Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Harsh Cry of the Heron Part 5


Miki sepertinya sudah tidur. Napasnya tenang dan teratur. Sikutnya menusuk badan Maya, dan Maya
bergeser sedikit. Suara burung hantu tadi terdengar lagi. Nyamuk mencium bau keringat mereka dan
ber¬dengung di telinga Maya. Hujan membuat¬nya kedinginan. Nyaris tanpa berpikir dibiar¬kannya si
kucing datang dengan bulu tebal¬nya yang hangat.
Segera terdengar suara Hisao. Datanglah padaku.
Dan Maya merasakan tatapan pemuda itu berpaling ke arahnya, seolah Hisao bisa melihat melalui
kegelapan, tepat ke mata keemasan si kucing, saat kepalanya berputar melihat ke arah Hisao. Kucing
itu meregang¬kan badan, menegakkan telinganya serta mendengkur.
Maya berjuang kembali ke wujud aslinya. Dibuka mulutnya, berusaha memanggil Miki.

Halaman 710 dari 710
Miki duduk tegak. "Apa yang terjadi?"
Maya merasakan lagi kekuatan setajam pedang dari jiwa Miki yang menghalangi antara si kucing dan
penguasanya.
"Tadi kau melolong!" ujar Miki.
"Tadi aku berubah menjadi kucing di luar kehendakku, dan Hisao melihatku."
"Apakah dia sudah dekat?"
"Aku tidak tahu, tapi dia tahu tempat kita berada. Kita harus pergi sekarang juga."
Miki berlutut di pinggiran gua pohon dan melihat dengan seksama keluar ke gelapnya malam. "Aku
tidak bisa lihat apa-apa. Gelap gulita, dan hujan. Kita tidak bisa pergi sekarang."
"Kau akan tetap terjaga?" tanya Maya gemetaran karena dingin dan emosi. "Ada sesuatu yang bisa
kau lakukan yang menghalangi antara dia dan aku, serta mem¬bebaskan diriku darinya."
"Aku tidak tahu apa itu," ujar Miki. Suaranya lemah dan lelah. "Atau bagaimana melakukannya. Kucing
itu mengambil begitu banyak dari dalam diriku."
Murni adalah kata yang terbersit di benak Maya, seperti murninya baja setelah dipanas¬kan,
dibengkokkan dan dipukul berulang
kali. Dipeluknya Miki dan mendekapnya lebih erat. Berpelukan, kedua gadis itu me¬nunggu cahaya
matahari merayap perlahan menyinari mereka.
***
Hujan berhenti saat hari mulai terang, mem¬buat tanah terasa panas dan mengubah ranting dan daun
yang meneteskan air hujan menjadi bingkai keemasan dan potongan pelangi. Jaring laba-laba,
rumpun bambu, pakis: semuanya berkilau dan bersinar. Dengan menjaga agar sinar matahari tetap di
kanan mereka, keduanya melanjutkan per¬jalanan ke utara, di sisi sebelah timur pe¬gunungan.
Mereka berusaha sekuat tenaga naik turun parit yang dalam, seringkali harus menelusuri kembali
jejak kaki mereka se¬belumnya; sesekali melihat jalan di bawah sana, dan sungai di belakangnya.
Meskipun ingin berjalan sebentar di permukaan jalan yang mulus, mereka tak berani melaku¬kannya.
Saat tengah hari, mereka berhenti di saat yang bersamaan. Di depan mereka tampak ada jalan yang
tidak terlalu mulus, namun
menjanjikan kalau bagian selanjutnya per¬jalanan mereka akan lebih mudah. Mereka belum makan
sejak pagi, dan kini mulai mencari-cari di rerumputan, tanpa bersuara, dan menemukan kacang
beech, lumut, chestnut sisa musim gugur lalu yang telah bertunas, sedikit buah beri yang hampir
ranum. Udara terasa panas, bahkan dalam naungan lebatnya hutan.
"Kita istirahat sebentar," ujar Miki, seraya melepas sandal dan menggosokkan telapak kakinya di
rumput yang lembap. Kakinya lecet dan berdarah, kulitnya berubah segelap tembaga.
Maya sudah berbaring terlentang, menatap ke atas, ke arah hijau dedaunan yang berubah bentuk.
"Aku lapar sekali," katanya. "Kita harus mendapatkan makanan sungguhan. Aku penasaran apakah
jalan itu mengarah ke sebuah desa."
Kedua gadis itu tertidur sebentar, tapi rasa lapar membangunkan mereka. Sekali lagi, hampir tidak
perlu bicara, mereka mengen¬cangkan kembali sandal dan mulai mengikuti jalan kecil tadi yang
berkelok di sepanjang sisi gunung. Sesekali mereka melihat atap
rumah petani jauh di bawah, dan mengira kalau jalan kecil itu akan membawa mereka ke sana. Tapi
mereka tidak menemukan tempat apa pun, tak ada desa, bahkan tak ada gubuk atau biara terpencil di
gunung, dan sawah garapan tetap berada di luar jangkauan di bawah tempat mereka berada. Mereka
ber¬jalan tanpa bicara, berhenti hanya untuk mengambil makanan yang disediakan atam, perut
mereka mulai keroncongan. Matahari berlalu tersembunyi di balik gunung; awan berkumpul lagi di
sebelah selatan. Tak satu pun dari kedua nya ingin menghabiskan semalam lagi di hutan, namun
tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan, selain terus berjalan.

Halaman 711 dari 711
Hutan dan gunung menyatu saat senja tiba; burung berkicau melantunkan nyanyian pengiring
matahari teng-gelam. Maya yang berada di depan, tiba-tiba berhenti.
"Asap," bisik Miki.
Maya mengangguk, dan mereka berjalan dengan lebih hati-hati. Baunya semakin kuat, kini bercampur
dengan aroma daging panggang yang membuat perut mereka semakin keroncongan. Daging burung
kuau atau kelinci, pikir Maya, karena ia pernah mencicipi kedua daging itu di sekitar
Kagemura. Segera saja terbit air liurnya. Di sela-sela pepohonan bisa dilihatnya sebuah gubuk kecil.
Api unggun menyala di depan¬nya, dan sesosok tubuh ramping berlutut menjaga daging yang sedang
dimasak.
Maya bisa memperkirakan dari bentuk tubuh dan gerakannya kalau sosok itu adalah perempuan dan
ada sesuatu dengannya yang terasa sangat familiar.
Miki berbisik di telinganya. "Perempuan itu mirip Shizuka!"
Maya mencengkeram tangan adiknya saat Miki hendak berlari menghampiri. "Tidak mungkin.
Bagaimana dia bisa ada di sini? Aku akan ke sana dan melihatnya."
Menggunakan kemampuan menghilang, Maya menyelinap di sela pepohonan dan ke belakang gubuk.
Aroma daging begitu kuat hingga ia mengira akan kehilangan kon¬sentrasinya. Dirabanya pisaunya.
Sepertinya tidak ada orang lain lagi, hanya perempuan itu, kepalanya tertutup tudung yang di¬pegangi
dengan satu tangan sementara mem¬bolak-balik daging pada tusuk pemanggang dengan tangan
satunya lagi.
Angin sepoi-sepoi berhembus perlahan di dataran itu dan membuat bulu-bulu coklat
dan hijau melambai-lambai terkena angin¬nya. Perempuan itu berkata, tanpa berpaling, "Kau tak
perlu menggunakan pisau itu. Aku akan memberimu dan adikmu makan."
Suaranya mirip suara Shizuka, tapi juga tidak mirip. Maya berpikir, Kalau dia bisa melihatku, maka dia
pasti berasal dari Tribe.
"Apakah kau Muto?" tanya Maya, lalu membuat dirinya terlihat lagi.
"Ya, aku Muto," sahut perempuan itu. "Kau bisa memanggilku Yusetsu."
Maya belum pernah mendengar nama itu. Suaranya pun dingin dan misterius, bak jejak terakhir salju
yang tertinggal di sisi utara pegunungan di musim semi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apakah ayahku yang menyuruhmu ke sini?"
"Ayahmu? Takeo." Perempuan itu meng¬ucapkan nama Takeo dengan semacam kerinduan yang
dalam dan penyesalan, lembut sekaligus getir, yang membuat Maya bergidik. Kini perempuan itu
menatap Maya, namun tudung menutupi wajahnya. Bahkan dengan cahaya api unggun, Maya tidak
bisa melihat wajahnya.
"Sudah hampir matang," kata Yusetsu. "Panggil adikmu lalu cuci tangan dan kaki kalian."
Ada teko air di anak tangga gubuk. Kedua gadis itu bergantian menuangkan air men¬cuci tangan dan
kaki mereka. Di anak tangga, Yusetsu menaruh daging burung kuau bakar di lembaran kulit kayu
yang di-bungkus daun. Dia lalu berlutut, mengiris daging menjadi potongan kecil. Si kembar makan
tanpa bicara, melahap daging dengan rakus; panasnya membakar mulut dan lidah. Yusetsu tidak
makan, dia hanya mengamati setiap suapan mereka, memerhatikan wajah dan tangan mereka.
Ketika keduanya sudah mengisap tulang yang terakhir, Yusetyu menuangkan air ke selembar kain
untuk mengelap tangan mereka. Dia membalikkan telapak tangan mereka dan menyusuri tanda
Kikuta dengan jari-jarinya.
Kemudian ditunjuknya tempat untuk buang hajat, dan memberikan lumut untuk membersihkannya;
sikapnya penuh perhati¬an, seolah dia adalah ibu mereka. Setelah itu dinyalakannya lentera dari sisa
api yang masih menyala, dan mereka berbaring di

Halaman 712 dari 712
lantai gubuk sementara perempuan itu terus memandangi mereka.
"Jadi kalian anaknya Takeo," ujarnya lirih. "Kalian mirip dengannya. Kalian seharusnya menjadi
anakku."
Dan kedua gadis itu, dalam keadaan hangat dan kenyang, merasakan juga lebih baik kalau mereka
memang menjadi anak Yusetsu, meski mereka belum tahu siapa perempuan itu sebenarnya.
Yusetsu memadamkan lentera dan menye¬limuti mereka dengan jubahnya. "Tidurlah," ujarnya. "Tidak
ada yang bisa menyakiti kalian saat aku di sini."
Mereka tidur tanpa bermimpi dan ter¬bangun saat hari mulai terang. Hujan menyirami wajah mereka,
juga tanah lembap di bawah tubuh mereka. Tak ada tanda-tanda gubuk, teko, maupun perempuan itu.
Hanya bulu burung di lumpur dan bekas bara api yang menandakan kalau perempuan itu pernah ada
di sana.
Miki berkata, "Dia adalah hantu perempuan itu."
"Mmm," gumam Maya, setuju.
"Ibu Hisao? Yuki?"
"Siapa lagi?" Maya mulai berjalan ke arah utara. Tak satu pun dari keduanya bicara lagi tentang
perempuan itu, namun rasa daging burung kuau masih tertinggal di lidah dan tenggorokan mereka.
"Ada jalan kecil," ujar Miki, mengejar Maya. "Seperti kemarin."
Jalannya tidak rata, seperti jalanan rubah, melalui semak belukar. Mereka berjalan menyusurinya
sepanjang hari, beristirahat dalam panasnya siang hari di rimbunnya semak hazelnut. Dan berjalan
lagi sampai malam tiba saat bulan baru muncul, bulan sabit.
Tiba-tiba tercium bau asap yang sama, aroma daging yang tengah dimasak yang menerbitkan air liur,
seoerang perempuan sedang menjaga makanan yang dimasak, wajahnya tersembunyi oleh jubah
bertudung. Di belakangnya ada gubuk, teko berisi air.
"Kita di rumah," ujar Maya menyapa dengan akrab.
"Selamat datang di rumah," sahut perempuan itu. "Cuci tangan; makanannya sudah matang."
"Apakah itu makanan hantu?" tanya Miki saat perempuan itu membawakan daging—
saat ini daging kelinci—dan mengirisnya untuk mereka.
Yusetsu tertawa. "Semua makanan adalah makanan hantu. Semua makanan sudah mati dan
memberikan rohnya pada kalian agar kalian bisa hidup."
"Jangan takut," tambahnya ketika Miki ragu; Maya sudah menjejalkan daging ke mulutnya. "Aku di sini
untuk membantu kalian."
"Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?" tanya Miki, tetap belum mau makan.
"Aku membalas pertolonganmu. Aku ber¬utang padamu. Karena kau memutuskan ikatanku dengan
anakku."
"Benarkah?"
"Kau membebaskan si kucing, dan sekaligus membebaskanku."
"Bila sudah bebas, seharusnya kau me¬lanjutkan perjalananmu," tutur Miki dengan suara tenang dan
tegas yang belum pernah Maya dengar. "Tugasmu sudah berakhir di dunia ini. Kau harus
merelakannya, dan membiarkan arwahmu berjalan terus menuju kelahirannya kembali."
"Kau bijaksana," sahut Yuki. "Akan lebih bijaksana dan lebih kuat lagi begitu kau
dewasa. Dalam waktu satu atau dua bulan lagi, kau dan kakakmu akan mulai mendapat haid. Menjadi
perempuan membuat kalian lemah, jatuh cinta menghancurkan diri kalian, dan membuat seorang

Halaman 713 dari 713
anak menem¬pelkan pisau di lehermu. Jangan tidur dengan laki-laki; bila kalian tidak me¬mulainya,
maka kalian takkan merindu¬kannya. Aku sangat suka bercinta; ketika aku menganggap ayah kalian
sebagai kekasihku, aku merasa seperti di Surga. Aku mem¬biarkannya memiliki diriku seutuhnya. Aku
merindukannya siang dan malam. Dan aku melakukan apa yang diperintahkan padaku: kalian anakanak
Tribe; kalian harus tahu tentang kepatuhan."
Kedua gadis itu meng-angguk, tapi tidak bicara.
"Aku patuh pada Ketua Kikuta dan Akio, yang kutahu mesti kunikahi di kemudian hari. Tapi aku
mengira akan menikah dengan Takeo dan melahirkan anak-anaknya. Kami sangat serasi dalam
kemampuan Tribe, dan kukira dia jatuh cinta padaku. Dia kelihatan terobsesi padaku sama seperti
aku terobsesi padanya. Kemudian aku tahu kalau Shirakawa Kaede yang dicintainya, kegilaan
karena cinta yang bodoh membawa dirinya kabur dari Tribe dan membuat aku dihukum mati."
Yuki terdiam membisu. Kedua gadis itu juga tidak berkata apa-apa. Mereka belum pernah mendengar
versi cerita ini dari riwayat orangtua mereka, diceritakan oleh perempuan yang sangat menderita
disebab-kan oleh cintanya pada ayah mereka. Akhirnya Maya berkata, "Hisao berusaha untuk tidak
ingin mendengarkanmu."
Miki mencondongkan badan ke depan dan mengambil sepotong daging, mengu¬nyahnya pelan,
merasakan lemak dan darahnya.
"Dia tak mau tahu siapa dirinya," sahut Yuki. "Sifat dalam dirinya tercabik, itu sebabnya dia merasa
sakit kepala yang sangat menusuk."
"Dia tidak bisa dibebaskan dari dosa," ujar Maya, amarahnya kembali lagi. "Semakin lama dia menjadi
semakin jahat."
"Kalian adalah adiknya," tutur Yuki. "Salah satu dari kalian menjadi si kucing, yang disayanginya;
sedang yang satunya lagi memiliki kualitas spritual yang menolak ke¬kuatannya. Bila dia menyadari
kekuatan itu
sepenuhnya, maka dia akan menjadi benar¬benar jahat. Tapi sampai tiba waktunya nanti, dia masih
bisa diselamatkan." Yuki mencondongkan badan, dan membiarkan tudung terlepas. "Begitu dia sudah
selamat, aku akan melanjutkan perjalananku. Aku tidak bisa membiarkan anakku membunuh
ayahnya. Namun ayah angkatnya harus membayar pembunuhan keji atas diriku."
Dia cantik, pikir Maya, tidak seperti Ibu tapi dengan sifat yang selalu kuingin diriku menjadi seperti itu,
kuat dan ptnuh semangat. Aku be rha rap dia yang menjadi ibuku. Aku berharap dia belum mati.
"Sekarang kalian harus tidur. Teruslah berjalan ke utara. Aku akan memberi kalian makan dan
membimbing kalian kembali ke Hagi. Kita akan menemukan ayah kalian dan memperingatkannya,
saat kita sudah bebas, kita akan selamatkan Hisao."
Yuki mencuci tangan mereka seperti yang dilakukannya di malam sebelumnya, tapi kali ini dibelainya
tangan mereka dengan lebih lembut, layaknya seorang ibu; sentuhannya kuat dan nyata: dia tidak
terasa seperti arwah, tapi keesokan paginya, si kembar terbangun
di hutan yang kosong. Hantu perempuan itu sudah pergi.
Miki bahkan lebih pendiam lagi ketim¬bang sebelumnya. Suasana hati Maya labil, bergerak antara
gembira karena kemung¬kinan bertemu Yuki lagi malam itu, serta ketakutan akan Akio dan Hisao
yang sudah dekat di balakang mereka. Dia mencoba memaksa Miki bicara, tapi jawaban Miki singkat
dan tidak memuaskan.
"Apakah menurutmu kita melakukan hal yang salah?" tanya Maya.
"Sekarang sudah terlambat," bentak Miki, dan kemudian sikapnya melunak. "Kita sudah makan
makanan darinya dan me¬nerima bantuannya. Kita tidak bisa melaku¬kan apa-apa lagi; kita hanya
harus segera sampai di rumah dan berharap Ayah cepat kembali."
"Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak tentang hal itu?" tanya Maya, kesal dengan kemarahan Miki.
"Kau bukan seorang penguasa alam baka juga, kan?"

Halaman 714 dari 714
"Bukan, tentu saja bukan," pekik Miki. "Aku bahkan tidak tahu apa itu. Aku belum pernah
mendengarnya sampai kau mengata¬kan kalau Hisao adalah penguasa alam baka."
Mereka berjalan menuruni lereng yang curam. Jalur itu berkelok di antara tonjolan batu-batu besar:
sepertinya itu tempat kesukaan ular untuk berjemur. Sewaktu tubuh-tubuh yang bengkok bergerak
cepat menghilang di balik bebatuan, Maya pun bergidik. Memikirkan arwah Akane, dan bagaimana ia
menggoda Sunaomi dengan menyaru sebagai perempuan pelacur yang sudah mati itu.
"Menurutmu apa yang sebenarnya Yuki inginkan?" tanyanya.
"Semua hantu ingin balas dendam," jawab Miki. "Dia ingin balas dendam."
"Pada Akio?"
"Pada semua orang yang telah menyakiti dirinya."
"Benar kan, kau memang tahu semuanya," ujar Maya.
"Mengapa dia membimbing kita ke Hagi?" tanya Miki.
"Untuk mencari Ayah; dia yang bilang begitu."
"Tapi Ayah belum akan kembali sampai musim panas berakhir," lanjut Miki, seolah membuat
bantahan kepada dirinya sendiri.
***
Maka perjalanan mereka berlanjut saat bulan semakin penuh dan menyusut lagi. Bulan keenam tiba
dan musim panas bergerak menuju puncaknya. Yuki menemui mereka setiap malam; mereka mulai
terbiasa dengan kehadirannya, dan tanpa disadari mulai menyayanginya seakan perempuan itu
adalah ibu mereka. Yuki menemani mereka dari antara matahari terbenam sampai matahari terbit,
tapi perjalanan setiap harinya terasa lebih mudah karena kini mereka tahu Yuki menanti mereka di
penghujung hari. Keinginannya pun menjadi keinginan mereka berdua. Setiap malam Yuki
men¬ceritakan masa lalunya: tentang masa kecil-nya di Tribe; kesedihan terbesar pertama dalam
hidupnya, ketika temannya dari Yamagata dibakar sampai mati bersama semua keluarganya di
malam Otori Takeshi dibunuh prajurit Tohan; bagaimana dia membawa pedang Lord Shigeru, Jato,
lalu menyerahkannya ke tangan Takeo setelah sebelumnya mereka menyelamatkan Shigeru dari
kastil Inuyama; dan bagaimana Yuki membawa kepala Lord Shigeru ke Terayama,
seorang diri, melewati negeri yang tidak ramah. Mereka berdua kagum pada keberanian dan
kesetiaan Yuki, dan terkejut serta gusar dengan kematiannya yang kejam, terharu dengan kesedihan
dan rasa ibanya atas putranya.*
Si kembar tiba di Hagi di sore hari. Matahari masih di langit barat, membuat air laut tampak seperti
kuningan. Mereka meringkuk di hutan bambu tepat di tepi sawah, padi berwarna hijau terang. Ladang
sayuran lebat dengan dedaunan, kedelai, wortel dan bawang.
"Kita tidak membutuhkan Yuki malam ini," ujar Miki. "Kita bisa tidur di rumah."
Namun pikiran itu membuat Maya sedih. Ia akan merindukan Yuki, dan seketika timbul niat ingin pergi
ke mana pun perempuan itu pergi.
Gelombang sedang surut dan tepi yang berlumpur terlihat jelas di sepanjang sungai kembar. Maya
bisa melihat lengkungan jembatan batu, dan biara bagi dewa sungai tempat ia membunuh kucing milik
Mori Hiroki. Tiang pancang kayu dari pagar penangkap ikan, dan perahu-perahu yang tertambat di
tepinya, bak mayat yang tengah menanti air untuk menghidupkannya

Halaman 715 dari 715
kembali. Di belakangnya tampak pepohonan dan taman rumah tua keluarga. Lebih jauh ke barat, di
atas atap dan sirap rendah bangunan kota, menjulang kastil dengan panji-panji Otori berkibar tertiup
angin.
Maya memicingkan mata melihat mata¬hari. Bisa dilihatnya umbul-umbul bangau Otori, tapi di
sebelahnya ada umbul-umbul lain, tapak beruang hitam dengan latar belakang merah: lambang Klan
Arai.
"Bibi Hana ada di sini," bisiknya pada Miki. "Aku tidak ingin dia melihatku."
"Bibi pasti di kastil," ujar Miki, dan mereka saling tersenyum, berpikir tentang keciniaan Hana pada
kemewahan dan kedudukan. "Kurasa Ibu juga di sana."
"Ayo kita ke rumah lebih dulu," saran Maya. "Bertemu Haruka dan Chiyo. Mereka akan kirim pesan
pada Ibu."
Maya menyadari kalau dirinya tidak yakin akan reaksi ibunya. Tiba-tiba teringat dengan penemuan
terakhir mereka, kemarahan Kaede, tamparan itu. Sejak saat itu, Maya tak mendapat kabar apa pun
dari ibunya, tidak ada surat, tidak ada pesan. Bahkan kabar tentang kelahiran adik laki-lakinya ia
dengar melalui Shigeko di Hofu. Aku bisa saja ikut
terbunuh bersama Sada dan Taku, pikirnya. Ibu tidak akan peduli. Perasaan itu amat menusuk hati
dan mengganggunya: ia begitu ingin pulang ke rumah, tapi kini takut pada penerimaan ibunya. Andai
Yuki adalah ibuku, pikirnya. Aku bisa mengadu dan men¬ceritakan segalanya, dan dia pasti percaya.
Kesedihan yang mendalam menerpa dirinya: bahwa Yuki sudah mati dan tidak mengenal kasih
sayang anaknya. Bahwa Kaede hidup....
"Aku akan pergi," ujarnya. "Akan kulihat siapa yang ada di sana, melihat apakah Ayah sudah
kembali."
"Ayah pasti belum kembali," sahut Miki. "Ayah pergi jauh ke Miyako."
"Baiklah, Ayah justru lebih aman berada jauh di sana ketimbang berada di rumah," sahut Maya. "Tapi
kita harus ceritakan pada Ibu tentang Paman Zenko, bagaimana dia telah membunuh Taku dan
tengah mem-bangun kekuatan."
"Bagaimana dia bisa begitu berani saat Hana dan kedua putranya ada di sini, di Hagi?"
"Hana mungkin berencana membawa mereka lari; itu sebabnya dia datang. Kau
tunggu di sini. Aku akan kembali secepat¬nya."
Maya masih mengenakan pakaian laki-laki dan menu-rutnya tak ada orang yang bisa mengenalinya.
Banyak anak laki-laki seusia¬nya bermain di tepi sungai serta me¬manfaatkan pagar jaring
penangkap ikan untuk menyeberangi sungai. Gadis itu berlari dengan langkah ringan di atasnya
seperti yang sudah sering dilakukannya: bagian atas tiang pancang terasa lembap dan licin. Setelah
sampai di seberang, Maya berhenti di depan lubang di dinding taman, tempat aliran air mengalir ke
sungai. Dengan meng¬gunakan kemampuan menghilang, Maya melangkah masuk ke taman.
Seekor bangau abu-abu besar yang tengah mencari ikan di sungai merasakan ada gerakan, menoleh
ke arah Maya kemudian terbang. Kepakan sayapnya kedengaran menghentak tajam seperti suara
kibasan kipas.
Di sungai, seekor ikan air tawar melompat. Ikan itu mencipakkan air, dan burung itu terbang dengan
kepakan sayap pelan: tepat seperti biasanya.
Maya berusaha mendengarkan suara-suara di dalam rumah, begitu merindukan Haruka dan Chiyo.
Mereka pasti kaget, pikirnya. Dan gembira. Chiyo pasti akan menangis bahagia seperti biasanya.
Maya seperti mendengar suara mereka dari dapur.
Tapi di balik gumaman tadi terdengar olehnya suara lain, berasal dari luar dinding dari tepi sungai.
Suara anak laki-laki, berceloteh, tertawa.

Halaman 716 dari 716
Maya merendahkan tubuhnya di balik batu paling besar sewaktu Sunaomi dan Chikara mencepukcepuk
air sungai. Di saat yang sama, terdengar langkah kaki dari dalam rumah, dan Kaede serta
Hana berjalan keluar menuju beranda.
Kaede menggendong bayi yang tersenyum dan berusaha mencengkeram jubah ibunya. Kaede
mengangkatnya agar bisa melihat kedua bocah yang datang menghampiri.
"Lihat, sayangku, mungilku. Lihatlah sepupumu. Kau akan tumbuh besar menjadi tampan seperti
mereka!"
Si bayi tersenyum dan tersenyum lagi. Dia sudah berusaha menggunakan kakinya dan berdiri.
"Alangkah kotornya kalian, anak-anakku," Hana membentak mereka, wajahnya berseri¬seri dengan
rasa bangga. "Cuci tangan dan kaki kalian. Haruka! Bawakan air untuk kedua tuan muda!"
Tuan muda! Maya mengamati Haruka datang lalu mencuci kaki kedua bocah itu. Dilihatnya rasa
percaya diri dan keangkuhan mereka berdua, melihat kasih sayang dan rasa hormat yang mereka
dapatkan tanpa ber-susah payah dari semua perempuan di sekeliling mereka.
Hana mengelitik si bayi dan membuatnya tertawa cekikikan dan menggeliat-geliat. Tatapan penuh
kasih sayang terlukis di wajah ibu dan bibinya.
"Bukankah sudah kukatakan," ujar Hana, "Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan memiliki anak
laki-laki."
"Benar," sahui Kaede. "Aku tidak tahu kalau aku bisa merasa seperti ini." Dipeluk¬nya bayi itu eraterat,
wajahnya nampak gembira dengan perasaan cinta.
Maya merasakan kebencian yang tak pernah dirasakan seumur hidupnya, seakan hatinya hancur dan
darah mendidih dalam dirinya. Apa yang akan kulakukan? pikirnya.
Aku harus berusaha menemui Ibu tanpa ada orang lain. Apakah Ibu mau mendengarkanku? Apa
seharusnya aku kembali pada Miki saja? Pergi ke kastil menemui Lord Endo? Tidak, aku harus
menemui Ibu dulu. Tapi jangan sampai Hana curiga kalau aku ada di sini
Maya menunggu tanpa suara di taman sewaktu matahari terbenam. Kunang-kunang menari di atas
sungai, dan rumah berkilauan dengan cahaya lentera. Ia mencium bau makanan di ruangan di lantai
atas, men¬dengar kedua bocah berbicara saat makan. Kemudian pelayan muda membawa nampan
kembali ke dapur, dan tempat tidur digelar.
Kedua bocah itu tidur di bagian belakang rumah, tempat para pelayan beristirahat saat tugas mereka
selesai. Hana dan Kaede tidur di kamar atas bersama si bayi.
Saat rumah sudah sunyi, Maya mem¬beranikan diri masuk. Dilewatinya nightingale floor tanpa suara
karena sudah begitu terbiasa. Ia berjingkat menaiki tangga dan menyaksikan ibunya menyusui si bayi.
Maya merasakan kehadiran yang akrab di sampingnya. Dia menengok ke belakang dan melihat hantu
perempuan itu, Yusetsu. Prempuan itu tak lagi memakai jubah mantel
bertudung namun berpakaian putih orang mati, seputih dagingnya. Napasnya terasa dingin dan
berbau tanah, dan perempuan itu memandang pada si ibu dan anak dengan tatapan iri yang begitu
jelas terpancar di wajahnya.
Kaede menyelimuti si bayi rapat-rapat lalu membaringkannya.
"Aku harus menulis surat untuk suamiku," tuturnya pada Hana. "Panggil aku kalau bayinya
terbangun."
Kaede berjalan menuruni tangga menuju bekas kamar Ichiro, tempat catatan dan alat tulis disimpan,
seraya memanggil Haruka untuk membawakan lentera.
Seka rang aku harus menemui Ibu, pikir Maya.
Hana duduk di sisi jendela yang terbuka, menyisiri rambut panjangnya; sambil menyenandungkan
nina bobo untuk dirinya sendiri. Lentera menyala di sebuah rak besi.

Halaman 717 dari 717
Hana bernyanyi:
Tulislah surat untuk suamimu,
Kakakku yang malang.
Dia tak akan menerima surat-suratmu.
Dia tidak layak mendapatkan cintamu.
Kau akan segera tahu Laki-laki macam apa dia.
Alangkah beraninya dia bernyanyi seperti itu, di rumah Ayahku! pikir Maya. Gadis itu bimbang antara
keinginan untuk menyerang Hana saat itu juga atau ke bawah untuk menemui ibunya.
Hana berbaring, kepalanya berada di atas bantal kayu.
Aku bisa bunuh dia sekarang! pikir Maya, sambil meraba pisaunya. Dia pantas mati! Tapi kemudian
bcrpikir kalau sebaiknya membiarkan agar ayahnya yang menghukum bibinya itu. Maya hendak
keluar kamar ketika si bayi menggeliat. Maya berlutut di sampingnya. Bayi itu menangis pelan.
Mata¬nya terbuka dan membalas tatapan Maya.
Dia bisa melihatku! pikirnya kaget. Maya tak ingin si bayi benar-benar terbangun. Lalu ia sadar kalau
ia tak bisa berhenti menatap si bayi. Maya tak bisa mengendalikan apa yang sedang dilakukannya.
Ditatap mata adiknya dengan tatapan Kikuta, dan si bayi ter¬senyum satu kali ke arahnya lalu tertidur,
dan tidak pernah bangun lagi.
Yuki berkata di sampingnya, Ayo, kita bisa pergi sekarang.
Seketika itu juga Maya memahami kalau ini adalah bagian dari balas dendam perempuan itu, balas
dendam terhadap ibu¬nya, pembalasan keji atas kecemburuan yang sudah sekian lama. Lalu
menyadari kalau ia telah melakukan tindakan yang tidak ter¬maafkan, bahwa tidak ada lagi tempat
baginya kecuali di dunia tempat para hantu berkeliaran. Bahkan Miki pun tak akan bisa
menyelamatkannya saat ini. Dipanggilnya si kucing dan dibiarkannya mengambil alih dirinya,
kemudian melompat menembus dinding, berlari menyeberangi sungai, masuk ke dalam hutan dan
berpikir lagi, kembali ke Hisao.
Yuki mengikutinya, melayang di atas tanah, dengan hantu bayi dalam pelukan¬nya. "*
Bayi laki-laki Kaede mati sebelum bulan purnama pertengahan musim panas. Bayi memang mudah
mati, tidak ada orang yang kaget: saat musim panas bayi mati karena penyakit atau wabah, saat
musim dingin karena flu. Biasanya dianggap bijaksana untuk tidak terlalu terikat pada anak-anak
karena sedikit yang bisa bertahan melewati masa bayinya; Kaede berjuang mengendali¬kan dan
membendung kesedihannya, menyadari bahwa sebagai orang yang mewakili ketidakhadiran
suaminya, ia tidak boleh patah semangat. Walau sebenarnya ia lebih ingin mati. Direnungkanya
berulang kali apa kesalahannya hingga menyebabkan kehilangan yang tak tertahankan ini. Apakah ia
memberi makan terlalu banyak. atau terlalu sedikit; seharusnya ia tidak boleh meninggalkan bayinya;
ia sudah dikutuk, pertama dengan kehadiran si kembar, lalu dengan kematian ini. Sia-sia Tabib Ishida
berusaha meyakinkan bahwa mungkin saja
memang tidak ada alasannya, bahwa sudah biasa bayi mati tanpa alasan yang jelas.
Kaede ingin sekali Takeo pulang, tapi juga takut setengah mati untuk memberitahukan¬nya; merasa
begitu ingin tidur bersamanya lalu merasakan cinta mereka bisa menghibur kesedihan hatinya seperti

Halaman 718 dari 718
biasa. Namun ia juga merasa tak kuasa bercinta dengan suaminya karena tak sanggup menanggung
beban perasaan hamil hanya untuk ke¬hilangannya lagi.
Takeo harus diberi tahu, tapi bagaimana melakukannya? Kaede bahkan tidak tahu di mana suaminya.
Butuh waktu berminggu¬minggu agar surat bisa sampai ke tangan suaminya. Kaede belum mendapat
kabar lagi sejak suaminya mengirim surat dari Inuyama. Setiap hari Kaede bertekad untuk menulis
surat, namun setiap hari pula ia tak kuasa melakukannya. Sepanjang hari berharap agar malam
segera tiba supaya bisa melampiaskan kesedihan dirinya. Dan sepanjang malam tidak tidur, berharap
matahari segera terbit, agar bisa mengenyampingkan sedikit rasa sakit di hatinya untuk sementara.
Satu-satunya yang bisa menghiburnya adalah adik dan kedua keponakannya, yang
disayangi seperti anaknya sendiri. Ia bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka, mengawasi
pelajaran mereka serta menyaksikan pelatihan militer mereka. Si bayi dimakamkan di Daishoin; bulan
semakin menyusut menjadi potongan kecil di atas makamnya ketika kurir akhirnya datang membawa
pesan dari Takeo. Saat dibuka gulungan kertasnya, sketsa burung karya suaminya terjatuh.
Dihaluskannya kertas itu lalu menatapnya, goresan hitam seekor burung gagak di atas bebatuan
tebing, burung tila serta bunga lonceng.
"Takeo menulis surat ini dari daerah kecil bernama Sanda," tuturnya kepada Hana. "Dia bahkan
belum sampai ke ibukota." Kaede melihat surat itu tanpa sungguh¬sungguh membacanya; mengenali
tulisan tangan Minoru, namun lukisan burung itu Takeo sendiri yang menggambarnya: bisa dilihatnya
kekuatan dalam goresannya, melihatnya menopang tangan kanan dengan tangan kirinya, keahlian
yang keluar dari tangan cacatnya. Kaede hanya berdua dengan Hana, kedua keponakannya berada
di area berkuda, para pelayan sibuk di dapur. Kaede
membiarkan air matanya jatuh berlinang. "Dia tak tahu kalau putranya telah tiada!"
Hana berkata, "Kesedihannya tak berarti apa-apa bila dibandingkan kesedihanmu. Jangan menyiksa
dirimu atas kesedihannya."
Hana memeluk Kaede lalu berbisik pelan sekali. "Dia takkan bersedih. Dia justru akan lega."
"Apa maksudmu?" Kaede agak menarik tubuhnya lalu menatap adiknya. Dilihatnya dengan tatapan
nanar betapa cantiknya Hana, dan menyesali bekas luka yang ia derita. Namun tak satu pun dari
semua itu penting baginya. Dia rela terbakar lagi, mencongkel kedua bola matanya kalau itu bisa
mengembalikan anaknya. Sejak kematian anak laki-lakinya, Kaede amat bergantung pada Hana,
menying-kirkan kecurigaan, hampir lupa bahwa Hana dan kedua putranya berada di Hagi sebagai
sandera.
"Aku sedang memikirkan ramalan itu."
"Ramalan apa?" tanya Kaede seraya meng¬ingat ketika di Inuyama saat ia dan Takeo tidur bersama,
kemudian berbicara tentang kata-kata yang mengendalikan hidup mereka berdua. "Ramalan tentang
Lima Per
tempuran? Apa hubungannya dengan ramalan itu?" Ia tak ingin membicarakan tentang ramalan itu
saat ini, tapi ada sesuatu di dalam nada bicara Hana yang membuat¬nya ketakutan. Hana tahu
sesuatu yang tidak diketahuinya. Kendati cuaca terasa panas, tubuhnya terasa dingin, gemetar.
"Ada kata-kata lain dalam ramalan itu," tutur Hana. "Apakah Takeo tidak mengata¬kannya?"
Kaede menggeleng, benci untuk
mengakuinya. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Takeo mengutarakan pada Muto Kenji, dan kini telah diketahui luas di kalangan Tribe."
Kaede merasakan kilatan amarah dalam dirinya. Ia selalu merasa benci dan takut pada kehidupan
rahasia Takeo: suaminya pernah meninggalkan ia bersama Tribe, meninggal¬kan ia dengan anaknya
yang akhirnya meninggal dan dirinya sendiri sekarat. Kebencian lama berkecamuk lagi dalam dirinya.
Kaede menyambut perasaan itu karena bisa membantunya menyembuhkan kesedihannya.
"Sebaiknya kau katakan yang sebenarnya."

Halaman 719 dari 719
"Bahwa Takeo selamat dari kematian, kecuali di tangan putra kandungnya."
Selama beberapa saat Kaede tak bereaksi. Tahu kalau Hana tidak berbohong kepada¬nya: ia tahu
bagaimana Takeo dibentuk oleh ramalan ini, ketidaktakutannya serta tekad¬nya yang kuat. Dan
Kaede memahami kelegaan Takeo saat semua anak mereka perempuan.
"Semestinya dia mengatakannya kepadaku, tapi dia ingin melindungiku," tuturnya. "Aku tak percaya
dia akan senang atas kematian anaknya. Aku mengenalnya lebih baik dari itu." Rasa lega menyelimuti
dirinya: semula ia takut sesuatu yang lebih buruk akan dikatakan Hana.
"Ramalan adalah hal yang berbahaya," ujarnya. "Sekarang yang satu ini tidak mungkin menjadi
kenyataan. Putranya sudah mendahului dirinya, dan takkan ada anak lagi."
Takeo akan kembali kepadaku, pikirnya, seperti yang senantiasa dilakukannya. Dia takkan mati di
wilayah Timur. Bahkan mungkin seka rang dia dalam perjalanan pulang.
"Semua orang berharap Lord Takeo ber¬umur panjang dan bahagia," ujar Hana. "Mari kita doakan
kalau ramalan ini tidak mengacu ke putranya yang lain."
Ketika Kaede menatapnya tanpa bicara, Hana melanjutkan kata-katanya, "Maaf, kak, kukira kau
sudah tahu."
"Ceritakan," kata Kaede tanpa perasaan. "Aku tak bisa menceritakannya. Bila hal ini dirahasiakan
suamimu...."
"Ceritakan," ulang Kaede, dan mendengar suaranya pecah.
"Aku sangat takut bisa membuatmu lebih sakit hati. Biar Takeo yang menceritakan saat dia kembali
nanti."
"Dia punya anak laki-laki?"
"Ya," sahut Hana sambil menarik napas. "Anak itu berusia tujuh betas tahun. Ibunya adalah Muto
Yuki."
"Putrinya Kenji?" tanya Kaede lirih. "Jadi selama ini Kenji tahu?"
"Kurasa begitu. Sekali lagi, hal ini bukan rahasia di kalangan Tribe."
Shizuka, Zenko, Taku? Mereka semua tahu hal ini selama bertahun-tahun sementara ia sama sekali
tidak tahu? Tubuh Kaede gemetar.
"Kau sakit," ujar Hana dengan penuh perhatian. "Biar kuambilkan teh. Perlu kupanggilkan Ishida?"
"Mengapa Takeo tidak mengatakan padaku?" tanya Kaede. Ia tidak terlalu marah pada ketidaksetiaan
suaminya; malah merasa agak cemburu pada perempuan yang sudah mati bertahun-tahun lalu; tapi
hatinya hancur karena merasa ditipu habis-habisan. "Andai Takeo mengatakannya padaku."
"Kurasa dia ingin melindungimu," ujar Hana.
"Berita itu hanyalah kabar burung," kata Kaede.
"Tidak, aku pernah bertemu anak itu. Aku melihatnya beberapa kali di Kumamoto. Dia seperti
kebanyakan orang Tribe, tidak jujur dan kejam. Kau takkan percaya kalau anak itu adalah kakak tiri
Shigeko."
Kata-kata Hana menikam dirinya lagi. Diingatnya lagi semua hal yang ia cemaskan tentang Takeo
selama mereka bersama: kekuatan aneh, darah campuran, kekuatan aneh yang diturunkan dalam diri
si kembar. Kesedihan lalu kekagetannya atas rahasia yang baru terungkap ini mengacaukan segala
yang telah dijalani dalam hidup. Kaede
membenci Takeo: membenci dirinya sendiri karena telah mengabdikan hidupnya pada suaminya;
menyalahkan suaminya atas semua penderitaan yang ia alami, kelahiran terkutuk si kembar,

Halaman 720 dari 720
kematian bayi laki-laki yang amat disayanginya. Kaede ingin menyakiti, me¬rampas segalanya dari
Takeo.
Disadarinya kalau tangannya masih memegang sketsa tadi. Burung-burung itu mengingatkannya
dengan kebe-basan, seperti biasanya, tapi itu hanyalah ilusi. Burung tidak lebih bebas ketimbang
manusia, sama terikatnya dengan rasa lapar, hasrat, serta kematian. Ia terikat selama hampir separuh
hidupnya pada laki-laki yang telah meng¬khianati dirinya, yang tidak pernah layak mendapatkan
dirinya. Dirobek-robek sketsa itu hingga hancur kecil-kecil lalu diinjak¬injak.
"Aku tak bisa tinggal di sini. Apa yang harus kulakukan?"
"Ikutlah dengaku ke Kumamoto," ajak Hana. "Suamiku akan mengurusmu."
Kaede teringat pada ayah Zenko yang telah dijadikan musuhnya, semuanya demi Takeo.
"Betapa bodohnya aku selama ini," tangisnya. Tenaga baru menyeruak dari dalam dirinya. "Panggil
kedua anakmu dan siapkan mereka untuk melakukan per¬jalanan," pintanya pada Hana. "Berapa
banyak pengawal yang ikut bersamamu?"
"Tiga atau empat puluh," sahut Hana. "Mereka menginap di kastil."
"Pengawalku juga menginap di sana," ujar Kaede. "Pengawal yang tidak ikut dengannya ke wilayah
Timur." Kaede tak sanggup mengucapkan kata suamiku maupun menyebut namanya. "Kita akan
membawa mereka semua, tapi suruh sepuluh pengawal¬mu datang ke sini. Ada tugas untuk mereka.
Kita akan pergi sebelum akhir minggu ini."
"Terserah kau, kak," ujar Hana setuju.*
Sudah semalaman di tepi sungai Miki menunggu Maya kembali. Saat matahari terbit dia menduga
kalau saudara kembarnya itu sudah pergi ke alam baka, tempat ia tidak bisa mengikuri. Lebih dari
segalanya, Miki ingin pulang ke rumah; ia lelah dan lapar, dan bisa dirasakannya kekuatan si kucing
meyerap semua tenaganya. Tapi ketika tiba di gerbang rumah di tepi sungai, terdengar olehnya jeritan
kesedihan, disadarinya kalau adik bayinya sudah meninggal malam itu. Kecurigaan yang amat dalam
semakin besar dalam dirinya, memenuhi dirinya dengan ketakutan yang amat sangat. Miki meringkuk
di luar dinding, menutupi kepala dengan tangan, takut masuk ke dalam tapi tidak tahu harus ke mana.
Salah satu pelayan bergegas melewati dirinya tanpa mengenalinya, dan tak lama kemudian kembali
bersama tabib Ishida yang nampak terkejut dan pucat. Tak satu pun dari mereka bicara kepada Miki,
tapi mereka
pasti telah melihat dirinya, karena tidak lama setelah itu Haruka keluar dan meringkuk di sebelahnya.
"Maya? Miki?"
Miki melihat air mata yang mulai ber¬linang di pipinya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak berani
bicara, kalau-kalau ia menyuarakan apa yang dicurigainya.
"Demi Surga, apa yang kau lakukan di sini? Kau Miki, kan?"
Gadis itu mengangguk.
"Ini waktu yang buruk," ujar Haruka, menangisi dirinya sendiri. "Masuklah, nak. Lihatlah dirimu, lihat
keadaanmu. Apa kau tinggal di hutan seperti hewan liar?"
Cepat-cepat Haruka menuntunnya masuk ke dalam rumah, tempat Chiyo, dengan wajah yang juga
basah dengan air mata, tengah menjaga api. Chiyo memekik ter¬kejut, dan mulai menggumamkan
sesuatu tentang nasib buruk dan kutukan.

Halaman 721 dari 721
"Jangan diteruskan," ujar Haruka. "Ini bukan salahnya."
Ketel besi menggantung di atas api mengeluarkan bunyi berdesis, dan uap serta asap memenuhi
udara. Haruka membawa sebaskom air lalu membasuh wajah, tangan
dan kaki Miki. Air hangat membuat semua luka dan lecetnya terasa perih.
"Kami akan menyiapkan air mandi untuk¬mu," kata Haruka. "Tapi kau harus makan dulu." Ditaruhnya
nasi di mangkuk lalu menuangkan kaldu di atasnya. "Alangkah kurusnya dia!" katanya ke samping, ke
arah Chiyo. "Perlukah kuberitahu ibunya kalau dia di sini?"
"Sebaiknya tidak usah," sahut Chiyo. "Jangan dulu. Nanti malah membuatnya semakin kesal."
Tangis Miki terlalu keras untuk mem¬buatnya bisa makan, napasnya tersengal¬sengal dengan isak
tangis.
"Bicaralah, Miki," desak Haruka padanya. "Kau akan merasa lebih baik. Tidak ada masalah yang
terlalu berat hingga tak bisa diceritakan."
Sewaktu Miki menggelengkan kepala tanpa bicara, Haruka berkata, "Dia seperti ayahnya ketika
pertama kali datang ke rumah ini. Dia tidak bicara selama berminggu¬minggu."
"Pada akhirnya dia bicara juga," gumam Chiyo. "Rasa terguncang membungkam
mulutnya, lalu perasaan itu pula yang membuka mulutnya."
Beberapa saat kemudian tabib Ishida datang untuk bicara dengan Chiyo agar menyeduh teh khusus
untuk membantu Kaede tidur.
"Tabib, lihat siapa yang ada di sini," kata Haruka, seraya menunjuk Miki yang masih meringkuk di
salah satu sudut dapur dengan wajah pucat dan badan gemetar.
"Ya, tadi aku melihatnya," sahut Ishida kebingungan. "Jangan biarkan dia dekat¬dekat dengan ibunya.
Lady Otori sedang bersedih. Bila makin tertekan maka dia bisa gila. Kau akan bertemu setelah ibumu
lebih baikan," katanya pada Miki dengan nada agak tegas. "Sementara ini kau jangan meng¬ganggu
siapa pun. Kau boleh memberinya teh yang sama, Haruka; teh itu bisa menenangkannya."
Miki dikurung di gudang terpencil selama beberapa hari berikutnya. Didengarnya suara-suara di
dalam rumah di sekitarnya karena pendengaran Kikutanya makin peka. Didengarnya Sunaomi dan
Chikara saling berbisik, sedih tapi sekaligus gembira dengan kematian sepupu kecil mereka.
Didengarnya
percakapan antara ibunya dan Hana, serta ingin sekali berlari menghampiri dan meng¬halangi
mereka, namun tak berani membuka mulut. Didengarnya tabib Ishida dengan sia¬sia mengajukan
keberatan pada ibunya, lalu mengatakan kepada Haruka kalau dia akan pergi ke Inuyama untuk
bertemu dengan ayahnya.
Bawa aku bersamamu, Miki ingin berseru memanggilnya, tapi Ishida pergi dengan terburu-buru,
mencurahkan perhatiannya pada banyak persoalan: Kaede, istrinya sendiri, Shizuka, juga Takeo. Ia
tak ingin dibebani oleh seorang anak yang bisu dan tidak sehat.
Miki punya waktu yang banyak dalam kesunyian dan kesendirian, dengan penyesalan, perjalanan
bersama Yuki dan tuntutan balas dendam perempuan itu pada ibunya. Ia merasa kalau dirinya sudah
tahu sejak lama tujuan Yuki yang sebenarnya, dan kalau seharusnya ia bisa mencegahnya. Kini ia
kehilangan semuanya: saudara kembarnya, ibunya—dan setiap malam memimpikan ayahnya dan
takut kalau ia takkan bertemu ayahnya lagi.
Dua hari setelah kepergian Ishida, Miki mendengar suara pengawal dan kuda di jalanan. Ibunya,
Hana dan kedua putranya bersiap pergi.
Terjadi adu mulut keras antara Haruka dan Chiyo tentang dirinya. Haruka berkata kalau Miki harus
bertemu ibunya sebelum pergi, Chiyo menyahut kalau suasana hati Kaede sangat rapuh; tak bisa
diduga akan bagaimana reaksinya nanti.

Halaman 722 dari 722
"Tapi ini putrinya!" sahut Haruka dengan jengkel.
"Apa artinya seorang putri baginya? Dia sudah kehilangan putranya; dia di ambang kegilaan," sahut
Chiyo.
Miki diam-diam masuk ke dapur dan Haruka menggandeng tangannya. "Kita akan menyaksikan
kepergian ibumu," bisiknya. "Tapi jangan sampai terlihat."
Jalanan penuh dengan orang, berkerumun dengan perasaan kegelisahan yang terlihat samar. Telinga
Miki yang tajam menangkap potongan kata-kata yang mereka lontarkan. Lady Otori meninggalkan
kota bersama Lady Arai. Lord Otori tewas di wilayah Timur. Bukan, bukan tewas tapi kalah dalam
pertempuran. Lord Otori akan diasingkan, dan putrinya ada bersamanya....
Miki memerhatikan selagi ibunya dan Hana keluar dari rumah lalu menaiki kuda yang menunggu di
luar gerbang. Sunaomi dan Chikara diangkat menaiki kuda poni mereka. Pengawal membawa
lambang Shirakawa dan Arai mengelilingi mereka. Sewaktu rombongan mulai berjalan, Miki berusaha
menangkap tatapan mata ibunya, namun Kaede menatap lurus ke depan, tidak melihatnya. Ibunya
bicara satu kali. Sepuluh orang atau lebih prajurit pejalan kaki berlari memasuki taman; sebagian
memegang obor yang menyala, sedang yang lainnya me¬megang jerami dan potongan kayu kecil
untuk menyalakan api. Dengan sigap dan tangkas, mereka membakar rumah itu.
Chiyo berlari keluar dan menghalangi mereka, memukuli mereka dengan tinjunya yang lemah. Mereka
mendorong dengan kasar; menghempaskan tubuh Chiyo ke atas beranda, yang kemudian memeluk
erat salah satu tiang, seraya menangis, "Ini rumah Lord Shigeru. Beliau takkan memaafkan kalian."
Mereka tidak bersusah payah menyingkir¬kan perempuan tua itu, namun dengan
ringannya menumpuk jerami di sekitar tubuh Chiyo. Haruka menjerit-jerit di sampingnya. Miki menatap
ketakutan, asap membuat matanya pedih dan mengeluarkan air mata saat nightingale floor bernyanyi
untuk yang terakhir kalinya. Ikan-ikan merah dan emas terebus di dalam kolam, benda¬benda seni
yang berharga dan catatan di dalam rumah itu meleleh dan mengerut. Rumah yang bertahan meski
diguncang gempa, banjir dan perang luluh lantak dimakan api, bersama Chiyo yang menolak untuk
meninggalkannya.
Kaede berjalan ke kastil tanpa menengok. Kerumunan orang hanyut mengikutinya, membawa Haruka
dan Miki bersama mereka. Di sini pengawal Hana telah menunggu, bersenjata dan juga membawa
jerami dan obor. Pimpinan pengawal, Endo Teruo, yang ayahnya menyerahkan kastil kepada Takeo
dan tewas terbunuh di jembatan batu oleh anak buah Arai Daiichi, datang menghampiri gerbang.
"Lady Otori," ujarnya. "Apa yang terjadi? Kumohon Anda mendengarkanku. Mari masuk ke dalam.
Mari kita bicarakan duduk persoalannya."
"Aku bukan lagi Lady Otori," sahutnya. "Aku Shirakawa Kaede. Aku berasal dari Klan Seishuu dan aku
akan kembali kepada klanku. Tapi sebelum pergi, aku perintah¬kan kau serahkan kastil kepada
pengawal-pengawal ini."
"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada Anda," sahutnya. "Tapi aku akan mati lebih dulu sebelum
menyerahkan kastil Hagi saat Lord Otori tidak ada di sini."
Laki-laki itu menarik pedang. Kaede menatap gusar. "Aku tahu seberapa sedikitnya anak buahmu
yang tersisa," ujarnya. "Yang tersisa hanyalah pengawal yang sudah tua dan yang masih sangat
muda. Dan aku mengutukmu, kota Hagi dan seluruh Klan Otori."
"Lady Arai," seru Endo pada Hana. "Aku membesarkan suami Anda di rumahku bersama dengan
putra kandungku sendiri. Jangan biarkan pengawal Anda melakukan kejahatan ini!"
"Bunuh dia," ujar Hana, dan pengawal merangsek ke depan. Endo tidak memakai baju zirah, dan para
penjaganya tidak siap. Kaede benar: kebanyakan dari mereka masih anak-anak. Kematian mereka
yang tiba-tiba

Halaman 723 dari 723
membuat kerumunan orang ketakutan; orang-orang mulai melempar batu ke arah prajurit Arai dan
dibalas dengan pedang dan tombak terhunus. Kaede dan Hana membelokkan kuda lalu berderap
pergi ber¬sama pendamping mereka sementara sisa pengawal yang tinggal mulai membakar kastil.
Saat pasukan Arai melarikan diri, orang¬orang berjuang memadamkan atau menahan meluasnya api
dengan berember air, tapi angin kencang berhembus dari laut; percikan api melahap atap dengan
dahan kering yang mudah terbakar dan api segera saja melalap cepat, tak bisa dicegah. Penduduk
kota berkumpul di jalan, di pantai dan sepanjang tepi sungai, tanpa bicara karena terkejut. Mereka
tidak sanggup memahami apa yang telah terjadi, betapa kehancuran telah menyerang di jantung
Hagi, merasakan bahwa keselarasan telah sirna dan kedamaian telah berakhir.
Haruka dan Miki menghabiskan malam itu di tepi sungai bersama ribuan orang lainnya. Keesokan
harinya mereka bergabung dengan orang-orang yang melarikan diri dari kota yang tengah ditalap api.
Mereka
menyeberangi jembatan, berjalan pelan agar Miki punya banyak waktu untuk membaca tulisan di
jembatan.
Klan Otori menyambut keadilan dan kesetiaan.
Waspadalah ketidakadilan dan ketidaksetiaan.
Kala itu hari kesembilan di bulan ketujuh.*
"Ijinkan aku ikut dengan Lord Otori," Minoru memohon selagi Takeo bersiap pergi ke Yamagata.
"Aku lebih senang kau tinggal di sini," sahut Takeo. "Keluarga dari korban yang tewas harus
diberitahu, dan persediaan makanan disiapkan untuk perjalanan panjang berikutnya: Kahei harus
membawa pasukan utama kita ke wilayah Barat. Dan selain itu ada tugas khusus untukmu,"
tambahnya, menyadari kekecewaan pemuda itu.
"Tentu saja, Lord Otori," ujar si juratulis, memaksakan diri tersenyum. "Namun, aku punya satu
permintaan. Kuroda Junpei menantikan Anda kembali. Maukah Anda ijinkan dia mendampingi Anda?
Aku sudah berjanji akan memohon kepada Anda."
"Jun dan Shin masih di sini?" tanya Takeo kaget. "Kukira mereka sudah kembali ke Barat."
"Sepertinya tak semua orang senang dengan Zenko," gumam Minoru. "Aku
curiga, Anda akan menemukan banyak dari mereka yang masih setia kepada Anda."
"Apakah itu resiko yang harus kuambil?" Takeo bertanya pada diri sendiri, dan menyadari kalau ia
tidak terlalu peduli dengan jawabannya. Ia sudah hampir mati rasa dengan kesedihan dan kelelahan,
kecemasan dan rasa sakit. Berulang kali belakangan sejak Ishida menyampaikan kabar buruk itu,
dirasakannya seperti berhalusinasi, dan kata-kata Minoru selanjutnya pun menambah perasaannya
menjadi semakin tidak nyata.
"Hanya Jun yang masih di sini, Shin di Hofu."
"Mereka memisahkan diri? Aku tidak mengira kalau hal itu bisa terjadi."
"Tidak, mereka memutuskan kalau salah satu harus pergi, dan yang lainnya haras tetap di sini.
Mereka berbagi tugas. Shin ke Hofu untuk melindungi Shizuka, sedangkan Jun tinggal di sini untuk
melindungi Anda."
"Aku mengerti." Ishida menceritakan sedikit tentang Shizuka: bagaimana kabar yang tersiar
mengatakan kalau perempuan itu sudah gila setelah kematian putranya dan duduk di pelataran kuil
Daifukuji, ditopang

Halaman 724 dari 724
oleh Surga. Pikiran kalau Shin yang tenang dan tidak banyak bicara mengawasi Shizuka membuatnya
terharu.
"Kalau begitu Jun boleh ikut denganku," katanya. "Sekarang, Minoru—aku meng¬andalkanmu untuk
mencatat kejadian yang sebenarnya tentang perjalanan kita ke Miyako, janji Lord Saga, provokasi
yang telah menyebabkan perang, serta ke¬menangan kita. Putriku, Lady Maruyama, akan segera
sampai di sini. Aku menugas¬kanmu untuk melayaninya sesetia kau melayaniku. Aku akan
mendiktekan surat wasiatku kepadamu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku kelak, tapi aku
mem¬perkirakan hal yang terburuk: entah itu ber¬bentuk pengasingan diri atau pun kematian. Aku
menyerahkan semua kekuasaan dan wewenang atas Tiga Negara pada putriku. Akan kukatakan
kepadamu siapa yang akan dinikahinya dan apa saja syaratnya."
Dokumen itu didiktekan dan ditulis dengan cepat. Saat sudah selesai dan mem¬bubuhkan capnya,
Takeo berkata, "Kau harus berikan ini langsung ke tangan Lady Shigeko. Kau bisa katakan
kepadanya kalau aku minta maaf. Aku berharap segalanya bisa
terjadi sebaliknya, namun aku memercayakan Tiga Negara kepadanya."
Selama bertahun-tahun mengabdi pada Takeo, Minoru jarang menunjukkan perasa¬annya. Dia telah
menghadapi kemegahan istana Kaisar dan kebiadaban perang dengan sikap acuh tak acuh. Kini
wajahnya menyeringai selagi berjuang agar air matanya tidak menetes.
"Katakan pada Lord Gemba aku sudah siap pergi," kata Takeo. "Selamat tinggal."
***
Hujan terlambat turun dan tidak sederas biasanya; setiap sore terjadi badai sebentar dan langit
kerapkali berawan, tapi jalanan tidak banjir. Kini Takeo bersyukur telah membangun jalan raya di
seluruh Tiga Negara sehingga perjalanannya bisa secepat sekarang ini. Meski, pikirnya, jalanan yang
sama terbuka bagi Zenko dan pasukannya, dan ingin tahu sudah seberapa jauh mereka mendahului
dari arah barat daya.
Pada malam ketiga, mereka menyeberangi perbatasan di Kushimoto dan berhenti untuk makan dan
beristirahat sebentar di peng
inapan di ujung lembah. Jaraknya kurang dari satu hari dari Yamagata. Penginapan itu dipenuhi
pelancong; pemilik tanah daerah setempat yang mengetahui kedatangan Takeo langsung
menghampiri untuk menyapa. Saat ia makan, laki-laki ini, Yamada, dan si pemilik penginapan
menyampaikan kabar yang mereka dengar.
Zenko dilaporkan berada di Kibi, tepat di seberang sungai.
"Dia membawa sedikitnya sepuluh ribu pasukan," tutur Yamada murung. "Banyak di antara mereka
yang membawa senjata api."
"Apakah ada kabar dari Terada?" tanya Takeo, seraya berharap kapal-kapalnya mungkin melakukan
serangan balasan di kota kastil Zenko, Kumamoto, dan memaksanya untuk mundur.
"Kabarnya Zenko mendapatkan kapal dari kaum bar-bar," lapor si pemilik penginapan, "dan mereka
melindungi pelabuhan dan daerah pesisir pantai."
Takeo membayangkan pasukannya ke¬habisan tenaga, serta masih berjarak sepuluh hari berjalan
kaki.
"Lady Miyoshi tengah menyiapkan Yamagata untuk pengepungan," tutur
Yamada. "Aku sudah mengirim dua ratus pasukan ke sana, tapi tidak menyisakan satu pun orang di
sini; panen sudah hampir tiba, dan sebagian besar ksatria Yamagata berada di wilayah Timur
bersama Lord Kahei. Kota akan dipertahankan oleh petani, perempuan dan anak-anak."
"Tapi sekarang Lord Otori sudah di sini," ujar si pemilik penginapan, berusaha mem¬bangkitkan
semangat semua orang. "Negara Tengah aman dengan adanya Lord Otori bersama kita!"

Halaman 725 dari 725
Takeo berterima kasih padanya dengan senyum seraya menyembunyikan keputus¬asaannya yang
kian meningkat. Kelelahan membuatnya tertidur; lalu menunggu dengan gelisah dan tidak sabar
sampai matahari terbit. Saat itu awal bulan, terlalu gelap untuk bisa berkuda di malam hari tanpa
cahaya bulan.
Mereka berada di jalan lagi, tak lama setelah matahari terbit, bergerak dengan cepat. Langit masih
kelabu dan udara terasa tenang, lereng pegunungan memamerkan kibaran panji-panji besar mereka
di tengah kabut. Dua prajurit berkuda berderap menghampiri dari arah Yamagata. Takeo
mengenali salah satunya sebagai putra bungsu Kahei, pemuda berusia tiga belas tahun; sedang yang
lainnya pengawal tua dari Klan Miyoshi.
"Kintomo! Ada kabar apa?"
"Lord Otori!" seru pemuda itu terengah¬engah. Wajahnya pucat karena kaget, dan tatapan matanya
bingung di bawah topi bajanya. Topi dan baju zirahnya tampak ke¬dodoran karena dia baru
memasuki masa dewasa. "Istri Anda, Lady Otori...."
"Teruskan," perintah Takeo saat bocah itu terbata-bata.
"Beliau datang dua hari lalu, mengambil alih perintah di sana, lalu berniat menyerah¬kannya pada
Zenko yang saat ini sedang berjalan dari Kibi."
Pandangan Kintomo beralih ke Gemba lalu berkata dengan rasa lega, "Pamanku ada di sini!" Tak
lama kemudian air mata mengambang di pelupuk matanya.
"Bagaimana dengan ibumu?" tanya Gemba.
"Ibu berusaha bertahan dengan sisa pasukan yang ada. Sewaktu sudah tak ber¬daya lagi, ibu
menyuruhku pergi selagi masih sempat, untuk memberitahu ayah dan kakak
kakakku. Kurasa ibu akan mencabut nyawanya sendiri, juga kakak-kakak perempuanku."
Takeo membelokkan kuda, tak mampu menyembunyikan kekagetan dan ke¬bingungannya. Istri dan
putri Kahei sudah mati, sementara suami dan ayah mereka ber¬tempur mempertahankan Tiga
Negara? Yamagata, permata Negara Tengah, akan diserahkan kepada Zenko oleh Kaede?
Gemba mendekat ke sampingnya, dan menanti Takeo bicara.
"Aku harus bicara dengan istriku," ujar Takeo. "Pasti ada penjelasannya. Kesedihan dan kesepian
telah membuatnya gila. Tapi begitu aku ada bersamanya, akal sehatnya akan kembali. Aku takkan
ditolak untuk memasuki Yamagata. Kita semua akan ke sana—semoga sempat menyelamatkan
ibumu," imbuhnya kepada Kintomo.
Jalanan dipenuhi orang yang melarikan diri dari kota untuk menghindari pe¬perangan. Hal ini
melambatkan perjalanan mereka, serta menambah kemarahan dan keputus-asaan Takeo. Ketika
mereka tiba di Yamagata pada sore harinya, gerbang kastilnya dipalang. Utusan pertama yang
mereka kirim ditolak masuk, sedangkan utusan yang kedua dipanah begitu masuk dalam jangkauan
tembakan.
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan sekarang," ujar pengawal Miyoshi sewaktu mereka menarik diri
berlindung masuk ke hutan. "Ijinkan aku membawa tuan muda kepada ayahnya, Zenko akan tiba di
sini besok. Lord Otori seharusnya juga mundur bersama kami. Jangan sampai tertangkap."
"Kalian boleh pergi," ujar Takeo. "Aku akan tinggal lebih lama lagi."
"Kalau begitu aku akan menemanimu," kata Gemba. Dipeluknya keponakannya. Takeo memanggil
Jun dan menyuruhnya mendampingi Kintomo dan menjaganya sampai bergabung dengan Kahci.
"Ijinkan aku menemani Anda," ujar Jun dengan sikap canggung. "Aku bisa masuk ke dalam dinding
setelah malam tiba dan membawa pesan Anda kepada...."
"Terima kasih, tapi hanya aku yang bisa menyampaikan pesan ini. Sekarang aku perintahkan kau
pergi."

Halaman 726 dari 726
"Aku akan mematuhi Anda, begitu tugas ini selesai, aku akan bergabung dengan Anda:
dalam keadaan hidup bila memungkinkan; bila tidak, dalam kematian!"
"Kalau begitu sampai jumpa lagi," sahut Takeo. Dipujinya Kintomo atas keberanian dan kesetiaannya,
dan memerhatikan selama beberapa saat ketika bocah itu bergabung bersama kerumunan orang
yang melarikan diri ke wilayah Timur.
Lalu dialihkannya lagi perhatian kembali ke kota. Ia dan Gemba berkuda sedikit mengitari sisi timur,
berhenti di pepohonan. Takeo turun dari Ashige lalu menyerahkan tali kekang pada Gemba.
"Tunggu di sini. Bila aku tak kembali, baik itu malam ini, atau kalau aku berhasil melewati gerbang
yang dibuka esok pagi, kau anggap saja aku sudah mati. Bila me¬mungkinkan, makamkan aku di
Terayama, di samping makam Shigeru. Dan simpan pedangku di sana untuk putriku!"
Sebelum membalikkan badan, Takeo menambahkan, "Dan kau bisa melakukan kegiatan berdoamu
itu untukku, bila kau mau."
"Aku tak pernah berhenti melakukannya," ujar Gemba.
***
Ketika malam tiba, Takeo meringkuk di bawah pepohonan dan menatap dinding yang melingkari kota.
Teringat pada suatu senja di musim semi, bertahun-tahun silam, sewaktu Matsuda Shingen
mengujinya dengan pertanyaan teoritis: bagaimana meng¬ambil alih kota Yamagata? Kala itu
dipikirnya cara yang terbaik yaitu memasuki kastil secara diam-diam lalu membunuh pemimpinnya. Ia
pernah memasuki kastil Yamagata sebagai Tribe, kini ia melihat apakah ia bisa melakukannya, ingin
tahu apakah ia sanggup membunuh. Ia pernah membunuh orang, dan masih ingat rasa bersalah,
tanggung jawab dan penyesalan. Akan dimanfaatkannya bagian kecil dari pengetahuannya tentang
kota dan kastil ini untuk yang terakhir kalinya.
Di belakangnya terdengar kuda sedang mengunyah rumput, dan Gemba ber¬senandung dengan
gayanya yang seperti beruang. Burung malam pemakan serangga mengetuk-ngetuk di pohon. Angin
berdesir sejenak lalu tenang.
Bulan baru dari bulan kedelapan ber¬gelayut di atas pegunungan di sebelah kanannya. Bisa
dilihatnya gelapnya kastil langsung ke arah utara. Di atasnya rasi bintang beruang bermunculan di
lembutnya langit musim panas.
Dari dinding yang mengelilingi kota dan gerbang, bisa didengamya suara para penjaga: pasukan
Shirakawa, dan Arai, dengan aksen bicara dari wilayah Barat.
Bersembunyi di balik kegelapan, Takeo melompat ke puncak dinding, sedikit salah perhitungan,
mencengkeram atapnya. Sesaat lupa dengan luka di bahu kanannya yang baru setengah sembuh,
dan menahan napas menahan sakit ketika luka itu menganga lagi. Bunyi akibat gerakannya terdengar
lebih gaduh dari yang diinginkannya. Ia lalu menyejajarkan diri tanpa terlihat di atas atap. Ada dua
orang yang muncul di bawahnya membawa obor yang menyala. Mereka berjalan menyusuri jalanan
lalu kembali lagi, sementara ia menahan napas dan mencoba mengacuhkan rasa sakit, menekuk
sikutnya di atas puncak atap, menekan bahu kanan dengan tangan kiri. Ia merasakan sedikit lembap
saat darah mengalir dari lukanya,
beruntung tak banyak sehingga tidak menetes yang bisa mengakibatkan dirinya tertangkap.
Kedua penjaga itu kembali ke tempatnya. Takeo menjatuhkan diri ke permukaan tanah, kali ini tanpa
bersuara, dan mulai berjalan menelusuri jalanan menuju kastil. Malam semakin larut, tapi suasana
kota jauh dari sunyi. Orang-orang berkerumun dengan cemas, banyak yang hendak pergi begitu
gerbang dibuka. Didengarnya para pemuda¬pemudi mengatakan bahwa mereka akan melawan
pasukan Arai dengan tangan kosong, bahwa Yamagata takkan dirampas dari Otori lagi; didengarnya
para pedagang meratapi berakhirnya kedamaian dan kemakmuran; para perempuan mengutuk Lady
Otori karena telah menyebabkan perang. Hatinya hancur mengingat Kaede. bahkan di saat dirinya
tengah mencari pen¬jelasan tentang mengapa istrinya bertindak seperti ini. Kemudian ia mendengar

Halaman 727 dari 727
orang¬orang berbisik, '"Perempuan itu membawa kematian bagi semua yang menginginkan dirinya,
dan kini dia akan membawa kematian pada suaminya, begitu pula dengan suami dan anak laki-laki
kita."
Tidak, Takeo ingin menjerit lantang. Tidak untuk diriku. Kaede tidak bisa membawa diriku pada
kematian. Tapi ia takut kalau istrinya memang sudah melaku¬kannya.
Takeo berjalan melewati mereka tanpa terlihat. Di tepi parit besar ia meringkuk di bawah rumpun
pohon willow yang menyebar di sepanjang tepi sungai. Pohon-pohon itu belum pernah ditebang:
Yamagata tidak pernah terancam selama lebih dari enam belas tahun; pohon willow telah menjadi
simbol kedamaian dan keindahan kota itu. Ia menunggu dengan cara Tribe dalam waktu yang lama,
melambatkan napas dan detak jantungnya. Bulan sudah terbenam, kota sunyi senyap. Akhirnya
Takeo mengambil napas sedalam-dalamnya, lalu menyehnap, tersembunyi oleh daun-daun willow,
masuk ke sungai, berenang di bawah permukaan aimya.
Diikutinya jalur yang pernah dilewatinya hampir separuh hidupnya yang silam, saat itu tujuannya
adalah mengakhiri penderitaan kaum Hidden yang disiksa. Sudah bertahun¬tahun lamanya sejak
para tawanan digantung di dalam kerangkeng di sini; yang pasti masa
masa menyedihkan itu takkan kembali? Namun kala itu ia masih muda, dan saat itu ia membawa besi
pengait untuk menuruni dinding. Kini, dalam keadaan cacat, terluka, lelah, ia merasa bak seekor
serangga cacat yang merayap dengan canggung menaiki bagian depan kastil.
Takeo menyeberangi dinding sebelah luar yang kedua; di sini juga, para penjaga gugup dan gelisah,
bingung sekaligus gembira karena bisa menguasai kastil dengan mudah. Didengarnya perang kecil
yang berlangsung cepat dan dengan pertumpahan darah untuk merebutnya. Kekagetan mereka
diwarnai dengan kekaguman pada kekejaman Kaede, kegembiraan mereka atas kebangkitan Klan
Seishuu dengan mengorbankan Klan Otori. Pemikiran mereka yang plin-plan dan sempit
membangkitkan amarahnya. Sewaktu memanjat turun memasuki dinding sebelah luar dan berlari
dengan langkah ringan melewati jalan batu yang sempit ke taman kediaman, suasana hatinya terasa
sengit dan putus asa.
Dua penjaga lagi duduk di samping tungku bara kecil di salah satu ujung beranda, lentera menyala di
kedua sisinya.
Takeo melewati mereka begitu dekat hingga dilihatnya nyala api meliuk dan asapnya bergulung.
Kedua penjaga itu terperanjat, lalu melihat ke gelapnya taman. Seekor burung hantu terbang rendah
lewat, dan mereka menertawai ketakutan mereka sendiri.
"Malam untuk hantu," kata salah sarunya dengan nada mengejek.
Semua pintu terbuka, cahaya kecil samar¬samar di sudut setiap ruangan. Bisa didengar¬nya napas
penghuninya yang sedang tidur. Aku mengenal napasnya, pikirnya. Dia tidur di sampingku selama
malam-malam kebe¬rsamaan kami.
Takeo mengira sudah menemukan Kaede tidur di kamar yang besar, tapi saat berlutut di samping
perempuan yang sedang tidur itu, disadarinya kalau itu Hana. Ia terpana dengan kebencian yang
dirasakannya atas adik Kaede itu, namun kemudian meninggal¬kannya dan terus berjalan.
Udara terasa pengap di dalam rumah itu: tubuhnya masih basah karena berenang di sungai
sebelumnya tapi tidak merasa kedinginan. Ia membungkuk di atas be¬berapa perempuan yang
tengah tertidur dan
mendengarkan napas mereka. Tak satu pun dari mereka adalah Kaede.
Saat itu puncak musim panas, kurang dari enam minggu dari waktu matahari berada pada jarak
terjauh dari garis khatulistiwa. Matahari akan segera terbit. Ia tak bisa terus berada di sini. Satusatunya
tujuannya adalah menemui Kaede: sekarang ia tidak bisa menemukannya sehingga tidak
tahu apa yang harus dilakukan. Takeo kembali ke taman; saat itulah diperhatikannya bentuk samar
bangunan terpisah yang tidak ia lihat sebelumnya. Berjalan ke arah bangunan itu, disadarinya kalau

Halaman 728 dari 728
itu adalah paviliun yang dibangun di atas aliran sungai, dan di balik bunyi air sungai, dikenalinya
napas Kaede.
Di sini juga ditaruh lentera yang menyala, sinarnya sangat redup seolah minyaknya sudah hampir
habis. Kaede duduk bersila, menatap ke kegelapan. Takeo tidak bisa melihat wajahnya.
Jantungnya berdetak jauh lebih kencang dibandingkan dengan saat menghadapi pertempuran mana
pun. Ia membiarkan dirinya terlihat saat melangkah di lantai papan, dan berbisik, "Kaede. Ini Takeo."
Tangan Kaede langsung bergerak ke samping, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil.
"Aku datang bukan untuk menyakitimu," ujarnya. "Bagaimana kau bisa berpikir begitu?"
"Kau tidak bisa menyakitiku lebih dari yang sudah kau lakukan," sahut Kaede. "Aku bisa saja
membunuhmu, tapi aku percaya kalau hanya putramu yang bisa melaku¬kannya!"
Takeo diam membisu, memahami apa yang telah terjadi.
"Siapa yang mengatakannya?"
"Apa itu penting? Sepertinya semua orang sudah tahu kecuali aku."
"Itu sudah lama berlalu. Kukira...."
Kaede tidak membiarkan Takeo melanjut¬kan. "Tindakannya mungkin sudah lama berlalu. Tapi kau
menipuku tanpa henti. Kau membohongiku selama masa-masa kita ber¬sama. Itulah yang tak
kumaafkan."
"Aku tidak ingin menyakitimu," ujar Takeo.
"Bagaimana kau bisa menatap aku mengandung anakmu, senantiasa ketakutan kalau aku mungkin
mengandung anak laki
laki yang akan membunuhmu? Sementara aku merindukan anak laki-laki, kau berdoa untuk
menghindarinya. Kau lebih suka melihatku dikutuk dengan si kembar, dan saat putramu lahir kau
berharap dia mati. Bahkan mungkin kau yang mengatur kematiannya."
"Tidak," sahut Takeo marah, "Aku takkan membunuh seorang anak pun, apalagi darah dagingku
sendiri." Takeo berusaha bicara dengan lebih tenang, untuk menyelesaikan masalah. "Kematiannya
adalah kehilangan besar—membuatmu melakukan semua ini."
"Kejadian itu membuka mataku melihat siapa sebenarnya dirimu."
Takeo melihat betapa besar amarah dan kesedihan di hadapannya.
"Satu lagi kebohongan dalam hidup yang penuh dengan kebohongan," lanjut Kaede. "Kau tidak
membunuh Iida; kau tidak dibesarkan sebagai ksatria; darahmu ternoda. Aku telah menyerahkan
hidupku pada se¬suatu yang kini kuanggap tak lebih hanya khayalan."
"Aku tidak pernah berpura-pura padamu," sahutnya. "Aku tahu semua kegagalanku;
sudah cukup sering aku membaginya denganmu."
"Kau pura-pura bersikap terbuka sementara menyembunyikan banyak rahasia yang lebih buruk. Apa
lagi yang kau rahasia¬kan dariku? Berapa banyak perempuan lain? Berapa banyak anak laki-laki
yang lain?"
"Tidak ada. Aku bersumpah... hanya ada Muto Yuki, sewaktu aku mengira kau dan aku telah
dipisahkan selamanya."
"Dipisahkan?" ulangnya. "Tidak ada yang memisahkan kita, kecuali dirimu sendiri. Kau memilih untuk
pergi: meninggalkan diriku, karena kau tidak ingin mati."
Kata-kata ini sedikit banyak benar adanya hingga membuatnya merasa sangat malu.

Halaman 729 dari 729
"Kau benar," ujarnya. "Waktu itu aku memang bodoh dan pengecut. Kumohon kau memaafkanku.
Demi nasib seluruh negara ini. Kumohon untuk tidak meng¬hancurkan semua yang telah kita bangun
bersama."
Takeo ingin menjelaskan bagaimana mereka telah menjaga negara ini dalam keselarasan, bagaimana
keseimbangan itu jangan sampai hilang, namun tidak ada kata
kata yang memperbaiki semua yang telah musnah.
"Kaulah yang menghancurkannya," sahut Kaede. "Aku takkan memaafkanmu. Satu¬satunya yang
bisa menghilangkan pen¬deritaanku adalah melihatmu mati." Kaede menambahkan dengan nada
getir, "Satu hal terhormat yaitu mencabut nyawamu sendiri, tapi kau bukanlah ksatria dan takkan
melakukannya, kan?"
"Sesuai janjiku padamu, aku takkan melakukannya," sahut Takeo dengan nada lirih.
"Aku membebaskanmu dari janji itu. Ini, ambil pisau ini! Habisi nyawamu, saat itulah baru aku bisa
maafkan!"
Kaede menyodorkan pisau itu ke arah Takeo, menatap langsung ke wajahnya. Takeo tak ingin
menatapnya, takut istrinya terkena tatapan Kikuta. Ditatapnya pisau itu, tergoda untuk
menggunakannya, dan menikam dirinya sendiri. Tak ada rasa sakit di tubuhnya yang akan terasa
lebih sakit dibandingkan penderitaan yang menusuk jiwanya.
Takeo berkata, berusaha mengendalikan diri, mendengarkan kata-katanya yang
terdengar kaku dan formal seakan mereka tidak saling kenal, "Ada beberapa hal yang harus diatur
terlebih dulu. Masa depan Shigeko harus dipastikan. Kaisar telah mengakui dirinya. Baiklah, ada
banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi mungkin aku takkan sempat melakukannya. Aku siap
mengasingkan diri demi masa depan putri kita: aku yakin kau akan membuat kesepakatan yang
sesuai dengan Zenko."
"Kau takkan bertarung layaknya ksatria: kau takkan mati layaknya ksatria. Betapa hinanya kupandang
dirimu di mataku! Kurasa kini kau akan menyelinap diam-diam, seperti layaknya penyihir, dan kau
memang seperti itu."
Kaede bangkit, seraya berteriak, "Penjaga! Tolong! Ada penyusup!"
Gerakannya yang tiba-tiba membuat lentera padam. Paviliun seketika gelap gulita. Obor para penjaga
bersinar redup di sela-sela pepohonan. Dari kejauhan Takeo mendengar ayam jantan berkokok. Katakata
Kaede menyengat dirinya seperti pisau belati Kotaro yang beracun. Ia tak ingin ditemukan di sini
seperti pencuri atau buronan. Tak sanggup menanggung rasa malu lebih jauh lagi.
Takeo tak pernah begitu kesulitan menggunakan kemampuan menghilangnya. Konsentrasinya buyar:
merasa seakan dirinya hancur berkeping-keping. Ia berlari ke dinding taman lalu memanjat ke
atasnya, menyeberangi pelataran menuju dinding sebelah luar lalu merayap memanjatnya. Saat di
puncak, bisa dilihatnya ke bawah tempat permukaan parit berkilauan hitam pekat bak cairan tinta.
Langit semakin pucat di ufuk timur.
Di belakangnya terdengar derap langkah kaki. Ia kehilangan kemampuan menghilang, mendengar
keriat-keriut busur panah yang meregang, desing anak panah, dan setengah menyelam, setengah
terjatuh ke dalam air; terjun dengan tiba-tiba membuat napasnya terputus dan telinganya berdengung
kencang. Ia muncul ke permukaan, menghela napas, melihat anak panah di sebelahnya, men¬dengar
kecipak air lain di sekitarnya. Ia menyelam lagi lalu berenang menuju ke tepian, menarik dirinya untuk
berlindung di bawah pepohonan willow.
Takeo menghela napas beberapa kali, mengibaskan air dari tubuh bak seekor anjing, menghilang lagi
lalu berlari melewati jalan-jalan menuju gerbang kota. Gerbang telah dibuka, dan orang-orang yang
telah menunggu semalaman untuk meninggalkan kota, sudah berjalan melewatinya. Harta benda

Halaman 730 dari 730
mereka terbungkus dalam buntalan di kayu panggul atau dimuat ke dalam kereta kecil yang ditarik
dengan tangan, tatapan mata anak-anak mereka tampak serius dan kebingungan.
Takeo merasa amat iba melihat keadaan mereka, sekali lagi berada di bawah kekuasaan para
bangsawan. Di sela ke¬sedihannya, ia berusaha mencari cara untuk menolong mereka, namun ia
merasa hampa, yang terpikirkan olehnya hanyalah, semuanya telah berakhir.
Di dalam benaknya dilihatnya taman di Terayama dan lukisan-lukisan yang tiada tandingannya,
mendengar kata-kata Matsuda bergema selama ini. Kembalilah kepada kami saat semua ini telah
berakhir.
Akankah pernah berakhir? Kala itu ia bertanya.
Semua yang memiliki permulaan pasti ada akhirnya, sahut Matsuda saat itu.
Kini akhir dari segalanya telah tiba tanpa bisa dihindari; jaring tipis Surga telah menjerat dirinya,
seakan pada akhirnya menjerat semua makhluk hidup. Semuanya telah berakhir. Ia akan kembali ke
Terayama.
Ditemukannya Gemba masih duduk bermeditasi di tepi hutan, kuda tengah makan rumput di
sampingnya, surai mereka berbintik-bintik dengan butiran embun. Kedua kuda itu mengangkat kepala
dan meringkik melihat kedatangannya.
Gemba tidak bicara, hanya menatap Takeo dengan matanya yang cerdas dan penuh welas asih,
kemudian berdiri dan memasang pelana, senantiasa bersenandung di balik napasnya. Bahu Takeo
terasa sakit lagi dan dirasakannya demam menyerangnya.
Matahari terbit, menghanguskan kabut saat mereka berjalan menyusuri jalanan sempit menuju kuil,
jauh di tengah pegunungan. Ada semacam rasa ringan menyelimuti dirinya. Segalanya berangsur
sirna di balik irama derap kaki kuda dan panasnya sinar matahari. Kesedihan, penyesalan, rasa malu
semuanya berbaur
menjadi satu. Diingatnya keadaan seakan dalam mimpi yang pernah dialaminya saat di Mino ketika
pertama kali berhadapan dengan kekerasan penuh pertumpahan darah dari para ksatria. Kini nampak
baginya kalau dirinya memang sudah mati pada saat itu dan hidupnya sama tidak nyatanya seperti
kabut, mimpi tentang hasrat dan perjuangan yang terbakar habis bersama cahaya matahari yang
cerah serta menyilaukan.*
Shigeko melakukan perjalanan ke Inuyama dengan perlahan bersama banyak korban luka, termasuk
kuda ayahnya, Tenba dan orang yang dicintainya. Kendati sebagian besar dari mereka dalam kondisi
yang parah, Kahei telah memerintahkan mereka me¬nunggu di dataran sementara pasukan utama
kembali ke Inuyama. Kondisi jalan yang curam dan sempit, dan keadaan yang sudah sangat
mendesak hingga mereka harus bergerak cepat. Ketika akhirnya jalan ber¬angsur lebih lebar,
Shigeko mengira kalau kuda itu dan kirin sudah pulih, dan Hiroshi akan meninggal: di siang hari ia
meng¬habiskan waktu untuk merawat mereka yang terluka bersama Mai. Di malam hari
dibiar¬kannya kelemahan dalam dirinya membuat tawar-menawar yang mustahil, karena Surga dan
para dewa mengabulkan semua yang mereka inginkan kecuali menyelamatkan Hiroshi. Luka Shigeko
pulih dengan cepat: ia berjalan selama beberapa hari pertama; tak
masalah kalau ia berjalan terpincang-pincang karena mereka bergerak secara perlahan menuruni
jalur pegunungan. Korban yang luka mengigau atau mengoceh karena demam, dan setiap pagi
mereka harus me¬ninggalkan orang yang meninggal di malam harinya. Betapa mengerikannya
kemenangan dalam perang, pikirnya.

Halaman 731 dari 731
Hiroshi berbaring tanpa mengeluh di tandu, terombang-ambing antara sadar dan tidak sadar. Setiap
pagi Shigeko berharap menemukan tubuh pemuda itu kaku dan dingin, namun meski keadaannya tak
kunjung membaik, Hiroshi belum mati. Pada hari ketiga, jalanan terasa lebih nyaman, lerengnya tak
lagi terlalu curam dan mereka mulai melintasi jarak yang lebih jauh antara matahari terbit hingga
matahari terbenam. Malam itu mereka beristirahat di desa pertama yang layak disinggahi. Tersedia
seekor sapi jantan dan gerobak, dan Hiroshi dipindahkan ke atasnya pada keesokan hari¬nya.
Shigeko menaiki gerobak itu dan duduk di sampingnya, membasahi bibirnya dengan air serta
melindungi wajahnya dari sinar matahari. Tenba dan kirin berjalan ber¬dampingan, keduanya
pincang.
Tepat sebelum sampai di Inuyama, mereka bertemu Tabib Ishida dan iring-iringan kuda beban. Iringiringan
itu membawa kertas halus dan kain sutra untuk membalut luka, begitu pula dengan tanaman
obat-obatan dan salep. Dengan perawatannya, banyak dari mereka yang terluka bisa sembuh.
Meskipun Ishida tidak menjanjikan apa-apa kepada Shigeko, dalam diri gadis itu muncul secercah
harapan kalau Hiroshi mungkin termasuk di antara mereka yang bisa sembuh.
Suasana hati Ishida murung, jelas kalau pikirannya ada di tempat lain. Saat sedang tidak sibuk
merawat orang sakit, ia suka berjalan di samping kirin yang jalannya semakin melambat. Hewan itu
nampak jelas tengah kesakitan: kotorannya hampir seperti cairan, dan tulang-tulangnya menonjol
seperti benjolan. Namun kirin tetap lembut seperti biasa, dan kelihatannya senang ditemani Ishida.
Shigeko mengetahui tentang kematian adik bungsunya dan ternyata ibunya kehilangan akal karena
sedih; ia ingin sekali pulang ke Negara Tengah untuk menemani ayahnya. Juga sangat khawatir
dengan si kembar. Ishida mengatakan pernah bertemu
Miki di Hagi, tapi tidak ada yang tahu di mana Maya berada. Setelah satu minggu di Inuyama, Ishida
juga mengatakan harus pergi ke Hofu karena tidak bisa berhenti memikir¬kan istrinya, Shizuka.
Namun mereka juga tidak mendapat kabar apa-apa, dan tanpa kabar sepertinya akan menjadi
tindakan bodoh mengambil resiko untuk melanjutkan perjalanan: mereka tidak tahu siapa yang
menguasai Hofu; di mana Zenko bersama pasukannya berada atau sudah seberapa jauh Kahei
dalam perjalanan pulang.
Lagipula, kirin tidak bisa berjalan lebih jauh lagi, begitu pula Hiroshi. Shigeko kembali kepada
keputusannya untuk tetap di Inuyama sampai mendapat kabar dari ayahnya. Ia memohon pada Ishida
untuk menemaninya dan membantunya merawat korban luka dan kirin, dan tabib itu dengan enggan
menyetujui. Shigeko amat berterima kasih karena keberadaan Ishida sangat berarti baginya: Shigeko
memaksa Ishida untuk menceritakan semua yang diketahuinya kepada Minora dan memastikan
semua peristiwa, walaupun buruk, dicatat dengan baik.
Bulan dari bulan kedelapan berada dalam bentuk seperempat sewaktu pembawa pesan akhirnya tiba,
tapi baik mereka maupun surat yang mereka bawa bukanlah yang diharapkan Shigeko.
Mereka datang naik kapal dari Akashi dan mengenakan lencana Saga Hideki di jubah, bersikap penuh
hormat dan kerendahan hati serta meminta berbicara dengan Lady Maruyama. Shigeko terkejut:
terakhir kali dilihatnya Lord Saga dibuat buta oleh panah¬nya. Jika ia bisa menduga sesuatu datang
dari laki-laki itu, maka tak lain adalah kapal perang. Untuk pertama kalinya selama ber¬mingguminggu
Shigeko baru menyadari bagaimana keadaan dirinya. Ia mandi dan mengeramasi rambut
panjangnya, lalu meminjam jubah indah dari bibinya, Ai, karena semua benda miliknya sudah
ditinggalkan dalam perjalanan pulang dari ibukota. Diterimanya para utusan itu di raang pertemuan
kediaman kastil: mereka membawa banyak hadiah, dan surat yang ditulis sendiri oleh Saga Hideki.
Shigeko menyambut mereka dengan sikap anggun, seraya menyembunyikan rasa malu¬nya. "Kurasa
Lord Saga sehat-sehat saja,"
tanyanya. Mereka meyakinkan dirinya kalau Saga sudah pulih dari luka yang dideritanya akibat
perang; mata kirinya buta, tapi selain itu kesehatannya baik-baik saja.
Shigeko memberi perintah untuk meng¬hibur para utusan itu dengan upacara semewah mungkin.
Kemudian ia meng¬undurkan diri untuk membaca surat Lord Saga untuknya. Dia pasti mengancam,

Halaman 732 dari 732
pikirnya, atau memberi hukuman yang setimpal. Namun ternyata isi surat itu agak berbeda, hangat
dan penuh hormat.
Saga menulis bahwa dia sangat menyesali serangannya atas Lord Otori: merasa bahwa satu-satunya
strategi untuk hasil akhir yang memuaskan adalah menghapuskan ancaman dari Arai terhadap Otori;
pernikahan antara dirinya dan Lady Maruyama bisa me¬negaskan hal itu. Bila Shigeko setuju
ditunangkan, maka ia akan segera menyebar pasukannya untuk bertempur bersama Lord Ototi
beserta komandannya, Miyoshi Kahei. Saga tak menyebut tentang luka yang dideritanya: setelah
selesai membaca surat itu, Shigeko merasakan, bersama dengan keheranan dan marah, sesuatu
yang mirip dengan kekaguman. Disadarinya kalau Saga
berharap mengambil alih kendali atas Tiga Negara, pertama dengan ancaman, kemudian dengan
dalih, dan terakhir dengan kekerasan. Laki-laki itu sudah kalah dalam satu peperangan, namun belum
menyerah: justru sebaliknya; dia menyiapkan serangan lain; tapi kemudian mengubah taktiknya.
Shigeko kembali ke ruang pertemuan dan mengatakan kepada para tamunya bahwa dia akan menulis
surat balasan kepada Lord Saga keesokan harinya. Setelah mereka ber¬istirahat, Shigeko pergi ke
ruangan tempat Hiroshi berbaring di dekat pintu-pintu yang terbuka, menghadap ke taman. Aroma
dan suara malam musim panas memenuhi udara. Shigeko berlutut di sampingnya. Hiroshi terjaga.
"Apakah kau kesakitan?" tanya Shigeko pelan.
Hiroshi menggeleng pelan sekali, tapi Shigeko tahu kalau laki-laki itu berbohong; bisa dilihat betapa
kurus badannya, kulitnya mengencang dan menguning di atas tulang¬nya.
"Ishida bilang kalau aku takkan mati, kali ini," ujar Hiroshi. "Tapi dia tidak bisa ber¬janji kalau aku bisa
menggunakan kedua
kakiku dengan baik lagi. Aku sangsi akan bisa menunggang kuda lagi, atau berguna dalam perang."
"Kuharap kita tak perlu lagi berperang seperti itu," sahut Shigeko. Diraihnya tangan Hiroshi;
meletakkan di dalam genggaman kedua tangannya. Tangan itu selemah dan sekering helaian daun di
musim gugur. "Kau masih demam."
"Hanya sedikit. Malam ini terasa panas." Tiba-tiba air mata mengambang di pelupuk mata Shigeko.
"Aku takkan mati," kata Hiroshi lagi. "Jangan menangisi diriku. Aku akan kembali ke Terayama dan
mengabdikan diriku sepenuhnya pada Ajaran Houou. Aku tak percaya kalau kita gagal: kita pasti telah
melakukan kesalahan, melupakan sesuatu."
Suaranya kian melemah, dan Shigeko bisa melihat kalau laki-laki itu sudah pergi ke dunia lain.
Matanya terpejam.
"Hiroshi," serunya ketakutan.
Tangan Hiroshi bergerak lalu meng¬genggam tangan Shigeko. Bisa dirasakannya tekanan jari
pemuda itu; nadinya berdenyut, lemah namun teratur. Shigeko berkata, tidak tahu Hiroshi
mendengarnya atau tidak,
"Lord Saga menulis surat, menyarankan lagi kalau sebaiknya aku menikah dengannya."
Hiroshi tersenyum tipis. "Tentu saja kau akan menikah dengannya."
"Aku belum memutuskan," sahutnya. Shigeko duduk memegangi tangan Hiroshi semalaman,
sementara pemuda itu ter¬ombang-ambing antara keadaan tidur dan terjaga. Dari waktu ke waktu
mereka berbincang, tentang kuda dan masa kecil mereka di Hagi. Shigeko merasa sedang
mengucapkan selamat tinggal pada Hiroshi; kalau mereka takkan berada sedekat ini lagi. Mereka
berdua bak bintang yang beterbaran di langit, yang nampak saling berdekatan namun kemudian
berayun terpisahkan oleh gerakan tak terelakkan dari surga. Sejak malam itu, lintasan nasib
menjauhkan diri mereka dari satu dengan yang lainnya, meski mereka berdua tak akan berhenti
merasakan kasih sayang yang tak kasat mata.
***

Halaman 733 dari 733
Seakan menjawab tawar-menawar yang tak
terucapkan dari mulut Shigeko, ternyata
kirin yang mati. Ishida, dengan pikirannya
yang sangat kacau, datang memberi-tahu Shigeko keesokan sorenya.
"Tadinya sudah lebih baik," tuturnya. "Kukira hewan itu sudah melewati masa kritisnya. Tapi kemudian
berbaring saat malam hari lalu tidak bangun lagi. Sungguh hewan yang malang. Aku berharap tidak
pernah membawa nya kemari."
"Aku harus melihatnya," ujar Shigeko, lalu pergi bersama Ishida ke istal di sisi mata air padang
rumput, tempat dibangun sebuah kandang. Shigeko pun merasakan kesedihan menyelimuti dirinya
melihat kematian hewan yang cantik serta lembut itu. Saat dilihatnya hewan itu, besar dan terbaring
kaku tak bernyawa, mata dengan bulu mata panjang¬nya tampak suram dan penuh debu. Shigeko
merasakan firasat kuat dengan kejadian ini,
"Inilah akhir dari segalanya," tuturnya pada Ishida. "Kirin muncul saat penguasa bersikap adil dan
negara penuh damai: kematiannya berarti semuanya telah sirna."
"Kirin hanyalah hewan biasa," sahut Ishida. "Luar biasa dan menakjubkan, tapi bukan berasal dari
dongeng."
Kendati demikian, Shigeko tak bisa menyingkirkan keyakinan kalau ayahnya sudah tiada.
Disentuhnya kulit lembut kirin yang masih kelihatan berkilau, dan teringat kata¬kata Saga.
"Dia akan mendapatkan keinginannya," katanya dengan lantang. Diperintahkannya agar hewan itu
dikuliti untuk diawetkan. Ia akan mengirimnya, bersama surat balasannya kepada Lord Saga.
Shigeko kembali ke penginapan, meminta dibawakan atat tulis. Ketika pelayan kembali, Minoru
datang bersama mereka. Selama beberapa hari terakhir Shigeko merasa kalau Minoru ingin bicara
berdua saja dengannya tapi tak pernah ada kesempatan. Kini Minoru berlutut di hadapannya dan
meng¬haturkan sebuah gulungan kertas.
"Ayahanda Lady Maruyama memerintah¬kan aku untuk menaruh ini di tangan Lady Maruyama,"
katanya dengan suara pelan. Ketika Shigeko mengambilnya, Minoru membungkuk hormat sampai ke
lantai di hadapannya, orang pertama yang meng¬hormati dirinya sebagai penguasa Tiga Negara.*
Dari Kubo Makoto, untuk Lady Otori. Aku ingin menceritakan kepadamu tentang hari¬hari terakhir
dalam hidup suamimu.
Kala itu sudah hampir musim gugur di pegunungan di sini. Malam-malam terasa dingin. Dua malam
yang lalu, aku mendengar suara burung hantu rajawali di pemakaman, tapi tadi malam sudah tidak
ada. Burung itu sudah terbang ke selatan. Dedaunan mulai berganti warna: tak lama lagi kami akan
melihat es pertama, lalu salju.
Takeo datang ke biara kami bersama Miyoshi Gemba di awal bulan kedelapan; aku lega melihatnya
masih hidup, karena kami sudah mendengar kehancu ran Hagi dan pasukan Zenko sudah sampai ke
Yamagata. Menurutku jelas terlihat bahwa tidak ada serangan di Tiga Negara bisa berhasil saat
Takeo masih hidup, dan aku tahu Zenko akan berusaha membunuhnya sesegera mungkin.
Kala itu waktu tengah hari Takeo dan Gemba berkuda dari Yamagata. Hari itu

Halaman 734 dari 734
cuaca terasa sangat panas; mereka tidak datang terburu-buru, tapi lebih dengan cara yang
menyenangkan, seperti peziarah. Jelas sekali kalau mereka kelelahan, dan Takeo agak demam... tapi
mereka tidak putus asa dan kelelahan layaknya buronan. Takeo mencerita¬kan tentang
pertemuannya denganmu di malam sebelumnya. Semuanya merupakan masalah antara suami dan
istri, dan orang luar tidak bisa ikut campur. Yang bisa kukatakan hanyalah aku sangat menyesal,
namun tidak terkejut. Cinta penuh hasrat tidak bisa hilang begitu saja, namun berubah menjadi hasrat
yang lain, yaitu kebencian, kecemburuan serta kekecewaan. Perasaaan yang terjadi antara laki-laki
dan perempuan tidak bisa diungkapkan dalam satu kata kecuali berbahaya. Aku sudah jelaskan
berulangkali tentang perasaanku kepada Takeo.
Kemudian kusadari bahwa kejadian kau diberitahu tentang rahasia itu adalah bagian dari rencana
persekongkolan panjang untuk mengasingkan Takeo di biara, tempat kami semua bersumpah untuk
tidak membunuh, serta tidak bersenjata.
Memang, hal pertama yang dilakukan Takeo yaitu menyingkirkan Jato dari sabuk¬nya.
"Aku datang untuk melukis," tuturnya saat menyerahkan pedang itu kepadaku. "Kau pernah merawat
pedang ini untukku. Sekarang aku meninggalkannya di sini sampai putriku, Shigeko, datang
mengambilnya. Pedang ini diletakkan ke tangan Shigeko oleh Kaisar."
Kemudian dia berkata, "Aku takkan mem¬bunuh lagi. Belum aku begitu gembira seperti saat ini."
Kami pergi bersama ke makam Lord Shigeru. Takeo menghabiskan sisa hari itu di sana. Biasanya
banyak peziarah yang datang, tapi karena ada kabar bahwa perang maka tempat itu sepi. Setelah itu
dia mengatakan tentang kekhawatirannya kalau rakyatnya akan mengira dia meninggalkan mereka,
tapi mustahil baginya untuk berperang melawan¬mu. Aku sendiri mengalami pergulatan batin terbesar
yang pernah kualami sejak pertama kali bersumpah untuk takkan membunuh lagi Aku tak sanggup
melihat kepasrahannya menerima kematian. Semua perasaaan manusiawi dalam diriku membuatku
ingin mendesaknya untuk membela diri, untuk
menghancurkan Zenko, dan harus kuakui, juga menghancurkan dirimu. Aku berjuang sekuat tenaga
mengendalikan semua perasaan ini siang dan malam.
Takeo sepertinya tidak mengalami per¬gulatan batin dalam dirinya. Malah hampir kelihatan gembira,
meski kutahu ia merasakan kesedihan yang amat dalam. Bersedih atas kematian putranya, dan tentu
saja, perpisahan denganmu, namun dia telah menyerahkan kekuasaan pada Lady Shigeko dan
membuang semua hasratnya. Sedikit demi sedikit campuran semua perasaan yang diperkuat ini
melampaui kami semua yang ada di biara ini Semua yang kami lakukan, dari tugas biasa sehari-hari,
sampai ke waktu sakral melantunkan doa dan meditasi seperti tersentuh oleh suatu kesada ran yang
sangat mulia.
Takeo mengabdikan dirinya untuk melukis; mempelajari dan membuat banyak sketsa burung. Di
suatu hari sebelum kematiannya, dia menyelesaikan panel yang hilang di layar kasa kami. Kuha rap
kau bisa melihatnya kelak. Burung-bu rung itu kelihatan begitu hidup hingga mengelabui kucingkucing
di biara, dan kerap terlihat mengejar mereka.
Setiap hari aku setengah be rha rap melihat burung-burung itu sudah terbang.
Takeo juga merasa sangat terhibur dengan kehadi ran putrinya, Miki. Haruka membawa¬nya dari
Hagi
"Aku tidak bisa memikirkan temp at lain yang bisa kami tuju," kata Haruka padaku. Kami saling
mengenal, bertahun-tahun lalu ketika Takeo berjuang mati-matian setelah gempa dan pertarungan
dengan Kotaro. Aku sangat menyukainya. Haruka banyak akal dan pandai, dan kami sangat berterima
kasih kepadanya karena telah membawa Miki kemari.
Perasaan Miki terguncang dengan semua peristiwa mengerikan yang disaksikannya, hingga
membuatnya membisu. Ia membuntuti ayahnya seperti bayangan. Takeo menanyakan tentang
saudara kembarnya, tapi Miki tidak tahu di mana Maya berada; dia tidak bisa berbicara dengan
ayahnya selain dengan isyarat tangan.
***

Halaman 735 dari 735
menatap keindahan dan ketenangan taman di luar. Haruskah diceritakannya pada Lady Otori tentang
semua yang Takeo tahu tentang Maya dan kematian bayi laki¬lakinya? Ataukah membiarkan kebenaran
tetap menjadi rahasia yang dibawa ke alam baka? Diambilnya kuas lagi, tinta baru membuat
huruf-hurufnya kelihatan tebal.
***
Di pagi hari kematiannya, Takeo dan Miki berada di taman. Takeo sudah mulai melukis sebuah
lukisan baru—lukisan kuda. Gemba dan aku baru saja keluar untuk bergabung dengan mereka.
Waktu kira-kira menunjukkan setengah jam dari Waktu Kuda, seperempat kedua bulan kedelapan,
cuaca sangat panas. Siraman derik jangkrik kedengaran lebih kuat dari biasanya. Ada dua jalan yang
mengarah ke biara: jalan utama pertama dari penginapan menuju gerbang biara, dan yang kedua
mengikuti aliran sungai, lebih banyak ditum-buhi tanaman dan lebih sempit, mengarah langsung ke
taman. Melalui jalan inilah Kikuta masuk.
Takeo mendengar lebih dulu kedatangan mereka dibandingkan yang lainnya, dan sepertinya
langsung tahu siapa mereka. Aku belum pernah bertemu Akio, kendati aku tahu semua tentang
dirinya, dan aku sudah tahu tentang anak itu selama bertahun-tahun lamanya, juga tentang ramalan
itu. Aku minta maaf kalau aku mengetahuinya sedang kau tidak. Andai suamimu menceritakannya
padamu bertahun-tahun yang lalu, tak diragukan lagi segalanya akan berbeda, namun dia memilih
untuk tidak menceritakannya; dengan demikian kita membangun nasib kita sendiri.
Aku melihat dua orang laki-laki berjalan cepat memasuki taman; di sisi laki-laki yang lebih muda
melompat seekor kucing besar berbulu hitam, putih dan emas, kucing paling besar yang pernah
kulihat. Sesaat kukira itu singa. Takeo berkata pelan, "Itu Akio; bawa Miki pergi." Tak satu pun dari
kami bergerak, kecuali Miki, yang berdiri lalu bergerak men¬dekati ayahnya.
Pemuda itu memegang sepucuk senjata. Aku mengenali benda itu adalah senjata api, walau
bentuknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan senjata yang digunakan Otori, dan
Akio memegang seperiuk arang yang berasap. Aku teringat dengan bau asap itu dan bentuknya yang
lurus menjulang di udara yang tenang.
Takeo menatap pemuda itu. Kusadari kalau itu adalah putranya—saat itu pertama kalinya ayah dan
anak saling memandang. Mereka tidak terlalu mirip, namun tetap ada kemiripannya; warna rambut
dan kulit mereka.
Takeo benar-benar tenang, dan sikapnya membuat pemuda itu terpaku—Hisao, begitu dia dipanggil,
walau kurasa kami akan mengganti namanya. Akio berteriak pada nya. "Lakukan! Lakukan!" Tapi
Hisao seperti membeku. Perlahan ditaruh tangannya di atas kepala kucing itu, lalu mendongak
seakan ada orang yang sedang bicara dengannya. Bulu kudukku berdiri. Aku tidak melihat apa-apa,
tapi Gemba bilang, "Aku bisa merasakan kehadi ran arwah orang mati ada di sini"
Hisao berkata kepada Takeo, "Ibuku bitang kalau kau adalah ayahku."
Takeo menjawab, "Aku memang ayahmu." Akio terus berteriak, "Dia bohong. Akulah ayahmu. Bunuh
dia! Bunuh dia!"
Takeo berkata, "Aku memohon agar ibumu memaafkan aku dan kau juga."
Hisao tertawa tak percaya. "Aku membenci¬mu seumur hidupku!"
Akio memekik, "Dia adalah Si Anjing—dia harus membayar kematian Kikuta Kotaro dan banyak lagi
nyawa dari kalangan Tribe."
Hisao menaikkan senjata api itu. Takeo bicara dengan jelas, "Jangan coba halangi dia; jangan sakiti
dia."
Tiba-tiba taman dipenuhi dengan burung, berbulu emas; cahaya matahari menyilaukan, Hisao
menjerit, "Aku tak bisa melakukannya. Ibu tidak membiarkanku melakukannya,"

Halaman 736 dari 736
Beberapa peristiwa terjadi di waktu bersamaan. Gemba dan aku berusaha menyatukan kepingankepingannya
tapi kami berdua melihatnya dengan panda ngan yang agak berbeda. Akio merampas
senjata api itu dari Hisao, lalu mendorongnya ke samping. Kucing itu melompat menyerang Akio,
membenamkan cakarnya di wajah laki-laki itu. Miki berteriak, "Maya!" Kemudian terjadi kitatan dan
ledakan yang memekakkan telinga, aroma daging dan bulu yang terbakar.
Senjata itu ternyata salah tembak, dan entah mengapa meledak. Tangan Akio terbakar, lalu
tak lama kemudian mati kehabisan darah. Hisao terpaku, dan mengalami luka bakar di wajahnya, tapi
selain itu dia tidak terluka. Kucing itu sekarat. Miki berlari menghampiri, menyebut-nyebut nama
saudara kembarnya; aku belum pernah melihat pemandangan yang begitu mencengangkan: Miki
nampak berubah menjadi sebilah pedang. Cahaya yang terpantul darinya membutakan mata kami.
Gemba dan aku merasakan kalau ada sesuatu yang ditebas. Kucing itu berubah wujud saat Miki
meng¬hempaskan tubuh menimpanya, dan ketika kami bisa melihat lagi, Miki tengah memeluk
saudara kembamya yang sudah mati. Kami percaya kalau ternyata Miki menyelamatkan Maya dari
menjadi roh kucing untuk selamanya, dan kami berdoa agar kelahiran kembali Maya terjadi dalam
kehidupan yang lebih baik, tempat orang kembar tidak dibenci dan ditakuti.
Takeo berlari menghampiri mereka berdua, lalu memeluk keduanya. Tatapan matanya bersinar, bak
permata. Kemudian dia meng¬hampiri Hisao dan membantunya berdiri lalu memeluknya, atau yang
tadinya kami kira begitu. Tapi sebenarnya dia sedang mencari¬cari senjata rahasia Tribe di balik
pakaian
pemuda itu. Dia menemukan yang dicarinya, menariknya lalu mencengkeramkan tangan pemuda itu
pada pegangannya. Dia tak ber¬henti menatap pemuda itu selagi mengarahkan pisaunya ke perutnya
sendiri, menyayat dan memutarnya. Mata Hisao berkaca-kaca dan ketika Takeo melepaskan
tangannya dan mulai terhuyung-huyung, kaki Hisao juga tertekuk sewaktu terjatuh terkena tatapan
tidur Kikuta.
Takeo jatuh berlutut, di sebelah putranya yang tertidur.
Kematian tak bisa dicegah akibat dari luka di perutnya, mengerikan dan menyakitkan. Aku berkata
kepada Gemba, "Ambil Jato, " dan ketika dia kembali membawa Jato, aku membantu pedang itu
melaksakanan tugas terakhirnya bagi tuannya. Aku takut kalau aku akan mengecewakannya namun
pedang itu memahami kegunaannya sendiri dan melompat dari tanganku.
Udara penuh dengan burung memekik ketakutan, dan bulu emas dan putih beterbangan ke tanah,
menutupi genangan darah yang mengalir dari tubuhnya.
Itulah terakhir kalinya kami melihat burung houou. Mereka telah meninggalkan hutan. Siapa yang tahu
kapan mereka akan kembali?
Pada bagian ini, dia merasa kesedihan meliputi dirinya lagi. Sejenak dibiarkannya perasaan itu
menguasai dirinya, meng¬hormati kematian sahabatnya dengan air mata. Tapi ada satu lagi yang
harus ditulis. Ia mengangkat kuas lagi.
***
Dua dari anak Takeo tinggal bersama kami Kami akan merawat Hisao di sini. Gemba percaya bahwa
dari kejahatan yang sedemikian kejinya bisa lahir sebuah jiwa yang besar. Kita lihat saja nanti. Gemba
mengajaknya masuk ke dalam hutan; anak itu tertarik pada hewan liar dan pemahaman yang
mendalam tentang mereka. Dia sudah mulai membuat ukiran¬uki ran berbentuk hewan itu, yang kami
anggap sebagai pertanda baik. Kami rasa Miki membutuhkan kehadi ran ibunya bila ingin memulihkan
semua kesedihannya, dan aku memintamu untuk memanggilnya. Haruka bisa mengantarnya
kepadamu. Dalam diri Miki sudah terdapat jiwa yang besar, namun dia sangat rapuh. Dia
membutuhkan dirimu.
Makoto menatap ke arah taman lagi dan melihat Miki sedang termangu: dia begitu kurus hingga mirip
hantu. Miki sering meng¬habiskan waktu di sana, tempat ayah dan saudara kembamya meninggal.
Makoto menggulung suratnya lalu menaruhnya bersama dengan surat yang lainnya yang ditulisnya
untuk Kaede. Ia mengulang kisah itu berkali-kali, dengan banyak selingan. Kadang mengungkapkan

Halaman 737 dari 737
rahasia Maya, kadang menggunakan kata¬kata bijak Takeo tentang perpisahan, untuk Kaede, untuk
dirinya sendiri. Versi surat yang jujur tanpa hiasan kata-kata ini dirasakannya hampir mendekati yang
sebenarnya. Kendati demikian, ia tak bisa mengirimkannya karena tidak tahu di mana Kaede berada,
atau apakah dia masih hidup atau sudah mati.*
Daun-daun telah berguguran; pepohonan telah telanjang; burung-burung yang terakhir bermigrasi
telah melintasi langit dalam barisan panjang bak goresan kuas ketika Kaede datang ke Terayama saat
bulan purnama dari bulan kesebelas.
Kaede mengajak kedua anak laki-laki, keponakannya, Sunaomi dan Chikara.
"Aku senang bertemu dengan Sunaomi di sini," ujar Gemba saat keluar menyambut mereka. Dia
sudah pernah bertemu Sunaomi tahun lalu, ketika bocah itu melihat burung houou. "Merupakan
keinginan suamimu bila anak ini ikut dengan kami."
"Mereka tidak tahu lagi harus pergi ke mana," sahut Kaede. Dia tak ingin berkata lebih banyak lagi di
hadapan mereka berdua. "Ikutlah bersama Lord Gemba," desaknya pada mereka. "Lord Gemba akan
menunjuk¬kan tempat tinggal kalian."
"Putrimu sedang ke hutan bersama Haruka untuk mencari jamur." ujar Gemba.
"Putriku ada di sini?" tanya Kaede. Dia merasa hampir pingsan, lalu bertanya dengan tersendatsendat,
"Putriku yang mana?"
"Miki," sahut Gemba. "Lady Otori, mari masuk dan silakan duduk. Kau telah melalui perjalanan
panjang; hari ini cuaca dingin. Aku akan memanggil Makoto dan dia akan menceritakan semuanya
kepadamu."
Kaede menyadari kalau ia berada di ambang kehancuran. Selama berminggu¬minggu merasakan
kalau dirinya sudah mati rasa diterpa kesedihan serta keputusasaan. Ia telah mundur memasuki
keadaan dingin membeku seperti es, seperti yang pernah dialaminya ketika masih muda dan
kesepian. Di tempat ini segalanya mengingatkan dirinya pada Takeo dengan ingatan sebening kaca.
Tanpa sadar ia berkhayal kalau Takeo berada di sini, walau sudah mendengar tentang kabar
kematiannya. Kini dilihatnya betapa bodohnya khayalan itu: Takeo tidak ada di sini; dia telah tiada,
dan ia takkan berjumpa lagi dengannya.
Genta biara berdentang, dan Kaede men¬dengar langkah kaki di seberang lantai papan. Gemba
berkata, "Mari ke aula. Aku akan
minta diambilkan tungku bara, juga teh. Kau tampak kedinginan."
Kebaikan Gemba membuat air matanya berlinang. Chikara juga mulai terisak.
Sunaomi bicara, berusaha menahan tangis, "Jangan menangis, adikku. Kita harus ber¬sikap berani."
"Mari," ajak Gemba. "Kami akan ambil¬kan makanan untuk kalian, dan Kepala Biara kami akan bicara
dengan Lady Otori."
Mereka berdiri di lorong biara di pelataran utama.
Kaede melihat Makoto datang dari arah yang berlawanan, hampir berlari melintasi jalan beraspal di
sela pepohonan ceri yang gundul. Kaede tak sanggup melihat ekspresi di wajah Makoto. Ditutupi
wajahnya dengan lengan bajunya.
Makoto meraih tangan Kaede yang satunya dan menopang tubuhnya, saat menuntunnya dengan
penuh kelembutan menuju ke aula tempat lukisan-lukisan Sesshu disimpan.

Halaman 738 dari 738
"Mari duduk di sini sebentar," ujarnya. Hembusan napas mereka terlihat putih. Seorang biarawan
datang membawa tungku bara, dan tak lama setelah itu kembali
membawa teh, namun tak satu pun dari keduanya meminumnya.
Berusaha untuk bicara, Kaede berkata, "Aku harus menceritakan tentang kedua bocah itu kepadamu.
Zenko dikepung dan dikalahkan oleh Saga Hideki dan Miyoshi Kahei sebulan lalu. Putri sulungku,
Shigeko, ditunangkan dengan Lord Saga. Mereka akan menikah pada Tahun Baru. Tiga Negara
diambil alih oleh Saga, dan akan disatukan dengan sisa wilayah Delapan Pulau di bawah Kaisar.
Takeo meninggalkan surat wasiat yang menyatakan persyaratannya dan Saga menyetujui semuanya.
Shigeko akan memerintah Tiga Negara dengan derajat yang sama dengan Saga. Maruyama akan
diwariskan kepada pewaris keturunan perempuan darinya, dan Saga telah berjanji takkan ada
perubahan dalam cara kami memerintah."
Sesaat Kaede diam membisu.
"Itu hasil akhir yang baik," ujar Makoto lembut. "Tujuan Takeo akan tetap diper¬tahankan dan itu
berarti berakhirnya peperangan."
"Zenko dan Hana diperintahkan bunuh diri," lanjut Kaede. Membicarakan masalah
ini agak membantunya untuk mengendalikan diri. "Sebelum mati, adikku membunuh putra bungsunya
daripada meninggalkannya. Tapi aku berhasil membujuk Lord Saga, melalui putriku, untuk
membiarkan Sunaomi dan Chikara tetap hidup, dengan syarat mereka dibesarkan di sini. Saga adalah
orang yang kejam dan pragmatis: mereka akan selamat selama tidak ada orang yang mencoba
memanfaatkan mereka sebagai pemimpin. Saga akan membunuh mereka bila melihat ada tandatanda
akan hal itu. Tentu saja, mereka akan kehilangan nama keluarganya: Klan Arai harus
dihancurkan. Orang-orang asing diusir dan agama mereka dihancurkan. Kurasa kaum Hidden akan
bersembunyi lagi."
Kaede tengah memikirkan Madaren, adik Takeo. Apa yang akan terjadi padanya? Apakah Don Joao
mengajaknya ikut bersamanya? Atau malah akan ditinggalkan lagi?
"Tentu saja kedua anak itu disambut baik di sini," ujar Makoto. Setelah itu, keduanya diam membisu.
Akhirnya Kaede angkat bicara, "Lord Makoto, aku ingin meminta maaf padamu.
Aku selalu merasa tidak suka, bahkan bersikap tidak ramah padamu, namun kini, dari semua orang
yang ada di dunia ini, hanya kaulah orang yang kuinginkan untuk menemaniku. Bolehkah aku juga
tinggal di sini untuk beberapa waktu?"
"Kau dapat tinggal selama yang kau inginkan. Kehadiranmu bisa menghiburku," sahutnya. "Kita
berdua mencintainya."
Kaede melihat air mata mengambang di pelupuk mata Makoto. Lalu Makoto meraih sesuatu dari
belakangnya dan mengeluarkan segulung kertas dari kotak di lantai, "Aku berusaha menulis semua
yang telah terjadi dengan sejujur-jujurnya. Bacalah saat kau sudah merasa mampu melakukannya."
"Aku harus membacanya sekarang," ujar Kaede, harinya berdebar kencang. "Maukah kau menemani
saat aku membacanya?"
***
Setelah selesai baca, ditaruhnya gulungan kertas itu dan melihat keluar ke arah taman. "Dia duduk di
sini?"
Makoto mengangguk.
"Dan ini layar kasanya?" Kaede berdiri lalu melangkah mendekati. Burung-burung gereja
itu menatapnya dengan sinar mata yang bercahaya. Diulurkan tangannya untuk menyentuh
permukaan lukisan itu.

Halaman 739 dari 739
"Aku tak bisa hidup tanpa dirinya," tiba¬tiba Kaede bicara. "Diriku dipenuhi rasa ber¬salah dan
menyesal. Aku mengusirnya hingga jatuh ke tangan para pembunuhnya. Aku takkan sanggup
memaafkan diriku."
"Tak seorang pun dapat menghindari nasib," bisik Makoto. Kepala biara itu berdiri dan menghampiri
Kaede hingga mereka saling berhadapan. "Aku juga merasa tak akan bisa terlepas dari kesedihanku,
tapi aku berusaha dan menghibur diri dengan mengetahui bahwa Takeo mati dengan cara yang sama
ketika dia hidup: tanpa rasa takut dan tetap welas asih. Dia menerima kalau waktunya telah tiba, dan
meninggal dengan penuh ketenangan. Dimakamkan seperti keinginannya, di samping makam
Shigeru.
Dan seperti Shigeru, dia tidak akan terlupakan. Terlebih lagi, dia meninggalkan anak-anaknya, dua
putri dan seorang putra."
Kaede berpikir, aku tak siap untuk menerima kehadiran putranya. Akankah aku siap menerimanya?
Dalam hatiku, yang bisa kurasakan hanyalah kebencian kepadanya dan
kecemburuan pada ibunya. Seka rang Takeo berada bersama Yuki. Akankah mereka bersama dalam
semua kehidupan masa datang mereka, akankah aku bisa berjumpa lagi dengannya? Apakah jiwa
kami akan terpisahkan untuk selamanya?
"Putranya mengatakan bahwa para arwah kini sudah beristirahat dengan tenang," lanjut Makoto.
"Arwah ibunya telah meng¬hantui seumur hidupnya, tapi kini dia telah terbebas darinya. Kami rasa dia
adalah seorang shaman. Bila penyimpangan dalam dirinya bisa diluruskan, maka dia bisa men¬jadi
sumber kearifan dan karunia."
"Maukah kau tunjukkan tempat suamiku meninggal?" bisik Kaede.
Makoto mengangguk dan melangkah keluar ke beranda. Kaede memakai sandal. Sinar matahari kian
meredup; taman kehilangan semua warnanya, tapi di atas batu-batu tempat Takeo meninggal ada
percikan darah, mengering hingga berwarna kecoklatan. Kaede membayangkan kejadian¬nya, tangan
Takeo memegang pisau itu, bilahnya menembus tubuhnya, darah ter¬pancar dari tubuhnya.
Kaede terpuruk di atas tanah, menangis hingga tubuhnya terguncang.
Aku akan melakukan hal yang sama, pikirnya. Aku tak tahan menanggung beban derita ini.
Diraba pisau miliknya, pisau yang selalu ada di balik jubahnya. Sudah berapa kali ia berencana
mencabut nyawanya sendiri? Di Inuyama, di rumahnya di Shirakawa, kemudian berjanji kepada
Takeo untuk tidak menghabisi nyawanya sendiri sampai Takeo mati lebih dulu. Diingatnya dengan
hati pedih kata-kata yang ia ucapkan pada Takeo. Ia memaksa suaminya untuk menghabisi nyawanya
sendiri, dan dia telah melakukan¬nya. Kini ia akan melakukan hal yang sama. Dirasakannya sebersit
kebahagiaan. Jiwa dan raganya akan mengikuti suaminya.
Aku harus melakukan dengan cepat, pikirnya. Jangan sampai Makoto menghalangi.
Tapi bukan Makoto yang membuat pisau itu terjatuh dari tangannya; tapi teriakan seorang gadis dari
aula yang mencegahnya, "Ibu!"
Miki berlari ke taman, telanjang kaki, rambutnya tergerai. "Ibu! Ibu sudah datang!"
Kaede melihat dengan terkejut betapa saat ini Miki sangat mirip Takeo, lalu melihat dirinya sendiri
dalam diri putrinya, di usia itu, di ambang kedewasaan. Dulu ia adalah sandera, sendirian dan tidak
terlindung: sepanjang masa remajanya, ibunya tidak berada di sampingnya. Dilihatnya kesedihan Miki
dan berpikir, Aku tidak bisa menambah kesedihannya. Teringat olehnya kalau Miki telah kehilangan
saudara kembarnya dan air matanya berlinang lagi menangisi Maya, menangisi anaknya. Aku harus
hidup demi Miki, dan demi Sunaomi juga Chikara. Dan tentu saja, demi Shigeko, dan bahkan demi
Hisao, atau apa pun namanya: demi semua anak Takeo, demi semua anak kami.
Diangkatnya pisau itu lalu dilempamya jauh-jauh, kemudian membentangkan kedua tangannya untuk
memeluk putrinya.

Halaman 740 dari 740
Sekawanan burung gereja hinggap di bebatuan dan rerumputan di sekiiar mereka, memenuhi udara
dengan kicauannya. Kemudian seolah ada sinyal dari kejauhan, burung-burung itu naik bersamaan
lalu terbang jauh memasuki hutan. ***
TAMAT
UCAPAN TKRIMA KASIH
Saya ingin berterima kasih kepada:
Asialink atas beasiswa yang memungkinkan saya pergi ke Jepang selama dua belas minggu di tahun
1999-2000; Australian Council dan Department Luar Negeri dan Perdagangan yang telah mendukung
program Asialink; Kedutaan Besar Australia di Tokyo; Akiyoshidai International Arts Village,
Yamaguchi Prefecture, yang telah mensponsori saya selama masa tersebut; ArtsSA, the South
Australian Department for the Arts, yang telah memberi kesempatan saya untuk menulis; Urinko
Gekidan di Nagoya karena telah mengajak saya untuk bekerja dengan mereka di tahun 2003.
Suami dan anak-anak saya yang telah menyokong dan menyemangati saya dengan berbagai cara,
Di Jepang, Kimura Miyo, Mogi Masaru, Mogi Akiko, Tokuriki Masako, Tokuriki Miki, Santo Yuko, Mark
Brachmann, Maxine McArthur, Kori Manami, Yamaguchi Hiroi, Hosokawa Fumimasa,
Imahori Goro, Imahori Yoko, dan
orang¬orang lainnya yang telah
membantu dengan riset dan
memandu.