Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kemelut Hati 2

Menghadapi semua itu Nasiyah tidak bisa berkata apa-apa. Ia biarkan orang-orang membicarakannya. Semua memperbincangkan kabar tersebut dengan semangat dan tambahan cerita yang bertele-tele, berputar-putar, hingga tak tertemukan lagi ujung pangkalnya.

Nasiyah diam. Ia lebih memilih mendengarkan kicau burung yang tulus dan selalu jujur. Pikirannya kembali mengelana.

Plung! Sebuah kedondong jatuh ke dalam kolam. Seorang gadis kecil dan bocah lelaki berlarian dan sama-sama menceburkan diri ke dalam kolam. Telapak kaki mereka meraba-raba dasar kolam, berebutan mencari kedondong. Air membasahi wajah dan pakaian mereka. Namun, keduanya terus mencari. Tiba-tiba bocah lelaki itu bersorak kegirangan, tatkala telapak kakinya menyundul benda bulat halus sebesar telur. Ia membungkuk hingga seluruh badannya tenggelam di bawah air. Ketika benda itu diangkat ke permukaan ternyata hanya sebuah batu. Ia menggerutu dan mengumpat.

Mereka pun meneruskan pencariannya. Kini gadis kecil itu yang berseru gembira. Bocah lelaki merasa kalah dan direbutnya buah itu. Gadis kecil tidak terima. Di dalam kolam ia mengejar bocah lelaki itu, sambil berteriak-teriak, minta agar miliknya dikembalikan. Tapi, si bocah lelaki terus mengelak, sambil menggodanya. Dan, gadis kecil itu kemudian menangis.

Mendengar keributan, pemilik pohon kedondong keluar, sambil marah-marah. Kedua bocah kecil itu melompat dari kolam. Gadis kecil yang kesulitan naik dibantu oleh bocah lelaki. Kemudian, mereka berlari dan sembunyi di balik rumpun bambu. Setelah tak terdengar lagi suara, bocah lelaki mengeluarkan kedondong dari kantong celananya. Dengan batu ia pecahkan buah itu, dibagi dua. Sebagian diberikan kepada gadis kecil, sebagian lagi ia makan.

Tidak lama kemudian muncul seorang bocah lelaki lain. Melihat keduanya berada di situ, ia mengejek, “Ih, pacaran… Kecil-kecil sudah pacaran!” Gadis kecil kembali menangis. Bocah lelaki mengejar dan langsung menghajar anak lelaki itu. Mereka berkelahi. Untung ada orang yang datang dan segera melerainya.

Gadis kecil itu adalah Nasiyah dan bocah lelaki itulah Pomo. Mereka berteman akrab sejak kecil. Pomo memang nakal dan senang menggoda Nasiyah. Tapi, ia akan membela Nasiyah jika ada yang mengganggunya.

Mereka hampir tidak pernah berangkat sekolah ataupun mengerjakan PR sendiri-sendiri. Untuk bermain pun Pomo mau menunggu Nasiyah selesai membantu Emak. Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan masa keceriaan mereka. Setamat SMP, Pomo diajak kakaknya bekerja di Jakarta. Nasiyah ditinggal bersama seruling yang dulu selalu ditiup Pomo, ketika menggembalakan kambing-kambingnya.

Angin sore meniup rambut Nasiyah. Sekawanan burung berjajar rapi di bawah lengkung langit yang mulai menjingga. Mereka berputaran di antara gerumbul awan putih keperakan, kuning keemasan, dan abu-abu. Awan itu tertatih-tatih mengarak bulan separuh yang masih pucat pasi.

Seruling itu mulai mengalunkan melodi lagu yang pertama kali diajarkan Pomo kepada Nasiyah. Alunan nikmat seruling itu terhenti ketika terdengar suara beduk ditabuh. Masih memegang seruling, pandangan Nasiyah
tertuju pada semut-semut yang berderet panjang di dinding rumahnya. Semut itu lalu-lalang dengan teratur, berpapasan, berhenti sejenak, bersentuhan dengan semut-semut lain yang dijumpainya. Di bagian lain tampak segerombol semut beramai-ramai mengusung sebutir remah gula. Seketika menggulir air mata di pipi gadis belia itu.

“Nas, sudah hampir malam. Tutup jendelanya!

Supomo pulang dari Jakarta. Nasiyah yang pertama kali bertemu dengannya. Pagi-pagi, ketika ia pulang dari pasar. Mula-mula Nasiyah terkejut waktu disapa dari belakang. Ia menoleh. Tampak sesosok pemuda tinggi jangkung berambut sedikit gondrong. Lelaki itu mengenakan celana jeans biru pudar, kaus oblong putih tertutup jaket, dan topi hitam menutup kepalanya.

“Pomo?” Pemuda itu tersenyum.

“Ah, mentang-mentang hidup di kota, semuanya berubah.”

Pomo tertawa ringan. Selanjutnya, mereka saling menceritakan keadaan masing-masing. Sesekali mereka berhenti berjalan, saat berpapasan dengan orang-orang. Sebagian dari mereka terkejut oleh kedatangan Pomo. Mereka meminta agar Pomo main ke rumahnya, berjanji akan membuatkan sayur pare, kesukaannya. Kepada beberapa lelaki, Pomo berjanji bertemu di gardu ronda.

“Apakah kamu masih suka belajar meniup seruling?”

Nasiyah jengah. “Ada beberapa not lagu yang sudah lupa.”

Jalanan menurun, agak gelap, dan lembap. Kanan-kirinya lebih tinggi, seperti dua dinding. Lumut tampak licin di sela tumbuhan paku kecil-kecil. Di atasnya deretan rumpun bambu merimbun, membuat jalan itu gelap seperti lorong. Angin bertiup sehingga pohon meliuk-liuk, daunnya bergesekan mencipratkan butir-butir air sisa hujan semalam, batangnya berkelotak.

“Katanya, kamu mau menikah?”

Nasiyah mengusap keringat. Seberkas cahaya matahari menerobos daun-daun bambu, jatuh ke jari-jarinya, dan memantul lewat cincinnya. Mereka sampai di jalan yang lebih kering. Ada parit dalam di sisi kanan. Di kirinya ada kebun salak yang baru berbunga. Jalan yang mereka lalui berbatu. Semak-semak merimbun rendah. Nasiyah mempercepat langkahnya, menuruni jalan setapak berbatu. Jembatan kayu itu bergoyang dan derit tambang besi itu menjadi riuh oleh tapak kaki Nasiyah. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Pomo.

Nasiyah mengempaskan tubuhnya di ranjang. Malam ini ia berjanji menemui Pomo di rumah Sukati. Ia hanya ingin mengucapkan selamat jalan kepada Pomo yang akan kembali ke Jakarta besok sore. Ia ingin diajari lagi beberapa not lagu yang terlupa. Sejenak ia ingin membuka kembali kenangan-kenangan mereka.

Siang itu, Nasiyah, Pomo, dan tiga temannya berjalan pulang bersama. Mereka sengaja merapat ke bawah pepohonan agar sedikit sejuk. Canda dan tawa tak henti-henti mengiringi langkah mereka. Nasiyah melihat seekor ulat di atas daun bougenvil. Seketika muncul sebuah ide di benaknya. Diam-diam ia mengajak Sukati memetik daun berulat itu, lalu membungkusnya dengan kertas. Ia memanggil Pomo hingga Pomo berjalan beriringan dengannya.

“Kamu mau ndak aku kasih hadiah?”

“Tentu. Masa diberi hadiah ndak mau?”

Nasiyah memberikan bungkusan kertas bertuliskan: special for Pomo, lalu berlari mengejar ketiga temannya. Ia berharap, setelah itu Pomo akan mengejarnya, lalu memukulinya dengan gemas. Tapi, lama sekali hal itu tidak kunjung terjadi. Nasiyah menengok ke belakang dan menjerit. Pomo jatuh tertelungkup di tepi jalan.

“Dia pingsan.”

“Kamu tadi kan baru jalan sama dia.”

Nasiyah tidak menjawab. Ia hanya memandangi kertas itu tergeletak di dekat tangan Pomo. Ulatnya menyusur-nyusur ke tepi. Kedua teman lelaki Nasiyah saling pandang, lalu mengatakan bahwa hal yang paling ditakuti Pomo adalah ulat. Mereka tidak sempat tertawa melihat keadaan Pomo.

Di sekitar mereka hanya ada hamparan sawah. Rumah penduduk terlihat kecil di kejauhan, tersembunyi di balik pohon-pohon kelapa. Mereka membuka pakaian Pomo, memberikan bau-bauan dedaunan. Pomo siuman. Tawa yang mereka tahan pun meledak.

Beduk isya sudah ditabuh. Nasiyah masih membolak-balikkan tubuhnya di ranjang. Berbagai bayangan muncul. Sebentar lagi Pomo turun dari langgar. Ia pasti bergegas ke rumah Sukati dan menunggunya. Pomo terus menunggu, menunggu, dan menunggu, hingga akhirnya harus pulang.

Bukan maksud Nasiyah mempermainkan pemuda itu. Ia betul-betul ibarat burung, hanya bisa melompat dan mencakari jejari sangkar. Ia tidak bisa berceloteh. Ia tidak mengerti politik yang membakar desanya. Ia harus diam di dalam sangkarnya, jika ingin selamat.

Pertemuannya dengan Pomo pagi itu telah dijadikan cerita baru. Diceritakan, sebelum bertunangan dengan Diman, Nasiyah berpacaran dengan kemenakan Pak Martowi itu. Bahkan, sampai sekarang mereka belum putus. Nasiyah dan Pomo masih berhubungan diam-diam. Kesediaannya menerima lamaran Diman hanyalah taktik yang digunakan Pomo untuk merongrong kekayaan keluarga Diman. Jika rencana itu berhasil, mereka akan menikah.

“Itu tidak benar. Fitnah!” emak Nasiyah berujar.

“Tapi, ini sudah sangat keterlaluan, Kang. Bagaimana kalau pernikahan itu betul-betul dibatalkan? Kita kan malu, Pak.”

“Kenapa malu? Mati, rezeki, dan jodoh ada di tangan Tuhan.”

“Lalu, kita harus bagaimana, Kang? Diam saja? Terus menerima, meski harga diri kita mereka injak-injak? Mentang-mentang kaya, mereka bisa sewenang-wenang terhadap orang melarat seperti kita.”

“Yang paling tepat untuk saat sekarang adalah diam. Kalau salah omong bisa-bisa kita dimanfaatkan oleh orang-orang.”

Binatang malam sayup-sayup mulai mendendangkan orkestra. Jengkrik mengerik dari liang kecil di tepi kolam, cericit kelelawar mencari makan, semua berpadu menjadi simfoni alam.

Terdengar juga suara gaduh anak-anak turun dari langgar. Beberapa saat kemudian pintu kamarnya digedor Ahmad, yang minta tidur di kamarnya. Malam itu Ahmad tidak cerewet. Setelah didekap dan diusap-usap kepalanya, bocah kecil itu langsung tidur.

Sepi melayangkan ingatan Nasiyah pada malam rundingan pernikahannya. Mula-mula para tetua menghitung hari lahir kedua calon pengantin. Nasiyah lahir Sabtu Kliwon, Diman Minggu Pahing. Dalam Primbon Jawa, gabungan angka mereka menunjukkan Gedhong Rembulan. Maknanya, keduanya bisa cepat kaya, tetapi sering tertipu. Mereka berhenti sejenak. Tidak lama kemudian mereka menghitung kemungkinan perjodohan dengan cara lain. Yang didapat adalah angka 5, yang menunjukkan Candra Pedaringan Kebak. Artinya, mereka selalu berkecukupan dan bisa menjadi pelindung.

Mereka lalu menyimpulkan, kelak pasangan ini tidak kekurangan dalam masalah harta. Tapi, keduanya harus hati-hati karena akan sering menghadapi rongrongan dari pihak-pihak lain. Masalah ini akan bisa mereka hadapi, jika mampu bersikap bijaksana dan suka menolong orang lain.

Para tetua itu lalu merundingkan hari pernikahan mereka. Diputuskan, hari akad nikah adalah Kamis Pahing tanggal 24 Jumadilakir. Dan, karena berbagai persoalan yang timbul akhir-akhir ini, hari yang telah disepakati itu akan dibatalkan. Begitu menurut orang-orang.

Perlahan Nasiyah bangkit, melompati tubuh adiknya, lalu turun dari ranjang. Ia beranjak perlahan ke dekat jendela. Tapi, ia tak mungkin membuka daunnya untuk menyaksikan peristiwa yang terjadi di luar. Ia raih sebatang seruling yang terselip di palang-palang dinding dekat jendela. Ia timang-timang, dicobanya tanpa suara. Jemarinya menari-nari di atas lubang-lubang, menyusun nada. Ia tersentak ketika sayup terdengar nada-nada itu ditiup di kejauhan.

Malam Minggu ada pertunjukan layar tancap di lapangan desa. Dalam perjalanan pulang dari pasar, Nasiyah sudah melihat keramaian. Diman tampak di tengah keramaian itu. Setelah saling menyapa, mereka berjalan beriringan.

“Ada salam dari Pomo. Sebelum pergi, aku tidur bersamanya di langgar. Ia minta maaf karena tak bisa hadir di hari pernikahan kita.”

Nasiyah menoleh, menatap pemuda yang melangkah tenang di sebelahnya. Hanya sesaat.
“Pomo memang hebat. Baru setengah tahun bekerja sudah dipercaya jadi mandor. Sekarang, gajinya lebih besar dari kakaknya.”

Mereka lalu berpisah di persimpangan. Nasiyah mempercepat langkahnya.
Nasiyah dikejutkan oleh tangis Hamidah. Buru-buru ia melompat dari tempat tidur, membereskan selimut dan bantal, lalu membuka jendela. Astaga! Matahari sudah merayap di sela pohonan. Cepat-cepat ia keluar, sembari menyambar karet dan mengikat rambutnya.

Nasiyah masuk ke dapur. Munaroh dan Kholidah sedang memasak sesuatu. Aromanya menusuk hidung. Rupanya, Munaroh sedang menggoreng nasi jagung dan Kholidah tampak sibuk membakar dua potong tempe. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Peralatan dapur tergantung rapi di tempatnya masing-masing.

“Kalian yang membereskan semua?”

“Nenek.”

Pada saat itu masuk Nenek dengan terbungkuk-bungkuk, sambil menembang.

“Kenapa saya tidak dibangunkan, Nek?”

“Kamu terlalu lelah setelah bekerja seharian kemarin.”

“Tapi, Nenek kan....”

“Apa kerja nenekmu ini kurang beres? Kurang bersih?”

Aduh, bukan itu maksudku, Nek, gerutu Nasiyah dalam hati. Ia meninggalkan dapur, membereskan baju-baju kotor, lalu pergi ke sungai. Di sana orang-orang sudah ramai. Anak-anak mandi, ibu-ibu mencuci, gadis-gadis cekikikan. Semua ribut bercerita.

Pembicaraan mereka sampai pada cerita tentang pencurian. Dalam satu malam ada dua rumah kemasukan maling. Dua ekor kambing Pak Masrum lenyap. Pak Muroji kehilangan tiga barang sekaligus, yaitu jam dinding, radio transistor, dan televisi. Ada yang menduga pencurinya Narto Gepeng dan Sarno Gentho. Tapi, mereka tidak bisa membuktikan, sebab tidak ada saksi yang melihat secara langsung. Mereka hanya menghubung-hubungkan peristiwa satu dengan yang lain. Sarno Gentho baru saja kalah judi, sedangkan Narto Gepeng pernah sesumbar akan membelikan anaknya sepeda jengki.

Mengenai Pak Muroji, ada sebagian yang tak bersimpati. Orang kaya pelit memang harus dibegitukan supaya hartanya bisa sedikit disedekahkan kepada orang miskin. Kehilangan sedikit tidak ada artinya bagi dia. Toh, sebentar lagi dia pasti sudah bisa membeli yang baru.

Satu per satu orang-orang itu menyelesaikan pekerjaannya. Ada yang langsung pulang, ada yang menunggu temannya. Ketika satu dua orang pergi, ada saja yang datang. Keramaian tidak kunjung mereda hingga matahari mulai menyengat tubuh mereka.

Semalaman burung gagak tak henti berbunyi. Anjing meraung-raung di ujung jalan kampung. Tampak orang berlarian ke rumah Pomo. Kaki Jikun, bapak Pomo, meninggal. Kabarnya, Kaki Jikun sudah lama menderita tifus, malaria, dan tekanan darah tinggi. Seminggu terakhir, ia sudah tak bisa diajak bicara dan sering pingsan.

Ratap tangis memenuhi rumah berdinding anyaman bambu itu. Para tetangga sibuk mengambil air, menyiapkan kain kafan. Trimo, kakak Pomo yang baru tiba, langsung disambut dan dipeluk. Meja panjang sudah dipasang di halaman. Ember-ember penuh air sabun dan air bunga. Enam orang merentangkan kain di atasnya.

Nini Jikun dan enam anaknya memandikan jenazah. Setelah itu, jenazah diletakkan di atas meja panjang. Orang-orang mulai berdatangan. Jenazah diangkat ke dalam keranda, meski Pomo belum datang.

Selepas zuhur Nasiyah datang ke rumah Nini Jikun untuk membantu, menjamu para pelayat dan mempersiapkan acara tahlilan. Nini Jikun masih di kamarnya, ditunggui anak-anak dan menantu perempuannya. Ia kelihatan masih terpukul atas kepergian suaminya.

Pelayat datang dan pergi untuk menyampaikan belasungkawa. Ada yang menanyakan apakah Pomo sudah dikabari atau belum. Ada juga yang menyarankan agar menyusulnya ke Surabaya. Tapi, tak seorang pun tahu alamat tempat kerja Pomo. Trimo mengatakan, ia sudah menelepon bosnya semalam. Jika pesan itu segera disampaikan, siang atau sore ini Pomo akan datang. Namun, hingga magrib, yang diharapkan tidak juga muncul.

Setelah tahlilan, beberapa orang menggelar daun pisang di tengah-tengah mereka. Nasi tumpeng beserta lauknya ditumpahkan di atasnya. Air teh dari ceret dituangkan ke gelas-gelas, lalu dibagikan. Tanpa menggunakan sendok atau garpu, mereka makan sekadarnya. Nasi yang tidak habis dimakan, dibungkus dengan daun pisang untuk dibawa pulang sebagai berkat.

Beberapa orang masih duduk di ruang tengah ketika tiba-tiba muncul Pomo. Orang-orang langsung menyongsongnya. Derai air mata dan ratap tangis merebak kembali. Wajah pemuda itu merah. Ia bersimpuh di pangkuan ibunya sambil tersedu.

Setelah suasana mereda, Nini Jikun membujuk Pomo supaya segera makan. Pemuda itu hanya minum seteguk teh, lalu masuk kamar. Seseorang mengetuk pintu. Pomo mempersilakan masuk. Nasiyah masuk untuk mengambil pakaian keponakan Pomo. Sesaat gadis itu tertegun, lalu tanpa berkata-kata, ia mengaduk-aduk keranjang pakaian.

“Kamu tidur di sini?”

Nasiyah menggeleng.

“Siapa mengantarmu?”

“Bapak.”

Nasiyah keluar. Pomo menarik napas. Ia pun beranjak dari kamar dan bergabung bersama saudara-saudaranya di ruang depan.

Keesokan harinya Nasiyah tidak datang ke rumah Nini Jikun. Seharian ia membantu bapaknya, mencabut singkong di ladang Pak Amir. Katanya, Pak Amir akan mengolah singkong menjadi gaplek. Selain Nasiyah, ada lima perempuan lagi yang menjadi buruh. Setiap dua puluh kg mereka dibayar dua ribu rupiah, cukup untuk membeli setengah kg beras atau satu kg jagung.

Selain itu, mereka diberi juga beberapa buah singkong dan boleh mengambil daun singkong sebanyak-banyaknya. Sedangkan batangnya diambil oleh Pak Amir. Sebagian disetek untuk ditanam kembali dan selebihnya dijadikan kayu bakar. Orang-orang yang bekerja juga boleh memintanya.

Perempuan-perempuan itu bekerja dengan cekatan. Mereka harus menguliti singkong-singkong itu dengan cara menyobek kulitnya sampai bersih. Sambil terus bekerja, seperti biasa, mereka mengobrol ngalor-ngidul. Dari situ Nasiyah mendengar kasak-kusuk mengenai meninggalnya Kaki Jikun. Katanya, ia sempat makan sepotong ketan bakar dan segelas kopi di rumah Pak Suro, tiga hari sebelum jatuh sakit. Menurut mereka, kakek buyut Pak Suro memiliki kekuatan gaib yang bisa diwariskan kepada keturunannya.

Peristiwa itu kemudian dihubung-hubungkan dengan posisi Pak Suro sebagai kepercayaan Sumarjo, salah satu calon kepala desa. Pak Suro pernah mendatangi Kaki Jikun dan membujuknya agar mendukung jagoannya. Tapi, Kaki Jikun menolak. Pak Suro menyimpan rasa malunya dalam hati. Lalu, pada suatu kesempatan, sepulang dari pasar, ia mengajak Kaki Jikun mampir. Di rumahnya Kaki Jikun disuguhi sepiring ketan dan segelas kopi kental. Minuman dan makanan itu katanya paling manjur untuk mengantarkan roh jahat ke tubuh orang yang memakannya.

Hari itu Emak sengaja tidak membuat tempe. Sepulang dari pasar ia langsung pergi memenuhi undangan pesta perkawinan. Pekerjaan rumah sudah selesai semua. Seperti biasa, Ahmad lengket di punggung Nenek. Anak itu dibawa berkeliling di sekitar rumah. Bapak di sawah. Nasiyah duduk sendiri di ruang depan, sambil menggunting kuku. Pintu diketuk. Seseorang yang sangat dikenalnya masuk.

“Tidak membungkusi tempe?”

Nasiyah menggeleng.

“Nanti bantu ibuku lagi, ya?”

Nasiyah mengangguk.

Tanpa dipersilakan, Pomo duduk. Beberapa saat hening. Pomo memain-mainkan tangannya di meja. Nasiyah tetap menggunting kuku.

“Aku mau berangkat nanti sore. Tapi, aku bingung.”

Nasiyah menatapnya. “Kenapa?”

“Tidak ada yang membantu Emak ngangon kambing. Lastri terlalu kecil.”

“Lalu, kamu akan meninggalkan pekerjaanmu di Surabaya itu? Dulu, kamu sudah bisa ngangon sejak kelas satu SD.”

“Aku kan laki-laki.”

“Memangnya perempuan tidak boleh mandiri sejak kecil?”

“Dia harus sekolah.”

“Membantu orang tua sepulang sekolah tidak membuat anak jadi bodoh.”

Pomo mendesah. Suara gunting di tangan Nasiyah mempertegas keheningan di antara mereka. Keduanya tidak berbincang. Nasiyah selesai melakukan kegiatannya. Gadis itu kemudian bangkit dan beranjak ke kamar. Tidak lama kemudian ia keluar. Tangannya menenteng sebuah topi hitam.

“Kenapa ini ada di tanganmu?” tanya Pomo.

“Pernah kamu pinjamkan kepada siapa?”

Pomo menggeleng. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi Nasiyah lebih dulu menawari teh. Pomo menolak. Keduanya sama-sama diam. Dipalingkannya wajah mereka ke luar. Padi sudah mulai menguning. Sebagian rebah oleh angin selatan. Burung-burung pipit beterbangan di atasnya. Dulu, pada masa-masa seperti itu, Pomo sering meninggalkan kambing-kambingnya untuk turun ke sawah. Ia menyusup di antara rumpun itu. Tidak lama kemudian ia sudah keluar, sambil membawa sarang berisi empat ekor bayi burung kecuit. Semua diserahkan kepada Nasiyah. Lalu, Nasiyah mencarikan ulat-ulat kecil untuk makanan burung-burung itu. Pomo meniup seruling, sementara Nasiyah asyik bermain dengan burung-burungnya.

Di rumah, Nasiyah merawat burung-burung itu dengan hati-hati. Nasiyah menaruhnya di dalam wadah bambu yang diberi alas kain bekas. Tapi, keesokan harinya ia menemukan bayi-bayi merah itu sudah kaku. Bersama Pomo, ia menguburkannya di kebun belakang.

“Seminggu lagi. Kenapa masih sepi? Atau… atau, aku salah?”

Nasiyah menoleh.

“Kamis depan?”

Nasiyah diam. Pomo menarik napas.

“Sayang, aku sudah tidak bisa ambil cuti lagi.”

Tiba-tiba Ahmad berlari, masuk dari pintu depan. Nenek mengejarnya. Anak itu menghambur ke pangkuan Nasiyah sambil tertawa-tawa. Pomo ikut tertawa.

“Katanya kamu mau pergi lagi, ya?” tanya Nenek.

Pomo mengangguk.

“Ya, ya. Tak apa-apa. Bekerja itu memang harus sungguh-sungguh. Doakan saja supaya bapakmu bisa tenang di alam sana. Kewajibanmu sekarang menjaga yang masih hidup, ibumu dan Lastri. Kerja yang baik, yang teliti, prihatin, dan jangan lupa pada Gusti Allah.”

Sementara itu Ahmad menarik-narik tangan Nasiyah, sambil merengek-rengek minta makan. Nasiyah membawanya ke belakang. Nenek masih menasihati Supomo. Suara Ahmad terdengar ribut, minta disuapi. Tapi, ia tidak mau disuruh duduk, bahkan berlari hingga ke depan. Anak itu berputar-putar di tengah ruangan sehingga Nasiyah kesulitan memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Nasiyah kemudian menjewer telinganya, menyuruh diam.
Tapi, Nenek mengomel, seperti biasa, menasihatinya agar jangan kasar kepada anak-anak. Itu tidak baik. Apalagi, ia calon ibu. Seorang ibu harus sabar, penuh kasih sayang, telaten, dan tidak kasar.

Ahmad tetap tidak mau menghabiskan makannya. Ia malah merengek terus, minta digendong. Nasiyah memerhatikan cahaya mata adiknya. Tampaknya, dia sudah mengantuk. Nasiyah membawanya ke luar. Tidak lama kemudian si bungsu sudah terlelap dalam gendongannya. Nasiyah menidurkan adiknya di kamar. Di ruang depan terdengar Nenek berpamitan untuk membersihkan rumput di halaman. Pomo, yang termangu sendiri, kemudian memanggil Nasiyah. Gadis itu keluar.

“Mamad sudah nyenyak?”

Nasiyah mengangguk.

“Mau ke mana hari ini?”

“Tidak ke mana-mana.”

“Aku pulang dulu, ya?”

“Ya, nanti aku ke sana.”

Pomo keluar. Baru saja melangkah dari pintu, ia berhenti dan berbalik lagi ke dalam. Ditatapnya wajah Nasiyah beberapa saat. Bibirnya bergerak-gerak, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak jadi. Ia pun melangkah lagi, sembari mengenakan topinya. Nasiyah menatap kepergian pemuda itu hingga hilang di kelokan jalan. Nasiyah menutup pintu pelan-pelan, lalu masuk ke kamar. Tanpa disadari percik hangat mengambang di kelopak matanya.

Pintu belakang berderit. Terdengar suara Hamidah memanggil-manggil Emak. Nasiyah enggan beranjak. Nenek berseru dari samping rumah, mengatakan bahwa Emak belum pulang. Hamidah disuruh mengambil sendiri makanan di atas meja. Suara itu perlahan-lahan menghilang. Nasiyah merasakan sesuatu mengembus wajah, membawanya ke alam luar kesadaran. Tapi, Emak membangunkannya.

“Banyak tamu di rumah Nini Jikun. Cepat kamu ke sana.”

Nasiyah menggeliat sebentar, lalu bergegas membasuh wajahnya di pancuran. Ia pun pergi ke rumah Pomo. Di sana Nasiyah segera disibukkan oleh berbagai pekerjaan. Mengantar minuman kepada para tamu, menata meja makan, mencuci piring. Di dapur, ibu-ibu tidak henti-hentinya memasak. Mereka harus membuat tumpeng lebih dari biasanya. Ini adalah malam ketiga. Selain tumpeng yang dihidangkan, mereka juga harus membungkusi berkat suci untuk tahlilan. Ini sudah menjadi tradisi. Bahkan, di hari ketujuh, biasanya juga diselipkan uang dua ribu rupiah dalam berkat itu.

Trimo sudah selesai memetik daun pisang. Daun-daun itu dijajar di bawah sinar matahari sampai layu supaya waktu digunakan untuk membungkus berkat tidak pecah. Nasiyah kemudian membantu memotongi daun itu dengan ukuran tertentu, sesuai kebutuhan. Trimo mendekati Nasiyah.

“Tolong, bangunkan Pomo di kamarnya.”

Nasiyah meletakkan lembaran daun-daun itu dan melaksanakan permintaan Trimo. Dengan hati-hati Nasiyah masuk ke kamar Pomo. Di sana Pomo kelihatan masih sangat lelap. Ia ragu. Cukup lama ia berdiri mematung di tepi pembaringan. Antara iya dan tidak, akhirnya keluarlah suara tercekik di kerongkongan.

“Pomo….”

Nasiyah mengulanginya hingga tiga kali, baru pemuda itu tersadar dari tidurnya. Pomo menatap gadis itu keheranan.

“Hampir asar. Katanya, mau pergi. Trimo sedang siap-siap.”

Nasiyah beranjak, tapi Pomo memanggilnya. Nasiyah tidak bergerak lagi. Ia terpaku di belakang pintu. Dan, ia tetap diam ketika Pomo memeluk serta mencium pipi kanannya dari belakang. Gemuruh napas Pomo seperti suara tamu-tamu di luar kamar. Perlahan Pomo melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat tidur. Nasiyah menyusut air matanya, lalu keluar dari kamar itu.

Nasiyah tidak begitu terkejut ketika kemudian mendengar kasak-kusuk tentang dirinya dan Pomo. Mereka mengatakan, Pomo dan Nasiyah kembali berpacaran. Menurut cerita mereka, Pomo diam-diam menemui Nasiyah dan mengemis-ngemis kepada gadis itu agar mau ikut bersamanya ke Surabaya. Sayangnya, Nasiyah tidak mau, meskipun ia sebenarnya masih menyukai pemuda yatim itu.

Selepas tujuh hari Nasiyah tidak membantu lagi di rumah Nini Jikun. Ia kembali disibukkan oleh pekerjaan rumahnya.
Bulan sudah bergeser dari masa purnama. Namun, cahayanya yang putih keperakan masih cukup segar menyiram pelataran langgar. Anak-anak asyik bermain gobag sodor (gala asin). Halaman yang cukup luas itu diberi garis-garis dari abu. Satu garis membelah tempat itu menjadi dua sama luas, tiga garis melintang tegak lurus. Anak-anak itu terbagi dalam dua kelompok dan kemudian menentukan siapa yang menang dan yang kalah.

Kelompok yang kalah bertugas menjagai garis-garis tersebut dan yang menang berusaha melewatinya. Jika seorang anak yang melewati garis tersebut dapat disentuh lawan, kelompok itu gugur dan ganti menjagai garis. Sebaliknya, jika ada satu orang saja yang berhasil menembus garis belakang dan lolos kembali melewati garis paling depan, kelompok mereka menang.

Nasiyah dan Sukati masih duduk di kursi bambu. Melihat keceriaan anak-anak itu, timbul keinginan untuk turun dan bergabung bersama mereka. Ah! Masih pantaskah?

Peluh sudah melumuri tubuh-tubuh kecil itu. Tapi, bocah-bocah itu terus berlarian, menyelundup, berkelit, menerkam, saling mengalahkan. Seorang bocah perempuan menjerit karena tangan bocah lelaki yang menjagai garis terlalu keras menohok dadanya.

Nasiyah tersenyum. Dulu, ia pernah seperti gadis kecil itu. Ia meringis malu, merasakan sakit pada buah dadanya yang baru tumbuh. Pomo mendekatinya, meminta maaf. Nasiyah tidak menjawab. Ia berlari ke kelompoknya yang sudah bersiap menjagai garis. Nasiyah ditempatkan di garis belakang. Kelompok Pomo menyerang dengan cepat. Pomo, yang badannya kecil, dapat segera lolos ke garis yang dijagai Nasiyah. Dengan gerak-gerak tipu, Pomo bisa melewatinya. Bocah lelaki itu tidak segera kembali ke depan. Ia malah duduk-duduk santai pada jarak setengah meter di belakang garis. Nasiyah berusaha menggapainya, tapi tidak berhasil.

“Masih sakit, Nas?”

Gadis itu menggeleng. Ia tetap bersiaga, berjaga kalau tiba-tiba Pomo bangkit dan menyeruak masuk. Dan, benar. Saat Nasiyah lengah, Pomo berhasil menerobos wilayah yang dijaganya itu.

Permainan selesai. Anak-anak kelelahan. Mereka duduk-duduk di tepi pelataran, namun tak seorang pun beranjak pulang. Setelah agak santai, mereka merencanakan permainan baru, yaitu petak umpet. Ada satu pohon kelapa yang dijagai agar tidak disentuh lawan. Daerah persembunyian dibatasi, tergantung banyaknya pemain. Jika yang menjaga satu orang, daerah persembunyian hanya sekitar langgar. Jika dua atau tiga orang, bisa satu wilayah RT.

Dulu, Nasiyah sering berjaga bersama Pomo. Ia disuruh menjagai tempat itu dan Pomo mencari persembunyian lawannya. Permainan tersebut kadang-kadang bisa berlangsung sangat lama karena ada yang curang. Nasiyah dan Pomo pernah bersembunyi di kebun yang sangat rimbun. Mereka mengendap-endap di sana tanpa alas kaki hingga suatu kali telapak kaki Pomo tertusuk beling. Darah mengucur deras dari sobekan luka itu, tetapi Pomo tidak menangis. Nasiyah memanggil teman-temannya. Beling berhasil dicabut. Salah seorang memotong pelepah pisang lalu menempel-nempelkannya pada luka itu hingga darah berhenti.

Permainan dihentikan. Mereka bubar ke rumah masing-masing. Malam beranjak larut. Bulan masih tergantung jernih di langit tanpa awan. Anak yang menjagai pohon kelapa itu masih celingak-celinguk mencari kawannya. Ah, masa kecil yang menyenangkan.

Lima orang pemuda datang dan ikut duduk-duduk dekat Nasiyah. Salah satu di antaranya Diman. Mereka mengajak Nasiyah dan Sukati menonton televisi di rumah Pak Lurah. Di sana sudah banyak yang menonton. Nasiyah dan kawan-kawan kebagian tempat paling belakang.

Tidak sampai satu jam, Nasiyah mengajak pulang. Diman mengantarkan Nasiyah, yang lain mengantarkan Sukati. Nasiyah dan Diman berjalan beriringan. Beberapa saat tidak ada yang membuka percakapan. Perhatian tertuju pada langkah kaki masing-masing.

“Besok pagi teman-teman akan ke waduk. Kamu bisa ikut?”

“Laki-laki semua?”

“Kamu bisa mengajak Sukati dan Medah.”

“Tapi, Emak mengajakku ke pasar.”

Angin berembus dari sawah. Di atas bulan diganggu oleh gerombolan awan kelabu. Di jalan setapak itu mereka lebih merapat hingga bersentuhan. Perlahan Diman menaikkan tangan kirinya ke pundak Nasiyah. Gadis itu menunduk. Tidak ada suara kecuali desah napas tertahan. Tanpa disadari tangan Nasiyah meraih tangan di bahu kirinya dan menurunkannya perlahan. Lalu, ia bergegas mendahului Diman.

Tapi, sebongkah batu membuatnya tersandung. Diman berhasil memeganginya hingga Nasiyah tidak terjerembab. Diman memeriksa kaki Nasiyah. Tidak terluka. Mereka berjalan lagi, beriringan. Tidak ada percakapan hingga sampai ke rumah Nasiyah.

Pemilihan kepala desa dua minggu lagi. Orang-orang sibuk memasang gambar-gambar calon kepala desa beserta simbolnya. Pak Martowi nomor satu dengan simbol padi. Nomor dua Pak Sumarjo dengan simbol jagung dan ketiga Pak Muroji dengan simbol singkong.

Suatu malam, bapak Nasiyah kedatangan tiga tamu. Pertama, orang kepercayaan Sumarjo. Orang itu hanya sebentar, omong-omong dengan suara pelan, lalu menyelipkan amplop ke saku bapak Nasiyah. Selang beberapa saat, datang paman Diman, yang sawahnya digarap bapak Nasiyah. Lalu, ketika bapak Nasiyah merebahkan tubuh, pintu diketuk lagi. Paman Juned.

“Ini baru separuh. Kalau jadi, akan ditambah lagi.”

Sebenarnya, semua ditolak secara halus oleh bapak Nasiyah. Tapi, tidak ada yang mau mengambil apa yang telah diberikan.

“Tidak apa-apa, Kang. Saya percaya pada Kang Karto. Jangan lupa, Kang!” Mereka pun pergi.

Bapak Nasiyah menaruh amplop-amplop itu di bawah tumpukan baju-baju di dalam lemari.

Sejak saat itu, suasana makin panas. Kasak-kusuk terdengar di mana-mana. Orang saling mengamati, siapa masuk rumah siapa. Gambar apa yang paling banyak dipasang di sekitar mereka. Lalu, mereka sendiri menghitung secara sembunyi isi amplop yang diterima. Setiap ditanya ikut siapa, ia akan balik bertanya. Sesama saudara pun saling curiga.

Nasiyah hanya sekali membantu memasak di rumah Pak Muroji. Itu pun karena sudah berkali-kali diminta oleh Bu Juhari. Selanjutnya, ia selalu beralasan sibuk. Untunglah, Diman berhasil memberikan penjelasan yang bisa diterima keluarganya. Bibi Juned pun sering membujuknya untuk membantu di rumah Pak Martowi. Tapi, Nasiyah selalu menolak dengan alasan sama.

Hari itu pun tiba. Tiga calon duduk di tempat yang tinggi dengan gambar simbol di belakangnya. Sepanjang hari orang datang silih berganti untuk nyoblos. Ada yang sengaja datang dari rumah, ada juga yang dari pasar atau sawah. Yang sibuk pun sengaja meninggalkan pekerjaannya. Masing-masing ingin tahu siapa yang memperoleh suara terbanyak.

Selagi kartu dibuka dan dibacakan, orang-orang mengikutinya dengan seksama. Sebelum magrib, penghitungan suara selesai. Tapi, mereka masih kelihatan tegang, menunggu siapa yang terpilih. Beberapa yang mencatat sudah bersorak gembira. Ada juga yang merobek-robek kertas tersebut, lalu mengumpat-umpat. Sebagian hanya tampak pada ekspresi mukanya.

Hasil pun diumumkan. Orang-orang sedikit tercengang karena dugaan mereka meleset. Perbedaan yang sangat tipis membuat simbol jagung lebih unggul daripada padi. Lalu, keluarga dan pendukung Pak Muroji maupun Pak Martowi pulang dengan tangis kekecewaan.
Suasana desa sudah cukup tenang. Orang-orang kembali dengan pekerjaan masing-masing. Padi di sawah rebah, pertanda bulir-bulirnya sudah berisi, warna kuning keemasan mulai merata. Musim panen akan tiba.

Tapi, sisa-sisa dendam masih terasa. Keluarga Pak Muroji belum menerima kenyataan. Mereka menganggap pihak Pak Sumarjo curang. Namun, semuanya tidak bisa diubah. Pak Sumarjo tetap berhak menduduki jabatan kepala desa.

Nama bapak Nasiyah mulai disebut-sebut. Ada yang mengatakan, ia telah berkhianat. Keluarganya tidak seluruhnya mendukung Pak Muroji. Hanya Nasiyah yang ikut. Yang lainnya hanya berpura-pura. Kang Karto lebih berat pada Juned, karena telah banyak berutang budi pada adik iparnya itu. Desas-desus itu menjadi semacam bensin yang ditumpahkan di atas bara arang kayu. Kabar yang sudah lama terpendam terbakar lagi. Perkawinan itu dibatalkan.

Kali ini tidak main-main. Orang-orang mengatakan, Pak Muroji sendiri yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Pak Muroji sebenarnya tidak pernah menyetujui rencana pernikahan Nasiyah dan Diman.

Bapak Nasiyah, yang selama ini hanya diam, kini angkat bicara. Ia terhina oleh tuduhan itu. Ia tidak takut anak gadisnya tidak jadi menikah dengan Diman. Lagi pula, ia tidak pernah meminta Pak Juhari untuk mengajukan pinangan kepadanya.

Emak Nasiyah menangis. Bibi Darto tidak bisa berkata-kata.

Nasiyah berdiri di jendela kamarnya, memandang burung-burung yang sedang berkicau.

“Apakah orang-orang kecil harus selalu menjadi buah catur bagi orang-orang berharta?” tanyanya, pelan.

Nasiyah melihat sarang burung di pohon cengkih itu sudah kosong dan burung-burung yang beterbangan bertambah banyak. Pastilah telur-telur sudah menetas dan kini sudah menjadi burung-burung.

“Jika aku berasal dari telur dan menetas di pohon cengkih, pasti sekarang aku bisa terbang dan melompat-lompat di dahan.”

Nasiyah menutup jendela, lalu mengempaskan diri di ranjang. Perih hatinya memandangi kelambu, serta dinding-dinding yang sudah diganti dan dikapur. Terbayang bapaknya yang sudah susah payah memanjat pohon kelapa, memetik, dan mengolah kelapa-kelapa itu menjadi kopra. Kain-kain itu masih tertata rapi di dalam lemari. Rencananya, hari ini akan dibawa ke tukang jahit. Tapi, mungkinkah rencana itu dilaksanakan?

Ia hanya mau menjunjung nama baik orang tua. Air mata yang mengalir deras di pipinya tidak lain adalah jelmaan butiran-butiran keringat Bapak dan Emak yang tidak pernah kering, meskipun tiap hari diperas untuknya dan untuk kelima adiknya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan sekarang?

Api kecil itu berkedip-kedip tertiup angin. Lingkaran cahayanya jatuh di meja. Remang-remang ruang mempertegas sepi. Binatang-binatang malam mulai memainkan orkes ketika pintu diketuk dari luar. Nasiyah yang membukakan pintu terkejut bukan main. Tapi, ia segera mempersilakan tamu-tamu itu masuk. Bapak dan Emak dipanggilnya. Mereka tidak kalah terkejutnya melihat siapa yang datang.

“Sebelumnya kami minta maaf karena telah mengganggu istirahat Kang Karto. Kami datang untuk meluruskan keadaan. Begini, kami sekeluarga telah memikirkan masak-masak dan mengambil keputusan bahwa kami tidak akan menarik kembali ucapan kami. Kita harus menghormati para tetua yang telah dua kali berunding.”

“Sebelumnya kami juga minta maaf. Bukan berarti kami mengabaikan siapa-siapa, tapi kami pun menyadari bahwa kami hanya orang kecil.”

“Dalam hal ini tidak ada istilah orang kecil ataupun orang besar, Kang Karto. Sekali lagi, kami, atas nama keluarga, minta maaf jika telah menyinggung perasaan keluarga Kang Karto.”

Kang Karto terdiam.

“Baiklah, Kang Karto. Sekarang, segala keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Kang Karto sekeluarga.”

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Kang Karto angkat bicara, “Kesepakatan telah kita buat bersama. Karena itu, keputusan pun sebaiknya tidak diambil secara sepihak.”

“Kalau demikian, kami ingin menyampaikan bahwa kami akan tetap melangsungkan pernikahan Nasiyah dan Diman sesuai kesepakatan terakhir.”

Keputusan itu langsung ditentang keras oleh Pak Muroji. Tapi, semua sudah menjadi ketetapan Pak Juhari dan para tetua keluarganya.

Diman sudah mulai membantu pekerjaan di rumah calon mertuanya, sebagaimana tradisi masyarakat desa itu. Sepulang kerja, ia ke rumah Nasiyah dan malamnya tidur di situ, sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan menjadi bagian dari keluarga istrinya. Selain itu, dimaksudkan agar kedua calon pengantin saling mengenal satu sama lain.

Nasiyah sudah mulai melayani Diman, menyediakan dan menemani makan, mencucikan pakaian, serta menyiapkan segala kebutuhan calon suaminya itu. Hanya satu yang belum berani ia lakukan, yaitu menemaninya tidur. Setiap Diman menginap, Nasiyah memilih tidur bersama adik-adiknya.

Seperti halnya calon suaminya, Nasiyah pun harus mulai belajar mengenal keluarga Pak Juhari. Selain berkenalan dengan saudara-saudara Diman, Nasiyah juga harus bersedia menginap di rumah calon mertuanya. Meskipun malu, Nasiyah tidak bisa menolak dengan alasan apa pun.

Di rumah itu Nasiyah terpaksa tidur sekamar dengan calon suaminya. Meskipun canggung, Nasiyah tidak bisa menolak ketika diminta memijiti badan Diman yang kelelahan. Setelah itu, ia harus membaringkan tubuhnya di samping lelaki yang menjadi sangat asing itu.

Nasiyah berusaha memejamkan mata, tetapi telinganya masih mendengarkan suara-suara di sekitarnya. Desah napas Diman sangat tajam di telinganya. Lalu, pikirannya ke mana-mana, membayangkan adik-adiknya yang ramai berebut tempat tidur.

Tengah malam Nasiyah terbangun, merasakan tubuhnya hangat didekap lelaki yang masih lelap itu. Hati-hati ia melepaskan diri. Diman terbangun.

“Ada apa, Nas?”

“Pukul berapa sekarang?”

Suhardiman menyalakan lampu. “Baru setengah satu. Tidur saja.”

Lama sekali ia termangu di pembaringan, sementara Diman sudah terlelap kembali. Nasiyah berusaha memejamkan matanya, tetapi sudah terbangun lagi saat kokok ayam pertama. Ia beranjak turun dan duduk di depan meja. Dipandanginya buku-buku yang tersusun tidak begitu rapi. Ia mengambil satu, dibuka-buka, sambil sesekali menguap.

Diman terbangun. Lelaki itu tergeragap ketika tidak menjumpai Nasiyah di sisinya. Ia beranjak dari tempat tidur dan mendapati gadis itu termenung.

“Tidak bisa tidur, Nas?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia lalu keluar kamar, menemui Bu Juhari yang sedang menyiapkan sarapan. Ia menawarkan bantuan. Bu Juhari menerimanya dengan ramah sehingga Nasiyah mulai merasa nyaman.
Hari itu terasa sangat lama dan menyiksa bagi Nasiyah. Berkali-kali ia teringat rumah. Nenek mencuci peralatan dapur, Emak membungkusi tempe, adik-adiknya menggantikan pekerjaannya sepulang sekolah. Semua itu membuatnya ingin pergi diam-diam dari rumah itu. Tapi, bagaimana kalau nanti ditanya Bapak?

Siang ia lalui dengan berat. Kehadiran Diman tidak begitu menenangkan perasaannya. Nasiyah masih belum merasa bebas berbicara dengannya dan masih risi oleh sikap-sikap mesra lelaki itu. Nasiyah ingin minta diantar pulang. Tapi, kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya.

Malam datang lagi. Nasiyah kembali diminta memijit Diman, kali ini hanya kakinya. Lelaki itu kemudian menyuruh Nasiyah duduk di sebelahnya.

“Kamu tidak betah di sini?”

Nasiyah tidak menjawab. Diman menyibakkan anak rambut yang jatuh di kening Nasiyah.

“Lama-kelamaan kamu pasti terbiasa.”

Diman menata bantal, menyisihkan guling ke tepi. Ia meminta Nasiyah berbaring di sebelahnya. Gadis itu menurut saja. Ia menghela napas. Hening. Detak jarum jam dinding menjadi sangat jelas. Perlahan sekali Nasiyah merasakan ada tangan yang meraba perutnya, lalu naik ke dada. Spontan Nasiyah menepiskan tangan itu. Ia berbalik ke dinding, memeluk guling.

“Tidak apa-apa, Nas, kita akan menikah.”

Tangan itu kembali merayap di punggung, turun ke pinggang, juga ke paha. Nasiyah ingin menjerit, tapi tertahan di dada. Tubuhnya gemetar.

“Nas….”

Nasiyah membalikkan tubuh hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Diman. Sebuah ciuman di leher membuatnya tersentak dan tahu-tahu lelaki itu sudah menindihnya. Tubuh Nasiyah menggigil.

“Mas, jangan….”

“Bukankah aku akan jadi suamimu?”

“Tapi, aku takut.”

“Sekarang, besok, kapan pun, sama saja. Kita pasti melakukannya.”

Diman mematikan lampu. Gemuruh napas berpantulan di dinding.
Nasiyah malu kepada burung-burung. Ia selalu memalingkan muka jika mereka memandang ke arahnya. Nyanyian yang biasanya selalu merdu itu kini bagaikan tamparan keras di pipinya. Ia juga salah tingkah saat bertemu orang-orang, seolah-olah mereka mengamati langkahnya yang terasa lain dari biasanya. Bapak dan Emak, tahukah mereka apa yang telah ia alami?

Benar yang dikatakan perempuan-perempuan di kali bahwa seseorang akan merasa canggung kepada pasangannya setelah pengalaman pertama itu. Demikian juga Nasiyah. Dan, ia mulai merasakan kerinduan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Deru napas lelaki itu terus terngiang di telinga, tatapan-tatapan yang tajam dan dalam.

Ah, rasa malu itu tidak bisa ia sembunyikan kepada angin yang selalu menggodanya. Kepada air pancuran yang merabai seluruh tubuhnya sambil tertawa tergelak-gelak. Rasa perih itu membuat Nasiyah terdiam.
Serombongan orang, utusan keluarga Pak Juhari, mengantarkan sejumlah bahan mentah, mulai dari kayu bakar, kelapa kupas, beras, dua ekor kambing, hingga sayuran. Bahan-bahan itu untuk menyelenggarakan pesta perkawinan.

Masa pingitan tiba. Kedua calon pengantin dilarang bertemu hingga sehari menjelang hari pernikahan. Pada saat-saat seperti ini Nasiyah sering teringat kembali peristiwa itu. Semua hadir berulang kali dalam lamunannya. Wajah lelaki yang telah berhasil membuka pintu kegadisannya, tangan-tangannya yang kekar, aroma keringat…. Ah, keinginan untuk bertemu makin mencekam. Ia ingin mencengkeram kembali punggung itu serta merasakan sesuatu yang tak ingin ia gambarkan.

Di sawah orang-orang masih sibuk. Panen sebelumnya ia masih di sana bersama Emak. Masih jelas terasa terik matahari di tengah sawah, daun-daun padi yang tajam menggores kulit remajanya, dan keringat mempertegas nyeri. Tetapi, mereka tidak peduli.

Sekarang, Nasiyah masih ingin turun ke sana. Tetapi, saudara-saudaranya tidak mengizinkan calon pengantin bekerja di sawah.

Ah, anak-anak itu seperti dirinya dulu, senang bergulingan di atas jerami yang sudah dirontokkan padinya. Tanpa merasa gatal mereka menangkapi capung dan belalang. Mereka juga membuat gubuk jerami dan suka minta dibelikan es lilin.

Enak sekali menikmati es lilin di tengah sawah, di bawah terik matahari. Ketika itu ia dan Pomo belum bisa membantu orang tuanya. Mereka hanya bermain-main di sawah. Keduanya membuat sapu kecil dari batang jerami untuk mengorek lubang-lubang yang berisi ceceran gabah. Kemudian, gabah-gabah yang bercampur lumpur itu dicuci dan dijemur. Tetapi, penjual es sudah datang ketika gabah belum kering benar. Pomo nekat menukarkannya dengan es lilin yang mereka tunggu sejak tadi. Penjualnya tidak mau menerima. Pomo merajuk. Karena kasihan, gabah itu diterima dan ditukar dengan satu batang es lilin. Ia pun menikmatinya bersama Nasiyah.

Lamunan itu buyar karena seekor cicak tiba-tiba jatuh menimpanya. Nasiyah lalu bergabung dengan perempuan-perempuan yang sibuk membantu mempersiapkan hari perkawinannya. Dari mereka Nasiyah mendengar kabar bahwa Pomo mengalami kecelakaan. Mobil angkutan barang milik perusahaan yang ia tumpangi bertabrakan dengan sedan. Sopirnya meninggal, sedangkan Pomo dan dua penumpang sedan luka parah.

Sorenya, Nasiyah menengok Nini Jikun. Perempuan tua itu sudah tersadar dari pingsannya. Ia terus meratapi anaknya yang malang.

“Oalah, Pomo, jelek sekali nasibmu. Sudah miskin ditabrak orang pula. Kapan kamu bisa hidup bahagia, Pomo….”

Nasiyah ikut menghibur perempuan, yang sudah sangat dekat dengan keluarganya itu. Tapi, ia diam-diam menyeka air mata dengan ujung bajunya. Setelah itu, ia menemui Trimo di kamarnya dan menyatakan ingin ikut menengok Pomo.

“Gila kamu, Nas!”

“Tapi, aku ingin tahu keadaannya.”

“Kemarin dia sadar. Perusahaan sudah mengurus perawatannya.”

Nasiyah tidak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.

“Apa kata orang nanti. Kamu sedang dipingit.”

Air mata Nasiyah makin deras.

“Sudahlah, doakan saja dari sini agar keadaan Pomo cepat pulih sehingga bisa bekerja kembali.”

Trimo memberikan sapu tangan untuk menyeka air mata itu. Kesedihan terus menyelimuti hari-hari Nasiyah. Ia sudah berusaha melupakannya dengan menyibukkan diri di dapur.

Kesibukan di rumah Nasiyah memuncak. Sejak sore berpuluh-puluh kg beras direndam. Kelapa dipecahkan dan dagingnya dikeluarkan. Di halaman belakang orang sibuk menyembelih kambing, menguliti, memanggang, serta memotong-motong dagingnya.

Keesokan harinya, tamu-tamu makin banyak, dari tetangga satu kampung, desa sebelah, hingga kenalan-kenalan Emak dan Bapak di pasar. Tamu perempuan biasanya membawa tas berisi beras dan sayuran, sedangkan tamu laki-laki menyodorkan kertas atau amplop kecil. Teman-teman Nasiyah datang malam hari, membawa kado-kado yang dibungkus sederhana.

Saat jemput manten tiba. Lima orang utusan Kang Karto menjemput Diman di rumahnya. Pak Juhari mengutus beberapa orang tua untuk mengantarkan dan menyerahkan Diman kepada keluarga Kang Karto. Maka, sejak malam itu Diman telah resmi menjadi bagian dari keluarga Sukarto.

Esok harinya, akad nikah dilaksanakan pukul sebelas siang. Keluarga Pak Juhari datang semua, kecuali keluarga Pak Muroji. Dua kalimat syahadat menandai bahwa sejak saat itu Diman sudah sah menjadi suami Nasiyah. Semua yang hadir tampak lega. Sebagian menitikkan air mata haru.

Malamnya, Nasiyah berbaring menghadap ke dinding. Ada guling dalam dekapannya. Hati-hati sekali Diman naik ke ranjang. Ia panggil nama istrinya beberapa kali, tapi tidak ada sahutan. Samar-samar terdengar isak tangis. Diman tertegun memandangi punggung Nasiyah. Perlahan ia menyentuhnya dari belakang.

“Kamu terlalu lelah. Tidurlah.”

Rambut Nasiyah dibelainya. Nasiyah membalikkan tubuhnya. Diman tersenyum sembari mengusap air mata yang terus mengalir lewat anak rambut di pelipis. Kening basah itu pun diciumnya, lalu dibenamkan ke dada.

Nasiyah tenggelam dalam irama degup jantung suaminya. Sesaat ia melepaskan diri dari pelukan, lalu mengusap dan mencium wajah itu lagi. Ia berusaha tersenyum. Tatapan keduanya bertemu. Sinarnya menyatukan dua jiwa yang berbeda. Lembut suara Nasiyah memanggil suaminya dan sekali lagi lelaki itu diciumnya. Tidak lama kemudian Nasiyah pun menenggelamkan kembali wajahnya ke dalam ketegaran hidup.

Pagi turun bersama harum bunga kopi yang bermekaran di kebun belakang. Wanginya menyeruak lewat celah-celah kamar. Nasiyah membuka mata. Tubuhnya masih rapat dalam dekapan suaminya. Tidak lama kemudian lelaki itu pun terbangun. Diman menarik selimut dan mempererat pelukannya.

“Masih dingin, Nas.”

Tetapi, Nasiyah tidak bisa memejamkan mata lagi. Beberapa saat ia membiarkan saja lelaki itu menikmati kehangatan tubuhnya. Dan, dengan sayang ia pun mengusap punggung suaminya. Hanya sebentar. Ia kemudian berbisik lembut, mengatakan bahwa ia harus membantu Emak. Lelaki itu pun melonggarkan pelukannya. Nasiyah mencium kening suaminya lalu beranjak ke luar kamar.

Tidak ada yang menyuruh Nasiyah untuk melakukan tugas rutinnya itu lagi. Bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian. Tapi, baginya tugas itu seolah sudah menjadi hobi. Setelah menyediakan kopi untuk suaminya, Nasiyah membawa ember-ember ke kali. Diman tidak mau menikmati hidangan itu. Ia membantu istrinya, membawakan ember-ember itu. Keduanya sama-sama turun ke kali.

Di kali orang-orang sudah banyak yang selesai mandi. Melihat kedatangan sepasang pengantin baru itu mereka pun menggoda.

“Udara masih dingin, lho. Lebih enak tidur lagi.”

“Nanti kan bisa dilanjutkan lagi,” celetuk yang lain.

Nasiyah hanya senyum-senyum. Satu per satu mereka pergi hingga tinggal Nasiyah dan Diman. Sepi. Desah napas bersatu dengan gesekan baju-baju yang diturunkan dari ember.

“Mas, ke sini!”

Diman mendekat.

“Perkenalkan, ini sahabatku, air pancuran.”

Diman mengguyurkan kepalanya di bawah air itu.

“Dialah yang tiap hari menemaniku mencuci di tempat ini.”

Angin berembus. Embun berjatuhan. Burung-burung kecil berkicauan.

“Ya, ya. Juga angin, embun, dan burung-burung itu. Merekalah yang senantiasa menghiburku di kala aku sedih.”
Dari arah timur, langit menyemburatkan warna merahnya.


“Dan, matahari itulah yang mengajariku tersenyum di saat-saat pahit sekalipun. Lihatlah, mereka cemburu padamu. Entah siapa yang mengabari mereka bahwa kau akan segera membawaku pergi dari sini.”

Nasiyah melepas pakaiannya. Dengan terbalut kain ia merendam tubuhnya di bawah air pancuran. Ia biarkan air, angin, serta embun pagi memeluk dirinya. Burung-burung yang berlompatan menghambur ke arahnya.

Musim telah berganti. Hawa mulai hangat. Angin berembus dari timur laut. Di sawah orang-orang bergembira dengan panennya. Burung-burung manyar, pipit, dan punai beterbangan untuk mencari makan bagi anak-anaknya yang selalu lapar.

Paruh-paruh mungil itu menganga setiap mereka kembali. Lalu, secara naluri mematuk-matuk paruh induknya. Patukan-patukan itu merangsang sang induk untuk mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna. Anak-anak burung makan dari mulut induknya.

Tubuh anak-anak burung, yang kemerahan itu, ditutupi bulu cokelat kelabu, membangkitkan naluri perlindungan pada induknya. Warna bulunya yang semarak dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian musuh.

Dua minggu kemudian burung-burung kecil itu sudah bisa meninggalkan sarang untuk kemudian terbang, mencari makan sendiri, kawin, atau menemukan kehidupannya yang baru.


Tamat