Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Across The Nightingale Floor Part 1

Lian Hearn


IBUKU selalu mengancam akan mencabik-
cabik aku menjadi delapan bila aku
menjatuhkan ember, atau aku pura-pura
tidak mendengar panggilannya untuk
segera pulang saat hari telah senja dan
teriakan jangkrik kian meninggi. Suara
ibuku yang berat dan galak bergema di
bukit yang sunyi ini. "Ke mana saja anak
celaka itu? Akan kucabik-cabik dia bila
kembali."
Tapi ketika aku tiba di rumah dengan badan kotor setelah meluncur dari bukit, atau
memar karena berkelahi, atau luka di kepala karena terkena batu (bekas lukanya sebesar
ibu jari dan berwarna keperakan) dia tidak mencabik-cabikku. Aku bahkan disambut
dengan kehangatan api tungku dan juga keharuman sayur sop. Lalu, dia akan berusaha
untuk memelukku, membersihkan wajahku atau merapikan rambutku, sedangkan aku
selalu berusaha menghindar. Ibuku rajin dan kuat, dan juga masih muda: dia
melahirkanku sebelum berumur tujuh belas tahun. Saat dia memelukku, nampak sekali
kemiripan kulit kami, namun dalam hal lain, kami tidak mirip. Ibuku lebih tenang,
sedangkan aku, menurut orang di desaku (di Mino yang terpencil ini belum ada
cermin) lebih halus. Dia selalu menang bergulat dan akhirnya aku pun pasrah dalam
pelukannya. Lalu ibuku akan membisikkan kata-kata pemberkatan pada Sang Hidden.
Sedangkan ayah tiriku hanya bersungut-sungut saat melihat aku dimanjakan. Kedua




2
adik tiriku yang masih gadis kecil akan melompat kegirangan untuk berbagi pelukan
dan juga pemberkatan.
Jadi, kurasa, semua itu hanya gaya bicara ibuku. Mino adalah tempat yang damai,
letaknya yang terpencil membuat desaku ini tidak tersentuh oleh perang antar klan.
Tidak pernah terbayangkan kalau laki-laki dan perempuan di Mino akan dicabik-cabik
menjadi delapan, atau kaki mereka terenggut dari sendinya lalu dilempar ke anjing
lapar. Besar di lingkungan kaum Hidden membuatku tak pernah membayangkan orang
dapat melakukan hal sekejam itu pada orang lain.
Ketika umurku beranjak lima belas tahun, ibuku mulai kehilangan saat-saat untuk
bergulat denganku. Aku tumbuh enam inci setiap tahun, dan ketika aku berumur enam
belas tahun, aku sudah lebih tinggi dari ayah tiriku. Dia lebih sering menggerutu,
baginya aku seharusnya berhenti berkeliaran di gunung seperti monyet liar, dan segera
menikah. Aku tidak keberatan untuk menikah dengan gadis di desaku, dan bekerja
lebih keras selama musim panas agar aku mendapatkan kedudukan. Tapi aku sulit
menahan godaan untuk pergi ke gunung. Suatu sore, aku menyelinap pergi melalui
rimbunan bambu yang tinggi, berbatang licin dan berdaun hijau, lalu aku mulai
menapaki jalan berbatu ke kuil dewa gunung, tempat penduduk desa meninggalkan
sesajen berupa padi dan jeruk, tempat beberapa burung perkutut dan burung bul-bul
bernyanyi riang, tempat aku memandang musang dan kijang sambil mendengarkan
jeritan pilu burung elang di atas kepalaku.
Senja itu aku sedang berada di gunung, teparnya di tempat jamur tumbuh dengan
subur. Aku penuhi kantongku dengan jamur putih kecil mirip kapas, dan jamur jingga
gelap mirip kipas. Ibuku pasti senang kalau melihat jamur yang kubawa, walaupun ayah
tiriku pasti marah. Seakan aku sudah dapat merasakan kelezatan jamur-jamur ini.
Ketika berlari menerobos pohon bambu dan muncul di sawah, di mana bunga lili
merah musim gugur bermekaran, aku mencium bau hangus.
Aku mendengar gonggongan anjing, seperti yang biasa mereka lakukan bila hari
beranjak malam. Bau itu semakin kuat dan sangit. Ada beberapa pertanda yang




3
membuat jantungku berdebar. Ada kebakaran.
Kebakaran sering terjadi di desaku karena hampir semua rumah terbuat dari kayu
atau jerami. Tapi, kali ini tidak ada teriakan atau bunyi ember yang dialihkan dari
tangan ke tangan, atau suara tangisan dan sumpah serapah. Jangkrik tetap bernyanyi
dengan nyaring seperti biasa; kodok pun seakan memanggil dari sawah. Di kejauhan,
aku mendengar gemuruh guntur yang bergema di gunung. Udara terasa padat dan
lembab.
Keringat dingin menetes di keningku. Aku melompat saat melintasi selokan yang
ada di ladang yang bertingkat-tingkat, lalu aku memandang ke bawah, ke arah rumah.
Rumahku hilang.
Aku mendekat. Kobaran api menjalar dan menjilati balok kayu. Tidak ada tandatanda
keberadaan ibu atau adikku. Aku berusaha memanggil, namun lidahku terasa
kelu. Asap tebal yang menyelimuti tubuhku membuat penglihatanku menjadi kabur.
Seluruh desa terbakar, tapi ke mana penduduk desa pergi?
Kemudian aku mendengar jeritan.
Jeritan itu berasal dari kuil, tempat sebagian besar rumah berkumpul. Jeritan itu
mirip lolongan anjing yang kesakitan, kecuali lolongan itu mampu menyuarakan bahasa
manusia. Ketika sadar kalau itu adalah doa kaum Hidden, bulu kudukku berdiri.
Dengan menyelinap bak hantu di antara rumah-rumah yang terbakar, aku berjalan ke
asal suara.
Desaku kini menjadi sunyi senyap. Tak dapat kubayangkan ke mana penduduk
desa pergi. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa mereka telah menyelamatkan diri:
ibu telah membawa adik-adikku ke tempat yang aman. Tak lama lagi aku akan
bertemu mereka, setelah mencari asal suara tadi. Namun, saat bergegas melewati jalan
setapak ke jalan utama, aku melihat ada dua orang terbaring di tanah. Rintik hujan
membasahi wajah mereka yang nampak kaget, seakan tidak mengerti mengapa mereka
terbaring di bawah rintik hujan. Mereka tak akan bangun lagi, jadi bukan masalah bila
pakaian mereka basah.




4
Salah seorang di antaranya adalah ayah tiriku.
Seketika dunia terasa berubah. Kabut merebak di mataku dan saat kutepis, semua
nampak tidak nyata. Aku merasa seperti telah melintasi dunia lain, dunia yang berada
di sisi dunia tempat kita tinggal, dunia yang hanya kita kunjungi di saat kita sedang
bermimpi. Ayah tiriku memakai pakaiannya yang terbaik. Pakaian berwarna nila yang
kini nampak lebih gelap karena basah air hujan dan darah. Aku sedih melihat pakaiannya
rusak karena aku tahu dia bangga sekali memakai pakaian itu.
Aku langkahi mayat-mayat itu, melewati pintu kuil. Rintik hujan yang membasahi
wajahku terasa sangat dingin. Jeritan tadi tiba-tiba berhenti.
Di dalam kuil aku melihat ada beberapa orang yang tidak aku kenal. Mereka
seakan-akan sedang berpesta. Mereka memakai ikat kepala; pakaian luar dan perlengkapan
perang mereka berkilauan terkena keringat dan air hujan. Mereka terengahengah
dan menggerutu, lalu tertawa lebar hingga terlihat gigi mereka yang putih,
seakan membunuh adalah kerja keras layaknya membawa beras hasil panen.
Air mengalir dari pancuran tempat orang membasuh tangan dan mulut untuk
menyucikan diri sebelum masuk ke kuil. Biasanya selalu ada orang yang membakar
dupa di ketel besar. Sisa dupa masih tergeletak, meskipun baunya terhalang oleh
pahitnya bau darah.
Ada seseorang yang terbaring dalam keadaan tercabik-cabik di atas batu yang
basah. Aku masih bisa mengenali orang itu walaupun kepalanya telah remuk. Dia
adalah Isao, pemimpin kaum Hidden. Mulutnya menganga, kaku dalam geliatan rasa
sakit.
Para pembunuh menggantung pakaian luar mereka di tiang yang terpancang rapi
di pilar. Dapat kulihat jelas lambang tiga daun oak. Simbol klan Tohan, klan yang
beribukota di Inuyama. Aku teringat pada seorang pedagang yang datang ke desa kami
pada akhir bulan ketujuh. Dia menginap di rumah kami. Waktu ibuku membaca doa
sebelum makan, dia mengatakan. Apakah kalian tidak tahu bahwa Tohan sangat
membenci orang Hidden, dan mereka berencana menyerang kalian? Lord Iida telah




5
bersumpah akan membasmi kalian," bisiknya. Keesokan hari, kedua orangtuaku
menyampaikan berita itu pada Isao, namun tak seorang pun percaya. Desa kami jauh
dari ibukota klan, dan kami tidak pernah terlibat dalam pertikaian antar klan. Kaum
Hidden hidup saling tolong-menolong, melihat hal yang sama, bertindak serupa,
kecuali saat berdoa. Lalu mengapa ada yang hendak mencelakai kami? Sungguh sulit
untuk dipahami.
Dan masih saja aku belum memahaminya saat aku berdiri di sini, membeku di
dekat pancuran. Air mengalir dan mengalir, ingin rasanya kubasuh darah di wajah Isao
dan menutup mulutnya, namun aku tak mampu bergerak. Aku sadar kalau orang-orang
Tohan itu akan kembali. Pandangan mereka bisa membuat aku lemah, lalu mereka
akan mencabik-cabik diriku. Mereka tidak memiliki belas kasihan. Mereka telah
dirasuki oleh kematian setelah mereka berani membunuh orang di dalam kuil.
Di kejauhan aku mendengar derap langkah kuda dengan jelas dan tajam. Aku
masih seperti bermimpi saat kuda itu kian mendekat. Aku tahu siapa yang akan
kulihat, dia ada di gerbang kuil. Aku belum pernah melihat orang itu, tapi ibuku selalu
menyebut namanya bila hendak menakuti-nakuti kami: jangan berkeliaran di gunung,
jangan bermain di sungai, atau Iida akan menangkapmu! Aku langsung tahu kalau dia
adalah Iida Sadamu, pemimpin klan Tohan.
Kuda itu menendang dan meringkik karena bau darah. Iida tetap duduk kaku di
atas kuda seakan-akan dia terbuat dari besi. Dia memakai pakaian zirah hitam dari
kepala hingga kaki, dan pelindung kepalanya berhiaskan tanduk rusa. Ada janggut
hitam di bawah mulutnya yang terlihat sangat kejam. Matanya menyala, bagaikan
sedang berburu rusa.
Pandangan kami bertemu. Sekilas saja aku tahu dua hal tentang dirinya: pertama,
tak ada satu pun yang dapat membuat dia takut; kedua, dia gemar membunuh hanya
untuk bersenang-senang. Saat ini dia sedang memandangku seakan aku tidak ada
harapan lagi.
Dia menghunus pedang. Satu-satunya yang menolongku yaitu keengganan




6
kudanya untuk melewati gerbang kuil. Kuda itu meringkik dan menendang. Iida lalu
berteriak. Pengawalnya yang ada di dalam kuil berbalik dan melihat ke arahku,
berteriak dalam aksen Tohan yang kasar. Kuraih batang dupa, tidak sadar kalau bara
dupa itu membakar tanganku, lalu aku berlari melewati gerbang. Saat kuda Iida
mendekat dengan ragu, aku langsung menikam kuda itu dengan batang dupa. Kuda itu
menyepak ke arahku, kakinya yang besar menebas pipiku. Aku mendengar desis
pedang di udara. Pengawal Tohan telah mengelilingiku. Di saat aku sudah tidak
mungkin lagi lolos lagi, tiba-tiba aku merasa seakan tubuhku terpisah menjadi dua.
Pedang Iida menebas ke arahku, namun belum menyentuh tubuhku. Aku terjang
kudanya. Kuda itu melenguh kesakitan. Iida, yang hilang keseimbangan karena
tebasannya meleset, terjatuh dari kudanya.
Kejadian ini membuatku semakin takut dan panik. Aku telah menyebabkan
pemimpin Tohan itu terjatuh dari kudanya. Tak ada siksaan maupun derita yang dapat
memaaflcan perbuatanku itu. Seharusnya aku langsung menyembah dan memohon dia
untuk membunuhku, tapi aku belum mau mati. Seperti ada yang mengatakan kalau dia
yang akan mati lebih dulu.
Aku tak tahu tentang perang antar klan, tidak juga hukum dan permusuhan di
antara mereka. Aku menghabiskan hidupku di antara kaum Hidden, tempat di mana
kami diajarkan untuk saling memaafkan dan dilarang membunuh. Tapi dalam sekejap,
Balas Dendam telah merasuk ke dalam hatiku.
Aku tendang orang yang ada di dekatku, di antara dua kakinya, lalu kugigit tangan
orang yang memegang pergelangan tanganku, kemudian aku menerobos keluar dari
kepungan dan berlari ke hutan.
Ada tiga orang yang mengejarku. Mereka tinggi besar dan larinya pun lebih
kencang, tapi aku diunt ungkan karena lebih mengenal daerah ini, dan hari yang
semakin gelap. Hujan lebat membuat jalan setapak ke hutan menjadi licin. Dua orang
di antara mereka terus berteriak, menyumpah dan mengancamku dalam hahasa yang
hanya bisa kutebak, sedangkan orang yang ketiga mengejar tanpa bersuara, dan dialah




7
yang paling aku takuti. Dua orang itu bisa saja berbalik pulang dan melaporkan bahwa
aku hilang di pegunungan, namun orang yang satu ini tak akan menyerah. Dia akan
terus mengejar hingga berhasil membunuhku.
Sampai di jalan setapak yang mendaki, tidak jauh dari air terjun, kedua orang yang
selalu berteriak larinya mulai pelan, sedangkan orang yang ketiga justru mengejar
semakin cepat. Kami melewati kuil; seekor burung yang sedang mematuk biji-bijian
langsung terbang tinggi dengan warna putih kehijauan di sayapnya karena kaget. Jalan
yang kulewati agak menikung mengitari pohon cedar raksasa. Saat aku berlari melewati
pohon itu sambil menangis, tiba-tiba ada orang yang muncul di depanku. Dia
menghadang tepat di jalan setapak yang kulalui.
Aku tetap berlari ke arah orang itu. Dia menggerutu seolah-olah aku menghalangi
jalannya, dan dia langsung menangkapku. Dia mengamati wajahku, dan aku melihat
matanya bersinar: dia nampak kaget, seakan dia mengenaliku. Apa pun alasannya, dia
memegangku semakin erat. Kini aku tak mungkin lagi lolos. Orang Tohan yang
mengejarku berhenti, dan kedua temannya muncul dari belakang dengan terengahengah.
"Maaf, tuan," kata orang yang paling kutakuti, suaranya tegas. "Kau telah
menangkap penjahat yang sedang kami kejar."
Orang yang memegangku memutar diriku sehingga aku langsung berhadapan
dengan para pengejarku. Ingin rasanya aku menangis, memohon kepadanya, tapi aku
tahu itu tak berguna. Pakaian orang ini halus, tangannya pun lembut. Dia pasti seorang
bangsawan, seperti Iida. Dia tidak akan menolongku. Aku diam, sambil mengingatingat
doa yang pernah ibuku ajarkan, berdoa agar aku bisa menjadi burung.
"Apa yang penjahat ini lakukan?" tanya orang yang memegangku.
Orang yang berada di depanku berwajah panjang, mirip serigala. "Maaf, tuan," dia
berkata lagi, kesopanannya mulai berkurang. "Ini bukan urusanmu. Ini urusan Iida
Sadamu dan klan Tohan," lanjutnya.
"Uuuuh." gerutu sang bangsawan. "Apa benar? Dan siapa kau yang berani




8
menentukan apa yang menjadi urusanku atau bukan?"
"Serahkan saja dia!" laki-laki berwajah serigala itu berkata dengan geram,
kesopanannya kini sudah benar-benar hilang.
Saat sang bangsawan melangkah maju, aku langsung sadar kalau dia tak akan
menyerahkanku. Dengan gerakan lembut dia memutarku ke belakang punggungnya
lalu melepasku. Dan untuk kedua kalinya, aku mendengar desis pedang petarung,
seakan pedang adalah penyelamat. Si wajah serigala mencabut sebilah belati. Dua
orang lainnya menggenggam tongkat. Sang bangsawan menggenggam pedang dengan
kedua tangannya, mengelak dari pukulan tongkat, dan memenggal kepala salah seorang
yang memegang tongkat. Lalu dengan secepat kilat dia dekati si wajah serigala dan
menebas tangan kanan orang itu yang sedang memegang belati.
Semua itu terjadi dalam sekejap. Terjadi di saat remang-remang dan rintik hujan,
meskipun kupejamkan mata, tetap saja dapat kulihat kejadian itu secara rinci.
Kepala yang telah terlepas dari badan itu menggelinding di lereng bukit dengan
darah yang masih menyembur. Orang yang ketiga menjatuhkan tongkatnya, lalu lari
sambil berteriak minta tolong. Si wajah serigala berlutut, berusaha menahan darah yang
keluar dari sisa lengannya yang tertebas. Dia tidak mengerang atau pun bicara.
Sang bangsawan membersihkan pedangnya, lalu dia masukkan ke dalam sarung
yang melekat di sabuknya. "Mari," katanya padaku.
Aku berdiri dalam keadaan gemetar, tak mampu bergerak. Orang ini muncul entah
dari mana. Dia telah membunuh demi menolong diriku. Aku menyembah, berusaha
mencari kata yang tepat untuk mengucapkan terima kasih padanya.
"Bangunlah" katanya. ""Tidak lama lagi mereka akan datang mengejar."
"Aku tak bisa pergi," aku berusaha bicara. "Aku harus mencari ibuku."
"Jangan sekarang. Kita harus segera pergi!" Dia menarikku berdiri, dan
menyuruhku bergegas. "Apa yang terjadi di bawah sana?"
"Mereka membakar desa dan membunuh..." Aku teringat ayah tiriku sehingga aku
tidak mampu meneruskan ucapanku.




9
"Hidden?"
"Ya," bisikku.
"Ini terjadi di mana-mana. Iida membantai kaum Hidden. Kurasa kau salah
seorang dari mereka?"
"Ya." Aku menggigil kedinginan. Meskipun saat ini musim panas dan air hujan
terasa hangat, tapi belum pernah aku kedinginan seperti sekarang ini. "Bukan hanya itu
alasan mereka mengejarku. Aku menyebabkan Lord Iida terjatuh dari kuda."
Aku kagum saat melihat sang bangsawan tertawa. "Kejadian itu patut dilihat! Tapi
juga menempatkan dirimu dalam bahaya. Penghinaan yang kau lakukan membuatnya
ingin membunuhmu. Tapi kau aman bersamaku. Tak akan kubiarkan Iida
mengambilmu."
"Kau telah selamatkan aku," ujarku. "Sejak saat ini, hidupku adalah milikmu."
Entah mengapa, dia tertawa lagi. "Kita terpaksa melakukan perjalanan jauh dalam
keadaan lapar dan pakaian yang basah. Kita harus keluar dari wilayah ini sebelum fajar,
sebelum mereka datang mengejar." Langkahnya begitu cepat sehingga aku terpaksa
berlari sambil berharap kakiku tidak gemetar. Aku tak tahu siapa dia, namun aku ingin
dia bangga dan tidak menyesal telah menyelamatkanku.
"Namaku Otori Shigeru," dia berkata ketika jalan mulai menanjak. "Dari klan
Otori di Hagi. Tapi, selama perjalanan ini aku tidak memakai nama itu, jadi jangan
menyebut namaku."
Hagi bagiku sama jauhnya seperti ke bulan, dan meskipun pernah mendengar
tentang Otori, tapi aku tidak tahu apa-apa, selain mereka pernah dikalahkan Tohan
dalam pertempuran dahsyat sepuluh tahun lalu di Yaegahara.
"Siapa namamu, nak?"
"Tomasu."
"Nama yang umum di kalangan kaum Hidden. Sebaiknya kau ganti." Dia tak
berbicara apa pun selama beberapa lama, dan dalam gelap, dia berkata singkat. "Kau
kuberi nama Takeo."




10
Demikianlah, di antara air terjun dan puncak gunung, aku kehilangan namaku dan
menjadi orang baru, dan menyatukan takdirku dengan Otori.
Fajar menghampiri kami yang kedinginan dan kelaparan ketika tiba di Hinode.
Desa ini terkenal dengan sumber air panasnya. Kini aku sudah jauh dari rumah, dan
belum pernah aku sejauh ini. Aku pernah mendengar tentang Hinode dari cerita
teman-temanku di desa: laki-lakinya sangat licik dan wanitanya panas seperti sumber
air panas yang ada di desa ini. Namun aku belum pernah membuktikan kebenarannya.
Di tempat ini hanya ada satu wanita yang kutemui, isteri penjaga penginapan yang
menyediakan makan.
Aku malu pada penampilanku saat ini, dalam balutan pakaian usang yang penuh
tambalan, sulit untuk mengatakan warna aslinya, kotor dan juga penuh noda darah.
Aku kaget ketika Lord Otori menyuruhku tidur sekamar dengannya. Aku mengira dia
akan menyuruhku tidur di istal, tapi tampaknya dia tak ingin aku jauh darinya. Dia
menyuruh wanita di penginapan untuk mencucikan bajuku, dan mengantarku ke
tempat pemandian air panas untuk membersihkan diri. Sewaktu kembali ke kamar,
dalam keadaan mengantuk karena pengaruh air panas dan juga karena kurang tidur,
sarapan pagi telah tersedia. Lord Otori yang sedang makan memberi isyarat padaku
untuk bergabung. Aku berlutut di lantai dan membaca doa sebelum makan.
"Jangan takukan itu lagi," Lord Otori mengatakan dengan mulutnya yang penuh
nasi dan acar. "Tak juga di saat kau sendiri. Kalau ingin tetap hidup, kau harus
melupakan sebagian dari hidupmu. Itu semua telah berakhir." Dia menelan kemudian
mengambil makanan lainnya untuk dimasukkan ke mulutnya. "Ada banyak alasan yang
lebih pantas untuk mati."
Menurutku, orang yang beriman harus berdoa. Aku yakin orang-orang di desaku
berdoa sebelum mati. Saat aku teringat tatapan mata mereka yang kosong dan juga
kaget, aku langsung berhenti berdoa. Selera makanku pun langsung hilang.
"Makan," kata Lord Otori ketus. 'Aku tidak mau menggendongmu sampai di
Hagi."




11
Aku memaksakan diri untuk makan agar dia tidak membenciku. Setelah makan,
dia menyuruhku mengatakan pada istri penjaga penginapan untuk membentangkan
alas tidur kami. Aku merasa tidak nyaman ketika memberi perintah pada wanita itu,
bukan saja karena aku merasa dia akan tertawa lalu bertanya apakah tanganku sudah
tidak berfungsi lagi, tetapi juga karena ada sesuatu yang terjadi pada suaraku. Suaraku
hilang, seakan-akan Iidahku terlalu lemah untuk mengungkapkan apa yang telah
kulihat. Tapi, begitu pelayan itu mengerti maksudku, dia langsung membungkuk,
seperti yang dia lakukan pada Lord Otori, dan langsung ke kamar untuk melakukan
apa yang aku minta.
Lord Otori berbaring sambil memejamkan mata. Dia langsung tertidur.
Aku tidak bisa tidur. Pikiranku kacau, terguncang dan letih. Tanganku yang
terbakar gemetar dan aku mendengar suara-suara yang ada di sekitarku dengan sangat
jelas-aku dapat mendengar percakapan yang ada di dapur, setiap bunyi yang berasal
dari kota. Berulangkali pikiranku kembali ke ibu dan adik-adik kecilku. Aku
meyakinkan diriku bahwa aku tidak melihat mayat mereka, sehingga mungkin saja
mereka selamat; mereka pasti selamat. Semua penduduk desa sayang kepada ibuku. Dia
tak akan dibunuh. Meskipun lahir di Hidden, ibuku bukan orang yang fanatik. Dia
selalu menyalakan dupa di kuil dan membawa persembahan bagi dewa gunung. Tentu
saja ibuku, yang memiliki raut wajah yang lebar dan tangan yang kasar serta kulit yang
berwarna madu, masih hidup. Dia tidak mungkin terbaring dengan tatapan mata yang
kosong dan terkejut, dan adik-adikku di sisinya!
Air mataku merebak. Aku membenamkan wajah ke kasur dan berusaha
menghapus air mata. Aku tak kuasa menahan pundak yang bergetar atau napasku yang
menderu karena menangis. Lalu aku merasa ada tangan di pundakku dan Lord Otori
berkata perlahan, "Kematian datang tiba-tiba, dan hidup juga singkat. Tidak ada yang
bisa mengubahnya, tidak dengan doa atau pun mantra. Anak-anak boleh menangis,
tapi laki-laki tak akan menangis. Seorang laki-laki harus bisa menahan tangisnya."
Suaranya tertahan saat mengucapkan kalimat yang terakhir. Lord Otori pun




12
nampak sedih seperti diriku. Dia meneteskan air mata, meskipun wajahnya mengeras.
Aku tahu siapa yang kutangisi, namun aku tidak berani bertanya siapa yang dia tangisi.
Aku pasti tertidur, karena aku bermimpi sedang di rumah, makan malam dengan
memakai mangkuk kesayanganku. Di dalam sup yang sedang kumakan tampak ketam
hitam, namun kemudian ketam itu melompat dan lari ke hutan. Aku mengejarnya, tapi
sesudah itu aku tak tahu di mana aku berada. Aku berusaha berteriak "Aku tersesat!"
namun ketam itu telah mencuri suaraku.
Aku terbangun dari tidur karena Lord Otori mengguncang pundakku.
"Bangunlah!"
Hujan telah reda. Sinar matahari menyadarkan aku bahwa hari telah siang.
Ruangan ini tampak tertutup dan lembab. Bau kecut keluar dari tikar jerami yang kami
gunakan sebagai alas tidur.
"Aku tak ingin dikejar Iida dengan ratusan prajuritiiya hanya karena seorang bocah
yang membuat dia terjatuh dari kuda," gerutu Lord Otori, "Kita harus segera
berangkat."
Aku tidak berkata apa-apa. Pakaianku yang telah dicuci dan sudah kering
tergeletak di lantai. Aku memakai pakaian itu tanpa bersuara.
"Meskipun kau berani pada Iida Sadamu, tapi kau takut bicara padaku..."
Aku tidak takut—aku hanya segan. Bagiku dia adalah malaikat atau roh hutan atau
pahlawan dari masa lalu yang muncul dan membawaku ke dalam perlindungannya.
Aku hampir tidak dapat menggambarkan penampilannya karena aku tidak berani
menatapnya secara langsung. Ketika mencuri pandang, aku melihat wajahnya yang
tenang—tidak keras, tapi kurang ekspresif. Umurnya mungkin tiga puluh tahun atau
sedikit lebih muda, tidak terlalu tinggi, dan berbahu lebar. Tangannya berkulit terang,
hampir putih, dan dihiasi dengan jari yang kuat dan panjang, jari-jari itu seperti
mengikuti lekukan gagang pedang.
Saat ini, jari-jari itu sedang mengangkat pedang dari atas tikar. Mengingat pedang
itu telah menyentuh daging dan darah manusia, aku langsung merasa takut dan juga




13
terpesona.
"Jato," kata Lord Otori ketika melihat aku memperhatikan pedangnya. Dia tertawa
dan memasukkan pedang itu ke sarungnya yang hitam lusuh. "Pedang ini memiliki
busana perjalanan, seperti aku saat ini. Di tempatku, aku dan pedang ini memakai
pakaian yang anggun!"
Jato, aku mengulangi nama pedang itu di dalam hati. Pedang ular yang telah
mencabut nyawa orang demi menyelamatkan hidupku.
Kami melanjutkan perjalanan melewati sumber air panas Hinode yang berbau
belerang, lalu kami mendaki gunung. Pemandangan sawah kini telah berganti dengan
rumpun bambu, mirip yang ada di sekitar desaku; lalu nampak pohon chestnut, pohon
maple, dan pohon cedar. Hutan ini terasa hangat, meskipun tidak tertembus sinar
matahari karena sangat lebat. Dua kali aku melihat ular di jalan, yang satu ular hitam
kecil yang berbisa, sedangkan ular yang kedua lebih besar dan berwarna seperti teh.
Ular itu melingkar bak cincin, lalu melompat ke semak-semak seakan-akan tahu akan
ditebas Jato jika tak segera menyingkir. Terdengar nyanyian jangkrik yang melengking,
dan serangga min-min yang mengerang seakan kepalanya akan pecah.
Kami berjalan dengan cepat meskipun udara sangat panas. Terkadang Lord Otori
mendahuluiku dan aku akan berusaha mendaki seolah-olah aku berjalan sendiri. Aku
hanya bisa mendengar langkah kakinya di depan, dan aku berhasil menyusulnya di atas
puncak. Dari puncak bukit ini kami dapat melihat hutan dan gunung yang terbentang.
Dia mengenal jalan di wilayah liar ini. Kami berjalan berhari-hari dan hanya tidur
sebentar di malam hari, kadang menginap di rumah petani yang terpencil, ladang di
gubuk kosong. Kami hanya berhenti ketika bertemu orang: seorang penebang pohon,
dua gadis yang sedang mengumpulkan jamur dan langsung lari begitu melihat kami,
serta seorang biarawan dalam perjalanan menuju kuil. Setelah beberapa hari melintasi
punggung wilayah ini, masih ada beberapa lereng bukit yang harus didaki, meskipun
lebih banyak jalan menurun. Laut mulai tampak jelas, awalnya hanya seperti kilauan,
tapi kemudian terlihat seperti sutra. Pulau-pulau nampak seperti bukit yang tenggelam.




14
Belum pernah aku melihat pemandangan seperti ini, dan tiada henti aku pandangi.
Kadang laut itu nampak seperti tembok tinggi yang rubuh dan menutupi daratan.
Luka bakar di tanganku mulai sembuh dengan meninggalkan warna keperakan
yang melintang di telapak tangan kananku.
Akhirnya kami berhenti di suatu tempat yang hanya pantas disebut kota kecil.
Letaknya di jalan utama atara Inuyama dan tepi pantai. Di kota ini ada banyak
penginapan dan rumah makan. Kota ini masuk dalam wilayah Tohan sehingga
lambang daun oak berhelai tiga ada di mana-mana. Ini membuatku takut keluar dari
penginapan. Aku dapat merasakan kalau orang-orang di penginapan ini telah
mengenal Lord Otori. Penghormatan mereka terkesan dalam, sesuatu kesetiaan lama
yang harus dirahasiakan. Mereka memperlakukan aku dengan penuh kasih sayang,
meskipun aku hanya diam. Sudah beberapa hari aku tidak bicara, tidak juga pada Lord
Otori. Nampaknya hal ini tidak mengganggunya. Dia sangat pendiam, sibuk dengan
pikirannya sendiri. Kadang aku mencuri pandang padanya dan ternyata dia sedang
melihatku dengan tatapan belas kasih. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dia
hanya bersungut-sungut, "Tidak apa-apa, banyak hal yang tidak dapat dihindari."
Pelayan di sini senang bergosip dan aku sering mendengarnya. Mereka tertarik
pada seorang wanita yang datang menginap sehari sebelumnya. Mungkin wanita itu ke
Inuyama untuk menemui Lord Iida. Dia hanya ditemani beberapa pelayan, dan bukan
suami, saudara atau ayahnya. Menurutnya, wanita itu berumur tiga puluh tahun, sangat
cantik, baik dan juga sopan pada semua orang, tapi-dia mengembara sendiri! Sungguh
misterius! Juril masak mengaku kalau dia tahu tentang wanita itu. Menurutnya, wanita
itu baru saja menjanda dan akan menemui anaknya di Inuyama, tapi kepala pelayan
menganggap kalau si juru masak hanya membual. Menurut dia, wanita itu belum
mempunyai anak, belum menikah. Penjaga kuda, dengan mulut penuh makanan
menceritakan apa yang dia dengar dari pembawa tandu bahwa wanita itu mempunyai
dua orang anak, anak laki-lakinya telah meninggal sedangkan anak gadisnya kini
ditawan di Inuyama.




15
Para pelayan menarik napas panjang dan bergumam bahwa kekayaan dan status
tinggi pun tidak mampu terhindar dari takdir, dan si penjaga kuda itu melanjutkan,
"Beruntung sekali anak gadisnya masih hidup karena klan Maruyama dipimpin oleh
wanita."
Berita ini membuatku ingin tahu lebih banyak tentang Lady Maruyama, satusatunya
wilayah yang diatur oleh wanita, bukan laki-laki.
"Tidak heran dia berani mengembara sendiri," kata si juru masak.
Terlena oleh keberhasilannya mengungkap tentang Lady Maruyama, si penjaga
kuda melanjutkan, "Tapi Lord Iida menganggap itu sebagai suatu penghinaan. Dia
berusaha mengambil alih wilayah Lady Maruyama, baik melalui kekuatan atau, seperti
orang bilang, dengan menikahi wanita itu."
Juru masak menjewer telinga orang itu, "Hati-hati kalau bicara! Mungkin saja ada
yang mendengar!"
"Dulu kita adalah kaum Otori, dan kelak kita akan menjadi orang Otori," sungut si
penjaga kuda.
Kepala pelayan melihat aku berdiri di pintu, dan memberi tanda untuk masuk, "Ke
mana tujuanmu? Kau pasti telah menempuh perjalanan jauh!"
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Seorang pelayan datang
menyentuhku dan berkata, "Dia tidak mau bicara. Kau malu, ya?"
"Mengapa?" tanya si juru masak. "Apakah ada yang melempar kotoran ke
mulutmu?"
Mereka mengolok-olokku, tapi tidak kasar, dan saat pelayan itu kembali, dia
datang bersama seorang lakilaki vang aku duga sebagai salah seorang nelavan Lady
Maruyama. Dia memakai jaket bersimbol puncak gunung yang dikelilingi lingkaran.
Dia berkata padaku dengan sopan, "Tuanku ingin bertemu denganmu!"
Aku ragu untuk menerima ajakannya. Tapi wajahnya nampak tulus dan aku juga
ingin melihat wanita misterius itu sehingga aku memutuskan untuk ikut dengannya.
Kami melewati koridor yang panjang, lalu taman yang di kelilingi tembok. Dia




16
melangkah ke beranda dan berlutut di pintu. Dia berbicara singkat, lalu berbalik ke
arahku dan memberi tanda agar aku segera masuk.
Seteiah memandangnya sekilas, aku berlutut dan menundukkan kepala hingga
menyentuh lantai. Aku merasakan kehadiran seorang ratu. Rambutnya yang hitam
lembut menyentuh lantai dalam satu sapuan panjang. Kulitnya seputih salju.
Kimononya berwarna krem gelap, gading, dan abu-abu lembut serta dihiasi bordir berwarna
merah dan juga merah muda. Dia tenang seperti sungai di gunung, namun tibatiba
bayangan tentang ketenangannya itu berubah menjadi seperti Jato, pedang ular
dari baja yang tajam.
"Mereka mengatakan kau tidak bisa bicara," dia berkata. Suaranya sebening dan
sejelas air.
Aku merasa ada pandangan iba di matanya, dan darah berdesir di wajahku.
"Kau boleh bicara padaku," lanjutnya. Dia meraih tanganku dan jarinya
menggambarkan simbol Hidden di telapak tanganku. Apa yang dia lakukan
membuatku tersentak, aku seperti tersengat jelatang. Aku tak mampu menarik
tanganku.
"Ceritakan padaku apa yang telah kau lihat," dia berkata, kelembutan suaranya
tidak berkurang meskipun nada bicaranya memaksa. Ketika aku masih juga tidak
menjawab, dia berkata, "Pasti karena ulah Iida Sadamu, kan?"
Tanpa sadar aku memandangnya. Dia tersenyum tanpa rasa senang.
"Dan kau orang Hidden," tambahnya.
Lord Otori telah memperingatkanku untuk menyembunyikan jati diriku yang
sebenarnya. Kupikir aku telah mengubur masa laluku bersama namaku, Tomasu. Tapi
di hadapan wanita ini, aku merasa tak kuasa menghindar. Hampir saja aku
menganggukkan kepala, ketika aku mendengar langkah Lord Otori melintasi taman.
Aku mengenal langkah kakinya, dan aku tahu ada yang datang bersamanya, seorang
wanita dan laki-laki yang tadi bicara padaku. Kemudian aku sadar bila memperhatikan,
aku bisa mendengar semua suara di penginapan ini. Aku bisa mendengar penjaga kuda




17
yang berdiri dan pergi dari dapur. Aku bisa mendengar gosip di antara pelayan dan aku
bisa tahu siapa yang bicara hanya dari suaranya. Pendengaranku semakin tajam sejak
aku tak bisa bersuara dan kini semua suara berdengung di telingaku. Semua bunyi dan
suara membuat kepalaku sakit. Aku bertanya-tanya, apakah wanita di depanku ini
adalah penyihir yang hendak menyihirku. Aku tak berani membohonginya, tapi aku
tidak mampu bicara.
Aku tertolong oleh kedatangan seorang wanita, dia masuk ke dalam ruangan
kemudian berlutut dan berbicara perlahan pada Lady Maruyama, "Tuannya sedang
mencari anak itu."
"Suruh dia masuk," balas sang Lady, "Dan, Sachie, maukah kau menyiapkan
jamuan minum teh?"
Lord Otori masuk, dia dan Lady Maruyama bertukar salam dengan membungkuk.
Mereka berbicara dengan sopan layaknya orang asing, sang Lady tak menyebut
namanya, tapi aku rasa mereka telah saling mengenal.
"Pelayan mengatakan bahwa kau mengembara bersama seorang bocah," katanya.
"Aku ingin melihatnya."
"Ya, aku membawanya dari Hagi. Hanya dia yang selamat. Aku tak akan
menyerahkan dia pada Sadamu." Lord Shigeru tampak seperti tidak ingin melanjutkan
ucapannya lagi, tapi kemudian dia menambahkan, "Aku namakan dia Takeo."
Lady Maruyama tersenyum—sekali ini dia benar-benar tersenyum. "Aku senang,"
katanya, "Wajahnya memang mirip."
"Benarkah? Aku sependapat denganmu."
Sachie datang dengan membawa nampan, ketel teh, dan sebuah mangkuk.
Meskipun dalam keadaan membungkuk, aku dapat melihat Sachie meletakkan perlengkapan
itu di atas karpet. Mangkuk itu memantulkan warna hijau hutan dan biru
awan.
"Suatu saat kalian akan mengunjungi rumah teh milik nenekku di Maruyama," ujar
sang Lady. "Di sana kalian akan disambut dengan upacara jamuan teh yang layak. Tapi




18
saat ini kami hanya dapat menyediakan seadanya."
Bau manis kepahit-pahitan tercium saat sang Lady menuangkan air panas ke
mangkuk. "Duduklah, Takeo," katanya.
Setelah mengaduk teh hingga berbuih hijau, dia lalu berikan kepada Lord Otori
yang menerima dengan dua tangan, memutarnya tiga kali lalu meminumnya. Setelah
membersihkan bibir mangkuk dengan ibu jarinya, dia mengembalikan kepada Lady
sambil membungkuk. Sang lady mengisi lagi mangkuk dan dia berikan kepadaku. Aku
meniru semua gerakan Lord Otori dengan hati-hati, mendekatkan mangkuk ke bibirku
dan meminum cairan berbuih ini. Rasanya pahit, tapi dapat menjernihkan pikiran. Teh
ini membuatku agak tenang. Belum pernah aku minum teh seperti ini di Mino, teh
kami terbuat dari tumbuhan pegunungan.
Kubersihkan mangkuknya, lalu kuberikan pada Lady Maruyama sambil memberi
hormat dengan kaku. Aku takut Lord Otori sedang memperhatikan dan malu
karenanya, tapi saat melirik, aku melihat mata Lord Otori sedang terpaku pada sang
Lady.
Lady Maruyama meminum tehnya. Kami duduk dalam keheningan. Seperti ada
sesuatu yang sakral di ruangan ini, seolah-olah kami sedang melakukan ritual makan di
Hidden. Aku merasa seperti berada di rumah bersama keluargaku, keluargaku yang
dulu. Mataku terasa panas, tapi tak akan kubiarkan diriku menangis. Aku akan belajar
untuk bertahan.
Masih terasa goresan jari-jari Lady Maruyama di telapak tanganku.
Penginapan ini lebih besar dan lebih mewah dari yang pernah kami singgahi, dan
makanannya pun berbeda. Kami makan belut dengan saus pedas, dan ikan manis dari
tambak, dan nasinya lebih putih dibandingkan nasi yang kami makan di Mino. Sangat
beruntung bila kami bisa makan nasi tiga kali sehari di desaku. Inilah untuk pertama
kalinya aku minum sake. Lord Otori nampak bersemangat "mengawang-awang" itu istilah
yang ibuku berikan—dan kesedihan telah lenyap dari wajahnya, sake ini juga telah
menularkan sihirnya padaku.




19
Setelah selesai makan, dia menyuruhku tidur: dia masih hendak jalan jalan untuk
menjernihkan pikiran. Pelayan datang menyiapkan kamar. Aku berbaring dan
mendengar suara-suara di malam hari. Entah belut atau sake yang membuatku sulit
tidur. Setiap ada suara dan bunyi di kejauhan, aku langsung terjaga. Aku mendengar
anjing menggonggong di kota, pertama hanya seekor kemudian anjing yang lainnya
ikut meramaikan. Setelah beberapa saat, aku mulai bisa membedakan setiap suara. Aku
memikirkan tentang anjing yang bisa tidur dengan telinga yang terus bergerak-gerak
namun hanya bunyi tertentu yang akan membuatnya terjaga. Aku harus belajar seperti
anjing atau aku tak akan bisa tidur lagi.
Aku terbangun ketika terdengar bunyi lonceng kuil tanda malam telah larut. Aku
pergi ke kamar mandi. Bunyi air seniku terdengar seperti air terjun. Kutuangkan air
dari wadah air ke telapak tanganku dan berdiri sebentar, mendengarkan.
Malam yang begitu tenang, bulan purnama di bulan kedelapan bercahaya lembut.
Penginapan sunyi: semua orang telah tidur. Kodok sedang bernyanyi riang di Sungai
dan sawah, dan sekali atau dua kali terdengar burung hantu bernyanyi. Ketika berjalan
ke beranda aku mendengar suara Lord Otori. Sejenak aku mengira dia ke kamar dan
berbicara padaku, tapi kemudian ada suara yang membalasnya. Suara Lady Maruyama.
Tidak sepantasnya aku mendengarkan percakapan berbisik mereka yang tidak
mungkin orang lain bisa dengar. Aku berjalan ke kamar, menggeser pintu agar
tertutup, lalu aku berbaring sambil berharap bisa segera tidur. Tapi pembicaraan
mereka tidak mampu kuhindari, dan setiap kata dapat kudengar dengan jelas.
Mereka berbincang tentang kisah-kasih mereka, tentang pertemuan mereka yang
sebelumnya, dan juga rencana mereka di masa depan. Banyak perkataan tertahan dan
singkat, dan banyak juga yang tidak aku mengerti. Aku menangkap bahwa Lady dalam
perjalanan ke ibukota untuk mengunjungi anak gadisnya, dan dia takut dipaksa
menerima lamaran Iida yang kesekian kalinya. Istri Iida sedang sakit dan diperkirakan
tidak lama lagi akan meninggal. Satu-satunya anak laki-laki Iida, yang juga sakit, telah
membuatnya kecewa.




20
"Kau tidak boleh menikah selain denganku," bisik Lord Otori, dan Lady
Maruyama membalas, "Hanya itu yang kuinginkan. Kau tahu itu." Sang Lord pun bersumpah
tak akan menikah atau tidur dengan wanita lain, selain dengan Lady
Maruyama, dan dia menyebut beberapa strateginya, tapi dia tidak mengatakan secara
terperinci. Aku mendengar dia menyebut namaku dan kurasa dia melibatkan diriku
dalam rencananya. Aku tahu ada permusuhan antara Lord Otori dan Iida, semua
kembali ke masa lalu saat terjadi pertempuran di Yaegahara.
"Kita akan mati di hari yang sama," kata Lord Otori, "Aku tidak bisa hidup tanpa
dirimu."
Kini bisikan mereka berubah menjadi suara gairah antara laki-laki dan wanita. Aku
menutup kedua telingaku dengan jari. Aku mengerti tentang gairah, tapi aku tak tahu
apa pun tentang cinta. Aku bersumpah tak akan mengatakan apa yang kudengar. Akan
kujaga rahasia ini layaknya seorang Hidden menjaga rahasia mereka. Aku bersyukur tak
bisa bicara.
Keesokan harinya aku tidak bertemu sang Lady lagi. Kami melanjutkan perjalanan
tidak lama setelah matahari terbit. Pelayan penginapan membekali kami dengan teh,
nasi, dan sop, salah seorang di antara mereka bahkan menyiapkan makanan sambil
menguap, dia lalu meminta maaf kepadaku dan tertawa. Dia adalah wanita yang
menyentuh lenganku kemarin, dan ketika kami hendak berangkat, dia menangis,
"Selamat jalan, tuan muda! Selamat berkelana! Jangan lupakan kami!"
Ingin rasanya aku menginap semalam lagi. Lord Otori tertawa, menggodaku dan
berkata kalau dia terpaksa harus melindungiku dari para wanita di Hagi. Meskipun
tidak tidur semalaman, tetapi dia tetap bersemangat. Dia melangkah dengan penuh
semangat. Saat diperjalanan, aku mengira kami akan melewati pos perbatasan di
Yamagata, ternyata kami keluar dari kota, mcngikuti sungai yang lebih kecil dari sungai
yang mengalir di sisi jalan utama. Sungai kecil itu mengalir deras dan kemudian
menyempit di antara bebatuan. Sekali lagi kami mendaki gunung.
Kami dibekali cukup makanan untuk beberapa hari, sekali waktu kami berada jauh




21
di luar desa yang terletak di tepi sungai, dan tidak bertemu seorang pun. Jalan yang
kami lalui sempit, sunyi, dan terjal. Saat sampai di puncak gunung, kami berhenti lalu
makan. Hari menjelang senja, matahari membiasi bayangan di dataran yang telah kami
lalui. Deretan gunung di timur kini berwarna nila dan abu-abu.
"Itulah ibukota", ujar Lord Otori, mengikuti pandanganku.
Aku mengira yang dia maksud adalah Inuyama, Sehingga aku menjadi bingung.
Melihat aku bingung, dia melanjutkan, "Bukan, itu adalah ibukota yang
sebenarnya—tempat Kaisar memerintah. Tempatnya lebih jauh dari gunung yang
paling jauh itu. Inuyama terletak di tenggara." Dia menunjuk ke arah kami datang.
"Karena kita jauh dari ibukota dan kekuasaan Kaisar sangat lemah, sehingga bangsawan
yang gemar berperang seperti Iida bisa berbuat sesuka hatinya." Semangat Lord Otori
lenyap lagi. "Dan di bawah kita adalah tempat kekalahan terburuk Otori yang
menewaskan ayahku. Itu adalah Yaegahara. Otori dikhianati Noguchi yang membelot
pada Iida. Lebih dari sepuluh ribu orang tewas." Dia memandangku, "Aku tahu
rasanya melihat orang-orang yang terdekat meninggal. Saat itu usiaku tidak lebih tua
darimu."
Aku menatap nanar dataran kosong itu. Tak bisa kubayangkan pertempuran
macam apa yang terjadi. Terbayang darah sepuluh ribu orang menodai bumi Yaegahara.
Dalam kabut yang lembab, cahaya matahari berubah merah seolah membiaskan
darah dari dataran. Seekor elang terbang berputar-putar di atas lembah, seakan
memanggil dengan penuh duka.
"Aku tak ingin ke Yamagata," kata Lord Otori saat kami menuruni jalan setapak.
"Karena di sana aku akan mudah dikenali, dan juga karena ada beberapa alasan lain.
Kelak akan kukatakan padamu. Malam ini kita terpaksa tidur di luar, berbantalkan
rumput karena tak ada kota di dekat sini. Esok kita akan menyeberangi perbatasan
melalui rute rahasia, dan itu berarti kita sudah tiba di wilayah Otori, selamat dari
jangkauan Sadamu."
Aku tak ingin menginap di dataran yang sunyi ini. Aku takut saat membayangkan




22
ada sepuluh ribu hantu dan monster serta peri yang menjadi penunggu hutan ini. Arus
sungai terdengar seperti suara roh. Setiap kali ada lolongan serigala atau teriakan
burung hantu, aku langsung terjaga, denyut nadiku berpacu. Terkadang terasa bergetar
seperti ada gempa, pohon-pohon berdesir dan bebatuan berhamburan nun jauh di
dataran ini. Aku seperti mendengar jerit kematian, teriakan pembalasan. Aku mencoba
berdoa, namun yang kurasakan hanyalah kehampaan. Tuhan kaum Hidden telah
lenyap bersama keluargaku. Terpisah dari keluarga membuat hubunganku dengan
tuhan terputus.
Di sampingku, Lord Otori tertidur dengan damai seakan-akan dia sedang tidur di
kamar penginapan. Meskipun begitu aku tahu dia lebih waspada dariku. Aku ragu
sekaligus takut tentang dunia yang kini aku masuki—dunia yang belum aku kenal,
dunia para klan, dengan aturan yang ketat dan hukuman yang kejam. Aku masuk ke
dunia ini hanya dengan berbekal orang ini, seorang bangsawan yang memenggal kepala
orang di depan mataku, dan dialah yang kini memiliki diriku. Aku menggigil dalam
kabut udara malam yang dingin.
Kami bangun sebelum fajar dan, ketika langit berubah menjadi keabuan, kami
telah menyeberangi sungai yang menjadi batas wilayah Otori.
Setelah perang Yaegahara, klan Otori yang sebelumnya menguasai wilayah tengah
dipaksa mundur oleh Tohan sehingga wilayah Otori menyempit hanya antara gugusan
gunung dan laut di utara. Di pos utama perbatasan, para prajurit Iida selalu berjagajaga,
tapi di daerah terpencil seperti ini ada banyak tempat untuk menyelinap. Sebagian
besar petani dan buruh di daerah ini menganggap diri mereka anggota klan Otori.
Mereka tidak menyukai Tohan. Lord Otori mengatakan ini ketika kami berjalan hari
itu. Dia juga bercerita tentang daerahnya, menjelaskan berbagai metoda pertanian, cara
membangun waduk untuk irigasi, cara membuat jaring ikan, dan cara mengekstrak
garam dari laut. Dia tertarik pada segala hal dan tahu segalanya. Tak lama kemudian,
kami melewati jalan besar yang penuh dengan kesibukan. Para petani membawa hasil
panen berupa umbi-umbian, sayuran, telur, jamur, akar teratai, dan juga bambu untuk




23
dijual ke desa tetangga. Kami berhenti di pasar untuk membeli sandal karena sandal
yang kami pakai sudah hancur.
Ketika kami sampai di penginapan, semua orang mengenal Lord Otori. Mereka
berlari menghampiri dan menyalaminya sambil berseru sukacita. Mereka menyembah
pada Lord Otori. Kamar terbaik pun disiapkan, dan makan malam lezat disajikan.
Kini dia nampak seperti orang yang berbeda. Aku tahu kalau dia memiliki status
yang tinggi, berasal dari klas ksatria, tapi tetap saja aku tidak tahu siapa dia atau apa
posisinya dalam klan. Tapi sudah pasti posisinya tinggi. Ini membuatku malu. Aku
merasa seakan-akan semua orang memandangku dari ujung rambut hingga ujung kuku
sambil bertanya-tanya apa yang sedang aku lakukan, mereka seperti ingin mengusirku
jauh-jauh.
Pagi itu, Lord Otori memakai pakaian yang sesuai dengan statusnya; kuda telah
menanti, dan juga empat atau lima pelayan laki-laki. Mereka agak meringis saat
mengetahui kalau aku tidak tahu sedikit pun soal kuda, dan mereka agak kaget ketika
Lord Otori menyuruhku berjalan di belakang kudanya, walaupun mereka tidak berani
membantah. Berkali-kali mereka mengajakku bicara—mereka menanyakan asal dan
namaku—tapi karena aku selalu membisu, mereka lalu menganggapku idiot, dan juga
tuli. Mereka lalu berbicara dengan suara kencang serta kata-kata yang sederhana sambil
menggunakan bahasa tubuh.
Aku tidak terlalu peduli kalau harus berlari kecil mengikuti kuda Lord Otori. Satusatunya
kuda yang pernah dekat denganku adalah kuda Lord Iida dan kurasa semua
kuda marah padaku karena aku pernah inembuat teman mereka menderita. Aku terus
bertanya-tanya, apa yang akan kulakukan di Hagi. Aku membayangkan akan dijadikan
pelayan, tukang kebun atau bertugas mengurusi kuda. Namun ternyata Lord Otori
inemiliki rencana lain.
Pada sore hari ketiga setelah kami bermalam di Yaegahara, kami tiba di ibukota
Hagi, sebuah kota kecil tempat kastil Otori berada. Kastil itu dibangun di pulau yang
dikelilingi laut dan dua sungai. Ada jembatan batu yang menghubungkan daratan




24
dengan kastil. Jembatan yang sangat panjang, jembatan itu memiliki empat tiang
penyangga dari batu yang tersusun rapi. Kurasa jembatan ini dibangun dengan sihir,
dan saat kuda melangkah ke jembatan, aku memejamkan mata. Gemuruh sungai
seperti bunyi guntur di telingaku, dan di kejauhan aku mendengar sesuatu yang
berbeda—sesuatu yang membuatku gemetar.
Saat di tengah jembatan, Lord Otori memanggilku. Aku menyalip dari belakang
kuda ke tempat dia berhenti. Ada batu besar yang disusun seperti dinding. Di batu itu
terukir tulisan.
"Kau bisa baca, Takeo?"
Aku menggelengkan kepala.
"Sungguh malang nasibmu. Kau harus belajar!" Dia tertawa. "Dan kurasa gurumu
akan membuatmu menderita! Kau pasti akan menyesal telah meninggalkan kehidupan
liarmu di gunung."
Dia membacakan tulisan itu dengan lantang, "Klan Otori menjunjung tinggi keadilan
dan kesetiaan. Ketidakadilan dan pengkhianatan harus berhati-hati." Di bawah tulisan itu
tergambar lambang burung bangau.
Aku terus berjalan di samping kudanya hingga tiba di ujung jembatan. "Orang
yang membangun jembatan ini dikubur hidup-hidup di bawah batu besar itu," kata
Lord Otori tanpa ekspresi, `Agar dia tidak bisa membuat jembatan yang seperti ini
lagi, dan dia pun bisa menjaga jembatan ini selamanya. Kau dapat mendengar
arwahnya berbicara dengan sungai di malam hari."
Membayangkan ada hantu yang sedih terpenjara di bangunan indah yang dia
bangun sendiri membuat aku merinding. Tapi begitu sampai di kota tempat kastil klan
Otori, suara kematian berganti dengan hiruk-pikuk suara kehidupan.
Hagi adalah kota besar pertama yang pernah aku kunjungi. Bagiku kota ini tidak
berujung dan sangat memusingkan. Kepalaku penuh dengan berbagai suara: teriakan
para pedagang jalanan, bunyi mesin tenun dari dalam rumah yang sempit, tukang batu
yang sedang mcnempa, geraman suara gergaji, dan banyak lagi bunyi y,mg belum




25
pernah aku dengar sebelumnya. Jalanan penuh dengan kuli. Bau tanah lempung dan
tempat pembakaran menusuk hidung. Inilah pertama kali aku mcndengar bunyi
gerobak atau gemuruh bunyi tungku iulcang besi. Sayup-sayup aku juga mendengar
percaIwpan, caci-maki dan tawa, dan tidak ketinggalan, bau husuk sampah yang selalu
hadir.
Di kejauhan terlihat kastil yang dibangun memhelakangi lautan. Aku mengira
kastil itu yang menjadi tujuan kami, dan semangatku langsung lenyap melihat
I:esuramannya. Tapi ternyata kami memutar ke arah timur, mengikuti sungai
Nishigawa yang bermuara di Higashigawa. Di sebelah kiri kami terbentang wilayah
yang ada jalan berliku serta kanal yang dikelilingi sejumlah rumah besar.
Matahari bersembunyi di balik awan gelap dan kini mulai tercium bau hujan.
Langkah kuda kian cepat, seakan tahu kalau kami hampir sampai di tujuan. Di ujung
jalan, ada sebuah gerbang besar terbuka. Beberapa pengawal keluar dari pos jaga lalu
berlutut, membungkuk saat kami lewat.
Kuda Lord Otori merendahkan kepala dan menggosok-gosokkan moncongnya
padaku dengan kasar. Kemudian kuda itu meringkik dan kuda lain yang di ada istal
membalasnya. Aku pegang tali kekang kuda itu, dan Lord Otori turun. Seorang
pelayan laki-laki segera mengambil tali kekang semua kuda yang menyertai perjalanan
kami lalu menggiring mereka.
Lord Otori melangkah melewati taman ke arah sebuah rumah. Aku berdiri diam
selama beberapa saat, ragu, tidak tahu harus mengikutinya atau mengikuti para
pelayan, tapi ternyata dia berbalik dan memanggilku, melambaikan tangannya
kepadaku.
Ada sebuah taman yang dipenuhi dengan pohon dan tanaman yang berdiri dengan
tenang dan berderet rapi, berbeda sekali dengan pohon-pohon di gunung yang tumbuh
padat dan sesak. Aku merasa seolah-olah sebuah gunung ditangkap dan dibawa ke
tempat ini dalam bentuk miniatur.
Taman ini penuh dengan bunyi-bunyian-riak air yang mengalir melalui bebatuan




26
dan juga dari saluran air. Aku dan Lord Otori berhenti, mencuci tangan di pancuran.
Gemericik air mengalir mirip bunyi lonceng yang mempesona.
Para pelayan rumah telah berdiri di beranda untuk menyambut. Aku kaget karena
pelayan di rumah ini tidak banyak, namun kelak aku tahu bahwa Lord Otori memang
hidup sederhana. Pelayannya hanya ada tiga orang wanita muda, seorang wanita agak
tua, dan satu orang laki-laki yang umurnya sekitar lima puluh tahun. Setelah
membungkuk hormat, ketiga pelayan itu langsung menarik diri, sedangkan kedua
orang itu menatapku dengan takjub, hampir tidak bisa disembunyikan.
"Dia mirip sekali..." bisik wanita itu.
"Luar biasa!" ujar laki-laki tua itu sepakat sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Lord Otori tersenyum sambil melepas sandal lalu masuk ke rumah. "Aku bertemu
dengannya saat hari telah gelap. Aku tidak menyadarinya hingga keesokan paginya. Ini
hanyalah kebetulan."
"Tidak, tapi lebih dari itu," kata wanita tua itu sambil menuntunku masuk ke
dalam rumah. "Dia mirip sekali," sambungnya. Laki-laki yang menyambut di luar
menatapku dengan bibir terkatup seolah-olah ldahnya tergigit saat mengunyah acar
plum—dari tatapannya seolah-olah dia mengatakan kalau aku hanya akan membawa
masalah.
"Oh ya, aku memanggilnya Takeo," kata Lord dari balik pundak orang tua itu.
"Panaskan air untuk dia mandi dan carikan pakaian untuknya." perintah Lord.
Orang tua itu menggerutu dalam kekagetannya.
"Takeo!" seru wanita itu. "Siapa nama aslimu?"
Melihat aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum, laki-laki itu berkata tajam,
"Dia dungu!"
"Tidak, dia bisa berbicara dengan sempurna," balas Lord Otori dengan nada tidak
sabar. "Dia pernah berbicara kepadaku. Tapi ada kejadian mengerikan yang membuat
dia tidak bisa bicara. Kelak dia pasti bisa bicara lagi."
"Tentu saja," ujar wanita itu sambil tersenyum dan mengangguk ke arahku, "Ayo




27
ikut denganku. Aku akan mengurusmu."
"Maaf, Lord Shigeru," ujar laki-laki tua dengan sikap yang keras kepala—kurasa
kedua orang ini telah mengenal Lord Shigeru sejak kecil dan mereka yang telah
merawatnya hingga besar—"Apa rencanamu pada anak ini? Dia akan bekerja di dapur
atau di taman? Apa keahliannya?"
"Aku hendak mengangkatnya menjadi anakku," balas Lord Otori. "Urus
prosedurnya besok, Ichiro."
Suasana hening. Ichiro keheranan. Chiyo berusaha untuk tidak tersenyum.
Kemudian Chiyo dan Ichiro berbicara secara bersamaan. Chiyo lalu bersungut-sungut
meminta maaf, dan membiarkan Ichiro berbicara lebih dulu.
"Sungguh tak terduga," ucapnya gusar. "Kau telah merencanakan semua ini?"
"Tidak, ini hanya kebetulan. Kau tahu aku sangat berduka setelah kematian adikku
dan aku berusaha menutupi kesedihanku dengan pergi mengembara. Kesedihanku
berkurang sejak bertemu anak ini."
Chiyo melipat kedua tangannya di dada dan berkata, "Takdir telah mengirimnya
untukmu. Begitu lihat, aku tahu kau telah berubah—ada sesuatu yang membuatmu
sembuh. Namun, tentu saja, tak ada yang bisa menggantikan Lord Takeshi..."
Takeshi! Jadi Lord Otori memberiku nama mirip nama adiknya yang telah
meninggal. Dan dia hendak mengangkatku menjadi anaknya, menjadikanku keluarganya.
Kaum Hidden percaya kalau orang dapat terlahir kembali melalui air. Tapi aku
terlahir kembali melalui sebilah pedang.
"Lord Shigeru, kau melakukan kesalahan fatal," kata Ichiro. "Dia ini bukan siapasiapa,
hanya orang biasa... bagaimana tanggapan bangsawan Otori yang lain?
Pamanmu tidak akan setuju. Bahkan memintanya saja sudah dianggap penghinaan."
"Lihat dia," kata Lord Otori. "Siapa pun orangtuanya, pastilah bukan dari orang
biasa. Lagipula aku telah menyelamatkan dia dari Tohan. Iida hendak membunuh anak
itu. Karena telah menyelamatkannya, maka dia menjadi tanggung jawabku, dan berarti
aku harus mengangkatnya menjadi anakku. Agar selamat dari Tohan, dia harus dalam




28
perlindungan klan. Aku telah membunuh satu orang, mungkin dua, demi dirinya."
"Sungguh harga yang mahal. Semoga saja tidak menambah mahal." Kata Ichiro
tajam. "Apa yang dia lakukan sehingga Iida ingin menangkapnya?"
"Dia hanya berada di tempat dan pada waktu yang salah, itu saja. Tak perlu
mengutak-atik lagi sejarahnya. Anggap saja dia saudara jauh ibuku. Karang saja sesukamu!"
"Ada kabar bahwa Tohan telah membantai kaum Hidden. Jangan kau katakan
kalau dia salah seorang dari kaum itu."
"Andaikan dia dulu orang Hidden, maka kini dia bukan bagian dari mereka," balas
Lord Otori seraya bernapas panjang. "Itu masa lalu. Jangan berdebat lagi, Ichiro. Aku
telah berjanji untuk melindungi anak ini, dan tak akan ada yang bisa mengubahnya.
Lagipula, aku suka padanya."
"Tak ada untungnya mengangkat dia," sahut Ichiro.
Mereka saling berpandangan. Tangan Lord Otori membuat gerakan tak sabar, dan
Ichiro menurunkan pandangannya, membungkuk hormat dengan enggan. Sungguh
beruntung menjadi bangsawan—mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka
inginkan.
Angin berhembus kencang, daun jendela berderit, dan suara-suara kehidupan
terdengar seperti tak nyata. Seakan-akan ada yang berbicara di kepalaku: Inilah
takdirmu di masa depan. Ingin sekali aku kembali ke hari sebelum aku pergi mencari
jamur di gunung— kembali pada kehidupanku bersama ibu dan orang-orang di desaku.
Namun aku tahu masa kecilku adalah masa lalu dan tak akan pernah kembali. Aku
harus menjadi laki-laki dan menjalani takdirku.
Dengan tekad itulah aku mengikuti Chiyo ke tempat permandian. Dia
memperlakukan aku seperti anak kecil, membukakan bajuku lalu menggosok sekujur
tubuhku sebelum membiarkanku berendam di air panas.
Tak lama kemudian dia datang membawa kimono dari bahan katun dan
menyuruhku memakainya. Aku menuruti perintahnya. Apa lagi yang dapat kulakukan?




29
Dia mengeringkan rambutku dengan sehelai kain, dan menyisir rambutku ke belakang,
lalu dia ikat dengan gaya simpul di atas.
"Rambutmu perlu di potong," sungutnya sambil menyentuh rambutku. "Janggutmu
belum tumbuh. Berapa umurmu? Enam belas tahun?"
Aku mengangguk. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas
panjang. "Lord Shigeru ingin kau makan bersamanya," ujarnya, "Kuharap kau tidak
menambah kesedihannya."
Ichiro pasti telah menyampaikan keraguannya pada Chiyo.
Aku mengikutinya ke rumah yang lain, sambil mengamati setiap bagian bangunan
ini. Hari mulai gelap; lampu memancarkan cahaya jingga di sudut ruangan, tapi masih
kurang terang untuk melihat lebih banyak lagi. Chiyo mengantarku hingga ke tangga
di sudut ruang utama. Rumahku di Mino juga ada tangga, tapi tidak sebagus yang ini.
Kayunya yang gelap dipelitur dengan halus— mungkin dari pohon oak—dan setiap
anak tangganya mengeluarkan bunyi halus ketika aku melangkah di atasnya. Tangga ini
seperti dibangun dengan sihir, dan rasanya dapat kudengar suara orang yangg
membuatnya.
Ruangan kosong ini sangat indah, jendelanya yang menghadap ke taman terbuka
lebar. Langit mendung, rintik hujan mulai turun. Chiyo membungkuk hormat
padaku—dengan sungkan—lalu berbalik pergi. Aku mendengar langkah kaki dan
suaranya saat dia berbicara dengan pelayan di dapur.
Setelah aku mulai tahu tentang kastil, istana dan rumah para bangsawan, masih
saja semua itu tidak bisa dibandingkan dengan pemandangan dari ruang atas di rumah
Lord Otori ini di saat hari semakin gelap dan bulan purnama bersinar diiringi tetesan
hujan lembut di taman. Di belakang ruangan ada pilar besar dari pohon cedar, dipelitur
sehingga terlihat corak dan serat kayu nya. Tiang-tiang di ruangan ini terbuat dari kayu
cedar, warnanya coklat kemerahan sehingga kontras dengan warna dinding yang putih
krem. Alas lantai yang terhampar berwarna keemasan, pinggirannya dijahit secarik
bahan nila lebar yang dihiasi motif bangau putih, lambang klan Otori.




30
Sebuah gulungan kertas perkamen bergambar seekor burung kecil tergantung di
ruangan kecil, masih dalam ruangan ini. Burung itu sedang mengepakkan sayapnya
yang putih kehijauan, mirip burung yang pernah kulihat di hutan. Lukisan itu begitu
hidup hingga burung itu seperti akan segera terbang tinggi. Sungguh menakjubkan
bahwa pelukis yang begitu hebat dapat mengenal burung biasa yang ada di pedesaan.
Terdengar langkah kaki di ruangan bawah dan aku segera duduk bersila. Dari
jendela yang terbuka lebar, aku melihat seekor bangau putih abu-abu besar berdiri di
kolam di taman. Paruhnya berada di dalam air dan, saat muncul, ada seekor ikan kecil
yang menggelepar di paruhnya. Lalu bangau itu terbang dengan anggun.
Lord Otori datang diikuti oleh dua gadis pelayan yang membawa makanan. Dia
menoleh ke arahku lalu mengangguk. Aku membungkuk sebagai tanda hormat. Dia
seperti burung bangau dan aku seperti ikan kecil yang menggelepar, diambil dari
duniaku dan dibawa terbang ke dunianya.
Hujan semakin deras, rumah dan taman mulai bernyanyi bersama percikan air.
Curahan air dari saluran air di atap rumah membentuk arus yang mengalir dari satu
kolam ke kolam lain. Setiap tetesan air yang jatuh mengalunkan nada yang berbeda.
Rumah ini bernyanyi untukku sehingga aku jatuh cinta dengan nyanyiannya. Ingin aku
menjadi bagian dari rumah ini. Aku akan melakukan apa saja untuk rumah ini, apa pun
keinginan pemilik rumah.
Setelah melahap semua makanan dan mangkuk telah dipindahkan, kami duduk di
dekat jendela yang terbuka, mengiringi malam yang semakin larut. Dalam keremangan,
Lord Otori menunjuk ke ujung taman. Aku melihat riak air di parit yang berasal dari
atap rumah, alirannya bergerak ke sungai besar. Sungai itu bergemuruh dalam dan
pasti, warna airnya yang hijau abu-abu memenuhi saluran air bagaikan sebuah layar
yang terlukis.
"Senang rasanya berada di rumah," dia berkata dengan tenang, "Namun,
sebagaimana sungai itu selalu berada di luar pintu rumah, begitu pula dunia ini. Dunia
tempat kita tinggal."




31
DI tahun yang sama sewaktu Lord Otori menyelamatkan seorang anak laki-laki di
Mino yang berganti nama menjadi Otori Takeo, terjadi beberapa peristiwa di kastil
nun jauh di wilayah selatan. Kastil itu adalah pemberian Iida Sadamu kepada Noguchi
karena turut membantunya.dalam perang Yaegahara. Setelah berhasil mengalahkan
klan Otori, musuh utamanya, Iida lalu memaksa mereka untuk menerima beberapa
syarat yang menguntungkan dirinya. Target Iida berikutnya adalah klan terbesar ketiga
dari Tiga Negara, Seishuu, yang menguasai sebagian besar wilayah selatan dan barat.
Tapi karena Seishuu memilih untuk bersekutu dengan Tohan, maka kedua klan
berbagi tawanan. Anak gadis dari pemimpin klan Maruyama diberikan pada Tohan,
sedangkan anak gadis pimpinan klan Shirakawa, kerabat dekat Maruyama, diberikan
pada Seishuu.
Putri sulung Lord Shirakawa, Kaede, dibawa ke Kastil Noguchi sebagai tawanan
saat masih gadis cilik, dan kini ia telah melewatkan setengah masa hidupnya—waktu
yang cukup lama untuk menimbun rasa benci. Di malam hari, saat tidak bisa tidur,
Kaede tidak berani membalikkan badan karena takut ada pelayan datang
menamparnya. Ia selalu mengingat nama-nama gadis pelayan yang sering
menamparnya. Ia menyimpan semua itu di kepalanya karena ia takut mereka tahu apa
yang ia pikirkan sehingga mereka akan menamparnya. Ia tahu kalau banyak gadis yang
tidak sabar lagi ingin menamparnya. Ia tahu itu karena mereka sering menampar dan
memukulinya.
Kenangan masa kanak-kanak yang masih ia ingat hanyalah rumah yang telah ia
tinggalkan sejak umur tujuh tahun. Sejak dibawa ayahnya ke kastil ini, ia tidak pernah




32
lagi bertemu ibu atau adik perempuan lagi.
Tiga kali ayahnya datang menjenguk, dan itu pun hanya untuk melihat Kaede
tinggal dengan pelayan, bukan dengan anak-anak Noguchi. Penghinaan pada ayahnya
lengkap sudah: ayahnya, Lord Shirakawa, bahkan tidak bisa protes. Dan Kaede yang
masih belia dapat melihat kemarahan di mata ayahnya. Pada dua kunjungan awal,
Kaede diijinkan berbicara dengan ayahnya. Kenangan yang masih ia ingat saat itu
adalah saat ayahnya memegang bahunya dan berkata dengan nada tertekan, "Andai saja
kau laki-laki!" Pada kunjungan yang ketiga, mereka hanya bisa saling memandang, mereka
tidak diijinkan berbincang. Sejak itu, ayahnya tidak pernah lagi datang dan Kaede
pun tidak pernah mendengar kabar tentang rumahnya.
Ia memahami alasan ayahnya tidak datang lagi. Saat umurnya dua belas tahun,
dengan membuka mata dan telinga serta bergaul dengan orang yang bersimpati
padanya, akhirnya ia tahu kalau dia adalah tawanan, bidak dalam peperangan antar
klan. Ia tak ada nilai bagi orang yang menguasai dirinya selain menjadi nilai tambah
dalam tawar-menawar kekuasaan. Ayahnya seorang pemimpin klan yang menguasai
wilayah Shirakawa yang strategis; ibunya adalah kerabat dekat klan Maruyama. Karena
tak mempunyai anak laki-laki, maka ayahnya akan mengangkat suami Kaede sebagai
penggantinya. Dengan menguasai Kaede, berarti Noguchi telah mendapatkan
kesetiaan, persekutuan dan tahta klan Shirakawa.
Kaede tidak memikirkan yang lain—rasa takut, kerinduan pada kampung halaman,
atau rasa sepi—yang ada hanyalah rasa benci karena Noguchi tidak menghargai dirinya
sebagai seorang tawanan. Sama seperti rasa bencinya pada para pelayan yang selalu
mencelanya, dan rasa bencinya pada bau aneh dari ruang penjaga di dekat gerbang, atau
ketika harus menaiki tangga yang curam sambil membawa sesuatu.... Dan, parahnya
lagi, dia selalu membawa sesuatu: entah itu baskom berisi air dingin, ketel air panas,
makanan bagi para penjaga yang rakus, atau barang lain yang malas mereka bawa. Dia
membenci kastil ini, membenci batu-batu besar yang menyusun fondasi, dan ruang atas
kastil yang gelap, di mana balok-balok yang malang-melintang seakan menggemakan




33
keinginan untuk segera bebas dari tempat ini, kembali ke hutan tempat mereka berasal.
Kaede juga membenci para penjaga. Semakin ia beranjak dewasa, semakin sering
penjaga melecehkaniiya. Gadis pelayan seumurnya berlomba-lomba mencari perhatian
penjaga. Mereka memuji-muji dan bersikap manja kepada para penjaga, suara mereka
dibuat manja dan berpura-pura lembut, bahkan kadang terlalu konyol. Semua itu
mereka lakukan untuk memperoleh perlindungan. Ia tidak menyalahkan mereka—ia
percaya bahwa semua wanita harus bisa menggunakan apa pun yang mereka miliki
untuk melindungi diri dari peperangan yang telah menjadi bagian dari hidup ini—tapi
ia tak mau melakukan hal seperti itu. Dia tidak bisa. Satu-satunya harapannya agar
terbebas dari kastil ini yaitu menikahi orang dari klas yang setara. Jika kesempatan itu
tidak juga datang, ia ingin mati saja.
Kaede sadar kalau ia tidak seharusnya memikul semua itu sendirian. Ia harus
mendekati seseorang. WaIaupun tak mungkin untuk bicara pada Lord Noguchi, tapi
ada kemungkinan ia bisa mendekati Lady Noguchi. Setelah memikirkannya lagi, ia
yakin tidak akan diberi kesempatan bertemu dengan Lady Noguchi. Tidak ada tempat
baginya untuk mengadu. Tak ada orang yang bisa melindunginya. Ia sendiri yang harus
melindungi dirinya. Tapi para penjaga begitu kuat. Kaede memang termasuk tinggi
untuk ukuran seorang gadis—terlalu tinggi, begitu kata pelayan dengan iri—dan ia juga
tidak lemah, ia selalu bekerja keras. Tapi pernah ada seorang penjaga yang bercanda
dan menariknya dengan kasar dan mendekapnya hanya dengan satu tangan, dan ia tak
mampu melepaskan diri. Ia menggigil setiap teringat kejadian itu.
Semakin lama, semakin sulit ia menghindar dari perhatian para penjaga. Di akhir
bulan kedelapan, saat umurnya lima belas tahun, terjadi hujan lebat disertai angin
topan yang bertiup dari arah barat selama berhari-hari. Kaede membenci hujan.
Baginya, hujan hanya akan membuat semuanya menjadi lembab dan berbau. Ia
membenci hujan karena terpaksa berjalan dengan kimono basah yang melekat di badan
sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, dan ini membuat penjaga semakin
menggodanya.




34
"Hei, Kaede, gadis kecil!" seorang penjaga berteriak saat dia berlari dari dapur
menerobos hujan, melewati menara di gerbang kedua. "Jangan tergesa-gesa! Ada pesan
untukmu! Tolong panggil Kapten Arai turun! Dia diminta untuk memeriksa seekor
kuda baru."
Seluruh kastil dibasahi air hujan. Dalam sekejap ia telah basah kuyup, dan
sandalnya yang basah sempat membuat dia tergelincir dan tersandung saat melangkah
di tangga batu. Namun ia tidak mengeluh karena Arai adalah satu-satunya orang yang
tidak ia benci. Arai selalu sopan, tidak pernah mencela atau melecehkan dirinya. Kaede
tahu bahwa tanah kekuasaan Arai berbatasan dengan wilayah ayahnya, tidak heran bila
gaya bicara Arai beraksen wilayah Barat yang halus seperti dirinya.
"Hei, Kaede!" tegur penjaga lain saat melihat Kaede berlari ke menara utama. "Kau
selalu berlari! Berhentilah dan mari kita bicara!"
Ketika Kaede mengabaikan ajakan penjaga itu dan terus menaiki anak tangga,
penjaga itu berteriak lagi, "Mereka mengatakan bahwa kau laki-laki! Kemarilah dan
buktikan bahwa kau perempuan!"
"Bodoh!" gerutu Kaede, ia terpeleset saat melangkah ke anak tangga kedua.
Para penjaga di lantai atas sedang bermain judi dengan menggunakan sebilah
belati. Arai langsung berlari dan menyapa dengan sopan begitu melihat Kaede datang.
"Lady Shirakawa." Kapten Arai memiliki postur yang besar, berpenampilan
menarik dan mata yang nampak cerdas. Kaede menyampaikan pesan kepadanya. Arai
menngucapkan terima kasih dan menatap Kaede sejenak seperti hendak mengatakan
sesuatu, tapi kemudian dia berubah pikiran. Arai menuruni tangga dengan tergesagesa.
Kaede berdiri mematung, memandang ke luar jendcla. Hembusan angin dari
gunung terasa dingin dan lembab. Pemandangan di luar hampir tertutup kabut, namun
ia masih dapat melihat rumah Lord Noguchi di bawah menara. Ia membayangkan
dirinya tinggal di rumah itu, bukan berlarian kesana-kemari dalam hujan uniuk
memanggil orang.
"Jika Lady Shirakawa hendak menunggu hujan reda, lebih baik bergabung bersama




35
kami," ajak seorang penjaga sambil menepuk punggungnya.
"Jangan sentuh aku!" seru Kaede marah.
Si penjaga tertawa. Kaede takut membayangkan suasana hati mereka yang jenuh
dan tertekan, muak pada hujan karena hanya berjaga-jaga dan menunggu, dan tidak
dapat melakukan apa-apa.
"Oh, kapten lupa membawa belatinya," salah seorang penjaga berkata, "Kaede,
cepat kejar dia."
Kaede mengambil belati itu dengan tangan kiri, menimbang-nimbang berat serta
ukurannya.
"Dia tampak berbahaya!" canda seorang penjaga. "Jangan sampai melukai dirimu,
gadis kecil!"
Kaede segera menuruni tangga, namun Arai telah keluar dari menara. Ketika
mendengar suara Arai di taman, ia hendak mengejarnya, tapi belum sempat ia keluar
menara, penjaga yang tadi menegurnya keluar dari pos jaga. Kaede berhenti, ia
sembunyikan belati di belakang punggungnya. Penjaga itu berdiri tepat di depannya,
sangat dekat, dan membelakangi cahaya keabuabuan yang datang dari luar menara.
"Ayolah Kaede, tunjukkan bahwa kau bukan lakilaki!"
Dengan kasar, penjaga itu meraih tangan kanan Kaede dan menariknya sambil
menekan satu kakinya di antara kedua kaki Kaede, memaksa paha Kaede agar terbuka.
Tanpa pikir panjang Kaede menikam belati yang ada di tangan kirinya ke leher orang
itu.
Seketika itu juga si penjaga berteriak lalu melepaskan Kaede, kedua tangan penjaga
itu memegang lehernya dan menatap Kaede dengan mata terbelalak. Penjaga itu tidak
terluka parah, tapi darah mengucur dcngan deras. Kaede tidak mempercayai apa yang
ia perbuat. Aku pasti mati, pikirnya. Seiring dengan teriakan minta tolong si penjaga,
Arai datang. Sekilas Arai mengamati situasi, merebut belati dari tangan Kaede, dan
langsung menggorok leher si penjaga. Penjaga itu pun jatuh dengan terseguk.
Arai menarik Kaede ke luar, dan di bawah guyuran air hujan dia berbisik, "Penjaga




36
itu hendak memperkosa dirimu. Aku datang dan membunuhnya. Begitulah kejadiannya,
bila kau tak ingin kita berdua mati."
Kaede mengangguk. Ia telah menusuk seorang penjaga sedangkan Arai telah
meninggalkan belatinya: dua peIanggaran yang tidak termaafkan. Kini Arai telah
melenyapkan saksi. Bukannya takut atas kematian si penjaga, Kaede bahkan merasa
gembira. Semoga mereka semua mati, pikirnya, klan Noguchi, Tohan, dan seluruh klan.
"Akan kukabarkan ini kepada pimpinannya, Lady Shirakawa," ujar Arai.
"Seharusnya kau tidak dibiarkan tanpa perlindungan." Lalu dia menambahkan, "Lakilaki
terhormat tak akan melakukan hal itu."
Arai berteriak ke atas menara untuk memanggil pengawal, lalu berkata pada Kaede,
"Jangan lupa, aku telah menyelamatkan nyawamu."
Kaede menatapnya lurus. "Jangan lupa juga, belati itu milikmu," jawabnya.
Arai tersenyum kecut, "Kalau begitu, nasibku ada di tanganmu dan nasibmu ada di
tanganku."
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Kaede ketika mendengar langkah kaki penjaga
di tangga. "Mereka tahu aku yang membawa belati."
"Mereka tak akan mengkhianatiku," balasnya. "Aku bisa mempercayai mereka."
'Aku tak mempercayai siapa pun," bisik Kaede.
"Kau harus percaya padaku," ucapnya.
Keesokan hari, Kaede dikabari kalau dia akan dipindahkan ke kediaman Noguchi.
Sambil membungkus semua barang miliknya dengan kain, ia mengusap-usap kain
bergambar sungai putih dengan latar belakang matahari Seishuu, lambang keluarganya.
Ia malu karena hanya mempunyai sedikit barang. Kejadian sehari sebelumnya masih
terlintas di benaknya: belati di tangan kirinya, dekapan dan kematian si penjaga. Juga
ucapan Arai: Seorang laki-laki terhormat tidak akan melakukan hal itu! Tidak seharusnya
Arai berkata seperti itu pada tuannya. Ia tak akan berani, tidak juga di depan Kaede,
kecuali bila dia ada niat untuk memberontak. Mengapa Arai memperlakukan aku
begitu baik? Apakah dia mencari dukungan dari klanku? Dia sudah terkenal dan




37
berkuasa; Kaede curiga Arai memiliki ambisi yang lebih besar. Arai mampu bertindak
cepat dalam memanfaatkan setiap kesempatan.
Kaede mengatur semua barangnya dengan hati-hati agar barang sekecil apa pun tak
akan menyulitkan saat dibawa.
Hari itu, semua gadis pelayan menghindar darinya, mereka berbicara bergerombol dan
langsung diam saat ia lewat. Dua di antara gadis itu nampak seperti habis mcnangis;
mungkin mereka kekasih penjaga yang mati itu. Tak seorang pun bersimpati padanya.
Kemarahan gadis-gadis itu bahkan semakin menumbuhkan kebenciannya pada mereka.
Sebagian dari mereka memiliki rumah; mereka bisa kembali ke orangtua dan keluarga,
kapan saja mereka mau. Mereka bukan tawanan seperti dirinya. Lagipula,
penjaga itu yang menarik ia dengan kasar, hendak mem-perkosa. Siapa pun yang
mencintai orang seperti seperti itu tentu orang idiot.
Seorang pelayan yang belum Kaede kenal datang mcnyapa dan membungkuk
hormat lalu meminta Kaede mengikutinya. Kaede mengikuti pelayan itu menuruni
anak tangga curam dari batu yang menghubungkan kastil dengan kediaman Lord
Noguchi. Saat mereka melewati ruang tahanan di bawah gerbang raksasa, para penjaga
memalingkan muka dengan marah. Kaede dan gadis itu berjalan ke taman yang
mengelilingi rumah Noguchi.
Ia sering melihat taman ini dari kastil, namun inilah pertama kali ia ke sini sejak
umurnya tujuh tahun. Sewaktu sampai di bagian belakang rumah, gadis itu menunjuk
ke sebuah ruangan kecil.
"Tunggulah sebentar di sini, Lady."
Setelah gadis itu pergi, Kaede berlutut di lantai. Ruangan ini tertata rapih,
meskipun ukurannya tidak besar, dan pintu-pintunya yang terbuka menghadap ke
taman. Hujan telah reda dan matahari bersinar cerah, butiran air di dedaunan
memantulkan sinar berkilauan. Kaede memandangi lentera batu yang ada di tengah
kolam. Kodok dan jangkrik bernyanyi riang. Kedamaian dan keheningan tempat ini
mencairkan sesuatu yang telah mengendap keras di hatinya, dan mendadak Kaede




38
ingin menangis.
Kaede berusaha menahan tangis dengan cara memunculkan rasa bencinya pada
Noguchi. Ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam lengan baju dan merasakan
memar di lengannya. Ia semakin membenci keluarga Noguchi karena mereka tinggal di
tempat yang indah ini, sedangkan ia, anak Lord Shirakawa, hanya tinggal bersama
pelayan.
Pintu yang berada di belakangnya bergeser dan seorang wanita berlutut di pintu,
"Lord Noguchi ingin bertemu Anda, Lady."
"Bantulah aku untuk bersiap-siap," ujar Kaede. Ia tidak mau bertemu Noguchi
dengan penampilannya saat ini, rambut yang tidak tertata rapih, dan pakaian yang
usang serta kotor.
Pelayan itu masuk dan Kaede berpaling melihatnya. Dia sudah tua, kulit tangannya
pun berkeriput, namun wajahnya halus dan rambutnya hitam. Dia memperhatikan
Kaede dengan kagum. Lalu, tanpa banyak bicara dia membuka bungkusan kain milik
Kaede, mengeluarkan kimono ringan yang agak bersih dan sisir serta penjepit rambut.
"Mana baju lainnya?"
"Aku dibawa kemari saat umur tujuh tahun," kata Kaede dengan marah. "Kau pikir
aku kecil terus? Ibuku mcngirimkan pakaian yang lebih baik, namun aku dilarang
menyimpannya!"
Wanita itu mendecak kagum. "Untung saja nona sangat cantik sehingga tidak
perlu banyak polesan."
"Apa maksudmu?" tanya Kaede karena ia belum pernah melihat wajahnya sendiri.
"Aku akan menyisiri rambutmu dan mencarikan alas kaki yang bersih. Aku Junko.
Lady Noguchi mengirimku untuk melayanimu. Akan kusampaikan bahwa Anda tak
memiliki pakaian yang pantas."
Junko pergi dan kemudian datang bersama dua orang gadis yang membawa
semangkuk air, kaus kaki hersih, dan kotak kayu kecil berukir. Junko membersihkan
wajah, tangan dan kaki, lalu menyisir rambut Kaede yang panjang dan hitam. Mereka




39
bergumam takjub.
"Ada apa?" tanya Kaede dengan gugup.
Junko membuka kotak kecil itu dan mengeluarkan cermin yang bulat. Di belakang
cermin itu terukir motif bunga dan burung. Junko menggenggam cermin itu agar
Kaede dapat bercermin. Kaede langsung terdiam saat melihat wajahnya.
Perhatian dan kekaguman para wanita itu membuat Kaede agak percaya diri,
namun rasa percaya dirinya langsung hilang ketika dia mengikuti Junko ke ruangan
utama rumah ini. Ia pernah melihat Lord Noguchi dari jauh, saat kunjungan ayahnya
yang terakhir. Ia tidak pernah menyukai Lord Noguchi, dan kini ia cemas saat akan
menemuinya.
Junko berlutut dan menggeser pintu lalu masuk sambil menyembah. Kaede
melakukan hal yang sama. Alas lantai terasa dingin dan tercium bau rumput di musim
panas.
Di dalam ruangan, Lord Noguchi sedang berbicara dengan sesecrang dan tidak
memperhatikan kehadiran Kaede. Mereka sedang membahas soal pajak pertanian:
tentang terlambatnya para petani membayar pajak. Tak lama lagi musim panen baru
tiba, tapi petani belum membayar pajak panen yang sebelumnya. Orang yang diajak
bicara kadang memberi komentar yang menenangkan Lord Noguchi—dengan
memberi alasan cuaca yang sering berubah, musim angin topan yang sebentar lagi tiba,
pengabdian para petani, dan kesetiaan para penyewa tanah—dan Lord Noguchi akan
menggerutu, kemudian diam beberapa saat, lalu mulai mengeluhkan hal yang sama
lagi.
Akhirnya Lord Noguchi diam lagi. Salah seorang kepercayaannya mendehem
sekali dua kali. Lord Noguchi memberi perintah dan orang itu pun mundur dengan
berlutut ke pintu.
Lord Noguchi mendekati Kaede yang tak berani mengangkat kepalanya.
"Panggil Arai," perintahnya. Sepertinya dia telah merencanakan semua ini.
Kini dia akan berbicara padaku, pikir Kaede, tapi ternyata Lord Noguchi hanya




40
diam membisu. Kaede tetap diam tak bergerak.
Setelah cukup lama menunggu, Kaede mendengar Arai yang masuk ke ruangan
dan melihat Arai menyembah di sampingnya. Lord Noguchi juga tidak
mengacuhkannya. Dia menepuk tangan dua kali dan beberapa orang segera masuk.
Kaede merasa seakan-akan mereka hendak menginjak-injak dirinya saat melewati
dirinya. Ketika memandang sekilas ke mereka dari samping, ia tahu kalau kedudukan
mereka cukup penting. Ada yang memakai lambang Noguchi di kimononya, dan ada
juga yang memakai lambang Tohan, gambar daun oak berhelai tiga. Ia yakin mereka
akan dengan senang hati menginjak-injak dirinya, seakan-akan ia adalah kecoa. Kaede
bersumpah tidak akan membiarkan orang-orang Tohan dan Noguchi melukai dirinya.
Orang-orang itu duduk di atas alas lantai.
"Lady Shirakawa," akhirnya Lord Noguchi berkata. "Duduklah."
Saat Kaede melakukan perintah Lord Noguchi, ia merasa semua laki-laki di
ruangan itu menatapnya. Semua orang nampak tegang, ada sesuatu yang tidak ia
pahami.
"Sepupu," kata Lord Noguchi, ada nada keheranan dalam suaranya. "Kuharap kau
baik-baik saja."
"Terima kasih atas kepedulian Anda, aku baik-baik saja," balas Kaede dalam
kalimat sopan walaupun kata-kata yang diucapkan terasa seperti racun yang membakar
lidahnya. Ia merasa rapuh di dalam ruangan ini, satu-satunya perempuan di antara lakilaki
yang kuat dan kejam. Ia mencuri pandang ke Lord Noguchi dari bawah bulu mata.
Bagi Kaede, wajah itu adalah wajah orang yang pemarah, lemah dan bodoh. Wajah
yang penuh dengan kebencian.
"Ada kejadian yang tidak menyenangkan di pagi ini," kata Lord Noguchi.
Kesunyian kian mencekam. "Arai telah menceritakan kejadiannya. Kini aku ingin
mendengar langsung darimu."
Kaede menyembah dengan gerakan lambat, pikirannya berpacu dengan cepat. Saat
ini ia yang menguasai nasib Arai. Dan Lord Noguchi tak lagi memanggilnya kapten,




41
sebagai tanda penghormatan. Apakah dia mencurigai kesetiaan Arai? Apakah dia tahu
kejadian yang sebenarnya? Jangan jangan ada pengawal yang berkhianat? Jika
membelanya, apakah kami berdua justru akan masuk dalam jebakan?
Arai adalah satu-satunya orang di kastil ini yang memperlakukan aku dengan baik,
pikir Kaede. Aku tak akan mengkhianatinya. Lalu Kaede duduk dan berkata sambil
menunduk, ia berkata dengan nada yang meyakinkan. "Aku ke ruang penjaga di kastil
untuk menyampaikan pesan kepada Lord Arai. Lalu aku mengikuti dia turun; dia
dibutuhkan di istal. Pengawal di gerbang menghalang-halangiku. Saat aku menjauh,
dia menangkapku." Kaede memperlihatkan memar di lengannya, bekas jari jari penjaga
tampak merah keungu-unguan di kulitnya yang putih pucat. "Aku berteriak.
Mendengar teriakanku, Lord Arai datang menolong." Ia kembali membungkuk. 'Aku
berhutang padanya dan juga pada Anda, tuanku, karena telah melindungku." Ia
menunggu dengan kepala di lantai.
"Uuuuh," gerutu Lord Noguchi. Suasana menjadi hening. Beberapa serangga
berdengung di sore yang panas ini. Keringat membasahi alis para laki-laki yang duduk
diam tak bergerak. Kaede bahkan mampu mencium bau keringat mereka yang seperti
bau binatang, dan ia merasakan keringat yang menetes di dadanya. Ia menyadari
bahaya yang ia hadapi. Andai ada penjaga yang membuka rahasia soal belati yang
tertinggal dan ada seorang gadis yang mengambil, menggenggam belati itu... Kaede
langsung membuang pikiran itu jauh-jauh, takut ada yang bisa membaca pikirannya.
Akhirnya Lord Noguchi berkata seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan terkesan
setuju, "Bagaimana dengan kudanya, Kapten Arai?"
Arai mengangkat kepala untuk bicara. Suaranya tenang. "Masih sangat muda dan
berpenampilan menarik. Kuda itu berasal dari peternakan yang bagus dan mudah
dijinakkan."
Mendengar itu, semua orang gembira. Kaede merasa bahwa mereka sedang
menertawai dirinya, dan darah berdesir di pipinya.
"Kau memiliki banyak keahlian, Kapten," kata Lord Noguchi. "Sungguh menyesal




42
bila kami harus kehilangan semua keahlianmu, tapi kurasa isteri dan anak-anakmu
mungkin butuh perhatian untuk sementara, sekitar setahun atau dua tahun..."
"Lord Noguchi," Arai membungkuk tanpa menunjukkan reaksi apa pun.
Bodoh sekali Lord Noguchi ini, pikir Kaede. Ingin aku yakinkan dia agar Arai tetap di
sini, agar dapat kuawasi. Mengirim Arai ke sana hanya akan memberinya kesempatan
untuk memberontak.
Arai mundur keluar, tanpa menoleh ke arah Kaede. Mungkin Noguchi berencana
untuk membunuh Arai saat dia pulang, pikir Kaede dengan sedih. Aku tak akan bertemu
dia lagi.
Suasana tegang agak mencair setelah Arai pergi. Lord Noguchi mendehem untuk
menjernihkan tenggorokkannya. Para prajurit berganti posisi, menyamankan kaki dan
punggung. Kaede merasakan mata mereka tetap menatapnya. Memar di tangannya dan
kernatian penjaga telah membangkitkan gairah mereka. Mereka tidak ada bedanya
dengan si penjaga yang mati.
Pintu di belakangnya terbuka, dan pelayan yang mengantarnya dari kastil ke
kediaman Lord Noguchi datang membawa teh. Dia melayani semua orang dan ketika
hendak keluar, Lord Noguchi membentaknya. Pelayan itu membungkuk dengan
bingung, lalu menyiapkan secangkir teh untuk Kaede.
Kaede minum teh sambil menunduk, mulutnya terasa kering hingga sulit menelan.
Arai telah diasingkan sebagai hukuman, bagaimana dengan dirinya?
"Lady Shirakawa telah bertahun-tahun kau bersama kami. Kau adalah bagian dari
rumah ini."
"Kau telah berjasa padaku, tuanku," balasnya.
"Tapi kurasa kesenangan yang terjadi antara kau dan keluarga ini tidak akan
berlangsung lama. Aku telah kehilangan dua anak buahku karenamu. Aku tidak yakin
bisa menahanmu lebih lama lagi!" Dia tertawa perlahan diikuti dengan tawa para lakilaki.
Dia akan mengirimku pulang! Harapan palsu mendebarkan hatinya.




43
"Kau sudah cukup umur untuk menikah. Semakin cepat semakin baik. Akan
kukabarkan pada orangtuamu siapa calon suamimu. Kau akan tinggal bersama isteriku
hingga hari pernikahanmu."
Kaede membungkuk lagi, tapi ia sempat melihat tatapan antara Lord Noguchi
dengan seorang laki-laki yang lebih tua. Pasti dengan orang itu, pikirnya, atau dengan
laki-laki yang seperti orang itu: tua, tamak, dan keiam. Gagasan untuk menikah dengan
siapa pun membuat Kaede takut. Bahkan membayangkan kalau ia akan diperlakukan
lebih baik di rumah Noguchi tetap membuatnya tidak bersemangat.
Junko menemani Kaede kembali ke ruangan, lalu menuntunnya ke kamar mandi.
Hari mulai senja dan Kaede merasa letih. Junko memandikan, dan menggosok
pimggung serta kaki Kaede dengan butiran beras.
'Aku akan mencuci rambutmu besok," janji Junko. "Rambutmu terlalu panjang dan
tebal bila dicuci malam ini. Sulit kering dalam waktu singkat, dan kau pun akan
kedinginan."
"Lebih baik aku mati kedinginan," kata Kaede. "Itu yang terbaik untukku."
"Jangan berkata seperti itu," tegur Junko seraya membantu Kaede masuk ke bak
mandi untuk berendam di air hangat. "Kau akan memiliki hidup yang indah. Kau
sangat cantik! Kau akan menikah dan mempunyai banyak anak."
Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Kaede dan berbisik, "Kapten Arai
menyampaikan rasa terima kasih karena kau telah membelanya. Dia menyuruhku
melindungimu."
Apa yang bisa dilakukan wanita di dunia laki-laki ini? pikir Kaede. Perlindungan
macam apa yang kami punya? Apakah ada yang dapat menjagaku?
Kaede teringat bayangan wajahnya di kaca dan tak sabar ingin melihatnya lagi.*




44
SETIAP sore selalu ada burung bangau yang datang ke taman, mengapung bak hantu
kelabu di kolam, melipat tubuhnya dengan cara yang menakjubkan, dan berdiri di
Icolam yang sedalam paha, tenang tidak bergerak layaknya patung Jizo. Di kolam itu
ada banyak ikan mas merah keemasan yang sering diberi makan oleh Lord Otori,
walaupun ikan itu nampak terlalu gemuk untuk selalu diberi makan. Bangau itu diam
tidak bergerak selama beberapa saat hingga ikan-ikan lupa kehadirannya dan berani
bergerak. Lalu sang bangau menyambar ikan itu dengan cepat, lebih cepat dari .
gerakan mata, kemudian terbang membawa ikan yang masih menggelepar di paruhnya.
Kepakan sayapnya yang pertama terdengar sekencang suara kipas, dan kemudian
bangau itu terbang dengan hening, sehening saat dia datang.
Hari-hari masih terasa panas di musim gugur yang melelahkan ini. Di satu sisi kau
tidak sabar menanti semua ini berakhir, namun di sisi lain kau tidak ingin semua ini
berlalu karena hawa panas yang menusuk ini adalah penghujung musim.
Sebulan sudah aku di rumah Lord Otori. Musim panen telah berlalu, banyak
tumpukan jerami kering di sawah dan di sekitar rumah petani. Lili merah musim gugur
mulai layu. Buah persimmon menguning, daunnya mulai rapuh berguguran, dan kulit
chestnut terserak di jalan, memuntahkan isinya yang mengkilap. Bulan purnama musim
gugur datang dan pergi. Chiyo meletakkan chestnut, jeruk, dan beras di kuil sebagai
persembahan. Aku ingin tahu apakah ada orang yang melakukan hal serupa di desaku
saat ini.
Pelayan mengumpulkan berbagai bunga hutan, dan diletakkan berdiri di buket
yang berada di sisi luar antara dapur dan kamar mandi, baunya yang harum menutupi




45
bau masakan, sampah, dan juga bau kotoran manusia. .
Aku belum bisa bicara. Mungkin aku masih bersedih. Begitu pula di rumah Otori,
semua orang bukan hanya berduka atas kematian adik Lord Otori, tapi juga atas
kematian ibunya akibat penyakit yang terjadi di musim panas lalu. Chiyo yang
menceritakan tentang keluarga ini padaku. Sebagai anak sulung, Shigeru turut
membantu ayahnya dalam perang melawan Tohan di Yaegahara. Dan ketika kalah,
salah satu syaratnya yaitu Shigeru tidak boleh mewarisi kepemimpinan klan dari
ayahnya. Dan pamannya, Shoichi dan Masahiro, yang Iida tunjuk sebagai pemimpin
klan.
"Iida Sadamu sangat membenci Lord Shigeru," kata Chiyo. "Dia iri dan takut
padanya."
Shigeru juga dibenci kedua pamannya karena dia adalah pewaris sah klan Otori.
Saat ini Shigeru menarik diri dari kancah politik dan mengabdikan dirinya bagi tanah
leluhurnya, mencoba berbagai metoda bercocok tanam. Dia menikah muda. Isterinya
meninggal dua tahun kemudian pada saat melahirkan, dan sang bayi turut meninggal
bersama ibunya.
Meskipun hidupnya penuh penderitaan, namun Lord Shigeru tidak pernah
menunjukkannya. Aku tidak akan tahu jika tidak diceritakan Chiyo. Hampir setiap
hari aku bersama Shigeru, mendampinginya berkeliling layaknya seekor anjing di sisi
tuannya, kecuali saat aku belajar pada Ichiro.
Hari-hari berlalu dengan sangat menjemukan. Ichiro mengajariku baca-tulis, dan
jika tidak bisa menulis dan membaca apa yang diajarkan, aku dimarahi. Dia juga
tampak tidak menyetujui gagasan untuk menerimaku menjadi anggota klan. Pemimpin
Otori juga menentang gagasan itu dengan alasan: Lord Shigeru sebaiknya menikah
lagi, karena dia masih muda, dan pengangkatan itu dirasa terlalu dini setelah kematian
ibunya. Semua keberatan itu tampak tak ada habisnya. Kurasa Ichiro sependapat
dengan para pemimpin Otori, dan bagiku, itu ada benarnya. Aku giat belajar agar Lord
Shigeru tidak kecewa, meskipun aku tak yakin mampu belajar dengan keadaanku saat




46
ini.
Hampir setiap sore Lord Shigeru mengajakku duduk di depan jendela, melihat ke
taman. Tak banyak yang dia katakan, tapi dia selalu mengamatiku. Dia seperti
menunggu sesuatu: menungguku bicara atau menungguku memberi suatu pertanda—
tapi aku tidak tahu apa itu. Hal ini membuatku gelisah, aku takut telah membuatnya
kecewa, dan ini makin membuatku sulit belajar.
Suatu sore Ichiro datang ke ruang atas dan mengeluhkan tentang diriku. Tadi pagi
dia begitu gusar hingga hampir saja memukulku. Aku sedang duduk di sudut ruangan
dengan kesal, sambil mencoret-coret beberapa bentuk huruf yang dia ajarkan tadi pagi,
aku berusaha dengan putus asa untuk mengingat berbagai bentuk huruf itu.
"Kau membuat kesalahan," ujar Ichiro. "Tidak ada yang berprasangka buruk jika
kau mau mengakui itu. Semua orang mengerti bahwa kau baru saja kehilangan adikmu.
Kirim saja anak itu ke desanya dan lanjutkan lagi hidupmu."
Dan biarkan aku melanjutkan lagi hidupku. Itu kira-kira maksud Ichiro. Ia tidak
pernah membiarkan aku lupa dengan pengorbanan yang telah dia lakukan saat
berusaha mengajariku.
"Kau tak bisa menciptakan orang seperti Lord Takeshi," tambahnya dengan nada
yang lebih lembut. "Dia adalah hasil didikan dan pelatihan selama bertahun-tahun dan
berasal dari keturunan yang terbaik untuk mempelajari semua itu."
Aku cemas Ichiro berhasil memperoleh keinginannya. Lord Shigeru terikat pada
Ichiro dan Chiyo dalam suatu hubungan tugas dan tanggung jawab, begitu pun
sebaliknya. Meskipun Lord Shigeru berkuasa di rumah ini, namun Ichiro juga
memiliki pengaruh dan dia tahu cara menggunakannya. Di sisi lain, kedua pamannya
memiliki kuasa atas Lord Shigeru. Dia harus patuh pada perintah pemimpin klan.
Tidak ada alasan untuk mempertahankan diriku.
"Lihat bangau itu, Ichiro," kata Lord Shigeru. "Lihat kesabarannya. Bangau itu
diam tidak bergerak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku juga memiliki
kesabaran yang sama, kesabaran yang tak kenal lelah."




47
Bibir Ichiro terkatup rapat dengan raut muka masam seperti masamnya acar plum
kesukaannya. Di saat vang sama, bangau itu menyambar mangsanya dan kemudian
mengepakkan sayapnya, terbang.
Kelelawar mulai keluar dari tempat persembunyianiiva. Kuangkat kepala dan
melihat dua ekor kelelawar wrbang saling menyambar di taman. Aku mendengar Ichiro
sedang berkeluh-kesah dan Lord Shigeru menjawab dengan singkat, dengan sabar.
Aku dengar percakapan itu dari ruangan lain. Kini aku mulai terbiasa dengan
pendengaranku yang semakin tajam. Aku belajar menyaring suara yang tidak ingin
kudengar. Aku tidak memberitahukan kalau aku bisa mendengar semua percakapan di
rumah ini. Tak ada yang tahu kalau aku mampu mendengar apa yang mereka
bicarakan.
Saat ini aku sedang mendengar bunyi air mendidih yang siap dituang ke bak
mandi, gemerincing bunyi piring di dapur, desau pisau juru masak yang sedang
memotong, langkah seorang gadis yang memakai kaus kaki di teras, ringkik kuda di
istal, seekor kucing yang sedang memberi makan keempat anaknya yang tidak pernah
kenyang, bunyi bakiak di jembatan kayu, suara anak-anak bernyanyi, dan bunyi
lonceng dari kuil Tokoji dan Dalshoin. Aku mengenal seluruh bunyi-bunyian di rumah
ini, siang maupun malam, dikala matahari bersinar maupun di saat hujan deras.
Malam ini aku merasa seperti ada sesuatu yang tak biasa. Sesuatu yang akan terjadi.
Sesuatu yang aku pun seperti menantinya. Kenapa? Setiap malam sebelum tertidur aku
selalu membayangkan pemandangan bukit, kepala yang hancur, dan orang berwajah
serigala yang sedang memegang lengannya yang terpotong. Aku dapat melihat Iida
Sadamu di tanah, dan mayat ayah tiriku dan Isao. Apakah aku sedang menunggu Iida
dan orang berwajah serigala itu datang menangkapku? Ataukah aku sedang menunggu
kesempatan untuk balas dendam?
Dari waktu ke waktu aku tetap berdoa dengan cara kaum Hidden, dan malam ini
aku berdoa agar ditunjukkan jalan yang harus kutempuh. Aku tetap tak bisa tidur.
Udara terasa lembab dan separuh bulan bersembunyi di balik kumpulan awan tebal.




48
Serangga malam sibuk bernyanyi tanpa pernah merasa lelah. Aku mendengar langkah
cicak yang sedang memburu serangga. Ichiro dan Lord Shigeru sudah terlelap. Ichiro
mendengkur. Aku tidak ingin meninggalkan rumah yang mulai aku cintai ini, tapi
tampaknya aku hanya membawa masalah. Mungkin akan lebih baik bagi semua orang
bila aku menghilang malam ini.
Jika aku pergi tanpa tujuan yang pasti—apa yang dapat kulakukan?—aku mulai
memikirkan cara menyelinap tanpa membangunkan penjaga dan tanpa membuat
anjing menggonggong. Saat memikirkan ini, aku berusaha mendengar gonggongan
anjing. Biasanya aku selalu mendengar gonggongan yang bersahut-sahutan, tapi aku
belajar untuk mengabaikannya. Kali ini aku berusaha mendengar, tapi tetap saja tidak
terdengar gonggongan. Aku berusaha mendengar suara penjaga: langkah kaki di
bebatuan, dentingan besi, atau pun percakapan berbisik. Keadaan sangat sunyi. Suara
yang biasanya selalu terdengar setiap malam kini tidak terdengar lagi.
Aku menjadi waspada. Kupasang telinga untuk mendengarkan riak air di taman.
Arus sungai sangat tenang—hujan tak lagi turun sejak berganti bulan.
Lalu terdengar bunyi yang pelan, seperti getaran, di mitara jendela dan tanah.
Sejenak aku mengira ada gempa bumi, seperti yang sering terjadi di wilayah
Tengah. Getaran halus itu terus terdengar.
Ada yang memanjat sisi samping rumah ini.
Naluriku mengatakan kalau aku harus berteriak, tapi akal sehatku langsung
mengambil alih. Teriakan bukan hanya akan membangunkan seluruh penghuni rumah
ini, si penyusup pun akan waspada. Aku bangkit dari alas tempat tidur dan merangkak
pelan ke sisi Lord Shigeru. Aku sangat mengenal lantai rumah ini, aku tahu bagian
mana yang akan berbunyi bila diinjak. Aku berlutut di sampingnya dan seakan-akan
tidak pernah kehilangan suara, aku berbisik, "Lord Shigeru, ada orang di luar."
Dia langsung terbangun, memandangku sejenak lalu meraih pedang dan belati
yang tergeletak di sampingnya. Aku menunjuk ke arah jendela. Getaran kini mulai
terasa lagi, terdengar seperti berat tubuh yang bergeser di sisi rumah.




49
Lord Shigeru memberiku belati lalu dia mendekat ke dinding dengan perlahan.
Dia tersenyum padaku sambil menunjuk, aku bergerak ke sisi lain jendela. Kami menunggu
si penyusup masuk.
Selangkah demi selangkah orang itu memanjat dinding, tidak bersuara dan sangat
perlahan, seakan-akan waktu di dunia ini hanyalah miliknya. Dia melangkah dengan
penuh percaya diri seolah-olah tak akan ada orang yang tahu kehadirannya. Kami
menunggu dengan sabar, seperti bermain petak-umpet. Hanya saja, akhir dari semua
ini bukanlah suatu permainan.
Penyusup itu berhenti di jendela untuk mengeluarkan garotte*. Begitu dia meloncat
masuk, Lord Shigeru langsung mencekiknya. Licin seperti belut, si penyusup berkelit
ke belakang. Aku melompat ke arahnya, namun belum sempat aku tusuk dengan belati,
kami bertiga jatuh ke taman, ribut seperti kucing sedang berkelahi.
Laki-laki itu terjatuh lebih dulu, melintang di parit, kepalanya membentur batu
yang besar. Lord Shigeru mendarat di tanah dengan kaki, sedangkan aku terjatuh di
semak-semak, belatiku terlempar. Saat aku sedang mencari-cari belati, si penyusup
berteriak, berusaha berdiri, tapi dia tergelincir dan terjatuh ke sungai. Dia tenggelam;
dia jatuh di bagian sungai yang dalam. Lord Shigeru menariknya; memukul wajahnya
dan berteriak, "Siapa? Siapa yang menyuruhmu? Darimana asalmu?"
Penyusup itu mengerang lagi, napasnya tersengal-sengal, parau seperti suara
mendengkur.
"Ambil lampu," perintah Lord Shigeru padaku. Aku mengira semua penghuni di
rumah ini sudah terbangun, tapi karena perkelahian itu terjadi begitu cepat dan tenang,
sehingga mereka semua masih tertidur. Aku berlari ke rumah pelayan.
"Chiyo," panggilku. "Bawakan lampu, bangunkan semua laki-laki!"
"Siapa itu?" balasnya dengan suara mengantuk. Dia tidak mengenali suaraku.
"Ini aku, Takeo! Cepat bangun! Ada yang ingin membunuh Lord Shigeru!"
Kuambil lampu yang masih menyala dan membawanya ke taman.
Penyusup itu tak sadarkan diri. Lord Shigeru berdiri sambil memandang ke arah




50
orang itu. Aku mendekatkan lampu ke orang itu. Orang ini memakai pakaian hitam
tanpa simbol atau tanda. Tinggi dan ukuran badannya sedang, rambutnya pendek. Tak
ada ciri-ciri yang dapat menunjukkan identitasnya.
Di belakang kami terdengar hiruk-pikuk orang yang terbangun, mereka menjerit
saat melihat dua penjaga yang tewas akibat garrotte, juga tiga anjing yang mati diracun.
Ichiro keluar dalam keadaan pucat dan gemetar. "Siapa yang berani melakukan
ini?" dia berkata. "Di rumahmu, di jantung kota Hagi? Ini adalah penghinaan bagi klan
Otori!"
"Kecuali bila pemimpin klan Otori yang menyuruhnya," balas Lord Shigeru pelan.
"Sepertinya ini perbuatan Iida," kata Ichiro. Dia melihat belati yang ada dalam
genggamanku dan langsung mengambilnya. Dia mengiris pakaian hitam dari leher
sampai pinggang sehingga punggung laki-laki itu terlihat. Ada bekas luka goresan
pedang yang melintang di bahunya, dan di punggungnya ada tato dengan pola gambar
yang halus. Bersinar seperti ular di bawah cahaya lampu.
"Dia pembunuh bayaran," kata Lord Shigeru, "dari kalangan Tribe. Pasti ada yang
membayarnya."
"Ini pasti perbuatan Iida! Dia pasti tahu kau telah mengambil bocah incarannya!
Kini kau akan menyingkirkannya?"
"Jika bukan karena dia, orang ini pasti telah berhasil membunuhku," balas Lord
Shigeru. "Dia yang membangunkanku di saat yang tepat... Dia berbicara padaku!"
teriaknya ketika sadar kalau aku sudah bisa bicara. "Dia yang berbisik padaku,
membangunkan aku!"
Ichiro nampak tidak terkesan. "Sadarkah kau mungkin saja dia sasarannya, dan
bukan dirimu?"
"Lord Otori," kataku, suaraku parau karena telah berminggu-minggu tidak bicara.
"Kehadiranku hanya membawa bencana. Biarkan aku pergi, perintahkan aku pcrgi."
Meskipun aku yang meminta, aku tahu dia tak akan melepaskanku. Aku telah
menyelamatkannya, seperti juga dia menyelamatkanku, dan ikatan antara kami justru




51
semakin kuat.
Ichiro mengangguk setuju, namun Chiyo berkata, "Maaf, Lord Shigeru. Aku tahu
ini tak ada hubungannya denganku dan aku hanyalah seorang wanita tua yang bodoh.
Tapi tidak benar Takeo hanya membawa bencana. Sebelum dia datang, kau selalu
bersedih. Kini kau telah pulih. Anak ini membawa kegembiraan, harapan, dan juga
bahaya. Siapa yang bisa meraih kebahagiaan tanpa ada pengorbanan?"
"Bagaimana mungkin aku tak menyadari itu?" balas Lord Shigeru. "Takdir telah
menyatukan hidup kami berdua. Aku tak kuasa melawannya, Ichiro."
"Semoga saja otak anak itu pulih seiring pulihnya suaranya," jawab Ichiro tajam.
Si penyusup mati tanpa sempat siuman. Ternyata dia mempunyai sebutir racun di
mulutnya dan tertelan saat terjatuh. Tak ada yang tahu identitasnya, meskipun banyak
rumor yang berkembang. Penjaga yang tewas dikubur dengan upacara khidmat penuh
duka, namun hanya aku yang berduka atas kematian anjing-anjing itu. Aku bertanyatanya
kesepakatan apa yang anjing-anjing itu buat, sumpah setia apa yang telah mereka
janjikan sehingga terperangkap di antara perseteruan manusia sehingga menjadi
korban. Anjing-anjing di sini tidak dilatih untuk menerima makanan hanya dari satu
orang agar tidak bisa diracun. Ada beberapa penjaga yang memberi makan anjinganjing
itu. Lord Shigeru hidup sederhana dan hanya ada sedikit penjaga, meskipun
banyak orang yang bersedia melayaninya dengan senang hati, dan jumlahnya cukup
untuk menjadi satu pasukan, seandainya dia mau.
Usaha pembunuhan itu tidak membuat Lord Shigeru gelisah atau tertekan. Dia
bahkan terlihat gembira karena lolos dari kematian. Dia nampak "mengawang-awang"
persis seperti saat dia bertemu Lady Maruyama. Dia senang karena suaraku pulih dan
juga pendengaranku yang tajam.
Sikap Ichiro kepadaku mulai melunak. Apa pun alasannya, sejak peristiwa itu,
belajar menjadi lebih mudah bagiku. Aku mulai mengingat dan memahami makna
huruf. Aku bahkan mulai menikmatinya, semua mengalir seperti air. Aku tidak
mengatakan pada Ichiro kalau aku senang menggambar.




52
Ichiro guru yang sangat hebat, terkenal karena keindahan tulisan tangannya dan
kedalaman pelajarannya. Dia terlalu hebat untuk mengajariku. Aku bukan murid yang
berbakat, namun kami berdua tahu kemampuanku meniru perilaku. Aku berperan
sebagai murid dengan baik, sama baiknya seperti aku meniru cara dia melukis dengan
gerakan bahu, bukan dengan pergelangan tangan. Lukisanku cukup memuaskan.
Hal yang sama terjadi saat Lord Shigeru mengajariku menggunakan pedang. Aku
cukup kuat dan lincah, mungkin di atas rata-rata anak seusiaku, tapi aku telah
kehilangan masa-masa belajar sewaktu kecil. Anak seorang ksatria telah diajari
berpedang, memanah dan herkuda sejak kecil, namun aku sadar kalau aku tak akan
dapat memperbaiki semua itu.
Menunggang kuda pun tak terasa sulit. Saat aku melihat Lord Shigeru dan lakilaki
lain menunggang kuda, aku langsung tahu kalau itu hanyalah masalah
keseimbangan. Aku menirukan apa yang kulihat dan kuda pun tampaknya tidak
menolak. Aku juga sadar bahwa kuda adalah hewan yang pemalu dan mudah gugup.
Aku harus bergaya seperti bangsawan, menyembunyikan perasaan dan berpura-pura
tenang serta tahu pasti apa yang akan kulakukan sehingga kuda akan tenang dan
senang saat ditunggangi.
Aku diberi seekor kuda berwarna abu-abu pucat dengan surai yang berwarna gelap.
Kuda itu kuberi iiama Raku. Kami menjadi akrab. Aku tidak mengikuti pelajaran
memanah, tapi ketika latihan pedang aku meniru gerakan Lord Shigeru, hasilnya tidak
mengecewakan. Aku diberi sebilah pedang panjang yang kuselipkan dibaju baruku,
sama seperti yang dimiliki anak seorang ksatria. Namun, selain pedang dan pakaian,
aku sadar bahwa aku hanyalah seorang peniru ksatria.
Minggu demi minggu berlalu. Orang-orang mulai menerima keinginan Lord
Shigeru untuk mengangkatku, dan sedikit demi sedikit sikap mereka mulai berubah.
Mereka memanjakan, menggoda, serta mengomel sama banyaknya. Aku tak diijinkan
keluar sendirian, meskipun ada waktu lengang di sela-sela waktu belajar dan berlatih.
Tapi kegemaranku untuk menjelajah tak pernah mati, dan setiap ada kesempatan




53
untuk menyelinap, aku akan menjelajahi kota Hagi. Aku suka sekali pergi ke
pelabuhan, dari sana aku bisa melihat kastil di barat dan gunung berapi di timur
sehingga teluk nampak seperti cangkir di dua tangan. Aku memandangi laut dan
pulau-pulau yang melegenda terbentang di atas horison seraya merasa cemburu pada
para pelaut dan nelayan yang kulihat.
Ada saru perahu yang selalu kuamati. Seorang anak seumur denganku bekerja di
sana. Namanya Terada Fumio. Ayahnya berasal dari keluarga ksatria klas rendah yang
lebih memilih untuk berdagang dan memancing daripada mati kelaparan. Chiyo
mengenal keluarga itu, tidak heran dia dapat menceritakan tentang mereka. Aku sangat
mengagumi Fumio. Dia bisa berenang dan mengenal laut serta sungai dalam berbagai
kondisi, sedangkan aku belum bisa berenang. Saat pertama kali bertemu, Fumio hanya
mengangguk, namun setelah beberapa minggu kami menjadi sahabat karib. Aku sering
naik ke kapalnya, kami duduk sambil makan jeruk, lalu memuntahkan bijinya ke laut.
Kami berbincang tentang berbagai hal yang biasa dibicarakan oleh anak seusiaku.
Lambat-laun kami berbincang tentang pemimpin Otori; Terada membenci
kesombongan dan ketamakan mereka. Penduduk menderita akibat tingginya pajak dan
tempat berdagang yang dibatasi. Kami membahas masalah ini dengan suara perlahan di
sisi perahu yang menjorok ke Iaut. Mata-mata ada di mana-mana, katanya.
Pada suatu sore, Ichiro dipanggil seorang saudagar untuk menyelesaikan
perhitungan. Setelah menunggu beberapa saat, aku lalu menyelinap pergi karena yakin
Ichiro belum akan pulang untuk waktu lama. Saat ini udara sejuk dan penuh bau jerami
yang dibakar. Kabut yang menggantung di atas ladang yang terletak di antara sungai
dan gunung berwarna emas keperakan. Tadi Fumio mengajariku berenang, tak heran
rambutku basah dan tubuhku menggigil kedinginan. Aku membayangkan air panas
dan aku ingin tahu apakah Chiyo akan memberiku sesuatu untuk dimakan sebelum
waktu makan malam tiba, atau mungkin suasana hati Ichiro sedang buruk sehingga dia
akan memukulku. Dari jalan, aku berusaha mendengar kejadian di rumah, seperti yang
biasa kulakukan. Terdengar nada yang berbeda dari biasanya.




54
Aku seperti mendengar ada sesuatu yang lain, sesuatu yang memaksaku berhenti
dan melihat dua kali ke sudut dinding sebelum masuk ke gerbang. Aku tidak menduga
kalau ada orang di sana, namun sekilas aku melihat ada orang yang sedang berjongkok
di atap.
Jaraknya hanya beberapa meter di seberang jalan. Aku yakin dia sedang
memperhatikanku. Kemudian dia berdiri dengan perlahan seakan-akan menunggu aku
mendekat.
Dia seperti kebanyakan orang, tidak tinggi tapi juga tidak pendek, bentuk
tubuhnya biasa saja, rambutnya beruban, kulit mukanya pucat, dan penampilannya sulit
diingat. Bahkan saat aku melihatnya lagi, penampilannya nampak seperti berubah. Ada
yang luar biasa pada dirinya, tapi aku tak tahu apa itu.
Dia memakai pakaian lusuh yang berwarna abu-abu kebiru-biruan dan tidak
membawa senjata. Dia tidak mirip pekerja atau pedagang atau seorang ksatria. Aku tak
tahu status yang sesuai untuknya, namun instingku mengatakan bahwa dia sangat
berbahaya.
Ada sesuatu pada orang itu yang membuatku tertarik. Aku tak akan lewat begitu
saja tanpa menyadari kehadirannya. Aku jauh di seberang jalan, dan sedang mengirangira
jarak ke gerbang, penjaga, dan anjing penjaga.
Dia mengangguk lalu tersenyum. "Selamat siang, tuan muda!" dia menyapa dengan
suara rendah. "Kau benar bila tidak mempercayaiku. Menurut kabar, kau memang
cerdas. Tapi aku tak akan menyakitimu, aku janji."
Kurasa ucapannya sama liciknya seperti penampilannya sehingga aku tidak
menanggapi.
"Aku ingin berbicara denganmu," ucapnya, "dan juga dengan Shigeru."
Aku kaget mendengar dia menyebut nama Lord Shigeru seperti sahabat karibnya.
"Apa yang hendak kau bicarakan?"
"Aku tak mau berbicara sambil berteriak," balasnya sambil tertawa. "Ayo kita bicara
di gerbang."




55
"Kau jalan dari seberang sana, dan aku dari sini," kataku sambil mengamati
tangannya, berjaga jaga jika dia mengambil senjata rahasia. "Aku akan menyampaikan
pada Lord Otori bahwa kau ingin menemuinya dan hiar dia yang memutuskan apakah
dia mau bertemu denganmu atau tidak."
Orang itu tersenyum sambil mengangkat bahu, lalu kami berjalan terpisah ke
gerbang. Dia berjalan dengan santai seakan sedang jalan jalan sore, sedangkan aku
gelisah seperti kucing yang sadar akan ada badai. Setelah sampai di gerbang dan para
penjaga menyapa kami, orang itu terlihat lebih tua dan lebih lusuh. Dia tampak seperti
orang tua yang lemah. Aku merasa malu karena tidak mempercayainya.
"Kau dalam masalah, Takeo," kata seorang penjaga. "Ichiro mencarimu!"
"Hei, kek," penjaga lainnya memanggil laki-laki tua itu. "Apa yang kau cari,
semangkuk mie atau yang lain?"
Orang itu memang kelihatan seperti pengemis. Dia menunggu dengan gaya seperti
pengemis, tak berkata apa-apa, hanya menunggu di gerbang.
"Di mana kau temukan dia, Takeo? Kau mudah sekali iba, itulah masalahmu!
Suruh dia pergi!"
"Aku telah berjanji untuk menyampaikan pesannya kepada Lord Otori, dan akan
kulakukan itu," balasku. "Tapi, awasi setiap gerakannya, dan jangan biarkan dia
masuk."
Aku melihat ke orang itu dan berkata, "Tunggu di sini," dan terlihat seperti ada
cahaya keluar dari dirinya. Dia seperti membiarkan aku melihat sisi dirinya yang dia
sembunyikan dari para penjaga. Semula aku cemas membiarkan dia dengan penjaga,
tapi aku ingat bahwa kedua penjaga itu membawa pedang. Mereka pasti bisa
menghadapi seorang laki-laki tua.
Aku menerobos taman, melempar sandalku, kemudian menaiki anak tangga hanya
dalam dua lompatan. Lord Shigeru sedang duduk di ruang atas sambil memandangi
taman.
"Takeo," katanya, "Aku sedang memikirkan untuk membangun sebuah ruang




56
minum teh di taman."
"Lord..." aku tidak melanjutkan perkataanku karena ada sesuatu yang bergerak di
taman. Semula aku menduga itu bangau, berdiri tegak dan berwarna abu-abu. Namun
setelah aku perhatikan, ternyata yang berdiri itu adalah orang tua yang kutinggalkan di
pintu gerbang.
"Ada apa?" tanya Lord Shigeru ketika melihat raut wajahku.
Aku takut akan adanya percobaan pembunuhan untuk yang kedua kalinya. "Ada
orang di taman," aku berteriak, "Awasi dia!" Lalu aku teringat pada kedua penjaga.
Aku berlari turun dan keluar rumah. Jantungku berdebar kencang ketika sampai di
gerbang. Semua anjing baik-baik, mereka kegirangan saat melihatku, ekor mereka
mengibas-ngibas senang. Aku berteriak, dan para penjaga datang dengan keheranan.
"Ada apa, Takeo?"
"Kalian biarkan dia masuk!" kataku dengan marah. "Orang itu kini ada di taman."
"Tidak, dia masih ada sana."
Mataku mengikuti arah yang mereka tunjuk dan aku merasa seperti orang bodoh.
Aku benar-benar melihat dia duduk dengan sopan, sabar dan tidak berbahaya. Tapi
saat aku melihat lagi, ternyata orang itu sudah tidak ada.
"Dasar bodoh!" kataku. "Bukankah sudah kubilang kalau dia berbahaya? Bukankah
sudah kubilang agar kalian tidak membiarkan dia masuk? Kalian memang bodoh, dan
kalian sebut diri kalian Otori? Pulang saja dan jaga ayam, dan sudah pasti musang akan
melahap semua ayam!"
Mereka terpana melihatku. Kurasa tak seorang pun di rumah ini pernah
mendengar aku berbicara begitu panjang. Aku marah karena merasa bertanggung
jawab atas keselamatan mereka. Tapi mereka harus patuh. Aku hanya bisa melindungi
mereka bila mereka patuh.
"Beruntung kalian masih hidup!" lalu aku mencabut pedang dan berlari mencari
orang itu.
Orang itu sudah tidak ada di taman. Saat aku ragu apakah tadi hanyalah halusinasi




57
saat melihat dia di taman, aku mendengar orang berbincang di ruangan atas. Lord
Shigeru menyebut namaku. Sepertinya dia tidak dalam bahaya—dia sedang tertawa.
Ketika aku masuk dan membungkuk hormat, orang tua itu sedang duduk bersama
Lord Shigeru sambil tertawa, seakan-akan mereka sahabat lama. Orang asing itu tidak
lagi terlihat tua. Dia hanya beberapa tahun lebih tua dari Lord Shigeru, dan kini dia
tampak lebih terbuka dan hangat.
"Jadi, dia tidak mau jalan berdampingan denganmu, eh?" kata Lord Shigeru.
"Benar. Dan dia bahkan menyuruhku menunggu di luar." Mereka tertawa
terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk alas lantai dengan telapak tangan. "Oh ya, Shigeru,
kau seharusnya melatih penjaga dengan lebih baik. Takeo benar dengan
memarahi mereka."
"Dia selalu benar selama ini," kata Lord Shigeru dengan nada bangga.
"Dia hanya satu dalam seribu—dia memang terlahir seperti itu, bukan melalui
latihan. Dia pasti berasal dari Tribe. Duduk tegak Takeo, aku ingin melihatmu."
Aku mengangkat kepala dari lantai dan duduk bertumpu pada kedua tumitku.
Wajahku memerah karena merasa telah dipermainkan. Dia tidak bicara, dia hanya
mengamatiku.
Lord Shigeru berkata padaku. "Dia adalah Muto Kenji, teman lamaku."
"Lord Muto," kataku sopan tapi dingin, berusaha tidak menunjukkan perasaanku.
"Jangan panggil aku Lord," kata Kenji. "Aku bukan bangsawan, walaupun temanku
banyak yang bangsawan." Dia mendekat. "Perlihatkan tanganmu."
Dia memegang tangan kanan dan tangan kiriku secara bergantian, melihat
punggung tanganku lalu telapak tangan.
"Dia mirip Takeshi," ujar Lord Shigeru.
"Uuuuh. Dia memang mirip wajah orang Otori." Kenji mundur ke posisi duduknya
yang semula dan menatap taman. Warna-warni di akhir musim gugur intilai luluh.
Hanya pohon maple yang tetap berwarna mcrah berkilauan. "Aku turut berduka atas
kematian keluargamu," ucapnya.




58
"Aku ingin mati saat itu," balas Lord Shigeru. "Tapi seiring dengan berjalannya
waktu, aku menyadari keinginanku untuk tetap hidup. Aku tidak dilahirkan untuk
berputus asa."
"Ya, tentu saja," Kenji menyetujui dengan nada bersahabat. Mereka memandang
keluar dari jendela yang terbuka. Udara musim gugur terasa dingin, hembusan angin
mengguncang pohon maple hingga daunnya berguguran dan jatuh ke parit. Warna
daunnya berubah menjadi merah gelap di dalam air, sebelum terbawa arus ke sungai.
Ingin sekali aku mandi di air panas.
Kenji memecah kesunyian. "Bagaimana anak yang mirip Takeshi ini, walaupun
sudah pasti berasal dari Tribe, bisa bersamamu, Shigeru?"
"Kau datang dari jauh hanya untuk menanyakan ini?" balas Shigeru sambil
tersenyum tipis.
"Aku tidak keberatan mengatakan alasanku ingin tahu. Menurut kabar angin, ada
seorang penyusup yang memanjat rumahmu. Akibatnya, salah seorang pembunuh yang
paling berbahaya di Tiga Wilayah tewas."
"Kami merahasiakan hal ini," ujar Lord Shigeru.
"Kami merasa perlu untuk mengungkap rahasia ini. Apa yang Shintaro lakukan di
rumahmu?"
"Dia hendak membunuhku," balas Lord Shigeru. "Jadi, namanya Shintaro. Aku
memang sudah curiga, tapi kami tidak memiliki bukti." Setelah beberapa saat dia
menambahkan. "Pasti ada yang ingin aku mati. Apakah dia suruhan Iida?"
"Shintaro memang pernah bekerja pada Tohan. Tapi kurasa Iida tidak akan
membunuhmu secara diam-diam. Melihat perilakunya, Iida pasti lebih senang
melihatmu mati di depan matanya. Siapa lagi yang menginginkan kematianmu?"
"Aku mencurigai satu atau dua orang," jawab Lord Shigeru.
"Sulit dipercaya Shintaro sampai gagal melakukan tugasnya," lanjut Kenji. "Kami
harus tahu tentang anak yang menggagalkan Shintaro. Di mana kau bertemu
dengannya?"




59
"Kabar angin apa yang kau dengar?" tantang Lord Shigeru sambil tersenyum.
"Menurut kabar yang bisa dipercaya: ia salah seorang kerabat jauh ibumu; menurut
kabar yang sulit dipercaya, kau telah kehilangan akal sehat dan yakin bahwa dia
penjelmaan Takeshi; kabar lain menyebut bahwa dia adalah anakmu dari seorang
wanita petani di Timur."
Lord Shigeru tertawa, "Umurku belum dua kali lipat dari usia anak ini. Dan itu
artinya aku telah menjadi ayahnya ketika umurku dua belas tahun. Dia bukan anakku."
"Tentu saja bukan, dan aku juga tidak percaya dia adalah kerabatmu atau
penjelmaan Takeshi. Lagipula dia pasti dari Tribe. Di mana kau bertemu dengannya?"
Salah seorang pelayan, Haruka, datang menyalakan lampu, dan seekor serangga
besar berwarna biru kehijauan telah melakukan kesalahan besar ketika masuk ke
ruangan ini dan terbang ke arah sumber cahaya. Aku herdiri menangkapnya, lalu
kulepaskan serangga itu di kegelapan malam, setelah itu aku menutup pintu sebhelum
kembali duduk.
Lord Shigeru masih belum menjawab pertanyaan Kenji saat Haruka datang lagi
membawa teh. Kenji tidak marah atau frustasi, dia bahkan mengagumi mangkuk teh
buatan penduduk yang bercorak merah jambu. Dia minum teh tanpa berkata, tapi
selalu mengamatiku.
Akhirnya dia bertanya padaku. "Jawab Takeo, waktu anak-anak, pernahkah kau
tarik bekicot dari tempurungnya atau mencabut capit ketam?"
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. "Mungkin," kataku sambil pura-pura
minum, walaupun sebenarnya mangkukku sudah kosong.
"Pernahkah?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Karena ibuku mengatakan itu perbuatan kejam."
"Sudah kuduga." Nada suaranya terdengar sedih seolah-olah dia kasihan padaku.
"Hati anak ini amat lembut, ada rasa enggan untuk berbuat kejam. Dia pasti dibesarkan




60
di antara kaum Hidden."
"Sejelas itukah?" tanya Lord Shigeru.
"Hanya bagiku." Kenji lalu duduk bersila, matanya menyipit, dan tangannya di atas
lutut. "Kini aku tahu siapa dia."
Lord Shigeru menarik napas dalam-dalam, wajahnya berubah kaku dan waspada.
"Kalau begitu, sebaiknya kau katakan."
"Dia memiliki semua ciri-ciri Kikuta: jari yang panjang, garis lurus yang melintang
di telapak tangan, pendengaran yang tajam. Pendengaran yang tajam ini akan datang
tiba-tiba di masa puber, terkadang diikuti dengan tidak bisa berbicara, umumnya
sementara, tapi bisa juga selamanya...."
"Kau membual!" kataku, tak mampu menahan diri. Rasa takut menjalar di sekujur
tubuhku. Aku tak tahu apa pun tentang Tribe, kecuali pembunuh di malam itu adalah
salah satunya. Aku merasa kalau Muto Kenji telah membuka pintu kegelapan yang
selama ini takut kumasuki.
Lord Shigeru menggelengkan kepala, "Biarkan dia bicara. Apa yang dia katakan
sangatlah penting."
Kenji mencondongkan tubuhnya ke arahku dan berkata, "Akan kuceritakan
tentang ayahmu."
Lord Shigeru berkata dengan acuh tak acuh, "Sebaiknya kau mengawali ceritamu
tentang Tribe. Takeo tidak mengerti saat kau mengatakan bahwa dia adalah Kikuta."
"Benarkah?" Kenji menaikkan alisnya. "Baiklah kalau begitu, mengingat dia
dibesarkan oleh kaum Hidden, aku tidak heran. Aku akan mulai dari awal. Ada lima
keluarga Tribe. Mereka telah ada sebelum munculnya para bangsawan dan klan. Kisah
ini berawal dari masa ketika sihir lebih kuat dari senjata, dan dewa-dewa inasih berjalan
di bumi. Saat klan mulai bermunculan, dan orang-orang mulai membentuk ikatan
berdasarkan kekuatan, Tribe tidak bergabung dengan salah satu klan. Guna
melestarikan anugrah yang mereka miliki, mereka memilih untuk menjadi pengelana,
pedagang, pemain drama, pemain sirkus, dan juga pemain sulap."




61
"Awalnya mereka menjadi salah satu dari semua itu," potong Lord Shigeru. "Tapi,
banyak juga yang menjadi pedagang, kaya dan memiliki pengaruh yang kuat." Lalu dia
berkata kepadaku, "Kenji memiliki usaha yang sangat berhasil dalam bidang produksi
kacang kedelai dan usaha peminjaman uang."
"Waktu berubah," kata Kenji. "Dari waktu ke waktu, kami mulai melayani dari
satu klan ke klan lainnya dan bergabung menjadi bagiannya, atau juga bekerja untuk
klan yang telah menjadi sahabat kami, seperti Lord Otori Shigeru. Tapi kami tetap
memelihara bakat yang sudah ada sejak jaman dulu. Hingga kini kami tak pernah
melupakannya."
"Kau bisa berada di dua tempat di waktu yang bersamaan," kataku. "Para penjaga
melihatmu di luar, sementara aku melihatmu di taman."
Kenji membungkuk. "Kami dapat memisahkan diri dan meninggalkan tubuh.
Kami bisa menghilang dari pandangan dan bergerak lebih cepat dari yang bisa diikuti
mata. Penglihatan dan pendengaran yang tajam adalah sifat kami yang lain. Tribe
mengasah kemampuan ini dengan latihan yang keras. Dan seandainya kemampuan itu
berguna di wilayah yang sedang berperang, kami akan dibayar mahal. Bahkan, sebagian
besar anggota Tribe pernah menjadi mata-mata atau pembunuh."
Darahku serasa mengering. Aku teringat bagaimana aku seperti terbelah dua di
bawah pedang Iida. Dan pendengaranku yang makin kuat, aku bisa mendengar semua
bunyi dan suara yang berasal dari rumah, taman dan juga dari kota.
"Kikuta Isamu, yang aku yakini adalah ayahmu, termasuk salah satunya. Ibu dan
ayah Isamu adalah sepupu sehingga dia menggabungkan anugrah paling kuat yang
dimiliki Kikuta. Saat berumur tiga puluh tahun, dia menjadi pembunuh yang paling
sempurna. Tak ada yang tahu berapa banyak yang telah dia bunuh; sebagian besar
korbannya nampak seperti mati alami. Orang tidak tahu banyak tentang dirinya. Dia
ahli membuat racun dari ramuan dari tumbuhan gunung yang dapat membunuh tanpa
ada jejak."
"Saat dia ke wilayah Timur—kau tahu daerah yang kumaksud—untuk mencari




62
ramuan racun, dia menginap di desa milik kaum Hidden. Orang desa itu mengatakan
tentang tuhan mereka, larangan untuk membunuh, dan tentang pembalasan di hari
akhir—kau tahu itu semua, tak perlu kuceritakan lagi. Di tempat terpencil yang jauh
dari pertempuran antar klan itu, Isamu merasa muak dengan hidup yang dia jalani.
Mungkin dia menyesal. Mungkin juga karena kematian telah memanggilnya. Lalu, dia
menarik diri dari Tribe dan bergabung dengan kaum Hidden."
"Itukah alasannya sehingga dia dibunuh?" tanya Lord Shigeru dengan nada
murung.
"Dia telah melanggar aturan Tribe, dan mereka tak senang ditinggalkan dengan
cara seperti itu, apalagi orang itu memiliki kemampuan yang begitu hebat.
Kemampuan yang sangat langka. Tapi, sejujurnya, aku tak tahu apa yang terjadi
padanya. Bahkan aku tak tahu kalau dia punya anak. Takeo, atau siapa pun nama
aslinya, pasti terlahir setelah ayahnya mati."
"Siapa yang membunuhnya?" tanyaku, mulutku teras kering.
"Tak ada yang tahu! Banyak orang yang ingin dia mati. Tentu saja tak akan ada
yang bisa mendekatinya, seandainya dia tidak bersumpah untuk tidak membunuh lagi."
Suasana menjadi hening. Selain lingkaran cahaya dari lampu, ruangan ini gelap
gulita. Aku tidak bisa nielihat wajah mereka berdua, meskipun aku yakin Kenji bisa
melihatku.
"Apakah ibumu tidak pernah bercerita tentang ayahmu?" Akhirnya dia bertanya.
Aku menggeleng. Banyak hal yang tidak diceritakan kaum Hidden, banyak pula
rahasia yang mereka rahasiakan satu sama lain. Mereka tidak akan membongkar
rahasia walaupun disiksa. Jika kau tidak tahu rahasia saudaramu, kau tak akan bisa
berkhianat.
Kenji tertawa. "Akuilah, Shigeru. Kau pasti tak tahu siapa yang kau bawa ke rumah
ini. Bahkan Tribe tidak tahu keberadaannya—seorang anak dengan bakat Kikuta yang
tersembunyi!"
Lord Shigeru tidak menjawab. Dia mencondongkan badannya ke lampu, bisa




63
kulihat senyumnya, gembira dan tulus. Kurasa ada sesuatu yang berlawanan antara
kedua orang ini; Lord Shigeru nampak sangat terbuka, sedangkan Kenji nampak licik
dan penuh tipu daya.
"Aku perlu tahu semua kejadian ini. Aku tidak berbohong, Shigeru. Aku memang
ingin tahu." kata Kenji memaksa.
Aku mendengar Chiyo bergumam di tangga. Lord Shigeru berkata, "Ayo kita
mandi dan makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi."
Dia tidak ingin lagi aku di rumahnya setelah tahu aku anak seorang pembunuh. Itulah
yang pertama kali terlintas di benakku saat aku berendam di bak yang
berisi air panas, setelah Lord Shigeru dan Kenji mandi. Aku mendengar suara mereka
di lantai atas sedang minum sake sambil mengenang masa lalu. Aku memikirkan
ayahku, orang yang belum pernah kukenal. Aku sedih karena dia tidak bisa lari dari
latar belakangnya. Dia telah bertekad untuk tidak membunuh, tapi pembunuhan yang
tidak membiarkan dia lepas. Kematian memburunya hingga jauh di Mino. Pada tempat
yang sama, bertahun-tahun kemudian, Iida membantai kaum
Hidden. Aku menatap jari-jariku yang panjang. Untuk apa jari-jariku ini diciptakan?
Apakah untuk membunuh? Apa pun yang kuwarisi dari ayahku, tetap saja aku anak
ibuku juga. Diriku adalah jalinan dua darah yang berbeda, dan keduanya saling
memanggil dari dalam darah, otot, dan tulangku. Aku teringat akan kemarahanku pada
penjaga. Aku bertingkah layaknya tuan mereka. Apakah ini darah yang ketiga di dalam
diriku, dan akankah Lord Shigeru mengusirku setelah dia tahu diriku yang sebenarnya?
Semua pikiran itu terasa begitu menyakitkan, terlalu sulit untuk diluruskan. Chiyo
memanggilku untuk segera makan. Air tempatku berendam sudah tidak panas lagi dan
aku pun merasa lapar.
Ichiro telah bergabung dengan Lord Shigeru dan Kenji, dan makanan telah
disiapkan. Mereka sedang membicarakan hal-hal sepele saat aku masuk: tentang cuaca,
penataan taman, kemampuan belajarku yang lemah dan juga tentang kelakuanku yang
buruk. Ichiro masih kesal karena aku menghilang sore itu.




64
Makanan yang disajikan jauh lebih enak dari biasanya, tapi hanya Ichiro yang
menikmatinya. Kenji makan dengan rakus, sedangkan Lord Shigeru hampir tidak
menyentuh makanannya. Rasa lapar dan mual datang silih berganti, aku takut tapi juga
tak sabar menantikan saat-saat makan berakhir. Ichiro makan sangat banyak dan pelan
hingga aku berpikir dia tak akan pernah selesai makan. Dua kali aku mengira dia akan
berhenti makan, tapi ternyata dia masih menambah "sesuap nasi" lagi. Akhirnya, dia
mengelus-elus perutnya dan bersendawa. Dia hendak melanjutkan obrolan tentang
taman, tapi Lord Shigeru memberi isyarat untuk diam. Setelah mengeluarkan beberapa
komentar dan lelucon tentang diriku, dia pun diam. Haruka dan Chiyo datang
membereskan tempat makan. Langkah kaki dan suara mereka terdengar menjauh ke
dapur. Kenji duduk di depanku, tangannya terulur dengan telapak tangan terbuka ke
arah Lord Shigeru.
"Bagaimana?" dia bertanya.
Ingin rasanya aku pergi bersama kedua pelayan itu. Aku tak ingin duduk di sini
sementara mereka menentukan nasibku. Karena kuyakin itu yang akan terjadi. Kenji
pasti akan berusaha meyakinkan bahwa aku adalah bagian dari Tribe. Dan Lord
Shigeru tentu akan melepasku pergi.
"Aku tidak tahu mengapa informasiku ini begitu penting bagimu, Kenji," kata
Lord Shigeru. "Aku senang kau belum mengetahuinya. Bila aku katakan, kuharap hal
ini tidak menyebar. Bahkan di rumah ini tak ada yang tahu selain Ichiro dan Chiyo."
"Kau benar ketika mengatakan aku tidak tahu siapa yang aku bawa. Semua ini
hanya kebetulan. Waktu itu hari menjelang senja, aku tersesat dan mencari tempat
menginap, yang kemudian aku tahu bahwa nama desa itu adalah Mino. Telah
berminggu-minggu aku berkelana setelah kematian Takeshi."
"Kau hendak membalas dendam?" tanya Kenji.
"Kau sudah tahu permusuhanku dengan Iida—dan bagaimana tingkahnya setelah
perang Yaegahara. Tapi aku tidak menduga akan bertemu Iida di tempat yang terpencil
itu. Suatu kebetulan yang aneh kalau kami berdua, musuh bebuyutan, berada di tempat




65
dan hari yang sama. Seandainya aku bertemu Iida di sana, aku pasti sudah
membunuhnya. Tapi anak ini malah lari ke arahku."
Dia menceritakan sekilas tentang pembantaian itu, peristiwa Iida terjatuh dari
kuda, dan beberapa laki-laki mengejarku.
"Semua itu terjadi dalam sekejap. Mereka mengancamku. Mereka bersenjata.
Tentu saja aku harus membela diri."
"Mereka tahu siapa kau sebenarnya?"
"Tidak, kurasa. Aku memakai pakaian pengembara, tidak ada simbol apa pun. Saat
itu cuaca gelap dan hujan."
"Tapi, kau tahu kalau mereka orang Tohan?"
"Mereka mengatakan bahwa Iida mengejar anak itu. Satu alasan yang cukup
bagiku untuk memberi perlindungan pada anak ini."
Kenji berkata, berusaha mengganti topik pembicaraan. 'Aku dengar Iida sedang
membentuk persekutuan resmi dengan Otori."
"Benar. Kedua pamanku ingin berdamai, walaupun kami tidak setuju."
"Jika Iida tahu anak ini ditolong olehmu, maka persekutuan tak akan terjadi."
"Kau tak perlu mengatakan apa yang aku sudah tahu," sahut Lord Shigeru dengan
nada kesal.
"Lord Otori," kata Kenji dengan caranya yang sinis sambil membungkuk.
Semua terdiam. Kemudian Kenji menghela napas. "Baiklah, takdir yang
memutuskan hidup kita akan seperti apa, tak peduli apa yang kita pikirkan atau kita
rencanakan. Siapa pun yang mengirim Shintaro untuk melawanmu, akibatnya tetap
sama. Dalam seminggu, Tribe akan tahu tentang Takeo. Aku harus mengatakan bahwa
kami memiliki kepentingan atas anak ini dan kami tak akan melepaskannya."
Aku berkata dengan lemah, "Aku telah diselamatkan Lord Otori dan aku tak akan
meninggalkannya."
Lord Shigeru menepuk-nepuk bahuku layaknya seorang ayah. "Aku tak akan
pernah menyerahkan dia," kata Lord Shigeru pada Kenji.




66
"Kami mengutamakan keselamatannya," balas Kenji. "Selama dia aman, dia boleh
tinggal di sini. Tapi, ada satu hal yang harus kau waspadai. Berapa orang Tohan yang
kau bunuh di sana?"
"Satu," jawab Lord Shigeru, "mungkin dua."
"Satu," Kenji meralat.
Alis mata Lord Shigeru terangkat, "Kau sudah tahu. Lalu kenapa kau tanya lagi?"
'Aku hanya ingin mengetahui yang sebenarnya dan seberapa banyak yang kau
tahu."
"Satu, dua—apakah itu penting?"
"Orang yang kehilangan lengannya masih hidup. Namanya Ando. Dia orang
terdekat Iida."
Aku langsung teringat wajah orang yang mirip serigala itu. Dia yang mengejarku
hingga ke jalan setapak di gunung, dan aku tidak mampu menahan badanku yang
menggigil ketakutan.
"Dia tidak tahu siapa kau sebenarnya, dan juga belum tahu di mana Takeo berada.
Tapi dia sedang mencari. Dengan ijin Iida, dia telah bersumpah untuk membalas
dendam."
"Aku sudah tidak sabar menantinya," jawab Lord Shigeru.
Kenji berdiri dan berjalan berkeliling ruangan. Kenji duduk, dia tersenyum,
seakan-akan kami sedang bersenda-gurau dan berbincang tentang taman.
"Bagus," katanya. "Karena kita sudah tahu bahaya yang dihadapi Takeo, maka aku
akan ajari dia cara untuk melindungi diri." Lalu dia melakukan sesuatu yang
membuatku heran: dia membungkuk di hadapanku dan berkata, "Selama aku hidup,
kau akan aman. Aku bersumpah."
Kupikir dia sedang mengejek, tapi tidak terlihat kepura-puraan di wajahnya.
Selama beberapa saat, aku melihat raut muka yang jujur di wajahnya. Aku seperti
melihat Jato dalam keadaan hidup. Lalu raut wajah itu menghilang, dan Kenji
bergurau. "Tapi kau harus menuruti perintahku!"




67
Dia menyeringai padaku. "Kau pasti telah membuat Ichiro repot. Orang seusianya
tak seharusnya direpotkan oleh pemula sepertimu. Aku yang akan mengajarimu. Aku
yang akan menjadi gurumu."
Dia mengibaskan kimono dan mengerutkan bibirnya, seketika dia berubah menjadi
seseorang yang tua dan sopan, seperti saat aku meninggalkannya di luar gerbang sore
itu. "Tentu saja bila Lord Otori mengijinkan."
"Kurasa tak ada pilihan lain," kata Lord Shigeru, dia lalu menuangkan sake lebih
banyak lagi, sambil tersenyum tulus.
Mataku tak berkedip memandangi kedua orang itu secara bergantian. Sekali lagi,
aku menangkap perbedaan yang mencolok di antara mereka. Tatapan mata Kenji
nampak seperti menghina. Kini aku mulai mengenal Tribe, aku tahu kelemahan
mereka adalah sombong. Mereka terlena oleh kemampuan mereka yang sangat
menakjubkan, dan memandang rendah orang yang bukan dari golongannya. Wajah
Kenji membuatku marah.
Tak lama kemudian pelayan datang membentangkan alas tidur lalu memadamkan
lampu. Selama beberapa saat aku berbaring sambil mendengarkan suara-suara di
malam hari. Semua kejadian dan cerita tadi mulai tersusun di benakku. Ingatanku
terpecah, lalu bersatu, dan tersusun lagi seperti semula. Hidupku ini bukan milikku
lagi. Kini aku rela mati demi Lord Shigeru. Tapi, bagaimana kalau dia tidak secara
kebetulan datang ke arahku di gunung itu, seperti apa yang dia katakan...
Apakah memang hanya kebetulan? Semua orang, termasuk Kenji, menerima
ceritanya: semua itu hanya terjadi dalam sekejap—ada anak yang berlari, orang-orang
yang mengancam, pertarungan itu...
Aku berusaha menghilangkan semua kejadian itu di benakku. Namun aku justru
teringat bahwa jalan setapak di depanku tidak ada apa-apa. Di sana hanya ada pohon
raksasa, pohon cedar, dan ada yang muncul dari balik pohon, lalu meraihku—bukan
secara kebetulan, tapi dengan sengaja. Aku memikirkan Lord Shigeru, ternyata hanya
sedikit yang aku tahu tentang dia. Semua orang mengenalnya dari wajahnya yang




68
impulsif, hangat, dan dermawan. Aku yakin dia memiliki semua sifat itu, tapi aku
selalu memikirkan rahasia di balik semua itu. Aku tak akan menyerahkannya, itu yang
dia katakan. Tapi, kenapa dia hendak mengadopsi orang Fribe, anak seorang
pembunuh. Aku teringat bangau yang sabar menunggu sebelum menyambar
mangsanya.
Aku tertidur setelah langit mulai terang dan ayam mulai berkokok.
Para penjaga senang sekali atas kemalanganku saat tahu kalau Muto Kenji diangkat
menjadi guruku.
"Hati-hati dengan kakek itu, Takeo! Dia sangat berbahaya. Dia bisa menikammu
dengan sikat!"
Tak ada habis-habisnya mereka menertawaiku. Aku belajar untuk tidak
menanggapi. Jauh lebih baik mereka mengira aku idiot daripada mereka tahu identitas
asli orang tua itu, kemudian menyebarkannya. Itu pelajaran pertama yang aku terima.
Aku mulai membayangkan berapa banyak pelayan dan penjaga yang berwajah bodoh
sebenarnya berasal dari Tribe dan sedang melakukan tugasnya dengan penuh tipu daya
dan kelicikan.
Kenji mengawali pelajarannya dengan sejarah Tribe, sedangkan Ichiro masih
mengajariku tentang sejarah klan. Para ksatria, kebalikan dari Tribe, berusaha
mengumpulkan rasa kagum dan rasa hormat dari orang lain, mereka menghargai
reputasinya dan akan berusaha menjaganya. Aku diajari sejarah, etika dan juga bahasa.
Aku diharuskan mempelajari dokumen klan Otori, asal-usul Otori yang berasal dari
keluarga Kaisar. Semua itu membuat kepalaku penuh dengan nama dan silsilah.
Siang berjalan semakin cepat, dan malam semakin dingin. Tidak lama lagi salju
akan menutupi jalan dan pelabuhan, dan kota Hagi akan terisolasi hingga musim semi.
Rumah ini mulai mengalunkan nyanyian yang berbeda, halus dan lembut.
Ada sesuatu yang membuat semangat belajarku meningkat pesat. Menurut Kenji,
itu adalah karakter Tribe karena telah bertahun-tahun tidak belajar. Aku mempelajari




69
apa saja, mulai dari menulis huruf yang sulit sampai keinginan yang menggebu-gebu
untuk berlatih pedang. Semua itu aku pelajari dengan senang hati, kecuali pelajaran
dari Kenji yang aku terima dengan setengah hati. Walaupun pelajarannya tidaklah
sulit—bisa aku terima secara alami—tapi ada perasaan untuk menolak, sesuatu dalam
diriku menentang apa yang Kenji ajarkan.
"Anggap saja ini permainan," Kenji selalu mengatakan kata-kata ini. "Lakukan
seperti layaknya kau sedang bermain." Tapi, permainan pedang adalah permainan yang
bisa berakhir dengan kematian. Kenji benar saat menyimpulkan sifatku. Aku besar di
kalangan orang yang melarang untuk membunuh, sehingga aku merasa enggan untuk
membunuh.
Kenji sangat mengenali sifatku yang satu itu. Hal itu yang membuatnya tidak
tenang. Dia dan Lord Shigeru barangkali membahas berbagai cara agar aku menjadi
lebih tangguh.
"Dia memiliki semua bakat yang ada, kecuali yang satu itu," kata Kenji dengan
frustasi pada suatu ketika. "Kelemahan yang justru dapat membahayakan dirinya."
"Kita tak akan tahu," balas Lord Shigeru. "Saat keadaan memaksa, pedang bisa
meloncat ke tangan, seakan menuruti kehendak pemiliknya."
"Kau memang terlahir seperti itu, Shigeru, dan semua latihan yang kau dapat justru
memperkuat hal itu. Kurasa Takeo akan ragu di saat seperti itu."
"Uuuuh," gerutu Lord Shigeru. Dia mendekat ke tungku arang, dan menarik rapat
mantel yang dia pakai. Seharian salju turun. Butirannya menumpuk di taman, melapisi
setiap pohon, dan setiap lentera seperti mengenakan tutup kepala putih yang tebal.
Langit jernih dan embun beku membuat lapisan salju nampak berkelap-kelip. Setiap
bernapas atau berbicara, kabut putih keluar dari mulut.
Semua orang sudah terlelap, selain kami bertiga yang sedang mengelilingi perapian
sambil menghangatkan tangan di atas secangkir sake panas. Ini membuatku berani
bertanya, "Lord Otori sudah membunuh banyak orang?"
"Aku tidak menghitungnya," jawab Lord Shigeru. "Selain di Yaegahara, mungkin




70
tidak banyak. Aku belum pernah membunuh orang yang tidak bersenjata, atau
membunuh hanya untuk bersenang-senang seperti yang orang-orang kejam itu
lakukan. Lebih baik kau tetap seperti sekarang ini daripada menjadi kejam seperti
orang-orang itu."
Ingin aku bertanya, Apakah kau akan menggunakan pembunuh untuk membalas
dendam? namun aku tidak berani. Aku memang tidak suka kekejaman dan enggan
membunuh. Tapi, keinginan Lord Shigeru untuk balas dendam telah meresap ke
dalam diriku sehingga terasa seperti menjadi keinginanku. Malam telah menjelang pagi
saat aku membuka jendela dan memandang ke taman. Bulan yang pucat dan sebuah
bintang bersanding mesra di langit, begitu rendah seolah-olah sedang mendengar
rahasia orang yang sedang terlelap. Udara pun terasa dingin menusuk.
Aku pasti bisa membunuh, pikirku. Aku pasti bisa membunuh Iida. Lalu, akan
kubunuh dia. Aku akan pelajari caranya.
Beberapa hari kemudian aku mengejutkan Kenji dan juga diriku sendiri.
Kemampuan Kenji yang bisa berada di dua tempat dalam waktu bersamaan biasanya
masih bisa menipuku. Aku melihat ada orang yang berbusana kimono lusuh sedang
duduk mengawasi. Aku sedang berlatih ketangkasan tangan dan salto, ketika suaranya
memanggil dari sisi luar bangunan. Namun sekali ini aku seperti mendengar napasnya
sehingga aku tahu bahwa yang duduk itu adalah Kenji yang asli sedangkan yang di luar
bangunan bukan Kenji yang asli. Aku melompat ke arahnya, mencekik lehernya, dan
merobohkan dia bahkan sebelum aku sempat berpikir, Apakah ini yang asli?
Dan tanganku bergerak dengan sendirinya ke urat nadi di lehernya yang bila
ditekan bisa mengakibatkan kematian.
Aku berhasil melumpuhkan dia dalam sekejap. Aku menarik tanganku dari
lehernya dan kami saling memandang.
"Ya," katanya. "Begitulah caranya!"
Aku melihat jari jemariku yang panjang seolah-olah jari ini milik orang lain.
Tanganku melakukan sesuatu tanpa kusadari. Saat berlatih menulis dengan Ichiro, aku




71
membuat goresan, dan terciptalah lukisan burung. Burung itu seakan-akan hendak
terbang menembus kertas. Aku juga pernah membuat beberapa goresan dan terlukis
wajah orang yang belum pernah aku kenal. Ichiro memukul kepalaku karena melukis,
tapi lukisanku itu membuatnya senang sehingga dia perlihatkan pada Lord Shigeru.
Lord Shigeru gembira, begitu pula Kenji.
"Itulah sifat Kikuta," Kenji bangga, seolah-olah dia yang melukis. "Sangat berguna.
Itu akan memberi dia suatu peran, suatu penyamaran yang sempurna. Dia adalah
seorang seniman: dia bisa melukis dan tak akan ada yang menduga kalau dia memiliki
pendengaran yang sangat tajam."
Lord Shigeru lalu memintaku melukis lagi, "Coba lukis orang yang bersenjata,"
perintahnya.
Wajah mirip serigala tampak seperti hendak menangkap alat lukisku. Lord Shigeru
melihat lukisan itu, "Aku ingat orang ini," gumamnya.
Begitulah, seorang ahli lukis telah lahir, dan seiring dengan berlalunya musim
dingin, karakterku yang baru mulai berkembang. Setelah salju mencair, Tomasu yang
sebelumnya sering menjelajahi gunung dan hanya tahu tentang hewan dan tumbuhan,
kini telah menghilang untuk selamanya. Kini aku adalah Takeo yang pendiam, sopan,
seniman dan agak kutu buku. Suatu penyamaran untuk menyembunyikan ketajaman
mata dan pendengaran, dan hati yang penuh dendam.
Aku tidak tahu apakah Takeo ini nyata ataukah hanya diciptakan demi memenuhi
tujuan Tribe, dan klan Otori. *




72
DAUN bambu memutih dan buah maple memamerkan kulitnya yang mirip kimono
dari kain brokat. Junko datang membawa beberapa pakaian usang milik Lady Noguchi
untuk Kaede. Dengan hati-hati dia membentangkan pakaian-pakaian itu, lalu dia jahit
lagi untuk mcnyembunyikan bagian yang lusuh ke bagian dalam pakaian. Seiring harihari
yang makin dingin, Kaede bersyukur karena ia tak lagi tinggal di kastil. Tak harus
berlari melintasi taman dan naik turun tangga saat hujan salju turun. Tugasnya pun
makin ringan. Ia Menjalani hari-harinya bersama pelayan Noguchi, mengikuti kegiatan
menjahit dan ketrampilan rumah tangga lainnya, serta membuat puisi. Ia juga belajar
menulis. Namun semua itu tak membuat Kaede bahagia.
Lady Noguchi selalu saja mencari-cari kesalahannya, Kaede dihina karena kidal
dan diejek karena terlalu tinggi atau karena terlalu kurus. Lady Noguchi selalu
menyatakan kekagetannya atas ketidaktahuan Kaede dalam banyak hal, tanpa pernah
mengakui bahwa semua itu karena ulahnya.
Saat hanya berdua, Junko selalu memuji Kaede: kulitnya yang putih, lengan dan
kakinya yang lembut, dan rambutnya yang tebal. Kini Kaede bisa bercermin kapan saja
dia mau untuk mengagumi kecantikannya sendiri. Ia tahu kalau laki-laki menatapnya
dengan pandangan bergairah, juga di rumah Lord Noguchi ini. Itulah mengapa Kaede
takut pada semua laki-laki. Sejak ia hendak diperkosa oleh penjaga, ia kini merinding
bila berdekatan dengan laki-laki. Ide mengenai pernikahan akan membuat ia gemetar.
Setiap ada tamu, ia cemas kalau-kalau orang itu adalah calon suaminya. Ketika ia harus
menyambut kedatangan tamu sambil menyajikan teh atau sake, jantungnya berdebar




73
dan tangannya gemetar sehingga Lady Noguchi menganggap Kaede terlalu ceroboh
dan, harus dikurung di tempat tinggal pelayan.
Kaede semakin bosan dan gelisah. Ia sering bertengkar dengan anak Lady
Noguchi, menghardik para pelayan karena hal yang sepele, bahkan sering memarahi
Junko.
"Dia harus segera dinikahkan," itulah saran Lady Noguchi, dan pernikahan yang
selama ini Kaede takutkan segera diatur. Ia akan dinikahkan dengan pengawal Lord
Noguchi. Hadiah pertunangan telah diberikan, dan Kaede baru bertemu calon
suaminya ketika dipertemukan oleh Lord Noguchi. Orang itu sudah tua—orang itu
tiga kali lebih tua, sudah dua kali menikah, dan secara fisik amat menjijikkan. Kaede
sadar kalau orang itu tak pantas untuknya. Pernikahan ini hanya untuk menghina
dirinya dan keluarganya. Ia hendak dibuang seperti sampah. Kaede menangis dan tidak
mau makan selama berhari-hari.
Suatu malam, seminggu sebelum pesta pernikahan, ada orang datang membawa
pesan. Kemudian Lady Noguchi memanggil Kaede dengan marah.
"Kau memang membawa sial, Lady Shirakawa. Kau pasti dikutuk. Calon suamimu
mati."
Orang itu mati saat merayakan akhir masa dudanya. Dia mabuk-mabukan bersama
teman-temannya ketika mendadak dia mati karena terlalu banyak minum sake.
Kaede merasa lega, meskipun kematian kedua ini dianggap sebagai kesalahannya.
Dua orang telah mati ketika menginginkan dirinya, dan rumor pun mulai menyebar.
Siapa pun yang menginginkan dirinya pasti akan mati.
Kaede berharap rumor itu akan menjauhkan keinginan orang untuk menikahinya.
Namun pada suatu malam, menjelang akhir bulan ketiga, saat pohon mulai clitumbuhi
daun-daun baru yang cemerlang, Junko berbisik pada Kaede, "Salah seorang anggota
klan Otori akan menjadi suamimu, Lady."
Ketika itu mereka sedang menyulam, dan Kaede langsung kehilangan irama jahitan
sehingga jarinya tertusuk jarum. Junko langsung menyingkirkan kain sutra yang sedang




74
disulam sebelum terkena tetesan darah.
"Siapa dia?" tanya Kaede sambil menghisap jarinya yang berdarah, darahnya terasa
asin.
'Aku tidak tahu pasti. Lord Iida yang memutuskan karena pemimpin Tohan itu
ingin merekatkan hubungan dengan klan Otori. Dengan begitu, mereka akan dapat
menguasai seluruh Wilayah Tengah."
"Berapa umurnya?" Kaede terus bertanya.
"Belum jelas, Lady. Tapi, umur bukanlah hal yang penting untuk menjadi suami."
Kaede melanjutkan sulamannya: bangau putih dan kura-kura biru dengan latar
belakang merah jambusebuah kimono pengantin. "Semoga kimono ini tidak pernah
selesai!"
"Bergembiralah, Lady. Kau akan segera pergi dari sini. Klan Otori tinggal di Hagi,
di pesisir pantai. Sangat cocok untukmu."
"Pernikahan membuatku takut," ucap Kaede.
"Semua orang takut kalau belum tahu! Tapi semua wanita menikmatinya; kau akan
tahu nanti," Junko tertawa kecil.
Kaede teringat kekuatan dan gairah penjaga itu, dan reaksi dirinya. Tangannya,
yang biasanya menyulam dengan cekatan dan tangkas, kini melambat. Junko
menegurnya dengan lembut, dan sepanjang hari itu, dia melayani Kaede dengan penuh
kasih sayang.
Beberapa hari kemudian Kaede dipanggil Lord Noguchi. Ia masuk ke ruang
pertemuan dengan ragu bercampur takut. Tapi ia kaget ketika melihat ayahnya duduk
di tempat kehormatan, di samping Lord Noguchi.
Saat membungkuk, ia melihat wajah bahagia ayahnya, dan Kaede bangga karena
ayahnya kini melihat ia dalam posisi yang lebih terhormat. Ia bersumpah tak akan
pernah melakukan sesuatu yang akan membuat ayahnya bersedih atau dihina.
Ketika Kaede disuruh duduk, ia berusaha memperhatikan ayahnya. Rambutnya
semakin tipis dan lebih banyak uban, lebih banyak kerutan di wajahnya. Kaede tidak




75
sabar menanti kabar tentang ibu dan adik-adik pcrempuannya. Ia berharap akan diberi
waktu untuk bicara berdua saja dengan ayahnya.
"Lady Shirakawa," ujar Lord Noguchi memulai pembicaraan. "Kami telah
menerima lamaran atas namamu, dan ayahmu datang untuk memberi restu."
Kaede kembali membungkuk dan berkata dengan pelan, "Lord Noguchi."
"Ini merupakan kehormatan besar untukmu. Pernikahan ini akan mempererat
persekutuan antara Tohan dengan Otori, dan juga menggabungkan tiga keluarga. Lord
Iida akan hadir di pernikahanmu: dia bahkan ingin pernikahan ini dirayakan di
Inuyama. Karena ibumu sekarang kurang sehat, maka kerabatmu, Lady Maruyama,
yang akan menemanimu ke Tsuwano. Calon suamimu adalah Otori Shigeru,
keponakan dari pemimpin Otori. Dia dan pengawalnya akan bertemu denganmu di
Tsuwano. Tidak perlu persiapan lain. Semua sudah sangat memuaskan."
Kaede menatap ke ayahnya saat mendengar kalau ibunya sedang kurang sehat. Ia
hampir tidak mendengar kelanjutan perkataan Lord Noguchi. Ia sadar bahwa
semuanya telah diatur: beberapa kimono selama perjalanan dan untuk pesta
pernikahan, juga orang yang akan menemaninya. Sudah pasti Lord Noguchi telah
menyiapkan semua ini dengan matang.
Lord Noguchi melontarkan lelucon tentang kematian penjaga sehingga wajah
Kaede merona merah. Ayahnya menunduk.
Aku senang Lord Noguchi kehilangan anak buahnya, pikir Kaede marah. Semoga
dia kehilangan ratusan lainnya.
Ayahnya pulang keesokan harinya. Kesehatan ibunya yang kurang sehat membuat
ayahnya tak bisa berlama-lama. Lord Noguchi yang sedang gembira memberinya
kesempatan untuk berdua saja dengan puterinya. Kaede mengajak ayahnya ke suatu
ruangan kecil yang menghadap ke taman. Udara yang hangat dipenuhi dengan
keharuman musim semi. Seekor burung sedang berkicau di ranting pohon pinus. Junko
menyeduh teh untuk mereka. Sopan santun dan perhatian Junko meringankan
kesedihan ayahnya.




76
"Aku senang kau telah mempunyai teman, Kaede," ujar ayahnya pelan.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Kaede cemas.
"Kuharap dia segera sehat. Aku takut musim hujan ini akan membuat kondisinya
semakin lemah. Namun, pernikahan ini membuatnya bersemangat. Klan Otori sangat
termashyur, dan Lord Shigeru adalah orang baik. Reputasinya bagus. Dia sangat
disukai dan dihormati. Calon suami yang sangat kami harapkan untukmu—bahkan
lebih dari harapan kami."
"Aku juga senang," ujar Kaede, berbohong demi menyenangkan ayahnya.
Lord Shirakawa menatap pohon sakura di taman yang mulai berbunga, setiap
pohon seakan melamunkan keindahannya sendiri. "Kaede, tentang penjaga yang
mati…,"
"Itu bukan salahku," jawab Kaede cepat. "Kapten Arai yang melakukan itu untuk
melindungiku. Penjaga itu yang salah."
Ayahnya menarik napas panjang. "Kabarnya kau berbahaya bagi laki-laki—sesuatu
yang harus Lord Otori waspadai. Tapi tak ada yang boleh mencegah terjadinya
pernikahan ini. Mengertikah kau, Kaede? Jika batal karena ulahmu—maka kita semua
akan mati."
Kaede membungkuk dalam, dadanya terasa sesak. Kini ayahnya nampak seperti
orang asing.
"Selama ini kau telah dibebani untuk menjaga keselamatan keluarga kita. Ibu dan
adikmu sangat rindu kepadamu. Bila bisa memilih, aku berharap agar keadannya
berbeda. Andai aku langsung bergabung dengan Iida dalam perang Yaegahara, tanpa
menunggu siapa yang akan menang... Tapi semua itu telah berlalu. Lord Noguchi telah
memutuskan bahwa kau akan dibiarkan hidup asalkan pernikahan ini berjalan lancar.
Aku tahu kau tak akan mengecewakan kami."
"Ayah," kata Kaede bersamaan dengan masuknya hembusan angin dari taman,
bunga putih dan merah jambu yang gugur menutupi taman sehingga menyerupai
tumpukan salju.




77
Lord Shirakawa pulang keesokan harinya. Kaede menatap kepergian ayahnya yang
menunggang kuda diikuti beberapa pengawal yang telah mengabdi sejak ia belum lahir,
dan ia masih ingat nama-nama mereka: sahabat dekat ayahnya yang bernama Shoji,
dan yang muda bernama Amano, umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari Kaede.
Saat rombongan itu melewati gerbang kastil, kaki kuda merusak bunga sakura yang
terhampar di jalan berbatu. Kaede berlari ke puncak menara untuk mengiringi
kepergian ayahnya. Akhirnya, anjing-anjing berhenti menggonggong, dan rombongan
ayahnya tidak nampak lagi.
Kelak, bila bertemu dengan ayahnya lagi, ia tentu telah menikah dan pulang dalam
suasana yang formal.
Kaede kembali ke rumah sambil menahan air mata di pelupuk matanya. Ia tetap
tidak bergairah meskipun ia mendengar ada orang yang sedang bercakap-cakap dengan
Junko. Jenis percakapan yang sangat dihindari oleh Kaede, terlebih lagi saat mendengar
tawa genit dan suara nyaring gadis itu. Ia bisa membayangkan gadis itu, kecil dengan
pipi bulat seperti boneka, langkah kaki yang pendek seperti burung, serta kepala yang
selalu bergoyang dan mengangguk-angguk.
Saat ia bergegas ke kamar, Junko dan gadis itu sedang menyelesaikan gaun
pengantinnya. Keluarga Noguchi sepertinya tidak mau membuang-buang waktu untuk
segera menyingkirkan dirinya. Beberapa keranjang bambu dan kotak kayu dari pohon
paulownia telah disiapkan. Semua ini membuat Kaede semakin kesal.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Kaede jengkel. Gadis itu lalu menyembah secara
berlebihan.
"Ini Shizuka," kata Junko. "Dialah yang akan menemani Lady Kaede ke Inuyama."
"Tidak," balas Kaede. "Kaulah yang akan menemaniku."
"Lady, mustahil aku boleh ikut. Lady Noguchi tidak akan mengijinkan."
"Kalau begitu, minta dia mengirim orang lain."
Shizuka, dalam keadaan menyembah, mengeluarkan suara tersedu-sedan. Kaede,
yang merasa yakin kalau orang ini hanya berpura-pura, tetap tidak bergeming.




78
"Mungkin kau sedang kesal, Lady. Berita tentang pernikahanmu, dan kepergian
ayahmu..." Junko berusahia menentramkan Kaede. "Dia gadis yang baik, cantik dan
cerdas. Duduk tegak Shizuka, Lady Shirakawa ingin melihatmu."
Gadis itu lalu duduk, tapi matanya tidak menatap ke Kaede. Dari matanya yang
menunduk, tampak air matanya berlinang. Dia sesenggukan. "Lady, kumohon jangan
mengusirku. Aku akan lakukan apa pun untukmu. Aku berjanji, tak akan ada orang
yang dapat menjagamu lebih baik dariku, aku akan memayungimu di saat hujan, aku
akan menghangatkan kakimu dengan tubuhku saat kau kedinginan." Air matanya
mengering dan dia tersenyum kembali.
"Kau tak mengatakan kalau Lady Shirakawa cantik sekali," kata gadis itu pada
Junko. "Tak heran laki-laki rela mati untuknya!"
"Jangan katakan itu!" bentak Kaede. Ia mendekat ke pintu dengan marah. Dua
orang yang bertugas mengurus taman sedang membersihkan lumut di kolam. "Aku
lelah mendengar kata-kata itu."
"Akan selalu ada orang yang mengatakan itu," Junko mengingatkan. "Kata-kata itu
sudah menjadi bagian dari hidupmu."
"Aku akan senang sekali bila laki-laki rela mati demi aku," ujar Shizuka sambil
tertawa. "Tapi mereka begitu mudah jatuh cinta lalu bosan kepadaku, sama seperti
perasaanku pada mereka!"
Shizuka menggeser tubuhnya dengan menggunakan lututnya ke kotak kayu dan
mulai melipat gaun sambil bersenandung lirih. Suaranya jernih dan jelas. Dia melantunkan
balada sepasang kekasih di desa kecil di tepi hutan pinus. Kaede yakin gadis
itu sedang mengenang masa kanak-kanaknya. Ini membuat Kaede sadar bahwa masa
kecilnya telah berlalu, ia akan menikahi orang yang belum dikenalnya, dan ia tak akan
sempat mengenal arti cinta. Penduduk desa mungkin boleh jatuh cinta, tapi tidak bagi
orang seperti dirinya, cinta tidak masuk dalam hitungan.
Kaede melintasi ruangan dan, berlutut di sisi Shizuka, merebut pakaiannya dengan
kasar. "Jika kau ingin melakukannya, lakukan dengan benar!"




79
"Ya, Lady," Shizuka mengumpulkan kimono yang ada di sekitarnya sambil
menyembah. "Terima kasih Lady, kau tak akan menyesal telah menerimaku!"
Ketika kembali duduk, Shizuka berkata lirih, "Orang mcegatakan Lord Arai sangat
memperhatikan Lady Shimkawa. Mereka mengatakan Lord Arai telah menjaga
kehormatan Lady."
"Kau mengenal Arai?" tanya Kaede tajam.
"Kami dari kota yang sama, Lady. Dari Kumamoto."
Junko tersenyum lebar. "Aku akan tenang bila Shizuka yang menjagamu."
Sejak saat itu Shizuka telah menjadi bagian dari hidup Kaede, sikapnya yang
menyebalkan dan menyenangkan datang silih berganti. Dia gemar menyebar gosip,
menghilang ke dapur, istal, kastil, dan kemudian datang dengan membawa cerita baru.
Semua orang senang kepadanya dan dia juga tidak takut pada laki-laki. Sejauh yang
bisa Kaede lihat, justru laki-laki yang takut padanya, takut akan kata-katanya yang
pedas dan lidahnya yang tajam. Walaupun tampak sembrono, dia mengurus Kaede
dengan telaten. Saat Kaede sakit, dia memijati kepala Kaede, membawa salep yang
terbuat dari tumbuh-tumbuhan, memberi lilin lebah di kulitnya agar lebih lembut,
mencabut alis Kaede agar lebih berbentuk. Lambat-laun Kaede mulai bergantung dan
mempercayainya. Shizuka bisa membuat Kaede tertawa, dan untuk pertama kalinya
Kaede mulai berhubungan dengan dunia luar setelah sekian lama terkucil.
Kaede mulai mengetahui hubungan antar klan yang tidak berjalan mulus, dan
banyaknya dendam yang tersisa setelah perang Yaegahara, usaha Iida untuk bersekutu
dengan Otori dan Seishuu, orang-orang sedang berebut posisi dan siap-siap untuk
berperang. Ia mendengar tentang pembantaian yang Iida lakukan terhadap kaum
Hidden dan memaksa sekutunya untuk melakukan hal serupa.
Kaede belum pernah mendengar tentang kaum Hidden, dan ia mengira Shizuka
hanya mengada-ada. Sampai pada suatu malam Shizuka berbisik bahwa ada laki-laki
dan perempuan yang ditemukan di desa terpencil, dan dibawa ke Noguchi dalam
sebuah kandang besar. Mereka digantung di dinding kastil hingga mati kelaparan dan




80
kehausan. Burung gagak akan mematuki mereka meskipun mereka masih hidup.
"Mengapa? Kejahatan apa yang mereka lakukan?" tanya Kaede.
"Mereka percaya adanya suatu tuhan yang rahasia, yang dapat melihat segalanya
dan manusia tak bisa melawan atau menghindar. Mereka merasa lebih baik mati
daripada mengingkari tuhannya."
Kaede gemetar. "Mengapa Lord Iida membenci mereka?"
Shizuka melihat ke kanan-kiri, meskipun dia tahu tidak ada orang lain di ruangan
ini. "Menurut mereka, tuhan mereka akan menghukum Iida setelah mati."
"Tapi, Iida orang yang paling berkuasa di Tiga Wilayah. Dia bisa melakukan apa
pun yang dia suka. Mereka tak mungkin bisa menghakiminya." Membayangkan bahwa
penduduk desa bisa menghukum pemimpin klan nampak menggelikan bagi Kaede.
"Kaum Hidden yakin kalau tuhan mereka memandang semua orang sejajar. Tak
ada gelar bangsawan di mata tuhan, yang ada hanyalah orang yang percaya dan yang
tidak percaya padanya."
Kaede mengerutkan dahi. Tidak heran Iida ingin membantai mereka. Ia ingin
bertanya lebih banyak, tapi Shizuka mengubah pembicaraan.
"Lady Maruyama akan datang hari ini. Kita akan segera berpergian."
"Senang sekali bisa pergi dari tempat kematian ini," kata Kaede.
"Kematian di mana-mana." Shizuka mengambil sisir, dan dengan satu tarikan
panjang, dia menyisir rambut Kaede. "Lady Maruyama adalah kerabatmu. Kau pernah
bertemu dengannya semasa kecil?"
"Seandainya pernah bertemu, aku pasti sudah lupa. Aku hanya tahu bahwa dia
adalah sepupu ibuku. Kau pernah bertemu dengannya?"
"Aku pernah melihatnya," kata Shizuka sambil tertawa. "Orang sepertiku tidak
mungkin bisa bertemu bicara langsung dengan orang-orang seperti dia!"
"Ceritakan tentang dirinya," kata Kaede.
"Seperti yang kau tahu, dia menguasai wilayah yang luas di barat daya. Suami dan
putranya tewas, sedangkan putrinya, sang pewaris tahta, kini menjadi tawanan di




81
Inuyama. Semua orang tahu Lady Maruyama tidak mendukung Tohan, meskipun
suaminya orang Tohan. Putri tirinya menikah dengan sepupu Iida. Beredar rumor
setelah kematian suaminya, keluarga pihak suami meracuni putranya. Pertama, Iida
menawarkan adiknya untuk menjadi suami Lady Maruyama, namun ditolak. Kini,
menurut kabar, Iida sendiri yang berniat menikahi Lady Maruyama."
"Lord Iida kan sudah beristri dan punya anak laki-laki," sela Kaede.
"Anak Lady Iida selalu mati sejak bayi, dan kesehatan istrinya memburuk. Dia bisa
meninggal kapan saja."
Mungkin saja Iida yang akan membunuhnya, pikir Kaede, tapi tidak berani ia
ucapkan.
"Lagi pula," lanjut Shizuka, "Lady Maruyama tak mau menikahi Iida, begitulah
kabarnya, dan dia juga tidak membiarkan putrinya menikahi Iida."
"Dia yang memilih calon suaminya? Sepertinya dia sangat berkuasa." '
"Klan Maruyama merupakan satu-satunya klan yang pemimpinnya berasal dari
garis keturunan perempuan," Shizuka menjelaskan. "Itulah yang membuat dia lebih
berkuasa dibandingkan wanita lain. Dia juga memiliki kekuatan yang mirip sihir. Dia
mampu menyihir orang-orang agar keinginannya tercapai."
"Kau percaya hal seperti itu?"
"Bagaimana dia bisa bertahan hingga sekarang? Keluarga mendiang suaminya,
Lord Iida, berusaha menghancurkannya, tapi dia selamat, meskipun putranya mati dan
putrinya ditawan."
Kaede menaruh simpati padanya. "Kenapa selalu wanita yang menjadi korban?
Kenapa mereka tidak memiliki kebebasan seperti yang laki-laki miliki?"
"Begitulah dunia ini," balas Shizuka. "Laki-laki lebih kuat dan tidak menyimpan
kelembutan maupun belas kasihan. Perempuan jatuh cinta pada mereka, namun
mereka tidak membalas cintanya."
'Aku tidak mau jatuh cinta," kata Kaede.
"Sebaiknya jangan," Shizuka sepakat, lalu tertawa. Dia menyiapkan kasur dan




82
mereka berbaring. Kaede masih membayangkan sosok Lady Maruyama yang memiliki
kekuasaan layaknya laki-laki, yang kehilangan putra dan juga putrinya. Ia memikirkan
putri sang Lady, gadis yang kini menjadi tawanan Iida di Inuyama, dan Kaede merasa
iba padanya.
Lady Noguchi telah mendekorasi kamar untuk menerima sang tamu dengan gaya
daerah setempat, kasa pintu dan jendela telah dilukis pemandangan gunung dan pohon
pinus. Kaede tak menyukai lukisan itu karena nampak terlalu berlebihan dan memberi
kesan pamer, kecuali sebuah lukisan yang ada di sisi paling kiri. Lukisan dua sekor
burung bangau yang sangat hidup. Mata bangau itu terang, dan kepalanya agak
dimiringkan. Burung itu seakan sedang mendengarkan percakapan di ruangan ini
dengan riang, lebih riang dibandingkan sebagian besar wanita yang duduk di depan
Lady Noguchi.
Di sebelah kanan Lady Noguchi nampak duduk sang Lady Maruyama. Lady
Noguchi memberi isyarat pada Kaede untuk mendekat. Kaede membungkuk dan
mendengar mereka bercakap-cakap di atas kepalanya.
" Tentu saja kami sedih kehilangan Lady Kaede. Dia telah kami anggap sebagai
anak sendiri. Dan kami pun agak sungkan untuk membebanimu, Lady Maruyama.
Kami hanya meminta agar Kaede diijinkan menemanimu sampai di Tsuwano. Di sana,
Lord Otori yang akan menyambutnya."
"Lady Shirakawa akan menikahi keluarga Otori?" Kaede menyukai nada berat
namun lembut Lady Maruyama. Kaede mengangkat kepala, dan sekilas ia melihat
tangan Lady Maruyama yang mungil saling menggenggam di atas pangkuannya.
"Ya, dengan Lord Otori Shigeru," suara Lady Noguchi terdengar berdengung. "Ini
merupakan kehormatan besar. Lord Iida yang menghendaki perjodohan ini."
Kaede melihat kedua tangan Lady Maruyama terkepal erat sehingga tangannya
terlihat sangat pucat. Setelah lama diam, terlalu lama hingga hampir melewati batas
kesopanan. Lady Maruyama berkata, "Lord Otori Shigeru? Lady Shirakawa sungguh




83
beruntung."
"Lady pernah bertemu dengannya? Aku belum pernah memiliki kesempatan yang
menyenangkan itu."
"Aku hanya tahu sedikit tentang Lord Otori," balas Lady Maruyama. "Duduklah,
Lady Shirakawa. Aku ingin melihat wajahmu."
Kaede mengangkat kepala.
"Kau begitu muda!" seru Lady Maruyama.
"Usiaku lima belas tahun, Lady."
"Hanya sedikit lebih tua dari putriku." Suara Lady Maruyama terdengar lirih.
Kaede memberanikan diri untuk melihat mata hitam yang bentuknya sempurna itu.
Pupil matanya membesar seakan-akan kaget, wajahiiva lebih putih dari bedak.
Kemudian, Lady Maruyama nampak dapat mengendalikan diri. Senyuman muncul di
bibirnya, walaupun matanya tak menunjukkan hal yang sama.
Apakah aku telah melakukan kesalahan? Pikir Kaede dengan bingung. Secara naluri
ia tertarik pada wanita ini. Ia yakin bahwa Shizuka benar. Orang akan melakukan apa
pun juga demi Lady Maruyama. Walaupun kecantikannya telah memudar, namun
entah bagaimana garis kerutan di sekitar mata dan mulutnya justru menegaskan
karakter dan kekuatan. Ekspresi dingin di wajah Lady Maruyama membuat luka yang
mendalam pada diri Kaede.
Dia tidak menyukaiku, pikir Kaede dengan sangat kecewa.*




84
SEIRING dengan mencairnya salju, rumah dan taman kembali bernyanyi bersama air
yang mengalir. Enam bulan sudah aku tinggal di Hagi. Waktuku tercurah sepenuhnya
untuk belajar melukis, menulis, dan membaca. Selain itu, aku juga mempelajari
berbagai cara mem-bunuh, meskipun aku belum pernah mempraktekannya. Aku
merasa seperti bisa mendengar maksud hati semua orang, dan aku juga mempelajari
ber-bagai keahlian lainnya. Tidak semua keahlian itu aku peroleh dari Kenji, ada
sebagian yang keluar begitu saja dari diriku. Aku mampu berada di dua tempat dalam
waktu yang bersamaan, dan menghilang dari pandangan mata. Bukan hanya itu, aku
bisa membuat anjing tertidur hanya dengan sekali tatap. Kemampuan yang terakhir ini
aku temukan sendiri, tapi aku merahasiakannya dari Kenji karena dia yang mengajariku
tipu daya dan keahlian lainnya.
Aku menggunakan kemampuan yang kumiliki bila aturan yang berlaku di rumah
Lord Shigeru membuatku jenuh, atau saat aku merasa terjebak dalam rutinitas yang
tiada henti, dan letih karena harus patuh pada dua guru yang kejam itu. Terlalu mudah
bagiku untuk mengalihkan perhatian penjaga dan membuat anjing tertidur agar aku
dapat menyelinap melalui gerbang tanpa ada yang tahu. Bahkan lebih dari sekali, Ichiro
dan Kenji merasa yakin kalau aku sedang duduk ditemani tinta dan kuas, padahal aku
sedang di luar bersama Fumio. Kami berdua menjelajahi lorong-lorong di sekitar pelabuhan,
berenang di sungai, mendengarkan pembicaraan para pelaut dan nelayan,
menghirup udara yang bercampur bau air laut, tali rami dan faring nelayan, serta hau




85
berbagai masakan yang diuap, dibakar, direbus atau dibentuk seperti baso. Bau
makanan itu membuat perut kami bernyanyi kelaparan. Di pelabuhan, aku mendengar
berbagai aksen bicara, mulai dari aksen wilayah Barat, dari kepulauan, bahkan dari
tanah daratan, dan aku mendengar percakapan yang tidak mungkin didengar orang
lain. Di tempat ini pula aku tahu tentang rasa takut serta keinginan mereka.
Kadang aku jalan-jalan sendiri, melintasi sungai, baik melalui tanggul maupun
berenang. Aku menjelajahi daratan yang berada jauh di seberang, di daerah perbukitan
di mana ada ladang milik petani yang tersembunyi di antara pepohonan sehingga
terhindar dari pungutan pajak. Aku melihat dedaunan hijau yang baru muncul dari
dahan, dan aku mendengar dengungan serangga yang sedang mencari serbuk di
mahkota bunga pohon chestnut yang berwarna keemasan. Aku juga mendengar
gerutuan petani pada pemimpin klan Otori karena memungut pajak yang begitu tinggi.
Beberapa kali nama Lord Shigeru disebut, dan aku tahu kekesalan sebagian besar
penduduk ini tidak tertuju padanya, tapi pada pamannya yang berada di kastil.
Pembicaraan seperti itu termasuk pengkhianatan sehingga hanya mereka katakan di
tengah malam atau jauh di hutan, saat tidak ada orang yang bisa mendengarnya, selain
aku tentunya, tapi aku tak akan katakan ini pada siapa pun juga.
Sumber air panas memancur dari tanah; udara terasa hangat, seisi bumi serasa
hidup. Aku dilanda rasa gelisah yang tidak aku mengerti. Aku seperti sedang mencari
sesuatu, sesuatu yang belum aku ketahui. Kenji pernah membawaku ke tempat
pelacuran. Gadis-gadis di sana hanya membuat aku kasihan. Aku teringat pada gadisgadis
di desaku, di Mino. Gadis-gadis ini mungkin berasal dari keluarga yang serupa
dengan keluargaku. Beberapa di antara mereka bahkan masih anak-anak. Ketika
menatap wajah mereka, aku berusaha mencari wajah adik-adikku.
Saat perayaan musim panas datang, kuil dan jalan penuh sesak dengan orang yang
lalu-lalang. Genderang bertabuh keras setiap malam, wajah dan lengan para penabuh
yang berkeringat nampak berkilauan terkena cahaya lampu, tidak terlihat rasa lelah di
wajah mereka. Aku tak mampu menahan keinginan untuk turut meramaikan perayaan




86
ini, suasananya yang begitu hirukpikuk dan penuh sukacita. Suatu malam aku dan
Fumio mengikuti patung dewa yang diarak sekelompok orang dengan penuh semangat.
Ketika hendak pamit pada Fumio, aku terdorong ke arah seseorang, dan hampir
menginjak kakinya. Orang itu berbalik ke arahku dan aku langsung mengenalinya:
orang ini pernah menginap di rumahku dan memperingat-kan tentang ancaman Iida.
Dia bertubuh pendek gemuk, raut wajah buruk dan licik. Dia pedagang keliling yang
kadang datang ke Mino. Belum sempat menghindar, aku melihat kilasan matanya yang
mengenaliku dan juga rasa iba.
Dia berteriak dengan suara yang lebih kencang dari hiruk-pikuk kerumunan orang.
"Tomasu."
Aku menggelengkan kepala, kubuat wajah dan tatapanku seolah-olah kosong,
namun dia terus berteriak memanggilku. Dia berusaha menarikku keluar dari kerumunan.
"Kau Tomasu, dari Mino?"
"Kau salah," jawabku. `Aku tidak mengenal orang yang bernama Tomasu."
"Semua orang mengira kau sudah mati!"
"Aku tak mengerti apa yang kau katakan," aku tertawa, seolah-olah mendengar
sesuatu yang lucu, sambil melangkah ke kerumunan. Dia meraih tanganku dengan
kasar, berusaha untuk menahanku dan saat aku melihat dia hendak bicara, aku segera
tahu apa yang hendak dia katakan.
"Ibumu sudah mati. Mereka telah membunuhnya. Mereka membunuh semua
orang. Hanya kau yang selamat! Bagaimana kau bisa lolos?" Dia menarikku lebih dekat
ke wajahnya. Dapat kucium bau napas dan keringatnya.
"Kau mabuk, pak tua!" aku membentak. "Ibuku masih hidup dan dia ada di Hofu,
setidaknya menurut kabar terakhir yang kudengar." Kudorong tubuhnya dan kuraih
belatiku. "Aku dari klan Otori." Aku membiarkan marah menguasaiku.
Dia mundur, "Maafkan kekhilafanku, Lord. Kau memang bukanlah orang yang
kumaksud." Dia memang agak mabuk, dan rasa takut membuatnya tersadar.
Bermacam-macam pikiran terlintas di benakku, salah satu yang paling kuat yaitu




87
aku harus membunuh si pedagang keliling yang tidak berbahaya dan telah berusaha
memperingatkan keluargaku. Aku bisa membayangkan dengan jelas caraku membunuhnya;
akan aku jauhkan dia dari kerumunan, menjegalnya hingga jatuh, lalu
kutikam lehernya dengan belati, mengirisnya hingga ke bawah, dan membiarkan dia
terjatuh, terbaring seperti orang yang mabuk, dan darahnya akan mengucur hingga dia
mati. Walaupun ada orang yang melihat kejadian itu, mereka tak akan berani
mendekat.
Kerumunan akan segera melewati kami, belati masih dalam genggamanku. Dia
menyembah berulangkali, memohon agar aku tidak membunuhnya.
Aku tidak bisa membunuhnya, pikirku, lalu; tidak ada guna aku membunuhnya. Dia
sudah yakin kalau aku bukan Tomasu, dan kalau pun dia ragu, dia tak akan berani
mengatakan pada siapa pun. Lagipula dia juga orang Hidden.
Aku mundur dan membiarkan kerumunan membawaku menjauh dari kuil. Lalu
aku menyelinap melalui gerombolan orang yang membawa patung dewa, menuju jalan
setapak yang berada di tepi sungai. Jalan yang kulalui gelap, berpasir, tapi aku masih
dapat mendengar teriakan dari kerumunan yang larut dalam kegembiraan, nyanyian
puji-pujian para biarawan, dan bunyi lonceng kuil. Riak air sungai seolah memukulmukul
dan mengliisap perahu dan dermaga. Aku teringat perkataan Lord Shigeru.
"Namun, sebagaimana sungai selalu berada di luar pintu rumah, begitu pula dunia ini.
Dunia tempat kita tinggal."
Tatapan mata anjing-anjing yang mengantuk dan jinak mengiringi jalanku, saat
aku melewati pintu gerbang rumah Lord Shigeru. Para penjaga tidak melihat aku
datang. Biasanya aku akan merayap perlahan ke pos penjaga dan mengejutkan mereka.
Tapi malam ini perutku mulas, aku tidak bergairah untuk menjahili mereka. Aku kesal
atas kecerobohan mereka, mudah sekali bagi anggota Tribe masuk ke sini, seperti yang
pernah terjadi. Aku muak dengan dunia yang penuh dengan rahasia, kemunafikan, dan
tipu daya. Aku merindukan saat-saat ketika menjadi Tomasu, anak yang gemar berlari
naik dan turun bukit.




88
Sudut mataku terasa pedih. Taman dipenuhi bau harum dan bunyi air. Diterangi
cahaya bulan, kuncup-kuncup bunga yang mulai mekar memancarkan cahaya putih
rapuh. Kesucian bunga-bunga ini mengiris hatiku. Bagaimana mungkin dunia yang
indah ini bisa begitu kejam?
Lampu-lampu yang ada di beranda berkelap-kelip dan menyebarkan hawa
hangatnya. Kenji sedang duduk di keremangan malam. Dia memanggilku, "Lord
Shigeru menyalahkan Ichiro karena kau menghilang. Aku katakan padanya, 'Kau bisa
menjinakkan serigala, tapi kau takkan mampu memasukkannya ke kandang anjing!"'
Dia menatapku ketika aku mendekat ke arah lampu. "Ada apa?"
"Ibuku telah meninggal." Hanya anak-anak yang menangis. Orang dewasa tak akan
menangis. Sosok anak-anak Tomasu dalam diriku sedang menangis, tapi air mata
Takeo telah mengering.
Kenji menarikku, "Siapa yang mengatakan?"
"Orang yang kukenal saat di Mino mengatakan itu ketika bertemu denganku di
kuil."
"Dia mengenalimu?"
"Dia mengira dia mengenalku. Kuyakinkan bahwa dia salah orang. Tapi saat dia
mengira aku Tomasu, dia mengatakan perihal kematian ibuku."
"Aku turut berduka," ujar Kenji acuh tak acuh. "Kuharap kau telah membunuh
orang itu."
Aku tidak menjawab, aku tidak perlu menjawab. Dia sudah tahu jawabannya
setelah bertanya. Dia memukul punggungku dengan gusar, seperti yang biasa Ichiro
lakukan bila aku salah menulis huruf. "Kau benar-benar bodoh, Takeo!"
"Dia tak bersenjata, tidak berbahaya. Lagi pula, dia mengenal keluargaku."
"Itulah yang kutakutkan. Kau membiarkan rasa kasihanmu tetap ada dalam dirimu.
Tidak sadarkah kau kalau orang yang kau biarkan hidup akan selalu membencimu?
Justru itulah yang membuat dia yakin bahwa kau adalah Tomasu."
"Mengapa dia harus mati karena takdirku? Apa untungnya dia mati? Tidak ada!"




89
"Membiarkan dia hidup justru akan membawa musibah yang membuatku cemas,"
balas Kenji, lalu masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan Lord Shigeru.
Seakan-akan telah mencorengkan aib, aku dilarang berkeliling kota sendirian. Kenji
selalu mengawasiku, dan hampir tak mungkin aku lepas darinya. Namun semua itu
tidak membuatku jera untuk mencoba. Seperti biasa, suatu rintangan hanya
berpengaruh di saat-saat awal, karena aku akan menemukan jalan keluar. Kenji memarahiku
karena tidak patuh, tapi kemampuanku semakin hebat, dan kini aku semakin
nyaman dengan semua kemampuanku itu.
Lord Shigeru berbicara padaku tentang kematian ibuku setelah Kenji melaporkan
kegagalanku membunuh. "Kau menangisi ibumu di malam ketika kita bertemu.
Seharusnya kini sudah tak ada lagi duka. Kau tidak tahu siapa yang sedang
mengawasimu saat ini."
Begitulah, rasa duka tetap tersimpan di lubuk hatiku tanpa mampu aku keluarkan.
Di malam hari, diam-diam aku mendoakan arwah ibuku dan kedua adikku sesuai
ajaran Hidden. Aku tidak mendoakan ampunan bagi musuhku, seperti yang ibuku
ajarkan. Aku tidak berniat memaafkan musuhku. Aku membiarkan rasa sedih membangkitkan
keinginanku untuk balas dendam.
Malam itu merupakan malam terakhir aku bertemu Fumio. Setelah aku lolos dari
pengawasan Kenji dan pergi ke pelabuhan, kapal Terada sudah tidak ada lagi. Aku
mendenigar dari nelayan bahwa mereka diusir dari pelabuhan karena tidak mampu
membayar pajak. Rumor yang berkembang mengatakan kalau mereka berlayar ke
Oshima, pulau tempat keluarga mereka menetap. Dengan menjadikan pulau terpencil
itu sebagai pelabuhan, kemungkinan besar mereka telah menjadi bajak laut.
Saat ini, sebelum musim hujan, Lord Shigeru mulai tertarik untuk merancang
bangunan dan itu diawali dengan membangun sebuah bangunan untuk minum teh di
halaman belakang rumah. Aku menemaninya memilih kayu: Kayu cedar, untuk lantai
dan atap, kayu cemara untuk dinding. Bau serbuk kayu yang digergaji mengingatkanku




90
pada aroma pegunungan. Sifat tukang kayunya mirip sifat orang di desaku, mereka
pendiam, tapi bisa saja tiba-tiba tertawa keras setelah ada rekannya yang melucu. Aku
merasa terseret dengan gaya bicaraku yang lama, aku meng-gunakan kata-kata yang
biasa kami pakai di desaku, yang sudah berbulan-bulan tidak aku gunakan. Kadang
bahasa gaulku membuat mereka tertawa kecil.
Lord Shigeru mengamati setiap tahap pembangunan, mulai dari mengamati pohon
yang ditebang hingga digergaji menjadi papan, tidak terkecuali saat pemasangan lantai.
Beberapa kali kami mendatangi tempat penjualan kayu dengan ditemani seorang ahli
kayu, Shiro, yang penampilannya mirip perpaduan antara pohon cedar dan pohon
cemara. Shiro mengatakan tentang sifat dan roh setiap jenis kayu.
"Setiap kayu memiliki nadanya sendiri," katanya. "Setiap rumah memiliki
nyanyiannya sendiri."
Selama ini aku mengira hanya aku yang tahu bahwa rumah dapat bernyanyi. Sudah
berbulan-bulan aku mendengar nyanyian rumah Lord Shigeru, saat ini aku sedang
mendengarkan nyanyian perlahan diiringi musik musim dingin. Aku mendengar bunyi
tiang dan dinding yang semakin tertekan ke tanah saat dibebani salju yang membeku
dan mencair, menyusut dan memuai. Rumah ini kini kembali berduet dengan air dalam
melantunkan nyanyiannya.
Shiro mengawasiku seakan-akan tahu dia pikiranku.
"Aku mendengar kabar bahwa Lord Iida telah memesan lantai yang dapat berkicau
seperti burung bulbul," katanya. "Tapi siapa yang membutuhkan lantai yang dapat
bernyanyi seperti burung, bila lantai itu telah memiliki alunannya sendiri?"
"Apa gunanya lantai seperti itu?" tanya Lord Shigeru dengan nada seolah-olah
tidak tertarik.
"Dia takut pada pembunuh bayaran. Lantai itu seperti memberi semacam
perlindungan. Tak seorang pun dapat melintasi lantai itu tanpa mengeluarkan bunyi
mendecit."
"Bagaimana membuatnya?"




91
Shiro mengambil sepotong kayu, lalu dia menjelaskan cara memasang balok-balok
itu agar papan lantai bisa mengeluarkan bunyi mendecit. "Kudengar mereka telah
membuatnya. Umumnya orang ingin agar lantainya tidak mendecit, sehingga tidak ada
orang tertarik untuk membuat lantai yang berbunyi karena hanya akan membuatmu
terbangun. Tapi Iida tidak bisa tidur di malam hari. Dia takut ada yang merayap
mendekatinya—kini dia tak bisa tidur, cemas kalau-kalau lantainya akan bernyanyi!"
Chiro tertawa.
"Bisakah kau buatkan lantai seperti itu?" pinta Lord Shigeru.
Shiro menyeringai lebar ke arahku. "Aku bisa membuat lantai yang tak berbunyi,
bahkan Takeo pun tak akan bisa mendengarnya. Jadi, kurasa aku bisa membuatkan
lantai yang dapat bernyanyi."
"Takeo akan membantumu," perintah Lord Shigeru. "Dia perlu tahu cara
membuat lantai itu."
Aku tidak mempertanyakan alasannya karena aku sudah bisa menduganya.
Percakapan lalu berpindah ke soal ruangan untuk minum teh. Sementara Shiro mengarahkan
cara membangun, dia juga membuat papan lantai bernyanyi yang kecil, sebuah
papan yang bisa digunakan untuk berjalan. Papan itu dia letakkan di beranda, dan aku
menyaksikan setiap papan itu disusun, setiap balok dan pasak dipasang.
Chiyo mengeluh karena bunyi itu membuat dia sakit kepala, dan bunyinya lebih
mirip suara tikus ketimbang suara burung. Tapi akhirnya penghuni rumah ini mulai
terbiasa dengan bunyi itu, dan kebisingannya telah menjadi bagian dari nyanyian
keseharian yang dilantunkan rumah ini.
Lantai ini membuat Kenji girang: dia mengira bunyi lantai itu akan membuatku
tertahan di dalam rumah. Lord Shigeru tidak mengatakan apa pun tentang alasan
kenapa aku harus tahu cara membuat lantai itu, tapi kurasa dia tahu kalau aku tertarik.
Aku duduk mendengarkan decitan lantai seharian. Aku bisa tahu siapa vang berjalan di
atasnya hanya dengan mendengar buiiyi lantai. Aku pun bisa memperkirakan nadanada
berikutnya yang akan dilantunkan lantai itu. Aku berusaha melintasi lantai itu




92
tanpa menimbulkan bunyi. Dan ternyata itu cukup sulit—kurasa Shiro telah
membuatnya dengan baik—tapi bukan berarti tidak mungkin. Aku ikut membuat
lantai itu, dan bagiku itu tidak ada yang luar biasa. Hanya masalah waktu sebelum aku
dapat melintasi lantai itu tanpa berbunyi. Dengan sabar, yang aku tahu adalah bagian
dari sifat Tribe, aku berlatih melintasi lantai itu.
Hujan mulai turun. Di suatu malam, udara terasa begitu panas dan lembab
sehingga aku tidak bisa tidur. Saat hendak mengambil air minum dari pancuran, aku
terhenti di pintu, melihat ke lantai yang terbentang di depanku. Aku harus melintasi
lantai ini tanpa membuat seisi rumah terbangun.
Aku bergerak dengan cepat, kakiku tahu bagian mana yang boleh diinjak dan
seberapa besar tekanannva. Lantainya tidak berbunvi, diam membisu. Aku kegirangan,
bukan karena menjadi bagian dari Tribe, tapi karena memperoleh kemampuan yang
diwariskan oleh keturunan Tribe, sampai aku mendengar desah napas, dan saat
berbalik, aku melihat Lord Shigeru sedang memandangiku.
"Kau dengar?" tanyaku kecewa.
"Tidak, aku belum tidur. Bisa kau ulangi lagi?"
Aku masih berjongkok di tempat yang sama selama beberapa saat. Kuhampakan
diriku seperti yang biasa dilakukan kaum Tribe, dengan membiarkan seluruh bagian
diriku kosong. Lalu aku berlari melintasi lantai itu. Burung-burung itu tetap diam,
tidak ada bunyi yang terdengar.
Aku membayangkan Iida yang berada di Inuyama sedang berbaring, tidak bisa
tidur, menanti nyanyian burung keluar dari lantainya. Aku membayangkan diriku
berjalan merayap ke arahnya dengan perlahan tanpa dia sadari.
Seandainya Lord Shigeru sedang memikirkan hal yang sama, dia tak akan
mengatakannya. Dia hanya mengatakan, "Aku benar-benar kecewa pada Shiro. Semula
kupikir lantai ini akan dapat menahanmu."
Tidak ada yang bertanya, Akankah Iida terpedaya? Meskipun pertanyaan itu tetap
ada di antara kami dalam kelembaban udara malam di bulan keenam.




93
Begitu rumah teh selesai dibangun, hampir setiap sore kami menghabiskan teh di sana.
Ini membuatku teringat saat pertama kali merasakan hidangan teh lezat yang disajikan
Lady Maruyama. Kurasa Lord Shigeru membangun tempat ini dengan membawa
kenangan wanita bangsawan itu di benaknya, meskipun dia tidak mengatakannya. Di
pintu ruang teh terdapat tangkai-tangkai bunga karmelia yang saling melilit; mungkin
karena itu adalah simbol pernikahan sehingga semua orang mulai membicarakan
tentang pernikahan. Ichiro yang paling mendesak Lord Shigeru untuk segera mencari
pendamping. "Kematian ibumu dan Takeshi yang selalu menjadi landasanmu. Sudah
sepuluh tahun kau melajang, dan belum punya anak. Sungguh keterlaluan!"
Pelayan bergunjing tentang Lord Shigeru, tak sadar kalau aku dapat mendengarnya
dengan jelas. Umumnya pendapat mereka hampir benar, meskipun mereka kurang
yakin. Mereka berpendapat bahwa Lord Shigeru jatuh cinta pada wanita yang tidak
layak untuknya atau wanita itu sulit diraih. Mereka berdua pasti telah mengikat janji
setia. Para pelayan berkeluh kesah, menyesali karena tidak seorang pun dari mereka
yang diundang menghabiskan waktu di ranjang Lord Shigeru. Sedangkan pelayan yang
lebih tua lebih realistis. Menurut mereka, semua itu hanya ada dalam syair lagu, tidak
mungkin terjadi di dunia nyata. "Mungkin dia lebih menyukai laki-laki," balas Haruka,
gadis yang paling berani di antara mereka, berkata sambil tertawa kecil, "Tanya saja
pada Takeo!" Sedangkan Chiyo mengatakan bahwa tidak menikah bukan berarti dia
lebih menyukai laki-laki.
Lord Shigeru mengelak dari semua pertanyaan soal pernikahan dengan
mengatakan bahwa ia lebih menaruh perhatian mengenai pengangkatanku sebagai
anaknya. Selama berbulan-bulan tidak ada kabar dari pemimpin klan Otori, selain
kabar bahwa masalah itu sedang dipertimbangkan. Masih banyak urusan yang sedang
mereka selesaikan, urusan yang jauh lebih penting. Sekarang ini Iida sedang
berkampanye di wilayah Timur, dia memaksa mereka untuk bergabung dengan Tohan,
atau akan diserang dan dimusnahkan. Tak lama lagi, Iida akan mengalihkan




94
perhatiannya ke Wilayah Tengah. Pemimpin Otori sepakat untuk memilih jalan
damai. Kedua paman Lord Shigeru tak berani melawan Iida dan mempertaruhkan
wilayah mereka bila berperang lagi. Tapi usulan untuk menyerahkan wilayah Otori
pada Tohan masih ditolak oleh sebagian besar petinggi klan Otori.
Hagi dipenuhi dengan rumor dan ketegangan. Kenji terlihat tidak tenang. Dia
selalu mengawasiku, dan ini membuatku kesal.
"Akan ada lebih banyak lagi mata-mata Tohan yang datang ke kota ini," ujar
Kenji. "Cepat atau lambat, salah seorang dari mereka akan mengenali Takeo. Ijinkan
aku membawanya pergi."
"Setelah resmi diangkat sebagai anggota klan Otori, Iida akan berpikir dua kali
untuk menyentuhnya," balas Lord Shigeru.
"Kurasa kau terlalu meremehkan Iida. Dia akan menantang siapa pun."
"Mungkin saja dia berani di Timur. Tapi tidak di wilayah Tengah."
Mereka sering bertengkar tentang masalah ini, Lord Shigeru menghindar dari
Kenji, tetap menolak anggapan adanya bahaya bagiku. Dia yakin bahwa setelah aku
resmi diangkat anak olehnya, aku akan lebih aman bila berada di Hagi.
Aku menangkap perasaan yang ada pada diri Kenji. Dia selalu menjagaku, selalu
waspada, selalu mengawasi. Satu-satunya saat aku merasa tenang hanya ketika aku
sedang menyerap semua keahlian baru. Aku sangat bersemangat mempertajam bakat
yang kumiliki.
Akhirnya, sebuah pesan datang di akhir bulan ketujuh: Lord Shigeru diminta
membawaku ke kastil, tempat kediaman pamannya karena akan ada keputusan tentang
pengangkatan diriku.
Setelah Chiyo menggosok badanku, mencuci dan merapikan rambutku, dia
memberiku beberapa pakaian baru walaupun warnanya telah memudar. Ichiro terus
menerus mengajariku etika dan sopan-santun, bahasa yang harus kugunakan, dan
seberapa rendah aku harus membungkuk. "Jangan kecewakan kami," dia berbisik saat
kami berangkat. "Setelah apa yang Lord Shigeru lakukan, jangan kecewakan dia."




95
Kenji tidak ikut bersama kami, tapi dia bilang akan mengiringi kami dari jauh.
"Buka telingamu." Dia berpesan—seakan-akan aku akan sempat melakukan hal yang
lain.
Aku menunggang Raku, kuda pucat keabu-abuan yang memiliki surai dan ekor
berwarna hitam. Lord Shigeru berada di depanku dengan menunggang kuda hitamnya,
Kyu, dan diiringi enam orang pengawal. Semakin dekat ke kastil, aku makin panik.
Bayangan kastil terhampar di depan kami, membuatku lemah tak berdaya. Apa yang
sedang kulakukan, apakah berpura-pura menjadi bangsawan, menjadi ksatria? Begitu
kedua pemimpin Otori melihatku, mereka akan segera mengetahui jati diriku yang
sebenarnya: putra wanita petani dan seorang pembunuh. Lebih buruk lagi, aku merasa
tersingkap dengan cara yang mengerikan saat aku menunggang kuda melalui jalan yang
penuh sesak. Aku membayangkan semua orang menatapku.
Raku dapat merasakan kepanikanku. Gerakan tiba-tiba di kerumunan langsung
membuatnya takut. Setelah mengatur napas dan melemaskan badanku, Raku pun
segera tenang kembali. Tapi tiba-tiba Raku berbalik arah dan saat aku berusaha agar
Raku ke arah semula, aku melihat seseorang di jalan. Meskipun hanya sekilas, aku
langsung tahu siapa dia. Lengan kanannya buntung. Dialah orang yang mengejarku
hingga ke bukit, orang yang lengan kanannya tertebas Jato.
Dia seperti tidak mengawasiku, dan aku juga tidak tahu apakah dia mengenaliku.
Kutarik kudaku memutar ke arah semula dan melanjutkan perjalanan. Aku tidak yakin
kalau aku menunjukkan tanda-tanda sedang memperhatikan dia. Kejadian itu terjadi
hanya dalam sekejap.
Anehnya, peristiwa itu tidak membuatku cemas. Ini kenyataan, pikirku. Ini
bukanlah permainan. Mungkin aku pura-pura menjadi orang lain, tapi jika gagal, itu
berarti mati. Lalu, aku berpikir, aku adalah Kikuta. Aku dari Tribe. Aku bisa menjadi
siapa saja.
Ketika kami melalui parit yang mengelilingi benteng aku melihat Kenji di antara
kerumunan orang. Dia menyamar sebagai orang tua dengan kimono lusuh. Setelah itu,




96
pintu gerbang utama terbuka, lalu kami masuk ke halaman kastil.
Di tempat ini kami turun dari kuda. Pengawal tetap bersama kuda, sedangkan aku
dan Lord Shigeru disambut seorang laki-laki tua, pengurus rumah. Dia yang
mengantar kami ke rumah pemimpin Otori.
Rumah ini sangat megah, dibangun di sisi kastil yang mengarah ke laut dan di
belakangnya terdapat bailey* yang luas. Dinding yang berada di dekat laut dikelilingi
parit lagi, dan sesudah parit terbentang taman yang indah. Bukit kecil dengan pohon
yang tumbuh teratur dan menjulang di bagian belakang kastil; di atas pepohonan
tampak berdiri atap kuil yang berbentuk kurva.
Teriknya matahari membuat batu di sekitar sini terasa panas. Keringat membasahi
ketiak dan keningku. Terdengar debur ombak di balik dinding. Ingin sekali aku
berenang di dalamnya.
Kami melepas sandal, dan pelayan datang membawakan air dingin untuk
membasuh kaki kami. Orang tua itu menuntun kami masuk ke dalam rumah. Waktu
berjalan terasa lambat, ruangan demi ruangan kami; lalui, setiap ruangan dirancang
dengan megah dan mewah. Akhirnya kami sampai di ruangan kecil, tempat kami
diminta menunggu. Kami duduk di lantai sangat lama. Awalnya aku sangat marah—
atas penghinaan pada Lord Shigeru; marah karena tahu bahwa rumah yang sangat
mewah ini dibiayai dari pungutan pajak. Akti ingin mengatakan pada Lord Shigeru
tentang anak buah Iida yang kulihat di Hagi tadi, tapi aku tidak berani bersuara. Dia
seperti terpikat pada lukisan di pintu, lukisan seekor burung bangau abu-abu yang
sedang berdiri di sungai yang berwarna kehijauan. Bangau itu sedang menatap gunung
yang bernuansa keemasan dan merah jambu.
Aku teringat nasihat Kenji, dan aku menghabiskan waktu dengan mendengarkan
bunyi-bunyian di rumah ini. Tak terdengar nyanyian sungai seperti di rumah Lord
Shigeru, namun rumah ini melantunkan nada-nada yang seram, ditambah lagi dengan
bunyi deburan ombak laut yang tidak pernah berhenti. Aku menghitung langkah kaki,
dan aku menyimpulkan ada sekitar lima puluh tiga orang yang tinggal di rumah ini.




97
Aku mendengar tiga bocah sedang bermain dengan dua ekor anak anjing di taman.
Aku mendengar para wanita bangsawan sedang berbincang tentang keinginan mereka
untuk bepergian menggunakan perahu jika cuaca telah bersahabat.
Dari bagian rumah yang paling dalam aku mendengar dua orang sedang berbicara
dengan pelan. Aku mendengar nama Shigeru disebut. Aku sadar kalau itu adalah
percakapan rahasia antara kedua pamannya.
"Yang terpenting yaitu bagaimana memaksa Shigeru menyetujui pernikahan ini,"
kata salah seorang di antara mereka. Dari suaranya aku tahu dia sudah tua, dan
berpengaruh. Aku mengerutkan dahi, bertanya-tanya, apa maksud mereka? Bukankah
kami diundang untuk mcmbicarakan soal pengangkatanku?
"Dia selalu menolak untuk menikah," kata orang yang kedua, suaranya
menunjukkan kalau dia lebih muda. "Apalagi menikah untuk mempererat persekutuan
dengan Tohan, karena dia orang yang paling menentang persekutuan ini... Ini bisa
membuat dia marah."
"Saat ini kita dalam bahaya," kata orang yang lebih tua. "Kemarin ada kabar
tentang keadaan di Wilayah Barat. Seishuu sedang bersiap menyatakan perang terhadap
Iida. Arai, Lord Kumamoto, yang pernah diusir oleh Noguchi telah menyusun
kekuatan untuk melawan Noguchi dan juga Tohan sebelum musim dingin."
"Apakah Shigeru berhubungan dengan Arai? Itu bisa memberi dia peluang
untuk..."
"Tak perlu kau jelaskan," balas saudaranya. "Aku tahu ketenaran Shigeru.
Andaikan dia bersekutu dengan Arai, mereka bisa mengalahkan Iida."
"Kecuali kita... melucuti dia lebih dulu."
"Pernikahan adalah jawabannya. Pernikahan akan membawa Shigeru ke Inuyama,
tempat di mana dia akan berada dalam pengawasan Iida. Dan gadis bangsawan yang
diajukan, Lady Shirakawa Kaede, memiliki reputasi yang sangat menguntungkan."
"Apa maksudmu?"
"Dua orang telah tewas karena gadis itu. Bila Shigeru menjadi korban yang ketiga,




98
kita tak akan dipersalahkan."
Orang yang lebih muda tertawa pelan, caranya tertawa membuatku ingin
membunuhnya. Aku tarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Bagaimana bila dia menolak?" tanyanya.
"Kita jadikan pernikahan ini sebagai syarat bagi Shigeru untuk mengangkat anak
itu. Kurasa anak itu tak akan membahayakan kita."
"Aku sudah berusaha menyelidiki tentang anak itu," kata orang yang lebih muda,
nada suaranya mirip ahli dokumen sejarah terpelajar. "Aku tidak melihat adanya
hubungan anak itu dengan mendiang ibunya Shigeru. Tak ada tanda-tanda keberadaan
anak itu dalam silsilah keluarga."
"Mungkin bukan keturunan sah," ujar laki-laki yang lebih tua. "Kudengar dia mirip
Takeshi."
"Benar, dari raut wajahnya sulit untuk mengatakan kalau dia bukan dari darah
Otori, tapi kalau kita mengadopsi semua anak haram kita..."
"Tentu saja dalam situasi biasa, persoalan itu tak berlaku. Tapi masalahnya
sekarang..."
"Aku sependapat."
Lantai berderit pelan sewaktu mereka berdiri.
"Satu hal lagi," ucap orang yang lebih tua. "Kau yakinkan aku bahwa Shintaro tak
akan gagal. Bagaimana kejadian sebenarnya?"
"Aku telah berusaha mencari tahu. Tampaknya, anak itu mendengar kedatangan
Shintaro lalu dia membangunkan Shigeru. Shintaro tertelan racunnya sendiri."
"Anak itu bisa mendengarnya? Apakah dia juga berasal dari Tribe?"
"Mungkin saja. Muto Kenji muncul di rumah Shigeru tahun lalu. Menurut kabar,
dia menjadi guru anak itu. Sepertinya dia tak memberi pelajaran biasa." Sekali orang
yang lebih muda tertawa, membuat darahku mendidih. Di saat yang sama, aku
mencemooh kedua orang itu. Mereka sudah tahu aku memiliki pendengaran yang
tajam, tapi mereka tidak pernah berpikir keahlianku dapat berlaku pada mereka juga di




99
sini, di rumah mereka sendiri.
Mereka lalu keluar dari ruangan itu ke ruangan yang terletak di belakang ruangan
tempat kami menunggu.
Tidak lama kemudian masuklah orang tua yang tadi menyambut kami. Dia
menggeser pintu perlahan dan meminta kami masuk ke ruang pertemuan. Dua
bangsawan Otori itu terlihat duduk berdampingan di kursi rendah. Beberapa orang
sedang duduk berlutut di setiap sudut ruangan. Lord Shigeru segera membungkuk, dan
aku melakukan hal yang serupa, tapi sebelumnya aku melihat sekilas ke arah kedua
orang bersaudara ini, orang yang membuat hatiku sangat pedih.
Orang yang lebih tua, Lord Otori Shoichi, bertubuh tinggi dan tidak berotot.
Wajahnya kurus dan cekung; dia memiliki kumis kecil. Janggut dan rambutnya mulai
memutih. Sedangkan orang yang lebih muda, Masahiro, pendek dan gemuk. Dia
berdiri sangat tegak, seperti yang biasa dilakukan orang pendek. Wajahnya tidak
berjanggut, mukanya pucat dan ada beberapa tahi lalat hitam menghiasi wajahnya.
Rambutnya hitam, walaupun tipis. Pada diri mereka ada keunikan raut wajah Otori,
tulang pipi yang menonjol dan hidung bengkok, tapi semua itu menjadi rusak karena
sifat busuk mereka. Mereka terlihat kejam dan juga lemah.
"Lord Shigeru—keponakanku—telah lama kami menanti kedatanganmu," sambut
Shoichi dengan ramah.
Lord Shigeru menegakkan badan, sementara aku tetap menyembah.
"Akhir-akhir ini kami sering memikirkan dirimu," kata Masahiro. "Kami mencemaskan
keadaanmu. Kematian adikmu tidak lama setelah kematian ibumu, juga
penyakit yang kau derita, semua itu menjadi beban berat bagimu."
Kata-kata itu terdengar sangat manis, tapi aku tahu mereka mengatakan dengan
penuh kepalsuan.
"Terima kasih atas perhatiannya," balas Shigeru, "Tapi ijinkan aku memperbaiki
ucapan kalian. Adikku tidak mati secara wajar. Dia dibunuh."
Lord Shigeru mengatakan itu tanpa emosi, seakan dia hanya mengungkapkan




100
suatu kenyataan. Semua terdiam. Ruangan sunyi-senyap.
Dengan berpura-pura senang, Lord Shoichi memecah kesunyian dengan berkata,
"Inikah dia yang hendak kau angkat anak? Kehadirannya pun kami nanti-nantikan.
Siapa namanya?"
"Kami memanggilnya Takeo," jawab Shigeru.
"Benarkah pendengarannya sangat tajam?" Masahiro agak mencondongkan
tubuhnya ke depan.
"Tak ada yang istimewa," kata Shigeru. "Kita semua memiliki pendengaran yang
tajam saat masih muda."
"Duduk tegak, anak muda," perintah Masahiro kepadaku. Saat aku menegakkan
tubuh, dia mengamati wajahku beberapa saat, lalu dia bertanya, "Ada berapa hanyak
orang di taman?"
Aku mengerutkan alis seolah-olah sedang menghitung. "Dua orang anak dan
seekor anjing," aku hanya menduga-duga saja. "Seorang pengurus taman ada di balik
dinding?"
"Menurutmu, ada berapa banyak orang di rumah ini?"
Aku mengangkat bahu, namun kemudian berpikir bahwa tindakanku kurang
sopan, dan aku perbaiki dengan membungkuk kembali. "Lebih dari empat puluh lima
orang? Maafkan aku, Lord Otori, aku tidak memiliki kemampuan yang hebat."
"Ada berapa orang?" tanya Lord Shoichi.
"Lima puluh tiga orang, kurasa."
"Mengesankan," kata yang lebih tua, tapi aku mendengar desah napas lega.
Aku kembali membungkukkan kepala ke lantai dan mempertahankan posisi, aku
merasa lebih aman dalam keadaan seperti itu.
"Kami menunda masalah ini cukup lama, Shigeru, karena kami tidak yakin dengan
keadaanmu. Kesedihan tampaknya telah membuat pikiranmu tidak stabil."
"Aku baik-baik saja," balas Lord Shigeru. "Aku tidak mempunyai anak, dan
Takeshi telah tiada. Tidak ada yang menjadi pewarisku. Aku memiliki kewajiban pada




101
anak ini dan itulah yang harus kupenuhi. Takeo telah diterima di rumahku dan telah
menjadi bagian dari rumah kami. Aku berharap dia dapat disahkan menjadi anggota
klan Otori."
"Bagaimana menurut anak ini?"
"Bicaralah, Takeo," Lord Shigeru mendesakku untuk bicara.
Aku menegakkan badan, tenggorokanku sulit menelan, dan seketika saja aku
dilanda emosi yang tak tertahankan. Aku ketakutan. "Aku berhutang nyawa pada Lord
Otori, sedangkan dia tidak berhutang apa pun padaku. Penghormatan untukku terlalu
berlebihan, tetapi bila ini memang keinginan Lord Shigeru—dan tuanku—maka aku
akan menerima dengan sepenuh hati. Aku akan berbakti pada klan Otori dengan jiwa
dan raga."
"Bila demikian, baiklah," kata Lord Shoichi.
"Semua dokumennya sudah siap," tambah Lord Masahiro. "Kami akan segera
menandatanganinya."
"Paman begitu baik dan sangat murah hati," kata Shigeru, "Aku berterima kasih."
"Ada satu hal lagi, Shigeru, kami harap kau mau bekerjasama."
Aku menyembah kembali. Jantungku serasa hendak melompat ke tenggorokan.
Ingin rasanya aku memperingatkan Lord Shigeru tanpa harus mengatakannya secara
langsung.
"Kau sudah tahu kalau kami sedang bernegosiasi dengan Tohan. Kami lebih
memilih untuk bersekutu. Kami juga tahu kau menentang rencana itu, tapi kau masih
terlalu muda untuk tergesa-gesa mengambil keputusan..."
"Usiaku mendekati tiga puluh, rasanya aku tidak pantas lagi dibilang muda." Sekali
lagi, Lord Shigeru mengemukakan kenyataan dengan tenang, seakan-akan tak ada
yang dapat diperdebatkan tentang dirinya. "Dan sebenarnya aku tidak meng-inginkan
peperangan atau persekutuan. Hanya saja, sifat dan tingkah laku Tohan yang
membuatku keberatan."
Kedua pamannya tidak menanggapi pernyataan ini. Suasana di ruangan ini agak




102
tegang. Shigeru diam. Dia telah menyatakan pandangannya dengan gamblang, bahkan
terlalu jelas. Lord Masahiro memberi isyarat kepada laki-laki pengurus rumah, dan
orang itu langsung menepuk tangan perlahan. Tak lama kemudian pelayan datang
membawa teh. Ketiga bangsawan Otori itu lalu minum. Aku tidak ditawari.
"Baiklah, persekutuan akan tetap berjalan," kata Lord Shoichi akhirnya. "Lord Iida
telah mengajukan pernikahan antar klan sebagai syaratnya. Sekutu terdekatnya, Lord
Noguchi juga telah menetapkan calonnya. Lady Shirakawa Kaede namanya."
Shigeru tampak sedang mengagumi cangkir teh. Dia memegang dengan satu
tangan. Dia meletakkan cangkir itu dengan hati-hati di atas tatakan yang ada di depannya,
lalu duduk tanpa bergerak.
"Kami ingin menjodohkanmu dengan Lady Shirakawa," ujar Lord Masahiro.
"Maaf paman, aku tak ingin menikah lagi. Aku tak berpikir untuk menikah."
"Kau beruntung memiliki kerabat yang masih memikirkan dirimu. Lord Iida
sangat menginginkan pernikahan ini. Persekutuan Otori dan Tohan tergantung pada
pernikahanmu."
Lord Shigeru membungkuk. Ruangan ini kembali sunyi-senyap. Aku mendengar
dua langkah kaki mendekat, perlahan dan berhati-hati. Salah seorang dari mereka
membawa sesuatu. Pintu di belakang kami bergeser dan mereka masuk dengan
membawa meja untuk menulis, tinta, kuas dan cairan berwarna merah untuk
membubuhkan stempel.
"Ah, ini dia surat pengangkatannya!" Lord Shoichi berkata dengan keramahan
yang dibuat-buat. "Bawa kemari."
Juru tulis itu maju dengan berlutut dan meletakkan meja itu di depan kedua
bangsawan, lalu dengan lantang dia membacakan surat pernyataan yang telah dibuat
sebelumnya. Bahasanya berbunga-bunga, tapi isinya sederhana: Aku berhak
menggunakan nama Otori dan menerima semua keistimewaan sebagai anak laki-laki di
klan ini. Jika memiliki anak, maka anakku memiliki hak yang sama sepertiku. Dan
imbalannya aku sepakat untuk berperilaku sebagai anak Lord Shigeru, menerima




103
perintahnya dan bersumpah setia pada klan Otori. Jika dia meninggal tanpa pewaris
sah lainnya, maka aku yang akan mewarisi semua hak miliknya.
Kedua bangsawan itu lalu mengambil stempel.
"Pernikahan akan dilangsungkan di bulan kesembilan," kata Masahiro, "Setelah
Festival of the Dead **. Lord Iida ingin pernikahan ini dirayakan di Inuyama. Noguchi
telah mengirim Lady Shirakawa ke Tsuwano. Kalian akan bertemu di sana dan
kemudian kau mendampingi mereka ke Ibukota."
Stempel itu menggantung di udara, seperti tertahan oleh kekuatan gaib. Masih ada
waktu bagiku untuk bicara, untuk menolak pengangkatanku atas syarat yang diajukan
dan memperingatkan Lord Shigeru bahwa itu adalah jebakan. Tapi aku hanya terdiam.
Semua ini berlangsung di luar kendali manusia. Kini hidup kami ada di tangan takdir.
"Bisakah kami stempel sekarang, Shigeru?" tanya Masahiro dengan kesopanan
yang berlebihan.
Lord Shigeru berkata tanpa ragu. "Silakan," katanya. "Aku terima pernikahan ini,
dan aku merasa bahagia bisa membuat kalian senang."
Maka stempel itu pun dibubuhkan dan kini aku resmi menjadi keluarga klan Otori,
menjadi anak angkat Lord Shigeru. Dan saat stempel klan Otori ditekan di atas kertas,
kami sadar kalau stempel itu telah menentukan takdir kami.
Kabar tentang pengangkatanku lebih dulu sampai di rumah dari kami, dan pesta pun
telah disiapkan. Lord Shigeru dan aku sebenarnya tidak begitu gembira, tapi sepertinya
Lord Shigeru telah membuang kecemasannya tentang pernikahan dan menunjukkan
rasa senang yang tidak dibuat-buat. Begitu juga seluruh penghuni rumah ini. Aku telah
menjadi bagian dari mereka sejak tinggal di rumah ini. Dalam pesta ini, aku dipeluk,
disentuh, dan dihujani dengan beras merah. Aku disuguhi teh khusus pembawa
keberuntungan buatan Chiyo, hasil racikan ganggang dan buah plum yang telah
diasinkan. Semua perlakuan itu membuat mukaku pegal karena terlalu banyak




104
tersenyum, dan air mata kegembiraan berlinang, rasa sedih aku kesampingkan.
Kini Lord Shigeru lebih pantas mendapatkan kasih sayang dan kesetiaanku.
Kelicikan pamannya membuat aku sangat marah, dan aku juga mencemaskan rencana
jahat mereka. Apalagi dengan kemunculan orang berlengan satu itu. Aku merasakan
tatapan Kenji yang tidak lepas dariku: Aku tahu dia sudah tidak sabar ingin
mengetahui apa kudengar, aku pun sudah tidak sabar untuk menceritakan pada Kenji
dan Lord Shigeru. Tapi hari telah larut malam, kasur telah dibentangkan, dan semua
pelayan telah terlelap, aku masih segan untuk merusak kegembiraan bila harus
menyampaikan berita buruk. Aku pergi tidur tanpa berkata apa-apa lagi, tapi Kenji,
yang biasanya paling tenang, menghadang saat aku hendak mematikan lampu. Dia
berkata, "Sekarang kau harus mengatakan apa yang kau dengar dan kau lihat."
"Akan kukatakan besok," kataku.
Bayangan kelam nampak di mata Lord Shigeru. Meskipun sedih, aku tetap
berusaha tenang. Dia berkata, "Kurasa kita harus bersiap menghadapi yang terburuk."
"Apa yang membuat kudamu takut?" tanya Kenji.
"Karena aku gugup. Pada saat yang bersamaan, aku melihat orang yang berlengan
satu itu."
"Ando. Aku juga melihatnya. Aku tak tahu kalau kau melihatnya, kau tidak
bereaksi apa-apa."
"Dia mengenali Takeo?" tanya Lord Shigeru.
"Dia memperhatikan kalian sejenak, lalu pura-pura acuh. Tapi fakta bahwa dia ada
di sini menunjukkan hahwa dia telah mendengar sesuatu." Kenji menatapku lalu
melanjutkan, "Si pedagang sahabatmu itu pasti sudah buka mulut!"
"Aku senang Takeo telah diangkat secara resmi," kata Shigeru. "Ini bisa
memberinya perlindungan."
Aku hendak mengatakan apa yang kudengar siang tadi, tapi aku masih merasa sulit
untuk mengatakan kekejian kedua orang itu. "Maaf Lord Shigeru," aku mulai
berbicara, "Aku mendengar kedua pamanmu berbicara rahasia."




105
"Kurasa kau mendengar percakapan itu saat kita menghitung—atau salah
menghitung jumlah penghuni rumah pamanku," balasnya dengan nada datar. "Mereka
membicarakan tentang pernikahanku?"
"Siapa yang akan menikah?" tanya Kenji.
"Aku dipaksa menikah untuk mempererat persekutuan antara Otori dengan
Tohan," jawab Lord Shigeru. "Calonnya adalah tawanan Lord Noguchi yang bernama
Shirakawa."
Alis mata Kenji naik tanpa berkata sepatah kata pun. Lord Shigeru melanjutkan,
"Pamanku menyatakan dengan jelas bahwa pengangkatan Takeo bergantung pada
pernikahan ini." Dia menatap ke arah kegelapan dan berkata perlahan, "Aku terjebak di
antara dua kewajiban. Aku tak bisa memenuhi keduanya, tapi aku pun tak boleh
merusak keduanya."
"Takeo harus mengatakan isi pembicaraan kedua pemimpin Otori itu," guman
Kenji.
Ini mempermudah aku untuk mengatakannya. "Pernikahan itu hanyalah jebakan
yang dirancang untuk mengusir Lord Shigeru dari Hagi karena popularitas Lord
Shigeru dan perlawanannya pada Tohan dapat memecah-belah klan Otori. Seseorang
yang bernama Arai saat ini sedang bersiap-siap menantang Iida di Barat. Bila Otori
bergabung dengannya, Iida akan terkurung di tengah." Suaraku menghilang pada
kalimat terakhir, lalu aku memandangi Lord Shigeru. "Lord Otori tahu semua ini?"
"Aku memang berhubungan dengan Arai," jawabnya. "Lanjutkan."
"Lady Shirakawa memiliki reputasi buruk sebagai pembawa kematian bagi lakilaki.
Pamanmu berencana untuk..."
"Membunuhku?" suaranya tidak menunjukkan perasaan apa pun.
"Tidak seharusnya aku mengatakan hal yang memalukan ini," aku menggerutu,
wajahku memanas seakan terbakar. "Mereka yang membayar Shintaro untuk
memunuhmu."
Jangkrik sedang bernyanyi riang di taman. Keringat membanjiri keningku, udara




106
terasa panas dan pengap. Malam ini tidak ada bulan maupun bintang. Sungai
menyebarkan bau busuk dan lumpur, bau yang berasal dari jaman primitif, sama
primitifnya seperti pengkhianatan.
"Aku sadar kalau mereka tidak menyukaiku," kata Lord Shigeru. "Tapi tidak
mengira mereka akan menyuruh Shintaro membunuhku! Mereka tentu menganggap
aku sebagai ancaman." Lord Shigeru menepuk bahuku. "Terima kasih, Takeo. Aku
senang kau menemaniku ke Inuyama."
"Kau pasti bercanda," seru Kenji. "Kau tidak boleh mengajak Takeo ke sana!"
"Nampaknya aku harus pergi, dan aku merasa lebih aman jika dia ikut bersamaku.
Lagi pula dia anakku. Dia harus menemaniku."
"Ajak aku ikut bersamamu!" aku menyela.
"Kau akan menikahi Lady Shirakawa Kaede?" tanya Kenji.
"Kau tahu tentang dia, Kenji?"
"Tentu. Siapa yang tidak tahu? Usianya hampir lima belas tahun dan cantik,
begitulah kata orang."
"Kalau begitu aku tak akan menikahinya." Suara Lord Shigeru terdengar ringan,
hampir seperti bercanda. "Tapi tak ada ruginya bila orang mengira aku akan
menikahinya, setidaknya untuk sementara waktu. Hal ini akan mengalihkan perhatian
Iida dan memberi kita kesempatan selama beberapa minggu."
"Mengapa kau tidak mau menikah?" tanya Kenji. "Kau mengatakan kalau kau
terperangkap di antara dua kewajiban. Sewaktu kau sepakat untuk menikah demi
pengangkatan Takeo, aku bisa mengerti karena dia memang menjadi prioritas
utamamu. Apakah kewajiban kedua berarti kau sudah menikah secara diam-diam?"
"Mungkin seperti itu," Shigeru mengakui setelah diam sesaat. "Ada wanita lain."
"Siapa?"
"Sudah lama kusimpan rahasia ini, aku tidak yakin bisa menyimpannya lebih lama
lagi," balas Lord Shigeru. "Takeo boleh mengatakan siapa wanita itu, kalau dia tahu."
Kenji berbalik ke arahku. Aku menelan ludah dan berbisik, "Lady Maruyama?"




107
Shigeru tersenyum, "Sudah berapa lama kau tahu hal ini?"
"Sejak kita bertemu dengan Lady di penginapan, di Chigawa."
Baru pertama kali inilah aku melihat Kenji kaget. "Wanita yang membuat Iida
kebakaran jenggot dan juga ingin menikahinya? Sudah berapa lama kalian berhubungan?"
"Kau tak akan percaya," balas Shigeru.
"Setahun? Dua tahun?"
"Sejak aku berumur dua puluh tahun."
"Sepuluh tahun!" Kenji tampak kaget atas kenyataan hahwa dia tak tahu apa pun
tentang hubungan itu, sama kagetnya dengan kabar itu. "Sepertinya kau meniiliki
alasan lain untuk membenci Iida." Kenji menggelengkan kepala karena takjub.
"Hubungan kami lebih dari sekedar cinta," kata Shigeru perlahan. "Kami juga
bersekutu. Lady Maruyama dan Arai mengendalikan Seishuu dan Barat Daya. Jika
Otori bergabung dengan mereka, kami bisa mengalahkan Iida." Dia berhenti, lalu
melanjutkan, "Seandainya Tohan mengambil wilayah Otori, kita akan melihat
kekejaman dan penyiksaan yang sama seperti saat aku menyelamatkan Takeo di Mino.
Aku tidak bisa berdiam diri dan melihat Iida memaksakan keinginannya pada rakyatku.
Aku tak bisa melihat wilayahku dihancurkan dan desaku dibakar. Kedua pamanku—
dan juga Iida—sadar kalau aku tak akan menyerah sehingga mereka menyusun rencana
untuk menyingkirkanku. Iida mengundangku ke rumahnya, tempat yang hampir pasti
akan membuatku terbunuh. Aku akan memanfaatkan rencananya ini. Apakah ada cara
yang lebih baik agar bisa ke Inuyama?"
Kenji menatap Shigeru dengan dahi berkerut. Aku melihat senyum tulus Shigeru
dalam keremangan cahaya lampu. Ada sesuatu yang sangat menarik pada dirinya.
Keberaniannya membuat semangatku bergelora. Kini aku tahu mengapa orang begitu
mencintainya.
"Ada beberapa hal yang bukan menjadi perhatian Tribe," ujar Kenji akhirnya.
"Aku jujur padamu; aku yakin semua ini tak akan berlanjut lebih jauh lagi. Selain




108
berterima kasih karena kau telah menjaga rahasia, aku sangat berterima kasih atas
bantuanmu," kata Lord Otori.
"Aku tak akan mengkhianatimu, Shigeru. Tapi, seperti yang pernah kau katakan,
kesetiaan kita berbeda. Aku tak bisa mengingkari bahwa aku anggota Tribe. Takeo
adalah Kikuta. Cepat atau lambat Kikuta akan menjemputnya. Tak ada yang bisa
kulakukan akan hal itu."
"Biarkan Takeo yang menentukan pilihannya bila saatnya tiba," ujar Shigeru.
"Aku telah memberi sumpah setia pada Man Otori," kataku. "Aku tak akan pernah
meninggalkanmu, dan akan kulakukan apa pun yang kau minta."
Aku merasa seakan sudah berada di Inuyama, wilayah di mana Lord Iida Sadamu
meringkuk di balik nightingale floor miliknya.*




109
DENGAN membawa sedikit harapan tentang masa depannya, Kaede meninggalkan
kastil Noguchi tanpa ada penyesalan. Selama perjalanan ia tidak mampu menahan rasa
takjub atas semua yang ia lihat. Selama delapan tahun ia menjadi tawanan di Noguchi,
ia tidak hanya menghabiskan waktu di balik dinding.
Awalnya Kaede dan Lady Maruyama melakukan perjalanan dengan menggunakan
tandu yang diangkat oleh beberapa orang, namun tandu yang selalu bergoyang-goyang
membuat Kaede mual. Maka saat mereka berhenti untuk beristirahat, Kaede memaksa
keluar dan berjalan kaki bersama Shizuka. Cuaca saat itu sangat panas, matahari
bersinar begitu terik. Shizuka memakaikan topi lebar dan memegang payung untuk
melindungi seluruh tubuh Kaede.
"Kulit Lady Shirakawa tak boleh terlihat kecoklatan di depan calon suami, seperti
kulitku yang kecoklatan ini," dia berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Mereka beristirahat sejenak di penginapan pada saat tengah hari, lalu melanjutkan
perjalanan beberapa mil lagi sebelum malam. Di saat berhenti, Kaede memikirkan
berbagai hal yang ia lihat selama perjalanan: padi yang hijau cemerlang, begitu lembut
dan subur menyerupai bulu-bulu hewan; air sungai yang berada di sisi jalan
memercikkan kejernihan; gunung yang membentuk barisan diselimuti pepohonan yang
hijau dan bunga liar yang berwarna merah. Tampak pula orang yang berlalu-lalang di
jalan: para ksatria dalam balutan baju baja dengan pedang di pinggang sambil menunggang
kuda; petani membawa alat bertani; gerobak kuda, pengemis dan pedagang




110
keliling.
Kaede seharusnya tidak boleh menatap mereka, dan mereka harus membungkuk
ketika iring-iringan lewat, tapi Kaede mencuri pandang untuk melihat wajah mereka,
sama seperti yang mereka lakukan saat memandangi dirinya.
Mereka ditemani beberapa pengawal Lady Maruyama yang dipimpin oleh Sugita.
Dia nampak akrab dengan sang Lady layaknya seorang paman. Kaede juga rnenyukai
Sugita.
"Aku gemar berjalan-jalan saat seusiamu," kata Lady Maruyama saat mereka
menyantap hidangan malam. "Jujur saja, sampai sekarang aku masih senang melakukan
perjalanan, hanya saja aku takut terkena sinar matahari."
Dia menatap kulit Kaede yang belum berkeriput. Seharian dia memperlakukan
Kaede dengan ramah, tapi Kaede tidak bisa melupakan kesan pertama saat wanita ini
menunjukkan rasa tidak suka pada dirinya.
"Kau menunggang kuda?" tanya Kaede. Ia merasa iri pada laki-laki yang berada di
atas kuda: mereka tampak begitu berkuasa dan bebas.
"Kadang aku menunggang kuda," jawab Lady Maruyama. "Tapi, saat melewati
wilayah Tohan, aku menjadi wanita yang lemah, sehingga aku memakai tandu."
Kaede memandangi sang Lady dengan penuh tanda tanya. "Tapi menurut kabar,
Lady Maruyama sangat berkuasa," kata Kaede pelan.
"Kekuasaanku harus disembunyikan bila berada di dekat laki-laki," jawabnya, "atau
mereka tanpa ragu akan menghancurkanku."
"Aku belum pernah menunggang kuda," kata Kaede mengaku.
"Tapi, anak ksatria harus bisa menunggang kuda!" seru Lady Maruyama. "Keluarga
Noguchi tidak mengajarimu?"
"Mereka tidak mengajariku apa pun," jawab Kaede pedih.
"Kau tidak diajari menggunakan pedang maupun belati? Panah juga tidak?"
'Aku tak tahu kalau wanita juga belajar semua itu."
"Di wilayah Barat, mereka melakukannya." Sejenak tiuasana hening. Kaede yang




111
merasa masih lapar lalu mengambil sedikit nasi lagi.
"Apakah Noguchi memperlakukanmu dengan baik?" tanya Lady Maruyama.
"Awalnya tidak, tidak sama sekali." Kaede merasa seakan dirinya terbelah antara
kebiasaannya yang selalu menanggapi pertanyaan dengan berhati-hati, terutama
tentang dirinya, dan keinginannya untuk mempercayal wanita yang memiliki kesamaan
klas dengan dirinya. Di ruangan ini mereka berdua terpisah dari Shizuka dan pelayan
Lady Maruyama, Sachie, yang duduk tenang sehingga Kaede lupa akan kehadiran
mereka. "Setelah kejadian pada seorang penjaga, aku dipindah ke rumah mereka."
"Sebelumnya?"
"Aku serumah dengan para pelayan di kastil."
"Keterlaluan," kata Lady Maruyama dengan nada pahit. "Noguchi berbuat begitu?
Padahal kau dari klan Shirakawa..." Dia menunduk, lalu berkata, "Aku mencemaskan
anakku, dia menjadi tawanan Lord Iida."
"Keadaannya tidak begitu buruk saat aku masih kanak-kanak," kata Kaede. "Semua
pelayan sayang padaku. Namun, ketika musim panas tiba dan aku bukan lagi anak
kecil, meskipun belum dapat dikatakan dewasa, tak ada orang yang mau melindungiku.
Sampai suatu ketika ada penjaga yang menemui ajalnya..."
Masih trauma akan kejadian itu, suaranya menjadi tersendat. Emosinya meluap,
membuat matanya penuh dengan air mata. Kenangan beberapa waktu lalu kini datang
lagi menyergapnya: tangan penjaga itu, belati, darah, kematian orang itu di depannya.
"Maaf," bisik Kaede.
Lady Maruyama meraih tangan Kaede. "Anak yang malang," katanya sambil
meremas jari Kaede. "Semua anak yang malang, semua anak perempuan yang malang.
Andai aku mampu membebaskan kalian semua."
Tidak ada yang Kaede inginkan saat ini kecuali menangis, melepas semua beban di
hatinya. Dia berusaha mengendalikan diri. "Setelah kejadian itu, mereka memindahkan
aku ke rumah Noguchi. Setelah diberi pelayan pribadi, pertama bernama Junko, dan
kemudian Shizuka, barulah hidupku berubah lebih baik. Sebelumnya aku akan




112
dinikahkan dengan laki-laki tua. Aku lega orang itu mati. Tapi, orang mulai menyebar
rumor bahwa setiap orang yang menginginkan diriku pasti mati."
Kaede mendengar desah napas Lady Maruyama. Selama beberapa saat mereka
terdiam.
"Aku tak ingin menjadi penyebab kematian orang-orang itu," kata Kaede dengan
pelan. "Aku takut menikah. Aku tidak mau Lord Otori mati karenaku."
Lady Maruyama membalas ucapannya itu dengan lirih. "Kau tak boleh berkata
seperti itu, apalagi memikirkannya."
Kaede memandangnya. Wajah orang ini terlihat memucat di bawah sinar lampu,
seolah cemas.
"Aku sangat lelah," lanjut sang Lady. "Maaf, aku tak dapat berbincang lebih
banyak lagi. Lagipula perjalanan kita masih jauh." Dia memanggil Sachie. Semua
nampan makanan diangkat dan kasur pun dibentangkan.
"Apakah aku salah bicara sehingga dia menjadi tersinggung?" bisik Kaede. "Aku
tidak memahami dia. Kadang dia ramah, dan kadang dia melihatku seakan-akan aku
adalah racun baginya."
"Kau hanya berkhayal," ujar Shizuka dengan santai. "Lady Maruyama
menyukaimu. Terlepas dari semuanya, kau adalah kerabat terdekatnya."
Benarkah?" tanya Kaede dengan ragu dan, setelah Shizuka mengiakan dengan
anggukan, dia lalu bertanya lagi, "Apakah itu penting?"
"Sendainya terjadi sesuatu pada dia dan anaknya, maka kaulah yang menjadi
pewaris Maruyama. Tak ada yang mengatakan ini karena Tohan masih berharap bisa
menguasai wilayah itu. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Iida
memaksamu pergi ke Noguchi sebagai tawanan."
Melihat Kaede terdiam, Shizuka lalu melanjutkan, "Kau bahkan lebih penting dari
Lady Maruyama!"
"Jangan mengolok-olok! Aku merasa seperti tersesat di dunia ini. Aku merasa
seperti tidak tahu apa-apa!"




113
Kaede pergi berbaring, benaknya masih dipenuhi berbagai macam pikiran. Dia
sadar bahwa Lady Maruyama juga tidak bisa tidur, dan keesokan paginya wajah cantik
wanita itu terlihat letih dan lesu. Namun dia berbicara pada Kaede dengan ramah dan,
saat mereka hendak berangkat, dia memberi Kaede seekor kuda jantan. Sugita
mengangkat Kaede ke punggung kuda dan, di awal perjalanan, seorang pengawal
berjalan sambil menuntun kudanya. Kaede teringat pada kuda poni yang pernah ia
tunggangi di saat kecil, dan kemampuan berkudanya kini mulai muncul. Shizuka tidak
membiarkan Kaede berkuda seharian. Dia mengatakan kalau nanti badannya akan sakit
dan pegal, namun Kaede menikmati saat-saat berada di atas punggung kuda, dan tak
sabar untuk mendaki gunung lagi. Irama langkah kaki kuda membuat dirinya lebih
tenang dan pikirannya tak lagi kacau.
Selama menunggang kuda, Kaede mencemaskan ketidaktahuannya tentang dunia
yang kini ia masuki. Ia tidak ubahnya sebuah bidak yang dimainkan oleh para
bangsawan. Dan Kaede menantikan saat untuk dapat menjadi lebih dari sekadar bidak,
tidak sabar untuk segera memahami teknik permainan dan menjadi pemain.
Ada dua peristiwa lain yang juga mengganggunya. Pada suatu sore, saat beristirahat
di persimpangan jalan, mereka bertemu sekelompok orang berkuda yang datang dari
barat daya, seperti telah diatur. Shizuka berlari menyapa mereka dengan cara yang biasa
dia lakukan, penasaran untuk tahu darimana mereka berasal dan kabar apa yang mereka
bawa. Dengan malas Kaede menatap Shizuka yang sedang berbicara pada salah seorang
laki-laki dari rombongan itu. Orang yang diajak hicara mencondongkan badan lebih
rendah dari pelana, lalu mengatakan sesuatu pada Shizuka. Shizuka menganggukangguk
dengan serius, kemudian orang itu menepuk kudanya. Kuda itu melangkah
maju. Terdengar tawa keras para laki-laki, dan diikuti tawa nyaring Shizuka, tapi
Kaede merasa ada yang baru pada diri gadis Yang kini menjadi pelayannya itu, suatu
kekuatan.
Setelah kejadian itu, Shizuka kembali bersikap seperti biasa, berteriak bila melihat
keindahan alam yang mereka lalui, memetik seikat bunga liar, bertukar sapa dengan




114
setiap orang yang dia temui.
Pada suatu malam ketika sampai di penginapan, Kaede melewati sebuah ruangan,
dan melihat Shizuka sedang berbicara serius dengan Lady Maruyama, bukan seperti
pelayan karena mereka berdua duduk berlutut. Sewaktu melihat Kaede datang, mereka
langsung mengganti pembicaraan, mereka membicarakan tentang cuaca dan persiapan
untuk besok. Kaede merasa dikhianati karena Shizuka pernah mengatakan, orang
seperti aku tak pernah bertemu dengan orang seperti Lady Maruyama. Tapi tadi
terlihat jelas kalau mereka memiliki hubungan. Hal ini membuat Kaede cemas dan
cemburu. Ia sangat bergantung pada Shizuka dan ia tak ingin membaginya dengan
orang lain.
Hari semakin panas dan perjalanan semakin tidak menyenangkan. Suatu hari,
bumi bergetar beberapa kali, membuat Kaede gelisah. Ia tidak bisa tidur karena terganggu
oleh rasa cemas dan juga karena kehadiran nyamuk dan serangga lainnya. Ia tak
sabar menanti akhir perjalanan ini, walaupun ia juga cemas saat nanti di kota Tsuwano.
Setiap ia hendak menanyakan hubungan Shizuka dengan Lady Maruyama, ada saja
yang halangannya. Meskipun tetap memperlakukan ia dengan baik, namun Kaede
tidak lagi mempercayai sang Lady. Ia menanggapi perkataan sang Lady dengan hatihati.
Selera makannya pun hilang.
Shizuka mengomeli di malam harinya saat Kaede mandi. "Semua tulangmu
menonjol, Lady. Kau harus makan! Apa tanggapan suamimu nanti?"
"Jangan bicara soal suamiku!" Kaede menyela, "Aku tak peduli apa yang dia
pikirkan. Semoga dia benci melihatku, lalu meninggalkanku!"
Tapi kemudian Kaede merasa malu karena apa yang ia katakan sangatlah kekanakkanakan.
Ketika akhirnya tiba di Tsuwano dengan menunggang kuda di jalan yang kecil,
barisan gunung mulai terlihat gelap, menutupi matahari yang mulai terbenam. Semilir
angin berhembus dari sawah yang bertingkat-tingkat, mirip ombak. Teratai
memamerkan daunnya vang hijau bak zamrud raksasa, dan di sekeliling sawah terdapat




115
bunga-bunga liar yang mekar dalam warna pelangi. Cahaya sore telah merubah warna
dinding-dinding yang putih di kota ini menjadi merah jambu dan keemasan.
"Kota ini nampak menyenangkan!" seru Kaede.
Lady Maruyama yang berkuda di depan membalikkan badan. "Kita tak lagi di
wilayah Tohan. Ini wilayah Otori," katanya. "Di kota ini kita menunggu kedatangan
Lord Shigeru."
Keesokan paginya, Shizuka memberi Kaede pakaian vang aneh, berbeda dengan
kimono yang biasa Kaede pakai.
"Lady harus belajar pedang," kata Shizuka sambil menunjukkan cara memakai
pakaian itu. Dia memandang Kaede dengan pandangan puas. "Selain rambut, Lady
Kaede seperti laki-laki," ujarnya dan mengangkat rambut tebal Kaede ke atas,
menjauhkan dari wajahnya, kemudian mengikatnya ke belakang dengan tali kulit.
Kaede menggerakkan tangan, dan meraba sekujur tubuhnya, Pakaian ini terasa
berat dan juga longgar. Pakaian ini berbeda sekali dengan pakaian yang pernah ia
kenakan. Pakaian ini bisa menyembunyikan bentuk badannya dan ia pun dapat
bergerak bebas. "Siapa yang suruh?"
"Lady Maruyama. Kita akan menunggu di sini selama beberapa hari, mungkin
seminggu sebelum rombongan dari Otori tiba. Lady Maruyama ingin kau tetap sibuk
agar tidak jenuh."
"Lady Maruyama sungguh baik," kata Kaede. "Siapa yang akan mengajariku?"
Shizuka hanya menjawab dengan tertawa kecil. Dia mengajak Kaede ke seberang
jalan dari tempat mereka menginap, ke sebuah bangunan yang berlantai kayu. Di
tempat itu, mereka melepas sandal dan memakai sepatu yang ada pemisah antara ibu
jari dengan jari lainnya. Shizuka memberi Kaede sebuah topeng yang berguna untuk
melindungi wajah, dan mengambil dua tongkat kayu dari rak yang ada di dinding.
"Lady pernah belajar bertarung dengan menggunakan tongkat?"
"Pernah, sewaktu kecil," balas Kaede. "Sejak aku bisa berjalan."
"Kalau begitu, kau akan segera ingat lagi." Shizuka memberikan kepada Kaede




116
sebuah tongkat. Shizuka mememgang tongkat lainnya dengan kedua tangannya, lalu
dia melakukan serangkaian gerakan lentur. Tongkat bergerak di udara secepat kilat.
"Bukan seperti itu!" kata Kaede heran. Ia mengira Shizuka melakukan itu tanpa
tenaga.
Shizuka tertawa kecil, penampilannya kini berubah dari seorang ksatria menjadi
pelayan yang berkepala kosong. "Lady Kaede pasti akan ingat lagi semua pelajaran yang
dulu! Ayo kita mulai."
Kaede merasa kedinginan, meskipun cuaca musim panas di pagi ini terasa hangat.
"Kaukah gurunya?"
"Oh, aku hanya tahu sedikit, Lady. Yang kau tahu mungkin sama banyaknya
denganku. Kurasa tak ada sesuatu yang bisa kuajarkan."
Meskipun Kaede dapat mengingat gerakan yang pernah ia pelajari dan
diuntungkan karena tinggi serta memiliki kemampuan alami, tapi kemampuan Shizuka
jauh melebihi dirinya. Saat hari menjelang siang, Kaede merasa letih dan marah. Ketika
Shizuka berlaku sebagai pelayan, dia melakukan apa saja untuk menyenangkan Kaede,
tapi sebagai guru, dia tidak mengenal ampun. Setiap gerakan harus sempurna. Ketika
Kaede merasa telah menemukan iramanya, Shizuka menyuruhnya berhenti lalu
memberitahukan bahwa keseimbangannya berada di atas kaki yang salah. Di lain
waktu, saat mereka scdang berlatih, Shizuka memberitahukan titik lemahnya kalau
diserang. Akhirnya Shizuka memberi tanda kalau latihan telah selesai. Dia meletakkan
kedua tongkat ke tempatnya, melepaskan pelindung wajah, lalu menyeka wajah Kaede
dengan handuk.
"Bagus," kata Shizuka. "Lady memiliki keahlian yang sangat baik. Kita akan
mengejar tahun-tahun ketinggalanmu."
Dengan banyaknya kegiatan fisik, kaget karena tahu keahlian Shizuka, dan pakaian
aneh membuat kendali diri Kaede pecah. Ia meraih handuk dan membenamkan wajah
ke handuk itu lalu menangis tersedu-sedu.
"Lady," bisik Shizuka, "Lady jangan menangis. Tak ada yang perlu ditakutkan."




117
"Siapa dirimu sebenarnya?" teriak Kaede, "Mengapa kau berpura-pura? Kau
mengatakan tak mengenal Lady Maruyama!"
"Aku ingin mengatakan semuanya, tapi sekarang bukanlah saat yang tepat.
Tugasku yaitu menjagamu. Arai yang mengirimku."
"Kau mengenal Arai? Kau mengatakan kalau kau hanya satu kota dengannya."
"Kami memang dari kota yang sama, tapi kami lebih dekat dari itu. Arai sangat
menghormatimu. Dia merasa berhutang budi padamu. Sewaktu dikucilkan Lord
Noguchi, dia benar-benar marah. Dia merasa terhina karena ketidakpercayaan Lord
Noguchi, dan juga karena perlakuan mereka kepadamu. Begitu mendengar kau akan
menikah di Inuyama, dia langsung mengatur agar aku bisa menemanimu."
"Mengapa? Apakah ada bahaya di sana?"
"Inuyama adalah tempat yang berbahaya. Apalagi saat ini, Tiga Wilayah diambang
peperangan. Setelah persekutuan dengan Otori ditetapkan melalui pernikahanmu, Iida
pasti akan menyerang Seishuu."
Bias cahaya matahari menembus debu-debu yang berhamburan saat mereka
berlatih pedang. Dari luar kisi-kisi jendela, Kaede mendengar arus air di kanal, teriakan
pedagang jalanan, dan juga tawa anak-anak. Semua nampak begitu sederhana dan
terbuka, seperti tak ada rahasia suram yang tersembunyi di baliknya.
"Aku hanyalah sebuah bidak," ujar Kaede perih. "Kalian akan mengorbankan aku,
sama seperti yang akan Tohan lakukan."
"Tidak, Arai dan aku adalah pelayanmu, Lady. Arai telah bersumpah akan
melindungimu dan aku mematuhinya," Shizuka tersenyum, wajahnya tiba-tiba terlihat
bersemangat.
Mereka sepasang kekasih, pikir Kaede. Ia merasa cemburu karena harus berbagi
perhatian Shizuka dengan orang lain. Ingin Kaede bertanya, Lalu bagaimana dengan
Lady Maruyama? Apa perannya? Dan bagaimana dengan orang yang akan kunikahi?
Tapi, ia takut mendengar jawabannya.
"Cuaca terlalu panas untuk berlatih lagi," ujar Shizuka. Dia mengambil handuk




118
dari Kaede dan menyeka keringat yang menetes ke matanya. "Besok aku akan
mengajarimu cara menggunakan belati."
Saat berdiri, dia menambahkan, "Jangan memperlakukan aku dengan berbeda. Aku
adalah pelayanmu, tidak lebih."
"Maafkan aku karena telah memperlakukanmu begitu buruk," ujar Kaede salah
tingkah.
"Kau tidak pernah memperlakukan aku dengan buruk!" Shizuka tertawa. "Jika
pernah, kau masih terlalu lembut. Meskipun keluarga Noguchi tidak mengajarim
sesuatu yang berguna, tapi setidaknya kau tidak belajar kekejaman dari mereka."
"Aku belajar menyulam," kata Kaede, "tapi, tidak mungkin aku bisa membunuh
hanya dengan jarum."
"Bisa saja," kata Shizuka dengan santai. "Kelak aku akan mengajarimu."
Seminggu lamanya mereka menanti kedatangan bangsawan Otori. Cuaca semakin
panas dan gerah. Hampir setiap malam awan badai berkumpul mengelilingi puncak
gunung, dan di kejauhan kilat menyambar, meskipun hujan tidak juga turun. Setiap
hari Kaede berlatih cara bertarung dengan pedang dan belati. Pelajarannya dimulai pagi
hari, sebelum hari panas, dan keringat selalu membanjiri wajah dan tubuhnya.
Akhirnya, di suatu sore, ketika sedang membasuh muka dengan air dingin,
terdengar derap kaki kuda yang berbeda dari biasanya, dan disertai gonggongan anjing.
Shizuka memberi isyarat untuk melihat melalui jendela, "Lihat! Mereka sudah
datang! Bangsawan Otori sudah datang."
Kaede melihat melalui kisi-kisi jendela. Sekelompok orang berkuda mendekat.
Hampir semua orang memakai pelindung kepala dan baju baja, namun ada seorang
pemuda yang tidak memakai pelindung kepala. Usia pemuda itu tidak terpaut jauh
dengannya, dan rambutnya hitam bercahaya.
"Diakah Lord Shigeru?"
"Bukan," Shizuka tertawa. "Lord Shigeru yang berkuda di depan. Itu anak
angkatnya, Lord Takeo."




119
Shizuka mengatakan kata lord dengan nada sinis, yang kelak akan diingat Kaede.
Namun, saat ini ia tak memperhatikan perkataan Shizuka karena sedang menatap
pemuda itu, dan seakan-akan mendengar namanya disebut, pemuda itu lalu menoleh.
Mata pemuda itu memperlihatkan perasaan yang dalam, mulutnya tampak sensitif,
dan Kaede melihat karakter yang kuat dan juga kesedihan di wajahnya. Ada yang
terbakar di hatinya, rasa ingin tahu dan juga kerinduan, suatu perasaan yang tidak ia
pahami.
Anak muda itu lalu melanjutkan berkuda. Setelah pemuda itu hilang dari
pandangan, Kaede merasa sebagian dari dirinya telah hilang. Seperti mayat hidup, ia
mengikuti Shizuka kembali ke penginapan. Sewaktu tiba di sana, Kaede gemetar.
Shizuka, yang salah mengartikannya, berusaha menenangkan.
"Lord Otori adalah orang yang baik. Kau tidak perlu takut. Tak akan ada yang
menyakitimu."
Kaede diam, tidak bicara karena hanya satu kata yang ingin ia ucapkan, Takeo.
Shizuka merayu agar Kaede mau makan—pertama dia menyajikan sup hangat, lalu
mie dingin—tapi ia tidak memakannya. Shizuka membaringkannya. Kaede gemetar di
bawah selimut, matanya berbinar, kulitnya kering, tubuhnya tak bisa diam, mirip ular.
Guntur bergemuruh di pegunungan dan udara diliputi kabut.
Karena gelisah, Shizuka menyuruh orang untuk memanggil Lady Maruyama. Ia
datang bersama seorang laki-laki.
"Paman!" teriak Shizuka dengan gembira.
"Ada apa?" tanya Lady Maruyama sambil duduk berlutut di samping Kaede dan
meraba keningnya. "Dia sangat panas; dia pasti demam."
"Saat itu kami sedang berlatih," Shizuka menjelaskan. "Kami melihat kedatangan
bangsawan Otori, dan dia pun langsung demam."
"Bisakah kau sembuhkan dia, Kenji?" tanya Lady Maruyama.
"Dia takut akan pernikahannya," ucap Shizuka perlahan.
"Aku bisa mengobati demam, tapi bukan yang seperti ini. Maaf, aku tidak bisa,"




120
kata laki-laki tua itu. "Tapi aku akan membuatkan ramuan. Mungkin teh bisa
membuat dia tenang."
Kaede berbaring tidak bergerak dengan mata tertutup. Ia mendengar semua
pembicaraan itu dengan jelas, namun mereka seperti berbicara dari dunia lain, dirinya
masih belum dapat melepas ingatan saat tatapan matanya bertemu dengan mata Takeo.
Kaede memaksakan diri untuk menelan teh, Shizuka menopang kepalanya seolah-olah
ia anak kecil, dan tidak lama setelah itu Kaede tertidur. Ia terbangun karena gemuruh
guntur. Hujan turun, menetesi atap dan mengalir di bebatuan. Ia tersadar dari
mimpinya yang terasa nyata dan kini, saat ia membuka mata, mimpi itu lenyap. Hanya
satu yang ia tahu pasti, ia sedang jatuh cinta.
Rasa kaget, gembira, dan cemas datang silih berganti. Awalnya ia merasa akan mati
bila berjumpa pemuda itu, tapi kemudian ia merasa ingin mati bila tak berjumpa
pemuda itu lagi. Ia mengeluh pada dirinya: bagaimana mungkin ia jatuh cinta pada
anak angkat dari calon suaminya? Lalu ia berpikir: Pernikahan apa? Aku tidak akan
menikahi Lord Otori. Aku tidak akan menikahi siapa pun selain Takeo. Lalu ia
menertawai kebodohannya. Seakan-akan memang ada orang yang menikah atas nama
cinta. Aku selalu membawa bencana, pikirnya sejenak, Tapi bagaimana mungkin perasaan
ini bisa berubah menjadi bencana?
Ketika Shizuka kembali, Kaede meyakinkan kalau ia telah pulih. Demamnya yang
telah hilang kini berganti debaran jantung yang kencang sehingga matanya nampak
bersinar dan kulitnya bercahaya.
"Kau lebih cantik dari sebelumnya!" seru Shizuka saat memandikan dan membantu
Kaede memakai kimono yang telah disiapkan untuk acara pertunangan, saat pertama
kali ia akan berjumpa calon suaminya.
Lady Maruyama menyambut Kaede dengan penuh perhatian, menanyakan
kesehatannya. Kaede sadar akan kegugupan Lady Maruyama saat dia ikut ke ruangan
terbaik di penginapan yang telah disiapkan untuk Lord Otori.
Kaede mendengar beberapa orang sedang berbincang ketika pelayan membuka




121
pintu, dan mereka terdiam ketika melihatnya. Ia membungkuk, menyadari tatapan
mereka, ia tidak berani balas menatap. Ia bisa merasakan setiap getaran di tubuhnya
saat jantungnya berdetak kencang.
"Ini Lady Shirakawa Kaede," kata Lady Maruyama. Suaranya terdengar dingin,
pikir Kaede. Ia kembali bertanya-tanya, apa salahnya sampai wanita ini sangat
tersinggung.
"Lady Kaede, kuserahkan kau pada Lord Otori Shigeru," Lady Maruyama
melanjutkan dengan suara lirih, hampir sulit didengar.
Kaede menegakkan badan. "Lord Otori," ucapnya pelan sambil mengangkat mata,
menatap wajah orang yang akan ia nikahi.
"Lady Shirakawa," Shigeru membalas dengan sopan. "Kami dengar kau kurang
sehat. Kau sudah pulih?"
"Terima kasih, aku telah sehat." Kaede menyukai wajah laki-laki ini, tatapan
matanya penuh kebaikan.
Dia memang layak menyandang reputasinya, pikirnya. Tapi, bagaimana mungkin
aku menikahinya? Rona merah terasa menjalar di pipinya.
"Ramuanku tidak pernah gagal," kata orang yang duduk di samping kiri Lord
Shigeru. Kaede mengenali suara orang yang telah membuatkan teh, orang yang
Shizuka panggil paman. "Menurut kabar, Lady Shirakawa sangat cantik, tapi ternyata
dia jauh lebih cantik."
Lady Maruyama berkata, "Kau terlalu memujinya, Kenji. Jika seorang gadis tidak
cantik saat dia berusia lima belas tahun, maka dia tak akan pernah cantik."
Kaede merasa wajahnya bertambah merah.
"Kami membawa hadiah untukmu," kata Lord Shigeru. "Walaupun hadiah itu
akan terlihat pucat di sisi kecantikanmu, namun terimalah sebagai rasa hormat dan
kesetiaan dari klan Otori. Takeo."
Kaede dapat merasakan kalau Lord Otori berbicara dengan acuh, bahkan terkesan
dingin. Kaede membayangkan apakah calon suaminya itu akan selalu begitu.




122
Pemuda itu bangkit dan melangkah ke depan. Dia membawa sebuah nampan yang
dipelitur mengkilap. Di atasnya ada bungkusan dari kain sutera yang berwarna merah
jambu pucat dan dihiasi lambang klan Otori. Pemuda itu berlutut, lalu menyerahkan
hadiah itu kepada Kaede.
Kaede membungkuk sebagai ucapan terima kasih.
"Ini anak angkat Lord Otori," kata Lady Maruyama. "Lord Otori Takeo."
Kaede tidak berani menatap wajah pemuda itu, ia hanya berani melihat tangan
Takeo. Jari pemuda itu nampak lentik, luwes dan bentuknya indah. Kulitnya adalah
kombinasi antara warna madu dan teh, dan kukunya nampak pucat. Kaede bisa
merasakan kalau pemuda ini pun tegang, seakan sedang mendengar, selalu mendengar.
"Lord Takeo," bisik Kaede.
Pemuda ini bukan seperti laki-laki dewasa yang takuti atau ia benci. Pemuda itu
hampir seusia dengan dirinya, rambut dan kulitnya menunjukkan tekstur remaja.
Debaran rasa ingin tahu yang ia rasakan kini datang lagi. Ia berharap bisa lebih
mengenal pemuda ini. Mengapa Lord Otori mengangkatnya? Siapakah dia
sebenarnya? Mengapa dia nampak begitu sedih? Dan mengapa ia merasa kalau pemuda
itu bisa mendengar isi hatinya?
"Lady Shirakawa." Nada suaranya rendah dan beraksen timur.
Kaede ingin sekali menatapnya. Ia mengangkat mata dan tatapan mereka bertemu.
Pemuda ini sedang memandangnya, kebingungan, dan Kaede merasakan ada sesuatu
yang melompat dari dalam diri mereka, seolah sedang bersentuhan.
Hujan yang semula mulai reda kini turun lagi dengan deras disertai guntur,
membuat suara-suara di ruangan ini tenggelam. Angin berhembus semakin kencang,
membuat cahaya lampu menari-nari dan bayangan memantul di dinding.
Semoga aku bisa duduk di sini untuk selamanya, pikir Kaede.
Lady Maruyama berkata tajam. "Kau telah bertemu orang ini, tapi belum sempat
diperkenalkan. Ini adalah Muto Kenji, teman Lord Otori dan guru Lord Takeo. Dia
akan membantu Shizuka melatihmu."




123
"Tuan," Kaede mengenalinya, sekilas ia menatap orang itu dari bawah bulu
matanya. Orang ini sedang menatapnya dengan kekaguman yang tidak dibuat-buat
sambil menggelengkan kepala seakan-akan tidak percaya. Dia seperti orang tua yang
baik, pikir Kaede, lalu: tapi dia tidak terlalu tua! Wajah orang ini seperti berubah
Kaede merasa lantai yang ia duduki bergerak karena gempa ringan. Tidak ada yang
bicara, tapi dari luar terdengar ada orang yang berteriak. Lalu, hanya angin dan hujan
yang terdengar.
Kaede merasa kedinginan lagi. Ia tidak mau ada orang yang tahu perasaannya ini.
Semua orang penuh dengan kepura-puraan.*




124
SETELAH aku resmi menjadi keluarga klan Otori, aku mulai bertemu banyak anak
sebaya yang berasal dari keluarga ksatria. Banyak yang meminta Ichiro untuk menjadi
guru, dan dia pun setuju menerima murid lain. Ada dua muridnya yang kini menjadi
sahabat karibku, yaitu Miyoshi Gemba dan kakaknya, Kahei. Gemba setahun lebih tua
dariku. Sedangkan, Kahei berumur dua puluh tahun, dan terlalu tua untuk belajar dari
Ichiro, jadi dia hanya membantu Ichiro mengajarkan seni bertarung pada anak yang
lebih muda.
Kini aku bergabung dengan pemuda klan Otori lain untuk berlatih tongkat dan
seni bela diri lainnya di aula yang sangat luas di seberang kastil. Di selatan kastil
terbentang lapangan luas untuk berkuda dan memanah. Kemampuan memanahku tak
juga membaik, namun aku cukup mahir dalam menggunakan tongkat dan pedang.
Setiap pagi, setelah dua jam dilatih menulis oleh Ichiro, aku dan beberapa murid
lainnya akan menunggang kuda melewati jalan kota yang berliku.
Di sore harinya, aku dan beberapa murid lainnya kembali ke Ichiro sambil kami
berjuang menahan rasa kantuk saat dia mengajari prinsip dasar Kung Tzu dan sejarah
Delapan Pulau. Titik balik sinar matahari di musim semi telah berlalu, sedangkan
Festival of the Weaver Star mulai berlangsung, seiring udara yang kian panas. Musim
hujan telah berakhir, namun masih menyisakan kelembaban, dan badai pun mulai
mengancam. Para petani cemas. Mereka memperkirakan akan terjadi angin topan yang
jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Aku masih tetap belajar dari Kenji, hanya saja latihan dilakukan pada malam hari.
Dia akan menjauh dari aula klan Otori, dan terus mengingatkanku agar tak




125
menampakkan keahlian yang kumiliki dari Tribe.
"Kaum ksatria masih menganggap kemampuanmu itu sebagai sihir," katanya.
"Nanti kau akan dianggap rendah."
Hampir setiap malam aku dan Kenji pergi keluar, dan aku berlatih cara bergerak
tanpa terlihat di kota yang tengah tertidur pulas. Kami memiliki ikatan yang ganjil.
Aku tak mempercayainya di siang hari. Aku telah diangkat oleh klan Otori, dan
kuberikan hatiku pada mereka. Aku tak ingin diingatkan bila aku adalah orang luar
atau orang aneh. Namun, keadaan berbeda saat hari berganti malam. Kemampuan
Kenji tidak ada habis-habisnya. Dia seperti membagi seluruh kemampuannya, dan aku
seperti orang rakus yang ingin mempelajari semuanya—sebagian karena dapat
memenuhi sisi gelap diriku, dan sebagian lagi karena aku harus terus berlatih untuk
mewujudkan harapan Lord Shigeru. Meskipun dia tidak pernah mengatakannya,
kurasa tak ada alasan lain yang bisa menjelaskan mengapa dia menyelamatkan aku di
Mino. Aku anak seorang pembunuh dari kalangan Tribe, dan kini aku resmi menjadi
anak angkatnya. Aku yang akan menemaninya ke Inuyama. Adakah tujuan lain untuk
pergi ke sana selain untuk membunuh Iida?
Sebagian besar orang yang berlatih bersamaku menerima kehadiranku karena Lord
Shigeru, dan aku tahu kalau mereka sangat menghormati Lord Shigeru. Hanya anakanak
Shoichi dan Masahiro yang menyulitkanku, terutama anak yang tertua,
Yoshitomi. Rasa benciku pada mereka sama seperti benciku pada ayah mereka. Mereka
sombong dan bodoh. Kami sering bertarung menggunakan tongkat. Aku tahu mereka
ingin membunuhku. Suatu ketika, Yoshitomi hampir saja berhasil membunuhku bila
aku tidak segera mengeluarkan kemampuanku menjadi dua sosok di waktu yang bersamaan
sehingga membuat dia terkecoh. Yoshitomi tidak pernah memaafkan apa yang
kulakukan, dia sering berbisik menghinaku: Penyihir. Penipu. Aku sebenarnya tak takut
pada niatnya untuk membunuhku ketimbang rasa takutku kalau aku yang akan
membunuhnya dengan alasan untuk membela diri. Peristiwa itu membuat kemampuan
pedangku semakin baik, namun aku lega saat tiba waktunya kami harus berangkat ke




126
Inuyama dan tak ada darah yang tertumpah.
Sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan karena cuaca
yang panas di musim semi ini, tetapi kami harus tiba di Inuyama sebelum Festival of the
Dead. Kami tidak mengambil jalan langsung melalui Yamagata, tapi ke selatan, ke
Tsuwano, yang kini menjadi batas wilayah Otori. Di kota ini, kami akan bertemu calon
mempelai wanita dan di tempat itu pula pertunangan akan dilangsungkan. Dari sana
kami akan ke Tohan melalui Yamagata.
Perjalanan ke Tsuwano sangatlah menyenangkan, walaupun cuaca sangat panas.
Aku tak perlu lagi belajar pada Ichiro, juga dari tekanan latihan. Apa yang kurasakan
hampir seperti liburan, berkuda ditemani Lord Shigeru dan Kenji. Hujan telah reda,
meskipun kilat menyambar semalaman sejak di sekitar daerah pegunungan. Kumpulan
awan menjadi kelabu, dan daunihun musim semi berserakan di sekitar kami, ibarat
lautan yang menghijau.
Kami berkuda ke Tsuwano di siang hari, dengan mcmaksakan diri untuk terus
berjalan di terik matahari karena tujuan tidak jauh lagi. Aku menyesal perjalanan ini
akan segera berakhir, dan itu artinya akhir dari perjalanan yang menyenangkan. Aku
tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kelak. Sungai-sungai di Tsuwano
mengalunkan nyanyian, sedangkan jalan jalan yang diapit kanal penuh sesak dengan
ikan emas gemuk berwarna keemasan dan merah. Kami sudah didekat penginapan
ketika sayup-sayup aku mendengar ada yang menyebut namaku. Suara itu berasal dari
bangunan panjang yang berdinding putih dan jendela berkisi, sejenis aula untuk latihan
bertarung. Aku tahu di dalam sana ada dua orang wanita, hanya saja aku tidak bisa
melihat mereka, dan aku bertanya-tanya, kenapa mereka di sana, dan kenapa ada yang
menyebut namaku.
Ketika tiba di penginapan, aku mendengar suara yang sama di taman. Akhirnya
aku tahu kalau dia itu pelayan Lady Shirakawa, dan aku tahu bila sang lady sedang
kurang sehat. Kenji membesuknya dan kembali dengan membawa cerita tentang
kecantikan sang Lady, Namun karena ada badai dan aku cemas kuda akan gelisah,




127
maka aku segera ke istal tanpa mendengarkan ceritanya. Aku tidak berminat
mendengar kecantikannya, Aku membencinya karena dia berperan dalam jebakan yang
telah disiapkan untuk Lord Shigeru.
Setelah beberapa saat, Kenji dan pelayan Lady itu menemuiku di istal. Dia tampak
seperti gadis cantik, baik, dan berkepala kosong, bahkan sebelum dia menyeringai
kepadaku dengan cara yang tidak sopan dan memanggilku "Sepupu!" Dapat kulihat
kalau dia adalah anggota Tribe.
Dia menggenggam tanganku. "Aku juga Kikuta, tapi aku berasal dari pihak ibu.
Sedangkan Muto dari pihak ayahku. Kenji adalah pamanku."
Jari tangannya panjang dan ada garis lurus yang melintang di telapak tangan, sama
seperti jari dan telapak tanganku. "Hanya itu yang diwariskan kepadaku," ujarnya
menyesali. "Selebihnya, aku murni Muto."
Seperti Kenji, dia juga memiliki kekuatan untuk merubah sosoknya sehingga aku
tidak yakin bisa mengenalinya lagi. Awalnya, aku mengira dia masih belia; ternyata
umurnya sudah tiga puluh tahun dan memiliki seorang anak laki-laki.
"Lady Kaede sudah membaik," dia memberitahukan Kenji. "Tehmu membuatnya
tertidur, dan kini dia memaksa untuk bangun."
"Kau melatihnya terlalu keras," kata Kenji menyerigai. "Tidak tahukah kau kalau
cuaca sangat panas?" Kenji lalu menjelaskan kepadaku, "Shizuka mengajari Lady
Shirakawa cara bertarung dengan pedang. Dia juga bisa mengajarimu. Selama hujan,
kita akan tetap di sini."
"Mungkin kau bisa mengajari Takeo agar menjadi kejam," kata Kenji pada
Shizuka. "Itulah satu-satunya kelemahannya."
"Sulit mengajari orang untuk menjadi kejam," balas Shizuka.
"Shizuka memiliki sifat kejam," Kenji memberitahu. "Kau harus terus berada di
sampingnya!"
Aku tidak menjawab. Aku agak kesal karena Kenji mengatakan kelemahanku pada
Shizuka, tak lama setelah kami bertemu. Kami di tempat yang teduh, letaknya di




128
halaman istal. Hujan membasahi jalan berbatu di depan kami, dan di belakang
terdengar beberapa kuda mengetuk-ngetukkan kaki.
"Apakah Lady sering demam?" tanya Kenji.
"Tidak juga. Baru sekarang dia demam seperti ini. Tapi dia memang tidak terlalu
kuat. Dia jarang makan dan kurang tidur. Dia mencemaskan pernikahan dan
keluarganya. Dia belum bertemu dengan ibunya sejak usia tujuh tahun, dan kini ibunya
sedang sakit."
"Kau jadi sayang padanya," kata Kenji sambil tersenyum.
"Ya, walaupun pada awalnya aku datang karena disuruh Arai."
"Belum pernah aku melihat gadis yang secantik itu." Kenji mengakui.
"Paman! Kau jatuh cinta padanya!"
"Aku sudah tua," kata Kenji. "Aku hanya kagum melihat kecantikannya. Tapi, bila
semua berjalan lancar gadis itu akan menjadi pihak yang kalah."
Geledek bergemuruh hebat. Kuda-kuda menjadi liar dan meronta di istal. Aku
segera ke istal agar mereka tenang. Shizuka kembali ke penginapan dan Kenji pergi
mencari kamar mandi. Aku tidak bertemu mereka lagi hingga malam.
Setelah mandi dan memakai kimono resmi, aku menghadiri pertemuan pertama
antara Lord Shigeru dan calon isterinya. Kami membawa beberapa hadiah yang aku
ambil dari kotak besar. Menurutku, pertunangan harus menjadi peristiwa yang
membahagiakan, meskipun aku belum pernah bertunangan. Bagi calon pengantin
mungkin ini adalah saat yang menegangkan, namun pertunangan ini terasa begitu
menakutkan dan penuh dengan pertanda buruk.
Lady Maruyama menyambut kami dengan tatapan yang selalu tertuju pada Lord
Shigeru. Dia nampak jauh lebih tua dibanding saat aku bertemu dengannya di
Chigawa. Meskipun kecantikannya tidak berkurang, tapi kekecewaan telah membuat
garis keriput di wajahnya terlihat jelas. Dia dan Lord Shigeru tampak sangat dingin
pada semua orang, terutama pada Lady Shirakawa.
Kecantikan gadis itu masih membuat kami terpukau, meskipun Kenji telah




129
menunjukkan antusiasnya pada kecantikan gadis itu. Kini aku tahu mengapa Lady Maruyama
menderita: itu pasti karena cemburu. Bagaimana mungkin laki-laki menolak
gadis yang begitu cantik? Tak ada yang akan menyalahkan Shigeru bila menerima
Kaede, selain untuk memenuhi janji pada pamannya. Namun pernikahan ini akan
membuat Lady Maruyama kehilangan, bukan hanya orang yang dia cintai selama
bertahun-tahun, tetapi juga sekutunya yang terkuat.
Suasana di ruangan ini membuatku tidak nyaman dan canggung. Aku melihat
derita dalam sikap dingin Lady Maruyama yang disebabkan oleh Kaede. Kulihat pipi
Kaede merona sehingga kulitnya semakin indah. Aku mendengar debaran jantung dan
desahan napasnya yang cepat. Dia tidak menatap kami, dia hanya menatap lantai. Aku
berpikir, Dia masih belia, dan ketakutan. Lalu dia mengangkat muka dan melihat
padaku beberapa saat. Aku merasa dia seperti terseret arus sungai, dan jika aku
mengulurkan tangan, aku bisa selamatkan dia.
"Jadi, Shigeru, kau harus memilih antara wanita yang paling kuat di Tiga Wilayah atau
gadis yang paling camtik," kata Kenji kemudian, saat kami sedang duduk
menghabiskan begitu banyak sake. Hujan seperti ingin menahan kami selama beberapa
hari di Tsuwano, rasanya kami tak perlu tidur lebih awal. "Seharusnya aku lahir sebagai
bangsawan."
"Kau kan sudah beristeri," balas Shigeru.
"Isteriku ahli memasak, tapi lidahnya seperti nenenk sihir, dia gendut, dan tidak
suka bepergian," gerutu Kenji. Aku diam, merasa lucu karena aku tahu cara Kenji
memanfaatkan ketidakhadiran isterinya: pergi ke tempat yang menawarkan
kenikmatan.
Kenji melanjutkan dengan lelucon, menurutku dia berusaha agar Shigeru mau
mengungkapkan isi hati, tapi Lord Shigeru hanya membalas dengan nada yang biasa.
Aku ingin segera tidur karena pusing akibat terlalu banyak minum sake, ditambah lagi
dengan bisingnya bunyi air hujan menetes di atap, mengaliri parit dan jalan bebatuan.




130
Air kanal meluap hingga ke tepian; di kejauhan aku mendengar riak air sungai yang
semakin kuat, seakan ingin merobohkan gunung.
Ketika terbangun di tengah malam, aku sadar kalau Shigeru tidak ada di kamar.
Aku mendengar dia sedang berbicara dengan Lady Maruyama, pembicaraan yang
begitu pelan sehingga hanya aku yang dapat mendengarnya. Mereka berbicara hampir
sama seperti pembicaraan setahun lalu. Aku mencemaskan resiko yang mereka ambil,
tapi juga kagum akan kekuatan cinta mereka yang tetap terpelihara walaupun mereka
jarang bertemu.
Dia tidak akan menikahi Shirakawa Kaede, pikirku. Aku tidak tahu apakah ini
membuat aku senang atau cemas.
Aku begitu gelisah memikirkan mereka sehingga tidak bisa tidur sampai pagi.
Suasana pagi nampak kelabu dan mendung, tidak ada tanda-tanda cuaca akan berubah.
Angin topan yang datang lebih awal telah menyapu Wilayah Barat dan hujan turun
begitu deras sehingga terjadi banjir, jembatan rusak, dan jalan tidak dapat dilalui.
Semuanya serba berlumpur dan tercium bau busuk. Tungkai kaki dua ekor kuda
bengkak, dan seorang penjaga kuda tertendang di dadanya. Segera saja aku memesan
tapal kuda yang baru dan memanggil tabib untuk memeriksanya. Saat sedang
menyantap sarapan yang terlambat kumakan, Kenji mengingatkanku mituk berlatih
pedang, kegiatan yang paling kusukai.
"Apa rencanamu?" tanya Kenji, "Duduk-duduk sambil minum teh? Shizuka bisa
mengajarimu banyak hal. Kurasa hanya itu yang dapat kita lakukan selama di sini."
Setelah makan, aku mengikuti Kenji berlari melintasi hujan ke tempat berlatih.
Dari luar bangunan aku mendengar desiran dan ketukan tongkat yang beradu. Ada dua
orang laki-laki yang sedang bertarung. Setelah beberapa saat baru aku sadar bahwa
salah seorang dari mereka bukan laki-laki, tapi Shizuka. Dia lebih mahir dari lawannya,
tapi lawannya lebih tinggi dan lebih bersemangat sehingga pertarungan ini cukup
berimbang.
Nampaknya Shizuka dapat saja mengalahkan lawannya, tapi hal itu tidak terjadi




131
sampai keduanya melepaskan penutup muka. Dan pada saat itulah aku sadar kalau
orang yang lebih tinggi itu adalah Kaede.
"Oh," kata Kaede dengan marah sambil menyeka wajah dengan lengan baju,
"Mereka menggangguku."
"Tidak ada yang boleh mengganggumu, Lady," kata Shizuka. "Itu kelemahanmu.
Kau kurang konsentrasi. Seharusnya kau tidak memikirkan yang lain, selain dirimu,
musuhmu, dan pedang."
Shizuka membalikkan badan, kemudian menyapa kami, "Selamat pagi, paman!
Selamat pagi, sepupu!"
Kami membalas sapaan Shizuka dan membungkuk hormat pada Kaede. Suasana
menjadi hening. Aku merasa rikuh. Belum pernah aku melihat perempuan di ruang
latihan, apalagi memakai pakaian latihan. Kehadiran mereka membuatku gugup.
Seperti ada sesuatu yang tak pantas. Aku tidak seharusnya berada seruangan dengan
calon isteri Shigeru.
"Kami akan kemari lagi di lain waktu," ujarku, "Kapan kalian selesai?"
"Jangan pergi, aku ingin melihatmu bertarung melawan Shizuka," kata Kenji.
"Lady Shirakawa juga tidak perlu pergi. Akan sangat bagus bila Lady ikut menyaksikan
kalian bertarung."
"Akan sangat bagus bila Lady Shirakawa berlatih melawan laki-laki," ujar Shizuka,
"Karena, jika pertarungan terjadi, dia tak bisa memilih lawannya."
Aku menatap Kaede sekilas dan melihat matanya agak melebar, tapi dia hanya
diam.
"Baiklah, Shizuka harus bisa mengalahkan Takeo," kata Kenji masam. Kurasa
Kenji pasti sakit kepala akibat sake yang dia minum semalam, sama sepertiku.
Kaede lalu bersila di lantai seperti laki-laki. Dia melepas tali pengikat rambutnya
sehingga rambutnya terurai menyentuh tanah. Aku berusaha untuk tidak
memandangnya.
Aku menangkap tongkat yang Shizuka lempar kepadaku, lalu aku mengambil




132
posisi kuda-kuda.
Kami berdua saling bertahan dan menyerang, tak ada yang mengalah. Aku belum
pernah bertarung melawan perempuan sehingga aku enggan mengeluarkan seluruh
kemampuanku, takut akan melukainya. Namun secara mengejutkan, saat aku sedang
menyusun strategi, tiba-tiba saja dia sudah di depanku dengan pukulan yang cepat dan
meliuk-liuk sehingga tongkatku terlepas. Andai saja ini terjadi saat aku bertarung
melawan anak Masahiro, aku pasti sudah mati.
"Sepupu," dia berkata dengan marah. "Jangan menghinaku. Ayolah, jangan
sungkan."
Aku berusaha lebih keras, namun Shizuka jauh lebih mahir dan kekuatannya
sungguh mengagumkan. Setelah dua kali bertanding dan setelah dia memberi beberapa
petunjuk, aku mulai menguasai jalannya pertarungan. Dia menyerah kalah dengan
berkata, "Aku telah beriarung melawan Lady Kaede dari pagi, sedangkan kau masih
segar dan lebih muda."
"Kurasa usiamu lebih dari separuh usia Takeo!" kata Kenji.
Aku tersengal-sengal. Keringat membanjiri tubuhku. Kuambil handuk dari Kenji
dan mengelap keringatku.
Kaede bertanya, "Mengapa kau panggil Lord Takeo 'sepupu'?"
"Percaya atau tidak, kami ada hubungan keluarga dari pihak ibuku," ujar Shizuka.
"Lord Takeo tidak lahir sebagai bangsawan Otori, tapi diangkat."
Kaede menatap kami bertiga dengan wajah yang serius. "Kalian memang mirip.
Sulit untuk menunjukkannya secara tepat, tapi ada sesuatu yang misterius, rasa-rasanya
tak seorang pun dari kalian yang terlihat seperti apa adanya."
"Dunia ini nampak seperti apa adanya, itulah yang disebut kearifan, Lady," kata
Kenji, agak bijak kurasa, Aku mengerti dia tak ingin Kaede mengetahui asal-usul kami:
bahwa kami berasal dari Tribe. Aku pun tidak ingin Kaede tahu. Aku lebih senang bila
dia menganggapku sebagai bagian dari klan Otori.
Shizuka memungut tali dan mengikat rambut Kaede ke belakang. "Sekarang kau




133
lawan Takeo."
"Tidak," jawabku segera. 'Aku harus pergi. Aku harus melihat kuda. Aku harus
melihat apakah Lord Otori membutuhkanku."
Kaede berdiri. Aku mencium wangi tubuhnya, percampuran antara wangi bunga
dan keringatnya.
"Hanya satu pertandingan saja," kata Kenji. "Tak ada bahayanya."
Shizuka hendak memasangkan penutup muka di wajah Kaede, tapi dia menolak
dengan cara mengibaskan tangannya.
"Jika bertarung melawan laki-laki, aku harus bertarung tanpa penutup muka,"
ucapnya.
Aku mengambil tongkat dengan rasa enggan. Hujan turun semakin deras.
Ruangan kini menjadi remang-remang, cahayanya berwarna kehijau-hijauan. Kami seperti
berada di dunia dalam dunia, terkurung dari dunia nyat, sungguh mempesona.
Awalnya pertarungan kami nampak seperti latihan biasa, kami berusaha saling
mengecoh, walaupun aku takut menyerang wajahnya, sedangkan matanya tidak pernah
lepas menatap mataku. Kemudian aku sadar kalau pertarungan ini telah berubah
menjadi seperti latihan. Melangkah, menyerang, menangkis, dan melangkah lagi. Deru
napas Kaede makin kencang, diikuti dengan deru napasku, lalu kami menghela napas
secara bersamaan. Matanya semakin cemerlang dan wajahnya telah bersinar, setiap
pukulannya semakin kuat, dan irama langkah kami semakin cepat. Selama beberapa
saat, aku mendominasi, kemudian Kaede, tapi tidak ada yang bisa menguasai
pertarungan—apakah ini berarti kami tidak ingin saling menguasai?
Akhirnya, mungkin karena dia membuat kesalahan, aku berhasil menembus
pertahanannya, dan untuk menghindari agar tongkatku tidak terkena di wajahnya, aku
membiarkan tongkatku jatuh. Kaede menurunkan tongkatnya dan berkata, "Aku
menyerah."
"Kau telah bertarung dengan baik," kata Shizuka, "Tapi, Taeko seharusnya agak
lebih keras."




134
Aku berdiri dan menatap Kaede dengan mulut terbuka seperti orang idiot. Aku
berpikir, jika aku tidak memeluknya saat ini, aku akan mati.
Kenji memberikan handuk kepadaku sambil mendorongku dengan keras.
"Takeo...."
"'Apa?" kataku dengan bodohnya.
"Jangan mempersulit keadaan!"
Shizuka berkata tajam pada Kaede, seakan memperingatkan adanya bahaya, "Lady
Kaede!"
"Apa?" kata Kaede, matanya masih terpaku menatapku.
"Kurasa latihan kita hari ini sudah cukup," kata Shizuka. "Ayo kita ke kamarmu."
Di luar dugaan, Kaede tersenyum padaku. "Lord Takeo," ucapnya.
"Lady Shirakawa." Aku mengangguk ke arahnya, berusaha bersikap resmi, tapi aku
tak sanggup menahan diri untuk tidak membalas senyumnya.
"Ini bisa . mengacaukan segalanya," sungut Kenji.
"Sudahlah, itu wajar saja terjadi di usia mereka!" balas Shizuka. "Mereka akan bisa
mengatasinya."
Shizuka menuntun Kaede keluar, lalu meminta pelayan yang menunggu di luar
aula untuk membawakan payung. Aku bisa menduga apa yang Kenji dan Shizuka
bicarakan. Mereka benar tentang satu hal, tapi salah dalam hal lainnya. Kaede dan aku
saling tertarik, lebih dari tertarik, cinta tepatnya, dan kami tidak mampu mengatasinya.
Hujan deras selama seminggu membuat kami terkurung di kota pegunungan ini.
Kaede dan aku tidak lagi dilatih bersama. Kuharap kami tak pernah mengulangi
kejadian yang lalu: sungguh saat yang penuh kegilaan, aku tidak ingin itu terjadi, dan
kini aku tersiksa karena kejadian itu. Seharian aku selalu memasang telinga hanya
untuk mendengarkan suaranya, langkahnya, dan—pada malam hari ketika hanya
dipisahkan oleh dinding tipis—aku mendengar napasnya. Aku mampu menceritakan
bagaimana dia tidur dengan gelisah dan terbangun beberapa kali. Kami menghabiskan
waktu bersama—ini karena penginapan sangat kecil, karena berada di rombongan




135
perjalanan yang sama, karena terus berada di sisi Lord Shigeru dan Lady Maruyama—
tapi kami tidak sempat berbincang. Kurasa, kami berdua takut untuk memperlihatkan
perasaan. Kami hampir tak berani menatap, meskipun kadang-kadang tatapan mata
kami saling bertemu, dan kembali menimbulkan bara di antar kami.
Siksaan ini membuatku kurus dan mataku cekung karena cinta, dan bertambah
buruk dengan kebiasaan lamaku yaitu keluar malam hingga dini hari. Shigeru tak tahu.
Aku pergi saat dia sedang bersama Lady Maruyama, dan Kenji tidak tahu atau
berpura-pura tidak tahu. Aku merasa seperti tak kasat mata, seperti hantu. Di siang
hari, aku belajar dan melukis, sedangkan di malam hari aku pergi melihat kehidupan
penduduk, bergerak melintasi kota layaknya hantu. Kadang aku merasa tidak akan
pernah memiliki kehidupan sendiri, karena aku akan selalu menjadi bagian Otori atau
Tribe.


Baca part 2 disini...

0 Response to "Across The Nightingale Floor Part 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified