HOME

Saturday, August 11, 2012

Cinta, Tak Semudah Kata C .I .N. T. A Part 2

Dua puluh..

Pagi yang cerah…
Aku kembali menyeret kakiku menuju meja makan menemui Mama dan Ayah
yang telah lebih dulu menyantap sarapan pagi. Nampaknya dua kakakku sedang pergi,
mereka hanya tinggal kak Emma sedang menyuapi anaknya yang hendak berangkat
sekolah.
Aku membuka kulkas seperti biasa berharap menemukan sepotong cake.
“Chesse cakenya masih ada?”
“Sudah habis…” Jawab Mama. “Terus Imnan gimana?” Tanya Mama serius pada
Ayah.
“Ya Imnan kaget, pas yang sampai di tensi itu waktu Ami kesana, settres
dianya.” Jelas Ayah.
Lho? Emangnya ngomongin apa koq sampai bawa –bawa aku. “Napa kak?”
Tanyaku sambil menuang segelas air.
“Ibrahim minta dibatalkan tungangannya.”
Bhuerrrr!!!!! Seketika air yang aku teguk tersembur dan aku tersedak. “U’huk,
u’huk!!Uhuk!!!” dan terus terbatuk hingga aku kehilangan suara saja rasanya tak kuat
untuk bicara.
“Ami?!” Ayah, Mama dan kak Emma mereka sangat heran dengan tersedaknya
aku.
“Aku gak papa…” Elakku yang masih terbatuk –batuk. Perlahan aku tarik nafas
dan membuanganya beraturan, Syukur tak lama hanya tinggal rasa perih sedikit di
dada tapi aku tidak terbatuk –batuk lagi.
“Duh pasti ada yang tidak beres itu sama Ibrahim.”
“Ya akhirnya seperti itu.”
“Memangnya kenapa koq mau di tunda Yah?” Tanyaku penasaran.

“Imnan bilangnya katanya Ibrahim merasa tidak siap. Tapi gak tahu Ibrahimnya
sendiri.” Jelas Ayah yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalau kata Mama nih, pasti Ibrahim itu bukan karena tidak siap. Tapi dia itu
sedang sennang pada orang lain.”
Aku terhenyak, jantungku kembali berdebar dan aku benar –benar sangat
takut. Semalam aku bertemu dengan Aim yang ada dia memang bilang ingin
menghentikan semuanya. Tapi kenapa justru dalam semalam ia nekat begini?!
Sekarang nyawaku benar –benar terancam. Oh GOD kenapa harus sampai sejauh ini??!
“Coba Ayah tanyakan sama Ibrahim kenapa dia minta ditunda. Sapa tahu dia
mau mengaku, toh rencana pertunangan itu kan idenya Imnan sendiri dulu sama
Armand dan Vivi.”
“Jangan!” Sahutku kembali mengejutkan Ayah dan Mama.
“Apanya jangan Ami?”
Argh! Aku menggeleng cepat. Aku sungguh tidak aman sekarang, sebaiknya aku
pergi dari hadapan Ayah dan Mama sebelum tingkahku semakin membuat mereka
curiga.
GOD! Kenapa jadi begini?? Aku tak tenang terus mondar –mandir seperti
setrika pakaian yang terus aja kusut. Aim! Kau sudah gila! Benar –benar gila! Aku tidak
mau pertunangan itu batal ataupun kacau sedikit saja gara –gara aku. Mau aku taruh
mana mukaku ha?! Cinta sih cinta tapi gak gini juga lah! Sekarang aku bener –bener
gak tahu harus kemana lagi. Aim… bisahkah sejenak kau itu tidak membuat aku
terancam ha?!
Aim…
Aim…
Aim…
Gak gini juga aku sampai –sampai tidak bisa konsentrasi dengan semua tugas –
tugasku di klinik. Bagaimana kalau Ayah bertemu dengan Aim? Bagaimana kalau Ayah
benar –benar bertanya pada Aim? Bagaimana kalau Aim benar –benar mengakui?
Bagaimana kalau Aim bilang kalau ini semua karena aku? Lalu ayah marah? Dan aku
akan mati dipenggal olehnya karena aku telah memalukan keluargaku di depan semua
orang!
“Gak!” Teriakku seketika.
Memalukan! Tanpa alasan aku berteriak dihadapan semua orang, disangkanya
pasti aku orang gila. Aku hanya tersenyum menanggapi beberapa pasang mata yang
sedang antre duduk di hadapanku.
Tak enak juga kalau aku terus begini. Aku putuskan segera temui dia, dan…
“Jangan pikir kalau kamu bilang semuanya sama Ayahku atau Mamamu sediri
urusannya akan selesai!” Tegasku kasar padanya.
“Ami? Kenapa lagi kamu?”

“Cukup! Aku gak mau punya urusan sama kamu! Dan aku gak mau mendengar
pertunanganmu batal hanya karena kamu gak siap atau kamu tengah cinta sama orang
lain!”
“Kenapa?!”
“Jangan kira aku akan terpesona, senang, bahagia, karena kamu sudah
melakukan itu semua!”
“Tapi Ami?!”
“Hidup ini bukan seperti sinetron yang bisa semudah itu berakhir tanpa
masalah lagi dan tanpa omongan orang. Kau sadarkan kalau kita ini berbeda dari orang
–orang pada umumnya? Kita punya komunitas sendiri, cara hidup kita juga berbeda,
cara pikir orang –orang kita berbeda. Kau ingin keluarga kita jadi terkenal tiba –tiba
karena satu masalah memalukan ini?!”
“Ami itu tidak akan terjadi.”
“Sudah aku gak mau denger apapun lagi! I wish this is the last for us! This is the
end of all!” Tandasku kemudian kembali keluar dari mobilnya.
GOD, jangan sampai apa yang aku pkirkan terjadi begitu saja, aku tidak
sanggub!
***
Ku buka laptopku, connect to internet. Sejenak aku ingin menenangkan diri dari
ancaman Aim tadi pagi. Seperti biasa juga facebook jadi alasan pertama kenapa aku
suka bermain internet. Facebook ku sangat ramai dengan makhluk maya. Itu
membuatku cukup terhibur.
Wah ada satu permintaan teman teranyata. Siapa ya? Klik!
‘Farish Rawahi’
Sepertinya aku kenal dengan rupa ini, siapa yaa? Akh! Dasar Ami pikun! Itukan
Farish yang sudah jadi tempat sampahku, maksudnya tempat curhat. Ternyata dia baru
nemuin aku langsung di fb.
‘Approve’
“Ami…!” Teriak Mama dari luar memanggilku.
“Iya…” Sahutku juga membalas teriakannya.
Segera aku disconnect, dan temui Mama di luar.
“Ada apa Ma?” Aku temui Mama yang sedang mengelap meja dapur.
“Kamu disuruh Ayah antarkan pastel ke sana…”
“Kesana mana Ma?”
“Kerumah Mamamu itu..”
Omg! Perasaan tadi pagi aku sudah bertengkar, sepertinya sebentar lagi aku
akan bertengkar. “Kenapa harus aku Ma?”
“Ya siapa lagi, kakakmu gak ada yang mau.”
“Kalau gitu aku juga gak mau ah Ma…”
“Ami? Koq gitu sih?!” Alis Mama bersatu.

Aku menunduk. “Maaf. Tapi aku malas Ma…”
“Cuma sebentar saja nanti langsung balik lah dak usah lama –lama…”
Aku hanya bisa diam dan menurut perintah Mama.
Ma… seandainya Mama tahu yang sebenarnya…
“Pastelnya mana Ma?” Aku tolehi semua keadaan.
Mama beralih pada sebuah dus kue yang ada di atas kulkas. “Udah ini bawa
saja, hati hati…”
Sesuai perintah aku langsung antarkan kue pastel ke rumah Mami tiriku
tersayang. Ah malas aku! Semoga aja nanti aku gak bertemu Aim lagi, kalau tidak pasti
lain urusan jadinya.
Wez, wiz, wuz…! Delivery sampai…
Tok tok tok!!
Dan pintu berwarna putih besar itu terbuka. Sudah ku duga! Sesuai yang aku
takutkan. Aim yang ada dihadapan mukaku sekarang.
“Mama lagi keluar.” Kabar lelaki yang ada di hadapanku itu.
Aku memberikan kotak pastel padanya. “Ini dari Mamaku. Udah makasih!” Aku
cepat berbalik.
“Ami tunggu napa ah!” Aim menarik tanganku.
“Apa lagi? Aku cuma disuruh antar itu gak ada yang lain.”
“Kamu gak mau ketemu sama aku?”
“Gak! Kita itu gak perlu ketemu selain acara keluarga. Udah ah!” Aku buang
tangannya.
“Ami kamu koq gitu sama aku?”
“Seharusnya aku udah begini sama kau dari dulu bukan baru sekarang! Kau itu
cuma abang aku dan gak akan pernah lebih dari itu. Udah ah! Ini yang terakhir kalinya
aku lihat kau begini sama aku!”
“Tapi Ami?!”
“Apa lagi?! Udah, udah, dan Udah! Kebanyakan bilang udah aku!” Aku segera
pergi dari hadapannya. Aku gak mau dia tahan –tahan aku lagi.
Aku langsung kembali kerumah, mengurung diri dalam kamar. Aku berusaha
tenangkan diri dan berfikir secara sehat. Tanpa godaan tanpa gangguan emosi, aku
ingin berfikir jernih sesuai perasaanku sendiri.
Kali ini aku semakin enggan bertemu dengan dia. Memangnya kenapa? Apa aku
hanya kesal saja sama dia ya, karena hari pertunangannya semakin dekat dan aku
merasa terancam dengan jiwanya yang stress memikirkan pembatalan tunangan itu?
Aku tak bisa bayangkan kalau pertunangan itu benar –benar dibatalkan. Mami
dan Ayah yang malu, bukan Ayah dia yang malu. Yang orang tahu Ibrahim Imran itu
anak didikan Ayahku, Bilal Rorai. Walau hati kecilku sedikit menginginkan pertunangan
itu batal, tapi juga aku tidak mau membuat malu orang tuaku. Sudahlah aku tak tahu
harus gimana sekarang.

Aku kembali pulang dan melanjutkan facebookku lagi. Wah! Ada satu pesan,
dari Farish ternyata.
‘Makasih udah di confirm, salam kenal ya…:D’ Pesannya.
Bikin aku pengen ngakak aja anak ini, ah dia itu seperti yang baru kenal saja
denganku.
‘Siapa ya? gak kenal tuh…’ Aku membalas pesannya.
Baru beberapa detik setelah mengKlik tombol kirim, eh dia udah nongol via
chat sama aku.
‘Hey..’ Sapanya duluan.
‘Hey juga, salam kenal?’
‘Hehe, iya :D’
‘Apa kabar nih?’
‘Baik, kamu?’
‘Alhamdulillah aku baik sekali.’
‘Syukur deh…’
‘Seharian ini gak nongol di depan muka aku, tumben?’
‘Aku lagi gak ada di kota.’
Alisku mengernyit. ‘Maksudnya?’
‘Aku lagi keluar kota Ami…:P’
‘Owh.. napa gak pamit?’
‘Tadinya mau pamit tapi kamu sibuk sama oranglain.’
‘Siapa?’
‘Cowok yang punya mobil civic hitam tadi pagi.’
Ah, Aim maksudnya. Tadi pagi aku memang sangat dikacaukan sama anak itu
dan aku tidak sempat memikirkan hal lain. ‘Maaf ya..’
‘Gak papa..’
‘’
‘Sampai kapan perginya?’
‘Insya’ALLAH lima hari.’
‘Lama yaa…’
‘Gak sih, itu sebentar, aku pernah pergi lebih lama dari itu. Sebulan, dua bulan
pernah.’
‘:o.. Lama Amat?’
‘Napa kamu kangen yaa?’
‘Hmm… enggak lah..’
‘Kangen juga gak papa koq.. .’
‘’
‘Eh, udah dulu yaa, ada kerjaan ni.’
‘Ok, bye take cere…’
‘Makasih u.. ’

Offline…
Dan aku sendiri sepi malam ini…
***


Dua puluh satu…

“Seratus, delapan puluh..” Aku melepas stetoskop. Dan membuka ikatan tensi
meter. “Banyak –banyak istirahat aja ibu ya, jangan lupa vitaminnya diminum gak
boleh telat.”
“Bayinya Bu?”
“Alhamdulillah bayinya sehat. Tapi masih terus asupan gizi yaa..”
“Iya, Terimakasih ya bu…”
“Sama –sama Ibu…”
Seorang perempuan yang sedang hamil tujuh bulan itu bersalaman denganku
dan keluar.
“Misi Bu Ami…?” Sapa seorang satpam yang hanya muncul sebagian tubuhnya
dari balik pintu.
“Iya ada apa Pak?”
Masuklah kemudian satpam itu. “Saya mau kasih ini Bu..”
Alisku seketika mengernit. Sebuah paket kotak berukuran tanggung berwarna
coklat dikirim lewat pos dan ditujukan padaku. “Dari siapa Pak?”
“Kurang tahu Bu.”
“Hmm well, makasih pak…”
“Mari Bu…” Satpam itu keluar.
‘Kepada Amita Rorai’ benar itu untuk aku. Tapi dari siapa aku bolak –balik tidak
ada pengirimnya.
Sudahlah aku sisihkan paket itu dulu, masih banyak pasien yang antri untuk
diperiksa.
Hmmm… hari yang melelahkan akhirnya aku bisa pulang juga. Aku letakkan
paket itu di kursi sebelahku dan aku melanjutkan menyetir pulang. Sesekali aku lihat
paket itu, siapa yang mengirimnya ya? Selama ini aku tidak pernah mendapat paket
yang misterius dan sebesar ini.
Sambil lalu aku ingin membukanya sendiri sambil menikmati panasnya siang
yang terik dengan sebuah es kelapa muda di tepian pantai yang biasanya aku lalui
bersama Farish. Sayang sekali dia tidak ada disini sekarang, seandainya dia bisa temani
aku membuka paket ini, mungkin akan lebih seru.
Sudahlah aku tak bettah lama –lama memandang kotak yang sangat membikin
aku penasaran ini.
Perlahan dan sangat hati –hati aku melepas isolasi yang merekatkan sampul
bungkusan. Di balik kotak coklat terbungkus kertas Koran, di balik kertas Koran
terbungkus kertas coklat, dibalik kertas coklat terbungkus kertas biru yang mengkilap.

Dan dibalik kertas biru itu ada kotak putih dan itu yang terakhir. Aku tersenyum,
Masya’ALLAH aku lupa hari ini aku ulang tahun!
Hahahaha!!!!!
Tulisan Happy birth day pada amplop yang tertempel di atas kotak berwarna
putih itu mengingatkan aku hari ini. Lekas aku lihat isinya.
“Dear Ami…
Selamat ulang tahun, maaf aku hanya bisa memberimu ini. Aku harap kau suka
dengan apa yang aku berikan. Semoga apa yang kau impikan terkabul semua sesuai
harapanmu yang terbaik…
Farish Rawahi ”
Aku senang, sangat senang, ini pertama kalinya dihari ulang tahunku mendapat
kejutan yang sangat mengejutkan aku. Sangat tidak aku duga itu bukan dari siapa –
siapa, malah Farish yang aku kenal baru sebulanan ini.
Dalam kotak itu ada jacket kaos yang tebal dan lembut berwarna biru dongker
yang bagus sekali, dan dua ikat rambut berbulu berwarna coklat dan biru dongker juga.
Sepertinya ia kenal sekali diriku suka menggunakan jaket saat keluar malam dan selalu
mengikat rambutku setiap hari.
Farish, rasanya sekarang juga aku ingin sekali bertemu denganmu, sayangnya
kamu masih tiga hari lagi untuk pulang. Sepertinya aku mulai merindukanmu…
“Nummber you are calling is not active, please try again in a view minute.”
Rupanya dia sibuk sekarang, aku sms saja, semoga dia bisa membaca smsku
nanti.
“Farish! Terimakasih atas hadiahnya, aku sangat senang dan amat sangat
senang sekali. Ah, rasanya aku benar –benar tidak bisa mengungkapkan rasa
bagahiaku sekarang. Terimakasih Farish…”
Hmmm…
“Ami?” Sapa Mama saat aku masuk rumah.
Aku mendekat dan menyalami Mama. “Iya Ma…”
“Kamu dapat apa sampai sesenang itu sepertinya?”
“Aku?” Senyumku semakin melebar. “Aku entahlah Ma aku sangat senang hari
ini.”
“Dapat hadiah ulang tahun dari siapa hayo??”
Aku tertawa kecil. “Ah Mama koq tahu aku dapat hadiah?”
“Kalau bukan hadiah apa coba kotak yang kamu bawa itu?” Mama meliriki
kotak yang aku jinjing sebelah tangan.
Aku tertawa. “Haha! Maa…” Aku memeluk Mama sungguh bahagia.
“Hey hey hey… kenapa anak Mama yang satu ini ya?” Mama melepas
pelukanku yang nyaris mengajaknya berdansa. “Sini sini sini. Ayo kamu harus cerita
dapat hadiah dari siapa?”

Aku duduk bersma Mama di sofa. “Dari temanku yang sedang ada di luar kota
Ma…”
“Siapa?”
“Ah tidak Ma, aku tidak akan bilang siapa sama Mama…”
“Bukan pacarmu kan?”
“Ah Mama, bukan lah…”
“Terus apa yang bikin kamu senang sampai segitunya?”
“Aku gak pernah menyangka, berteman saja aku belum genap sebulan Ma
sama dia. Tapi dia sudah tahu segalanya tentang aku, hari ulang tahunku, warna
kesenanganku, ah semuanya Ma…”
“Dia punya perhatian lebih, tentu dia menginginkan kamu Ami…”
“Gak lah Ma…”
“Dengar, kamu mungkin tidak cintai orang itu, tapi kamu sudah mendapat kasih
sayang tulus dari orang itu.”
Mungkin? Entahlah…
Saat aku mulai terlelap dalam tidur…
‘Panah Asmara by Afgan’
Mataku terjaga! Siapa yang telpon aku jam segini malam? Aku lihat jam di
dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Sementara hapeku terus
berdendang, aku raih di nacase.
‘Farish?’ Akupun tersenyum heran.
“Hallo?” Jawabku.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam…”
“Belum tidur Ami?”
Aku tersenyum, bohong dulu ah! “Belum…”
“Ngapain sampai jam segini belum tidur?”
“Kan aku ditelponin sama kamu sekarang. Yaa belum tidur…”
Terdengar disana Farish tengah tertawa kecil. “Kamu bangun gara –gara aku
telpon ya?”
“Hem… mungkin?”
“Maaf ya sudah ganggu kamu.”
“Gak papa. Aku senneng koq.”
“Ha? Senneng aku telponin walau malam –malam?”
Aduh! Kebawa perasaan deh. “Gak, maksudnya…”
“Udah, gak papa koq.”
Sunyi…
“Farish…”
“Iya?”
“Terimakasih atas hadiahnya yaa?”

“Sama –sama. Apa kamu suka? Maaf aku cuma bisa kasih itu sama kamu. Aku
gak tahu harus kasih apa. Maaf ya??”
“Sudah ada yang ingat akan ulang tahun aku aja sudah senneng banget Rish.
Apalagi sampai kejutan lewat pos.”
“Ukurannya pas?”
Aku membalikkan posisi tidurku. “Pas banget. Aku bener –bener senneng
banget Rish hari ini, aku senneng dan gak bisa diungkapin dengan kata –kata.
Terimakasih yaa, aku gak tahu mau bales apa sama kamu.”
“Jangan mikir gitu terus dong Ami. Selama aku bisa buat kamu seneng aja aku
juga dah senneng.”
“Hirh… so sweet deh…”
Panjang –panjangin ngobrol gak penting di telpon sama Farish, gak kerasa juga
hampir menghabiskan waktu yang namanya tengah malam. Saking lamanya, aku muter
tempat tidur sampai tiga kali. Hihihi, keasyikan deh…
***


Dua puluh dua..

“Nanti Malam ada pertemuan keluarga Armand dan Vivi.” Kabar Ayah.
Masalah itu lagi. Aku tetap diam dengan hidangan sarapanku.
“Anak –anak ikut juga sekalian.” Lanjut Ayah.
“Maaf Ayah, Ami gak bisa ikut. Nanti malam ada undangan teman Ami mau
nikah.”
“Mama juga dak mau ikutan.”
“Kenapa?”
“Ayah masih tanya kenapa?!” Mama menaikkan nadanya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sama Mama tapi kali ini pembahasan tentang
pertungan Aim sepertinya mulai membosankan dan tak mengundang selera.
“Ya sudah tak usah mengangkat nada seperti itu.”
Mama diam. Sementara aku memilih untuk kembali ke kamar dan bersiap
berangkat ke klinik.
Suasana klinik yang sangat menghiburku. Terharu, lucu, dan terkadang
jantungku turut berdebar saat berperang menyelamatkan satu nyawa yang akan lahir
kedunia. Melihat perut –perut yang membundar seperti semangka, sungguh aku
merasa lucu dan sedikit aneh. Terkadang aku berfikir, bagaimana jika aku seperti itu
ya? Perutku membundar dan katanya itu sangat berat sekali. Hmm… menikah dan
punya anak nantinya, itu adalah impian semua manusia yang ada di muka bumi ini.
Termasuk juga aku, memiliki keturunan yang baik dari sepasang orang tua yang baik.
“Terimakasih Bu bidan…”
“Sama –sama Ibu, jangan lupa diminum obatnya..”
“Iya…”

“Semoga lahirnya gampang ya Ibu…”
“Aminn..”
Akh.. akhirnya pasien terakhir selesai. Aku tarik sedikit lengan bajuku
menengoki jam tangan sudah pukul empat tepat. Saatnya pulang, untung saja aku
masih magang, kalau aku sudah jadi bidan sungguhan mungkin jam segini aku masih
harus berkeliling di rumah sakit.
Kembali aku pulang kerumah.
“Assalamualaikum…” Salamku sembari menutup kembali pintu rumah.
“Waalaikum salam…” Sahut Mama.
Tak ada suara lain yang menjawab salamku, rupanya semua orang sudah pergi
untuk makan malam pertemuan dua keluarga yang akan berbesan sebentar lagi.
Aku temui Mama yang sedang bersantai di depan tivi sendiri.
Aku menyalaminya. “Yang lain sudah berangkat Ma?”
“Iya, baru aja…”
“Pantes seppi.” Aku melepas tasku dan duduk dekat Mama.
“Nanti malam kamu mau ke udangan temanmu jadi?”
Aku tersenyum sambil menggeleng. “Aku cuma alasan aja Ma sama Ayah.”
“Alasan? Ngapain?”
“Aku males mau ke sana. Apalagi ketemu dengan orang –orang disana.
Membosankan.”
“Apalagi Mama…”
Aku tersenyum berat. Ku peluk Mama yang duduk di sampingku ini. Ma,
maafkan Ami. Seandainya saja Mama tahu yang sebenarnya mungkin Mama tidak akan
memaafkan Ami.
“Kamu kenapa Ami?” Mama heran dengan sikapku.
“Tidak apa –apa, Ami hanya kangen sekali ingin memeluk Mama…”
Mama tersenyum, iapun berbalik memelukku.
Aku benar –benar butuh perlindungan dari Mama. Ma, semakin detik –detik
jam itu berlalu, semakin hatiku sakit membayangkan acara makan malam itu sungguh
sempurna dengan dua pasangan calon suami –isteri yang sangat berbahagia dengan
senyum mereka.
Aku duduk di kamar menatap kosong ke luar jendela. Hanya langit hitam, dan
bintang bertaburan sangat indah yang jadi saksi perihnya hatiku malam ini. Ya Tuhan
apa yang bisa aku lakukan? Sungguh aku tak kuat menahan rasa cinta yang terlalu
besar aku berikan padanya.
Setetes demi tetes air bening mulai jatuh dan membasahi mukaku. Sungguh
aku ingin berteriak pada dunia pertunangan itu tak boleh terjadi. Aim hanya untukku
saja!
“Ami?” Panggil Mama yang menemukan aku dari balik pintu kamar yang
terbuka.

Lekas aku menyeka air mataku, aku tak ingin Mama tahu aku menangis. “Iya
Ma?” Aku berbalik.
“Kamu kenapa Nak?” Mama menghampiri aku dan duduk dekatku.
Aku menggeleng berat. “Tidak Ma..”
“Jangan bohong kamu. Mama tahu kamu sedang punya masalah. Rupamu
berbeda tak seceria saat kamu mendapat hadiah dari kawanmu kemarin.”
Aku memaksakan senyumku. Iya hanya Farish yang membuatku tersenyum,
tapi aku tak sedikitpun cintai dia.
“Ada apa nak? Cerita saja sama Mama.” Desak Mama yang semakin merasa
curiga dengan keadaanku.
Aku menatap penuh pilu wajah Mama. Tetes air mata kembali terjatuh dan
semakin menderas.
“Ami? Kamu kenapa Nak?” Cemas Mama.
Aku seketika memeluk Mama dengan sangat erat dan menangis dalam
peluknya.
“Ami bilang Mama nak kamu kenapa?!” Desakan Mama membuat aku semakin
menangis.
Haruskah aku melakukan pengakuan atas semua perasaanku yang aku
sembunyikan selama bertahun –tahun ini? Ya Tuhan, aku tak ingin membuat Mama
kecewa dengan semua kelakuanku.
Mama mengusapku yang masih bersimpuh dihadapannya. Wajah Mama sudah
berat dengan rasa takutnya atas pengakuanku nanti. Aku sungguh tak tega melihat
wajahnya.
“Ami minta maaf yang banyak sama Mama…” Aku semakin berderaikan air
mata.
“Kamu itu anak Mama, tanpa kamu minta, pasti Mama akan selalu memaafkan
kamu nak. Ayo cerita apa yang sampai membuat kamu jadi seperti ini? Tolong jangan
bikin Mama gelisah Ami…”
Tatapan mata Mama membuat aku berat untuk tidak lekas menceritakan
semua yang terjadi. Tapi aku juga tak ingin membuat Mama shock dengan
pengakuanku yang esktrim ini. Seumur hidupku, inilah masalah terumit yang aku alami.
Tarik nafas, hembuskan. Tuhan, berilah kekuatan pada Mama untuk
mendengar semua ceritaku yang aku yakini ini pasti menyakitkan di hati Mama.
“Ma..” Panggilku dengan isak tangis.
“Katakan nak…”
“Ami sedang jatuh cinta Ma…”
Mama diam, tak lekas menjawab pernyataanku. “Sama siapa Ami? Siapa lelaki
itu Ami?! Apa yang sudah dia lakukan sampai kamu seperti ini Ami?!”
“Aku sudah jatuh cinta Ma. Dan dia…” Aku benar –benar tak sanggub
mengatakannya pada Mama. “Maafkan Ami Ma…” Tangisku meledak. Aku peluk Mama

dengan erat kembali. Ya Tuhan beri aku kekuatan mengatakannya pada Mama. Dan
buat Mama mampu menahaan kekecewaan yang sudah aku perbuat ini.
“Siapa Ami? Bilang sama Mama?! Siapa lelaki itu Ami?!”
Aku masih saja tak kuat menjawab pertanyaan Mama.
“Jangan pernah katakan kalau lelaki itu adalah Ibrahim, Ami…” Terka Mama
yang kecurigaannya memuncak.
Perlahan aku hanya bisa mengangguk memastikan terkaan Mama itu adalah
benar.
Seperti yang ku duga, Mama benar sangat terkejut mengetahui yang
sebenarnya terjadi. Tapi tak setetespun air jatuh dari kedua mata Mama. Mama hanya
menyesalkan semua yang terjadi. Ia tak bisa berkata apapun untukku. Maafkan aku
Mama, derai air mata Mama adalah duka mendalam buatku. Apa yang harus aku
lakukan sekarang? Ya Tuhan, segeralah engkau beri aku dan Mama ketenangan.
“Dia hanyalah anak dari istri Ayahmu dengan suaminya dulu.” Mama tak
sedikitpun menolehi aku yang bersimpuh dengan derai tangis dihadapannya.
Aku tak bisa membendung isak tangisku sedikitpun. Setelah delapan tahun
memendam perasaan, setelah cukup jauh menjalani hubungan yang indah, kali ini
semua harus kandas akibat pertunangan yang tinggal beberapa hari lagi.
“Kenapa ini bisa terjadi Ami?”
“Ma, Maafkan Ami. Ami tahu benar Ami salah…”
“Akhirnya yang Mama takutkan benar terjadi sekarang. Kamu sudah jatuh cinta
pada orang yang sangat salah.”
aku tak bisa berkata apapun lagi.
“Jangan pernah kamu memikirkan anak itu lagi! Dia tak pantas buatmu.”
Kalimat terakhir Mama ditekan kuat. “Mama tak mau hilangkan kebaikannya. Anak itu
memang baik, dia sopan, sangat menghargai pada kamu dan Mama sendiri juga. Tapi
tidak, tidak Mama tidak akan pernah mau. Apalagi sekarang? Dia sudah berkumpul
dengan orang sesamanya.”
“Maafkan Ami Ma…”
“Mama bersyukur masih menemukan kabar ini saat dia akan bersanding
dengan orang lain.”
“Ma…”
“Kamu lihat siapa garis keturunannya? Siapa Ibunya? Siapa Ayahnya juga?”
“Iya Ma, Aku sangat mengerti..”
“Ibunya adalah seorang wanita yang sangat dibenci oleh keluargamu. Aunty –
Auntymu, pamanmu, bahkan Mamamu sendiri saat ini. Kamu memang boleh
bersanding dengan dia, bahkan saat ini juga jika Mama mau, Mama bisa menyuruh
pertuangan itu untuk dibatalkan. Tapi tidak, lelaki itu tidak pantas buat kamu. Pikirkan
selanjutnya? Selama ini Mama memang diam dengan keadaan orang itu dengan Mama
sendiri, tapi tidak Mama mengharapkan orang itu akan datang dan pergi sesukanya

kerumah ini. Tidak nak… sampai kapanpun, Mama tidak akan pernah menerima
kehadiran wanita itu apalagi sebagai besan Mama.”
“Ma aku tak pernah berfikir sampai sejauh itu.”
“Dan kamu sekarang harus memikirkan itu. Cinta mau dibawa kemana lagi
selain ke pernikahan yang sah?”
“Aku tahu Ma, tapi aku sangat menyesalkan karena aku tahu dia tengah
berbohong padaku. Aku sangat sakit mengetahui semua ini terjadi Ma.”
“Kamu tidak usah menyesal seperti itu. Percuma, penyesalan seperti itu hanya
akan menyakiti hati. Sudah, perasaan cinta itu adalah berkah, karunia Tuhan yang
diberikan pada hamba –hambanya. Semua orang berhak cintai siapapun.”
Aku memeluk Mama dengan erat. Menceritakan sebagian isi hatiku sangatlah
membuat perasaan dan fikiranku jauh lebih tenang. Walau kisah tersembunyi hanya
akan menjadi penyakit yang tidak akan pernah ada obatnya.
“Lupakan dia, berusahalah terus Nak…” Tandas Mama tanpa menolehi aku
dibelakangnya.
Kemudian Mama terus keluar dan menutup pintu kamarku. Ma maafkan Ami
yang telah mengecewakan Mama…
***


Dua puluh tiga..

Klung! Klung!
Aku menolehi laptopku yang sedang modus online. Rupanya ada satu chat
messege. Aku selesaikan dulu menyusun lembaran –lembaran kertas berserakan diatas
kasur yang harus aku serahkan pada dosen besok. Setelah selesai, baru aku kembali
pada layar internet dunia mayaku.
Offline ‘Farish : Assalamualaikum’
Aku tersenyum, ternyata anak itu lagi. Sudah dua hari ini dia tak telpon maupun
sms aku. Sepertinya dia sedang sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya yang sampai
saat ini aku juga gak tahu dia kerja apa sebenarnya. Dia hanya mendengarkan aku
tanpa mengizinkan aku mendengarkan tentang dirinya. Itu yang membuat aku susah
juga untuk cari tahu dia itu anak siapa sih sebenarnya.
Sayangnya dia sudah keburu offline, mungkin terlalu lama juga menunggu aku
menyelesaikan tugas –tugasku dulu.
‘Waalaikum salam’
Aku membalasnya.
Susudah itu aku melanjutkan lagi tugas –tugas yang tadi.
Hooowwwaaayyy!!! Mataku sudah gak kuat lagi mau terus melebar menatap
cahaya warna dari layar kompi. Aku toleh kebelakang melihat jam di dinding ternyata
masih jam setengah sepuluh malam.
Klung! Klung!

Chat messege lagi.
‘Masih online ni?’
Kembali aku tersenyum dan segera membalasnya.
<-‘Iya, kamu juga?’
->’Iya’
->’Sepi ni’
<-‘ sibuk amat ya sekarang?’
->’Hehe iya’
->’Kamu sendiri juga kan?’
<-‘’
->’Bsok aku pulang.’
<-‘Oo..’
->’Koq O sih?’
<-‘Hmm.. U deh.. :D’
->’:D,’
->’besok ada acara?’
<-‘Kenapa?’
->’Gak papa, Tanya aja.’
<-‘mau ajak aku keluar ya?’
->‘kalau kamu mau n bisa tentunya’
Senyumanku semakin lebar. Aku sangat senang jika Farish mengajakku keluar
rumah. Entahlah aku tidak tahu kenapa, yang aku tahu hanya merasa senang, tenang
dan tidak kesepian berada di dekatnya.
<-‘okelah mumpung aku lagi malas juga dirumah. Kesepian’
->‘terus?’
<-‘nabrak!’
->‘maksudnya kita ketemunya gimana?’
<-‘aku tunggu kamu di…’
->‘dimana?’
<-‘tahu rumahku?’
->‘nggak.dimana?’
<-‘aku tunggu di ujung perempat jalan dekat kantor polisi ya?’
->‘tapi aku gak mau di penjara ya..’
<-‘ha! Lucu. Ya gak lah. Jam tujuh tepat tunggu aku ya gak pake tellat… awas!’
->‘okay!’
<-‘Well, tidur dulu yaa, dah malem ngantuk. see u tomorrow’
->’Ok, have nice dream…’
<-‘Thanks, u too Farish’
‘Amita Rorai going offline’

Selesai dulu urusan dengan dunia maya. Aku benahkan diriku untuk bersiap
tidur. Gosok gigi, cuci muka, cuci kaki, krim malam pencerah kulit, sisiran rambut,
hmm… apa lagi ya? Aku kira itu udah semua, langsung aja aku merebahkan diri di atas
tempat tidur spiral yang kalau gerak dikit eh goyang semuanya.
Mata sudah terpejam dan aku lelap dalam tidur dan mimpi indah. Mimpi indah
mimpi tentang dia, Aim, mimpi aku sedang bersamanya sungguh bahagia. Berkeliling
berjalan di taman yang sangat indah dengan aroma bunga harum, dan berkuntum –
kuntum bunga mawar yang ia berikan padaku dengan penuh senyuman.
Dhor! Dhor! Dhor!
Aku terbangun sangat terkejut. Aku lihat jendela kamarku dibaliknya ada
bayangan hitam yang terus membuat kegaduhan mengetuk dengan keras. Apa itu
Maling?! Tapi mana ada maling yang bikin berisik, yang ada cari mati dia.
Walau aku sungguh sangat takut tapi aku coba berusaha memberanikan diri
untuk membuka gorden dan melihat siapa yang ada dibaliknya.
“Astaughfirullahal adim! Aim?!” Kagetku saat melihat dibalik jendela adalah
Aim.
Dari mana anak itu bisa memanjat hingga kamarku?! Lekas aku membukakan
jendela.
“Kamu ngapain?!”
“Ami..” Aim malah masuk kamarku dan dia memelukku dengan sangat erat
sekali.
“Apa yang terjadi bang?”
“Ami tolong aku. Aku tak ingin pertunangan itu terjadi. Aku tidak mau, Inez itu
tidak mencintai aku, dia tidak aku cintai! Hanya kamu Ami, aku hanya mau tunangan
dan menikah sama kamu Ami!”
“Sebenarnya apa yang terjadi bang? Kenapa tiba –tiba abang datang kesini?”
Aku semakin bingung saja dibuatnya.
“Ami tolong bilang pada Mamamu kalau ini semua tidak boleh terjadi. Aku ini
hanya untukkmu Ami…” Ia melepas pelukannya dan memegang erat dua tanganku.
“Aku mohon Ami. Buatlah kisah kita indah hingga akhir Ami…”
“Tapi?”
“Aku mohon Ami…”
“Percuma kamu memohon begitu pada Ami. Dia itu tidak akan pernah kembali
padamu lagi…” Ujar seorang lelaki dengan santai.
Aku berbalik melihat tempat tidurku. Siapa dia?! Dia seorang lelaki
memungkurkan badan tidur di kasur yang sama dengan aku?
“Siapa kau?!” Bentak Aim padanya. “Siapa dia Ami?!”
Aku menggeleng penuh takut dan heran. “Aku, aku, aku aku tidak tahu siapa
dia.”

Aim menggandeng tanganku. “Ikutlah denganku, kita akan pergi jauh berdua
sayang…”
Aku yang sangat takut dengan lelaki tak jelas itu gelap mata aku menekatkan
diri untuk ikut bersama Ibrahim. Entah aku tidak perduli Aim akan membawa aku
kemana yang penting aku merasa aman bersamanya.
Akupun ikuti Aim yang melewati jendela.
“Tunggu!” Lelaki itu kembali menghentikan kami.
Aku dan Aim hanya menoleh tanpa bicara. Sangat tak aku sangka lelaki yang
ada dihadapan kami adalah Farish?!
Dia tersenyum simpul dan perlahan mengangkat tangan kirinya dengan sebuah
pistol mengarah tepat pada Aim disebelahku.
Dor!
Astaughfirullahal adim!
Mataku terbuka, aku rasa kaku dan sakit di sekujur tubuhku seperti semut
menyerubungi dari ujung kaki hingga kepalaku. Bulir –bulir keringat sudah seperti air
yang menghujani seluruh tubuh, hingga aku rasa sangat basah pada bagian bantal
kepala hingga punggung yang aku tiduri.
Astaughfirullahal adim! Kenapa mimpiku sangat buruk seperti itu? Ya Tuhan,
apa yang terjadi pada dua orang lelaki yang sangat dekat pengaruhnya dengan ku?
Lindungi keduanya Tuhan, aku tidak ingin menyakiti salah seorangpun dari mereka.
Semoga itu hanya sekedar bunga tidur yang akan berlalu di hembus angin…
***
Hari ini hari sabtu! Saatnya libur!
Week end yang harus menyenangkan. Yaa memang gak harus weekend aja sih
hari yang menyenangkan. Kemarin? Besok? Bahkan besok lusa? Yaa tentu harus lebih
menyenangkan dari hari ini. Hemm…
Aku punya planning hari ini. Berhubung aku suka masak dan membuat kue, jadi
aku putuskan untuk berbelanja dulu ke toko.
“Hari ini yang masak Ami!” Seruku pada seisi rumah saat sedang santai habis
sarapan. Yang tidak santai sih cuma kak Emma karena anaknya masih harus masuk
sekolah. Dan Ayah juga, hari ini jusrtu jadi hari yang sangat menyibukkan. Sibuk akan
undangan kawan –kawan untuk jamuan sarapan, makan siang, dan makan malam.
Week end!
“Mau masak apa kamu?” Tanya Kak Hani yang tadi pagi –pagi sekali baru
sampai dari luar kota.
“Hmmm…”
Mama mendekat. “Hari ini keluarganya ngumpul semua lengkap. Emma, Sita,
Hani…”
“Ya sudah aku hari ini gak jadi masaknya.”
“Kenapa?”

“Masaknya bikin orang satu rumah aku takut gak sesuai selera entar.”
“Ya masak aja deh sendiri –sendiri. Kamu ya buat kamu, kakak ya buat suami
kakak, Hani buat suaminya sendiri juga, Mama buat Ayah, kak Emma buat anaknya
deh…”
“Yang ada dapur jadi dapur umum kak…” Goda kak Hani yang tak setuju dengan
ide kak Sita. Maklum dia gak terlalu suka masak, jadi yang sekiranya langsung makan
aja gak usah repot –repot. Apalagi sekarang dia sudah jadi seperti tamu dirumahnya
sendiri.
“Haduh repot amat cuma mau masak. Sudah Mama aja yang mau masak, kalau
mau bantuin silahkan, kalau enggak ya sudah menjauh saja biar gak disuruh bantuin.”
Sela Mama.
Kami semua tertawa melihat ekspresi Mama yang suka pusing kalau semua
anaknya masuk dapur dengan imaginasi resep masakan masing –masing. Soalnya yang
ada dapur ancur berantakan abis, lain lagi kalau udah tengkaran urusan cuci piring dan
perabot. Huh capek deh…
Karena Mama yang memutuskan untuk masak, sementara aku putuskan sendiri
untuk bikin cake. Kali ini judulnya cheese cake coklat. Hmm… nemmu ressep dimana ya
aku? Hehe Imaginasi…
Abis belanja, langsung pakai celemek turun dapur. Semua bekerja hari ini.
Sudah hampir sejam lebih kiranya aku Mama dan kakak –kakakku berendam dalam
dapur. Untung aja rumah besar dapurnya juga besar, yaa setidaknya gak berjejal lah..
Saatnya makan siang semua sudah sedia di tempat makan. Termasuk Ayah yang
ternyata membatalkan janji demi berkumpul bersama anak –anak, menantu dan cucu
–cucunya hari ini.
Sayangnya…
“Ibrahim kapan Yah tunangannya?” Tanya Kak Hani yang lupa kalau
pertunangan itu tinggal dua hari lagi. Harinya hari senin yang sangat aku ingat.
“Senin lusa..” Jawab Ayah.
Akh kenapa harus ada pertanyaan itu? Aku jadi hilang selera untung saja
makananku sudah habis.
“Ibrahim tidak minta ditunda lagi?” Lanjut lontaran pertanyaan dari Mama.
Entah apa maksudnya Mama bertanya begitu pada Ayah.
“Ya sepertinya tetap. Tapi Ayah tanya dia hanya bilang tidak siap.”
“Dari mana sih awalnya koq tiba –tiba Imnan minang anak Armand? Siapa
namanya itu?”
“Inez.” Sahutku kilat.
“Iya…” Mama membenarkan.
“Itu kata Imnan pernah cerita dulu…”
‘Intro Panah Asmara’
Semua beralih sejenak pada bunyi hapeku.

Aku lihat itu dari Farish. “Aku angkat telpon dulu…” Permisiku pasti dengan
senyuman. Menyingkir jauh agar tidak ada yang dengar pembicaraan yang seru dengan
dia. Hehe, aku kenapa jadi begini ya??
“Hallo?”
“Assalamualaikum Ami…?”
“Waalaikum salam Farish…?”
“Hemmm, sedang apa?”
“Aku lagi ngumpul sama seluruh keluargaku.”
“Wah maaf aku pasti mengganggu.”
“Tidak, tidak, tidak…”
“Hemm, tadinya aku cuma mau bilang kalau aku sudah sampai di kota.”
“Syukur deh kalau gitu.”
“Oh ya nanti malam tetap jadi kan?”
“Pasti bos!”
“Oke deh. Makasih ya Ami.”
“Sama –sama Farish…”
“Assalamualaikum…?”
“Waalaikum salam….”
Tit…..!
Terus aku membatalkan niatku untuk kembali ke meja makan. Mendingan aku
siapin cake yang mau aku kasih sama Farish nanti. Kira –kira dia mau gak ya sama cake
buatanku?
Gagang pintuku berputar dan terbuka.
“Ami!” Bentak Kak Emma yang muncul dari baliknya.
Aku langsung menoleh dan tersenyum padanya. “Apa kak?”
“Apa, Apa kamu ini! Dari tadi dipanggilin nyahut ah! Dikirain tidur, eh dak
taunya malah senyum senyum sendiri!” Ocehnya memarahi aku.
“Ye maap, aku gak dengar kakak…”
“Gak denger orang dari tadi yang tereak! Udah di panggil Ayah tuh!” kabarnya
marah -marah.
Aku langsung kantongi kembali handphoneku dan pergi menemui Ayah yang
sedang duduk dengan semangkuk serbat pencuci mulut setelah makan seperti biasa di
meja makan.
“Ayah panggil aku?” Aku berdiri dihapan Ayah yang meneguk kopinya.
“Adin mau ulangan besok, katanya mau belajar sama kamu sebentar lagi.”
“Sebentar lagi?” Mataku melebar. Sebentar lagi sore, berarti. “Sore ini Yah?”
“Iya…”
Aduh, belajarnya sampai kapan? Aku kan udah punya janji sama Farish gimana
kalau sampai lebih dari jam tujuh? Haduh! Ayah ada –ada aja ah. “Dimana Ayah?”

“Terserah kamu saja, kalau di sini biar Ibrahim saja yang antar. Ya kalau mau
kesana terserah kamu dah…”
Haduh, kalau Adin yang kesini bisa –bisa lebih lama lagi. “Biar Ami yang kesana
saja Ayah…”
“Ya sudah nanti setengah empat saja..”
“Baik Ayah.”
Aduh memang ada –ada saja kalau jadi guru dadakan seperti aku. Giliran ada
pr, ulangan, ujian semester, aku yang harus urus tuh anak. Mana Mami sama dua
abangnya tuh?! Gak guna ah! Dua abang itu selalu sibuk dengan urusannya sendiri,
yang Fajrin sibuk nguberin cewek buat jadi calon isteri, yang satu bingung buat
ngebatalin pertunangannya. Sih Mami nih, sibuk mikirin dua anaknya yang mulai
semakin menjadi Gilanya! Aerrghh!!! Jangan sampai aku ikut –ikutan gila!
***


Dua puluh empat..

Susahnya! Kenapa harus aku yang mengajar Adin! Mau aku apakan diriku kalau
sampai aku bertemu dengan Aim?! Huh!
OH GOD! Jantungku semakin berdebar dan aku benar –benar sangat gugup.
Tangan mulai berkeringat, gemetar sudah sampai suara. Aku yakin pasti tahu aku akan
datang ke rumahnya dan dia pasti memanfaatkan kedatangan aku. Oh Aim!
Menyingkirlah dari hadapanku.
Bismillahirrohmanirrohim…
Tok tok tok! Aku ketuk pintu rumah Aim dengan keras. Sebenarnya karena aku
gugup jadi aku tidak bisa mengendalikan gerak tanganku.
Akhirnya pintunya segera di buka, dan lagi Aim yang bukakan untukku, sangat
sesuai dengan yang aku takutkan.
“Adin mana?!” Ketusku.
“Baru datang bukannya salam malah langsung tanya Adin.”
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh! Udah!”
“Waalaikum salam. Masuk, Adin ada di dalam…” Jawabnya melangkah kembali
ke dalam rumah.
Aku mengekor dibelakangnya. “Mana Mama sama Fajrin?”
“Ngapain cari abang?” Jawabnya kesal.
“Salah aku cari abangmu ha?! Sudah lama tak jumpa salah juga nanti kalau aku
tanya kabar dia?!” Kataku membentaknya kasar. Ya TUHAN aku semakin sensitive saja
rasanya. Semakin mudah untuk emosi dan naik darah dibuatnya.
“Salah! Aku tak suka!”
Aku menatapnya tajam, dikiranya aku ini akan beralih pada abangnya apa?!
“Kau?! SINTING!”
“Apa? Sinting? Kau lebih sinting!”

“Kau itu yang sinting!”
“Kau!”
“Kau!”
“Kau itu..!”
Terus saling melempar umpatan tanpa henti hingga.
“Woy?! Abang ni sama kakak kenapa sih?!” Sela Adin yang muncul ditengah –
tengah kami.
Seketika kami berhenti dan malu tentunya pada bocah itu.
“Darimana aja kamu?” Aim mengalihkan kegentingan perang mulut kami.
“Aku sudah nungguin di meja belakang bang!”
“Terus kamu ngapain kesini?”
“Ya aku mau lihat kak Ami apa sudah datang, lagian kakak sama Abang dari tadi
berisik tahu!” Tegas Adin.
Dasar begok! Yang mulai perang siapa ha?! Aku menatapi Aim sinis. “Sudah ayo
cepetan kalau mau belajar. Kakak masih banyak urusan!” Tekanku pada Aim bukan
pada Adin yang aku ajak bicara.
Beralih ruangan, aku, Adin dan seekor Aim yang ikut aja nimbrung. Ah sungguh
sial aku! Masa aku harus ngajari bocah kelas enam SD berdua sama Aim!
“Mau apa kau tetep disini?”
“Aku? Mau disini? Suka –suka aku dong, ini kan rumahku..”
Kau itu! Akhirnya aku lebih memilih untuk diam.
Adin konsentrasi dengan pelajarannya, sementara Aim mengepungku dengan
sejuta intaian matanya. Argh…Aim! Resah dan gelisah seperti seorang yang sedang
sakit ambeyen aku tidak tenang duduk di kursi yang emmpuk ini. Seperti duri yang
terus menusuk –nusuk, kursi inipun tak senang atas keberadaan ku. Oh my GOD!
Kapan pengajaran ini akan berakhir?
Sesekali aku lihat jam tanganku yang tak segera menunjukkan jam tujuh.
Beristirahat sejenak menunaikan sholat mangrib kemudian melanjut lagi tugas
mengajar sebagai guru panggilan yang musiman, kalau pas ada ulangan dan peEr!
“Kamu itu kenapa sih dari tadi aku lihat cuma jam terus yang ditengokin?!”
Tegur Aim yang tak tahan juga memperhatikan sikapku gelisah.
“Terserah aku lah…” Jawabku ketus tak memperhatikan mukanya.
“Kamu itu kenapa sih Mi? Ditanya baik malah jawabnya ketus.”
“Suruh siapa tanya –tanya aku?” Mataku menyipit melihatnya.
“Kamu berubah sekarang! Kamu kenapa? Apa yang bikin kamu berubah ha?!”
“Kamu tanya yang bikin aku berubah gini apa?! Masih tanya ha?!”
“Kalau pertunangan itu yang kamu maksud, okay aku minta maaf! Tapi gak gini
juga kamu harus bersikap sama aku kan?”
“Udah percuma aku bersikap gini gitu lagi sama kamu, gak ngaruh sama
hubungan kita.”

Gak sadar aku dan Aim malah cekcok di depan Adin yang sedang belajar.
“Abang sama kakak ini kenapa sih koq bertengkar terus dari tadi?!” Sela Adin
yang menggaruk –garuk kepalanya kebigungan.
“Adin, kakak minta maaf. Belajar kita sampai disini aja. Kalau kamu masih ada
yang ingin ditanyakan, tanyakan aja sama Abangmu itu. Kakak harus pergi ada janji
penting. Harus tepat waktu.” Aku bereskan barang –barangku dan lekas
mencangklongkan tas sambil tergesa –gesa melangkah keluar.
“Ami! Mau kemana kamu?!” Aim mengekor terus dibelakangku, mengikuti aku
hingga aku berada tepat di samping mobil.
Ia meraih tanganku tapi langsung aku hempas begitu saja. “Tunggu aku bilang!”
“Mau apa lagi?!”
“Kamu mau kemana?! Urusanmu belum selesai sama Adin!”
“Adin atau kau yang memang sengaja ingin menahan aku ha?!”
Aim diam tak menjawab. Aku rasa aku benar dia hanya alasan agar aku bisa
datang kerumahnya. Bodoh!
“Sudahlah, aku bilang aku ada janji!”
“Janji? Janji sama siapa?! Jangan menghindar begitu kamu! Jangan bilang kalau
kamu janji sama sama si Brengsek itu, iya?!”
“Dia punya nama bukan Si Brengsek! Lagian bukan urusanmu aku punya janji
sama siapa! Aku juga gak ngindar? Yang ada aku benci ada di hadapanmu lagi!”
Tandasku. Aku lekas masuk ke mobil dan swing pergi melarikan diri darinya.
Sial! Kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti dia di dunia ini?! Kenapa
aku?! Kenapa aku sangat marah dan benci padahal aku sangat menyayanginya?!
***
Jam tanganku sudah menunjukkan jam tujuh lewat lima belas. Argh! Ini gara –
gara Aim yang terus berlama –lama menahan aku hingga aku harus terlambat.
Bukannya aku yang harusnya datang lebih dulu malah Farish yang aku buat menunggu
lama.
Aku parkirkan mobil di tempat parkir umum yang disediakan khusus setiap
malam minggu. Taulah malam minggu orang berduyun –duyun berkumpul di pusat
kota untuk menyaksikan berbagai pertunjukan olahraga setiap minggunya. Yaa
memang sih tidak hanya tujuan nonton, tapi kencan, atau entahlah aku tidak tahu. Lalu
tujuanku? Tujuanku jalan –jalan merayakan hari ulang tahunku yang sudah lewat
beberapa hari lalu bersama Farish.
“Farish!” Aku menyapa seorang lelaki yang sedang bersandar pada dinding toko
menanti kedatanganku. Lekas aku menghampirinya.
Farish menoleh kearahku. “Ami akhirnya kamu datang juga…” Katanya tanpa
rupa yang marah padaku bahkan ia tetap tersenyum.
“Ampun Farish, bukannya aku yang tunggu kamu malah aku yang bikin kamu
tunggu aku lama…”

“Gak usah segitunya, baru dua puluh menitan lah…”
“Dua puluh menit kamu bilang baru? Kamu itu terlalu baik Farish…”
“Ah udah, jangan dibahas lagi.” Farish menatapku dari ujung kaki hingga
kunciran rambutku. “Wah, udah langsung kepakai nih…”
Aku tersenyum. “Iya dong, masuk daftar barang favoritku nih. Makasih ya…?”
Farish tersenyum, sedikit pujianku membuat rupanya tersipu. “Sama –sama.
Kita jalan yuk…”
“Kemana?”
“Mau bakso?”
“Boleh…” Aku setuju saja dengan dia. Kebetulan sekali perutku lapar setelah
hampir tiga jam berhadapan dengan Aim tadi.
Tempat makan penuh kenangan. Kenapa harus bakso di ujung jalan yang jadi
tempat kami sekarang? Aku jadi ingat saat Aim selalu bayarin baksoku dulu. Saat aku
dan dia tertawa lepas, saat pulang sekolah aku berjanji untuk bertemu, dan saat
terakhir aku mengetahui siapa dia sebenarnya. Walau itu hanya sebulan tapi sudah
sangat penuh dengan kenangan. ‘Teflon? Telfon!’ Aim, andai saja kamu bukan anak
Mami, aku pasti akan bilang sama Ayah dan Mama.
“Wey!” Faris menggertak aku yang sedang melayang.
“Ah! Apa?” Aku terbangun.
“Kamu kenapa? Ngelamun.. mikirin sesuatu?”
Aku tersenyum menggeleng. “Enggak…”
“Hmmm. Aku gak yakin..” Liriknya curiga.
“Jujur aja, ini tempat aku suka nongkrong dulu pas SMa…”
“Oh ya?”
“Iya, pulang sekolah, sore hari, dating malam sama Aim…”
“Aim?”
Aku keceplosan, yaa sudahlah sekalian aja. “Namanya Ibrahim, dia abang tiriku.
Dia yang sering ketemu aku, waktu pas gantiin ban mobil waktu itu.”
“Gak pacaran kan sama dia?”
Aku terkejut dengan pertanyaannya. Kenapa dia bisa berkata seperti itu?
“Maksud kamu?”
“Ah maaf, aku hanya teringat saja pada teman ku yang pernah aku ceritakan
sama kamu waktu itu. Yaa maksud aku kamu, jangan sampai seperti itu lah …”
Aku tersenyum. “Perntanyaanmu salah..”
“Salah? Yang bennner apa?”
“’Gak sampai nikah kan sama dia?’..”
“Aha iya barangkali yaa? Terus jawabannya apa?”
“Aku jawab, enggak…”
“Kenapa bisa jadi gitu?”
“Aku lupa dari mana awal semuanya bisa jadi sampai sejauh ini.”

“Jauh sampai mana?”
“Sampai aku seperti orang linglung hanya karena satu kata ‘Cinta’. Aku tidak
bisa lihat orang lain yang jauh lebih bagus dari dia. Dan aku berusaha semampuku agar
aku bisa terus mendapatkan dia dan restu orang tuaku. Selama setahun aku mencari
tahu tetang halal tidaknya hubungan kami. Semuanya… dan sekarang rasanya aku
hancur saat menemukan dia kembali dengan gadis centil itu. Yaa walau Ayah dan Ibu
aku tidak tahu sampai sejauh itu.”
“Kalau dia benar abangmu, setahu aku sepertinya dia itu akan menikah ya?”
Aku tersenyum berat. “Lebih tepanya bertunangan dulu.”
“Ya.” Farish menarik nafas dan membuangnya lega. “Aku tahu betul bagaimana
sakitnya melihat orang yang kita cintai tengah bersama orang lain. Tapi bisa apalagi?”
“Kamu pernah jatuh cinta?”
Farish mengangguk. “Iya, bahkan sekarang aku sedang jatuh cinta.”
“Semoga nasip cintamu tidak seperti aku.”
Farish menatap wajahku lekat dengan senyum. “Semoga saja. Walau aku tahu
benar orang yang aku cintai tidak sedikitpun cinta sama aku.”
“Darimana kamu tahu? Apa kamu udah bilang sama cewek itu?”
“Enggak, tapi aku lihat sendiri dengan mata kepalaku. Saat itu malam sebelum
keberangkatanku ke luar kota. Tadinya aku ingin berpamitan, tapi aku lihat dia sedang
berdua menghabiskan malam indah mereka bersama.”
Aku tersenyum simpul. “Padahal dia sangat beruntung mendapat cinta kamu,
Rish.”
“Entahlah..”
Jantungku tiba –tiba berdetak kencang merasakan tatapan Farish padaku
sungguh tajam dan tak beralih. Aku mulai risih dengan pandangannya, itu membuatku
sangat gugub.
Aku mengalihkan pandanganku. “Aku gak tahu harus menghiburmu gimana.
Soalnya aku juga punya masalah persis seperti mu. Bahkan mungkin yang lebih pusing,
dia terus menghantui aku membuat perasaanku gundah dan ragu. Membuat aku terus
menginginkan dia tanpa berfikir kenyataan yang akan terjadi sebentar lagi.”
“Aku tahu, karena kamu selalu membuang air matamu buat dia. Tapi satu yang
pasti kamu harus kuat, yakinkan kalau kamu bisa hidup tanpa dia. Mungkin dia tidak
pantas buatmu. Kamu terlalu baik, sedang dia buruk sekali.”
“Dia tidak buruk, tapi dia sangat buruk…”
Farish tersenyum. “Sudah sabar aja ya… semoga kamu bisa dapatkan
penggantinya lebih cepat dan jauh lebih baik darinya. Berganti hati?” Farish menanti
senyumku.
Dan aku membalas dengan senyum manisku yang cukup maut. “Tapi aku masih
amat sangat sedih Farish…”
“Memangnya kenapa?”

“Aku kecewa dan sangat sedih karena besok lusa dia akan bertunangan dengan
perempuan centil yang namanya Inez itu..”
“Tuh kan belum apa –apa sudah dikatain centil.”
“Dia emang centil! Bahkan aku bilang ganjen!” Emosiku kembali tebakar penuh
nafsu amarah.
“Ami koq gitu sih?”
“Maaf, tapi aku bener –bener gak suka sama anak itu. Bicaranya, pakaiannya,
jalannya, gimana aku tidak bilang dia ganjen coba?! Dia emang genit, centil, pokoknya
aku gak suka sama dia!”
Farish malah tersenyum geli melihat aku yang emosi sendiri.
“Kalau kamu lihat seperti itu. Lalu kenapa Aimmu itu mau tunangan sama dia?”
Aku menggeleng pelan, menaik turunkan bahuku pertanda tak tahu.
“Kalau kamu gak tahu, ya kamu rugi dong.”
“Rugi kenapa?”
“Kamu berarti gak tahu apa dia juga tengah merasakan seperti yang kamu
rasakan sama dia.”
“Aku gak tahu, tapi aku rasa iya. Dia bilang kalau dia itu cinta sama aku. Satu
kesalahannya yang amat sangat menyakiti aku sekarang…”
“Apa?”
“Hari senin besok lusa, dia akan bertunangan dengan perempuan centil itu,
sementara dia masih terus bersikap manis sama aku. Setiap kali aku berusaha
menghindar, dia terus muncul di hadapan aku. Awalnya aku memang tak harapkan dia,
tapi kenapa sejak aku tahu dia adalah abangku justru aku makin gila dibuatnya.”
Mataku mulai berkaca –kaca lagi. Ah Ami angan menangisi dia lagi dong!
“Kalau dia memang cinta sama kamu, harusnya dia berani batalkan
pertunangan mereka.”
“Tidak! Dia juga pernah bilang sama aku, tapi aku sangat melarangnya. Kau
tahu sendiri kalau sebangsa kita ini sulit untuk tidak membicarakan masalah orang.
Dan aku gak mau bikin keluargaku malu gara –gara masalah konyol begini.”
Ia menghela nafas panjang. “Ya. Aku gak bisa lakukan apapun untuk bantu
kamu. Aku gak tau kalau aku juga berada di posisi yang sama seperti kamu. Tolong
jangan nangis, aku paling gak tega lihat perempuan nangis…” Pintanya dengan tatapan
penuh iba.
Aku mengusap mataku, aku kembali menyendok sesuap bakso untukku. Aku
tersenyum padanya, aku juga gak mau bikin dia merasa iba sama aku. Well kami
alihkan tema perbincangan kearah yang lain. Hingga akhirnya dua mangkuk bakso
tandas juga.
Aku antar Farish pulang karena kebetulan aku yang bawa mobil dan dia hanya
jalan kaki. Dia itu senang sekali jalan kaki, padahal aku tahu jarak dari pusat kota ke
rumahnya cukup jauh, empat kilo meter lumayan lah.

Mobil menyamping dan berhenti. “Terimakasih atas tumpangannya nona
manis…”
Aku tersenyum. “Yang mana rumahmu?”
“Pastinya yang ada disebelahku sekarang.”
Aku ternganga, jadi tebakanku waktu itu benar. “Jadi waktu itu tebakanku
benar kan? Kau anak juragan mangga?” Aku tertawa kecil. Sekarang aku tahu, ternyata
Farish masih anaknya kerabat Ayah. Aku tahu betul siapa dia. Ternyata dia anak Uncle
Fawwad Rawahi yang punya anak tiga, kakak Farish yang ada di luar negeri, dan
seorang adik perempuan. Aku memang tidak pernah melihat dia dan dua saudaranya,
tapi aku tahu orang tuanya.
“Waktu itu aku kaget banget kamu tahu aku dari mana. Eh ternyata kamu cuma
nebak aja.”
“Aku nebak abisnya mukamu mirip sama mangga…” Aku lanjutkan tawaku,
Farishpun juga turut menertawai dirinya sendiri.
“Sungguh mukaku mirip mangga?”
“Hmmm, lonjong seperti mangga…”
“Ami, kau tega…”
“Ah maaf –maaf, jangan marah pak…”
Farish tersenyum. “Sudah ah aku keluar dulu…”
Aku kembali tukar posisi dengan Farish.
“Farish tunggu ada yang lupa!” Segera aku masuk mobil dan ambil hal penting
yang telah aku buat susah payah tadi siang. Aku ambil kotak kue yang aku bawa dan
memberikannya pada Farish.
“Apa ini??”
“Cup cake buatan aku. Cobain yaa?”
“Makasih Ami. Harusnya kau tak perlu repot –repot kasih aku.”
“Aku hanya ingin belajar bikin kue.” Aku tersenyum. “Farish boleh aku tanya
satu hal?”
“Silahkan aja.”
“Pernahkah terlintas dipikranmu, bagimana nanti jika kita bersanding dengan
seorang yang tidak kita cintai?”
Kembali Farish bernafas berat. “Aku hanya akan melihat seberapa besar kasih
sayang yang dia berikan padaku. Karena cinta belum tentu dapat berikan semua kasih
sayang dengan sempurna dan indah. Tapi aku yakin kasih sayang akan memberikan
seluruh cinta yang ada di dunia ini.”
Aku menarik senyum.
“Sebelum kamu pergi, boleh aku bilang sesuatu sama kamu?” Pintanya.
“Silahkan…”
“Cinta itu hanya sekali seumur hidup, tapi cinta tak akan selalu membawa
kebahagiaan. Cinta itu tak semudah kata C I N T A-nya, apapun yang terjadi, aku hanya

bisa berdoa yang terbaik buat kamu. Semoga kamu menemukan pengganti lain yang
jauh lebih baik dari dia yang bisa cintai kamu sepenuh hati…” Katanya dengan
senyuman.
“Terimakasih…” Aku membalasnya dengan senyuman.
Kembali aku dalam mobil dan lekas pulang kembali ke rumah.
Farish, kau itu sangat baik. Seandainya saja orang yang aku cintai adalah kamu
betapa bahagianya aku mendapatkan lelaki sesempurna kamu. Hanya saja aku sudah
terlanjur memilih Aim untuk bertahan di hati aku. Akankah aku bisa dapat orang yang
baik sepertimu Farish? Atau aku hanya terlalu berharap mendapatkannya? Aku tidak
tahu kenapa Farish begitu perduli pada ku. Sampai saja dia memberi peringatan yang
memang harus aku… Ah! Whatever makasih Farish for your whises to me.
***


Dua puluh lima…

Hari ini aku harus mengurus keuangan kuliah, sayang sekali hari ini hari minggu,
aku tak bisa pergi ke bank melainkan hanya dapat transfer uang langsung pada seorang
temanku.
Wah, antrian yang sangat panjang. Sekampung pada mau transfer duit ya?
Duh! Aku males kalau antriannya sepanjang sungai bengawan solo begini.
Sungguh kebetulan sekali aku bertemu dengan Farish yang baru saja keluar dari
pintu ATM.
“Farish?” Aku menyapanya yang tertunduk serius dengan buku tabungan yang
aku rasa pasti miliknya.
“Ah, Ami…” Sahutnya tersenyum padaku.
Aku terkejut melihat wajah Farish yang tertempel plaster dan beberapa noda
biru. Semalam dia masih baik –baik saja aku mengantarkan sampai rumah. “Kamu
kenapa?”
“Aku gak papa…”
“Biru?”
“Ah…” Farish malah tersenyum.
“Abis berantem sama siapa sampai segitu banyak memarnya?”
“Gak penting lah…” Elaknya, aku tahu dia berbohong pasti terjadi sesuatu
semalam.
“Gak penting gimana kamu ini. Wajah kamu itu bengep, pasti itu sakit kan.
Siapa sih yang tega berbuat seperti ini sama kamu? Yaa memang aku gak tahu urusan
kamu sama orang itu. Semalam kamu masih baik –baik aja Farish.”
“Udah biasa ajalah, aku gak papa koq, jangan berlebihan begitu.”
“Kamu itu kenapa sih?!”
“Tenang aja, aku gak papa, koq kamu yang segitu khawatirnya sama aku sih?”

“Farish, kamu itu memang terlalu baik ya. Ini bukan masalah berlebihan atau
enggak, masalahnya ini muka kamu sekarang kelihatan jellek banget tahuu…!!” Kesalku
seraya bergurau.
Farish malah tertawa.
“Ketawa aja terus!!”
“Mukaku tambah mirip sama mangga?”
“Lucu!” Aku tak tertawa sedikitpun.
“Okay. Maaf, tapi kamu gak usah seperti itu lah. Aku ini kan bukan apa –apamu,
lagian ini juga salah aku koq…”
“Hem! Iya sih…”
“Ya udah, aku pamit duluan ya…”
“Udah selesai urusannya?”
“Iya…”
Aku tersenyum. “Iya, hati –hati…” Pesanku.
Hah! Farish, dia pergi lebih dulu dan aku sendirian tanpa teman sekarang. Aku
heran padanya, seperti yang sedang punya masalah sama preman saja dia. Benar –
benar membuat aku sangat curiga dan penasaran bertumpuk –tumpuk. Siapa yang
tega memukulnya hingga memar seperti itu? Atau jangan –jangan preman yang waktu
itu? Haha! Sudahlah…
‘Intro panah Asmara’
Hapeku berbunyi. Wah ada Mami yang telpon.
“Assalamualaikum Ami…” Katanya dari jauh sana.
“Waalaikum salam Ma. Ada apa?”
“Mama mau minta tolong kamu temani Ibrahim cari sepatu ya, kebetulan
Mama sekarang gak bisa carikan. Mau minta tolong sama kakak kamu sedang antarkan
anaknya sekolah katanya…” Pintanya.
Ah! Tubuhku seketika melemas rasanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak
mungkin menolak permintaan Mami, yang ada Ayah marah sama aku. Tapi aku juga
gak mau ketemu lagi dengan Aim.
“Ami, kamu bisa kan? Bantu Mama ya…”
“Iya Ma, Ami bisa. Sebentar lagi Ami kesana…”
“Gak usah, biar Ibrahim saja yang menjemput kamu katanya…”
Ah harus apa aku sekarang? Setiap kali ingin menghindar selalu ada saja hal
yang bikin kita ketemu lagi. Itu bikin hatiku tersiksa, kenapa harus temani dia beli
sepatu itu pasti untuk seserahan sama si centil Inez itu!
Tanpa jawab apapun aku langsung matikan telpon. Batal ke ATM segera aku
pulang. Kenapa aku gak bisa bilang tidak?!
Belum berbelok masuk kehalaman rumah mobil civicnya sudah stay di depan.
Aim, kamu itu bikin aku gila! Aku gak mau kita terus seperti ini. Tapi apa dayaku, hati
kecilku juga masih inginkan kamu. Aku sayangi kamu. Kalau saja kamu bukan abangku,

aku akan hentikan rencana pertunangan kamu dari awal. Aku tak sanggub menatapnya
lagi. Aku sungguh tak mau bertemu lama –lama dengan dia, karena itu hanya akan
meperdalam lukaku.
Tangannya menyentuh tanganku. “Jangan diam begitu…” Katanya memulai
pembicaraan dalam mobil.
Aku tentu lekas menarik tanganku kembali. “Gak ada yang harus kita bicarakan,
so aku diam!” Aku masih saja ketus padanya.
“Ami, jangan…” Katanya terhenti saat hapenya berdering telpon. Dia angkat
telpon, sepertinya aku yakin dari Inez. Suaranya dikecilkan, entah apa maunya. Aku gak
perduli lagi. Tak terlalu lama berdialog dengan telponya. Ia kembali denganku.
“Barusan Inez yang telpon…” Katanya padaku.
“Lalu? Apa urusanku?”
“Cemburu?”
“Jangan gila! Aku ini adikmu sendiri sekarang. Mau cemburu atau tidak itu tidak
ada artinya lagi sekarang!”
“Sampai kapan kamu mau terus anggab aku ini abang kamu Ami?! Aku ini cinta
sama kamu! Dan aku juga tahu kau itu cinta sama aku! Tapi kamu selalu bersikap
begini sama aku. Aku bosan!”
“Selamanya!” Tegasku.
“Ami!” Bentaknya balik padaku.
“Aku memang cinta sama kau, tapi bukan begini juga jalan kita!” Aku tekuk
bibir bawahku, rasanya aku tak kuat menahan air yang hendak keluar dari mata akibat
bentakannya. “Kau tahu, aku sudah temukan hukum yang pasti untuk hubungan kita
yang seharusnya memang gak pernah ada.”
“Sekarang aku gak mau bicarakan tentang hukum apapun!” Bentaknya kasar
padaku. “Tolong mengerti aku! Okay sekarang kita memang gak akan bisa sama –sama
lagi selamanya, tapi aku hanya minta satu hal sama kamu. Jangan bikin aku gila dengan
semua sikap kamu sama aku yang selalu menghindar dengan sikap yang kasar.
Sadarkah kamu? Setiap pertemuan kita tidak pernah bebas dari percekcokan yang
tidak jelas kenapa masalahnya! Aku bosan Ami! Besok aku akan bertunangan dengan
Inez, dan itu hanya tinggal hari ini saja. Mengerti aku! Aku gak siap dengan
semuanya…” Jelasnya dengan penuh emosi, rupanya menyedih dan tetesan air
matapun jatuh percuma dari kedua matanya.
“Lalu sekarang?! Kenapa gadis centil itu bisa sampai kesini dan menjadi calon
tunanganmu?! Kalau bukan kau yang inginkan ini semua gak akan terjadi!”
Aim diam tak menjawab pertanyaanku.
“Aku gak akan percaya dengan kata –kata cintamu itu! Kalau kau itu memang
cinta sama aku harusnya tidak ada pertunangan itu, tidak ada si centil Inez, tidak ada
sepatu, tidak ada kain, tidak ada seserahan! Sadar Aim aku gak bisa kau bohongi lagi!”

Putaran roda mobil pelan –pelan berhenti, menyingkir dari keramaian lalu –
lalang kendaraan yang lain. Rupanya ia benar –benar emosi tak bisa mengendalikan
jalanan lagi.
“Aku tahu aku salah!” Nafas ditarik dan dihembuskan keras. “Okay! Aku akui,
aku salah dan sekarang aku sadar. Awalnya aku memang main –main, aku kira aku bisa
melupakan kamu dengan mencari sesosok perempuan yang cantik, ceria dan baik
seperti Inez. Aku kira dia akan menjadi seorang yang memberikan keceriaan padaku.
Tapi kenyataannya aku salah, dia tak lebih dari gadis kecil yang cerewet, manja, dan
suka membuatku kesal. Sangat berbeda denganmu Ami…”
“Dengan semua penjelasanmu, aku tetap tidak percaya…”
Aim menoleh seketika menghadapku. “Ami?!”
“Maaf, aku tidak bisa lagi percaya sama kau.”
“Apa yang akan membuat kamu percaya? Kamu ingin aku bener –bener
menghentikan pertunangan itu ha?!”
“Setelah apa yang udah kamu lakukan dari dulu hingga detik ini, aku semakin
yakin kalau kau itu hanya main –main.”
“Siapa yang sudah mencuci otakmu seperti itu Ami? Mana Ami yang aku kenal
selalu percaya sama aku ha?! Yang selalu perduli sama aku ha?!”
Aim, sungguh maafkan aku. Aku tetap percayai kamu, hanya tak mungkin aku
membuatmu membatalkan pertunangan itu. Aku tidak menginginkan dirinya kembali
lagi mendapatkan belaian dan kasih sayang dariku lagi. Seperti apa yang dikatakan
Farish aku harus kuat dan bisa bertahan, menunjukkan kalau aku tak butuh padanya.
Bisa hidup tanpa dia, tanpa tangis untuknya lagi.
“Kamu sadar apa yang udah kamu katakan sama aku Ami?” Setetes Air matanya
jatuh dihadapanku. Aku tak pernah melihat tetesan air bening dari dua matanya jatuh
untukku seperti itu.
Tanpa terasa akupun turut meneteskan air mataku. “Aku sadar.”
“Sekali lagi kamu bilang seperti itu sama aku, berarti kamu ingin aku mati.
Iya?!”
Aku diam tak menjawab lelaki itu.
Kemudian Aim keluar dari mobil dan ia berdiri di tepi jalan. Tingkahnya cukup
membuatku takut, aku takut yang dikatakannya benar. Langsung aku mengikutinya
keluar dari mobil dan berdiri tepat dibelakangnya.
Lagi –lagi aku goyah, perasaanku lebih kuat dari niatku untuk tidak
menyantuninya dengan senyum dan cinta lagi. Aku sentuh punggungnya, dan ia
berbalik menghadapku.
Maafkan aku, harusnya dari awal aku berusaha mengerti kamu tidak terus
bersedih dan emosi dengan perasaanku sendiri. Maafkan aku, seharusnya aku bisa
membuatmu tenang walau tak ada aku lagi disisi mu.

“Gak ada seorangpun yang bisa mengerti perasaanku sekarang. Sekalipun Inez
yang setiap katanya selalu bilang ‘Aku mengerti kamu’ Bulshit! Aku gak suka sama dia!
Kalau saja bukan karena Mama yang minta aku dengan tangisnya, aku gak akan pernah
mau menerima semuanya…” Lanjut Aim yang semakin kesal dengan pikirannya sendiri.
Ternyata aku sudah tak perhatikan dia. Hanya membingungkan pikiranku
sendiri. Aim izinkan aku temani kau sehari saja…
“Aku gak tahu harus apalagi sekarang. Aku marah, aku benci, aku menyesali
kenapa semua ini harus menimpa aku. Tapi aku tidak biasa berbuat apapun.”
Aku tak menjawab apapun bicaranya. Yang aku lakukan hanya memeluknya
dengan erat agar ia yakin bahwa aku ada untuknya. Perdulikan dia, dan mengerti
keadaannya saat ini. Aku membelai lembut punggungnya, berharap dia bisa
mendapatkan keadaan yang lebih tenang bersamaku.
“Abang… maafkan aku.”
“Ami…” Panggilnya lemah tak mampu untuk berucap lagi.
“Izinkan aku temani abang hari ini…”
Aim mememlukku erat. “Tolong aku Ami…”
Akan aku tolong kau semampu diriku melakukan yang terbaik untukmu.
Kalian tahu? Kami berdua tak pergi untuk membeli sepatu untuk sang
Cinderella centil. Justru kami berdua menghabiskan waktu bersama di tempat yang
dulu sering kami kunjungi. Merilis ulang memori masa lalu yang hanya akan tinggal
kenangan. Ya TUHAN ampuni aku yang masih di mabuk cinta dengannya… aku hanya
inginkan yang terbaik untuknya. Tak ada beban, tak ada ragu, tak ada marah, tak ada
kecewa lagi..
Pantai biru jadi tujuan akhir kami yang sudah setengah hari berada di luar
rumah. Ini pertama kalinya aku berjalan berdua di pasir pantai dengan seorang Ibrahim
Imran yang aku sayangi.
Aku menghentikan langkahku dan merapikan rambutku yang terus terhembus
angin. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Aku jauh lebih baik Ami. Terimakasih sayang…” Jawabnya penuh lega.
“Baguslah…”
“Kamu sendiri gimana?”
“Well sangat lebih baik sekarang…” Jawabku dengan senyuman.
Aku pandangi semua yang ada dihadapanku. Laut biru, buih ombak, langit dan
kepulan awan putih bagai kapas yang berterbangan di langit. Sungguh indah, orang –
orang berwisata memanikan air –air, melawan ombak dengan boatnya. Aroma air asin
jernih tiada tandingan, lain lagi dengan angin pantai yang sejak tadi meniup rambutku
hingga sedikit terlepas dari ikatannya.
Berjalan menyusuri kembali pinggiran pantai bersama Aim yang terus
merangkulku. Hingga mataku terhenti pada satu titik, seorang lelaki yang tengah

duduk sendiri di bawah pohon. Menggenggam pasir dan membuangnya perlahan
hingga bulir –bulir pasir tertiup angin pantai.
Aku rasa itu terlihat seperti Farish. “Tunggu sebentar…”
“Mau kemana?”
“Sebentar saja…”
Aku berjalan mendekat pada lelaki yang aku kira itu Farish. Dan ternyata benar.
“Farish…” Sapaku.
“Ami?!” Nampaknya ia sangat terkejut dengan kehadiranku. Berdiri dan
mengebaskan bajunya yang kotor dengan pasir.
“Ngapain disini sendiri?”
“Aku memang sering disini sendiri koq. Kamu sendiri?”
Tersenyum padanya, kemudian aku berbalik melambaykan tangan pada Aim
yang masih stay dibelakang. “Aku sama dia…” Kataku dengan bangga.
“Owh…”
Aim datang. “Apa?”
“Kenalin, dia Farish teman baikku. Kemarin –kemarin pas ketemu suasanya lagi
gak enak jadi aku belum sempat kenalkan kalian satu sama lain.”
Aim menjulurkan tangannya. “Ibrahim…” Katanya dengan wajah yang tak
bersahabat.
“Farish…” Katanya.
Jabatan tangan lekas dilepas mereka. Entah kenapa aku merasa aneh, melihat
dua rupa yang tidak akur rasanya. Seperti bisu, mereka tidak saling berbasa –basi satu
sama lain. Mungkin Aim merasa cemburu karena selama ini aku sangat dekat dengan
dia, tapi Farish sendiri tak sedikitpun berusaha mencairkan suasana yang mulai
menegang.
“Kenapa?” Tanyaku pada Aim yang masih diam.
“Gak papa…”
“Well Ami, aku harus pergi dulu ada yang…”
“Kemana?” Aku memotong katanya.
“Kalau dia mau pergi ya biar pergi saja lah Mi.”
Farish pergi tanpa kata lagi pada kami. Entah ada apa dengan keduanya. Gak
mungkin Aim bersikap kaku seperti itu pada seorang yang baru ia kenal.
“Abang gak kenal kan sama dia?” Tanyaku yang mulai curiga.
“Maksud pertanyaan kamu itu apa?”
“Ya aku hanya tanya saja bang…”
“Kalau aku kenal dia ngapain juga aku kenalan lagi ha?”
Memang, tapi entahlah aku masih merasa aneh dengan keduanya.
***


Dua puluh enam…


Ya TUHAN, hatiku kembali dirundung kegelisahan. Setelah sehari aku melalui
pagi dan siang bersama Aim, aku memang merasa senang dan tenang. Tapi aku tidak
akan selamanya merasa tenang dan senang. Suatu hari nanti perasaan rindu
mendalam pasti akan datang seperti hari –hari kemarin. Aku tak akan bisa menguasai
diriku untuk berhenti merindukan dia. Sementara aku sudah tak berhak apa –apa
atasnya lagi, bahkan mungkin memilikinya adalah suatu hal yang tabu.
Besok malam adalah tepat hari yang membahagiakan dua keluarga, keluarga
Inez dan Mami Imnan. Dan akan menjadi duka mendalam seumur hidupku,
pertunangan Aim dan Inez. Aku sungguh tak sanggup rasanya melihat tawa senyum
bahagia semua orang dirumah ini. Mereka semua tengah bersibuk dengan kotak –
kotak berwarna hijau, yang katanya warna kesukaan Inez.
Pakaian, kain, selendang, bunga, sepatu, dan semua di tata rapih dalam kotak –
kotak yang sudah disiapkan. Dan semua tertata rapih dengan pita hijau sangat cantik.
Bolehkah seserahan ini jadi milikku?
Aku pergi keluar, cari udara segar untuk tenangkan pikiranku yang semakin
menggalau tak karuan. Berkeliling sekitar kompleks perumahannya. Akankah aku bisa
melupakan semua dan mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini? Kalau saja bukan
karena Ayah dan Mama, aku berani pastikan semua ini akan tidak akan pernah
berjalan sesuai kehendak mereka.
Bangku panjang menghadap lapangan hijau yang di kumpuli orang –orang yang
mengejar satu bola, menjadi tempat peristirahatanku sejenak. Sungguh mereka bodoh
mengejar satu bola yang tidak akan memberikan sebuah kepastian hidup. Dan aku
sama seperti mereka, yang telah bodoh untuk bertahan mengejar yang sudah tidak
pasti untukku.
“Sendirian kak?” Sapa Inez yang datang mengejutkan aku.
Aku tersenyum simpul padanya. “Iya…”
Inez duduk disampingku. “Barusan aku habis jalan –jalan sama Bang Bram.
Kebetulan aku lihat kakak disini, jadi aku minta dia turunin aku…”
“Owh…” Sahutku biasa saja.
Ia menghela nafas panjang. “Seandainya aja pertunangan ini gak pernah ada…”
Aku terhenyak mendengar sebaris kalimat yang terlontar dari mulutnya.
“Maksud kamu?!”
“Yaa, ngapain aku harus menikah dengan seorang yang gak aku cintai sama
sekali coba…??”
“Kamu?!” Semakin aku terbelak mendengarnya.
“Aku cuma cinta sama MANTAN pacarku kak.” Satu kata ditekannya kuat –kuat.
“Aku punya kenangan terindah...”
“Ha?! Apa kamu bilang?!”
“Iya kak, aku cinta sama pacar aku…”

Aku terbelak. “Gampang kamu bilang gitu Inez?! Gila kamu ya?! Kalau kamu
cinta sama pacar kamu, kenapa gak dari awal kamu bilang sama orang tua kamu untuk
batalkan semua?! Hey! Besok kamu itu mau tunangan sama Ibrahim, jangan main –
main kamu. Semua sudah siap sekarang! Jangan bikin orang sakit hati gara –gara kamu.
Terutama Aim yang udah kamu mainkan seperti ini!”
Inez tersenyum simpul. “Kakak pikir cuma mereka saja? Bang Bram aja yang
akan sakit hati gitu? Jangan kira aku gak sakit hati juga kak!”
“Yang tersakiti dengan sikapmu seperti ini lebih banyak! Jangan enteng begitu
kamu ngomong Inez!!”
“Yang enteng itu siapa? Yang ada aku yang berat kalau harus menikah sama
seorang yang selalu menyakiti hati aku…”
“Kamu yang nyakitin Aim!” Bentakku memotong katanya. Aku mulai terpancing
emosi melihat gelagat bicara anak ini.
“Bodoh! Yang ada aku lebih sakit lagi hatinya karena di tinggal untuk
perempuan lain!” Katanya menyindirku.
Sungguh sialan perempuan ini. Tapi aku baru sadar kalau ternyata omongan
tadi yang dimaksud Aim bukan dirinya. “Kalau saja dia bukan abang tiri aku, kita disini
gak perlu kehadiran kamu! Karena aku sendiri yang akan berdampingan dengan dia!
Bukan kamu ataupun perempuan lainnya!”
“Ha?! Yakin benar kakak…” Katanya dengan senyuman di sudut bibirnya sinis.
“Cintanya sama aku gak sebanding setitikpun dengan kebaikan yang pernah ia
berikan sama kamu!”
“Ami stop!” Aku mendengar suara mirip Farish mendekat kearahku. “Jangan
buat keributan disini. Kalian dilihat orang tak malu apa?!” Lanjutnya yang benar itu
Farish.
“Dasar anak kecil! Otak kamu itu premature!” Emosiku meledak tak terkendali.
“Kalau aku premature berarti otak kakak yang koslet dong?! Abang sendiri di
embat juga… ha! Cinta macam apa yang seperti itu?!” Ucapannya mulai tak sopan
pada aku yang lebih tua tiga tahun dengannya. Semua orang juga tahu bicaranya sudah
lewat batas sopan santun.
Aku semakin tak tahan melihat pandangan mata dan gerak tubuhnya yang
merendahkan dan menghina aku. Aku layangkan tangan hendak menggamparnya.
Farish menahan tanganku lembut. “Jaga emosi kamu Ami!” Katanya. Iapun
menahan aku yang takut menyerang tiba –tiba.
Gerakku terhenti, percuma aku meladeni anak kecil, umurnya masih delapan
belas tahun. Fikirannya masih sungguh premature! “Dasar sinting!”
“Mau nampar aku? Silahkan aja, kenapa? Gak boleh sama si penjaga
bayaran?!” Matanya melotot ingin rasanya aku mencungkil dua mata yang terus
menatapku rendah.

Mukanya sungguh –sungguh sangat menyebalkan rasanya aku sungguh ingin
mencekiknya! “Apa maksud kamu penjaga?! Ada urusan apa kamu sok urus
urusanku?!”
“Ha? Hello?! Jadi kakak belum tahu rupanya. Atau jangan –jangan memang dia
dan Bang Bram merahasiakan dari kakak?”
Aku mengernyitkan dahiku. Sungguh apa maksud perempuan ini.
“Tolong Inez, hentikan omongan kamu sekarang…” Pinta Farish pelan.
“Kamu kenal perempuan ini?” Aku semakin heran saja.
“Ya pastinya dia kenal lah sama aku kakakku yang polos gak tahu apa…”
“Farish tolong jawab aku!” Kenapa Farish hanya diam dan menunduk? “Farish,
kau dengar aku? Jawab aku sekarang juga!”
“Dia itu teman baiknya Ibrahim Imran. Yang katanya pacar kakak dulu itu. Oh
sungguh kakak gak tahu apapun soal mereka ya? Ups jangan –jangan kakak juga gak
tahu kalau muka dia bengep karena abis di hajar sama abang Ibrahim semalem? Aduh
sungguh kasihan ya kakakku ini…” Inez semakin mempermainkan aku yang sungguh
bingung.
Aku terus menatap Farish yang tak melihat pandanganku sedikitpun. “Farish
aku mohon kamu jawab aku! Kamu memang temenan sama Aim?! Iya?” Aku terus
mendesaknya. Tapi ia tetap tak segera menjawab.
“Satu hal lagi yang perlu kakak tahu…”
“Inez Cukup!” Aim datang dan menghentikan semuanya. Ia langsung menyeret
Inez. “Hentikan omongan kamu yang gak penting itu! Kita masih punya urusan
sekarang!” Bentaknya pada Inez.
“Tunggu! Kenapa kalian berdua tak kasih tahu sebenarnya sama kak Ami?!
Kasihan dia, lihat wajahnya saja sudah penasaran dengan omonganku yang hanya
sepotong –sepotong barusan. Kak Ami cewek sepuluh jutaaa…”
“Cukup Inez!” Bentak Farish geram. “Bawa dia pergi sana!” Suruhnya pada Aim.
Aim pergi menyeret Inez kembali kerumahya.
“Sepuluh juta?!” Aku semakin terbelak dengan semua pernyataan Inez dan
sikap Farish yang masih terus bungkam dengan desakan pertanyaanku. Apa yang
sebernarnya terjadi? Kenapa ini semakin membuat aku tak karuan?!
Aku kembali terduduk di bangku panjang. Aku tak kuat lagi rasanya menahan
kepalaku yang semakin berat, bahkan lebih berat dari kabar pertunangan Aim dulu.
Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian berdua, bertiga?
Farish menyentuh punggungku. “Ami, aku…”
“Apa?! Pentingkah aku mendengar penjelasan kamu?”
“Maafkan aku Ami…”
“Aku hanya ingin mendengar semua itu adalah salah…”
“Inez benar Ami…”
Air mataku kembali terbuang sia –sia.

“Ami maafkan aku…” Sesalnya.
Terbangun dari kursi aku tak tahu harus kemana sekarang. Kenapa ini bisa
terjadi padaku? Benarkah mereka bersandiwara selama ini di balikku? Apa yang
mereka inginkan dari aku? Aku kembali sulit bernafas rasanya. Hatiku sakit sekali. Aku
tak kuat lagi menahan tetesan air mata yang ku bendung sejak tadi.
“Ami tunggu…” Farish menahan tanganku yang hendak pergi. “Izinkan aku
jelaskan semuanya sama kamu. Aku mohon.”
“Kamu, Aim, dan Inez. Kalian bertiga gak ada bedanya! PEMBOHONG! Aku gak
butuh penjelasan kamu maupun penjelasan siapa pun. Aku gak perduli! Dan gak mau
perduli!”
“Ami, aku salah, dan aku sungguh minta maaf sama kamu…”
“Percuma kamu minta maaf sama aku disaat seperti ini. Awalnya aku sungguh
sudah percaya sama kamu, tapi ternyata? Ini kedua kalinya aku kecewa karena
dibohongi oleh lelaki. Selamat kamu berhasil bikin hatiku tergores…” Aku berderai air
mata dihadapannya.
“Ami, sungguh aku mohon sama kamu dengarkan dulu penjelasan aku.”
Pintanya penuh sesal.
“Apa yang harus aku ketahui, tidak mau aku tahu! Jangan pernah temui aku
lagi…” Aku menandaskan kalimatku dan berlari kembali ke mobilku untuk segera
pulang.
Tak ucap salam aku berlari membanting pintu dan tak menutupnya kembali.
Melompat keatas tempat tidur dan menangis sepuas hati.
Kenapa? Kenapa harus Farish yang bikin aku kecewa seperti ini?! Ya TUHAN,
tidaklah cukup aku kecewa karena Aim? Kenapa mereka tega berbuat seperti ini sama
aku?! Pantaskah aku diperlakukan seperti ini?
Semalaman aku mengurung diri di kamar. Aku tidak bisa berbuat apalagi
sekarang. Hatiku hancur dan benar –benar hancur untuk kedua kalinya. Farish yang
sangat baik kepadaku ternyata tak lebih dari seorang penjahat. Memberi aku senang,
tenang dan damai, ternyata hanya sebatas sepuluh juta. Selebihnya aku tetap
menderita dan semakin menderita karena kebaikan palsunya.
***


Dua puluh tujuh…

Senin pagi…
Aku terbangun dari tidurku, sedikit perasaanku lebih tenang sekarang. Aku
beralih pada cermin dikamarku, aku terkejut yang melihat diriku sendiri yang berubah
dalam semalam. Diriku yang memiliki rupa timur tengah menjadi keturunan oriental
yang memiliki mata sipit. Ini pasti karena semalaman penuh aku terus menangisi
Farish.
Tok tok tok!

“Masuk!” Teriakku pada pengetuk pintu kamar.
Gagang pintu berputar, muncullah Kak Hani dari balikknya. “Sudah bangun
Ami?” Tanya kak Hani menghampiriku.
“Iya…”
Kak Hani melihatku yang ada di cermin. “Matamu kenapa Ami?!” Tanyanya
terkejut tapi tersenyum nyaris tertawa.
“Aku gak papa…”
“Kamu nangisin Ibrahim ya? Soalnya dia mau tunangan hari ini?”
Aku tersenyum simpul. “Tidak, aku dah gak mikirin dia lagi kak. Aku ikhlas
sekarang dia mau nikah sekalipun. Aku gak mau egois kak…”
Kak Hani tersenyum. “Ikhlas?!”
Aku mengangguk.
“Pertunangan itu gak akan pernah ada Ami.”
Aku menoleh cepat. “Maksud kakak?!”
“Inez pergi dari rumah. Dia menolak untuk bertunangan dengan Aim yang
‘katanya’ gak cinta sama dia…” Kabarnya sambil tersenyum padaku.
Sungguh kabar yang sulit aku percaya. Aku melotot menghadap kakakku tak
percaya.
“Udah gak usah segitunya mata kamu itu.” Kak Hani tertawa kecil.
“Abis kakak kasih kabar yang benner dong!” Kesalku. Aku kembali
melentangkan badanku di tempat tidur.
“Semalam heboh di rumah Mami. Kamu aja yang gak tahu, mau kakak kasih
tahu eh kamu ngunci pintu, dipanggilin dah gak jawab.”
“Emang heboh gimana kak?”
“Kakak juga gak tahu. Yang pasti Aunty Viviana telpon jam satu malem sama
Mami. Dia kasih kabar kalau Inez gak mau tunangan sama Ibrahim. Katanya Ibrahim itu
cinta sama orang lain.”
“Terus Mami gimana?!”
“Mami ya shock. Semua orang pada keget pastinya. Termasuk kakak.”
“Terus Aim gimana?!”
“Kakak belum ketemu sama dia. Gak denger sih dia komentar gimana. Tapi
coba aja kamu temuin dia…”
“Aku temuin dia?!”
Kak Hani mengangguk.
Setelah apa yang dia lakukan sama aku, antara dia dan Farish. “Aku tidak mau
kak.”
“Kenapa?”
Aku menggeleng tak menjawab.
“Oh iya, satu hal yang sangat penting.”
“Apa?!”

“Semua orang sudah tahu tetang kamu dan Aim.”
Aku terbelak mendengar kabar satu itu. “HA?!”
Kak Hani justru tersenyum. “Semuanya baik –baik aja. Jangan khawatir. Sudah,
sebentar lagi kamu temui Ibrahim segera.”
“Argh.. enggak!” Aku tinggalkan Kak Hani sendiri di kamar, sementara aku
meraih handuk yang mengantung dekat kamar mandi. Aku masuk dan membereskan
diri.
***
“Gue gak tahu lah…” Kata Aim yang berjalan keluar pintu rumah bersama
Farish. Rupanya hubungan mereka membaik dalam semalam.
“Wah, barangkali emang bukan jodoh ne.”
Nafasnya di hembus lega. “Iya, barangkali juga Ami yang jadi jodoh gue.
Haha…” Aim tertawa sendiri.
Farish hanya tersenyum. Di hatinya memendam rasa sedih untuk kabar
batalnya pertunangan Aim dan Inez. Karena itu pertanda Aim akan memilih Ami untuk
masa depannya.
“Hah…Gue ngerasa sangat beruntung bisa mendapat cintanya. Dia benar –
benar berbeda dari cewek manapun yang pernah gue temuin…”
“Ya, gue juga tahu dia itu berbeda. Apalagi gue tahu bettul dia cinta sama loe
lebih dari apapun…”
“Hmmm…”
“Cuma loe yang beruntung dapetin cintanya…” Farish tersenyum. “Tapi
kayanya dia yang rugi dapet cowok kaya loe!!!” Goda Farish seraya tertawa.
“Ah sialan lo! Rugi kenapa? Muka loe aja masih jauh gantengan gue. Gini –gini
jadi cowok gue masih tanggung jawab koq…”
“Tanggung jawab apa tanggung mau jawab…??” Goda Farish.
Mereka berdua tertawa.
Tiba –tiba sebuah mobil jazz hitam masuki pagar dan meliuk hingga berhenti
tepat di depan pintu rumah. Tawa Farish seketika berhenti, diperhatikannya baik –baik
siapa yang akan keluar dari mobil itu. Karena ia tahu itu mobil Ami.
“Itu Ami kan?” Tanya Farish terkejut.
Aim mengangguk cepat.
“Ngapain dia?”
“Dia mau meriksa Emmak gue…” Jawab Aim sekenanya.
Ami turun dari mobilnya.
Aim melambaikan tangannya menyapa Ami dengan senyum. “Wey buk Bidan!”
Teriak Aim.
Ami menolehinya dengan senyuman manis, sangat manis. Karena Ami memang
lebih cantik dibanding dengan kakak –kakaknya yang sudah memang cantik.

Terhipnotis senyuman Ami, Farishpun tertegun memandangi gadis itu hingga
tak berkedip dan tak bersuara.
Sedikit senyuman Ami hilang saat dilihatnya seorang lelaki yang tak lain adalah
Farish sedang bersama Aim yang kemarin mereka bilang tak kenal satu sama lain.
Mereka berdua seperti sudah Amnesia, mudah saja lupa akan kesalahan mereka
kemarin.
“Aku masuk dulu…” Pamit Ami cepat, dan kemudian ia berjalan masuk kedalam
rumah.
Farish menunduk, ia merasa sangat bersalah sekali sekarang. “Bro gue pamit
dulu. Makasih…”
“Okay deh, makasih juga. Hati –hati brow…”
“Okaey Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam…”
Dengan hanya berjalan kaki seperti biasa Farish melenyap dari balik gerbang
rumah Aim.
Sementara di kamar, Ami tengah memeriksa keadaan Mami yang sedang drop
akibat kabar semalam.
“Semuanya normal koq, Ma. Mungkin kabar ini bikin Mama tambah lega, gak
seperti waktu itu yang bikin Mama benar –benar sakit.” Ami melapas stetoskopnya.
Dilanjut melepas ikatan tensi meter yang melingkar di lengan Mami.
“Alhamdulillah deh… Akhirnya…”
“Pada intinya, kita harus tenang dan sabar, itu aja koq Ma. Jangan dibawa
ruwet urusan dunia…” Hibur Ami yang sok bijak.
“Misi…” Sesaat kemudian, Aim datang menghampiri keduanya di kamar.
“Gimana Mama?”
Ami tersenyum sembari membereskan peralatannya lagi. “Alhamdulillah, sudah
sangat jauh lebih baik dari semalam…”
“Wah baguslah…”
“Ya udah. Ma Ami pulang dulu ya?”
“Mau kemana cepet amat? Duduk aja lah dulu…”
“Ini kan aku sudah duduk..” Goda Ami.
Mereka semua tersenyum. “Ah Ami…”
“Sudah, masih ada besok –besok. Aku harus kembali ke klinik dulu…” Pamit
Ami.
Meninggalkan Mami sendiri dikamar, Aim mengantarkan Ami hingga ke depan
mobil.
“Tadi Farish kan?”
Aim mengangguk. “Iya, memangnya kenapa?”
Mata Ami menyipit. “Kau lupa kemarin terjadi apa antara kita bertiga?!”
“Soal itu aku benar –benar minta maaf, Ami…”

“Sudah lah…”
“Aku tahu kau pasti sangat marah padaku juga Farish. Aku benar –benar minta
maaf ya?”
“Sudah aku bilang. Aku gak bisa benci sama kau. Aku memang sering kesal dan
marah –marah tapi aku yaa.. cuma sekedar itu gak sampai benci lalu dendam. Aku yaa..
gak bisa begitu…” Jelas Ami meyakinkan.
“Lalu Farish?”
Ami diam tak menjawab.
“Dari sorot mata kamu, sepertinya kamu marah sekali padanya.”
“Itu gak penting. Udahlah…” Elak Ami, sepertinya ia malas sekali dengan topik
yang sedang dibicarakannya.
“Kamu gak seharusnya marah sama Farish. Itu semua karena aku, aku yang
memulai semuanya, aku yang suruh dia…”
“Sudah cukup. Aku gak mau dengar pembelaan apapun buat dia. Memang
harusnya marah sama kau bukan dia. Tapi aku gak tahu kenapa malah aku marah
banget sama dia.” Potong Ami cepat, tidak memberikan kesempatan Aim
menyelesaikan kalimatnya.
Mereka berdua saling diam.
“Maaf, aku harus pulang...” Pamit Ami yang mulai risih dengan suasana.
“Okay, makasih...”
Amipun berjalan menuju mobilnya dan pergi. Ia harus kembali ke klinik sesuai
tugasnya seperti biasa, tanpa perduli dengan masalah yang sedang ia dapatkan.
***


Dua puluh delapan...

Hmm..
Aku bisa memaafkan Aim dengan mudah tapi kenapa hatiku sakit saat ingin
memafkan Farish? Tetesan air di dua sudut matanya menemani perjalanan sepinya
menuju klinik.
Sesampainya disana, Ami memulai kembali pekerjaannya. Ia meletakkan tasnya
di kursi. Sesaat ia melihat ada perempuan berseragam putih yang belum pernah ia
lihat sebelumnya.
“Ada anak baru ya Mbak??” Tanya Ami, memastikan pada seorang wanita
setengah baya yang duduk sambil menulis di sampingnya.
“Iyo, jennenge Aisha…” Kabar wanita berlogat jawa itu tanpa beralih.
Ami memandangi gadis berwajah aliran bollywood itu. Menebarkan senyuman
sekedar sapaan sederhana, begitu juga Aisha dari tempat duduk membalas dengan
senyuman ramah.
Sementara Farish disana…

“Pak?! Pak Farish?!” Panggil seorang sekertaris wanita yang sejak beberapa
menit tadi berdiri dihadapannya.
Tapi tetap Farish menatap kosong keadaan di hadapannya.
Tangan sekertaris itu melayang –layang di depan matanya. “Pak Farish?!”
“Ah iya?!” Dan Farish akhirnya sadar dari lamunannya. “Ada apa?”
“Bapak kenapa? Sejak tadi saya berdiri disini bapak tidak sadar?? Bapak sakit?”
Farish tersenyum. “Tidak tidak, aku tidak apa –apa… hanya, masalah tak
penting…”
Mulut sekertaris itu membundar tanpa suara. “Ini laporan yang anda minta
Pak…” Kemudian ia memberikan sebuah map biru pada Farish.
“Okay makasih.” Farish menerima map biru itu. “Bisa tinggalkan saya lagi?”
“Tentu Pak…” Jawab sekertaris itu lalu keluar dari ruangan bosnya itu.
Tubuh Farish langsung merebah ke atas meja. “Ami!!! Maafkan aku!!!!”
Teriaknya kesal sendiri.
Kemudian ia kembali bangkit, bangun dari tempat duduknya dan menyambar
jaket kulit hitam yang biasa ia gunakan. Lekas bergegas melangkahkan kakinya keluar
kantor, masuk lift dan menghampiri mobil Nissan teranno hitam miliknya.
Hwerr…. Pergilah ia mengikuti inisiatif hatinya.
Dalam perjalanan itu, ditemani dengan tembang –tembang yang melantun
indah dari radio. Dan kemudian itu lagu yang sama darinya untuk Ami.
Satu persatu telah kuhapus, Cerita lalu di antara engkau dan aku
Dua hati ini pernah percaya, Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga
Ku tak ingin lagi, Menunggu, menanti
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati, Ku tak ingin coba
Hanya tuk kecewa (Ku telah kecewa),
Lelah ku bersenyum lelah ku bersandiwara
Aku ingin pergi, Dan berganti hati
Satu persatu telah kuhapus, Nada dan lagu yang dulu kucipta untukmu
Rasa yang dulu pernah ada, Kini berdebu terbelenggu dusta dan noda
Kini ku sadari diri ini, Ingin berganti hati
Cinta yang tlah pergi, Harus berganti hati
Harus ku ganti hatiku kini, Ini harus ku ganti
Tak perlu ini lagi harus berganti…
Tok tok tok!
Ami terjaga dari lamunannya saat mendengar ada seseorang mengetuk pintu.
“Masuk!” Jawabnya.
“Permisi buk, ada yang ingin bertemu dengan bu Ami…” Kabar satpam.
“Siapa?”
“Saya kurang tahu buk, katanya saya disuruh menanyakan apakah bu Ami
sedang sibuk atau tidak.”

“Ada dimana dia? Oeh ya, laki –laki atau perempuan?”
“Laki –laki bu..”
Laki –laki? Siapa? “Suruh masuk aja pak. Kebetulan saya sedang tidak sibuk.…”
“Dia bilang ingin bertemu diluar ruangan saja Bu…”
“Chieh chieh, Dek Ami ada yang nyari loh…” Goda seorang perawat yang duduk
di sebelah Ami.
“Chieh…” Seisi ruangan berseru menggoda Ami dan ia hanya membalas seruan
itu dengan senyuman yang santai.
Huh! Siapa sih laki –laki itu koq sok misterius gak kasih tahu nama. Apa jangan –
jangan itu Aim mau ngerjain aku ya? Hmm.. mungkin!
Segera Ami temui lelaki yang tengah membelakanginya berdiri.
“Kau itu sudah tadi pagi ketemu sekarang masih kesini. Koq tahu sih aku disini
ha?!” Tegurnya tanpa memperhatikan siapa yang datang.
Lelaki itu bebalik.
“Farish?”
“Pasti kamu kira aku Ibrahim, kan?” Farish memaksakan senyumnya yang
kecewa.
“Maaf…” Sesalnya.
Mereka berdua hanya diam tak tahu apa yang mau dibicarakan.
Awan luas, rumput padi, dan hembusan angin di tengah tengah sawah yang
terlentang luas di balik gedung klinik. Mereka berdua masih saja terus terdiam kaku.
“Aku minta maaf…” Farish memulai bicara.
Ami tetap saja diam. Rasa perih akan kecewa masih sangat dirasa olehnya.
Mengingat semua kebaikannya hanyalah bohong belaka, iapun tak kuat menahan
emosi hingga kedua matanya kembali meneteskan air yang sudah bosan
dikeluarkannya lagi.
“Aku memang mengenal Ibrahim dengan baik, bahkan dia adalah sahabatku…”
Jelas Farish berusaha tenang, tapi gelagatnya terlihat jelas sangat gugup dan takut.
“Sudah, jangan dilanjutkan.” Setetes air mata jatuh juga.
“Gak Ami! Kau harus dengar aku dulu. Semuanya! Dan nanti terserah kamu
mau memaafkan aku atau tidak!”
“Aku gak mau denger apapun dari kamu! Mudah kau itu bilang maaf,
sementara hatiku ini sangat kecewa sama ulah kamu dan kamu tahu itu!” Aku
memalingkan muka tak ingin dia tahu kalau aku tengah menjatuhkan air mata. “Aku
tak punya waktu banyak aku harus kembali…” Ami berdiri dari bangku panjang berjalan
meninggalkan Farish.
“Ami…!” Panggilnya.
Ia tak hiraukan lagi panggilan –panggilan darinya.
Ya TUHAN aku sungguh sangat kecewa padanya. Aku tak sangka semua akan
terjadi sampai sejauh ini. Aku tak percaya Farish itu tega melakukan hal seperti ini

padaku. Membuat aku sangat kecewa, ia bohongi aku, aku kira dia benar seorang lelaki
yang sangat baik, bahkan dia jauh lebih baik daripada seorang Ibrahim. Aku sangat
kecewa padanya Ya TUHAN…. Aku menyayangkan hubungan baikku dan Farish harus
berakhir seperti ini. Dimana aku akan menemukan pengganti kekecewaan ini?! Dimana
aku harus mencari obatnya?!
***
Aku lepas ikatan rambutku. Karet rambut berbulu yang aku dapat dari Farish
saat ulang tahunku kemarin.
“Farish tunggu ada yang lupa!” Segera aku masuk mobil dan ambil hal penting
yang telah aku buat susah payah tadi siang. Aku ambil kotak kue yang aku bawa dan
memberikannya pada Farish.
“Pernahkah terlintas dipikranmu, bagimana nanti jika kita bersanding dengan
seorang yang tidak kita cintai?”
Kembali Farish bernafas berat. “Aku hanya akan melihat seberapa besar kasih
sayang yang dia berikan padaku. Karena cinta belum tentu dapat berikan semua kasih
sayang dengan sempurna dan indah. Tapi aku yakin kasih sayang akan memberikan
seluruh cinta yang ada di dunia ini.”
Aku menarik senyum.
“Sebelum aku masuk, boleh aku bilang sesuatu padamu?” Pintanya.
“Silahkan…”
“Cinta itu hanya sekali seumur hidup, tapi cinta tak akan selalu membawa
kebahagiaan. Cinta itu tak semudah kata C I N T A-nya, apapun yang terjadi, aku hanya
bisa berdoa yang terbaik buatmu. Semoga kamu menemukan pengganti lain yang jauh
lebih baik dari dia yang bisa cintai kamu sepenuh hati…” Katanya dengan senyuman.
“Terimakasih…” Aku membalasnya dengan senyuman.
Aku hanya akan melihat seberapa besar kasih sayang yang dia berikan padaku.
Karena cinta belum tentu dapat berikan semua kasih sayang dengan sempurna dan
indah. Tapi aku yakin kasih sayang akan memberikan seluruh cinta yang ada di dunia
ini
Kalimat –kalimatnya terus terngiang dalam pikiranku. Aku tak tahu harus
bagiamana sekarang. Semua terjadi begitu saja membuat aku tak sanggup
menghadapinya. Kenapa harus kau yang membuat aku sangat kecewa seperti ini
Farish? Kenapa? Kenapa? Dan kenapa kau tega melakukannya padaku?!
***
“Farish?!”
Tok tok tok!
Panggil Ibu dari luar kamarnya.
“Masuk saja Bu, aku tak kunci pintu…” Sahut Farish tak semangat.
Kemudian Ibu membuka dan masuk kamar Farish. “Ada apa nak?”

Bantal yang menutupi mukanya diangkat sedikit. “Tidak apa –apa Bu..”
Mukanya kembali ditutup.
“Kamu tidak seperti biasanya. Ada apa? Cerita sama Ibu…” Ibu menarik bantal
yang menutupi muka Farish. “Masih tentang gadis cup cakes itu?”
Farish terbangun dan duduk. “Aku bersalah padanya dan sekarang dia sangat
marah padaku Bu…”
“Temui dia malam ini. Katakan sebenarnya, ucapkan maafmu. Ibu yakin kalau
kamu berkata dengan baik dia pasti akan mendengarkan semuanya. Dan akhirnya dia
memaafkan kamu.”
“Aku tak yakin Bu. Amita sudah sangat kecewa padaku..”
Ibu mengernyitkan alisnya. “Amita?”
“Iyaa…” Akh Farish keceplosan. Ia berjanji untuk tidak mengatakan pada
siapapum tentang gadis cup cakenya.
“Jadi namanya Amita?” Ibu mulai tersenyum. “Ami, Amita yang kamu
dedikasikan lagu di radio waktu itu?”
Farish sungguh malu. Jika keluarganya tahu siapa gadis itu berarti mereka juga
tahu orang tua Ami.
“Amita anaknya…” Ibu berusaha mengingat.
“Ah tidak Ibu… jangan jangan, jangan Bu…Ibu tidak tahu tidak kenal dengan
mereka.” Farish mengoceh berusaha membuyarkan konsentrasi Ibunya.
“Tunggu , tunggu dulu…”
“Ah tidak ibu tidak ingatkan, ibu tidak tahu.. sudah Ibu biarkan biar aja lewat
gak ibu ingat…”
“Ah! Anaknya Atiqah?!” Akhirnya Ibu ingat juga.
Farish tercekat. Mukanya langsung memerah sangat malu.
Ibu cekikikan. “Aduh anak Ibu nih…”
“Sudah lah Bu. Aku malu…”
“Kenapa harus malu pada Ibumu sendiri, ha?”
Farish tersenyum.
“Ingat umurmu sudah berapa sekarang? Mau tunggu sampai umurmu hampir
bau tanah?” Goda Ibu.
“Ah Ibu…”
“Sudah, apa perlu sore ini…”
“Ah jangan!” Sahut Farish memotong kalimat Ibunya yang belum selesai.
“Jangan Bu. Dia itu tidak mau sama aku.”
“Yakin?”
“Iya. Dia sudah pernah bilang koq sama aku, Bu. Dia hanya menganggap Farish
itu teman baiknya. Dia pacar teman Farish, Bu.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak cari yang lain saja?”
“Cari yang lain? Ah tidak…”

“Tidak mau?”
“Bukan, tidak sekarang, Bu.”
“Terus kamu kenapa bersedih seperti ini.”
“Aku sedang bingung saja, Bu. Ini pertama kalinya aku mengecewakan hati
seorang perempuan. Dan aku merasa sangat bersalah Bu..”
“Merasa bersalah, atau takut kehilangan?” Ibu tersenyum.
“Aku sungguh merasa bersalah Bu…”
“Temui saja dia dan jelaskan semuanya…”
“Sudah, tapi dia tak mau dengar Bu…”
“Ulangi berkali –kali sampai dia bosan melihat kamu akhirnya pasti dia akan
mendengarkan semuanya.”
Farish terdiam lesu.
“Sudah apa perlu Ibu dan Ayah yang membantu menyelesaikan?”
“Ah Ibu…”
Ibu tertawa kecil melihat anak lelakinya yang sedang jatuh cinta untuk pertama
kalinya.
Seperti apa yang telah ibu anjurkan padanya, malam ini juga Farish datang
kerumah Ami. Dia sudah sampai tepat di depan gerbang berwarna biru dongker.
Tapi… ah sebaiknya aku jangan masuk! Mereka pasti tahu siapa aku. Dan
mungkin malah lain urusan jadinya nanti. Ragu terus menghantui benaknya hingga ia
putuskan untuk mengurungkan niatnya malam ini.
***.
“Aku hanya akan melihat seberapa besar kasih sayang yang dia berikan
padaku. Karena cinta belum tentu dapat berikan semua kasih sayang dengan
sempurna dan indah. Tapi aku yakin kasih sayang akan memberikan seluruh cinta yang
ada di dunia ini.”
Satu persatu telah kuhapus, Cerita lalu di antara engkau dan aku
Dua hati ini pernah percaya, Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga
Ku tak ingin lagi, Menunggu, menanti
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati, Ku tak ingin coba
Hanya tuk kecewa (Ku telah kecewa),
Lelah ku bersenyum lelah ku bersandiwara
Aku ingin pergi, Dan berganti hati
Satu persatu telah kuhapus, Nada dan lagu yang dulu kucipta untukmu
Rasa yang dulu pernah ada, Kini berdebu terbelenggu dusta dan noda
Kini ku sadari diri ini, Ingin berganti hati
Cinta yang tlah pergi, Harus berganti hati
Harus ku ganti hatiku kini, Ini harus ku ganti
Tak perlu ini lagi harus berganti…

Aku terus memutar lagu yang sama setiap malam I podku. Dan tetesan air mata
kali ini semakin banyak aku buang untuknya.
Ku raih jaket dongker pemberian Farish yang menggantung di belakang pintu
kamar. Memastikan malam ini semua telah terlarut dalam tidur malam, aku harus
pergi. Aku tak tahu kemana arah tujuanku berjalan sekarang. Siapa yang akan aku
temui? Aku tidak tahu.
Malam dingin sungguh dingin, menusuk –nusuk kulit walau aku sudah
melindungi diri dengan jaket tebal. Sedingin hatiku yang kini sudah merasa kesepian.
Sepi karena, tak ada lagi Farish yang jujur menemani aku di bawah sinar bulan seperti
ini lagi. Farish, kenapa kamu tega berbohong sama aku, disaat aku mulai menyadari
aku ingin berganti hati?
Aku hentikan langkah kakiku. Di kejauhan aku melihat sesosok orang yang terus
berjalan kearahku. Lampu taman akhirnya meneranginya, Ya TUHAN, itu Farish!
Ia berjalan semakin mendekat padaku. “Ami..” Pangilnya pelan, terdengar
suara itu bergetar perlahan.
Setetes air mataku jatuh, lagi dan lagi aku membuang air mataku di tepat di
depannya. Kali ini untuk yang pertamakalinya ia membuat aku merasa sangat sedih. Air
mataku bukan lagi jatuh karena Ibrahim, tapi pertama kali jatuh karena dia.
“Dia membayar aku, untuk menghibur seorang gadis yang katanya sedang
kecewa atas kabar pertunangan. Awalnya aku tidak tahu, tapi perlahan aku curiga dan
mencari tahu semuanya. Ternyata gadis itu kamu, dan Ibrahim masa lalumu.” Ia
memulai penjelasannya lagi.
“Diam. Aku tak mau dengar omonganmu.”
“Awalnya aku tidak perduli dengan terjadinya pertunangan itu. Tapi aku..” Faris
terus berbicara tanpa menghiraukanku.
“Aku bilang stop! Kau dengar?! Hentikan!”
“…Aku putuskan mengembalikan sepuluh juta yang aku dapat dari dia saat aku
mulai merasa sesuatu yang berbeda dengan perasaanku sendiri…”
“Farish! Jangan pernah menjelaskan apapun sama aku! Aku tak mau dengar
apapun!” Bentakanku sekuat tenagaku yang semakin lemah. Aku sungguh tak tahan
lagi denganya. Aku tutup kedua telingaku berharap semua omongannya tak pernah
aku dengar lagi.
Tak perdulikan perintahku, Farish terus saja berbicara tak menghiraukan
suaraku yang juga sedang berbicara. “…Aku berharap agar pertunangan itu terjadi,
bahkan lebih cepat, agar Ibrahim bisa melepaskan kamu dan berhenti menghantui
pikiran kamu. Dan saat itu aku akan datang menggantikan dia, karena aku cinta sama
kamu Ami.” Kalimatnya terhenti.
Apa?! Hatiku seperti tersengat setrum. Aku sungguh terkejut mendengar
kalimat terakhirnya.
“Ami, aku udah jatuh cinta sama kamu…”

Aku terhenyak dan aku lepas dua tanganku. “Ha?” Aku tak percaya.
“Aku cinta sama kamu Ami..”
“Farish…” Panggilku tanpa daya.
“Maafkan aku Ami, aku tidak bermaksud mempermainkan kamu. Semua itu aku
lakukan demi menghargai Ibrahim sebagai sohib baik aku…”
Getar jantungku, derai air mata, lemah tubuhku sungguh rasa tak kuat
mendengar semua pengakuannya. Ya Tuhan, aku tak tahu harus bagaimana sekarang.
Lelaki yang berada dihadapanku telah melakukan sebuah pengakuan yang sangat
menghujam jantungku.
“Ami…” Selangkah ia lebih dekat padaku. Ragu –ragu jari –jarinya menyentuh
air mataku, menyekanya dengan lembut. “Gadis yang aku lihat tengah berdua
menghabiskan malam di tepian sungai yang mengalir deras, yang aku cintai, kau Ami…”
Dia tahu aku saat bersama Aim malam itu. Aku pejamkan mataku, berharap
rasa kecewa ini hanya mimpi dan saat aku buka semua sudah tidak ada.
“Maafkan aku Ami…” Desahnya.
Perlahan aku buka kembali mataku. Aku tak berani menatap kedua matanya.
“Mudah kau bilang maaf? Mudah kau bilang cinta? Tapi semudah apa kamu bisa
menyembuhkan rasa kecewa aku yang terjadi hanya dalam sekejap mata?”
Farish melepaskan tangannya dan ia tertunduk.
“Kau tahu aku paling tidak suka dibohongi. Dan kamu tahu bagaimana
senangnya aku mempunyai seorang teman yang sangat aku sayangi dan sangat aku
percayai. Tapi kenapa? Kenapa harus kasih sayang itu hanya karena bayaran? Kasih
sayang yang hanya sebatas sepuluh juta?!” Bentakku menahan derai tangisku. “Kau
tahu kenyataannya. Kau tahu semuanya tentang aku. Kamu tahu semuanya tentang
kehidupanku. Dan aku tidak tahu apa –apa hingga aku seperti orang bodoh yang
mengulang semuanya dihadapanmu!”
“Ami…”
“Sudah! Seperti niatmu dari awal. Kau hanya berteman denganku sampai
selesai urusan Ibrahim dan Inez. Sekarang urusan mereka sudah selesai. Itu artinya
sudah selesai juga pertemanan kita…”
“Ami jangan!”
“Sudah, ini yang terakhir..” Aku berbalik meninggalkan dia.
Tangan Farish menahanku. “Maafkan aku Ami…”
Tak menjawab aku pandangi tangannya, sesaat dalam sunyi ia melepas
tanganku dan membiarkan aku pergi sendiri.
***


Dua puluh Sembilan…

Tetes air kembali menuruni bumi. Awan perlahan berubah gelap, gemuruh
guntur mulai terdengar gertakannya. Langit kembali berair, sepertinya aku akan
semakin sering menggunakan jaket.
‘Farish’
Aku raba bordiran perak yang terdapat di bagian dalam jaket pemberian Farish.
Argh! Kenapa jaket ini sangat aku sukai?! Jaket yang paling nyaman, dan paling hangat
untuk melindungiku dari dingin. Karet rambut berbulu yang dia beri juga, aku senang
menggunakannya, tak bikin rambutku sakit sampai rontok. Begitu perdulinya dia
padaku sampai tahu sekali yang aku inginkan. Apakah itu keperdulian sebatas
perjanjian?
‘From Farish, to You Amita Rorai’
Tidak mungkin, dia pasti ikhlas berteman denganku.
Tidak! Dia sudah berbohong padaku, apa pertemanan itu ada kebohongan?!
Tidak! Tidak! Dan tetap tidak!
Aku terjebak dalam perasaan bimbang dan bingungku sendiri. Seperti aku
terjebak hujan kali ini. Aku tak bawa mobil dan sekarang aku harus naik angkot dan
pulang sendiri. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang?!
“Belum pulang, kak?” Sapa seorang perawat bernama Aisha yang masih
sebangsa denganku pakistani.
“Belum.. kamu sendiri?”
“Aku tunggu jemputan aja. Oh iya, koq gak bawa mobilnya? Biasanya kan bawa
mobil?”
“Perawatan berkala. Tadi aku cuma diantar Ayahku…”
“Owh..”
Tin tin!
Sebuah mobil Nissan terano mengklakson mobilnya.
“Itu dia sudah datang. Aku duluan kak…” Pamitnya.
“Iya..” Aku menyenyuminya.
Langsung gadis itu berlari kecil sesekali melompat menghindari genangan –
genangan air dan melindungi kepalanya dengan tasnya sendiri.
Nissan terano. Itu seperti mobil Farish. Tapi ingat kata pak satpam?
“Lho? Piye toh mbak? Cari orang gak tahu namanya, cari mobil juga gak tau
nomor polisinya.” Satpam itu malah cekikikan. “Yaa, ditunggu saja, disini yang punya
mobil Nissan terano banyak sekali…”
Aku tersenyum. Mobil itu bukan berarti milik Farish.
Mobil yang ditumpangi Aisha tak langsung pergi. Malah Aisha kembali keluar
dan berlari lagi kearahku.
“Ada yang ketinggalan?” Tanyaku perduli. “Biar aku ambilkan..”
“Gak ada kak. Kakak gak dijemput?”
“Aku naik angkot. Memangnya kenapa?”

“Ikut sama aku aja. Aku antar kakak pulang.”
“Gak usah. Aku pulang sendiri aja.”
“Hujannya makin deras kak. Kalau naik angkot ribet. Ikut aku aja yaa?” Ajaknya
terus memaksa aku.
Aisha itu anak yang baik, dia masih tahun pertama di kuliah keperawatannya.
Dia juga baru magang beberapa hari yang lalu. Itung –itung perkenalan sama anak
baru, biar tambah banyak juga kenalan sebangsa sendiri.
“Aku takut merepotkan saja Sha..”
“Ah kakak, sudahlah ayo ikut…”
Sungguh senang dapat tumpangan. Lumayan gak repot dan hemat ongkos.
Hehe maunya!
Aku naiki mobil terano yang besar dan tinggi juga ya, ah masih enakan mobil
jazzku.
“Sudah?” Tanya si supir yang tak aku lihat mukanya. Tapi suaranya? Suara itu
aku dengar semalam. “Farish?!” Ucapku seketika tanpa perhatian.
“Iya?”
“Kakak tahu abang aku?” Sahut Aisha yang mendengar aku memanggil nama
itu.
Jantungku berdebar seketika. Aku intip dari kaca sepion ditengah dan benar itu
Farish.
“Mana mobilmu?” Tanya Farish.
“Perawatan berkala…” Jawabku singkat. Menjawab begitu saja sudah menguras
energiku berribu –ribu kalori rasanya aku sampai lemas.
“Aku turun sini saja!” Suruhku tiba –tiba.
“Kamu mau kemana Ami? Rumahmu masih jauh..”
Aku diam tak menjawab.
“Temanmu ini temanku juga, Sha…” Jelas Farish pada adiknya.
“Wah teman dimana, bang?”
“Gak koq Sha, dia bukan temen aku. Cuma kebetulan kenal aja.” Tekanku.
Sebenarnya aku cuma mau bilang sama Farish kalau aku udah gak anggab dia sebagai
temanku lagi.
“Aku teman abang dia.”
“Owh…”
Aku semakin gelisah dibuatnya. Ya Tuhan kenapa aku harus bertemu dengan
dia selalu?! Setiap kali aku memikirkan dia pastilah muncul!
Perjalanan yang membosankan, sepi sunyi dan tegang sekali. Untung saja tak
terlalu lama aku sudah sampai di rumah.
“Terimakasih…”
“Sama –sama kak…”

Aku turun dari mobil. Tapi aku tak ajak mereka untuk mampir. Aku tak mau
Farish terlihat oleh Mama.
“Kak!” Panggil Aisha dari dalam mobilnya.
Aku berbalik dan tersenyum padanya.
“Kapan –kapan aku ajak kakak makan dirumah..”
Aku tersenyum. “Terimakasih…”
Kemudian dengan senyum gadis cantik itu, aku melambaikan tangan dan
mereka pergi.
***
“Heh! Ngapain sih sampai ngajak –ngajak dia makan dirumah ha?! Geram
Farish pada adiknya.
Sejak Aisha tahu masalahnya dengan seorang gadis, tak henti –hentinya Aisha
menggodai Farish untuk mengaku siapa gadis itu. Dan sekarang seisi rumahnya tahu
siapa gadis yang diincar Farish selama ini.
“Ibu!!!!” Teriak Aisha saat memasuki rumah.
“Ada apa ya?”
“Bu, Aku tahu siapa gadis itu!!” Serunya.
Farish segera membungkam mulut adik semata wayangnya.
“Siapa? Farish jangan…”
“Kau bilang mati kau!” Ancam Farish seraya bergurau.
“Sudah Farish..” Melerai dua anaknya yang saling tarik –tarikan.
Mulutnya terbebas juga. “Dia namanya Amita dan ternyata dia itu teman aku di
klinik bu…”
“Hmmm… Ibu sudah tahu siapa dia, Aisha.”
“Hey berhentilah kalian menggoda aku terus! Salah kalau aku jatuh cinta pada
seorang perempuan, ha?!” Farish mulai kesal.
“Wah akhirnya bang Farish ngaku juga kalau lagi jatuh cinta, Bu..” Goda Aisha
perhatian.
Ibu tertawa dan melempas tawa kecilnya.
“Aishh!!!” Geram Farish.
“Sudahlah Bang! Kalau tak bergerak cepat nanti keburu diambil orang!”
“Sudah aku bilang dia itu tidak mau sama aku! Kau tahu sendiri tadi betapa
kagetnya dia waktu tahu kalau kau adikku?! Dia sudah aku bikin marah, jadi dia gak
mau sama aku! Udah stop jangan bahas ini lagi!” Tegas Farish benar –benar marah. Ia
langsung masuk kamar dan mengunci pintu rapat –rapat.
“Ooo…” Mulut dokter membundar. “Kalau gitu, nanti kalau sudah tahu, bilang
saja sama pacarnya itu. Barangkali dia ingin segera dinikahi pacarnya. Kasihan dia
sangat settres sampai jatuh sakit seperti itu…”
“Benar dia sakit gara –gara setres dok?”

Dokter menyobek selembar kertas resepnya. “Iya, gadis itu tidak berpenyakit.
Biasanya kalau seperti begitu berarti pasien kelelahan dan fikiran yang sangat berat.”
Mencintai Ibrahim begitu membuatmu sakit, sedang aku tidak akan
berpengaruh apapun sama kamu. Ami, apa yang akan membuat kamu memaafkan
aku?!
***


Tiga puluh..

Sementara…
“Ami…” Panggilnya sangat manja dari telpon.
“Kau kenapa, bang?” Mendengar nada itu tidak seperti biasa, Ami justru sangat
risih mendengarnya.
“Kamu gak kangen aku?”
“Kenapa memangnya?”
“Kan aku cuma tanya Amiku, sayang.”
Kangen ya? Mungkin iya. Atau justru aku rindukan yang jauh disana. Apa dia
tengah memikirkan aku?
“Ami?” Panggil Aim dari jauh sana. “Kamu masih disitu kan?”
“Iya..”
“Kamu tak kangen sama aku?”
“Aku kangen, tapi kita kan sudah sering ketemu sekarang. Apalagi pertunangan
mu itu dibatalkan.”
“Iya, aku senneng Ami…”
“Senang kenapa?”
“Ya aku senneng karena aku gak usah marah -marah lagi kalau ketemu sama
kamu.”
“Iya…”
“Ami, kamu kenapa? Kedengarannya kamu tidak terlalu semangat?”
“Aku tidak apa –apa. Mungkin karena aku kecapean aja hari ini.”
“Owh... Sekarang musim hujan lagi..”
“Iya.”
“Ingat dulu?”
“Ingat apa?”
“Ingat tanggal dua tujuh juli. Saat kita janji untuk ketemu dan menunjukkan aku
sebuah bukti hukum hubungan kita?”
Akh iya, saat itu aku putuskan untuk tidak berhubungan dengan dia lagi. Karena
aku tahu ada pihak yang sangat tak inginkan aku dan dia bersama.
“Aku ingat, sangat ingat.”
“Kalau sekarang tidak ada penghalang lagi kan?”
“Aku tidak tahu.”

“Sekarang aku kasih tahu kamu, kalau tidak ada yang halangi kita lagi.”
“Mungkin…”
“Kamu kenapa Ami?” Tanya Aim disana semakin heran mendengar jawaban
Ami yang tidak singkron dengan pertanyaannya.
“Maaf, aku masih ada kerjaan. Telponnya dilanjut next time aja…”
Tit!
Telpon berakhir tanpa persetujuan Aim disana.
***
Aku semakin tak bisa menyambungkan diri lagi dengan telpon bersama Aim.
Entah apa yang terjadi dipikiranku, yang ada hanya Farish, Farish, dan Farish. Padahal
semua tahu Farish itu hanya sebagian orang yang aku sayangi di dunia ini, bukan Aim
yang sangat aku cintai.
Aku banting tubuhku ke tempat tidur, aku pejamkan mataku.
“Pergi atau Mati?” Katanya dengan santai.
“Ayo kalau berani…!” Sahut seorang yang berambut gondrong.
“Okay…” Sahut lelaki itu membenarkan kuda –kudanya. “Dalam hitungan
ketiga, lari…” Katanya berbisik padaku. “Satu… dua…, tiga!”
Seketika juga aku dan lelaki itu berlari sekencang mungkin. Dan masih mereka
mengejar kami.
“Kita mau kemana?” Tanyaku yang berlari terbirit –birit.
“Kemana aja asal bisa selamatkan diri dari mereka.” Jawabnya yang tak
melepaskan gandengan tangannnya sedetikpun.
“Kamu bukan polisi ya?”
“Ya bukanlah, aku orang biasa…”
“Terus pistol tadi?”
“Itu cuma korek biasa. Udah jangan tanya lagi, kita harus sembunyi sekarang!”
Lelah berlari, kami bedua memutuskan bersembunyi di bawah truk box yang
lumayan besar. Menyelip dan memperhatikan seksama langkah tiga pasang kaki yang
tak beralas itu. Mereka masih berada tepat di samping truk kuning ini.
Terbayang kembali tragedy yang tidak akan pernah aku lupakan selamanya.
Gayanya seperti seorang super hero, datang seketika menolongku, walau akhirnya aku
pun sama –sama berlari menyelamatkan diri dengannya.
“Mawar putih ini sebagai tanda pertemanan yang aku ajukan sama kamu.
Bunga pertama, aku ingin menjadi seorang teman yang baik buatmu.” Satu bunga di
berikan pada Ami. “Bunga kedua, sebagai seorang teman yang baik aku ingin selalu
ada saat kamu butuh. Bunga ketiga, sekaligus yang terakhir, sebagai teman aku ingin
melindungi kamu setiap saat…” Dua bunga itu kemudian diberikan pada Ami
semuanya.
Ami tersenyum geli. “Dasar cowok aneh. Tapi terimakasih…”

Farish tersenyum, senyumnya dalam seperti tatapannya lekat pada Ami yang
tak beralih sekejap matapun. “Senyummu, manis…”
“Farish? Aku manusia bukan gula…” Gurau Ami. “Terimakasih…” Ami berbalik
menatap Farish dengan senyum indahnya
***
Rambutnya yang selalu terikat rapih seperti ekor kuda, dua bola matanya yang
tajam, hidung mancungnya yang bertindik, alisnya bulan sabit tebal, dan senyumnya
yang sangat manis. Sudah beberapa hari ia tak berkontak lagi dengan Ami. Hanya
memandangi profile picture di layar dunia maya.
Nafasnya di hembuskan berat. “Ami, aku sangat merindukan kamu…”
Sudah tak punya nyali lagi untuk bertemu dengan Ami. Karena mungkin
persahabatannya dengan Ibrahim kembali memburuk. Apalagi kemarin Ibrahim
sempat bercerita niatnya untuk melamar Ami langsung. Saat itu Aim dan Farish tengah
menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat yang lain.
Bergilir orang –orang memberi ucapan selamat pada dua orang pengantin, yang
sedang jadi raja dan ratu semalam di pelaminan.
“Selamat Bro…!!” Serunya sambil memeluk dan menepuk –nepuk punggung
sohib.
“Terimakasih!! Kapan nyusul?”
“Bentar lagi…” Jawabnya sangat yakin.
Sesaat mereka berdua turun dari panggung pelaminan, Farish mulai merasa
aneh dan curiga.
“Nyusul Irwan merit sama siapa?” Tanya Farish serius sembari bergurau.
“Sama Ami..”
Farish terhenyak. “Amita?”
“Iya..” Angguk Aim sambil meneguk gelasnya.
“Sudah bisa?”
“Iya, orang tuaku sudah tahu dan orang tua dia juga…”
Mulutnya berhenti membahas hal itu lagi.
“Ami, Ami..” Panggilnya pada sesosok gadis manis dalam dunia maya.
Suara pintu kamar terbuka, selekas mungkin Farish meng-close layar gambar
Ami di laptopnya.
“Abang?” Sapa Aisha sekejap matanya melihat foto gadis tak jelas dari layar
laptop Farish.
“Sudah aku bilang, kalau mau masuk ketuk pintu dulu!” Katanya marah.
“Maaf, tapi foto siapa tadi?”
“Foto apa?!”
“Foto cewek abang. Tadi aku lihat kau sudah meng-closenya. Hayo siapa?! Pasti
kak Ami yaa??”

“Sudah, kau itu terlalu sirik sama aku. Urus saja tuanganmu itu, si Fadhil..”
Farish melipat laptopnya.
“Iya iya… justru itu aku minta tolong sama abang buat anterin undangan ini.”
“Sama siapa?” Farish mencomot undangan berwarna biru langit cerah dari
tangan Aisha.
“Kak Ami.”
Tercekat, kemudian undangan itu dikembalikan lagi ketangan Aisha. “Tidak
tidak!” Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya.
“Kenapa?”
“Kau itu masih tanya kenapa?! Sudah tahu hubunganku dah gak baik lagi sama
Ami malah aku suruh anterin undangan!”
“Kan cuma undangan? Ibu dan Ayahnya kan juga aku undang. Kan masih
kerabat Ayah, bang?”
Farish terdiam.
“Ayolah, kalau bukan abang siapa yang mau anterin undangan aku?”
Sejenak berfikir. “Okay…” Setujunya.
***
Tangannya sudah bersedia mengetuk pintu. Tak terduga, pintu besar berwarna
hitam sudah lebih dulu terbuka.
Farish tercekat saat melihat Ami yang muncul dari balik pintu. “A, e.a..” Ia
bingung sendiri.
Ami memalingkan pandangannya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam.” Jawab Ami sekedarnya.
“Aku mau kasih ini.” Farish menjulurkan undangan biru langit.
“Undangan?” Ami mengambil undangannya.
“Iya.”
“Siapa yang nikah?”
“Aisha..”
Mulut Ami membundar tanpa suara. “Aku kira kau yang mau nikah.”
Farish tersenyum. “Kalau aku yang nikah, siapa juga calonnya?”
Senyum Ami menyimpul. “Sudah?”
“Ah iya…”
Ami kembali ke dalam rumah, ia letakkan undangan biru Aisha di atas meja
tamu. Kemudian ia kembali keluar dan menutup pintu.
“Kamu mau kemana?” Tanya Farish heran.
“Aku mau cari angin.” Ami terus berjalan tak perdulikan Farish yang mengekor
di belakangnya.
“Ini musim hujan, langitnya udah gak tampak bintang. Gak takut hujan?”

“Aku sudah biasa hujan –hujanan di luar. Lagian aku sudah pakai jaket.”
Jawabannya tak memberikan sedikit senyumanpun.
“Jaket yang aku berikan?”
Ami terhenti.
Farish terhenti juga. “Aku lihat kau itu lebih sering memakai jaket yang aku
kasih dari pada punyamu sendiri.”
Kau tahu Farish? Aku merasa sangat terlindungi dengan jaket ini.
“Rambutmu? Kau pakai terus ikat rambut berbulu yang juga aku berikan.”
“Pentingkah aku jawab pertanyaan seperti itu?”
“Aku cuma ingin tahu, apa kamu sudah memaafkan aku atau tidak. Hanya itu..”
Ami tak menjawab, ia melanjutkan lagi kakinya yang berjalan entah kemana.
“Aku dengar, sebentar lagi kamu akan menikah sama Ibrahim.”
Ami kembali berhenti, ia berbalik menghadap Farish. “Dari mana kau tahu?!”
Tatapan matanya menunjukkan dia tak inginkan itu.
“Itu benar kan?”
“Darimana kamu tahu?!”
“Benner kan?”
“Siapa yang bilang sama kamu soal kabar yang gak benner itu ha?!”
“Kenapa kamu bilang itu gak benner?! Padahal aku dapat kabar itu langsung
dari calonmu.” Farish tersenyum.
“Apa maksud kamu?” Matanya menyipit semakin heran tak mengerti.
“Kamu mau nikah sama Ibrahim kan? Orang tua kalian sudah saling setuju.
Tidak ada penghalang lagi diantara kamu sama dia. Hubungan kalian halal koq. Inez
pergi meninggalkan Ibrahim, karena sebenarnya yang menjodohkan mereka adalah
paksaan dari orang tua Inez sendiri. Om Armand dan tante Viviana tidak setuju dengan
pergaulan Inez dengan pacarnya dulu. Jadi mereka memutuskan rencana pertunangan
itu semua. Dan saat, Inez kesal dia ceritakan semuanya tentang kamu dan Ibrahim.
Tante Imnan merasa sangat bersalah sama kamu. Semua baik –baik saja sekarang
Ami..” Jelas Farish dengan raut santai tak bersalah.
Benarkah mereka berniat untuk memasangkan aku dengan Aim? Tapi kenapa
mereka tak bilang aku dulu? Kenapa harus Farish yang tahu?! Mereka tak kasih tahu
aku tentang alasan kepergian Inez.
Nafasnya berat. “Aku turut senang kalau kamu bisa sama –sama lagi dengan
Ibrahim. Sebentar lagi kalian akan dapatkan apa yang kalian inginkan sejak awal.”
Farish semakin memaksa senyumnya.
Muka Ami mengangkat menatap mata Farish tak berdaya. “Sungguh?”
Farish mengangguk. “Iya..”
Tak terasa tatapan itu mengucurkan setetes air mata yang harusnya tak pernah
jatuh lagi sekarang.

“Kenapa kamu nangis? Bukannya harusnya kamu senneng. Selama ini kalian
berdua tersiksa dengan pertunangan itu dan sekarang semuanya sudah berakhir, kamu
dan Ibrahim, kalian sama –sama dapat restu.”
“Kamu senang aku akan nikah sama Ibrahim?”
“Iya. Aku senang.” Farish memaksa senyumannya. “Aku senang kalau kamu
senang Ami…”
Ami lepas jaketnya begitu saja, memberikan kembali pada Farish dan menarik
ikatan rambutnya juga diberikan kembali pada Farish. “Ambil ini kembali! Jangan
pernah muncul lagi kehadapan aku!”
“Ami.”
“Aku gak mau lihat kamu lagi!” Ami mendorong Farish. Kemudian ia menangis
begitu saja. “Pergi!!!”
Tak kuasa Farish meneteskan air matanya juga. Mendekati Ami dan berusaha
melindunginya dengan sebuah pelukan hangat dari dinginnya malam.
Kenapa kabar ini harus aku dapat darimu Farish? Seandainya kau tahu apa yang
aku rasakan, saat aku mulai yakin untuk berganti hati. Aku tak mampu lagi hidup
bersama dia. Aku bingung dan aku sangat ragu dengan perasaanku sendiri. Desah Ami.
Pelukan itu dilepasnya sendiri. “Maafkan aku Ami…” Jaket itu di selimutkan lagi
pada Ami. “Aku akan pergi dan gak akan muncul di hadapan kamu sesuai keinginan
kamu. Aku hanya ingin kamu menyimpan ini baik –baik.” Karet berbulu juga ia ikatkan
kembali di rambutnya. Beberapa langkah mundur dan meninggalkan Ami sendiri di
tempatnya.
“FAARissshhh!!!!!” Ami berteriak kencang.
Teriakannya mengehntikan langkah kaki Farish yang sudah jauh di belakangnya.
Farish pun berbalik tapi tak mendekat.
“Aku Benci KAUU!!!!!” Lanjut teriakan itu.
“Maafkan aku Ami…” Ucapnya pelan tak membuat Ami mendengarnya.
Kemudian Farish melanjutkan untuk pulang.
***


Tiga puluh satu..

Aku bersandar pada pohon besar di tepian sungai yang menjadi tempat
bertemunya aku dengan Ibrahim dulu hingga sekarang. Sambil membaca sebuah novel
indah yang cukup membuat mataku berkaca –kaca. Karena cerita itu mengingatkan
aku pada Farish. Sementara Aim masih saja tidur di berbantal pada pangkuanku.
Sambil memainkan rumput yang ia petik sesekali melemparkan patahan –
patahan rumput menggodaku. “Ami…” Panggilnya.
“Hem…” Jawabku tak beralih dari bacaanku.
“Kapan bacaan itu selesai?”
“Masih seratus lima puluh halaman lagi..”

Aim bangun dari pangkuanku. Ia menyabut novel yang aku pegang.
“Aim!”
“Berhenti dulu. Aku ajak kamu kesini buat dengerin omonganku, bukan malah
mau nungguin kamu baca novel.”
Aku mengalah. “Maaf. Ada apa?”
Tak langsung bicara, Aim malah memain –mainkan novel itu. Di putar –putar, di
lempar –lempar dan Hap! Aku rampas kembali.
“Kalau mau bicara cepat. Jangan buat aku menunggu lama.”
“Kamu itu kenapa sih?”
“Aku tidak apa –apa. Sudah langsung saja lah…”
“Okay. Jadi gini…” Aim menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Aku
ingin kita menikah.” Katanya singkat.
Aku terhenyak. Jadi benar apa yang dibilang Farish, Aim berniat untuk menikah
dengan aku.
“Kamu mau kan?”
“Kenapa kamu mau nikah sama aku? Dan kenapa Inez tiba –tiba menghilang
begitu saja?”
“Ami?! Aku tanya kamu, koq kamu malah bicara topik lain sih?”
“Jawab dulu.”
“Tapi Ami..”
“Jawab saja.”
“Ya, aku mau nikah sama kamu karena aku cinta sama kamu. Dan soal Inez, dia
kabur sama pacarnya. Udah?!”
Yaa, aku tahu itu Aim tapi aku marah karena kamu baru menceritakannya sama
aku.
“Jadi?” Aim masih menanti jawabanku.
“Beri aku waktu.”
Giliran Aim yang kaget mendengar jawabanku. Pasti dia mengira aku akan
langsung menjawab Ya. Tapi, tidak semudah itu. Memutuskan untuk menikah tidaklah
semudah mengatakan kata C I N T A. Sekalipun hatiku bilang aku masih sangat cintai
dia lebih dari apapun.
“Kenapa?”
“Kasih aku waktu, untuk berfikir, bang..”
Aim diam. Nampak raut kecewa di wajahnya.
“Maafkan aku. Tapi menikah bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Karena
cinta yang aku rasa tak semudah kata C I N T A-nya..”
“Ya aku tahu. Tapi aku harap permintaanmu itu bukan karena Farish.”
Aku terhenyak. “Kau?!”
“Farish baik sama kamu. Dia cinta sama kamu. Jujur aku takut sekali, kamu
akan terhipnotis semua kebaikannya.”

“Kau sendiri? Pernahkah kau sadari, semua kelakuanmu dari dulu sampai
sekarang sangat menyakiti aku?” Sindirku. Aku tak suka Aim membawa nama Farish
dalam masalah ini.
“Ami. Koq kamu gitu sih?”
“Dengar aku. Belum apa –apa, selama bertahun –tahun sudah berapakali kau
sakiti aku?”
“Ami…”
“Jadi tolong, jangan bawa –bawa nama Farish dalam urusan kita. Masalah ini
antara kau, aku dan keluarga kita.” Aku beranjak dari dudukku. “Beri aku waktu.
Maafkan aku..” Tandasku kemudian meninggalkan dia.
Hanya tuhan dan diriku sendiri yang tahu seberapa besar cintaku untuk seorang
Ibrahim Imran.
Baru beberapa meter aku pergi, tiba –tiba saja aku melihat Farish sedang
berjalan hendak menyebrang. Aku lihat di seberang ternyata ada Nissan terrano
miliknya. “Farish!” Spontan, aku langsung berteriak memanggilnya.
Farish menoleh kearahku. Dari jauh sana ia tak tersenyum sedikitpun padaku.
Tapi ia kembali menyebrang jalan, tak hiraukan aku yang menyapanya. Farish kau
kenapa? Dia terus berjalan hingga masuk mobil.
“Ada apa kamu panggil –panggil Farish?!” Tegur Aim yang tiba –tiba muncul di
balikku.
Aku sungguh kaget berbalik menghadapnya. “Bisahkah kau itu tidak
mengagetkan orang?! Bukan urusanmu aku mau panggil siapa!”
“Bukannya kamu sedang marah sama dia?”
“Marah? Iya..” Jawabku bingung. Aku memang sedang marah padanya. Dan aku
belum memaafkan dia.
“Kamu marah sama dia, karena dia sudah bohong sama kamu. Selama ini dia
baik sama kamu karena aku bayar dia, sepuluh juta. Kamu digombalin, kamu dibaikin,
kamu dimanjain, semuanya! Kamu lupa?”
“Gak!” Aku menekan kataku. “Lalu kau sendiri? Sudah amnesia, siapa yang
telah membayar Farish untuk melakukan itu semua? Ingat bang! Ingat semuanya, dari
dulu saat aku tidak tahu siapa dirimu, kau bohong hingga kau muncul sebagai seorang
abang tiriku. Ingat?! Kau muncul bilang cinta, lalu siapa Inez yang tiba –tiba kata Mama
kalian akan bertunangan. Ingat?! Ingat, saat kau bohong saat kau bilang kalian tak
saling kenal.” Tiba –tiba saja mulutku lancar mengungkapkan semua yang menjadi
beban dalam hatiku. “Belum apa –apa kau sudah terlalu banyak membohongi aku.
Apalagi nanti?”
“Aku minta maaf Ami!”
“Memaafkan tidak semudah berkata maaf. Memang aku gak bisa marah sama
kau. Tapi bukan berarti dengan mudah aku bisa melupakan semuanya.” Aku berbalik
meninggalkannya.

“Ami Ami tunggu dulu..”
“Satuhal yang harus kau lakukan sekarang.” Aku kembali menghadapnya.
“Sadari dan resapi semua kesalahan yang telah kau perbuat selama ini. Ah salah,
harusnya sebelum kau memintaku untuk menikah, kau tanya pada dirimu sendiri.
Pantaskah kau dengan mudahnya meminta aku menikahi kau, setelah semua yang
sudah kau lakukan terhadapku?!”
Aim terdiam.
Tuhan, sadarkan dia, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan
semua kenangan terindah diantara kami berdua. Ibrahim Imran. Aku inginkan kau, tapi
bagaimana ini semua terjadi begitu saja dengan mudah. Apa Mamaku sudah merestui
kau menjadi pendampingku? Bukannya Mama telah bersumpah untuk tidak mau
menerima Mami sampai kapanpun? Harusnya akulah orang pertama yang mengetahui
restu dari Mama.
Lalu, aku pulang kerumah. Aku harus bertanya pada Mama. Mama tak pernah
membahas apapun tentang ini, atau barangkali Mama berniat membuat kejutan.
“Assalamualaikum…” Aku buka dan menutup kembali pintu rumah.
Heran, aku tidak mendengar seorangpun yang menjawab. Kemana perginya?
Seharusnya di rumah ini masih ada Mama. Aku telusuri semua bagian rumah hingga
kamar Mama.
Aku terhenti, dari arah kamar Mama aku mendengar teriakan –teriakan dan
bentakan –bentakan antara Mama dan Ayah.
“Aku ibu dari anak –anakku! Aku berhak memilih siapa yang akan menjadi
jodohnya! Kenapa kau itu tak minta izinku untuk memasangkan Ami dengan Ibrahim,
ha?!” Bentak Mama terdengar dengan isak tangisnya. “Bahkan aku mengetahui dari
orang lain!”
Aku terkejut dengar hal itu. Jadi Ayah tak kasih tahu Mama? Itu hanya rencana
berdua antara Mami dan Ayah? Dan lagi –lagi Aim tidak menegaskan itu.
“Kenapa? Kenapa kau itu menolak memasangkan mereka?!” Ayah membalas
bentakan.
TOk tok tok!
Menunduk, aku terpaksa mengetuk pintu yang sudah terbuka itu. Pertengkaran
mereka berdua terhenti karena kedatanganku.
“Maafkan Ami Ayah. Berat, tapi, Ami kecewa sekali sama Ayah…” Aku coba
memberanikan diriku yang sudah sejak dulu ingin aku lakukan. “Ayah tak menyadari,
bahwa sikap Ayah terkadang menyakiti Mama dan anak –anak Ayah sendiri…”
“Apa maksud kamu, Ami?!”
“Kejadian dua puluh tahun yang lalu itu tidak mudah disembuhkan lukanya
bahkan sampai sekarang. Walau Mama bisa menerima kehadiran Mama Imnan, tapi
bukan berarti Mama tidak kan merasa sakit hati lagi pada Ayah dan Mama Imnan
sendiri. Ayah… betapa sakitnya hati seorang perempuan saat melihat orang yang

dikasihi justru pergi dengan orang lain. Pernahkah Ayah berfikir hal yang sama dapat
terjadi pada anak –anak Ayah sendiri?” Aku meneteskan air mataku.
“Ayah, aku memang cintai Ibrahim, tapi aku tidak mau egois dengan
perasaanku. Karena yang aku butuhkan bukan kebahagiaanku, tapi kebahagiaan
Mama… aku tidak mau membuat Mama sakit lagi hatinya karena aku berdampingan
dengan Ibrahim. Aku tak mau membuat Mama kecewa…”
Mata Mama terus berair membuat aku tak tega melihatnya.
“Maafkan Ami Ma, maafkan Ami Ayah…” Tandasku.
Aku berlari keluar, menghampiri mobilku dan pergi jauh!
Aku mau kemana? Aku tidak punya tujuan. Ayah? Kenapa Ayah tega melakukan
hal itu? Merencanakan semuanya tanpa sepengetahuan Mama.
Tuhan,
Ampuni aku karena telah cintai dia melebihi apapun di dunia ini. Ampuni aku
yang masih terus bermimpi suatu hari nanti Mama akan mengizinkan aku untuk
memilikinya. Kuatkan aku mengendalikan semua ini. Memutuskan untuk menikah, aku
benar –benar butuh ketenangan. Aku takut kehilangan Ibrahim, tapi aku tak mau
hidupku sakit lagi karenanya kelak.
***


Tiga puluh dua…

Persis seminggu, aku mengisolasi kehidupanku dari dua orang lelaki yang kini
sedang mendominasi kisah cintaku. Ibrahim dan Farish.
Tok tok tok!!!
“Masuk!” Sahutku tak beralih dari pandangan tugas di layar laptop.
Ternyata Mama yang datang.
“Sibuk?” Mama menghampiri aku.
“Gak juga Ma. Ada apa?”
Kemudian Mama duduk di bibir kasur. “Mama ingin bicara serius sama kamu,
nak.”
Aku tercekat. Lantas menghentikan semua tugasku. Aku seret kursiku ke depan
Mama. “Ada apa, Ma?”
Mama tersenyum. “Tadi pagi, Ibrahim datang.”
Aku hanya bisa menghela nafasku dan tak menjawab apapun. Untuk apa lelaki
itu datang kesini dan menemui Mama. Walau penasaran, tapi aku coba untuk tak
perdulikan itu. Karena mungkin hanya membuat hati Mama pilu.
“Ibrahim itu anak yang baik ya, Mi?”
Aku terhenyak. Apa yang sudah dilakukan Aim sampai –sampai Mama bertanya
seperti itu padaku?
“Ibrahim dan Imnan kesini. Ibrahim cerita semuanya tentang hubungan cinta
kalian selama ini.”

Aku terbelak. “Ha?!” Sungguh aku sangat terkejut. Beraninya dia cerita tentang
kisah tersembunyi diantara kami. Ya Tuhan! Kenapa jadi seperti ini?!!
“Ma, Ma.. Maaf..maafkan Ami Ma..” Sesalku. Setetes air bening jatuh di pipiku.
Aku bersimpuh di hadapan Mama. Sungguh aku merasa sangat menyesal.
“Kenapa kamu tidak pernah jujur pada Mama, nak?” Tetes air mata jatuh tepat
di atas tanganku. “Kenapa sampai pertunangan itu batal karena kamu, nak?”
Aku tatap Mama yang mulai menangis kecewa. “Mama.. maafkan Ami.”
Oh GOD! Apa yang sudah Aim katakan pada Mama? Mama kecewa padaku.
Aku tak bisa berkata apapun lagi. Tiada satu pembelaanpun yang bisa aku ungkapkan
pada Mama. Karena aku benar –benar sudah bersalah. Sekarang, aku hanya bisa
memeluk Mama yang tengah menangisi semua perbuatanku.
Dan saat tengah malam, aku mengendap –endap bak maling yang sedang
beraksi untuk kabur dari rumah. Aku harus menemui Aim dan minta tanggung jawab
padanya, itupun kalau dia sanggub untuk bertanggung jawab.
Aku berhasil keluar rumah tanpa satupun orang yang tahu. Lekas aku berlari
hendak menyeberangi jalanan raya yang sepi dikala larut malam seperti ini.
Tiba tiba!
Tiiiiiiiiiinnnnnnn!!!!!!
Terdengar suara klakson mobil yang panjang dan nyaring mengagetkan aku.
Spontan aku berhenti di tengah jalan. Karena pancaran sinar yang sangat terang
akupun berlindung dibalik tanganku. Nyaris nyawaku melayang percuma. Syukur,
Alhamdulillah mobil itu berhenti tepat menyentuh lututku.
Jantungku nyaris copot karena kaget. Untung saja aku masih selamat.
“Ami?!” Panggil seseorang.
Aku lepas tanganku. Kulihat ternyata itu mobil milik Farish.
“Ami, Ami!!” Cemas Faris segera turun dan menghampiriku. “Ami, Maaf,
sungguh aku gak sengaja. Kamu gak papa?!” Jelas sekali dia mencemaskan aku.
Aku diam tak menjawab apapun. Entah apa yang harus aku ucapkan atau
bahkan aku tak tahu harus bersikap bagaimana padanya. Seingatku, terakhir aku masih
marah padanya. Tapi aku justru terus memandang lekat wajahnya yang sangat
mencemaskanku.
“Ami?! Sudah larut malam sekali kamu mau pergi kemana, ha?!”
Aku masih saja memandangnya tak berkedip.
“Ami?! Dengar aku?!” Tak tahan Farish menyentuh kedua bahuku. “Ami?!”
Aku terjaga. “Farish.” Panggilku lalu mengalihkan pandangan.
“Sudah larut malam, mau kemana kamu?!” Nadanya terdengar marah.
“Bukan urusanmu aku mau pergi kemana.”
“Memang bukan urusanku, tapi lihat, baru saja kamu nyaris aku tabrak!”
“Kenapa kamu gak sekalian nabrak aku sampai mati, ha?!”
“Ami?! Kamu itu kenapa sih?”

“Sudahlah.” Aku berbalik dan melangkah pergi mengabaikan pertanyaannya.
“Bukankah dulu kamu pernah berjanji untuk tidak kabur lagi dan membuat
keluargamu khawatir?!” Farish turut melangkah di belakangku.
“Jangan perdulikan aku. Biarkan aku terus membuat keluargaku khawatir.
Bukan urusanmu.”
“Ami, kamu boleh marah sama aku. Tapi bukan berarti kamu tidak
memperdulikan kata –kataku.”
Aku berhenti dan berbalik menghadapnya. “Oh GOD! Kenapa dunia ini sempit
sekali? Hingga engkau pertemukan aku dengan dirinya lagi?!!! Dengar Farish! Jangan
pernah perdulikan aku lagi! Kemanapun aku mau pergi saat ini bukanlah urusanmu!”
Kesalku.
“Dengar aku Ami. Kembalilah pulang. Jangan sampai keluargamu sadar kalau
kamu tidak ada sekarang.”
“Jangan seolah perduli denganku!”
“Aku benar –benar perduli sama kamu, Mi!” Giliran Farish yang kesal.
“Kamu gak perduli sama aku, kamu gak perduli perasaanku!”
“Perasaan?” Bisiknya pelan.
“Kau tahu? Malam ini aku akan bertemu dengan Ibrahim.” Aku tersenyum
mengabarkan itu. “Jadi kamu gak bisa menghalangi aku pergi.”
Farish diam.
“Aim dan Ibunya menemui Mamaku tadi pagi. Dan kemarin, Aim melamar
aku…” Aku pandang wajahnya lekat –lekat.
Tapi Farish tetap diam, ia palingkan mukanya dariku.
“Kau tau? Mamaku sudah tahu semua kisah cinta antara aku dan Aim selama
bertahun –tahun lalu. Kisah cinta yang indah, penuh suka dan duka. Haru, romantic…
dan malam ini aku akan membahas ini semua dengannya.” Aku tetap memaksakan
senyumanku.
Ia tak segera menjawab omonganku. “Selamat. Sekarang, kamu dan Ibrahim…”
Kalimatnya terputus. Ia hela nafas panjangnya. “Aku, aku.. turut bahagia..” Suara itu
terdengar serak dan lenyap. Farish tetap menunduk memalingkan pandangannya
dariku.
“Hanya itu? Tidak ada yang lain?”
Farish menggeleng ragu. Matanya terpejam dan tiba –tiba ada bulir air bening
jatuh membasahi pipinya.
“Pandang aku, tatap aku. Katakan apa yang ingin kamu katakan padaku.”
Farish tetap menggeleng. “Pergi sana, jangan buat Ibrahim menunggu kamu
terlalu lama.”
Kusentuh wajahnya dan mengusap air mata di pipinya. “Jangan buang air
matamu untuk orang sepertiku. Kau itu tidak pantas menangis.”

Aku tetap berdiri dihadapannya tanpa bicara apapun lagi. Saling membisu,
hanya saling beradu pandang dengan rasa sedih dalam benak masing –masing. Farish,
katakanlah sesuatu, yakinkan aku, atas cintamu yang tulus. Agar berakhir semua
kebimbanganku selama ini.
Percuma, cukup lama juga aku berdiri di hadapannya yang tetap saja membisu.
Akupun berbalik, tapi aku terkejut saat Farish tiba –tiba menahan tangan kiriku.
“Tolong, jangan terima lamaran Ibrahim. Aku mohon, Ami, kamu gak boleh
nikah sama Ibrahim. Apapun yang terjadi...”
Aku terhenyak mendengar permintaan Farish. Aku tak menyangka dia akan
berkata seperti itu. Jantungku berdebar kencang, dan sengatan listrik itu kembali aku
rasa di sekujur tubuhku. Perlahan aku lepaskan diri dari genggaman Farish. Lalu aku
berlari meninggalkan dia begitu saja. Satu yang pasti, aku harus segera menemui Aim
sekarang juga.
Farish, maafkan aku yang tinggalkan kau begitu saja. Aku harus segera
selesaikan satu urusan yang sangat penting ini. Aim…
Ku temui Aim tengah duduk sendiri menantikan kedatanganku.
“Maaf, aku terlambat.” Sapaku tanpa senyuman.
Aim menoleh dan beranjak bangun. “Cukup lama juga kamu datang.”
“Susah juga kabur dari rumah.”
Aim tersenyum.
***
“Untuk apa kau datang menemui Mamaku dan menceritakan semuanya
tentang kita?!” Tanyaku langsung tanpa basa –basi.
“Aku hanya ingin menjelaskan semuanya. Salah?”
“Sangat salah!” Aku menatapnya sunggu –sungguh. “Harusnya kau tanya aku
dulu. Sadar, siapa dirimu dan Mamamu di hadapan Mamaku?!”
“Kenapa harus masalah itu?!”
“Karena hanya masalah itu yang menjadi penghalang kita! Harusnya, dulu,
bukan hukum yang aku cari, tapi ridho dan restu Ibu lah yang harusnya aku cari. Yang
aku tahu goresan luka dua puluh tahun lalu masih sangat terasa perihnya hingga
sekarang. Pernahkah kau memikirkan itu lebih dulu dari pada rasa cinta yang kita miliki
sekarang ini?!”
“Aku tahu, Mi. Justru aku menemui Mamamu, karena aku pikir mungkin dia
bisa merestui hubungan kita.”
“Semudah itu?! Akh.. Aim, bisahkah kau itu berfikir lebih dewasa dan bijak?
Hello??!!” Sungguh aku kehilangan kata –kata untuk menjelaskan semuanya. Oh GOD
kenapa dia susah sekali untuk mengerti posisiku sekarang?!
“Apa salahnya aku coba?”
Memang tak ada salahnya mencoba. Tapi aku tidak mau Mama merestui kami
karena terpaksa. “Aku minta maaf…”

“Kenapa, Ami?”
“Aku gak bisa menikah dengan kau.”
Aim teberlak. “What?! Kenapa?!”
“Maaf, aku gak bisa…”
“Tapi apa alasanmu, Ami?!”
“Ibunya adalah seorang wanita yang sangat dibenci oleh keluargamu. Aunty –
Auntymu, pamanmu, bahkan Mamamu sendiri saat ini. Kamu memang boleh
bersanding dengan dia, bahkan saat ini juga jika Mama mau, Mama bisa menyuruh
pertunangan itu untuk dibatalkan. Tapi tidak, lelaki itu tidak pantas buat kamu.
Pikirkan selanjutnya? Selama ini Mama memang diam dengan keadaan orang itu
dengan Mama sendiri, tapi tidak Mama mengharapkan orang itu akan datang dan
pergi sesukanya kerumah ini. Tidak nak…”
Aku teringat semua kalimat Mama. Walau aku tak mungkin mengatakan yang
sebenarnya, tapi ku harap dia mengerti keadaanku sekarang. Maafkan aku Ma yang
sangat cintai dia…
“Sudah cukup Mamaku kecewa dengan Ayah, dan aku tidak mau kalau Mama
harus kecewa padaku.”
Aim tertunduk diam.
“Sungguh, aku minta sejuta maafmu... Aku hidup di dunia ini tidaklah sendiri.
Aku terlahir ke dunia ini bukan dari sebuah batu, melainkan dari rahim seorang Ibu
yang sangat aku cintai. Kau, dan Mama. Kalian adalah dua hal terpenting dalam
hidupku. Aku harus memilih.” Aku menghela nafas mencoba menjelaskan semua
kegelisahanku dengan tenang padanya. Aku sangat berharap dia bisa mengerti apa
yang aku rasakan sekarang.
“Yaa..”
“Dan aku harap kita tidak egois dengan perasan ini. Biarlah hanya Tuhan yang
tahu bagaimana cintaku untuk kau.”
“Aku tahu itu Ami…” Terlihat rupa Aim lesu dan kecewa.
Ia diam cukup lama berfikir. Keadaanpun sunyi, hanya terdengar suara kerisikan
jangkrik dan deburan air sungai.
Aku mengerti tak semudah itu dia akan menerima Alasanku. Tapi Tuhan aku
hanya ingin yang terbaik untukku, dia dan semuanya. Aim, mengertilah keadaanku.
“Aku akan coba terima iini semua.” Aimpun akhirnya membuka mulut.
Aku tersenyum, saatku lihat ia juga tersenyum. Walau senyum kami terasa
sangat berat, aku yakin dia juga ingin yang terbaik untuk kami. Ya Tuhan, lindungilah
dia, beri kami yang terbaik. Walau rasanya tak semudah ucapan, aku akan berusaha
untuk melepas Aim selamanya, dan melupakan cinta yang tumbuh sejak bertahun –
tahun lalu. Aku akan merelakan semua perjuangan cintaku selama ini.
“Terimakasih. Aku sangat berterimakasih atas pengertianmu.”
“Sama –sama, aku juga makasih karena kamu udah cintai aku seperti ini.”

Aku tersenyum malu.
“Kamu dah bikin pertunangan aku batal dengan Inez. Setidaknya aku punya
kesempatan lagi untuk memilih gadis lain.”
Senyumku semakin lebar saja. “Sama –sama, justru aku yang harusnya
terimakasih karena Abang sudah mau mengerti keadaanku. Semoga kau bisa dapatkan
seorang perempuan yang jauuh lebih baik dari aku. Yang bisa memberikan kasih
sayang yang jauh lebih sempurna buatmu…”
“Amiiinnn. Makasih Ami, doa itu juga untukmu…”
Aim memelukku dan membelai lembut rambutku. Belaian itu kini bukanlah
belaian dari seorang kekasih melainkan dari seorang teman, atau seorang abang yang
baik pada adiknya. Yaa aku bisa raskan itu, karena aku dan dia sama –sama inginkan
yang terbaik.
“Ami…” Panggil Aim serius.
“Iya?”
“Aku minta satu hal sama kamu.”
“Apa?”
“Tolong maafkan Farish.”
Aku terkejut mendengar kalimat itu.
“Dia tidak salah, aku lah yang salah. Maafkan dia ya Ami. Sebenarnya dia sangat
cintai kamu. Aku bisa lihat dari gelagat dan sorot matanya. Hanya saja dia tidak mau
membuat aku marah. Karena dia tahu kita berdua ini saling cinta.” Jelas Aim.
Aku tersenyum. “Aku akan maafkan dia bang…” Karena aku sadar, aku tidak
mau kehilangan seorang yang berharga seperti dia.
Dia tak memintaku untuk cintai kau Farish, dia hanya inginkan aku untuk
memafkanmu Farish. Tapi hatiku bilang sebaliknya, aku diperintahkan untuk terus
berusaha cintai kau dan melupakan Aim selamanya.
***


Tiga puluh tiga..

Hari ini, hari yang indah..
Aku terjaga dengan keadaan tenang dan damai dalam hati. Tuhan, jadikan hari
ini jauh lebih baik dari hari kemarin. Dan esok, jauh lebih baik dari hari ini. Saatku buka
pintu kamar, ku temukan keadaan keluargaku yang lebih baik. Mama dan Ayah, kakak
–kakakku dengan keluarganya. Ku harap kelak kan temukan kebaikan keluargaku walau
tak bersama Aim yang kucintai.
“Mau kemana, Ami?” Sapa Mama saat melihat aku yang sangat rapih keluar
dari kamar.
Aku tersenyum membalas Mama. “Aku mau menemui seorang teman Ma.”
“Siapa?”
“Teman yang baik Ma. Yang bisa membuat aku tersenyum bahagia…”

Mama tersenyum.
Lalu kupeluk Mama erat. “Aku sayang Mama…”
“Hati –hati nak…”
Aku melepas pelukanku. “Iya Ma, Ami pergi dulu..”
Lari –lari kecil menuruni tangga yang panjang dengan hati yang sangat berseri –
seri. Aku mau menemuinya. Seorang lelaki yang perlahan mengisi hatiku dengan
senyuman.
Aku tak membuat janji dengannya. tapi aku berharap Tuhan memberikan aku
kesempatan untuk bertemu dengan dia hari ini. Di tempat yang indah, yang menjadi
awal perjumpaanku dengannya. Kulihat langit sudah menunjukkan waktu hampir
siang. Seperti kebiasaannya yang aku tahu, harusnya dia sudah ada di sana. Deburan
buih putih dari laut yang biru dan pasir putih, setelah lama tak kesini aku jadi rindukan
tempat ini.
Hari ini bukan hari libur, apalagi jam segini. Parkiran mobil saja masih sepi,
hanya mobil jazzku dan mobil sedan lain. Akh, tak ada Teraano miliknya, mana
mungkin dia ada disini. Dia pasti belum datang. Sesaat aku memandangi sekitar pantai,
hingga mataku tertuju pada seorang lelaki dengan jaket kulit berwana hitam sedang
duduk sendiri sambil memainkan pasir ditangannya. Farish, aku temukan dia..
Perlahan aku mendekat padanya tak bersuara. Aku tak mau dia menyadari
kehadiranku yang berdiri di sampingnya. Hem… kira –kira apa yang akan mengejutkan
dia yaa?
Sedikit aku rubah cara bicaraku agar terdengar seperti lelaki. “Permisi, saya
sedang mencari pemilik Nissan terano hitam yang sedang parkir di sebelah mobil saya
tepatnya sedang parkir di depan warung es kelapa muda…”
Farish tak berpaling sedikitpun. “Bukan punya saya!” Nada itu terdengar kesal
dan kasar. Jantungku menciut, aku takut karena aku tidak pernah mendengar Farish
sekasar itu nada bicaranya.
“Terus punyamu mana?” Lanjutku dengan suara asli khasku.
Sontak Farish berbalik seketika itu juga. Matanya terbelak dan sangat terkejut
melihat aku, sesosok Ami berada tepat di hadapannya. Iapun langsung berdiri
menyambutku.
“Ami?” Panggilnya berbisik tak percaya.
Aku tersenyum padanya. “Duduk sendiri sambil melamun. Sudah sampai mana
layanganmu?”
Sedikitpun Farish tak berkedip menatapku. Ia benar –benar tak percaya aku ada
dihadapannya. “Benar kah ini kamu, Ami?”
“Farish! Hentikan tatapanmu yang seperti itu. Aku tak suka.”
“Tapi sungguh aku tak mimpi, kan?”
Aku sentuh pipinya. “Bisa dirasa, kan?”

Farish tersenyum, ia pegangi tanganku yang menyentuh di pipinya. “Aku bisa
merasakannya. Harum tanganmu, sentuhan lembut kamu. Semua sama, ini nyata…”
“Sedang apa kau disini?”
Perlahan Farish melepas tanganku dan tersenyum. “Seperti biasa. kamu
sendiri?”
“Aku kesini, sengaja mau ketemu kamu.”
Farish tertawa kecil. “Kamu mau ketemu aku? Ngapain?” Pada dasarnya ia tak
percaya aku sengaja mau menemuinya.
“Yaa, sebenarnya aku cuma mau kasih tahu kalau…”
“Apa?”
“Aku sudah memaafkan kamu..”
Senyum Farish melebar. “Sungguh?”
“Yaa, Aim yang minta aku untuk maafkan kau.”
Sontak senyum Farish berbalik. “Owh, jadi kalau bukan Ibrahim yang minta,
kamu tetap tidak akan memaafkan aku, gitu?”
“Mungkin.”
“Tak perlu repot –repot kamu memaksakan diri untuk memaafkan aku.”
Tatapan matanya sungguh –sungguh.
“Iya, kamu benner. Harusnya aku ikuti kata hatiku. Bukan karena
permintaannya.” Aku menghela nafas santai. Tapi melihat Farish, aku sungguh tak tega
melihat wajahnya yang memucat. “Kau tahu? Sebenarnya aku sangat terjekut dengan
lamarannya, walaupun aku sudah dapat bocoran darimu lebih dulu.” Aku tersenyum
seolah senang dengan kejadian itu.
Farish diam tak merespon apapun, pandangannya beralih melihat sekitar.
Aku tempelkan tanganku tepat di dada sebelah kirinya, berusaha merasakan
detak jantungnya yang sangat cepat. Aku tahu dia tak suka dengan kabar ini, terlihat
jelas dari gelagatnya yang gelisah.
Tangannya dingin menyentuh tanganku. Dipegang dan tanganku dilepasnya.
“Tanganmu dingin, jantungmu juga cepat sekali…”
“Ah..ea…e.aa.a.” Katanya gugup tak bisa merangkai kata. Dia tetap
mengalihkan pandangannya dariku.
“Farish..” Panggilku.
“Iya?”
“Boleh aku tanya satu hal?”
“Silahkan.” Jawabnya tetap tak melihat kearahku.
“Jawab dengan jujur…”
“Ya.”
“Malam itu, kenapa kamu minta aku untuk menolak lamaran Ibrahim?”

“Soal kejadian itu, aku benar –benar minta maaf. Sungguh aku tidak berniat
apapun, aku tidak berniat untuk menggagalkan rencana kalian. Tolong, Abaikan
omonganku. Anggap aja aku gak pernah berkata apapun.” Jawabnya cepat.
“Semudah itu? Kalau saja ada orang yang dengar perkataanmu itu, itu bisa
kacau.”
“Aku benar –benar minta maaf. Saat itu aku hanya terlalu terbawa perasaan.”
“Lalu sekarang? Masih terbawa perasaan?”
“Tidak. Aku sadar, tidak selamanya yang aku inginkan bisa aku dapatkan.”
“Lalu?”
“Lalu, aku berharap kamu bisa menikah dengan Ibrahim dan kalian hidup
bahagia selamanya.”
“Kamu senang aku nikah sama Ibrahim sohib baikmu sejak kecil itu?”
“Kenapa tidak?”
“Sungguh?” Aku tatap matanya lekat –lekat. Aku harus membuatnya mengaku
atas isi hatinya. Terlihat jelas dia hanya berusaha mengendalikan perasaannya. Dan
berusaha membuat semua seolah baik –baik saja.
Farish tercekat ia tak lekas jawab. Kanan, kiri, atas, bawah dilihatnya semua.
Mernarik nafas dan di hembuskan lewat mulutnya. “Iya aku senang. Aku senang
karena kamu bisa bahagia seperti yang kamu inginkan. Dari dulu perjuanganmu tidak
sia –sia. Semua akan jadi kenyataan sekarang. Penyakitmu akan sembuh jadi kamu gak
akan mimisan terus pingsan. Gak akan ada yang menghantui kamu karena sekarang
wujudnya sudah nyata di samping kamu. Gak akan ada backstreet lagi, tidak akan
menangis lagi semuanya selesai kamu senang dan aku pergi…” Ujarnya cepat secepat
bus patas tanpa jeda untuk menghela nafas sedetikpun.
Aku ternganga. “Bicara apa kau itu ha?!”
“Aku? Aku jawab pertanyaanmu?”
“Pandang aku! Ulangi semua jawabanmu perlahan!” Pintaku.
“Tidak.”
“Lakukan sekarang!” Aku mulai kesal dengannya.
“Enggak. Sudah aku jawab sem…”
Aku menarik mukanya menghadapku. “Lihat aku! Ulangi jawaban
pertanyaanku, tadi secepat kilat!”
Farish tak berbicara, mulutnya masih bertahan untuk bungkam.
“Pandang aku katakan sejujurnya, apa kau senneng aku nikah sama Ibrahim?!”
Desakku tak tahan.
Dua matanya menatapku dalam. Perlahan Farish mulai membuka mulutnya.
“A..aku.. tidak tahu.” Matanya terpejam menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
“Maafkan aku Ami. Aku tidak tahu, dan aku gak mau jawab pertanyaanmu itu.”
“Kenapa? Bukannya kamu pernah bilang cinta sama aku? Bahkan kamu minta
aku untuk menolak lamaran itu. Kamu larang aku untuk menikah dengan dia. Mana

aku tahu kau itu sungguh –sungguh atau tidak setelah semua yang udah kamu lakukan
sama aku?!”
“Maafkan aku Ami. Apa pentingnya juga buat kamu tahu jawaban
pertanyaanmu itu. Aku senang atau tidak, itu tidak penting buat kamu. Kamu akan
menikah dengan Ibrahim, dan kamu akan bahagia selamanya dengan dia. Aku memang
cinta sama kamu, tapi aku tidak mau egois, Ibrahim adalah teman baikku sejak kecil
sudah cukup pertengkaran hebat diantara kami berdua waktu itu.”
“Kau tahu, sikapmu saat ini bikin aku sangat kecewa?”
“Ami, maafkan aku…”
“Tadinya aku hanya ingin mendengar. ‘Aku gak senang kamu menikah dengan
Aim Mi..’ Just it nothing else. Tapi kamu malah ngoceh aja terus bikin pusing kepala
aku.”
“Tapi kenapa?”
“Lelaki tanpa perjuangan! Aku kecewa sama kamu Rish..”
“Maafkan aku Ami.”
Sunyi seketika…
“Aku cuma mau bilang, aku sudah menolak lamaran itu”
“Kenapa?!” Sambarnya secepat petir. “Bukannya kalian berdua suda..”
“Diam! Bukankah kamu sendiri yang minta aku untuk menolaknya?”
“Tapi, aku tidak…” Katanya bingung sendiri.
“Dengarkan omonganku dulu.”
“Sungguh aku tidak bermaksud apapun. Maaf…”
“Aku menolaknya karena dua alasan. Pertama adalah Ibuku, karena aku tidak
mau menyakitinya dengan menikahi seorang anak dari wanita yang telah merebut
suaminya dua puluh tahun yang lalu. Dan yang kedua…” Aku keluarkan handphone ku,
memutar sebuah lagu yang sering aku dengar di radio beberapa waktu lalu, dan kini
menjadi favoritku. Ku tempelkan tepat ditelinganya.
……Satu persatu telah kuhapus………
………Cerita lalu di antara engkau dan aku……….
………....Dua hati ini pernah percaya………
……..Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga…….
………Ku tak ingin lagi……..
…….Menunggu, menanti……..
………Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati…….
……….Ku tak ingin coba………
…..Hanya tuk kecewa (Ku telah kecewa)…….
…….Lelah ku bersenyum lelah ku bersandiwara…….
………Aku ingin pergi…….
……Dan berganti hati…….

“…Alasan kadua, karena aku semakin sering merindukan dan semakin
menyayangi seseorang yang udah mengirimkan lagu ini untukku di radio…”
Farish tersenyum. “Sungguh?” katanya tak percaya.
Aku hanya mengangguk tersenyum.
Ia kikuk, ragu –ragu hendak memelukku karena bahagianya. Aku hampiri dia
dengan pelukan dariku, agar ia tak ragu bahwa ini adalah kenyataan yang dialaminya
sekarang.
Tuhan, jadikan pilihan hatiku kali ini adalah yang terbaik untuk semuanya…
“Ami, terimakasih sudah membuat kebahagiaan dalam hidupku…”
“Tapi maafkan aku.” Aku melepas pelukannya. “Aku tidak bisa memberikan
cinta yang utuh sama kamu. Tapi ‘..akan melihat seberapa besar kasih sayang yang dia
berikan padaku. Karena cinta belum tentu dapat berikan semua kasih sayang dengan
sempurna dan indah. Tapi aku yakin kasih sayang akan memberikan seluruh cinta yang
ada di dunia ini.’”
Farish tersenyum lebar, saat tahu aku masih sangat ingat dengan ucapannya
waktu itu. “Aku akan terima itu. Aku yakin, suatu saat kamu bisa cintai aku seperti
kamu cintai Ibrahim. Ah tidak, lebih cintai aku.. aku yakin itu.”
“Aku janji pada diriku sendiri untuk belajar cintai kau Farish…”
Cinta itu indah, walau aku tak bisa dapatkan cinta sejatiku, tapi aku bisa
rasakan betapa indahnya sebuah perjuangan agar cintaku dapatkan yang terbaik. Cinta
itu tak semudah menyebutkan huruf C I N T A-nya. Tapi aku rasa kekuatan cinta itu
sungguh kuat dan mengalahkan segalanya. Itulah cinta dalam menu hidup.
Ibrahim, sepanjang hidupku tidak akan pernah melupakan semua kisah cinta
konyol sejak smp dulu…
Farish, maafkan aku, tapi aku janji akan memberikan semua kasih sayangku
yang aku miliki padamu..
Semuanya aku lakukan karena aku teringat cerita Mama…
“Jangan dikira setelah hidup berrumah tangga lebih dari tiga puluh tahun
Mama telah cintai Ayahmu…” Ujar Mama yang menahan tangis, karena Mama tak
ingin terlihat lemah di hadapan anaknya.
Saat itu aku sangat terkejut mendengar sebuah pengakuan Mama yang sampai
detik ini hanya aku saja yang tahu.
“Ayahmu tidak Mama cintai. Seperti halnya kamu, dulu Mama telah jatuh cinta
pada seorang lain, dan itu Mama rasakan sampai sekarang. Karena grandma tak
mengizinkan hubungan kami berdua dulu, semua impian tak terwujud. Bahkan
sekarang kami berdua masing –masing sudah memiliki pasangan sendiri.”
Apakah nasib hidup juga bersifat keturunan?
“Hingga alasan Mama untuk bertahan adalah, kasih sayang dan tanggung jawab
Ayahmu yang tidak semua orang bisa berikan, termasuk seorang yang kita cintai
sekalipun. Jangan pernah mengharap cinta, tapi haraplah kasih sayangnya. Karena

cinta belum tentu dapat berikan semua kasih sayang dengan sempurna dan indah.
Tapi yakinlah kasih sayang akan memberikan seluruh cinta yang ada di dunia ini.”
Aku percaya apa yang Mama katakan. Kata –kata Mama adalah pegangan dan
landasan untuk pilihan aku.
***


Tiga puluh empat..

Sebulan kemudian…
“Mana katanya sepuluh menit lagi?! Ini sudah lima belas menit!” Terdengar
Farish dari sana marah –marah tak karuan menanti kedatanganku.
“Tungu bentar ah…” Aku hanya membalasnya sambil tersenyum sendiri.
“Tenang Abang Farish.. aku pasti datang. Ini sudah mau jalan koq…”
“Cepat sedikit. Kau itu selalu ngaret, bilangnya on time..”
“Iya iya maaf…”
Malam ini sudah berjanji untuk bertemu dengan keluarga Farish, sekaligus
pesta rahatan, kata lain pesta lajang adik Farish, Aisha.
Dengan sari dari kak Sita, sedikit sentuhan make up mini malist Kak Emma dan
tatanan rambut by kak Hani. Tak lupa aku diantar Ayah dan dukungan semangat dari
Mama. Aku akhirnya sampai di pesta yang meriah dengan sempurna.
“Dua puluh menit!” Sambut Farish yang menantiku lama di gerbang pintu
rumahnya.
Aku tersenyum. “Dulu saja aku telat dua puluh menit gak masalah tuh. ‘Ah gak
papa koq Ami…’”Godaku berlagak meniru gayanya.
“Ini beda. Kau itu akan ketemu sama orang tua aku..”
“Ah abang Farish koq sensi sih??”
Farish akhirnya tersenyum juga. “Maaf…”
“Tenang saja, jangan gugup seperti itu.”
“Kau suruh aku tenang sementara aku akan mengenalkan kamu pada seluruh
anggota keluarga besarku.”
“Yang harusnya gugup itu aku bukan kau Abang….”
Farish diam. “Harusnya emang gitu…” Lanjutnya tersenyum sendiri.
Yakin, Farish berusaha tenangkan diri. Tapi aku tahu rupanya sangat gugup,
rupanya sudah seperti mangga yang masih muda. Aku gandeng tangannya agar dia
lebih percaya diri.
Diiringi lagu aliran bhangra Punjabi, seperti asal mula leluhurku aku berjalan
memasuki ruangan megah yang sudah dihiasi lampu kecil berkerlap –kerlip. Disana sini
sudah ramai gadis –gadis yang bersari membawa nampan berisi bunga dan alat musik,
mereka bawa sambil menari –nari mengitari Aisha yang sedang duduk dengan mehndi
di kedua tangan dan kakinya.
“Batik yang sangat indah Aisha…” Sapaku saat melihat tangannya.

“Kakak…” Ia memelukku. “Senangnya kakak bisa datang malam ini…”
“Aku harus datang, selama aku gak ada halangan, aku pasti datang. Aku gak
mau melewatkan event yang membahagiakan buatmu ini… selamat yaa.”
“Makasih kakak…”
Farish menghampiri kami. “Jangan lama –lama.. dia masih punya urusan sama
aku..”
Aku dan Aisha tertawa kecil. Melihat tingkah Farish yang sangat jelas –jelas
terlihat gugup. Apalagi bintik –bintik air di dahinya sebentar –sebentar di hapusnya
dengan tissue.
Agar tak terlalu lama menyiksa Farish yang semakin gugup. Aku ikuti dia
menemui semua keluarga yang tengah berkumpul mempersiapkan acara besok.
“Kenalkan ini aunty Anni, aunty Imaniar, Aunty Salwah, Aunty Barkah, Aunty
Dawiyah..” Ucapnya cepat sambil menunjukan para aunty –aunty yang duduk santai
dengan cangkir –cangkir teh mereka. Aku bingung!
“Farish, belum menikah saja kau sudah gugup begitu…” Goda seorang Aunty.
Mereka tertawa, akupun juga tertawa tapi tak selepas mereka. Jaim gituloh!
Well satu per satu aku menyalami mereka. Mereka menyambutku dengan
sangat ramah. Terutama Ibu Farish, Aunty Rekha dan Uncle Fawwad Rawahi Ayah
Farish, sepertinya Farish sudah menceritakan banyak hal pada mereka, tak terlalu asing
menghadapiku, sangat akrab dan mengerti. Mereka seperti sudah tahu aku ini setiap
hari.
“Kakak sudah datang Bu?”
Kakak? Sepertinya, kakak Farish yang berada di luar negeri itu.
Dan suara gemuruh terdengar dari arah pintu utama.
“Sepertinya itu sudah datang…” Ibu Farish beralih pada pintu.
Farish berbisik padaku. “Lihatlah sendiri kakaku..”
Aku tersenyum.
Sesaat aku ikut Farish yang menyambut kakaknya datang. Semua berkumpul
memenuhi pintu masuk. Bersorak, saat seorang wanita manis menggunakan sari biru
turun dari mobil dan berlari sambil berputar –berputar seraya menari mengikuti
alunan music.
“WAoh!! Mera house!!! Im missing you all…” Wanita itu memeluk erat Ibu
Farish dan Farish juga.
Dia seorang wanita yang sangat ceria, periang dan semangat.
“Shumaila. Bersiaplah saja menemui kakaku yang sedikit ekstrim ini. Dia impor
langsung dari Pakistan…” Ujar Farish dengan tawa kecil.
Ekstrim? Bukan ekstrim tapi heboh, dia ramah, baik, dan asyik, aku saja
diajaknya menari. Dia menikah dengan seorang asli sana, katanya bertemu saat kak
Shumaila sedang dinas dengan pekerjaannya. Dan aku sangat senang mengenal

mereka, aku berharap semoga aku ditakdirkan untuk menjadi bagian dari keluarganya
yang sah..
Akankah bersama Ibrahim aku akan mendapat bahagia yang seperti ini?
Senyum mereka, seperti lompatan –lompatan kecil dari petasan yang di sulut
oleh anak –anak, dan bicara mereka yang heboh sekali, seperti fire works yang
meluncur ke udara malam ini. Langit gelap bertaburan bintang, dengan diwarnai butir
–butir api kecil berwarna –warni, indah, sungguh indah. Seindah hatiku menemui
sejuta kebaikan malam ini…
***
Seminggu kemudian…
“Amiii!!!!!!” Semua isi rumah ini berteriak mengganggu tidurku yang sangat
lelah.
“Kenapa aku harus dibangunkan saat mimpiku indah sekali?!”
Tanganku diseret. “Jangan bermimpi! Bukan waktunya bermimpi saatnya
menghadapi kenyataan sekarang!” Bentak kak Hani.
“Hey apa –apaan ini?!”
Kesal juga aku ditarik –tarik oleh tiga kakaku, seperti maling saja aku.
Dua petugas kecantikan dengan sekotak barang bawaannya, datang padaku.
“Ini apa –apaan kakak?” Aku mulai takut dengan serangan kakak.
Aku dilulurin! Aku di mandiin pake air mawar atau apalah itu tapi baunya
haruuummm sekali, aku suka. Terus aku di maskerin, aku di poles, rambutku di
creambath. Make up! Dempul, lipstick, eye shadow, eye liner, apa lagi itu? Semua
berjejer rapih di atas meja riasku.
Seperti ratu sejagad aku selesai dalam jam!
“Ada apa ini? Kenapa aku di dandani seperti ini?!” Heranku sangat heran. Tak
ada acara khusus hari ini tapi mereka semua sudah berpakaian rapih.
Aku tak diizinkan keluar kamar, sebelum ada panggilan dari kak Emma. Dijaga
ketat oleh seorang pembantu dan Kak Sita yang bergantian dengan kak Hani.
“Hoaaaayy!!!” Menunggu yang tak tahu juga apa, membuat aku sangat
mengantuk.
Gagang pintu kamarku terbuka. “Sudah siap ayo….” Suruh kak Emma.
“Ayo…” Ajak Kak Hani yang lebih dulu berdiri.
“Tunggu!” Aku curiga. “Jangan bilang keluarganya Farish datang ya?” Senyumku
pertanda kecurigaanku.
Mereka semua tersenyum, tapi tetap mereka tak kasih tahu apa –apa.
“Sudah lihat saja sendiri…” Suruh Kak Hani yang menggandeng tanganku keluar
kamar.
Rupaku tentu merona merah! Bodoh! Kenapa aku tak curiga dari awal yaa??!
Aku menuruni tangga panjang, sementara dibawah sudah di penuhi oleh para tamu

undangan, dan beberapa aku lihat mereka adalah keluarga besar Farish. Kedatangan
mereka semua adalah untuk meminangku.
Aunty Rekha, calon mertuaku menyematkan cicin emas yang cantik di jari
manisku. Berdo’a bersama, dan Makan!
“Tanggal pernikahannya kami ingin satu minggu lagi saja…”
Semua terbelak. “Satu minggu?!”
“Mumpung Shumaila kakak Farish ada di sini. Minggu depan sudah langsung
kembali ke Pakistan…” Jelas Si calon mertuaku.
Kabar secepat kilat sampai kembali kekamarku.
“Ha?! Minggu depan?!” Aku dan Kak Hani terbelak bersamaan.
Aku sambar handphone yang sedang beristirahat di nacase tempat tidur.
Segeralah aku telpon si sinting calon suamiku itu.
“Hallo?!”
“Hallo sayang…” Katanya santai.
“Sinting kau?! Masa mau nikah minggu depan ha?!”
Tedengar disana Farish mala tertawa cekikikan sendiri.
“Heh?! Farish?!”
“Ami, lebih cepat kan lebih baik sayang…”
“Sinting kau, sudah gak bilang –bilang keluargamu mau datang, eh sekarang
tanggal nikah malah cuma minggu depan. Gimana sih?!”
“Kamu itu gak marah –marah kenapa sih? Nyantai aja lagi.. itu kak Shumaila
yang minta, minggu depan dia sudah balik lagi ke Pakistan. Kan dia pengen lihat aku
nikah dulu…”
Aku menghembuskan nafasku kesal. “Kau itu. Hirgh! Ada dimana sekarang?”
“Aku lagi makan kacang, duduk nongkrong sama temen –temen di tepian
pantai wisata, sambil ada yang lagi mancing, surfing, eh gak ada yang surfing, tapi
berenang…”
“Ngapain disitu?!”
“Lagi pesta lajang, bentar lagi kan mau nikah. Nih Ibrahim juga ikut…”
Aim? Jantungku menjedut.
Telpon Farish berikan pada Ibrahim. “Hey, aku ucapin selamat yaa…”
“Iya makasih..” Jawabku agak gugub.
“Kamu tenang aja, disini dia gak akan macem –macem. Ntar kalau aneh –aneh
aku cekik…”
“Iya deh makasih…”
Telponya kembali pada Farish. “Kau ngapain sayang?”
“Aku? Pusing! Sudahlah aku mau tidur…”
“Okay lah… bye bye Ami…”
“Waalaikum salam!”
“Iya iya Assalamualaikum…”

“Waalaikum salam…”
Hey! Apa benar kalau perempuan mau menikah itu sensinya minta ampun?
Mungkin, sampai –sampai aku merasa penyakit sudah menumpuk dalam tubuhku. Lain
lagi aku capek harus bolak –balik salon buat perawatan kecantikan khusus buat calon
pengantin. Fitting baju, undangan, wedding organizer.. oh.. tolong aku!!!
Tapi terlepas dari semua itu, aku senang dan sangat senang, bahkan amat
sangat senang, tak henti –hentinya aku mengucap syukur Alhamdulillah kepada
TUHAN Yang Maha Kuasa yang telah memberikan padaku kebahagiaan yang tiada tara,
setelah bertahun –tahun aku menangis karena cinta yang tak pasti, sekarang semua
sudah berubah. Waktu berlalu tidak terasa, aku bahagia tanpa menggores kekecewaan
di hati Mama dengan pilihanku kali ini. Dan Ayahku, kini lebih menghargai perasaan
Mama untuk satu hal yang pernah aku ungkapkan langsung padanya waktu itu…
Aku memang bersanding dengan Farish, tapi sebagian hati untuk selamanya
tetap pada Ibrahim. Tak hanya aku, tanyakan pada dunia, cinta itu hanya sekali
memilih untuk selamanya. Hanya takdir yang berbeda…
Dear Aim, maaf aku mendahuluimu… you are the best brother I ever have..
Dear Farish, aku tak segan –segan mencekikmu kalau kau bertingkah aneh –
aneh.. and, kapan –kapan kita ikut kakakmu ke Pakistan yaa…
Last, thanks to my sisters… u make me perfecto..
***



Kesempurnaan hanya milik TUHAN.
Berbagilah kritik dan saranmu untukku.
Ismy_att@yahoo.co.id
www.facebook.com/azizah.ismy.attamimi
Terimakasih.

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified