Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Grass For His Pillow

Lian Hearn



1
PENGANTAR
PERISTIWA dalam ini terjadi
setelah kematian Lord Otori Shigeru di
kastil Tohan di Inuyama. Pemimpin Klan
Tohan, lida Sadamu, telah dibunuh dalam
usaha balas dendam yang dilakukan anak
angkat Shigeru, Otori Takeo, atau
begitulah yang diyakini oleh orang banyak.
Sedangkan penggulingan Tohan dilakukan
Arai Daiichi, seorang bangsawan Klan
Seishuu dari Kumamoto, yang memanfaatkan
chaos setelah kejatuhan Inuyama untuk
menguasai Tiga Negara. Arai berharap
dapat membentuk persekutuan dengan Takeo dan berencana menikahkan pemuda itu
dengan Shirakawa Kaede yang kini menjadi pewaris Klan Maruyama dan Klan Shirakawa.
Tetapi, kegalauan antara amanat terakhir Shigeru dan tuntutan keluarga ayah
kandungnya, yaitu Tribe Kikuta, membuat Takeo menyerahkan hak waris dan pernikahannya
dengan Kaede, gadis yang sangat dia cintai. Dia pun pergi bersama Tribe, karena merasa
ada ikatan darah dan juga karena dia telah bersumpah setia.
Lord Otori Shigeru dimakamkan di Terayama, di biara terpencil yang terletak di
jantung Negara Tengah. Setelah pertempuran di Inuyama dan Kushimoto, Arai datang ke
biara untuk memberi penghormatan pada sekutunya yang telah tewas sekaligus hendak
menegaskan persekutuan baru. Di tempat inilah Takeo dan Kaede bertemu untuk terakhir
kalinya.




2
SATU
SHIRAKAWA KAEDE tertidur nyenyak hingga nyaris tidak sadarkan diri akibat
tidur Kikuta yang dihantarkan melalui tatapan. Malam berlalu, bintang-bintang memucat
seiring fajar tiba, suara-suara dari kuil datang dan pergi, namun dia tetap tidak bergerak. Dia
tak mendengar suara Shizuka yang memanggil dengan cemas, berusaha membangunkan.
Dia tidak merasakan elusan Shizuka di keningnya. Dia tidak mendengar anak buah Lord
Arai Daiichi datang dengan ketidaksabaran yang memuncak, mengatakan pada Shizuka
bahwa pemimpin itu sedang menunggu untuk berbicara dengan Lady Shirakawa. Napas
Kaede terdengar damai dan tenang, sosoknya diam tak bergerak layaknya topeng.
Menjelang sore, terjadi perubahan pada diri Kaede. Kelopak matanya bergerak dan
bibirnya menampakkan senyuman.
Bersabarlah. Dia akan datang kepadamu. Kaede bermimpi dirinya membeku. Kata-kata
jernih bergema di kepalanya. Ia tidak merasa takut, ia hanya merasa seperti ditahan sesuatu
yang dingin dan putih di dunia yang hening, membeku, dan mempesona.
Mata Kaede bergerak membuka.
Hari masih terang. Dari bayangan di dalam ruangan, Kaede tahu bahwa hari beranjak
sore. Lonceng angin berdentang lembut, satu kali, lalu tenang kembali. Hari saat ingatannya
belum pulih pasti hangat karena kulit kepalanya terasa lembab. Ia mendengar kicau burung
di atap, dan capitan burung layang-layang saat menangkap serangga terakhir di sore itu.
Segera saja hewan-hewan itu terbang ke selatan. Musim gugur telah tiba.
Kicau burung mengingatkan Kaede pada lukisan pemberian Takeo, sketsa burung yang
membuat ia berpikir tentang kebebasan; lukisan itu hilang bersama semua barangnya,
kimono pengantin dan pakaian lainnya, di saat kastil Inuyama terbakar. Kini ia tidak punya
satu barang pun. Shizuka akhirnya menemukan beberapa kimono tua di tempat mereka
menginap setelah peristiwa itu, dan meminjam sisir serta beberapa perlengkapan lain. Inilah




3
pertama kali Kaede berada di rumah yang berbau kedelai fermentasi, penuh orang yang
berusaha menjauh, meskipun terkadang ada pelayan mengintip melalui jendela.
Ia takut orang tahu apa yang terjadi pada malam kejatuhan kastil. Ia telah membunuh
seorang laki-laki, dan tidur dengan laki-laki lainnya. Ia telah bertarung dengan
menggunakan pedang orang yang ia bunuh. Ia merasa tidak yakin telah melakukan hal itu.
Terkadang ia merasa seperti tersihir. Orang-orang membicarakan tentang dirinya, bahwa
setiap laki-laki yang menginginkan dirinya akan mati-dan memang benar. Semua laki-laki
itu telah mati. Kecuali Takeo.
Sejak dilecehkan seorang penjaga saat masih menjadi iawanan di kastil Noguchi, Kaede
selalu takut pada laki-laki. Rasa takut pada Iida yang telah mendorongnya untuk bertahan
melawan laki-laki itu; namun ia tidak takut pada Takeo. Ia hanya ingin memeluk erat
pemuda itu. Sejak berjumpa di Tsuwano, ia mendambakan Takeo. Ia ingin Takeo
menyentuhnya, ia ingin merasakan kulit Takeo menyentuh kulitnya. Kini, saat mengenang
malam itu, ia sadar dengan kejernihan baru bahwa ia tak akan menikah dengan orang lain
selain Takeo, ia tak akan mencintai seorang pun kecuali pemuda itu. Aku akan bersabar,
janjinya. Namun, dari mana kata-kata itu berasal?
Kaede menengok dengan perlahan dan ia melihat Shizuka sedang di tepi beranda. Tak
jauh dari pelayannya itu ada pohon yang telah berumur ribuan tahun. Udara beraroma kayu
cedar dan debu. Lonceng biara membunyikan jam malam. Kaede tidak bicara. Ia tidak ingin
bicara atau mendengar apa pun. Ia hanya ingin kembali ke tempat es tadi, ke tempat saat ia
tertidur.
Kemudian, selain debu yang melayang-layang di cahaya mentari sore, ia melihat
sesuatu: sesosok roh, pikirnya, hanya saja sosok itu bukan roh karena berwujud; sosok itu ada
di sana, begitu nyata, berkilauan bak butiran salju. Ia memandang, setengah terbangun, tapi
begitu mengenali sosok wanita itu, Dewi Putih, Sang Pengasih, Sang Pengampun itu pun
menghilang.
"Apa itu?" Shizuka mendengar gerakan dan langsung berlari ke sisi Kaede. Kaede
menatap Shizuka dan melihat kekhawatiran yang mendalam di mata pelayannya itu. Ia sadar
betapa berharganya orang ini baginya, dialah sahabat terdekat, satu-satunya sahabat.
"Tidak. Hanya mimpi."




4
"Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?"
"Entahlah. Aku merasa...." suara Kaede menghilang. Ia menatap Shizuka beberapa saat.
"Aku tertidur seharian? Apa yang terjadi?"
"Tidak seharusnya dia lakukan itu padamu," kata Shizuka, suaranya cemas dan juga
marah. "Takeo?"
Shizuka mengangguk. "Aku tidak tahu kalau dia memiliki kemampuan itu. Itu adalah
salah satu kemampuan Kikuta."
"Yang kuingat hanya matanya. Kami bertatapan lalu aku tertidur."
Setelah diam sejenak, Kaede melanjutkan, "Dia sudah pergi?"
"Pamanku, Muto Kenji, dan ketua Kikuta, Kotaro, telah menjemputnya kemarin
malam," balas Shizuka.
"Dan aku tak akan bertemu dengannya lagi?" Kaede ingat keputusasaannya di malam
sebelumnya, sebelum tidur nyenyak, sebelum tidur panjang. Ia memohon pada Takeo untuk
tak meninggalkannya. Ia mencemaskan masa depan dirinya tanpa Takeo; juga marah dan
terluka oleh penolakan pemuda itu. Namun semua pergolakan hatinya musnah sudah.
"Kau harus lupakan dia," kata Shizuka, meraih dan mvngusap tangan Kaede dengan
lembut. "Sejak saat ini hidupnya dan hidupmu tak akan bersentuhan."
Kaede tersenyum samar. Aku tidak bisa melupakannya, pikir Kaede. Tak akan ada yang
dapat merebutnya dariku. Aku pernah tidur dalam kebekuan. Aku telah melihat Dewi
Putih.
"Kau baik-baik saja?" desak Shizuka. "Tidak banyak orang yang bertahan dari tidur
Kikuta—mereka biasanya mati tanpa pernah sadar. Apa yang terjadi padamu?"
"Tidur itu tak berbahaya bagiku. Bahkan telah mengubahku. Aku merasa seperti tidak
tahu apa-apa. Seolah-olah aku harus mempelajari semuanya dari awal lagi."
Shizuka berlutut, bingung, matanya mencari-cari di wajah Kaede. "Apa yang hendak
kau lakukan sekarang? Ke mama kau akan pergi? Kau akan ikut Arai ke Inuyama?"
"Aku harus pulang. Aku harus menengok ibuku. Aku takut dia meninggal selama kita
di Inuyama. Aku akan herangkat pagi-pagi. Kuharap kau bisa menyampaikannya pada Lord
Arai."
"Aku mengerti kecemasanmu," balas Shizuka. "Tapi Arai mungkin keberatan




5
membiarkanmu pergi."
"Baiklah, aku yang akan membujuknya," kata Kaede tenang. "Pertama-tama aku harus
makan. Maukah kau meminta pelayan menyajikan makanan? Dan juga teh."
"Lady," Shizuka membungkuk lalu melangkah keluar beranda. Saat Shizuka pergi,
Kaede mendengar senandung pilu dari alunan seruling, namun peniupnya tidak terlihat
karena alunan itu berasal dari taman di belakang biara. Ia bisa menebak si peniup seruling,
biarawan muda yang menyambut rombongan Kaede saat pertama kali tiba di biara untuk
melihat lukisan Sesshu, tapi ia tidak ingat nama pemuda itu. Alunan seruling seakan
mengisahkan tentang penderitaan dan kerinduan yang tak tertahankan. Dedaunan
bergoyang ketika hembusan angin semakin kencang, burung hantu di pegunungan mulai
bersahutan.
Shizuka datang membawa teh kemudian menuangkan secangkir untuk Kaede. Ia
meminumnya seakan baru pertama kali minum teh, seakan setiap tetes memiliki citarasa
yang berbeda. Dan ketika pelayan tua membawakan nasi dan sayuran yang dimasak dengan
tofu (tahu), ia seakan belum pernah mencicipi hidangan itu. Ia terkagum-kagum karena
kekuatan baru yang bersemayam dalam dirinya.
"Lord Arai ingin bertemu denganmu sebelum malam," kata Shizuka. "Aku sudah
menyampaikan bahwa kau belum sehat, tapi dia memaksa. Bila kau tidak ingin
menemuinya, akan kusampaikan padanya."
"Kurasa kita tidak bisa memperlakukan dia seperti itu," kata Kaede. "Bila dia memberi
perintah, aku harus patuh."
"Dia sangat marah," kata Shizuka dengan nada rendah. "Dia tersinggung dan marah
atas kepergian Takeo. Dia merasa kehilangan dua sekutu penting. Kini hampir dipastikan
dia harus bertempur melawan Otori tanpa Takeo di pihaknya. Dia berharap pernikahanmu"
"Jangan bicara itu lagi," sela Kaede. Ia menghabiskan nasi terakhirnya, metakkan sumpit
dan membungkukberterima kasih atas hidangannya.
Shizuka menghela napas panjang. "Arai tidak tahu banyak tentang Tribe, cara kerja
mereka, tuntutan yang mereka tetapkan atas apa yang menjadi milik mereka."
"Dia tahu kau orang Tribe?"
"Dia tahu aku selalu memiliki cara untuk mengirimkan pcsan-pesannya. Dia cukup




6
senang dapat memanfaatkan keahlianku guna membentuk persekutuan dengan Lord
Shigeru dan Lady Maruyama. Dia hanya tahu tentang Tribe seperti kebanyakan orang lain,
dia pikir mereka hanya sekadar orang suruhan. Keterlibatan Tribe dalam kematian Iida
membuatnya kaget, meskipun dia diuntungkan dengan peristiwa itu. "Shizuka diam sejenak,
lalu melanjutkan. "Kini dia tidak mempercayaiku lagi-kurasa dia pasti bertanya-tanya,
bagaimana mungkin dia tidur denganku tanpa berpikir akan dibunuh. Yah, kami sudah
dipastikan tak akan bersama lagi. Kini semuanya telah berakhir."
"Kau takut? Apakah dia mengancammu?"
"Dia murka," balas Shizuka. "Dia menganggap aku telah berkhianat, lebih buruk lagi,
dia merasa diperbodoh. Kurasa dia tak akan memaafkan aku." Nada pahit terdengar dalam
suaranya. "Sejak beranjak dewasa, aku telah menjadi kekasih, sahabat dan orang
kepercayaannya. Aku telah melahirkan dua anak laki-lakinya. Tapi, dia pasti akan
menghukum mati aku bila tidak ada kau."
"Akan kubunuh orang yang berani mencelakaimu," kata Kaede geram.
Shizuka tersenyum. "Kau kelihatan galak sekali saat mengatakan itu!"
"Laki-laki mati dengan mudah," ujar Kaede datar. "Dari tusukan jarum atau tikaman
belati. Kau yang mengajariku."
"Tapi kuharap kau tidak menggunakan semua keahlian itu," balas Shizuka. "Meskipun
kau bertarung sangat baik di Inuyama. Takeo berhutang nyawa padarriu."
Kaede terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada rendah, "Aku tidak hanya bertarung
menggunakan pedang. Kau tidak tahu seluruh kejadiannya."
Shizuka menatapnya. "Apa maksudmu? Apakah kau yang membunuh Iida?" bisiknya.
Kaede mengangguk. "Takeo memenggal kepala lida setelah orang itu mati. Aku
lakukan apa yang kau ajarkan. Dia hendak memperkosa aku."
Shizuka mencengkram tangan Kaede. "Jangan sampai ada yang tahu! Tak seorang
ksatria pun, termasuk Arai, akan membiarkanmu hidup."
"Aku tidak menyesal," kata Kaede. "Aku tidak melakukan tindakan yang memalukan.
Itu bukan hanya untuk melindungi diriku, tapi juga untuk membalaskan kematian Lord
Shigeru, Lady Maruyama dan anaknya, serta semua orang yang tidak bersalah tapi disiksa
dan dibunuh Iida."




7
"Meskipun begitu, bila hal ini diketahui orang lain, kau akan dihukum. Laki-laki akan
menganggap dunia sudah terbalik bila perempuan mulai mengangkat senjata dan membalas
dendam."
"Duniaku memang sudah terbalik," kata Kaede. "Tetap saja aku akan menemui Lord
Arai. Ambilkan..." ucapannya terputus, kemudian dia tertawa, 'Aku hendak mengatakan,
'ambilkan pakaianku,' padahal aku tidak punya. Aku tidak punya apa-apa!"
"Kau masih punya seekor kuda," balas Shizuka. "Takeo memmberikan kudanya
untukmu."
"Dia memberiku Raku?" Kaede tersenyum, senyuman yang membuat wajahnya cerah.
Tatapan Kaede menerawang jauh, matanya kelam dan berpikir.
"Lady?" Shizuka menyentuh bahu Kaede.
"Sisirkan rambutku, dan sampaikan pada Lord Arai kalau aku akan segera
menemuinya."
Hari hampir gelap gulita saat mereka meninggalkan kamar khusus perempuan, dan
berjalan ke ruang tamu utama tempat Arai dan anak buahnya menginap. Lampu-lampu
bercahaya dari arah biara, dan jauh di atas bukit orang-orang berdiri mengelilingi makam
Lord Shigeru dengan membawa obor. Orang masih berdatangan untuk berziarah, membawa
dupa dan sesembahan, meletakkan lampu dan lilin di sekitar batu nisan, meminta
pertolongan pada arwah Shigeru yang kian hari kian dianggap sebagai dewa.
Dia tidur dalam liputan api, pikir Kaede sambil mendoakan arwah Shigeru, meminta
petunjuk. Di saat yang sama ia memikirkan apa yang hendak dikatakan pada Arai. Ia adalah
pewaris Klan Shirakawa dan Maruyama; ia sadar Arai ingin bersekutu dan mengikat dirinya
melalui pernikahan untuk menambah sekutu. Ia dan Arai beberapa kali bicara di Inuyama
dan selama di perjalanan, tapi perhatian Arai lebih tertuju pada pengamanan wilayah dan
strateginya di masa depan. Arai tidak membahas hal itu, kecuali saat menunjukkan
keinginannya untuk segera menikahkan Kaede dengan Takeo. Sebelumnya—rasanya sudah
lama sekali—ia hanyalah bidak di tangan ksatria yang menentukan nasibnya. Kini, dengan
kekuatan baru yang ia peroleh setelah tidur es, ia memutuskan untuk mengambil kendali
atas hidupnya. Aku perlu waktu, pikirnya. Aku tidak boleh tergesa-gesa. Aku harus pulang
dulu sebelum mengambil keputusan.




8
Seorang pengawal Arai—ia ingat laki-laki itu bernama Niwa—menyambutnya di ujung
beranda dan membimbingnya hingga ke pintu. Semua jendela terbuka. Arai duduk di ujung
ruangan bersama tiga anak buahnya. Niwa menyebut nama Kaede dan bangsawan itu
menatap gadis yang pernah ditolongnya itu. Selama beberapa saat mereka saling mengamati.
Kaede menangkap tatapan Arai, dan merasakan kekuatan orang itu berdenyut di nadinya.
Kaede lalu berlutut dan membungkuk, meskipun membenci sikap tubuhnya, namun ia sadar
bahwa kedatangannya untuk memenuhi panggilan.
Arai balas membungkuk, dan mereka berdua duduk tegak bersamaan. Kaede merasakan
tatapan laki-laki itu pada dirinya. Kaede mengangkat kepala dan memberi pandangan tidak
gentar yang sama sehingga Arai mengalihkan pandangan ke tempat lain. Jantung Kaede
berdebar kencang karena keberanian dirinya. Kaede melihat perubahan di wajah Arai,
berbeda dari orang yang dulu pernah ia kenal. Garis-garis di sekitar mulut dan mata
bangsawan itu semakin dalam. Dulu Arai pragmatis dan luwes, tapi kini dia dalam
cengkraman nafsu kekuasaan.
Ukuran tubuh dan kekuatan Arai membuat Kaede gemetar, mengingatkannya saat-saat
ketidakberdayaannya dipelukan Iida, pada kekuatan laki-laki yang memaksa perempuan
dengan cara yang mereka inginkan. Jangan berikan mereka kesempatan untuk menggunakan
kekuatan itu, muncul pikiran itu, lalu, Selalu memegang senjata. Kaede merasa ada sesuatu di
mulutnya, semanis buah persik, sekuat aliran darah, pengetahuan dan kekuatan. Inikah
yang mendorong laki-laki saling bertempur tiada henti, untuk saling memperbudak dan
menghancurkan? Mengapa perempuan tidak punya itu?
Ia memandang tubuh Arai, di bagian tubuh yang sama tempat jarum dan belati
menusuk Iida, menyerahkan tubuh Lord Iida ke dunia yang selama ini dia dominasi dan
membiarkan darah kehidupannya mengalir keluar. Aku tak boleh lupa itu, ia berkata pada diri
sendiri. Laki-laki pun bisa dibunuh perempuan. Aku telah membunuh ksatria paling berkuasa di
Tiga Negara.
Selama ini Kaede dididik agar patuh pada laki-laki: tunduk pada keinginan dan
kecerdasan mereka. Jantung Kaede berdebar begitu kencang sehingga ia merasa hendak
pingsan. Ia menghela napas panjang, seperti yang Shizuka ajarkan, dan merasakan darah
berdesir di urat nadinya.




9
"Lord Arai, esok aku hendak ke Shirakawa. Aku akan sangat berterima kasih jika kau
menyediakan pengawal untuk menemaniku pulang."
"Aku lebih senang bila kau tetap di Timur," kata Arai, perlahan. "Tapi, bukan itu yang
hendak kubicarakan." Matanya menyipit saat memandang Kaede. "Ini tentang
menghilangnya Otori. Bisakah kau memberi secercah cahaya tentang kejadian di luar
dugaan ini? Aku yakin aku telah menegaskan hakku untuk berkuasa. Aku telah bersekutu
dengan Shigeru. Bagaimana mungkin si Otori muda tidak mengindahkan semua
kewajibannya padaku dan juga pada mendiang ayahnya? Bagaimana mungkin dia ingkar dan
pergi begitu saja? Dan kemana dia pergi? Seharian orang-orangku mencarinya hingga ke
Yamagata. Dia benar-benar menghilang."
"Aku tidak tahu di mana dia," jawab Kaede.
"Aku dengar kau berbicara dengannya di malam dia pergi."
"Ya," jawab Kaede singkat.
"Setidaknya dia pasti telah mengatakan...."
"Dia terikat oleh kewajiban lain." Kaede merasa kesedihan merayap dalam dirinya. "Dia
tidak bermaksud menghinamu." Meskipun ia tak ingat kalau Takeo menyebut tentang Arai,
tapi ia tidak mengatakan hal itu.
"Kewajiban pada Tribe?" Kini kemarahan terdengar dalam nada bicaranya, terlihat di
matanya. Arai menggerakkan kepala dengan perlahan, dan Kaede menduga dia menatap
melewati dirinya ke arah Shizuka yang sedang berlutut di beranda yang gelap. "Apa yang
kau tahu tentang mereka?"
"Sangat sedikit," balas Kaede. "Berkat bantuan mereka sehingga Lord Takeo berhasil
memanjat kastil Inuyama. Kurasa kita semua berhutang budi pada mereka."
Menyebut nama Takeo membuat Kaede gemetar. Ia teringat sensasi tubuh pemuda itu
saat mereka berdua berharap untuk mati. Mata Kaede kian gelap, wajahnya melembut. Arai
menyadari perubahan itu namun tidak tahu alasannya. Ketika Arai bicara, sekali lagi Kaede
mendengar sesuatu yang berbeda pada suara Arai, bukan kemarahan.
"Pernikahan akan dirancang untukmu. Ada pemuda Otori lain, sepupu Shigeru. Aku
akan utus orang ke Hagi."
"Aku masih berduka atas kematian Lord Shigeru," balas Kaede. "Aku belum berpikir




10
untuk menikah. Aku ingin dulu pulang untuk menghapus kesedihanku." Adakah orang yang
mau menikahiku setelah mereka mengetahui reputasiku? Kaede bertanya dalam hati, dan tidak
kuasa menahan pikiran berikutnya, Tapi Takeo tidak mati. Kaede menduga Arai akan
berdebat lebih jauh, tapi setelah beberapa saat, dia menyetujui.
"Mungkin yang terbaik bila kau mengunjungi orangtuamu. Aku akan memanggilmu
saat aku kembali ke Inuyarna, lalu kita bahas tentang pernikahanmu."
"Kau hendak menjadikan Inuyama sebagai ibukota?"
"Ya, aku bermaksud membangun kembali kastil itu." dalam cahaya yang berkelip-kelip,
wajah Arai nampak mengeras dan sedih. Kaede diam. Tiba-tiba Arai berkata lagi. "Tapi
kembali ke soal Tribe. Selama ini aku tidak menyadari pengaruh mereka yang begitu kuat.
Mereka bisa membuat Takeo mengabaikan pernikahan, persekutuan, dan bahkan
menyembunyikannya. Jujur saja, aku tak tahu sedang berurusan dengan apa." Dia kembali
memandang ke kejauhan, ke arah Shizuka.
Dia akan membunuh Shizuka, pikir Kaede. Dia bukan hanya marah atas ketidakpatuhan
Takeo. Harga dirinya pasti juga terluka. Dia pasti mencurigai Shizuka telah mematamatainya
selama ini. Kaede bertanya-tanya apa yang terjadi pada cinta dan hasrat yang
pernah terjalin di antara mereka. Akankah semua itu hancur dalam sekejap? Apakah
pelayanan, kepercayaan, dan kesetiaan selama bertahun-tahun akan berakhir dengan sia-sia?
"Aku akan selidiki mereka," Arai melanjutkan, seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Pasti ada orang yang tahu, pasti ada orang yang akan bicara. Aku tak bisa membiarkan
kelompok seperti itu ada. Mereka akan meremehkan kekuasaanku ibarat rayap mengunyah
kayu."
Kaede berkata, "Aku yakin kau yang mengirim Muto Shizuka untuk melindungiku.
Aku berhutang nyawa atas perlindungan itu. Dan aku yakin kalau aku memegang
kesetiaanku padamu saat di kastil Noguchi. Ada ikatan kuat di antara kita dan itu tidak
boleh dirusak. Siapa pun yang kunikahi kelak akan bersumpah setia kepadamu. Shizuka
akan tetap melayaniku, dan akan ikut bersamaku ke rumah orangtuaku."
Arai menatapnya, dan sekali lagi Kaede membalas tatapan itu. "Hampir tiga belas bulan
sejak aku membunuh seorang penjaga demi keselamatanmu," ucapnya. "Saat itu kau
hanyalah gadis cilik. Kau telah berubah...."




11
"Aku dipaksa menjadi dewasa," balas Kaede, berusaha untuk tidak memikirkan kimono
pinjamannya. Aku pewaris daerah kekuasaan besar, kata Kaede dalam hati. Ia terus balas
menatap sampai akhirnya Arai memalingkan wajah dengan enggan.
"Baiklah. Aku akan menyuruh beberapa pengawal wanita menemanimu ke Shirakawa,
dan kau boleh bawa perempuan Muto itu."
"Lord Arai." Di saat itulah ia berhenti menatap karena membungkuk.
Arai lalu memanggil Niwa untuk menyusun rencana besok, dan Kaede mengucapkan
selamat malam, berbicara dengan nada yang patuh. Ia merasa seperti baru keluar dari sumur
musuh; ia menyadari bahwa semua kekuatan ada di pihak bangsawan itu.
Dia kembali ke kamar perempuan bersama Shizuka, kedanya diam membisu. Seorang
pelayan tua, yang telah tnrmbentangkan kasur, datang lagi membawa pakaian Kaede, dan
membantu Shizuka melepas pakaian Kaede. Stelah mengucapkan selamat malam, pelayan
itu lalu mengundurkan diri, kembali ke kamar sebelah.
Shizuka tampak pucat dan tingkahnya lebih lesu dari yang pernah Kaede tahu. Dia
menyentuh lengan Kaede dan berbisik, "Terima kasih," lalu dia diam. Saat berbaring dibalik
selimut katun, saat nyamuk-nyamuk berdengung mengitari kepala mereka dan laron-laron
menubruk-nubruk lampu, Kaede merasakan pelayannya itu diam bak patung di sebelahnya.
Kaede sadar kalau Shizuka sedang bertarung melawan kesedihannya, tapi dia tidak
menangis.
Kaede mengulurkan tangan dan memeluk Shizuka, mendekapnya erat tanpa bicara. Ia
berbagi kesedihan yang mendalam tanpa menitikkan air mata. Ia berniat untuk tidak
membiarkan apa pun melemahkan kekuatan yang tumbuh dalam dirinya.*




12
DUA
KEESOKAN paginya, beberapa tandu dan pengawal telah disiapkan untuk mengiringi
Kaede dan Shizuka. Mereka berangkat begitu matahari menampakkan diri. Teringat akan
nasihat kerabatnya, Lady Maruyama, Kaede pun melangkah perlahan ke dalam tandu seolah
ia rapuh dan tak bertenaga seperti kebanyakan perempuan. Sebelumnya ia telah menyuruh
tukang kuda membawa serta kuda Takeo dari istal. Setelah mereka di jalan, Kaede
membuka tirai kertas lilin agar dapat memandang keluar.
Gerakan tandu yang berayun-ayun membuat Kaede menderita, dan meskipun bisa
melihat-lihat pemandangan, tetap saja tidak berhasil mencegah rasa mual yang datang
menghampiri dirinya. Di tempat pemberhentian pertama, di Yamagata, Kaede merasa
begitu pusing sehingga hampir tidak sanggup berjalan. Ia bahkan tidak sanggup melihat
makanan, dan saat meneguk teh, ia langsung muntah. Badan yang lemas membuat ia kesal,
dan meruntuhkan kekuatan yang baru ia peroleh. Shizuka lalu menuntunnya ke kamar kecil
di penginapan, kemudian membasuh muka Kaede dengan air dingin, dan membantu
membaringkannya sejenak. Rasa mual berlalu secepat datangnya, dan Kaede akhirnya bisa
makan sedikit sup kacang merah dan mangkuk teh.
Ketika melanjutkan perjalanan, tenda yang berwarna hitam kembali membuatnya mual.
"Ambilkan kudaku," pintanya. "Aku ingin menunggang kuda."
Penjaga kuda membantunya menaiki punggung Raku, sedangkan Shizuka melompat
dengan gesit di belakangpyn, dan mereka berkuda tanpa banyak bicara. Masing-masing
terbalut dalam pikirannya, tapi keduanya merasa nyaman karena kedekatan satu sama lain.
Setelah keluar dari wilayah Yamagata, jalan mulai menanjak. Sepanjang jalan dipenuhi
bebatuan datar yang berukuran raksasa. Sudah ada tanda-tanda musim gugur, meskipun
langit nampak biru cerah dan udara hangat. Pohon beech, sumac, dan maple mulai berubah
keemasan dan merah tua. Kumpulan angsa liar terbang tinggi di atas mereka. Hutan




13
semakin lebat, tenang dan tak berangin. Raku berjalan pelan, kepala hewan itu menunduk
saat melewati jalan setapak. Para pengawal waspada dan gelisah. Sejak runtuhnya Tohan,
daerah pedalaman penuh orang tak bertuan yang berasal dari berbagai kalangan. Mereka
memilih untuk menjadi bandit ketimbang harus bersumpah setia kepada pemimpin baru.
Raku adalah kuda yang kuat dan sigap. Panas dan jalan menanjak membuat bulu kuda
itu nyaris gelap karena keringat tatkala berhenti lagi di rumah peristirahatan kecil di puncak
gunung. Hari beranjak siang. Kuda diberi makan dan minum, para pengawal beristirahat di
bawah pepohonan yang rindang di sekitar sumur, dan seorang perempuan tua menggelar
kasur tipis di lantai kamar yang dilapisi tikar agar Kaede dapat beristirahat.
Kaede lalu berbaring, bersyukur dapat meregangkan badan. Cahaya di kamar remangremang
kehijauan. Pohon cedar raksasa menutupi sebagian besar pemandangan. Di
kejauhan ia mendengar percikan dari sumber air, dan suara pengawal yang berbincang
perlahan, terkadang tertawa meledak. Shizuka sedang berbincang dengan seseorang di
dapur, dan Kaede senang temannya itu telah bersemangat kembali. Tapi kemudian Shizuka
berbicara pelan, dan orang yang dia ajak bicara menanggapinya juga dengan pelan sehingga
Kaede tak bisa lagi menangkap pembicaraan mereka.
Setelah beberapa saat, Shizuka masuk diam-diam ke dalam ruangan, dan berbaring di
samping Kaede.
"Kau bicara dengan siapa tadi?"
Shizuka berbalik sehingga dapat berbisik langsung ke telinga Kaede. "Sepupuku bekerja
di tempat ini."
"Sepupumu ada di mana-mana."
"Itulah Tribe."
Setelah diam sejenak, Kaede lalu berkata, "Jangan sampai ada yang mengetahui jati
dirimu yang sebenarnya sehingga mereka ingin...."
"Ingin apa?"
"Yah, melenyapkanmu."
Shizuka tertawa. "Tak ada yang berani. Kami punya lebih banyak cara untuk
melenyapkan mereka. Lagi pula, tak ada yang tahu tentang jati diri kami secara pasti.
Mereka mungkin saja curiga, tapi mungkin kau sudah tahu, pamanku Kenji dan aku bisa




14
tampil dalam berbagai macam penyamaran. Tribe itu sulit dikenali, apalagi kami memiliki
berbagai ketrampilan seni."
"Maukah kau menceritakan tentang mereka?" Kaede terkagum-kagum akan dunia yang
ada dalam baying-bayang kegelapan dunia yang ia kenal.
"Bisa kuceritakan sedikit. Tidak semua. Nanti, bila percakapan kita tidak bisa didengar
orang lain."
Seekor burung gagak berteriak parau.
Shizuka melanjutkan, "Ada dua hal yang kudengar dari sepupuku. Pertama, Takeo
masih di Yamagata. Arai telah menelusuri kumpulan orang-orang, dan penjaga ada di jalanjalan
utama. Tribe pasti menyembunyikan Takeo di dalam kota."
Burung gagak itu berteriak lagi. Aah! Aah!
Mungkin aku telah melewati tempat persembunyiannya, pikir Kaede. Setelah terdiam
lama, ia berkata, "Apa yang kedua?"
"Kecelakaan mungkin akan terjadi di perjalanan."
"Kecelakaan seperti apa?"
"Buatku. Tampaknya Arai memang berniat membunuhku, seperti yang kau katakan.
Hanya saja rencana itu dirancang agar mirip kecelakaan, serangan perampok, atau semacam
itulah. Dia tidak ingin aku hidup, tapi dia juga tidak ingin kau tersinggung."
"Kau harus pergi." Suara Kaede mendesak. "Bila kau bersamaku, dia akan tahu ke mana
mencarimu."
"Sssh." Shizuka memperingatkan. "Aku katakan ini agar kau tidak bertindak ceroboh."
"Apanya yang ceroboh?"
"Bila kau menggunakan belati demi membelaku."
"Aku pasti akan melakukannya," kata Kaede.
"Aku tahu. Tapi kau harus sembunyikan keberanian dan semua keahlianmu itu. Ada
orang dalam rombongan kita yang akan melindungiku. Mungkin lebih dari satu.
Serahkan saja perkelahian itu pada mereka."
"Siapa mereka?"
"Bila lady bisa menebak, akan kuberikan hadiah!" kata Shizuka ringan.
"Lalu bagaimana dengan patah hatimu?" tanya Kaede dengan rasa ingin tahu.




15
"Aku memulihkannya dengan marah," jawab Shizuka. Kemudian dia berkata lebih
serius. "Aku tidak melakukan hal yang memalukan. Bukan aku yang tidak menghormatinya.
Sebelumnya aku terikat pada Arai, menjadi tawanannya. Bersamaan dengan putusnya
hubungan kami, berarti dia telah membebaskan aku."
"Kau harus tinggalkan aku," desak Kaede.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sekarang ini? Kau membutuhkanku lebih
dari apa pun juga."
Kaede masih berbaring. "Kenapa kau berkata begitu?"
"Lady, seharusnya kau tahu. Menstruasi yang terlambat, melembutnya wajahmu,
menebalnya rambutmu. Rasa mual diikuti rasa lapar..." suara Shizuka halus, iba.
Jantung Kaede berpacu cepat. Terlintas suatu pikiran di benaknya, tapi ia tak sanggup
hadapi kenyataan itu. "Apa yang harus kulakukan?"
"Anak siapa itu? Bukan anak Iida, kan?"
"Aku bunuh Iida sebelum dia sempat memperkosaku. Jika memang aku hamil, pastilah
dari Takeo."
"Kapan?" tanya Shizuka berbisik.
"Di malam Iida mati. Takeo datang. Kami berdua tidak menyangka akan hidup."
Shizuka menghela napas. "Kadang kupikir pemuda itu sudah gila."
"Bukan gila. Tersihir, mungkin," kata Kaede. "Kami seakan dalam pengaruh sihir sejak
kami bertemu di Tsuwano."
"Yah, peristiwa itu sebagian adalah kesalahanku dan pamanku. Tidak seharusnya kami
melatih kalian bersama-sama."
"Tidak ada yang mampu mencegahnya," ujar Kaede dengan rasa bahagia yang
bergejolak.
"Bila ini anaknya Iida, aku tahu apa yang harus lakukan," kata Shizuka. "Aku tak akan
ragu bertindak. Ada tamuan yang bisa menggugurkan kandunganmu. Tapi anak Takeo
adalah saudaraku, darah dagingku."
Kaede terdiam. Anak ini mungkin mewarisi anugrah yang Takeo miliki, pikirnya. Anugrah
itulah yang membuat jabang bayi ini berharga. Semua orang ingin memanfaatannya demi tujuan
pribadi. Tapi aku menyayangi anak ini. Aku tak akan menggugurkan anak Takeo. Dan tak akan




16
membiarkan Tribe merampasnya. Tapi, apakah Shizuka akan merampasnya kelak? Apakah dia
akan mengkhianatiku?
Karena Kaede diam cukup lama, Shizuka pun duduk tegak untuk melihat apakah
tuannya tertidur. Tapi mata Kaede terbuka, menatap cahaya hijau di luar pintu.
"Berapa lama rasa mual ini akan berakhir?" tanya Kaede.
"Tidak lama. Dan kau tidak boleh keluar selama tiga atau empat bulan."
"Kau mengetahui hal-hal semacam ini. Benarkah kau telah melahirkan dua anak lakilaki?"
"Ya. Anaknya Arai."
"Di mana mereka?"
"Mereka bersama kakekku. Arai tidak tahu keberadaan mereka."
"Dia tidak mengakui mereka?"
"Dulu dia tertarik, sampai kemudian dia menikah dan memiliki anak laki-laki dari isteri
resminya," tutur Shizuka. "Setelah itu, karena anakku lebih tua, dia mulai menganggapnya
sebagai ancaman bagi ahli warisnya. Aku sadar apa yang dia pikirkan sehingga aku segera
membawa kedua anakku ke desa milik keluarga Muto. Dia pasti tidak tahu di mana mereka
berada."
Kaede menggigil, meskipun udara panas. "Menurutmu dia akan mencelakai anakanaknya?"
"Bukan pertama kalinya seorang pemimpin, seorang ksatria, melakukan itu," jawab
Shizuka pahit.
"Aku takut pada ayahku," kata Kaede. "Apa yang akan dia lakukan padaku?"
Shizuka berbisik, "Anggaplah Lord Shigeru, karena takut telah berkomplot untuk
membunuh Iida, memaksamu menikah secara rahasia di Terayama. Kerabatmu, Lady
Maruyama, dan pendampingnya, Sachie, adalah saksinya, tapi sayangnya mereka sudah
mati."
"Aku tidak bisa berbohong seperti itu," kata Kaede.
Shizuka segera menghentikan ucapan gadis itu. "Kau tak perlu mengatakan apa pun.
Semua itu dirahasiakan. Kau hanya mengikuti permintaan dari mendiang suamimu. Aku
akan membuat kabar ini tersebar, seolah-olah tidak disengaja. Kau akan lihat betapa para




17
laki-laki tidak bisa, menyimpan rahasia di antara mereka."
"Bagaimana dengan bukti?"
"Semuanya hilang saat kejatuhan Inuyama, bersama semua barang lainnya. Bayi ini akan
menjadi anak Shigeru. Jika laki-laki, maka dia akan menjadi pewaris Otori."
"Hal itu terlalu jauh untuk dipikirkan," kata Kaede cepat. "Jangan menggoda nasib."
Kaede teringat anak Shigeru yang tidak sempat lahir dari Lady Maruyama yang tenggelam
secara perlahan-lahan di sungai di Inuyama. Kaede berdoa semoga arwah jabang bayi itu
tidak iri, ia pun berdoa agar anak dalam kandungannya akan hidup.
Sebelum akhir minggu, rasa mual Kaede mulai berkurang. Ia tiba-tiba merasa sangat
lapar di saat yang tak diharapkan, tapi selain itu, perasaannya pun mulai membaik, lebih
baik dari yang pernah ia rasakan. Perasaannya meluap-luap seakan sang janin membagi
anugrahnya. Kaede memperhatikan dengan takjub bagaimana informasi rahasia Shizuka
tersebar di antara pengawal, satu demi satu mulai memanggilnya Lady Otori, dengan nada
rendah sambil menunduk. Kebohongan ini membuat Kaede gelisah, tapi ia tetap
melakukannya, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
Kaede mengamati para pengawal dengan saksama, berusaha menebak siapa di antara
mereka yang merupakan anggota Tribe, orang yang akan melindungi Shizuka bila tiba
waktunya. Shizuka telah kembali ceria dan mulai bersenda gurau dengan semua pengawal.
Para pengawal pun menanggapi dalam berbagai macam perasaan, dari rasa hormat hingga
bergairah, namun tak seorang pun yang nampak tertarik secara khusus.
Karena jarang menatap Kaede secara langsung, mereka pasti akan kaget mengetahui
betapa baik ia mengenal mereka. Ia bisa membedakan mereka dalam kegelapan, dari langkah
kaki atau suara mereka. Kaede memberi mereka nama: Si Muka Parut, Si Mata Juling, Si
Pendiam, Si Lengan Panjang.
Bau si Lengan Panjang tercium seperti minyak jelantah yang sering digunakan laki-laki
untuk membumbui nasi. Suaranya rendah dengan aksen kasar. Laki-laki itu selalu menatap
Kaede dengan sinis. Ukuran tubuhnya sedang, dengan kening tinggi dan mata agak
menonjol sekaligus hitam kelam sehingga tampak seperti tidak memiliki pupil. Dia
mempunyai kebiasaan menggerakkan bola mata ke atas, kemudian menghirup udara seraya
menggoyangkan kepala. Lengannya panjang secara tidak wajar dan telapak tangannya besar.




18
Jika ada orang yang bisa membunuh perempuan, pikir Kaede, maka dialah orangnya.
Di minggu kedua, badai tiba-tiba datang menghalangi perjalanan mereka di desa kecil.
Tertahan oleh hujan di kamar sempit dan tidak nyaman, membuat Kaede gelisah. In
memikirkan ibunya. Ketika mengingat-ingat sosok ibunya, yang ia temukan hanyalah
kegelapan. Ia mencoba mengingat wajah Ibunya, namun tetap tidak bisa. Ia juga tak dapat
membayangkan wajah adik-adiknya. Adiknya yang paling kecil mungkin berusia sembilan
tahun. Jika ibunya, seperti yang ia takutkan, meninggal, maka ia terpaksa menggantikan
ibunya untuk mengasuh kedua ndiknya, dan mengatur rumah tangga—memasak, bersihbersih,
dan menjahit yang menjadi tugas seumur hidup perempuan, hasil ajaran ibu, bibi,
dan nenek. Ia tidak tahu kegiatan semacam itu. Saat menjadi tawanan di Noguchi, ian
diabaikan oleh keluarga Noguchi. Ia hanya diajari sedikit hal; ia hanya mempelajari cara
bertahan hidup di kristil sambil berlari kesana-kemari seperti pelayan.
Anak dalam kandungannya mendatangkan perasaan dan insting yang belum pernah ia
rasakan; insting untuk mengurus bawahannya. Ia memikirkan para pengawal Shirakawa,
seperti Shoji Kiyoshi dan Amano Tenzo, yang datang bersama ayahnya ke kastil Noguchi
untuk menengok dirinya, dan para pelayan, seperti Ayame, orang yang sangat ia rindukan,
sebesar kerinduan pada ibunya. Masih hidupkah Ayame? Masih ingatkah dia pada gadis
kecil yang dulu dia asuh? Kini, saat Kaede pulang dengan berpura-pura menjanda dan hamil,
akankah ia disambut baik di rumah orangtuanya?
Tertundanya perjalanan juga membuat para pengawal gelisah. Kaede tahu mereka
cemas karena menjalani tugas yang membosankan, mereka tidak sabar ingin kembali ke
medan perang yang sudah menjadi hidup mereka. Mereka ingin menjadi bagian dari
kemenangan Arai terhadap Tohan di Timur, bukannya mengantar seorang perempuan ke
wilayah Barat.
Arai mungkin termasuk orang seperti itu, pikir Kaede dengan rasa ingin tahu. Bagaimana
orang itu tiba-tiba menjadi sangat berkuasa? Apa yang telah dia lakukan sehingga semua
orang mematuhinya? Kaede teringat kekejaman Arai saat menggorok leher penjaga yang
mencoba mengganggu dirinya di kastil Noguchi. Arai tak segan membunuh pengawalnya
dengan cara yang sama. Tapi bukan rasa takut yang membuat orang patuh. Adakah
semacam kepercayaan pada kekejamannya, pada kecepatannya bertindak, tidak peduli




19
tindakan itu salah atau benar? Apakah mereka juga akan mempercayai perempuan seperti
itu? Dapatkan Kaede memerintah laki-laki seperti yang Arai lakukan? Apakah ksatria seperti
Shoji dan Amano akan patuh pada dirinya?
Hujan telah reda dan perjalanan pun dilanjutkan. Badai telah melenyapkan kelembaban
dan hari-hari setelah itu tampak cerah, langit luas dan biru terbentang di puncak gunung di
mana setiap harinya pohon maple nampak kian merah. Malam semakin dingin, sudah
terlihat tanda-tanda salju akan turun.
Perjalanan penuh dengan jalan berliku, dan siang hari semakin panjang dan melelahkan.
Akhirnya, di suatu pagi, Shizuka berkata, "Ini puncak gunung terakhir. Esok kita akan tiba
di Shirakawa."
Kini rombongan menuruni jalan setapak yang curam dan dipenuhi daun pinus yang
berbentuk jarum sehingga langkah kuda seperti terendam. Shizuka berjalan di sisi Raku,
sedangkan Kaede menungganginya. Di bawah pepohonan pinus dan cedar, keadaan menjadi
gelap, tapi tak jauh di depan mereka, sinar mentari menembus sela-sela rumpun bambu,
menampilkan cahaya kehijauan yang bertaburan butiran debu.
"Kau pernah melewati jalan ini?" tanya Kaede.
"Berkali-kali. Beberapa tahun lalu aku dikirim ke Kumamoto untuk bekerja pada
keluarga Arai. Lord sebelumnya masih hidup. Dia mendidik anaknya dengan keras, tapi
anak tertuanya, Daiichi nama lahir Arai, masih tetap menemukan cara untuk membawa
pelayan ke tempat tidur. Aku menolaknya selama beberapa lama—memang bukan hal
mudah, seperti yang kau tahu, bagi gadis yang tinggal di kastil. Dia tidak cepat melupakan
diriku seperti dia melupakan pelayan lainnya. Aku disuruh keluargaku, Muto."
"Jadi kau bisa memata-matainya," gumam Kaede.
"Ada beberapa orang yang tertarik untuk bersekutu dengan Arai. Terutama sebelum dia
dikirim ke Noguchi."
"Dan orang itu adalah Iida?"
"Tentu saja. Itu bagian dari perjanjian dengan Klan Seishuu setelah perang Yaegahara.
Arai enggan mengabdi pada Noguchi. Meskipun dia tidak menyukai lida dan menganggap
Noguchi sebagai pengkhianat, namun dia terpaksa patuh."
"Kau bekerja pada Iida?"




20
"Kau tahu pada siapa aku bekerja," kata Shizuka pelan. "Kami selalu mendahulukan
kepentingan keluarga Muto, kepentingan Tribe. Iida mempekerjakan banyak keluarga Muto
waktu itu."
"Aku tidak mengerti," kata Kaede. Persekutuan di kalangan klan saja sudah cukup rumit
dengan ikatan baru yang dibentuk melalui pernikahan, sementara ikatan lama menjaga
persekutuan melalui tawanan, dan kesetiaan antar klan yang hancur hanya lantaran adanya
penghinaan atau perseteruan atau perlawanan kecil. Tapi semua intrik antar klan tampak
lebih jelas dibandingkan intrik dalam Tribe. Pikiran buruk bahwa Shizuka hanya tinggal
bersamanya atas perintah keluarga Muto terlintas kembali.
"Kau sedang memata-mataiku?"
Shizuka membuat isyarat agar Kaede diam. Pengawal yang berkuda di depan dan di
belakangnya tidak mungkin mendengar, pikir Kaede.
"Ya, kan?"
Shizuka mengendalikan tali kekang kuda saat menuruni jalan curam untuk menjaga
keseimbangan kuda itu. Kaede mencondongkan badan ke depan dan berbisik. "Beritahu
aku."
Di saat itulah kuda kaget dan meloncat. Badan Kaede yang semula condong ke depan,
langsung tersentak ke belakang.
"Aku akan jatuh," pikirnya terkejut, dan tanah pun menyambut saat ia dan Shizuka
jatuh bersamaan.
Kudanya melompat ke sisi berlawanan saat mencoba untuk tak melangkahi tubuh
mereka. Kaede sadar akan adanya bahaya yang lebih besar.
"Shizuka!" jeritnya.
"Tetap menunduk," jawab Shizuka. Meskipun dipaksa tiarap, namun Kaede berontak
melihat ke atas.
Ada beberapa laki-laki menghadang di depan jalan dengan bersenjatakan pedang dan
panah, dua di antaranya mirip bandit. Kaede langsung menyentuh belati, mendambakan ada
pedang atau setidaknya tongkat. Pikiran itu lenyap ketika anak panah terbang melewati
telinga kuda, membuat hewan itu loncat dan kembali meronta-ronta.
Terdengar jeritan singkat dan seorang pengawal jatuh di dekat kaki Kaede, darah




21
mengalir dari bagian leher yang terkena anak panah.
Laki-laki yang kedua terhuyung-huyung sesaat. Seekor kuda secara bersamaan
melompat ke samping, menubruk sehingga orang itu hilang keseimbangan. Saat orang itu
mengayunkan pedang ke samping, hendak menebas Shizuka, si Lengan Panjang muncul
dengan serangan yang kecepatannya nyaris supranatural, ujung pedangnya berhasil
menemukan jalan untuk mencapai tenggorokan bandit itu.
Para bandit yang ada di depan segera berbalik dan lari, sedangkan yang ada di belakang
rombongan langsung kabur. Shizuka berhasil menangkap tali kekang Raku dan
menenangkannya.
Si Lengan Panjang membantu Kaede berdiri. "Jangan takut, Lady Otori," berkata
dengan aksen kasar, aroma kuat minyak jelantah tercium dari napasnya. "Mereka hanya
perampok."
Hanya perampok, pikir Kaede. Mereka langsung mati dan begitu banyak darah. Perampok,
mungkin saja, tapi siapa yang membayar mereka?
Para pengawal memungut senjata para bandit, lalu melempar mayat-mayat itu ke semak
belukar. Mustahil rasanya mengatakan kalau para pengawal telah mengantisipasi serangan
tadi. Kini mereka menjadi lebih hormat pada si Lengan Panjang karena terkesan pada
kesigapan dan juga keahlian bertarungnya. Para pengawal bertindak seakan-akan kejadian
tadi tidak istimewa, hanya selingan yang menghiasi perjalanan. Satu atau dua dari mereka
melontarkan lelucon bahwa para bandit itu menginginkan Shizuka sebagai isteri, dan
Shizuka juga membalasnya dengan gurauan, sambil menambahkan kalau hutan ini penuh
dengan orang yang putus asa, tapi para bandit lebih berpeluang mendapatkan dirinya
ketimbang mereka.
"Tak kusangka dia yang melindungimu," kata Kaede. "Semula, aku justru berpikir
sebaliknya. Aku curiga dia yang akan membunuhmu dengan kedua tangannya yang besar
itu."
Shizuka tertawa. "Dia itu cerdas dan petarung handal. Memang mudah meremehkan
atau salah menilainya, dan bukan hanya kau yang kaget karena dia. Tadi kau takut?"
Kaede mencoba mengingat-ingat. "Tidak, mungkin karena tidak sempat takut.
Seandainya aku bawa pedang."




22
"Kau memang diberkahi keberanian."
"Tidak benar. Aku sering merasa takut."
"Tak seorang pun bisa menduganya," gumam Shizuka. Ketika mereka akhirnya tiba di
penginapan di kota kecil di perbatasan Shirakawa, Kaede berendam air panas, lalu
beristirahat sambil menunggu hidangan malam. Ia disambut acuh tak acuh di penginapan
ini, dan kota ini membuatnya gelisah. Di sini tampaknya hanya ada sedikit makanan, dan
penduduknya pun nampak tidak bersemangat.
Kaede terluka di bawah pinggang akibat jatuh dan mencemaskan kandungannya. Ia juga
gugup akan pertemuan dengan ayahnya. Percayakah dia bila anaknya telah menikah dengan
Lord Otori? Kaede tidak dapat membayangkan kemarahan ayahnya bila mengetahui yang
sebenarnya.
"Saat ini keberanianku lenyap," Kaede mengakui.
Shizuka berkata, "Akan kupijat kepalamu. Kau nampak letih."
Ketika bersandar dan menikmati sensasi jari-jemari gadis itu di kulit kepalanya, rasa
was-was Kaede kembali memuncak. Ia teringat pembicaraan mereka sebelum diserang para
bandit.
"Kita akan sampai besok," kata Shizuka, merasakan pegangan Kaede. "Perjalanan kita
hampir berakhir."
"Shizuka, jawablah dengan jujur. Apa alasanmu menadampingiku? Apakah kau
memata-mataiku? Siapa yang mempekerjakan Muto sekarang?"
"Tak ada yang mempekerjakan kami saat ini. Keluhan Iida menyebabkan kekacauan di
seluruh Tiga Negara. Arai mengatakan hendak menyapu bersih Tribe. Kita masih belum
tahu apakah dia serius atau akan sadar dan kembali bekerjasama dengan kami. Sementara
itu, pamanku Kenji, yang sangat mengagumi Lady, ingin tetap mengetahui kesejahteraan
lady."
Dan juga anakku, pikir Kaede.
"Kau pewaris salah satu wilayah kekuasaan paling kuat dan kaya di Barat, Maruyama,
sekaligus negerimu Shirakawa. Siapa pun yang menikah denganmu akan memiliki peran
penting dalam menentukan masa depan Tiga Negara. Sekarang ini semua orang
beranggapan kau akan tetap bersekutu dengan Arai sehingga memperkuat posisinya di




23
Barat, sementara dia menyelesaikan masalah dengan Otori: Nasibmu terkait erat dengan
Klan Otori dan Wilayah Tengah."
"Aku tidak akan menikahi siapa pun," kata Kaede, setengah berkata pada dirinya
sendiri. Dan bila begitu keadaannya, ia berpikir, kenapa bukan aku saja yang berperan sebagai
pemain kunci?*




24
TIGA
SUARA-SUARA di biara Terayama, lonceng tengah malam serta alunan doa para biarawan
sayup-sayup menghilang, saat aku mengikuti dua ketua, Kikuta Kotaro dan Muto Kenji,
menuruni jalan yang sepi, terjal dan berbukit-bukit di sepanjang tepi sungai. Kami berjalan
cepat, sementara deburan air menutupi bunyi langkah kaki kami. Kami tak banyak bicara
dan tidak bertemu seorang pun.
Hari menjelang fajar dan ayam jantan mulai berkokok saat kami tiba di Yamagata.
Jalanan sepi, kendati jam malam tidak lagi berlaku dan pengawal Tohan tidak lagi
mengawasi jalan. Kami mendatangi rumah seorang pedagang yang ada di tengah kota, tak
jauh dari penginapan tempat aku menginap selama Festival of the Dead* yang lalu. Aku
mengenal jalan ini ketika menjelajahi kota di malam hari. Peristiwa yang rasanya sudah lama
terjadi.
Puteri Kenji, Yuki, langsung membukakan gerbang seakan sedang menunggu
kedatangan kami, meskipun kami datang tanpa bersuara sehingga tak ada anjing yang
menyalak. Meskipun dia tidak bicara, tapi aku menangkap rasa ingin tahu dalam tatapan
matanya. Wajah dan matanya memancarkan semangat hidup, tubuh berototnya yang
anggun membuatku teringat pada kenangan mengerikan di Inuyama, di malam kematian
Shigeru. Aku setengah berharap dapat berjumpa dengannya di Terayama karena dia telah
berjalan siang-malam demi membawa kepala Shigeru ke biara. Begitu banyak yang ingin
aku tanyakan: tentang perjalanannya, tentang pemberontakan di Yamagata, tentang
kejatuhan Tohan. Selagi ayahnya dan ketua Kikuta yang berjalan di depan hendak masuk ke
rumah, aku agak melambatkan langkah agar bisa berjalan berdampingan dengannya ke
serambi. Sebuah lampu yang letaknya rendah menyala di pintu.
Yuki berkata, "Tidak kusangka akan melihatmu dalam keadaan hidup."
"Aku memang tidak berharap untuk hidup." Teringat akan bantuannya, aku




25
menambahkan, "Aku berhutang budi padamu. Tidak mungkin aku dapat membalasnya."
Dia tersenyum, "Saat itu aku justru sedang membayar hutangku sendiri. Kau tak
berhutang apa pun. Aku hanya ingin berteman denganmu."
Kata-kata rasanya kurang kuat untuk menggambarkan perasaan kami saat ini. Dia telah
membawakan pedang Shigeru, Jato, padaku dan membantuku menyelamatkan serta
membalaskan dendam Shigeru: tindakan paling penting dan paling sulit dalam hidupku.
Aku sangat berterima kasih dan juga kagum padanya.
Setelah pergi beberapa saat, dia datang lagi sambil membawa air. Aku mencuci kaki,
seraya mendengarkan pembicaraan kedua ketua berbicara di dalam rumah. Mereka
berencana untuk beristirahat sebentar, sedangkan aku akan melanjutkan perjalanan bersama
Kotaro. Aku menggelengkan kepala, letih. Aku terlalu letih untuk mendengarkan.
"Kemari," kata Yuki, lalu menuntunku ke ruangan tersembunyi yang sesempit tempat
belut, sama seperti tempatku disekap di Inuyama.
"Aku menjadi tawanan lagi?" kataku sambil mengamati ruangan tak berjendela ini.
"Tidak. Ini demi keselamatanmu, agar kau dapat beristirahat sebelum melanjutkan
perjalanan."
"Aku tahu; aku sudah dengar."
"Tentu saja," katanya. "Aku lupa kalau kau dapat mendengar segalanya."
"Terlalu banyak," kataku sambil duduk di lantai yang beralaskan tikar.
"Anugrah memang menyulitkan. Tapi itu lebih baik daripada tidak memilikinya. Akan
kuambilkan makanan dan teh untukmu."
Tidak lama kemudian dia kembali. Aku meneguk teh, namun aku tidak berselera untuk
makan.
"Tidak ada air panas di kamar mandi," katanya. "Maaf."
"Tidak mengapa." Dua kali sudah dia memandikanku. Pertama kali di Yamagata saat
aku belum tahu siapa dia sebenarnya. Dan yang kedua saat di Inuyama, saat aku tak mampu
berjalan. Semua kenangan itu menghampiriku. Tatapannya bertemu tatapanku, dan aku
sadar dia juga memikirkan hal yang sama. Dia lalu memalingkan wajah dan berkata pelan,
"Aku akan memberimu kesempatan untuk tidur."
Setelah meletakkan belati di dekat kasur, aku lalu menyelinap di balik selimut tanpa




26
peduli bila harus membuka pakaian. Aku merasa tak akan bisa bahagia lagi seperti yang
pernah kurasakan saat di desaku, Mino-desa yang kini telah musnah bersama keluargaku.
Aku sadar aku tidak boleh tenggelam dalam masa lalu. Aku telah setuju untuk bergabung
bersama Tribe. Kemampuanku yang paling mereka inginkan, dan hanya bersama Tribe aku
dapat mengembangkan dan mengendalikan anugrah yang kumiliki. ,
Aku teringat pada Kaede yang kubiarkan tertidur di Terayama. Rasa tak berdaya diikuti
dengan kepasrahan melandaku. Aku tak akan bertemu dengannya lagi. Aku harus lupakan
dia. Sementara itu, tanda-tanda kehidupan di kota mulai terdengar. Akhirnya, seiring
cahaya yang semakin terang di balik pintu, aku pun tertidur pulas.
Aku terbangun karena mendengar beberapa orang berkuda di balik dinding rumah.
Cahaya di ruangan ini berubah, seakan matahari melintas di atas atap, tapi aku tidak
mengetahui berapa lama aku tertidur. Seorang laki-laki berteriak lantang dan, balasannya,
seorang perempuan mengeluh, naik pitam. Aku tahu maksud kedatangan mereka. Mereka
adalah anak buah Arai yang mendatangi rumah ke rumah untuk mencariku.
Kudorong selimut lalu meraba-raba belatiku. Saat aku mengambilnya, pintu bergeser
terbuka, dan Kenji masuk perlahan. Dinding palsu disangkutkan di bagian ruangan yang ada
ada di belakangnya. Setelah menatapku sambil mengggeleng-gelengkan kepala, dia lalu
duduk bersila di lantai yang sempit antara kasur dan dinding.
Aku mengenali suara itu—pasukan yang datang ke Terayama bersama Arai. Aku
dengar Yuki berusaha menenangkan si perempuan yang marah, lalu menawarkan minum
kepada para pengawal.
"Kita di pihak yang sama," kata Yuki, tertawa. "Apa kalian pikir jika Otori Takeo di
sini, kami bisa menyembunyikannya?"
Mereka minum dengan cepat lalu pergi. Saat langkah kaki mereka tak terdengar lagi,
Kenji mendengus dan menatapku dengan tatapan menghina. "Tak seorang pun bisa
berpura-pura tidak mendengar keberadaanmu di Yamagata," katanya, "Kematian Shigeru
telah menjadikan dia seperti dewa; dan Iida telah mengubahmu menjadi pahlawan. Itulah
cerita yang sedang digemari." Dia mendengus kemudian menambahkan, "Jangan berbesar
kepala dulu. Ini justru sangat mengganggu. Kini Arai semakin meningkatkan pencarian. Dia
menganggap kepergianmu sebagai penghinaan. Untung saja wajahmu belum terkenal di sini,




27
tapi kau harus tetap menyamar." Dia mengamati sosokku, mengerutkan dahi. "Wajah
Otorimu itu... kau harus menyembunyikannya."
Ucapannya disela oleh suara di luar, saat dinding diangkat. Kikuta Kotaro datang
bersama Akio, salah seorang yang menculikku di Inuyama. Yuki melangkah dari belakang
mereka, membawa teh.
Ketua Kikuta mengangguk saat aku membungkuk hormat kepadanya. "Akio baru
datang dari kota, dia membawa beberapa kabar."
Akio berlutut di depan Kenji, dan mengangkat kepala sedikit padaku. Aku menanggapi
dengan cara yang sama. Sewaktu dia dan anggota Tribe lainnya menculikku di Inuyama,
mereka berusaha menangkapku tanpa melukai. Sedangkan aku berkelahi dengan sungguhsungguh.
Aku benar-benar ingin membunuhnya. Aku bahkan berhasil melukai tangan
kirinya yang kini hampir sembuh. Kami jarang bicara sebelumnya—dia telah mencaci-maki
diriku karena bersikap kurang sopan dan menuduhku melanggar semua aturan Tribe. Hanya
ada sedikit niat baik di antara kami. Saat tatapan kami bertemu, dapat kurasakan
kebenciannya yang mendalam.
"Sepertinya Arai murka karena orang ini pergi tanpa ijin dan juga karena menolak
pernikahan yang dia inginkan. Arai telah memberi perintah untuk menangkap anak ini, dan
dia berniat memeriksa semua kelompok yang diketahui sebagai Tribe, yang dia anggap telah
melanggar aturan dan menyimpang." Akio lalu membungkuk lagi ke Kotaro dan berkata
kaku, "Maafkan aku, tapi aku tak tahu nama yang cocok untuk orang ini."
Kotaro mengangguk dan mengusap-usap dagu, tanpa berkata-kata. Kami pernah
membicarakan tentang namaku dan dia memutuskan aku tetap menggunakan nama Takeo,
meskipun itu bukan nama Tribe. Apakah kini aku harus memakai nama keluarga Kikuta?
Dan apa nama pemberianku nantinya? Aku tak ingin melepas nama Takeo, nama
pemberian Lord Shigeru, tapi jika aku bukan lagi seorang Otori, apa hakku memakai nama
itu?
Arai menawarkan hadiah bagi orang yang bisa memberih keterangan," kata Yuki sambil
meletakkan mangkuk teh di depan kami.
"Tak seorang pun di Yamagata yang bersedia memberi keterangan," kata Akio. "Mereka
akan berurusan dengan kita jika melakukannya!"




28
"Itulah yang kutakutkan," ujar Kotaro pada Kenji. "Arai tak pernah berurusan dengan
kita, dan kini dia takut pada kekuatan kita."
"Perlukah kita membunuhnya?" kata Akio tidak sabar. "Kita…."
Kotaro membuat gerakan tangan, dan pemuda itu membungkuk kembali, diam.
"Wilayah ini menjadi kacau setelah kematian Iida. Jika Arai juga dibunuh, kekacauan
macam apa yang akan jerjadi?"
Kenji berkata, "Aku tidak melihat Arai sebagai bahaya besar. Ancaman dan gertakan
mungkin, namun lebih dari itu masih perlu waktu lama. Karena sekarang situasi sudah
berubah, dialah harapan kita satu-satunya untuk dapat mewujudkan perdamaian." Dia
menatapku sekilas. "Itu yang kita inginkan. Kita perlu keteraturan agar pekerjaan kita
lancar."
"Arai akan ke Inuyama dan menetapkan kota itu sebagai ibukota," kata Yuki. "Akan
lebih mudah bertahan di sana ketimbang di Kumamoto. Arai mengklaim seluruh Wilayah
kekuasaan Iida menjadi miliknya sesuai aturan penaklukan."
"Uhh," Kotaro menggerutu. Dia berpaling padaku. "Aku punya rencana, kau akan
kembali ke Inuyama bersamaku. Aku ada urusan di sana dalam beberapa minggu lagi, dan
kau akan memulai latihanmu di sana. Namun untuk sementara waktu kau di sini. Setelah itu
kami akan membawamu ke selatan, jauh dari Wilayah Tengah, ke salah satu rumah Kikuta,
di mana tak seorang pun pernah mendengar nama Otori Takeo. Di situlah kau akan
memulai hidup baru. Kau bisa juggle*?"
Aku menggeleng.
"Masih ada waktu seminggu untuk mempelajarinya. Akio yang akan mengajarimu. Yuki
dan beberapa pemain juggle akan menemanimu. Kita akan bertemu di Matsue."
Aku mengangguk tanpa bicara. Aku melihat dari bawah bulu mata ke arah Akio. Dia
sedang menatap ke bawah, merengut, garis wajah semakin dalam di antara kedua matanya.
Usianya hanya berbeda tiga atau empat tahun dariku, tapi saat ini sulit melihat seperti apa
dia kelak ketika tua. Jadi, dia pemain juggle. Aku menyesal telah melukai tangan pemain
juggle yang trampil, tapi kurasa tindakanku beralasan.
Kotaro lalu berkata, "Kenji, hubunganmu dengan Lord Shigeru telah melibatkan dirimu
dalam urusan ini. Terlalu banyak orang yang tahu bahwa ini adalah rumahmu. Arai pasti




29
akan menangkapmu bila kau tetap di sini."
"Aku akan menyepi di gunung untuk sementara," balas Kenji. "Mengunjungi para tetua,
dan menghabiskan waktu bersama anak-anakku." Dia tersenyum, terlihat seperti guru tua
yang tidak berbahaya.
"Maaf, tapi orang ini akan dipanggil apa?"
"Dia boleh meminjam nama pemain juggle untuk sementara," kata Kotaro. "Sedangkan
nama Tribenya tergantung pada...."
Ada suatu maksud di balik ucapannya yang tak aku mengerti, namun Akio nampak
sangat mengerti. "Ayahnya telah mengundurkan diri dari Tribe!" Dia meledak. "Dia
berpaling dari kita."
"Tapi anaknya telah kembali dengan membawa semua bakat Kikuta," balas sang Ketua.
"Tapi karena kau lebih senior darinya, maka Takeo harus patuh dan belajar darimu."
Akio tersenyum. Kurasa dia tahu betapa beratnya hal itu bagiku. Wajah Kenji
menunjukkan kesedihan, seakan-akan dia meramalkan akan datangnya masalah.
"Akio memiliki banyak keahlian," Kotaro melanjutkan. "Kau harus menguasai semua
keahlian itu." Dia menunggu persetujuanku, kemudian menyuruh Akio dan Yuki pergi.
Tapi sebelum pergi Yuki mengisi kembali mangkuk teh, dan dua laki-laki tua meneguknya
dengan gaduh. Dapat kucium bau masakan. Rasanya seperti sudah berhari-hari aku tidak
makan. Sungguh menyesal aku menolak tawaran makan dari Yuki semalam; saat ini aku
hampir pingsan karena kelaparan.
Kotaro berkata, "Aku sepupu ayahmu. Ayahmu lebih tua dariku, dan seharusnya dialah
yang menjadi ketua saat kakek kami meninggal. Akio adalah keponakan dan pewarisku.
Tapi, kepulanganmu menimbulkan pertanyaan tentang pewaris dan kedudukan yang
tertinggi. Bagaimana kami menangani masalah itu sangat tergantung pada perilakumu
dalam beberapa bulan ke depan."
Agak lama aku mencerna maksud ucapannya. "Akio besar bersama Tribe," kataku
lambat. "Dia tahu semua yang aku belum tahu. Pasti banyak orang semacam Akio di sini.
Aku tak ingin mengambil posisinya atau posisi siapa pun juga."
"Memang ada banyak," jawab Kotaro, "dan semuanya patuh, terlatih dengan lebih baik
dan lebih layak ketimbang dirimu. Tapi tak seorang pun memiliki pendengaran Kikuta




30
seperti yang kau miliki, dan tak seorang pun mampu menyusup seorang diri ke dalam kastil
Yamagata selain dirimu."
Peristiwa di Yamagata rasanya seperti dongeng. Aku hampir tidak ingat dorongan hati
yang mendesakku untuk memanjat kastil dan, melalui kematian, membebaskan tiga orang
Hidden yang terkurung dalam keranjang yang digantung di dinding kastil; itulah pertama
kalinya aku membunuh. Aku berharap tidak melakukan itu jika aku tidak menarik perhatian
Tribe dengan memanjat kastil, mungkin mereka tak akan mengambilku sebelum... sebelum...
aku menggelengkan kepala. Tak ada gunanya lagi terus mencoba mengurai benang
yang menjalin kematian Shigeru.
"Kini aku telah mengatakannya," Kotaro meneruskan ucapannya. "Kau harus tahu, aku
tak bisa memperlakukan dirimu berbeda dari pemuda lain. Aku tak boleh punya murid
kesayangan. Semua kemampuanmu akan sia-sia bagi kami kecuali bila kau patuh. Tak perlu
rasanya mengingatkan lagi bahwa kau telah berjanji untuk patuh. Kau harus tetap di sini
selama seminggu. Kau tak boleh keluar atau membiarkan orang lain tahu keberadaanmu di
sini. Dalam seminggu kau harus berhasil menjadi pemain juggle. Aku akan menjumpaimu di
Matsue sebelum musim dingin. Sekarang tergantung padamu."
"Entah kapan kita bisa bertemu lagi," kata Kenji sambil menatapku dengan wajah
antara sayang dan gusar seperti yang biasa dia lakukan. "Tugasku padamu telah selesai." dia
melanjutkan. "Aku telah menemukan, mengajari, dan menjagamu agar tetap hidup dengan
segala cara dan membawamu ke Tribe. Akio akan mengajar jauh lebih keras dariku." Dia
menyeringai, menunjukkan celah-celah di antara giginya. "Tapi, Yuki akan menjagamu."
Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat pipiku merona. Aku dan Yuki tak ada
hubungan apa-apa, bersentuhan pun tidak pernah. Namun ada sesuatu di antara kami, dan
Kenji tahu itu.
Kedua tetua menyeringai saat mereka berdiri, lalu memelukku. Kenji menepuk-nepuk
kepalaku. "Lakukan sesuai perintah," katanya. "Dan belajarlah juggle."
Aku berharap dapat berbicara berdua dengan Kenji, masih banyak urusan yang belum
terselesaikan di antara kami. Meskipun, mungkin lebih baik dia mengucapkan selamat
tinggal seolah-olah dia seorang guru baik hati yang pernah aku kenal.
Setelah mereka pergi, kamar terasa lebih suram, lebih pengap dan lebih sesak. Aku




31
mendengar suara-suara kepergian mereka. Mereka tidak terbiasa melakukan persiapan yang
teliti, atau mengucapan selamat jalan seperti yang dilakukan sebagian besar pengelana. Kenji
dan Kotaro keluar, menenteng keperluan selama perjalanan—sebungkus kain, sepasang
sandal, dan sedikit kue mochi* bercitarasa buah plum asin. Aku membayangkan perjalanan
yang mereka lalui, setapak demi setapak hingga melewati Tiga Negara. Mereka akan
mengikuti jaringan luas Tribe yang melingkar dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke
kota lain. Kemana pun mereka pergi, selalu ada kerabat tempat menginap atau tempat
berlindung.
Aku dengar Yuki berkata hendak mengantar mereka hingga jembatan, dan mendengar
perempuan yang tadi marah pada para pengawal, membalas.
"Jaga diri kalian," perempuan itu berteriak. Langkah kaki mereka sayup-sayup
menghilang.
Ruangan kini bahkan terasa lebih menekan dan lebih sunyi. Tak dapat kubayangkan
aku akan terkurung di ruangan ini selama seminggu. Nyaris tidak sadar apa yang sedang
kulakukan, aku pun merencanakan untuk keluar.
Bukan melarikan diri. Aku hanya ingin keluar sebentar. Selain karena ingin melihatlihat
lagi Yamagata di malam hari, aku juga ingin tahu apakah aku bisa keluar dari tempat
ini.
Tak lama kemudian aku mendengar ada yang mendekat. Pintu bergeser terbuka dan
seorang perempuan melangkah masuk. Dia membawa nampan berisi makanan: nasi, acar,
sepotong ikan kering, semangkuk sup. Dia duduk berlutut, meletakkan nampan di lantai.
"Makanlah, kau pasti lapar."
Aku memang kelaparan, dan aku menyantap hidangan layaknya Serigala. Dia duduk
dan memandangi aku makan.
"Jadi, kaulah orang yang membuat suamiku yang malang itu terjebak banyak masalah,"
dia berkata saat aku menjilati mangkuk.
Isteri Kenji. Aku menatapnya, dan tatapan kami pun bertemu. Wajahnya halus dan
sepucat Kenji. Rambutnya tebal dan hitam, dengan beberapa uban menghiasi ubunubunnya.
Tubuhnya padat berisi, tipikal perempuan kota dengan tangan yang tangkas, dan
jari-jari yang pendek. Satu hal yang kuingat dari cerita Kenji tentang isterinya yaitu dia




32
seorang ahli masak, dan ternyata masakannya memang sungguh lezat.
Aku memuji masakannya, dan saat senyum bergerak dari bibir ke matanya, segera aku
tahu kalau dia adalah ibunya Yuki. Mata mereka mirip dan di saat tersenyum, raut wajah
mereka pun serupa.
"Siapa menyangka kau akan muncul setelah sekian lama," dia melanjutkan, terdengar
ceriwis dan keibuan. "Aku mengenal Isamu, ayahmu, dengan baik. Dan tak seorang pun
tahu keberadaanmu sampai terbunuhnya Shintaro. Bayangkan, kau telah membodohi
pembunuh paling berbahaya di Tiga Negara! Keluarga Kikuta senang sekali mengetahui
Isamu mempunyai anak. Kami semua senang. Apalagi dengan bakat yang serupa pula!"
Aku tidak menjawab. Sepertinya dia perempuan tua yang tidak berbahaya—namun
Kenji pun seperti laki-laki tua tidak berbahaya. Samar-samar diriku menggemakan rasa
tidak percaya seperti yang pernah kurasakan saat pertama kali berjumpa dengan Kenji di
Hagi. Aku mencoba mengamatinya tanpa mencolok, dan dia menatapku terbuka. Dia
seperti menantangku, tapi aku tidak berniat untuk menanggapi hingga aku tahu lebih
banyak tentang dia dan juga kemampuannya.
"Siapa yang membunuh ayahku?" aku bertanya.
"Tidak ada yang tahu. Kejadian itu terjadi bertahun-tahun sebelum kami tahu secara
pasti bahwa dia sudah mati. Dia ditemukan di desa terpencil, desa tempat dia mengasingkan
diri."
"Apakah pembunuhnya berasal dari Tribe?"
Dia tertawa mendengar itu, sedangkan aku langsung marah. "Kenji mengatakan bahwa
kau tidak mempercayai seorang pun. Sikapmu memang benar, tapi kau bisa
mempercayaiku."
"Ya, seperti aku mempercayai suamimu," kataku menyindir.
"Rencana Shigeru bisa membuatmu terbunuh," dia berkata lembut. "Penting bagi
Kikuta, bagi seluruh Tribe, agar kau tetap hidup. Akhir-akhir ini jarang sekali ada orang
yang memiliki bakat sepertimu."
Aku menggerutu, mencoba mencari-cari maksud tersembunyi di balik pujiannya. Dia
menuangkan teh, dan aku meminumnya hanya dalam sekali teguk. Kepalaku terasa nyeri
karena ruangan yang sesak ini.




33
"Kau tegang," dia berkata seraya mengambil mangkuk dari tanganku, meletakkannya di
nampan. Dia menggeser nampan ke samping, dan menghampiriku. Sambil berlutut di
belakangku, dia mulai memijat leher dan bahuku. Jarinya begitu kuat, liat dan sensitif. Saat
memijat punggungku, dia berkata, "Tutup matamu", lalu dia memijat kepalaku. Sensasi
pijatannya sungguh luar biasa. Aku hampir mengerang keras. Tangannya seperti memiliki
kehidupan sendiri. Kupasrahkan kepalaku pada jari perempuan itu, merasakan seakan
kepalaku lepas dari leherku.
Lalu aku mendengar pintu bergeser. Mataku tersentak membuka. Aku masih dapat
merasakan jemarinya di ubun-ubunku, tapi ternyata aku kini sendirian di ruangan. Isteri
Kenji mungkin nampak tidak berbahaya, tapi kekuatannya mungkin sama hebatnya seperti
suami atau anaknya.
Dia juga juga telah membawa pergi belatiku.
Aku diberi nama Minoru, tapi jarang sekali aku dipanggil dengan nama itu. Ketika kami
berdua, terkadang Yuki memanggilku Takeo, membiarkan kata itu keluar dari bibirnya
seolah-olah dia memberi dirinya sebuah hadiah. Akio hanya memanggilku 'kau' dengan
nada memanggil seorang bawahan. Dia berhak melakukan itu. Kedudukannya di atasku
dalam usia, latihan, dan pengetahuan, dan aku diperintahkan untuk patuh padanya. Tapi,
situasi ini membuatku kesal; mungkin aku sudah terbiasa diperlakukan dengan penuh
hormat sebagai bangsawan Otori dan pewaris Shigeru.
Latihanku dimulai sore itu juga. Di saat itulah kusadari kalau otot-otot tanganku sangat
nyeri. Pergelangan tangan kananku masih lemah akibat bertarung dengan Akio dulu. Di
penghujung hari, denyut-denyut kesakitan kembali menghampiri. Kami mengawali latihan
untuk membuat jariku tangkas dan luwes. Bahkan dengan tangan yang luka Akio masih jauh
lebih gesit dariku. Kami duduk berhadapan dan berkali-kali dia memukul tanganku sebelum
aku sempat gerakkan.
Gerakannya begitu cepat; sungguh tak bisa dipercaya kalau aku tidak mampu melihat
gerakannya. Pukulan pertama tidak lebih dari tepukan ringan, namun saat sore berganti
malam dan dia kian letih dan putus asa karena kelambananku, dia mulai bersungguhsungguh
memukul.




34
Yuki, yang datang bergabung, berkata pelan, "Bila kau lukai tangannya, maka latihan
akan semakin lama."
"Mungkin aku harus melukai kepalanya," gerutu Akio, dan berikutnya, sebelum aku
sempat mengelak, dia sudah menangkap kedua tanganku dengan tangan kanannya, lalu dia
gunakan tangan kiri untuk memukul pipiku. Pukulannya cukup kuat untuk membuat
mataku berair.
"Kau tidak begitu berani tanpa belati," dia melepaskan tanganku dan bersiap-siap lagi.
Yuki hanya diam. Kemarahanku membara. Aku, yang masih menganggap diriku
bangsawan Otori, merasa terhina karena dipukul olehnya. Pengapnya ruangan, ejekan,
ketidakacuhan Yuki, semuanya membuatku hilang kendali. Sekali lagi Akio melakukan
gerakan yang sama dengan tangan yang berbeda. Pukulannya bahkan lebih keras, membuat
kepalaku tersentak ke belakang, penglihatanku gelap, kemudian merah. Saat itulah
kemarahanku meluap, seperti kemarahanku pada Kenji, lalu aku terjang dia.
Rasanya sudah bertahun-tahun sejak umurku tujuh belas tahun, sejak kemarahan
menguasai dan membuatku hilang kendali diri. Tapi aku masih ingat perasaanku itu keluar
dari dalam diriku, seolah-olah sisi hewanku keluar, dan kemudian aku tak ingat apa yang
terjadi setelah itu, yang ada hanyalah perasaan membabi-buta tanpa memperdulikan akan
hidup atau mati, hanya penolakan atas paksaan atau hinaan itu.
Aku tiba-tiba sadar kalau telah mencekik tenggorokan Akio, mereka berdua akhirnya
dapat menahanku dengan mudah. Yuki melakukan tipuan menekan leherku, dan saat aku
limbung, dia pukul perutku begitu kuatnya sehingga aku terjungkal, muntah-muntah. Akio
menyelip dari samping dan memelintir lenganku ke punggung.
"Itu yang harus kau kendalikan," kata Yuki tenang. Akio lalu melepas tanganku dan
duduk berlutut dalam siaga. "Mari kita mulai lagi."
"Jangan pukul wajahku," kataku.
"Yuki benar, lebih baik tidak melukai tanganmu," dia menjawab. "Kalau begitu, lebih
cepatlah."
Aku berjanji dalam hati untuk tidak membiarkan Akio memukuliku lagi. Berikutnya,
meskipun belum berhasil memukulnya, tapi aku bisa mengelak sebelum dia sempat
menyentuhku. Dengan mengamatinya, aku mulai mengenali gerakannya. Akhirnya aku bisa




35
menyentuh permukaan jarinya. Dia tak berkata apa-apa, dia hanya menggangguk-angguk
seakan-akan puas, lalu kami lanjutkan latihan dengan permainan juggle.
Waktu pun berjalan: melempar bola dari satu telapak tangan ke telapak tangan lainnya.
Di akhir hari kedua, aku sudah bisa memainkan tiga bola. Di akhir hari ketiga aku sudah
dapat memainkan empat bola. Akio kadang-kadang berusaha menangkap dan menampar
saat aku lengah, tapi umumnya aku berhasil menghindar, dalam kelitan tarian apik di antara
bola-bola dan tanganku.
Di akhir hari keempat, saat sedang menatap bola-bola dari balik bulu mataku, aku
merasa bosan dan gelisah yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Beberapa orang,
kurasa Akio salah satunya, berlatih dengan keras karena mereka terobsesi untuk menguasai
semua keahlian itu. Aku segera sadar kalau aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak
melihat pentingnya bermain juggle. Aku tidak tertarik. Aku pelajari itu karena alasan yang
buruk-karena aku akan dipukul bila tidak melakukannya. Aku mengikuti cara mengajar
Akio yang kejam karena keharusan, tapi aku membenci latihan ini dan aku juga membenci
dia. Lebih dari dua kali dorongannya membuat aku marah, tapi ketika hendak kubalas, dia
dan Yuki yang telah waspada dapat menahanku sebelum ada yang terluka.
Di malam keempat, saat semua orang telah tidur, aku memutuskan untuk keluar. Aku
jenuh, aku tidak bisa tidur, aku ingin menghirup udara segar dan untuk melihat apakah aku
bisa keluar tanpa diketahui. Agar kepatuhanku pada Tribe masuk akal, aku harus mencari
tahu apakah aku dapat bersikap tidak patuh. Kepatuhan yang dipaksakan sama tidak
pentingnya seperti permainan juggle. Mereka mengikatku siang dan malam seperti anjing,
dan memaksaku menggeram dan menggigit sesuai perintah.
Aku tahu denah rumah ini. Aku telah memetakannya saat tidak ada pekerjaan lain
selain mendengar. Aku tahu di mana orang-orang tidur. Yuki dan ibunya tidur di kamar
belakang bersama dua perempuan yang belum pernah kulihat, meskipun aku sering
mendengar suara mereka. Seorang bekerja di toko dan sering bersendau-gurau dengan
pelanggan. Yuki memanggilnya 'bibi'. Sedangkan yang seorang lagi tak lebih dari pelayan.
Dia membersihkan rumah dan memasak, selalu bangun paling awal di pagi hari dan tidur
paling terakhir di malam hari. Dia tidak banyak bicara, nada bicaranya rendah dengan aksen
utara. Dia bernama Sadako. Semua orang senang mengolok-olok dan memanfaatkannya;




36
balasannya selalu dengan suara lembut dan penuh hormat. Aku merasa akrab dengan kedua
perempuan ini, meskipun aku belum pernah bertatap muka dengan mereka.
Akio dan tiga orang laki-laki tidur di loteng yang terletak di atas toko. Setiap malam
mereka bergantian bergabung dengan penjaga di belakang rumah. Akio telah berjaga di
malam sebelumnya dan itu membuatku menderita, seakan kesulitan tidurku menambah
kepedihan dari ejekan orang itu. Sebelum si pelayan pergi tidur, saat lampu masih menyala,
aku mendengar seorang laki-laki membantunya menutup pintu dan jendela, serta bunyi
gedebuk keras panel kayu saat digeser yang selalu diiringi gonggongan anjing.
Ada tiga ekor anjing di rumah ini, masing-masing memiliki gonggongan yang berbeda.
Orang yang sama selalu memberi makan anjing-anjing itu setiap malam, bersiul dengan cara
tertentu yang sering aku tiru saat sedang sendiri, merasa bersyukur bahwa tak seorang pun
memiliki pendengaran Kikuta.
Pintu depan rumah selalu dipalang di malam hari, dan pintu belakang selalu dijaga,
hanya satu pintu kecil yang dibiarkan tanpa dipalang. Pintu itu mengarah ke lahan sempit
antara rumah dan dinding luar, dan di ujungnya ada kamar kecil. Aku pernah ditemani ke
situ tiga atau empat kali sehari. Aku pun pernah berada di halaman luar beberapa kali
setelah hari gelap, untuk mandi di pancuran kecil yang ada di halaman belakang. Meskipun
begitu, keberadaanku tetap disembunyikan, tindakan itu, seperti yang Yuki dikatakan, demi
keselamatan diriku. Sejauh yang dapat kukatakan, tak seorang pun menganggap aku akan
berusaha melarikan diri: Aku tidak dijaga.
Aku berbaring, sambil mendengarkan suara-suara di rumah ini. Aku mendengar napas
perempuan di ruangan bawah, laki-laki di loteng. Di balik dinding luar, kota perlahan-lahan
mulai sepi. Aku telah berada dalam satu keadaan yang kukenal. Aku tidak bisa
menjelaskannya, namun keadaan ini sudah menyatu dengan diriku. Aku tidak merasa takut
atau pun senang. Otakku mati. Aku hanya dipenuhi insting, insting, dan telinga. Waktu
berjalan lambat. Tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuka pintu di
kamar yang tersembunyi ini. Aku tahu kalau aku akan melakukannya, dan aku akan
melakukannya tanpa bersuara. Aku akan mencapai gerbang tanpa diketahui.
Saat berdiri di pintu luar dengan waspada pada setiap bunyi yang ada di sekitarku, aku
mendengar langkah kaki. Isteri Kenji bangun, lalu menyeberangi kamar tidurnya dan




37
berjalan ke ruangan tersembunyi. Pintu terbuka, beberapa saat berlalu. Dia keluar ruangan
membawa lampu, berjalan cepat ke arahku tanpa bersikap cemas. Segera saja aku berpikir
untuk menghilangkan diri, namun aku tahu itu tak berguna. Dia hampir pasti bisa
melihatku, dan jika dia tak bisa melihatku, dia akan membangunkan seluruh penghuni
rumah begitu melihat aku tidak ada.
Tanpa bicara aku memiringkan kepala ke pintu yang mengarah ke kamar kecil dan
berjalan kembali ke kamar tersembunyiku. Saat melewatinya, aku sadar kalau dia sedang
memandangku. Dia tidak bicara, hanya mengangguk, namun kurasa dia tahu aku hendak
keluar.
Ruangan kamarku terasa lebih sesak dari sebelumnya. Tidur pun tampaknya mustahil
saat ini. Aku masih dirasuki insting gelapku. Aku berusaha mencari-cari deru napas
perempuan itu, namun tetap tak terdengar. Akhirnya aku yakinkan diri bahwa dia sudah
tidur. Aku bangun, dan dengan perlahan aku membuka pintu, lalu melangkah keluar.
Lampu masih menyala. Isteri Kenji duduk di dekat lampu itu. Matanya terpejam, tapi
kemudian dia membuka mata dan menatapku yang sedang berdiri di depannya. "Kau ingin
ke kamar kecil lagi?" dia bertanya dengan santai.
"Aku tidak bisa tidur."
"Duduklah. Akan kubuatkan teh." Dia langsung berdiri tegak dalam satu gerakanterlepas
dari usia dan ukuran tubuhnya, gerakannya seluwes seorang gadis. Dia menyentuh
bahuku dan mendorongku lembut agar duduk di tikar.
"Jangan berusaha kabur!" Dia memperingatkan, nada mengolok-olok terdengar dalam
suaranya.
Aku lalu duduk dengan pikiran yang masih dipenuhi keinginan untuk keluar. Aku
mendengar desis ketel saat dia meniup bara api, lalu terdengar dentingan besi dan tembikar.
Dia datang lagi membawa teh, dan memberiku semangkuk, sedangkan aku mencondongkan
badan untuk menerimanya. Cahaya lampu bersinar di antara kami. Saat mengambil
mangkuk, kutatap dia, melihat rasa senang dan ejekan di matanya. Kurasa dia tidak
bersungguh-sungguh memujiku sebelumnya: dia tidak mempercayai kemampuanku. Sesaat
kemudian kelopak matanya terpejam. Aku menjatuhkan mangkuk untuk menangkap
tubuhnya yang terhuyung-huyung. Aku letakkan dia di atas tikar. Dia tertidur pulas. Dalam




38
cahaya lampu, tumpahan teh menguap.
Seharusnya aku takut, tapi ternyata tidak. Aku hanya merasa kepuasan dingin yang
dibawa oleh kemampuan Tribe itu. Tak pernah terlintas bila aku dapat melakukan itu pada
isteri ketua Muto. Aku lega karena kini tak ada lagi yang dapat menghentikanku untuk
pergi.
Ketika menyelinap melalui pintu samping menuju halaman, aku mendengar anjinganjing
bergerak. Aku bersiul dalam nada tinggi dan pelan sehingga hanya anjing dan aku
yang bisa mendengarnya. Seekor anjing muncul untuk memeriksaku, ekornya berkibaskibas.
Seperti anjing lainnya, anjing ini juga suka kepadaku. Aku menjulurkan tangan.
Anjing itu menyandarkan kepala ke tanganku. Meskipun bukan bulan purnama, tapi cukup
memberiku cahaya untuk menatap mata anjing itu yang berwarna kuning. Kami saling
menatap selama beberapa saat sebelum anjing itu menguap, menunjukkan gigi putihnya
yang besar, berbaring di kakiku dan terlelap.
Terlintas pikiran di benakku, anjing hanyalah hewan, isteri ketua Muto adalah makhluk
yang berbeda, namun aku memilih untuk mengabaikan pikiran itu. Aku berjongkok dan
mengelus-elus kepala anjing itu beberapa kali, selagi aku menatap dinding.
Aku tidak memiliki senjata maupun peralatan lainnya. Atap dinding berukuran luas dan
sangat tinggi sehingga tanpa bantuan pengait besi rasanya mustahil menambatkan tanganku.
Akhirnya aku memanjat ke atap rumah mandi lalu meloncat melintasinya. Aku
menghilangkan tubuh'Wili, merayap sepanjang bagian atas dinding menjauhi pintu
belakang dan para penjaga, lalu menjatuhkan diri di jalantidak jauh dari persimpangan. Aku
berdiri bersandar di dinding beberapa saat sambil mendengarkan. Aku hanya mendengar
penjaga bergumam. Anjing tidak menggonggong dan seluruh kota tampaknya telah tidur.
Seperti yang pernah kulakukan saat memanjat kastil Yamagata, aku berjalan dari satu
jalan ke jalan lain dengan gerakan yang zig-zag ke arah sungai. Pepohonan willow berdiri
dengan latar belakang bulan. Rantingnya bergerak lembut dalam belaia angin musim gugur,
daunnya telah menguning, satu atau dua jatuh mengapung di sungai.
Aku meringkuk di bawah naungan pepohonan ini. Aku tidak tahu siapa yang
mengendalikan kota ini sekarang: Pemimpin kastil ini yang pernah dikunjungi Shigeru, yang
juga sekutu Iida, telah digulingkan bersama Tohan waktu penduduk kota bangkit ketika




39
mendengar berita kematian Shigeru. Tapi mungkin Arai telah menempatkan gubernur
pengganti di wilayah ini. Aku tak mendengar suara-suara penjaga berpatroli. Aku menatap
bangunan kastil, tidak mampu melihat apakah kepala orang Hidden yang telah aku
bebaskan dari siksaan, melalui kematian, sudah dipindah atau belum. Aku hampir-hampir
tak mempercayai ingatanku: Peristiwa itu terasa seperti mimpi atau seakan aku mendengar
cerita bahwa orang lain yang melakukannya.
Saat mendengar langkah kaki yang mendekat ke tepi sungai, aku terkenang peristiwa di
malam itu dan bagaimana aku berenang di sungai: tanah ini lembut juga lembab sehingga
langkah kaki akan teredam, tapi siapa pun orang itu, pasti jaraknya cukup dekat. Aku
seharusnya segera pergi, tapi aku ingin tahu siapa yang datang ke sungai di malam seperti
ini.
Orang itu ternyata laki-laki bertubuh pendek dan sangat kurus: di malam yang gelap ini
aku tidak bisa melihat lebih jelas lagi. Dia melihat ke sekelilingnya secara sembunyisembunyi,
lalu berlutut di tepi sungai, seperti sedang berdoa. Angin menerpa sungai,
membawa aroma tajam air dan lumpur, dan juga bau orang itu.
Baunya tercium akrab. Aku menghirup udara seperti anjing, mencoba menerka siapa
orang itu. Setelah beberapa waktu, aku mengenali aroma itu: bau penyamak. Orang ini pasti
pekerja kulit, seorang gelandangan. Aku lalu menyadari siapa orang itu: dialah orang yang
pernah berbicara padaku setelah aku memanjat ke dalam kastil. Saudara laki-lakinya adalah
salah satu orang Hidden yang disiksa, yang kubebaskan melalui kematian. Saat itu aku
meninggalkan sosok keduaku di tepi sungai, dan orang ini mengira telah melihat malaikat
sehingga menyebarkan rumor tentang malaikat Yamagata. Aku dapat menduga alasan dia
berdoa di sana. Dia pasti berharap bisa bertemu malaikat itu lagi.
Aku merasakan sesuatu yang lain, rasa pedih dan menyesal karena hilangnya
kehidupanku di masa kecil, atas kata-kata dan ritual yang dulu pernah membuatku merasa
tentram, yang tampak seabadi pergantian musim dan lintasan bulan serta bintang di langit.
Aku telah direnggut dari hidupku di antara kaum Hidden saat Lord Shigeru
menyelamatkanku di Mino. Sejak itu aku menyembunyikan asal-usulku, tak pernah
membicarakannya pada orang lain, tidak pernah berdoa secara terang-terangan. Tapi
terkadang di malam hari aku berdoa menurut keyakinan dari tempatku tumbuh besar, pada




40
Tuhan rahasia yang disembah ibuku, dan saat ini aku rindu untuk mendekati laki-laki ini
dan berbicara padanya.
Sebagai bangsawan Otori, bahkan sebagai anggota Tribe, aku seharusnya menghindari
pekerja kulit karena membantai hewan dianggap tidak bersih, tapi kaum Hidden yakin
manusia diciptakan sama, dan begitu pula yang ibuku ajarkan. Tetap saja, sisa-sisa
kewaspadaan menahanku keluar dari bawah pepohonan willow, meskipun saat mendengar
bisikan doanya, tanpa sadar aku mengulangi kata-katanya.
Aku tidak ingin mengganggunya seandainya aku tidak mendengar beberapa orang
mendekati jembatan. Patroli. Mungkin mereka pengawal Arai, meskipun aku tak tahu
secara pasti. Mereka berhenti di atas jembatan dan memandang ke bawah, ke sungai.
"Itu si sinting," seseorang berkata. "Sungguh memuakkan harus melihatnya di sana
setiap malam." Aksen orang itu terdengar seperti penduduk setempat, tapi laki-laki yang di
sebelahnya memiliki aksen Wilayah Barat.
"Pukul saja, nanti juga dia tidak akan datang lagi."
"Kita pernah pukul, tapi dia masih saja datang."
"Mungkin dia minta dipukul lagi."
"Kita kurung saja dia beberapa malam."
"Kita ceburkan saja dia ke sungai."
Mereka kemudian tertawa. Aku mendengar langkah kaki mereka berlari, dan kemudian
tak terdengar saat mereka melewati belakang rumah-rumah. Mereka masih berlari tanpa
bersuara: laki-laki di tepi sungai itu tidak mendengar apa-apa. Aku tak ingin berdiam diri
mengawasi para penjaga melemparkan orangku ke sungai. Orangku: dia sudah menjadi
milikku kini.
Aku menyelinap keluar dari pepohonan willow dan berlari ke arahnya. Kutepuk
bahunya dan, ketika dia menoleh, aku berbisik, "Kemari, cepat bersembunyi!"
Dia langsung mengenaliku dan diiringi desah takjub, dia menyembah di kakiku, sambil
berdoa tak beraturan. Di kejauhan aku mendengar patroli itu mendekati jalan di sepanjang
tepi sungai. Aku menggoyang-goyang tubuh laki-laki itu, mengangkat kepalanya,
meletakkan jariku ke bibir dan, seraya berusaha mengingatkan diriku untuk tidak menatap
mata orang itu, aku dorong dia ke bawah popohonan willow.




41
Aku harus tinggalkan orang ini, pikirku. Aku bisa menghilang dan menghindari patroli,
tapi kemudian aku dengar langkah kaki di persimpangan dan menyadari kalau aku sudah
terlambat.
Angin sepoi-sepoi menyibakkan air dan membuat daun pohon willow bergetar. Di
kejauhan terdengar seekor ayam jantan berkokok, lonceng biara berdentang.
"Hilang!" ada yang berteriak, tidak lebih dari sepuluh langkah dari kami.
Laki-laki lainnya melontarkan sumpah serapah, "Dasar gelandangan menjijikkan."
"Menurutmu mana yang lebih buruk: gelandangan atau orang Hidden?"
"Keduanya! Itulah yang paling buruk."
Aku dengar desis pedang yang dicabut dari sarung. Scorang petugas patroli menebas
alang-alang dan pepohonan willow. Laki-laki di sebelahku tegang. Dia gemetar, tapi tidak
bersuara. Bau kulit hewan tercium kuat di hidungku. Aku yakin para penjaga itu juga akan
mencium bau orang ini, hanya saja bau busuk air sungai pasti telah menyamarkannya.
Aku memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian mereka dari penyamak ini. Aku
pun memecah diriku menjadi dua sosok dan, di saat yang sama, sepasang bebek yang tidur
di sela alang-alang tiba-tiba terbang sambil menjerit, lalu meluncur di permukaan air dan
memecah keheningan malam. Para petugas patroli berteriak kaget, kemudian mereka saling
menatap. Mereka bergurau dan menggerutu beberapa lama, melempar batu ke bebek itu,
kemudian pergi ke arah yang berlawanan dari arah mereka datang. Aku mendengar langkah
kaki mereka bergema menyusuri kota, sayup-sayup menghilang hingga aku pun tak bisa
mendengarnya lagi. Aku mulai memarahi laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini? Mereka pasti melemparmu ke
sungai jika tertangkap." Dia menyembah lagi.
"Duduklah," aku mendesak. "Bicaralah."
Dia lalu duduk, memandang sekilas ke atas, ke wajahku, lalu menunduk. "Aku kemari
setiap malam," dia berkata perlahan. "Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk melihatmu
sekali lagi. Aku tak bisa melupakan apa yang telah kau lakukan pada saudaraku, pada mereka
semua." Dia terdiam sejenak, lalu berbisik, "Kupikir kau malaikat, tapi orang bilang kau
anak Lord Otori. Kau bunuh Lord Iida demi membalaskan dendam ayahmu. Pemimpin
baru, Arai Daiichi dari Kumamoto, mengerahkan anak buahnya meniyisiri kota untuk




42
mencarimu. Mereka yakin kau masih di sini jadi aku kemari untuk menemuimu. Apa pun
wujud yang kau pilih, kau pastilah malaikat."
Sungguh mengejutkan mendengar ceritaku diungkap kembali oleh laki-laki ini. Cerita
ini mengingatkanku pada bahaya yang sedang kujalani. "Pergilah. Jangan katakana kalau kau
bertemu denganku." Aku bersiap-siap pergi.
Dia seperti tidak mendengar. Dia nyaris berada dalam keadaan agung: matanya
berkilauan, bintik-bintik air liur bercahaya di bibirnya. "Jangan pergi dulu, tuan," dia
memohon. "Setiap malam aku bawakan makanan dan sake untukmu. Kita harus makan dan
minum bersama, kemudian kau harus memberkatiku dan aku akan mati bahagia."
Dia mengambil dan membuka bungkusan kecil berisi makanan. Setelah mengeluarkan
makanan dan meletakkannya di antara kami berdua, dia lalu melafalkan doa pertama kaum
Hidden. Kata-kata yang sudah biasa aku dengar itu membuatku merinding dan ketika dia
selesai, aku lanjutkan dengan doa kedua. Kemudian aku mulai makan.
Hidangan ini agak mengenaskan, kue mochi dengan isi kulit ikan yang diasapi, namun
mengandung semua unsur ritual di masa kecilku. Gelandangan ini lalu mengeluarkan botol
kecil dan menuanginya ke mangkuk yang terbuat dari kayu. Minuman ini adalah arak
buatan rumah, jauh lebih keras dari sake, dan tak ada hidangan lebih selain yang ada di
mulut kami, tapi aroma makanan membuatku teringat rumahku. AKu merasakan kehadiran
ibuku begitu kuat sehingga air mata menusuk kelopak mataku.
"Kau rahib?" aku berbisik, bertanya-tanya bagaimana dia bisa lolos dari hukuman orang
Tohan.
"Saudaraku itulah rahib kami. Dialah orang yang telah kau bebaskan dalam
pengampunan. Sejak kematiannya, aku melakukan apa yang mampu kulakukan untuk
orang-orang kami-mereka yang masih tersisa."
"Banyakkah orang-orangmu yang dibunuh Iida?"
"Di Timur jumlahnya ratusan. Orangtuaku melarikan diri ke sini bertahun-tahun lalu,
dan di bawah kekuasaan Otori, tak ada lagi penyiksaan. Tapi dalam waktu sepuluh tahun
sejak peristiwa Yaegahara tak seorang pun selamat di daerah sini. Kini kita punya pemimpin
baru, Arai: tak ada yang tahu apa sikapnya pada kami. Orang-orang bilang dia punya
masalah lain yang harus diselesaikan. Kami tak akan diganggu saat dia berurusan dengan




43
Tribe." Suaranya berubah berbisik di akhir kalimat, seakan-akan untuk menyebutnya saja
bisa mendatangkan beban pajak. "Dan hanya ada keadilan," dia melanjutkan, "bagi mereka
yang menjadi pembunuh dan pembantai. Kami bukan orang yang berbahaya. Kami dilarang
membunuh." Dia menyorotkan pandangan meminta maaf. "Tentu saja, tuan, kasusmu
berbeda."
Dia tidak tahu seberapa jauh aku telah menyimpang dari ajaran ibuku. Bersamaan
dengan itu, aku mendengar gonggongan anjing di kejauhan, dan ayam jago mengumumkan
datangnya pagi. Aku harus pergi, kendati aku enggan beranjak.
"Kau tidak takut?" Aku bertanya padanya.
Aku sering merasa ngeri. Aku tidak memiliki keberanian. "Tapi hidupku ada di tangan
Tuhan. Dia mempunyai rencana padaku. Dia mengirimmu kepadaku."
"Aku bukan malaikat," kataku.
"Bagaimana mungkin seorang bangsawan Otori tahu doa-doa kami?" balasnya. "Siapa
lagi kalau bukan malaikat yang mau berbagi makanan dengan orang sepertiku?"
Aku tahu resiko yang kuambil, namun tetap saja aku mengatakannya. "Lord Shigeru
telah menyelamatkanku dari pembantaian Iida di Mino." Aku merasa tidak seharusnya
mengatakan itu. Dia diam sejenak, terkesima. Kemudian dia berbisik, "Mino? Kami pikir
tak ada orang yang selamat dari sana. Betapa anehnya cara Tuhan. Kau diciptakan demi
tujuan yang brsar. Meskipun bukan malaikat, kau pasti ditunjuk oleh Sang Rahasia."
Aku menggelengkan kepala. "Aku hanyalah manusia biasa. Hidupku bukanlah milikku.
Takdir yang membawaku pergi jauh dari kampung halamanku, dan takdir jugalah yang
membawaku pergi dari Otori." Aku tak ingin memberitahukan kalau aku anggota Tribe.
"Kau butuh bantuan?" dia bertanya. "Kami akan selalu membantumu. Datanglah ke
jembatan gelandangan."
"Di mana itu?"
"Antara Yamagata dan Tsuwano. Namaku Jo-An." Dia lalu mengucapkan doa ketiga,
mensyukuri hidangan.
"Aku harus pergi," kataku.
"Sebelum itu, maukah kau memberkatiku, tuan?"
Aku menaruh tangan kananku di kepalanya dan mulai berdoa seperti yang ibuku selalu




44
lakukan kepadaku. Aku merasa tidak nyaman, mengetahui diriku tidak pantas mengucapkan
kata-kata ini, tapi semua kata-kata keluar dari lidahku dengan lancar. Jo-An meraih
tanganku dan menyentuhkan kening dan bibirnya ke jari-jariku. Aku menyadari betapa
dalam kepercayaannya kepadaku. Dia melepas tanganku dan bersujud. Ketika dia
mengangkat kepala, aku sudah jauh di sisi jalan. Langit memucat, embun terasa dingin.
Aku menyelinap dari pintu ke pintu. Lonceng biara berdentang. Kota mulai hirukpikuk,
daun jendela pertama diturunkan dan bau asap dari tungku berembus ke jalan. Aku
terlalu lama bersama Jo-An. Aku tidak menggunakan sosok keduaku malam ini, tapi aku
merasa diriku terbelah, seakan-akan aku tinggalkan diriku di bawah pohon willow bersama
gelandangan itu. Sedangkan diriku yang kembali ke Tribe hanyalah bayangan.
Saat kembali ke rumah Muto, rasa gelisah yang semula terpendam kini muncul lagi.
Bagaimana aku akan melintasi bagian atas dinding dari jalan ini? Lantai putih dan atap abuabu
yang kini berkilauan diterangi fajar seakan mengejekku. Aku menunduk di seberang
rumah, menyesali kebodohanku. Aku telah kehilangan konsentrasi: pendengaranku masih
tajam seperti biasa, tapi keyakinan diriku, instingku, telah lenyap.
Aku tak boleh berdiam di tempat ini. Di kejauhan aku mendengar derap sekelompok
penunggang kuda mendekat. Suara mereka menerpaku. Aku mengenali aksen itu, aksen
yang menunjukkan mereka adalah anak buah Arai. Seandainya mereka menemukanku,
hidupku bersama Tribe rui berakhir—hidupku mungkin juga akan berakhir bila Arai merasa
terhina seperti kabar yang menyebar.
Kini tak ada pilihan lain kecuali berlari ke gerbang dan iicriak pada penjaga untuk
membukanya. Saat menyeberangi jalan, terdengar suara dari balik gerbang. Suara Akio
memanggil penjaga rumah dengan pelan. Aku lalu mendengar bunyi gedebuk ketika palang
gerbang dibuka.
Patroli berbelok ke ujung jalan. Segera saja aku menghilangkan diri, berlari ke pintu,
dan menyelinap masuk ke dalam rumah.
Para penjaga tidak melihatku, tapi Akio melihatku. Dia menghampiri dan menarik
kedua lenganku dengan kasar.
Aku memeluk diriku untuk menghindari pukulan. Aku pasti akan mengikutinya, tapi
dia tidak membuang-buang waktu. Dia langsung menyeretku ke dalam rumah.




45
Kuda yang ditunggangi pasukan patroli berlari kian cepat, berderap menuruni jalan.
Aku tersandung seekor anji ng. Hewan itu merengek dalam tidurnya. Para penunggang
kuda berteriak kepada penjaga gerbang, "Selamat pagi!"
"Apa yang kalian dapat?" seorang penjaga membalas.
"Bukan urusan kalian!"
Selagi diseret, aku menoleh ke belakang. Melalui lahan sempit antara rumah tempat
mandi dan dinding, aku dapat melihat jalan di sisi luar melalui gerbang yang terbuka.
Di belakang rombongan berkuda, dua orang sedang berjalan kaki sambil menyeret
seorang tawanan. Meskipun tidak bisa melihat tawanan itu dengan jelas, namun dapat
kudengar suaranya. Dapat kudengar doa-doanya. Dia adalah si gelandangan, Jo-An.
Aku pasti telah menerjang ke arah gerbang karena Akio saat ini menarikku dengan
paksa sehingga nyaris membuat bahuku terkilir. Kemudian dia memukul, perlahan dan
efesien, ke samping leherku. Ruangan terasa berputar-putar. Masih tanpa bicara, dia
menyeretku ke ruangan utama di mana seorang pelayan sedang menyapu. Tanpa
mempedulikan kami.
Akio berteriak ke arah dapur selagi membuka dinding palsu di ruangan tersembunyi,
lalu mendorongku masuk. Isteri Kenji datang ke dalam ruangan dan Akio menutup pintu.
Wajah istri Kenji pucat dan matanya sembab, dia tampaknya masih melawan rasa
kantuk. Dapat kurasakan kemurkaannya bahkan sebelum dia mulai bicara. Dia menamparku
dua kali. "Dasar anak kurang ajar! Dasar idiot! Berani benar kau lakukan itu padaku."
Akio mendorongku ke lantai, masih memegang kedua lenganku di belakang
punggungku. Aku menunduk dengan patuh. Tak ada gunanya bicara.
"Kenji pernah memperingatkan kalau kau akan keluar. Semula aku tidak percaya.
Kenapa kau lakukan ini?"
Ketika aku tidak menjawab, dia lalu duduk berlutut dan mengangkat kepalaku hingga
dapat melihat wajahku. Aku bersikeras untuk tidak menatap matanya.
"Jawab! Apa kau sudah sinting?"
"Hanya untuk melihat apa aku bisa."
Dia menghela napas jengkel, persis seperti suaminya.
"Aku tidak suka dikurung," aku merengut.




46
"Itu gila," kata Akio marah, "Dia ini berbahaya bagi kita semua. Kita harus...."
Perempuan itu langsung menyela. "Itu hanya bisa diputuskan oleh ketua Kikuta.
Sebelum itu, tugas kita yaitu menjaga agar dia tetap hidup dan jauh dari jangkaun Arai," dia
kembali menepuk-nepuk kepalaku, tapi kai ini ini tidak keras. "Siapa yang melihatmu?"
"Tidak ada. Hanya seorang gelandangan."
"Gelandangan apa?"
"Penyamak. Jo-An."
"Jo-An? Si sinting? Orang yang mengatakan telah bertemu malaikat?" Dia menghela
napas panjang. "Jangan katakan dia telah melihatmu."
"Kami sempat berbincang-bincang," aku mengaku.
"Anak buah Arai berhasil menangkap gelandangan itu," kata Akio.
"Kuharap kau menyadari betapa tololnya dirimu," kata istri Kenji.
Aku menunduk lagi. Aku memikirkan Jo-An, berharap aku melihatnya pulang ke
rumah—jika dia punya rumah di Yamagata—bertanya-tanya apakah aku dapat
menyelamatkannya, bertanya apa tujuan Tuhannya pada orang itu sekarang. Aku sering
merasa takut, ujar Jo-An. Merasa ngeri. Iba dan penyesalan berpilin-pilin dalam hatiku.
"Cari tahu apa yang diocehkan gelandangan itu," kata isteri Kenji pada Akio.
"Dia tak akan mengkhianatiku," kataku.
"Bila disiksa, semua orang akan berkhianat," jawab Akio singkat.
"Keberangkatanmu harus dipercepat," perempuan itu melanjutkan. "Mungkin hari ini."
Akio masih berlutut di belakangku sambil memegang pergelangan tanganku. Aku
merasakan gerakannya saat dia mengangguk.
"Apakah dia akan dihukum?" tanya Akio.
"Tidak. Dia harus sanggup melakukan perjalanan. Selain itu, seperti yang kau tahu,
hukuman fisik tidak berguna baginya. Jadi pastikan dia tahu secara pasti apa yang
gelandangan itu derita. Kepalanya mungkin sekeras batu, tapi hati anak ini sangat lembut."
"Ketua mengatakan kalau itu yang menjadi kelemahan utamanya," kata Akio.
"Ya, jika bukan karena itu, mungkin kita telah memiliki Shintaro lain."
"Kelembutan hatinya bisa mengeras," gerutu Akio. "Ya, kalian orang Kikuta tahu cara
terbaik untuk melakukannya."




47
Aku masih berlutut di lantai selagi mereka membahas diriku seakan aku hanya barang
dagangan, tong sake yang bisa berubah menjadi minuman terbaik, atau justru akan
membusuk dan tak berharga.
"Bagaimana sekarang?" kata Akio, "Apakah dia akan diikat hingga kami pergi?"
"Kenji bilang kaulah yang memilih datang pada kami," dia berkata padaku. "Lalu
kenapa kau mencoba kabur?"
"Aku telah kembali."
"Apa kau akan mencobanya lagi?"
"Tidak."
"Kau akan ke Matsue ditemani beberapa seniman dan kau harus berjanji tidak akan
melakukan apa pun yang membahayakan mereka maupun dirimu sendiri?"
"Baiklah."
Perempuan itu berpikir sejenak, tapi tetap saja dia menyuruh Akio mengikatku. Setelah
mengikatku, mereka pergi menyiapkan keberangkatan kami. Seorang pelayan dating
membawa nampan berisi makanan dan teh, lalu membantuku makan dan minum tanpa
bicara. Setelah dia membawa kembali makanan, tidak seorang pun datang menemuiku. Aku
mendengarkan nyanyian rumah dari berpikir bahwa aku melihat semua kekasaran dan
kekejaman yang terhampar di balik alunan keseharian rumah ini. Keletihan melandaku. Aku
merangkak ke kasur, berusaha mencari posisi senyaman mungkin, memikirkan ketidakberdayaan
Jo-An dan kebodohanku hingga aku tertidur.
Aku terjaga dengan jantung berdebar hebat, tenggorokanku kering. Aku bermimpi tentang
si gelandangan, mimpi buruk yang mana, dari kejauhan, aku mendengar suara-suara selirih
dengung nyamuk yang membisikkan sesuatu dan hanya aku yang bisa mendengarnya.
Akio pasti berkata dengan menekan mulutnya ke dinding luar ruangan. Dia
membisikkan secara detail tentang penyiksaan yang dialami Jo-An. Ceritanya terus dan terus
dalam nada lambat dan datar, membuat bulu kudukku merinding dan perutku jungkir balik.
Terkadang dia diam dan aku lega karena ceritanya telah berakhir, tapi kemudian dia
melanjutkan lagi.
Aku bahkan tak bisa menyumbat telinga dengan jari. Tak ada jalan untuk lolos darinya.




48
Isteri Kenji benar. Itulah hukuman paling buruk bagiku. Aku berharap telah membunuh Jo-
An saat pertama kali melihatnya di tepi sungai. Rasa iba telah menahan tanganku, tapi rasa
iba jugalah yang mendatangkan akibat buruk. Aku mungkin bisa memberi kematian yang
cepat pada gelandangan itu. Akulah yang menyebabkan dia disiksa.
Ketika suara Akio menghilang, aku mendengar langkah Yuki di luar. Dia masuk sambil
membawa baskom berisi gunting dan pisau cukur. Seorang pelayan, Sadako, mengikutinya
dengan tangan penuh pakaian. Setelah meletakkan pakaian di lantai, dia lalu keluar dengan
perlahan. Aku mendengar Sadako berkata bahwa hidangan siang sudah siap, lalu Akio
berdiri dan mengikutinya ke dapur. Aroma makanan menyebar, namun tetap saja aku tidak
berselera makan.
"Akan kupotong rambutmu," kata Yuki. Potongan rambutku masih bergaya ksatria,
masih seperti keinginan Ichiro, mantan guruku di kediaman Shigeru. Ichiro memaksa untuk
mencukur dahiku, dan rambut belakangku diangkat dalam bentuk kepang ke atas kepala.
Sudah berminggu-minggu aku belum memotong rambut maupun mencukur janggut,
meskipun janggutku masih sangat sedikit.
Yuki melepas ikatan tangan dan kakiku, kemudian menyuruhku duduk di depannya.
"Kau sungguh tolol," katanya, saat mulai memangkas rambutku.
Aku tidak menjawab. Aku sadari itu, tapi aku juga sadar akan melakukan lagi hal
serupa.
"Ibuku sangat marah. Aku tidak tahu mana yang lebih membuatnya kaget, kau berhasil
membuatnya tertidur ataukah keberanianmu melakukannya."
Helaian rambut berjatuhan di sekelilingku. "Di saat yang sama dia juga gembira," Yuki
melanjutkan. "Dia mengatakan bahwa kau mengingatkannya pada Shintaro saat seusiamu."
"Ibumu mengenalnya?"
"Kuberitahu satu rahasia: ibuku tergila-gila padanya. Ibuku hampir menikah dengannya,
tapi karena tidak sesuai dengan aturan Tribe, sehingga dia akhirnya menikah dengan
ayahku. Lagipula, kupikir dia tak sanggup menghadapi orang yang memiliki kemampuan
yang melebihi dirinya. Shintaro adalah ahlinya tatapan tidur Kikuta: tak seorang pun lolos
dari tatapannya."
Yuki bersemangat, lebih ceriwis dari yang pernah kukenal. Aku dapat merasakan




49
tangannya yang gemetar menyentuh leherku saat memangkas. Aku teringat kata-kata Kenji
yang meremehkan isterinya. Pernikahan mereka, seperti yang terjadi pada kebanyakan
orang, adalah bagian dari rencana persekutuan antara dua keluarga.
"Seandainya dia menikahi Shintaro, mungkin aku akan menjadi orang lain," kata Yuki
merenung. "Kurasa ibuku tak pernah berhenti mencintainya."
"Meskipun Shintaro seorang pembunuh?"
"Dia bukan pembunuh! Dia seperti dirimu."
Nada bicaranya memberitahukan kalau percakapan ini bergerak ke area yang berbahaya.
Sosok Yuki memang sangat menarik. Aku tahu dia memiliki perasaan yang sangat kuat
padaku. Tapi aku tidak punya perasaan padanya seperti yang kumiliki pada Kaede, dan aku
tak ingin berbicara tentang cinta.
Aku berusaha mengubah arah pembicaraan. "Kukira keahlian menidurkan hanya
dimiliki Kikuta. Bukankah Shintaro berasal dari keluarga Kurado?"
"Itu dari pihak ayahnya. Ibunya seorang Kikuta. Shintaro dan ayahmu sepupu."
Perkataannya membuat aku pedih. Orang yang mati karena diriku adalah kerabatku.
"Apa yang terjadi di malam Shintaro mati?" tanya Yuki, ingin tahu.
"Aku dengar ada yang memanjat dinding. Jendela di lantai pertama terbuka karena
cuaca saat itu panas. Lord Shigeru ingin menangkapnya hidup-hidup tapi waktu dia
tertangkap, kami bertiga terjatuh ke taman. Kepala Shintaro membentur batu, tapi kami
menduga dia mati karena menelan racun. Dia mati tanpa pernah sadar. Ayahmu yang
memastikan orang itu bernama Kuroda Shintaro. Akhirnya kami tahu kalau kedua paman
Shigeru yang membayarnya untuk membunuh Shigeru."
"Sungguh menakjubkan," kata Yuki, "karena kau ada di sana dan tak seorang pun tahu
siapa dirimu."
Aku menjawabnya dengan jujur karena mungkin aku sedang hanyut dalam kenangan di
malam itu. "Kurang begitu menakjubkan. Shigeru memang sedang mencariku saat dia
menyelamatkanku di Mino. Dia mengetahui keberadaanku dan dia juga tahu kalau ayahku
seorang pembunuh. Lord Shigeru bilang itu saat di Tsuwano. Aku Tanya apakah itu
alasannya mencariku dan dia mengatakan itu hanya salah satu alasan. Aku tak tahu alasan
yang lainnya, dan kini aku tidak akan pernah tahu."




50
Yuki berhenti memangkas. "Ayahku tidak tahu itu?"
"Tidak, dia dibiarkan percaya bahwa Shigeru bertindak atas dorongan hati, bahwa aku
bertemu Shigeru hanyalah suatu kebetulan."
"Kau serius?"
Terlambat sudah, keingintahuannya membuat aku menjadi curiga. "Pentingkah itu?"
"Bagaimana Lord Otori bisa tahu sesuatu yang bahkan Tribe tidak tahu? Apa lagi yang
dia katakan?"
"Dia mengatakan banyak hal," kataku dengan tidak sabar. "Dia dan Ichiro mengajariku
hampir semua yang aku tahu."
"Maksudku tentang Tribe!"
Aku menggelengkan kepala seolah-olah tak mengerti. "Tidak ada. Aku tidak tahu apaapa
tentang Tribe, kecuali apa yang ayahmu ajarkan, dan apa yang kupelajari di sini."
Dia menatapku. Aku mengelak untuk menatapnya bicara langsung. "Masih banyak
yang harus dipelajari," akhirnya dia berkata. "Aku akan mengajarimu selama di perjalanan."
Dia menyisiri rambutku yang pendek lalu berdiri dalam satu gerakan seperti ibunya.
"Kenakan ini. Akan kuambilkan sesuatu untuk kau makan."
"Aku tidak lapar," ucapku, menjulurkan tangan untuk mengambil pakaian. Pakaian ini
sebenarnya berwarna cerah, tapi kini warnanya telah pudar. Aku bertanya-tanya, siapa saja
yang pernah memakai pakaian ini dan apa yang terjadi pada pemiliknya.
"Ada banyak waktu selama di perjalanan nanti," kata Yuki. "Kita mungkin tidak akan
makan lagi hari ini. Apa pun yang Akio dan aku perintahkan, kau harus patuh. Jika aku
menyuruhmu menghisap kotoran di bawah kuku kami, kau harus melakukannya. Jika aku
menyuruhmu makan, kau harus makan. Kami mempelajari kepatuhan seperti ini sejak kecil.
Kau harus pelajari itu sekarang."
Aku ingin bertanya apakah dia patuh ketika membawakan pedang Shigeru, Jato,
kepadaku saat di Inuyama, tapi tampaknya lebih bijaksana bila diam. Aku berpakaian
seniman, dan saat Yuki datang membawa makanan, aku makan tanpa banyak tanya.
Dia menatapku tanpa bicara, dan ketika aku selesai makan, dia berkata, "Gelandangan
itu sudah mati."
Tribe memang ingin agar hatiku mengeras. Aku tidak menatap atau pun membalas




51
ucapannya.
"Jo-An tidak mengatakan apa pun tentang dirimu," dia melanjutkan. "Tidak kusangka
seorang gelandangan mempunyai keberanian seperti itu. Meskipun tidak memiliki racun
yang bisa membebaskannya dari penderitaan, dia tidak bicara sepatah kata pun."
Aku berterima kasih kepada Jo-An, bersyukur kepada kaum Hidden yang membawa
rahasia mereka... ke mana? Ke surga? Ke kehidupan lain? Ke neraka, ke kuburan yang sepi?
Aku ingin berdoa untuknya, mengikuti cara orang-orangku. Atau menyalakan lilin dan
membakar dupa seperti yang Ichiro dan Chiyo ajarkan. Aku berpikir Jo-An akan pergi
seorang diri menuju kegelapan. Apa yang akan dilakukan kelompoknya tanpa Jo-An?
"Kau selalu mendoakan seseorang?" tanyaku.
"Tentu saja," balas Yuki, kaget.
"Kepada siapa?"
"Sang Pencerah, dalam segala wujudnya. Dewa gunung, hutan, dan sungai. Pagi ini aku
meletakkan beras dan bunga di kuil yang ada di dekat jembatan untuk meminta berkat atas
perjalanan kita. Aku senang kita berangkat hari ini. Hari ini adalah hari baik untuk
melakukan perjalanan, semuanya memberi pertanda baik." Dia memandangku, seolah
sedang memikirkan itu semua, tapi kemudian dia menggelengkan kepala. "Jangan bertanya
hal-hal seperti tadi. Itu membuatmu terdengar terlihat berbeda. Tak seorang pun bertanya
seperti itu."
"Tak seorang pun yang hidupnya seperti hidupku."
"Kau kini anggota Tribe. Bertingkahlah seperti Tribe."
Dia lalu mengambil kantong kecil dari balik lengan bnju dan menyerahkannya
kepadaku. "Ini. Akio menyuruhku memberikan kepadamu benda ini."
Kubuka ikatan kantong itu lalu merogoh ke dalamnya, ternyata isinya adalah lima bola
juggle yang licin dan keras, dikemas dengan butiran beras yang berjatuhan ke lantai.
Sebenci-bencinya aku pada juggle, tetap saja aku pungut dan memegangnya. Dengan tiga
bola di tangan kanan dan dua lagi di tangan kiri, aku berdiri. Bola dan pakaian seniman ini
seperti mengubahku menjadi orang lain.
"Sekarang namamu Minoru," kata Yuki. "Bola-bola ini pemberian ayahmu. Akio adalah
kakakmu, sedangkan aku adikmu."




52
"Kita tidak mirip," kataku seraya melontarkan bola ke atas.
"Kita akan terlihat mirip," balas Yuki. "Ayahku bilang kau bisa merubah penampilanmu
dalam berbagai bentuk."
"Apa yang terjadi pada ayah kita?" Begitu bola satu jatuh dan kutangkap, bola satu lagi
aku lontarkan ke atas dan....
"Dia mati."
"Cocok."
Yuki mengacuhkan ucapanku. "Kita ke Matsue untuk menghadiri perayaan musim
gugur. Perlu waktu lima atau enam hari, tergantung cuaca. Arai masih memerintahkan anak
buahnya untuk mencarimu, tapi pencarian besar-besaran telah berakhir. Dia sudah pergi ke
Inuyama. Kita akan berjalan ke arah yang berlawanan. Di malam hari ada rumah yang aman
untuk menginap. Hanya saja, bila kita bertemu patroli, kau harus membuktikan siapa
dirimu."
Salah satu bola tidak sempat tertangkap hingga jatuh ke tanah.
"Jangan sampai jatuh," kata Yuki. "Tak seorang pun seusiamu yang pernah
menjatuhkannya. Ayahku mengatakan kalau kau bisa meniru orang dengan baik. Jangan
menjerumuskan kami ke dalam bahaya."
Kami pergi melalui pintu belakang. Isteri Kenji muncul dan mengucapkan selamat
jalan. Dia memeriksa rambut dan pakaianku. "Kuharap kita bertemu lagi," ucapnya. "Tapi
melihat kenekatanmu, sulit mengharapkan itu."
Aku membungkuk ke arahnya tanpa bicara. Akio telah menunggu di halaman dengan
gerobak seperti yang mereka gunakan untuk mengurungku saat di Inuyama. Dia
mcnyuruhku masuk ke dalam gerobak yang penuh perlengkapan dan hiasan. Yuki
memberikan belatiku, dan dengan gembira aku menyimpannya di balik pakaian.
Akio mengangkat ganjalan gerobak dan mulai mendorongnya. Aku tergoncanggoncang
menyusuri kota yang remang-remang, mendengarkan bunyi gerobak dan
percakapan para seniman. Aku mengenali suara gadis asing saat di Inuyama dulu, Keiko. Di
luar ada laki-laki lain yang juga turut bersama kami: aku pernah dengar suaranya di rumah
Kenji tapi belum pernah bertemu dengannya.
Saat kami sudah jauh dari perumahan terakhir, Akio menghentikan rombongan,




53
membuka bagian samping gerobak dan menyuruhku keluar. Hari menunjukkan sekitar
paruh kedua Waktu Kambing*, dan udara agak panas, meskipun sudah memasuki musim
gugur. Akio bersinar oleh keringat. Dia melepas sebagian pakaiannya karena harus
mendorong kereta. Dapat kulihat kalau dia lebih berotot dan lebih tinggi dariku. Dia
berjalan ke sungai kecil di pinggir jalan, dan memercikkan air ke kepala dan wajahnya. Yuki,
Keiko, dan bapak tua itu duduk berjongkok di pinggir jalan. Aku hampir tidak mengenali
mereka. Mereka berubah menjadi rombongan seniman, berpura-pura hidup susah dengan
melakukan perjalanan dari kota ke kota, dengan mengandalkan ketrampilan dan kejenakaan.
Orang tua itu menyeringai padaku, menunjukkan giginya yang ompong. Wajahnya
kurus, ekspresif dan agak sinis. Keiko mengacuhkanku. Seperti Akio, di tangannya juga ada
luka yang hampir sembuh, luka akibat tebasan belatiku.
Aku menghela napas panjang. Panasnya udara di sini jauh lebih baik dibandingkan
panasnya ruangan tempat aku dikurung dan di gerobak yang bergoncang-goncang. Di
belakang kami terbentang kota Yamagata, kastilnya yang berwarna putih begitu mencolok di
antara hijaunya pebukitan. Sawah nampak berwarna keemasan. Tak lama lagi waktu panen
tiba. Di barat daya terlihat lembah Terayama yang curam, tapi atap biara tidak terlihat di
balik pepohonan cedar. Nun jauh di atasnya terbentang lipatan demi lipatan gunung,
berubah biru bila dilihat dari jauh, memancarkan kabut sore. Tanpa bersuara kuucapkan
selamat tinggal pada Lord Shigeru, aku merasa enggan untuk berpaling dan melepaskan
ikatan terakhirku dengannya dan dengan hidupku sebagai bangsawan Otori.
Akio memukul bahuku. "Berhenti bermimpi seperti orang bodoh," ucapnya dengan
menggunakan aksen dan dialek yang kasar. "Kini giliranmu mendorong."
Saat malam tiba, aku benar-benar membenci gerobak yang berat dan menyusahkan ini,
yang melepuhkan tangan dan menegangkan punggungku. Mendorongnya di jalan mendaki
sudah cukup buruk, apalagi bila rodanya terperosok di jalan yang berlubang sehingga kami
perlu mengangkatnya, tapi menahannya saat menuruni bukit bahkan jauh lebih sulit lagi.
Aku akan sangat senang membiarkan gerobak ini berjalan cepat ke jurang. Aku
mendambakan kudaku, Raku. Laki-laki tua itu, Kazuo, berjalan di sampingku untuk
membantu menyesuaikan aksen dan mengajari bahasa pribadi di antara seniman yang perlu
aku tahu. Ada bebetnpa kata yang pernah Kenji ajarkan, kata-kata gaul Tribe. Aku




54
menirunya sambil membayangkan diriku menjadi Minoru.
Menjelang sore, saat cahaya matahati mulai menghilang, kami menuruni bukit menuju
ke perkampungan. Jalannya datar dan licin. Seorang laki-laki yang berpapasan jalan dan
menyapa kami.
Dapat kucium bau asap dan masakan. Di sekelilingku terdengar bunyi-bunyian
perkampungan saat menjelang gelap: percikan air saat petani mandi, anak-anak bermain dan
bertengkar, perempuan yang bergunjing sambil memasak, percikan bara api, kapak
membelah kayu, lonceng kuil, seluruh siklus kehidupan yang pernah mengiringiku tumbuh
besar.
Dan aku mendengar sesuatu yang berbeda: dentingan tali kekang, bunyi halus kaki
kuda.
"Ada patroli di depan," kataku pada Kazuo.
Dia mengangkat tangan agar rombongan berhenti, lalu berkata pelan pada Akio.
"Minoru bilang ada patroli."
Akio menyipitkan mata ke arahku yang sedang membelakangi matahari terbenam. "Kau
mendengarnya?"
"Aku mendengar ringkikan kuda. Siapa lagi kalau bukan patroli?"
Dia mengangguk dan mengangkat bahu seolah-olah ingin berkata, itu tidak masalah.
"Ambil alih gerobak!"
Saat aku menggantikan tempat Akio, Kazuo mulai menyanyikan lagu-lagu indah.
Suaranya bagus. Yuki masuk ke dalam kereta dan mengeluarkan gendang kecil lalu dia
lemparkan pada Akio. Sambil menangkap, Akio mendendangkan lagu yang sama. Yuki juga
mengeluarkan instrumen bersenar satu yang dia mainkan selagi berjalan di samping kami.
Keiko memainkan spinning top, persis seperti yang pernah menarik perhatianku saat di
Inuyama.
Sambil bernyanyi dan bermain, kami berjalan mendekati penjaga yang telah memasang
palang bambu tak jauh dari rumah pertama di perkampungan. Ada sekitar sembilan atau
sepuluh orang, dan sebagian besar sedang duduk di tanah sambil makan. Di pakaian mereka
ada simbol beruang, lambang klan Arai, sedangkan umbul-umbul matahari terbenam
Seishuu di pasang di pinggir. Empat ekor kuda sedang mengunyah rumput.




55
Sekelompok anak-anak yang sedang berkerumun langsung mendekati kami sambil
bersorak-sorai dan tertawa geli. Kazuo berhenti menyanyi pada bagian syair teka-teki yang
dilontarkan ke anak-anak, lalu berteriak lantang pada para penjaga. "Ada apa, kawan?"
Saat pemimpin patroli berdiri mendekat, kami langsung berlutut.
"Bangunlah," katanya. "Kalian dari mana?" Laki-laki itu memiliki wajah persegi dengan
alis tebal, bibir tipis, dan rahang keras. Dia menyeka sisa nasi di bibirnya dengan punggung
tangan.
"Yamagata," Akio menyerahkan gendang ke Yuki dan mengeluarkan sebuah papan.
Nama kami tertulis di papan itu, nama panggung dan izin kerja dari pemerintah kota.
Pemimpin penjaga menatap papan itu beberapa saat, lalu beralih mengamati wajah kami
secara bergantian. Para penjaga menatap Keiko yang sedang memainkan spinning top lebih
dari sekadar rasa tertarik biasa. Bagi mereka, para pemain tidak berbeda dengan pelacur.
Seseorang melontarkan lelucon. Keiko membalasnya dengan tertawa.
Aku bersandar ke gerobak dan menyeka keringat di wajahku.
"Apa keahlian Minoru?" tanya si pemimpin sambil menyerahkan kembali papan nama
ke Akio.
"Adikku? Dia pemain juggle. Itulah panggilan jiwa keluarga kami."
"Mari kita lihat," kata si pemimpin, bibir tipisnya mrnyungging senyuman.
Akio tak ragu sedikit pun. "Hai, adik kecil. Tunjukkan keahlianmu pada tuan ini."
Aku menyeka tanganku ke kain pengikat kepala dan mengikatnya kembali. Kuambil
bola-bola dari tas, meraNrrkan berat dan licinnya, dan segera saja aku berubah menjadi
Minoru. Inilah hidupku. Aku tak pernah tahu hidup yang lain: hanya jalan, perkampungan
baru, kecurigaan, dan pandangan benci. Aku melupakan badanku yang letih, kepalaku yang
nyeri dan tanganku yang melepuh. Aku adalah Minoru yang sedang melakukan apa yang
harus kulakukan karena aku telah dewasa.
Bola-bola ini melayang di udara. Pertama-tama aku menggunakan empat bola,
kemudian lima bola. Aku baru menyelesaikan putaran kedua gaya air mancur ketika Akio
menjulurkan kepalanya ke arahku. Kubiarkan bola-bola itu melayang ke arahnya. Dia
menangkap kelima bola dengan santai, melempar ke atas papan lalu dia lemparkan lagi
kepadaku. Bagian papan yang tajam menyentuh telapak tanganku yang melepuh. Aku




56
marah, aku ingin tahu maksudnya: Untuk membongkar penyamaranku? Untuk
mengkhianatiku? Aku kehilangan irama permainan. Papan dan bola-bola itu pun jatuh
semua.
Senyuman pemimpin itu langsung lenyap dari wajahnya. Dia melangkah maju. Pada
saat itulah terbetik ide nekat di benakku untuk menyerahkan diri, meminta pengampunan
Arai, lari dari Tribe sebelum terlambat.
Akio mendekatiku. "Dasar idiot!" dia berteriak, lalu menjewer keras telingaku. "Ayah
pasti akan menjerit dari kuburan!"
Pukulan Akio menyadarkanku untuk menjadi Minoru lagi karena tak ada yang dapat
dilakukan.
"Maaf, kak," kataku sambil memungut bola; berusaha memainkan bola-bola itu hingga
pemimpin itu tertawa dan mempersilakan kami lewat.
"Datanglah pada pertunjukan kami malam ini!" Keiko berteriak kepada para penjaga.
"Baiklah, nanti malam!" balas mereka.
Kazuo mulai bernyanyi lagi, Yuki memukul gendang. Aku melemparkan papan itu ke
Akio dan menyingkirkan semua bola. Bola-bola menghitam karena darah. Aku lalu
memegang kendali gerobak. Palang telah diangkat dan kami berjalan ke perkampungan.*




57
DI HARI terakhir perjalanan, rombongan Kaede berangkat pagi-pagi pada musim gugur
yang sempurna, langit biru cerah, dan udara dingin. Kabut yang bergulung-gulung di bukit
dan di permukaan sungai terlihat seperti jaring laba-laba, dan tanaman merambat terlihat
keperakan. Menjelang siang, cuaca mulai berubah. Sekumpulan awan dengan perlahan
muncul dari barat laut dan angin pun mulai berhembus. Sinar mentari nampak memudar
lebih cepat dan, sebelum datangnya malam, hari mulai hujan.
Sawah, ladang sayuran dan buah-buahan rusak parah akibat badai. Desa-desa seperti
kosong, beberapa orang menatap lusuh pada Kaede, membungkuk hormat dengan sungkan
hanya setelah diancam para pengawal. Kaede tidak tahu apakah mereka mengenali dirinya
atau tidak; ia tak ingin berlama-lama berada di antara orang-orang ini. Namun ia tak kuasa
menahan rasa ingin tahu mengapa kerusakan ini tidak segera diperbaiki, mengapa petani
tidak menyelamatkan apa yang dapat diselamatkan.
Jantung Kaede tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Terkadang debar jantungnya
begitu lambat kala mendapat firasat buruk sehingga ia merasa seperti hendak pingsan. Dan
terkadang debar jantungnya begitu cepat, berdegup kalut antara senang dan takut. Jarak
yang tersisa harus ditempuh rasanya seperti tak berakhir. Kaede takut atas apa yang akan ia
jumpai di rumahnya nanti.
Ia terus menatap lama pemandangan yang pernah akrab di hatinya, jantungnya seakan
melompat ke tenggorokan. Ketika sampai di taman yang dikelilingi dinding dan gerbang, ia
tidak mengenali satu pun juga. Inikah tempat tinggalnya dulu? Rumahnya kini nampak
begitu kecil; tidak dibentengi dan tidak dijaga. Gerbang terbuka lebar. Saat melewati
gerbang, Kaede tak mampu menahan rasa kagetnya.
Shizuka turun dari kuda. Dia mendongak. "Inikah tempatnya, lady?"




58
"Taman ini!" teriak Kaede. "Apa yang terjadi pada taman ini?"
Di segenap penjuru taman terdapat tanda-tanda keganasan badai. Pohon pinus yang
tercabut akarnya terbentang memalangi aliran sungai. Pohon itu menindih dan merusak
lentera batu. Kaede teringat: hampir setiap malam lentera itu menyala, dan pada setiap
Festival of the Dead*, sebuah lentera dibiarkan terapung hingga ke hilir sungai dan tatapan
ibunya selalu mengiringi kepergian lentera itu sambil mengelus rambut Kaede.
Kaede menatap, tidak mengerti, ke arah taman yang berantakan. Ini pasti bukan hanya
karena badai. Pasti sudah lama tak ada yang membersihkan kolam atau memangkas
tanaman. Inikah rumahnya, salah satu wilayah penting di Barat? Apa yang menimpa Klan
Shirakawa yang dulu begitu megah?
Kuda yang Kaede tunggangi merendahkan kepala lalu menggosok-gosokkan kepalanya
ke tungkai kaki. Kuda itu meringkik dengan tidak sabar dan lelah, berharap pelana dapat
segera dilepaskan dan diberi makan karena kini mereka telah berhenti.
"Di mana para pengawal?" tanya Kaede bingung, "Ke mana semua orang?"
Si Muka Parut, kepala pengawal, membawa kudanya menaiki beranda, memajukan
tubuhnya ke depan dan berteriak, "Halo! Ada orang di dalam?"
"Jangan masuk," teriak Kaede. "Aku yang akan masuk lebih dulu."
Si Lengan Panjang yang berdiri di dekat Kaede memegang tali kekang Raku. Kaede
turun dari punggung Raku dengan dibantu Shizuka. Hujan berganti gerimis, rintik hujan
menetesi rambut dan pakaian Kaede. Taman menyebarkan aroma lembab dan busuk, bau
busuk tanah dan daun-daun yang berjatuhan. Kaede terkenang rumah ini saat ia kecil,
kenangan yang tetap utuh dan bersinar di hatinya selama delapan tahun, begitu kuat tak
tertahankan, lalu bayangan itu lenyap untuk selama-lamanya.
Si Lengan Panjang menyerahkan tali kekang pada seorang pengawal yang berjalan kaki,
seraya menarik pedang, lalu berjalan di depan Kaede. Shizuka mengikuti dari belakang.
Saat melepas sandal hendak naik ke beranda, Kaede merasakan sentuhan kayu yang
masih terasa akrab di kakinya. Tapi ia tak lagi mengenali aroma rumah ini. Rumah ini
seperti rumah orang lain.
Tiba-tiba ada gerakan dari dalam rumah dan si Lengan Panjang segera melompat ke
bayangan itu. Seorang perempuan menjerit kaget. Laki-laki itu menyeretnya ke beranda.




59
"Lepaskan," kata Kaede marah. "Berani benar kau menyentuhnya?"
"Dia hanya ingin melindungimu," protes Shizuka, tapi Kaede tidak menghiraukan. Ia
mendekat ke gadis itu, meraih tangannya dan memandang wajahnya. Gadis itu hampir
setinggi Kaede, dengan wajah lembut dan mata coklat terang seperti ayahnya.
"Ai? Aku kakakmu, Kaede. Ingatkah kau padaku?"
Gadis itu balik menatapnya. Matanya penuh air mata. "Kakak? Benarkah ini kau?
Tadi... kupikir kau ibuku."
Kaede memeluk erat adiknya, merasakan air mata adiknya berlinang. "Ibu sudah
meninggal?"
"Hampir dua bulan lalu. Kata-kata terakhirnya selalu menyebut namamu. Ibu ingin
sekali melihatmu, tapi kabar tentang pernikahanmu telah membuat ibu tenang." Suara Ai
terdengar bimbang, lalu dia menarik diri dari pelukan Kaede. "Kenapa kau datang? Mana
suamimu?"
"Kau tidak mendengar kabar dari Inuyama?"
"Tahun ini kami dihantam badai. Banyak penduduk yang mati dan hasil pertanian pun
rusak. Kami hanya mendengar sedikit sekali berita-hanya rumor tentang perang. Setelah
badai berakhir, ada sepasukan bersenjata melewati daerah ini, dan saat itu kami tidak tahu
dengan siapa mereka akan berperang maupun alasannya."
"Pasukan Arai?"
"Kemudian baru kami tahu kalau mereka adalah orang-orang Seishuu yang datang dari
Maruyama dan wilayah selatan. Mereka hendak bergabung dengan Lord Arai untuk
melawan Tohan. Ayah sangat murka karena masih menganggap dirinya sekutu Lord Iida.
Dia mencegah orang-orang itu melewati wilayah kita. Dia mencegat mereka di dekat Gua
Suci. Ketika mereka hendak menjelaskan alasannya, ayah malah menyerang."
"Ayah menyerang mereka? Apakah ayah gugur dalam perang itu?"
"Tidak, dia kalah, tentu saja, dan sebagian besar pengawalnya tewas, tapi ayah tetap
hidup. Dia menganggap Arai sebagai pengkhianat dan sok bergaya bangsawan. Mungkin
karena ayah telah bersumpah setia pada Noguchi saat kau dijadikan tawanan."
"Noguchi telah digulingkan, dan aku bukan lagi tawanan. Kini aku bersekutu dengan
Arai," ujar Kaede.




60
Mata adiknya melebar. "Aku tidak mengerti. Aku tak mengerti semua itu." Untuk
pertama kalinya Ai menyadari kehadiran Shizuka dan pengawal di luar. Dia menjadi salah
tingkah. "Maaf, kalian pasti letih. Kalian telah menempuh perjalanan jauh. Kalian semua
pasti lapar." Dia lalu cemberut, dan seketika dia terlihat seperti gadis kecil. "Apa yang harus
kulakukan?" bisiknya. "Kami hanya ada sedikit makanan."
"Mana para pelayan?"
"Kusuruh mereka bersembunyi di hutan ketika kami mendengar ada kuda mendekat.
Mereka akan datang sebelum malam."
"Shizuka," kata Kaede, "Pergi ke dapur dan lihat ada apa saja di sana. Siapkan makan
dan minum untuk para pengawal. Mereka akan beristirahat di sini malam ini. Aku
memerlukan sepuluh orang untuk tetap di sini bersamaku." Kaede lalu menunjuk si Lengan
Panjang. "Biarlah dia yang memilih kesepuluh orang itu. Sisanya harus segera kembali ke
Inuyama. Jika ada yang mengganggu penduduk dalam perjalanan pulang, mereka akan
menggantinya dengan nyawa."
Shizuka membungkuk. "Lady."
"Akan kutunjukkan jalannya," kata Ai sambil membimbing Shizuka ke bagian belakang
rumah.
"Siapa namamu?" tanya Kaede pada si Lengan Panjang.
Dia berlutut di depan Kaede. "Kondo, lady."
"Kau anak buah Lord Arai?"
"Ibuku berasal dari Seishuu. Ayahku, bila aku dapat mempercayakan rahasiaku padamu,
berasal dari Tribe. Aku bertempur bersama Arai di Kushimoto, dan diminta untuk
bergabung dengan pasukannya."
Kaede mengamati Kondo. Orang ini tidak muda lagi. Rambutnya telah beruban, kulit
lehernya telah keriput.
Kaede bertanya-tanya bagaimana masa lalu orang ini, tugas apa yang telah dia kerjakan
untuk Tribe, seberapa jauh orang ini bisa dipercaya. Tapi ia memerlukan orang untuk
menangani pengawal, kuda, dan juga untuk menjaga kediaman ini. Kondo telah
menyelamatkan Shizuka, ditakuti dan dihormati anak buah Arai lainnya, serta memiliki
keahlian bertarung yang ia butuhkan.




61
"Aku memerlukan bantuan selama beberapa minggu," katanya. "Bisakah aku
mengandalkanmu?"
Dia mendongak ke arah Kaede. Di kepekatan malam, Kaede tidak dapat melihat raut
wajah orang itu. Gigi Kondo bersinar putih saat tersenyum, dan saat bicara, suaranya
terdengar tulus, bahkan penuh pengabdian. "Lady Otori dapat mengandalkanku selama
diperlukan."
"Kalau begitu, bersumpahlah," kata Kaede, merasa jengah saat berpura-pura seperti
orang yang memiliki kekuasaan meskipun ia tidak yakin apakah ia memang memiliki
kekuasaan.
Garis-garis keriput di sekitar mata Kondo berkerut sejenak. Dia menyembah dan
bersumpah setia pada Kaede dan keluarganya. Kaede merasakan nada sinis dalam suara
Kondo. Tribe selalu berpura-pura, pikir Kaede, menggigil. Selain itu, mereka juga hanya
bersumpah pada diri mereka sendiri.
"Pergi dan pilihlah orang yang dapat kau percaya," kata Kaede. "Periksa seberapa
banyak rumput yang ada untuk makanan kuda, dan periksa juga apakah gudang bisa menjadi
tempat beristirahat yang layak."
"Lady Otori," balasnya, dan kembali Kaede merasa seperti mendengar nada sinis. Kaede
ingin tahu seberapa banyak yang orang itu tahu, seberapa banyak yang sudah Shizuka
ceritakan padanya.
Setelah beberapa saat, Ai kembali. Dia meraih tangan Kaede dan berkata pelan,
"Haruskah kuberitahu ayah?"
"Di mana Ayah? Bagaimana kondisinya? Apakah dia terluka?"
"Ayah hanya terluka ringan. Tapi bukan soal lukanya... Setclah kematian Ibu, dan
kehilangan banyak pengawal... Ayah selalu melamun, dan dia sering berbicara pada hantu
dan jin."
"Kenapa dia tidak bunuh diri?"
"Ketika ditandu ke rumah, Ayah memang ingin bunuh diri." Suara Ai terdengar pecah
dan dia pun menangis. "Aku yang mencegahnya. Aku sangat lemah. Hana dan aku
bergantung padanya dan memohon padanya untuk tidak meninggalkan kami. Aku merebut
senjatanya." Ai memalingkan wajahnya yang berlinang air mata. "Ini salahku. Aku




62
seharusnya berani. Seharusnya aku membantu Ayah bunuh diri, lalu aku bunuh Hana,
kemudian aku bunuh diriku, seperti yang seharusnya dilakukan anak seorang ksatria. Tapi
aku tak mampu. Aku tak sanggup membunuh Hana, dan aku juga tak sanggup
meninggalkannya sendiri. Jadilah kami hidup dengan rasa malu, dan inilah yang membuat
Ayah gila."
Kaede berpikir, Aku juga seharusnya bunuh diri begitu mendengar Lord Shigeru dikhianati.
Tapi nyatanya aku tidak melakukannya. Sebaliknya aku malah bunuh Iida. Kaede menyentuh
pipi Ai, mengusap air mata yang berlinang.
"Maafkan aku," bisik Ai. "Aku bersikap lemah."
"Tidak," jawab Kaede. "Kenapa harus mati?" Adiknya baru berumur tiga belas tahun,
dan tidak melakukan kejahatan apa pun. "Mengapa kita harus memilih mati?" ucapnya.
"Kita justru harus hidup. Di mana Hana?"
"Aku menyuruhnya pergi ke hutan bersama pelayan."
Kaede jarang merasa iba, tapi kini perasaan itu muncul. Ia teringat bagaimana Dewi
Putih datang kepadanya. Sang Maha Pengasih telah menghiburnya dengan memberi janji
bahwa Takeo akan kembali kepadanya. Bersamaan dengan janji Dewi Putih, datang pula
tuntutan sifat pengasih yang meminta Kaede harus tetap hidup untuk merawat kedua
adiknya, penduduk, dan anaknya yang belum lahir. Dari luar ia mendengar suara Kondo
memberi perintah, para pengawal berteriak membalas. Seekor kuda meringkik dan yang
lainnya menjawab. Hujan kian deras, menciptakan pola bunyi-bunyian yang terdengar akrab
di hati Kaede.
"Aku harus menemui Ayah," ujar Kaede. "Setelah itu kita harus memberi makan
pengawal. Adakah orang desa yang dapat membantu?"
"Beberapa hari sebelum Ibu meninggal, para petani mengirim utusan. Mereka
mengeluhkan pajak beras, keadaan tanggul dan sawah, serta kegagalan panen. Ayah murka.
Dia bahkan menolak berbicara kepada mereka. Ayame membujuk utusan petani untuk tidak
mengganggu karena ibu sedang sakit. Sejak itu semuanya menjadi kacau. Penduduk desa
takut pada ayah—mereka bilang Ayah telah dikutuk."
"Bagaimana dengan tetangga kita?"
"Ada Lord Fujiwara. Dia pernah datang."




63
"Aku tidak ingat padanya. Siapa dia?"
"Dia itu aneh. Agak anggun dan dingin. Kata orang dia keturunan ningrat dan pernah
tinggal di ibukota."
"Inuyama?"
"Bukan. Tapi ibukota yang sebenarnya, tempat tinggal Kaisar."
"Dia kerabat Kaisar?'
"Kurasa begitu. Cara bicaranya berbeda dengan orang-orang di sekitar sini. Aku hampir
tak mengerti ucapannya. Dia nampak sangat terpelajar. Ayah senang berbicara dengannya
tentang sejarah dan hal-hal klasik."
"Jika dia datang lagi, mungkin aku bisa meminta nasihatnya." Kaede terdiam sejenak. Ia
sedang melawan rasa letih. Tungkainya nyeri dan perutnya terasa berat. Ia ingin berbaring
dan tidur. Dan ia merasa bersalah karena tidak lagi berduka. Bukannya ia tidak sedih atas
kematian ibunya dan rasa malu ayahnya, tapi tak ada lagi tempat di hatinya untuk bersedih
dan tak ada juga energi yang dapat ia berikan.
Kaede mengamati sekeliling ruangan. Bahkan di keremangan ia dapat melihat dengan
jelas alas lantai yang lapuk, dinding yang bernoda air, jendela kertas yang tercabik-cabik. Ai
mengikuti pandangan Kaede. "Aku malu," dia berbisik. "Banyak yang harus dilakukan, tapi
aku tak tahu harus bagaimana."
"Aku mulai teringat keadaan rumah ini dulu," kata Kaede. "Ada sesuatu yang bercahaya
di rumah ini."
"Ibu yang membuatnya seperti itu," kata Ai, menangis tersedu-sedu.
"Kita akan membuat rumah ini seperti dulu lagi," Kaede berjanji.
Terdengar suara orang bernyanyi di dapur. Kaede mengenalinya sebagai suara Shizuka,
dan lagu itu adalah lagu yang pernah ia dengar waktu pertama kali berjumpa Shizuka,
sebuah balada cinta tentang desa dan pohon pinus.
Bagaimana bisa dia bernyanyi di saat-saat seperti ini? pikir Kaede, lalu Shizuka berjalan
cepat masuk ke dalam ruangan sambil membawa lampu di kedua tangannya.
"Aku temukan barang-barang ini di dapur," ucapnya, "dan untung saja apinya masih
menyala. Beras dan gandum sedang dimasak. Kondo telah menyuruh pengawal ke desa
untuk membeli beberapa kebutuhan. Para pelayan telah kembali dari hutan."




64
"Adikku pasti datang bersama mereka," kata Ai dengan nada lega.
"Ya, dia juga membawa sebakul bunga dan jamur. Dia bersikeras ingin memasaknya."
Pipi Ai merona. "Dia memang agak liar," dia menjelaskan.
"Aku ingin melihatnya," kata Kaede. "Setelah itu kau harus mengantarku menemui
Ayah."
Ai berjalan keluar, Kaede mendengar kata-kata bantahan dari dapur, dan beberapa saat
kemudian Ai datang bersama seorang gadis cilik berumur sembilan tahun. "Ini kakak kita,
Kaede. Dia pergi saat kau masih bayi,"
Ai memberitahukan Hana, lalu menyuruhnya, "Salami kakakmu."
"Selamat Datang," Hana berbisik, lalu berlutut dan membungkuk. Kaede pun berlutut
di depannya, mengangkat wajah Hana dan menatapnya.
"Aku lebih muda darimu waktu aku pergi dulu," ujar Kaede, seraya mempelajari wajah
halus itu, struktur tulang yang sempurna di balik wajah bulat kekanak-kanakan.
"Dia mirip denganmu, lady," kata Shizuka.
"Kuharap dia akan lebih bahagia," jawab Kaede, dan menarik Hana ke dalam
pelukannya. Ia merasakan tubuh ringan itu mulai bergetar, dan menyadari gadis cilik ini
sedang menangis.
"Ibu! Aku ingin Ibu!"
Air mata Kaede berlinang.
"Hush, Hana, jangan menangis." Ai berusaha menenangkan. "Maaf," kata Ai. "Dia
masih berduka. Dia belum diajari bagaimana harus berperilaku."
Tidak apa-apa, dia akan diajari, pikir Kaede, seperti yang harus kulakukan dulu. Dia akan
belajar agar tidak memperlihatkan perasaannya, agar sadar bahwa hidup ini adalah derita dan
duka, agar dia hanya menangis dalam kcsendtrian.
"Kemari," kata Shizuka, sambil memeluk Hana. "Ajari aku cara memasak jamur. Aku
tidak tahu jenis jamur di sini."
Sambil tersenyum hangat Shizuka mantap Kaede.
"Pelayanmu sangat baik," kata Ai setelah Hana dan Shizuka keluar ruangan. "Berapa
lama dia bersamamu?"
"Dia datang kepadaku beberapa bulan lalu, tak lama sebelum aku pergi dari kastil




65
Noguchi," jawab Kaede. Kedua kakak beradik itu masih duduk di lantai, tidak tahu harus
berkata apa. Hujan semakin deras, air mengalir dari tepi atap bagaikan anak panah yang
membentuk tirai. Hari menjelang malam. Kaede berpikir, Aku tidak boleh memberitahukan Ai
bahwa Lord Arai yang mengirim Shizuka padaku sebagai bagian rencana penggulingan lida, atau
bahwa Shizuka berasal dari Tribe. Aku tidak boleh mengatakan apa-apa padanya. Dia masih
sangat muda, dia belum pernah keluar dari Shirakawa, dia tidak tahu apa pun tentang dunia
luar.
"Kurasa kita harus menemui Ayah," kata Kaede.
Namun di saat bersamaan Kaede mendengar suara orang memanggil dari bagian rumah
yang letaknya jauh. "Ai! Ayame!" Terdengar langkah kaki mendekat. Orang itu mengeluh
pelan, "Ah, mereka pasti telah pergi meninggalkan aku. Dasar perempuan tak berguna!"
Dia masuk ke ruangan dan langsung berhenti begitu melihat Kaede.
"Siapa di sana? Apakah kita kedatangan tamu? Siapa yang datang malam-malam begini
dan di saat hujan?"
Ai berdiri menghampiri. "Ini Kaede, putri sulung ayah. Dia telah kembali. Dia
selamat."
"Kaede?" Dia melangkah maju. Kaede tidak berdiri tapi tetap membungkuk dalamdalam,
menyentuhkan keningnya ke lantai.
Ai membantu ayahnya duduk. Laki-laki itu duduk berlutut di depan Kaede. "Tegaklah,
tegaklah," dia berkata dengan tidak sabar. "Mari kita lihat, siapa yang paling buruk di antara
kita berdua."
"Ayah?" ujar Kaede saat mengangkat kepala.
"Aku laki-laki yang menanggung malu," ucapnya. "Aku seharusnya sudah bunuh diri.
Tapi aku tidak melakukannya. Aku mayat hidup, hanya separuh diriku yang hidup. Lihatlah
aku, nak."
Memang benar bahwa perubahan yang mengenaskan telah menggerogoti ayahnya. Dia
dulu sangat terkendali dan bermartabat. Kini dia kelihatan seperti telah mengelupaskan
dirinya yang dulu. Irisan luka yang hampir sembuh melintang dari pelipis hingga telinga
kirinya; rambutnya dicukur habis karena penuh luka. Dia tidak memakai alas kaki dan
kimononya pun penuh noda, rahangnya gelap karena dihiasi janggut.




66
"Apa yang terjadi?" tanya Kaede sambil berusaha menahan marah. Dia kemari untuk
mencari perlindungan, mencari rumah masa kecilnya yang hilang karena telah
menghabiskan delapan tahun yang penuh duka, tapi ia justru menemukan rumahnya di
ambang kehancuran.
Ayahnya membuat gerakan lunglai. "Pentingkah itu? Semuanya telah lenyap, hancur.
Kepulanganmu adalah pukulan terakhir. Apa yang terjadi pada perkawinanmu dengan Lord
Otori? Jangan katakan kalau dia juga mati."
"Itu bukan salahku," ujarnya pahit. "Iida yang membunuhnya."
Bibir ayahnya merapat dan wajahnya memucat. "Kami tidak mendengar apa-apa di
sini."
"Iida juga sudah mati," Kaede melanjutkan. "Arai telah mengambil alih Inuyama.
Tohan sudah kalah."
Mendengar nama Arai jelas mengganggu Lord Shirakawa. "Pengkhianat itu," dia
berkata gusar, sambil memandang ke kegelapan seolah-olah dia melihat hantu-hantu sedang
berkumpul di situ. "Dia mengalahkan Iida?" Setelah membisu sejenak, dia. melanjutkan,
"Sekali lagi aku di pihak yang kalah. Keluargaku pasti dikutuk. Untuk pertama kalinya aku
senang tidak mempunyai anak laki-laki sebagai pewaris. Shirakawa akan lenyap tanpa perlu
disesali seorang pun."
"Kau punya tiga anak perempuan!" Kaede menanggapi, terluka oleh rasa marah.
"Putri sulungku juga dikutuk, membawa kematian bagi laki-laki yang akan dia nikahi!"
"Iida yang menyebabkan Lord Otori mati! Semua itu hanyalah jebakan Iida.
Pernikahanku dirancang agar Lord Otori datang ke Inuyama dan masuk dalam genggaman
Iida." Rintik hujan memukul keras atap, mengaliri tepian genteng. Shizuka membawa
lampu tambahan, meletakkannya di lantai lalu duduk berlutut di belakang Kaede. Aku harus
mengendalikan diri, pikir Kaede. Aku tidak boleh mengatakan semua hal padanya.
Wajah ayah Kaede pucat. "Kau jadi menikah atau tidak?"
Jantung Kaede berdebar kencang. Ia tidak pernah berbohong pada ayahnya. Kini ia
tidak mampu bersuara. Ia menunduk, seakan-akan sedih.
Shizuka lalu berbisik. "Boleh saya bicara, Lord Shirakawa?"
"Siapa dia?" tanya Ayahnya pada Kaede.




67
"Dia pelayanku. Dialah yang menemaniku sejak di kastil Noguchi."
Ayah Kaede mengangguk ke arah Shizuka. "Apa yang hendak kau katakan?"
"Lady Shirakawa dan Lord Otori telah menikah secara diam-diam di Terayama," kata
Shizuka dengan nada rendah. "Kerabat perempuanmu adalah saksinya, hanya saja dia juga
mati di Inuyama bersama anak gadisnya."
"Maruyama Naomi mati? Kini keadaan semakin buruk. Kekuasaannya akan berpindah
ke keluarga anak tirinya. Kiia mungkin terpaksa menyerahkan Shirakawa kepada mereka
juga."
"Akulah pewaris Lady Maruyama. Dia mempercayakan segalanya kepadaku." kata
Kaede.
Lord Shirakawa tertawa mengejek. "Mereka selalu mrmpersengketakan wilayah itu
selama bertahun-tahun. Suaminya adalah sepupu Iida dan didukung oleh Tohan dan
Seishuu. Kau pasti sudah sinting jika berpikir mereka akan membiarkanmu menguasai
wilayah itu."
Kaede dapat merasakan Shizuka bergerak pelan di belakangnya. Ayahnya hanyalah
orang pertama dari sekian banyak laki-laki, seluruh klan, bahkan mungkin seluruh Tiga
Negara yang akan berusaha menggagalkannya.
"Bagaimana pun juga, aku berniat mewarisinya."
"Kau harus berjuang untuk mendapatkannya," kata ayahnya dengan sinis.
"Kalau begitu aku akan berjuang." Mereka duduk dalam keheningan di ruangan yang
gelap dengan diiringi rintik hujan yang membasahi taman.
"Kita hanya memiliki beberapa orang pengawal," kata ayahnya, suaranya terdengar
pahit. "Apakah Otori akan membantumu? Kurasa kau harus menikah lagi. Apakah mereka
mengusulkan seseorang?"
"Terlalu cepat untuk memikirkan hal itu," ujar Kaede. "Aku masih berduka." Ia
menghela napas begitu dalam sehingga ia yakin ayahnya bisa mendengar. "Aku sedang
hamil."
Lord Shirakawa kembali menatap Kaede, menatap tajam melalui keremangan malam.
"Shigeru memberimu anak?"
Kaede membungkuk untuk menegaskan ucapannya tanpa berani bicara.




68
"Baiklah," kata ayahnya, tiba-tiba bertingkah riang yang tak semestinya. "Kita harus
merayakannya! Seorang laki-laki mungkin sudah mati, namun benihnya tetap hidup. Ini
sangat luar biasa!" Semula mereka bicara pelan, tapi kini Lord Shirakawa berteriak kencang
secara mengejutkan. "Ayame!"
Kaede terlonjak tanpa sengaja. Ia melihat bagaimana ayahnya kehilangan akal, berayunayun
antara senang dan sedih. Hal ini membuat Kaede takut, namun ia berusaha
menyingkirkan ketakutannya itu. Selama ayahnya percaya, ia akan hadapi apa pun yang
mungkin terjadi kelak.
Seorang perempuan, Ayame, datang dan berlutut di depan Kaede. "Lady, selamat
datang. Maaf atas penyambutan yang buruk."
Kaede berdiri, meraih lengan perempuan itu dan menariknya berdiri. Mereka
berpelukan. Sosok gigih dan padat yang Kaede ingat berkurang dalam diri perempuan yang
beranjak baya itu. Wewangian orang ini mengingatkan Kaede pada masa kecilnya.
"Ambilkan sake," perintah Ayah Kaede. "Aku ingin bersulang untuk cucuku."
Kaede ketakutan, seakan-akan telah memberi identitas vang salah pada anak ini. "Masih
terlalu dini," katanya pdan. "Jangan dulu dirayakan."
"Kaede!" seru Ayame, menyebut nama Kaede seperti yang dulu biasa dia panggil.
"Jangan bicara seperti itu, jangan mempermainkan takdir."
"Ayo ambilkan sake," ayahnya dengan lantang. "Dan tutup semua jendela. Kenapa di
sini dingin?"
Saat Ayame berjalan ke beranda, terdengar langkah kaki, dan suara Kondo memanggil,
"Lady Otori!"
Shizuka mendekat ke pintu dan berbincang dengan Kondo.
"Suruh dia masuk," perintah Kaede.
Kondo melangkah ke beranda dan duduk berlutut di pintu. Kaede menyadari
pandangan sekilas laki-laki itu ke sekeliling ruangan seraya mempelajari tata letak rumah,
dan menilai orang-orang di dalamnya. Kondo berbicara pada Kaede, bukan pada Lord
Shirakawa,
"Aku berhasil mendapatkan sedikit makanan dari desa. Aku pun telah memilih
beberapa orang yang kau minta. Pemuda yang tadi datang, Amano Tenzo, aku beri dia




69
tanggung jawab mengurusi kuda. Aku hendak melihat apakah mereka mendapatkan
makanan dan juga untuk menyiapkan penjagaan malam ini."
"Terima kasih. Kita akan bicara lagi besok pagi."
Kondo membungkuk, lalu pergi tanpa bicara.
"Siapa orang itu?" tanya ayahnya. "Kenapa dia tidak meminta pendapat atau ijin
dariku?"
"Dia bekerja padaku," balas Kaede.
"Bila dia anak buah Arai, tidak kuijinkan dia tinggal di rumah ini."
"Sudah kukatakan, dia bekerja padaku." Kesabaran Kaede mulai menipis. "Kini kita
bersekutu dengan Lord Arai. Dia telah menguasai sebagian besar Tiga Negara. Dialah
pemimpin kita. Kau harus terima kenyataan itu, Ayah. Iida sudah mati dan kini segalanya
telah berubah."
"Apakah itu juga berarti anak perempuan boleh bicara seperti itu pada ayahnya?"
"Ayame," kata Kaede, "tuntun Ayah ke kamar. "Dia akan makan di sana malam ini."
Ketika ayahnya membantah, Kaede meninggikan suara di depan ayahnya untuk yang
pertama kali dalam hidupnya. "Ayah, aku lelah. Kita bicara lagi besok."
Ayame memberi satu tatapan yang Kaede memilih untuk mengabaikannya. "Lakukan
seperti yang kukatakan," Kaede berkata dingin, dan setelah beberapa saat, pelayan itu
menuruti dan menuntun Lord Shirakawa pergi.
"Kau harus makan, lady," kata Shizuka. "Duduklah, akan kuambilkan sesuatu."
"Tolong periksa apakah semua orang sudah diberi makan," ujar Kaede. "Dan tutup
semua jendela."
Kaede lalu berbaring sambil mendengarkan rintik hujan. Semua penghuni rumah dan
pengawal telah diberi tempat menginap, disajikan makanan. Malam ini akan aman, bila
Kondo memang bisa dipercaya. Ia membiarkan berbagai kejadian hari ini berlari-lari di
benaknya untuk memikirkan masalah yang harus ia urusi: ayahnya, Hana, kepemimpinan
Shirakawa yang terabaikan, wilayah sengketa Maruyama. Bagaimana ia akan mengklaim dan
mempertahankan apa yang menjadi miliknya?
Seandainya aku laki-laki, pikir Kaede. Semuanya akan mudah. Seandainya aku anak lakilaki,
apa yang tidak akan ayah lakukan padaku?




70
Kaede menyadari dirinya memiliki kekejaman seorang laki-laki. Saat masih di kastil
Noguchi, ia pernah menusuk scorang penjaga tanpa sadar, sedangkan ia membunuh Iida
dengan sadar. Ia pasti akan membunuh lagi daripada membiarkan laki-laki menyerangnya.
Pikirannya melayang ke Lady Maruyama. Andaikan aku bisa lebih mengenalnya, pikirnya.
Kuharap aku bisa lebih banyak belajar darimu. Aku menyesal atas penderitaan yang aku
timbulkan. Bila saja kita bisa bicara bebas. Kaede seperti melihat seraut wajah cantik Lady
Maruyama di depannya, dan mendengar suaranya lagi. Aku percayakan wilayah dan
pendudukku kepadamu. Jagalah mereka.
Akan kulakukan, janji Kaede. Akan kupelajari caranya.
Kurangnya pendidikan membuat Kaede putus asa, namun ia memutuskan akan mencari
tahu cara menjalankan roda pemerintahan, cara berbicara dengan petani, cara melatih para
laki-laki untuk berperang, semua hal yang biasa diajarkan pada anak-anak laki sejak lahir.
Ayah harus mengajariku, pikirnya. Pekerjaan ini akan memberi dia sesuatu untuk dipikirkan
selain memikirkan dirinya sendiri.,
Kaede merasakan denyut emosi, takut atau malu atau, mungkin, gabungan dari
keduanya. Ia sedang berubah menjadi apa? Apakah ia tidak wajar? Apakah ia diberkahi atau
justru dikutuk? Ia yakin tidak ada perempuan yang pernah berpikir seperti apa yang ia
pikirkan saat ini. Kecuali Lady Maruyama. Dengan berpegang atas apa yang telah ia janjikan
pada kerabatnya itu, Kaede pun akhirnya tertidur.
Keesokan paginya Kaede mengucapkan salam perpisahan pada anak buah Arai, ia
mendesak mereka pergi secepat mungkin. Mereka pun senang bisa segera pergi, tidak sabar
turut serta dalam kampanye Arai ke wilayah Timur sebelum musim dingin. Kaede juga
senang dapat menyingkirkan mereka, khawatir ia tak mampu memberi mereka makan bila
tinggal semalam lagi. Kemudian ia memerintahkan pelayan membersihkan rumah dan
menata taman. Dengan tersipu malu Ayame memberitahukan bahwa tak ada yang dapat
digunakan untuk membayar pekerja. Harta Shirakawa telah habis.
"Kalau begitu, kita yang melakukannya sendiri," kata Kaede dan ketika pekerjaan
dimulai, ia pergi ke istal bersama Kondo.
Seorang pemuda menyambutnya dengan hormat dan tidak bisa menyembunyikan
kegembiraannya. Dia adalah Amano Tenzo, pemuda yang pernah menemani ayahnya ke




71
kastil Noguchi. Pemuda itu telah Kaede kenal sejak kanak-kanak. Usianya kini sekitar dua
puluh tahun.
"Kuda ini sangat bagus," katanya saat membawa Raku dan memasangkan pelana.
"Kuda ini pemberian anak Lord Otori," kata Kaede, sambil menepuk-nepuk leher
Raku.
Wajah Amano berseri-seri. "Kuda dari wilayah Otori terkenal karena stamina dan
indera yang bagus. Kuda-kuda mereka biasa mengarungi rawa-rawa dengan dipandu roh air.
Bila kau ijinkan, kita akan mengawinkan kuda ini agar mendapatkan keturunannya tahun
depan."
Kaede menyukai cara Amano menyapa dan berbicara padanya tentang hal-hal seperti
itu. Istal dalam kondisi lebih baik ketimbang bagian rumah lainnya, bersih dan tcrawat.
Selain Raku, di istal itu hanya ada kuda jantan milik Amano, empat ekor kuda milik Kondo
dan anak huahnya, serta tiga ekor kuda yang sudah tua dan pincang. Tengkorak-tengkorak
kuda terpancang di tepi atap istal dan angin merintih saat menembus ke rongga mata
mereka yang kosong. Dia tahu tengkorak-tengkorak itu dipajang untuk melindungi dan
menenangkan kuda-kuda di bawahnya, tapi saat ini jumlah tengkoraknya lebih banyak
dibandingkan kuda yang masih hidup.
"Kau benar, kita harus menambah jumlah kuda," ujar Kaede. "Berapa banyak kuda
betina yang kita miliki?"
"Hanya dua atau tiga ekor saat ini."
"Bisakah kita dapat lebih banyak lagi kuda sebelum musim dingin?"
Amano nampak murung. "Peperangan, badai... tahun ini penuh bencana bagi
Shirakawa."
"Tunjukkan tempat yang paling parah," kata Kaede. "Temani aku berkuda."
Kepala Raku menegak tinggi dan kedua telinganya terjulur ke depan. Kuda itu seperti
sedang menatap dan mendengarkan. Raku meringkik lembut saat Kaede mendekatinya.
"Kurasa kuda ini merindukan seseorang-tuannya, mungkin," ujar Amano.
"Jangan mencemaskan hewan ini. Dia akan terbiasa dengan kita dan melupakan
tuannya." Kaede menepuk-nepuk leher abu-abu pucat Raku. Aku juga merindukan tuanmu, ia
berbisik pelan. Bisakah kita berdua melupakannya? Ia merasakan ikatan yang semakin kuat




72
dengan kuda kecil ini.
Setiap pagi Kaede berkuda menjelajahi wilayahnya bersama Kondo dan Amano. Setelah
beberapa hari berlalu, seorang laki-laki tua muncul di pintu, dan para pelayan
menyambutnya dengan tangis kegembiraan. Orang itu bernama Shoji Kiyoshi, orang
kepercayaan ayahnya yang sudah tua, terluka dan dikhawatirkan sudah tewas. Dia memiliki
pengetahuan yang luas tentang pemerintahan, desa, dan para petani. Kaede sadar kalau
orang itu bisa mengatakan banyak hal yang perlu ia ketahui. Awalnya Shoji menertawakan
keinginan Kaede, merasa aneh dan lucu bila ada gadis tertarik akan hal seperti itu, namun
ingatan dan kecepatan Kaede menangkap apa yang diajarkan membuat dia kaget. Orang tua
itu mulai membahas berbagai masalah dengan Kaede, dan meskipun Kaede merasakan
ketidaksepakatan Shoji pada dirinya, namun ia merasa dapat mempercayai laki-laki itu.
Ayahnya kurang menaruh perhatian soal pemerintahan sehari-hari, dan Kaede menduga
kalau ayahnya telah bertindak ceroboh, bahkan berlaku tidak adil. Ayahnya terlalu
menyibukkan diri dengan membaca dan menulis di kamarnya. Kaede menemui ayahnya
setiap sore. Tanpa bicara, Lord Shirakawa menghabiskan waktu dengan menatap taman,
melihat Ayame dan pelayan lain bekerja tak mengenal lelah di taman, sambil menggerutu,
mengeluhkan nasibnya.
Kaede memohon agar ayahnya mau mengajari berbagai hal, "Perlakukan aku seakanakan
aku anak laki-laki," namun ayahnya tidak menanggapi dengan serius.
"Seorang isteri seharusnya patuh dan, jika mungkin, mempercantik diri. Laki-laki tidak
ingin perempuan yang berpikir seperti mereka."
"Laki-laki selalu membutuhkan teman untuk diajak bicara," Kaede mendebatnya.
"Laki-laki tidak bicara pada isterinya, mereka hanya bicara dengan sesamanya," jawab
ayahnya sinis. "Lagipula, kau kan tidak bersuami. Sebaiknya kau menikah lagi."
"Aku tak akan menikah," kata Kaede. "Itu alasannya aku harus belajar. Apa yang
seorang suami akan lakukan untukku, aku akan melakukannya sendiri."
"Kau harus menikah," balas ayahnya singkat. "Kita akan rencanakan pernikahanmu."
Kaede lega karena ayahnya tidak membicarakan hal itu lagi.
Hampir setiap hari Kaede duduk di dekat ayahnya, duduk berlutut di samping selagi
ayahnya menyiapkan batu tinta dan kuas, mengamati setiap goresan. Kaede bisa membaca




73
dan menulis berlembar-lembar naskah yang digunakan para perempuan, tapi ayahnya
menulis dalam bahasa laki-laki, bentuk karakternya serapat dan sekokoh jeruji penjara.
Kaede mengamati dengan sabar, sampai suatu hari ayahnya memintanya menulis
karakter-karakter laki-laki, perempuan, dan anak-anak.
Karena kidal, Kaede mengambil kuas dengan tangan kiri, namun ketika melihat
ayahnya mengerenyitkan dahi, Kaede lalu memindahkan kuas ke tangan kanan. Dengan
menggunakan tangan kanan berarti, seperti biasanya, ia perlu usaha keras untuk menulis. Ia
menulis secara tegas, menirukan gerakan ayahnya. Lord Shirakawa menatap lama hasil
tulisan Kaede.
Akhirnya dia berkata, "Kau menulis seperti laki-laki."
"Anggap saja aku laki-laki." Merasa sedang diperhatikan, Kaede balas menatap.
Ayahnya menatap seakan-akan dia tak mengenali putrinya sendiri, seakan-akan Kaede
membuat dia bingung dan terpesona, seperti seekor hewan eksotis.
"Sangat menarik," ujarnya, "melihat seorang gadis dapat mengikuti tulisan laki-laki.
Apalagi aku tidak mempunyai anak laki-laki, dan aku tak akan pernah punya."
Suaranya kian lemah dan tatapannya yang hampa menerawang jauh. Ini satu-satunya
saat dia menyinggung, meskipun hanya samar-samar, tentang kematian istrinya.
Sejak itu, Lord Shirakawa mengajari segala hal yang seharusnya sudah Kaede pelajari
bila ia terlahir sebagai laki-laki. Ayame menentang itu; begitu pula dengan sebagian besar
penghuni rumah ini, khususnya Shoji, tapi Kaede mengacuhkan mereka semua. Ia belajar
dengan cepat, meski banyak hal yang ia pelajari justru membuat ia putus asa.
"Semua yang Ayah katakan hanyalah tentang alasan laki-laki menguasai dunia," Kaede
mengeluh pada Shizuka. "Setiap naskah, setiap hukum menjelaskan dan membenarkan
dominasi laki-laki."
"Itulah dunia," balas Shizuka. Waktu itu hari telah malam dan mereka sedang berbaring
berdampingan, seraya berbisik-bisik. Ai, Hana, dan para pelayan perempuan lainnya tidur di
kamar sebelah. Malam terasa hening, udara dingin.
"Tidak semua orang mempercayai itu. Mungkin ada wilayah lain di mana mereka
berpikir secara berbeda. Bahkan di sini ada beberapa orang yang berani berpikir sebaliknya.
Lady Maruyama, misalnya..." Suara Kaede terdengar lebih pelan lagi. "Kaum Hidden…"




74
"Apa yang kau tahu tentang mereka?" tanya Shizuka sambil tertawa lembut.
"Kau pernah mengatakannya, saat pertama kita bertemu di kastil Noguchi. Kau
mengatakan kalau mereka percaya semua orang diciptakan sejajar oleh tuhan mereka. Saat
itu kupikir kau, dan mereka, pasti sudah gila. Tapi kini, ketika aku belajar bahwa Sang
Pencerah pun berbicara buruk tentang perempuan—atau setidaknya para rahib dan biarawan
yang melakukannya—timbul pertanyaan dalam diriku, kenapa harus begitu?"
"Apa yang kau harapkan?" kata Shizuka. "Laki-lakilah yang menulis sejarah dan naskah
suci. Bahkan puisi. Kau tidak bisa mengubah dunia. Kau justru harus melakukan yang
terbaik dari semua itu."
"Ada beberapa penulis perempuan," ujar Kaede. "Aku pernah mendengar dongeng
mereka sewaktu di kastil Noguchi. Namun Ayah melarangku membaca karya mereka karena
menurutnya itu dapat merusak pikiranku."
Kadang-kadang Kaede berpikir ayahnya menyuruh ia membaca hanya karena para
penulis itu mengatakan hal-hal yang buruk tentang perempuan, namun kemudian dia
berpikir mungkin memang tidak ada naskah yang lain. Kaede tidak menyukai Kung Fu Tzu
yang dikagumi ayahnya. Suatu sore, saat sedang menyalin pemikiran bijak yang ayahnya
diktekan, ada tamu datang.
Hari telah berganti malam. Udara terasa lembab dan dingin. Di taman, pucuk bunga
seruni terkulai karena tertindih embun. Para pelayan menghabiskan minggu-minggu
terakhir untuk menyiapkan pakaian musim dingin dan Kaede bersyukur atas kain berlapis
kapas yang ia kenakan di balik kimononya. Duduk sambil menulis dan membaca membuat
tangan dan kakinya kedinginan. Tak lama lagi ia harus menyiapkan tungku... ia
mencemaskan awal musim dingin ini karena mereka masih belum siap.
Ayame terburu-buru mendekati pintu dan berkata dengan gelisah, "Lord Fujiwara
datang, tuan."
Kaede berkata, "Aku pergi dulu," lalu dia meletakkan kuas dan berdiri.
"Jangan, kau tunggu di sini. Akan kubuat dia menemuimu. Tentu saja dia datang
karena ingin mendengar kabar yang kau bawa dari Timur."
Ayahnya melangkah keluar untuk menyambut tamu. Setelah berbalik untuk memberi
isyarat pada Kaede, dia lalu berlutut.




75
Halaman rumah dipenuhi penunggang kuda dan pelayan sang bangsawan. Lord
Fujiwara keluar dari tandu yang diturunkan di samping batu datar raksasa, batu yang dibawa
ke taman dengan cepat karena tujuan tersebut. Kaede heran ada yang mau datang ke tempat
ini. Ia berharap, dengan rasa bersalah, semoga rombongan ini membawa makanan sendiri.
Kaede berlutut ketika seorang pelayan melepaskan alas kaki bangsawan itu, lalu masuk ke
dalam rumah.
Sebelum menunduk, Kaede berusaha melihat sosok laki-laki itu. Orang itu bertubuh
ramping dan tinggi, Wajahnya putih seperti topeng, keningnya tinggi secara tak wajar.
Pakaiannya berwarna lembut terbuat dari kain yang sangat elok. Dia memakai wewangian
yang memabukkan, aroma yang menunjukkan ketegasan dan orisinalitas. Dia balas
bungkukan Lord Shirakawa dengan anggun, dan menanggapi sambutan dengan penuh
sopan santun, diiringi bahasa yang berbunga-bunga.
Kaede tetap tidak bergerak saat orang itu melewati dirinya, aroma wangi tubuh
bangsawan itu sangat menusuk hidung.
"Ini putri sulungku," kata Lord Shirakawa dengan santai, saat dia mengikuti tamunya
masuk. "Otori Kaede."
"Lady Otori," Kaede mendengar Lord Fujiwara mengatakan itu, kemudian, "Aku ingin
bertemu dengannya."
"Kemari, anakku," ayahnya berkata tidak sabar dan Kaede masuk dengan tetap berlutut.
"Lord Fujiwara," gumamnya.
"Dia tentu sangat cantik," bangsawan itu berkata. "Coba kulihat wajahnya."
Kaede mengangkat mata dan menjumpai tatapan laki-laki itu.
"Menakjubkan."
Di kedalaman matanya yang menyipit dan menyorotkan penghargaan, Kaede melihat
adanya rasa kagum, bukan hasrat. Sikap laki-laki itu membuatnya kaget dan Kaede
tersenyum samar, tapi senyum lepas. Lord Fujiwara nampak sama kagetnya dan garis
bibirnya yang semula mengatup keras berubah lembut.
"Aku pasti telah mengganggumu," dia meminta maaf, pandangannya tertuju ke kuas
dan lembaran kertas milik Kaede. Keingintahuan orang ini muncul. Satu alis matanya naik.
"Sedang belajar?"




76
"Bukan apa-apa," balas Lord Shirakawa malu-malu. "Ini hanyalah kebodohan seorang
gadis. Kau pasti menganggapku seorang ayah yang dungu."
"Justrunya sebaliknya, aku terkesan." Dia mengambil lembaran yang Kaede tulis.
"Bolehkah?"
"Silakan, silakan," Lord Shirakawa berkata.
"Tulisan tangan yang cukup bagus. Orang tak akan percaya ini tulisan seorang gadis."
Kaede merasa pipinya merona. Ia diingatkan kembali akan kenekatannya mempelajari
urusan laki-laki.
"Kau menyukai Kung Fu Tzu?" Lord Fujiwara bertanya langsung, dan ini membuat
Kaede makin bingung.
"Perasaanku bercampur-aduk," balas Kaede. "Bagiku, Penulis ini hanya memiliki sedikit
kepedulian."
"Anakku," ayahnya membantah, namun bibir Lord Fujiwara bergerak sehingga nampak
seperti tersenyum.
"Sang penulis tidak mengantisipasi akan dinilai seperti itu," jawabnya ringan. "Aku
yakin kau baru tiba dari Imiyama. Harus kuakui kalau salah satu alasanku kemari yaitu
untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di sana."
"Aku tiba sebulan lalu," jawab Kaede. "Tidak langsung dari Inuyama. Aku datang dari
Terayama, tempat Lord Otori dimakamkan."
"Suamimu? Aku belum dengar itu. Aku turut berbelasungkawa."
Pandangannya menyapu sosok Kaede. Tak satu pun bisa lolos darinya, pikir Kaede.
Matanya seperti mata elang.
"Iida yang menyebabkan dia mati," kata Kaede pelan. "Dan Iida dibunuh sebagai
pembalasan dari Otori."
Fujiwara menunjukkan rasa simpatinya, dan Kaede berbicara singkat mengenai Arai dan
situasi di Inuyama. Di balik kesantunan ucapan bangsawan itu, Kaede melihat kalau orang
itu ingin tahu lebih banyak lagi. Hal itu membuat Kaede gelisah, namun ia juga merasa
tergoda. Ia merasa dapat menceritakan segala hal pada Lord Fujiwara dan tak ada yang
membuat orang ini kaget, dan Kaede pun merasa tersanjung akan ketertarikan Lord
Fujiwara pada dirinya yang ditunjukkan dengan jelas.




77
"Semua ini gara-gara si Arai yang pernah bersumpah setia pada Noguchi," kata Lord
Shirakawa, kembali marah pada musuh utamanya. "Karena pengkhianatan dialah sehingga
aku berperang melawan orang-orang Seishuu di wilayahku sendiri—beberapa di antara
mereka bahkan saudaraku sendiri. Aku merasa dikhianati dan dilangkahi."
"Ayah!" Kaede coba menenangkan. Masalah ayahnya bukanlah urusan Lord Fujiwara,
dan makin sedikit dia membicarakan tentang aibnya, semakin baik.
Bangsawan itu menanggapi pengungkapan ayahnya dengan agak membungkuk.
"Sepertinya Lord Shirakawa terluka."
"Hanya terluka ringan," balasnya. "Lebih baik seandainya aku mati dibunuh. Aku
seharusnya bunuh diri namun kedua putriku membuatku lemah."
Kaede tak ingin mendengar apa-apa lagi. Untung saja mereka disela oleh Ayame yang
datang membawakan teh dan beberapa manisan. Setelah melayani kedua laki-laki itu, Kaede
lalu pamit, meninggalkan ruangan agar mereka dapat berbicara lebih jauh. Mata Fujiwara
menatap kepergian Kaede yang sedang berharap untuk dapat berbicara lagi dengan
bangsawan itu tanpa kehadiran ayahnya.
Kaede tidak ingin langsung menyarankan suatu pertemuan, tapi ia memikirkan cara
untuk dapat mewujudkannya. Beberapa hari kemudian, ayahnya mengabarkan bahwa Lord
Fujiwara mengundang Kaede datang ke istananya untuk melihat-lihat koleksi lukisan dan
harta benda lainnya.
"Kau berhasil membuat dia tertarik," kata ayahnya, agak kaget.
Dengan sukacita, meskipun agak cemas, Kaede meminta Shizuka ke istal untuk
menyuruh Amano menyiapkan Raku, dan meminta dia menemani ke kediaman Lord
Fujiwara yang tidak begitu jauh.
"Kau harus menggunakan tandu," kata Shizuka tegas.
"Mengapa?"
"Lord Fujiwara berasal dari istana. Dia kerabat kaisar. Kau tidak boleh mengunjunginya
dengan berkuda seperti seorang ksatria." Shizuka terlihat kaku, namun kemudian merusak
kesan itu dengan tertawa terkekeh-kekeh, lalu menambahkan, "Jika kau laki-laki dan
menunggang Raku, ayahmu mungkin akan mengijinkan! Tapi kau harus memberi kesan
sebagai perempuan; kau harus tampil dengan sempurna." Shizuka menatap Kaede dengan




78
pandangan kritis. "Tidak diragukan lagi, dia pasti akan berpikir kalau kau terlalu tinggi."
"Dia pernah mengatakan aku cantik," kata Kaede, tersinggung.
"Dia harus melihatmu mulus tanpa cacat. Seperti porselen, atau lukisan karya Sesshu.
Setelah itu, dia pasti ingin menambahmu sebagai koleksinya."
"Aku tak ingin menjadi koleksinya," jerit Kaede.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" suara Shizuka berubah serius.
Kaede menjawab dalam nada yang serupa. "Aku ingin memperbaiki wilayahku dan
menuntut apa yang menjadi milikku. Aku ingin memiliki kekuasaan seperti yang orang lakilaki
miliki."
"Bila itu keinginanmu, maka kau perlu sekutu," jawab Shizuka. "Jika hendak menjadikan
Lord Fujiwara sebagai sekutu, maka kau harus tampil sempurna di depannya. Kirim pesan
yang mengatakan kau sedang kurang sehat. Katakan kalau kau akan mengunjunginya dua
hari lagi sehingga ada waktu untuk bersiap-siap."
Pesan dikirim dan Kaede pun pasrah di tangan Shizuka. Rambutnya dicuci, alis matanya
dicabut agar rapi, kulitnya digosok dengan gandum, badannya dipijat memakai pelembab
lalu digosok lagi. Shizuka mengumpulkan semua pakaian dan memilih beberapa kimono
milik mendiang ibu Kaede. Semua pakaian itu tak lagi baru, namun terbuat dari bahan yang
bermutu dan warnanya—abu-abu seperti warna sayap burung dara, dan ungu seperti warna
semak semanggi—membuat kulit Kaede terlihat putih dan rambutnya bercahaya biru
kehitaman.
"Kau begitu cantik sehingga akan mencuri perhatiannya," ucap Shizuka. "Tapi kau juga
harus menggugah minatnya. Jangan terlalu banyak bicara. Aku yakin dia menyukai rahasia.
Bila kau membagi rahasiamu, yakinlah kalau dia akan membayar harga yang pantas untuk
rahasia yang kau berikan."
Malam semakin dingin dengan butiran salju yang mulai berjatuhan, sedangkan di siang
hari langit cerah. Pegunungan tampak cemerlang dengan pohon maple dan sumac yang
berwarna semerah lidah api dengan latar belakang pepohonan cedar yang hijau gelap dan
langit yang biru.
Perasaan Kaede bersemangat karena kandungannya, dan saat melangkah keluar dari
tandu dan menginjak taman di kediaman Lord Fujiwara, keindahan yang ada di hadapannya




79
membuat hatinya tergetar. Inilah suasana musim gugur yang sempurna, yang tak lama lagi
akan hilang akibat badai yang datang menderu-deru dari pegunungan.
Kediaman Lord Fujiwara lebih besar dan lebih terawat dibanding rumah Kaede. Air yang
mengalir melalui taman bergemericik saat terhalang bebatuan saat melalui taman dan
melewati kolam di mana ikan berwarna emas dan merah berenang dengan malas. Bukit
tampak seperti berdiri di atas taman, geinuruh air terjun bergema di kejauhan. Dua ekor
elang memanggil-manggil dari langit yang tak berawan.
Seorang pemuda datang menyambut di anak tangga lalu membimbing Kaede
menyeberangi beranda luas ke ruangan utama di mana Lord Fujiwara telah duduk
menunggu. Di pintu, Kaede berlutut, lalu menunduk hingga dahinya menyentuh lantai.
Alas lantai ruangan ini segar dan baru, warnanya hijau pucat, keharumannya tercium tajam.
Shizuka tetap di luar, duduk bersimpuh di lantai kayu. Ruangan hening. Merasa sedang
diperhatikan oleh Lord Fujiwara, Kaede berusaha memperhatikan ruangan itu sebanyak
yang ia bisa, tanpa menggerakkan kepala atau mata. Alangkah leganya Kaede ketika Lord
Fujiwara akhirnya menyapa dan memintanya agar duduk tegak.
"Aku senang atas kunjunganmu," katanya, dan mereka pun berbasa-basi. Kaede tetap
menjaga suaranya agar lembut dan rendah, sedangkan lawan bicaranya berbicara dengan
bahasa berbunga-bunga yang terkadang sulit diduga maksud kata-kata itu. Kaede hanya
berharap bila ia tidak bicara banyak, maka orang itu akan menganggapnya orang yang
misterius, dan bukan orang yang dungu.
Pemuda yang tadi mengantarnya datang membawa perlengkapan minum teh, dan
Fujiwara yang membuatkan teh, mengaduk-aduknya sehingga berbuih. Mangkuknya terasa
berat, berwarna merah jambu kecoklatan, sungguh menyenangkan saat dilihat dan disentuh.
Kaede memutar-mutar mangkuk yang ia pegang sambil mengaguminya.
"Mangkuk teh ini berasal dari Hagi," katanya. "Dari daerah asal Lord Otori. Dan ini
merupakan mangkuk teh kesukaanku." Setelah beberapa saat, dia melanjutkan, "Kau hendak
ke sana?"
Tentu saja aku akan ke sana, pikir Kaede. Bila dia memang suamiku dan aku mengandung
anaknya, aku pasti akan pergi ke rumahnya, ke keluarganya.
"Aku tidak bisa," kata Kaede singkat, seraya menaikkan mata. Seperti biasa, ingatan




80
tentang kematian Shigeru, peran yang ia mainkan di dalamnya, dan tindakan balas dendam
saat itu, hampir membuat ia menitikkan air mata, menggelapkan matanya, membuat
matanya berkaca-kaca.
"Selalu ada alasannya," dia berkata secara tidak langsung. "Lihat aku sekarang ini.
Makam anak laki-lakiku dan isteriku ada di Ibukota. Kau pasti belum mendengar beritanya:
aku diusir. Beberapa tulisanku membuat para penguasa tidak senang. Setelah aku
diasingkan, kota tertimpa dua kali bencana gempa yang dahsyat dan juga terjadi serangkaian
kebakaran. Umumnya mereka yakin itu adalah ungkapan rasa tidak senang Tuhan karena
telah memperlakukan seorang pelajar yang tak berdaya secara tidak adil. Mereka lalu
memintaku kembali ke ibukota, tapi hidup di sini membuatku bahagia. Aku juga punya
alasan untuk tidak segera mematuhi perintah itu, meskipun kelak aku harus meninggalkan
tempat ini."
"Lord Shigeru kini telah menjadi dewa," kata Kaede. "Setiap hari orang datang
berduyun-duyun untuk berdoa di makamnya, di Terayama."
"Kematian Lord Shigeru merupakan kepedihan bagi kita semua, sedangkan aku masih
hidup. Aku terlalu dini untuk menjadi dewa."
Lord Fujiwara telah mengungkapkan tentang dirinya dan kini Kaede merasa harus
melakukan yang sama. "Kedua paman Lord Shigeru menginginkan kematiannya," kata
Kaede. "Itulah mengapa aku tidak mengunjungi mereka."
"Aku hanya mengetahui sedikit tentang Klan Otori," kata Lord Fujiwara, "terlepas dari
kerajinan tembikar mereka yang indah, orang Otori memiliki sifat tertutup. Agak sulit
menjangkau mereka. Dan mereka masih kerabat kaisar." Suaranya ringan, hampir seperti
mengejek, tapi ketika melanjutkan, nada suaranya agak berubah. Nada rasa ingin tahu dalam
suara Lord Fujiwara yang telah Kaede tahu kini muncul lagi. "Maaf jika memaksa, tapi
bagaimana sampai Shigeru mati?"
Selama ini hampir tidak pernah Kaede membicarakan tentang peristiwa yang
menyakitkan di Inuyama hingga ia tidak kuasa ingin mencurahkannya, tapi saat sang
bangsawan mencondongkan badan, Kaede dapat merasakan rasa penasaran Lord Fujiwara,
bukan pada dirinya, tapi untuk mengetahui apa yang telah Kaede derita.
"Aku tak dapat menceritakannya," kata Kaede dengan nada rendah. Ia akan membuat




81
laki-laki itu membayar demi rahasianya. "Terlalu menyakitkan."
"Ah," Fujiwara pun menunduk sambil menatapi mangkuk di tangannya. Kaede
mengamati bibir yang menarik dan jari yang lentik. Laki-laki itu meletakkan mangkuk di
lantai dan menatap Kaede, dan dengan sengaja Kaede balas menatap, membiarkan air mata
merebak di matanya, kemudian membuang muka.
"Mungkin suatu saat nanti..." kata Lord Fujiwara dengan lembut.
Mereka duduk tanpa bergerak maupun berbicara selama beberapa saat.
"Kau menggugah rasa ingin tahuku," Lord Fujiwara berkata akhirnya. "Sangat sedikit
perempuan yang seperti itu. Mari kutunjukkan kediamanku yang sederhana, dan koleksiku
yang hanya sedikit."
Kaede meletakkan mangkuk kemudian berdiri dengan anggun. Sementara sang
bangsawan mengawasi setiap gerakan Kaede tanpa bergairah seperti laki-laki lainnya.
Kaede menyadari maksud Shizuka. Jika orang itu mengaguminya, maka dia akan
menambahkan Kaede sebagai salah satu koleksinya. Berapa harga yang harus orang itu
bayar demi dirinya dan apa saja yang bisa ia dapatkan? Shizuka membungkuk saat Kaede
dan Lord Fujiwara berjalan melewatinya, dan pemuda yang tadi menyambut
muncul dari kegelapan. Struktur tulang pipi pemuda itu sehalus seorang gadis.
"Mamoru," kata Fujiwara, "Lady Otori sangat baik mau melihat-lihat koleksiku yang
buruk. Ikutlah bersama kami."
Waktu pemuda itu membungkuk hormat pada Kaede, Fujiwara berkata, "Kau harus
belajar darinya. Pelajari dia. Lady ini sangat sempurna."
Kaede mengikuti mereka ke pusat rumah di mana ada halaman dan panggung.
"Mamoru adalah pemain drama," ujar Fujiwara. "Dia memainkan peran perempuan. Aku
ingin mementaskan pagelaran drama di lahan kecil ini."
Halamannya tidak luas, namun sangat indah. Pilar-pilar kayu polos yang menopang atap
berukir ornamen, dan di latar belakang panggung ada lukisan pohon pinus.
"Kau harus menyaksikan pertunjukkan di sini," ujar Fujiwara. "Tak lama lagi kami akan
memulai gladiresik drama Atsumori*. Kami sedang menunggu kedatangan pemain seruling.
Tapi sebelum itu, akan ada pertunjukkan drama The Fulling Block**. Mamoru bisa belajar
darimu dan aku ingin tahu pendapatmu tentang penampilannya."




82
Ketika Kaede tidak menanggapi, dia melanjutkan, "Kau tahu tentang drama?"
"Aku pernah menyaksikan beberapa pertunjukan saat di Noguchi," balasnya. "Hanya saja
aku tak tahu banyak."
"Menurut Ayahmu, kau pernah menjadi tawanan di Noguchi."
"Sejak usia tujuh tahun."
"Alangkah aneh hidup yang perempuan jalani," dia berkata.
Mereka berjalan dari panggung ke ruangan tempat menerima tamu dengan pemandangan
taman kecil di luarnya. Sinar matahari masuk hingga ke dalam ruangan dan Kaede bersyukur
atas kehangatannya. Tapi, matahari telah mendekati gunung. Tak lama lagi gunung akan
menyembunyikan matahari, dan bayang-bayang pegunungan akan menutupi lembah. Kaede
menggigil kedinginan.
"Ambilkan tungku," perintah Fujiwara. "Lady Otori kedinginan."
Mamoru menghilang sejenak, kemudian datang lagi diikuti seorang laki-laki tua yang
membawa tungku kecil berisi bara.
"Duduklah di dekat tungku itu," kata Fujiwara, "Mudah sekali terserang dingin sekarang
ini."
Mamoru meninggalkan ruangan tanpa pernah bicara, gerakan pemuda itu anggun,
terhormat, dan tak bersuara. Sewaktu kembali, dia membawa peti kayu paulownia yang dia
letakkan di lantai dengan hati-hati. Dia pergi dan kembali sebanyak tiga kali sambil
membawa peti atau kotak yang terbuat dari kayu yang berbeda: kayu zelkova, reniara,
danceri yang dipelitur sehingga warna dan urat kayu memperlihatkan usia pohon-pohon itu,
memperlihatkim bekas ranting yang tumbuh kembang, cuaca panas ihn dingin, hujan dan
angin yang dialaminya.
Lord Fujiwara membuka kotak-kotak itu satu demi satu dengan gerakan yang pelan dan
sangat berhati-hati. Di dalamnya terhampar beberapa bungkusan, ada beberapa yang
dibungkus berlapis-lapis kain yang indah, meskipun sudah sangat tua: bahan sutra dari
proses anyaman terbaik dan sebagian besar berwarna lembut, tapi apa yang ada di balik kainkain
itu jauh mengungguli semua yang pernah Kaede lihat. Sang bangsawan membuka
sctiap lapisan kain pembungkus lalu menaruh dengan hati-hati di depan Kaede. Dia
mengajak Kaede mengangkat, mengelus, dan menyentuhkan ke bibir atau ke alis mata untuk




83
merasakan keindahan benda itu, seperti keindahan pada saat dipandang. Lord Fujiwara
kemudian membungkus dan meletakkan koleksinya itu ke tempat semula sebelum
menunjukkan isi peti berikutnya.
"Jarang sekali aku melihat benda-benda ini," dia berkata dengan nada cinta dalam
suaranya. "Setiap pandangan tidak layak yang ditujukan pada benda-benda ini akan
mengurangi nilainya. Hanya membukanya saja sudah menjadi kegiatan erotis bagiku. Dan
berbagi dengan orang yang memiliki tatapan yang menghargai membuat aku senang,
meskipun itu sangat jarang terjadi."
Kaede hanya diam, ia tidak tahu banyak tentang nilai atau tradisi benda-benda di
depannya: mangkuk teh yang terbuat dari tembikar coklat-merah jambu, yang rapuh tapi
juga kuat, batu permata berbentuk Sang Pencerah yang duduk di tengah bunga teratai, kotak
bersepuh emas yang sederhana sekaligus juga rumit. Kaede menatapnya lurus, dan bendabenda
indah itu seakan memiliki mata dan balas memandangnya.
Mamoru tidak ikut melihat isi peti, namun setelah beberapa waktu yang terasa berjalan
lambat—bagi Kaede waktu seakan-akan berhenti—pemuda itu kembali membawa kotak
datar, besar. Fujiwara mengeluarkan lukisan dari dalam kotak itu: gambar pemandangan
musim dingin dengan dua burung gagak hitam yang dilatarbelakangi salju di permukaan
tanah.
"Ah, Sesshu," bisik Kaede, berkata untuk pertama kalinya.
"Bukan Sesshu, tapi gurunya," bangsawan itu membetulkan. "Ada pepatah mengatakan
bahwa seorang anak tidak bisa mengajari orangtuanya, namun dalam kasus Sesshu, kita
harus mengakui bahwa seorang murid dapat mengungguli gurunya."
"Bukankah ada pepatah: birunya celupan lebih gelap dibandingkan birunya bunga?" balas
Kaede.
"Kau menyetujui pepatah itu, kurasa."
"Jika tidak ada anak atau murid yang lebih bijak, berarti tidak akan ada perubahan."
"Dan semua orang akan sangat puas!"
"Hanya mereka yang memiliki kekuasaan," kata Kaede. "Mereka berusaha
mempertahankan kekuasaan dan posisi, sementara yang lain melihat kekuasaan itu dan
menginginkannya. Dalam diri laki-laki, yang ada hanyalah kekuasaan, dan mereka berusaha




84
mewujudkan perubahan. Yang muda menggulingkan yang tua."
"Dan perempuan juga memiliki ambisi?"
"Tidak ada yang bertanya pada mereka," mata Kaede beralih ke lukisan. "Gagak jantan
dan gagak betina, bebek jantan dan bebek betina, rusa jantan dan rusa betina mereka selalu
dilukis bersama, selalu berdampingan."
"Begitulah cara alam menunjukkannya," ujar Lord Fiijiwara. "Lagipula, itulah salah satu
dari lima ajaran Kung Fu Tzu."
"Dan hanya satu dari kelima ajaran itu yang terbuka untuk perempuan. Dan itu pun
hanya dipandang sebagai isteri."
"Begitulah seharusnya perempuan."
"Bisakah perempuan menjadi pemimpin atau teman?" tatapan mata Kaede dan Fujiwara
bertemu.
"Untuk ukuran seorang gadis, kau sangat berani," balasnya, di ujung kalimat, Kaede
melihat dia tertawa. Pipi Kaede merona dan menatap kembali lukisan itu.
"Terayama terkenal karena memiliki karya Sesshu," kata Fujiwara. "Kau pernah melihat
lukisan-lukisannya?"
"Ya, Lord Otori ingin Lord Takeo melihat dan menirunya."
"Adik Lord Otori?"
"Anak angkatnya." Hal terakhir yang Kaede inginkan yaitu menceritakan tentang Takeo
pada Lord Fujiwara.
Kaede memikirkan hal lain untuk dikatakan, namun semua pikirannya lenyap, kecuali
ingatan pada lukisan yang Takeo berikan, sketsa burung kecil di pegunungan.
"Aku menduga pemuda itu yang balas dendam? Dia pasti sangat berani. Aku ragu
putraku akan bertindak seperti itu demi diriku."
"Dia tidak banyak bicara," kata Kaede ingin terus menceritakan tentang Takeo, tapi takut
melakukannya. "Kau tak akan menduga kalau dia seorang pemberani. Dia senang melukis.
Dia kemudian berubah menjadi orang yang tidak mengenal takut." Kaede mendengar
suaranya sendiri dan berhenti mendadak, merasa kalau dirinya terlalu terbuka pada Lord
Fujiwara.
"Ah," kata Fujiwara, dan kembali memandang lukisan dalam waktu lama. "Aku tidak




85
boleh ikut campur dalam urusanmu," akhirnya Lord Fujiwara berkata sambil menatap
Kaede. "Tapi kau pasti akan menikah dengan anak Lord Shigeru itu."
"Ada beberapa pertimbangan lain," kata Kaede, mencoba bicara tanpa beban. "Aku
memiliki Shirakawa dan wilayah Maruyama yang harus kutuntut haknya. Jika aku pergi dan
menutup diri di Hagi, aku akan kehilangan semua itu."
"Untuk ukuran seorang gadis belia, kurasa kau terlalu banyak menyimpan rahasia,"
gumamnya. "Kuharap kelak aku bisa mendengarnya."
Kini Matahari memancarkan sinarnya dari balik pegunungan. Bayang-bayang pohon
cedar raksasa mulai membentang di kediaman ini.
"Hari telah beranjak malam," kata Lord Fujiwara. "Aku menyesal harus melepaskanmu,
tapi aku harus mengirimmu pulang. Kau akan segera datang lagi." Dia lalu menggulung dan
meletakkan lukisan itu ke dalam kotak.
Kaede dapat mencium harum kayu dan daun rue yang ada dalam kotak untuk menangkal
serangga.
"Kuucapkan terima kasih dari lubuk hatiku," kata Kaede saat mereka bangkit. Mamoru
telah datang tanpa bersuara, dan membungkuk dalam-dalam waktu Kaede melewatinya.
"Lihat dia, Mamoru," kata Fujiwara. "Amati cara dia berjalan, cara dia membalas
bungkukanmu. Jika kau berhasil mempelajarinya, maka kau bisa menganggap dirimu aktor."
Lord Fujiwara dan Kaede bertukar salam perpisahan, Lord Fujiwara keluar ke beranda
untuk melihat Kaede masuk ke tandu dan mengirim beberapa orang untuk mengawal.
"Kau melakukannya dengan sangat baik," kata Shizuka ketika mereka sampai di rumah.
"Kau berhasil membuat dia penasaran."
"Dia membenciku," ujar Kaede. Ia merasa sangat letih karena pertemuan tadi.
"Walaupun dia membenci perempuan, tapi dia melihat dirimu secara berbeda."
"Sesuatu yang tidak wajar."
"Mungkin," kata Shizuka, tertawa. "Atau sesuatu yang unik dan jarang dimiliki orang
lain."*




86
KEESOKAN harinya Lord Fujiwara mengirimkan hadiah untuk Kaede, disertai undangan
untuk menghadiri pertunjukan drama di bawah cahaya bulan purnama. Kaede membuka
hadiahnya yang berisi dua kimono, satu kimono lama tapi masih terlihat bagus dan dibordir
dengan indah yang menggarnbarkan para petani dan semak musim gugur yang berwarna
emas dan hijau di atas kain sutera berwarna gading. Sedangkan yang satunya masih baru dan
lebih mewah dengan gambar semak-semak biru dan ungu gelap di atas kain merah jambu
pucat.
Hana dan Ai mengagumi kedua kimono itu. Lord Fujiwara juga mengirimkan sejumlah
makanan, burung puyuh dan ikan, buah persimmon dan kue kacang. Hana—karena selalu
mengalami kelaparan—sangat terkesan.
"Jangan sentuh," Kaede memarahi. "Tanganmu kotor."
Tangan Hana memang kotor karena mengumpulkan chestnut, tapi dia benci bila ditegur.
Dia menarik tangannya ke balik punggung dan menatap marah pada Kaede.
"Hana," kata Kaede, berusaha lembut. "Biarkan Ayame mencucikan tanganmu, setelah
itu kau boleh menyentuhnya."
Hubungan ia dengan adiknya itu masih belum akrab. Secara pribadi ia menganggap
Hana terlalu dimanjakan Ayame dan Ai. Ia berharap dapat membujuk ayahnya untuk
mengajari Hana juga karena ia merasa adiknya itu perlu disiplin dan tantangan. Sebenarnya
ia ingin mengajari, tapi kesibukan dan ketidaksabaran yang menghalanginya. Juga ada
banyak hal lain yang harus ia pikirkan selama musim dingin yang panjang ini.
Hana berlari ke dapur, menangis.
"Aku akan membujuknya," kata Ai.
"Kelakuannya seenaknya sendiri," kata Kaede pada Shizuka. "Apa jadinya nanti kalau dia




87
keras kepala."
Shizuka melemparkan tatapan menyindir pada Kaede tanpa berkata apa-apa.
"Apa?" tanya Kaede, "Apa maksudmu?"
"Dia sepertimu, lady," kata Shizuka lirih.
"Dia memang sepertiku, tapi dia jauh lebih beruntung dariku." Kaede terdiam,
memikirkan perbedaan di antara mereka. Saat seusia Hana, ia ditinggal di kastil Noguchi
selama hampir dua tahun. Mungkin karena cemburu sehingga ia cepat marah pada Hana.
Tapi ia merasa kalau Hana benar-benar bertindak di luar kendali.
Kaede menghela napas panjang sambil memandangi dua kimono indah itu, tak sabar
ingin merasakan kelem butan sutera itu di kulitnya. Ia menyuruh Shizuka mengambil kaca
dan memakaikan kimono yang lebih tua keuntuk melihat warnanya di wajahnya. Kaede
terkesan atas hadiah itu lebih dari yang ia tunjukkan. Rasa tertarik Lord Fujiwara
membuatnya tersanjung. Fujiwara mengatakan bahwa ia telah membangkitkan rasa ingin
tahu; orang itu juga telah membangkitkan rasa ingin tahu Kaede.
Kaede memakai kimono yang lebih tua itu karena ia merasa lebih cocok di suasana di
akhir musim gugur, ketika ia, ayahnya, Shizuka, dan Ai memenuhi undangan Lord Fujiwara
untuk menyaksikan pertunjukan drama. Mereka akan menginap karena drama berakhir
hingga larut malam, dengan diterangi cahaya bulan purnama. Hana, kecewa karena tidak
diajak, tidak keluar untuk mengucapkan selamat tinggal. Kaede berharap ayahnya tidak ikut
pergi karena cemas dan takut ayahnya akan mempermalukan diri sendiri. Namun, Ayahnya
yang merasa tersanjung oleh undangan tersebut, sulit diminta untuk tetap di rumah.
Beberapa aktor, termasuk Mamoru, mementaskan The Fulling Block. Drama itu amat
mengganggu Kaede. Selama kunjungannya yang singkat, Mamoru telah mempelajari dirinya
lebih dari yang ia sadari. Kini Kaede seperti melihat dirinya sedang diperankan tepat di
depan matanya. Kaede seperti melihat gerakan-gerakannya sendiri, mendengarkan suaranya
sendiri, Angin musim gugur menceritakan tentang cinta yang berubah dingin, saat sang
isteri lambat laun menjadi gila karena menunggu kepulangan suaminya.
Cemerlangnya bulan, sentuhan angin. Kata-kata itu menusuk Kaede seperti jarum.
Butiran salju berkilauan di malam yang pucat, mendinginkan hati seperti rintihan angin
malam.




88
Air mata Kaede berlinang. Semua kesendirian dan kerinduan perempuan di panggung
itu, perempuan yang memerankan dirinya, benar-benar tampil seperti Kaede. Seminggu ini
Kaede membantu Ayame menumbuk beberapa kimono suteranya dengan balok agar lembut.
Ayahnya mengomentari tindakan itu dengan mengatakan bahwa bunyi tumbukan yang
berulang-ulang merupakan bunyi-bunyian terindah selama musim gugur. Drama ini
meruntuhkan pertahanan dirinya. Ia amat sangat merindukan Takeo. Jika tidak bisa
memiliki Takeo, ia ingin mati saja. Namun, selagi hatinya hancur berkeping-keping, ia
tersadar untuk tetap hidup demi anak yang dikandungnya. Dan ia seperti merasakan
benturan samar dari gerakan lemah si janin untuk pertama kalinya.
Cemerlangnya bulan di atas panggung terasa dingin. Asap dari tungku melayang-layang
ke langit. Tabuhan lembut gendang berubah hening. Kelompok kecil yang menyaksikan
drama terpana dikuasai keindahan bulan dan kekuatan emosi yang dimainkan di depan
mereka.
Seusai pentas drama, Shizuka dan Ai langsung kembah ke kamar. Ketika beranjak pergi,
Fujiwara meminta Kaede bergabung dengan kelompok laki-laki yang sedang minum sake
dan menyantap hidangan yang eksotis: jamur, kepiting, acar chestnut, dan cumi-cumi kecil
yang dikirim dalam kemasan es dan jerami dari daerah pantai. Para aktor datang bergabung,
topeng mereka telah ditanggalkan. Lord Fujiwara melontarkan pujian dan memberi para
pemeran berbagai hadiah. Kemudian, saat sake telah melonggarkan lidah dan membuat
suasana menjadi gaduh, dia menyapa Kaede pelan.
"Aku senang ayahmu juga datang. Apakah dia sudah pulih?"
"Kau sangat baik kepadanya," balas Kaede. "Perhatianmu sangat berarti bagi kami."
Kaede merasa tak pantas membahas kondisi pikiran ayahnya dengan bangsawan itu, namun
Lord Fujiwara bersikeras.
"Apakah dia sering bermuram durja?"
"Semakin lama Ayahku semakin kurang stabil. Kematian ibuku, perang..." Kaede
memandangi ayahnya yang sedang bercakap-cakap dengan seorang aktor tua. Ayahnya
nampak bersemangat, matanya berseri, namun terlihat setengah sinting.
"Kuharap kau datang kapan saja kau memerlukan bantuanku."
Kaede membungkuk tanpa bicara, menyadari penghormatan luar biasa yang laki-laki itu




89
berikan kepadanya dan juga bingung atas perhatiannya. Kaede belum pernah duduk di
ruangan yang penuh laki-laki sehingga ia merasa risih, tapi ia tidak tahu bagaimana
meninggalkan ruangan dengan sopan. Lord Fujiwara lalu mengubah pembicaraan dengan
luwesnya.
"Bagaimana pendapatmu tentang peran yang Mamoru mainkan? Dia belajar darimu
dengan baik sekali, kurasa."
Kaede tidak menjawab, ia mengalihkan pandangan dari ayahnya ke pemuda yang kini
tidak lagi berperan sebagai perempuan, walau masih tersisa bekasnya, bekas sosok Kaede.
"Apa yang bisa kukatakan?" Kaede akhirnya berkata. "Pemuda itu sangat brilian."
"Tapi...?" tanya bangsawan itu.
"Kalian mencuri semuanya dari kami." Kaede hendak mengatakan dengan suara ringan,
namun suaranya terdengar pahit di telinganya.
"Kalian?" Lord Fujiwara mengulangi, agak kaget.
"Laki-laki. Kalian mengambil semuanya dari perempuan. Bahkan penderitaan kami,
penderitaan amat sangat yang kalian akibatkan—kalian curi dan memerankannya seolaholah
itu milik kalian."
Matanya mencari-cari wajah Kaede. "Belum pernah aku melihat peran yang lebih
meyakinkan atau lebih hidup dari yang Mamoru mainkan."
"Mengapa peran perempuan tidak dimainkan oleh perempuan?"
"Alangkah anehnya gagasan itu," balas Fujiwara. "Kau pikir kalian lebih asli karena
kalian membayangkan emosinya akrab dengan kalian. Tapi kecerdasan aktor dalam
menciptakan emosi yang tidak dia kenal secara akrab justru menunjukkan kehebatannya."
"Kalian tidak memberi kami apa-apa," kata Kaede. "Kami memberi kalian anak.
Bukankah itu pertukaran yang adil?"
Sekali lagi Kaede merasakan mata laki-laki itu menatap lekat dirinya. Aku tidak menyukai
dia, pikir Kaede, meskipun dia penasaran. Aku tidak berurusan dengan dia lagi, tak peduli apa
yang akan Shizuka katakan.
"Aku telah membuatmu tersinggung," kata laki-laki itu seakan bisa membaca pikiran
Kaede.
"Aku sangat tak layak mendapatkan perhatian Lord Fujiwara," ujar Kaede. "Perasaanku




90
bukanlah hal penting."
"Aku sangat tertarik pada perasaanmu yang begitu orisinal dan tak terduga."
Kaede tidak menanggapi. Kemudian bangsawan itu melanjutkan, "Kau harus datang
menyaksikan drama berikutnya. Pertunjukkannya berjudul Atsumori. Kami hanya
menunggu pemain seruling. Dia teman lama Mamoru yang tak lama lagi akan datang. Kau
tahu ceritanya?"
"Ya," kata Kaede.
Kaede teringat tragedi dalam drama itu. Ia masih memikirkan drama itu hingga ia
berbaring di kamar tamu bersama Ai dan Shizuka: seorang pemuda yang tampan dan
memiliki bakat musik dipenggal kepalanya oleh seorang ksatria yang kejam. Karena
penyesalan yang mendalam, ksatria itu pun menjadi rahib, mencari kedamaian dari Sang
Pencerah. Ia membayangkan arwah Atsumori memanggil dari kegelapan, Berdoalah untukku.
Biarkan rohku lepas bebas.
Semangat yang tidak biasa, emosi yang timbul karma drama itu, dan lambatnya waktu
berjalan membuat Kaede gelisah. Sambil membayangkan Atsumori, si pemain seruling,
pikiran Kaede melayang-layang antara tertidur dan terjaga, dan ia merasa seperti mendengar
alunan nada seruling di taman. Alunan seruling itu mengingatkan Kaede pada sesuatu. Ia
mulai tertidur, dibuai oleh alunan musik, sambil terns mencoba mengingat-ingat.
Tiba-tiba Kaede terjaga. Musik itu pernah ia dengar di Terayama. Seorang biarawan
muda yang memperlihatkan lukisan pada mereka—dia pasti memainkan nada-nada yang
sama ketika itu, begitu menyentuh, penuh dengan kesedihan dan kerinduan?
Kaede mendorong selimutnya dan bangkit perlahan, menggeser jendela agar terbuka dan
mendengarkan. Ia mendengar ketukan pelan, gesekan pintu terbuka, suara Mamoru, dan
suara pemain seruling itu. Di ujung koridor, lampu dalam genggaman seorang pelayan
sekilas menerangi wajah mereka. Kaede tidak bermimpi. Itu dia.
Shizuka berbisik. "Kau baik-baik saja?"
Kaede menutup jendela dan berlutut di samping Shizuka. "Ada seorang biarawan dari
Terayama."
"Di sini?"
"Dialah pemain seruling yang sedang mereka tunggu."




91
"Makoto," kata Shizuka.
"Aku tidak tahu namanya. Akankah dia mengenaliku?"
"Bagaimana mungkin dia lupa?" balas Shizuka. "Kita akan pulang lebih awal. Kau harus
pura-pura merasa tidak enak badan. Dia tidak boleh melihatmu. Cobalah tidur sejenak. Aku
akan membangunkanmu saat pagi tiba."
Kaede berbaring, namun rasa kantuk datang begitu lambat. Akhirnya ia tertidur sesaat
dan terbangun saat melihat cahaya fajar di balik daun jendela dan Shizuka sedang berlutut di
sampingnya.
Kaede bertanya-tanya apakah mungkin ia bisa pergi secara diam-diam. Penghuni rumah
telah terjaga. Ia mendengar jendela dibuka. Ayahnya selalu bangun lebih awal. Kaede tak
bisa pergi tanpa, setidaknya, pamit padanya.
"Katakan pada Ayah kalau aku merasa kurang sehat dan harus segera pulang. Minta
ayahku meminta maaf pada Lord Fujiwara."
Shizuka datang kembali setelah beberapa saat. "Ayahmu tidak membolehkan kau pergi.
Dia ingin tahu apakah kau cukup sehat untuk menemuinya."
"Di mana dia?"
"Di ruangan yang mengarah ke taman. Aku telah meminta teh untuk diantar kemari,
kau kelihatan sangat pucat."
"Bantu aku berpakaian," pinta Kaede. Ia memang merasa lemah dan kurang sehat. Teh
dapat membuatnya agak segar. Ai terbangun, wajahnya yang manis-alami dengan pipi
merah jambu dan mata gelap karena kurang tidur membuatnya terlihat seperti boneka.
"Kaede, ada apa? Apa ada masalah?"
"Aku sakit. Aku harus pulang."
"Aku akan menemanimu." Ai lalu mendorong selimut.
"Akan lebih baik jika kau di sini bersama ayah," Kaede memerintah. "Dan sampaikan
permohonan maafku pada Lord Fujiwara."
Kaede berlutut dan mengusap-usap rambut adiknya. "Tinggallah di sini demi aku," ia
memohon.
"Kurasa Lord Fujiwara bahkan tidak memperhatikan keberadaanku," kata Ai. "Dia
hanya memperhatikanmu. Dia begitu terpikat padamu."




92
Di taman, burung di sangkar berkicau gembira. Dia akan tahu kebohonganku, dan tak
akan mau bertemu denganku lagi, pikir Kaede. Bukan reaksi bangsawan itu yang ia takutkan,
melainkan reaksi ayahnya.
"Pelayan mengatakan bahwa Lord Fujiwara tidur larut malam sehingga bangau agak
siang," bisik Shizuka. "Pergi dan bicaralah dengan ayahmu. Aku sudah meminta tandu."
Kaede mengangguk tanpa bicara. Ia melangkahi kayu beranda yang dipelitur mengkilap.
Keindahan papan ini sangat memukau. Selagi berjalan ke ruangan ayahnya, Kaede melihat
pemandangan dari taman yang terhampar, sebuah lentera batu dibingkai dedaunan pohon
maple, matahari berkilauan di permukaan air kolam yang tenang, kibasan warna kuning dan
hitam dari ekor burung yang sedang bertengger.
Ayahnya duduk menatap taman. Kaede tak kuasa menahan rasa iba pada ayahnya.
Persahabatan dengan Lord Fujiwara sangat berarti bagi ayahnya.
Di kolam, seekor bangau yang sedang menunggu mangsa diam tak bergerak bak patung.
Kaede berlutut dan menunggu ayahnya bicara.
"Apa-apaan ini, Kaede? Kau sungguh tidak sopan!"
"Maafkan aku, Ayah. Aku merasa kurang sehat," lirihnya. Ketika ayahnya diam
membisu, Kaede meninggikan suara. "Ayah, aku merasa kurang sehat. Aku akan pulang
sekarang."
Ayahnya tetap diam, seakan dengan acuh akan membuat putrinya segera pergi. Burung
bangau terbang dengan kepakan sayap yang mendadak. Dua orang laki-laki berjalan ke
taman.
Kaede menatap ke sekeliling ruangan, mencari-cari tempat bersembunyi namun tidak
ada.
"Selamat pagi!" sapa Lord Shirakawa dengan riang.
Kedua orang itu balas menyapa. Kaede berharap Mamoru pergi tanpa mendekat, namun
perlakuan Lord Fujiwara padanya di pesta laki-laki semalam pasti telah membuat dia
pemberani. Dia mengajak temannya mendekat dan mulai berbasa-basi dengan ayahnya.
Kaede membungkuk dalam, berharap dapat menyembunyikan wajahnya. Mamoru
memperkenalkan nama orang itu, Kubo Makoto, dan menyebut Biara Terayama. Makoto
juga membungkuk.




93
"Ini Lord Shirakawa," kata Mamoru, "dan putrinya, Lady Otori."
Biarawan muda itu tidak dapat menahan reaksinya. Wajahnya berubah pucat dan
menatap lekat Kaede. Dia mengenali dan langsung membuka mulut.
"Lady Otori? Kau akhirnya menikahi Lord Takeo? Apakah dia juga di sini?"
Suasana menjadi hening. Ayah Kaede berkata. "Suami anakku adalah Lord Otori
Shigeru."
Makoto membuka mulut seolah hendak menyangkal, tapi kemudian dia mem-bungkuk
tanpa bicara.
Ayah Kaede mencondongkan badan. "Kau dari Terayama? Kau tidak mengetahui
pernikahan putriku di sana?"
Melihat Makoto diam membisu, Lord Shirakawa lalu berkata pada Kaede tanpa
berpaling, "Tinggalkan kami."
Kaede bangga betapa mantap saat ia menanggapi perintah Ayahnya, "Aku akan pulang.
Sampaikan maafku pada Lord Fujiwara."
Ayahnya diam. Ayah akan membunuhku, pikir Kaede.
Ia membungkuk pada kedua pemuda itu, melihat rasa jengah dan gelisah mereka. Saat
melangkah pergi, ia memaksakan diri agar tidak terburu-buru, tidak menggerakkan kepala,
namun gelombang emosi mulai bergejolak di perutnya. Lebih baik aku mati, pikirnya. Tapi
bagaimana dengan anakku, anak Takeo? Haruskah janin ini ikut mati bersamaku?
Shizuka sedang menunggu di ujung beranda. "Kita bisa pergi sekarang, lady. Kondo
akan menemani kita."
Kaede mengijinkan laki-laki itu mengangkatnya masuk ke dalam tandu. Kaede lega
sudah di dalam tandu yang gelap sehingga tak seorang pun dapat melihat wajahnya. Ayah tak
akan mau melihatku lagi, pikirnya. Dia akan memalingkan wajah dariku bahkan saat dia
membunuhku.
Begitu sampai di rumah, Kaede langsung melepas kimono pemberian Lord Fujiwara dan
dengan hati-hati ia melipatnya. Ia mengenakan kimono tua milik ibunya dengan pakaian
dalam tebal di baliknya. Ia merasa kedinginan hingga ke tulang, tapi ia berusaha agar tidak
menggigil.
"Kau sudah kembali!" Hana berlari masuk ke kamar. "Mana Ai?"




94
"Dia masih di rumah Lord Fujiwara."
"Kenapa kakak pulang?" tanya anak kecil itu.
"Aku merasa kurang sehat. Tapi sekarang aku sudah baikan." Mengikuti dorongan hati,
Kaede berkata, "Aku akan memberimu kimono bermotifkan musim gugur yang sangat kau
sukai itu. Kau harus menyimpan dan merawat pakaian ini sampai kau cukup usia untuk
memakainya."
"Kau tidak menginginkannya lagi?"
"Aku ingin kau yang memilikinya. Jangan lupa untuk membayangkan dan mendoakan
kakakmu ini saat memakainya."
Hana menatap tajam. "Ke mana kakak akan pergi?" Ketika Kaede tidak membalas, dia
meneruskan, "Jangan pergi lagi, kak."
Tanpa dinyana, Hana mulai terisak-isak, lalu menjerit. "Aku akan merindukanmu!
Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!"
Ayame datang berlari. 'Ada apa lagi, Hana? Kau tak boleh nakal pada kakakmu."
Shizuka masuk ke kamar. "Ayahmu dalam perjalanan pulang," katanya. "Dia datang
sendiri, menunggang kuda."
"Ayame," kata Kaede, "Bawalah Hana keluar untuk sementara. Ajak dia ke hutan.
Semua pelayan harus ikut denganmu. Aku tidak mau ada orang di rumah."
"Tapi, Lady Kaede, hari masih terlalu pagi dan udara pun sangat dingin."
"Tolong lakukan apa yang kuminta," pinta Kaede. Hana menangis lebih liar saat Ayame
menuntunnya keluar kamar.
"Kesedihan yang membuat dia begitu," kata Shizuka. "Aku takut dia akan semakin
menderita," seru Kaede. "Itulah alasannya dia tidak boleh di sini."
Kaede berdiri dan berjalan ke peti kecil tempat ia menyimpan beberapa barang. Ia ambil
belati dari dalam peti, merasakan beratnya dalam genggaman tangan kirinya yang kini jarang
digunakan. Sebentar lagi tidak akan ada orang yang peduli tangan mana yang ia gunakan.
"Mana yang paling baik, di tenggorokan atau di jantung?"
"Jangan lakukan itu," kata Shizuka pelan. "Kita bisa lari. Tribe dapat
menyembunyikanmu. Pikirkan anakmu."
"Aku tidak mau lari!" Kaede kaget pada suaranya yang kencang.




95
"Kalau begitu, ijinkan aku memberimu racun. Kematiannya akan cepat dan tidak
menderita. Kau hanya tertidur dan tidak akan pernah—"
Kaede memotong ucapan Shizuka. "Aku anak seorang ksatria. Aku tidak boleh takut
pada kematian. Kau tahbu lebih banyak dari siapa pun juga betapa sering aku ingin bunuh
diri. Pertama-tama aku harus memohon ampun pada ayah, lalu aku akan gunakan belati ini
untuk bunuh diri. Hanya satu pertanyaanku, mana yang lebih baik?"
Shizuka mendekat. "Letakkan di titik ini, di samping lehermu. Tusuk menyamping ke
atas. Itu akan mengiris urat nadimu." Kini suaranya terputus-putus, dan Kaede melihat
Shizuka menitikkan air mata. "Jangan lakukan itu," bisik Shizuka, "Jangan berputus asa."
Kaede memindahkan belati ke tangan kanan. Ia mendengar teriakan penjaga, derap
tapak kuda saat ayahnya berkuda melewati gerbang. Ia mendengar Kondo menyapa ayahnya.
Kaede memandang keluar, ke taman. Sekilas kenangan menghampiri dirinya, bayangan
dirinya yang masih kecil, berlari-lari di beranda dari ayahnya lalu berpindah ke ibunya dan
kembali lagi. Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya, pikirnya dan berbisik tanpa
bersuara, Ibu, Ibu!
Ayahnya melangkah di beranda dan ketika dia melewati pintu masuk, Kaede dan
Shizuka langsung berlutut, kemudian menyembah.
"Anakku," katanya, suaranya terdengar tidak pasti dan tipis. Kaede mendongak dan
melihat wajah ayahnya berlinang air mata, dan mulut komat-kamit. Semula Kaede takut
akan kemarahan ayahnya, namun kini ia melihat kegilaan pada ayahnya, dan itu membuat
lebih takut.
"Maafkan aku," Kaede berbisik.
"Aku harus bunuh diri." Lord Shirakawa duduk dengan berat di depan Kaede, mencabut
belati dari sabuknya. Dia memandangi mata belati dalam waktu lama.
"Panggil Shoji," perintah Lord Shirakawa. "Dia harus membantuku. Perintahkan orang
menjemputnya."
Saat Kaede tidak juga bereaksi, ayahnya membentak, "Katakan padanya!"
"Aku yang akan pergi," bisik Shizuka, lalu mundur sambil berlutut. Kaede mendengar
Shizuka berkata pada Kondo. Bukannya pergi, laki-laki itu malah melangkah ke beranda
dan Kaede tahu kalau Kondo sedang di luar pintu.




96
Lord Shirakawa membuat gerakan mendekat dengan tiba-tiba. Kaede tak kuasa
menahan dirinya tersentak, mengira ayahnya hendak memukul. Lord Shirakawa lalu
berkata, "Tidak ada pernikahan!"
"Maaf," jawab Kaede. 'Aku telah membuatmu malu. Aku siap mati."
"Tapi hamil?" Lord Shirakawa menatap bak ular berbisa yang hendak menyerang.
"Ya, aku hamil."
"Siapa ayahnya? Atau kau tidak tahu?"
"Tidak ada bedanya lagi sekarang," balas Kaede. "Anak ini akan mati bersamaku."
Kaede berpikir, Tusuk menyamping ke atas. Namun bersamaan dengan itu, ia seperti
merasa Langan kecil anaknya mencengkram erat rahim, berusaha mencegah.
"Ya, ya, kau memang harus bunuh diri." suaranya meninggi, melengking. "Adik-adikmu
juga harus bunuh diri. Ini perintahku yang terakhir. Setelah itu keluarga Shirakawa akan
lenyap. Aku tidak akan menunggu Shoji. Aku harus melakukannya sendiri. Inilah tindakan
terhormatku yang terakhir."
Lord Shirakawa melonggarkan sabuk dan membuka kimono, lalu melepas pakaian
dalamnya. "Jangan berpaling," dia berkata pada Kaede. "Kau harus melihatnya. Kau yang
memaksaku melakukan ini." Dia meletakkan ujung mata belati di kulitnya yang berkeriput,
dan menghela napas panjang.
Kaede melihat jari ayahnya menggenggam erat gagang belati, memandang wajah
ayahnya yang berubah. Lord Shirakawa menjerit parau dan belati pun terjatuh dari
tangannya, tak ada darah, tak ada luka. Beberapa teriakan tajam keluar dari mulutnya, dan
kemudian berubah menjadi isak tangis yang memilukan.
"Aku tidak mampu melakukannya," ratap ayahnya. "Seluruh keberanianku lenyap.
Kaulah yang membuatku lemah, dasar perempuan sinting. Ambil saja kehormatan dan
kelaki-lakianku. Kau bukan anakku, kau iblis! Kau menyebabkan kematian semua laki-laki,
kau dikutuk." Dia mengulurkan tangan dan menarik pakaian Kaede dengan kasar. "Biarkan
aku melihatmu," dia berteriak. "Aku ingin melihat apa yang laki-laki inginkan darimu! Beri
aku kematian seperti yang kau berikan pada laki-laki lain."
"Jangan," jerit Kaede, berusaha melepas cengkraman, berusaha mendorong ayahnya
menjauhi. "Ayah, jangan!"




97
"Kau memanggilku ayah? Aku bukan ayahmu. Anakku adalah anak laki-laki yang tidak
pernah kumiliki; kau dan adik-adikmu yang terkutuk itu telah merampas tempat anak lakilakiku
di rahim ibumu!" Kegilaan membuat Lord Shirakawa kuat. Kaede merasakan
kimononya ditarik dari bahu, tangan ayahnya menggeranyangi tubuhnya. Kaede tidak dapat
menggunakan belati; ia tidak sanggup membunuh ayah kandungnya. Selagi bertarung
melawan cengkraman ayahnya, kimono Kaede merosot hingga ke pinggul, menampakkan
tubuhnya. Rambut Kaede terurai, membingkai bahunya yang telanjang.
"Kau memang cantik," teriak Lord Shirakawa. "Kuakui itu. Aku bergairah padamu. Saat
mengajarimu, aku bergairah padamu. Itulah hukuman karena aku bertindak melawan alam.
Kau hancurkan hidupku. Kini, beri aku kematian!"
"Lepaskan aku, Ayah," jerit Kaede, berusaha menenangkan, berharap ayahnya sadar
kembali. "Kau bukan dirimu. Jika harus mati, mari kita lakukan secara terhormat." Namun
semua kata-kata itu terdengar lemah dan tak berarti di wajah delusi ayahnya.
Mata ayahnya basah, bibirnya gemetar. Dia merebut belati Kaede lalu melemparnya ke
seberang ruangan, memegang kedua pergelangan tangan Kaede dengan tangan kiri, lalu dia
tarik. Deegan tangan kanan dia menjangkau bagian bawah rambut Kaede, menariknya ke
camping, berlutut di atas tubuh Kaede dan menyentuhkan bibirnya di tengkuk leher putri
sulungnya itu.
Kengerian dan marah menyapu diri Kaede. Ia sudah siap mati, mengikuti aturan keras
dari kalangan klasnya, demi kejormatan keluarganya. Tapi ayahnya, orang yang
mengajarinya aturan itu dengan kaku, orang yang mengajarinya tentang keunggulan laki-laki
telah menyerah pada kegilaan, melepas apa yang ada di balik aturan di kalangan ksatria:
nafsu dan keegoisan laki-laki. Amarah menghidupkan kekuatan yang Kaede tabu
bersemayam dalam dirinya. Ia pun memanggil Dewi Putih. Tolong aku!
Kaede mendengar suaranya sendiri—"Tolong! Tolong!" —dan saat ia menjerit sambil
menangis, cengkraman ayahnya pun mengendur. Dia sudah sadar, pikir Kaede, sambil
mendorong ayahnya. Ia berjuang berdiri, menarik kimono agar menutupi tubuhnya dan
mengikatkan kembali tali pinggang, dan dengan tersandung-sandung Kaede berjalan ke
ruangan paling jauh. Ia terisak-isak karena kaget bercampur marah.
Kaede berpaling dan melihat Kondo berlutut di depan ayahnya yang duduk terkulai




98
dengan ditopang Shizuka. Lalu Kaede menyadari tatapan mata ayahnya yang hampa. Kondo
telah menghujamkan belati, kelihatannya, ke perut ayahnya dan mengirisnya melintang.
Irisan itu menimbulkan bunyi lembut yang menjijikkan. Darah berdesis dan bergelembung
saat berbuih keluar.
Shizuka melepas genggaman di leher Lord Shirakawa, dan tubuh tak bernyawa itu pun
terkulai. Kondo meletakkan belati di tangan kanan Lord Shirakawa.
Rasa mual naik ke tenggorokan Kaede dan ia membungkuk, muntah-muntah. Shizuka
menghampiri, wajahnya tanpa ekspresi. "Semuanya telah berakhir."
"Lord Shirakawa kehilangan akal," kata Kondo, "lalu bunuh diri. Dia sering gila dan
sering mengatakan akan bunuh diri. Dia mati secara terhormat, dengan keberanian yang luar
biasa." Kondo berdiri dan menatap langsung pada Kaede. Terkadang Kaede ingin
memanggil penjaga, mengadukan perbuatan kedua orang itu untuk dihukum mati, tapi
waktu berlalu dan ia tak melakukan itu. Kaede tabu ia tak akan mengungkapkan kejadian ini
kepada siapa pun.
Kondo tersenyum samar, "Lady Otori, kau harus menuntut kesetiaan para laki-laki. Kau
harus kuat. Kalau tidak, mereka akan menyerang dan merebut posisimu."
"Aku hampir bunuh diri," kata Kaede pelan. "Tapi kini tampaknya ticlak perlu lagi."
"Memang ticlak perlu." Kondo menyetujui. "Selama kau kuat."
"Kau harus tetap hidup demi anakmu," desak Shizuka. "Tak seorang pun akan peduli
siapa ayahnya asalkan kau cukup berkuasa. Tapi kau harus bertindak cepat. Kondo,
kumpulkan para laki-laki secepat mungkin."
Shizuka lalu menuntun, memandikan, dan mengganti pakaian Kaede. Pikiran Kaede
bergetar karena rasa takut, namun ia tetap berpegang pada keyakinan akan kekuatan dirinya.
Ayahnya telah mati sedangkan ia masih hidup. Ayahnya memang ingin mati; tidak sulit bagi
Kaede untuk berpura-pura bahwa ayahnya memang bunuh diri dan mati secara terhormat,
seperti keinginan ayahnya. Sesungguhnya, pikir Kaede pedih, ia telah memenuhi keinginan
ayahnya, melindungi nama ayahnya. Meskipun ia tidak ingin mematuhi perintah terakhir
ayahnya. Ia tak akan bunuh diri dan ia tak akan membiarkan adiknya mati.
Kondo mengumpulkan penjaga, dan mengutus beberapa pengawal ke desa untuk
memanggil semua orang. Tak bunuh waktu lama, sebagian besar pengawal ayahnya sudah




99
berkumpul. Perempuan memakai pakaian berduka yang baru saja disimpan setelah kematian
istri Lord Shirakawa, dan rahib pun telah dipanggil.
Matahari mencairkan salju. Udara berbau asap dan dawn pines. Setelah kekagetan
pertama Kaede berlalu, muncul perasaan yang hampir tidak ia mengerti, keinginan kuat
untuk melindungi apa yang menjadi miliknya, untuk melindungi adik dan rumahnya, untuk
meyakinkan kalau tak satu pun miliknya hilang atau dicuri. Salah seorang dari kumpulan
laki-laki ini bisa merebut kekuasaannya, mereka tak akan ragu bertindak jika ia
memperlihatkan tanda-tanda lemah. Ia telah melihat kebengisan yang bersemayam di balik
kebaikan hati Shizuka dan penampilan sinis Kondo. Kekejaman kedua orang itu yang
membuat ia selamat dan ia akan menggabungkan itu dengan kekejaman yang ia miliki.
Kaede teringat ketegasan yang ia lihat dalam diri Arai, ketegasan yang membuat orang
patuh, ketegasan yang membawa sebagian besar Tiga Negara berada dalam kendalinya. Kini
ia harus menunjukkan sikap yang serupa. Arai akan menghormati persekutuan mereka,
namun jika orang lain merebut wilayahnya, akankah Arai menangguhkan peperangan? Ia tak
akan membiarkan penduduknya dihancurkan, ia tak akan menyerahkan kedua adiknya
dijadikan tawanan.
Kematian masih membayangi, namun semangat baru dalam dirinya tidak mengijinkan
dirinya hanyut. Aku memang berkuasa, pikir Kaede saat melangkah ke beranda untuk
berbicara pada orang yang berkumpul di taman. Sedikit sekali jumlah mereka, Kaede
teringat jumlah pengawal ayahnya. Ada sepuluh orang anak buah Arai yang dipimpin oleh
Kondo, dan ada dua puluh atau lebih yang masih melayani keluarga Shirakawa. Ia hapal
nama-nama mereka. Ia merasa sudah menjadi tugasnya untuk mencari tahu posisi dan
karakter mereka.
Shoji adalah orang pertama yang tiba dan bersujud di depan mayat ayahnya. Di
wajahnya masih tersisa jejak air mata. Laki-laki itu berdiri di sisi kanan Kaede, sedangkan
Kondo di sisi kiri. Kaede menyadari rasa segan Kondo pada laid-laki tua itu. Kaede juga
menyadari bahwa sikap Kondo itu hanya pura-pura, seperti yang sering dia lakukan. Tapi
dia membunuh demi diriku, pikirnya. Dia terikat padaku sekarang. Tapi berapa harga yang dia
minta sebagai imbalan?
Para laki-laki berlutut di depan Kaede, kepala menunduk, lalu duduk bersimpuh kembali




100
saat Kaede bicara.
"Lord Shirakawa, ayahku, telah bunuh diri," kata Kaede. "Itu pilihannya. Meskipun
sangat sedih, aku harus menghargai dan menghormati tindakannya. Ayah telah menunjukku
sebagai pewarisnya. Atas tujuan itulah beliau mengajariku seperti beliau mengajari anak lakilakinya.
Aku bermaksud untuk mewujudkan harapannya." Kaede berhenti sejenak,
mendengar kata-kata terakhir ayahnya yang sangat berbeda: Kau hancurkan hidupku. Kini,
beri aku kematian. Namun Kaede tak mau terhanyut oleh pikirannya. Di depan semua orang
yang menatapnya, ia harus memancarkan kekuatan, kekuatan yang membuat matanya
bercahaya dan suaranya sangat menarik. "Aku minta kalian bersumpah setia kepadaku,
seperti yang kalian lakukan pada Ayahku. Karena Lord Arai dan aku bersekutu, maka
kuharap kalian semua yang melayaninya akan tetap melayaniku. Sebagai imbalannya, aku
menawarkan perlindungan dan juga keuntungan bagi kalian. Aku berencana untuk
menggabungkan Shirakawa, dan tahun depan aku juga akan mengambil wilayah yang telah
diwariskan kepadaku di Maruyama. Ayahku akan dimakamkan esok."
Shoji adalah orang pertama yang berlutut di hadapan Kaede. Kondo mengikutinya,
walaupun, lagi-lagi, tindak tanduknya membuat Kaede ngeri. Dia sedang berpura-pura, pikir
Kaede. Sumpah setia tidak berarti apa-apa baginya. Dia berasal dari Tribe. Rencana apa yang
mereka siapkan untukku, yang belum aku ketauid? Bisakah aku mempercayai mereka? Jika aku
tabu Shizuka tidak dapat dipercaya, apa yang akan kulakukan?
Meskipun jantungnya berdebar, namun ia yakin tak seorang pun yang berbaris di
hadapannya bisa menduganya. Kaede menerima sumpah setia mereka, memperhatikan
mereka satu demi satu, mengamati karakter, pakaian, baju baja dan senjata mereka.
Kebanyakan perlengkapan mereka dalam kondisi yang menyedihkan, tali baju baja yang
rusak dan terjuntai-juntai, yang penyok dan retak, namun mereka Semua memiliki panah
dan pedang, dan ia tahu sebagian besar laki-laki ini memiliki kuda.
Semua orang berlutut, kecuali dua orang. Salah satunya adalah laki-laki berbadan seperti
raksasa, Hirogawa. Dia berteriak dengan lantang, "Semua orang menerima kepernimpinan
perempuan, tapi aku belum pernah melayani perempuan dan aku terlalu tua untuk
memulainya." Dia membungkuk hormat acuh tak acuh lalu berjalan ke gerbang dengan
sikap pongah sehingga membuat Kaede murka. Satu orang lagi yang bertubuli lebih kecil,




101
Nakao, mengikuti tanpa bicara, bahkan tanpa memberi hormat.
Kondo melihat pada Kaede, "Lady Otori?"
"Bunuh mereka," perintah Kaede, sadar kalau ia harus bersikap kejam, maka itu harus
dimulai sekarang.
Kondo bergerak sangat cepat, lebih dari yang Kaede bayangkan mungkin dilakukan,
menebas Nakao sebelurn laki-laki itu sadar apa yang terjadi. Hirogawa berbalik dan menarik
pedangnya.
"Kau telah melanggar sumpah setia dan harus mati," Kondo berteriak.
Laki-laki besar itu tertawa. "Kau bukan orang Shirakawa. Siapa yang peduli padamu?"
Dia menggenggam pedang dengan dua belah tangan, bersiap-siap menyerang. Kondo
mengambil langkah cepat ke depan; saat Hirogawa menebas ke bawah, Kondo
menangkisnya dengan pedang, mendorong mata pedang lawan ke samping dengan kekuatan
yang tidak terduga, sambil memegang dan menggunakan pedangnya yang mirip kapak.
Dengan gerakan berbalik, Kondo menebas ke perut Hirogawa yang tidak terlindungi. Kini,
senjatanya yang terlihat lebih mirip gergaji ketimbang kapak meluncur menembus daging.
Ketika Hirogawa terhuyung-huyung, Kondo menyingkir ke sebelah kanan lalu ke belakang
laki-laki itu. Sambil berputar mengitar, dia menebas ke bawah, melubangi punggung lakilaki
itu dari bahu hingga pinggang.
Tanpa melihat wajah orang yang dia bunuh, Kondo berputar menghadap orang-orang,
lalu berkata, "Aku melayani Lady Otori Kaede, ahli waris Shirakawa dan Maruyama.
Adakah yang tidak melayaninya sesetia diriku?"
Tidak ada orang yang bergerak. Kaede seperti melihat kemarahan di wajah Shoji, tapi
laki-laki itu hanya mengatupkan bibir, tidak bicara.
Menimbang pengabdian Hirogawa dan Nakao pada ayahnya di masa lalu, Kaede
mengijinkan mayat kedua orang diambil oleh keluarganya. Tapi, karena kedua orang itu
tidak patuh, Kaede memerintahkan Kondo untuk mengusir keluarga mereka dari wilayah
Shirakawa dan menyita tanah mereka.
"Hanya itu yang dapat kau lakukan," Shizuka menenangkan, "Jika dibiarkan hidup,
mereka akan menjadi sumber kekisruhan, bahkan mungkin mereka akan bergabung dengan
musuhmu."




102
"Siapa musuhku?" Kaede berkata. Saat itu hari telah larut malam. Mereka duduk di
ruangan yang sangat Kaede sukai. Meskipun jendela tertutup, namun tungku hampir tak
mampu menghangatkan dinginnya udara malam. Ia menarik lapisan kimono berbulunya
lebih erat ke tubuhnya. Dari ruangan utama terdengar alunan doa para rahib, tetap menjaga
mayat ayahnya.
"Nariaki, anak tiri Lady Maruyarna yang menikah dengan sepupu Lord Iida. Dia akan
menjadi lawan utamamu dalam merebut Maruyama."
"Tapi sebagian besar Klan Seishuu membenci Tohan," balas Kaede. "Aku yakin mereka
akan menyambut kita. Lagi pula, akulah pewarisnya yang berhak, kerabat sedarah yang
paling dekat dengan Lady Maruyama."
"Tak seorang pun akan mempertanyakan hakmu," balas Shizuka, "tapi kau harus
berjuang untuk mendapatkannya. Apakah engkau tidak senang dengan wilayah ini, wilayah
Shirakawa?"
"Pengawalku hanya sedikit, dan peralatan perang mereka pun sangat menyedihkan," kata
Kaede merenung. "Untuk menjaga Shirakawa yang hanya membutuhkan sedikit pasukan
bersenjata lengkap pun kita tidak mampu. Aku membutuhkan kemakmuran Maruyama.
Saat masa berkabung usai, kau harus mengutus seseorang untuk rnenghadap kepala
pengawal Lady Naomi, Sugita Haruki. Kau sudah kenal orangnya; kita pernah bertemu
dengannya dalam perjalanan ke Tsuwano. Semoga dia masih memegang jabatan itu."
"Siapa yang akan kita utus?"
"Kau atau Kondo. Salah seorang mata-matamu."
"Kau hendak mempekerjakan Tribe?" tanya Shizuka kaget.
"Aku telah mempekerjakanmu," balas Kaede. "Kini aku ingin memanfaatkan
keahlianmu." Kaede hendak bertanya banyak hal pada Shizuka, namun ia merasa lelah, juga
rasa tertekan di rahimnya. Esok atau hari berikutnya aku akan bicara padanya, Kaede berjanji
pada dirinya, tapi sekarang aku harus beristirahat.
Punggungnya terasa nyeri. Ketika berbaring di tempat tidur, ia merasa tak nyaman dan
kantuk tak kunjung datang. Hari ini ia telah melewati saat-saat yang mengerikan dan masih
hidup, namun di saat isak dan tangis serta lantunan doa berhenti, rasa takut yang mendalam
datang melanda. Kata-kata ayahnya terngiang di telinganya. Wajah ayahnya dan kedua




103
orang yang mati dibunuh terbayang di pelupuk matanya. Kaede takut hantu mereka akan
datang mengambil kandungannya. Akhirnya Kaede pun tertidur sambil memegang perut.
Ia bermimpi ayahnya datang menyerangnya. Ayahnya menarik belati dari sabuk tapi
bukannya menikam belati perutnya sendiri, tetapi mendekat, memegang tengkuk dan
menusuk perut Kaede. Rasa sakit yang tak tertahankan menyapu dirinya, membuat ia
terbangun sambil menjerit. Rasa sakit menyentaknya lagi dengan berirama. Tungkai kakinya
bermandikan darah.
Upacara pemakaman ayahnya akhirnya berlangsung tanpa kehadiran Kaede. Sang janin
telah meluncur keluar dari rahimnya layaknya belut, dan darah kehidupan mengikutinya.
Kemudian demam datang, mengubah pandangan Kaede menjadi merah, membuat lidahnya
mengoceh tak karuan, menyiksanya dengan berbagai pandangan yang tak terlihat.
Shizuka dan Ayame membuat berbagai ramuan, dan dalam keputusasaan, mereka
membakar dupa dan memukul gong untuk mengusir roh jahat, serta memanggil orang suci
dan gadis cenayang untuk mengusir setan.
Setelah tiga hari, tampaknya tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan Kaede. Ai selalu
berada di sisinya. Hana terus menangis. Sekitar waktu Kambing, saat Shizuka keluar
mengambil air, seorang dari pos jaga memanggil.
"Ada tamu datang. Beberapa orang berkuda dan dua tandu. Lord Fujiwara, kurasa."
"Dia tidak boleh masuk," kata Shizuka. "Keadaan telah tercemar darah dan kematian."
Para pengangkat tandu meletakkan kedua tandu di luar pintu gerbang, dan Shizuka
berlutut saat Lord Fujiwara melihat keluar.
"Lord Fujiwara, maafkan aku. Anda tak boleh masuk."
"Aku mendapat kabar kalau Lady Otori sakit parah," balasnya. "Aku ingin berbicara
denganmu di taman."
Shizuka tetap berlutut saat bangsawan itu berjalan melewatinya, kemudian dia bangkit
dan mengikuti Lord Fujiwara ke paviliun di tepi sungai. Bangsawan itu melambaikan tangan
pada pelayannya agar pergi, dan berbalik menghadap Shizuka.
"Seberapa serius sakitnya?"
"Kurasa dia tak akan bertahan setelah malam ini." balas Shizuka dengan nada rendah.
"Kami telah berusalia."




104
"Aku membawa tabib," kata Lord Fujiwara. "Tunjukkan ke mana dia harus pergi, lalu
kembalilah kemari."
Shizuka membungkuk hormat, lalu berjalan kembali ke gerbang di mana seorang lakilaki
kecil separuh baya dengan penampilan yang cerdas dan baik hati, muncul clari tandu
kedua. Saat Shizuka mengantarnya ke kamar tempat Kaede berbaring, dia melihat kulit
pucat dan mata tidak fokus tuannya. Napas Kaede cepat dan pampa, kadang menjerit,
apakah meneriakkan rasa takut atau rasa sakit, sungguh sulit diduga.
Ketika Shizuka kembali, Lord Fujiwara sedang berdiri menatap ujung taman, di mana
sungai mengalir membasahi karang. Gemuruh air terjun terdengar sedih. Shizuka berlutut
dan menunggu bangsawan itu bicara.
"Ishida sangat ahli," katanya. "Jangan putus asa."
"Kebaikan Lord Fujiwara sangat berlebih," tutor Shizuka lirih, memikirkan wajah pucat
dan mata liar Kaede. Dia tak sabar ingin kembali pada tuannya, namun dia tak boleh pergi
tanpa seijin bangsawan itu.
"Aku bukanlah orang baik," balasnya. "Aku hanya dibangkitkan oleh hasratku, oleh
egoku. Itu sifatku agar menjadi kejam." Dia menatap sekilas pada Shizuka lalu berkata,
"Berapa lama kau melayani Lady Shirakawa? Kau bukan dari wilayah ini?"
"Saya dikirim kepadanya pada musim panas saat dia masih di kastil Noguchi."
"Siapa yang mengirimmu?"
"Lord Arai."
"Benarkah? Dan kau selalu mengirim laporan pada Arai?"
"Apa maksud Lord Fujiwara?" tanya Shizuka.
"Ada sesuatu pada dirimu yang tidak wajar sebagai pelayan. Kau memata-matai dia?"
"Lord Fujiwara terlalu menganggap tinggi kemampuanku," balers Shizuka.
"Kuharap kau tidak memicu kekejamanku."
Shizuka mendengar ancaman di balik kata-kata itu dan tidak berkata apa-apa.
Bangsawan itu lalu melanjutkan seolah-olah sedang bicara pada diri sendiri.
"Kepribadiannya, kehidupannya menyentuhku seperti yang pernah kurasakan. Sudah lama
aku tidak mengalami emosi apa pun. Takkan kubiarkan seorang pun—bahkan kematian—
merebutnya dariku."




105
"Semua orang yang melihatnya akan terpesona," bisik Shizuka, "tapi takdir selalu kejam
padanya."
"Aku ingin tahu kisah hidupnya," kata Lord Fujiwara. "Aku tahu dia memiliki banyak
rahasia. Tragedi kematian ayahnya merupakan salah satunya, kurasa. Kuharap kau akan
mengatakan padanya kelak, jika dia tidak mampu mengatakannya." Suaranya pecah.
"Kecantikannya yang mernbius sungguh menusuk jiwaku," katanya. Shizuka mendengar
kepura-puraan, tapi mata Lord Fujiwara berlinang air mata. "Jika dia hidup, aku akan
menikahinya," katanya. "Dengan begitu aku akan selalu memilikinya. Kau boleh pergi. Kau
akan mengatakan ucapanku ini kepadanya?"
"Lord Fujiwara." Shizuka menyembah hingga dahi menyentuh lantai lalu mundur
sambil berlutut.
Andai dia hidup…*




106
KOTA Matsue yang terletak di sebelah utara sangat dingin. Kami tiba di kota ini pada
pertengahan musim gugur, saat angin dari tanah daratan berderu melintasi lautan dengan
warna segelap baja. Bila salju mulai turun, seperti halnya Hagi, Matsue akan terputus dari
daerah di sekitarnya selama tiga bulan. Tempat yang cocok untuk belajar.
Selama seminggu kami berjalan melalui pesisir pantai. Meskipun tidak turun hujan,
namun langit sering mendung dan siang hari berlangsung lebih pendek dan lebih dingin.
Kami berhenti di sejumlah desa untuk menghibur anak-anak dengan permainan juggle,
spinning top, dan permainan senar yang dikuasai Yuki dan Keiko. Di malam hari kami selalu
menginap di rumah anggota Tribe. Aku selalu terjaga hingga larut malam, mendengarkan
percakapan berbisik, mencium aroma sake atau aroma bahan makanan yang terbuat kedelai.
Aku memikirkan Kaede, merindukannya. Dan terkadang di saat sedang sendiri, kubaca
surat Shigeru yang memintaku untuk membalaskan kematiannya, dan juga menjaga Lady
Shirakawa. Meskipun aku telah memutuskan untuk bergabung dengan Tribe, namun
bayangan kedua paman Shigeru yang belum mendapat hukuman di Hagi, serta pedang
Shigeru, Jato, yang kini terlelap di Terayama, selalu muncul di benakku.
Saat tiba di Matsue, Yuki dan aku telah menjadi sepasang kekasih. Hubungan kami
tidak terelakkan, bukan atas kemauanku. Aku selalu menyadari keberadaannya selama di
perjalanan, inderaku terbiasa dengan suaranya, keharumannya. Tapi, aku selalu bersikap
waspada dan berhati-hati untuk mengambil langkah apa pun pada dia. Sudah jelas kalau
Akio juga tertarik pada Yuki. Dia tergila-gila pada Yuki. Dia selalu mencari-cari
kesempatan untuk dapat bersamanya, berjalan di sisinya, dan duduk di sampingnya saat
makan. Aku tak ingin membuat Akio semakin membenciku.
Posisi Yuki di rombongan ini tidak jelas. Dia selalu patuh dan memperlakukan Akio
dengan hormat, meskipun Yuki lebih jago ketimbang Akio. Status mereka tampak sejajar,




107
sedangkan posisi Keiko jauh di bawah mereka, mungkin dia berasal dari keluarga yang lebih
kecil atau sekadar saudara seketurunan. Keiko selalu mengabaikan diriku, namun dia
menunjukkan kesetiaan buta pada Akio. Sedangkan pada laki-laki yang tertua, Kazuo,
semua orang memperlakukan dia sebagai pelayan dan juga paman. Dia memiliki banyak
keahlian praktis, termasuk mencopet.
Akio adalah keturunan Kikuta dari ayah dan ibunya. Dia sepupu keduaku dan bentuk
tangan kami pun serupa.
Kemampuan fisiknya sangat mengagumkan; gerakannya sangat cepat dan dapat
melompat begitu tinggi sehingga dia terlihat seperti melayang. Selain mampu menghilangkan
diri, dia tidak memiliki keistimewaan Kikuta yang lain. Yuki mengatakan itu padaku
saat kami berjalan jauh di depan rombongan.
"Para tetua takut keistimewaan itu akan lenyap. Di setiap generasi kemampuan itu
semakin berkurang." Dia berpaling kepadaku lalu menambahkan, "Itulah mengapa sangat
penting bagi kami untuk mempertahankanmu."
Ibunya Yuki pernah mengatakan hal serupa, dan aku ingin sekali bisa mendengar lebih
banyak dari Yuki, tapi Akio berteriak bahwa kini giliranku untuk mengendalikan gerobak.
Aku melihat kecemburuan di wajahnya. Dapat kulihat dengan jelas rasa cemburu dan rasa
bencinya padaku. Dia sangat fanatik pada Tribe, mungkin karena dia besar dalam ajaran dan
pandangan hidup Tribe; kemunculanku yang tiba-tiba mungkin telah mengusik ambisi dan
harapannya.
Aku tak berkata apa-apa saat mengambil alih kendali gerobak. Akio lalu berlari ke depan
agar dapat berjalan di samping Yuki, kemudian berbisik. Seperti biasa, dia lupa kalau aku
bisa mendengar setiap ucapannya. Dia biasa memanggilku si Anjing, dan nama panggilan
itu agaknya tepat untuk dilekatkan padaku. Aku memiliki kesamaan dengan anjing, aku
dapat mendengar apa yang anjing dengar dan aku tahu bagaimana rasanya tidak bisa bicara.
"Apa yang kau bicarakan dengan si Anjing?" dia bertanya pada Yuki.
"Pelajaran dan pelajaran," balas Yuki acuh. "Masih banyak yang harus dia pelajari."
Namun apa yang kelak dia ajarkan hanyalah seni bercinta.
Yuki dan Keiko dapat berperan sebagai pelacur selama perjalanan jika terpaksa.
Kebanyakan anggota Tribe, laki-laki dan perempuan, tidak berpikir buruk tentang mereka




108
berdua karena melacur. Pelacuran hanyalah peran lain yang harus dimainkan, kemudian
dilupakan. Tentu saja klan memiliki gagasan yang berbeda tentang keperawanan calon
pengantin dan kesetiaan isteri mereka. Laki-laki boleh melakukan apa pun yang mereka
suka; perempuan diharuskan tetap setia. Ajaran yang membesarkanku ada di antara
keduanya: Hidden diwajibkan bebas dari segala hasrat fisik, meskipun kenyataannya kami
memaafkan penyelewengan orang lain, dalam segala hal kami selalu memaafkan.
Di malam keempat kami menginap di rumah seorang saudagar. Meskipun terjadi
kelangkaan barang setelah terjadi badai, namun mereka memiliki banyak sekali persediaan.
Mereka juga tuan rumah yang baik. Saudagar itu menawari kami para gadis pelayannya, dan
Akio serta Kazuo tidak menampik. Ketika aku menolak, mereka mencemooh dengan hebat,
untung saja mereka tidak memaksa. Setelah gadis-gadis masuk ke kamar laki-laki, aku lalu
pindahkan kasur ke beranda. Sebenarnya aku sangat mendambakan Kaede, bahkan
perempuan mana pun. Aku sungguh tersiksa. Kemudian aku mendengar pintu digeser
terbuka, dan seorang gadis dari kediaman ini, kupikir, keluar ke beranda. Saat dia menutup
pintu, aku mengenali keharuman tubuh dan langkahnya.
Yuki berlutut di sampingku. Aku menyentuhnya lalu menariknya ke sampingku.
Korsetnya terbuka, kimononya sudah dilepas. Aku teringat rasa terima kasihku yang amat
besar padanya. Dia melepas pakaianku, membuatnya semua berjalan sangat mudah bagiku—
terlalu mudah.
Keesokan pagi Akio menatapku curiga. "Kau berubah pikiran semalam?"
Aku heran bagaimana dia bisa tahu, apakah dia mendengar ataukah dia hanya menduga.
"Seorang gadis mendatangiku. Tampaknya tidak sopan untuk diusir," jawabku.
Dia menggerutu tanpa menuntut penjelasan, namun dia selalu mengawasi aku dan Yuki,
bahkan di saat kami sedang tidak berbincang, seolah-olah dia tahu ada yang terjadi di antara
kami. Aku terus-menerus memikirkan Yuki, terbuai antara senang dan putus asa. Senang
karena saat-saat bersamanya begitu indah, dan putus asa karena dia bukan Kaede, dan apa
yang telah kami lakukan justru semakin mempererat ikatanku dengan Tribe.
Aku teringat komentar Kenji saat dia pergi: akan sangat bagus bila Yuki selalu berada di
sekitarmu untuk mengawasi. Dia tahu ini akan terjadi. Apakah dia yang merencanakan
semua ini? Apakah Akio juga telah diberi tahu? Aku diliputi rasa was-was. Aku tak




109
mempercayai Yuki, tapi bukan berarti aku menjauh darinya. Itu membuat kecemburuan
Akio semakin terlihat jelas.
Akhirnya rombongan kecil kami tiba di Matsue. Dari luar kami nampak kompak, tapi
sebenarnya kami tercabik-cabik oleh berbagai emosi. Sebagai anggota Tribe, kami biasa
menyembunyikan semua itu.
Di kota ini kami tinggal di rumah yang beraroma kedelai olahan: tauco* dan tofu.
Saudagar pemilik rumah, Gosaburo adalah adik bungsu Kotaro, juga sepupu pertama
ayahku. Hanya sedikit rahasia yang perlu kami jaga. Kami telah jauh di luar wilayah Tiga
Negara sehingga dari jangkauan Arai. Pemimpin klan di Matsue, Yoshida, tidak
bermusuhan dengan Tribe. Dia merasa Tribe berguna untuk simpan-pinjam uang, sebagai
mata-mata dan juga pembunuh. Di sini kami mendengar kabar tentang Arai yang sibuk
menaklukkan wilayah Timur dan wilayah Tengah, menyusun persekutuan, dan bertempur
kecil-kecilan demi memperjuangkan perbatasan dan menetapkan daerah administrasi. Kami
mendengar rumor tentang kampanye Arai untuk membersihkan daerahnya dari Tribe. Ada
yang menyambut kabar ini dengan gembira namun banyak pula orang yang mencemooh.
Aku tidak akan menceritakan pelatihanku lebih rinci. Kegiatan pelatihan ini ditujukan
untuk membangkitkan kekejaman dalam diriku. Tapi hingga sekarang ini, setelah setahun
berlalu, kenangan akan kebengisan dan kekasaran masih membuatku tersentak, dan aku
berusaha memalingkan wajah. Itulah masa-masa yang kejam: pada saat itu mungkin Surga
murka, mungkin manusia telah dicengkeram oleh setan, mungkin juga kekuatan baik sudah
lemah sehingga kebrutalan datang menyerbu. Tribe, kelompok yang paling kejam di antara
yang paling kejam, pun tumbuh subur.
Aku bukan satu-satunya anggota Tribe di pelatihan itu. Ada beberapa anak laki-laki
lain, sebagian besar jauh lebih muda dariku, dan semua terlahir sebagai Kikuta serta tumbuh
dalam keluarga itu. Salah seorang yang seumur denganku bertubuh gemuk, periang, dan aku
sering dipasangkan dengannya. Namanya Hajime, dan meskipun tidak jelas-jelas
membelokkan kemarahan Akio padaku—karena bila dia lakukan secara terang-terangan
akan dianggap tidak sopan. Ada sesuatu pada dirinya yang kusuka, meskipun aku kurang
mempercayainya. Keahlian bertarungnya jauh lebih hebat dariku. Dia jago sumo dan cukup
kuat menarik anak panah raksasa dari panah sang guru. Namun tak satu pun anugrah yang




110
dia dan pemuda lainnya miliki yang mampu mendekati kemampuanku. Baru kini kusadari
betapa istimewanya kemampuan yang kumiliki. Aku dapat menghilangkan diri cukup lama
di sudut ruangan, bahkan di dinding kosong bercat putih; Akio pun, terkadang, tidak dapat
melihatku. Aku mampu membelah sosokku saat sedang bertarung, dan menyaksikan
lawanku bertarung menghadapi sosok keduaku dari sudut lain ruangan. Aku dapat bergerak
tanpa suara dan pendengaranku semakin tajam. Anak muda lainnya dengan cepat belajar
untuk tidak menatap mataku. Hampir semua anak pernah tertidur karena ulahku. Perlahanlahan
aku belajar mengendalikannya setelah mempraktekkan pada anak-anak itu. Saat
menatap mata mereka, aku melihat kelemahan dan ketakutan yang membuat mereka rapuh
dalam tatapanku: terkadang ketakutan pada diri mereka, dan terkadang ketakutan mereka
padaku dan pada kekuatan gaib yang aku miliki.
Setiap pagi aku berlatih bersama Akio guna menambah kekuatan dan kecepatanku.
Gerakanku lebih lambat dan lemah dibanding dia hampir dalam segala bidang. Demi
menghargai bakatnya, Akio juga diminta mengajariku keahlian melompat, dan dia berhasil.
Kedua keahliannya itu memang telah mengendap dalam diriku—tidak heran ayah tiriku
sering memangilku monyet liar—ditambah lagi cara Akio mengajar yang brutal sehingga
mampu memunculkan keliaranku, dan memaksaku untuk mengendalikannya. Hanya dalam
beberapa minggu aku merasa ada perbedaan dalam diriku, tubuh yang kuat dan pikiran yang
tajam.
Kami selalu mengakhiri latihan dengan bertarung tangan kosong—bukan berarti Tribe
sering menggunakan cara bela diri ini: mereka lebih suka membunuh secara diam-diam.
Setelah latihan kami lalu duduk bermeditasi dalam keheningan, jubah disampirkan ke tubuh
kami agar suhu tubuh tetap naik oleh kekuatan kehendak. Kepalaku sering berdengung
akibat pukulan atau terjatuh sehingga aku tak mampu mengosongkan pikiran seperti yang
seharusnya kulakukan. Sebaliknya, aku malah memikirkan betapa inginnya aku melihat
Akio menderita. Ingin sekali aku lampiaskan pada Akio semua siksaan yang Jo-An alami,
seperti yang dia pernah ceritakan padaku.
Pelatihan ini dirancang untuk membangkitkan kekejaman dan aku menerimanya dengan
senang hati karena meningkatnya semua kemampuan yang pernah kupelajari bersama anakanak
ksatria Otori semasa Shigeru masih hidup. Darah Kikuta dari ayahku bersemi dalam




111
diriku. Sementara sifat welas asih yang diturunkan ibuku tersapu hanyut bersama semua
ajaran di masa kecilku. Aku tidak lagi berdoa; tuhan yang rahasia, Sang Pencerah, maupun
pada roh-roh kini tidak berarti apa-apa lagi bagiku. Aku tidak mempercayai keberadaan
mereka dan aku tidak melihat bukti bahwa mereka bermurah hati pada hambanya.
Terkadang, di malam hari, aku terjaga dan merasa jijik pada keadaanku saat ini, dan
kemudian aku akan bangun dan, jika aku bisa, pergi mencari Yuki.
Pertemuanku dengan Yuki selalu berjalan singkat dan tanpa suara. Namun pada suatu
sore, kami hanya berdua di rumah, selain pelayan yang bekerja di toko. Akio dan Hajime
membawa anak-anak yang lebih muda ke kuil untuk seremoni, sedangkan aku disuruh
menyalin dokumen untuk kepentingan Gosaburo. Aku mensyukuri tugas ini. Aku jarang
menggenggam kuas dan karena aku sangat terlambat belajar menulis, aku takut bila semua
huruf akan lenyap dariku. Saudagar itu memiliki beberapa buku dan, seperti yang Shigeru
ajarkan, aku sebaiknya menulis kapan saja aku sempat, namun sejak kehilangan tinta dan
kuas di Inuyama, aku jarang menulis lagi.
Dengan tekun aku menyalin dokumen, membuat laporan jumlah pembelian beras dan
kedelai dari petani setempat, namun jariku gatal ingin melukis. Aku teringat kunjungan
pertamaku ke Terayama, cemerlangnya musim panas di sana, keindahan lukisan, serta
burung kecil yang kulukis lalu kuberikan pada Kaede.
Seperti biasa, saat mengenang masa lalu, bayangan Kaede datang dan menguasai seluruh
diriku. Dapat kurasakan kehadirannya, keharuman rambutnya, dan mendengar suaranya.
Begitu kuat Kaede hadir di dekatku, seolah-olah rohnya menyelinap masuk ke ruangan ini
dengan penuh kebencian dan murka karena aku telah mengabaikan dirinya. Ucapannya
masih terngiang-ngiang di telingaku: Aku takut pada diriku. Aku hanya merasa aman bila
bersamamu.
Hawa dingin menyapu ruangan dan hari semakin gelap, diiringi ancaman akan
datangnya musim dingin. Aku menggigil, dihinggapi rasa menyesal yang mendalam.
Tanganku kaku karena kedinginan.
Aku mendengar langkah Yuki mendekat dari belakang bangunan. Aku mulai menulis
lagi. Dia menyeberang halaman dan melepas sandal di beranda ruang pencatat. Aku
mencium bau kayu terbakar. Dia membawa tungku kecil, lalu dia letakkan di lantai, di




112
dekatku.
"Kau kedinginan," katanya. "Mau kubuatkan teh?"
"Nanti saja." Aku menaruh kuas dan menggenggam kedua tanganku untuk
mendapatkan rasa hangat. Yuki meraih tanganku dan menggosok-gosokkan di antara kedua
telapak tangannya.
"Akan kututup jendela," katanya.
"Kalau begitu sebaiknya kau ambilkan lampu. Aku tidak bisa menulis bila gelap."
Dia tertawa pelan. Satu demi satu jendela dia tutup. Ruangan menjadi remang-remang,
hanya diterangi bara dari arang. Saat mendekat, Yuki telah melepas pakaiannya. Segera saja
kami berdua merasa hangat. Tapi rasa gelisah melandaku. Roh Kaede seakan hadir di
ruangan ini. Apakah aku membuat dia sedih, cemburu, dan jengkel?
Sambil meringkuk di dekatku, dengan kehangatan yang terpancar darinya, Yuki berkata,
"Ada pesan dari sepupumu."
"Sepupu yang mana?" Kini aku punya lusinan sepupu.
"Muto Shizuka."
Aku menjauh dari Yuki agar dia tidak mendengar debar jantungku. "Apa pesannya?"
"Lady Shirakawa sedang sekarat. Shizuka mengatakan mungkin Kaede tidak akan
bertahan." Yuki menambahkan dengan suara malas, "Sungguh malang nasibnya."
Yuki sedang senang. Namun yang kupikirkan saat ini hanyalah Kaede, kerapuhannya,
keingintahuannya, dan kecantikannya yang menyihir. Aku berteriak pada diriku sendiri:
Jangan mati. Aku harus bertemu denganmu lagi. Aku akan datang kepadamu. Jangan mati
sebelum aku melihatmu lagi!
Roh Kaede seakan menatapku, matanya gelap oleh celaan dan kesedihan.
Yuki berbalik untuk memandangku, kaget akan keheninganku. "Shizuka merasa kau
perlu tahu itu—apakah ada sesuatu di antara kalian? Ayahku juga menangkap kesan itu,
namun dia menganggap itu hanyalah cinta monyet. Ayahku mengatakan bahwa semua
orang yang memandang Kaede akan tergila-gila padanya."
Aku tak menjawab. Yuki duduk, menarik kimono menutupi tubuhnya. "Lebih dari itu,
kan? Kau mencintainya." Dia meraih tanganku dan membalikkan badanku agar berhadapan
dengannya. "Kau mencintainya," ulangnya, ada nada cemburu dalam suaranya. "Apakah itu




113
sudah berakhir?"
"Tak akan pernah berakhir," kataku, "Bahkan jika dia mati, aku tak akan berhenti
mencintainya." Kini sudah terlambat untuk mengatakannya pada Kaede, aku tahu itu.
"Bagian hidupmu yang itu telah berakhir," kata Yuki pelan, namun tajam. "Semuanya.
Lupakan dia! Kau tak akan bertemu dengannya lagi." Ada nada marah dan frustasi dalam
suaranya.
"Aku tak akan mengatakan ini bila kau tak menyebut tentang dia." Kutarik tanganku
dari tangannya dan kembali berpakaian. Kehangatan telah hilang secepat datangnya. Bara
yang ada di tungku tak mampu membuatku hangat.
"Ambilkan arang," perintahku. "Dan lampu. Aku harus menyelesaikan tugasku."
"Takeo," dia mulai berkata, lalu tiba-tiba berhenti. "Akan kusuruh pelayan
mengambilkan arang untukmu," dia berkata sambil berdiri. Dia menyentuh tengkuk leherku
saat pergi, namun aku tak menanggapi. Secara fisik, kami sudah terlibat terlalu dalam:
tangannya telah memijatku, dan memukulku saat memberi hukuman. Kami pernah
membunuh dengan berdampingan, kami telah bercinta.
Tapi dia hanya mampu melukis permukaan hatiku saja, dan kami sadari itu.
Aku tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan, tapi di dalam hatiku, aku menangis
karena Kaede dan juga karena hidup yang seharusnya kami miliki saat ini. Tidak ada berita
lebih jauh dari Shizuka, meskipun aku selalu bertanya pada penyampai pesan. Yuki tak
menyinggung topik itu lagi. Aku tidak yakin Kaede sudah mati. Di siang hari aku
bergantung pada keyakinan itu, namun berbeda bila malam tiba.
Warna dedaunan mulai memudar saat gugur dari pohon maple dan pohon willow.
Rombongan angsa liar mulai terbang ke selatan melintasi langit yang mendung. Penyampai
pesan semakin jarang datang, seiring kota yang mulai terkucil karena musim dingin. Namun
terkadang ada yang datang membawa kabar tentang kegiatan Tribe dan pertempuran di
Tiga Negara dan juga, selalu, membawa perintah baru bagi trade kami.
Istilah trade adalah cara kami menggambarkan tugas memata-matai atau perintah
membunuh. Trade dengan nyawa manusia perlu didata karena banyak jumlahnya. Aku
menyalin semua catatan tentang kegiatan itu, terkadang hingga larut malam dengan
ditemani Gosaburo, si saudagar, sambil berpindah dari catatan tentang panen kedelai hingga




114
urusan kematian. Dua kegiatan yang berbeda ini menghasilkan keuntungan yang bagus,
meskipun kedelai terpengaruh badai sedangkan pembunuhan tidak, walau bisa saja calon
korban mati akibat badai sebelum Tribe berhasil menyeretnya sehingga sering timbul
sengketa yang tak berkesudahan tentang pembayarannya.
Kikuta, keluarga yang lebih kejam, diharuskan lebih ahli dalam membunuh
dibandingkan Muto yang secara turun-temurun lebih efektif menjadi mata-mata. Dua
keluarga ini termasuk golongan aristrokat dalam Tribe; tiga keluarga lainnya yaitu, Kuroda,
Kudo, dan Imai, lebih banyak bekerja pada tugas yang kasar dan menjemukan: menjadi
pelayan, mencuri, mencari berita, dan sebagainya. Lantaran keahlian turun-temurun sangat
berharga, banyak pernikahan antara Muto dan Kikuta dilangsungkan, sementara hanya
sedikit di antara mereka yang menikah dengan keluarga selain itu, meskipun ada
pengecualian sehingga melahirkan orang jenius seperti si pembunuh, Shintaro.
Setelah urusan hitung-menghitung, Kikuta Gosaburo akan menjelaskan tentang silsilah
keluarga, sambil menjelaskan hubungan yang ruwet di antara kalangan Tribe yang tersebar
ibarat jaring laba-laba musim gugur yang melintasi Tiga Negara. Gosaburo seorang laki-laki
gemuk dengan dagu berlipat seperti perempuan dan berwajah halus, seolah memiliki
perawakan yang lemah-lembut. Aroma kedelai fermentasi melekat di pakaian dan kulitnya.
Jika suasana hatinya sedang baik, dia akan menyajikan sake dan beralih dari pelajaran silsilah
ke sejarah-sejarah leluhurku dari pihak Tribe. Ksatria bisa bangkit dan jatuh, klan bisa saja
tumbuh subur dan menghilang, namun trade kaum Tribe di segala esensi terus kehidupan
berlanjut. Kecuali saat ini, Arai hendak membawa angin perubahan. Pada saat semua ksatria
ingin bekerjasama dengan Tribe, Arai justru ingin menghancurkan mereka.
Dagu Gosaburo bergerak-gerak saat menertawakan gagasan itu.
Awalnya aku hanya ditugasi sebagai mata-mata, dikirim untuk menguping pembicaran
di kedai dan warung teh, lalu diperintahkan memanjat dinding dan atap di malam hari dan
mendengarkan para laki-laki menceritakan rahasia kepada anak atau isteri mereka. Aku
mendengarkan semua rahasia dan ketakutan penduduk kota ini, strategi klan Yoshida di
musim semi nanti, perhatian pemerintah kastil setempat atas rencana Arai yang sudah
kelewat batas serta tentang pemberontakan petani yang hampir terjadi. Aku pergi ke desadesa
di pegunungan untuk mencari tahu biang keladi pemberontakan.




115
Suatu malam Gosaburo mendecak-decakkan lidah, tak senang karena ada yang
menunggak pembayaran. Bukan hanya belum dibayar, orang itu bahkan memesan barang
lebih banyak. Nama pemesan itu adalah Furoda, seorang ksatria klas rendahan yang kini
beralih menjadi petani demi menghidupi keluarga besarnya dan sangat menyukai barang
mewah. Di bawah tulisan namanya, aku membaca simbol-simbol yang menunjukkan bahwa
beberapa usaha intimidasi telah dilakukan: lumbungnya dibakar, seorang anak gadisnya
diculik, anak laki-lakinya dipukul habis-habisan. Tetap saja, dia tenggelam lebih jauh dalam
hutang pada Kikuta.
"Masalah ini bisa diserahkan pada si Anjing," kata saudagar itu pada Akio yang datang
bergabung untuk minum sake. Seperti yang lainnya, kecuali Yuki, Gosaburo juga
memanggilku dengan nama kecil pemberian Akio.
Akio mengambil gulung kertas itu dan membaca sejarah Furoda yang menyedihkan.
"Orang ini terlalu banyak diberi kemudahan."
"Sebenarnya orang itu menyenangkan. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Tapi, aku
tidak bisa terus-menerus memberinya pinjaman."
"Paman, bila kau tak segera berurusan dengannya, bukankah orang lain akan
mengharapkan kelonggaran yang sama?" kata Akio.
"Itulah masalahnya. Sekarang ada banyak orang yang menunggak pembayaran. Mereka
pikir bisa menghindar karena Furoda berhasil." Gosaburo menghela napas panjang, matanya
nyaris hilang dalam lipatan pipinya. "Hatiku terlalu lembut. Itu masalahku. Kakakku selalu
mengatakan itu padaku."
"Si Anjing juga berhati lembut," kata Akio, "Tapi kami telah melatihnya agar berjiwa
keras. Dia bisa mengurusi Furoda. Akan lebih baik baginya."
"Jika dibunuh, dia tak akan bisa bayar hutang," kataku.
"Tapi yang lain akan segera membayar." Akio berkata seakan-akan sedang menunjukkan
kebenaran yang sudah jelas kepada orang tolol.
"Seringkali lebih mudah mengambil harta orang yang sudah mati daripada yang masih
hidup," kata Gosaburo, dengan nada sedih.
Aku tidak mengenal Furoda, orang yang menyukai kesenangan, kurang bertanggungjawab
dan santai ini, dan aku enggan membunuhnya. Tapi aku harus




116
melakukannya. Beberapa hari kemudian, pada suatu malam hari, aku mendatangi rumahnya
yang terletak di pinggiran kota, aku diamkan anjing-anjing, lalu berjalan dengan
menghilangkan diriku dan menyelinap melewati penjaga. Rumah Furoda dipalang dengan
kuat sehingga aku menunggu orang itu keluar ke kamar kecil. Sudah lama kuamati
rumahnya dan aku tahu ia selalu bangun awal untuk buang hajat. Furoda dulunya bertubuh
besar dan padat yang kemudian berhenti berlatih dan menyerahkan pekerjaan berat di
ladang pada anaknya sehingga kini dia lemah. Dia dibunuh hampir tanpa keributan.
Ketika aku merapikan garotte, rintik hujan nyaris sedingin es. Atap dinding licin. Malam
begitu gelap. Aku kembali ke rumah Kikuta diam-diam, dibungkam oleh kegelapan dan
dingin, seakan mereka menjalar dalam diriku dan meninggalkan bayangan di relung jiwaku.
Anak-anak Furoda segera membayar hutang ayahnya, dan Gosaburo senang dengan
hasil kerjaku. Aku tak ingin orang tahu seberapa besar pembunuhan itu menggangguku, tapi
tugas berikutnya justru lebih buruk lagi. Keluarga Yoshida memerintahkan suatu
pembunuhan. Mereka memutuskan untuk menghentikan kerusuhan di kalangan penduduk
desa sebelum musim dingin, dan meminta agar pemimpin pemberontak dibunuh. Aku tahu
pemimpinnya, tahu lahan rahasianya, meskipun aku tidak mengatakan itu pada siapa pun.
Ketika aku katakan pada Gosaburo dan Akio di mana orang itu bisa ditemui sedang sendiri
setiap pagi, mereka lalu memberi tugas itu kepadaku.
Orang itu memiliki sawah dan ladang kentang manis yang tersembunyi di sebuah goa,
terhalang oleh pebukitan, dan ditutupi bebatuan dan semak belukar. Dia sedang bekerja di
ladangnya sewaktu aku menapak di tanah yang landai. Aku salah menilainya: dia lebih kuat
dari yang kuduga, dan dia melawan dengan menggunakan cangkul. Selagi berkelahi, kain
penutup kepalaku merosot ke belakang dan dia sempat melihat wajahku. Sorot mata lakilaki
itu seperti mengenaliku, diiringi rasa takut. Saat itu aku menggunakan sosok keduaku
untuk menghampiri sisi belakang dan menggorok lehernya, samar-samar aku mendengar dia
berkata.
"Lord Shigeru!"
Tubuhku berlumuran darah, darahnya dan darahku. Aku pusing karena terkena pukulan
yang tak sempat aku hindari. Cangkulnya sempat menggores kepalaku hingga berdarah.
Kata-kata orang itu sangat menggangguku. Apakah dia meminta arwah Shigeru untuk




117
menolongnya, ataukah dia mengira aku adalah Lord Shigeru? Aku ingin bertanya, namun
matanya menatap kosong ke langit yang temaram. Dia sudah mati dan tak dapat menjawab
itu selama-lamanya.
Aku menghilangkan diri dan bertahan seperti itu hingga di dekat rumah Kikuta, inilah
pertama kalinya aku menghilangkan diri begitu lama. Aku ingin menghilang selamanya,
andaikan bisa. Aku tak dapat melupakan katakata terakhir orang itu, dan aku teringat apa
yang pernah Lord Shigeru katakan, sewaktu di Hagi: Aku tidak pernah membunuh orang
yang tidak bersenjata, dan tidak juga membunuh demi kesenangan.
Pemimpin klan sangat puas. Kematian orang itu telah merampas jantung kekacauan.
Penduduk desa mulai jinak dan patuh. Banyak dari mereka yang mati kelaparan sebelum
akhir musim dingin. Benar-benar hasil yang sangat memuaskan, kata Gosaburo.
Sejak kejadian itu, setiap malam aku memimpikan Shigeru. Dia datang dan berdiri di
depanku, seolah-olah muncul dari sungai dengan darah dan air menetes dari tubuhnya,
tanpa bicara. Matanya terpaku padaku, seakanakan dia sedang menungguku dengan
kesabaran burung bangau hingga aku dapat bicara lagi.
Lambat-laun kondisi itu mulai meruntuhkanku hingga aku merasa tidak sanggup
menjalani hidup seperti ini lagi, tapi aku tidak tahu cara melarikan diri. Aku telah membuat
kesepakatan dengan ketua Kikuta yang kini tidak mungkin lagi aku tepati. Saat itu aku
membuat penawaran dalam suasana bernafsu, tidak berharap untuk hidup setelah malam itu,
dan tanpa memahami diriku sendiri. Kupikir Ketua Kikuta, yang sepertinya mengenali
diriku, akan membantu mengatasi sifatku yang terpecah-belah, tapi ternyata dia malah
mengirimku ke Matsue, pada Akio. Tribe dapat mengajari cara menyembunyikan sifatku
yang lembut ini, namun mereka tak mampu mengatasinya; semua itu bahkan terseret
semakin dalam pada diriku.
Suasana hatiku semakin buruk ketika Yuki pergi. Dia tak mengatakan apa pun tentang
kepergiannya, dia menghilang begitu saja. Saat berlatih di pagi hari, aku mendengar suara
dan langkahnya. Aku mendengar dia berjalan ke gerbang dan pergi tanpa mengucapkan
salam perpisahan pada siapa pun. Seharian aku menanti kepulangannya, tapi dia tidak
kembali. Aku mencoba bertanya, tanpa mencolok, ke mana perginya Yuki; semua orang
seperti mengelak untuk menjawabnya, sedangkan aku tak ingin bertanya pada Akio atau




118
Gosaburo. Aku merindukannya, tapi aku juga lega karena tidak perlu lagi menghadapi
pertanyaan apakah aku tidur dengannya atau tidak. Setiap siang, sejak Yuki
memberitahukan kabar tentang Kaede, aku memutuskan untuk tidak mendekatinya lagi,
namun kenyataannya setiap malam aku melakukannya.
Dua hari kemudian, ketika aku memikirkan Yuki saat sedang bermeditasi di akhir
latihan pagi, aku mendengar pelayan memanggil Akio dengan pelan. Akio membuka mata
perlahan, lalu dengan hawa ketenangan yang selalu dia rasakan setelah bermeditasi (dan aku
yakin dia hanya berpura-pura), dia bangkit dan berjalan ke pintu.
"Ketua datang," kata gadis itu. "Beliau menunggumu."
"Hei, Anjing," Akio memanggilku. Saat aku berdiri, pemuda lainnya tetap duduk
membeku, tanpa membuka mata. Akio menyentakkan kepala, dan aku mengikutinya ke
ruangan utama di mana Kikuta Kotaro dan Gosaburo sedang minum teh.
Kami masuk dan menyembah di hadapannya.
"Duduklah tegak," katanya sambil mengamatiku selama beberapa saat. Kemudian dia
menyapa Akio, "Ada masalah?"
"Tidak juga," kata Akio, menunjukkan secara tidak langsung kalau memang ada
beberapa masalah.
"Bagaimana dengan sikapnya? Tidak ada masalah?" Akio menggelengkan kepala dengan
perlahan. "Meskipun sebelum meninggalkan Yamagata...?" Kurasa Kotaro ingin aku tahu
bahwa dia mengetahui segala sesuatu tentangku.
"Masalah itu bisa diatasi," balas Akio singkat.
"Pemuda ini cukup berguna," Gosaburo menyela.
"Aku senang mendengarnya," ujar Kotaro datar.
Saudara Kotaro itu lalu berdiri dan permisi keluar ruangan—dengan alasan harus
menjaga toko. Setelah Gosaburo pergi, sang ketua berkata, "Semalam aku bicara dengan
Yuki."
"Dia di mana?"
"Itu tidak penting. Tapi dia mengatakan sesuatu yang agak menggangguku. Kami tahu
kalau Shigeru sengaja mencarimu ke Mino. Dia membiarkan Kenji percaya bahwa
pertemuan itu hanyalah kebetulan."




119
Kotaro berhenti bicara. Aku diam menunggu. Aku ingat kapan Yuki mengetahui itu,
yaitu saat dia memotong rambutku. Dia menganggap berita ini penting, cukup penting
untuk disampaikan pada ketua. Tidak diragukan lagi, gadis itu pasti menceritakan semua
tentang diriku.
"Informasi itu membuat aku curiga kalau Shigeru mengetahui tentang Tribe lebih dari
yang kusadari," kata Kotaro. "Benarkah?"
"Memang benar dia tahu siapa aku," jawabku. "Dan dia sahabat ketua Muto selama
bertahun-tahun. Hanya itu yang kutahu tentang hubungannya dengan Tribe."
"Dia tidak mengatakan lebih banyak lagi?"
"Tidak." Aku berbohong. Sebenarnya Shigeru memang menceritakan lebih banyak, saat
kami di Tsuwano—bahwa dia sebenarnya mencari tahu tentang Tribe dan bahwa dia
mungkin tahu lebih banyak tentang mereka dibandingkan orang luar mana pun. Aku tak
pernah membagi informasi ini dengan Kenji dan aku tidak melihat alasan untuk
mengatakannya pada Kotaro. Shigeru memang sudah meninggal, sedangkan aku terikat
pada Tribe, namun aku tidak akan membongkar rahasia yang Shigeru percayakan padaku.
Aku berusaha agar suaraku terdengar polos, "Yuki juga menanyakan hal yang sama.
Pentingkah itu sekarang?"
"Kami mengira telah mengenal Shigeru," kata Kotaro. "Ternyata dia masih mengejutkan
kami, bahkan setelah dia mati. Dia juga menyimpan beberapa rahasia dari Kenji—
hubungannya dengan Maruyama Naomi, misalnya. Apa lagi yang dia sembunyikan?"
Aku mengangkat bahu. Aku membayangkan Shigeru, yang bernama kecil sang Petani,
sedang tersenyum tulus, dia nampak jujur dan sederhana. Semua orang ternyata salah
menilainya, terutama Tribe. Dia jauh melampaui dugaan mereka.
"Mungkinkah dia menyimpan catatan tentang Tribe?"
"Dia menyimpan banyak catatan," kataku, pura-pura bingung. "Tentang cuaca,
percobaan pertanian, ladang, sawah, dan juga tentang pengawalnya. Ichiro, gurunya, sering
membantunya menangani catatan itu tapi biasanya dia yang menulis sendiri."
Aku seperti dapat melihat Shigeru sedang menulis hingga larut malam, lampu berkedapkedip,
dingin yang menusuk, wajahnya tampak waspada dan cerdas, agak berbeda dari raut
wajahnya sehari-hari.




120
"Apakah kau selalu bersamanya?"
"Tidak, selain dari pertemuan kami di Mino."
"Seberapa sering dia berkelana?"
"Aku kurang yakin; sewaktu di Hagi dia tidak pernah keluar kota."
Kotaro menggerutu. Ruangan pun hening. Aku hampir tak mendengar napas orang lain.
Dari kejauhan terdengar bunyi-bunyian dari toko dan rumah di sore hari, suara pembeli,
penjaja keliling yang berteriak-teriak di jalan. Angin makin kencang, bersiul di balik
dedaunan, menggetarkan kisi-kisi jendela. Tiupan angin membawa tandatanda salju.
Akhirnya sang ketua berkata, "Hampir bisa dipastikan dia menyimpan catatan-catatan
itu. Semua catatan itu harus kita peroleh. Akan timbul bencana jika catatan itu jatuh ke
tangan Arai. Kau harus ke Hagi. Cari tahu apakah catatan itu memang ada dan bawa semua
berkas-berkasnya kemari."
Aku nyaris tidak percaya. Tak pernah kubayangkan akan ke sana lagi. Kini aku harus
kembali ke rumah yang begitu kucintai.
"Ini gara-gara nightingale floor itu," kata Kotaro. "Aku tahu Shigeru telah membangun
lantai itu di sekitar rumahnya dan hanya kau yang dapat melintas di atasnya tanpa berbunyi."
Aku merasa seakan sudah berada di sana: dapat kurasakan kelembaban udara malam di
bulan keenam, melihat diriku berlari pelan seperti hantu, mendengar Shigeru berkata:
Bisakah kau melakukannya lagi?
Aku berusaha mengendalikan suaraku, tapi tetap saja otot-otot senyumku bergetar.
"Kau harus segera pergi," Kotaro melanjutkan, "Kau harus tiba di sana dan kembali
sebelum musim dingin. Saat ini hampir akhir tahun, sedangkan di saat bulan pertama, Hagi
dan Matsue akan tertutup salju."
Belum pernah aku melihat orang itu marah, tapi kini dia terlihat marah. Mungkin
karena dia melihat aku tersenyum.
"Mengapa kau tak pernah mengatakan hal ini?" dia bertanya, menuntut. "Mengapa kau
simpan dari Kenji?"
Marahku memuncak saat membalasnya. "Lord Shigeru merahasiakannya dan aku
menuruti perintahnya. Sumpah setiaku yang pertama adalah kepadanya. Aku tak akan
mengungkapkan sesuatu yang Shigeru ingin rahasiakan. Lagipula, waktu itu aku adalah




121
bagian dari Otori."
"Dan kurasa sampai sekarang pun kau tidak berubah," Akio menyela. "Dia akan selalu
setia Shigeru." dia menambahkan, "Anjing hanya mengenal satu tuan."
Aku berpaling menatapnya sambil berharap dia balas tatapanku agar dapat kubungkam
dia, membuat dia tertidur, namun setelah memberi tatapan menghina, Akio kembali
menunduk.
"Bagus, tugas ini akan membuktikan pendapat kalian," balas Kotaro. "Kurasa misi ini
akan menguji kesetiaanmu. Ichiro pasti tahu keberadaan catatan itu."
Aku membungkuk, tanpa bicara, sambil memikirkan apakah aku sanggup membunuh
Ichiro, orang yang menjadi guru Shigeru dan juga guruku. Aku pernah berpikir untuk
membunuhnya saat aku dihukum atau dipaksa belajar, tapi bagaimanapun juga dia adalah
orang kepercayaan Shigeru. Aku terikat kewajiban dan kesetiaan padanya, juga karena rasa
hormatku yang terpaksa dan baru kusadar kini, kasih sayangku padanya.
Di saat yang sama, aku menjelajahi kemarahan ketua, merasakan amarahnya di lidahku.
Rasanya sama seperti kemurkaan Akio padaku yang tidak pernah lenyap, seolah-olah
mereka berdua membenci sekaligus takut padaku. Kikuta senang sekali ketika tahu Isamu
mempunyai anak laki-laki, begitu kata isteri Kenji. Jika mereka senang, lalu kenapa mereka
sangat marah padaku? Bukankah Katoro juga menyatakan, kami semua senang?
Reaksi Kikuta atas kemunculanku terkesan terpecah: mungkin mereka senang pada
kemampuanku, tapi ada sesuatu pada diriku yang membuat mereka waspada, dan aku belum
tahu gerangan apakah itu.
Murkanya ketua yang seharusnya membuatku tunduk dan patuh, justru mendorongku
untuk lebih keras kepala, dan menyulut sifat keras kepalaku dan memberiku energi. Aku
merasakan gelombang energi dalam diriku scat aku renungkan takdir yang mengirimku
pulang ke Hagi.
"Sekarang ini kita memasuki masa yang berbahaya," kata ketua sambil mengamatiku,
seakan dapat membaca pikiranku. "Rumah Muto di Yamagata telah diperiksa dan diobrakabrik.
Ada yang curiga kau bersembunyi di sana. Untungnya Arai sudah kembali ke
Inuyama sedangkan Hagi jauh dari sana. Kepulanganmu memang beresiko, tapi akan jauh
lebih berbahaya bila catatan Shigeru jatuh ke tangan orang lain."




122
"Bagaimana bila dokumen itu tidak ada di rumah Shigeru? Bila disembunyikan di
tempat lain?"
"Mungkin Ichiro tahu. Tanyakan padanya lalu ambil semua catatan itu."
"Aku harus segera pergi?"
"Makin cepat, makin baik."
"Sebagai seniman?"
"Tak ada seniman yang berkeliling di saat seperti ini," cemooh Akio. "Lagipula, kita
hanya pergi berdua."
Aku berdoa semoga Akio tidak ikut. Ketua berkata, "Akio akan menemanimu. Anggap
saja kakeknya—yaitu kakekmu—meninggal dan kalian kembali ke Hagi untuk melayat."
"Aku tidak mau pergi dengan Akio," kataku.
Akio menghela napas panjang. Kotaro berkata, "Kau tidak berhak memilih. Yang ada
hanyalah kepatuhan."
Keras kepalaku muncul, dan aku tatap mata sang ketua. Dia menatapku seperti yang
pernah dia lakukan sebelumnya: saat dia membuatku tertidur. Tapi sekali ini aku membalas
tatapannya tanpa tertidur. Ada sesuatu yang membuat dia agak tersentak. Aku mencari-cari
dalam tatapannya, lalu muncul rasa curigaku.
Dialah yang membunuh ayahku.
Aku merasa ngeri atas apa yang kulakukan, kemudian pandanganku terpaku. Meskipun
menyeringai, tapi aku jauh dari tersenyum. Aku melihat tatapan takjub sang ketua dan
melihat pandangannya berkabut. Akio berdiri, memukul wajahku sehingga aku hampir
terjungkir.
"Berani benar kau lakukan itu pada ketua? Kau tidak punya rasa hormat, dasar sampah."
Kotaro berkata, "Duduklah, Akio."
Aku menatap tajam mata Akio, namun dia tetap tidak membalas tatapanku.
"Aku menyesal, ketua," kataku pelan. "Maaf."
Dia tahu ucapanku tidak tulus. Dia lalu berdiri dan menutupi kejadian tadi dengan
marah.
"Sejak menemukanmu, kami berusaha melindungimu dari dirimu sendiri." Dia tidak
meninggikan suara, tapi tidak ragu lagi kalau dia marah. "Bukan hanya demi




123
keselamatanmu. Kau tahu benar apa bakatmu dan betapa bergunanya itu bagi kami. Namun
pola asuhmu, darah campuran dan karaktermu bekerjasama melawan dirimu. Kurasa
pelatihan di sini dapat membantu, hanya saja kita tak ada waktu untuk meneruskannya.
Akio akan ikut bersamamu ke Hagi dan kau harus patuh padanya dalam segala hal. Dia jauh
lebih berpengalaman, dia tahu di mana rumah yang aman, siapa yang dapat dihubungi dan
dapat dipercaya."
Dia berhenti sejenak saat aku membungkuk menerima perintahnya, lalu dia
melanjutkan, "Kau dan aku pernah membuat kesepakatan di Inuyama, tapi kau
membangkang dengan kembali ke kastil. Akibat kematian Iida tidaklah menguntungkan
kami. Kami jauh lebih baik di bawah kekuasaan Iida ketimbang di bawah kekuasaan Arai.
Kini hidupmu bukan milikmu lagi berdasarkan sumpahmu sendiri."
Aku tidak membalas perkataannya. Kurasa dia hampir menyerah untuk dapat
mengatasiku. Kesabaran, pengertiannya yang dulu membuat aku tenang dan damai, kini
mengering. Begitu pula dengan kepercayaanku padanya. Kecurigaan mengendap di
benakku; sekali kecurigaan itu muncul, tak ada yang sanggup menghilangkannya—ayahku
telah mati di tangan Tribe, kemungkinan Kotaro yang membunuhnya. Kelak aku mulai
menyadari kalau hal ini menjelaskan banyak hal tentang hubunganku dengan Kikuta,
bersikerasnya mereka untuk membuatku patuh, sikap mendua mereka atas semua
kemampuanku, dan kebencian mereka atas kesetiaanku pada Shigeru, tapi sekarang ini rasa
curigaku justru membuatku semakin depresi. Akio membenciku, aku telah menyinggung
sang ketua, Yuki meninggalkanku, Kaede mungkin sudah mati... Aku tak ingin meneruskan
daftar ini. Aku menatap kosong ke lantai selagi Kikuta dan Akio membahas rincian perjalanan.
Kami berangkat keesokan pagi. Banyak sekali pengelana di jalan, mereka memanfaatkan
minggu-minggu terakhir sebelum salju turun sekaligus pulang untuk merayakan perayaan
Tahun Baru. Kami bergaul dengan mereka, sebagai dua bersaudara yang hendak ke
kampung halaman untuk menghadiri pemakaman. Tidak sulit bagiku untuk berpura-pura
berdukacita. Kesedihan telah menjadi kondisi alami diriku. Satu-satunya yang mencerahkan
kegelapan yang selama ini melingkupiku yaitu pikiran bahwa aku akan segera melihat
rumahku di Hagi, dan mendengarkan nyanyian musim dingin rumah itu untuk terakhir




124
kalinya.
Pasangan latihanku, Hajime, pergi bersama kami di hari pertama; dia hendak bergabung
dalam pelatihan sumo selama musim salju guna menyiapkan pertandingan di musim panas.
Kami bermalam dengan para pesumo, dan makan malam bersama mereka. Para pesumo
makan sayur dan ayam sangat banyak, dan mie yang terbuat dari beras dan soba. Para
pesumo mendapat jatah lebih banyak dibanding jatah makan rata-rata keluarga dalam
seminggu. Hajime, dengan tubuh besar dan wajahnya yang tenang, berbaur dengan mereka.
Dia telah mengenal mereka di tempat pelatihan, yang juga dikelola oleh Kikuta, sejak dia
kanak-kanak dan para pesumo memperlakukan dia dengan olok-olok penuh kasih sayang.
Sebelum makan, kami mandi bersama di tempat permandian air panas yang dibangun
diseberang sumber air panas belerang yang mendidih. Para ahli pijat menggosok dan
membersihkan lengan dan perut para pesumo yang padat. Rasanya hampir seperti berada di
antara sekumpulan raksasa. Mereka semua mengenal Akio, tentu saja, dan
memperlakukannya dengan hormat karena dia kerabat dari pemilik tempat ini, dan
cemoohan halus karena dia bukan pesumo. Tak seorang pun bicara padaku, dan tak seorang
pun memperhatikan aku. Mereka terserap oleh dunia mereka sendiri.
Aku tidak banyak bicara, aku hanya mendengar. Aku dengarkan rencana pertandingan
di musim panas, harapan dan keinginan para pesumo, lelucon yang dibisikkan para pemijat
perempuan, berbagai usulan, penolakan atau penerimaan atas usul itu. Malam harinya,
setelah Akio menyuruhku tidur dan aku telah berbaring di kasur yang terletak di bangsal,
aku mendengar dia dan Hajime berbincang di ruangan bawah. Mereka memutuskan untuk
bersantai dan minum bersama sebelum berpisah besok.
Aku hilangkan dengkuran para pesumo dari pendengaranku agar dapat mendengar
pembicaraan di ruangan bawah. Aku mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Akio
lupa kalau pendengaranku tajam. Kurasa dia tak ingin mengakui anugrah yang kumiliki dan
sikap ini membuat dia meremehkanku. Awalnya kupikir itu adalah kelemahannya, satusatunya
kelemahannya; kelak kusadari kalau ada beberapa hal yang sengaja dia ingin aku
dengar.
Mereka membicarakan hal-hal biasa-tentang pelatihan Hajime yang akan segera
dilangsungkan, teman bergaul mereka-hingga sake mulai memabukkan mereka.




125
"Kalian akan ke Yamagata?" tanya Hajime.
"Mungkin tidak. Ketua Muto sekarang ini masih di gunung, dan rumahnya kosong."
"Kukira Yuki telah kembali ke keluarganya."
"Tidak, dia pergi ke desa Kikuta, di utara Matsue. Dia akan di sana sampai melahirkan."
"Anak?" Hajime terdengar kaget, sama sepertiku.
Keheningan melanda cukup lama. Aku dengar Akio meneguk minuman. Ketika bicara
lagi, suaranya jauh lebih pelan. "Dia sedang mengandung anak si Anjing."
Hajime berkata. "Maaf, sepupuku, aku tidak ingin membuatmu kesal, tapi apakah itu
bagian dari rencana?"
"Mengapa tidak?"
"Aku selalu berpikir, kau dan dia... kalian akan menikah."
"Kami telah berjanji sejak kanak-kanak," kata Akio. "Kami akan tetap menikah. Para
ketua ingin Yuki tidur dengannya agar dia diam, untuk mengalihkan perhatiannya, jika
mungkin untuk mendapatkan anak."
Seandainya Akio merasakan kepedihan, saat itu dia tidak menunjukkannya. "Aku
berpura-pura curiga dan cemburu," ucapnya datar. "Jika si Anjing tahu dia sedang ditipu, dia
mungkin tak akan berhubungan dengan Yuki. Ya, aku tidak harus berpura-pura-aku tidak
menyangka kalau Yuki akan menikmatinya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana dia
bersama si Anjing, mencari perhatiannya siang dan malam seperti anjing kepanasan...."
suaranya tiba-tiba terhenti. Aku mendengar Akio meneguk habis segelas sake, lalu dia
menuangkan lagi.
"Semua itu pasti ada baiknya," kata Hajime, suaranya kembali ceria. "Anak itu pasti
mewarisi campuran bakat yang langka."
"Begitu juga dugaan ketua Kikuta. Dan anak ini akan tinggal bersama kami. Dia akan
dibesarkan dengan tepat, tanpa kelemahan yang dimiliki si Anjing."
"Sungguh berita yang luar biasa," kata Hajime. "Tak heran kau mau melakukannya."
"Seringkali timbul niatku untuk membunuhnya," Akio mengakui, sambil meneguk
dalam-dalam lagi.
"Kau diperintahkan untuk membunuhnya?" tanya Hajime dengan muram.
"Tergantung pada apa yang terjadi di Hagi. Anggap saja ini kesempatan dia yang




126
terakhir."
"Dia tidak tahu? Apakah dia sedang diuji?"
"Kalau belum tahu, maka dia akan segera tahu," kata Akio. Setelah diam lama, dia
berkata, "Andai Kikuta tahu keberadaannya, mereka pasti akan mengambil dan
membesarkannya. Tapi sejak awal dia sudah rusak akibat pola asuhnya dan kemudian
hubungannya dengan Otori."
"Ayahnya mati sebelum dia lahir. Kau tahu siapa yang membunuh?"
"Ada banyak orang," bisik Akio. "Tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya yang
melakukan, namun pembunuhan itu hasil kesepakatan seluruh keluarga. Ketua yang
mengatakan itu padaku waktu di Inuyama."
"Sungguh menyedihkan," gumam Hajime, "Begitu banyak bakat yang tersia-siakan."
"Ini karena darah campuran," kata Akio. "Memang benar, terkadang darah campuran
menghasilkan banyak bakat langka, tapi juga diikuti dengan ketololan. Dan satu-satunya
obat ketololan adalah mati!"
Tidak lama setelah itu mereka pergi tidur. Aku masih berbaring, berpura-pura tidur
sampai subuh. Pikiranku terganggu tanpa daya memikirkan berita itu. Aku yakin, tidak
peduli apakah aku berhasil atau gagal di Hagi, Akio tetap akan membunuhku di sana.
Ketika mengucapkan selamat tinggal pada Hajime keesokan paginya, dia tidak menatap
mataku. Suaranya mengumandangkan keceriaan palsu, dan tatapannya terus mengikuti
kami, wajahnya murung. Kurasa dia menduga tak akan bertemu denganku lagi.
Kami berkelana selama tiga hari tanpa bicara hingga tiba di perbatasan wilayah Otori. Di
situ kami tidak menemui masalah, Akio telah dibekali tanda pengenal yang diperlukan. Dia
membuat semua keputusan selama perjalanan; di mana kami harus makan, di mana kami
harus berhenti di malam hari, jalan mana yang harus ditempuh. Aku mengikutinya tanpa
banyak tanya. Aku tahu dia tidak akan membunuhku sebelum sampai di Hagi; dia
membutuhkanku untuk bisa masuk ke kediaman Shigeru, melintasi nightingale floor. Setelah
beberapa saat, aku mulai menyesal karena tidak melakukan perjalanan dengan teman.
Perjalanan ini terasa hampa. Aku mendambakan teman, orang seperti Makoto atau teman
lamaku di Hagi, Fumio, yang bisa diajak bicara dan berbagi kegundahan hatiku.
Sesampai di wilayah Otori, aku berharap melihat pemandangan kota yang makmur




127
seperti pertama kali aku melalui wilayah ini bersama Shigeru, namun semua tempat tampak
porak-poranda akibat badai, dan kelaparan yang mengiringi bencana itu. Seluruh desa
tampak keringkerontang, rumah yang rusak tidak diperbaiki, banyak pengemis di pinggir
jalan. Aku menguping beberapa potong percakapan, bagaimana pemimpin Otori kini menuntut
enam puluh persen hasil panen padi, bukan empat puluh persen seperti aturan
sebelumnya, guna membayar pasukan perang yang dibentuk untuk melawan Arai. Dan
bagaimana orang tua membunuh anaknya sebelum bunuh diri karena takut mati kelaparan
di saat musim dingin.
Di awal tahun aku dan Shigeru biasa melakukan perjalanan dengan menggunakan
perahu karena lebih cepat, namun badai salju telah menerpa tepi pantai, mendorong ombak
abu-abu berbuih ke tepi pantai yang menghitam. Perahu-perahu nelayan ditambatkan di
tempat yang aman agar tidak hanyut, atau diangkat tinggi-tinggi ke atas atap, tinggal
bersama keluarga mereka hingga musim panas. Selama musim dingin keluarga nelayan
membakar api unggun untuk mendapatkan garam dari air laut. Beberapa kali kami berhenti
untuk menghangatkan diri dan makan bersama para nelayan dengan membayar beberapa
keping koin. Makanannya sederhana: ikan asin, sup rumput laut, dan kerang laut.
Seorang laki-laki meminta kami untuk membeli anak gadisnya, dan kami boleh
memanfaatkan tubuh anaknya atau menjualnya ke rumah bordil di Hagi. Gadis itu tak lebih
dari tiga belas tahun, hampir masuk masa puber. Dia tidak cantik. Aku masih ingat
wajahnya, kedua matanya yang ketakutan dan memohon, air matanya, wajah leganya ketika
Akio dengan sopan menampik, dan sikap putus asa ayahnya saat pergi.
Malamnya Akio menggerutu karena udara yang dingin, sambil menyesali keputusannya.
"Gadis itu bisa membuat diriku hangat," ujarnya lebih dari sekali.
Aku membayangkan gadis itu sedang tidur di sebelah ibunya, berhadapan dengan
pilihan antara kelaparan dan sesuatu yang tak lebih dari perbudakan. Aku memikirkan
keluarga Furoda, tentang kunjunganku ke rumah mereka yang buruk namun nyaman, dan
aku memikirkan laki-laki yang kubunuh di ladang rahasianya, dan desa yang akan musnah
karena ulahku.
Orang lain mungkin tidak merasa terganggu—karena inilah hidup—namun semua itu
menghantuiku. Dan tentu saja, ini terjadi karena aku selalu memikirkannya di malam hari,




128
dan membuang semua pikiran yang mengendap dalam diriku di siang hari.
Yuki sedang mengandung anakku, anak yang akan dibesarkan oleh Tribe. Aku mungkin
tak akan pernah melihat anakku itu.
Kikuta membunuh ayahku karena melanggar aturan Tribe. Pasti mereka juga tidak akan
ragu membunuhku.
Aku belum memutuskan apa pun, dan tidak menyimpulkan apa pun. Aku hanya
berbaring terjaga di malam hari, menggenggam pikiranku seperti aku menggenggam bola
hitam di tanganku, dan memandanginya.
Jalan curam dari gunung ke laut mengelilingi Hagi, jadi kami memutar melalui daerah
pedalaman lalu mendaki sebelum menyeberangi puncak terakhir dan turun ke kota.
Hatiku diliputi berbagai perasaan, meskipun aku tidak mengatakannya. Hagi terletak di
teluk, dikelilingi sungai kembar dan laut. Sore ini adalah hari titik balik matahari
musim dingin, dan matahari yang pucat berjuang menembus awan yang kelabu. Pepohonan
seperti telanjang tanpa daun, tebalnya daun yang berguguran menutupi tanah.
Pembakaran batang padi menyebarkan asap biru yang bergantung di atas sungai, sejajar
dengan jembatan batu.
Persiapan telah dilakukan untuk menyambut Perayaan Tahun Baru; ikatan jerami suci
tergantung di mana-mana dan pohon pinus berdaun gelap ditempatkan di pintu; kuil
dipenuhi orang. Sungai meluap akibat air pasang. Sungai menyanyikan lagu liarnya dan di
bawah air yang bergelombang aku seperti mendengar suara tukang batu yang terjebak dalam
hasil karyanya sedang melakukan percakapan tiada akhir dengan sang sungai. Seekor burung
bangau muncul dari tempat dangkal saat kami mendekat.
Ketika menyeberangi jembatan, aku membaca lagi prasasti yang pernah Shigeru bacakan
kepadaku: Klan Otori menyambut keadilan dan kesetiaan. Ketidakadilan dan ketidaksetiaan
harus waspada.
Ketidakadilan dan ketidaksetiaan. Aku adalah gabungan keduanya. Tidak setia pada
Shigeru yang telah mempercayakan tanahnya kepadaku, dan tidak adil seperti Tribe yang
tidak memiliki belas kasihan.
Aku melangkah melalui ruas-ruas jalan dengan menunduk sambil mengubah
penampilanku seperti yang Kenji ajarkan. Aku yakin orang tidak akan mengenaliku. Kini




129
aku lebih tinggi, lebih kurus dan lebih berotot dibanding beberapa musim yang lalu.
Rambutku telah dipotong pendek, pakaianku seperti seorang seniman. Bahasa tubuh,
ucapan, sifatku-semua tentangku berubah sejak hari-hari ketika aku berjalan melalui jalan
ini sebagai bangsawan muda dari Klan Otori.
Kami pergi ke tempat pembuatan minuman keras di sudut kota. Dulu aku pernah
melewati tempat ini puluhan kali tanpa pernah memperhatikan. Tapi, kupikir, Shigeru pasti
tahu. Pikiran bahwa Shigeru telah menyimpan berbagai kegiatan Tribe, bahwa dia
mengetahui berbagai hal tentang Tribe, dan juga mengetahui keberadaanku.
Tempat ini sibuk dengan berbagai persiapan untuk menyambut musim dingin. Kayu
dikumpulkan untuk memanasi tong dan udara sarat dengan aroma beras fermentasi. Kami
disambut seorang laki-laki kecil berwajah bingung yang mirip Kenji. Dia berasal dari
keluarga Muto; namanya Yuzuru. Dia tidak menyangka akan kedatangan tamu di tahun ini,
dan kehadiranku serta misi yang kami beritahukan membuat dia gelisah. Dia buru-buru
mengajak kami ke ruangan tersembunyi.
"Keadaan sekarang sangat buruk," katanya. "Otori mulai bersiap-siap menghadapi Arai
di musim panas. Hanya musim dingin yang melindungi kami."
"Kau mendengar tentang kampanye Arai melawan Tribe?"
"Semua orang membicarakannya," balas Yuzuru. "Kita diminta mendukung Otori
melawan Arai semampunya." Dia menatapku sekilas dan berkata marah, "Keadaan jauh
lebih baik di bawah kekuasaan Iida. Dan yakinlah, adalah suatu kesalahan besar membawa
orang ini kemari. Jika ada yang mengenalinya...."
"Kami akan pergi besok," Akio menyela. "Dia hanya perlu mengambil sesuatu dari
rumahnya yang dulu."
"Dari rumah Lord Shigeru? Ini gila. Dia pasti akan tertangkap."
"Kurasa tidak. Dia cukup mahir." Ada nada sindiran di balik pujian Akio, dan aku
menganggap ucapannya itu sebagai petunjuk bahwa dia hendak membunuhku.
Yuzuru menggigit bibir bawahnya. "Bahkan monyet bisa jatuh dari pohon. Benda apa
yang begitu penting?"
"Kami menduga si Otori menyimpan catatan tentang Tribe."
"Shigeru? Si Petani? Mustahil!"




130
Mata Akio menyipit. "Mengapa kau berpikir begitu?"
"Semua orang tahu... Shigeru orang yang baik. Semua orang sayang padanya.
Kematiannya benar-benar tragedi. Namun dia mati karena..." Yuzuru mengerjap geram dan
menatap maaf ke arahku. "Dia mudah percaya. Nyaris lugu. Dia tidak pernah berkomplot.
Dia tak mengetahui apa pun tentang Tribe."
"Kami punya alasan untuk berpikir sebaliknya," kata Akio. "Besok, kita akan tahu siapa
yang benar."
"Kalian akan kesana malam ini?"
"Kami harus kembali ke Matsue sebelum salju turun."
"Salju akan turun lebih awal tahun ini. Mungkin sebelum akhir tahun." Yuzuru
terdengar lega saat membicarakan sesuatu yang menyangkut urusan alam misalnya cuaca.
"Semua tanda menunjukkan kalau musim dingin kali ini akan dahsyat dan berkepanjangan.
Tapi jika di musim panas akan terjadi perang, kuharap musim panas tidak pernah datang."
Hawa mulai membeku di kamar yang gelap dan kecil ini. Ini ketiga kalinya aku
disembunyikan di dalam kamar sempit. Yuzuru datang membawa makanan, sake, dan the
yang sudah dingin saat kami mencicipinya. Akio minum sake, tapi aku tidak. Aku ingin
pendengaranku tetap tajam. Kami duduk tanpa bicara saat malam tiba.
Tempat pengolahan sake ini mulai sepi, meskipun aromanya tidak lenyap. Aku
mendengarkan suara-suara kota, setiap suara terasa sangat akrab. Aku yakin dapat
menunjukkan jalan yang tepat, rumah yang tepat, dan dari mana suara itu berasal.
Keakraban dengan lingkungan di sini membuatku tenang, dan depresiku mulai berkurang.
Lonceng berdentang dari Daishoin, biara terdekat, menandakan sudah waktunya untuk
berdoa tengah malam. Aku dapat menggambarkan bangunannya yang telah dimakan cuaca,
kegelapan hijau tua dari hutan, lentera-lentera batu yang menandai makam para bangsawan
dan orang kepercayaan Klan Otori. Aku seperti bermimpi sedang berjalan di tengah-tengah
pemakaman itu.
Kemudian Shigeru mendatangiku lagi, seakan dia keluar dari asap putih, dengan
meneteskan air dan darah, matanya menghitam, menyimpan pesan yang sangat jelas bagiku.
Aku tersentak sadar, menggigil kedinginan.
"Minumlah, sake bisa menguatkan sarafmu," kata Akio.




131
Aku menggeleng, kemudian berdiri lalu melakukan latihan pelemasan yang biasa Tribe
lakukan agar badan hangat. Kemudian aku duduk bermeditasi, mencoba mempertahankan
rasa hangat, dan mengumpulkan semua kekuatanku sambil memfokuskan pikiranku pada
tugas malam ini.
Dari Biara Daishoin terdengar bunyi lonceng tengah malam.
Aku mendengar Yuzuru mendekat, dan pintu bergeser terbuka. Dia memberi isyarat dan
memimpin kami ke gerbang luar. Di sini dia menyuruh penjaga waspada, dan kami
menyeberangi dinding. Seekor anjing menyalak singkat, namun dihentikan dengan satu
pukulan.
Di malam yang begitu gelap, udara membeku, angin berhembus dari laut, tak seorang
pun ada di jalanan. Kami pergi tanpa bicara ke tepi sungai dan berjalan ke tenggara menuju
muara sungai kembar. Bambu-bambu penangkap ikan yang dulu sering kugunakan untuk
menyeberang kini mengambang karena lemahnya arus. Di seberang itulah terletak rumah
Shigeru. Ada beberapa perahu tertambat di tepi sungai. Kami dulu biasa menyeberangi
sungai dengan perahu-perahu itu bila hendak ke tanah milik Shigeru yang ada di seberang,
meninjau sawah dan ladangnya. Perahu-perahu yang membawa kayu untuk membangun
rumah minum teh dan nightingale floor berjejer rendah dengan papan kayu beraroma harum
karena belum lama ditebang dari hutan di belakang lahan pertanian. Malam ini terlalu gelap
bahkan untuk dapat melihat lereng gunung yang penuh pepohonan.
Kami menunduk di sisi jalan dan mengintip ke rumah itu. Hanya ada cahaya samarsamar
dari pos jaga di gerbang. Dari suaranya, dapat kupastikan penjaga dan anjing sedang
tidur nyenyak. Terlintas pikiran di benakku: mereka tak akan tertidur seperti itu bila Shigeru
masih hidup. Aku marah atas nama Shigeru, dan juga atas namaku sendiri.
Akio berbisik, "Kau tahu apa yang harus dilakukan?" Aku mengangguk.
"Kalau begitu, pergi sana."
Kami tidak mempunyai rencana apa pun. Dia hanya menyuruhku seakan aku elang atau
anjing pemburu. Aku tahu benar apa yang Akio rencanakan: bila aku muncul dengan
catatan-catatan itu, dia akan merampasnya lalu pulang dengan laporan bahwa aku dibunuh
penjaga, dan tubuhku dilempar ke sungai.
Aku menyeberangi jalan, menghilangkan diri, melompat melewati dinding lalu




132
menjatuhkan diri di taman. Samar-samar alunan rumah ini membelaiku: hembusan angin di
pepohonan, riak sungai, percikan air terjun, gelombang air pasang. Kesedihan melandaku.
Apa yang kulakukan di sini, di tengah malam, dengan mengendapngendap seperti pencuri?
Nyaris tanpa sadar aku membiarkan wajahku berubah, membiarkan wajah Otori muncul
kembali.
Meskipun nightingale floor terbentang mengelilingi rumah, tapi aku tidak merasa
terancam. Bahkan di malam yang gelap ini aku masih dapat melintas di atasnya tanpa
membuat lantai itu bernyanyi. Di ujung rumah aku memanjat dinding menuju jendela
ruangan atas-rute yang dilalui si pembunuh bayaran, Shintaro, setahun lalu. Sesampai di
atas, aku memasang telinga. Ruangan itu nampaknya kosong.
Jendela tertutup untuk menghalangi masuknya udara malam yang dingin membeku, tapi
tidak terkunci sehingga mudah dimasuki. Di dalam ruangan tidak lebih hangat, tapi lebih
gelap. Di sini tercium lapuk dan apak seakan ruangan ini sudah lama tidak dimasuki, seakan
sudah lama tidak ada orang yang duduk di sini, selain hantu.
Aku mendengar napas penghuni rumah ini dan mengenali gaya tidur setiap orang.
Namun aku tak mendengar napas orang yang harus kutemukan: Ichiro. Aku menuruni anak
tangga yang sempit, aku mengenal bunyi-bunyian tangga mi seperti aku mengenal kedua
tanganku. Saat berada di bawah, semua ruangan memang gelap seperti yang terlihat dari
jalan. Di ruangan terjauh, tempat kesukaan Ichiro, ada lampu menyala. Aku datangi dengan
hening. Jendela kertas tertutup, namun lampu memantulkan bayangan sosok laki-laki tua.
Aku menggeser pintu agar terbuka.
Orang itu mengangkat kepala dan menatapku tanpa terkejut. Dia tersenyum sedih dan
mengusir dengan gerakan tangan. "Apa yang dapat kulakukan untukmu? Kau tahu aku akan
melakukan apa saja agar kau tenang, tapi aku sudah tua. Aku lebih sering memakai pena
ketimbang pedang."
"Guru," aku berbisik. "Ini aku. Takeo." Aku melangkah masuk, menutup pintu di
belakangku lalu berlutut di hadapannya.
Dia melakukan satu gerakan ketakutan seolah-olah dia sedang tidur dan baru terjaga,
atau seakan dia berada di alam kubur dan dipanggil kembali ke dunia. Dia mencengkram
bahuku dan menarikku ke arahnya, ke dekat lampu. "Takeo? Benarkah ini kau?" Dia




133
mengelus kepala dan pelipisku, seakan takut aku hanyalah bayangan. Air mata berlinang di
pipinya. Dia lalu memelukku, mengusap-usap kepalaku di atas bahunya, seakan aku anaknya
yang sudah lama hilang. Aku dapat merasakan dadanya yang kurus.
Dia mundur sedikit dan memandangi wajahku. "Aku mengira kau Shigeru. Dia sering
mengunjungiku di malam hari. Dia berdiri di depan pintu itu. Aku tahu apa yang dia
inginkan, tapi apa yang dapat kulakukan?" Dia menyeka air mata dengan lengan baju. "Kau
persis seperti dia. Agak aneh. Ke mana saja kau selama ini? Semula kami pikir kau sudah
dibunuh, tapi karena setiap minggu ada yang mencarimu kemari, jadi kami menduga kau
masih hidup."
"Aku disembunyikan Tribe," kataku, bertanya-tanya seberapa jauh dia mengetahui latar
belakangku. "Pertama di Yamagata, lalu selama dua bulan terakhir di Matsue. Mereka
menculikku di Inuyama tapi kemudian melepasku pergi ke kastil dan membawa Lord
Shigeru keluar. Sebagai imbalannya, aku setuju bergabung dengan mereka. Kau mungkin
tidak tahu kalau aku memiliki ikatan darah dengan mereka."
"Kami sudah menduganya," kata Ichiro. "Apa lagi yang membuat Muto Kenji muncul di
sini?" Dia meraih kepalaku dan memegangnya dengan penuh perasaan. "Semua orang
bercerita tentang bagaimana kau menyelamatkan Shigeru dan membunuh Iida. Aku tidak
keberatan untuk mengatakan, dulu aku merasa Shigeru membuat kesalahan karena telah
mengangkatmu, tapi kau menghapus kecemasanku dan membayar semua hutangmu
padanya di malam itu."
"Belum semuanya. Kedua pemimpin Otori yang telah mengkhianatinya belum
dihukum."
"Itukah alasannya kau datang? Itu akan membuat arwah Shigeru tenang."
"Bukan, aku dikirim oleh Tribe. Mereka yakin Lord Shigeru menyimpan catatan
tentang mereka dan mereka ingin mengambilnya."
Ichiro tersenyum kering. "Dia menyimpan catatan tentang berbagai hal. Kedua
pemimpin Otori menganggap pengangkatanmu tidak sah dan mungkin, mereka mengira
kau sudah mati sehingga Shigeru tidak memiliki pewaris sehingga tanahnya harus
dikembalikan pada pemerintah kastil. Aku sudah mencari bukti lebih banyak agar kau bisa
mempertahankan apa yang menjadi milikmu." Suaranya berubah lebih keras dan mendesak.




134
"Kau harus kembali, Takeo. Sebagian dari ksatria Klan Otori akan mendukung atas apa
yang telah kau lakukan di Inuyama. Banyak orang yang mencuriga kedua paman Shigeru
yang merencanakan kematiannya dan mereka murka karenanya. Kembalilah dan tuntaskan
dendammu."
Kehadiran Shigeru terasa di sekitar kami. Aku seperti melihat dia berjalan dengan
langkah bersemangat, tersenyum tulus, dan dengan sorot matanya yang begitu jujur namun
menyembunyikan begitu banyak hal.
"Aku akan melakukannya," kataku lambat. "Aku tak akan tenang sebelum membalaskan
dendam Shigeru. Tapi aku pasti dibunuh jika kabur—Tribe tidak akan berhenti memburu
hingga mereka berhasil membunuhku."
Ichiro menghela napas panjang. "Ternyata aku memang tidak salah menilaimu,"
katanya. "Bila catatan itu ada padaku, berarti kau akan membunuhku. Aku sudah tua, aku
siap mati. Tapi aku ingin melihat pekerjaan Shigeru selesai. Memang benar, dia menyimpan
catatan tentang Tribe. Dia yakin tak seorang pun akan mampu mewujudkan perdamaian di
Wilayah Tengah bila pengaruh Tribe terlalu kuat, jadi dia mengabdikan diri untuk mencari
tahu tentang mereka kemudian menulisnya. Dia menjamin tak seorang pun tahu isi
catatannya, tidak juga aku. Dia menyimpan semua rahasianya lebih dari yang disadari siapa
pun. Dia memang harus begitu: selama sepuluh tahun Iida dan kedua pamannya berusaha
melenyapkan dirinya."
"Bisa kau berikan berkasnya kepadaku?"
"Aku tidak akan menyerahkan catatan itu pada Tribe," katanya. Lampu yang berkedapkedip
tiba-tiba menerangi tatapan aneh di wajah Ichiro yang belum pernah kulihat
sebelumnya. "Aku harus menambah minyak atau kita akan duduk di sini dalam kegelapan.
Aku akan membangunkan Chiyo."
"Sebaiknya jangan," kataku, meskipun aku ingin bertemu wanita tua yang
memperlakukanku seperti anaknya. "Aku tidak bisa berlama-lama."
"Kau datang sendiri?"
Aku menggelengkan kepala. "Kikuta Akio sedang menungguku di luar."
"Berbahayakah dia?"
"Dia hampir pasti akan membunuhku. Terutama bila aku kembali dengan tangan




135
kosong." Aku ingin tahu apa yang sedang Akio lakukan. Lagu musim salju di rumah ini
mengelilingiku. Aku enggan meninggalkannya. Pilihanku tampaknya semakin sulit. Ichiro
tidak mau menyerahkan catatan itu pada Tribe; aku pun tidak mampu membunuh orang tua
itu untuk mendapatkannya. Aku keluarkan belati dari sabuk, merasakan beratnya yang akrab
di tanganku. "Aku akan bunuh diri."
"Bunuh diri bisa menjadi jawabannya," kata Ichiro sambil menghela napas. "Tapi itu
bukan tindakan yang memuaskan. Itu berarti akan ada dua hantu penasaran yang
mendatangiku setiap malam. Dan pembunuh Shigeru tak akan pernah dihukum."
Cahaya lampu bergetar. Ichiro berdiri. "Aku akan pergi ambil minyak," gerutunya. Aku
mendengarkan langkah kakinya sambil mengenang Shigeru. Berapa malam dia duduk
hingga larut malam di ruangan ini? Beberapa kotak yang berisi kertas gulungan tergeletak di
sekelilingku. Saat menatap malas ke gulungan itu, aku teringat pada peti kayu yang kubawa
ketika mendaki lereng sebagai hadiah bagi Kepala Biara Terayama waktu kami mengunjungi
biara untuk melihat lukisan Sesshu. Aku seperti melihat Shigeru tersenyum ke arahku.
Ketika Ichiro kembali dan mengisi minyak, dia berkata, "Dapat kupastikan semua
catatan itu tidak ada di sini."
"Aku tahu," kataku. "Ada di Terayama."
Ichiro menyeringai. "Saranku, meskipun dulu kau tak pernah memperhatikannya,
pergilah ke sana. Pergilah sekarang, malam ini. Akan kuberikan kau uang untuk bekalmu di
perjalanan. Mereka akan menyembunyikanmu selama musim dingin. Di sana kau dapat
merencanakan pembalasan dendammu pada pemimpin Otori. Itulah yang Shigeru
inginkan."
"Itu juga keinginanku. Tapi aku telah membuat kesepakatan dengan ketua Kikuta. Kini
aku terikat sumpah pada Tribe."
"Kurasa kau telah berjanji setia pada Otori lebih dulu," kata Ichiro. "Bukankah Shigeru
yang menyelamatkanmu sebelum Tribe tahu keberadaanmu?"
Aku mengangguk.
"Dan kau juga mengatakan Akio akan membunuhmu? Mereka sudah melanggar
kesetiaanmu. Bisakah kau melewatinya? Di mana dia?"
"Dia menungguku di jalan, di luar gerbang. Dia bisa berada di mana saja saat ini."




136
"Kau bisa mendengarnya lebih dulu, kan? Dan bagaimana dengan semua muslihat yang
sering kau gunakan untuk mengelabuiku? Kau selalu berada di mana saja saat aku mengira
kau sedang belajar."
"Guru," aku mulai berkata. Aku hendak meminta maaf tapi dia melambaikan tangan
agar aku diam.
"Aku memaafkanmu. Bukan ajaranku yang membuatmu mampu membawa Shigeru
keluar dari Inuyama."
Dia keluar dan datang membawa sekantong kecil koin dan sedikit kue mochi yang
dibungkus rumput laut. Aku tidak membawa kain atau kotak untuk menyimpan barangbarang
itu, sedangkan aku pasti akan membutuhkan tanganku agar dapat bergerak bebas.
Aku lalu mengikatkan uang itu ke kain di bagian pinggang yang terletak di balik pakaianku,
dan menaruh kue mochi di dalam ikat pinggangku.
"Kau masih ingat jalannya?" dia bertanya, mulai cerewet seperti yang sering dia lakukan
ketika mengunjungi kuil atau mengadakan perjalanan.
"Aku masih ingat."
"Aku akan menulis surat agar kau bisa lolos melewati penjagaan. Kau akan menjadi
seorang pelayan—seperti itulah kau terlihat saat ini—yang sedang membuat janji untuk
kedatanganku ke kuil itu tahun depan. Aku akan menemuimu di Terayama bila salju telah
mencair. Tunggu aku di sana. Shigeru telah bersekutu dengan Arai. Aku tak tahu apa yang
terjadi di antara kalian, tapi kau harus meminta perlindungan Arai. Dia akan sangat
berterima kasih atas segala informasi yang bisa dia gunakan untuk melawan Tribe."
Ichiro lalu mengambil kuas dan langsung menulis. "Kau masih bisa menulis?" dia
bertanya tanpa menoleh.
"Kurang mahir."
"Kau bisa berlatih menulis selama musim dingin ini." Dia lalu melipat surat itu dan
berdiri. "Oh ya, apa yang terjadi pada Jato?"
"Pedang itu ada. Aku menyimpannya di Terayama."
"Sudah tiba waktunya kau mengambilnya." Dia kembali tersenyum dan mengeluh,
"Chiyo akan membunuhku karena tidak membangunkannya."
Aku selipkan surat ke dalam pakaian, lalu kami berpelukan.




137
"Takdir yang aneh telah mengikatmu dengan rumah ini," katanya. "Aku yakin kau tidak
bisa lolos dari ikatan itu." Suaranya berhenti dan aku melihat Ichiro hampir menitikkan air
mata lagi.
"Aku tahu itu," bisikku. "Akan kulakukan apa yang kau sarankan." Aku tak akan
menyerahkan rumah dan tahta warisan. Ini milikku. Aku harus mendapatkannya kembali.
Semua yang Ichiro katakan sangat masuk akal. Aku harus lari dari Tribe. Catatan Shigeru
akan melindungiku dari mereka, dan memberiku kekuatan untuk tawar-menawar dengan
Arai. Andaikan aku berhasil mencapai Inuyama.... *




138
AKU meninggalkan rumah dengan cara yang sama seperti seat aku datang, keluar melalui
jendela di lantai atas, menuruni dinding dan melintasi nightingale floor. Lantai itu tertidur di
bawah kakiku namun aku bersumpah kelak akan kemari lagi dan berjalan di atas lantai ini
dan membuatnya bernyanyi kencang. Aku tidak memanjat dinding untuk bisa sampai ke
jalan. Sebaliknya, aku berlari tanpa suara menembus taman, bergerak tak kasat mata dan,
melekat erat di bebatuan layaknya laba-laba, lalu memanjat saluran air yang mengalir ke
sungai. Aku meloncat ke perahu terdekat, melepaskan talinya, mengambil dayung yang
tergeletak di dalam buritan, dan mendorong perahu ke sungai.
Perahu merintih pelan ketika tertimpa tubuhku, dan riak air memukul-mukul dinding
perahu lebih keras. Aku kaget lantaran langit cerah. Suasana lebih dingin dan, di bawah
bulan sabit, lebih terang. Ketika mendengar ada langkah kaki di tepi sungai, aku
mengirimkan sosok keduaku kembali ke dinding, dan aku menunduk rendah di dalam
perahu tapi Akio tidak tertipu oleh bayanganku.
Dia lalu melompat dari dinding seperti terbang. Aku kembali menghilangkan diri,
meskipun aku tahu mungkin itu sia-sia, kemudian aku meloncat dari perahu lalu melompat
rendah menyeberangi permukaan air ke perahu lain yang bersandar di dinding sungai. Aku
berjuang melepaskan tambatan perahu, dan mendorongnya dengan dayung. Aku melihat
Akio mendarat dan menjejakkan kaki melawan goyangan perahu, kemudian dia meloncat
cepat dan melayang lagi saat aku memisahkan diri, meninggalkan sosok keduaku di perahu
sedangkan aku melompat ke perahu lain. Aku merasakan gerakan udara ketika kami saling
berpapasan. Sambil mengendalikan keseimbangan, aku melompat ke perahu pertama, lalu
mengambil dayung dan mulai mengayuh secepat-cepatnya.
Sosok keduaku lenyap saat Akio menariknya dan aku melihat dia bersiap-siap
melompat lagi. Tak ada jalan untuk lolos, kecuali aku bergerak ke tengah sungai. Aku tarik




139
belati dan begitu dia mendarat, aku langsung menikamnya. Dia ber,gerak dengan kecepatan
biasa dan mengelak dengan mudah. Aku telah mengantisipasi gerakkannya dan menyaanbut
kepalanya dengan dayung. Dia terjatuh, pingsan sejenak, sementara aku hilang keseimbangan
dan hampir tercebur ke sungai karena goyangan keras perahu. Aku Lnenjatuhkan
dayung dan berpegangan ke pinggiran perahu. Aku tidak ingin tercebur ke air yang
membeku kecuali aku membawa Akio bersamaku dan menenggelamkannya. Sewaktu aku
tergelincir ke sisi lain perahu, Akio telah siuman. Dia meloncat tegak ke atas dan meluncur
turun tepat di atasku. Kami berdua jatuh dan dia mencekik leherku.
Aku masih tak kasat mata, tapi dengan rasa tak berdaya, terjepit di bawah Akio ibarat
ikan di penggorengan. Pandanganku gelap; kemudian dia agak melonggarkan
cengkramannya.
"Dasar pengkhianat," katanya. "Kenji telah memperingatkan kalau kau akan kembali ke
Otori. Aku senang kau melakukannya karena aku ingin kau mati sejak pertama kita
bertemu. Kau harus bayar pembangkanganmu pada ketua dan karena melukai tanganku.
Dan juga untuk Yuki."
"Bunuh saja aku," kataku, "seperti keluargamu membunuh ayahku. Kalian tak akan lolos
dari hantu kami. Kalian akan dikutuk dan digentayangi hingga ajal kalian. Kalian telah
membunuh kerabatmu sendiri."
Perahu terombang-ambing oleh gelombang air pasang. Jika Akio langsung
menggunakan tangan atau belati, aku tak akan bisa menceritakan kisah ini. Tapi dia tak
mampu menahan keinginannya untuk menghinaku yang terakhir kalinya. "Anakmu akan
menjadi milikku. Akan aku didik dia menjadi Kikuta sejati." Dia menggoncang-goncangku
dengan kejam. "Tunjukkan wajahmu," gertaknya. "Aku ingin melihat tampangmu saat aku
mengatakan caraku mengajari anakmu untuk membencimu. Aku ingin melihatmu mati."
Dia mencondongkan badannya lebih dekat, matanya mevncari-cari wajahku. Perahu
meluncur diterangi cahaya bul;m, dan pada saat itulah aku membiarkan wajahku terlihat
olehnya dan kutatap lurus ke matanya. Aku melihat apa yang ingin kutemukan:
kedengkiannya padaku yang mengaburkan penilaiannya dan telah melemahkannya.
Dia menyadari kesalahannya, dan berusaha memalingkan pandangan tapi itu sudah
terlambat. Dia sudah pusing oleh pengaruh tidur Kikuta. Dia jatuh menyamping, kelopak




140
matanya mengerjap tak beraturan saat melawan rasa kantuk. Perahu oleng dan bergoyanggoyang.
Dia tercebur ke sungai.
Perahu terus mengapung, kini lebih cepat terbawa arus pasang yang bergelombang
hebat. Diterangi cahaya bulan, aku melihat tubuh Akio mengapung perlahan. Aku tak ingin
kembali dan membunuhnya. Aku hanya berharap dia tenggelam atau membeku sampai
mati, namun aku pasrahkan semua itu pada takdir. Kuambil dayung lalu mengayuh hingga
ke tepian terjauh.
Saat perahu menepi, aku menggigil kedinginan. Ayam mulai berkokok dan bulan
tampak rendah di langit. Rerumputan di tepi sungai kaku oleh salju, dan bebatuan serta
ranting bersinar putih. Seekor bangau terjaga dari tidur dan aku bertanya-tanya itukah
bangau yang pernah datang mencari ikan di kolam, di rumah Shigeru. Hewan itu terbang
menghindar dari cabang pohon willow dengan kepakan sayap yang telah akrab kudengar.
Aku kehabisan tenaga, namun tak terlintas sedikit pun di benakku untuk tidur, aku
harus terus bergerak untuk menghangatkan tubuh. Aku memaksakan diri untuk berjalan
lebih cepat, mengikuti jalan pegunungan yang sempit ke tenggara. Bulan bersinar terang dan
aku mengenali lintasan jalan ini. Saat fajar menyingsing, aku telah melewati puncak gunung
pertama dan sedang berjalan turun ke perkampungan kecil. Hampir tak seorang pun ada di
jalan, kecuali seorang nenek yang sedang meniup arang di tungku. Dia memanaskan sedikit
sup dengan imbalan sekeping uang. Aku berbohong dengan mengatakan bahwa guruku
yang sudah renta menyuruhku mencari seekor angsa liar di biara terpencil yang ada di
pengunungan. Musim dingin mungkin telah membuat guruku itu mati kedinginan dan aku
akan terperangkap di sana.
Dengan terkekeh-kekeh dia berkata, "Kalau begitu, kau harus menjadi biksu!"
"Tidak bisa. Aku sangat menyukai perempuan."
Ucapanku membuatnya senang sehingga dia memberi aku acar plum sebagai tambahan
sarapan. Ketika melihat sekantong uang kepingku, dia menawariku penginapan dan juga
makanan. Makan memang membawa setan kantuk lebih dekat dan aku tak sabar ingin
berbaring, namun aku cemas bila akan dikenali, dan menyesal telah berbicara banyak pada
perempuan itu. Aku mungkin telah meninggalkan Akio di sungai, tetapi aku tahu
bagaimana sungai akan membebaskan korbannya, baik hidup maupun mati, dan aku takut




141
bila dia mengejarku. Aku tidak bangga berhasil lari dari Tribe apalagi setelah bersumpah
untuk mematuhi mereka, dan dalam cahaya pagi yang dingin, aku menyadari seperti apa sisa
hidupku kelak. Aku telah memutuskan untuk kembali ke Otori, namun aku tak akan bebas
dari ancaman pembunuhan. Seluruh anggota Tribe akan berusaha menangkapku dan
menghukumku atas ketidaksetiaanku. Untuk menyelinap di sela-sela jaringan mereka, aku
harus bergerak lebih cepat ketimbang para penyampai pesan mereka. Dan aku harus sampai
di Terayama sebelum turun salju.
Langit berganti hitam kelam ketika aku mencapai Tsuwano di sore hari kedua. Benakku
dipenuhi kenangan akan pertemuanku dengan Kaede di sana dan latihan pedang saat aku
jatuh cinta padanya. Apakah namanya telah tercantum di nisan? Apakah kini aku harus
menyalakan lilin untuknya di setiap Festival of the Dead sampai aku mati? Apakah kami akan
bergabung di akhirat atau kami akan dikutuk untuk tak akan pernah bertemu lagi dalam
hidup atau pun mati? Takut dan malu menyiksaku. Kaede pernah berkata, Aku hanya aman
bersamamu, tapi aku telah mengabaikannya. Jika takdir berbaik hati dan dia datang ke dalam
pelukanku lagi, tak akan kubiarkan dia pergi dariku.
Dengan perasaan pedih, aku menyesali keputusanku ikut bersama Tribe dan
memikirkan lagi alasan di balik keputusanku itu berulang kali. Aku memang telah membuat
kesepakatan dan aku menyerahkan hidupku pada mereka—itu di satu sisi. Namun di luar
itu, aku menyesali kesombonganku. Aku ingin menyelami dan mengembangkan karakter
yang berasal dari ayahku, dari Kikuta, dari Tribe: warisan kegelapan yang memberiku
kemampuan yang aku banggakan. Aku menanggapi rayuan mereka dengan penuh semangat
dan tanpa keraguan, menanggapi pujian, pengertian dan kekejaman yang mereka gunakan
untuk memanipulasi diriku. Aku bertanya-tanya seberapa besar peluangku lolos dari mereka.
Pikiranku berputar-putar laksana lingkaran. Aku berjalan limbung. Aku hanya tidur
sebentar di tengah hari, di tepi jalan, dan terbangun akibat hembusan angin dingin. Satusatunya
cara agar tetap hangat yaitu terus berjalan. Aku berkeliling mengitari kota dan,
seiring turun melewati puncak, aku kembali menyusuri jalan di tepi sungai. Sungai yang
meluap karena badai yang dulu menunda perjalanan kami di Tsuwano kini telah normal,
dan tepi sungai telah diperbaiki, tapi jembatan kayu belum diperbaiki. Aku membayar
seorang tukang perahu untuk membawaku menyeberang. Tak ada orang yang bepergian




142
selarut ini; akulah penumpangnya yang terakhir. Dia mengawasiku dengan rasa ingin tahu,
tapi dia tidak mengajakku bicara. Aku yakin dia bukan Tribe, tapi tetap saja dia membuatku
gelisah. Ketika sampai di seberang, aku langsung berjalan cepat meninggalkannya. Saat aku
berbalik di ujung jalan untuk melihatnya, dan dia masih tetap mengawasiku. Aku membuat
gerakan kepala, namun dia tidak menyadarinya.
Cuaca kini lebih dingin, udaranya lembab dan beku. Aku menyesal belum menemukan
tempat bernaung untuk malam ini. Jika aku terperangkap dalam badai salju sebelum sampai
di kota berikutnya, peluangku untuk bertahan akan sirna. Yamagata masih beberapa hari
jauhnya. Memang ada pos penjagaan di perbatasan, namun, aku tak ingin bermalam di sana
meskipun ada surat dari Ichiro dan penyamaranku sebagai pelayan—terlalu banyak orang
yang akan curiga, terlalu banyak penjaga. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jadi aku
terus berjalan.
Malam tiba. Bahkan dengan kemampuan memandang jauh yang kumiliki, tetap saja
aku sulit melihat jalan. Dua kali aku jalan berputar-putar dan harus kembali ke rute yang
sama. Sekali waktu aku terperosok di lubang atau parit, dengan air di dasarnya, sehingga
kakiku basah hingga ke lutut. Angin berderu dan suara-suara aneh datang dari pepohonan
sehingga mengingatkanku pada legenda monster dan goblin, dan membuatku merasa ada
sesosok arwah berjalan di belakangku.
Ketika langit mulai memucat di timur, tulangku mulai terasa kaku, dan badanku
menggigil tak terkendali. Meskipun senang karena tak lama lagi fajar akan menyingsing,
namun ini menyadarkan betapa kesepiannya diriku. Untuk pertama kalinya, suatu gagasan
merayap perlahan di benakku: bila perbatasan dijaga anak buah Arai, aku akan menyerahkan
diri. Mereka akan membawaku ke Arai, namun sebelumnya mereka akan memberiku
minuman hangat. Mereka akan mempersilakan aku duduk di dekat perapian dan
membuatkan teh untukku. Kini aku terobsesi oleh nikmatnya teh. Dapat kurasakan panas
uapnya di wajahku, hangatnya mangkuk teh di tanganku. Aku begitu terobsesi sehingga aku
tidak memperhatikan ada yang berjalan di belakangku.
Tiba-tiba kusadari kehadiran seseorang di belakangku. Aku berbalik, kaget karena tak
mendengar langkahnya, bahkan tak mendengar desah napasnya. Aku tercengang, bahkan
ketakutan, membayangkan aku telah kehilangan pendengaranku. Pejalan kaki itu seakan




143
jatuh dari langit atau berjalan tanpa menyentuh tanah, seperti hantu. Lalu aku tahu bahwa,
entah karena letih yang mengganggu pikiranku atau aku memang sedang melihat hantu,
orang yang berjalan tak jauh di belakangku adalah si gelandangan, Jo-An, yang kukira telah
mati disiksa oleh anak buah Arai di Yamagata.
Begitu hebatnya kekagetanku sehingga aku hampir pingsan. Darah berdesir cepat di
kepalaku, membuatku terhuyung-huyung. Jo-An meraihku saat aku terjatuh, kedua
tangannya tampak cukup nyata, kuat dan padat, berbau kulit hewan. Bumi dan langit
berputar-putar di sekitarku dan titik-titik hitam menggelapkan pandanganku. Dia
menurunkan aku di tanah dan mendorong kepalaku ke antara kedua lututku. Sesuatu
menjerit di telingaku, menulikanku. Aku meringkuk dengan posisi kepala seperti itu,
tangannya memegang kepalaku, sampai jeritan mereda dan kegelapan susut dari
penglihatanku. Aku menatap ke tanah. Embun membeku di dedaunan dan butiran es inasuk
di sela-sela bebatuan. Angin berhembus di pepohonan cedar. Selain itu, saru-satunya suara
adalah gemeretuk gigiku.
Jo-An berkata. Tidak diragukan lagi; itu suaranya. "Maaf, tuan. Aku membuatmu
kaget. Aku tidak bermaksud menakutimu."
"Mereka bilang kau sudah mati. Aku tidak tahu apakah kau ini manusia atau hantu."
"Mungkin aku mati beberapa saat," dia berbisik. "Anak buah Arai pun mengira begitu
sehingga mereka membuang tubuhku ke rawa-rawa. Namun Tuhan Rahasia memiliki
rencana lain dan mengirimku kembali ke dunia ini. Pekerjaanku di sini belum selesai."
Aku mengangkat kepala dengan hati-hati dan menatapnya. Ada bekas luka yang baru,
belum lama sembuh, dari hidung ke telinga, dan beberapa giginya hilang. Aku pegang dan
aku balikkan tangannya. Semua kukunya lenyap, jari-jarinya terluka dan hancur.
"Maafkan aku," kataku, merasa mual.
"Tak ada yang terjadi pada diri kita selain apa yang telah Tuhan rencanakan," balasnya.
Aku berpikir mengapa rencana tuhan harus melibatkan siksaan, namun tidak kukatakan
pada Jo-An. Malah aku bertanya, "Bagaimana kau menemukanku?"
"Ada tukang perahu datang dan bercerita kalau dia telah menyeberangkan seseorang
yang menurutnya adalah dirimu. Aku memang sedang menanti kabar tentangmu." Dia lalu
mengangkat buntalannya dan membuka ikatannya. "Ramalan harus dituntaskan,




144
bagaimanapun juga."
"Ramalan apa?" aku teringat kalau isteri Kenji pernah menyebut Jo-An si sinting.
Dia tidak menjawab. Dia mengambil dua kue mochi kecil dari kain, mendoakan kue itu,
lalu memberiku satu.
"Kau selalu memberiku makanan," kataku. "Kurasa aku tidak bisa makan."
"Kalau begitu, minumlah," kata Jo-An sambil menyodorkan tabung bambu. Aku ragu
menerima tawarannya namun kupikir minuman itu akan dapat menghangatkan. Begitu sake
menghantam perutku, kegelapan pun menjadi kembali dan aku melontarkan sumpah
serapah berkali-kali dengan kencang, aku disiksa oleh satu guncangan hebat.
Jo-An mendecakkan lidah sama seperti yang orang lakukan pada seekor kuda atau
kerbau. Dia memiliki sentuhan kesabaran orang yang terbiasa berurusan dengan hewan,
meskipun tentu saja dia berurusan dengan hewanhewan yang sudah mati untuk kemudian
dikuliti. Ketika bicara, aku berkata melalui gemeretuk gigiku, "Aku harus tetap berjalan."
"Kemana?" dia bertanya.
"Terayama. Aku akan menghabiskan musim dingin di sana."
"Bailah," dia berkata, dan tenggelam dalam salah satu keheningan yang terasa akrab dari
dirinya. Dia sedang berdoa, mendengarkan suara batin yang akan memberitaltukan apa yang
harus dia lakukan. "Bagus," dia berkata akhirnya. "Kita akan pergi melintasi gunung. Bila
melalui jalan darat, mereka akan menghentikanmu di perbatasan dan itu akan perlu waktu
lama; keburu salju sebelum kau mencapai Terayama."
"Melintasi pegunungan?" Aku menatap ke puncak-puncak bergerigi yang membentang
ke tenggara. Jalan daratrat dari Tsuwano ke Yamagata memang harus mengitari kaki
gunung, tapi Terayama berada di balik gunung. Di sekeliling barisan pegunungan terlihat
awan menggantung rendah, dengan kilauan kabut pudar yang menandai datangnya salju.
"Jalannya curam," kata Jo-An. "Kau harus istirahat dulu."
Aku berpikir untuk berdiri. "Aku tidak punya waktu. Aku harus sampai di biara
sebelum salju."
Jo-An menatap ke langit dan menghirup udara. "Terlalu dingin untuk turun salju
malam ini, tapi salju bisa turun esok. Kita akan minta Sang Rahasia menahannya."
Dia bangkit, lalu membantuku berdiri. "Kau masih bisa berjalan? Jarak tempat tinggalku




145
tidak jauh. Kau dapat beristirahat di sana. Nanti aku akan mengantarmu ke orang yang
dapat menunjukkan jalan pintas."
Aku merasa seakan-akan tubuhku kehilangan substansinya, rasanya seperti aku telah
memisahkan diri dan, entah bagaimana, diriku lenyap bersama bayanganku. Aku bersyukur
pada pelatihan Tribe yang telah mengajariku cara untuk menemukan kekuatan cadangan
yang tidak disadari sebagian besar orang. Perlahan-lahan, saat aku memfokuskan napas, aku
merasa sebagian energi dan daya tahanku kembali. Jo-An pasti akan mengatakan kalau
pulihnya diriku berkat doanya. Sejenak dia memperhatikan diriku dengan matanya yang
sayu, lalu tersenyum, dan mulai berjalan kembali ke jalan yang telah aku lewati.
Aku bimbang, sebagian karena aku tidak senang memikirkan diriku menelusuri kembali
jejakku, karena berjalan ke tempat yang pernah kulewati berarti jarak yang harus kutempuh
akan semakin jauh, selain itu aku juga enggan berjalan bersama gelandangan. Akan berbeda
berbicara dengannya di malam hari, hanya berdua, dibandingkan berjalan di dekatnya
sehingga terlihat seperti temannya. Aku ingatkan diriku bahwa aku belum menjadi
pemimpin Otori, dan bukan anggota Tribe, bahwa Jo-An sedang menawarkan bantuan dan
tempat bernaung, namun tetap saja aku merasa risih saat mengikutinya.
Setelah berjalan cukup jauh, kami keluar dari jalan raya dan masuk ke jalan lebih kecil
tepi sungai, melewati beberapa desa yang kondisinya menyedihkan. Anak-anak berlari
keluar meminta makanan, tapi mereka langsung membalikkan badan ketika mengenali
gelandangan itu. Di desa kedua, dua pemuda cukup berani melempari kami batu. Salah
seorang dari mereka hampir memukul punggungku—aku mendengarnya tepat waktu
sehingga berhasil mengelak—dan ketika aku hendak menghampiri untuk menghukum
pemuda itu, Jo-An menahanku.
Jauh sebelum mencapai tempat Jo-An, aku mencium bau kulit hewan. Sungai melebar
dan akhirnya mengalir ke muara utama. Di pertemuan sungai, berdiri deretan tiang kayu,
kulit-kulit dibentangkan di atasnya. Di sini, di tempat terlindung yang lembab ini, kulitkulit
itu terhindar dari butiran salju, namun akan diturunkan dan disimpan hingga musim
semi bila salju semakin tebal. Para laki-laki bekerja, mereka semua gelandangan tentu saja,
sambil bertelanjang badan, semuanya sekurus Jo-An dan dengan wajah tertindas yang mirip
anjing teraniaya. Kabut bergantungan di atas sungai, bercampur dengan asap dari




146
pcmbakaran arang. Ada sebuah jembatan apung dari bambu yang dibangun melintasi
sungai. Aku ingat Jo-An pernah memintaku datang ke jembatan para gelandangan jika aku
perlu bantuan. Kini takdir membawaku ke sini—Jo-An akan mengatakan semua itu karena
kekuasaan Tuhan Rahasia, pasti.
Jauh dari sisi tiang kayu terdapat beberapa gubuk. Gubuk-gubuk itu tampak akan rata
dengan tanah bila ada angin kencang. Saat aku mengikuti Jo-An ke gubuk terdekat, para
laki-laki tetap meneruskan pekerjaan mereka, tapi tatapan mereka mengiringi langkahku.
Semua orang menatapku dengan pandangan memohon, seakan aku dapat menolong
mereka.
Sambil menutupi rasa enggan, aku melangkah masuk tanpa melepas sepatu karena
lantainya dari tanah. Api kecil menyala di perapian. Ruangan penuh dengan asap sehingga
mataku pedih. Di dalam gubuk ada satu orang, dia meringkuk di sudut, di bawah tumpukan
kulit. Aku mengira orang itu isteri Jo-An sampai kemudian dia maju sambil berlutut dan
menyembah di depanku. Dialah tukang perahu yang membawaku menyeberangi sungai.
"Dia berjalan semalaman untuk menyampaikan kalau dia telah melihatmu," kata Jo-An
dengan nada kasihan. "Dia perlu beristirahat sebelum pulang."
Aku menyadari pengorbanan yang harus orang itu hadapi, bukan hanya berjalan sendiri
melewati kegelapan yang penuh goblin, tapi juga bahaya dari ancaman para perampok dan
patroli, dan juga kehilangan penghasilan sehari-harinya.
"Mengapa kau lakukan ini?"
Tukang perahu itu menegakkan badan lalu menatapku singkat. Dia tidak berkata apaapa,
namun tatapannya persis seperti yang kulihat pada tatapan penyamak yang lain, tatapan
yang penuh pengharapan dan juga lapar. Aku pernah menyaksikan pandangan seperti itu,
berbulan-bulan lalu, di wajah penduduk desa saat kami dari Terayama ke Yamagata, tatapan
memohon mereka kepada Shigeru. Mereka merasa kalau Shigeru dapat memberikan
sesuatu-keadilan, kasih sayang—dan kini laki-laki di sini menatapku dengan harapan yang
sama. Apa pun yang pernah Jo-An katakan tentang diriku kepada mereka telah berhasil
mengubahku menjadi harapan mereka.
Sesuatu dalam diriku merespon sikap mereka, persis seperti yang kulakukan pada para
penduduk desa, pada para petani dengan lahan tersembunyi mereka. Selama ini mereka




147
diperlakukan seperti anjing, ditindas dan dibiarkan kelaparan, tapi aku melihat mereka
sebagai manusia, tak jauh berbeda seperti ksatria atau saudagar. Aku dibesarkan di antara
orang-orang seperti mereka, dan diajari bahwa Tuhan Rahasia memandang mereka semua
sejajar. Tidak peduli apa jadinya aku sekarang, tak peduli ajaran lain yang kuterima dari
Otori atau Tribe, tidaklah mungkin aku melupakan ajaran ibuku.
Jo-An berkata, "Kini dia adalah anak buahmu. Seperti aku, seperti kami semua. Tuan
hanya perlu memberi perintah." Dia menyeringai, giginya yang hancur bersinar
dikeremangan malam. Dia telah membuatkan teh lalu menyodorkan kepadaku mangkuk
kayu kecil. Aku merasakan uap berhembus menyentuh wajahku. Teh ini terbuat dari ranting
pohon, sama seperti yang biasa kami minum di Mino.
"Mengapa aku harus memerintah kalian? Yang aku butuhkan adalah sepasukan
bersenjata!" Aku meneguk minuman, dan kehangatan menyebar di tubuhku.
"Benar, sepasukan bersenjata," balas Jo-An. "Banyak pertempuran menanti di depanmu.
Begitulah isi ramalan."
"Lalu, bagaimana kau bisa membantuku? Bukankah kau tidak boleh membunuh."
"Para ksatria memang membunuh," kata Jo-An, "Tapi banyak hal penting lain yang
tidak dapat mereka lakukan. Hal-hal yang mereka anggap remeh, seperti membangun
jembatan, menjagal hewan, dan menguburkan orang mati. Kau akan menyadarinya kelak."
Teh menenangkan perutku. Jo-An mengeluarkan dua kue mochi lagi, tapi aku tidak
berselera makan jadi aku paksa si tukang perahu mengambil jatahku. Jo-An juga tidak
makan, dia menyimpan kue itu lagi. Aku melihat tatapan, si tukang perahu mengikuti
gerakan Jo-An memasukkan kue itu dan kuberi dia beberapa keping logam. Dia menolak,
namun kupaksa dengan menaruh uang itu ke dalam tangannya.
Jo-An menggumamkan salam restu kepergian kepada tukang perahu itu lalu
menyingkirkan tumpukan kulit agar aku dapat menggunakan tempat orang tadi.
Kehangatan teh tetap tinggal bersamaku. Kulit-kulit ini bau, namun bisa menghindari
dingin dan meredam suara-suara di luar. Terlintas di benakku kemungkinan salah satu dari
orang kelaparan ini akan mengkhianatiku demi semangkuk sop tapi aku tidak punya pilihan
lain; aku harus mempercayai Jo-An. Aku biarkan kegelapan menghempas dan menyeretku
ke alam tidur.




148
Jo-An membangunkanku ketika hari telah sore. Dia memberiku teh yang tidak hangat
lagi, dan meminta maaf karena tak ada lagi makanan yang bisa diberikan padaku.
"Kita harus berangkat sekarang," dia berkata, "Bila kita ingin bertemu para pembakar
arang sebelum gelap."
"Pembakar arang?" Aku biasanya langsung berdiri, tapi hari ini aku merasa pusing
akibat tidur.
"Mereka masih di gunung. Mereka tahu jalan pintas menembus hutan yang bisa
membawamu ke perbatasan. Tapi, mereka akan pergi di saat salju turun." Dia berhenti
sesaat, lalu berkata, "Kita akan menemui seseorang di perjalanan nanti."
"Siapa?"
"Tidak akan lama." Dia tersenyum sekilas. Kami berjalan keluar, dan di tepi sungai aku
berlutut untuk memercikkan air ke muka. Airnya sangat dingin; seperti yang Jo-An
perkirakan, temperatur menurun dan udara lebih kering. Terlalu dingin dan terlalu kering
untuk turun salju.
Aku mengibas-ngibaskan air dari tanganku sementara dia bicara kepada para laki-laki.
Mata mereka mengerjap ke arahku. Mereka berhenti bekerja lalu berlutut kemudian
menunduk ketika aku berjalan melewati mereka.
"Mereka tahu siapa aku?" tanyaku pada Jo-An dengan suara rendah. Sekali lagi, aku
takut dikhianati orang-orang miskin ini.
"Mereka tahu kau adalah Otori Takeo," jawabnya, "Malaikat Yamagata yang membawa
keadilan dan kedamaian. Itulah isi ramalan."
"Ramalan apa?" tanyaku lagi.
Dia berkata, "Nanti kau akan mendengarnya sendiri."
Hatiku penuh keraguan. Apa yang sedang kulakukan, mempercayakan hidupku pada si
sinting ini? Aku merasa setiap waktu yang terbuang percuma akan menghalangiku mencapai
Terayama sebelum salju turun atau Tribe berhasil menangkapku. Namun kini kusadari
bahwa satu-satunya harapan adalah berjalan melintasi pegunungan. Mau tak mau aku harus
mengikuti Jo-An.
Kami menyeberangi sungai kecil yang tak jauh dari hulu dengan melewati tambak ikan.
Kami bepergian dengan beberapa orang, sepasang nelayan, dan beberapa gadis yang




149
membawa makanan untuk orang yang sedang membakar batang padi dan menyebarkan
pupuk kandang di lahan kosong. Para gadis memilih berjalan di tepi sungai ketimbang
melewati jalan kami. Seorang nelayan bahkan meludahi kami, dan seorang lagi menyumpahi
Jo-An karena mencemari air. Aku tetap menunduk agar wajahku terlihat samar, tapi mereka
tak memperhatikanku. Mereka bahkan tidak mau menatap kami secara langsung, seolah
dengan melihat saja mereka akan kotor dan sial.
Jo-An nampak tidak mempedulikan kekasaran mereka, dia seakan menarik dirinya ke
dalam mantel gelap, tapi ketika kami telah melewati orang itu, dia berkata, "Mereka tak
mengijinkan kami menggunakan jembatan kayu untuk membawa kulit ke seberang. Itulah
sebabnya kami membangun jembatan sendiri. Ketika jembatan mereka runtull, mereka tetap
menolak menggunakan jembatan kami." Dia menggeleng-gelengkan kepala dan berbisik,
"Andai saja mereka mengenal Sang Rahasia."
Kami menyusuri sungai beberapa mil lagi kemudian berbelok ke timur laut, jalan mulai
menanjak. Pohon maple dan pohon beech yang tak berdaun memberi celah bagi pinus dan
cedar untuk menampakkan diri. Semakin dalam ke hutan, jalan semakin gelap dan curam
sampaisampai kami harus mendaki karang dan batu-batu besar. Tidur membuatku segar dan
memulihkan kekuatanku. Jo-An mendaki tak mengenal lelah, nyaris tidak terengah-engah.
Sulit sekali menebak usianya. Kemiskinan dan penderitaan telah menggerogoti sehingga dia
mirip orang tua, padahal usianya mungkin tidak lebih dari tiga puluh tahun. Ada yang tidak
wajar pada dirinya, dia seperti baru kembali dari kematian.
Akhirnya kami mencapai puncak dan berdiri di dataran tinggi kecil. Sebuah karang
raksasa melintang akibat jatuh dari tebing di atas. Di bawah terlihat kilauan sungai, hampir
sepanjang Tsuwano. Kabut melayang melintasi bukit. Awan rendah menutupi barisan
pegunungan di sisi yang berlawanan. Pendakian telah menghangatkan kami, tapi di saat
berhenti, napas kami mengeluarkan asap putih di udara yang kering ini. Beberapa buah arbei
terakhir masih memancarkan warna merah di semak-semak yang tidak berdaun; selain itu
tak ada lagi warna di segala tempat. Bahkan pepohonan hijau kini menghitam. Aku
mendengar gemericik air, dan dua burung gagak saling bersahutan dari tebing yang terjal.
Ketika gagak-gagak itu diam, aku mendengar napas seseorang.
Aku mendengar suara, lambat dan beraturan, yang berasal dari dalam karang itu. Aku




150
melambatkan napasku, menyentuh lengan Jo-An dan membuat satu tanda dengan kepalaku
ke arah suara.
Dia tersenyum dan berkata pelan. "Tenang saja. Dialah orang yang hendak kita temui."
Burung gagak berteriak dengan suara yang tajam dan kurang menyenangkan. Kini aku
mulai menggigil. Hawa dingin merayapi tubuhku, mengepungku. Ketakutan di malam
sebelumnya kembali muncul. Aku ingin tetap bergerak. Aku tak ingin bertemu dengan siapa
pun yang bersembunyi di balik karang itu, yang bernapas begitu lambat sehingga hampir
tidak mirip napas manusia.
"Ayolah," kata Jo-An, dan aku mengikuti dia memutari pinggiran karang sambil
melihat waspada agar tidak jatuh. Di balik karang terdapat gua di badan gunung. Air
menetes dari langit-langit gua. Tetesan itu membentuk lembing dan tiang serta mengikis
membentuk satu parit di tanah yang mengarah ke kolam kecil yang dalam, di pinggirannya
terdapat tangki persediaan air dan batu kapur putih.
Airnya berwarna hitam.
Langit-langit gua berbentuk landai, mengikuti bentuk gunung, dan di tempat yang
lebih tinggi dan kering duduk satu sosok yang kukira patung seandainya aku tidak mendengar
desah napasnya. Sosok itu putih keabu-abuan, mirip seonggok kapur. Sepertinya
sosok itu sudah duduk di sana begitu lama hingga mulai mengeras. Sulit mengatakan apakah
orang itu laki-laki atau perempuan. Dia mirip pertapa, biksu atau biarawati yang telah
melintasi jenis kelamin dan menjelma lebih dekat ke dunia berikutnya, dia hampir
menyerupai roh. Rambutnya menjurai jatuh bagai selendang putih, muka dan tangannya
kelahu ibarat kertas usang.
Sosok itu sedang duduk dalam posisi meditasi di lantai gua tanpa menunjukkan tandatanda
ketidaknyamanan. Di depannya ada semacam batu altar yang dipenuhi bunga layu,
kuntum lili musim gugur terakhir, dan beberapa sesembahan: dua jeruk yang kulitnya telah
keriput, sepotong kecil kain dan beberapa uang logam bernilai rendah. Tempat ini seperti
kuil yang diperuntukkan bagi dewa gunung, kecuali di batunya terukir simbol Hidden,
seperti yang Lady Maruyama torehkan di tanganku sewaktu pertama kali bertemu
dengannya di Chigawa.
Jo-An melepas ikatan di bajunya lalu mengeluarkan sisa kue mochi. Dia berlutut,




151
meletakkan kue itu dengan hati-hati di altar, lalu bersujud. Sosok itu membuka mata dan
memandang ke arah kami, tapi tidak melihat. Kedua matanya putih seperti kabut karena
buta. Muncul ekspresi di wajahnya sehingga membuatku berlutut dan menunduk di
depannya-raut kelembutan dan kasih sayang yang teramat dalam, berbaur dengan
kesempurnaan pengetahuan. Tidak diragukan lagi, aku dalam pengaruh orang suci.
"Tomasu," dia berkata, dan kurasa suaranya lebih mirip suara perempuan. Sudah lama
sekali orang menyebut nama pemberian ibuku sehingga bulu kudukku berdiri dan aku pun
menggigil, bukan hanya karena kedinginan.
"Duduk tegak," dia berkata. "Aku ingin menyampaikan scsuatu yang harus kau dengar.
Kau adalah Tomasu dari Mino, tapi kau telah menjadi Otori dan Kikuta. Tiga darah
bercampur dalam dirimu. Kau terlahir di Hidden, tapi hidupmu dibawa ke alam
keterbukaan dan tidak lagi menjadi milikmu sendiri. Bumi akan menghantarkan apa yang
menjadi keinginan Surga."
Dia lalu diam. Waktu berlalu. Dingin merasuki tulang tulangku. Aku ingin tahu apakah
dia hendak mengatakan hal lain. Awalnya aku tercengang karena dia mengetahui diriku; tapi
kemudian aku menduga kalau Jo-An telah mengatakan pada orang itu. Jika perkataannya ini
adalah ramalan, maka maksudnya sangat tidak jelas. Jika berlutut lebih lama lagi, aku pasti
akan mati beku, tapi aku tertahan oleh kekuatan mata wanita buta itu.
Aku mendengar napas kami bertiga dan suara-suara alam, burung-burung gagak masih
menjerit dengan suara tajam, pepohonan cedar bergoyang-goyang dalam semilir angin
timur, percikan dan tetesan air, dan erangan gunung saat udara semakin dingin dan karang
menyusut.
"Wilayah kekuasaanmu akan terbentang dari laut hingga laut," akhirnya dia berkata.
"Tapi damai hanya dapat diwujudkan melalui pertumpahan darah. Lima peperangan akan
membayar perdamaian, empat kali menang dan satu kali kalah. Banyak orang yang mati,
tapi kau akan selamat, kecuali di tangan anak laki-lakimu sendiri."
Perempuan itu lalu diam lama. Cahaya meredup seiring berlalunya waktu menuju
malam dan udara pun terasa kian dingin. Aku menatap sekeliling gua. Di dekat tempat
perempuan suci itu ada roda pendoa di atas balok kecil yang berukir daun teratai di
pinggirannya. Aku bingung. Aku tahu banyak kuil gunung yang dilarang bagi perempuan,




152
namun belum pernah aku melihat kuil yang berisi gabungan berbagai simbol, seakan Tuhan
Rahasia, Sang Pencerah, dan roh gunung tinggal bersama-sama di sini.
Dia berkata seakan mengetahui apa yang aku pikirkan; suaranya menunjukkan tawa
sekaligus takjub. "Semua adalah tunggal. Simpan ucapanku di hatimu. Semuanya adalah
tunggal."
Dia menyentuh roda pendoa dan menggerakkannya. Ritme roda rasanya berpindah ke
dalam urat nadiku lalu bercampur bersama darahku. Dengan lembut dia melantunkan katakata
yang belum pernah aku dengar dan aku pahami. Kata-kata itu terus mengalir dan
mengelilingi kami hingga akhirnya terdengar sayup-sayup terbawa angin. Ketika aku
mendengarkan lagi, lantunan itu berubah seperti restu perpisahan dari kaum Hidden. Dia
menyerahkan mangkuk dan menyuruh kami minum dari kolam sebelum pergi.
Lapisan es tipis sudah terbentuk di permukaan kolam, dan dinginnya air terasa
menggigit gigiku. Jo-An lalu dengan tergesa-gesa menuntunku pergi sambil menatap cemas
ke utara. Sebelum kami kembali berjalan melintasi puncak, aku menoleh untuk yang terakhir
kali ke perempuan suci itu. Dia duduk tak bergerak; dari jauh dia seperti bagian dari karang.
Sungguh tak bisa dipercaya dia tinggal di tempat itu sendirian.
"Bagaimana dia bisa bertahan?" tanyaku pada Jo-An. "Dia akan mati kedinginan."
Jo-An mengerenyitkan alis. "Dia dilindungi Tuhan. Tidak peduli baginya jika dia mati."
"Kalau begitu, dia sepertimu?"
"Dia orang suci. Semula kupikir dia malaikat. Dia manusia yang berubah karena
kekuatan Tuhan."
Jo-An tak ingin bicara lebih banyak lagi. Dia seperti mengerti keadaanku yang
mendesak. Kami menuruni jalan dengan langkah cepat, tapi ketika tiba di reruntuhan
karang kecil, kami terpaksa merangkak. Di sisi lain, ada jalan setapak menuju hutan yang
gelap. Di jalan setapak itu kami mulai mendaki lagi.
Daun pinus yang menyerupai jarum menutupi jalan dan ini menyulitkan langkah kami.
Di bawah pepohonan, malam seperti hampir tiba. Jo-An berjalan lebih cepat. Berjalan
membuat badanku hangat, namun telapak dan tungkai kakiku lambat-laun membatu,
seakan itu akibat air kapur yang tadi kuminum. Jantungku juga membeku karena kata-kata
yang mencengangkan dari sang pertapa dan semua kata-kata itu menunjukkan gambaran




153
masa depanku. Aku belum pernah berperang; apakah aku akan benar-benar terlibat dalam
lima peperangan itu? Jika pertumpahan darah menjadi harga dari satu perdamaian, maka
lima peperangan akan menjadi mahal. Dan gagasan bahwa anakku, yang bahkan belum
lahir, akan membunuhku, menimbulkan rasa sedih yang tak tertahankan.
Aku menyusul Jo-An dan menyentuh lengannya. "Apa makna perkataannya?"
"Sama seperti yang dia katakan," balasnya sambil memperlambat langkahnya untuk
menghela napas. "Apakah dia juga pernah mengatakan kata-kata yang sama padamu?"
"Ya."
"Kapan?"
"Setelah aku mati, lalu hidup lagi. Aku ingin hidup seperti dia, seorang pertapa di
gunung. Aku ingin menjadi pelayannya, pengikutnya. Namun dia mengatakan kalau tugasku
di dunia belum selesai, dan dia mengungkapkan beberapa kata tentang dirimu."
"Kau mengatakan padanya siapa diriku, masa laluku dan semuanya?"
"Tidak," Jo-An berkata dengan sabar, "Tidak perlu mengatakan sesuatu yang sudah dia
tahu. Dia menyuruh aku melayanimu, karena engkau yang akan membawa perdamaian."
"Perdamaian?" ulangku. Inikah yang dimaksud sebagai keinginan Surga? Aku bahkan
tak yakin makna kata-kata itu. Gagasan perdamaian rasanya seperti salah satu khayalan
kaum Hidden, seperti cerita kerajaan yang selalu ibuku bisikkan di malam hari. Apakah
mungkin menghentikan peperangan antar-klan? Seluruh klas ksatria bertarung; demi itulah
mereka dibesarkan, dilatih, dan hidup. Terlepas dari tradisi dan keliormatan diri mereka,
ada satu kebutuhan untuk membentuk pasukan bersenjata demi memperluas wilayah dan
menjalin persekutuan, seperti yang Iida Sadamu lakukan, dan kini, tidak jauh berbeda, Arai
Daiichi. "Perdamaian melalui peperangan?"
"Adakah cara lain?" balas Jo-An. "Nantinya akan ada beberapa peperangan."
Empat kali menang, sekali kalah.
"Itulah alasannya kami mulai bersiap-siap. Kau sudah melihat orang-orang di tempat
penyamakan tadi, kau sudah melihat tatapan mereka. Sejak tindakanmu yang welas asih di
Kastil Yamagata, sewaktu kau mengakhiri penderitaan orang Hidden yang disiksa, kau telah
menjadi pahlawan bagi orang-orang ini. Belum lagi pengabdianmu pada Lord Shigeru di
Inuyama... bahkan tanpa adanya ramalan, mereka rela mati demimu. Kini mereka tahu kalau




154
Tuhan ada di pihakmu."
"Perempuan itu duduk di dalam kuil gunung dan menggunakan roda pendoa," kataku.
"Tapi, dia memberkati kita menurut kebiasaan orang-orangmu."
"Orang-orang kita," dia membetulkan.
Aku menggelengkan kepala, "Aku tak lagi mengikuti ajaran itu. Aku sudah sering
membunuh. Apa kau yakin dia menyampaikan kata-kata tuhanmu?"
Bagi kaum Hidden, Tuhan Rahasia adalah satu-satunya kebenaran, dan roh yang
disembah orang lain hanyalah delusi.
"Aku tidak tahu mengapa Tuhan menyuruhku menuruti perkataan perempuan itu," dia
mengakui. "Tapi dia telah mengatakannya, dan itulah yang akan kulakukan."
Dia gila, pikirku, siksaan dan ketakutan telah membuat dia gila. "Perempuan itu berkata,
"Semua adalah tunggal. Kau tidak percaya itu, kan?" tanyaku.
Jo-An berbisik, "Aku mempercayai semua ajaran Sang Rahasia. Aku menuruti
ajarannya sejak kecil. Aku tahu itu benar. Tapi bagiku ada suatu tempat di luar semua ajaran
itu, suatu tempat di balik kata-kata, suatu tempat di mana kebenaran berada. Tempat di
mana semua kepercayaan keluar dari satu sumber. Saudaraku seorang rahib; dan dia pasti
akan mengatakan ucapanku ini dosa. Aku belum sampai ke titik itu, tapi di situlah si pertapa
bermukim."
Aku diam, memikirkan hubungan kata-katanya dengan diriku. Dapat kurasakan ada
tiga unsur yang membentuk sifatku, yang bergulung-gulung dalam diriku—seperti tiga ekor
ular yang terpisah, masing-masing ular akan saling membunuh jika diberi kesempatan
menyerang. Aku tak mengambil salah satu tanpa mengabaikan dua pertiga hidupku yang
lain. Satu-satunya cara yaitu terus maju, menguasai pecahan-pecahan ini, dan mencari cara
untuk menyatukannya.
"Dan kau juga," Jo-An menambahkan, sambil membaca pikiranku.
"Itulah yang ingin kuyakini," kataku akhirnya. "Tapi kenyataannya dia berada di tempat
spiritualitas yang terdalam, sedangkan aku mungkin lebih praktis. Bagiku semuanya tampak
masuk akal."
"Itu sebabnya kau yang akan membawa kedamaian."
Aku tak ingin mempercayai ramalannya. Rasanya terlalu berlebihan sekaligus terlalu




155
sedikit dibandingkan apa yang kuinginkan dalam hidupku. Hanya saja, kata-kata perempuan
itu merasuk di jiwaku dan aku tak bisa menghilangkannya.
"Bagaimana dengan orang yang ada di tempat penyainakan, mereka tidak ikut
berperang, kan?"
"Beberapa orang akan ikut berperang."
"Mereka tahu caranya?"
"Mereka bisa dilatih. Ada banyak lagi yang dapat mereka lakukan, mendirikan
bangunan, mengangkut, dan membimbingmu ke jalan-jalan rahasia."
"Seperti jalan ini?"
"Benar, para pembakar arang yang membuat jalan ini. Mereka menyembunyikan jalan
masuknya dengan tumpukan batu. Mereka punya jalan rahasia untuk melintasi seluruh
daerah pegunungan."
Petani, gelandangan, pembakar arang—tak seorang pun dari mereka boleh membawa
senjata atau bergabung dalam perang antar-klan. Aku ingin tahu berapa banyak petani atau
orang seperti Jo-An yang pernah kubunuh di Matsue. Betapa sia-sianya tidak
memanfaatkan keberanian dan kecerdasan orang-orang seperti mereka itu. Jika harus
melatih dan mempersenjatai mereka, aku pasti mempunyai pasukan yang kubutuhkan. Tapi,
maukah para ksatria berperang bersama mereka? Atau mungkin mereka justru akan
menganggap aku sebagai gelandangan juga?
Aku sedang sibuk berpikir ketika aku melihat kepulan asap dan, tak lama kemudian,
aku mendengar suara-suara di kejauhan, bunyi ketukan kampak, gemericik api. Jo-An
memperhatikan saat aku memusatkan pendengaran.
"Kau mendengarnya?"
Aku mengangguk, mendengarkan, dan menghitung jumlah mereka. Dari suaranya aku
menduga ada empat orang, mungkin ada satu orang lagi yang tidak bicara, orang yang
berjalan dengan langkah berbeda. "Kau tahu aku setengah Kikuta, Tribe. Aku memiliki
banyak keahlian mereka."
Jo-An tersentak tanpa mampu menahannya. Orang Hidden menganggap kemampuan
seperti itu adalah sihir.
"Aku tahu itu," balas Jo-An.




156
"Aku memerlukan semua keahlian itu jika aku harus melakukan apa yang kalian
harapkan."
"Tribe adalah anak setan," gerutunya, sambil langsung menambahkan, "Tapi kau
berbeda, tuan."
Ucapannya membuatku sadar akan resiko yang sedang dia ambil demi diriku, tidak
hanya dari kekuatan manusia, tapi juga dari kekuatan supranatural. Darah Tribe dalam
diriku pasti membuat dia menganggap diriku sama berbahayanya seperti goblin atau roh
sungai. Aku kembali takjub pada keyakinannya dan betapa dia menyerahkan diri padaku
secara utuh.
Aroma asap semakin kuat. Sisa-sisa benda terbakar yang terbang menghinggapi pakaian
dan kulit kami. Tanah berganti rupa menjadi abu-abu. Jalan setapak ini mengarah ke lahan
terbuka antara pepohonan di mana ada beberapa oven pemanggang arang yang diletakkan di
atas rerumputan basah. Hanya satu yang masih terbakar, serpihan kemerahan bersinar dari
celah-celahnya. Tiga orang sedang membongkar oven-oven yang sudah dingin dan
mengumpulkan arangnya. Seorang lagi berlutut di dekat tungku masak di mana ketel beruap
tergantung di tiang berkaki-tiga. Jumlah mereka empat orang, tapi aku tetap merasa ada
lima orang di sana. Aku mendengar langkah berat di belakangku, dan satu tarikan napas
orang itu yang tanpa disengaja mendului sebuah serangan. Kudorong Jo-An ke samping lalu
aku melompat memutar untuk menghadapi orang yang hendak menyergap kami.
Si penyerang adalah laki-laki paling besar yang pernah aku lihat, kedua lengannya
merentang untuk menangkap kami. Satu tangannya sangat besar, satunya lagi buntung.
Melihat dia buntung, aku ragu untuk melukainya. Sambil meninggalkan bayangan di jalan
setapak, aku menyelinap ke belakangnya, dan memanggilnya agar dia membalikkan badan,
lalu aku genggam belati agar dia dapat melihat mata belati itu dengan jelas, sambil
mengancam hendak menggorok lehernya.
Jo-An berteriak, "Ini aku, bodoh! Ini Jo-An!" Laki-laki yang terdekat berteriak dan para
pembakar arang pun berdatangan.
"Jangan sakiti dia, tuan," mereka meneriakiku. "Dia tak berniat jahat. Kau hanya
membuat dia kaget, itu saja."
Raksasa itu pun menurunkan tangan, kemudian berdiri dengan satu tangan terulur




157
menunjukkan sikap menyerah.
"Dia bisu," Jo-An memberitahukan. "Meskipun begitu, hanya dengan satu tangan dia
sudah sekuat dua ekor kerbau, dan dia juga pekerja keras."
Para pembakar arang jelas khawatir aku akan menghukum aset terbaik mereka. Mereka
menyembah hingga menyentuh kakiku, memohon ampun. Aku minta mereka bangun untuk
menenangkan si raksasa.
Mereka semua bangkit, mengucapkan kata-kata sambutan, menepuk-nepuk bahu Jo-
An, membungkuk sekali lagi, dan memaksaku duduk di dekat perapian. Salah seorang
menuangkan teh dari ketel; belum pernah aku minum teh seperti ini, tapi cukup
menghangatkan badaii. Jo-An mengajak mereka semua ke sudut lalu bicara berbisik yang
dapat kudengar setiap katanya.
Jo-An memberitahukan siapa diriku, yang membuat mereka mendesah dan lebih
banyak anggukan, dan bahwa aku harus mencapai Terayama secepat mungkin. Kelompok
itu berdebat mengenai rute paling aman dan apakah kami harus berangkat sekarang atau
menunggu pagi. Kemudian mereka kembali ke perapian, duduk melingkar dan memandangku
dengan mata yang bersinar-sinar di wajah hitam mereka. Hampir sekujur tubuh
mereka ditutupi jelaga dan abu, hampir tidak memakai pakaian, namun mereka seperti tidak
merasa kedinginan. Mereka berbicara sebagai satu kelompok, dan kelihatannya berpikir dan
merasa sebagai satu kesatuan. Aku membayangkan mereka di sini, di hutan ini, mengikuti
aturan mereka sendiri, hidup layaknya orang liar, nyaris seperti hewan.
"Mereka belum pernah berbicara dengan bangsawan," Jo-An memberitahukan. "Ada
yang ingin tahu apakah kau pahlawan Yoshitsune* yang kembali dari tanah daratan. Aku
katakan, meskipun kau berkelana di pegunungan seperti Yoshitsune dan dikejar-kejar semua
orang, kau akan menjadi pahlawan yang lebih hebat karena dia gagal, sedangkan Tuhan
menjanjikan keberhasilan bagimu."
"Tuan akan mengijinkan kami menebang pohon di tempat yang kami mau?" tanya
seorang laki-laki tua. Mereka tidak berkata kepadaku secara langsung, mereka hanya
menyampaikan pada Jo-An. "Banyak hutan yang tak boleh kami datangi. Jika kami
menebang pohon di sana..." Dia membuat gerakan memotong lehernya sendiri.
"Satu kepala untuk satu pohon, satu tangan untuk satu dahan," ucap lainnya. Dia




158
menggenggam dan mengangkat tangan si raksasa yang dimutilasi. Ujung lengan yang
hampir sembuh meninggalkan bekas luka berkerut dan berwarna hitam kelabu, sedangkan
bekas-bekas luka abu-abu melintang ke arah belakang atas lengan yang dibakar. "Orang
Tohan melakukan ini padanya beberapa tahun lalu. Dia sebenarnya tak mengerti, tapi
mereka tetap saja mengambil tangannya."
Si raksasa lalu mengulurkan tangan dan mengangguk beberapa kali, wajahnya bingung
dan sedih.
Klan Otori juga melarang penebangan pohon tanpa terkecuali: aturan itu untuk
melindungi hutan, tapi kurasa mereka tak akan memberi hukuman sekejam orang Tohan.
Aku bertanya-tanya apa maksud dari melumpuhkan anggota tubuh; apakah hidup manusia
tidak lebih berharga dari sebatang pohon?
"Lord Otori akan memiliki hak atas seluruh wilayah ini," ujar Jo-An. "Dia akan
memerintah dari bentangan laut ke laut. Dialah yang akan membawa perdamaian."
Mereka menunduk lagi, bersumpah akan melayaniku, dan aku berjanji akan berusaha
membantu mereka, bila saatnya tiba. Kemudian mereka memberi kami makanandaging:
beberapa ekor burung kecil dan seekor kelinci kecil. Aku jarang makan daging sehingga sulit
mengingat kapan terakhir kali aku menyantapnya, selain ayam rebus di tempat pesumo.
Daging ini mereka peroleh seminggu lalu, dan disimpan untuk dimakan pada malam
terakhir di gunung. Mereka menyembunyikan daging ini dengan cara dipendam ke dalam
tanah agar tidak terlihat pasukan klan yang mungkin datang menyelidiki. Daging ini berasa
tanah dan darah.
Sementara kami makan, mereka membahas rencana esok hari. Mereka memutuskan
bahwa satu orang akan menunjukkan padaku jalan ke perbatasan. Kami akan berangkat saat
fajar menyingsing, dan jalan itu dapat ditempuh hanya sehari jika salju belum turun.
Angin berganti arah ke utara, dan menahan ancaman cuaca buruk. Mereka berencana
membongkar oven terakhir esok pagi dan akan turun gunung di hari berikutnya. Jo-An
dapat membantu mereka jika dia tinggal semalam lagi, menggantikan orang yang akan
menjadi pemanduku.
"Mereka tidak keberatan bekerja denganmu?" tanyaku pada Jo-An kemudian. Aku
bingung dengan para pembakar arang ini. Mereka makan daging, artinya mereka tidak




159
mengikuti ajaran Sang Pencerah, mereka tidak mendoakan makanan dengan cara Hidden,
dan mereka menerima gelandangan untuk makan dan bekerja bersama, tidak seperti
penduduk desa lainnya.
"Mereka juga gelandangan," jawab Jo-An. "Mereka membakar mayat dan juga kayu.
Tapi mereka bukan orang Hidden. Mereka menyembah roh hutan, khususnya dewa api.
Mereka percaya roh itu akan turun gunung bersama mereka esok dan tinggal bersama
mereka selama musim dingin untuk menjaga agar rumah mereka tetap hangat. Di musim
semi mereka akan menemani roh api kembali ke gunung." Suara Jo-An menunjukkan nada
kurang senang. `lAku berusaha mengajak mereka mengikuti ajaran Tuhan Rahasia,"
katanya. "Tapi mereka mengatakan tidak bisa meniriggalkan tuhan leluhur mereka karena
siapa yang akan menyalakan api di oven-oven itu?"
"Mungkin semuanya adalah tunggal," kataku, agak menggoda karena daging dan
kehangatan yang disediakan dewa api telah meningkatkan semangatku.
Dia tersenyum tipis, tapi tidak pernah membicarakan itu bebih lanjut. Dia tiba-tiba saja
nampak lelah. Sinar mentari hampir menghilang dan para pembakar arang mengajak kami
masuk ke tenda mereka. Tendanya dibangun asal-asalan dari dahan dan ditutupi kulit yang
kuduga itu merupakan hasil penukaran arang dengan para penyamak. Kami merangkak
masuk, semuanya berhimpitan melawan dingin. Kepalaku yang paling dekat dengan oven
terasa cukup hangat, namun punggungku membeku. Dan ketika membalikkan badan, aku
merasa kelopak mataku akan tertutup membeku.
.Aku tidak tidur, aku hanya berbaring sambil mendengarkan napas orang-orang di
sekitarku, dan memikirkan masa depanku. Aku pernah berpikir kalau aku telah menerrupatkan
diriku di bawah hukuman mati Tribe, di siang hari aku hampir tak berharap
hidup hingga malam, tapi sang peramal telah mengembalikan hidupku. Kemampuainku
terlambat berkembang: anak-anak lain yang berlatih bersamaku di Matsue sudah
menunjukkan bakat mereka diusia delapan atau sembilan tahun. Berapa usia analkku saat
menguasai kemampuan itu? Berapa lama waktu berlalu sebelum dia mampu melawanku?
Mungkin saat dia berusia enam belas tahun; hampir mendekati seluruh waktu hidupku saat
ini. Hitung-hitungan kasar ini menimbulkan harapan pedih padaku.
Terkadang aku mempercayai ramalan dan terkadang tidak, dan itulah yang terjadi




160
seumur hidupku.
Besok aku akan sampai di Terayama. Aku akan memiliki catatan Shigeru tentang Tribe,
dan aku akan menggenggam Jato lagi. Di musim semi aku akan melakukan pendekatan pada
Arai. Dengan informasi rahasia tentang Tribe, aku akan meminta bantuannya untuk
melawan kedua paman Shigeru. Sudah jelas kalau pertempuran pertamaku adalah melawan
mereka. Membalas dendam atas kematian Shigeru dan mengambil warisanku akan menjadi
alasan untuk memerangi mereka.
Jo-An tidur gelisah, bolak-balik dan mengerang. Dia mungkin kesakitan, meskipun
tidak dia tunjukkan pada saat terjaga. Menjelang subuh, dingin agak berkurang dan aku
tertidur lelap sebentar, dan terbangun oleh bunyi desis lembut, bunyi yang aku takutkan.
Aku merangkak keluar tenda. Dalam cahaya api, dapat kulihat butiran salju berjatuhan,
dapat kudengar desis halus saat butiran itu mencair di bara api. Aku membangunkan Jo-An
dan para pembakar arang.
"Salju turun!"
Mereka melompat bangun, menyalakan obor, dan berkemas-kemas. Mereka tak ingin
terjebak di gunung seperti juga aku. Arang dari oven terakhir telah dibungkus dengan kulit
lembab yang ada di dekat tenda. Mereka berdoa singkat di depan perapian, lalu meletakkan
bara itu dalam pot besi untuk di bawa menuruni gunung.
Salju masih halus dan berbutir, umumnya tidak mengendap, tapi langsung mencair saat
menyentuh tanah. Seiring fajar tiba, langit berwarna kelabu dan mengkhawatirkan, awan
penuh dengan salju yang tak lama lagi akan berjatuhan. Angin semakin kencang, dan bila
disertai salju lebat, maka akan terjadi badai salju.
Tak ada waktu untuk makan, bahkan untuk minum teh. Setelah arang siap, orangorang
itu tak sabar untuk segera pergi. Jo-An berlutut di depanku namun kuangkat dan
kupeluk dia. Badannya sekurus dan seringkih kakek-kakek.
"Kita akan berjumpa lagi di musim semi," kataku. "Akan kukirim kabar ke jembatan
gelandangan."
Dia mengangguk, namun seakan tidak sanggup membiarkan aku lepas dari
pandangannya. Seseorang memanggul buntalan kain, sedangkan yang lainnya telah berbaris
menuruni lereng gunung. Jo-An melakukan gerakan risih, campuran antara salam




161
perpisahan dan pemberkatan. Kemudian dia berbalik dan, sambil agak terhuyung-huyung
membawa beban berat, dia pun berjalan pergi.
Aku mengawasinya sesaat, dan tanpa sadar aku mengucapkan, dari dalam hati, katakata
perpisahan kaum Hidden.
"Ayo, tuan," si pemandu memanggilku dengan cemas, dan aku berbalik lalu
mengikutinya mendaki tebing.
Kami mendaki cukup lama. Si Pemandu jalan hanya berhenti sejenak untuk
mematahkan ranting sebagai petunjuk jalan pulang. Salju tetap tak berubah, ringan dan
kering, namun semakin tinggi mendaki, salju semakin mengendap sampai ke tanah dan
pepohonan, semuanya, dihiasi butiran putih tipis. Pendakian yang cepat menghangatkan
tubuhku, tapi perutku bernyanyi lapar. Daging yang kumakan semalam memberi rasa
kenyang yang palsu di perutku. Sungguh tak mungkin bisa menduga waktu saat ini. Warna
kelabu kecoklat-coklatan terlihat merata menghiasi langit, dan tanah mulai mengeluarkan
cahaya aneh yang menyesatkan karena pemandangan yang bersalju.
Ketika si pemandu berhenti, kami baru setengah jalan mencapai puncak utama barisan
pegunungan. Jalan yang kami telusuri kini berkelok-kelok menurun. Lembah di bawah sana
bisa terlihat melalui kabut dari butiran salju yang berjatuhan, pohon beech dan cedar mulai
memutih.
"Aku tidak bisa lebih jauh lagi mendampingimu," dia berkata. "Saranku, kau kembali
bersamaku sekarang. Badai salju akan datang. Paling cepat butuh sehari untuk sampai ke
biara, bahkan di saat cuaca cerah. Bila meneruskan perjalanan, kau akan mati dalam salju."
"Aku tidak mau kembali ke sana lagi," jawabku. "Antar aku sedikit lagi. Aku akan
membayarmu." Namun aku tak berhasil membujuknya, dan aku pun tidak benar-benar
menginginkannya. Dia nampak gelisah dan kesepian tanpa rekan-rekannya. Kuberi dia
separuh uangku yang tersisa dan sebagai balasannya dia memberiku tulang kaki kelinci,
dengan sedikit daging yang masih melekat.
Dia menggambarkan jalan yang harus kutempuh, dan berusaha memberi beberapa
penunjuk jalan. Ada sungai mengalir melalui bukit itu, katanya. Sungai yang menandai
wilayah perbatasan. Di situ tidak ada jembatan tapi di satu titik, sungai akan cukup sempit
untuk dilompati. Di sungai itu ada roh air dan arusnya pun deras, jadi aku harus berhati-hati




162
agar tidak terjatuh ke dalamnya. Juga, karena sungai itu mudah diseberangi hingga sering diawasi,
tapi si pemandu mengatakan kecil kemungkinan tempat itu dijaga pada cuaca seperti
ini.
Setelah melewati perbatasan, aku harus terus ke timur, turun menuju satu kuil kecil. Di
sini jalan bercabang. Aku harus mengambil jalan yang ke kanan, jalan yang lebih rendah.
Aku harus tetap ke timur, jika tidak ingin mendaki barisan gunung. Karena angin bertiup
dari timur laut sehingga aku harus bertahan dari angin yang menerpa bahu kiriku. Dia
menyentuh bahuku dua kali untuk menekankan keterangannya, seraya menatap tajam
wajahku dari matanya yang sipit.
"Kau tidak mirip bangsawan," katanya, raut wajahnya menyungging senyuman. "Tapi,
bagaimanapun juga, semoga kau beruntung."
Setelah mengucapkan terima kasih, aku lalu menuruni lereng. Sewaktu berjalan, lereng
ini serasa menggerogoti tulangku, meretakkan tulang gigiku dan menghisap habis sumsumku.
Kini salju sedikit lebih basah dan lebih padat, dan mencair lebih lambat di kepala
dan pakaianku. Orang itu benar, aku memang tidak mirip bangsawan. Rambutku, yang
tidak dipotong sejak Yuki memangkasnya dengan gaya seniman, menggantung kusut di
sekitar telingaku dan aku juga belum bercukur selama berhari-hari. Pakaianku basah kuyup
dan kotor. Aroma badanku juga tidak tercium seperti seorang bangsawan. Aku berusaha
mengingat kapan terakhir kali aku mandi-dan tiba-tiba teringat perkumpulan pesumo, saat
malam pertama kami meninggalkan Matsue: rumah mandi yang luas, percakapan yang
kudengar antara Akio dan Hajime.
Aku ingin tahu di mana Yuki sekarang, apakah dia telah mendengar tentang pelarianku.
Aku tidak sanggup memikirkan anakku. Bayangan bahwa anakku akan dijauhkan dan diajari
untuk membenciku terasa begitu menyakitkan. Aku teringat ejekan Akio; tampaknya Kikuta
lebih mengetahui tentang sifatku daripada diriku sendiri.
Gemuruh sungai makin kencang terdengar, agaknya itulah satu-satunya bunyi di alam
yang ditutupi salju ini. Bahkan burung gagak pun membisu. Salju telah menyelimuti
bebatuan di tepi sungai. Sungai itu berasal dari air terjun yang mencurahi karang sebelum
masuk ke saluran sempit antara dua karang datar yang menyembul di permukaan bumi.
Pepohonan pinus tua yang berpilin-pilin melekat ke sisi tebing, dan seluruh pemandangan




163
yang memutih oleh salju nampak seolah menunggu Sesshu datang untuk melukisnya.
Aku menunduk di bawah batu besar di mana ada pohon pinus kecil bergantung ringkih
di tanah yang tipis. Kelihatannya lebih mirip semak ketimbang pohon dan pinus ini
memberiku sedikit perlindungan. Salju menutupi jalan namun cukup jelas terlihat arah jalan
dan tempat untuk melompat ke seberang sungai. Sesaat menatap ke seberang, aku
mendengarkan dengan saksama.
Pola air di permukaan karang tidak stabil. Terkadang tenang hingga menimbulkan
keheningan yang tidak biasa, seolah bukan hanya aku yang sedang mendengarkan. Tak sulit
membayangkan ada roh yang berdiam di bawah air, yang berhenti dan mengalir lagi, yang
mengejek dan membujuk manusia, yang memikat orang untuk masuk ke sungai.
Aku seakan dapat mendengar roh-roh itu bernapas. Kemudian, setelah aku berhasil
menepis suara itu, riak dan ocehan sungai mulai terdengar lagi. Aku sadar kalau telah
membuang waktu dengan berlindung di semak yang mulai diselimuti salju sambil
mendengarkan roh, tapi lambat-laun aku yakin ada orang lain karena mendengar tarikan
napas seseorang, tidak jauh dariku.
Tidak jauh dari tempatku, ada celah sempit dengan kedalaman sepuluh kaki atau lebih.
Aku merasa ada gerakan tiba-tiba dan menyadari seekor bangau putih sedang mencari ikan
seperti lupa pada salju. Itu seakan memberi pertanda-simbol Otori di perbatasan Otorimungkin
pesan dari Shigeru kalau aku akhirnya membuat pilihan yang benar.
Bangau yang berdiri di sisi sungai yang sama denganlui seperti mencari jalan menyusuri
sungai menuju ke arahku. Aku ingin tahu apakah hewan itu mendapatkan mangsa di cuaca
yang bersalju ini, pada saat katak bersembunyi di tanah. Bangau itu tampak tenang dan tidak
takut, yakiii kalau tak satu pun yang mengancamnya di tempat sunyi ini. Saat aku
mengawasinya, sambil merasakan aman yang sama, dan berpikir untuk berjalan ke sungai
dan melompat untuk menyeberang, sesuatu mengagetkan bangau itu. Bangau itu kemudian
mengulurkan leher untuk menatap ke seberang sungai lalu bersiap-siap terbang. Kepakan
sayapnya terdengar begitu kencang lalu terbang dengan hening mengikuti aliran air.
Apa yang membuat bangau itu kaget? Aku amati daerah yang sama seperti dilihat
bangau itu. Sungai hening sejenak, dan aku mendengar desah napas. Aku menajamkan
penciuman, dan di balik hembusan angin dari timur laut, aku mencium bau manusia, samarKISAH
KLAN OTORI Created by syauqy_arr@yahoo.co.id



164
samar. Meskipun tidak melihat seorang pun, tapi aku yakin ada yang sedang tiarap dan tidak
terlihat karena ditutupi salju.
Jika aku langsung melompat ke seberang, dia pasti dapat dengan mudah melumpuhkanku.
Jika dia dapat bertahan tanpa terlihat dalam waktu yang cukup lama, berarti dia orang
Tribe. Satu-satunya harapanku adalah membuat orang itu kaget dengan melompat lebih
jauh ke hulu, di mana lintasan sungai lebih luas.
Tak ada gunanya menunggu lebih lama. Aku bernapas dalam-dalam lalu berlari
menuruni lereng. Aku mempertahankan langkah sejauh kubisa, berusaha tidak menyentuh
salju. Saat aku lolos dari jalan bersalju dan menuju sungai, seseorang bangkit keluar dari salju
dari arah sampingku. Pakaian putih menutupi sekujur tubuhnya. Aku lega karena sosoknya
kasat mata, dia hanya menyaru saja—mungkin dia bukan Tribe, mungkin dia penjaga
perbatasan. Aku lalu melompati jurang gelap yang ada di bawahku.
Sungai seperti mengerang lalu terdiam, dan dalam keheningan aku mendengar sesuatu
di belakangku, seperti siulan. Saat mendarat, aku berguling ke tanah, berjuang di atas karang
es, hampir kehilangan pegangan. Sesuatu yang melayang bersiul lagi di atas kepalaku. Jika
aku berdiri, benda itu pasti berhasil mengenai tengkukku. Di depanku, di tanah bersalju,
terbentang lubang berbentuk bintang. Hanya Tribe yang menggunakan pisau lempar seperti
itu, dan mereka melemparnya beberapa buah, satu demi satu.
Aku berguling menghindar, masih tetap menunduk, dan langsung bergerak
menghilang. Aku yakin dapat tetap menghilang hingga di hutan, tapi aku lupa kalau jejakku
akan terlihat di salju. Untungnya dia juga tergelincir saat melompati sungai. Dia
kelihatannya lebih besar dan lebih berat ketimbang diriku dan mungkin bisa berlari lebih
cepat, tapi aku berhasil mendahuluinya.
Dalam lindungan pepohonan, aku mengirim sosok keduaku ke samping atas lereng,
sementara sosokku yang ash berlari menuruni jalan, namun aku sadar kalau aku talc dapat
terus berlari. Satu-satunya harapanku yaitu menyergapnya. Di depan ada jalan menikung
mengelilingi batu karang besar; cabang pohon tergantung di atasnya. Aku berlari mengitari
persimpangan, lalu mundur menapaki kembali jejak kakiku, dan melompat ke cabang. Aku
lalu mengeluarkan belati, berharap ada Jato bersamaku. Senjata lain yang kubawa untuk
membunuh Ichiro adalali garotte. Tapi Tribe sulit dibunuh dengan senjata mereka sendiri,




165
sama seperti mereka sulit diperdayai dengan trik mereka sendiri. Harapanku satu-satunya
hanyalah belai.
Aku mengatur napas, bergerak tak kasat mata, mendengar orang itu terhuyung-huyung
saat melihat sosok keduaku, kemudian mendengar dia berlari lagi.
Merasa hanya memiliki satu kesempatan, aku terjang dia dari atas. Terjanganku
membuat dia hilang keseimbangan hingga terjatuh, dan di saat itulah terlihat celah kosong
di alat pelindung lehernya lalu kugerakkan belati ke arteri utama tenggorokannya,
mendorongnya melintang menembus saluran pernapasan seperti yang pernah Kenji ajarkan.
Dia mengeluarkan gerutuan kaget—gerutuan yang sering kudengar dari anggota Tribe yang
tidak menyangka akan menjadi korban—dan terhuyung-huyung kemudian terjatuh. Aku
melepaskan diri darinya. Dia memegang lehernya, napasnya berdesis gaduh dan darah
menyembur. Kemudian dia tidak bergerak untuk selama-lamanya, salju di sekitar wajahnya
berubah menjadi merah.
Aku memeriksa pakaiannya dan kuambil beberapa belati dan pedang pendeknya yang
masih bagus. Dia membawa berbagai macam racun yang juga aku ambil karena aku tidak
punya. Aku tidak tahu siapa orang itu. Aku melepaskan sarung tangannya dan melihat
telapak tangannya, namun tidak ada garis lurus khusus Kikuta, sejauh yang bisa kulihat,
tidak ada tato di badannya.
Aku meninggalkan tubuhnya untuk burung gagak dan rubah, membayangkan kalau
mayatnya akan menjadi hidangan musim dingin pembuka bagi hewan-hewan itu. Lalu aku
pergi secepat dan sehening mungkin, takut kalau ada temannya sedang mengawasi sungai,
menungguku. Darahnya mengalir cepat melewatiku; aku merasa hangat karena berlari dan
pertarungan singkatku, dan aku sangat senang karena bukan aku yang terbaring tanpa nyawa
di salju.
Aku agak cemas lantaran Tribe telah menyusulku begitu cepat dan tahu ke mana
tujuanku. Apakah mayat Akio telah ditemukan, dan pesan telah dikirimkan dengan
berkuda, dari Hagi ke Yamagata? Ataukah Akio masih hidup? Aku mengutuk diriku karena
tidak menyempatkan diriku untuk membunuhnya. Mungkin perkelahian tadi telah
membuatku ketakutan, membuatku sadar seperti apa rasanya dihantui oleh Tribe sepanjang
sisa hidupku. Aku memang menyadarinya, tapi aku murka lantaran mereka mencoba




166
membunuhku di hutan, layaknya hendak membunuh anjing, tapi aku juga senang karena
usaha pertama mereka telah gagal. Tribe mungkin telah mengatur pembunuhan ayahku, tapi
Kenji mengatakan tak seorang pun bisa mendekati Ayahku jika dia tidak bersumpah untuk
tidak membunuh lagi. Aku tahu aku mewarisi semua kemampuannya, bahkan mungkin
lebih. Tak akan kubiarkan Tribe berada di dekatku. Akan kulanjutkan pekerjaan Shigeru
dan akan kuhancurkan kekuatan mereka.
Semua pikiran ini berputar-putar di benakku selagi aku berusaha menembus salju.
Mereka memberiku energi dan memperkuat keputusanku untuk bertahan. Setelah
menyelesaikan urusan dengan Tribe, akan aku alihkan kemarahanku pada kedua pemimpin
Otori, pengkhianat yang lebih besar bagiku. Ksatria berpura-pura seolah-olah kehormatan
dan kesetiaan penting bagi mereka, tapi tip-tip muslihat dan kecurangan mereka sedalam
dan sekejam Tribe. Kedua orang itu telah mengirim Shigeru menuju kematian dan kini
berusaha membuangku. Mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di depan.
Seandainya mereka melihat aku terbenam di timbunan salju, miskin pakaian, miskin
senjata, tanpa anak buah, uang atau pun tanah kekuasaan, mereka pasti akan tidur nyenyak,
tidak perlu lagi memikirkan ancaman dariku.
Aku tidak ingin berhenti untuk istirahat, tidak ada pilihan lain kecuali terus berjalan
hingga sampai di Terayama atau aku akan mati di perjalanan. Selama berjalan aku
mendengarkan suara-suara di sekitarku. Aku tidak mendengar apa pun selain erangan angin
dan desis lembut butiran salju yang berjatuhan menyelimuti bumi. Pada sore harinya, aku
seperti mendengar bunyi-bunyian.
Bunyi itulah yang ingin sekali aku dengar di atas gunung, saat hujan turun dipenuhi
dengan salju. Bunyi itu seperti alunan seruling yang sesunyi angin di pepohonan pinus,
secepat butiran salju. Bunyi itu membuat tulangku menggigil, bukan hanya karena pengaruh
musik itu, tapi juga rasa takut yang lebih dalam. Aku membayangkan hantu gunung yang
berusaha menggoda manusia dan menawannya di bawah tanah selama ribuan tahun. Aku
ingin berdoa seperti yang ibuku ajarkan, tapi bibirku membeku, lagipula aku tidak
mempercayai kekuatan doa-doa itu.
Alunan seruling terdengar kian kencang. Aku berjalan mendekati sumber suara, seakan
musik itu menyihir dan menyeretku untuk menghampirinya. Aku mengitari persimpangan




167
dan melihat jalan bercabang. Lalu aku teringat apa yang telah diberitahukan si pemandu
dan, memang ada kuil kecil yang terlihat samar-samar, tiga jeruk yang tergeletak di
depannya bersinar cemerlang. Di belakang kuil ada gubuk kecil yang berdinding kayu dan
beratapkan jerami. Rasa takutku langsung lenyap dan aku nyaris tertawa terbahak-bahak.
Bukan hantu yang aku dengar, melainkan biarawan atau pertapa yang mengasingkan diri ke
gunung untuk mencari pencerahan.
Kini aku mencium bau asap. Kehangatannya menyeretku tanpa bisa ditahan. Aku
membayangkan bara api akan dapat mengeringkan kakiku yang basah, mencairkan kakiku
yang beku seperti balok es. Aku hampir-hampir dapat merasakan kehangatan di wajahku.
Pintu gubuk itu dibiarkan terbuka agar cahaya dapat masuk dan asal dapat keluar. Si peniup
seruling tak mendengar, juga tidak melihatku. Dia hanyut dalam alunan musiknya yang
sedih.
Aku bisa menduga siapa dia, bahkan sebelum melihatnya. Aku pernah dengar musik
yang sama setiap malam saat aku berduka di makam Shigeru. Orang itu adalah Makoto,
biarawan muda dari kuil Terayama. Dia duduk bersila dengan mata terpejam. Dia sedang
meniup seruling bambu, dan ada sebuah seruling yang lebih kecil diletakkkan di atas bantal
yang ada di dekatnya. Sebuah tungku arang yang berasap ada di dekat pintu. Di belakang
gubuk ada tempat tidur yang diangkat. Sebuah tongkat berkelahi yang terbuat dari kayu
tersandar di dinding. Aku melangkah masuk—bahkan dengan adanya tungku, ruangan ini
hanya sedikit lebih hangat daripada di luar—dan aku berkata perlahan, "Makoto?"
Dia tidak membuka mata maupun berhenti meniup seruling.
Aku memanggil lagi. Musik pun terputus-putus dan dia menarik seruling dari bibirnya.
Dia berbicara dalam satu bisikan, lesu. "Jangan menggangguku. Berhentilah menyiksa
diriku. Maafkan aku. Maafkan aku." Dia tidak menengadah.
Saat dia meniup seruling lagi, aku lalu berlutut di depannya dan menyentuh bahunya.
Dia membuka mata, memandangku dan, yang membuatku sangat kaget, dia melompat
berdiri, melempar serulingnya ke samping. Dia melangkah mundur, mengambil tongkat dan
menggenggamnya dengan sikap mengancam. Matanya penuh penderitaan, wajahnya kurus,
seakan tidak pernah makan dan minum. "Jangan ganggu aku," dia berkata, suaranya rendah
dan parau.




168
Aku berdiri. "Makoto," kataku pelan. "Ini aku. Otori Takeo."
Ketika aku maju selangkah ke arahnya, dia langsung mengayunkan tongkat ke bahuku.
Aku sempat menangkis, dan untungnya ruangan ini kecil sehingga dia tidak dapat memukul
sekuat tenaga, kalau tidak dia pasti berhasil menghancurkan tulang bahuku. Rasa kaget pasti
membuat tangannya bergetar sehingga tongkatnya terjatuh. Dia menatap kedua tangannya
dengan takjub, lalu menatapku yang jatuh terduduk.
"Takeo?" katanya. "Kamu nyata? Ini bukan hantumu?"
"Cukup nyata untuk jatuh terpukul," kataku, sambil bcrdiri dan melenturkan lengan.
Setelah yakin tak ada bertanya seperti itu. Nanti akan kuceritakan semuanya. Sementara ini,
ya, kau bisa mempercayaiku. Jika kau tidak mempercayai orang lain, percayalah aku."
Nada suaranya penuh emosi. Dia lalu berpaling. "Akan kuhangatkan sup," ucapnya.
"Maaf, aku tidak punya sake maupun teh."
Aku teringat bagaimana Makoto menentramkan hatiku dari kesedihan yang amat
sangat setelah kematian Shigeru. Dialah yang menentramkan hatiku saat aku tersiksa oleh
penyesalan, dan mendukungku hingga kesedihanku berganti amarah, dan sampai kedua
perasaanku mereda.
"Aku tidak bisa tinggal bersama Tribe," kataku. "Aku meninggalkan mereka, dan
mereka akan terus mengejarku sampai mereka berhasil membunuhku."
Makoto mengambil panci dari sudut ruangan dan dengan hati-hati meletakkannya di
tungku. Dia menatap aku lagi.
"Mereka ingin aku mengambil catatan Shigeru tentang Tribe," ceritaku. "Mereka
mengirimku ke Hagi. Aku diharuskan membunuh guruku, Ichiro, dan menyerahkan catatan
itu kepada mereka. Tapi catatan itu tidak ada di sana."
Makoto hanya tersenyum, masih tidak bicara.
"Itulah alasannya aku harus ke Terayama. Di sanalah catatan itu di simpan. Kau tahu
itu, kan?"
"Pasti kami sudah berikan kepadamu seandainya kau tidak memilih untuk pergi
bersama Tribe," jawab Makoto.
"Kewajiban pada Shigeru yang memaksa kami untuk tidak mengambil resiko. Dia
mempercayakan catatannya pada kami karena dia tahu biara kami adalah salah satu dari




169
sedikit wilayah di Tiga Negeri yang tak bisa disusupi Tribe."
Makoto menuangkan sup ke mangkuk lalu menyodorkannya kepadaku. "Hanya ada
satu mangkuk. Aku tidak menduga akan kedatangan tamu. Dan orang terakhir yang
kuharapkan adalah kau."
"Mengapa kau di sini?" tanyaku. "Apakah kau hendak menghabiskan musim dingin di
sini?" Aku tidak yakin dia akan mampu bertahan hidup di sini. Mungkin memang dia tidak
ingin hidup. Aku minum seteguk sup. Rasanya panas dan asin, dan hanya itu yang dapat
kukatakan. Nampaknya sup ini adalah satu-satunya makanan yang tersisa. Apa yang terjadi
pada pemuda bersemangat yang pernah aku kenal di Terayama? Apa yang membuat dia
mengasingkan diri seperti ini, seperti orang yang putus asa?
Aku menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhku dan bergeser mendekati api.
Seperti biasa aku memasang telinga. Angin semakin kencang. Terkadang satu hembusan
angin membuat lampu berkedip, membuat bayangan yang fantastis di dinding.
Setelah pintu ditutup, gubuk ini terasa lebih hangat. Pakaianku mulai kering. Aku
mengosongkan mangkuk dan menyerahkannya kembali pada Makoto. Dia lalu mengisi,
meneguk, dan menaruhnya di lantai.
"Sisa hidupku kini berubah menjadi lebih lama," dia berkata, memandangku, menatap
ke bawah. "Sulit bagiku mengatakan padamu, Takeo, karena banyak hal yang berkaitan
denganmu. Namun karena Sang Pencerah telah mengirimmu kemari, jadi aku berusaha
mengatakannya. Kehadiran dirimu telah mengubah segalanya. Penampakan dirimu terus
membayangiku, kau selalu hadir dalam mimpiku. Aku berjuang mengatasi obsesiku ini."
Makoto tersenyum mencela dirinya sendiri. "Sejak kecil aku berusaha meninggalkan
dunia indrawi. Satu-satunya keinginanku adalah pencerahan. Aku mendambakan kesucian.
Aku tidak mengatakan kalau aku belum pernah berhubungan—kau tahu seperti apa jadinya
bila laki-laki tinggal bersama tanpa seorang perempuan pun. Terayama tidak terkecuali.
Tapi aku tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Aku belum pernah terobsesi seperti apa
yang kurasakan padamu." Sekali lagi senyum menghiasi bibirnya. "Aku tak akan
mengatakan alasannya. Selain tidak penting, aku juga tidak yakin kalau aku tahu. Setelah
kematian Lord Shigeru, kau seperti kehilangan akal karena kesedihan. Aku tergerak oleh
penderitaanmu. Aku ingin menentramkan hatimu."




170
"Kau telah menentramkan diriku," kataku, pelan.
"Bagiku itu tidak menyenangkan! Aku tidak menyadari betapa kuat pengaruh dirimu
padaku. Aku senang atas apa yang aku rasakan, dan aku pun bersyukur atas pengalaman
yang belum pernah kurasakan sebelumnya, tapi aku juga membencinya. Aku membuat
semua perjuangan rohaniku nampak seperti kebohongan belaka. Aku datangi Kepala Biara
dan memberitahukan kalau aku hendak meninggalkan biara dan kembali ke dunia. Dia
menyarankan aku bepergian sejenak untuk memikirkan lagi keputusanku. Temanku yang di
Barat, Mamoru, mengundangku. Kau tahu aku bisa bermain seruling. Aku diundang untuk
bergabung dengan Mamoru dan lainnya dalam mementaskan drama Atsumori."
Dia terdiam. Angin menghempaskan hujan salju ke dinding. Lampu bekerjap begitu
hebat, nyaris padam. Aku tidak tahu apa yang akan Makoto katakan selanjutnya, namun
jantungku berdebar lebih cepat dan denyut nadiku semakin kencang. Bukan karena hasrat,
tapi rasa takut mendengarkan apa yang tidak ingin aku dengar.
Makoto berkata, "Temanku tinggal di kediaman Lord Fujiwara."
Aku menggelengkan kepala. Belum pernah aku dengar nama itu.
"Dia kerabat kaisar yang diasingkan dari ibukota. Wilayahnya berbatasan dengan
Shirakawa."
Hanya mendengar nama Kaede disebut, aku seperti sedang dipukul di perut. "Kau
bertemu dengannya?"
Dia mengangguk.
"Aku diberitahu kalau dia sedang sekarat," kataku. Begitu kencangnya detak jantungku
sehingga terasa seperti akan melompat keluar dari tenggorokan.
"Dia memang sakit parah, tapi sudah pulih. Tabibnya Lord Fujiwara yang
menyelamatkannya."
"Dia masih hidup?" Keremangan lampu nampak lebih terang hingga gubuk ini terasa
penuh cahaya. "Kaede masih hidup?"
Makoto mengamati wajahku, wajahnya menunjukkan kepedihan. "Ya, dan aku sangat
bersyukur, karena jika dia mati, akulah penyebabnya."
Aku mengerenyitkan alis, berusaha menebak maksud kata-katanya. "Apa yang terjadi?"
"Orang di kediaman Fujiwara mengenalnya sebagai Lady Otori. Mereka percaya dia




171
telah menikah secara rahasia di Terayama, di hari Lord Shigeru ziarah ke makam adiknya,
di hari kita bertemu. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di rumah Lord
Fujiwara, aku pun tidak diberitahu tentang pernikahannya. Aku tercengang sewaktu dia
diperkenalkan sebagai Lady Otori kepadaku. Aku mengira kau telah menikah dengannya,
dan kau ada di sana. Aku telah menghancurkan semuanya. Bukan hanya aku membuka
diriku pada kekuatan dan obsesiku padamu, tapi aku juga membongkar kebohongan Kaede
di depan ayahnya."
"Mengapa dia mengaku begitu?"
"Mengapa perempuan mengaku telah menikah padahal dia belum menikah? Dia
hampir mati karena keguguran."
Aku tak bisa berbicara.
Makoto berkata, "Ayahnya bertanya padaku tentang pernikahan itu. Aku tahu
pernikahan itu tidak berlangsung di Terayama. Aku berusaha tidak menjawab secara
langsung tapi dia keburu yakin. Aku tak tahu kejadian berikutnya, tapi otak ayahnya sangat
tidak stabil dan dia sering berbicara tentang bunuh diri. Dia akhirnya membelah perutnya di
depan Lady Shirakawa, dan mungkin rasa kaget yang menyebabkan dia keguguran."
Aku berkata, "Itu anakku. Dia seharusnya menjadi isteriku. Suatu saat nanti."
Pada saat aku mendengar kata-kataku, pengkhianatan diriku pada Kaede justru nampak
semakin besar. Maukah dia memaafkanku?
"Begitulah yang kuduga," kata Makoto. "Tapi kapan? Apa yang kalian pikirkan waktu
itu? Seorang perempuan dari derajat dan keluarga sepertinya?"
"Kami memikirkan kematian. Saat itu adalah malam kematian Shigeru, saat kejatuhan
Inuyama. Kami tak ingin mati...." Aku tidak mampu melanjutkan.
Setelah beberapa saat, Makoto melanjutkan, "Aku tak sanggup hidup lagi. Nafsu telah
menyeretku lebih dalam ke dunia yang penuh penderitaan dan aku tak mungkin lari darinya.
Aku merasa telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan pada makhluk hidup, meskipun
hanya seorang perempuan. Tapi di saat yang bersamaan, rasa cemburuku berharap dia mati
karena aku tahu kau mencintainya dan karena dia pun mencintaimu. Kau mengerti, aku
tidak menyembunyikan apa-apa darimu. Aku telah membeberkan sisi buruk diriku
kepadamu."




172
"Aku adalah orang terakhir yang akan menyalahkanmu. Tindakanku jauh lebih kejam."
"Tapi kau milik dunia ini, Takeo, kau hidup di tengahtengahnya. Aku ingin berbeda.
Setelah kejadian itu, aku kembali ke Terayama dan meminta ijin kepala biara agar diijinkan
mengasingkan diri ke gubug ini. Aku hendak mengembangkan permainan serulingku dan
menghilangkan nafsu dalam diriku untuk melayani Sang Pencerah, meskipun aku tidak
berharap mendapatkan pencerahan dari-Nya karena aku merasa tidak layak
mendapatkannya."
"Kita semua hidup di dunia," ujarku. "Di mana lagi tempat untuk tinggal selain di dunia
ini?" Saat bicara, aku mendengar suara Shigeru: sebagaimana sungai itu selalu berada di luar
pintu rumah, begitu pula dunia ini. Dunia tempat kita tinggal.
Makoto menatapku, wajahnya tiba-tiba terlihat lega, matanya lebih cemerlang. "Itukah
pesan yang harus aku dengar? Itukah alasannya kau dikirim kemari?"
"Aku saja tidak memahami hidupku," jawabku. "Bagaimana aku bisa memahami
hidupmu? Namun hal itulah yang pertama kali aku pelajari dari Shigeru. Begitulah yang
terjadi di dunia ini, dunia tempat kita tinggal."
"Kalau begitu, anggap saja ini perintah darinya," ujar Makoto, dan aku melihat
semangatnya kembali mengalir. Tadi dia seperti hendak menyerahkan diri pada kematian,
tapi kini dia bersemangat lagi. "Kau berniat menjalankan keinginan Lord Shigeru?"
"Ichiro menyuruhku membalas dendam pada kedua paman Shigeru dan mengambil
warisanku, dan aku hendak melaksanakannya. Tapi aku belum tahu caranya. Selain itu, aku
harus menikahi Lady Shirakawa untuk memenuhi keinginan Shigeru."
"Lord Fujiwara hendak menikahinya," kata Makoto dengan hati-hati.
Aku ingin membuang ucapan Makoto. Aku tak percaya Kaede akan menikahi orang
lain. Kata-kata terakhirnya padaku adalah: Aku tak akan pernah mencintai orang lain kecuali
kau. Dan sebelumnya, dia berkata, Aku hanya aman bila bersamamu. Aku tahu reputasinya,
bahwa setiap laki laki yang menyentuhnya akan mati. Aku telah tidur bersamanya dan masih
hidup. Aku telah memberinya seorang anak. Namun aku telah mengabaikannya, dia hampir
mati, dia telah kehilangan anak kami—akankan dia memaafkan aku?
Makoto melanjutkan, "Sebenarnya Lord Fujiwara lebih menyukai laki-laki. Tapi
kelihatannya dia terobsesi pada Lady Shirakawa. Dia menawarkan pernikahan demi memKISAH
KLAN OTORI Created by syauqy_arr@yahoo.co.id



173
beri Lady Shirakawa perlindungan. Tahta Shirakawa tampaknya tidak menjadi perhatian
Lord Fujiwara. Klan Shirakawa akan lenyap dengan cara yang mengenaskan."
Saat aku tidak menanggapi, dia menggerutu, "Bangsawan ini seorang kolektor. Lady
Shirakawa akan menjadi salah satu benda miliknya. Dan koleksi Lord Fujiwara tak akan
melihat sinar matahari. Diperlihatkan hanya pada beberapa teman istimewa saja."
"Itu tak boleh terjadi!"
"Pilihan apalagi yang dia punya? Beruntung dia tidak terhina sama sekali, untuk
bertahan dari kematian laki-laki yang hendak memilikinya saja sudah cukup memalukan.
Akhir-akhir ini ada sesuatu yang tidak wajar pada dirinya. Orang-orang mengatakan dia
menghukum mati dua orang abdi ayahnya ketika mereka menolak mengabdi. Dia membaca
dan menulis seperti laki-laki. Dan tampaknya dia sedang menyusun pasukan bersenjata
untuk mengambil alih Maruyama di musim semi ini."
"Mungkin untuk melindungi diri," kataku.
"Seorang perempuan?" balas Makoto, mencemooh. "Mustahil."
Aku merasa kagum pada Kaede. Aku dan dia akan menjadi sekutu yang kuat! Jika kami
menikah, kami akan menguasai separuh wilayah Seishuu, dan Maruyama akan memberi
semua sumberdaya untuk mengalahkan para pemimpin Otori. Berarti hanya wilayah Tohan,
yang saat ini dikuasai Arai, yang akan menghalangi wilayah kami yang terbentang dari laut
ke laut seperti isi ramalan.
Sekarang ini sudah musim dingin, semua itu harus menunggu hingga musim semi. Aku
merasa letih, meskipun diriku membara karena ketidaksabaran. Aku takut Kaede akan
membuat keputusan yang tidak dapat ditarik lagi sebelum aku bertemu dengannya.
"Kau akan menemaniku ke biara?"
Makoto mengangguk. "Kita akan berangkat setelah terang."
"Kau akan menetap di sini selama musim dingin bila tidak bertemu denganku?"
"Aku tidak tahu," jawabnya. "Aku mungkin akan mati di sini. Mungkin kau yang telah
menyelamatkanku."
Kami berbincang-bincang hingga larut, setidaknya dia yang berbicara, seakan kehadiran
makhluk hidup telah membuka kunci keheningan selama berminggu-minggu. Makoto
menceritakan latar belakangnya; dia lahir dari keluarga ksatria tingkat rendah yang melayani




174
Klan Otori sampai perang Yaegahara. Kekalahan Otori memaksa mereka untuk bersumpah
setia kepada Tohan. Dia anak kelima dari keluarga ksatria yang miskin. Sejak kanak-kanak
dia giat belajar, dan dia juga ketertarikannya pada agama telah dipupuk. Ketika keluarganya
semakin susah, dia dikirim ke Terayama. Saat itu dia berumur sebelas tahun. Kakaknya yang
berusia tiga belas tahun juga diharapkan menjadi biarawan, namun dia lari dan tidak
terdengar lagi kabarnya. Kakak sulung Makoto terbunuh dalam perang Yaegahara, ayah
mereka meninggal tidak lama sesudah itu. Kedua kakak perempuannya menikah dengan
ksatria Tohan, dan telah bertahun-tahun Makoto tidak mendengar kabar dari mereka.
Ibunya masih hidup di pedesaan bersama dua kakak laki-lakinya yang selamat. Mereka tidak
lagi menganggap diri mereka sebagai bagian dari keluarga ksatria. Makoto mengunjungi
ibunya sekali atau dua kali setahun.
Kami berbincang-bincang dengan lancar, dan aku teringat betapa aku merindukan
teman seperti ini saat melakukan perjalanan bersama Akio. Makoto selalu bertindak dengan
penuh pertimbangan, sifat yang berlawanan dengan sifat nekadku. Kelak aku tahu kalau dia
kuat dan berani, masih seorang ksatria, biarawan dan juga pelajar.
Dia juga bercerita tentang ketakutan dan kemarahan penduduk Yamagata dan
Terayama ketika mendengar kematian Shigeru.
"Kami telah dipersenjatai dan disiapkan untuk memherontak. Iida pernah mengancam
hendak menghancurkan biara kami, dia menyadari kalau kami semakin kaya dan kuat. Dia
mengetahui kebencian penduduk pada Tohan dan dia ingin menghentikan pemberontakan
apa pun sejak dini. Kau sudah melihat bagaimana penduduk begitu menghormati Shigeru.
Rasa kehilangan dan juga kesedihan mereka atas kematian Shigeru sangat luar biasa. Belum
pernah aku menyaksikan hal seperti itu. Kekacauan yang selama ini Iida takuti terjadi
sebelum Shigeru mati, dan bahkan lebih dahsyat saat mendengar berita kematiannya.
Pemberontakan itu terjadi tanpa direncanakan. Mantan ksatria Otori, penduduk kota yang
dipersenjatai tombak, bahkan petani dengan clurit dan batu, bergerak menuju kastil. Kami
ikut menyerang waktu mendengar kabar kematian Iida dan kemenangan Arai di Inuyama.
Pasukan Tohan dipaksa mundur, dan kami mulai mengejar mereka sampai ke Kushimoto.
"Kami bertemu denganmu di jalan, kau membawa kepala Iida. Sejak itu orang-orang
mulai bercerita tentang keberanianmu menyelamatkan Lord Shigeru. Dan mereka mulai




175
menduga-duga identitas orang yang mereka sebut Malaikat Yamagata."
Makoto meniup bara terakhir. Lampu sudah lama padam. "Saat kita kembali ke
Terayama, kau tidak mirip seorang pahlawan. Kau begitu kehilangan dan berduka, sama
seperti semua orang yang kutemui. Kau menarik perhatianku sejak pertama kita bertemu,
tapi aku merasa keanehanmu—berbakat tapi lemah; pendengaranmu mirip pendengaran
hewan. Aku kaget sewaktu kau ditawari untuk kembali ke Terayama dan aku bingung oleh
keyakinan Shigeru padamu. Aku sadar kau tidak seperti yang terlihat, aku melihat
keberanian yang kau miliki dan mengamati sekilas kekuatan emosimu. Aku jatuh cinta
padamu. Seperti yang kukatakan, hal ini belum pernah terjadi padaku. Tadi aku aku belum
tahu kenapa aku tertarik padamu, tapi kini aku sudah mengatakannya."
Setelah beberapa saat, dia menambahkan, "Aku tidak akan membicarakannya lagi."
"Tidak ada bahayanya," jawabku. "Justru sebaliknya. Aku perlu teman bicara lebih dari
apa pun di dunia ini."
"Selain tentang pasukan?"
"Hal itu harus menunggu hingga musim semi."
"Akan kulakukan apa pun untuk membantumu."
"Bagaimana dengan panggilan hidupmu, pencarianmu untuk pencerahan?"
"Membantumu merupakan panggilan hidupku," katanya. "Apa lagi yang menyebabkan
Sang Pencerah membawamu ke sini selain untuk mengingatkan bahwa kita hidup di
tengah-tengah dunia ini? Satu ikatan kekuatan besar terjadi di antara kita. Dan kini aku
sadar kalau aku tidak harus melawannya."
Api di tungku hampir padam. Aku tak bisa lagi melihat wajah Makoto. Di balik selimut
tipis, aku menggigil. Aku ingin tahu apakah aku bisa tertidur, apakah aku akan bisa tidur
lagi, apakah aku akan berhenti berusaha mendengarkan napas pembunuh bayaran. Di dunia
yang begini kejam, pengabdian Makoto telah menyentuhku. Aku tak dapat memikirkan
kata-kata yang cocok untuk diucapkan. Aku meraih tangannya, aku menggenggamnya
singkat dengan penuh syukur.
"Maukah kau berjaga jaga saat aku tidur?"
"Tentu saja."
"Nanti bangunkan aku, kita harus bergantian tidur sebelum kita berangkat."




176
Makoto mengangguk. Aku membungkus tubuh dalam selimut kedua dan berbaring.
Sinar redup datang dari perapian. Aku dapat mendengar bisikan bara api yang nyaris padam.
Di luar angin mulai reda. Atap gubuk berderit: beberapa makhluk kecil gemerisik di jerami.
Seekor burung hantu berteriak sedangkan seekor tikus diam tak bergerak. Aku melayang
dalam tidur yang tak lelap, dan bermimpi ada anak-anak yang tenggelam. Aku terjun lagi
dan lagi ke air hitam beku namun tak mampu menyelamatkan mereka.
Hawa dingin membuatku terbangun. Mentari mulai menyinari gubug. Makoto duduk
dalam posisi meditasi. Napasnya begitu lambat sehingga aku hampir tidak mendengarnya,
meskipun aku tahu dia amat waspada. Aku mengawasinya beberapa saat. Ketika dia
membuka mata, aku mengalihkan pandanganku.
"Seharusnya kau bangunkan aku."
"Aku baik-baik saja. Aku tidak butuh tidur lama." Lalu dia bertanya dengan curiga.
"Kenapa kau tidak pernah menatapku?"
"Aku bisa membuatmu tertidur. Itu merupakan salah satu kemampuan Tribe yang
kuwarisi. Seharusnya aku mampu mengendalikannya, namun aku sering membuat orang
tertidur tanpa sengaja. Jadi aku tak ingin menatap langsung mata mereka."
"Maksudmu, keahlianmu bukan hanya pendengaran? Ada yang lainnya?"
"Aku bisa menghilang—cukup lama untuk membuat lawanku kebingungan atau untuk
menyelinap melewati penjaga. Dan aku bisa berada di dua tempat pada waktu yang
bersamaan. Kami menyebutnya penggunaan sosok kedua." Saat mengatakan itu, aku
mengamati Makoto tahu melihat reaksinya.
Dia agak tersentak. "Kedengarannya lebih mirip iblis ketimbang malaikat," dia
berkomat-kamit. "Apakah semua orang Tribe dapat melakukan itu?"
"Masing-masing orang memiliki keahlian yang berbeda. Tampaknya aku mewarisi lebih
banyak dari yang seharusnya."
"Aku tidak tahu apa-apa tentang Tribe, bahkan aku tak tahu kalau mereka ada sampai
kepala biara membicarakan dirimu dan hubunganmu dengan mereka ketika kau datang
bersama Shigeru di musim panas lalu."
"Banyak orang menganggap kemampuan ini adalah sihir," ujarku.
"Benarkah?"




177
"Aku tidak tahu. Semua itu datang dengan sendirinya. Aku tidak mencarinya. Tapi
latihan mampu mempertajam kemampuanku ini."
"Mungkin seperti keahlian lainnya yang dapat diguiiakan untuk kebaikan maupun
kejahatan," dia berkata perlahan.
"Tribe menggunakannya untuk tujuan pribadi," ujarku. "Itulah mengapa mereka tak
ingin membiarkan aku hidup. Jika kau bersamaku, berarti kau juga dalam bahaya. Kau sudah
siap?"
Makoto mengangguk. "Ya, aku siap. Meskipun begitu, apakah ancaman ini tidak
membuatmu gelisah? Sebagian besar orang akan lemah karena rasa takut."
Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Aku sering digambarkan sebagai orang yang
tak kenal takut, tapi sebenarnya itu terlalu berlebihan karena aku memiliki kemampuan yang
tidak dimiliki manusia biasa. Lagi pula ketidaktakutanku itu hanya datang kadang-kadang
dan diperlukan energi untuk dapat mempertahankannya. Aku mengetahui rasa takut sebaik
laki-laki mana pun juga. Hanya saja ku tidak ingin memikirkannya. Aku berdiri dan
mengambil pakaianku yang belum kering benar dan terasa lengket di kulit saat dikenakan.
Aku keluar hendak membuang air kecil. Udara dingin dan lembab, namun salju telah
berhenti dan yang terhampar di tanah hanyalah lelehannya. Tak ada jejak kaki di sekitar
gubug dan kuil kecuali jejak kakiku yang hampir tertutup salju. Lintasan jalan menghilang
ke lembah. Gunung dan hutan hening kecuali bunyi angin. Di kejauhan dapat kudengar
jeritan burung gagak, dan dari jarak lebih dekat, beberapa burung kecil berkicau nan
memilukan. Tak terdengar tanda-tanda keberadaan manusia, tak ada bunyi kapak atau
batang kayu, tak ada bunyi lonceng biara, tidak juga gonggongan anjing. Mata air kuil
mengeluarkan bunyi rendah, bunyi yang dalam. Aku mencuci muka dan tangan di air yang
membeku lalu meminumnya.
Kami tidak sarapan pagi itu. Makoto mengemasi sedikit barang bawaannya,
menyelipkan serulingnya ke ikat pinggangnya, dan mengambil tongkat. Hanya itu
senjatanya. Kuberikan dia pedang pendek yang kuambil dari penyerangku kemarin, dan dia
tempatkan di sisi seruling yang ada di ikat pinggangnya.
Saat kami berangkat, beberapa butiran salju melayang turun dan terus berjatuhan
sepanjang pagi. Meskipun salju yang menutupi jalan tidak terlalu tebal, namun beberapa kali




178
kami tergelincir di atas lapisan es atau terperosok di lubang setinggi lutut. Pakaianku pun
langsung basah lagi seperti semalam. Jalan mulai menyempit; kami berjalan berjejer dengan
langkah sedang; nyaris tanpa bicara. Makoto kelihatannya tak memiliki bahan pembicaraan
lagi, sedangkan aku sibuk memperhatikan suara dan bunyi—untuk mendengarkan napas,
tongkat patah, petikan busur, siulan pisau yang dilempar. Aku seperti hewan liar yang selalu
merasa terancam, selalu merasa diburu.
Cahaya memudar sehingga terlihat berwarna abu-abu mutiara, bertahan seperti itu
cukup lama, lalu mulai menghitam. Butiran salju jatuh lebih deras, mulai beterbangan dan
mengendap. Sekitar sore hari, kami berhenti untuk minum di sungai kecil, tapi tak lama
setelah berhenti, dingin datang menyergap, sehingga kami tidak berlama-lama lagi.
"Inilah sungai utara yang mengalir melewati biara," Makoto menjelaskan. "Bila kita
ikuti jalan ini, tidak lama lagi kita akan sampai."
Tampaknya perjalanan kali ini jauh lebih mudah dibanding saat aku meninggalkan
Hagi. Aku mulai bisa lebih lantai karena Terayama tidak jauh lagi, dan ada teman di
perjalanan. Kami akan mencapai biara, dan aku akan aman di sana selama musim dingin.
Namun ocehan sungai menenggelamkan suara-suara lain sehingga aku tidak menyadari
kehadiran beberapa orang.
Ada dua orang laki-laki menghampiri kami dari arah hutan, seperti serigala. Tapi
mereka hanya mengantisipasi satu orang-aku-dan kehadiran Makoto membuat mereka
kaget. Namun mereka menganggap dia seorang biarawan yang tidak berbahaya, sehingga
mereka mendekatinya terlebih dulu, berharap agar dia lari ketakutan. Makoto menjatuhkan
orang pertama dengan satu pukulan di kepala, pukulan yang pasti telah meretakkan kepala
orang itu. Seorang lagi membawa pedang panjang yang membuat aku kaget karena anggota
Tribe tidak biasa membawa pedang. Aku menghilang saat dia mengayunkan pedang ke
arahku, lalu aku muncul dari bawah jangkauannya dan menebas tangannya yang memegang
pedang, mencoba melumpuhkannya. Belatiku menggores sarung tangannya; kutusuk lagi
dan kubiarkan bayanganku muncul di kakinya. Tusukan kedua tepat mengenai sasaran dan
darah mulai menetes dari pergelangan tangan kirinya saat dia mengayunkan pedang. Sosok
keduaku lenyap dan aku, masih keadaan menghilang, melompat menimpanya, mencoba
untuk mengiris lehernya, sambil berharap ada Jato sehingga dapat melawannya dengan




179
sepatutnya. Dia tidak bisa melihatku, tapi dia menarik lenganku dan berteriak ketakutan.
Aleu merasakan diriku mulai terlihat dan dia pun langsung menyadarinya. Dia menatap
wajahku seakail melihat hantu, matanya melebar ketakutan dan gemetar. Di saat yang sama,
Makoto memukulnya dengan tongkat dari belakang. Orang itu jatuh seperti kerbau,
membawaku jatuh bersamanya.
Aku berjuang keluar dari bawah tubuhnya, lalu menarik Makoto bersembunyi di batu
karang, waspada seandainya ada penyerang lain di balik bukit. Apa yang paling kutakutkan
adalah pemanah. Tapi hutan terlalu lebat untuk dapat memanah dari jauh. Tak ada tandatanda
keberadaan orang lain.
Makoto bernapas kencang, matanya bersinar. "Kini aku sadari kemampuanku!"
"Kau juga cukup mahir! Terima Kasih."
"Siapa mereka?"
Aku dekati kedua mayat itu. Orang yang pertama adalah Kikuta—dapat kukenali dari
tangannya—sedangkan orang yang kedua memakai simbol Otori di balik baju bajanya.
"Dia seorang ksatria," kataku, sambil menatap simbol burung bangau. "Itu menjelaskan
pedangnya. Orang yang satunya lagi berasal dari Tribe-Kikuta."
Aku tidak mengenal orang Tribe itu, tapi sudah pasti kami bersaudara, terikat oleh garis
telapak tangan kami.
Ksatria Otori itu membuatku gelisah. Apakah dia berasal dari Hagi? Apa yang dia
lakukan bersama pembunuh dari Tribe ini? Tampaknya kabar kepergianku ke Terayama
telah menyebar. Aku memikirkan Ichiro. Aku berdoa agar dia tidak disiksa untuk mengorek
keterangan. Apakah Jo-An atau salah seorang gelandangan yang mengkhianatiku? Mungkin
kedua orang ini sudah ke biara lebih dulu dan akan ada lebih banyak lagi yang menantiku di
sana.
"Kau benar-benar menghilang tadi," kata Makoto. "Aku hanya dapat melihat jejak
kakimu di salju. Luar biasa." Ketika menyeringai, wajahnya berubah. Sulit dipercaya bila dia
adalah orang yang sama dengan si pemain seruling yang putus asa di malam sebelumnya.
"Sudah lama aku tidak bertarung. Alangkah menakjubkan. Bertaruh dengan maut justru
membuat hidupku jadi begitu indah."
Salju tampak lebih putih, dan hawa dingin semakin menusuk. Aku kelaparan,




180
merindukan kenyamanan mandi air panas, makanan, dan sake.
Kami melanjutkan perjalanan dengan semangat baru. Kami memang membutuhkannya;
sekarang ini angin lebih kencang dan salju turun lebih deras. Aku mensyukuri kehadiran
Makoto karena di saat-saat akhir, di saat jalan semakin kabur, dia sangat mengenal jalannya
dan tidak pernah berhenti. Kini biara telah dibangun dinding kayu yang mengelilingi
bangunan utama dan penjaga menghadang kami. Makoto menyahuti dan mereka
menyambut kedatangannya dengan gembira. Mereka nampak lega karena Makoto telah
memutuskan untuk kembali.
Setelah mereka menutup gerbang dan kami telah berada di pos jaga, mereka menatapku
penuh selidik, tak yakin apakah mereka mengenaliku atau tidak. Makoto berkata, "Lord
Otori Takeo mencari perlindungan di sini selama musim dingin. Maukah kalian
memberitahukan kepala biara kalau dia ada di sini?" '
Salah seorang berlari menyeberangi halaman. Karena berlari melawan arah angin,
sehingga badannya menjadi putih oleh salju sebelum sampai di beranda. Atap besar di aula
utama telah diselimuti salju, cabang pohon cherry dan plum yang tak berdaun sarat dengan
bunga salju.
Beberapa penjaga mengisyaratkan kami untuk duduk di dekat perapian. Seperti juga
Makoto, mereka adalah biarawan muda, bersenjatakan panah, tombak dan tongkat panjang.
Teh dan pakaian kami beruap, menciptakan kehangatan yang nyaman. Aku mencoba
melawannya; aku belum ingin bersantai.
"Ada yang kemari mencariku?"
"Beberapa orang asing terlihat di gunung ini tadi pagi. Mereka menyusuri biara lalu
masuk ke hutan. Kami tidak tahu kalau mereka sedang mencarimu. Kami justru mencemaskan
Makoto—kami mengira mereka itu banditnamun cuaca terlalu buruk untuk
menyuruh orang keluar untuk mengejar mereka. Lord Otori datang di waktu yang tepat.
Jalan yang kalian turuni tadi tidak mungkin lagi dilewati. Biara kini tertutup hingga musim
semi."
"Suatu kehormatan bagi kami atas kedatanganmu," seorang biarawan berkata malumalu,
dan mereka saling bercerita singkat kalau mereka mendapat petunjuk yang jelas
tentang kedatanganku.




181
Setelah beberapa waktu berlalu, seorang biarawan datang dengan tergesa-gesa. "Kepala
biara senang atas kedatangan Lord Otori," ujarnya, "dan memintamu mandi dan makan
dulu. Beliau akan menemuimu setelah doa malam."
Makoto menghabiskan tehnya, membungkuk resmi padaku dan berkata bahwa dia
harus bersiap-siap untuk doa malam, seakan dia telah seharian di biara bersama biarawan
lainnya, dan bukannya berjuang menembus badai salju dan membunuh dua orang. Sikapnya
tenang resmi. Aku tahu di balik sikapnya ada hati teman sejati namun di tempat ini, dia
adalah biarawan, sementara aku harus belajar untuk menjadi pemimpin. Angin berdesir
mengelilingi atap biara, salju melayang turun tanpa belas kasih. Aku berhasil tiba dengan
selamat di Terayama. Musim dingin ini merupakan kesempatan untuk membentuk ulang
hidupku.
Aku diantar ke salah satu kamar tamu oleh pemuda yang membawa pesan pada kepala
biara. Di musim semi dan musim panas, kamar-kamar ini akan dipenuhi pengunjung dan
peziarah, namun kini sepi. Meskipun jendela ditutup untuk menghindari angin, namun
dinginnya kamar masih terasa menggigit. Angin saat merintih menembus celah dinding,
dan salju melayang melalui celah dinding yang lebih besar. Biarawan yang sama
menunjukkan jalan ke rumah mandi kecil yang dibangun di atas mata air panas. Aku
melepaskan pakaianku yang basah dan kotor, rnenggosok sekujur tubuhku lalu aku
berendam di air panas. Rasanya bahkan lebih menyenangkan dari yang kubayangkan. Aku
memikirkan orang yang mencoba untuk membunuhku dalam dua hari terakhir ini dan
senang karena aku masih tetap hidup. Air beruap dan berbuih di sekelilingku. Aku
bersyukur atas air yang mengalir dari gunung, membasahi tubuhku yang sakit, dan
mencairkail tungkai kaki dan lenganku yang beku. Aku memikirkan pegunungan yang
sering memuntahkan abu dan api ataLi melontarkan batu sehingga bangunan pun menjadi
seperti ranting, dan orang-orang pun merasa tidak berdaya bagaikan serangga yang
merangkak dari kayu yang terbakar.
Gunung ini bisa saja mencengkram dan membekukan diriku hingga mati, tapi
sebaliknya, gunung justru memberiku air yang menghangatkan.
Kedua lenganku memar akibat perkelahian tadi dan menimbulkan goresan luka panjang
dan dalam di leherku. Aku pasti terkena pedangnya. Pergelangan tangan kananku yang




182
terkadang terasa mengganggu sejak dipelintir Akio di Inuyama, kini terasa kuat. Badanku
lebih kurus, namun bentuknya menjadi bagus setelah melakukan perjalanan jauh. Dan kini
aku pun bersih.
Aku mendengar langkah kaki di ruangan luar dan seorang biarawan berteriak bahwa dia
membawa pakaian kering dan sedikit makanan. Aku bangkit dari bak air, kulitku bersinar
kemerahan karena air panas, lalu aku mengelap tubuhku hingga kering kemudian aku berlari
kembali sepanjang jalanan papan, sambil melewati salju, menuju kamar.
Kamarku kosong; pakaianku tergeletak di lantai: cawat bersih, pakaian dalam berlapis
kapas, pakaian luar yang terbuat dari sutra yang dilapisi kapas dan juga sabuk. Pakaianku
berwarna plum gelap dengan pola ungu lebih gelap, simbol Otori keperakan ada di bagian
punggung. Kuletakkan pakaian itu dengan perlahan, seraya menikmati sentuhan sutra.
Sudah lama aku tidak memakai busana bermutu sebaik ini. Aku ingin tahu mengapa berida
ini ada di biara dan siapa yang meninggalkannya di sins. Apakah Shigeru? Aku merasakan
kehadirannya menyelimutiku. Hal pertama yang akan kulakukan pagi nanti adalah berziarah
ke makamnya. Dia akan memberitahukan cara untuk balas dendam.
Aroma makanan membuatku sadar betapa laparnya aku. Hanya dalam sekejap
kuhabiskan semua makanan. Setelah makan, aku lalu berlatih dan kuakhiri dengan meditasi
agar kehangatan setelah mandi air panas tidak cepat hilang.
Selain angin dan salju, aku mendengar lantunan doa dari aula utama biara. Malam
bersalju, kamar sepi dengan kenangan dan hantunya, kata-kata sutra yang jernih, semuanya
menyatu dan menghasilkan sensasi manis—pedih nan indah. Andaikan aku dapat
mengekspresikan sensasi itu, andaikan aku lebih menaruh perhatian ketika Ichiro
mengajariku puisi. Aku tidak sabar ingin memegang kuas: Jika aku tidak bisa menunjukkan
perasaanku dalam katakata, setidaknya aku bisa mengatakannya melalui gambar.
Datanglah kemari, begitulah yang diucapkan rahib tua, bila semuanya telah selesai....
Sebagian diriku berharap dapat menghabiskan sisa hidupku di tempat yang tenang ini. Tapi
bahkan di tempat ini pun aku mendengar rencana perang; para biarawan dipersenjatai dan
biara dibentengi. Keadaan jauh dari selesai justru baru saja dimulai.
Lantunan doa berakhir dan aku mendengar langkah kaki lembut saat biarawan berbaris
keluar untuk makan, lalu mereka akan tidur hingga lonceng tengah malam membangunkan




183
mereka. Ada langkah kaki mendekati kamarku dari arah serambi dan biarawan yang sama
menggeser pintu terbuka. Dia membungkuk dan berkata,
"Lord Otori, kepala biara ingin bertemu denganmu sekarang."
Aku berdiri dan mengikutinya menyusuri beranda. "Siapa namamu?"
"Norio, tuan," jawabnya dan berbisik menambahkan, "Aku lahir di Hagi."
Dia tidak berkata apa-apa lagi, biara melarang orang berbicara yang tidak penting.
Kami berjalan mengitari taman yang telah dipenuhi salju, melewati aula makan di mana
biarawan berbaris rapih dalam keadaan berlutut dengan hening, masing-masing ada
semangkuk makanan di depannya. Kami lalu melewati aula utama yang tercium aroma dupa
dan lilin, di tempat inilah sosok patung emas duduk bercahaya dalam keremangan, menuju
persimpangan ketiga. Di sini terdapat serentetan ruangan kecil yang digunakan sebagai
tempat kerja atau belajar. Dari jauh dapat kudengar bunyi klik tasbih, bisikan kata-kata
sutra. Kami berhenti di luar ruangan pertama, dan Norio memanggil ke dalam dengan nada
rendah, "Lord Abbot, tamu Anda sudah di sini."
Aku merasa malu saat melihatnya, karena dialah si rahib tua itu yang dulu pernah
mengundangku saat aku datang bersama Shigeru, dalam balutan pakaian yang sama seperti
ketika aku datang dulu. Aku mengira dia sesepuh di biara ini, bukan kepala biara. Aku
begitu terbungkus oleh urusanku sendiri waktu itu sehingga aku tidak menyadari siapa dia
sebenarnya. Aku berlutut hingga dahiku menyentuh lantai. Sesantai seperti dulu, dia menghampiriku,
memintaku duduk tegak dan memelukku. Kemudian dia duduk dan
mengamatiku, wajahnya yang bersinar menyungging senyuman. Aku membalas senyumnya,
merasakan kegembiraannya yang tulus.
"Lord Otori," ucapnya. "Aku senang kau kembali pada kami dengan selamat. Aku selalu
memikirkanmu selama ini. Kau telah melalui masa-masa kelam."
"Semua itu belum berakhir, dan aku hendak meminta perlindunganmu selama musim
dingin ini. Tampaknya semua orang mengejarku sehingga aku memerlukan tempat yang
aman sambil menyiapkan diri."
"Makoto telah menceritakan sedikit tentang posisimu. Kau selalu disambut di sini."
"Aku harus mengatakan tujuanku. Aku bermaksud mengambil warisanku dari Otori
dan menghukum orangorang yang bertanggungjawab atas kematian Lord Shigeru. Hal ini




184
mungkin dapat membahayakan biara."
"Kami sudah siap," dia menjawab dengan tenang.
"Kau memperlakukan aku sangat baik, meskipun aku tidak layak menerimanya."
"Kupikir kau tahu bahwa kami memiliki ikatan dengan Otori, dan kami berhutang budi
padamu. Dan juga karena kami yakin pada masa depanmu."
Lebih dari yang aku yakini, pikirku tanpa mengeluarkan kata-kata tersebut. Aku merasa
wajahku merona. Sulit dipercaya, seorang kepala biara masih memuji-mujiku, setelah semua
kesalahan yang kuperbuat. Aku merasa seperti penipu yang memakai jubah Otori, dengan
rambut pendek, tanpa uang, harta, anak buah, maupun pedang.
"Semua upaya diawali dengan satu tindakan," dia berkata, seolah-seolah dapat membaca
pikiranku. "Dan tindakan pertamamu sudah benar, yaitu datang kemari."
"Guruku, Ichiro, yang mengirimku. Dia akan kemari pada musim semi nanti. Dia
menasihatiku agar mencari perlindungan Lord Arai. Aku harus memulai dari awal."
Di sekitar mata Kepala Biara agak berkerut saat tersenyum. "Tidak, Tribe tak akan
membiarkanmu hidup. Kau kini jauh lebih rentan. Kau tidak tahu siapa musuhmu. Tapi,
kau mengetahui kekuatan mereka."
"Seberapa jauh kau tahu tentang mereka?"
"Shigeru pernah mengatakannya dan sering meminta nasihatku. Pada kunjungannya
yang terakhir, kami bicara banyak tentangmu."
"Aku tidak mendengarnya."
"Dia mengatakan semua itu di dekat air terjun agar kau tidak bisa mendengarnya.
Setelah itu kami pindah ke ruangan ini."
"Tempat kalian membahas perang."
"Dia ingin memastikan kalau biara dan kota ini akan bangkit bila lida mati.
Keinginannya untuk membunuh lida pun masih bercabang, dia takut kau akan tertangkap.
Seperti yang diketahui, ternyata kematian Shigeru yang memicu pemberontakan yang tidak
mampu kami cegah, meskipun kami ingin melakukannya. Selain itu, Arai bersekutu dengan
Shigeru, bukan dengan Otori. Jika dia mampu mengambil alih wilayah ini, maka dia akan
melakukannya. Perang akan terjadi di musim panas ini."
Setelah diam sejenak, dia melanjutkan, "Otori hendak mengambil tanah Shigeru dan




185
mengumumkan bahwa pengangkatanmu sebagai Otori tidak sah. Belum puas dengan
merencanakan kematian Shigeru, mereka juga ingin menjelek-jelekkan citranya. Itulah
alasannya aku senang kau hendalc menuntut hakmu."
"Apakah Klan Otori akan menerimaku?" aku mengulurkan tangan, telapak tanganku
terlentang. "Aku tertanda sebagai Kikuta."
"Kita akan bicarakan itu nanti. Kau akan kaget betapa banyak orang yang menanti
kepulanganmu. Kau akan melihatnya musim semi nanti. Orang-orang akan datang
mencarimu."
"Ada seorang ksatria Otori mencoba membunuhku," kataku, tak yakin.
"Makoto sudah ceritakan. Saat ini Klan Otori memang terpecah-belah. Shigeru tahu itu
dan dia menerimanya. Keretakan itu bukan akibat perbuatan Shigeru—benih-benih
perpecahan mulai muncul ketika dia menuntut kekuasaan setelah kematian ayahnya."
"Kurasa kedua paman Shigeru yang bertanggung jawab atas kematiannya," ujarku,
"Namun semakin aku belajar, semakin aku kaget karena mereka membiarkannya tetap hidup
dalam waktu lama."
"Takdir yang menentukan panjang-pendeknya hidup kita," jawabnya. "Pemimpin Otori
takut pada penduduk mereka sendiri. Para petani mereka tidak mudah berubah oleh sifat
dan tradisi. Mereka tak pernah benar-benar menurut, seperti halnya petani di bawah
kekuasaan Tohan. Shigeru mengenal dan menghormati para petani itu, dan hasilnya, dia
mendapatkan rasa hormat dan cinta mereka. Itulah yang melindunginya. Kini kesetiaan
mereka dialihkan kepadamu."
"Mungkin saja," kataku, "tapi ada masalah yang lebih serius: aku kini di vonis mati oleh
Tribe."
Raut muka Kepala Biara tetap tenang, wajahnya terlihat berwarna gading di bawah
cahaya lampu. "Sudah kuduga kalau itulah alasan lain kau kemari."
Aku menduga dia akan melanjutkan ucapannya tapi ternyata dia diam. Dia menatapku
dengan pandangan yang penuh harapan.
"Lord Shigeru menyimpan beberapa catatan," kataku, sambil berbicara hati-hati di
ruangan kedap suara ini. "Catatan mengenai Tribe dan kegiatan mereka. Kuharap kau bisa
memberikannya kepadaku."




186
"Semua itu disimpan di sini untukmu," dia menjawab. "Akan kusuruh orang
mengambilnya. Dan ada satu lagi yang kusimpan untukmu."
"Jato," ujarku.
Dia mengangguk. "Kau akan memerlukannya kelak."
Dia memanggil Norio dan menyuruhnya ke ruangan penyimpanan dan mengambil
sebuah peti dan pedang.
"Shigeru tidak ingin mempengaruhi keputusan apa pun yang kau ambil," dia berkata,
sementara aku mendengar langkah kaki Norio mengitari beranda biara. "Dia menyadari
kalau dua sisi sifatmu akan menyebabkan terbelahnya kesetiaanmu. Dia cukup siap jika kau
memilih sisi Kikuta. Bila demikian, tak seorang pun akan mendapatkan catatannya kecuali
aku. Tapi karena kau memilih sisi Otori, maka catatan itu menjadi milikmu."
"Aku telah menjual beberapa bulan dalam hidupku kepada Tribe," kataku, dengan sisasisa
rasa jijik pada diriku sendiri. "Tak ada kemuliaan dalam pilihanku ini kecuali setelah aku
melakukan apa yang menjadi keinginan Lord Shigeru. Bahkan sebenarnya ini bukan pilihan
karena hidupku bersama Tribe telah berakhir. Mengenai sisi Otori, aku ini hanyalah anak
angkat dan kelak akan dipertanyakan oleh semua orang."
Sekali lagi, senyum menyinari wajahnya, matanya bercahaya oleh kearifan. "Keinginan
Shigeru juga merupakan alasan yang baik."
Aku merasa dia tahu sesuatu yang akan dibagi padaku kelak, tapi seiring pikiran yang
terlintas itu, aku mendengar langkah kaki mendekat. Aku tak bisa menahan rasa tegang
karena itu adalah langkah Norio, agak berat kali ini—dia membawa peti dan pedang. Dia
menggeser pintu agar terbuka lalu melangkah masuk sambil berlutut. Dia meletakkan peti
dan pedang itu di lantai. Aku tidak memalingkan kepala tapi aku mendengar bunyi lembut
dari dua benda itu. Denyut jantungku kian cepat, senang bercampur takut, karena aku akan
menggenggam Jato lagi.
Norio menutup pintu di belakangnya, dan sambil berlutut lagi dia meletakkan bendabenda
berharga ini di depan Kepala Biara. Kedua benda ini dibungkus kain tua sehingga
kekuatan isinya tersamarkan. Kepala Biara lalii mengeluarkan Jato dari kain pembungkusnya
kemudian dia sodorkan kepadaku dengan dua tangan. Kuambil dengan cara yang sama,
mengangkatnya ke atas kepala, dan membungkuk pada Kepala Biara, merasakan dinginnya




187
sarung pedang yang sudah akrab di hatiku. Tak sabar aku menarik Jato dari sarungnya dan
membangunkan suara bajanya, namun aku tak akan melakukan itu di hadapan Kepala Biara.
Aku letakkan Jaw dengan hormat di sampingku sementara Kepala Biara membuka peti.
Aroma pahit keluar dari peti itu. Aku langsung mengenalinya. Sesungguhnya peti itu
yang kubawa dalam pengawasan Kenji saat berjalan ke biara, yang semula kupikir hadiah
untuk kepala biara. Tidak tahukah Kenji apa isi peti ini?
Kepala Biara membuka penutupnya—tidak terkunci dan aroma pahit semakin kuat. Dia
mengambil salah satu gulungan kertas dan menyerahkannya padaku.
"Kau harus baca ini lebih dulu. Begitulah amanat Shigeru." Saat aku mengambilnya, dia
berkata dengan penuh perasaan, "Tidak kusangka saat ini akan tiba juga."
Kutatap matanya. Kedua cekungan di wajah tuanya tampak secemerlang dan sehidup
mata anak remaja. Dia membalas tatapanku dan aku tahu dia tidak akan kalah oleh daya
kantuk Kikuta. Di kejauhan terdengar lonceng kecil berdentang tiga kali. Di benakku, aku
seperti dapat melihat para biarawan berdoa dalam meditasi. Aku merasakan kekuatan
spiritual dari tempat suci ini, kekuatan yang terpusat dan tercermin dalam pesona rahib tua
di depanku ini. Sekali lagi aku merasakan gelombang rasa syukur, padanya, pada
keyakinannya, pada Surga dan berbagai tuhan berbeda yang, meskipun bukan kepercayaanku,
tapi tampaknya telah mengambil hidupku menjadi canggung jawab dan asuhan
mereka.
"Bacalah," dia mendesak. "Sisanya bisa kau pelajari nanti, tapi baca ini sekarang."
Aku membuka gulungan kertas, mengerutkan dahi ke naskah ini. Aku mengenali
tulisan Shigeru, aku mengenal nama-nama dalam tulisannya. Namaku ada di dalamnya, tapi
sepertinya tidak masuk akal. Mataku naik turun membaca barisan kalimat; aku membuka
gulungan sedikit lagi dan menemulcan namaku di antara lautan nama. Naskah ini adalah
daftar silsilah seperti yang pernah Gosaburo ajarkan padaku di Matsue. Setelah menangkap
maksudnya, aku pelajari lagi lebih dalam. Aku kembali ke tulisan pendahuluan dan
membacanya sekali lagi dengan hati-hati. Kemudian aku membacanya untuk yang ketiga
kalinya. Aku menatap Kepala Biara.
"Benar ini?"
Dia tertawa lembut. "Sepertinya benar. Kau tidak melihat wajahmu sendiri sehingga




188
kau tidak melihat bukti di sana. Tanganmu memang Kikuta, tapi wajahmu Otori. Ibu dari
ayahmu bekerja sebagai mata-mata Tribe. Tohan mempekerjakannya dan mengirimnya ke
Hagi saat ayah Shigeru, Shigemori, beranjak dewasa. Kemudian terjalinlah hubungan yang
tidak disetujui Tribe. Ayahmulah hasilnya. Nenekmu pastilah sangat cerdik: dia tak memberitahu
siapa pun; dia lalu menikahi sepupunya dan anak itu dibesarkan sebagai Kikuta.
"Shigeru dan ayahku kakak-beradik? Shigeru adalah pamanku?"
"Sulit bagi orang lain untuk menyangkalnya, terutama melihat wajahmu. Waktu
Shigeru pertama kali melihatmu, ia terkesima oleh kemiripanmu dengan adiknya, Takeshi.
Tentu saja, dua orang kakak beradik akan sangat mirip. Sekarang, bila rambutmu dibiarkan
lebih panjang, kau akan menjadi tiruan Shigeru saat dia muda."
"Bagaimana dia menemukan ini semua?"
"Beberapa keterangan dia peroleh dari dokumen keluarga. Ayahnya menduga kalau
perempuan itu sedang hamil, dan sebelum meninggal dia menceritakan rahasia ini pada
Shigeru. Sisanya, Shigeru yang mencari sendiri. Dia menelusuri jejak ayahmu sampai ke
desa Mino dan mengetahui kalau saudaranya mempunyai seorang anak. Ayahmu pasti juga
menderita konflik batin yang sama sepertimu. Meskipun dibesarkan sebagai Kikuta dan
memiliki berbagai keahlian, bahkan berada di tingkat tertinggi golongan Tribe, dia masih
berusaha lari dari mereka. Ini artinya ayahmu berdarah campuran dan dia tidak memiliki
fanatisme Tribe sejati. Shigeru telah mengumpulkan berbagai catatan tentang Tribe sejak
dia berteman dengan Muto Kenji. Mereka bertemu di Yaegahara; Kenji terjebak dalam
pertempuran itu dan menyaksikan kematian Shigemori." Kepala Biara menatap Jato sekilas.
"Dialah yang memperoleh kembali Jato dan memberikan pada Shigeru. Mereka mungkin
telah menceritakan hal ini padamu."
"Kenji pernah menyinggung hal itu," kataku.
"Kenji menolong Shigeru meloloskan diri dari pasukan Iida. Waktu itu mereka masih
muda; mereka pun akhirnya bersahabat. Selain bersahabat, boleh dibilang mereka bertukar
informasi tentang banyak hal tanpa disengaja. Aku tidak yakin kalau Kenji mengetahui
betapa misterius dan lihainya Shigeru itu."
Aku terdiam. Pengungkapan ini membuatku heran, meskipun masuk akal. Darah Otori
dalam diriku yang memiliki keinginan kuat untuk membalas dendam sewaktu keluargaku




189
dibantai di Mino, darah ini pula yang telah membentuk ikatanku dengan Shigeru. Sekali
lagi aku berduka pada Shigeru, berharap aku tahu hal ini lebih awal, tapi aku pun gembira
karena dia dan aku berbagi keturunan yang sama, karena aku bagian dari Otori.
"Berita ini memastikan kalau aku telah mengambil keputusan yang tepat," kataku
akhirnya, dalam suara tercekat oleh emosi. "Tapi jika aku bangsawan Otori, seorang ksatria,
maka aku harus belajar lebih banyak lagi." Aku menunjuk ke gulungan kertas di dalam peti.
"Bahkan kemampuan membacaku pun masih buruk!"
"Kau bisa belajar selama musim dingin ini," jawab Kepala Biara. "Makoto akan
membantumu menulis dan membaca. Di musim panas kau akan pergi ke Arai untuk
berlatih perang. Sementara ini, kau harus mempelajari teorinya, dan terus berlatih pedang."
Dia berhenti sesaat dan tersenyum lagi. Kurasa ada kejutan lain yang dia simpan
untukku.
"Aku yang akan mengajarimu," ujarnya. "Sebelum melayani Sang Pencerah, aku
dianggap ahli dalam masalah ini. Nama duniaku adalah Matsuda Shingen."
Aku pernah mendengar nama itu. Matsuda adalah salah seorang ksatria paling
termahsyur pada generasi sebelumnya, seorang pahlawan bagi pemuda Hagi. Kepala Biara
tertawa ringan saat melihat rasa takjub di wajahku.
"Kurasa kita akan menikmati musim dingin ini. Banyaknya latihan akan membuat kita
tetap hangat. Ambil barang-barang ini, Lord Otori. Kita akan mulai latihan besok pagi. Bila
kau tidak sedang belajar, kau akan bergabung dengan para biarawan untuk meditasi. Makoto
akan membangunkanmu pada saat Waktu Macan*."
Aku membungkuk dengan penuh rasa syukur. Dia melambaikan tangan menyuruhku
pergi.
"Kami hanya membayar hutang budi padamu."
"Tidak," kataku. "Aku yang berhutang budi padamu. Akan kulakukan apa pun yang kau
minta. Aku adalah pelayanmu."
Aku berada di pintu ketika dia memanggil, "Mungkin memang ada satu hal lagi."
Sambil berbalik, aku berlutut. "Apa saja!"
"Panjangkan rambutmu!" dia berkata sambil tertawa.
Masih kudengar tawanya saat aku mengikuti Norio kembali ke kamar. Norio




190
membawakan peti, sedangkan aku memegang Jato. Angin agak berkurang, salju mulai lebih
cair dan deras. Salju pun terdengar halus, menyelimuti gunung, mengucilkan biara dari
dunia.
Di dalam kamar, kasur tidur telah dibentangkan. Aku berterima kasih kepada Norio
dan mengucapkan selamat malam. Dua lampu menerangi kamarku. Aku tarik Jato dari
sarungnya dan memandangi mata pisaunya yang tajam, seraya memikirkan api yang telah
menempanya hingga menjadi gabungan ketajaman yang lembut, kuat dan mematikan.
Lipatan-lipatan di bajanya menunjukkan pola mirip-ombak yang indah. Benda ini adalah
hadiah Shigeru, seperti juga nama dan hidupku. Kugenggam pedang ini dengan dua tangan
dan melakukan gerakan yang Shigeru ajarkan padaku di Hagi.
Jato pun bernyanyi tentang darah dan perang.*




191
KAEDE telah pulang dari tempat nun jauh, lepas dari pemandangan serba merah yang
dikelilingi api dan darah. Dia telah menyaksikan bayang-bayang menakutkan selama
demam; kini, ia membuka mata dalam keremangan rumah orangtuanya yang terasa akrab.
Seringkali, ketika menjadi tawanan di kastil Noguchi, ia bermimpi sedang berada di
rumahnya sendiri, namun tak lama kemudian ia radar kalau dia masuh di kastil. Saat ini ia
masih terbaring, matanya tertutup, namun ia merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk di
bagian bawah perutnya, dan berpikir mengapa dia bermimpi mencium aroma daun moxa.
"Dia sudah siuman!" Suara laki-laki, suara orang asing, mengagetkannya. Kaede merasa
ada sentuhan di keningnya dan ia tahu itu adalah tangan Shizuka, tangan yang dingin dan
kokoh itulah yang terlintas di benaknya selain rasa takut. Tampaknya hanya itu yang bisa ia
ingat. Sesuatu telah terjadi pada dirinya, namun ia mengelak untuk memikirkannya. Ia
teringat saat ia jatuh. Ia pasti terjatuh dari Raku, kuda abu-abu pemberian Takeo. Ya, ia
pasti telah terjatuh dan kehilangan anaknya.
Mata Kaede bersimbah air mata. Ia sadar sedang tidak berpikir jernih, tapi ia juga tahu
anaknya telah tiada. Ia merasakan tangan Shizuka tidak di keningnya lagi, tapi kemudian
pelayannya itu kembali dan menempelkan kain hangat untuk mengelap wajah Kaede.
"Lady!" ujar Shizuka, "Lady Kaede."
Kaede mencoba menggerakkan tangan, tapi tangannya tidak bisa digerakkan. Di
tangannya terasa ada sesuatu yang ditusuk-tusuk.
"Jangan bergerak dulu," kata Shizuka. "Tabib dari Lord Fujiwara, Ishida, sedang
merawatmu. Kau akan sembuh. Jangan menangis, Lady."
"Kondisi ini normal," Kaede mendengar tabib itu berkata. "Mereka yang nyaris




192
mendekati kematian selalu menangis ketika pulih, entah karena bahagia atau sedih. Aku tak
pernah tahu."
Kaede pun tak tahu. Ketika berhenti menitikkan air mata, ia pun tertidur.
Selama beberapa hari ia tidur, bangun, makan sedikit, dan tidur lagi. Lalu tidurnya
berkurang, namun ia tetap berbaring dengan mata tertutup sambil mendengarkan berbagai
kegiatan di rumah. Ia mendengar suara Hana yang telah mendapatkan kembali kepercayaan
diri, suara lembut milik Ai, nyanyian dan omelan Shizuka pada Hana yang terus mengikuti
sambil berusaha menyenangkan. Inilah kediaman para perempuan-tanpa laki-laki-perem
puan yang menyadari bahwa mereka di ambang jurang kehancuran namun masih mampu
bertahan. Musim gugur lambat-laun berubah menjadi musim dingin.
Satu-satunya laki-laki di rumah ini adalah si tabib yang menempati paviliun tamu dan
setiap hari datang melihat kondisi Kaede. Laki-laki itu bertubuh kecil dan cekatan, dengan
jari yang panjang dan suara pelan. Kaede mulai mempercayainya, merasa kalau tabib itu
tidak menghakiminya. Tabib itu tidak menilai baik atau buruk tentang dirinya,
sesungguhnya dia memang tidak memikirkan halhal seperti itu. Tabib itu hanya
menginginkan kesembuhan dirinya.
Ichida menggunakan teknik-teknik yang dia pelajari dari tanah daratan, dengan
menggunakan jarum perak dan emas, serta salep daun mugwort yang dioleskan di kulit, dan
teh rebus dari kulit pohon willow. Dia adalah orang pertama dari tanah daratan yang pernah
Kaede temui. Terkadang Kaede berbaring dan mendengar dia sedang bercerita pada Hana
tentang hewan yang pernah dia lihat, paus raksasa di laut, dan beruang serta harimau di
darat.
Ketika Kaede mampu bangun dan berjalan keluar, Ishida menyarankan agar dilakukan
upacara bagi anak yang telah meninggal. Kaede pun dibawa ke biara dengan tandu, dan ia
berlutut di depan kuil untuk menyembah Jizo, dewa penjaga bayi air yang mati sebelum
dilahirkan. Ia berduka atas hidup anaknya yang begitu singkat.
Aku tidak akan melupakanmu, Kaede berjanji dalam hati, dan berdoa akan melewati
cara yang lebih aman lain kali. Ia merasakan arwah anaknya aman sampai ia bisa
melanjutkan hidup ini. Kaede pun melakukan doa yang sama bagi anak Shigeru, menyadari
bahwa dialah satu-satunya orang selain Shizuka yang mengetahui masa singkat keberadaan




193
anak itu. Air mata Kaede berlinang lagi, tapi ketika kembali ke rumah, ia merasakan beban
yang berat sudah terangkat.
"Kau harus melanjutkan hidupmu," kata tabib Ishida. "Kau masih muda, kelak kau akan
menikah dan punya anak lagi."
"Aku ditakdirkan untuk tidak menikah," jawab Kaede.
Ishida tersenyum, menganggap Kaede sedang bergurau. Tentu saja, pikir Kaede,
ucapannya hanya gurauan. Perempuan yang berada di posisinya, di klasnya selalu menikah,
atau dinikahkan dengan siapa pun yang dianggap dapat menjadi sekutu yang
menguntungkan. Tapi pernikahan seperti itu direncanakan oleh orangtua atau pemimpin
klan atau penguasa lain, dan dirinya tanpa disangka-angka terbebas dari mereka semua.
Ayahnya telah tiada. Klan Seishuu, klan yang membawahi keluarga Maruyama dan
Shirakawa, terlalu sibuk mengurus kericuhan yang terjadi setelah jatuhnya Tohan serta
kemunculan Arai yang tak diduga. Siapa yang akan memberitahukan apa yang harus ia
lakukan? Apakah Arai? Haruskah ia bersekutu dan mengakui Arai sebagai atasannya? Lalu
apa untung-ruginya?
"Kau tampak sangat serius," kata tabib itu. "Boleh aku tahu apa yang menyita
pikiranmu. Kau seharusnya rileks."
"Aku harus memutuskan apa yang akan kulakukan," ujar Kaede.
"Sebaiknya kau jangan melakukan apa pun hingga kau lebih kuat. Musim dingin sudah
dekat. Kau harus beristirahat, makan yang cukup, dan berhati-hati agar tidak kedinginan."
Aku harus mengkonsolidasi wilayahku, menghubungi Sugita Hiroki di Maruyama dan
menyatakan maksudku untuk mengambil tahta warisanku, dan mencari uang dan makanan
bagi anak buahku, pikir Kaede, namun ia tidak mengatakannya pada Ishida.
Ketika Kaede semakin kuat, ia mulai memperbaiki rumah sebelum salju tiba. Semuanya
dibersihkan, alas lantai baru dihamparkan, jendela diperbaiki, genteng dan sirap diganti.
Taman dirawat kembali. Ia hanya memiliki sedikit uang untuk membayar semua itu, tapi ia
mendapatkan orang yang mau bekerja dengan janji pembayaran di musim semi, dan setiap
harinya ia belajar lebih banyak tentang bagaimana satu tatapan atau nada bicara bisa
membuatnya meraih pengabdian mereka.
Kaede masuk ke ruangan ayahnya untuk memanfaatkan buku-buku yang ada dengan




194
bebas. Ia membaca dan melatih setiap waktu, sampai Shizuka, yang cemas akan
kesehatannya, membawa Hana untuk datang mengganggu. Kemudian Kaede pun bermain
dengan adiknya, mengajarinya membaca dan menulis. Di bawah asuhan Shizuka yang tegas,
keliaran Hana mulai berkurang. Dia pun haus belajar seperti halnya Kaede.
"Kita harusnya terlahir sebagai laki-laki," Kaede menghela napas panjang.
"Sehingga ayah bangga," ujar Hana. Lidahnya ditekan di gigi atas saat dia berkosentrasi
pada huruf-huruf.
Kaede tidak menjawab. Ia tak pernah membicarakan ayahnya dan berusaha talc
memikirkan itu. Kaede bahkan tidak bisa lagi membedakan secara jelas antara apa yang
sebenarnya terjadi saat ayahnya mati dan bayangan akibat demam dalam sakitnya. Ia tidak
bertanya pada Shizuka maupun Kondo, ia takut pada jawabannya. Ia hendak ke biara,
melakukan upacara berduka, dan memesan nisan batu yang bagus untuk makam ayahnya,
namun ia masih takut pada hantu ayahnya yang melayang-layang dalam demamnya.
Meskipun berpegang pada pikiran, Aku tidak melakukan sesuatu kesalahan, Kaede tidak
dapat mengingat ayahnya tanpa denyutan rasa malu yang ditutupinya dengan marah.
Ayahku lebih membantuku saat dia mati daripada hidup, Kaede memutuskan, dan
biarlah orang tahu kalau ia sedang berusaha memulihkan nama Shirakawa atas permintaan
ayahnya. Ketika Shoji datang setelah masa berduka dan mulai memeriksa dokumen serta
catatan keuangan, Kaede merasa ada ketidaksenangan dalam sikap Shoji. Kondisi keuangan
yang parah dimanfaatkan Kaede untuk marah-marah agar laki-laki itu takut. Sulit dipercaya
semua urusan dibiarkan rusak begitu parah. Tampaknya mustahil untuk menjamin
kecukupan makanan bagi adik, pelayanan serta pengawal, apalagi untuk orang lain. Itulah
kekhawatiran utama Kaede.
Bersama Kondo, Kaede memeriksa baju besi dan persenjataan, dan memberi instruksi
untuk perbaikan yang diperlukan atau pemesanan barang pengganti. Ia mulai mengandalkan
pengalaman dan penilaian Kondo. Laki-laki itu mengusulkan agar ia menentukan ulang
batas wilayah untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan juga untuk meningkatkan
kemampuan bertarung pengawal. Kaede menyetujuinya, instingnya memberi tahu kalau ia
harus menjaga agar anak buahnya tetap bekerja dan bersemangat. Untuk pertama kalinya ia
bersyukur atas tahun-tahunnya di kastil Noguchi, karena ia menyadari betapa banyak yang




195
dipelajarinya tentang para pengawal dan persenjataan. Sejak itu, Kondo sering kali berkuda
keluar ditemani lima atau enam orang, sekaligus memanfaatkan perjalanan mereka untuk
membawa pulang informasi.
Kaede menyuruh Kondo dan Shizuka membiarkan beberapa informasi terdengar di
antara para laki-laki: seperti persekutuan dengan Arai, rencana untuk mengambil alih
Maruyama di musim semi mendatang, serta kemungkinan adanya perbaikan dan
kesejahteraan.
Kaede belum bertemu Lord Fujiwara sejak ia sembuh, meskipun orang itu
mengiriminya hadiah burung puyuh, buah persimmon yang dikeringkan, sake, dan pakaian
berlapis kapas yang hangat. Ishida telah kembali ke rumah bangsawan itu dan Kaede yakin
tabib itu akan memberitahukan kesehatan dirinya yang membaik karena tabib itu pasti tidalc
berani menyimpan rahasia dari sang bangsawan. Kacde tidak mau menemui Fujiwara. Ia
merasa malu karena telah menipu orang itu, tapi ia lega karena tak harus bertatap muka lagi
dengannya. Minat Fujiwara membuat ia takut dan jijik, seperti ketidaksukaannya pada kulit
putih dan mata elang laki-laki itu.
"Dia itu sekutu yang berguna," kata Shizuka. Mereka sedang di taman, mengawasi
digantinya lentera batu yang rusak. Kala itu, hari dingin namun cerah.
Kaede sedang mengamati sepasang burung ibis di sawah. Bulu musim dingin mereka
yang berwarna merah muda kontras menyinari bumi putih.
"Selama ini dia memang baik padaku," ujar Kaede. "Aku berhutang nyawa padanya,
melalui tabib Ishida. Tapi bukan masalah bagiku bila tidak lagi melihatnya."
Burung ibis saling mengejar melalui kubangan yang ada di sudut sawah, paruh berlekuk
mereka mengadukaduk air lumpur.
"Lagipula," Kaede menambahkan, "Aku telah cacat di matanya. Dia pasti membenciku
kini."
Shizuka tak memberitahukan tentang keinginan bangsawan itu untuk menikahi Kaede.
"Kau harus segera memutuskan," kata Shizuka pelan. "Bila tidak, kita akan kelaparan
sebelum musim semi."
"Aku enggan mendekati siapa pun," ujar Kaede. "Aku tak boleh terlihat seperti
pengemis, putus asa dan miskin. Aku harus ke Arai pada akhirnya, namun kurasa itu bisa




196
menunggu hingga musim dingin berakhir."
"Aku yakin burung mulai bersiap-siap sebelum musim dingin," kata Shizuka. "Arai
akan mengutus orang kemari, kuharap."
"Dan bagaimana denganmu, Shizuka?" kata Kaede. Pilar sudah tepat di posisinya dan
lentera baru sudah pada tempatnya. Malam ini ia akan menyalakannya sehingga taman akan
terlihat cantik di bawah langit yang cerah. "Apa yang akan kau lakukan? Kurasa kau tak
akan bersamaku selamanya, kan? Kau pasti punya urusan lain. Bagaimana dengan anakanakmu?
Kau pasti merindukan mereka. Dan bagaimana tanggung jawabmu pada Tribe?"
"Tak ada yang lebih penting saat ini selain menjaga kepentinganmu," balas Shizuka.
"Apakah mereka akan ambil anakku seperti mereka mengambil Takeo?" tanya Kaede,
lalu segera menambahkan, "Oh, jangan di jawab, tak ada gunanya sekarang." Ia merasa air
matanya mengancam hendak menetes dan ia pun menekan bibirnya keras-keras. la terdiam
sejenak, "Kurasa kau tetap mengirim kabar tentang tindakan dan keputusanku juga, kan?"
"Aku sering mengirim pesan pada pamanku. Misalnya, waktu kau sakit parah. Dan aku
akan mengabari bila ada perkembangan baru, apa pun itu: semisal kau memutuskan untuk
menikah lagi, hal-hal semacam itu."
"Aku tak akan lakukan hal itu." Seiring cahaya sore mulai pupus, bulu merah jambu
burung ibis bersinar lebih terang. Sore itu sangat syahdu. Kini para pekerja telah selesai,
taman tampak lebih tenang. Dalam keheningan, Kaede mendengar lagi janji dewi putih.
Bersabarlah.
Aku tak akan menikah kecuali dengan Takeo, Kaede bersumpah lagi. Aku akan
bersabar.
Hari itu adalah hari terakhir matahari bersinar. Cuaca beranjak lembab dan dingin.
Beberapa hari kemudian Kondo kembali dari tugas kelilingnya di tengah-tengah badai
hujan. Seraya bergegas turun, dia memanggil para perempuan penghuni rumah. "Ada
beberapa orang asing di jalan, anak buah Lord Arai, jumlahnya lima atau enam orang,
berkuda."
Kaede menyuruhnya mengumpulkan sebanyak mungkin laki-laki, untuk memberi kesan
bahwa ia mempunyai banyak pengikut.
"Katakan pada pelayan untuk menyiapkan makanan," perintah Kaede pada Shizuka.




197
"Usahakan agar semua yang kita miliki terlihat mewah. Kita harus terlihat makmur. Bantu
aku mengganti pakaian, dan panggil adik-adikku. Setelah itu kau harus bersembunyi."
Kaede lalu mengenakan kimono pemberian Fujiwara yang paling mewah sambil
mengingat seperti yang sering ia lakukan, hari ketika ia menjanjikan kimono ini akan
diberikan pada Hana.
Dia akan mendapatkan kimono ini bila sudah pas di badannya, pikirnya, dan aku
bersumpah bahwa aku ada di sana untuk melihat dia memakai kimono ini.
Hana dan Ai masuk ke kamar, Hana berceloteh kegirangan, dan melompat-lompat agar
tetap hangat. Ayame mengikuti dengan membawa tungku. Kaede terperanjat ketika melihat
penuhnya arang di tungku itu: mereka pasti akan lebih kedinginan ketika anak buah Arai
pergi.
"Siapa yang datang?" tanya Ai gugup. Sejak kematian ayah mereka dan sakitnya Kaede,
dia menjadi lebih rapuh seakan pukulan beruntun itu membuat dia lemah.
"Anak buah Arai. Kita harus memberi kesan bagus. Itulah kenapa aku meminjam
pakaian Hana dulu."
"Jangan dikotori, kak," Hana berkata, sambil menjerit saat Ayame menyisir rambutnya.
Biasanya ia memakai kimono itu dengan mengikatnya ke belakang. Bila tidak diikat akan
lebih panjang dari ukuran tubuh Hana.
"Apa yang mereka inginkan?" Ai nampak pucat.
"Kuharap mereka akan mengatakannya pada kita," jawab Kaede.
"Apakah aku juga harus ikut menyambut mereka?" Ai menawar.
"Ya, pakailah kimono pemberian Lord Fujiwara yang lain dan bantulah Hana
berpakaian. Kita semua harus ada di sini ketika mereka tiba."
"Mengapa?" Hana berkata.
Kaede tidalc menjawab. Ia pun tidak tahu alasannya. Ia tiba-tiba mendapat bayangan
mereka bertiga di rumah sunyi ini, tiga anak perempuan Lord Shirakawa, terpencil, cantik,
berbahaya... itulah yang harus mereka tampilkan di hadapan para ksatria utusan Arai.
"Sang Pengampun, Sang Pengasih, bantulah aku," Kaede berdoa pada Dewi Putih, saat
Shizuka mengikatkan tali pinggang dan merapikan rambutnya.
Kaede lalu mendengar derap kuda di sisi luar gerbang, juga mendengar Kondo berteriak




198
selamat datang. Suaranya mantap mencerminkan nada sopan dan percaya diri, dan Kaede
bersyukur atas kemahiran bersandiwara Tribe dan berharap dirinya dapat berperan sama
baiknya.
"Ayame, tunjukkan paviliun kita kepada para tamu," perintah Kaede. "Sajikan mereka
teh dan makanan. Sajikan teh terbaik dan perangkat minum yang paling bagus. Bila mereka
selesai makan, mintalah pemimpin mereka datang menemuiku. Hana, bila kau sudah siap,
datang dan duduklah di sebelahku."
Shizuka membantu Ai memakai kimono, dan dengan cepat menyisiri rambutnya. "Aku
akan bersembunyi di tempat aku bisa mendengarkan," bisiknya.
"Tutuplah jendela sebelum pergi," ujar Kaede. "Kita akan memasuki matahari terakhir."
Karena hujan telah reda dan matahari menyorotkan sinar keperakan tak menentu ke taman
dan ke dalam ruangan.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Hana, sambil berlutut di samping Kaede.
"Ketika tamu masuk, kita harus membungkuk bersamaan. Dan tampillah secantik
mungkin dan duduk tanpa bergerak saat aku bicara."
"Itu saja?" Hana kecewa.
"Amati mereka; pelajari mereka tanpa menunjukkannya dengan jelas. Kau dapat
menceritakan padaku apa yang kau pelajari tentang mereka setelah itu. Kau juga, Ai. Kalian
tidak boleh bereaksi apa pun—kalian harus diam seperti patung."
Ai datang dan berlutut di sisi lain Kaede. Dia gemetar namun tetap mampu
menenangkan diri.
Sinar mentari mengalir ke dalam ruangan, melatari butiran debu yang menari dan
menyinari ketiga gadis. Gemuruh air terjun di taman yang baru dijernihkan kian keras
akibat hujan. Terlihat sebuah bayangan menyala biru saat burung kingfisher menyelam dari
batu karang.
Dari ruang tamu terdengar suara-suara bergumam. Kaede merasa dapat mencium aroma
mereka yang tak biasa. Ini membuatnya tegang. Ia meluruskan punggung, pikirannya
berubah beku. la harus menghadapi kekuatan mereka dengan kekuatannya sendiri.
Ia mendengar Ayame mengatakan bahwa Lady Shirakawa akan menerima mereka
sekarang. Tak lama kemudian, pemimpin mereka dan salah satu pendampingnya mendekati




199
rumah utama kemudian melangkah ke beranda. Ayame berlutut di tepi beranda dan si
pendamping turut berlutut di luar. Waktu laki-laki lainnya melintasi pintu, Kaede
membiarkan orang itu melihat mereka bertiga, dan kemudian membungkuk hingga dahinya
menyentuh lantai. Hana dan Ai juga melakukannya tepat di saat bersamaan.
Ketiga gadis itu duduk tegak bersamaan.
Ksatria itu duduk dan memperkenalkan diri, "Saya Akita Tsutomu dari Inuyama. Saya
utusan Lord Arai."
Kaede membungkuk dan tetap seperti itu, kemudian berkata, "Selamat datang Lord
Akita. Aku menghargai kedatanganmu yang telah menempuh perjalanan sulit, dan juga
pada Lord Arai karena telah mengutusmu. Aku tidak sabar untuk mengetahui apa yang
dapat kulayani beliau."
Kaede lalu menambahkan, "Silakan duduk tegak."
Akita mengangkat kepala, sementara Kaede menatap lurus ke arahnya. Ia tahu
perempuan harus menjaga mata mereka tetap menunduk di depan laki-laki, namun ia tidak
merasa dirinya seorang perempuan. Ia bertanya-tanya di dalam hati apakah ia akan menjadi
perempuan kembali. Ia menyadari kalau Hana dan Ai juga menatap dengan cara yang sama,
sorot misterius, sulit terbaca.
Akita Tsutomu sudah separuh baya, rambutnya masih hitam namun mulai menipis.
Hidungnya kecil, agak bengkok, seperti paruh burung sehingga membuat wajahnya terlihat
serakah, namun diimbangi oleh bibir agak tebal yang menarik. Noda-noda memenuhi
pakaian orang itu yang terbuat dari bahan berkualitas bagus. Tangannya persegi, jarinya
pendek, dengan ibu jari yang renggang, kuat. Kaede menduga dia pastilah orang yang
realistis, sekaligus perencana yang licik. Tak ada yang bisa dipercaya pada orang ini.
"Lord Arai menanyakan kesehatan lady," dia berkata, seraya menatap mereka semua,
lalu kembali menatap Kaede. "Menurut kabar, lady kurang sehat."
"Aku sudah pulih," Kaede menjawab. "Sampaikan rasa terima kasihku pada Lord Arai
atas perhatiannya."
Laki-laki itu agak mengangkat kepala. Dia nampak gelisah, seolah-olah dia lebih suka
berada di rumah yang di kelilingi laki-laki ketimbang perempuan, tidak terlalu yakin
bagaimana cara bicara. Kaede ingin tahu berapa banyak yang orang itu dengar tentang




200
keadaannya, apakah orang itu tahu penyebab penyakitnya.
"Kami turut berduka mendengar kematian Lord Shirakawa," dia melanjutkan. "Lord
Arai mencemaskan kurangnya perlindungan bagi Anda dan ingin menjelaskan bahwa beliau
ingin bersekutu dengan Anda."
Hana dan Ai saling bertukar pandang, lalu memulai lagi tatapan tanpa suara mereka.
Tampaknya ini membuat Akita lebih gelisah. Orang itu membasahi kerongkongannya.
"Itulah alasannya Lord Arai ingin mengundang Anda beserta adik-adik Anda ke Inuyama
untuk membahas persekutuan dan masa depan lady."
Tak mungkin, pikir Kaede, kemudian berkata sambil tersenyum samar. "Tak ada yang
memberiku kesenangan terbesar seperti ini. Namun kondisiku belum cukup kuat untuk
melakukan perjalanan jauh dan, karena kami masih berkabung, tidak pantas rasanya kami
bepergian. Saat ini adalah akhir tahun. Kami akan berkunjung ke Inuyama di musim semi.
Sampaikan pada Lord Arai bahwa aku ingin persekutuan ini tidak retak. Aku
berterimakasih atas perlindungan beliau. Aku akan tetap mengabarkan setiap keputusanku."
Sekali lagi tatapan antara Hana dan Ai menyala menembus ruangan ibarat kilat.
Sungguh mencengangkan, pikir Kaede dan tiba-tiba saja ia ingin tertawa.
Akita berkata, "Saya harus memaksa Lady Shirakawa ikut bersama saya."
"Tak mungkin," jawab Kaede, membalas tatapan laki-laki itu dan menambahkan, "Kau
tidak berhak memaksa aku melakukan apa pun."
Kemarahan Kaede mengejutkan laki-laki itu. Rona merah menyebar di lehernya dan
merambat naik ke tulang pipinya.
Hana dan Ai mencondongkan badan ke depan, dan tatapan mereka semakin kuat.
Matahari bergerak ke balik awan, menggelapkan ruangan, dan kemudian terjadi hujan
mendadak. Rangkaian lonceng angin bambu mendendangkan nada hampa.
Akita berkata, "Maaf. Tentu saja Anda harus melakukan apa yang terbaik bagi Anda."
"Aku akan ke Inuyama di musim semi ini," Kaede mengulangi. "Sampaikan itu pada
Lord Arai. Kau boleh menginap malam ini, tapi kau harus pergi esok pagi agar tiba di
Inuyama sebelum musim dingin."
"Lady Shirakawa." Akita Tsutomu membungkuk. Saat dia mundur dengan berlutut,
Kaede bertanya, "Siapa saja yang mendampingmu?" Kaede berkata kasar, membiarkan




201
ketidaksabarannya terdengar dalam suaranya, instingnya mengatakan bahwa ia telah
menguasai orang itu. Sesuatu mengenai tempat ini, adik-adiknya, dan sikapnya sendiri telah
membuat orang itu gentar. Kaede seakan mencium ketakutan orang itu.
"Keponakan saya Sonoda Mitsuru, dan tiga orang pengawal."
"Tinggalkan keponakan Anda di sini. Dia bisa membantu tugasku selama musim dingin
dan mendampingi kami ke Inuyama. Dialah yang akan menjadi jaminan atas kejujuranmu."
Laki-laki itu menunduk, terperanjat karena permintaan itu, tapi, pikir Kaede, laki-laki
mana pun di posisinya akan menuntut hal yang sama. Bila pemuda itu ada di sini, pamannya
kemungkinan kecil akan menipu atau sebaliknya, memfitnahnya di depan Arai.
"Kepercayaan di antara kita adalah simbol rasa percaya pada Lord Arai," kata Kaede,
suaranya lebih tidak sabar saat melihat orang itu ragu-ragu.
"Saya tidak melihat alasan mengapa keponakanku tidak boleh tinggal di sini," Akita
menyerah.
Aku punya tawanan, pikir Kaede, dan merasa takjub atas sensasi kekuatan yang ia
peroleh.
Kaede membungkuk, Hana dan Ai menirunya, sedangkan laki-laki itu diam tak berdaya
di hadapan mereka. Hujan masih turun ketika Akita pergi, namun matahari berjuang untuk
menampakkan diri, mengubah tetesan air yang melekat di dahan yang tak berdaun dan
dedaunan di akhir musim gugur menjadi serpihan warna pelangi.
Sebelum memasuki kamar tamu, Akita berbalik untuk melihat mereka kembali. Ketiga
orang gadis itu duduk tak bergerak hingga Akita hilang dari pandangan. Matahari pun
menghilang dan hujan menetes.
Ayame berdiri dari tempat dia duduk di kegelapan dan menutup jendela. Kaede
memeluk Hana.
"Apakah aku melakukannya dengan baik?" Hana bertanya dengan tatapan penuh
perasaan.
"Sungguh cerdas, nyaris seperti sihir. Tapi pandangan apa di antara kalian tadi?"
"Kami seharusnya tidak melakukan itu," kata Ai, malu. "Sungguh kekanak-kanakan.
Kami biasa melakukannya saat Ibu atau Ayame sedang mengajari kami. Hana yang
memulainya. Kami tidak pernah melakukan itu di depan ayah. Sedangkan melakukan




202
tindakan ini di depan seorang ksatria besar...."
"Itulah yang terjadi," Hana berkata, tertawa. "Dia tidak menyukainya, kan? Kedua
matanya bergerak-gerak panik dan dia mulai gelisah."
"Dia hampir sejajar dengan bangsawan besar," Kaede berkata. "Arai pasti telah
mengutus orang yang berasal dari kelas yang lebih tinggi."
"Jadi kau akan memenuhi permintaannya? Apakah kita akan ikut dengannya ke
Inuyama?"
"Meskipun Arai yang datang, aku tidak akan melakukan itu," balas Kaede. "Aku akan
selalu membuat dia menungguku."
"Mau tahu apa lagi yang kuperhatikan?" tanya Hana. "Katakan."
"Lord Akita takut padamu, kak."
"Matamu sungguh tajam," kata Kaede sambil tertawa.
"Aku tidak mau pergi," Ai berkata. "Aku tidak akan meninggalkan rumahku ini."
Kaede menatap adiknya dengan iba. "Kelak kau akan menikah. Kau harus pergi ke
Inuyama tahun depan dan tinggal di sana selama beberapa waktu."
"Apakah aku juga akan menikah?" tanya Hana.
"Mungkin saja," jawab Kaede. "Banyak orang yang ingin menikahimu."
Demi kepentingan persekutuan denganku, pikir Kaede sedih karena ia harus
memanfaatkan adiknya seperti itu. "Aku mau pergi asalkan Shizuka ikut bersama kita,"
Hana mengumumkan.
Kaede tersenyum dan memeluknya lagi. Tak ada guna mengatakan pada Hana kalau
Shizuka tak aman pergi ke Inuyama selama Arai di sana. "Pergi dan minta Shizuka kemari.
Ayame, sebaiknya kau lihat makanan apa yang dapat disajikan pada tamu malam ini."
"Aku lega kau menyuruh mereka pergi besok," ujar Ayame. "Kita tak bisa memberi
makan mereka lebih lama lagi. Mereka terbiasa makan enak." Perempuan itu menggelenggelengkan
kepala. "Walau harus kukatakan, Lady Kaede, ayahmu pasti tak menyetujui
tindakanmu ini."
"Kau tidak perlu mengatakannya," Kaede langsung menjawab. "Dan jika kau ingin tetap
di rumah ini, jangan pernah mengatakan itu lagi."
Ayame tersentak mendengarnya. "Lady Shirakawa," dia berkata lemah, lalu mundur




203
sambil berlutut.
Shizuka datang membawa lampu karena hari hampir gelap. Kaede menyuruh adikadiknya
pergi mengganti pakaian.
"Seberapa banyak yang kau dengar?" tanya Kaede ketika kedua adiknya telah pergi.
"Cukup banyak, dan Kondo memberitahukan apa yang Lord Akita katakan setelah
kembali ke paviliun. Dia pikir ada kekuatan supernatural di rumah ini. Kau membuatnya
gentar. Dia mengibaratkan kau dengan laba-laba musim gugur, keemasan dan mematikan,
yang merajut jaring kecantikan untuk memikat laki-laki."
"Cukup puitis," Kaede menanggapi.
"Ya, Kondo juga beranggapan begitu!"
Kaede bisa membayangkan sinar sinis di mata Kondo. Kelak, janjinya pada diri sendiri,
Kondo tidak akan menatap dengan sinis. Kondo akan menganggap dirinya secara serius.
Mereka semua akan begitu, semua laki-laki yang merasa sangat kuat.
"Dan tawananku, Sonoda Mitsuru, apakah dia juga takut?"
"Tawananmu!" Shizuka tertawa. "Betapa beraninya kau mengusulkan itu?"
"Apakah aku salah?"
"Tidak, justru sebaliknya, itu membuat mereka percaya kalau kau jauh lebih kuat dari
yang mereka duga. Anak muda itu agak cemas ditinggal di sini. Di mana kau akan
menaruhnya?"
"Shoji dapat membawa pemuda itu ke rumahnya. Aku tidak mau dia di sini." Kaede
berhenti, lalu melanjutkan dengan sisa-sisa nada pedih, "Dia akan mendapat perlakuan yang
lebih baik ketimbang aku dulu. Tapi bagaimana denganmu? Dia tak akan
membahayakanmu, kan?"
"Arai pasti tahu aku masih bersamamu," kata Shizuka. "Aku tidak melihat bahaya dari
pemuda ini. Pamannya, Lord Akita, pasti akan berhati-hati agar tidak membuatmu kesal.
Kekuatanmu yang melindungiku—melindungi kita semua. Arai mungkin berharap kau
sedang bingung dan putus asa mencari pertolongannya. Tapi dia akan mendengar cerita
yang jauh berbeda. Sudah aku katakan, burung-burung akan berkumpul."
"Jadi, siapa lagi yang akan datang?"
"Aku yakin ada yang datang dari Maruyama sebelum awal musim dingin, sebagai




204
jawaban atas pesan Kondo."
Kaede pun berharap seperti itu, pikirannya sering kembali ke pertemuan terakhirnya
dengan Lady Maruyama, dan janji yang ia buat. Ayahnya pernah mengatakan kalau ia harus
berjuang untuk mendapatkan tahta warisan itu, namun ia tidak tahu siapa musuhnya atau
bagaimana cara berperang. Siapa yang akan mengajarinya melakukan itu; siapa yang akan
menjadi pemimpin perang atas namanya?
Kaede mengucapkan salam perpisahan pada Akita dan anak buahnya keesokan harinya,
merasa bersyukur karena masa inap yang singkat. Kaede kemudian memanggil Shoji
menitipkan keponakan Akita padanya. Kaede menyadari pengaruhnya pada pemuda itu—
dia tak bisa melepaskan tatapannya dan juga gemetar di depan Kaede—tapi pemuda itu
tidak membuatnya tertarik sama sekali, selain sebagai tawanannya.
"Buatlah pemuda itu sibuk," Kaede memerintahkan Shoji. "Perlakukan dia dengan baik
dan penuh hormat, tapi jangan biarkan dia tahu banyak tentang urusan kita."
Beberapa minggu kemudian muncul serombongan orang di depan gerbang. Kabar
tentang Kaede yang sedang mencari prajurit telah disebar. Mereka datang sendiri, berdua
dan bertiga, tapi tidak dalam kelompok besar. Mereka ini adalah orang yang pemimpinnya
mati atau dicabut kekuasaannya, menjadi sisa-sisa pasukan yang tersebar. Kaede dan Kondo
yang memutuskan apakah akan menerima atau tidak—ia tak ingin mendapatkan bandit atau
orang bodoh—tapi, banyak di antara mereka yang tidak ditolak karena sebagian besar adalah
para petarung yang berpengalaman dan akan menjadi kekuatan inti pasukannya bila musim
semi tiba. Meskipun begitu, Kaede cemas tak mampu memberi makan dan
mempertahankan mereka semua selama musim dingin yang panjang.
Beberapa hari kemudian, sebelum titik balik matahari, Kondo datang membawa kabar
yang sedang Kaede nanti-nantikan.
"Lord Sugita dari Maruyama datang bersama beberapa orang anak buahnya."
Kaede menyambut mereka dengan gembira. Mereka sangat menghormati Lady
Maruyama dan terbiasa melihat perempuan sebagai pemimpin. Kaede memperlihatkan rasa
senang saat bertemu Sugita, mengenang saat perjalanan ke Tsuwano. Orang ini dulu
meninggalkan rombongan Kaede dan Lady Maruyama untuk kembali ke Maruyama guna
meyakinkan wilayahnya tidak diserang dan tidak direbut selama kepergian sang Lady.




205
Dengan diliputi rasa sedih akan kematian pemimpinnya, Sugita memohon agar amanat
Lady Maruyama dapat dipenuhi. Sebagai orang yang sangat realistis, dia juga membawa
beras dan beberapa persediaan lain.
"Aku tak mau menambah bebanmu," dia mengatakan pada Kaede.
"Itu bukanlah beban berat sehingga kami tak bisa memberi makan teman lama," Kaede
berbohong.
"Hampir semua orang kesulitan di musim salju ini," balas Sugita muram. "Badai,
kematian Iida, kampanye Arai—panen yang gagal."
Kaede mengundang Sugita makan bersama, kegiatan yang tidak pernah dilakukannya
dengan siapa pun karena ia menyerahkan urusan itu pada Shoji dan Kondo. Mereka
berbincang-bincang singkat tentang kejadian di Inuyama, lalu membahas tentang
kepemimpinan Maruyama. Dia memperlakukan Kaede dengan hormat, dengan keakraban
penuh kasih sayang seolah-olah dia adalah paman atau sepupu. Kaede merasa nyaman
bersamanya: Orang ini tidak terancam oleh keberadaan dirinya. Bahkan sebaliknya, dia
menanggapi Kaede dengan serius.
Setelah selesai makan dan hidangan telah dibereskan, Sugita berkata, "Tuanku ingin
kau yang memimpin Maruyama. Aku gembira mendapat pesan bahwa kau hendak
menerima warisanmu. Aku kemari untuk memberitahukan kalau aku akan membantumu:
kami semua akan membantumu. Kita seharusnya mulai merencanakan sebelum musim
panas."
"Begitulah niatku, dan aku memerlukan semua bantuan yang bisa kudapat," balas
Kaede. "Aku belum tahu bagaimana mengaturnya. Apakah aku langsung mengambil alih
tanah Maruyama? Milik siapakah wilayah itu kini?"
"Milikmu," katanya. "Kaulah pewarisnya dan itu pula yang menjadi harapan kami.
Namun beberapa orang akan mengklaimnya: pesaing utamamu adalah saudara tiri Lady
Maruyama yang menikahi sepupu Lord Iida. Arai tak mampu melengserkannya dan dia pun
memiliki pasukan besar—gabungan antara pasukan Tohan yang kabur dari kastil Noguchi
ketika mengalami kejatuhan, dan para pembelot Seishuu yang tidak melihat alasan mengapa
mereka harus mematuhi Arai. Mereka semua menghabiskan musim dingin di barat jauh,
tapi mereka akan bergerak ke Maruyama musim semi ini. Bila tidak bertindak cepat dan




206
berani, wilayah Maruyama akan direbut dan dihancurkan."
"Aku telah berjanji pada Lady Naomi untuk mencegah hal itu terjadi," kata Kaede,
"Tapi waktu itu aku tak tahu apa yang kujanjikan dan bagaimana mewujudkannya."
"Banyak orang yang bersedia membantumu," kata Sugita, seraya mencondongkan badan
ke depan dan berbisik. "Aku diutus oleh tetua untuk meminta agar kau datang, dan segera.
Maruyama makmur selama dipimpin Lady Naomi; kami semua mendapatkan cukup
makanan dan bahkan orang paling miskin pun bisa memberi makan anaknya. Kami
mengadakan hubungan dagang dengan tanah daratan, membuka tambang perak dan
tembaga, dan mendirikan banyak industri kecil. Persekutuan antara Lord Arai, Lord Otori
Shigeru dan Maruyama pasti akan memperluas kemakmuran di seluruh wilayah Tengah.
Kami ingin menyelamatkan persekutuan ini sejauh yang kami mampu."
"Aku berencana mengunjungi Lord Arai musim semi ini," ujar Kaede. "Untuk
meresmikan persekutuan kami."
"Kalau begitu, salah satu tugasmu yaitu membujuknya untuk mengakui hakmu atas
Maruyama. Hanya Arai yang cukup kuat untuk memaksa saudara tiri Lady Naomi dan
suaminya agar mundur tanpa berperang. Dan jika terjadi perang, hanya pasukan Arai yang
cukup besar untuk mengalahkan mereka. Kau harus bergerak cepat; segera setelah jalan
kembali dibuka, kau harus ke Inuyama, lalu datanglah ke kami dengan dukungan Arai."
Dia menatap Kaede, kemudian tersenyum samar dan berkata, "Maaf, aku tidak
bermaksud memerintah. Tapi, kuharap kau mempertimbangkan saranku."
"Aku terima saranmu," kata Kaede. "Itu sudah aku pikirkan, dan dengan dukunganmu,
aku semakin berani melakukannya."
Mereka lalu membicarakan berapa banyak pengawal yang dapat dikumpulkan dan
Sugita juga bersumpah tidak akan menyerahkan Maruyama pada siapa pun kecuali dirinya.
Sugita memberitahukan bahwa dia akan pulang esok karena ingin tiba di Maruyama
sebelum tahun baru. Kemudian dia berkata santai, "Sungguh disayangkan Otori Takeo
sudah mati. Andai kau menikahinya, nama dan hubungannya dengan Otori akan
membuatmu lebih kuat."
Jantung Kaede seakan berhenti berdetak, jatuh dari dada ke perut. "Aku tidak
mendengar kabar tentang kematiannya," kata Kaede, berusaha menjaga suaranya agar tetap




207
tenang.
"Kabar itu sedang dibicarakan orang-orang. Aku tidak mengetahui rinciannya. Kurasa
itulah alasan paling jelas untuk menjelaskan menghilangnya dia. Mungkin saja berita itu
hanya rumor."
"Mungkin," kata Kaede. Kemudian ia berpikir, mungkin dia sudah mati di tanah lapang
atau di gunung dan aku tak akan pernah tahu kuburannya. "Aku lelah, Lord Sugita.
Maafkan aku."
"Lady Shirakawa." Dia membungkuk lalu berdiri. "Kita akan tetap berhubungan selama
cuaca mengijinkan. Aku menantimu di Maruyama pada musim panas; kekuatan klan akan
mendukung klaimmu. Jika ada yang berubah, aku akan mengabari bagaimanapun caranya."
Kaede pun menjanjikan hal serupa, ia tidak sabar menanti kepergian Sugita. Setelah
yakin Sugita sudah di paviliun tamu, Kaede memanggil Shizuka yang sedang berjalan
mondar-mandir. Kaede langsung mencengkram bahu Shizuka dengan dua tangan.
"Kau sembunyikan sesuatu dariku?"
"Lady?" Shizuka menatap dengan kaget. "Apa maksud lady? Ada apa?"
"Sugita memberitahukan bahwa Takeo sudah mati."
"Itu hanya rumor."
"Tapi kau tahu?"
"Ya. Tapi aku tidak percaya. Jika dia mati, kita pasti diberitahu. Kau begitu pucat!
Duduklah. Kau tidak boleh lelah, jangan sampai kau sakit lagi. Akan kusiapkan alas tidur."
Shizuka membimbing Kaede dari ruangan utama ke kamar tidur. Kaede merosot ke
lantai, jantungnya masih berdebar-debar. "Aku takut dia mati sebelum bertemu denganku."
Shizuka berlutut di samping Kaede, membuka ikat pinggangnya, dan membantunya
melepaskan kimono.
"Aku akan memijat kepalamu. Duduklah."
Dengan gelisah Kaede menggerakkan kepala dari satu sisi ke sisi lain, sambil
menjambak rambutnya, kemudian mengepalkan tangannya. Pijatan Shizuka di kepala Kaede
tidak berhasil membuat ia tenang, justru mengingatkan sore penuh penderitaan di Inuyama
dan kejadian yang mengikutinya. Kaede pun demam.
"Kau harus mencari tahu, Shizuka, aku harus memastikan kebenaran kabar itu. Kirim




208
pesan pada pamanmu. Suruhlah Kondo. Dia harus pergi sekarang juga."
"Kukira kau sudah lupa padanya," gerutu Shizuka sambil terus memijat kulit kepala
Kaede.
"Aku tidak bisa melupakannya. Aku sudah berusaha, tapi begitu mendengar namanya,
semua kenangan kembali muncul. Kau ingat ketika aku pertama kali melihatnya di
Tsuwano? Aku langsung jatuh cinta padanya. Demam pun melandaku. Demam itu—dan
yang sekarang ini adalah suatu pesona gaib, penyakit yang tidak bisa disembuhkan."
Shizuka merasakan kening Kaede panas. Merasa ketakutan, gadis itu bertanya,
"Perlukah kupanggil Ishida?"
"Aku tersiksa oleh cinta," kata Kaede pelan. "Ishida tidak dapat berbuat apa-apa."
"Cinta itu mudah diredakan," jawab Shizuka santai.
"Tapi cintaku hanyalah padanya. Tak satu pun, tak seorang pun bisa
menyembuhkannya. Aku memang harus berusaha hidup tanpa dia. Aku memang memiliki
kewajiban pada keluargaku yang harus aku lakukan. Tapi, jika dia sudah mati, kau harus
mengatakannya padaku."
"Aku akan mengirim surat untuk Kenji," janji Shizuka. "Akan kusuruh Kondo
mengantarnya besok, meskipun kita tidak akan mendapat orang untuk menggantikannya...."
"Suruh dia," perintah Kaede.
Shizuka membuat ramuan yang terdiri dari ranting pohon willow yang ditinggalkan
Ishida, dan membujuk Kaede meminumnya, tapi Kaede selalu tidur gelisah, dan pada pagi
hari ia terlihat lesu dan demam.
Ishida datang. Sambil menggunakan moxa dan jarum-jarumnya, dia mengomeli Kaede
dengan halus karena tidak menjaga diri.
"Sakitnya tidak serius," dia memberitahukan Shizuka, kemudian mereka melangkah
keluar. "Sehari atau dua hari lagi dia akan sembuh. Dia sangat sensitif dan terlalu
memaksakan diri. Dia harus segera dinikahkan."
"Dia hanya setuju pada satu orang—dan itu mustahil," kata Shizuka.
"Ayah dari mendiang anaknya?"
Shizuka mengangguk. "Kemarin, ketika mendengar rumor tentang kematian dambaan
hatinya itu, dia langsung demam."




209
"Ah." Mata Ishida menatap jauh, berpikir. Shizuka ingin tahu apa atau siapa yang
sedang tabib itu pikirkan.
"Aku mencemaskan bulan-bulan ke depan ini," ujar Shizuka. "Setelah kita tertutup
salju, aku cemas dia akan semakin bermuram durja."
"Aku membawa surat dari Lord Fujiwara. Dia ingin Lady Kaede mengunjunginya
selama beberapa hari. Perubahan suasana mungkin dapat mengembalikan semangat dan
mengalihkan perhatiannya."
"Lord Fujiwara sangat baik dan sangat perhatian." Secara otomatis Shizuka mulai
menggunakan kata-kata terima kasih dalam bahasa resmi sewaktu dia menerima surat itu.
Dia benar-benar menyadari laki-laki di sampingnya ini, dan tangan mereka bersentuhan
singkat. Tatapan kosong di mata tabib itu telah memercikkan sesuatu dalam diri Shizuka.
Selama Kaede sakit, mereka menghabiskan waktu bersama dan dia mulai mengagumi
kesabaran dan keahlian tabib itu. Ishida sangat baik, tidak seperti kebanyakan laki-laki yang
dia kenal.
"Kau akan datang lagi besok?" tanya Shizuka, menatap sekilas ke arah Ishida.
"Tentu saja. Kau boleh titip surat balasan Lady Kaede padaku. Kau akan menemaninya
ke kediaman Fujiwara?"
"Tentu saja!" Shizuka mengulangi ucapan orang itu sambil bercanda. Ishida tersenyum
dan menyentuh lagi lengan Shizuka dengan sengaja. Tekanan jari-jemari Ishida membuat
Shizuka bergetar. Rasanya sudah lama sekali sejak dia bersama laki-laki. Shizuka tiba-tiba
merasakan keinginan kuat untuk terus memegang tangan Ishida.
"Sampai jumpa besok," ucap Ishida, matanya hangat, seakan-akan mengenali perasaan
Shizuka dan berbagi rasa dengannya.
Shizuka lalu memakai sandal dan berlari memanggil pelayan pembawa tandu dengan
ceria.
Kondisi Kaede semakin membaik, dan di malam hari ia peroleh kembali energinya. Ia
tetap berbaring tenang seharian, hangat di bawah tebalnya tumpukan selimut, di samping
tungku yang Ayame dinyalakan, sambil memikirkan masa depannya. Takeo mungkin sudah
tiada, anaknya pun sudah tiada: hati Kaede hanya ingin ikut dengan mereka ke dunia




210
berikutnya, tapi akalnya berkata bahwa sungguh lemah bila ia membuang hidupnya dan
mengabaikan orang-orang yang bergantung padanya: seorang perempuan mungkin akan
bertindak seperti itu, tapi laki-laki di posisinya tak akan melakukannya.
Shizuka benar, pikirnya, hanya ada satu orang yang dapat menolongku saat ini. Aku ingin
tahu apa yang bisa kuperoleh dari Lord Fujiwara.
Shizuka memberikan surat yang Ishida bawa pagi itu. Fujiwara juga mengirim hadiah
tahun baru, kue mochi, ikan sarden kering, manisan chestnut, kobumaki* dan sake. Hana dan
Ai sibuk di dapur untuk membantu persiapan perayaan.
"Dia menyanjungku dalam suratnya, dia menulis dalam bahasa laki-laki yang
menyatakan kalau dia tahu aku akan memahaminya," kata Kaede. "Tapi banyak sekali huruf
yang aku belum ketahui." Kaede menghela napas panjang. "Begitu banyak yang perlu aku
pelajari. Apakah satu musim dingin akan cukup untuk mempelajarinya?"
"Kau akan pergi ke kediaman Lord Fujiwara?"
"Kurasa begitu. Dia mungkin akan mengajariku. Menurutmu dia mau melakukannya?"
"Tak ada yang lebih dia inginkan," kata Shisuka datar.
"Semula kupikir dia tidak ingin lagi melakukan apa pun untukku, tapi ternyata dia
nyatakan dalam suratnya kalau dia menunggu kesembuhanku. Kini aku sudah agak baikan—
hampir pulih." Suara Kaede terdengar ragu. "harus sehat. Aku harus mengurus kedua
adikku, wilayah serta anak buahku."
"Seperti yang pernah aku katakan, Fujiwara adalah sekutu terbaikmu dalam hal ini."
"Mungkin bukan yang terbaik: hanya dia. Tapi aku kurang mempercayainya. Apa yang
dia inginkan dariku?"
"Apa yang kau inginkan dari dia?" balas Shizuka.
"Sederhana saja. Di satu sisi, belajar, di lain sisi, uang dan makanan untuk membentuk
pasukan bersenjata dan memberi mereka makan. Tapi, apa yang akan aku tawarkan sebagai
imbalannya?"
Shizuka hendak menyampaikan keinginan Fujiwara untuk menikahi Kaede, namun dia
memutuskan untuk tidak mengatakannya, takut mengganggu Kaede hingga demam lagi.
Biarlah bangsawan itu yang mengatakan sendiri. Dia yakin Fujiwara akan mengatakannya.
"Dia menyapaku sebagai Lady Shirakawa. Aku malu bertemu dengannya setelah aku




211
membohonginya."
"Dia pasti sudah tahu keinginan ayahmu," ujar Shizuka. "Setiap orang tahu kalau
ayahmu mengangkatmu sebagai pewarisnya. Kami telah meyakinkan hal itu."
Kaede menatap Shizuka sekilas untuk melihat apakah orang kepercayaannya itu sedang
berolok-olok, tapi wajah gadis itu serius. "Tentu saja aku harus melakukan seperti apa yang
ayahku minta," Kaede menyetujui.
"Tidak ada hal lain yang Lord Fujiwara perlu ketahui kalau begitu. Kepatuhan seorang
anak harus diutamakan."
"Itulah perkataan Kung Fu Tzu," ujar Kaede. "Lord Fujiwara tak perlu tahu apa pun
meskipun aku curiga dia ingin tahu lebih banyak, bila dia masih tertarik padaku."
"Pasti," Shizuka meyakinkan, seraya berpikir kalau Kaede kini lebih cantik dari
sebelumnya. Penyakit dan duka telah menghilangkan jejak-jejak kekanak-kanakan dan
memberinya ekspresi yang dalam dan misterius.
Mereka merayakan tahun baru dengan hadiah yang Fujiwara berikan dan menyantap
mie gandum yang Ayame simpan di akhir musim panas lalu. Di malam hari mereka berjalan
ke biara dan mendengarkan untaian doa rahib dan dentang lonceng yang menyuarakan agar
manusia membuang nafsu duniawi. Kaede merasa perlu berdoa untuk membebaskan semua
nafsunya dan memurnikan diri, namun ia tak dapat menghapus keinginannya agar Takeo
tetap hidup, juga uang dan kekuatan.
Hari berikutnya, para perempuan di kediaman Shirakawa mengambil lilin, dupa,
lentera, jeruk mandarin yang berkerut, manisan chestnut, dan buah persimmon kering, lalu
mereka berjalan ke gua di mana Sungai Shirakawa muncul dari lubang-lubang bawah tanah.
Mereka melakukan upacara di depan batu karang yang telah diubah air sehingga bentuknya
mirip Dewi Putih. Tak seorang laki-laki pun boleh ke tempat ini; jika mereka datang,
gunung akan meletus, dan Shirakawa akan musnah. Sepasang orang tua tinggal di balik kuil
dekat pintu masuk guahanya perempuan tua itu saja yang masuk membawa sesembahan
pada sang dewi. Kaede berlutut di karang lembab seraya mendengarkan kata-kata kuno yang
ia hampir tidak tahu artinya. Ia berdoa meminta bantuan ibunya dan juga Lady Maruyama.
Ia menyadari betapa berarti tempat suci ini baginya. Ia merasa seakan sang dewi sedang
mengawasi.




212
Keesokan harinya Kaede pergi ke kediaman Fujiwara. Hana, yang kecewa karena tidak
diajak, menangis terisak-isak sewaktu mengucapkan selamat tinggal pada Kaede, dan juga
pada Shizuka.
"Aku kan hanya pergi beberapa hari," kata Kaede. "Mengapa aku tidak boleh ikut?"
"Lord Fujiwara tidak mengundangmu. Lagipula, kau tak akan suka di sana. Kau harus
berlaku sopan, bicara dalam bahasa resmi, dan duduk diam seharian."
"Apakah kau tidak menyukainya?"
"Kurasa begitu," Kaede menghela napas.
"Setidaknya kalian akan makan enak di sana," ujar Hana, lalu menambahkan dengan
nada merindu, "Daging burung!"
"Kalaupun kami makan di sana, itu berarti akan lebih banyak makanan untukmu di
sini," balas Kaede. Kenyataannya, itulah salah satu alasan mengapa ia ingin pergi beberapa
waktu, karena tak peduli berapa seringnya ia melihat ruangan penyimpanan makanan dan
menghitung hari-hari musim dingin, tetap saja mereka akan kehabisan makanan sebelum
musim semi tiba.
"Dan harus ada yang menghibur Mitsuru di rumah Shoji," Shizuka menambahkan.
"Kau harus jamin dia tidak terlalu rindu kampung halamannya."
"Ai dapat melakukannya," jawab Hana ketus. "Dia menyukai Hana."
Kaede pun menyadari itu. Ai tidak mengakui kalau dia memiliki perasaan khusus pada
pemuda itu, tapi dia memang malu mengakui hal seperti itu—dan lagi, pikir Kaede, apa
gunanya perasaan dalam urusan jodoh? Ai akan segera ditunangkan. Tahun baru ini dia
akan berusia empat belas tahun. Mungkin saja jodohnya adalah Sonoda Mitsuru, bila
pamannya, Akita, merestui. Dan pernikahan mungkin saja dilaksanakan, tapi Kaede tak
akan menyerahkan adiknya dengan murah.
Dalam setahun orang-orang akan antri untuk melamar keluarga Shirakawa, Kaede berkata
pada diri sendiri.
Ai agak merona karena ucapan Hana. "Jaga dirimu, kak," katanya, memeluk Kaede.
"Jangan mencemaskan kami. Aku akan mengurusi segalanya."
"Kami kan tidak pergi jauh," jawab Kaede. "Kau harus memanggil bila kau merasa aku
diperlukan di sini." Kaede tidak bisa berhenti untuk menambahkan. "Dan jika ada pesan




213
untukku, bila sudah Kondo kembali, segera kabarkan kepadaku."
Mereka tiba di kediaman Lord Fujiwara menjelang sore. Hari mulai hangat dan
berawan, namun sewaktu mereka di perjalanan, angin bergerak ke timur laut dan suhu udara
menurun.
Mamoru menyambut, dan menyampaikan salam dari sang bangsawan, lalu
membimbing mereka, bukan ke kamar tamu di mana mereka tinggal sebelumnya. Mereka
diajak ke paviliun yang lebih kecil, yang tidak terlalu banyak hiasan tapi bagi Kaede paviliun
ini lebih indah, dengan kesederhanaan yang anggun dan warna-warnanya yang tenang. la
bersyukur atas perhatian ini, karena ia takut melihat bayang-bayang kemarahan ayahnya di
kamar tempat rahasia dirinya terungkap.
"Lord Fujiwara merasa Lady Shirakawa akan memilih beristirahat dulu petang ini," kata
Mamoru perlahan. "Beliau akan temui Anda besok, jika kau tidak keberatan."
"Terima kasih," ujar Kaede. "Sampaikan pada Lord Fujiwara kalau aku sangat
berhutang budi padanya. Akan kupenuhi apa pun keinginannya."
Kaede menyadari adanya ketegangan. Mamoru telah menggunakan namanya tanpa rasa
sungkan, menatap sekilas ke arahnya sewaktu ia tiba, seolah-olah pemuda itu mencoba
melihat perubahan yang terjadi, namun setelah itu dia tidak menatap Kaede sama sekali.
Tapi, Kaede sudah tahu seberapa banyak yang dapat Mamoru lihat tanpa perlu
memperhatikan. Kaede lalu menegakkan punggung dan melihat Mamoru dengan tatapan
meremehkan. Membiarkan pemuda itu mengamati dirinya sesukanya sebagai tokoh untuk
peran yang ia mainkan di panggung. Mamoru tidak lebih dari seorang peniru. Kaede tidak
peduli apa yang pemuda itu pikirkan. Ia hanya peduli pada apa yang Fujiwara pikirkan. Dia
pasti jijik padaku, pikir Kaede, tapi jika dia sampai mengerenyitkan alis, aku akan pergi dan tak
akan mau melihatnya lagi, tak peduli dia bisa berguna bagiku.
Kaede lega karena pertemuan ditunda. Ishida datang menemui dan memeriksa detak
jantung serta mata Kaede. Dia mengatakan hendak menyiapkan ramuan teh baru untuk
membersihkan darah dan memperkuat perut, dan meminta Shizuka ke ruangannya esok hari
untuk mengambil ramuan itu.
Berendam di bak mandi bukan hanya membuat Kaede hangat karena hangatnya air,
tapi juga karena rasa cemburu pada banyaknya kayu yang tersedia untuk memanasi air.




214
Setelah itu, hidangan diantar ke kamar mereka oleh pelayan yang datang hampir tidak
bersuara.
"Inilah hidangan musim dingin tradisi bangsawan," seru Shizuka ketika melihat
makanannya, ikan bream dan cumi, belut panggang dengan perilla hijau, acar mentimun dan
akar teratai yang diasinkan, jamur hitam yang langka dan burdoc yang ada di nampannampan
yang mengkilap. "Ini yang mereka makan di ibukota. Aku penasaran berapa
banyak perempuan yang menyantap hidangan seperti ini!"
"Segalanya serba luar biasa di sini," balas Kaede. Betapa mudahnya, pikirnya,
mendapatkan kemewahan dan cita rasa bila punya uang!
Ketika hendak beristirahat sehabis makan, terdengar ketukan di pintu.
"Pasti pelayan yang hendak menyiapkan alas tidur," kata Shizuka dan berjalan ke pintu.
Tapi ketika membuka pintu, Mamoru yang berdiri di luar. Terlihat salju di rambutnya.
"Maaf," katanya. "Tapi, salju pertama tahun ini mulai turun. Lord Fujiwara
mengharapkan kunjungan Lady Shirakawa. Pemandangan dari paviliun ini sangatlah
indah."
"Ini kediaman Lord Fujiwara," kata Kaede. "Dan aku tamunya. Keinginannya adalah
keinginanku juga."
Mamoru lalu pergi. Kaede mendengar pemuda itu bicara pada pelayan. Tak berapa
lama, dua pelayan datang membawa kimono merah berlapis kapas yang hangat lalu mereka
pakaikan pada Kaede. Ditemani Shizuka, ia pergi ke beranda. Kulit hewan menutupi bantalbantal
untuk alas duduk. Lentera-lentera digantungkan di pepohonan, menyinari butiran
salju yang berjatuhan. Tanah telah memutih. Bebantuan di taman terbentang di bawah dua
pohon pinus yang tumbuh dengan pola susunan indah yang rendah, seakan membingkai
pemandangan itu. Di balik kedua pohon itu, terdapat kumpulan gunung yang majal terlihat
melalui salju yang melayang-layang. Kaede terpana oleh keindahan alam di hadapannya,
oleh murninya keheningan.
Lord Fujiwara berjalan begitu pelan hingga Kaede dan Shizuka hampir tidak menyadari
kedatangannya. Mereka berdua berlutut di hadapannya.
"Lady Shirakawa," dia berkata. `Aku sangat berterima kasih. Pertama karena kau
berkenan mengunjungi tempatku yang sederhana ini, dan kedua karena memenuhi




215
keinginanku untuk berbagi pemandangan salju pertama bersamamu."
"Silakan duduk tegak," dia menambahkan, "Kau harus membalut tubuhmu; kau tidak
boleh kedinginan."
Beberapa pelayan berbaris di belakang Lord Fujiwara dengan membawa tungku, sake,
cangkir, dan mantel kulit. Mamoru mengambil mantel dan memakaikan ke bahu Kaede,
kemudian satu mantel lagi dia pakaikan ke tubuh Fujiwara. Kaede mengusap bulu kulit
hewan dengan rasa senang bercampur takut.
"Kulit-kulit ini berasal dari tanah daratan," Fujiwara memberitahukan setelah mereka
bertukar salam resmi. "Ishida membawanya sewaktu dia pergi ke sana."
"Kulit hewan apa ini?"
"Semacam beruang, kurasa."
Kaede tak dapat membayangkan beruang yang begitu besar. Ia mencoba
membayangkan beruang yang sedang berada di habitatnya, begitu jauh dan asing bagi
Kaede. Hewan itu pasti kuat, bergerak lambat, ganas, namun laki-laki berhasil membunuh
dan mengulitinya. Ia bertanya tanya apakah roh beruang ini masih terkekang di kulitnya dan
apakah roh itu akan marah karena ia memanfaatkan kehangatannya. "Ishida pastilah
pemberani dan pandai sehingga mampu melakukan perjalanan yang berbahaya seperti itu."
"Dia haus akan pengetahuan, kurasa. Dan semuanya sudah terbayar dengan
kesembuhanmu, Lady Shirakawa."
"Aku berhutang nyawa padanya," kata Kaede pelan. "Karena itu juga, dia lebih berharga
bagiku disbanding nilai dia sebenarnya."
Kaede menangkap nada ejekan bangsawan itu, bukan rasa jijik. Bahkan, dia nyaris
terdengar melontarkan pujian yang berlebihan.
"Sungguh indah salju pertama ini," ujar Kaede. "Tapi, di penghujung musim dingin,
kita tak sabar menunggunya mencair."
"Salju membuatku bahagia," ujar Lord Fujiwara, "Aku menyukai putihnya dan caranya
membungkus bumi. Di bawah salju, semuanya menjadi bersih."
Mamoru menuangkan sake, kemudian menghilang dalam kegelapan. Para pelayan pun
mengundurkan diri menjauh. Kaede dapat merasakan ilusi kesunyian seakan tidak ada yang
hadir kecuali mereka berdua, tungku yang menyala, kulit hewan yang berat, dan salju.




216
Setelah menyaksikan salju dalam keheningan selama beberapa saat, Fujiwara memanggil
pelayan untuk membawakan lampu.
"Aku ingin melihat wajahmu," dia berkata sambil mencondongkan badannya dan
menatap Kaede seperti dia menatap harta koleksinya. Kaede mengangkat mata dan
memandang melewati Fujiwara ke arah salju yang berjatuhan, melayang-layang dalam
cahaya lentera, menghalangi pegunungan, memudarkan dunia luar.
"Kini kau lebih cantik," dia berkata pelan. Kaede seperti mendengar nada lega dalam
suara bangsawan itu. Kaede sadar jika penyakit merusak kecantikan dirinya, Fujiwara akan
menarik diri dengan sopan dan tak akan menemuinya lagi. Mereka semua boleh mati
kelaparan di Shirakawa tanpa ada rasa iba dari laki-laki itu. Alangkah dinginnya dia, pikir
Kaede dengan gemetar ketakutan. Kaede hanya menatap ke belakang Fujiwara, membiarkan
salju mengisi matanya. Ia akan membeku, seperti es, seperti porselen kaca. Dan jika
Fujiwara menginginkannya, dia harus membayar dengan harga tinggi.
Fujiwara minum, mengisi mangkuknya dan minum lagi, matanya tidak beranjak dari
wajah Kaede. Keduanya diarn tak bersuara. Tapi tiba-tiba dia berkata, "Tentu saja kau harus
menikah."
"Aku tidak berniat untuk menikah," balas Kaede, tapi kemudian ia takut bicara terlalu
terang-terangan.
"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu karena kau selalu berbeda pendapat tentang
dunia. Tapi dalam semua kondisi praktis, kau harus menikah. Tak ada pilihan lain."
"Reputasiku tidak bagus," ujar Kaede. "Terlalu banyak laki-laki mati karena
menginginkan diriku. Aku tak ingin ada lagi yang mati karena diriku."
Kaede merasakan ketertarikan Fujiwara kian dalam, memperhatikan lengkungan di
bibir laki-laki itu menaik.
Tapi bukan nafsu, Kaede tahu itu. Kepulan emosinya sama seperti yang Kaede sadari
selama ini, keingintahuan yang membara, yang dikendalikan secara hati-hati untuk
mengetahui semua rahasia dirinya.
Fujiwara memanggil Mamoru, dan memintanya untuk menyuruh pergi para pelayan.
"Di mana pendamping perempuanmu?" dia bertanya pada Kaede. "Katakan padanya
untuk menunggumu di dalam. Aku ingin bicara denganmu secara pribadi."




217
Kaede lalu bicara pada Shizuka. Setelah diam sejenak, Fujiwara melanjutkan. "Apakah
kau cukup hangat? Kau tidak boleh sakit lagi. Ishida mengatakan kau mudah terserang
demam."
Sudah pasti Ishida akan mengatakan semua tentang diriku, pikir Kaede saat menjawab,
"Terima kasih, aku cukup hangat saat ini. Tapi, maaf bila aku tidak bisa berlama-lama. Aku
mudah lelah."
"Tidak akan lama," dia berkata. "Masih banyak hari di hadapan kita, kuharap, bahkan
selama musim dingin ini. Namun ada sesuatu di malam ini; salju, kehadiranmu... inilah
kenangan yang akan mengendap selamanya di hati kita."
Dia ingin menikahiku, pikir Kaede kaget, diikuti rasa gelisah. Jika dia menawarkan
pernikahan, bagaimana aku bisa menolaknya? Dengan menggunakan istilah "dalarn semua
kondisi praktis" pernikahan ini terasa sangat masuk akal. Ini suatu kehormatan yang jauh
lebih besar dari yang ia layak dapatkan, ini akan menyelesaikan semua masalah keuangan
dan makanan, dan akan menjadi persekutuan yang paling menguntungkan. Tapi ia tahu
Lord Fujiwara hanya tertarik pada laki-laki, dia tidak cinta maupun berhasrat pada dirinya.
Kaede berdoa agar orang ini tidak melamarnya, karena ia tidak tahu cara menolaknya. Kaede
takut pada keinginan Lord Fujiwara yang selalu mengambil apa pun yang dia inginkan
dengan segala cara. Kaede ragu akan kekuatan dirinya untuk bisa mengabaikan Fujiwara. Ini
bisa dianggap hinaan bagi orang seperti dia, seorang bangsawan yang ada hubungan keluarga
dengan kaisar, orang yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan Shirakawa.
"Aku belum pernah melihat beruang," kata Kaede mengalihkan pembicaraan, sambil
menarik kulit beruang yang berat itu lebih dekat ke tubuhnya.
"Ada beberapa ekor beruang kecil di gunung—seekor beruang pernah datang ke taman
ini setelah musim dingin. Aku menangkap dan memasukkannya ke kandang, namun
beruang itu merana dan mati. Tapi beruangnya tidak sebesar beruang ini. Kelak, Ishida akan
menceritakan perjalanannya pada kita. Kau suka?"
"Sangat suka. Dialah satu-satu orang yang sampai di tanah daratan yang pernah
kutemui."
"Pelayarannya itu berbahaya. Selain badai, seringkali terjadi pertempuran dengan
perompak."




218
Kaede merasa lebih suka bertemu selusin beruang atau dua puluh perompak ketimbang
tinggal bersama orang mengerikan ini. Kaede tidak bisa memikirkan kata-kata untuk
diucapkan. Ia merasa tidak bertenaga untuk bergerak.
"Mamoru dan Ishida telah memberitahukan apa yang orang-orang katakan tentangmu,
bahwa keinginan pada dirimu akan membawa kematian."
Kaede diam. Aku tidak perlu malu, pikirnya. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia
mengangkat mata dan menatap Fujiwara dengan wajah tenang dan pandangan yang tegas.
"Menurut Ishida, ada seorang pemuda yang menginginkan dirimu, dan dia masih
hidup."
Kaede merasa jantungnya terpilin-pilin dan melompat, seperti ikan yang tersadar kalau
dagingnya tertusuk pisau juru masak. Mata Fujiwara bekerjap. Otot kecil berkedut di
pipinya. Dia berpaling dari Kaede lalu menatap salju. Dia mengatakan apa yang seharusnya
tak boleh dia katakan, pikir Kaede, Aku akan mengatakan padanya, tapi dia harus
membayarnya.
"Siapa dia?" bisik Fujiwara.
Malam begitu hening, yang terdengar hanyalah desis lembut salju, angin di pohon
pinus, dan gemericik air.
"Lord Otori Takeo," jawab Kaede.
"Ya, hanya dia yang selamat," jawabnya, membuat Kaede bertanya-tanya apa yang baru
saja ia berikan dan apa yang bangsawan ini ketahui tentang Takeo. Fujiwara
mencondongkan badan, wajahnya bergerak-gerak dalam cahaya lampu. "Ceritakan padaku."
"Aku dapat menceritakan banyak hal," kata Kaede lambat. "Tentang pengkhianatan
terhadap Lord Shigeru dan kematiannya, dan pembalasan dendam Lord Takeo dan apa
yang terjadi di malam kematian Iida. Tapi semua cerita itu ada harganya. Apa imbalan yang
akan kau berikan?"
Fujiwara tersenyum, dan dengan nada berunding dia berkata, "Apa yang Lady
Shirakawa inginkan?"
"Aku membutuhkan uang untuk membayar pasukan dan peralatan perang mereka, dan
juga makanan."
Dia nyaris tertawa. "Sebagian besar perempuan akan meminta kipas baru atau kimono.




219
Tapi kau selalu membuatku terkejut."
"Apakah kau menyanggupi?" Kini Kaede merasa tidak rugi karena keberaniannya.
"Ya, aku terima. Untuk cerita tentang Iida, aku akan membayarnya dengan uang. Untuk
cerita tentang Shigeru, akan kubayar dengan beras. Sedangkan untuk cerita tentang pemuda
yang masih hidup—menurutku dia masih hidup—apa yang kau minta untuk cerita tentang
Takeo?"
Suara Lord Fujiwara berubah saat menyebut nama itu, seolah-olah bangsawan itu
sedang mengecapnya di mulutnya, dan Kaede kembali bertanya-tanya apa yang dia tahu
tentang Takeo.
"Ajari aku," jawab Kaede, "Banyak sekali yang perlu aku pelajari. Ajari aku seolah-olah
aku laki-laki."
Fujiwara mengangguk setuju. "Senang sekali dapat meneruskan ajaran ayahmu."
"Tapi semua ceritaku harus tetap menjadi rahasia di antara kita. Seperti harta
koleksimu, tidak satu pun boleh disiarkan. Aku hanya akan mengungkapkan semua ini
kepadamu. Tak seorang pun boleh diberitahu."
"Itu akan membuat semua ceritamu lebih berharga, lebih diinginkan."
"Tak seorang pun pernah mendengarnya," bisik Kaede. "Dan sekali kuceritakan, aku tak
mau membicarakannya lagi."
Angin semakin kencang dan hujan salju bertiup ke beranda, butirannya mendesis saat
menyentuh lampu dan tungku. Kaede dapat merasakan hawa dingin merambat, berjumpa
dengan hati dan jiwanya yang dingin. Ia tak sabar untuk segera meninggalkan Fujiwara,
meski ia tak akan bergerak sampai laki-laki itu membebaskannya.
"Kau kedinginan," dia berkata, lalu menepuk tangan. Para pelayan muncul dan
membantu Kaede berdiri seraya mengangkat mantel kulit tebal dari tubuhnya.
`Aku menantikan ceritamu," kata Fujiwara, lalu mengucapkan selamat malam dengan
keramahan yang dibuatbuat. Kaede masih bergelut dengan pikirannya, bertanyatanya apakah
dia tadi tidak membuat kesepakatan dengan iblis dari neraka. Kaede berdoa agar Fujiwara
tidak melamarnya. Kaede tidak ingin terkurung di rumah yang indah nun mewah ini,
disembunyikan seperti harta karun yang tak boleh dilihat orang lain.
Di akhir minggu, Kaede pulang ke rumahnya. Salju pertama telah mencair dan




220
membeku, ruas jalan pun tertutup es meskipun masih tetap dapat dilewati. Untaian
tetesan es bergelantungan di tepi atap rumah, berkilauan dan cemerlang saat terkena sinar
mentari. Fujiwara menepati janjinya. Dia seorang guru yang keras dan tegas,
dia juga telah menyiapkan beberapa tugas untuk Kaede kerjakan di rumah. Dia pun telah
mengirimkan makanan. Siang hari dihabiskan dengan belajar dan malam hari dengan cerita.
Kaede mengetahui, melalui insting, apa yang Fujiwara ingin dengar dan Kaede berusaha
menceritakan dengan detail: warna bunga, kicau burung, kondisi cuaca, sentuhan tangan,
aroma kimono, bagaimana sinar lampu jatuh di wajahnya. Dan hasrat yang bergejolak dan
konspirasi yang sebelumnya telah ia ketahui maupun yang ia tahu kemudian. Kaede
menceritakan dengan nada yang jernih, tidak menunjukkan rasa malu, sedih atau pun
menyesal.
Bangsawan itu enggan membiarkannya pulang, namun Kaede menggunakan kedua
adiknya sebagai alasan. Lord Fujiwara ingin agar Kaede tinggal lebih lama, tapi Kaede
menolaknya dengan halus. Semua orang tampaknya ingin agar Kaede tidak pulang.
Perlakuan para pelayan pun berubah. Mereka menahan seakan-akan ia bukan sekedar tamu
istimewa. Mereka selalu meminta ijin dan pendapatnya, tapi Kaede sadar kalau mereka
lakukan itu atas perintah Fujiwara.
Kaede lega saat meninggalkan bangsawan itu, dan saat di rumah, saat ia melihat
makanan, kayu bakar dan uang yang Fujiwara kirim, ia bersyukur telah terhindar dari
kelaparan. Malam itu Kaede berbaring sambil berpikir,
Aku terjebak. Aku tak akan pernah bisa lolos darinya. Tapi apa lagi yang dapat
kulakukan?
Kaede tertidur di larut malam sehingga ia terlambat bangun keesokan harinya. Shizuka
sudah tak ada di kamar. Kaede memanggilnya dan Ayame datang membawa teh.
Dia menuangkan teh untuk Kaede. "Shizuka sedang bersama Kondo," katanya. "Kondo
datang semalam."
"Suruh Shizuka menemuiku," kata Kaede. Ia melihat teh yang ada di depannya seakanakan
ia tidak tahu harus diapakan. Setelah minum seteguk, Kaede letakkan mangkuk di
nampan, lalu mengambilnya lagi. Kedua tangannya terasa beku. Ia menggenggam mangkuk
di antara kedua tangannya, mencoba menghangatkan tangan.




221
"Lord Fujiwara yang mengirim teh ini," kata Ayame. "Sekotak penuh. Enakkah?"
"Jemput Shizuka!" bentak Kaede marah. "Minta dia segera datang!"
Tak lama kemudian Shizuka masuk dan berlutut di depan Kaede. Wajahnya muram.
"Ada apa?" tanya Kaede, "Apakah dia mati?" Mangkuk yang sedang ia pegang bergetar
sehingga teh tumpah.
Shizuka mengambil mangkuk itu dari tangan Kaede, kemudian menggenggam erat
kedua tangan Kaede. "Jangan tegang. Jangan sampai kau sakit. Dia tidak mati. Tapi dia
telah meninggalkan Tribe dan mereka mengeluarkan perintah untuk melawannya."
"Apa artinya itu?"
"Kau ingat apa yang Takeo katakan di Terayama? Jika dia tidak pergi bersama Kenji
dan Ketua, maka dia tak akan dibiarkan hidup. Seperti itulah."
"Mengapa?" ujar Kaede gelisah, "Mengapa? Aku tak mengerti."
"Itulah Tribe. Kepatuhan adalah segalanya."
"Lalu kenapa dia meninggalkan mereka?"
"Aku kurang jelas. Ada perseteruan, pelanggaran kesepakatan. Dia dikirim untuk suatu
misi namun dia tidak pernah kembali." Shizuka berhenti. "Kondo menduga dia mungkin
berada di Terayama. Jika memang dia di sana, maka dia akan aman selama musim dingin
ini."
Kaede menarik tangannya dari Shizuka, lalu berdiri. "Aku akan ke sana."
"Tidak mungkin," ujar Shizuka. "Jalan sudah tertutup salju."
"Aku harus menemuinya!" Kaede berkata, matanya menyala-nyala di wajahnya yang
pucat. "Jika dia pergi dari Tribe berarti dia akan menjadi Otori lagi. Dan jika dia sudah
menjadi Otori, maka kami bisa menikah!"
"Lady!" Shizuka pun berdiri. "Kegilaan apa ini? Kau tidak boleh mengejarnya begitu
saja! Andai pun jalan tidak tertutup salju, ini masih tidak masuk akal. Akan jauh lebih baik
bila kau melakukan apa yang pernah kau katakan, menikahi Fujiwara. Itulah yang Lord
Fujiwara inginkan."
Kaede berjuang untuk memperoleh kembali kendali dirinya. "Tak seorang pun dapat
menghentikanku untuk pergi ke Terayama. Sebenarnya, aku harus ke sana... untuk ziarah...
untuk bersyukur pada Sang Pengasih karena telah menyelamatkan nyawaku. Aku telah




222
berjanji untuk ke Inuyama, pada Arai, segera setelah salju mencair. Aku harus mampir ke
biara saat di perjalanan nanti. Meskipun Fujiwara ingin menikahiku, aku tak bisa
memutuskan sebelum bicara dengan Lord Arai. Oh, Shizuka, berapa lama lagi musim semi
tiba?"*




223
HARI-HARI di musim dingin berjalan lambat. Setiap bulan Kaede datang ke kediaman
Lord Fujiwara selama seminggu dan menceritakan kisah hidupnya di malam hari, saat salju
berjatuhan atau bulan bersinar dingin di taman yang telah beku. Lord Fujiwara banyak
bertanya sehingga Kaede sering mengulang beberapa bagian ceritanya.
"Kisahmu bisa dipentaskan," ujarnya lebih dari sekali. "Mungkin aku yang akan menulis
kisahmu ini."
"Kau tak boleh mempertontonkannya di depan orang lain," balas Kaede.
"Tidak, kepuasannya justru pada penulisannya. Aku akan berbagi bersamamu, tentu
saja. Kita mungkin akan menampilkannya sekali-kali untuk kesenangan kita dan setelah itu,
para aktornya akan dibunuh."
Lord Fujiwara melontarkan pernyataannya tanpa ekspresi sehingga Kaede makin takut.
Seiring setiap cerita berulang, wajah Kaede kini lebih mirip topeng, gerakannya lebih diatur,
seolah-olah ia tak berhenti memerankan hidupnya di panggung yang diciptakan Fujiwara
secara seksama seperti dia membangun teaternya dengan sempurna di mana Mamoru dan
pemuda lain memainkan peran mereka.
Di siang hari, bangsawan itu menepati janjinya untuk mengajari Kaede seolah-olah
gadis itu laki-laki. Dia menggunakan bahasa laki-laki pada Kaede. Kadangkala
menyenangkan bagi Fujiwara melihat Kaede memakai pakaian Mamoru, dengan rambut
diikat di belakang. Peran itu membuat Kaede kelelahan, namun ia belajar banyak.
Fujiwara pun memenuhi janjinya yang lain, yaitu mengirim makanan dan menyerahkan
uang pada Shizuka di setiap akhir kunjungan. Kaede menghitungnya dengan antusias sama
seperti saat ia sedang belajar. Ia melihat itu sebagai pertukaran yang adil untuk inasa
depannya, yang bisa memberinya kebebasan dan kekuasaan.
Di awal musim semi, cuaca dingin menggigit telah membekukan bunga plum. Kaede
semakin tak sabar karena hari terasa kian panjang; udara yang kian dingin dan kebekuan




224
yang bertambah keras, diikuti salju segar, hampir membuatnya gila. Pikirannya kalut, panik
seperti burung yang terjebak di dalam rumah, tapi tidak ia menunjukkan perasaannya pada
siapa pun, tidak juga pada Shizuka.
Pada saat hari cerah, ia pergi ke istal dan mengamati Raku ketika Amano membiarkan
kuda itu berjalan di padang rumput yang becek. Kuda itu seperti menatap dengan
pandangan bertanya-tanya ke laut timur, sambil menginderai angin yang menusuk.
"Tidak lama lagi," Kaede berjanji pada Raku. "Tidak lama lagi kita akan bepergian."
Akhirnya bulan purnama di bulan ketiga mengambil alih, dan bersama dengan itu
datang angin hangat dari selatan. Kaede terbangun oleh bunyi tetesan air dari pinggiran atap
yang bercucuran menembus taman, yang berlomba turun di air terjun. Dalam tiga hari salju
pun usai, dan bumi terbentang, telanjang dan berlumpur, menunggu untuk diisi dengan
suara dan warna-warni.
"Aku harus pergi sebentar," Kaede memberitahukan Lord Fujiwara di waktu kunjungan
terakhirnya. "Lord Arai menyuruhku datang ke Inuyama."
"Kau hendak meminta restunya untuk men ikah?"
"Masalah itu harus dibahas dengan Lord Arai lebih dulu," gumam Kaede.
"Bila begitu adanya, aku ijinkan kau pergi." Bibir laki-laki itu agak melengkung namun
senyum yang tidak sampai di mata.
Sebulan terakhir ini Kaede sibuk melakukan persiapan sambil menunggu salju mencair,
ia bersyukur atas uang yang Fujiwara berikan. Seminggu sesudahnya, ia berangkat di pagi
cerah, dingin, matahari muncul dan bersembunyi di balik awan yang berkejaran, angin dari
timur terasa menggigit dan kencang. Hana memohon diijinkan ikut. Awalnya Kaede
memang berniat mengajaknya, tapi rasa takut melanda dirinya. Ia takut Arai akan
menjadikan adiknya sebagai tawanan. Sekarang ini Hana lebih aman di rumah. Kaede tidak
mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, jika memang Takeo ada di Terayama, ia mungkin
tidak akan ke ibukota. Sedangkan Ai memang tidak mau ikut, dan Kaede tidak membawa
tawanannya, Mitsuru, karena masih berguna sebagai jaminan.
Kaede mengajak Kondo, Amano, dan enam laki-laki lainnya. Ia ingin bergerak cepat,
selalu menyadari bahwa hidup ini singkat dan betapa berharganya waktu. Ia memakai
pakaian laki-laki dan menunggang kuda. Raku melewati musim dingin dengan baik, tanpa
kehilangan berat badan. Kaede merasa kalau Raku melangkah dengan keberanian yang




225
menyamai dirinya. Raku sudah mulai menanggalkan bulu musim dinginnya dan rambut
kelabu kasarnya melekat di pakaian Kaede.
Shizuka ikut dalam rombongan, disertai pelayan dari rumah, Manami. Shizuka
memutuskan ikut sampai di Terayama dan, sementara Kaede akan melanjutkan perjalanan
ke Ibukota, dia akan mengunjungi rumah kakeknya di daerah pegununungan yang ada di
balik kota Yamagata untuk menengok anak-anaknya. Manami yang gesit dan pintar dengan
cepat menyibukkan diri untuk mengurusi makanan dan tempat tidur mereka di selama di
penginapan. Dia menuntut makanan hangat dan air yang hangat, menawar harga,
mengomeli pelayan penginapan dan selalu berhasil mendapatkan keinginannya.
"Aku tak perlu mencemaskan siapa yang akan mengurusimu setelah aku pergi nanti,"
ujar Shizuka di malam ketiga, setelah mendengar Manami mengomeli pelayan penginapan
karena menyediakan tempat tidur yang bermutu rendah dan penuh kutu busuk. "Kurasa
lidah Manami bisa menghentikan raksasa yang marah."
"Aku tetap akan merindukanmu," ujar Kaede. "Aku merasa kaulah sumber
keberanianku. Aku tidak tahu bagaimana diriku nanti tanpa dirimu. Siapa lagi yang akan
mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di balik semua kebohongan dan kepura-puraan?"
"Kurasa kau bisa mengetahuinya dengan cukup baik," balas Shizuka. "Lagipula Kondo
akan menemanimu. Tanpa kehadiranku, kau akan memperlihatkan kesan lebih baik di
depan Arai!"
"Apa yang mesti kuharapkan dari Arai?"
"Dia selalu mendukungmu. Dia akan selalu membantumu. Arai orang yang baik hati
dan setia, kecuali pada saat dia merasa terhina atau dibohongi."
"Dia orang yang gampang meledak, kurasa," kata Kaede.
"Benar, bahkan sampai bisa bertindak keras. Dia orang yang meledak-ledak di setiap
ucapannya, bernafsu dan keras kepala."
"Kau sangat mencintainya?" kata Kaede.
"Aku masih remaja waktu itu. Dialah kekasih pertamaku. Aku sangat mencintainya,
dan dia pun pasti mencintaiku dengan caranya sendiri. Dia mempertahankan aku selama
empat belas tahun."
"Aku akan memintanya untuk memaafkanmu," seru Kaede.
"Aku tak tahu mana yang lebih aku takutkan, pengampunannya atau kemurkaannya,"




226
Shizuka mengakui, sambil memikirkan tabib Ishida yang bijaksana, hubungan mereka yang
sangat menyenangkan selama musim dingin.
"Kalau begitu, aku tidak akan menyebut namamu."
"Terkadang memang lebih bijak bila tidak mengatakan apa-apa," Shizuka sepakat.
"Lagipula, Arai lebih mengutamakan pernikahanmu dan persekutuan yang akan dia
hasilkan."
"Aku tak akan menikah sebelum berhasil melindungi Maruyama," jawab Kaede. "Dan
Arai harus membantuku dalam hal itu."
Tapi sebelumnya aku harus bertemu Takeo, pikir Kaede. Jika dia tidak ada di Terayama,
aku akan melupakannya. Itu akan menjadi pertanda bahwa memang itulah yang seharusnya
terjadi. Oh Surga yang pengasih, hadirkan Takeo di sana!
Seiring jalan menanjak di barisan pegunungan, mencairnya salju makin jelas terlihat.
Timbunan salju yang belum mencair masih menutupi sebagian besar jalan dan seringkali
membeku di kaki. Kaki kuda yang dibungkus jerami sehingga mereka berjalan lambat dan
ini membuat ketidaksabaran Kaede memuncak.
Pada suatu sore mereka tiba di penginapan yang terletak di kaki gunung suci, di tempat
ini Kaede pernah beristirahat saat pertama kali mengunjungi biara bersama Lady Maruyama.
Di sini mereka bermalam sebelum melanjutkan jalan mendaki terakhir esok.
Kaede tidur gelisah, pikirannya penuh dengan rombongan orang-orang dalam
perjalanannya yang sebelumnya yang kini nama-nama mereka terdaftar dalam buku besar
kematian. la teringat hari tatkala mereka berkuda bersama, bagaimana semua orang terlihat
gembira, padahal mereka sedang merencanakan pembunuhan. Ia tidak mengetahui itu; dia
masih gadis hijau yang sedang jatuh cinta. Ia merasakan gelombang iba bercampur hina
pada dirinya yang polos, yang tak tahu apa-apa. Kini ia telah berubah, namun cinta itu tetap
sama.
Cahaya memucat di balik jendela dan beberapa ekor burung memanggil-manggil.
Ruangan terasa sesak tak yang tertahankan. Manami mendengkur halus. Kaede bangun
dengan perlahan lalu mengenakan jubah hangatnya, dan menggeser pintu yang menghadap
ke halaman penginapan. Dari balik dinding ia mendengar kuda mengetuk-ngetukkan kaki.
Ia mendengar salah seekor kuda meringkik tanda mengenali sesuatu. Pengawal pasti sudah
bangun, pikirnya, dan mendengar langkah kaki berputar melalui pagar. Kaede melangkah ke




227
balik jendela lagi.
Pemandangan diselimuti kabut. Satu sosok menuju ke halaman. Kaede berpikir, Itu dia.
Tapi kemudian Kaede berpikir lagi, tidak mungkin.
Takeo muncul dari kabut ke arah Kaede.
Kaede berjalan ke beranda dan, ketika mengenali Takeo yang datang, Kaede lalu
menatap wajah kekasihnya itu. Kaede berpikir, dengan rasa syukur dan lega, Tenang saja.
Dia hidup. Dia mencintaiku.
Takeo melangkah ke beranda tanpa bersuara, lalu berlutut. Kaede juga berlutut.
"Duduklah tegak," bisik Kaede.
Takeo mengangkat kepala, dan mereka pun saling berpandangan. Tatapan Kaede
seperti hendak menelan Takeo, namun Takeo membalas tatapannya tidak secara langsung.
Mereka duduk dengan rikuh.
Takeo berkata pada akhirnya, "Aku melihat Raku. Aku tahu kau pasti di sini, tapi aku
tidak percaya."
"Kudengar kau ada di sini. Dalam bahaya besar, tapi masih hidup."
"Bahaya itu tidak terlalu besar," kata Takeo. "Bahaya terbesarku adalah dirimu—bila
kau tidak memaafkanku."
"Tak mungkin aku tidak memaafkanmu," jawab Kaede langsung. "Selama kau tidak
meninggalkanku lagi."
'Aku mendengar kabar kau akan menikah. Berita itu menghantuiku selama musim
dingin ini."
"Memang ada orang yang ingin melamarku: Lord Fujiwara. Tapi kami belum—
menikah, tidak juga bertunangan."
"Kalau begitu, kita harus segera menikah. Apakah kau kemari untuk mengunjungi
biara?"
"Itulah tujuanku. Setelah itu aku akan ke Inuyama." Kaede mengamati wajah Takeo.
Dia nampak lebih dewasa, tulang pipinya lebih menonjol. Rambutnya lebih pendek, tidak
diikat ke belakang seperti ksatria, namun terjuntai menutupi keningnya, tebal dan
mengkilap.
"Aku akan mengutus orang untuk menemanimu ke biara. Aku akan menemuimu di
tempat menginap bagi tamu perempuan di biara petang ini. Ada banyak hal yang perlu




228
direncanakan. Jangan tatap mataku," Takeo menambahkan. "Aku tidak ingin kau tertidur."
"Aku tidak keberatan," balas Kaede. "Aku jarang tidur. Buatlah aku tertidur hingga
petang agar waktu dapat berlalu dengan cepat. Ketika aku tertidur sebelum ini, Dewi Putih
menampakkan dirinya. Dia menyuruhku untuk bersabar menunggumu. Aku kemari untuk
mensyukuri itu dan karena telah menyelamatkan nyawaku."
"Aku diberitahu kalau kau sedang sekarat," ujar Takeo, dan tak bisa meneruskan lagi.
Setelah beberapa saat, dia berkata. "Apa Muto Shizuka bersamamu?"
"Ya."
"Dan juga pengawal dari Tribe, Kondo Kiichi?" Dia mengangguk.
"Mereka harus disuruh pergi. Tinggalkan beberapa orangmu di sini untuk sementara.
Adakah pelayan perempuan yang akan menemanimu?"
"Ya," jawab Kaede. "Tapi kurasa Shizuka tak akan mencelakaimu." Tapi saat
mengatakan itu, Kaede berpikir, Tapi bagaimana aku bisa yakin? Bisakah aku mempercayai
Shizuka? Atau Kondo? Aku telah melihat kekejaman mereka.
"Aku di bawah ancaman hukuman mati dari Tribe," ucap Takeo. "Maka, anggota Tribe
manapun akan sangat berbahaya bagiku."
"Tidak berbahayakah kau keluar dari biara seperti sekarang ini?"
Takeo tersenyum. "Aku tak membiarkan orang-orang mengurungku. Aku senang
menjelajahi berbagai tempat di malam hari. Aku perlu tahu keadaan wilayah, dan apakah
Otori berencana menyerangku dengan menyeberangi perbatasan. Aku dalam perjalanan
pulang ketika aku melihat Raku. Dia mengenaliku. Kau mendengarnya?"
"Raku juga merindukan dirimu," kata Kaede, merasakan kepedihan menjalar ke sekujur
tubuhnya. "Apakah semua anggota Tribe menginginkan kematianmu?"
"Mereka tak akan berhasil. Belum. Akan kukatakan alasannya nanti malam."
Kaede mendambakan pelukan Takeo. Ia seolah merasa sedang bersandar pada Takeo.
Seakan dapat membaca pikiran kekasih Kaede, Takeo pun menanggapi dan meraih
tangannya. Kaede merasakan detak jantung Takeo. Kemudian Takeo berbisik, "Ada yang
bangun, aku harus pergi."
Kaede tak mendengar apa pun. Takeo menarik diri dengan lembut dari Kaede. "Sampai
jumpa petang ini," dia berkata.
Kaede menatap, mencari-cari mata Takeo, setengah berharap untuk tertidur, namun




229
Takeo telah menghilang. Kaede berteriak dalam kegelisahan. Tak ada tanda-tanda
keberadaan Takeo di dalam maupun di luar halaman ini. Genta angin berdering tajam
seolah terkena deru napas orang yang lewat di bawahnya. Jantung Kaede berdebar kencang.
Apakah tadi hantu Takeo yang datang? Apakah ia sedang bermimpi dan apa yang akan ia
temukan bila terbangun nanti?
"Apa yang kau lakukan di sini, Lady?" suara Manami melengking khawatir. "Kau bisa
mati kedinginan."
Kaede merapatkan kimono ke tubuhnya yang menggigil. "Aku tidak bisa tidur," ujar
Kaede lambat, "Aku bermimpi...."
"Masuklah. Akan kubuatkan teh untukmu." Manami memakai sandalnya dan bergegas
menyeberang halaman.
Beberapa burung layang-layang melesat di dekat atap. Kaede mencium asap kayu saat
api dinyalakan. Kuda meringkik saat diberi makanan. Ia mendengar ringkikan Raku seperti
yang ia dengar sebelum ini. Udara terasa menusuk, namun ia dapat mencium wangi bunga
yang bermekaran. Hatinya diliputi gelombang harapan. Ini bukan mimpi. Dia di sini. Tak
lama lagi aku akan bersamanya. Kaede tidak ingin beranjak, dia ingin tetap tinggal di mana
ia saat ini berada, sambil mengenang tatapan, sentuhan, dan aroma tubuh Takeo.
Manami datang membawa nampan dengan teh di atasnya. Dia memarahi Kaede lagi,
dan mengikutinya ke kamar. Shizuka sedang berpakaian. Begitu memandang, dia langsung
berseru, "Kau bertemu Takeo?"
Kaede tidak langsung menjawab. Ia malah mengambil mangkuk teh dari Manami dan
meneguknya perlahan. Ia merasa perlu berhati-hati dengan ucapannya: Shizuka berasal dari
Tribe yang telah memvonis mati Takeo. Ia sudah berusaha meyakinkan Takeo bahwa
Shizuka tidak akan membahayakannya tapi bagaimana ia bisa begitu yakin? Bagaimana pun
juga, ia merasa tak bisa mengendalikan perasaannya. Ia tidak dapat berhenti tersenyum,
seolah topengnya telah retak dan terjatuh.
"Aku akan ke biara," katanya. "Aku harus bersiap-siap. Manami akan ikut denganku.
Shizuka, kau boleh pergi melihat kedua anakmu dan kau boleh mengajak Kondo."
"Kupikir Kondo akan ikut bersamamu ke Inuyama," kata Shizuka.
"Aku berubah pikiran. Dia harus pergi bersamamu. Dan kalian berdua harus pergi,
sekarang juga."




230
"Ini pasti perintah Takeo, kurasa," Shizuka berkata. "Kau tak bisa menipuku. Aku tahu
kau telah bertemu dengannya."
"Sudah kukatakan padanya bahwa kau tak akan mencelakainya," ujar Kaede. "Betul,
kan?"
Shizuka berkata tajam, "Sebaiknya lady jangan tanyakan itu. Jika tidak melihatnya, aku
tak akan bisa mencelakainya. Berapa lama kau berniat tinggal di biara? Jangan lupa, Arai
sedang menunggumu di Inuyama."
"Aku tak tahu. Semuanya tergantung Takeo." Kaede tak bisa mencegah dirinya
melanjutkan ucapannya. "Dia mengatakan kami harus menikah. Kami harus, kami akan
melakukannya."
"Jangan melakukan apa pun sebelum bertemu Arai," kata Shizuka mendesak. `Jika kau
menikah tanpa persetujuannya, berarti kau menghinanya. Dia akan sangat tersinggung. Kau
tak boleh memancing permusuhan dengan Arai. Dia adalah sekutu terkuatmu. Dan
bagaimana dengan Lord Fujiwara? Dapat dikatakan selama ini kau telah bertunangan
dengannya. Kau ingin dia juga tersinggung?"
"Aku tak akan menikahi Fujiwara!" bentak Kaede. "Dia, seperti semua orang lainnya,
tahu kalau aku tidak akan menikahi siapa pun kecuali Takeo. Bagi mereka, aku adalah
pembawa kematian. Tapi akulah hidup Takeo dan dialah hidupku."
"Bukan begitu cara dunia bekerja," balas Shizuka. "Ingat apa yang Lady Maruyama
katakan padamu, betapa mudah bangsawan dan ksatria terpikat pada perempuan jika mereka
pikir kau menyangsikan kekuasaan mereka. Fujiwara berharap dapat menikahimu: dia pasti
sudah menyampaikan itu pada Arai. Dialah jodoh yang paling Arai sukai. Selain itu, seluruh
Tribe memusuhi Takeo: dia tidak bisa bertahan. Jangan melihatku seperti itu: aku sedih bila
kau disakiti. Karena sangat peduli padamu, sehingga aku katakan ini. Bisa saja aku
bersumpah tak akan membahayakan Takeo, tapi itu tidak berguna: ratusan anggota Tribe di
luar sana akan berusaha membunuhnya. Cepat atau lambat mereka akan berhasil. Tak
seorang pun bisa lolos dari Tribe. Kau harus terima ini sebagai takdir Takeo. Apa yang akan
kau lakukan bila dia mati, padahal kau telah menghina semua orang yang selama ini mendukungmu?
Kau tidak akan mendapatkan Maruyama dan bahkan kau bisa kehilangan
Shirakawa. Kedua adikmu akan hancur karena ulahmu. Arai adalah pemimpinmu. Kau
harus ke Inuyama dan menerima keputusannya atas pernikahanmu. Kalau tidak, kau akan




231
membuatnya marah. Percayalah. Aku tahu jalan pikiran Arai."
"Bisakah Arai mencegah datangnya musim semi?" balas Kaede. "Bisakah dia
menghentikan salju mencair?"
"Semua laki-laki yakin mereka bisa. Perempuan menjalani hidup dengan menuruti
keyakinan ini, bukan dengan melawannya."
"Lord Arai akan belajar dengan cara yang berbeda," kata Kaede dengan suara rendah.
"Berkemaslah. Kau dan Kondo harus segera pergi."
Kaede lalu berpaling. Jantungnya berdebar liar, rasa sukacita terasa semakin kuat di
perut, dada, dan tenggorokannya. la tidak dapat memikirkan apa pun selain pertemuannya
nanti dengan Takeo. Sosok Takeo, kedekatannya, kembali menimbulkan demam dalam
tubuhnya.
"Kau sinting," kata Shizuka. "Kau telah kehilangan akal. Kau menimbulkan bencana
pada dirimu dan juga pada keluargamu."
Seolah menyetujui ketakutan Shizuka, tiba-tiba terdengar suara: rumah mengerang,
jendela berderit, genta-genta angin berbunyi saat bumi bergetar.*


SEGERA setelah salju mulai mencair dan cuaca mulai hangat, kabar tentang keberadaanku
di Terayama dan keinginanku menantang pemimpin Otori demi warisan tahtaku menyebar.
Dan seperti aliran air, pertama setetes, kemudian membanjir, para ksatria pun berdatangan
ke biara di gunung ini. Beberapa orang adalah ksatria yang tidak bertuan, tapi sebagian besar
adalah orang Otori yang mengakui keabsahanku sebagai penerus Lord Shigeru. Cerita
tentang diriku sudah melegenda, dan aku tampaknya menjadi pahlawan, bukan hanya bagi
para ksatria, tapi juga petani dan penduduk desa dari wilayah Otori yang putus asa setelah
musim dingin yang menggigit, tingginya pajak dan kejamnya hukuman yang diberlakukan
Shoichi dan Masahiro, kedua paman Shigeru.
Udara dipenuhi bunyi-bunyian musim semi. Pepohonan willow memamerkan daunnya
yang hijau keemasan. Burung gereja melesat di atas lahan yang tergenang air dan
membangun sarang di pinggiran atap biara. Setiap malam katak sahut-menyahut semakin
kencang; seruan keras katak memanggil hujan, ritme klik-klik dari katak pohon, dan
dentingan manis dari kodok lonceng kecil. Bunga yang bermekaran merambat di sepanjang
tanggul, tanaman selederi, bunga berbentuk mangkok yang berwarna kuning cerah dan juga
tanaman berwarna merah muda yang disenangi hewan ternak. Ibis dan bangau kembali
berdatangan ke sungai dan kolam.
Kepala biara, Matsuda Shingen, mengijinkanku menggunakan harta benda biara, dan
dengan bantuannya aku menghabiskan minggu-minggu awal musim semi ini untuk
mengorganisir orang-orang yang datang padaku, memberi perlengkapan dan
mempersenjatai mereka. Pandai besi berdatangan dari Yamagata dan tempat lain. Mereka
membangun bengkel di kaki gunung suci ini. Hampir setiap hari pedagang kuda
berdatangan, berharap dapat melakukan perdagangan yang menguntungkan, dan mereka
umumnya berhasil karena hampir semua kuda yang mereka bawa aku beli. Tak masalah


seberapa banyak orang yang kumiliki dan seberapa baik mereka dipersenjatai, senjata
utamaku selalu kecepatan dan kejutan. Aku tidak punya banyak waktu atau sumberdaya
untuk mengumpulkan sejumlah besar pasukan pejalan kaki seperti yang dimiliki Arai. Aku
hanya mengandalkan pasukan berkuda yang sedikit namun tangkas.
Di antara rombongan pertama yang datang terdapat kakak beradik Miyoshi, Kahei dan
Gemba, yang pernah menjadi teman berlatihku di Hagi. Waktu itu, yang kini terasa sudah
lama berlalu, kami berlatih dengan menggunakan pedang kayu. Kehadiran mereka sangat
berarti bagiku, lebih berarti dari yang mereka duga. Ini artinya kaum Otori tidak melupakan
Shigeru. Mereka membawa tiga puluh orang dan, sebagai ucapan sambutan, mereka
membawa kabar dari Hagi.
"Shoichi dan Masahiro telah mewaspadai kembalinya dirimu," Kahei memberitahukan.
Dia lebih tua beberapa tahun dariku dan dia juga memiliki pengalaman perang, dia pernah
berperang di Yaegahara saat berusia empat belas tahun. "Tapi mereka tidak menganggapnya
serius. Mereka pikir hanya butuh satu pertempuran kecil yang cepat untuk dapat
mengalahkanmu." Dia menyeringai. "Aku tak berniat meremehkan, tapi mereka memberi
kesan bahwa kau lemah."
"Selama ini mereka memang meremehkan diriku," ujarku membalas. Aku teringat
pengawal kepercayaan iida, Abe, yang berpikiran sama sampai akhirnya dia diberi pelajaran
yang berbeda oleh Jato. "Mereka benar dalam beberapa hal. Memang aku masih muda dan
hanya mengetahui teori perang, bukan praktek. Tapi aku memiliki tekad untuk mewujudkan
amanat Shigeru."
"Orang-orang mengatakan kau mendapat sentuhan Surga," kata Gemba. "Mereka
mengatakan kau telah diberi kekuatan yang bukan berasal dari dunia ini."
"Kami sudah tahu itu," kata Kahei. "Ingatkah saat anda latihan bertarung melawan
Yoshitomi? Dia menganggap kekuatanmu itu berasal dari Neraka, bukan Surga."
Aku memang pernah bertarung menggunakan pedang kayu dengan anak Masahiro. Dia
lebih jago dariku, tapi aku memiliki kemampuan yang dia pikir suatu kecurangan karena aku
telah menggunakan kemampuanku untuk mencegahnya membunuhku.
"Apakah mereka telah merampas rumah dan tanahku?" tanyaku. "Aku mendengar kabar
mereka kalau berniat begitu."
"Belum, terutama karena guru kita, Ichiro, menolak menyerahkannya. Dia jelas-jelas


menunjukkan kalau dia tidak akan menyerahkan semua itu tanpa berjuang. Para pemimpin
Otori enggan memulai keributan dengannya dan juga dengan para pengawal Shigeru—yang
kini menjadi anak buahmu."
Rasa lega menghinggapiku karena tahu Ichiro masih hidup. Kuharap dia segera datang
ke biara agar dapat aku lindungi. Sejak salju mencair, setiap hari aku mengharapkan
kedatangannya.
"Mereka juga takut pada penduduk kota," Gemba menyela. "Mereka tidak ingin
memicu pemberontakan."
"Mereka lebih senang menyusun rencana jahat secara sembunyi-sembunyi," kataku.
"Menurut kabar, mereka hendak bernegosiasi denganmu," kata Kahei. "Mereka sudah
mengutus orang untuk bertemu denganmu?"
"Aku tidak mendengar apa pun dari mereka. Lagipula, tidak ada yang perlu
dinegosiasikan. Mereka yang bertanggung jawab atas kematian Shigeru. Mereka mencoba
membunuhnya dan ketika gagal, mereka menyerahkannya pada Iida. Aku tak akan
melakukan kesepakatan apa pun, meskipun mereka menawarkannya."
"Apa strategimu?" tanya Kahei, matanya menyipit.
"Tidak mungkin aku menyerang Otori di Hagi. Aku memerlukan sumberdaya yang
lebih besar dari yang ada sekarang ini. Rasanya aku mesti mendekati Arai... tapi aku tak
akan melakukannya sebelum Ichiro tiba di sini. Dia akan datang begitu jalan tidak bersalju
lagi."
"Utus kami ke Inuyama," ujar Kahei. "Bibiku menikahi orang kepercayaan Arai. Kami
bisa mencari tahu apakah musim dingin telah mengubah sikap Arai padamu."
"Bila tiba waktunya, aku akan meminta bantuan kalian untuk pergi kesana," aku
berjanji, gembira mempunyai cara untuk mendekati Arai secara tidak langsung. Aku belum
memberitahukan pada siapa pun kalau aku telah memutuskan bahwa pertama-tama aku
akan temui Kaede di mana pun dia berada, untuk menikahinya dan membantunya
mengambil alih Shirakawa dan Maruyama, jika dia masih menerimaku, jika dia belum
menikah....


Seiring semakin dekatnya musim semi, kegelisahanku pun semakin meningkat. Cuaca
berubah-ubah, hari ini cerah, keesokan harinya dingin. Pohon plum mekar dalam badai
hujan. Bahkan di saat kuncup cherry mulai berkembang, udara masih sangat dingin. Tapi
tanda-tanda musim semi mulai terlihat di mana-mana, khususnya di dalam darahku. Hidup
disiplin selama musim dingin membuat kondisiku prima, fisik maupun mental. Ajaran
Matsuda, kasih sayangnya yang tidak pernah pupus, pengetahuan tentang darah Otoriku,
semuanya telah memberiku rasa percaya diri yang baru. Aku agak terbebas oleh
kepribadianku yang terbelah, aku tidak mengalami banyak kesukaran akibat kesetiaan yang
saling berseteru. Aku tidak memperlihatkan kegelisahan yang menyiksaku. Aku belajar
untuk tidak memperlihatkan apa pun pada dunia, namun saat malam datang, pikiranku
hanya tertuju pada Kaede. Aku mendambakan dirinya; takut bila dia telah menikah dan
menghilang dariku untuk selamanya. Ketika tak bisa tidur, aku menyelinap keluar,
menjelajahi daerah di sekitar sini, terkadang hingga ke Yamagata. Meditasi, belajar dan
latihan telah mempertajam kemampuanku; aku tidak takut lagi bila bertemu musuh.
Makoto dan aku bertemu setiap hari untuk belajar bersama, tapi dengan kesepakatan
untuk tidak saling bersentuhan. Persahabatan kami beranjak ke taraf lain, yang kurasa akan
bertahan seumur hidup. Aku pun tidak tidur dengan perempuan lain. Selain karena tidak
dibolehkan di biara, aku takut ada pembunuh menangkapku di rumah bordil, dan juga
karena aku tidak ingin punya anak lagi. Aku sering teringat Yuki. Aku tak bisa
menghentikan diriku melewati rumah orangtuanya di satu larut malam gelap di bulan kedua.
Bunga pohon plum berkilauan putih di kegelapan, namun tidak ada cahaya di dalam rumah
dan hanya satu penjaga di gerbang. Kini rumah itu sunyi. Bahkan aroma kedelai fermentasi
pun memudar.
Aku memikirkan anakku dari Yuki. Aku yakin anakku adalah anak laki-laki, anak yang
akan dibesarkan Tribe dan akan dididik untuk membenciku dan kemungkinan ditakdirkan
untuk memenuhi ramalan si perempuan buta. Meskipun telah mengetahui masa depanku,
bukan berarti aku bisa lolos: inilah bagian paling menggetirkan dari hidup manusia.
Aku ingin tahu di mana Yuki sekarang-mungkin jauh di desa tersembunyi di utara
Matsue-dan aku seringkali teringat pada ayah Yuki, Kenji. Dia mungkin tidak jauh,
mungkin di salah satu desa Muto di pegunungan, tanpa menyadari bahwa jaringan rahasia


tempat persembunyian Tribe telah terungkap dalam catatan yang Shigeru tinggalkan dan
aku telah mempelajarinya selama musim dingin ini. Aku masih tak yakin apa yang akan
kulakukan dengan pengetahuan ini, apakah aku akan mengambil keuntungan untuk
mendapatkan Arai atau menggunakannya untuk memusnahkan organisasi rahasia yang telah
mengeluarkan hukuman mati padaku.
Dulu Kenji pernah bersumpah untuk melindungiku. Aku anggap janjinya hanyalah
bagian dari sifatnya yang penuh tipu daya dan aku tak memaafkan atas keterlibatannya
dalam pengkhianatan pada Shigeru. Tapi aku juga sadar tanpa dia, aku tidak bisa balas
dendam. Aku tidak bisa lupa bahwa dia mengikutiku kembali ke kastil malam itu. Jika bisa
memilih bantuan seseorang, dialah pilihanku, tapi kurasa dia tak mau melanggar aturan
Tribe. Seandainya aku bertemu dengannya, kami pasti akan saling membunuh.
Saat dalam perjalanan pulang setelah fajar menyingsing, aku mendengar seekor serigala
yang terengah dan kaget di jalan setapak. Hewan itu hanya mendengar tanpa bisa melihatku.
Aku cukup dekat untuk melihat bulu kemerah-merahan terang di balik telinganya, cukup
dekat untuk mencium napasnya. Dia menggeram ketakutan, mundur, berbalik dan
menyelinap ke dalam semak belukar. Dapat kudengar dia berhenti dan mengendus-endus
lagi, penciumannya setajam pendengaranku. Dunia indera kami saling melengkapi, duniaku
dikuasai pendengaran, sedangkan dunianya dikuasai penciuman. Aku ingin tahu seperti apa
rasanya memasuki alam serigala yang liar dan terpencil. Di Tribe aku dipanggil si Anjing,
tapi aku lebih suka membayangkan diriku seperti serigala, tidak dimiliki siapa pun juga.
Menjelang pagi, aku melihat Raku, kuda kesayanganku. Hari itu adalah akhir bulan
ketiga, ketika kuncup cherry mulai bermekaran. Aku sedang mendaki jalan terjal saat langit
mulai terang, mataku menatap puncak gunung yang masih ditutupi salju, yang berubah
merah jambu dalam cahaya matahari. Aku melihat beberapa kuda berbaris di luar sebuah
penginapan. Nampaknya belum ada orang yang bangun meskipun aku mendengar ada
jendela dibuka dari salah satu sisi halaman. Aku memperhatikan kuda-kuda itu dan, di
waktu bersamaan aku mengenali bulu abu-abu dan surai hitam Raku. Kuda itu
membalikkan kepala, melihatku dan meringkik gembira.
Raku telah kuhadiahkan untuk Kaede; hanya kuda itulah satu-satunya hartaku yang
tertinggal setelah jatuhnya Inuyama. Apakah Kaede telah menjual atau menghadiahkan
kuda itu pada orang lain? Ataukah Raku yang membawa Kaede kemari untukku?


Di antara istal dan kamar tamu penginapan terdapat halaman kecil yang ditumbuhi
pohon pinus, dan ada sebuah lentera batu. Aku melangkah ke dalam. Ada yang sudah
bangun; dapat kudengar napasnya di balik jendela. Aku berjalan ke beranda, nekad ingin
tahu apakah orang itu adalah Kaede, dan di waktu bersamaan aku pun yakin akan segera
melihat gadis yang sangat kurindukan itu.
Dia bahkan terlihat lebih cantik dari yang kuingat. Sakit telah membuat dia lebih kurus
dan rapuh, tapi memunculkan keindahan tulangnya, kerampingan lengan dan lehernya.
Gemuruh jantungku menghentikan dunia di sekelilingku. Kemudian, menyadari bahwa ada
sedikit waktu bagi kami berdua sebelum penghuni lain bangun, aku mendekat dan berlutut
di hadapannya.
Semuanya berjalan begitu singkat karena aku mendengar ada orang yang bangun. Aku
lalu menghilangkan diri dan menyelinap pergi. Aku mendengar desah ketakutan Kaede dan
menyadari aku belum menceritakan kemampuan menghilang yang kumiliki. Begitu banyak
yang masih harus kami bicarakan; apakah kami akan memiliki cukup waktu? Genta angin
berbunyi saat aku lewat di bawahnya. Raku menatap ke arahku, namun tidak dapat melihat
diriku. Kemudian tubuhku muncul kembali. Aku mendaki bukit dengan penuh semangat
seolah-olah aku baru meneguk minuman ajaib. Kaede ada di sini. Dia belum menikah. Dia
akan menjadi milikku.
Seperti yang kulakukan setiap hari, aku pergi ke pemakaman dan berlutut di depan
makam Shigeru. Di pagi hari seperti ini, keadaan sunyi-senyap, cahaya bersinar temaram di
bawah pepohonan cedar. Matahari menyentuh ujung pepohonan; di seberang bukit, kabut
menggantung sepanjang sisi-sisi lereng sehingga puncak gunung terlihat mengambang di
atas kabut.
Air terjun tetap mengoceh tiada henti, digemakan oleh percikan air lembut yang
mengalir melalui parit menuju kolam dan tanki air di taman. Dapat kudengar para biarawan
berdoa, timbul dan tenggelam untaian sutra, kumandang jernih yang tiba-tiba dari sebuah
lonceng. Aku senang Shigeru dimakamkan di tempat yang damai ini. Aku berbicara pada
arwahnya untuk meminta kekuatan dan kearifannya. Aku ceritakan padanya tentang apa
yang dia pasti sudah tahu, bahwa aku akan memenuhi permintaan terakhirnya. Dan,
pertama-tama, aku akan menikahi Shirakawa Kaede.
Tiba-tiba terjadi getaran kuat seperti gempa bumi. Aku dicengkram oleh kepastian


bahwa aku sedang melakukan hal yang benar, dan juga oleh perasaan mendesak. Kami harus
segera menikah.
Perubahan nada air membuatku memalingkan kepala. Di kolam besar, ikan berenang
hilir mudik sehingga mirip permadani merah emas yang berkelap-kelip. Makoto sedang
memberi makan ikan-ikan itu, wajahnya tenang.
Merah dan emas mengisi mataku, warna keberuntungan, warna pernikahan.
Melihat aku sedang menatapnya, dia memanggil, "Ke mana saja kau? Kau ketinggalan
makan pagi."
"Nanti saja." Aku berdiri dan berjalan ke arahnya. Aku tak bisa menyimpan rasa
gembiraku. "Lady Shirakawa ada di sini. Maukah kau bersama Kahei menemaninya ke
rumah tamu untuk perempuan?"
Dia melemparkan kue mochi terakhir ke dalam kolam. "Akan kupanggil Kahei. Lebih
baik aku tidak ikut. Aku tak ingin mengingatkan Kaede pada sakit yang kutimbulkan pada
dirinya."
"Mungkin kau benar. Ya, panggillah Kahei. Biar mereka yang membawa Kaede ke sini
sebelum siang."
"Mengapa dia di sini?" tanya Makoto.
"Dia hendak ziarah, dia hendak mengucapkan syukur atas kesembuhannya. Tapi karena
dia sudah di sini, aku berniat menikahinya."
"Begitu saja?" Dia tertawa tanpa rasa senang. "Mengapa tidak?"
"Pengalamanku tentang pernikahan sangat sedikit, tapi aku yakin dalam keluarga
terpandang seperti Shirakawa atau, juga, Otori, harus ada pemberian restu, pemimpin klan
pun harus menyetujuinya."
"Akulah pemimpin klan dan akan kuberikan restuku," kataku ringan, merasa kalau
Makoto sedang mengangkat masalah yang tidak perlu.
"Keadaanmu memang agak berbeda. Tapi siapakah yang dipatuhi Lady Shirakawa?
Keluarganya mungkin saja punya rencana lain."
"Dia tidak mempunyai keluarga lagi." kemarahanku mulai muncul.
"Jangan bodoh, Takeo. Semua orang punya keluarga, apalagi bagi gadis yang mewarisi
wilayah yang luas."
"Aku berhak dan memiliki kewajiban moral untuk menikahinya karena dia telah


ditunangkan dengan ayah angkatku." Suaraku mulai memanas. "Kehendak Shigeru yang
menginginkan aku berbuat demikian."
"Jangan marah," kata Makoto setelah diam sejenak. "Aku tahu perasaanmu padanya.
Aku hanya mengatakan apa yang semua orang akan katakan."
"Dia juga mencintaiku!"
"Cinta tak ada hubungannya dengan pernikahan." Dia menggeleng-gelengkan kepala,
memandangku seolah-olah aku anak kecil.
"Tak ada yang bisa menghentikanku! Dia di sini. Tak akan kubiarkan dia pergi dariku
lagi. Kami akan menikah minggu ini."
Lonceng berdentang dari biara. Seorang biarawan tua berjalan melintasi halaman sambil
menegur ke arah kami. Makoto tetap menjaga suaranya rendah, tapi aku berbicara dengan
keras dan memaksa.
"Aku harus bermeditasi," kata Makoto. "Mungkin kau juga. Pikirkan lagi sebelum
bertindak."
"Tekadku sudah bulat. Pergi dan bermeditasilah! Aku akan memanggil Kahei. Dan
setelah itu, aku akan bicara dengan Kepala Biara."
Aku langsung sadar kalau aku sudah terlambat untuk bertemu Kepala Biara guna
berlatih pedang. Aku bergegas mencari kakak-beradik Miyoshi, dan memanggil mereka
yang sedang menuruni bukit ke tempat pandai besi.
"Lady Shirakawa?" kata Kahei, `Elmankah berjalan di dekatnya?"
"Mengapa kau berkata begitu?" tanyaku kasar.
"Jangan tersinggung, Takeo, tapi semua orang tahu tentang dia. Dia membawa
kematian bagi laki-laki."
"Hanya bagi mereka yang memiliki hasrat padanya,"
Gemba menambahkan, kemudian menatapku sekilas, dia melanjutkan, "Itulah yang
orang-orang katakan!"
"Dan orang-orang juga mengatakan dia begitu cantik sehingga tak mungkin
menatapnya tanpa memiliki hasrat padanya." Kahei memandang ragu. "Kau mengutus kami
pada kematian yang tak terelakkan."
Aku tak bersemangat membalas lelucon itu, tapi perkataan mereka makin
menyadarkanku betapa pentingnya pernikahan kami. Kaede pernah mengatakan bahwa dia


hanya akan aman bila bersamaku dan aku mengerti alasannya. Hanya menikah denganku
yang dapat menyelamatkan dia dari kutukan yang tampak menyertainya. Aku tahu dia tak
akan berbahaya bagiku. Laki-laki lain yang berhasrat padanya sudah mati, tapi aku telah
bersamanya dan aku masih hidup.
Aku tak akan menjelaskan semua ini pada kakak beradik Miyoshi.
"Bawa dia ke rumah tamu yang khusus diperuntukkan bagi perempuan sesegera
mungkin," kataku singkat. "Pastikan jangan sampai satu pun anak buahnya ikut dan juga
pastikan Kondo Kiichi dan Muto Shizuka pergi hari ini juga. Kaede akan membawa seorang
pelayan. Perlakukan mereka dengan hormat. Sampaikan padanya bahwa aku akan
menemuinya sekitar waktu Monyet*."
"Takeo, kau tak kenal takut," gerutu Gemba.
"Lady Shirakawa akan menjadi isteriku."
Ucapanku membuat mereka kaget. Mereka menatapku dan menutup mulut rapat-rapat.
Mereka membungkuk resmi dan berjalan tanpa bicara sampai di pos jaga, di mana ada lima
atau enam orang. Saat di luar gerbang, mereka membuat lelucon yang menyinggung diriku,
tanpa sadar kalau aku bisa mendengarnya. Mereka menyamakan Kaede dengan belalang
betina yang melahap pasangannya. Aku hendak mengejar dan memberi mereka pelajaran,
tapi aku sudah terlambat untuk menghadap Kepala Biara.
Seraya mendengar tawa mereka sayup-sayup, aku bergegas ke aula tempat latihan.
Kepala Biara sudah menunggu di sana, mengenakan jubah rahibnya. Aku masih dalam
balutan pakaian kasar. Aku mengenakan pakaian penjelajah-malamku: mirip seragam hitam
Tribecelana selutut, pembalut kaki, dan sepatu yang memiliki pemisah ibu jari yang juga bisa
dipakai untuk bertarung dengan pedang atau melompat ke atas dinding dan berlari di atap.
Matsuda tampak tak terbebani oleh rok dan lengan jubahnya yang panjang. Aku
biasanya menyelesaikan latihan dengan terengah-engah dengan keringat membasahi yang
sekujur tubuhku. Sedangkan dia begitu tenang dan tidak berkeringat, seakan dia tidak
melakukan gerakan apa pun, seakan dia hanya duduk berdoa.
Aku berlutut di hadapannya, meminta maaf atas keterlambatanku. Dia menatapku
dengan ekspresi wajah yang aneh, tapi tidak berkata apa-apa, kepalanya menunjuk ke
tongkat kayu. Kuambil tongkat dari rak. Tongkat ini berwarna gelap, nyaris hitam, lebih
panjang dan lebih berat dari Jato.




241
Sejak berlatih setiap hari dengan tongkat ini, tanganku semakin kuat dan luwes, dan
luka di tangan kananku akibat bertarung melawan Akio kini telah sembuh. Awalnya tongkat
ini terasa seperti kuda liar yang tidak mau mengikuti tali kekangnya; sedikit demi sedikit aku
belajar mengendalikannya hingga dapat kumainkan setangkas aku menggunakan sepasang
sumpit.
Ketepatan dalam latihan sama pentingnya seperti pertarungan yang sesungguhnya,
karena satu gerakan salah dapat meretakkan tengkorak atau mematahkan tulang rusuk.
Kami tidak memiliki cukup orang untuk mengambil resiko terbunuh dan terluka dalam
latihan.
Gelombang keletihan menerpa saat aku mengangkat tongkat membentuk posisi
menantang. Aku belum tidur semalaman dan belum makan sejak pagi. Kini aku
membayangkan Kaede, melihat sosoknya seperti saat aku melihat dia tadi pagi, sedang
berlutut di beranda. Aku mendapatkan kembali energiku. Sekejap saja aku sadari betapa
pentingnya dia bagiku.
Biasanya aku bukan tandingan Matsuda. Tapi sesuatu telah mengubahku, sesuatu yang
memungut semua unsur latihan dan mengumpulkannya menjadi satu kesatuan: satu
semangat kuat, tak bisa dihancurkan, yang memancar dari inti tubuhku dan mengalir ke
lenganku. Untuk pertama kalinya kusadari kalau aku empat puluh tahun lebih muda
dibanding Matsuda. Aku melihat ketuaan dan kerapuhannya. Aku merasa iba kepadanya.
Aku membatalkan serangan dan membiarkan tongkatku jatuh. Saat kejadian itu,
tongkat Matsuda menemukan daerah badanku yang tak terlindungi, menyerang sisi leherku,
dengan satu pukulan yang membuatku pusing. Untung saja dia tak memukulku dengan
kekuatan penuh.
Matanya, yang biasanya teduh, kini menyala-nyala karena marah.
"Pukulan itu memberimu pelajaran," dia berkata kesal. "Pertama, kau tak boleh lambat
dan kedua, jangan biarkan kelembutan hatimu muncul saat sedang bertarung."
Ketika aku membuka mulut hendak bicara, dia langsung menyela. "Jangan membantah.
Aku telah meluangkan waktu untuk melatihmu, tapi kau malah merusaknya. Mengapa?
Bukan karena kasihan padaku, kuharap?"
Aku menggeleng.




242
Dia menghela napas. "Kau tak bisa membohongiku. Aku melihat itu di matamu. Aku
melihat bocah laki-laki yang kemari tahun lalu dan tergerak oleh Sesshu. Seperti itukah yang
kau inginkan? Menjadi seniman? Aku pernah mengundangmu kemari untuk belajar dan
menggambar itukah yang kau inginkan?"
Aku enggan menjawab, tapi dia menunggu tanggapanku. "Sebagian dari diriku
mungkin menginginkannya, tapi tidak sekarang. Pertama aku harus menjalankan perintah
Shigeru."
"Kau yakin? Maukah kau berjanji pada dirimu sendiri untuk melakukannya sepenuh
hati?"
Aku mendengar keseriusan nada bicaranya dan aku menjawab dengan nada yang serupa.
"Ya, aku berjanji."
"Kau akan memimpin banyak orang, beberapa orang akan mati. Yakinkah kau hendak
melakukan itu? Jika kau memiliki kelemahan, Takeo, maka itulah kelemahanmu. Kau
mudah merasa iba. Seorang ksatria harus memiliki karakter yang tak mengenal ampun.
Banyak orang yang mengikutimu akan mati dan kau pun akan membunuh banyak orang.
Sekali kau terjun ke jalan ini, kau harus menjalaninya sampai akhir. Kau tidak bisa
membatalkan seranganmu hanya karena kau merasa iba pada lawanmu."
Aku dapat merasakan rona bersemu di wajahku. "Aku tak akan melakukannya lagi. Aku
tak bermaksud menghinamu. Maaf."
"Akan kumaafkan bila kau bisa menunjukkan gerakan itu lagi dan menyelesaikannya."
Dia mengambil posisi menantang, matanya menatap lurus ke mataku. Aku tidak cemas
membalas tatapannya: dia tak pernah terlena oleh daya tidur Kikuta dan aku tak pernah
mencoba memperdayainya. Aku pun tak pernah secara sengaja menggunakan kemampuan
menghilangku atau sosok keduaku padanya, meski kadangkala, dalam panasnya pertarungan,
aku merasakan bayanganku mulai menyelinap muncul.
Tongkatnya bergerak bagaikan kilat menembus udara. Aku lalu berhenti memikirkan
apa pun kecuali musuh di depanku dan tusukan tongkatnya, lantai di bawah kaki-kaki kami.
Ruang latihan kami dipenuhi berbagai gerakan yang menyerupai tarian. Dan dua kali aku
mencapai titik di mana aku menyadari keunggulanku, dan tak sekali pun aku gagal
mengikuti seluruh gerakan itu.




243
Ketika selesai latihan, Matsuda agak bersinar-sinar, mungkin karena cuaca musim
panas. Saat kami menyeka keringat dengan handuk yang Norio bawakan, Matsuda berkata,
"Aku tak menduga kau akan menjadi jago pedang, tapi kau telah melakukannya lebih baik
dari yang kuharapkan. Bila kau berkonsentrasi, kau tidak buruk, sama sekali tidak buruk."
Aku kehilangan kata-kata karena pujian yang luar biasa itu. Matsuda tertawa. "Jangan
besar kepala dulu. Kita akan bertarung sekali lagi sore ini. Kuharap kau sudah menyiapkan
strategi."
"Baiklah, Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan."
"Sesuatu yang berhubungan dengan Lady Shirakawa?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku mendengar kabar dia dalam perjalanan kemari. Persiapan telah dilakukan agar dia
bisa tinggal di rumah tamu khusus perempuan. Ini merupakan kehormatan bagi kami. Aku
akan menemuinya nanti."
Dia seperti berbicara santai, tapi aku cukup mengenal Matsuda: dia tidak melakukan
sesuatu secara santai. Aku takut dia akan mencemaskan pernikahanku dengan Kaede seperti
yang Makoto utarakan, tapi aku harus mengatakan padanya tentang niatku ini, cepat atau
lambat. Semua potongan pikiran melintas di benakku dan kemudian terpikir olehku bahwa
bila aku harus meminta restu pada seseorang, maka dialah orangnya.
Aku berlutut dan berkata, "Aku bermaksud menikahi Lady Shirakawa. Bisakah kau
memberi restu dan bisakah upacara itu dilangsungkan di sini?"
"Itukah alasan Lady Shirakawa datang? Apakah dia datang dengan restu keluarga atau
klannya?"
"Tidak, dia kemari karena alasan lain—untuk mensyukuri kesembuhannya. Namun
salah satu amanat Lord Shigeru yaitu aku harus menikahinya, dan kini takdir telah
membawa Lady Shirakawa ke tempat ini untukku...." Aku mendengar nada memohon
dalam suaraku.
Kepala Biara juga mendengarnya. Sambil tersenyum, dia berkata, "Bagimu itu tidak jadi
masalah, Takeo. Tapi bagi gadis itu, menikah tanpa persetujuan dari klannya, dari Arai...
Bersabarlah, mintalah ijin Arai. Tahun lalu dia ingin menikahkan kalian. Banyak alasan
untuk berpikir kalau Arai masih menginginkan pernikahan ini."




244
"Aku bisa dibunuh kapan saja!" teriakku. "Aku tidak ada waktu untuk bersabar!
Lagipula, ada orang lain yang juga berniat menikahinya."
"Apakah mereka sudah bertunangan?"
"Tidak resmi. Tapi tampaknya orang itu berharap agar pernikahan segera
dilangsungkan. Dia kerabat kaisar, dan tanahnya berbatasan dengan tanah Lady Shirakawa."
"Fujiwara," Matsuda berkata.
"Kau mengenalnya?"
"Aku tahu siapa dia. Semua orang juga, kecuali yang setengah—terpelajar sepertimu.
Dia memang sekutu yang sangat cocok. Wilayah mereka akan menyatu, anak Fujiwara akan
mewarisi kedua wilayah, dan yang lebih penting lagi, karena Fujiwara hampir dipastikan
akan kembali ke ibukota tak lama lagi, Arai nantinya akan memiliki sahabat di kekaisaran."
"Ini tidak akan terjadi. Lady Shirakawa tidak akan menikah dengan Fujiwara. Dia akan
menikah denganku, sebelum akhir Minggu ini!"
"Mereka akan menghancurkanmu." Matanya terpaku ke wajahku.
"Tidak, bila Arai berpikir aku dapat membantunya menghancurkan Tribe. Dan bila
kami menikah, kami akan langsung ke Maruyama. Lady Shirakawa adalah pewaris sah
wilayah Maruyama dan Shirakawa. Itu semua akan memberi sumberdaya yang kuperlukan
untuk melawan pemimpin Otori."
"Sebagai suatu strategi, rencanamu memang tidak buruk," kata Matsuda. "Tapi ada
beberapa resiko: Arai bisa marah. Kurasa lebih baik bagimu bila tidak menentangnya, dan
kau juga tak ingin mencari musuh baru seperti Fujiwara. Tindakanmu, dengan semua
keberaniannya, bisa menghancurkan semua harapanmu. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku
ingin melihat semua keinginan Shigeru terpenuhi. Layakkah pertaruhan ini?"
"Tak ada yang bisa mencegahku untuk menikahinya," kataku dengan nada rendah.
"Kau tergila-gila padanya. Jangan sampai itu mempengaruhi keputusanmu."
"Aku lebih dari sekadar tergila-gila. Dialah hidupku dan akulah hidupnya."
Kepala Biara menghela napas. "Di usia tertentu, kita semua berpikiran seperti itu
tentang perempuan atau lainnya. Percayalah, ini tak akan bertahan lama."
"Lord Shigeru dan Lady Maruyama tetap saling mencintai selama bertahun-tahun,"
kataku memberanikan diri.




245
"Ya, ini pasti kegilaan yang ada dalam darah Otori," dia menjawab pedas, namun
ekspresinya melembut dan matanya memperlihatkan pandangan merenung.
"Benar," akhirnya Matsuda berkata. "Cinta mereka memang bertahan. Dan ini
mencerahkan semua rencana dan harapan mereka. Jika mereka menikah dan mewujudkan
persekutuan yang mereka impikan antara Wilayah Tengah dan Barat, siapa yang tahu apa
yang tak mungkin mereka raih?" Dia menepuk-nepuk bahuku. "Rasa-rasanya arwah mereka
telah memberi kesempatan yang kedua padamu dan Lady Shirakawa. Dan, aku tidak dapat
mengabaikannya, karena menjadikan Maruyama sebagai basis sangat masuk akal. Maka,
demi kepentingan para arwah, aku merestui pernikahan ini. Kau boleh mulai melakukan
persiapan yang diperlukan."
"Aku belum pernah melihat pesta pernikahan," aku mengakui, setelah aku bersujud
untuk berterima kasih. "Apa yang perlu kulakukan?"
"Perempuan yang menyertai Lady Shirakawa tahu. Tanyakan padanya. Kuharap aku
belum pikun," dia menambahkan, sebelum menyuruhku pergi.
Saat ini hari mendekati waktu makan siang. Aku pergi membersihkan badan dan
mengganti pakaian. Aku berpakaian dengan hati-hati karena memakai kimono sutera yang
ada simbol Otori di punggung. Kimono ini diberikan sewaktu aku tiba di Terayama setelah
perjalananku menembus salju. Aku makan dengan pikirari terpecah, hampir tidak bisa
menikmati makananku, sementara itu aku pun memasang telinga terus menerus untuk
mendengar kedatangannya.
Akhirnya aku mendengar suara Kahei di luar aula. Aku memanggilnya dan dia datang
bergabung.
"Lady Shirakawa sudah di rumah tamu," dia berkata. "Ada lima puluh orang lagi yang
datang dari Hagi untuk bergabung dengan kita. Kita akan memberi mereka penginapan di
desa. Gemba yang mengaturnya."
"Akan kutemui mereka malam ini," kataku, hatiku melayang-layang mendengar kedua
kabar itu. Aku tinggalkan Kahei yang hendak makan untuk kembali ke kamarku, di mana
aku berlutut dan mengambil gulungan kertas yang Kepala Biara berpesan agar aku
membacanya. Kurasa aku akan mati dalam ketidaksabaran sebelum aku bertemu Kaede lagi,
namun perlahan-lahan aku terserap dalam seni perang: jumlah pertempuran yang menang




246
dan kalah, strategi dan taktik, peran yang dimainkan oleh Surga dan Bumi. Masalah yang
dirancang Matsuda adalah bagaimana mengambil alih kota Yamagata. Ini hanyalah masalah
teoritis, tidak lebih; Yamagata masih di bawah kekuasaan Arai melalui gubernur
penggantinya, meski ada beberapa laporan bahwa Otori berencana mengambil kembali
bekas wilayahnya dan saat ini sedang menyusun pasukan bersenjata di perbatasan selatan
dekat Tsuwano. Matsuda berniat mendekati Arai atas namaku dan menjalin perdamaian
antara kami berdua, di mana aku kelak akan mengabdi pada Arai selagi menuntut warisan
tahta Otori. Tapi aku juga waspada karena bila ternyata Arai semakin marah karena aku
menikahi Kaede, mungkin aku perlu langsung merebut Yamagata. Hal ini menambah
pemahamanku tentang strategi perang yang aku baca.
Aku sangat mengenal Yamagata; aku telah menjelajahi setiap ruas jalannya; aku telah
memanjat masuk ke dalam kastilnya. Dan aku tahu daerah di sekitarnya, gunung, bukit,
lembah dan sungai-sungainya. Kesulitan utamaku yaitu sedikitnya anak buahku: seribu
orang paling banyak. Yamagata adalah kota makmur, namun musim dingin telah
menyengsarakan semua orang. Jika aku serang Yamagata di awal musim panas, bisakah
kastil itu bertahan cukup lama? Apakah diplomasi akan membuat mereka menyerah bila
ternyata cara paksa tidak berhasil? Apa keunggulan pasukanku?
Selagi terus memikirkan masalah ini, pikiranku beralih pada si gelandangan Jo-An. Aku
pernah mengatakan akan mencarinya di musim semi ini, tapi aku masih belum yakin apakah
aku menginginkannya. Aku tak dapat melupakan tatapan lapar, penuh harapan di matanya,
di mata si nelayan dan gelandangan lainnya. "Dia orangmu, sekarang," kata Jo-An tentang
nelayan itu, "Begitu juga kami semua." Bagaimana bila aku memasukkan para gelandangan
dalam pasukanku, atau para petani yang datang setiap hari untuk berdoa di makam Shigeru?
Aku bisa saja mengikutsertakan mereka bila aku menghendakinya. Tapi, inikah yang akan
dilakukan para ksatria? Belum pernah aku mendengar tentang pertempuran yang melibatkan
petani. Biasanya mereka menghindari pertempuran, membenci dua belah pihak yang
berperang sama besarnya dan mengambil semua yang ada pada orang yang tewas tanpa
pandang bulu.
Seperti yang sering terjadi, wajah petani yang pernah kubunuh di ladang rahasianya di
bukit di balik Matsue melayang-layang di depan mataku. Aku mendengar dia memanggil,




247
"Lord Shigeru!" Seperti juga yang lainnya, aku ingin membaringkan jasadnya agar
beristirahat dengan tenang. Namun bayangan petani itu juga membawa keberanian dan
keteguhan hati kawan-kawan petaninya ke dalam pikiranku, itu adalah sumberdaya yang
kini tersiasiakan. Jika aku memanfaatkan para petani, apakah orang yang kubunuh akan
berhenti menghantuiku?
Petani di wilayah Otori, baik yang masih menetap di Hagi maupun di wilayah yang
telah direbut Tohan termasuk Yamagata—sangat mencintai Shigeru. Mereka semua bangkit
dalam kemarahan setelah kematiannya. Aku yakin mereka akan mendukungku, namun bila
aku memanfaatkan mereka, maka kesetiaan para ksatria kemungkinan akan terbelah.
Masalah Yamagata: jika aku berhasil menyingkirkan pimpinan pengganti sementara
yang Arai tempatkan di kastil, akan ada kesempatan lebih besar bagi kota untuk menyerah
tanpa pertempuran panjang. Apa yang aku butuhkan adalah seorang pembunuh yang bisa
dipercaya. Tribe mengakui bahwa akulah satu-satunya yang mampu memanjat seorang diri
ke dalam kastil Yamataga, hanya saja rasanya bukanlah skema yang bagus bagi pemimpin
merangkap komandan melakukan tindakan itu. Konsentrasiku terpecah, mengingatkan
bahwa aku belum tidur semalaman. Aku penasaran apakah aku bisa melatih para pemuda
seperti cara Tribe melatih. Mereka mungkin tidak memiliki bakat, tapi kebanyakan
kemampuan itu hanyalah masalah latihan semata. Dapat kulihat semua keuntungan dari
jaringan mata-mata ini. Mustahilkah bila beberapa anggota Tribe yang tidak setia bisa
dibujuk mengabdi padaku? tapi aku membuang pikiran itu untuk sementara ini.
Seiring hari yang semakin hangat, waktu berjalan lebih lambat. Lalat-lalat yang
terbangun dari tidur musim dingin berdengung di jendela. Aku dengar kicau burung yang
memanggil-manggil dari hutan, terbangnya burung layang-layang dan gigitan paruh mereka
saat menangkap serangga. Bunyi-bunyian biara bergumam di sekelilingku: langkah kaki,
desiran jubah, timbul dan tenggelamnya rangkaian doa, nada jernih dari lonceng yang
berdentang.
Angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan, penuh dengan keharuman musim semi. Dalam
seminggu Kaede dan aku akan menikah. Hidup nampak bergelora di sekitarku,
merangkulku dengan semangat dan energinya. Namun aku masih duduk di sini, tenggelam
dalam pelajaran perang.




248
Saat Kaede dan aku bertemu malam itu, kami hanya membicarakan tentang strategi.
Kami tidak perlu membicarakan tentang cinta; kami akan menikah, kami akan menjadi
suami-isteri. Tapi bila kami hidup cukup lama hingga punya anak, kami perlu bertindak
cepat untuk menyatukan kekuatan kami.
Instingku benar saat Makoto memberitahukan bahwa Kaede sedang membentuk
pasukan, bahwa dia akan menjadi sekutu yang hebat. Dia sepakat denganku kalau kami
harus langsung ke Maruyama; dia menceritakan pertemuannya dengan Sugita Haruki di
musim gugur. Sugita sedang menanti kabar darinya, dan Kaede memberi saran untuk
mengutus beberapa orangnya ke Maruyama guna memberitahukan Sugita tentang niat kami.
Aku setuju, dan memikirkan si bungsu dari kakak beradik Miyoshi, Gemba, mungkin bisa
pergi bersama mereka. Kami tidak mengirim pesan ke Inuyama: semakin sedikit yang Arai
tahu tentang rencana kami, semakin baik.
"Shizuka mengatakan bahwa pernikahan kita akan membuat Arai marah," kata Kaede.
Aku tahu itu mungkin saja benar. Kami memang seharusnya bersabar. Mungkin jika
kami mendekati Arai melalui cara yang tepat, melalui bibi Kahei atau melalui Matsuda atau
Sugita, Arai mungkin akan mengambil keputusan yang menguntungkan kami. Tapi kami
dicengkram oleh desakan keputusasaan, mengetahui kemungkinan betapa singkatnya hidup
kami. Dan akhirnya, kami menikah beberapa hari kemudian, di kuil, dalam bayangbayang
pepohonan yang mengelilingi makam Shigeru, menuruti keinginan ayah angkatku itu
meskipun melanggar semua aturan yang berlaku di klas kami. Kurasa bila aku bisa membela
diri, bahwa tak seorang pun dari kami berdua yang dibesarkan secara wajar. Kami berdua
lolos dari kematian karena alasan yang berbeda. Kondisi ini memberi kami kebebasan untuk
bertindak sesuka hati, tapi para tetua dari klas kami yang pasti akan menuntut balas.
Cuaca terus menghangat dalam hembusan angin dari selatan. Di hari pernikahan,
bunga cherry merekah penuh, membentuk kerumunan merah jambu dan putih. Anak buah
Kaede diijinkan bergabung dengan anak buahku dan ksatria yang berderajat paling tinggi di
antara mereka, Amano Tenzo, berbicara atas nama Kaede dan atas nama Klan Shirakawa.
Saat Kaede dituntun ke kuil perawan, dia memakai busana merah dan putih,
memperlihatkan kecantikan abadi seolah-olah dia orang suci. Entah bagaimana Manami
mendapatkan busana itu. Aku menyebut namaku sebagai Otori Takeo dan menyebut




249
Shigeru dan Klan Otori sebagai leluhurku. Kami bertukar mangkuk sake sebagai ritual,
sebanyak tiga kali dan, secara bersamaan, dahan suci tertiup angin sehingga daunnya
berguguran menjatuhi kami.
Kejadian itu dianggap sebagai pertanda buruk, namun malam setelah pesta, ketika kami
akhirnya berdua saja, kami tidak memikirkan pertanda tadi. Saat di Inuyama kami bercinta
dalam keputusasaan yang liar, yakin tak akan hidup sebelum pagi. Namun kini, di Terayama
yang aman ini, kami memiliki waktu untuk memberi dan menerima kerinduan secara
perlahan.
Kami membicarakan hidup kami setelah sekian lama terpisah, terutama tentang anak.
Kami memikirkan jiwa anak kami yang akan. muncul kembali dalam siklus kelahiran dan
kematian, dan kami pun mendoakannya. Aku menceritakan tentang kunjunganku ke Hagi
dan pelarianku menembus salju. Aku tidak menceritakan tentang Yuki, dan dia pun
menyimpan beberapa rahasia dariku, karena meskipun dia bercerita tentang Lord Fujiwara,
namun dia tak menyinggung tentang rincian kesepakatan yang telah dibuat. Aku tahu
Fujiwara telah memberi dia banyak uang dan makanan, dan hal itu membuatku cemas,
karena orang itu pasti menganggap dirinya telah bertunangan dengan Kaede. Tulang
punggungku terasa dingin, ini mungkin suatu pertanda, namun aku buang pikiran itu karena
tidak ingin merusak kebahagiaanku.
Aku terbangun menjelang fajar dan mendapati dia dalam pelukanku. Kulitnya yang
putih, lembut di sentuhanku terasa hangat dan sekaligus dingin. Rambutnya begitu panjang
dan tebal dengan wangi melati menutupi kami layaknya selendang. Sebelumnya dia seperti
bunga di pegunungan yang tinggi, sangat jauh dari jangkauanku, namun kini dia di sini, dia
milikku. Malam masih hening ketika suatu perusahaan meresap ke dalam hatiku. Mataku
pedih karena air mata. Surga berbaik hati. Para dewa mencintaiku. Mereka telah
memberikan Kaede padaku.
Selama beberapa hari, Surga tetap tersenyum padalcu, memberi kami cuaca yang hangat
dan lembut, setiap hari matahari bersinar cerah. Semua orang di biara tampalc bahagia, dari
Manami yang berseri-seri senang saat mcmbawakan kami teh di pagi pertama. Kepala Biara
yang melanjutkan lagi pelajaran, menggodaku tanpa ampun jika dia melihatku menguap
karena mengantuk. Banyak orang datang membawa hadiah dan memberi ucapan selamat




250
kepada kami, persis seperti yang dilakukan penduduk di desaku, Mino.
Hanya Makoto yang mengeluarkan kata-kata berbeda. "Berbahagialah sekarang sepuaspuasnya,"
dia berkata, "Aku juga turut bahagia, percayalah, tapi aku takut ini tak akan
berlangsung lama."
Aku tahu itu: Aku pelajari itu dari Shigeru. Kematian datang tiba-tiba dan hidup itu
rapuh dan singkat, begitulah yang dia katakan setelah menyelamatkan aku di Mino. Tak ada
yang bisa mengubahnya meskipun dengan doa atau mantra. Semua itu justru semakin
menambah kesadaran betapa cepatnya kebahagiaan ini mungkin akan berlalu.
Bunga cherry mulai berguguran, hari-hari kian panjang seiring musim yang berubah.
Musim dingin telah berganti: musim semi mulai menyambut datangnya musim panas dan
musim panas adalah musim berperang. Ada lima peperangan yang menanti di hadapan
kami, empat kali kemenangan dan satu kali kekalahan.***
TAMAT
Catatan Kaki
* Juggle: permainan yang menjaga agar 3 atau lebih obyek (bola atau lainnya) di udara dengan melempar dan
menangkapnya. Permainan ini sering dipertunjukkan dalam sirkus. [peny.]
* Mochi (atau omochi) yaitu kue kecil yang terbuat dari beras. Kue ini dipanggang lalu disajikan dengan sup
atau dibungkus dengan rumput laut. Makanan ini umumnya disajikan pada perayaan tahun baru. [peny.]
" Waktu Kambing: berkisar antara jam 13.00 s/d jam 15.00. [peny.]
* Orang Jepang percaya bahwa pada tanggal 13 sampai 15 Agustus roh leluhur mereka datang ke bumi, dan
keluarga yang masih hidup berziarah ke makam untuk mendoakan serta menyediakan makanan bagi arwah
keluarganya. [peny]
* Atsumori: Kisah tentang Rensei yang memenggal Atsumori dalam perang. Karena menyesali perbuatannya,
Rensei pun menjadi rahib. Arwah Atsumori yang marah menyerang Rensei dengan pedang, tapi
kemarahan arwah itu reda karena doa-doa rahib Rensei sehingga mereka berdua pun berbaikan. [peny.]
* Fulling block (kinuta): Mengisahkan tentang seorang istri/kekasih yang kesepian karena terpisah, atau
diabaikan oleh suami/kekasihnya. Bunyi tumbukan pakaian (agar lembut) menggemakan kerinduan dan
juga emosi melankolis sang istri/kekasih.
* Tauco = Bumbu masakan yang terbuat dari kedelai. [peny.]
* Minamoto Yoshitsune seorang pejuang yang berhasil membunuh penguasa jahat saat itu, Taira Kiyomori.




251
Tapi kemudian dia dikhianati (tan dikejar oleh kakaknya serta sekutu-sekutunya. Yoshitsune akhirnya
bunuh diri-setelah membunuh istri dan putrinya.
* Kobumaki (rolled kelp) adalah kue yang terbuat dari ganggang dan umumnya di makan pada tahun baru.
[peny.]
* Waktu Monyet: sekitar antara jam 15.00 s/d jam 17.00. [peny]
Nantikan Kelanjutan
KISAH KLAN OTORI
Dalam buku :
Brilliance of the Moon

0 Response to "Grass For His Pillow"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified