Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Harsh Cry of the Heron Part 2

Sunaomi bisa melihat bunganya: satu¬satunya benda yang terlihat dalam kegelapan. Dia bergegas ke arah bunga itu, dan dengan sembarangan mencabut beberapa tangkai. Dia lalu lari, tapi tersandung sebongkah batu dan jatuh terjerembab. Bau tanah dan rasa¬nya mengingatkannya pada pemakaman dan mayat, dan betapa tak lama lagi dia akan ter- baring di kuburan, merasakan sensasi ter¬akhir dalam hidupnya. Lalu dia memaksakan diri berjalan me¬rangkak sekuat tenaga dan meludahkan tanah di mulutnya. Sunaomi berdiri, menggapai dan mematahkan sebatang ranting. Semak itu segera mengeluarkan getah berbau tajam, dan Sunaomi mendengar langkah kaki di di belakangnya. Saat berbalik, matanya langsung silau terkena cahaya. Yang terlihat hanyalah satu sosok setengah badan seorang perempuan, tapi hanya sebagian badan, yang pasti baru keluar dari liang lahat. Bayangan bergerak¬gerak di atasnya; tangan itu terulur ke arah Sunaomi. Lenteranya agak sedikit naik; cahaya jatuh tepat di wajah perempuan itu. Perempuan itu tidak punya mata, mulut juga hidung. Pertahanan dirinya bobol. Sunaomi menjerit; air terasa mengalir di celananya. Dibuangnya ranting yang ada di tangannya. "Maafkan aku, Lady Akane. Maaf. Ku¬mohon jangan sakiti aku. Jangan kubur aku!" "Apa-apaan ini?" ada suara, suara manusia, suara laki-laki. "Apa yang sedang kau laku¬kan tengah malam begini?" Tapi Sunaomi tak mampu menjawab. *** Taro yang menginap di rumah Akane sambil mengerjakan patung, segera membawa bocah itu kembali ke kastil. Sunaomi tidak terluka, selain ketakutan setengah mati. Keesokan paginya dia tidak mengakui, namun luka telah tertoreh di hatinya, dan meskipun sudah pulih, luka yang masih membekas mengandung kebencian yang mendalam ter¬hadap Maya dan Miki. Sejak itu, Sunaomi terus merenungkan kematian kakeknya, dan serangan Klan Otori terhadap Arai. Pikiran kanakkanaknya mencari cara untuk me¬nyakiti Maya dan Miki. Dia mulai meng ambil hati para perempuan penghuni rumah itu, menebar pesona dan menghibur mereka; lagipula sebagian besar dari mereka menyukai anak laki-laki. Sunaomi merindukan ibunya, tapi nalurinya mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan tempat yang tinggi dalam kasih sayang bibinya, Kaede, jauh lebih tinggi ketimbang pada si kembar. *** Takeo dan Kaede merasa gusar atas kejadian ini. Jika Sunaomi terbunuh atau terluka parah saat dalam perlindungan mereka, ter¬lepas dari kesedihan orang di kastil menyayangi kedua bocah, maka strategi untuk meredam dan membendung Zenko akan hancur berantakan. Takeo juga memarahi Sunaomi atas ketidakpatuhan dan keberaniannya yang gegabah, dan menanyai¬nya penuh selidik tentang alasannya, curiga kalau keponakannya tak akan melakukan hal itu tanpa ada yang memancingnya. Tidak butuh waktu lama untuk mengungkap kebenarannya, dan kemudian giliran Maya menghadapi kemarahan ayahnya. Kali ini Takeo lebih gusar pada Maya, karena putrinya tidak menunjukkan penye¬salan ataupun rasa bersalah, dan tatapan matanya kejam dan tanpa belas kasihan, bak seekor hewan. Dia tidak menangis, bahkan ketika Kaede mengutarakan ketidak-senangannya dan menamparnya beberapa kali. "Maya benar-benar keterlaluan," kata Kaede, berlinang air mata karena kesal. "Dia tidak bisa tinggal di sini. Bila dia tak bisa dipercaya tinggal bersama anak laki-laki..." Takeo mendengar kecemasan Kaede pada bayi yang dikandungnya. Ia tak ingin mengirim Maya pergi; Ia merasa putrinya butuh pengawasannya, tapi ia terlalu sibuk untuk terus berada di samping putrinya. Halaman 541 dari 541 "Tak baik menginginkan putri kandung¬mu pergi jauh, dan lebih menyayangi putra orang lain," kata Maya pelan. Kaede menamparnya lagi. "Beraninya benar kau bicara seperti itu padaku, ibumu sendiri? Kau tahu apa tentang urusan negara? Semua yang kami lakukan ada alasan politis. Akan selalu seperti ini. Kau putri Lord Otori. Kau tidak bisa bersikap seperti anak-anak lain." Shizuka berkata, "Dia menyadarinya: dia memiliki kemampuan Tribe yang tidak boleh dia gunakan sebagai putri seorang ksatria. Sungguh sayang bila kemampuan seperti itu disia-siakan." Maya berbisik, "Kalau begitu, biarkan aku menjadi putri seorang Tribe." "Maya perlu pengawasan dan pelatihan. Tapi siapa yang mengetahui hal semacam ini dalam keluarga Muto? Bahkan kau, Shizuka, dengan darah Kikuta, tak punya pengalaman dengan kerasukan semacam ini." "Kau mengajarkan banyak kemampuan Tribe pada putraku," sahut Shizuka. "Mung¬kin Taku adalah orang yang paling tepat." "Tapi Taku harus tetap di wilayah Barat. Kita tak bisa memintanya kemari hanya untuk kepentingan Maya." "Maka kirim Maya kepadanya." Takeo menghela napas. "Sepertinya hanya itu jalan keluarnya. Adakah yang dapat mengantar Maya?" "Ada seorang gadis; dia baru datang dari desa Muto bersama adiknya. Mereka berdua bekerja di rumah penginapan orang asing saat ini." "Siapa namanya?" "Sada: kerabat dari istri Kenji, Seiko." Takeo mengangguk: kini ia ingat gadis itu; bertubuh tinggi dan tegap, dan bisa beralih rupa menjadi laki-laki, penyamaran yang sering digunakan saat melaksanakan tugas Tribe. "Kau akan menemui Taku di Maruyama," kata Takeo pada Maya. "Kau harus mematuhi Sada." Sunaomi berusaha menghindar, tapi sebelum pergi Maya memojokkan bocah itu, seraya berbisik, "Kau gagal dalam uji nyali itu. Sudah kubilang kalau Arai pengecut." "Aku ke rumah itu," sahutnya. Taro ada di sana. Dia yang memaksaku pulang." Maya tersenyum. "Kau tidak bawa rantingnya!" "Tidak ada bunga di sana!" "Tidak ada bunga! Kau memetik sebatang. Lalu kau buang, dan mengompol di celana. Aku melihatmu." "Kau tidak ada di sana!" "Ya, aku di sana." Sunaomi berteriak memanggil pelayan, tapi Maya sudah pergi.* Seiring musim panas berganti musim gugur, Takeo bersiap untuk bepergian lagi. Sudah menjadi kebiasaan negeri ini kendalikan dari Yamagata dari akhir bulan kesembilan hingga puncak musim Halaman 542 dari 542 dingin, tapi ia terpaksa ber¬angkat lebih awal karena kematian Matsuda Shingen; Miyoshi Gemba membawa kabar ini ke Hagi dan Takeo langsung berangkat ke Terayama bersama Gemba dan Shigeko. Laporan kerja selama musim panas—ber¬bagai keputusan, perencanaan pertanian sena keuangan, kode etik hukum, dan hasil pengadilan—dibagi-bagi dalam kotak dan keranjang pada barisan panjang kuda beban. Tak ada yang perlu disesali atas kepergian Matsuda. Tujuan hidupnya telah tercapai, jiwanya merupakan kesatuan antara kemur¬nian dan kekuatan. Cita-citanya siap diterus¬kan murid-muridnya: Takeo dan Shigeko, sena banyak yang lainnya. Namun Takeo begitu merindukan, dan merasa kehilangan orang bijak tersebut sebagai kerugian bagi Tiga Negara. Makoto kini menggantikan kedudukannya sebagai Kepala Biara, dan berganti nama menjadi Eikan, tapi Takeo tetap meng¬gunakan nama lamanya. Setetah upacara pe¬makaman selesai, mereka melanjutkan per-jalanan ke Yamagata. Ia senang karena tahu Makoto tetap akan mendukungnya; dan ia memikirkan dengan penuh kerinduan saat ia akan mengundurkan diri ke Terayama dan sisa hidupnya dengan meditasi dan melukis. Gemba menemani mereka ke Yamagata, tempat berbagai urusan administrasi menyita seluruh perhatian Takeo. Shigeko bangun lebih awal setiap pagi untuk berlatih me¬nunggang kuda dan memanah bersama Gemba untuk kemudian menghadiri se¬bagian besar rapat bersamanya. Tepat sebelum berangkat ke Maruyama pada minggu pertama di bulan kesepuluh, surat datang dari Hagi. Takeo membacanya dengan penuh semangat, dan segera mem¬beritahukan kabar tentang keluarga pada putri sulungnya. "Ibumu pindah bersama kedua bocah itu ke rumah lama Lord Shigeru. Dan ibumu mulai membelajari bahasa orang-orang asing itu." "Dari si juru bahasa?" Shigeko ingin bertanya lagi pada ayahnya, tapi Minoru dan pelayan rumah Miyoshi ada bersama mereka seperti biasa, serta Jun dan Shin yang berada di luar tapi tetap masih bisa mendengar. Setelah itu, Shigeko mendapat kesempatan saat mereka berdua berjalan di taman. "Ayah hams menceritakan lebih banyak lagi tentang orang-orang asing itu," katanya. "Apakah sebaiknya mereka diijinkan ber¬dagang di Maruyama?" "Ayah ingin mereka berada di tempat yang bisa kita awasi," sahut Takeo. "Mereka akan tinggal di Hagi selama musim dingin. Kita harus belajar sebanyak mungkin tentang bahasa, adat kebiasaan dan tujuan mereka." "Juru bahasa itu: dia memandang ayah dengan pandangan aneh, seakan dia mengenal Ayah dengan baik." Sesaat Takeo ragu. Daun berguguran di taman yang tenang, menyelimuti tanah dengan onggokan berwama emas. Saat itu hari sudah senja, kabut merangkak naik dari parit yang mengelilingi bangunan sehingga mengaburkan garis bentuk dan detil. "Ibumu tahu siapa dia, tapi orang lain tidak." akhimya ia berkata. "Ayah akan ceritakan kepadamu, tapi simpan rahasia ini baik-baik. Namanya Madaren; itu nama yang dipakai kaum Hidden. Mereka memiliki kepercayaan yang sama dengan para orang asing, dan dulu pernah dibantai oleh Klan Tohan. Semua keluarganya dibunuh, kecuali kakak laki-lakinya yang diselamatkan oleh Lord Shigeru." Bola mata Shigeko terbelalak dan urat nadinya berdenyut cepat. Ayahnya ter¬senyum. "Ya, anak itu adalah Ayah. Saat itu Ayah bernama Tomasu, tapi Shigeru mengganti nama Ayah menjadi Takeo. Madaren adalah adik perempuanku: kami lahir dari satu ibu, tapi lain bapak—ayahku, seperti kau tahu, berasal dari Tribe. Selama ini Ayah mengira dia sudah mati." "Sungguh luar biasa," ujar Shigeko, lalu dengan sifatnya yang lekas bersimpati, "Pasti hidupnya menderita." Halaman 543 dari 543 "Dia berhasil bertahan, belajar bahasa asing, meraih semua kesempatan yang ada," sahut Takeo. "Madaren melakukannya lebih baik dibandingkan orang lain. Kini dia dalam perlindungan Ayah, dan diijinkan mengajar¬kan ibumu." Setelah beberapa saat, ia menambahkan, "Dari dulu memang sudah banyak kaum Hidden di Maruyama. Lady Naomi melindungi mereka karena dia juga mengikuti ajaran mereka. Kau harus ber¬kenalan dengan pemimpin mereka. Jo-An, tentu saja, juga salah satu pengikutnya, serta banyak mantan gelandangan masih tinggal di pedesaan di sekitar kota." Shigeko melihat wajah ayahnya muram. dan tak ingin membahas lebih jauh lagi topik pembicaraan yang mengingatkan Ayahnya pada kenangan yang menyakitkan. "Ayah sangsi bisa hidup bahkan separuh dari usia Matsuda," lanjut Takeo dengan sangat serius. "Kelak, keamanan mereka ini ada di tanganmu. Tapi jangan memercayai orang asing, begitu juga pada Madaren, meskipun dia kerabatmu. Dan ingat untuk menghormati semua kepercayaan, tapi jangan ikuti satu pun dari semua itu, karena itu satu-satunya jalan yang harus ditempuh seorang pemimpin sejati." Shigeko merenungkan hal ini selama be¬berapa saat, "Bolehkah aku bertanya lagi?" "Tentu. Kau boleh tanya apa saja dan kapan saja. Ayah tak ingin menyembunyikan apa pun darimu." "Ramalan membenarkan kekuasaan Ayah seperti yang ditakdirkan dan direstui Surga. Burung houou bersarang lagi di Tiga Negara. Bahkan kita memiliki kirin—salah satu tanda adanya penguasa yang adil. Apa Ayah memercayai semua ini?" "Ayah tidak memercayai sepenuhnya," sahut Takeo. "Ayah sangat bersyukur atas semua yang dianugerahkan Surga pada Ayah, dan Ayah berharap tidak menyalahgunakan kekuasaan yang telah diberikan kepada Ayah." "Orang tua semakin lama semakin akan bertindak bodoh," tambahnya nngan "Bila itu terjadi, kau harus mendorong Ayah untuk mengundurkan diri. Meskipun, Ayah tak berharap hidup sampai tua." "Aku ingin Ayah tidak pernah mati," seru Shigeko, mendadak ketakutan. "Ayah akan mati dengan bahagia karena tahu akan meninggalkan semuanya di tangan yang aman," sahutnya, teraenyum. Tapi Shigeko tahu kalau ayahnya menyembu¬nyikan banyak kekhawatiran. Beberapa hari kemudian ia dan Gemba menyeberangi jembatan di dekat Kibi, dan Takeo mengenang masa lalu bersama Gemba: pergi dari Terayama di tengah guyuran hujan, bantuan Jo-An bersama kelompok gelandangannya, dan kematian si raksasa, Jin-Emon. Biara dewa rubah yang ada di tepi sungai kini, secara aneh, diiden¬tikkan pada Jo-An dan sekarang dia dipuja di sini. "Pada saat itu Amano Tenzo memberiku Shun," ujar Takeo. Ditepuknya leher kuda hitam yang sedang ditungganginya. "Kuda yang ini cukup menyenangkan, tapi Shun membuatku tercengang pada peperangan pertama kami. Dia lebih tahu banyak tentang peperangan ketimbang diriku sendiri!" "Kukira dia sudah mati sekarang?" tanya Gemba. "Ya, dia mati dua tahun lalu. Tidak ada kuda seperti dia. Tahukah kau kalau Shun ternyata adalah kuda Takeshi? Mori Hiroki yang mengatakannya." "Aku tidak tahu," sahut Gemba. Tapi, Shigeko sudah tahu hal itu, dia tumbuh dewasa bersama salah seorang yang melegenda itu. Kuda coklat kemerahan itu dijinakkan oleh Lord Takeshi, adik Shigeru, yang membawanya ke Yamagata. Takeshi dibunuh prajurit Tohan, dan kuda itu meng¬hilang sampai Amano Tenzo membeli dan memberikannya kepada Takeo. Ia memikir¬kan dengan gembira atas hadiah rahasia yang akan ia berikan untuk ayahnya. Ia Halaman 544 dari 544 sudah lama berharap akan ke Maruyama karena ia memang bermaksud menghadiahkan kuda itu sebagai kejutan saat upacara yang akan datang. Memikirkan legenda dan hewan-hewan yang mengagumkan memunculkan gagasan di benaknya. Begitu cemerlangnya gagasan itu hingga ia ingin langsung mengatakannya. "Ayah, saat kita ke Miyako tahun depan, kita hadiahkan kirin kepada Kaisar." Gemba tertawa terbahak-bahak. "Hadiah yang sempurna! Hadiah yang belum pernah terlihat di ibukota!" Takeo berpaling dari pelana dan menatap Shigeko. "Gagasan yang menakjubkan. Tapi Ayah telah memberikan kirin untukmu. Ayah tak ingin memintanya kembali. Dan apakah hewan itu dapat bertahan dalam perjalanan sejauh itu?" "Hewan itu berhasil menempuh per jalanan dengan kapal. Aku bisa menemani¬nya sampai ke Akashi. Mungkin Lord Gemba atau Lord Hiroshi bisa ikut ber¬samak u." "Kaisar serta orang istana akan terpesona dengan hadiah itu," kata Gemba, pipi tembamnya merona merah karena senang. "Sepertinya Lord Saga akan takluk pada Lady Shigeko." Shigeko, menunggang kuda melalui pedesaan di musim gugur yang damai menuju wilayah yang akan segera menjadi miliknya, tempat ia akan bertemu Hiroshi lagi. merasakan kalau mereka memang direstui Surga. dan Ajaran Houou, ajaran kedamaian akan menang.* Setelah kematian Muto Kenji, jasadnya dibuang ke parit dan tertimbun tanah. Tidak ada benda yang menandakan tempat itu, tapi Hisao tidak sulit menemukannya karena ibu¬nya membimbing langkahnya ke sana. Seringkali hujan turun tiba-tiba selagi ia melewatinya, membiaskan sinar matahari menjadi penggalan-penggalan bianglala di awan yang membumbung tinggi. Hisao melihatnya dan memanjatkan doa bagi arwah kakeknya agar dapat menempuh jalan aman menuju alam baka dan kelahiran kembali yang lebih baik pada kehidupan kelak. Ia kemudian melihat ke bawah, ke barisan pegunungan yang terbentang ke timur dan utara, untuk melihat apakah ada orang yang datang Hisao merasa lega tapi juga menyesal karena arwah kakeknya telah keluar. Arwah itu menggantung di tepi kesadaran seperti juga arwah ibunya, membuatnya sakit kepala dengan tuntutan yang tak bisa dipahami. Ia hanya mengenal kakeknya sebentar, namun telah merindukannya: Kenji bunuh diri atas kemauannya sendiri; Hisao senang arwah kakeknya sudah pergi dengan damai, tapi menyesali kematiannya, dan walaupun tidak pernah membicarakan hal itu, dia membenci Akio karena menjadi penyebabnya. Musim panas berlalu dan tak ada yang datang. Penduduk desa merasa khawatir selama musim panas, terutama Kotaro Gosaburo, karena tak ada kabar tentang nasib anak¬anaknya yang ditahan di Inuyama. Desas¬desus dan spekulasi kian bertambah: bahwa mereka sekarat karena disiksa, bahwa salah satu atau keduanya sudah tewas. Gosaburo semakin kurus, lipatan kulit keriputnya semakin bergelayut, sinar matanya hampa. Akio makin tak sabar pada Gosaburo; dia menjadi cepat kesal dan sikapnya menjadi susah ditebak. Hisao agak senang men¬dengar kabar baik tentang eksekusi para pemuda itu karena akan memadamkan harapan Gosaburo dan menguatkan ke-putusannya untuk balas dendam. Bunga lili musim gugur berwarna merah tua pekat tumbuh di atas jasad Kenji, meski tak ada yang menanamnya. Burung-burung mulai bermigrasi ke utara, dan malam Halaman 545 dari 545 dipenuhi jeritan angsa dan kepakan sayap mereka. Rembulan di bulan kesembilan tampak besar dan keemasan. Pohon maple dan pohon sumac berubah warna menjadi merah tua, pohon beech berwarna tembaga, willow dan ginko berwarna keemasan. Hari¬hari dilalui Hisao dengan memperbaiki pematang sebelum musim dingin, menyebar dedaunan kering dan kotoran hewan di sawah, mengumpulkan kayu bakar dari hutan. Sistem pengairannya berhasil: sawah di pegunungan menghasilkan panen kedelai, wortel dan labu yang baik. la membuat penggaruk tanah baru sehingga pupuk ter¬sebar lebih merata, dan bereksperimen dengan bilah kapak, bobot, sudut serta ke¬tajamannya. Ada sebuah tempat penempaan besi di desa itu, dan Hisao ke sana saat ada waktu luang untuk memerhatikan dan membantu meniup panas dengan alat peng¬embus dalam proses mengubah besi menjadi baja. Di awal bulan ketujuh, Imai Kazuo dikirim ke Inuyama untuk mencari berita. Dia kembali di pertengahan musim gugur dengan kabar gembira namun membingung¬kan: para sandera masih hidup, masih di tahan di Inuyama. Dia juga membawa kabar lain: Lady Otori sedang hamil dan Lord Otori mengirim utusan dengan prosesi yang mewah ke ibukota. Rombongan itu berada di Inuyama di waktu yang bersamaan dengan Kazuo, dan baru akan berangkat ke Miyako. Sikap Akio kurang senang dengan potongan berita yang pertama, iri pada berita yang kedua, dan amat gelisah dengan berita yang ketiga. "Mengapa Otori melakukan pendekatan pada Kaisar?" tanyanya pada Kazuo. "Apa maksudnya?" "Kaisar telah menunjuk jenderal baru, Saga Hideki, yang selama sepuluh tahun ini sibuk memperluas kekuasaannya di seluruh penjuru wilayah Timur. Kini muncul seorang ksatria yang bisa menantang Otori." Mata Akio berkilap dengan ekspresi yang tidak biasa. "Ada yang berubah; aku dapat merasakannya. Otori menjadi lebih rapuh, bereaksi pada ancaman semacam itu. Kita harus ambil bagian dalam kejatuhannya: dengan bersembunyi kita tidak bisa me¬nunggu sampai orang lain membawa kabar kematiannya kepada kita." "Memang ada tanda-tanda kelemahan," Kazuo sepakat. "Mengutus orang ke Kaisar, dan anak-anak itu masih hidup... sebelumnya ia tidak ragu membunuh keluarga Kikuta." "Muto Kenji berhasil mengetahui ke¬beradaan kita," ujar Akio penuh per¬timbangan. Takeo pasti sudah tahu tempat kita ini. Aku tidak percaya dia maupun Taku akan membiarkan kematian Kenji begitu saja tanpa membalas dendam, kecuali mereka di¬sibukkan dengan hal-hal yang lebih men¬desak." "Ini waktunya bagimu untuk bepergian lagi," kata Kazuo. "Ada banyak keluarga Kikuta di Akashi. Keluarga kita yang ada di Tiga Negara ini juga butuh tuntunan, dan akan mengikutimu bila kau yang ke sana." "Kalau begitu kita pergi ke Akashi lebih dulu," sahut Akio. Sebagai anak, ayah Hisao mengajarinya ketrampilan teater keliling Kikuta—memain¬kan drum, atraksi lempar bola, menyanyikan balada kuno yang disukai penduduk desa, tentang perang zaman dulu, pertikaian, pengkhianatan dan tindakan balas dendam— yang selalu mereka lakukan dalam perjalanan ke seluruh Tiga Negara. Seminggu setelah pulangnya Kazuo, Akio mulai berlatih atraksi lempar bola lagi; sandal jerami disiapkan dalam jumlah banyak, asinan persimmon dan chestnut dikumpulkan lalu dikemas, jimat¬jimat dikeluarkan dan dibersihkan, senjata¬senjata diasah. Hisao bukanlah pemain pertunjukan yang berbakat: terlalu pemalu dan tidak menik¬mati menjadi pusat perhatian, tapi kombinasi antara pukulan dan makian Akio telah men¬jadikannya cukup terampil. Ia jarang mem¬buat kesalahan, ia pun hapal semua lirik lagu-lagu, walaupun orang Halaman 546 dari 546 mengeluhkan kalau ia seperti bergumam sehingga sulit didengar. Gagasan untuk bepergian mem¬buat ia bersemangat sekaligus takut. Tak sabar untuk segera berada di jalan, pergi meninggalkan desa, melihat hal-hal baru, tapi kurang bersemangat dengan pertunjukan dan gelisah meninggalkan makam kakeknya. Gosaburo gembira menerima kabar dari Kazuo, dan menanyainya dengan penuh selidik. Dia tidak langsung bicara pada Akio, tapi di malam sebelum keberangkatan mereka, ketika Hisao tengah bersiap untuk tidur, Gosaburo menghampiri pintu kamar dan meminta apakah bisa bicara berdua dengan Akio. Akio sudah setengah telanjang dan Hisao bisa melihat ekspresi kemarahan ayahnya, tapi memberi isyarat agar tamunya boleh masuk dengan menggerakkan kepala. Gosaburo melangkah ke dalam kamar, menggeser tutup pintu lalu berlutut dengan gugup. "Keponakan," ujarnya, seolah menekankan otoritas usia. "Sudah saatnya kita berunding dengan Otori. Tiga Negara semakin kaya dan makmur sementara kita bersembunyi di pegunungan, nyaris kelaparan dan tidak lama akan musim dingin. Kita juga bisa ber¬kembang: pengaruh kita bisa diperluas melalui perdagangan. Hentikanlah semua pertikaian ini." Akio menjawab, "Tidak akan." Gosaburo menghela napas panjang. "Aku akan kembali ke Matsue. Aku akan pergi besok pagi." "Tidak ada yang boleh pergi meninggalkan keluarga Kikuta," Akio memperingatkan, suaranya datar. "Aku mulai membusuk di sini. Kita semua juga. Otori membiarkan anak-anakku tetap hidup. Mari kita terima lawarannya untuk berdamai. Aku akan setia padamu. Aku akan bekerja untukmu di Matsue seperti yang pernah kulakukan, menyediakan dana, menyimpan catatan...." "Begitu Takeo—dan juga Taku—mati, baru kita bicara tentang perdamaian," sahut Akio. "Sekarang enyahlah. Aku lelah, dan kehadiranmu membuatku jijik." Tak lama setelah Gosaburo pergi, Akio memadamkan lampu. Hisao sudah ber¬baring: malam itu terasa hangat dan ia tidak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Penggalan cahaya menari-nari di balik kelopak matanya. Sesaat ia berpikir tentang sepupu-sepupunya dan ingin tahu bagaimana cara mereka mati di Inuyama, tapi ke¬mudian ia mendengarkan gerakan Akio: setiap sel dalam tubuh orang itu seakan merindukan belai kasih sayang. Kemarahan Akio membuatnya bersikap kasar dan gegabah. Hisao berusaha untuk tidak bersuara karena kekerasan yang sewaktu-waktu akan menimpa dirinya. Suara Akio terdengar hampir lembut saat menyuruh ia tidur, jangan bangun, dan jangan pedulikan apa pun yang akan di degarnya, dan Hisao merasakan kelembutan sesaat yang amat dirindukannya saat rambut¬nya dibelai sang ayah. Setelah Akio pergi meninggalkan kamar, Hisao membenamkan diri di balik selimut dan berusaha menutup telinganya. Terdengar beberapa kali suara pelan, seseorang tercekik dan meronta-roma: suara berdebuk berat, diseret di atas papan, lalu ke tanah. Aku sudah tidur, kata Hisao berulang kali pada dirinya sampai tiba-tiba, sebelum Akio kembali, ia sudah tertidur nyenyak dan tanpa mimpi bak orang mati. Keesokan harinya tubuh Gosaburo ter¬geletak di lorong. Dia mati dibunuh dengan garotte. Tak seorang pun berani menangisi kematiannya. "Tak ada yang boleh meninggalkan Kikuta dan bebas pergi tanpa hukuman," kata Akio pada Hisao sewaktu mereka bersiap berangkat. "Ingat itu. Takeo dan Isamu, ayahnya, berani meninggalkan Tribe. Isamu sudah dieksekusi, dan Takeo akan meng¬alami hal yang sama." dalam konflik dan kebingungan sehingga para saudagar mengambil keuntungan dari kebutuhan pangan dan senjata para ksatria. Begitu mereka kaya, mereka tidak ingin kekayaan mereka dirampas ksatria yang sama sehingga mereka bergabung untuk melin¬dungi barang serta usaha mereka. Kota Halaman 547 dari 547 ini dikelilingi parit lebar yang digali untuk melindungi diri dari musuh, dan masing¬masing parit dengan sepuluh jembatannya dijaga prajurit dari masing-masing kesatuan. Ada beberapa kuil besar yang melindungi dan mendukung perdagangan, baik dalam bidang materi maupun spiritual. Saat para penguasa semakin berkuasa, mereka mencari benda dan pakaian yang indah, karya seni dan kemewahan lain dari Shin dan daerah yang lebih jauh lagi, dan pedagang pelabuhan bebas ini menyediakan-nya dengan senang hati. Keluarga Tribe pernah menjadi pedagang yang paling ber¬kuasa di kota itu, tapi meningkatnya kesejahteraan di Tiga Negara serta per¬musuhan dengan Otori membuat banyak yang pindah ke Hofu. "Masa kejayaan telah berlalu," kata Jizaemon, pemilik usaha importir sukses, pada Akio saat menyambutnya dengan sikap setengah hati. "Kita harus bergerak. Kita bisa lebih berkiprah dalam banyak peristiwa dengan menyediakan senjata dan kebutuhan lainnya. Mari kita dukung persiapan perang, dan dari keuntungan kita bisa menghindari akibatnya." Mengira ayahnya akan bertindak seperti yang dilakukan pada Gosaburo, Hisao sedih. Ia tak ingin Jizaemon mati sebelum mem¬perlihatkan sebagian dari nana bendanya, alat yang bisa menghitung waktu, botol kaca dan cabung minuman, cermin dan makanan baru yang lezat, manis dan pedas, kayu manis dan gula: kata-kata yang belum pernah di¬dengarnya. Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. Baik Akio maupun Kazuo tidak muda lagi, dan penampilan mereka sebagai seniman jalanan sudah hilang gregetnya. Lagu-lagu mereka telah ketinggalan jaman dan tak lagi populer. Kehadiran mereka di jalanan tidak mendapat sambutan baik, bahkan di satu desa yang tidak ramah: tak seorang pun mau memberi mereka tempat menginap sehingga mereka terpaksa berjalan lagi semalaman. Saat ini Hisao tengah mengamati ayahnya, dia melihat kalau ayahnya sudah tua. Di desa kelahirannya, Akio adalah Ketua Kikuta, ditakuti dan dihormati semua orang; sementara di sini, dengan pakaian tua yang lusuh, ayahnya kelihatan seperti bukan siapa¬siapa. Hisao merasa iba, lalu berusaha menyingkirkan perasaan itu, karena rasa iba, seperti biasa, membuka dirinya pada suara¬suara arwah. Sakit kepala yang tak asing mulai terasa lagi: separuh dunia menyelinap ke balik kabut; perempuan itu berbisik, tapi ia tidak mau mendengarkan. "Baiklah, mungkin kau benar," terdengar olehnya Akio bicara, seolah dari kejauhan. "Tapi yang pasti peperangan tidak bisa dihindari selamanya. Kami sudah mendengar tentang kurir-kurir yang dikirim Otori kepada Kaisar." "Ya, mereka berangkat hanya selang beberapa minggu sebelum kau datang: aku belum pernah melihat prosesi yang begitu mewah. Otori pasti benar-benar kaya, dan lebih dari itu, dikaruniai dengan selera dan tingkah laku serta tutur bahasa yang halus: kabarnya itu karena pengaruh istrinya..." "Dan Kaisar memiliki jenderal baru?" Akio memotong perkataan si pedagang yang penuh semangat. "Benar, dan ada lagi, sepupu, tak lama lagi jenderal itu akan memiliki senjata-senjata baru. Kabarnya, itu sebabnya Lord Otori mencari dukungan Kaisar." "Apa maksudmu?" "Selama bertahun-tahun Otori member¬lakukan embargo senjata api. Tapi baru-baru ini embargo itu dilanggar, dan senjata api diselundupkan keluar Hofu—kabamya dengan bantuan Arai Zenko! Kau kenal Terada Fumio?" Akio mengangguk. "Nah, Fumio tiba dua hari setelah penyelundupan itu dan berusaha mendapat¬kannya kembali. Dia gusar sekali; pertama¬tama dia menawarkan sejumlah besar uang, lalu mengancam akan kembali dengan pasukan lalu membakar habis kota itu jika tidak dikembalikan. Tapi sudah terlambat: senjata Halaman 548 dari 548 itu sudah dalam perjalanan ke tempat Saga. Dan harga jual besi dan bubuk mesiu itu setinggi langit, sepupu, setinggi langit!" Jizaemon menuang secangkir lagi sake dan memaksa mereka minum bersamanya. "Tak ada yang memedulikan ancaman Terada," katanya tertawa kecil. "Dia tak lebih dari perompak. Dulu dia juga penyelundup. Dan Lord Otori takkan menyerang kota itu, tidak selama dia membutuhkan pedagang itu untuk memberi makan dan mempersenjatai pasukannya." Hisao penasaran dengan jawaban Akio yang singkat. Ayahnya memang sudah mabuk berat, dan mengangguk setuju pada semua perkataan Jizaemon, meskipun dahi¬nya makin berkerut dan wajahnya makin muram. Hisao terbangun tengah malam men¬dengar ayahnya berbisik pada Kazuo. Dirasakan seluruh ototnya menegang, dan setengah berharap mendengar lagi suara pelan pembunuhan, tapi kedua orang itu tengah membicarakan hal lain: tentang Arai Zenko yang membiarkan senjata api keluar dari jaringan Otori. Hisao tahu riwayat Zenko: putra sulung Muto Shizuka, cucu keponakan Kenji, dan saudara sepupu dirinya. Zenko satu-satunya keluarga Muto yang tidak dikutuk keluarga Kikuta: dia tak terlibat dalam kematian Kotaro, dan kabarnya dia tak sepenuhnya setia pada Takeo. Dicurigai kalau dia menyalahkan Takeo atas kematian ayahnya, dan bahkan menyimpan hasrat untuk balas dendam. "Zenko kuat sekaligus ambisius," bisik Kazuo. "Jika dia berusaha mengambil hati Lord Saga, dia pasti tengah bersiap bergerak melawan Si Anjing." "Waktu yang tepat untuk mendekati Zenko," gumam Akio. "Takeo sedang men¬dapat ancaman dari Timur; jika Zenko menyerang dari Barat maka dia akan terjebak di antara dua wilayah tersebut." "Kurasa Zenko akan menyambutmu," sahut Kazuo. "Sejak kematian Kenji, Zenko yang seharusnya menjadi Ketua Muto. Kapan lagi waktu yang tepat untuk pergi ke keluarga Muto guna memperbaiki keretakan dalam Tribe, guna menyatukan kembali semua keluarga?" Jizaemon, mungkin senang berhasil menyingkirkan tamunya, menyediakan surat ijin perjalanan dan memberi pakaian bam serta barang dagangan lainnya. Diaturnya agar mereka bisa bepergian dengan kapal pedagang, dan dalam beberapa hari mereka angkat sauh ke Kumamoto melalui Hofu, memanfaatkan cuaca cerah dan tenang di akhir musim gugur.* Maya tidak bepergian sebagai putri Lord Otori, tapi dengan menyamar cara Tribe. Sebagai adik Sada, dan mereka pergi ke Maruyama untuk bertemu dengan kerabat di sana dan mencan pekerjaan setelah kematian orangtua mereka. Maya menyukai perannya sebagai anak yatim piatu, dan menyenangkan baginya membayangkan kalau orangtuanya mati karena marah, terutama pada ibunya, dan amat terluka dengan sikap kedua orang¬tuanya karena lebih sayang pada Sunaomi. Maya pernah melihat Sunaomi menjadi anak cengeng karena mengira melihat hantu— yang sebenarnya adalah patung Kanon maha Penyayang yang belum selesai dibuat. Maya semakin membenci rasa takut Sunaomi karena itu belum apa-apa dibandingkan apa yang pernah dilihatnya di malam yang sama, malam ketiga Perayaan Obon. Waktu itu ia mengikuti Sunaomi dengan menggunakan kemampuan Tribe, tapi saat sampai di pantai, ada sesuatu di malam itu Halaman 549 dari 549 yang menyentuh perasaannya, dan suara si kucing berbicara dalam dirinya, mengatakan, "Lihatlah apa yang bisa kulihat!" Awalnya seperti permainan: latar yang gelap dadak terang, bola matanya yang besar menangkap semua gerakan yang ada, hewan¬hewan kecil berlarian ke sana kemari, getaran dedaunan, semburan air terbawa angin. Lalu tubuhnya melemas dan meregang seperti tubuh kucing, dan Maya menyadari kalau pantai dan hutan pinus penuh dengan hantu. Ia melihat hantu-hantu itu dengan peng¬lihatan si kucing, wajah mereka abu-abu, jubah mereka putih, tubuh pucat mereka mengambang di permukaan tanah. Arwah orang-orang mati itu memalingkan pan¬dangan ke arah Maya dan si kucing menang¬gapi mereka, mengenali penyesalan pahit, dendam tak berkesudahan, hasrat yang tak terpenuhi dalam diri mereka. Maya menjerit kaget; si kucing melolong. Maya berusaha kembali ke tubuh manusia¬nya; cakar si kucing menggaruk-garuk batu kerikil di pasir pantai: melompat ke pepohonan di sekitar rumah itu. Arwah-arwah mengejar Maya, berdesakan di sekelilingnya, sentuhan mereka terasa sedingin es di kulit hewan berbulunya. Ter¬dengar olehnya suara-suara seperti gemerisik dedaunan tertiup angin musim gugur, penuh kesedihan dan kelaparan. "Di mana Penguasa kami? Bawa kami padanya. Kami sedang menunggunya." Kata-kata mereka memenuhi dirinya bak teror yang menakutkan, meskipun tidak me¬mahami apa maksudnya, seperti dalam mimpi buruk ketika sepotong kalimat yang tak jelas membuat orang yang bermimpi me rasa ketakutan setengah mati. Terdengar olehnya derak ranting patah, lalu melihat seorang laki-laki keluar dari rumah yang baru separuh hancur dengan membawa lentera. Para arwah gentayangan tadi mundur terkena sinar lentera, dan membuat bola mata Maya mengecil dan akhirnya tidak bisa lagi melihat mereka. Tapi didengarnya Sunaomi menjerit, dan juga gemericik air ketika bocah itu kencing di celana. Penghinaan atas ketakutan Sunaomi membantu Maya mengatasi ke¬takutannya sendiri, cukup untuk mundur ke semak-semak dan pulang tanpa terlihat ke kastii. Ia tidak ingat bagaimana si kucing meninggalkan dirinya hingga ia kembali menjadi Maya, sama tidak jelasnya dengan apa yang membuat tubuh kucing merasuk dalam sendirinya. Tapi ia juga tak bisa menyingkirkan ingatan akan pandangan mata si kucing dan suara-suara bergema dari arwah gentayangan. Di mana Penguasa kami? Maya ketakutan setengah mati, tak ingin melihat dan mendengar dengan cara seperti itu lagi, dan berusaha melindungi dirinya dari kerasukan arwah si kucing. Ia telah mewarisi sifat kejam dari Kikuta seiring dengan banyak bakat yang lain. Tapi kucing itu mendatanginya lewat mimpi, meminta, menakuti-nakuti dan membujuk dirinya. "Kau bisa jadi mata-mata yang sangat hebat!" seru Sada setelah malam pertama di atas kapal. "Aku lebih suka jadi mata-mata ketimbang harus menikah dengan lord," sahut Maya. "Aku ingin sepertimu, atau seperti Shizuka dulu." Maya menatap gelombang ke Timur, tempat kota Hagi hampir menghilang di kejauhan: Pulau Oshima juga terbentang jauh di belakang mereka, hanya awan di atas gunung berapi di pulau itu yang terlihat. Mereka telah melewatinya semalam, dan itu membuat Maya menyesal karena pernah mendengar banyak cerita tentang para perompak jaman dulu dan kunjungan ayah¬nya kepada Lord Terada. Ia ingin melihat-nya, tapi kapal tidak boleh berangkat ter¬lambat: angin timur laut hanya terjadi beberapa hari lagi, dan mereka mem¬butuhkannya untuk membantu kapal melaju ke pantai Barat. "Dulu Shizuka suka melakukan sesuka hatinya," sambung Maya. "Tapi dia menikah dengan tabib Ishida, dan kini dia sama saja seperti istri-istri yang lainnya." Sada tertawa. "Jangan meremehkan Muto Shizuka! Dia selalu jauh lebih dari yang kelihatannya." "Dia juga nenek Sunaomi," gerutu Maya. "Kau iri, Maya; itu masalahmu!" Halaman 550 dari 550 "Sangat tidak adil," sahut gadis itu. "Andai aku laki-laki, tak masalah kalau aku kembar. Andai aku lakilaki, Sunaomi tidak akan datang tinggal bersama kami, dan Ayah tak¬kan berpikir untuk mengangkatnya sebagai anak!" Dan aku takkan berpikir untuk menantang pengecut cilik itu pergi ke biara. Maya menatap Sada. "Pernahkah kau ber harap menjadi seorang laki-laki?" "Ya, sering, ketika aku masih kecil. Bahkan di kalangan Tribe, di mana perempuan diberi banyak kebebasan, anak laki-laki sepertinya lebih dihargai. Aku selalu menentang mereka, selalu berusaha mengalahkan mereka. Muto Kenji sering bilang itu sebab¬nya kenapa aku tumbuh besar sama tinggi dan kuatnya seperti laki-laki. Dia meng¬ajariku cara meniru anak laki-laki, bicara dengan gaya bahasa mereka dan menirukan gerakan mereka. Kini aku bisa jadi laki-laki atau perempuan, dan itu sebabnya aku menyukainya." "Kenji mengajarkan kita hal yang sama!" seru Maya, karena seperti semua anak-anak Tribe, ia belajar bicara dengan gaya bahasa laki-laki dan perempuan, serta gerakan, dan bisa bertingkah seperti keduanya. Sada mengamatinya. "Ya, kau bisa menjadi laki-laki." "Benar, aku tidak menyesal disuruh pergi jauh," Maya berusaha meyakinkan. "Karena aku suka padamu—dan aku sayang pada Taku!" "Semua orang menyayangi Taku," Sada tertawa. Maya tidak sempat menangkap lebih banyak lagi bahasa pelaut yang menggoda dan nyaris tak bisa dimengerti karena gelombang laut mulai naik. Gerakan kapal yang naik turun membuatnya pusing dan tubuhnya terasa tidak enak. Sada merawatnya tanpa mengeluh atau kata-kata bersimpati, memegang tengkuknya sewaktu ia muntah dan setelah itu mengelap wajahnya, mem¬bujuknya untuk minum teh untuk mem¬basahi bibirnya. Ketika sampai di tahap yang paling buruk, Maya berbaring di pangkuan Sada yang melingkarkan lengannya yang panjang dan dingin di alis Maya. Sada seperti merasa kalau di balik kulit Maya ada sifat hewan, bak kulit bulu hewan, gelap, padat dan berat, tapi juga lembut untuk disentuh. Maya merasakan sentuhan itu seperti sentuhan seorang pengasuh atau seorang ibu; ia tersadar ketika kapal berbelok mengitari tanjung tepat saat angin berubah arah dan angin barat berhembus membawa mereka ke tepi pantai, lalu menatap wajah Sada yang tajam, dengan tulang pipi tinggi seperti anak laki-laki, dan berpikir betapa bahagianya bisa selamanya berbaring di dalam pelukannya, dan merasakan sekujur tubuhnya bereaksi dengan menggeliat. Pada saat itu hasrat menyelimuti dirinya pada gadis yang lebih tua itu, kombinasi antara kekaguman dan kebutuhan: itu pertama kalinya Maya jatuh cinta. Diregangkan tubuhnya untuk me¬meluk Sada, melingkarkan lengan di tubuh¬nya, merasakan otot kuat seperti otot laki¬laki, dan kelembutan yang tak terduga dari buah dadanya. Diusap-usapkan hidungnya ke leher Sada, hampir seperti anak kecil, sekaligus seperti hewan. "Kuanggap sikapmu ini berarti kau sudah baikan?" tanya Sada, balas memeluknya. "Sedikit. Tadi rasanya sakit sekali. Aku tak ingin naik kapal lagi!" Maya berhenti sebentar lalu melanjutkan, "Kau mencintaiku Sada?" "Pertanyaan apa itu?" "Aku bermimpi kau mencintaiku. Tapi aku tidak yakin apakah aku bermimpi, alaukah...." "Atau apa?" "Atau si kucing." "Mimpi sepeni apa yang dialami kucing itu?" tanya Sada dengan enggan. "Mimpi yang dialami hewan." Maya tengah menatap ke pantai di kejauhan, bukit Halaman 551 dari 551 ditumbuhi pinus di atasnya yang muncul dari air laut berwarna biru tua, bebatuan hitam yang berada di tepiannya dengan ombak keabuan hijau dan putih. Permukaan air di sekitar teluk lebih tenang, dan sampai ke muara, rak kayu penopang rumput laut dan kapal nelayan berbadan cembung tengah ditarik ke pantai, tempat rumput laut tumbuh. Orang-orang meringkuk di tepi pantai, membetulkan jala dan menjaga agar api unggun tetap menyala yang memaksa garam keluar dari air laut. "Aku tak tahu kalau kau mencintaiku," goda Sada. "Tapi aku memang menyayangi kucing itu!" Diraih lalu diusapnya leher Maya seakan-akan sedang membelai kucing, dan punggung gadis itu melengkung karena nyaman. Sada mengira hampir bisa merasa¬kan lagi bulu di jari jemarinya. "Kalau kau terus lakukan itu, kurasa aku akan berubah menjadi si kucing," ujar Maya sambil melamun. "Aku yakin kelak ini bisa berguna." Nada suara Sada terdengar praktis. Maya menyeringai. "Itu sebabnya aku menyukai Tribe," sahutnya. "Mereka tidak keberatan kalau aku ini anak kembar, atau roh si kucing merasuki diriku. Apa pun yang berguna bagi mereka, baik adanya. Itu menurutku. Aku tidak mau kembali pada kehidupan di istana, atau kastil. Aku akan tinggal bersama Tribe." "Kita lihat apa pendapat Taku!" Maya tahu Taku adalah guru yang tegas dan tidak punya perasaan sentimentil, tapi ia takut kalau gurunya itu terpengaruh dengan kewajiban pada ayahnya sehingga cenderung memperlakukannya dengan pengecualian. Ia tak tahu mana yang lebih buruk: diterima oleh Taku hanya karena ia adalah putri Otori, atau ia ditolak karena kurang trampil. Di satu saat ditemukan dirinya mengira kalau Taku akan mengenyahkannya karena tak mampu menolongnya; atau sebaliknya kagum dengan segala yang bisa dilakukannya dan semua potensi dirinya. Akhirnya akan jadi sesuatu di antara dua hal: tidak terlalu kecewa, tapi juga tidak terlalu memuaskan. Muara berpasir terlalu dangkal untuk dimasuki kapal, dan mereka turun dengan menggunakan tali ke perahu nelayan yang reot. Perahu-perahu itu sempit dan tidak stabil; para awaknya tertawa ketika Maya memegang erat-erat bagian pinggir atas dari sisi perahu, serta berusaha menarik Sada ke dalam percakapan cabul saat mengayuh ke hulu, ke kota Maruyama. Kastil berdiri di atas bukit kecil di atas sungai dan kota yang menyebar di sekeliling¬nya. Bangunannya kecil dan indah, ber¬dinding putih dan beratap abu-abu, terlihat mirip burung yang baru saja beristirahat, sayapnya masih membentang, sinar matahari mewarnainya dengan warna merah muda. Maya mengenalnya dengan baik dan sering tinggal di sana bersama ibu dan saudara¬saudaranya, tapi hari ini tujuannya bukan ke kastil itu. Ia terus merendahkan pandangan mata dan tidak bicara dengan siapa pun agar tidak dikenali. Sesekali Sada berbicara kepadanya dengan kasar, membentaknya agar tidak berjalan dengan menggesekkan kaki ke tanah. Maya menyahut, ya kak, tentu kak, sambil berjalan tanpa mengeluh, walaupun perjalanannya jauh dan bawaannya banyak. Hari sudah hampir gelap saat mereka tiba di rumah yang memanjang sampai ke sudut jalan. Jendelanya dipalang dengan kayu, dan atap rendahnya memanjang sampai ke pinggiran atap. Di satu sisinya adalah toko depan, yang kini tutup dan sepi. Dipasang ke dinding satunya, ada gerbang besar. Dua laki-laki berdiri di luar dengan bersenjata pedang dan tombak lengkung panjang. Sada bicara kepada salah satunya. "Apakah mengira akan ada serangan, sepupu?" "Ini dia masalah datang," sahutnya. "Apa yang kau lakukan? Siapa anak itu?" "Adikku, kau ingat padanya?" "Pasti bukan Mai!" "Bukan, bukan Mai, Maya. Kita masuk saja dulu. Nanti akan kuceritakan. Taku ada di Maruyama?" imbuhnya selagi gerbang dibuka lalu mereka menyelinap masuk. Halaman 552 dari 552 "Ya, dia datang beberapa hari lalu. Dia bersama Lord Kono, dari Miyako, dan Lord Sugita sedang menghibur mereka. Dia belum mampir seperti biasa. Kami akan beri tahu kalau kau dan adikmu ada di sini." "Mereka kenal aku?" bisik Maya sewaktu Sada meng-gandengnya melewati taman yang gelap ke pintu masuk. "Ya. Tapi mereka juga tahu kalau ini bukan urusan mereka, jadi mereka takkan bicara banyak." Maya membayangkan bagaimana seorang laki-laki—atau perempuan—menyamar se¬bagai prajurit, penjaga atau pelayan: mereka mendekati Taku dengan komentar tentang kuda atau makanan, lalu menambah se¬potong kalimat yang kedengaran sem¬barangan, lalu Taku bisa tahu.... "Mereka akan memanggilku apa?" ia ber¬tanya pada Sada seraya melangkah ringan ke atas beranda. "Memanggilmu? Dengan nama apa?" "Apa nama rahasiaku yang hanya di¬ketahui Tribe?" Sada tertawa hingga kehabisan suara. "Mereka akan mengarangnya. Anak Kucing, barangkali." Anak Ku ci ng sudah kembali malam ini. Maya hampir bisa mendengar suara pelayan—memutuskan kalau pelayan itu perempuan—berbisik di telinga Taku selagi membungkuk membasuh kaki Taku, atau menuang sake untuknya, dan kemudian ... apa yang akan Taku lakukan? Maya merasakan agak tahu: apa pun yang akan terjadi tidak akan mudah. Ia harus menunggu sampai dua hari. Tidak ada waktu untuk bosan atau cemas, karena Sada menyibukkannya dengan ber¬bagai latihan Tribe yang tak ada akhirnya, karena kemampuan Tribe bisa selalu dikem¬bangkan, dan tak seorang pun, bahkan Muto Kenji atau Kikuta Kotaro, menguasainya dengan sempurna. Dan Maya hanyalah anak kecil: waktunya masih banyak. Ia latihan ber¬diri tak bergerak dalam waktu lama, me¬regangkan dan melipat tubuh agar tetap lemas, latihan mengingat dan mengamati, bergerak cepat hingga nyaris tak terlihat dan menggunakan sosok kedua. Maya lakukan semua itu tanpa mengeluh karena sudah me¬mutuskan untuk mencintai Sada tanpa syarat, dan berusaha membuatnya senang. Di senja hari kedua, setelah malam men¬jelang dan mereka selesai makan, Sada mem¬beri isyarat pada Maya yang tengah menaruh mangkuk di nampan—karena di rumah ini dia bukan lagi putri Lord Otori tapi gadis termuda sehingga menjadi pelayan bagi semua orang. Diselesaikan tugasnya, mem¬bawa nampan ke dapur, lalu melangkah keluar beranda. Di ujung beranda, Sada ber¬diri sambil memegang lentera. Maya bisa melihat wajah Taku, separuh terkena sinar, separuh dalam kegelapan. Maya menghampiri lalu berlutut di hadapannya, tapi sebelumnya ia mengamati reaksi di wajah Taku. Saat wajah itu terlihat lelah, ekspresi wajah yang tegang, dan bahkan kesal, hati Maya terpuruk. "Guru," bisiknya. Taku mengerutkan dahi, dan memberi isyarat pada Sada untuk mendekatkan lentera. Maya merasakan panasnya lentera di pipinya, lalu menutup mata. Cahaya lentera berkedap-kedip di balik kelopak matanya. "Pandang aku," kata Taku. Mata Taku yang hitam, buram, menatap lurus ke arahnya. Maya menahan tatapan mata Taku tanpa berkedip, membuat pikirannya kosong, tidak membiarkan ekspresi yang menunjukkan kelemahannya terlihat; dan di waktu yang bersamaan tidak berani mencari-cari ada ekspresi apa di wajah Taku. Tapi ia tak mampu mempertahankan diri dari Taku: merasakan seolah ada semacam bias sinar, atau pikiran, menembus dirinya, melihat rahasia yang ia sendiri , tidak tahu ada dalam dirinya. "Uhhh," gerutu Taku, tapi Maya tak tahu apakah gerutuan itu karena Taku setuju atau terkejut. "Mengapa ayahmu mengirimmu padaku?" Halaman 553 dari 553 "Menurut Ayah aku dirasuki roh kucing," sahutnya pelan. "Ayah mengira Kenji kemungkinan mewariskan ilmu Tribe tentang hal-hal seperti ini kepadamu." "Tunjukkan padaku." "Aku tidak mau," sahut Maya. "Biarkan aku melihat roh kucing ini, kalau memang ada di sana." Suaranya mengandung kecurigaan dan tak acuh. Maya bereaksi dengan marah. Kemarahan menjalar ke sekujur tubuhnya, langsung dan bukan seperti manusia, membuat tubuhnya melembut dan meregang, bulunya beriak; telinganya menegak dan memamerkan gigi¬nya, bersiap menerkam. "Cukup," kata Taku pelan, lalu menyentuh pipi Maya dengan lembut. Hewan itu menurut dengan sendirinya, lalu mengeong. "Kau tak memercayaiku," kata Maya datar. Tubuhnya gemetar. "Bila sebelumnya aku tak percaya, maka kini aku percaya," sahutnya. "Sangat me¬narik. Pertanyaannya yaitu, bagaimana kita bisa memanfaatkannya? Pernahkah kau berubah wujud hingga benar-benar menjadi kucing?" "Pernah, sekali," akunya. "Aku mem¬buntuti Sunaomi ke kuil Akane lalu melihatnya kencing di celana!" Taku mendengar sesuatu di balik ke¬beranian yang dibuat-buat itu. "Lalu?" tanya¬nya. Maya tidak menjawab selama beberapa saat; kemudian ia bergumam, "Aku tak mau melakukannya lagi! Aku tidak menyukai perasaan yang menyertainya." "Tidak ada hubungannya kau suka atau tidak," sahut Taku. "Jangan buang waktu. Kau harus berjanji kalau kau hanya akan melakukan apa yang Sada atau aku pinta, tidak pergi sendiri sesuka hatimu, jangan ambil resiko, jangan menyimpan rahasia pada kami." "Aku bersumpah." "Ini bukan waktu yang tepat," kata Taku dengan agak kesal pada Sada. "Aku sedang berusaha mengawasi Kono, dan mengawasi kakakku kalau-kalau dia bertindak yang tak terduga. Tetap saja, bila Takeo memintanya, kurasa sebaiknya aku menjaga agar Maya tetap di dekatku. Kau bisa ikut ke kastil denganku besok. Dandani dia seperti anak laki-laki, tapi tinggallah di sini. Terserah kau mau menjadi apa, tapi di sini ia harus tetap sebagai anak perempuan. Sebagian besar penghuni rumah ini sudah mengenalnya; dia harus dilindungi sebaik-baiknya sebagai putri Lord Otori. Aku akan memperingatkan Hiroshi. Apa akan ada orang lain yang bisa mengenalimu?" "Tak seorang pun berani menatap langsung padaku," tutur Maya. "Karena aku anak kembar." "Anak kembar cukup istimewa di kalangan Tribe," tutur Taku. "Tapi di mana adikmu?" "Dia di Hagi dan akan segera pergi ke Kagemura." Mendadak rasa sakit hati mener¬jang diri Maya karena merindukan Miki, Shigeko dan orangtuanya. Aku di sini seperti anakyatim piatu, pikimya, atau orang yang diasingkan. Mungkin aku akan menjadi seperti Ayah, ditemukan di desa terpencil dengan lebih banyak bakat yang dimiliki orang Tribe lainnya. "Sekarang pergi tidur," kata Taku tiba¬tiba. "Ada yang harus kubicarakan dengan Sada." "Guru." Maya membungkuk normal dengan patuh dan mengucapkan selamat malam kepada keduanya. Tidak lama setelah ia masuk ke dalam rumah, seorang pelayan mendekatinya lalu menyuruhnya menyiap¬kan alas tidur. Dibukanya lipatan matras lalu membentangkan selimut, berjalan pelan melewati kamar-kamar panjang dan rendah rumah itu. Angin berhembus dan bersiul melalui celahnya, membawa musim gugur, tapi Maya tidak merasa Halaman 554 dari 554 kedinginan. Didengarkannya suara-suara dari taman. Mereka menyuruhnya pergi tidur dan ia mematuhinya, tapi mereka tidak melarang¬nya untuk mendengarkan. Maya mewarisi pendengaran tajam ayah¬nya, dan kini semakin peka. Ketika akhirnya ia berbaring, dipasang telinganya baik-baik, berusaha menyaring bisik-bisik dari para gadis yang berbaring di sisi kanan dan kirinya. Perlahan-lahan akhirnya mereka ter¬diam, suara pelan mereka berganti dengan nyanyian terakhir serangga musim panas, meratapi musim dingin yang akan datang dan kematian mereka. Didengarnya kepakan sayap burung hantu yang tenang sewaktu terbang melewati taman, dan menghembus¬kan napas dengan amat perlahan hingga nyaris tak terdengar. Sinar rembulan mem¬bentuk kisi-kisi di layar kertas; bulan menarik darahnya dengan keras, membuat¬nya mengalir cepat melalui urat nadinya. Di kejauhan Taku berkata, "Aku ajak Kono kemari agar dia bisa melihat kesetiaan di Maruyama kepada Otori. Aku cemas Zenko telah membiarkannya percaya bahwa Seishuu hendak memberontak, dan bahwa wilayah Barat takkan berpihak kepada Takeo." "Bisakah Hiroshi dipercaya?" gumam Sada. "Kalau tidak, akan kugorok leherku," sahut Taku. Sada tertawa. "Kau tidak akan bunuh diri, sepupu." "Kuharap aku tidak harus melakukannya. Aku mungkin akan melakukannya karena bosan harus bersama Lord Kono lebih lama lagi." "Maya akan menjadi hiburan yang menyenangkan, bila kau takut merasa bosan." "Atau tanggung jawab lain yang tak bisa kuhindari!" "Kenapa kau terkejut saat menatap matan¬ya?" "Aku mengharapkan tatapan anak perempuan. Yang kulihat bukanlah seperti anak perempuan: sesuatu yang tak berwujud, menanti untuk menemukan wujudnya." "Apakah arwah seorang laki-laki, atau sesuatu yang berhubungan dengan kerasukan si kucing?" "Aku sungguh-sungguh tidak tahu. Sepertinya berbeda. Maya unik— kemung¬kinan sangat kuat." "Dan berbahaya?" "Mungkin. Terutama sekali bagi dirinya sendiri." "Kau lelah." Sesuatu dalam nada suara Sada yang membuat tubuh Maya gemetar dengan gabungan antara kerinduan dan kecemburuan. Sada berkata, lebih pelan lagi, "Mari, ku¬pijat dahimu." Sesaat hening. Maya menahan napas. Taku menghembuskan napas panjang. Ada semacam kekuatan hasrat jatuh di taman yang gelap, pada pasangan yang tidak terlihat. Maya tidak tahan mendengarnya, lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Lama setelah itu, sepertinya Maya men¬dengar langkah kaki di beranda. Taku bicara dengan suara pelan, "Aku tidak meng¬harapkan itu!" "Kita tumbuh dewasa bersama," sahut Sada. 'Tidak perlu berarti apa-apa." "Sada, tidak ada yang terjadi di antara kita yang tidak berani apa-apa." Taku berhenti sejenak seolah ingin berkata lagi, tapi lalu berkata dengan singkat, "Aku akan me¬nemuimu dan Maya besok pagi. Bawa dia ke kastil saat tengah hari." Sada masuk ke kamar perlahan lalu ber¬baring di sebelah Maya. Berpura-pura ter¬tidur, Maya berbalik menghadapnya, meng¬hirup aroma tubuh itu bercampur dengan aroma Taku masih teninggal Halaman 555 dari 555 di tubuhnya. Ia tidak dapat memutuskan mana yang paling ia cintai: ia ingin memeluk mereka berdua. Pada saat itu Maya merasakan dirinya men¬jadi milik mereka selamanya. Keesokan harinya Sada membangunkannya pagi-pagi lain bersiap memotong rambutnya yang panjang sebahu dan menariknya ke belakang dan diikat ke atas, membiarkan dahinya tidak dicukur, seperti laki-laki yang masih di bawah umur. "Kau bukanlah gadis yang cantik," kata Sada seraya tertawa. "Tapi bisa menjadi anak laki-laki yang tampan. Membentak sedikit lagi, lalu katupkan bibirmu. Kau tidak boleh kelihatan cantik! Nanti ada ksatria yang membawamu kabur." Maya mencoba mengatur tubuh agar ter¬lihat lebih mirip anak laki-laki, tapi rasa senang, rambut dan pakaiannya yang masih terasa asing membuat matanya berkilat dan pipinya bersemu merah. "Tenang," Sada menghardiknya. "Kau jangan terlalu menarik perhatian. Kau adalah salah seorang pelayan Lord Taku; pelayan yang terendah derajatnya." "Apa yang nanti harus kulakukan?" "Sedikit sekali, kuharap. Beajarlah meng¬atasi rasa bosan." "Seperti Taku," sahut Maya tanpa pikir panjang. Sada mencengkeram lengannya. "Kau mendengarnya mengatakan itu? Apa lagi yang kau dengar?" Maya menjauhkan diri dari gadis itu. Selama beberapa saat ia tidak membuka mulut, tapi kemudian ia berkata, "Aku dengar semuanya." Sada tidak bisa menahan senyum. "Jangan bilang pada siapa-siapa," gumamnya, dengan nada mendukung. Ditariknya Maya lalu dipeluknya. Maya balas memeluk, merasakan panas tubuhnya, dan berharap Sada adalah Taku.* Sebagian laki-laki mengutamakan cinta, tapi Muto Taku bukanlah salah satunya, atau berhasrat ingin mengabdikan diri hanya untuk orang yang dicintai. Menurutnya perasaan berlebihan semacam itu aneh, bahkan men¬jijikkan, dan selalu menertawai orang yang tergila-gila karena cinta, terangterangan membenci kelemahan mereka. Ketika ada perempuan menyatakan terang-terangan mencintainya, seperti yang sering terjadi, Taku justru menjauhkan diri. Ia menyukai perempuan, dan semua kesenangan yang bisa dinikmati dari tubuh perempuan, menya¬yangi juga memercayai istrinya untuk meng¬atur rumah tangga, mengasuh anak-anak dengan baik dan setia kepadanya, tapi gagasan bersikap setia kepada istrinya tidak pernah melintas di benaknya. Maka ingatan yang tak mau pergi di benaknya tentang keintiman yang terjadi tiba-tiba serta tidak diharapkan bersama Sada mengganggu pikirannya. Kejadian seperti itu belum pernah dialaminya, hasrat yang begitu besar, kepuasan yang begitu menusuk serta sempurna; tubuh Sada yang sama tinggi dan kuat dengan tubuhnya, hampir seperti tubuh laki-laki namun sekaligus tubuh perempuan; hasrat keperempuanan Sada yang menang¬gapi hasrat dirinya, berserah diri kepadanya. Taku hampir tidak bisa tidur, hanya menginginkan kehadiran Sada di sisinya. Dan saat bicara dengan Sugita Hiroshi di taman kastil di Maruyama, ia sulit ber¬konsentrasi pada apa yang sedang dibicara¬kan. Kita tumbuh dewasa bersama. Tidak perlu berarti apa-apa, kata Sada waktu itu, dan dia berubah dari teman, hampir Halaman 556 dari 556 seperti adik, menjadi kekasih; dan Taku pun ber¬kata, tanpa tahu dari mana datangnya kata¬kata ini, Tak ada hal yang terjadi di antara kita yang tidak berarti apa-apa. Taku mengalihkan kembali perhatiannya pada kawannya. Mereka sebaya, beranjak dua puluh tujuh saat tahun baru nanti. Taku berperawakan kuat dan sulit digambarkan, wajah yang mudah berubahubah ekspresi khas Muto, sedangkan Sugita Hiroshi di¬anggap tampan, setengah kepala lebih tinggi dari Taku dan berbahu lebih bidang, dengan kulit pucat dan bentuk tubuh gagah khas klas ksatria. Saat masih kecil, mereka berdua sering bertengkar dan saling bersaing merebut perhatian Takeo, mereka pernah menjinakkan kuda-kuda jantan bersama, dan sejak itu terikat oleh hubungan persahabatan yang amat dalam. Saat itu masih pagi, cuaca tampak cerah di musim gugur ini. Langit biru pucat terang bak telur burung, matahari baru saja mulai mengangkat kabut dari tum-pukan jerami berwarna keemasan di sawah. Ini kesem-patan pertama bagi kedua laki-laki ini bisa bicara berdua sejnk kedatangan Taku ber¬sama Lord Kono. Mereka membicaraknn tentang pertemuan yang akan datang dengan Lord Otori dan Arai Zenko, yang diadakan dalam beberapa minggu mendatang di Maruyama. "Takeo dan Lady Shigeko sudah harus di sini pada bulan purnama berikutnya," kata Hiroshi, "tapi kedatangan mereka agak ter¬tunda karena mereka ke Terayama untuk ziarah ke makam Matsuda Shingen." "Pasti Takeo sedih kehilangan dua guru¬nya di tahun yang sama. Dia belum bisa melupakan kematian Kenji," komentar Taku. "Kepergian Matsuda tidak semendadak atau mengejutkan seperti kematian Kenji. Kepala Biara kami sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun, waktu yang luar biasa panjang. Dan beliau memiliki penerus yang layak. Seperti yang dimiliki pamanmu pada dirimu. Kau akan serasi dengan Lord Takeo seperti layaknya Kenji." "Aku merindukan ketrampilan dan pengetahuan pamanku," aku Taku. "Tam¬paknya keadaan semakin rumit setiap minggunya. Niat buruk kakakku, yang bahkan aku sendiri tak bisa memahaminya; Lord Kono dan tuntutan dari Kaisar; penolakan Kikuta untuk berunding...." "Selama aku di Hagi, kesibukan Takeo tampak tidak seperti biasa," tutur Hiroshi ragu-ragu. "Baiklah, terlepas dari kesedihan dan urusan-urusan negara ini, dia memiliki kekhawatiran lain, kurasa," sahut Taku. "Kehamilan Lady Otori, masalah putri¬putrinya." "Terjadi sesuatu pada Lady Shigeko?" sela Hiroshi. "Dia dalam keadaan sehat ketika aku bertemu dengannya belum lama ini...." "Sejauh yang kutahu, dia baik-baik saja. Masalah si kembar," ujar Taku. "Maya ikut bersamaku di sini; aku harus memperingat¬kanmu kalau-kalau kau mengenalinya." "Di sini bersamamu?" ulang Hiroshi merasa terkejut. "Dia berpakaian seperti anak laki-laki. Barangkali kau bahkan tidak memerhati¬kannya. Dia dirawat seorang perempuan muda yang juga menyamar menjadi laki-laki, kerabat jauh keluargaku: namanya Sada." Sebenarnya ia tidak perlu menyebut nama itu, namun ia tak mampu menahan diri: Aku terobsesi, pikirnya. "Zenko dan Hana akan datang," seru Hiroshi. "Mereka pasti akan mengenalinya!" "Hana mungkin saja. Tidak banyak yang luput dari pandangannya." "Memang benar," Hiroshi setuju. Mereka berdua terdiam sesaat, kemudian tertawa di saat bersamaan. Halaman 557 dari 557 "Kau tahu," kata Taku, "orang bilang kau tidak bisa melupakannya, dan itu sebabnya kau tidak menikah!" Mereka sudah pernah membicarakan masalah ini, tapi keingi¬ntahuan Taku bangkit oleh obsesi barunya sendiri. "Memang benar ada saat ketika aku sangat bersemangat ingin menikah dengannya. Kukira aku memujanya dan amat meng¬inginkannya menjadi bagian dari keluarga itu—ayah kandungku, seperti yang kau tahu, gugur dalam perang, dan paman beserta putranya lebih memilih untuk mencabut nyawa ketimbang menyerah pada Arai Daiichi. Aku tidak memiliki keluargaku sendiri; ketika Maruyama habis karena gempa bumi, aku tinggal di kediaman Lord Takeo. Tanah milik keluargaku dikembali¬kan ke wilayah kekuasaan itu. Aku dikirim ke Terayama untuk mempelajari Ajaran Houou. Saat itu aku masih sama bodoh dan angkuhnya dengan para pemuda pada umumnya. Kukira nantinya Takeo akan mengangkatku sebagai putranya, terutama ketika dia tidak punya anak laki-laki." Hiroshi tersenyum mengejek dirinya sendiri namun tanpa perasaan getir. "Jangan salah paham. Aku tidak kecewa atau pun tertekan. Aku melihat panggilan hidupku adalah untuk melayani; aku senang menjadi pengurus Maruyama dan mempertahankan¬nya untuk Lady Shigeko. Bulan depan dia akan menerima wilayah itu; aku akan kembali ke Terayama, kecuali kalau dia memintaku berada di sini." "Aku yakin Lady Shigeko akan mem¬butuhkanmu—setidaknya selama satu atau dua tahun. Tak perlu mengubur diri di Terayama bak pertapa. Kau harus menikah dan punya anak. Sementara itu untuk tanah, Takeo—atau Shigeko—akan memberi apa pun yang kau minta." "Tidak semua yang kuminta," sahut Hiroshi pelan, nyaris bicara pada dirinya sendiri. "Jadi kau masih tergila-gila pada Hana." 'Tidak, aku cepat pulih dari perasaan itu. Hana memang cantik, tapi aku senang kakakmu yang menjadi suaminya." "Akan lebih baik bagi Takeo bila kau yang menikah dengannya," ujar Taku, penasaran apa lagi yang menahan Hiroshi tidak ingin menikah. "Mereka saling mengisi ambisi," Hiroshi sepakat, dan dengan tangkasnya mengubah topik pembicaraan. "Tapi kau belum mengatakan alasan Maya berada di sini." "Dia perlu dijauhkan—dari sepupu¬sepupunya yang kini berada di Hagi, dan dari kembarannya. Dan harus ada yang meng awasinya terus-menerus, itu sebabnya Sada ikut bersamanya. Aku harus selalu meng¬awasinya juga. Aku tak bisa menjelaskan semua alasannya. Aku mengandalkanmu untuk menutupi ketidakhadiranku dan menghibur Lord Kono—dan sebelum aku lupa, meyakinkan agar klan Seishuu benar¬benar setia pada Otori." "Apakah anak itu dalam bahaya?" "Dialah yang bahaya," sahut Taku. "Tapi kenapa dia tidak datang secara ter¬buka, sebagai putri Lord Otori, dan tinggal di sini seperti yang sudah sering dilakukan¬nya?" Ketika Taku tidak segera menjawab, Hiroshi berkata, "Pada dasarnya kau memang suka intrik, akui saja!" "Dia lebih berguna bila tidak dikenali," ujar Taku akhirnya. "Lagipula dia adalah anak dari kalangan Tribe. Bila dia menjadi Lady Otori Maya, maka hanya sampai sebatas itu perannya; sedangkan di Tribe dia bisa mengambil berbagai peran yang ber¬beda." "Kurasa dia bisa melakukan semua tipuan yang kau gunakan untuk menggodaku," kata Hiroshi tersenyum. Halaman 558 dari 558 "Tipuan-tipuan itu, sebagaimana kau me¬nyebutnya, pernah menyelamatkanku lebih dari sekali!" sahut Taku dengan pedas. "Selain itu, aku percaya Ajaran Houou juga memiliki tipuan!" "Para Guru Besar, seperti Miyoshi Gemba dan Makoto, memiliki banyak kemampuan yang kelihatannya supernatural, tapi sebenar¬nya itu adalah hasil dari latihan selama ber¬tahun-tahun dan pengendalian diri." "Baiklah, kurang lebih sama dengan Tribe. Kemampuan kami mungkin saja berasal dari keturunan, tapi tidak ada artinya tanpa latihan. Tapi apa para Guru Besarmu berhasil membujuk Takeo agar tidak ber¬perang, baik di Wilayah Timur atau pun di Wilayah Barat?" "Ya, saat datang nanti dia akan mem¬beritahukan pada Lord Kono bahwa utusan khusus kami dalam perjalanan ke Miyako untuk menyiapkan kunjungan tahun depan." "Apakah menurutmu kunjungan ini bijak¬sana? Bukankah Takeo justru menempatkan diri di bawah kekuasaan jenderal baru ini, Si Pemburu Anjing?" "Tindakan apa pun yang menghindari perang adalah tindakan yang bijaksana," sahut Hiroshi. "Maaf, tapi ini adalah kata-kata aneh yang keluar dari mulut seorang ksatria!" "Taku, kita berdua menyaksikan ayah kita mati di depan mata kepala kita..." "Ayah, paling tidak, pantas mati! Aku tak¬kan lupa saat itu ketika kupikir Takeo seharusnya membunuh Zenko..." "Ayahmu bertindak dengan benar, menurut keyakinan dan kode kehormatan¬nya," tutur Hiroshi tenang. "Dia mengkhianati Takeo setelah ber¬sumpah untuk bersekutu dengannya!" seru Taku. "Tapi bila dia tidak bertindak seperti itu, cepat atau lambat Takeo juga akan menye¬rangnya. Ini wajar dalam masyarakat kita. Kita bertempur sampai bosan, dan setelah beberapa tahun bosan dengan kedamaian lalu berperang lagi. Kita menyembunyikan hasrat haus darah dan hasrat untuk balas dendam dengan kode etik kehormatan, yang kita langgar sendiri ketika tampak pantas dilaku¬kan." "Apa benar kau belum pernah membunuh seorang pun?" tanya Taku sekonyong¬konyong. "Aku diajari banyak cara untuk mem¬bunuh, dan belajar strategi perang sebelum berumur sepuluh tahun, tapi aku belum pernah bertarung dalam penempuran yang sesungguhnya, dan aku belum pernah mem¬bunuh siapa pun. Kuharap takkan pernah." "Saat nanti kalau kau di medan perang, kau akan berubah pikiran," kata Taku. "Kau akan mempertahankan diri layaknya semua orang." "Barangkali. Untuk sementara ini aku akan lakukan apa pun untuk menghindari perang." "Aku khawatir kalau kakakku dan Kaisar akan membawamu ke kancah peperangan. Terutama karena kini mereka sudah memiliki senjata api. Kau bisa pastikan kalau mereka takkan tinggal diam sampai mereka menjajal habis-habisan senjata baru mereka." Ada gerakan di ujung taman, dan seorang penjaga berlari menghampiri lalu berlutut di depan Hiroshi. "Lord Kono sudah datang. Lord Sugita!" Dengan kehadiran si bangsawan, sikap mereka berdua agak berubah: Taku menjadi lebih waspada, tapi Hiroshi tampak lebih terbuka dan ramah. Kono ingin melihat berbagai kota dan pedesaan sehingga mereka melakukan banyak ekspedisi. Si bangsawan ditandu mewah yang berlapis emas, sedang¬kan kedua pemuda itu menunggang kuda, anak-anak Raku. Cuaca musim gugur tetap cerah dan terang, warna dedaunan semakin hari semakin tua. Hiroshi dan Taku menjelaskan kepada Kono tentang kekayaan wilayah itu, pertahanan serta jumlah tentara, kepuasan penduduknya, dan kesetiaan mutlaknya pada Lord Otori. Si bangsawan menerima semua Halaman 559 dari 559 informasi ini dengan sopan santunnya yang tenang seperti biasa, hingga perasaannya yang sebenarnya tidak diketahui. Terkadang Maya turut dalam perjalanan¬perjalanan ini, menunggang kuda milik Sada, sesekali menemukan dirinya berada cukup dekat dengan Kono dan para penasihatnya untuk mendengarkan apa yang mereka gumamkan. Percakapannya kedengaran tidak menarik dan sepele, tapi ia mengingat dan mengulang kata demi kata untuk Taku sewaktu datang ke rumah tempat ia dan Sada tinggal, seperti yang Taku lakukan setiap dua atau tiga hari sekali. Kadang-kadang Taku datang larut malam, dan betapa pun larut¬nya, Taku selalu ingin bertemu Maya, bahkan bila Maya sudah tertidur. Maya harus bangun cepat, sesuai cara Tribe yang mengendalikan kebutuhan tidur mereka dengan cara yang sama untuk mengendalikan semua kebutuhan dan hasrat mereka. Maya harus mengerahkan seluruh tenaga dan konsentrasinya untuk pertemuan malam hari ini dengan gurunya. Taku kerapkali kelelahan dan tegang, kesabarannya hampir habis; pekerjaan ini berjalan lambat dan banyak tuntutannya. Maya ingin bekerja sama, tapi takut dengan apa yang kemungkinan terjadi padanya. Acapkali ia merindukan berada di rumahnya di Hagi bersama ibu dan kakak juga adiknya. Ia ingin menjadi anak-anak saja; ingin men¬jadi seperti Shigeko, tanpa kemampuan Tribe dan tidak punya saudara kembar. Menjadi anak laki-laki seharian telah menguras tenaganya, tapi itu tidak ada apa-apanya di¬bandingkan dengan tuntutan yang baru. Sebelumnya ia merasa pelatihan Tribe mudah: menghilang, menggunakan sosok kedua, tapi cara yang baru ini sepertinya jauh lebih sulit dan lebih berbahaya. Maya tidak membiarkan sikap Taku memengaruhi diri¬nya, kadang dengan wajah cemberut yang dingin, kadang dengan kemarahan. Maya mulai menyesali kematian si kucing dan kerasukan roh hewan itu; ia memohon pada Taku untuk menyingkirkannya. "Aku tidak bisa," sahut Taku. "Yang bisa kulakukan hanyalah membantumu belajar mengendalikannya, dan menguasainya." "Kau sudah terlanjur melakukannya," kata Sada. "Kau harus menerimanya." Kemudian Maya merasa malu dengan kelemahannya. Dikiranya ia akan suka men¬jadi si kucing, tapi ternyata kucing itu lebih kejam dan menakutkan dari yang ia perki¬rakan. Kucing itu ingin menariknya masuk ke dunia lain, dunia tempat para hantu dan arwah. "Kucing itu bisa memberimu kekuatan," kata Taku. "Kekuatan itu sudah ada; kau harus meraih dan memanfaatkannya!" Tapi meski berada di bawah pengawasan dan bimbingan Taku hingga Maya sudah terbiasa dengan roh yang hidup dalam dirinya, tapi ia tetap tidak bisa melakukan apa yang Taku harapkan: mengambil bentuk kucing itu lalu memanfaatkannya.* Bulan purnama di bulan kesepuluh semakin dekat, dan di mana-mana persiapan Perayaan Musim Gugur telah dimulai. Kegembiraan kian bertambah tahun ini dengan kenyataan bahwa Lord Otori sena putri sulungnya, pe¬waris Maruyama, Lady Shigeko, akan meng¬hadiri perayaan. Penduduk kota turun ke jalan setiap malam dengan pakaian berwarna cerah dan sandal baru sambil bernyanyi, me¬lambaikan tangan di atas kepala. Maya sudah tahu kalau ayahnya dikenal banyak orang, bahkan dicintai, tapi tak sepenuhnya me¬nyadari sampai tahap apa hingga mendengar¬nya sendiri dari mulut orang-orang yang saat ini berbaur dengan dirinya. Tersiar juga berita bahwa wilayah ini secara resmi akan dipersembahkan kepada Shigeko karena sekarang usianya sudah mencukupi. "Memang benar," kata Taku pada Maya saat ia menanyakannya. "Hiroshi sudah membicarakannya denganku. Shigeko akan mengganti nama dan sejak saat ini dikenal Halaman 560 dari 560 sebagai Lady Maruyama." "Lady Maruyama," ulang Maya. Ke¬dengarannya seperti legenda, nama yang sering didengar, dari Chiyo, dari Shizuka, dari para penyanyi balada yang menyanyikan dan menceritakan kisah-kisah Otori di sudut jalanan dan tepi sungai. "Ibuku sekarang yang memimpin Tribe, Lady Shigeko kelak akan memimpin Tiga Negara; sebaiknya kau berubah menjadi anak perempuan lagi sebelum usiamu semakin bertambah!" Taku menggodanya. "Aku tidak tertarik dengan Tiga Negara, tapi aku ingin memimpin Tribe!" sahut Maya. "Kau harus tunggu sampai aku mati!" Taku tertawa. "Jangan bilang begitu!" Sada memper¬ingatkannya, seraya menyentuh lengannya. Taku langsung berpaling dan menatap Sada dengan pandangan yang membuat hati Maya berdebar sekaligus cemburu. Ketiganya berada di kamar kecil di ujung rumah Tribe. Maya tak menduga Taku datang begitu cepat—ia sudah di sana sejak kemarin malam. "Lihat saja, aku tidak bisa jauh darimu," kata Taku sewaktu Sada mengungkapkan rasa terkejutnya karena Taku datang cepat. Sada yang tak bisa menyembunyikan rasa senang, tidak bisa menahan diri untuk terus menyentuh Taku. Malam itu dingin dan terang. Empat hari sebelum pumama, bulan sudah makin membesar dan menguning. Meski udara dingin, daun jendela tetap terbuka; mereka bertiga duduk berdekatan di dekat tungku batu bara, selimut tebal menyelimuti tubuh mereka. Taku minum sake, tapi baik Sada maupun Maya tak suka rasanya. Satu lentera kecil kalah dengan gelapnya ruangan itu, tapi taman penuh sinar bulan dan bayang-bayang pekat. "Lalu ada kakakku," bisik Taku pada Sada, tidak lagi berkelakar, "yang percaya kalau sudah menjadi haknya untuk memimpin Tribe, sebagai kerabat tertua Kenji." "Aku takut ada juga orang lain yang tidak setuju Shizuka menjadi Ketua Muto. Perempuan belum pernah memimpin keluarga itu; orang-orang tidak suka bila tradisi diubah. Mereka menggerutu kalau tindakan ini menying-gung dewa-dewa. Bukannya menginginkan Zenko; mereka lebih memilihmu, pastinya, tapi penunjukan ibumu telah menyebabkan perpecahan." Maya mendengarkan dengan cermat, tanpa bicara, sadar akan hawa panas di satu sisi wajahnya, dan udara dingin di sisi wajah yang satunya lagi. Dari kota terdengar musik dan nyanyian, tabuhan genderang dengan irama tegas, disela dengan teriakan-teriakan parau. "Aku mendengar satu desas-desus hari ini," kata Sada. "Kikuta Akio terlihat di Akashi. Dia berangkat ke Hofu dua minggu lalu." "Sebaiknya kita segera kirim orang ke Hofu," kata Taku. "Dan cari tahu mau ke mana dia dan apa tujuannya. Apakah dia bepergian seorang diri?" "Imai Kazuo bersamanya, dan putranya." "Putra siapa?" Taku duduk tegak. "Bukan putra Akio, kan?" "Sepertinya ya, anak laki-laki berusia sekitar enam belas tahun. Mengapa kau begitu kaget?" "Kau tidak mengenal siapa anak itu?" "Dia adalah cucu Muto Kenji, semua orang tahu itu," sahut Sada. "Tidak ada lagi?" Sada menggeleng. "Kurasa itu adalah rahasia Kikuta," gumam Taku. Lalu sepertinya dia ingat akan kehadiran Maya. "Suruh anak itu tidur," katanya pada Sada. Halaman 561 dari 561 "Maya, tidurlah di kamar pelayan," perintah Sada. Sebulan lalu ia pasti akan protes, tapi ia sudah belajar mematuhi Sada dan Taku dalam segala hal. "Selamat malam," gumamnya, lalu bangkit berdiri. "Tutup jendelanya sebelum pergi," kata Taku. "Udara semakin dingin." Sada berdiri membantu. Jauh dari api membuat Maya kedinginan, dan begitu berada di kamar pelayan ia justru merasa lebih dingin. Semua orang sepertinya sudah tidur; Maya menemukan tempat di sela dua orang gadis dan merangkak melewati mereka. Di sini, di rumah Tribe semua orang tahu kalau ia anak perempuan; hanya di dunia luarlah ia harus tetap menyamar sebagai anak laki-laki. Tubuh Maya gemetar; ingin men-dengar apa yang Taku katakan, ingin bersamanya dan Sada: Maya memikirkan bulu kucing yang tebal dan halus menye¬limuti dirinya, menghangatkan tubuhnya, dan gemetar tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang lain, riak kekuatan menjalar ke sekujur tubuhnya karena si kucing meregang¬kan otot-ototnya dan hidup lagi, Maya menyelinap dari balik selimut dan melangkah tanpa bersuara dari kamar itu, sadar akan bola matanya yang membesar dan pandangannya yang tajam, mengingat bagai¬mana dunia itu penuh dengan gerakan kecil yang belum pernah diperhatikannya, men¬dengarkan dengan agak takut suarasuara hampa para arwah. Ia sudah berada separuh jalan ke gang selasar ketika ia sadar tengah bergerak melayang di atas permukaan tanah, lalu menjerit keras ketakutan. Aku tidak bisa membuka pintunya, pikir Maya, tapi roh kucing lebih tahu, dan me¬lompat ke jendela, melayang melewatinya, melambung menyeberangi beranda dan me¬masuki ruangan tempat Sada dan Taku berangkulan. Maya berpikir akan menam¬pakkan diri kepada mereka, kalau Taku akan merasa senang dan memujinya. Ia ingin ber¬baring di antara mereka. Sada bicara dengan nada setengah malas, merangkum percakapan sebelumnya, kata¬kata yang paling mengguncang diri Maya daripada semua yang pemah dialaminya, tapi bergema dalam roh kucing yang belum mati. "Bocah itu benar-benar putra Takeo?" "Ya, dan menurut ramalan, akan menjadi saru-satunya orang yang bisa membawa kematian padanya." Maya mengetahui keberadaan kakak laki¬lakinya, dan ancaman terhadap ayahnya. Ia berusaha tetap diam tapi tidak bisa menahan lolongan ketakutan dan putus asa yang memaksa keluar dari tenggorokannya. Di¬dengarnya Taku berseru, "Siapa di sana?" dan mendengar teriakan kaget Sada, dan ia melompat menerobos kasa dan keluar ke taman seolah bisa lari selama-lamanya, jauh dari segalanya. Tapi ia tidak bisa berlari dari suara-suara arwah yang bergemerisik di telinganya yang berdiri tegak dan merasuk ke dalam tulangnya yang rapuh dan cair. Di mana Penguasa kami?* Otori Takeo dan Arai Zenko tiba di Maruyama selang beberapa jam, sehari sebelum bulan purnama. Takeo datang dari Yamagata dan membawa sebagian besar orang istana Otori, termasuk Miyoshi Kahei dan adiknya Gemba, satu iring-iringan kuda membawa catatan-catatan administrasi yang harus ditangani saat ia berada di wilayah Barat, sejumlah besar pengawal, dan putri sulungnya, Udy Shigeko. Zenko didampingi pengawal yang sama banyaknya, kuda-kuda pengangkut keranjang berisi hadiah-hadiah mewah dan pakaian-pakaian mahal, burung rajawali dan anjing kecil milik Lady Arai, serta Lady Arai sendiri, di dalam tandu yang diukir dan dihias dengan indah. Halaman 562 dari 562 Kedatangan para pemimpin dengan iring¬iringan mereka menutupi jalan dan me¬menuhi rumah penginapan membuat pen¬duduk kota gembira. Sebulan terakhir ini mereka telah menambah persediaan beras, ikan, kedelai, sake dan makanan khas daerah mereka, dan kini berharap bisa mendapat keuntungan besar. Musim panas bermurah haii menghasilkan panen berlimpah; Maruyama segera diserahkan pada pewaris perempuannya: banyak yang harus diraya¬kan. Di mana-mana umbul-umbul berkibar tertiup angin, menggambarkan bukit bulat Maruyama bersama bangau Otori, dan jurumasak saling berlomba menciptakan santapan berbentuk bulat untuk meng¬hormati bulan purnama. Takeo melihat itu semua dengan gembira. Maruyama adalah wilayah yang amat di¬sayanginya karena di sinilah ia menghabiskan bulan-bulan pertama setelah pernikahannya dan mulai mempratikkan semua yang telah ia pelajari dari Lord Shigeru tentang pe¬merintahan dan pertanian. Wilayah ini nyaris hancur tersapu badai dan gempa bumi di tahun pertama pemerintahannya. Kini, setelah enam belas tahun berlalu, wilayah ini menjadi kaya dan damai; perdagangan maju pesat, seni berkembang, anak-anak makan berkecukupan, semua luka bekas perang tampak telah lama pulih, dan Shigeko akan mengambil alih wilayah ini lalu memerintah berdasarkan hak dan kewajibannya. Takeo tahu putrinya layak mendapatkannya. Ia harus terus mengingatkan dirinya sendiri kalau ia berada di sini untuk menemui dua laki-laki yang mungkin akan merampas wilayah ini dari Shigeko. Salah satunya, Lord Kono, diberi penginapan seperti dirinya di dalam kastil. Zenko tinggal di kediaman yang paling bergengsi dan mewah di balik dinding kastil, yang dulunya adalah kediaman Sugita Haruki, pengawal senior wilayah tersebut yang bersama putranya memilih bunuh diri ketimbang setuju untuk menyerahkan kota ini kepada Arai Daiichi. Takeo penasaran apakah Zenko menyadari sejarah kesetiaan dari rumah itu, dan berharap kalau laki-laki itu dipengaruhi arwah dari para mendiang yang setia. Sebelum makan malam, saat Takeo harus bertemu dengan musuh-musuh potensialnya ini, dipanggilnya Hiroshi untuk bicara ber¬dua. Pemuda itu tampak tenang dan waspada. Setelah membahas prosedur dan upacara untuk keesokan harinya, Takeo mengucapkan terima kasih atas kerja keras¬nya. "Kau telah bertahun-tahun mengabdi pada keluargaku. Kami harus memberimu imbalan. Kau ingin tinggal di wilayah Barat? Akan kucarikan tanah dan bangunan untuk¬mu serta seorang istri. Aku sudah memper¬timbangkan cucu Lord Terada, Kaori. Dia gadis yang amat baik, kawan baik putriku." "Untuk memberiku tanah di Maruyama, berarti akan mengambilnya dari orang lain, atau dari Lady Shigeko," sahut Hiroshi. "Aku sudah bilang pada Taku: aku akan tetap di sini selama dibutuhkan—tapi keinginanku yang sebenarnya yaitu diijinkan mengundur¬kan diri ke Terayama dan mengikuti Ajaran Houou." Takeo menatapnya tanpa langsung men¬jawab. Tatapan mata Hiroshi beradu pandang dengannya lalu berpaling ke arah lain. "Dan untuk pernikahan... aku berterima kasih atas perhatian Anda, tapi aku sungguh-sungguh tak ingin menikah, dan aku tidak punya apa-apa untuk diberikan pada seorang istri." "Keluarga mana pun di Tiga Negara akan menyambutmu dengan gembira sebagai menantu. Kau kurang menghargai dirimu. Bila kau tidak suka pada Terada Kaori, biar kucarikan gadis lain. Apakah ada gadis lain?" "Tidak ada," sahut Hiroshi. "Kau tahu betapa besar rasa sayang keluargaku padamu," lanjut Takeo. "Kau sudah seperti kakak laki-laki bagi ketiga putriku; andai usia kita tidak terlalu dekat jaraknya, aku pasti akan mengangkatmu menjadi putraku." "Kumohon, Lord Takeo, jangan Halaman 563 dari 563 diteruskan," kata Hiroshi dengan nada memohon. Wajahnya mulai memerah. Berusaha menyembunyikan rasa tertekannya dengan tersenyum. "Anda bahagia dalam perkawinan hingga ingin kami semua memiliki keadaan yang sama! Tapi aku ter¬panggil ke jalan lain. Satu-satunya per¬mintaanku adalah diijinkan mengikuti jalan itu." "Aku tidak akan menentang keinginanmu itu!" sahut Takeo, lalu memutuskan untuk menghentikan masalah pernikahan ini sementara waktu. "Tapi aku punya satu permintaan, yaitu mendampingi kami ke ibukota tahun depan. Seperti yang kau tahu, aku mengatur kunjungan damai ini atas permintaan para Guru Besar Ajaran Houou. Aku ingin kau ambil bagian dalam kun¬jungan ini." "Ini merupakan kehormatan bagiku,' sahut Hiroshi. "Terima kasih." "Shigeko juga akan ikut denganku atas saran para Guru Besar. Kau harus melindunginya, seperti yang sudah biasa kau lakukan." Hiroshi membungkuk tanpa bicara. "Putriku mengusulkan agar kita membawa kirin, yang akan menjadi hadiah yang tak ada bandingnya untuk Kaisar." "Anda ingin memberikan kirin!" seru Hiroshi. "Aku rela memberikan segalanya bila itu mempertahankan kedamaian di negeri ini," sahut Takeo. Bahkan Shigeko? Keduanya tidak me¬nyuarakan kata-kata itu, namun kata-kata itu bergema di benak Takeo. Ia tidak tahu apakah sudah bisa menjawab atau belum. Sesuatu dari perbincangan ini pasti telah membuatnya waspada sehingga di saat ia tidak disibukkan oleh Lord Kono, Zenko dan Hana, ditemukan dirinya lebih memerhati¬kan Hiroshi dan putrinya saat makan malam. Mereka berdua, entah mengapa, lebih pendiam, dan sedih, nyaris tidak saling bicara atau bertatapan. Takeo tidak bisa meng¬ungkapkan ada perasaan khusus apa di antara mereka berdua; dibayangkannya hati Shigeko tidak tersentuh. Tapi tentu saja mereka berdua sangat mahir menyembunyikan perasaan masing-masing. Makan malam berlangsung resmi dan anggun, dengan menu khas musim gugur di wilayah Barat: jamur pohon pinus, kepiting dan udang kecil, gurih dan gating, chestnuts and kacang ginko, disajikan di atas nampan berpernis dan tembikar berwarna coklat muda kekuningan pucat dari Hagi. Kaede telah membantu mengembalikan kediaman itu pada keindahan aslinya: tikar berwarna hijau keemasan dan beraroma manis; lantai dan balok-balok penyangga berkilau dengan hangat; di belakangnya berdiri kasa ber¬hiaskan burung dan bunga musim gugur, burung gelatik dengan semak semanggi, burung puyuh dengan krisan. Takeo bertanya-tanya bagaimana pendapat Kono tentang semua yang dilihatnya di sini, dan bagaimana bila dibandingkan dengan istana Kaisar. Takeo meminta maaf atas ketidakhadiran istrinya, menjelaskan tentang kehamilan istrinya, dan ingin tahu apakah Zenko dan Hana kecewa dengan kabar ini karena akan menunda rencana pengangkatan kedua putra mereka. Takeo seakan melihat perasaan tidak suka sesaat sebelum Hana mulai mengucapkan selamat yang berlebihan, mengungkapkan kebahagiaannya, dan berharap kakaknya mendapatkan anak laki-laki. Takeo, pada gilirannya, dengan berhati-hati memuji Sunaomi dan Chikara—yang tidaklah sulit dilakukan karena ia dengan tulus memang menyayangi kedua anak itu. Kono berkata dengan sopan, "Aku sudah menerima surat dari Miyako. Aku paham Anda akan mengunjungi Kaisar tahun depan." "Bila beliau berkenan menerimaku, ituiah tujuanku," sahut Takeo. "Kurasa beliau akan menerima Anda. Semua orang ingin tahu tentang Anda. Bahkan Lord Saga Hideki telah meng¬ungkapkan keinginannya untuk berjumpa dengan Anda." Halaman 564 dari 564 Takeo menyadari kalau Arai Zenko memerhatikan tiap kata dengan tetap menunduk. Dan bila mereka menyerang lalu membunuhku di sana, Zenko akan menunggu di wilayah Barat, mendahului restu sang Kaisar... "Lord Saga saat ini tengah memikirkan semacam olah-raga atau pertandingan. Beliau menulis surat kepadaku bahwa ketimbang menumpahkan darah ribuan orang, beliau lebih suka bertemu Lord Otori dalam per¬tandingan—berburu anjing, mungkin. Itu kegemarannya." Takeo tersenyum. "Lord Saga tidak mengetahui masalah-masalah kecil kami. Beliau tidak tahu kalau tanganku yang cacat menghambatku untuk menarik busur." Untungnya, Takeo tidak bisa menahan untuk berpikir, karena aku tidak mahir memanah. "Baiklah, mungkin ada pertandingan yang lain. Keadaan istri Anda yang meng¬haruskannya berdiam diri di rumah jadi tidak memungkinkannya mendampingi Anda?" "Begitulah. Tapi putriku akan ikut." Shigeko mengangkat kepala lalu melihat ke arah ayahnya. Tampak mata mereka bertemu lalu dia tersenyum kepada ayahnya. "Lady Shigeko bertunangan?" tanya Kono. "Belum, belum," jawab Takeo. "Lord Saga baru saja menduda." Suara Kono terdengar dingin dan datar. "Aku turut berduka." Takeo ingin tahu apakah ia bisa tahan menyerahkan putri sulungnya pada orang seperti Lord Saga— namun bisa menjadi persekutuan yang baik, dan bila itu bisa memastikan kedamaian di Tiga Negara... Shigeko angkat bicara, suaranya terdengar jernih dan tegas. "Aku tak sabar ingin ber¬jumpa Lord Saga. Mungkin beliau akan menerimaku sebagai pengganti ayahku dalam pertandingan apa pun nantinya." "Lady Shigeko amat mahir memanah," imbuh Hiroshi. Takeo mengingat dengan takjub kata-kata Gemba: Akan ada semacam pertandingan di Miyako... putrimu sebaiknya ikut. Dia harus menyempurnakan keahlian menunggang kuda, memanah... Bagaimana Gemba bisa tahu hal ini? Takeo memandang ke seberang ruangan, ke arah Gemba yang duduk agak menjauh di sebelah adiknya, Kahei. Gemba tidak melihatnya, tapi ada senyum tipis tersung¬ging di wajah montoknya. Kahei terlihat lebih tegas, menyembunyikan ketidak¬setujuannya. Ini memperkuat bukti anjuran para Guru Besar, pikir Takeo cepat. Aku akan datang ke Miyako. Aku akan terima tantangan Saga, apa pun itu. Kami akan selesaikan masalnh tanpa harus berperang. Tampaknya Kono sama terkejutnya dengan Takeo, walaupun dengan alasan lain. "Aku tidak menyadari kalau perempuan di Tiga Negara begitu berbakat, dan pembe¬rani," katanya pada akhirnya. "Seperti halnya Lord Saga, mungkin Anda belum mengenal kami dengan baik," sahut Shigeko. "Ini semakin menambah alasan mengapa kami harus berkunjung ke ibukota, agar Anda semakin memahami kami." Shigeko berbicara dengan sopan, namun juga tak bisa menghilangkan kesan berkuasa yang ada di balik kata-katanya. Dia tidak mem¬perlihatkan rasa tidak suka bertemu dengan putra orang yang pernah menculik ibunya, atau kelihatan terintimidasi dengan ke¬hadirannya. Rambut panjangnya tergerai di bahu; punggungnya tegak lurus, kulitnya nyaris bercahaya dengan jubah wama kuning pucat dan emas yang dikenakannya, dengan dedauan maple yang cerah. Takeo ingat saat pertama kali melihat Lady Maruyama Naomi: menurutnya perempuan itu seperti Jato, pedangnya, kecantikan yang menyem Halaman 565 dari 565 bunyikan kekuatan. Kini dilihatnya kekuatan yang sama pada putrinya, dan merasa agak lega. Apa pun yang terjadi, ia telah memiliki pewaris. Ini memastikan bahwa Tiga Negara akan tetap bersatu bila diwariskan kepada¬nya. "Aku sungguh tidak sabar menantinya!" seru Kono. "Kuharap aku bisa dibebaskan dari keramahan Lord Otori untuk kembali ke Miyako sebelum Anda tiba di sana, dan memberitahukan kepada Yang Mulia Kaisar tentang semua yang kudapatkan di sini." Dia membungkuk dan bicara dengan ber¬semangat, "Aku bisa meyakinkan bahwa semua taporanku akan berpihak kepada Anda." Takeo membungkuk sedikit tanda setuju, ingin tahu seberapa banyak kata-kata ini diucapkan dengan tulus, seberapa banyak pujian—dan niat buruk apa yang direnca¬nakan Kono dan Zenko. Berharap Taku tahu lebih banyak, dan ingin tahu ada di mana dia sekarang, mengapa dia tidak hadir saat santap malam. Apakah Zenko tersinggung atas kehadiran dan pengawasan Taku sehingga sengaja tidak mengundang adiknya? Dan ia pun cemas ingin mendengar kabar tentang Maya. Ia tak dapat menahan diri untuk berpikir kalau ketidakhadiran Taku tak ber¬kaitan dengan putrinya itu: kalau Maya dalam masalah; atau melarikan diri.... Disadarinya kalau pikirannya melayang jauh, dan tak mendengarkan kalimat terakhir Lord Kono. Dipaksa dirinya berkonsentrasi pada saat ini. Tampaknya tidak ada lagi alasan untuk menahan bangsawan itu; tentu saja, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengirimnya pulang dengan pikiran yang penuh dengan kesejahteraan wilayah ini, kesetiaan klan Seishuu—serta keindahannya, karakter dan kecantikan putri sulungnya. Tapi Takeo lebih suka mendengarnya dari Taku, detail mengenai kunjungan singkat Kono di wilayah Barat, hubungan bangsawan itu dengan Zenko dan Hana. Keramaian perayaan berlanjut hingga larut malam: pemusik memainkan kecapi tiga senar dan harpa, sementara dari kota terdengar genderang dan nyanyian. Takeo tidur tidak nyaman, pikirannya masih penuh dengan kecemasan atas ketiga putrinya, Kaede yang sedang mengandung. Saat bangun pagipagi, merasakan nyeri di tangan dan rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Ia meminta Minoru dibangunkan, dan selagi minum teh ia mengingat-ingat apa saja yang ia katakan semalam, memeriksa kalau segala¬nya telah dicatat dengan benar karena Minoru ditempatkan di balik kasa semalaman. Karena Kono diijinkan pergi, banyak hal yang harus disiapkan. "Apakah Lord Kono bepergian lewat laut atau darat?" tanya Minoru. "Lewat laut, bila ingin tiba sebelum musim dingin," sahut Takeo. "Pasti salju sudah turun di Jajaran Awan Tinggi: dia takkan tiba di sana sebelum perbatasan ditutup. Dia bisa saja lewat darat menuju Hofu dan naik kapal laut dari sana." "Jadi beliau akan melakukan perjalanan bersama Lord Otori sampai Yamagata?" "Ya, kurasa bagusnya begitu. Kita harus tunjukkan satu pemandangan lagi padanya. Sebaiknya kau siapkan Lady Miyoshi." Minoru membungkuk hormat. "Minoru, kau selalu hadir dalam per¬temuanku dengan Lord Kono. Sikapnya padaku semalam sepertinya sedikit berubah, bagaimana pendapatmu?" "Sikapnya seperti hendak berbaikan," sahut Minoru. "Beliau pasti mengamati kepopuleran Lord Otori, pengabdian dan kesetiaan rakyat di sini. Di Yamagata aku yakin Lord Miyoshi akan menjelaskan ukuran dan kekuatan bala tentara kita. Lord Kono pasti membawa kabar kepada Kaisar dengan keyakinan bahwa Tiga Negara tak mudah ditaklukkan, dan...." "Teruskan," sela Takeo. "Aku tidak berhak untuk mengatakannya, tapi Lady Shigeko belum menikah, dan Lord Kono pastinya akan lebih memilih untuk merundingkan pernikahan ketimbang me¬mulai perang yang tidak bisa Halaman 566 dari 566 dimenangkan. Apabila beliau yang akan menjadi perantara, maka beliau harus mendapat kepercayaan dan persetujuan ayah calon mempelai perempuan." "Baiklah, kita akan terus menyanjung dan berusaha membuatnya terkesan. Ada kabar dari Taku? Aku menantikannya tadi malam." "Dia mengirim permintaan maaf kepada kakaknya, mengatakan bahwa dia sedang kurang sehat— hanya itu," sahut Minoru. "Apa aku harus menghubunginya?" "Tidak perlu, pasti ada alasan lain dengan ketidakhadirannya. Selama kita tahu dia masih hidup, maka semuanya baik-baik saja." "Tentunya tak ada orang yang akan menyerang Lord Kono, di Maruyama sini?" "Taku telah menyinggung banyak pihak dengan mengabdi padaku," tutur Takeo. "Tak satu pun dari kita yang benar-benar aman." *** Panji-panji Klan Maruyama, Otori serta Seishuu berkibaran di atas lapangan kuda di depan kastil. Parit yang mengelilinginya penuh dengan perahu-perahu berlambung datar yang ditumpangi para penonton. Anjungan dari sutra didirikan bagi kelompok masyarakat dengan klas lebih tinggi, dan lambang berhias rumbai bergelanmngan dari atap dan dari tiang pancang yang ditanam di sekelilingnya. Takeo duduk di atas mimbar yang ditinggikan di salah satu pavilion ini, bantal dan karpet bertebaran di lantai. Kono di sebelah kanan, dan Zenko di sebelah kiri, dan di belakang Zenko, Hana. Hiroshi berada di depan mereka dengan menunggang kuda abu-abu pucat dengan surat dan ekor hitam. Kuda pemberian Takeo bertahun-tahun lalu itu menunggu diam tak bergerak bak patung. Di belakang¬nya, tanpa kuda, memegang kotak-kotak berpernis, berdiri para tetua klan, semua mengenakan jubah tebal berhias bordiran emas, dan bertopi hitam. Di dalam kotak¬kotak terdapat harta kekayaan wilayah ini, dan gulungan berisi silsilah keluarga meng¬gambarkan silsilah Shigeko melalui semua perempuan Maruyama. Kaede seharusnya berada di sini, pikir Takeo dengan rasa menyesal; rindu berjumpa dengan istrinya untuk menceritakan pemandangan ini. Takeo turut merencanakan upacara ini— semuanya dilakukan Hiroshi karena ini merupakan ritual kuno Maruyama yang belum dilaksanakan lagi sejak Lady Naomi mewarisi wilayah ini. Takeo memindai kerumunan orang, ingin tahu di mana Shigeko, dan kapan putrinya akan muncul. Di antara kerumunan perahu, tiba-tiba dilihatnya Taku, tidak berpakaian resmi seperti kakaknya, Zenko, tapi berpakaian pedagang biasa yang lusuh. Di sampingnya berdiri seorang pemuda tinggi dan seorang lagi yang tampak amat tidak asing. Butuh beberapa waktu bagi Takeo untuk menyadari kalau orang itu adalah putrinya, Maya. Takeo merasa takjub—kalau ternyata Taku mengajak putrinya datang dengan menyamar, kalau ternyata ia tidak menge¬nalinya—diikuti dengan rasa lega yang berdesir cepat kalau putrinya masih hidup dan baik-baik saja. Maya tampak lebih kurus, agak lebih tinggi, bola matanya lebih jelas dengan wajah tajamnya. Seorang lagi pastilah Sada, pikirnya, meskipun dia menyamar hingga hampir tidak dikenali. Taku pasti tak ingin meninggalkan Maya karena bila tidak, dia pasti datang sebagai dirinya sendiri. Taku pasti tahu ia akan mengenali mereka bertiga, saat orang lain tak ada yang tahu. Pesan apa yang dibawanya? Ia harus bertemu mereka: ia akan temui mereka malam ini. Perhatiannya tertuju kembali ke upacara setelah mendengar derap kaki kuda. Dari ujung arah barat di sebelah luar kastil datang iring-iringan kecil perempuan yang me¬nunggang kuda. Mereka adalah istri dan putri para tetua yang menunggu di belakang Hiroshi. Mereka bersenjatakan ala perem¬puan wilayah Barat, menyandang busur di bahu serta tabung berisi anak panah di Halaman 567 dari 567 punggung mereka. Takeo mengagumi kuda¬kuda Maruyama yang tinggi dan gagah, dan hatinya makin meluap-luap saat melihat putrinya berada di punggung kuda yang paling bagus, di tengah iringan itu—kuda hitam yang dijinakkannya sendiri, dan diberi nama Tenba. Kuda itu terlalu bersemangat dan ber¬jingkrak, mengi-baskan kepala dan agak mundur selagi Shigeko menyuruhnya ber¬henti. Shigeko duduk tenang bak patung; rambutnya, dikuncir ke belakang, sama hitamnya dengan surai dan ekor kuda yang dia tunggangi, juga berkilauan seperti kulitnya yang tertimpa sinar matahari musim gugur. Tenba tenang dan santai. Para perempuan di atas kuda menghadap ke arah para laki-laki yang berdiri, dan tepat di saat bersamaan, para tetua berlutut sambil memegang kotak dengan merentangkan tangan dan membungkuk dalam-dalam. Hiroshi bicara dengan lantang. "Lady Maruyama Shigeko, putri Shirakawa Kaede dan sepupu kedua Maruyama Naomi, kami menyambut Anda ke wilayah yang telah dipertahankan atas kepercayaan bagi Anda." Hiroshi melepaskan kakinya dari pijakan sadel lalu turun dari kuda, menarik pedang dari sabuknya lalu berlutut di hadapan Shigeko, menyerahkan pedang dengan kedua tangannya. Sesaat Tenba terkejut karena gerakan Hiroshi yang mendadak, dan Takeo melihat penguasaan diri Hiroshi langsung buyar. Disadarinya ternyata sikap Hiroshi lebih dari sikap seorang ksatria pada atasannya. Teringat olehnya minggu-minggu yang mereka habiskan bersama untuk menjinak¬kan Tenba. Kecurigaannya terbukti sudah. Ia tak tahu bagaimana perasaan putrinya, tapi perasaan Hiroshi tak diragukan lagi. Kini sudah jelas baginya, dan ia merasa heran tidak menyadari hal itu sebelumnya. Perasaan Takeo kesal sekaligus iba—mustahil memberikan keinginan Hiroshi—tapi ia mengagumi pengendalian diri dan peng¬abdian pemuda itu. Itu karena mereka dibesarkan bersama, pikirnya. Shigeko menyayanginya, tapi hatinya tak tersentuh. Dicermati putrinya baik-baik sewaktu dua perempuan berkuda turun dari kuda lalu memegangi tali kekang Tenba. Shigeko meluncur turun dengan anggun dari punggung kuda lalu menghadap ke Hiroshi. Ketika Hiroshi menengadah, tatapan mereka bertemu. Shigeko tersenyum tipis lalu mengambil pedang itu. Kemudian ia berbalik dan mengacungkan pedang itu tinggi-tinggi ke setiap arah bergantian, membungkuk hormat ke arah kerumunan orang, kepada semua tetua dan rakyatnya. Teriakan rakyat bergemuruh, seolah semua yang hadir bicara dalam satu suara, lalu suaranya pecan, bak gelombang menghempas batu karang, menjadi sorak-sorai gegap gempita. Kuda-kuda berjingkrak penuh semangat. Shigeko menghunjamkan pedang ke sabuknya lalu naik ke kudanya kembali, begitu pula halnya dengan para perempuan yang lain. Kuda-kuda berderap mengitari dinding sebelah luar kastil, kemudian ber-baris dalam satu barisan lurus ke arah pinggiran, menuju sasaran. Tiap penunggang kuda menjatuhkan tali kekang di leher kuda, mengambil busur, menempatkan anak panah lalu menariknya, semuanya dalam satu gerakan cepat dan luwes. Anak-anak panah beterbangan satu menyusul yang lainnya, mengenai sasaran berbarengan. Akhirnya Shigeko mendekat, kuda hitamnya berlari laksana angin, laksana kuda dari surga, dan anak panahnya tepat mengenai sasaran. Shigeko membalikkan kuda lalu berderap kembali, menarik tali kekangnya agar berhenti di depan Takeo. Dia melompat dari punggung Tenba lalu berkata dengan lantang, "Maruyama bersumpah untuk ber¬sekutu dan setia pada Klan Otori, dan sebagai pengakuannya saya persembahkan kuda ini kepada Lord Otori, ayahku." Dipegangnya tali kekang, lalu menunduk. Sekali lagi terdengar seruan dari ke¬rumunan saat Takeo berdiri dan melangkah turun dari mimbar. Menghampiri Shigeko lalu mengambil tali kekang kuda itu dengan begitu terharu sehingga tak mampu berkata¬kata. Tenba menurunkan kepala lalu menggesek-gesekkan kepalanya ke bahu Takeo. Kuda itu jelas keturunan kuda Shigeru, Kyu dan Aoi, yang pernah terluka parah oleh raksasa Jin-emon. Takeo menyadari kalau bayangan masa lalu kini mengelilingi dirinya: arwah mereka yang telah berpulang, tatapan setuju mereka. Ia merasa bangga dan bersyukur telah membesarkan anak yang cantik ini, kalau putrinya ini telah dewasa dan mendapaikan warisannya. Halaman 568 dari 568 "Kuharap Tenba bisa menjadi kuda kesayangan Ayah seperti halnya Shun," ujar Shigeko. "Aku belum pernah melihat kuda yang lebih hebat—yang bergerak seperti terbang." Takeo ingin sekali menunggangi kuda itu, memulai ikatan panjang misterius antarmakhluk hidup. Dia akan hidup Ubih lama dariku, pikirnya dengan gembira. "Maukah Ayah menungganginya?" "Pakaian Ayah ini kurang cocok bila ber¬kuda," sahut Takeo. "Biar Ayah menun¬tunnya, dan kita akan berkuda bersama nanti. Sementara itu, Ayah sangat berterima kasih. Ini hadiah yang terindah." Menjelang akhir senja, ketika matahari mulai tenggelam. mereka berkuda di jalur melewati pesisir ke mulut sungai. Rombongan itu tidak hanya terdiri dari Takeo, Shigeko dan Hiroshi—meskipun ketiganya lebih suka begitu—tapi juga ada Lord Kono, Zenko dan Hana. Zenko menyatakan kalau ia merasa mual dengan jamuan dan upacara, dan perlu berkuda untuk menjernihkan pikiran. Hana ingin membawa keluar burung-burung rajawali miliknya, dan Kono mengaku ingin berbagi kegemaran dengan Hana saat berburu meng¬gunakan burung rajawali yang terlatih. Rute perjalanan mereka melewati desa gelan¬dangan yang dibangun Takeo bertahun¬tahun lalu, ketika Jo-An masih hidup. Para gelandangan masih menjemur kulit hewan di sini sehingga dijauhi penduduk, tapi mereka dibiarkan hidup dengan damai. Kini anak¬anak dari para gelandangan yang pernah membangun jembatan yang memungkinkan Takeo melarikan diri dari kejaran pasukan Otori, juga terlihat cukup makan, sehat seperti orangtuanya. Takeo, Hiroshi dan Shigeko berhenti untuk menyalami kepala desa, sementara yang lainnya berjalan terus. Ketika mereka menyusul kelompok berburu, rajawali yang sudah dilepas terbang melayang di atas padang rumput, bergerak kian kemari bak ombak di laut, pancaran terakhir sinar matahari berkilauan di sela-sela jambul di kepalanya. Takeo yang sudah bisa menyesuaikan diri dengan kuda itu, membiarkannya melangkah lebih bersemangat. Kuda ini mungkin tidak sepandai Shun, tapi bersemangat dan sama responsifnya, dan jauh lebih cepat. Satu kali Tenba mundur ketika seekor ayam hutan tertembak di bawah kakinya dengan gerakan cepat dari sayapnya yang terbentang, dan Takeo mesti mengerahkan tenaga untuk mengingatkan siapa yang pegang kendali. Beruntung aku tidak harus mengandalkannya dalam pertempuran, katanya pada dirinya sendiri. Masa-masa itu telah berakhir. "Kau mengurusnya dengan baik," katanya pada Shigeko. "Meskipun Lord Otori memiliki kekurangan, tapi itu tak mengurangi kemahirannya berkuda," komentar Kono. "Benar, aku lupa itu saat berkuda," kata Takeo, tersenyum. Menunggang kuda membuatnya merasa seperti muda kembali. Merasa hampir menyukai Kono, kalau ternyata dia telah salah menilai laki-laki itu, dan kemudian marah pada dirinya sendiri karena begitu mudah merasa tersanjung. Di atas kepalanya keempat rajawali terbang berputar-putar, dua di antaranya menukik berbarengan dan tegak lurus ke tanah. Salah satunya terbang tinggi lagi, seekor ayam hutan dalam cengkeraman cakarnya menggelepar: yang lainnya memekik marah. Mengingatkan Takeo bahwa yang kuat memangsa yang lemah, begitu pula nantinya musuh-musuhnya memangsanya. Dibayangkannya mereka seperti rajawali, terbang melayang, menunggu. Mereka kembali saat matahari tenggelam, bulan purnama muncul di balik pepohonan plum, bentuk tubuh kelinci terlihat jelas di bulatan yang berkilat. Jalan-jalan dipenuhi kerumunan orang, biara dan toko kebanjiran pengunjung, udara penuh aroma kue mochi yang dipang-gang, ikan dan belut panggang, minyak wijen dan kecap. Takeo bersyukur dengan reaksi rakyatnya. Penduduk kota memberi jalan dengan penuh hormat, banyak di antaranya yang berlutut atau menyeru namanya atau nama Shigeko. Mereka tidak menatap dengan ketakutan, atau pandangan putus asa dan kelaparan seperti yang dialami Shigeru. Mereka tak lagi butuh pahlawan menolong mereka. Mereka melihat Halaman 569 dari 569 kesejahteraan dan kedamaian mereka sebagai jalan hidup yang benar, diraih dengan kerja keras dan kepandaian mereka sendiri.* Kastil dan kota sudah sunyi senyap. Bulan sudah meninggi; langit malam penuh bintang berkilauan. Takeo duduk bersama Minoru, dua lentera menyala di dekat mereka, meninjau kembali percakapan tadi sore dan kesan yang didapat pemuda itu. "Aku ingin keluar sebentar," kata Takeo saat mereka sudah selesai. "Aku harus me¬nemui Taku karena aku hanya punya waktu dua hari ini bila ingin mengantar Kono ke Hofu sebelum musim dingin. Tetap di sini, dan jika ada yang tanya, berpura-puralah kita sedang mengurus bisnis penting jadi tak ingin diganggu. Aku akan kembali sebelum pagi." Minoru sudah terbiasa dengan pengaturan seperti ini dan dia hanya membungkuk. Dibantunya Takeo berganti pakaian ber¬warna gelap yang sering dipakainya di malam hari. Takeo melilitkan sehelai syal di kepala untuk menutup wajah, dua botol sake, pedang pendek dan sarung pisau lempar, lalu disembunyikan di balik pakaiannya. Andai Kono bisa melihatku seka rang, pikirnya selagi melewati kamar bangsawan itu. Takeo tahu kalau tak seorang pun bisa melihatnya karena ia sedang menghilangkan diri. Bila menunggang kuda membuatnya merasa kembali muda, begitu pula dengan yang satu ini— kenikmatan mendalam yang timbul oleh kemampuan kuno ini tak pernah hilang, Setelah yakin tidak ada orang di ujung caman, ia melompat ke puncak dinding antara taman dan dinding sebelah luar yang pertama. Berlari melintasi puncak dinding ke seberang lalu menjatuhkan diri ke atas lapangan kuda di dalam dinding sebelah luar yang kedua. Umbul-umbul masih meng¬gelantung di sana, terkulai di bawah cahaya bintang. Karena berpikir saat itu terlalu dingin untuk berenang, maka setelah menyeberang sungai ia memanjat merayap dinding dan menyusuri sampai ke gerbang utama. Para penjaga masih terjaga: ia men-dengar para penjaga bicara saat ia melintasi atap yang lebar dan melengkung, tapi mereka tidak mendengarnya. Ia berlari melewati jembatan, membiarkan dirinya terlihat setelah sampai di ujungnya lalu berjalan cepat-cepat ke kota yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku. Ia tahu di mana Taku berada: kediaman lama Muto. Dulu ia mengenai setiap rumah Tribe di Maruyama, letak, ukuran dan penghuninya. Ia masih menyesali cara yang pernah ia gunakan saat pertama kali ke Maruyama bersama Kaede; bertekad menunjukkan kekejamannya pada Tribe: membunuh atau mengeksekusi sebagian besar dari mereka. Ia mengira satu-satunya cara menghadapi kejahatan yaitu dengan dibasmi, tapi kini, bila bisa mengulang masa itu ia akan berusaha berunding tanpa pertumpahn darah... Ia masih harus meng¬hadapi dilema itu: bila saat itu ia mem¬perlihatkan kelemahannya, maka ia takkan sekuat sekarang untuk dapat memaksakan kehendaknya dengan welas asih. Tribe mungkin membencinya karena itu, tapi setidaknya mereka tidak meremehkannya. Ia sudah menyediakan cukup waktu untuk membuat negerinya aman. Di biara di ujung jalan, ia berhenti seperti yang selalu dilakukannya, dan menaruh botol sake di depan dewa keluarga Muto, me mohon maaf dari para mendiang. Muto Kenji memaafkanku, katanya, dan aku pun memaafkannya. Kami adalah teman dekat dan sekutu. Semoga kalian mau melakukan hal yang sama padaku. Tidak ada yang memecahkan kesunyian malam itu, tapi ia merasa tidak sendirian. Takeo merangsek kembali ke dalam bayangan, tangan di gagang pedang. Ia men¬dengar gemerisik di dedaunan yang telah jatuh, seolah ada makhluk yang bergerak melintasinya. Diintipnya ke arah suara tadi, dan melihat dedaunan terserak pelan di bawah pijakan kaki yang tak terlihat. Ditangkupkan kedua tangan Halaman 570 dari 570 di depan dahi untuk membuka mata lebih lebar, dan kemudian melihat ke arah kirinya, men¬deteksi kemampuan menghilang. Makhluk itu menatapnya dengan mata hijau berkilau terkena sinar bintang. Hanya seekor kucing, pikirnya, tipuan cahaya—kemudian ia menyadari dengan terperanjat ternyata tatapan mata kucing itu mengunci tatapannya; ia merasa terkejut karena ketakutan yang amat dalam. Kucing itu seperti makhluk halus yang tinggal di tempat ini, dikirim mereka yang sudah mati untuk menghukumnya. Takeo merasa hampir jatuh ke dalam sihir tidur Kikuta, merasa kalau pembunuh Kikuta sedang memanfaatkan makhluk halus ini. Segera mempertahankan diri kini sudah menjadi sifat keduanya, membunuh sebelum di¬bunuh. Memanggil semua kekuatan dalam dirinya untuk mematahkan tatapan me¬matikan itu, lalu merogoh pisau lemparnya dengan sembarangan. Begitu pisau pertama yang terpegang langsung dilemparnya, me¬lihat pantulan cahaya bintang selagi pisau itu berputar, mendengar akibatnya dan jerit kesakitan hewan itu. Kemampuan meng¬hilang kucing itu sirna di saat melompat ke arahnya. Kini pedang sudah di tangannya. Dilihat¬nya kucing itu menunjukkan sederetan gigi. Mahkluk itu memang kucing, tapi kucing dengan ukuran dan kekuatan serigala. Serangkaian cakarnya menggaruk wajah Takeo saat ia berkelit lalu berbalik agar cukup dekat untuk bisa menikam leher kucing itu, lalu ia menampakkan diri agar bisa lebih fokus pada serangannya. Tapi kucing itu berkelit melarikan diri. Jeritan kucing itu terdengar seperti jeritan manusia. Di sela-sela rasa kaget dan takut karena pertarungan itu, Takeo mendengar suara yang sudah dikenalnya. "Ayah," jerit hewan itu lagi. "Jangan sakiti aku! Ini aku, Maya!" Maya berdiri di hadapannya. Takeo mem¬butuhkan seluruh kekuatannya untuk dapat menghentikan tikaman pisau yang nyaris menggorok leher putrinya sendiri. Ia men¬dengar juga jerit putus asanya sendiri selagi memaksa tangannya membelokkan arah pisaunya. Pisau itu terjatuh dari genggamannya. Meraih tubuh Maya lalu menyentuh wajahnya, merasakan basah karena darah atau air mata atau keduanya, "Aku nyaris membunuhmu," kata Takeo iba karena putrinya hampir terbunuh, sadar dengan air mata di pelupuk matanya sendiri, dan ketika menyingsingkan lengan baju untuk menyekanya, dirasakannya sengatan bekas dicakar, tetesan darah di wajahnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau di luar sendirian?" Hampir lega rasanya mengungkapkan kebingungannya dengan kemarahan. "Maaf, aku menyesal," Maya menangis seperti anak kecil, bingung dan sedih. Dipeluknya Maya erat-erat, terkejut ternyata putrinya sudah besar. Kepala Maya me¬nyembul di antara tulang dada Takeo; badannya tegak dan keras, lebih mirip badan anak laki-laki. "Jangan menangis," ujar Takeo dengan ketenangan penuh pengertian. "Kita akan menemui Taku, dan dia akan menceritakan pada Ayah apa yang terjadi pada dirimu." "Aku menyesal telah menangis," katanya dengan sesunggukan. "Ayah kira kau menyesal karena sudah berusaha membunuh ayahmu sendiri," sahut Takeo seraya menggandeng tangan putrinya melewati gerbang kuil ke jalanan. "Tadi aku tidak tahu kalau itu Ayah. Aku tidak bisa melihat Ayah. Kukira Ayah adalah pembunuh Kikuta. Begitu mengenali Ayah, aku berubah wujud. Aku tidak selalu melakukan itu dengan cepat, tapi aku makin pandai. Kendati aku tidak perlu menangis. Aku tak pernah menangis. Lalu tadi kenapa aku menangis?" "Mungkin karena kau senang berjumpa Ayah?" "Memang," Maya meyakinkan. "Tapi aku belum pernah menangis bahagia. Itu pasti karena terkejut. Aku takkan menangis lagi." "Tidak ada salahnya menangis," tutur Takeo. "Tadi Ayah juga menangis." Halaman 571 dari 571 "Kenapa? Apakah aku menyakiti Ayah? Pasti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka-luka yang pernah Ayah derita." Maya menyentuh wajahnya sendiri, "Ayah melukaiku lebih parah." "Dan Ayah amat menyesal. Ayah lebih baik mati dari—pada menyakitimu." Dia sudah berubah, pikir Takeo; bahkan cara bicaranya kasar, tanpa perasaan. Dan ada semacam tuduhan yang kuat di balik kata¬katanya, sesuatu yang lebih dari sekadar luka fisik. Ketidakpuasan apa lagi yang ada dalam diri putrinya pada dirinya? Apakah kebencian karena dikirim jauh dari rumah, atau sesuatu yang lain? "Kau seharusnya tidak di luar sendirian." "Ini bukan salah Taku," sahut Maya cepat. "Ayah jangan menyalahkannya." "Siapa lagi yang harus disalahkan? Ayah memercayakan dirimu padanya. Dan di mana Sada? Ayah lihat kalian bertiga bersama tadi pagi. Mengapa dia tak bersamamu?" "Bukankah itu indah?" sahut Maya, menghindari pertanyaannya. "Shigeko kelihatan sangat cantik. Dan kuda itu! Ayah suka dengan hadiahnya? Apakah Ayah ter¬kejut?" "Entah mereka yang lengah atau kau yang tak patuh," kata Takeo, menampik per¬hariannya dialihkan oleh komentar tiba-tiba Maya yang kekanak-kanakan. "Aku yang tidak patuh. Tapi aku memang harus bersikap begitu karena aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Tak ada orang yang bisa meng¬ajariku. Aku yang harus mencari tahu." Maya menatap Takeo dengan tajam. "Kurasa Ayah belum pernah melakukannya?" Sekali lagi Takeo merasakan tantangan yang lebih berat. Tak bisa disangkalnya, tapi memutuskan untuk tak menjawab, apalagi sekarang—karena mereka sudah dekat gerbang kediaman Muto. Pedih terasa menyengai wajahnya, dan tubuhnya terasa sakit karena pertarungan yang tiba-tiba dan keras tadi. Ia tak bisa melihat luka Maya dengan jelas, tapi bisa membayangkannya— luka itu harus segera diobati bila tidak ingin berbekas. "Apakah keluarga di sini bisa dipercaya?" bisik Takeo. "Aku belum menanyakannya pada diriku sendiri!" sahut Maya. "Mereka keluarga Muto, kerabat Taku dan Sada. Pastinya begitu, kan?" "Baiklah, segera saja kita cari tahu," gumam Takeo, dan mengetuk gerbang yang dipalang, memanggil-manggil penjaga di dalam. Anjing menyalak marah. Perlu waktu agar dapat meyakinkan mereka untuk membuka gerbang karena tidak segera mengenali Takeo, tapi mereka mengenal Maya. Mereka melihat darah di bawah sinar lentera yang mereka bawa, berseru kaget lalu memanggil Taku—Takeo perhatikan, tidak satu pun dari mereka menyentuh Maya. Tentu saja mereka meng¬hindari berdekatan dengannya, maka Maya berdiri seolah dikeliligi pagar yang tak nampak. "Dan Anda, tuan, apakah Anda terluka juga?" Salah satu orang menaikkan lentera hingga sinarnya jatuh menimpa pipi Takeo yang tak berusaha untuk menutupi dirinya; ingin melihat reaksi mereka. "Ini Lord Otori!" bisik laki-laki itu, dan yang lainnya langsung berlutut. "Masuklah, tuan." Laki-laki yang memegang lentera tadi berdiri di samping, menerangi teras. "Bangunlah," kata Takeo kepada orang¬orang yang berlutut. "Bawakan air, dan sedikit kertas halus atau gumpalan kain sutra untuk menghentikan pendarahannya." Takeo melangkah melewati teras, dan gerbang di¬tutup dengan cepat lalu dipalang. Penghuni rumah sudah terbangun; lentera di dalam rumah dinyalakan, dan pelayan berdatangan dengan mata masih mengantuk. Taku muncul dari ujung beranda, berpakaian jubah tidur berbahan katun, jaket berlapis meng-gantung di bahunya. Dia melihat Maya lebih dulu, dan langsung segera menghampiri. Takeo kira Maya akan di¬pukul—tapi Taku memberi isyarat kepada penjaga untuk Halaman 572 dari 572 membawakan lentera, lalu memegangi kepala Maya dengan kedua tangan lalu memiringkannya ke kanan dan ke kiri agar bisa melihat luka di pipinya. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Kecelakaan," sahut Maya. "Aku meng¬halangi jalan." Taku membimbing Maya ke beranda, menyuruhnya duduk lalu berlutut di sampingnya, mengambil segumpal kain dari pelayan lalu merendamnya dalam air. Di basuhnya luka Maya dengan hati-hati, meminta agar lentera lebih didekatkan. "Ini kelihaian seperti terkena pisau lempar. Siapa yang ada di luar sana dengan pisau lempar?" "Tuan, Lord Otori ada di sini," kata penjaga. "Beliau juga terluka." "Lord Takeo?" Taku memicingkan mala ke arah Takeo. "Maaf tadi aku tak melihat. Anda tak terluka parah, kan?" 'Tidak apa-apa," sahut Takeo, bergerak menghampiri beranda. Di anak tangga, salah satu pelayan maju untuk melepas sandalnya. Takeo berlutut di samping Maya. "Mungkin sulit untuk menjelaskan bagaimana aku bisa melakukannya. Bekas lukanya akan kelihatan selama beberapa waktu." "Maafkan aku," Taku mulai angkat bicara, tapi Takeo menaikkan tangan memberi isyarat agar Taku diam. "Kita bicara lagi nanti. Lakukan yang terbaik untuk mengobati luka putriku. Aku cemas lukanya akan berbekas." "Panggilkan Sada." perintah Taku kepada salah satu pelayan, dan beberapa waktu kemudian perempuan muda itu muncul dari ujung beranda, berpakaian seperti Taku dengan jubah tidur, rambutnya yang sepanjang bahu tergerai di wajahnya. Dia melihat Maya secepatnya lalu masuk ke rumah, kembali dengan membawa kotak kecil. "Ini salep pemberian Ishida," kata Taku, seraya mengambil dan membukanya. "Pisau¬nya tidak beracun, kan?" Tidak," sahut Takeo. "Untung tidak terkena mata. Kau yang melemparnya?" "Kurasa begitu." "Setidaknya kita tak harus mencari para pembunuh Kikuta." Sada memegangi kepala Maya sementara Taku mengoleskan salep itu di lukanya; salep itu tampak agak lengket, seperti lem, dan menyatukan pinggiran luka sa-yatan. Maya duduk diam tanpa bergerak kesakitan, bibirnya mengkerut seolah ingin tersenyum, matanya terbuka lebar. Ada semacam ikatan aneh di antara mereka bertiga, pikir Takeo, karena adegan yang ada di depannya ini sarat dengan muatan emosi. "Ikut dengan Sada," kata Taku pada Maya. "Berikan sesuatu untuk membuatnya tidur," katanya pada Sada. "Dan temani dia malam ini. Aku ingin bicara dengannya besok pagi." "Aku benar-benar menyesal," kata Maya. "Aku tidak bermaksud menyakiti ayahku." Namun nada suaranya justru kedengaran bertentangan dengan perkataannya. "Kami akan pikirkan hukuman yang akan membuatmu lebih menyesal lagi," ujar Taku. "Aku sangat marah, dan aku yakin Lord Otori juga begitu." "Mendekatlah," katanya pada Takeo. "Biar kulihat apa yang telah dilakukannya pada¬mu." "Mari masuk ke dalam," sahut Takeo. "Lebih baik kita bicara berdua saja." Sambil menyuruh pelayan membawakan air segar dan teh, Taku berjalan di depan ke ruang kecil di ujung beranda. Dilipatnya tikar tidur lalu mendorongnya ke sudut. Satu lentera masih menyala, dan di Halaman 573 dari 573 sebelahnya berdiri sebotol sake dan mangkuk minum. Takeo mengamati semua yang di ada di ruangan itu tanpa sepatah kata pun. "Semula aku berharap bertemu denganmu sebelum kejadian ini," ujar Takeo, nada suaranya terdengar dingin. "Aku tak berharap berjumpa putriku dengan cara seperti ini." "Benar-benar tak ada alasan," sahut Taku. "Tapi aku obati dulu luka Anda; duduk di sini, dan minum ini." Taku menuang sake terakhir ke mangkuk dan memberikannya kepada Takeo. "Kau tidak tidur sendirian, tapi kau minum sendirian?" Takeo menghabiskan sake dengan sekali leguk. "Sada tidak menyukainya." Dua laki-laki muncul di pintu, yang satu membawa air, dan yang satunya lagi membawa teh. Taku mengambil mangkuk berisi air lalu membasuh pipi Takeo, Bekas cakarannya terasa perih. "Bawakan sake lagi untuk Lord Otori," pinta Taku pada si pelayan. "Darahnya cukup banyak," gumamnya. "Cakarnya menyayat cukup dalam." Taku terdiam ketika si pelayan kembali dengan membawa sebotol sake. Lalu pelayan itu mengisi mangkuk minum sampai penuh lalu Takeo menenggaknya sampai habis lagi. "Kau punya cermin?" tanya Takeo pada pelayan itu. Dia mengangguk. "Akan kuambilkan." Si pelayan kembali dengan membawa sebuah benda yang lerbungkus kain coklat tua, berlutut lalu menyerahkannya pada Takeo. Dibukanya bungkusan itu. Cermin itu sangat berbeda dengan yang pernah dilihatnya, pegangannya panjang, bulat, permukaan kacanya mengkilap. Takeo jarang melihat bayangannya sendiri—dan belum melihat dengan begitu jelas—dan kini takjub pada wajahnya sendiri. Ia tidak pernah tahu bagaimana wajahnya—sangat mirip Shigeru, namun lebih kurus dan lebih tua. Bekas cakaran di pipinya memang dalam, pinggiran luka merah hati, darah yang mengering berwarna lebih gelap. "Cermin ini berasal dari mana?" Pelayan itu menatap Taku dan bergumam, "Dari Kumamoto. Sesekali pedagang mem¬bawa barang dagangan, seorang laki-laki Kuroda, Yasu. Kami membeli pisau dan peralatan darinya—dia juga membawa cermin ini." "Kau pernah lihat cermin ini?" tanya Tiikeo pada Taku. "Belum untuk yang satu ini. Aku pernah lihat cermin yang serupa di Hofu dan Akashi. Cermin-cermin ini cukup populer." Diketuk bagian permukaannya. "Terbuat dari kaca." Bagian belakangnya terbuat dari semacam logam yang tidak segera dikenali oleh Takeo, diukir atau dibentuk menjadi motif bunga¬bunga yang saling terjalin. "Benda ini dibuat di negeri seberang," tuturnya. "Sepertinya begitu," Taku setuju. Takeo melihat lagi bayangan wajahnya. Sesuatu tentang cermin asing itu meng¬ganggunya. Dan ia berusaha menyingkirkan perasaan itu sekarang. "Bekas luka ini akan lama hilangnya," katanya. "Uhh," Taku setuju, seraya menyeka luka itu dengan segumpal kertas bersih untuk mengeringkannya; lalu dia mulai mengoles¬kan salep yang lengket itu. Takeo mengembalikan cermin itu kepada si pelayan. Ketika perempuan itu pergi, Taku berkata, "Seperti apa wujudnya?" Halaman 574 dari 574 "Kucing itu? Ukurannya sebesar serigala, dan memiliki tatapan maut Kikuta. Kau belum pernah melihainya?" "Aku pernah merasakan kucing itu ada dalam diri Maya, dan beberapa malam lalu Sada dan aku sempat melihatnya sekilas. Kucing itu bisa menembus dinding. Kekuatannya luar biasa besar. Maya menolak kehadirannya saat aku ada, kendati aku sudah berusaha membujuknya agar membiarkan sosok kucing itu keluar. Maya harus belajar mengendalikannya: saat ini sepertinya roh kucing itu mengambil alih saat pertahanan diri Maya lemah." "Dan ketika dia sendirian?" "Kami tak bisa mengawasinya setiap waktu. Dia harus patuh; harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Takeo merasakan amarahnya meluap. "Aku tak mengharapkan dua orang yang kupercayakan putriku akan berakhir dengan tidur bersama!" "Aku pun tidak mengharapkannya," sahut Taku pelan. "Tapi itu sudah terjadi. dan akan berlanjut." "Mungkin kau harus kembali ke Inuyama, dan kepada istrimu!" "Istriku tahu kalau aku selalu punya perempuan lain, di Inuyama dan dalam perjalanan-perjalananku. Tapi Sada berbeda. Sepertinya aku tidak bisa hidup tanpa dia." "Kebodohan macam apa ini? Jangan katakan kalau kau sedang dimabuk cinta!" "Mungkin benar. Bisa kukatakan kalau kemanapun aku pergi, dia akan ikut denganku, bahkan ke Inuyama." Takeo tercengang karena Taku begitu dimabuk cinta dan dia tidak berusaha menyembunyikannya. "Kurasa ini menjelaskan alasan kau pergi jauh dari kastil." "Hanya sebagian. Sebelum kejadian dengan si kucing, setiap hari aku bersama Hiroshi dan Lord Kono. Tapi Maya merasa amat tertekan dan aku tak ingin mening¬galkannya. Jika kuajak dia bersamaku. Hana pasti akan mengenalinya, bertanya-tanya tentang Maya. Semakin sedikit orang yang tahu tentang masalah kerasukan ini. lebih baik. Ini bukan jenis laporan yang mesti dibawa Kono kembali ke ibukota. Aku tengah memikirkan rencana Anda menikah¬kan putri sulung Anda. Aku tidak ingin memberikan Hana dan Zenko senjata lebih banyak lagi untuk mereka gunakan melawan Anda. Aku tidak memercayai keduanya. Aku sempat berbincang dengan kakakku tentang topik pembicaraan yang cukup mengganggu yaitu kepemimpinan keluarga Muto. Dia bertekad untuk memaksakan haknya sebagai penerus Kenji, dan ada beberapa—aku tak tahu ada berapa banyak—pihak yang tidak senang dengan gagasan perempuan berkuasa atas diri mereka." Jadi naluri Takeo benar untuk tidak memercayai keluarga Muto. "Apakah mereka mau menerimamu?" tanya Takeo. Takeo menuang sake lagi untuk mereka berdua, lalu meminumnya. "Aku tak ingin menyinggung Anda, Lord Otori, tapi hal-hal semacam ini selalu diputuskan dalam lingkup keluarga, bukan dengan orang luar." Takeo mengambil cangkirnya lalu minum tanpa bicara. Akhirnya dia berkata, "Kau membawa banyak berita huruk malam ini. Apa lagi yang mesti kau katakan padaku?" "Akio berada di Hofu, dan sejauh yang bisa kami tahu, dia berencana menghabiskan musim dingin di wilayah Barat—aku takut kalau dia akan pergi ke Kumamoto." "Bersama—anak itu?" "Sepertinya begitu." Tak satu pun dari mereka bicara selama beberapa saat. Kemudian Taku berkata, "Akan cukup mudah untuk menyingkirkan mereka di Hofu, atau dalam perjalanan. Biar aku yang Halaman 575 dari 575 mengaturnya. Begitu Akio sampai di Kumamoto, jika dia menghubungi kakakku maka dia akan disambut di sana, bahkan ditampung." "Tak boleh ada orang yang menyentuh anak itu." "Baiklah, hanya Anda yang bisa memutus¬kan itu. Satu lagi yang kutahu adalah Gosaburo sudah mati. Dia ingin berunding dengan Anda demi nyawa anak-anaknya, olah karena itulah Akio membunuhnya." Berita ini, dan juga sikap Taku yang terus terang, amat mengejutkannya. Gosaburo pernah memerintahkan hukuman mati untuk banyak orang—salah satunya, setidak¬nya, pernah dilaksanakan Takeo sendiri— tapi ternyata Akio malah berbalik mem¬bunuh pamannya, sama seperti saran Taku kalau ia sendiri yang harus membunuh putra¬nya sendiri, memaksa dirinya mengingat kekejaman tanpa ampun Tribe. Melalui Kenji, dia berhasil mengendalikannya, tapi kini kendalinya atas diri mereka sedang diuji. Mereka selalu menyatakan bahwa bangsawan bisa berkuasa dan jatuh, tapi Tribe akan selamanya ada. Tapi bagaimana ia meng¬hadapi musuh yang tak mudah ditangani ini, yang tak mau berunding dengannya? "Anda harus memutuskan nasib sandera di Inuyama," ujar Taku. "Anda mesti meng eksekusi mereka sesegera mungkin. Bila tidak Tribe akan menganggap Anda lemah, dan itu akan menimbulkan lebih banyak per¬selisihan." "Aku akan bicarakan itu dengan istriku saat sudah kembali ke Hagi nanti." "Jangan terlalu lama," Taku mendesak. Takeo bertanya pada dirinya sendiri apakah Maya mesti pulang bersamanya—tapi cemas dengan ketenangan pikiran Kaede, dan kesehatan istrinya selama kehamilannya. "Bagaimana dengan Maya?" "Dia bisa tinggal bersamaku. Aku tahu Anda merasa kecewa, tapi terlepas dari kejadian malam ini, kami sudah membuat kemajuan. Dia belajar mengendalikan kerasukan itu—dan siapa yang tahu manfaat apa yang mungkin bisa kita ambil darinya. Maya berusaha membuat Sada dan aku senang: dia memercayai kami." "Tapi yang pasti kau tidak berencana jauh dari Inuyama selama musim dingin, lean?" "Aku tidak boleh terlalu jauh dari wilayah Barat. Aku harus terus mengawasi kakakku. Mungkin aku akan menghabiskan musim dingin di Hofu: cuacanya lebih lembut, dan aku bisa mendengar semua desas-desus yang datang dan pergi melalui pelabuhan." "Dan Sada akan ikut denganmu?" "Aku membutuhkan Sada, terutama bila aku harus membawa Maya." "Baiklah." Kehidupan pribadinya bukan¬lah urusanku, pikir Takeo. "Lord Kono juga akan ke Hofu. Dia akan kembali ke ibukota." "Dan Anda sendiri?" "Kuharap bisa tiba di rumah sebelum musim dingin. Aku akan tinggal di Hagi sampai anak kami lahir. Lalu saat musim semi aku harus pergi ke Miyako." *** Takeo kembali ke kastil Maruyama tepat sebelum matahari terbit, kelelahan dengan kejadian malam itu, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya selagi mengumpulkan lagi semua tenaganya yang melemah untuk ecnghilang, merayap di dinding lalu kembali ke kamarnya tanpa ketahuan. Perasaan senangnya pada kemampuan Tribe sebelum¬nya telah sirna. Kini ia hanya merasa jijik pada dunia yang gelap itu. Aku sudah terlalu tua untuk ini, katanya pada dirinya saat menggeser pintu terbuka Halaman 576 dari 576 lalu melangkah masuk. Penguasa macam apa yang mengendap-ngendap malam-malam dengan cara seperti ini, bak pencoleng? Aku pernah lolos dari cengkeraman Tribe, dan kukira aku telah meninggalkannya untuk selama-lamanya, tapi kekuatannya masih saja menjerat diriku, dan warisan yang kuturunkan pada putri-putriku bukan berarti aku akan bebas. Takeo merasa amat terganggu dengan semua hal yang belum diketahuinya: lebih dari semuanya, keadaan Maya. Wajahnya meringis kesakitan; kepalanya pusing. Kemudian teringat masalah dengan cermin tadi. Itu menandakan kalau barang-barang asing diperdagangkan di Kumamoto. Tapi orangorang asing itu seharusnya dikurung di Hofu, dan kini di Hagi: adakah orang asing lain di negeri ini? Jika mereka berada di Kumamoto, Zenko pasti mengetahuinya, namun dia tidak mengatakan sepatah kata pun tentang hal ini—begitu pula Taku. Pikiran kalau Taku menyembunyikan sesuatu memenuhi dirinya dengan ke-marahan. Entah Taku menyembunyikannya atau dia memang tidak tahu. Perselingkuhan¬nya dengan Sada juga membuatnya khawatir. Laki-laki cenderung bersikap ceroboh saat terjerat asmara. Bila aku tak bisa memercayai Taku, tamatlah riwayatku. Tapi mereka kakak beradik... Kamar itu sudah terang saat Takeo tertidur. Ketika terbangun, diperintahkannya untuk mengurus keberangkatannya, dan meng¬instruksikan Minoru untuk menulis surat pada Arai Zenko, memintanya menunggu Lord Otori. Hari sudah sore ketika Zenko datang, dibawa dengan tandu dan didampingi sebarisan pengawal, semuanya berpakaian mewah, cakar beruang Kumamoto tergambar jelas di jubah dan panji-panjinya. Bahkan dalam beberapa bulan sejak berjumpa di Hofu, penampilan Zenko dan pendamping¬nya sudah berubah. Dia semakin mirip ayahnya, secara fisik mengesankan dan dengan kepercayaan diri yang makin tinggi: tingkahnya, anak buah dan semua pakaian sena senjata mereka berbicara dengan keme¬wahan dan mementingkan diri sendiri. Takeo sendiri telah mandi dan berpakaian dengan patut untuk pertemuan ini, mengenakan jubah resminya yang tampak menambah tinggi badannya dengan bentuk bahu melebar dan kaku sena lengan panjang. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan luka di pipinya, sayatan cakar, dan Zenko berseru kaget saat melihatnya, "Apa yang terjadi? Anda terluka? Tentunya tidak ada yang menyerang Anda, kan? Aku tidak mendengar b eritanya'" "Bukan apa-apa," sahut Takeo. "Aku jatuh tersandung ranting di taman semalam." Dia akan mengira aku mabuk, atau bersama perempuan, pikirnya, dan akan makin mem¬benciku. Karena dilihatnya ekspresi wajah Zenko yang merengut seperti tidak suka dan benci. Hari itu terasa dingin dan lembap, hujan turun tadi pagi. Daun-daun merah pohon maple berubah warna menjadi lebih gelap dan mulai berguguran. Sesekali angin ber¬hembus di taman, membuat dedaunan melayang dan menari-nari. "Ketika kita bertemu di Hofu awal tahun ini, aku berjanji membicarakan masalah pengangkatan anak pada saat ini," tutur Takeo. "Kau tentunya mengerti kalau ke¬hamilan istriku menyebabkan tindakan formal apa pun sebaiknya ditunda." "Tentu saja kami berharap Lady Otori memberi Anda anak laki-laki," sahut Zenko. "Pada dasarnya, putra-putraku takkan men¬dahului keturunan Anda." "Aku menyadari kepercayaan yang kau miliki pada keluargaku," kata Takeo. "Dan aku berterima kasih yang sedalam-dalamnya padamu. Aku menganggap Sunaomi dan Chikara sebagai anakku sendiri...." Takeo seperti melihat kekecewaan di wajah Zenko, dan merasa, aku harus menawarkan sesuatu kepadanya. Ia berhenti bicara selama beberapa saat. Takeo pernah berjanji untuk tidak men¬jodohkan putri-putrinya saat mereka masih muda, namun ternyata ia berkata, "Aku usulkan Sunaomi dan putri bungsuku, Miki, ditunangkan saat mereka memasuki usia akil balik kelak." Halaman 577 dari 577 "Sungguh suatu kehormatan." Zenko tidak terdengar gembira dengan usulan ini, kendati semua katakatanya terdengar patut. "Aku akan bicarakan kebaikan yang tiada tara ini dengan istriku saat kami menerima dokumen res mi tentang tawaran ini: harta benda apa yang akan mereka terima, di mana mereka akan tinggal dan sebagainya." "Tentu saja," sahut Takeo, seraya berpikir, Dan aku harus membicarakannya dengan istriku. "Mereka berdua masih sangat muda. Masih ada banyak waktu." Setidaknya ta wa ran sudah diajukan. Dia tidak bisa menyatakan kalau aku telah menghinanya. Tak lama kemudian Shigeko, Hiroshi, dan Miyoshi bersaudara datang bergabung, dan perbincangan beralih ke pertahanan wilayah Barat, ancaman atau kekurangan yang ditanyakan orang-orang asing, hasil dan bahan-bahan yang orang-orang asing ingin perjualbelikan. Takeo menyebutkan tentang cermin, bertanya dengan santai apakah benda semacam itu bisa dibeli di Kumamoto. "Mungkin," sahut Zenko mengelak. "Benda-benda itu masuk melalui Hofu, kurasa. Perempuan sangat menyukai barang¬barang baru semacam itu! Kurasa istriku pernah menerima beberapa sebagai hadiah." "Jadi tidak ada orang asing di Kumamoto?" "Tentu saja tidak ada!" Zenko membawa catatan dan laporan tentang semua kegiatannya: senjata yang sudah ditempanya, biji besi yang dibelinya; segalanya tampak teratur, dan dia mengulang keberatannya atas kesetiaaan kewajiban feodal. Takeo tidak berbuat apa-apa selain menerima kalau catatan itu benar, keberatan tersebut memang apa adanya. Ia berbicara singkat tentang usulan untuk mengunjungi Kaisar, mengetahui kalau Kono pasti sudah membicarakannya dengan Zenko; ditekan¬kan niatnya yang penuh damai, dan men¬ceritakan pada Zenko kalau Hiroshi maupun Shigeko akan ikut mendampinginya. "Bagaimana dengan Lord Miyoshi?" tanya Zenko, menatap sekilas ke arah Kahei. "Dia akan berada di mana tahun depan?" "Kahei akan tinggal di Tiga Negara," sahut Takeo. "Tapi dia akan pindah ke Inuyama sampai aku kembali dengan selamat. Gemba ikut bersama kami ke Miyako." Tak ada yang menyebutkan bahwa sebagian besar kekuatan Negara Tengah akan menunggu di perbatasan wilayah Timur di bawah perintah Miyoshi Kahei, tapi tak mungkin menutupi kabar ini dari Zenko. Pikiran Takeo melayang pada bahaya meninggalkan Negara Tengah tanpa per¬lindungan— tapi Yamagata dan Hagi hampir tak mungkin diduduki, dan penduduknya pasti akan melawan. Kaede pasti mem¬pertahankan Hagi melawan serangan dari manapun, dan istri juga putra-putra Kahei akan melakukan hal yang sama di Yamagata. Mereka melanjutkan pembicaraan hingga hampir larut malam, sementara sake dan makanan disajikan. Selagi undur diri, Zenko berkata kepada Takeo, "Ada satu hal lagi yang harus kita bicarakan. Bisakah Anda keluar ke beranda? Sebaiknya hal ini ku¬bicarakan berdua saja." "Tentu," sahut Takeo setuju dengan ramah. Hujan turun lagi; angin terasa dingin—Takeo merasa lelah, ingin sekali tidur. Mereka berdiri di bawah naungan tepian atap yang meneteskan air hujan. Zenko berkata, "Ini soal keluarga Muto. Kesan yang kudapat adalah banyak pihak di keluargaku, di seluruh penjuru Tiga Negara. sementara mereka amat menghormati ibuku dan juga Anda, merasa kalau—bagaimana cara mengatakannya?—tidak beruntung, bahkan salah, dipimpin perempuan. Mereka mempertimbangkan aku sebagai kerabat laki¬laki tertua dari Kenji untuk menjadi pewaris¬nya." Zenko melihat sekilas pada Takeo. "Aku tak ingin menyinggung Anda, tapi orang-orang tahu keberadaan cucu Kenji, putra Yuki. Ada rumor yang mengatakan kalau dialah yang seharusnya mewarisi jabatan itu. Sebaiknya aku cepat-cepat di¬tunjuk sebagai pimpinan keluarga: ini Halaman 578 dari 578 bisa membungkam rumor semacam itu dan meyakinkan untuk menegakkan tradisi." Senyum tipis kepuasan sesaat menari-nari di wajahnya. "Anak itu tentu saja merupakan pewaris Kikuta," lanjutnya. "Lebih baik tetap menjauhkannya dari Muto." "Tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati, ditambah lagi keberadaannya," ujar Takeo, berpura-pura bersikap ramah yang sebenarnya telah sirna dari dalam dirinya. "Oh, kurasa mereka tahu," bisik Zenko, dan seraya memperhatikan reaksi kemarahan Takeo, "Aku hanya berusaha membantu Lord Otori dalam situasi yang sulit ini." Andai kita bukan saudara ipar, Andai ibunya bukan sepupuku dan salah satu sahabatku, aku akan penntah dia menca but nyawanya sendiri! Aku harus melakukannya. Aku tak bisa memercayainya. Aku hams me¬lakukannya sekarang juga, saat dia masih di Maruyama dan dalam kekuasaanku. Takeo diam sementara pikirannya ber¬kecamuk hebat. Akhirnya ia berkata, berusaha bersikap halus, "Zenko, aku sarankan kau tidak mendesakku lebih jauh lagi. Kau memiliki tanah dan bangunan yang luas, tiga putra, serta istri yang cantik. Aku telah menawarimu persekutuan yang lebih dalam dengan keluargaku melalui ikatan pernikahan. Aku menghargai persahabatan kita dan memandangmu dengan penuh hormat. Tapi aku takkan membiarkanmu menantangku...." "Lord Otori!" protes Zenko. "Atau menyebabkan perang saudara di negara kita. Kau sudah bersumpah setia kepadaku; kau berutang nyawa padaku. Mengapa aku selalu harus mengulang-ulang¬nya? Aku lelah. Untuk yang terakhir kalinya, kuanjurkan kau kembali ke Kumamoto dan menikmati hidup yang kuberikan padamu. Bila tidak, aku akan memintamu untuk mengakhirinya." "Anda tidak akan mempertimbangkan pendapatku tentang pewarisan di keluarga Muto?" "Aku mendesakmu untuk mendukung ibumu sebagai pimpinan keluarga dan mematuhinya. Lagipula, kau sudah memilih cara hidup sebagai ksatria—aku tidak mengerti mengapa kau mencampuri masalah Tribe!" Saat ini Zenko gusar, dan kurang berhasil menutupinya! "Aku dibesarkan oleh Tribe. Aku juga anggota keluarga Muto seperti halnya Taku." "Hanya ketika kau melihat ada ke¬untungan politis di baliknya! Jangan pikir kau bisa terus tidak terkendali untuk me¬nentang wewenangku. Jangan pernah lupa kalau kedua putramu ada di tanganku sebagai sandera atas kesetiaanmu." Itu pertama kalinya Takeo secara langsung mengancam anak-anak itu. Surga selamatkan diriku karena aku harus membuat ancaman ini, pikirnya. Tapi yang pasti Zenko takkan mempertaruhkan nyawa kedua putranya. "Aku mengusulkan ini agar seluruh negara ini lebih kuat, dan untuk mendukung Lord Otori," tutur Zenko. "Aku minta maaf karena telah membicarakannya. Mohon dilupakan saja." Saat kembali, bagi Takeo, peran mereka bak dalam pertunjukan drama, diarahkan oleh tangan nasib untuk memainkan peran mereka sampai habis; ruang penonton, dihiasi dengan pahatan timbul emas di pilar dan kasaunya, penuh dengan pengawal berjubah warna-warna cemerlang menjadi latarnya. Saling menyembunyikan ke¬marahan, mereka mengucapkan selamat tinggal dengan sikap sopan yang dingin. Keberangkatan Zenko dari Maruyama direncanakan keesokan harinya, sementara Takeo lusa. "Jadi kau akan sendirian di wilayahmu ini," kata Takeo kepada Shigeko sebelum mereka beristirahat. "Hiroshi akan berada di sini untuk mem¬bantuku, setidaknya sampai tahun depan," sahut Shigeko. "Tapi apa yang terjadi pada Ayah tadi malam? Siapa yang membuat Ayah terluka seperti itu?" Halaman 579 dari 579 "Aku tidak bisa menyimpan rahasia darimu," sahut Takeo. "Tapi aku tak ingin menganggu ibumu di saat seperti ini, jadi pastikan kalau ibumu tak mendengarnya," Takeo menceritakan dengan singkat tentang Maya, tentang kerasukan dan hasilnya. Shigeko mendengarkan tanpa bicara, tidak menunjukkan ekspresi kaget maupun takut, dan Takeo berterima kasih yang tak terkira kepadanya. "Maya akan berada di Hofu bersama Taku selama musim dingin," ujar Takeo. "Kemudian kita harus terus berhubungan dengan mereka. Dan kita juga akan meng¬awasi Zenko dengan cermat. Ayah jangan khawatir. Dalam Ajaran Houou kami sering menghadapi masalah seperti kerasukan hewan ini. Gemba tahu banyak tentang hal ini, dan dia pernah mengajariku." "Apakah Maya mesti ke Terayama?" "Dia akan ke sana di waktu yang tepat." Shigeko tersenyum lembut saat Takeo melanjutkan bicara. "Semua roh mencari kekuatan yang lebih besar yang bisa mengen¬dalikan mereka dan memberi kedamaian." Takeo bergidik. Shigeko tampak seperti orang asing, penuh teka-teki dan bijaksana, Tiba-tiba ia teringat pada perempuan buta yang mengatakan ramalannya, yang me¬nyebut nama kecilnya dan mengenal siapa dirinya sebenarnya. Aku harus kembali ke sana, pikirnya. Aku akan ziarah ke pegunungan, tahun depan setelah anakku lahir, setelah perjalananku ke ibukota. Ia merasa kalau Shigeko memiliki kemampuan spiritual yang sama. Semangat¬nya bangkit lagi selagi memeluk putrinya lalu mengucapkan selamat malam. "Kurasa Ayah harus menceritakannya pada Ibu," kata Shigeko. "Seharusnya Ayah jangan menyimpan rahasia dari Ibu. Ceritakan tentang Maya. Ceritakan semuanya pada Ibu."* Kumamoto, kota kastil Arai, terbentang di barat daya Tiga Negara, dikelilingi pe¬gunungan yang kaya akan bijih besi dan batu bara. Sumber alam ini menyebabkan per¬kembangan industrinya maju pesat untuk segala macam bentuk peralatan dari logam, dan terutama pembuatan pedang. Banyak perajin pedang serta tempat penempaan besi yang sudah terkenal, begitu pula halnya waktu belakangan ini, berkembang bisnis yang bahkan lebih menguntungkan, yaitu membuat senjata api. "Paling tidak," gerutu si tua, Koji, "Akan lebih menguntungkan jika Otori ijinkan kita memproduksi hasil yang cukup untuk memenuhi permintaan. Pompa yang keras, nak." Hisao memompa pegangan dengan tiupan sekuat tenaga dan kotak pemanas semakin panas, dengan hawa panas yang seakan membakar wajah dan tangannya. Hisao tidak keberatan karena musim dingin sudah tiba sejak mereka sampai di Kumamoto dua minggu lalu; angin dingin berhembus dari laut keabuan, dan tiap malam terasa dingin menggigit. "Apa hak mereka mendikte Arai apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat, apa yang boleh kami jual dan apa yang dilarang!" imbuh Koji. Hisao mendengar nada tidak senang yang sama di mana-mana. Ayahnya mengatakan, dengan gembira, bahwa para pengawal Arai tiada henti menghembuskan desas-desus, membangkitkan ketidaksenangan untuk me¬nentang Otori, mempertanyakan mengapa Kumamoto kini tunduk pada Hagi ketika Arai Daiichi sudah menaklukkan seluruh Tiga Negara, tak seperti Otori Takeo yang hanya Halaman 580 dari 580 mengambil keuntungan dari gempa, lalu menyebabkan kematian Lord Arai dengan menggunakan senjata api yang sama yang kini dilarangnya. Akio dan Hisao mengetahui saat mereka tiba di Kumamoto bahwa Zenko tidak ada di sana—dia dipanggil ke Maruyama oleh Lord Otori. "Memperlakukannya bak pelayan," ujar penjaga penginapan pada malam pertama mereka, saat makan malam. "Mengharapkan Arai menyerahkan semuanya. Belum cukup¬kah Otori menyandera kedua putra Arai?" "Dia suka mempermalukan sekutu mau¬pun musuhnya," ujar Akio. "Untuk memuas¬kan kesombongannya sendiri. Tapi sebenar¬nya dia tidak punya kekuatan. Dia akan jatuh, dan Otori pun akan tumbang ber-samanya." "Akan ada perayaan di Kumamoto pada hari itu," sahut laki-laki yang satu lagi, sambil mengangkat semua piring lalu kembali ke dapur. "Kita tunggu sampai Arai kembali," kata Akio pada Kazuo. "Setelah itu kita akan membutuhkan dana," ujar Kazuo. "Terutama dengan tiba¬nya musim dingin. Uang Jizaemon sudah hampir habis." Hisao tahu kalau hanya ada sedikit keluarga Kikuta di wilayah ujung Barat, dan mereka adalah keluarga yang kehilangan kekuasaan dan pengaruh selama masa peme¬rintahan Otori. Kendati demikian, beberapa hari kemudian, seorang pemuda berwajah tajam datang meminta dipanggilkan Akio pada satu malam. Dia memberi salam dengan sikap tunduk dan gembira, dan memanggil Akio dengan sebutan Ketua serta meng¬gunakan bahasa dan lambang rahasia keluarga Kuroda. Pemuda itu bernama Yasu; berasal dari Hofu dan lari ke Kumamoto setelah bermasalah di sana karena terlibat dalam penyelundupan senjata api. "Aku sudah mati!" selorohnya. "Lord Arai harus mengeksekusi diriku atas perintah Lord Otori; tapi untungnya dia masih meng¬anggapku terlalu berharga, dan membuat pertukaran." "Apakah ada banyak orang sepertimu yang bekerja pada Arai?" "Ya, ada banyak. Keluarga Kuroda selalu berhubungan dengan Muto, seperti yang kau tahu, tapi kami juga punya banyak hubungan dengan Kikuta. Lihatlah Shintaro yang hebat! Separuh Kuroda, separuh Kikuta." "Dibunuh Otori, seperti Kotaro," Akio mengamati dengan tenang. "Masih banyak kematian yang belum ter¬balaskan," ujar Yasu sepakat. "Keadaannya berbeda saat Kenji masih hidup, tapi sejak kematiannya, semenjak Shizuka menjadi ketua—segalanya berubah. Tak ada yang merasa senang. Pertama-tama karena merasa tidak benar dipimpin seorang perempuan, dan yang kedua karena Otori yang mengatur¬nya. Seharusnya Zenko yang menjadi pimpinan, dialah kerabat laki-laki tertua dan bila dia tak ingin meneruskannya, dengan menjadi bangsawan besar, maka seharusnya jabatan itu dipegang Taku." "Taku adalah tangan kanan Otori, dan ter¬libat dalam kematian Kotaro," tutur Kazuo. "Lagipula, saat itu dia masih kecil, dan masih bisa dimaafkan—tapi tidak benar kalau hubungan antara Muto dan Kikuta menjadi begitu jauh. Dan itu juga ulah Otori." "Kami di sini untuk memperbaiki jembatan yang terputus dan menyembuhkan luka," tutur Akio kepadanya. "Memang itulah yang kami harapkan. Lord Zenko akan senang, bisa kukatakan itu padamu." Halaman 581 dari 581 Yasu membayar penjaga penginapan lalu mengajak mereka ke tempat menginapnya sendiri, di belakang toko tempat dia menjual pisau dan peralatan dapur lainnya. Yasu sangat menyukai golok, yang digunakan jurumasak hebat di kastil hingga bilah pisau kecil dengan ketajaman luar biasa untuk memotong daging. Saat mengetahui keter¬tarikan Hisao pada segala macam peralatan, diajaknya Hisao ke tempat penempaan besi yang dibelinya; salah satu pandai besi, Koji, membutuhkan asisten, dan Hisao mengasah ketrampilannya bersama laki-laki itu. Hisao menyukainya, bukan hanya pekerjaannya— dia memang terampil mengerjakannya—tapi juga karena pekerjaan itu memberinya lebih banyak kebebasan, dan menjauhkannya dari kehadiran Akio yang membuatnya merasa tertekan. Sejak meninggalkan rumah, di¬pandangnya sang ayah dengan pandangan baru. Ia sudah dewasa. Bukan lagi bocah yang bisa didominasi dan dilecehkan. Pada tahun baru nanti usianya beranjak tujuh belas tahun. Karena utang dan kewajiban, pekerjaannya pada Koji dibayar dengan makanan dan tempat tinggal, kendati Yasu sering mengaku kalau dia tidak mengambil keuntungan apa pun dari Pimpinan Kikuta, suatu ke-hormatan diijinkan membantu. Namun menurut Hisao, Yasu adalah orang yang penuh perhitungan yang tidak mau memberi dengan cuma-cuma: bila Yasu menolong mereka sekarang, itu karena dia melihat akan ada keuntungan di masa akan datang. Dan Hisao juga melihat kalau Akio sudah semakin tua, dan betapa kuno cara ber¬pikirnya, seolah sudah membeku selama bertahun-tahun karena mengasingkan diri di Kitamura. Hisao menyadari bagaimana Akio merasa tersanjung dengan perhatian Yasu, bahwa ayahnya haus akan rasa hormat dan status dengan cara yang hampir ketinggaian jaman di kota yang sibuk dan moderen ini. Klan Arai penuh dengan rasa percaya diri serta kebanggaan. Wilayah mereka kini terbentang melintasi wilayah Barat: Noguchi dan Hofu milik mereka. Mereka mengendalikan pesisir dan jalur kapal laut. Kumamoto dipenuhi pedagang—bahkan beberapa orang asing, tidak hanya dari Shin dan Shilla, tapi juga, kabarnya, dari Kepulauan Kecil Barat, orang barbar dengan mata seperti buah ek serta berjanggut lebat, dan barang-barang yang indah tiada tara. Kehadiran mereka di Kumamoto ditandai dengan bisik-bisik karena seluruh kota tahu larangan Otori yang tak masuk akal pada siapa pun bertransaksi dengan orang asing secara langsung: semua perdagangan harus melalui pusat pemerintahan Klan Otori, diatur dari Hofu—satu-satunya pelabuhan tempat kapal asing diijinkan secara resmi merapat. Hal ini dipercaya banyak orang begitu adanya karena Negara Tengah ingin mengambil keuntungan bagi mereka sendiri, begitu pula dengan berbagai penemuan, dan begitu pula dengan masalah persenjataan yang sangat efektif, sangat mematikan. Klan Arai mulai membara di balik ketidakadilan. Meskipun Hisao belum pernah melihat orang barbar, tapi dia tertarik saat Jizaemon memperlihatkan benda-benda mereka. Yasu kerapkali memanggilnya ke tempat penempa¬an di sore hari untuk memberi perintah baru, mengumpulkan persediaan baru pisau, mengirim kayu untuk bagian pembakaran; suatu hari dia ditemani laki-laki bertubuh tinggi berpakaian mantel panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya. Mereka tiba pada sore hari; matahari sudah mulai tenggelam dan langit suram membawa ancaman salju yang akan turun. Kala itu kira¬kira pertengahan bulan kesebelas. Hanya bara api yang mewarnai bumi yang berubah dari hitam menjadi abu-abu pada musim dingin. Begitu tiba di jalanan, si orang asing menyibakkan tudungnya dan Hisao menyadari dengan terkejut dan keingin¬tahuan kalau itu orang barbar. Orang barbar itu hampir tidak bisa berbicara dengan mereka—dia hanya tahu beberapa kata, tapi dia dan Koji adalah tipe orang yang bicara dengan bahasa isyarat, yang lebih memahami permesinan ketimbang bahasa, dan selagi Hisao mengikuti mereka di sekitar tempat penempaan, disadarinya kalau ia juga seperti itu. Ia menangkap maksud si orang barbar secepat Koji memahaminya. Perhatian orang asing itu tersita oleh metode mereka, mempelajari semuanya dengan kilatan matanya yang cepat, menggambar sketsa tempat pembakaran, tempat meniup bara api, belanga, cetakan dan pipa; setelah itu, ketika mereka minum sake, orang itu mengeluarkan buku, dilipat dengan cara yang aneh, dicetak, bukan ditulis, dan memper¬lihatkan gambar-gambar yang terlihat jelas kalau itu cara-cara Halaman 582 dari 582 penempaan. Koji meng¬amatinya dengan cermat, dahinya berkerut, jemarinya menggaruk-garuk belakang telinga. Hisao, yang berlutut di satu sisi, mengintip di bawah cahaya remang-remang, bisa me rasakan semangat dalam dirinya yang semakin tinggi selagi halaman buku dibolak¬balik. Di benaknya muncul berbagai macam kemungkinan yang bisa dilakukan. Pada halaman terakhir ada beberapa senjata api: sebagian besar senjata panjang dengan ben¬luk aneh yang sudah dikenalnya, tapi ada satu, di bagian bawah halaman, terselip di antara senjata yang lain bak seekor anak kuda di antara kaki induknya. Bentuknya kecil, hampir berukuran sepertiga dari panjang semua senjata lainnya. Hisao tidak tahan untuk mengulurkan dan menyentuh dengan jari telunjuknya. Si barbar tertawa cekikikan. "Pistola!" dia membuat gerakan menyembunyikan senjata itu di balik pakaian, lalu mengeluarkannya dan mengarahkannya pada Hisao. "Pa! Pa!" Dia tertawa. "Morto!" (=mati) Hisao belum pernah melihat benda seindah itu, dan segera menginginkannya. Laki-laki itu menjentikkan jari, dan mereka semua memahami maksudnya. Senjata semacam itu mahal. Tapi bisa dibuat, pikir Hisao, dan bertekad untuk mempelajari cara membuatnya. Yasu menyuruh Hisao pergi sewaktu dia membicarakan soal pembayaran. Bocah itu membereskan tempat penempaan, me¬madamkan api lalu menyiapkan semua peralatan untuk keesokan harinya. Ia membuat teh untuk orang-orang itu, lalu mengisi mangkuk sake mereka kemudian pulang, benaknya dipenuhi dengan berbagai ide—tapi entah karena ide-ide itu, atau tidak terbiasa dengan sake, atau angin dingin setelah hawa panas di tempat penempaan telah membuat kepalanya pening. Saat sampai di rumah Yasu, yang terlihat olehnya hanyalah separuh dari bangunan, hanya separuh dari pajangan pisau dan kapak. Hisao tersandung anak tangga, dan selagi berusaha menyeimbangkan tubuh, dilihatnya ibunya dalam kabut hampa tempat separuh dari dunia berada. Wajah ibunya tampak memohon dengan penuh kelembutan dan ketakutan. Hisao merasa mual sewaktu kekuatan meminta bantuan perempuan itu menghantam diri¬nya. Rasa sakitnya makin tak tertahankan. Tidak tahan untuk mengerang, kemudian disadarinya kalau ia ingin muntah, jatuh dengan tangan dan lutut menahan tubuh, merangkak ke teras lalu membungkuk ke parit. Sake tadi terasa masam di mulutnya; matanya berair karena rasa sakit, angin sedingin es membuat air matanya terasa membeku di pipinya. Perempuan itu mengikutinya keluar mengambang di atas tanah, garis bayangan tubuhnya tersamar oleh kabut dan hujan salju. Akio, ayahnya, berseru dari dalam. "Siapa di sana? Hisao? Tutup pintunya, dingin sekali." Ibunya bicara, suaranya di kepala Hisao menyengat bak es. "Kau tidak boleh mem¬bunuh ayahmu." Hisao tidak tahu kalau ia pernah ingin melakukannya. Saat itu ia merasa ketakutan kalau ibunya tahu semua vang ada di benaknya, kebencian juga kasih sayangnya. Perempuan itu berkata, "Aku takkan membiarkanmu melakukannya." Suara perempuan itu tidak bisa ditolerir lagi, menggetarkan seluruh urat syaraf di sekujur tubuhnya, membuat semua syarafnya bak terbakar api. Hisao berteriak ke arah perempuan itu. "Pergi! Tinggalkan aku sendiri!" Di sela-sela erangannya, disadarinya ada yang mendekat, dan mendengar suara Yasu. "Apa-apaan ini!" seru laki-laki itu, kemudian memanggil Akio, "Ketua! Cepat kemari! Putramu...." Mereka membopongnya ke dalam dan membersihkan muntahan dari wajah dan rambutnya. Halaman 583 dari 583 "Si bodoh ini minum terlalu banyak sake," kata Akio. "Seharusnya dia tidak boleh minum. Kepalanya tidak kuat untuk itu. Biarkan dia tidur." "Hisao hampir tidak minum sake," sahut Yasu. "Mestinya dia tidak mabuk. Mungkin dia sakit?" "Terkadang dia sakit kepala. Penyakitnya itu sudah dideritanya sejak kecil. Tidak apa¬apa. Rasa sakitnya akan hilang dalam satu atau dua hari." "Anak malang, dibesarkan tanpa ibu!" ujar Yasu, separuh bicara pada diri sendiri, selagi membantu Hisao berbaring dan menyeli¬mutinya. "Dia menggigil kedinginan. Akan kuseduh sesuatu untuk raembantunya tidur." Hisao minum teh dan merasakan ke¬hangatan perlahan mulai kembali ke tubuh¬nya; menggigilnya berkurang, tapi rasa sakitnya tidak berkurang, begitu pula dengan suara perempuan itu. Kini perempuan itu melayang di kamar yang gelap—Hisao tidak perlu lentera untuk bisa melihatnya. Mengerti samar-samar kalau ia mendengar¬kan perkataan perempuan itu maka rasa sakitnya akan berkurang, tapi ia tak ingin mendengarnya. Hisao menarik rasa sakit itu di sekeliling dirinya sebagai tameng untuk melawan perempuan itu, dan ingatan tentang senjata api kecil yang indah tadi serta betapa ia ingin membuatnya. Rasa sakit membuatnya liar, bak hewan yang disiksa. Membuatnya ingin melampias¬kannya pada orang lain. Teh meredakan ambang batas kesadaran¬nya, dan ia pasti tertidur sebentar. Saat ter¬bangun, didengarnya Akio dan Yasu tengah berbincang, mendengar dentingan mangkuk sake dan suara pelan mereka selagi minum. "Zenko sudah kembali," kata Yasu. "Aku tidak bisa menahan perasaan kalau per¬temuan kalian akan membawa keuntungan bagi semua orang." "Itu tujuan utama kami keraari," sahut Akio. "Bisakah kau mengatumya?" "Aku yakin bisa. Zenko pasti sangat ingin menyatukan keretakan antara Muto dan Kikuta. Dan lagipula, kalian ada hubungan kerabat dengan ikatan pernikahan, kan? Putramu dan putra Zenko semestinya saudara sepupu." "Zenko memiliki kemampuan Tribe?" "Bukan seperti yang diketahui banyak orang. Dia seperti ayahnya, seorang ksatria. Tidak seperti adiknya." "Putraku hanya memiliki sedikit kemampuan," aku Akio. "Dia pernah belajar beberapa hal, tapi tak berbakat. Hal itu membuat kalangan Kikuta kecewa. Ibunya dulu sangatlah berkemampuan tinggi, tapi dia tak mewariskan apa pun pada putranya." "Tapi tangannya terampil. Koji cukup menyanjung anak itu—dan Koji tak pernah memuji siapa pun." "Tapi itu tak membuatnya sebanding dengan Otori." "Itukah yang kau harapkan? Kalau Hisao akan menjadi pembunuh agar bisa meng¬habisi Takeo?" "Hidupku tidak akan damai sampai Otori mati." "Aku memahami perasaanmu, tapi Takeo itu amat pandai sekaligus beruntung. Itu sebabnya kau harus bicara dengan Zenko. Sepasukan ksatria mungkin bisa berhasil menggantikan kegagalan para pembunuh Tribe." Yasu minum lagi lalu tertawa terkekeh. "Selain itu, Hisao menyukai senjata. Sepucuk senjata lebih kuat ketimbang kekuatan magis Tribe mana pun, bisa kupastikan itu. Barangkali dia akan mengejutkanmu!"* Halaman 584 dari 584 "Kau bilang dia mengancam anak-anak kita secara terang-terangan?" Lady Arai menarik baju luarnya yang terbuat dari bulu. Angin bercampur hujan es yang berhembus dari laut sepanjang minggu sejak kembalinya mereka dari Maruyama akhirnya berubah menjadi salju. Angin berhenti berhembus dan serpihan salju mulai berjatuhan perl¬ahan dan mantap. "Jangan khawatir," sahut suaminya, Zenko. "Dia hanya menggertak. Takeo tak¬kan menyakiti mereka. Dia terlalu lemah untuk melakukan hal itu." "Di Hagi pasti sudah turun salju," ujar Hana, seraya menatap ke laut di kejauhan dan memikirkan anak-anaknya. Dia belum bertemu dengan mereka lagi sejak mereka pergi saat musim panas. Zenko berkata, dengan niat buruk me¬warnai nada suaranya, "Dan di pegunungan; dengan keberuntungan Takeo akan terjebak di Yamagaia dan takkan bisa kembali ke Hagi sebelum musim semi. Salju turun lebih awal tahun ini." "Setidaknya kita tahu Lord Kono sudah aman dalam perjalanannya kembali ke Miyako," komentar Hana, karena mereka telah menerima pesan dari sang bangsawan saat hendak meninggalkan Hofu. "Mari berharap dia menyiapkan penyambutan yang hangat bagi Lord Otori tahun depan," ujar Zenko, lalu tawanya meledak. "Menyenangkan melihat Takeo terbuai pujian," gumam Hana. "Kono memang pendusta yang lihai dan patut dipercaya!" "Seperti yang dikatakannya sebelum pergi," komentar Zenko, "Jaring Surga amat¬lah luas, lubang jaringnya tipis. Kini jaring¬nya ditarik lebih kencang. Pada akhirnya Takeo akan terjerat di dalamnya." "Aku terkejut dengan kabar tentang kakakku," ujar Hana. "Kukira dia sudah tak bisa hamil lagi." Dibelainya permukaan bulu, dan ingin merasakan di kulitnya. "Bagaimana kalau nanti anaknya lakilaki?" "Tak ada perbedaan besar, jika semuanya berjalan sesuai tencana." sahut Zenko. "Begitu pula halnya dengan perjodohan antara Sunaomi dan putri mereka." "Sunaomi tak boleh menikah dengan si kembar!" ujar Hana. "Tapi kita akan pura¬pura menerima itu." Mereka tersenyum dengan tatapan penuh kelicikan. "Satu-satunya hal baik yang pernah Takeo lakukan yaitu menikahkanku denganmu," ujar Zenko. Sedangkan bagi Takeo merupakan ke¬salahan fatal, pikir Hana. Andai dia menyerah padaku dan mengambilku sebagai istri keduanya, betapa berbedanya keadaan jadinya? Aku bisa memberinya anak laki-laki; tanpa diriku Zenko akan jadi tak lebih dari bangsawan kecil, tidak menjadi ancaman bagi¬nya. Dia harus membayarnya. Begitu pula dengan Kaede. Hana tidak pernah memaafkan Takeo karena telah menolak dirinya, sama halnya dengan kakaknya karena menelantarkan diri¬nya ketika mereka masih kecil. Hana memuja Kaede, bergantung padanya ketika kesedihan akibat kematian orangtua mereka nyaris membuat dirinya tidak waras—dan Kaede justru meninggalkannya, pergi menunggang kuda pada satu pagi di musim semi dan tak pernah kembali. Setelah itu, Hana dan kakaknya, Ai, ditahan di Inuyama sebagai sandera, dan akan dibunuh di sana andai Sonoda Mitsuru tak menyelamatkan mereka. "Kau masih bisa punya anak lagi!" seru Zenko. "Ayo kita buat anak laki-laki lagi— sepasukan anak laki-laki." Halaman 585 dari 585 Mereka hanya berdua di ruangan itu, dan Hana mengira suaminya akan mulai bergerak tapi kemudian, saat itu terdengar ketukan ringan di pintu. Pintunya bergeser terbuka dan seorang pelayan laki-laki bicara pelan, "Lord Arai, Kuroda Yasu datang bersama seorang laki-laki." "Mereka datang dalam cuaca seburuk ini," ujar Zenko. "Sajikan minuman, tapi biarkan mereka tunggu sebentar sebelum kau mem¬bawanya masuk, dan pastikan kelak kami tidak diganggu." "Kuroda datang secara terang-terangan?" tanya Hana. "Taku sedang di Hofu—tidak ada yang memata-matai kita sekarang." "Aku tak pernah suka pada Taku," kata Hana tiba-tiba. Tatapan tidak senang terpancar sekilas di wajah Zenko yang lebar. "Dia adikku," Zenko memperingatkan istrinya. "Seharusnya kesetiaannya yang pertama mestinya kepadamu, bukan pada Takeo," hardik istrinya. "Dia menipumu setiap hari tapi kau tidak memerhatikannya. Dia memata-mataimu paling sering tahun ini, dan bisa dipastikan kalau dia mengacaukan surat-surat kita." "Itu semua akan segera berubah," sahut Zenko dengan tenang. "Kita akan bereskan masalah penerus Muto. Taku kelak harus mematuhiku, atau...." "Atau apa?" "Hukuman dalam Tribe atas ketidak¬patuhan adalah kematian. Aku tak bisa mengubah peraturan itu bahkan untuk saudara kandungku sendiri." "Taku amat populer, kau sendiri sering bilang begitu. Dan ibumu juga. Pastinya banyak pihak yang tak ingin menentang mereka?" "Kurasakita akan mendapatkan dukungan. Dan jika teman Kuroda adalah orang yang sudah kuperkirakan, sedikit banyak akan cukup menambah kekuatan." "Aku tak sabar ingin bertemu dengannya," Hana menaikkan alisnya. "Sebaiknya kuceritakan sedikit tentang dia. Namanya Kikuta Akio; dia ketua Kikuta sejak kematian Kotaro. Menikah dengan putri Kenji, Yuki; setelah istrinya mati, dia bersembunyi dengan anak laki-laki Yuki." Zenko berhenti sejenak lalu menatap Hana, mata dengan kelopak tebalnya berbinar. "Bukan anaknya Akio?" tanya Hana, "Bukan anaknya Takeo, kan?" Zenko mengangguk, lalu tertawa lagi. "Sudah berapa lama kau tahu ini?" tanya Hana. Dia terkejut sekaligus bersemangar dengan tersingkapnya kenyataan ini, benak¬nya sudah mencari-cari cara untuk me¬manfaatkan berita ini. "Aku mendengar semua desas-desus di keluarga Muto sewaktu aku masih kecil. Kenapa Yuki dipaksa minum racun? Alasan Kikuta membunuhnya adalah pasti karena mereka tak memercayainya. Dan kenapa Kenji berpindah memihak Otori, bersama empat dari lima keluarga? Kenji percaya kelak Takeo akan mengakui anak itu, atau setidaknya dengan melindunginya. Anak itu - mereka memanggilnya Hisao—ternyata anak laki-laki Takeo." "Kakakku pasti tak tahu, aku yakin itu." Hana merasakan ada getar kesenangan memikirkan hal itu. "Mungkin kau bisa beritahukan pada saat yang tepat," suaminya menyarankan. "Oh, tentu." Hana sepakat. Tapi mengapa Takeo tak pernah mencari anak itu?" Halaman 586 dari 586 "Kurasa ada alasannya: dia tidak ingin istrinya tahu, dan ketakutan kalau putranya yang bisa membunuhnya. Sebagaimana Tabib Ishida yang dengan baik hati meng¬ungkapkan pada kami, ada ramalan yang mengatakan seperti itu, dan Takeo memer¬cayainya." Hana bisa merasakan nadinya berdenyut lebih kencang. "Saat kakakku tahu ini, mereka pasti akan berpisah. Kaede sudah bertahun-tahun menginginkan anak laki-laki: maka dia takkan memaafkan Takeo karena anak yang disembunyikan ini." "Banyak laki-laki memiliki perempuan simpanan dan anak haram, dan istri mereka memaafkannya." "Tapi kebanyakan istri bersikap seperti diriku," sahut Hana. "Realistis dan praktis. Bila kau punya perempuan simpanan, hal itu tidak menggangguku. Aku memahami kebutuhan dan hasrat laki-laki, dan tahu kalau aku akan menjadi yang utama bagimu. Kakakku adalah orang yang idealis: dia percaya pada cinta. Takeo juga pasti begitu: dia tak pemah mengambil perempuan lain— itu sebabnya dia tak punya anak laki-laki. Lebih dari itu, keduanya dipengaruhi oleh Terayama dan apa yang mereka sebut Ajaran Houou. Pemerintahan mereka diseimbang¬kan dengan bersatunya mereka berdua: dengan menyatukan laki-laki dan perempuan. Berpisahnya kesatuan itu akan membuat Tiga Negara hancur berantakan." Hana menambahkan, "Dan kau akan mewarisi semua yang telah diperjuangkan ayahmu, dengan restu dari sang Kaisar, serta dukungan dari jenderalnya." "Dan Tribe takkan terpecah belah lagi," ujar Zenko. "Kita akan mengakui anak ini sebagai pewaris dari keluarga Kikuta dan Muto, dan melalui dirinya kita mengenda¬likan Tribe." Hana mendengar langkah kaki di luar. "Mereka sudah datang," katanya. Suaminya meminta dibawakan sake lagi, dan saat sudah datang, Hana menyuruh pelayan pergi karena dia yang akan melayani tamunya. Dia mengenal Kuroda Yasu yang mengambil keuntungan dari barang-barang mewah yang diimpornya dari Tenjiku, gading dan emas. Ia pun memiliki beberapa cermin yang terbuat dari kaca keras, berkilau yang menunjukkan bayangan orang yang nyata. Ia senang karena benda ini disimpan di Kumamoto. Hana tak pernah memper¬lihatkannya di Hofu. Kini ia pun mem¬punyai rahasia hebat dan besar ini, rahasia yang mengungkap siapa Takeo sebenamya. Hana mengamati laki-laki itu, Akio. Laki¬laki itu melihat sekilas ke arahnya, kemudian duduk dengan menunduk. Dari luar orang itu kelihatan rendah hari, tapi segera ia tahu kalau laki-laki itu bukanlah orang yang rendah hati. Tubuhnya tinggi dan tegap; walau usianya tidak muda lagi; dia kelihatan sangat kuat. Memancarkan semacam ke¬kuatan, yang mambangkitkan secercah ke¬tertarikan dalam dirinya. Hana tidak suka kalau laki-laki itu menjadi musuhnya, tapi dia bisa menjadi sekutu yang kejam juga tanpa belas kasihan. Zenko memberi salam pada kedua tamu¬nya dengan sikap yang sangat sopan, ber¬usaha agar terlihat menghormati Akio sebagai pimpinan Kikuta tanpa mengurangi status nya sendiri sebagai lord tinggi Arai. "Tribe sudah terpecah belah begitu lama," tuturnya. "Aku sangat menyesalkan per¬pecahan ini, juga kematian Kotaro. Kini Muto Kenji sudah tiada, maka sudah waktu¬nya luka-luka lama ini disembuhkan." "Kurasa kita memiliki tujuan yang sama," sahut Akio. Cara bicaranya singkat, dengan aksen Timur. Hana merasa kalau laki-laki itu akan tetap diam ketimbang menggunakan sanjungan, dan tidak mudah terpengaruh dengan sanjungan, atau pun bentuk bujukan lainnya. "Kita bisa bicara dengan bebas di sini," ujar Zenko. "Aku tak pernah menyembunyikan apa yang paling kuinginkan," ujar Akio. "Kematian Otori. Dia telah divonis mati oleh Kikuta karena melanggar aturan Tribe, dan juga atas pembunuhan Kotaro. Hal ini mem¬buat marah keluarga, nenek moyang dan tradisi, serta dewa-dewa karena dia masih hidup." Halaman 587 dari 587 "Kabamya dia tidak bisa dibunuh," komentar Yasu. "Tapi yang pasti dia hanya manusia biasa." "Aku pernah hampir menggorok leher nya," Akio membungkuk, tatapan matanya semakin tajam. "Aku masih tak mengerti bagaimana dia bisa lolos. Dia memiliki banyak keahlian—seharusnya aku tahu; aku yang melatihnya di Matsue—dia lolos dari semua usaha pembunuhan." "Baiklah," kata Zenko perlahan, seraya bertukar pandangan dengan Hana. "Aku tahu sesuatu yang kau belum tahu. Hanya beberapa orang yang mengetahuinya." "Tabib Ishida yang mengatakannya pada kami," ujar Hana. "Dia adalah tabib pribadi Takeo, dan pernah mengobari banyak lukanya. Dia tahu ini dari Muto Kenji." Akio mengangkat kepala lalu menatap langsung pada Hana. "Takeo percaya kalau hanya putranya yang bisa membunuhnya," lanjut Zenko. "Ada semacam ramalan yang bisa dibuktikan." "Seperti halnya Lima Pertempuran?" tanya Yasu. "Ya, dan ramalan itu digunakan untuk membenarkan pembunuhan atas ayahku dan keberhasilannya meraih kekuasaan," tutur Zenko. "Kata-kata yang masih tetap di¬rahasiakan." "Kendati demikian, Lord Takeo tidak memiliki anak laki-laki" ujar Yasu seraya menatap mereka semua secara bergantian. "Meski ada hal-hal tertentu yang ter¬dengar..." Akio duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Hana merasakan lagi secercah semangat. Akio berkata pada Zenko, suaranya ter¬dengar semakin rendah dan keras. "Kau tahu tentang putraku?" Zenko agak menggerakkan kepala meng¬iyakan. "Siapa lagi yang tahu tentang ramalan ini?" "Terlepas dari semua orang yang ada di ruangan ini dan Ishida: adikku, kemungkinan juga ibuku, walaupun ibuku tidak pernah mengatakannya padaku." "Bagaimana dengan yang ada di Terayama? Kubo Makoto mungkin juga tahu: Takeo menceritakan segalanya kepada¬nya," gumam Hana. "Mungkin juga. Intinya hanya sedikit orang. Dan yang paling penting adalah Takeo percaya itu," ujar Zenko. Yasu meneguk cepat sake lalu berkata pada Akio, "Jadi semua desas-desus itu benar?" "Ya. Hisao adalah putra Takeo." Lalu Akio menenggak minumannya, tampak seperti tersenyum. "Anak itu tidak mengetahuinya. Dia juga tidak memiliki keahlian Tribe. Tapi kini aku tahu akan mudah baginya untuk membunuh ayah kandungnya." Yasu menepuk alas lantai dengan telapak tangan terbuka. "Bukankah sudah kukatakan kalau anak itu bisa saja mengejutkan dirimu? Itu lelucon terbaik yang pernah ada selama bertahun-tahun..." Sekonyong-konyong keempat orang itu tertawa gaduh.* Halaman 588 dari 588 Kaede telah memutuskan untuk tinggal di Hagi selama musim dingin sampai anaknya lahir, dan Shizuka serta Ishida tinggal ber¬samanya. Mereka semua pindah dari kastil ke rumah lama Lord Shigeru di tepi sungai: rumah itu menghadap ke selatan, menangkap semua sinar matahari musim dingin, dan lebih mudah dibuat hangat selama hari-hari yang panjang dan dingin. Chiyo masih tinggal di sana, semakin bungkuk, usianya sudah di ambang senja tapi masih mampu menyeduh teh obat serta menceritakan tentang masa lalu, dan apa yang dilupakan¬nya diisi oleh Haruka, tetap ceria dan gamblang seperti dulu. Kaede mengundur¬kan diri dari publik. Takeo dan Shigeko sudah pergi ke Yamagata; Maya dikirim bersama gadis Muto, Sada, ke Maruyama, kepada Taku; sedangkan Miki pergi ke desa Tribe di Kagemura. Kaede senang memikir¬kan kalau ketiga putrinya sibuk dengan pelatihan serius semacam itu, dan sering mendoakan agar mereka mengembangkan dan mengendalikan berbagai bakat yang mereka miliki, dan agar dewa-dewi me¬lindungi mereka dari bahaya. Lebih mudah, pikirnya sedih, menyayangi si kembar dari jauh, saat kelahiran mereka yang tak wajar dan bakat aneh bisa tak diacuhkan. Kaede tidak kesepian karena selalu ada yang menemani: Shizuka, kedua bocah, dan juga hewan peliharaan putrinya, kera dan anjing. Dengan ketidakhadiran ketiga putri¬nya, Kaede mencurahkan kasih sayangnya pada keponakannya. Sunaomi dan Chikara juga menikmati kepindahan itu, jauh dari formalitas kehidupan di kastil. Mereka ber¬main di tepi sungai. "Seakan Shigeru dan Takeshi hidup kembali," ujar Chiyo dengan berlinang air mata selagi mendengarkan teriakan anak-anak dari taman atau langkah kaki mereka di atas nightingale floor. Kaede merengkuh perutnya yang membuncit dan memikirkan janin yang tumbuh di dalamnya. Kelak putranya akan menjadi pewaris Shigeru, pewaris sah Klan Otori. Beberapa kali dalam seminggu Kaede mengajak kedua anak itu ke biara. Ia telah berjanji pada Shigeko untuk mengawasi Tenba dan kirin. Ishida turut menemani karena rasa sayangnya pada kirin kian bertambah. Mori Hiroshi memberi pelana dan tali kekang pada Tenba dan mengang¬kat Sunaomi ke pelana, lalu Kaede menuntunnya berjalan mengelilingi padang rumput. Kuda itu sepertinya mencium sesuatu dari tubuhnya yang hamil dan senang berjalan perlahan di samping Kaede, dengan cuping hidung merekah, sesekali mengusap¬usap dengan hidungnya. "Apa aku ini indukmu?" Kaede memarahi¬nya dengan lembut, sambil berdoa semoga anak lakilakinya akan sepemberani dan setampan kuda itu. Kaede mengingat kudanya, Raku, dan Amano Tenzo: kedua¬nya sudah lama tiada, namun roh mereka akan tetap hidup selama ada kuda-kuda Otori. Kemudian Shigeko mengirim surat agar kuda itu dikirim padanya karena telah memutuskan untuk dihadiahkan kepada ayahnya, seraya meminta ibunya agar tetap merahasiakannya. Tenba segera dikirim ber-sama pemuda pengurus kuda dengan naik kapal ke Maruyama. Kaede dan Ishida men¬cemaskan kalau kirin akan panik saat temannya pergi nanti. Kirin memang tampak kurang bersemangat, tapi ini justru makin meningkatkan rasa sayangnya pada teman manusianya. Kaede sering menulis, karena ia sangat senang menulis membalas surat yang ditujukan untuk suaminya; menulis surat pada Shigeko dan Miki, mendesak mereka belajar dengan rajin dan mematuhi guru; kepada adik-adiknya, menceritakan pada Hana tentang kesehatan serta kemajuan kedua putranya dan mengundang mereka datang pada musim semi. Tapi Kaede tidak menyurati Maya karena Maya tinggal di tempat rahasia di Maruyama, dan adanya surat justru malah membahaya¬kan dirinya. Halaman 589 dari 589 Kaede pergi ke biara lain; bekas rumah Akane, dan mengagumi bentuk ramping dan anggun dari patung kayu yang dikelilingi rumah yang baru dibangun. "Dia mirip Lady Kaede," ujar Sunaomi, karena Kaede selalu memaksanya turut ke tempat dia pernah dipermalukan dan ketakutan. Sunaomi berhasil meraih kembali kepercayaan dirinya, tapi Kaede masih melihat sisa-sisa rasa malu dan luka yang membekas, dan berdoa agar arwah sang dewi muncul menyembuhkan segalanya. Tak lama setelah Takeo pergi ke Yamagata, Fumio kembali. Selama ketidak¬hadiran Takeo dan penarikan diri Kaede, Fumio beserta ayahnya bertindak sebagai wakilnya. Satu dari masalah yang meng-ganggu dan alot adalah apa yang harus dilakukan dengan kedatangan orang-orang asing yang mengganggu dari Hofu. "Bukannya aku tidak suka pada mereka," kata Fumio pada Kaede suatu sore pada pertengahan bulan kesepuluh. "Seperti yang kau tahu, aku sudah terbiasa dengan orang asing; menikmati kehadiran mereka serta menurutku mereka itu menarik. Tapi kian hari kian sulit untuk tahu apa yang mesti kulakukan. Mereka sangat gelisah; dan kurang senang saat tahu Lord Otori tidak di Hagi lagi. Mereka ingin bertemu dengannya; mereka mulai tidak sabar. Aku sudah katakan kalau aku tidak bisa memutuskan sampai Lord Otori kembali ke Hagi. Mereka minta penjelasan mengapa tidak boleh ke Yamagata sendiri." "Suamiku tak ingin mereka bepergian ke seluruh penjuru negeri," sahut Kaede. "Makin sedikit yang mereka tahu tentang kita, makin baik." "Aku setuju—dan aku tak tahu kesepakatan apa yang mereka buat dengan Zenko. Dia membiarkan mereka pergi dari Hofu, tapi aku tidak tahu apa tujuannya. Kuharap mereka mengirim surat yang dapat mengungkap sesuatu, tapi jurubahasa mereka tak bisa menulis sesuatu yang bisa dibaca oleh Zenko." "Ishida bisa menawarkan diri untuk men¬jadi jurutulis mereka," saran Kaede. "Itu bisa membantumu agar tidak kesulitan menga¬caukan surat-surat mereka." Mereka saling bertukar senyum. "Mungkin Zenko hanya ingin menying¬kirkan mereka," lanjut Kaede. "Sepertinya semua orang menganggap mereka sebagai beban." "Kendati demikian, banyak juga manfaat yang bisa kita ambil dari mereka—ilmu pengetahuan dan kekayaan, selama mereka bisa dikendalikan, bukan sebaliknya." "Demi tujuan itu aku harus segera belajar bahasa mereka," ujar Kaede. "Kau harus bawa orang-orang asing itu dan juru¬bahasanya ke sini." "Kegiatan itu tentu bisa memberi mereka kesibukan sepanjang musim dingin," ujar Fumio setuju. "Aku akan berikan kesan betapa besar kehormatan bagi mereka bisa diundang bertemu Lady Otori." Pertemuan itu lalu diatur, dan Kaede me¬nemukan dirinya menanti dengan perasaan takut: bukan karena orang-orang asing itu, tapi karena ia tidak tahu bagaimana bersikap pada jurubahasa mereka: anak dari keluarga petani, perempuan dari rumah pelacuran, pengikut kepercayaan Hidden, dan adik perempuan suaminya. Kaede tak ingin ber¬hubungan dengan bagian hidup Takeo yang satu ini. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada orang seperti itu. Semua nalurinya, ditambah dengan kehamilannya, memperingatkan dirinya akan hal itu. Tapi ia telah berjanji pada Takeo untuk mempelajari bahasa orang asing, dan menemukan cara lain. Ia mengakui kalau dirinya juga ingin tahu: terutama, katanya pada diri sendiri, tentang orang-orang asing dan kebiasaan mereka, tapi ia lebih ingin melihat seperti apa adik perempuan Takeo. Hal pertama yang terlintas di benaknya, sewaktu Fumio menunjukkan jalan pada dua laki-laki berbadan besar, diikuti oleh perempuan bertubuh kecil, masuk ke dalam ruangan, yaitu perempuan itu tidak mirip suamiku. Ia yakin tak seorang pun akan men¬curigai hubungan tersebul. Kaede Halaman 590 dari 590 menyam¬but dengan bahasa resmi pada para laki-laki. Mereka membungkuk hormat sambil berdiri, sebelum Fumio memberitahu kalau mereka seharusnya duduk. Kaede duduk dengan punggung bersandar ke dinding panjang ruangan itu, menghadap ke beranda. Pepohonan yang tersentuh oleh kepingan salju pertama terlihat begitu indah. Hamparan daun-daun yang berwarna merah tui berserakan di tanah, kontras dengan bebatuan keabu-abuan serta warna lentera. Di sebelah kanan Kaede, sebuah gulungan kaligrafi hasil karyanya sendiri digantung di ruang kecil yang terpisah. Isi gulungan itu adalah puisl kesukaannya tentang belukar semanggi di musim gugur, yang merupakan asal nama kota Hagi. Kiasan pemandangan yang indah itu amat memesona orang-orang asing beserta jurubahasanya. Orang asing itu duduk dengan canggung. Mereka harus melepas alas kaki di luar, dan Kaede memerhatikan sarung ketat yang melekat di kulit yang menutupi kaki mereka. Pakaian luar mereka aneh, berbentuk gembung, membuat pinggul dan bahu mereka kelihatan membesar. Bahannya ber¬warna hitam, dengan tambalan berwarna di¬jahitkan ke dalamnya: kelihatannya bukan dari sutra, katun maupun rami. Perempuan itu merangkak ke samping Kaede, kepalanya menyentuh tikar, dan tetap menunduk. Kaede mengamati secara sembunyi¬sembunyi pada kedua laki-laki tersebut, sadar akan bau mereka yang terasa asing dengan rasa jijik. Ia juga menyadari kalau pe¬rempuan di sampingnya itu memiliki tekstur rambut dan warna kulit yang mirip Takeo. Kenyataan itu membuat Jimtungnya ber¬debar kencang. Perempuan ini memang adik suaminya. Sesaat Kaede mengira kalau ia harus bereaksi—tak tahu apakah harus menangis atau tak sadarkan diri—tapi untungnya Shizuka datang dengan membawa mangkuk teh dan kue kedelai manis. Kaede berhasil mengendalikan dirinya lagi. Perempuan itu, Madaren, justru lebih ter¬cengang. Dia menerjemahkan begitu pelan dan tidak jelas hingga kedua pihak tidak tahu apa yang diucapkannya. Mereka pura-pura bertutur kata serta bersikap sopan; menerima hadiah; kedua orang asing itu sering tersenyum—agak menyeramkan—dan Kaede bicara selembut dan membungkuk seanggun mungkin. Fumio sudah mengenai beberapa kata bahasa orang asing itu, dan meng¬gunakan semuanya, sementara semua orang mengatakan Terima kasih, Dengan senang hari, dan maaf berulang kali dalam bahasa mereka. Status salah satu dari kedua orang itu, ber¬nama Don .loao, membingungkan: ksatria sekaligus pedagang, Se-dangkan yang satu lagi adalah pendeta. Butuh waktu lama untuk bercakap-cakap karena Madaren begitu khawatir akan menyinggung Lady Otori. Dia bicara sangat berbelii-belit dan penuh hormat. Setelah beberapa percakapan yang panjang soal tempat tinggal dan ke¬butuhan orang-orang itu, Kaede menyadari musim dingin mungkin berlalu tanpa ia bisa belajar apa-apa. "Ajak keluar dan perlihatkan taman pada mereka," katanya pada Fumio. "Perempuan ini tetap di sini bersamaku." Kaede menyuruh semua orang pergi. Shizuka menatap penuh tanya sewaktu mengundurkan diri. Para laki-laki kelihatannya cukup senang bisa keluar, dan selagi mereka bicara dengan keras tapi bernada ramah, mungkin mereka bicara soal taman, Kaede mendekati Madaren. "Jangan takut. Suamiku sudah mencerita¬kan siapa dirimu. Sebaiknya tidak ada orang lain yang tahu tentang ini. Demi suamiku aku akan menghormati dan melindungimu." "Keramahan Lady Otori terlalu agung bagi orang seperti diriku," Madaren mulai bicara, tapi Kaede menghentikannya. "Aku ada satu permintaan padamu—dan kedua laki-laki terhormat yang kau layani. Kau telah mempelajari bahasa mereka. Aku ingin kau mengajariku. Kita akan belajar setiap hari. Kelak saat aku telah lancar bicara bahasa itu, aku akan mempertimbangkan semua permintaan mereka. Makin cepat aku belajar, makin besar kemungkinan semua hal itu dilaksanakan. Kuharap kau mengerti maksudku. Salah satu dari mereka harus ikut denganmu, karena aku juga harus belajar tulisan mereka, tentunya." Halaman 591 dari 591 "Aku hanyalah orang rendahan dari Was yang terendah, tapi aku akan lakukan semampuku untuk memenuhi keinginan Lady Otori." Madaren menyembah lagi. "Madaren," kata Kaede, mengucapkan nama aneh itu untuk yang pertama kalinya. "Kau akan menjadi guruku. Jangan terlalu bersikap formal." "Anda baik sekali," ujar Madaren. Dia ter¬senyum tipis saat duduk tegak. "Kita akan mulai belajar besok," kata Kaede. *** Madaren datang setiap hari, menyeberangi sungai dengan perahu dan berjalan melewati jalan-jalan sempit ke rumah di tepi sungai. Belajar setiap hari menjadi bagian dari rutinitas kediaman itu, dan ia menyatu dengan iramanya. Si pendeta—Don Carlo— datang dua kali seminggu untuk mengajari kedua perempuan itu menulis apa yang disebutnya abjad, menggunakan kuas yang paling tipis. Rambut dan janggut kemerahan, serta mata hijau biru pucat bak air laut, laki-laki itu menjadi sasaran keingintahuan dan keheranan. Dia biasanya datang dengan dibuntuti anak-anak dan orang-orang dewasa yang tidak punya hal lebih baik yang bisa dikerjakan. Don Carlo juga sama ingin tahunya, sesekali dia mendekati anak-anak lalu memeriksa pakaian dan alas kaki mereka. Dia juga mengamati setiap tanaman di taman. dan sering mengajak Madaren pergi ke sawah untuk bertanya pada para petani tentang hasil panen dan musim. Dia menyimpan banyak buku catatan, yang di dalamnya dibuat daftar kata dan sketsa bunga, pohon, bangunan dan alat pertanian. Kaede melihat sebagian besar kegiatan ini karena Don Carlo mengajak mereka berdua sebagai sarana belajar bahasa, dan kerapkali membuat sketsa untuk menjelaskan sebuah kata. Orang itu benar-benar pandai, dan Kaede malu sekaligus kagum karena saat pertama kali bertemu ia berpikir kalau orang ini hampir bukan manusia. Bahasanya sulit: segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa itu sepertinya terbolak-balik, dan sukar untuk mengingat bentuk maskulin dan feminin dan cara kata kerjanya berubah. Suatu hari ketika Kaede merasa putus asa, ia berkata pada Madaren, "Aku takkan menguasai bahasa ini. Aku tak tahu bagaimana kau mempelajarinya." Ini menyakitkan hatinya: Madaren, perempuan dari kalangan rendah dan tidak ber-pendidikan, bisa begitu fasih menguasai bahasa itu. "Aku belajar dalam keadaan terpaksa, bukan pilihan," sahut Madaren. Begitu sudah bisa mengatasi rasa malu, sifat aslinya mulai muncul. Percakapan mereka menjadi lebih santai, terutama saat ada Shizuka. "Aku membuat Don Joao mengajariku di tempat tidur." Kaede tertawa, "Kurasa suamiku tak memikirkan itu." "Don Carlo masih belum punya pasangan," goda Shizuka. "Mungkin aku bisa meniru caramu." "Tampaknya Don Carlo tidak punya hasrat terhadap perempuan—ataupun laki¬laki," kata Madaren. "Bahkan dia sama sekali tidak menyetujuinya. Di matanya, bercinta adalah yang disebutnya dosa— dan cinta antar laki-laki khususnya, mengejutkan bagi¬nya." Itu merupakan pemikiran yang baik Shizuka maupun Kaede tidak terlalu me¬mahaminya. "Barangkali saat aku sudah lebih me¬mahami bahasa mereka, Don Carlo akan menjelaskannya," seloroh Kaede. "Jangan pernah bicarakan hal semacam itu dengannya," kata Madaren dengan nada memohon. "Itu akan membuatnya sangat malu." "Pastinya begitu. Dia menghabiskan banyak waktu untuk berdoa, dan acapkali membaca dengan suara keras kitab sucinya demi meraih kesucian dan pengendalian nafsu dalam dirinya." "Tidakkah Don Joao memercayai hal yang sama?" tanya Shizuka. Halaman 592 dari 592 "Sebagian dari dirinya percaya pada hal yang sama, tapi hasratnya lebih kuat. Dia memuaskan dirinya sendiri, kemudian membenci dirinya karena hal itu." Kaede penasaran apakah perilaku aneh ini menular pada Madaren, tapi tak ingin bertanya secara langsung. Kaede mengamati lekat-lekat ketika kedua orang asing hadir, dan berpikir kalau mereka berdua memang membenci Madaren, meski mereka mem¬butuhkan keahlian dan bergantung kepadanya. Kaede berpikir kalau hubungan itu aneh dan terbolak-balik, dengan mani¬pulasi, bahkan eksploitasi, dari kedua belah pihak. Kaede menemukan dirinya ingin tahu tentang masa lalu Madaren, betapa aneh perjalanan hidup yang telah membawa dia ke tempat ini. Seringkali saat mereka hanya berdua, ia berada di ambang keraguan untuk bertanya pada Madaren bagaimana Takeo ketika masih kecil. Namun pertanyaan ber¬sifat pribadi semacam itu bisa dianggap terlalu mengancam. Musim dingin tiba. Bulan kesebelas mem¬bawa hawa dingin yang menggigit; meskipun sudah memakai baju berlapis-lapis dan ada tungku batu bara agar tetap hangat. Kaede tak berani lagi berlatih pedang bersama Shizuka: kenangan buruk tentang keguguran bayinya selalu melekat di benaknya, dan ia sangat takut akan kehilangan bayinya ini. Terbungkus karpet bulu, Kaede tak bisa melakukan banyak hal selain belajar dan bicara dengan Madaren. Tepat sebelum rembulan di bulan kesebelas muncul, surat berdatangan dari Yamagata. Ia hanya berdua dengan Madaren; Shizuka mengajak kedua cucunya pergi melihat kirin. Kaede meminta maaf karena menghentikan pelajaran kemudian segera pergi ke ruang belajarnya sendiri—ruangan tempat Ichiro membaca dan menulis—dan membaca surat-surat itu di sana. Takeo menulis panjang lebar—atau tepatnya mendiktekan, karena dia kenal tulisan tangan Minoru—tentang semua keputusan yang telah diambil. Masih banyak persiapan yang harus dibicarakan dengan Kahei dan Gemba tentang kunjungan ke ibukota: Takeo masih menunggu kabar dari Sonoda tentang peneri¬maan utusan pembawa pesan. Takeo merasa berkewajiban untuk melewatkan Tahun Baru di sana. Kaede sangat kecewa: ia berharap Takeo akan kembali sebelum salju menutup jalur pegunungan. Kini ia merasa khawatir kalau keberangkatan suaminya akan tertunda hingga salju mencair. Ketika kembali pada Madaren, perhatiannya teralihkan. "Apakah Lady Otori mendapat kabar buruk dari Yamagata?" tanya Madaren se¬waktu Kaede membuat kesalahan pelajaran dasar untuk yang ketiga kalinya. "Tidak juga. Semula aku berharap suamiku akan kembali lebih awal, itu saja." "Lord Otori baik-baik saja?" "Kesehatannya baik-baik saja, terima kasih Surga." Kaede berhenti sejenak lalu berkata, "Kau memanggilnya dengan nama apa, saat kalian masih kecil?" "Tomasu, tuanku." "Tomasu? Kedengarannya aneh sekali. Apa artinya?" "Itu nama salah satu guru besar di kalangan Hidden." "Dan Madaren?" "Madaren adalah perempuan yang, kata¬nya, mencintai putra Tuhan saat beliau berjalan di bumi." "Apakah putra Tuhan itu mencintai perempuan itu?" tanya Kaede, seraya meng¬ingat-ingat percakapan mereka sebelumnya. "Beliau mencintai kita semua," sahut Madaren serius. Saat itu ketertarikan Kaede bukanlah pada kepercayaan orang Hidden, melainkan pada suaminya yang tumbuh dewasa di lingkungan mereka. "Kurasa kau tak ingat banyak tentang suamiku. Waktu itu kau pasti masih kecil." "Dari dulu dia memang berbeda," tutur Madaren perlahan. "Itu yang paling kuingat. Wajahnya tidak mirip dengan kami se Halaman 593 dari 593 keluarga, dan sepertinya tidak berpikir dengan cara yang sama. Ayahku sering marah padanya; ibu pura-pura marah, tapi ibu sayang sekali padanya. Aku selalu mengusik¬nya. Aku ingin dia memerhatikan aku. Kurasa itu sebabnya aku mengenalinya se¬waktu bertemu di Hofu. Aku selalu memimpikannya. Aku selalu memanjatkan doa baginya." Madaren terdiam, seolah takut sudah terlalu banyak bicara. Kaede pun agak terperanjat, meski ia tidak tahu apa sebabnya. "Sebaiknya kita mulai lagi pelajaran kita," ujar Kaede dengan suara yang lebih tenang. "Tentu saja, tuanku," sahut Madaren patuh. Malam itu salju turun dengan lebat, hujan salju pertama tahun itu. Kaede terjaga di pagi harinya dengan cahaya putih yang terasa asing, dan hampir menangis. Karena itu artinya jalan pasti sudah ditutup, dan Takeo akan tetap di Yamagata sampai musim semi. *** semakin sadar harus tahu apa yang mereka percayai, untuk bisa memahami mereka. Don Carlo nampak juga bersemangat untuk dapat membuat ia memahaminya. Ketika akhirnya salju turun, lakilaki itu tidak bisa ke sawah untuk melakukan penelitiannya, maka dia makin sering datang bersama Madaren dan percakapan mereka menjadi lebih mendalam lagi. "Don Carlo memerhatikan aku dengan cara laki-laki normal memandang perem¬puan," komentarnya pada Shizuka. "Mungkin dia harus diperingatkan tentang reputasimu!" sahut Shizuka. "Pernah ada satu saat ketika hasrat berarti kematian bagi laki¬laki mana pun!" "Aku telah menikah enam belas tahun, Shizuka! Kuharap reputasiku sudah dilupa¬kan. Lagipula itu bukan nafsu, karena kita tahu Don Carlo tak merasakan desakan semacam itu." "Kita tidak pernah tahu itu! Kita hanya tahu kalau dia tidak menanggapi hasratnya." Shizuka menjelaskan. "Tapi bila kau mau dengar pendapatku: kurasa dia berharap bisa mengambil hatimu dengan agamanya. Dia tak menginginkan tubuhmu; dia meng inginkan jiwamu. Dia sudah mulai bicara tentang Deus, kan? Juga menjelaskan tentang aga-ma di negaranya?" "Sungguh aneh," ujar Kaede. "Apa bedanya baginya atas apa yang kupercayai?" "Mai, gadis yang kukirim untuk bekerja pada mereka, mengatakan nama Lady Otori sering disebut dalam perbincangan mereka. Meskipun Mai belum memahami bahasa mereka dengan sempurna, tapi dia merasa kalau mereka berharap bisa mendapatkan keuntungan dan pengikut dalam jumlah yang sama besarnya, dan akhirnya men¬dapatkan wilayah baru bagi diri mereka sendiri. Inilah yang mereka lakukan di seluruh penjuru dunia." "Dari apa yang mereka katakan, negeri mereka sangat jauh dari sini: berjarak satu tahun atau lebih dengan berlayar," tutur Kaede. "Bagaimana mereka bisa hidup begitu jauh dari rumah dalam waktu lama?" "Kata Fumio itu adalah sifat dari semua pedagang dan petualang. Membuat mereka merasa sangat berkuasa, dan berbahaya." "Baiklah, tapi aku tidak bisa membayang¬kan diriku mengikuti kepercayaan mereka." Kaede membuang jauh-jauh pikiran itu dengan sengit. "Bagiku itu seperti omong kosong!" "Semua kepercayaan bisa kelihatan seperti kegilaan," sahut Shizuka. "Tapi bisa tiba-tiba menjangkiti manusia, seperti wabah. Aku pernah melihatnya. Waspadalah." Halaman 594 dari 594 Kata-kata Shizuka membuat Kaede ter¬ingat saat dirinya menjadi istri Lord Fujiwara, dan bagaimana ia melalui hari-hari yang panjang dalam doa dan puisi, me¬megang semua janji yang telah dikatakan padanya sementara dirinya terbaring dalam sihir tidur Kikuta seolah masuk ke peti es. Bersabarlah: dia akan menjemputmu. Kaede merasa bayinya menendang dalam perutnya. Kini seluruh kesabarannya sudah hampir habis dengan kehamilannya, salju serta ketidakhadiran Takeo. "Ah, punggungku sakit," katanya seraya menghcla napas. "Mari kupijat. Membungkuk." Selagi Shizuka memijat, dia diam saja; dan kesunyian itu semakin senyap seakan dia tenggelam dalam lamunan. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Kaede. "Hantu-hantu dari masa lalu. Dulu aku suka duduk bersama Lord Shigeru tepat di ruangan ini. Beberapa kali aku membawa pesan dari Lady Maruyama: kau tahu kalau dia adalah salah satu pengikut." "Ajaran kaum Hidden," ujar Kaede. "Kurasa agama orang asing itu, meski tampak sama, tapi lebih dogmatis dan tidak mengenai kompromi." "Semakin menguatkan alasan untuk mem¬perlakukannya dengan curiga!" Selama musim dingin, Don Carlo memperkenalkannya lebih banyak kata: neraka, hukuman, kutukan, dan ia ingat apa yang pernah Takeo katakan tentang Tuhan yang Maha Melihat milik kaum Hidden dan tatapannya yang tanpa ampun. Kaede menyadari betapa Takeo telah memilih menghindari tatapan itu, dan itu makin membuat ia makin mengagumi dan men¬cintai suaminya. Karena tentu saja dewa atau tuhan itu baik, dan menginginkan kehidupan berjalan dengan selaras bagi semua mahkluk, musim berlalu, malam berganti siang dan musim panas berganti dengan musim dingin, dan seperti ajaran Sang Pencerah, kematian itu tak lebih hanya pemberehentian sejenak sebelum kelahiran selanjutnya.... Kaede berusaha menjelaskan hal ini pada Don Carlo dengan kosa katanya yang ter¬batas. Saat tidak berhasil dengan kata-kata, diajaknya laki-laki itu melihat pahatan patung Kannon Sang Maha Pengampun yang sudah selesai di kuil yang telah di¬bangun untuknya. Saat itu cuaca terasa lembut di awal musim semi. Hunga-bunga plum masih ber¬gelantungan bak serpihan salju di ranting tanpa daun di taman Akane; salju di bawah telapak kaki terasa lembap dan mencair. Kendati tidak suka dengan caranya diantar, Kaede dibawa dalam tandu; kehamilannya sudah berusia tujuh bulan dan diperlambat dengan berat bayi yang dikandungnya. Don Carlo juga dibawa dengan tandu terpisah di belakangnya, dan Madaren mengikutinya. Para tukang kayu, di bawah pengawasan Taro, tengah memberi sentuhan akhir pada kuil, memanfaatkan cuaca vang lebih hangat. Kaede senang melihat bangunan baru itu bisa bertahan menghadapi musim dingin, dengan dinaungi atap rangkap dua, keseimbangan sempurna pada kedua lengkungannya seperti yang Taro janjikan. Bentuk bangunan itu mencuat ke atas dan dipantulkan dengan dedaunan pinus yang membentuk seperti payung pelindung. Salju masih menempel di atap, menyilaukan saat icrkena pantulan cahaya matahari; tetesan air yang membeku mulai mencair dari tepi atap, membiaskan cahaya. Jendela kecil di atas pintu samping ber¬bentuk seperti daun, dan hasil karya seni ukiran yang amat halus mem-biarkan cahaya matahari masuk. Pintu utama terbuka lebar, dan sinar matahari musim dingin jatuh menyirami lantai yang baru. Kayunya ber¬warna seperti madu dan berbau semanis madu pula. Kaede memberi salam pada Taro, lalu melepas sandal di beranda. Halaman 595 dari 595 "Orang asing ini tertarik pada karyamu," katanya pada Taro, dan melihat ke belakang¬nya tempat Don Carlo dan Madaren men¬dekati bangunan kuil. "Selamat datang," sambut Kaede pada si pendeta dengan bahasa orang itu. "Ini tempat istimewa untukku. Masih baru. Orang ini yang membuatnya." Taro membungkuk, dan Don Carlo mem¬buat gerakan canggung dengan kepala. Orang itu terlihat lebih gelisah dari biasanya, dan saat Kaede berkata, "Mari masuk. Kau harus lihat karya paling indah dari orang ini," si pendeta menggeleng lalu menyahut, "Aku lihat dari sini saja." "Tapi kau tak bisa melihatnya dari sini," desak Kaede, kemudian Madaren berbisik, "Dia takkan masuk; ini bertentangan dengan kepercayaannya." Kaede merasa marah atas sikap kasar laki¬laki itu, ia tak bisa memahami alasan di baliknya, tapi ia tak menyerah begitu saja. Ia sudah mendengarkan Don Carlo sepanjang musim dingin, dan sudah belajar banyak darinya. Kini giliran orang itu yang harus mendengarkan. "Ayolah," kata Kaede. "Lakukan seperti yang kuminta." "Pasti menarik," saran Madaren kepada¬nya. "Kau bisa lihat bagaimana konstruksi bangunan ini dan bagaimana pahatan kayu¬nya." Don Carlo melepas alas kaki dengan sikap enggan yang sengaja diperlihatkan. Taro membantunya dengan senyum yang mem¬beri semangat. Kaede melangkah ke dalam kuil; patung yang sudah selesai berdiri di depan mereka. Satu tangan, menekan dada, memegangi bunga teratai; sedangkan tangan yang satu lagi menyibak keliman jubah dengan dua jari yang ramping. Lipatan jubah itu dipahat sangat halus hingga terlihat seperti bergoyang saat tertiup angin sepoi¬sepoi. Mata sang dewi menatap ke bawah, ekspresinya tegas sekaligus penuh welas asih, senyum dengan bibir agak mencuat ke atas. Kaede menangkupkan telapak tangan lalu menunduk berdoa—untuk bayi dalam kandungannya, untuk suami dan ketiga putrinya, dan untuk arwah Akane yang mungkin pada akhirnya bisa istirahat dengan tenang. "Dia cantik sekali," kata Don Carlo, dengan semacam rasa ingin tahu, tapi tidak berdoa. Kaede mengatakan pada Taro betapa si orang asing mengagumi patungnya, melebih¬lebihkan pujiannya untuk menebus sikap kasarnya tadi. "Keahlianku biasa saja. Tanganku men¬dengarkan apa yang ada di dalam kayu, dan membantunya menemukan jalan keluamya," sahut Taro. Kaede berusaha menerjemahkan kalimat ini sebisa mungkin. Taro, dengan gerakan dan sketsa gambar, memperlihatkan pada Don Carlo konstruksi bagian dalam atap, bagaimana penyangganya saling menopang. Kemudian Don Carlo mengeluarkan buku catatan lalu menggambar apa yang dilihat¬nya, menanyakan tentang nama kayu, dan nama setiap sambungan. Matanya kerapkali menerawang kembali ke arah sang dewi, kemudian ke arah wajah Kaede. Sewaktu mereka pergi, Don Carlo ber¬gumam, "Kurasa aku tidak bisa menemukan Bunda Maria dari Timur." Itulah pertama kalinya Kaede mendengar kata itu, dan tak mengerti artinya, namun melihat ada sesuatu yang telah meningkatkan ketertarikan Don Carlo pada dirinya; hal itu mengganggunya; merasakan tiba-tiba bayi dalam perutnya menendang keras, dan ingin sekali agar Takeo kembali.* Halaman 596 dari 596 Sisa luka cakaran membekas di wajahnya sudah hampir memudar ketika Takeo kembali ke Hagi di akhir bulan ketiga. Salju belum lagi mencair: musim dingin berlang¬aing lama dan sulit. Dengan ditutupnya semua perbatasan antar kota di seluruh Tiga Negara, ia tidak bisa menerima surat, dan kecemasannya terhadap Kaede makin menjadi-jadi. Takeo senang Ishida tinggal bersama istrinya selama masa kehamilanya, namun juga menyesali ketidakhadiran si tabib selagi cuaca yang tak bersahabat mem¬buat luka lamanya terasa makin sakit, sedangkan minuman penenang telah habis. Takeo terpaksa menghabiskan waktu ber¬sama Miyoshi Kahei, membahas strategi untuk musim semi yang akan datang serta kunjungan ke ibukota, dan membaca catatan administrasi Tiga Negara. Kedua hal itu membangkitkan semangatnya: merasa siap untuk apa saja yang akan terjadi saat kunjungan nanti. Ia akan pergi dengan damai, namun takkan meninggalkan negerinya tanpa penjagaan. Dan catatan administrasi memastikan sekali lagi seberapa kuat negaranya, sampai ke tingkat desa—di mana pemimpinnya dipilih oleh para petani—dapat dimobilisasi untuk mem¬pertahankan diri mereka dan wilayahnya. Musim semi tiba dan ia langsung me¬mutuskan untuk pulang. Saat menunggang kuda melewati pedesaan, semua itu kian memantapkan hatinya. Tenba melewati musim dingin dengan baik, hampir tidak berkurang berat badan maupun kondisinya. Bulu musim dinginnya telah disikat bersih oleh bocah-bocah pengurus kuda, dan tubuh hitamnya berkilauan bak pernis. Gembira karena berada di jalanan, menuju tempat kelahirannya, membuat kuda itu melompat dan berjingkrak, cuping hidungnya mengem¬bang, surai dan ekornya melambai-lambai. *** "Apa yang terjadi pada wajahmu?" tanya Kaede ketika mereka hanya berdua, menyelujuri tanda bekas luka yang mulai menghilang dengan jari-jarinya. Takeo tiba tadi pagi. Udara masih terasa dingin, angin segar; jalanannya berlumpur, seringkali tergenang. Ia langsung ke rumah lama, tempat Chiyo dan Haruka menyam¬butnya dengan suka cita, mandi dan makan bersama Kaede, Ishida serta kedua bocah. Saat ini ia dan Kaede duduk di kamar lantai atas, penutup jendela terbuka, percikan sungai terdengar di telinga mereka, dan di mana-mana tercium aroma musim semi. Bagaimana mengatakannya? Takeo me¬natap istrinya dengan penuh kekhawatiran. Waktu melahirkan hampir tiba, tidak lebih dari tiga atau empat minggu lagi. Teringat olehnya apa yang Shigeko katakan: Ayah harus ceritakan pada Ibu. Ayah seharusnya tidak menyimpan rahasia dari Ibu. Ceritakan semuanya pada Ibu. Takeo berkata, "Aku tak sengaja menabrak dahan. Tidak apa-apa." "Kelihatannya seperti dicakar. Aku tahu, kau kesepian di Yamagata lalu menemukan perempuan yang menggairahkan!" Kaede menggodanya, senang suaminya sudah berada di rumah lagi. "Tidak," sahutnya dengan nada lebih serius. "Aku sudah sering mengatakan pada mu, aku tidak akan tidur dengan siapa pun selain dirimu." "Seumur hidupmu?" "Seumur hidupku." "Bahkan kalau aku mati lebih dulu?" Ditempelkan jarinya dengan lembut ke bibir istrinya. "Jangan bilang begitu." Ia merengkuh Kaede dan memeluknya erat-erat sesaat tanpa sepatah kata pun. Halaman 597 dari 597 "Ceritakan semuanya," akhirnya Kaede berkata. "Bagaimana Shigeko? Aku sangat gembira memikirkan dia sebagai Lady Maruyama saat ini." "Shigeko baik-baik saja. Andai kau bisa melihatnya saat upacara. Dia mengingatkan¬ku pada Naomi. Tapi saat itu baru kusadari kalau Hiroshi jatuh cinta padanya." "Hiroshi? Tidak mungkin. Dia selalu memperlakukannya sebagai adik. Apakah dia bilang begitu?" "Tidak dengan kata-kata. Tapi aku yakin itu sebabnya dia selalu menghindari per¬nikahan." "Dia berharap menikah dengan Shigeko?" "Menurutku Shigeko juga menyayangi¬nya." "Shigeko masih gadis kecil!" ujar Kaede, kedengaran seolah marah dengan pendapat seperti itu. "Usianya sama dengan kau saat kita bertemu," Takeo memperingatkan. Sesaat mereka saling pandang. Lalu Kaede berkata, "Mereka tidak boleh berada di Maruyama bersama-sama. Jangan terlalu banyak berharap dari mereka berdua!" "Hiroshi jauh lebih tua ketimbang diriku saat itu! Kuyakin dia lebih bisa mengendali¬kan diri. Dan mereka tak berharap hidup mereka berakhir dalam hitungan jam." Cinta kita pun merupakan hasrat yang buta, pikirnya. Kita belum terlalu mengenal satu sama lain. Kita dirasuki kegi-laan yang begitu kuat hingga mengakibatkan terjadinya pem¬bunuhan yang tiada henti. Shigeko dan Hiroshi sudah seperti kakak adik. Bukan dasar yang buruk untuk sebuah pernikahan. "Kono mengisyaratkan persekutuan politis melalui pernikahan dengan jenderal Kaisar, Saga Hideki," tuturnya pada Kaede. "Pendapat yang tidak bisa kita abaikan begitu saja," sahut Kaede, menghela napas panjang. "Aku yakin Hiroshi bisa menjadi suami yang baik, tapi pernikahan semacam itu akan menyiakan-nyiakan Shigeko, dan tidak memberi keuntungan yang sebenarnya belum kita miliki." "Baiklah, Shigeko akan ikut bersamaku ke Miyako; kami akan bertemu dengan Saga dan memutuskan nanti." Takeo meneruskan ceritanya tentang kelanjutan masalah dengan Zenko. Mereka memutuskan untuk mengundang Hana saat musim panas agar bisa bertemu kedua putranya dan menemani Kaede setelah melahirkan. "Dan kuharap kau sudah fasih bicara dengan bahasa yang baru," ujar Takeo. "Aku sudah membuat kemajuan," sahut Kaede. "Don Carlo maupun adikmu adalah guru yang baik." "Adikku baik-baik saja?" "Secara umum, ya, baik-baik saja. Kami terserang flu, tapi tidak serius. Aku suka padanya: kelihatannya dia baik dan pandai, meskipun tidak mendapat pendidikan." "Dia mirip ibuku," ujar Takeo. "Apakah orang-orang asing itu berhubungan dengan Hofu atau Kumamoto?" "Ya, mereka sering menulis surat. Ishida kadang membantu mereka, dan sudah sewajarnya kami membacanya." "Kau memahami semua isinya?" "Sulit sekali. Bahkan bila sudah mengenal setiap kata, aku masih saja kesulitan me¬nangkap maknanya. Aku harus sangat ber¬hati-hati agar tidak membuat Don Carlo takut: laki-laki itu amat tertarik dengan semua yang kukatakan, dan menimbang¬nimbang setiap perkataan. Dia menulis banyak hal tentang diriku, pengaruhku pada dirimu, kekuatan yang tidak biasa sebagai seorang perempuan." Sesaat Kaede terdiam. "Menurutku dia ingin aku masuk agamanya, dan meraih dirimu melalui aku. Madaren pasti sudah menceritakan kalau kau lahir di antara kaum Hidden. Don Carlo Halaman 598 dari 598 nyaris mengira kau adalah pengikut ajaran mereka sehingga akan diberi ijin menyebarkan agama, sedangkan Don Joao diijinkan ber¬dagang di Tiga Negara." "Perdagangan itu masalah lain: boleh selama kita bisa mengendalikannya dan demi kepentingan kita. Tapi tak akan kuijinkan dia menyebarkan agama, atau bepergian." "Tahukah kau kalau sudah ada orang asing di Kumamoto?" tanya Kaede. "Don Joao menerima sepucuk surat dari salah satunya. Mereka adalah kenalan bisnis, sepertinya, dari kampung halaman mereka." "Aku sudah curigai." Takeo menceritakan tentang cermin yang diperlihatkan kepada¬nya di Maruyama. "Aku juga punya cermin yang sama!" Kaede memanggil Haruka, dan pelayan itu membawakan cermin itu, terbungkus kain sutra tebal. "Ini pemberian Don Carlo," tutur Kaede, seraya membuka bungkusnya. Takeo mengambilnya dan bercermin. Ia merasa aneh dan terkejut. "Hal ini mencemaskanku," kata Takeo. "Apa lagi yang diperdagangkan dari Kuma¬moto yang kita belum tahu?" "Satu lagi alasan yang tepat agar Hana berada di sini," kata Kaede. "Dia tidak tahan untuk memamerkan barang-barang baru kepunyaannya dan akan mengumbar tentang kehebatan Kumamoto. Aku yakin bisa me-mancingnya agar bercerita lebih banyak lagi." "Shizuka tidak ada di sini? Aku ingin bicara dengannya tentang masalah ini, dan mengenai Zenko." "Dia ke Kagemura begitu salju mencair. Aku mencemaskan Miki dalam cuaca dingin seperti ini, dan Shizuka punya masalah yang harus dibicarakan dengan keluarga Muto." "Miki akan kembali bersamanya?" Takeo terperangkap oleh kerinduan ingin bertemu dengan putri bungsunya. "Belum diputuskan." Kaede menepuk Kin, anjing yang berbaring meringkuk di sampingnya. "Kin pasti senang saat Maya pulang—dia merindukan si kembar. Kau bertemu Maya?" "Ya, aku bertemu." Takeo tak yakin bagai¬mana meneruskannya. "Kau juga mengkhawatirkannya? Dia baik¬baik saja?" "Maya baik-baik saja. Dia sedang belajar pada Taku. Dia tengah belajar mengendali¬kan diri dan juga disiplin. Tapi Taku seperti¬nya tergila-gila pada gadis itu." "Dengan Sada? Apa semua laki-laki sudah gila? Sada! Dia orang terakhir yang kuduga bisa membuat Taku mabuk kepayang. Kukira gadis itu tidak peduli pada laki-laki— dia berpenampilan seperti lakilaki." "Seharusnya tidak kuceritakan padamu," sahut Takeo. "Jangan sampai masalah ini membuatmu tertekan. Kau harus memikir¬kan kesehatanmu." Kaede tertawa. "Aku lebih merasa terkejut ketimbang tertekan. Selama tidak meng¬ganggu tugas mereka, biarkan saja mereka saling mencinta. Tak ada ruginya, kan? Hasrat seperti itu tidak bisa dihentikan—toh, nanti akan padam dengan sendirinya." "Hasrat kita tak pernah padam," sahut Takeo. Kaede meraih tangan suaminya dan menaruhnya di perutnya. "Putra kita sedang menendang," katanya, dan Takeo merasakan si bayi bergerak kuat dalam perut istrinya. Halaman 599 dari 599 "Sebenarnya aku tidak ingin membicara kannya," kata Takeo. "Tapi kita harus me¬mutuskan nasib sandera yang kita tahan di Inuyama, keluarga Kikuta yang menyerang¬mu tahun lalu. Ayah mereka sudah mati dibunuh tahun lalu, dan aku ragu kalau Kikuta mau berunding. Keadilan menuntut kalau mereka dihukum mati atas kejahatan yang mereka lakukan. Kukira sudah wakt¬unya menulis surat pada Sonoda. Harus kelihatan sesuai hukum, bukan sebagai tindakan balas dendam. Mungkin aku harus ke sana uniuk menyaksikannya—aku mem¬pertimbangkan untuk meminta hukuman dilaksanakan saat aku melewati Inuyama dalam perjalanan ke ibukota." Kaede gemetar. "Itu pertanda buruk untuk suatu perjalanan. Katakan pada Sonoda untuk melakukannya sendiri: dia dan Ai adalah wakil kita di Inuyama. Mereka bisa mewakili kita. Dan harus laksanakan secepatnya. Jangan ditunda." "Minoru akan menulis suratnya sore ini." Takeo berterima kasih pada Kaede atas keputusannya yang tegas. "Oh ya, Sonoda baru saja menulis surat. Kurirmu sudah kembali ke Inuyama. Mereka diterima Kaisar. Mereka diberi penginapan oleh Lord Kono selama musim dingin, dan dia selalu memujimu dan Tiga Negara." "Tampaknya sikap Kono berubah," sahut Takeo. "Dia tahu cara memikat serta memuji. Aku tidak memercayai dia, tapi aku harus tetap pergi ke Miyako sesuai rencana." "Alternatif lain terlalu menakutkan untuk dipikirkan," gumam Kaede. "Kau pasti paham benar apa alternatif itu." "Tentu: menyerang dan mengalahkan Zenko dengan cepat di Barat dan bersiap melawan Kaisar di Timur. Pikirkan biaya yang dibutuhkan. Bahkan jika kita bisa memenangkan kedua wilayah, kita membawa dua pertiga negara kita dalam kancah peperangan—dan akan menghancurkan kerabat sendiri dan merenggut Sunaomi dan Chikara dari orangtuanya. Ibu mereka adalah adikku, dan aku sayang padanya dan anak-anaknya." Takeo menarik tubuh Kaede lebih dekat, dan mengecup tengkuk istrinya, bekas luka itu masih tetap kelihatan. "Takkan kubiarkan hal itu tcrjadi. Aku janji." "Tapi kekuatan yang tengah digalang dimana dirimu, suamiku sayang, tidak bisa mengendalikannya." Kaede membenamkan diri dalam pelukan Takeo. Napas mereka makin memburu dan keduanya larut menjadi satu kesatuan. "Kuharap kita bisa seperti ini selamanya," kata Kaede pelan. "Aku sangat bahagia saat ini; tapi aku takut apa yang akan terjadi kelak." *** Semua orang menantikan bayi itu lahir, tapi sebelum Kaede dipingit, Takeo ingin bertemu dengan kedua orang asing. Ia ingin mencapai persetujuan yang memuaskan kedua belah pihak untuk masalah perdagangan dan memperingatkan mereka siapa penguasa Tiga Negara. Takeo khawatir kalau selama ia tidak ada di sana, saat Kaede sibuk dengan bayinya, orang-orang asing itu akan berpaling ke Kumamoto untuk men¬dapatkan akses ke distrik lain, dan sumber daya lain. Halaman 600 dari 600 Cuaca hari itu semakin hangat; daun ginkgo dan maple merekah, cerah dan segar. Seketika bunga ceri bermekaran di mana¬mana, gunung berwarna putih bersih. taman berwarna merah muda. Burung kembali ke sawah yang berair, dan suara katak memenuhi udara. Bunga aconitus dan violet bermekaran di hutan dan taman, diikuti dandelion, windflower, aster dan vetch. Jerit jangkrik mulai terdengar, dan kicau burung warbler mengalun indah. Don Carlo dan Don Joao datang bersama Madaren ke penemuan yang diadakan di ruang utama yang menghadap taman. Aliran sungai dan air terjun di taman memercikkan air dan ikan carp merah keemasan berenang dengan malas di kolam, sesekali melompat untuk menangkap serangga musim semi. Takeo sebenarnya lebih senang menerima mereka di kastil dengan upacara megah, tapi ia tak ingin Kaede melakukan perjalanan. Kaede harus hadir untuk membantu men¬jelaskan maksud kedua belah pihak. Itu tugas yang berat. Kedua orang asing itu kini lebih mendesak. Mereka tak sabar untuk memulai perdagangan yang sesungguhnya, meskipun tidak menyatakannya secara terang-terangan. Madaren lebih gelisah dengan adanya Takeo. Dia tampak takut menyinggung, tapi juga ingin membuatnya terkesan. Ia pun gelisah, mencurigai kedua orang asing itu, karena mereka seperti memandang rendah dirinya, tahu kalau Madaren adalah adiknya—apakah mereka memang tahu itu? Apakah adiknya telah mengatakannya pada mereka? Kaede mengatakan mereka tahu kalau ia lahir di kalangan Hidden... penerjemahan semakin memperlambat pembicaraan; sore segera menjelang. Takeo meminta mereka menyatakan dengan jelas keinginan mereka. Don Joao menjelaskan bahwa mereka berharap bisa membangun hubungan dagang secara ter¬atur. Dia memuji sutra, kerang mutiara, dan keramik dan porselen yang diimpor dari Shin. Semua ini, katanya, banyak dicari dan bernilai tinggi di negaranya. Sebagai imbalan, dia menawarkan perak, pecah belah, rempah dan kayu wangi, dan tentunya senjata api. Takeo menjawab bahwa semua ini bisa diterima: satu-satunya syarat yaitu adalah semua itu harus dilakukan melalui Hofu dan di bawah pengawasannya, dan senjata api hanya bisa masuk dengan seijin dirinya atau istrinya. Kedua orang itu saling bertukar pandang ketika syarat itu diterjemahkan, dan Don Joao menjawab, "Kami sudah biasa bepergian dan berdagang dengan bebas." Takeo berkata, "Mungkin kelak hal itu bisa dilakukan. Kami tahu bahwa Anda bisa membayar dengan mata uang perak, tapi bila terlalu banyak mata uang perak masuk, semua harga akan jatuh. Kami harus melindungi rakyat, dan menjalankannya secara perlahan. Bila perdagangan ini ter¬nyata mendatangkan keuntungan bagi kami, maka kami akan memperluasnya." "Dengan persyaratan seperti ini, maka keuntungan tak berada di pihak kami," bantah Don Joao. "Bila itu keputusannya, maka kami berdua akan pergi." "Itu keputusan Anda," Takeo sepakat dengan sopan, sadar kalau hal itu sulit diterima. Lalu Don Carlo mengungkit masalah agama, dan bertanya apakah mereka boleh membangun kuil di Hofu dan di Hagi, dan apakah penduduk setempat boleh bergabung dengan mereka memuja Deus. "Rakyat kami boleh beribadah sesuai keinginan mereka," sahut Takeo. "Tidak perlu membuat bangunan khusus untuk itu. Kami akan memberi akomodasi. Anda boleh memanfaatkan satu ruangan di sana. Tapi, saranku, jangan secara terang-terangan. Prasangka masih tetap ada, jangan sampai menganggu keselarasan dalam masyarakat." "Kami berharap Lord Otori bisa mengakui agama kami sebagai salah satu agama yang benar," tutur Don Carlo, dan Takeo mcngira kalau ia menangkap nada lebih bersemangat Madaren sewaktu menerjemahkan. Halaman 601 dari 601 Takeo tersenyum, seolah gagasan itu terlalu absurd untuk dibicarakan. "Takkan ada hal semacam itu," sahutnya, dan melihat kalau hal itu membuat mereka kesal. "Anda berdua harus kembali ke Hofu," ujarnya, seraya berpikir akan menulis surat kepada Taku. "Aku akan mengatur kapal dengan Terada Fumio—dia akan menemani Anda. Aku akan pergi selama musim panas, dan istriku akan sangat sibuk mengurus anak. Tak ada alasan lagi bagi kalian untuk tinggal di Hagi." "Aku akan merasa kehilangan Lady Otori," kata Don Carlo. "Lady Otori telah menjadi murid sekaligus guru, dan hebat dalam keduanya." Kaede berbicara padanya menggunakan bahasa asing itu; Takeo kagum dengan kefasihan istrinya dalam bahasa yang aneh bunyinya itu. "Aku berterima kasih kepadanya dan bilang kalau dia juga pandai sebagai murid, serta berharap dia mau terus belajar dari kita," tutur Kaede dengan pelan pada Takeo. "Kukira dia lebih suka menjadi guru ketimbang menjadi murid," bisik Takeo, tak ingin Madaren mendengar. "Ada banyak hal yang dia merasa sudah tahu," sahut Kaede pelan. "Tapi Lord Otori akan ke mana begitu lama, begitu cepat setelah kelahiran anak Anda?" tanya Don Joao. Seturuh kota sudah tahu: tak ada alasan menyembunyikannya dari mereka. "Aku akan mengunjungi Kaisar." Ketika diterjemahkan, mereka tampak kebingungan. Mereka mengajukan per¬tanyaan pada Madaren dengan hati-hati, seraya melihat sekilas ke arah Takeo dengan tatapan terkejut. "Apa yang mereka katakan?" Takeo men¬condongkan badan ke arah Kaede dan ber¬bicara di telinga istrinya. "Mereka tidak tahu kalau ada Kaisar," gumamnya. "Mereka mengira kalau kaulah yang mereka sebut raja." "Dari Delapan Pulau?" "Mereka tidak tahu tentang Delapan Pulau—mereka mengira hanya ada Tiga Negara." Madaren bicara dengan ragu-ragu, "Maafkan aku, tapi mereka ingin tahu apakah mereka boleh menemani Lord Otori ke ibukota." "Apa mereka sudah gila?" imbuhnya cepat, "Jangan terjemahkan itu! Katakan pada mereka kalau masalah ini telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Hal itu tidak mungkin." Don Joao memaksa. "Kami adalah utusan raja kami. Sudah sepantasnya kami diper¬bolehkan memperlihatkan surat kepercayaan raja kami pada penguasa negeri ini, bila memang bukan Lord Otori orangnya." Don Carlo lebih diplomatis. "Mungkin memang seharusnya kami mengirim surat dan hadiah. Mungkin Lord Otori bisa menjadi duta bagi kami." "Kemungkinan itu bisa dilakukan," aku Takeo, dalam hati ia bertekad tidak akan melakukannya. Setelah menerima makanan kecil dari Haruka, mereka mengucapkan selamat tinggal, berjanji akan mengirim surat dan hadiah sebelum Takeo pergi. "Ingatkan pada mereka kalau hadiahnya harus mewah dan indah," kata Takeo pada Madaren, karena biasanya apa yang dianggap cukup oleh orang asing jauh dari yang biasa mereka lakukan. Takeo memikirkan dengan gembira kesan yang akan dibuat oleh kirin. Kaede sudah memerintahkan dipersiapkan¬nya kain sutra yang indah, dan dikemas dengan bungkusan kertas halus bersama contoh keramik terindah, kotak penyimpan teh dari emas dan pernis hitam, serta lukisan pemandangan karya Sesshu; Shigeko akan Halaman 602 dari 602 membawa kuda-kuda dari Maruyama dan gulungan kaligrafi terbuat dari daun emas, ketel besi dan rak lentera. Semua itu untuk menghormati Kaisar dan memperlihatkan kekayaan dan status kedudukan Klan Otori serta kekayaan negaranya. Takeo sangsi benda apa pun yang bisa disediakan kedua orang asing itu bisa layak dibawa sampai ke ibukota, bahkan untuk diberikan kepada menteri sekali pun. Takeo sudah melangkah keluar menuju taman sewaktu kedua orang asing itu mengundurkan diri, seraya membungkuk dengan sikap mereka yang canggung dan kaku. Ketimbang mengantar mereka sampai ke gerbang, Madaren justru berlari mengejar. Tindakan adiknya membuat ia gusar karena tidak ingin didekati, namun ia pun sadar kalau Madaren sudah akrab dengan istrinya selama musim dingin. Kebalikan dari sikapnya, ia merasa ada semacam kewajiban pada Madaren; menyesali sikapnya yang dingin. Untungnya, bila ada yang melihat mereka bersama, mereka akan mengira perempuan itu bicara padanya sebagai penerjemah, bukan kerabatnya. Madaren memanggil namanya; Takeo berbalik, dan saat Madaren tidak sanggup bicara, dia berkata dengan ramah, "Apa yang bisa kubantu? Adakah kebutuhanmu yang belum terpenuhi? Apakah kau perlu uang?" Madaren menggelengkan kepala. "Apa sebaiknya kuaturkan pernikahan untukmu? Aku akan mencarikan pedagang yang cocok denganmu. Kau bisa memulai usahamu sendiri, dan juga keluargamu." "Aku tidak ingin semua itu," sahutnya. "Don Joao membutuhkan diriku. Aku tidak bisa meninggalkannya." Takeo mengira kalau adiknya ingin ber¬terima kasih, dan terkejut ketika temyata bukan itu yang dikatakannya. Sebaliknya, dia malah bicara dengan nada agak keras. "Ada satu hal yang kuinginkan lebih dari segala¬nya. Dan itu hanya kau yang bisa berikan." Takeo menaikkan alis dan menanti kelanjutan kata-kata adiknya. "Tomasu," katanya dengan berlinang air mata. "Aku tahu kau belum sepenuhnya ber¬paling dari Tuhan. Katakan padaku kalau kau masih menjadi pengikut Hidden." "Aku tidak lagi pengikut ajaran itu," sahutnya tenang. "Maksudku, seperti yang tadi kukatakan: tak ada satu agama pun yang b enar." "Saat kau mengeluarkan kata-kata tak pantas itu, Tuhan mengirimkan firasat kepadaku." Air mata berlinang di wajahnya. Rasa tertekan dan ketulusannya tak dira¬gukan lagi. "Aku melihatmu terbakar di neraka. Api neraka melahap dirimu. Itulah yang menantimu setelah kematian, kecuali kau kembali kepada Tuhan." Takeo ingat pesan dari tuhan yang mendatangi dirinya setelah demam karena terkena racun yang membawa dirinya ke ambang alam baka. Ia takkan percaya pada kepercayaan mana pun, agar rakyatnya bebas memilih. Pendiriannya tidak akan goyah. "Madaren," ujarnya lembut. "Kau tidak boleh bicara denganku mengenai masalah ini. Aku melarangmu mendekatiku dengan cara seperti ini lagi." "Tapi kehidupan kekalmu menjadi taruhannya; jiwamu. Sudah menjadi tugasku untuk menyelamatkan dirimu. Kau pikir mudah bagiku untuk melakukannya? Lihat betapa gemetarnya tubuhku! Aku takut mengutarakan kata-kata ini padamu. Tapi aku harus mengatakannya!" "Hidupku di sini, di dunia ini," sahutnya. Takeo memberi isyarat agar adiknya melihat ke taman, dalam segala keindahannya di musim semi. "Tidakkah ini cukup? Dunia tempat kita lahir dan tempat kita mati; tempat kembalinya jiwa dan raga dalam siklus besar, siklus kehidupan dan kematian? Ini sudah cukup indah dan menakjubkan." Halaman 603 dari 603 "Tapi Tuhan yang menciptakan dunia ini," katanya. "Tidak, dunia menciptakan dirinya sendiri; jauh lebih hebat dari yang kau kira." "Tidak mungkin lebih hebat dibanding Tuhan." "Tuhan, dewa, semua itu diciptakan oleh manusia," tuturnya, "jauh lebih kecil ketimbang dunia yang kita diami ini." Ia tidak marah lagi, tapi tidak bisa melihat ada alasan mengapa dia tertahan di tempat itu oleh adiknya itu, meneruskan perbincangan yang tak ada tujuannya. "Kedua majikanmu sedang menunggu. Sebaiknya kau kembali pada mereka. Dan kularang kau mengungkapkan masa laluku pada mereka. Kuharap kau sadar sekarang kalau masa lalu sudah ditutup rapat. Aku telah memutus tali hubungannya. Keadaanku saat ini membuatku mustahil untuk kembali. Kau akan selalu menikmati perlindunganku, tapi bukannya tanpa syarat." Ia merasa kedinginan, padahal cuaca hari itu hangat. Apa maksud perkataannya; apa yang akan ia lakukan pada adiknya itu? Mengeksekusinya? Diingatnya, seperti yang diingatnya setiap hari, kematian Jo-An di tangannya, gelandangan yang juga meng¬anggap dirinya sebagai utusan Tuhan Rahasia. Tak peduli seberapa dalam penyesalan atas lindakannya itu, ia sadar kalau ia bisa melakukannya lagi tanpa ragu. Ia telah membunuh masa lalunya, keyakinan masa kecilnya dengan Jo-An, dan tak satu pun dari mereka bisa dibangkitkan kembali. Madaren tunduk pada kata-katanya. "Lord Otori," dia membungkuk hormat sampai ke tanah, seolah sadar tempatnya yang sebenarnya, bukan sebagai adiknya tapi serendah pelayan—seperti Haruka yang menunggu setengah bersembunyi di beranda. "Semuanya baik-baik saja, Lord Takeo?" "Juru bahasa itu mengajukan beberapa pertanyaan," sahutnya. "Lalu kelihatannya dia kurang sehat. Pastikan perempuan itu pulih kembali, dan pastikan kalau dia pergi secepatnya. "* Terada Fumio menghabiskan musim dingin di Hagi bersama istri dan anak-anaknya. Tak lama setelah pertemuan dengan orang asing selesai, Takeo pergi ke rumah mereka yang berida di sisi lain teluk. Taman beratap, dihangatkan dengan sumber air panas yang mengelilingi gunung berapi, kelihatan cerah dengan azalea dan peony beserta tumbuhan eksotis lainnya yang dibawa Fumio untuk Eriko dari pulau-pulau yang jauh serta kekaisaran-kekaisaran terpencil: anggrek, lili dan mawar. "Suatu hari nanti kau harus ikut dengan¬ku," kata Fumio selagi mereka berjalan melewati taman dan menceritakan tempat asal tiap tumbuhan. "Kau belum pernah keluar Tiga Negara." "Tidak perlu, karena kau sudah mem¬bawakan dunia kepadaku." sahut Takeo. "Tapi kelak aku ingin ikut—jika aku mengundurkan diri atau turun takhta." "Apa kau memang mempertimbangkan hal itu?" Fumio mengamati, tatapan matanya yang penuh semangat menelusuri wajah Takeo. "Lihat saja nanti apa yang akan terjadi di Miyako. Aku berharap bisa memecahkan masalah tanpa berperang. Saga Hideki mengusulkan suatu penandingan—putriku yang akan menggantikan diriku— dan yang lainnya sudah yakin kalau hasilnya kelak akan berpihak kepadaku." "Kau mempertaruhkan Tiga Negara hanya dalam satu penandingan? Jauh lebih baik ber¬siap untuk berperang!" "Seperti yang kita putuskan tahun lalu, kita akan siap perang. Setidaknya aku butuh waktu satu bulan hingga sampai di ibukota. Selama itu Kahei akan mengumpulkan pasukan di perbatasan wilayah Halaman 604 dari 604 Timur. Aku diwajibkan ikut penandingan itu, menang atau kalah, tapi dengan syarat yang akan dibicarakan dengan Saga. Kekuatan kita akan berada di sana hanya jika syaratku tidak dipenuhi, atau jika mereka ingkar janji." "Kita harus menggerakkan armada dari Hagi ke Hofu," tutur Fumio. "Itu berarti kita mengendalikan bagian Barat dari laut, dan bisa menyerang di Kumamoto bila perlu." "Bahaya terbesar yaitu Zenko memanfaat¬kan ketidak-hadiranku dan memberontak. Tapi istrinya akan ke Hagi; kedua putranya sudah berada di sana. Menurutku, dia tak akan benindak bodoh dengan mempertaruh-kan nyawa mereka. Kaede sepakat denganku, dan dia akan mengupayakan seluruh pengaruhnya atas Hana. Kau dan ayahmu harus pergi dengan armada perang ke Hofu; bersiap menerima serangan dari laut. Taku ada di sana dan akan tetap memberitahukan padamu apa pun yang terjadi. Dan kau bisa mengajak orang-orang asing itu bersamamu." "Mereka akan kembali ke Hofu?" "Mereka akan membangun pos dagang di sana. Kau bantu mereka melakukannya sambil mengawasi. Gadis Muto itu, Mai, juga akan pergi bersama mereka." Takeo terus menceritakan tentang kekhawatirannya atas orang-orang a,sing karena kemungkinan sudah ada yang tinggal di Kumamoto. "Aku akan mencari tahu semampuku," Fumio berjanji. "Aku harus mengenal Don Joao dengan cukup baik musim dingin ini, dan mulai mengerti bahasa mereka. Untung nya dia bukan orang yang tertutup, terutama setelah minum sake. Bicara tentang sake," imbuhnya. "Mari kita minum beberapa cangkir. Ayahku ingin bertemu denganmu." *** Ia lupa pada semua kecemasannya saat menikmati sake dan makanan yang disiapkan Eriko, ikan segar dan sayuran musim semi, ditemani kawannya si perompak tua Fumifusa, serta taman yang indah. Takeo pulang ke rumah melalui tepi sungai, masih dengan pikiran yang tenang dan ceria. Saat memasuki taman, semangat¬nya bangkit lagi ketika mendengar suara Shizuka. "Kau tidak ajak Miki?" tanyanya saat ber¬gabung dengan Shizuka di ruangan atas; Haruka menyajikan teh lalu meninggalkan mereka berdua. "Pikirannya bercabang tentang masalah itu," sahut Shizuka. "Dia ingin bertemu denganmu. Dia merindukanmu, juga kakak¬nya. Tapi dia kini dalam usia ketika dapat menyerap semua pelajaran dengan cepat. Sepertinya tidak bijaksana kalau tidak dimanfaatkan. Dan karena kau akan pergi selama musim panas ini, serta Kaede akan sibuk dengan bayinya...." "Aku sebenarnya berharap bisa bertemu dengannya sebelum pergi," sahut Takeo. "Dia sehat-sehat saja?" Shizuka tersenyum. Tumbuh dengan baik. "Dia mengingatkanku pada Yuki saat seusianya. Penuh percaya diri. Dia ber¬kembang tanpa kehadiran Maya, bahkan ternyata sangat baik baginya keluar dari bayang-bayang kakaknya." Mendengar nama Yuki disebut membuat Takeo hanyut dalam lamunan. Menyadari itu, Shizuka berkata, "Aku dapat kabar dari Taku pada akhir musim dingin. Dia bilang Akio berada di Kumamoto bersama dengan putramu." "Benar. Aku tak ingin membicarakannya di sini, tapi kehadirannya di tempat Zenko berdampak pada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu. Apakah para tetua Muto mendukungmu?" "Ada perbedaan pendapat," sahut Shizuka. "Bukan di Negara Tengah, tapi dari wilayah Timur dan Barat. Aku terkejut Taku belum kembali ke Inuyama, tempat dia bisa Halaman 605 dari 605 mengerahkan kendali atas kaum Tribe di wilayah Timur. Aku harus ke sana, tapi aku enggan meninggalkan Kaede di saat seperti ini, apalagi kau akan segera berangkai." "Taku sudah terobsesi pada gadis yang kami kirim untuk merawat Maya," ujar Takeo, merasakan percikan kemarahan yang sama. "Kudengar desas-desus tentang itu. Aku khawatir bila kedua putraku membuatmu kecewa, setelah semua yang kau lakukan demi mereka." Suaranya kedengaran teratur, tapi Takeo melihat kalau Shizuka benar-benar tertekan. "Aku percaya pada Taku," ujar Takeo. "Tapi gangguan semacam itu hanya akan membuatnya gegabah. Zenko lain lagi masalahnya, tapi untuk sementara ini dia masih bisa dikendalikan. Tampaknya dia bertekad untuk menuntut jabatan ketua Muto, dan itu akan menjadi konflik dengan dirimu, dan Taku serta tentu saja aku.' Takeo berhenti sejenak, lalu berkata, "Aku sudah berusaha meredamnya; mengancam dan memberi perintah padanya, tapi dia tetap ingin memancing amarahku." Shizuka berkata, "Dia semakin mirip dengan ayahnya. Aku tak bisa lupa kalau Arai memerintahkan kematianku, dan sanggup menyaksikan kau membunuh putranya sendiri, demi kekuasaan. Saranku, sebagai pemimpin keluarga Muto sekaligus sahabat keluarga Otori, yaitu secepatnya menyingkir¬kan Zenko, sebelum dia mengumpulkan lebih banyak dukungan lagi. Aku yang akan mengaturnya. Kau hanya perlu memberi perintah." Mata Shizuka berkilat, tapi tidak ada air mata. "Hari pertama kita bertemu, Kenji berkata kalau aku harus belajar kekejaman dari dirimu," sahut Takeo, kagum karena Shizuka bisa dengan sikap dingin menyarankan untuk membunuh putra sulungnya sendiri. "Tapi Kenji dan aku tak sanggup menanamkan sifat itu ke dalam dirimu, Takeo. Zenko tahu itu, itu sebabnya dia tidak takut atau hormat padamu." Kata-kata Shizuka menyengat dirinya, namun ia menjawab dengan ringan, "Aku sudah berjanji pada diriku dan pada negara ini untuk mengambil jalan perundingan demi mencapai keadilan serta kedamaian. Aku tak membiarkan tantangan Zenko mengingkari janji itu." "Maka tangkap dan adili dia dengan tuduhan makar. Buatlah sah menurut hukum, tapi bertindaklah cepat." Shizuka mengamati, dan saat tidak ada jawaban, dia meneruskan, "Tapi kau takkan mengikuti saranku, Takeo; kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Tentu saja, aku berterima kasih padamu karena membiarkan putraku tetap hidup, tapi akibat yang harus ditanggung kita semua tak terbayangkan besarnya." Ucapan Shizuka membuat sapuan dingin firasat merayap hingga ke tulang punggung¬nya. Matahari telah tenggelam dan taman berganti dengan cahaya biru malam. Kunang-kunang berkelap-kelip di atas aliran sungai, dan dilihatnya Sunaomi dan Chikara datang sambil mencipakkan air di bawah dinding—mereka pasti habis bermain di tepi sungai. Rasa lapar yang membawa mereka pulang. Bagaimana Takeo bisa membunuh ayah mereka? Ia justru hanya akan membuat kedua bocah itu bersikap menentangnya dan keluarganya, lalu memperpanjang pertikaian. "Aku menawarkan Miki untuk ditunang¬kan dengan Sunaomi," komentar Takeo. "Tindakan yang sangat bagus." Shizuka tampak berusaha agar suaranya kedengaran lebih ringan, "Walaupun kupikir tak satu pun dari keduanya akan berterima kasih padamu! Jangan katakan ini pada siapa pun; Sunaomi pasti Halaman 606 dari 606 membenci usulan ini. Dia sangat kesal dengan kejadian di musim panas kemarin itu. Kelak saat sudah dewasa baru dia bisa menyadari betapa besar kehormatan yang diterimanya." "Masih terlalu dini untuk mengumum¬kannya—mungkin setelah aku kembali pada akhir musim panas." Dari ekspresi Shizuka, dia seakan mem¬peringatkan kalau ia takkan punya negara lagi yang bisa dipulanginya, tapi pembicaraan mereka disela oleh teriakan dari belakang rumah, tempat para perempuan. Takeo mendengar langkah Haruka berlari di beranda, membuat nightingale floor ber¬nyanyi. Di taman kedua bocah berdiri dan menatap Haruka. "Shizuka, Tabib Ishida," teriak Haruka. "Cepat kemari! Lady Otori sudah mau melahirkan." Bayi itu, seperti keinginan Kaede selama ini, berjenis kelamin laki-laki. Kabar itu langsung dirayakan di seluruh kota Hagi, meski dalam batasan tertentu karena cengkeraman si bayi pada tangan kehidupan masih lemah serta rapuh. Proses kelahiran berlangsung cepat, bayinya kuat dan sehat. Tampaknya jelas kalau Lady Otori akan memiliki seorang putra sebagai pewaris. Kutukan yang dibisik¬kan rakyat yang karena kelahiran si kembar telah sirna. Kabar itu diterima dengan kegembiraan yang sama selama beberapa minggu kemudian di seluruh penjuru Tiga Negara, setidaknya di Maruyama, Inuyama dan Hofu. Kemungkinan kegembiraan itu kurang dirasakan di Kumamoto, tapi Zenko dan Hana mengirimkan hadiah yang indah: jubah sutra untuk si bayi, pedang kecil milik keluarga Arai, dan seekor kuda poni. Hana bersiap melakukan perjalanan ke Hagi di akhir musim panas, bersemangat untuk bertemu dengan kedua putra kandungnya dan menemani kakaknya sementara Takeo pergi. Ketika masa pingitan Kaede berakhir, dan kediaman telah disucikan sesuai adat, Kaede membawa si bayi dan menaruh si bayi di gendongan sang ayah. "Ini yang kudambakan seumur hidupku," tutur Kaede. "Memberimu seorang putra." "Kau sudah memberiku lebih dari yang kuharapkan," sahutnya dengan penuh perasaan. Takeo belum siap untuk menerima makhluk mungil berwajah merah dan berambut hitam ini—dan untuk kebanggaan dalam dirinya. Menggendong putranya sendiri membuat ia merasa berbeda. Sudut matanya mulai terasa hangat, namun ia tak bisa berhenti tersenyum. "Kau bahagia!" seru Kaede. "Aku takut... begitu sering kau mengatakan tidak meng¬inginkan anak laki-laki, bahwa kau bahagia dengan ketiga putri kita, hingga aku hampir saja memercayaimu." "Aku memang bahagia," sahutnya. "Aku bisa mati saat ini juga." "Aku merasakan hal yang sama," gumam Kaede. "Tapi jangan bicara tentang kematian. Kita akan hidup untuk melihat putra kita dewasa." "Aku berharap tidak meninggalkanmu." Seketika ia terpukau pada pikiran untuk mengabaikan perjalanan ke Miyako. Biar saja Si Pemburu Anjing menyerang; pasukan Tiga Negara akan menghabisinya dengan mudah, dan kemudian menghadapi Zenko. Ia tercengang dengan kekuatan perasaan itu; ia akan bertempur sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan Tiga Negara agar bayi ini bisa mewarisinya. Dipertimbangkannya masak-masak hal itu, lalu ia singkirkan dari benaknya. Ia akan mencoba cara damai dulu, seperti yang telah diputuskan; jika perjalanan itu ditunda, maka ia akan terlihat arogan sekaligus pengecut. "Aku juga berharap demikian," sahut Kaede. "Tapi kau harus pergi." Diambilnya si bayi lalu menatap wajah bayi mungil itu, wajah Kaede penuh kasih sayang. "Aku tidak akan sendirian lagi dengan lakilaki mungil ini di sisiku!"* Halaman 607 dari 607 Takeo harus pergi sesegera mungkin agar bisa sampai di tujuan sebelum mulai hujan plum. Shigeko dan Hiroshi tiba dari Maruyama, dan Miyoshi Gemba dari Terayama. Miyoshi Kahei sudah berangkat ke wilayah Timur tak lama setelah salju mencair. Dia membawa kekuatan utama pasukan Otori: lima belas ribu pasukan dari Hagi dan Yamagata; sepuluh ribu orang lagi akan dihimpun Sonoda Mitsuru di Inuyama, Sejak musim panas, beras dan gandum, ikan kering serta miso telah disimpan sebagai cadangan dan disebar sampai ke perbatasan wilayah Timur untuk persediaan bagi pasukan. Beruntung panen kali ini berlimpah: baik pasukan maupun mereka yang penduduk takkan kelaparan. Dalam mengatur perjalanan, yang paling membebani yaitu kirin. Hewan itu kini lebih tinggi, dan kulitnya menjadi lebih gelap seperti warna madu, tapi ketenangan dan kedamaiannya tak berubah. Menurut Tabib Ishida, hewan itu sebaiknya tidak ikut berjalan kaki ke sana karena Jajaran Awan Tinggi akan terlalu berat baginya. Pada akhimya diputuskan kalau Shigeko dan Hiroshi yang akan membawanya dengan kapal sampai di Akashi. "Kita semua bisa menumpang kapal, Ayah," Shigeko menyarankan. "Ayah belum pernah keluar perbatasan Tiga Negara," sahut Takeo. "Ayah ingin melihat daratan dan jalan melewati jajaran itu; bila ada badai di bulan kedelapan dan kesembilan, maka laut adalah jalan yang akan kita lalui untuk kembali. Fumio akan ke Hofu: dia akan membawamu dan kirin, begitu pula dengan orang-orang asing itu." Bunga ceri berguguran dan kelopaknya berganti daun hijau yang baru ketika Takeo dan rombongannya berkuda dari Hagi, melewati pegunungan dan jalan pantai menuju Matsue. Takeo pernah melewati jalur bersama Lord Shigeru. Jalur ini mengembalikan kenangan pada orang yang telah menyelamatkan dan mengangkatnya sebagai anak. Aku bilang kalau tidak memercayai apa pun, pikirnya, tapi aku sering mendoakan arwah Shigeru; terutama saat seka rang ini, ketika aku membutuhkan kearifan serta keberaniannya. Padi mulai tumbuh di sawah yang tergenang, memantulkan kilau me¬mesona saat disirami cahaya matahari. Di tepiannya, di mana ada persimpangan jalan, berdiri sebuah kuil kecil; dilihatnya kalau kuil itu dipersembahkan bagi Jo-An, yang di beberapa tempat telah dianggap dewa. Alangkah anehnya kepercayaan orang-o rang itu, pikirnya sambil mengenang percakapan¬nya dengan Madaren beberapa minggu lalu: keyakinan yang memaksa adiknya bicara padanya. Keyakinan yang sama ditunjukkan oleh Jo-An—dan kini Jo-An telah menjadi orang suci. Ia melihat sekilas pada Miyoshi Gemba yang berkuda di sampingnya, teman seper¬jalanan yang paling tenang dan paling ceria yang bisa diharapkan. Gemba telah meng¬ikuti Ajaran Houou; ajaran yang penuh pengendalian diri. Saat berkuda, Gemba acapkali tenggelam dalam meditasi, dan sesekali bersenandung pelan, bak suara halilintar dari kejauhan atau raungan beruang. Ia membicarakan tentang Sunaomi, yang pernah bertemu Gemba di Terayama, menceritakan tentang rencananya untuk menjodohkan bocah itu dengan putrinya. "Dia akan menjadi menantuku. Itu akan memuaskan ayahnya!" "Kecuali Sunaomi memiliki perasan sebagai putra yang berbakti padamu, maka pertunangan itu takkan berguna," sahut Gemba. Takeo terdiam, teringat kejadian di biara, perselisihan antarsepupu, takut kalau Sunaomi terluka atas kejadian itu. Halaman 608 dari 608 "Dia melihat burung houou," akhirnya ia berkata. "Aku percaya kalau anak itu punya naluri yang baik." "Ya, aku juga berpikir begitu. Baiklah, kirim anak itu pada kami. Kami akan merawatnya, dan bila ada kebaikan dalam dirinya, maka akan dipupuk dan dikembang¬kan." "Kurasa usianya sudah cukup dewasa: tahun ini usianya sembilan tahun." "Ijinkan dia ke tempat kami saat kita kembali." "Dia tinggal bersamaku sebagai ke¬ponakanku, sebagai calon putraku, namun juga sebagai sandera atas kesetiaan ayahnya. Aku takut kelak terpaksa memerintahkan untuk membunuhnya," aku Takeo. "Hal itu tidak akan terjadi," kata Gemba. "Aku akan menyurati istriku nanti malam tentang usulanmu itu." Minoru mendampinginya seperti biasa, dan malam itu di pemberhentian pertama mereka, ia mendiktekan surat untuk Kaede, dan untuk Taku di Hofu. Ia merasa perlu bicara dengan Taku; mendengar kabar terbaru dari wilayah Barat, serta memintanya datang ke Inuyama agar bisa bertemu di sana. Bagi Taku, perjalanan itu mudah karena melalui laut dari Hofu, kemudian melalui sungai dengan menumpang kapal tongkang yang melintasi antara kota kastil dengan pesisir. "Datanglah sendiri," diktenya. "Jinggalkan tanggunganmu dan pendampingnya di Hofu. Bila tidak dapat melepaskan diri, kabari aku." "Apakah ini bijaksana?" tanya Minoru. "Surat bisa saja dikacaukan, terutama...." "Terutama apa?" "Bila keluarga Muto tidak lagi yakin kepada siapa mereka akan berpihak?" Karena Takeo mengandalkan Tribe untuk membawa pesan tertulis dengan cepat ke seluruh Tiga Negara. Itulah yang ia harapkan dapat dikendalikan Taku. Ia menatap Minoru, keraguan mulai merayapi dirinya. Jurutulisnya tahu lebih banyak rahasia Tiga Negara dibanding siapa pun. "Bila keluarga Muto memilih Zenko, mana yang akan Taku pilih?" katanya pelan. Minoru menaikkan bahu, tapi bibimya terkatup rapat dan tidak langsung menjawab. "Perlu kutuliskan kalimat terakhir Anda?" dia bertanya. "Tekankan kalau Taku harus datang sendiri." Percakapan ini melekat di benak Takeo sewaktu mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah Timur. Aku telah memperdaya Kikuta begitu lama, pikirnya. Dapatkah aku lolos dari Muto juga, bila mereka berbalik menentangku? Takeo mulai mencurigai kesetiaan Kuroda bersaudara, Jun dan Shin, yang selalu men¬dampinginya. Ia selalu memercayai mereka sampai saat ini: meski mereka tidak memiliki kemampuan menghilang, namun mereka bisa merasakannya, dan mereka telah dilatih teknik bertarung cara Tribe oleh Kenji. Mereka telah berulang kali melindunginya, tapi bila mereka harus memilih antara dirinya dan Tribe, Takeo bertanya pada dirinya sendiri lagi, jalan mana yang akan mereka ambil? Takeo tetap bersikap siaga, senantiasa mendengarkan suara terpelan yang bisa jadi pertanda satu serangan. Kudanya, Tenba, menangkap suasana hari penunggangnya; sudah beberapa bulan ini Takeo menungganginya, hingga terjalin ikatan kuat antara mereka, hampir sama kuatnya dengan Shun; Tenba cepat tanggap dan pintar, tapi jauh lebih tegang. Penunggang dan kuda, keduanya tiba di Inuyama dalam keadaan tegang serta kelelahan, sementara bagian terberat dalam perjalanan itu masih belum tiba. Halaman 609 dari 609 Inuyama dipenuhi dengan kegembiraan dan sibuk; kedatangan Lord Otori dan penghimpunan pasukan berarti pedagang dan pembuat senjata sibuk siang dan malam; uang dan sake mengalir sama derasnya. Takeo disambut adik iparnya, Ai, dan suaminya Sonoda Mitsuru. Takeo menyayangi Ai, kagum akan sifat lembut dan kebaikan hatinya. Dia tidak secantik kedua saudaranya, namun penampilannya menarik. Satu hal yang mem buat Takeo senang yaitu Ai dan Mitsuru menikah atas dasar cinta. Ai kerap men¬ceritakan tentang bagaimana penjaga di Inuyama hampir membunuh dia dan Hana ketika mendengar kabar kematian Arai dan kehancuran pasukannya. Beruntung Mitsuru telah lebih dulu mengambil alih kastil, menyembunyikan kedua gadis itu, lalu merundingkan penyerahan wilayah Timur pada Otori. Karena rasa terima kasih itulah maka Takeo menikahkannya dengan Ai, yang memang saling mencintai. Takeo memercayai kedua orang ini; mereka terikat oleh hubungan perkawinan, dan Mitsuru telah menjadi orang yang pragmatis, sensitif tanpa berkurangnya keberaniannya. Seringkali dia berhasil meng-gunakan keahlian berundingnya untuk mewakili Takeo: bersama istrinya, dia ber¬bagi angan Takeo akan negara yang makmur tanpa penyiksaan maupun suap. Namun rasa lelah membuat Takeo men¬curigai semua orang di sekelilingnya. Sonoda berasal dari Klan Arai, ia memperingatkan dirinya sendiri. Pamannya, Akita, dulu adalah orang kepercayaan Arai. Seberapa besar sisa kesetiaan ada dalam dirinya ter-hadap putra Arai? Takeo semakin gelisah dengan kenyataan tidak adanya tanda-tanda keberadaan Taku, ataupun kabarnya. Dipanggilnya istri Taku, Tomiko; yang mendapatkan surat dari suaminya saat musim semi, tapi akhir-akhir ini belum ada kabar. Tomiko tidak terlihat khawatir, lagipula; dia sudah terbiasa dengan ketidakhadiran suaminya. "Apabila ada masalah. Lord Otori, maka kita akan segera mendengar kabarnya. Ber¬bagai urusan pasti menahannya di Hofu— mungkin sesuatu yang tak ingin dia tulis dalam surat." Tomiko melihat sekilas ke arah Takeo lalu berkata, "Aku sudah dengar tentang perempuan itu, tentunya, tapi aku sudah menduga hal semacam itu. Semua laki-laki punya kebutuhan, dan suamiku berada jauh dalam waktu lama. Itu bukanlah hal yang serius. Suamiku tidak pernah serius tentang hal itu." Kekhawatiran Takeo justru kian ber¬tambah saat ia mendengar kalau para sandera yang seharusnya telah dieksekusi ternyata masih hidup. "Aku sudah kirim suratnya beberapa minggu lalu, memerintahkan agar dilakukan secepatnya." "Maaf, Lord Otori: kami tidak me¬nerima—" Sonoda mulai angkat bicara, tapi Takeo memotong perkataannya. "Tidak menerima atau mengabaikan?" Takeo sadar kalau cara bicaranya terlalu blak¬blakan. Sonoda berusaha keras menyem¬bunyikan rasa tersinggungnya. "Kuyakinkan kepada Anda," ujar Sonoda, "Bila kami menerima perintah itu, kami pasti sudah melaksanakannya. Aku pun bertanya¬tanya mengapa masalah ini ditunda begitu lama. Aku pasti akan melakukannya sendiri, tapi istriku selalu berpihak kepada belas kasihan." "Mereka kelihatan masih begitu muda," kata Ai. "Dan gadis itu...." "Tadinya aku berharap mereka tetap hidup," sahut Takeo. "Jika keluarga mereka mau berunding, mereka tidak harus mati. Tapi mereka tidak bereaksi apa-apa, serta tidak memberi kabar. Menundanya lebih lama akan dianggap sebagai kelemahan." "Akan kuatur agar dilakukan besok," Sonoda meyakinkan. "Ya, harus segera," Ai setuju. "Kau akan Halaman 610 dari 610 hadir?" "Karena aku sudah di sini, maka aku harus hadir," sahut Takeo, karena ia sendiri yang membuat aturan bahwa eksekusi untuk pengkhinatan harus disaksikan orang yang jabatannya paling tinggi, dirinya sendiri atau salah seorang keluarganya atau pengawal senior. Takeo merasa kalau peraturan itu menekankan perbedaan hukum antara eksekusi dan pembunuhan. Menurutnya, pemandangan semacam itu memuakkan sehingga ia berharap dengan menyaksikan itu akan mencegah dirinya dari mengeluarkan perintah dengan sembarangan. Eksekusi dengan menggunakan pedang di¬laksanakan keesokan harinya. Ketika mereka dibawa menghadap sebelum mata mereka ditutupi, Takeo mengatakan bahwa ayah mereka, Gosaburo, sudah dieksekusi Kikuta karena ingin merundingkan nyawa mereka. Tak satu pun dari mereka bereaksi; mungkin mereka tidak percaya. Tampak kilatan air mata dari mata gadis itu; selain itu, kedua orang itu menghadapi kematian dengan berani, bahkan bersikap menantang. Takeo kagum dengan keberanian mereka dan menyesali hidup mereka yang singkat, ber pikir dengan pedih bahwa mereka masih ada kerabatnya, bahwa ia telah mengenal mereka sejak kecil. Keputusan itu dibuat bersama Kaede, dan atas saran para pengawal seniornya. Keputusan yang berdasarkan hukum. Namun Takeo tetap berharap bisa melaku¬kan yang sebaliknya, dan kematian tampak seperti pertanda buruk. * Sepanjang musim dingin, Hana dan Zenko sering bertemu Kuroda Yasu untuk mem¬bicarakan tentang pembukaan perdagangan dengan orang asing, dan mereka senang ketika Yasu mendengar Don Joao dan Don Carlo ke Hofu pada akhir bulan. Mereka kurang senang dengan berita bahwa Terada Fumio telah membawa armada perang ke perairan laut dalam dan kini mengawasi jalur perairan. "Katanya kapal mereka jauh lebih baik dari kapal kita," kata Yasu. "Andai kita bisa minta bantuan mereka!" "Kalau mereka ingin berpihak kepada kita menentang Otori..." ujar Hana, menyuara¬kan pikirannya. "Mereka ingin berdagang, dan agar rakyat mau berpindah memeluk agama mereka. Tawarkan pada mereka salah satu—atau keduanya. Mereka akan berikan apa saja sebagai imbalannya." Komentar ini melekat di benak Hana selagi bersiap-siap pergi ke Hagi. Sewaktu memikirkan menghadapi kakaknya dengan rahasia yang akan ia bawa, Hana merasa ber¬semangat sekaligus takut, semacam ke¬gembiraan yang menghancurkan. Tapi ia tidak meremehkan Takeo, karena suaminya cenderung bersikap sebaliknya. Hana mengenal kekuatan dan karakter kakak ipar¬nya yang selalu memenangkan cinta dari rakyatnya serta pendukung setia dari berbagai kalangan. Mungkin juga Takeo akan me¬menangkan hati Kaisar dan kembali dengan restu dari Kaisar. Maka Hana berpikir keras selama musim dingin tentang strategi lebih lanjut untuk menopang perjuangan suaminya demi balas dendam dan kekuasaan. Saat mendengar orang-orang asing itu sudah kembali bersama jurubahasanya, Hana bertekad untuk pergi ke Hagi melalui Hofu. "Kau seharusnya ikut bersama kami," ujar Hana pada Akio yang sudah menjadi tamu tetap ke kastil selama musim dingin. Akio selalu melaporkan kabar dari seluruh penjuru negara, serta perkembangan Halaman 611 dari 611 yang tengah dibuat Hisao dan Koji dalam penempaan. Darah Hana selalu menggelegak dengan kehadiran laki-laki itu. Menurutnya kekejaman pragmatis laki-laki itu menarik. Saat ini Akio melihat Hana dengan tatapan yang penuh perhitungan seperti biasa. "Ya, aku tidak keberatan. Tentu saja, aku akan ajak Hisao." Satu kali, mereka hanya berdua saja. Kala itu cuaca masih dingin—di akhir musim semi dengan cuaca yang tak menentu— namun wangi bunga yang baru mekar tercium dan malam terasa lebih ringan. Saat itu Akio datang untuk menemui Zenko yang sedang melihat latihan pasukan dan kuda. Akio semula enggan tinggal lama, tapi Hana memaksa dengan menawarkan sake dan makanan. Dia melayani sendiri laki-laki itu, membujuk serta menyanjungnya, membuat Akio tak mungkin menolak. Hana mengira Akio tidak mudah di¬pengaruhi sanjungan, tapi bisa dilihatnya kalau perhatiannya membuat laki-laki itu senang dan boleh dibilang menjadi lembut. Hana ingin tahu bagaimana rasanya tidur dengan orang itu; walau ia berpikir takkan melakukannya, pikiran itu membuat ia ber¬semangat. Hana mengenakan jubah sutra berwarna gading, dihiasi bunga ceri merah muda dan burung bangau: motif penuh warna yang digemarinya. Sesungguhnya cuaca terlalu dingin untuk mengenakan pakaian semacam itu, dan kulitnya terasa dingin membeku, tapi ia sedang gembira: ia masih muda, darahnya bergejolak dengan dorongan yang sama seperti dorongan akar¬akar dari dalam bumi, tunas dari ranting. Penuh percaya diri dengan kecantikannya, ia memberanikan diri bertanya pada Akio, sebagaimana yang diinginkannya sepanjang musim dingin ini, tentang Hisao. "Dia tidak mirip ayahnya," komentar Hana. "Apakah dia mirip dengan ibunya?" Saat Akio tidak segera menjawab, Hana mendesak, "Seharusnya kau ceritakan semua¬nya padaku. Makin banyak yang bisa ku¬ungkapkan tentang dirimu pada kakakku, maka semakin kuat akibatnya pada dirinya." "Itu sudah bertahun-tahun silam," tutur¬nya. "Jangan berpura-pura kalau kau sudah melupakannya! Aku tahu bagaimana ke¬cemburuan mengukirkan kisahnya dengan belati di hati kita." "Ibunya adalah perempuan yang luar biasa," Akio mulai bercerita. "Sewaktu di¬sarankan agar dia tidur dengan Takeo, aku takut untuk menyuruhnya melakukan itu. Meminta Yuki melakukan hal semacam itu—hal yang lazim di kalangan Tribe, dan kebanyakan perempuan melakukan apa yang diperintahkan, tapi Yuki merasa itu sebagai penghinaan. Ketika dia setuju, kusadari kalau Yuki menginginkan Takeo. Aku melihat dia menggoda Takeo; bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku tidak menyangka kalau hatiku akan terasa sepedih itu, atau ke-bencian yang begitu dalam pada Takeo. Aku belum pemah membenci siapa pun; aku membunuh atas perintah, bukan karena perasaan pribadi. Takeo memiliki apa yang paling kuinginkan, dan dia menyia-nyiakan¬nya. Dia meninggalkan Tribe. Bila Takeo merasakan sedikit saja apa yang pernah kurasakan, maka itu yang disebut keadilan." Akio mendongak. "Aku tidak pernah tidur dengannya," tuturnya. "Aku menyesali itu lebih dari segalanya. Andai aku mampu melakukannya, sekali saja... Tapi aku tidak ingin menyentuhnya saat dia mengandung anak Takeo. Dan aku memaksanya bunuh diri. Aku harus melakukannya: karena Yuki tidak berhenti mencintai Takeo; dia tidak akan memaksa anak itu membenci Takeo seperti yang telah kulakukan. Aku tahu dia harus menjadi bagian dari balas dendamku, tapi seiring tumbuh dewasa, dia tidak menunjukkan bakat apa pun, aku tidak tahu mengapa. Dalam waktu yang lama kukira memang tidak ada harapan lagi: berulang kali, para pembunuh yang jauh lebih terampil dari Hisao saja gagal. Kini kutahu kalau Hisao yang akan mcmbalaskan dendamku. Dan aku akan ada di sana untuk menyaksikannya." Mendadak Akio berhenti bicara.


Baca Selanjutnya...

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified