Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Harsh Cry of the Heron Part 1a

Sesaat sebelum tengah hari, Takeo berdiri dan mengatakan bahwa ingin sendirian di taman sebentar, lalu berjalan menyusuri aula utama ke aula yang lebih kecil di belakangnya. Perempuan itu masih berlutut dengan sabar di tempat yang sama. Takeo memberi isyarat dengan gerakan tangan saat berjalan melewatinya, meminta agar perempuan itu mengikutinya. Bangunan kuil menghadap ke timur; sisi sebelah selatan bermandikan cahaya, namun di beranda. di bawah bayangan gelap dari atap yang melengkung, udara masih terasa dingin. Dua rahib muda yang sedang bertugas membersihkan patung dan menyapu lantai mengundurkan diri tanpa bicara. Takeo duduk di pinggiran beranda: hayunya yang telah termakan cuaca berwarna abu-abu ke-pcrakan dan masih hangat terkena cahaya matahari. Terdengar olehnya keraguan dalam langkah kaki Madaren di atas kerikil jalan setapak, terdengar pula deru napasnya yang cepat dan pendek. Burung gereja berkicau di taman dan merpati bergumam di pepohonan cedar. Madaren berlutut lagi, menyembunyikan wajahnya. "Tidak perlu takut," ujar Takeo. Halaman 488 dari 488 "Ini bukan ketakutan," sahut Madaren setelah beberapa saat. "Aku... tidak mengerti. Mungkin aku telah melakukan kesalahan besar. Tapi Lord Otori sekarang bicara berdua saja denganku, yang tak akan pernah terjadi kecuali dugaanku benar adanya." "Kita saling mengenali semalam," ujar Takeo. "Memang benar aku kakakmu. Tapi sudah bertahuntahun lamanya sejak terakhir kali ada orang yang memanggilku Tomasu." Madaren menatap langsung matanya; Takeo tidak membalas tatapannya, malah memalingkan wajah ke arah bayangan gelap rumpun pepohonan, dan dinding di ke¬jauhan tempat kirin mengayunkan kepalanya di atas genteng bak mainan anak-anak. Ia sadar kalau ketenangannya tampak seperti ketidakacuhan bagi Madaren, dan juga tahu ada semacam amarah terpendam dalam diri adiknya. Nada suara Madaren nyaris terdengar seperti tuduhan. "Selama enam belas tahun kudengar balada dan cerita yang digubah tentang dirimu. Kau tampak seperti pahlawan yang jauh tak tergapai dan cuma legenda: bagai¬mana bisa kau adalah Tomasu dari Mino? Apa yang terjadi padamu ketika aku dijual dari satu rumah bordil ke rumah bordil lainnya?" "Aku diselamatkan Lord Otori Shigeru: beliau mengangkatku menjadi pewarisnya dan menginginkan aku menikah dengan Shirakawa Kaede, pewaris Maruyama." Itu garis besar paling sederhana dari perjalanan luar penuh gejolak yang telah menggiringnya menjadi orang paling ber¬kuasa di Tiga Negara. Madaren bicara dengan nada kecut, "Kulihat kau berdiri di hadapan patung emas. Dan aku tahu dari cerita-cerita bahwa kau pemah membunuh orang lain.." Kepala Takeo bergerak sedikit untuk membenarkan kata-kata adiknya. Seraya ber¬tanya-tanya apa yang diinginkan Madaren darinya, apa yang bisa ia lakukan untuk adiknya : apa saja, yang bisa memulihkan hidupnya yang telah terlanjur hancur. "Kurasa ibu dan kakak kita..." kata Takeo dengan sedih. "Keduanya sudah mati. Aku bahkan tidak tahu di mana jasad mereka." "Aku minta maaf atas semua penderitaan yang telah kau alami." Takeo menyadari bahkan saat ia bicara pun nada suaranya kaku dan terlalu dibuat-buat, ia tak punya cukup kata-kata untuk mengungkapkannya. Jarak di antara mereka sudah terbentang terlalu jauh. Tidak ada cara yang bisa mereka lakukan untuk saling mendekati. Bila mereka masih menganut kepercayaan yang sama mungkin mereka bisa memanjatkan doa bersama, namun kini kepercayaan masa kecil yang dulu menyatukan mereka justru menjadi penghalang yang tak bisa dilalui. Mengetahui itu membuat ia tertekan dan iba. "Jika kau butuh apa pun, kau bisa mendekati pejabat kota yang berwenang," tutur Takeo. "Akan kupastikan kau diurus dengan baik. Tapi aku tidak bisa mengumumkan tentang hubungan kekeluar¬gaan kita, dan aku harus memintamu umuk tidak mengatakannya pada siapa pun." Takeo melihat kalau ia telah menyakiti adiknya, dan rasa iba muncul lagi, tapi juga tahu kalau ia tak bisa membiarkan adiknya mengambil tempat lebih banyak lagi dalam kehidupannya selain dengan cara seperti ini: berada dalam perlindungannya. "Tomasu," kata Madaren. "Kau adalah kakakku. Kita saling memiliki kewajiban. Kau satu-satunya keluargaku. Aku bibi dari anak-anakmu. Dan aku pun memiliki tugas spiritual terhadapmu. Aku peduli pada jiwamu. Aku tak bisa melihatmu masuk neraka!" Takeo bangkit lalu berjalan menjauh. "Tidak ada yang namanya neraka," sahutnya sambil sedikit memalingkan wajah. "Selain neraka yang diciptakan manusia di bumi. Jangan coba-coba mendekatiku lagi."* Halaman 489 dari 489 "Dan murid-murid pengikut Sang Pen-cerah melihat macan dan anak-anaknya yang sedang kelaparan," tutur Shigeko dengan suaranya yang khidmat, "dan tanpa memikir¬kan nyawanya sendiri, mereka pergi ke tebing yang sangat curam lalu menghempaskan diri di bebatuan di bawahnya. Lalu macan-macan itu bisa memakan mereka." Sore itu terasa hangat di awal musim panas, dan ketiga gadis itu diperintahkan belajar di rumah sampai udara panas ber¬kurang. Selama beberapa saat mereka berlatih menulis dengan rajin, lalu dengung meleng¬king jangkrik dan udara yang terasa lembut membuat mereka mengantuk. Mereka sudah keluar sebelum matahari terbit, dan sedikit demi sedikit tubuh mereka menjadi lebih santai dari posisi formal saat duduk menulis. Shigeko dengan mudah terbujuk untuk membuka gulungan gambar hewan lalu membacakan ceritanya. Namun sepertinya cerita yang paling baik mesti memiliki moral cerita. Shigeko berkata dengan khidmat, "Itulah contoh yang mesti kita teladani; kita harus menyerahkan nyawa kita agar bermanfaat bagi seluruh makhluk yang berperasaan peka." Maya dan Miki saling bertukar pandang. Mereka amat menyayangi kakak mereka, namun belakangan ini Shigeko terlalu gemar menceramahi mereka. "Aku lebih suka jadi macannya," ujar Maya. "Lalu memakan para murid yang mati itu!" timpal adik kembarnya sepakat. "Harus ada orang yang menjadi makhluk yang berperasaan peka," bantah Maya ketika melihat Shigeko mengernyitkan dahi. Maya baru saja kembali setelah beberapa minggu tinggal di Kagemura, desa ter¬sembunyi Muto, untuk berlatih dan meng¬asah bakat. Selanjutnya giliran Miki. Si kembar jarang bersama; tanpa pernah sepenuhnya mengerti sebabnya, dia tahu kalau itu ada hubungannya dengan perasaan ibu mereka. Kaede tidak suka melihat mereka bersama. Wajah mereka yang serupa mem buat Kaede kesal. Sebaliknya, Shigeko selalu membela mereka, bahkan saat tak bisa mem¬bedakan keduanya. Mereka tidak suka berpisah, tapi akhimya mulai terbiasa. Shizuka menenangkan mere¬ka, mengatakan kalau itu akan membuat ikatan batin di antara mereka makin kuat. Dan ternyata memang demikian adanya. Jika Maya sakit, Miki pun sakit. Kadang mereka bertemu dalam mimpi; mereka nyaris tidak bisa melihat dengan jelas antara apa yang terjadi di dunia lain dan apa yang terjadi dunia nyata. Saat-saat terbaik adalah ketika ayah mereka datang ke desa rahasia Tribe, kadang membawa salah satu dari mereka dan meng¬ajak yang satunya pulang. Selama beberapa hari bersama, mereka menunjukkan apa yang telah mereka pelajari dan kemampuan baru yang mulai muncul. Dan Takeo yang ketika di dunia Otori menjaga jarak dan bersikap formal, di dunia Muto berubah menjadi orang yang berbeda, guru seperti Kenji dan Taku, memperlakukan mereka dengan disiplin keras. Ketika mereka mandi bersama di mata air panas dan menghujaninya dengan cipratan, mereka menelusuri bekas luka di badan ayahnya dan tak lelah mendengarkan kisah di balik setiap bekas luka dmulai dengan pertarungan melawan Kotaro ketua Kikuta yang hingga ayah mereka kehilangan dua jari di tangan kanannya. Halaman 490 dari 490 Saat nama Kikuta disebut, si kembar tanpa sadar menyentuh ujung jari mereka pada lekukan yang melintang di telapak tangan mereka, menandai diri mereka seperti sang ayah, seperti Taku, sebagai Kikuta. Itu me¬rupakan lambang jalur sempit yang mereka lalui di antara dunia. Mereka tahu kalau sang ibu tidak menyukai kemampuan Tribe yang mereka miliki, dan bahwa klas ksatria menganggap mereka penyihir: mereka belajar sejak dini apa yang bisa dibanggakan di desa Muto haruslah disembunyikan di kastil seperti Hagi atau Yamagata, tapi terkadang godaan untuk mengelabui guru-guru mereka, mem¬permainkan kakak perempuan mereka atau menghukum orang yang lewat di depan mereka sulit dibendung. "Kau seperti aku ketika aku masih kecil," ujar Shizuka ketika Maya bersembunyi selama setengah hari tanpa bergerak di dalam keranjang bambu, atau ketika Miki memanjat kayu kaso selentur dan secepal kera liar, menghilang di balik atap yang terbuat dari ilalang. Shizuka jarang marah. "Nikmati saja," tuturnya. "Tidak ada yang lebih menyenangkan." "Kau beruntung Shizuka. Kau ada di sana saat Inuyama jatuh! Kau bertarung bersama Ayah!" "Sekarang Ayah mengatakan tak akan ada lagi perang; kita takkan menghadapi per¬tarungan yang sebenamya." "Berdoa saja takkan ada perang lagi," ujar Shigeko. Si kembar mengerang. "Berdoalah seperti kakak kalian agar kalian tidak pernah mengenal perang yang sebenar¬nya," Shizuka memperingatkan mereka. Maya kembali ke pokok pembicaraan tadi. "Jika tidak akan ada perang, mengapa Ayah dan Ibu memaksa kami belajar kemampuan bertarung?" tanyanya, karena ketiga gadis itu, layaknya anak kelas ksatria, belajar memanah, menunggang kuda serta menggunakan pedang, diajarkan oleh Shizuka dan Sugita Hiroshi atau ksatria besar lainnya di Tiga Negara. "Kata Lord Hiroshi siap perang adalah pertahanan terbaik melawannya," sahut Shigeko. "Lord Hiroshi," bisik Miki, sambil menyi¬kut Maya. Kedua gadis kembar itu tertawa cekikikan. Wajah Shigeko bersemu merah. "Apa?" tanyanya. "Kau selalu mengatakan ucapan Lord Hiroshi, lalu wajahmu bersemu merah." "Aku tidak menyadari itu," kata Shigeko, menutupi rasa malu dengan berbicara dengan nada resmi. "Lagipula, itu tidak berarti apa¬apa. Hiroshi adalah salah satu guru—yang sangat bijaksana. Sudah sewajarnya aku mempelajari peribahasa yang dipakainya." "Lord Miyoshi Gemba juga salah satu gurumu," ujar Miki. "Tapi kau jarang mengutip apa yang dikatakannya." "Dan Lord Miyoshi tidak membuat wajah¬mu merah!" timpal Maya. "Kurasa kalian seharusnya bisa jauh lebih baik dalam menulis, adik-adikku. Jelas sekali kalian perlu banyak latihan. Ambil kuasnya!" Shigeko membuka satu gulungan lagi| lalu mulai mendiktekannya. Isinya adalah salah satu hikayat kuno Tiga Negara, penuh dengan istilah sulit dan kejadian yang sukar dimengerti. Shigeko harus mempelajari semua sejarah ini, begitu pula dengan si kembar. Shigeko berharap pelajaran itu bisa meng-hukum mereka karena menggodanya soal Hiroshi, dan berharap mencegah mereka membicarakan tentang topik itu lagi. Shigeko memutuskan untuk lebih berhati¬hati, tidak membiarkan dirinya dengan bodohnya menyebut nama Hiroshi. Untungnya laki-laki itu sudah kembali ke Maruyama untuk mengawasi hasil panen dan persiapan upacara pengukuhan ia menjadi pewaris wilayah itu. Hiroshi sering menulis surat, karena dia pengawal senior dan orangtuanya berharap ia mengenal setiap detil wilayahnya. Surat¬suratnya bersifat resmi, tapi Shigeko suka melihat tulisan tangannya, bergaya tulisan tangan ksatria, tebal dan dibentuk dengan baik. Surat-surat itu menyebut nama para tetua serta karakter mereka, dan tentang kuda. Hiroshi menceritakan dengan rinci setiap anak kuda Halaman 491 dari 491 yang baru lahir dan perkembangan kuda-kuda jantan yang pernah mereka jinakkan bersama. Kudakuda Maruyama sudah tumbuh satu tangan lebih tinggi dibandingkan dua puluh tahun lalu, ketika Hiroshi masih kecil. Shigeko merindukannya dan amat ingin berjumpa lagi dengannya: Hiroshi sudah seperti kakaknya, tinggal di kediaman Otori, dianggap sebagai putra dalam keluarga. Dia mengajari Shigeko menunggang kuda, me-manah serta bertarung dengan pedang: Hiroshi juga mengajarinya seni perang, strategi dan taktik, begitu pula dengan seni pemerintahan. Lebih dari segalanya, Shigeko berharap Hiroshi menjadi suaminya, tapi menduga kalau itu tidak mungkin. Hiroshi bisa menjadi penasihat yang paling berharga, bahkan teman yang paling baik, tapi tidak akan lebih. Ia pernah mendengar per¬bincangan soal pernikahan dirinya karena kini usianya beranjak lima belas tahun. Ia tahu akan ada rencana pertunangan, per¬nikahan yang akan memperkuat posisi keluarganya dan menopang hasrat ayahnya untuk kedamaian. Semua pikiran ini melintas di benaknya selagi membaca secara perlahan dan hati-hati dari gulungan. Tangan si kembar terasa sakit dan mata mereka terasa gatal saat Shigeko selesai membacanya. Tak satu pun dari keduanya berani berkomentar, dan Shigeko mengurangi ketegasannya. Shigeko memper baiki pekerjaan adik-adiknya dengan baik hati, cukup sering menyuruh mereka berlatih lagi menulis huruf yang salah guratannya. Ketika matahari mulai tenggelam dan udara terasa agak dingin, Shigeko menyarankan agar mereka berjalan-jalan sebelum latihan di sore hari. Si kembar, yang melemah dengan beratnya hukuman yang mereka dapatkan, menye¬tujuinya dengan patuh. "Kita ke biara," seru Shigeko, membuat kedua adiknya bersorak kegirangan, karena biara itu dipersembahkan bagi dewa sungai dan kuda. "Bolehkah kita berjalan melewati pagar penangkap ikan?" tanya Maya dengan nada memohon. "Tentu saja tidak bisa," sahut Shigeko. "Tempat itu hanya boleh digunakan anak berandalan, bukan putri-putri Lord Otori. Kita akan berjalan menuju jembatan batu. memanggil Shizuka dan memintanya untuk ikut bersama kita. Dan kurasa kita sebaiknya membawa beberapa pengawal." "Kita tidak butuh pengawal." "Bolehkah kami membawa pedang?" tanya Maya dan Miki serempak. "Untuk berkunjung ke biara, di jantung Hagi? Kita tidak butuh pedang." "Ingat serangan di Inuyama!" Miki meng¬ingatkan. "Seorang ksatria sebaiknya selalu siaga," ujar Maya lumayan mirip menirukan Hiroshi. "Mungkin kau perlu latihan menulis lagi," balas Shigeko, kelihatan seakan ingin duduk lagi. "Baiklah, mari kita pergi seperti yang kau katakan, kakak," sahut Miki cepat. "Pengawal, tidak ada pedang." *** Shigeko memikirkan selama beberapa saat tentang masalah tandu: apakah memaksa si kembar ditandu dalam kegelapan atau mem¬biarkan mereka berjalan kaki. Tak satu satu pun dari keduanya ingin ditandu, tapi ia tahu kalau Ibunya tidak suka si kembar terlihat bersama di tempat umum. Di sisi lain, ini di Hagi. kampung halaman mereka, tidak seformal dan sekeras di Inuyama, dan kedua adiknya yang gelisah mungkin bisa tenang dan lelah setelah berjalan kaki. Shigeko pun ingin berjalan kaki, ingin melihat kehidupan Halaman 492 dari 492 kota yang penuh semangat, jalan-jalan sempitnya serta toko-toko kecil penuh ber¬bagai hasil bumi dan kerajinan. Di belakang jalan utama lebar yang mengarah dari gerbang kastil menuju jembatan batu, terbentang dunia yang sangat menyenang¬kan, tempat yang jarang bisa dikunjungi si kembar. Dua pengawal berjalan di depan mereka dan dua lagi di belakang; satu pelayan perempuan membawa keranjang bambu berisi botol sake serta sesaji lain, termasuk wortel untuk kuil kuda. Shizuka berjalan di samping Maya, dan Miki berdampingan dengan Shigeko. Mereka semua mengenakan sandal kayu serta jubah tipis musim panas. Shigeko memegang parasol, karena kulitnya seputih kulit ibunya dan takut terkena sinar matahari, tapi kulit si kembar kekuningan seperti ayahnya merasa tidak perlu melin¬dungi kulit mereka. Gelombang menghempas ketika mereka tiba di jembatan batu, sungai berbau asin dan lumpur. Di jembatan yang pernah hancur dalam peristiwa gempa—yang dipercaya rakyat sebagai hukuman atas pengkhianatan Arai Daiichi—ada pahatan kalimat: Klan Otori menyambut keadilan dan kesetiaan. Wasp adalah ketidakadilan dan ketidak¬setiaan. "Lihat apa yang terjadi padanya!" ujar Maya dengan nada puas selagi mereka berdiri di depan batu itu. Mereka mempersembah¬kan sesaji sake, berterima kasih pada dewa sungai karena melindungi Otori dan mem-peringati tukang batu yang dikubur hidup¬hidup di dalam dinding itu bertahun-tahun silam. Tulang belulangnya ditemukan di sungai dan dikuburkan kembali selama pembangunan kembali jembatan. Shizuka sering menceritakan ini pada ketiga gadis itu, juga cerita tentang putri si tukang batu, Akane, dan terkadang mereka mengunjungi kuil di kawah gunung berapi tempat kematian tragis Akane diperingati dan arwahnya yang dipanggil kembali oleh para kekasih yang tidak bahagia, laki-laki maupun perempuan. "Shizuka pasti bersedih atas kematian Lord Arai," kata Shigeko pelan saat mereka meninggalkan jembatan, Sesaat si kembar berjalan berdampingan: para pejalan kaki berlutut ketika Shigeko lewat, tapi mema¬lingkan wajah ketika si kembar lewat. "Aku bersedih atas cinta yang pernah ada di antara kami," sahut Shizuka. "Juga untuk kedua putraku, yang menyaksikan ayah mereka mati di depan mata mereka. Tapi Arai telah membuatku menjadi musuhnya, dan telah memberi perintah agar aku di¬bunuh. Kematiannya tidak lebih dari akhir yang adil atas cara hidup yang dipilihnya." "Kau tahu banyak tentang masa-masa itu!" seru Shigeko. "Benar, barangkali lebih banyak dari siapa pun," aku Shizuka. "Semakin usiaku ber¬tambah, semua yang terjadi di masa lalu menjadi lebih jelas di benakku. Selama ini Isihida dan aku mencatat semua ingatanku: ayah kalian yang memintanya." "Dan kau mengenal Lord Shigeru?" "Namamu, Shigeko, adalah nama perem¬puan dari Shigeru. Ya, aku mengenalnya dekat. Kami saling menaruh kepercayaan satu sama lain selama bertahun-tahun, dan saling percaya dengan taruhan nyawa kami." "Beliau pasti orang yang baik." "Aku belum pernah bertemu orang seperti dia." "Apakah dia lebih baik ketimbang Ayah?" "Shigeko! Aku tidak bisa menilai ayahmu!" "Kenapa tidak? Ayah adalah sepupumu. Kau mengenalnya lebih baik ketimbang kebanyakan orang." "Takeo sangat mirip Shigeru: dia seorang laki-laki serta pemimpin yang hebat." "Tapi...?" "Semua orang memiliki kelemahan," tutur Shizuka. "Ayahmu berusaha mcnguasai ke¬lemahannya, namun sifatnya terbagi dengan cara yang tidak terjadi pada Shigeru." Shigeko tiba-tiba merinding, meskipun udara masih terasa hangat. "Jangan teruskan lagi! Aku menyesal sudah bertanya." "Ada apa? Apakah kau mendapatkan firasat?" Halaman 493 dari 493 "Aku selalu mendapatkan firasat," sahut Shigeko pelan. "Aku tahu berapa banyak orang yang menginginkan kematian ayahku." Ia memberi isyarat pada si kembar yang tengah menunggu di gerbang kuil. "Keluarga kami terbelah dengan cara yang sama: kami adalah gambaran dari sifat ayah. Apa yang akan terjadi pada adik-adikku kelak? Di mana tempat mereka di dunia ini?" Shigeko bergidik lagi, dan berusaha mengubah topik pembicaraan. "Suamimu sudah kembali?" tanya Shigeko. "Mungkin pulang dalam beberapa hari ini; mungkin dia sudah di Hofu. Aku belum mendengar kabarnya." "Ayah sedang di Hofu! Mungkin mereka bertemu di sana. Mungkin mereka akan pulang bersama." Shigeko berbalik dan me¬natap kembali ke arah teluk. "Besok kita akan mendaki bukit dan melihat apakah kapal mereka sudah terlihat." Mereka memasuki pintu kuil, lewat bagian bawah gerbang besar. Di lengkungan gerbang dipenuhi ukiran hewan dalam dongeng: houou, kirin dan shishi. Kuil itu dibalut hijau¬nya tetumbuhan. Pepohonan willow besar berbaris di tepi sungai; di samping pe¬pohonan tumbuh pohon oak dan cedar, unsur terakhir dari hutan jaman purba yang pernah menyelimuti tanah ini. Hiruk-pikuk kota memudar menjadi senyap, hanya ter-pecahkan oleh kicau burung. Arah cahaya tampak miring dari barat menerangi debu di sela-sela besarnya batang pohon dengan pancaran sinar keemasan. Seekor kuda putih di dalam istal berukiran indah meringkik kelaparan melihat mereka, dan si kembar pergi meinpersembahkan sesaji bagi hewan yang dianggap keramat itu. Seorang laki-laki tua muncul dari belakang aula utama. Dia adalah seorang biarawan, dan mengabdikan diri melayani dewa sungai sejak kecil setelah kakaknya tenggelam di pagar penangkap ikan. Namanya Hiroki. Putra ketiga Mori Yusuke, pawang kuda dari Klan Otori. Kakak laki-lakinya, Kiyoshige, dulu adalah teman dekat Lord Shigeru. Hiroki tersenyum sewaktu menghampiri mereka. Dia memiliki ikatan khusus dengan Shigeko melalui kecintaan mereka terhadap kuda. Hiroki mempertahankan tradisi keluarganya, merawat kuda Klan Otori setelah ayahnya pergi ke ujung dunia dalam rangka mencari kuda-kuda cepat dari tanah datar yang luas. Yusuke sendiri tidak pemah kembali, namun mengirimkan seekor kuda hitam jantan yang menjadi ayah dari Raku dan Shun, keduanya dijinakkan dan dilatih oleh Takeshi, adik Shigeru, selama berbulan¬bulan sebelum kematiannya. "Selamat datang, Lady!" Layaknya banyak orang yang mengabaikan si kembar, seolah keberadaan mereka terlalu memalukan untuk diakui. Kedua gadis itu sedikit menarik din di bawah bayangan pepohonan, memerhati¬kan si pendeta baik-baik dengan tatapan mata yang sukar dimengerti. Shigeko melihat kalau mereka marah. Terutama Miki yang mempunyai sifat pemarah, yang belum belajar cara mengendalikan amarahnya. Watak Maya lebih dingin, namun lebih sulit untuk diredam. Setelah beramah tamah dan Shigeko mempersembahkan sesaji, Hiroki menarik tali genta untuk membangkitkan arwah dan Shigeko memanjatkan doa, memandang diri¬nya sebagai penghubung antara dunia fana dan dunia arwah bagi makhluk-makhtuk yang tidak bisa bicara sehingga tidak ada doa. Seekor anak kucing berlari terbirit-birit di sepanjang beranda, mengejar sehelai daun gugur. Hiroki menangkap kucing itu dengan kedua tangannya, mengelus-elus kepala dan telinganya. Kucing itu pun mendengkur dengan suara parau. Matanya besar dan ber¬warna kuning kecoklatan, bola matanya me-mantulkan cerahnya cahaya matahari, bulu berwarna coklat muda pucat dengan bintik hitam dan coklat kemerahan. "Anda punya teman baru," seru Shigeko. "Benar, dia datang mencari tempat tinggal pada suatu malam saat hujan deras dan sejak saat itu dia tinggal di sini. Dia teman yang Halaman 494 dari 494 baik, kuda-kuda suka padanya, dan mem¬bungkam tikus-tikus." Shigeko belum pemah melihat kucing setampan itu; warna bulunya yang kontras sungguh memukau. Dilihatnya Hiroki amat menyayangi hewan itu, dan merasa senang. Semua anggota keluarga Hiroki telah tiada: dia hidup dengan menyaksikan kekalahan Otori di Yaegahara hingga kehancuran kota saat gempa. Satu-satunya hal yang menarik baginya saat ini adalah melayani dewa sungai dan kasih sayangnya pada kuda. Si kucing membiarkan dirinya ditepuk¬tepuk selama beberapa saat, kemudian meronta sampai Hiroki melepasnya. Kucing itu pergi tergesa-gesa dengan ekor tegak lurus. "Akan terjadi badai," ujar Hiroki, tertawa kecil. "Dia bisa merasakan cuaca di bulu¬bulunya." Maya memungut sebatang ranting. Mem¬bungkuk lalu menggores dedaunan dengan ranting itu. Kucing itu diam saja, tatapan matanya tajam. "Mari pergi melihat kuda," ajak Shigeko. "Ikutlah bersamaku, Shizuka." Miki berlari mengejar mereka, tapi Maya tetap membungkuk di bawah bayangan, membujuk si kucing untuk mendekat. Sementara pelayan menunggu dengan sabar di beranda. Salah satu sudut di ladang kecil dipagari bambu, dan seekor kuda jantan hitam di¬kurung di dalamnya. Tanah tempat si kuda agak menanjak, rumputnya kering dan banyak bekas jejak kaki. Saat melihat mereka, kuda itu meringkik nyaring lalu bergerak mundur. Dua kuda yang lebih muda berseru menyahutinya. Mereka gelisah dan mudah gugup. Keduanya memiliki bekas luka gigitan baru di leher dan bagian sampingnya. Seorang anak laki-laki lengah mengisi ember air minum kuda hitam jantan itu. "Dia sengaja menendang ember itu," gerutu¬nya. Di salah satu lengannya terlihat tanda bekas gigitan dan lebam. "Apakah dia menggigitmu?" tanya Shi¬geko. Orang itu mengangguk. "Dia juga menendangku." Diperlihatkannya lebam ber¬warna ungu gelap di betisnya. "Aku tidak tahu apa yang harus dilaku¬kan," tutur Hiroki. "Dia selalu menyulitkan: sekarang malah menjadi berbahaya." "Dia tampan sekali," ujar Shigeko, menga¬gumi kaki panjang dan punggungnya yang berotot, bentuk kepala yang sempuma dan mata yang besar. "Ya, dia memang tampan, juga tinggi: kuda tertinggi yang kami miliki. Tapi dia sangat keras kepala, aku tidak tahu apakah dia bisa dijinakkan, atau apakah kita mesti mengawinkannya." "Tampaknya dia sudah siap dikawinkan!" komentar Shizuka, dan mereka semua ter¬tawa karena si kuda memperlihatkan semua gejala kuda jantan yang birahi. "Aku khawatir menaruhnya bersama kuda betina justru akan memperparah keadaan," tutur Hiroki. Shigeko mendekati si kuda hitam jantan. Bola mata kuda itu berputar dan telinganya menegakkan. "Hati-hati," Hiroki memperingatkan, dan saat itulah si kuda mencoba menggigit Shigeko. Bocah pengurus kuda memukulnya ketika Shigeko undur di luar jangkauan gigi si kuda. Diamatinya kuda itu selama beberapa saat tanpa bicara sepatah kata pun. "Dikurung pasti membuat keadaannya lebih buruk," ujarnya. "Pindahkan kuda yang lebih muda dan biarkan dia memiliki ladang ini sendirian. Bagaimana bila kau membawa sepasang kuda betina yang tua dan mandul— apakah mereka bisa menenangkannya dan mengajarinya sopan santun?" Halaman 495 dari 495 "Gagasan yang bagus; aku akan mencoba¬nya," sahut si laki-laki tua, dan menyuruh bocah tadi menuntun dua kuda tadi ke padang rumput yang lebih jauh. "Kami akan membawa kuda betina dalam satu atau dua hari. Dia akan lebih menghargai teman bila kesepian!" Aku akan datang setiap hari dan melihat apakah kuda ini bisa dijinakkan," kata Shigeko, seraya berpikir akan menulis surat pada Hiroshi dan menanyakan sarannya. Mungkin Hiroshi akan datang dan mem¬bantuku menjinakkannya.... Shigeko tersenyum pada diri sendiri se¬waktu mereka kembali ke kuil. Maya tengah duduk di beranda di sebelah pelayan, matanya menatap ke bawah. Si kucing tergeletak lemas di atas tanah, semua keindahan dan semangat hidup kucing itu tidak terlihat lagi. Laki-laki tua itu menjerit, lalu bergegas menghampiri, kemudian tersandung, ke arah kucing itu. Diraihnya hewan itu lalu dipeluk¬nya eraterat. Kucing itu bergerak tedikit, tapi tidak bangun. Shizuka langsung menghampiri Maya. "Apa yang kau lakukan?" Tidak ada," jawabnya. "Kucing itu menatapku, lalu tertidur." "Bangun, Mikkan," laki-laki tua itu memohon dengan sia-sia. "Bangunlah!" Shizuka menatap kucing itu dengan perasaan panik. Dengan usaha yang kentara mengendalikan reaksinya, dia berkata pelan, "Kucing itu takkan bangun. Kalaupun ter¬bangun, tidak dalam waktu yang lama." "Ada apa?" tanya Shigeko. "Apa yang Maya lakukan pada kucing itu?" "Aku tidak melakukan apa-apa," kata Maya lagi, tapi dari tatapan matanya saat mendongak, Maya terlihat seperti ke¬girangan. Dan ketika menatap Hiroki yang mulai menangis pelan, bibirnya berkerut dengan sinis. Ketika tersadar, Shigeko berkata dengan kesal, "Itu pasti salah satu kemampuan rahasia, kan? Sesuatu yang dipelajarinya sewaktu dia pergi? Kemampuan sihir yang mengerikan!" "Jangan bicarakan itu di sini," gumam Shizuka, karena para pelayan kuil berkumpul dan menatap dengan mulut menganga seraya memegangi jimat. "Kita harus pulang. Maya harus dihukum. Tapi mungkin sudah ter-lambat." "Terlambat untuk apa?' tanya Shigeko. "Nanti kuceritakan. Aku hanya mengerti sebagian tentang kemampuan Kikuta seperti ini. Kuharap ayahmu ada di sini." *** Shigeko bahkan lebih merindukan ayahnya pulang saat menghadapi kemarahan ibunya. Sorenya di hari yang sama: Shizuka mengajak si kembar pergi untuk menghukum Maya, dan mereka berdua diperintahkan tidur di kamar yang terpisah. Badai menderu di kejauhan, dan dari tempatnya berlutut, kepala tertunduk di hadapan ibunya, dapat Shigeko melihat cahaya samar di dinding berhiaskan motif emas menonjol saat kilatan halilintar tampak mengarah ke laut. Ramalan cuaca si kucing ternyata benar. Kaede berkata, "Seharusnya kau tidak ajak mereka ke sana! Kau tahu kalau Ibu tak ingin mereka terlihat berdua di depan umum." "Maaf, Ibu," bisik Shigeko. Ia tidak ter¬biasa dengan kemarahan ibunya dan itu amat menyakitkan baginya. Tapi ia juga khawatir pada si kembar, dan merasa kalau ibunya bersikap tidak adil pada mereka. "Hari ini panas sekali; mereka sudah belajar dengan giat. Mereka perlu pergi keluar." "Mereka bisa bermain di taman sini," sahut Kaede. "Maya harus dikirim pergi." Halaman 496 dari 496 "Ini musim panas terakhir yang akan kita habiskan bersama di Hagi," Shigeko me¬mohon. "Biarkan dia tinggal setidaknya sampai Ayah pulang." "Miki masih bisa diatur, tapi Maya sudah mulai tak terkendali," seru Kaede. "Dan tak ada hukuman yang bisa membuatnya jera. Berpisah dengan adiknya bisa menjadi cara terbaik mengendalikannya. Juga akan mem¬buat kita lebih tenang selama musim panas!" "Ibu...?" Shigeko mulai bicara, namun tak mampu meneruskan kalimatnya. "Aku tahu kau pikir Ibu bersikap keras pada mereka," tutur Kaede setelah beberapa saat terdiam. Kaede mendekat agar bisa melihat wajah putrinya itu. Lalu dibelainya rambut Shigeko yang panjang dan halus. "Indahnya rambutmu! Seperti rambut Ibu dulu!" "Mereka berharap Ibu bisa menyayangi mereka," Shigeko berani angkat bicara, merasakan kalau amarah ibunya sudah reda. "Mereka merasa dibenci Ibu karena mereka b uk an anak l ak i-l ak i." "Ibu tidak membenci mereka," sahut Kaede. "Ibu malu dengan kehadiran mereka. Buruk sekali memiliki anak kembar, seperti mendapat kutukan. Ibu merasa seperti men¬dapat semacam hukuman, peringatan dari Surga. Dan kejadian atas kucing ini mem¬buat Ibu ketakutan. Seringkali Ibu berpikir sebaiknya mereka mati saat lahir, seperti kebanyakan anak kembar lainnya. Ayahmu tak ingin itu. Dia membiarkan mereka tetap hidup. Tapi kini Ibu bertanya pada diri sendiri: apa tujuannya? Mereka putri keluarga Otori; mereka tidak bisa pergi dan tinggal bersama Tribe. Tak lama lagi usia mereka akan cukup untuk dinikahkan—tapi siapa dari kalangan klas ksatria yang mau menikahi mereka? Siapa yang mau beristri penyihir? Jika kemampuan mereka ter¬ungkap, para ksatria bahkan akan mem b unuh si k emb ar." Shigeko merasakan tubuh ibunya gemetar. "Ibu menyayangi mereka," bisik Kaede. "Namun terkadang mereka membuat Ibu sangat menderita dan ketakutan hingga Ibu berharap mereka mati saja. Dan Ibu selalu merindukan kehadiran anak lakilaki, dan tidak bisa berpura-pura bersikap sebaliknya. Masalah siapa yang akan menikah denganmu juga menyiksa Ibu. Dulu Ibu berpikr sungguh anugerah yang tak terkira bisa menikah dengannya. Namun Ibu juga sudah melihat kalau itu bukannya tanpa pengor¬banan. Ibu bertindak bodoh dan egois dengan berbagai macam cara. Ibu menentang semua yang diajarkan sejak kecil, yang diharapkan dan disarankan untuk melak-sanakannya, dan mungkin harus menebusnya selama sisa hidup Ibu. Ibu tak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama, terutama karena kami tidak punya anak laki-laki, maka memilih suamimu menjadi masalah politis." "Aku sering dengar Ayah bilang kalau Ayah bahagia kalau seorang gadis—aku— akan mewarisi Tiga Negara." "Begitulah yang selalu dikatakannya. Hanya untuk menghibur Ibu. Semua laki laki ingin anak laki-laki." Namun Ayah kelihatannya tidak begitu, pikir Shigeko. Tapi perkataan ibunya, nada penyesalan yang terkandung di dalamnya, serta keseriusan dalam nada suaranya, membekas di dalam hatinya.* Berita kematian Muto Kenji memerlukan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke Inuyama. Kikuta ingin merahasiakannya selama mungkin sambil berusaha menyela¬matkan para tawanan, tapi mereka juga ingin menyebarkan berita itu untuk menunjukkan pada Otori bahwa di luar Tiga Negara, dia tidak berdaya. Halaman 497 dari 497 Selama pemerintahan Takeo dan Kaede, jalan-jalan di seluruh Tiga Negara telah diperbaiki dan pesan-pesan dibawa dengan cepat antar kota-kota besar. Tapi di luar wilayah Timur, tempat Barisan Awan Tinggi membentuk penghalang alami, terbentang bermil-mil negeri tak bertuan sampai ke kota bebas Akashi, pelabuhan yang membentuk gerbang masuk ke ibukota Kaisar, Miyako. Desas-desus tentang kematian Muto Kenji terdengar di Akashi kira-kira di bulan keempat, dan dari sana kabar itu tersiar hingga ke Inumaya melalui pedagang yang sering meneruskan kabar berita dari wilayah Timur kepada Muto Taku. Walaupun sudah menduganya, Taku merasa sedih juga marah atas berita itu. Ia merasa seharusnya Kenji mati dengan damai di kampung halamannya sendiri, karena kematian seperti itu akan dianggap kelemahan di mata Kikuta dan hanya akan membuat mereka lebih bersemangat. Ia berdoa agar kematian Kenji terjadi dengan cepat dan bukannya tanpa makna. Taku merasa harus memberitahukan kabar itu pada Takeo, dan Sonoda juga Ai setuju kalau ia harus segera bewingkat ke Hofu, tempat Takeo pergi untuk beberapa alasan pemerintahan, sementara Kaede dan anak-anaknya sudah kembali ke Hagi selama musim panas. Keputusan atas nasib tawanan juga harus secara resmi dilaksanakan baik oleh Takeo maupun Kaede. Mungkin mereka akan dieksekusi sekarang, tapi harus dilakukan sesuai hukum agar tidak dianggap sebagai tindakan balas dendam. Taku sendiri mewarisi sifat sinis Kenji dan tidak enggan melakukan tindakan balas dendam, namun dia menghormati ketegasan Takeo pada keadilan—atau setidaknya memberi kesan adil. Kematian Kenji juga memengaruhi Tribe, karena dia sudah menjadi ketua lebih dari dua puluh tahun: seorang keluarga Muto harus dipilih untuk menggantikan keduduk-annya. Kakak Taku, Zenko, merupakan kerabat laki-laki terdekat karena Kenji hanya memiliki seorang putri yang sudah mati, Yuki, namun Zenko mengambil nama keluarga ayahnya dan tidak memiliki ke-mampuan Tribe. Apalagi kini dia berstatus sebagai ksatria berkedudukan tertinggi, pimpinan Klan Arai yang memimpin wilayah Kumamoto. Orang yang tersisa hanyalah Taku yang sudah jelas oinat berbakat dalam kemampuan menghilang serta menggunakan sosok kedua, dilatih oleh Kenji, dipercaya oleh Takeo. Satu alasan lagi untuk mengadakan per-jalanan saat ini yaitu untuk bertemu keluarga Tribe, untuk memastikan kesetiaan dan dukungan mereka serta membahas tentang siapa yang akan menjadi Ketua. Lagipula Taku merasa gelisah: ia sudah di Inuyama sepanjang musim dingin. Istrinya menyenangkan, anak-anak menghiburnya, tapi kehidupan rumah tangga membuatnya bosan; diucapkannya selamat tinggal pada keluarganya tanpa penyesalan, dan meskipun misinya membawa kabar menyedihkan, ia bersiap pergi keesokan harinya dengan lega bercampur penuh harapan, menunggang kuda pemberian Takeo kepadanya saat masih kecil: anak dari Raku, kuda dengan kulit abu-abu pucat, surai dan ekor sehitam arang– warna yang amat dihargai di Tiga Negara. Taku menamainya Ryume. Ryume sudah menjadi ayah dari banyak kuda jantan, dan kini sudah tua, namun ia tak pernah menyukai kuda seperti kuda yang satu ini, yang dijinakkannya sendiri serta tumbuh dewasa bersama dirinya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan, hujan musim semi baru saja mulai turun, tapi berita itu tidak bisa ditunda lagi, tak ingin orang lain yang membawa berita ini. Taku berkuda dengan cepat meskipun di tengah cuaca buruk, seraya berharap bisa bertemu Takeo sebelum meninggalkan Hofu. Kedatangan kirin dan pertemuan dengan adik perempuannya mencegah Takeo untuk pergi secepatnya ke Hagi seperti yang diinginkannya. Keponakannya, Sunaomi dan Chikara bersiap-siap melakukan perjalanan, namun badai hebat| menunda keberangkatan mereka selama dua hari. Itulah sebabnya Takeo masih berada di Hofu ketika Muto Taku datang dari Inuyama ke rumah kakak¬nya, meminta segera dipertemukan dengan Lord Otori. Sangat jelas bahwa Taku mem¬bawa berita buruk. Ia tiba hampir malam, kelelahan dan tubuhnya yang kotor karena berjalan jauh, tapi tidak ingin mandi atau makan sebelum bicara dengan Takeo. Tidak ada rincian, hanya kenyataan keji bahwa Muto Kenji Halaman 498 dari 498 sudah tiada. Tak ada jenazah yang bisa ditangisi, tak ada batu nisan untuk menandai makamnya: cara kematian yang paling sulit untuk ditangisi, jauh dan tak terlihat. Kesedihan Takeo memuncak, semakin diperburuk oleh keputusasaannya. Namun ia merasa tak mampu menumpahkan perasaannya di rumah Zenko, dan tak mampu menahan Taku sepenuhnya sesuai dengan kehendaknya. Diputuskannya untuk pergi ke Hagi keesokan harinya, dan menunggang kuda dengan cepat. Keinginan utamanya adalah bertemu Kaede, agar istrinya itu bisa menghiburnya. Namun kekhawatirannya yang lain tak bisa dising¬kirkan dan menunggu sementara ia meng-hadapi kesedihannya. Setidaknya ia harus membawa salah satu putra Zenko; Sunaomi yang akan dibawanya—bocah itu pasti bisa menunggang kuda dengan cepat—lalu mengirim adiknya bersama Ishida dan kirin dengan naik kapal begitu cuaca membaik. Taku bisa mengurusnya. Dan Kono? Mungkin Taku bisa tinggal di wilayah Barat untuk mengawasinya. Berapa lama lagi sampai ia bisa mendapat kabar dari Fumio? Berhasilkah dia menggagalkan penyelun¬dupansenjata api? Dan jika tidak berhasil, berapa lama lagi waktu yang mereka butuhkan untuk menandingi jumlah per¬senjataan miliknya? Kenangan tentang gurunya dan masa lalu menghujani dirinya. Ia berduka tidak hanya karena kehilangan Kenji, tapi juga ke¬hilangan semua yang berhubungan dengan¬nya. Kenji sahabat Shigeru: satu mata rantai lagi yang terputus. Lalu masalah tawanan di Inuyama yang harus dihukum mati, namun harus dilakukan sesuai hukum, dan ia atau salah satu anggota keluarganya harus hadir. Ia harus menulis surat pada suami Ai, Sonoda, mengirim perintah agar Ai menggantikan Kaede, se-suatu tugas yang akan menciutkan nyali adik iparnya yang berhati lembut itu. Takeo terjaga semalaman hanya ditemani kesedihan. Saat matahari terbit, ia memang¬gil Minoru dan mendiktekan surat untuk Sonoda dan Ai, tapi sebelum membubuhkan cap, ia berbicara lagi dengan Taku. "Aku merasa enggan untuk memerintah¬kan hukuman mati kedua pemuda-pemudi itu. Apakah ada cara lain?" "Mereka hendak membunuh keluargamu," sahut Taku. "Kau yang membuat aturan dan hukuman. Apa yang akan kau lakukan pada mereka? Memaafkan lalu membebaskan me¬reka justru akan kelihatan seperti kelemahan; dan dipenjara dalam waktu lama lebih kejam ketimbang kematian dengan cara cepat." "Tapi apakah kematian mereka akan men¬cegah serangan-serangan selanjutnya? Bukan¬kah ini semakin membangkitkan amarah Kikuta pada diriku dan keluargaku?" "Dendam Akio padamu sudah mutlak sifatnya. Ia tak akan mundur selama kau masih hidup," sahut Taku, lalu menambah¬kan, "Namun kematian akan menyingkirkan dua pembunuh lagi, dan cepat atau lambat mereka akan kehabisan orang yang mau dan mampu melakukannya. Kau harus hidup lebih lama daripada mereka." "Kau seperti Kenji," ujar Takeo. "Sama realistis dan pragmatisnya seperti Kenji. Kurasa kau yang akan mengambil alih kepemimpinan keluarga sekarang?" "Aku akan bicarakan dengan ibuku. Dan kakakku, tentu saja, demi formalitas. Zenko hanya memiliki sedikit kemampuan Tribe, dan mengambil nama ayah kami, tapi tetap saja dia lebih tua dariku." Takeo menaikkan alis sedikit. Ia lebih suka menyerahkan penanganan masalah pada Kenji dan Taku, memercayai Kenji sepenuh¬nya. Ia merasa tak nyaman dengan pemikiran harus berbagi rahasia mereka dengan Zenko. "Kakakmu mengusulkan agar aku meng¬angkat salah satu putranya," tutur Takeo, membiarkan nada terkejut terdengar dalam suaranya, yang diketahuinya tak akan luput dari perhatian Taku. "Sunaomi akan menemaniku ke Hagi. Aku akan berangkat Halaman 499 dari 499 sebentar lagi. Tapi ada banyak hal yang harus kita bicarakan terlebih dulu. Mari berjalan¬jalan di taman." "Lord Otori," Minoru mengingatkannya. "Tidakkah Anda harus menyelesaikan surat¬nya lebih dulu?" "Tidak, bawa saja bersama kita. Aku akan membicarakan masalah itu lebih jauh lagi dengan istriku sebelum aku memutuskan. Kita akan mengirimnya dari Hagi." Sinar matahari yang baru terbit tampak kelabu, pagi terasa lembap dan basah, dengan hujan yang mengancam akan turun. Per¬jalanan itu akan basah dan tidak nyaman. Takeo sudah bisa memperkirakan bagai¬mana rasa sakit pada luka lamanya akan memperburuk harihari selama menunggang kuda. Ia sadar kalau Zenko mungkin sedang mengawasinya, membenci kedekatannya dengan Taku, tahu kalau dirinya akan menaruh kepercayaan pada adiknya. Meng¬ingat kalau Zenko juga keluarga Muto, serta ada hubungan saudara dengan Kikuta, mem¬buatnya selalu siaga. Berharap benar adanya kalau Zenko tak memiliki kemampuan Tribe, Takeo menceritakan dengan pelan pada Taku secara singkat tentang pesan Lord Kono, begitu pula dengan masalah penyelundupan senjata. Taku menyerap semua penjelasan ini dalam diam; satu-satunya komentar darinya, "Kurasa, kepercayaanmu pada kakakku sudah terkikis." "Kakakmu telah memperbarui sumpah setianya padaku, tapi kita semua tahu sumpah setia tidak ada artinya bila ber¬hadapan dengan ambisi akan kekuasaan. Kakakmu selalu menyalahkanku atas kematian ayahmu—dan kini sepertinya Kaisar dan kalangan istananya pun ber¬anggapan sama. Aku tidak memercayai kakakmu maupun istrinya, tapi selama kedua putra mereka di tanganku, kurasa ambisi mereka masih bisa dibendung. Ambisi mereka harus dibendung: alternatif lainnya adalah akan terjadi perang saudara lagi atau aku harus memerintahkan kakakmu bunuh diri. Aku akan menghindari ini selama mungkin. Tapi aku harus memintamu menutup mulut lebih rapat dari biasanya, dan tidak mengungkap apa pun yang bisa menguntungkan dirinya." Kebiasaan Taku dalam ekspresi sinisme yang senang, menjadi lebih gelap lagi. "Aku yang akan membunuhnya bila dia mengkhianatimu," sahutnya. "Jangan!" sahut Takeo cepat. "Jangan sekali-kali membunuh saudara kandung. Masa-masa pertumpahan darah antar keluarga telah berakhir. Kakakmu, seperti juga semua orang—termasuk dirimu sendiri, Taku—harus dibatasi Hukum." Ia berhenti sesaat, kemudian berkata pelan, "Tapi katakan: apakah Kenji pernah mengatakan ramalan tentang diriku, bahwa aku aman dari kematian, kecuali di tangan putraku sendiri?" "Ya pernah, setelah salah satu percobaan pembunuhan padamu, dia berkomentar mungkin ramalan itu benar adanya—tak biasanya paman percaya pada ramalan dan pertanda. Saat itu paman menceritakan apa yang telah dikatakan tentang dirimu. Paman menceritakan itu sebagian untuk menjelas¬kan ketidaktakutanmu, dan mengapa ancaman serangan tidak melumpuhkan diri¬mu atau membuatmu bertindak kejam, seperti yang akan dilakukan sebagian besar orang." "Aku juga tidak mudah percaya," sahut Takeo, sambil tersenyum penuh penyesalan. "Kadang aku percaya kebenaran kata-kata itu, kadang tidak. Ramalan itu membuat aku percaya karena telah memberiku waktu untuk meraih segala yang kuinginkan tanpa ketakutan. Bagaimana pun juga, anak itu kini berusia enam belas tahun: cukup usia, dalam kalangan Tribe, untuk membunuh. Maka kini aku merasa terjebak: dapatkah aku berhenti percaya ketika ramalan itu tidak lagi sesuai dengan keadaanku?" "Bakal cukup mudah untuk menyingkir¬kan bocah itu," Taku menawarkan. "Taku, kau tidak belajar apa-apa dari semua jerih payahku! Masa-masa pem¬bunuhan rahasia sudah berakhir. Aku tak mampu mencabut nyawa kakakmu ketika pisauku di lehernya saat sengitnya pertempuran. Aku tak akan memerintahkan untuk membunuh putraku sendiri." Setelah beberapa saat Takeo melanjutkan, "Siapa lagi yang tahu tentang ramalan ini?" Halaman 500 dari 500 "Saat Kenji menceritakan hal ini padaku, tabib Ishida ada di sana. Dia sedang meng¬obati luka dan mencoba meredakan demam¬mu. Kenji mengatakan itu untuk meya¬kinkan Ishida bahwa kau takkan mati, karena tabib itu hampir menyerah." "Zenko tidak tahu?" "Dia tahu keberadaan putramu—dia di desa Muto ketika berita kematian Yuki datang. Semua orang terus membicarakannya selama berminggu-minggu. Tapi kurasa Kenji tidak menceritakan soal ramalan itu pada orang lain." "Maka biarkan ramalan itu tetap menjadi rahasia." Taku mengangguk. "Aku akan tinggal di sini bersama mereka, seperti yang kau sarankan," ujarnya. "Awasi dengan baik, pastikan kalau Chikara berangkat bersama Ishida, dan mungkin cari tahu lebih banyak lagi tentang niat orangtuanya yang sebenarnya." Sewaktu mereka berpisah, Taku berkata, "Satu hal lagi. Bila kau mengangkat Sunaomi sebagai anak, dan dia menjadi putramu...." "Saat itu aku akan memilih untuk tidak percaya!" sahut Takeo pura-pura bicara dengan nada ringan yang justru tidak dirasa¬kannya." * Takeo berangkat kira-kira pada Waktu Ular* di mana hujan belum turun, namun menjelang malam hujan turun dengan deras. Sunaomi diam saja, bersemangat untuk ber¬sikap dengan benar dan berani. namun jelas terlihat kalau dia khawatir meninggalkan orangtua dan keluarganya. Dua pengawal Zenko ikut untuk mengurusnya. Sementara Takeo didampingi Jun dan Shin, dua puluh prajurit serta Minoru. Di malam pertama mereka menginap di desa kecil, tempat beberapa penginapan dibangun selama masa kemakmuran negara ini. Desa ini acapkali menjadi tempat transit para pedagang yang melakukan perjalanan antara Hofu dan Hagi. Jalanan terawat dengan baik, dilapisi batu kerikil atau diratakan setiap jengkalnya; setiap kota kecil dijaga sehingga perjalanan menjadi aman dan cepat. Meskipun hujan, mereka sampai di sungai pada sore di hari ketiga, dan bertemu Miyoshi Kahei yang sudah diberitahu kurir bahwa Lord Otori dalam perjalanan ke utara. Atas kesetiaannya pada Takeo, Kahei dianugerahi kota Yamagata dan daerah¬daerah yang mengelilinginya, hutan lebat yang membentuk jantung Negara Tengah serta tanah pertanian yang kaya di kedua sisi sungai. Yamagata dulu diserahkan pada Tohan setelah kekalahan Otori di Yaega¬hara. Keluarga Miyoshi merupakan salah satu keluarga terhebat dalam Klan Otori, dan Kahei merupakan pemimpin yang disukai banyak orang. Dia juga pemimpin yang ahli strategi dan taktik sehingga, pikir Takeo, Kahei pasti menyesali tahun-tahun yang penuh kedamaian dan merindukan konflik baru untuk menguji keabsahan teori-teori¬nya serta kekuatan dan ketrampilan pasukan¬nya. Adiknya, Gemba. lebih bersimpati pada keinginan Takeo untuk mengakhiri ke¬kerasan, dan menjadi murid Kubo Makoto dan pengikut Ajaran Houou. "Kau akan ke Terayama?" Kahei bertanya setelah mereka saling memberi salam dan menunggang kuda berdampingan ke utara, menuju ke kota. "Aku belum memutuskan," jawab Takeo. "Bukannya aku tidak menginginkannya, tapi aku tak ingin tertunda sampai di Hagi." "Apa sebaiknya kukirim kabar ke biara agar mereka datang ke kastil?'" Halaman 501 dari 501 Takeo melihat tidak ada lagi cara meng¬hindar tanpa menyinggung perasaan sahabat lamanya ini. Takeo pikir tidak ada salahnya kalau Sunaomi berkunjung ke tempat suci Klan Otori, ziarah ke makam Shigeru, Takeshi dan Ichiro, serta bertemu Makoto dan para ksatria lain dengan kematangan spiritual yang menjadikan biara itu pusat kegiatan serta rumah mereka. Sunaomi tampak pandai sekaligus sensitif: Ajaran Houou mungkin bisa menjadi ajaran yang tepat baginya, seperti yang telah terbukti pada putrinya, Shigeko. Ia merasakan per¬cikan ketertarikan yang tak terduga: betapa indahnya memiliki seorang putra untuk dibesarkan dan dididik dengan ajaran ini; timbulnya kekuatan emosi ini mengejutkan dirinya. Segala iiamnya sesuatunya diatur untuk pergi pagi-pagi keesokan harinya. Minoru tinggal di Yamagata untuk meng¬awasi rincian administratif dan menyiapkan bukti catatan yang akan diperlukan untuk pengadilan nanti. Hujan berubah menjadi kabut: wajah bumi terselubung awan kelabu; di atas pegunungan langit tampak bermain, dan balutan awan seputih mutiara tampak bak umbul-umbul di lereng. Air hujan mem¬bentuk torehan garis pada batang pepohonan cedar, meneteskan embun. Langkah kuda diredam oleh tanah yang basah. Mereka berkuda tanpa bicara; nyeri yang dirasakan Takeo ternyata tidak separah dugaannya, dan benaknya penuh dengan kenangan akan kunjungannya yang pertama ke biara ini beserta orang-orang yang menunggang kuda bersamanya bertahun-tahun lalu. Orang yang paling diingatnya, terutama Muto Kenji, nama paling baru yang dituliskan di buku besar nama orang-orang yang telah tiada. Kenji yang dalam perjalanan itu berpura¬pura menjadi kakek-kakek yang bodoh, gemar minum sake dan lukisan. Aku menya¬yangimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Takeo merasakan kesendirian yang menyakit¬kan, karena kematian Kenji meninggalkan kekosongan besar dalam hidupnya yang tak akan bisa terisi lagi, dan sekali lagi ia merasa rapuh, serapuh yang pernah dirasakannya setelah bertarung dengan Kikuta Kotaro yang telah membuat tangannya cacat. Kenji mengajarinya cara mempertahankan diri dengan menggunakan tangan kiri, men¬dukung dan memberi nasehat di masa-masa awal berkuasa di Tiga Negara, memecah Tribe dan membawa empat dari lima keluarga di bawah kekuasaannya, semua keluarga kecuali Kikuta, dan mempertahan¬kan jaringan mata-mata yang menjaga Takeo dan negara agar tetap aman. Pikirannya lalu melayang ke satu-satunya keturunan Kenji yang masih hidup, cucunya, yang ditahan Kikuta. Putraku, pikirnya dengan penyesalan, kerinduan serta kemarahan. Dia tak pernah mengenal ayah maupun kakeknya. Dia tak¬kan memanjatkan doa yang dibutuhkan bagi nenek moyangnya. Tak ada orang lain lagi yang bisa menghormati kenangan akan Kenji. Bagaimana kalau aku mencoba men¬dapatkan anak itu kembali? Tapi itu berarti mengungkap keberadaan anak itu pada istri serta ketiga putrinya, pada seluruh negara. Rahasia itu telah tersembunyi sekian lama hingga Takeo tidak tahu bagai¬mana mengutarakannya. Andai Kikuta mau berunding agar bisa diberi semacam hak khusus. Kenji telah menduga kalau mereka mungkin mau; dia memilih untuk mendekati Akio, dan kini dia telah tiada, dan dua pemuda lagi akan kehilangan nyawa sebagai hasilnya. Seperti Taku, Takeo ingin tahu berapa banyak lagi pembunuh yang Kikuta miliki, tapi tidak seperti Taku, ia tidak bersemangat bila jumlahnya makin ber¬kurang. Jalan setapak itu sempit sehingga mereka dalam kelompok kecil—Sunaomi dan kedua pengawalnya, kedua pengawal Takeo serta tiga ksatria Otori lainnya, ditambah dua anak buah Kahei—berkuda dalam satu barisan. Tapi setelah mereka meninggalkan kuda di tempat penginapan di kaki gunung suci, Takeo memanggil Sunaomi agar berjalan bersamanya, menceritakan padanya sedikit tentang sejarah biara, tentang pahlawan-pahlawan Otori yang dimakamkan di sana, tentang houou, burung suci yang bersarang di hutan kecil di belakang biara, dan ksatria yang mengabdikan dirinya pada Ajaran Houou. "Kami akan mengirimmu kemari bila kau sudah lebih besar; putriku datang ke sini setiap musim dingin, dan sudah melaku¬kannya sejak usia sembilan tahun." Halaman 502 dari 502 "Aku akan melakukan apa saja yang paman inginkan," sahut bocah itu. "Aku berharap bisa melihat burung houou dengan mata kepalaku sendiri!" "Kita akan bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke hutan kecil itu sebelum kembali ke Yamagata. Hampir dipastikan kau bisa melihat burung itu karena sekarang jumlah¬nya banyak." "Chikara melakukan perjalanan bersama kirin," seru Sunaomi, "dan aku ber¬kesempatan melihat houou. Itu adil. Tapi. Paman, apa yang harus dipelajari untuk mengikuti Ajaran Houou?" "Orangorang yang akan kita temui yang akan memberitahukan: biarawan seperti Kubo Makoto; ksatria seperti Miyoshi Gemba. Ajaran utamanya yaitu tidak meng¬inginkan kekerasan." Sunaomi tampak kecewa. "Jadi aku tidak akan belajar memanah dan berpedang? Itu yang ayah ajarkan pada kami, dan ayah ingin kami mahir dalam keduanya." "Kau akan melanjutkan pelatihan bersama putra-putra ksatria di Hagi, atau di Inuyama saat kita sudah sampai. Tapi Ajaran Houou sangat menuntut pengendalian diri, dan juga kekuatan fisik serta mental. Mungkin kau tidak cocok dengan ajaran ini." Takeo melihat cahaya berkilap di mata bocah itu. "Kuharap diriku cocok dengan ajaran ini," sahut Sunaomi, setengah ber¬teriak. "Putri sulungku akan menceritakan lebih banyak lagi tentang ajaran ini begitu kita tiba di Hagi." Takeo hampir tidak bisa mengucapkan nama kota itu, begitu besar keinginannya untuk berada di sana dan bersama Kaede. Tapi ia berusaha menyembunyikan perasaan¬nya dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya seharian berusaha menyem¬bunyikan rasa nyeri dan penderitaannya. Di gerbang biara mereka disambut dengan kegembiraan, dan seorang biarawan diminta untuk memberitahukan Kepala Biara, Matsuda Shingen, dan Makoto tentang kedatangan mereka. Mereka dikawal menuju griya tamu. Meninggalkan Sunaomi dan anak buahnya di sana, Takeo berjalan melewati taman, melewati kolam ikan tempat ikan air tawar merah dan keemasan ber¬desakan dan mencipakkan air, menuju hutan kecil suci di belakang biara, menyusuri tanjakan terjal jalan pegunungan, tempat para bangsawan Otori dimakamkan. Kabut lebih tebal menyelimuti tentera abu-abu dan batu nisan yang dipersuram oleh embun dan bintik-bintik lumut hijau dan putih. Lumut yang berwarna hijau tua menutupi bagian dasarnya. Ada seutas tali rami baru berkilauan di sekeliling makam Shigeru, dan sekerumunan orang berdiri menundukkan kepala di depan makam, berdoa bagi laki-laki yang telah menjadi pahlawan dan perwujudan dewa, kekuatan Negara Tengah dan Klan Otori. Sebagian besar dari mereka adalah petani, pikir Takeo, mungkin ada satu atau dua pedagang dari Yamagata yang turut serta. Ketika melihat ia mendekat, mereka langsung mengenalinya dari lencana di jubahnya, dari tangan yang terbungkus sarung tangan hitam. Mereka menjatuhkan diri ke tanah, namun Takeo memberi salam lalu menyuruh mereka berdiri, kemudian meminta meninggalkan dirinya sendiri di dekat makam. Takeo berlutut, menatap sesaji yang ada di sana, segenggam penuh bunga warna merah tua, kue mochi dan sake. Masa lalu muncul di sekelilingnya, dengan semua kenangan menyakitkan. Ia berhutang nyawa pada Shigeru; dan telah menjalani hidupnya sesuai dengan tujuan sang men¬diang. Wajahnya basah karena kabut dan air mata. Terasa ada gerakan di belakangnya, dan Takeo berbalik melihat Makoto berjalan menghampiri sambil membawa lentera di satu tangan dan tempat dupa kecil di tangan yang satunya lagi. Makoto berlutut lalu meletakkan kedua benda itu di depan makam. Asap ketabu naik perlahan, berat, bercampur kabut, memenuhi udara dengan aromanya. Lentera menyala dengan tenang, menerangi suramnya hari ini. Dalam waktu lama mereka berdua tidak bicara sepatah kata pun. Kemudian genta berdentang dari pelataran biara, dan Makoto berkata, "Mari masuk dan makan. Kau pasti lapar. Senang sekali bertemu denganmu." Halaman 503 dari 503 Mereka berdua bangkit dan saling mengamati. Mereka pertama kali bertemu tepat di tempat ini, tujuh belas lahun lalu, sempat timbul rasa saling menyukai di mereka berdua, dan untuk sesaat kasih sayang di antara mereka begitu kuatnya bak sepasang kekasih. Makoto pernah bertempur bersama Takeo di Asagawa dan Kusahara dan selama bertahun-tahun menjadi teman ter¬dekatnya. Karena sudah begitu mengenal Takeo, Makoto merasakan bila sahabatnya itu sedang menghadapi masalah, maka Makoto bertanya, "Apa yang terjadi?" "Aku akan menceritakannya dengan cepat. Muto telah tiada. Dia pergi untuk berunding dengan keluarga Kikuta dan tidak kembali. Aku akan ke Hagi untuk memberitahukan kabar ini pada keluargaku. Kami akan ke Yamagata besok." "Aku turut berduka atas kehilangan ini. Kenji teman yang setia. Tentu saja kau ingin bersama Lady Otori di saat seperti ini. Tapi haruskah kau pergi begitu cepat? Maaf, tapi kau tampak lelah. Tinggallah selama beberapa hari di sini untuk memulihkan kekuatanmu." Takeo tersenyum, tergoda oleh ajakan itu, merasa iri pada Makoto dengan penampilan¬nya yang sempurna secara fisik dan spiritual¬nya. Makoto saat ini berusia tiga puluhan, tanpa kerutan di wajahnya yang tenang; sinar matanya penuh kehangatan dan kegembira¬an. Seluruh sikapnya memancarkan ketenangan dan pengendalian diri. Takeo yakin kalau teman lamanya yang satu lagi, Miyoshi Gemba pasti kelihatan sama, layaknya para pengikut ajaran ini. Takeo me¬rasakan ada sedikit penyesalan karena jalan hidup yang memanggilnya untuk dijalani sangat berbeda. Seperti yang selalu dilakukannya saat mengunjungi Terayama, ia berangan-angan mengundurkan di sini, mengabdikan diri dengan melukis dan merancang taman seperti seniman besar Sesshu; ia akan menyumbangkan Jato— pedang yang selalu ia bawa meskipun tak lagi digunakan selama bertahun-tahun—lalu berhenti menjalani hidup sebagai ksatria dan penguasa. Bersumpah untuk tidak mem-bunuh lagi, melepaskan diri dari kekuasaan atas hidup dan mati setiap orang di negara ini, membebaskan diri dari beban yang berat dan menyakitkan di balik kekuatan ini. Suara-suara biara yang tidak asing lagi menyelimuti dirinya. Dengan sadar dibuka¬nya gerbang pendengarannya dan membiar¬kan suara-suara itu menyirami dirinya, percikan air terjun di kejauhan, gumaman doa dari aula utama, suara Sunaomi dari griya tamu, desingan layang-layang dari puncak pepohonan. Dua burung gereja hing gap di ranting, bulu warna abu-abu mereka tampak jelas dengan sinar agak redup serta gelapnya warna dedaunan. Dibayangkannya bagaimana ia bisa melukis mereka. Namun tak ada orang lain yang bisa mengambil alih perannya: mustahil bisa menjauh dari semua itu. "Aku baik-baik saja," ujarnya. "Aku minum terlalu banyak, tapi sake meredakan rasa sakitku. Ishida memberiku minuman pengurang rasa sakit, tapi aku sudah kebal dengannya—aku jarang-jarang meminum-nya. Kami akan menginap semalam di sini: aku ingin putra Arai melihat biara ini dan bertemu denganmu. Dia akan tinggal ber¬sama keluargaku. Mungkin aku akan mengirimnya kemari dalam satu atau dua tahun lagi." Dahi Makoto berkerut. "Zenko sedang buat masalah?" "Lebih dari biasanya. Dan ada perkem¬bangan di wilayah Timur yang harus kuceritakan padamu. Aku harus merencana¬kan jawabanku dengan hati-hati. Bahkan mungkin aku harus pergi ke Miyako. Kita akan bicarakan hal iiu nanti. Bagaimana kabar Lord Matsuda? Aku juga berharap bisa mendapatkan saran darinya." "Beliau masih bersama kami," sahut Makoto. "Jarang makan, bahkan sepertinya tidak pernah tidur. Tampaknya beliau sudah separuh berada di dunia lain. Tapi pikiran¬nya masih tetap jernih, bahkan mungkin lebih jernih, seperti danau di pegunungan." Halaman 504 dari 504 "Kuharap pikiranku ada di sini," ujar Takeo, selagi mereka berjalan kembali ke biara. "Tapi pikiran lebih menyerupai salah satu kolam ikan itu: penuh gagasan dan masalah juga sampah di sekelilingnya, masing-masing berusaha menarik perhatian¬ku." "Kau seharusnya mencoba menenangkan pikiran setiap harinya," Makoto mengamati. "Satu-satu kemampuan meditasi yang kumiliki adalah kemampuan Tribe—dan tujuannya agak berbeda!" "Tapi bila kuamati kemampuan itu begitu memang ada dalam dirimu dan anggota Tribe lainnya, sangat berbeda dengan kami yang harus melalui disiplin diri dan pengenalan diri." Takeo tidak setuju: ia belum pernah melihat Makoto atau murid-muridnya meng¬gunakan kemampuan menghilang, atau menggunakan sosok kedua. Dirasakannya keraguan Makoto, dan menyesalinya. "Aku tak punya waktu bermeditasi, lagi¬pula aku hanya mendapat sedikit pelatihan atau pendidikan tentang ajaran itu. Dan aku tidak tahu kalau itu bisa membantu. Aku terlibat dalam pemerintahan... paling tidak, saat ini, jika tidak bisa disebut peperangan." Makoto tersenyum. "Kami di sini men¬doakanmu setiap waktu." "Kukira itu bisa membuat perbedaan! Mungkin doa kalian yang telah memper¬tahankan kedamaian selama hampir lima belas tahun." "Aku yakin begitu," sahut Makoto tenang. "Bukan hanya doa yang hampa atau lantunan pujian tanpa makna, tapi keseimbangan spiritual yang kami pertahankan di sini. Kupakai kata "mempertahankan" untuk me¬nunjukkan otot dan kekuatan yang dibutuh¬kan; kekuatan pemanah untuk mem¬bengkokkan busur atau balok di menara lonceng untuk menahan berat lonceng." "Aku percaya. Aku melihat perbedaan dalam diri para ksatria yang mengikuti ajaranmu: disiplin dan welas asih mereka. Tapi bagaimana ini bisa membantuku menghadapi Kaisar dan jenderal barunya, yang akan memerintahkan aku mengasing¬kan diri?" "Saat kau ceritakan semuanya nanti, kami akan berikan saran untukmu," Makoto ber¬janji. "Kita makan dulu, lalu kau ber¬istirahat." *** Setelah selesai makan siang sederhana yang terdiri dari sayuran, sedikit nasi, dan sop, hujan mulai turun dengan derasnya. Cahaya mulai meredup, kehijauan, dan tiba-tiba keinginan untuk berbaring tak tertahankan lagi. Makoto mengajak Sunaomi bertemu dengan beberapa murid yang masih muda; Jun dan Shin duduk di luar, minum teh dan berbincang-bincang dengan suara pelan. Takeo tertidur, rasa sakitnya berkurang seolah luruh dengan bunyi rintik hujan bak gendang bertalutalu di aiap. Ia tidak ber¬mimpi, dan terbangun dengan pikiran yang lebih jernih. Lalu mandi di mata air panas, menge-nang ketika ia berendam di kolam yang sama saat salju turun sewaktu melarikan diri ke Terayama bertahun-tahun lalu. Setelah selesai berpakaian, Takeo melangkah ke beranda tepat saat Makoto dan Sunaomi kembali. Takeo menyadari kalau bocah itu ter¬sentuh oleh sesuatu. Wajahnya bersinar dan matanya berkilauan. "Lord Miyoshi menceritakan bagaimana dia hidup di pegunungan sendirian selama lima tahun. Beruang memberinya makan, dan pada malam-malam yang dingin mem¬beku meringkuk memeluknya agar tetap hangat!" "Gemba ada di sini?" tanya Takeo pada Makoto. "Dia kembali saat kau tidur. Dia sudah tahu kau ada di sini." "Bagaimana Lord Miyoshi bisa tahu?" tanya Sunaomi. "Lord Miyoshi tahu hal-hal semacam ini," sahut Makoto sambil tertawa. Halaman 505 dari 505 "Apakah beruang-beruang itu yang mem beri tahunya?" "Kemungkinan begitu! Lord Otori, mari kita menemui Kepala Biara." Meninggalkan Sunaomi bersama kedua pengawal pribadinya, Takeo berjalan bersama Makoto melewati aula tempat makan di biara, tempat rahib-rahib muda mem bereskan mangkuk bekas makan malam, menyeberangi sungai kecil yang dialihkan airnya agar mengalir melewati dapur, dan ke pelataran di depan aula utama. Di dalam aula utama ada ratusan lentera dan lilin yang menyinari patung emas Sang Pencerah, dan Takeo mengenal sosok tanpa suara yang sedang duduk bermeditasi di dalamnya. Mereka mengikuti jalan setapak terbuat dari papan menyeberangi satu cabang lagi aliran sungai kecil menuju aula tempat lukisan Sesshu, dan menghadap ke taman. Hujan telah reda, malam telah menjelang dan be¬batuan di taman tampak seperti bayangan hitam, nyaris tak terlihat. Harum lembut bunga serta tanah yang basah merebak ke dalam aula. Bunyi air terjun kedengaran lebih keras di sini. Di ujung cabang utama sungai kecil, yang mengalir di sepanjang taman dan menuruni gunung, berdiri griya tamu perempuan tempat Takeo dan Kaede menghabiskan malam pertama pernikahan mereka. Tempat itu kini kosong; tak ada cahaya yang bersinar dari dalamnya. Matsuda sudah berada di aula, bersandar pada bantalan tebal yang disangga dua rahib tanpa suara dan tidak bergerak. Matsuda sudah tua saat pertama kali Takeo bertemu dengannya; kini sepertinya dia telah melewati jauh dari batasan usia yang mengekang, bahkan batasan kehidupan, dan telah me¬masuki dunia jiwa yang suci. Takeo berlutut lalu membungkuk sampai ke lantai di hadapannya. Matsuda adalah satu-satunya orang di Tiga Negara yang paling dihormatinya. "Mendekatlah," ujar Matsuda. "Biar ku¬lihat dirimu. Biar kusentuh dirimu." Kasih sayang dalam nada suaranya mem¬buat Takeo terharu. Dirasakannya air mata mengambang ketika laki-laki tua itu men¬condongkan badan ke depan lalu menepuk¬kan tangan. Mata Matsuda mencari-cari wajah Takeo; merasa malu akan air mata yang sebentar lagi tumpah, Takeo tidak membalas tatapannya malah melihat ke belakang, ke lukisan-lukisan Sesshu indah. Waktu tidaklah bergerak bagi lukisan¬lukisan itu, pikirnya. Kuda, bangau—mereka masih seperti dulu, sedangkan begitu banyak orang yang pernah melihat mereka kini telah tiada, terbang jauh bak burung gereja. Satu satu kasa yang kosong, menurut legenda, lukisan burung-burung itu begitu hidup hingga akhimya terbang. "Jadi Kaisar merasa khawatir dengan diri¬mu," ujar Matsuda. "Putra Fujiwara, Kono, datang berpura¬pura mengunjungi tanah milik ayahnya, tapi sebenarnya dia memberitahuku bahwa aku telah membuat Kaisar merasa tidak senang— bahkan dianggap penjahat; aku diminta untuk mengundurkan diri dan mengasingkan diri." "Aku tidak kaget kalau Kaisar bingung dan takut padamu," Matsuda tertawa kecil. "Aku hanya terkejut mengapa begitu lama baru mereka mengancammu." "Kurasa ada dua alasan; pertama Kaisar memiliki jenderal baru yang telah menakluk¬kan wilayah Timur dan sekarang pasti meng¬anggap dirinya cukup kuat untuk meman¬cing kita. Alasan yang lainnya adalah Arai Zenko telah berhubungan dengan Kono. Aku mencurigai Zenko menganggap dirinya sebagai penerusku." Takeo merasakan amarahnya meletup lagi, dan segera menyadari kalau Matsuda dan Makoto melihatnya. Di saat bersamaan, diperhatikannya ada satu orang lain berada di dalam aula, duduk di bawah bayangan di belakang Matsuda. Orang ini mencondong¬kan badan ke depan sekarang, dan Takeo sadar kalau orang itu adalah Miyoshi Gemba. Usia mereka hampir sebaya, tapi seperti hal¬nya Makoto, Gemba Halaman 506 dari 506 nampak tidak berubah seiring dengan berjalannya waktu. Gemba memandangnya dengan tatapan lembut, santai namun penuh kekuatan—hampir seperti beruang. Sesuatu terjadi pada lentera. Cahayanya berkedip-kedip dan seberkas cahaya terang melompat di depan mata Takeo. Sesaat melayang-layang, kemudian melesat bak bintang jatuh ke arah taman yang gelap. Terdengar olehnya desisan cahaya tadi saat hujan memadamkannya. Di saat yang sama amarahnya lenyap. "Gemba," ujar Takeo. "Aku senang ber¬temu denganmu! Tapi apakah kau meng¬habiskan waktu dengan belajar tipuan sulap di sini?" "Kaisar dan istananya sangat percaya takhayul," sahut Gemba. "Mereka punya banyak peramal, ahli nujum dan penyihir. Bila aku menemanimu, kau mungkin bisa yakin kalau kami mampu menandingi tipuan mereka." "Jadi aku harus pergi ke Miyako?" "Ya," sahut Matsuda. "Kau harus hadapi mereka sendiri. Kau akan mendapatkan dukungan Kaisar." "Aku akan membutuhkan lebih dari sekadar tipuan Gemba untuk membujuknya. Kaisar sedang membangun kekuatan untuk melawanku. Aku takut kalau satu-satunya jawaban yang masuk akal yaitu dengan kekerasan." "Sebentar lagi akan ada pertandingan ber¬taraf kecil di Miyako," ujar Gemba. "Itu sebabnya aku harus ikut bersamamu. Putri¬mu juga harus ikut." "Shigeko? Tidak, terlalu berbahaya." "Kaisar harus bertemu dengannya dan memberi restu serta persetujuan kepadanya bila dia memang akan menjadi penerusmu— seperti yang seharusnya." Seperti Gemba, Matsuda mengeluarkan kata-kata ini dengan penuh keyakinan. "Kita tidak perlu membahas hal ini?" tanya Takeo. "Kita tidak perlu mempenimbangkan pilihan Iain, dan mencapai kesimpulan yang bijaksana?" "Kita bisa membahasnya bila kau mau," sahut Matsuda. "Tapi aku sudah sampai pada usia dimana perbincangan membuatku lelah. Aku bisa lihat titik akhir yang akan dicapai. Maka langsung saja ke bagian akhirnya." "Aku juga harus meminta pendapat dan saran istriku," ujar Takeo. "Begitu pula hal¬nya dengan para pengawal senior, dan jenderalku, Kahei." "Kahei akan selalu memilih perang," kata Gemba. "Begitulah sifatnya. Tapi kau harus menghindari bentrokan senjata secara ter¬buka, terutama bila prajurit dari wilayah Timur mempunyai senjata api." Kulit kepala dan leher Takeo terasa seperti dihujam perasaan gelisah. "Kau yakin?" "Tidak, aku hanya menduga kalau tak lama lagi mereka akan memilikinya." "Sekali lagi, ini ulah Zenko yang meng¬khianatiku." "Takeo, sahabatku, bila kau memperkenal¬kan penemuan baru, baik itu senjata atau apa saja, jika memang efektif, rahasianya akan dicuri. Begitulah sifat manusia." "Jadi seharusnya tidak kubiarkan pengem¬bangan senjata api?" Satu hal yang kerap disesalinya. "Begitu benda itu diperkenalkan padamu, tak dapat dihindari kalau kau akan mengembangkannya dalam pencarianmu akan kekuatan dan kekuasan. Sama tidak ter¬hindarkannya ketika musuh-musuhmu menggunakannya dalam usaha untuk men¬jatuhkan dirimu." "Maka aku harus memiliki senjata api yang lebih banyak dan lebih baik dibanding¬kan mereka! Aku harus serang mereka lebih dulu, mengejutkan mereka, sebelum mereka sempat mempersenjatai diri." "Itu bisa menjadi strategi yang baik," kata Matsuda mengamati. Halaman 507 dari 507 "Tentu saja, adikku, Kahei, akan mem¬berimu saran seperti itu," timpal Gemba. "Makoto," kata Takeo. "Kau diam saja. Bagaimana pendapatmu?" "Kau tahu aku tidak bisa menyarankanmu memulai perang." "Jadi kau takkan memberi saran? Kau akan duduk di sini dan melantunkan doa serta memainkan tipuanmu dengan api, sementara semua yang sudah kuraih hancur berantakan?" Bisa didengarnya nada suaranya sendiri lalu ia diam seribu bahasa, setengah merasa malu atas kekesalannya dan setengah takut Gemba akan menggunakan api untuk membuang amarahnya. Kali ini tak ada unjuk kebolehan tipuan, namun kesunyian yang makin dalam meng¬hasilkan efek yang sama kuatnya. Takeo me¬rasakan kombinasi antara ketenangan dun kejernihan dari pikiran ketiga orang itu dan tahu kalau mereka mendukungnya, namun berusaha mencegahnya agar tidak bertindak gegabah ataupun berbahaya. Banyak orang di sekitarnya yang hanya bisa memuji dan tunduk padanya. Sedangkan orang-orang ini tidak melakukan itu, dan Takeo lebih memercayai mereka. "Bila aku harus ke Miyako, haruskah aku pergi secepatnya? Saat musim gugur, saat cuaca membaik?" "Tahun depan, mungkin, saat salju sudah mencair," tutur Matsuda. "Jangan terburu¬buru." "Itu memberi mereka waktu untuk mem¬bangun kekuatan militer!" "Itu juga memberimu waktu untuk menyiapkan diri," sahut Makoto. "Kurasa kau harus pergi dengan kemewahan yang tiada tara, membawa hadiah-hadiah yang paling indah." "Juga memberi waktu pada putrimu untuk menyiapkan dirinya," tutur Gemba. "Tahun ini Shigeko berusia lima betas tahun," ujar Takeo. "Dia sudah cukup dewasa untuk ditunangkan." Pikiran itu mengganggunya: baginya Shigeko masih anak-anak. Siapa orang yang pantas menjadi jodohnya? "Itu juga menjadi nilai lebih di pihakmu," gumam Makoto. "Sementara ini dia harus menyempurna¬kan keahlian berkuda, dan memanah," seru Gemba. "Dia takkan sempat menunjukkan semua keahliannya di ibukota," kata Takeo. "Kita lihat saja nanti," sahut Gemba, dan tersenyum dengan ekspresi penuh teka-teki. "Jangan khawatir," imbuhnya, seolah memerhatikan rasa kesal Takeo. "Aku akan ikut denganmu, dan takkan ada yang akan menyakitinya." Kemudian dia berkata dengan nada bijaksana: "Putri-putri yang layak mendapat¬kan perhatianmu lebih dari putra-putra yang tidak kau miliki." Kata-kata itu terasa bagaikan hujaman kritikan tajam dan menyengat, karena ia mengagumi kenyataan bahwa dirnya men¬jalani semua pendidikan dan pelatihan bagi anak laki-laki: Shigeko dengan cara ksatria, si kembar dengan ketrampilan Tribe. Takeo mengatupkan bibir lalu membungkuk hormat di hadapan Matsuda. Orang itu memberi isyarat untuk mendekat dan merangkulkan tangannya yang lemah pada Takeo. Ia tidak bicara sepatah ia pun, tapi tiba-tiba ia sadar kalau Matsuda sedang mengucapkan selamat tinggal, kalau ini adalah pertemuan mereka yang terakhir. Takeo mundur sedikit agar bisa menatap dalam-dalam mata sang pendeta tua. Matsuda adalah satu-satunya orang yang bisa kutatap langsung wajahnya, pikirnya. Satu¬satunya orang yang tidak jatuh dalam sihir tidur Kikuta. Seolah bisa membaca pikirannya, Matsuda berkata, "Aku tidak meninggalkan siapa-siapa selain dua penerus yang berharga—tak ter¬nilai harganya. Jangan membuang waktumu dengan menyesali kepergianku. Kau sudah tahu apa yang perlu kau ketahui. Berusahalah mengingatnya." Halaman 508 dari 508 Nada suaranya mengandung gabungan antara kasih sayang dan amarah yang sering digunakannya saat mengajari Takeo cara menggunakan pedang. Sekali lagi Takeo harus mengedipkan mata agar air matanya tidak jatuh. Sewaktu Makoto menemaninya ke griya tamu, sang biarawan berkata, "Kau ingat saat pergi seorang diri ke sarang perompak di Oshima? Miyako tidak mungkin lebih ber¬bahaya dari tempat itu!" "Kala itu aku masih muda dan tanpa rasa takut. Aku tak percaya ada orang yang bisa membunuhku. Kini aku sudah tua, cacat, dan rasa takutku jauh lebih banyak bukan hanya takut kehilangan nyawaku sendiri, tapi juga nyawa anak-anakku, dan istriku, juga negara dan rakyatku, bila aku mati, mereka tanpa perlindungan." "Itu sebabnya yang terbaik yaitu dengan menunda jawabanmu: kirimkan pesan yang penuh pujian, hadiah dan janji-janji. Kau selalu bertindak tanpa berpikir: semua yang kau lakukan dilakukan dengan tergesa-gesa. " "Itu karena aku sadar kalau aku tak akan hidup lama. Hanya ada sedikit waktu untuk meraih apa yang ingin kuraih." *** pikir panjang, dan bermimpi berada di Yamagata, di malam ia memanjat ke kastil lalu mengakhiri penderitaan kaum Hidden yang disiksa. Dalam mimpinya, ia bergerak lagi dengan kesabaran tanpa batas Tribe, melewati malam yang terasa tanpa akhir. Kenji mengajarinya cara membuat waktu bergerak lambat atau mempercepatnya sesuai keinginan. Dilihat dalam mimpinya bagai¬mana dunia berubah sesuai dengan harapan-nya, dan terbangun dengan perasaan kalau semacam misteri baru saja terangkat dari dalam dirinya, tapi juga dengan semacam kebahagiaan tiada tara, dan dengan anehnya ia terbebas dari rasa sakit. Saat itu hari hampir terang. Tak terdengar rintik hujan, hanya kicau burung dan tetesan sisa air hujan dari tepi atap. Sunaomi duduk di atas matras sambil menatapnya. "Paman? Paman sudah bangun? Bisakah kita pergi dan melihat burung houou?" Para pengawal Arai tetap berjaga semalaman di luar, walaupun Takeo sudah meyakinkan mereka kalau Sunaomi lak dalam bahaya. Kini mereka berdiri setengah melompat, membantu tuan muda mereka memakai sandal, lalu mengikuti sewaktu Takeo membimbingnya berjalan ke gerbang utama. Palang gerbang sudah dibuka sejak matahari terbit dan sudah ditinggalkan penjaganya untuk sarapan. Setelah melewati gerbang itu, mereka berbelok ke kanan dan mengambil jalan sempit menuju dinding sebelah luar dari dataran biara dan berjalan naik ke lereng gunung yang curam. Tanahnya keras dan berbatu, kerap terasa licin karena hujan. Setelah beberapa saat, salah seorang pengawal menggendong Sunaomi. Langit tampak cerah, biru pucat, matahari baru saja terbit di timur pegunungan. Jalannya menanjak dan menuju hutan pohon beech dan pohon ek. Hamparan bunga liar musim panas menyelimuti per¬mukaan tanah, dan burung melantunkan nyanyian dengan saling bersahutan. Nanti udara akan terasa panas, tapi kini udara terasa sempurna, didinginkan hujan, dan tenang. Takeo bisa mendengar gemerisik de¬daunan dan kepakan sayap yang menunjuk¬kan keberadaan burung houou di dalam hutan di depan sana. Di sini, di antara pepohonan berdaun lebar, terdapat sebuah rumput ilalang tinggi yang menjadi tempat yang paling disukai burung-burung itu untuk bersarang dan bertelur, walaupun kabarnya mereka makan daun bambu. Kini jalannya lebih mudah dilewati, Sunaomi meminta agar diturunkan, dan yang membuat Takeo terkejut, anak itu memerintahkan kedua orang itu menunggu di sini sementara dia berjalan ke depan ber¬sama Lord Otori. Halaman 509 dari 509 Sewaktu mereka sudah berada di luar jangkauan pendengaran kedua pengawal itu, Sunaomi berkata dengan nada penuh rahasia pada Takeo, "Aku pikir Tanaka dan Suzuki tidak perlu melihat burung houou. Mungkin saja mereka ingin memburu atau mencuri telurnya. Aku pemah mendengar kalau telur burung houou bernilai tinggi." "Mungkin nalurimu benar," sahut Takeo. "Mereka tidak seperti Lord Gemba dan Lord Makoto," ujar Sunaomi. "Aku tidak tahu cara mengungkapkannya. Kedua pengawal itu bisa melihat, tapi takkan mengerti." "Kau mengutarakannya dengan sangat baik," sahut Takeo sambil tersenyum. Kicau penuh semangat terdengar dari atas kepala mereka, diikuti oleh jeritan parau sebagai jawabannya. "Itu mereka," bisik Takeo, seperti biasa rasa kagum pada burung suci itu bangkit dalam dirinya. Seruan mereka seperti juga kehadiran mereka, indah serta aneh, anggun juga canggung. Burungburung itu memang memberi semangat sekaligus agak lucu. Ia takkan terbiasa dengan kehadiran mereka. Sunaomi mendongak, wajahnya tampak terpesona. Lalu seekor burung melesat keluar dari balik rimbunnya dedaunan dan me¬ngepakkan sayap ke pohon berikumya. "Itu burung jantan," tutur Takeo. "Dan ini dia yang betina." Sunaomi tertawa gembira sewaktu burung kedua terbang menukik melintasi padang rumput, ekornya panjang dan halus, matanya cemerlang bak kilauan emas. Bulunya berwarna-warni, dan saat mendarat di dahan, selembar melayang jatuh. Kedua burung itu memalingkan kepala saling berpandagan, berseru lagi, masing¬masing dengan suara yang khas melihat sebentar tapi dengan tatapan tajam ke arah kro, kemudian terbang menjauh ke dalam hutan. "Ah!" Sunaomi menahan napas lalu mengejar mereka, menatap ke atas tanpa memerhatikan jalan hingga dia jatuh di atas rumput. Ketika berdiri, bulu itu berada di tangannya. "Lihat, Paman!" Takeo menghampiri bocah itu kemudian mengambil bulu itu. Matsuda pemah mem¬perlihatkan bulu burung houou, bersayap putih. dengan ujung bulu warna merah. Bulu itu berasal dari burung yang pernah dilihat Shigeru ketika masih kecil, dan sejak saat itu diawetkan di biara. Bulu yang ini berwarna kuning keemasan gelap, selain dari batang bulunya yang berwarna putih bersih. "Simpanlah," katanya pada Sunaomi. "Bulu itu akan mengingatkanmu pada hari ini, dan anugerah yang kau peroleh. Inilah sebabnya kami selalu mencari kedamaian, agar burung houou tidak meninggalkan Tiga Negara." "Aku akan berikan bulu ini ke biara," sahut Sunaomi, "sebagai sumpah bahwa kelak aku akan kembali dan belajar pada Lord Gemba." Anak ini baik hati, pikir Takeo. Aku akan membesarkannya sebagai putraku.* Setelah kepergian Takeo dan Sunaomi, Taku duduk d beranda sambil menatap taman yang basah kuyup tersiram hujan, memikir¬kan semua ucapan sepupu ibunya itu. Masalah itu mengganggunya lebih dari yang ia duga, karena hal itu dapat menjerumuskan ia dalam konflik ter buka dengan kakaknya, sesuatu yang ia berharap bisa dihindari. Betapa bodohnya Zenko, pikirnya, dan sedari dulu dia selalu begitu. Sama seperti ayah! Halaman 510 dari 510 Di usia sepuluh tahun, sebelum gempa mengguncang kota, ia menyaksikan ayahnya mengkhianati Takeo. Zenko menyalahkan Takeo atas kematian Arai, namun Taku me¬nafsirkan seluruh adegan itu dengan cara yang berbeda. Ia tahu kalau ayahnya me¬merintahkan untuk membunuh ibunya: ia tak bisa melupakan atau memaafkan niat ayahnya untuk ia dan kakaknya. Taku mengira Takeo akan membunuh Zenko— seringkali setelah kejadian itu ia bermimpi kalau Takeo memang membunuhnya—dan tidak pernah bisa memahami kebencian Zenko terhadap Takeo karena membiarkan¬nya tetap hidup. Sejak kecil Taku memuja Takeo sebagai pahlawan, dan sebagai laki-laki dewasa, ia menghormati dan mengagumi Takeo. Ter¬lebih lagi, keluarga Muto telah bersumpah pada keluarga Otori: ia tak akan melanggar sumpah itu. Bila tidak terikat oleh kewajiban pcnghormatan dan kesetiaan, ia pasti akan sama bodohnya dengan Zenko: kedudukan di Tiga Negara adalah segala yang diingin¬kanya, memberinya kekuasaan dan status serta memungkinkan dirinya mengambil banyak keuntungan dari semua bakatnya. Takeo juga mengajarinya semua hal yang pernah dia pelajari dari Kikuta. Taku tersenyum pada dirinya sendiri, mengenang seringkali tertidur terkena ilmu tidur Kikuta sampai akhimya bisa menghindarinya— bahkan sampai ia pun mampu melakukan¬nya. Ada ikatan kuat antara mereka berdua; mereka mirip dalam banyak hal, dan keduanya memahami konflik akibat darah campuran. Namun, seorang kakak tetap saja kakak, dan Taku dibesarkan untuk menghormati hierarki Tribe. Ia mungkin siap membunuh Zenko, seperti yang diucapkan pada Takeo, tapi takkan menghina kakaknya dengan mengabaikan haknya untuk mengajukan pendapat siapa yang akan menjadi kepemim¬pinan keluarga Muto. Taku memutuskan akan mengusulkan ibunya, Shizuka, keponakan Kenji. Usulan ini mungkin bisa diterima semua pihak. Suami ibunya, tabib Ishida, akan mem¬bawa anak Zenko yang satu lagi ke Hagi. Ia bisa membawa surat atau pesan lisan kepada Shizuka. Ishida, menurut Taku, cukup bisa dipercaya. Kelemahan utama laki-laki itu terletak pada keluguannya, seolah dia sulit memahami kekejian yang mungkin terpendam dalam sifat manusia. Terlepas dari keberanian yang dibutuhkan untuk bisa pergi jauh dalam penjelajahannya, secara fisik, Ishida bukan seorang pemberani, dan tidak suka bertarung. Taku sendiri akan tetap berada di dekat Zenko dan Kono, bahkan mungkin melaku¬kan perjalanan bersama Kono ke wilayah Barat, tempat ia akan mengatur pertemuan dengan Sugita Hiroshi, teman lamanya. Penting bagi Kono mendapat gambaran Tiga Negara yang sebenarnya untuk dibawa pulang ke ibukota, menjelaskannya kepada Kaisar bahwa Lord Otori didukung penuh di Maruyama dan Inuyama, sedangkan Zenko berdiri sendiri. Cukup puas dengan keputusan ini, Taku pergi ke istal untuk melihat keadaan si kuda tua, Ryume, yang sudah pulih dari kelelahan karena perjalanan jauh. la senang dengan apa yang ditemukannya di sana: apa pun kesa¬lahan kakaknya, pengetahuan dan kepeduli¬annya pada kuda tak ada tandingannya. Ryume sudah dibersihkan: surai dan ekornya dibersihkan dari lumpur dan tak lagi kusut; kuda itu diberi makan cukup dan kelihatan senang. Meskipun sudah tua, Ryume masih tetap kuda yang baik, dan perawat kuda mengaguminya secara terang-terangan, bah¬kan memperlakukan Taku dengan rasa hor¬mat yang lebih besar lagi. Taku masih mengelus-elus dan memberi¬nya makan wortel sewaktu Zenko datang ke area istal. Mereka saling menyapa dengan penuh kehangatan, karena masih ada sisa-sisa kasih sayang di antara mereka, ikatan dari masa kanak-kanak yang sejauh ini bisa mencegah keretakan hubungan mereka. "Kau masih memiliki anak Raku," ujar Zenko, mengulurkan tangan dan meng¬gosok-gosok alis si kuda. Taku ingat pada rasa iri Zenko ketika mereka kembali ke Hagi pada musim semi bersama dua kuda jantan yang tampan, satu milik Hiroshi dan satu lagi miliknya, indikasi jelas kasih sayang Takeo pada mereka berdua, hanya semakin menekankan sikap dinginnya terhadap Zenko. Halaman 511 dari 511 "Akan kuberikan kuda ini untukmu," ujarnya tanpa rpikir panjang. "Dia belum terlalu tua untuk dikawinkan dan mendapat¬kan anak." Selain anak-anaknya, Taku tidak bisa menawarkan sesuatu yang lebih berharga lagi. Ia berharap kemurahan hatinya bisa melembutkan perasaan Zenko terhadapnya. "Terima kasih, tapi aku takkan menerima¬nya," sahut Zenko. "Ryume adalah hadiah dari Lord Otori, lagipula kurasa dia sudah terlalu tua untuk punya anak." "Seperti Lord Otori," komentarnya se¬waktu mereka kembali ke kediaman, "yang harus memiliki putra dari laki-laki yang lebih muda." Taku sadar kalau perkataan ini semestinya hanyalah lelucon, tapi ada nada sinis di dalamnya. Kakakku mengartikan segala se¬suatunya sebagai penghinaan, pikirnya. "Sungguh kehormatan bagimu dan istri¬mu," katanya dengan ringan, tapi wajah Zenko tampak murung. "Benarkah suatu kehormatan, atau kini mereka menjadi tawanan?" tanyanya. "Itu tergantung padamu," sahut Taku. Zenko menanggapi dengan jawaban yang tidak tegas lalu mengalihkan topik pem¬bicaraan. "Bukankah kau harus pergi ke rumah keluarga Muto untuk upacara pemakaman?" tanya Zenko sewaktu mereka duduk di datam. "Lord Takeo ingin mengadakan upacara di Hagi. Ibu ada di sana, dan karena tak ada jenazah yang bisa makamkan...." "Tidak ada jenazah? Jadi Kenji mati di mana? Dan bagaimana kita tahu kalau dia memang sudah mati? Ini bukan pertama kalinya dia menghilang demi kepentingan¬nya sendiri?" "Aku yakin Paman sudah tiada." Taku melihat kakaknya sekilas lalu melanjutkan perkataannya, "Paman sakit parah: mungkin meninggal akibat sakit paru-paru, tapi misi yang sedang dilaksanakannya luar biasa ber¬bahaya, dan telah mengatur untuk kembali secepatnya ke Inuyama jika berhasil. Aku katakan ini padamu dengan penuh ke¬yakinan. Kabar resminya adalah: Paman meninggal karena sakit paru-paru." "Bukan mati di tangan Kikuta?" ujar Zenko setelah terdiam lama. "Mengapa kau berpikir begitu?" "Aku mungkin saja memakai nama Ayah, adikku, tapi itu tak mengubah kenyataan kalau aku sama sepertimu, keluarga Tribe. Aku punya orang dalam di kalangan Muto— dan di kalangan Kikuta. Semua orang tahu kalau putra Akio adalah cucu Kenji. Pasti Kenji sangat ingin bertemu dengannya— Kenji sudah tua, kesehatannya memburuk. Akio, kabarnya, tidak pernah memaafkannya dan juga Takeo atas kematian Kotaro. Aku hanya menarik kesimpulan dari fakta yang ada. Aku harus melakukannya karena Takeo tak memercayaiku seperti dia memercayai¬mu." Taku merasakan kebencian dalam suara kakaknya, tapi yang mengkhawatirkannya dibandingkan komentamya bahwa dia me miliki orang dalam di kalangan Kikuta. Benarkah itu, atau Zenko hanya membual? Taku menanti dalam diam, melihat apa lagi yang akan Zenko ungkapkan. "Tentu saja ada desas-desus di desa Muto mengenai anak itu," lanjut Zenko. "Bahwa Takeo adalah ayahnya, bukan Akio." Zenko berkata dengan santai, tapi Taku tahu betul minat mendalam di balik kata-kata itu. "Hanya Muto Yuki yang tahu pasti," sahut Taku. "Dan dia meninggal tak lama setelah anak itu lahir." "Ya, aku ingat," kata Zenko. "Baiklah, siapa pun ayahnya, anak itu adalah cucu Kenji, dan keluarga Muto memiliki kepen¬tingan padanya. Bila aku menjadi Ketua, aku akan menghubungi Kikuta berkaitan dengan anak itu." Halaman 512 dari 512 "Mungkin sebaiknya kita biarkan saja pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi penerus Kenji sampai kita membicarakannya dengan ibu," sahut Taku sopan. "Aku ngak terkejut bila harus mengingatkanmu bahwa Ketua keluarga biasanya memiliki kemampu¬an tinggi." Kemarahan Zenko mulai meluap, matanya menyipit. "Aku memiliki banyak kemampu an Tribe, adikku. Kemampuan-kemampuan itu mungkin tidak semenyolok kemampuan yang kau miliki, tapi sangat efektifl! Taku agak menunduk—dengan tidak tulus—agar kelihatan patuh, lalu mereka ber¬ganti topik pembicaraan yang lebih aman. Tak lama kemudian Lord Kono datang bergabung; menyantap makan siang bersama kemudian pergi bersama Hana dan kedua putranya untuk melihat kirin. Setelah itu tabib Ishida diundang ke kediaman agar bisa lebih akrab dengan Chikara sebelum meng¬ajaknya pergi ke Hagi. Ishida tampak sangat gugup bertemu Kono, dan bahkan lebih tegang lagi sewaktu sang bangsawan bertanya tentang waktu yang pernah dilewatkannya di kediaman Lord Fujiwara. Ishida menerima undangan itu dengan enggan, dan datang agak terlambat saat makan malam, dalam keadaan agak mabuk. Taku sendiri merasa tegang, gelisah me¬mikirkan pembicaraannya dengan Zenko dan sadar akan semua perasaan terpendam di ruangan itu selama mereka makan. Sesuai kebiasaannya, Taku tidak memperlihatkan-nya, ia berbincang ringan dengan Kono, memuji Hana atas hidangannya dan kedua putranya serta berusaha menarik Ishida ke topik pembicaraan yang tidak menyinggung, seperti adat istiadat orang-orang nomaden atau siklus hidup ikan paus. Hubungan Taku dengan kakak iparnya agak menyakitkan hati. Taku tidak terlalu suka ataupun percaya pada Hana tapi perempuan itu punya kecerdasan dan semangat yang tak pernah berhenti dikaguminya—dan tak ada laki-laki yang tidak terpesona oleh kecantikannya. Kini Taku ingat bagaimana mereka semua terpesona olehnya saat masih anak-anak-dia, Zenko dan Hiroshi. Mereka semua mem¬buntutinya ke mana pun Hana pergi bak anjing dengan lidah terjulur keluar, dan saling bersaing untuk merebut perhatian gadis itu. Sudah menjadi rahasia umum kalau ayah Kono lebih suka berhubungan dengan laki¬laki ketimbang perempuan, tapi Taku tak melihat apa pun yang menunjukkan ke¬miripan sifat Kono dengan ayahnya. Taku seperti melihat ketertarikan yang cukup alami di balik perhatian Kono pada Hana. Mustahil bila tidak berhasrat pada Hana, pikirnya. dan pikirannya melayang mem bayangkan bagaimana rasanya terbangun dalam kegelapan dengan perempuan itu di sisinya. Hampir saja ia iri pada Zenko. "Tabib Ishidalah yang merawat ayah Anda," komentar Hana pada Kono. "Dan sekarang dia merawat kesehatan Lord Otori." Taku mendengar nada mendua hati sekaligus kedengkian dalam suaranya, dan hasratnya berubah menjadi rasa tidak suka. Ia bersyukur telah pulih dari perasaan tergila¬gila pada perempuan itu—dan tidak pernah merasakannya lagi. Ia langsung berpikir tentang istrinya sendiri, yang ia tahu bisa dipercaya dan dirindukannya. Musim panas kali ini akan berlangsung lama, dan melelah¬kan. "Dengan keberhasilan yang gemilang," sambung Zenko, "Tabib Ishida sudah sangat sering menyelamatkan Lord Otori dari kematian." "Ayahku selalu menghargai kemampuan Anda," ujar Kono pada Ishida. "Anda terialu berlebihan menyanjungku. Kemampuanku biasa saja." Taku mengira Ishida takkan berkomentar lebih banyak lagi tentang masalah ini, namun setelah menenggak habis sake sekali lagi, si tabib melanjutkan perkataannya, "Tentu saja kasus Lord Otori cukup mengagumkan, dari sudut pandang seorang laki-laki seperti diriku yang tertarik pada bagaimana cara manusia berpikir." Dia berhemi sejenak, kemudian membungkuk dan berkata dengan nada penuh rahasia. "Lord Otori percaya tak ada yang bisa membunuh dirinya—dia telah membuat dirinya kekal." Halaman 513 dari 513 "Bcnarkah?" gumam Kono. "Kedengaran¬nya terlalu pongah. Apakah itu semacam takhayul?" "Kurang lebih begitu. Dan sangat berguna. Ada semacam ramalan—Taku, kau ada di sana ketika pamanmu yang malang—" "Aku tidak ingat," sahut Taku cepat. "Chikara, bagaimana perasaanmu tentang perjalanan lewat laut bersama kirin?" Chikara menelan ludah saat diajak bicara pamannya, dan belum sempat dia menyahut, Zenko lalu bertanya, "Ramalan apa?" "Bahwa Lord Otori hanya bisa mati di tangan putranya." Ishida minum lagi. "Mengapa aku membicarakan hal itu? Oh ya, efek dari kuatnya kepercayaan itu berimbas pada tubuhnya. Dia percaya tidak bisa di¬bunuh, dan tubuhnya bereaksi dengan sembuh dengan sendirinya." "Mengagumkan," sahut Kono dengan sikap halus. "Lord Otori memang berhasil luput dari banyak serangan atas dirinya. Pernahkah kau tahu kasus-kasus serupa?" "Tentu aku tahu," sahut Ishida. "Dalam perjalanan ke Tenjiku, di sana ada orang¬orang suci yang bisa berjalan di atas api tanpa terbakar, serta berbaring di atas ranjang berpaku tanpa melukai kulit mereka." "Kau tahu hal ini, adikku?" tanya Zenko pelan, sementara Kono mendesak Ishida menceritakan lebih banyak banyak lagi ten- tang perjalanan-perjalanannya. "Itu tidak lebih dari kepercayaan takhayul," sahut Taku ringan, dalam hati berharap segala siksaan neraka menimpa si tabib yang sedang mabuk. "Keluarga Otori merupakan sasaran desas-desus." "Kakakku, Kaede, pernah menjadi sasaran desas-desus semacam itu," timpal Hana. "Dia seharusnya membawa kematian pada laki-laki manapun yang menginginkan dirinya, tapi Lord Takeo terhindar dari bahaya itu. Syukur dipanjatkan pada Surga," imbuhnya, seraya melirik ke arah Taku. Tawa yang mengikuti kata-kata Hana selanjutnya terdengar agak kurang nyaman, karena lebih dari satu orang yang hadir di sana mengingat kalau Lord Fujiwara me¬nikahi lain Kaede secara paksa hingga bangsawan itu mati. "Tapi semua orang tahu tentang Lima Pertempuran," lanjut Zenko. "Dan gempa bumi—'Bumi menghantarkan apa yang diinginkan Surga.'" Dilihatnya wajah Kono yang penuh tanda tanya lalu menjelaskan, "Ada ramalan seorang perempuan suci, yang dipastikan oleh kemenangan Takeo dalam perang. Gempa bumi itu di percaya sebagai pertanda dari Surga, yang berpihak kepada¬nya." "Ya, begitulah yang aku dengar," sahut Kono, dengan nada mengejek. "Alangkah enaknya bagi sebuah kemenangan memiliki ramalan yang berguna." Dia minum lalu bicara dengan lebih serius, "Di ibukota gempa bumi biasanya dianggap sebagai hukuman atas tindak kejahatan, bukan anugerah." Taku tidak tahu apakah harus bicara dan memberi tahu Kono di mana kesetiaannya berpihak, atau diam saja dan kelihatan men¬dukung kakaknya. Ishida menyelamatkannya yang bicara dengan perasaan yang meluap¬luap. "Gempa itu menyelamatkan nyawaku. Dan nyawa istriku. Menurutku, kejahatan telah mendapatkan balasannya." Air matanya mengambang, lalu diseka dengan lengan baju. "Maaf, aku tak ber¬maksud menghina kenangan tentang kedua ayah kalian." Lalu dia berpaling ke arah Hana. "Aku harus beristirahat. Aku lelah sekali. Kuharap kalian memaafkan orang tua ini." "Tentu saja, Ayah," ujar Hana, bicara padanya dengan sopan, karena Ishida adalah ayah tiri suaminya. "Chikara, antar kakek ke kamar dan minta pelayan membantunya." "Aku khawatir dia sudah terlalu banyak minum," Hana minta maaf pada Kono setelah Chikara membantu si tabib berdiri dan pergi. Halaman 514 dari 514 "Ishida, laki-laki yang menarik. Aku menyesal dia harus pergi ke Hagi. Kuharap bisa berbincang banyak dengannya. Kurasa dia lebih mengenal ayahku ketimbang orang lain yang masih hidup." Dan beruntung dia tidak mati seperti ayahnya, pikir Taku. "Ramalan yang menarik bukan?" tanya Kono. "Kurasa, Lord Otori tidak memiliki putra." "Beliau memiliki tiga putri," sahut Taku. Zenko tertawa, ledakan tawa yang me¬ngandung konspirasi jahat. "Secara resmi," tambahnya. "Ada lagi desas-desus tentang Takeo... tapi aku harus bertindak bijak!" Kono menaikkan alisnya. "Wah, wah!" komentarnya. Paman, apa yang harus kulakukan tanpa dirimu? pikir Taku.* Miyoshi Kahei menemani Takeo ke Hagi bersama putra sulungnya, Katsumori. Hagi adalah kota kelahirannya, dan gembira bisa bertemu dengan sanak saudaranya. Sebaliknya, Takeo tahu kalau ia membutuhkan saran Kahei tentang cara terbaik menghadapi ancaman yang makin besar dari ibukota, Miyako. Dari Kaisar dan jenderalnya, bagai¬mana ia menghabiskan musim dingin untuk mengadakan persiapan. Sulit memikirkan tentang musim dingin saat ini, di akhir musim hujan plum*, di mana hawa panas masih lerjadi. Kecemasan lain yang harus dipikirkan sebelum perang adalah panen, wabah penyakit menular, dan penyakit akibat cuaca panas, penyimpanan cadangan air untuk berjaga-jaga kalau terjadi kekeringan di akhir musim panas. Tapi __________________________ * Hujan plum adalah hujan yang terjadi saat musim buah plum (Juni-Juli). Fenomena cuaca ini melanda pantai timur Cina, melintasi Taiwan lalu ke timur sampai ke selatan pasifik Jepang. Dalam bahasa Jepang discbut meiyu dan baiu. [pent.] semua masalah ini tak lagi terasa mendesak sewaktu memikirkan kalau tak lama lagi ia akan bertemu Kaede dan ketiga putrinya. Mereka berkuda menyeberangi jembatan batu di senja hari bermandikan rintik hujan disertai cahaya matahari. Takeo sadar pakai¬annya terasa lembap: begitu sering pakaian¬nya basah kuyup sampai menempel di kulit selama perjalanan hingga nyaris tidak ingat bagaimana rasanya kering. Bahkan tempat penginapannya pun terasa lembap, berbau lembap dan jamur. Di atas laut, langit cerah biru berubah kuning di bagian barat saat matahari ter¬benam. Pegunungan di belakangnya tertutup awan tebal, dan guntur bergemuruh sehingga kuda-kuda terkejut dalam kelelahan. Kuda tunggangannya udaklah istimewa; ia merindukan kuda lamanya, Shun, dan bertanya-tanya apakah bisa menemukan kuda seperti itu. Ia akan bicara pada Mori Hiroki tentang kuda, dan juga pada Shigeko. Bila mereka harus berperang, maka akan dibutuh¬kan lebih banyak kuda... tapi ia tidak ingin berperang. Miyoshi bersaudara meninggalkannya di depan gerbang. Turun dari kuda di dinding luar utama kastil: kuda-kuda diiuntun pergi, dan hanya mengajak Sunaomi, Takeo ber¬jalan melewati taman. Kabar sudah tersiar lebih dulu ke kastil. Kaede menantinya di beranda panjang yang Halaman 515 dari 515 mengelilingi ke-diaman. Suara laut memenuhi udara, dan seruan burung dara terdengar dari atap rumah. Wajah Kaede bersinar gembira. "Kami tak menduga kau kembali begitu cepat! Kau berkuda dalam cuaca yang begitu buruk! Kau pasti kelelahan. Dan basah kuyup." Indahnya hardikan sayang istrinya mem¬bangkitkan perasaan begitu kuat dalam diri Takeo hingga sesaat ingin berdiri di sana untuk selamanya. Lalu perasaan itu berganti dengan hasrat untuk memeluknya, melarut-kan diri dalam dekapannya. Namun kabar pertama harus segera disampaikan, pada Kaede, pada Shizuka. Shigeko berlari menghampiri dari dalam kediaman. "Ayah!" pekiknya, lalu berlutut untuk melepaskan sandal lakeo. Kemudian dia melihat Sunaomi yang tengah berdiri malu-malu di belakang. "Benarkah ini sepupu kami?" tanyanya. "Ya, Sunaomi akan tinggal bersama kita selama beberapa waktu." "Sunaomi!" seru Kaede. "Tapi kenapa? Apakah ibunya baik-baik saja? Apakah ada sesuatu terjadi pada Hana?" Takeo melihat kecemasan Kaede dan ber¬tanya-tanya seberapa banyak yang dapat ia ceritakan tentang kecurigaannya. "Hana baik-baik saja," sahut Takeo. "Nanti kuceritakan alasan kunjungan Sunaomi." "Tentu saja. Ayo masuk. Kau harus segera mandi, dan mengganti pakaian yang kering. Lord Takeo, kau pikir masih berusia delapan betas tahun? Kau sama sekali tak memikirkan kesehatanmu!" "Shizuka ada di sini?" tanyanya saat Kaede membimbingnya di beranda menuju bela¬kang kediaman, tempat sebuah kolam dibuat di sekeliling mata air panas. "Ya, apa yang terjadi?" Kaede mendongak sekilas ke wajah Takeo lalu berkata, "Shi¬geko, katakan pada Shizuka untuk segera me¬nemui kami. Minta pelayan untuk mem¬bawakan pakaian untuk ayahmu." Wajah Shigeko tampak serius selagi mem¬bungkuk normal lalu meninggalkan mereka. Takeo bisa mendengar langkah ringan putri nya di lantai papan; terdengar olehnya Shigeko bicara pada kedua adiknya. "Ya, ayah sudah pulang. Tapi kalian belum boleh menemuinya. Ayo ikut aku. Kita harus me¬nemukan Shizuka." Mereka hanya berdua. Sinar matahari keluar dari sela-sela bunga-bunga dan semak¬semak. Di sekeliling kolam dan sungai, bunga iris tampak berkilauan. Langit dan laut berbaur menjadi satu dalam kabut senja. Satu demi satu api dan lentera di sekitar teluk mulai dinyalakan dalam kegelapan. Kaede tidak bicara sepatah kata pun sewaktu melepaskan pakaian Takeo. "Muto Kenji sudah tiada," kata Takeo. Kaede mengambil air dari kolam dengan ember bambu dan mulai memandikan suaminya. Takeo melihat air mata meng¬genang di mata istrinya lalu mulai berlinang di pipinya. Sentuhannya menenangkan. Tiap jengkal tubuhnya terasa sakit. Takeo ingin Kaede melingkarkan tangan lalu memeluk¬nya, tapi ia harus bicara dulu pada Shizuka. Kaede berkata, "Suatu kehilangan yang menyakitkan. Bagaimana kejadiannya? Apa¬kah dia meninggal karena sakit?" Takeo mendengar dirinya berkata, "Se pertinya begitu. Dia mengadakan perjalanan sampai keluar perbatasan. Tak ada kabar yang jelas. Taku mengabarkan hal ini padaku di Hofu." Ia tidak berlama-lama di dalam air panas seperti yang ia inginkan, dan segera keluar dan berpakaian secepatnya. "Aku harus bicara berdua dengan Shizuka." Halaman 516 dari 516 "Tentunya tak ada yang kau rahasiakan padaku?" "Hanya masalah Tribe," sahutnya. "Kenji adalah Ketua Muto. Shizuka harus memilih penggantinya. Hal ini tak bisa dibicarakan dengan orang luar." Dilihatnya kalau Kaede tidak senang, kalau istrinya masih ingin bersamanya. "Ada banyak hal lain yang perlu kita bicarakan," tutur Takeo untuk meredam kemarahan Kaede. "Saat kita hanya berdua, aku akan menceritakan tentang Sunaomi, dan kunjungan putra Lord Fujiwara..." "Baiklah, Lord Takeo. Akan kusiapkan makan untukmu," sahut Kaede lalu mening¬galkannya. Ketika Takeo kembali ke ruang utama, Shizuka sudah ada di sana. Takeo langsung bicara tanpa salam lebih dulu. "Kau tentu sudah bisa menduga kenapa aku di sini. Aku pulang membawa kabar bahwa pamanmu telah tiada. Taku datang ke Hofu untuk mengabarkannya, dan kukira kau harus segera tahu." "Kabar seperti itu tidak pernah disambut baik," sahut Shizuka dengan nada resmi, "tapi bukannya tidak diharapkan. Terima kasih, sepupu, atas keprihatinanmu, atas sikapmu menghormati pamanku." "Kurasa kau sudah tahu seberapa besar arti Kenji bagiku. Tak ada jenazah, tapi kita akan menghormatinya dengan mengadakan upa¬cara di sini atau di Yamagata, di mana pun menurutmu yang paling sesuai." "Kukira kemungkinan paman meninggal di Inuyama," sahutnya perlahan. "Paman tinggal di sana, kan?" Tak seorang pun tahu misi yang dilakukan Kenji kecuali ia dan Taku. Kini Takeo menyesal mengapa tidak memberitahu Shizuka sebelumnya. "Mendekatlah," kata¬nya. "Aku harus ceritakan semua yang aku tahu karena hal itu memengaruhi Tribe." Belum sempat Shizuka bergerak men¬dekat, seorang pelayan datang membawa teh. Shizuka menuangkannya untuk Takeo. Selagi Takeo minum, Shizuka bangkit, me¬lihat ke sekeliling ruangan dengan cepat, membuka pintu lemari, kemudian melang¬kah ke beranda dan mengintip di bawahnya. Dia kembali dan duduk di hadapan Takeo, lutut mereka saling berhadapan. "Apakah kau dengar ada orang di dekat sini?" Takeo memasang telinga, "Tidak, tidak ada orang lain." "Kedua putrimu mulai mahir menguping, dan bisa bersembunyi di tempat yang paling sempit sekalipun." "Terima kasih. Aku tak ingin putriku atau istriku mendengar pembicaraan kita. Kukata¬kan pada Kaede kalau Kenji meninggal karena penyakit; kalau Kenji mencari obat sampai keluar perbatasan wilayah Timur." "Dan yang sebenarnya?" "Kenji pergi berunding dengan Kikuta. Setelah peristiwa di Inuyama, kami pikir bisa memanfaatkan anak-anak Gosaburo untuk menekan mereka agar mau berdamai." Takeo menghela napas, lalu melanjutkan bicara. "Kenji ingin bertemu anak Yuki, cucunya. Taku hanya tahu kalau Yuki meninggal di desa Kikuta tempat Akio dan anak itu bersembunyi selama beberapa tahun ini." "Takeo, kau harus ceritakan semua ini pada Kaede..." Tidak dibiarkannya Shizuka melanjutkan kata-katanya. "Ini kuceritakan karena me¬nyangkut masalah keluarga Muto yang kini menjadikanmu anggota yang dituakan. Kaede atau orang lain di luar Tribe tidak perlu tahu." "Lebih baik dia mendengar tentang anak¬mu itu dari mulutmu ketimbang dari orang lain," sahut Shizuka. Halaman 517 dari 517 "Aku sudah menyimpannya rapat-rapat begitu lama hingga tak tahu bagaimana memberitahukannya. Semua tudah berlalu: anak itu putra Akio; putriku adalah pewaris¬ku. Untuk saat ini, ada pertanyaan mengenai keluarga Muto dan Tribe. Kenji dan Taku bekerjasama dengan baik: ilmu dan ketrampilan yang Kenji miliki tak ada bandingnya. Taku memiliki kemampuan yang hebat, tapi kurasa kau sependapat kalau ada semacam kegoyahan dalam dirinya: aku ragu apakah dia cukup dewasa untuk me¬mimpin Tribe. Zenko adalah putra sulung¬mu, dan pewaris langsung Kenji, dan aku tak ingin menghina atau mengganggunya, atau memberinya dalih untuk..." Takeo berhenti bicara. "Untuk apa?" Shizuka menyela. "Baiklah, kurasa kau tahu betapa mirip sifat putramu dengan ayahnya. Aku khawatir dengan niatnya. Aku tidak bermaksud mem¬biarkannya mengembalikan kita dalam perang saudara lagi." Takeo bicara dengan nada serius, lalu tersenyum dan meneruskan dengan nada lebih ringan. "Maka aku meng¬atur agar kedua putranya menghabiskan waktu bersama kita. Kurasa kau ingin ber¬temu cucumu." "Aku sudah bertemu Sunaomi," tutur Shizuka. "Tentu saja ini sangat menyenang¬kan. Apakah Chikara juga akan datang?" "Suamimu akan membawanya dengan kapal, bersama makhluk luar biasa yang dia disebut kirin," sahut Takeo. "Ah, Ishida sudah kembali; aku senang mendengarnya. Kukatakan yang sebenarnya, Takeo, aku sudah senang dengan hidupku yang tenang, mendampingi Kaede dan anak¬anakmu, istri dari tabibmu. ..tapi rasanya kau hendak membuat tuntutan lain padaku." "Kau masih cepat tanggap seperti biasa," sahut Takeo. "ingin kau menjadi pemimpin Muto. Taku akan bekerjasama denganmu seperti yang dia lakukan bersama Kenji, dan Zenko tentu akan tunduk padamu." "Pemimpin keluarga disebut Ketua," Shizuka mengingatkan. "Dan belum pernah ada Ketua perempuan!" tambahnya. "Kau bisa menyebutnya apa saja. Itu akan menjadi contoh yang baik. Aku hendak memperkenalkannya ke wilayah lokal juga: kita akan memulai dengan Negara Tengah lalu kita sebarkan ke luar. Sudah banyak area di mana perempuan dengan kebaikan dan kemampuan dapat menggantikan posisi suaminya. Mereka akan diakui dan diberi wewenang yang sama seperti laki-laki." "Jadi kau akan memperkuat negara ini dari akar, dan para ksatria akan mendukung putrimu?" "Bila Shigeko menjadi satu-satunya penguasa perempuan, dia juga harus bersikap layaknya laki-laki. Bila perempuan lain berada di puncak kekuasaan, kita mungkin bisa melihat perubahan mengalir ke seluruh Tiga Negara." "Kau masih saja senang berkhayal, sepupuku!" sahut Shizuka seraya tersenyum, terlepas dari penderitaan yang ditanggung nya. "Kau mau melakukannya, kan?" "Baiklah, sebagian karena pamanku pernah mengisyaratkan bahwa hal ini juga keinginannya. Dan setidaknya sampai Taku mantap dan Zenko sadar. Kurasa dia akan sadar, Takeo, dan terima kasih atas tindakan¬mu yang berhati-hati padanya. Namun apa pun hasilnya nanti, keluarga Muto akan tetap setia padamu dan keluargamu." Shizuka membungkuk hormat dengan sikap resmi. "Aku bersumpah padamu sekarang, Lord Otori, sebagai pemimpim mereka." "Aku tahu apa yang telah kau lakukan untuk Lord Shigeru dan keluarga Otori. Aku berhutang banyak padamu," ujar Takeo dengan penuh perasaan. "Aku senang kita bisa bicara berdua," imbuh Shizuka, "karena kita harus mem¬bicarakan tentang si kembar. Aku berharap bisa bertanya pada pamanku mengenai se¬suatu yang baru saja terjadi, tapi mungkin kau tahu cara mengatasinya." Halaman 518 dari 518 Diceritakannya pada Takeo mengenai peristiwa yang terjadi pada kucing, bagai¬mana kucing itu tertidur dan tak pernah bangun lagi. "Aku tahu Maya memiliki kemampuan ini," tutur Shizuka, "karena dia pemah mem¬perlihatkan tandatandanya selama musim semi. Satu atau dua kali aku bahkan pusing ketika dia menatapku. Tapi tak seorang pun dari keluarga Muto tahu tentang sihir tidur Kikuta, meskipun banyak takhayul yang ber¬kaitan dengan hal itu." "Kemampuan itu seperti obat yang sangat mujarab," sahut Takeo. "Sedikit akan menguntungkan, tapi jika terlalu banyak justru bisa menyebabkan kematian. Orang membuat diri mereka terbuka pada kemam¬puan itu karena kelemahan diri mereka sendiri, karena kurangnya pengendalian diri mereka. Aku diajarkan untuk mengendali¬kannya di Matsue—dan di sana aku belajar bahwa Kikuta tak pernah menatap langsung anak-anak mereka karena seorang anak tidak dapat melawan tatapan itu. Kurasa seekor kucing kecil sama lemahnya. Aku belum pernah mencobanya pada kucing, hanya pada anjing—dan aku sudah mahir melakukan¬nya." "Kau belum pernah mendengar per¬pindahan antara orang yang sudah mati dengan orang yang membuat mereka tertidur?" Pertanyaan itu membuat bulu kuduk Takeo berdiri. Hujan mulai turun lagi, dan kini gemuruhnya semakin keras di atap. "Biasanya bukan sihir tidur yang mampu membunuh," tuturnya dengan hati-hati. "Digunakan hanya untuk melemahkan: kematian pasti disebabkan oleh hal lain." "Itu yang mereka ajarkan padamu?" "Mengapa kau menanyakan hal ini?" "Aku mencemaskan Maya. Dia menunjuk¬kan tanda-tanda kerasukan. Ini pernah ter¬jadi di keluarga Muto, kau tahu; Kenji dijuluki Si Rubah saat masih muda: kabarnya dia pernah kerasukan roh rubah— bahkan menikah dengan seekor rubah—tapi selain pamanku, aku tidak tahu ada perubahan bentuk yang pernah terjadi. Hampir seolah Maya yang menarik roh kucing itu masuk ke dalam dirinya. Semua anak suka bertingkah seperti hewan, tapi seharusnya mereka lebih manusiawi ketika mulai dewasa; Maya justru sebaliknya. Aku tidak membicarakan hal ini pada Kaede; Shigeko sudah curiga ada yang tidak beres. Aku senang kau sudah kembali." Takeo mengangguk, merasa gelisah dengan kabar ini. "Cucu-cucumu tidak me nunjukkan tanda-tanda ketrampilan Tribe," komentarnya. "idak, dan aku cukup lega. Biarlah mereka menjadi putra Zenko, ksatria. Kenji mengatakan bahwa kemampuan itu akan menghilang dalam dua generasi. Mungkin, dalam diri si kembar kita menyaksikan pancaran sinar yang terakhir sebelum lentera¬nya padam." Pancaran sinar yang terakhir ini bisa mem¬buat bayangan-bayangan aneh, pikir Takeo. *** Tak seorang pun mengganggu selama mereka berbincang-bincang: setengah sadar ia seperti mendengar ada tarikan napas, bunyi sambungan papan yang bergerak, langkah ringan yang menandakan ada yang menguping. Tapi saat memerhatikan lagi, yang terdengar hanyalah siraman air hujan, halilintar di kejauhan, dan hempasan ombak. Namun ketika mereka selesai, dan Takeo berjalan ke kamar Kaede di koridor yang mengkilap, ia mendengar suara luar biasa di depannya, semacam raungan dan geraman, setengah manusia dan setengah hewan. Kemudian terdengar suara memekik ke takutan, dan derap langkah kaki. Takeo ber¬belok di sudut dan Sunaomi menabrak-nya. "Paman! Maaf!" Bocah itu tertawa cekikikan kegirangan. "Macan itu ingin me¬nangkapku!" Halaman 519 dari 519 Awalnya Takeo melihat bayangan di kertas kasa. Sesaat terlihat jelas olehnya sosok tubuh manusia, dan satu sosok lagi di belakangnya dengan telinga rata, kuku yang siap mencakar dan kibaskan ekor. Lalu si kembar datang berlarian dari sudut, dan mereka berdua hanyalah anak perempuan biasa, bahkan saat sedang menggeram. Mereka langsung ber¬henti mematung ketika melihat ayahnya. "Ayah!" "Itu dia macannya!" jerit Sunaomi. Miki melihat wajah ayahnya, menarik lengan baju Maya lalu berkata, "Kami cuma main-main." "Kalian sudah terlalu besar untuk per¬mainan seperti itu," ujarnya, menyembunyi¬kan kekhawatirannya. "Bukan begini caranya menyambut ayah kalian. Ayah berharap me¬nemukan kalian tumbuh menjadi perempuan muda." Seperti biasa, rasa tidak senang sang ayah menciutkan nyali mereka. "Maaf," kata Miki. "Maafkan kami, Ayah," ujar Maya me¬mohon, tanpa sedikit pun sisa geraman macan dalam suaranya. "Ini salahku juga," imbuh Sunaomi. "Semestinya aku sudah tahu. Lagipula, mereka hanyalah anak perempuan." "Ayah tampaknya perlu bicara serius dengan kalian berdua. Di mana ibu kalian?" "Ibu sedang menunggu Ayah. Kata ibu mungkin kami boleh makan bersama Ayah," bisik Miki. "Baiklah, Ayah kira kita harus menyambut kedatangan Sunaomi. Kalian boleh makan bersama kami. Tapi tidak ada lagi permainan berubah menjadi macan!" "Tapi manusia seharusnya mengumpan¬kan diri mereka pada macan," ujar Maya selagi mereka berjalan di sampingnya. "Shigeko yang menceritakan itu pada kami." Maya tidak bisa menahan untuk berbisik pada Sunaomi, "Dan yang paling disukai macan adalah anak laki-laki." Merasa jera atas teguran pamannya, Sunaomi tidak menyahut. Takeo bermaksud untuk berbicara dengan si kembar malam ini, tapi seusai makan malam, ia merasa kelelahan dan keinginan berdua saja dengan Kaede. Kedua putri kembarnya bersikap sempurna selama makan malam, bersikap baik pada sepupu mereka, dan sopan pada orangtua dan kakak sulung mereka. *** Saat ini Takeo menatap Kaede di bawah keremangan cahaya lentera, tampak lekuk tulang pipi dan siluet istrinya. Jubah tidur membungkus tubuh Kaede yang duduk bersila di matras, tubuh rampingnya tampak putih samar-samar dengan selimut sutra. Takeo berbaring dengan kepala di pangkuan Kaede, merasakan panas tubuh istrinya, mengenang dulu ia sering berbaring seperti ini pada ibunya saat kecil. Rambutnya dibelai lembut oleh Kaede sampai ke leher, me¬lemaskan syarafnya yang tegang. Mereka hanyut dalam perasaan cinta, tak lama setelah hanya berdua, nyaris tanpa kata¬kata, mencari kedekatan serta meleburkan diri dalam kesatuan, senantiasa begitu akrab. Mereka berbagi kesedihan atas kematian Kenji tanpa suara, atau perasaan terasing dari rahasia Takeo tentang Tribe atau pun kekhawatiran tentang putri mereka. Semua kecemasan ini kian membakar keintiman tanpa kata-kata dari hasrat mereka dan seperti biasa, ketika hasrat mereda, bak mukjizat, pemulihan pun terjadi: sikap dingin Kaede menguap; kesedihan Takeo seperti bisa dilalui. Banyak hal yang mesti dibicarakan. Pertama tentang kecurigaan terhadap Zenko dan alasan ia membawa kedua putra Arai ke rumah mereka. Halaman 520 dari 520 "Tentu kau takkan mengangkat mereka secara sah menurut hukum, kan?" seru Kaede. "Bagaimana jika aku melakukannya?" "Aku menganggap Sunaomi seperti anak kandungku—tapi Shigeko akan tetap menjadi pewarismu?" "Ada banyak kemungkinan: bahkan pernikahan, saat dia cukup dewasa. Aku tak ingin melakukannya dengan tergesa-gesa. Semakin lama kita menunda keputusan, semakin besar kemungkinan Zenko tersadar dan tenang. Tapi aku khawatir dia didukung Kaisar dan para pendukungnya di wilayah Timur. Kita harus berterima kasih pada penculikmu untuk hal itu!" Diceritakannya tentang penemuannya dengan Lord Kono. "Mereka mencap diriku sebagai penjahat. Karena Fujiwara adalah kerabat Kaisar sehingga dia terbebas dari kejahatannya!" "Kuatnya tekadmu soal sistem keadilan mungkin telah membuat mereka ketakutan," kata Kaede. "Karena hingga saat ini tak seorang pun berani mencela atau meng¬hukum orang seperti Fujiwara. Aku tahu dia bisa saja membunuhku tanpa berpikir panjang. Tak seorang pun berani menolak perintahnya, tidak ada yang berpikir kalau apa yang dilakukannya salah. Perasaan laki¬laki tidak lebih berharga dari sebuah lukisan atau jambangan berharga—karena dia bisa membunuh perempuan dengan entengnya seolah hanya menghancurkan salah satu hartanya—aku nyaris tidak bisa mengung¬kapkan dengan kata-kata betapa sikapnya melemahkan keinginanku dan membuat tubuhku serasa lumpuh. Kini pembunuhan atas perempuan di Tiga Negara akan dihukum sama seperti pembunuhan terhadap laki-laki, dan tidak ada orang yang bisa lolos dari keadilan hanya karena derajat mereka. Keluarga-keluarga ksatria kita lelah me nerimanya, namun di luar perbatasan kita, baik itu ksatria maupun bangsawan akan menganggap hukum sebagai penghinaan. "Kau mengingatkan betapa banyak hal yang dipertaruhkan. Aku takkan mengun¬durkan diri seperti permintaan Kaisar, tapi aku juga tak ingin terjadi peperangan. Namun bila kita memang harus berperang di wilayah Timur, maka makin cepat makin baik." Takeo menceritakan tentang senjata api, dan misi Fumio. Tentu saja Kahei berpikir kita harus segera bersiap: kita punya waktu untuk membangun kekuatan sebelum musim dingin. Tapi di Terayama semua Guru Besar menentangnya. Mereka mengata¬kan kalau aku harus pergi ke ibukota musim semi depan bersama Shigeko, dan semua masalah akan terpecahkan." Takeo mengernyitkan dahi. Kaede meng¬gosokkan jari di dahi Takeo, menghaluskan garis-garis kerutannya. "Gemba memiliki serangkaian tipuan baru," ujarnya. "Tapi kukira akan mem¬butuhkan lebih dari sekadar itu untuk meredam nafsu kekuasaan jenderal Kaisar, Saga Hideki, Si Pemburu Anjing."** Keesokan harinya dilakukan persiapkan upacara pemakaman Kenji, dan mendiktekan surat-surat. Minoru dibuat sibuk seharian, menulis surat untuk Zenko dan Hana bahwa Sunaomi tiba dengan selamat; surat kepada Sugita Hiroshi, memintanya datang ke Hagi secepat mungkin; surat kepada Terada Fumifusa, mengabarkan tentang kepulangan Takeo dan keberadaan putranya, Fumio, dan terakhir surat kepada Sonoda Mitsuru di Inuyama, memberitahukan bahwa belum ada Keputusan mengenai nasib kedua sandera; masalah ini akan dibicarakan pada per¬temuan mendatang. Kaede memberitahukan pada Takeo dan Minoru tentang semua masalah terbaru yang berkaitan dengan kota Hagi dan penduduk¬nya. Minoru mencatat dengan hati-hati ten- tang Keputusan yang akan diambil. Di pengujung hari yang panjang, panas serta melelahkan, Takeo pergi mandi, dan me Halaman 521 dari 521 ngirim perintah agar putri kembarnya datang menghadapnya ke sana. Mereka menyelinap masuk ke air beruap dengan tubuh telanjang: badan mereka tak lagi seperti badan anak-anak, rambut mereka panjang dan tebal. Sikap mereka lebih tenang dari biasanya, jelas masih belum yakin apa¬kah Takeo sudah memaafkan tingkah mereka pada hari sebelumnya. "Kalian kelihatan lelah," kata Takeo. "Ayah berharap kalian bekerja keras hari ini." "Shizuka galak sekali hari ini," Miki meng¬hela napas. "Dia bilang kami perlu lebih disiplin." "Dan Shigeko memaksa kami menulis begitu banyak," keluh Maya. "Jika aku tidak punya jari seperti Ayah, apakah Lord Minoru akan menulis untukku?" "Ayah dulu belajar menulis, maka kalian pun begitu," sahutnya. "Dan menulis jauh lebih sulit bagi Ayah karena usia Ayah sudah lebih tua. Makin muda, makin mudah belajar. Bersyukurlah kalian memiliki guru yang sangat baik!" Nada suaranya terdengar tegas. Miki memegang-megang bekas luka ayahnya yang melintang dari leher samping ke dada. Takeo bicara dengan suara lebih lembut. "Banyak hal dituntut dari kalian. Kalian harus belajar cara ksatria, begitu pula dengan semua rahasia Tribe. Ayah tahu itu tidak mudah. Kalian memiliki banyak bakat: kalian harus hati-hati menggunakannya." Miki berkata, "Karena kejadian pada kucing itu?" "Coba ceritakan," sahut Takeo. Si kembar saling bertukar pandang tanpa bicara. Takeo berkata, "Kalian adalah darah daging Ayah. Kalian ditandai, seperti juga Ayah, sebagai Kikuta. Tidak ada yang tidak bisa kalian ceritakan pada Ayah. Maya, apa yang terjadi pada kucing itu?" "Aku tak bermaksud menyakiti," Maya mulai bicara. "Jangan bohong," Takeo memperingatkan. Maya meneruskan, "Aku ingin melihat apa yang akan terjadi." Suaranya kedengaran serius; menatap lurus pada Takeo. Kelak Maya ingin menantang tatapan ayahnya. "Aku marah sekali dengan Mori Hiroki." "Hiroki menatap kami," Miki menjelas¬kan. "Semua begitu. Seolah kami ini setan." "Dia menyukai Shigeko dan tidak menyukai kami," tutur Maya. "Sama seperti semua orang," ujar Miki, dan seolah diamnya Takeo melepaskan ses¬uatu dalam dirinya, Miki menangis. "Kami dibenci karena kami kembar!" Si kembar jarang menangis. Satu lagi sifat yang membuat mereka nampak tidak wajar. Maya juga menangis. "Ibu juga membenci kami karena ibu menginginkan anak laki¬laki, dan bukannya dua anak perempuan!" "Chiyo yang bilang pada kami," Miki menelan ludah. Takeo merasa hatinya remuk redam karena kesedihan. Memang mudah menya¬yangi putri sulungnya, tapi ia lebih menya¬yangi si kembar karena mereka tidak mudah disayangi, dan juga merasa iba pada mereka. "Kalian sangat berharga bagi ayah," sahut¬nya. "Ayah merasa gembira karena kalian kembar dan kalian anak perempuan. Ayah lebih senang anak perempuan ketimbang semua anak laki-laki di dunia ini." "Saat Ayah ada di sini, kami merasa aman. dan kami tak ingin melakukan hal-hal yang buruk. Tapi Ayah sering pergi jauh." "Ayah ingin mengajak kalian—tapi tidak Halaman 522 dari 522 selalu bisa. Kalian harus bersikap baik bahkan saat Ayah tidak ada di sini." "Orang-orang seharusnya tidak boleh menatap kami," ujar Maya. "Maya, mulai saat ini kau yang harus berhati-hati saat menatap. Kau sudah tahu ceritanya—Ayah sudah sering ceritakan padamu—tentang pertemuan Ayah dengan raksasa Jin-emon?" tanya Takeo. "Ya," sahut mereka serempak dengan penuh semangat. "Ayah menatap matanya dan dia tertidur. Itulah sihir tidur Kikuta yang berguna untuk melumpuhkan musuh. Itulah yang kau laku¬kan pada kucing itu, Maya. Tapi Jin-emon bertubuh besar, setinggi gerbang kastil serta lebih berat dari banteng. Kucing bertubuh kecil, dan masih muda, dan sihir tidur itu membunuhnya." "Kucing itu tidak benar-benar mati," tutur Maya, bergerak mendekati lalu bergelayut di lengan kiri ayahnya. "Kucing itu men¬datangiku." Takeo berusaha tak menunjukkan ke¬kagetannya, tak ingin membungkam putri¬nya. "Kucing itu datang tinggal bersamaku," ujar Maya. "Kucing itu tidak keberatan. Karena sebelumnya kucing itu tidak bisa bicara, kini dia bisa bicara. Dan aku pun tidak keberatan. Aku suka kucing itu. Aku suka menjadi kucing." 'Tapi Jin-emon tidak mendatangi Ayah, kan?" tanya Miki. Bagi mereka hal ini tidak lebih aneh dibandingkan dengan kemampu¬an menghilang, atau sosok kedua, dan mungkin tidak lebih berbahaya. "Tidak, karena akhirnya Ayah menggorok tenggorokannya dengan Jato. Dia mati karena digorok, bukan karena sihir tidur itu." "Apa Ayah marah dengan kejadian kucing itu?" tanya Maya. Takeo tahu kalau mereka percaya padanya, dan ia tak ingin kehilangan kepercayaan itu, juga sadar kalau mereka bersifat pemalu layaknya hewan liar yang dapat kabur dalam sekejap. Terkenang masamasa penuh pen¬deritaan selama bersama Kikuta. kekejaman dalam pelatihannya. "Tidak. Ayah tidak marah," sahut Takeo dengan tenang. "Shizuka marah sekali," gumam Miki. "Tapi Ayah harus tahu semuanya agar bisa melindungi kalian, dan menghentikan kalian agar tak menyakiti orang lain. Ayah adalah orangtua dan juga senior kalian dalam keluarga Kikuta. Kalian berhutang kepatuhan pada Ayah dalam kedua hal itu." "Kejadiannya begini," tutur Maya. "Aku marah pada Mori Hiroki. Kulihat betapa sayangnya dia pada kucing itu. Aku ingin dia membayar perbuatannya karena tidak mau menatap kami. Dan kucing itu manis sekali. Aku ingin bermain dengannya. Maka kutatap matanya, dan aku tidak bisa berhenti menatapnya. Kucing itu lucu, dan aku ingin menyakiti Hiroki, dan aku tak bisa meng¬hentikannya." Maya berhenti, menatap tak berdaya ke arah Takeo. "Teruskan," ujarnya. "Aku menariknya masuk. Dari tatapan matanya, melalui tatapan mataku. Kucing melompat masuk ke dalam diriku. Kucing itu melolong dan mengeong. Tapi aku tidak bisa berhenti menatapnya. Kemudian kucing itu mati. Tapi dia masih hidup." "Lalu?" "Lalu Mori Hiroki sedih, dan itu mem¬buatku senang." Maya menghela napas panjang, seolah habis susah mengingat pelajaran yang telah dihapalkannya. "Hanya itu. Ayah, sungguh." Takeo menyentuh pipi Maya. "Kau telah berkata jujur. Tapi kau tahu betapa mem¬bingungkan perasaanmu. Pikiranmu tidak jernih, yang justru harus sebaliknya saat menggunakan kemampuan Tribe itu. Saat menatap mata orang lain, kalian akan melihat kelemahan mereka. Itulah yang membuat mereka rapuh pada tatapan kalian." Halaman 523 dari 523 "Apa yang akan terjadi padaku?" tanya Maya. "Ayah tidak tahu. Kita harus mengamati¬mu untuk mencari tahu. Tindakanmu salah; kau membuat kesalahan. Kau akan harus menanggung akibatnya. Tapi kau harus ber¬janji pada Ayah untuk tidak menggunakan sihir tidur Kikuta pada orang lain sampai Ayah ijinkan." "Mestinya Kenji tahu," ujar Miki, dan mulai menangis lagi. "Dia menceritakan tentang roh-roh hewan dan cara Tribe memanfaatkannya." "Kuharap dia belum mati," kata Maya di sela-sela isak tangisnya yang baru meledak lagi. Dan Takeo merasakan matanya pun menghangat, menangisi kepergian gurunya, dan kedua putri kembarnya yang belum bisa dilindunginya dari kerasukan yang akibatnya pun belum bisa diperkirakannya. Kedua putrinya berada di dekatnya, tubuh mereka begitu mirip dengan tekstur dan warna kulit dirinya. "Kami tidak harus menikah dengan Sunaomi, kan?" tanya Maya, kini lebih tenang. "Mengapa? Siapa yang mengatakan kalian harus menikah dengannya?" "Sunaomi mengatakan pada kami kalau dia ditunangkan dengan salah satu dari kami!" "Hanya kalau dia benar-benar nakal," sahut Takeo. "Sebagai hukuman!" "Aku tak ingin ditunangkan dengan siapa pun," ujar Miki. "Kelak kau pasti berubah pikiran," Takeo menggoda. "Aku ingin menikah dengan Miki," kata Maya, sambil tertawa cekikikan. "Kita berdua menikah saja," sahut Miki sepakat. "Lalu kalian takkan punya anak. Kalian membutuhkan laki-laki untuk bisa punya anak." "Aku tak ingin punya anak," sahut Miki. "Aku benci anak-anak," sahut Maya setuju. "Terutama Sunaomi! Ayah tidak akan mengangkat Sunaomi sebagai anak, kan?" "Ayah tak membutuhkan anak laki-laki," sahut Takeo. *** Pemakaman Kenji dilaksanakan keesokan harinya, dan batu nisan didirikan untuknya di kuil Hachiman di sebelah Tokoji, yang tak lama kemudian menjadi tempat ziarah bagi keluarga Muto dan anggota Tribe yang lain. Kenji telah berpulang ke alam baka, seperti juga Shigeru, juga Jo-An. Kini mereka bertiga menginspirasi dan melindungi orang yang masih hidup di dunia fana ini.* Musim hujan plum sudah selesai dan hawa panas musim panas dimulai. Shigeko bangun sebelum matahari terbit dan pergi ke kuil di tepi sungai untuk menghabiskan waktu ber¬sama si kuda hitam jantan saat udara masih dingin. Dua kuda betina tua menggigit dan menendang, mengajarinya sopan santun; sedangkan kuda jantan mulai bisa menerima kehadiran Shigeko, meringkik saat melihat¬nya dan menunjukkan tanda sayang. Halaman 524 dari 524 "Dia tidak pernah melakukannya pada siapa pun," komentar Mori Hiroki, memer¬hatikan kuda jantan itu menggesek-gesekkan kepalanya di bahu Shigeko. "Aku ingin berikan untuk ayahku," sahut Shigeko. "Ayah tak memiliki kuda yang disukai sejak Shun mati." "Kuda ini sudah siap dijinakkan." ujar Hiroki. "Tapi Anda jangan mencobanya dulu, yang pasti jangan seorang diri. Aku sudah terlalu tua dan lamban, sedangkan ayah Anda terlalu sibuk." "Tapi harus aku lakukan," bantah Shigeko. "Kuda ini mulai menyayangiku." Lalu pikiran itu terbersit di benaknya, Hiroshi akan datang ke Hagi Kami bisa menjinakkan kuda ini bersama-sama. Dan Ayah bisa menungganginya saat kami me¬lakukan perjalanan ke Miyako. Dinamainya kuda itu Tenba karena ada sesuatu bersifat surgawi pada kuda itu, dan sewaktu berderap mengelilingi padang rumput, kuda itu tampak seolah terbang. Hari-hari yang panas berlalu. Anak-anak berenang di laut dan melanjutkan pelajaran dan pelatihan dengan gembira karena sang ayah sudah pulang. Meskipun urusan pemerintahan membuatnya sibuk, Takeo selalu menyempatkan waktu bersama mereka, pada malam-malam yang hangat ketika langit hitam kelam dan bintang¬bintang terlihat membesar, serta hembusan lembut angin dari laut membuat kediaman terasa dingin. Bagi Shigeko, peristiwa besar selanjutnya di musim panas adalah kedatangan Sugita Hiroshi dari Maruyama. Hiroshi tinggal bersama keluarga Otori sampai usia dua puluh tahun lalu pindah ke Maruyama, tempat dia menjalankan pemerintahan wilayah milik ibu Shigeko dan suatu kelak akan menjadi miliknya. Kedatangannya terasa seperti kembalinya kakak lakilaki bagi ketiga gadis itu. Setiap kali menerima surat, Shigeko berharap membaca kalau Hiroshi sudah menikah, karena usianya sudah dua puluh enam tahun dan belum beristri. Hal ini tak bisa dijelaskan, tapi dia hanya setengah mengakui kalau dia lega saat Hiroshi berkuda ke Hagi seorang diri, dan tidak menyebut istri atau tunangan yang ditinggalkan di Maruyama. Menunggu hingga bisa bicara berdua pada Shizuka, Shigeko membuka topik pembicaraan dengan santai. "Shizuka, berapa usia kedua putramu saat mereka menikah?" "Zenko delapan belas tahun, dan Taku tujuh belas tahun," jawab Shizuka. "Tidak terlalu muda." "Dan usia Taku dan Sugita sebaya, kan?" "Ya, dan mereka lahir di tahun yang sama—bibimu Hana juga lahir di tahun itu." Shizuka tertawa. "Kukira ketiganya berharap bisa menikahi Hana. Terutama Hiroshi yang selalu mendambakan menjadi suami Hana: dia amat mengagumi ibumu dan meng¬anggap Hana mirip dengannya. Taku ber¬hasil mengatasi patah hatinya, tapi sudah menjadi rahasia umum kalau Hiroshi tak dapat menghapus kekecewaannya, dan itulah alasannya dia tidak menikah." "Sungguh aneh," ujar Shigeko, setengah ingin meneruskan pembicaraan, dan setengah tercengang dengan rasa sakit di hatinya. Hiroshi jatuh cinta pada Hana sehingga tak mau menikah lagi? "Bila ada unsur persekutuan pada diri mereka, sudah pasti ayahmu akan menikah¬kan mereka," tutur Shizuka. "Tapi posisi Hiroshi itu unik. Kedudukannya kurang tinggi. Kedekatannya pada keluargamu hampir seperti anak laki-laki di keluarga ini, namun dia tak punya tanah warisannya sendiri. Dia akan menyerahkan Maruyama padamu tahun ini." "Kuharap dia akan terus mengabdi padaku di sana," kata Shigeko. "Tapi aku terpaksa harus mencarikan istri untuknya! Apakah dia memiliki perempuan simpanan?" "Kurasa ada," sahut Shizuka. "Kebanyakan laki-laki memiliki perempuan simpanan!" "Ayahku tidak," sahut Shigeko. Halaman 525 dari 525 "Memang tidak, begitu pula Lord Shigeru." Tatapan mata Shizuka menerawang jauh. "Ingin tahu mengapa mereka sangat ber¬beda dengan laki-laki lain." "Mungkin perempuan lain tidak menarik perhatian mereka. Dan kurasa mereka tak ingin membuat orang yang mereka sayangi tersiksa rasa cemburu." "Cemburu adalah perasaan yang menakut¬kan." 'Tapi untungnya kau masih terlalu muda untuk mempunyai perasaan semacam itu," sahut Shizuka. "Dan ayahmu akan memilih jodohmu dengan bijaksana. Bahkan ayahmu memilih dengan sangat teliti, aku ingin tahu apakah dia bisa menemukan orang yang cukup baik." "Tak menikah pun aku sudah bahagia," seru Shigeko, tapi ia tahu kalau ini tidak sepenuhnya benar. Sejak mulai beranjak dewasa ditemukan ia gelisah dengan keinginan disentuh laki-laki. "Sayang sekali para gadis tidak dibolehkan memiliki kekasih layaknya anak laki-laki," katanya. "Mereka harus sedikit lebih bijaksana," sahut Shizuka, tertawa. "Apakah ada orang yang kau sukai, Shigeko? Kau sudah lebih dewasa dari yang kukira?" "Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu seperti apa: hal-hal yang dilakukan laki-laki dan perempuan bersama, pernikahan, cinta." Shigeko mengamati Hiroshi malam itu saat makan malam. Dia tidak mirip orang yang dimabuk cinta. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kira-kira setinggi ayahnya tapi lebih tegap dan dengan wajah lebih gemuk. Bentuk matanya panjang dan ekspresinya hidup, rambutnya tebal dan hitam pekat. Tampak suasana hatinya sangat baik, penuh optimisme tentang panen yang akan datang dan dengan bersemangat menceritakan hasil teknik inovasi dalam melatih kuda dan manusia; menggoda si kembar dan memuji Kaede, berkelakar dengan Takeo dan meng¬ingatkannya tentang mundurnya pasukan saat badai topan dan pertempuran merebut Hagi. Satu atau dua kali Shigeko merasa kalau laki-laki itu menatapnya, tapi saat ia melihat ke arahnya, Hiroshi selalu me¬mandang ke arah lain, dan hanya bicara langsung pada Shigeko satu atau dua kali, itu pun dengan sikap formal. Saat itu wajah Hiroshi tak bersemangat, ekspresinya tenang, malah hampir tak bersahabat. Mengingatkan Shigeko pada wajah guru-gurunya di biara saat bermeditasi; dan ingat kalau, seperti dirinya, Hiroshi dilatih dengan Ajaran Houou. Hal itu agak menenangkannya: mereka selalu menjadi teman seperjuangan, meskipun hubungan mereka tak bisa lebih dari itu; Hiroshi selalu memahami dan mendukungnya. Tepat sebelum beristirahat, Hiroshi ber¬tanya padanya tentang kuda muda itu karena Shigeko pernah menyuratinya tentang masalah itu. "Datanglah ke kuil besok pagi dan kau bisa lihat sendiri," sahut Shigeko. Sesaat Hiroshi ragu-ragu, kemudian ber¬kata, "Dengan senang hati. Ijinkan aku mengawalmu." Nada suaranya terdengar dingin, dan kata-katanya resmi. Mereka berjalan berdampingan menyebe¬rangi jembatan batu, seperti yang sering mereka lakukan ketika Shigeko masih kecil. Udara terasa tenang, cahaya cerah dan keemasan, saat matahari terbit di atas pegunungan dan mengubah permukaan tenang sungai menjadi cermin yang berkilauan memantulkan dunia yang tampak lebih nyata ketimbang dunia yang mereka lalui. Biasanya dua penjaga kastil mendampingi Shigeko, tapi hari ini Hiroshi menyuruh mereka pergi. Dia berpakaian untuk menunggang kuda, mengenakan celana panjang dan pembalut kaki, dan pedang di sabuknya. Shigeko mengenakan pakaian yang hampir serupa, rambutnya diikat ke belakang dengan tali, dan hanya bersenjatakan tongkat pendek yang disembunyikan. Shigeko men¬ceritakan tentang kuda itu, dan sikap kaku Hiroshi perlahan luruh, dan berani berdebat dengan Shigeko seperti yang sering dilaku¬kannya lima tahun silam. Sebaliknya, per¬debatan ini bagi Shigeko sama mengecewa¬kannya dengan sikap resmi laki-laki itu. Dia hanya menganggapku sebagai adik, sama seperti pada si kembar. Halaman 526 dari 526 Matahari pagi menyinari kuil tua: Hiroki sudah siap dan Hiroshi menyambutnya dengan gembira karena dia menghabiskan masa kecilnya dengan orang tua itu, belajar ketrampilan menjinakkan dan mengembang¬biakkan kuda. Tenba mendengar suara Shigeko dan meringkik. Ketika mereka menghampirinya, kuda itu berderap ke arah Shigeko, tapi telinganya berdiri tegak dan memutar bola matanya saat melihat Hiroki. "Kuda ini menakutkan sekaligus tampan," seru Hiroshi. "Jika bisa dijinakkan, dia bisa menjadi kuda perang yang luar biasa." "Aku ingin menghadiahkannya kepada Ayah," ujar Shigeko. "Tapi aku tak ingin ayah membawanya ke kancah pertempuran! Sekarang kita dalam kedamaian, kan?" "Ada awan badai di kaki langit," ujar Hiroshi. "Itu sebabnya aku dipanggil." Tadinya aku berharap kau datang untuk melihat kuda milikku!" kata Shigeko, memberanikan diri menggoda. "Bukan hanya melihat kudamu," sahutnya pelan. Shigeko terkejut sewaktu melihat sekilas ke arah Hiroshi, wajah laki-laki itu agak memerah hingga ke lehernya. Setelah beberapa saat, Shigeko bicara dengan sikap canggung, "Kuharap kau ada waktu untuk membantuku menjinakkannya. Aku tak ingin orang lain yang melakukan¬nya—kuda ini percaya padaku, dan kepercayaan itu tak boleh dihancurkan, jadi aku harus ada di sini terus." "Nantinya kuda ini juga akan percaya padaku," sahut Hiroshi. "Aku akan ke sini kapan saja ayahmu tak membutuhkan diriku. Kita akan menjinakkannya bersama-sama, dengan cara yang pernah diajarkan pada kita." Ajaran Houou merupakan ajaran tentang unsur-unsur laki-laki dan perempuan: kekuatan yang lembut, welas asih yang kuat, kegelapan dan cahaya, bayangan dan matahari, yang tersembunyi serta yang terungkap. Kelembutan saja tak bisa menjinakkan kuda seperti ini. Dibutuhkan juga kekuatan serta ketegasan seorang laki¬laki. Mereka memulainya pagi itu, sebelum hawa panas semakin kuat, membiasakan si kuda dengan sentuhan Hiroshi, di kepala, sekitar telinga, pinggul bagian samping dan di bagian bawah perutnya. Kemudian mereka menempatkan pita halus di sepanjang punggung hingga ke leher, terakhir mengikat dengan longgar satu pita lagi di hidung dan kepalanya—tali kekang pertamanya. Tenba berkeringat dan kulitnya menggigil, namun patuh pada cara mereka menanganinya. Mori Hiroki mengamati mereka dengan sikap setuju, dan setelah itu, ketika kuda jantan itu dihadiahi wortel dan Shigeko serta Hiroshi disajikan teh dingin, dia berkata, "Wilayah lain di Tiga Negara dan di luarnya, kuda-kuda dijinakkan dengan paksaan, seringkah dengan kekerasan. Hewan-hewan dipukul agar patuh. Namun ayahku selalu percaya pada pendekatan yang lembut." "Itu sebabnya mengapa kuda-kuda Otori termashur," tutur Hiroshi. "Mereka jauh lebih patuh dibandingkan kuda-kuda lain, lebih bisa diandalkan dalam pertempuran, dan dengan stamina yang lebih kuat, karena mereka tidak membuang tenaga melawan si penunggangnya dan berusaha berlari dengan cepat! Aku selalu menggunakan metode yang kupelajari darimu." Wajah Shigeko bersinar. "Kita akan ber¬hasil menjinakkannya, kan?" "Aku tak meragukan hal itu," sahut Hiroshi, membalas senyuman Shigeko dengan sikap hangat.* Halaman 527 dari 527 Takeo mengetahui kerjasama putrinya dengan Sugita Hiroshi dalam menjinakkan si kuda jantan hitam—meskipun tidak mengetahui kalau kuda itu akan dihadiahkan padanya—karena dia mengetahui hampir segalanya, tidak hanya di Hagi tapi di seluruh Tiga Negara. Kurir pergi atau berkuda menyampaikan pesan antarkota, dan burung¬burung dara digunakan untuk mengirim kabar darurat dari kapal di laut. Takeo mengira Hiroshi sudah seperti kakak bagi putrinya; terkadang mengkhawatirkan masa depan dan statusnya yang masih melajang, dan memikirkan pasangan yang cocok dan berguna bagi pemuda yang telah mengabdi dengan setia padanya sejak masih kecil. Pemah terdengar olehnya desas-desus kalau Hiroshi tergila-gila pada Hana; ia tidak percaya begitu saja, mengenal karakter Hiroshi yang kuat dan kecerdasannya— namun Hiroshi menghindari semua calon yang diajukan. Akhirnya ia memutuskan untuk memperbarui usahanya mencarikan istri bagi Hiroshi dari keluarga ksatria di Hagi. Di satu senja yang panas pada bulan ketujuh, tak lama setelah Festival Tanabata, Takeo, Kaede, Shigeko dan Hiroshi pergi melintasi teluk menuju kediaman Terada Fumifusa. Ayah dari sahabatnya, Fumio, mantan kepala perompak yang kini memelihara dan mengawasi armada kapal perang maupun kapal dagang sehingga Tiga Negara termashur dalam perdagangan dan keamanan dari serangan lewat laut. Kini Terada berusia kira-kira lima puluh tahun, namun hanya menunjukkan sedikit ke¬lemahan karena usia. Takeo sangat meng¬hargai ketajaman otak, keberanian dan pengetahuan Terada. Terada tidak memedulikan harta benda indah yang diperolehnya saat menjadi perompak— dendamnya pada pemimpin Klan Otori menjadi penggerak kekuatannya, dan kejatuhan para paman Shigeru adalah keinginan terbesarnya. Setelah pertempuran merebut Hagi dan gempa bumi, dia mem¬bangun kembali rumah lamanya yang dirancang oleh putra dan menantunya, Eriko, sepupu keluarga Endo. Eriko menyukai lukisan, taman dan benda-benda yang indah: dia menulis puisi dengan goresan kuas yang indah, dan membuat kediaman itu tampak mewah dan memesona dilihat dari kastil. Bangunan itu berada di dekat kawah gunung berapi, tempat cuaca yang tidak biasa membuatnya dapat menanam tanaman eksotis yang dibawa Fumio, dan tanaman obat yang dibawa Tabib Ishida. Sifatnya yang artistik membuatnya menjadi teman yang disenangi Takeo dan Kaede. Putri sulung Terada akrab dengan Shigeko karena mereka seumur. Paviliun kecil dibangun di atas sungai kecil di taman, dan bunyi tenang air yang mengalir memenuhi udara. Kolam dipenuhi warna ungu muda dan bunga teratai putih kekuningan, dinaungi pepohonan aneh dari Kepulauan Selatan yang mirip kipas. Udara terasa harum oleh aroma adas manis dan jahe. Semua tamu mengenakan jubah musim panas berwarna cerah, menyaingi warna-warni kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga. Burung tekukur menyerukan nyanyiannya yang memecah kesunyian, dan jangkrik berderik tiada henti. Eriko memperkenalkan permainan lama di mana para tamu harus menggubah puisi, lalu mengapungkannya di atas nampan kayu kecil untuk dibaca pengunjung di paviliun sebelahnya. Kaede mahir dalam membuat puisi semacam ini, dengan pengetahuan luasnya tentang kiasan klasik dan kemam¬puan berpikir cepat, namun Eriko hampir menandinginya. Mereka bersaing penuh persahabatan. Cangkir-cangkir sake juga diapungkan di permukaan air yang mengalir pelan, dan sesekali satu atau dua tamu mengambilnya lalu diberikan kepada temannya. Irama kata¬kata dan tawa berbaur dengan suara air, serangga serta burung membuat diri Takeo merasakan kebahagiaan murni yang jarang dirasakannya, menghilangkan kecemasannya serta meringankan kesedihannya. Halaman 528 dari 528 Takeo tengah mengamati Hiroshi yang duduk bersama Shigeko dan putri Eriko, Kaori, di paviliun sebelah. Usia Kaori cukup dewasa untuk dinikahkan: mungkin dia bisa menjadi pasangan yang cocok bagi Hiroshi; nanti akan dibicarakannya dengan Kaede. Kaori mirip ayahnya: tubuh berisi serta sehat. Kaori dan Shigeko tengah tertawa melihat usaha Hiroshi. Namun di sela-sela tawa dan semua suara lain di senja yang damai ini, ada suara lain, mungkin kepakan sayap burung. Ia men¬dongak menatap langit dan melihat sekawanan kecil bintik jauh di arah tenggara. Sewaktu kawanan itu mendekat, semakin jelas terlihat kalau itu adalah kawanan burung dara yang kembali ke kediaman Terada, tempat mereka menetas. Burung-burung selalu kembali kemana pun semua kapal Terada yang membawanya, tapi arah datangnya kawanan ini membuat ia gelisah karena di tenggara terbentang kota bebas Akashi.... Burung-burung dara melayang di atas kepala menuju kandang. Semua orang mendongak ke atas mengamati. Kemudian pesta itu ditutup dengan perasaan gembira, tapi Takeo kini sadar akan panasnya cuaca sore ini, dari peluh di ketiaknya, derik kasar suara jangkrik. Seorang pelayan keluar dari rumah, ber¬lutut di belakang Lord Terada lalu berbisik padanya. Terada melihat ke arah Takeo dan membuat isyarat dengan kepala. Mereka berdua berdiri bersamaan, meminta maaf pada para tamu, lalu pergi bersama si pelayan itu ke dalam rumah. Begitu sampai di beranda, Terada berkata, "Pesan dari putra¬ku." Diambilnya lembaran kertas yang dilipat, terbuat dari sutra, lebih ringan dari bulu. "Gagal. Senjata sudah di tangan Saga. Segera kembali." Takeo melihat dari bayangan beranda ke arah pemandangan yang indah di taman. Didengarnya suara Kaede saat membaca, mendengar suara yang menyambut keang¬gunan dan kepandaiannya. "Kita harus persiapkan dewan p¬eperangan," ujarnya. "Kita akan bertemu besok dan me¬mutuskan apa yang dilakukan." Dewan terdiri dari Terada, ayah dan anak, Miyoshi Kahei, Sugita Hiroshi, Muto Shizuka, Takeo, Kaede dan Shigeko. Takeo menceritakan tentang pertemuannya dengan Kono, tuntutan Kaisar, jenderal baru dan senjata yang diselundupkan. Miyoshi Kahei ingin bertindak cepat: membangun kekuatan militer selama musim panas, kematian Arai Zenko dan Lord Kono lalu diikuti dengan pemusatan pasukan di perbatasan wilayah Timur yang bisa tiba lebih dulu di ibukota saat musim semi, mengalahkan si Pemburu Anjing dan membujuk Kaisar untuk mem¬pertimbangkan lagi tentang ancaman serta penghinaan atas Otori. "Kapalmu juga bisa memblokade Akashi," tuturnya pada Terada. "Pelabuhan itu harus dalam kendali kita untuk mencegah ancaman Arai." Kemudian teringat kalau Zenko adalah putra Shizuka, dan dia pun meminta maaf. "Tapi aku tak menarik kembali saranku," ujarnya pada Takeo. "Sementara Zenko me¬rongrong di Barat, kau tak mungkin meng-hadapi ancaman dari wilayah Timur." "Putra Zenko ada di tangan kita," tutur Kaede. "Kami rasa ini dapat membuatnya patuh." "Dia tak bisa dianggap sebagai sandera," sahut Kahei. "Inti dari adanya sandera yaitu siap mencabut nyawa mereka. Aku tak ber¬maksud menghinamu, Takeo, tapi aku tak percaya kau tega memerintahkan untuk membunuh anak-anak. Orangtuanya tahu kalau putranya aman bersamamu layaknya berada di tangan ibunya sendiri!" "Zenko sudah bersumpah sekali lagi bahwa dia akan tetap setia padaku." tutur Takeo. "Aku tak bisa menyerangnya sebelum dia menyerang. Aku lebih memilih untuk memercayainya, dengan harapan Halaman 529 dari 529 dia layak mendapatkannya. Dan kita harus berusaha untuk mempertahankan kedamaian melalui perundingan. Aku tak akan membawa perang saudara di Tiga Negara." Kahei menggelengkan kepala, wajahnya suram. "Kakakmu, Gemba, dan yang lainnya di Terayama menganjurkan untuk menenang¬kan Kaisar dengan berkunjung ke Miyako tahun depan." "Saat itulah Saga Hideki akan memper¬senjatai pasukannya dengan senjata api. Setidaknya biarkan kami mendekati Akashi dan mencegahnya memperdagangkan bubuk mesiu. Karena kalau tidak, kau akan lang¬sung menuju ke kematian!" "Aku mendukung tindakan yang tegas," ujar Terada. "Aku setuju dengan Miyoshi. Semua pedagang di Akashi sudah lupa daratan. Mereka telah menghina. Kita akan beri mereka pelajaran." Terada tampak merindukan masa ketika kapal-kapal milik¬nya mengendalikan semua perdagangan di sepanjang garis pantai utara dan barat. "Tindakan semacam itu akan membuat geram pedagang kita sendiri," tutur Shizuka. "Dan kita mengandalkan mereka untuk mendapat persediaan, bubuk mesiu dan bijih besi. Bakal sulit bertempur tanpa dukungan itu." "Klas pedagang mulai semakin kuat hingga menjadi berbahaya," gerutu Terada. Takeo tahu kalau itu sudah lama dikeluhkan Terada, Miyoshi, Kahei dan banyak ksatria lainnya, yang membenci para pedagang yang semakin kaya raya dan makmur. "Bila tidak menyerang sekarang, kelak akan terlambat," ujar Kahei. "Itu saranku." "Bagaimana denganmu?" Takeo bertanya pada Hiroshi yang hingga saat ini belum bicara. "Aku memahami pandangan Lord Miyoshi," kata Hiroshi. "Beliau punya alasan. Menurut seni perang memang itu yang terbaik. Tapi aku harus tunduk pada kearifan para Guru Ajaran Houou. Kirimkan pesan pada Kaisar bahwa Anda akan datang berkunjung. Ini akan meredam rencana serangan apa pun di pihaknya. Aku menganjurkan, seperti Kahei, memperkuat pasukan di wilayah Timur, menyiapkan serangan tapi tidak menyolok. Kita harus membangun kekuatan prajurit pejalan kaki yang membawa senjata api, dan melatih mereka untuk menghadapi prajurit yang hampir sama kekuatannya karena sudah pasti tahun depan Saga telah memiliki senjata dalam jumlah besar. Hal itu tak bisa kita cegah. Sementara untuk adik ipar Anda, kurasa ikatan keluarga akan menjadi lebih kuat ketimbang dendam apa pun yang dipendamnya pada diri Anda, atau ambisi apa pun untuk menyingkirkan Anda. Sekali lagi aku menganjurkan agar jangan tergesa¬gesa, dan jangan bertindak terburu-buru." Hiroshi memang ahli strategi yang handal, pikir Takeo. Bahkan sejak dia masih kecil! Takeo berpaling ke arah putrinya, "Shigeko?" "Aku sependapat dengan Lord Hiroshi," sahut Shigeko. "Jika aku ikut dengan Ayah ke Miyako, kurasa Ajaran Houou akan menang, bahkan untuk menghadapi Kaisar."* Selama di Hagi, Takeo sering bertemu Shizuka yang tinggal di kastil untuk menemani Kaede atau putri-putri-nya. Tidak ada pertemuan resmi, maupun pengumuman atas penunjukkan Shizuka sebagai ketua Tribe. Beberapa hari setelah pertemuan dewan perang, di pagi hari Festival Tanabata, seolah kebetulan, mereka berjumpa saat Takeo hendak ke kastil. Minoru yang selalu meng¬ikuti dengan membawa peralatan menulis, menyingkir agar mereka bisa bicara berdua saja. Halaman 530 dari 530 "Aku dapat pesan dari Taku," ujar Shizuka pelan. "Tadi malam. Ishida dan Chikara meninggalkan Hofu saat bulan purnama terakhir. Cuaca sedang cerah: mestinya mereka datang tidak lama lagi." "Itu kabar baik," sahutnya. "Kau pasti menantikan kepulangan suamimu." Lalu Takeo berkata, karena tak ada alasan mengapa kabar ini harus dirahasiakan, "Apa lagi?" "Ternyata Zenko memberi ijin orang asing ikut bersama mereka. Dua dari mereka berada di kapal, bersama penerjemah mereka—perempuan itu." Takeo mengernyitkan dahi. "Apa tujuan mereka?" "Taku tidak mengatakannya. Tapi me¬nurutnya kau harus diberitahu." "Menyebalkan," sahut Takeo. "Kita ter¬paksa menerima mereka dengan segala macam upacara dan kemegahan, serta ber¬pura-pura terkesan atas hadiah tidak berharga mereka. "Aku tidak ingin mereka merasa bebas pergi ke mana saja sesuka hati. Aku lebih suka mengurung mereka di satu tempat: Hofu tempat yang sangat bagus untuk itu. Carikan tempat yang tidak nyaman untuk mereka tinggal, dan awasi terus mereka. Adakah orang lain yang bisa bicara bahasa mereka?" Shizuka menggelengkan kepala. "Baiklah, seseorang harus mempelajari secepatnya. Penerjemah mereka harus meng¬ajari kita saat dia di sini." Takeo berpikir cepat. Ia tak ingin bertemu Madaren; ia merasa tidak nyaman atas kemunculan adiknya. Takut pada kesulitan yang pasti muncul dengan kehadiran adiknya itu, tapi bila ia harus menggunakan jasa penerjemah, maka sebaiknya memang adiknya—orang yang memiliki hubungan dengannya. Takeo memikirkan Kaede yang mampu belajar dengan cepat, yang menguasai bahasa Shin dan Tenjiku agar bisa membaca karya klasik, sastra dan kitab suci. Ia akan minta Kaede mempelajari bahasa orang asing dari Madaren, dan akan menceritakan bahwa si penerjemah itu adalah adiknya... pikiran kalau ia akan mengurangi satu rahasia lagi dari istrinya, anehnya justru membuatnya bahagia. "Cari gadis pandai yang bisa menjadi pelayan mereka," pintanya pada Shizuka. "Biarkan gadis itu berusaha sekuat tenaga memahami apa yang mereka katakan. Dan kita akan mengatur agar pelajaran diadakan di sini." "Kau bermaksud untuk belajar, sepupu?" "Aku meragukan kemampuanku," sahut Takeo. "Tapi aku yakin Kaede pasti mampu. Kau juga." "Aku sudah terlalu tua," sahut Shizuka seraya tertawa. "'Tapi, Ishida cukup ber¬minat, dan sudah menyusun daftar istilah ilmiah dan medis." "Bagus. Biarkan dia melanjutkan pekerja¬an ini bersama mereka. Semakin banyak yang bisa kita pelajari, semakin baik. Dan lihat apa kau bisa cari tahu lebih banyak lagi dari suamimu tentang tujuan mereka yang sebenarnya, dan kedekatan mereka dengan Zenko." "Taku baik-baik saja?" Takeo menyuara¬kan pikiran yang muncul kemudian. "Sepertinya begitu. Menurutku, hanya sedikit frustrasi terjebak di wilayah Barat. Dia baru akan berangkat bersama Lord Kono untuk menginspeksi harta kekayaan, dan ber¬maksud melanjutkan dari sana ke Maruyama." "Begitu? Maka Hiroshi sebaiknya ada di sana untuk bertemu mereka," ujar Takeo. "Dia bisa menumpang kapal yang sama, dan mengabari keputusan kita pada Taku." *** Kapalnya terlihat di laut dua hari kemudian. Shigeko mendengar lonceng dari bukit di Halaman 531 dari 531 atas kastil berdentang sewaktu dia dan Hiroshi menjinakkan si kuda jantan. Tenba menerima sedikit dan membiarkan Shigeko menuntunnya dengan tali kekang halus, tapi mereka belum mencoba menaruh pelana, atau beban apa pun di punggungnya selain kain berlapis yang masih membuatnya ber¬gerak mundur dan menendang. "Ada kapal datang," kata Shigeko, ber¬usaha melihat tapi sia-sia menentang silaunya matahari pagi. "Kuharap itu kapal tabib Ishida." "Kalau benar itu kapalnya, berarti aku harus segera kembali ke Maruyama," ujar Hiroshi. "Secepat itu!" Shigeko tidak bisa menahan seruannya, kemudian merasa malu, "Ayah bilang tabib Ishida membawa hadiah istimewa untukku tanpa mengatakan apa hadiahnya." Aku kedenga ran seperti anak kecil, pikirnya, kesal pada dirinya sendiri. "Aku dengar dia membicarakan itu," sahut Hiroshi, dia memperlakukan aku seperti anak kecil, pikir Shigeko. "Kau tahu apa hadiahnya?" "Itu rahasia!" sahut Hiroshi menggoda. "Aku tak boleh membocorkan rahasia Lord Otori." "Mengapa ayah hanya mengatakannya padamu, tidak kepadaku?" "Ayahmu tidak mengatakannya," sahut Hiroshi dengan suara lebih lembut. "Hanya saja dia mengharapkan cuaca cerah dan per¬jalanan yang tenang untuk hadiah itu." "Pasti hewan," seru Shigeko dengan gembira. "Kuda! Atau mungkin anak singa! Beberapa hari ini cuaca cerah. Aku gembira bila cuaca cerah saat Festival Tanabata." Shigeko ingat keindahan malam tanpa bulan yang tenang, percikan sinar bintang, satu malam selama tahun ketika seorang Puteri dan kekasihnya bisa bertemu menyeberangi jembatan ajaib yang dibangun burung magpies. "Saat masih kecil aku suka sekali Festival Tanabata." tutur Hiroshi. "Tapi kini hal itu membuatku sedih. Karena tak ada yang namanya pasangan pengantin impian, tidak dalam kehidupan nyata." Dia membicarakan tentang dirinya sendiri dan Hana, pikir Shigeko. Dia sudah menderita begitu lama. Dia harus menikah. Dia akan melupakan Hana jika dia memiliki istri dan anak. Namun Shigeko tak bisa memaksa dirinya untuk menyarankan agar Hiroshi menikah. "Dulu aku suka membayangkan Putri Bintang dengan wajah ibumu," tuturnya. Tapi mungkin putri itu mirip denganmu, menjinakkan kuda-kuda di surga." Tenba, yang berjalan di antara mereka berdua, mendadak ketakutan dan melompat mundur saat seekor burung merpati terbang dari atap kuil sehingga menarik pita yang dipegang Shigeko. Secepatnya Shigeko me-nenangkannya, tapi Tenba masih bertingkah tidak karuan, dan melompat lalu terjatuh, menerjang tubuh Shigeko dengan bahu. Shigeko hampir terjatuh, tapi entah bagaimana Hiroshi berhasil menjatuhkan tubuhnya di antara Shigeko dan kuda itu, dan sesaat Shigeko menyadari kekuatan pemuda itu, dan hasratnya begitu kuat— hingga mengejutkan dirinya sendiri— untuk dipeluk pemuda itu. Kuda itu berlari dengan langkah panjang, tali kekangnya berayun¬ayun. Hiroshi bertanya, "Kau tidak apa-apa? Kuda itu tidak menginjakmu, kan?" Shigeko menggelengkan kepala, tiba-tiba perasaannya bergejolak. Mereka berdiri berdekatan, tidak bersentuhan. Shigeko menemukan lagi suaranya. "Kukira sudah cukup untuk hari ini. Kita buat Tenba berjalan pelan lagi. Lalu aku harus pulang untuk bersiap menerima hadiah. Ayah pasti ingin mengadakan upacara untuk itu." "Tentu, Lady Shigeko," sahut Hiroshi, sekali lagi bersikap dingin dan formal. Kuda jantan itu membiarkannya mendekat, dan Hiroshi menuntunnya mengembalikan kepada Shigeko. Angin sepoiHarjono Siswanto Story Collection Halaman 532 dari 532 sepoi ber¬hembus pelan dan merpati terbang melayang di atas kepala, namun kuda muda itu ber¬jalan tenang di antara mereka berdua dengan kepala tertunduk. Tak satu pun dari kedua¬nya bicara. *** Di galangan kapal, kesibukan biasa di pagi hari menjadi hening. Nelayan berhenti membongkar muatan hasil tangkapan malam hari berupa ikan sarden perak dan mackarel sisik biru. Pedagang berhenti memuat berkarung-karung garam, beras dan sutra ke kapal bertiang lebar, dan orang-orang berkumpul di jalanan berkerikil, menyambut kapal dari Hofu dengan muatan anehnya. Shigeko kembali ke kediaman lalu berganti pakaian yang lebih sesuai untuk menyambut hadiah untuknya. Untungnya jarak antara gerbang kastil ke tangga pelabuhan dekat dan bisa dilalui dengan berjalan kaki. Dia berjalan sepanjang pantai, melewati rumah kecil di bawah pohon pinus tempat Akane, pelacur kelas tinggi yang pemah menghibur Lord Shigeru, aroma semak wangi yang ditanamnya masih tercium di udara. Shizuka telah menunggu, tapi ibunya tetap tinggal di rumah, mengatakan kalau merasa kurang sehat. Takeo sudah pergi lebih dulu bersama Sunaomi. Sewaktu Shizuka dan Shigeko bergabung dengan Takeo, bisa dilihat susana hati ayahnya sedang gembira: tak hentinya melihat ke arah Shigeko yang ada di sampingnya dan tersenyum. Shigeko ber¬harap reaksinya tidak mengecewakan ayahnya, dan memutuskan untuk berpura¬pura senang menerima hadiah itu. Namun, ketika kapal mendekati dermaga, dan hewan aneh itu bisa terlihat jelas— lehernya yang panjang—kekaguman Shigeko sebesar dan setulus kerumunan orang yang menonton. Ia begitu gembira ketika tabib Ishida menuntun hewan itu dengan berhati¬hati menuruni tangga kapal dan menyerah kan kepadanya. Shigeko terpesona oleh kelembutan dan pola aneh kulit hewan itu, oleh bola mata yang gelap dan tatapannya yang lembut, dihiasi bulu mata panjang dan tebal, oleh gayanya yang anggun serta pem-bawaan diri yang tenang selagi mengamati lingkungan asing di hadapannya. Takeo tertawa gembira karena kirin dalam keadaan sehat dan juga karena reaksi Shigeko. Shizuka menyambut suaminya dengan kasih sayang yang tidak diperlihat¬kan, dan si bocah, Chikara, tercengang dengan sambutan serta kerumunan, mengenali wajah kakaknya dan berusaha menahan tangis. "Jangan berkecil hati," tabib Ishida menegurnya. "Beri salam pada paman dan sepupumu dengan baik. Sunaomi, bantu adikmu." "Lord Otori," Chikara berhasil bicara, membungkuk dalam-dalam. "Lady..." "Shigeko," ia menyela perkataan Chikara. "Selamat datang di Hagi!" Ishida berkata pada Takeo, "Kami membawa penumpang lain, mungkin kurang disambut baik." "Ya, aku sudah dikabari Taku. Istrimu akan menunjukkan tempat mereka meng¬inap. Nanti akan kuceritakan rencana kita untuk mereka. Kuharap aku dapat mem¬bujukmu untuk menghibur mereka semen¬tara waktu." Orang-orang asing itu—ada dua orang, baru pertama kali datang ke Hagi—muncul di tangga kapal, membuat orang tak kalah terperangahnya ketimbang melihat kirin. Kedua orang itu mengenakan celana panjang dan sepatu bot dari kulit; emas berkilauan di leher dan dada mereka. Satu orang berwajah agak hitam yang dipenuhi janggut berwarna gelap; yang satunya lagi berkulit lebih pucat dengan rambut dan jenggot berwarna karat pucat. Warna mata orang ini juga pucat, sehijau teh hijau; warna rambut dan mata seperti ini membuat orang merinding, dan Shigeko mendengar bisik-bisik, "Itukah raksasa?" "Hantu." "Goblin." Mereka diikuti seorang perempuan pendek yang tampak memberitahukan tata cara yang sopan. Setelah dibisiki perempuan muda itu, kedua orang asing membungkuk dengan cara yang kaku, cenderung berlagak, lalu bicara dengan bahasa mereka yang kasar. Halaman 533 dari 533 Takeo membalas dengan isyarat kecil dengan kepala. Ia tak lagi tertawa: tampak tegas, gagah dengan jubah resminya, berhias bordiran burung bangau, serta tutup kepala warna hitam pekat. Orang-orang asing itu mungkin lebih tinggi dan lebih besar, tapi di mata Shigeko, Ayahnya jauh lebih gagah. Perempuan itu menyembah, dan ayahnya dengan begitu ramah, pikir Shigeko, mem¬beri isyarat agar perempuan itu boleh berdiri dan berbicara kepadanya. Meskipun Shigeko memegang tali sutra yang mengikat leher kirin, dan perhatiannya tertuju pada makhluk mengagumkan ini, tapi ia mendengar ayahnya bicara beberapa patah kata pada orang asing itu. Ketika perempuan itu menerjemahkan, lalu menyampaikan jawaban orang asing itu, Shigeko seperti mendengar sesuatu yang tidak biasa dalam suaranya. Dilihatnya kalau perempuan itu terpaku menatap wajah Takeo. Dia mengenal Ayah, pikir Shigeko. Dia berani menatap langsung wajah Ayah. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu, semacam ekspresi akrab yang mendekati sikap tidak sopan, yang membuat Shigeko gelisah dan bersikap waspada. *** Kerumunan yang ada di dermaga dihadapkan pada keputusan yang sulit, apakah mengikuti kirin yang luar biasa, yang dituntun Ishida dan Shigeko menuju kuil, tempat hewan itu akan diperlihatkan pada Mori Hiroki dan dipersembahkan pada dewa sungai; atau mengikuti orang asing yang sama luar biasanya, yang dengan sebarisan pelayan yang didampingi Shizuka membawa sejumlah besar kotak dan bal menuju ke perahu kecil yang akan membawa mereka menyeberangi sungai ke tempat penginapan di sepanjang bangunan biara tua Tokoji. Beruntung Hagi berpenduduk banyak, dan ketika kerumunan mulai terbagi untuk setiap arak-arakan terdiri dari kerumunan yang cukup besar. Orang-orang asing itu merasa hal ini lebih menjengkelkan diban¬dingkan kirin yang menunjukkan ekspresi kesal karena terus menjadi tontonan. Mereka bahkan akan lebih kesal lagi dengan jauhnya jarak tempat penginapan dari kastil dan penjaga serta berbagai larangan yang diberlakukan pada mereka demi melindungi mereka. Kirin berjalan seperti yang sedari tadi dilakukannya, dengan langkah lambat dan hati-hati yang anggun. "Aku langsung jatuh hati padanya," ujar Shigeko pada ayahnya selagi mereka men¬dekati biara. "Bagaimana aku harus berterima kasih kepada Ayah?" "Kau harus berterima kasih pada tabib Ishida," sahut Takeo. "Ini adalah hadiah darinya untuk kita: hadiah yang berharga karena dia sendiri juga sudah jatuh hati padanya seperti halnya dirimu, dan sudah mengenalnya cukup lama. Dia akan tunjuk¬kan cara merawatnya." "Sungguh indah memiliki sesuatu seperti itu di Hagi," seru Mori Hiroki saat melihat¬nya. "Betapa diberkatinya Tiga Negara!" Dan Shigeko juga berpikir begitu. Bahkan Tenba tampak terpikat oleh kirin, berlari ke pagar bambu untuk memeriksa dan menyentuhkan hidung perlahan padanya. Satu-satunya hal yang Shigeko sedihkan yaitu Hiroshi akan segera pergi. Tapi saat teringat kejadian tadi pagi, berpikir mungkin memang sebaiknya laki-laki itu pulang.* Sewaktu kembali ke kediaman setelah menyambut kirin, Takeo langsung bergegas menemui Kaede. Istrinya tampak duduk di beranda di sisi utara kediaman, sedang bicara dengan Taro, putra sulung si tukang kayu, Shiro. Dia dan ayahnya kembali ke Hagi untuk membangun kembali kota itu setelah gempa. Halaman 534 dari 534 Takeo memberi salam dengan ceria, dan Taro menjawab tanpa sungkan karena masa lalu mengikat hubungan mereka dalam jalinan persahabatan. "Sudah lama aku hendak menciptakan figur Dewi Welas Asih," tutur Taro, seraya menatap kedua tangannya seolah berharap tangan itu bisa memberi jawaban. "Lady Otori punya usulan." "Kau tahu rumah di dekat tepi pantai," kata Kaede. "Rumah itu sudah kosong selama bertahun-tahun, sejak Akane mening¬gal. Orang bilang kalau rumah itu berhantu, dan Akane menggunakan mantra untuk me mikat Lord Shigeru tapi akhirnya dia sendiri yang terjebak dalam ilmu hitamnya. Para pelaut mengatakan kalau arwah Akane menyalakan lampu di bebatuan, memberi sinyal palsu ke kapal karena dia membenci semua pria. Kita runtuhkan saja rumahnya lalu menyucikan tamannya. Taro dan adik¬nya bisa membangun kuil baru untuk dewa Kannon, dan patung yang melambangkannya akan memberkati pesisir dan teluk." "Chiyo menceritakan tentang kisah Akane ketika aku masih kecil," sahut Takeo. "Tapi Shigeru tak pernah menceritakannya, begitu pula tentang istrinya." "Mungkin arwah kedua wanita yang telah berpulang itu pada akhirnya bisa beristirahat dengan tenang," kata Taro. "Aku mem¬bayangkan bangunan kecil—kita tak perlu menebang pohon-pohon pinus tapi akan membangun di sela-sela pepohonan itu. Kukira dengan atap rangkap dua, dengan lekukan tajam seperti ini, dan sambungan siku yang saling mengunci untuk menyang¬ganya." Diperlihatkannya pada Takeo sketsa yang telah dibuatnya untuk bangunan itu. "Atap yang lebih rendah menyeimbangkan atap di atasnya, memberi kesan tampilan yang kuat serta lembut. Kuharap bisa memberi peng¬hormatan yang sama kepada Yang Diberkati. Kuharap tadinya bisa menunjukkan sketsa sang Dewi, tapi figurnya tetap tersembunyi di balik kayu hingga tanganku menemukan¬nya." "Kau akan memahat dari satu pohon?" tanya Takeo. "Ya, saat ini aku sedang memilih pohon yang tepat." Mereka membicarakan tentang berbagai jenis pohon, usia kayu dan semacamnya. Kemudian Taro meninggalkan mereka ber¬dua. "Rencana yang bagus," ujar Takeo pada Kaede sewaktu mereka tinggal berdua. "Aku menyukai rencana itu." "Rasanya aku punya alasan khusus untuk bersyukur pada sang dewi," kata Kaede pelan. "Rasa mual tadi pagi, yang pulih dengan cepat...." "Istriku sayang," gumamnya, dan karena mereka hanya berdua, Takeo memeluknya. "Aku malu," kata Kaede, seraya tertawa kecil. "Aku sepertinya terlalu tua untuk hamil! Shigeko sudah menjadi wanita. Namun aku juga bahagia. Kukira aku tak bisa hamil lagi, mengira kesempatan kita memiliki anak lakilaki sudah sirna." "Aku sudah sering bilang padamu, aku bahagia dengan ketiga putri kita," ujarnya. "Bila nanti kita tambah satu anak perempuan lagi, aku akan gembira." "Aku tidak ingin mengatakannya," bisik Kaede. "Tapi aku yakin yang satu ini laki¬laki." Takeo mendekap istrinya, berpikir tentang mukjizat dari makhluk baru yang tumbuh dalam tubuh istrinya. Mereka tak bicara selama beberapa waktu, bernapas dalam kedekatan. Kemudian langkah kaki pelayan di lantai papan beranda menarik mereka kembali ke dunia nyata. "Apakah kirin tiba dengan selamat?" tanya Kaede, karena Takeo sudah mengungkapkan hadiah kejutan itu pada istrinya. Halaman 535 dari 535 "Ya, kemunculannya sangat kuharapkan. Shigeko langsung jatuh hati padanya. Seluruh penduduk diam dalam kekaguman." "Bisa membuat orang Otori terkagum¬kagum adalah prestasi yang sangat baik!" sahut Kaede. "Kuharap mereka sudah meng¬gubah nyanyian tentang hewan itu. Aku akan pergi melihatnya sendiri nanti." "Kau tak boleh berpanas-panasan," kata Takeo cepat. "Kau jangan terlalu lelah. Ishida harus menengokmu, dan kau harus melaku¬kan semua yang dimintanya." "Ishida juga tiba dengan selamat. Aku senang, lalu bagaimana dengan si kecil Chikara?" "Mabuk laut berat—dia malu dengan hal itu. Tapi gembira bertemu kakaknya." Takeo terdiam sesaat, lalu berkata, "Kita tunda dulu soal pengangkatan mereka sampai anak kita lahir. Aku tak ingin melambungkan harapan yang kelak tak bisa terpenuhi, atau men¬ciptakan kerumitan nantinya." "yang arif," sahut Kaede setuju. "Meski aku takut Zenko dan Hana akan kecewa." "Hanya ditunda," Takeo menekankan. "Kau semakin bijaksana dan berhati-hati, suamiku!" kata Kaede sambil tertawa. "Sudah semestinya," sahutnya. "Kuharap kini aku dapat mengendalikan sikap tergesa¬gesa dan ceroboh." Takeo menimbang¬nimbang apa yang mesti dikatakan selanjut¬nya, dan tiba pada satu keputusan, berkata, "Ada penumpang lain dari Hofu. Dua orang asing, dan seorang wanita yang menerjemah k an merek a." "Untuk tujuan apa mereka datang?" "Membuka peluang untuk berdagang, kurasa; melihat lebih banyak lagi bagian negeri ini yang masih menjadi misteri besar bagi mereka. Aku belum sempat bicara dengan Ishida. Mungkin dia tahu lebih banyak. Kita harus bisa memahami mereka. Aku ingin mau mempelajari bahasa mereka, dibantu perempuan yang datang bersama mereka, tapi aku tak ingin membebanimu." "Belajar, mempelajari bahasa adalah salah satu yang paling kugemari," sahut Kaede. "Kelihatannya itu tugas yang cocok di saat kegiatan lain harus dibatasi. Tentu saja aku mau. Siapa perempuan yang datang bersama mereka? Aku tertarik karena dia telah menguasai bahasa asing." Takeo berkata dengan suara pelan, "Aku tak ingin mengejutkan dirimu, tapi aku harus mengatakannya. Perempuan itu berasal dari wilayah Timur, dan sempat tinggal di Inuyama. Dia lahir di desa yang sama denganku, dari ibu yang sama. Dia adik perempuanku." "Adik yang kau kira sudah tiada?" tanya Kaede tercengang. "Benar, adikku, Madaren." Kaede mengernyitkan dahi. "Nama yang aneh." "Nama itu cukup umum digunakan di kalangan kaum Hidden. Dia berganti nama, kurasa, setelah peristiwa pembantaian itu. Dia dijual ke rumah bordil oleh prajurit yang membunuh ibunya—ibuku— dan kakak perempuanku. Dia melarikan diri ke Hofu, dan bekerja di rumah bordil lainnya, tempat di mana dia bertemu orang asing yang bernama Don Joao: dia fasih berbicara dalam b ah asa merek a." "Bagaimana kau tahu semua ini?" "Kami kebetulan bertemu di penginapan di Hofu. Saat itu aku menyamar untuk bertemu Terada Fumio untuk memintanya menghentikan penyelundupan senjata. Kami saling mengenali." "Setelah sekian tahun...?" Kaede menatap Takeo, setengah bersimpati, setengah tak percaya. Halaman 536 dari 536 "Aku yakin itu dia. Kami bertemu satu kali lagi, hanya sebentar, dan aku semakin yakin. Aku menyelidiki tentang dirinya dan tahu sedikit riwayat hidupnya. Kukatakan padanya kalau aku akan menjamin hidupnya tapi tidak ingin bertemu dengannya lagi. Jarak di antara kami sudah begitu lebar. Tapi kini dia datang ke sini.... Wajar kalau dia tertarik dalam pergaulan orang asing, karena inti ajaran mereka serupa dengan kaum Hidden. Aku takkan mengakuinya sebagai saudaraku, tapi desas-desus mungkin akan tersebar, dan aku ingin kau mengetahui kebenarannya dariku." "Kurasa dia bermanfaat bagi kita sebagai jurubahasa maupun guru. "Bisakah kau bujuk dia untuk menjadi mata-mata?" Sepertinya Kaede berusaha menyembunyikan kekagetannya dan bicara secara masuk akal. "Aku yakin dia bisa menjadi sumber informasi, dengan disengaja atau tidak. Tapi informasi mengalir dari dua arah. Dia bisa berguna untuk menanamkan pemikiran kita pada kedua orang asing itu. Aku memintamu untuk memperlakukannya dengan baik, bah¬kan dengan hormat, tapi jangan pernah membicarakan tentang diriku padanya." "Apakah dia mirip denganmu? Aku ingin sekali bertemu dengannya." Takeo menggeleng. "Dia mirip ibunya." Kaede berkata, "Kau kedengaran sangat dingin. Tidakkah kau gembira menemukan nya masih hidup? Kau tidak ingin mem¬bawanya masuk ke dalam keluargamu?" "Kukira dia sudah mati. Aku menangisi kematiannya serta kematian yang lainnya. Kini aku tidak tahu harus bersikap bagai¬mana: aku sudah berubah menjadi orang yang berbeda dari bocah yang pernah menjadi kakaknya. Kesenjangan derajat dan status kami sudah menganga lebar. Terlebih lagi, dia penganut kepercayaan yang saleh: sedangkan aku tak memercayai kepercayaan mana pun, dan tidak lagi mengikuti kepercayaan masa kecilku. Aku curiga kalau orang-orang asing itu ingin menyebarkan kepercayaan mereka. Siapa yang tahu alasannya? Aku tak bisa membiarkan siapa pun mengira bisa memengaruhi diriku, karena aku harus melindungi mereka semua dari kedua belah pihak, mungkin alasan orang-orang itu untuk memecah belah rakyat kita." "Tak seorang pun yang menyaksikan dirimu melakukan upacara di biara atau kuil merasa yakin akan ketidakpercayaanmu," ujar Kaede. "Dan bagaimana dengan kuil dan patung baruku?" "Kau tahu kemampuanku sebagai pemain sandiwara," sahut Takco dengan nada getir, "Aku sungguh bahagia berpura-pura punya kepercayaan demi kepentingan stabilitas negara. Tapi bila kau salah satu orang Hidden, mutlak tidak boleh berpura-pura bila sudah menyangkut masalah kepercayaan. Dirimu terpampang jelas oleh Yang Maha Melihat, tatapan tanpa belas kasihan Tuhan." Andai ayahku tidak memihak kaum Hidden, mungkin dia masih hidup, pikirnya. Dan aku akan menjadi orang lain. "Tentu tuhan kaum Hidden itu Maha Pengampun, kan?" seru Kaede. "Bagi penganutnya, mungkin. Sedangkan yang lainnya dikutuk ke neraka untuk selamanya." "Aku tidak percaya itu!" sahut Kaede, setelah sesaat tenggelam dalam pikirannya. "Begitu pula aku. Tapi itulah yang di¬percayai kaum Hidden, begitu juga orang¬orang asing itu. Kita harus sangat berhati¬hati dengan mereka—bila mereka telah berpikir kita dikutuk, mereka mungkin merasa benar untuk memperlakukan kita dengan cara menghina atau keji." Dilihatnya Kaede agak gemetar, dan takut kalau istrinya merasakan suatu firasat.* Halaman 537 dari 537 Pada bulan kedelapan tibalah Festival Obon. Tepi pantai dan sungai dipenuhi orang, bentuk tarian mereka tampak jelas diterangi kembang api yang bersinar terang. Lampion yang tak terhitung jumlahnya mengapung di gelapnya permukaan air. Arwah orang yang mati disambut kembali, dirayakan dengan jamuan, lalu diucapkan selamat jalan dengan gabungan antara perasaan sedih sekaligus gembira, ketakutan dan kegembiraan. Maya dan Miki menyalakan lilin bagi Kenji yang amat mereka rindukan, tapi kesedihan mereka yang tulus tak menghalangi mereka dari kegiatan senggang baru, menyiksa Sunaomi dan Chikara. Mereka menguping pembicaraan dan tahu ada usulan untuk mengangkat salah satu atau kedua anak itu. Melihat kasih sayang Kaede pada kedua bocah itu, mereka menduga itu karena kedua anak itu laki-laki. Mereka tak diberitahu tentang kehamilan Kaede, tapi sifat mereka yang selalu memer hatikan, akhirnya mereka tahu. Kenyataan bahwa hal itu tidak dibicarakan secara terang-terangan membuat mereka gelisah. Hari-hari di musim panas terasa panjang dan panas: semua orang mudah marah. Shigeko tampak semakin cepat memasuki masa kedewasaan dan menjadi makin menjauh. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayah, membicarakan tentang kun¬jungan ke ibukota tahun depan, serta hal-hal lain yang menyangkut urusan kenegaraan. Shizuka sibuk dengan administrasi Tribe. Si kembar tak diijinkan keluar berdua saja, tapi mereka sudah terampil dengan pelatihan Tribe. Meskipun tak diijinkan mengguna¬kannya, namun rasa jenuh dan diabaikan membuat mereka mencoba hasil pelatihan mereka. "Apa gunanya semua pelatihan itu bila tidak digunakan?" gerutu Maya pelan, dan Miki setuju dengannya. Miki dapat menggunakan sosok kedua cukup lama untuk memberi kesan kalau Maya ada di ruangan sementara Maya menghilang agar bisa menakuti Sunaomi dan Chikara dengan hembusan napas seperti desah napas hantu di tengkuk, atau sentuhan di rambut. Mereka mematuhi peraturan untuk tidak keluyuran di luar, namun aturan itu menjengkelkan mereka: keduanya ingin menjelajahi kota yang sibuk, hutan di seberang sungai, area di sekitar gunung berapi, dan hutan berbukit di atas kastil. "Di sana ada goblin," kata Maya kepada Sunaomi, "dengan hidung panjang dan mata yang selalu mengintai!" Maya menunjuk ke arah bukit, tempat pepohonan yang begitu lebat hingga kelihatan tak bisa ditembus. Dua layang¬layang bergulung-gulung di atas mereka. Sore pada hari ketiga Festival Obon, keempat anak itu berada di taman. Hari terasa menyesak¬kan; bahkan di taman, di bawah pepohonan, tetap saja terasa panas tak terkira. "Aku tidak takut pada tengu," sahut Sunaomi. "Aku tidak takut pada apa pun!" "Tengu yang ini suka makan anak laki¬laki," bisik Miki. "Mereka memakannya mentah-mentahi" "Seperti macan?" sahut Sunaomi seraya mengejek, sehingga membuat Maya makin kesal. Ia belum melupakan kata-kata Sunaomi pada ayahnya, anggapan yang terucap tanpa disadarinya, tentang keung gulan anak lelaki: Lagipula, mereka hanyalah anak perempuan. Maya ingin membalas perkataan itu. Dirasakan si kucing berputar¬putar di dalam dirinya, dan melemaskan jari¬jarinya. "Mereka tak bisa mengerjai kita di sini," kata Chikara gugup. "Terlalu banyak penjaga." Halaman 538 dari 538 "Memang mudah bersikap berani saat dikelilingi penjaga," kata Maya pada Sunaomi. "Jika kau memang pemberani, kau pasti berani keluar sendirian!" "Aku tidak diijinkan," sahutnya. "Kau takut!" "Tidak!" "Ya sudah, pergilah keluar. Aku tidak takut. Aku sudah pernah pergi ke rumah Akane, walaupun arwahnya gentayangan di rumah itu. Aku pernah melihatnya." "Akane membenci anak laki-laki," bisik Miki. "Dia mengubur anak laki-laki hidup¬hidup di tamannya supaya semak-semak tumbuh subur dan wangi." "Sunaomi takkan berani ke sana," kata Maya dengan setengah tersenyum. "Di Kumamoto aku dikirim ke pemakaman saat malam hari untuk mem bawa pulang sebuah lentera," tutur Sunaomi. "Aku tak melihat satu pun hantu!" "Kalau begitu, pergilah ke rumah Akane dan bawa pulang beberapa tangkai bunga." "Itu mudah," hardik Sunaomi. "Hanya saja aku tidak diperbolehkan—ayahmu yang bilang begitu." "Kau takut," kata Maya. 'Tidak mudah keluar tanpa terlihat." "Mudah jika kau tidak takut. Itu cuma alasanmu saja." Maya berdiri dan berjalan ke pinggiran dinding laut. "Kau turun lewat dinding ini saat laut surut dan berjalan di atas bebatuan menuju pantai." Sunaomi mengikutinya, dan Maya menunjuk rumah Akane yang kosong dan kelihatan muram. Rumah itu sudah setengah dibongkar karena akan dibangun kuil. Bangunan itu tak lagi berbentuk rumah, tapi belum menjadi kuil, mengesankan persimpangan antara dunia nyata dan alam baka. Gelombang sudah hampir naik, sebagian menampakkan bebatuan yang menonjol dan licin. "Kau bisa pergi malam ini." Maya berpaling ke arah Sunaomi, menahan tatapan bocah itu selama beberapa saat. "Maya!" seru Miki memperingatkan. "Oh, maaf, sepupu! Aku lupa. Aku tak boleh menatap orang lain. Aku sudah berjanji pada Ayah." Cepat-cepai Maya menampar pipi Sunaomi untuk menyadar¬kannya, lalu kembali pada Chikara. "Kau tahu, bila kau menatap mataku maka kau akan tertidur dan tidak akan terbangun lagi!" Sunaomi menghampiri untuk membela adiknya. 'Tahukah kalian kalau kalian akan dibunuh jika tinggal di Kumamoto? Di sana kami membunuh orang kembar!" "Aku tidak percaya sedikit pun apa yang kau katakan," sahut Maya. "Semua orang lahu kalau Arai adalah pengkhianat dan pengecut." Sunaomi menegakkan badan dengan bangga. "Jika kau anak laki-laki, aku akan membunuhmu. Tapi karena kau hanya anak perempuan, aku akan ke rumah itu dan membawa pulang apa pun yang kau minta." Saat matahari mulai terbenam, langit tampak cerah tanpa angin, namun saat bulan mulai naik, gumpalan awan aneh berwarna kelabu berarak dari timur, melenyapkan bintang dan akhirnya menelan bulan. Laut dan daratan berbaur menjadi satu. Api terakhir masih mengepulkan asap di pantai; selain itu tak ada api lain lagi. Sunaomi adalah putra sulung dalam keluarga ksatria. Sejak kecil dia dilatih dengan disiplin dan diajari untuk mengatasi rasa takut. Tak sulit baginya, meskipun baru delapan tahun, untuk tetap terjaga sampai tengah malam. Sunaomi, meski dengan keberanian yang mantap, dia tetap gelisah— dan lebih takut karena tak mematuhi paman¬nya ketimbang bahaya terluka atau pun hantu. Para pengawal yang mendampinginya sejak dari Hofu tinggal di aula di kota atas perintah Lord Otori: penjaga kastil sebagian besar berada di gerbang dan di sekitar dinding depan. Pasukan patroli Halaman 539 dari 539 berjalan melintasi taman dalam jarak waktu yang teratur. Sunaomi mendengar suara mereka melewati pintu yang terbuka dari ruangan tempat dia dan Chikara tidur, bersama dua pelayan yang merawat mereka. Kedua gadis pelayan itu tidur cepat, salah satunya mendengkur. Sunaomi cepat-cepat berdiri, siap mengatakan kalau ia ingin ke kamar mandi bila mereka terbangun, namun tak satu pun dari keduanya bergerak. Di luar, malam terasa tenang. Kastil maupun kota sudah terlelap. Di bawah dinding, laut bergumam lembut. Hampir tidak bisa melihat apaapa, Sunaomi menghela napas panjang dan mulai meraba¬raba jalan yang dilaluinya menuruni landaian besar di dinding batu besar yang dirapatkan. Beberapa kali mengira kalau dirinya terjepit, tak bisa naik atau turun; memikirkan tentang monster yang muncul dari laut, ikan atau gurita raksasa yang bisa menelannya ke dalam kegelapan. Laut terdengar meraung, kini lebih keras lagi. Bisa terdengar olehnya pusaran air di bebatuan. Ketika kakinya yang bersandal jerami menyentuh permukaan bebatuan, dia ter¬peleset dan hampir jatuh ke dalam air. Menggaruk berusaha mencengkeram sesuatu untuk pegangan, dirasakannya kulit kerang setajam pisau di telapak kaki dan lututnya. Ombak merayap di bawah tubuhnya, menyebabkan luka tadi terasa perih. Seraya menggertakkan gigi, dia bergeser sedikit demi sedikit bak kepiting ke arah api terakhir yang masih mengepulkan asap, menuju ke pantai. Pantai tampak kelabu pucat; ombak berdesis berbuih putih. Ketika sampai di atas pasir, dia lega merasakan kelembutan di telapak kakinya. Lalu berganti rumput kaku; Sunaomi tersandung dan terus berjalan dengan merangkak ke hutan kecil tempat pepohonan pinus bermunculan di sekeliling¬nya. Suara burung hantu terdengar di atas kepala membuatnya melonjak terkejut, dan bentuk burung yang seperti hantu itu sesaat mengapung di hadapannya dengan kepakan sayap. Cahaya api berada tepat di belakangnya. Sunaomi berhenti sebentar, meringkuk di balik pepohonan. Tercium olehnya bau damar yang terbawa asap api unggun tadi— dan aroma kuat lainnya yang terasa manis dan memikat. Wangi tanaman di taman Akane diperkuat dengan darah dan tulang anak laki-laki. Anak laki-laki sering disuruh pergi ke makam atau tempat eksekusi di malam hari untuk uji nyali. Sunaomi sudah menyom¬bongkan diri pada Maya kalau dia tak pernah melihat hantu. Tapi itu bukan berarti dia tak percaya akan keberadaannya: perempuan berleher panjang bak ular dan gigi setajam kucing, makhluk bermata satu serta tanpa tangan dan kaki, bandit tanpa kepala yang marah karena dihukum mati, orang yang mati penasaran, akan balas dendam dengan memangsa darah manusia. Sunaomi menelan ludah dengan susah payah, lalu berusaha menahan gemetar yang semakin melemaskan tubuhnya. Aku adalah Arai Sunaomi, katanya dalam hati, putra Zenko, cucu Daiichi. Aku tak takut pada apa pun. Dipaksa dirinya untuk berdiri, lalu ber¬jalan ke depan, walau kakinya terasa berat, dan tak tahan ingin buang air kecil. Ia men¬capai dinding taman, lekukan atap di belakangnya. Gerbang terbuka lebar; dinding mulai runtuh. Ketika melangkah masuk ke gerbang, tubuhnya terhalang sarang laba-laba, jaring¬nya lengket di wajah dan rambutnya. Napasnya makin memburu, tapi dia berkata pada dirinya sendiri, Jangan menangis, aku tidak boleh menangis, meskipun bisa dirasa¬kannya air mata mulai mengambang di pelupuk mata. Rumah itu gelap gulita. Sesuatu berlari cepat menyeberangi beranda, mungkin kucing, atau tikus besar. Ia menggapaikan tangannya seakan mengikuti bau wangi itu sampai ke belakang rumah lalu sampai ke taman. Kucing itu—pasti kucing—tiba-tiba melolong dari balik bayang-bayang.


Baca Selanjutnya...