannya.
"Maya, di dalam mulutnya," seru Shizuka. "Jangan biarkan dia menelan racunnya."
Perempuan itu melancarkan serangan dan tendangan, tapi Maya dan Kaede membuka paksa
mulutnya dan Maya memasukkan jari ke dalam mulut, mencari-cari pil beracun lalu mengeluarkannya.
Sabetan pedang Shizuka melukai salah satu penyerang laki-laki, dan darahnya berceceran di atas
anak tangga dan di lantai. Shigeko memukul penyerang yang satunya lagi di bagian samping
lehernya, seperti yang pernah dicontohkan Gemba, dan selagi si penyerang itu terhuyung,
dihujamkannya tongkat ke arah selangkangannya, tepat ke bagian alat vitalnya. Tubuhnya melekuk,
muntah karena kesakitan.
"Jangan bunuh mereka," teriaknya pada Shizuka, tapi si penyerang yang terluka itu keburu kabur ke
arah kerumunan. Para penjaga berhasil menangkapnya tapi tidak berhasil menyelamatkannya dari
kemarahan kerumunan.
Shigeko tidak terlalu kaget dengan serangan itu tapi lebih merasa heran dengan serangan yang
ceroboh juga gagal itu. Ia mengira para pembunuh bayaran akan lebih mematikan, tapi ketika penjaga
dating menghampiri ke pelataran untuk mengikat dua penyerang yang masih hidup dengan tali
kemudian menggiring mereka pergi, tampak olehnya wajah mereka di bawah cahaya lentera.
"Mereka masih muda! Tak jauh lebih tua dari usiaku!"
Tatapan gadis itu beradu pandang dengan¬nya. Tidak akan dilupakannya tatapan penuh kebencian
itu. Itulah pertama kalinya Shigeko tersadar betapa ia sudah hampir melakukan pembunuhan, dan
sekaligus lega dan bersyukur karena tidak mencabut nyawa kedua orang yang masih muda ini, yang
nyaris sebaya dengan dirinya.*
"Mereka putra-putrinya Gosaburo," kata Takeo tak Lama setelah memerhatikan mereka. Terakhir aku
lihat mereka di Matsue, mereka masih bayi." Nama mereka tertulis dalam silsilah keluarga Kikuta, ditambahkan
ke catatan Tribe yang dikumpul¬kan Shigeru. Si pemuda, putra kedua Gosaburo bernama
Yuzu, sedangkan yang perempuan bernama Ume. Dan yang tewas bernama Kunio, anak sulung,
salah satu anak laki-laki yang pernah menjalani pelatihan bersama Takeo.
Saat itu merupakan hari pertama di tahun baru. Para tawanan dibawa menghadap Takeo di dalam
salah satu ruang tahanan di lantai paling bawah kastil Inuyama. Mereka berlutut di hadapannya,
dengan wajah pucat tapi tanpa ekspresi. Tangan mereka diikat kencang ke belakang, tapi bisa dia
lihat kalau pun lapar atau haus, tapi mereka tidak diperlakukan dengan kasar. Sekarang ia harus
memutuskan apa yang harus dilakukan dengan mereka.
Kemarahan sebelumnya atas serangan terhadap keluarganya diredakan oleh harapan bahwa
kemungkinan situasi bisa berbalik menguntungkan baginya: kegagalan terbaru ini, setelah kegagalankegagalan
yang se-belumnya, mungkin akhirnya bisa mem¬bujuk keluarga Kikuta untuk menyerah,
untuk bisa berdamai.
Aku sudah terlalu berpuas diri, pikirnya. Aku yakin kalau aku kebal terhadap serangan mereka: aku
tidak memperhitungkan mereka akan menyerang keluargaku.
Ketakutan baru menyelimutinya saat teringat kata-katanya pada Kaede pada hari sebelumnya. Ia tak
mampu mcmbayangkan bisa bertahan hidup jika istrinya tiada, kehilangannya; begitu pula dengan
negara¬nya.
"Apakah mereka mengatakan sesuatu padamu?" tanyanya pada Muto Taku yang kini berusia dua
puluh enam tahun, anak bungsu Muto Shizuka. Ayahnya dulu meru¬pakan bangsawan besar, sekutu
dan saingan Takeo, Arai Daiichi. Kakak Taku, Zenko, mewarisi wilayah kekuasaan ayahnya diBarat,
dan Takeo ingin memberi Taku warisan dengan cara yang sama; tapi ditolaknya, seraya mengatakan

Halaman 454 dari 454
bahwa dia tak ingin memiliki wilayah kekuasaan dan kehormatan. Dia lebih memilih bekerja dengan
paman dari ibunya. Kenji, dalam mengendalikan jaringan mata-mata yang telah Takeo bangun melalui
Tribe. Dia menerima pernikahan politis dengan gadis Tohan yang disukainya dan telah memberi¬nya
seorang putra dan seorang putri. Orang cenderung meremehkannya, yang justru disukainya. Sosok
dan wajah Taku menurun dari keluarga Muto sedangkan Arai mewarisi keberanian dan
kegagahannya, serta pada dasarnya menganggap hidup itu menyenang¬kan dan pengalaman yang
mengasyikkan.
Taku tersenyum saat menjawab. "Tidak. Mereka menolak bicara. Aku hanya terkejut mereka masih
hidup; kau tahu kalau Kikuta bunuh diri dengan menggigit lidah mereka sendiri! Tentu saja, aku belum
berusaha sebegitu kerasnya untuk membujuk mereka."
"Aku tidak harus mengingatkanmu kalau kekerasan dilarang di Tiga Negara."
"Tentu saja tidak. Tapi apakah peraturan itu juga berlaku bahkan untuk Kikuta?"
"Peraturan itu berlaku bagi semua orang," sahut Takeo ringan. "Mereka bersalah atas percobaan
pembunuhan dan akan dieksekusi atas kesalahan itu pada akhirnya nanti. Untuk saat ini mereka tidak
boleh diperlaku-kan dengan kasar. Akan kita lihat seberapa kuat keinginan ayah mereka agar
anak¬anaknya bisa kembali."
"Mereka berasal dari mana?" selidik Sonoda Mitsuru, yang menikah dengan adik Kaede, Ai, dan
meskipun keluarganya, Akita, dulunya adalah pengawal Arai, ia diyakinkan untuk bersumpah setia
pada Otori dalam perdamaian besar-besaran setelah gempa. Sebagai imbalannya, dia dan Ai
diberikan wilayah Inuyama. "Di mana bisa kau menemukan Si Gosaburo ini?"
"Kukira di pegunungan di luar perbatasan wilayah timur," tutur Taku, dan Takeo melihat si gadis
sedikit memicingkan mata.
Sonoda berkata, "Maka untuk sementara waktu tidak mungkin mengadakan perundingan, karena salju
pertama akan turun dalam minggu ini."
"Musim semi nanti kita akan kirim surat pada ayah mereka," sahut Takeo. "Tidak ada salahnya
membuat batin Gosaburo menderita memikirkan nasib anaknya. Bahkan mungkin membuatnya
semakin ingin menyelamatkan mereka. Sementara itu, tetap rahasiakan identitas mereka dan jangan
biarkan mereka berhubungan dengan orang lain selain kau."
Didekatinya Taku. "Pamanmu berada di kota, kan?"
"Ya; paman akan bergabung dengan kita di kuil untuk perayaan Tahun Baru, tapi kesehatannya
sedang tidak baik, dan udara malam yang dingin menimbulkan kejang otot yang membuatnya batukbatuk."
"Besok aku akan memanggilnya. Apakah dia berada di rumah lama?"
Taku mengangguk. "Paman menyukai aroma pabrik pembuatan sake. Menurutnya udara di sana lebih
mudah dihirup."
"Kurasa sakenya juga ikut membantu."
***
"Hanya ini kesenangan yang tersisa untuk¬ku," ujar Muto Kenji, seraya mengisi cangkir Takeo dan
memberikan botol sake kepada¬nya. "Ishida memintaku mengurangi minum, mengatakan kalau
alkohol buruk bagi paru paru, tapi... sake membuatku tetap ber¬semangat dan membantuku agar bisa
tidur."
Takeo menuang sake yang bening serta keras ke cangkir gurunya yang sudah tua itu. "Ishida juga
memintaku mengurangi minum sake," akunya saat mereka berdua menenggak habis minumannya.
"Tapi bagiku sake meredakan rasa sakitku. Dan Ishida pun hampir tidak mengikuti sarannya sendiri,
lalu mengapa kita harus mengikuti anjurannya?"
"Kita adalah dua orang laki-laki tua," sahut Kenji, tertawa. "Siapa yang bisa mengira, melihatmu
mencoba membunuhku tujuh belas tahun yang lalu di rumah ini, kalau kita akan duduk di sini saling
mem-bandingkan penyakit?"
"Bersyukurlah kita berdua masih hidup sampai saat ini!" timpal Takeo. Ia melihat ke sekeliling rumah
yang dibangun begitu kuat dengan langit-langit tinggi, pilar kayu cedar dan beranda serta penutup

Halaman 455 dari 455
jendela dari kayu cemara cypress. Rumah ini penuh kenangan. "Ruangan ini amat jauh lebih nyaman
ketimbang lemari terkutuk tempat aku dikurung!"
Kenji tertawa lagi. "Itu hanya karena kau bertingkah bak hewan liar! Keluarga Muto
selalu menyukai kemewahan. Dan kini bertahun-tahun dalam kedamaian, per¬mintaan akan produk
buatan kami membuat kami sangat kaya raya, berkat kau, Lord Otoriku tercinta." Dinaikkan
cangkirnya ke arah Takeo; mereka berdua minum lagi, kemudian mengisi lagi wadah mereka masingmasing.
"Rasanya aku akan menyesal meninggal¬kan semua ini, Aku sangsi masih bisa menyaksikan Tahun
Baru." kata Kenji. Tapi kau—kau tahu orang bilang kalau kau tak bisa mati!"
Takeo tertawa. "Tidak ada manusia yang tidak bisa mati. Kematian menantiku sama halnya seperti
semua orang. Hanya saja waktuku belum tiba."
Kenji adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu isi ramalan tentang Takeo, ter¬masuk bagian
yang dirahasiakannya: bahwa ia aman dari kematian kecuali di tangan putranya sendiri. Semua sisa
ramalannya telah menjadi kenyataan, sampai tahap ini: lima pertempuran telah membawa
kedamai¬an di Tiga Negara, dan Takeo berkuasa dari ujung laut ke ujung laut lainnya. Gempa bumi
yang menyengsarakan mengakhiri pertempuran terakhir serta menyapu habis pasukan Arai Daiichi,
bisa digambarkan sebagai memenuhi keinginan Surga. Dan sejauh ini, tak seorang pun bisa
membunuh Takeo, membuat ramalan yang terakhir ini semakin bisa di percaya.
Takeo berbagi banyak rahasia dengan Kenji, yang dulu pernah menjadi gurunya di Hagi. Dengan
bantuan Kenji, Takeo berhasil menembus kastil di Hagi dan membalaskan dendam atas kematian
Shigeru. Kenji orang yang pintar, cerdik tanpa perasaan senti¬mentil. Kenji adalah utusan dan juru
runding yang baik, dan membuat Takeo sangat mengandalkannya. Kenji tidak punya hasrat lain di
luar kegemarannya yang abadi pada sake dan perempuan dari rumah bordil setempat. Tampak tidak
peduli pada harta benda, kekayaan maupun status. Mengabdi¬kan hidupnya pada Takeo dan
bersumpah untuk melayaninya; memiliki kasih sayang istimewa atas Lady Otori, yang dikaguminya;
amat menyayangi keponakannya sendiri, Shizuka; dan rasa hormat pada putra Shizuka, Taku, ahli
mata-mata; namun sejak kematian putrinya, Kenji semakin terasing¬kan dari istrinya, Seiko, yang
meninggal beberapa tahun lalu, dan tak memiliki baik ikatan cinta maupun kebencian dengan orang
lain.
Semenjak kematian Arai dan para lord Otori enam belas tahun yang lalu, Kenji bekerja dengan
kesabaran dan cerdik terhadap tujuan Takeo: menarik semua sumber daya dan perangkat kekerasan
ke tangan pemerintahan, mengendalikan
kekuatan prajurit perseorangan dan kelompok bandit yang tak mengenal hukum. Kenjilah yang tahu
keberadaan kelompok rahasia masyarakat kuno yang tidak diketahui Takeo—Kesetiaan pada Burung
Bangau, Amarah Macan Putih, Jalan Sempit Ular— petani dan penduduk desa menggabungkan diri
dalam kelompok masyarakat ini selama masa-masa anarkis. Kelompok ini kini dimanfaatkan dan terus
dibangun agar masyarakatnya bisa mengatur masalah mereka sendiri di tingkat desa dan memilih
sendiri pemimpinnya untuk mewakili mereka dan mengajukan tuntutan atas ketidakpuasan atau
keluhan mereka di pengadilan tingkat propinsi.
Pengadilan diatur oleh klas ksatria; anak laki-laki mereka dengan pola pikir yang tidak terlalu militer,
dan terkadang juga anak perempuan, dikirim ke sekolah-sekolah besar di Hagi, Yamagata dan
Inuyama untuk mempelajari etika pelayanan, pembukuan dan ekonomi, sejarah serta bahasa dan
kesusastraan klasik. Saat kembali ke daerah asal, mereka memegang jabatan tertentu, diberi status
dan penghasilan yang cukup: mereka bertanggung jawab langsung kepada tetua dari setiap klan,
tanggung jawab yang sama juga dipikul pemimpin klan; para pemimpin klan ini bertemu Takeo dan
Kaede secara teratur untuk membahas soal kebijakan, menentukan besarnya pajak serta
mempertahankan pelatihan dan perlengkapan pasukan. Setiap daerah harus menyediakan sejumlah
orang icrbaik untuk pasukan pusat: separuh tentara, dan sepa-ruh lagi petugas keamanan yang
bertugas menangani bandit dan penjahat lainnya.
Kenji menangani semua administrasi dengan trampil, mengatakan kalau cara ini mirip hirarki Tribe—
hanya saja ada per¬bedaan yang mendasar: kekerasan dilarang, dan membunuh serta menerima
suap di-ancam hukuman mati. Aturan yang terakhir terbukti paling sulit dilaksanakan. Tribe mendapat
cara untuk menghindar, tapi mereka tidak bertransaksi dalam jumlah besar atau memamerkan
kekayaan. Makin kuatnya usaha Takeo membasmi korupsi membawa hasil, korupsi dan suap makin
berkurang. Lalu bentuk praktik yang lain berjalan: praktik tukar menukar hadiah dalam bentuk

Halaman 456 dari 456
keindahan dan selera, di mana nilainya tersembunyi. Hal ini menyebabkan datang¬nya para perajin
dan seniman ke Tiga Negara, bukan hanya mereka yang berasal dari Delapan Pulau tapi juga dari
negeri¬negeri di daratan utama, Silla, Shin dan Tenjiku. Setelah gempa mengakhiri perang di Tiga
Negara, para ketua dari keluarga dan klan yang masih hidup bertemu di Inuyama dan menerima Otori
Takeo sebagai pemimpin mereka. Semua pertikaian karena hubungan darah yang menentang Takeo
maupun per¬cekcokan antara mereka sendiri dinyatakan berakhir. Terjadi pemandangan yang
meng¬harukan saat para ksatria saling berdamai setelah puluhan tahun bermusuhan. Namun Takeo
dan Kenji menyadari bahwa ksatria terlahir untuk bertarung: masalahnya, mereka akan bertarung
melawan siapa? Dan jika mereka tidak bertarung, bagaimana menyibukkan mereka?
Beberapa prajurit menjaga perbatasan di wilayah Timur, tapi hanya terjadi sedikit peristiwa dan musuh
utama mereka adalah rasa jenuh; beberapa yang lainnya men¬dampingi Terada Fumio dan tabib
Ishida dalam perjalanan penjelajahan mereka, melindungi kapal dagang di laut dan toko serta gudang
mereka di pelabuhan yang jauh; yang lainnya mengikuti lomba yang dibuat Takeo untuk keahlian
berpedang dan memanah; sedang yang lainnya dipilih untuk mengikuti jalan utama dari pertarungan:
penguasaan diri, Ajaran Houou.
Ajaran Houou bermarkas di Biara Terayama yang dipimpin kepala biara Matsuda Shingen dan Kubo
Makoto. Ajaran ini hanya dapat diikuti segelintir laki-laki— dan perempuan—dengan kekuatan fisik
dan mental yang hebat. Keahlian Tribe adalah bakat dari lahir—pendengaran dan peng¬lihatan yang
sangat kuat, kemampuan menghilang, penggunaan sosok kedua—tapi sebagian besar manusia
memiliki kemampu¬an seperti ini namun belum terasah. Menemukan dan memurnikan kemampuan
seperti inilah yang menjadi inti Ajaran Houou, mengambil nama burung suci yang bersarang jauh di
dalam hutan-hutan di sekitar Terayama.
Sumpah pertama yang dilakukan para ksatria yang terpilih ini yaitu tidak mem¬bunuh, baik nyamuk
atau pun manusia, bahkan demi membela diri. Kenji meng¬anggap itu aturan yang gila karena dia
sering menikam jantung orang, membunuh dengan garotte, menyisipkan racun ke dalam cangkir,
mangkuk atau bahkan langsung ke orang yang tidur dengan mulut menganga. Berapa banyak? Dia
tak bisa menghitungnya lagi. Tak ada penyesalan atas mereka yang telah dikirimnya ke alam baka—
cepat atau lambat manusia juga akan mati. Dia melihat bahwa larangan membunuh ternyata jauh
lebih berat daripada keputusan untuk membunuh. Dia tak kebal dengan kedamaian dan kekuatan
spiritual Terayama. Akhir-akhir ini kesenangan terbesarnya yaitu menemani Takeo di sana dan
menghabiskan waktu bersama Matsuda dan Makoto.
Disadarinya kalau akhir hidupnya sudah dekat. Ia sudah tua; kesehatan dan kekuatan¬nya makin
memburuk: selama berbulan bulan paru-parunya terasa makin lemah dan seringkali muntah darah.
Takeo berhasil menjinakkan baik Tribe maupun para ksatria: hanya Kikuta yang masih bertahan
menentangnya. Kikuta bukan hanya berusaha membunuhnya tapi juga bersekutu dengan ksatria yang
kurang puas, melakukan pembunuhan secara acak dengan harapan menggoyahkan kestabilan
masyarakat, menyebarkan desas-desus.
Takeo angkat bicara lagi, lebih serius. "Serangan yang terakhir ini membuatku jauh lebih waspada
karena ditujukan pada keluargaku, bukan diriku. Jika istri atau anakku mati, itu akan menghancurkan
diriku, dan Tiga Negara."
"Kurasa itulah tujuan Kikuta," sahut Kenji ringan.
"Kapan mereka akan berhenri?"
"Akio takkan berhenri. Kebenciannya padamu hanya akan berakhir dengan kematiannya—atau
kematianmu. Dia telah mengabdikan hidupnya demi tujuannya itu." Wajah Kenji berubah tenang dan
bibimya berkerut menggambarkan kegetiran. Ia minum lagi. "Tapi Gosaburo seorang pedagang dan
pragmatis: dia akan ketakutan setengah mati bila kehilangan anak¬anaknya—satu putranya telah
tewas, dan nasib dua lainnya ada di tanganmu. Mungkin kita bisa memberinya sedikit tekanan."
"Kupikir juga begitu. Kita akan biarkan dua anaknya yang tersisa tetap hidup hingga musim semi,
kemudian melihat apakah ayah mereka siap untuk berunding."
"Mungkin sementara ini kita juga bisa mengorek keterangan yang berguna dari keduanya," gerutu
Kenji.
Takeo menaikkan pandangannya ke arah Kenji melalui pinggiran cangkir.

Halaman 457 dari 457
"Baiklah, baiklah, lupakan saja aku pernah mengatakannya," gerutu laki-laki tua itu. "Tapi kau bodoh
bila tidak menggunakan cara sama seperti yang digunakan musuh¬musuhmu." Digelengkan
kepalanya. "Aku berani bertaruh kalau kau masih juga menyelamatkan laron dari lilin. Kelembutan itu
tidak pernah hilang."
Takeo tersenyum tipis tapi tidak mem¬bantahnya. Sulit rasanya untuk keluar dari apa yang pernah
diajarkan padanya sewaktu ia masih kecil. Hasil didikan di antara kaum Hidden telah membuatnya
teramat sangat
enggan untuk mencabut nyawa manusia. Namun sejak berusia enam belas tahun nasib
membimbingnya ke jalan hidup ksatria: menjadi pewaris sebuah klan besar dan sekarang menjadi
pemimpin Tiga Negara; ia harus belajar menjalani hidup dengan ajaran pedang. Lebih jauh lagi, Tribe,
Kenji sendiri, mengajarkan padanya berbagai cara untuk membunuh dan pernah berusaha
memadam¬kan sifat welas asih dalam dirinya. Dalam perjuangannya membalaskan dendam Shigeru
dan menyatukan Tiga Negara dalam kedamaian, ia melakukan begitu banyak tindak kekerasan,
banyak di antaranya amat disesalinya, sebelum belajar cara menyeimbangkan antara kekerasan dan
welas asih, sebelum kemakmuran dan stabilitas negara serta peraturan hukum memberikan pilihan
dengan cara yang diinginkan pada konflik kekuasaan yang buta antar klan.
"Aku ingin bertemu dengan bocah itu lagi," ujar Kenji tiba-iiba. "Mungkin ini akan menjadi kesempatan
terakhir bagiku." Ditatapnya Takeo lekat-lekat. "Kau telah memutuskan apa yang harus kita lakukan
padanya?"
Takeo menggeleng. "Aku tidak bias mengambil keputusan. Apa yang bisa kulakukan? Kemungkinan
besar keluarga Muto—kau— menginginkannya kembali, kan?"
"Tentu. Tapi Akio mengatakan pada istri¬ku, yang berhasil menghubunginya sebelum mati, bahwa
lebih baik dia yang bunuh anak itu ketimbang menyerahkannya, baik ke tangan Muto atau ke
tanganmu."
"Bocah yang malang. Didikan apa yang didapatkannya!" seru Takeo.
"Ya, Tribe membesarkan anak-anak mereka dengan didikan yang sangat keras," sahut Kenji.
"Apakah dia tahu kalau aku ayahnya?"
"Itu salah satu hal yang bisa kucari tahu."
"Kau kurang sehat untuk misi semacam ini," kata Takeo dengan nada enggan, karena ia tak bisa
memikirkan ada orang lain yang bisa melakukannya.
Kenji menyeringai. "Kesehatanku yang buruk justru menjadi alasan mengapa aku harus pergi. Bila
aku tidak sempat melihat tahun ini berakhir, maka sekalian saja kau manfaatkan diriku ini! Lagipula,
aku ingin bertemu dengan cucuku sebelum aku mati. Aku akan berangkat saat salju mulai men¬cair."
Sake, penyesalan dan kenangan meluapkan perasaan haru Takeo. Ia berdiri lalu me¬rangkul gurunya
yang sudah tua itu.
"Sudah, sudah!" ujar Kenji, menepuk¬nepuk bahunya. "Kau tahu betapa bencinya aku bila
menunjukkan perasaan seperti ini. Sering-seringlah datang dan temui aku sepanjang musim dingin ini.
Kita akan masih punya kesempatan untuk adu minum sake bersama. "*
Anak laki-laki itu, Hisao, kini telah berusia enam belas tahun. Wajahnya tidak mirip orang yang
dipercaya sebagai ayahnya, Kikuta Akio, maupun ayah kandungnya yang belum pernah dilihatnya.
Tidak mewarisi ciri fisik Muto, keluarga ibunya, maupun keluarga Kikuta—dan kian lama kian jelas
terlihat kalau dia tak mewarisi kemampuan magis Tribe. Pendengarannya tak lebih peka dibandingkan
anak seusianya; dia pun tak memiliki kemampuan menghilang. Pelatihan sejak kecil membuat fisiknya
kuat dan gesit, namun tak bisa melompat atau pun terbang seperti ayahnya. Satu-satunya cara yang
bisa dilakukannya agar orang tertidur yaitu rasa bosan karena dia jarang bicara. Andai dia buka mulut,

Halaman 458 dari 458
bicaranya pelan, tersendat¬sendat, tanpa ada tanda-tanda kecerdasan atau kreativitas.
Akio adalah Ketua Kikuta, keluarga ter¬besar dalam Tribe, yang menguasai berbagai kemampuan
serta bakat yang kini mulai lenyap. Sejak kecil Hisao sudah menyadari kekecewaan ayahnya pada
dirinya.
Karena Tribe membesarkan anak mereka dengan cara sangat keras, melatih mereka dengan
kepatuhan mutlak, bertahan me¬nahan lapar, haus, panas, dingin dan rasa sakit yang luar biasa,
serta melenyapkan semua perasaan, simpati maupun welas asih. Akio sangat keras pada putra
tunggalnya itu dan tak pernah menunjukkan pengertian maupun kasih sayang. Perlakuan Akio yang
kejam, bahkan mengejutkan kerabatnya sendiri. Tapi Akio adalah Ketua keluarga, penerus
pamannya, Kotaro, yang mati di Hagi oleh Otori Takeo dan Muto Kenji. Dan sebagai Pimpinan, Akio
bisa bertindak sesuka hati; tak seorang pun bisa meng-kritiknya.
Akio tumbuh menjadi laki-laki sinis dan susah ditebak. Dia selalu menyalahkan Otori Takeo atas
terpecah-belahnya Tribe, kematian Kotaro yang disayangi, serta kematian pesumo tangguh, Hajime,
serta banyak kematian lainnya. Keluarga Kikuta
dikejar-kejar sehingga mereka keluar dari Tiga Negara untuk pindah ke Utara, meninggalkan usaha
mereka yang meng¬hasilkan banyak uang.
Anak-anak Kikuta tidur dengan kaki mengarah ke Barat, dan saling menyapa dengan kalimat,
"Apakah Otori sudah mati?" dan dibalas dengan, "Belum, tapi tak lama lagi."
Konon kabarnya kematian istrinya, Muto Yuki, dan kematian Kotaro yang membuat Akio begitu penuh
dendam dan hidup dalam kebencian. Para tetua mengatakan kalau Yuki meninggal karena demam
setelah melahir-kan, tapi tampaknya Hisao sudah tahu yang sebenarnya: ibunya mati diracun. Dapat
dilihatnya kejadian itu dengan jelas, seolah menyaksikan dengan mata bayinya yang masih belum
fokus. Keputusasaan dan kemarahan ibunya, kesedihan karena harus meninggalkan putranya;
penolakan ibunya saat dipaksa menelan pil racun; jerit dan tangis ibunya; seringai puas Akio karena
sebagian dendamnya terlaksana; penderitaan dan kenikmatan keji yang dirasakan Akio menjadi awal
mula tenggelamnya dia dalam kekejaman.
Hisao merasakan ini seiring ia tumbuh dewasa; tapi lupa bagaimana ia tahu itu. Apakah ia
memimpikannya, atau ada yang menceritakannya? Ia ingat ibunya lebih jelas dari yang seharusnya—
usianya baru beberapa hari saat ibunya meninggal—dan menyadari adanya hubungan dirinya dengan
sang ibu. Seringkali ia merasakan kalau ibunya meng¬inginkan sesuatu darinya, tapi ia takut
men¬dengarkan karena itu berarti ia membuka diri memasuki alam baka. Antara kemarahan si hantu
dan rasa enggan dalam dirinya, kepala¬nya terasa seperti terbelah karena rasa sakit.
Itu sebabnya dia mengetahui kemarahan ibunya dan sakit hati ayahnya, dan itu membuat ia benci
sekaligus iba pada Akio. Hal-hal buruk yang terjadi di antara mereka berdua yang setengah
menakutkan, setengah diharapkan, karena hanya saat itulah ada orang yang memeluknya atau
kelihaian membutuhkan dirinya.
Hisao tidak pernah menceritakannya sehingga tak seorang pun tahu satu bakat Tribe yang telah
hilang selama beberapa generasi ternyata ada pada dirinya. Kemampuan mengarungi dua dunia,
men¬jadi penghubung antara arwah dengan orang yang masih hidup. Anugerah semacam ini
semestinya diasah dan pemiliknya akan ditakuti serta dihormati; tapi Hisao tak tahu cara mengatur
bakatnya ini; apa yang dilihatnya di alam baka tampak berkabut dan sulit dimengerti: ia tidak
mengetahui simbol dan bahasa untuk berkomunikasi dengan arwah.
Ia hanya tahu kalau hantu itu adalah ibunya yang mati dibunuh.
Meskipun Hisao suka membuat kerajinan tangan, dan menyukai hewan, namun ia merahasiakannya.
Sekali dia terlihat meng¬elus seekor kucing, yang kemudian ia lihat hewan malang itu digorok
ayahnya di hadapannya. Roh kucing itu juga sesekali seperti menjerat Hisao dari dunianya, dan
lolongan yang memusingkan terdengar makin keras hingga ia tak percaya kalau orang lain tak
mendengarnya. Ketika alam baka membuka jalan dan mengajaknya masuk, kepalanya luar biasa
sakit, dan satu sisi matanya menjadi gelap. Satu-satunya cara meredakan rasa sakit dan suara-suara
si kucing serta si hantu perempuan adalah membuat benda-benda dengan tangannya. Ia membangun
kincir air dan orang-orangan dari bambu untuk menakuti rusa, seolah pengetahuan itu sudah ada
dalam darahnya. Ia dapat membuat ukiran kayu berbentuk hewan yang begitu hidup hingga tampak
seperti hewan yang disihir menjadi patung. Ia menyukai semua aspek penempaan: mem¬buat besi
dan baja, pedang, pisau serta ber¬bagai peralatan.

Halaman 459 dari 459
Keluarga Kikuta ahli membuat senjata, terutama sen-jata rahasia Tribe—pisau lempar, jarum, belati
kecil dan sebagainya— tapi mereka tak tahu cara membuat senjata yang disebut senjata api. Senjata
yang digunakan Otori begitu dirahasiakan cara buatnya hingga membuat orang iri. Keluarga Kikuta
terpecah untuk memiliki senjata itu.
Ada yang beranggapan senjata itu meng¬hilangkan semua kemampuan dan ke¬nikmatan dalam
membunuh, kalau cara tradisional lebih bisa diandalkan; sementara yang lainnya beranggapan kalau
ingin menyingkirkan Otori, mereka harus me¬nyeimbangkan kekuatan dengan memiliki senjata yang
sama.
Namun usaha mereka untuk mendapatkan senjata api selalu gagal. Otori membatasi penggunaan
senjata ini hanya untuk sekelompok kecil orang: setiap pucuk senjata api yang ada di negara ini
dihitung. Jika ada yang hilang, si pemilik harus membayar dengan nyawanya. Senjata ini pernah
sekali digunakan orang barbar. Sejak itu semua orang barbar digeledah ketika datang, senjata-senjata
mereka dirampas dan mereka hanya boleh berdagang di pelabuhan Hofu. Tapi berbagai laporan
tentang pembunuhan yang memakan banyak korban jiwa terbukti sama efektifnya dengan senjata itu
sendiri: semua musuh Otori, termasuk Kikuta, berusaha mendapatkan senjata itu dengan cara
mencuri, berkhianat, atau mencari sendiri.
Senjata-senjata milik Otori bentuknya panjang, berat serta tidak praktis: kurang prakris menurut cara
pembunuhan yang dibanggakan Kikuta. Senjata-senjata itu tak bisa disembunyikan dan digunakan
dengan cepat; bila terkena air maka senjata itu tak berguna. Hisao mendengar ayahnya dan seorang
laki-laki yang lebih tua membahas benda ini, dan ia membayangkan senjata api yang kecil dan ringan,
yang bisa di-sembunyikan di balik pakaian dan tak ber¬suara, senjata yang bahkan tak mampu
dilawan Otori Takeo.
Setiap tahun ada saja pemuda yang ingin menjadi pahlawan, atau orang tua yang ingin mati terhormat
yang pergi hendak mem¬bunuh Otori Takeo untuk membalaskan kematian Kikuta Kotaro dan anggota
Tribe lainnya. Mereka tak pernah kembali: kabar tentang tertangkapnya mereka datang beberapa
bulan kemudian. Mereka disidang di depan umum yang disebut sebagai pengadilan Otori, dan
dieksekusi.
Ada kalanya Otori Takeo dilaporkan ter¬luka sehingga harapan mereka membumbung tinggi, tapi dia
selalu sembuh, bahkan dari racun, seperti pulihnya dia dari belati beracun milik Kotaro. Mendengar
desas¬desus kalau Otori tak bisa mati membuat kebencian serta kegeriran Akio semakin ber¬tambah.
Akio mulai bersekutu dengan musuh Takeo lainnya, menyerangnya melalui istri atau anak-anaknya.
Tapi cara ini juga terbukti gagal. Keluarga Muto yang sudah bersumpah setia pada Otori telah menggandeng
keluarga Tribe lainnya: Imai, Kuroda dan Kudo. Sejak keluarga Tribe melakukan perkawinan
campuran, banyak pengkhianat yang memiliki darah Kikuta, diantaranya adalah Muto Shizuka serta
kedua putranya, Taku dan Zenko. Taku seperti ibu dan paman buyutnya, mempunyai banyak
kemampuan, memimpin jaringan mata-mata dan melindungi Otori; sementara Zenko, yang kurang
berbakat, bersekutu dengan Otori melalui pernikahan: mereka bersaudara ipar.
Belakangan sepupu Akio, dua putra Gosaburo, diutus bersama saudari perempuan mereka ke
Inuyama tempat keluarga Otori merayakan Tahun Baru. Mereka berbaur dalam kerumunan di biara
dan mencoba menikam Lady Otori dan putri-putrinya. Apa yang terjadi setelah itu tidak jelas, lapi
ternyata para perempuan yang menjadi sasaran berhasil mempertahan¬kan diri dengan kekejaman
yang tak terduga: salah satu penyerang, putra sulung Gosaburo, terluka dan dipukuli sampai mati oleh
kerumunan orang. Sedang yang lainnya berhasil ditangkap dan dibawa ke kastil Inuyama. Tak ada
yang tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati.
Kehilangan tiga anggota muda yang ada hubungan erat dengan sang Ketua merupa¬kan pukulan
berat. Karena hingga musim semi tiba masih belum ada kabar tentang kedua orang yang ditawan,
Kikuta menduga mereka sudah mati. Ritual pemakaman mulai diatur dalam kedukaan yang
mendalam karena tak ada jenazah yang bisa dibakar dan tak ada abu jenazah.
Suatu sore Hisao bekerja seorang diri di sepetak kecil sawah, jauh di kedalaman pegunungan.
Selama malam-malam di musim dingin yang panjang, ia telah me¬mikirkan cara mengaliri sawah
dengan me¬manfaatkan kincir air. Ia menghabiskan musim dingin membuat ember dan tali: embernya
dibuat dari bambu yang paling ringan dan talinya diperkuat dengan batang tanaman rambat yang
cukup kaku untuk bisa mengangkat ember kincir.
Hisao tengah berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya, tiba-tiba katak terdiam. Ia tengok kanan-kiri.
Tak ada orang, tapi ia tahu ada orang yang menggunakan kemampuan menghilang Tribe.

Halaman 460 dari 460
Mengira itu hanya salah satu anak yang datang membawa pesan, dia berseru, "Siapa di sana?"
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan usia tak bisa diperkirakan dan berpenampilan biasa berdiri
di hadapannya. Tangan Hisao segera bergerak ke arah pisaunya karena yakin ia belum mengenal
orang itu. Sosok laki-laki itu bergoyang-goyang selagi meng¬hilang. Hisao merasakan jari-jari yang
tak terlihat memiting pergelangan tangannya dan ototnya langsung terasa lumpuh saat telapak
tangannya terbuka dan pisaunya terjatuh.
"Aku takkan menyakitimu," ujar orang itu, dan menyebut namanya dengan cara yang membuat Hisao
percaya padanya, dan dunia ibunya menyelubungi ambang batas dunianya; dirasakan kebahagiaan
dan pendcritaan ibunya dan pertanda pertama dari sakit kepalanya serta kemampuan melihat separuh
dari dua dunia yang ber¬beda.
"Siapa kau?" bisiknya, segera menyadari kalau orang mi dikenal ibunya.
"Kau bisa melihatku?" sahut laki-laki itu. "Tidak. Aku tak memiliki kemampuan menghilang, maupun
mengenalinya."
"Tapi tadi kau mendengarku mendekat, kan?"
"Hanya dari katak. Aku mendengarkan mereka. Tapi aku tak bisa mendengar dari jauh. Aku tidak tahu
orang yang bias melakukannya di kalangan Kikuta saat ini." Ia heran telah bersikap biasa dan bebas
pada orang yang belum dikenalnya.
Orang itu kembali menampakkan diri dalam jarak serentangan tangan dari wajah Hisao. Sorot
matanya tajam dan kelihatan penuh selidik.
"Kau tidak memiliki satu pun kemampuan Tribe?" tuturnya.
Hisao mengangguk, kemudian mengalih¬kan pandangannya ke seberang lembah.
"Kau bcrnama Kikuta Hisao, putra Akio?"
"Ya, dan ibuku bemama Muto Yuki."
Ekspresi wajah orang itu agak berubah, dan dirasakan reaksi penyesalan serta rasa iba ibunya.
"Sudah kuduga. Kalau begitu, aku kakek¬mu: Muto Kenji."
Hisao menyerap semua keterangan ini. Sakit kepalanya kian menjadi-jadi: Muto Kenji adalah
pengkhianat, kebencian Kikuta pada orang ini hampir sama besarnya seperti kebencian pada Otori
Takeo, namun kehadiran ibunya terasa membebani dirinya dan bisa dirasakan ibunya memanggil,
"Ayah!"
"Apa itu?" tanya Kenji.
"Bukan apa apa. Kadang-kadang kepalaku sakit. Aku sudah biasa. Mengapa kau kemari? Kau akan
dibunuh. Seharusnya aku mem¬bunuhmu, tapi kau bilang kalau kau kakek¬ku, lagipula aku tidak ahli
membunuh." Pandangannya turun menatap ke konstruksi yang tengah dikerjakannya. "Aku lebih suka
membuat benda-benda."
Betapa anehnya, pikir orang tua itu. Dia tidak punya kemampuan apa pun, baik dari ayah maupun dan
ibunya. Rasa kecewa dan lega menyapu dirinya. Mirip siapa dia? Tidak mirip Kikuta, Muto, maupun
Otori. Dia pasti mirip ibunya Takeo, berkulit gelap dan berwajah lebar.
Kenji menatap bocah di hadapannya dengan tatapan iba, tahu betapa kerasnya masa kanak-kanak di
Tribe, apalagi pada mereka yang tak berbakat. Jelas sekali Hisao punya beberapa kemampuan:
benda itu dibuat dengan kreatif dan dengan keahlian tinggi. Dan ada sesuatu yang lain pada dirinya,
gerakan matanya yang cepat menun¬jukkan kalau dia bisa melihat hal lain. Apa yang bisa dilihatnya?
Pemuda ini berbadan sehat, agak lebih pendek dari Kenji sendin tapi kuat, dengan kulit mulus tanpa
cacat dan rambut tebal serta mengkilap, mirip rambut Takeo.
"Mari kita temui Akio," ajak Kenji. "Ada yang aku sampaikan padanya."
Ia tidak bersusah payah menyembunyikan sosoknya selagi mengikuti bocah itu menuruni jalan
setapak dari atas gunung menuju desa. Sadar kalau akhirnya ia akan dikenali juga—siapa lagi yang
bisa sampai sejauh ini, menghindari para penjaga di gerbang, bergerak tak terlihat dan tak terdengar
melewati hutan?—dan juga Akio harus tahu kalau ia datang sebagai utusan Takeo.

Halaman 461 dari 461
Perjalanan itu membuat napasnya terasa sesak, dan saat berhenti sebentar di tepi sawah yang penuh
air, terasa ada darah di tenggorokannya. Tubuhnya terasa lebih panas dari yang semestinya. Langit
berubah keemasan saat mentari mulai tenggelam di ufuk barat. Pematang sawah berwarna cerah
dengan bunga liar, vicia, buttercup, dan bunga krisan, dan cahaya matahari jatuh di sela-sela hijaunya
dedaunan. Suasana terasa dipenuhi musik musim semi, nyanyian burung, katak serta jangkrik.
Bila hari ini memang ditakdirkan menjadihari terakhir hidupku, maka tak ada hari yang lebih indah
daripada hari ini, pikir kenji dengan sedikit bersyukur, dan merasakan dengan lidahnya kapsul
beracun yang terselip rapi di bekas rongga gigi gerahamnya yang sudah tanggal.
Kenji belum tahu tempat istimewa ini sebelum Hisao lahir, enam belas tahun lalu— dan butuh waktu
lima tahun untuk menemukannya. Sejak saat itu, sesekali ia mengunjungi tempat ini tanpa diketahui
penghuninya, dan mendapatkan laporan tentang Hisao dari Taku, keponakan buyutnya. Tempat ini
sama seperti kebanyakan desa Tribe: tersembunyi di dalam lembah seperti lipatan kecil dalam
barisan pegunungan. Pada kunjungan yang pertama ia sempat terkejut melihat ada lebih dari dua
ratus orang di desa itu. Tapi kemudian ia tahu kalau keluarga Kikuta mundur ke tempat ini sejak
dikejar Takeo. Mereka membangun desa di utara ini sebagai markas, jauh dari jangkauan Takeo,
walaupun tidak di luar jangkauan mata¬matanya.
Hisao tidak berbicara pada siapa pun saat mereka berjalan di antara rumah kayu beratap rendah, dan
meskipun beberapa anjing melompat-lompat penuh semangat ke arahnya, dia tak berhenti. Ketika
sampai di bangunan yang paling besar, orang ber¬kumpul di belakang mereka; Kenji men¬dengar
bisik-bisik dan tahu kalau ia telah dikenali.
Rumah itu jauh lebih nyaman dan mewah ketimbang rumah-rumah di sekelilingnya, dengan beranda
dari kayu runjung serta pilar kokoh dari kayu cedar. Seperti kuilnya, yang bisa dilihat dari kejauhan,
atapnya terbuat dari rusuk atap yang tipis, dengan lekukan luwes yang sama indahnya seperti
kediaman para ksatria. Seraya melepaskan sandal, Hisao naik ke beranda dan berseru ke dalam
rumah. "Ayah! Kita kedatangan tamu!"
Selang beberapa saat, seorang perempuan muda muncul, membawa air untuk membasuh kaki sang
tamu. Kerumunan orang di belakang Kenji terdiam. Saat melangkah masuk ke dalam rumah, ia
seperti mendengar tarikan napas tiba-tiba, seolah semua orang yang berkumpul di luar menarik napas
di saat bersamaan. Dadanya terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan rasanya tak tahan ingin batuk.
Betapa lemah tubuh¬nya saat ini! Teringat dengan rasa penyesalan kalau semua kemampuan yang ia
miliki kini hanya menjadi bayang-bayang. Ia ingin sekali meninggalkan raganya lalu pindah ke alam
baka, kehidupan yang lain, kehidupan apa pun yang ada di sana. Andai ia bisa menyelamatkan bocah
itu... tapi siapa yang bisa menyelamatkan orang dari takdir?
Semua pikiran ini melintas di benaknya saat duduk di lantai berlapis karpet sambil menunggu Akio.
Ruangan itu remang¬remang: ia nyaris tidak bisa melihat gulungan yang tergantung di dinding
sebelah kanan¬nya. Perempuan muda yang sama datang membawa semangkuk teh. Hisao sudah
pergi, namun terdengar olehnya anak itu sedang bicara dengan pelan di belakang rumah. Aroma
minyak wijen merebak dari arah dapur dan didengarnya desis makanan di penggorengan. Lalu
terdengar langkah kaki; pintu banian dalam bergeser terbuka dan Kikuta Akio melangkah masuk. Dia
diikuti dua laki-laki yang lebih tua, yang satu bertubuh gempal dengan raut wajah halus yang dikenal
Kenji sebagai Gosaburo, pedagang dari Matsue, adik Kotaro, paman Akio. Sedang yang satunya lagi
pasti Imai Kazuo, yang menurut kabar telah menentang keluarga Imai untuk tinggal bersama Kikuta,
keluarga dari pihak istrinya. Semua orang ini, setahunya, sudah bertahun-tahun mengincar dirinya.
Mereka berusaha menyembunyikan keter¬kejutan dengan kemunculannya. Mereka duduk di ujung
lain ruangan seraya meng¬amati. Tak seorang pun membungkuk normal maupun memberi salam.
Kenji pun diam saja.
Akhirnya Akio angkat bicara, "Letakkan senjatamu."
"Aku tak membawa senjata," sahut Kenji. "Aku datang dengan membawa misi yang damai."
Gosaburo tertawa sinis tidak percaya. Sedang dua laki-laki lainnya tersenyum, tapi tanpa rasa riang.
"Benar, seperti serigala di musim dingin," ujar Akio. "Kazuo yang akan menggeledah¬mu."
Kazuo mendekati Kenji dengan hati-hati dan agak malu-malu. "Maaf, Ketua,"gumamnya. Kenji
membiarkan orang itu meraba pakaiannya dengan jari-jarinya yang panjang dan cekatan.
"Dia berkata jujur. Dia tidak membawa senjata."

Halaman 462 dari 462
"Mengapa kau kemari?" sera Akio. "Rupa¬nya kau sudah bosan hidup!"
Kenji menatap tajam. Selama bertahun¬tahun ia bermimpi berhadapan dengan orang yang telah
menikahi dan terlibat dalam kematian putrinya. Tampak ada kerutan¬kerutan di wajah Akio,
rambutnya pun mulai memutih. Tapi badannya tampak sekuat baja; temyata usia tak mampu
melunakkan maupun melembutkan sikapnya.
"Aku datang membawa pesan dari Lord Otori," tutur Kenji tenang.
"Kami tidak memanggilnya Lord Otori. Dia dikenal dengan nama Otori si Anjing. Kami tak ingin
mendengar pesan apa pun darinya!"
"Aku khawatir salah satu putramu sudah mati," Kenji bicara pada Gosaburo. "Putra sulungmu, Kunio.
Tapi yang lainnya masih hidup, termasuk putrimu."
Gosaburo menelan ludah. "Biarkan dia bicara," katanya pada Akio."Kita tak mau beranding dengan Si
Anjing," sahut Akio.
"Dengan mengutus pembawa pesan itu telah menunjukkan kelemahan," kata Gosaburo dengan nada
memohon. "Dia sedang memohon pada kita. Setidaknya kita dengar dulu apa yang akan Muto
sampai¬kan." Gosaburo mencondongkan badan lalu bertanya pada Kenji. "Putriku? Dia tidak
terluka?"
"Tidak, dia baik-baik saja." Tapi putriku sudah mati enam belas tahun lalu.
"Dia tidak disiksa?"
"Kau harus tahu kalau penyiksaan kini dilarang. Anak-anakmu akan diadili dengan tuduhan percobaan
pembunuhan, dan bisa dihukum mati, tapi mereka tidak disiksa. Kau tentu pernah mendengar bahwa
Lord Otori memiliki sifat welas asih."
"Satu lagi kebohongan dari Si Anjing," ejek Akio. "Tinggalkan kami, paman. Kesedihan membuatmu
lemah. Aku akan bicara dengan Muto berdua saja."
"Anak-anak itu akan tetap hidup jika kau setuju untuk berdamai," sahut Kenji cepat, sebelum
Gosaburo berdiri.
"Akio!" Gosaburo memohon, air matamulai berlinang.
"Tinggalkan kami!" Akio juga berdiri, gusar, seraya mendorong tubuh orang tua itu ke pintu,
menyuruhnya agar cepat keluar dari ruangan itu.
"Sejujurnya," katanya saat kembali duduk. "Tua bangka bodoh itu tidak berguna lagi! Dia sudah mis
kin, dan yang kini dia lakukan hanyalah meratap dan menyesali nasibnya. Biarkan Otori membunuh
anak-anak itu, dan aku akan menghabisi ayahnya: kita akan menyingkirkan orang lemah."
"Akio," tutur Kenji. "Kita bicara sebagai sesama Ketua, sesuai cara Tribe menyelesai¬kan masalah.
Dengar dulu apa yang akan kusampaikan. Setelah itu baru kau putuskan apa yang terbaik bagi Kikuta
dan Tribe, bukan berdasarkan kebencian dan amarah pribadimu, karena ini akan menghancurkan
mereka dan dirimu. Mari kita ingat lagi sejarah Tribe, bagaimana kita bisa bertahan sejak dulu kala.
Kita selalu bekerjasama dengan para bangsawan yang hebat: jangan¬lah kita menentang Otori. Apa
yang dilaku¬kannya di Tiga Negara baik adanya: disetujui masyarakat, baik petani ataupun ksatria.
Masyarakat yang dibentuknya berjalan lancar; rakyat bahagia; tak ada yang mati kelaparan dan tak
ada penyiksaan. Hentikan permusuhanmu. Sebagai imbalannya, keluar¬ga Kikuta akan dimaafkan:
Tribe akan ber¬satu lagi. Menguntungkan bagi kita semua."
Nada suaranya seakan mengandung sihir yang membuat ruangan senyap dan semua orang yang
berada di luar bungkam. Kenji tahu kalau Hisao sudah kembali dan sedang berlutut tepat di balik
pintu. Saat ia berhenti bicara, dikumpulkan tenaga lalu membiarkan gelombang tenaganya mengalir
memenuhi ruangan itu. Dirasakannya ketenangan menyapu semua orang, mereka duduk dengan
mata setengah terpejam.
"Dasar penyihir tua bangka." Akio me¬mecahkan kesunyian dengan teriakan penuh amarah. "Tua
bangka licik. Kau tak bisa menjebakku dengan kebohonganmu. Tadi kau mengatakan Si Anjing
melakukan hal baik! Rakyat gembira! Apa untungnya semua ini bagi Tribe? Kau sudah lemah seperti
Gosaburo. Ada apa dengan kalian, orang¬orang tua? Apakah Tribe membusuk dari dalam? Andai
Kotaro masih hidup! Tapi Si Anjing membunuhnya—dia membunuh pemimpin keluarganya sendiri,
pada siapa dia harus menyerahkan hidupnya atas kejahatan yang dia lakukan. Kau saksinya: kau
men¬dengar sumpah si Anjing saat di Inuyama. Dia melanggar sumpah itu jadi dia sudah

Halaman 463 dari 463
sepantasnya mati. Tapi dia malah mem¬bunuh Kotaro, Ketua dari keluarganya— dengan
bantuannmu. Dia tidak bisa dimaaf¬kan. Dia harus mati!"
"Aku takkan berdebat tentang mana tindakannya yang salah dan yang benar," sahut Kenji. "Dia
melakukan apa yang harus dilakukan saat itu, dan yang pasti, hidupnya dijalani lebih baik sebagai
Otori ketimbang sebagai Kikuta. Tapi semua itu telah berlalu. Kumohon kau hentikan perlawananmu
agar Kikuta bisa kembali ke Tiga Negara— Gosaburo bisa menjalankan lagi bisnisnya!— dan
menikmati hidup selayaknya. Jika tetap tak mau berdamai, maka menyerahlah: kau takkan berhasil
membunuhnya."
"Semua orang pasti mati," sahut Akio.
"Tapi dia takkan mati di tanganmu," ujar Kenji. "Betapa pun kau menginginkannya. Aku bisa
meyakinkanmu akan hal itu."
Akio menatapnya dengan memicingkan mata. "Pengkhianatanmu pada Tribe harus dihukum."
"Aku telah melindungi keluargaku dan Tribe. Kau yang menghancurkannya. Aku kemari sebagai
utusan, dan aku akan kembali dengan cara yang sama. Akan kusampaikan pesanmu yang patut
disesalkan pada Lord Otori."
Kenji begitu berwibawa sehingga Akio membiarkannya berdiri lalu berjalan keluar ruangan. Sewaktu
lewat Hisao masih berlutut di luar, Kenji berkata, seraya membalikkan badan, "Ini putramu? Kurasa
dia tidak memiliki kemampuan Tribe. Ijinkan dia menemaniku sampai ke gerbang. Mari, Hisao." Kenji
bicara ke belakang dalam bayang-bayang. "Kau tahu di mana bisa menemukan kami bila kau berubah
pikiran."
Baiklah, pikimya saat melangkah keluar dari beranda dan kerumunan memberi jalan padanya,
ternyata aku masih hidup lebih lama. Begitu sampai di tempat terbuka dan di luar jangkauan tatapan
Akio, ia bisa saja menghilang lalu melenyapkan diri ke pedesaan. Tapi adakah peluang ia membawa
bocah itu?
Penolakan Akio tidak mengejutkannya. Tapi ia senang Gosaburo dan yang lainnya juga mendengar.
Selain rumah utama, desa itu kelihatan menyedihkan. Pasti sulit men¬jalani hidup di sini, apalagi di
musim dingin. Kebanyakan penghuninya pasti mendamba¬kan, seperti halnya Gosaburo, hidup
nyaman di Matsue dan Inuyama. Kepatuhan mereka pada Akio, dirasakan oleh Kenji, lebih karena
ketakutan ketimbang rasa hormat; ada kemungkinan anggota lain Kikuta me¬nentang keputusannya,
apalagi jika itu berarti sandera akan dibiarkan hidup.
Saat Hisao muncul dari belakang dan berjalan di sampingnya, Kenji menyadari ada kehadiran lain
yang mengambil tempat setengah tubuh dan pikiran bocah itu. Dahi¬nya berkerut, dan sesekali
menaikkan tangan-nya memegangi pelipis kirinya dengan ujung jari. "Kepalamu sakit?"
"Mmm." Dia mengangguk tanpa bicara.
Mereka sudah separuh jalan. Bila berhasil sampai di tepi sawah, lalu berlari di pematang ke hutan
bambu....
"Hisao," bisik Kenji. "Aku ingin kau ikut denganku ke Inuyama. Temui aku di tempat tadi kita bertemu.
Kau mau?"
"Aku tak bisa pergi dari sini! Aku tak bisa meninggalkan ayahku!" Lalu ia berseru kesakitan, lalu
terjatuh.
Hanya tinggal lima puluh langkah lagi. Kenji tidak berani berbalik, tapi ia yakin tak ada yang
mengikutinya. la terus berjalan dengan tenang, tanpa tergesa-gesa, tapi Hisao berjalan terseok-seok
di belakangnya.
Saat berbalik untuk memberi Hisao semangat, Kenji melihat kerumunan orang masih memerhatikan.
Tiba-tiba ada yang menyeruak dari sela-sela mereka. Akio, diikuti oleh Kazuo: keduanya sudah
menarik belati.
"Hisao, temui aku," katanya, lalu meng¬hilang, tapi ketika sosok tubuhnya menghilang, Hisao
menangkap lengannya dan berteriak, "Bawa aku! Mereka takkan membiarkanku pergi! Tapi dia ingin
ikut denganmu!"
Mungkin karena Kenji sedang dalam keadaan menghilang dan berada di antara dua dunia, mungkin
juga karena perasaan Hisao yang meledak-ledak, tapi saat itu Kenji melihat apa yang Hisao lihat....

Halaman 464 dari 464
Putrinya, Yuki. Meninggal enam belas tahun lalu....
Lalu menyadari dengan rasa takjub kemampuan sebenarnya bocah itu.
Seorang penguasa alam baka.
Kenji belum pernah bertemu orang dengan kemampuan ini: dia hanya tahu dari hikayat-hikayat Tribe.
Hisao sendiri tidak mengetahuinya, begitu juga Akio. Akio tidak boleh tahu.
Tak heran kalau bocah itu sering sakit kepala. Ia ingin tenawa, sekaligus menangis.
Kenji masih merasakan cengkeraman Hisao di tangannya saat ia menatap wajah arwah putrinya,
melihat putrinya saat masih kanak-kanak, remaja. Kian lama wajah putrinya kian melemah dan samarsamar.
Dilihat bibir putrinya bergerak-gerak dan berkata, "Ayah," walaupun Yuki tidak pernah lagi
memanggilnya dengan sebutan itu sejak berusia sepuluh tahun.
Saat ini Yuki membuatnya terpesona, seperti yang selalu dilakukannya.
"Yuki," katanya tak berdaya, dan mem¬biarkan dirinya terlihat lagi.
***
Terbukti mudah bagi Akio dan Kazuo untuk mendekati Keji. Tak satu pun kemampuan menghilangkan
diri maupun menggunakan sosok kedua yang dapat menyelamatkan dirinya dari mereka berdua.
"Dia tahu bagaimana menangkap Otori," seru Akio. "Kita akan tahu itu darinya, kemudian Hisao harus
membunuhnya."
Tapi Kenji sudah menggigit racun lalu mencerna dalam perutnya: ramuan yang pernah dipaksakan
pada putrinya untuk ditelan. Kenji mati dengan cara yang sama, penuh penderitaan dan penyesalan
karena misinya gagal dan juga karena meninggalkan cucunya. Di saat-saat terakhir dia berdoa agar
bisa tinggal bersama arwah putrinya, agar Hisao memanfaatkan kekuatan dirinya untuk menjaganya:
Tak terbayangkan betapa hebat¬nya diriku sebagai hantu, pikirnya. Lalu ia tertawa: hidupnya yang
penuh penderitaan dan kebahagiaan telah berakhir. Tugasnya di dunia sudah selesai, dan dia mati
atas keinginannya sendiri. Rohnya bebas bergerak memasuki siklus abadi dari kelahiran, kematian
dan kelahiran kembali.*
Musim dingin di Inuyama terasa panjang dan berat, walau ada kesenangan tersendiri: selama itu
Kaede menghabiskan waktu dengan membacakan puisi dan dongeng untuk ketiga putrinya. Takeo
menghabiskan waktu dengan melihat-lihat catatan adminis¬trasi bersama Sonoda. Saat ingin
bersantai, ia mempelajari lukisan bersama seorang seniman beraliran tinta hitam, dan minum
bersama Kenji di malam harinya: Ketiga putrinya disibukkan dengan belajar dan berlatih, ada juga
rekreasi saat Setsu bun, perayaan yang ramai dan semarak saat setan diusir keluar dari rumah dan
menyambut nasib baik. Juga ada perayaan usia akil balik Shigeko karena pada Tahun Baru dia
berusia lima belas tahun. Perayaannya tidak mewah karena pada bulan kesepuluh nanti dia akan
diserahkan wilayah Maruyama. Wilayah itu diwariskan melalui garis perempuan dan telah diwariskan
kepada ibunya, Kaede, setelah kematian Maruyama Naomi.
Kelak Shigeko akan menjadi penguasa Tiga Negara, dan kedua orangtuanya sepakat bahwa dia
harus memimpin wilayah Maruyama tahun ini karena saat ini dia telah dewasa. Di sana dia harus
membuktikan diri sebagai penguasa dan belajar secara langsung tentang prinsip-prinsip
pemerintahan. Upacara di Maruyama nanti akan dilakukan dengan khidmat sekaligus megah,
menguat¬kan tradisi dan, Takeo berharap, memantap¬kan keputusan baru: perempuan dapat
me¬warisi wilayah atau menjadi pemimpin desa, sederajat dengan laki-laki.
Takeo teringat, saat keluarganya ter¬lindungi dari kedinginan dan rasa bosan selama musim dingin
yang panjang, dua pemuda yang tidak terlalu berbeda jauh usianya dengan putrinya, ditahan di kastil
Inuyama. Meskipun diperlakukan dengan baik, namun tetap saja mereka adalah tawanan.

Halaman 465 dari 465
Setelah salju mencair, dan Kenji berangkat melaksanakan misinya, Kaede serta putri¬putrinya pergi
ke Hagi bersama Shizuka. Takeo melihat kegelisahan istrinya pada si kembar semakin bertambah. Ia
memikirkan kemungkinan Shizuka mengajak salah satu dari mereka, mungkin Maya, ke desa
ter¬sembunyi Muto, Kagemura selama beberapa minggu. Takeo pun menunda waktu untuk
meninggalkan Inuyama, berharap mendapat kabar dari Kenji di bulan ini. Namun ketika hingga bulan
keempat muncul dan masih belum ada kabar, dengan enggan ia pergi ke Hofu. Ia memberi instruksi
agar Taku mengirimkan semua pesan kepadanya di sana.
Selama berkuasa, ia sering melakukan per¬jalanan, membagi hari-hari dalam setahun dari satu kota
ke kota lainnya di Tiga Negara. Kadang ia melakukan perjalanan dengan semua kemegahan yang
diharapkan dari seorang penguasa besar, kadang ia menyamar untuk dapat berbaur dengan rakyat
biasa dan mengetahui pendapat, kegembiraan serta kebahagiaan mereka. Takeo tidak akan
melupakan kata-kata Otori Shigeru kepadanya: Karena Kaisar yang begitu lemah sehingga
bangsawan seperti Iida bisa merajalela. Sebenarnya kaisar berkuasa atas Delapan Pulau, namun
dalam pelaksanaannya, berbagai daerah mengurus
masalah mereka sendiri: Tiga Negara dilanda konflik akibat para bangsawan berebut wilayah dan
kekuasaan. Kini ia dan Kaede telah membawa kedamaian dan memper¬tahankannya dengan penuh
perhatian pada seluruh wilayah dan berbagai aspek ke¬hidupan rakyatnya.
Hasil dari semua itu terlihat saat ia ber¬kuda ke wilayah Barat. Didampingi para pengawal, dua
pengawal terpercaya dari Tribe— saudara sepupu Kuroda: Junpei dan Shinsaku, yang dikenal
sebagai Jun dan Shin—serta jurutulisnya. Selama perjalanan ia memerhatikan tanda-tanda negeri
yang damai: anak-anak yang sehat, desa yang makmur, sedikit pengemis serta tidak ada bandit.
Tujuannya untuk membuat negara ini sangat aman hingga gadis belia pun bisa memegang
kekuasaan, dan ketika tiba di Hofu, ia bangga dan puas bahwa Tiga Negara telah sesuai dengan
tujuannya itu.
Ia tidak menduga apa yang menantinya di kota pelabuhan itu, ataupun curiga kalau di sana nanti
kepercayaan dirinya akan goyah dan kekuasaannya terancam.
Tampaknya begitu ia tiba di kota mana pun di Tiga Negara, utusan bermunculan di gerbang kastil
atau kediaman ia tinggal: ingin mengadakan pertemuan, meminta bantuan, membutuhkan keputusan
yang hanya bisa diputuskan olehnya. Beberapa dari masalah ini sebenarnya dapat disampaikan pada
petugas setempat, tapi terkadang ada keluhan atas para petugas itu sehingga hakim-hakim yang adil
harus didatangkan. Musim semi ini, di Hofu, ada tiga mau empat kasus semacam ini, lebih dari yang
Takeo harap¬kan. Hal ini membuatnya mempertanyakan keadilan dari administrasi setempat. Bahkan
dua petani mengeluh kalau putra mereka dipaksa menjadi prajurit, dan seorang pedagang memberi
informasi bahwa para prajurit menyita sejumlah besar batu bara, kayu, belerang dan nitrat. Zenko
tengah menghimpun kekuatan dan senjata, pikirnya. Aku harus bicara padanya.
Takeo mengatur untuk mengirim kurir ke Kumamoto. Namun, keesokan harinya Arai Zenko—yang
telah diberi bekas wilayah ayahnya di bagian Barat dan juga Hofu— datang dari Kumamoto dengan
alasan hendak menyambut Lord Otori. Istrinya, Shirakawa Hana, adik bungsu Kaede, ikut
bersamanya. Hana sangat mirip dengan kakak sulungnya, bahkan bila diperhatikan lebih lama lagi
kelihatan lebih cantik di¬bandingkan Kaede saat masih muda. Ia tidak suka maupun percaya pada
Hana. Sepanjang tahun yang sulit setelah kelahiran si kembar, saat empat belas tahun, Hana selalu
mencari kesempatan untuk menggoda dirinya agar menjadikannya istri kedua atau selir. Hana
menjadi lebih dari sekadar godaan yang bisa diakui Takeo, dengan paras yang sama persis seperti
Kaede muda, sebelum kecantikannya tercoreng. Bahkan Hana pernah menawarkan diri ketika
kesehatan Kaede memburuk. Penolakan mantap Takeo untuk menganggap serius tawarannya telah
melukai dan mem-permalukan Hana: keinginan Takeo untuk menikahkannya dengan Zenko justru
mem¬buat Hana kian gusar. Tapi Takeo memaksa: mereka menikah ketika Zenko berusia delapan
belas tahun dan Hana enam belas tahun. Zenko sangat senang: persekutuan itu merupakan
kehormatan besar baginya; Hana bukan hanya cantik, tapi juga segera mem¬berinya tiga putra,
semuanya sehat. Rasa tergila-gilanya pada Takeo segera digantikan rasa dendam padanya dan iri
pada kakaknya. Dia pun bertekad untuk mengambil alih kedudukan mereka.
Takeo tahu niat ini karena adik iparnya lupa kalau ia memiliki pendengaran yang sangat peka.
Pendengarannya memang tidak setajam saat masih tujuh belas tahun, tapi masih cukup baik untuk
menguping per-cakapan rahasia, menyadari segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, di mana posisi
tiap orang di kastil, kegiatan mereka yang ada di pos jaga dan istal, siapa mengunjungi siapa di
malam hari dan untuk tujuan apa. Ia juga dapat membaca niat orang itu dari cara ber¬diri hingga
gerakan tubuh.

Halaman 466 dari 466
Saat ini ia mengamati Hana yang sedang membungkuk di hadapannya, dengan rambut menjuntai ke
lantai, sedikit tersibak hingga menampakkan tengkuknya yang putih sempurna. Hana bergerak
dengan luwes, terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah ibu dari tiga orang anak: orang akan
mengira usianya tak lebih dari delapan belas tahun, tapi sebenarnya dia seumur dengan adik Zenko,
Taku: dua puluh enam tahun.
Suaminya, di usia dua puluh delapan tahun, tampak sangat mirip dengan ayahnya bertubuh besar,
gagah perkasa, bertenaga besar, ahli menggunakan panah dan pedang. Pada usia dua belas tahun
dia menyaksikan ayahnya mati ditembak dengan senjata api, orang ketiga di Tiga Negara yang mati
dengan cara begitu. Dua orang lainnya adalah para bandit. Ia menyadari bila semua ini dijadikan satu
maka bisa menimbulkan sakit hati yang mendalam pada pemuda itu, dan bisa berubah menjadi
kebencian.
Kedua orang ini tidak menunjukkan tanda-tanda kedengkian. Sambutan dan pertanyaan mereka
mengenai kesehatan diri juga keluarganya terasa berlebihan. Ia menjawab dengan sikap yang sama
sopannya, menutupi kenyataan kalau ia merasa lebih kesakitan ketimbang biasanya karena udara
yang lembap.
"Kalian tidak perlu repot-repot datang," katanya. "Aku hanya akan berada di Hofu selama satu atau
dua hari."
"Oh, tapi Lord Takeo harus tinggal lebih lama." Hana angkat bicara, seperti yang sering dia lakukan
sebelum suaminya sempat bicara. "Anda harus tinggal di sini sampai musim hujan selesai. Anda tidak
bisa bepergian dalam keadaan cuaca seperti ini."
"Aku pernah melakukan perjalanan dalam cuaca yang lebih buruk," sahut Takeo sambil tersenyum.
"Kami senang bisa menghabiskan waktu bersama kakak ipar," kata Zenko.
"Baiklah, ada satu atau dua hal yang perlu kita bicarakan," sahut Takeo, memutuskan untuk
menanggapi basa-basi ini. "Tidak ada kebutuhan, pastinya, untuk meningkatkan jumlah pasukan, dan
aku ingin tahu lebih banyak tentang kekuatan apa yang sedang kau himpun."
Keterusterangannya yang keluar tepat setelah sopan-santun tadi, mengejutkan mereka. Takeo
tersenyum lagi. Mereka pasti tahu, tak banyak hal yang bisa luput dari perhatiannya di seluruh Tiga
Negara.
"Kebutuhan senjata selalu ada," tutur Zenko. "Tombak, pedang, panah dan sebagainya."
"Berapa banyak orang yang kau kumpul¬kan? Paling banyak lima ribu orang. Catatan kami
menunjukkan mereka semua diper¬senjatai. Bila senjata mereka hilang atau rusak, maka mereka
harus menggantinya dengan biaya sendiri. Keuangan wilayah bisa dijalankan dengan baik."
"Dari Kumamoto dan distrik selatan, ya, benar lima ribu orang. Tapi ada banyak orang yang tidak
terlatih dengan usia cukup untuk bertempur di wilayah Seishuu lainnya. Tampaknya ini kesempatan
emas untuk memberi mereka pelatihan dan senjata, bahkan jika mereka kembali ke sawahnya untuk
panen."
"Klan Seishuu kini tunduk pada Maruyama," sahut Takeo dengan nada ringan. "Bagaimana pendapat
Sugita Hiroshi tentang rencanamu?"
Hiroshi dan Zenko tidak menyukai satu sama lain. Takeo tahu Hiroshi memendam hasrat untuk
menikahi Hana, dan kecewa ketika perempuan idamannya itu menikah dengan Arai Zenko, walaupun
Hiroshi tidak pernah mengatakannya. Kedua pemuda itu tidak saling menyukai sejak pertama kali
mereka bertemu bertahun-tahun silam semasa perang saudara. Hiroshi dan Taku, adik Zenko, adalah
teman dekat, jauh lebih dekat ketimbang. Kedua kakak beradik yang semakin dingin.
"Aku belum sempat bicara dengan Sugita," aku Zenko.
"Baiklah, kelak kita bicarakan masalah ini dengannya.
Nanti kita semua akan bertemu di Maruyama pada bulan kesepuluh dan meng¬kaji ulang kebutuhan
pasukan di wilayah Barat."
"Kita menghadapi ancaman dari kaum barbar," tutur Zenko. "Wilayah Barat terbuka lebar bagi
mereka: Klan Snshuu belum pernah menghadapi serangan dari laut. Kami tidak siap."

Halaman 467 dari 467
"Tujuan orang-orang asing itu sebenarnya hanyalah berdagang," sahut Takeo. "Mereka berada jauh
dari kampung halaman mereka, kapal-kapal mereka kecil. Mereka mestinya jera dengan serangan di
Mijima; maka sekarang mereka harus berurusan dengan kita melalui diplomasi. Pertahanan terbaik
kita melawan mereka adalah berdagang dengan damai."
"Tapi mereka selalu membual tentang pasukan hebat raja mereka," timpal Hana. "Seribu orang
bersenjata api. Lima puluh ribu kuda. Satu ekor kuda mereka lebih besar dibandingkan dua ekor kuda
kita, kata mereka. Dan pasukan pejalan kaki mereka menyandang senjata api."
"Semua ini, seperti yang kau katakan, hanyalah bualan," Takeo mengamati. "Aku berani katakan
kalau Terada Fumio mem¬buat pernyataan serupa tentang keunggulan kita di kepulauan wilayah
Barat dan pelabuhan di Tenjiku dan Shin." Dilihatnya ekspresi wajah Zenko berkerut saat nama Fumio
disebut. Fumio yang menembak ayah Zenko saat gempa mengguncang dan meng¬hancurkan
pasukan Arai. Takeo menghela napas panjang, ingin tahu apakah mungkin menghapuskan keinginan
balas dendam Zenko.
Zenko berkata, "Di sana kaum barbar juga menggunakan perdagangan sebagai alasan untuk
menjejakkan kaki. Lalu mereka melemahkan dari dalam dengan agama mereka, dan serangan dari
luar. Mereka akan mengubah kita semua menjadi budak mereka."
Zenko mungkin benar, pikir Takeo. Orang¬orang asing itu sebagian besar terkurung di Hofu, dan
Zenko bertemu dengan lebih banyak orang-orang itu ketimbang ksatria¬nya sendiri. Kendati
menyebut dengan kata kaum barbar, Zenko tampak terkesan dengan senjata dan kapal mereka.
Seandainya mereka bergabung di wilayah Barat...
"Kau tahu kalau aku menghormati pendapatmu dalam masalah ini," sahutnya. "Akan kita tingkatkan
pengawasan terhadap orang-orang asing itu. Apabila nanti diperlu¬kan lebih banyak pasukan, akan
kuberitahu¬kan kepadamu. Dan nitrat hanya boleh dibeli langsung oleh klan."
Takeo memerhatikan selagi Zenko mem¬bungkuk dengan enggan, segaris rona warna di lehernya
menandakan kekesalannya atas peringatan keras tadi. Takeo teringat saat menempelkan pisau di
leher Zenko. Kalau saja saat itu ia menggunakan pisau dengan baik, ia bisa terhindar dari banyak
masalah. Namun kala itu Zenko hanyalah bocah kecil; ia belum pernah membunuh anak-anak dan
berdoa semoga tidak akan pernah. Zenko adalah bagian dari takdirku, pikirnya. Aku harus hadapi dia
dengan hati-hati. Apa lagi yang bisa kulakukan untuk menjinakkan dirinya?
Hana berkata dengan suara selembut madu. "Kami takkan melakukan apa pun tanpa berkonsultasi
dengan Lord Otori. Sesungguhnya kami hanya menaruh per¬hatian pada Anda sekeluarga serta
kemak¬muran Tiga Negara. Anda sehat-sehat saja, kurasa. Bagaimana dengan kakak sulungku, juga
ketiga putri Anda yang cantik-cantik?"
"Terima kasih: mereka semua sehat-sehat saja."
"Satu kesedihan yang mendalam bagiku karena tidak punya anak perempuan," lanjut Hana, tatapan
matanya lenang, serius dan agak malu-malu. "Seperti yang Lord Otori ketahui, kami hanya punya
anak laki-laki."
Mau ke mana arah pembicaraannya? Takeo penasaran.
Zenko yang kurang memiliki kehalusan dalam berbicara dibandingkan istrinya lalu bicara dengan
nada datar.
"Lord Otori pasti sangat ingin memiliki putra."
Ah! pikir Takeo, lalu berkata, "Karena sepertiga negara kiia sudah diwariskan melalui garis keturunan
perempuan, hal itu tak menjadi masalah. Putri sulung kami pada akhirnya akan menjadi penguasa
Tiga Negara."
"Tapi Anda harus tahu kebahagiaan memiliki anak laki-laki," seru Hana. "Ijinkan kami memberikan
salah satu putra kami."
"Kami ingin Anda mengangkat salah satu putra kami," ujar Zenko, tanpa basa-basi.
"Sungguh itu suatu kehormatan besar serta membawa kebahagiaan tak terbilang bagi kami," gumam
Hana.

Halaman 468 dari 468
"Kalian sangat murah hati dan penuh pengertian," sahut Takeo. Kebenarannya adalah: ia tak ingin
anak laki-laki. Ia lega Kaede tidak melahirkan lagi dan berharap istrinya tidak hamil lagi. Ramalan
bahwa ia akan mati di tangan putranya sendiri tidaklah menakutkan, namun menorehkan kesedihan
mendalam pada dirinya. Saat itu Takeo berdoa, seperti yang sering dilakukannya, kalau kematiannya
seperti kematian Shigeru, bukan seperti pemimpin Otori yang lain, Masahiro, yang mati digorok oleh
anak haramnya. Ia juga berdoa dibiarkan hidup hingga tugasnya selesai dan putrinya telah cukup
dewasa untuk memerintah negeri ini.
Karena tak ingin menghina mereka dengan langsung menolak tawaran itu. Sesungguh¬nya amat
pantas mengangkat keponakan istrinya: bahkan mungkin kelak ia bisa menjodohkan anak itu dengan
salah satu putrinya.
"Mohon kami diberi kehormatan dengan menerima dua putra tertua kami," tutur Hana. Ketika Takeo
mengangguk setuju, Hana bangkit dan berjalan ke pintu dengan luwes, sangat mirip dengan Kaede.
Lalu masuk kembali bersama kedua anaknya: usia mereka delapan dan enam tahun, mengena-kan
jubah resmi, diam terpaku dengan khidmat dalam pertemuan itu. Rambut mereka ditata dengan
bagian rambut yang panjang di bagian depan.
"Yang sulung bernama Sunaomi, sedang adiknya, Chikara," tutur Hana selagi kedua bocah itu
membungkuk sampai ke lantai di hadapan paman mereka.
"Ya, aku ingat," sahut Takeo. Sudah tiga tahun ia belum bertemu kedua bocah ini, dan belum pernah
bertemu putra bungsu Hana yang lahir tahun lalu. Kedua anak itu tampan: yang sulung mirip dengan
Shira¬kawa bersaudara, dengan tulang punggung yang panjang serta struktur tulang yang ramping.
Sedangkan adiknya lebih bulat dan kekar, lebih mirip ayahnya. Takeo ingin tahu apakah salah satu
dari mereka mewarisi kemampuan Tribe dari neneknya, Shizuka. Nanti akan ditanyakannya pada
Taku atau Shizuka. Akan menyenangkan, renungnya, bagi Shizuka untuk mengasuh cucunya.
"Duduk tegak, anak-anak," kata Takeo.
"Biarkan paman melihat wajah kalian."
Takeo tertarik pada si sulung yang amat mirip Kaede. Usianya hanya tujuh tahun lebih muda dari
Shigeko, dan lima tahun lebih muda dari Maya dan Miki: perbedaan ini bukanlah masalah dalam
perkawinan. Diajukannya pertanyaan tentang pelajaran, kemajuan berpedang dan memanah, dan
senang dengan jawaban mereka yang cerdas serta jelas. Apa pun ambisi tersembunyi dan motif
terselubung dari orangtua mereka, kedua bocah ini telah dididik dengan baik.
"Kalian sangat murah hati," ujar Takeo lagi. "Aku akan membicarakannya dengan istriku."
"Anak-anak akan bergabung bersama kita saat makan malam," ujar Hana. "Anda bisa lebih mengenal
mereka nanti. Tentu saja, Sunaomi sudah menjadi kesayangan kakak sulungku."
Kini Takeo ingat kalau ia pernah men¬dengar Kaede memuji Sunaomi karena kecerdasannya. Ia tahu
istrinya iri pada Hana dan menyesal karena tidak punya anak laki¬laki. Mengangkat keponakannya
mungkin bisa menjadi kompensasi, tapi jika Sunaomi menjadi putranya...
Disingkirkannya pikiran itu jauh-jauh. Ia harus memutuskan yang terbaik saat ini: jangan sampai ia
terpengaruh oleh ramalan yang mungkin saja tidak akan terjadi.
Ketika Hana pergi bersama kedua anak¬nya, Zenko berkata, "Aku ingin ulangi kalau ini akan menjadi
kehormatan bagi kami bila Anda mengangkat Sunaomi—atau Chikara: Anda harus memilih."
"Kita bicarakan ini pada bulan kesepuluh." "Bolehkah aku mengajukan satu permohonan lagi?"
Ketika Takeo mengangguk, Zenko melanjutkan, "Aku tak ingin menyinggung perasaan dengan
mengingat masa lalu, tapi— Anda ingat Lord Fujiwara?"
"Tentu saja," jawab Takeo, menahan rasa kaget dan marah. Lord Fujiwara adalah bangsawan yang
telah menculik istrinya. Bangsawan itu mati dalam bencana gempa tapi Takeo tidak pernah
memaafkannya. Kaede telah bersumpah bahwa bangsawan itu tak pernah tidur dengannya, namun
ada semacam ikatan aneh antara mereka berdua; Fujiwara telah memikat dan menyanjungnya;
Kaede telah membuat perjanjian dengan laki¬laki itu dan menceritakan rahasia paling pribadi tentang
cinta Takeo. Juga pernah membantu keluarga Kaede dengan uang, makanan, juga banyak hadiah.
Fujiwara menikahi Kaede dengan restu Kaisar. Fujiwara pernah berusaha agar Kaede mati

Halaman 469 dari 469
bersamanya: Kaede berhasil lolos walaupun rambutnya terbakar, menyebabkan bekas luka,
kehilangan kecantikannya.
"Putranya berada di Hofu dan ingin ber¬temu secara resmi dengan Anda."
Takeo tidak berkata sepatah kata pun, enggan untuk mengakui kalau ia tidak mengetahuinya.
"Dia menggunakan nama keluarga ibunya, Kono. Tiba dengan kapal beberapa hari lalu, berharap bisa
bertemu Anda. Kami telah ber¬hubungan melalui surat tentang hana warisan ayahnya. Ayahku,
seperti yang Anda tahu, berhubungan baik dengan ayahnya—aku mohon maaf telah membuat Anda
teringat masa-masa yang tak menyenangkan—dan Lord Kono membicarakan tentang masalah
penyewaan dan pajak."
"Sepanjang ingatanku, harta Fujiwara telah digabungkan dengan wilayah Shira¬kawa."
"Secara hukum Shirakawa juga merupakan milik Fujiwara, setelah pernikahannya, maka kini menjadi
milik putranya. Karena Fujiwara diwariskan melalui garis keturunan laki-laki. Jika wilayah itu bukan
hak Kono, maka seharusnya diteruskan pada pewaris laki-laki berikutnya."
"Yaitu putra sulungmu, Sunaomi," timpal Takeo.
Zenko menunduk tanpa bicara.
"Enam belas tahun telah berlalu sejak kematian ayahnya. Mengapa kini dia tiba¬tiba muncul?" tanya
Takeo.
"Waktu berlalu dengan cepat di ibukota," sahut Zenko. "Dia utusan Yang Mulia Kaisar."
Atau barangkali karena seseo rang punya rencana jahat, kau atau istrimu—hampir pasti istrimu—
melihat bagaimana Kono bisa dimanfaatkan untuk lebih menekanku, maka Kono dihubungi melalui
surat, pikir Takeo, menyembunyikan kemarahannya.
Hujan semakin deras menerpa atap, dan bau tanah yang basah mengapung di depan taman.
"Dia boleh datang dan bertemu denganku besok," kata Takeo akhirnya.
"Ya. Keputusan yang bijaksana," sahut Zenko. "Lagi pula jalan terlalu becek dan berlumpur untuk
meneruskan perjalanan."
***
Pertemuan ini semakin menambah ke¬gelisahan Takeo, mengingatkannya betapa Arai Zenko sangat
perlu diawasi: betapa mudahnya ambisi mereka dapat menggiring Tiga Negara kembali perang
saudara. Sore berlalu dengan suasana cukup menyenang¬kan: ia minum sake secukupnya untuk
menyembunyikan rasa sakit, dan kedua anak laki-laki itu menghidupkan suasana dan menghibur.
Meteka baru saja bertemu dengan dua orang asing di ruangan ini dan sangat bersemangat dengan
pertemuan itu: bagaimana Sunaomi bicara pada mereka dengan menggunakan bahasa mereka yang
telah dipelajari bersama ibunya; bagaimana orang-orang asing itu kelihatan seperti goblin dengan
hidung panjang dan janggut lebat¬nya, yang satu berambut merah sedangkan yang lainnya berambut
hitam, tapi Chikara sama sekali tidak takut. Mereka memerintah¬kan para pelayan untuk
mengambilkan salah satu kursi yang dibuat oleh orang asing dari
kayu eksotis, jati, dibawa dari pelabuhan pedagangan besar yang dikenal dengan nama Fragrant
Harbour dalam kekuasaan kapal nana milik Terada yang juga membawa mangkuk jasper, lapis lazuli,
kulit macan, gading dan giok menuju kota-kota di Tiga Negara.
"Sangat nyaman," ujar Sunaomi, mem¬peragakan.
"Agak mirip tahta Kaisar," kata Hana, tertawa.
"Tapi mereka tidak makan menggunakan tangan!" kata Chikara, kecewa. "Aku ingin melihatnya."
"Mereka belajar sopan santun dari bangsa kita," tutur Hana. "Mereka berusaha keras, sama kerasnya
dengan usaha Lord Joao mem¬pelajari bahasa kita."
Takeo agak merinding mendengar nama itu, sangat mirip dengan nama gelandangan Jo-An. Ia begitu
menyesali tindakannya yang telah memenggal Jo-An, dan pengemis itu sering hadir dalam mimpinya.
Orang-orang asing itu memiliki kepercayaan yang serupa dengan kepercayaan kaum Hidden dan
ber¬doa pada Tuhan Rahasia. Bedanya, orang¬orang asing itu mempraktikannya secara terbuka,

Halaman 470 dari 470
hingga membuat orang lain gelisah dan malu. Mereka memperlihatkan lambang Hidden, salib, pada
untaian kalung yang menggantung di dada pakaian mereka yang aneh dan tidak nyaman. Bahkan di
hari yang paling panas pun mereka tetap memakai pakaian ketat dengan kerah tinggi dan sepatu bot,
dan mereka memiliki ketakutan yang tidak wajar untuk mandi.
Kini Jo-An telah menjadi semacam dewa, terkadang salah ditafsirkan wujud Sang Pencerah: dia
disembah oleh orang-orang miskin dan tunawisma. Hanya sedikit orang yang tahu siapa Jo-An
dulunya atau ingat apa saja yang pernah dilakukan, namun namanya telah terikat dengan peraturan
yang meng¬atur pajak dan kewajiban masuk militer. Tak satu pun pemilik tanah diperbolehkan
mengambil lebih dari tiga puluh bagian dari seratus bagian atas number daya apa pun, baik berupa
beras, kedelai atau mniyak. Dan kewajiban militer tidak dikenakan pada putra petani, meskipun
mendapat tugas untuk menangani sarana umum tertentu, misalnya mengeringkan tanah, membangun
ben¬dungan dan jembatan serta menggali saluran. Pertambangan juga merupakan pekerjaan
wajib; karena pekerjaan ini sangat berat dan berbahaya hingga hanya sedikit orang yang mau
melakukannya; namun semua bentuk pekerjaan wajib dirotasi ke seluruh distrik dan kelompok usia
agar tidak ada orang yang harus memikul beban yang tidak adil. Berbagai tingkat kompensasi diatur
untuk menggantikan kematian atau kecelakaan. Ini semua dikenal dengan Hukum Jo-An.
Orang-orang asing bersemangat mem¬bicarakan tentang agama mereka, dan ketika Takeo dengan
hati-hati mengatur pertemuan dengan Makoto dan pemimpin agama lain¬nya, tapi semua pertemuan
ini berakhir dengan cara yang sama, dengan kedua belah pihak yakin dengan posisi mereka
masing¬masing, ingin tahu secara pribadi bagaimana ada orang lain bisa percaya pada omong
kosong lawan bicaranya. Kepercayaan orang¬orang asing, pikir Takeo, berasal dari sumber yang
sama dari kaum Hidden namun ditambah dengan takhayul dan perubahan bentuk selama berabadabad.
Ia sendiri dibesarkan dalam tradisi Hidden namun telah mengabaikan semua ajaran masa
kecilnya dan memandang semua ajaran agama dengan kecurigaan dan keraguan, terutama agama
orang asing karena baginya agama itu berhubungan dengan ketamakan mereka pada kekayaan,
status serta kekuasa¬an.
Satu ajaran yang paling menyita pikiran¬nya—yaitu dilarang untuk membunuh— tampaknya tidak
menjadi bagian dalam kepercayaan mereka, karena mereka datang bersenjata lengkap dengan
pedang tipis panjang, belati, pedang pendek dan tentu saja senjata api. Ketika kecil, Takeo diajarkan
bahwa membunuh adalah dosa, bahkan untuk mempertahankan diri, namun, di¬dasarkan pada
pertarungan untuk me-naklukkan dan diawasi dengan kekuatan. Ia tidak bisa menghitung lagi sudah
berapa banyak nyawa melayang di tangannya mau pun yang dieksekusi atas perintahnya. Tiga
Negara dalam keadaan damai saat ini: pembantaian selama perang bertahun-tahun sudah menjadi
sejarah. Takeo dan Kaede turun tangan untuk mengurus semua karena kekerasan diperlukan untuk
pertahanan atau hukuman bagi pelaku tindakan kriminal: mereka mengawasi ketat para ksatria dan
memberi jalan keluar bagi ambisi dan agresi. Serta banyak ksatria yang mengikuti bimbingan Makoto,
menyingkirkan panah dan pedang, bersumpah tidak akan membunuh lagi.
Kelak aku akan melakukan hal yang sama, pikir Takeo. Tapi bukan seka rang. Belum saatnya.
Dialihkan lagi perhatiannya pada per¬temuan, mengamati Zenko, Hana dan ber¬sama anak-anak
mereka, dan ia bersumpah dalam hati untuk memecahkan semua per¬soalan tanpa pertumpahan
darah.*
Rasa sakitnya kembali terasa saat pagi hari, hingga memaksa Takeo terbangun. Dipang¬gilnya
pelayan agar membawakan teh, kehangatan sesaat dan mangkuk meredakan nyeri di tangan
cacatnya. Hari masih hujan, udara di dalam kediaman terasa menyesakkan napas dan lembap.
Mustahil untuk bisa tidur. Diperintahkannya pelayan untuk membangunkan jurutulisnya dan petugas
agar membawa lentera. Sewaktu orang-orang tersebut sudah datang, ia duduk di luar di beranda
bersama mereka lalu memeriksa catatan-catatan Shirakawa dan Fujiwara, membicarakan rincian
serta mempertanyakan ketidaksesuaian sampai langit mulai berwarna pucat dan terdengar kicau

Halaman 471 dari 471
burung dari taman. Takeo memiliki ingatan yang baik, visualisasi dan daya tangkap yang kuat; semua
itu berkat latihan selama bertahun¬tahun. Sejak bertarung melawan Kotaro, saat kehilangan kedua
jari di tangan kanannya. Ia mendiktekan banyak hal pada juru tulisnya, dan ini juga menambah
kekuatan ingatan. Dan seperti ayah angkatnya, Shigeru. ia menjadi sangat menyukai serta
menghargai catatan: bagaimana segalanya bisa dicatat serta diingat; bagaimana catatan bisa
men¬dukung dan memperbaiki ingatan.
Pemuda istimewa ini mendampinginya hampir sepanjang waktu akhir-akhir ini; salah satu dari banyak
anak laki-Iaki yang menjadi yatim piatu karena bencana gempa bumi di usia sepuluh tahun, dia
menemu¬kan tempat berlindung di Terayama dan dididik di sana; kecerdasan dan kemamp¬uannya
yang cepat dengan kuas sudah diakui, begitu pula dengan kerajinannya—ia merupakan salah satu
dari orang-orang yang belajar dengan hanya ditemani cahaya kunang-kunang dan pantulan salju,
begitu kata pepatah—dan akhirnya dia dipilih Makoto untuk bergabung dalam lingkungan rumah
tangga Lord Otori di Hagi.
Bersifat pendiam, dan tidak peduli dengan sake, kepribadiannya agak membosankan bila ditilik dari
penampilannya, namun memiliki komentar tajam bernada sarkasme saat hanya berdua dengan
Takeo, tidak terkesan oleh siapa pun atau apa pun, memperlakukan semua orang dengan rasa
hormat, me¬merhatikan semua kekurangan dan kelebihan dengan jernih dan sikap welas asih tanpa
prasangka. Namanya Minoru, yang membuat Takeo senang karena ia sendiri pernah mem¬bawa
nama itu dalam jangka waktu yang begitu pendek hingga terasa seperti kehidupannya yang lain.
Ia menulis dengan cepat dan indah.
Kedua tanah warisan itu rusak parah akibat gempa, rumah-rumah yang besar dan indah di pedesaan
luluh lantak terbakar api. Shirakawa telah dibangun kembali dan adik iparnya yang satu lagi, Ai,
secara teratur mengunjunginya dalam satu tahun bersama putri-putrinya. Suaminya, Sonoda Mitsuru
sesekali mendampingi, namun tugas sering¬kali menahannya di Inuyama. Ai adalah orang yang
praktis dan pekerja keras serta memanfaatkan contoh yang telah dibuat kakaknya. Shirakawa telah
pulih dari pengelolaan yang salah serta diabaikan oleh ayah mereka dan semakin berkembang,
memberi keuntungan besar dalam bentuk beras, mulberi, persimmon, sutra serta kertas. Tanah
kekayaan milik Fujiwara selama ini diatur oleh Shirakawa; pada dasarnya lebih kaya dan kini pun
menunjukkan keuntungan yang mencukupi. Takeo agak enggan untuk mengembalikannya ke tangan
putra Fuji¬wara, bahkan kalau pun dia merupakan pemilik yang sah. Seperti saat ini, keuntungan
bekas wilayah Fujiwara ini meyumbang pada perekonomian Tiga Negara. Ia curiga Kono ingin
mengambil sebanyak mungkin, memeras sumber daya yang ada sebanyak-banyaknya, talu
meng¬habiskan hasilnya di ibukota.
Ketika hari sudah terang, Takeo mandi. kemudian tukang cukur mencabut dan merapikan rambut dan
janggutnya. Makan sedikit nasi dan sup kemudian mengenakan pakaian resmi untuk pertemuan
dengan putra Fujiwara, menemukan sedikit kenyamanan pada kelembutan kain sutra serta motif yang
tidak mengumbar ke¬anggunan: bunga belukar wisteria berwarna ungu muda di atas latar berwarna
ungu tua pada jubah bagian dalam dan tenunan yang lebih abstrak pada bagian luarnya.
Pelayan menempatkan sebuah topi hitam kecil di atas kepalanya, dan Takeo meng¬ambil pedangnya,
Jato, dari rak ukiran yang sangat indah tempat pedang itu berada sepanjang malam lalu
menggantungkan di sabuknya, seraya memikirkan segala macam bentuk sarung pembungkus yang
pernah dilihatnya, mulai dari kulit ikan hiu hitam lusuh yang membungkus pegangannya ketika, di
tangan Shigeru telah menyelamat-kan hidupnya. Kini baik pegangan maupun sarungnya dihiasi
dengan dekorasi yang indah dan Jato sudah tidak pernah lagi merasakan darah selama bertahuntahun.
Ia ingin tahu apakah akan mengeluarkan pedang itu dari sarungnya lagi dalam per¬tempuran,
dan bagaimana ia bisa meng¬gunakan pedang itu dengan tangan kanannya yang sudah tidak utuh.
Takeo berjalan melintasi taman dari sayap timur menuju aula utama rumah besar dan indah itu. Hujan
telah reda namun taman masih basah dan bunga wisteria bergelayut berat dengan sisa titik air hujan,
aromanya berbaur dengan aroma rumput basah, aroma garam dari pelabuhan dan segala macam
bebauan dari kota. Di balik dinding bisa didengamya debak-debuk bunyi daun jendela ketika kota
terbangun, dan dari kejauhan terdengar teriakan pedagang jalanan di pagi hari.
Para pelayan melangkah tanpa suara di depannya, membuka pintu, pijakan lembut kaki mereka di
lantai yang mengkilap. Minoru, yang tidak selesai sarapan, ber¬gabung dengannya tanpa suara,
mem¬bungkuk hormat kemudian berjalan be¬berapa langkah mengikuti di belakangnya. Seorang
pelayan berjalan di sampingnya membawa meja tulis, kertas, kuas, batu tinta dan air.

Halaman 472 dari 472
Zenko sudah di aula utama, berpakaian resmi seperti Takeo namun lebih mewah lagi, benang emas
berkilauan di bagian kerah dan sabuknya. Takeo mengangguk ke arahnya, menyambut
penghormatannya, lalu menye¬rahkan Jato ke tangan Minoru, yang kemudian menempatkan pedang
itu dengan hati-hati di sebuah rak indah yang ada di sebelah samping. Pedang Zenko sudah
ditempatkan di rak yang sama. Takeo lalu duduk di ujung ruangan, melayangkan pandangan ke
sekeliling ruangan, melihat dekorasi, kertas kasa, ingin tahu bagaimana anggapan Kono tentang
semua yang ada di sini setelah melihat istana Kaisar. Kediaman itu tidak sebesar maupun semegah
seperti di Hagi atau Inuyama, dan ia menyesal karena tidak menerima kedatangan tamu
bangsa¬wannya di sana. Dia akan mendapat kesan yang salah mengenai kami: dia akan mengira
kami tidak sopan dan sederhana. Apakah memang lebih baik dia berpikir seperti itu?
Zenko berbicara tentang malam sebelum¬nya. Takeo mengungkapkan persetujuannya dan memuji
mereka. Minoru menyiapkan tinta di atas meja tulis kecil lalu duduk dengan tumit, pandangan mata
menunduk seolah sedang bermeditasi. Hujan turun perlahan.
Tak lama kemudian mereka mendengar suara yang menyerukan ada tamu yang datang, anjing
menyalak dan derap kaki berat pengangkat tandu. Zenko bangkit lalu berjalan ke beranda. Takeo
mendengarnya memberi salam pada tamu mereka, kemudian Kono melangkah masuk ke dalam
ruangan.
Keadaan menjadi agak canggung selama beberapa saat ketika tak satu pun dari mereka merasa
harus membungkuk memberi hormat lebih dulu; alis mata Kono bergerak cepat naik lalu membungkuk
hormat, tapi dengan sikap santun santun yang dibuat-buat hingga menghilangkan tanda
penghormatan. Takeo menunggu lama satu helaan napas, kemudian membalas salam.
"Lord Kono," sapanya dengan tenang. "Suatu kehormatan bagiku Anda bisa ber¬kunjung kemari."
Sewaktu Kono duduk tegak, Takeo meng¬amati wajahnya. Ia belum pernah bertemu dengan ayah
bangsawan ini, tapi itu tidak mencegah Fujiwara untuk datang meng¬hantui mimpi-mimpinya. Kini ia
tengah memberi muka pada putra dari musuh lamanya, yang berdahi lebar, bentuk mulut berlekuk,
tanpa mengetahui bahwa Kono memang mirip ayahnya dalam beberapa hal, meskipun tidak mirip
sekali.
"Justru kehormatan bagiku bisa bertemu Lord Otori," sahut Kono, dan walaupun kata-kata itu sopan,
Takeo tahu bukan itu maksudnya. Dan hanya ada sedikit peluang untuk perbincangan yang jujur.
Pertemuan itu akan alot dan tegang, dan ia haras bersikap cerdik, kelihatan mahir serta penuh
semangat. Takeo berusaha menenangkan diri, melawan kelelahan juga rasa sakit.
Mereka mulai membicarakan tentang harta kekayaan, Zenko menjelaskan apa yang dia ketahui. Kono
mengungkapkan keinginan untuk melihatnya sendiri, dan langsung dipenuhi Takeo tanpa protes
karena merasa kalau Kono sebenarnya tidak terlalu tertarik pada wilayah itu dan tak bermaksud
tinggal di sana; kalau dia mungkin hanya ingin diakui sebagai pemilik wilayah itu; kalau dia hanya
ingin dikirimi sejumlah keuntungan—tidak seluruh pajak tapi sebagian saja. Harta kekayaan itu
hanyalah alasan dari kunjungan Kono: alasan sempurna yang masuk akal. Kono datang dengan
tujuan lain, tapi dia terus membahas tentang hasil bumi sehingga Takeo mulai bertanya-tanya kapan
dia akan mengatakan tujuannya yang sebenarnya. Tak lama setelah itu, seorang penjaga datang
membawa pesan untuk Lord Arai. Zenko meminta maaf dengan berlebihan lalu berkata kalau dia
terpaksa pergi tapi akan bergabung lagi saat makan siang.
Kepergiannya meninggalkan mereka ber¬dua dalam kesenyapan. Minoru meletakkan kuasnya,
semua pembicaraan telah ditulisnya.
Kono berkata, "Aku harus membicarakan satu hal yang memerlukan penanganan yang bijaksana.
Sebaiknya memang dibicarakan berdua saja dengan Lord Otori." Takeo menaikkan alis lalu
menjawab, "Juru tulisku tetap di sini." Ia memberi isyarat pada sisa pengawal yang lain untuk
meninggalkan ruangan.
Setelah semua orang pergi, Kono diam selama beberapa saat. Ketika bicara, nada suaranya lebih
hangat dan sikapnya lebih alami, tidak terlalu dibuat-buat.
"Aku ingin Lord Otori tahu bahwa aku hanyalah seorang utusan. Aku tidak memendam kebencian
terhadap Anda. Aku tahu sedikit sejarah dari kedua keluarga kita—keadaan yang tidak sepantasnya
terjadi pada Lady Shirakawa—namun tindakan ayahku acapkali membuat ibuku dan aku tertekan,
ketika beliau masih hidup. Aku tidak percaya kalau ayahku tidak bersalah."

Halaman 473 dari 473
Tidak bersalah? pikir Takeo. Semua kesalahan justru ada padanya: penderitaan dan rusaknya wajah
istriku, terbunuhnya Amano Tenzo, pembantaian tanpa perasaan pada kuda pertamaku, Raku, serta
semua yang kehilangan nyawa di pertempuran Kusahara dan pada saat menarik mundur. Ia tidak
bicara sepatah kata pun.
Kono meneruskan, "Ketenaran Lord Otori telah menyebar ke seluruh Delapan Pulau. Kaisar pun
sudah mendengarnya. Paduka Yang Mulia beserta kalangan Istananya mengagumi cara Anda
mewujudkan kedamaian di Tiga Negara."
"Aku merasa tersanjung."
"Sayangnya semua prestasi hebat itu tidak mendapat persetujuan Kaisar." Kono ter¬senyum dengan
keramahan dan pengertian yang tidak tulus. "Dan prestasi Anda berasal dari kematian—aku tak ingin
mengatakan itu sebagai pembunuhan—perwakilan di Tiga Negara yang diakui Kaisar, Arai Daiichi."
"Lord Arai tewas, seperti ayahmu, dalam gempa."
"Aku rasa Lord Arai ditembak oleh salah satu pengikut Anda, perompak Terada Fumio, yang pada
dasarnya sudah penjahat. Gempa itu merupakan hukuman dari Surga sebagai akibat dari tindak
pengkhianatan melawan wakil kaisar: itu yang dipercaya di ibukota. Ada juga kematian yang tak dapat
dijelaskan, berhubungan dengan Kaisar yang berkuasa saat itu: kematian Lord Shirakawa, misalnya,
kemungkinan di tangan Kondo Koichi, yang saat itu bekerja pada Anda, dan yang juga terlibat dalam
kematian ayahku." Takeo membalas, "Kondo sudah
meninggal bertahun-tahun lalu. Semua ini sudah menjadi masa lalu. Di Tiga Negara dipercaya bahwa
Surga turun tangan untuk menghukum saudara-saudara dari kakekku dan Arai atas tindakan dan
pengkhianatan keji mereka. Arai menyerang pasukanku yang tidak bersenjata. Bila ada yang disebut
peng¬khianatan, maka dialah yang berkhianat." Bumi menghantarkan apa yang diinginkan Surga.
"Nah, putranya, Lord Zenko, adalah saksinya dan laki-laki dengan kejujuran pastilah berkata yang
sebenarnya," sahut Kono acuh tak acuh. Tugasku yang tidak menyenangkan adalah memberitahukan
bahwa karena Anda tidak pernah meminta ijin atau dukungan dari Kaisar, tidak pernah mengirim
pajak atau upeti ke ibukota, maka pemerintahan Anda dianggap tidak sah dan Anda diminta untuk
turun takhta. Anda akan diampuni bila mengasingkan diri ke pulau terpencil. Pedang keturunan leluhur
Otori harus dikembalikan kepada Kaisar."
"Aku sungguh tidak mengerti Anda berani membawa pesan semacam ini," sahut Takeo, seraya
menyembunyikan rasa kaget dan marahnya. "Di bawah kekuasaankulah Tiga Negara menjadi damai
dan sejahtera. Aku tak berniat turun takhta sampai putriku cukup dewasa untuk menjadi pewarisku.
Aku ingin membuat perjanjian dengan Kaisar, dan orang lain yang ingin mendekatiku dengan damai;
aku memiliki tiga putri yang bisa kuaturkan pernikahan politis bagi mereka. Namun aku takkan
terintimidasi oleh ancaman."
"Tidak seorang pun berani mengancam Anda," gumam Kono, sulit membaca ekspresi wajahnya.
Takeo bertanya, "Mengapa baru sekarang kau datang? Di mana minat Kaisar bertahun¬tahun lalu,
ketika Iida Sadamu menjarah Tiga Negara dan membunuhi rakyatnya? Apakah Iida bertindak atas
persetujuan Kaisar?"
Dilihatnya Minoru agak menggerakkan kepala, dan berusaha mengendalikan ke¬gusarannya. Tentu
saja Kono memang ber¬harap untuk membuatnya gusar, berharap menggiringnya membuat
pernyataan terbuka tentang sikap membangkang yang akan diartikan sebagai pemberontakan
selanjutnya.
Zenko dan Hana ada di balik semua ini, pikirnya. Tapi pasti ada alasan lain mengapa mereka—dan
Kaisar—berani bergerak menentang dirinya saat ini Kelemahan macam apa yang sedang mereka
eksploitasi? Kekuatan tambahan apa yang mereka kira mereka punya?
"Aku tak bermaksud untuk tidak meng¬hormati Kaisar," ujar Takeo dengan hati¬hati. "Namun beliau
dihormati di seluruh penjuru Delapan Pulau atas tujuannya untuk mewujudkan kedamaian. Tentu saja
beliau takkan berperang melawan rakyatnya sendiri, kan?"
Benarkah Kaisar takkan menggalang kekuatan untuk melawanku?
"Lord Otori belum mendengar kabar ter¬baru," tutur Kono dengan nada sedih. "Kaisar telah menunjuk
jenderal baru: keturunan salah satu keluarga tertua di wilayah Timur, pemimpin sepuluh ribu pasukan.
Lebih dari segalanya, Kaisar ber¬tujuan damai, namun beliau tidak dapat mengampuni tindakan
kriminal, dan kini beliau memiliki tangan kanan yang kuat untuk menegakkan hukum dan keadilan."

Halaman 474 dari 474
Kata-kata yang dilontarkan dengan lembut itu mengandung sengatan penghinaan, dan Takeo
merasakan gelombang panas dalam dirinya. Hampir tak tertahankan karena ia dianggap penjahat:
darah Otori dalam dirinya berontak menentang anggapan tersebut. Namun selama bertahun-tahun ia
telah memadamkan tantangan dan per¬selisihan melalui perundingan dan diplomasi yang cerdas. Ia
tidak percaya kalau cara ini akan mengecewakannya sekarang. Dibiarkan¬nya hinaan itu menyirami
dirinya sambil berusaha mengendalikan diri, dan mulai mempertimbangkan jawaban seperti apa yang
akan ia berikan.
Jadi mereka mempunyai jenderal perang. Mengapa aku tak pernah mendengar namanya? Di mana
Taku saat aku membutuhkannya? Di mana Kenji?
Kelebihan senjata serta pasukan yang disiapkan Arai Zenko: mungkinkah mereka mendukung
ancaman baru ini? Senjata¬senjata: bagaimana kalau itu ternyata senjata api? Bagaimana jika
mereka dalam perjalanan ke Timur?
"Anda di sini sebagai tamu dari penguasa yang berada di bawah kekuasaanku, Arai Zenko," akhirnya
ia berkata. "itu berarti tamuku juga. Kurasa Anda harus memper panjang masa tinggal Anda di wilayah
Barat, mengunjungi kekayaan mendiang ayah Anda, lalu kembali bersama Lord Arai ke Kumamoto.
Aku akan memanggil Anda sewaktu sudah kuputuskan bagaimana men¬jawab ke Kaisar, ke mana
aku akan pergi jika ingin mengundurkan diri, dan bagaimana cara terbaik untuk mempertahankan
kedamaian."
"Kuulangi lagi, aku hanyalah utusan," sahut Kono, lalu membungkuk dengan ketulusan yang jelas.
Zenko kembali dan makan siang sudah siap: meskipun hidangannya mewah dan lezat, Takeo nyaris
tidak bisa merasakannya. Perbincangan berjalan dengan ringan dan sopan; ia mencoba turut ambil
bagian di dalamnya.
Saat mereka selesai makan, Kono dikawal oleh Zenko menuju ke wisma tamu. Jun dan Shin sudah
menunggu di luar di beranda. Mereka bangkit dan mengikuti Takeo tanpa suara ketika ia kembali ke
kamarnya.
"Lord Kono tidak boleh meninggalkan kediaman ini," katanya pada mereka, "Jun, tempatkan penjaga
di gerbang. Shin, segera ambil alih perintah di pelabuhan. Lord Kono akan tinggal di wilayah Barat
sampai kuberi¬kan ijin tertulis baginya untuk kembali ke Miyako. Hal yang sama berlaku juga untuk
Lady Arai dan kedua putranya."
Kedua saudara sepupu itu bertukar pandang tapi tidak berkomentar selain, "Tentu saja, Lord Otori."
"Minoru," ujar Takeo pada juru tulisnya. "Pergilah dengan Shin ke pelabuhan dan cari tahu rincian
tentang kapal-kapal yang sedang merapat, terutama yang menuju ke Akashi."
"Aku mengerti," sahut Minoru. "Aku akan kembali secepatnya."
Takeo bersantai di beranda lalu men¬dengarkan suasana di kediaman berubah ketika semua
instruksinya dilaksanakan: langkah kaki penjaga, perintah Jun yang keras serta dengan paksaan, para
pelayan yang bingung berjalan bergegas dan komentar bisik-bisik, satu seruan terkejut dari Zenko,
saran Hana yang diucapkan dengan bergumam. Ketika Jun kembali, Takeo menyuruhnya untuk tetap
berada di luar kamar dan jangan sampai ada orang yang mengganggunya. Kemudian ia istirahat di
dalamnya, lalu membolak-balik catatan Minoru tentang pertemuan dengan Kono selagi menunggu
juru tulisnya kembali.
Huruf-huruf dalam tulisan seakan melompat ke arahnya dari halaman catatan, kaku dan goresan
dalam tulisan tangan Minoru yang nyaris sempurna. Pengasingan, penjahat, pengkhianatan.
Takeo berjuang untuk mengendalikan amarahnya yang timbul akibat penghinaan semacam ini, sadar
kalau Jun hanya berada tiga langkah darinya. Hanya tinggal me¬ngeluarkan satu perintah lagi, dan
mereka semua akan mati: Kono, Zenko, Hana dan anak-anaknya... darah mereka akan menyapu rasa
malu yang bisa dirasakan menoreh lulangnya, mengikis organ-organ tubuhnya. Lalu ia akan
menyerang Kaisar serta jenderalnya sebelum musim panas berakhir, mendesak mereka kembali ke
Miyako, mem¬porakporandakan ibukota. Hanya dengan cara inilah kemarahannya bisa reda.
Dipejamkan matanya, melihat motif gambar di kertas kasa terukir di kelopak matanya, lalu menghela
napas panjang, mengenang bangsawan lain yang telah mem¬bunuh untuk menyapu habis
penghinaan dan akhimya mencabut nyawa orang lain demi kesenangannya sendiri, membayangkan
betapa mudahnya mengambil jalan keluar seperti itu dan menjadi seperti Iida Sadamu.

Halaman 475 dari 475
Dengan penuh kesadaran, disingkir¬kannya rasa terhina dan tikaman rasa malu jauh-jauh, seraya
berkata pada dirinya sendiri kalau pemerintahannya memang ditakdir¬kan dan direstui Surga: ia
melihat restu ini dengan kehadiran burung houou, dengan kebahagiaan rakyatnya. Pada akhirnya
kembali lagi pada keputusan untuk meng¬hindari pertumpahan darah dan perang sebisa mungkin,
dan tidak akan melakukan apa pun tanpa berkonsultasi dengan Kaede dan penasihat lainnya.
Keputusan ini segera saja diuji kebenaran¬nya, ketika Minoru kembali dari ruang catatan petugas
pelabuhan.
"Kecurigaan Lord Otori benar," tuturnya. "Dibuat seolah-olah satu kapal berangkat ke Akashi saat laut
pasang semalam, tapi sertifikat pemeriksaan muatannya belum diisi. Shin membujuk kepala
pelabuhan untuk segera menyelidikinya."
Takeo memicingkan mata tanpa ber¬komentar.
"Lord Otori jangan khawatir," ujar Minoru untuk meyakinkan. "Shin hamper tidak perlu bertindak kasar.
Orang-orang yang bertanggung jawab sudah dikenali; pegawai pabean yang mengijinkan kapalnya
berangkat, dan pedagang yang menangani muatan. Mereka sudah ditahan, menunggu keputusan
Anda tentang kelanjutan nasib mereka." Ia merendahkan suara. "Tak satu pun dari mereka mengakui
dari mana asal muatan tersebut."
"Kita harus mencurigai yang terburuk," sahut Takeo. "Mengapa pula harus meng¬hindari prosedur
pemeriksaan? Tapi jangan bicarakan hal ini secara terang-terangan. Kita harus berusaha menangani
mereka sebelum sampai di Akashi."
Minoru tersenyum tipis. "Aku juga ada kabar baik untuk Anda. Kapal Terada Fumio sedang menunggu
di galangan. Mereka akan tiba di Hofu saat laut pasang malam ini."
"Dia datang di saat yang tepat," seru Takeo, semangatnya segera bangkit. Fumio dan ayahnya adalah
teman lamanya yang mengawasi pasukan kapal yang digunakan Klan Otori untuk melakukan
perdagangan dan mempertahankan garis pantai mereka. Fumio pergi selama berbulan-bulan
bersama tabib Ishida, dalam perjalanan yang sering dilakukan untuk perdagangan dan pen¬jelajahan.
"Katakan pada Shin untuk membawa pesan pada Fumio kalau dia akan ke¬datangan tamu malam ini.
Pesannya tak perlu terlalu jelas. Fumio pasti mengerti."
Takeo sangat lega untuk beberapa hal. Fumio pasti punya berita terbaru mengenai Kaisar; jika ia bisa
segera berangkat, maka peluang untuk mengejar kapal ilegal itu cukup besar; dan Ishida pasti
membawa obat-obatan, sesuatu yang bisa meredakan rasa sakitnya yang berkepanjangan.
"Dan sekarang aku harus bicara dengan adik iparku. Panggil Lord Zenko untuk datang menghadap."
Ia senang punya alasan tentang petugas pabean untuk menekan adik iparnya. Zenko
mengungkapkan permintaan maaf dan ber¬janji untuk mengatur eksekusinya, me¬yakinkan Takeo
kalau itu adalah peristiwa yang jarang terjadi, hanya contoh dari keserakahan manusia.
"Kuharap kau benar," sahut Takeo. "Aku ingin kau meyakinkan kesetiaan penuhmu kepadaku: kau
berhutang nyawa padaku; kau menikah dengan adik istriku; ibumu adalah sepupuku dan sahabatku.
Kau memegang Kumamoto atas keinginan dan ijinku. Kemarin kau menawarkan salah satu putramu
kepadaku. Kuterima tawaranmu. Tentu saja aku akan membawa keduanya; saat berangkat ke Hagi
mereka akan menemaniku. Mulai saat ini mereka akan tinggal bersama keluargaku dan dibesarkan
sebagai putraku. Aku akan mengangkat Sunaomi, bila kau tetap setia padaku. Hidup Sunaomi dan
adiknya akan diserahkan ke tanganku bila ada sedikit saja tanda ketidaksetiaan. Masalah pernikahan
akan diputuskan nanti. Istrimu boleh bergabung dengan kedua putranya di Hagi, jika dia mau, tapi aku
yakin kau menginginkan istrimu tetap bersamamu."
Takeo mengamati wajah adik iparnya lekat-lekat ia bicara. Zenko tidak berani menatapnya. Bola
matanya ikit berputar dan bicara terlalu cepat untuk memberi tanggapan.
"Lord Takeo harus tahu kalau aku betul¬betul setia. Apa yang telah Kono katakan hingga Anda
beranggapan seperti ini? Apakah dia bicara tentang masalah-masalah di wilayah Timur? "Jangan
pura-pura tidak tahu! Takeo tergoda ingin langsung menantangnya, tapi memutuskan kalau saatnya
belum tiba.
"Kita abaikan saja apa yang telah dikatakannya: itu tidak penting. Sekarang, di hadapan semua saksi
di sini, ucapkan sumpah setiamu kepadaku."

Halaman 476 dari 476
Zenko melakukannya dengan mem¬bungkuk dalam-dalam, tapi Takeo ingat bagaimana ayahnya, Arai
Daiichi, telah bersumpah setia hanya untuk meng¬khianatinya, dan di saat yang paling genting lebih
memilih kekuasaan melebihi dari nyawa kedua putranya.
Putranya pun akan bersikap sama, pikirnya. Seharusnya kuperintahkan dia menca but nyawanya
sekarang juga. Namun tak kuasa bertindak seperti itu, karena pada akhirnya semua kesedihan hanya
akan menimpa keluarganya sendiri. Lebih baik tetap mencoba menjinakkannya, ketimbang
membunuhnya. Tapi betapa lebih mudahnya kalau dia mati.
Disingkirkannya pikiran itu seraya berjanji pada dirinya sendiri sekali lagi untuk ber¬pegang pada jalan
yang lebih rumit dan sulit, jauh dari kemudahan yang menipu dari pembunuhan atau bunuh diri. Begitu
Zenko selesai menyampaikan semua keberatannya, semua dicatat oleh Minoru, Takeo ber¬istirahat di
wismanya, berkata kalau ia akan makan sendirian dan istirahat lebih awal karena hendak berangkat
ke Hagi keesokan paginya. Ia ingin sekali berada di rumah, berbaring bersama istrinya dan membuka
hati kepadanya, bertemu dengan putri¬putrinya. Dikatakannya pada Zenko agar kedua putranya
harus siap melakukan perjalanan bersamanya.
Sepanjang hari hujan turun dan reda. tapi saat ini langit mulai cerah, angin berhembus lembut dari
selatan meluluhkan awan gelap. Matahari tenggelam dalam warna merah muda dan cahaya
keemasan yang membuat banyak warna hijau di taman bermandikan cahaya. Keadaan akan baikbaik
saja pada pagi hari, hari yang baik untuk melakukan perjalanan, baik juga untuk kegiatan malam
hari yang terlintas di benaknya.
Takeo mandi lalu mengenakan jubah dari bahan katun tipis seolah bersiap pergi tidur, makan sedikit
tapi tanpa minum sake, kemudian menyuruh semua pelayan pergi, mengatakan pada mereka kalau ia
tak mau diganggu. Kemudian menenangkan dirinya sendiri, bersila di matras dengan mata ter¬pejam
dan kedua jari telunjuk dan ibu jari saling bersentuhan ditekan seakan tenggelam dalam posisi
meditasi. Dipasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan suara-suara di dalam kediaman.
Tiap suara terdengar olehnya: percakapan pelan para penjaga di gerbang, pelayan dapur mengobrol
sambil membersihkan piring lalu menyimpannya, anjing-anjing menyalak, musik dan tempat minumminum
di sekitar pelabuhan, gemuruh tanpa henti air laut, gemerisik dedaunan dan teriakan burung
hantu dari gunung.
Terdengar olehnya Zenko dan Hana membicarakan pengaturan untuk keesokan harinya, tapi
percakapan yang sepele, seolah mereka ingat kalau ia mungkin saja sedang mendengarkan. Dalam
permainan berbahaya yang telah mereka mulai, mereka tidak mau ambil resiko Takeo mencuri dengar
strategi mereka, terutama bila ia memang jadi menahan kedua putra mereka. Tak lama kemudian,
mereka bertemu Kono untuk makan malam, namun mereka sama berhati¬hatinya: yang terdengar tak
lebih dari tata rambut model terbaru dan cara berpakaian di istana, kegemaran Kono akan puisi dan
drama, serta olahraga para bangsawan, bola tendang dan berburu anjing.
Percakapan itu menjadi semakin hidup: seperti ayahnya, Zenko gemar minum sake. Takeo berdiri dan
mengganti pakaiannya, memakai jubah yang tidak mencolok berwarna pudar seperti yang biasa
dikenakan pedagang. Ketika melewati Jun dan Shin, yang sedari tadi duduk di luar pintu, Jun
menaikkan alis; Takeo menggelengkan kepala. Tak ingin ada yang tahu kalau ia pergi. Dipakainya
sandal jerami di anak tangga taman, menghilang lalu berjalan lewat gerbang yang masih terbuka.
Anjing-anjing menggiringnya dengan tatapan mata tapi para penjaga tidak memerhatikannya.
Bersyukurlah kalian tak berjaga di gerbang istana di Miyako, katanya tanpa suara pada anjing-anjing.
Karena mereka akan memburu kalian dengan hujan anak panah untuk olahraga.
Di satu sudut yang gelap tidak jauh dari pelabuhan, Takeo melangkah masuk ke bayangan tak tertihat
dan keluar dengan penyamarannya sebagai pedagang yang sedang terburu-buru untuk pekerjaan di
kota. Udara terasa penuh dengan aroma garam, ikan yang sedang dikeringkan dan rumput laut di
atas rak-rak di tepi pantai, ikan dan gurita panggang di rumah makan. Lentera menerangi jalanan
sempit dan cahaya lampu bersinar jingga dari balik kertas kasa.
Di tepi galangan, kapal-kapal kayu saling bergesekan, terombang-ambing oleh ombak, air
menghantam badan kapal, dengan tiang pancang yang kekar dan berwarna gelap di bawah siraman
cahaya malam penuh bintang. Di kejauhan dapat dilihatnya pulau¬pulau dari Laut Lingkar; di balik
bentuknya yang menyembul tajam tampak cahaya temaram bulan yang baru naik.
Tungku bara menyala di samping tali tambatan salah satu kapal besar, dan Takeo, dengan
menggunakan dialek kota itu, ber¬seru pada orang-orang yang, memanggang potongan-potongan

Halaman 477 dari 477
abon kering dan berbagi sebotol sake. "Apakah Terada datang dengan kapal ini?"
"Ya, benar," sahut satu orang. "dia sedang makan di Umedaya."
"Apakah kau berharap melihat kirin*?" timpal yang lain. "Lord Terada menyembunyikannya
di tempat yang aman sampai bisa diperlihatkan kepada penguasa kami, Lord Otori."
"Kirin?" Takeo terkejut. Kirin adalah hewan dalam tongeng, separuh naga, separuh kuda, dan separuh
singa. Dikiranya hewan itu hanya legenda. Apa yang ditemukan Terada dan Ishida di daratan utama?
"Seharusnya ini rahasia," orang pertama memperingatkan temannya. "Dan kau terus saja mengoceh
pada semua orang!"
"Tapi ini kirin!" sahut yang lainnya. "Sungguh suatu mukjizat bisa memiliki hewan ini hidup-hidup! Dan
tidakkah itu membuktikan bahwa Lord Otori adil dan bijaksana melebihi yang lainnya? Pertama
burung houou, burung suci kembali ke Tiga Negara, dan kini muncul seekor kirin!"
Orang itu menenggak lagi sakenya lalu menawarkan botolnya pada Takeo.
"Bersulang untuk kirin dan Lord Otori!" "Baiklah, terima kasih," sahut Takeo sambil tersenyum. "Aku
berharap bisa melihatnya suatu hari nanti."
"Tidak akan sebelum Lord Otori melihat¬nya!" Takeo masih tersenyum selagi berjalan menjauh,
kerasnya rasa sake membangkitkan semangatnya sama banyaknya dengan niat baik orang-orang
tadi.
Saat kudengar tidak lain dari kritikan tentang Lord Otori—saat itulah aku akan mengundurkan diri,
katanya pada diri sendiri. Tapi tidak sebelum saat itu tiba, walau dipaksa sepuluh kaisar dan jenderaljenderalnya
sekalipun.*
_________________________________________
* Kirin atau qilin (dalam bahasa cina) merupakan mahluk dongeng yang kemunnculannya dianggap sebagai
simbol kemakmuran negeri dan keadilan bangsa
Umedaya adalah sebuah rumah makan yang berada di antara pelabuhan dan distrik utama kota, satu
dari banyak bangunan rendah yang menghadap ke arah sungai dan diapit pohon¬pohon willow.
Lentera digantung di tiang¬tiang beranda dan di perahu-perahu besar pengangkut yang ditambatkan
di depannya dengan muatan berbal-bal beras dan gandum, serta hasil pertanian lainnya dari
pedalaman ke laut. Banyak pelanggan duduk di luar menikmati indahnya bulan yang kini berada di
atas puncak pegunungan, meman-tulkan warna keperakan pada alur gelom¬bang.
"Selamat datang! Selamat datang!" seru pelayan saat Takeo menyibak tirai rumah makan itu lalu
melangkah masuk; disebut¬nya nama Terada dan dia menunjuk ke sudut beranda yang ada di bagian
dalam. Fumio tampak sedang sibuk menelan ikan rebus dengan tergesa-gesa sambil berbicara
dengan
keras. Tabib Ishida duduk bersamanya, makan sama lahapnya, sambil mendengarkan dengan
senyum tipis di wajahnya. Beberapa anak buah Fumio. beberapa di antaranya sudah dikenal Takeo,
ada bersamanya.

Halaman 478 dari 478
Berdiri tanpa dikenali dalam kegelapan, Takeo mengamati kawan lamanya selama beberapa waktu.
Fumio tetap kelihatan kekar seperti biasa, dengan pipi tembam dan kumis tipis, meskipun kini
kelihatan ada bekas luka baru di salah satu pelipisnya. Ishida kelihatan lebih tua, lebih kurus kering,
kulitnya kekuningan.
Takeo senang melihat keduanya lalu melangkah naik ke area duduk. Salah satu mantan perompak
segera melompat berdiri menghalangi jalannya, mengira kalau ia hanyalah pedagang yang tak
penting. Tapi setelah beberapa saat terkejut dan ke¬bingungan, Fumio bangkit, mendorong anak
buahnya ke samping, sambil berbisik, "Ini Lord Otori!" lalu memeluk Takeo.
"Walaupun memang sedang menunggu¬mu, aku tidak mengenalimu!" serunya. "Misterius dan aneh:
aku tidak akan ter¬biasa."
Tabib Ishida tersenyum lebar. "Lord Otori!" Dipanggilnya pelayan untuk mem¬bawakan sake lagi.
Takeo duduk di samping Fumio, berhadapan dengan si tabib, yang mengamatinya dengan seksama
di bawah cahaya temaram.
"Ada masalah?" tanya Ishida setelah mereka bersulang.
"Ada beberapa hal yang perlu kubicara¬kan," sahut Takeo. Fumio memberikan isyarat dengan kepala,
lalu anak buahnya pindah ke meja lain.
"Aku ada hadiah untukmu," katanya pada Takeo. "Hadiah yang akan mengalihkan perhatianmu dari
masalah. Coba tebak apa hadiahnya! Lebih hebat dari apa pun yang pernah kau inginkan!"
"Ada satu hal yang kudambakan lebih dari segalanya," jawab Takeo. "Yaitu melihat seekor kirin
sebelum aku mati."
"Ah. Mereka sudah mengatakannya pada¬mu. Dasar manusia brengsek yang tak ber¬guna. Akan
kurobek mulut mereka."
"Mereka menceritakannya pada seorang pedagang miskin yang tak berani," sahut Takeo tertawa.
"Aku harus mencegahmu menghukum mereka. Lagipula, aku juga hampir tidak percaya pada mereka.
Apakah itu benar?"
"Ya dan tidak," kata Ishida. "Tentu saja, bukan kirin yang sesungguhnya: kirin adalah hewan dalam
dongeng, sedangkan yang ini adalah hewan sungguhan. Tapi hewan yang luar biasa, dan yang paling
mirip dengan kirin dibanding hewan lain yang pernah kulihat."
"Ishida jatuh hati pada hewan itu," tutur Fumio. "Dia menghabiskan waktu berjam¬jam menemaninya.
Ia lebih parah ketim¬bang kau dan kuda tuamu itu, siapa nama¬nya?"
"Shun," sahut Takeo. Shun mati karena usia tua tahun lalu; tak akan ada lagi kuda sepertinya.
"Kau tidak bisa menunggangi hewan ini, tapi mungkin bisa menggantikan Shun, agar kau bisa
mencurahkan kasih sayangmu," tutur Fumio.
"Aku ingin sekali melihatnya. Di mana hewan itu sekarang?"
"Di kuil Daifukuji; mereka menemukan taman yang tenang untuk hewan itu, dengan dinding yang
tinggi. Kami akan perlihatkan padamu besok. Karena kau sudah merusak kejutan kami, maka sekalian
saja ceritakan masalah-masalahmu pada kami." Fumio menuang sake lagi.
"Apa yang kau tahu tentang jenderal baru Kaisar?" tanya Takeo.
"Kalau kau tanya aku beberapa minggu lalu, aku akan jawab, 'Tidak tahu apa-apa,' karena kami
sudah pergi selama enam bulan, tapi kami pulang melalui Akashi, dan kota itu sibuk
membicarakannya. Namanya Saga Hideki, dengan julukan Pemburu Anjing."
"Pemburu Anjing?"
"Dia sangat suka berburu anjing, dan kabarnya mahir melakukannya. Jenderal itu mahir berkuda dan
memanah, serta ahli siasat perang yang cerdas. Mendominasi propinsi-propinsi di wilayah Timur,
kabar¬nya memiliki ambisi menaklukkan seluruh Delapan Pulau, dan baru-baru ini ditunjuk Kaisar
untuk bertempur atas nama Paduka Yang Mulia serta membinasakan musuh¬musuhnya dalam
rangka mencapai tujuan itu."

Halaman 479 dari 479
"Sepertinya aku termasuk dalam daftar musuhnya," ujar Takeo. "Putra Lord Fujiwara, Kono, datang
menghadapku hari ini. Ternyata Kaisar memintaku meng¬undurkan diri, dan jika aku menolak, beliau
akan mengirim si Penangkap Anjing untuk melawanku."
Wajah Ishida berubah pucat ketika nama Fujiwara disebut. "masalah," gumamnya.
"Apakah ada indikasi kalau senjata api di perdagangkan di Imai?"
"Tidak, justru sebaliknya; beberapa pedagang mendekatiku, menanyakan ten- tang senjata dan bubuk
mesiu, berharap menghindar pelarangan dari Otori. Mesti kuperingatkan padamu, mereka
menawar¬kan uang dalam jumlah besar. Jika jenderal Kaisar tengah bersiap melawanmu,
kemung¬kinan dia berusaha membeli senjata api: demi uang sebesar itu, cepat atau lambat akan ada
orang yang akan menyediakan senjata api."
"Aku khawatir mereka sudah dalam per¬jalanan," ujar Takeo, dan menceritakan pada Fumio tentang
kecurigaannya pada Zenko.
"Mereka punya waktu kurang dari sehari untuk memulainya," sahut Fumio, meneng¬gak habis
minumnya lalu berdiri. "Kita bisa hentikan mereka. Aku ingin melihat wajah¬mu saat kuperlihatkan
kirin, tapi nanti Ishida bisa menceritakannya padaku. Tahan Lord Kono di wilayah Barat sampai aku
kembali. Sebelum mereka bisa menandingi jumlah senjata api, mereka takkan memancingmu dalam
pertempuran. Angin bertiup dari arah barat: kita bisa mendapat laut pasang jika berangkat sekarang."
Dipanggil anak buah¬nya, dan mereka pun berdiri, menjejalkan sisa makanan, menenggak habis
sake, mengucapkan selamat tinggal pada pelayan perempuan dengan perasaan enggan. Takeo
memberitahu mereka nama kapalnya.
Fumio pergi begitu cepat hingga mereka hampir tidak sempat mengucapkan selamat berpisah.
Takeo ditinggal bersama Ishida. "Fumio tak berubah," katanya, terhibur dengan tin¬dakan cekatan
kawannya.
"Dia masih tetap sama," sahut Ishida. "Seperti angin topan, tidak pernah bisa diam." Si tabib menuang
sake lagi lalu minum sampai habis. "Dia adalah teman seperjalanan yang memberi semangat, namun
melelahkan."
Mereka berbincang-bincang tentang per¬jalanan, dan Takeo memberi kabar tentang keluarganya
yang selalu menyita perhatian Ishida, karena dia sudah menikah dengan Muto Shizuka selama lima
belas tahun.
"Rasa sakitmu terasa lagi?" tanya si tabib. "Kelihatan dari wajahmu."
"Ya, cuaca yang lembap memperburuknya: kadang kurasa masih ada sisa racun yang hingga terasa
panas. Acapkali lukanya kelihatan memerah di balik carutannya. Membuat sekujur tubuhku sakit."
"Akan kuperiksa nanti, berdua saja," sahut Ishida.
"Bisakah sekarang kau kembali bersama¬ku?"
"Aku punya cukup persediaan akar-akaran dari Shin, dan obat tidur terbuat dari bunga candu. Untung
saja kuputuskan untuk mem¬bawanya," komentar Ishida seraya meng¬ambil sebuah buntalan kain
dan kotak kayu kecil. Tadinya aku bermaksud meninggal¬kannya di kapal. Kalau tidak kubawa pasti
barang-barang ini sudah setengah perjalanan menuju Akashi dan tidak terlalu berguna bagimu."
Nada suara Ishida kedengaran murung. Takeo mengira dia akan melanjutkan bicara¬nya, namun
setelah beberapa saat dalam hening yang tidak mengenakkan, si tabib tampak berhasil
mengendalikan perasaannya; dikumpulkan barang-barangnya lalu berkata dengan riang, "Setelah itu
aku harus pergi memeriksa kirin. Aku akan menginap di Daifukuji malam ini. Kirin sudah terbiasa
denganku, bahkan terikat dengan diriku: aku tak ingin membuatnya gelisah."
Sedari tadi Takeo menyadari ada suara orang berdebat dari bagian dalam rumah makan, seorang
laki-laki berbicara dengan bahasa asing dan suara seorang perempuan menerjemahkan. Suara
perempuan itu membuatnya tertarik karena logatnya berasal dari wilayah Timur, meskipun perempuan
itu bicara dengan dialek setempat, dan ada sesuatu dengan intonasi suaranya yang tidak asing bagi
Takeo.
Ketika berjalan melewati ruang bagian dalam, Takeo mengenali si orang asing, yang dipanggil Don
Joao. Ia yakin belum pernah bertemu dengan perempuan yang berlutut di samping orang asing itu,
namun seperti ada sesuatu...

Halaman 480 dari 480
Selagi ia mengira-ngira siapa perempuan itu, si orang asing melihat Ishida lalu memanggilnya. Ishida
amat disukai orang asing itu dan menghabiskan banyak waktu menemani mereka, saling bertukar
ilmu pengetahuan medis, informasi tentang perawatan serta tanaman herbal, serta membandingkan
kebiasaan dan bahasa mereka.
Don Joao pernah bertemu Takeo beberapa kali, tapi selalu dalam suasana resmi, dan sepertinya saat
ini dia tidak bisa mengenali. Orang asing itu gembira bertemu sang tabib dan ingin agar dia duduk dan
mengobrol, tapi Ishida memohon pergi karena ada pasien yang membutuhkannya. Perempuan itu,
yang mungkin berusia dua puluh lima tahunan, melihat sekilas ke arah Takeo, yang terus
memalingkan wajah dari perempuan itu. Dia menerjemahkan perkataan Ishida— sepertinya
perempuan itu cukup fasih berbicara bahasa asing—lalu melayangkan pandangannya ke arah Takeo
lagi; kelihatan¬nya tengah mengamati Takeo dengan penuh seksama, seakan-akan mengira kalau
mung¬kin mengenal Takeo.
Perempuan itu mengangkat tangan untuk menutup mulut, dengan pakaiannya terlipat ke belakang
dan memperlihatkan kulit lengannya, halus dan gelap. Takeo merasa kulit perempuan itu amat mirip
dengan kulitnya, amat mirip dengan kulit ibunya.
Keterkejutannya tak terlukiskan, hingga tak kuasa mengendalikan diri, mengubahdirinya menjadi
seorang bocah yang ketakutan serta tersiksa. Perempuan itu tercekat lalu berkata, "Tomasu?"
Air mata menggenang di matanya. Tubuh perempuan itu terguncang karena luapan perasaan. Takeo
ingat pada seorang gadis cilik yang menangis dengan cara yang sama karena menangisi seekor
burung yang mati, kehilangan mainan. Selama ini ia menduga gadis cilik itu sudah tiada, tergeletak di
sebelah ibu dan kakak perempuannya yang mati terbujur kaku—perempuan itu memili¬ki ketenangan
serta wajah yang lebar mirip ibu dan kakak perempuannya, dan warna kulit yang sama dengannya.
Takeo menyebut nama adiknya dengan keras untuk pertama kalinya selama lebih dari enam belas
tahun:
"Madaren!"
Sirna sudah semua hal yang ada dibenak¬nya: ancaman dan wilayah Timur, misi Fumio merebut
senjata api yang diselundup¬kan, Kono, bahkan rasa sakitnya, bahkan kirin sekalipun. Ia hanya
mampu meman¬dangi adik yang dikiranya sudah tiada; hidupnya seperti meluruh lalu memudar. Yang
ada dalam ingatannya hanyalah masa kecilnya, keluarganya.
Ishida bertanya, "Lord, Anda baik-baik saja? Anda tidak sehat."
Takeo bicara dengan cepat pada Madaren, "Katakan pada Don Joao aku akan menemuinya besok.
Kabari aku di Daifukuji."
"Aku akan datang ke sana besok," sahutnya, dengan tatapan terpaku pada wajah Takeo.
Ia berhasil mcngendalikan diri lalu ber¬kata, "Kita tidak bisa bicara sekarang. Aku akan datang ke
Daifukuji; tunggu aku di sana."
"Semoga Dia memberkati dan melin¬dungimu," ujarnya, memanjatkan doa kaum Hidden saat
berpisah. Meskipun atas perin¬tahnya kaum Hidden kini bebas untuk ber¬ibadah secara terbuka,
tetap saja membuat¬nya terkejut melihat terungkapnya sesuatu yang sebelumnya merupakan
rahasia, sama seperti salib yang dikenakan Don Joao di dadanya tampak seperti pameran sesuatu
yang keji.
"Kau lebih tidak sehat dari yang kukira," seru Ishida saat mereka berdua berada di luar. "Perlu
kupanggilkan tandu?"
"Tidak, tentu saja tidak perlu!" Takeo mengambil napas dalam-dalam. Tadi hanya udara yang terasa
pengap. Juga terlalu banyak minum sake, terlalu cepat."
"Kelihatannya kau sangat terguncang. Kau mengenal perempuan itu?"
"Bertahun-tahun yang silam. Aku tidak tahu kalau dia menerjemahkan untuk orang asing."
"Aku pernah bertemu dengannya, tapi tidak akhir-akhir ini—aku pergi selama ber¬bulan-bulan." Kota
itu semakin senyap, cahaya dimatikan satu demi satu. Selagi mereka menyeberangi jembatan kayu di
luar Umedaya dan mengambil salah satu jalan sempit yang mengarah ke kediaman, Ishida
berkomentar, "Perempuan itu mengenalmu bukan sebagai Lord Otori, tapi sebagai orang lain."

Halaman 481 dari 481
"Seperti yang tadi kubilang, aku sudah sangat lama mengenalnya, sebelum aku menjadi Otori."
Takeo masih setengah tercengang dengan pertemuan tadi—dan cenderung setengah
menyangsikannya. Bagaimana mungkin itu adiknya? Bagaimana dia bisa selamat dari pembantaian
yang menghabisi keluarga dan membakar habis desanya? Tak diragukan lagi bahwa dia bukan
sekadar seorang juru bahasa: terlihat olehnya pada tangan dan mata Don Joao. Pria asing itu kerap
mengun¬jungi rumah pelacuran itu seperti laki-laki lain, tapi sebagian besar perempuan
peng¬huninya enggan tidur dengan mereka, hanya pelacur kelas terendah yang tidur dengan mereka.
Ia merasa ngeri saat memikirkan hidup seperti apa yang telah dijalani adiknya.
Namun perempuan itu memanggil dengan nama aslinya. Dan Takeo pun mengenalinya.
Di rumah terakhir sebelum sampai di gerbang kediaman, Takeo menarik Ishida ke bawah bayangan
gelap. "Tunggu di sini sebentar. Aku harus masuk tanpa terlihat. Aku akan mengirim perintah pada
penjaga agar membiarkanmu masuk."
Gerbang sudah ditutup, disingsingkannya keliman panjang jubahnya ke sabuk lalu memanjat dinding
dengan cukup ringan, kendati hentakan saat mendarat di sisi dinding satunya membuat sakitnya
terasa lagi. Menghilang, lalu menyelinap melewati taman yang sunyi, melewati Jun dan Shin menuju
ke kamarnya. Mengganti pakaian dengan jubah tidur lalu meminta dibawakan lentera dan teh,
mengirim Jun untuk mengatakan pada penjaga agar membiarkan Ishida masuk.
Si tabib tiba: mereka saling memberi salam dengan riang, seolah belum bertemu selama enam bulan
lamanya. Pelayan perempuan menuang teh dan membawakan lagi air panas, lalu Takeo
menyuruhnya pergi. Dilepasnya sarung tangan sutra yang me¬nutupi tangan cacatnya dan Ishida
menarik lentera lebih dekat agar bisa melihatnya. Di¬tekannya jaringan kulit yang tumbuh
meng¬gantikan jaringan yang rusak dengan ujung jarinya lalu melemaskan jari yang tersisa.
"Kau masih bisa menulis dengan tangan ini?"
"Setelah berlatih berulang kali. Aku me¬nulis dengan tangan kiri." Diperlihatkannya pada Ishida.
"Rasanya aku masih bisa ber¬tarung menggunakan pedang, tapi tidak ada alasan untuk itu selama
bertahun-tahun."
"Tidak kelihatan memerah karena infeksi," kata Ishida akhirnya. "Aku akan mencoba dengan jarum
besok, untuk mengiris garis bujurnya. Untuk sementara waktu, ini akan membantumu untuk tidur."
Selagi menyiapkan teh, Ishida bicara dengan suara pelan, "Aku sering membuat ini untuk istriku. Aku
takut bertemu Kono; hanya mengetahui putranya berbaring di dalam kediaman ini, telah mengorek
banyak kenangan. Aku ingin tahu apakah dia seperti ayahnya."
"Aku belum pernah bertemu Fujiwara."
"Kau beruntung. Aku menjalankan perin¬tahnya, selama hampir seumur hidupku. Aku tahu dia orang
yang kejam tapi dia selalu memperlakukan diriku dengan baik, menye¬mangatiku untuk belajar dan
melakukan perjalanan, mengijinkan aku melihat koleksi buku-bukunya yang berharga juga harta
benda yang lainnya. Kupalingkan wajahku dari kegermarannya yang keji. Aku tidak pernah
menyangka kekejamannya akan menimpa diriku."
Tiba-tiba Ishida berhenti bicara dan menuang air mendidih ke atas herba kering. Aroma samar-samar
dari rumput musim panas menyeruak, harum dan menenang¬kan.
"Istriku pernah cerita sedikit tentang saat¬saat itu," sahut Takeo pelan.
"Hanya gempa yang menyelamatkan kami. Belum pernah aku begitu ketakutan, meski¬pun pernah
menghadapi berbagai macam bahaya: badai di laut, kapal karam, perompak dan orang primitif. Aku
pernah menghempa-skan diri di bawah kakinya dan memohon agar diijinkan bunuh diri. Dia berpurapura
mengabulkannya, mempermainkan rasa takutku. Terkadang aku memimpikannya; sesuatu yang
tak akan pulih dalam diriku; sungguh suatu perwujudan iblis dalam diri manusia."
Ishida berhenti sebentar, tenggelam dalam kenangannya. "Saat itu anjingku melolong," tuturnya
dengan amat pelan. "Bisa kudengar anjingku melolong. Dia selalu memperingat¬kanku tentang
gempa dengan cara seperti itu. Kutemukan diriku bertanya-tanya apakah ada orang yang
memeliharanya."
Diambilnya mangkuk lalu diberikan pada Takeo, "Aku mohon maaf yang sedalam¬dalamnya atas
keterlibatanku dalam memen¬jarakan istrimu."

Halaman 482 dari 482
"Semua itu sudah berlalu," sahut Takeo, seraya mengambil mangkuk tadi lalu me¬nenggaknya
sampai habis dengan rasa syukur.
"Namun bila putranya sama seperti ayah¬nya, dia hanya akan menyakitimu. Waspada¬lah."
"Kau memberiku obat dan memperingat¬kanku dalam satu tarikan napas," ujar Takeo. "Mungkin aku
memang harus menahan rasa sakit ini—paling tidak untuk membuatku tetap terjaga."
"Aku harus berada di sini bersamamu..."
"Jangan. Kirin membutuhkanmu. Anak buahku ada di sini untuk menjagaku. Untuk sementara ini aku
tidak dalam bahaya."
Takeo berjalan melewati taman bersama Ishida sampai ke gerbang, merasa lega karena rasa
sakitnya mulai berkurang. Ia tidak terjaga lama—hanya cukup lama untuk menghitung kejadian luar
biasa hari ini: Kono, ketidaksenangan Kaisar. Si Pemburu Anjing, kirin dan adiknya: apa yang akan
dilakukannya dengan Madaren, perempuan milik si orang asing. salah satu kaum Hidden, adik
perempuan Lord Otori?*
Melihat kakak laki-laki yang dikiranya sudah tiada, bagi perempuan yang dulunya dipanggil Madaren
tak kurang terkejutnya, nama yang biasa dipakai kaum Hidden. Selama bertahun-tahun setelah
peristiwa pembantaian. Madaren berganti nama men¬jadi Tomiko, nama yang diberikan perempu¬an
yang membelinya dari prajurit Tohan. Prajurit yang turut ambil bagian dalam pemerkosaan dan
pembunuhan ibu serta kakak perempuannya, namun Maraden tidak ingat semua dari kejadian itu:
yang diingat¬nya hanyalah hujan musim panas, bau keringat kuda ketika pipinya menempel di
lehemya, tangan laki-laki yang memegangi tubuhnya, tangan yang sepertinya lebih besar dan lebih
berat dibandingkan sekujur tubuh¬nya. Semuanya berbau asap dan lumpur dan sadar kalau ia takkan
bersih lagi. Saat awal terjadinya kebakaran, kuda kuda dan pedang, ia berteriak memanggil ayahnya,
memanggil
Tomasu, seperti yang dilakukannya pada awal tahun itu ketika terjatuh ke sungai berarus deras dan
terjebak di bebatuan sungai yang licin, dan Tomasu mendengar teriakan¬nya dari sawah lalu berlari
menghampiri untuk menariknya keluar dari sungai, meng¬hardik juga menenangkannya.
Tapi kali ini Tomasu tidak mendengar teriakannya; begitu pula ayahnya yang telah tiada; tak seorang
pun mendengar teriakan¬nya dan tak seorang pun datang menolong¬nya.
Banyak anak, tidak hanya yang hidup di kalangan kaum Hidden, merasakan pen¬deritaan yang sama
ketika Iida Sadamu berkuasa di kastil berdinding hitam miliknya di Inuyama; begitu pula dengan
situasi yang berubah setelah Inuyama jatuh ke tangan Arai. Beberapa di antaranya bertahan hidup
hingga dewasa, Madaren merupakan salah satunya, salah satu dari sejumlah besar gadis yang
melayani kebutuhan klas ksatria, menjadi pelayan rumah, pelayan dapur atau penghuni rumah
pelacuran. Mereka tidak punya keluarga, sehingga tanpa perlindung¬an; Madaren bekerja pada
perempuan yang membelinya, menjadi kelas terendah dari
pelayan, menjadi orang pertama yang bangun di pagi hari dan tidak boleh tidur sebelum pelanggan
terakhir pulang. Ia mengira kelelahan dan rasa lapar telah membuat diri¬nya kebal terhadap segala
sesuatu di se¬kelilingnya, tapi saat dewasa dan segera men¬jadi gadis yang disukai, ia menyadari
kalau selama ini telah belajar dari gadis-gadis yang lebih tua, dengan mengamati serta
men¬dengarkan mereka, dan menjadi bijaksana tanpa menyadarinya pada sasaran—benar, satusatunya
sasaran mereka yaitu para laki¬laki yang datang berkunjung.
Rumah pelacuran barangkali merupakan tempat yang paling kejam di Inuyama, terletak jauh dari
kastil di salah satu jalan sempit yang terbentang di jalan utama, tempat rumah-rumah kecil yang
dibangun kembali setelah kobaran api meluluh¬lantakkan semuanya bak sarang tawon yang saling

Halaman 483 dari 483
berdempetan. Tapi semua laki-laki memiliki hasrat, bahkan kuli pengangkut barang, buruh serta kuli
angkut tanah di malam hari, dan di antara mereka ini banyak yang bisa diperdayai oleh cinta seperti
laki¬laki golongan klas lainnya. Itulah yang dipelajari Madaren; pada waktu yang ber
samaan ia juga belajar bahwa perempuan yang dikuasai cinta merupakan makhluk yang paling tak
berdaya di kota ini, dengan mudahnya disingkirkan bak anak kucing yang tidak diinginkan, dan ia
memanfaatkan apa yang dipelajarinya ini dengan cerdas. Ia mau pergi dengan laki-laki yang dijauhi
oleh gadis-gadis lain, memanfaatkan rasa terima kasih mereka. Ia bisa memeras hadiah dari mereka,
atau kadang mencurinya, dan pada akhirnya membiarkan seorang pedagang yang hampir bangkrut
membawanya ke Hofu, pergi meninggalkan rumah sebelum matahari terbit lalu menemui laki-laki itu
galangan kapal yang masih berkabut. Mereka me¬numpang kapal yang mengangkut kayu cedar dari
hutan menuju wilayah Timur, dan aroma kayu itu mengingatkannya pada Mino, tanah kelahirannya.
Hal itu meng¬ingatkannya pada keluarganya dan laki-laki agak aneh yang menjadi kakaknya, yang
membuat gusar sekaligus memesona ibu mereka. Air mata menggenang di matanya saat meringkuk
di bawah papan tebal, dan ketika kekasihnya berbalik untuk memeluk¬nya. Madaren menampiknya.
Pedagang itu membosankan serta membuatnya gusar, dan
akhimya ia kembali ke kehidupan lamanya, bergabung ke rumah pelacuran yang lebih tinggi kelasnya
dibandingkan yang pertama.
Kemudian orang-orang asing berjanggut berdatangan, bau mereka yang aneh dan tubuh mereka
yang besar. Madaren melihat ada semacam kekuatan dalam diri mereka yang mungkin bisa
dimanfaatkan dan dengan sukarela tidur dengan mereka; ia memilih orang yang bernama Don Joao,
walaupun laki-laki itu mengira kalau dialah yang memilih Madaren: orang-orang asing bersifat
sentimental sekaligus pemalu bila sudah berhubungan dengan kebutuhan jasmani: mereka ingin
merasa istimewa bagi seorang perempuan, bahkan setelah mereka membeli¬nya. Mereka memberi
bayaran yang memadai dalam mata uang perak; Madaren berhasil menjelaskan pada pemilik rumah
bahwa Don Joao hanya menginginkannya, dan tak lama kemudian ia tidak harus tidur dengan
laki¬laki lain.
Awalnya, bahasa mereka hanyalah bahasa tubuh: nafsu si laki-laki, kemampuan si perempuan
memuaskannya. Orang-orang asing sebelumnya memiliki seorang juru bahasa, seorang nelayan yang
mereka
selamatkan dari laut oleh kaum mereka karena kapalnya tenggelam dan dibawa ke markas mereka di
Kepulauan Selatan. Nelayan itu mempelajari bahasa mereka: kadang menemani mereka ke rumah
pelacuran; jelas dari cara bicaranya kalau si nelayan tidak berpendidikan dan berasal dari klas
rendahan, namun hubungannya dengan orang asing memberinya status dan kekuasa¬an. Mereka
bergantung sepenuhnya kepada¬nya. Nelayan itu merupakan pintu masuk mereka ke dunia baru
yang rumit, yang mereka temukan dan mereka harapkan bisa meraih kekayaan dan kemenangan.
Mereka percaya semua yang dikatakannya, bahkan ketika dia hanya mengarang sembarangan.
Aku juga bisa meraih kekuasaan semacam itu, karena nelayan itu tidak lebih baik dariku, pikir
Madaren, dan ia mulai berusaha me¬mahami Don Joao, lalu mendorong laki-laki itu untuk
mengajarinya. Bahasanya sulit, penuh dengan bunyi aneh dan dikumpulkan dari depan ke belakang—
semuanya memiliki jenis kelamin. Ia tak bisa membayangkan alasannya, tapi pintu termasuk jenis
perempuan, begitu pula hujan; sedangkan lantai matahari berjenis laki-laki—tapi hal itu
justru memesonanya; dan jika bicara dengan bahasa itu pada Don Joao, ia merasa seperti menjadi
orang lain. Karena Madaren sema¬kin fasih—Don Joao tidak menguasai lebih dari beberapa patah
kata dari bahasa Madaren—mereka mulai membicarakan hal¬hal yang lebih mendalam. Don Joao
mem¬punyai istri dan anak-anak di Porutogaru*, kampung halamannya, orang-orang yang dia tangisi
ketika sedang mabuk. Madaren tidak mengindahkan mereka, tak percaya kalau Don Joao bisa
bertemu mereka lagi. Mereka begitu jauh hingga ia tak mampu membayangkan seperti apa kehidupan
mereka, dan Don Joao bicara tentang kepercayaan serta Tuhannya—Deus**— dan kata-kata
serta salib yang dikalungkan di lehernya membangkitkan kenangan masa kecil Madaren tentang
kepercayaan keluarga¬nya dan ritual kaum Hidden.

Halaman 484 dari 484
Don Joao bicara penuh semangat tentang Deus, dan menceritakan tentang pendeta dalam agamanya
yang berkeinginan kuat agar negara lain menganut kepercayaan mereka. Hal ini mengejutkan
Madaren. Ia hanya
*) Porutogaru adalah lafal Jepang untuk menyebut Portugal [pent.]
**) Deus berarti Tuhan dalam bahasa Portugal [pent.]
ingat sedikit tentang kepercayaan kaum Hidden, hanya ingat gema doa serta ritual yang dilakukan
keluarganya dengan komu¬nitas kecil mereka. Penguasa baru Tiga Negara, Otori Takeo,
mengeluarkan ke¬putusan bahwa rakyatnya bebas beribadah dan percaya pada kepercayaan pilihan
me¬reka, dan prasangka lama pun perlahan menghilang. Tentu saja, banyak yang tertarik dengan
agama orang asing dan bahkan berkeinginan mencoba bila itu bisa mening¬katkan perdagangan dan
kekayaan bagi semua orang. Ada juga kabar burung yang mengatakan bahwa Lord Otori dulunya
adalah orang Hidden, dan bahwa penguasa Maruyama yang sebelumnya, Maruyama Naomi, juga
menganut kepercayaan itu. Tapi menurut Madaren keduanya tak mungkin melakukannya—karena
bukankah Lord Otori membunuh kakek pamannya untuk balas dendam? Bukankah Lady Maruyama
menceburkan diri ke sungai di Inuyama ber¬sama putrinya? Satu hal yang diketahui semua orang
tentang kaum Hidden yaitu Tuhan mereka, Tuhan Rahasia, melarang mereka mencabut nyawa, baik
nyawa mereka sendiri maupun nyawa orang lain.
Pada titik inilah sepertinya Tuhan Rahasia dan Deus berbeda, karena Don Joao men¬ceritakan kalau
mereka adalah orang ber¬agama sekaligus prajurit. Apakah itu keduanya atau tidak satu pun, selalu
atau tidak pernah, sudah atau belum? Don Joao selalu bersenjatakan pedang panjang tipis, penutup
kepalanya berlekuk dan melindungi, bertahtakan emas dan kerang mutiara, dan membual bila dia
selalu punya tujuan untuk menggunakan pedang ini. Orang asing itu terkejut karena penyiksaan
dilarang di Tiga Negara, dan menceritakan bagaimana ke¬kerasan digunakan di negaranya dan
ter¬hadap penduduk asli Kepulauan lain untuk menghukum, untuk mendapatkan informasi serta
menyelamatkan nyawa.
"Saat pendeta datang, kau harus dibaptis," kata Don Joao, dan ketika Madaren me¬mahami
maksudnya, ia ingat yang sering dikatakan ibunya: dilahirkan dengan air, lalu menyebut nama
baptisnya.
"Madalena!" ulang Don Joao dengan terperanjat, lalu membuat gerakan berbentuk tanda salib di
depannya. Orang itu tertarik setengah mati pada kaum Hidden, dan ingin bertemu lebih banyak lagi
penganutnya;
Madaren menangkap ketertarikannya dan mereka mulai bertemu dengan para penganut dalam
jamuan makan di kalangan kaum Hidden. Don Joao mengajukan banyak per¬tanyaan dan Madaren
menerjemahkannya, juga jawabannya. Madaren bertemu dengan orang-orang yang mengetahui
desanya dan mendengar tentang pembantaian bertahun¬tahun yang lalu di Mino; menurut mereka, ia
bisa selamat merupakan mukjizat, dan menyatakan kalau Madaren masih dibiarkan hidup oleh Tuhan
Rahasia untuk tujuan isti¬mewa tertentu. Madaren menyambut kem¬bali kepercayaan yang pernah
hilang dari masa kecilnya dengan hangat, lalu mulai menunggu waktu untuk menjalankan misi.
Kemudian Tomasu dikirimkan padanya, maka ia tahu misi itu berhubungan dengan kakaknya.
Orang-orang asing hanya memahami sedikit sekali tentang sikap dan kesopanan, dan Don Joao
berharap Madaren mene¬maninya kemana pun ia pergi, terutama untuk menerjemahkan. Dengan
keyakinan mencapai tujuan yang dibawanya sejak berhasil lolos dari Inuyama dan mempelajari
bahasa asing, ia mempelajari keadaan di
sekelilingnya yang masih asing, selalu ber¬lutut dengan rendah hati sedikit di belakang orang-orang
asing dan lawan bicara mereka, bicara dengan pelan dan jelas, serta mem¬perindah terjemahannya
bila terdengar kurang sopan. Seringkali ditemukan dirinya berada di rumah para pedagang, sadar
akan tatapan penuh hina serta kecurigaan dari istri-istri dan anak perempuan mereka dan bahkan
kadang di tempat-tempat yang lebih berkelas, terakhir bahkan di kediaman Lord Arai. Ia merasa
kagum pada dirinya sendiri, satu hari berada di ruangan yang sama dengan Lord Arai Zenko, lalu

Halaman 485 dari 485
berikutnya di penginapan semacam Umedaya. Nalurinya ternyata benar: kemampuannya berbahasa
asing membuka jalan pada sebagian dari kekuasaan serta kebebasan mereka. Dan sebagian dari
kekuasaan itu dia gunakan untuk memanfaatkan orang-orang itu: mereka membutuhkannya dan mulai
meng¬andalkan dirinya.
Madaren pernah bertemu tabib Ishida beberapa kali, dan bertindak sebagai juru bahasa dalam
perbincangan yang panjang; Ishida kadang membawa teks-teks dan mem¬bacakannya untuk
diterjemahkan karena
Madaren tidak bisa membaca maupun menulis; Don Joao juga membacakan kitab suci untuknya dan
mengenali potongan¬poiongan kalimai dari doa dan pemberkatan di masa kecilnya.
Malam itu Don Joao melihat Ishida lalu memanggilnya, berharap bisa berbincang, namun Ishida
memohon pergi karena ada pasien yang membutuhkannya. Madaren menduga kalau pasiennya itu
adalah kawan¬nya dan memelihat laki-laki yang satunya lagi, memerhatikan tangannya yang cacat
dan kerutan di matanya. Ia tidak langsung mengenalinya, namun jantungnya seperti berhenti berdetak
kemudian berdebar-debar, seolah kulitnya mengenali laki-laki itu dan segera mengenalinya kalau
mereka lahir dari ibu yang sama.
Madaren nyaris tak bisa tidur, menemu¬kan tubuh si orang asing di sebelahnya teramat sangat
panas, dan menyelinap keluar sebelum matahari terbit, dan berjalan menyusuri tepi sungai di bawah
pohon willow. Bulan melintasi langit dan kini menggantung di barat, membulat serta pucat. Ombak laut
surut dan kepiting berlarian cepat di atas lumpur yang mengering,
bayangan mereka tampak seperti tangan yang sedang menggenggam. Madarien tidak ingin
mengatakan pada Don Joao kemana ia pergi: tidak ingin harus berpikir dalam bahasa laki¬laki itu atau
khawatir tentang laki-laki itu. Ia berjalan melewati jalanan sempit menuju rumah tempat ia dulu
bekerja, membangun¬kan pelayannya, mandi dan berpakaian di sana; lalu duduk tenang dan minum
teh hingga mentari pagi bersinar terang. Selama berjalan ke Daifukuji, benak Madaren tersita oleh
keragu-raguan: kemarin itu bukan Tomasu; dia salah lihat, memimpikan tentang semuanya; dia
takkan datang; jelas sekali kalau kedudukannya amat tinggi, dia seperti pedagang meskipun jelas
bukan pedagang yang berhasil—yang tak ingin punya hubungan apa-apa dengannya. Dia tidak
datang menghampiri untuk menolong¬nya; selama ini ternyata dia masih hidup dan tidak berusaha
mencarinya. Madaren berjalan perlahan, melupakan aliran sungai yang tergesa-gesa di sekelilingnya
ketika gelom¬bang laut pasang menyapu.
Daifukuji menghadap ke laut: gerbang merahnya bisa terlihat dari seberang ombak laut, menyambut
para pelaut dan pedagang
serta mengingatkan mereka untuk bersyukur pada Ebisu, dewa laut, agar melindungi mereka selama
perjalanan. Madaren melihat¬lihat ukiran dan area di kuil itu dengan perasaan tidak suka, karena ia
telah percaya, seperti halnya Don Jolo, kalau benda-benda semacam itu dibenci Tuhan Rahasia dan
sama seperti menyembah setan. Ia bertanya¬tanya sendiri mengapa memilih tempat seperti ini untuk
bertemu, takut kalau kakak¬nya bukan lagi penganut kepercayaan, menyelipkan tangannya di balik
jubahnya untuk menyentuh salib pemberian Don Joao, dan menyadari pasti inilah misinya:
menye¬lamatkan Tomasu.
Madaren berjalan masuk gerbang, me¬nunggu kakaknya, setengah tidak nyaman dengan lantunan
doa dan genta dari dalam kuil, meskipun terpesona dan terbuai oleh keindahan tamannya. Bunga lili
menghiasi tepian kolam, dan belukar azalea musim panas pertama bermekaran menjadi bunga
berwarna merah tua. Sinar matahari terasa makin panas dan bayangan taman semakin menariknya
masuk. Ia berjalan ke aula utama. Di sebelah kanannya berdiri beberapa pohon cedar tua, yang dililit
tali jerami yang
berkilauan, dan tepat di belakangnya ter¬dapat kurungan berdinding putih di sekitar taman dengan
pepohonan yang jauh lebih kecil, ia menduga itu pohon ceri walaupun bunganya sudah lama gugur.
Kerumunan kecil sebagian besar rahib dengan kepala botak dan jubah berwarna tidak mencolok,
berdiri di luar dinding, memandang ke atas. Madaren mengikuti arah pandangan mereka dan dan
melihat apa yang sedang mereka perhatikan: awalnya ia mengira itu, patung ukiran, penggambaran

Halaman 486 dari 486
semacam inkarnasi perwujudan atau iblis kemudian benda itu mengedipkan mata dengan bulu
matanya yang panjang, mengepakkan telinganya yang datar, lalu menjilat hidungnya yang berwarna
coklat muda kekuningan lembut dengan lidah abu-abu tuanya. Makhluk itu memalingkan kepala
bertanduknya dan menatap ramah ke arah para pengagumnya. Ternyata itu makhluk hidup: tapi
makhluk apa yang punya leher begitu panjang hingga bisa melihat ke balik dinding yang lebih tinggi
dari manusia yang paling tinggi sekalipun?
Itu adalah kirin.
Selagi Madaren memandangi hewan yang
luar biasa itu, kelelahan dan kebimbangan dalam benaknya membuatnya serasa ber¬mimpi.
Kemudian terlihat kesibukan dari gerbang utama kuil, dan didengarnya suara laki-laki berseru dengan
penuh semangat, "Lord Otori sudah datang!" Madaren seolah tersentak dari mimpinya selagi berlutut
lalu melihat penguasa Tiga Negara itu berjalan memasuki taman dan dikelilingi sebarisan ksatria.
Laki-laki itu mengenakan jubah musim panas resmi berwarna krem dan emas, dengan topi hitam
kecil, namun dilihatnya tangan cacat bersarung sutra, dan mengenali wajahnya, dan menyadari kalau
orang itu adalah Tomasu, kakaknya.*
TAKEO sadar kalau adiknya tengah berlulut dengan sikap rendah hati di bawah bayangan di bagian
samping taman, tapi ia tidak memerhatikannya. Bila adiknya memang akan tetap di situ, maka Takeo
akan bicara padanya berdua saja: bila dia pergi dan menghilang lagi dari hidupnya, apa pun yang
dirasakannya entah kesedihan atau penye¬salan, ia takkan mencarinya. Bakal lebih baik, mungkin
juga lebih mudah, bila adiknya menghilang. Akan cukup mudah untuk mengaturnya: terbersit olehnya
pikiran itu namun kemudian menyingkirkannya jauh¬jauh. Takeo akan menangani adiknya dengan
adil, seperti yang akan dilakukannya pada Zenko dan Kono: dengan perundingan, menurut hukum
yang telah dibuatnya sendiri.
Seakan Surga makin menunjukkan dukungannya, gerbang menuju taman yang dikelilingi dinding
terbuka dan kirin muncul.
Ishida mengendalikannya dengan seuntai tali terbuat dari sutra merah yang diikatkan pada untaian
kalung mutiara. Tinggi kepala Ishida tidak sampai setinggi bagian paling atas punggung kirin, namun
hewan itu mengikutinya dengan sikap percaya diri sekaligus berwibawa. Kulitnya berwarna merah
bata pucat, terpecah menjadi corak bergaris bentuk berwarna krem berbentuk dan sebesar telapak
tangan manusia.
Hewan itu mengendus aroma air lalu merentangkan leher panjangnya ke arah kolam. Ishida
membiarkannya mendekat, lalu hewan itu merentangkan kaki ke samping agar bisa menunduk untuk
minum.
Kerumunan kecil biarawan dan prajurit tertawa kegirangan karena tampak seolah hewan
mengagumkan itu membungkuk hormat pada Lord Otori.
Takeo pun gembira melihat kejadian itu. Ketika ia mendekat, hewan itu membiar¬kannya mengelus
kulitnya yang lembut dan bercorak indah itu. Hewan itu tampak tidakk terlalu takut, walaupun lebih
suka tetap berada di dekat Ishida.
"Hewan ini jantan atau betina?" tanyanya. "Kurasa, betina," jawab Ishida. "Hewan ini
tidak memiliki alat kelamin jantan, dan lebih lembut dari yang bisa kuharapkan dari hewan jantan
sebesar ini. Tapi dia masih sangat muda. Mungkin akan memperlihatkan beberapa perubahan saat
tumbuh semakin besar, pada saat itulah kita bisa yakin."

Halaman 487 dari 487
"Di mana kau menemukannya?"
"Di selatan Tenjiku. Tapi dia berasal dari pulau lain, masih jauh lagi ke barat; para pelaut
membicarakan tentang benua yang amat besar tempat hewan-hewan seperti ini merumput dalam
jumlah besar bersama gajah darat dan sungai, singa emas raksasa dan burung berwarna merah
muda. Orang¬orangnya berukuran dua kali lebih besar daripada kita, berkulit sehitam warna pernis,
dan mampu membengkokkan besi dengan tangan kosong."
"Dan bagaimana kau bisa mendapatkan¬nya? Tentunya hewan seperti ini tak ternilai harganya?"
"Hewan ini ditawarkan padaku sebagai semacam alat pembayaran," sahut Ishida. "Aku berhasil
mengobati seorang pangeran di daerah itu. Aku langsung berpikir tentang Lady Shigeko, dan betapa
dia akan sangat menyukainya, maka aku terima tawaran ini
dan mengatur agar hewan ini bisa menemani kami pulang."
Takeo tersenyum memikirkan keahlian putrinya dengan kuda dan kasih sayangnya pada semua
hewan.
"Tidakkah sulit untuk mempertahankan agar dia tetap hidup? Apa makanannya?"
"Untungnya perjalanan pulang tidak ber¬ombak, dan kirin bersifat tenang serta mudah dihibur.
Makanannya dedaunan dari pohon tempat asalnya, tapi ternyata se-nang juga menerima rumput,
segar atau pun kering, serta dedaunan hijau yang lezat."
"Bisakah dia berjalan sampai ke Hagi?"
"Barangkali kita harus mengangkutnya dengan kapal. Hewan ini bisa berjalan bermil-mil jauhnya
tanpa kelelahan, namun kurasa tidak bisa berjalan melewati pe¬gunungan."
Ketika selesai mengagumi kirin, Ishida membawa hewan itu kembali ke kandang, kemudian pergi
bersama Takeo menuju kuil, tempat upacara singkat dilakukan, doa dipanjatkan bagi kesehatan kirin
dan Lord Otori. Takeo menyalakan dupa dan lilin serta berlutut di depan patung dewa; dilaku¬kannya
semua praktik keagamaan yang
diharapkan darinya dengan khidmat dan hormat; semua sekte dan kepercayaan diperbolehkan di Tiga
Negara, selama tidak mengancam tatanan rnasyarakat. Ia sendiri memercayai tuhan manapun, walau
diakui-nya keseluruhan manusia akan alasan spiritual bagi keberadaan mereka, dan tentu dirinya pun
memiliki kebutuhan yang sama.
Setelah melakukan upacara, yang ada penyembahan atas sang Pencerah dan Ebisu dewa laut, teh
dibawa masuk dengan manisan osenbei. Takeo, Ishida dan Kepala Biara setempat bercerita dengan
gembira dan menggubah puisi penuh dengan permainan kata-kata tentang kirin.


Baca Selanjutnya...

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified