Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Give Last Drop Of Blood (The Hole Soul)

Ucapan Terimakasih:

Kepada Pihak-pihak Yang Terkait Dan Membantu Kelancaran Pembuatan Novel Ini
Allah SWT. Dengan segala rahmat, kasih sayang dan pemberiannya yang selalu memanjakan saya sampai detik ini.
Kedua orang tua saya yang telah memfasiitasi segala kebutuhan saya.
Teman-teman saya yang menunggu hasil karya saya.
Bu Titik, suami dan anaknya yang saya ambil tokohnya.
Terima kasih untuk kalian semua…!
DAFTAR ISI

Prakata

Nduk, anakku, kau tidak pernah berhenti berkata tentang apa yang kau rasakan dalam hidupmu kepadaku, aku pun tidak pernah bosan kala aku mendengarkan semua cerita dalam kata-katamu. Kau tampak menderita saat kau bercerita tentang apa yang telah kau rasakan dan kau alami di suatu waktu, namun kau tak pernah mengatakan bahwa kau menderita, sebaliknya kau malah berkata bahwa kau senang telah merasakan dan mengalaminya. Bagaimana kabarmu, Nduk. Apakah kau merindukan yang telah kau tinggalkan dan kehilangan atasmu? Apakah kau merindukanku? Jujur saja aku merasa kehilangan!





Death Experience


Kau terbaring diam dengan mata terpejam di ranjang rumah sakit. Badanmu dingin dan kulitmu pucat. Aku berpikir apa yang terjadi padamu, sampai akhirnya dokter menyatakan bahwa kau telah meninggal. Kau telah meninggal, betapa aku tidak menyangka bahwa SMS-mu sore tadi adalah SMS terakhirmu untukku, anakku.
“aku OTW kesana, bu Titik tunggu ya!” SMS terakhirmu untukku sebelum kau seperti ini.
Aku tidak mengira, sore ini hari jum’at 11 November 2011, kau mengatakan OTW (On The Way : sedang di jalan) kesana bermakna kau sedang menuju jalan kematianmu. Apa yang saat itu kau rasakan, Nduk? Apakah kau telah merasa bahwa kau akan pergi untuk selamanya, apakah kau merasa bahagia telah melepaskan beban dunia, ataukah kau merasa sedih telah kehilangan seperti halnya aku yang kehilanganmu?
Semua orang menangisimu, Nduk. Orang tuamu, saudara-saudaramu, teman-temanmu, aku, bahkan orang yang membencimu pun juga menangisimu.
“bu, bagaimana bila nanti aku mati? Bu Titik datang ke pemakamanku ngga?” tanyamu dulu.
“kok ngomong gitu?” jawabku
“’kan aku Tanya”
“Bu Titik belum siap ditinggal kamu, Nduk. Nanti HP Bu Titik sepi kalau malam, ngga ada SMS dari kamu lagi sih! Hehehehe…” candaku denganmu di tempat les kita.
Sekarang kau benar-benar pergi, kenapa kau pergi secepat ini? Aku masih ragu apakah kau telah benar-benar pergi. Sesuatu dalam hatiku berkata kau hanya tidur dan sebentar lagi akan bangun. Bangunlah, Nduk. Semuanya belum siap atas kepergianmu. Tidakkah kau mendengar tangis kehilangan mereka yang terdengar sangat tidak rela kau pergi.
Aku menangisimu saat itu, Nduk. Aku telah merasa sangat dekat denganmu. Meskipun hubungan kita hanya sebatas guru dan murid, tapi kau seperti anakku sendiri. Aku masih berharap kau dapat bangun, membuka matamu dan berkata
“apa yang Bu Titik tangisi?”
***
“kau belum boleh mati, Na. Bangunlah anakku, Ibu berjanji tidak akan marah padamu apapun yang terjadi! Bangun anakku…” kata ibumu dalam tangisnya.
Ibumu terus memegang tanganmu, seolah ia tak ingin berpisah dengan ragamu. Dan ayahmu, ia tak mampu melihatmu seperti itu. Sedangkan aku, bersama dua gurumu yang lain dan teman-teman juga saudaramu hanya mampu bersedih dan diam atasmu.
Tiba-tiba, Ibumu berhenti menangisimu. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi ditundukkan pada ranjang rumah sakit tempatmu terbaring. Apa yang terjadi?
“kau masih hidup…” kata Ibumu tampak bahagia di matanya.
“apa…” kata seseorang dalam ruangan rumah sakit.
Semua orang tertegun mendengar perkataan Ibumu. Bagaimana mungkin kau yang telah di vonis meninggal kemudian hidup kembali.
“mungkin ibunya sangat terpukul karena kematian Nanna yang tiba-tiba!” bisik Pak Annas padaku
Aku tak menanggapi perkataan Pak Annas. Aku hanya diam dan terfokus padamu. Apa maksud perkataan Ibumu bahwa kau masih hidup? Saat itu aku melihat pelupuk matamu bergerak. Kau seperti akan membuka matamu. Aku kemudian segera menghampirimu, aku memegang tanganmu. Tanganmu terasa hangat, berbeda dengan tadi yang sangat dingin. Aku mulai merasakan gerakan tanganmu yang membalas genggaman tanganku.
“Nanna memang masih hidup” teriakku kepada orang-orang
Perlahan-lahan kulihat matamu terbuka, semakin membuka dan akhirnya benar-benar terbuka. Kau benar-benar masih hidup, Nduk. Tuhan masih mengasihanimu. Semua orang kaget melihatmu begitu, ada yang takut, tidak percaya dan bahagia. Seseorang di sana kemudian berlari keluar untuk memanggil dokter.
“apa yang terjadi…?” tanyamu tampak kebingungan.
Rupanya kau lupa bahwa kau bersama motor yang kau kendarai mengalami kecelakaan saat akan berbelok ke tempat les yang ada di seberang jalan Ngembes. Kau lupa bahwa motor yang kau kendarai di tabrak motor besar yang melaju kencang dari arah belakang. Kau tadi telah dinyatakan meninggal yang anehnya di badanmu tanpa ada luka sedikitpun, begitu pula dengan motor yang kau kendarai, tak ada kerusakan ataupun goresan di sana, padahal motor besar yang menabrakmu rusak cukup parah, banyak goresan dan badan motor yang pecah. Itulah lindungan tuhan terhadapmu, Nduk.
Dokter datang sebelum Ibumu ataupun aku menjawab pertanyaanmu. Akhirnya semua orang dalam ruangan rumah sakit itu keluar. Saat aku melihatmu sebelum aku keluar, aku melihat kau juga melihatku dengan senyummu. Aku lega kau masih hidup dan aku lega, kau bangun dari kematianmu.
***
“halo juga…” kataku seperti biasa pada anak yang menyalamiku setiap kali bertemu denganku.
Tangan anak itu dingin sekali, aku menunggu untuk melihat wajahnya yang tersembunyi di balik jilbab coklatnya. Ternyata itu kau, Nduk. Aku sangat kaget melihatmu yang berada di sekolah setelah kemarin kau bangun dari kematianmu.
“lho? Sudah sembuh, Nduk?” tanyaku sambil mengamati wajahmu.
“hu’um…” kau mengangguk. Kemudian pergi menghampiri teman-temanmu yang juga takjub melihatmu.
Aku heran, takjub, sekaligus khawatir padamu. Bagaimana bisa kau pulih secepat ini? Wajah dan kulitmu saja masih terlihat sangat pucat, tanganmu pun dingin, mungkin juga bukan hanya tanganmu yang dingin, seluruh badanmu juga mungkin dingin.
Aku tahu kau anak yang kuat, Nduk. Apapun yang berusaha membuatmu roboh, selalu kau robohkan terlebih dahulu. Dan ketika kau mulai roboh, kau selalu berusaha bangkit dan tersenyum apapun yang terjadi padamu. Tapi, Nduk. Kekuatanmu kali ini membuatku takut, takut jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi padamu.
“wah ada mayat berjalan, hahaha…”
Saat aku mengajar di kelasmu, kelas IX-A. Aku mendengar suara teman-temanmu membicarakanmu, mereka mebicarakan tentang ragamu yang sangat mirip dengan mayat. Diantara mereka juga ada yang ketakutan saat berdekatan denganmu, mereka takut di dekatmu karena mereka merasa ada perasaan aneh di dekatmu, dingin, panas, sampai merinding. Entah itu hanya perasaan mereka atau apa?
TEEEETTTTT… TEEEEEETTT….
Waktu cepat sekali berlalu, pelajaranku dan sekolah telah selesai hari itu. Semua anak segera pulang setelah berdoa’a, dan seperti biasa kau tidak segera pulang, namun menghampiriku dan menceritakan sesuatu hal padaku. Dan seperti biasa pula, aku merangkulmu dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku membawa buku-buku peganganku untuk mengajar. Saat merangkulmu, aku merasakan tubuhmu dingin sekali, namun bukan dingin yang menusuk melainkan dingin yang membuatku nyaman.
Dan kau mulai bercerita tentang yang kau rasakan. Kau mengatakan apa yang kau rasakan kemarin.
“kemarin waktu aku ditabrak dari belakang, aku ngga kerasa apa-apa bu…” katamu dengan menarik sebuah kursi dan menggunakannya untuk duduk di samping mejaku.
“kamu tahu ngga, Na. kamu itu kemarin sudah dinyatakan meninggal oleh dokter, tapi kamu hidup lagi. Mati suri…” kataku.
Kau menceritakan sesuatu yang kau rasakan saat badanmu terlempar ke jalan. Kau bilang kau langsung tidak sadar saat itu, semuanya menjadi gelap sesaat untukmu, kau masih bisa mendengar suara orang-orang yang memanggil-manggilmu. Sampai akhirnya suara-suara itu hilang dan digantikan oleh satu suara laki-laki yang amat menggelegar, dan kau menganggap suara itu adalah suara yang sangat menakutkan. Lalu tiba-tiba kau merasa sangat tenang saat suara itu memanggilmu dipanggilan ketiga, dan saat itu juga kau mendapati dirimu terbaring di ranjang rumah sakit dengan semua orang disana menangis.
“tapi, aku tidak mengerti apa yang mereka tangisi…” katamu
Kau mengira itu seperti mimpi, kau kemudian menghampri tubuhmu dan berusaha menyentuhnya, tapi kau tidak bisa menyentuhnya, tanganmu malah menembusnya. Kau juga berusaha menyentuhku dan Ibumu, dan lagi-lagi tak bisa. Kau berkata kau ingin menangis saat itu, namun entah kenapa kau tidak bisa menangis. Saat itu juga, tiba-tiba semuanya hilang, dan tanpa kau sadari, kau telah berada dalam sebuah tempat yang sangat gelap dimana di depanmu terpancar seberkas cahaya yang sangat terang. Ada cahaya yang menuntunmu untuk menuju cahaya terang di depanmu. Rasanya cahaya itu sangat jauh, dan kau merasa sangat lelah. Saat kau merasa lelah, kau mengedip-ngedipkan matamu, dan tiba-tiba lagi kau sudah sangat dekat dengan cahaya terang di depanmu. Di cahaya itu, kau melihat ada sebuah pintu yang terbuka, pintu itu mengeluarkan asap yang sangat harum dan dingin. Seseorang keluar dari sana, seorang laki-laki berjubah yang tak dapat kau lihat warna jubahnya dan wajahnya. Saat kau menoleh ke sekelilingmu, ternyata kau berada di taman hijau dengan langit cerah yang tenang, dan cahaya yang menuntunmu, ia masih ada di sisi kananmu dan masih terus menuntunmu.
“terus…” katamu
Kau terperosok kedalam tanah, dan tanpa kau sadari kau terjatuh tepat di depan jurang yang besar dan lebar yang berisi api yang menjilat-jilat.
“sebrangilah jembatan ini, jika kau berhasil menyebrangi jembatan ini, maka kau akan selamat” perintah cahaya di sampingmu.
“apa yang harus aku sebrangi? Tidak ada jembatan di atas jurang ini” bantahmu.
“lihatlah baik-baik, dan janganlah kau berbicara saat meyebrangi jembatan ini”
Kau kemudian mengamati jurang di depanmu, cukup lama kau terdiam mengamatinya, dan kau tersentak saat tiba-tiba muncul jembatan kecil tanpa pegangan di kanan kirinya.
“aku berpikir bagaimana aku bisa melewati jembatan itu? Ngga ada pegangannya, terus jembatannya kecil, kelihatan rapuh, gitu…” katamu dengan tersenyum, aku heranbkenapa kau tersenyum.
Akhirnya kau bertekad untuk melewatinya dengan keberanianmu dan kekuatanmu. Tanpa ragu kau melangkahkan kaki kananmu ke jembatan itu, kau ingat agar kau tak berbicara saat menyebrangi jembatan itu. Awalnya terasa bergoyang dan seakan kau mau jatuh. Tapi lama-kelamaan menyebrangi jembatan itu terasa sangat enteng bagimu, seperti berjalan di atas tanah.
Di dalam jurang itu, kau melihat api tak berani menyentuhmu, kau juga mendengar teriakan-teriakan memilukan orang-orang yang meminta tolong. Mereka terkurung dalam jurang api itu, betapa mengerikannya dibakar dalam api itu dan nyata-nyata orang-orang itu masih hidup.
“bagaimana rasanya?” Tanya cahaya di sampingmu. Karena kau telah berhasil melewati jurang memilukan di belakangmu.
“enteng dan tidak terasa panas, api-api itu sama sekali tidak menyentuh kulitku” jawabmu.
Di depanmu kemudian muncul cahaya terang, yang ternyata itu adalah pintu dimana seorang laki-laki berjubah tak bisa kau lihat warna jubahnya dan wajahnya menampakkan dirinya, seperti saat kau tiba-tiba berada di taman yang menyejukkan tadi.
“belum tentu saat kau kembali ke sini, kau akan merasa seringan ini!” kata orang di cahaya itu
Kau kemudian dibawa ke sebuah tempat yang kau sendiri tidak tahu itu tempat apa. Hanya ada hamparan hijau dengan langit berwarna putih yang sangat luas dan saeakan tak ada ujungnya saat kau melihatnya. Di sana kau melihat ada cahaya yang terlihat meredup, berbeda dengan cahaya yang dari tadi menemaminmu. Cahaya yang meredup itu terbang melesat kencang kearahmu, cahaya itu merasuk ke dalam tubuhmu. Dan cahay terang di sampingmu juga merasuk ke dalam tubuhmu.
“rasanya panas dingin pas dua cahaya itu masuk…” katamu.
Setelah beberapa lamu kau merasakan panas dingin di tubuhmu, kau pingsan. Saat kau bangun, kau melihat aku dan Ibumu di depanmu.
“tapi kamu ngga apa-apa ‘kan, Nduk? Kamu sehat ‘kan? Benar-benar sehat?” tanyaku dengan mengamati matamu. Kau menjawab hanya dengan menggelengkan kepalamu.
Setelah bercerita dan sedikit berbincang denganku, kau memutuskan untuk pulang. Dan saat itu kau mengatakan sesuatu yang tidak aku tahu maksudnya.
“eh, ati-ati ya. Anaknya Bu Titik besok mau masuk rumah sakit…” katamu saat menyalamiku dan kemudian pergi meninggalkanku.




Dear My Dee


Di halamanpertama buku yang kupegang ini tertulis nama Nannadee. Dee, nama imbuhan yang sangat kau sukai, kau telah menggunakan imbuhan itu semenjak menginjak kelas VIII, aku pun tidak tahu kenapa kau menggunakan dan menyukai nama itu, yang jelas kau sangat suka bila dipanggil “Nannadee” ataupun “Nadee”.
Ini adalah buku harianmu, Nduk. Semua yang kau rasakan dan kau alami tertulis di lembaran-lembaran buku ini. Kakakkmu yang memberikan buku ini padaku saat aku ikut mengantarmu ke pembaringanmu, dia bilang ini adalah permintaanmu. Kenapa buku kehidupanmu kau berikan padaku? Apakah menurutmu aku adalah orang yang cocok untuk membaca cerita kehidupanmu? Ataukah karena kau amat menyayangiku?.
Di sore hari saat matahari mulai meredupkan sinarnya, kadang aku menyempatkan membaca buku harianmu, Nduk. Aku selalu sedih dan bangga padamu saat aku membacanya, aku sedih karena mengingatmu, dan aku bangga karena perbuatanmu.





My Angel


Malaikat kecilku satu-satunya bernama Ufi terlihat tak seperti biasanya pagi itu, padahal itu hari minggu. Biasanya ia merengek-rengek untuk pergi jalan-jalan bersama aku dan ayahnya sejak ia bangun tidur. Berbeda dengan pagi itu, Ufi hanya berbaring diam di atas kasur lantainya sambil mengamati TV. Ufi tampak tak sehat. Ayahnya yang otomatis suamiku, mas Andi mendekati Ufi dan meraba kepala kecilnya dengan penuh kasih sayang.
“Ufi panas!” kata mas Andi menatapku.
Aku mendekati Ufi saat mas Andi berkata begitu padaku. Kurasa, aku panik. Aku kemudian meniru mas Andi menyentuh kepala Ufi, dan benar saja, Ufi panas. Mas Andi menyuruhku mengambil thermometer untuk mengukur suhu panas tubuh Ufi.
“39,8 derajat “ kataku kaget melihat angka yang tertera pada thermometer digital yang aku pegang.
“tinggi sekali, ayo kita bawa ke dokter…”
Mas Andi kemudian mengangkat tubuh kecil Ufi dengan entengnya lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Dengan tergesa-gesa aku mengikuti mereka masuk kedalam mobil. Aku mengambil Ufi dari pangkuan ayahnya yang mulai menyetir mobil dan beralih memangkunya. Suamiku mengendarai mobilnya dengan agak ngebut agar cepat sampai ke tujuan. Di perjalanan, aku melihatmu. Melihatmu membuat aku teringat perkataanmu kemarin “ati-ati ya, besok anakmu mau masuk rumah sakit”. Perkataanmu benar, atau hanya kebetulan saja.
***
“saya akan melakukan uji laboratorium dengan mengecek darah anak bapak dan ibu untuk mengetahui hasil kelanjutannya” kata dokter.
“memangnya anak kami sakit apa, Dok?” tanyaku ingin tahu.
“untuk memastikannya, mohon bapak dan ibu menunggu hasil laboratorium. Dan semoga saja dugaan saya salah!” dokter memasang wajah penuh harap.
“apa dugaan dokter tentang penyakit anak kami?” kali ini suamiku yang bertanya.
“anda berkata akhir-akhir ini anak anda sering mimisan, mudah batuk pilek, dan kadang anak anda mengeluhkan tentang persendiannya yang sakit bukan? Dan sekarang panas anak anda sangat tinggi dan mulai muncul bintik-bintik merah pada kulitnya…”
“anak saya terkena demam berdarah?” potong suamiku.
“tidak” dokter menggeleng, “memang mirip demam berdarah, tapi ini mungkin leukemia!” kata dokter serius.
Apa, leukemia? Aku dan suamiku sangat kaget mendengar perkataan dokter. Bagaimana bisa pilar kehidupanku menderita penyakit seperti itu? Apakah ini bagian dari mimpi burukku, atau ini nyata adanya?
“tapi, ini hanya diagnosa sementara. Semoga diagnosa saya salah dan anak anda tidak sampai terkena demam berdarah apalgi leukemia. Semoga hanya alergi saja.” Tambah dokter.
Ya, semoga tidak. Aku cukup lega oleh perkataan dokter, walaupun masih ada rasa kekhawatiran. Semoga tidak. Aku kemudian menggendong Ufi dan berpamitan dengan dokter. Suamiku memandang Ufi dengan pandangan kekhawatiran. Dan tiba-tiba aku ingat perkataanmu kemarin, “anakmu besok mau masuk rumah sakit…”





Dear My Dee – Screwy?


“23 November 2011 - waaaww… kok aku bisa tau weton (hari lahir dan satuannya dalam kalender jawa) temen-yemenku ya? Aku juga bisa tau apa yang dipikirin mereka. Temen-temenku jadi takut deket-deket sama aku, mereka takut aku tau rahasia-rahasia mereka. Aku juga jadi nglakuin hal-hal aneh yang ngga biasa aku lakuin. Tiba-tiba bangun pas tengah malem terus ngga bisa tidur lagi, pengennya nyapu terus, makan kembang mawar, ngliatin mata orang, ahh pokoknya bagiku aneh deh, bagi orang-orang di sekitarku juga aneh. Dan ada hal aneh lainnya, aku sering liat sliwer-sliwer hitam dan putih gitu, bahkan semalem pas aku tiba-tiba bangun, aku ngeliat ada perempuan tidur di sampingku, tapi aku ngga yakin. Soalnya aku antara sadar dan engga. Aku kucek-kucek mataku, perempuan itu ngga ada. Halusinasi kali ya…??? Bukan hanya itu, aku juga sering denger suara-suara aneh yang ngga aku tau dari mana asalnya. Kaya orang ngobrol tapi aku ngga ngerti bahasanya, ohh ya, mungkin salah pendengaran, bisa aja itu daun yang ditiup angin, iya ‘kan.
Eh tau ngga? Ada seorang guru yang bilang aku aneh banget, gara-gara tiap istirahat aku nyapu terus dan bela-belain bolos buat nyapu, dan nyapuku itu ngga berhenti-ber henti, terus-terusan aja gitu. Aku juga ngga tau kenapa bisa begitu. Yahh, seperti aku bilang, aku jadi nglakuin hal-hal aneh yang ngga biasa aku lakuin.
Anehnya lagi, lagi anehnya, aku jadi bisa ngrasain apa yang mau terjadi. Aku juga bisa ngrasain kalo ada temen atau guruku yang terluka. Kenapa ya? Aku merasa aneh akhir-akhr ini? Apa aku aneh Dee?”
Sore itu, aku membaca dear my dee-mu, aku membaca buku harianmu. Kau merasa aneh, ya kau memang aneh akhir-akhir ini, akupun merasakannya. Kau juga jadi hebat bisa membaca weton teman-temanmu termasuk aku, kau juga hebat bisa menebak kejadian-kejadian yang akan datang, da tebakanmu hamper selalu benar. Dan lagi, kau bisa membaca dan mempengaruhi pikiran orang-orang di sekitarmu. Kau mendadak hebat.
Pernah kemarin, kau berpura-pura menghipnotis temanmu namun hasilnya ia benar-benar terhipnotis dan ia yang kau hipnotis menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur juga melakukan apa yang kau perintahkan.
Bahkan beberapa hari yang lalu, kau bisa menyadarkan anak SMA yang kesurupan parah. Guru agama saja sampai kewalahan, tapi kau dengan menyentuhnya dan membaca sedikit doa saja langsung bisa membuatnya sadar. Aku jadi bingung, apakah kau perlu disadarkan juga.




Dear My Dee – Unarable & Six Sense?


“2 Desember 2011 - Dee… ini ketiga kalinya aku merasa tidak cocok berteman dengan seseorang. Dia keponakanku dari Sumatra, namanya Lola. Jika dekat dengannya, tubuhku rasanya kedinginan dan merinding, bawaannya perasaanku ngga enak terus kalo liat wajahnya apalagi deket-deket.
Kayanya ini berat banget deh buat aku, tiap hari aku barengin dia ke sekolah. Aku kelas IX dia kelas VII, aku tuh ngga suka banget kalo ngebonceng dia. Jadinya ngga jomplang gitu, dia berat banget badannya. Ya maklum sih, orang Sumatra ‘kan emang gemuk-gemuk. Dia juga belum bisa bahasa jawa, jadinya ya, aku ngga pernah ngomongin dia, ngomong ya seperlunya aja.
Eh tau, ngga. Semalem aku takut banget. Aku liat ada orang banyak banget di rumahku. Wajahnya serem-serem, dan aku kaget banget pas liat mereka pada nembus tembok dan bisa tiba-tiba hilang. Aku Tanya sama kakekku, ternyata yang kulihat semalam itu bukan orang, tapi jin dan sebangsanya. Hiii, dan kakekku bilang lagi, sekarang mata ketigaku sudah terbuka. Aku jadi bisa liat yang gitu-gitu deh. Kakek bilang aku harus lebih hati-hati dan menghormati mereka. Hiii, aku ngga siap menerima ini.“
Sore itu aku berada di warnet Dan’s bersama dek Sholly yang menjaga warnetnya. Kebetulan saat itu aku ada kepentingan dengan dek Sholly dan kepentingan untuk mencari data di warnet. Aku dan dek Sholly bersama-sama membaca buku harianmu. Dia ingin tahu kisah hidupmu, dan setelah ia membaca beberapa lembar buku harianmu, ia tak lagi mau meneruskan membacanya. Baginya sangat memilukan mengenangmu, Nduk.
“iya, Nanna pernah cerita kalau dia merasa tidak cocok dengan saudaranya. Nanna dulu sering main kesini tiap pulang sekolah, buat numpang sholat juga sih” kata dek Sholly.
Ingatkah, Nduk. Dek Sholly. Kau memanggilnya mbak Shol, dia adalah guru les komputermu dulu waktu kau kelas VII. Dia merindukanmu datang ke warnet Dan’s, apakah kau juga merindukannya?
Kau memang begitu, kalau merasa tidak cocok dengan seseorang karena perasaanmu, maka kau akan menjauhinya dengan terang-terangan tanpa mau berbicara dengan orang yang tidak cocok denganmu.
Ya, benar. Kau pasti memang bisa melihat para jin dan sebangsanya karena memang kau bisa. Itu pasti efek karena kau pernah mati suri beberapa waktu lalu. Siapa mengira kau tidak menerimanya? Tapi kau memang harus menerimanya, karena ini adalah rencana Allah yang sudah pasti direncanakan untuk sebuah kebaikan yang manfaat untukmu, Nduk. Mau tidak mau kau harus menerimanya bukan?
“bu Titik, Nanna juga tahu waktu aku berantem sama cowokku. Dia bilang, cowokku lagi nyari cewek lain untuk nggantiin aku, dan bener, beberapa hari kemudian cowowkku mutusin aku. Waktu itu, aku sedih banget. Nanna juga tahu kalau aku sedih banget. Dia bilang, aku harus tenang, bu. Dia bakal ngembaliin cowokku ke aku lagi…” Kata dek Sholly menceritakan tentangmu.
“kembali, bener..?”tanyaku.
“iya, cowokku kembali lagi ke aku. Malah cowokku sekarang ngga berani deketin cewek lain. Ngga tau diapain sama Nanna.”
Aku kemudian membuka lembar-lembar buku harianmu selanjutnya. Aku membaca tulisanmu yang bertanggal 28 Desember 2011, “aku merelakan bagian dari jiwaku untuk mengikat sebuah hati, aku mengikat hati untuk seseorang. Seseorang itu terlihat terluka saat berpisah dengan orang yang dicintainya. Aku tidak ingin orang yang terluka itu semakin terluka karena melihat orang yang dicintainya menggenggam hati lain selain hatinya. Karena jiwaku tak akan berarti apapun jika orang yang ang terluka semakin terluka, aku akan mengorbankan jiwaku agar mereka tak semakin terluka. Dan sebentar lagi, aku akan merelakan seluruh jiwa dan hidupku untuk memperpanjang hidup seorang anak, agar ibu dan ayahnya bahagia melihat anaknya hidup, mereka pasti lebih bahagia dari aku…” aku terharu setelah membaca tulisanmu, entah bagaimana caramu untuk mengikat hati seseorang itu, yang pasti kau telah membuat dek Sholly bahagia sampai sekarang.





My Angel 2


“hasilnya sudah keluar..” kata dokter nampak risau.
“apa hasilnya, Dok? Anak saya tidak tekena sebuah penyakit apapun ‘kan?” tanyaku serius.
“ma’af..” dokter memelankan suaranya, “anak anda terkena leukemia akut. Jika tidak ditangani dengan serius, dalam beberapa bulan saja, ini bisa membahayakan anak anda!”.
Aku terkejut mengetahui hal ini, pikiranku seolah terhenti dari pemikiran apapun selain anakku. Aku tidak berkata apa-apa lagi, aku kemudian meninggalkan ruangan dokter dengan air mata yang membasahi pipiku. Mas Andi pasti juga akan terkejut mengetahui hal ini. Ufi yang baru berumur tiga tahun terkena leukemia, dia masih sangat kecil, kehidupannya masih panjang. Dan mulai saat itu ia harus belajar merasakan kesakitan dan penderitaan. Ya Allah, tidak bisakah kau pindah penyakit ini padaku saja? Agar anakku tak merasa sakit, agar aku dan suamiku tak sedih melihat anak kami sakit, agar kami selalu melihat senyum dan tawa ceria Ufi, bukannya keluhan, kesakitan, dan kesedihan Ufi. Bisakah ya Allah?
***
“ibuk kok nangis?” Tanya Ufi menyambutku yang baru turun dari mobil.
“ibuk dari mana? Ufi ngga diajak?” tanyanya lagi.
Aku tidak menjawab pertanyaan Ufi, aku hanya menatap wajahnya lekat-lekat, lalu aku berjongkok di depannya dan memeluk tubuh kecilnya.
“ibuk ngga dari mana-mana, dek. Ibuk tadi cuma dari rumah temen ibuk. Tadi ibuk lihat, dek Ufi tidur, jadi ibuk pergi sendiri…” kataku bohong pada anakku.
Di pundakku, aku merasa sesuatu menetes di atasnya. Aku kemudian melepas pelukanku kepada anakku. Saat aku melihatnya aku mendapati hidung anakku mengeluarkan darah. Ya, Ufi mimisan cukup banyak. Aku sedih melihat hal itu. Secepat inikah vonis dokter berlaku?
Aku menghapus darah yang mengalir dari hidung Ufi dengan kedua tanganku. Sepenuh hati aku melakukannya tanpa ada rasa jijik atau apapun, karena Ufi adalah anakku.
“sakit ngga, dek?” tanyaku pada Ufi dengan mata berkaca-kaca.
Ufi hanya menggeleng tanpa berkata apapun. Dia memang tak tampak kesakitan, bahkan senyum masih menghiasi wajah kecilnya.
“besok kalau Ayah pulang, kita ke rumah sakit ya!” kataku pada Ufi.
“ngapain? Ufi ‘kan ngga sakit! Ufi ngga mau ke rumah sakit, nanti Ufi disuntik sama dokter” katanya.
“dek Ufi ngga mau ya, jalan-jalan ke rumah sakit sama ayah sama ibuk?”
“mau, iya deh. Besok Ufi sama ayah sama ibuk ke rumah sakit ya…”
Hidung Ufi berhenti mengeluarkan darah, tapi wajahnya memucat. Dan Ufi mulai mengeluhkan badannya yang lemas.
“buk, Ufi lemes”
“hmm… dek Ufi belum makan ya?”
Aku tahu itu adalah gejala persebaran kanker dalam darah Ufi, dan aku berusaha menutupi itu dengan alas an lain.
“ngga, Ufi lemes bukan laper”
“ya udah, dek Ufi bobo siang dulu ya. Ibuk temenin”
Aku kemudian menuntun Ufi masuk ke dalam rumah. Kini penderitaannya telah dimulai, aku tak tahu apakah aku sanggup melihat penderitaannya.
***
“apa? Jadi Ufi benar-benar sakit?” kata mas Andi di Ujung telephone.
Sedangkan aku, tak mapu lagi berkata apapun. Aku tak mampu mengulang kalimat “Ufi terkena leukemia”. Mas Andi pun pasti tak mau mendengar ulangan kalimat itu.
“dek, jangan bercanda, Ufi itu satu-satunya milik kita” kata mas Andi lagi.
“tapi inilah kenyataannya, mas. Dokter bilang, dalam beberapa bulan saja, nyawa Ufi bisa terancam” bentakku.
“sudah kau bawa ke rumah sakit?”
“belum”
“kenapa belum? Seharusnya kau segera membawanya ke rumah sakit. Kau sendiri yang berkata nyawa Ufi bisa terancam” mas Andi mulai marah.
“jangan salahkan aku begitu, aku menunggumu pulang agar kita bisa membawa Ufi bersama-sama ke rumah sakit besok”
“aku tak jadi pulang besok…”
“apa maksudmu?” potongku.
“aku tak jadi pulang besok, aku akan pulang sore ini juga. Ufi harus segera dibawa ke rumah sakit!”
Mas Andi menutup telephonnya begitu saja. Ia pasti sangat cemas, seperti halnya aku yang seakan bisa ikut merasakan penderitaan Ufi. Tanpa kusadari, di kedua mataku terbentuk kaca air mata yang kemudian kaca itu pecah dan membasahi pipiku.
***
Pukul tujuh malam, suara mobil suamiku telah tiba di ujung telingaku, dan benar saja ia telah datang. Ia mengetuk pintu rumah dengan ketukan yang lebih kencang dari biasanya.
“itu pasti ayah” kata Ufi mengalihkan perhatiannya dari TV menuju pintu dan suara ketukan itu.
Aku segera berdiri dari dudukku dan menghampiri pintu. Di sampingku, Ufi mengikutiku dan bersiap menyambut ayahnya.
“ayah, yee…. Ayah pulang, yeee” sorak sorai gembira Ufi menyambut ayahnya ketika aku membuka pintu.
“sayaaaang…” kata mas Andi menjunjung badan Ufi lalu menggendongnya.
Tak lupa mas Andi merangkulku dan mencium keningku sebelumnya. Aku lalu melepaskan jaketnya dan membawakan tasnya. Kami bertiga menuju ruang TV untuk berbincang sesaat melepas kerinduan setelah satu minggu tak bertemu. Kami tampak bahagia saat itu, namun kebahagiaan itu hanya sesaat begitu aku dan suamiku melihat Ufi mimisan. Mas Andi begitu panik melihatnya, ia segera mengambil beberapa helai tisu yang tergeletak di atas meja dan mengelap darah Ufi.
“kita harus segera ke rumah sakit” kata mas Andi
“asyik, ayah pulang langsung ngajak jalan-jalan ke rumah sakit” kata Ufi belum mengerti keadaannya.
Maka malam itu juga, aku dan suamiku membawa anak kami ke rumah sakit.




The 2nd Angel


“kenapa baru dibawa ke rumah sakit sekarang? Kanker anak anda sudah mencapai stadium akhir!” kata dokter.
Apa? Stadium akhir? Secepat itukah penyebaran kankernya setelah beberapa hari di vonis dokter? Aku tidak menyangka sangat cepat seperti ini. Aku dan suamiku hanya diam mendengar perkataan dokter.
“kami akan melakukan kemoteraphy untuk membunuh sel-sel kanker anak anda!” kata dokter lagi.
“anak kami masih kecil. Dok. Apakah dia mampu menjalani kemotheraphy yang sangat menyakitkan?” Tanya mas Andi.
“kami akan memeriksa keadaannya, apakah tubuhnya sudah dikatakan mampu untuk menerima obat-obatan yang disuntikkan ke dalam tubuhnya. Jika ternyata belum, kami akan menunda proses kemotherapy ini”
“tidak adakah jalan lain, Dok?” tanyaku sedih.
Di luar ruangan UGD ini, aku melihat Ufi terbaring tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang di berikan. Di tangan kirinya tertancap selang infuse yang sangat menyakitkan proses pemasangannya. Aku takut, apakah Ufi mau menerima kemotherapi ini? Sedangkan ia sangat takut dengan jarum suntik.
Beberapa hari kemudian dokter mengabarkan bahwa tubuh Ufi siap menerima obat kemotheraphy. Entah itu hal yang membahagiakan atau justru menakutkan untuk kudengar.
***
Hari ini, kemotherapy pertama siap dilaksanakan. Aku ataupun suamiku tidak memberitahukan apapun pada Ufi, kami khawatir dia menolak, kami tak mau memaksanya.
Aku menggendong Ufi menuju ruang dimana kemotherapy akan dilakukan. Disepanjang perjalanan, Ufi selalu berkata “untuk apa ke rumah sakit lagi? Ufi ngga mau di suntik kaya kemarin-kemarin.” Kalimat itu, sungguh memperberat hati dan nuraniku untuk tetap melakukan kemotherapy pada Ufi. Namun, mas Andi tetap akan menerima kemotherapy pada Ufi. Karena ia berkata, inilah yang terbaik untuk Ufi, satu-satunya cara agar Ufi sembuh.
Ufi telah berganti lagi menggunakan pakaian hijau milik rumah sakit. Sekarang tiba saatnya, kemotheraphy akan dilakukan. Ufi masih belum mengerti apa yang akan dilakukan untuknya, dia masih terus bertanya-tanya tanpa ada yang menjawab pertanyannya.
Seorang suster bersiap untuk menyuntikkan obat bius pada Ufi, suster itu telah menyiapkan alat suntiknya. Kebetulan saat itu Ufi melihatnya. seketika Ufi takut, lalu memelukku. Ufi menangis dalam pelukanku.
“Ufi ngga mau disuntik buk” katanya.
“pssstt…” aku menenangkan Ufi, “siapa yang bilang kalau dek Ufi mau disuntik. Dek Ufi nggak akan di suntik kok, yang mau disuntik itu ayah. Iya ‘kan yah?” aku menatap wajah suamiku.
“iya sayang, yang mau disuntik itu ayah” kata suamiku membelai rambut Ufi.
Diam-diam aku menyuruh suster yang memegang suntikan untuk segera menyuntikkan biusnya ke Ufi. Saat ujung jarum suntikan itu menembus kulit Ufi, Ufi berteriak sejadi-jadinya, dan sesaat kemudian, saat obat bius itu telah masuk ke dalam tubuh Ufi, Ufi terpejam, ia telah berada dalam pengaruh obat bius.
Suster kemudian menggendong Ufi yang tak sadarkan diri ke ruang dilaksanakannya kemotherapy. Aku tak mampu menahan air mataku saat melihat wajah Ufi yang begitu polosnya. Lagi-lagi aku bertanya dalam hati, tidak bisakah penyakit anakku engkau pindahkan ke diriku saja, ya Allah?.
***
Kemotherapy berjalan lancar. Tapi wajah Ufi menjadi pucat dan ia mengeluh ia kedinginan, ia sampai menangis karena hal itu. Semoga Ufi cepat sembuh setelah menjalani kemotherapy ini.
Kemoteraphy kedua akan segera dilaksanakan. Ufi sudah tahu kalau ia pasti akan disuntik lagi. Ia tidak mau disuntik.
“Ufi ngga mau disuntik lagi. Ufi udah sembuh kok buk!” kata Ufi karena ia tak mau disuntik lagi.
“tapi dek Ufi harus…” kataku.
“ngga, ngga mau, Ufi takut disuntik”
Ufi kemudian menangis karena takut. Aku tidak tega melihatnya seperti itu, tapi harus bagaimana lagi? Ini demi kesembuhanmu dek!!! Aku tidak bisa berbuat apapun selain memeluk Ufi. Ya, hanya dengan memeluknyalah aku bisa membuatnya sedikit tenang.
Ufi terus menangis dan menangis. Akhirnya, karena aku tidak tega mendengar suara tangisannya, aku menemui suster, untuk meminta agar mengganti biusnya.
“sus, bisa ngga kalau bisa ngga kalau bius anak saya jangan pakai yang suntik?” tanyaku.
“bisa, Bu. Kalau anaknya takut sama suntikan, biusnya bisa dicampur dengan air minumnya. Tapi baiknya pakai yang suntik karena efeknya langsung bekerja di pusat syaraf kesadarannya!” jawab suster.
“kalau biusnya diganti tidak akan berpengaruh pada kemotherapi=nya kan?”
“tentu saja tidak, Bu!”
Mendengar jawaban suster yang cukup menggembirakan untukku, aku kemudian kembali ke ruangan rawat Ufi dan menenangkannya lagi.
“ssssstttt…”kataku, “ngga kok, dek Ufi ngga akan di suntik lagi. Ibuk janji, udah ya, nangisnya. Katanya Ufi dah besar? Dah besar kok nangis?”
Perlahan tangis Ufi berhenti. Ufi lalu memelukku dan berkata,
“janji ya, buk. Ufi ngga akan di suntik lagi! Ufi takut disuntik”
“ya sayang. Ibuk janji”
***
“Ufi ngga mau masuk kesana, suster. Nanti kalau masuk kesana badan Ufi jadi kedinginan sama lemes. Ufi ngga mau, suster” kata Ufi pada salah seorang suster saat akan dilaksanakan kemotherapy yang kedua kalinya.
“ngga, kok! Ngga akan kedinginan. Ufi Cuma diperiksa sebentar sama dokter di sana, abis itu, udah!” kata suster.
Suster kemudian meminumkan minuman yang telah dicampur obat bius ke Ufi.
“diminum ya, dek. Supaya ngga takut lagi!” kata suster.
Beberapa saat setelah itu, Ufi tak sadar diri.
***
“ma’af pak, bu. Sepertinya perlu dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang untuk mempercepat penyembuhan Ufi. Jika dilakukan transplantasi, maka kemungkinan sembuh anatara 80-90 persen. Sedangkan jika tidak dilakukan transplantasi kemungkinannya hanya 40-45 persen” kata dokter.
“begitukah, dok? Kalau begitu ambil milik saya” kata suamiku.
“atau ambil milik saya, dok!” sahutku.
“tapi, perlu di lakukan pemeriksaan kesehatan terhadap bapak dan ibu untuk selanjutnya dilakukan transplantasi”
Aku dan suamiku kemudian menuju ruang pengecekan untuk melakukan uji kesehatan, karena kami adalah orang tua Ufi, maka sudah di pastikan darah kami cocok dengan Ufi.
***
Tapi kenyataannya, darahku tak cocok dengan Ufi. Ufi hanya cocok dengan ayahnya, golongan darahku A sementara Ufi B, seperti ayahnya B.
Hari itu dokter memberi tahukan hasil pengecekan aku dan suamiku beberapa hari lalu. Suamiku sangat senang mendengar ia cocok dengan Ufi, tapi
“kondisi kesehatan bapak tidak memungkinkan” kata dokter.
“kenapa dokter? Apa yang tidak memungkinkan dari saya? Darah saya cocok degan anak saya!” bentak mas Andi.
“anda menderita kelainan jantung”
“apa maksud dokter? Saya tidak pernah menderita penyakit apapun. Saya sehat”
“terimalah, pak. Anda tidak bisa mendonorkan sumsum tulang belakan anda untuk anak anda!” dokter menegaska.
Aku dan suamiku terpukul mendengar hal itu.
“sebaiknya, bapak dan ibu, mencari orang bergolongan darah B yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Ufi! Dan ada kabar gembira lainnya…” kata dokter lagi.
“apa itu, dok?” Tanya mas Andi ketus.
“selamat istri anda hamil, umur kandungannya tiga minggu hamper satu bulan!”
Entah aku dan suamiku harus bahagia atau bagaimana dalam kondisi seperti ini.
***
“aku pasrah, biarlah mengalir apa adanya!” kata mas Andi di depan ruangan rawat Ufi.
“apa maksudmu, mas?” tanyaku.
“kita bahagiakan saja Ufi disisa-sisa hidupnya di rumah, bukan di rumah sakit ini!”
“maksudmu membiarkan Ufi mati perlahan-lahan tanpa pertolongan? Begitu?” tanyaku meninggikan suaraku.
Mas Andi hanya diam dan memalingkan wajahnya dari wajahku.
“ayah macam apa kau ini? Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu”
“tidakkah kau berpikir bahwa ini sia-sia saja. Member Ufi pertolongan pun tidak menjamin dia tetap hidup. Lagi pula kau sedang hamil, kita akan memiliki pengganti Ufi”
“jika kau tak mau lagi merawat Ufi, pergilah. Biar aku yang merawatnya sampai sembuh di rumah sakit ini”
“bukannya seperti itu, dek. Aku menyayangi Ufi lebih dari diriku sendiri. Tapi,,,,”
“tapi, apa? Jika kau menyayangi anak kita, kau tidak akan berkata seperti itu, mas!” potongku.
“aku tidak mampu melihat Ufi menderita seperti itu, dek. Aku tidak cukup kuat sepertimu untuk melihat anak kita menderita.” Kata suamiku membuang mukanya.
“aku bisa meberikan milikku untuk Ufi” katamu datang tiba-tiba.
“Nanna,” aku dan suamiku menoleh “kau tidak mungkin mendonorkan sumsum tulang belakangmu, apa kau tidak sayang dengan dirimu sendiri?” kataku agak marah.
“untuk apa aku hidup jika orang di sekelilingku terluka. Jiwaku tak akan berarti apapun jika orang yang terluka semakin terluka. Begitupun hidupku, aku akan memberikan sisa-sisa hidupku untuk memperpanjang hari-hari orang yang terluka. Bu Titik pasti akan lebih bahagia melihat Ufi sembuh dibanding kebahagiaan yang kurasakan dalam hidupku! Lagi pula aku sangat yakin milikku cocok dengan Ufi!”
Perkataanmu seperti menghipnotisku, Nduk. Aku luluh dengan perkataanmu. Air mata mengalir dari kedua mataku, aku kemudian menghampirimu dan memelukmu.
“terima kasih, Nduk. Kau adalah malaikat keduaku” kataku padamu.
Mas Andi juga menghampirimu, Nduk. Dia memegang bahumu lalu berkata “terima kasih, malaikat keduaku!”
Dokter segera melakukan pemeriksaan kecocokan terhadap sumsum tulang belakangmu, Nduk. Saat pemeriksaan itu, aku dan suamiku berharap milikmu memang cocok dengan Ufi.
“ya, sumsum tulang belakang Nanna memang sangat cocok dengan Ufi. Bisa segera dilakukan oprasi? Agar Ufi tak semakin parah!” kata dokter.
“tentu saja, kapan bisa dilakukan oprasi, dok?” tanyaku pada dokter.
“besok jam Sembilan pagi”
Aku dan suamiku sangat senang mendengar hal itu. Tapi bagaimana denganmu, apakah kau juga senang? Aku sangat beterima kasih padamu, Nduk.
Mulai hari itu aku telah menganggapmu anakku sendiri. Aku telah mengangkatmu menjadi saudara Ufi mulai hari itu. Ufi akan senang memiliki saudara sepertimu.
***
Pagi itu, oprasi transplantasi sumsum tulang belakang akan dilakukan. Kau sudah bersiap memakai pakaian berwarna hijau untuk melaksanakan oprasi. Aku duduk di sampingmu dan menggenggam tanganmu.
“nduk, kau yakin?” tanyaku.
Kau mengangguk dan tersenyum, menandakan bahwa kau yakin.
“kau boleh membatalkannya jika memang kau mau, Nduk. Bu Titik tidak akan memaksamu!” kataku lagi.
“tidak, bu. Aku tidak akan membatalkannya. Ini untuk hidupku dan hidup Ufi” katamu.
Saat aku sedang berbicara denganmu, suster tiba-tiba datang untuk membawamu ke ruang oprasi. Kau bangun dari dudukmu dan mengikuti suster. Saat kau akan memasuki ruang oprasi kau membalikkan badanmu ke arahku lalu tersenyum.
***
“transplantasi berjalan lancer, namun pendonor dan penerima harus menjalani perawatan beberapa saat di rumah sakit!” kata dokter yang menangani oprasi transplantasi Ufi.
Aku mengikuti Ufi dan dirimu yang dipindahkan ke ruang rawat. Atas permintaanku, kalian dirawat dalam satu ruang yang sama. Aku melihat wajahmu dan wajah anakku masih pucat setelah oprasi. Apa yang Ufi dan kau rasakan saat itu? Apakah kalian bermimpi indah tentang kehidupan masa depan? Aku yakin pasti begitu.
Sepanjang sore aku menunggui kalian, aku menunggu kalian sadar. Aku menunggu untuk melihat senyum kedua malaikatku ini.
***
Aku melihatmu mengejar seseorang berjubah yang tidak aku ketahui warna jubahnya karena orang itu dikelilingi oleh sekumpulan cahaya terang, orang itu menuntun seorang anak perempuan yang juga dikelilingi cahaya terang, kau berlari sangat kencang untuk mengejarnya. Aku baru tahu, kalau anak perempuan yang dituntun oleh seseorang itu adalah Ufi anakku. Kau menghentikan langkah orang berjubah itu, lalu seperti berkata sesuatu padanya. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan dengannya, tapi orang yang kau ajak bicara seperti menolak sesuatu dan kau terus membujuknya.
Tiba-tiba aku melihat Ufi tak lagi dikelilingi oleh cahaya, sepertinya cahaya itu berpindah mengelilingimu. Kau kemudian beralih menuntun Ufi dan membawanya ke seseorang yang ternyata itu adalah aku. Kenapa ada aku yang lainnya? Wajahnya sangat mirip denganku. Orang yang mirip aku itu tersenyum saat menggandeng Ufi. Kau lalu kembali lagi ke sisi orang berjubah yang dikelilingi cahay terang itu. Aku kaget, dari punggung orang bercahaya itu keluar sepasang sayap putih yang sangat lebar. Dia memegang tangan kananmu dan membawamu terbang ke langit. Kau semakin tinggi di langit, aku terus melihatmu sampai akhirnya kau hilang di langit.
Aku terbangun dengan suara Ufi yang memanggilku. Rupanya tadi hanya mimpi, mimpi yang aneh. Aku melihat ke arahmu, kau masih terpejam, kau masih tidur. Tapi ada yang aneh, kau tampak tak bernafas. Aku meyakinkan diriku, aku menghampirimu dan memeriksa denyut nadimu. Denyut nadimu tak ada, kau benar-benar tak bernafas. Seketika aku memencet berkali-kali tombol pemanggil dokter yang ada di ruangan itu.
Dokter datang dengan segera lalu bertanya padaku apa yang terjadi. Aku mengatakan dengan tergagap-gagap bahwa kau tak bernafas. Dokter memeriksamu,
“dia telah meninggal” kata dokter.
Rasanya seperti ada duri yang menusuk hatiku. Benarkah ini? Kau meninggal karena mendonorkan sumsum tulang belkangmu untuk anakku. Kau telah mengorbankan dirimu untuk anakku, kau telah memberikan sisa hidupmu untuk memperpanjang hari-hari anakku. Bahkan lebih dari itu, kau telah mengorbankan seluruh jiwamu untuk anakku. Jadi ini arti dari mimpiku tentangmu tadi. Kau melarang malaikat untuk membawa Ufi pergi, dan sebagai gantinya kau memberikan dirimu untuk dibawanya pergi ke langit. Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri, Nduk. Kenapa kau mengorbankan dirimu untuk anakku.




End Of The Day


“sekarang tiba saatnya aku harus melepas jiwaku dari tubuhku. Seorang anak akan menampung jiwaku dalam tubuhnya. Anak itu pasti lebih bahagia dari aku. Malaikat telah menunggu untuk membawaku terbang ke langit. Aku rela aku harus mati untuk kehidupan orang lain. Karena aku ditugaskan untuk itu. Entah mengapa ada bisikan yang menugaskan aku untuk itu.
Belakangan ini, aku seperti kehilangan bayanganku. Aku seperti tak menginginkan apa-apa lagi. Yang kuinginkan hanyalah anak itu berhasil hidup dan orang tuanya akan senang. Aku telah berdosa mengetahui semua rahasia orang di sekitarku, entah dengan apa aku bis menebus dosaku itu?
Aku akan benar-benar mati, aku telah mendengar suara tentang kematianku dari malaikat penjagaku. Aku juga telah bermimpi tentang kematianku yang tak lagi dalam hitungan bulan. Tapi aku yakin, aku tidak akan mati sia-sia. Karena aku mati untuk hidup orang lain.
Seperti yang pernah aku katakan, jiwaku tak akan berarti apapun jika orang yang terluka semakin terluka. Begitupun hidupku, aku akan memberikan sisa hariku untuk memperpanjang hari-hari orang yang terluka. Dan dalam waktu dekat ini, kata-kataku itu akan terwujud. Semoga anak yang menerima jiwaku itu akan menjadi anak yang baik, anak yang bahagia dan membanggakan orang tuanya, anak yang rela mengorbankan jiwanya untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Semoga… ” catatan terakhirmu. Aku telah menyelesaikan membaca buku harianmu. Sekarang aku kembalikan bukumu, terima kasih telah memberikan sesuatu yang paling berarti untukku. Aku telah menganggapmu seperti anakku sendiri. Tapi saat aku menganggapmu sebagai anakku, kau malah pergi.
Dalam diri Ufi, ada jiwa dan dirimu. Ufi adalah kau, Nduk. Terima kasih telah memberikan jiwamu untuk Ufi.
Kini, di atas makammu ini aku meletakkan kisah hidupmu dan cintaku untukmu. Akankah aku menemukan orang sepertimu lagi? Bu Titik berharap anak yang Bu Titik kandung ini akan sepertimu.
Oh ya, Nduk. Ufi sekarang sudah sembuh total dari leukemia. Sekarang dia sudah dapat tersenyum dan tertawa lepas dan bebas tanpa penderitaan. Tapi, Nduk, saat ia tersenyum, senyumnya mengingatkan aku pada senyum terakhirmu untukku sebelum kau memasuki ruang oprasi waktu lalu. Jujur, Nduk. Bu Titik merindukanmu? Apakah kau juga merindukan Bu Titik? Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kau bahagia? Aku berharap kau bahagia seperti halnya aku yang bahagia.
***
suatu hari aku bermimpi tentangmu, kau bermain dengan para bidadari di taman surga. Di taman itu terdapat sungai jernih yang mengaliri kehidupan. Kau terlihat sangat bahagia di sana. Kau sangat bahagia.



Tentang Penulis

Nanna Novita (Ratna Novita Sari) kelahiran Pati 22 Maret 1998. Baru lulus SMP tahun 2012. Menyukai menuis fiksi sejak kelas 3 SD, awalnya belajar menulis harian sejak kelas 3 SD.
“Give Last Drop Of Blood (the hole soul)” adalah novelnya yang benar-benar pertama kali di realisasikannya. Ide datang setelah berpusing-pusing menjalani UN. “Give Last Drop Of Blood (the hole soul)” adalah novel yang sangat amtiran, dan penulis menyadari hal itu. Masih banyak yang kurang dan perlu diperbaiki dari novel ini. Namun, besar keinginan penulis kepada pembaca untuk tetap membaca “Give Last Drop Of Blood (the hole soul)”
Penulis memohon apresiasi pembaca berupa kritik, saran atau komentar atas novel ini melalui SMS ke nomor 085740741597. Sekali lagi penulis memohon apresiasi anda.
Facebook/email : ratnanoi@yahoo.co.id
Twitter : @nadeestic
Blog : http://nannov.blogspot.com/

0 Response to "Give Last Drop Of Blood (The Hole Soul)"

Post a Comment