Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Harsh Cry of the Heron Part 3

Kata-kata itu meluncur deras dari mulut¬nya. Dia telah menyimpan semua ini rap at- rap at selama
bertahun-tahun, pikir Hana, merasa tersanjung dan gembira karena laki¬laki itu percaya padanya.
"Saat Takeo kembali dari Timur, Kaede pasti akan tahu semua ini," ujar Hana. "Masalah ini akan
memisahkan mereka. Kaede takkan memaafkannya. Aku mengenalnya: Takeo akan melarikan diri
dari Kaede dan dari dunia ini, dia akan mencari perlindungan di Terayama. Biara itu hampir tidak
dijaga. Takkan ada yang menduga kau akan ke sana. Kau bisa mengejutkannya di sana."
Mata Akio setengah terpejam. Lalu meng¬hembuskan napas panjang. "Itu satu-satunya yang akan
mengakhiri penderitaanku."
Hana tergoda oleh hasrat untuk memeluk Akio, untuk meringankan sakit hati orang itu: yakin bisa
menghibur laki-laki itu atas kematian—ia ragu untuk menyebutnya sebagai pembunuhan—istrinya.
Namun dengan hati-hati menyimpan kenikmatan ini untuk masa yang akan datang. Ada hal lain lagi
yang ingin dibicarakannya dengan Akio.
"Hisao telah berhasil menempa senjata api kecil yang bisa dibawa tersembunyi?" tanya Hana. "Tak
ada pun bisa mendekati Takeo untuk bisa membunuhnya dengan pedang, tapi senjata api bisa
digunakan dari jauh, kan?"
Akio mengangguk dan bicara dengan lebih tenang, seolah lega topik pembicaraan sudah berganti.
"Dia sudah mengujinya di tepi pantai. Jangkauannya lebih jauh dari panah, dan peluru lebih cepat
dibanding anak panah." Sesaat Akio berhenti bicara. "Suami Anda amat tertarik, senjata yang
menyebab¬kan kematian ayahnya. Dia ingin Takeo mati dengan cara yang sama memalukannya."
"Memang ada semacam keadilan di dalam
nya," ujar Hana setuju. "Cukup menyenang¬kan. Tapi agar benar-benar berhasil, kau pasti akan
melatih Hisao secara khusus? Sebaiknya dilakukan uji coba untuk memastikan semua berjalan lancar,
agar dia tidak kehilangan nyali, agar bidikannya benar-benar tepat."
"Apakah Lady Arai punya orang yang bisa diusulkan?" Akio menatap langsung pada Hana dan ketika
tatapan mereka beradu, hati Hana serasa melompat gembira.
"Sebenarnya aku memang punya," sahut¬nya pelan. "Mendekatlah dan aku akan membisikkan
namanya."
"Tidak perlu," sahutnya. "Aku bisa menebaknya."
Tapi Akio akhirnya mendekat, begitu dekat hingga Hana bisa mencium napasnya serta mendengar
detak jantungnya. Tak satu pun dari keduanya bicara atau bergerak. Angin menggetarkan layar kasa,
dan dari arah pelabuhan terdengar jerit burung camar.
Setelah beberapa saat, Hana mendengar suara Zenko dari pelataran.
"Suamiku sudah kembali," katanya, sambil berdiri, tak yakin apakah merasa lega atau kecewa.
***
Lord dan Lady Arai sering bepergian antara Kumamoto dan Hofu, maka kedatangan mereka di kota
itu tidak lama setelah kembalinya orang-orang asing, tidaklah mengherankan. Kapal yang ditumpangi
para orang asing segera berangkat lagi menuju Akashi bersama Shigeko, Sugita Hiroshi dan kirin.
Penduduk Hagi melepas kepergian kirin dengan rasa bangga dan sedih; mereka telah merasa
memiliki hewan itu sejak kedatangannya yang mencengangkan di pelabuhan mereka. Tak lama
kemudian, Terada Fumio bersiap berlayar untuk bergabung dengan ayahnya, Fumifusa, di teluk,
bersama dengan armada Otori.
Orang-orang asing sudah sering ber¬kunjung ke tempat Lord Arai sehingga tidak menarik perhatian.
Perbincangan mengalir lebih lancar karena si jurubahasa makin berani dan percaya diri, dan Don
Carlo pun makin fasih.
"Anda pasti mengira kami bodoh," katanya, "karena tidak mengetahui ada Kaisar. Kini kami sadar
kalau kami harus mendekati beliau karena kami adalah utusan

Halaman 613 dari 613
raja kami, dan monarki harus berhadapan dengan monarki."
Hana tersenyum. "Lord Kono yang baru¬baru ini kembali ke ibukota, dan yang pernah bertemu Anda
berdua, adalah keluarga kekaisaran. Dia meyakinkan kami bahwa Lord Arai mendapat dukungan
Kaisar. Kepemimpinan Lord Otori di Tiga Negara dianggap tidak sah, maka dia hendak meng¬ajukan
pembelaan atas tuduhan itu."
Don Joao nampak tertarik saat kalimat ini diterjemahkan. "Mungkinkah Lord Arai bisa membantu kami
mendekati Yang Mulia Kaisar?"
"Akan kulakukan dengan senang hati," sahut Zenko, wajahnya bersemu merah karena gembira dan
juga karena minum sake.
Perempuan itu, si jurubahasa, mener¬jemahkan kalimat ini, lalu mengatakan beberapa kalimat lagi.
Don Carlo tersenyum agak sedih, Hana pikir, lalu menganggukkan kepala dua atau tiga kali.
"Apa yang kau katakan?" tanya Hana langsung pada Madaren.
"Maaf, Lady Arai. Aku bicara soal masalah keagamaan pada Don Carlo."
"Ceritakan lebih banyak lagi pada kami.
Kami tertarik pada ajaran para orang asing, dan terbuka dengan kepercayaan mereka."
"Tidak seperti Lord Otori," kata Don Carlo. "Tadinya aku mengira dia akan ber¬sikap simpatik, dan
aku menaruh harapan besar untuk penyelamatan jiwa dari dosa dan kematian bagi istrinya yang
cantik itu, tapi dia melarang kami menyebarkan agama secara terang-terangan atau membangun
gerej a."
"Kami tertarik mendengarkan masalah ini," ujar Hana sopan. "Dan sebagai imbalannya kami ingin
tahu berapa banyak kapal yang dimiliki raja Anda di Kepulauan Kecil Selatan, dan berapa lama waktu
yang dibutuhkan untuk berlayar dari sini ke sana."
"Kau punya rencana baru," kata Zenko malam itu saat mereka hanya berdua saja.
"Aku tahu sedikit tentang kepercayaan orang-orang asing itu. Alasan mengapa kaum Hidden selalu
dibenci adalah karena mereka lebih mematuhi Tuhan Rahasia ketimbang penguasa mana pun. Deus
milik orang-orang asing itu juga sama, menuntut kesetiaan yang utuh."
"Aku telah bersumpah setia berulang kali pada Takeo," ujar Zenko. "Aku tidak
menyukai gagasan dikenal sebagai pelanggar sumpah, seperti Noguchi: kukatakan yang
se¬sungguhnya padamu, hanya itu yang masih menahanku."
"Takeo telah menolak Deus—sudah jelas dari apa yang kita dengar tadi. Bagaimana kalau Deus
memilihmu untuk menghukum¬nya?"
Zenko tertawa. "Bila Deus membawa¬kanku kapal dan senjata, maka aku siap ber¬hadapan
dengannya!"
"Bila Kaisar sekaligus Deus memerintah¬kan kita untuk menghancurkan Takeo, bagaimana kita bisa
membantah atau tidak mematuhinya?" ujar Hana. "Kita memiliki restu; juga peralatan." Tatapan
mereka ber-temu, lalu mereka berdua tertawa terbahak¬bahak.
***
"Aku ada satu rencana lagi," kata Hana kemudian, ketika kota sudah sunyi, dan dia berbaring di
pelukan suaminya, setengah tertidur dan merasa puas.
Zenko sudah hampir tertidur. "Kau memang sarang berharga dari gagasan yang
baik," sahutnya, seraya membelai istrinya dengan malas.
"Terima kasih, tuanku! Tapi apakah kau tidak ingin mendengarnya?"

Halaman 614 dari 614
"Tidak bisakah menunggu sampai besok?" "Ada beberapa hal yang lebih baik di¬bicarakan dalam
kegelapan."
Zenko menguap dan berpaling ke arah istrinya. "Bisikkan rencanamu itu dan aku akan
mempertimbangkannya dalam mimpi¬ku."
Setelah Hana memberi tahukan, Zenko terbaring dalam waktu lama tanpa bicara hingga seperti sudah
tertidur, namun Hana tahu kalau suaminya itu masih terjaga. Akhir¬nya Zenko berkata, "Aku akan
berikan dia satu kesempatan lagi. Bagaimana pun, dia adikku."*
Meskipun Sada telah berusaha, ditambah salep dari Ishida, luka di wajah Maya tetap berbekas, garis
kemerahan di tulang pipinya bak bayangan daun perilla. Maya dihukum dengan berbagai cara atas
ketidakpatuhan¬nya. Meskipun dia dipaksa melakukan tugas paling rendah di rumah, dilarang bicara,
dilarang tidur dan makan, dia tetap lakukan semua ini tanpa dendam, sadar kalau ia memang pantas
dihukum karena menyerang dan melukai ayahnya. Maya belum bertemu Taku selama seminggu, dan
walau Sada merawat lukanya, tapi dia tidak bicara atau pun memeluk serta membelainya seperti yang
diinginkan Maya. Sendirian sepanjang waktu, dijauhi semua orang, Maya punya banyak waktu untuk
memikirkan apa yang telah terjadi. Begitu teringat kalau ia telah menyerang ayahnya, air mata
berlinang. Biasanya ia tidak pernah menangis: satu¬satunya yang diingatnya yaitu saat berada di
sumber air panas, bersama Takeo dan Miki,
ketika menceritakan pada ayahnya bagai¬mana cara membuat si kucing tertidur dengan tatapan maut
Kikuta.
Hanya ketika ada Ayah aku bisa menangis, pikirnya.
Mungkin air mata adalah bagian dari kemarahan. Ia ingat kemarahannya pada ayahnya karena tidak
mengatakan kalau punya anak laki-laki, karena semua rahasia yang mungkin disembunyikan ayah
dari diri¬nya, karena semua muslihat yang terjadi antara orangtua dan anaknya.
Namun Maya juga ingat kalau tatapannya menguasai tatapan ayahnya, kalau ia bisa mendengar
langkah ringan dan merasakan kehadiran ayahnya saat tidak kelihatan. Maya melihat betapa
kekuatan si kucing telah ber¬tambah dan memperkuat kekuataan dirinya. Kekuatan itu masih saja
menakutkan bagi¬nya, tapi setiap hari, di saat kurang tidur, makan dan bicara, daya tarik kekuatan itu
semakin bertambah, dan mulai bisa melihat bagaimana ia bisa mengendalikannya.
Di akhir minggu, Taku memanggilnya dan mengatakan kalau mereka akan pergi ke Hofu keesokan
harinya.
"Kakakmu, Lady Shigeko, membawa
kuda-kuda," katanya. "Dia ingin mengucap¬kan selamat tinggal padamu."
Saat Maya hanya membungkuk hormat tanpa menjawab, Taku berkata, "Kau boleh bicara sekarang:
hukumannya sudah selesai."
"Terima kasih, Guru," sahutnya dengan patuh, kemudian berkata, "Aku benar-benar menyesal."
"Kita semua pernah melakukan kesalahan yang berbahaya. Aku yakin kalau aku pernah menceritakan
saat ayahmu menangkapku di Shuho."
Maya tersenyum. Kedua saudara perem¬puannya senang sekali mendengarkan cerita itu saat
mereka masih kecil. "Shizuka sering menceritakannya pada kami, untuk memper¬ingatkan agar kami
patuh!"
"Kami berdua beruntung karena ayahmu yang kami hadapi. Jangan lupa, kebanyakan orang Tribe
dewasa akan membunuh tanpa pikir panjang, anak-anak atau bukan."
***

Halaman 615 dari 615
Shigeko membawa dua kuda betina tua
Maruyama, untuk Maya dan Sada, satu
berwarna coklat kemerahan, dan satunya lagi,
yang membuat Maya kegirangan, berwarna abu-abu pucat dengan surai dan ekor hitam, sangat mirip
kuda tua milik Taku, Ryume, anak Raku.
"Ya, yang abu-abu ini bisa menjadi milik¬mu," sahut Shigeko, memerhatikan mata Maya yang
berbinar. "Tapi, kau harus merawatnya baik-baik selama musim dingin." Shigeko melihat wajah Maya:
"Sekarang aku bisa bedakan antara kau dan Miki." Sambil menarik Maya ke samping, Shigeko
berkata pelan, "Ayah menceritakan apa yang terjadi. Aku tahu ini sulit bagimu, melakukan semua
yang diminta Taku dan Sada. Buka mata dan telingamu lebar-lebar saat tiba di Hofu. Aku yakin kau
bisa berguna di sana." Kedua kakak beradik itu berpelukan; setelah mereka berpisah, Maya merasa
diperkuat oleh kepercayaan Shigeko kepadanya. Itulah yang membuatnya mampu bertahan selama
musim dingin yang panjang di Hofu, saat angin dingin terus berhembus dari laut, bukannya membawa
salju sebagai¬mana mestinya tapi malah membawa hujan es dan hujan sedingin es. Bulu kucing itu
terasa hangat, dan Maya kerap tergoda untuk memanfaatkannya. Awalnya masih terasa
janggal, lalu dengan rasa percaya diri yang makin besar, Maya belajar memaksa roh kucing itu tunduk
pada kehendaknya. Masih ada banyak unsur ruang antara dua dunia yang menakutkan baginya:
hantu yang kelaparan dengan keinginan yang belum terpuaskan, serta kesadarannya tentang
semacam kepandaian yang mencari dirinya. Rasanya seperti kilatan halilintar di kege¬lapan. Kadang
ia menatap dunia itu dan merasakan daya tariknya, tapi seringkali ia menjauhi kilauannya, tetap
berada di balik bayang-bayang. Sesekali ia bisa menangkap penggalan kata, bisikan yang tak kunjung
ia pahami.
Satu hal yang menyita pikirannya se¬panjang musim dingin adalah masalah yang membuat ia sangat
marah pada ayahnya: bocah misterius yang merupakan kakak tirinya, yang tidak pernah dibicarakan
siapa pun, yang kata Taku akan membunuh ayahnya—ayahnya! Saat ia memikirkan tentang bocah
itu, ia menjadi bingung dan roh si kucing berusaha menguasai dirinya dan melakukan apa yang
diinginkannya.
Ia sering terbangun berteriak karena mimpi buruk, sendirian di kamar karena kini
setiap malam Sada bersama Taku. Maya berbaring terjaga sampai pagi, takut meme¬jamkan mata.
Sada mengatur agar mereka tinggal di rumah keluarga Muto antara sungai dan kediaman Zenko.
Rumah itu dulunya adalah tempat penyulingan sake, tapi dengan makin bertambahnya pelanggan
karena Hofu kian makmur, keluarga itu pindah ke bangunan yang lebih besar, dan bangunan ini kini
hanya dijadikan gudang.
Seperti di Maruyama, keluarga Muto menyediakan penjaga dan pelayan, dan Maya masih berpakaian
anak laki-laki di luar rumah, tapi diperlakukan sebagai anak perempuan ketika di dalam rumah.
Teringat pesan Shigeko, dan ia membuka telinga lebar-lebar, mendengarkan bisik-bisik per¬cakapan
di sekelilingnya, berjalan-jaian me¬lewati pelabuhan saat cuaca cukup cerah, dan memberitahu Taku
dan Sada apa yang didengarnya. Tapi ia tidak menceritakan semuanya: sebagian dari desas-desus
yang mengejutkan dan membuatnya marah sehingga ia tidak ingin mengulang kata-kata itu. Ataupun
berani bertanya pada Taku tentang pemuda yang merupakan kakaknya itu.
Maya bertemu Shigeko lagi sebentar ketika musim semi, ketika kakaknya berlayar bersama kirin dan
Hiroshi dalam perjalanan ke Miyako. Ia sudah sangat terbiasa dengan segala hasrat Taku terhadap
Sada, lalu mengamati kakaknya dan Hiroshi untuk melihat apakah mereka menunjukkan gejala yang
sama. Terasa sudah begitu lama ketika ia dan Miki menggoda Shigeko tentang Hiroshi: apakah hanya
sekadar rasa tertarik seorang gadis belia, ataukah kakaknya masih tetap mencintai pemuda yang kini
menjadi pengawal seniornya? Dan apakah Hiroshi mencintai kakaknya? Seperti halnya Takeo, Maya
juga memerhatikan reaksi cepat Hiroshi sewaktu Tenba melompat dan mundur tiba-tiba karena takut
selama upacara di Maruyama, dan menarik kesimpulan yang sama. Kini ia kurang yakin: di satu sisi,
Shigeko dan Hiroshi tampak saling menjauh sekaligus bersikap resmi; di sisi lain mereka seperti

Halaman 616 dari 616
saling memahami pikiran masing-masing, dan ada semacam keselarasan yang terjalin di antara
mereka. Shigeko telah mengemban wewenang baru, dan Maya tak berani lagi menggoda maupun
bertanya padanya.
Di bulan keempat, setelah Shigeko dan Hiroshi pergi bersama kirin menuju Akashi, Taku disibukkan
dengan permintaan dari orang-orang asing yang telah kembali dari Hagi dan bersemangat untuk
membangun pos perdagangan secepatnya. Kira-kira di saat inilah Maya sadar atas perubahan yang
terjadi dengan perlahan sejak hari pertama musim semi. Semua perubahan itu seperti memastikan
desas-desus yang mulai di-dengarnya saat musim dingin.
Sejak kecil ia sudah hidup dengan kepercayan bahwa kesetiaan keluarga Muto teguh kukuh terhadap
Klan Otori, dan bahwa Muto mengendalikan kesetiaan Tribe—terlepas dari Kikuta yang membenci
dan berusaha membunuh ayahnya. Shizuka, Kenji, dan Taku adalah keluarga Muto dan telah menjadi
penasihat terdekat keluarga Otori dan telah menjadi gurunya. Maka butuh waktu lama baginya untuk
dapat memahami dan menerima gejala-gej ala yang tampak di depan matanya.
Kurir pembawa pesan yang datang ke rumah jumlahnya makin sedikit; informasi yang diantar amat
terlambat hingga akhimya tidak berguna. Para penjaga tertawa sinis di
belakang Taku tentang obsesinya terhadap Sada: laki-laki-perempuan yang lemah dan gila. Maya
menemukan dirinya terbebani dengan lebih banyak pekerjaan karena para pelayan makin malas,
bahkan kurang ajar. Seiring makin besar kecurigaannya, diikuti¬nya para pelayan ke penginapan dan
men¬dengar cerita-cerita mereka: kalau Taku dan Sada adalah penyihir, dan kedua orang itu
memanfaatkan arwah kucing dalam mantra- mantra mereka.
Sewaktu di penginapan itulah Maya men¬dengar percakapan lain di kalangan keluarga Muto, Kuroda
dan Imai: setelah lima belas tahun dalam damai, ketika pedagang dan petani biasa menikmati
kesejahteraan, Tribe mulai menyesal karena sebelumnya mereka yang menguasai perdagangan, dan
ketika bangsawan memanfaatkan ketrampilan mereka.
Sumpah setia tidak pasti yang digabung Kenji dengan kekerasan karakternya, pengalaman dan akal
bulusnya mulai hancur, dan untuk memperbaikinya saat ini, maka Kikuta Akio muncul dari
pengasingan.
Maya mendengar nama laki-laki itu beberapa kali di awal-awal bulan keempat,
dan setiap kali didengarnya, ketertarikan dan keingintahuannya semakin bertambah. Satu malam,
sesaat sebelum bulan purnama, ia pergi diam-diam ke penginapan di tepi sungai, saat itu kota terasa
lebih hidup dari biasanya karena Zenko dan Hana sudah kembali bersama rombongan, dan
penginapan penuh sesak dengan orang.
Maya menyembunyikan diri di bawah beranda, menggunakan kemampuan meng¬hilang untuk
menyelinap di bawahnya; malam ini terlalu bising untuk bisa mendengar banyak bahkan dengan
telinga¬nya yang tajam, tapi ia menangkap kata ketua Kikuta, dan sadar kalau Akio ada di
penginapan itu.
Ia terkejut temyata laki-laki itu berani muncul secara terang-terangan di Hofu, dan bahkan lebih kagum
lagi ternyata begitu banyak orang yang ia kenal dari kalangan Tribe bukan hanya mentolerir
kehadirannya, tapi justru mencarinya, memperkenalkan diri pada Akio. Maya menyadari kalau orang
itu berada dalam perlindungan Zenko, dan ia bahkan mendengar Zenko disebut sebagai ketua Muto.
Ia tahu kalau itu pengkhianatan, meski ia tak tahu sampai sejauh mana
kebenarannya. Selama ini ia dapat meng¬hilang diri tanpa diketahui, dan menjadi sombong
karenanya. Ia meraba pisau di baju luamya lalu menggunakan kemampuan menghilang kemudian
berjalan ke pintu penginapan.
Semua pintu terbuka lebar, membiarkan angin sepoi-sepoi dari arah barat daya masuk. Lentera
menyala berasap, dan udara terasa pekat dengan berbagai aroma, ikan panggang dan sake, minyak
wijen serta jahe.
Maya memindai berbagai kelompok; langsung tahu mana yang bernama Akio karena laki-laki itu
melihat dirinya, langsung menembus kemampuan menghilangnya. Saat itu ia menyadari betapa

Halaman 617 dari 617
berbahayanya laki¬laki itu, betapa lemah dirinya bila dibanding¬kan dengan Akio, betapa laki-laki itu
bisa membunuhnya tanpa ragu. Akio melompat dari lantai dan seperti terbang ke arahnya,
melemparkan senjata selagi bergerak. Maya melihat kilau pisau, mendengar desingnya di udara, dan
tanpa pikir panjang ia men¬jatuhkan diri ke lantai. Semua yang ada di sekelilingnya berubah: ia
melihat dengan mata si kucing; dirasakannya tekstur lantai di bawah kakinya; cakarnya di lantai papan
beranda sewaktu ia melompat melarikan diri ke dalam gelapnya malam.
Di belakangnya, Maya menyadari ke¬hadiran pemuda itu, Hisao. Dirasakannya tatapan pemuda itu
mencarinya, dan men¬dengar penggalan suara yang membentuk kata-kata. Saat memahami katakata
itu, ia ketakutan setengah mati. Datanglah padaku. Sudah lama aku menunggumu.
Dan si kucing hanya ingin kembali pada pemuda itu.
Maya melarikan diri pada satu-satunya perlindungan yang dikenalnya, pada Sada dan Taku,
membangunkan keduanya dari tidur nyenyak. Mereka berusaha menenang¬kan saat dia berjuang
sekuat tenaga men¬dapatkan kembali wujud manusianya, Sada memanggil-manggil namanya
sementara Taku menatap matanya, melawan tatapan Maya yang amat kuat. Akhirnya tubuh Maya
lemas; sepertinya tertidur selama beberapa saat. Ketika membuka mata, dia bisa berpikir jelas lagi,
dan ingin menceritakan segalanya pada mereka.
Taku mendengarkan tanpa bicara selagi Maya menceritakan apa yang didengarnya. Taku mengagumi
pengendalian diri gadis itu
yang dapat menceritakan tanpa meneteskan air mata.
"Jadi sesuatu menghubungkan Hisao dan kucing itu?" akhimya ia bertanya.
"Dialah yang memanggil kucing itu," ujar Maya pelan. "Dialah penguasa si kucing."
"Penguasa si kucing? Darimana kau dapat kata itu?"
"Itulah yang dikatakan para hantu, jika kubiarkan mereka bicara."
Taku menggelengkan kepala dengan tatapan bertanya-tanya. "Kau tahu siapa Hisao itu?"
"Dia cucu Muto Kenji." Ia berhenti sejenak lalu bicara tanpa perasaan, "Putra ayahku."
"Sudah berapa lama kau tahu?"
"Aku pernah mendengar kau mengatakan pada Sada, di Maruyama pada musim gugur yang lalu,"
jawab Maya.
"Pertama kali kita melihat kucing itu," bisik Sada.
"Hisao pasti seorang penguasa alam baka," ujar Taku, mendengar Sada menghela napas, hembusan
napasnya terasa di bulu kuduknya. "Kukira hal itu hanya legenda."
"Apa artinya itu?" tanya Maya.
"Artinya dia mampu untuk berjalan di antara dua dunia, mendengar suara orang yang sudah mati.
Para arwah akan patuh padanya. Dia memiliki kekuatan untuk me¬nenangkan atau menghasut
mereka. Ini jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan."
Inilah pertama kalinya Taku merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Takut pada kekuatan
supranatural, gelisah atas peng¬khianatan yang telah diungkap Maya, dan kemarahan pada rasa
puas dalam dirinya serta kurang waspada.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sada pelan. Sada merengkuh dan memeluk Maya erat-erat.
Tatapan Maya yang berkilat ter¬paku pada wajah Taku.
"Kita harus membawa Maya pergi," sahutnya. "Tapi aku harus menemui kakakku lebih dulu, membuat
satu tuntutan terakhir padanya, dan mencari tahu seberapa dalam keterlibatannya dengan Akio, dan
berapa banyak yang mereka tahu tentang Hisao. Dugaanku adalah mereka belum mengetahui
bakatnya. Tidak ada lagi orang yang tahu tentang hal semacam ini di kalangan Tribe: semua laporan
kita menunjukkan kalau Hisao tidak memiliki kemampuan Tribe."

Halaman 618 dari 618
Apakah Kenji tahu? Taku memikirkan hal itu, dan menyadari sekali lagi betapa ia sangat merindukan
Gurunya itu, dan betapa besar kegagalannya untuk bisa menggantikan kedudukan gurunya itu.
"Kita akan pergi ke Inuyama," katanya. "Aku akan menemui Zenko besok, tapi kita harus tetap pergi.
Kita harus bawa Maya pergi."
"Kita belum mendapat kabar dari Lord Takeo sejak Terada datang dari Hagi," kata Sada gelisah.
"Sebelumnya aku tidak cemas," sahut Taku, dicekam perasaan kalau segala sesuatunya akan terurai
satu demi satu.
***
Saat malam lebih larut, meski sulit untuk mengakui pada dirinya sendiri, terlebih lagi mengaiakannya
pada Sada atau orang lain, keyakinannya makin besar kalau Takeo akan hancur, kalau jaring mulai
makin kencang di sekelilingnya dan tak ada jalan untuk lolos. Saat terjaga, sadar akan tubuh tinggi
Sada di sisinya, mengamati malam yang pucat, Taku berpikir keras apa yang harus dilakukan.
Rasanya masuk akal mematuhi kakaknya yang akan mengambil alih kepemimpinan Tribe—atau
bahkan menyerahkan jabatan itu pada Taku sendiri: keluarga Muto dan Kikuta bisa berdamai; maka ia
tak harus menyerahkan nyawa Sada atau nyawanya sendiri; naluri pragmatis Muto mendesaknya
untuk mengikuti jalan ini. Ia berusaha menimbang apa saja yang dipertaruhkan. Nyawa Takeo,
pastinya. Juga nyawa Kaede, kemungkinan anak-anak juga—mungkin Shigeko tidak, kecuali bila dia
melawan, tapi Zenko pasti menganggap si kembar terlalu berbahaya. Jika Takeo melawan balik,
berarti kematian beberapa ribu prajurit Otori yang tak ada hubungan dengan dirinya. Hiroshi...
Memikirkan Hiroshi telah membuatnya berhenti secara tiba-tiba. Sebagai anak laki¬laki, Taku punya
rasa iri yang terpendam pada Hiroshi, terhadap sifat ksatria yang jujur, keberanian fisiknya, kesadaran
ter¬goyahkan pada kehormatan dan kesetiaan. Ia selalu berusaha membuat Hiroshi terkesan;
menyayangi sahabatnya itu lebih dari apa pun, sebelum ia bertemu Sada. Ia tahu kalau Hiroshi lebih
memilih mencabut nyawanya ketimbang meninggalkan Takeo, dan ia tak
tahan membayangkan wajah Hiroshi saat sadar kalau ia berpihak pada Zenko.
Alangkah bodohnya kakakku, pikirnya, bukan untuk yang pertama kalinya. Ia menyesalkan tindakan
kakaknya yang menempatkan ia dalam posisi serba salah. Direngkuhnya Sada erat. Tak pernah
ku¬bayangkan kalau aku akan jatuh cinta, pikirnya saat membangunkan Sada dengan lembut, dan
meskipun tidak tahu kalau itulah terakhir kalinya dia membangunkan Sada. Tak pernah kubayangkan
kalau aku akan menjadi ksatria yang mulia.
***
Taku mengirim pesan keesokan harinya, dan menerima jawabannya sebelum tengah hari. Ia
diperlakukan dengan santun seperti biasa, dan diundang ke kediaman di Hofu untuk makan malam
bersama Zenko dan Hana. Dia menghabiskan waktu dengan mem¬persiapkan diri untuk bepergian,
tidak secara terang-terangan, karena tak ingin menarik perhatian. Taku berkuda pergi bersama empat
orang yang telah menemaninya sejak dari Inuyama, lebih memercayai mereka
ketimbang orang yang disediakan keluarga Muto di Hofu.
Begitu bertemu, Taku melihat ada perubahan dalam diri kakaknya. Kumis dan janggut Zenko tampak
lebih lebat, tapi lebih dari itu, sang kakak menunjukkan kepercaya¬an diri yang baru, dengan langkah
yang lebih angkuh. Taku juga memerhatikan, walau tak langsung mengomentari, kalau Zenko
mengenakan kalung dari untaian rosario indah yang terbuat dari ukiran gading, mirip yang dipakai
Don Joao dan Don Carlo yang juga hadir saat makan malam. Sebelum mulai makan, Don Carlo
diminta untuk meng¬ucapkan doa. Zenko dan Hana duduk dengan tangan terkatup, kepala tertunduk,
serta tampak hikmad.
Taku memerhatikan kehangatan baru antara kedua orang asing itu dengan Zenko. Mendengar betapa
sering Deus diucapkan, dan menyadari dengan campuran antara rasa tercengang dan jijik kalau
kakaknya telah mengikuti kepercayaan orang asing.

Halaman 619 dari 619
Berpindah agama atau hanya berpura-pura? Taku tidak percaya kalau tindakan Zenko tulus adanya.
Ia mengenal kakaknya sebagai laki-laki tanpa agama dan tidak berminat
pada sesuatu yang berbau spiritual—sama seperti dirinya. Rupanya Zenko melihat ada keuntungan:
pasti berhubungan dengan militer, pikirnya, dan kemarahannya muncul selagi memikirkan kalau yang
bisa diberikan orang asing itu adalah senjata api dan kapal.
Zenko menyadari kegelisahan Taku yang makin bertambah, dan ketika makan malam selesai dia
berkata, "Ada yang harus kubicara¬kan dengan adikku. Kami permisi sebentar. Taku, ikutlah ke
taman. Malam ini indah: sudah hampir purnama."
Taku mengikuti, membuka semua indera¬nya, memasang pendengarannya untuk langkah kaki yang
tak dikenal, hembusan napas yang tak terduga. Apakah sudah ada pembunuh yang bersembunyi di
taman, dan kakaknya membimbing ia ke dalam jangkauan pisau lempar mereka? Atau senjata
mereka? Dan bulu kuduknya merinding memikirkan senjata yang bisa membawa kematian dari jarak
jauh, yang bahkan tidak terdeteksi oleh semua kemampuan Tribe.
Zenko berkata, seolah bisa membaca pikirannya, "Tak ada alasan bagi kita untuk bermusuhan.
Janganlah kita saling mem¬bunuh."
"Kurasa kau tengah merencanakan per¬sekongkolan menentang Lord Otori," sahut Taku, seraya
menyembunyikan marahnya. "Tak bisa kubayangkan apa alasannya, karena kau telah bersumpah
setia dan berutang nyawa padanya, juga karena tindakan ini akan membahayakan keluargamu—ibu
kita, aku—bahkan kedua putramu. Mengapa Kikuta Akio berada di Hofu dan dalam perlindunganmu?
Perjanjian keji apa yang kau buat dengan orang-orang ini?" Taku memberi isyarat ke arah tempat
percakapan orang asing itu terdengar—seperti pekikan burung, pikirnya kecut.
"Tidak ada kejahatan di dalamnya," sahut Zenko, mengacuhkan pertanyaan tentang Akio. "Aku
melihat kebenaran dalam kepercayaan mereka dan aku memilih untuk mengikuti jalan mereka.
Kebebasan itu diperbolehkan di seluruh Tiga Negara, kurasa."
Taku melihat deretan gigi putih di atas janggut Zenko saat tersenyum. Ia ingin langsung menyerang,
namun menahan diri.
"Dan sebagai imbalannya?"
"Aku terkejut kau belum tahu, tapi aku yakin kau bisa menebaknya." Zenko
menatapnya, lalu mendekat dan memegang tangannya. "Taku, kita bersaudara, dan aku sayang
padamu, terlepas dari perbedaan pendapat kita. Mari kita bicara terns terang. Takeo tidak punya
masa depan: mengapa ikut jatuh bersamanya? Bergabunglah denganku: Tribe akan bersatu kembali:
aku pernah bilang kalau aku punya orang dalam di kalangan Kikuta. Bukan rahasia lagi kalau
menurutku alasan Akio sangat masuk akal. Dia akan mengabaikan peranmu dalam kematian Kotaro:
semua orang tahu saat itu kau masih kecil. Akan kupenuhi semua keinginanmu. Takeo yang
menyebabkan kematian ayah kita. Tugas pertama kita adalah balas dendam atas kematian itu."
"Ayah kita memang pantas mati," sahut Taku, seraya menahan kata-katanya. Dan kau juga pantas
mati.
"Tidak, Takeo itu penipu, perebut kekuasaan, juga pembunuh. Ayah kita seorang ksatria sejati."
"Kau memandang Takeo seolah kau ber¬kaca," sahut Taku. "Kau melihat bayangan dirimu sendiri.
Kaulah si perebut kekuasa¬an."
Taku merasa jarinya gatal ingin meraih
pedang, dan tubuhnya terasa perih seakan siap menghilang. Yakin kalau Zenko pasti hendak
membunuhnya saat ini. Taku tergoda untuk menyerang, begitu kuatnya godaan itu hingga ia hampir
tak sanggup menahannya, namun ada sesuatu yang mencegahnya: rasa enggan untuk mencabut
nyawa kakaknya, dan teringat kata-kata Takeo: Saudara saling membunuh, sungguh tak

Halaman 620 dari 620
terbayangkan, Kakakmu, seperti layaknya orang lain, termasuk dirimu sendiri, Taku sayang, harus
taat pada hukum.
Taku menghirup napas dalam-dalam. "Katakan apa yang kau inginkan dari Lord Otori. Mari kita
rundingkan."
"Tak ada yang bisa dirundingkan kecuali dengan kehancuran dan kematiannya," sahut Zenko marah.
"Dalam hal ini, terserah apakah kau memihak atau menentangku."
Taku mundur dengan sikap hati-hati. "Biar kupertimbangkan dulu. Aku akan bicara lagi denganmu
besok. Dan kau juga, pikirkan semua tindakanmu. Apakah keinginan balas dendammu bisa menjamin
tidak akan menyebabkan perang saudara?"
"Baiklah," ujar Zenko. "Oh ya, sebelum kau pergi: aku lupa berikan ini padamu."
Dikeluarkannya wadah bambu dari balik jubah dan menyerahkannya. Taku meng¬ambilnya dengan
firasat: dikenalinya benda itu sebagai tempat surat, yang digunakan di Tiga Negara. Bagian bawahnya
direkatkan dengan lilin dan dicap dengan lencana Otori, tapi yang satu ini sudah terbuka.
"Kurasa ini dari Lord Otori," ujar Zenko, lalu tertawa. "Kuharap ini bisa memengaruhi keputusanmu."
Taku berjalan dengan cepat dari taman, berharap setiap waktu mendengar anak panah atau pisau
melesat di udara; ia meninggalkan kediaman tanpa pamitan. Para penjaga menunggu di gerbang
dengan kuda¬kuda. Diraihnya tali kekang Ryume lalu bergegas naik.
"Lord Muto," laki-laki di sebelahnya berkata pelan.
"Ada apa?"
"Kuda Anda tadi batuk-batuk, seakan sulit bernapas."
"Mungkin karena udara musim semi. Udara terasa sulit dihirup dengan pekatnya serbuk sari."
Disingkirkannya kecemasan laki-laki itu, dikalahkan dengan kecemasan yang lebih besar dalam
dirinya.
Di tempat penginapannya, dia meminta agar pelana kuda jangan dibuka, dan menyiapkan dua kuda
betina. Kemudian Taku masuk ke tempat Sada tengah menunggu. Sada masih berpakaian lengkap.
"Kita pergi sekarang," kata Taku padanya.
"Apa yang kau temukan?"
"Zenko bukan hanya membuat
kesepakatan dengan Akio, tapi juga telah bersekutu dengan orang asing. Dia mengaku telah
menerima agama mereka, dan sebagai imbalannya mereka mempersenjatainya." Diserahkannya
wadah surat pada Sada. "Dia mengacaukan surat-surat yang Takeo kirim. Itu sebabnya tidak ada
kabar darinya."
Sada mengambil tabung itu lalu mengeluarkan suratnya. Dia membaca dengan cepat tulisan dalam
surat itu. "Takeo memintamu agar segera menemuinya di Inuyama—tapi ini sudah terlambat selama
berminggu-minggu. Tentunya dia sudah berangkat saat ini?"
"Kita harus ke sana malam ini. Bulan purnama cukup terang untuk berkuda. Bila Takeo telah
meninggalkan Inuyama, maka aku harus mengejarnya sampai di perbatasan. Dia harus kembali dan
membawa pasukan
kembali dari wilayah Timur. Bangunkan Maya; dia harus ikut. Aku tak ingin dia ditemukan Akio. Di
Inuyama kalian lebih aman."
***
Maya tengah mimpi aneh serba merah di mana kakak laki-lakinya, yang wajahnya kini bisa dilihat
sekilas, muncul dalam berbagai samaran, terkadang ditemani para arwah. Kakaknya itu tampak
kejam, membawa senjata yang menakutkan. Tatapannya mem¬buat Maya merasakan ketakutan
yang tak bisa dijelaskan, seolah Hisao tahu semua rahasia dalam dirinya. Kakaknya itu memiliki

Halaman 621 dari 621
semacam jiwa kucing seperti dirinya. Malam ini Hisao membisikkan nama Maya, yang membuatnya
ketakutan; karena tak tahu kalau Hisao mengenalnya; Maya terbangun dan sadar kalau Sada yang
bicara pelan di telinganya.
"Bangunlah, lekas berpakaian. Kita pergi sekarang."
Tanpa bertanya, Maya melakukan seperti yang diminta karena bulan-bulan musim dingin telah
mengajarkannya untuk patuh.
"Kita akan ke Inuyama untuk menemui ayahmu," kata Taku selagi mengayunkan tubuh Maya ke
punggung kuda.
"Mengapa kita pergi di malam seperti ini?"
"Aku tidak ingin menunggu sampai pagi."
Selagi kuda-kuda berderap menyusuri jalan menuju jalan besar, Sada bertanya pada Taku, "Apakah
kakakmu membiarkan kau pergi?"
"Itu sebabnya kita pergi sekarang. Dia bisa saja menyerang atau membuntuti. Ber¬siagalah dengan
senjata, dan bersiap untuk bertarung. Aku curiga ada jebakan."
Hofu bukanlah kota yang dikelilingi dinding, dan kegiatan perdagangan dan pelabuhan berarti orang
datang dan pergi pada jam berapa saja, mengikuti bulan dan gelombang; di malam seperti ini, di awal
musim semi dengan bulan yang hampir penuh, ada pelancong lain di jalan, dan sekelompok kecil
orang—Taku, Sada, Maya serta empat pengawal—tidak diberhentikan atau ditanyai. Tak lama setelah
matahari terbit, mereka berhenti di sebuah penginapan untuk sarapan dan minum teh.
Segera setelah mereka hanya bertiga di ruang makan kecil, Maya berkata pada Taku,
"Apa yang terjadi?"
"Akan kuceritakan sedikit saja demi keselamatanmu. Pamanmu Arai dan istrinya berkomplot
menentang ayahmu. Kami mengira bisa membendungnya, tapi men¬dadak situasinya makin
mengancam. Ayahmu harus segera kembali."
Kelelahan tergambar di wajah Taku, dan suaranya terdengar sangat serius.
"Bagaimana bisa paman dan bibi ber¬tindak begitu, saat putra mereka tinggal di rumah kami?" tanya
Maya gusar. "Ibu harus diberitahu. Kedua bocah itu harus mati!"
"Kau kedengaran sangat berbeda dengan ayahmu," kata Sada. "Darimana datangnya kekejaman itu?"
Tapi suaranya terdengar penuh kasih sayang dan kekaguman.
"Ayahmu berharap tak seorang pun harus mati," tutur Taku. "Itu sebabnya kita harus menyuruhnya
kembali. Hanya ayahmu yang memiliki reputasi dan kekuatan untuk mencegah pecahnya perang."
"Lagipula, Hana memang akan ke Hagi hari ini." Sada menarik Maya dan duduk dengan
merangkulnya. "Selama musim panas ini Hana akan bersama ibumu dan adikmu."
"Itu lebih buruk lagi! Ibu harus di
peringatkan. Aku akan ke Hagi dan men¬ceritakan pada Ibu tentang niat Hana yang sebenarnya!"
"Tidak, kau harus tetap bersama kami," sahut Taku, merangkul bahu Sada. Mereka duduk diam
selama beberapa saat. Seperti keluarga, pikir Maya. Aku tidak akan melupakan ini: makanan yang
terasa begitu lezat saat aku begitu lapar, harumnya aroma ten, merasakan angin musim semi, cahaya
matahari yang berubah selagi gumpalan besar awan putih berarak. Sada dan Taku bersamaku, begitu
bersemangat, begitu pemberani, merasakan hari-hari yang kami lalui dalam perjalanan, terus maju.
Bahaya...
Cuaca hari itu tetap cerah dan segar. Kira¬kira tengah hari, angin sepoi-sepoi berhenti berhembus,
awan menghilang ke arah timur laut, langit cerah, biru terang. Peluh membuat kulit kuda menjadi lebih
gelap di bagian leher tubuh mereka selagi meninggal¬kan dataran pesisir dan mulai menanjak ke
perbatasan pertama. Hutan kian lebat di sekeliling mereka; sesekali terdengar suara jangkrik bak

Halaman 622 dari 622
petikan alat musik. Maya mulai merasa lelah. Irama berjalan kuda, hangatnya senja membuatnya
mengantuk. Ia mengira
tengah bermimpi, dan sekonyong-konyong dilihatnya Hisao; lalu tersadar kaget.
"Ada yang mengikuti kita!"
Taku mengacungkan tangan, dan mereka berhenti. Mereka mendengarnya: derap kaki hewan dari
lereng.
"Teruskan perjalanan dengan Maya," ujar Taku pada Sada. "Kami akan menahan mereka. Jumlah
mereka paling banyak dua belas orang. Kami akan segera menyusul."
Taku memberi perintah dengan cepat pada pengawalnya; mereka mengambil busur dari punggung,
membelokkan kuda keluar dari jalan dan menghilang di balik batang-batang pohon bambu.
"Pergilah," perintah Taku pada Sada; dengan enggan melajukan kuda dan Maya mengikuti. Mereka
berkuda dengan cepat selama beberapa saat, tapi seiring dengan kuda-kuda yang mulai lelah, Sada
berhenti lalu menengok ke belakang.
"Maya, apa yang kau dengar?"
Ia seperti mendergar dentingan baja, ringkikan kuda, teriakan dan pekikan pertarungan, dan satu
suara lagi, dingin dan brutal, yang bergenia sampai ke perbatasan, membuat burung-buning memekik
ke
takutan lalu terbang. Sada juga men¬dengarnya.
"Mereka punya senjata api," serunya. "Tetap di sini—jangan, jalan terus, lalu sembunyi. Aku harus
kembali. Aku tak bisa meninggalkan Taku."
"Aku juga," gumam Maya, membalikkan kuda betina yang ketakutan ke arah mereka datang, tapi di
kejauhan mereka melihat kepulan debu dan mendengar derap kuda, melihat kuda berkulit abu-abu
dan bersurai hitam.
"Itu dia datang," teriak Sada lega.
Taku masih memegang pedang, lengannya berlumuran darah—darahnya atau darah orang lain,
mustahil diketahui. Taku meneriakkan sesuatu ketika melihat mereka, tapi Maya tak memahaminya
karena saat mengucapkan kata-kata itu Ryume, kudanya, jatuh; tertahan dengan lututnya, kemudian
terguling. Kejadiannya begitu cepat: Ryume jatuh lalu mati, menghempaskan tubuh Taku ke jalanan.
Secepatnya Sada menderapkan kuda menghampiri. Kuda betina tunggangan Sada mendengus dan
menjadi liar saat melihat kematian Ryume. Taku berusaha bangkit.
Sada menarik tali keitang kudanya agar berhenti di samping Taku. Kemudian dia meraih tangan Taku
yang menggapai lalu mengayunon tubuh Taku di belakangnya.
Dia baik-baik saja, pikir Maya lega. Dia tak bisa melakukan itu bila dia terluka.
Taku tidak terlula parah, meski banyak orang yang mati di jalanan di belakangnya, pengawalnya dan
sebagian besar penyerang¬nya. Dia merasakan sayatan yang sangat menyakitkan di wajahnya, satu
sayatan lagi di tangannya yang memegang pedang. Dia menyadari kuatnya punggung Sada saat
memeluknya, kemudian tembakan itu meraung lagi. Dia merasakan tembakan itu mengena lehernya
dan menembusnya; kemudian dia jatuh dan Sada jatuh bersamanya, dan kuda menimpa tubuh
mereka. Dari kejauhan didengarnya Maya berteriak. Pergilah, nak, pergi, Taku ingin
mengucapkannya, tapi tak sempat lagi. Matanya dipenuhi cahaya langit biru yang menyilaukan:
cahaya matahari berputar-putar dan kian redup. Waktunya telah tiba. Dia nyaris tak sempat berpikir,
aku sekarat, aku harus berkonsentrasi pada kematian, sebelum kegelapan membungkam pikirannya
untuk
selamanya.
Kuda betina milik Sada berusaha bangkit dan berderap kembali ke Maya sambil meringkik keras.
Kedua kuda betina itu mudah gugup, dan sudah berlari kencang, meski kelelahan. Dengan sifat OtoriHarjono
Siswanto Story Collection
Halaman 623 dari 623
nya, Maya memikirkan kedua kuda itu; ia tidak boleh membiarkan keduanya kabur. Ia membungkuk
dan diraihnya tali kekang kuda Sada yang terayun-ayun. Tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan
selanjutnya. Sekujur tubuhnya gemetar, begitu pula kedua kuda itu; dan tak bisa memalingkan
pandangannya dari tiga mayat yang ter¬geletak di jalan. Si kuda, Ryume, agak lebih jauh darinya,
kemudian Sada dan Taku mati dalam keadaan berangkulan.
Maya menggerakkan kudanya meng¬hampiri mereka, turun lalu berlutut di sampingnya, menyentuh
dan memanggil¬manggil nama mereka.
Bola mata Sada berdenyut: dia masih hidup.
Luapan kepedihan di hatinya membuat Maya hampir tercekik tak bisa bernapas. Ia harus membuka
mulut lalu menjerit, "Sada!" Seolah menjawab jeritannya, tiba-tiba
muncul dua orang tepat di belakang Ryume. Maya tahu kalau ia harus menggunakan kemampuan
menghilang atau bentuk kucing lalu lari ke dalam hutan: ia berasal dari Tribe; seharusnya bisa
mengelabui siapa Saja. Tapi badannya terasa lumpuh karena terguncang dan sedih, ditambah lagi, ia
tak ingin hidip di dunia yang kejam ini, dunia yang mem¬biarkan Taku mati di bawah langit biru dan
matahari yang cerah.
Maya berdiri di antara kedua kuda betina, memegangi tali kekang keduanya. Kedua laki-laki itu datang
menghampiri. Maya hampir tidak bisa melihat mereka di malam sebelumnya, di bawah remangnya penerangan
di penginapan, tapi ia segera mengenalinya. Kedua orang memegang senjata, Akio
membawa pedang dan pisau, Hisao memegang senjata api. Mereka berasal dari Tribe: mereka
takkan membiarkannya hidup hanya karena ia masih kecil. Setidaknya aku harus bertarung, pikirnya,
tapi bodohnya, ia tak ingin melepaskan kedua kuda betina itu.
Bocah itu menatapnya, mengacungkan senjata api ke arahnya, sementara laki-laki yang satu lagi
membalik kedua mayat. Sada
mergerang pelan. Akio berlutut, mengambil pisau dengan tangan kanan lalu menggorok leher Sada
dengan cepat. Ia meludahi wajah Taku yang damai.
"Kematian Kotaro hampir terbalas," ujarnya. "Kedua Muto ini sudah membayar¬nya. Kini tinggal Si
Anjing."
Bocah itu berkata, "Tapi ini siapa. Ayah?" Suaranya terdengar kebingungan, seolah pernah mengenal
gadis itu.
"Bocah pengurus kuda?" sahut laki-laki itu. "Sial sekali nasibnya!"
Akio berjalan menghampirinya dan Maya mencoba menatap matanya, tapi laki-laki itu tak berbalik
menatapnya. Ketakutan yang amat sangat mencekam Maya. Ia tak boleh membiarkan laki-laki itu
menangkapnya. Ia hanya ingin mati. Dijatuhkannya tali kekang kedua kuda, dan karena terkejut,
kedua kuda itu bergerak mundur. Maya menarik pisau dari sabuknya lalu menaikkan tangannya untuk
menancapkan pisau itu di lehernya.
Akio bergerak lebih cepat dari gerakan manusia mana pun yang pernah Maya lihat, bahkan lebih
cepat dibanding malam sebelumnya, lalu mencengkeram pergelangan tangan Maya. Pisaunya
terjatuh seolah Akio
membelokkannya.
"Tapi bocah pengurus kuda macam apa yang berusaha menggorok lehernya sendiri?" tanyanya
dengan sinis. "Seperti seorang ksatria perempuan?"
Memegang Maya dengan tangannya yang sekuat baja, Akio lalu menarik pakaiannya dan
menyelusupkan tangan satunya ke selangkangan Maya. Gadis itu menjerit dan meronta-ronta
sewaktu Akio berusaha membuka telapak tangannya. Akio ter¬senyum ketika dilihatnya garis lurus
melintang di telapak tangan gadis itu.
"Jadi!" serunya. "Sekarang kita tahu siapa yang memata-matai kita semalam."

Halaman 624 dari 624
Maya mengira hidupnya sudah berakhir. Tapi laki-laki itu melanjutkan, "Ini putri si Anjing, salah satu
dari si kembar: dia ada tanda Kikuta. Gadis ini akan berguna. Jadi kita biarkan dia hidup untuk saat
ini." Didekatinya Maya. "Kau kenal siapa aku?" Maya tak mau menjawab.
"Aku Kikuta Akio, ketua keluargamu. Ini putraku, Hisao."
Maya sudah mengenalnya, karena wajah¬nya sama seperti yang ia lihat dalam mimpinya.
"Benar aku Otori Maya," sahutnya. "Ada lagi, aku adalah adikmu...."
Maya ingin mengatakan lebih banyak lagi, tapi Akio memindahkan cengkeramannya ke leher, meraba
bagian urat nadi, lalu menekan hingga Maya tak sadarkan diri.*
Shigeko sering berlayar antara Hagi dan Hofu, tapi belum pernah berlayar lebih ke timur, di sepanjang
pantai yang dilindungi Laut Kitaran sampai Akashi. Cuaca cerah, udara terasa sangat segar, angin
laut ber¬hembus lembut dari selatan namun cukup kencang untuk memenuhi layar dan mem¬buat
kapal meluncur cepat. Dari berbagai arah, pulau-pulau kecil bermunculan dari permukaan laut, lerenglerengnya
kehijauan tua dengan pepohonan cedar, buih gelombang menghiasi pantainya. Dilihatnya
gerbang biara merah tua berkilauan di bawah sinar matahari musim semi, kuil-kuil ber¬atapkan pohon
runjung, dinding putih yang mencuat dari kastil ksatria.
Tidak seperti Maya, Shigeko tidak pernah mabuk laut, bahkan dalam perjalanan yang paling sulit
antara Hagi dan Maruyama, ketika angin dari timur laut berpacu me¬lintasi laut keabu-abuan. Berlayar
membuat Shigeko gembira, bau air laut, tali temali dan
tiang kapal, bunyi kele-pak layar, kecipak air laut dan keriat-keriut kayu, nyanyian lambung kapal saat
membelah lautan.
Muatan kapal dipenuhi berbagai macam hadiah, termasuk pelana dan sanggurdi ber¬hias indah untuk
Shigeko dan Hiroshi, serta jubah resmi yang kesemuanya baru dibordir, dicelup dan dilukis oleh
perajin paling andal dari Hagi dan Maruyama. Tapi hadiah yang terpenting berdiri di atas dek; di
bawah naungan jerami: kuda-kuda yang dibiakkan di Maruyama, masing-masing diikat dengan dua
utas tali di kepala dan ikat pinggang di bawah perut; serta kirin, diikat dengan tali dari sutra merah.
Shigeko menghabiskan banyak waktu dalam sehari di samping hewan-hewan itu. Ia bangga akan
kesehatan dan ketampanan mereka karena ia sendiri yang membesarkan hewan-hewan itu: dua kuda
berkulit belang, satu berwarna terang, dan satu lagi berwarna merah bata. Semua hewan itu kelihatan
senang ditemani gadis itu, dan mengikuti dengan pandangan mata saat Shigeko berjalan di sekitar
dek. Tak ada rasa sesal akan berpisah karena mereka akan diperlakukan dengan baik. Mungkin
hewan¬hewan itu takkan melupakannya namun juga
takkan merindukan dirinya. Shigeko hanya mencemaskan kirin yang tidak memiliki pembawaan santai
layaknya kuda. "Aku khawatir kirin akan ketakutan ketika berpisah dari kita, dan semua kawannya,"
katanya pada Hiroshi saat senja di hari ketiga perjalanan mereka dari Hofu. "Lihat, dia terus berpaling
ke arah rumah. Seperti merindukan seseorang: Tenba, barangkali."
"Sedan tadi kuperhatikan dia berusaha mendekatimu, saat kau di dekatnya," sahut Hiroshi. Tentunya
dia akan merindukanmu. Aku terkejut kau bisa berpisah dengannya."
"Aku hanya menyalahkan diriku! Aku yang menyarankannya. Kirin adalah hadiah yang sempurna:
bahkan sang Kaisar pun pasti kagum dan tersanjung dengan hadiah ini. Tapi aku berharap hewan itu
terbuat dari gading atau logam berharga, tanpa perasaan, dan aku takkan merasa khawatir
memikir¬kannya akan kesepian."

Halaman 625 dari 625
Hiroshi menatapnya lekat-lekat. "Lagipula, dia hanya seekor hewan. Mungkin tidak semenderita
seperti yang kau bayangkan. Dia akan dirawat dengan baik, diberi cukup makan."
"Hewan memiliki perasaan yang dalam,"
hardik Shigeko.
"Tapi dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan manusia saat dipisahkan dari mereka yang
disayanginya."
Shigeko beradu pandang dengan Hiroshi; gadis itu menahan tatapan Hiroshi selama beberapa saat.
Hiroshi yang berpaling lebih dulu.
"Dan mungkin kirin itu takkan kesepian di Miyako," kata Hiroshi dengan suara pelan, "karena kau juga
akan berada di sana."
Shigeko tahu maksud ucapan Hiroshi karena dia hadir saat Lord Kono mengatakan kalau istri Saga
Hideki meninggal baru-baru ini, kehilangan yang membuat bangsawan yang paling berkuasa di
Delapan Pulau bebas untuk menikah.
"Bila kirin merupakan hadiah yang sempurna bagi Kaisar," imbuhnya, "apa hadiah yang lebih baik
bagi jenderal Kaisar?"
Mendengar kegetiran dalam suara Hiroshi, Shigeko merasa gundah. Ia sudah lama menyadari kalau
Hiroshi mencintainya seperti ia mencintai laki-laki itu. Mereka berdua tahu apa yang ada di benak
masing-masing. Mereka berdua dilatih dengan Ajaran Houou, dan telah mencapai tahap
kesadaran serta kepekaan yang tinggi. Shigeko memercayai Hiroshi sepenuhnya. Namun seperti tak
ada gunanya membicara¬kan perasaannya: ia akan menikahi orang pilihan ayahnya. Terkadang ia
bermimpi ayahnya memilih Hiroshi, dan terjaga dalam rasa bahagia. Terkadang ia bertanya-tanya apa
bisa memilih calonnya sendiri karena kini ia penguasa Maruyama; terkadang ia sadar kalau tak ingin
mengecewakan ayah-nya. Shigeko dibesarkan dengan ajaran keras keluarga ksatria: ia tidak bisa
mematah¬kannya begitu saja.
"Aku berharap tidak harus tinggal jauh dari Tiga Negara," gumamnya. Kirin berdiri begitu dekat hingga
bisa dirasakan hangatnya napas hewan itu di pipinya. "Kuakui, aku cemas dengan semua tantangan
yang me-nantiku di ibukota. Aku berharap perjalanan kita sudah berakhir—tapi di sisi lain aku juga tak
ingin perjalanan ini berakhir."
"Kau tak menunjukkan kecemasan saat bicara dengan Lord Kono tahun lalu," Hiroshi mengingatkan.
"Mudah untuk merasa percaya diri di Maruyama, saat dikelilingi begitu banyak orang yang
mendukungku—terutama kau."
"Kau juga akan mendapatkan dukungan itu di Miyako. Miyoshi Gemba juga akan berada di sana."
"Guru-guruku yang terbaik—kau dan dia."
"Shigeko," kata Hiroshi, memanggil dengan nama yang sering dilakukannya ketika gadis itu masih
kecil. "Jangan sampai ada hal yang mengurangi konsentrasimu selama penandingan itu. Kita semua
harus menyingkirkan keinginan pribadi untuk membiarkan ajaran kedamaian menang."
"Bukan menyingkirkan," sahut Shigeko, "tapi mengatasinya." Gadis itu terdiam, tidak berani berkata
apa-apa lagi. Lalu satu kenangan melintas di benaknya: pertama kali ia melihat sepasang houou
sewaktu kedua burung itu kembali ke hutan di sekitar Terayama untuk bersarang di pohon pauwlonia
dan membesarkan anak-anaknya.
"Ada ikatan yang kuat di antara kita," ujarnya. "Aku telah mengenalmu sejak kecil—bahkan mungkin di
kehidupan sebelumnya. Bila aku memang harus me¬nikah dengan orang lain, ikatan itu jangan
pernah putus."
"Tidak akan, aku bersumpah. Busur di

Halaman 626 dari 626
tanganmu, namun roh houou yang akan menuntun anak panahnya."
Shigeko tersenyum, yakin kalau pikiran dan tujuan mereka berdua telah menyatu.
Kemudian, sewaktu matahari tenggelam di ufuk barat, mereka berjalan ke bagian belakang dek dan
memulai latihan ritual kuno yang mengalir melewati udara bak air, namun mengubah otot dan urat
daging menjadi sekeras baja. Kilau sinar matahari mewarnai layar, membuat lambang bangau Otori
menjadi keemasan; panji-panji Maruyama berkibar di tali tiang kapal. Kapal pun tampak bermandikan
cahaya, seolah burung suci itu telah bertengger di atasnya. Langit di arah barat masih memancarkan
garis merah ketika di arah timur muncul bulan purnama dari bulan keempat.*
Beberapa hari setelah bulan purnama, Takeo meninggalkan Inuyama menuju wilayah Timur.
Kepergiannya dilepas dengan penuh semangat oleh penduduk kota. Saat itu ada perayaan musim
semi, ketika bumi hidup kembali, cairan dari dalam bumi mengalir ke pepohonan dan ke dalam aliran
darah semua orang. Kota itu dikuasai rasa percaya diri serta harapan karena Lord Otori bukan hanya
tengah mengunjungi Kaisar—tokoh yang dianggap separuh mistis oleh rakyat— tapi dia juga
meninggalkan seorang putra: kesedihan yang disebabkan oleh si kembar akhirnya tersingkir. Tiga
Negara belum pernah begitu sejahtera. Burung houou ber¬sarang di Terayama, Lord Otori akan
meng¬hadiahkan kirin kepada Kaisar; semua pertanda ini menegaskan apa yang dilihat sebagian
besar rakyat pada anak-anak mereka yang montok dan sawah yang subur. Semua ini merupakan
bukti dari penguasa yang adil dan memedulikan kesejahteraan rakyatnya.
Namun semua sorak sorai, tarian, bunga dan umbul-umbul tak mampu menyingkir¬kan kegelisahan
Takeo. Meskipun ia ber¬usaha menyembunyikannya, namun wajah tanpa ekspresi yang kini menjadi
kebiasaan¬nya. Kecemasannya yaitu tidak adanya kabar dari Taku: apakah dia membelot atau sudah
mati. Kedua hal itu sama-sama musibah baginya, dan di satu sisi lagi, bagaimana dengan nasib
Maya? Takeo ingin sekali kembali dan mencari tahu sendiri, namun perjalanan membawa dirinya
makin jauh dari kemungkinan menerima kabar. Setelah me¬mikirkan masak-masak, beberapa di
antara¬nya diceritakannya pada Minoru, Takeo memutuskan untuk meninggalkan Kuroda bersaudara
di Inuyama, mengatakan bahwa mereka akan lebih berguna di sana, dan bahwa mereka harus
mengirim kurir secepat¬nya bila ada kabar dari Taku.
"Jun dan Shin tidak senang," lapor Minoru. "Mereka bertanya kepadaku apa yang telah mereka
lakukan sehingga tidak dipercaya oleh Lord Otori."
"Tidak ada keluarga Tribe di Miyako," sahut Takeo. "Sungguh, aku tidak mem¬butuhkan mereka di
sana. Tapi kau tahu,
Minoru, kalau kepercayaanku pada mereka telah terkikis: bukan karena kesalahan mereka, hanya
karena aku tahu kesetiaan pertama mereka pasti pada Tribe."
"Kurasa Anda mestinya bisa lebih me¬mercayai mereka," sahut Minoru.
"Mungkin aku menyelamatkan mereka dari pilihan yang menyakitkan, dan kelak mereka akan
berterima kasih padaku," sahut Takeo ringan, tapi sebenamya dia me¬rindukan kedua pengawal Tribe
tersebut, merasa telanjang dan tidak terlindungi tanpa mereka berdua.
Empat hari keluar dari Inuyama, mereka berjalan melintasi Hinode, desa tempat Takeo pernah
beristirahat bersama Shigeru pada pagi setelah lari dari kejaran prajurit Iida Sadamu.
"Tempat kelahiranku berjarak satu hari perjalanan dari sini," komentarnya pada Gemba. "Aku tidak
melewati jalan ini lagi selama hampir delapan belas tahun. Aku ingin tahu apakah desa itu masih ada.
Di sanalah Shigeru menyelamatkan aku."

Halaman 627 dari 627
Tempat adikku, Madaren, dilahirkan, mengingatkan dirinya, tempat aku dibesarkan sebagai orang
Hidden.
"Aku bertanya pada diriku sendiri, alangkah beraninya aku muncul di hadapan Kaisar. Mereka semua
akan membenciku k arena asal -usilk u."
Takeo dan Gemba berkuda berdampingan di jalur yang sempit, dan ia bicara pelan agar tidak
didengar orang lain. Gemba melihat sekilas ke arahnya lalu menyahut, "Kau tahu aku membawa
semua dokumen yang mem¬buktikan keturunanmu dari Terayama: bahwa Lord Shigemori adalah
kakekmu, dan pengangkatanmu oleh Shigeru sah menurut hukum—dan disetujui oleh klan. Tak ada
yang bisa mempertanyakan legitimasimu."
"Tapi Kaisar sudah mempertanyakannya lebih dulu."
"Kau membawa pedang Otori, dan di¬berkati dengan semua pertanda persetujuan Surga." Gemba
tersenyum. "Kau mungkin tidak menyadari kekaguman Shigeru saat membawamu pulang: kau begitu
mirip Takeshi. Seperti keajaiban: Takeshi tinggal cukup lama bersama kami sebelumnya. Kakakku
Kahri adalah sahabatnya. Rasanya seperti kehilangan saudara laki-laki tercinta. Namun kesedihan
kami tidak ada artinya dibandingkan dengan Lord Shigeru, dan itu
merupakan pukulan terakhir dari sekian banyak peristiwa buruk yang menimpanya."
"Ya, Chiyo menceritakan kisah-kisah kehilangannya. Hidupnya diliputi kesedihan dan nasib buruk
yang tidak layak diterima¬nya; namun Shigeru tidak menunjukkannya. Aku ingat perkataannya di
malam pertama aku bertemu Kenji: Aku tidak diciptakan untuk berputus asa. Sering aku memikirkan
kata-kata ini, dan tentang keberaniannya saat kami berkuda ke Inuyama dalam pengawasan Abe dan
pasukannya. "
"Kau harus mengatakan hal yang sama pada dirimu: kau tidak diciptakan untuk berputus asa."
Takeo berkata, "Seharusnya begitu, tapi dengan begitu banyak yang telah terjadi dalam hidupku, itu
menjadi suatu kepura¬puraan."
Gemba tertawa. "Beruntunglah karena kau memiliki sekian banyak keahlian. Jangan remehkan dirimu
sendiri. Sifatmu mungkin lebih kelam dari Shigeru, tapi tak kalah kuatnya. Lihatlah apa yang telah kau
raih: hampir enam belas tahun kedamaian. Kau dan istrimu telah menyatukan semua pihak yang
bertikai di seluruh Tiga Negara; kau
menangani kesejahteraan negara dengan keseimbangan yang sempurna. Putrimu men¬jadi tangan
kananmu, istrimu mendukung sepenuhnya di rumah. Percayalah pada mereka. Kau akan membuat
kalangan istana Kaisar terkesan sesuai dengan kemampuan¬mu. Percayalah padaku." Gemba
terdiam dan setelah beberapa saat melanjutkan senandung kesabarannya.
Kata-kata Gemba terasa lebih dari sekadar menenangkan; kata-kata itu tidak menenang¬kan tapi
justru membuat Takeo mampu menguasainya, dan akhirnya bisa melaluinya. Selagi tubuh dan pikiran
penunggangnya rileks, maka begitu pula dengan kudanya: Tenba menundukkan leher dan
mem¬perpanjang langkahnya seolah jarak yang ditempuh tengah dilahapnya, hari demi hari.
Takeo merasa semua inderanya mulai terjaga: pendengarannya menjadi sama peka¬nya saat ia
berusia tujuh belas tahun; mata dan tangan senimannya mulai bergerak lagi dengan sendirinya. Saat
mendiktekan surat di malam hari pada Minoru, rasanya ingin sekali mengambil kuas dari tangan
juru¬tulisnya itu. Kadang Takeo memang melaku¬kannya dengan cara menopang tangan
kanannya yang cacat dengan tangan kiri serta menjepit kuas dengan dua jarinya yang ter¬sisa,
dibuatnya sketsa pemandangan yang ada di benaknya selama berkuda di siang hari: sekawanan
gagak beterbangan di sela-sela pepohonan cedar, barisan angsa di tebing dengan bentuk yang aneh,
seekor burung tila dan bunga lonceng di bebatuan. Minoru mengumpulkan sketsa-sketsa itu lalu
mengirimnya dengan surat-surat untuk Kaede, dan Takeo teringat pada lukisan burung tila yang
pernah ia berikan pada istrinya bertahun-tahun yang lalu di Terayama. Tangan cacatnya selama ini
telah mencegahnya untuk melukis, namun belajar untuk mengatasi kendala itu telah mengasah bakat
alaminya menjadi gaya lukisan yang unik dan luar biasa.

Halaman 628 dari 628
Jalanan dari Inuyama menuju perbatasan terawat baik dan cukup lebar untuk tiga penunggang kuda
berjalan berdampingan. Permukaan jalan rata karena Miyoshi Kahei dan pasukannya melewati jalan
ini beberapa minggu sebelumnya. Pasukan garda depan itu terdiri dari seribu orang yang sebagian
besar berkuda. Kahei juga membawa per¬sediaan pangan di atas kuda beban dan
gerobak yang ditarik lembu. Sisanya akan bergerak dari Inuyama dalam beberapa minggu lagi.
Daerah perbatasan berbukit¬bukit. Selain dari jalanan yang akan mereka lalui, puncaknya tak bisa
dilewati. Menyiagakan pasukan yang begitu besar selama musim panas membutuhkan banyak
sumber daya, dan banyak pasukan pejalan kaki yang berasal dari desa-desa tempat panen tidak bisa
dilakukan tanpa tenaga mereka di ladang.
Takeo dan rombongannya berjumpa dengan Kahei di dataran tinggi tepat di bawah jalur sempit. Saat
itu udara masih dingin, rumput tepercik bintik putih salju terakhir, air sungai dan kolam membeku. Pos
perbatasan kecil dibangun di sini, meski tidak banyak pengembara yang melakukan perjalanan dari
wilayah Timur melewati jalur darat karena lebih memilih jalur laut melalui Akashi. Gugusan Awan
Tinggi menjadi perbatasan alami yang selama bertahun¬tahun membuat Tiga Negara terlindungi,
terabaikan bagian negara yang lain, tidak dikuasai atau dilindungi Kaisar.
Kemah yang dibangun tampak teratur dan disiapkan dengan baik: kuda-kuda berada di
barisannya, pasukan dipersenjatai lengkap serta terlatih. Dataran itu sudah diubah dengan pagar
penghalang yang didirikan dengan formasi kepala anak panah di sepanjang tepi dan gudang
penyimpanan dibangun dengan cepat untuk melindungi persediaan makanan dari cuaca dan hewan.
"Ada cukup tempat di ujung dataran bagi pasukan pemanah," tutur Kahei. "Tapi kita juga memiliki
cukup senjata api saat prajurit pejalan kaki datang dari Inuyama untuk mempertahankan jalan bermilmil
di belakang kita, begitu pula dengan pedesaan di sekitarnya. Kita akan mendirikan blokade. Tapi
jika mereka masuk ke daerah di sekitarnya, kita akan gunakan kuda dan pedang."
Ia menambahkan, "Apakah kita tahu senjata apa yang mereka miliki?"
"Waktu mereka kurang dari setahun untuk mendapatkan atau menempa senjata api serta melatih
pasukan untuk menggunakannya," sahut Takeo. "Kita lebih unggul dalam hal itu. Kita juga memiliki
pasukan pemanah: senjata tidak bisa diandalkan saat hujan atau angin. Aku berharap bisa mengirim
pesan padamu. Aku akan mencari tahu sebisanya—
tapi aku harus kelihatan seperti mencari kedamaian; aku tidak boleh memberi alasan bagi mereka
untuk menyerang. Semua persiapan ini demi mempertahankan Tiga Negara; kita tidak mengancam
siapa pun di luar perbatasan wilayah kita. Kau harus tetap di dataran ini dalam posisi yang murni
bertahan. Kita jangan sampai memancing Saga atau menantang Kaisar."
"Rasanya aneh melihat Kaisar dengan mata kepala sendiri," komentar Kahei. "Aku iri padamu: kami
mendengar tentang Kaisar sejak kami masih kecil; beliau adalah keturunan dewa, kendati selama
bertahun¬tahun aku tidak percaya kalau beliau memang benar-benar ada."
"Klan Otori kabarnya adalah keluarga Kaisar," sahut Gemba. "Karena ketika Takeyoshi diberikan Jato,
bayi dalam kandungan salah seorang selir Kaisar juga akan djodohkan dengannya." Gemba
ter¬senyum pada Takeo. "Maka kau pun memiliki darah yang sama."
*Agak tercampur setelah benahun-tahun," sahut Takeo dengan nada ringan. "Tapi mungkin karena
beliau adalah kerabatku maka akan memandangku dengan sikap yang
bersahabat. Bertahun-tahun lalu Shigeru mengatakan bahwa karena kelemahan sang Kaisar
sehingga orang seperti lida bisa merajalela tanpa bisa diawasi. Maka sudah menjadi kewajibanku
untuk memperkuat kedudukan Kaisar. Beliau adalah penguasa Delapan Pulau." Takeo melayangkan
pandangan ke arah gugusan gunung yang warnanya berubah menjadi ungu tua di bawah cahaya
malam. Langit tampak ber-warna putih kebiruan, dan bintang-bintang pertama mulai bermunculan.
"Aku hanya tahu scdikit tentang sisanya: bagaimana pemerintahannya, apakah mereka sejahtera,
apakah rakyatnya bahagia. Semua ini harus dicari tahu—dan dibicarakan."

Halaman 629 dari 629
"Dengan Saga Hideki-lah kau harus bicarakan semua itu," sahut Gemba. "Karena saat ini dialah yang
mengendalikan dua pertiga negara, termasuk Kaisar."
"Tapi kita tidak akan membiarkannya mengendalikan Tiga Negara," seru Kahei.
Ketidaksetujuan Takeo tidak diperlihatkan terang-terangan pada Kahei, tapi secara pribadi, seperti
biasa, ia telah memikirkan tentang negaranya dan cara terbaik untuk melindunginya. Takeo sudah
menyaksikan
kehancuran dan kehilangan korban manusia akibat perang dan gempa. Ia tak ingin menyerahkan
negara yang telah makmur ini pada Zenko, tapi juga tidak ingin melihatnya terpecah belah dan
berperang lagi. Ia tidak percaya kalau Kaisar adalah dewa yang harus disembah. Tapi ia menyadari
pentingnya kaisar sebagai simbol kesatuan, dan siap untuk tunduk pada Kaisar demi
mem¬pertahankan kedamaian dan meningkatkan kesatuan seluruh negara.
Namun aku takkan menyerahkan Tiga Negara kepada Zenko. Berulang kali dirinya kembali lagi pada
keyakinan ini. Aku takkan melihatnya berkuasa menggantikan diriku.
Mereka menyeberangi jalur perbatasan saat bulan menghilang, dan sebelum bulan penuh lagi mereka
hampir tiba di Sanda, kota kecil yang berada di jalur antara Miyako dan Akashi. Selagi menuruni
lembah, sekaligus memeriksa jalur pulang mereka—dan tempat sepasukan kecil pasukan
kemungkinan berbelok dan menghadang musuh bila diperlukan—Takeo mempelajari keadaan desadesa,
sistem pertanian, kesehatan anak¬anak, kerap berkuda keluar dari jalan memasuki distrik di
sekitarnya. Ia tercengang
menemukan bahwa ia tak dikenal penduduk desa: reaksi mereka seolah kedatangan pahlawan dari
legenda yang mendadak muncul di tengah-tengah mereka. Di malam hari terdengar olehnya penyanyi
buta melantunkan lagi kisah Klan Otori: peng¬khianatan atas Shigeru dan kematiannya, kejatuhan
Inuyama, perang Asagawa, mundur ke Katte Jinja serta pengambilalihan kota Hagi. Ada juga
nyanyian baru yang digubah tentang kirin karena hewan itu bersama putri Lord Otori yang cantik
tengah ditunggu di Sanda.
Daerah itu terbengkalai: Takeo terkejut dengan rumah-rumah yang setengah runtuh, sawah yang
tidak digarap. Ia tahu dalam perjalanan, dengan bertanya pada para petani, bahwa temyata semua
wilayah itu bertempur habis-habisan melawan Saga sebelum akhirnya menyerah dua tahun lalu.
Sejak itu pasukan bersenjata dan buruh yang dibutuhkan telah melemahkan sumber daya manusia
desa-desa tersebut.
"Tapi setidaknya kini sudah damai, dan kami berterima kasih pada Lord Saga," kata salah seorang
laki-laki yang lebih tua. Takeo ingin tahu berapa banyak pengorbanan yang
mereka lakukan, dan masih ingin bertanya¬tanya lebih banyak lagi, tapi saat makin mendekati kota ia
bergabung lagi dengan rombongannya dengan sikap yang lebih formal. Banyak dari orang-orang itu
mengikutinya, berharap melihat kirin secara langsung. Ketika tiba di Sanda, mereka ditemani oleh
sekerumunan besar orang, dan makin bertambah ketika penduduk kota ber¬hamburan keluar untuk
bertemu dengannya. Mereka melambaikan umbul-umbul serta rumbai-rumbai, menari dan menabuh
genderang. Sanda merupakan kota per¬dagangan dan tidak memiliki kastil atau benteng. Masih
tampak sisa-sisa kehancuran akibat perang, tapi sebagian besar toko dan rumah yang hangus
terbakar sudah dibangun kembali. Ada beberapa rumah penginapan besar di dekat kuil; di jalan
utama di depan mereka, Takeo dipertemukan dengan sekelompok kecil prajurit, membawa panji¬panji
bergambarkan puncak gunung kembar lambang Klan Saga.
"Lord Otori," ujar pemimpinnya, laki-laki bertubuh besar dan gemuk yang meng¬ingatkan Takeo pada
Abe, pengawal senior Lord Iida. "Namaku Okuda Tadamasa. Ini
putra sulungku, Tadayoshi. Pemimpin kami yang agung dan jenderal Kaisar meng¬ucapkan selamat
datang kepada Anda. Kami diutus untuk mendampingi Anda." Orang itu bicara dengan bahasa resmi
dan sopan. Sebelum Takeo sempat menjawab, Tenba meringkik lantang. Di atas atap laman di
penginapan muncul kirin dengan telinga yang seperti kipas, kepala bermata besar di atas leher
panjang bercorak. Kerumunan orang berseru kegirangan dengan serempak. Mata dan hidung kirin

Halaman 630 dari 630
tampak mencari-cari sahabatnya. Ketika melihat Tenba, wajahnya melembut seakan tersenyum; dan
bagi kerumunan itu, kirin seakan tersenyum pada Lord Otori.
Bahkan Okuda pun tak mampu menahan diri untuk meliriknya. Ekspresi kekaguman melintas sesaat
di wajahnya. Ototnya ber¬kerut tegang berusaha keras menahan diri, matanya terbelalak. Putranya,
pemuda ber-usia kira-kira delapan tahun, terang-terangan menyeringai.
"Aku berterima kasih pada Anda dan Lord Saga," sahut Takeo tenang, mengabaikan keheranan itu
seolah kirin hanyalah hewan peliharaan biasa. "Kuharap Anda bisa mem
beri kehormatan dengan mengajakku dan putriku makan malam bersama."
"Kurasa Lady Maruyama sudah menunggu di dalam," sahut Okuda. "Aku terima undangan Anda
dengan senang hati."
Mereka semua turun dari kuda. Para pengurus kuda berlarian menghampiri untuk mengambil tali
kekang. Pelayan bergegas datang ke tepi beranda membawa baskom air untuk mencuci kaki para
tamu. Pemilik penginapan pun muncul, seorang tokoh penting dalam pemerintahan kota itu; dia
berkeringat karena gugup; membungkuk rendah, kemudian bangkit, mengatur pelayan dengan
banyak instruksi dan tepukan tangan, serta menggiring Takeo dan Gemba ke kamar tamu utama.
Kamarnya cukup menyenangkan, meski¬pun tidak mewah. Alas lantainya masih baru dan wangi, dan
pintu-pintu bagian dalam terbuka ke arah taman kecil yang berisikan rumput dan sebongkah batu
hitam yang tidak biasa, seperti miniatur puncak kembar gunung.
Takeo menatapnya, seraya mendengarkan hiruk-pikuk kesibukan dalam penginapan di sekelilingnya,
suara bersemangat sang pemilik
penginapan. Kegiatan di dapur selagi makan malam disiapkan, ringkikan Tenba dari istal, dan terakhir
suara putrinya, langkah kakinya di luar. Takeo berbalik saat pintu bergeser terbuka.
"Ayah! Aku sudah tak sabar ingin bertemu ayah!"
"Shigeko," sahutnya, lalu dengan penuh kasih sayang, "Lady Maruyama!"
Gemba yang sedari tadi duduk di beranda sebelah dalam, kini berdiri dan menyerukan kata yang
sama. "Lady Maruyama!"
"Lord Miyoshi! Aku senang bertemu Anda." "Hmm, hmm," sahutnya seraya ter¬senyum lebar dan
bersenandung riang. "Kau tampak baik."
Benar, pikir Takeo, putrinya bukan hanya berada di puncak kecantikan masa mudanya, tapi juga
memancarkan kekuatan dan kepercayaan diri seorang perempuan dewasa, seorang penguasa.
"Dan Ayah lihai bawaanmu tiba dengan sehat," ujar Takeo.
"Aku baru kembali dari kandang kirin. Hewan itu senang bertemu dengan Tenba. Agak mengharukan.
Tapi apa Ayah baik-baik saja? Perjalanan Ayah lebih berat. Ayah tidak
merasa kesakitan?"
"Ayah baik-baik saja," sahutnya. "Cuaca hangat seperti ini rasa sakitnya masih bisa diatasi. Gemba
adalah teman seperjalanan yang baik, dan kudamu itu luar biasa."
"Tidak ada kabar dari rumah?" tanya Shigeko.
"Tidak ada, tapi karena Ayah tidak menunggu kabar, maka ketenangan ini tidak membuat Ayah
cemas. Di mana Hiroshi?" tanyanya.
"Dia sedang menengok keadaan kuda dan kirin," sahut Shigeko dengan tenang. "Bersama Sakai
Masaki, yang ikut bersama kami dari Maruyama."
Takeo mengamati putrinya yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Setelah beberapa saat ia
bertanya, "Ada pesan dari Taku di Akashi?"

Halaman 631 dari 631
Shigeko menggeleng. "Hiroshi juga tengah menunggu sesuatu, tapi tak satu pun orang Muto di sana
mendapat kabar darinya. Mungkinkah terjadi sesuatu?"
"Aku tidak tahu; sudah lama tidak ada kabar darinya."
"Aku bertemu dengannya dan Maya di Hofu sebelum kami berangkat. Maya datang
untuk melihat kirin. Dia sehat, lebih mantap, juga lebih bisa menerima anugerah bakatnya dan lebih
bisa mengendalikannya."
"Kau anggap kerasukan itu sebagai anugerah?" seru Takeo, terkejut.
"Kelak akan begitu," sahut Gemba, lalu dia dan Shigeko saling tersenyum.
"Jadi, katakan padaku para Guru Besar¬ku," ujar Takeo sinis, menyembunyikan kekesalannya.
"Mestikah aku mencemaskan Taku dan Maya?"
"Karena kau tak bisa berbuat apa-apa dari sini," Gemba menjelaskan, "maka tak ada gunanya
membuang energimu dengan mengkhawatirkan mereka. Kabar buruk cepat tersebar: kau akan
mendengarnya secepatnya."
Takeo menyadari kearifan kalimat ini, lalu berusaha menyingkirkan masalah ini dari benaknya. Tapi di
malam-malam selanjut¬nya, selagi mereka melanjutkan perjalanan ke ibukota, ia sering memimpikan
kedua putri kembarnya, dan di dunia lain yang berkabut itu, disadarinya kalau mereka berdua tengah
menjalani semacam ujian berat yang aneh. Maya berkilau bak emas, menarik semua cahaya dari Miki
yang dalam mimpinya
terlihat sehebat dan setajam sebilah pedang. Sekali dia bermimpi mereka berdua sebagai kucing dan
bayangannya: ia memanggil¬manggil, tapi meskipun menengok, keduanya bukan saja lidak melihat
dirinya tapi juga berlari menjauh dengan langkah tak ter¬dengar hingga berada di luar jangkauan
pendengaran dan perlindungannya. Takeo terbangun dengan perasaan kehilangan yang begitu
menyakitkan kalau kedua putrinya itu bukan anak-anak lagi. Bahkan bayi laki¬lakinya akhirnya akan
tumbuh menjadi laki¬laki dewasa dan menantang dirinya; bahwa orangtua membesarkan anak-anak
hanya untuk digantikan kedudukannya oleh mereka, bahwa harga yang hams dibayar untuk
kehidupan adalah dengan kematian.
Malam terasa lebih pendek, dan saat matahari makin bersinar cerah, Takeo kembali dari dunia mimpi,
mengumpulkan kembali tekad dan kekuatannya untuk melakukan tugas yang ada di hadapannya,
membingungkan lawan-lawannya dan me¬menangkan keberpihakan mereka, memper¬tahankan
negara serta Klan Otori, di atas segalanya, mencegah tejadinya perang.*
Perjalanan berlanjut tanpa insiden. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan perjalanan.
Siang kian panjang seiring makin dekatnya waktu ketika matahari berada pada jarak terjauh dari garis
khatulistiwa. Okuda nampak terkesan—pada kirin, pada kuda Maruyama, dan pada Shigeko yang
memilih untuk berkuda di sisi ayahnya; laki-laki itu banyak bertanya pada Takeo tentang Tiga Negara,
perdagangan, administrasi, dan kapal. Jawaban jujur Takeo membuat mata¬nya makin terbelalak.
Kabar tentang kedatangan kirin sudah sampai mendahului mereka, dan sewaktu mendekati ibukota,
kerumunan orang semakin banyak saat penduduk kota berhamburan keluar untuk menyambut.
Mereka membuat hari itu sebagai hari libun mereka mengajak istri dan anak dengan mengenakan
pakaian berwarna cerah, menggetar tikar dan mendirikan payung penahan sinar matahari warna
merah tua
serta tenda putih, makan dan minum dengan gembira. Takeo merasakan semua kemeriahan ini
sebagai pemberkatan atas per¬jalanannya, menyingkirkan pertanda buruk dari eksekusi di Inuyama.

Halaman 632 dari 632
Kesan ini di¬perkuat dengan Lord Kono yang mengirim undangan untuk mengunjunginya pada malam
pertama di ibukota.
Kota itu dikelilingi tebing; danau besar di bagian utara menyediakan kota itu dengan air dan ikan. Dua
sungai yang mengaliri kota dihubungkan dengan beberapa jembatan yang indah. Kota itu dibangun
seperti kota kuno di Shin: berbentuk persegi dengan jalan lebar terbentang dari utara sampai ke
selatan, dengan jalanan yang lebih kecil bersaling¬silang. Istana kekaisaran terletak di ujung jalanan
utama, di sebelah biara agung.
Takeo serta rombongannya menginap di kediaman yang tidak jauh dari tempat Kono. Sebuah
kandang dibangun dengan tergesa¬gesa untuk kirin. Takeo berpakaian dengan ekstra hati-hati untuk
menghadiri pertemuan itu, lalu menaiki salah satu tandu mewah ber¬pernis yang diangkut dengan
kapal laut dari Hagi menuju Akashi. Hadiah-hadiah untuk Kono dibawa oleh sebarisan pelayan:
produk
Tiga Negara yang menjadi bukti kesejahteran dan pemerintahan yang baik, apa saja yang dinikmati
atau dikagumi Kono selama di wilayah Barat—salah satu hasil pengintaian Taku.
"Lord Otori telah tiba di ibukota saat matahari mendekati titik puncaknya," seru Kono. "Waktu yang
amat menguntungkan. Aku berharap dengan amat sangat atas ke¬berhasilan Anda."
Ini orang yang membawa kabar bahwa pemerintahanku ilegal dan Kaisar memintaku agar turun
takhta serta mengasingkan diri, Takeo memperingatkan dirinya. Aku tidak boleh terbuai pada
sanjungannya. Takeo tersenyum dan berterima kasih pada Kono, lalu berkaia, "Semua ini ada di
tangan Surga. Aku akan tunduk pada kehendak Yang Mulia Kaisar."
"Lord Saga ingin sekali bertemu Anda. Apakah besok tidak terlalu cepat? Beliau ingin menyelesaikan
beberapa masalah se¬belum musim hujan mulai."
"Tentu saja." Takto bisa melihat tidak ada gunanya menunda. Hujan pasti akan menahan dirinya di
ibukota sampai bulan ketujuh: tiba-tiba dilihat dirinya sendiri kalah
dalam pertandingan itu. Lantas apa yang harus ia lakukan? Bersembunyi di kota yang lembap dan
menjemukan ini sampai dirinya bisa menyelinap pulang dan mengatur pengasingan dirinya sendiri?
Atau mencabut nyawanya sendiri, meninggalkan Shigeko sendirian di tangan Saga, di bawah
kekuasaannya? Apakah ia memang tengah mempertaruhlan Tiga Negara, dirinya dan putrinya, dalam
sebuah pertandingan?
Takeo tak menunjukkan sedikit pun kekhawatirannya, tapi justru menghabiskan sisa malam itu
dengan mengagumi koleksi Kono dan membicarakan tentang lukisan dengan orang tersebut.
"Sebagian di antaranya adalah milik ayahku," tutur Kono ketika salah satu pen¬dampingnya membuka
bungkusan sutra yang berisi benda-benda berharga. "Tentu saja sebagian besar koleksnya sudah
hilang.... Tapi kita tidak perlu mengingat masa-masa yang tidak menyenangkan itu. Aku minta maaf.
Aku pernah mendengar kalau Lord Otori sendiri adalah seniman yang berbakat."
"Aku sama sekali tidak berbakat," sahut Takeo. "Tapi melukis memberi kenikmatan besar bagiku;
meski aku tak sempat
melakukannya."
Kono tersenyum dan mengerutkan bibirnya dengan sengaja.
Tak diragukan lagi dia pasti berpikir kalau tak lama lagi aku ada waktu luang yang banyak, renung
Takeo, dan tak bisa menahan diri untuk tersenyum juga pada ironinya keadaan dirinya.
"Aku memberanikan diri untuk meminta Anda memberikan salah satu karya Anda. Dan Lord Saga
pasti gembira kalau bisa menerima satu juga."
"Kau berlebihan menyanjungku," sahut Takeo. "Aku tidak membawanya. Beberapa sketsa yang
kubuat selama perjalanan sudah kukirim pada istriku."

Halaman 633 dari 633
"Menyesal aku tidak bisa membujuk Anda," seru Kono dengan hangat. "Menurut pengalamanku,
semakin jarang seniman memamerkan karyanya, berarti semakin besar bakatnya. Seperti harta
terpendam, itu justru lebih mengesankan dan lebih ber¬harga."
Kemudian dia melanjutkan dengan halus, "Putri Anda tentunya merupakan harta Lord Otori yang
paling berharga. Dia akan menemani Anda besok?"
Kedengarannya hanya sebagian dari sebuah pertanyaan. Takeo agak memiringkan kepala.
"Lord Saga amat menantikan bertemu dengan lawannya," gumam Kono.
***
Lord Kono datang keesokan harinya bersama Okuda, ayah dan anak, serta ksatria lain dari kediaman
Saga, untuk menjemput Takeo, Shigeko, dan Gemba ke kediaman jenderal itu. Sewaktu mereka turun
dari tandu di taman sebuah kediaman yang besar serta megah, Kono bergumam, "Lord Saga
memintaku untuk menyampaikan per¬mintaan maafnya. Beliau sedang membangun kastil baru—
kelak akan ditunjukkannya pada Anda. Untuk sementara, beliau khawatir Anda merasa kalau
kediamannya ini terlalu sederhana—tidak sebanding dengan yang biasa Anda lihat di Hagi."
Takeo menaikkan alisnya dan melihat sekilas ke wajah Kono, tapi tidak dilihat adanya sindiran di
sana.
"Kami mendapat keuntungan hidup selama bertahun-tahun dalam kedamaian,"
sahut Takeo. "Kendati demikian, aku yakin tak satu pun yang kami miliki di Tiga Negara bisa
dibandingkan dengan kemegahan ibukota. Kalian pasti memiliki perajin paling terampil, serta seniman
yang paling berbakat."
"Menurutku, orang-orang seperti itu mencari lingkungan yang tenang agar bisa menghasilkan karya
seni mereka. Banyak yang pergi dari ibukota dan baru sekarang¬sekarang ini mulai kembali. Lord
Saga memberi banyak komisi. Beliau sangat mengagumi semua bentuk seni."
Minoru juga menemani mereka dengan membawa gulungan berisi silsilah keluarga dari semua yang
datang dan daftar hadiah untuk Lord Saga. Hiroshi memohon undur diri, berdalih tak ingin
meninggalkan kirin tidak terjaga, meski Takeo menduga ada alasan lain: kesadaran pemuda itu akan
kurangnya status dirinya, juga rasa enggan bertemu laki-laki yang mungkin akan dinikahi Shigeko.
Okuda, mengenakan pakaian formal ketimbang baju zirah yang dia pakai sebelumnya, membimbing
mereka berjalan menelusuri beranda yang lebar dan melewati
banyak ruangan yang masing-masing dihiasi lukisan yang cemerlang, warna-warna cerah berlatar
berwarna emas. Takeo tak tahan untuk tidak mengagumi ketegasan desain dan kemahiran
pembuatannya. Namun dirasakannya semua lukisan itu dibuat untuk memamerkan kekuatan dari
penguasa: semuanya berbicara tentang kemenangan; tujuannya adalah untuk mendominasi.
Ada lukisan burung merak berjalan dengan angkuh di bawah lebatnya pepohonan pinus. Dua ekor
singa mistis berjalan di sepanjang dinding; naga dan harimau saling meng¬geram; elang menatap
dengan berlagak penting dari tempat yang memungkinkan pandangan luas dan jelas di puncak tebing
kembar. Bahkan ada juga sepasang burung houou sedang mematuk daun bambu.
Di ruangan terakhir inilah Okuda meminta mereka menunggu, sementara dia pergi bersama Kono.
Takeo telah menduga ini: ia pun kerap menggunakan tipu muslihat yang sama. Tak seorang pun bisa
dengan mudah bertemu seorang penguasa. Takeo menenangkan diri sambil memandang lukisan
burung houou. Ia yakin si seniman belum pernah melihat burung itu, namun
melukisnya dari legenda. Dilayangkannya pikirannya ke biara Terayama, ke hutan suci pepohonan
pawlonia di mana burung houou tengah menetas. Di benaknya ia melihat Makoto, sahabat karibnya
yang mengabdikan diri pada Ajaran Houou; ia merasakan kekuatan spiritual sahabatnya itu dalam diri
kedua pendampingnya yang ada di dekatnya, Gemba dan Shigeko. Mereka duduk tanpa bicara, dan
dirasakannya energi dalam ruangan itu semakin menguat, memenuhi dirinya dengan rasa percaya diri

Halaman 634 dari 634
yang mantap. Dipasang telinganya seperti yang pernah dilakukanya di kastil Hagi ketika dipaksa
menunggu dengan cara yang sama; di sana ia dengar pengkhianatan para paman Shigeru. Kini ia
dengar Kono berbicara pelan pada seorang laki-laki yang diduganya adalah Saga, tapi mereka hanya
membicarakan hal¬hal yang biasa-biasa saja.
Kono sudah diperingatkan tentang pen¬dengaranku, pikirnya. Apa lagi yang telah diungkap Zenko
kepadanya?
Takeo mengenang masa lalunya yang hanya diketahui oleh Tribe; seberapa banyak yang Zenko
tahu?
Beberapa saat kemudian Okuda datang
bersama seorang laki-laki yang diperkenal¬kannya sebagai kepala pelayan dan pengurus administrasi
Lord Saga. Orang itulah yang akan mendampingi mereka ke ruang pertemuan, menerima daftar
hadiah yang disiapkan Minoru serta mengawasi para jurutulis yang mencatat acara yang akan
ber¬langsung. Dia membungkuk sampai ke lantai di hadapan Takeo dan berbicara dengan sopan
santun yang luar biasa.
Jalan lebar mengkilap membawa mereka melewati taman kecil yang indah menuju ke bangunan
lainnya yang jauh lebih besar dan lebih indah. Cuaca hari itu terasa semakin hangat, dan gemericik air
di kolam dan tangki air memberi perasaan dingin. Takeo bisa mendengar burung-burung di sangkar
berkicau di suatu tempat di kediaman ini, dan menduga semua itu peliharaan Lady Saga; lalu teringat
kehilangan tragis yang dialami Saga. Sesaat ia merasakan ketakutan akan istrinya yang begitu jauh:
bagaimana ia bisa bertahan bila istrinya tiada? Bisakah ia hidup tanpa istrinya? Menikah lagi demi
alasan negara?
Teringat lagi nasihat Gemba, disingkir¬kannya pikiran itu jauh-jauh, memusatkan
perhatiannya pada laki-laki yang akan ditemuinya.
Kepala pelayan itu berlutut, menggeser layar kasa agar terbuka dan menyembah hingga kepalanya
menyentuh lantai. Takeo melangkah masuk dan membungkuk. Gemba mengikutinya, tapi Shigeko
menunggu di ambang pintu. Hanya ketika Takeo dan Gemba diminta duduk tegak, barulah gadis itu
masuk dengan gerakan anggun dan menyembah di sebelah ayahnya.
Saga Hideki duduk di ujung ruangan. Ruang kecil di sebelahnya terdapat lukisan dengan gaya daerah
daratan utama. Shin. Mungkin itu lukisan bernama Genta Malam Hari dari Biara di Kejauhan yang termahsyur,
yang pernah Takeo dengar tapi belum pernah dilihatnya. Dibandingkan dengan ruangan
lainnya, dekorasi ruangan ini yang paling sederhana, seolah tak ada yang boleh menyaingi kuatnya
kehadiran orang itu. Ternyata efeknya luar biasa, pikir Takeo. Lukisan yang bersifat pamer hanya
menjadi pembungkus berhias: di sini hanya pedang yang dipamerkan, tak perlu hiasan, hanya baja
tajam nan mematikan itu.
Semula Takeo mengira Saga adalah orang
yang brutal serta gegabah; kini ia mengubah pendapatnya. Mungkin kejam, tapi tidak gegabah—dia
laki-laki yang mengendalikan pikiran sama ketatnya dengan mengendalian tubuhnya. Tak diragukan
lagi kalau ia meng¬hadapi lawan yang menakjubkan. Disesalinya kekurangan dirinya, kurang terampil
memanah, dan kemudian mendengar setiap senandung pelan dari sisi kirinya, tempat Gemba duduk
dengan sikap rileks. Dan tiba¬tiba dilihatnya kalau Saga takkan bisa di¬kalahkan dengan kekuatan,
tapi justru dengan kelembutan.
Shigeko tetap membungkuk dalam-dalam sementara kedua orang itu saling menatap. Usia Saga pasti
beberapa tahun lebih tua dari Takeo, mendekati empat puluh tahun, dengan tubuh gemuk laki-laki
separuh baya. Namun orang itu memiliki keluwesan yang tidak sesuai dengan usianya: duduk dengan
nyaman, gerakannya pun luwes. Memiliki bahu bidang dan berotot ciri khas pemanah, dan tampak
lebih bidang karena sayap lebar dari jubah resminya. Suaranya kasar, dengan huruf konsonan
diucapkan cepat, huruf hidup diperpendek: ini pertama kalinya Takeo mendengar aksen daerah timur
laut,

Halaman 635 dari 635
tempat kelahiran Saga. Wajahnya lebar serta bergaris tegas, bentuk matanya panjang dan agak
seperti bertudung, sementara yang me¬ngejutkan bentuk telinganya begitu halus, hampir tanpa
bagian bulat menonjol di bagian bawahnya, begitu dekat dengan kepalanya. Janggut dan kumisnya
agak panjang, keduanya agak beruban meski rambutnya tidak beruban.
Pandangan mata Saga pun tak kalahnya mengamati Takeo, berkedip memerhatikan tubuhnya,
berhenti sebentar saat melihat tangan kanan bersarung tangan hitam. Kemudian bangsawan itu
mencondongkan badan lalu berkata dengan kasar namun ramah, "Bagaimana pendapat Anda?"
"Lord Saga?"
Saga memberi isyarat ke arah ruangan kecil di sampingnya. "Tentu saja lukisan itu."
"Luar biasa. Karya Yu-Chien, benar?"
"Ha! Kono menyarankan aku meng¬gantungnya. Dia bilang Anda pasti mengenalnya, dan bahwa
lukisan ini lebih menarik perhatian Anda ketimbang benda¬benda modern milikku. Bagaimana dengan
yang satu itu?"
Saga berdiri lalu berjalan ke dinding
sebelah timur. Kemari dan lihatlah."
Takeo bangkit lalu berdiri di sampingnya. Tinggi mereka hampir sama, walau tubuh Saga jauh lebih
besar. Lukisan itu menggambarkan pemandangan taman yang dipenuhi bambu, plum dan pinus. Juga
dibuat dengan lima hitam, dilukis dengan tenang serta menggugah.
"Ini juga sangat bagus," sahut Takeo dengan kekaguman yang tulus. "Suatu maha karya."
"Tiga kawan baik," ujar Saga, "luwes, wangi serta kuat. Lady Maruyama, mari bergabung bersama
kami."
Shigeko berdiri lalu berjalan perlahan ke sisi ayahnya.
"Ketiganya mampu menahan kerasnya musim dingin," ujar Shigeko dengan suara pelan.
"Memang," sahut Saga, kembali ke tempat duduknya. "Aku melihat kombinasi itu di sini." Dia memberi
isyarat agar mereka men¬dekat. "Lady Maruyama adalah plum, sedang Lord Miyoshi adalah
pinusnya."
Gemba membungkuk hormat atas pujian ini. "Kurasa aku bagian yang luwes," sahut Takeo seraya
tersenyum.
"Dari riwayat Anda, kurasa juga begitu. Tapi bambu sangat sulit dibasmi bila tumbuh di tempat yang
salah."
"Bambu akan selalu tumbuh," ujar Takeo setuju. "Lebih baik dibiarkan ditempatnya, dan mengambil
manfaat dari kegunaannya yang banyak serta bervariasi."
"Ha!" Saga mengeluarkan tawa
kemenangan. Matanya menatap ke arah Shigeko dengan ekspresi ingin tahu, per¬hitungan sekaligus
hasrat. Kelihatannya dia ingin bicara langsung pada gadis itu, namun kemudian membatalkannya dan
kembali berbicara pada Takeo.
"Apakah filsafat ini menjelaskan alasan Anda tidak menghadapi Arai?"
Takeo menjawab, "Bahkan tanaman beracun pun bisa diambil manfaatnya, dalam ilmu ketabiban,
misalnya."
"Kudengar Anda tertarik dengan per¬tanian."
"Ayahku, Lord Shigeru, yang mengajariku di bidang ini sebelum kematiannya. Bila petani bahagia,
maka negara akan menjadi kaya dan stabil."
"Baiklah, aku tidak punya banyak waktu untuk bertani beberapa tahun ini. Aku terlalu

Halaman 636 dari 636
disibukkan dengan peperangan. Tapi akibat¬nya kami kekurangan persediaan makanan di musim
dingin ini. Okuda mengatakan bahwa Tiga Negara menghasilkan beras lebih banyak dari yang bisa
dikonsumsi."
"Kini banyak dari daerah di negara kami yang mempraktikkan sistem panen ganda," tutur Takeo.
"Memang benar, kami memiliki banyak persediaan beras, begitu pula kacang kedelai, gandum dan
wijen. Kami diberkahi panen yang baik selama bertahun-tahun, serta terhindar dari kekeringan dan
kelaparan."
"Anda telah menghasilkan permata. Tak heran begitu banyak orang yang mengincar¬nya dengan
tamak."
Takeo agak memiringkan kepala. "Aku pemimpin sah Klan Otori, dan menguasai Tiga Negara secara
sah menurut hukum. Kekuasaanku adil dan direstui Surga. Aku tak mengatakan semua ini untuk
membual, tapi untuk mengatakan bahwa sementara aku mencari dukungan Anda, dan keberpihakan
Kaisar—memang, aku bersiap tunduk pada Anda sebagai jenderal Kaisar—harus dengan persyaratan
yang melindungi negara dan pewarisku."
"Kita akan bicarakan itu nanti. Sekarang mari makan dan minum."
Mengimbangi kesederhanaan ruangan itu, makanannya pun lezat: hidangan musiman ibukota yang
tertata rapi, masing-masing menawarkan pengalaman luar biasa bagi mata yang memandang sena
lidah yang mengecap-nya. Sake juga dihidangkan, tapi Takeo hanya minum sedikit, mengingat
perundingan bisa berlangsung hingga malam. Okuda dan Kono bergabung dengan mereka untuk
santap siang, dan perbincangan berlangsung dengan suasana riang. Mereka hanya membicarakan
lukisan, arsitektur, keistimewaan Tiga Negara dibandingkan yang ada di ibukota, yaitu puisi. Di
pengujung santap siang, Okuda, yang sudah lebih mabuk ketimbang yang lainnya, meng¬ungkapkan
lagi kekaguman bersemangatnya pada kirin.
"Aku ingin sekali melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," ujar Saga, dan kelihatan tanpa berpikir
panjang berdiri. "Mari kita ke sana sekarang. Siang ini cuaca cerah. Kita akan lihat lapangan tempat
pertandingan kita." Digandengnya Takeo selagi berjalan kembali ke pintu masuk utama dan berkata
dengan sikap penuh rahasia, "Dan aku harus menemui juara-juara Anda. Lord Miyoshi pasti salah
satunya, kurasa, dan beberapa ksatriamu yang lain."
"Yang kedua adalah Sugita Hiroshi. Sedangkan yang ketiga Anda sudah bertemu. Putriku, Lady
Maruyama."
Cengkeraman tangan Saga mengencang ketika berhenti; diputarnya tubuh Takeo agar bisa menatap
langsung wajahnya. "Memang itu yang dilaporkan Lord Kono, tapi aku mengira itu hanya lelucon."
Orang itu menatap Takeo dengan tajam. Lalu tertawa dengan kasar, dan memelankan suaranya.
"Selama ini Anda memang berniat untuk tunduk. Penandingan ini hanya formalitas bagi Anda? Aku
mengerti alasannya: menyelamatkan mukamu."
"Aku tidak ingin menyesatkan anggapan Anda," sahut Takeo. "Justru ini jauh dari formalitas. Aku
menganggapnya sangat serius, begitu pula dengan putriku. Taruhan¬nya tidak bisa lebih tinggi lagi."
Tapi bahkan sewaktu bicara, keraguan berkecamuk dalam dirinya. Ke mana kepercayaannya pada
Guru Besar Ajaran Houou membimbing dirinya? Takut kalau Saga akan menganggap peng
gantian dirinya dengan Shigeko sebagai penghinaan dan penolakan untuk berunding.
Kendati demikian, setelah beberapa saat diam karena terkejut, bangsawan itu tertawa lagi. "Akan
menjadi pertunjukan yang indah. Lady Maruyama yang cantik melawan bangsawan paling berkuasa di
Delapan Pulau." Saga tenawa kecil sewaktu melepaskan tangan Takeo dan berjalan menyusuri
beranda, berseru dengan suara lantang, "Bawakan busur dan anak panahku, Okuda. Aku ingin
memperlihatkannya pada lawanku."
Mereka menunggu di bawah tepi atap yang melengkung sementara Okuda pergi ke tempat
penyimpanan senjata. Orang itu kembali dengan membawa busur yang besamya lebih dari
serentangan lengan dan dilapisi pernis merah dan hitam. Seorang pengawal mengikuti dengan
membawa tabung panah berisi serangkaian anak panah.

Halaman 637 dari 637
Anak panahnya tidak kalah mengesankan, diikat dengan tali berlapis pernis emas; Saga mengambil
satu anak panah dari dalam tabung lalu mengacungkannya untuk diperlihatkan kepada mereka, anak
panah itu terbuat dari kayu pawlonia dengan ujung
tumpul, berbulu putih.
"Bulu burung bangau," ujar Saga, sambil mengelus bulu-bulu itu dengan lembut lalu melirik ke arah
Takeo, yang sadar sepenuhnya dengan lambang bangau Otori di bagian belakang jubahnya.
"Kuharap Lord Otori tidak tersinggung. Menurutku, bulu bangau menghasilkan bidikan yang terbaik."
Diserahkannya kembali anak panah itu pada pengawalnya lalu mengambil busur dari tangan Okuda,
mengulur dan meregangkan dengan satu gerakan yang seperti tanpa tenaga. "Kurasa busur ini
hampir sama tingginya dengan Lady Maruyama," ujarnya. "Pemahkah Anda turut dalam perburuan
anjing?"
"Tidak, kami tidak berburu anjing di wilayah Barat," sahut Shigeko.
"Itu olahraga yang hebat. Anjing-anjing sangat bersemangat mengikutinya. Tentu saja kami tidak
membidik untuk membunuhnya. Kau harus menyatakan bagian yang hendak kau bidik. Aku ingin
memburu singa atau harimau. Itu akan menjadi buruan yang lebih layak!"
"Bicara tentang harimau," lanjutnya
dengan karakternya yang sigap dan cepat, seraya mengembalikan busur dan mengena¬kan
sandalnya di anak tangga. "Kita harus ingat untuk membicarakan tentang per¬dagangan. Anda
mengirim kapal ke Shin dan Tenjiku, bukan begitu?"
Takeo mengangguk patuh.
"Dan Anda telah kedatangan orang-orang barbar dari selatan? Mereka amat menarik bagi kami."
"Kami membawa hadiah-hadiah dari Tenjiku, Silla, Shin serta Kepulauan Selatan untuk Lord Saga
dan Yang Mulia Kaisar," sahut Takeo.
"Hebat, hebat!"
Para pemanggul tandu beristirahat di bawah tenda di luar gerbang. Mereka ber¬gegas berdiri lalu
membungkuk hormat sementara majikan mereka menaiki tandu, tanpa kenyamanan, menuju
penginapan yang dijadikan tempat tinggal Otori. Panji-panji bergambar bangau berkibar di atas
gerbang dan di sepanjang jalan. Bangunan utamanya terletak di sebelah barat daerah berundak:
sebelah timur dibangun istal, tempat kuda¬kuda Maruyama menghentak kaki serta mengibaskan
kepala. Di depan istal ini, di
kandang beratap tiang bambu di satu sisi dengan atap ilalang, berdirilah kirin, Di sekeliling gerbang,
telah berkumpul sekerumunan orang yang berusaha melihat kirin: anak-anak memanjat pohon, dan
seorang pemuda yang penuh inisiatif meng¬gunakan tangga.
Lord Saga satu-satunya orang di kelompok itu yang belum pernah melihat makhluk menakjubkan itu.
Semua orang menatap dengan pandangan gembira. Mereka tidak kecewa. Bahkan Saga, dengan
pengendalian diri yang nyaris sempuma, tak kuasa menahan tatapan penuh takjub di wajahnya.
"Hewan ini jauh lebih tinggi dari yang kukira," serunya. "Pasti sangat kuat dan cepat."
"Hewan ini justru sangat lembut," sahut Shigeko seraya mendekati kirin. Saat itu Hiroshi datang dari
istal menuntun Tenba yang tengah melompat dan berjingkrak di ujung tali kekangnya.
"Lady Maruyama," seru Hiroshi. "Aku tak menduga Anda kembali begitu cepat." Sesaat keadaan sunyi
senyap. Takeo perhatikan saat Hiroshi melihat sekilas ke arah Saga lalu wajahnya pucat. Kemudian
pemuda itu
membungkuk hormat sebisa mungkin sambil mengendalikan kuda, dan berkata dengan canggung,
"Tadi aku menunggang Tenba."

Halaman 638 dari 638
Kirin mulai melangkah dengan gembira ketika melihat tiga makhluk yang paling disayanginya.
"Aku akan mengembalikan Tenba bersama kirin," ujar Hiroshi. "Kirin merindukannya. Setelah berpisah
kirin justru kelihatan semakin terikat dengannya!"
Saga bicara seolah Hiroshi adalah pengurus kuda. "Keluarkan kirin itu. Aku ingin melihatnya lebih
dekat."
"Tentu, tuan," sahut Hoiroshi dengan membungkuk hormat lagi, rona merah kembali merayapi leher
dan pipinya.
"Kuda ini sangat tampan," komentar Saga sewaktu Hiroshi mengikat Tenba pada tali yang
diregangkan dari masing-masing sisi sudut dalam kandang. "Bersemangat. Dan lumayan tinggi."
"Kami membawa banyak kuda dari Maruyama sebagai hadiah," ujar Takeo padanya. "Kuda-kuda itu
dibiakkan serta dibesarkan Lady Maruyama dan pengawal seniornya, Lord Sugita Hiroshi." Sewaktu
Hiroshi menuntun kirin keluar dengan tali
sutra merah di tangan, Takeo menam¬bahkan, "Ini Sugita."
Saga mengangguk ke arah Hiroshi dengan sikap asal-asalan: perhatiannya tersita habis pada kirin.
Tangannya menggapai dan mengelus kulit bercorak coklat muda ke¬kuningan itu. "Lebih halus dari
kulit perempuan!" serunya. "Bayangkan kalau kulit ini dihamparkan di lantai atau di tempat tidur."
Seolah sekonyong-konyong tersadar dengan kesunyian yang merasa sakit hati atas kata-katanya
terse-but, dia meminta maaf, "Hanya setelah hewan ini mati karena usia tua, sewajarnya."
Kirin menjulurkan lehernya yang panjang ke arah Shigeko dan dengan lembut mengusap pipi gadis itu
dengan hidung.
"Kulihat, kau adalah kesayangannya," ujar Saga, memalingkan tatapan penuh kekaguman Shigeko.
"Kuucapkan selamat pada Anda, Lord Otori. Kaisar akan ter¬pesona dengan hadiah Anda. Belum
pernah ada makhluk seperti ini di ibukota."
Kata-kata tadi diucapkan dengan murah hati, tapi Takeo menduga ada nada iri dan dengki di
dalamnya. Setelah menginspeksi kuda-kuda lebih jauh lagi, serta memper
sembahkan dua kuda betina dan tiga kuda jantan hitam kepada Lord Saga, mereka kembali ke
kediaman Saga. Bukan ke ruangan sederhana sebelumnya, tapi ke aula pertemuan yang didekorasi
dengan megah, tempat lukisan seekor naga terbang melintasi dinding dan seekor harimau berkeliaran
mencari mangsa. Di sini Saga tidak duduk di lantai, melainkan di kursi ukiran, mirip Kaisar. Lebih
banyak pengawalnya yang menghadiri pertemuan tersebut; Takeo menyadari keingintahuan mereka
pada dirinya dan terutama pada Shigeko. Tidak biasa seorang perempuan duduk di tengah¬tengah
laki-laki dalam acara seperti ini dan turut berbicara tentang kebijakan. Takeo merasa kalau mereka
cenderung tersinggung dengan pelanggaran adat semacam ini; namun silsilah Klan Maruyama lebih
tua ketimbang Klan Saga dan klan wilayah Timur lainnya—sama tuanya dengan keluarga kekaisaran
yang merupakan keturunan Dewi Matahari.
Pertama-tama mereka membicarakan tentang upacara dalam acara perburuan anjing, hari-hari
jamuan dan ritual, arak¬arakan Kaisar; peraturan penandingan. Dua
lingkaran tali dipasang di atas tanah, satu tali di dalam tali yang satunya lagi. Di setiap babak enam
anjing akan dilepas, satu demi satu. Si pemanah berderap di sekeliling lingkaran di tengah: nilai
diberikan pada bagian tubuh anjing yang dibidik. Permainan itu merupakan permainan keterampilan,
bukan pembantaian: anjing yang terluka parah atau mati dianggap tidak sah. Anjing dipilih berbulu
putih agar jika berdarah bisa segera terlihat. Shigeko menanyakan satu atau dua penanyaan teknis:
lebar arena, apakah ada ketentuan ukuran busur atau anak panah. Saga menjawab dengan cepat,
dan dibumbui dengan kelakar sehingga membuat para pengawalnya tersenyum.
"Dan sekarang kita bicara tentang hasil¬nya," ujarnya sopan. "Jika Lady Maruyama menang, apa
syarat Anda, Lord Otori?"
"Kaisar mengakui aku dan istriku sebagai penguasa sah Tiga Negara; Anda mendukung kami dan
pewaris kami; Anda memerintah¬kan Arai Zenko tunduk pada kami. Sebagai imbalannya, kami akan

Halaman 639 dari 639
bersumpah setia pada Anda dan Kaisar, demi kesatuan dan ke¬damaian Delapan Pulau; kami akan
menyediakan makanan, tenaga manusia sera
kuda untuk kampanye militer Anda berikutnya, serta membuka pelabuhan kami bagi kalian untuk
perdagangan. Kedamaian dan kesejahteraan Tiga Negara bergantung pada sistem pemerintahan
kami, dan ini tidak boleh diubah."
"Terlepas dari hal terakhir ini yang ingin kubicarakan dengan Anda lebih jauh lagi, semuanya aku
terima dengan baik," sahut Saga, tersenyum dengan penuh percaya diri.
Dia tidak merasa terganggu dengan satu pun syaratku karena memang dia tidak merasa dirugikan,
renung Takeo. "Dan apa syarat Lord Saga?" tanyanya.
"Bahwa Anda segera mundur dari kehidupan publik, dan menyerahkan Tiga Negara pada Arai Zenko
yang telah ber¬sumpah setia padaku dan juga pewaris sah ayahnya Arai Daiichi; bahwa Anda boleh
mencabut nyawa Anda sendiri atau mengasingkan diri ke Pulau Sado; bahwa putra Anda harus
dikirim padaku sebagai tawanan; dan bahwa putri Anda harus menikah denganku."
Kata-kata maupun nada suaranya seperti menghina, dan kemarahan Takeo mulai meluap. Dilihatnya
ekspresi semua orang,
kepuasan dan kesenangan yang mereka rasakan atas penghinaan terhadap dirinya.
Mengapa aku ke sini? Lebih baik mati dalam perang ketimbang tunduk pada ial ini. Takeo duduk
tanpa bergerak, sadar kalau tidak ada pilihan lain: setuju dengan usulan Saga atau menolaknya, lari
dari ibukota bak penjahat dan bersiap, jika ia dan teman¬temannya hidup berhasil sampai di
perbatasan, untuk berperang.
"Menang atau kalah," Saga melanjutkan bicaranya, "Kurasa Lady Maruyama pasti bisa menjadi istri
yang baik bagiku, dan aku minta Anda pertimbangkan tawaranku."
"Aku turut berduka atas meninggalnya istri Anda," sahut Takeo.
"Mendiang istriku orang yang baik: dia memberiku empat anak yang sehat serta merawat anakku
yang lain; kurasa anakku jumlahnya sepuluh atau dua belas. Kurasa pernikahan antara keluarga kita
bisa sangat menguntungkan kedua belah pihak."
Semua rasa sakit hati yang pernah ia rasakan ketika Kaede diculik kembali menyapu dirinya.
Sungguh keterlaluan kalau ia mesti menyerahkan putri tercintanya pada laki-laki kejam yang sudah
tua ini, laki-laki
yang sudah memiliki beberapa selir, yang takkan memperlakukan putrinya sebagai penguasa atas
haknya sendiri, yang hanya ingin memiliki putrinya belaka. Namun orang ini yang paling berkuasa di
seluruh Delapan Pulau; kehormatan dan manfaat politis dari pernikahan ini besar sekali. Tawaran itu
telah diucapkan di depan orang banyak: bila ia tolak secara langsung itu berarti menghina.
Shigeko duduk dengan tatapan tertunduk, tidak menunjukkan reaksinya pada pem¬bicaraan tersebut.
Takeo berkata, "Kehormatan ini terlalu besar bagi kami. Putriku masih sangat muda, tapi aku
berterima kasih pada Anda dari lubuk hatiku. Aku ingin bicarakan ini dengan istriku—Lord Saga
mungkin belum tahu kalau istriku turut menjalankan pemerintahan Tiga Negara bersamaku—aku
yakin, seperti halnya aku, istriku akan sangat gembira dengan penyatuan antara kita."
"Semula aku ingin membiarkan istrimu hidup, karena baru saja melahirkan, tapi bila peran istrimu
sama besarnya dengan dirimu dalam pemerintahan, maka dia juga harus diperlakukan sama seperti
dirimu: kematian
atau pengasingan," sahut Saga dengan kesal. "Andaikata Lady Maruyama menang, dia boleh pulang
untuk membicarakan hal ini dengan ibunya."
Untuk pertama kalinya Shigeko angkat bicara, "Aku juga memiliki syarat, jika aku diperbolehkan
bicara."

Halaman 640 dari 640
Saga melihat sekilas ke arah anak buahnya lalu tersenyum dengan sabar. "Kami men¬dengarnya,
nona."
"Aku minta Lord Saga untuk bersumpah mempertahankan garis pewarisan keturunan perempuan di
Maruyama. Dan sebagai pimpinan klan, aku bisa membuat pilihanku sendiri dalam pernikahan,
setelah ber¬konsultasi dengan para pengawal seniorku, juga dengan ayah dan ibuku sebagai
atasanku. Aku sangatlah berterima kasih pada Lord Saga atas kemurahan hatinya serta kehormatan
yang dianugerahkan pada diriku, tapi aku tak bisa menerimanya tanpa persetujuan dari klanku."
Shigeko bicara dengan tegas, sekaligus dengan pesona yang kuat, hingga sulit bagi siapa pun untuk
merasa tersinggung. Saga membungkuk hormat.
"Kulihat kalau aku punya lawan se
banding," serunya, dan riak tawa melanda anak buahnya.*
Bulan baru dari bulan keenam bergelayut di langit sebelah timur di balik pagoda enam lapis selagi
mereka kembali ke kediaman. Setelah mandi, Takeo meminta dipanggilkan Hiroshi lalu menceritakan
tentang pem-bicaraan hari itu kepadanya, tidak keting¬galan satu pun, dan menutupnya dengan
usulan pernikahan.
Hiroshi hanya diam mendengarkan, hanya mengatakan, 'Tentu saja ini tak terduga, dan suatu
kehormatan besar."
"Namun laki-laki seperti itu..." ujar Takeo pelan. "Shigeko akan mengikuti saranmu, juga saran aku
dan istriku. Kita harus mem pertimbangkan masa depannya sama pentingnya dengan yang terbaik
bagi Tiga Negara. Kurasa hanya ada sedikit peluang untuk memutuskan secepatnya." Takeo
menghela napas. "Begitu banyak yang dipertaruhkan pada pertandingan ini—dan semua orang di
pihak Saga sudah memutus
kan hasilnya!"
"Matsuda Shingen yang menyarankan Anda untuk kemari, kan? Anda harus memercayai
penilaiannya."
"Ya harus datang, dan aku percaya pada¬nya. Tapi akankah Saga mematuhi kesepakatannya? Dia
orang yang tidak mau kalah, dan begitu yakin akan menang."
"Seluruh kota terpukau dengan kegembiraan pada Anda, Lady Shigeko, juga kirin. Lukisan-lukisan
bergambar kirin sudah dijual, dan gambarnya ditenun menjadi kain dan bordiran di jubah. Sewaktu
Lady Shigeko memenangkan lomba ini, dan memang dia akan memenangkannya, Anda akan
didukung—dan dilindungi—oleh rakyat. Mereka bahkan telah menggubah nyanyian tentang hal itu."
"Cinta rakyat adalah kisah tentang kehilangan dan tragedi," sahut Takeo "Saat aku di pengasingan di
Pulau Sado, mereka akan mendengar kisah melankolis tentang diriku dan menangis, dan
menikmatinya!"
Kemudian terdengar langkah ringan di luar. Ketika pintu digeser terbuka, Shigeko masuk diikuti
Gemba yang membawa kotak berpenis hitam dengan motif houou berlapis
emas. Saat melihat putrinya saling menatap dengan Hiroshi dalam tatapan yang penuh kasih sayang,
membuat hati Takeo pedih dengan penyesalan dan rasa iba. Mereka sudah seperti pasangan suami
istri, pikirnya, terikat dengan ikatan yang kuat seperti itu. Takeo berharap dapat memberikan putrinya
pada pemuda yang sangat dihormatinya ini, yang setia sejak masih kecil, pemuda yang pandai dan

Halaman 641 dari 641
pemberani, dan sangat mencintai putrinya. Namun semua ini tidak sebanding dengan status dan
kekuasaan yang dimiliki Saga Hideki.
Gemba menyela renungannya. "Takeo, kami mengira kau ingin melihat senjata¬senjata Lady
Shigeko." Ditaruhnya kotak itu di lama: dan Shigeko berlutut membukanya.
Takeo berkata dengan gelisah, "Kotaknya kecil sekali—pasti tidak bisa memuat busur dan anak
panah."
"Baiklah, memang ukurannya kecil," aku Gemba. "Tapi Shigeko tidak terlalu tinggi: dia harus memiliki
sesuatu yang bisa dipegang."
Shigeko mengeluarkan busur miniatur yang indah, tabung anak panah, dan kemudian anak panah,
berujung tumpul
serta dengan bulu putih dan emas.
"Ini lelucon, kan?" ujar Takeo, jantungnya berdebar ketakutan.
"Tidak, Ayah. Lihat, anak panahnya dibului dengan bulu burung houou."
"Begitu banyak burung houou di musim semi ini hingga kita bisa mengumpulkan cukup bulu," jelas
Gemba. "Mereka mem¬biarkan bulu-bulunya jatuh seolah mereka menawarkannya."
"Mainan ini hampir tidak bisa menembak burung gereja, apalagi anjing," sahut Takeo.
"Ayah tak ingin kami menyakiti anjingnya, bukan begitu Ayah?" kata Shigeko seraya tersenyum. "Kami
tahu betapa sayangnya Ayah pada anjing."
"Tapi ini perburuan anjing!" serunya. "Tujuannya yaitu memanah anjing sebanyak mungkin, lebih
banyak dari Saga!"
"Anjing-anjing itu pasti bisa dipanah," ujar Gemba. "Tapi dengan anak panah ini tidak berbahaya dan
tidak menyakiti anjing-anjing itu."
Teringat cahaya api yang Gemba lemparkan untuk membakar habis kekesalan waktu itu, ia mencoba
menekan kekesalan¬nya sekarang. "Tipuan sulap?"
"Lebih dari itu," sahut Gemba. "Kami akan gunakan kekuatan Ajaran Houou: keseimbangan antara
laki-laki dan perempuan. Selama keseimbangannya bisa dipertahankan, maka kekuatannya tak terkalahkan.
Kekuatan ini yang menyatukan Tiga Negara: kau dan istrimu merupakan simbol hidup
kekuatan itu; putrimu adalah hasilnya, buktinya."
Gemba tersenyum yakin, seolah me¬mahami keberatan Takeo yang tak terucap. "Kesejahteraan dan
kebahagiaan yang kau banggakan itu takkan terwujud tanpa kekuatan itu. Lord Saga sama sekali
tidak mengenal kekuatan unsur perempuan, maka dengan begitu dia akan dikalahkan."
"Ngomong-ngomong," kata Gemba sewaktu mereka saling mengucapkan selamat malam. "Jangan
lupa menawarkan Jato kepada Kaisar besok." Melihat tatapan Takeo yang terkejut, dia lalu
meneruskan, "Hal itu sudah diminta dalam pesan pertama Kono, kan?"
"Ya, memang, tapi begitu juga dengan pengasingan diriku. Bagaimana kalau Kaisar ingin
menyimpannya?"
"Jato senantiasa menemukan pemiliknya
yang berhak, bukan begitu? Lagipula, kau tidak menggunakannya lagi. Sudah waktunya diserahkan."
Memang benar Takeo tak lagi meng¬gunakan pedang itu dalam pertempuran sejak kehilangan jarijarinya,
tapi nyaris tak satu hari pun berlalu tanpa dirinya menyandang pedang itu. Ia juga cukup mahir
meng¬gunakan tangan kiri untuk menopang tangan kanannya, setidaknya dalam latihan
per¬tarungan. Jato memiliki arti paling besar bagi dirinya; pedang itu pemberian Shigeru dan
merupakan simbol nyata dari pemerintahan¬nya yang sah. Pikiran untuk melepaskannya amat
mengganggunya hingga ia merasa perlu menghabiskan waktu beberapa lama untuk bermeditasi,
setelah berganti dengan pakaian tidur.

Halaman 642 dari 642
Disuruhnya Minoru dan pelayannya pergi, lalu ia duduk sendirian dalam ruangan yang gelap,
mendengarkan suara-suara malam dan melambatkan napas dan pikirannya. Nyanyian dan genderang
bergema dari tepi sungai, tempat penduduk kota menari-nari. Katak berkuak di kolam taman, dan
jangkrik berderik di sela-sela semak. Perlahan-lahan disadarinya kearifan dari saran Gemba: ia
akan mengembalikan Jato kepada Kaisar, tempat pedang itu berasal.
***
Musik dan genderang terus terdengar hingga larut malam, dan keesokan harinya jalanan dipenuhi
orang dewasa dan anak-anak yang menari-nari. Mendengarkan suara mereka saat ia bersiap
menemui Kaisar, Takeo bukan hanya mendengar nyanyian tentang kirin tapi juga tentang burung
houou:
Burung houou bersarang di Tiga Negara; Lord Otori telah muncul di ibukota. Kirin adalah hadiah bagi
Kaisar; Kuda-kudanya menggetarkan tanah kami Selamat datang Lord Otori!
"Semalam aku keluar untuk melihat suasana kota," ujar Hiroshi. "Aku men¬ceritakan pada satu atau
dua orang lentang bulu burung houou."
"Ternyata sangat efektif!" sahut Takeo, menjulurkan tangan untuk mengambil jubah sutra tebalnya.
"Rakyat menganggap kunjungan Anda
sebagai pertanda datangnya kedamaian."
Perasaan tenang yang telah dicapainya semalam kian dalam. Diingatnya semua pelatihannya, dari
Shigeru dan Matsuda juga dari Tribe. Takeo menjadi terasing dan tanpa ekspresi; semua kegelisahan
telah sirna dari dirinya.
Para pendampingnya pun tampak dirasuki kepercayaan diri yang sama. Takeo dibawa dengan tandu
berhias yang indah. Shigeko dan Hiroshi menunggang kuda bersurai abu¬abu pucat, Ashige dan Keri,
masing-masing di kanan dan kiri kirin, keduanya memegangi tali sutra merah tua yang terikat di
kalung berwarna emas berbentuk daun berlapiskan kulit. Kirin berjalan dengan anggun tanpa
terganggu, memalingkan lehernya untuk melihat kerumunan yang tengah mengagumi dirinya.
Teriakan dan seruan tidak mem¬pengaruhi ketenangan dirinya maupun pen¬dampingnya.
Kaisar telah melakukan perjalanan singkat dari Istana Kekaisaran menuju Biara Agung dengan kereta
megah berpernis yang ditarik sapi jantan hitam. Ada banyak lagi kereta yang membawa bangsawan
laki-laki dan perempuan. Bangunan biara berwarna merah
cerah, baru dipugar dan dicat ulang. Di depan bagian dalam gerbang, terdapat satu arena yang luas,
lingkaran-lingkaran yang memiliki titik pusat telah diiandai dengan warna-warna kontras, tempat
perlombaan akan diadakan. Para pemanggul tandu berderap melintasi lingkaran ini, diikuti rombongan
Takeo. Para penjaga dengan ramah menghadang kerumunan tapi mem¬biarkan gerbang sebelah luar
tetap terbuka. Pohon pinus berderet di bagian sampingnya, dan di bawahnya gerai kayu dan tenda
serta anjungan sutra didirikan bagi para penonton, dan ratusan bendera dan umbul-umbul berkibar
ditiup angin. Banyak orang, ksatria dan bangsawan, sudah duduk di sini meski perburuan anjing baru
dimulai besok, memanfaatkan tempat menonton yang sangat bagus ini untuk melihat kirin. Para
perempuan herambut hitam panjang, sedangkan laki-laki mengenakan topi resmi kecil, membawa
bantal sutra dan payung pelindung sinar matahari, makanan dalam kotak-kotak berpernis. Di gerbang
berikut¬nya tandu diturunkan dan Takeo melangkah keluar. Shigeko dan Hiroshi turun dari kuda;
Hiroshi mengambil tali kekang dan Takeo
berjalan dengan putrinya serta kirin menuju bangunan utama biara.
Dinding putih dan balok merah ber¬kilauan diterpa sinar matahari siang. Saga Hideki dan Lord Kono
telah menanti dengan pelayan di atas anak tangga. Semua pelayan itu mengenakan jubah resmi yang
sangat mewah, lubah Saga berhiaskan kura-kura dan burung jenjang,

Halaman 643 dari 643
Sedangkan jubah Kono berhiaskan bunga peoni dan burung merak. Semuanya saling bertukar hormat
dan sopan santun, lalu Lord Saga membimbing Takeo ke dalam, menuju aula remang-remang yang
disinari ratusan lentera. Di bagian atas ruangan itu terdapat mimbar berundak, di belakang tirai halus
dari bambu yang melindunginya dari mata fana dunia, duduklah sang Kaisar, bagian dari dewa-dewa.
Takeo menyembah, mencium aroma asap minyak, keringat Saga tertutup oleh aroma dupa wangi,
dan aroma wewangian pelayan Kaisar, Menteri Kanan dan Menteri Kiri duduk di anak tangga di
bawah penguasa mereka.
Ini sama seperti yang ia harapkan, diterima Kaisar, anggota pertama Klan Otori yang
dihormati sejak Takeyoshi yang legendaris.
Saga mengumumkan dengan suara yang jelas namun sopan, "Lord Otori datang dari Tiga Negara
untuk mempersembahkan hadiah yang indah bagi Paduka Yang Mulia, serta meyakinkan Paduka
Yang Mulia akan kesetiaannya."
Kata-kata ini diulang salah satu Menteri yang duduk di anak tangga mimbar tertinggi dengan suara
bernada tinggi dengan banyak tambahan bahasa yang halus serta sopan santun kuno. Ketika dia
selesai bicara, semua orang membungkuk hormat lagi, dan sesaat kesunyian melanda. Takeo merasa
diamati Kaisar dengan seksama dari sela-sela celah tirai bambu.
Kemudian dari balik tirai sang Kaisar bicara, dengan suara yang tak lebih dari sekadar bisikan.
"Selamat datang, Lord Otori. Kami sangat senang menerima kedatanganmu. Kami tahu ikatan lama
yang ada di antara keluarga kita."
Takeo mendengar semua ini diucapkan ulang oleh sang Menteri, dan ia bisa meng¬gerakkan sedikit
posisinya untuk mengamati reaksi Saga. Ia seperti mendengar tarikan napas pelan dari laki-laki di
sebelahnya. Kata
kata Kaisar singkat—namun lebih dari yang diharapkan: pengakuan atas hubungan Klan Otori.
Sungguh kehormatan yang amat besar dan tak terduga.
Takeo memberanikan diri berkata, "Bolehkah hamba bicara kepada Paduka Yang Mulia?"
Permintaan itu diulang, dan ijin Kaisar diucapkan ulang.
Takeo berkata, "Berabad-abad lampau nenek moyang Paduka Yang Mulia mem¬berikan pedang ini,
Jato, kepada Otori Takeyoshi. Pedang ini diserahkan kepada hamba oleh ayah hamba, Shigeru,
sebelum kematiannya. Hamba diminta mengembali¬kannya kepada Yang Mulia, dan kini hamba
dengan rendah hati melaksanakannya, menawarkannya kepada Paduka sebagai tanda kesetiaan dan
pengabdian hamba."
Menteri Sebelah Kanan berunding dengan Kaisar, lalu bicara lagi kepada Takeo.
"Kami menerima pedangmu dan peng¬abdianmu."
Takeo maju dengan tutut, lalu mengambil pedang itu dari sabuknya. Rasa menyesal menghunjam
selagi ia menyodorkan pedang itu dengan dua tangan.
Selamat tinggal, ujarnya pelan dalam hati.
Para menteri yang berada di undakan paling rendah mengambil Jato dan mengoperkannya dari satu
petugas ke petugas lainnya hingga sampai ke tangan Menteri Kiri yang kemudian meletakkannya di
depan tirai.
Jato akan bicara; Jato akan kembali padaku, pikir Takeo, namun Jato hanya tergeletak di lantai, diam
dan tak bergerak.
Kaisar bicara lagi, dan Takeo mendengar kalau itu bukan suara dewa atau bahkan bukan suara
penguasa besar, tapi suara manusia biasa yang penuh keingintahuan.

Halaman 644 dari 644
"Aku ingin melihat kirin dengan mataku sendiri." Terjadi kegemparan mendadak karena tak seorang
pun yakin akan cara tepat apa yang harus dilakukan. Kemudian Kaisar melangkah keluar dari balik
lirai serta menjulurkan tangan kepada para pelayannya untuk menuntunnya menuruni anak tangga.
Kaisar mengenakar jubah emas dengan bordiran naga merah tua melintang di punggung dan
lengannya; hiasan itu menambah tinggi badannya, tapi penilaian Takeo sebelumnya ternyata benar.
Di balik megahnya pakaian yang dikenakannya,
berdiri seorang laki-laki berperawakan agak pendek berusia kira-kira dua puluh delapan tahun; pipinya
tembam, mulutnya kecil dan tegas, menunjukkan kecerdasan; matanya berkilat dengan harapan.
"Biarkan Lord Otori ikut denganku," ujarnya sewaktu berjalan melewati Takeo, dan Takeo pun
mengikutinya, berjalan dengan lutut.
Shigeko menunggu di luar bersama kirin. Gadis itu berlutut dengan satu kaki ketika Kaisar mendekat,
dan dengan kepala ter¬tunduk memegangi tali, dia berkata, "Paduka Yang Mulia: hewan ini tak
sebanding dengan keagungan Paduka Yang Mulia, namun kami menawarkannya dengan harapan
Paduka Yang Mulia akan melihat dan mengakui bawahan Paduka di Tiga Negara."
Ekspersi Kaisar merupakan salah satu kekaguman yang murni, mungkin sama kagumnya karena
diajak bicara seorang perempuan dan saat melihat kirin. Diambilnya tali itu dengan hati-hati,
menengok sekilas pada para pegawai tinggi kekaisaran, mendongak melihat leher kirin yang panjang
dan kepalanya, lalu tertawa gembira.
Shigeko berkata, "Paduka Yang Mulia bisa menyentuhnya: hewan ini amatlah lembut," dan manusia
setengah dewa itu menjulurkan tangan lalu mengelus bulu halus hewan yang menakjubkan itu.
Kaisar bergumam, ''Kirin hanya muncul ketika sang penguasa diberkati Surga."
Shigeko menyahut dengan suara yang sama pelannya, "Maka Paduka Yang Mulia memang diberkati."
"Ini laki-laki atau perempuan?" tanya Kaisar pada Saga yang datang menghampiri dengan cara sama
yang dilakukan Takeo, berlutut, karena Shigeko bicara dengan menggunakan bahasa seorang
penguasa laki¬laki.
"Paduka Yang Mulia, ini putri Lord Otori, Lady Maruyama."
"Dari tanah tempat perempuan berkuasa? Lord Otori telah membawa banyak benda yang eksotis!
Semua yang kami dengar tentang Tiga Negara memang benar adanya. Alangkah inginnya aku
berkunjung ke sana, tapi mustahil aku meninggalkan ibukota." Dielusnya lagi kirin. "Apa yang bisa
kuberikan sebagai imbalannya?" tanyanya. "Aku sangsi kalau memiliki apa pun yang
sebanding." Kaisar berdiri seolah berpikir keras selama beberapa saat, dan kemudian berbalik dan
menengok ke belakang seakan tersengat oleh ilham yang datang tiba-tiba. "Bawakan padaku pedang
Otori," serunya. "Akan kuanugerahkan kepada Lady Maruyama!"
Takeo ingat suara dari masa lalu: Pedang itu akan berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Kenji. Pedang yang Kenji serahkan kepada Shigeru setelah kekalahan Otori di Yaegahara, dan
kemudian dibawa Yuki, putri Kenji, untuk Takeo, dan kini diserahkan ke tangan Maruyama Shigeko
oleh Kaisar.
Takeo membungkuk hingga menyentuh tanah lagi, dan selagi duduk legak, dilihatnya Kaisar tengah
mengamatinya dengan penuh selidik. Pada saat itu, godaan akan kekuatan mutlak berkilat di
hadapannya. Siapa pun yang disukai Kaisar—atau, bisa diungkapkan dengan kata yang lebih
sederhana, mengendalikan Kaisar—maka bisa mengen¬dalikan Delapan Pulau.
Itu bisa saja aku dan Kaede, pikirnya. Kami bisa bersaing dengan Saga: jika kami mengalahkannya
besok dalam pertandingan,
kami bisa menggantikan kedudukannya. Pasukan kami sudah siap. Aku bisa kirim kurir kepada Kahei
lebih awal. Kami akan mendesaknya kembali ke utara dan ke arah laut. Sagalah yang akan
diasingkan, bukan aku!

Halaman 645 dari 645
Takeo menghibur diri dengan khayalannya selama beberapa saat, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Ia
tidak menginginkan Delapan Pulau; ia hanya menginginkan Tiga Negara, dan ingin agar negaranya
tetap damai.
***
Sisa hari itu dihabiskan dengan jamuan makan, pertunjukan musik dan drama, kompetisi puisi, dan
bahkan peragaan permainan kegemaran para bangsawan muda, yaitu bola sepak. Lord Kono
membuktikan diri sangat mahir dalam permainan ini.
"Perilakunya yang acuh tak acuh menyem¬bunyikan keahlian fisiknya," komentar Takeo pelan kepada
Gemba.
"Mereka akan menjadi lawan yang sebanding," sahut Gemba setuju dengan tenang.
Kemudian ada juga balapan kuda sebelum
matahari terbenam. Tim Lord Saga yang menunggang kuda perang Maruyama menang dengan
mudah, menambah kekaguman pengunjung kepada sang jenderal, dan kegembiraan serta
kekaguman akan hadiah yang tiada bandingannya.
Takeo kembali ke kediaman dengan rasa gembira dan bersemangat atas hasil hari ini, meskipun
masih cemas tentang esok hari. Ia telah menyaksikan keahlian berkuda lawan. Ia tak percaya kalau
putrinya bisa menang. Namun Gemba ternyata benar tentang pedang itu. Seharusnya ia juga percaya
tentang hasil pertandingan itu.
Dinaikkannya tirai tandu yang terbuat dari sutra untuk menikmati udara malam. Saat ditandu melewati
gerbang, dia melihat, dari sudut matanya, garis bentuk tubuh ber¬bayang dari seseorang yang
menggunakan kemampuan menghilang. Ia terkejut karena tidak menduga ada anggota Tribe
beroperasi di ibukota: tidak ada dalam catatannya, maupun sepengetahuan keluarga Muto yang
pernah menyatakan kalau mereka telah menembus sejauh ini sampai ke wilayah Timur.
Secara naluri disentuhnya pedang, sadar
kalau ia tak bersenjata, percikan keingin¬tahuannya muncul lagi saat menghadapi kekekalan
hidupnya—apakah orang ini yang akan berhasil membunuhnya, dan mem¬buktikan bahwa ramalan
itu salah?—saat tandu belum menyentuh tanah ia sudah turun. Dengan mengacuhkan para
pelayan¬nya, ia berlari ke gerbang dan mencari-cari dengan mata orang itu di antara kemmunan,
penasaran apakah tadi ia salah lihat. Namanya dilantunkan banyak suara, tapi ia seperti bisa
membedakan satu orang yang dikenalnya, lalu dilihatnya gadis itu.
Takeo segera mengenalinya sebagai anggota Muto, tapi butuh waktu beberapa saat untuk mengingat
siapa gadis itu: Mai, adik Sada, yang ditempatkan di kediaman orang asing untuk mempelajari bahasa
serta memata-matai mereka.
"Mari cepat masuk," perintahnya pada gadis itu. Begitu sudah di dalam, diperintah¬nya penjaga untuk
menutup serta memalang gerbang, kemudian berbalik lagi pada gadis itu. Gadis itu kelihatan lelah
dan kotor karena perjalanan jauh.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau membawa kabar dari Taku? Apakah Jun
mengirimmu?"
"Aku harus bicara dengan Lord Otori saja," bisiknya.
Melihat kesedihan di garis bibir dan dalam tatapan matanya, jantungnya berdegup kencang karena
takut pada apa yang akan disampaikan gadis itu.
"Tunggu di sini. Aku akan langsung memanggilmu."
Takeo memanggil pelayan untuk mem¬bantunya mengganti jubah resminya. Setelah menyuruh
mereka menyajikan teh, memanggil gadis itu lalu menyuruh mereka pergi; bahkan putrinya, atau Lord
Miyoshi tak boleh masuk.
"Apa yang telah terjadi?"

Halaman 646 dari 646
"Lord Taku, dan kakakku sudah tiada, tuanku."
Kabar itu menghantam dirinya bak pukulan ke dadanya. Takeo menatap gadis itu, tak bisa bicara,
merasakan gelombang kesedihan menggelegak hingga ke urat nadi¬nya; Takeo memberi isyarat agar
gadis itu melanjutkan.
"Mereka diduga diserang bandit di tempat berjarak satu hari berkuda dari Hofu." "Bandit?" tanyanya
tak percaya. "Bandit
macam apa yang ada di Negara Tengah?"
"Itulah pernyataan resmi yang dikeluarkan Zenko," sahut Mai. "Tapi Zenko sedang melindungi Kikuta
Akio. Desas-desus yang beredar bahwa Akio dan putranya yang bunuh Taku untuk balas dendam
atas kematian Kotaro. Sada tewas bersamanya."
"Dan putriku?" bisik Takeo, air mata menggenang di pelupuk matanya dan hampir menetes.
"Lord Otori, tidak ada yang tahu di mana putri Anda. Mungkin putri Anda berhasil lari, atau ditangkap
Akio...."
"Ditangkap Akio?" ucapnya mengulang perkataan itu.
"Mungkin dia melarikan diri," sahut Mai. "Tapi dia belum ke Kagemura, atau Terayama, atau tempat
lainnya yang diperkirakan sebagai tujuannya melarikan diri."
"Apakah istriku tahu?"
"Aku tidak tahu, tuan."
Dilihatnya ada hal lain lagi, alasan lain mengapa gadis mi menempuh perjalanan sejauh ini, mungkin
tanpa ijin dari Tribe, dan tidak diketahui mereka, bahkan Shizuka.
"Ibu Taku pasti sudah diberitahu?"
"Sekali lagi, aku tak tahu. Sesuatu telah terjadi dalam jaringan Muto, tuan. Pesan¬pesan salah
sasaran, atau dihaca oleh orang yang salah. Orang-orang mengatakan kalau mereka ingin kembali ke
masa silam, saat Tribe memiliki kekuasaan yang sesungguh¬nya. Kikuta Akio sangat dekat dengan
Zenko dan banyak orang Muto menyetujui persahabatan mereka—orang-orang mengata¬kan mereka
berdua seperti Kenji dan Kotaro sebelum..."
"Sebelum aku datang," ujar Takeo murung.
"Aku tidak berhak mengatakannya. Lord Otori. Keluarga Muto bersumpah setia kepada Anda, dan
Taku serta Sada setia kepada Anda. Itu sudah cukup bagiku. Aku meninggalkan Hofu tanpa
mengatakan pada siapa pun, berharap bisa menyusul Lady Shigeko dan Lord Hiroshi, tapi mereka
sudah beberapa hari di depanku. Aku terus mengikuti hingga aku sadar sudah di ibukota. Aku berjalan
selama enam minggu."
"Aku sangat berterima kasih." Teringat olehnya kalau gadis itu juga tengah bersedih. "Dan aku sangat
berduka atas kematian kakakmu dalam melayani keluargaku."
Mata gadis berkilat diterpa sinar lentera, namun tidak menangis.
"Mereka diserang dengan menggunakan senjata api," tuturnya dengan nada sedih. "Tak ada yang
bisa membunuh mereka dengan menggunakan senjata biasa. Taku tertembak di leher; dia pasti mati
kehabisan darah, dan peluru itu menghantam Sada setelah menembus kuda, tapi dia bukan mati
karena peluru: lehernya digorok."
"Akio punya senjata api? Darimana dia dapat?"
"Dia sudah di Kumamoto selama musim dingin. Senjata itu pasti pemberian Zenko; mereka sudah
melakukan perdagangan dengan orang-orang asing."
Takeo duduk terdiam, teringat saat ia mencengkeram leher Taku yang menyelinap masuk ke
kamarnya di Shuho: saat itu Taku baru berumur sembilan atau sepuluh tahun. Kenangan itu diikuti
dengan kenangan lainnya, hampir membuat ia terpuruk. Seraya menutupi wajah dengan tangan, ia

Halaman 647 dari 647
berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Kesedihannya disulut dengan kemarahannya atas
Zenko yang telah ia biarkan hidup hanya untuk melihat orang itu bersekongkol mem
bunuh adiknya.
"Lord Otori," ujar Mai ragu-ragu. "Haruskah aku memanggil seseorang agar menemui Anda?"
"Tidak!" sahutnya, seraya berusaha mengendalikan diri, waktu untuk menjadi lemah sudah berakhir.
"Kau tak tahu situasi kami di sini. Kau tidak boleh mengatakan ini pada siapa-siapa. Jangan ada hal
yang mengganggu selama beberapa hari ke depan. Akan ada pertandingan yang melibatkan putriku
dan Lord Hiroshi. Mereka tidak boleh diganggu. Mereka tidak boleh tahu hal ini hingga
pertandingannya selesai. Tidak seorang pun boleh tahu."
"Tapi Anda harus segera kembali ke Tiga Negara! Zenko..."
"Aku akan kembali secepatnya, lebih awal dari rencana. Tapi aku tak ingin menyinggung tuan
rumah—Lord Saga, Kaisar—maupun membiarkan Saga mencium pengkhianatan Zenko. Sementara
ini aku dalam posisi yang menguntungkan— tapi itu bisa berubah kapan saja. Begitu lombanya
selesai dan kami tahu hasilnya, aku akan pamit. Meskipun beresiko terjebak dalam hujan, namun hal
ini tidak bisa
ditunda. Kau akan ikut dengan kami, tentu saja; tapi untuk sementara waktu ini aku memintamu untuk
menjauh. Shigeko bisa mengenalimu. Hanya dua hari. Nanti aku akan ceritakan tentang kabar ini
padanya dan juga Hiroshi."
Takeo mengatur agar Mai diberi uang dan dicarikan penginapan, lalu gadis itu pergi, berjanji akan
kembali dalam dua hari.
Mai baru saja pergi ketika Shigeko dan Gemba datang. Sedari tadi mereka memeriksa keadaan kuda,
menyiapkan pelana dan tali kekang untuk lomba besok, serta membahas strategi. Shigeko, yang
biasanya pandai mengendalikan diri serta tenang, kini gembira dengan kejadian hari ini, dan tak sabar
menanti penandingan. Ia lega karena ini berarti putrinya takkan memerhatikan sikap diam dan kurang
bersemangat dirinya, juga lega karena gelapnya ruangan.
Shigeko berkata, "Aku kembalikan Jato pada Ayah."
"Tidak boleh," sahutnya. "Kaisar yang berikan padamu. Sekarang pedang itu menjadi milikmu."
"Pedang ini terlalu panjang," protes
putrinya.
Takeo memaksakan diri untuk tersenyum. "Kendati demikian, tetap saja itu milikmu."
"Akan kuberikan pada biara sampai...."
"Sampai apa?" Takeo memotong ucapan putrinya.
"Sampai putra Ayah, atau putraku, cukup dewasa untuk memilikinya."
"Bukan penama kalinya pedang itu berada di biara," sahut Takeo. "Tapi pedang itu milikmu, dan
pedang juga memastikan dirimu bukan hanya sebagai pewaris Klan Maruyama, tapi juga Klan Otori."
Takeo menyadari bahkan saat ia bicara bahwa pengakuan Kaisar membuat persoalan pernikahan
Shigeko justru makin penting. Shigeko akan menyerahkan Tiga Negara kepada orang yang
menikahinya, suami yang direstui Kaisar. Apa pun permintaan Saga, ia takkan menyerah begitu saja,
tidak sebelum ia konsultasi dengan Kaede.
Takeo sangat merindukan Kaede saat ini, bukan hanya menginginkan tubuhnya, tapi kearifan,
kejernihan pikiran, sena kekuatan¬nya yang lembut, aku tidak berarti tanpa dia, pikirnya. Rasanya
ingin sekali berada di rumah.
Tak sulit untuk membujuk Shigeko beristirahat lebih awal, dan Gemba juga pergi tidur, meninggalkan
Takeo sendirian meng¬hadapi malam yang panjang.*

Halaman 648 dari 648
Minoru datang, seperti biasa, saat matahari baru terbit. Dia datang bersama para pelayan perempuan
yang membawa teh.
"Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang cerah," ujarnya. "Aku telah menyiapkan catatan atas
semua yang terjadi kemarin, dan juga mencatat semua yang akan terjadi hari ini."
Ketika Takeo mengambil catatan itu tanpa menjawab, si jurutulis berkata dengan ragu, "Lord Otori
kelihatannya tidak sehat."
"Aku kurang tidur, itu saja. Aku sehat¬sehat saja, aku harus terus memesona serta mengesankan.
Aku tidak bisa bersikap sebaliknya."
Minoru menaikkan alis sedikit, terkejut dengan suara dingin Takeo.
"Tentunya kunjungan Anda sangat berhasil, kan?"
"Kita akan tahu sore ini."
Takeo tiba-tiba memutuskan dan berkata, "Aku akan mendiktekan sesuatu padamu.
Jangan berkomentar dan jangan beritahu siapa-siapa. Kau harus mengatur kepulangan kita agak
lebih awal dari rencana."
Minoru menyiapkan batu tinta dan meng¬ambil kuas tanpa bicara. Tanpa memihak Takeo
menceritakan semua vang diceritakan Mai semalam, dan Minoru menulisnya.
"Aku turut berduka cita," ujarnya ketika Takeo selesai mendikte. Takeo memandang Minoru dengan
tatapan menuduh. "Aku minta maaf atas kurang terampilnya diriku ini. Tanganku gemetar dan
tulisanku sangat buruk."
"Tidak apa-apa, selama masih bisa dibaca. Simpan baik-baik: aku akan memintamu membacakannya,
malam ini atau besok."
Minoru membungkuk hormat. Takeo sadar akan simpati tanpa kata-kata dari jurutulisnya; kenyataan
bahwa ia telah berbagi kabar kematian Taku mengurangi penderitaannya.
"Lord Saga mengirim surat untuk Anda," ujar Minoru, mengeluarkan gulungan kertas. "Beliau pasti
menulisnya tadi malam. Beliau sangat menghormati Anda."
"Biar kulihat." Tulisannya menggambar¬kan orangnya, tebal dan ditekan, guratan
tinta kelihatan hitam dan legas, bergaya kotak.
"Beliau mengucapkan selamat padaku atas keramahan Kaisar padaku, dan atas ke¬berhasilan
hadiahku, serta mengucapkan semoga berhasil hari ini."
"Beliau khawatir atas popularitas Anda," ujar Minoru. "Dan takut bila Anda kalah dalam pertandingan
itu, Kaisar masih tetap mendukung Anda."
"Aku akan mematuhi kesepakatan, dan aku berharap dia pun begitu," sahut Takeo.
"Beliau mengharapkan Anda menemukan cara untuk berkelit dari kesepakatan tersebut, agar beliau
mendapat alasan untuk tidak menepatinya."
"Minoru, sikapmu menjadi begitu sinis! Lord Saga adalah bangsawan besar berasal dari klan kuno.
Dia telah mengumumkan kesepakatannya. Dia takkan mengingkari kesepakatan itu tanpa membuat
dirinya tidak terhormat, dan begitu pula aku!"
"Persis seperti itulah cara bangsawan men¬jadi besar," gumam Minoru.

Halaman 649 dari 649
Jalanan jauh lebih ramai lagi dibanding kemarin, dan masyarakat menari-nari seperti kesurupan.
Cuaca makin panas dengan kelembapan yang menandakan hujan plum. Arena di Biara Agung
dipenuhi penonton: perempuan mengenakan kimono bertudung, laki-laki berpakaian cerah, anakanak,
semua memegang payung dan kipas. Di dalam lingkaran terluar pasir merah para pe¬nunggang
kuda menunggu: kuda tim Saga memiliki sabuk kulit yang dikaitkan di bawah ekor serta tali dada
berwarna merah, sedangkan milik Shigeko berwarna putih. Pelana kuda dilapisi kerang mutiara; surai
dikepang; jambul dan ekornya mengkilat serta sehalus rambut seorang putri. Seutas tali jerami kuning
membagi lingkaran sebelah luar dari lingkaran yang sebelah dalam, dengan pasir berwarna putih.
Takeo bisa mendengar gongongan anjing yang bersemangat dari sisi timur arema, tempat sekitar lima
puluh ekor anjing dalam sebuah kerangkeng berhiaskan daun dan rumbai-rumbai putih. Di bagian
belakang lapangan terdapat bilik dari kain sutra didirikan bagi Kaisar, yang tersembunyi seperti
sebelumnya, di balik tirai bambu.
Takeo dibimbing ke tempat di sebelah kanan bilik Kaisar. Di tempat itu Takeo disambut para
bangsawan, ksatria dan istri mereka, sebagian sudah bertemu dengannya sehari sebelumnya.
Pengaruh kirin sudah tampak: seorang laki-laki memperlihatkan padanya pena lintang yang diukir
mengikuti bentuk kirin, dan beberapa perempuan mengenakan tudung berhiaskan gambar kirin.
Suasana hari itu terasa bagai piknik di pedesaan, meriah dan ramai, dan Takeo berusaha ikut ambil
bagian di datamnya dengan sepenuh hati. Namun sesekali pemandangan tampak kabur dan langit
semakin kelam, dan mata dan pikirannya dipenuhi dengan bayangan-bayangan Taku yang tertembak
di leher lalu mati kehabisan darah.
Ia mengalihkan perhatian pada mereka yang masih hidup, pada perwakilannya, Shigeko, Hiroshi dan
Gemba. Kedua kuda abu-abu pucat dengan surai dan ekor hitam terlihat sangat kontras dengan kuda
Gemba yang berbulu hitam. Kuda-kuda melangkah tenang mengelilingi lingkaran. Saga
me¬nunggang kuda besar dengan bulu warna
coklat kemerahan. Kedua pendukungnya, Okuda dan Kono, menunggang kuda belang dan juga
merah bata. Busur milik mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan busur Shigeko—dan ketiganya
memiliki anak panah yang dibului dengan bulu bangau warna putih dan abu-abu.
Takeo belum pernah menyaksikan per¬buruan anjing, dan peraturan permainan itu dijelaskan oleh
kawan pendampingnya.
"Anda hanya boleh menembak bagian ter¬tentu di tubuh anjing: punggung, kaki, leher. Anda tidak
boleh menembak kepala, bagian lunak di perut atau kematuan, dan nilai Anda akan dikurangi jika
anjingnya berdarah atau mati. Makin banyak darah menetes, makin buruk tembakannya. Ini semua
tentang pengendalian sempurna yang sangat sulit dicapai sewaktu kuda berderap."
Mereka berkuda dalam barisan menurut urutan pangkat, dari yang terendah sampai yang tertinggi,
pasangan pertama Okuda dan Hiroshi.
"Okuda akan mulai lebih dulu untuk menunjukkan cara melakukannya," tutur Saga kepada Hiroshi,
dengan ramah, karena penunggang kedua memiliki peluang lebih
menguntungkan.
Anjing pertama dibawa masuk ke lingkaran: Okuda juga memasuki lingkaran lalu menderapkan
kudanya, membiarkan tali kekang menggantung di leher kuda selagi dia menaikkan busur panah dan
menaruh anak panahnya.
Tali anjing dilepaskan dan hewan itu segera berjingkrakan, mengonggong pada kuda yang tengah
berderap. Anak panah pertama Okuda berdesing melewati telinga anjing itu, membuatnya menyalak
kaget lalu mundur, dengan ekor di sela kaki belakang¬nya. Anak panah kedua mengenai dada.
"Tembakan yang bagus!" seru laki-laki di sebelah Takeo.
Tembakan yang ketiga terkena punggung anjing yang tengah berlari. Anak panah itu dilepaskan
terlalu kuat: darah mulai menodai bulu putih anjing itu.

Halaman 650 dari 650
"Kurang baik," adalah penilaian juri.
Takeo merasakan ketegangan mulai ber¬tambah saat Hiroshi memasuki lingkaran dan Keri mulai
berderap. Takeo sudah mengenai kuda itu selama ia mengenai pemuda itu: hampir delapan belas
tahun. Mampukah kuda abu-abu itu bertahan dalam per
tandingan semacam ini? Akankah kuda itu mengecewakan penunggangnya? Takeo tahu Hiroshi
mahir memanah, tapi mampukah pemuda itu bersaing dengan pemanah nomor satu dari ibukota?
Anjing dilepaskan. Mungkin anjing tiu sudah melihat nasib kawannya dan tahu apa yang menantinya
dalam lingkaran itu; anjing itu secepatnya berlari keluar lingkaran, meng¬hempaskan tubuhnya di
antara anjing-anjing lain. Anak panah Hiroshi luput mengenai anjing itu sejauh serentangan kaki.
Anjing itu ditangkap, dibawa masuk lagi dan dilepas sekali lagi. Takeo bisa melihat kalau anjing itu
ketakutan dan menggeram. Anjing-anjing itu pasti mencium amis darah sehingga ketakutan, pikirnya.
Atau mungkin anjing saling berkomunikasi lalu memper¬ingatkan. Kali ini Hiroshi lebih siap, tapi anak
panahnya tetap tidak kena sasaran.
"Lebih sulit dari kelihatannya," ujar tetangga Takeo dengan simpatik. "Butuh latihan selama bertahuntahun."
Takeo menatap anjing itu saat dibawa masuk untuk yang ketiga kalinya, berusaha menyuruh agar
anjing itu tenang. Ia tidak mau Hiroshi menyakiti anjing itu, tapi ia
ingin pemuda itu setidaknya mendapat satu nilai untuk bidikannya. Penonton terdiam: di balik suara
derap kuda, terdengar olehnya senandung yang amat pelan, suara yang dikeluarkan Gemba saat
merasa gembira.
Tak ada orang lain yang bisa mendengar¬nya, tapi anjing itu bisa mendengarnya. Hewan itu berhenti
meronta dan menyalak. Anjing itu tidak kabur saat dilepas, tapi malah duduk dan menjilati bulunya
sebelum bangkit lalu berjalan pelan mengitari lingkaran. Anak panah ketiga Hiroshi kena bagian
samping anjing itu, membuatnya ter¬jatuh dan menyalak, tapi tidak berdarah.
"Itu tembakan yang mudah! Okuda akan memenangkan babak ini."
Juri memutuskan demikian. Tembakan kedua Okuda, meski membuat si anjing ber¬darah, mendapat
nilai lebih tinggi ketimbang dua tembakan Hiroshi yang meleset,
Takeo bersiap menerima satu kekalahan lagi—maka tak peduli sebaik apa pun Shigeko
melakukannya, hasil pertandingan sudah ditentukan. Matanya terpaku pada Gemba yang tak lagi
bersenandung, tapi kelihatan sangat waspada. Kuda hitam tunggangannya juga tampak was-pada,
menatap pemandangan asing dengan telinga tegak dan bola mata mem besar. Lord Kono menunggu
di sebelah luar lingkaran di atas kuda merah bata yang kuat sena penuh semangat. Laki-laki itu mahir
berkuda, seperti yang sudah diketahui, dan kudanya memang cepat.
Karena Hiroshi kalah pada babak sebelum¬nya, kali ini Gemba mendapat giliran per¬tama. Anjing
yang berikutnya lebih lincah, dan kelihatan tidak takut pada kuda yang tengah berderap. Panah
pertama Gemba tampak melayang dan mendarat perlahan di tungging anjing itu. Tembakan yang
bagus, dan tidak ada darah. Tembakannya yang kedua hampir sama, sekali lagi tidak mengeluarkan
darah, tapi kini anjing itu ketakutan, berlarian ke kanan dan kiri melintasi lapangan. Tembakan ketiga
Gemba meleset. Kemudian Kono keluar dengan menunggang kuda merah bata, membuat kudanya
berderap mengelilingi lingkaran sebelah luar, membuat pasir merah beterbangan. Para penonton
berseru kagum.
"Lord Kono sangat mahir dan terkenal," orang di sebelah Takeo memberitahunya.
"Kemahirannya memang enak di
pandang!" ujar Takeo setuju dengan sikap sopan, seraya berpikir, aku akan kehilangan segalanya,
tapi aku takkan terlihat marah atau sedih.

Halaman 651 dari 651
Anjing-anjing dalam kerangkeng makin bersemangat; gonggongan berubah menjadi lolongan, dan
setiap anjing yang dibebaskan semakin liar karena ketakutan. Namun tetap saja Kono membukukan
dua nilai tembakan sempurna tanpa darah. Pada tembakan ketiga, kuda tunggangannya terlalu
ber¬semangat karena sorak sorai penonton, agak meloncat saat Kono menarik busur. Panahnya
melayang di atas kepala anjing dan kena bagian samping pangg:ung kayu di belakangnya. Beberapa
pemuda berlompatan turun untuk mengambilnya, pemenang yang beruntung mengayunkan anak
panah itu di atas kepalanya.
Setelah diskusi panjang para juri, babak kedua diputuskan seri.
"Kini kita mungkin menunggu keputusan Kaisar," seru laki-laki di sebelah Takeo. "Cara ini sangat
digemari pengunjung: bila hasilnya seri secara keseluruhan."
"Tampaknya cara itu kurang sesuai karena kurasa Lord Saga akan dianggap memiliki
lebih dalam olahraga ini."
"Tentu, Anda benar. Aku hanya tidak ingin...." Laki-laki itu tak kuasa menahan malu. Setelah diam
dengan sikap canggung selama beberapa saat, dia lalu mohon diri menjauh untuk bergabung dengan
kelompok lain. Laki-laki itu berbisik kepada mereka, dan Takeo mendengar kata-katanya dengan
jelas.
"Sungguh, aku tak tahan duduk di sebelah Lord Otori saat dia menghadapi hukuman mati. Aku nyaris
tidak bisa menikmati pertandingan karena mengasihani dirinya!"
"Kabarnya pertandingan ini hanyalah alasan baginya untuk mengundurkan diri tanpa kalah dalam
perang. Lord Otori tidak keberatan, maka kita tak perlu iba padanya."
Kemudian kesunyian melanda seluruh arena sewaktu Shigeko memasuki lingkaran dan Ashige mulai
berderap. Takeo hampir tidak sanggup memandang putrinya, namun ia juga tak mampu memalingkan
wajah. Setelah peserta laki-laki, putrinya terlihat kecil dan rapuh.
Meskipun penonton bersorak-sorai,
gonggongan anjing yang ketakutan, dan
ketegangan yang makin meningkat, baik si
kuda maupun penunggangnya tampak benar¬benar tenang. Gaya berjalan si kuda cepat dan mulus.
sedang si penunggang duduk tegak dan tenang. Busur miniatur dan anak panahnya membuat
penonton terkesima, dan berubah menjadi kekaguman saat anak pertama menyentuh pelan bagian
samping tubuh anjing buruan. Anjing itu, terluka atau ketakutan, mengibaskan anak panah itu seakan
hanya lalat. Kemudian anjing itu seperti menganggap kalau ini adalah per¬mainan yang
menyenangkan. Anjing itu berlarian mengitari lingkaran di waktu yang bersamaan dengan si kuda:
Shigeko mem¬bungkuk dan melepaskan anak panah kedua seolah benda itu adalah tangannya dan
tengah mengelus leher hewan itu. Si anjing menggelengkan kepala dan mengibaskan ekor.
Shigeko mendesak kudanya untuk ber¬derap lebih cepat dan anjing itu berlari tunggang-langgang,
moncong menganga, telinga melambai-lambai. Mereka mengitari arena sebanyak tiga kali seperti ini;
kemudian Shigeko menarik kudanya berhenti di depan Kaisar. Anjing itu duduk di belakangnya,
berjingkrakan. Shigeko membungkuk dalam
dalam, membuat kudanya berderap lagi, ber¬jalan memutar semakin mendekati anjing yang duduk
memerhatikan, memutar kepala¬nya, dengan lidah merah mudanya terjulur. Anak panah ketiga
terbang lebih cepat namun tak kurang lembutnya, mengenai anjing itu nyaris tanpa suara tepat di
bawah kepalanya.
Takeo tak kuasa mengagumi putrinya, kekuatan dan kemahirannya yang diperkuat dengan
kelembutan. Dirasakan pelupuk matanya menghangat, dan takut kalau rasa bangga akan
menghilangkan kesedihannya. Takeo mengerutkan dahi lalu menahan agar wajahnya tetap tanpa
ekspresi, tidak meng¬gerakkan satu otot pun.

Halaman 652 dari 652
Saga Hideki, peserta terakhir, kini menunggang kuda memasuki lingkaran berpasir putih. Kuda coklat
kemerahan itu menarik-narik besi yang dipasang di mulutn¬ya, melawan penunggangnya, namun
laki¬laki itu mengendalikan kuda dengan mudah. Saga mengenakan jubah hitam, berhiaskan bulu
anak panah di bagian punggungnya, dan kulit rusa di kedua paha untuk melindungi kakinya, ekor
pendeknya menggantung hampir menyentuh tanah. Saat
dia mengangkat busur, penonton meng¬hembuskan napas; ketika dia menaruh anak panah, mereka
menahan napas. Kudanya berderap, buih dari mulutnya beterbangan. Anting dilepas: menggonggong
dan me¬lolong, tubuh anjing itu terhempas ke tanah. Anak panah Saga terbang lebih cepat dari
pandangan mata, mendapat nilai sempurna; ke bagian samping tubuh si anjing dan berhasil
menjatuhkannya. Si anjing berusaha bangkit terhuyung-huyung dan ke¬bingungan. Mudah bagi Saga
untuk me¬nembaknya lagi dengan anak panah kedua, sekali lagi ddak membuat anjing itu ber¬darah.
Matahari sudah di ufuk barat, hawa kian panas, bayangan kian memanjang. Meskipun orang-orang
berteriak, anjing melolong, dan anak-anak menjerit, namun Takeo tenang sedingin es. Perasaan itu
mematikan semua perasaannya, menutupi semua kesedihan, penyesalan dan amarah. Disaksikannya
dengan perasaan tanpa memihak selagi Saga menderapkan kuda mengitari lingkaran lagi, seorang
laki-laki dengan pengendalian jiwa dan raga yang sempurna. Pemandangan itu tampak seperti dalam
mimpi. Anak panah
terakhir melesat di samping badan si anjing lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar. Pasti keluar
darah, pikirnya, tapi bulu putih si anjing atau pasir berwarna pucat itu tetap bersih.
Semua orang terdiam. Takeo merasakan semua mata tertuju pada dirinya, meskipun ia tidak
memandang siapa pun. Telah dirasakannya kekalahan di tenggorokan, perut, hingga empedunya.
Saga dan Shigeko setidaknya seri. Dua seri dan satu menang— Saga akan meraih kemenangan.
Tiba-tiba, di depan matanya, seolah masih terus bermimpi, di pasir putih arena mulai tercemar warna
merah. Anjing tadi meng¬alami pendarahan hebat, dari mulut dan anusnya. Penonton berseru kaget.
Punggung anjing itu melengkung, mencecerkan darah berbentuk melengkung di pasir, men¬dengking
satu kali, lalu mari.
Tenaga Saga terlalu besar, pikir Takeo. Dia tidak bisa menundukkan kekuatan laki¬lakinya: dia bisa
melambatkan anak panah, namun tak mampu mengurangi tenaganya. Dua tembakan pertama telah
menghancur¬kan organ tubuh anjing itu dan mem¬bunuhnya.
Takeo seperti mendengar teriakan dan sorak sorai yang berasal dari tempat jauh. Perlahan ia bangkit,
menatap ke ujung arena, tempat Kaisar duduk di balik tirai bambu. Pertandingan berakhir seri: kini
keputusan ada di tangan Kaisar. Perlahan-lahan pe¬nonton terdiam. Para peserta menunggu, diam
tak bergerak: kelompok merah di bagian timur, sementara kelompok putih di bagian barat. Bayangbayang
panjang kaki kuda terbentang melintasi arena. Anjing¬anjing masih saja menyalak dari balik
kandang, tapi tidak ada suara lain.
Takeo menyadari kalau selama per¬tandingan orang-orang telah menjauhinya, tak ingin menyaksikan
terlalu dekat peng¬hinaan terhadap dirinya, atau berbagi takdir¬nya yang tidak menguntungkan. Kini
ia menunggu seorang diri untuk mendengarkan hasilnya.
Terdengar bisikan dari balik tirai, tapi Takeo sengaja menutup pendengarannya. Hanya saat Menteri
muncul dari balik tirai dan dilihatnya pandangan resmi pertama ter¬tuju pada Shigeko, dan kemudian,
pandangan yang lebih gugup, tenuju pada Saga, Takeo merasa ada secercah harapan.
"Karena kelompok Lady Maruyama tidak menumpahkan darah, Kaisar menganugerah¬kan
kemenangan kepada kelompok putih!"
Takeo berlutuT dan menyembah. Kerumunan penonton bersorak menyetujui¬nya. Ketika Takeo
duduk tegak, seketika dilihatnya ruang di sekelilingnya telah dipenuhi orang yang berhambur
meng¬hampiri untuk memberinya selamat, ingin dekaT dengannya. Ketika berita itu menyebar ke
seluruh penjuru arena dan di luarnya, nyanyian pun mulai terdengar lagi.

Halaman 653 dari 653
Lord Otori telah muncul di ibukota; Kuda-kudanya menggetarkan tanah kami. Putrinya meraih
kemenangan besar;
Lady Maruyama tidak menumpahkan darah. Pasir tetap putih. Anjing pun tetap putih. Para
penunggang putih menang.
Tiga Negara hidup dalam damai;
Begitu pula Delapan Pulau
Takeo memandang ke arah Saga, dan melihat bangsawan itu juga tengah menatapnya. Tatapan mata
mereka bertemu, dan Saga menundukkan kepala sebagai peng¬akuan atas kemenangan itu.
Ini tidak seperti dugaannya, pikir Takeo,
lalu teringat kata-kata Minoru. Saga berharap bisa menyingkirkan diriku tanpa berperang, namun dia
gagal. Dia akan memanfaatkan alasan apa pun untuk mengingkari janjinya.
***
Lord Saga telah merencanakan mengadakan jamuan makan besar untuk merayakan kemenangannya
yang sudah diketahui lebih dulu; jamuan makan memang dilakukan seperti yang direncanakan,
namun berbeda dengan kegembiraan tulus di jalan-jalan di kota, perayaan tersebut tidak sepenuhnya
tulus. Kendati begitu, tata krama tetap ber¬laku, dan Saga mengumbar sanjungannya kepada Lady
Maruyama; semakin jelas kalau dia menginginkan pernikahan itu lebih dari sebelumnya.
"Kita akan menjadi sekutu, dan Anda akan menjadi ayah mertuaku," ujar Saga, tertawa dengan
kegembiraan yang dipaksakan. "Walaupun aku percaya usiaku lebih tua beberapa tahun."
"Aku akan senang sekali memanggil Anda putraku," sahut Takeo, dengan agak ter¬cengang selagi
kata-kata itu meluncur dari
mulutnya. "Tapi kita harus menunda peng¬umuman pertunangan sampai putriku me¬minta pendapat
klannya. Termasuk ibunya." Takeo melihat sekilas ke arah Lord Kono dan ingin tahu reaksi jujur
bangsawan itu, di balik sikap sopan yang ditunjukkannya; pesan apa yang akan orang itu kirim pada
Zenko tentang hasil pertandingan ini, dan apa yang tengah dilakukan Zenko?
Jamuan berlangsung hingga larut malam: bulan sudah muncul dan bintang-bintang tampak besar,
cahayanya berpencar dan ber¬kabut dengan lembapnya udara.
"Aku minta kalian semua tidak pergi tidur dulu," ujar Takeo ketika mereka kembali ke kediaman. Ia
membimbing Shigeko, Gemba dan Hiroshi ke ruangan paling terpencil di kediaman itu. Semua pintu
terbuka lebar; air bergemericik di taman dan sesekali nyamuk berdengung. Minoru dipanggil.
"Ayah, ada apa?" tanya Shigeko segera. "Apakah ada kabar buruk dari rumah— apakah Ibu? Adik
bayiku?"
"Minora akan membacakannya," sahut Takeo, dan memberi isyarat agar si jurutulis mulai membaca.
Minora membaca tanpa perasaan, dengan
sikap dinginnya seperti biasa, tapi perasaan mereka bertiga tidak kurang bergolaknya. Shigeko
menangis terang-terangan. Hiroshi terduduk pucat pasi, seolah terkena pukulan di dadanya lalu
terhuyung-huyung. Gemba berdengus keras lalu berkata, "Kau me¬rahasiakan ini seharian?"
"Aku tidak ingin konsentrasi kalian ter¬pecah. Aku tak menduga kalian akan menang. Bagaimana aku
harus berterima kasih kepada kalian? Kalian tadi sangat luar biasa!" Takeo bicara dengan berlinang
air mata penuh perasaan.
"Beruntung Kaisar cukup terkesan pada¬mu dan tak ingin menyinggung dewa-dewa dengan
memutuskan untuk menentangmu. Segalanya bercampur aduk untuk meyakin¬kan dirinya bahwa kau
memiliki restu dari Surga."
"Kurasa dia memutuskan ini agar men¬dapatkan orang yang bisa mengimbangi kekuatan Saga,"
sahut Takeo.

Halaman 654 dari 654
"Itu juga," Gemba setuju. "Tentu saja, dia manusia setengah dewa—tapi juga tak ber¬beda dengan
kita semua, termotivasi oleh gabungan antara idealisme, pragmadsme, penyelamatan diri sendiri dan
niat yang
baik!"
"Kemenangan kalian membuat Kaisar ber¬pihak pada kita," ujar Takeo. "Tapi kematian Taku berarti
kita harus segera kembali. Zenko harus dihadapi sekarang juga."
"Ya, kurasa kini waktunya kita pulang," sahut Gemba. "Bukan hanya karena Taku, tapi demi
mencegah kekacauan lebih jauh lagi. Ada satu hal lagi yang tidak beres."
"Berkaitan dengan Maya?" tanya Shigeko dengan ketakutan yang terdengar dalam nada suaranya.
"Mungkin," sahut Gemba tanpa berkata lagi.
"Hiroshi," ujar Takeo. "Kau telah kehilangan sahabat terdekatmu... Aku menyesal."
"Aku berusaha menahan keinginanku untuk balas dendam." Suara Hiroshi terdengar parau. "Yang
kuinginkan hanyalah kematian Zenko, begitu pula dengan Kikuta Akio dan putranya. Naluriku
mengatakan kalau kita haras segera pergi dan memburu mereka—tapi Ajaran Houou menahanku
untuk tidak melakukan kekerasan. Lalu bagaimana cara kita menghadapi para pem¬bunuh ini?"
"Kita memang akan memburu mereka," sahut Takeo. "Tapi akan dilakukan dengan adil. Aku telah
diakui Kaisar, kekuasaanku telah ditegaskan oleh Paduka Yang Mulia. Zenko tidak memiliki lagi dasar
hukum yang sah untuk menentangku. Bila dia tidak benar-benar tunduk, kita akan mengalah¬kannya
dalam pertempuran dan dia akan mencabut nyawanya sendiri. Akio akan digantung seperti penjahat
biasa. Tapi kita harus pergi secepatnya."
"Ayah," ujar Shigeko. "Aku tahu Ayah benar. Tapi tidakkah kepergian yang tergesa¬gesa akan
menyinggung Lord Saga dan Kaisar? Dan jujur saja, aku cemas pada keadaan kirin. Kesehatannya
merupakan masalah terpenting bagi kelangsungan kedudukan Ayah. Hewan itu akan ketakutan bila
kita semua pergi begitu mendadak. Tadi¬nya aku berharap bisa melihatnya tenang dulu sebelum kita
pergi.... Mungkin aku bisa tinggal di sini menemaninya?"
"Tidak, Ayah takkan meninggalkan dirimu di tangan Saga," sahutnya dengan suara keras yang
mengejutkan mereka sendiri. "Apakah aku harus menyerahkan semua putriku kepada musuhmusuhku?
Kita telah berikan
kirin kepada Kaisar. Kaisar dan orang¬orangnya yang harus bertanggung jawab atas nasib hewan itu.
Kita harus pergi sebelum akhir minggu: kita akan memanfaatkan cahaya bulan antara bulan sabit dan
bulan purnama untuk melakukan perjalanan."
"Kita akan berkuda di tengah hujan, dan mungkin tak melihat bulan sama sekali," gumam Hiroshi.
Takeo berpaling ke arah Gemba. "Gemba, kau telah membuktikan kalau dirimu tahu segalanya sejauh
ini. Apakah Surga masih terus berpihak pada kita dengan menunda hujan plum?"
"Kita lihat saja apa yang bisa kita laku¬kan," sahut Gemba berjanji sambil senyum, di sela-sela air
matanya.*
Sejak Takeo memintanya mengambil alih kepemimpinan Tribe, Muto Shizuka telah melakukan
perjalanan ke hampir seluruh Tiga Negara. Dia mengunjungi desa-desa ter¬sembunyi di pegunungan
dan rumah-rumah pedagang tempat kerabatnya menjalankan berbagai usaha: membuat sake,
fermentasi kedelai, peminjaman uang, hingga kegiatan mata-mata. Hierarki kuno Tribe masih tetap

Halaman 655 dari 655
ditegakkan dengan struktur vertikalnya serta kesetiaan tradisional keluarga, yang berarti bahkan
dalam kalangannya sendiri. Tribe menyimpan rahasia dan sering bertindak dengan cara mereka
sendiri.
Seperti biasa Shizuka disambut dengan sopan santun terta penghormatan, namun ia sadar ada sakit
hati terhadap posisi barunya: andai Zenko mendukung, keadaannya pasti berbeda; tapi sadar selagi
putranya itu masih hidup, maka ketidakpuasan di dalam keluarga Muto bisa berkembang menjadi
sikap membangkang. Karena alasan itulah
dia merasa berkewajiban untuk memper¬tahankan kontak dengan semua kerabatnya, berusaha agar
mereka tetap setia kepadanya, dan menentang putra sulungnya.
Shizuka tahu betul kalau ada rahasia yang disimpan dan ketidakpatuhan berkembang di kalangan
Tribe; karena, bertahun-tahun lalu, dia pernah mengungkapkan cara kerja pekerjaan Tribe kepada
Shigeru, dan catatan terperinci itu yang memungkinkan Takeo mengalahkan dan mengendalikan
Tribe. Kenji sudah tahu tindakannya itu, dan telah memilih untuk mengabaikan satu hal yang bisa
disebut pengkhianatan; tapi Shizuka sendiri selalu ingin tahu siapa lagi yang mungkin mencurigai
dirinya. Orang-orang di kalangan Tribe memiliki ingatan yang panjang, dan juga sabar dan pantang
menyerah ketika berkaitan dengan balas dendam.
Tak lama setelah Takeo berangkat ke Miyako, Shizuka bersiap pergi lagi, pertama ke Yamagata lalu
ke Kagemura di pe¬gunungan di belakang Yamagata, kemudian ke Hofu.
"Kaede dan bayi laki-lakinya kelihatan sangat sehat, aku merasa aku bisa pergi
sebelum hujan plum tiba," tutur Shizuka pada suaminya. "Kau ada di sini untuk merawat mereka, kau
tak boleh bepergian dengan Fumio tahun ini."
"Bayi ini sangat kuat," sahut Ishida setuju. "Tapi kau takkan tahu apa akan terjadi pada bayi:
cengkeraman mereka pada kehidupan masih lemah, dan bisa terlepas tanpa terduga. Tapi bayi ini
tampak seperti pejuang cilik."
"Dia adalah ksatria sejati," sahut Shizuka. "Kaede amat memujanya!"
"Belum pemah aku melihat seorang ibu begitu terpesona pada anaknya sendiri," aku Ishida.
Kaede hampir tidak sanggup berpisah dari anaknya. Dia merawatnya sendiri, yang tidak dilakukannya
pada anak-anaknya yang lain. Shizuka melihat itu dengan rasa iri ber¬campur iba: konsentrasi penuh
si bayi mengisap puting susu ibunya, perlindungan sang ibu yang sama kuatnya.
"Anak ini akan diberi nama siapa?" tanya¬nya.
"Kami belum memutuskan," jawab Kaede. "Takeo sangat suka nama Shigeru, tapi nama itu berkaitan
dengan hal-hal yang menyedih¬kan, dan kami telah memiliki Shigeko.
Mungkin nama Otori yang lainnya, Takeshi, Takeyoshi. Tapi anak ini takkan diberi nama sampai
berusia dua tahun nanti. Aku me¬manggilnya singa kecilku."
Shizuka teringat betapa ia amat sayang kepada kedua putranya saat mereka masih kecil,
merenungkan kekecewaan dan ke¬cemasan yang mereka timbulkan saat ini.
Sewaktu menikah dengan Ishida, Shizuka berharap bisa punya anak lagi, tapi tahun¬tahun berlalu
dan ia tidak juga hamil. Kini ia jarang mendapat haid; kesempatannya hampir habis: dan tentu ia tak
ingin harapan¬nya terkabul. Ishida tidak punya anak dari pernikahan sebelumnya: istrinya sudah
meninggal bertahun-tahun lamanya; meski tadinya dia ingin menikah lagi, tapi tak satu pun calon yang
diterima oleh Lord Fujiwara. Ishida adalah laki-laki yang penuh cinta, serta sangat baik hati. Shizuka
pernah mengatakan kepada Takeo, kalau ia cukup bahagia hidup tenang bersama Ishida di Hagi dan
bisa terus mendampingi Kaede. Tapi sejak menyetujui untuk menjadi ketua keluarga Muto dan Tribe,
tugas itu menyita tenaga dan waktu¬nya. Itu juga berarti ada banyak persoalan yang tak bisa
dibicarakannya dengan Ishida:

Halaman 656 dari 656
Shizuka mencintai suaminya, dan suaminya itu memiliki banyak sifat baik yang dikaguminya, tapi
tutup mulut tidak ter¬masuk di dalamnya. Ishida tidak terlalu memikirkan mana yang bisa dibicarakan
dengan orang banyak serta mana yang harus dirahasiakan. Sake bahkan bisa lebih me¬longgarkan
lidahnya, dan bisa saja lupa dengan apa yang telah diocehkannya di malam sebelumnya. Ishida
menyukai semua kesenangan dari kedamaian—makanan yang berlimpah, kebebasannya untuk
bepergian, berinteraksi dengan orang asing, benda¬benda indah yang mereka bawa dari bagian
dunia lain—hingga pada tahapan tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa kedamaian selalu berada
di bawah ancaman, bahwa tidak semua orang bisa dipercaya, bahwa musuh bisa saja berada dalam
lingkungan keluarga¬nya sendiri.
Maka Shizuka tidak mengutarakan pada suaminya tentang Taku dan Zenko, dan Ishida pun sudah
hampir melupakan malam di Hofu ketika dalam keadaan mabuk di¬ungkapkannya kepada Zenko,
Hana dan Lord Kono tentang teori kekuatan pikiran manusia, serta efek menyembuhkan diri
sendiri dengan percaya kepada ramalan, dan bagaimana semua ini berlaku pada diri Takeo.
Sunaomi dan Chikara sedih atas kepergian Shizuka, tapi ibu mereka, Hana, diharapkan berada di
Hagi sebelum akhir bulan, dan mereka berdua terlalu disibukkan dengan pendidikan dan latihan untuk
bisa merindu¬kan neneknya. Sejak mereka berdua tinggal di Hagi, Shizuka mengamati keduanya
dengan cermat untuk melihat apakah ada tanda kemampuan yang berkembang, tapi kedua anak itu
kelihatan layaknya putra ksatria, tak berbeda dari anak lelaki seusia mereka yang berlatih bersama
mereka, saling bersaing dan bertengkar.
Kaede memeluk, memberinya jubah baru dengan tudung model baru dan seekor kuda dari istal, kuda
betina yang sudah sering ditunggangi Shizuka. Ia merasa lebih mudah mendapatkan kuda ketimbang
teman seper¬jalanan: tersadar kalau ia merindukan Kondo Kiichi yang bisa menjadi teman yang
sempurna untuk perjalanan semacam ini, dengan keahlian bertarung dan kesetiaannya; disesalinya
kematian Kondo, dan ia pun mendoakannya.
Ia menolak tawaran Kaede untuk dikawal ksatria Otori, dan memilih Bunta sebagai teman perjalanan.
Bunta dulu menjadi informannya yang bekerja sebagai pelayan di kediaman Lady Maruyama Naomi,
dan menetap di Inuyama setelah kematian majikannya itu. Setelah perang dan gempa, laki-laki itu
menemukan jalannya ke Hagi, dan sejak saat itu bekerja melayani keluarga Otori. Usianya beberapa
tahun lebih muda dari Shizuka, berasal dari keluarga Imai. Penampilannya kalem dan pendiam,
namun sebenarnya dia pencopet ulung, pendongeng dengan keterampilan mengorek informasi, dan
jago sumo dan petarung tangan kosong yang tangguh. Masa lalu yang mereka lalui bersama telah
menciptakan ikatan antara mereka berdua, dan Shizuka merasa bisa memercayainya.
Sepanjang musim dingin Bunta telah membawakannya potongan-potongan kecil informasi, dan begitu
salju mencair, dia pergi ke Yamagata atas permintaan Shizuka untuk mencari informasi. Kabar yang
dibawanya sungguh mengganggu: Taku belum kembali ke Inuyama dan masih di Hofu; Zenko terlibat
hubungan erat dengan Kikuta dan
menganggap dirinya sebagai ketua Muto; keluarga Muto berbeda pendapat. Masalah ini telah ia
bicarakan dengan Takeo, tapi mereka belum memutuskan apa pun. Kelahiran putranya, persiapan
untuk per¬jalanan ke Miyako telah menyita perhatian Takeo. Kini Shizuka merasa berkewajiban untuk
bertindak sendiri: berusaha memper¬tahankan agar keluarga Muto tetap setia dan memastikan
keamanan si kembar, Maya dan Miki.
Shizuka menyayangi mereka berdua seperti putri yang tidak pernah dimilikinya. Dia yang merawat
mereka ketika Kaede mem¬butuhkan waktu yang begitu lama untuk me¬mulihkan diri setelah
melahirkan; dialah yang mengawasi semua latihan mereka dengan cara Tribe; dia pula yang telah
melindungi dan membela mereka dari semua orang yang hendak menyakiti mereka.
Ia punya harapan lain yang ia tak yakin mampu mewujudkannya, tujuan yang pernah diajukan namun
ditolak Takeo. Shizuka tak kuasa menahan ingatannya pada Iida Sadamu, dan rencana untuk
membunuh bangsawan itu. Andai dunia sejujur seperti sekarang ini. Ia telah mengatakan pada

Halaman 657 dari 657
Takeo bahwa sebagai Ketua Muto dan sahabat keluarga Otori, ia menganjurkannya untuk
menyingkirkan Zenko. Ia masih tetap berpegang pada pendapatnya saat memikir¬kannya dengan
pikiran yang jernih. Tapi ketika memikirkannya sebagai seorang ibu...
Takeo sudah mengatakan kalau dia tak ingin membunuh Zenko, pikirnya. Aku tidak perlu melakukan
hal yang bertentangan dengan keinginannya. Tak seo rang pun akan menyangka usulan itu datang
dariku.
Tapi di lubuk hatinya, Shizuka meng¬harapkan anaknya itu mati ditangannya sendiri.
Putra Bunta, pemuda berusia lima belas atau enam belas tahun, ikut bersama mereka untuk
mengurus kuda, menyediakan makan, dan berkuda di depan untuk mengatur tempat pemberhentian
selanjutnya. Cuaca hari itu cerah, jalanan aman dan terawat baik, kota-kota damai dan sejahtera,
makanan berlimpah dan lezat.
Shizuka kagum atas semua yang Takeo dan Kaede capai demi kemakmuran dan kebahagiaan
negara, dan meratapi hasrat yang haus kekuasaan dan keinginan kuat untuk balas dendam yang
mengancamnya.
Tapi tidak semua orang tidak menikmati kedamaian dan kemakmuran di negeri ini. Keluarga Muto
tempat dia menginap di Tsuwano menggerutu karena berkurangnya status mereka di kalangan
pedagang sejak banyak orang yang terlibat dalam per¬dagangan. Di Yamagata, di rumah lama Kenji
yang kini ditinggali sepupunya, Yoshio, perbincangan selalu soal kemakmuran di masa lalu, ketika
Kikuta dan Muto ber¬sahabat dan semua orang takut dan meng¬hormati mereka.
Ia telah mengenal Yoshio sejak kecil karena mereka pernah dilatih bersama. Dia memperlakiikan
Shizuka dengan akrab dan berbicara blak-blakan. Shizuka tak tahu apakah ia bisa mengandalkan
dukungan sepupunya ini, tapi setidaknya sepupunya ini bersikap jujur.
"Ketika Kenji masih hidup," tutur Yoshio. "Semua orang menghormatinya, dan bisa melihat alasannya
untuk berdamai dengan Otori. Takeo memiliki informasi yang bisa menghancurkan Tribe, seperti yang
dilaku¬kannya sebelumnya di Maruyama. Lalu, banyak hal yang harus ditakukan: memberi kita waktu,
dan menyimpan tenaga. Tapi
semakin banyak orang mengatakan kalau tuntutan Kikuia akan keadilan perlu didengar: Takeo
bersalah atas penghinaan yang terburuk, lari dari Tribe dan mem¬bunuh Ketua dari keluarganya.
Selama ber¬tahun-tahun dia belum dihukum atas per¬buatannya, tapi kini Akio dan Arai Zenko siap
menghukumnya."
"Kenji bersumpah setia pada Takeo atas nama keluarga Muto," Shizuka mengingat¬kan. "Begitu pula
putraku—dia telah ber¬sumpah berulang kali. Dan aku memimpin keluarga Muto bukan hanya karena
Takeo menunjukku: ini juga keinginan Kenji."
"Kenji tak bisa bicara dari dalam kuburnya, kan? Itulah keprihatinan kami— aku jujur padamu,
Shizuka. Aku senantiasa kagum dan juga suka padamu, walaupun dulu kau anak yang menyebalkan,
tapi kau sudah berubah: bahkan sempat cukup cantik juga!" Yoshio menyeringai dan menuangkan
sake lagi untuknya.
"Simpan saja pujianmu itu," balasnya, sambil minum sake dengan sekali tenggak. "Aku sudah terlalu
tua untuk itu sekarang!"
"Kau minum dan bertarung layaknya laki¬laki!" seru Yoshio dengan kagum.
"Aku pun bisa memimpin layaknya laki¬laki," Shizuka meyakinkannya.
"Aku tak menyangsikannya. Tapi seperti yang kukatakan, orang-orang di Tribe ter¬singgung karena
Takeo yang menunjukmu. Masalah dalam keluarga Muto tidak pernah diputuskan oleh bangsawan—"
"Takeo bukan sekadar bangsawan!" protes Shizuka.
"Bagaimana dia mendapatkan kekuasaan? Layaknya bangsawan lain, dengan meraih kesempatan,
menghadapi musuhnya dengan kejam, dan mengkhianati mereka yang telah bersumpah setia
kepadanya."

Halaman 658 dari 658
"Itu hanya salah satu sisinya!"
"Itu adalah cara Tribe," sahut Yoshio, tersenyum lebar.
Shizuka berkata, "Bukti keberhasilan pemerintahannya ada di mana-mana: tanah yang subur, anakanak
yang sehat, pedagang yang kaya."
"Ksatria yang frustrasi dan mata-mata yang menganggur," bantah Yoshio, menenggak sakenya lalu
mengisi lagi. "Bunta, kau diam saja. Katakan kalau aku benar."
Bunta mengangkat mangkuk ke mulutnya dan menatap Shizuka dari pinggiran
mangkuknya selagi minum. "Bukan hanya karena Takeo yang menunjukmu, tapi juga karena kau
perempuan. Ada kecurigaan lain pada dirimu yang jauh lebih berat."
Senyum Yoshio hilang, dia duduk dengan bibir terkatup rapat dan menunduk.
"Orang-orang ingin tahu bagaimana Takeo menemukan Tribe di Maruyama padahal dia belum pernah
ke sana. Menurut kabar, Lord Shigeru memiliki catatan informasi tentang Tribe; orang tahu kalau Lord
Shigeru dan Kenji berteman, tapi Shigeru tahu jauh lebih banyak tentang Tribe dari yang bisa dia tahu
dari Kenji. Pasti ada orang yang memberi informasi padanya."
Kedua orang itu meliriknya, namun ia tidak bereaksi.
"Orang-orang yang mengatakan kaulah yang memberi informasi itu, dan itulah alasannya Takeo
menunjukmu sebagai ketua Muto, sebagai imbalan atas pengkhianatan¬mu selama bertahun-tahun."
Kata-kata itu menggantung di udara bak sebuah pukulan.
"Maaf," imbuh Bunta cepat. "Aku bukan¬nya mengatakan kalau aku salah satu dari mereka; aku
hanya ingin memperingatkan
mu. Tentu saja Akio akan memanfaatkan desas-desus ini."
"Itu sudah lama sekali," sahut Shizuka dengan nada ringan. "Selama Iida berkuasa, dan selama
perang, banyak yang bertindak yang dapat dianggap sebagai pengkhianatan. Ayah Zenko menyerang
Takeo setelah ber¬sumpah bersekutu dengannya, namun siapa yang bisa menyalahkannya? Semua
orang tahu cepat atau lambat Arai akan melawan Otori untuk mengendalikan Tiga Negara. Otori
menang: Tribe juga merasakan kemenangannya, seperti yang sudah kita lakukan, dan kita akan terus
begitu."
"Uhh," gerutu Yoshio. "Sekarang nampak¬nya Arai akan menentang Otori lagi. Tidak ada yang
berpikir kalau Takeo akan meng¬undurkan diri dengan sukarela, apa pun hasil pertandingan di
Miyako. Dia akan kembali dan bertempur. Dia bisa saja mengalahkan Zenko di Barat, dan
kemungkinan, meski sedikit peluangnya, mengalahkan Saga di Timur. Dia tak bisa menang melawan
mereka berdua. Kita harus memihak pada pemenangnya...."
"Lalu Kikuta akan balas dendam," ujar Bunta. "Mereka sudah lama menanti. Akan
terlihat kalau tidak ada yang bisa lepas dari Tribe."
Shizuka mendengar kata-kata ini seperti gema. Ia pernah mengucapkan kata-kata yang sama tentang
masa depan Takeo pada Kaede bertahun-tahun lalu di Terayama.
"Kau bisa menyelamatkan diri, Shizuka, dan kemungkinan juga keluarga Muto. Yang mesti kau
lakukan hanyalah mengakui Zenko sebagai ketua keluarga. Kami melepaskan diri dari Takeo sebelum
dia kalah; kami tak ingin terpuruk bersamanya, dan rahasia apa pun yang kau simpan di masa lalu
akan tetap tersimpan rapat-rapat."
"Taku takkan setuju," sahut Shizuka menyuarakan pikirannya.
"Dia akan setuju bila kau yang suruh, sebagai ketua dan sebagai ibunya. Dia tidak punya pilihan. Taku
bisa berpikir dengan akal sehat. Dia akan memahami kalau ini demi yang terbaik. Zenko akan
membayar upeti pada Saga, Tribe akan bersatu lagi, kita akan dapatkan kembali kekuatan kita.

Halaman 659 dari 659
Karena Saga berniat menyatukan Delapan Pulau di bawah kekuasaannya, kita akan punya pekerjaan
yang menarik dan menguntungkan selama bertahun-tahun yang
akan datang."
Dan aku tak perlu membunuh putraku, pikir Shizuka.
***
Shizuka berangkat ke desa Muto, Kagemura, keesokan harinya. Malam sebelumnya bulan purnama
dan ia berkuda dengan murung, kesal dengan perbincangan semalam. Ia takut kalau keluarga Muto di
situ juga akan men¬desaknya untuk mengambil jalan yang sama. Bunta hanya bicara sedikit, dan
Shizuka merasa marah dan tidak nyaman dengan laki¬laki itu. Sudah berapa lama Bunta curiga?
Apakah sejak pertama kali orang itu melapor¬kan tentang hubungan Shigeru dengan Maruyama
Naomi? Selama bertahun-tahun ia takut pengkhianatannya akan terungkap, namun sejak mengakui
perbuatannya pada Kenji, dan dimaafkan, rasa takut itu ber¬kurang. Kini rasa takut itu muncul lagi,
membuatnya waspada yang tidak ia lakukan selama bertahun-tahun, siap bertarung mem¬bela diri.
Ditemukan dirinya mengira-ngira tentang Bunta dan anaknya, berusaha memikirkan cara untuk
menghabisi mereka
kalau mereka berbalik menentangnya. Shizuka masih berlatih setiap hari, tapi ia sudah tak muda lagi;
ia bisa mengalahkan banyak laki-laki dengan pedang namun juga sadar kalau ia tidak bisa
menandingi kekuatan fisik mereka.
Hari menjelang malam ketika mereka tiba di penginapan. Pagi harinya ia meninggalkan bocah itu dan
kuda di belakang. Ia berjalan kaki seperti yang pernah ia lakukan bersama Kondo, melintasi
pegunungan. Shizuka tak tidur karena gelisah. Ia hampir tak bisa menahan diri untuk menangis. Tiada
henti ia memikirkan Kondo: ia pernah bercinta dengan orang itu di tempat ini; ia tidak mencintai
Kondo; ia mengasihani orang itu. Kemudian Kondo muncul lagi saat ia mengira hidupnya akan
berakhir, hanya untuk melihat orang terbakar hidup-hidup di depan matanya. Sifat Kondo yang sulit
menunjukkan perasaan seperti mendapatkan kemuliaan tragis. Alangkah menyedihkan keadaan
Kondo saat itu, serta alangkah mengagumkannya! Mengapa ia begitu terharu pada laki-laki itu kini?
Nyaris seperti arwah Kondo tengah menggapai dirinya untuk mengatakan sesuatu, untuk memper
ingatkannya.
Bahkan saat melihat desa Muto di lembah tersembunyi tak mampu membuatnya gembira seperti
biasanya. Hari sudah sangat sore ketika mereka sampai, matahari mulai tenggelam di balik gugusan
pegunungan terjal, kabut mulai menyelimuti lembah lagi. Saat itu hawa terasa dingin, membuatnya
senang dengan jubah bertudung yang dipakainya. Gerbang desa tampak dibuka dengan rasa enggan.
Bahkan rumah-rumah di dalamnya berkesan tertutup dan tidak ramah, dinding kayu kelam terkena
embun, atap-atap diperberat dengan bebatuan.
Kakek dan neneknya sudah lama meninggal: rumah lama kini dihuni keluarga¬keluarga yang sebaya
dengan kedua putranya dan anak-anak; Shizuka tidak mengenal betul mereka, walaupun ia tahu
nama, bakat dan sebagian besar rincian dalam hidup mereka.
Kana dan Miyabi, kini sudah menjadi nenek, masih mengurus rumah, dan setidaknya mereka
menyambut dirinya dengan kegembiraan yang tulus. Shizuka kurang yakin dengan ketulusan
sambutan dari orang lainnya, meskipun anak-anak sangat gembira atas kedatangannya, terutama
Miki.
Belum sampai dua bulan sejak terakhir kali bertemu Miki: ia terkejut dengan perubahan gadis itu. Miki
lebih tinggi dan agak kurus sehingga tampak lentur dan ramping. Tulang-tulang tajam di wajahnya
kelihatan lebih menonjol dan matanya yang cekung berkilat.
Sewaktu mereka berkumpul di dapur untuk menyiapkan makan malam, ia bertanya pada Kana,
"Apakah Miki pernah sakit?" karena saat musim semi kerapkali terjadi demam mendadak dan sakit
perut.

Halaman 660 dari 660
"Kau mestinya tidak berada di sini ber¬sama kami!" bentak Kana. "Kau tamu ke¬hormatan:
seharusnya kau duduk bersama para laki-laki."
"Aku akan bergabung dengan mereka nanti. Ceritakan tentang keadaan Miki."
Kana berpaling ke arah Miki yang tengah duduk di samping perapian, mengaduk sop di panci besi
yang tergantung di atas api dengan kaitan besi berbentuk ikan.
"Miki memang semakin kurus," sahut Kana setuju. "Tapi dia tidak mengeluh, bukan begitu, 'nak?"
"Dia tidak megeluh," imbuh Miyabi
tertawa. "Miki setangguh laki-laki. Kemarilah Miki, biarkan Shizuka memegang lengan¬mu."
Miki datang dan berlutut di dekat Shizuka tanpa bicara. Shizuka mencengkeram lengan bagian atas
gadis itu. Dirasakakannya lengan itu sekeras baja, tidak ada daging, hanya otot dan tulang.
"Apakah semuanya baik-baik saja?"
Miki mengangguk.
"Ayo berjalan-jalan bersamaku: kau bisa ceritakan apa yang membuatmu sedih."
"Dia akan bicara padamu saat tidak ingin bicara dengan orang lain," ujar Kana dengan suara pelan.
"Shizuka," bisik Miyabi bahkan lebih pelan lagi. "Waspadalah. Para pemuda...." Miyabi melirik sekilas
ke ruang utama rumah tempat suara-suara laki-laki terdengar samar¬samar, meski Shizuka bisa
mengenali suara Bunta. "Ada yang merasa tidak suka," ujar Miyabi tidak jelas, terang-terangan takut
ada yang menguping.
"Begitulah yang diberitahukan kepadaku. Di Yamagata dan Tsuwano juga sama. Aku akan
melanjutkan perjalanan ke Hofu, tempat aku akan bicarakan keadaan ini
dengan kedua putraku. Aku akan pergi satu atau dua hari lagi."
Miki masih berlutut di dekatnya, dan Shizuka mendengarnya menghela napas pelan dan merasakan
kalau gadis itu semakin tegang. Dirangkulnya Miki, tercengang dengan tajam dan rapuhnya tulang di
balik kulitnya, tak ubahnya sayap burung.
"Ayo, pakai sandalmu. Kita akan jalan¬jalan ke biara dan memberi salam kepada dewa-dewa."
Kana memberi Miki sedikit kue mochi sebagai sesaji bagi dewa-dewa. Shizuka mem¬buka tudung
jubahnya; cuaca terasa dingin. Bulan bersinar redup menyinari udara yang berkabut, membuat
bayang-bayang di se-panjang jalan dan di balik pepohonan yang mengelilingi biara. Walau-pun sudah
dua hari sejak purnama bulan keempat, udara masih terasa dingin. Jauh di ketinggian pegunungan
terdengar nyanyian katak dan jangkrik. Hanya seruan burung hantu yang tersendat-sendat.
Biara diterangi dua lentera di kedua sisi altarnya. Miki menaruh kue mochi di depan patung Hachiman,
dan mereka berdua me¬nepukkan tangan lalu membungkuk hormat
tiga kali. Shizuka pernah memanjatkan doa di sini bertahun-tahun yang silam untuk Takeo dan Kaede.
Sekarang ia masih me¬manjatkan permintaan yang sama, dan men¬doakan arwah Kondo dan
mengucapkan rasa terima kasihnya kepada laki-laki itu.
"Apakah para dewa akan melindungi Maya?" tanya Miki, seraya menatap pahatan patung di
depannya.
"Kau sudah memintanya?"
"Sudah, aku selalu meminta begitu. Juga untuk Ayah. Tapi aku tidak mengerti bagai¬mana para dewa
bisa mengabulkan doa semua orang, saat semuanya menginginkan hal yang berbeda. Aku
mendoakan ke-selamatan Ayah, tapi banyak orang lain yang mendoakan kematiannya."
"Inikah yang telah membuatmu kurus, mencemaskan ayahmu?"
"Aku berharap bisa bersamanya. Dan Maya juga."

Halaman 661 dari 661
"Terakhir kali kita benemu kau sangat gembira, dan baik-baik saja. Apa yang telah terjadl?"
"Aku tidak dapat tidur nyenyak. Aku takut dengan mimpi."
"Mimpi apa?" sela Shizuka saat gadis itu
membisu.
"Mimpi-mimpi saat aku bersama Maya. Dia menjadi si kucing dan aku menjadi bayangannya. Kucing
mengambil segala yang ada dalam diriku dan aku harus mengikuti¬nya. Ketika berusaha terus
terjaga, aku men-dengar para laki-laki bicara: mereka selalu membicarakan hal yang sama, tentang
keluarga Muto, dan apakah Ketua bisa dijabat oleh perempuan, dan Zenko juga Kikuta. Dulu aku
senang berada di sini. Aku merasa aman dan semua orang menyukaiku. Sekarang para laki-laki
terdiam saat aku lewat, dan anak-anak lain menghindariku. Ada apa Shizuka?"
"Para laki-laki memang selalu menggerutu. Nanti juga mereka bosan," sahut Shizuka.
"Lebih dari itu," ujar Miki dengan nada mendesak. "Sesuatu yang buruk sedang ter¬jadi. Maya dalam
bahaya. Kau tahu bagai¬mana kami berdua: aku bisa tahu apa yang terjadi pada Maya, begitu juga
sebaliknya. Kami selalu begitu. Aku bisa merasakannya berseru memanggilku, tapi aku tidak tahu di
mana Maya berada."
"Maya ada di Hofu bersama Taku dan Sada," sahut Shizuka dengan percaya diri
untuk menyembunyikan kegelisahannya
sendiri. Ia tahu benar si kembar bisa
mengetahui pikiran masing-masing dari jauh.
"Maukah kau mengajakku ke sana?"
"Mungkin sebaiknya begitu."
Tentu saja, pikirnya, aku harus mengajak¬nya. Aku tak bisa meninggalkannya di sini Orang-orang
akan memanfaatkan dia me¬lawan Takto. Semakin cepat aku bicara dengan Taku dan Zenko, akan
semakin baik. Kami harus menyelesaikan masalah kepemim¬pinan ini sebelum perasaan tidak
senang ini makin tak terkendali
"Kita akan berangkat lusa."
***
Shizuka menghabiskan keesokan harinya untuk berkonsultasi dengan para pemuda yang kini
membentuk inti keluarga Muto. Mereka memperlakukannya dengan normat dan mendengarkannya
dengan sopan. Silsilah keluarga, sejarah dan bakatnya telah mengendalikan rasa hormat dan rasa
takut mereka. Shizuka lega, terlepas dari usia dan bentuk tubuhnya yang kecil, ia masih bisa
mengendalikan mereka. Diulangi lagi niatnya
untuk membicarakan masalah kepemim¬pinan dengan Zenko dan Taku, serta menekankan bahwa ia
takkan turun dari jabatannya sebagai Ketua sebelum Takeo kembali dari wilayah Timur. Ia
mengatakan bahwa ini keinginan Kenji dan ia meng¬harapkan kepatuhan total mereka sesuai tradisi
keluarga Muto.
Tak seorang pun keberatan saat ia mengatakan Miki akan ikut bersamanya, tapi dua hari kemudian di
jalan menuju Yamagata, Bunta berkata, "Orang di desa kini tahu kau tidak memercayai mereka
karena kau membawa Miki."
"Saat ini aku tidak memercayai siapa pun." Mereka berkuda berdampingan, Miki di depan
menunggang kuda anak lelaki Bunta. Shizuka berencana meminjam satu kuda lagi dari istal Lord
Miyoshi di Yamagata. Itu akan membuat mereka berdua lebih leluasa, lebih aman.
Shizuka memalingkan wajah lalu menatap langsung ke arah Bunta, menantang laki-laki itu. "Apa aku
salah? Haruskah aku percaya padamu?"
"Jujur saja, semua ini hanya masalah apa yang diputuskan Tribe. Aku takkan meng

Halaman 662 dari 662
gorok lehermu selagi kau tidur, kalau itu yang kau maksud. Aku sudah lama mengenalmu—dan lagi,
aku tak suka mem¬bunuh perempuan."
"Jadi beritahu aku lebih dulu sebelum kau mengkhianati diriku," ujarnya.
Mata agak Bunta mengerut. "Akan ku¬katakan."
"Suruh Bunta dan putranya pulang," ujar Miki kemudian, ketika mereka tiba di Yamagata dan sedang
berdua saja. Tidak ingin tinggal di rumah Muto dengan Yoshio, Shizuka lalu pergi ke kastil. Di sana
mereka disambut istri Kahei yang membujuk mereka agar tinggal lebih lama. Saat bujukannya tidak
berhasil, dia lalu menawarkan pen- damping dan juga kuda tambahan.
"Sulit untuk memutuskan," ujar Shizuka kepada Miki. "Jika aku kirim mereka pulang, maka aku tidak
punya lagi kontak dengan keluarga Muto selama di perjalanan, dan aku justru semakin mendorong
Bunta untuk menjauhiku; jika kuterima tawaran Lady Miyoshi berarti kita akan bepergian secara
terbuka—kau sebagai putri Lord Otori."
Miki mengerutkan wajah pertanda tidak menyukai usulan itu. Shizuka tertawa.
"Keputusan ini tidak pernah sesederhana yang kau kira."
"Mengapa kita tidak pergi berdua saja?"
"Dua orang perempuan bepergian tanpa pelayan atau pendamping justru akan lebih menarik
perhatian—biasa-nya perhatian yang tidak diinginkan!"
"Andai kita dilahirkan sebagai laki-laki!" ujar Miki, dan meski berusaha bicara dengan nada ringan.
Shizuka menangkap nada kesedihan di balik kata-katanya. Teringat olehnya rasa sayang Kaede pada
bayi laki¬lakinya, kasih sayang yang tak pernah ditunjukkan pada putri kembarnya. Ia melihat
kesepian yang dialami si kembar: tumbuh dewasa di antara dua dunia. Bila keluarga Muto berbalik
menentang ayah mereka, maka mereka pun akan menolak kehadiran si kembar. Mereka bahkan akan
berusaha untuk menghabisi si kembar dan Takeo.
"Bunta dan putranya akan ikut dengan kita ke Hofu. Setibanya di sana, Taku akan mengurus kita; kau
akan bersama Maya dan kita semua akan aman!"
Miki mengangguk dan berusaha ter¬senyum.
Malam itu terjadi gempa kecil, membuat bangunan berguncang dan menyebabkan kebakaran di
beberapa bagian kota. Udara tetap terasa penuh debu dan asap saat mereka pergi dengan dua kuda
tambahan, satu ditung-gangi oleh pengurus kuda dari kediaman Miyoshi. Mereka bertemu Bunta dan
putranya sesuai rencana, di tepi parit lebar kota, tepat di luar gerbang kastil.
"Kau dapat kabar dari Taku?" tanya Shizuka pada Bunta, seraya memikirkan Taku mungkin
menghubungi keluarga Muto.
"Yoshio tidak mendengar kabar apa-apa. Hanya ada laporan bahwa dia masih di Hofu." Bunta
menyeringai dengan kesan tidak senonoh sewaktu mengatakannya, lalu berkedip kepada putranya
yang tertawa.
Apakah semua orang tahu kalau putranya tengah tergila-gila pada Sada? Shizuka ber¬tanya pada
dirinya sendiri, merasakan kesal pada putra bungsunya itu.
Namun di malam pertama perjalanan mereka, setelah Shizuka dan Miki pergi tidur, Bunta mengetuk
pintu dan memanggil namanya pelan. Shizuka mencium bau sake.
"Keluarlah. Aku mendengar kabar buruk."
Bunta mabuk, sake sudah menghilangkan kepekaan serta membebaskan lidahnya.
Shizuka mengambil pisaunya dari bawah tikar dan menyelipkannya di balik jubah tidurnya, sambil
merapatkan jubah luarnya. Diikutinya Bunta sampai ke ujung be-randa. Bulan tidak kelihatan; terlalu
gelap untuk melihat ekspresi di wajah Bunta.

Halaman 663 dari 663
"Mungkin ini hanya rumor, tapi kurasa kau perlu dengar." Dia berhenti sejenak lalu bicara dengan
canggung, "Ini bukan berita bagus: kau sebaiknya menyiapkan diri."
"Apa?" tanya Shizuka, lebih keras dari yang diingin-kannya.
"Taku diserang bandit. Dia dan kekasih¬nya, Sada, tewas."
"Tidak mungkin," ujar Shizuka.
"Tidak ada yang tahu detailnya. Tapi orang-orang membicarakannya di kedai." "Orang-orang Tribe?
Muto?"
"Muto dan Kuroda." jawabnya canggung. "Aku turut berduka."
Dia tahu kalau berita itu benar, pikirnya, karena ia pun tahu kalau itu benar. Saat merasakan
kesedihan yang mendalam selama perjalanan ke Kagemura, ia merasa arwah Kondo berseru
memanggil. Kini Taku berada
di antara mereka. Ini bisa membunuhku, pikirnya. Penderitaan yang dirasakannya begitu menusuk
hingga tak tahu bagaimana bisa bertahan, bagaimana ia bisa terus hidup di dunia yang tak ada Taku
di dalamnya. Shizuka meraba pisau di jubahnya, ber¬maksud menikam lehernya sendiri,
menyam¬but rasa sakit di tubuhnya yang bisa mengakhiri penderitaannya. Tapi sesuatu
mencegahnya.
Shizuka memelankan suara, ingat kalau Miki sedang tidur di dekat situ. "Putri Lord Otori, Maya, ada
bersama Taku. Apakah dia juga ikut tewas?"
"Tidak ada yang menyebut-nyebutnya, " sahut Bunta. "Kurasa tidak ada yang tahu kalau Maya ikut
bersama mereka, kecuali keluarga Muto di Maruyama."
"Apakah kau tahu?"
"Aku dengar ada anak yang dijuluki Si Kucing Kecil bersama Taku. Aku sedang mencari tahu siapa
orangnya."
Shizuka tidak menjawab. Ia tengah berjuang mengendalikan diri. Di benaknya melintas kenangan
masa lalu, bayangan pamannya, Kenji, saat mendengar kabar tentang kematian putrinya di tangan
Kikuta.
Paman, dipanggilnya arwah Kenji. Kau mengerti penderitaan yang kualami saat ini dan kini aku bisa
rasakan sakit hatimu. Beri aku kekuatan untuk terus hidup, seperti dirimu.
Maya, aku harus memikirkan Maya. Aku takkan memikirkan Taku, belum saatnya. Aku harus
selamatkan Maya.
"Apakah kita akan tetap ke Hofu?" tanya Bunta.
"Ya, aku harus mencari tahu kebenaran¬nya." Ia memikirkan semua ritual yang harus dilakukan bagi
arwah Taku, ingin tahu di mana putranya dikubur. Ia merasakan lilitan penderitaan sekuat baja
menghimpit dadanya saat memikirkan jasad putranya di dalam tanah, dalam kegelapan. "Zenko ada
di Hofu?" tanyanya, merasa kagum ternyata kata-kata itu terlontar dengan tenang.
"Ya, istrinya pergi ke Hagi naik kapal laut minggu lalu, tapi dia tidak ikut. Dia tengah mengawasi
pengaturan perdagangan dengan orang-orang asing. Dia makin dekat dengan mereka, begitulah
beritanya."
"Zenko pasti tahu. Bila memang per¬buatan bandit, maka dia bertanggung jawab untuk menangkap
dan menghukum mereka,
dan menyelamatkan Maya bila masih hidup."
Namun bahkan saat ia bicara pun, Shizuka tahu kalau putranya tidak tewas dibunuh sembarangan
bandit. Dan tak satu pun orang Tribe berani menyentuh Taku—kecuali Kikuta. Akio telah
menghabiskan musim dingin di Kumamoto. Akio pasti telah berhubungan dengan Zenko.

Halaman 664 dari 664
Shizuka tak percaya Zenko terlibat dalam kematian Taku. Apakah ia akan segera ke¬hilangan kedua
putranya?
Aku tidak boleh menuduh sebelum bicara dengannya.
Bunta menyentuh lengan Shizuka dengan ragu-ragu. "Ada yang bisa kubantu? Mau kuambilkan sake,
atau teh?"
Ia menarik lengan, membaca sesuatu yang lebih dari sekadar simpati dari gerakan Bunta. Seketika
membenci semua laki-laki dengan nafsu dan kekerasan mereka yang berujung pada kematian. "Aku
ingin sendiri. Kita pergi saat matahari terbenam. Jangan katakan apa pun pada Miki. Akan
kuputus¬kan kapan akan memberitahunya."
"Aku sangat berduka," sahut Bunta. "Semua orang menyukai Taku. Ini benar¬benar kehilangan yang
menyedihkan."
Ketika langkah kaki Bunta semakin meng¬hilang, Shizuka terpuruk di beranda. Ia masih memegang
pisau, alat yang bisa ia gunakan untuk lari dari dunia nan penuh derita ini.
Terdengar olehnya langkah kaki ringan di lantai papan. Miki mendekat lalu memeluk¬nya erat.
"Kukira kau sudah tidur," Shizuka memeluk gadis itu dan membelai rambutnya.
"Ketukan pintu tadi membuatku ter¬bangun, lalu aku tak tahan untuk men¬dengarkan." Tubuh
kurusnya gemetaran. "Maya belum mati. Aku pasti tahu kalau dia sudah mati."
"Di mana dia? Bisakah kau menemukan¬nya?" Shizuka berpikir bila ia berkonsentrasi pada Maya,
pada mereka yang masih hidup, maka ia takkan larut dalam kesedihan. Dan Miki, dengan kepekaan
yang amat tinggi, nampaknya menyadari ini. Miki tidak meng¬ucapkan sepatah kata pun tentang
Taku, tapi membantu Shizuka berdiri.
"Kemari dan berbaringlah," katanya, seolah Shizuka adalah anaknya. "Meskipun tidak bisa tidur, kau
bisa beristirahat. Aku ingin tidur karena Maya berbicara padaku
dalam mimpi. Cepat atau lambat dia akan mengatakan padaku di mana dia berada, dan kemudian
aku akan bertemu dengannya."
"Kita harus kembali ke Hagi. Aku harus membawamu pulang."
"Tidak, kita harus ke Hofu," bisik Miki. "Maya masih di Hofu. Bila kelak kau tidak menemukanku,
jangan cemas. Aku akan bersama Maya."
Mereka berbaring dan Miki meringkuk di sebelah Shizuka. Gadis itu sepertinya ter¬tidur, namun
Shizuka tetap terjaga memikir¬kan tentang hidup putranya. Semua perempuan di kalangan Tribe dan
ksatria harus membiasakan diri mendengar kabar tentang kematian kejam putra mereka. Anak lakilaki
diajarkan untuk tidak takut mati, dan anak perempuan dilatih untuk tidak menunjukkan kelemahan
atau kesedihan. Ia melihat bagaimana kasih sayang seorang ibu yang terlalu melindungi telah mengubah
putranya menjadi pengecut atau mengarah¬kan mereka bertindak gegabah. Taku telah tiada, ia
menangisinya, namun yakin kalau kematian putranya karena tidak ingin mengkhianati Takeo: Taku
dibunuh karena kesetiaannya. Kematiannya bukanlah sesuatu
yang tidak disengaja atau tidak bermakna.
Dengan cara ini Shizuka sanggup menenangkan serta menguatkan dirinya selama beberapa hari
berikutnya saat berkuda ke Hofu. Ia bertekad tidak akan bersikap seperti seorang ibu yang
kebingungan dan bersedih, tapi bersikap sebagai ketua Muto; ia takkan memperlihatkan kelemahan
tapi justru akan mencari tahu bagaimana putra¬nya bisa mati dan menyerei pembunuhnya untuk
dihukum.
***
Cuaca panas dan pengap: bahkan angin laut tidak mampu mendinginkan kota pelabuhan itu. Hujan
musim semi hanya turun sedikit, dan orang-orang bicara dengan cemas tentang panasnya cuaca
yang tidak biasa. Cuaca seperti ini dapat menyebabkan kekeringan karena selama enam belas tahun

Halaman 665 dari 665
atau lebih tidak terjadi kekeringan. Hujan musim semi dan hujan plum senantiasa datang di saat yang
tepat sehingga banyak pemuda yang belum pernah mengalami kekeringan.
Suasana di kota terasa menggelisahkan,
bukan hanya karena cuaca. Berbagai pertanda yang mengancam dilaporkan setiap hari; wajah-wajah
yang bicara tentang takdir buruk terlihat di lentera-lentera di luar biara Daifukuji; kawanan burung
yang terbang membentuk huruf nasib buruk di udara. Segera setelah mereka tiba di sana, Shizuka
menyadari kesedihan dan kemarahan yang sebenar-nya dari penduduk kota atas kematian Taku. Ia
tidak pergi ke kediaman Zenko, tapi menginap di penginapan yang menghadap ke sungai, tidak jauh
dari Umedaya.
Di malam pertama, pemilik penginapan menceritakan kalau Taku dan Sada di¬makamkan di Daifukuji.
Dikirimnya Bunta untuk memberitahu Zenko tentang ke¬datangannya. Ia bangun pagi-pagi,
me¬ninggalkan Miki yang masih tidur, berjalan ke biara warna merah tua yang berdiri di antara
pepohonan suci, menghadap ke laut untuk menyambut kepulangan para pelaut ke Negara Tengah.
Lantunan doa terdengar dari dalam biara, dan dikenalinya kata-kata suci dan alunan sutra bagi orang
meninggal.
Dua biarawan tengah menyebarkan air di papan jalan sebelum menyapunya. Salah satu
dari mereka mengenali Shizuka, lalu berkata, "Ajak Lady Muto ke pemakaman. Aku akan
memberitahu Kepala Biara."
Dilihatnya simpati mereka, dan ia berterima kasih.
Di bawah pepohonan besar terasa dingin. Sang Biarawan membimbingnya ke makam yang baru
digali; belum ada batu nisan; lentera menyala di sisi makam dan sese-orang telah menaruh sesaji
bunga—iris ungu—di depannya. Dipaksa dirinya membayangkan putranya diletakkan dalam peti mati
di bawah tanah, tubuh yang kuat dan lincah kini terbujur kaku. Arwah putranya pasti gentayangan
gelisah di antara dua dunia, menuntut keadilan.
Biarawan yang kedua datang membawa dupa, dan tak lama kemudian, saat Shizuka berlutut berdoa
tanpa suara, Kepala Biara datang lalu berlutut di sampingnya. Mereka tetap membisu beberapa saat;
kemudian Kepala Biara melantunkan suara yang sama bagi orang meninggal.
Air mata mengambang di pelupuk mata¬nya dan mengalir turun di pipi. Kata-kata kuno naik terbang
ke bawah naungan pe¬pohonan, bercampur dengan kicau pagi
burung gereja serta kicau lembut burung merpati.
Kemudian, Kepala Biara mengajaknya masuk ke ruangannya dan menyajikan teh untuknya. "Aku
sendiri yang mengurus pengukiran batu nisannya. Kurasa itulah yang diinginkan Lord Otori."
Shizuka menatap orang itu. Ia mengenal Kepala Biara selama beberapa tahun, tapi dia selalu dalam
suasana hati yang gembira, dia bisa berkelakar dengan para pelaut dalam dialek kasar mereka sama
baiknya dengan menggubah syair indah penuh humor ber¬sama Takeo, dan Tabib Ishida. Kini
wajah¬nya murung, dengan ekspresi sedih.
"Apakah kakaknya, Lord Zenko, ber¬hubungan dengan semua ini?" tanya Shizuka.
"Aku khawatir Lord Zenko telah di¬pengaruhi orang asing: tidak ada peng¬umuman resmi, tapi semua
orang mem¬bicarakannya. Dia telah menerima agama mereka dan kini mengakuinya sebagai satu
agama yang benar. Hal ini membuatnya tidak boleh masuk ke kuil dan biara kami, dan tidak boleh
melakukan upacara yang di¬perlukan bagi adiknya."
Shizuka menatap pendeta itu, tidak
percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sikapnya sangat meresahkan," lanjutnya. "Sudah ada pertanda kalau para dewa ter¬singgung.
Orang-orang takut mereka akan dihukum dewa atas perbuatan pemimpin mereka. Sebaliknya, orangHarjono
Siswanto Story Collection
Halaman 666 dari 666
orang asing itu bersikeras kalau tuhan mereka, Deus, akan memberi pahala bagi Zenko dan siapa
pun yang bergabung dengannya."
"Termasuk sebagian besar pengawal pribadinya," imbuhnya, "yang diperintahkan pindah agama atau
mati."
"Benar-benar gila," ujar Shizuka, me¬mutuskan untuk bicara dengan Zenko secepatnya. Ia tidak
menunggu untuk di¬panggil menghadap, namun segera kembali ke penginapan untuk berpakaian rapi
dan memesan tandu.
"Tunggu di sini," katanya pada Miki. "Bila aku tidak kembali nanti malam, pergilah ke Daifukuji, mereka
akan mengurusmu." Gadis itu memeluknya sangat erat.
Zenko keluar menuju beranda begitu tandu diturunkan di dalam gerbang. Ia memaksa dirinya berpikir
kalau ia salah menilai putra sutungnya itu. Kata-kata pertama Zenko adalah simpati, diikuii
ungkapan betapa gembira dia bertemu ibunya, terkejut karena ibunya tidak langsung menemui
dirinya.
Pandangan mata Shizuka jatuh ke kalung rosario di leher Zenko, lambang agama orang asing,
menggantung di dadanya.
"Kabar buruk ini merupakan pukulan bagi kita semua," ujarnya, selagi membimbing ibunya berjalan
menuju ruangan yang meng¬hadap ke taman.
Seorang bocah, cucunya, tengah bermain di beranda, diawasi pengasuhnya.
"Kemari dan sapa nenekmu," panggil Zenko, dan anak itu dengan patuh datang lalu berlutut di
hadapan Shizuka. Itu pertama kalinya Shizuka bertemu cucunya: usianya kira-kira dua tahun.
"Istriku, seperti yang Ibu tahu, sudah ke Hagi untuk menemani kakaknya. Sebenarnya dia enggan
meninggalkan Hinomasa kecil, tapi kukira sebaiknya mempertahankan se¬tidaknya salah satu putraku
bersamaku."
"Jadi kau mengakui kalau kau memper¬taruhkan nyawa kedua putramu yang lain?" tanya Shizuka
pelan.
"Ibu, Hana akan bersama mereka dalam dua minggu lagi. Kukira mereka tidak dalam
bahaya. Lagipula, aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tanganku bersih." Di¬angkat kedua
tangannya lalu mengangkat tangan putranya. "Lebih bersih dari tangan Hinomasa," selorohnya.
"Dia punya telapak tangan Kikuta!" seru Shizuka terkejut. "Mengapa kau tidak men¬ceritakannya?"
"Menarik, bukan? Darah Tribe tidak habis terkikis." Zenko tersenyum lebar, dan mem¬beri isyarat
pada pelayan perempuan itu untuk membawa putranya pergi.
"Dia mengingatkanku pada Taku," tutur¬nya, sambil menyeka mata dengan lengan baju. "Satu hal
yang menghibur bila ternyata adikku yang malang hidup dalam diri putraku."
"Mungkin kau bisa ceritakan siapa yang membunuhnya," ujar Shizuka.
"Bandit, tentu saja. Ada penjelasan apa lagi? Aku akan kejar dan adili mereka. Tentu saja, dengan
Takeo sedang di Ibukota, orang¬orang yang putus asa semakin berani dan keluar dari
persembunyiannya."
Jelas sekali kalau Zenko tidak peduli bila ia percaya atau tidak.
"Bagaimana kalau kuperintahkan kau
untuk memberitahu yang sebenarnya?"
Pandangan Zenko menghindar, dan menyembunyikan wajahnya dengan lengan baju lagi. Shizuka
merasa kalau putranya itu tidaklah menangis, tapi justru tersenyum, senang dengan keberaniannya
sendiri.

Halaman 667 dari 667
"Janganlah bicara tentang perintah me¬merintah, Ibu. Aku akan mematuhi semua kewajibanku
sebagai anak, tapi dalam hal lain, sudah selayaknya Ibu mematuhiku, sebagai Muto maupun sebagai
Arai."
"Aku melayani Otori," sahutnya. "Begitu pula Kenji, dan kau pun telah bersumpah setia padanya."
"Ya, Ibu melayani Otori," ujarnya, kemarahannya mulai terlihat. "Itulah yang menjadi masalah selama
bertahun-tahun. Kemana pun kita melihat sejarah kebang¬kitan Otori, kita melihat tangan Ibu—dalam
penganiayaan Takeo atas Tribe, dalam pem¬bunuhan ayahku, bahkan dalam kematian Lord
Fujiwara—kenapa Ibu tega meng¬khianati rahasia-rahasia Tribe kepada Shigeru?"
"Akan kukatakan kepadamu! Aku meng¬inginkan dunia yang lebih baik bagi kau dan Taku. Kurasa
sudah semestinya kalian hidup
di dalam dunia Shigeru, bukan dunia yang berisi pembunuh bayaran yang ada di sekelilingku. Takeo
dan Kaede menciptakan dunia itu. Kami takkan membiarkan kau menghancurkannya."
"Takeo sudah tamat. Apakah Ibu mengira Kaisar akan berpihak padanya? Kalau pun dia kembali,
kami akan membunuhnya, dan aku akan dinobatkan menjadi penguasa Tiga Negara. Itu hakku dan
aku sudah siap."
"Kau sudah siap melawan Takeo, dan Kahei, Sugita, Sonoda—sebagian besar ksatria Tiga Negara?"
"Takkan ada perang, yang ada hanyalah kerusuhan. Dengan Saga di wilayah Timur, sena dukungan
tambahan yang kami miliki dari orang-orang asing—" Ditepuknya salib di dadanya— "Dengan senjata
serta kapal mereka, Takeo dapat dikalahkan dengan mudah. Sebenarnya dia juga bukan benar¬benar
ksatria: semua pertempurannya yang terkenal itu hanya dimenangkan oleh keberuntungan ketimbang
keahlian."
Zenko memelankan suaranya. "Aku dapat melindungi Ibu sampai tahap tertentu, tapi bila Ibu
bersikeras menentangku, aku tak bisa menahan keluarga Kikuta. Mereka
menuntut Ibu dihukum, atas ketidakpatuhan selama bertahun-tahun terhadap Tribe."
"Aku akan bunuh diri terlebih dulu," seru Shizuka.
"Mungkin itulah keputusan terbaik," sahutnya, seraya menatap ibunya lekat-lekat. "Bagaimana kalau
kuperintahkan Ibu melakukannya sekarang juga?"
"Aku mengandungmu dalam perut selama sembilan bulan." Seketika Shizuka terkenang saat ia
menemui Kenji untuk mendapatkan ijin dari Tribe agar bisa melahirkan anak ini. Putranya adalah
hadiah bagi kekasihnya: betapa bangganya Arai saat itu. Kini ayah dan anak telah memerintahkan
kematiannya. Kemarahan serta kesedihan menyelimuti dirinya: menangis selama setahun takkan
mampu menguranginya. Bisa dirasakannya akal sehatnya bergulir ke tepi kegilaan. Aku be rha rap
bisa menca but nyawaku sendiri, pikirnya, tergiur dengan pemusnahan yang disebabkan oleh
kematian; hanya nasib si kembar yang mencegahnya. Ia ingin menanyakan keberadaan Maya, tapi
takut mengungkap sesuatu yang mungkin Zenko belum tahu. Lebih baik tutup mulut, melakukan apa
yang telah ia lakukan seumur
hidupnya, bersandiwara sebaik mungkin. Shizuka berjuang membuang perasaannya dan berpurapura
bersikap lembut.
"Zenko, kau putra sulungku, dan aku ingin menjadi ibu yang baik dan berbakti padamu. Aku akan
memikirkan semua yang kau katakan. Beri aku waktu satu atau dua hari. Biarkan aku mengatur
pemakaman adikmu. Aku tak bisa memutuskan saat diliputi kesedihan."
Selama beberapa saat Shizuka mengira kalau putranya akan menolak keinginannya: ia
memperkirakan jarak antara taman dan luar dinding, tapi dalam kesunyian ia seperti mendengar
desah napas sesorang—adakah penjaga yang bersembunyi di balik layar kasa, di taman? Apakah dia
takut aku akan membunuhnya? Peluangnya lolos kecil. Ia bisa menggunakan kemampuan
menghilang: jika para penjaga datang setelah ia mengalah¬kan seorang penjaga, mengambil pedang
penjaga itu....

Halaman 668 dari 668
Ternyata sisa-sisa rasa hormat masih berhasil membujuknya. "Baiklah," akhirnya Zenko berkata. "Aku
akan meminta penjaga mengawal Ibu. Jangan coba-coba kabur, dan jangan sekali-sekali
meninggalkan Hofu.
Ketika masa berkabung selesai, Ibu harus ber¬gabung denganku atau mencabut nyawa Ibu sendiri."
"Kau akan datang untuk memanjatkan doa bagi adikmu?"
Zenko melayangkan tatapan dingin, diikuti gelengan yang tidak sabar. Shizuka tak ingin memaksa
karena takut Zenko akan menahannya di sini, mungkin dengan kekerasan. Shizuka membungkuk
hormat, merasakan kemarahan yang membara dalam dirinya. Saat pergi, ia mendengar suara-suara
di ujung beranda utama. Ketika menoleh, ia melihat Don Joao bersama jurubahasanya, Madaren
menghampiri. Mereka mengenakan pakaian mewah, dan mereka berjalan dengan rasa percaya diri
yang baru.
Setelah memberi salam pada Don Joao dengan sikap dingin, Shizuka lalu bicara pada Madaren,
tanpa sopan santun, "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Madaren tersipu atas nada bicara Shizuka, tapi berhasil mengumpulkan keberanian lalu menjawab,
"Melakukan kehendak Tuhan, layaknya yang kita semua lakukan."
Tanpa menjawab Shizuka melangkah masuk ke dalam tandu. Selagi tandu itu
digotong pergi dalam pengawalan enam orang, dirutukinya orang-orang asing itu karena mengganggu
dengan kedatangan senjata dan Tuhan mereka. Ia hampir tidak ingat lagi kata-kata yang terlontar dari
mulutnya tadi: kemarahan dan kesedihan membuat ia kacau; bisa dirasakannya perasaan-perasaan
itu menarik-narik dirinya menuju kegilaan.
Sewaktu tandu diturunkan di luar penginapan, Shizuka tidak segera turun. Ia berharap bisa tetap
berada dalam ruang sempit yang mirip peti mati ini, dan tidak berhubungan dengan orang yang hidup
lagi. Tapi ketika memikirkan nasib Miki, tatapan matanya penuh amarah.
Bunta berjongkok di beranda, sama seperti saat dia ditinggal, tapi kamar itu kosong.
"Di mana Miki?" tanyanya.
"Di dalam," sahut Bunta, terkejut. "Tidak ada orang yang melewatiku, keluar atau masuk."
"Siapa yang membawanya?" jantung Shizuka mulai berdebar kencang ketakutan. "Tidak ada, aku
bersumpah."
"Sebaiknya kau jangan berbohong," ujar Shizuka, masuk kembali ke kamar itu lagi,
mencari dengan sia-sia di tempat-tempat yang paling sempit. Kamar itu kosong, tapi di satu sudut
Shizuka menemukan goresan di balok kayu. Dua buah setengah lingkaran saling berhadapan, dan di
bawahnya ada lingkaran penuh.
"Dia pergi mencari Maya."
Shizuka berlutut di lantai, berusaha menenangkan diri. Miki sudah pergi: menggunakan kemampuan
menghilang, menyelinap melewati Bunta lalu pergi menuju kota—gadis itu dilatih selama bertahuntahun
untuk melakukan hal seperti. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk gadis itu saat ini.
Ia duduk lama, merasakan panasnya cuaca hari ini. Peluh mulai mengalir di sela payudara dan
ketiaknya. Didengarnya para penjaga saling berseru dengan tidak sabar, dan menyadari kalau
pilihannya semakin berkurang. Ia tidak bisa menghilang dan membiarkan Taku tidak diratapi, tapi
apakah ia harus tinggal di Hofu sampai putranya atau Kikuta memutuskan kematiannya? Tak ada
waktu untuk menghubungi keluarga Muto dan meminta bantuan mereka—dan lagipula, apakah
mereka akan menanggapi
karena kini Zenko telah menyatakan diri sebagai ketua?


Baca Selanjutnya...

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified