Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Naskah Tua

Naskah Tua

Asih Suwarsy

Kembali seperti tadi. Terdengar dering dari Handphoneku Jemari meng offkan
dan kuletakkan di dalam lemari. Aku tidak ingin diganggu. Aku ingin istirahat.
Tidak bisakah istirahat walau sejenak?
Aku melangkah mendekati jendela kamar yang kacanya tampak buram. Ku
dorong jendela agak lebih lebar agar hawa segar leluasa masuk ke dalam kamar.
Kuhirup udara dengan pelan, sungguh menyegarkan. Sejak tadi hanya berkutat
dengan komputer membuatku lupa untuk berdiri sekedar merenggangkan tubuh.
Dari sini, di lantai dua rumah mama memang sangat memanjakan mata.
Keindahan bunga di taman menyejukkan pandangan mata. Sungguh membuat
aku nyaman setelah beberapa hari tinggal di rumah mama. Kulihat Pak Haryo,
pengurus kebun dan taman mama berlari-lari mendekati seseorang yang sedang
berdiri di depan pagar.
Seorang pemuda yang lumayan tampan berdiri dengan tenang menanti Pak
Haryo mendekatinya. Aku membiarkan mataku melihat keindahan yang lain dari
tempat ini. Menatap wajah tampan setelah jenuh dengan kegiatan.
Tampak ada senyum terlempar dari bibir pemuda itu ketika berhadapan dengan
Pak Haryo, dia memberikan sesuatu ke Pak Haryo. Aku tidak jelas melihatnya
karena terhalang oleh tubuh Pak Haryo yang membelakangiku. Setelah itu dia
kemudian pergi meninggalkan Pak Haryo. Tapi belum lama melangkah, tiba-tiba
dia berbalik. Aku tersentak kaget karena dia memandangku sambil tersenyum.
Aku yang tidak siap menerima senyuman dari seseorang yang berwajah tampan
dan tidak aku kenal, membalasnya dengan tersenyum pula.
Dia kemudian berbalik lagi lalu melangkah. Kupandangi tubuhnya yang makin
jauh dengan senyum masih tersungging di wajahku. Aku tidak sadar berapa
lama aku tersenyum sendiri sampai kemudian kurasakan sentuhan lembut
dibahuku.
” Namanya, Hadi. Dia tinggal tidak jauh dari sini.” suara mama mengagetkanku.
Aku menoleh memandang mama.
” Mama? Sejak kapan mama dibelakangku?” tanyaku kaget. Mama merangkulku.
” Sejak kamu melihat Hadi. Bagaimana? Dia tampan kan?” pertanyaan mama
membuatku tersipu. Mama seolah tahu yang aku pikirkan.
” Dia anak Pak Haryo.”
” Anak Pak Haryo? Penjaga kebun mama?” mama mengangguk.
” Dia kuliah di kota. Sekarang lagi nyusun skripsi. Makanya dia kembali ke sini
untuk menyusun skripsinya. Sama seperti kamu dia juga sibuk mengetik, cuma
bedanya kamu mengarang cerpen sedangkan dia mengetik skripsinya.”
” Dia tinggal dimana, ma? Pak Haryo kan tinggal bersama kita disini.”
” Dia juga tinggal disini.” Jawab mama pelan. Kurasakan mataku membelalak
karena kaget.
” Hah?? yang benar ma? Kenapa selama dua hari ini dia tidak kelihatan?” mama
mencubit hidungku.
” Dasar anak mama. Kamu lupa ya? Dua hari ini kamu terus mendekam dikamar.
Bagaimana kamu bisa melihatnya? Padahal dia selalu hilir mudik di dalam
rumah.” Ada sesal yang timbul dalam hatiku. Mengapa aku tidak menyadari
didalam rumah mama ada tinggal seorang pemuda tampan? Sepertinya mulai
sekarang aku harus rajin- rajin keluar kamar. Biarlah untuk sementara aku santai
saja mengerjakan ketikan untuk novelku. Toh mas Ivan juga tidak terlalu ngotot
memintaku untuk segera menyelesaikannya. Ada dua naskah yang aku serahkan
kemarin. Dia bisa memilih naskah mana yang ingin dia terbitkan lebih dulu.
” Mama turun dulu, ya. Jangan lupa, bentar lagi makan siang. Kamu turun
makan bareng sama mama. Dua hari ini, mbok Karmi yang terus membawa
makanan kekamarmu. Bagaimana bisa kenalan dengan Hadi?” mama tersenyum
sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku membalas dengan senyum sambil
mengangguk.
Setelah mama keluar dari kamarku. Aku kembali duduk di depan komputer.
Mataku melihat layar komputer. Ada pesan masuk di facebook, dari Nando.
Kubuka pesan dari Nando..
Kamu marah, ya? Handphonemu tidak aktif sejak tadi. Demi, jangan bersikap
seperti ini. Kelakuanmu seperti anak-anak.
Kupandangi pesan di inbox facebook dengan rasa gundah. Nando tidak
kehabisan akal untuk menghubungiku. Setelah handphone aku matikan, dia
memilih cara lain untuk menghubungiku. Menaruh pesan di facebook. Kulihat
jam dipesan itu. Dia baru saja mengirimnya. Aku keluar dari facebook. Percuma
mengaktifkannya kalau hanya untuk membaca pesan dari Nando.
Rasa marahku belum hilang tiap kali mengingat bagaimana Nando sudah
membohongiku. Selama ini ternyata dia backstreet dengan Yeni. Nando memang
bukan pacarku, dia hanya sahabatku. Aku tidak sepantasnya marah kalau dia
mempunyai pacar. Aku kesal karena tidak berterus terang padaku. Apa susahnya
berterus terang. Aku toh tidak akan marah. Aku justru akan bahagia bila
sahabatku menemukan tambatan hati. Tapi Nando tidak mengerti itu. Dia
membiarkan aku berpikir kalau dia masih sendiri. Hingga suatu saat aku
bertengkar dengan Yeni. Aku marah karena Yeni menggunakan uang kelompok
tanpa memberitahu kami. Kami tergabung dalam suatu kelompok yang semua
anggotanya adalah penulis cerpen. Ada dana operasional yang rutin kami
kumpulkan setiap bulan. Uang itulah yang dipakai Yeni dengan diam-diam.
Semua terungkap saat Retno heran dengan semua tagihan yang datang karena
belum terbayar. Saat itulah aku mendatangi Yeni yang bertugas sebagai
bendahara. Ternyata semua tagihan itu tak satupun yang dibayar. Aku berharap
Yeni meminta maaf karena sudah khilaf. Tapi sikap yang aku terima jauh dari
yang aku harapkan, Yeni malah marah-marah dan menuduhku yang telah
menggunakan sebagian dana itu sewaktu kami mengadakan kunjungan ke suatu
daerah. Aku yang semula bersikap sabar akhirnya tak tahan juga. Adu mulut
kami berakhir saat aku menampar Yeni. Saat itulah Nando langsung melerai. Dia
bukannya menenangkan aku tapi malah merangkul Yeni. Rasa emosi dan
terkejut karena melihat kenyataan didepanku membuatku tak sanggup berkatakata.
Nafaasku tidak beraturan karena amarah yang meledak.
” Demi, tidak bisakah kamu mengendalikan emosimu? Kenapa selalu orangorang
yang ada disekitarmu kamu sakiti?” Nando menatapku tajam. Dia masih
merangkul Yeni. Yeni hanya menangis. Aku mencibir. Sepertinya Yeni tahu betul
memanfaatkan kelemahan Nando. Dia terus menangis tanpa mengeluarkan satu
katapun.
” Kamu baru saja datang, Nando. Kamu tanya saja dia! Aku pulang dulu.” aku
segera keluar lalu mengambil tas dan mapku yang ada di atas meja. Retno
mengejarku saat aku berjalan keluar menuju mobilku.
” Mbak Demi, kenapa tidak menjelaskan semuanya ke Nando?” tanyanya sambil
menahan pintu mobil yang hendak aku tutup.
” Aku pergi dulu, Ret. Aku mau menenangkan diri dulu.” segera kutarik pintu
mobil. Retno melepasku dengan wajah cemas. Kulihat lewat kaca mobil, dia
masih berdiri memandangku. Aku benar-benar marah. Marah karena perbuatan
Yeni, marah karena kata-kata Nando yang menyudutkanku. Terutama aku marah
karena sikap Nando ke Yeni. Harus aku akui mungkin karena itulah aku menjadi
lebih marah. Aku shock melihat keakraban mereka. Nando yang aku tahu tidak
pernah bersikap lembut ke pada perempuan lain selain terhadapku tiba-tiba
memperlihatkan pemandangan itu didepanku.Mataku sakit melihatnya.
Kujalankan mobil dengan kencang. Aku tidak tahu rasa apa yang tengah
berkecamuk dalam hatiku saat ini. Aku tidak suka dengan kedekatan Nando dan
Yeni. Terlebih karena perubahan sikap Nando padaku. Nando tidak pernah
berkata keras padaku. Tapi yang tadi dilakukannya, membuatku terkejut. Nando
menuduhku telah menyakit Yeni. Tuduhan yang yang tidak berdasar. Aku muak
untuk menjelaskan. Hatiku sudah terlanjur kecewa. Laju mobilku tak terasa tiba
dirumah mama. Aku katakan rumah mama karena mama dan papa sudah
bercerai sejak aku masih kecil. Mama memilih tidak menikah sementara papa
menikah dengan sekretarisnya, tante Silvi. Aku sendiri lebih senang tinggal di
rumahku. Sebuah rumah type 54 dengan model minimalis yang dibeli papa
untukku.
” Non Demi, dipanggil nyonya. Katanya disuruh ke bawah untuk makan siang.”
Suara mbok Karmi membuyarkan lamunanku. Segera mematikan komputer lalu
bergegas turun ke ruang makan. Sampai dibawah aku melihat pemandangan
yang tidak biasa. Di meja makan telah berkumpul mama, Pak Haryo, mbok Karmi
dan si tampan yang tadi aku lihat, Hadi. Mama mengajakku bergabung setelah
melihatku terdiam beberapa saat karena terkejut dengan apa yang baru aku
lihat.
” Ayo, sayang. Selama ini kamu makan di kamar, makan sendiri. Nggak enak lho
makan sendiri. Begini lebih nikmat, makan bareng-bareng.” mama
menyendokkan nasi untukku. Menunjukkan lauk yang kira-kira aku sukai.Aku
masih kikuk dengan suasana yang tidak biasa ini. Untunglah mama segera
menyadari situasi. Satu persatu lauk tersaji diatas nasi yang tadi mama ambilkan
untukku. Mama menaruhnya di depanku. Pak Haryo, mbok Karmi dan Hadi
menatapku. Mereka tersenyum. Aku membalas senyum mereka lalu cepat-cepat
menyendokkan makanan ke mulutku.
***
Selama makan sekali-kali aku melirik Hadi. Mama terlihat begitu memperhatikan
Hadi, seolah Hadi adalah anaknya sendiri. Tapi aku harus memberi jempol untuk
mama. Baru kali ini aku melihat majikan dan pembantunya makan bersamasama
dalam satu meja. Mama terlihat lepas. Begitu juga dengan Pak Haryo
beserta istri, mbok Karmi dan anaknya Hadi. Tak ada kesan kalau mereka adalah
majikan dan pembantu. Sebuah harmoni kehidupan yang membuatku terpesona.
Suasana keakraban tercipta lewat obrolan-obrolan diantara mereka. Aku hanya
menyimak sambil menikmati makananku. Lidahku rasanya kelu. Tak bisa
berkata-kata. Sejak kecil terbiasa di asuh papa dengan sikap yang berbeda
dalam memperlakukan pembantu membuatku tak terbiasa harus mengobrol
dengan mereka di saat sedang makan seperti ini.
” Nak, Hadi. Kalau ada waktu, kapan-kapan ajak Demi keliling bukit ini ya? Demi
biasa kesini tapi hanya diam dikamar. Tidak pernah berjalan-jalan melihat
pemandangan, padahal sekitar tempat ini sangat menarik lho, sayang.” mama
menoleh padaku. Aku menatap Hadi sekilas. Dia mengangguk lalu pandangannya
beralih dari mama ke aku. Senyumnya yang menawan serasa menekan
kerongkonganku hingga aku harus meraih gelas berisi air yang ada didepanku.
Aku melihat ke arah lain. Apa ini hanya perasaanku saja ataukah Hadi yang
merasa sok cakep. Aku merasa saat aku melihat ketempat lain, ekor mataku
seolah melihatnya menatapku. Segera aku menoleh untuk memastikan pikiranku,
ternyata benar. Dia menatapku dengan tatapan mata yang membuatku
gemetaran.
Cepat-cepat kuselesaikan makanku lalu pamit ke mama untuk kembali
kekamarku.
” Sayang, ntar sore Hadi bersedia menamani kamu jalan-jalan. Jadi kamu siapsiap
saja, ya.”
Aku mengangguk lalu berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Saat kakiku
menaiki anak tangga satu persatu, iseng aku berbalik melihat ke meja makan.
Pandanganku bertemu dengan mata Hadi yang tengah melihatku. Aku gugup tak
menyangka Hadi masih memperhatikan aku. Karena gugup tak sengaja kakiku
terpeleset. Aku terjatuh menuruni beberapa anak tangga. Saat itulah sebuah
tangan menahanku. Aku melihatnya. Hadi memelukku dari belakang, menahan
tubuhku agar tak terjatuh lagi.
Aku bangun lalu mengucapkan terima kasih dengan dada berdebar. Kulihat
mama, Pak Haryo dan mbok Karni menatapku dengan wajah cemas.
” Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” mama mendekatiku memeriksa tubuhku,
mungkin ada yang terluka.
” Nggak apa-apa kok, ma. Hanya terkilir. Kakiku yang terasa sakit.”
” Kaki yang mana? Kalau kamu nggak kuat naik ke atas, biar Hadi yang bantuin
kamu.” ucap mama dengan suara bergetar. Aku menggeleng. Tawaran itu
sungguh menarik. Tapi tidak untuk sekarang. Jantungku bisa lepas kalau sampai
Hadi memapahku naik kekamarku. Sekarang saja debarnya tak bisa lagi aku
tahan.Masih dengan menahan rasa sakit pelan-pelan aku menaiki anak tangga.
Aku baru bernafas lega setelah tiba dikamarku. Tempat tidur terasa sangat
nyaman saat ini. Aku berbaring. Meluruskan kakiku yang tadi terkilir. Baru terasa
sakitnya. Kuperhatikan tumitku berdarah. Kulitnya terkelupas. Sebagian betisku
juga tergores. Benar-benar perih.
Tiba-tiba pintu terbuka. Dari balik pintu menyembul wajah Hadi. Dia tersenyum
lalu bergerak masuk ke dalam kamarku. Aku hanya melongo menatapnya
melenggang mulus tanpa rasa sungkan padahal yang dia masuki sekarang ini
adalah kamar perempuan..
” Ke..ke..napa kamu masuk kemari? Aku kan tidak memanggilmu?” tanyaku
setelah kuraih selimut untuk menutupi kakiku. Hadi hanya tersenyum.
” Mamamu yang menyuruhku kemari. Karena mamamu sudah aku anggap
seperti ibuku sendiri, maka aku juga akan menganggapmu sebagai adikku.” Dia
menyerahkan obat luka dan kapas.
” Pakai ini. Mudah-mudahan lukamu cepat sembuh. Ehm..apa rencana nanti sore
kita batalkan saja? Kamu habis terjatuh tentu tidak nyaman untuk berjalan-jalan
dengan kondisi kaki yang luka.”
” Iya. Aku belum bisa. Nanti saja kalau kakiku sudah sembuh.”
Hadi berdiri setelah sebelumnya dia duduk ditempat tidurku. Dia menuju meja
komputerku. Melihat kertas-kertas yang berserakan diatas meja. Dia mengambil
selembar lalu membacanya. Sementara sambil menahan perih, aku terus
mengolesi luka di kaki dan betisku.
” Kamu pengarang ya?” Hadi bertanya tanpa berbalik.
” Iya. Kenapa?”
” Aku baru baca selembar. Tapi sepertinya tulisanmu masih perlu polesan.”
Aku menghentikan mengolesi lukaku dengan obat. Kupandangi Hadi yang
membelakangiku. Aku penasaran dengan kata-katanya. Baru kali ini ada yang
mengatakan kalau tulisanku perlu polesan.
” Maksudmu?”
” Iya. Aku bukan ingin membandingkan tulisanmu dengan tulisan-tulisan yang
pernah aku baca. Tapi apa selama ini kamu banyak membaca tulisan-tulisan
pengarang lain?”
” Iya. Aku jelas harus banyak membaca untuk menambah pengetahuan. Bukan
hanya membaca novel tapi juga tulisan-tulisan yang berkaitan dengan judul
tulisanku.” jawabku.
Hadi berbalik.
” Aku punya koleksi naskah cerita. Aku tidak tahu apa menurutmu cerita yang
ada di naskah itu menarik atau tidak. Aku hanya ingin kamu melihatnya.”
” Untuk apa aku melihatnya?” tanyaku heran.
” Naskah itu terlihat sudah sangat tua. Tulisannya sudah sangat buram.
Kertasnya juga sudah berwarna coklat. Aku menemukannya di lantai bawah
rumah ini. Tapi saat membacanya, aku merasa cerita itu aneh. Kalau melihat
model kertasnya, pastinya umurnya sudah sangat tua. Tapi jika membaca
ceritanya, maka kondisinya pas dengan keadaan kita sekarang. Disana
disebutkan handphone, internet, masih banyak lagi. Padahal kalau dibanding
dengan usia, jelas kertas itu jauh lebih tua.”
” Mungkin kertas itu terkena hujan.” kataku mencoba berpikir realistis.
” Kalau seperti itu, tulisannya pasti akan ikut hilang. Tapi ini tidak. Jelas-jelas
kertas itu berubah karena termakan usia. Sementara tulisannya menggunakan
tulisan EYD. Anehkan? Seingatku, beberapa puluh tahun sebelumnya bahasa
yang dipakai menggunakan ejaan lama yang antara tulisan dan bacaan ada yang
tidak sama. Misalnya kata Jang jaman dulu dibaca yang. Tapi tulisan dikertas itu
menggunakan ejaan sekarang. Coba kamu pikir, bagaimana orang dulu
menggunakan ejaan jaman sekarang?” aku makin tertarik dengan ulasan yang
dipaparkan Hadi. Sepertinya naskah yang dia maksud benar-benar menarik
untuk dibaca.
” Kapan aku bisa melihatnya?” tanyaku akhirnya. Aku jadi ingin membacanya.
” Aku menaruhnya di gudang. Kalau kamu berminat, sekarang juga aku akan
kesana untuk mengambilnya.”
” Iya. Aku ingin membacanya. Kebetulan saat ini aku lagi hang. Semua ide
lenyap dari kepalaku. Padahal aku masih harus membuat beberapa cerita lagi.”
” Baiklah. Aku pergi sekarang. Oh, ya obatnya kamu simpan disini saja.”
Hadi kemudian keluar dari kamarku. Setelah mengolesi lukaku dengan obat aku
beranjak menuju meja komputerku. Mencoba membaca kembali tulisanku yang
tadi dikritik Hadi. Aku mengambil selembar. Kubaca berulang-ulang. Tetap saja
aku tidak menemukan hal-hal yang perlu polesan. Atau mungkin karena ini
adalah hasil karyaku, jadi aku sama sekali tidak melihat cela untuk aku kritik.
Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Hadi muncul dengan sebuah
naskah ditangannya. Dia menyerahkan naskah itu.
” Sekarang coba kamu liat sendiri lalu bandingkan. Kertas itu dari tahun
sekarang atau dari beberapa tahun yang lalu?”
Aku memperhatikan naskah yang kini berada ditanganku. Benar kertasnya sudah
terlalu tua. Walaupun kertas sekarang terkena hujan, pasti bentuknya akan lain.
Sementara kertas ini terlihat terawat. Hanya karena termakan usia menjadikan
warnanya menjadi coklat. Aku mulai membaca kalimat demi kalimat. Dari
judulnya tidak bisa ditebak dari tahun berapa tulisan ini dibuat. Tapi melihat
susunan kalimat-kalimatnya, sepertinya tulisan ini baru dibuat dalam tahuntahun
terakhir. Tapi bagaimana bisa?
” Aku tinggalkan naskah ini disini. Oh, ya aku hanya membawa satu naskah
kemari. Masih banyak lagi digudang. Tapi sebagai permulaan untuk kamu baca,
cukuplah itu saja. Kalau nanti kamu penasaran, cukup bilang sama aku. Nanti
aku akan bawa kemari. Aku kebawah dulu, tadi mamamu memanggilku”
” Makasih Hadi.” ucapku saat dia mendekati pintu. Hadi berbalik sambil
tersenyum. Dia menarik pintu, menutupnya setelah dia berada diluar. Aku
kembali ke pembaringan. Sepertinya membaca tulisan ini lebih nyaman sambil
menyandarkan tubuh dibantal. Aku meraih bantal, menaruhnya di ujung tempat
tidur. Aku mengatur posisi dudukku agar terasa nyaman. Setelah itu aku mulai
membaca kalimat demi kalimat dalam naskah tersebut. Baru membaca lembaran
pertama, aku sudah mulai tertarik. Cerita awal sudah membuat aku penasaran
untuk terus membaca kelanjutannya. Aku terus membaca hingga tak terasa hari
sudah sore saat aku menyelesaikan membaca dan meresapi setiap kalimat dari
tulisan tersebut. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam kepalaku.
Aku melangkah keluar kamar. Menuruni anak tangga satu persatu. Saat itu aku
melihat mbok Karmi melintas di ruang tengah. Aku langsung memanggilnya,
mbok Karmi mendongak melihat dari bawah. Dia segera mendatangiku begitu
aku memanggilnya.
” Tolong panggilkan Hadi,mbok.” kataku. Mbok Karmi dengan terburu-buru
melangkah menuju dapur. Sementara aku kembali kekamarku. Aku memegang
lagi naskah itu. Semoga Hadi menerima ide yang aku usulkan. Dalam kepalaku
sudah terbayang berbagai macam rencana. Semua berkaitan dengan naskah tua
ini. Naskah tua tapi cerita didalamnya benar-benar baru.
” Kamu mencariku?” Hadi muncul dengan nafas tersengal-sengal. Mungkin dia
berlari saat menuju kemari.
” Iya. Kemari dan duduklah. Aku punya ide yang menurutku sangat cemerlang.
Begini bagaimana kalau naskah ini aku daur ulang? Maksudnya aku ketik ulang
lalu aku bawa ke penerbit. Karena ternyata setelah aku baca, naskah ini benarbenar
menarik dan layak untuk diterbitkan. Aku heran siapa pengarang dari
naskah ini. Sama sekali tidak ada nama atau petunjuk yang menggambarkan
tentang penulisnya.”
” Aku juga tidak tahu siapa yang menulis naskah itu karena saat aku temukan
beberapa bulan yang lalu, ayahku juga tidak tahu kapan naskah itu ada di
gudang. Ehm..soal rencanamu untuk mendaur ulang, aku rasa itu ide yang
bagus. Karena aku juga menilai, tulisan dalam naskah itu tidak kalah dengan
novel-novel yang pernah aku baca.”
” Jadi kamu setuju, kalau aku mengetiknya kembali? Aku yakin naskah ini setelah
jadi novel akan jadi best seller.”
Hadi mengangguk setuju. Akhirnya sore itu kami sepakat untuk menjalankan
proyek ini berdua. Proyek yang membuatku berdebar-debar karena kami tidak
tahu siapa pengarang sebenarnya dari naskah misterius itu. Aku hanya
menganggap mungkin ini adalah jawaban dari doa-doaku karena sampai
sekarang beberapa ide yang aku tuangkan dalam tulisan selalu macet dan
terhenti setelah beberapa halaman ketikan.
***
” Demi?? Dua minggu ini kamu kemana? Teman-temanmu resah mencarimu.”
sambut mas Ivan saat aku muncul dikantornya. Aku duduk di kursi didepan
mejanya.
” Mencari ide, mas. Kadang ide harus dicari melalui beberapa petualangan.”
kataku sambil tersenyum.
” Kamu bisa saja. Bagaimana? Kamu tentu kemari tidak untuk menyapa aku kan?
ha..ha.. “
Mas Ivan tertawa. Tawa yang aku suka.
” Apa ini ada hubungannya dengan telponmu semalam?” aku mengangguk
cepat.
” Benar, mas. Aku ingin mas menunda dulu untuk menerbitkan novelku. Aku
ingin mas membaca dulu naskah ini. Aku yakin ini lebih keren dari tulisan-tulisan
yang pernah aku buat.” aku menyorongkan naskah itu ke mas Ivan.
” Pasti sesuatu yang istimewa hingga kamu rela menunda dua tulisanmu untuk
diterbitkan.”
” Benar, mas. Ini proyek uji coba. Kalau tulisan ini diterima masyarakat, maka
akan terus berlanjut dengan cerita-cerita yang lebih menarik.”
Mas Ivan membuka naskah yang aku berikan. Kubiarkan dia tenang
membacanya dengan cara tak mengajaknya berbicara. Aku ingin mas Ivan
menyimak tulisan itu sebelum memutuskan menerimanya. Tapi berdasarkan
pengalamanku, setiap tulisan yang aku berikan, mas ivan selalu menerimanya
dengan senang hati.
Perkiraanku tepat. Kulihat mas Ivan tersenyum saat membaca tulisanku. Dia
kemudian membaca bagian akhirnya sebelum dia menutup naskah itu lalu
menaruhnya diatas meja.
” Aku sudah membaca garis besarnya. Aku yakin, novelmu akan laris manis.”
” Jadi mas setuju? Menurut perkiraanku juga begitu, mas. Syukurlah, karena mas
juga sependapat denganku. Baiklah sekarang aku permisi dulu, aku mau
menemui teman-teman.”
Aku pamit dan meninggalkan ruangan mas Ivan. Saat keluar tak sengaja aku
menabrak tubuh seseorang . Kami berdua kaget saat saling memandang.
” Demi?”
” Nando?”
” Aku ingin bicara denganmu. Penting.” Nando menarik tanganku. Dia
mengajakku ke parkiran. Diparkiran ada sebuah pohon besar yang biasa di pakai
untuk tempat berteduh. Bangku kayu yang disediakan disana membuat nyaman
siapapun yang sedang gerah dan ingin menikmati sejuknya semilir angin yang
berhembus.
” Kenapa seminggu ini kamu menghilang? Aku mencarimu kesana kemari.
Handphonemu juga tidak aktif. Apa kamu marah karena kejadian hari itu?” Aku
terdiam. Aku tidak merasakan lagi emosi yang ada waktu itu. Ternyata ada
gunanya juga menyepi. Amarah dalam diri sirna juga.
” Waktu itu aku marah tapi sekarang tidak lagi. Aku pikir-pikir tak ada gunanya
aku marah padamu.”
” Demi, aku mencarimu berhari-hari untuk menjelaskan tentang masalah waktu
itu. Aku ingin minta maaf karena sudah berkata keras padamu. Padahal waktu
itu aku tidak tahu masalah yang sebenarnya. Setelah Retno menjelaskan aku
baru mengerti. Sekarang Yeni tidak bersama kita lagi. Aku memintanya
mengganti semua uang yang telah dia pakai, setelah itu dia harus keluar dari
kelompok kita.”
” Keluar? Jadi Yeni sudah keluar? Kapan?”
” Sudah empat hari. Dia sudah minta maaf tapi menurutku minta maaf saja tidak
cukup. Yang kita butuhkan adalah kepercayaan. Menangani keuangan tentu
harus orang-orang yang jujur. Kita akan terus khawatir kalau orang itu pernah
berbuat salah.”
” Seharusnya dia tidak perlu keluar.” kataku. Aku jadi menyesal karena telah
membuat Yeni keluar dari kelompok kami.
” Sudahlah, jangan menyesali keputusan yang sudah aku ambil.”
” Tapi Yeni kan pacarmu?” aku baru mengingat hal itu. Nando tertawa. Dia
menepuk-nepuk pundakku.
” Kamu ini sahabat macam apa, sih? Masak aku tidak mengenalkan pacarku
sama kamu kalau memang aku memiliki pacar. Aku hanya refleks waktu itu,
karena aku kaget kamu tiba-tiba menamparnya.”
” Jadi diantara kalian tidak ada hubungan special.”
” Ha..ha.. nasi goreng kali spesial..jelas saja tidak ada, sudahlah jangan
membicarakan itu lagi. Aku ingin tahu, dua minggu menghilang ide apa yang
sudah ada dikepalamu. Semalam mas Ivan menelponku, katanya kamu punya
cerita bagus. Katamu ini bisa jadi best seller. Benarkah?”
” Mas Ivan bilang begitu? Padahal aku menyampaikan itu untuk meyakinkan mas
Ivan. Itu hanya dugaanku saja. Kita lihat saja nanti. Sepertinya mas Ivan ingin
langsung mencetak dan menerbitkannya. Dia sama tak sabarnya denganku…
ha..ha…..”
” Aku jadi penasaran. Seberapa dahsyatnya sih.ceritamu itu sampai mas Ivan
pun terhipnotis.”
Aku hanya tersenyum. Kubiarkan Nando dengan rasa penasarannya. Aku makin
tidak sabar menunggu keluarnya novel terbaruku. Apalagi baru saja mas Ivan
mengirim pesan singkat di hanphoneku. Dia menjanjikan dalam waktu satu bulan
novelku itu akan segera diterbitkan. Benar-benar fantastis. Padahal biasanya
butuh waktu dua bulan, untuk aku menunggu sebelum novelku benar-benar
diterbitkan.
Hari-hari berlalu. Aku menjalankan rutinitas harianku seperti biasa. Menggarap
proyek novel berseri bersama Hadi. Tapi kali ini kami tak hanya berdua. Aku
mengajak serta sahabatku, Nando. Bukan karena dia sahabatku sehingga aku
mengajaknya. Tapi karena cara dia memohon yang membuatku jatuh iba dan
akhirnya mengikutkan dia dalam kegiatan kami. Tapi tentu saja aku telah
mengultimatum agar dia merahasiakan kegiatan kami. Aku tidak
mempermasalahkan keuntungan yang nanti kami dapatkan akan kami bagi tiga.
Karena bukan itu tujuanku. Aku hanya kasihan melihat naskah sebagus itu harus
teronggok di gudang tua milik mama.
***
Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Novelku siap untuk di
luncurkan. Mas Ivan begitu bersemangat mempromosikan. Aku jadi terharu
melihatnya. Ternyata naskah dari gudang tua milik mama benar-benar membuat
semua orang tertarik untuk membeli. Aku tidak menyangka sambutan
masyarakat begitu heboh.
Aku menunggu dengan cemas laporan dari hasil penjualan novelku. Sambil
menunggu, kami melanjutkan kegiatan kami. Kadang seharian aku, Hadi dan
Nando berada digudang mama. Karena Naskah itu susunannya tidak teratur jadi
membutuhkan waktu untuk menyusunnya menjadi sebuah serial. Ruang
perpustakaan dirumah mama menjadi tempat kami mengetik naskah itu. Kami
ingin agar seri kedua dari novel itu siap saat mas Ivan memintanya.
Pagi itu saat sarapan di ruang makan handphoneku berdering. Telpon dari
Nando.
” Demi, kamu liat tivi cepat.” pintanya dengan nada cemas. Aku segera berlari ke
ruang tengah melihat siaran tivi. Nando mengucapkan nama stasiun tivi yang
harus aku liat. Aku segera mengubah channelnya. Berita kecelakaan beruntun
ditengah kota.
” Kenapa, ndo? Apa ada teman kita yang kecelakaan?”
” Bukan! Kecelakaan itu terjadi di jalan yang sama dengan cerita di novelmu!”
” Masak sih?” aku memperhatikan lagi berita yang ada di tivi.
” Benarkan? Ceritanya sama. Hari, jam, nama jalan, jumlah mobil, bahkan
jumlah yang tewas dan terluka. Semuanya sama. Aku baru memperhatikan ini,
Mi. Kemarin ada juga berita yang sama persis dengan isi dalam novelmu. Hanya
kemarin aku menganggapnya sebagai kebetulan. Tapi hari ini aku betul-betul
cemas. Kenapa ceritanya sama persis? Dalam novelmu juga, setelah kecelakaan
hari ini, maka besoknya terjadi kecelakaan lagi. Sama, mi. Persis!”
Aku mendengarkan ucapan Nando sambil terus menyimak berita di tivi.
” Demi!mi, kamu masih disitukan? Mi!”
” Ya. Aku masih mendengarkan.”
” Masih ada dua lagi kecelakaan dalam novelmu. Itu terjadi tiga hari setelah hari
ini. Nama jalan, berapa jumlah mobil yang mengalami kecelakaan, jumlah
korban sudah aku hapal diluar kepala.”
” Jangan terlalu panik, ndo. Mungkin itu hanya kebetulan. Kamu jangan
membuat aku jadi panik. Mana mungkin sebuah cerita dalam novel bisa
mengakibatkan kecelakaan?”
” Aku juga tidak ingin menghubungkannya, mi. Tapi aku tetap penasaran. Apa
kamu lupa, naskah itu berasal dari gudang. Naskah tua yang aneh bukan?
Naskah tua tapi ceritanya baru. Jangan-jangan naskah itu keramat.”
” Huss. Kamu makin ngaco. Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan ini hanya
kebetulan saja.”
Aku menutup pembicaraan dengan Nando. Segera kuselesaikan sarapanku dan
bergegas ke ruang perpustakaan. Berita dari Nando membuat ketenanganku
terganggu. Aku bahkan tak bisa membaca satupun tulisan. Pikiranku selalu
tertuju ke kecelakaan yang terjadi. Aku berdoa semoga saja naskah itu tidak
keramat seperti perkataan Nando.
Tapi ternyata doaku tidak terkabul. Hari itu dengan menjerit-jerit Nando
menelponku.
” Demi! Kecelakaan itu terjadi! Sama persis, bahkan detiknya sama! Kita harus
percaya kalau naskah itu menyimpan misteri.” Aku yang baru saja terbangun dari
tidur dipagi hari serasa mendengar kabar kematian. Aku bangkit dari
pembaringan dan menuju meja di mana novel itu masih tergeletak dengan posisi
terbuka. Semalam aku membaca bagian yang berisi cerita kecelakaan yang
menurut Nando kemungkinan akan terjadi lagi.
” Mi, jalan yang sama, jam yang sama.semua sama! Aku tidak perlu menjelaskan
ke kamu kemiripannya. Kamu baca sendiri. Kamu tidak perlu nonton berita.
Cukup baca novel itu saja.”
Aku terduduk lemah didepan meja. Benarkah ada kejadian seperti ini? Aku
hampir-hampir tak bisa mempercayai.
” Mi, tunggu kecelakaan ke empat dalam novelmu. Itu sebagai pembuktian
terakhir. Kalau memang sama persis, berarti semua naskah itu harus kita edit
ulang. Jangan memasukkan cerita-cerita yang berhubungan dengan kecelakaan
atau musibah-musibah.”
Menunggu pembuktian kecelakaan keempat dalam novelku, membuatku tidak
nyenyak tidur. Selama tiga hari aku kadang terbangun tengah malam. Aku
sengaja istrahat selama tiga hari ini karena aku tidak bisa konsentrasi. Sengaja
aku memilih pulang kerumahku agar aku bisa tenang. Hadi sempat menanyakan
mengapa aku tiba-tiba ingin istrahat. Tapi aku memberi alasan yang lain. Cukup
aku dan nando saja yang panik. Aku tidak ingin Hadi terganggu konsentrasinya
mengerjakan skripsi kalau mendengar masalah yang menimpa kami. Masalah
yang hanya kami yang tahu. Sejak kecelakaan pertama, tidak ada satupun media
yang menghubungkan kecelakaan itu dengan novelku. Aku bisa bernafas lega
untuk hal yang satu itu.
Jam lima subuh aku terbangun. Aku tidak nyenyak tidur sejak tadi malam.
Berkali-kali aku terbangun. Hari ini adalah penentuan itu. Jam setengah tujuh
sesuai jam di novel, kecelakaan akan terjadi. Kuhubungi Nando. Ternyata dia
sudah ada dilokasi. Dia sama paniknya denganku. Bahkan mungkin lebih panik.
Setelah menelpon Nando aku masuk kekamar mandi, berwudhu lalu sholat.
Syukurlah setelah sholat batinku kurasakan tenang. Aku melangkah ke dapur.
Membuat susu panas lalu menyetel siaran tivi. Aku menonton tivi sampai susu
digelasku habis.
” Lho, mbak sudah bangun?” tegur pembantuku yang tiba-tiba muncul di
belakangku. Aku berbalik kaget.
” Iya, May. Aku mau balik ke kamar, mau mandi dulu.” Kataku lalu melangkah
menuju kamarku. Setengah jam dikamar mandi, aku kemudian keluar dengan
terburu-buru karena handphoneku berdering tiada henti. Segera kuraih
handphoneku yang tergeletak manis di atas meja. Panggilan dari Nando. Sambil
menaruh handphone di telingaku, aku melirik jam di dinding. Jantungku
berdegup dengan kencang. Jam di dinding menunjukkan jam setengah tujuh.
” Hallo, Mi. Gawat, mi. Benar-benar gawat. Di jalan ini baru saja terjadi
kecelakaan! Novel itu ada ditanganku sekarang. Pokoknya semua naskah dari
gudang itu harus segera kita revisi.Kamu tentu tidak ingin menambah korban lagi
bukan?”
Tanganku terjatuh di sampingku. Aku tidak sanggup lagi mendengar kata-kata
dari Nando. Karena panik, aku segera berpakaian dan berkemas. Aku ingin
segera kerumah mama. Aku ingin melihat kembali naskah-naskah itu.
Setelah memberi pesan ke May aku kemudian meninggalkan rumah. Ditengah
jalan Nando menelponku. Dia ingin ikut denganku.Aku mengubah jalur
perjalananku ke arah yang Nando tentukan. Kami lalu bersama-sama menuju
rumah mama. Sepajang jalan nando menceritakan betapa paniknya dia saat
kecelakaan itu terjadi. Semua terjadi begitu cepat. Nando bahkan tidak bisa
memprediksikan kapan persisnya kejadian itu, tiba-tiba semua terjadi didepan
matanya. Mendengar cerita Nando aku makin gugup.Aku tidak ingin menjadi
penyebab dari kecelakaan-kecelakaan yang mirip dengan cerita dari naskah yang
aku buat novel.
Sesampainya di rumah mama. Aku dan Nando langsung menuju ruang
perpustakaan.
” Bagaimana dengan seri dua ini, Mi? Didalamnya juga ada beberapa kejadian
yang menurutku harus kita edit. Ganti saja dengan kejadian lain atau kata-kata
lain.” ucap Nando sambil memperlihatkan naskah yang masih ada di file
komputer. Kami memang sengaja belum memprint semua naskah yang sudah
kami ketik.
” Iya. Nanti aku edit lagi. Mudah-mudahan mas Ivan belum meminta naskah
lanjutannya. Tapi aku tidak habis pikir, Ndo. Kenapa kecelakaan-kecelakaan itu
bisa sama persis dengan cerita didalam naskah itu?”
” Kita bikin uji coba dengan seri dua nanti. Kalau setelah diedit ternyata
kecelakaan atau musibah itu tidak terjadi, kita harus bisa mempercayai kalau
naskah itu keramat. Atau mungkin juga mengandung kutukan.”
Aku mengangguk. Harus ada uji coba untuk meyakinkan kami.
***
Beberapa bulan kemudian.
” Demi, musibah itu terjadi!” aku kaget ketika tengah malam Nando menelponku.
Kurapatkan handphone ditelingaku. Masih dengan kesadaran yang belum pulih,
aku mencoba mendengarkan kata-kata Nando.
” Ada apa, Ndo.”
” Musibah yang ada didalam novel seri dua.”
” Lho, bukankah sudah direvisi?” tanyaku heran.
” Benar, makanya aku tidak memperhatikan. Aku tenang saja selama seminggu
ini. Tapi aku curiga setelah aku baca naskah sebelum kamu edit. Kok ceritanya
sama.”
” Sama?”
” Iya. Kamu perhatikan lagi. Ada empat kejadian di dalam novel seri dua. Sama
dengan seri pertama. Sudah tiga yang terjadi.”
” Lho kenapa bisa? Bukankah yang kita serahkan naskah yang sudah kita revisi?”
” Benar. Aku bahkan melihat kembali filenya di komputer mas Ivan. Tapi kenapa
kalimat yang sudah kita edit masih tetap terjadi? Ada hal aneh juga, mi. Saat aku
melihat novel ke dua yang sudah diterbitkan. Kamu tahu apa yang membuat aku
kaget setengah mati?”
” Apa itu?”
” Kalimat yang sudah kita edit, ternyata tetap ada! Sama sekali tidak hilang.
Berarti saat naskah itu dicetak, kalimatnya tetap sama. Tidak ada gunanya kita
edit.”
” Kok bisa seperti itu?”
” Itulah. Makanya aku yakin, naskah itu keramat!”
Selesai menerima telpon Nando, aku bangun dari pembaringan. Aku ingin
membaca novel kedua yang telah terbit. Aku belum sempat melihat lebih detil
isinya karena kecemasanku waktu itu sudah tidak ada. Aku merasa tenang
karena kalimat-kalimat yang mengundang musibah sudah kami edit. Tapi telpon
Nando malam ini membuatku membuka novel seri dua. Seluruh tubuhku terasa
lemas saat aku melihat kalimat-kalimat yang menurutku sudah aku edit.
Ternyata kalimat-kalimat itu masih lengkap. Tersusun dengan manisnya diantara
paragraf-paragraf dalam novel.
Aku bersandar di kursi. Pikiranku teromang-ambing antara mempercayai atau
tidak kalau naskah itu keramat. Naskah itu seperti mengandung kutukan. Apakah
benar-benar ada hubungannya?
*
Pagi-pagi sekali, saat kabut masih betah menghiasi bumi. Handphoneku
berbunyi. Kulihat layarnya, dari mas Ivan. Jantungku berdebar kencang. Semoga
mas Ivan tidak mencurigai novelku ada kaitannya dengan kecelakaan-kecelakaan
yang ramai diberitakan.
” Pagi, Demi.” sapa mas Ivan.
” Pagi.” balasku dengan suara gugup.Aku berusaha bersikap tenang tapi tetap
saja rasa gugup itu menguasaiku.
” Maaf, pagi-pagi sudah menghubungi kamu. Begini, mi. Ada seseorang yang
bertanya padaku. Dia dari media. Dia mengatakan sesuatu yang menurutku
mustahil.” aku menyimak perkataan mas Ivan.
” Katanya, novel kamu berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini.”
Brukk. Aku merasakan tubuhku melemah. Aku terduduk di sofa.
” Maksud mas Ivan?” tanyaku. Kurasa tanganku mulai berkeringat. Kebiasaanku
kalau sedang gugup, tanganku selalu basah oleh keringat dingin.
” Ini belum pasti. Tapi kalau ada kalangan media yang mulai menghubungkan,
aku jadi khawatir. Makanya aku menelponmu. Aku tidak ingin kamu mengetahui
ini dari orang lain. Aku ingin kamu siap, kalau tiba-tiba ada pertanyaan seputar
cerita dalam novelmu dengan kejadian nyata yang ada diluar. Kamu harus siap
dengan jawaban yang tentu saja masuk akal. Sedikit saja salah dalam
jawabanmu, itu bisa mencemarkan namamu dan mungkin menghentikan
peredaran novel itu. Mungkin saja novel itu akan ditarik.”
Aku terhenyak, tak bisa berkata-kata.Akhirnya yang takutkan terjadi juga. Ada
yang mulai memperhatikan isi cerita dalam novelku.
Handhoneku berdering lagi. Dari Nando.
” Ya, ndo. Ada apa?”
” Mi, hentikan saja proyek novelmu itu. Kalau perlu naskah tua itu kita bakar
saja.”
” Apa??
” Aku khawatir ada orang lain yang nanti memanfaatkan naskah itu. Kalau
keadaannya seperti itu maka akan banyak korban lagi yang berjatuhan.
Sekarang lebih baik kita kerumah mamamu. Kita harus melenyapkan novel itu.”
Saran Nando untuk segera menghilangkan novel itu masuk juga dalam pikiran
normalku. Mungkin sebaiknya novel itu kami hilangkan agar tidak ada pihak lain
yang menerbitkannya. Tapi betapa kagetnya aku dan Nando. Begitu kami tiba
digudang mama, naskah-naskah itu sudah tidak ada. Aneh. Siapa yang sudah
memindahkannya?
” Kalian mencari naskah-naskah itu?” suara Hadi tiba-tiba terdengar dibelakang
kami. Aku berbalik.
” Iya. Kemana naskah-naskah itu? Apa kamu yang telah memindahkannya?”
Hadi mengangguk.
” Aku dan bapak sudah membakarnya.” jawab Hadi pelan. Aku dan Nando
terperanjat.
” Kamu membakarnya?”
” Aku membakarnya setelah mendengar cerita dari bapak. Selama ini bapak tidak
tahu kalau kita bertiga sedang menggarap naskah itu menjadi novel. Saat aku
membaca novel itu dan melihat berita-berita kecelakaan yang ada di tivi. Aku
mulai meyakini kalau naskah itu mungkin berisi kutukan.”
” Apa yang bapakmu ceritakan?”
” Tidak banyak. Bapak hanya mengatakan, kalau sebelumnya gudang itu kosong.
Kenapa tiba-tiba aku menemukan banyak naskah-naskah tua di sana? Bapak
merasa naskah itu mungkin akan membawa petaka.”
Kami bertiga kemudian menuju lokasi dimana Hadi membakar naskah-naskah
tua itu. Asap hitam masih terlihat mengepul dari kejauhan. Begitu dekat, aku
lihat hampir seluruh naskah-naskah itu telah terbakar. Aku terpana. Inikah akhir
dari naskah yang membuat aku terpesona dengan ceritanya.Awal yang aku
harapkan akan bersinar sekarang malah menjadi mendung. Redup seiring rasa
ketakutan kami akan musibah yang mungkin akan lebih parah.
Aku meninggalkan rumah mama dengan rasa yang tak bisa aku lukiskan. Semua
bercampur baur dalam pikiranku. Pertama kalinya aku menggarap proyek naskah
bersama, sekarang proyek itu harus kami hentikan.Dan yang menyedihkan
bagiku, adalah saat melihat naskah-naskah itu terbakar. Karya indah yang harus
berakhir dalam sebuah kobaran api. Rasanya tak rela saat melihat asap-asap
hitam itu mengepul ke udara. Seperti melihat sebuah ritual yang mengantarkan
roh ke alam baka.
Malamnya aku bermimpi. Kami bertiga, aku, Nando dan Hadi tengah berlari di
sebuah taman yang sangat indah. Tiba-tiba Hadi terjatuh ke sebuah rawa.Aku
dan Nando berusaha menariknya. Tapi anehnya semakin kami tarik, Hadi malah
semakin terbenam. Tiba-tiba dari arah belakang muncul Pak Haryo. Dia sekuat
tenaga berusaha menyelamatkan anaknya. Tapi malah Pak Haryo ikut terjebak
ke dalam rawa. Saat aku berusaha menarik Hadi, tangan Nando menahanku. Dia
tak ingin aku ikut terjebak ke dalam rawa.
Aku terbangun dengan rasa pening dikepalaku. Mimpi yang berakhir tanpa aku
tahu akhirnya. Keringat dingin mengucur ditubuhku. Aku langsung teringat
dengan naskah tua itu. Mungkin karena terlalu memikirkannya, akhirnya terbawa
dalam mimpi.
Karena perasaanku yang tidak nyaman, aku kemudian beranjak dari
pembaringan. Aku ingin minum segelas air, rasanya tenggorokanku kering.
Kunyalakan lampu kamar. Saat itulah handphoneku berbunyi. Aku yang sudah
hampir mencapai pintu, berbalik lagi menuju meja di samping tempat tidur.
Kuraih handphoneku yang masih bergetar diatas meja. Panggilan dari mama.
Aneh. Bukan kebiasan mama menelpon tengah malam.
” Halo. Ma?” aku tidak mendengar suara mama. Aku hanya mendengar tangisan.
” Ma? Mama kenapa?” tanyaku makin penasaran. Yang terdengar tetap tangisan.
” Demi. Demi..Pak Haryo dan Hadi meninggal. Mereka terbakar di halaman
belakang…huhuhu..”
” Apa, ma? Kenapa dengan Pak Haryo dan Hadi?” aku masih tidak percaya
dengan pendengaranku.
” Pak Haryo dan Hadi terbakar di halaman belakang! Mereka tewas!”
Badanku langsung lemas. Tubuhku lunglai menyentuh lantai. Handphoneku
masih dalam genggaman. Suara mama masih terdengar tapi aku tak sanggup
lagi mengangkat handphoneku. Airmataku menetes, mengalir dipipiku. Aku
teringat mimpiku. Mungkin inilah arti dari mimpiku. Mimpi yang membuat
jantungku berdebar dan membangunkanku ditengah malam. Aku teringat naskah
itu. Benarkah Pak Haryo dan Hadi terkena kutukan dari naskah tua itu. Kalau
benar demikian, aku jadi sangat menyesal. Karena ide yang aku usulkan, maka
terjadi begitu banyak musibah. Aku terus menangis dalam rasa sesal. Maafkan
aku Pak Haryo. Maafkan aku Hadi.
TAMAT

0 Response to "Naskah Tua"

Post a Comment