Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cerita Febuari Cinta




GUNTUR ABIMAYU

Terima kasih telah mau membaca
Semoga kau terhibur
Terimakasih saya ucapkan kepada
Tuhan, orang tua, dan segenap orang di
sekitarku yang baik secara langsung dan tak
langsung telah membantuku dalam
menyelesaikan karya ini. Dan spesial untuk my
sweet friend A.M.L. and my school; Regina Pacis
High School.
Salam kasih sang penulis
Guntur abimayu

Part 0
Pagi ini awal bulan febuari, bulan penuh
cinta. Bima, ya itu namaku. Seorang remaja pria
tulen yang sekarang duduk di bangku kelas XII,
dulu namanya kelas dua SMA jurusan ilmu
social. Ya maklum karena nilaiku mepat jadinya
kandas sudah impian masuk ilmu alam tapi taka
apa-apalah Tuhan punya rencana besar dibalik
ini semua dan mungkin ini salah satu
rencananya. Hingga kini aku telah mengarungi
kehidupan selama tujuh belas tahun tampa
pernah merasakan cinta hingga akhirnya terjadi
suatu peristiwa yang mungkin akan merubah
segalanya, ya suatu cerita di bulan februari cinta
ini.
Pagi ini semua berjalan seperti biasa.
Rutinitas sekolahku yang boleh dikata
membosankan namun ‘ingat sekolah itu penting,
demi masa depanmu.’ Itu yang sering orang
dewasa kepadaku. Diamali dengan renungan
pagi, lalu berdoa bersama, diteruskan dengan
tiga jam mata pelajaran dan akhirnya istirahat

pertama. Ya, mugkin ini waktu yang paling
dinanti saat sekolah.
“tet..! tet..!” bunyi bel sekolah yang
menandakan waktu istirahat. Semua murid
mulai berhamburan kelur kelas. Aku masih
terduduk sejenak menanti suasana sedikit sepi
dan barulah aku berdiri hendak beranjak pergi.
Baru selangakah ku berjalan, “ Bima e.. e..
“ suara lirih seorang wanita yang terdengar
ragu-ragu memanggilku. Aku menoleh ke
belakang. Ternyata Reni yang memanggilku tadi.
ia terlihat tertunduk malu. Tubuhnya sedikit
berayun-ayun kekiri-kekanan sambil tangannya
berpegangan satu sama lain. Ia terlihat seperti
gadis kecil yang dengan malu-malu kucing
hendak meminta sesuatu pada ibunya. “ya”
jawabku singakat. Ku perhatikan tingkahnya
yang tidak biasanya itu. ‘hmn.. Reni manis juga
ya, terlihat imut menggemaskan saat berpose
seperti itu’ kataku dalam hati. “em.., ka ka
kamu.. “ katanya terpatah patah. Aku hanya
terdiam menanti kata darinya. Mataku
memandang ke arah wajahnya sambil sedikit

tersenyum mencoba mencairkan suasana sambil
menanti lanjutan kata darinya.namun ia malah
tertunduk kaku dan pipinya sedkit memerah.
“ ada apa Ren?” tanyaku santai. “e.., ka,
ka, kamu mau..”jawabnya yang masih terpatahpatah.
Kepalanya kembali tertuduk dan sesekali
mencuri pandang jauh ke belakangku. Ku lihat
ke belakang di sana berdiri dua sahabatnya,
Vina, dan Ina. Mereka pun langsung menunduk
salah tingkah saat ku memandang.
Lalu pandanganku kembali melihat Reni,
kata darinya yang belum terselesaikan
membuatku mati penasaran. Apa gerangan yang
ingin ia sampaikan hingga ia begitu sulit
mengatakannya. Apa ia ingin mengatakan I love
U hingga begitu sulit mengatakannya. Jika itu
benar akhirnya masa lajangku berakhir juga
wakakaka… pikirku dalam hati. Tapi apa benar.
Wanita secantik ia mau menjadi pacarku. Lihat
saja poninya yang lucu, rambutnya yang hitam
mengkilat, kulitnya yang kuning, tubuhnya yang
seksi, senyumnya hmn.. lumayan manis juga.
Siapa si yang gak mau jadi cowoknya.

“anu, kamu mau… mau…” katanya pelan.
Iya-iya ayo lanjutkan kataku dalam hati penuh
harapan tuk menanti ia mengatakan maukah
kau manjadi pacarku. “maukah kau datang ke
ulang tahunku?” selesai sudah kalimatnya. ‘Tiut’
hancur sudah kayalku. “gi, gimana?”tanyanya
lagi. “eh iya, iya kalau gak ada halangan aku
pasti datang.” Kataku.
Lalu Reni pun berlari kea rah dua
sahabatnya itu. Terlihat walau hanya sepintas
diwayahnya tergaris senyuman tipis, senyuman
kemenangan.
Yah aku pikir apa, ternyata cuma ajakan
ke sweet seventin doang keluhku di hati sambil
berjalan keluar kelas menuju kantin tuk
mengobrol bersama teman-teman.
Dan akhirnya hari itu pun berlalu begitu
saja tampa hal yang special.
****
Selang tiga hari setelah kejadian itu,
undangan pun tersebar. Ya, amplop kecil
berukuran tak lebih dari 4x6 centi meter itu

menyebar rata ke seluruh teman yang ada di
kelas. Dan akhirnya undangan itu sampai ke
tanganku. Diserahkan langsung oleh Reni sambil
berkata ” datang ya.” Dan diakhiri oleh senyum
manisnya itu. Aku hanya menunduk
mengiyakan.
Ku buka dan k u lihat isinya;
‘Besok minggu tanggal 5 februari 2006
datang ya kawan-kawanku ke ulang tahunku ke
tujuh belas. Lokasinya di rumah aku aja.
Acaranya dimulai jam 6 sore. Ingat jangan
terlambat ya.’
Dan doa pagi pun berlangsung mengawali
segala aktivitas di sekolah hari itu.
Tiba-tiba setelah doa berakhir guru bahsa
inggris dan langsung menulis di papan
pengumuman di pojok dekat pintu kelas bahwa
tanggal 6 februari besok ulangan bahasa inggris
bab terkhir. Melihat hal itu wajah Reni and the
geng langsung kecewa.
“yah.. Pak mbok ya jangan senin.” Kata Ina
memelas. Namun ia tak berkata apa-apa dan

langsung pergi meninggalkan kelas. Berganti Bu
Monic yang akan mengulang pelajaran pagi itu.
Serentak beberapa murid bersorak
meluapkan kekecewaanya. “ada apa to?” tanya
Bu Monic ke Vina yang kebetulan duduk di
depan. “itu lo bu, Pak Kris, masa mau ulangan
hari senin.” Jawab Vina. “ emang ada apa
dengan hari senin?”
“la kan hari minggunya ada acara ulang
tahun Reni..”
“ya ga papa kan, sabtunya belajar jadi
minggu bisa pergi ke pestanya Reni”
“yah ibu, tetep aja gak asik.”
“udah-udah. Kemarin sampai dimana
pembahasanya?”
Dan kekecewaan itu pun terkubur dalam,
bergantikan dengan pelajaran waktu itu.
****
“uah…” aku yang baru saja menguap
sambil mengusap-usap mataku, mencoba

membukannya. Perlahan kelopak mataku mulai
terbuka. Pandanganku yang kabur mula focus.
Terlihat di dinding jarum jam menunjukan pukul
enam sore.
“emm..” tubuhku mengolet ke kanan dan
ke kekiri layaknya cacing. “krettek-kretek”
beberapa sendi pergelanganku mengeluarkan
bunyi saat aku melakukan perenggangan itu.
“o... sudah jam enam.” Kataku dalam hati.
Tanganku meraba, mengambil selimut dan
kembali ke alam tidur.
“ h, Udah jam enam! Oh iya hari ini kan
ulang tahunnya Reni.” Segera ku bergeges
bangun dari kasur dan pergi menuju kamar
mandi. Biur, biur, biur yang penting basah.
Selesai sudah acara mandiku dengan begitu
cepatnya. Sekarang ku lanjutkan dengan
menggosok gigi tentunya. Lalu ku gunakan
pakaianku, dan tentunya dengan sentuhan
terakhir yakni parfum selesai sudah persiapanku
kurang dari tiga puluh menit.
Sekarang saatnya berangkat! Ku keluarkan
sepeda motorku. Breng teng.. teng.. teng. Breng

teng.. teng.. teng. Berulang kali aku kayuh tuas
stater motorku namun tetap saja tidak mau
menyala. “SiALL..! gimana si ni motor? Udah tau
aku lagi buru-buru kok malah pake acara mogok
segala.” Keluhku kesal. “Rasakan ini!” teriakku
sambil mengayunkan kakiku sekuat kesalku.
“Au…” teriakku lagi menahan sakit setelah itu.
Aku tertatih-tatih menahan sakit melompatlompat
di tempat mencoba menahan sakit di
telapak kaki ini.
Selang dua menit setelah itu rasa sakitnya
mulai mereda. Begitu juga dengan emosiku.
Sekarang aku mulai berpikir jernih, ku tarik tuas
cucknya dan barulah motor itu mau menyala
setelah aku menyetaternya. Dan aku pun
berangkat.
Ngeeng… aku yang mengendarai motor
secepat yang aku bisa. Terlihat di depan lampu
lalu lintas yang menyala kuning. Lalu ku pacu
motorku lebih kencang demi mengejar lampu
tersebut sebelum berubah menjadi merah. Iya
semakin dekat, semakin dekat, hingga kurang
lima meter di depan aku kan berhasil

melaluinya. Namun lampu telah berubah
menjadi merah. Ku lihat di depan ada seorang
polisi yang sudah bersiaga layaknya elang
kelaparan yang sedang mencari mangsa. Ia
melihat tajam ke arahku.
Criiittt… ku tekan kuat kedua remku. Dan
akupun berhasil berhenti sesaat sebelum ban
depan motorku melanggar marka garis didepan.
Cuma terpaut dua inci.
E tiba-tiba terjadi hal yang aneh! Motorku
perlahan-lahan mulai berontak. Ia menyendatnyendat
maju ke depan. Ku lihat wajah polisi itu
tersenyum sinis ke arahku hingga aku merinding.
Ku coba menahannya sekuat tenaga,
namun ia tetep saja melonjak-lonjak. Perlahanlahan
motorku terus mendorong maju. Dan
“Prittt…” pluit panjang terdengar dari arah polisi
itu. Aku pun langsung kagetnya minta ampun.
Ku coba senyam-senyum ke arah polisi itu tapi ia
tetap saja cemburut dengan wajah galaknya
yang berhiaskan kumis tebalnya itu. Dan
sekarang tangannya bergerak dengan tegas
menyuruhku kembali ke belakang marka.

Aku pun langsung lompat turun dari
motorku. Ku dorong dari depan motorku. Dan
teng teng teng, pertandingan sumo pun dimulai.
Dari sudut merah sang penantang dengan bobot
63 kg,tinggi 167 cm. inilah… Bima! “wkakkaka..,
terima kasih terima kasih” kataku. “dan
sekarang dari sudut biru, juara bertahan kita
dengan badan besinya dan mesin 110 cc, inilah
Si MOtoR!!”, “ grengg..gerng..” suara mesin
motor yang di gas. “ siap??? Mulai!”
Akupun segera berlari ke depan.
Motorpun tidak mau kalah, rodanya berputar
kencang hingga mendorongnya maju ke depan.
Dan beng! Terjadi body contack! Kedua
tanganku memegang kuat setang motor, ototku
berkontraksi, mencoba mendorongnya sekuat
tenaga. Putaran rodanya pun tak kalah kuat
mengimbangi tenagaku.
Aku pun mulai terdorong ke belakang
hingga hampir melewati garis. Polisi yang
terlihat menjadi juri saat itu sudah mau saja
mengatakan kalau aku yang kalah namun aku
tak membiarkan begitu saja. Ku dorong lagi lebih

kuat. Perlahan tapi pasti motor mulai mundur
dan mundur ke belakang hingga akhirnya ia
terdorong ke belakang garis. Spontan aku
berteriak “ Yeahh.. aku menang!” teriakan
sorak-sorai para penonton menyambut
kemenangganku. Tapi entah kenapa sorak-sorai
itu berubah menjadi suara klakson. “ dasar
orang gila.” Terdengar dari salah satu
pengendara motor yang baru saja melintas
melewatiku.
Barulah aku tersadar dari kayalan gilaku
tadi. Terlihat orang-orang yang lalu-lalang di
jalan tersebut sambil memandang aneh ke
arahku. Malu sudah wajahku ini.
Bergegas aku kembali menaiki motorku
dan pergi dari sana sebelum aku tenggelam
dalam kemaluanku.
Akhirnya tiba juga aku di tempat tujua,
rumah Reni. Terlihat sudah banyak mobil dan
sepeda motor dipakirkan di sepanjang jalan.
Perlahan-lahan ku berjalan sambil mencari
tempat untuk memakirkan sepeda motorku. Ku
amati satu persatu sepeda motor yang ada. Wah

teman-temanku sudah pada datang ni, sialan
aku ditingal sendiri, pikirku dalam hati.
Di pojok paling ujung terlihat masih ada
ruang untuk motorku ini parkir. Aku pun segera
menuju kesana. Ku pakirkan motor ini dan
“gdubak!” tiba-tiba motorku jatuh. “Sial! Sampe
sejauh ini masih saja ni motor belum waras.
Mana ada to motor gak di gas kok jalan sendiri…
uhh… sebal, sebal, sebal…” keluhku di hati
sambil mendirikan motornya.
“gdubak!” suara motor yang kembali
jatuh. “ hi hi hi..” terdengar suara tawa pelan
seorang gadis dari belakang. Mendengar tawa
itu hatiku semakin dongkol saja. Siapa si orang
rese di belakangku ini, liat orang susah bukanya
mbantu malah ngetawain. Pikirku kesal.
Karena penasaran ingin melihat orang
yang nyebelin itu segera wajahku berbalik
melihat ke belakang. Dan, alangkah terkejutnya
diriku. Entah peri dari mana yang berdiri di
bekangku ini. Bau tubuhnya semerbak wangi
membius hatiku. Kulitnya putih seputih seputih
salju, bola matanya berkilau menyilaukan

berlian, senyumnya manis memaniskan gula.
Aku hanya diam tak tau harus berbuat apa.
Ia berjalan mendekatiku. Oh my God!
Mimpi apa aku semalam?? Jantungku berdetak
kencang, kakiku terpaku, bibirku membeku. Dan
sekarang ia tepat dihadapanku. Tangan kananya
yang lembut itu bergerak maju mendekat
kepadaku. Dan ia pun menarik tuas cuck
motorku. Lalu setelah itu ia berjalan masuk ke
dalam meninggalkanku seorang diri di luar.
Sempurna sudah aku menjadi patung
disana. Lama aku tak bergerak, tenggelam dalam
silau keindahan karya Tuhan yang baru saja
menghampiriku. Hingga “bima, kenapa gak
masuk?” tanya ina yang baru saja turun dari
mobilnya. “eh iya, ini baru mau masuk.”
Jawabku sambil berjalan menghampirinya.
Di dalam sudah banyak temanku yang
sedang asik mengobrol sembari menyantap
makanan kecil. Wah keliatannya aku sudah
kelewatan setengah acara ni. Biar telat yang
penting sudah datang.

Bola mataku berputar menyapu sekilas
pandang mencoba menemukan gadis tadi,
namun tidak terlihat keberadaanya sama sekali
di setiap sudut ruang yang ada. “bim, duduk
sini.” Kata Pt sambil melambaikan tangannya
menunjukan bangku kosong tepat di sebelah ia
duduk.
Dari sini tempat dudukku terlihat dengan
jelas panggung dimana Reni yang sedang
berulang tahun duduk bersama ayah dan
ibunya. Terlihat di belakang Ina, sedang berbisik
kepada Vina. Dan kemudian Vina berjalan
menghampiri Reni dan berbisik kepadannya.
Namun tetep saja gadis jelmaan peri itu tidak
tampak dimanapun.
Aku yang terus saja mencoba mencari
sosoknya hingga aku tak memperhatikan
sekelilingku. Pt yang entah berbicara apa, ku
balas dengan menganggukan kepala.
“ Ya mari kita keluarkan rotinya…” Kata
mc sambil diikuti empat orang dari bawah yang
mengangkat roti tarnya yang besar dengan
warna dominan kuning dan merah muda.

“ kepada saudari Reni yang pastinya
sedang sangat berbahagia sekali ya?” kata si mc
menggandeng Reni menuju tengah penggung.
“iya.” Jawabnya singkat penuh semangat.
Mereka sekarang sudah berdiri di
belakang kuenya. Lalu lampu ruangan itu
meredup. “para hadirin yang berbahagia marilah
sejenak kita berdiri tuk memanjatkan doa
kepada Tuhan kita atas rahmat dan syukur yang
diberikan kepada Reni selama ini.
Tangan Pt menepuk pundakku
membuatku kembali ke dunia sekitar.aku terus
saja mencari sosoknya hingga tak menyadari apa
yang sedang terjadi. Aku kaget dan langsung
berdiri seketika saat menyadari hanya diriku
seorang diri yang msih duduk.
Terlihat sosok Reni yang diterangi oleh
cahaya lilin. Dirinya yang biasanya terlihat
kekanak kanakan kal ini terlihat begitu dewasa
dan anggun. Sosoknya yang dulu telah berubah.
Tak lama lagi ia akan berubah sepenuhnya
meninggalkan dirinya yang kecil menjadi

sosoknya yang sebenarnya, seorang wanita
dewasa.
“selamat ulang tahun, kami ucapkan.
Semoga panjang umur, kam kam doaka…”
lantunan lagu selamt ulang tahun yang
dinyanyikan bersama-sama hingga lantunan
terakhir yakni “ tiup lilinya, tiup lilinya, tiup
lillinya sekarang juga.” Dan lilin pun ditiup oleh
Reni dengan senyum tulus yang menghiasai
wajahnya. Setelah itu lampu pun menyala
bersamaan dengan sambutan tepuk tangan yang
meriah dari segenap yang hadir.
Mataku langsung terbuka. Terlihat, benarbernar
terlihat! Seorang peri kecil yang sejak
dari tadi terus aku cari. Sosoknya yang indah
berada di kerumunan orang-orang di sebrang
tempatku berdiri. Perlahan lahan aku berjalan.
Bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain
tun mencoba mendekat padanya.
Di sisi lain acara terus saja berjalan
dengan semestinya tampa ada yang
memperhatikan aku. “potong kuenya, potong
kuenya…” mereka menyanyikan sair itu sambil

mengiringi Reni memotong irisan pertama
kuenya.
“Reni, potongan yang pertama ini untuk
siapa?” tanya mc sambil sedikit
membungkukkan badannya. Reni hanya berjalan
sambil membawa piring kecil yang terdapat
potongan roti tadi di atasnya. Ia berjalan menuju
mamanya dan ia berikan potongan roti tersebut
kepadanya.
Lalu potongan kedua diberikan kepada
ayahnya, potongan ke tiga diberikan kepada
kakaknya, hingga potongan ke empat ”ya seperti
yang diakatakan di awal acara pada kesempatan
yang berbahagia ini Reni akan melakukan
sesuatu yang spesial. Semuanya serasa belm
sempurna sebelum yang berulang tahun sweet
seventin ini memberikan potongan keempat ini
pada sang pujaan hati. Oleh karena itu Reni
siapakah orang yang beruntung itu menjadi
pujaan hatimu?” tanya panjang mc kepadanya.
Spontan Robi yang berada diantara para
penonton yang ada meneriakan nama “ Riki, riki,
riki! “ dan yang lain ikut menerikan nama yang

sama. “apakah itu benar Reni?” tanya mc. Riki
yang mendengar hal tersebut langsung
berteriak, “ wo dasar kuda!”, robi pun tak
tinggal diam, ia membalas dengan berkata, “ wo
kambing!”,
“kuda!”
”kambing!”
“kuda!”
“kambing!” mereka terus saja saling
mengolok. Dan “ha ha ha,” mc tertawa melihat
apa yang terjadi. Lalu sambungnya, “wah
ternyata Reni yang cantik ini popular ya, sampaisampai
dua pria yang tampan itu berebut.” Reni
hanya tertawa melihat kekonyolan mereka
berdua.
“ sudah, sudah mari kita kembali ke topik
yang tadi. Hmn.. Reni siapaken nama orang yang
beruntung itu?” tanyanya sambil menyodorkan
mic ke arah Reni. Namun ia hanya tertunduk
malu-malu untuk mengatakannya. Mulutnya
hanya membuka kecil sambil menyuarakan
sebuah nama yang sangat pelan sampai-sampai

tak ada yang dapat mendengar dengan jelas
walau sudah berbicara di depan mic.
“ayo Ren, katakan!” teriak Vina. “wah
keliatannya sahabatnya ini tau orang yang
disukai Reni.” Kata mc sambil berjalan
menghampirinya. Sambil menggandeng
tangannya ia berkata “nona manis mari ke atas
panggung. Namanya siapa?”. “vina” jawabnya
singkat.
“oke sekarang ladies and gentlemen, nona
Vina akan membantu kita mengungkap takbir
misteri ini. Apakah nona Vina ini tahu siapa
orang yang selama ini Reni suka?” ia
mengangguk, mengiyakan jawabnya. “oke
karena Reni sulit mengatakannya bagaimana
saudara hadirin kalau kita minta bantuan Vina
untuk menjawabnya?” tanya mc. “ iya.” Jawab
beberapa orang disana dengan semangatnya.
“dan sekarang nona Vina, siapakah orang
tersebut?” tanyanya penasaran. Namun ia tak
menjawab. “oke mari kita hitung sampai tiga
dan pada hitungan ke tiga Vina akan meneriakan
namanya keras-keras, oke?”

“satu.”
“dua.”
“tiga.”
“Bima…!” teriak Vina.
Spontan orang-orang pada menoleh ke
arahku. Aku jadi binggung kenapa mereka
melihat ke arahku semua. Beberapa laki-laki
yang ada di sampingku langsung saja
mendorongku keluar dari kerumunan. Dan
masih ada dua orang lain yang menggandengku
naik ke atas panggung hingga aku berada tepat
di hadapan Reni.
Reni hanya tertunduk diam menutupi
wajahnya yang malu. Aku pun hanya bisa
tertawa-tawa kecil bingung harus berbuat apa.
Sambil menggaruk-garuk kepala aku coba
berjalan mundur. Namun baru beberapa
langkah ke belakang, aku menabrak sesuatu.
Dan saat menoleh ke belakang terliahat dua
orang yang menyeretku tadi menghalangi
langkahku.

Aku kembali didorongnya ke depan. “halo
Reni,” sapaku yang terdengar aneh mencoba tuk
menghilangkan kekakuan. Reni membalas
sapaku dengan senyumnya. Sekarang ia berjalan
mendekatiku! Deg,deg! Jantungku berdetak
lebih keras saat langkah pertama ia berjalan.
Deg,deg! Kembali jangtungku berdetak lebih
keras hingga deg-deg, deg-deg, deg-deg….!
Jsntungku terpacu begitu kerasnya. Gemuruh
suaranya terdengar jelak di telingaku hingga
mengalahkan suara gaduh para penonton yang
bersorak-sorak. Dan deg! Jantungku berhenti
tepat saat Reni mencium bibirku.
Semuanya serasa melambat. Pergerakan
orang-orang yang ada di situ terlihat muali
berhenti. “tek” suara detik jarum jam yang
berhenti. Dan semuanya berhenti! Serasa waktu
tak berjalan lagi hingga pandangku kembali ke
depan. Meliahat wajah Reni yang tepat berda di
depan wajahku dan liat bibirnya benar-benar
menyentuh bibirku.
Tapi bukan itu yang membuatku melihat
ke depan. Ya, dibelakang Reni ia sedang berdiri.

Tersembunyi di belakang kerumunan itu.
Wajahnya terlihat jelas dari ku berada.
Dan dengan cepat semuanya bergerak
kembali pada kecepatan yang normal. Reni pun
segera menarik bibirnya dari ciumku. Dan
spontan semua orang yang ada di situ
menyoraki diri kami. Aku yang terus berusaha
menangkap hadirnya kembali kehilangan
wujudnya saat mc mnepuk pundakku. Ia
menarikku hingga sosok tubuh Reni
menghalangi pandanganku akan dirinya.
“nah sudah kita saksikan bagaimana Reni
mengungkapkan rasa cintanya kepada Bima, dan
sekarang marilah kita dengarkan apa
jawabanya.” Teriak mc sambil menggeret kami
berdua dalam satu garis sejajar.
“bima, apakah kau mencintai Reni?”
tanyanya sambil memberikan mic kepadaku.
Ha?! Apa yang harus ku jawab? Begitu gila,
begitu mendadak, dan begitu tak tepat saatnya.
Ku pandang Reni begitu dalam. Terlihat pipinya
memerah menandakan malu saat ku pandang.
Cantik, Reni memang cantik. Tapi… cinta soal

hati dan aku tak bisa berbohong pada hatiku.
Andai sejam lebih cepat hal ini terjadi, andai
pertemuan denganya belum terjadi, mungkin
aku bisa menerimanya sebagai cintaku yang
pertama dan mengisi masa SMAku ini dengan
kenangan cinta. Tapi hatiku ini telah dicurinya.
Aku tak bisa membohongi rasa. Apa yang harus
ku lakukan sekarang ini? Pikiranku yang gunda
terus saja berpikir. Mencari cara terbaik tuk
mengakhirinya.
Lalu aku mulai bergerak. Ku pandangi
semua orang yang ada di sana. Terlihat wajah
kebahagiaan dari mereka. Terutama kedua
orang tuanya yang berada di sana. Lalu sudah ku
putuskan untuk melakukannya.
Ku berjalan selangkah ke depan. Ku tarik
nafasku panjang dan berputar kebelakang
menghadap ke arah Reni. Semuanya terdiam
saat meliahat apa yang ku lakukan. Diam, begitu
senyap hingga tak ada satu suara pun yang
terdengar. Lalu, suaraku pun keluar begitu jelas
di ketenangan itu.

“Reni, cinta adalah sesuatu yang tumbuh
dengan kasih sayang dan perhatian, ditambah
dengan sedikit pengertian dan kepercayaa.
Bukan suatu hal yang muncul begitu saja. Ia
bukan bicara mengenai hasrat atau pun
kepemilikan semata. Ia bukan suatu yang
terlihat saja. Namun juga bicara mengenai
keburukan yang aku belum nampak. Mungkin
saat ini kau begitu menyukaiku namun ku tak
ingin ada penyesalan diakhir cerita. Bukanya aku
menolakmu tapi marilah kita berikan ia sedikit
waktu untuk tumbuh hingga ia benar-benar bisa
disebut cinta.”
Setelah mendengar pekataanku tadi, Reni
pun langsung memeluk erat tubuhku. Terliahat
sekilas wajahnya yang kecewa, dimana matanya
yang berbinar menahan setiap tetes air mata
yang ingin keluar darinya. Sedih, ku tahu ia
bersedih. Tapi apa boleh daya, ku tak ingin
membuatnya hidup dalam kebohongan. Dan
satu hal yang bisa ku lakukan saat itu hanyalah
membalas pelukan hangatnya sambil berbisik “
maafkan aku.”

PART I
Siang itu, hari begitu panas, dan angin
bertiup sangat kencang. Terlihat seorang pria
muda dengan seragam putih abu-abunya yang
mulai terlihat kusam termakan usia. Ia berdiri
termenung di lorong depan kelasnya yang
terletak di lantai dua.
Matanya terus saja memandang kebawah.
Memandangi seorang siswi yang sedang asik
bercakap-cakap dengan kedua temanya.
Wajahnya yang begitu cantik berhiaskan
senyumnya yang manis telah mencuri hati pria
itu.
Hingga saat ini genaplah seminggu ia
mengagumi keindahan gadis itu. Hampir setiap
jam istirahat ia luangkan waktunya untuk
menatap ke arah kelas gadis itu. Harapnya untuk
dapat melihatnya walau hanya sekilas.
Dan isritahat ini, “ hi bim “, suara Ira yang
menyapaku, membangunkanku dari lamunan
panjangku ini. “ eh ira ”, jawabku pendek. “

ngapain si kamu? Dari kemarin aku perhatikan
isinya cuma melamun aja di sini.” tanyanya
pensaran. ” eh enggak, gak ada apa-apa kok.
Cuma enak aja di sini.” jawabku menepis
pertanyaanya. ” hehe.. udah gak usah bohong,
liat wajahmu aja aku sudah tahu. Kamu lagi
jatuh cinta kan?!” tebakkan ira yang sangat
tepat.
Memang dari dulu ira yang telah menjadi
sahabatku sejak kelas satu hingga kelas tiga SMA
ini selalu tau apa yang sedang ku pikirkan.
Beberapa kali ki coba membohonginya tetapi ira
selalu tahu.
” sama anak kelas satu itu kan? Yang
rambutnya panjang itu kan!” kata ira sambil
menujuk ke arahnya. ” iya ” jawab ku sambil
mengangguk kecil.
” namanya sapa ?”
”enggak tau”
”rumahnya dimana?”
”enggak tau juga”

”nomer Hpnya?”
”enggak tau”
” enggak tau enggak tau! Emang apa yang
loe tau?”
”dia manis”
”dasar lebay.. udah sana pentelengin aja
dia! Tapi inget ya, takan ada hasil tampa
perbuatan.” kata ira sambil meninggalkanku
begitu saja.
Setelah itu akupun kembali
memandanginya. Namun pikirku terus saja
terngiang-ngiang kata-kata ira tadi,
Memang dalam sejarah panjang
hidupnya, bima belum pernah pacaran. Cintanya
selalu kandas tampa sempat ia lakukan apa-apa.
Mau dimana lagi, memang orang tipe seperti
bima ini paling sulit dapat cewek. Abis kerjanya
Cuma berani memandangnya saja tampa berani
berbuat sesuatu yang berarti.
Tak terasa waktu istirahat pun telah usai.
Bel sekolah telah berbunyi, dan semua siswa

masuk ke kelas masing-masing untuk
melanjutkan aktivitas belajar-mengajar.
Esok harinya. Saat istirahat pertama yang
berlangsung pukul sembilan lebih. Aku yang
sedang berjalan berpapasan dengan ibu Ika. ”
pagi bu ” sapaku. ” pagi bima” balasnya. Lalu aku
melanjutkan langkahku.
Belum sempat langkahku yang kedua ku
injakan, bu ika pun memanggilku. ”bima kesini
sebentar! ”. Mendengar panggilan itu, akupun
berbalik dan berjalan mendekati bu ika.
Sesampainya dihadapanya, bu ika menunduk
dan memergoki celanaku yang robek bagian
bawahnya. ” bima ini dijaut ya!” suruh bu ika.
”iya nanti sepulang sekolah saya jahit bu.”
jawabku menepis katanya. ” sekarang saja! Di
UKS ada benang sama jarum”, ”iya bu” balasku
dengan pasrah. Setelah itu bu ika pergi
meninggalkanku.’wah istirahat gini buat
menjahit, sayang amat’ dalam batinku berbisik
saat berjalan menuju UKS.

Lalu langkahku ku belokan ke kamar
mandi yang berada dekat dengan UKS. Disana ku
habiskan waktu istirahat ini yang tinggal
sebentar. ”tet.. tet..” bel penanda istirahat
berakhirpun berbunyi. Para siswa pun berjalan
menuju kelasnya masing-masing. Sedangkan aku
berjalan menuju ruang UKS.
Disana ternyata bu ika telah menungguku.
”dari mana kamu?” tanyanya. ”dari kamar
mandi bu” jawabku.
Lalu aku duduk di atas bangku plastik yang
ada di sana. Kemudian bu ika menyerahkan
jarum dan benang kepadaku. Dan dimulailah
acaraku jahit-menjahit. Satu-persatu sulamanku
kulakukan dengan perlahan dan rapi.
Sekilas ku lihat bu ika yang sedang asik
menulis sana-sini tampa menghiraukan
kehadiranku. Melihat hal itu, membuatku
semakin lama menjahitnya. Itung-itung sekalian
colut pelajaran sejarah yang teramat sangat
membosankan yang saat ini sedang berlangsung
di kelasku.

Setelah kira-kira dua puluh menit
berlangsung, akhirnya selesai juga jahitanku
pada sisi kiri celanaku. Dan akupun melajutkan
menjahit sisi kanan celanaku yang juga dulu aku
robek. Habisnya terlihat aneh kalau cuma satu
sisi yang robek jadinya dulu aku robek juga sisi
yang kanan ini.
Baru berselang dua jaitan, terdengar
suara rintihan kesakitandari luar. Lalu ku coba
melihat keluar. Dari kejauhan terlihat tiga orang
siswi dengan seragam olah raga berjalan menuju
kearahku. Seorang yang berada di tengah
berjalan terpatah-patah dibantu kedua temanya
yang membopongnya di kedua sisi kanan dan
kiri. Sesekali terdengar suara rintihan kesakitan
dari mulutnya.
Sesampainya di UKS, bu ika bergegas
menghampiri mereka. Ditutunnya mereka
menuju ruang kamar. Lalu dibaringkanya gadis
itu di ranjang yang ada di ruangan itu.
Sepatunya dilepas perlahan. Dioleskanya
counterpain pada pergelangan kakinya yang
terkilir. Melihat keadaannya yang mulai

membaik, salah seorang dari mereka berdua
berkata ” bu, kami permisi dahulu” ,” iya” jawab
bu ika. Setelah mendengar jawaban itu
bergegaslah mereka kembali ke lapangan.
Selang beberapa waktu bu ika pun pergi
entah kemana meninggalkan kami berdua di
UKS. Ku coba menggeser bangkuku mendekati
pintu ruangan itu. Ku lemparkan sekilas pandang
ke arah gadis itu.
Ku lihat ia sedang terbaring di ranjang. Ku
pandangi dirinya mulai dari ujung kakinya hingga
akupun tertegun kaku saat pandanganku sampai
pada wajahnya. Ternyata ia adalah mi-mi, gadis
idamanku selama ini. Tak ku sangka wajahnya
terlihat begitu mulus bak bayi yang lagi lahir.
Jantungku berdetak kencang dan semakin
kencang saja saat matanya terbuka dan
memandang ke arahku. ”deg, deg.. deg, deg..”
sura detak jantungku yang begitu keras hingga
terdengar oleh telingaku sendiri.

’oh Tuhan, mimpi apa aku semalam
hingga aku bisa berjumpa bidadari secantik ia.’
Bisikku dalam hati.
Dan sekarang kami saling berpandangan.
Satu, dua, dan akupun langsung tertunduk malu.
Wajahku mulai memerah. Ku tak tau lagi apa
yang harus ku perbuat. Lalu ku coba lagi melihat
ke arahnya dengan seluruh sisa keberanian yang
ku punya. Ku lihat wajahnya dan ia tersenyum
kepadaku. ’oh alangkah manisnya senyum itu’.
Hatiku yang bergetar tak kuasa lagi menahan
apa yang kurasa ini.
Ku coba untuk membalas senyum itu
dengan tersenyum kepadanya. Dan ia
tersenyum lebih lebar saat melihatku
tersenyum. Karena tak kuasa menahan rasa
yang kurasakan. Entah bagaimana melukiskanya,
rasa bahagia, bingung, malu semuanya
bercampur menjadi satu membuatku serasa
melayang dibuatnya namun aku tak kuasa
menatapnya lebih lama lagi, dan akupun
menundukan kepalaku lagi.

Aku benar-benar sudah tidak tahu apa
yang mesti aku perbuat lagi. Pikiranku melayang
tidak karuan. Tapi entah bagaimana aku teringat
kejadia kemarin, bayangan ira dengan kalimat
terkhirnya sebelum ia pergi meninggalkanku
yang berbunyi ” ..takan ada hasil tampa
perbuatan” membuatku ingin melakukan suatu
hal, tapi apa itu akupun tak tahu. Yang ku tahu
aku tak ingin membuang kesempatan ini.
Aku tak ingin mengakhiri masa SMAku ini
tampa kisah cinta. Aku yang sudah duduk di
bangku kelas tiga ini akan segera lulus. Tinggal
tiga bulan lagi ujian akhir akan dilangsungkan.
Dan setelah itu berakhirlah masa SMAku yang
katanya masa-masa yang paling indah dengan
kisah kasih disekolah.
Lama aku terdiam disana hingga ” kak,
bisa tolong ambilkan itu.” suara yang lembut
keluar dari mulutnya.
Mendengar suara itu aku menjadi berani
melihat ke arahnya. Ku lihat ia menunjuk ke arah
counterpain yang berada di atas meja kecil di
sampingku. ”ini?” tanyaku sambil memegang

obat tersebut. ”iya” jawabnya sambil
mengangguk.
”aku bantu oleskan ya?” tawarku
”enggak usah, biar aku oles sendiri”
balasnya dengan suara pelan.
Tampa memperdulikan katanya tadi,
akupun mulai mengoleskan krim tersebut ke
pergelangan kakinya yang sakit. Ku coba
mengurutnya secara perlahan, sesekali masih
terdengar rintihan sakit dari mulutnya.
”gimana udah baikan?” tanyaku setelah
selesai mengoleskan krim tersebut. ’ iya kak”
jawabnya. Setelah itu ia mengangkat tangan
kanannya dengan maksud berjabat tangan.
Melihat hal itu akupun mengikuti gerak
tanganya. Tangan kananku menyambut salaman
hangat darinya. Lalu mulutnya berucap ” mi-mi”
dan aku membalasnya dengan berucap ”bima”.
Dan setelah perkenalan itu kami pun mulai
berbincang-bincang mengenai banyak hal.
Walau masih terkesan agak kaku tetapi
suasana yang terbangun begitu hangat dengan

sesekali diselangi canda-tawa. Dan akupun mulai
terbiasa denganya.
Hingga kedua temannya datang
menjemputnya dan percakapan kami berakhir.
Sebelum pergi ia sempatkan diri tersenyum
kepadaku.
Setelah itu segera ku selesaikan
menjahitku dan kembali ke kelas karena bel jam
pergantian pelajaran telah berbunyi. Di kelas
aku tersenyum-senyum sendiri mengingat
kejadian indah itu

PART II
Setelah kejadian di UKS itu, pintu gerbang
hubungan kami serasa telah terbuka. Semuanya
berjalan layaknya arus yang mengalir mengikuti
alurnya sendiri. Setiap kali kami berpapasan
kami saling menyapa. Terkadang kali kalau ada
kesempatan kami pun mengobrol.
Tanggal 12 ferbuari, H-2 menjelang
falentine. Aku dan ira telah berjanji akan pergi
bersama ke SGM, satu-satunya mall yang ada di
kotaku, Solo the Spirit of Java. Namun ira belum
juga kunjung tampak. Aku yang menunggu di
depan gerbang sekolah sejak tadi sudah mulai
bosan. Ku coba membuang kebosanan dengan
memandangi awan yang ada di langit. “wah
tumben cerah ini hari padahal beberapa hari ini
hujan melulu.” Kataku dalam hati.
“sory lama menunggu, soalnya tadi Pak
Rudi lama banget mbagiin hasil ulangan
kemarin.” Kata ira saat berjalan menghampiriku.
“gimana hasil ulanganya?” spontan aku

bertanya. “adadeh.., yuk brangkat!” katanya
dengan semangat. “ni” kataku sambil
mengenakan helm ke kepalanya. Dan kamipun
langsung berangkat menuju SGM. Satu-satunya
mall di kotaku ini.
Sepanjang perjalanan aku menceritakan
dengan antusias kejadian di UKS. Tempat yang
menjadi titik awal perkenalanku dengan Mimi.
Selang kurang dari tiga puluh menit
akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Ku
pakirkan motorku di tempat biasa. Dan kamipun
langsung berjalan memasuki mall.
Kami menaiki elevator berjalan sebelum
memasuki SGM. Perlahan tapi pasti elevator
bergerak menuntun kami ke dalam mall
tersebut. ”wau.. semuanya pink..!” kata ira yang
memasuki mall terlabih dahulu. Aku yang berada
di belakangnya segera menyusulnya. Pandangku
mencoba menagkap seluruh isi mall saat itu.
Mall yang sering kami datangi ini terlihat
berbeda sekali dari biasanya. Lampu-lampu
berkelap-kelip di sana sini. Rona cahayanya
bewarna merah. Banyak ornamen-ornamen

bertemakan valentine dimana-mana. Musiknya
pun juga bernuansakan cinta. Entah bagaimana
merek mendisain ulang mall ini tapi semuanya
terlihat begitu mempesona memanjakan mata
setiap pengunjung.
Lalu mataku tertuju pada langit-lagitnya
saat itu. Sebuah boneka cupit yang sangat besar
menggantung disana. Didepanya terdapat
boneka hati yang tak kalah besarnya. Dan
terlihat sekan-akan cupit itu ingin memanah hati
itu. ”wau disain yang sungguh artistik. ” kataku
dalam hati.
Sesampainya di ujung elevator, Ira
langsung berlarian sambil menggandeng
tanganku. Kamipun berlarian kemana-mana.
Berpindah dari satu yempat ke tempat yang lain.
Dari atu toko ke toko yang lain.
Ku lihat ira begitu bersemangatnya,
matanya berbinar-binar membuatku tenggelam
dalam kebahagiaanya.
Dan akhirnya kami terhenti di sebuah toko
’pink’. Toko yang berisi pernak-pernik valentine.

Mulai dari coklat, hal yang wajib di hari
valentine sampai pita berbentuk hati ada
semuanya di situ.
”bagus enggak?” tanya ira saat
mengenakan bandana bewarna merah
berhiaskan hati di tengahnya. Akupun hanya
mengangguk, mengiyakan. Lalu ira
menggantinya dengan bandana yang lain dan
kembali bertanya ” kalau yang ini?”, ”bagus
juga” jawabku spontan. Lama kami berada di
situ.
Aku hanya terdiam memandang ira yang
mencoba ini itu. Ira terlihat berbeda sekali.
Tingkahnya begitu menggemaskan. Apalagi saat
ia mencoba sesuatu dan menanyakan
pendapatku sambil tersenyum manja.
”loh kok ndomblong?” tegur ira.
”enggak kok, lagi mikir aja”,
”mikirin mimi ya?”
”tau aja kamu. Kamu sendiri semangat
amet si?”

”ya iya dong.. bentar lagi kan valentine
jadi ya mesti semangat!” kemudian ira kembali
mencoba ini-itu lagi.
Sambil menunggu aku berdiri bersandar
memandang ke lantai di bawah. Lalu kupandang
lama cupit yang tergantung itu membuatku
terpikir akan mimi. Gadis yang menjadi
dambaan hatiku saat ini.
Ku coba memandang keseliling dengan
harap jumpa dirinya. Dan pandanganku tercuri
oleh sesosok wanita dengan baju birunya yang
sedang menaiki elevator. Potongan rambutnya,
lekuk tubuhnya, tingkah liatnya, semuanya
terlihat seperti Mimi. ”apakah ini namanya
pucuk dicinta ulampun tiba?” tanyaku dalam
hati.
Tampa berpikir lagi, aku berlari ke
arahnya. Mataku terus memandang dirinya yang
berada di bagian mall yang lain yang
membuatku harus memutari mall itu. Hingga
gerombolan orang yang berjalan berlawanan

arah dengan mimi menghalangi arah
pandangku. Dan akupun kehilangan dia.
Ku tak menyerah begitu saja.
Sesampainya disana, ku berputar sambil terus
mencari sosoknya yang lenyap. Banyak ku lihat
wanita yang mengenakan pakaian biru disana.
Ku hampiri mereka satu-persatu namun mimi
tak kunjung kutemukan. Hal itu membuatku
semakin putus asa.
Hingga di ujung keputus asaanku aku
melihat kembali sosoknya yang sedang berjalan
memasuki toko disana. Ku langsung berlari
menghampirinya hingga aku tepat berdiri di
belakangnya. Dan ku panggil namanya ”mimi”.
Setelah itu ia berpaling melihatku. Ku lihat
wajahnya dan ’tet tot!’ bukan dia! Aku salah
orang!
Pupus sudah harapanku. Pucuk dicinta
ulampun tiba berubah menjadi pucuk dicinta
ulampun terbang.

”eh maap salah orang.” kataku tersipusipu
malu. Lalu tampa ekspresi ia pergi begitu
saja.
Dengan penuh kekecewaan aku berjalan
kembali ke tempat semula. Ku berdiri
menertawai diriku sendiri mengingat hal tadi.
”wah kayaknya aku terkena fatamorgana cinta
ni” kataku dalam hati.
Baru beberapa detik, aku melihat lagi
sosok mimi. Sekarang ia sedang berjalan
bergandeng tangan dengan seorang pria. Lalu
aku melihat tiga gadis yang sedang berjalan yang
sosoknya berubah menjadi mimi juga. Ku lihat
wanita lain yang sedang meminum tongjie juga
berubah menjadi mimi. Terus dan terus begitu.
Semua wanita yanga ku lihat berub sosoknya
menjadi mimi. Hal ini membuatku semakin gila
saja.
Dan ditengah kebingungan itu muncul
sosok yang ku kenal, ira! Ia berjalan menuju
kearahku dengan membawa beberapa kantung
plastik belanjaan. Wajahnya terlihat cemberut
dan kesal saat memandangku. ” iiiihh..., kamu

kemana aja si? Baru ditunggal sebentar malah
ilang. ” grutu Ira sambil menyerahkan seluruh
barang belanjaanya kepadaku. ” iya maap,
abisnya tadi aku liat Mimi. ”balasku.
” Mimi! Mana?”
” Tadi, Disana.”
” Disana mana? Kok gak diajak ke sini?”
“ enggak.”
“ enggak gimana?”
“ enggak jadi Mimi. Salah orang! Tadi aku
kiraiin Mimi tapi setalah aku dekatin jadinya
Momo, udah jelek, sadis lagi.” Kataku kesal
teringat wajanya yang tampa ekspresi itu.
Mendengar hal itu Ira langsung tertawa
begitu saja. ” kok malah diketawain?! Gimana si
Ira, temen lagi sedih kok malah diketawain.”
Kataku dengan nada lemas. “ abinya hahaha..”
jawab Ira yang terputus-putus akibat tawanya
sendiri. “Mimi hahaha.. Jadi hahaha... MOMO!
Hahawakakakaka... “ lanjut katanya dengan
penekanan yang kuat saat berkata momo dan

diakhirinya dengan tawanya yang semakin
menjadi-jadi. “ udah ah, gak lucu.” Kataku sebal
melihat tingkanya. Namun Ira masih saja
tertewa tampa memperdulikan apa yang ku
katakan.
Melihat hal tersebut membuatku semakin
BT saja. Wajahku menjadi kecut sambil berjalan
meninggalkan Ira. “Bima tungguin!” panggil Ira
yang semakin tertinggal jauh olehku. Aku pun
tetap melanjutkan langkahku tampa
memperdulikan panggilan itu. “ Bimaaa....!
tungguin!” panggilnya lagi dengan suara yang
lebih keras. Lalu aku berhenti, berbalik melihat
Ira. Kudapati Ira masih saja tertawa. Melihat hal
itu akupun kembali melanjutkan langkahku
meninggalkan Ira. ” aah.., Bima tunggu!”
katanya sambil berlari mengejarku.
Nafas ira terengah-engah saat berhasil
menyusulku. ” Sebentar Bim, perutku keras ni,
hah... hah.. hah.. ” katanya menghentikan
langkahku. Kamipun beristirahat sejenak.
” kemana lagi ni? ”tanyaku bosan. ”ke
foodcore aja. Aus ni! Perut juga dah

keroncongan. “ jawabnya. Lalu kami berjalan
menuju tempat tersebut.
Disana kami berputar mengelilingi
foodcore sempai dua kali untuk mendapatkan
tempat duduk. “ tumben penuh. Padahal
valentine kan masih dua hari lagi. “ keluh Ira. “
yeee.. salah sendiri jam segini pergi ke mall.”
Kata ku. “ loh salah dimananya?” tanyanya
bingung. “coba liat aja tu, semuanya kaya kita
kan. Semuanya masih pada pakai seragam
sekolah. Pasti mereka juga sepulang sekolah
langsung cabut ke sini.” Kataku menjelaskan ke
Ira sambil menunjuk ke sekeliling yang dipenuhi
oleh siswa-siswi dari berbagai SMU yang ada di
kota Solo.
“itu-itu!” kata Ira sambil berlari
menduduki bangku yang baru saja ditinggalkan.
Aku berjalan menyusulnya. Ku letakan barang
belanjaan Ira di atas meja dan akupun duduk
berhadapan dengan Ira.
Dan kamipun mengobrol tentang banyak
hal, mulai dari Valentine tahun ini dan tahun
sebelumnya sampai hal yang gek penting seperti

pakain orang-orang yang ada disana. Tidak lupa
kami juga makan siang disana.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Hari telah menjelang sore dan “ Pulang yuk!
Udah sore ni. ” ajak Ira. ” dah jam lima lebih to,
gak kerasa ya.” Kataku sambil melihat jam yang
ada di Hpku yang menunjukan pukul 05.13 pm.
Kami pun segera beranjak meninggalkan
tempat itu. Berjalan menuju ke tempat perkir.
Saat menuruni elevator tiba-tiba saja Ira
menggandeng tangan kiriku. Dipegangnya erat
tanganku itu. Begitun hangat begitu lembut
tanganya terasa dalam genggamanku. Aku tak
mengerti kenapa ia berbuat demikian. Dan
akupun tak tahu harus berbuat apa.
Lalu ku pandang wajah Ira. Ia pun
memandang ke arahku. Ku lihat mulutnya
tersenyum manis kepadaku. Matanya menatap
ke arahku. Bukan tatapan biasa, tatapan yang
penuh makna yang tersembunyi di balik selaput
retinanya. Serayak berkata, ” udah gak usah
berpikir apa-apa. Anggap saja latihan nanti kalau

jalan sama Mimi. Pasti kamu belum pernahkan
digandeng cewek kaya gini, hahaha..” katanya
pelan yang diakhiri dengan tawa kecilnnya. Lalu
ia merapat kepadaku, kepalanya ia sandarkan di
bahuku yang mambuat semuanya semakin
romantis saja.
Lidahku kaku, mulutku terdiam, ku tak
tahu harus berkata apa. Kamipun hanya terdiam
menikmati apa yang ada hingga ternggelam
dalam hangatnya suasana.
Sesampainya di parkiran, tak ada diantara
kami yang berucap kata. Semuanya serasa bisu.
Seakan tak ada lagi bahas yang dapat digunakan.
Entah aku ataupun Ira tak ada yang berani
bersuara.
Saat pulang mengendari sepeda motor,
suasana tak jauh berbeda. Ira masih saja
terdiam. Ia yang mendekapku dari belakang
memberikan kehangatan padaku di dinginya
angin dikala senja. Suasaba disenja kota dimana
mentari telah berada jauh di ufuk barat dan
lampu kota yang mulai menyala memberi kesan
tersendiri dalam perjalanku ini.

Sampai juga akhirnya kami di depan
rumah Ira. Sebuah gang sempit dengan
pemukimanya yang padat di tengah kota serta
halaman yang telah menghilang. Tak ada
seorangpun disana kecuali kami berdua.
” udah sampai.” kataku setelah melihat Ira
yang masih saja terdiam, mendekap padaku.
Matanya terbuka dan ia turun dari sepeda
motor. Lalu ku berikan barang belanjaanya yang
masih tergantung di motorku serayak berkata ”
ini.” saat menyerahlanya.
” eh Bima tunggu sebentar.” kata Ira yang
mencegahku pulang. Ku lihat Ira mengeluarkan
sesuatu dari kantung belanjaanya itu. Sebuah
kado berbentuk hati bewarna merah yang
berhiasan pita kecil diatasnya.
” ni.” katanya sambil menyerahkan kado
itu padaku. ”loh valentine kan masih dua hari
lagi?!” tanyaku heran. ” yee..! emang buat
kamu? Dibaca tu!” ejeknya. ” mananya yang
dibaca?” tanyaku bingung. Lalu ia bertingkah
seakan-akan ingin membisikan sesuatu. Melihat
tingkahnya itu akupun merespon dengan

mendekatkan wajahku padanya. Dan tiba-tiba
’kiss’. Ira mencium pipi kiriku sambil berbisik
”for luck”. Aku jadi kaget dan terheran-heran.
Setelah itu ia langsung masuk ke rumanya pergi
meninggalkanku begitu saja.
Lalu angin yang cukup kencang
berhembus ke arahku membuat lembaran di
atas kado yang ku pegang terbuka. Ku lihat
selembar kertas bewarna merah muda dengan
tinta emas yang bertuliskan :
From Bima
With love
To Mimi
Aku pun segera pulang ke rumah. Dalam
perjalan aku begitu bahagia sampai-sampai
tersenyum-sentum sendiri. dan pastinya aku
sangat tidak sabar menunggu datangnya hari
Valentain.

PART III
“Kring..., kring..., kring..!” suara alarm
jamku berbunyi. Akupun segera bangkit dari
tidurku. Sebenarnya aku masih sangat
mengantuk . lihat saja mataku yang nengkat
memerah ini.
Semenjak hari itu, dimana Ira memberiku
coklat yanga akan ku serahkan pada Mimi tepat
pada hari valentine, iya hari ini, aku tidak pernah
dapat tidur dengan nyenyak.
”Uaaahhh...” aku menguap lagi. Dengan
mata yang berat ini aku mulai bangkit dari
tidurku dan berjalan memasuki kamar mandi.
”brrr, biur-biur-biur...” segera ku
selesaikan acara mandi pagi ini yang hrr.. dingin
banget airnya.
Setelah mandi ku lanjutkan dengan
menggosok gigi sambil berkaca. Ku lihat wajah
yang ada di cermin itu. Aku sedikit kaget melihat
wajahku sendiri dengan kantung mata yang

ghitam membengkak, matanya yang memerah.
Wah pokoknya sudah seperti mayat hidup saja
ni wajah pikirku dalam hati.
Lalu mataku melirik ke arah kasur, kearah
sebuah bantal kecil yang terletak di sudut kasur.
Ku melirik lebih jauh lagi. Terlihat, iya terlihat
kado berbentuk hati yang selama dua hari ini
membuatku tak dapat tidur dengan nyenyak.
’ting!’ akupun tersenyum kegirangan sendiri
sambil terus menyikat gigiku sampai benarbenar
kuinclong, cling-cling.
Selesai sikatan ku belas wajahku berulan
ulang hingga ’ting’ wajahku bercahaya lagi. Tapi
baru beberapa detik wajahku kembali seperti
semula. Kantuk-akntuk di wajahku terlihat lagi.
Sial-sial! Ku bilas lagi wajahku sampai kembali
bersinar.
Ku kenakan seragam SMUku, ku bawa tas
sekolahku dan tidak lupa ku masukan kado
istimewa itu ke dalam saku jaketku.
Ku sarapan dengan sedikit nasi dan
banyak-banyak kopi. ”hehehe ku kalahkan

kantukku dengan kopi ini” kataku dalam hati
sebelum meminum habis satu gelas besar
”glegek, glegek, glegek. Ah,” habis sudah satu
gelas itu.
Setelah itu aku segera berangkat menuju
ke sekolah dengan sepeda motorku tercinta ini.
Setibanya di seklah, ternyata hari masih
terlalu pagi. Para tukang kebun masih asik
menyapu halaman. Dan masih sedikit murid
yang datang. Mereka terlihat begitu
bersemangat. Hampir setiap siswa membawa
kado istimewa yang entah tersimpan di tasnya
ataupun terselip dalam saku pakaian mereka. “
wah valentine tahun ini bakalan ramai” pikirku
dalam hati.
Ku pakirkan motorku. Saat ku melepas
helm, datang Nick dengan motor CBR merahnya.
Ia adalah salah satu bintang di sekolahku. Walau
dia seangkatan denganku, tetapi kami tak begitu
akrab. Ya sekedar kenal saja.
” hai” sapanya dengan gayanya yang tetap
stay cool. ”weh, sudah sedia karung belum?

Buat bawa coklat tahun ini.” kataku sambil
bercanda dan ia balas dengan tawa.
” yuk” ajaknya setelah merapikan
rambutnya. Dan kamipun berjalan menuju kelas.
Walau berbeda kelas dan berbeda jurusan
namun kelas kami bersebalahan.
Akupun berjalan di belakangnya. Ku
perhatikan dia dengan seksama. Ku coba
mencari apa si kelebihan yang ia punya sampaisampai
banyak cewek yang nge-fans sama dia.
Selain bodinya yang atletis, tubuhnya yang
tinggi, wajanya yang tampan, otaknya yang
brilian, dan juga jago basket. Selebihnya tak jauh
beda dengan diriku ini. Hehehe.. dasar narsis
ejekku dalam hati. Yah aku malah asik ngobrol
sendiri dalam hati.
” nah sekarang liat aja tu! Semua cewek
yang ada, matanya hanya tertuju padanya. Aku
seakan-akan hanya menjadi seonggok batu krikil
saat bersamanya.” kataku dalam hati saat kami
berjalan bersama melewati lorong-lorong kelas.
”ih sebelnya ” keluhku dalam hati.

Dan akhirnya kami tiba di depan kelasnya.
Ia pun berjalan memasuki kelasnya tampa
memperdulikan kehadiranku ini! Menyebalkan
bukan?!
Ku lihat sekilas, terlihat di atas mejanya
sudah ada setumpuk coklat. Entah ada berapa
banyak namun yang pasti lebih dari sepuluh
kado. Sedangkan aku..tak ada sama sekali.
Terlihat mejaku yang berdebu. ” oh sialnya
hidupku ini.. hidup sebagai orang biasa, dengan
kehidupanya yang serba biasa. Dan selama
delapan belas tahun hidup di dunia ini tampa
cinta. Tak ada coklat di hari valentine seperti
tahun-tahun sebelumnya.” keluh sedihku dalam
hati yang diikuti ekspresi berlebihan.
Saat aku lagi mengeluh mataku melihat ke
arah beberapa temanku di kelas. Ku lihat
mereka sedang memandang ke arahku dengan
tatapan heran dan bingung. ’tek’ akupun
terdiam mematung sejenak. Dan akupun
langsung berusaha bertingkah normal berjalan
layaknya robot kaku menuju ke tempat
dudukku. Ku letakan tasku di atas meja dan

akupun duduk. Barulah pandangan aneh mereka
dan semua kembali seperti semula seolah tak
terjadi apa-apa.
Pif.. lega rasanya sudah tidak ada yang
memperhatikanku lagi. Perlahan aku keluarkan
coklat yang ada di saku jaketku ini. Ku periksa
keadaanya dan ternyata masih dalam kondisi
baik-baik saja.
Dengan sembunyi-sembunyi ku masukan
ke dalam laci mejaku. Walau jarak antara saku
jaketku dengan laci meja tak sampai sepuluh
centi metar tapi karena sangat tegangnya takut
diketahui orang lain jarak itu serasa melebar
seratus kali lipat.
Dan saat tanganku mulai berhasil masuk
kedalam laci tiba-tiba ” hai!” sapa guntur dari
belakang. Dan seketika itu juga coklat di
genggamanku terlepas akibat kaget.
Hal itu membuatku menjadi panik. Aku
tak tahu apa yang terjadi dengan coklatku itu.
Dan yang lebih sulitnya lagi aku tak berani
melihat keadaan coklat itu. Kan malu kalu

sampai ketahuan Guntur aku membawa coklat
buat dikasih cewek gitu.
”hai juga hehehe” balaskku mencoba
bersikap wajar tapi malah menimbulkan
kecurigaan. Matanya yang tajam memandangku,
senyumnya begitu penuh arti membuatku
semakin salah tingkah saja. Dan sekarang
wajanya semakin didekatkan ke wajahku
membuatku semakin terpojok.
Lalu mulutnya berucap ”hehehe.. aku
tahu.. ”,” tau? Tau apa?” tanyaku cemas.
”hehehe.. aku tahu..” katanya berulang dengan
nada yang lebih tinggi membuatku semakin
grusah saja.
’benarkah ia tahu? Bagaimana ini? Kalau
sampai ia tahu hancur sudah harga diriku ini’
batinku yang terus saja bertanya-tanya. Dan kini
suaranya terdengar begitu keras di telingaku.
”hahaha.. aku tahu” lalu suaranya menurun, ia
berbisik ” kamu mau menaruh coklat di mejamu
sendiri kan ?! supaya orang lain berpikir kamu
dapat coklar kan?” katanya sambil menaikan
alisnya gitu.

Belum sempat aku merespon kata dari
Guntur, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh
dari luar kelas. Teman-temanku di kelas pada
berhamburan keluar. Lalu terdengar suara
sorak-sorak ” terima-terima-terima-...” yang
terus dan terus bersautan.
Karena penasaran aku dan juga Guntur
segera lari ke luar. Di luar ternyata banyak sekali
yang melihatnya. Aku coba mendesak ke depan
mencari celah supaya bisa melihat apa yang
sedang terjadi.
Terlihat dari llantai dua tempatku berdiri
ini seorang pria yang sedang bersujud
dihadapan seorang wanita. Tanganya membawa
boneka panda yang lucu dan wau! Ukuranya
cukup besar.
Boneka panda itu memegang sebuah
bantal bewarna merah, berbentuk hati yang di
tengahnya bertuliskan sebuah nama ”renny”.
Yang ternyata nama dari gadis itu.
“aduh kerenya..” kata Ina yang berdiri
tepat di sampingku. ”iya keren banget” saut Vivi

yang berada di belakangnya. ”itukan Yogi, anak
kelas XI-s2” kata Ina. Dan bla.. bla.. bla.. mereka
mengobrol begitu asiknya ala cewek gitu.
Dengan wajah tersipu-sipu Renny
menerima boneka panda itu. Dan serentak para
siswa yang melihatnya bertepuk tangan, ada
juga yang bersorak-sorak dan tak ketinggalan
suara siulan yang melengling terdengar diantara
kermaian itu.
Aku yang melihatnya menjadi ikut terlarut
dalam kebahagiaan dengan apa yang mereka
rasakan. Dan aku rasa yang lain juga merasakan
akan rasa yang ku rasa ini.
Baru semenit berlangsung, terjadilah
keramaian lagi. Kali ini bersumber di kantin
sekolah. Ya apa lagi kalau bukan acara katakan
cinta! Tapi kali ini beda, bukan boneka beruang
besar yang ia bawa, melainkan setangkai mawar
hitam dan sebuah kado yang terbungkus motif
hati.
Busyet! Di belakang prianya telah berdiri
tiga pria lain yang mengenakan kostum hitam

yang bergaya layaknya pemandu sorak dalam
pertangingan akbar. Dan sekarang mereka
bertiga mulai melancarkan aksinya. Mereka
bertiga mulai berjalan mendekati sang target.
Gerakan-gerakan tubuh serta tarian-tarian yang
mereka lakukan dengan maconya seakan
menyihir kalayak penyimak.
Dan sampailah mereka di akhir aksinya.
Satu-persatu dari mereka berbaris. Lalu sang
depan berbalik berputar sambil membuka
sayapnya lebar-lebar. Di tengahnya terdapat
sulaman wol merah yang terajut menjadi
untaian huruf ”I”.
Sekarang giliran orang kedua yang
melakukan aksi yang sama namun huruf ’love’
yang ada pada dirinya. Dan tibalah orang
terakhir melanjutkan aksinya dengan kata ’you’
yang ia gunakan.
Lalu mereka semua serentak berucap ” I...
love.. you.., I love you!”
Sekarang giliran sang pangeran ni maju
melancarkan aksinya.

” wahai engkau bidadari hatiku. Jumpa
pertama dirimu, ku langsung jatuh sakit.” belum
selesai satu bait puisi itu terbaca, orang di
sekitar sana langsung saja bersorak ” Cieaa..”
namun hal itu tak menurunkan semangatnya
dan ia lanjutkan lagi aksinya.
”hatiku tak lagi tenang, Tidurku tak lagi
nyenyak.
Otakku tak hentinya pikirkan dirimu,
nayangmu kian menghantui alamku..
Hingga ku bertanya, apakah yang ku rasa..
cinta?
Kini ku tersujud di sini, memohon
kesembuhan akan diriku.” lanjutnya
” sekarang ku bertanya, adakah cinta di
hatimu kini?
Jika memang ada, terimalah hatiku ini
Jika tak ada, bawalah mawar ini pergi
bersamamu.”

Wajah gadis itu merah berbinar. Ia
terdiam sejenak. Lalu ia mulai melangkah
mendekati pria itu. Tangan kanannya bergerak
mendekati kado hati itu.
Terlihat raut wajah pria itu menunjukan
kebahagiaan. Namun tiba-tiba saja gerak tangan
gadis itu terhenti. Dan mulai bergerak lagi
mendekati mawar itu.
Entah apa yang dipikirkan gadis itu? Dan
sekarang senyum di wajah pria itu hilang
berganti dengan kecemasan.
Tanganya terus saja bergerak hingga
sekarang mawar hitam itu telah ada di dalam
genggamanya.
Seketika itu juga wajah sang pria
tertunduk kaku. Suasananya pun langsung
berubah. Sunyi, hening, menyelimuti aksi itu.
Hingga ”tek!” terdengar suara ranting
putus yang menggema memecahkan
keheningan itu.

Mendengar suara itu, pria yang tertunduk
tadi mulai mengemadahkan kepalanya. Ia lihat
gadis di depanya sedang tersenyum padanya.
Bunga mawar hitam di tanganya telah
patah. Lalu gadis itu berkata ” sekarang sakitmu
telah sembuh” lalu ia buang bunga itu dan
mengambil kado warna merah tersebut.
Kesedihan disana segera berubah seratus
delapan puluh derajat menjadi kebahagiaan.
”wah-wah gokil juga tu cewek ”pikirku.
Setelah melihat itu semua, aku kembali ke
kelas. Walau dalam perjalanan aku mendengar
beberapa kali ramai-ramai yang paling-paling
aksi penembakan lagi, aku tetap melanjutkan
langkahku kembali ke kelasku.
Sesampainya di kelas, tanganku meraba
ke dalam laci. Mencoba mendapatkan kadoku
dan kumasukan ke dalam saku kanan jaketku.
”pif” hela nafasku panjang.

Aku jadi bingung bagaimana menyarahkan
coklat ini kepada Mimi.
Lalu aku berjalan keluar kelas menuju
tempat biasa ku memandang Mimi. Sambil
berdiri termenung menanti hadirnya pagi ini.
Lama sudah aku termenung seorang diri
disana hingga akhirnya ia datang juga. Dirinya
berjalan melewari lorong kelas.
Bajunya yang putih seputih kulitnya,
rambutnya yang hitam sehitam bola matanya.
Berayun gemulai seiring lankahnya.
Aku segera turun dari tempatku di lantai
dua mencoba mengikutinya dari belakang.
Mencoba mencuri waktu yang tepat
memberiakan kadoku ini.
Langkah demi langkah menuntunku tuk
terus semakin dekat denganya. Semakin dekat
ku melangkah semakin kencang debar jantungku
ini. ”deg-deg.. deg-deg..” debar jantungku yang
terus terpacu. Semakin kencang dan terus
bertambah kencang. Satu kali ku melangkah,

jantung ini serasa seratus kali berdetak lebih
kencang.
Hinga ”deg-deg-deg-deg!!” jantungku
berdetak sangat, sangat kencang. Suaranya
menggebu-gebu layaknya genderang perang
yang ditabuh begitu kuanya tepat di samping
telingaku ini. Hal itu membuat nafasku menjadi
berat tak beraturan, dan keringan dingin pun
mulai bercucuran membasahi sekujur tubuh ini
seperti layaknya orang yang habis melakukan
lari maraton saja.
Saat tepat di belakangnya, mulutku kaku.
Aku tak bisa berucap. Dan kekakuan itu mulai
menjalar menggerogoti seluruh tubuh ini.
Membuatku terdiam mematung tak bergerak.
Hilang sudah semua keberanian dalam
diriku ini.
Ku coba menarik nafaas panjang sembari
mengumpulkan sisa tenagaku tuk bergerak,
berpaling menghadap dinding disamping kiriku
ini.

Lalu ku mulai menenangkan diri. Ku atur
nafasku lagi. Ku himpun sedikit demi sedikit
keberanianku yang tercecer. Hingga ku rasa
mentalku kembali siap tuk bertempur.
Dan saat ku berbalik tuk malanjutkan
aksiku, ha!! Mimi sudah lenyap!
Mataku melirik kesana-kesini mencari
sosoknya yang hilang.
Ku berjalan melewati depan kelasnya. Dari
balik jendela yang ada di pintu kelas itu ku
dapati sosoknya yang sedang asik bercakapcakap
dengan bebrapa temanya.
Kecewa sudah diriku ini. Satu kesempatan
dihari ini telah terlewatkan.
Ku berjalan lemas tak bergairah kembali
ke kelasku dan duduk termenung berharap akan
datangnya kesempatan dikala waktu istirahat
nanti.
”tet... tet... tet... ” terdengar suara
panjang bel sekolah menandakan dimaulainya

kegiatan belajar mengajar sekolah hari ini. Ya
memang hari ini kegiatan di sekolah berjalan
kurang efektif. Baik guru maupun siswa banyak
yang melantur membahas soal cinta.
Hingga jam menunjukan pukul 09.15. itu
artinya waktu istirahat. Dan berarti saatnya aku
berjuang lagi mencoba keberuntunganku ini.
Ku tarik nafas panjang lalu ku hempaskan.
Ku tarik nafas lebih panjang lalu ku hempaskan
lagi sampai tiga kali ku mengulanginya tuk
memantapkan diri tuk berhadapan dengan
keindahan Mimi.
Ku berjalan menyalinap keluarn kelas
mencoba menghilangkan akan hadirku agar ku
dapat berjalan seorang diri. Berjalan secepat
mungkin dan senormal mungkin melewati
kerumunan orang hingga ku tiba didepan ruang
guru.
Ku duduk disana memandang lurus ke
arah kelas dimana Mimi berada. Menanti dan
menanti, berharap dan terus berharap hanya itu
yang aku bisa.

Dan tiba-tiba ”Bima sedang apa duduk
disini sendirian ?” tanya Bu Ika yang membuatku
kaget. ”Eh Bu Ika. Gak lagi ngapa-ngapa kok.”
jawabku singkat. ” kalau gitu mau gak bantuin
Ibu?” tanyanya lembut. ”bantuin apa Bu ?”, ”ini,
tolong bawakan buku ini ke kelas Xa” jawab bu
Ika sambil menujuk setumpuk yang berada di
atas meja kayu itu. ”beres Bu!” jawabku dengan
semangat karena ku tahu Mimi berada didalam
kelas tersebut.
Aku pun segera bergegas mengangkat
setumpuk buku itu dan berjalan menuju kelas Xa
dengan riang gembira.
Setelah melewati taman yang berada
ditengah gedung sekolahku ini, tibalah aku di
depan kelas Mimi. Ku buka pintunya dengan
tangan kiriku karena di tangan kananku
setumpuk buku yang ku bawa ini.
Saat ku mulai melangkah masuk kelas itu,
terdengar suara tawa. Suara yang tak asing lagi
di telinga ini, iya suara tawa Mimi. Ku lihat Mimi
sedang tertawa lepas. Tawa yang begitu murni,

begitu bahagia layaknya seorang bayi yang
belum mengenal kebohongan dalam tawanya.
Hatiku bergetar melihatnya. Sosok raut
wajah yang tak mungkin bisa ku lupakan. Raut
wajah Mimi yang begitu bahagia yang
menenggelamkan aku juga dalam kebahagiaan
yang ia rasa.
Senyumnya itu, tawanya itu, wajahnya itu,
begitu indah menjelma bak malaikat yang turun
dengan cahaya surga yang menyertainya.
Langkah berikut ku berjalan terlihat sosok
laki yang begitu jauh dari dirinya. Yang juga
sedang tertawa bersamanya. Hal ini membuatku
gila. Hatiku begitu cemburunya melihat akan
kenyataan ini. Membuat jantung terasa
tersayat-sayat ribuan kali oleh pisau tertajam di
muka bumi ini.
Ku lanjutkan berjalan menuju meja guru
yang tak jauh dari situ. Ku letakan buku itu
diatasnya dan segera ku berbalik berjalan
keluar. Keluar dari perih yang ku rasa.

Namun langkahku terhenti oleh sapanya,
sapa lembut dari suara sang bidadari Mimi ” eh
Bima sedang apa di sini?” ” i, ini nganterin buku
yang disuruh Bu Ika” jawabku canggung.
”o..”sambungnya ” eh kenalkan ini Nicho”
katanya sambil menoleh ke arahnya, pria tadi
yang berdiri tak jauh darinya. Kamipun saling
berjabat tangan.
Hatiku semakin hancur saja. penan yang
begitu pekat membuatku terasa sesak di hati ini.
” duluan ya” kataku sambil berjalan
meninggalkan mereka tampa berani
memalingakan wajah ke Mimi.
Dalam kegundahan hati ini ku berjalan
dan kini berlari sambila menahan ketakkuasaan
suasana hati ini. Inikah yang namanya cemburu?
Ku bertanya sendiri. Namun entah kenapa ku
merasakan hal yang begitu aneh. Rasa yang tak
dapat dijelaskan. Antara rasa kecewa, rasa
bahagia, rasa sedih, rasa senang, rasa cemburu,
rasa puas semuanya bercampur aduk, dioplos
dan diblender jadi satu dalam hati ini.

Dalam pelarianku itu sampailah aku di
depan lab fisika. Salah satu tempat yang jarang
didatangi orang.
Ku terduduk disana dan bersandar pada
dinding sambil memandang cerahnya langit saat
itu. Hatiku kosong begitu juga dengan pikiranku.
Tubuh ini serasa telah mati. Ku tak melihat apa
yang ku pandang, ku tak merasa apa yang ku
sentuh, ku tak mencium apa yang ku hirup, dan
ku tak mendengar apa yang bersuara.
Jiwa ini telah meninggalkan raga. Hingga
tak tersadar ku telah meneteskan air mata.
Lama sudah aku terbaring tak berdaya
hingga seberkas cahaya terlihat dalam gelapnya
hati ini. Cahaya yang berasal dari bayang Mimi.
Sosoknya yang tertawa bahagia tadi melintas
kembali dalam anganku. Membangkitkan
kembali diriku yang telah mati. Menyadarkan
diriku yang telah gila hingga aku pun mulai
mengerti arti sebuah cinta sejati. Cinta bukanlah
soal memiliki , melainkan makna sebuah
kebahagiaan yang mana ia rasakan bersama

yang ia cinta meskipun engkau bukan dirinya
itu.
Lalu aku usap air mataku dan berlari
kembali ke kelas untuk menyongsong hari hari
yang lebih bermakna.

Part IV
Sesanpainya di kelas, ku hanya terdiam
melewati semua mata pelajaran yang masih
tersisa. Hatiku masih penuh beban, sesak terasa
memenuhi hati ini. Otak sudah tak bias berpikir
apa.
Sesampainya di rumah, aku langsung
merebahkan tubuhku di kasur dan tertidur
dengan lelapnya melepaskan semua beban yang
ada.
“krucuk-krucuk.. krucuk-krucuk..” suara
dari dalam perutku yang membangukanku dari
tedur. Maklum sejak kejadian di sekolah itu aku
belum makan sama sekali.
Terpaksa dieh aku bangun. Padahal sudah
PW, posisi wanak. Ku berjalan menuju ruang
makan. Melihat ada apa yang bisa dimakan di
meja.
Sambil mengelus-elus perutku dengan
tangan kiri ini, tangan kananku membuka

penutupnya. Dan bukanya makanan yang kun
temukan, malahan selembar uang lima puluh
ribu dan sepucuk surat yang bertuliskan ‘mama
papa pergi dulu, makan malamnya beli sendiri
aja di luar dan jangan lupa dikunci semuanya.’
Dan dibawahnya masuh terdapat tulisan lagi ‘nb
: pulangnya jgn malam2 kan ga enak sama orang
tua pacarnya.’
“krucuk-krucuk…. “ peritku kembali
berdendang. “wado, keadaan darurat gini gak
ada makanan padahal perut udah lapernya
minta ampun” keluhku. Lalu ku berjalan
mendekat ke kulkas. Ku acak-acak isinya. Ku cari
sesuatu yang dapat ku makan. Dan kutemukan
sebungkus agar-agar dibalik tumpukan botolbotol.
Sluput-sluput, lumayan buat ganjal perut
kataku sambil melahapnya. Setelah itu, ku ambil
sebotol minuman dingin dan meminumnya.
Ku kembali ke kamar, merebahkan
badanku, dan mulai memejamkan mata. Belum
ada lima menit, ‘krucuk-krucuk… krucukkrucuk…’
perutku kembali berbunyi. Sial sial sial!
Teriakku dalam hati. Ternyata agar-agar tadi

takdapat bertahan lama. Terpaksa aku harus
mencari makan di luar.
Aku segera merapikan penampilanku yang
kusam seadanya saja. Tak perlu mandi yang
penting ganti baju trus semprotkan perfume
yang banya keseluruh tubuh. Dam selesai sudah
aku bersolek.
Ku kenakan jaketku sembari berjalan
menganbil uang tadi di maja makan dan
berangkatlah aku seorang diri mengarungi
malam dengan sepeda motorku ini.
Di tengah perjalanan pikiranku melayang
membayangkan diriku menjadi seorang
superstar. Turun dari limoku yagn puanjang dan
berjalan diatas karpet merah menuju suatu
restaurant yang teramat sangat mewah. Tidak
lupa kilaulan lampu flah dari kamera-kamera
yang terus mengambil gambarku. Dibawah
pengawalan ketat dari para pengawalku, ribuan
gadis mencoba menerobos masuk pagar betis
yang dibuat mereka. Gadi-gadi it uterus saja
memanggil namaku sambil berteriak histeris “ I

love You”, “aku cinta kamu” dan masih banyak
lainya.
Sambil berjalan masuk ku tiupkan ciuman
ke krumunan wanita disebalah kananku dan
mereka kegirangan sampai-sampai ada yang
pingsan tak kuasa menahanya. Lalu ku kedipkan
mataku ke yang sebelah kiri. Dan tak jauh
berbeda dari kerumunan wanita disebelah
kanan, banyak diantara mereka yang pingsan
sehingga menyibukkan tim kesehatan.
Tepat di depan pintu masuk restaurant
aku berbalik tuk mengucapkan sepatah
duapatah kata. Langsung saja mikrofone dari
berbagai macam media entertainment
disodorkan ke arahku. “em,em” suara awalku
memulai pidato dan dilanjutkan “ terimakasih
atas..” tiba-tiba terdengar suara lain “ krucukkrucuk…
krucuk-krucuk… “ suara yang begitu
keras terdengar yang diperjelas oleh mikrofone
yang ada. Spontan semua orang tertawa
terbahak-bahak. Wajahku memerah padam
malu akan suara perutku itu. Dan
“tiiiiinnnnnnnnn….!!” Suara bel kendaraan di

depanku yang membangunkanku dari lamunan
itu. Segera ku banting setir menghindari mobil
yang ada di depanku itu. “ dasar orang gila!
Sudah bosab hidup ya?!!” teiak soerang pria
yang mengendarai mobil itu.“ maaf pak”
teriakku sambil senyum-senyum salah tingkah
tau salah.
Perlahan tapi pasti sampailah aku di Solo
Grand Mall. Ya seperti dugaanku, mall itu penuh
sekali, sepertinya semua orang di solo dapat
ditemukan disana. Tapi mau bagaimana lagi,
sudah terlanjur basah. Perut juga dah kelewatan
lapar. Jadi kupakirkan saja sepeda motorku dan
mulai berjalan menerobos semua kerumunan
yang ada hingga aku sampai di food core.
Saat sedang menyantap makan yang ku
pesan itu, tiba-tiba senandung musik melo
diperdengarkan. Liriknya begitu puitis
mengalunkan nada-nada cinta membuat
pasangan-pasangan cinta yang ada disana
semakin merapat saja. Namun berbeda dengan
diriku yang sendiri ini. Musik itu menjadi belati
dalam hatiku. Ia begitu tajam menyayat dinding

jantungku. Ingatan akan kesediahan di sekolah
itu kembali, kembali menghantuiku lagi.
Hilang sudah nafsu makanku. Steak yang
ada di hadapanku terus dan terus ku potong
kecil-kecil tampa ada yang masuk kedalam
kerongkonganku. Mataku memandang jauh tak
melihat satupun yang ada didepanku. Hingga tak
terasa air di mataku tak dapat dibendung lagi.
‘tes.. tes’ ia turun mencium pipi ini.
Segera ku lap tetesan itu dengan kedua
telapak tanganku. Ku berdiri meninggalkan
makananku begitu saja dan berjalan menuju
kamar kecil. Ku basuh mukaku berulang kali.
Lalu saat aku keluat aku melihat sebuah
pintu yang tak tertutup rapat. Dari celahnya
seakan-akan keluar cahaya yang menarikku
untuk masuk ke dalam. Sebuah pintu harapan
walau yang tertulis di pintu itu, ‘tangga darurat’.
Langkahku mendekat ke pintu itu, ku buka
perlahan. Seiring dengan terbukanya pintu itu,
cahaya dari dalam senakin terlihat menyilaukan
mata. Hingga pintu itu terbuka lebar dan akupun

berjalan memasuki ruang yang ada di
sebaliknya.
Ku gunakan tangan kiriku tuk menghalau
silaunya cahaya itu. Terlihat dari jauh seakanakan
cahaya itu menelan ragaku hingga sosokku
hilang beriringan dengan hilangnya cahaya itu
saat pintu itu otomatis menutup kembali.
Aku berada di ruang yang serba putih.
Disana hanya ada sebuah tangga yang
menjulang tinggi berputar-putar melingkar ke
atas hingga ujungnya tak tampak. Ku naiki anak
tangga itu satu oersatu hingga tibalah aku di
anak tangga yang terakhir.
Didepan ku menghalang sebuah pintu.
Segara ku buka pintu itu dan ‘wuuusss…’ angina
yang bertiup begitu kencang menghempas ke
arahku. Ku berjalan keluar, sebuah tempat yang
cukup redup. Iya tempat ini adalah atap Grand
Mall. Ku berjalan berputar dan takjub akan apa
yang ku lihat. Sebuah pemandangan kotaku
dikala malam hari. Tempat yang begitu tinngi ini
seakan membuatku dapat melihat seluruh isi
kota. Lampu-lampu yang menyala memberi

kesan indah tersendiri. Sungguh baru pertama
kali aku melihat yang seperti ini.
Ku berjalan ke tepi gedung tuk melihat
lebih jelas keindahan itu. Terus dan terus ku
pandangi keindahan itu serasa tak akan ada
pernah kebosanan tuk menikmatinya.
Saat sedang asik menikmatinya tiba-tiba
saja telingaku mendengar suara seperti rintihan.
Walau terdengar samar-samar tapi ku tahu aku
tidak berhalusinasi. Ku coba mendengarkanya
dengan seksama. Sekarang suara itu semakin
terdengar seperti suara tangisan. Iya aku yakin
suara itu suara tangisan, tangisan seorang
wanita.
Ku berjalan mencoba mencari sumber
suara itu berasal. Luasnya tempat parkiran itu
dan minimnya penerangan membuatku semakin
sulit tuk mencarinya. Hingga pencarianku
berakhir. Suara itu terdengar jelas berasal dari
atas sana. Di atas sebuah bangun di sisi gedung
yang lain yang juga terdapat tangga darurat di
dalamnya.

Ku coba berjalan mundur beberapa
langkah tuk melihat siapa gerangan yang ada di
atas sana. Namun yang kudapati hanya sesosok
bayangan yang duduk di atas sana. Isak
tangisnya yang tersendat-sendat membuat iba
hatiku ini. Ku panjat tembok itu dengan
perlahan tampa menimbulkan suara karena ku
takmau mengagetkanya.
Ku berjalan perlahan-lahan dan duduk
tepar di sampingnya. Ku perhatikan dirinya
masih saja duduk tertunduk dengan posisi kaki
yang ditakuk ke atas lalu kepalanya
ditumpangkan di atas kedua lututnya dan
tanganya merangkul menutupi wajahnya.
Isak tangisnya terus saja terdengar. Ku
rasa ia tenggelam begitu dalam, dalam
kesedihannya iru sampai-sampai ia tak
menyadari keberadaanku. Ku rasakan angina di
sana begitu kencangnya maka dari itu ku
lepaskan jaketku dan kuselimutkan ke tubuhnya
itu. Ia tak bereaksi apapun.
Ku duduk merapat mencoba menghalau
angin yang bertiup kencang diatas sana. Lalu ku

mulai berkata sambil memandang kerlap-kerlip
bintang di langit “ gelap pastikan datang seiring
malam menjelang, dan esok mentarikan
bersinar memberi kehangatan, sebab kita takan
bisa menikmati indahnya sang surya terbit jikalu
malam tak pernah ada.” Setelah mendengar
perkataan itu, tangisnya mulai mereda hingga
tersisa nafasnya yang terengah-engah akibat
kelelahan. Dan kulanjutkan perkataanku “Begitu
juga dalam kehidupan ini, suatu saat kita
tertawa bahagia dan disaat yang lain kita
menangis sedih. Semuanya itu berputar saling
melengkapi jadi janganlah kau terlalu bersedih
sebab esok hari kebahagiaan akan datang
kembali.”
Perlahan ia mulai bergerak. Merebahkan
tubuhnya kearahku hingga kepalanya berada di
atas pangkuanku. Lama aku memandangi
wajahnya yang tertutup rambutnya itu hingga
membuatnku penasaran siapa gadis ini,
bagaimana wajahnya, dan apa yang
membuatnya begitu bersedih. Dan akhirnya
kuberanikan diri tuk menyisir rambutnya,

menyingkurkan rambut yang menghalangi wajah
itu.
Aku terkejut! Kager bukan main, tak
mungkin! Ia, ia adalah… adalah ….Mimi! iya
Mimi sang pujaan hatiku. Begitu sempitkah
dunia ini? Beruntungkah aku? Apakah ini yang
dinamakan takdir? Beribu pertanyaan muncul
dibenakku.
Dan satu hal yang bisa ku katakana
“terimakasih Tuhan” kataku sambil tersenyum
memandang wajahnya yang tertidur lelap dalam
pangkuanku.

Part V
Silalau. Itu yang pertama kali ku rasakan.
Pelahan-lahan mataku mulai terbuka.
Penglihatanku masih kabur memandang
sekeliling oleh cahaya sinar mentari pagi yang
memantul memasuki ruang bertembok kaca ini.
Ku geleng-gelengkan kepalaku ke kanan dan ke
kiri. Lalu ku coba menggerakan tubuhku dengan
perlahan mencoba menghilangkan pegal akibat
tidur di lantai. Namun gerakanku terhenti saat
melihat Mimi yang masih tidur di pangkuanku
ini. Tidurnya begitu pulas, wajahnya terlihat
polos layaknya sang bayi yang terlelap tidur.
Bibirku tersenyum puas merasakan
kebahagiaan situasi yang sedang terjadi ini.
Sesekali ia bergerak membenarkan posisi
tidurnya mencari kenyamanan dengan lebih
mencengkram hangat ke tubuhku ini.
Diam, hanya itu yang berani ku lakukan
sambil menikmati setiap detiknya yang berlalu
dengan begitu indahnya hingga ia pun mulai

terbangun. Kelopak matanya dengan bulu-bulu
mata lentik itu mulai terbuka. “pagi” sapaku
lembut. “em.. pagi” balasnya pelan sambil
tersenyum. Lalu ia kembali terpejam.
Selang semenit, barulah ia mulai benar
terbangun. Ia angkat kepalanya dari
pangkuanku. Lalu ia duduk di depanku sambil
menyisir rambutnya dengan jari jemarinya
mencoba merapikan rambut itu. Kepalanya
bergerak bersamaan dengan bola matanya
memandang sekitar. “dimana ini?” tanyanya.
“masih di SGM” jawabku. “ha! Jadi semalaman
kita tidur disini?” tanyanya dengan sedikit
heran. “iya” jawabku singkat. “hehehe..” ia
tertawa kecil, geli mengetahui apa yang terjadi.
Lalu tangan kanannya masuk ke saku
celananya, mengambil hp dari dalam. Terlihat
beberapa miss call dalam phone booknya yang
tak terjawab karena mungkin hpnya di silence.
Lalu Mimi pun menelepon balik. “mama?”, “
Mimi kemana aja kamu?tau gak semua orang
bingung mencari kamu kemana-mana.”,”iya
mah, maap, soalnya kemarin keasikan main

sampe lupa kabari rumah. Ya udah ya mah
sekarang kan dah kasi kabar jadi gak usah cemas
lagi.” Dan kemudian telepon itu langsung
ditutupnya.
Kembali Mimi melihat ke arahku. “Bima,
makasi ya atas semalam. Jadi gak enak ni smpe
nemenim aku tidur da sgm.” Katanya katanya
sambil mengembalikan jaketku yang berada di
pangkuannya. “eh gak, gak papa kok.”jawabku.
lalu “ ini dipakai kamu aja.” Lanjutku sambil
kembali memakaikan jaketku ke pundaknya.
Setelah itu kami berjalan keluar dari
ruangan itu. Masih terlihat jelas kunci pintu yang
aku rusak semalam. Hehehe, aku tertawa geli
sendiri mengingat hal gila semalam yang ku
lakukan. Tak pernah terbayangkan
menghabiskan malam bersama Mimi seperti ini
bahkan didalam mimpi sekalipun.
Sambil berjalan turun dari lantai teratas
gedung itu, sekali-sekali ku curi pandang ke
wajahnya. Wajahnya sekarang sudah nampak
normal dari pada semalam. Lalu ku coba
membuka pembicaraan. “ Mimi,” , “ha?”

tanyanya sambil memandang ke wajahku dan
akupun malah jadi grogi dibuatnya. “kita kaya
pasangan kawin lari aja ya.” Kataku mencoba
mencairkan suasana. “hahaha… iya ya, tapi kalau
iya aku gak akan mau tidur di gudang mall.
Mendingan juga di hotel, ada kasur empuknya
sama kamar mandi.”,”hahaha.. iya ya, tenang
aja deh. Besok, pelarian kedua kita, kita pilih da
hotel berbintang aja, kita lari ke new York, paris,
yunani aja. Biar romantic gitu.”,”hahaha, bisa aja
kamu.”
Disela-sela pembicaraan yang berlangsung
itu, kami yang berjalan beriringan tak sengaja
tangan kami saling bersentuhan. Aku jadi sedikit
aneh karena itu tapi, saat aku melihat ke
arahnya, ia hanya tersenyum manis kepadaku.
Aku pun jadi berani memasukkan tanganku ke
dalam telapak tangannya dan kami pun
bergandengan tangan dimana jari-jari kami
saling berseling menggenggam erat satu sama
lain.
Lalu ku coba menggali lebih dalam lagi. “
eh Mimi, emang kemarin ada apa si? Sampai

kamu sebegitunya..” tanyaku. Tapi kali ini tak
ada kata yang keluar dari mulutnya. Wajahnya
sedikit menunduk. Walau tak terlihat jelas
namun ku tahu ia bersedih.
Ku tarik kuat genggaman kami hingga ia
berdiri di hadapnku. Ku angkat dagunya dan aku
pun tersenyum sambil berkata “ lupakan ya,
sekarang tak usah dipikirkan dulu.” Setelah itu
ku berjalan merapat kepadanya dan ku peluk ia.
Perlahan ia pun memeluk erat diriku.
Beberapa saat kemudian, ia mulai tenang.
Barulah aku berani mengajaknya jalan lagi,
“turun yuk!” ia mengangguk, pertanda setuju
akan ajakanku. Ia memeluk erat tangan
kananku dan kepalanya ia sandarkan pada
pundakku. Kami pun berjalan menuruni jalan
mobil yang meilngkar hingga sampai di lantai
dasar. Dan ku antar ia sampai di depan
rumahnya dengan sepeda motorku.
***
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu,
aku tak mendengar kabar sama sekali mengenai

Mimi. Di sekolah pun kami jarang bertemu.
Kalau pun bertemu tidak ada kesempatan untuk
mengobrol. Bahkan untuk bertatap muka pun
sulit. Seakan ia memang mencoba tuk
menghindar dariku.
Hingga tibalah hari white day. Hari dimana
seseorang akan memberikan jawaban balasan
dari valentine day. Ku mendapat pesan untuk
bertemu dengan Mimi sepulang sekolah di
depan perpustakaan. Katanya mau
mengembalikan jaket yang ia bawa pada saat di
SGM.
Dan tibalah waktu yang sudah dijanjikan.
Aku berdiri di depan perpustakaan sambil
memandang orang yang lalu lalang. Hatiku yang
berdetak tak menentu menanti akan hadirnya.
Menit demi menit terus berlalu, namun ia tak
kunjung datang juga hingga suasana sekolah
telah menjadi sepi.
Aku duduk bersandar dengan penuh
kekecewaan. Menyangka ia tak akan datang
padaku. Lalu aku mulai beranjak dari tempatku
duduk. Berjalan menuruni tangga dengan kepala

yang tertunduk sedih. Dan “ eh Bima, maap ya
terlambat. Pasti dah nunggu lama. Oh iya ni
jaketnya, makasih atas semuanya dan semoga
kau bahagia.” Katanya sambil mengedipkan satu
matanya, lalu ia melanjutkan katanya “ dah dulu
ya, udah ditungguin ni.” Dan ia pun pergi
meniggalkanku begitu saja tampa sempat ku
berkata apa-apa.
Setelah itu aku hanya bisa terduduk diam
di atas salah satu anak tangga yang ada. Ku
peluk erat jaket tersebut seakan- akan tak ingin
melepas kepergiannya. Harum tubuhnya masih
melekat kaut di jaket tersebut.
“jadi itu orang yang mendapatkan
cintamu?” tanya lembut Reni yang tiba-tiba saja
sudah duduk di belakangku tampa aku sadari.
Aku pun menoleh ke belakang. Dan hanya bisa
tersenyum kesedihan tuk menjawab pertanyaan
Reni tersebut. Dan saat itu juga terjatuh sebah
kotak kecil yang terselip di jaket tersebut.
Ku pungut kotak tersebut dan ku buka
tutupnya. Terdapat selembar surat dan
sepotong coklat putih yang bertuliskan ‘friend

for ever’ dia atasnya. Ku buka perlahan surat
tersebut . di dalamnya terdapat sebuah kalimat
yang berisi;
“ Thn’x qu ya.. atas semuanya.
dan
Cory juga karena aq ga isa balas sayangmu ke aq
karena aku da sayang orang lain
Sekali lagi cory ya…”
Setelah membaca semua itu, aku tak bisa
berkata apa-apa. Nafasku sesak. Jantungku
berdetak sangat sangat lambat dan mungkin tak
berdetak lagi. Hati ini terasa sesak terpenuhi
sesuatu hal yang semuanya ku rasakan ini tak
mungkin terungkapkan oleh segala bahasa di
jagad raya ini. Dan hanya tetesan air mata yang
keluar dari mataku.
“kamu gak papa?” tanya Reni
mencemaskan keadaanku. Mulutku sudah beku
hingga tak bisa membalas kata-kata darinya.
“semuanya telah berakhir.” Lanjut kata Reni
sambil menepuk pundakku dari belakang. Lalu

aku menarik nafas panjang. Menahanya sebenta
di perut dan barulah aku hempaskan kuat
keluar.
Lalu aku berdiri, berpaling menghadap
Reni sambil berkata, “ bukan, ini baru dimulai.”
Dan akupun berjalan meninggalkan dirinya
seorang diri.
Setelah aku hilang dari pandangannya,
Reni menemukan sebuah buku yang tertinggal di
tempatku duduk tadi. Ia pungut buku tersebut.
Lalu ia berlari mengejarku. Namun sesampainya
di persimpangan jalan diriku sudah benar-benar
lenyap. Ia genggam buku itu kuat-kuat.
Di sela-sela jarinya yang lentik terbaca
sebuah tulisan di buku itu yang bertuliskan ;
“Play boy Begin”.
Dan begitulah sebuah cerita bermulai dari
akhir sebuah cerita yang lain.

Tamat, my be…

0 Response to "Cerita Febuari Cinta"

Post a Comment