Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cinta Yang Terlupakan

Ardiannur Ar-Royya


Chapter 1

Senja mengintip malu dibalik garis-garis indah langit. Sang bulan menggantikan peranan sang matahari bertahtakan di langit untuk menemani manusia mengarungi kegelapan malam. Malam pun agaknya tersenyum mesra pada angin-angin malam yang kian malam semakin menunjukkan keganasannya untuk menembus kulit-kulit manusia dan membuat manusia merasa kedinginan.

Begitu hebatnya penciptaan di langit dan bumi sungguh mengungkapkan bagaimana besarnya rasa cinta dari Sang Pencipta akan ciptaanNya. Sungguh, tanpa rasa cinta maka seluruh alam semesta ini tentulah akan hancur, binasa tanpa bekas.

Cinta begitu indah namun juga bisa jadi begitu menyakitkan, ia punya seribu wajah yang tentulah akan berbeda wajahnya oleh setiap orang yang memandangnya. Cinta hadir tanpa bisa dicegah karena ia adalah fitrah. Namun, begitu banyak mereka-mereka yang mendapati wajah cinta begitu menyakitkan. Hal yang wajar karena mereka tidaklah mendapati wajah cinta yang sejatinya sangat indah. Kesuciannya yang dinodai membuatnya berwajah menyakitkan jika dipandang.

Cinta, dimanakah sejatinya ia?

“Kau, apa benar-benar yakin ingin menyatakan perasaanmu padanya?” tanya Haris pada sahabatnya itu.

“Tentu, aku sudah begitu lama memendam perasaanku ini, mungkin bisa dibilang aku sudah sangat-sangat mencintainya!” jawab Rafi.

“Tapi, apakah itu yang terbaik?”

“Tentu, apa salahnya aku menyatakan perasaanku padanya? Apalagi aku sudah sangat mencintainya, aku yakin ia pun mempunyai perasaan yang sama denganku!”

“Bagimu, cinta itu apa?” tiba-tiba Haris bertanya.

“Cinta adalah ketika kita merasa sangat bahagia berbicara, dekat bahkan hanya sekedar melihat seseorang yang spesial. Begitu spesialnya hingga kita ingin selalu bersamanya dan pikiran kita selalu memikirkannya. Intinya bagiku mencintai seseorang itu pasti sangat membahagiakan!” jawab Rafi mantap.

“Raf, atas alasan apa kamu berani mengatakan kalau kamu benar-benar mencintainya? Darimana datang perasaan itu dan karena apa?” tanya Haris lagi.

“Tentu karena ia baik, pintar, rajin, lembut sifatnya dan sangat cantik! Namun, masih banyak lagi sifat-sifat yang ada pada dirinya yang menjadi alasanku untuk mencintainya. Kau pun pasti sudah bisa melihatnya kan?”

“Tapi, apa cukup hanya dengan alasan itu kita mengatakan cinta?”

“Sudah, sudah! Tidak penting cukup atau ga karena bagiku alasan-alasanku tadi sudah lebih dari sekedar cukup! Pokoknya, besok aku akan menyatakan perasaanku ini padanya! Ok?”

“Tapi,….” Haris ingin melanjutan perkataannya, namun keburu dipotong oleh Rafi.

“Sekarang kita tidur saja, sudah saatnya istirahat, lagipula aku ingin hari esok cepat datang!” potong Rafi sembari mematikan lampu kamar mereka sehingga kamar mereka pun gelap gulita dan akhirnya Rafi pun tidur, meninggalkan Haris yang masih sibuk berpikir.

“Aku, masih belum bisa menemukan arti cinta yang sebenarnya!” gumamnya dalam hati. Keras ia berpikir untuk mencari makna sebuah kata yang mungkin saja bisa dicari di kamus besar Bahasa Indonesia, yaitu “cinta”. Namun, ia pun terlelap memasuki dunia mimpi tanpa ada yang bisa mencegahnya. Mungkin, berpikir untuk mencari jawaban yang sulit untuk dicari membuatnya lelah dan akhirnya tertidur.

Itulah kehidupan mereka, Haris dan Rafi. Mereka berdua sudah bersahabat sejak duduk di bangku kelas XII SMA, dan sekarang kedua sedjoli ini pun kembali bersama-sama menempuh dunia perkuliahan di sebuah kota pelajar di Indonesia. Saking kuatnya ikatan persahabatan mereka hingga membuat mereka mengambil Universitas yang sama walau jurusan yang berbeda, Haris berada di jurusan Matematika sedangkan Rafi di jurusan Fisika. Tidak terlampau jauh memang, itulah kenapa begitu menyenangkan bagi mereka.

Haris hadir dengan sosok seorang yang kalem dan agak dingin walau sebenarnya supel. Sedangkan Rafi hadir dengan sosok seorang yang sangat ramai, aktif dan sangat mudah bergaul serta gaya bicara yang bisa dibilang ceplas-ceplos. Haris di awal-awal perkuliahannya, ia mulai mencoba aktif di Lembaga Dakwah Kampus. Walau sebenarnya ia benar-benar baru saja memasuki dunia yang kental dengan nuansa islam, karena sejak dulu ia tidak pernah dan bisa dibilang jauh dengan nuansa keislaman. Lain lagi dengan Rafi, ia memang orang yang bisa dikatakan hanya sedikit memiliki nuansa keislaman. Ia memang shalat, puasa, dan lainnya namun jika orang yang memahami pasti lah tahu bahwa sikap Rafi sangat kurang islami. Itulah mereka, dua sahabat yang mungkin banyak kesamaan namun juga banyak perbedaan di antara mereka.

Malam ini, Rafi menyampaikan niatnya untuk menyatakan perasaanya kepada seorang gadis yang memang sudah sejak awal ia berkuliah, sudah disukainya. Devi nama gadis itu, gadis yang bisa dibilang mampu menjadi primadona kampus di semester-semester ke depan. Tak bisa dipungkiri, gadis satu ini memang sangat baik sifatnya, sopan, ramah dan juga lembut. Selain itu ia juga sangat pintar dan rajin juga tentu sangat cantik hingga wajarlah jika kaum adam yang tidak punya perlindungan kokoh akan hancur akibat serangan sejuta pesona yang ada pada dirinya. Pun dengan Rafi, ia bisa dikatakan salah seorang dari kaum adam yang tidak punya pertahanan kuat itu. Dan besok, di kampus ia akan menyatakan perasaannya itu pada sang gadis.

Kini semrawut wajah sang rembulan masih saja dengan setia menemani malam, sang angin semakin lama semakin tidak kenal belas kasihan untuk membuat orang-orang merasa kedinginan di malam itu. Bintang pun bergantungan indah di langit seraya tersenyum nakal dengan kelap-kelipnya yang mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya akan keindahannya. Malam makin larut dan berbagai aktivitas manusia pun ditangguhkan untuk diteruskan keesokan harinya.

|||

Pagi menghampiri bumi sekali lagi, matahari kembali melaksanakan tugasnya setelah semalaman penuh sang bulan yang menggantikannya bertugas. Namun, pagi hari ini cahaya matahari tidak bisa bertemu dengan bumi seutuhnya. Sang awan yang membatasi antara matahari dan jantung bumi sepertinya sedang bersedih hari ini. Di angkasa, yang ada hanyalah awan mendung dan sepertinya sebentar lagi sang awan pun akan meluapkan kesedihannya dengan tangisan hujan yang banyak.

Kampus pagi ini sudah mulai ramai,wajarlah karena kegiatan kampus ini tidak pernah mati. Jika malam ada saja yang bermalam di kampus, baik itu di mesjidnya, sekretariat-sekretariat UKM ataupun para mahasiswa yang datang ke kampus untuk sekedar menggunakan fasilitas hotspot. Dan jika pagi telah datang maka kegiatan perkuliahan pun kembali meramaikan kehidupan di kampus itu. Kehidupan dua orang sahabat itu pun juga dimulai pagi ini, terutama pagi yang sangat mendebarkan bagi Rafi.

Pagi itu, sesuai pernyataannya malam tadi kepada sahabatnya bahwa ia akan menyatakan perasaannya pada Devi. Dan itu pun benar-benar ia lakukan, tanpa merasa canggung, ia mengirim sebuah sms kepada Devi yang meminta gadis itu untuk menemuinya karena ia ingin menanyakan mengenai mata kuliah yang tidak ia mengerti. Kebetulan, Rafi dan Devi berkuliah di jurusan yang sama yaitu di jurusan Fisika, jurusan yang konon lebih susah dan rumit daripada jurusan matematika walaupun sama-sama bergelut dengan angka-angka.

Sebenarnya Rafi dan Devi kadang-kadang masuk kuliah di kelas yang sama, namun pagi ini jadwal Rafi dan Devi berbeda sehingga mereka pun tidak masuk pada kelas yang sama pada mata kuliah Fisika Lanjutan pagi tadi. Hal inilah yang membuat ia harus mengirim sms kepada Devi untuk bertemu dan kemudian menyatakan perasaannya kepada gadis itu.

Tak lama, Devi datang bersama seorang teman perempuannya. Mereka berjanji bertemu di gazebo jurusan kimia dan kebetulan kondisi di sana saat itu sedang sepi, hanya ada satu-dua orang yang sedang sibuk dengan laptopnya yang mungkin sedang mengerjakan tugas. Situasi seperti inilah yang sangat pas, walau ternyata Devi datang bersama seorang temannya sementara Rafi berharap Devi sendirian yang datang untuk menemuinya. Tapi, tidak apa-apa, toh bagi Rafi keberadaan temannya Devi itu pun tidak banyak menggangu untuknya menyatakan isi hati kepada Devi.

Dan benar saja, setelah sedikit berbasa-basi menanyakan bagian mata kuliah yang tidak ia mengerti, pembicaraannya pun mulai melenceng dan menjauh dari pembicaraan mengenai mata kuliah yang tidak ia mengerti itu. Puncaknya, ia pun menyatakan isi hatinya kepada gadis yang menjadi mungkin akan menjadi primadona kampus itu, dengan lugas, tegas dan langsung.

Lalu, bagaimana dengan Devi? Ya, tak bisa dipungkiri awalnya pun ia sangat terkejut, raut wajah keterkejutan terlukis jelas pada wajahnya yang justru membuatnya semakin tampak manis dan cantik. Namun, tak lama ia pun berhasil menguasai dirinya sembari memandang kedua mata laki-laki yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya dengan lekat.

Sang laki-laki hanya menunggu tanpa sepatah kata pun, kesunyian pun begitu pekat tak tergubris oleh apapun. Hening seolah menjadi penguasa dunia, dunia antara Rafi dan Devi bahkan teman perempuan Devi yang duduk di sampingnya pun bagai terhipnotis dan terperangkap oleh dunia hening yang sedang berkuasa di sana.

Hanya satu yang bisa menampikkan kekuasaan keheningan itu, yang bisa menghancurkan cengkramannya dan mengembalikan suara-suara dari alam. Hanya satu yang bisa, Devi. Tanda dari Devi lah, apapun itu yang mampu menghancurkan hegemoni keheningan itu seperti layaknya penerapan syariat Islam yang kaffah lah yang hanya bisa menghancurkan hegemoni kapitalisme sekarang.

Lalu, tanda seperti apakah yang akan dilukiskan oleh Devi? Apakah penolakan atau sebuah penerimaan?

Sedang Rafi dengan sangat gugup menunggu jawaban dari gadis pujaannya itu. Antara kebahagiaan dan juga ketidaksiapan, itulah yang dirasakannya!

Apa yang akan terjadi? Benarkah apa yang dicari dan mungkin akan didapatkan oleh Rafi adalah “cinta sejati?” Cinta yang akan menampakkan wajah terindahnya pada siapapun yang menjaga kesuciannya atau justru ia akan menunjukkan wajah terburuknya kepada siapapun yang menodai kesuciannya?

Chapter 2

Tiba-tiba, seuntai senyuman manis datang tanpa diduga dari wajah manis Devi. Sungguh tak bisa dipungkiri, senyumnya benar-benar mempunyai kekuatan untuk menghipnotis setiap kaum adam yang melihatnya. Tak terkecuali dengan Rafi, ia pun benar-benar terpesona dengan senyuman yang terlukis di wajah Devi. Namun, bukan hanya itu yang membuatnya bahagia, tapi senyuman dari Devi baginya sudah cukup menjadi tanda akan respon dari Devi. Dan benar saja, sembari tersenyum kepada Rafi ia pun menganggukkan kepalanya tanda ia memang menerima perasaan Rafi. Memang tidak salah, karena Rafi pun sebenarnya juga adalah seorang pemuda yang tampan dan karena sikapnya yang mudah bergaul membuatnya banyak disukai dengan teman-temannya, pun termasuk dengan para gadis. Sehingga Rafi memang sangat cocok jika bersanding dengan Devi, dilihat dari ketampanan dan kecantikan mereka berdua serta keadaan diri mereka masing-masing.

Hening pun pergi menjauh dari mereka berdua, tak sanggup bertahan di dunia mereka berdua yang sekarang penuh dengan rasa bahagia, bahagia karena perasaan mereka berdua yang saling bersambut. Namun, tidak ada yang tahu bahwa ternyata dunia mereka berdua juga disisipi oleh virus jahat yang terkadang tidak bisa terdeteksi dengan mudah. Virus yang kian lama akan menjangkiti seluruh diri mereka dan pada akhirnya benar-benar merusak diri mereka sendiri. Entah, bisakah mereka berdua menyadari dengan sendirinya atau justru tenggelam dalam keganasan virus tersebut. Tidak ada yang tahu!

Bagi Rafi dan Devi, hal ini sangat menyenangkan.

Pada awalnya mungkin, tapi hingga akhir? Sama sekali tidak ada yang akan tahu!

|||

Sementara itu, di bagian kampus yang lain, jauh dari dunia kebahagiaan Rafi dan Devi. Sahabatnya, Haris sedang berada di mesjid kampus yang terletak tepat di tengah-tengah wilayah kampusnya. Seusai melaksanakan shalat dhuha, sambil duduk di halaman mesjid yang rimbun dengan pohon-pohon menjulang tinggi menantang langit, ia membaca sebuah buku berjudulkan “Nizhamul Ijtima’i” atau “Sistem Pergaulan dalam Islam”. Di samping kanannya tergeletak sebuah buku berjudul “Jalan Cinta Para Pejuang” yang kelihatan belum dibacanya karena buku itu masih terbungkus plastik dengan rapi.

Hari ini ia memang sedang tidak ada kuliah karena memang tidak ada satu pun mata kuliah yang terjadwalkan masuk hari ini, jadi ia memang bebas dari kuliah saat itu. Hanya saja, pagi ini ia ada janji dengan kakak tingkatnya dan beberapa orang temannya untuk bersama-sama pergi ke sebuah OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) dalam rangka menyampaikan pemikiran mengenai penolakan terhadap kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barrack H. Obama. Sebenarnya mereka adalah wakil dari Lembaga Dakwah Kampus Syariah Fighter (LDK Syafi) dan kebetulan hari ini mereka mendapat tugas untuk bersilaturahim ke lembaga HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) untuk menyampaikan wacana tersebut.

Tak lama, teman-temannya yang satu kelompok halaqah dengannya pun berdatangan hingga terkumpul lah lima orang disana. Kini mereka tinggal menunggu musyrib mereka yang akan menjadi amir dalam agenda audiensi kali ini. Sambil menunggu kedatangan musyrib mereka, perbincangan pun terjadi di antara mereka. Sedangkan Haris masih saja sibuk berkutat dengan halaman demi halaman pada buku yang dibacanya yakni buku berjudul Peraturan Pergaulan dalam Islam tadi.

Tiba-tiba, sebuah ucapan salam menghentikan seluruh kegiatan mereka selama sepersekian detik. Dan ternyata yang mengucapkan salam adalah musyrib mereka. Beliau hadir dalam balutan baju koko berwarna biru dengan garis-garis motif daun yang menyatu lembut berwarna biru muda serta memakai celana panjang kain berwarna hitam dilengkapi dengan peci berwarna hitam di kepalanya. Secara bergantian, Haris dan teman-temannya yang lain pun bersalaman dengan beliau seraya tersenyum satu sama lain.

Penampilan beliau yang begitu menyejukkan hadir dari pesona wajahnya yang begitu teduh dan bersahaja, serta tanda hitam di dahi beliau yang menunjukkan beliau adalah seorang ahli sujud. Dan jika itu hanya sekedar tampilan fisik, maka ketika orang-orang berinteraksi dengannya dan kenal dengan dirinya pasti akan merasakan pancaran keistimewaan pada sifat dan akhlaknya juga keideologisannya dalam berazzam kepada din Islam. Itulah kenapa beliau begitu disukai oleh teman-temannya, baik teman-teman seangkatan beliau di kampus, adik-adik angkatan termasuk Haris dan teman-temannya ataupun kakak-kakak angkatan beliau.

“Bagaimana, antum-antum sudah siap?” memulai pembicaraan di antara mereka

“Sudah Ust, Insya Allah!” jawab Haris

“Baiklah, kita sekarang langsung pergi ke sana, masih ada kira-kira waktu sekitar 15 menit untuk perjalanan ke sana sebelum waktu yang dijanjikan”

“Baik Ust!” jawab mereka bersamaan sembari membereskan barang-barang dan tas mereka

Dan setelah semua persiapan selesai, mereka pun berangkat ke tempat pertemuan. Letak tempat pertemuan itu memang tidak terlampau jauh dari mesjid kampus, terletak di luar lingkungan kampus yang dibatasi oleh sebuah pintu kecil yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermotor, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Sambil berjalan menuju tempat pertemuan, mereka pun membicarakan dan menentukan target yang ingin dicapai serta wacana-wacana inti apa saja yang akan disampaikan pada pertemuan nanti. Intinya adalah mereka ingin mencari tahu bagaimana tanggapan teman-teman HMI dan menyampaikan wacana mengenai penolakan Obama.

Tak lama, akhirnya mereka pun sampai di tempat pertemuan. Teman-teman HMI sudah menunggu mereka dan sambutan hangat pun diberikan kepada rombongan mereka. Setelah bersalaman dengan semua orang yang ada, akhirnya mereka pun duduk beralaskan karpet berwarna hijau dan menunggu dimulainya acara audiensi kali ini.

Kemudian acara pun dibuka oleh pembukaan dan kata pengantar dari moderator yang berasal dari teman-teman HMI, selanjutnya rombongan Haris pun dipersilahkan menyampaikan pemikirannya atas wacana penolakan Obama tersebut dan pembicara pertama dari rombongan mereka adalah ust mereka, Kak Shafy. Diawali dengan salam, kata-kata pembuka dan ucapan terimakasih karena bersedia menerima kedatangan mereka, Kak Shafy pun mulai menyampaikan pemikiran mereka.

“Iya, jadi sebenarnya sudah jelas bagaimana status dari Barrack H. Obama itu sendiri. Jika berbicara aspek hukum syara maka ia masuk dalam kategori kafir Harbi fi’lan yakni golongan kaum kafir yang wajib dimusuhi karena mereka pun memusuhi kaum muslim. Sehingga kewajiban untuk memerangi mereka pun secara otomatis terikat pada kaum muslim. Jika seperti itu, tentu tidak pantas jika kita menerima seorang kafir harbi yang sebenarnya wajib diperangi justru kita terima kedatangannya bahkan disambut dengan sangat antusias. Di sisi lain, kita pun melihat bagaimana kebijakan dari Presiden AS ini yang sangat menyukai perang. Bagaimana faktanya pasukan AS yang tidak pernah ditarik dari negara-negara muslim di timur tengah seperti Iran, Afghanistan, Palestina, dan lain sebagainya atau seperti penjara guantanamo tempat terjadinya pelecehan dan penghinaan terhadap Al-Qur’an yang tidak pernah ditutup hingga sekarang seperti janji Presiden Barrack H. Obama pada saat kampanye dahulu. Jadi, kami dari LDK Syariah Fighter bahwa Presiden Barrack H. Obama wajib dan harus ditolak kedatangannya karena ia termasuk dalam kategori kafir harbi dan tangannya sudah berlumuran dengan darah kaum muslim. Itu dulu mungkin yang ingin kami sampaikan, silahkan jika ada tanggapan dari teman-teman yang lain!” jelas Kak Shafy panjang lebar.

Itulah kemudian akhir dari kalimat pembuka yang disampaikan oleh Kak Shafy terkait dengan wacana dan pemikiran untuk menolak kedatangan Obama. Selanjutnya moderator pun mempersilahkan dari teman-teman HMI jika ada tanggapan, dan tiba-tiba seorang teman dari HMI pun menyampaikan pemikirannya.

“Terima kasih atas kesempatannya. Mungkin apa yang saya sampaikan ini lebih bersifat pertanyaan yakni apakah teman-teman LDK Syariah Fighter tidak melihat sisi dan sudut pandang lain dari kedatangan Obama ke Indonesia ini misalkan seperti aspek ekonomi. Tidak bisa ditepiskan bahwa kedatangan Obama juga membawa beberapa agenda perjanjian dan memperbaiki kerjasama antara Indonesia dan Amerika. Tentu ini menjadi sebuah kabar baik dan bagus untuk Indonesia, karena disatu sisi Indonesia masih merupakan sebuah negara berkembang yang memerlukan banyak bantuan dari negara-negara yang sudah maju untuk memperbaiki perekonomiannya dan tentu ini sangat baik bagi Indonesia. Bagaimana jika kita melihat aspek ini?”

Haris pun angkat bicara…

“Memang kedatangan Obama ke Indonesia terdapat muatan politisnya, hal ini tentu tidak bisa dipungkiri. Ada wacana memang bahwa kedatangan Obama ke Indonesia juga ingin memperbaiki perjanjian kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam hal perekonomian. Tentu ini sangat pentig bagi Indonesia untuk memperbaiki dan meningkatkan perekonomiannya yang sangat rendah kekuatannya. Namun, kami dari LDK Syariah Fighter tidaklah berpendapat seperti ini karena bagi kami apa yang terjadi termasuk masalah rendahnya kekuatan ekonomi yang dimiliki Indonesia ini ternyata mempunyai akar dan inti permasalahan lain, yakni diterapkannya sistem Kapitalisme dalam ekonominya dan juga pasar bebas dalam mekanisme perjalanan uang dan kekayaan yang ada. Karena inilah sesungguhnya Indonesia menjadi lemah perekonomiannya, yang tentu sangat aneh dan tidak etis jika Indonesia yang merupakan negara dengan sumber daya alam yang berlimpah menjadi miskin dan lemah dalam hal perekonomiannya. Ambil kasus freeport, pengerukan emas di Irian Jaya sana dilakukan oleh perusahaan asing ini selama lebih dari puluhan tahun. Anehnya, pembagian keuntungannya adalah 90 persen bagi asing dan 10 persen bagi Indonesia, ditambah lagi dengan keuntungan bagi hasil yang bagi Indonesia hanya mendapatkannya sebesar 10 persen saja harus dibebani lagi dengan tanggung jawab akan biaya produksi dan perawatan-perawatan alat-alatnya jika ada kerusakan. Kasus di Exxon Mobile pun bisa jadi salah satu bukti lain bahwa Indonesia ternyata telah dieksploitasi oleh asing dan membuatnya miskin di negaranya sendiri. Dan karena semua itu adalah dampak dari diterapkannya sistem ekonomi Kapitalisme maka kami pun yakin bahwa perjanjian ekonomi dari Obama tidak akan menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia bahkan bisa jadi justru malah memperparah keadaan ekonomi Indonesia. Jikapun kita ingin benar-benar menghilangkan permasalahan ekonomi yang ada maka kita harus hancurkan sistem perekonomian kapitalisme yang saat ini tengah diterapkan pada sistem perekonomian Indonesia.”

Kemudian, temannya yang lain menambahkan…

“Kita sadar bahwa kedatangan Obama penuh dengan muatan politis dan memang ada “semacam” keinginan baik katanya dari Obama untuk memperbaiki perjanjian ekonomi dengan Indonesia. Namun, apakah kita sadar dan telah melihat bagaimana sepak terjang seorang Obama atau AS dalam kehidupan berpolitik, ekonomi di dunia? Lihat, mereka terus saja memerangi dan menjajah negara-negara Islam lain, mengeruk kekayaan mereka, dan lainnya. Tidak ada yang namanya sikap baik yang dilakukan AS kepada negara-negara Islam di dunia dalam sejarah manapun. Dan tentu, Indonesia juga merupakan sebuah negara Islam yang mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga bagi Obama jika ia mampu mengendalikan Indonesia maka kebijakan imperialismenya ke negara-negara Islam lain pun akan mudah dikarenakan kebanyakan negara-negara muslim di timur tengah berharap banyak pada Indonesia untuk bisa menyelamatkan dan memperbaiki keadaan mereka saat ini. Sehingga mengendalikan Indonesia sangatlah penting bagi AS agar gelombang kebangkitan Islam bisa diredam dengan baik terutama dari Indonesia. Pada intinya, tidaklah ada “itikad” baik dari Obama untuk negara-negara muslim di dunia termasuk Indonesia.”

Diskusi dan saling tukar pikiran di antara mereka terlihat semakin bertambah hidup, dengan suasana yang santai dan tetap bersahabat tanpa ada suasana panas sedikitpun. Tak terasa sudah lebih dari satu jam mereka berdiskusi namun belum ada tanda-tanda untuk menghentikan diskusi itu. Ketika ada dari salah seorang dari teman-teman HMI melontarkan wacana baru terkait isu penolakan Obama ini maka diskusi pun berlanjut.

“Jikalau kita berbicara masalah kedatangan Obama dan penolakannya seperti masih sangat jauh dari yang namanya realisasi dari apa yang kita wacanakan saat ini. Walaupun kita sudah sangat menolak kedatangan Obama, tetap saja kita hanya mempunyai kesempatan yang sangat kecil untuk menghalangi kedatangannya bahkan bisa jadi tidak mungkin kita bisa menghalanginya. Karena itu, jika melihat hal ini, kenapa kita tidak mengambil alternatif lain saja yakni dengan jalan diplomasi dan diskusi dengan Presiden Amerika Serikat itu. Dalam diskusi kita jelaskan bagaimana pandangan kita mengenai serangan-serangan tentaranya terhadap negeri-negeri umat Islam dan memintanya untuk menghentikannya, kita sampaikan pula bagaimana pandangan Islam terkait permasalahan yang ada di dunia saat ini. Bukankah dengan cara begini lebih baik dan lebih ahsan karena tanpa menumpahkan darah sedikitpun?” pendapat yang disampaikan oleh salah seorang dari teman HMI yang lainnya.

Kali ini, respon dari LDK Syariah Fighter diberikan oleh seorang temannya Haris yang duduk tepat di sebelah kirinya.

“Iya, sebenarnya jika terkait permasalahan diplomasi yang “katanya” menjadi salah satu jalan keluar akan permasalahan-permasalahan yang saat ini tengah dihadapi oleh negeri-negeri Islam tentu kita sudah bisa sadar akan fakta yang selama ini berbicara tentang diplomasi itu sendiri. Kita sudah melihat dan mengetahui bahwa selama ini diplomasi sudah sering dilakukan, sudah sering dicanangkan, dan sudah sering ditawarkan kepada negara-negara yang menyerang dan bersengketa dengan negeri-negeri kaum muslim namun hasilnya nihil tanpa ada kemajuan sedikit pun terhadap permasalahan yang ada. PBB, Liga Arab, Lembaga-lembaga HAM, dan lain sebagainya tidaklah memberikan hasil dan keberuntungan yang berarti bagi negeri-negeri kaum muslim yang diinvansi bahkan cenderung hasil dari diplomasi itu sendiri justru lebih melenggangkan jalan sang penjajah untuk menginvansi negeri-negeri kaum muslim itu sendiri. Tentu ini adalah fakta yang dapat menjadi kesimpulan bagi kita bahwa diplomasi tidak lah bisa menyelesaikan masalah yang ada. Diplomasi hanya sekedar dijadikan alat untuk lebih menanamkan intervensi asing dan musuh-musuh Islam terhadap negeri-negeri muslim yang ada itu sendiri. Selain itu pun sesungguhnya Obama tidak layak, sama sekali tidak layak untuk diterima dengan sikap dan sambutan yang baik karena status seorang Obama yang tadi sudah disampaikan pada awal diskusi kita juga fakta-fakta yang telah dilakukannya terhadap kaum-kaum muslim di dunia.”

Haris pun menambahkan untuk terakhir kalinya.

“Baik, sedikit saya ingin menambahkan berkaitan dengan permasalahan diplomasi tadi, maka untuk sementara saya ingin mengajak teman-teman berpikir mengenai sebuah kejadian logis. Andaikata, saya ingin pergi ke sebelah ruangan sana di tempat mas duduk sekarang namun untuk menuju kesana ternyata ruangan saya berada sekarang dan ruangan mas berada sekarang dibatasi dengan sebuah dinding di sebelah kirinya dan di sebelah kanannya tidak lah ditutupi apa-apa. Kita paham dan mengerti bahwa tujuan yang ingin saya capai adalah pergi kesana, ke tempat dimana mas berada namun ternyata terdapat penghalang untuk menuju kesana. Penghalangnya yakni sebuah batas yang berupa dinding di sebelah kirinya sedangkan di sebelah kanannya tidaklah terdapat apa-apa. Jika keadaan ini kita hubungkan dengan diplomasi yang ada dan tujuan yang ingin kita capai agar negeri-negeri muslim mendapatkan kedamaiannya maka tujuan perdamaian itu bagaikan saya ingin pergi ke tempat dimana mas berada sekarang dan diplomasi adalah dinding sebelah kiri yang berusaha saya lewati untuk sampai ke tempat tujuan saya itu. Tentu kita paham bahwa akan sangat sulit mencapai tujuan jika melewati dinding yang tebal itu, memang mungkin tapi tentu sangat lama. Sedangkan di samping kanan kita terdapat jalan lain yang lebih pasti untuk bisa mengantarkan kita ke tempat tujuan kita. Jadi, jika diplomasi sudah tidak bisa lagi kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada tujuan kita, mengapa kita tidak mengambil alternatif jalan lain yang lebih pasti untuk bisa mencapai tujuan kita menyelamatkan negeri-negeri muslim di dunia yakni dengan bersatu di bawah satu Negara Islam dan berperang bersamanya?”

Dan pada akhirnya, pemaparan dari Haris tadi pun mengakhiri diskusi mereka pada hari itu. Moderator pun mengucapkan terima kasih atas diskusi yang telah berjalan dan kepada LDK Syariah Fighter yang telah bersedia hadir di tempat mereka. Sebelum pergi, Haris dan kawan-kawan pun disuguhi beraneka ragam gorengan dan minuman. Sambil sesekali bercanda dengan teman-teman HMI, mereka pun memakan makanan yang disajikan tadi. Tak lama, mereka pun pamit dan bersalam-salaman satu sama lain dalam suasana keakraban yang tak lepas dari tempat itu.

Tak terasa, waktu pun sudah mendekati Dzuhur, akhirnya mereka pun bergegas kembali ke mesjid kampus dan benar saja, sesampainya di mesjid kampus adzan pun berkumandang. Haris dan teman-temannya pun berwudhu dan bersiap untuk shalat dzuhur.

Sejenak lingkungan kampus terasa begitu hening, suara-suara mulai menghilang dari peredarannya. Bacaan ayat suci Al-Qur’an pun mulai keluar dari mulut para jamaah shalat dzuhur di mesjid kampus itu. Kicauan burung menghiasai saat itu, keadaannya begitu tenang, begitu rapi, begitu menyejukkan tanpa ada sedikitpun kecacatan di dalamnya.

Haris pun larut dalam shalatnya, merasuk begitu jauh ke dalam dirinya untuk bisa merasakan Allah ada di hadapannya dan ia sedang berbincang-bincang dengan sang Maha Pencipta tersebut. Betapa nikmatNya telah sampai padanya tanpa ia sadari bahkan mungkin ia pun jarang bersyukur kepada Allah, Sang Pemberi Nikmat. Tanpa terasa butiran putih bening pun melesak dari ujung-ujung pelupuk matanya membasahi pipinya yang lembab akibat air wudhu yang mulai mengering. Begitu nikmat dirasanya shalat berjamah itu.

Seusai shalat, Haris pun meminta Kak Shafy untuk berbicara berdua dengannya karena ada hal yang ingin ia tanyakan. Kak Shafy pun menyetujuinya, dan mereka berdua pun pergi ke sisi kanan dari mesjid kampus itu.

Hamparan rumput hijau yang ditutupi oleh pohon-pohon yang rindang menghiasi pemandangan dan kondisi di bagian sisi kanan mesjid kampus mereka itu. Begitu sejuk udara pada saat itu, menambah kenyamanan suasana yang ada. Kicau burung seolah menjadi musik pengiring yang sangat indah, bergabung dengan semilir angin yang berhembus lembut menerpa tubuh-tubuh makhluk Allah ini.

Haris dan Kak Shafy pun duduk di bawah sebuah pohon rindang di halaman mesjid kampus bagian kanan itu. Tiba-tiba, Haris pun membuka pembicaraan diantara mereka berdua.

“Kak, sebenarnya cinta itu apa? lalu, cinta yang benar itu seperti apa?” kata Haris mantap

Kak Shafy yang mendengar hal ini pun sekilas terkejut walaupun keterkejutannya itu hanya sementara dan senyuman indah darinya seketika itu pula menutupi keterkejutannya.

“Cinta? Hmmm.. Cinta itu punya begitu banyak definisi akh, sangat relatif tergantung pada orang yang merasakannya dan kemudian menyifati perasaan itu! Namun, walau begitu cinta yang benar hanya bermuara dan berakhir serta disebabkan karena satu hal saja. Cinta yang benar, cinta yang sejati dan cinta yang indah itu adalah cinta yang ada dan dirasakan karena Sang Maha Pencipta Cinta, sehingga semua yang kita rasakan kembali kepadaNya.” jawab Kak Shafy

“Ana masih bingung kak, cinta yang benar itu yang mana? Ada begitu banyak orang yang memang melakukan sesuatu “katanya” karena cinta, ada begitu banyak pula orang yang berhubungan dengan orang lain terutama lawan jenisnya dan mengatakan itu karena cinta.”

“Akh, cinta itu memang pada dasarnya sulit untuk dicari kebenarannya karena jika antum melihat zaman sekarang, cinta sudah banyak kehilangan kesuciannya. Begitu banyak orang yang salah kaprah dalam mendefinisikan cinta dan menodai kesuciannya. Ana harap, antum sebagai hamilud dakwah jangan sampai salah dalam mendifinisikannya terlebih menyifati dan mengekspresikannya!”

“Tapi kak, ana begitu takut jika berhadapan dengan cinta ini. Ketika ana ditanya oleh sahabat ana mengenai cinta itu sendiri setelah ana mengatakan bahwa apa yang ia lakukan yang katanya atas nama cinta ini adalah salah, ana terdiam dan ga bisa menjawab kak. Ana benar-benar mencari jawaban yang benar akan cinta ini, karena pada dasarnya ana pun takut menodai cinta itu sendiri.”

“Gini akh, ana ga akan menjelaskan tentang cinta ini lebih jauh. Ana akan biarkan antum mencari jawaban akan cinta itu sendiri, karena ana ga mau memberikan doktrin buta terhadap antum. Namun, ingat perkataan ana ini! Cinta yang sejati itu tidak akan pernah menyakiti, ia akan senantiasa menghiasi kehidupan kita dengan bunga-bunga kehidupan nan indah bahkan akan membuat iri para penghuni surga karena cinta yang kita rasakan, baik untuk sesama manusia apalagi kepada Allah yang lebih utama adalah cinta yang bermuara hanya kepada satu zat yakni kepada Sang Maha Pemilik Cinta itu sendiri. Maka, jika antum ingin mencari jawaban akan cinta yang benar itu seperti apa, tetaplah berjalan di jalan yang telah ana berikan tadi. Mengerti?”

“Mengerti kak! Syukron katsiron.”

“Afwan! Satu hal lagi, jika antum telah menemukan jawabannya, bisakah antum memberitahukannya kepada ana? Ana hanya ingin mendengar bagaimana jawaban yang antum berikan dan juga melihat apakah jawaban antum sudah benar atau belum, anggap saja sebagai bentuk tanggung jawab ana yang telah membiarkan antum mencari jawaban itu sendiri!”

“Baik kak, Insya Allah!”

“Baik, itu dulu ya? Ana masih ada amanah lain jadi harus pergi sekarang. Afwan, ana tinggal dulu ya?”

“Oh iya kak, ga masalah. Syukron untuk jawaban dari antum, afwan merepotkan!”

“Yup. Ana pergi dulu ya? Assalamualaikum!”

“Waalaikumussalam.”

Dan Kak Shafy pun berlalu, pergi meninggalkan Haris dalam kesendiriannya yang dipenuhi begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya. Namun, ia tahu bahwa ia akan mencari jawaban itu dalam koridor yang telah diberikan oleh Kak Shafy tadi.

Pencarian jawaban pun dimulai…

Chapter 3

Malam itu Haris sudah pulang dan berada di kosnya, namun tak seperti biasa. Kali ini ia sendiri tanpa ditemani Rafi, sahabat sekaligus teman satu kamarnya. Memang tak biasa jika Rafi pergi dan belum pulang juga hingga malam seperti ini, kecuali memang ada satu keperluan seperti mengerjakan tugas, organisasi, dan lainnya. Tapi, seingat Haris akhir-akhir ini, Rafi tidak lah berada dalam posisi seseorang yang sibuk, terlihat jelas bahwa kegiatannya begitu santai. Belum ada tugas-tugas yang baru dan juga organisasi yang diikutinya belum mengadakan acara dan kegiatan lagi.

Seperti biasanya, setelah shalat Isya berjamaah di mesjid dekat kosnya, ia pun melewati malam itu dengan membasahi bibir serta menghiasi perkataannya dengan firman-firman Allah yang mulia, sembari hanyut dalam penghayatan terhadap makna tanpa celah keburukan dari kata-kata sang Maha Pencipta itu. Terlewat barisan kata per kata dengan kesempurnaan paling agung tiada cacat sedikitpun, dikawal dengan bacaan penuh penghayatan dari seorang makhluk lemah lagi hina. Al-Qur’an, kitab petunjuk bagi umat muslim khususnya dan manusia pada umumnya. Kandungannya begitu sempurna, peraturan hidup yang digariskannya sebagai aturan yang “seharusnya” ditaati oleh segenap makhluk hidup bernama manusia di dunia ini tanpa alasan untuk tak mentaatinya sedikitpun. Sayangnya, peraturan hidup itu dibuang dan tidak dipedulikan oleh kebanyakan manusia di dunia ini sehingga keluarlah mereka semua dari fitrah hidup yang harusnya melekat di diri mereka. Betapa menyedihkannya…

Ya, Islam tidak hanya berbicara tentang individu dengan Tuhannya saja namun juga berbicara permasalahan muamalah antar manusia di dunia ini yang peraturannya lengkap tertulis di Al-Qur’an dan juga telah dicontohkan oleh seorang manusia yang “seharusnya” juga menjadi idola semua manusia, yakni Rasulullah Saw. Islam mengatur seluruhnya, dari aspek individu, ibadah, politik, ekonomi, budaya, sosial, dan lainnya. Tidak ada aspek kehidupan manusia yang bisa luput dari aturan Islam. Karena Islam itu sempurna.

Dan malam ini, Haris pun masih terus larut dalam penghayatannya…

|||

“Sampai ketemu besok pagi ya di kampus?”

“Oke.”

“Makasih banget buat hari ini, hati-hati di jalan ya? Langsung istirahat aja!”

“Insya Allah, makasih juga! Ok, sampe ketemu besok di sekolah ya? Wassalamualaikum.”

“Waalaikumussalam”, dan Devi pun berjalan masuk ke rumahnya.

Mereka berdua, Rafi dan Devi baru saja selesai “berkencan” di sebuah Mall di kota itu. Setelah jam kuliah berakhir, ba’da ashar tadi mereka pun langsung berangkat menuju mall itu. Hingga ba’da isya mereka baru pulang dari acara mereka.

Betapa menyenangkannya dunia ini ketika dua sejoli ini merasakan perasaan cinta satu sama lain yang mungkin bagi mereka itu adalah cinta sejati. Lalu sebenarnya apa cinta sejati itu? Seperti apa? Dan dimana kita bisa mendapatkannya?

Dan malam pun hening tanpa suara, sang rembulan menutup malu wajahnya dalam balutan lembut sang awan. Malam ini begitu hening, tenang, dan damai. Bersahabat dengan hati dan membelainya dengan lembut. Hati pun tenang tanpa gundah sedikitpun, ketenangannya bagai lautan indah yang tidur tanpa gelombang. Rafi pun tersenyum dalam perjalanan menuju kosnya, begitu indah hari ini baginya. Cinta yang disambut, bahagia melihat orang yang dicintai berbahagia, bahagia dekat dengan orang yang dicintai, dan lainnya. Mungkin jika ia meninggal malam ini pun tidaklah apa-apa karena setidaknya ia sudah melewati malam yang sangat berbeda dari kehidupannya yang biasa namun begitu membahagiakan baginya.

Rafi pun tiba di kosnya…

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam.” Haris menjawab.

“Dari mana Fi? Kok tumben baru pulang?”

“Habis jalan sama Devi, tadi temenin dia beli sesuatu.” Rafi menjawab dengan santainya.

“Hah Devi? Kenapa?” Haris pun sontak terkaget.

“Yah… payah kamu ini Ris! Belum dengar berita di kampus yah kalo aku udah jadian sama Devi, baru tadi pagi!”

“Jadian? Pacaran maksudnya?”

“Yup, dan tahu ga ternyata Devi itu orangnya menyenangkan dan begitu baik hati?”

“Ya bukan itu masalahnya Fi, tapi apa kamu yakin menempuh jalan seperti ini? Dengan berpacaran?”

“Apa salahnya? Ini kan sebagai jalan perkenalan sama dia, kali aja kami cocok hingga bisa jadi suami istri nantinya?”

“Terus, kalo misalnya ga cocok gimana?”

“Insya Allah cocok lah!”

“Tapi Fi…”

Namun, perkataan Haris dipotong oleh Haris.

“Udah, aku lagi malas sama cape buat diskusi sama kamu, lain kali aja ya? Aku mau bersih-bersih diri dulu nih! Mandi! Ok?”

Dan seketika Rafi pun beranjak pergi menuju kamar mandi kos mereka. Seperti biasa, Haris pun terdiam dalam lamunannya, ditemani dengan berbagai macam pikiran, pertanyaan, dan kebingungan akan sahabatnya yang satu ini. Sahabat yang sangat ia sayangi ini, tentu ia tidak ingin sahabatnya ini menempuh jalan yang salah dalam hidupnya.

Entahlah, ia bingung harus seperti apa karena disatu sisi ia pun belum menemukan jawaban akan pertanyaan yang ia ajukan sendiri kepada dirinya. Kak Shafy hanya memberikan koridor dan petunjuk untuk mencari jawaban itu, sama sekali beliau tidak mau memberikan jawaban penuh akan pertanyaan ini. Sebenarnya dimana jawaban itu? Dan kapan bisa ditemukan jawaban itu?

Dan dalam lamunannya, tanpa sadar Haris masuk dalam alam mimpinya. Meninggalkan untuk sementara kehidupan di dunia ini, pergi jauh dan bebas ke alam mimpi yang diciptakan Tuhan sebagai teman tidur tiap manusia.

Menengadah ke langit, di sana tampak Sang Rembulan tidur dengan cantiknya. Cahayanya yang begitu lembut seolah menyihir semua orang untuk menghentikan segenap aktivitas yang dilakukannya serta mengawal mereka menuju alam satunya lagi. Seraya menunggu kedatangan Sang Mentari esok harinya. Angin malam membelai lembut di sela-sela dedaunan dan rerumputan, membuat mereka bergoyang menari dengan irama teratur tanpa merasa terbebani sedikitpun. Namun, satu hal yang pasti, yakni mereka selalu berdzikir menyucikan Tuhannya, Sang Pencipta mereka tanpa merasa lelah, tanpa merasa terbebani. Hal seperti ini, sayangnya tidak bisa dilakukan oleh manusia yang dikatakan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna tanpa cacat dibandingkan dengan makhluk hidupNya yang lain. Manusia sering lupa, sering lalai untuk mengingat Tuhannya, bahkan seringkali banyak diantara mereka ingkar terhadap hukum-hukum Allah, Syariat Islam dan kewajiban untuk mentaatinya. Syariat yang tidak hanya hadir dalam hubungan manusia dengan Allah semata, namun juga hadir dalam hubungan antar sesama manusia. Hanya saja kebanyakan manusia tidak mengetahuinya dan justru ingkar pada hukum-hukumNya.

Dan kembali, nyanyian para binatang malam mengawal perjalanan Sang Malam menuju tempat bertemunya dengan Sang Mentari, begitu indah dan begitu damai…

|||

“Hari ini ada acara ga?” Haris bertanya kepada Rafi yang ingin berangkat kuliah.

“Memangnya kenapa?” Rafi balik bertanya.

“Ga papa sih, aku mau ngajak kamu ikut kajian sore ini. Ikut yo?”

“Jam berapa emangnya?”

“Sore ba’da ashar, langsung kita pengajian. Nanti shalatnya sama-sama di mesjid kampus! Gimana?” Haris bertanya kepada Rafi.

“Sory Ris, kayaknya aku ga bisa. Soalnya udah ada janji sama Devi!”

“Kemana? Ga bisa ditunda? Ini bagus lo pengajiannya!” Haris mencoba membujuk Rafi.

“Temenin dia ke Mall, ada yang mau dibelinya!” Rafi menjawab dengan santainya.

“Lagi?” Haris merespon dengan singkat tapi juga merasa aneh dan kaget.

“Iya, biasalah anak cewek. Kebutuhannya pasti banyak! Udah ya, aku berangkat dulu. Assalammua’laikum!”

Dan Rafi pun berlalu meninggalkan Haris dalam pikirannya. Haris berpikir, wanita mana yang setiap hari pergi berbelanja seolah-olah dia tidak pernah merasa kebutuhan hidupnya bias terpenuhi. Seraut perasaan takut menghampiri Haris, jangan-jangan Devi menerima Rafi hanya karena Rafi itu anak orang kaya dan mempunyai banyak uang. Jika memang begitu, maka ini pasti akan menjadi masalah besar dan suatu saat nanti akan membuat Rafi sendiri merasa kesakitan. Namun sayangnya, ia sendiri pun bingung harus melakukan apa karena hingga saat ini pun ia belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia sendiri ajukan. Tapi, ia akan tetap mencoba membujuk Rafi untuk tidak menempuh jalan seperti yang ia tempuh sekarang dengan Devi, tidak peduli Rafi marah atau mencaci-maki dirinya, yang terpenting ia harus bisa menyelamatkan sahabatnya itu.

|||

Siang ini begitu panas, agaknya awan pun enggan menghalangi keganasan sinar matahari untuk memanggang seantero dunia. Terlihat jelas awan bergerak menjauh dan memberikan ruang yang begitu lebar bagi matahari di angkasa raya sana. Panasnya siang hari ini tidak menghalangi Rafi dan Devi untuk pergi ke Mall setelah jam kuliah mereka berdua selesai.

“Mau beli apa aja Vi hari ini?” Rafi tiba-tiba bertanya pada Devi ketika mereka bertemu di Gazebo Kimia seusai jam kuliah hari itu.

“Biasa, kebanyakan sih barang-barang keperluan sehari-hari terus juga mungkin sekalian beli baju!” Devi santai menjawab.

“Ya udah, yuk berangkat! Udah ga ada yang ditunggu kan?”

“Iya!”

“Kamu tunggu bentar di sini, aku ambil kendaraan bentar ya? Ada di Hutan MIPA soalnya kendaraanku!”

“Oke!”

Rafi pun berjalan menjauh dari Devi dan dengan segera pergi ke Hutan MIPA untuk mengambil kendaraannya. Sementara itu, tiba-tiba Devi didekati oleh tiga orang mahasiswa yang lebih tua penampilannya dari dia, mungkin mereka adalah kakak tingkatnya. Secara spontan mereka pun menyapa Devi.

“Hai, boleh kenalan ga?” kata salah satu dari ketiga mahasiswa itu.

“Boleh!” Devi menjawab singkat dan santai.

“Namaku Andi dan ini teman-temanku, Ilan dan Iras!” Sembari mengulurkan tangannya kepada Devi untuk bersalaman.

“Devi!” Devi menjawab singkat sambil menyambut tangan Andi untuk menyalaminya dan juga menyalami kedua temannya yang lain.

“Boleh minta nomor handphone kamu ga?”

“Buat apa?”

“Ya ga buat apa-apa. Buat ngobrol-ngobrol aja.”

Devi pun mengerti dan ia memberikan nomor handphonenya kepada Andi. Dalam hati ia membanggakan dirinya sendiri, begitu banyak laki-laki yang ingin mengobrol dengan dirinya atau bahkan hanya sekedar berkenalan dengannya, tentu tidak lain adalah karena ia memiliki wajah yang cantik dan juga mempunyai banyak potensi akademik dalam dirinya. Bahkan ia berpikir, untuk mendapatkan Rafi saja sangatlah mudah.

Kemudian tiba-tiba ia melihat Rafi sudah menunggunya di ujung jalan sana dan memberi isyarat untuk segera mendatanginya. Ia pun menyudahi pembicaraannya dengan tiga orang mahasiswa tadi kemudian pergi menuju tempat Rafi menunggu dirinya. Sampai di tempat Rafi, Rafi pun menyerahkan sebuah helm kepadanya dan mengisyaratkan dirinya untuk memakai helm itu.

“Siapa tiga laki-laki tadi?” Rafi bertanya kepada Devi setelah melihat kejadian tadi.

“Oh mereka. Biasa…cuma ngajak kenalan terus minta nomor handphone!” Devi menjawab dengan santai.

“Terus dikasih?” Rafi bertanya kembali.

“Iya. Udah ah, ayo berangkat!” Devi pun dengan santainya menjawab tanpa ada gurat rasa bersalah di wajah dan perasaannya terhadap Rafi.

Sedangkan Rafi, terlihat jelas gurat kekecewaan di wajahnya sedangkan di hatinya, sebuah luka kecil telah menggores hatinya. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang salah tentang hal ini, namun ia tidak bisa mendefinisikan dan menentukan apa itu. Yang pasti ada sesuatu yang salah, entah apa…

|||

Chapter 4

…Cinta yang sejati itu tidak akan pernah menyakiti, ia akan senantiasa menghiasi kehidupan kita dengan bunga-bunga kehidupan nan indah…

Kata-kata itu senantiasa terngiang dalam pikiran Haris, begitu berarti makna yang tersirat dari perkataan Kak Shafy itu. Memang benar bahwa cinta itu tidak akan pernah menyakiti, jika ia memang cinta sejati yang sebenarnya, bukan cinta semu nan palsu yang tentu akan menyakiti siapapun yang merasakannya. Ia memang berniat menemukan jawaban akan pertanyaan yang hingga sekarang ini memang belum bisa ia temukan jawaban yang paling memuaskan untuk hal itu. Yah, perjalanan untuk mencari jawaban pun akan senantiasa ia lalui…

|||

Kampus hari ini cukup sepi, tak terlalu banyak aktivitas mahasiswa yang terlihat hari ini. Wajar memang, karena mulai hari ini kampus memasuki masa minggu tenang sebagai waktu untuk para mahasiswanya mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Tak terkecuali Haris, hari ini memang tidak ada kuliah atau agenda apapun di kampus namun ia tetap pergi ke kampus untuk belajar dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian akhir.

Saat itu ia sedang berada di sebuah gazebo fakultasnya, di sekelilingnya terlihat sepi. Hanya sedikit mahasiswa-mahasiswi yang ada di sana, kebanyakan memang juga sedang belajar. Haris duduk santai di bawah sebuah pohon besar nan rindang, menghadapi sebuah catatan pelajaran sambil berusaha mengingat-ngingat pelajaran-pelajaran yang sudah didapatkannya.

Pagi terasa menemani dengan setia keberadaannya di sana, membuat hawa sejuk tak terkira nikmatnya berkelakar di hadapannya. Damai dan sejuk, ia rasakan merasuk dalam dirinya. Nikmat sekali diberikan Allah seperti ini, walau kebanyakan dari manusia khususnya umat muslim yang lupa untuk bersyukur kepada Allah. Bahkan seringkali mencampakkan hukum Allah dalam menjalani kehidupannya.

Tiba-tiba…

“Assalamualaikum!” sebuah suara membuat Haris bangkit dari lamunannya akan kenikmatan Allah yang sedang berusaha diresapinya.

“Wa..wa..waalaikumussalam!” jawab Haris terbata karena kaget. Dilihatnya ternyata yang berdiri di hadapannya adalah sahabatnya sendiri, Rafi.

“Melamun aja, mikiran apa pak?”

“Oh, ga papa… Lagi menikmati alam aja! Tumben ke sini, ngapain?”

“Tuh..” jawab Rafi singkat sembari menunjukkan tangannya kepada seseorang.

Disana ada Devi yang sedang berbicara dengan seorang temannya. Teman perempuannya yang terlihat sangat beda jauh penampilannya dengan Devi. Jika Devi tidak memakai kerudung untuk menutupi kepala, rambut, dan bagian dadanya maka temannya itu memakai kerudung besar dan lebar rapi menutupi kepala hingga ke bagian dadanya. Selain itu Devi yang hanya memakai kaos tipis serta celana jins yang sangat ketat dan terlihat lekuk tubuhnya maka teman perempuannya itu memakai jilbab atau sering disebut sebagai gamis yang panjang serta lebar hingga mencapai tanah dan tak sedikitpun terlihat lekuk tubuhnya.

Haris sempat terpana melihat kedua orang itu. Jika seorang terlihat tidak begitu bisa menjaga kehormatan dan iffah dirinya, terlihat dari cara berpakaiannya maka yang lain justru terlihat sangat menjaga kehormatan dan iffah dirinya. Pakaiannya yang tertutup rapat cukup mewakili betapa ia sangat menjaga kehormatan dirinya sendiri.

Sepertinya antara Devi dan juga teman perempuannya itu sedang terlibat pembicaraan yang serius, bahkan tak jarang Devi seperti berwajah marah dan juga memaksa kepada teman perempuannya itu. Rafi yang sedari tadi berada di samping Haris pun tiba-tiba dipanggil oleh Devi untuk menuju ke tempat dimana Devi dan teman perempuannya itu berada. Kelihatannya ada sedikit masalah, karena merasa ada yang tidak beres, Haris pun mengikuti Rafi menuju tempat kedua perempuan itu berada.

“Ada apa Dev?” tanya Rafi kepada Devi.

“Ini loh, Fatimah susah banget buat dimintai tolong!” keluh Devi.

“Memangnya minta tolong apa?”

“Aku minta tolong supaya dia menggantikan aku untuk bisa maju dalam lomba menyanyi pekan seni tingkat kampus minggu depan! Karena kami berasal dari fakultas yang sama dan juga cuma dia satu-satunya orang yang kupercaya bisa menggantikanku, tapi dia ga mau ternyata!” jelas Devi.

“Oh, gitu. Lha, kamu kenapa ga mau Fat? Aku juga pernah tau bahwa kamu punya suara yang sangat bagus waktu semester lalu kamu ikut lomba yang sama dan menjadi pemenang pertama di lomba itu!” tanya Rafi kepada Fatimah.

“Itu kan dulu, sekarang kan udah ga seperti dulu lagi! Udah beda!” jawab Fatimah tenang.

“Apa bedanya? Apa salahnya menyanyi?” sahut Devi yang mulai marah kepada temannya itu.

“Tentu ada bedanya Vi, tidak ada salahnya memang menyanyi tapi ada pengecualian sedikit untuk kita, para wanita. Karena suara kita yang dibuat-buat, mendayu-dayu itu mampu membuat para kaum pria terangsang dan bisa menimbulkan pikiran yang macam-macam juga penyakit hati di dalam hatinya!” jelas Fatimah.

“Ah, itu kan kata kamu aja? Lagian yang salah juga para kaum pria, kenapa juga mereka berpikiran yang macam-macam?” bantah Devi.

“Devi, walau bagaimanapun, kita para kaum wanita juga turut andil dalam merusak kaum pria jika kita membiarkan apa-apa yang ada dalam diri kita ini, apakah itu badan, suara, aurat, kecantikan, dan lainnya seenaknya ditampilkan di depan mereka-mereka, para kaum pria yang bukan mahram kita. Bukankah wanita itu adalah sesuatu yang sangat berharga, dari rahim kita lah lahir para generasi baru, generasi-generasi yang nantinya akan menggantikan kita, bahkan wanita lah yang menjadi tolak ukur baik atau tidaknya sebuah negara, jika wanitanya baik maka baik pulalah negara itu dan jika wanitanya buruk maka tentu buruklah negara itu.” jawab Fatimah.

“Kita semua beragama Islam, kita semua berazzam kepada Islam dan karena Islam yang kita azzami, yang kita yakini memiliki seperangkat peraturan, seperangkat tata tertib dalam menjalani kehidupan ini, maka tentu sudah menjadi kewajiban kita semua untuk patuh dan taat kepada aturan itu. Termasuk ketika Islam menurunkan seperangkat aturan untuk para wanita muslimah, maka juga menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk mentaatinya suka ataupun tidak. Karena sebenarnya, aturan Islam yang ada khususnya untuk para wanita seperti misalnya menutup aurat, pakaian yang diperbolehkan dan diwajibkan dipakai oleh seorang muslimah itu seperti apa, bagaimana etika wanita berbicara di depan pria yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya kesemuaya adalah untuk memuliakan para wanita itu sendiri, untuk mencegah agar para kaum wanita tidak jatuh ke dalam jurang kenistaan, yakni hanya menjadi barang yang tidak berharga, pemuas nafsu pria, mainan para media yang tidak bertanggung jawab, ekploitasi tubuh dan lainnya.” lanjut Fatimah sambil tersenyum kepada Devi.

Sejenak keheningan mewarnai mereka berempat usai mendengar penjelasan dari Fatimah. Penjelasan dari Fatimah tadi agaknya sangat mempengaruhi dan membingungkan Devi. Disatu sisi, ia sangat memikirkan apa yang dikatakan Fatimah tadi namun di sisi lain, ia benci Fatimah menjadi seperti ini, dia berubah, tidak seperti Fatimah yang dulu lagi, dan ia menjadi sangat berbeda dengan dirinya. Sedangkan Haris, ia cukup kagum dengan penjelasan Fatimah, tidak menggurui dan tepat sekali susunan katanya agar seolah-olah apa yang disampaikannya itu juga untuk dirinya sendiri bukan malah membuat orang yang mendengarkannya menjadi objek yang bersalah.

“Jadi intinya kamu tetap ga mau buat gantikan aku untuk lomba nanti?” tanya Devi lagi untuk meyakinkan dirinya.

“Aku sih mau tapi aturan agama melarangku, ya mau gimana lagi? Maaf ya, aku ga bisa.”

“Ya sudah, ga masalah.”

“Semoga ini ga mempengaruhi kedekatan kita?” senyum Fatimah diberikannya kepada Devi.

“Iya, iya. Ya udah kalo gitu, aku sama Rafi mau pergi dulu, mau cari temen-temen lain yang mungkin bisa gantikan aku. Ayo Fi!” kata Devi sambil pergi menjauh dari mereka.

“Iya! Udah ya Ris, aku temenin Devi dulu! Wassalamualaikum!” kata Rafi kepada Haris.

“Ok, waalaikumussalam!” jawab Haris.

Akhirnya Devi dan Rafi pun pergi menjauh, meninggalkan Haris dan Fatimah yang agak canggung satu sama lain. Haris pun melihat kepada Fatimah yang berada di sebelah kanannya, agak jauh memang.

“Kalo gitu ana juga harus pergi, wassalamualaikum!” kata Fatimah tiba-tiba sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan dan tentu saja sambil menundukkan pandangannya yang otomatis juga membuat Haris melakukan hal yang sama.

“Oh iya, waalaikumussalam!” jawab Haris singkat seraya tetap menundukkan pandangannya.

Dan Fatimah pun pergi, Haris sempat melihat kepergiannya dari jauh. Jilbabnya yang panjang dan lebar pun melambai-lambai, sungguh wanita yang sangat hebat. Haris salut dengan keistiqamahannya dalam menjaga iffah dirinya serta menjaga setiap perbuatannya agar selalu terikat dengan hukum syariat Islam dalam kondisi apapun, sungguh akhwat yang menakjubkan. Kemungkinan akhwat itu pun kenal dengan dirinya, walau hanya sebatas tahu sedikit tentangnya yakni bahwa ia adalah salah satu aktivis dakwah, terlihat ketika ia menggunakan kata “ana” kepadanya tadi. Kata-kata yang jarang digunakan oleh orang-orang yang tidak terbiasa menggunakannya, kebanyakan hanya oleh dan kepada sesama aktivis dakwah lah kata itu digunakan, jarang sekali digunakan kepada orang-orang biasa.

Bukannya ada perbedaan atau diskriminasi, tapi jika kita berbicara dengan memakai kata-kata yang jarang digunakan atau diketahui oleh lawan bicara kita yang dalam hal ini ia belum menjadi aktivis dakwah maka komunikasi akan menjadi sangat tidak efektif, apalagi dakwah juga sangat erat hubungannya dengan komunikasi. Salah seorang sahabat Rasulullah, Mush’ab bin Umair sudah memberikan kita semua sebuah contoh tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan baik kepada orang awam atau orang yang belum terlalu mengenal Islam untuk menyampaikan Islam kepadanya dengan baik dan juga mudah diterima.

Namun, tentu saja penyampaian Islam dengan komunikasi yang baik akan menjadi tidak bermakna jika penyampainnya pun ternyata mendistorsi makna sejati dari Islam itu sendiri dalam artian, agar Islam diterima maka beberapa hal dalam Islam yang “dianggap” mengerikan dihilangkan dan tidak disampaikan. Maka hal ini sangat berlawanan dengan apa yang pernah dicontohkan Rasulullah, tidak pernah sekalipun beliau mengurangi makna Islam itu sendiri agar orang-orang lain mau menerimanya dengan cepat dan dalam jumlah banyak.

Jika memang menyembah patung berhala itu adalah sesuatu yang diharamkan maka Rasulullah mengatakannya dengan tegas dan lantang walaupun hal itu membuat banyak orang menjadi antipati dengan Islam dan menganggap Rasulullah beserta Islam adalah agama setan yang menyerang Tuhan-Tuhan berhala mereka sehingga sudah pasti pada waktu itu banyak sekali masyarakat Mekkah yang tidak mau masuk Islam. Jika memang hukuman razam dan cambuk wajib diberikan kepada para penzina, hukuman potong tangan kepada pencuri, atau hukuman qisash kepada pembunuh maka itulah yang pasti Rasulullah laksanakan mengingat itu adalah perintah langsung dari Allah melalui firmanNya, walau hal itu dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, tidak berprikemanusiaan, Islam adalah agama yang kejam, dan lainnya oleh orang-orang yang tidak mengerti Islam maka Rasulullah tidak terpengaruh dan tetap melaksanakannya. Atau jika memang menjadi sebuah kewajiban kepada Rasulullah dan seluruh umat Islam untuk taat kepada aturan Islam, suka ataupun tidak maka tentu Rasulullah pun tetap melakukannya dan menyuruh kepada umatnya untuk taat kepada Allah beserta aturanNya secara menyeluruh dalam artian mengambil seluruh apa yang diperintahkan Allah, tidak setengah-setangah.

Sungguh hebat akhwat itu, jika apa yang dikatakan Rafi benar bahwa semester lalu ia masih ikut lomba menyanyi itu dan belum menjadi seperti sekarang artinya perubahan yang terjadi pada dirinya terjadi belum lama ini. Bisa dipastikan mungkin bahwa ia memakai jilbab dan kerudung yang sedemikian rapatnya juga baru-baru ini atau bisa jadi ia pun mengkaji Islam juga baru dalam waktu yang singkat ini. Namun, sungguh sangat mengagumkan bahwa walau dalam waktu yang cukup singkat tapi keistiqamahan dan rasa keterikatannya kepada hukum-hukum syariat Islam sudah sangat tinggi. Padahal banyak aktivis dakwah yang sudah tersadarkan oleh hukum-hukum Islam namun keterikatannya kepada hukum syariat masih sangat rendah dan menyedihkan. Sangat memalukan untuk seorang aktivis dakwah…

Haris mulai berpikir, tidak mungkin jika seseorang mampu bertahan atas sesuatu tanpa didasari sesuatu, tanpa ada sumber yang mampu memberikannya kekuatan untuk tetap teguh memegang apa yang diyakininya, dan tanpa disadari oleh pemikiran dan perasaan yang kuat bahwa hal yang diyakininya itu benar. Bahkan tidak mungkin tanpa sesuatu yang sangat kuat ia berani mengambil resiko bahwa ia kemungkinan bisa kehilangan teman yang sangat dekat dengannya akibat pemahamannya tentang Islam itu, artinya ada sesuatu yang lebih penting lagi daripada sekedar kehilangan atau mendapat anggapan buruk dari seorang manusia, seorang teman. Hal yang lebih penting daripada perasaan cinta terhadap sesama manusia…

Sepertinya, keping-keping jawaban dari pertanyaannya mulai hadir dihadapan Haris. Namun, jawaban yang sempurna belum bisa ia dapatkan karena keping-keping jawaban masih belum terkumpul semuanya, jika sudah terkumpul dan disatukan maka tentu nanti akan menjadi sebuah jawaban yang sempurna. Cepat atau lambat, Haris yakin pasti bisa menemukan jawaban itu.

Tiba-tiba ada sebuah sms yang masuk ke dalam HP nya. Ternyata SMS dari Kak Shafy, bunyinya…

“Salam. Akhi, anak dri Ust. Ilyas sdng drawat di RS krna trkena DBD dn skrng keadaanx sdg kritis. Mhon doanya spy cpat smbuh. Insya Allah mlam ini ba’da isya ana mw mnjenguk bliau dn ank bliau, antm bsa temani ana?”

Sontak Haris pun kaget, anak dari Ustadz Ilyas tiba-tiba masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah. Dia sendiri baru beberapa hari berkunjung ke rumah beliau dan dilihatnya anak beliau sehat-sehat saja, tapi hari ini benar-benar tidak terduga. Memang tidak ada yang bisa memastikan kapan manusia akan mendapat cobaan dalam hidupnya seperti penyakit, kematian, meninggalnya orang-orang yang kita cintai dan lainnya. Dan seharusnya manusia sadar, karena hal itulah manusia harus lebih beriman dan bertakwa kepada penciptanya.

SMS itu langsung dibalasnya dengan jawaban yang singkat.

“Salam. Insya Allah bisa, nanti ana jemput sebelum Isya di kos antum!”

Dan sepertinya malam ini pun akan memberikan Haris sebuah pelajaran yang sangat berharga dan tidak akan pernah terlupakan dalam perjalanan hidupnya.

|||

Chapter 5

Malam itu, seusai shalat isya berjamaah di mesjid dekat kosnya, Haris pun langsung tancap gas menuju kosnya Kak Shafy untuk menjemputnya kemudian bersama-sama menuju rumah sakit Lafalet di tengah kota untuk menjenguk anak Ustadz Ilyas yang sedang sakit keras terkena demam berdarah. Sebentar saja, ia sudah sampai di depan kosnya Kak Shafy, dan ternyata beliau sudah siap di depan kosnya hingga tak lama kemudian mereka berdua berangkat menuju rumah sakit itu. Sebelumnya Kak Shafy sudah mengirim sms kepada Ustadz Ilyas yang mengabarkan bahwa mereka berdua akan berkunjung ke tempat beliau, dan alhamdulillah beliau tidak keberatan.

“Kok bisa ya kak anak beliau terkena DBD? Padahal kan baru saja beberapa hari yang lalu kita berkunjung ke rumah Ustadz Ilyas dan melihat anak beliau, si Fikri baik-baik saja. Bahkan kita sempat bermain-main bersama dia?” tanya Haris yang kaget sekaligus kebingungan.

“Ya begitulah dek yang namanya ketentuan Allah. Kita kan ga akan pernah bisa tau kapan dan apa yang akan terjadi pada kita? Ingat kan kalau manusia itu sangat lemah, bahkan menentukan dia lahir sebagai laki-laki atau perempuan saja tidak bisa kan?” jawab Kak Shafy.

“Iya ya kak, manusia sangat lemah. Tapi anehnya kak ya, manusia yang lemah itu berani mengingkari hukum dan perintah yang Maha Kuat, bahkan sampai ada yang berani membuat hukum juga perintah untuk menandingi hukum dan perintah dari yang Maha Kuat!”

“Itulah manusia yang kelewat batas menggunakan akal dan apa-apa yang diberikan Allah. Misalnya saja akal, Allah memberikan manusia akal agar digunakan untuk menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga manusia bisa membuktikan bahwa Allah itu ada kemudian mengimaninya. Lha ini? Ada saja manusia yang kelewat gila menggunakan akalnya, ia berani menentukan wujud Allah itu seperti apa, malaikat, dls. Bahkan berani mengambil peran dan hak prerogatif Allah untuk membuat hukum peraturan kehidupan ini!”

“Bener-bener manusia yang pantas diazab ya kak?”

“Hmmm.. Bisa jadi!”

Tak terasa perbincangan dengan Kak Shafy telah mengantarkan mereka sampai di depan rumah sakit Lafalet, tempat anak ustadz Ilyas dirawat. Segera saja Haris memarkirkan kendaraannya dan kemudian masuk ke dalam rumah sakit itu melalui pintu masuk utama. Ketika memasuki rumah sakit ini, kesan pertama yang muncul adalah suasana khas zaman dahulu. Rumah sakit yang didominasi dengan warna hijau ini bukanlah rumah sakit dengan gedung tinggi serta ada lift di dalamnya. Bukan! Rumah sakit ini seperti layaknya rumah biasa tanpa lantai bertingkat namun sangat luas. Haris sempat terkagum dengan desain dari tempat itu, unik dan juga masih sangat lekat suasana khas zaman dahulu. Dilihatnya orang-orang berbaju putih lalu-lalang, terlihat sibuk sekali dengan urusan masing-masing. Ada pula pasien-pasien yang keluar dari kamar rawatnya dan berjalan-jalan di areal rumah sakit itu. Mungkin sekedar melepas kepenatan dan juga kebosanan setelah sekian lama berada di dalam kamar rawat.

“Kak, ruangannya anak Ustadz Ilyas yang mana?” tanya Haris tiba-tiba.

“Katanya sih di ruangan bernama Bangsal Melati nomor 10 B!”

Sambil terus berjalan, Haris memperhatikan sekitarnya, dilihat dan dibacanya tulisan-tulisan yang bertebaran di sekitarnya. Bangsal Mawar, Teratai, Pandan, dls. Banyak sekali memang tulisan-tulisan di sana. Kemudian tanpa sengaja matanya menangkap sebuah tulisan yakni Bangsal Melati. Spontan Haris pun memperingati Kak Shafy dan menunjuk kepada tulisan itu. Kak Shafy paham dan mereka pun memutar haluan menuju tempat tulisan itu, ketika sampai di sana ternyata ada begitu banyak bayi yang sedang dirawat sehingga mereka berdua mengambil kesimpulan bahwa memang inilah tempatnya anak ustadz Ilyas dirawat.

Kak Shafy mencoba mengirim sms kepada ustadz Ilyas untuk memberitahukan bahwa mereka berdua sudah berada di depan ruangan yang diberitahukan ustadz Ilyas kemarin. Lama tak ada balasan dari ustadz Ilyas. Sambil menunggu balasan dari beliau, Haris sempat memperhatikan bayi-bayi mungil yang kini sedang dirawat oleh para suster dan juga dokter yang mayoritas memakai baju putih. Wajah bayi-bayi itu begitu polos dan teduh, juga lucu. Begitu damai mereka tertidur di inkubatornya walau sesekali ada pula yang terbangun kemudian menangis keras. Bayi-bayi ini belum tahu bahwa ketika mereka beranjak dewasa nanti, akan ada begitu banyak virus kufur, pemikiran kufur yang akan menodai kesucian jiwa mereka untuk beriman kepada penciptaNya.

Ketika sudah dewasa nanti, mereka akan dihadapkan dengan keadaan ekonomi yang serba sulit, kemudian fakta akan begitu banyaknya kemiskinan di sekitar mereka akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalis yang hanya memihak para pemilik modal dan tidak pernah berpihak kepada rakyat. Kemudian mereka juga akan bertemu dengan tatanan kehidupan yang serba kacau, mereka akan bertemu dengan tindakan kriminalitas dimana-mana, kehidupan yang serba bebas seperti layaknya hewan, aurat wanita murahan yang berhamburan, politik kejam tak berprikemanusiaan yang hanya mengincar materi, nafsu manusia yang mudah sekali diumbar tak terkendali, dan bahkan masih banyak lagi yang lainnya. Ya, semua itu tidak lain adalah penyebab diterapkannya sistem kufur di kehidupan manusia dan sistem kufur itu bernama Demokrasi yang merupakan anak cucu dari sistem kufur Kapitalisme-Sekularisme. Begitu memprihatinkan bagi mereka, para anak-anak tak berdosa ini yang lahir di tengah-tengah diterapkannya sistem kufur ini. Mungkin, jika mereka bisa menawar kepada penciptaNya untuk tidak lahir di tengah-tengah sistem kufur yang saat ini sedang merajalela maka tentu mereka akan melakukannya, namun sayang hal itu tidak bisa terjadi, karena semuanya sudah ditentukan Allah.

Tiba-tiba sms dari Ustadz Ilyas tiba, bunyinya

“Waalaikumussalam. Oh, alhmdllah antm br2 udh smpai. afwn, mhn dtnggu y, ana sdg dlm prjlanan k sna?”

Kak Shafy pun menjawab singkat sms itu yang menyatakan bahwa mereka akan menunggu. Sambil menunggu kedatangan ustadz Ilyas, Haris dan Kak Shafy duduk di sebuah kursi kayu panjang yang terletak tak jauh dari pintu masuk Bangsal Melati.

“Dek, gimana dengan perjalanan antum untuk mencari jawaban pertanyaan dari kakak? Apa sudah sampai pada tempat tujuan dan mendapatkan jawaban?” tanya Kak Shafy tiba-tiba.

Haris mengerti apa yang dibicarakan oleh Kak Shafy, pastilah tentang definisi cinta yang dulu ia tanyakan kepada Kak Shafy namun kemudian Kak Shafy menyuruh Haris agar mencari jawabannya sendiri.

“Hmmm.. Iya sih kak, ana memang sedang melakukan proses mencari jawaban itu, memang ada beberapa kejadian yang ana temukan dan alami yang bisa mendefinisikan jawabannya, tapi ana masih belum yakin dan perlu berbagai pelajaran lagi ke depannya untuk menyempurnakan jawaban itu.” terang Haris kepada Kak Shafy.

“Oh begitu, ana mengerti. Semoga secepatnya mendapatkan jawaban yang tepat dan sudah tentu harus sesuai dengan hukum syara.” jawab Kak Shafy seraya tersenyum kepada Haris.

“Syukron. Insya Allah kak.”

Perjalanan panjang untuk mencari sebuah jawaban, ujungnya memang belum jelas namun cahaya anggun nan suci bersiaga menyambut di ujung jalan. Jalan yang telah dipilih oleh keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta. Insya Allah barakah selalu beriring tak terputus.

“Assalamualaikum!” sebuah salam mengagetkan mereka.

“Waalaikumussalam.” jawab mereka berdua hampir bersamaan.

Ternyata itu adalah Ustadz Ilyas, beliau ternyata sudah tiba.

“Afwan, sudah lama ya menunggu?” tanya Ustadz Ilyas seraya menyalami mereka berdua.

“Oh tidak ustadz.” jawab Haris tersenyum.

“Afwan ya, ana tadi pergi membeli makanan sebentar. Ayo, mari masuk, kita duduk-duduk di depan kamar anak ana dirawat aja!” ajak Ustadz Ilyas.

Mereka bertiga pun masuk dan bersama-sama menuju ke teras depan sebuah kamar bernomorkan 10 B dan duduk bersama di depan kamar tersebut. Di sana juga ada orang-orang yang sedang duduk dan asyik mengobrol, mungkin mereka juga sedang menunggui keluarga ataupun teman mereka yang sedang sakit. Sambil duduk, Ustadz Ilyas menyuguhkan sedikit makanan ringan dan juga minuman air putih berkemasan, setelah tadi sempat masuk sebentar ke dalam untuk mengantarkan makanan yang dibelinya kepada istrinya yang sedang menjaga anaknya.

“Gimana ustadz keadaan Fikri?” tanya Kak Shafy membuka pembicaraan di antara mereka.

“Alhamdulillah sedikit membaik, setidaknya tidak sekritis kemarin malam. Kemarin istri benar-benar panik melihat keadaan Fikri, untung ana langsung membawanya ke sini sehingga bisa langsung mendapatkan perawatan. Dan untungnya ana juga memilih rumah sakit ini karena pelayanannya lebih cepat dibanding rumah sakit lain.” jelas ustadz Ilyas.

“Sekarang lagi tidur ya ustadz?” Haris yang bertanya kemudian.

“Iya, alhamdulillah bisa tidur dia. Padahal malam tadi dia nangis terus, sampai umminya sendiri pusing!”

“Terus kata dokter apa ustadz?”

“Yah, dia memang terkena demam berdarah dan tingkat trombosit serta leukositnya pun sangat rendah. Dokter menyuruh ana memberi makan Fikri makanan yang bergizi dan alami serta jus jambu dan tak lupa air putih. Tentu saja Fikri pun harus banyak istirahat.”

“Yah, semoga saja Fikri bisa cepat sembuh.”

“Amien!” jawab Ustadz Ilyas seraya tersenyum kepada mereka berdua.

Tiba-tiba pintu kamar rawat tempat anak ustadz Ilyas dirawat terbuka, kemudian keluar lah dua orang akhwat dari kamar itu. Akhwat yang pertama berjilbab dan berkerudung merah muda, sedangkan akhwat yang kedua berjilbab merah tua dipadu dengan kerudung yang juga berwarna senada dengan jilbabnya. Salah satu dari kedua akhwat itu tidak lah asing bagi Haris, beberapa hari yang lalu ia sempat bertemu dengannya ketika waktu itu si akhwat sedang berbicara dengan Devi. Ya benar, dia adalah Fatimah, akhwat yang sempat membuat Haris kagum akan keteguhannya untuk taat kepada aturan Allah pada pertemuan mereka yang sangat singkat itu. Dan kali ini, ia bertemu kembali dengannya, namun dalam suasana yang jauh berbeda dan tak terduga. Haris sendiri bingung, sedang apa ia dan temannya berada di sini.

“Abi, Fatimah pulang dulu ya? Soalnya besok ada ujian di kampus, mau belajar dulu. Ga papa kan bi?” tanya Fatimah sopan kepada Ustadz Ilyas.

Abi? Seketika itu pula Haris terkejut, ternyata Fatimah adalah anak perempuan dari ustadz Ilyas. Tapi, kalaupun begitu, kenapa setiap ia mampir ke rumah Ustadz Ilyas tidak pernah bertemu dengannya. Apa ia jarang berada di rumah?

“Iya nak, pulang saja. Ga papa kok, insya Allah abi dan ummi sudah cukup untuk menjaga Fikri di sini. Hati-hati di jalan ya, dan jangan lupa untuk beristirahat?” jawab Ustadz Ilyas.

Kemudian mereka berdua pun menyalami ustadz Ilyas dan berjalan pergi menjauhi mereka bertiga sembari mengucapkan salam yang dijawab serentak oleh mereka bertiga.

Ketika lewat di depan Haris, Fatimah sempat melihat kepada Haris dan begitupula Haris, yang membuat mereka justru saling menundukkan pandangannya. Dan kedua akhwat itu pun menghilang di ujung gang. Rasa penasaran Haris pun membuat ia tidak bisa membendung pertanyaan yang sedari tadi ingin ia ajukan pada ustadz yang ada di depannya saat ini.

“Ustadz, boleh ana bertanya?” kata Haris.

“Mengenai Fatimah tadi?” agaknya Ustadz Ilyas mengerti kebingungan di diri Haris.

“Iya ustadz! Afwan, Fatimah itu anak perempuan antum ya ustadz? Tapi kok setiap kali ana berkunjung ke rumah antum, dia ga pernah ana liat ya? Atau memang dia jarang di rumah?”

“Iya, Fatimah memang anak ana. Wajar memang antum tidak pernah melihatnya karena ia memang tidak tinggal di rumah bersama ana. Ia lebih memilih tinggal di kost semenjak awal semester tadi.” jelas Ustadz Ilyas.

“Loh kenapa ustadz?” lanjut Haris penasaran.

“Katanya dia ingin belajar mandiri dan mencoba mengurus segala macamnya sendiri, masalah atau apapun itu. Yah, ana berpikir itu tidaklah begitu menjadi masalah karena memang itu mungkin bisa menjadi yang terbaik baginya. Lagipula, ia tidak seperti dulu lagi yang jauh bahkan tidak mengenal ajaran Islam. Sekarang, insya Allah ia telah menjadi seorang muslimah yang turut memperjuangkan kemenangan syariat Islam dan tegaknya Khilafah Islamiyah di bumi Allah ini. Karenanya, ana cukup merasa tenang akan dirinya dan percaya kepadanya.” jelas Ustadz Ilyas panjang lebar.

“Oh iya ustadz, ana mengerti!”

“Iya ya ustadz, ana juga bingung dan kaget. Setahu ana ditambah penglihatan dari beberapa teman di kampus bahwa anak antum itu dulu kalau tidak salah memang terkesan jauh dari Islam. Bahkan, afwan ustadz, iya terkenal hedonis. Tapi, semenjak semester tadi ia berubah 180 derajat, entah apa yang terjadi? Ia mulai memakai jilbab yang benar-benar syar’I, kemudian juga perlahan-lahan meninggalkan aktivitasnya dahulu, dan masih banyak lagi aktivitas maksiatnya dulu yang ia tinggalkan. Subhanallah sekali!” kata Kak Shafy tiba-tiba.

“Itulah namanya hidayah, tidak ada seorang pun yang tahu. Kita hanya bisa mengusahakan datangnya hidayah itu, perkara Allah mendatangkannya atau tidak, itu semua adalah hak prerogatif Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa campur tangan. Ana sendiri awalnya hampir menyerah dengan sifat dan kelakuan dia namun untungnya ana sadar bahwa ana tidak boleh menyerah dan mundur sedikit pun bahkan hingga nanti ana kembali kepada Allah. Alhamdulillah ternyata Allah menjawab segala usaha dan doa kami. Tiba-tiba ia berubah seperti itu, kemudian belajar istiqamah dan semakin mendekatkan diri kepada Islam, benar-benar nikmat yang tak ternilai harganya. Syukur kepada Allah yang tak terhingga tentu ana lantunkan!” jelas Ustadz Ilyas.

Kami berdua sepakat, memang melihat orang-orang yang kita cintai masuk ke dalam satu barisan bersama kita untuk memperjuangkan Islam merupakan salah satu nikmat yang tak ternilai harganya apalagi jika hal itu terjadi melalui usaha kita. Selain mendapatkan pahala dari Allah yang begitu banyak, kita juga akan mendapatkan kebahagiaan dengan kebersamaan kita dengan orang yang begitu kita cintai itu.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Begitu banyak hal dan ilmu-ilmu yang didapat dari pembicaraan dengan Ustadz Ilyas. Namun, sudah waktunya untuk kami berdua pulang, karena besok pun masih banyak amanah dakwah dan kegiatan yang menunggu. Maka mereka berdua pun berpamitan dengan Ustadz Ilyas untuk pulang, Ustadz Ilyas begitu berterimakasih akan kedatangan mereka berdua. Tak lupa, keduanya mendoakan agar Ustadz Ilyas diberikan kesabaran dan tentu saja semoga Fikri bisa sehat kembali, yang tentu saja langsung diamini oleh Ustadz Ilyas. Maka mereka pun berpisah yang ditandai dengan jabatan tangan dan ucapan salam.

Haris dan Kak Shafy langsung saja menuju tempat parkir dimana kendaraan Haris diparkirkan. Dan sesaat kemudian, mereka berdua langsung melaju menuju kos Kak Shafy. Seperti biasa, di perjalanan pun mereka sibuk ngobrol tentang berbagai macam hal dan lagi-lagi pembicaraan mereka tak terasa telah mengantarkan mereka berada di sebuah jalan besar yang walau sudah hampir tengah malam namun masih padat arus lalu-lintasnya. Wajar saja, karena jalan itu merupakan jalan utama yang sering dilalui oleh mobil-mobil maupun kendaraan yang ingin pergi keluar kota.

Saat itu, Haris mengemudikan kendaraannya agak ke samping kiri jalan dekat trotoar dengan agak lambat, tidak begitu cepat. Kemudian tiba-tiba, di belakang mereka berdua terdengar suara…

“Ciiittttttttttt….!” bunyi ban mobil direm mendadak.

“Aaaaaaaaaaa…!” diiringi oleh teriakan seorang perempuan.

Terang saja mereka berdua mendengarnya dengan sangat jelas. Seketika itu pula mereka langsung melihat ke belakang mereka, dan ternyata terjadi kecelakaan tidak jauh di belakang mereka. Entah kenapa, hati Haris berkata bahwa ia harus menghentikan perjalanan pulangnya dan melihat kejadian itu. Kak Shafy pun setuju untuk melihat kecelakaan itu, maka setelah Haris menghentikan kendaraannya dan meletakkannya di bagian kiri jalan dekat trotoar, mereka berdua pun langsung berlari menghampiri tempat kejadian. Saat itu orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun mulai berlari mendatangi sebuah tubuh yang kini telah terbaring di tengah jalan.

“Ada apa pak?” tanya Kak Shafy pada seorang bapak-bapak.

“Sepertinya kecelakaan dek!” jawab bapak itu singkat.

Haris kemudian langsung pergi berlari mendekati tubuh seorang perempuan yang kini tengah terbaring pingsan di tengah jalan. Orang-orang pun mulai berkerumun di sekitar Haris yang kini sudah sampai di dekat tubuh perempuan itu.

Setelah menekuri sesaat orang yang kini tengah terbaring, ia akhirnya sadar siapa yang mengalami kecelakaan. Saat itu memang keadaan sekitarnya gelap sehingga perlu beberapa saat bagi Haris untuk menyadari siapa yang mengalami kecelakaan. Namun, setelah ia melihat wajahnya yang berlumuran darah dan tengah terbaring, ia sangat terkejut. Ternyata, ia mengenal orang yang kini tengah mengalami kecelakaan itu.

Ia memang adalah seorang perempuan yang baru saja Haris kenal, bahkan baru saja sesaat tadi ia bertemu dengannya di rumah sakit. Benar, perempuan yang kini tengah terbaring diam di depannya serta berlumuran darah itu adalah Fatimah. Jilbab dan kerudung merah mudanya berlumuran darah, wajahnya pun sama. Ia diam, tak bergerak. Pingsan!

Kemudian tak jauh dari Fatimah, temannya yang tadi juga bertemu dengan Haris di rumah sakit juga ada di sana. Ia sedang terduduk sambil meringis kesakitan, untungnya ia masih sadar dan tidak pingsan seperti Fatimah.

Haris pun sadar ia harus mengambil sebuah tindakan.

“Tolong bu!” teriak Haris sambil mengisyaratkan seorang ibu-ibu yang dilihatnya berada di kerumunan itu untuk mendekatinya dan Fatimah.

“Tolong bu, dia adalah teman saya. Tolong rawat dia! Tolong ibu-ibu dan perempuan lainnya juga ikut membantu! Dan tolong dibawa ke trotoar itu terlebih dahulu!” teriak Haris kepada seluruh kerumunan sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.

Kak Shafy juga melihat bahwa yang mengalami kecelakaan itu adalah Fatimah dan juga temannya, tentu saja Kak Shafy mengerti apa yang Haris lakukan dan juga apa yang harus ia lakukan, ia langsung bertindak.

“Pak-pak, tolong saya pak untuk mengangkat kendaraannya juga mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan!” teriak Kak Shafy kepada kerumunan dan orang-orang di sekitarnya.

Para bapak-bapak dan laki-laki di tempat itu pun bergegas membantu Kak Shafy untuk mengatur lalu lintas yang saat itu memang terjadi kemacetan cukup panjang juga mengangkat kendaraan Fatimah yang kini saat itu berada di tengah jalan. Beberapa dari bapak-bapak itu ada yang membantu ibu-ibu yang diminta Haris mengurus Fatimah untuk mengangkatnya ke pinggir jalan dan ada pula yang membantu Kak Shafy mengatur lalu lintas di sekitar tempat kejadian itu serta mengangkat kendaraan Fatimah untuk dibawa ke pinggir jalan.

“Ada yang punya mobil? Ada yang bawa mobil? Tolong siapapun yang membawa mobil, antarkan dia ke rumah sakit terdekat!” tanya Haris cepat.

“Kami membawa mobil! Biar antar memakai mobil kami saja!” jawab seorang ibu.

“Dimana bu mobilnya?”

“Sebentar diambilkan suami saya dulu, ada di sana!” jawab ibu itu seraya menunjuk ke tempat dimana mobil itu berada.

Suami ibu itu pun bergegas berlari menuju tempat mobil berada. Sementara Haris langsung berlari menuju Kak Shafy kemudian memberikan kunci kendaraannya kepada Kak Shafy.

“Kak, ana ke rumah sakit dulu! Sekalian memberikan kabar kepada Ustadz Ilyas! Antum di sini mengurus yang tersisa ya?” kata Haris dengan tergesa-gesa.

“Ya, hati-hati!” jawab Kak Shafy singkat, ia mengerti.

Haris kemudian berlari kembali menuju tempat Fatimah, ternyata ketika itu Fatimah dan temannya sudah dimasukkan ke dalam mobil. Haris pun juga masuk ke dalam mobil, dan duduk di tempat duduk paling belakang. Sedangkan Fatimah dibaringkan di tempat duduk tengah mobil dan kepalanya dipangku oleh temannya yang juga duduk di sana. Dan ibu tadi duduk di depan, di samping suaminya yang menjadi supir.

Perjalanan menuju rumah sakit pun dimulai, sang bapak berusaha mengemudikan mobil secepat mungkin namun tetap berhati-hati. Haris mengambil hpnya, ia bermaksud untuk menghubungi Ustadz Ilyas, mengabarkan hal ini namun sayangnya hpnya mati, baterainya habis. Terpaksa ia nanti harus memberitahukan Ustadz Ilyas langsung ketika sudah sampai di rumah sakit.

Keheningan agaknya mengelilingi mereka sepanjang perjalanan itu. Pasangan suami-istri yang berada di depan kelihatan tegang sambil terus berkonsentrasi penuh dengan jalan yang dilalui. Sedangkan di tempat duduk tengah, Fatimah yang sedari tadi masih pingsan ditemani dengan temannya yang juga diam seribu bahasa. Tangannya sesekali mengusapkan tisu ke wajah Fatimah untuk membersihkan darah yang mengalir keluar dari beberapa luka di wajahnya. Dan Haris pun masih bingung merenungi apa yang sedang terjadi ini, ia pun diam tak tahu harus berkata apa. Ia hanya berharap semuanya baik-baik saja.

Perjalanan mereka menuju rumah sakit menghabiskan waktu sekitar 15 menit, ketika sudah tiba di rumah sakit. Fatimah langsung dimasukkan ke dalam ruang UGD ditemani dengan temannya serta pasangan suami istri tadi. Sedangkan Haris, ia langsung berlari secepat mungkin menuju ruangan tempat anaknya Ustadz Ilyas dirawat untuk memberitahukan apa yang terjadi dengan Fatimah.

Sesampainya di sana, Haris pun menjelaskan semuanya kepada Ustadz Ilyas dengan cepat dan singkat. Kemudian, tentu saja Ustadz Ilyas langsung menuju ruang UGD tempat Fatimah mendapatkan perawatan bersama Haris. Ketika sampai di sana, dilihatnya dibalik tirai yang sedikit terbuka Fatimah sudah mendapatkan perawatan dari para dokter dan suster, sedangkan temannya ada di sampingnya dan juga dirawat oleh para suster untuk mengobati luka-lukanya yang tidak terlalu parah dibandingkan dengan Fatimah. Ustadz Ilyas menanyakan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi kepada Haris, juga kepada pasangan suami-istri yang tadi ikut mengantarkan Fatimah ke sini. Tapi tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana kejadian sebenarnya. Satu-satunya yang bisa diharapkan untuk menceritakan kejadian sebenarnya hanyalah temannya Fatimah yang ikut bersama Fatimah dan juga mengalami kejadian itu.

Kemudian tak lama, temannya Fatimah pun diperbolehkan suster untuk sementara keluar dari ruangan kecil tempat Fatimah dirawat yang kemudian tirainya ditutup sepenuhnya oleh suster itu. Temannya Fatimah itu pun duduk di tempat dimana Haris dan Ustadz Ilyas serta suami-istri tadi berada. Ustadz Ilyas pun langsung menanyakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua. Temannya Fatimah itu yang kemudian Haris ketahui bernama Zahra menceritakan semua yang terjadi sambil duduk lemah di kursi rumah sakit berwarna hitam itu. Ia pun menceritakan semuanya, bagaimana ketika mereka ingin pulang ternyata ada sms datang dari ustadzah mereka untuk mengambil sesuatu di rumah beliau untuk persiapan acara kemuslimahan beberapa hari lagi, kemudian bagaimana mereka kemudian pulang dari sana dan semuanya berjalan biasa-biasa saja. Hingga mereka sampai di jalan utama tempat terjadinya kecelakaan itu, yakni ketika mereka berdua baru saja belok kiri dari tikungan dan memasuki jalan utama itu, tiba-tiba di samping kanan mereka ada sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat dan ugal-ugalan menabrak mereka. Mereka pun terlempar, namun yang paling parah adalah Fatimah karena bagian kanannya tepat ditabrak oleh mobil itu dan membuatnya seketika itu juga jatuh ke depan agak jauh dari Zahra dan kendaraanya.

“Astaghfirullah!” kata-kata yang terlempar dari mulut ustadz Ilyas setelah mendengarkan penuturan dari Zahra.

Haris pun mendengarkan dengan seksama kejadian yang diceritakan Zahra, ia berharap bahwa Kak Shafy yang ditinggalkannya di sana bisa mengurus semuanya termasuk permasalahan orang yang menabrak Fatimah dan Zahra ini.

“Ya sudah dek, kamu istirahat saja! Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua! Amien!” kata Ustadz Ilyas.

“Terima kasih ustadz!”

Tiba-tiba tirai terbuka dan seorang dokter yang tadi ikut merawat dan menangani Fatimah berjalan pelan ke arah mereka.

“Maaf, diantara anda siapa yang merupakan saudara atau keluarga korban?” tanya dokter itu singkat.

“Saya ayahnya dok! Bagaimana keadaan anak saya dok?”

“Dia masih pingsan, mungkin terkena gegar otak ringan akibat benturan yang terjadi di kepalanya. Tapi ada lagi yang lebih penting dan harus kita pikirkan!”

“Apa itu dok?” tanya Ustadz Ilyas cemas.

“Dia banyak kehilangan darah pak! Bekas jahitan pada luka yang ada di perut bagian kanannya ternyata membuka sedikit, mungkin diakibatkan benturan juga. Dari bekas luka itu lah darah paling banyak mengalir keluar. Selain itu tangan kanannya juga patah sedangkan kaki kanannya mengalami luka yang cukup besar dan ini pun mengeluarkan darah yang banyak. Sedangkan bagian kiri tubuhnya secara umum tidak begitu parah hanya luka-luka kecil biasa! Dan yang terakhir adalah itu tadi, anak anda mengalami gegar otak ringan sehingga pingsan!” jelas dokter itu.

“Astaghfirullah! Sekarang sebaiknya bagaimana dok?” berusaha meyakinkan suara yang keluar dari mulutnya.

“Kami perlu memberikan transfusi darah tambahan kepada anak bapak, karena sementara kami berusaha menutup luka-lukanya, darahnya akan terus mengalir keluar. Maka, untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tidak kekurangan darah lebih jauh lagi, kami harus memberikan transfusi darah.”

“Lakukan saja dok, kalau itu memang yang terbaik untuk anak saya!”

“Tapi ada sedikit masalah pak! Kami sebelumnya meminta maaf atas pelayanan yang kurang baik ini pak!”

“Ada apa lagi dok?” Ustadz Ilyas berusaha tenang.

“Sekali lagi kami minta maaf, tapi saat ini rumah sakit sedang mengalami kekosongan stok darah yang diperlukan oleh anak anda!” jelas dokter itu dengan raut wajah yang menyiratkan seakan-akan ia meminta maaf kepada Ustadz Ilyas.

“Astaghfirullah, Ya Allah!” Ustadz Ilyas pun terduduk lemas di tempat duduk di belakangnya. Memegang kedua kepalanya dan berusaha berpikir serta meresapi semua yang terjadi.

“Apakah bapak atau mungkin keluarga yang lain punya golongan darah yang sama dengannya dan dalam keadaan sehat sehingga bisa mendonorkan darah kepadanya?” dokter itu bertanya lagi.

“Tidak ada dok, golongan darah saya tidak sama dengannya. Ibunya juga, sedangkan keluarganya yang ada di sini hanya saya dan istri saya saja!”

“Begitu ya. Maka, kita terpaksa mencari pendonor lain! Namun masalahnya hal itu tidak akan mudah dan perlu waktu, karena golongan darahnya termasuk golongan darah yang sulit untuk dicari. Sedangkan yang akan mendonorkan darahnya pun harus memenuhi beberapa syarat!”

“Golongan darahnya apa dok?” tanya ibu yang tadi ikut mengantarkan Fatimah ke rumah sakit.

“AB bu!” jawab dokter itu singkat.

Haris tersentak kaget.

“Saya juga tidak cocok. Suami saya juga!” sesal ibu itu.

“Saya cocok dok! Darah saya AB!” kata Haris tiba-tiba.

Serentak seluruh orang yang berkumpul di sekitarnya pun terkejut.

“Benarkah darah anda AB?” tanya dokternya lagi, meyakinkan.

“Iya dok!” jawab Haris mantap.

“Baik, kalau begitu kita harus secepatnya melakukan pemeriksaan kelayakan apakah anda bisa mendonorkan darah anda! Jika ternyata bisa, maka kita akan mulai melakukan proses pendonoran darah kemudian mendonorkannya kepada dik Fatimah!”

“Baik dok!”

Maka, Haris pun berjalan mengikuti dokter itu dan pergi ke sebuah laboratorium rumah sakit itu untuk melakukan tes kelayakan apakah ia bisa mendonorkan darahnya atau tidak. Setelah dilakukan tes kelayakan, untungnya Haris memenuhi seluruh prosedural dan syarat kesehatan untuk bisa mendonorkan darahnya, maka jadilah malam itu ia mendonorkan darahnya untuk Fatimah. Ustadz Ilyas tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Haris dan juga Allah atas apa yang Haris lakukan atas izin Allah untuk membantu anaknya itu.

Setelah proses pendonoran darah selesai, Haris pun kembali ke ruangan tempat Fatimah dirawat, berkumpul kembali bersama rombongan yang sedari tadi menunggui Fatimah. Ia duduk sambil memakan beberapa roti serta air susu untuk mengembalikan energi tubuhnya setelah tadi mendonorkan darahnya. Dilihatnya tirai ruangan kecil tempat Fatimah dirawat tertutup kembali, sepertinya dokter dan para suster kembali berusaha merawat Fatimah.

“Subhanallah, Allahu Akbar, Astaghfirullah!” ucap Ustadz Ilyas seraya duduk bersandar di sebelah Haris.

“Astaghfirullah!” dzikir itu kembali diucapkannya.

“Ustadz, istri antum udah diberitahu tentang keadaan Fatimah?” tanya Haris.

“Belum, nanti saja ana beritahu. Ana takut mengganggu dia yang sedang merawat adiknya Fatimah!”

“Jadi beliau belum tahu sama sekali tentang keadaan Fatimah?”

“Ia belum tahu. Karena tadi ana keluar ruangan cuma minta izin untuk berbicara dengan antum!”

“Oh begitu ya ustadz?”

“Yah, setidaknya nanti jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan keadaan Fatimah sudah membaik baru ana akan memberitahukan dan menjelaskan kepadanya apa yang terjadi. Kasihan dia, sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur karena merawat si kecil!”

“Yang sabar ya ustadz? Insya Allah semua pasti ada hikmahnya?”

“Ya, Insya Allah. Mungkin ana melakukan begitu banyak dosa kepada Allah hingga Allah memberikan ana peringatan seperti ini. Semoga saja ana dan keluarga ana diampuni oleh Allah!”

“Amien. Insya Allah ustadz!”

“Dan ana pun berterima kasih banyak kepada antum atas bantuannya!” kata ustadz Ilyas seray tersenyum kepada Haris.

“Afwan, sama-sama ustadz! Tapi ana salut sekali dengan antum. Biasanya jika ada orang yang diterpa berbagai masalah seperti ini, kebanyakan dari mereka tidak bisa bersikap tenang bahkan cenderung emosi! Namun antum berbeda, antum bisa bersikap lebih tenang walau berbagai masalah datang bertubi-tubi! Ana salut!”

“Alhamdulillah ana masih diberikan Allah ketenangan seperti tadi!”

“Tapi, apa antum tidak takut jika mungkin sesuatu yang lebih besar terjadi pada Fatimah hingga antum bisa bersikap setenang itu? Tidak seperti orang lain yang emosional setiap kali menghadapi masalah seperti ini?”

“Akhi, sejatinya ana takut! Takut sekali jika Fatimah merasakan kesakitan yang lebih daripada ini, atau mungkin jika Fatimah sampai batas waktunya di dunia ini dan dipanggil oleh Allah. Seandainya bisa, tentulah ana rela mengorbankan diri ana agar ana saja yang sekarang terbaring di sana dengan badan penuh luka, ataupun seandainya tiba batas waktu itu, maka ana rela menggantikan kehidupan ana untuknya, untuk Fatimah. Namun sayangnya, semua itu tidak bisa kita lakukan, karena setiap manusia telah tergambar dengan jelas langkah-langkah kehidupannya!”

“Anak itu adalah titipan, amanah dari Allah. Ana sangat mencintainya, sangat menyayanginya! Namun, rasa cinta dan rasa sayang kepadanya tidaklah membuat ana tidak ingin kehilangannya sama sekali jika memang sudah tiba batas waktunya.”

“Seharusnya kita paham bahwa anak atau apapun yang kita miliki saat ini sesungguhnya semua milik Allah, maka menjadi hal yang wajar jika Allah ingin mengambilnya sewaktu-waktu karena itu memang hak-Nya! Bahkan kita pun seharusnya jangan sampai menjadikan cinta kepada anak atau hal lainnya melebihi cinta kepada Allah, Rasulullah serta agamanya. Yakinlah bahwa Allah itu Maha Pencemburu dan tentunya ia akan marah jika cinta kita kepadaNya tidak lebih dari yang lain bahkan dinomor sekiankan! Cukup percaya kepada Allah, ia pasti akan memberikan kita yang terbaik!”

“Hmm, iya ustadz! Ana mengerti! Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari berbagai kejadian malam ini!” sahut Haris yang kembali merasakan bahwa ia mendapatkan pelajaran yang begitu berharga malam ini.

Tiba-tiba tirai ruangan tempat Fatimah dirawat terbuka, dan sekali lagi dokter yang tadi berbicara kepada mereka kembali menghampiri mereka lagi. Spontan Haris dan Ustadz Ilyas berdiri menghadapi kedatangan dokter itu.

“Bagaimana keadaannya Fatimah dok?” tanya Ustadz Ilyas tanpa basa-basi.

“Alhamdulillah pak! Bapak tenang saja, keadaannya sudah membaik! Luka-luka sobekan di tubuhnya sudah kami jahit semua sehingga pendarahan pun sudah berhenti. Pendonoran darah juga sudah kami lakukan jadi kita tidak perlu takut lagi akan terjadi kekurangan darah padanya. Seluruh luka yang ada di tubuhnya sudah kami tangani, hanya saja ia masih pingsan dan mungkin perlu beberapa hari lagi ia baru bisa siuman! Sabar ya pak, yang penting sekarang keadaannya sudah membaik?”

“Begitu ya dok?”

Alhamdulillah ya Allah!” ucap Ustadz Ilyas kemudian bersujud syukur kepada Allah di lantai rumah sakit yang dingin itu.

Haris pun memegangi tubuhnya ustadz Ilyas, dalam hati ia pun sangat bersyukur bahwa Allah masih memberikan keselamatan bagi anaknya, terlebih ia pun berterima kasih kepada Allah dan juga Ustadz Ilyas karena sekali lagi ia telah diajarkan tentang arti sebuah kata, yakni cinta. Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang didapatkannya pada malam hari ini.

Malam yang penuh dengan bintang-bintang cantik nan kemilau di angkasa sana. Senantiasa berdzikir, bersujud kepada Sang Pencipta yang bahkan kemilaunya mengalahkan terangnya matahari sekalipun. Sungguh alam ini benar-benar cantik dan indah, sayang manusia yang ada terkadang lupa untuk bersyukur kepada Allah! Menyedihkan…

≡|||≡

Sekian

0 Response to "Cinta Yang Terlupakan"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified