Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Harsh Cry of the Heron Part 4

Shizuka memanggil para mendiang untuk memberinya saran: memanggil Shigeru, Kenji, Kondo dan Taku. Kesedihan dan keadaan tidak tidur mulai menuntut bayarannya. Ia merasakan napas dingin arwah mereka, Doakan kami Oh, doakan kami. Benaknya yang kelelahan makin men¬curahkan perhatiannya pada kata-kata ter¬sebut. Ia akan ke biara dan meratapi men¬diang, hingga dirinya menjadi salah satu dari mereka, atau mereka akan mengatakan apa yang harus ia lakukan. "Bunta," panggilnya. "Ada satu tugas terakhir yang kuminta kau lakukan. Pergi dan carikan gunting tajam dan jubah putih untukku." Bunta muncul di teras, wajahnya pucat karena kaget. "Apa yang terjadi? Jangan katakan kalau kau ingin menghabisi nyawamu sendiri." "Sudahlah, lakukan saja permintaanku. Aku harus ke biara dan mengurus nisan serta ritual pemakaman Taku. Setelah memenuhi permintaanku, kubebaskan kau dari ke wajibanmu untuk melayaniku." Sewaktu Bunta kembali, Shizuka me¬nyuruhnya menunggu di luar. Dibukanya bungkusan itu lalu mengeluarkan gunting. Dia melepas ikatan rambut, dibagi menjadi dua untai lalu menggunting keduanya, mem¬baringkan jalinan rambutnya dengan hati¬hati di alas lantai, terkejut memerhatikan betapa banyak ubannya. Lalu diguntingnya sisa rambutnya sampai pendek, merasakan helaiannya berjatuhan di sekelilingnya bak debu beterbangan. Dibuangnya sisa-sisa potongan rambut lalu mengenakan jubah putih. Diambilnya senjata miliknya— pedang, pisau, garotte, serta pisau lemparlalu menaruhnya di lantai, di antara dua untaian rambut panjangnya. Membungkuk hingga ke lantai, menghaturkan terima kasih kepada semua senjata dan kepada hidupnya sampai saat ini; lalu ia meminta dibawakan semangkuk teh, meminumnya lalu me-mecahkan cangkir kosong menjadi dua dengan gerakan cepat. "Aku takkan minum lagi," ujarnya lantang. "Shizuka!" prates Bunta dari teras, tapi Shizuka tidak mengacuhkannya. "Apakah dia sudah tidak waras?" didengarnya putra Bunta berbisik. "Perempuan yang malang!" Berjalan dengan perlahan dan berhati-hati, Shizuka sampai ke bagian depan penginapan. Sekerumunan kecil orang berkumpul di sini. Ketika ia melangkah masuk ke dalam tandu, mereka mengikutinya sampai ke jalan di tepi sungai menuju Daifukuji. Para pengawal Zenko dibuat gelisah dengan arak-arakan ini, dan berusaha menghalau, namun jumlahnya justru semakin besar dan makin sulit dikendalikan serta makin tidak bersahabat; banyak yang berlarian ke sungai yang hampir kering, dan mengorek batu-batu dari endapan lumpur lalu melempamya ke arah pengawal, berhasil menghalau mereka menjauh dari ger-bang biara. Pemanggul tandu menurunkan Shizuka di luar gerbang, dan ia berjalan perlahan memasuki pelataran utama, bergerak seolah mengambang. Kerumunan kian banyak di pintu masuk. Shizuka duduk di tanah, kakinya dilipai bak makhluk suci di atas bunga teratai, dan akhirnya ia membiarkan dirinya menangisi kematian putranya dan pengkhianatan putra¬nya yang satu lagi. Ritual pemakaman diadakan selagi Shizuka duduk di sana, dan batu nisan dipahat lalu didirikan. Harihari berlalu dan Shizuka tetap bergeming, juga tidak makan dan minum. Di malam ketiga hujan turun rintik-rintik, dan orang-orang mengatakan bahwa Surga tengah memberinya minum. Setelah itu hujan turun setiap malam; di siang hari sering terlihat burung-burung beterbangan di sekitar kepalanya. "Mereka memberinya makan dengan butiran gandum dan madu," para biarawan mengumumkan. Penduduk kota mengatakan kalau Surga menangisi ibu yang ditinggalkan, dan mereka bersyukur terhindar dari kekeringan. Popularitas Zenko sedikit demi sedikit ber¬kurang saat bulan dari bulan kelima mulai mendekati puncak purnamanya.* Halaman 670 dari 670 Selama berhari-hari Maya meratapi kepergian kuda-kudanya, tak sanggup membayang¬kan kehilangan yang lebih besar lagi. Shigeko telah memintanya untuk merawat kedua kuda itu, dan ia membiarkannya pergi. Diingat-ingatnya lagi sewaktu melepas tali kekang dan kedua kuda betina kabur. la menyesali ketidakmampuan dirinya untuk bergerak atau membela diri yang tak bisa dijelaskan. Saat itu ketiga kalinya ia meng¬hadapi bahaya yang sesungguhnya—setelah serangan di Inuyama dan pertemuan dengan ayahnya—dan merasakan kalau saat itu ia merasa gagal, walau sudah berlatih selama bertahun-tahun di Tribe. Maya punya banyak waktu untuk merenungkan kegagalannya. Saat tersadar kembali, tenggorokannya terasa kering, perutnya mual. Ia sadar sedang berada di kamar kecil remang-remang, ruang rahasia rumah Tribe. Takeo sering menceritakan saat Tribe mengurungnya di kamar semacam ini, dan kini kenangan itu menghibur dan me¬nenangkannya. Ia mengira Akio akan langsung membunuhnya, tapi ternyata tidak—laki-laki itu menahan dirinya untuk tujuan tertentu. Maya tahu ia bisa kabur kapan saja karena pintu dan dinding takkan mampu menahan si kucing, tapi ia masih belum ingin pergi. Ia ingin tetap dekat dengan Akio dan Hisao: tak dibiarkannya mereka membunuh ayahnya; dirinya yang akan membunuh mereka lebih dulu. Maka dikendalikan amarah dan rasa takutnya, dan bersiap mencari tahu semua tentang mereka. Ia melihat Akio ketika orang itu mem¬bawakan makanan dan minuman; makanan¬nya jarang datang tapi ia tak terganggu dengan rasa lapar. Maya akhirnya memahami kalau makin sedikit ia makan, makin mudah menggunakan kemampuan menghilang dan sosok kedua. Ia mempraktikkannya saat sedang sendiri, terkadang bahkan ia pun terkecoh dan melihat Miki sedang bersandar di dinding di seberangnya. Ia tidak bicara pada Akio tapi mengamati, seperti Akio mengamati dirinya. Maya tahu kalau Akio tidak memiliki kemampuan menghilang atau tatapan maut Kikuta, tapi laki-laki itu bisa melihat orang yang menggunakan kemampu¬an menghilang dan menghindari tatapan maut. Gerak refleksnya sangat cepat— ayahnya sering bilang kalau itu gerakan paling cepat yang pernah ada— sangat kuat dan tidak punya perasaan. Dua atau tiga kali sehari, pelayan perempuan datang untuk mengantarnya ke kakus: selain itu ia tidak melihat ada orang lain lagi. Tapi setelah dikurung selama kira¬kira seminggu, di satu malam laki-laki itu datang, berlutut di depannya lalu meraih dan membalik telapak tangannya. Maya bisa mencium bau sake di napasnya, dan cara bicaranya pelan tapi aneh. "Kuharap kau jawab pertanyaanku dengan jujur karena aku adalah ketua keluargamu: apakah kau memiliki kemampuan seperti ayahmu?" Maya menggeleng, dan sebelum selesai menggeleng dirasakan kepalanya terhempas dan pandangan matanya kabur selagi Akio menamparnya. Ia tidak melihat gerakan tangan laki-laki itu. "Kau pernah mencoba mengunci tatapan mataku: kau pasti memiliki bakat tatapan maut Kikuta. Bagaimana dengan kemampu an menghilang?" Maya menceritakan karena tidak ingin Akio membunuhnya saat itu juga, tapi tidak menceritakan tentang si kucing. "Lalu di mana adikmu?" "Aku tidak tahu." Halaman 671 dari 671 Bahkan meski sudah menduganya kali ini, Maya tidak bisa bergerak cukup cepat untuk menghindari tamparan yang kedua. Akio menyeringai, seolah ini permainan yang sangat dinikmatinya. "Dia di Kagemura, bersama keluarga Muto." "Benarkah? Tapi dia bukan Muto; dia Kikuta. Kupikir sebaiknya dia berada di sini bersama kita." "Keluarga Muto takkan menyerahkan adikku padamu," sahut Maya. "Ada perubahan dalam keluarga Muto; kukira kau sudah tahu. Tribe selalu bersatu pada akhirnya," ujar Akio. "Begitulah cara kami bisa bertahan." Akio mengetuk-ngetuk gigi dengan kuku. Di bagian belakang tangan kanannya ada bekas luka lama, melintang dari pergelangan sampai ke bagian bawah ibu jarinya. "Kau melihatku membunuh penyihir Muto itu, Sada. Aku takkan ragu melakukan yang sama padamu." Maya tidak bereaksi atas perkataan itu; ia lebih tertarik pada reaksinya sendiri, ter¬cengang kalau ternyata ia tidak takut pada laki-laki itu. Ia tak menyadari kalau ternyata, seperti ayahnya, ia dianugerahi kemampuan untuk tidak takut pada Kikuta. "Ini yang pernah kudengar," ujarnya. "Kalau ibumu takkan melakukan apa-apa untuk menyelamatkanmu, tapi ayahmu menyayangimu." "Itu tidak benar," Maya berbohong. "Ayahku tidak memedulikan aku dan adikku. Para ksatria membenci anak kembar dan menganggap mereka memalukan. Ayahku hanya bersifat baik, itu saja." "Dia berhati lembut," ujar Akio, dan Maya melihat kebencian serta rasa iri pada Takeo. "Mungkin kau bisa membawa Takeo kepadaku." "Hanya untuk membunuhmu," sahut Maya. Akio tertawa lalu berdiri. "Tapi dia takkan membunuh Hisao!" Maya menemukan dirinya memikirkan tentang Hisao. Selama setengah tahun ini ia harus menerima kenyataan kalau ini adalah putra ayahnya, kakak tirinya, yang tak pernah dibicarakan siapa pun, tak pernah diberitahukan pada ibunya. Dan Maya yakin kalau Hisao tak tahu ayah kandungnya. Ia memanggil Akio Ayah; Hisao menatap dengan pandangan tak mengerti ketika ia mengatakan kalau ia adalah adiknya. Maya mendengar di benaknya berulang kali suara Sada, Jadi anak itu benar-benar putra Takeo? Dan jawaban Taku, Ya, dan menurut ramalan dialah satu-satunya orang yang bisa membawa kematian Takeo. Karakter tidak mengenal kompromi, semacam warisan Kikuta yang membulatkan tekadnya yang kejam mulai terbentuk. Keseimbangan baginya menjadi begitu sederhana: bila Hisao mati maka Takeo bisa hidup selamanya. Selain latihan gerak badan yang dilakukan¬nya dengan tekun, ia tidak ada kesibukan lain, dan sering terombang-ambing antara sadar dan tidur, bermimpi bagaikan nyata. Ia memimpikan Miki, mimpi yang begitu jelas sehingga ia seperti yakin kalau Miki ada di kamar itu bersamanya; ia memimpikan Hisao. Ia berlutut di sampingnya saat pemuda itu tidur lalu berbisik di telinganya, "Aku adikmu." Ia bahkan pernah bermimpi si kucing berbaring di sisi Hisao, dan merasakan kehangatan tubuh kakaknya itu. Ia menjadi terobsesi pada Hisao, ingin tahu semua tentang pemuda itu. Mulai ber¬eksperimen dengan mengambil alih bentuk si kucing di malam hari selagi tidur. Awalnya ia ragu, karena hal itu ingin ia sembunyikan dari Akio, namun lama kelamaan kepercaya¬an dirinya makin meningkat. Di siang hari ia adalah tawanan, sementara di malam hari ia bisa keluyuran dengan bebas ke seluruh bagian rumah, mengamati penghuninya, serta memasuki mimpi-mimpi mereka. Dilihatnya dengan sikap remeh rasa takut dan harapan mereka. Para pelayan perempuan mengeluhkan adanya hantu, merasakan hembusan napas di wajah mereka atau bulu hangat berbaring di sebelah mereka, Halaman 672 dari 672 mendengar langkah pelan makhluk besar. Hal-hal aneh terjadi di seluruh kota, pertanda serta penampakan. Akio dan Hisao tidur terpisah dari peng¬huni laki-laki lainnya, di kamar bagian belakang rumah. Maya berjalan pada waktu tersunyi, tepat sebelum fajar menyingsing untuk mengamati Hisao yang sedang tidur, kadang dalam pelukan Akio, kadang sendiri. Pemuda itu tidur gelisah, bergoyang-goyang dan bergumam. Mimpi-mimpinya kejam dan tidak beraturan, tapi itu justru membuat Maya tertarik. Kadang Hisao terbangun dan tidak bisa tidur lagi; kemudian pergi ke rumah kecil di belakang rumah, di sisi lain halaman, tempat bengkel penempaan dan perbaikan alatalat rumah tangga dan senjata. Maya mengikuti dan mengamatinya, memer¬hatikan gerakannya yang berhari-hari dan sangat teliti. Para pelayan perempuan tak pernah meng¬ajak bicara. Selain perjalanan ke kakus ia hampir tidak pernah bertemu mereka sampai suatu hari seorang perempuan muda datang membawakan makanan. Usianya kira-kira sebaya dengan Shigeko, dan dia menatap Maya dengan keingin¬tahuan yang terang-terangan. Maya berkata, "Jangan menatapku. Kau tahu kalau aku sangat kuat." Gadis itu tertawa cekikikan tapi tidak memalingkan wajah. "Kau seperti anak laki¬laki," ujarnya. "Kau tahu aku anak perempuan," bentak Maya. "Kau pernah mengintipku kencing ya?" Maya bicara dengan bahasa anak laki¬laki, dan gadis itu tertawa. "Siapa namamu?" tanya Maya. "Noriko," bisiknya. "Noriko, akan kubuktikan betapa kuatnya diriku. Kau bermimpi tentang kain pem¬bungkus: kau pernah membungkus beberapa kue mochi dengairkain itu dan saat kau buka bungkusannya, kue-kue itu penuh ulat." "Aku tidak bilang siapa-siapa!" gadis itu tercekat, tapi malah mendekati Maya. "Bagaimana kau bisa tahu?" "Aku tahu banyak hal," sahut Maya. "Tatap mataku." Ditahannya tatapan gadis itu selama beberapa saat, cukup lama untuk melihat kalau gadis itu percaya pada takhayul, dan satu lagi, sesuatu tentang Hisao.... Kepala gadis itu berputar saat Maya menarik kekuatan tatapan mautnya. Maya menampar kedua pipi gadis itu untuk menyadarkannya. Noriko menatap bingung. "Kau bodoh kalau mencintai Hisao," ujar Maya terus terang. Gadis itu tersipu. "Aku kasihan padanya," bisiknya. "Ayahnya sangat keras kepadanya, dan dia sering sakit." "Sakit yang bagaimana?" "Dia sering terserang sakit kepala yang parah. Muntah, dan pandangannya kabur. Hari ini dia sedang sakit. Ketua Kikuta sangat marah karena mereka seharusnya pergi menemui Lord Zenko—Akio akhirnya pergi sendiri." "Mungkin aku bisa menolongnya," kata Maya. "Kenapa kau tidak mengantarku kepadanya?" 'Tidak bisa! Akio akan membunuhku kalau dia tahu." "Antar aku ke kakus," ujar Maya. "Tutup pintunya, tapi jangan dikunci. Aku akan ke kamar Hisao. Jangan khawatir; takkan ada orang yang melihatku. Tapi kau harus berhati-hati kalau Akio datang. Peringatkan aku saat dia kembali." Halaman 673 dari 673 "Kau takkan menyakiti Hisao?" "Dia laki-laki dewasa. Aku baru empat belas tahun—bahkan masih anak-anak. Aku tidak punya senjata. Bagaimana bisa aku menyakitinya? Lagipula, sudah kukatakan kalau aku ingin menolongnya." Bahkan saai bicara, Maya ingat semua cara yang pernah diajarkan kepadanya untuk membunuh dengan tangan kosong. Lidahnya menjilati bibir; tenggorokannya terasa kering, tapi setain itu ia tenang-tenang saja. Hisao sedang sakit, lemah, mungkin pandangannya kabur karena penyakitnya. Dia akan mudah dilumpuhkan dengan tatapan maut; di¬sentuhnya lehernya sendiri, meraba. urat nadinya, membayangkan urat nadi Hisao. Dan kalau cara itu gagal, ia akan memanggil si kucing.... "Ayo, Noriko, kita ke kamar Hisao. Dia membutuhkan bantuanmu." Ketika Noriko masih ragu, Maya berkata pelan, "Dia juga mencintaimu." "Benarkah?" mata gadis itu berbinar-binar di wajahnya yang kurus dan pucat. "Dia tidak bilang siapa-siapa, tapi dia memimpikan dirimu. Aku pernah melihat mimpinya dengan cara yang sama aku melihat mimpimu. Dia memimpikan dirinya memelukmu dan mengigau dalam tidurnya." Maya memerhatikan wajah Noriko men¬jadi lembut; tidak suka pada gadis itu karena mabuk kepayang oleh cinta. Noriko meng¬geser pintu terbuka, melihat ke luar dan memberi isyarat kepada Maya. Mereka ber¬jalan cepat-cepat ke belakang rumah, dan di pintu kakus Maya meremas perutnya dan berteriak seolah kesakitan. "Cepat, dan jangan berlama-lama di dalam situ," ujar Noriko, dengan spontan. "Mana bisa kutahan kalau sakit begini?" sahut Maya dengan nada yang sama. "Ini gara-gara makanan menjijikkan yang kau bawa!" Disentuhnya bahu Noriko saat bentuk tubuhnya memudar. Noriko sudah terbiasa dengan keanehan semacam itu, mengarahkan pandangannya tetap ke depan. Maya ber¬gegas pergi ke kamar Hisao tidur, menggeser pintunya terbuka, lalu melangkah masuk. Teriknya sinar matahari di luar telah mengecilkan pupil matanya, dan sesaat ia tak bisa melihat apaapa. Kamar itu baunya masam, samar-samar tercium bau muntah. Kemudian dilihatnya pemuda itu meringkuk di matras di sudut, satu tangannya menutupi wajah. Dari irama napasnya yang teratur sepertinya dia memang tidur. Ia tak akan mendapat kesempatan seperti ini lagi. Sambil menahan napas, ia melenturkan pergelangan tangan, mengumpulkan tenaga, berjalan melintasi kamar, berlutut di sebelah Hisao dan menyerang bagian lehernya Usahanya melemahkan konsentrasinya hingga kemampuan menghilangnya sirna. Mata Hisao terbuka, dan menatap sejenak sebelum berkelit dari cengkeraman tangan gadis itu. Pemuda itu lebih kuat dari perkiraan, tapi ia langsung menatap mata pemuda itu dan selama beberapa saat membuat Hisao pusing; cengkeraman jarinya makin kuat bak tentakel, dan selagi punggung Hisao melengkung dan memukul-mukul saat meronta berusaha melepaskan diri. Ia bergantung seperti hewan saat Hisao berusaha bangkit dengan tangan dan lutut. Kulit pemuda itu berkeringat, dan Maya merasakan cengkeramannya mulai terasa licin. Hisao juga merasakannya, lalu mengibaskan kepala saat mencoba berkelit lagi. Ditangkapnya tubuh Maya lalu dihempaskannya ke dinding. Layar kasa yang rapuh sobek, dan dari suatu tempat ia mendengar Noriko memanggil namanya. Aku gagal, pikirnya, selagi tangan Hisao mencengkcram lehernya, dan Maya bersiap untuk mati. Miki! Ujarnya pelan, dan seolah Miki mendengarnya, dirasakannya kemarahan Miki pada Hisao merasuki dirinya dan si kucing mulai muncul, meludah dan meng¬geram. Hisao berteriak kaget dan melepasnya; si kucing bergerak mundur, siap melarikan diri tapi masih belum ingin menyerah." Halaman 674 dari 674 Waktu sejenak itu memberi Maya waktu untuk meraih kembali kendali diri dan konsentrasinya. Dilihatnya kalau ternyata ada sesuatu yang melemahkan Hisao. Mata pemuda itu tidak tokus; agak terhuyung-huyung. Sepeninya pemuda itu berusaha melihat sesuatu di belakang Maya, dan mendengarkan suara berbisik. Maya mengira itu semacam tipuan untuk mengecohkan pandangannya, maka ia terus menatap tajam pemuda itu. Bau busuk dan jamur semakin menyengat: kamar itu terasa panas tak tertahankan: bulu si kucing menyesakkan napasnya. Terdengar olehnya bisikan di sebelah kanannya; kendati tak memahami kata-kata itu. tapi ia tahu kalau itu bukan suara Noriko. Ada orang lain lagi di kamar itu. Maya menoleh ke samping dan melihat perempuan itu. Masih muda, mungkin sembilan belas atau dua puluh tahun, potongan rambutnya pendek, wajahnya pucat. Perempuan itu mengenakan jubah putih, menyeberangi sisi seberang dunia fana, dan tubuhnya melayang. Ekspresi di wajah¬nya melukiskan kemarahan dan putus asa yang bahkan membuat hati Maya terharu. Dilihatnya kalau Hisao begitu ingin menatap hantu itu tapi juga takut; roh si kucing yang merasuki dirinya bergerak dengan bebas antara dua dunia. Jadi ini yang dimaksud Taku, renungnya saat menyadari hutang budinya pada si kucing dan bagaimana ia bisa memenuhinya. Dan kemudian ia menyadari kekuatan yang ini dan bagaimana ia bisa memanfaatkannya. Perempuan itu berseru memanggilnya, "Tolong aku! Tolong aku!" "Apa yang kau inginkan?" tanya si kucing. "Aku ingin putraku mendengarkan aku!" Belum sempat Maya menjawab, Hisao mendekat. "Kembali kau!" ujar Hisao. "Kau telah memaafkanku. Kemarilah, ijinkan aku menyentuhmu. Apakah kau hantu juga? Boleh aku menyentuhmu?" Ia melihat perubahan tangan Hisao saat menggapai. Tangan itu melembut berbentuk melengkung yang ingin sekali mengelus bulu si kucing. Ia terkejut, si kucing bereaksi seolah tunduk pada majikannya, menunduk¬kan kepala serta merebahkan telinga, dan membiarkan Hisao membelainya. Ia mematuhi keinginan si kucing. Sentuhan Hisao menyatukan sesuatu di dalam diri mereka. Hisao tercekat. Ia merasa¬kan penderitaan saudaranya itu seolah berada di kepalanya sendiri: lalu berkurang. Maya melihat, melalui mata Hisao: pandangan setengah buta, kumparan cahaya bak roda bergerigi dari alat penyiksaan, dan Hisao ber¬kata, "Ibu?" Hantu itu bicara. "Akhirnya!" ujarnya. "Sekarang maukah kau mendengarkan Ibu?" Tangan Hisao masih di atas kepala si kucing. Maya merasakan kebingungan pemuda itu: rasa lega karena penderitaannya telah sirna, rasa takutnya memasuki dunia alam baka, rasa takut melihat sedikit kekuatan yang bangkit. Di tepi kesadaran Maya, bergelayut ketakutan yang sama, jalan yang terbentang ke depan yang tak ingin ia ambil, jalan yang dirinya dan Hisao harus lalui bersama, meski ia membenci pemuda itu dan ingin membunuhnya. Noriko memanggil-manggil dari luar. "Cepat! Ketua sudah datang!" Hisao mengangkat tangannya. Maya kembali ke wujud aslinya dengan rasa lega. Ia ingin pergi dari pemuda itu, tapi Hisao menangkap lengannya; ia bisa merasakan cengkraman Hisao sampai ke tulang sumsumnya. Pemuda itu tengah menatap¬nya, tatapannya kagum dan lapar. "Jangan pergi," ujarnya. "Katakan padaku. Apakah kau melihatnya?" Noriko, berdiri di teras, berganti-ganti memandang kedua orang. "kau sudah baikan," serunya. "Gadis itu menyembuh¬kanmu!" Mereka berdua tidak mengacuhkannya. Halaman 675 dari 675 "Tentu saja aku melihatnya," sahut Maya seraya menyelinap melewati Hisao. "Dia itu ibumu, dan dia ingin agar kau mendengar¬kannya."* Dia akan bilang pada Akio, pikir Maya, selagi Noriko bergegas kembali ke kamar yang terkunci. Dia akan ceritakan semuanya. Akio akan tahu tentang si kucing. Entah dia akan membunuhku atau mereka akan memanfaat¬kan aku untuk mela wan Ayah. Aku harus melarikan dirinya, aku harus pulang; aku akan memperingatkan Ibu tentang Zenko dan Hana. Aku harus pulang. Tapi sentuhan tangan majikannya mem¬buat si kucing enggan pergi. Dan Maya ingin, bertentangan dengan keputusannya, berjalan di antara dua dunia dan berbicara dengan hantu. Ia ingin tahu apa yang mereka ketahui, bagaimana rasanya mati, serta semua rahasia lain yang disimpan orang mati dari mereka yang masih hidup. Maya tidur nyenyak selama berminggu¬minggu, tapi segera setelah kembali ke kamar sempit, kelelahan yang menggiurkan menye¬limuti dirinya. Kelopak matanya terasa makin berat; sekujur tubuhnya terasa sakit karena kelelahan. Tanpa bicara kepada Noriko, ia berbaring di lantai dan langsung tertidur lelap. Maya terbangun, seolah ditarik paksa keluar dari air, oleh sebuah perintah. Datanglah kepadaku. Kala itu malam gelap pekat, udara terasa lembap. Leher dan rambutnya terasa lembap karena keringat. Ia tak ingin merasakan bulu tebal si kucing. tapi majikannya memanggil¬nya: si kucing harus menemuinya. Telinga si kucing berdiri tegak; kepalanya berputar. Kucing itu berjalan dengan mudah¬nya melewati layar kasa dan dinding menuju bengkel tempat api penempaan menyala semalaman. Para penghuni rumah sudah terbiasa melihat Hisao berada di situ saat dini hari. Pemuda itu telah menemukan tempat yang cocok dan tidak ada orang yang meng¬ganggunya. Hisao menggapaikan tangan dan kucing itu menghampiri, seolah merindukan sentuhan dan belaiannya. Pemuda itu membelai, dan si kucing menjilati pipinya dengan lidah kasarnya. Tak satu pun dari keduanya bicara, tapi di antara mereka mengalir kerinduan akan kedekatan serta sentuhan kasih sayang yang dibutuhkan hewan itu. Setelah agak lama, Hisao berkata, "Perlihatkan wujud aslimu." Maya tersadar kalau ia berdempetan dengan Hisao, tangan pemuda itu masih di tengkuknya. Rasanya menyenangkan se¬kaligus menjijikkan. Ia melepaskan diri dari pelukan Hisao. Tidak bisa dilihatnya ekspresi wajah Hisao dalam keremangan cahaya. Bara api meretih, asap membuat matanya pedih. Hisao mengangkat lentera lalu menatap. Ia terus menunduk, tak ingin menentang tatapan pemuda itu. Tak satu pun dari mereka bicara, seakan tak ingin kembali ke dunia manusia yang penuh dengan kata-kata. Akhirnya Hisao berkata, "Mengapa kau datang sebagai kucing?" "Aku membunuh seekor kucing dengan tatapan maut Kikuta, dan rohnya merasuki diriku," sahutnya. "Tak seorang Muto pun tahu bagaimana menghadapinya, tapi Taku telah membantuku mengendalikannya." "Aku adalah penguasanya: tapi aku tak tahu sebabnya atau bagaimana caranya. Kucing itu mengurangi sakitku, saat ber¬samaku, dan menenangkan suara-suara Halaman 676 dari 676 hingga aku bisa mendengarnya. Aku suka kucing, tapi ayahku pernah membunuh seekor kucing di depan mataku karena aku menyukainya—kau bukan kucing itu kan?" Maya menggeleng. "Aku tetap menyukaimu," ujarnya. "Aku pasti sangat menyukaimu; aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku memerlukan dirimu bersamaku. Berjanjilah kau akan tinggal bersamaku." Hisao meletakkan lentera kembali di atas lantai dan berusaha menarik tubuh Maya lebih dekat lagi. Maya menolaknya. "Kau tahu kalau kita bersaudara?" tanyanya. Wajah Hisao mengkerut. "Dia itu ibumu? Hantu perempuan itu? Itukah sebabnya kau bisa melihatnya?" "Bukan, ibu kita berbeda, tapi ayah kita sama." Kini Maya bisa melihatnya dengan lebih jelas. Hisao tidak mirip ayahnya, atau dengannya atau Miki, namun rambutnya yang mengkilap mirip dengan rambut mereka, dan kulitnya memiliki tekstur dan warna yang sama, dengan nuansa warna madu. Seketika Maya teringat kenangan akan masa kecilnya—payung pelindung sinar matahari dan cairan unluk membuat kulit lebih terang: betapa bodoh dan sia-sianya semua itu sekarang. "Ayahmu adalah Otori Takeo, yang kami sebut si Anjing," Hisao tertawa dengan seringai yang dibenci Maya. Tiba-tiba ia membenci pemuda itu lagi, dan merasa jijik pada dirinya sendiri atas keinginan dan ketentraman yang dirasakan kucing itu hingga tunduk pada Hisao. "Aku dan ayahku akan membunuhnya." Hisao menjauh, menjauh dari cahaya lentera, dan mengeluarkan senjata api kecil. Cahaya berkilat di laras baja hitam senjata itu. "Dia itu penyihir, dan tidak seorang pun berhasil mendekatinya, tapi senjata ini lebih kuat ketimbang ilmu sihir." Takeo melirik ke arah Maya, lalu berkata dengan nada kejam yang disengaja, "Kau sudah lihat bagaimana senjata ini menghabisi Muto Taku." Maya tidak menjawab, tapi melihat dengan jelas dan tanpa perasaan terharu pada kematian Taku. Laki-laki itu mati dalam pertarungan, penuh kehormatan; tidak mengkhianati siapa pun; Taku dan Sada mati bersama. Tidak ada yang harus disesali dari kematiannya. Umpan Hisao tak membuat¬nya terpancing maupun melemahkan diri¬nya. "Lord Otori adalah ayahmu," ujar Maya. "Itu sebabnya aku berusaha membunuhmu, agar kau tidak membunuh ayahmu sendiri." "Akio adalah ayahku." Keraguan dan kemarahan terdengar dalam suaranya. "Akio memperlakukanmu dengan kejam, menganiaya dan berbohong padamu. Dia bukan ayahmu. Kau tidak tahu bagaimana seharusnya sikap ayah pada anaknya." "Dia sayang padaku," bisik Hisao. "Dia menyembunyikannya dari semua orang, tapi aku tahu. Dia membutuhkan diriku." "Tanya pada ibumu," sahut Maya. "Bukankah sudah kukatakan padamu untuk mendengarkannya? Ibumu akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu." Kemudian keadaan hening dalam waktu lama. Udara terasa panas: Maya bisa merasakan peluh di dahinya. Ia merasa kehausan. "Jadilah kucing lagi, maka aku akan mendengarkannya," katanya begitu pelan hingga Maya hampir tidak bisa mendengar suaranya. "Apakah ibumu ada di sini?" "Dia selalu ada di sini," sahut Hisao. "Dia terikat pada diriku oleh seutas tali, seperti dulu aku pernah terikat pada tubuhnya. Aku tak pernah terbebas darinya. Kadang dia diam saja. Itu tidak terlalu buruk. Saat dia ingin bicara—maka rasa sakit itu menyerang¬ku." Halaman 677 dari 677 "Karena kau berusaha melawan dunia arwah," ujar Maya. "Hal yang sama terjadi padaku. Saat si kucing ingin muncul dan aku menolaknya, aku juga kesakitan." Hisao berkata, "Aku tidak memiliki kemampuan Tribe apa pun. Aku tidak seperti kau. Aku tidak bisa menggunakan kemampuan menghilang. Aku tidak bisa menggunakan sosok kedua. Bahkan melihat semua kemampuan ini pun membuat perutku agak mual. Tapi tidak begitu dengan si kucing. Dia membuatku nyaman dan kuat." Hisao tidak menyadari kalau suaranya berubah dan menjadi seperti hipnotis, dihiasi dengan daya tarik yang tak bisa ditolak Maya. Gadis itu merasakan tubuh si kucing meregang dan melentur dengan keinginan yang kuat. Hisao menarik tubuh si kucing yang lentur itu lebih mendekat dan membelai-belai bulu-bulu tebalnya. "Tetaplah di dekatku." bisiknya, dan kemudian, bicara lebih keras, "Aku akan mendengarkan, apa pun yang ingin kau katakan." Bara api penempaan dan cahaya lentera meredup dan berkelap-kelip saat angin hangat dan berbau busuk tiba-tiba ber¬hembus meniup debu di lantai, meng¬gerakkan debu dan membuat daun jendela bergemeretak. Kemudian api makin ber¬kobar, membara makin terang, menerangi arwah perempuan saat mendekat, melayang. Hisao duduk diam tak bergerak; si kucing berbaring di sebelahnya dengan kepala di bawah tangan Hisao, matanya yang keemasan tidak berkedip. "Nak," kata sang ibu, suaranya gemetar. "Biarkan Ibu menyentuhmu, biarkan ibu memelukmu." Jemari kurusnya menyentuh dahi Hisao, membelai rambutnya, dan Hisao merasakan sosok tubuh ibunya begitu dekat, merasakan tekanan paling lemah saat ibunya memeluk dirinya. "Dulu Ibu suka memelukmu seperti ini saat kau bayi." "Aku ingat," bisiknya. "Ibu tak sanggup meninggalkanmu. Mereka, Kotaro dan Akio, memaksa Ibu minum racun. Mereka menangisi kepergian Ibu dengan cinta, setelah mematuhi perintah Ketua dan memasukkan dengan paksa pit beracun ke mulut Ibu. Mereka menyaksikan Ibu mati dengan jiwa dan raga yang menderita. Tapi mereka tidak memisahkan diri Ibu darimu. Kala itu usia Ibu baru dua puluh tahun. Ibu tak ingin mati. Akio mem-bunuh Ibu karena dia membenci ayahmu. Tangan Hisao menggosok-gosok bulu si kucing, membuat hewan itu menunjukkan cakarnya. "Siapakah ayahku?" "Gadis itu benar. Dia memang adikmu; Takeo adalah ayah kandungmu. Ibu mencintainya. Mereka memerintahkan Ibu agar tidur dengannya, agar Ibu mengandung dirinya. Ibu mematuhi mereka. Tapi mereka tak menyangka kalau Ibu akan mencintainya, dan kalau kau akan dilahirkan hasil dari cinta. Mereka berusaha menghancurkan kita semua. Pertama Ibu; kini mereka akan memanfaatkan dirimu untuk membunuh ayah kandungmu, lalu kau pun akan mati." "Bohong," sahutnya, tenggorokannya ter cekat. "Ibu sudah mati," sahutnya. "Hanya orang hidup yang berbohong." "Aku membenci si Anjing seumur hidup¬ku; aku tidak bisa mengubahnya sekarang." "Kau tidak mengenal siapa dirimu? Tak ada lagi orang Tribe, dari lima keluarga, yang bisa mengenali dirimu. Ibu akan ceritakan apa yang dikatakan kakekmu saat kematian¬nya. Kau adalah penguasa alam baka." *** Lama setelah kejadian itu, ketika kembali ke kamarnya dan berbaring terjaga, memandangi kegelapan yang pucat perlahan berubah terang, Maya mengingat-ingat kembali saat mendengar si arwah meng¬ucapkan semua kata-kata ini: tengkuknya bergidik; bulu-bulunya tegak berdiri. Tangan Hisao memegang erai lehernya. Hisao belum sepenuhnya memahaminya, tapi Maya ingat kata-kata Taku: Halaman 678 dari 678 penguasa alam baka adalah orang yang bisa berjalan di antara dua dunia, dukun yang mampu menenangkan atau menghasut orang yang sudah mati. Diingatnya suara-suara hantu yang berdesakan di sekelilingnya pada malam menjelang Perayaan Oban, di tepi pantai di depan rumah Akane; dirasakannya penye¬salan atas kematian mereka yang kejam dan tidak pada waktunya, serta tuntutan mereka untuk balas dendam. Mereka mencari Hisao, penguasa mereka, dan dirinya sebagai si kucing, memberinya kekuatan untuk menguasai mereka. Tapi bagaimana Hisao, pemuda yang kejam dan brengsek ini, memiliki kekuatan semacam itu? Dan bagaimana Akio bisa memanfaatkan dia bila tahu itu? Hisao tak ingin Maya meninggalkannya. Ia merasakan kuatnya keinginan Hisao itu, dan ia merasakan keinginan itu memikat sekaligus berbahaya. Tapi Hisao tak ingin Akio tahu itu, belum... Ia tidak terlalu memahami bagaimana perasaan Hisao yang sebenarnya atas laki-laki yang selalu dipercaya sebagai ayahnya: gabungan antara cinta dan kebencian, meremehkan serta iba, juga takut. Maya mengenali perasaan seperti itu karena ia merasakan hal yang sama pada pemuda itu. Ia tidak tidur, dan sewaktu Noriko membawakannya nasi dan sop untuk makan pagi, ia tidak terlalu berselera. Mata Noriko merah, sepertinya habis menangis. "Kau harus makan," ujar Noriko. "Dan setelah itu kau harus bersiap untuk bepergian." "Bepergian? Aku akan pergi kemana?" "Lord Arai akan kembali ke Kumamoto. Hofu sedang gempar. Muto Shizuka tengah berpuasa di Daifukuji dan hanya diberi makan oleh burung." Noriko gemetar. "Seharusnya aku tidak mengatakan ini. Ketua harus menemaninya, dan Hisao juga. Mereka pasti mengajakmu." Matanya penuh dengan air mata dan disekanya dengan lengan jubah. "Hisao sudah cukup sehat untuk bepergian. Seharusnya aku senang." Bersyukurlah dia akan pergi jauh darimu, pikir Maya, lalu bertanya, "Shizuka ada di Hofu?" "Dia datang untuk memakamkan putra bungsunya, dan kabarnya dia sudah tidak waras. Orang-orang menyalahkan Lord Arai - serta menuduhnya terlibat dalam kematian Taku. Arai gusar dan segera pulang ke rumahnya menyiapkan pasukannya untuk berperang, sebelum Lord Otori kembali dari Miyako." "Omong kosong apa yang kau katakan! Kau tidak tahu apa-apa tentang hal ini!" Maya menyembunyikan ketakutannya dengan kemarahan. "Aku memberitahumu hanya karena kau sudah menolong Hisao," sahut Noriko. "Aku takkan mengatakan apa-apa lagi." Gadis itu mengatupkan bibir rapat-rapat, marah dan tersinggung. Maya mengangkat mangkuk sop dan menghabiskannya, pikirannya berpacu kencang. Ia tak ingin membiarkan mereka membawanya ke Kumamoto. Ia tahu kalau kedua putra Zenko, Sunaomi dan Chikara, sudah dikirim ke Hagi untuk menjamin kesetiaan ayah mereka, dan bahwa Zenko takkan ragu-ragu menekan ayahnya. Hofu berada di Negara Tengah dan setia pada Otori—ia mengenal kota itu dan tahu jalan pulang. Sedangkan Kumamoto jauh di wilayah Barat; ia belum pernah ke sana. Begitu sampai di sana, ia tidak akan punya peluang kabur. "Kapan kami akan pergi?" tanya perlahan. "Begitu Ketua dan Hisao siap. Kau akan sudah di jalan sebelum siang. Kudengar Lord Arai akan mengirim pengawal." Noriko mengangkat mangkuk. "Aku harus mem¬bawa semua ini ke dapur." "Aku belum selesai makan." "Apa itu salahku kalau kau makan begitu lambat?" "Lagipula aku juga tidak lapar." "Kumamoto jauh dari sini," ujar Noriko saat keluar. Halaman 679 dari 679 Maya tahu ia hanya punya sedikit waktu untuk mengambil keputusan. Mereka pasti membawanya dengan disembunyikan, dengan tangan terikat mungkin; ia bisa saja mengecoh pengawal Zenko tapi takkan bisa lolos dari Akio. Ia mulai mengukur kamar itu dengan jarak langkah. Udara terasa semakin panas; ia lapar dan lelah; saat berjalan tanpa berpikir, ia hanyut dalam mimpi yang terjaga, dan melihat Miki berada di gang di belakang rumah. Maya terbangun kaget. Ini mungkin nyata: Shizuka pasti mengajak Miki begitu mendengar kematian Taku. Mereka datang untuk mencarinya. Miki ada di luar. Mereka bisa pergi ke Hagi bersamasama; mereka bisa pulang ke rumah. Ia tidak ingin berpikir lagi karena hanya akan membuang-buang waktu. Ia mengubah wujud menjadi kucing dan melewati dinding. Seorang perempuan di beranda berusaha menghalaunya dengan sapu sewaktu Maya berlari melewatinya; terus berlari melintasi halaman, tidak berusaha sembunyi¬sembunyi, tapi ketika sampai di dinding sebelah luar, dilewatinya bangunan bengkel dan merasakan kehadiran Hisao di sana. Jangan sampai dia mclihatku. Dia tidak akan membiarkan aku pergi Gerbang belakang terbuka, dan dari jalanan di depan-nya terdengar olehnya derap kuda mendekat. la menoleh ke belakang dan melihat Hisao berlari dengan senjata di tangan, matanya mencari-cari di halaman. Ketika melihat, dia berseru, "Kembali!" Ia merasakan kekuatan perintah itu, dan tekadnya melemah. Si kucing mendengarkan majikannya; si kucing tidak akan meninggal¬kannya. Ia sudah berada di luar, di jalanan, tapi kaki kucing itu terasa berat. Hisao memanggil lagi. Ia harus kembali kepadanya. Maya sadar dari sudut matanya melihat sosok samar yang tak kelihatan. Secepat bilah pedang, dari seberang jalan, sesuatu melesat di antara kucing itu dan Hisao, dan sosok itu memiliki ketajaman yang luar biasa hingga memutuskan keterkaitan antara mereka berdua. "Maya," didengarnya Miki memanggil. "Maya!" dan saat itulah Maya mendapatkan kekuatan untuk berubah wujud. Miki, sekarang kelihatan, berdiri di sampingnya. Adik kembarnya itu memegang eraterat tangannya. Hisao berteriak dari gerbang, tapi suaranya hanya suara anak laki-laki. Maya tidak harus mendengarkannya lagi. Kedua gadis itu menghilang lagi, dan selagi pengawal Lord Arai datang dari sudut jalan, mereka berlari tanpa terlihat memasuki jalan-jalan kota pelabuhan yang sempit dan berliku-liku.* Keberangkatan Takeo dari Miyako dilepas dengan upacara dan kegembiraan yang lebih besar, meski ada kekagetan dan kekecewaan karena ia pergi begitu cepat. "Kemunculan Anda ibarat komet," ujar Lord Kono, ketika bangsawan itu datang mengucapkan selamat jalan. "Melesat ber¬cahaya melintasi langit musim panas." Takeo ingin tahu seberapa tulus pujian ini, karena orang biasanya percaya kalau komet merupakan pertanda buruk datangnya kehancuran dan kelaparan. "Kurasa aku ada alasan mendesak untuk pulang," sahutnya, seraya memikirkan kalau Kono mungkin sudah tahu apa alasannya; tapi bangsawan itu tidak menunjukkannya, atau menyebutkan kematian Taku. Halaman 680 dari 680 Saga Hideki bahkan lebih tak bisa berkata¬kata karena terkejut dan merasa tidak senang akan kepergiannya yang mendadak itu. Mendesak agar tinggal lebih lama lagi—atau jika Lord Otori benar-benar harus kembali ke Tiga Negara, agar setidaknya meninggalkan Lady Maruyama untuk menikmati indahnya musim panas di ibukota. "Masih banyak yang perlu kita bicarakan—aku ingin tahu cara Anda memerintah Tiga Negara, apa yang menopang kemakmuran dan kesejahteraan kalian, bagaimana cara Anda menghadapi kaum barbar." "Kami menyebutnya orang asing," Takeo berani membetulkan perkataannya. Saga menaikkan alisnya. "Orang asing, kaum barbar, sama saja." "Lord Kono menghabiskan banyak waktu bersama kami. Dia pasti sudah melapor¬kannya kepada Anda." "Lord Otori," Saga mencodongkan badan dan bicara dengan penuh rahasia. "Lord Kono mendapatkan sebagian besar informasi¬nya dari Arai. Keadaan sudah berubah sejak saat itu." "Apakah aku mendapat jaminan dari Lord Saga?" "Tentu saja! Kita sudah mengumumkan kesepakatan yang mengikat. Anda tidak perlu khawatir. Kita adalah sekutu dan tak lama akan menjadi kerabat." Takeo bersikeras menolak bujukannya dengan sikap sopan yang tegas; dari semua penjelasan tentang keindahan yang perlu mereka lihat sebenarnya tidak bagus. Ibukota dilanda hawa panas, dan hujan plum yang bisa terjadi kapan saja membuat udara menjadi lembap dan berjamur. Ia tidak ingin Shigeko menderita dalam kondisi seperti itu. Ia ingin sekali pulang, merasakan dingin angin laut di Hagi, bertemu Kaede dan putranya, kemudian menghadapi Zenko dengan tegas. Lord Saga memberi kehormatan dengan menemani mereka selama minggu pertama perjalanan sampai di Sanda, tempat dia mengatur jamuan makan perpisahan. Saat jamuan selesai dan mereka akhirnya mengucapkan selamat tinggal, Takeo merasa semangatnya bangkit. Ia nyaris tidak men¬duga bisa pulang membawa kemenangan besar seperti ini. Membawa dukungan dan pengakuan Kaisar, dan juga persekutuan yang tulus dengan Saga. Perbatasan wilayah Timur akan aman dari serangan; tanpa dukungan Saga, Zenko bisa disembuhkatt dari ambisinya dan menerima kenyataan sahnya pemerintahan Takeo. "Bila ada bukti keterlibatannya dalam kematian Taku, maka dia akan dihukum. Tapi bila memungkinkan, demi Shizuka, maka aku akan membiarkannya tetap hidup." Takeo melakukan perjalanan dengan tandu, dengan formalitas besar, sampai ke Sanda. Sungguh lega Saga sudah pergi dan membuatnya bisa menanggalkan jubah indahnya lalu menunggang Tenba lagi. Hiroshi yang menungganginya karena kuda itu menjadi terlalu bersemangat dan sulit dikendalikan bila tidak ditunggangi setiap hari; kini Hiroshi menunggang kuda tua miliknya, Keri, anak Raku. "Gadis itu, Mai, menceritakan kalau Ryume, kuda Taku, mati bersama majikan¬nya," tutur Hiroshi kepada Takeo saat mereka berkuda berdampingan. "Tapi tidak jelas apakah dia juga mati ditembak." Hari itu cuaca panas, langit tak berawan; kuda-kuda berkeringat selagi jalan semakin menanjak menuju tanah lapang yang masih kelihatan jauh. "Aku ingat dengan jelas saat pertama kali kita lihat kuda-kuda jantan itu," sahut Takeo. "Kau langsung mengenali kalau mereka adalah anak-anak Raku. Mereka adalah pertanda pertama bagiku akan kembalinya harapan, bahwa kehidupan senantiasa bermula dari kematian." Halaman 681 dari 681 "Aku merindukan Ryume hampir sebesar rinduku pada Taku," ujar Hiroshi pelan. "Untungnya kuda Otori tidak menunjuk¬kan tanda-tanda kematian. Tentu saja, di bawah bimbingan tangan ahlimu, kurasa mereka makin berkembang. Kukira aku tak akan memiliki kuda seperti Shun lagi, tapi mesti kuakui aku sangat senang dengan Tenba." 'Tenba menantang untuk dijinakkan, tapi ternyata hasilnya baik-baik saja." Tenba berderap cukup tenang, namun tepat saat Hiroshi bicara, kuda itu mengibaskan kepala dan berputar ke arah mereka datang, seraya meringkik keras. "Kau terlalu cepat bicara," ujar Takeo, seraya mengarahkan kuda itu kembali dalam kendalinya dan memaksanya agar bergerak ke depan lagi. "Dia masih menjadi tantangan: kau takkan bisa mengabaikannya." Shigeko, yang sedari tadi berkuda di akhir arak-arakan bersama Gemba, datang meng hampiri mereka. "Sesuatu membuatnya kesal," ujar Shigeko, dan membelokkan pelana untuk memandang ke arah belakangnya. "Dia merindukan kirin," ujar Hiroshi. "Mungkin sebaiknya kita tinggalkan saja dia bersama kirin," ujat Takeo. "Sempat terpikir olehku, tapi aku tidak ingin berpisah dengannya." "Dia akan menjadi liar dan tidak bisa dikendalikan di Miyako." Hiroshi melirik ke arah Shigeko. Tenba dijinakkan dengan kelembutan; kini tidak bisa ditangani dengan kekerasan." Tenba terus gelisah, tapi Takeo menikmati tantangan untuk membujuk Tenba agar tenang, dan ikatan di antara mereka berdua semakin kuat. Bulan purnama di bulan ke¬enam sudah berubah, tapi tidak membawa hujan yang diharapkan. Takeo takut kalau mereka harus melewati jalur pegunungan paling tinggi dalam keadaan hujan, dan lega karena hawa panas makin menyengat. Kuda¬kuda semakin kurus; pengurus kuda khawatfr' mereka makan pasir atau cacingan. Lalat penghisap darah mengganggu manusia dan hewan di malam hari. Sewaktu bulan baru di bulan ketujuh muncul di ufuk timur, halilintar berge-muruh dan petir berkilatan di langit tiap malam, tapi tetap tidak turun hujan. Gemba menjadi sangat pendiam; sering¬kali saat terbangun di malam hari Takeo melihat dia sedang duduk tanpa ber-gerak: bermeditasi atau berdoa. Satu atau dua kali ia bermimpi, atau membayangkan Makoto, nun jauh di Terayama, melakukan hal yang sama. Mimpi-mimpi Takeo menggambarkan benang putus dan peti mati kosong, cermin tanpa bayangan, manusia tanpa bayangan. Ada yang tidak beres, Gemba pernah berkata, dan ia merasakan itu dalam aliran darah dan tulangnya. Rasa sakitnya yang berkurang selama perjalanan, kini terasa lagi, lebih sakit dari yang pernah dirasakannya. Dengan desakan yang hanya setengah dipahaminya, diperintahkannya agar kecepatan perjalanan ditingkatkan: mereka bangun sebelum matahari terbit dan berkuda di bawah cahaya bulan. Sebelum bulan mencapai seperempat bagian pertama, mereka sudah tak jauh dari Jalur Rajawali: kurang dari sehari perjalanan, Sakai Masaki yang berjalan lebih dulu untuk mengintai, melaporkan. Hutan semakin lebat di sekitar jalur itu, pohon ek serta hornbeam, dengan pohon cedar dan pinus di lereng yang lebih tinggi. Mereka berkemah di bawah pepohonan; air melimpah karena ada mata air, tapi makanan yang mereka bawa menipis. Takeo tidur sedikit, dan terbangun dengan seruan salah satu pengawal, "Lord Otori!" Saat itu matahari baru akan terbit, burung¬burung baru mulai berkicau. Matanya ter¬buka, mengira masih bermimpi: ia melihat sekilas, seperti biasa, pertama ke barisan kuda, lalu melihat kirin. Halaman 682 dari 682 Hewan itu berdiri di samping Tenba, leher panjangnya membungkuk, kakinya meregang keluar, kepalanya dekat dengan kuda-kuda, tanda putihnya berkilau menakutkan ditimpa cahaya keabuabuan. Takeo berdiri, tubuhnya terasa kaku dan pegal. Hiroshi yang tidur tidak jauh darinya sudah lebih dulu berdiri. "Kirin kembali?" pekiknya. Seruannya membangunkan yang lain, dan seketika itu juga kirin dikerumuni. Hewan itu menunjukkan semua tanda gembira karena berada di antara mereka: menggosokkan hidungnya pada Shigeko, serta menjilati tangan Hiroshi dengan lidah abu-abu panjangnya. Kulitnya tergores di mana-mana, lututnya berdarah; bagian belakang kaki kirinya tidak apa-apa, dan di lehernya ada bekas luka gesekan tali, seolah hewan itu berjuang melepaskan diri. "Apa artinya ini?" tanya Takeo dengan gempar. Dibayangkannya hewan itu lari melintasi daerah yang tidak dikenalnya, langkah panjangnya yang canggung, ketakutan dalam kesendiriannya. "Bagaimana hewan ini bisa kabur? Apakah mereka melepasnya?" Shigeko menjawab, "Itulah yang kutakut¬kan. Seharusnya kita tinggal lebih lama, memastikan agar kirin senang. Ayah, biarkan aku yang mengembalikannya." "Sudah terlambat," sahuinya. "Lihatlah; kita tak bisa menyerahkannya pada Kaisar dalam kondisiseperti ini." "Dia takkan sanggup bertahan dalam perjalanan," sahut Hiroshi setuju. Pemuda itu pergi ke mata air, mengisi ember dengan air dan membiarkan kirin minum, kemudian mulai membasuh darah kering di badannya. Kulitnya mengkerut dan gemetar tapi tetap berdiri tenang. Tenba meringkik pelan melihatnya. "Apa artinya ini?" tanya Takeo pada Gemba setelah hewan itu diberi makan dan perintah dikeluarkan agar perjalanan segera dilanjutkan. "Haruskah kita meneruskan perjalanan dengan membawa kirin? Atau haruskah kita mengirim semacam ganti rugi ke Miyako?" Sejenak Takeo berhenti bicara, menatap putrinya selagi menenangkan dan membelai kirin. "Kaisar pasti merasa terhina karena hewan ini kabur," lanjutnya dengan suara pelan. "Ya, kirin memang disambut sebagai pertanda restu dari Surga," tutur Gemba. "Kini hewan itu menunjukkan kalau dia lebih memilihmu ketimbang Paduka Yang Mulia. Pasti akan dianggap sebagai peng-hinaan yang luar biasa." "Apa yang harus kulakukan?" "Bersiap untuk berperang, kurasa," sahut Gemba tenang. "Atau mencabut nyawamu sendiri, bila kau pikir itu lebih baik." "Kau tahu segalanya—hasil pertandingan, penyerahan Jato, kemenanganku. Tidakkah kau tahu yang satu ini?" "Segala sesuatu ada sebab dan akibat," sahut Gemba. "Peristiwa keji seperti kematian Taku telah melepaskan semua rangkaian peristiwa: ini pasti salah satunya. Mustahil bisa diramalkan atau mencegah semuanya." Diulurkan tangannya dan me¬nepuk bahu Takeo, dengan cara yang sama Shigeko menepuk kirin. "Maaf. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa ada yang tidak beres. Aku berusaha mempertahankan keseimbangannya, namun keseimbangannya terputus." Takeo menatapnya, tidak sanggup memahami kata-katanya. "Apakah telah terjadi sesuatu pada kedua putriku?" Dihelanya napas dalam-dalam. "Istriku?" "Aku tak bisa mengatakan rincian semacam itu. Aku bukan penyihir atau dukun. Yang kutahu hanyalah sesuatu yang menahan jaring yang rapuh telah terputus." Halaman 683 dari 683 Mulut Takeo terasa kering karena rasa takut. "Bisakah diperbaiki?" Gemba tidak menjawab, dan pada saat itu pula, di atas hiruk pikuk persiapan, Takeo mendengar derap langkah kuda dari kejauhan. "Ada yang berkuda ke arah kita," ujarnya. Tak lama kemudian kuda-kuda dalam barisan menaik-kan kepala dan meringkik, dan kuda yang tengah berjalan menghampiri meringkik balik selagi berjalan dengan santai di sekitar kelokan jalur dan mulai kelihatan. Ternyata itu salah satu kuda Maruyama pemberian Shigeko kepada Lord Saga, dan penunggangnya adalah Lord Kono. Hiroshi berlari ke depan untuk mengambil tali kekang sewaktu bangsawan itu meng¬hentikan kudanya; Kono melompat turun dari punggung kudanya. Penampilannya yang tidak bertenaga sirna sudah; laki-laki itu kelihatan kuat dan trampil, seperti saat pertandingan. "Lord Otori, aku senang berhasil menyusul Anda." "Lord Kono," balas Takeo. "Kurasa aku tak bisa menawarkan banyak untuk menyegarkan diri. Kami baru saja hendak melanjutkan perjalanan. Kami akan berada di seberang perbatasan pada tengah hari nanti." Takeo tidak peduli jika si bangsawan tersinggung. Ia percaya tak ada satu hal pun yang bisa memperbaiki posisinya sekarang ini. "Aku harus meminta Anda menunda perjalanan," desak Kono. "Mari bicara berdua saja." "Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan saat ini." Kegelisahannya telah berubah men¬jadi kemarahan. Takeo bisa merasakan kemarahannya memuncak di balik matanya. Selama berbulanbulan ia telah berusaha keras untuk bersabar dan mengendalikan diri. Kini dilihatnya kalau semua upayanya akan hancur oleh kejadian yang tak ber¬aturan, rasa suka kirin yang tidak terkendali pada kawannya ketimbang dengan orang asing. "Lord Otori, aku tahu Anda meng¬anggapku sebagai musuh, tapi percayalah, perhatianku pada Anda tulus dari lubuk hatiku. Mari, beri aku waktu untuk menyampaikan pesan Lord Saga." Tanpa menunggu jawaban, Kono berjalan menjauh menuju pohon cedar yang sudah tumbang hingga seolah menyediakan tempat duduk yang alami. Kerabat Kaisar itu duduk dan memberi isyarat agar Takeo bergabung dengannya. Takeo melihat sekilas ke timur. Tepian pegunungan tampak hitam pekat ber¬lawanan dengan langit yang berkilauan, ber¬lukiskan warna keemasan. "Kuberi waktu sampai matahari menyinari puncak gunung," ujar Takeo. "Ijinkan aku ceritakan apa yang terjadi. Kemenangan dari kunjungan Anda agak meredup dengan kepergian Anda yang lebih awal. Tadinya Kaisar berharap bisa lebih mengenal Anda—Anda membuat Kaisar ter¬kesan. Tetap saja, Kaisar cukup gembira dengan hadiah-hadiah pemberian Anda, terutama hewan ini. Kaisar kemudian khawatir melihat kirin yang kian gelisah setelah kepergian Anda. Kaisar mengunjungi¬nya setiap hari, tapi hewan itu ketakutan, dan tidak mau makan selama tiga hari. Kemudian dia kabur. Kami mengejarnya, tapi tentu saja, semua upaya kami untuk menangkapnya gagal, dan akhirnya dia berhasil lolos. Suasana ibukota berubah dari gembira bahwa Kaisar direstui Surga menjadi ejekan, bahwa restu Surga berpindah, bahwa ternyata Lord Otori-lah yang didukung Surga, bukannya Kaisar dan Lord Saga." Kono berhenti sejenak. "Tentu saja, peng¬hinaan ini tak bisa diabaikan. Aku bertemu Lord Saga saat beliau meninggalkan Sanda; dan segera berbalik arah. Lord Saga berada hampir tidak sampai sehari menunggang kuda di belakangku. Kekuatan telah di himpun; pasukan khususnya senantiasa siaga, dan mereka sudah siap untuk kemungkinan semacam ini. Pasukan Anda kalah banyak dengannya. Aku diperintahkan menyampai¬kan bahwa bila Anda Halaman 684 dari 684 tidak kembali bersamaku dan meminta maaf pada Kaisar: maka Anda harus bunuh diri—aku khawatir pilihan untuk mengasingkan diri sudah tidak ada lagi—Saga akan memburu Anda, dan merebut Tiga Negara dengan paksa. Anda dan keluarga Anda akan dihukum mati— kecuali Lady Maruyama, yang Lord Saga harap bisa dinikahinya." "Bukankah sejak awal dia telah meren¬canakan akan seperti ini jadinya?" sahut Takeo, tidak berusaha mengendalikan amarahnya. "Biarkan dia mengejarku: dia akan kaget atas yang akan menantinya." "Aku tidak bisa mengatakan kalau aku terkejut, tapi menyesali keputusan Anda," ujar Kono. "Anda harus tahu betapa aku mengagumi Anda...." Takeo memotong perkataannya. "Kau sering menyanjungku, tapi kurasa kau berniat jahat padaku dan berusaha melemah¬kan diriku. Mungkin kau merasa dengan cara tertentu akan dapat membalaskan dendam atas kematian ayahmu. Jika kau memang memiliki kehormatan atau keberanian sejati, mestinya kau menantangku secara langsung, ketimbang diam-diam bersekongkol dengan Lord Arai, bawahanku dan adik iparku. Kau ular bermuka dua yang hebat. Kau telah menghina dan menipuku." Wajah Kono yang sudah pucat makin pucat. "Kita akan berjumpa dalam per¬tempuran," sahutnya. "Saat itu tipuan dan ilmu sihir takkan bisa menyelamatkan Anda!" Kono berdiri, dan tanpa membungkuk hormat berjalan ke arah kudanya, melompat ke atas punggungnya lalu menarik tali kekang dengan kasar untuk memalingkan kepala kudanya. Kuda itu enggan mening¬galkan kawan-kawannya, dan agak melawan, Kono menghentakkan kaki di bagian samping kuda itu; kuda itu bereaksi dengan melompat dan menendang, melemparkan bangsawan itu yang terjatuh dengan memalukan ke tanah. Keadaan menjadi sunyi. Dua pengawal terdekat menarik pedang, dan Takeo tahu semua orang berharap ia memberi perintah untuk membunuh Kono. Ia berharap melakukannya sendiri, sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya, ingin menghukum orang yang berada di bawah kakinya atas semua penghinaan, rencana jahat dan pengkhianatan yang mengepung dirinya. Tapi sesuatu mencegahnya untuk melakukan itu. "Hiroshi, ambil kuda Lord Kono dan bantu dia," ujarnya, lalu berpaling agar tak lebih mempermalukan bangsawan itu. Para pengawal menurunkan pedang lalu menya¬rungkannya kembali. Saat didengarnya derap langkah kaki makin menjauh menyusuri jalan itu, Takeo berpaling ke arah Hiroshi dan berkata, "Kirim Sakai pergi untuk memberitahu Kahei dan perintahkan dia bersiap untuk berperang. Kita harus berhasil menyeberangi jalur sempit secepat mungkin." "Ayah, bagaimana dengan kirin?" tanya Shigeko. "Dia kelelahan. Dia takkan sanggup mengikuti kita." "Hewan itu harus bisa mengikuti kita— bila tidak maka lebih baik dibunuh sekarang juga," sahutnya, dan melihat wajah putrinya tercengang. Besok mungkin ia akan melihat putrinya bertarung mempertahankan diri, Takeo sadar, namun putrinya itu belum pernah membunuh satu makhluk hidup pun. "Shigeko," tuturnya. "Ayah bisa menye¬lamatkanmu dan kirin hanya dengan cara menyerahkan diri pada Lord Saga. Ayah akan bunuh diri, kau akan menikah dengannya, dan kita masih bisa menghindari pe-perangan." "Kita tidak bisa lakukan itu," sahut Shigeko tanpa ragu. "Saga telah menipu dan mengancam kita, serta mengingkari semua janjinya pada kita. Akan kupastikan kirin tidak tertinggal." "Maka tunggangilah Tenba," sahut Takeo. "Mereka berdua akan saling memberi semangat." Sebagai gantinya, Takeo mengambil kuda Shigeko, Ashige, dan menyuruhnya berjalan di depan bersama Gemba, seraya berpikir kalau putrinya akan lebih aman di sana ketimbang berada di belakang. Kemudian muncul masalah apa yang harus dilakukan dengan kuda beban, dan hadiahhadiah mewah dari Kaisar dan Lord Saga yang mereka bawa. Halaman 685 dari 685 Kuda-kuda itu tidak bisa mengimbangi jalan kuda lainnya—merasa kalau Kaisar sudah terlanjur tersinggung dan tak bisa ditebus dengan apa pun, Takeo memerintahkan agar bal-bal dan keranjang ditinggalkan di dekat kuil batu kecil di tepi mata air. Takeo menyesali kehilangan benda¬benda indah itu: jubah sutra, cermin perunggu dan mangkuk berpernis. Ia berpikir betapa Kaede sangat senang atas itu semua, tapi tidak melihat ada jalan keluar lain. Tandu pun ditinggalkannya, bahkan baju zirah berhias indah pemberian Lord Saga. Baju zirah itu berat dan tidak praktis, dan Takeo lebih suka baju zirah miliknya yang diurus oleh Kahei. "Semua benda itu adalah sesaji untuk dewa gunung," tuturnya pada Hiroshi, selagi mereka berkuda menjauh. "Meski aku tidak percaya dewa mana pun bisa menolong kita saat ini. Apa artinya restu dari Surga? Kita tahu kalau kirin hanyalah hewan biasa, bukan makhluk dalam dongeng. Hewan itu kabur karena merindukan kawannya." "Kini kirin sudah menjadi perlambang," sahut Hiroshi. "Begitulah cara manusia menghadapi dunia." "Kini bukan saatnya untuk bicara filsafat! Sebaiknya kita bicarakan tentang rencana pertempuran." "Ya, aku sudah memikirkannya sejak kita melewati jalan ini: perbatasan di depan kita dapat digunakan untuk bertahan meng¬hadapi pasukan Saga. Tapi apakah kini perbatasan itu tidak dijaga? Andai aku menjadi Saga, akan kututup semua rute yang bisa kau lalui sebelum kau meninggalkan ibukota." "Itu juga terpikir olehku," aku Takeo, dan ketakutan mereka dipastikan tak lama kemudian saat Sakai kembali melaporkan bahwa jalur telah dipenuhi pasukan Saga yang bersembunyi di sela bebatuan dan pepohonan, bersenjatakan panah dan senjata api. "Aku memanjat pohon dan melihat ke belakang ke arah Timur," tutur Sakai. "Dengan teropong aku melihat pasukan Saga dari kejauhan, sedang mengejar kita. Mereka mengibarkan panji-panji merah, dan pasukan pertahanan Saga di perbatasan pasti juga sudah melihatnya. Aku suruh Kitayama mengitari tempat itu—bila orang lain bisa melewatinya, maka dia juga bisa melewati¬nya—tapi dia harus mendaki gunung dan turun di sisi gunung yang satunya lagi sebelum mencapai tempat Lord Miyoshi." "Butuh berapa lama hingga dia bisa sampai di sana?" tanya Takeo. "Beruntung bila dia bisa sampai sebelum malam." "Ada berapa banyak pasukan di perbatasan?" "Lima puluh sampai seratus orang. Kami tak sempat menghitungnya." "Baiklah, pasukan kita kurang lebih sebanding dengan jumlah pasukan musuh," ujar Hiroshi. "Tapi mereka memiliki semua keuntungan dari tanah datar." "Terlambat untuk memberi kejutan: tapi bisakah kita mengecoh dengan mengitari mereka?" tanya Takeo. "Satu-satunya harapan kita adalah meng¬giring mereka ke lahan terbuka," sahut Hiroshi. "Saat itulah kita bisa menembak mereka satu demi satu—Anda dan Lady Shigeko harus berkuda dengan kecepatan penuh sementara kami melindungi kalian." Takeo terdiam merenung selama beberapa saat, kemudian menyuruh Sakai pergi lebih dulu bersama pengawal lainnya untuk ber¬henti tepat di depan perbatasan lalu bersembunyi. Ia lalu menyusul Shigeko dan Gemba. "Ayah harus meminta kuda itu kembali," ujarnya. "Ayah hendak memancing musuh keluar dari persembunyian." "Ayah takkan pergi sendirian, kan?" tanya Shigeko, sewaktu turun dari punggung Tenba lalu mengambil tali kekang Ashige dari tangan ayahnya. Halaman 686 dari 686 "Ayah akan pergi bersama Tenba dan kirin," sahutnya. "Tapi takkan ada yang melihat Ayah." Takeo jarang memperlihatkan kemampu¬an Tribe-nya pada Shigeko, atau bahkan membicarakannya, dan kini pun ia tak ingin menjelaskannya. Dilihatnya tatapan ragu putrinya yang kemudian dengan cepat dikendalikannya. "Jangan khawatir," ujarnya. "Tak ada yang bisa menyakiti Ayah. Tapi kau harus menyiapkan panahmu dan bersiap untuk menembak mati." "Kami akan berusaha melumpuhkan mereka ketimbang membunuh mereka," sahutnya seraya melirik ke arah Gemba yang duduk diam tanpa ekspresi di punggung kuda hitamnya. "Ini akan menjadi pertempuran yang sebenarnya, bukan perlombaan," tutur Takeo, ingin putrinya siap untuk peperangan yang haus darah. "Mungkin kelak kau tak punya pilihan." "Ayah harus ambil Jato kembali. Ayah jangan pergi tanpa membawanya." Takeo mengambil pedang itu dari putrinya dengan rasa terima kasih. Ada bingkai khusus yang sengaja dibuat pada pedang itu, hingga terlalu berat bagi Shigeko untuk membawanya; pedang itu sudah di punggung Tenba, tepat di depan pelana. Pedang itu masih disarungi dengan kain upacaranya dan kelihatan luar biasa. Takeo mengikatkan tali sutra kirin ke tali leher Tenba dan sebelum menaiki kuda, dipeluknya Shigeko, berdoa dalam hati bagi keselamatan putrinya. Saat itu kira-kira tengah hari dan cuaca sangat panas. Takeo meraih tali kekang Tenba dengan tangan kiri, mendongak sesaat dan melihat awan tebal yang mengandung kilat menumpuk di arah Barat. Tenba mengibaskan kepala menghalau kerumunan serangga kecil yang meng¬gigitinya. Sewaktu menunggang kuda menjauh dari pasukan bersama kirin, Takeo menyadari ada seseorang yang berjalan kaki mengikutinya. Ia telah memerintahkan bahwa dia harus pergi sendiri, lalu memalingkan pelananya untuk memerintahkan siapa pun itu agar kembali ke pasukan. "Lord Otori!" Ternyata itu Mai, gadis Muto, adik Sada. Takeo berhenti sejenak lalu gadis itu berjalan menghampiri ke samping kuda. Tenba mengayunkan kepala ke arah gadis itu. "Mungkin aku bisa membantu," ujarnya. "Ijinkan aku pergi bersama Anda." "Kau bersenjata?" Mai menarik sebilah belati dari balik jubahnya. "Aku juga punya pisau lempar, dan garotte. Lord Otori berencana meng¬gunakan kemampuan menghilang?" Takeo mengangguk. "Aku juga bisa menggunakannya. Apakah Anda bermaksud memaksa musuh menampakkan diri agar para pangawal bisa menyerang mereka?" "Mereka akan melihat seekor kuda perang dan kirin berjalan sendiri. Kuharap keingintahuan dan keserakahan akan meng¬giring mereka menghampirinya. Jangan menyerang dulu sampai mereka berada di daratan terbuka dan Sugita memerintahkan tembakan pertama. Mereka pasti terbuai dengan kecerobohannya sendiri. Berlindung di sisi mana pun yang kelihatannya hanya ada sedikit musuh, dan bunuh musuh sebanyak-banyaknya semampumu. Makin mereka kebingungan, makin bagus." Mai tersenyum tipis. "Terima kasih, tuan. Setiap nyawa yang kuhabisi akan mem¬balaskan dendam kakakku." Kini aku yang memulai peperangan, pikir¬nya dengan perasaan sedih saat didesaknya Tenba agar berjalan lagi, lalu membiarkan kemampuan menghilang menyelimuti diri¬nya. Jalanan itu makin curam dan berbatu, tapi tepat di depan perbatasan, jalannya agak menanjak dan melebar. Matahari masih tinggi di langit, tapi sudah mulai tenggelam di ufuk barat, dan bayangHarjono Siswanto Story Collection Halaman 687 dari 687 bayang mulai memanjang. Di kedua sisi jajaran pegunungan, muncul dari hutan lebat, ter¬bentang Tiga Negara, kini berselimut awan. Petir berkilatan di kejauhan, dan terdengar gemuruh halilintar yang membuat Tenba mengibaskan kepala dan gemetar; kirin berjalan dengan tenang dan anggun seperti biasa. Dikejauhan Takeo mendengar desingan layang-layang dan kepakan sayap burung, keriat-keriut pepohonan tua, dan gemericik air. Saat memasuki lembah, terdengar oleh¬nya suara berbisik, gemerisik pelan orang berpindah tempat, helaan busur, dan bahkan lebih mengancam lagi, bunyi ketukan senjata api yang tengah diisi bubuk mesiu. Sesaat darahnya membeku. Takeo tidak takut mati; ia sudah sering bersentuhan dengan kematian hingga tidak membuatnya takut; terlebih lagi, ia sudah yakin kalau tak seorang pun yang bisa membunuhnya sampai putranya sanggup melakukannya, tapi kini rasa takut yang nyaris tak disadarinya muncul, pada peluru yang bisa membunuh dari jauh, bijih besi yang mampu mengoyak daging dan tulang. Bila aku harus mati, ijinkan aku mati oleh pedang, ia berdoa saat halilintar bergemuruh lagi, bila aku mati akibat senjata api, maka itu hanya untuk keadilan, karena akulah yang mengenalkan serta mengembangkan benda itu. Ia tak ingat pernah menggunakan kemampuan menghilang saat menunggang kuda, ia membiasakan diri untuk memisah kan ketrampilan ksatria dari kemampuan Tribe. Dibiarkannya tali kekang kuda menggantung dan mengangkat kakinya dari sanggurdi agar tidak kelihatan ada penunggangnya. Ia ingin tahu apa yang ada dalam pikiran prajurit yang tengah me¬mandangi kuda dan kirin berjalan melewati lembah. Apakah pemandangan itu mimpi, atau legenda yang menjadi kenyataan? Kuda hitam, dengan surai dan ekor berkilau sama terangnya dengan pelana, pedang di samping pelana; serta kirin, tinggi dan asing, dengan leher panjang serta kulit yang bercorak aneh. Terdengar olehnya desingan sebatang anak panah: Tenba juga mendengarnya dan terkejut, Takeo berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya selagi gerakan mendadak itu menarik tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Tak ingin terjatuh seperti Kono atau pun kehilangan kemampuan meng¬hilangnya karena kurang konsentrasi. Dipelankan napasnya dan membiarkan tubuhnya mengikuti gerakan kuda seakan mereka adalah satu makhluk. Anak panah itu berjatuhan ke tanah sejauh beberapa langkah di depannya. Anak panah itu tidak dibidik langsung ke arah hewan hewan itu, hanya sekadar menguji reaksi alami mereka. Takeo membiarkan Tenba bergerak dengan cepat dan ringan. Kemudian ia menekan kedua kaki agak di samping perut kuda itu, memaksanya maju, bersyukur atas reaksi kuda itu seperti yang diharap¬kannya. Kirin pun mengikuti dengan patuh. Terdengar teriakan di sebelah kanannya, dari sebelah utara lembah. Tenba menegak¬kan telinga dan memutamya ke arah suara tadi. Satu orang lagi menjawab teriakannya, dari arah selatan. Langkah Tenba mulai berderap dan kirin mulai berlari dengan lompatan naik turun di sebelahnya. Anggota pasukan mulai menampakkan diri satu demi satu, bermunculan dari tempat persembunyian mereka lalu berlarian ke permukaan lembah. Mereka tidak bersenjata berat sehingga mudah untuk mengepung dan lebih leluasa: mereka berharap bisa menyergap cepat. Sebagian besar mereka bersenjatakan busur panah, dan beberapa senjata api, tapi mereka mengesampingkan senjata ini. Tenba mendengus, panik karena mereka seperti sekawanan serigala, dan mempercepat langkahnya sampai akhirnya melangkah santai dan pelan lagi. Hal ini membuat lebih banyak lagi pasukan bermunculan dan berlarian lebih cepat, berusaha menghalangi agar kedua hewan itu jangan ke ujung lembah. Takeo merasakan tanah mulai curam: mereka telah melewati titik tertinggi lembah; bisa dilihatnya tanah datar di bawahnya tempat pasukan Kahei menunggu. Kini teriakan terdengar di mana-mana, mereka berlomba-lomba menjadi orang pertama yang memegang tali kekang kuda perang itu untuk menyatakan menjadi milik¬nya. Di depan, lima atau Halaman 688 dari 688 enam orang pasukan berkuda muncul dari celah antara tebing yang curam. Tenba berderap, meliuk bak kuda jantan tengah menggiring kuda betina, menyeringai, bersiap menggigit; langkah panjang kirin membuatnya seperti melayang di atas tanah. Takeo mendengar sebatang anak panah berdesing melewati dirinya, dan melihat prajurit pertama terjatuh, anak panah menembus dadanya. Di belakangnya terdengar dentuman langkah kuda selagi pasukannya Hiroshi ber¬hamburan memasuki lembah. Desingan mengerikan anak panah me¬menuhi udara, bak kepakan sayap. Terlambat, pasukan itu menyadari kalau itu jebakan dan mulai berlarian kembali untuk berlindung di antara bebatuan. Satu prajurit segera tumbang, sebilah pisau berbentuk bintang menancap di matanya, membuat mereka yang berada di belakangnya cukup lama merasa ragu untuk lari ke luncuran anak panah selanjutnya. Baik Tenba maupun kirin berada tepat di luar jangkauan, atau kemahiran para pemanahnya memang luar biasa, karena tak satu pun mengenai kedua hewan itu. Pasukan berkuda muncul di depannya, pedang terhunus di tangan. Takeo meraba¬raba sanggurdi, memasukkan kakinya, menguatkan diri lalu menarik Jato dengan tangan kiri. Ia membiarkan dirinya terlihat di waktu yang sama ketika mengayunkan pedang ke kiri, menghantam prajurit berkuda hingga jatuh dari pelana. Ia menghempaskan berat badannya ke belakang saat berusaha melambatkan gerakan Tenba, lalu ia menebas tali yang mengikat kirin ke kuda itu. Kirin berlari dengan canggung ke depan sementara Tenba, mungkin mengingat untuk apa dia dilahirkan, melambatkan langkah dan berputar untuk menghadapi prajurit berkuda lain yang kini mengepung Takeo. Dilupakannya usia dan cacat tangannya, tangan kiri mengambil alih peran tangan kanannya yang cacat. Jato melompat seperti yang biasa dilakukannya, seolah bergerak atas kehendaknya sendiri. Ia menyadari Hiroshi yang datang bergabung dengannya. Kuda tunggangan Hiroshi yang berkulit abuabu pucat memerah karena darah. Lalu sekumpulan prajurit datang mengelilinginya: Shigeko dan Gemba dengan busur ter-sandang di punggung dan pedang di tangan. "Maju terus," serunya kepada mereka, dan tersenyum dalam hati selagi mereka berjalan melewatinya dan mulai berjalan menurun. Shigeko aman, setidaknya untuk hari ini. Bentrokan mereda dan sadar kalau pasukan berkuda musuh yang terakhir tengah ber¬usaha menyelamatkan diri, dan prajurit pejalan kaki juga kabur, mencari perlin¬dungan di sela bebatuan dan pepohonan. "Apakah kita akan kejar mereka?" scru Hiroshi, sambil mengatur napas, mem¬belokkan Keri. "Jangan, biarkan mereka pergi. Saga pasti sudah dekat di belakang. Jangan ditunda. Kita sudah berada di Tiga Negara. Kita akan bergabung dengan Kahei malam ini." Tadi hanyalah pertempuran kecil, pikir Takeo saat mengembalikan Jato ke sarung dan akal warasnya mulai kembali. Per¬tempuran besar akan terjadi nanti. "Kumpulkan prajurit kita yang terluka dan tewas," perintahnya pada Hiroshi. "Jangan tinggalkan satu orang pun." Kemudian Takeo berteriak lantang, "Mai! Mai!" Dilihatnya kedipan sosok dengan kemampuan menghilang di sisi utara, lalu mengarahkan Tenba menghampiri saat gadis itu menampakkan diri. Takeo mengulurkan tangan lalu mengayunkan gadis itu naik di belakangnya. "Kau terluka?" serunya sambil menengok ke belakang. "Tidak," teriak Mai balik. "Aku mem¬bunuh tiga orang dan melukai dua orang." Dapat dirasakannya debar jantung Mai berpacu cepat menempel di punggungnya; aroma keringat Mai mengingatkan Takeo kalau sudah berbulan-bulan sejak ia tidur dengan istrinya. Betapa ia sangat merindukan Kaede: istrinya memenuhi pikirannya saat mengamati lembah untuk melihat prajurit nya yang selamat dan mengumpulkan sisa¬sisanya. Lima orang tewas, sepertinya, mungkin enam orang terluka. Takeo bersedih bagi mereka yang tewas, kesemuanya telah ia kenal selama Halaman 689 dari 689 bertahun¬tahun, dan bertekad memakamkan mereka dengan penghormatan yang tinggi di kampung halaman mereka di Tiga Negara. Pasukan Saga yang tewas ditinggalkannya di lembah, tidak bersusah payah menebas kepala mereka atau mengurus yang terluka. Saga akan berada di tempat ini esok hari, lalu entah di hari yang sama atau keesokan harinya mereka akan bertemu dalam per¬tempuran. Suasana hatinya murung saat memberi salam pada Kahei di tanah lapang di bawah. Lega melihat Minoru tidak terluka, ia pergi bersama jurutulis itu ke tenda Kahei, tempat diceritakannya semua yang telah terjadi pada sang komandan, serta membicarakan rencana untuk keesokan harinya. Hiroshi membawa kuda ke dalam barisan, tempat Takeo bisa melihat putrinya bersama kirin. Wajah putrinya pucat, dan entah bagaimana terlihat agak kurus, hatinya terasa pedih melihat penderitaan putrinya. "Setidaknya kita tahu Saga tak bisa datang lewat jalan lain," tutur Takeo. "Dia harus melewati jalur sempit itu." "Kita akan segera kirim pasukan untuk mempertahankannya," sera Kahei. "Tidak, akan kita biarkan terbuka. Kita harap Saga mengira kita sedang kabur, kehilangan semangat dan kebingungan. Dan dia harus kelihatan seperti penyerang. Kita sedang mempertahankan Tiga Negara, bukan menentang Saga atau Kaisar. Kita tidak bisa tinggal di sini dan menahannya dengan tidak jelas. Kita haras mengalahkannya dengan telak dan membawa kembali pasukan ke wilayah Barat untuk menghadapi Zenko. Kau sudah mendengar tentang kematian Taku?" "Aku sudah mendengar desas-desus, tapi kami tidak ada kabar resmi dari Hagi." "Tidak ada kabar dari istriku?" "Tidak ada kabar sejak bulan ketiga, dan dia juga tidak menyebutkan tentang berita duka ini. Mungkin saat itu Kaede memang belum mendengar kabar itu." Hal itu membuat Takeo lebih tertekan lagi, karena ia mengharapkan surat dari istrinya, dengan berita tentang situasi Negara Tengah dan wilayah Barat, begitu pula dengan kabar tentang kesehatannya juga si bayi. "Aku belum mendapat kabar dari istriku; kami pernah mendapat pesan dari Inuyama, tapi tidak ada kabar dari Negara Tengah." Kedua laki-laki itu terdiam sejenak, memikirkan rumah mereka nun jauh di sana dan anak-anak mereka. "Baiklah, orang bilang kalau kabar buruk tersebar lebih cepat ketimbang kabar baik," sera Kahei, membuang kekhawatirannya dengan cara yang biasa, dengan kegiatan fisik. "Mari kutunjukkan pasukan kita." Kahei sudah mengatur pasukan dalam formasi tempur: kekuatan utama di sisi barat tanah datar, dan bagian samping di se¬panjang tepi utara terlindungi oleh barisan bukit yang menonjol. Di sini ditempatkan-nya para prajurit bersenjata api, begitu pula dengan pasukan pemanah tambahan. "Kita menghadapi cuaca buruk," ujarnya. "Jika terlalu basah untuk menggunakan senjata api, maka kita kehilangan keuntungan terbesar kita." Takeo berjalan bersamanya di bawah cahaya rembulan untuk menginspeksi posisi, penjaga juga membawakan obor ilalang. Bulan putih semakin mendekati purnama, namun awan gelap berarak tidak beraturan, dan kilat menyala di langit barat. Gemba duduk di bawah sebatang pohon runjung kecil, di dekat kolam yang menyediakan air buat mereka: matanya terpejam, jelas terpisah dari hiruk pikuk kemah di sekitamya. "Mungkin adikmu bisa terus menunda turunnya hujan," ujar Takeo, berusaha membangkitkan semangat dirinya dan juga Kahei. "Hujan atau tidak, kita harus bersiap menyambut serangan mereka," sahut Kahei. "Kau sudah bertempur satu kali hari ini. Aku akan berjaga sementara kau dan pen¬dampingmu tidur." Halaman 690 dari 690 Karena sudah berada di perkemahan sejak bulan kelima, Kahei mengatur agar ia bisa nyaman: Takeo mandi dengan air dingin, makan sedikit, kemudian meregangkan badan di bawah lipatan sutra tenda. la langsung tertidur, dan memimpikan Kaede. Mereka berada di penginapan di Tsuwano, dan malam itu adalah malam pertunangan Kaede dengan Shigeru. Dilihatnya Kaede saat berusia lima belas tahun, wajahnya masih mulus tanpa kerutan, tanpa goresan bekas luka di leher, rambut tebalnya hitam tergerai. Dilihatnya lentera berkelap-kelip di antara mereka berdua saat Kaede menatap tangannya lalu menaikkan pandangan ke wajah. Dalam mimpinya, Kaede ditunangkan dengan Shigeru sekaligus telah menjadi istrinya; diserahkannya hadiah pertunangan kepada Kaede, dan di saat yang bersamaan meraih tubuh Kaede dan menariknya ke arahnya. Saat dirasakannya bentuk tubuh Kaede yang amat disayanginya dalam pelukannya, terdengar olehnya gemeletak api dan menyadari kalau gerakannya yang tergesa¬gesa menghantam lentera hingga jatuh. Ruangan itu meledak terbakar; api melahap tubuh Shigeru, Naomi, Kenji... Takeo terbangun, bau terbakar menyesak¬kan cuping hidungnya, hujan sudah me¬merciki tenda, kilat menghanguskan per¬kemahan, cahaya terangnya yang mengeri¬kan, halilintar memecah langit.* Setelah Takeo memotong tali pengikat, kirin terus berlari melintasi lembah, namun kaki¬nya tidak cocok dengan permukaan tanah yang berbatu, dan segera saja langkahnya melambat, berjalan terpincang-pincang. Keributan di belakangnya membuatnya panik, namun di depannya nampak sosok manusia dan kuda yang tidak dikenalnya. Sadar kalau orang dan kuda yang sayang padanya masih di belakang, hewan itu menunggu dengan kesabaran dan ke¬patuhannya yang biasa. Shigeko dan Gemba menemukannya di sana, lalu membawanya ke perkemahan. Shigeko diam tanpa bicara saat melepas pelana Ashige, mengencangkan tali di barisan kuda. Gemba mengambil rumput kering dan air. Mereka dikelilingi prajurit dari per¬kemahan yang ingin mengetahui tentang pertarungan tadi, tapi Gemba menghalau mereka. Dia mengatakan bahwa Kahei harus diberitahu lebih dulu, dan bahwa Lord Otori ada di belakang mereka. Shigeko melihat ayahnya berkuda me¬masuki perkemahan. Si gadis Muto, Mai, di belakang ayahnya dan Hiroshi di samping¬nya. Sesaat ia merasa mereka berdua seperti orang yang berbeda: berlumuran darah, kejam, ekspresi kemarahan sisa pertempuran masih tergambar di wajah mereka. Ekspresi wajah Mai pun sama, membuat figurnya kelihatan maskulin. Hiroshi yang pertama turun dari kuda dan mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat gadis itu turun dari punggung Tenba. Setelah itu Takeo turun dan menyapa Kahei, Hiroshi mengambil tali kekang kedua kuda itu, tapi kemudian berdiri sebentar untuk berbicara dengan Mai. Shigeko berharap ia memiliki pendengaran tajam agar tahu apa yang sedang mereka bicarakan, kemudian mencaci dirinya sendiri karena merasa cemburu. Perasaan itu menodai rasa lega karena temyata ayahnya dan Hiroshi tidak terluka. Tenba mencium bau kirin dan meringkik keras. Hiroshi melihat ke arahnya dan Shigeko melihat ekspresi laki-laki yang sangat dikenalnya. Aku mencintainya, pikir Shigeko. Aku hanya akan menikah dengannya. Hiroshi mengucapkan selamat tinggal kepada Mai lalu membawa kedua kuda menuju barisan kuda, mengikat kuda miliknya, Keri, di samping Ashige, dan Tenba di sebelah kirin. Halaman 691 dari 691 "Mereka semua bahagia sekarang," ujar Shigeko, saat hewan-hewan itu makan dan minum. "Mereka punya makanan, punya teman, dan sudah lupa peristiwa mengerikan hari ini... Mereka tidak tahu apa yang menanti besok." Gemba meninggalkan mereka, mengata¬kan kalau dia perlu menghabiskan waktu seorang diri. "Dia pergi untuk menguatkan dirinya dengan Ajaran Houou," ujar Shigeko. "Aku harus melakukan hal yang sama. Tapi aku merasa telah mengkhianati semua yang telah diajarkan para Guru Besar." Ia memalingkan wajah, seketika air mata terasa menusuk kelopak matanya. "Aku tak tahu apakah hari ini aku telah membunuh," ujarnya pelan. "Tapi panahku mengena banyak orang. Bidikanku tepat kena sasaran: tak satu pun anak panah yang meleset. Aku tidak ingin menyakiti anjing¬anjing itu, namun aku ingin menyakiti orang-orang itu. Aku merasa gembira saat darah mereka menyembur. Berapa banyak dari mereka yang sudah mati sekarang?" "Aku juga membunuh," tutur Hiroshi. "Aku dilatih semasa kecil untuk hal ini, dan sudah terbiasa. Namun kini, setelah kejadian itu, aku merasakan penyesalan dan kesedihan. Aku tidak tahu bagaimana lagi cara untuk tetap setia pada ayahmu, kepada Tiga Negara, atau melakukan semampuku untuk melindungi ayahmu juga dirimu." Setelah berhenti sejenak, Hiroshi lalu menambahkan, "Besok pasti lebih buruk lagi. Pertarungan kecil ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pertempuran yang akan terjadi nanti. Seharusnya kau tidak terlibat. Aku tak bisa meninggalkan ayahmu, tapi biar kusarankan agar Gemba membawa¬mu pergi. Kau bisa membawa kirin. Kembalilah ke Inuyama, ke tempat bibimu." "Aku juga tak ingin meninggalkan Ayah," ujar Shigeko, dan tidak kuasa menambahkan, "Juga Lord Hiroshi." Dirasakan pipinya merona merah lalu berkata, "Apa yang kau bicarakan dengan gadis itu tadi?" "Gadis Muto itu? Aku berterima kasih padanya karena membantu kita lagi. Aku sungguh-sungguh berterima kasih padanya karena membawa kabar tentang kematian Taku, juga karena telah bertempur bersama kita hari ini." "Oh! Tentu saja," sahut Shigeko, dan memalingkan wajah ke arah kirin untuk menyembunyikan rasa bingungnya. Ia ingin dipeluk pemuda itu; takut kalau mereka akan mati tanpa sempat menyatakan cinta. Namun ia tak tahu bagaimana mengatakan saat dikelilingi prajurit, pengurus kuda, dan saat masa depan mereka kian tak menentu? Kuda-kuda sudah selesai diurus: tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk berdiri di sana lebih lama lagi. "Mari berjalan-jalan sebentar," ajak Shigeko. "Kita harus melihat medan perang, lalu menemui ayahku." Hari masih terang, jauh di ufuk barat pancaran terakhir sinar matahari menyebar keluar dari balik awan tebal. Langit di antara tempat perlindungan mereka yang berwarna abu-abu tua, berwama abuabu pucat. Bulan masih tinggi perlahan berwarna keperakan. Shigeko tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Akhirnya Hiroshi bicara, "Lady Shigeko," ujarnya. "Satu-satunya kecemasan¬ku saat ini adalah keselamatanmu." Nampak¬nya Hiroshi pun berusaha mengungkapkan perasaannya. "Kau harus tetap hidup, demi nasib seluruh negeri." "Kau sudah seperti kakakku," tuturnya. "Tidak ada orang lain yang lebih berarti bagiku ketimbang dirimu." "Perasaanku padamu jauh melebihi perasaan kakak terhadap adiknya. Aku tak¬kan mengucapkannya padamu, namun kenyataan kalau salah satu dari kita mungkin mati besok. Kau adalah perempuan paling sempurna yang pernah kukenal. Aku tahu derajat dan kedudukan menempatkan dirimu jauh di atas diriku, tapi aku tak bisa mencintai atau menikah dengan orang lain selain dirimu." Shigeko tak kuasa menahan diri untuk tersenyum. Kata-kata Hiroshi menghalau kesedihannya, memenuhi dirinya dengan rasa gembira serta keberanian. Halaman 692 dari 692 "Hiroshi," ujarnya. "Mari kita menikah, akan kubujuk orangtuaku. Saat ini aku tak lagi merasa wajib menjadi istri Lord Saga karena dia telah memperlakukan ayahku dengan kejam. Seumur hidup, aku senantiasa berusaha mematuhi orangtuaku dan ber¬tindak dengan benar. Tapi kini kulihat ternyata, saat menghadapi kematian, ada hal lain yang lebih penting. Kedua orangtuaku mengutamakan cinta di atas kewajiban pada orangtua mereka; mengapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama?" "Aku tidak bisa melakukan apa yang ber¬tentangan dengan keinginan ayahmu," sahut Hiroshi, dengan penuh perasaan. "Namun mengetahui bahwa kau merasakan apa yang kurasakan telah memuaskan semua keinginanku." Tidak semuanya, kuharap! Shigeko berani berpikir demikian saat mereka berpisah. Shigeko ingin segera menemui ayahnya, namun ia menahan diri. Setelah mandi dan makan, ia diberitahu kalau ayahnya sudah tidur. Satu tenda terpisah didirikan untuknya, lalu ia duduk sendirian dalam waktu yang lama, berusaha mengatur pikirannya dan mengobarkan kembali api yang tenang dan kuat dari Ajaran Houou dalam dirinya. Namun semua usahanya kalah oleh kenangan yang melintas di benaknya— jeritan dalam pertempuran, bau darah, desing anak panah—dan wajah serta suara Hiroshi. Shigeko tertidur sebentar dan terbangun oleh gemuruh halilintar dan percikan air hujan. Terdengar olehnya perkemahan meledak dalam kesibukan di sekelilingnya, dan melompat bangun, cepat-cepat mengenakan pakaian berkuda yang dikenakannya kemarin. Semuanya mulai basah, jarinya terasa licin. "Lady Maruyama!" seorang perempuan berseru memanggil dari luar, dan Mai masuk ke tenda membawa teh dan nasi dingin. Sementara Shigeko makan dengan cepat, Mai menghilang lagi. Saat kembali, gadis itu membawa perisai pelindung dada kecil terbuat dari kulit dan besi serta helm. "Ayah Anda mengirimkan ini," ujarnya. "Anda harus segera bersiap, juga kuda Anda, lalu pergi menemui beliau. Mari kubantu Anda." Shigeko merasakan bobot asing perisai dada itu. Rambutnya tersangkut saat benda itu diikat talinya. "Ikat rambutku," ujarnya pada Mai; lalu diambil pedang dan mengencangkannya di sabuknya. Mai menaruh topi baja di kepala Shigeko lalu mengikatkan talinya. Hujan turun dengan deras, tapi langit tampak kian pucat. Matahari hampir terbit. Shigeko bergegas menuju barisan kuda, melewati siraman hujan bak tirai baja abu¬abu. Takeo sudah mengenakan baju zirah, Jato di sampingnya, menunggu kedatangan Hiroshi dan pengurus kuda menyelesaikan memakaikan pelana pada kuda. "Shigeko," panggilnya tanpa tersenyum. "Hiroshi memohon agar mengirimmu pergi, tapi sebenarnya Ayah membutuhkan semua orang yang ada. Saat ini terlalu basah untuk menggunakan senjata api, dan Saga tahu ini. Ayah yakin dia takkan menunggu hujan reda untuk menyerang. Ayah membutuhkan kau dan Gemba, karena kalian berdua adalah pemanah yang baik." "Aku senang," sahutnya. "Aku tak ingin meninggalkan Ayah. Aku ingin bertempur di samping Ayah." "Tetaplah bersama Gemba," ujar Takeo. "Bila kekalahan tak terhindar, dia yang akan menyelamatkanmu." "Aku akan mencabut nyawaku lebih dulu," hardik Shigeko. "Tidak, putriku, kau harus hidup. Jika kita kalah, kau harus menikah dengan Saga, dan mempertahankan negara dan rakyat kita sebagai istrinya." "Dan kalau kita menang?" Halaman 693 dari 693 "Maka kau bisa menikah dengan orang pilihanmu," sahut Takeo, matanya berkerut melirik ke arah Hiroshi. "Aku akan pegang janji Ayah," sahutnya ringan, selagi mereka berdua naik ke punggung kuda. Takeo berkuda bersama Hiroshi menuju bagian tengah tanah datar, tempat pasukan berkuda berkumpul, dan Shigeko mengikuti Gemba menuju sisi sebelah utara, tempat pasukan pejalan kaki, pemanah dan pasukan ber-senjata tombak berujung tajam dan tombak berkapak tengah mengatur posisi. Mereka berjumlah beberapa ribu orang, para pemanah diatur dalam dua tingkat, karena Kahei telah melatih seni tembakan alternatif hingga hujan panah seperti sambung menyambung. Andai keadaan tidak basah, mereka pasti melakukan hal yang sama untuk senjata api. "Saga menduga kita hanya berkonsentrasi pada senjata api," tutur Gemba. "Dia tak menduga kalau kekuatan pemanah kita sama hebatnya dengan pasukannya. Dia terkejut saat pertandingan berburu anjing itu ber¬langsung, tapi tidak belajar dari kejadian itu. Kini dia akan sama terkejutnya seperti saat itu." "Kita harus tetap di sini," tambahnya, "bahkan saat pasukan bergerak memutar dan maju. Ayahmu ingin agar kita membidik dengan hari-hati dan menyerang pemimpin mereka. Jangan sia-siakan sebatang anak panah pun." Mulut Shigeko terasa kering. "Lord Gemba," panggilnya. "Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Bagaimana kita bisa gagal menyelesaikan masalah dengan damai?" "Ketika keseimbangan hilang dan kekuatan laki-laki mendominasi, perang tidak bisa dihindari," sahut Gemba. "Beberapa luka telah diatasi oleh kekuatan perempuan, tapi aku tak tahu apa itu. Sudah takdir kita untuk berada di sini, takdir yang mengharuskan kita membunuh atau ter¬bunuh. Kita harus merangkulnya dengan segala kejernihan pikiran, dengan sepenuh hati, bahwa sebenarnya kita tidak meng¬inginkan atau pun mencarinya." Shigeko mendengarkan kata-kata ini, tapi nyaris tak bisa mengingatnya, perhatiannya dipusaikan pada pemandangan di depannya saat matahari semakin terang: warna merah dan emas baju zirah serta pelana, kuda yang sudah tak sabar, dan panji-panji Otori, Maruyama, Miyoshi dan klan lain dari Tiga Negara. Kemudian, dalam jumlah yang luar biasa besar, bak semut yang terganggu keluar dari sarang, gelombang pertama pasukan Saga mengalir melewati perbatasan.* Perang Takahara berlangsung lebih dari tiga hari di tengah badai yang disertai kilat dan petir. Perang berlangsung tiada henti dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Malam harinya para prajurit merawat luka dan membersihkan medan perang dari anak panah yang berserakan. Jumlah pasukan Saga Hideki lebih besar tiga berbanding satu dengan pasukan Takeo, tapi jenderal Kaisar itu dirintangi oleh sempitnya jalur menuju dataran. dan posisi Takeo yang lebih meng¬untungkan. Selagi pasukan Saga merangsek memasuki dataran, mereka dihujani anak panah dari kanan; prajurit yang selamat dari panah dihadang oleh pasukan utama Otori, pertama dihadang pasukan berkuda yang menggunakan pedang kemudian oleh prajurit pejalan kaki. Inilah perang paling brutal yang pernah Takeo alami, perang yang berusaha ia hindari. Pasukan Saga sangat disiplin dan luar biasa terlatih. Mereka telah menakluk kan wilayah wilayah di utara; berharap dianugerahi harta rampasan dari Tiga Negara; berperang dengan restu Kaisar. Halaman 694 dari 694 Sebaliknya, pasukan Takeo tidak hanya berperang demi nyawa mereka, tapi juga demi negara, kampung halaman, istri dan anak-anak serta tanah mereka. Miyoshi Kahei sudah bertempur bersama pasukan Otori sejak perang Yaegahara saat berusia empat belas tahun, hampir tiga puluh tahun lalu. Klan Otori menderita kekalahan besar, sebagian disebabkan oleh peng¬khianatan para pemimpin distrik. Kahei tak pernah lupa masa-masa yang terjadi setelah itu: penghinaan atas ksatria, penderitaan rakyat di bawah penguasa Iida Sadamu. Ia bertekad untuk tidak hidup dengan kekalahan seperti itu lagi. Keyakinannya bahwa Saga takkan bisa menang menguatkan tekad pasukannya. Sama pentingnya, persiapan Kahei dilaku¬kan dengan sangat teliti dan penuh pe¬rencanaan. Ia telah merencanakan operasi militer ini sejak musim semi, serta mengatur pengangkutan persediaan dan senjata dari Inuyama. Dia sudah tak sabar selama berbulan-bulan, ingin menghadapi ancaman atas pemerintahan Takeo. Kini akhirnya perang sudah dimulai, semangatnya ber¬kobar: hujan tak bisa dihindari, karena sebenarnya dia ingin pasukannya meng¬gunakan senjata api. namun ada yang luar biasa dengan senjata tradisional: busur panah dan pedang, tombak runcing dan tombak berkapak. Panji-panji klan basah karena lembap; tanah di bawah kaki dengan cepat berubah menjadi lumpur. Kahei menyaksikan dari lereng, kuda merah bata miliknya siap di sampingnya. Minoru, si juratulis, duduk di dekatnya bernaung di bawah payung, berusaha keras namun sia-sia menjaga agar tulisannya tetap kering serta mencatat semua kejadian. Ketika serangan pertama pasukan Saga dipukul mundur dan dihalau kembali ke jalur perbatasan, Kahei melompat ke kuda lalu bergabung dalam pengejaran itu, pedangnya mencincang dan menyabet punggung prajurit yang tengah melarikan diri. Di pagi di hari kedua, pasukan berkuda Saga kembali melewati jalur sempit sebelum hari terang, menyebar untuk mengecoh pasukan pemanah ke utara dan mengitari sebelah selatan dari pasukan utama Kahei. Takeo tidak tidur selain menyaksikan semalaman, mendengarkan suara pertama kegiatan dari musuh. Didengarnya langkah kuda, meski¬pun kaki mereka dibungkus jerami, keriat¬keriut dan gemerincing pelana serta senjata. Pemanah sebelah utara menembak membabi¬buta, dan hujan anak panah kurang efektif dibandingkan hari sebelumnya. Semuanya basah kuyup—makanan, senjata, dan pakaian. Ketika hari terang, perang sudah ber¬langsung lama, dan cahaya matahari yang baru terbit menerangi pertunjukan yang menyedihkan itu. Di bagian paling timur, pasukan pemanah terjebak dalam per-tarungan satu lawan satu dengan pasukan Saga. Takeo tak berhasil melihat seorang pun dengan jelas di tengah pertempuran sengit itu, meski lencana setiap kelompok prajurit pejalan kaki bisa terlihat samar di bawah guyuran hujan. Segera dilihatnya kalau sisi kanannya dalam ancaman, dan tidak mendapat bantuan apa pun. Ia segera ber¬kuda untuk membantu mereka dengan Jato di tangan. Tenba gemetaran penuh semangat. Seakan tak lagi memiliki rasa menyesal, ia bergerak memasuki kekejaman pertempuran. Ia melihat, setengah sadar, kalau Okuda berada tidak jauh di sebelah kanannya. Ia menggerakkan Tenba ke samping untuk menghindari tikaman pedang ke arah kakinya, membelokkan kuda itu menghadapi si penyerang lalu menunduk menatap mata putra Okuda, Tadayoshi. Bocah itu terjatuh dari kuda dan kehilangan topi bajanya, serta terkepung sewaktu berusaha membela diri dengan gagah berani. Bocah itu mengenali Takeo dan ber¬teriak memanggil; Takeo mendengar suaranya dengan jelas di tengah gemuruhnya pertempuran. "Lord Otori!" Ia tidak pernah tahu apakah itu seruan menantang atau seruan minta tolong karena Jato sudah turun ke tempurung kepalanya dan membelahnya. Tadayoshi mati seketika itu juga. Kini Takeo mendengar jerit kemarahan dan kesedihan, dan melihat ayah bocah itu tengah berkuda ke arahnya, pedang di kedua Halaman 695 dari 695 tangannya. Takeo merasa tidak tenang dengan kematian Tadayoshi, dan tidak siap. Saat itu Tenba tersandung, dan Takeo agak tergelincir dari pelananya, terjatuh ke depan, berusaha mencengkeram surai dengan tangan kanannya yang cacat. Tersandungnya Tenba membuat serangan Okuda agak berbelok, tapi Takeo masih bisa merasakan akibatnya karena ujung pedang Okuda mengenai bagian atas lengannya sampai ke bahu. Kuda Okuda terus berderap, memberi waktu bagi Takeo dan Tenba memulihkan diri; ia tidak merasa sakit dan mengira kalau ia tak terluka. Okuda membelokkan kuda lalu kembali menghampiri Takeo, jalannya dihalangi oleh kerumunan prajurit. Namun Okuda tidak mengacuhkan mereka semua, pandanganya hanya tertuju kepada Takeo. Amukan laki¬laki itu membakar amarah lama dalam diri Takeo, dan membiarkan kobarannya kian membara karena perasaan itu menghangus¬kan penyesalan; Jato menanggapi dan menemukan titik tak terlindungi di leher Okuda. Gerakan yang cepat dan kuat laki¬laki itu justru membawa Jato menembus ke dalam daging dan pembuluh darahnya. *** Masih di hari kedua, Hiroshi dan pasukan¬nya mendesak pasukan Saga kembali ke jalur sempit dalam serangan balasan; Kahei memulai gerakan mengepung lalu menjepit yang bisa menjebak pasukan musuh untuk mundur. Keberadaan sepupunya, Sakai Masaki, di belakangnya membuat Hiroshi teringat perjalanan di tengah hujan seperti ini bersama sepupunya itu saat berusia sepuluh tahun. Di usia itu, perang merupakan hal yang sangat diinginkannya, namun jalan yang diikutinya sekarang adalah jalan kedamaian, Ajaran Houou. Kini dirasa¬kannya semua darah yang mengalir dari nenek moyangnya menggelegak dalam pem¬buluh darahnya. Dibuangnya jauh-jauh semua pikiran lain dan berkonsentrasi pada pertarungan, membunuh, menang, karena masa depannya bergantung pada ke¬menangan. Bila kalah dalam perang ini, ia merasa lebih baik terbunuh atau mencabut nyawanya sendiri. Hiroshi bertarung dengan kemarahan yang ia tidak tahu kalau ia memilikinya, memengaruhi semangat pasukan di sekitarnya, mendesak lawan kembali ke jalur sempit, tempat mereka terjebak di jalan yang menyempit. Tak bisa kemana-mana, pasukan Saga makin putus asa. Dalam salah satu desakan balasan, Keri tumbang, darah menyembur dari leher dan bahunya. Hiroshi menemukan dirinya bertarung melawan dua prajurit tanpa kuda. Lumpur menyulitkan dirinya untuk menjejakkan kaki dan jatuh dengan satu lutut, berpaling selagi pedang meng¬hampirinya dan terus menangkis dengan pedangnya ke atas. Pedang kedua turun ke arahnya: dilihatnya Sakai menghempaskan badan di balik hujaman pedang itu; darah, darahnya sendiri atau darah Sakai, mem¬butakan matanya. Bobot tubuh Sakai menahan tubuhnya berada di dalam lumpur saat pasukan yang bertempur menginjak¬injak melewati mereka. Sesaat Hiroshi tak bisa percaya kalau beginilah akhirnya, lalu rasa sakit menyelimuti dirinya, meneng¬gelamkan dirinya. Gemba menemukannya saat malam, sekarat karena kehilangan banyak darah dengan luka sayatan di kepala dan kaki. Luka-lukanya sudah ditutupi lumpur. Gemba menghentikan aliran darah serta membersihkannya sebisa mungkin, lalu menggendong Hiroshi kembali ke belakang barisan untuk bergabung dengan prajurit yang terluka. Takeo berada di antara mereka, bahu dan lengannya tersayat cukup dalam, namun tidak berbahaya, sudah dibersihkan dan dibalut dengan perban kertas. Shigeko tidak terluka, wajahnya pucat kelelahan. Gemba berkata, "Aku menemukannya. Dia sekarat. Sakai tewas tergeletak di atas tubuhnya. Sakai pasti telah menyelamatkan Hiroshi." Dibaringkannya pemuda yang terluka itu di bawah. Lentera telah dinyalakan, tapi berasap di tengah hujan. Takeo berlutut di samping Hiroshi, meraih tangannya dan berseru memanggilnya. "Hiroshit Kawanku! Jangan tinggalkan kami. Berjuanglah! Ber¬juanglah!" Mata Hiroshi mengerjap-ngerjap. Napas¬nya terengah-engah; kulitnya basah oleh keringat bercampur air hujan. Shigeko berlutut di samping ayahnya. "Dia tak mungkin sekarat! Dia tak boleh mati!" "Dia berhasil bertahan sampai sejauh ini," Halaman 696 dari 696 ujar Gemba. "Bisa kau lihat betapa kuatnya dia." "Jika dia bisa melewati malam ini, berarti masih ada harapan," sahut Takeo setuju. "Jangan putus asa. " "Betapa mengerikan semua ini," bisik Shigeko. "Alangkah tidak termaafkan mem¬bunuh orang." "Begitulah jalan hidup ksatria," ujar Gemba. "Ksatria bertarung lalu mati." Shigeko tak menjawab, namun air mata bercucuran dengan deras dari matanya. "Sampai berapa lama lagi Saga akan bertahan seperti ini?" tanya Kahei pada Takeo malam itu, sebelum mereka menggunakan kesempatan istirahat singkat untuk tidur. "Ini benar-benar gila. Dia mengorbankan anak buahnya tanpa tujuan." "Dia adalah orang dengan kebanggaan yang tinggi," sahut Takeo. "Dia tidak pernah kalah sehingga dia tidak akan mengakui pemikiran semacam itu." "Bagaimana kita bisa membujuknya? Kita bisa saja menahan serangannya tanpa waktu yang pasti— kuharap kau terkesan dengan para prajuritmu; menurutku mereka sangat luar biasa—tapi kita tak bisa menghindari besarnya korban. Semakin cepat kita bisa mengakhiri perang, semakin besar peluang kita menyelamatkan yang terluka." "Seperti Sugita yang malang," imbuhnya. "Dan kau juga, tentunya. Demam karena luka tak bisa dihindari dalam kondisi buruk seperti ini, tanpa sinar matahari untuk mengeringkan dan menyembuhkan. Kau harus beristirahat besok; menjauhlah dari medan perang." "Lukanya tidak parah," sahut Takeo, meski rasa sakit semakin terasa sepanjang hari ini. "Beruntung aku sudah terbiasa memakai tangan kiri. Aku takkan menjauh dari perang—tidak sebelum Saga mati atau kembali ke ibukota!" *** Shigeko menjaga Hiroshi semalaman, memandikannya dengan air dingin, berusaha menurunkan panas demamnya. Hiroshi masih hidup hingga pagi hari, tapi tubuhnya menggigil kencang sekali, dan Shigeko tak menemukan satu pun benda kering yang bisa menghangatkannya. Diseduhnya teh dan berusaha membuat pemuda itu meminum nya: Shigeko tercabik antara tetap menjaga Hiroshi atau kembali ke posisinya di samping Gemba untuk melawan serangan Saga selanjutnya. Tempat berlindung dari batang kayu yang didirikan untuk mereka yang terluka terus meneteskan air hujan; tanah di bawah mereka becek dengan air hujan. Mai sudah menghabiskan waktu siang dan malam di sana, dan Shigeko memanggilnya. "Apa yang harus kulakukan?" Mai berjongkok di samping Hiroshi dan meraba dahinya. "Ah, dia kedinginan," ujarnya. "Beginilah cara kami meng¬hangatkan orang sakit di Tribe." Mai ber¬baring dan mendempetkan tubuhnya ke tubuh Hiroshi. "Berbaringlah di sebelah sana," pcrintahnya, dan Shigeko melakukan¬nya, merasakan kehangatan tubuhnya menyebar ke tubuh Hiroshi. Kedua gadis itu mengapit pemuda itu tanpa bicara sampai suhu tubuhnya mulai naik lagi. "Dan begitulah kami menyembuhkan luka," ujar Mai pelan, lalu menyingkirkan perban Gemba, menjilat pinggiran luka yang menganga dengan lidah lalu meludahkan air liurnya ke luka tersebut. Shigeko mengulangi gerakan yang sama, merasakan darah pemuda itu. Mai berkata, "Dia sekarat!" "Tidak!" sahut Shigeko. "Beraninya kau mengatakan begitu!" Halaman 697 dari 697 "Dia perlu dirawat dengan benar. Kita tak bisa melakukannya siang dan malam. Kau harus bertempur, dan aku harus merawat mereka yang lebih berpeluang hidup." "Bagaimana cara kita menghentikan perang ini?" "Laki-laki memang suka bertarung," ujar Mai. "Tapi bahkan laki-laki paling kejam sekalipun akan kelelahan, terutama jika mereka terluka." Mai menatap Hiroshi lalu menatap Shigeko. "Sakiti si Saga itu, maka dia akan kehilangan selera perangnya. Sakiti dia separah luka yang Hiroshi derita maka dia akan lari tunggang langgang mencari tabib di Miyako." Shigeko berkata, "Bagaimana cara men¬dekatinya? Dia tidak muncul di medan perang, dia hanya mengarahkan pasukan dari jauh." "Aku akan menemukan caranya untuk Anda," ujar Mai. "Kenakan pakaian berwarna coklat seperti warna lumpur dan siapkan busur dan anak panah yang paling mematikan. Tidak banyak yang bisa kau lakukan untuk Lord Hiroshi," imbuhnya saat Shigeko raguragu. "Dia sudah berada di tangan para dewa." Shigeko mengikuti semua petunjuk Mai, membungkus kepala dan lehernya dengan sehelai kain lebar lalu mencorengkan lumpur di dahi dan pipinya agar tidak dikenali, Diambilnya busur yang digunakannya untuk bertempur, mengencangkan talinya dan menemukan sepuluh anak panah baru, ujung anak panah terbuat dari besi bermata satu, dibului dengan bulu elang. Ditaruhnya semua anak panah ini ke dalam tabung. Sementara menunggu Mai kembali, Shigeko duduk di samping Hiroshi, dan sesekali membasuh wajahnya dan memberinya minum karena saat ini dia terserang demam lagi. Shigeko berusaha menenangkan pikiran seperti yang pernah diajarkan kepadanya di Terayama, oleh Hiroshi dan Guru Besar lainnya. Guruku yang terhormat, temanku sayang, panggilnya dalam hati kepada Hiroshi. Jangan tinggalkan aku! Perang berlanjut dengan lebih kejam lagi, membawa teriakan-teriakan yang membuat gila, jeritan mereka yang terluka, dentingan baja, derap kaki kuda, tapi ada semacam kesunyian menyelimuti diri mereka berdua, dan Shigeko merasakan jiwa mereka saling bertaut. Dia takkan meninggalkanku, pikirnya, dan seketika itu juga pergi ke tendanya lalu mengeluarkan busur kecil dan anak panah dengan bulu burung houou miliknya: menje¬jalkan semua ini ke dalam jubahnya, sementara disan-dangnya busur yang lebih besar di bahu kiri, tabung anak panah di bahu kanannya. Saat kembali ke tempat Hiroshi, Mai sudah kembali. "Kau darimana?" tanya gadis itu. "Kukira kau sudah kembali bertempur. Mari, ber¬gegaslah." Shigeko bertanya dalam hati apakah perlu memberitahukan Gemba kemana ia akan pergi. Ketika tiba di puncak lereng dan melihat pemandangan di medan perang, disadarinya kalau ia takkan bisa menemukan gurunya itu. Strategi Saga kini tampaknya bisa mengungguli Otori dengan kekuatan jumlah pasukan yang lebih besar. Pasukan barunya masih segar dan telah beristirahat, sementara pasukan Otori sudah bertempur selama dua hari. Berapa lama lagi mereka bisa bertahan? tanyanya pada dirinya sendiri selagi mengikuti Mai mengitari sisi selatan tanah datar. Perasaannya sudah mati rasa melihat begitu banyak orang yang tewas. Pasukan Otori sudah membawa korban tewas dan terluka dari pihak mereka ke garis belakang, tapi pasukan Saga tergeletak di tempat mereka jatuh. Kuda-kuda yang terluka berusaha bangkit; segerombolan kecil kuda menderap, sesekali berhenti dan terpincang¬pincang, berjalan ke barat daya, tali kekang mereka yang putus bergelantungan terseret di lumpur. Mengurus mereka sebentar, Shigeko melihat kuda-kuda itu berhenti tepat di depan kemah Otori. Mereka menundukkan kepala dan mulai makan rumput, seolah berada di padang rumput, terasing dan jauh dari medan perang. Agak di belakang mereka tampak kirin. Shigeko hampir tak memikir¬kannya selama dua hari ini: tidak ada yang punya waktu untuk membangun kandang baginya; hewan itu diikat dengan tali kekang ke barisan kuda. Kirin terlihat menyedihkan dan merana karena sendirian serta makin Halaman 698 dari 698 kurus di bawah siraman hujan. Sanggupkah hewan itu bertahan melewati cobaan berat ini dan perjalanan panjang kembali ke Negara Tengah? Rasa iba pada hewan itu meng¬hunjam hatinya, begitu kesepian dan jauh dari rumahnya. Kedua gadis itu berjalan melewati belakang bebatuan dan tebing yang mengelilingi tanah datar. Di sini suara per¬tempuran agak berkurang. Di sekeliling mereka menjulang puncak-puncak Gugusan Awan Tinggi, menghilang ditelan kabut yang bergelayut bak gumpalan sutra yang belum dipilin. Tanahnya berbatu dan licin; kerap¬kali mereka harus merangkak di bebatuan besar. Kadang Mai berjalan di depan, mem¬beri isyarat kepada Shigeko untuk menunggu. Shigeko meringkuk bernaung di bawah tonjolan batu besar yang meneteskan air hujan selama waktu yang dirasakan bak seumur hidupnya. Ia merasa seakan telah tewas dan sekarang sudah menjadi hantu, berkeliaran di antara dua dunia. Mai kembali keluar dari kabut bak hantu, diam tanpa suara, dan memimpin untuk berjalan terus. Akhirnya mereka tiba di batu besar dan memanjat sisi sebelah selatan. Dua batang pohon pinus kerdil melekat di puncak batu itu, akar kedua pohon yang melingkar dan berbentuk aneh membentuk semacam kisi-kisi yang alami. "Tetap menunduk," bisik Mai; Shigeko menggeliat bergeser hingga ke posisi tempat ia bisa melihat di sela-sela akar ke arah timur, dan pintu masuk ke jalur sempit. Shigeko menahan napas dan menyejajarkan tubuhnya dengan bebatuan. Saga berada tepat di arah depan mereka, bertengger di tebing yang curam, tempat laki-laki itu mendapatkan pandangan bak burung rajawali ke medan perang di bawahnya. Saga duduk di bangku kecil mewah berlapis pernis dan dinaungi payung besar. Dia bersenjata lengkap dengan pakaian warna hitam dan emas, topi bajanya berhiaskan dua puncak emas, seperti gunung¬gunung di panji-panji hitam putih yang berkibar-kibar di sampingnya. Beberapa perwira yang sama cemerlang dan bersih dengan dirinya walaupun hujan, berdiri mengelilinginya, bersama dengan peniup terompet perang dan kurir yang siap mem¬bawa pesan. Tepat di belakangnya, serang¬kaian tonjolan bebatuan yang terjatuh mem¬bentuk anak tangga alami menurun ke jalur sempit. Shigeko melihat beberapa orang melompat naik turun di anak tangga itu, melaporkan perkembangan perang. Ia bahkan bisa mendengar suara Saga, mencermati suaranya yang penuh kemarahan. Shigeko mengintip lagi dan melihat laki-laki itu berdiri, berteriak dan menggerakkan tangan dengan kipas perang besi di tangannya. Para perwiranya mundur selangkah dari kemarahan besar itu, dan beberapa di antara mereka segera bergegas menuruni anak tangga batu untuk masuk ke kancah peperangan. Mai bemapas di telinganya, "Sekarang, saat dia berdiri. Kau hanya memiliki satu kesempatan." Shigeko menarik napas dalam-dalam dan berpikir di sela setiap gerakannya. Akan digunakannya pohon pinus terdekat untuk menopang kakinya. Dia akan melangkah di bawah batang togoknya: permukaan bebatuan pasti licin, hingga ia harus mem¬pertahankan keseimbangan saat menarik busur dari bahu dan anak panah dari tabung. Gerakan ini telah diterapkannya ribuan kali selama dua hari terakhir, dan bidikannya belum pernah meleset. Shigeko melihat sekali lagi dan memerhati¬kan titik kelemahan orang itu. Wajah terlihat jelas, tatapan matanya kejam, dan terlihat jelas kulit leher yang lebih putih. Shigeko berdiri: busur meregang; anak panah tepat sasaran; hujan memercik di sekelilingnya. Saga melihat ke arahnya, ter¬duduk dengan susah payah; orang di belakangnya memegang erat-erat dada Saga di mana anak panah melubangi perisai dadanya. Terdengar jerit kaget dan terguncang, dan kini mereka membidiknya; satu anak panah melesat melewatinya, menghantam pohon pinus dan serpihan kayu terkena wajahnya; satu tembakan lagi meng¬hantam batu di kakinya. Dirasakan satu pukulan tajam, seolah tubuhnya tersandung sebatang tongkat, tapi tidak merasa kesakitan. "Menunduk!" teriak Mai, namun Shigeko tak bergerak, begitu pula Saga yang tak berhenti memandangi dirinya. Ditariknya busur yang lebih kecil dari jubahnya dan menaruh sebatang anak panah di busur itu. Bulu burung houou berkilat keemasan. Aku akan mati, pikirnya, dan membiarkan anak panah itu melesat ke arah tatapan laki-laki Halaman 699 dari 699 itu. Saat itu halilintar menyambar, dan udara di sekitar mereka seketika penuh dengan kepakan sayap. Anak buah Saga yang berada di sekelilingnya menjatuhkan busur dan menutup mata mereka; hanya Saga yang tetap membuka mata, menatap anak panah itu hingga menembus mata kirinya, dan darah membutakan matanya. *** Sepanjang pagi Kahei bertarung di bagian sebelah selatan, tempat dia menambah jumlah pasukan, takut kekuatan pasukan Saga mengepung perkemahan dari sebelah sana. Terlepas dari kata-katanya yang penuh keyakinan kepada Takeo di malam sebelumnya. kini dia semakin cemas. Berapa lama prajuritnya yang tidak tidur sanggup dapat bertahan dari serangan yang seolah takkan berakhir? Dia mengutuk hujan yang menghalangi mereka menggunakan senjata api, mengingat saat-saat terakhir perang Yaegahara, ketika pasukan Otori, menyadari pengkhianatan dan kekalahan yang tak bisa dihindari, bertempur dengan putus asa hingga nyaris tak seorang pun tersisa. Ayahnya adalah salah satu dari sedikit prajurit yang selamat—apakah sejarah keluarga itu akan terulang lagi, apakah ia pun ditakdirkan kembali ke Hagi dengan membawa berita kekalahan besar? Ketakutannya semakin membakar tekad¬nya untuk meraih kemenangan. *** Takeo bertarung di tengah, mengingat segala yang pernah Guru ksatria dan Tribe ajarkan untuk mengalahkan rasa lelah dan rasa sakit, mengagumi tekad dan disiplin mereka yang berada di sekelilingnya. Sewaktu pasukan Saga berhasil dipukul mundur, ia menunduk melihat Tenba terluka sayatan di bagian dada, merahnya darah bercampur bulu yang basah kuyup dengan air hujan. Sekarang ini, ketika perang berhenti untuk sementara, kuda itu seperti menyadari lukanya, dan mulai gemetar ketakutan. Takeo turun, memanggil seorang prajurit pejalan kaki untuk membawa kuda itu ke perkemahan, lalu bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya dengan berjalan kaki. Sekelompok pasukan berkuda datang dari jalur sempit, kuda-kuda seperti terbang melewati jalur itu. Pedang-pedang berkilat, menghabisi prajurit pejalan kaki yang mundur ke rintangan yang telah mereka dirikan saat pemanah di sebelah utara meluncurkan anak panah. Banyak yang tepat sasaran, tapi Takeo tak tahan memerhatikan kalau jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan hari sebelumnya, dan per-tempuran itu sedikit demi sedikit mengikis kekuatannya. Seperti Kahei, keyakinannya pun mulai berkurang. Ada berapa banyak lagi pasukan yang dimiliki Saga? Persediaannya seperti tidak ada habisnya, dan mereka semua segar dan sudah beristirahat... seperti prajurit berkuda yang kini hampir mendekatinya. Dengan rasa terkejut dikenali pemimpin¬nya adalah Kono. Dilihatnya kuda Maruyama, hadiahnya kini digunakan untuk melawan dirinya, dan merasakan kemarahan dirinya meluap. Setelah ayah orang ini nyaris menghancurkan hidupnya; kini sang anak berkomplot melawannya, berbohong pada¬nya, menyanjung sambil menyusun rencana jahat untuk menjatuhkan dirinya. Dipegang nya Jato dengan erat, mengabaikan rasa sakit dari luka di tangannya, lalu melompat dengan cekatan ke samping agar si bangsawan berhadapan dengannya di sebelah kirinya. Tebasan pertamanya yang cepat ke atas mengenai kaki laki-laki itu dan hampir membuatnya putus: Kono menjerit, mem¬belokkan kuda dan kembali; kini Takeo berada di sebelah kanannya. Saat menunduk di bawah tebasan pedang, dan hendak menikam pergelangan Kono, terdengar pedang di sebelahnya mengarah ke arah punggung-nya. Ia berguling menjauh, berusaha agar tidak terluka dengan pedangnya sendiri. Saat ini kaki-kaki kuda menginjak-injak di sekelilingnya. Takeo beriuang keras menjejakkan kaki dalam genangan lumpur. Pasukan pejalan kaki miliknya sudah merangsek ke depan dengan tombak dan tombak runcing; seekor kuda terjatuh berdebam di sam-pingnya, ter¬sungkur dengan kepala lebih dulu, sudah mati, terperosok ke lumpur yang dalam. Halaman 700 dari 700 Seketika kilat menyala tepat di atas kepala, dan hujan turun makin deras. Di sela-sela deru hujan, Takeo mendengar suara lain, musik pelan dan seperti hantu yang menggema di seluruh tanah datar. Sejenak ia tak memahami artinya. Kemudian kumpulan massa di sekitarnya berkurang. Takeo berdiri, menyeka air hujan dan lumpur dari matanya dengan tangan kanan. Kuda Maruyama tadi melewatinya, Kono memegangi surai dengan dua tangan; kakinya masih menyemburkan darah. Nampaknya laki-laki itu tak memerharikan Takeo; pandangannya terpaku pada keamanan jalur sempit. Mereka mundur, pikir Takeo tak percaya, selagi suara terompet perang tenggelam dalam teriakan kemenangan dan pasukan di sekelilingnya mendesak ke depan mengejar musuh yang melarikan diri.* Para mantan gelandangan, dari desa mereka di Maruyama, berjalan melintasi medan perang untuk merawat kuda yang terluka serta memakamkan yang tewas. Saat jenazah dibaringkan berderet, Kahei, Gemba dan Takeo berjalan menyusuri barisannya, mengenali semua yang bisa mereka kenali, sementara Minoru mencatat nama mereka. Sedangkan pasukan Saga yang tewas dimakamkan dalam satu kubur di tengah tanah lapang. Menebas kepala tak diijinkan. Tanahnya berbatu-batu sehingga kuburnya pun tidak dalam. Burung gagak telah ber¬kumpul, saling memekik dari tebing yang curam. Malam harinya, rubah berkcliaran mencari mangsa. Tonggak pagar pancang ditarik dan sebagian disusun menjadi tandu untuk mengangkut korban lukaluka kembali ke Inuyama. Sisanya digunakan untuk membuat barikade di sepanjang jalur sempit, dan Sonoda Mitsura serta dua ratus pasukannya tetap tinggal untuk menjaganya. Di malam hari keesokan harinya, saat korban tewas sudah dimakamkan, pertahanan sudah ditempatkan dan tidak ada tanda-tanda Saga kembali, sepertinya perang telah berakhir. Kahei memerintahkan pasukan beristirahat; mereka melepas baju zirah, meletakkan senjata, dan segera tertidur. Hujan deras saai Saga Hidcki memerintah¬kan pasukannya mundur, kini berubah menjadi gerimis. Takeo berjalan di antara pasukan yang tertidur sama seperti ketika berjalan di antara korban tewas sebelumnya. Ia mendengarkan desis lembut rintik air hujan di dedaunan dan bebatuan, percik air terjun di kejauhan, kicau burung, merasakan butiran embun di wajah dan rambutnya. Seluruh bagian kanan tubuhnya, dari tumit hingga ke bahu, terasa sakit sekali, dan kelegaan atas kemenangan tenggelam oleh kesedihan melihat harga yang harus dibayar. Ia tahu kalau para prajurit yang kelelahan itu hanya bisa tidur sampai matahari terbit, kemudian harus berjalan ke Inuyama, lalu ke Negara Tengah untuk mencegah Zenko membangun kekuatan di wilayah Barat. Ia amat cemas, ingin pulang secepatnya; peringatan Gemba tentang peristiwa yang telah mengacaukan keselarasan pemerin¬tahannya kembali menyiksa dirinya. Itu hanya bisa berarti sesuatu telah terjadi pada Kaede... Hiroshi telah dipindahkan ke dalam tenda Kahei yang menawarkan kenyamanan tertinggi, dan terlindung dari hujan. Takeo menemukan putrinya di sana, masih mengenakan baju perang, wajahnya masih berlumuran lumpur, kakinya diperban dengan asal-asalan. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya, sambil berlutut di samping Hiroshi, memerhatikan wajah pucat dan napasnya yang terputus-putus. "Dia masih hidup," sahut Shigeko dengan suara pelan. "Kurasa dia agak membaik." "Kita akan membawanya ke Inuyama besok. Tabib Sonoda akan merawatnya." Halaman 701 dari 701 Takeo bicara dengan yakin, meski sebenarnya ia memperkirakan Hiroshi takkan bertahan dalam perjalanan. Shigeko meng¬angguk tanpa bicara. "Kau terluka?" tanya Takeo. "Sebatang anak panah mengenai kakiku. Tidak parah. Aku tak menyadarinya sampai setelah itu. Aku hampir tak bisa berjalan kembali. Mai yang menggendongku." Takeo tidak mengerti ucapan putrinya. Shigeko menatapnya dan berkata dengan cepat, "Mai mengajakku ke tempat Lord Saga. Aku memanah matanya." Mendadak air mata mengambang di pelupuk matanya. "Dia takkan mau menikahiku sekarang!" Air matanya seketika berubah menjadi tawa. "Jadi kami harus berterima kasih padamu atas mundurnya pasukan Saga yang tiba-tiba itu?" Takeo tak kuasa menahan perasaannya atas hasil yang adil ini. Saga tidak menerima kekalahan dalam pertandingan, dia mencari konflik: kini Shigeko membuat dia terluka parah, bahkan mematikan, dan telah memastikan kemenangan mereka. "Aku tidak bermaksud membunuhnya, hanya melukai," ujarnya. "Seperti yang selalu kulakukan selama perang, melumpuhkan tapi tidak membunuh." "Kau telah melakukan tugasmu dengan luar biasa," sahut Takeo, "Kaulah pewaris sejati Klan Otori dan Maruyama." Pujian Takeo membuat air matanya berlinang lagi. "Kau lelah," ujar Takeo. "Tidak lebih lelah dibandingkan yang lainnya; tidak lebih lelah dibandingkan Ayah. Ayah harus tidur." "Pasti, segera setelah memeriksa keadaan Tenba. Ayah ingin menungganginya kembali ke Inuyama. Kahei akan membawa pasukan. Kau dan Gemba harus mendampingi Hiroshi dan korban luka lainnya. Semoga Tenba siap: bila tidak siap, Ayah akan meninggalkannya bersamamu." "Dan kirin," ujar Shigeko. "Ya, bersama kirin yang malang. Hewan itu tidak tahu perjalanan panjang seperti apa yang menantinya, atau akibat apa yang akan terjadi di negeri ini." "Ayah jangan berkuda seorang diri. Ajak seseorang. Ajak Gemba. Dan Ayah boleh menunggang Ashige; aku tidak membutuh¬kan kuda." Awan agak menghilang, dan cahaya redup matahari menyembul saat matahari ter¬benam, pertanda munculnya pelangi di langit. Takeo berharap itu berarti besok akan lebih kering, meski saat ini hujan sudah mulai turun, dan mungkin akan berlangsung selama berminggu-minggu. Tenba berdiri di sebelah kirin, kembali ke bawah rintik hujan, dengan kepala ter¬tunduk. Kuda itu meringkik pelan menyapa saat Takeo menghampiri. Luka di dadanya sudah tertutup dan tampak bersih, tapi kaki kanan kuda itu agak pincang, walau kakinya kelihatan tidak terluka. Takeo menyimpul¬kan kalau otot bahunya terkilir, membawa kuda itu ke kolam air dan membasuhnya dengan air dingin, tapi Tenba tetap saja lebih menggunakan kaki kanan belakangnya, dan kemungkinan tak bisa ditunggangi. Kemudi¬an Takeo ingat pada kuda Hiroshi, Keri. Dia tak ada di antara kuda yang masih hidup. Kuda abu-abu pucat bersurai hitam, anak Raku, pasti tewas, tepat beberapa minggu setelah kematian saudara tirinya, kuda milik Taku, Ryume. Kuda-kuda itu mencapai usia tujuh belas tahun, usia yang baik, tapi kematian mereka membuat ia bersedih. Taku telah tiada, Hiroshi di ambang kematian. Suasana hatinya murung saat kembali ke tenda. Di dalam tampak redup, cahayanya memudar. Shigeko sudah tertidur di samping Hiroshi, wajahnya dekat dengan wajah pemuda itu. Seperti pasangan suami istri. Takeo menatap dengan penuh kasih sayang. "Sekarang kau boleh menikahi laki Halaman 702 dari 702 laki pilihanmu," ujarnya keras. Ia berlutut di sisi Hiroshi lalu menyentuh dahi pemuda itu. Tubuhnya dingin; napasnya melambat dan kian dalam. Takeo mengira Hiroshi tidak sadarkan diri, namun Hiroshi tiba-tiba membuka mata dan tersenyum. "Lord Takeo...." bisiknya. "Jangan bicara dulu. Kau akan baik-baik saja." "Perang?" "Sudah berakhir. Saga mundur." Hiroshi memejamkan mata lagi, namun senyum masih tetap tersungging di bibirnya. Takeo berbaring, semangatnya agak bangkit. Meskipun lukanya terasa sakit, ia segera tertidur, bak awan gelap yang menghilang. *** Ia berangkat menuju Inuyama keesokan paginya, bersama Gemba—sesuai anjurkan Shigeko—dan Minora. Ia berkuda di punggung kuda betinanya yang tenang. Kuda betina dan kuda hitam Gemba segar seperti Ashige, dan perjalanan mereka tempuh dengan cepat; di hari ketiga, demam ringan menyerang Takeo. Perjalanan ditempuhnya dalam rasa nyeri dan juga demam; ia dihantui mimpi dan halusinasi; sesekali suhu badannya meninggi dan gemetaran, tapi menolak berhenti. Di setiap pemberhentian, mereka menyebar kabar tentang perang dan hasilnya, dan segera saja orang berduyun¬duyun ke arah Gugusan Awan Tinggi untuk membawa makanan kepada para prajurit dan membantu membawa korban yang terluka. Hujan yang deras selama berhari-hari bisa berakibat gagal panen. Jalanan berlumpur dan acapkali tergenang air. Seringkali Takeo lupa di mana ia berada, dan mengira tengah berada di masa lalu, menunggangi Aoi di samping Makoto menuju sungai yang meluap dan jembatan yang terputus. Kaede pasti kedinginan, pikirnya. Dia kurang sehat. Aku harus datang dan meng¬hangatkan tubuhnya. Namun badannya sendiri tengah gemetar, dan sekonyong-konyong Yuki ada di sampingnya. "Kelihatannya kau kedinginan," ujarnya. "Mau kuambilkan teh?" "Ya," jawabnya. "Tapi aku tak boleh tidur denganmu karena aku telah beristri." Lalu diingatnya kalau Yuki sudah meninggal, dan takkan tidur dengan dirinya atau orang lain. Rasa menyesal menusuk hatinya atas nasib gadis itu dan peran dirinya dalam kematian itu. Sewaktu tiba di Inuyama, demamnya sudah reda dan pikirannya telah kembali jernih, tapi hatinya tetap cemas. Kecemasan¬nya bahkan tak bisa dihilangkan dengan sambutan sepenuh hati penduduk kota yang merayakan kabar kemenangan dengan menari di jalanan. Adik Kaede, Ai, keluar menyambut di dinding sebelah luar kastil, tempat ia dibantu turun dari kuda oleh Minoru dan Gemba. "Suamimu selamat," katanya dengan segera, dan melihat wajah Ai bersinar dengan perasaan lega. "Syukur kupanjatkan pada Surga," sahut¬nya. "Kau terluka?" "Kurasa aku sudah melewati bagian ter¬buruk. Apakah kau mendapat kabar dari istriku? Aku tidak mendapat kabar apa pun sejak kami pergi di bulan keempat." "Lord Takeo," Ai mulai bicara, dan hati Takeo berdebar ketakutan. Hujan turun lagi dan para pelayan berlari ke depan membawa payung. "Tabib Ishida ada di sini," lanjut Ai. "Akan kupanggil dia. Dia akan merawatmu." "Ishida di sini? Mengapa?" Halaman 703 dari 703 "Dia akan ceritakan semuanya," ujar Ai, kelembutannya menakutkan Takeo. "Mari masuk. Kau ingin mandi dulu? Dan kami akan siapkan makanan bagi kalian." "Ya, aku akan mandi dulu," sahutnya, ingin bersiap dan menguatkan diri untuk mendengar kabar itu. Demam dan nyeri membuat kepalanya pening: pendengarannya agak lebih peka dari biasanya, tapi begitu jernihnya suara menyakitkan telinganya. Ia dan Gemba berjalan ke kolam sumber air panas dan melepas pakaian mereka yang kotor. Dengan hati-hati Gemba menyingkir¬kan perban dari bahu dan lengan Takeo lalu membasuh lukanya dengan air panas. "Lukanya semakin pulih," ujar Gemba, tapi Takeo hanya mengangguk setuju; mereka juga tidak bicara selagi membasuh dan mengeringkan tubuh lalu masuk ke dalam air yang berbuih dan mengandung belerang. Hujan membasahi lembut wajah dan bahu mereka, mengelilingi mereka ber¬dua seakan membawa mereka ke dunia lain. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini," akhirnya Takeo berkata. "Bisakah kau ikut denganku untuk mendengar apa yang telah membawa Ishida ke Inuyama?" "Tentu saja," sahut Gemba. "Mengetahui yang terburuk adalah tahu cara bergerak maju." Ai sendiri yang menyajikan sop dan ikan panggang, nasi dan sayuran musim panas. Mereka makan dengan cepat: Ai menyuruh pelayan membereskan nampan dan mem¬bawakan teh. Saat pelayan kembali, Ishida datang bersama mereka. Ai menuangkan teh ke mangkuk biru berlapis kaca. "Akan kutinggalkan kalian." Sewaktu Ai berlutut untuk menggeser pintu terbuka, Takeo melihatnya mengangkat lengan baju untuk menyeka air mata. "Tak ada luka lainnya?" tanya Ishida, setelah mereka saling memberi salam. "Biar kuperiksa." "Nanti saja," ujar Takeo. "Sudah mulai sembuh." Takeo menghirup teh, hampir tanpa merasakannya. "Kau sudah jauh-jauh kemari, kuharap kau membawa berita baik." "Menurutku kau harus segera mendengar nya," sahut Ishida. "Maafkan aku, aku merasa semua ini salahku. Kau menitipkan istri dan putramu dalam perawatanku. Hal¬hal seperti ini memang sering terjadi; bayi sangatlah lemah. Mereka terlepas dari geng¬gaman kita." Ishida berhenti dan menatap tak berdaya ke arah Takeo, bibirnya berkerut sedih, air mata berlinang di pipinya. Darah Takeo berdentum di telinganya. "Apakah kau hendak mengatakan kalau putraku meninggal?" Kesedihan melanda dirinya, dan air mata menetes. Mahkluk mungil itu, yang nyaris belum dikenalnya, yang kini tak akan bisa dikenalnya. Aku tak kuasa menanggung kabar buruk ini, pikirnya, kemudian, Bila diriku saja tak kuasa menanggungnya, bagaimana Kaede bisa tahan? "Aku harus segera menemui istriku," ujarnya. "Bagaimana istriku menerima keadaan ini? Apakah karena penyakit? Apa¬kah Kaede juga sakit?" "Itu merupakan kematian di masa kanak¬kanak yang tak bisa dijelaskan," tutur Ishida, suaranya pecah. "Bocah mungil itu sehat pada malam sebelumnya, diberi cukup makan, tersenyum juga tertawa, lalu tertidur tanpa rewel, namun tidak pernah terbangun lagi." "Bagaimana bisa begitu?" Tanya Takeo, nyaris marah. "Bukan karena sihir? Bagai¬mana dengan racun?" Teringat olehnya kalau Hana berada di Hagi, mungkinkah dia penyebab kematian putranya? Takeo menangis, tidak berusaha menyem¬bunyikannya. "Tak ada tanda-tanda racun," ujar Ishida. "Sementara sihir—aku benar-benar tidak tahu. Kematian seperti ini tidak wajar, tapi aku sama sekali tak tahu penyebabnya." Halaman 704 dari 704 "Lalu istriku: bagaimana keadaannya? Dia pasti hampir gila karena sedih. Apakah Shizuka bersamanya?" "Banyak hal buruk terjadi sejak kau pergi," bisik Ishida. "Istriku baru saja kehilangan putranya. Sepertinya dia menjadi gila karena sedih. Dia duduk tanpa makan di depan Daifukuji, di Hofu, dan menyerukan pada putra sulungnya untuk bertindak dengan adil. Sebagai jawabnya, Zenko mundur dalam keadaan gusar ke Kumamoto, tempat dia membangun kekuatan militer." "Istri Zenko dan putranya berada di Hagi," ujar Takeo. "Tentu dia tidak akan menyia-nyiakan nyawa mereka." "Hana dan kedua putranya sudah tidak di Hagi," ujar Ishida. "Apa? Kaede membiarkan mereka pergi?" "Lord Takeo," tutur Ishida dengan sedih. "Kaede pergi bersama mereka. Mereka dalam perjalanan ke Kumamoto." "Ah!" ujar Gemba pelan. "Kini kita tahu apa yang salah." Dia tak menangis, namun ekspresi kesedihan serta welas asih terlukis di wajahnya. Dia bergeser mendekati Takeo, seakan ingin menopang tubuh Takeo. Takeo duduk diam membeku. Telinganya sudah mendengar kata-kata itu, namun benaknya masih belum memahaminya. Kaede meninggalkan Hagi? Dia pergi ke Kumamoto, menyerahkan diri ke tangan yang tengah berkomplot menentang dirinya? Mengapa istrinya mau melakukan hal semacam itu? Bergabung dengan suami adik¬nya? Tidak bisa dipercaya kalau istrinya melakukan itu. Namun sebagian dalam dirinya merasa tercabik-cabik, seolah seluruh tangannya terenggut habis. Dirasakan semangatnya naik turun menuju kegelapan, dan melihat kalau kegelapan itu akan melahap seluruh negara nya. "Aku harus menemuinya," ujarnya. "Gemba, siapkan kuda. Kira-kira sudah sampai di mana mereka sekarang? Kapan mereka berangkat?" "Aku pergi kira-kira dua minggu lalu," sahut Ishida. "Mereka pasti pergi beberapa hari kemudian, lewat Tsuwano dan Yamagata." "Bisakah aku mencegat mereka di Yamagata?" tanya Takeo pada Gemba. "Jaraknya seminggu berkuda." "Aku akan sampai di sana dalam tiga hari." "Mereka berjalan dengan lambat," tutur Ishida. "Tak satu pun sanggup menghibur atau mencegah kepergiannya. Yang terpikir olehku adalah meminta bantuan Ai, maka aku pergi diam-diam dari Hagi, seraya berharap bertemu denganmu dalam per¬jalanan pulang." Ishida tidak memandang Takeo: sikap bersalah sekaligus bingung. "Lord Takeo," lanjutnya, tapi Takeo tak mengijinkannya melanjutkan. Benaknya seketika mulai ber¬pacu, mencari-cari jawaban, membantah dan memohon, menjanjikan apa saja pada dewa manapun, agar istrinya tidak meninggalkan dirinya. "Hiroshi luka parah, Shigeko luka ringan," tutur Takeo. "Kirin juga mungkin butuh perhatianmu. Rawat mereka sebaik-baiknya, dan begitu sanggup bepergian, bawa mereka ke Yamagata. Aku akan ke sana dan mencari tahu apa yang telah terjadi. Minoru, kirim pesan sekarang juga kepada Miyoshi Kahei; beritahukan keberangkatanku." Takeo ber¬henti bicara lalu menatap Gemba dengan pandangan penuh kesedihan. "Aku harus bersiap untuk bertarung melawan Zenko. Tapi bagaimana aku sanggup berperang melawan istriku sendiri?"* Halaman 705 dari 705 Di Hofu, gelombang pasang di awal bulan kelima datang setelah siang hari di Waktu Kuda*. Pelabuhan dalam puncak kesibukan¬nya, dengan arus kapal yang datang dan pergi memanfaatkan angin barat untuk menuju Akashi dengan membawa hasil bumi Tiga Negara. Rumah makan dan penginapan dijejali orang yang baru turun dari kapal. Mereka minum sambil bertukar berita dan cerita, menyuarakan kekagetan dan penyesalan atas kematian Muto Taku; mengagumi mukjizat yang dialami Shizuka, yang diberi makan oleh burung-burung di Daifukuji; kesal pada Zenko yang sangat tidak berbakti pada orangtua dan menghina dewa-dewa serta pasti akan dihukum atas perbuatannya. Penduduk Hofu adalah orang¬orang yang pemberani dan juga keras kepala. Mereka membenci perbudakan oleh Tohan dan Noguchi; maka mereka pun tak ingin kembali ke masa-masa di bawah kepemim¬pinan Arai. Kepergian Zenko dari kota itu disertai dengan cemooh dan berbagai bentuk ______________________________ *) Waktu Kuda: berkisar antara jam 11.00 s/d jam 13.00. ungkapan dendam atau kebencian: para pengawal Arai yang berada di bagian belakang rombongan bahkan dilempari kotoran atau sampah, bahkan dilempari batu. Miki dan Maya melihat sedikit kejadian ini; mereka berlari dengan menghilangkan diri melewati jalanjalan yang sempit, dengan saru tujuan: menjauhkan diri dari Hisao dan Akio. Maya sudah kelelahan karena tidak tidur semalaman, pertemuan dengan Hisao, percakapan dengan hantu perempuan. Ia selalu menoleh ke belakang dengan gugup saat mereka lari, seolah yakin Hisao akan mengejar; pemuda itu takkan membiar¬kannya pergi. Dan Akio pasti sudah tahu tentang si kucing. Hisao pasti dihukum, pikirnya, tapi tak tahu apakah pikiran itu membuatnya gembira atau sedih. Merasakan kalau kemampuan meng¬hilangnya sirna saat ia kelelahan, Maya melambatkan larinya untuk mengatur napas, dan melihat Miki muncul kembali di sebelahnya. Jalan di sini sepi; kebanyakan orang berada di dalam rumah untuk makan siang. Di luar toko kecil, seorang laki-laki tengah berjongkok mengasah pisau dengan batu asah, mengambil air dari kanal kecil. Orang itu melonjak kaget melihat ke¬munculan mereka yang tiba-tiba hingga pisau yang dipegangnya jatuh. Maya panik, tidak berdaya. Tanpa berpikir panjang, diambilnya pisau itu lalu dia tusuk tangan laki-laki itu. "Apa yang kau lakukan?" pekik Miki. "Kita butuh senjata, makanan dan uang," jawab Maya. "Dia akan berikan untuk kita." Laki-laki itu menatap dengan tak percaya pada darahnya sendiri. Maya berguling lalu muncul di belakang laki-laki itu, melukainya lagi, kali ini di leher. "Beri kami makanan dan uang, atau kau akan mati," ujarnya. "Adik, ambil pisau juga." Miki mengambil pisau kecil dari tempat¬nya tergetak di atas selembar kain yang terhampar di tanah. Didekatinya laki-laki itu di bagian tangan yang tidak terluka lalu membimbingnya masuk ke dalam toko. Bola matanya terbelalak ketakutan, ditunjukkan¬nya tempat dia menyimpan beberapa koin, dan memaksakan kue mochi ke dalam geng¬gaman tangan Maya. "Jangan bunuh aku," dia memohon. "Aku membenci kejahatan Lord Arai: aku tahu dia telah manghasut dewa-dewa menentangnya, tapi aku tidak terlibat di dalamnya. Aku hanyalah seorang perajin yang miskin." "Dewa menghukum rakyat atas kejahatan penguasanya," Maya mengoceh. Kalau si bodoh ini mengira mereka adalah iblis atau hantu, maka ia harus memanfaatkan sebaik¬baiknya. "Apa-apaan tadi itu?" tanya Miki sewaktu mereka meninggalkan toko, kini keduanya bersenjatakan pisau yang disembunyikan di balik pakaian. Halaman 706 dari 706 "Akan kuceritakan nanti. Ayo kita cari tempat untuk bersembunyi sebentar, tempat yang ada airnya." Mereka mengikuti kanal sampai ke jalan yang mengarah keluar kota menuju utara. Mereka tiba di jalan ke biara, hutan kecil mengelilingi kolam sumber air. Di sini mereka minum sebanyak-banyaknya, dan menemukan tempat yang terlindung di balik semak-semak, tempat mereka duduk dan ber¬bagi kue mochi. Burung gagak memekik di ketinggian pohon cedar, dan jangkrik yang berderik membosankan. Peluh bercucuran di wajah kedua gadis itu, dan di balik pakaian terasa lembap dan gatal. Maya berkata, "Paman tengah menyiapkan pasukan melawan Ayah. Kita harus ke Hagi lalu memperingatkan Ibu. Bibi Hana sedang dalam perjalanan ke sana. Ibu tidak boleh percaya kepadanya." "Tapi Maya, kau gunakan kemampuan Tribe untuk melawan orang yang tidak bersalah. Ayah melarang kita melakukan hal itu." "Dengar, Miki, kau tidak tahu apa yang sudah kualami. Aku melihat Taku dan Sada dibunuh di depan mataku. Aku ditawan Kikuta Akio." Sesaat dikiranya kalau ia akan menangis, tapi perasaan itu segera berlalu. "Dan bocah itu, yang berseru-seru me¬manggilku, adalah Kikuta Hisao; dia adalah cucu Kenji. Kau pasti pernah mendengar tentang dia di Kagemura. Ibunya, Yuki, menikah dengan Akio, tapi setelah bocah itu lahir, Kikuta memaksanya bunuh diri. Itu sebabnya Kenji menggiring Tribe kepada Ayah." Miki mengangguk, dia sudah mendengar semua kisah Tribe ini sejak kecil. "Lagipula, pada akhirnya, tidak ada orang yang tidak bersalah," tutur Maya. "Sudah menjadi takdir orang itu berada di sana saat itu." Gadis itu menatap permukaan kolam dengan murung. Ranting pohon cedar dan awan di belakangnya memantul di per¬mukaan yang tenang. "Hisao adalah kakak kita," katanya seketika. "Orang mengira dia putra Akio, tapi sebenarnya bukan. Dia putra Ayah." "Itu tidak mungkin," ujar Miki dengan suara lemah. "Benar. Dan ada ramalan yang mengata¬kan bahwa Ayah hanya bisa dibunuh oleh putranya sendiri. Hisao akan membunuh Ayah, kecuali bila kita mencegahnya." Maya menatap Miki. Dia hampir lupa akan keberadaan bayi yang baru lahir, seolah dengan tidak mengakui kelahiran adiknya itu. Maya belum pernah melihatnya, mau¬pun memikirkannya. Seekor nyamuk hinggap di tangannya dan dia menepuknya. Miki berkata, "Ayah pasti tahu tentang ini." "Kalau sudah tahu, mengapa Ayah tidak berbuat apa-apa?" sahut Maya, merasa heran mengapa hal ini membuat ia begitu marah. "Jika Ayah memilih untuk tidak berbuat apa-apa, seharusnya kita juga begitu. Lagi- pula, apa yang bisa Ayah lakukan?" "Ayah seharusnya membunuh Hisao. Lagi¬pula Hisao pantas mendapatkannya. Dia itu jahat, orang paling jahat yang pernah ku¬temui, lebih jahat dari Akio." "Tapi bagaimana dengan adik bayi kita?" tanya Miki lagi. "Jangan membuat semuanya menjadi rumit, Miki!" Maya berdiri mengibaskan debu dari pakaiannya. "Aku mau pipis," ujar¬nya, menggunakan bahasa laki-laki, lalu ber¬jalan lebih jauh memasuki hutan. Di sini ada batu nisan yang berlumut dan terbengkalai. Maya berpikir kalau ia tak boleh mengotori¬nya, maka dipanjatnya dinding samping lalu membuang hajat. Saat ia memanjat dengan susah payah kembali ke sisi dinding yang sebelumnya, bumi bergetar, dan dirasakan¬nya bebatuan merekah di bawah tangannya. Maya setengah terjatuh ke atas tanah, merasa pusing selama beberapa saat. Puncak pe¬pohonan cedar masih bergetar. Pada saat itu dirasakannya keinginan untuk menjadi si kucing, bersamaan dengan perasaan yang tidak dikenalinya, yang membuatnya gelisah. Halaman 707 dari 707 Ketika dilihatnya Miki duduk di samping kolam, ia terkejut melihat betapa kurusnya adiknya itu kini. Hal ini membuatnya merasa kesal. Maya tak ingin mencemaskan keadaan Miki: ia ingin segalanya tetap seperti biasa¬nya, ketika mereka seperti memiliki satu pikiran. Ia tak ingin Miki tidak sepaham dengan dirinya. "Ayo," katanya. "Kita harus segera pergi." "Apa rencana kita?" tanya Miki sewaktu berdiri. "Tentu saja pulang." "Apakah kita akan berjalan kaki sampai ke rumah?" "Ada ide yang lebih baik?" "Kita bisa meminta bantuan dari se¬seorang. Seorang laki-laki bernama Bunta datang bersama Shizuka dan aku. Dia akan menolong kita." "Apakah dia Muto?" "Imai." 'Tak satu pun dari mereka bisa dipercaya lagi," sahut Maya dengan perasaan jijik. "Kita harus pergi sendiri." "Tapi jaraknya jauh sekali," ujar Miki. "Butuh waktu seminggu berkuda dari Yamagata, berkuda secara terbuka dengan dua orang laki-laki yang membantu kita. Dari Yamagata ke Hagi berjarak sepuluh hari. Bila kita berjalan kaki dan sambil ber sembunyi, akan makan waktu tiga kali lebih lama. Lalu bagaimana kita mendapatkan makanan?" "Seperti yang tadi kita lakukan," sahut Maya, seraya menyentuh pisaunya yang tersembunyi. "Kita akan mencurinya." "Baiklah," ujar Miki tidak senang. "Apa¬kah kita akan mengikuti jalanan mama?" Ia memberi isyarat ke arah jalan berdebu yang berbelok-belok menuju sawah yang meng¬hijau ke arah pegunungan yang berselimut¬kan pepohonan. Maya mencermati para pelancong yang berjalan menyusuri jalan itu dari kedua arah: ksatria berkuda, perempuan bertopi dan berkerudung lebar pelindung sinar matahari, biarawan berjalan dengan tongkat dan mangkuk pengemis, penjaja dagangan, pedagang, peziarah. Be-berapa di antara mereka mungkin saja menahan dan menghentikan mereka berdua, yang ter¬buruk, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Atau mereka mungkin saja orang Tribe yang sedang mengejar. Maya menoleh ke belakang, ke arah kota, setengah berharap melihat Hisao dan Akio mengejar. Ia bimbang dan disadarinya ternyata ia rindu dan ingin bertemu Hisao lagi. Tapi aku membencinya! Bagaimana bisa aku ingin berjumpa dengannya? Berusaha menyembunyikan perasaan ini dari Miki, ia berkata, "Walau aku berpakaian laki-laki, siapa pun bisa melihat kalau kita kembar. Kita tak ingin menjadi perhatian. Kita akan berjalan melewati pegunungan." "Kita akan kelaparan," protes Miki, "atau tersesat. Ayo kembali ke kota saja. Ayo kita temui Shizuka." "Dia berada di Daifukuji," ujar Maya, ingat perkataan gadis pelayan itu. "Berpuasa dan berdoa. Kita boleh kembali. Akio mungkin sudah menunggu kita di sana." Rasa tegangnya makin bertambah; Maya bisa merasakan tarikan itu dalam dirinya, merasakan kalau pemuda itu sedang mencari¬nya. Mendadak Maya melompat, mendengar suara Hisao. Datanglah kepadaku. Suara itu bergema seperti bisikan di sela¬sela hutan. "Kau dengar itu?" Dicengkeram¬nya tangan Miki. "Apa?" "Suara itu. Itu dia." Miki berdiri, mendengarkan dengan seksama. "Aku tidak dengar siapa-siapa," Halaman 708 dari 708 "Ayo pergi," ajak Maya, ia melihat ke angkasa. Matahari sudah bergeser dari titik puncaknya ke arah barat. Jalan hampir mengarah ke utara, melewati sebagian besar daerah tersubur di Tiga Negara, mengikuti aliran sungai di sepanjang jalan menuju Tsuwano. Sawah terbentang di kedua sisi lembah, rumah dan gubuk petani benebaran di tengah daerah persawahan. Jalan ter¬bentang di sepanjang sisi barat sampai ke jembatan di Kibi. Juga ada jembatan baru, tepat sebelum Sungai Yamagata. Sungai itu sering meluap, tapi berjarak satu hari per¬jalanan ke utara Hofu, sungainya makin dangkal, deburan air berbuih menghempas bebatuan. Mereka sudah sering melewati jalan ini; Miki yang terakhir kali, hanya beberapa hari lalu, sedangkan Maya saat musim gugur se¬belumnya, bersama Taku dan Sada. "Aku penasaran di mana kedua kuda betina itu," ujarnya pada Miki saat me¬langkah dari bawah naungan pepohonan lalu berjalan di bawah teriknya matahari. "Kau tahu, aku kehilangan mereka." "Kuda betina apa?" "Kuda pemberian Shigeko untuk per¬jalanan dari Maruyama." Selagi mereka mulai berjalan menanjak menaiki lereng ke pepohonan bambu, Maya menceritakan dengan singkai tentang serangan itu, dan kematian Taku dan Sada. Setelah selesai bercerita, Miki menangis tanpa suara, namun mata Maya kering. "Aku memimpikanmu," ujar Miki, seraya menyeka mata dengan tangan. "Aku memimpikanmu sebagai si kucing, dan aku adalah bayangannya. Aku tahu sesuatu yang mengerikan terjadi padamu." Sejenak Miki terdiam, lalu berkata, "Apa¬kah Akio menyakitimu?" "Dia mencekikku untuk membungkam mulutku, lalu memukulku beberapa kali, hanya itu." "Bagaimana dengan Hisao?" Maya mulai berjalan lebih cepat, sampai hampir berlari kecil di sela-sela batang pohon yang berwarna keperakan. Seekor ular kecil melintas di depan mereka, menghilang ke semak belukar, dan di suatu tempat di sebelah kiri mereka terdengar kicau burung kecil. Derik jangkrik kedengaran makin kencang. Miki pun ikut berlari. Mereka menyelinap dengan mudah di antara batang-batang bambu. "Hisao adalah penguasa alam baka," ujar Maya, ketika akhirnya lereng yang semakin curam memaksanya untuk melambatkan langkah. "Penguasa alam baka dari Tribe?" "Ya. Dia bisa menjadi luar biasa kuat, hanya saja dia tidak tahu bagaimana meng¬atasinya. Tak ada orang yang pernah meng¬ajarinya, selain cara bertindak kejam. Dan dia bisa membuat senjata api. Kurasa ada orang yang mengajarinya." Matahari tergelincir di balik puncak tinggi pegunungan di sebelah kiri mereka. Tidak akan ada bulan, dan awan rendah menyebar di langit dari arah selatan; juga tidak akan ada bintang. Rasanya waktu sudah lama berlalu sejak mereka makan kue mochi di biara tadi. Sambil berjalan, kedua gadis itu kini mulai secara naluriah mencari makanan: jamur yang tumbuh di bawah pohon pinus, wineberry, akar halus bambu, pucuk pakis yang sudah tua, meski semua ini makin sulit ditemukan. Sejak kecil mereka diajarkan oleh Tribe untuk hidup dari alam, mengumpul kan daun, akar dan buah-buahan sebagai makanan juga racun. Mereka mengikuti bunyi gemericik air dan minum dari sebuah sungai kecil. Di sungai juga menemukan kepiting kecil yang mereka makan hidup-hidup, mengisap daging berlumpur dari cangkangnya yang rapuh. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan selama senja yang panjang sampai malam sudah terlalu gelap hingga tak bisa melihat apa-apa. Kini mereka berada di lebatnya hutan, dan terdapat banyak tebing dengan batuan yang menonjol dan pohon tumbang yang menyediakan tempat bernaung. Mereka sampai di sebatang pohon beech besar yang setengah tercabut akarnya akibat gempa atau badai. Daun rontok selama ber¬tahun-tahun menyediakan kasur yang empuk, dan batangnya yang besar dan akar¬nya membentuk liang. Bahkan ada kacang¬kacangan yang masih bisa dimakan di Halaman 709 dari 709 antara dedaunan. Kedua gadis itu berbaring, be¬rangkulan. Dalam pelukan adiknya, Maya mulai merasa rileks, seolah dirinya menjadi utuh kembali. Maya tidak yakin apakah dia mengucap¬kan kata-kata itu atau hanya memikirkannya. Hisao menyayangi kucing itu dan dia adalah penguasanya. Miki agak memutar badannya. "Kurasa aku tahu itu. Aku merasakannya: aku me¬mutuskan ikatan antara pemuda yang me¬manggilmu dan si kucing; dan kau berubah ke wujud aslimu." Tambahan lagi, ibunya selalu bersamanya. Saat Hisao bersama si kucing, ia bisa bicara dengan arwah ibunya." Tubuh Miki agak gemetar. "Kau pernah melihatnya?" "Sudah." Terdengar suara burung hantu di pe¬pohonan di atas mereka, membuat keduanya melonjak kaget, dan di kejauhan terdengar jerit rubah betina. "Apakah saat itu kau takut?" bisik Miki. "Tidak." Maya memikirkannya. "Tidak," ulangnya. "Aku merasa iba. Dia dipaksa mati sebelum waktunya, dan harus menyaksikan putranya diubah menjadi jahat." "Mudah sekali menjadi jahat," ujar Miki pelan. Udara terasa menjadi agak dingin, dan cahaya menerangi tanah. "Hujan," ujar Maya. Dengan rintik-rintik pertamanya, bau lembap mulai muncul dari tanah. Mengisi cuping hidungnya dengan kehidupan sekaligus kematian. "Apa kau lari darinya? Sekalian pulang, maksudku?" "Dia sedang mencariku, memanggilku." "Dia mengikuti kita?" Maya tak langsung menjawab. Tubuhnya menyentak-nyentak gelisah. "Aku tahu Ayah dan Shigeko belum pulang, tapi Ibu akan melindungi kita, kan? Begitu kita sampai di Hagi, baru aku akan merasa aman." Tapi bahkan setelah kata-kata itu lepas dari mulutnya, ia pun tak yakin kalau semua ucapannya benar. Sebagian dari dirinya takut pada laki-laki itu dan ingin menjauh. Sebagian lagi ditarik kembali kepadanya, ingin bersama pemuda itu dan berjalan ber¬sama di antara dunia. Apakah aku sudah menjadi jahat? Maya mengingat tukang asah pisau yang dilukai dan dirampoknya tanpa pikir panjang. Ayah pasti marah padaku, pikirnya; merasa bersalah dan tidak menyukai perasaan itu, ia menuangkan rasa marah untuk memadam¬kannya. Ayah yang memaksaku; ini salah Ayah hingga aku menjadi seperti ini. Seharusnya Ayah tidak mengirimku pergi jauh. Seharusnya Ayah tidak boleh begitu sering meninggalkanku saat aku masih kecil. Seharusnya Ayah bilang kalau Ayah punya anak laki-laki. Seharusnya Ayah tidak boleh punya anak laki-laki!


Baca Selanjutnya....

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified