Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Lord of the Rings 3 Part 2

Malam kejam itu berlalu sangat lamban, seakan-akan enggan. Cahaya pagi yang menyusulnya redup sekali; karena semakin dekat ke Gunung udara selalu suram, sementara dari Menara Kegelapan selubung Bayang-Bayang yang dijalin Sauron di sekitar dirinya sendiri merangkak keluar. Frodo berbaring telentang tanpa bergerak. Sam berdiri di sampingnya, enggan berbicara, meski tahu bahwa sekarang ia harus berbicara: Ia harus membangkitkan tekad majikannya untuk mencoba berupaya lagi. Akhirnya Ia membungkuk, dan berbicara di telinga Frodo, sambil membelai dahi majikannya itu.
“Bangun, Master!” katanya. “Sudah waktunya berangkat lagi.”

Seolah terbangun oleh bunyi lonceng yang tiba-tiba, Frodo bangkit berdiri dengan cepat dan memandang ke arah selatan; tapi ketika matanya melihat

Gunung dan gurun, Ia gemetar ketakutan lagi.

“Aku tidak sanggup, Sam,” katanya. “Beban ini sangat berat untuk dipikul, sangat berat.”
Sam tahu bahwa apa yang ingin diucapkannya akan sia-sia, dan kata-katanya mungkin akan lebih banyak merugikan daripada membawa kebaikan, tapi karena merasa iba ia tak bisa tinggal diam. “Kalau begitu, biarkan aku membawanya untukmu, Master,” katanya. “Kau tahu aku bersedia, selama aku masih punya kekuatan.”
Sinar liar memancar dari mata Frodo. “Mundur! Jangan sentuh aku!” teriaknya. “Ini milikku, tahu! Pergi!” Tangannya bergerak ke arah pangkal pedangnya. Tapi kemudian suaranya cepat berubah. “Tidak, tidak, Sam,” ia berkata sedih. “Tapi kau harus mengerti. Ini bebanku, dan tak ada orang lain yang bisa memikulnya. Sudah terlambat sekarang, Sam yang baik. Kau tak bisa membantuku dengan cara itu lagi. Aku sudah hampir di bawah kekuasaannya sekarang. Aku takkan bisa menyerahkannya, dan seandainya kau mencoba mengambilnya, aku akan gila.”
Sam mengangguk. “Aku mengerti,” katanya. “Tapi aku sudah berpikir-pikir, Mr. Frodo. Ada barang-barang lain yang tidak kita butuhkan. Mengapa tidak kita ringankan beban kita? Kita akan pergi ke arah sana, selurus mungkin.” Ia menunjuk ke Gunung. “Tak ada gunanya membawa apa-apa yang tidak kita butuhkan.”
Frodo melihat lagi ke arah Gunung. “Tidak,” katanya, “kita tidak membutuhkan banyak di jalan itu. Pada akhirnya bahkan sama sekali tidak ada yang kita butuhkan.” Ia memungut perisai Orc-nya dan membuangnya, setelah itu ia membuang helmnya. Lalu sambil membuka jubah kelabu ia melepaskan sabuknya yang berat dan menjatuhkannya ke tanah, sekaligus pedang yang masih di dalam sarungnya Sobekan-sobekan jubah hitam dirobeknya dan disebarkannya.
“Nah, aku tidak akan jadi Orc lagi,” teriaknya. “dan aku tidak akan memanggul senjata, bagus maupun jahat. Biar mereka menangkapku, kalau mereka mau!” Sam juga melakukan hal serupa. dan menyingkirkan perlengkapan Orc-nya; ia

juga mengeluarkan semua barang dalam ranselnya. Entah mengapa, semua benda itu sudah lekat di hatinya, meski mungkin hanya karena Ia sudah membawanya sebegitu jauh dengan susah payah. Yang paling sulit adalah berpisah dengan perlengkapan masaknya. Air mata menggenangi matanya ketika memikirkan harus membuangnya.
“Kauingat kelinci itu, Mr. Frodo?” katanya. “Dan, tempat kita di bawah tebing

panas di negeri Kapten Faramir, di hari aku melihat oliphaunt?”

“Tidak, rasanya tidak, Sam,” kata Frodo. “Aku tahu ada beberapa peristiwa terjadi, tapi aku tak bisa melihatnya. Tak tersisa sedikit pun rasa makanan, rasa air, bunyi angin, ingatan tentang pohon atau rumput atau bunga, tak ada citra tentang bulan atau bintang tersisa bagiku. Aku telanjang dalam gelap, Sam, dan tak ada tirai antara aku dengan lingkaran api itu. Aku mulai melihatnya bahkan saat sedang terjaga, dan semua yang lain memudar.”
Sam mendekati Frodo dan mengecup tangannya. “Kalau begitu, semakin cepat kita bisa membuangnya, semakin cepat kita bisa istirahat,” Ia berkata terbata- bata, tak bisa menemukan kata-kata yang lebih baik untuk diucapkan. “Berbicara tidak akan memperbaiki apa pun,” gerutunya pada diri sendiri, sambil mengumpulkan semua barang yang sudah mereka pilih untuk dibuang. la tak mau meninggalkan semuanya di tempat terbuka di belantara, sehingga ada yang bisa melihatnya. “Rupanya Stinker memungut rompi Orc itu; jangan sampai dia memungut pedang juga. Tangannya yang kosong saja sudah cukup berbahaya. Dia juga tidak boleh menyentuh panci-panciku!” Sambil berkata begitu, Sam membawa semuanya ke salah satu retakan menganga yang banyak bertebaran di daratan itu, dan membuangnya ke dalam. Bunyi gemerincing panci-pancinya yang berharga saat terjatuh dalam gelap terdengar bagai bunyi lonceng kematian di telinganya.
la kembali ke Frodo, lalu dari tambang Peri-nya ia memotong seutas kecil untuk digunakan majikannya sebagai sabuk, mengikat jubah kelabu rapat ke pinggangnya. Sisanya ia gulung rapi, lalu dimasukkan kembali ke ranselnya. Selain itu ia hanya menyimpan sisa-sisa roti perjalanan dan botol air, serta Sting yang masih menggantung pada sabuknya; di kantong kemejanya, dekat ke dada,

tersembunyi tabung kaca Galadriel dan kotak kecil pemberian sang Lady untuk

Sam sendiri.



Akhirnya mereka mengalihkan pandang ke arah Gunung dan berangkat, tidak memikirkan lagi persembunyian, berusaha mengalahkan kelelahan dan tekad yang sudah menyusut, memusatkan mat pada satu-satunya tugas, yakni untuk tetap berjalan maju. Dalam keremangan hari yang muram itu, hanya sedikit yang bisa melihat mereka di negeri yang penuh kewaspadaan itu, kecuali kalau sudah berada dekat sekali. Dari semua budak Penguasa Kegelapan, hanya para Nazgul yang bisa memperingatkannya tentang bahaya yang merambat, kecil tapi gigih, masuk ke pusat wilayahnya yang dijaga ketat. Tapi para Nazgul dan sayap hitam mereka sedang berada di luar negeri untuk melaksanakan tugas lain: mereka dikumpulkan jauh di sana, membayangi perjalanan para Kapten dari Barat, dan ke sanalah pikiran Menara Kegelapan tertuju.
Hari itu Sam merasa majikannya sudah menemukan kekuatan baru, bukan karena beban yang dibawanya sudah berkurang sedikit. Di awal perjalanan, mereka pergi lebih jauh dan lebih cepat daripada yang diharapkan. Daratan di situ kasar dan tidak bersahabat, namun mereka maju dengan pesat, dan Gunung itu semakin dekat. Tapi ketika hari semakin larut dan cahaya mulai meredup, Frodo terbungkuk lagi dan mulai terhuyung-huyung, seolah-olah sisa kekuatannya sudah habis terserap oleh upayanya hari ini.
Pada perhentian terakhir mereka, Frodo menjatuhkan diri dan berkata, “Aku haus, Sam,” lalu ia tidak berbicara lagi. Sam memberinya seteguk air, dan tinggal satu teguk tersisa. la sendiri tidak minum; sekarang, ketika malam Mordor kembali menyelubungi mereka, lngatan akan air memenuhi pikirannya, dan semua sungai atau selokan atau mata air yang pernah dilihatnya, di bawah bayang-bayang pohon willow atau berkilauan di bawah sinar matahari, menari- nari dan beriak menyiksanya di balik matanya yang terpejam. la merasakan lurnpur sejuk di sekitar jari kakinya ketika ia berjalan dalam Telaga di Bywater bersama Jolly Cotton, Tom, dan Nibs, dan adik mereka Rosie. “Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu,” keluhnya, “dan jauh Sekali dari sini. Jalan kembali, kalau

ada, harus melalui Gunung.”

Sam tak bisa tidur, dan Ia berdebat dengan dirinya sendiri. “Nah ayolah, kita sudah berbuat lebih baik daripada yang kauharapkan katanya dengan tegas. “Setidaknya awalnya sudah bagus. Hitung-hitung kita sudah menjalani separuh jarak sebelum berhenti. Satu hari lagi, dan sampailah kita.” Lalu Ia berhenti. “Jangan bodoh, Sam Gamgee,” datang jawaban dengan suaranya sendiri. “Dia tak mungkin bisa berjalan terus satu hari lagi, itu pun kalau dia bisa bergerak. Dan kau tak bisa lebih lama lagi memberinya semua air dan hampir sebagian besar makanan.”
“Aku masih bisa jalan cukup jauh, dan itu akan kulakukan. “Ke mana?”
“Ke Gunung, tentu.”

“Tapi setelah itu apa, Sam Gamgee, apa setelah itu? Kalau kau sudah sampai di sana, apa yang akan kaulakukan? Dia tidak akan mampu bertindak sendiri.” Dengan cemas Sam menyadari bahwa Ia belum menemukan jawaban untuk hal itu. la sama sekali belum punya gagasan jelas. Frodo tidak banyak menceritakan tugasnya pada Sam, dan Sam hanya tahu samar-samar bahwa entah bagaimana Cincin itu harus dimasukkan ke dalam api. “Celah-Celah Maut,” gerutunya, teringat nama lama itu. “Well, mungkin Master tahu bagaimana menemukannya, sebab aku tidak tahu.”
“Nah, itu dia!” datang jawabannya. “Semuanya sia-sia. Dia sendiri sudah bilang begitu. Kaulah yang bodoh, terus saja berharap dan bersusah payah. Seharusnya kau bisa berbaring dan tidur bersama-sama dua hari yang lalu, kalau saja kau tidak begitu keras kepala. Bagaimanapun, kau akan mati, atau mungkin lebih buruk. Sekarang kau bisa berbaring dan menyerah saja. Toh kau tidak akan pernah sampai ke puncak itu.”
“Aku akan sampai ke sana, meski harus meninggalkan segalanya kecuali tulang- tulangku,” kata Sam. “Dan akan kugendong sendiri Mr. Frodo, meski punggung dan hatiku patah karenanya. Jadi, berhentilah berdebat!”
Saat itu Sam merasa tanah di bawahnya bergetar, dan Ia mendengar atau merasakan gemuruh sayup-sayup jauh di dalam, seolah-olah guntur terkungkung

di bawah tanah. Ada kilatan nyala merah sejenak, yang berkelip di bawah awan- awan dan kemudian padam. Gunung rupanya juga tidur dengan resah. Mereka ke Orodruin sudah tiba, dan menipakan siksaan lebih hebat daripada yang sanggup dihadapi Sam. Ia sangat kesakitan, dan mulutnya begitu kering sampai Ia sudah tak bisa menelan makanan. Hari tetap mendung, bukan hanya karena asap dari Gunung: kelihatannya akan ada badai, dan jauh di sebelah timur laut ada kilauan halilintar di bawah langit yang hitam. Yang paling parah, seluruh udara dipenuhi asap; bernapas terasa sakit dan sulit, dan mereka merasa pusing, hingga terhuyung-huyung dan sering terjatuh. Namun tekad mereka tidak melemah, dan mereka terus berjuang.
Gunung semakin dekat, dan kalau mereka menengadahkan kepala yang terasa berat, gunung itu mengisi seluruh pemandangan di depan mereka, menjulang tinggi dan besar: sosok raksasa terdiri atas abu dan ampas bijih serta batu terbakar, di tengahnya muncul kerucut berlereng terjal, naik sampai ke awan- awan. Sebelum senja berakhir dan malam yang sesungguhnya datang lagi, mereka sudah merangkak dan terseok-seok sampai ke kakinya.
Dengan napas tersentak Frodo menjatuhkan diri ke tanah. Sam duduk di sampingnya. Dengan heran Ia mendapati bahwa Ia letih, tapi merasa lebih ringan, dan kepalanya terasa jernih lagi. Tak ada lagi perdebatan yang mengganggu pikirannya. la sudah tahu semua alasan untuk berputus asa, dan ia tak mau mendengarkannya. Tekadnya sudah bulat, dan hanya kematian yang bisa mematahkannya. la sudah tidak lagi merasakan keinginan atau kebutuhan untuk tidur, tapi justru merasa harus waspada. la tahu bahwa sekarang semua risiko dan bahaya sedang meruncing menuju satu titik: hari berikutnya akan menjadi hari maut, hari untuk upaya terakhir atau bencana, tarikan napas terakhir.
Tapi kapan datangnya? Malam terasa tak berujung dan tanpa waktu, menit demi menit tak bergerak dalam waktu yang tidak berlalu, dan tidak membawa perubahan. Sam mulai bertanya-tanya, apakah kegelapan kedua sudah dimulai dan takkan pernah ada hari baru lagi. Akhirnya Ia meraba-raba mencari tangan Frodo. Tangan Frodo dingin dan gemetar. Majikannya itu menggigil.

“Seharusnya aku tidak meninggalkan selimutku,” gerutu Sam; sambil berbaring ia mencoba membuat nyaman Frodo dengan lengan dan tubuhnya. Lalu Ia tertidur; dalam cahaya redup hari terakhir pencarian mereka, kedua hobbit itu tidur berdampingan. Angin sudah berhenti sehari sebelumnya, saat beralih dari Barat; kini angin datang dari Utara dan mulai membesar; perlahan-lahan cahaya Matahari yang tidak tampak mulai merembes masuk ke dalam bayangan tempat kedua hobbit berbaring.


“Ayo maju! Tarikan napas terakhir!” kata Sam sambil berdiri dengan susah payah. la membungkuk di atas Frodo dan membangunkannya dengan lembut. Frodo mengerang, tapi dengan tekad besar Ia bangkit terhuyung-huyung, lalu jatuh berlutut. Dengan susah payah ia mengangkat matanya untuk memandang lereng-lereng gelap Gunung Maut yang menjulang di atasnya, lalu dengan mengibakan ia mulai merangkak maju dengan tangannya.
Sam memandangnya dan menangis dalam hati, tapi tidak ada air mata keluar dari matanya yang kering dan terasa menusuk. “Sudah kubilang aku akan menggendongnya, meski punggungku patah,” gumamnya, “dan itu akan kulakukan!”
“Ayo, Mr. Frodo!” teriaknya. “Aku tak bisa memikulnya untukmu, tapi aku bisa menggendongmu sekalian benda itu juga. Jadi, bangkitlah! Ayo, Mr. Frodo yang baik! Sam akan menggendongmu. Katakan saja ke mana kau mau pergi, dan dia akan pergi ke sana.”
Maka Frodo menempel erat di punggung Sam, memegangi sekeliling lehernya, tungkai kaki mendekap erat di bawah lengannya. Sam bersusah payah berdiri, lalu dengan heran Ia mendapati bahwa bebannya ringan. la sudah cemas kalau- kalau Ia tak punya kekuatan untuk mengangkat majikannya sendiri, apalagi Ia sudah menduga akan berbagi beban berat Cincin terkutuk itu. Tapi ternyata tidak demikian. Entah karena Frodo sudah menyusut karena lama kesakitan, luka-luka tertusuk pisau dan sengatan beracun, serta duka dan ketakutan, dan pengembaraan tak berujung, atau karena ia diberkati dengan kekuatan baru, Sam bisa mengangkat Frodo dengan sangat mudah, seperti menggendong anak

hobbit di punggungnya dalam permainan kejarkejaran di halaman atau padang rumput di Shire. Ia menarik napas dalam, lalu mulai berjalan.
Mereka sudah mencapai kaki Gunung di sisi utara, dan agak ke barat; di sana lereng-lerengnya yang panjang dan kelabu tidak terjal, meski berantakan. Frodo tidak berbicara, maka Sam berjuang sebaik mungkin, tanpa pemanduan kecuali tekad untuk mendaki setinggi mungkin sebelum kekuatannya lenyap dan tekadnya patah. la pun bekerja keras, mendaki dan mendaki terus, membelok ke sana kemari untuk meringankan pendakian, sering Ia terjungkal ke depan, dan akhirnya ia merangkak bagai siput dengan beban berat di punggungnya. Ketika tekadnya sudah tak bisa lagi mendorongnya maju, dan tungkainya lemas, ia berhenti dan dengan lembut meletakkan Frodo di tanah.
Frodo membuka mata dan menarik napas. Rasanya lebih enteng bernapas di atas sini, di atas asap yang melingkar-lingkar dan melayang ke bawah. “Terima kasih, Sam,” Ia berkata dengan bisikan parau. Masih berapa jauh jaraknya?”
“Aku tidak tahu,” kata Sam, “karena aku tidak tahu ke mana kita pergi.”



Sam menoleh, lalu menengadah ke atas; dan ia kaget melihat betapa jauh upaya terakhir ini sudah mengantarnya. Gunung yang berdiri mengancam dan sendirian itu ternyata tidak setinggi kelihatannya. Sam sekarang melihat bahwa Gunung itu tidak setinggi celah-celah Ephel Duath yang sudah ditempuhnya bersama Frodo. Pundak-pundak kakinya yang berantakan dan runtuh menjulang sekitar 900 meter di atas padang, dan di atas mereka berdiri kerucut pusatnya yang tinggi, dengan ketinggian separuh tinggi kakinya, bagai bangunan beratap runcing atau cerobong asap bermahkotakan kawah bergerigi. Tapi Sam sudah lebih dari separuh mendaki kakinya, dan padang Gorgoroth tampak kabur di bawahnya, terselubung asap dan bayangan. Ketika melihat ke atas ia ingin berteriak, seandainya dimungkinkan dengan tenggorokannya yang kering; karena di tengah gundukan kasar dan pundak-pundak di atasnya, dengan jelas Ia melihat sebuah jalan. Jalan itu mendaki seperti sabuk yang naik dari barat, dan melingkar seperti ular mengelilingi Gunung, dan sebelum hilang dari pandangan, jalan itu sampai ke kaki kerucut di sisi timur.

Sam tak bisa langsung melihat jalur yang berada tepat di atasnya, di tempat terendah, sebab ada lereng terjal mendaki dari tempat ia berdiri; tapi Ia menduga bahwa bila Ia bisa mendaki terus sedikit lagi, pasti mereka akan sampai ke jalan itu. Secercah harapan timbul dalam dirinya. Mungkin mereka bisa menaklukkan Gunung. “Wah, barangkali jalan itu memang sengaja ada di sana!” katanya pada diri sendiri. “Seandainya tidak ada, aku akhirnya terpaksa mengaku kalah.”
Jalan itu sebenarnya berada di sana bukan untuk tujuan Sam. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Ia sedang memandang Jalan Sauron dari Barad-dur ke Sammath Naur, Bilik Apt. Jalan itu keluar dari gerbang barat yang besar dari Menara Kegelapan, melintasi sebuah jurang dalam melalui sebuah jembatan best, lalu masuk ke padang dan menjulur sejauh satu league di antara dua ngarai berasap, mencapai jalan lintas panjang mendaki yang menuju sisi timur Gunung. Di sana, berkelok-kelok dan menyusuri lingkaran lebar gunung dari selatan ke utara, akhirnya jalan itu menanjak, sampai tinggi di kerucut bagian atas, tapi masin jaun dari puncaknya yang berasap, ke tempat masuk gelap yang menghadap ke timur, langsung berhadapan dengan Jendela Mata di benteng Sauron yang terselubung keremangan. Karena sering terhalang atau rusak oleh gejolak tungku api Gunung jalan itu selalu diperbaik: dan dibersihkan oleh sejumlah Orc yang tak terhitung banyaknya.
Sam menarik napas dalam. Jalan itu ada, tapi entah bagaimana ia akan mendaki lereng itu. Pertama-tama ia perlu mengistirahatkan punggungnya yang sakit. la berbaring datar di samping Frodo untuk beberapa saat. Tak ada yang bicara. Lambat laun cahaya semakin terang. Mendadak perasaan mendesak yang tidak ia mengerti, timbul dalam dirinya. la seolah-olah dipanggil, “Sekarang, sekarang, kalau tidak, terlambat sudah!” ia menguatkan hati dan bangkit berdiri. Rupanya Frodo juga merasakan panggilan itu. la juga berlutut dengan susah payah.
“Aku akan merangkak, Sam,” Frodo terengah-engah.

Maka kaki demi kaki, seperti serangga kecil kelabu, mereka m erangkak mendaki lereng. Mereka sampai ke jalan dan mendapati jalan itu lebar, dilapisi reruntuhan dan abu yang dipadatkan. Frodo memanjat ke atasnya, lalu bergerak

bagai terdorong, perlahan-lahan menghadap ke Tim ur. Nun jauh di sana bayangan Sauron menggantung; tapi awan-awan yang menyelubungi beterbangan berputarputar dan sejenak tersingkap, karena terkoyak embusan angin dari dunia, atau mungkin tergerak oleh suatu keresahan jauh di dalam; lalu Frodo melihat, menjulang tinggi hitam, lebih hitam dan kelam daripada keremangan luas di sekitarnya, puncak-puncak dan mahkota besi kejam dari menara paling atas di Barad-dur. Hanya sekejap ia tampak, tapi dari dalamnya melesat keluar nyala api merah ke utara, seolah-olah dari sebuah jendela besar yang tingginya tak terhingga; kedipan Mata yang menusuk; lalu keremangan menggulung lagi, dan pemandangan mengerikan itu lenyap. Mata itu bukan tertuju pada m ereka: ia sedang menatap ke utara, tem pat para Kapten dari Barat sedang bertahan, dan ke sanalah seluruh kekejiannya sedang terarah, sementara Kekuatan bergerak untuk melancarkan pukulannya yang m ematikan; tapi gara-gara pemandangan sekilas itu, Frodo jatuh seperti tersambar pukulan maut. Tangannya mencari-cari rantai di lehernya. Sam berlutut di dekatnya. Sayup-sayup, nyaris tidak terdengar, ia mendengar Frodo berbisik, “Tolong aku, Sam! Tolong aku, Sam! Peganglah tanganku! Aku tak bisa menghentikannya.” Sam memegang tangan majikannya dan menangkupkannya, telapak ke telapak, dan mengecupnya; lalu dengan lembut ia memegangnya di antara kedua telapak tangannya sendiri. Tiba-tiba terpikir olehnya, “Dia sudah melihat kita! Sudah gagal semuanya, atau tak lama lagi gagal. Nah, Sam Gamgee, inilah akhir dari segala akhir.”
Sekali lagi ia mengangkat Frodo dan menarik tangannya sampai ke dada, membiarkan kaki majikannya tergantung. Lalu ia menundukkan kepala dan berjalan dengan susah payah di jalan mendaki itu. Ternyata berjalan di situ tidak semudah kelihatannya. Untung api yang menyembur keluar pada saat gejolak besar ketika Sam berdiri di atas Cirith Ungol, kebanyakan mengalir turun di lereng-lereng selatan dan barat, dan jalan di sisi ini tidak terhalang. Tapi di banyak tempat jalan itu runtuh dan menghilang, atau dilintasi retakan besar yang menganga lebar. Setelah mendaki ke arah timur, jalan itu membelok tajam memutar balik, dan untuk beberapa lama mengarah ke barat. Di tikungan, jalan

itu menembus tebing batu terjal, batu aus yang dimuntahkan dari tungku api Gunung, lama berselang. Sambil terengahengah membawa bebannya, Sam membelok; dan tepat pada saat itu, dengan sudut matanya ia melihat sekilas sesuatu jatuh dari tebing batu, seperti batu hitam kecil yang tumbang ketika ia lewat.
Tiba-tiba ia tertimpa suatu beban, dan ia terjerembap ke depan, sehingga tangannya yang masih menggenggam tangan majikannya, terluka. Lalu ia tahu apa yang terjadi, sebab saat terbaring, dari atasnya ia mendengar suara yang dibencinya.
“Masster kejam!” desis suara itu. “Masster jahat, mengkhianati kami; mengkhianati Smeagol, gollum. Tidak boleh pergi ke sana. Tidak boleh melukai Yang Berharga. Berikan pada Smeagol, yaaa, berikan pada kami! Berikan pada kami!”
Dengan sentakan keras Sam bangkit. Segera ia menghunus pedangnya; tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Gollum dan Frodo terpiting dalam rangkulan masing-masing. Gollum mencakar-cakar majikannya, berusaha mengambil rantai dan Cincin. Mungkin justru itu satu-satunya hal yang mampu membangkitkan bara api yang nyaris padam dalam hati dan tekad Frodo: suatu serangan, suatu percobaan untuk merebut hartanya secara paksa. la membalas serangan itu dengan amukan dahsyat yang mengherankan Sam, dan juga Gollum. Tapi mungkin kejadiannya bisa jauh berbeda seandainya Gollum sendiri belum berubah; tapi entah karena sudah m elew ati jalan yang mengerikan, sendirian, lapar dan tanpa air, terdorong hasrat membara dan ketakutan yang melahapnya, semua itu meninggalkan tanda-tanda memilukan. ia menjadi makhluk kurus-kering dan cekung, tinggal tulang-belulang dan kulit pucat yang membungkus ketat. Sinar liar menyala di matanya, tapi kekejiannya sudah tidak diimbangi dengan kekuatannya yang lama, yang tajam menyakitkan. Frodo mengempaskannya dan bangkit berdiri sambil gemetar.
“Turun, turun!” teriak Frodo terengah-engah, tangannya mencengkeram dada, sehingga ia menggenggam Cincin di balik lapisan rompi kulitnya. “Turun, kau keparat merangkak, dan pergi dari sini! Waktumu sudah habis. Kau tidak bisa

mengkhianati atau memukulku sekarang.”

Lalu mendadak, seperti dulu di bawah pinggiran atap Emyn Mull, Sam melihat kedua seteru itu dengan pandangan berbeda. Sebuah sosok meringkuk, nyaris hanya berupa bayangan makhluk hidup, makhluk yang kini sudah hancur terkalahkan, namun dipenuhi nafsu dan amarah menjijikkan; dan di depannya berdiri teguh, tak bisa tersentuh rasa iba, sebuah sosok berjubah putih, tapi di dadanya Ia memegang lingkaran api. Dari dalam api itu sebuah suara berbicara dengan nada berwibawa.
“Pergi, dan jangan ganggu aku lagi! Kalau sekali lagi kau sentuh diriku, kau sendiri akan dibuang ke dalam Api Maut.”
Sosok meringkuk itu mundur, dari matanya yang berkedip terpancar ketakutan yang amat sangat, namun masih diwarnai hasrat tak terpuaskan.
Lalu pemandangan itu berlalu, dan Sam melihat Frodo berdiri dengan tangan di dada, napasnya tersengal-sengal, dan Gollum dekat kakinya, bertopang pada lutut dengan tangan-tangan merenggang di tanah.
“Awas!” teriak Sam. “Dia mau melompat!” Sam maju ke depan, sambil

mengacungkan pedangnya. “Cepat, Master!” Ia tersentak. “Jalan terus! Jalan terus! Tidak boleh kehilangan waktu. Aku akan menghadapinya. Jalan terus!” Frodo memandang Sam, seolah melihat seseorang yang sudah jauh sekali. “Ya, aku harus jalan terus,” katanya. “Selamat berpisah, Sam! Inilah akhirnya. Di Gunung Maut, maut akan menjemput. Selamat berpisah!” Ia membalikkan badan dan terus berjalan, melangkah lambat tapi tegak, mendaki jalan yang menanjak.


“Nah!” kata Sam. “Akhirnya aku bisa berhadapan denganmu!” Ia nelompat maju dengan pedang siap bertarung. Tapi Gollum tidak nelompat. la jatuh rebah di tanah dan merengek.
“Jangan bunuh kami,” isaknya. “Jangan sakiti kami dengan baja kejam yang jahat! Biarkan kami hidup, yaa, hidup sedikit lebih lama lagi hancur, hancur! Kami sudah hancur. Dan kalau Yang Berharga pergi, kami juga akan mati, yaa, mati dalam debu.” Ia mengais-ngais abu jalan dengan jari-jarinya yang panjang kurus. “Debuuu!” desisnya.

Tangan Sam gamang. Pikirannya panas penuh kemarahan dan ingatan pada kejahatan. Sangat adil bila membunuh makhluk pengkhianat dan pembunuh ini, adil dan patut; dan kelihatannya inilah tindakan paling aman. Tapi jauh di hatinya ada sesuatu yang menahamiya: Ia tak bisa memukul makhluk yang berbaring dalam debu itu, makhluk yang sedih, hancur, dan sangat sial. Sam sendiri, meski cuma sebentar, sudah pernah membawa Cincin, dan kini samar-samar ia bisa menduga penderitaan pikiran dan tubuh Gollum yang sudah mengerut, diperbudak oleh Cincin, tak pernah lagi bisa mendapatkan kedamaian atau ketenangan dalam hidupnya. Tapi Sam tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya.
“Ah, terkutuklah kau, makhluk busuk!” katanya. “Pergi! Enyah! Aku tidak mempercayaimu, sama sekali tidak; tapi enyahlah. Kalau tidak, aku akan menyakitimu, ya, dengan baja kejam yang jahat.”
Gollum bangkit, bertopang pada kaki dan tangannya, dan mundur beberapa langkah, lalu membalik; sementara Sam bergerak akan mendcpaknya, Ia berlari lewat jalan. Sam tidak menghiraukannya lagi. Tiba-tiba Ia ingat majikannya. la memandang ke jalan, tapi tak bisa melihat Frodo. Secepat mungkin Ia melangkah. maju. Seandainya ia menoleh, mungkin ia melihat bahwa tak jauh di bawah, Gollum berbalik lagi, lalu dengan sinar liar menyala di matanya, ia datang dengan cepat namun hati-hati, merangkak mengikuti di belakang, menyelinap di antara bebatuan.


Jalan itu terus menanjak. Tak lama kemudian, jalan itu membelok lagi, dan terakhir arahnya menuju timur, melewati terobosan sepanjang Sisi kerucut, dan sampai ke pintu gelap di sisi Gunung, pintu Sammath Naur. Nun jauh di sana, naik ke Selatan, matahari yang menembus asap dan kabut menyala mengancam, lingkaran merah Pudar yang muram; tapi seluruh Mordor membentang di sekitar Glinting, bagai negeri mati dan sunyi, berselubung keremangan, menanti suatu pukulan mematikan.
Sam datang ke mulut yang menganga dan melihat ke dalam. Di dalamnya gelap

dan panas, dan bunyi gemuruh berat menggetarkan udara. “Frodo! Master!”

panggilnya. Tak ada jawaban. Untuk beberapa saat Ia berdiri, jantungnya berdebar-debar keras ketakutan, lalu ia masuk ke dalam. Sebuah bayangan mengikutinya.
Mulanya Ia tak bisa melihat apa pun. Dalam keadaan gawat itusekali lagi Ia mengeluarkan tabung Galadriel, tapi tabung itu pucat dan dingin dalam tangannya yang gemetar, dan tidak mengeluarkan cahaya dalam kegelapan yang mencekik itu. la sudah sampai ke pusat wilayah Sauron dan bengkel kekuasaannya yang hebat, terbesar di Dunia Tengah; semua kekuatan lain tertekan di sini. Dengan takut ia maju beberapa langkah dalam gelap, lalu mendadak muncul kilasan merah yang melompat naik, memukul atap tinggi yang hitam. Lalu Sam melihat bahwa Ia berada di dalam sebuah gua panjang, atau terowongan yang menembus kerucut Gunung yang berasap. Tapi tidak jauh di depan, lantai dan dinding di kedua sisinya terbelah retakan besar, dan sinar merah keluar dari sana, terkadang melompat naik, kadang hilang dalam gelap; sementara itu, jauh di bawah ada bunyi gemuruh dan gejolak, seolah-olah banyak mesin berdenyut dan bekerja.
Cahaya menyala lagi, dan di pinggir jurang, tepat di atas Celah Ajal, Frodo berdiri, hitam berlatar belakang nyala merah, tegang, tegak, tapi Ia seolah sudah menjadi batu.
“Master!” teriak Sam.

Lalu Frodo bergerak dan berbicara dengan suara jernih, lebih jernih dan kuat daripada yang pernah didengar Sam; suaranya melebihi bunyi berisik denyut dan gejolak Gunung Maut yang berdengung di atap dan dinding-dinding.
“Aku sudah datang,” katanya. “Tapi sekarang aku memilih untuk tidak melakukan

niatku. Aku tidak akan melakukannya. Cincin ini milikku!” Dan tiba-tiba, saat ia memasang Cincin itu di jarinya, ia lenyap dari pandangan Sam. Sam menarik napas kaget, tapi tak sempat berteriak, karena pada saat itu banyak hal terjadi sekaligus.
Sesuatu memukul punggung Sam dengan keras, kakinya ditendang dan Ia terlempar, sampai kepalanya terbentur ke lantai berbatu, sementara sebuah sosok gelap melompatinya. la berbaring diam, dan sejenak semuanya jadi hitam.

Jauh di sana, saat Frodo memakai Cincin dan mengakuinya sebagai miliknya, Kekuatan di Barad-dur terguncang sampai di Sammath Naur, pusat wilayah kekuasaan Sauron, dan Menara itu bergetar mulai dari fondasinya sampai ke puncaknya yang sombong dan getir. Penguasa Kegelapan tiba-tiba menyadari keberadaan Frodo, Mata-nya yang menembus semua bayangan memandang melintasi padang, sampai ke pintu yang sudah dibuatnya; baru sekarang ia menyadari kedahsyatan kebodohannya yang terungkap dalam satu kilasan menyilaukan, dan semua tipu muslihat musuhnya akhirnya tersingkap. Lalu kemarahannya berkobar dengan nyala dahsyat melahap, sedangkan ketakutannya timbul bagai asap hitam pekat yang mencekiknya. Sebab ia menyadari bahaya mematikan yang dihadapinya, dan betapa tipis benang tempat ajalnya tergantung sekarang.
Direnggutkannya pikirannya dari semua rancangan dan jaring-jaring ketakutan serta pengkhianatan, dari semua strategi dan peperangan; seluruh penjuru negerinya bergetar, budak-budaknya gemetaran, dan pasukan-pasukannya berhenti, para kaptennya tiba-tiba tak terkendali, kehilangan tekad, menjadi bimbang dan putus asa. Karena mereka terlupakan. Seluruh pikiran dan mata kekuasaan yang mengendalikan mereka kini tertuju dengan kekuatan dahsyat ke Gunung. Atas perintahnya, para Nazgul, para Hantu Cincin, terbang berputar- putar dengan teriakan mengoyak, berpacu cepat dalam upaya terakhir yang nekat, lebih cepat daripada angin, dan dalam kepakan sayap sedahsyat badai mereka meluncur cepat ke selatan, menuju Gunung Maut.


Sam bangkit berdiri. la pusing, darah yang mengucur dari kepalanya mengalir masuk ke mata. la meraba-raba sambil maju, lalu Ia melihat sesuatu yang sangat aneh dan mengerikan. Di pinggir jurang, Gollum sedang bertarung liar dengan musuh yang tidak tampak. la bergoyang maju-mundur, kadang begitu dekat ke pinggir jurang, sampai hampir jatuh ke dalamnya, kadang menyeret mundur, jatuh ke tanah, bangkit lagi, dan jatuh lagi. Sementara itu ia mendesis terus, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Api di bawah bangkit dengan marah, nyala merah berkobar, dan seluruh gua

dipenuhi cahaya panas yang dahsyat. Tiba-tiba Sam melihat Gollum mengangkat tangannya yang panjang ke mulutnya; taringnya yang putih tampak bersinar, lalu mengatup sambil menggigit.
Frodo berteriak, dan … itu dia, jatuh berlutut di pinggir jurang. Tapi Gollum, yang berjingkrak-jingkrak liar, mengacungkan Cincin dengan satu jari di dalam lingkarannya. Sekarang Cincin itu bersinar, seolaholah ditempa dari api yang berkobar.
“Kesayangan-ku, Kesayangan-ku, Kesayangan-ku!” teriak Gollum.

“Milikku Yang Berharga! Oh milikku yang Berharga!” Sementara itu, sambil menatap harta di tangannya dengan tamak, Ia melangkah terlalu jauh, terjungkal, goyah sebentar di tepi jurang, lalu sambil menjerit ia jatuh. Dari dalam jurang terdengar ratapannya yang terakhir: Kesayangan-ku, lalu Ia lenyap.
Bunyi gemuruh menggelegar dan hiruk pikuk besar terjadi. Api berkobar tinggi dan menyentuh atap. Denyut gemuruh mengeras sampai menjadi kegemparan dahsyat, dan Gunung itu bergetar keras. Sam lari mendekati Frodo dan menggendongnya keluar dari pintu. Di sana, di atas ambang gelap Sammath Naur, tinggi di atas padang, padang Mordor, Ia diliputi kekaguman dan kengerian, sampai-sampai ia berdiri diam dan lupa semuanya, memandang seperti patung batu.
Sekilas Ia melihat awan berputar-putar, di tengahnya menara-menara dan benteng-benteng setinggi bukit didirikan di atas takhta gunung luar biasa besar, di atas sumur-sumur yang tak terukur kedalamannya; pelataran-pelataran dan ruang bawah tanah raksasa, penjara-penjara tanpa mata yang curam bagai lereng, dan gerbang-gerbang baja yang menganga dan kokoh: lalu semuanya berlalu. Menara-menara jatuh dan gunung-gunung runtuh; tembok-tembok hancur dan melebur, jatuh berantakan; tiang-tiang besar asap dan uap menyembur naik membubung tinggi, terus naik, sampai terjungkal bagai ombak yang menenggelamkan, puncaknya menggulung dan menimpa tanah sambil berbusa. Akhirnya, melintasi jarak bermil-mil jauhnya, datang bunyi gemuruh, memuncak sampai menjadi bunyi benturan dan deruman memekakkan telinga; bumi bergetar, padang terangkat dan retak, dan Orodruin terhuyung-huyung. Api

menyembur keluar dari puncaknya yang retak. Langit terbelah guntur, dan halilintar menghanguskannya. Hujan hitam turun deras bagai cambuk yang memecut. Dan menerobos masuk ke pusat badai, dengan teriakan melebihi semua bunyi lain dan mengoyak awan-awan, datanglah para Nazgul, melesat seperti panah berapi ketika mereka terjebak ke dalam reruntuhan bukit dan langit membara, lalu terbakar, mengering, dan padam. .


“Nah, inilah akhir dari semuanya, Sam Gamgee,” kata sebuah suara di sisi Sam. Dan di situ berdiri Frodo, pucat dan letih, tapi sudah seperti semula lagi; dari matanya kini terpancar kedamaian, tak ada tekanan hasrat, kegilaan, maupun ketakutan. Bebannya sudah hilang. la sudah kembali menjadi majikan yang baik, seperti di masa lalu di Shire.
“Master!” teriak Sam, dan Ia jatuh berlutut. Di tengah reruntuhan dunia saat itu Ia hanya merasakan kegembiraan, kegembiraan besar. Beban itu sudah hilang. Majikannya sudah selamat; Frodo sudah seperti semula lagi, Ia bebas. Lalu Sam melihat tangannya yang luka dan berdarah.
“Tanganmu yang malang!” katanya. “Dan aku tak punya apa pun untuk membebatnya. Atau meredakan sakitnya. Lebih baik seluruh tanganku kuberikan padanya. Tapi dia sudah pergi dan tidak akan kembali, pergi untuk selamanya.” “Ya,” kata Frodo. “Tapi ingatkah kau kata-kata Gandalf: Bahkan Gollum mungkin masih punya peran? Kalau bukan karena dia, Sam, aku takkan bisa menghancurkan Cincin itu. Misi kita akan sia-sia, meski sudah sampai ke akhirnya yang getir. Jadi, biarlah kita memaafkannya! Sebab misi kita sudah berhasil, dan sekarang semuanya selesai. Aku senang kau berada di sini bersamaku. Di saat-saat terakhir ini, Sam.”

BAB 4

PADANG CORMALLEN



Di mana-mana di perbukitan, pasukan-pasukan Mordor mengamuk. Para Kapten dari Barat tenggelam dalam lautan yang semakin besar. Matahari bersinar merah, dan di bawah sayap para Nazgul, bayangan kematian yang gelap jatuh ke tanah. Aragorn berdiri di bawah panjinya, diam dan teguh, seperti orang merenungi hal-hal yang sudah lama berlalu atau berada sangat jauh; tapi matanya bersinar bagai bintang yang semakin terang kala malam semakin kelam. DI puncak bukit berdiri Gandalf, putih dan dingin, tak ada bayang- bayangan menimpanya. Serangan gencar dari Mordor memecah bagai ombak ke perbukitan yang terkepung, dengan suara-suara meraung seperti gelombang pasang di tengah rongsokan dan benturan senjata.
Gandalf bergerak, seolah-olah mendapatkan visi tiba-tiba; ia menoleh, memandang ke arah utara yang langitnya pucat dan jernih. Lalu ia mengangkat tangannya dan berteriak nyaring mengatasi suara gaduh peperangan: Elang- elang datang! Dan banyak suara membalas berteriak: Elang-elang datang! Pasukan-pasukan Mordor menengadah dan bertanya-tanya, apa artinya tanda itu.
Datanglah Gwaihir si Penguasa Angin, bersama Landroval saudaranya, yang terbesar di antara semua elang dari Utara, yang paling hebat di antara keturunan Thorondor lama, yang membangun sarangnya di puncak-puncak yang tak mungkin didatangi di Pegunungan Melingkar ketika Dunia Tengah masih muda. Di belakang mereka, dalam barisan panjang yang melesat cepat, datang semua pengikutnya dari pegunungan utara, berpacu menunggang angin yang semakin kencang. Mereka langsung menukik menuju para Nazgul, menukik tajam dan tiba-tiba dari angkasa, dan angin yang ditimbulkan kepakan sayap mereka ketika terbang melintas, bagaikan angin badai.
Tetapi para Nazgul berbalik dan lari, lenyap ke dalam bayangan Mordor, karena mendengar panggilan mendadak dari Menara Kegelapan, dan tepat pada saat itu seluruh pasukan Mordor gemetar, kebimbangan mencekam hati mereka, tawa

mereka meluntur, tangan mereka gemetar, dan tungkai mereka lemas. Kekuasaan yang mendorong mereka maju dan memenuhi diri mereka dengan kebencian dan kemarahan sedang gamang, tekadnya tidak lagi mengikat mereka; dan kini, ketika menatap ke dalam mata musuh, mereka melihat sinar mematikan yang menciutkan hati.
Lalu semua Kapten dari Barat berteriak nyaring, sebab hati mereka dipenuhi harapan baru di tengah kegelapan. Dari perbukitan yang terkepung, para ksatria dari Gondor, Penunggang dari Rohan, Dunedain dari Utara, pasukan-pasukan yang berjajar rapat, maju menyerbu musuh mereka yang bimbang, menembus desakan musuh dengan dorongan tombak-tombak sengit. Tetapi Gandalf mengangkat tangannya dan sekali lagi berseru dengan suaranya yang jernih, “Berhenti, Orang-Orang dari Barat! Berhenti dan tunggulah! Ini saatnya ajal datang.”
Dan saat ia berbicara, bumi bergoyang di bawah kaki mereka. Suatu kegelapan besar membubung tinggi di langit, dengan api berkobar, naik dengan cepat, jauh tinggi di atas Menara-menara Gerbang Hitam, tinggi di atas pegunungan. Bumi meraung dan bergoyang. Menara-Menara Gigi berayun-ayun, terhuyung-huyung, dan jatuh; kubu besar itu runtuh; Gerbang Hitam terlempar sampai hancur; dan dari jauh, mula-mula sayup-sayup, lalu semakin keras, akhirnya berbunyi dahsyat sekali, terdengar gemuruh berdentam, suatu raungan, alunan bunyi berisik yang bergema panjang.


“Negeri Sauron sudah hancur!” kata Gandalf. “Pembawa Cincin sudah menyelesaikan Misi-nya.” Dan saat para Kapten memandang ke selatan ke Negeri Mordor, di depan awan-awan yang pudar seolah muncul sosok gelap besar, tak bisa ditembus, bermahkotakan halilintar, memenuhi seluruh langit. Sosok besar itu menggantung di atas dunia, mengulurkan tangannya yang besar dan mengancam ke arah mereka, mengerikan tapi tak berdaya: sebab saat ia menghampiri mereka, angin besar mengembusnya, sosoknya tertiup hingga lenyap dan berlalu; lalu semuanya sunyi.

Para Kapten menundukkan kepala; ketika mereka memandang lagi, lihat! musuh-musuh mereka berlarian, dan kekuatan Mordor berhamburan bagai debu ditiup angin. Sama seperti ketika kematian menimpa onggokan diam membengkak yang mendiami bukit dan menyatukan mereka, semut-semut akan berkeliaran kebingungan dan tanpa tujuan, kemudian mati tak berdaya, begitu pula makhluk-makhluk Sauron, Orc, troll, atau hewan yang tersihir, berlarian ke sana kemari dengan bingung; beberapa bahkan bunuh diri, atau menjatuhkan diri ke dalam sumur-sumur, atau berlari sambil meraTapi kembali untuk bersembunyi di lubang-lubang dan tempat-tempat gelap tanpa cahaya yang jauh dari segala harapan. Tapi Orang-Orang dari Harad, Easterling, dan Southron, menyaksikan kehancuran perang mereka dan keagungan serta kegemilangan para Kapten dari Barat. Mereka yang paling lama dan paling setia dalam pelayanan kejahatan, membenci Barat, dan juga gagah berani, sekarang pada gilirannya berkumpul untuk melancarkan serangan terakhir yang nekat. Tapi kebanyakan lari ke timur sebisa mungkin; beberapa membuang senjata dan meminta pengampunan.
Lalu Gandalf, yang menyerahkan segala perkara tentang pertempuran dan perintah pada Aragorn dan penguasa-penguasa lain, berdiri di puncak bukit dan memanggil; elang besar pun turunlah, Gwaihir si Penguasa Angin, lalu berdiri di depannya.
“Sudah dua kali kau membawaku, sahabatku Gwaihir,” kata Gandalf. “Tiga kali akan melengkapinya, kalau kau bersedia. Kau tidak akan merasa lebih berat daripada saat membawaku dari Zirakzigil, di mana hidupku yang lama musnah terbakar.”
“Aku akan membawamu,” jawab Gwaihir, “ke mana saja kau minta, meskipun kau terbuat dari batu.”
“Kalau begitu, mari. Ajaklah saudaramu serta beberapa di antara bangsamu yang paling cepat terbangnya, ikut dengan kita. Sebab kita harus lebih cepat daripada angin, melebihi kecepatan terbang para Nazgul.”
“Angin Utara berembus, tapi kami akan terbang lebih cepat,” kata Gwaihir. Lalu

Ia mengangkat Gandalf dan terbang cepat ke selatan; bersamanya ikut

Landroval dan Meneldor yang masih muda dan bisa terbang cepat. Mereka melintasi Udun dan Gorgoroth, dan melihat seluruh negeri hancur berantakan dan kacau-balau di bawah mereka; di depan mereka Gunung Maut berkobar, memuntahkan apinya.


“Aku senang kau bersamaku di sini, Sam.” kata Frodo. “Di sini, di akhir semuanya.”
“Ya, aku bersamamu Master.” kata Sam sambil mendekapkan tangan Frodo dengan lembut ke dadanya. “Dan kau bersamaku. Perjalanan kita sudah berakhir. Tapi setelah pergi sejauh ini, aku belum mau menyerah. Ini bukan watakku, kalau kau paham maksudku.”
“Mungkin tidak, Sam,” kata Frodo, “tapi memang seperti inilah keadaan di dunia. Harapan-harapan gagal. Akhirnya sudah tiba. Kita hanya perlu menunggu sebentar lagi. Kita sudah tersesat dalam puing-puing dan reruntuhan, dan tak ada jalan keluar.”
“W ell, Master, setidaknya kita bisa agak menjauh dari tempat berbahaya ini, dari Celah Ajal ini, kalau itu memang namanya. Bukankah begitu? Ayo, Mr. Frodo, mari kita turuni jalan ini!”
“Baiklah, Sam. Kalau kau memang ingin pergi, aku akan ikut,” kata Frodo; mereka bangkit berdiri dan perlahan-lahan menuruni jalan yang berkelok-kelok; ketika mereka menuju kaki Gunung yang bergoyang, asap dan uap besar dimuntahkan dari Sammath Naur, sisi kerucut terbelah, dan muntahan besar menyala bergulir, mengalir ke bawah dengan perlahan dan gemuruh, melalui sisi timur gunung.
Frodo dan Sam tak bisa maju lebih jauh. Kekuatan terakhir pikiran dan tubuh mereka dengan cepat menyusut. Mereka sudah sampai ke sebuah bukit abu yang berdiri di kaki Gunung; tapi dari sana tak ada jalan untuk keluar. Bukit itu sekarang merupakan pulau yang takkan bertahan lama lagi. Di sekelilingnya bumi menganga, dari retakan dan lubang-lubang yang dalam, asap dan nap membubung naik. Di belakang mereka Gunung kejang-kejang. Retakan-retakan besar terbuka di sisinya. Sungai api mengalir lamban menghampiri mereka. Tak

lama lagi mereka akan tertelan. Hujan abu panas jatuh dengan deras.

Sekarang mereka berdiri; Sam membelai tangan Frodo yang masih dipegangnya. la mengeluh. “Hebat benar kisah yang kita alarm, bukan, Mr. Frodo?” katanya. “Seandainya aku bisa mendengar kisah ini diceritakan! Apa kaupikir mereka akan bilang: Ini dia kisah tentang Frodo yang berjari sembilan dan Cincin Pembawa Petaka? Lalu semuanya akan diam, seperti kita, ketika di Rivendell mereka menceritakan kisah Beren Sam Tangan dan Permata Agung. Aku berharap bisa mendengarnya! Dan aku ingin tahu jalan ceritanya setelah peran kita.”
Tapi sementara ia berbicara, demi mengusir ketakutan sampai titik terakhir, matanya berkeliaran ke utara ke arah angin, di mana langit jauh di sana masih jernih, sementara angin dingin yang semakin kencang, mengusir kegelapan dan awan-awan yang tercerai-berai.


Dan demikianlah Gwaihir melihat mereka dengan mata tajamnya yang bisa melihat jauh, ketika ia menunggang angin kencang; dan dengan menentang bahaya di langit Ia berputar-putar di udara: dua sosok kecil gelap, kesepian, bergandengan tangan di atas sebuah bukit kecil, sementara dunia berguncang di bawah mereka, dan tersentak, dan sungai-sungai api semakin mendekat. Saat Gwaihir melihat mereka dan terbang menukik ke bawah, tampak olehnya mereka jatuh keletihan, atau tercekik oleh asap dan panas, atau terpukul oleh keputusasaan, sambil menyembunyikan mata mereka dari kematian.
Mereka berbaring berdampingan; Gwaihir terbang turun, begitu juga Landroval dan Meneldor si cepat; bagai dalam mimpi, tanpa tahu apa yang terjadi dengan diri mereka, kedua pengembara diangkat dan dibawa pergi, jauh dari kegelapan dan api.


Ketika Sam terbangun, Ia mendapati dirinya berbaring di sebuah tempat tidur empuk, tapi di atasnya berayun lembut dahan-dahan pohon beech, sinar matahari berkilauan dengan warna emas dan hijau di antara dedaunannya yang masih muda. Seluruh udara dipenuhi keharuman beraneka ragam.

la ingat keharuman itu: aroma Ithilien. “Ya ampun!” renungnya. “Sudah berapa lama aku tertidur?” Karena keharuman itu mengingatkannya akan hari saat Ia menyalakan api kecilnya di bawah tebing yang disinari matahari; dan untuk sementara semua yang terjadi setelahnya hilang dari kesadarannya. la meregangkan tubuh dan menarik napas panjang. “Wah, aku bermimpi aneh sekali!” gerutunya. “Aku senang sudah bangun!” Ia bangkit duduk, lalu melihat Frodo berbaring di sampingnya, tidur dengan tenang, satu tangan di belakang kepala, satunya lagi di atas selimut-tangan yang kanan, jari tengahnya hilang. Ingatannya tersingkap kembali, dan Sam berteriak keras, “Ini bukan mimpi! Kalau begitu, di mana kita?”
Lalu sebuah suara berbicara lembut di belakangnya, “Di negeri Ithilien, dan dalam pemeliharaan Raja; beliau menunggumu.” Lalu Gandalf berdiri di depannya, berjubah putih, jenggotnya sekarang mengilap bagai salju murni dalam kerlipan sinar matahari yang menembus dedaunan. “Nah, Master Samwise, bagaimana perasaanmu?” katanya.
Tapi Sam berbaring kembali, dan memandang sambil ternganga. Sejenak, antara bingung dan bahagia, Ia tak bisa menjawab. Akhirnya ia menarik napas kaget dan berkata, “Gandalf! Kukira kau sudah mati! Tapi aku sendiri mengira aku juga sudah mati. Apakah semua peristiwa menyedihkan itu tidak benar- benar terjadi? Apa yang terjadi dengan dunia?”
“Bayangan besar sudah pergi,” kata Gandalf, lalu Ia tertawa, dan bunyinya seperti musik, atau seperti air di negeri yang gersang; ketika mendengarnya, terlintas dalam benak Sam bahwa sudah tak terhitung lamanya Ia tak mendengar bunyi tawa, bunyi kegembiraan yang murni. Bunyi itu masuk ke telinganya seperti gema dari semua kegembiraan yang pernah dialaminya. Tapi Ia sendiri malah menangis. Lalu, sama seperti kalau hujan lembut berakhir, angin musim semi dan matahari akan bersinar semakin jernih, maka tangisnya reda dan tawanya muncul, dan sambil tertawa Ia melompat turun dari tempat tidurnya. “Bagaimana perasaanku?” teriaknya. “Well, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Aku merasa, aku merasa …” Ia melambaikan tangannya di udara … “aku merasa seperti musim semi setelah musim dingin, dan matahari di

atas dedaunan; seperti terompet dan harpa dan semua nyanyian yang pernah kudengar!” Ia berhenti dan menoleh ke majikannya. “Tapi bagaimana dengan Mr. Frodo?” katanya. “Bukankah malang sekali tangannya? Tapi kuharap selebihnya dia baik-baik saja. Dia sudah mengalami masa yang berat.”
“Ya, selebihnya aku baik-baik saja,” kata Frodo, yang bangkit duduk dan tertawa juga. “Aku tertidur lagi sambil menunggumu, Sam; kau tukang tidur. Aku sudah bangun pagi-pagi tadi, dan sekarang mungkin sudah hampir tengah hari.” “Tengah hari?” kata Sam, mencoba menghitung-hitung. “Tengah hari dari hari apa?”
“Hari keempat belas dari Tahun Baru,” kata Gandalf. “Atau kalau kau suka, hari kedelapan bulan April menurut hitungan di Shire. Tapi di Gondor sekarang Tahun Baru akan selalu mulai pada tanggal dua puluh lima Maret, saat Sauron jatuh dan kau dikeluarkan dari api, dibawa kepada Raja. Dia sudah merawatmu, dan kini dia menantimu. Kau akan makan dan minum bersamanya. Bila kau sudah siap, aku akan membawamu kepadanya.”
“Raja?” kata Sam. “Raja apa, dan siapa dia?”

“Raja Gondor dan Penguasa negeri-negeri Barat,” kata Gandalf. Dia sudah mengambil kembali seluruh wilayahnya yang lama. Tak lama lagi dia akan dinobatkan, tapi dia menunggumu.”
“Apa yang akan kami pakai?” kata Sam; sebab Ia hanya melihat pakaian lusuh dan koyak-koyak yang mereka kenakan selagi mengembara, terlipat di lantai samping tempat tidur mereka.
“Pakaian yang kalian pakai dalam perjalanan ke Mordor,” kata Gandalf. “Bahkan

pakaian Orc compang-camping yang kami pakai di negeri hitam, Frodo, akan disimpan. Tak ada sutra dan linen, atau senjata serta lambang yang lebih terhormat. Tapi nanti aku mungkin bisa menemukan pakaian lain.”
Lalu Ia mengulurkan tangannya pada mereka, dan mereka melihat tangannya

bercahaya. “Apa yang kaupegang?” teriak Frodo. “Apakah itu …”

“Ya, aku membawa kedua harta kalian. Kami menemukannya pada diri Sam ketika kalian diselamatkan; hadiah-hadiah dari Lady Galadriel: tabung kacamu, Frodo; dan kotakmu, Sam. Kalian akan senang bisa menyimpannya lagi.”



Selesai mandi dan berpakaian, sertaa makan sedikit, kedua hobbit mengikuti Gandalf Mereka melangkah keluar dari rumpun pohon beech tempat mereka tadi berbaring, dan masuk ke sebuah halaman panjang yang hijau, bercahaya kena sinar matahari, dibatasi pohonpohon megah berdaun gelap yang berbunga lebat warna merah padam. Di belakang mereka terdengar bunyi air terjun, dan sebuah sungai mengalir di depan mereka, di antara tebing-tebing berbunga, sampai ke sebuah hutan di kaki halaman, kemudian masuk ke bawah lengkung pepohonan. Melalui pepohonan itu mereka melihat kilau air di kejauhan.
Ketika sampai ke tempat terbuka di hutan itu, mereka heran melihat ksatria- ksatria berpakaian logam mengilap dan pengawalpengawal tinggi berseragam perak dan hitam berdiri di sana, menyambut mereka dengan penuh hormat dan membungkuk di depan mereka. Lalu salah satu meniup terompet, sementara mereka berjalan meiewati lorong pepohonan di samping sungai yang bernyanyi. Mereka sampai di sebuah dataran hijau luas, di seberangnya mengalir sebuah sungai lebar diselubungi kabut keperakan, dan di tengahnya muncul sebuah pulau panjang berhutan, banyak kapal berlabuh di pantainya. Tapi di padang tempat mereka sekarang berdiri, pasukan besar berkumpul dalam barisan dan kompi-kompi, gemerlap di bawah sinar matahari. Saat kedua hobbit mendekat, pedang-pedang dihunus, tombak-tombak digoyangkan, terompet-terompet bernyanyi, dan orangerane herteriak dalam banyak suara dan bahasa,


“Panjang umur para Hafling! Pujilah mereka dengan puji pujian! Cuio i Pheriain anann! Aglar'ni Pheriannath!
Pujilah mereka dengan sanjungan agung, Frodo dan Samwise! . Daur a Berhael, Conin en Annun! Eglerio!
Pujilah mereka! Eglerio!
A laita te, laita te! Andave laituvalmet! Pujilah mereka!
Cormacolindor, a laita tkrienna!

Pujilah mereka!

Para Pembawa Cincin, pujilah mereka!”



Begitulah Frodo dan Sam dengan wajah merah dan mata bersinar heran, melangkah maju dan melihat bahwa di tengah pasukan yang hiruk-pikuk sudah diletakkan tiga tempat duduk tinggi terbuat dari tanah kering berumput hijau. Di belakang tempat duduk di sebelah kanan berkibar panji bergambar seekor kuda besar putih berlari bebas di kehijauan; di sebelah kiri sebuah panji, perak di atas biru, bergambar kapal berhaluan angsa yang berlayar di laut; dan di belakang takhta paling tinggi di tengah, sebuah pataka besar berkibar diembus angin, dengan gambar pohon putih berbunga di atas latar gelap, di bawah mahkota bercahaya dan tujuh bintang bersinar. Di takhta itu duduk seorang pria berpakaian logam, pedang besar diletakkan di atas lututnya, tapi ia tidak memakai helm. Ketika mereka mendekat, ia bangkit berdiri. Dan mereka mengenalinya, meski Ia begitu berubah, begitu agung dan berwajah gembira, sangat mulia, Penguasa Manusia, berambut gelap dan bermata kelabu.
Frodo berlari menemuinya, dan Sam mengikutinya dari dekat. “Nah, ini benar-

benar puncak dari segalanya!” katanya. “Strider, tak salah lagi!”

“Ya, Sam. Strider,” kata Aragorn. “Sudah jauh sekali, bukan, sejak di Bree, ketika kau tidak menyukai penampilanku? Perjalanan panjang bagi kita semua, tapi perjalanan kalianlah yang paling gelap.”
Lalu ia menekuk lutut dan membungkuk di depan mereka, membuat sam terkejut dan bingung; sambil memegang tangan mereka, Frodo di tangan kanan dan Sam di tangan kiri, ia menuntun mereka ke takhta dan menempatkan mereka di sana, lalu Ia berbicara kepada orang-orang dan para kapten yang berdiri di dekatnya; dengan suara nyaring yang bisa didengar seluruh pasukan Ia berseru, “Pujilah mereka dengan puji-pujian setinggi-tingginya!”
Ketika teriakan gembira membahana dan mereda lagi, Sam merasa memperoleh kepuasan terakhir yang paling sempurna ketika seorang penyanyi dari Gondor melangkah maju, berlutut, dan meminta izin untuk bernyanyi. Dan dengarlah, Ia berkata,

“Dengar! Para penguasa dan ksatria dan orang-orang gagah berani raja-raja dan para pangeran, orang-orang gagah dari Gondor, para Penunggang dari Rohan, putra-putra Elrond, kaum Dunedain dari Utara, Peri dan Kurcaci, serta para pemberani dari Shire, dan seluruh bangsa merdeka dari Barat, dengarkan sajakku. Aku akan bernyanyi tentang Frodo yang Berjari Sembilan dan Cincin Pembawa Petaka.”
Mendengar itu, Sam tertawa keras karena begitu gembira, lalu ia bangkit berdiri dan berteriak, “Oh, alangkah indah dan mulia! Semua harapanku jadi kenyataan!” Lalu ia menangis.
Seluruh pasukan tertawa dan menangis, dan di tengah keceriaan dan air mata mereka, suara jernih si penyanyi terdengar bagai perak dan emas, dan semua orang terdiam. la bernyanyi untuk mereka, kadang dalam bahasa Peri, kadang dalam bahasa Barat, hingga hati mereka serasa perih oleh suka cita, melimpah oleh kebahagiaan, kegembiraan mereka serasa setajam pedang, dan pikiran mereka terbawa ke suasana hati di mana kepedihan dan kebahagiaan mengalir bersama dan air mata menjadi anggur kenikmatan yang tiada tara.


Akhirnya, ketika Matahari beringsut dari tengah hari dan bayangan pohon-pohon semakin panjang, Ia mengakhiri nyanyiannya. “Pujilah mereka dengan pujian tertinggi!” katanya, lalu ia berlutut. Kemudian Aragorn berdiri, dan seluruh pasukan bangkit, lalu mereka pergi ke paviliun-paviliun yang sudah disiapkan, untuk makan-minum dan bergembira sepanjang hari itu.
Frodo dan Sam dibawa terpisah menuju sebuah tenda; di sana pakaian mereka yang lama dilepaskan, tapi dilipat dan disimpan dengan penuh hormat; pakaian bersih diberikan pada mereka. Lalu Gandalf datang, dan dengan heran Frodo melihat bahwa ia membawa pedang, jubah Peri, dan rompi mithril yang direbut darinya di Mordor untuk Sam Ia membawa baju besi berlapis emas serta jubah Peri yang sudah diperbaiki semua goresan dan koyakannya; lalu Gandalf meletakkan dua bilah pedang di depan mereka.
“Aku tidak ingin membawa pedang,” kata Frodo.

“Setidaknya malam ini kau harus menyandang satu,” kata Gandalf. Maka Frodo

mengambil pedang kecil yang pernah dimiliki Sam, dan yang sudah diletakkan di sisinya ketika ia di Critih Ungol. “Aku sudah memberikan Sting padamu, Sam,” katanya.
“Tidak, Master! Mr. Bilbo memberikannya padamu, berpasangan dengan rompi

perak itu; dia tidak akan mau orang lain memakainya.”

Frodo mengalah; Gandalf seolah-olah menjadi dayang-dayang mereka, berlutut dan memasangkan sabuk pedang pada mereka, lalu sambil berdiri ia memasang hiasan berbentuk bulan sabit dan perak di dahi mereka. Setelah berpakaian lengkap, mereka pergi ke pesta besar; mereka duduk semeja dengan Raja dan Gandalf, bersama Raja Eomer dari Rohan, Pangeran Imrahil, dan semua kapten utama; di sana hadir juga Gimli dan Legolas.
Tapi setelah upacara Berdiri Hormat, ketika anggur dihidangkan, dua pelayan masuk untuk melayani para raja; atau begitulah kelihatannya: satu berpakaian perak dan hitam seperti para Pengawal Minas Tirith, satunya lagi berpakaian hijau dan putih. Sam heran apa yang dilakukan anak-anak lelaki itu di tengah pasukan orang-orang hebat. Ketika mereka mendekat, barulah Ia melihat mereka dengan jelas, dan Ia berseru,
“W ah, lihat Mr. Frodo! Lihat ini! Nah, ini kan Pippin. Mestinya aku bilang Mr. Peregrin Took, dan Mr. Merry! Mereka sudah tumbuh pesat! Ya ampun! Bisa kulihat bahwa mereka punya lebih banyak kisah untuk diceritakan daripada kita.” “Memang,” kata Pippin sambil menoleh kepadanya. “Dan kami akan mulai menceritakannya, segera sesudah pesta ini berakhir. Untuk sementara ini kau bisa coba tanya pada Gandalf. Sekarang dia sudah tidak begitu diam seperti dulu, meski sekarang dia lebih banyak tertawa daripada berbicara. Sementara ini Merry dan aku sedang sibuk sekali. Kami menjadi ksatria Kota dan Mark, kuharap kau menyadarinya.”


Akhirnya hari yang gembira itu selesai sudah; ketika Matahari sudah lenyap dan Bulan bundar merayap lambat di atas kabut Anduin, berkelip di antara dedaunan yang gemersik bergetar, Frodo dan Sam duduk di bawah pohon-pohon yang berbisik, diselimuti keharuman Ithilien yang indah; mereka bercakap-cakap

sampai larut malam dengan Merry, Pippin, dan Gandalf, dan setelah beberapa lama Legolas dan Gimli juga bergabung dengan mereka. Saat itulah Frodo dan Sam mendengar semua yang terjadi dengan Rombongan, setelah persekutuan mereka terpecah di hari naas di Parth Galen, dekat Air Terjun Rauros; meski begitu, masih banyak juga yang perlu ditanyakan dan diceritakan.
Orc, pohon berbicara, rumput luas, penunggang-penunggang yang menderap, gua-gua cemerlang, menara-menara putih dan balairung emas, pertempuran serta kapal-kapal besar berlayar, semua mengisi benak Sam hingga ia kebingungan. Tapi di tengah semua keajaiban itu Ia lagi-lagi merasa kagum atas ukuran tubuh Merry dan Pippin; ia menyuruh mereka berdiri berpunggungan dengan Frodo dan dirinya sendiri, dan Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Aku tidak mengerti, kok ini bisa terjadi pada usia kalian!” katanya. “Tapi memang begitu: kalian tiga inci lebih tinggi daripada seharusnya; atau mungkin aku yang jadi Kurcaci.
“Pasti bukan,” kata Gimli. “Tapi apa kataku? Makhluk fana tak bisa minum minuman Ent tanpa kena efeknya, melebihi kalau minum bir.”
“Minuman Ent?” kata Sam. “Kau mulai mengoceh lagi tentang para Ent; tapi apa sebenarnya mereka itu, aku tidak mengerti. Nah, akan makan waktu berminggu- minggu sebelum semua ini selesai diceritakan!”
“Memang berminggu-minggu,” kata Pippin. “Lalu Frodo harus dikunci di menara di Minas Tirith untuk menuliskannya semua. Kalau tidak, dia akan lupa separuhnya, dan Bilbo tua yang baik akan sangat kecewa.”


Akhirnya Gandalf bangkit berdiri. “Tangan Raja adalah tangan yang menyembuhkan, sahabat-sahabatku yang baik,” katanya. “Tapi kau sudah sampai ke pinggir jurang kematian sebelum dia memanggilmu kembali dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, dan membuatmu bisa tidur nyaman. Dan meski kau sudah tidur lama dan sangat nyenyak, sekarang saatnya kau tidur lagi.”
“Bukan hanya Frodo dan Sam,” kata Gimli, “tapi kau juga, Pippin. Aku

menyayangimu, meski alasannya karena kepedihan yang sudah kutanggung

demi kau, yang takkan pernah kulupakan. Aku juga takkan pernah lupa saat aku menemukanmu di bukit, pada pertempuran terakhir. Kalau bukan karena Gimli si Kurcaci, kau sudah hilang saat itu. Setidaknya sekarang aku tahu bentuk kaki hobbit, meski hanya itu yang kelihatan di bawah setumpuk mayat. Ketika aku memindahkan mayat besar dari atasmu, aku yakin kau sudah mati. Rasanya aku ingin mencabut jenggotku. kini baru sehari sejak kau pertama kali bangun dan bergiat lagi. Sekarang kau harus tidur. Aku juga.”
“Dan aku,” kata Legolas, “akan berjalan-jalan di hutan, di negeri yang indah ini. Bagiku itu sudah istirahat cukup. Di masa mendatang, kalau diizinkan penguasa Peri negeriku, beberapa dari bangsa kami akan pindah ke sini; saat kami datang negeri ini akan teberkati, untuk sementara waktu. Untuk sementara: sebulan, satu kehidupan, seratus tahun kehidupan Manusia. Tapi Anduin dekat sekali, dan Anduin mengalir ke Samudra. Ke Samudra!


Ke Samudra, ke Samudra! Camar-camar putih berteriak, Angin bertiup, dan busa putih terbang beriak,
Barat, di barat nun di sana, matahari bundar sedang jatuh, Kapal kelabu, dengarkah kau mereka memanggil, kapal kelabu, Suara-suara orang sebangsaku yang sudah pergi sebelum aku? Ku kan pergi, tinggalkan hutan yang melahirkanku;
Karena hari-hari kita kan berakhir dan tahun-tahun pun buyar

Ku kan sendirian mengarungi lautan luas berlayar

Pantai Akhir diterpa ombak panjang,

Suara-suara indah memanggil di Pulau nan Hilang,

Di Eressea, di rumah Peri yang tak bisa ditemukan manusia, Di mana daun-daun tidak berjatuhan: negeriku tuk selamanya!


Sambil bernyanyi Legolas berjalan menuruni bukit.

Lalu yang lain juga pergi; Frodo dan Sam pergi tidur. Esok paginya mereka bangun dengan penuh harapan dan kedamaian; mereka melewatkan beberapa hari di Ithilien. Padang Cormallen, tempat pasukan sekarang berkemah, berada

dekat Henneth Annfin, dan sungai yang mengalir dari air terjunnya bisa terdengar di malam hari, saat ia meluncur deras melalui gerbang bebatuan, melewati padang rumput, masuk ke aliran Sungai Anduin di Pulau Cair Andros. Para hobbit melancong ke sana kemari, mengunjungi lagi tempat-tempat yang pernah mereka datangi; Sam selalu berharap melihat sekilas seekor Oliphaunt besar di suatu pojok gelap hutan, atau di lapangan tersembunyi di tengah hutan. Saat mendengar bahwa dalam penyerbuan Gondor banyak sekali hewan seperti itu, tapi semuanya sudah mati, ia menganggapnya suatu kehilangan yang menyedihkan.
“Ya sudah, memang orang tak mungkin berada di banyak tempat sekaligus,”

katanya. “Tapi rupanya aku kehilangan banyak.”

Sementara itu pasukan mulai bersiap-siap kembali ke Minas Tirith, Yang letih beristirahat, dan yang sakit disembuhkan. Sebab beberapa di antara mereka sudah bekerja keras dan bertarung dengan sisa-sisa kaum Easterling dan Southron, sampai semuanya ditundukkan. Yang terakhir adalah mereka yang masuk ke Mordor dan menghancurkan benteng-benteng di bagian utara negeri itu.
Akhirnya, ketika bulan Mei sudah dekat, para Kapten dari Barat berangkat lagi; mereka pergi naik kapal bersama semua anak buah mereka, dan mereka berlayar dari Cair Andros sampai ke Osgiliath, mengarungi Sungai Anduin; mereka tinggal di sana selama satu hari; hari berikutnya mereka tiba di padang- padang hijau Pelennor dan melihat lagi menara-menara putih di bawah Mindolluin yang tinggi, Kota Orang-Orang Gondor, peninggalan terakhir yang mengingatkan pada Westernesse, Kota yang sudah melampaui kegelapan dan kebakaran, menuju hari baru.
Dan di sana, di tengah padang, mereka mendirikan paviliun dan menunggu sampai esok paginya; karena malam itu Malam bulan Mei, dan Raja akan memasuki gerbangnya saat matahari terbit.

BAB 5

PEJABAT ISTANA DAN RAJA



Kebimbangan dan kengerian besar merundung Gondor selama itu. Cuaca bagus dan matahari cerah serasa mengejek orang-orang yang sudah tak punya banyak harapan, yang setiap pagi menanti kabar tentang bencana. Penguasa mereka mati terbakar, Raja Rohan juga terbaring mati di benteng mereka, dan raja baru yang datang pada mereka sudah pergi lagi ke medan perang, melawan kekuatan yang terlalu gelap dan dahsyat untuk ditaklukkan. Tak ada kabar berita sedikit pun. Setelah pasukan meninggalkan Lembah Morgul dan mengambil jalan ke utara di bawah bayangan pegunungan, belum ada utusan yang kembali, tak ada selentingan apa pun tentang peristiwa di Timur yang dipenuhi rencana jahat. Ketika para Kapten baru dua hari pergi, Lady Eowyn meminta wanita-wanita yang merawatnya, membawakan pakaiannya, dan ia tak mau dibantah; ia bangkit berdiri; ketika mereka sudah memasangkan pakaiannya dan menyangga lengannya dalam gendongan kain linen, ia pergi menemui Pengawas Rumah Penyembuhan.
“Sir,” katanya, “aku resah sekali, dan aku tak bisa lebih lama lagi berbaring

bermalas-malas.”

“Lady,” jawab sang Pengawas, “kau belum sembuh betul, dan aku diperintahkan merawatmu secara khusus. Seharusnya kau tidak boleh bangun dari tempat tidurmu selama tujuh hari, begitulah perintah yang kuterima. Kumohon kau kembali.”
“Aku sudah sembuh,” kata Eowyn, “setidaknya tubuhku sembuh, kecuali lengan kiriku dan itu sudah terawat baik. Tapi aku akan sakit lag, kalau tak ada yang bisa kulakukan. Belum adakah kabar-kabar dari medan perang? Wanita-wanita itu tak bisa menceritakan apa-apa padaku.”
“Belum ada kabar,” kata Pengawas, “kecuali bahwa para Penguasa sudah pergi ke Lembah Morgul; dan kata orang-orang, kapten baru dari Utara menjadi pemimpin mereka. Dia penguasa besar, dan seorang penyembuh; menurutku aneh bahwa tangan yang menyembuhkan juga menyandang pedang. Sekarang

keadaan seperti itu tidak ada di Gondor, tapi kalau dongeng-dongeng lama itu benar, dulu memang begitu keadaannya. Tapi selama bertahun-tahun kami para penyembuh hanya bekerja menutup luka-luka yang diakibatkan oleh pedang: Tanpa itu pun pekerjaan kami sudah banyak: dunia sudah cukup dipenuhi kesakitan dan cedera, tanpa perang yang melipatgandakan luka-luka.”
“Hanya butuh satu musuh untuk membangkitkan perang, bukan dua, Master Pengawas,” jawab Eowyn. “Dan mereka yang tidak punya pedang masih bisa mati terkena pedang. Apakah kau mau rakyat Gondor hanya mengumpulkan tanaman obat, sementara Penguasa Kegelapan mengumpulkan bala tentara? Dan tidak selalu baik akibatnya kalau tubuh disembuhkan. Begitu pula tidak selalu buruk bila mati dalam pertempuran, meski dalam kepedihan yang getir. Seandainya aku diizinkan, dalam saat gelap ini aku akan memilih yang terakhir.” Pengawas itu memandangnya. Eowyn berdiri gagah, matanya bersinar-sinar di wajahnya yang putih, tangannya dikepalkan sementara ia menoleh dan memandang ke luar jendela yang membuka ke Timur. Sang Pengawas mengeluh dan menggelengkan kepala. Sesudah beberapa saat, Eowyn berbicara lagi padanya.
“Tak adakah yang harus diperbuat?” katanya. “Siapa yang memerintah di Kota

ini?”

“Aku tidak tahu pasti,” jawab si Pengawas. “Hal-hal seperti itu tidak menjadi perhatianku. Ada seorang marsekal yang memimpin para Penunggang dari Rohan; dan kudengar Lord Hirrin memerintah orang-orang dari Gondor. Tapi Lord Faramir yang berhak duduk sebagai Pejabat Kota ini.”
“Di mana aku bisa menemuinya?”

“Di rumah ini, Lady. Dia cedera berat, tapi kini mulai sembuh. Tapi aku tidak tahu

…”

“Tidakkah kau mau mengantarku kepadanya? Maka kau akan tahu.”



Lord Faramir sedang berjalan sendirian di kebun Rumah Penyembuhan, cahaya matahari menghangatkannya, dan ia merasa kehidupan baru mengalir segar dalam urat darahnya; tapi hatinya terasa berat, dan ra memandang keluar dari

alas tembok-tembok di sisi timur. Sambil mendekat, Pengawas memanggil namanya. la menoleh dan melihat Lady Eowyn dari Rohan; hati Faramir tersentuh dan dipenuhi rasa iba, karena ia melihat Eowyn terluka, dan pandangannya yang tajam bisa melihat kesedihan dan keresahan hati gadis itu. “Tuanku,” kata Pengawas, “ini Lady Eowyn dari Rohan. Dia ikut dalam rombongan Raja dan menderita cedera berat, dan sekarang berada dalam perawatanku. Tapi dia tidak puas, dan dia ingin berbicara dengan Pejabat Kota.” “Jangan salah paham, Tuanku,” kata Eowyn. “Bukan kurangnya perawatan yang membuat hatiku susah. Tak ada rumah penyembuhan yang lebih indah, bagi mereka yang ingin disembuhkan. Tapi aku tak bisa berbaring bermalas-malasan, menganggur, terkurung. Aku mencari kematian dalam pertempuran. Tapi aku tidak mati, dan pertempuran masih juga berlanjut.”
Atas isyarat dari Faramir, si Pengawas membungkuk dan pergi. “Kau ingin aku berbuat apa, Lady?” kata Faramir. “Aku juga menjadi tawanan para penyembuh.” Ia menatap Eowyn, dan karena ia orang yang sangat mudah merasa iba, baginya kecantikan Eowyn yang diwarnai kesedihan terasa menusuk-nusuk hatinya. Eowyn menatap Faramir dan melihat kelembutan yang teguh di matanya, tapi karena Eowyn sendiri dibesarkan di antara para pejuang, Ia tahu bahwa inilah orang yang takkan bisa tersaingi oleh satu pun Penunggang dari Mark dalam pertempuran.
“Apa yang kauinginkan?” kata Faramir lagi. “Kalau aku punya wewenang untuk

itu, akan kulakukan.”

“Aku ingin kau memerintahkan Pengawas agar membiarkan aku pergi,” kata Eowyn; tapi meski kata-katanya masih terdengar angkuh, hatinya gamang, dan untuk pertama kalinya Ia bimbang. la menduga bahwa laki-laki jangkung yang keras sekaligus lembut ini mungkin menganggapnya seperti anak bandel yang tidak cukup teguh hati untuk melakukan tugasnya yang menjemukan sampai selesai.
“Aku sendiri masih dalam perawatan si Pengawas,” jawab Faramir. “Aku juga belum mulai menjalankan wewenang dan tanggung jawabku di Kota. Tapi seandai pun sudah, aku tetap akan mendengarkan nasihatnya, dan tidak akan

melanggar keputusannya dalam masalah yang berhubungan dengan keahliannya, kecuali dalam keadaan sangat mendesak.”
“Tapi aku tidak menginginkan kesembuhan,” kata Eowyn. “Aku ingin maju perang seperti kakakku, Eomer, atau lebih bagus lagi seperti Theoden Raja, sebab dia gugur dalam kehormatan dan kedamaian.”
“Lady, sudah terlambat untuk menyusul para Kapten, meski kau cukup kuat,” kata Garamir. “Tapi kematian dalam pertempuran bisa datang pada kita semua, entah kita menghendakinya atau tidak. Kau akan lebih siap menghadapinya dengan caramu sendiri, kalau saat kau mengikuti apa yang disarankan Penyembuh. Kau dan aku harus sabar menghadapi saat-saat penantian.”
Eowyn tidak menjawab, tapi ketika Faramir memandangnya, rasanya sesuatu dalam diri Eowyn melembut, seolah-olah embun beku yang keras sudah menyerah pada pertanda-pertanda pertama Musim Semi yang masih samar- samar. Setitik air mata merebak di matanya dan bergulir ke pipinya, seperti tetes hujan yang berkilau. Kepalanya yang angkuh agak tertunduk. Lalu dengan tenang Ia berkata, seperti berbicara pada dirinya sendiri, bukan pada Faramir, “Tapi para penyembuh mengharuskan aku berbaring tujuh hari lagi,” katanya. “Dan jendelaku tidak menghadap ke timur.” Suaranya kini seperti gadis muda yang sedih.
Faramir tersenyum, meski hatinya dipenuhi rasa iba. “Jendelamu tidak menghadap ke timur?” katanya. “Itu bisa diperbaiki. Untuk hal ini, aku akan memerintahkan Pengawas. Kalau kau mau tetap di sini dalam perawatan kami, Lady, dan beristirahat, maka kau bisa berjalan-jalan di kebun ini, di bawah sinar matahari, sekehendakmu; dan kau bisa memandang ke timur, ke arah semua harapan kita tertuju. Kau pun akan menemukan aku di sini, berjalan-jalan dan menunggu, juga memandang ke timur. Hatiku akan lebih ringan kalau kau mau berbicara padaku, atau sesekali berjalan-jalan denganku.”
Lalu Eowyn mengangkat kepalanya dan menatap mata Faramir lagi; wajahnya yang pucat agak memerah. “Bagaimana aku bisa meringankan hatimu, Tuanku?” katanya. “Lagi pula, aku tak ingin bercakap-cakap dengan manusia hidup.” “Apakah kau ingin tahu jawabanku yang sebenarnya?”

“Ya.”

“Kalau begitu, Eowyn, akan kukatakan padamu bahwa kau sangat cantik. Di lembah-lembah perbukitan kami banyak bunga indah dan cerah, dan gadis-gadis cantik; tapi sampai kini belum pernah kulihat bunga maupun gadis di Gondor yang begitu cantik, namun juga begitu sedih. Mungkin beberapa hari lagi kegelapan akan menyelubungi seluruh dunia, dan saat itu terjadi aku berharap akan menghadapinya dengan tabah; tapi aku akan senang sekali, apabila sementara Matahari masih bersinar, aku masih bisa bertemu denganmu. Karena kau dan aku sama-sama sudah terpuruk di bawah sayap Bayang-Bayang ini, dan tangan yang sama sudah menarik kita keluar.”
“Sayang sekali, Tuanku!” kata Eowyn. “Bayang-Bayang itu masih menyelimutiku. Jangan harapkan aku membantu penyembuhanmu! Kau gadis pejuang, dan tanganku tidak lembut. Tapi aku berterima kasih bahwa aku tak perlu terus- menerus terkurung di dalam kamar. Aku akan berjalan-jalan atas izin dan kebaikan hati Pejabat Kota.” Lain Eowyn membungkuk dan melangkah kembali ke dalam Rumah penyembuhan. Tapi Faramir masih lama berjalan sendirian di kebun, dan sekarang tatapannya lebih banyak terarah ke rumah daripada ke tembok timur.


Ketika Faramir sudah kembali ke kamarnya, Ia memanggil Pengawas dan mendengarkan semua yang bisa diceritakannya tentang Lady dari Rohan itu. “Tapi aku yakin, Tuanku,” kata si Pengawas, “bahwa kau akan mendengar lebih banyak dari Halfling yang sekarang bersama kita; karena dia ikut dalam pasukan Raja, dan mendampingi Lady itu di akhir pertempurannya, begitu kata orang- orang.”
Maka Merry diminta menemui Faramir, dan sepanjang hari itu mereka bercakap- cakap lama sekali. Faramir jadi tahu banyak, bahkan lebih banyak daripada yang diungkapkan Merry; sekarang ia merasa lebih memahami kesedihan dan keresahan Eowyn dari Rohan. Di senja hari yang indah Faramir dan Merry berjalan-jalan di kebun, tapi Eowyn tidak datang.
Namun esok paginya, ketika Faramir datang dari Rumah Penyembuhan, Ia

melihat Eowyn berdiri di atas tembok, berpakaian serba putih dan tampak kemilau di bawah sinar matahari. Faramir memanggilnya, dan Eowyn datang, lalu mereka berjalan-jalan di rumput atau duduk bersama di bawah pohon, kadang-kadang diam, kadang-kadang bercakap-cakap. Begitulah, setiap hari mereka melakukan hal yang sama. Pengawas yang melihat mereka dari balik jendela, merasa gembira, karena ia seorang penyembuh, dan tugasnya menjadi lebih ringan; nyata sekali bahwa meski ketakutan dan firasat buruk meliputi hati orang-orang di kala itu, kedua insan yang berada di bawah perawatannya malah semakin sejahtera, dan setiap hari kekuatan mereka semakin bertambah. Demikianlah pada hari kelima sejak Lady Eowyn pertama kali menemui Faramir, mereka sekali lagi berdiri bersama-sama di atas tembok Kota dan memandang keluar. Belum ada.kabar, dan semua merasa murung. Cuaca pun sudah tidak cerah lagi. Angin yang mulai bertiup di malam hari sekarang berembus tajam dari Utara, dan semakin kencang; tapi daratan sekitarnya kelihatan kelabu dan suram.
Mereka mengenakan baju hangat dan jubah tebal, dan di lapisan paling luar Lady Eowyn mengenakan jubah besar berwarna biru, seperti malam musim panas, dengan hiasan bintang-bintang perak di sekitar pinggiran dan lehernya. Faramir yang meminta jubah ini diambilkan dan Ia mengenakannya pada Eowyn; di matanya Eowyn tampak cantik dan agung, seperti ratu, ketika berdiri di sisinya. Jubah itu dibuat untuk ibunya, Finduilas dari Amroth yang meninggal terlalu dim; bagi Faramir, ibunya hanyalah sebuah kenangan tentang kecantikan di masa yang sudah lama lewat, dan tentang dukanya yang pertama; Ia merasa jubah ibunya itu cocok untuk kecantikan dan kesedihan Eowyn.
Tapi Eowyn menggigil di bawah jubah berbintang itu, dan ia memandang ke utara, di atas negeri kelabu nun jauh di sana, menatap sumber angin dingin di tempat yang langitnya keras dan jernih.
“Apa yang kaucari, Eowyn?” kata Faramir.

“Bukankah Gerbang Hitam terletak di sana?” kata Eowyn. “Dan bukankah seharusnya dia sudah tiba di sana? Sudah tujuh hari sejak dia pergi.”
“Tujuh hari,” kata Faramir. “Tapi jangan berpikir buruk tentang diriku, kalau

kukatakan padamu: tujuh hari itu memberikan kegembiraan dan kepedihan yang belum penah kukenal. Kegembiraan karena melihatmu; tapi juga kepedihan, karena sekarang ketakutan dan keraguan yang ditimbulkan masa-masa ini sudah sangat berat. Eowyn, aku tak ingin dunia ini berakhir sekarang, juga tak ingin begitu cepat kehilangan apa yang sudah kutemukan.”
“Kehilangari apa yang sudah kautemukan, Lord?” jawab towyn; Ia menatap Faramir dengan suram, tapi matanya memancarkan sorot ramah. “Entah apa yang telah kautemukan dan membuatmu takut kehilangan. Tapi, kawanku, janganlah kita membicarakan hal itu! Aku berdiri di tepi tebing yang mengerikan, dan jurang di bawah kakiku sangat gelap; entah di belakangku ada cahaya atau tidak, aku tidak tahu. Karena aku belum bisa berputar haluan. Aku menunggu pukulan malapetaka.”
“Ya, kita menunggu pukulan malapetaka,” kata Faramir. Mereka tidak berbicara lagi; dan saat berdiri di atas tembok itu, mereka merasa seolah-olah angin berhenti bertiup, cahaya memudar, Matahari menjadi muram, semua bunyi di Kota atau daratan sekitarnya teredam: baik angin, suara, teriakan burung, atau desiran daun, bahkan napas mereka sendiri tidak terdengar; bahkan denyut jantung mereka pun berhenti. Waktu berhenti.
Sambil berdiri di sana, tangan mereka bertemu dan saling menggenggam, tapi mereka tidak menyadarmya. Dan mereka masih tetap menunggu; entah menunggu apa. Akhirnya, di atas punggung-punggung pegunungan di kejauhan, mereka melihat sebuah kegelapan seperti pegunungan besar menjulang naik, membubung seperti gelombang yang akan menelan dunia, dan di sekitarnya halilintar berkelip; lalu suatu getaran mengalir menerobos bumi, dan tembok- tembok Kota bergetar. Suatu bunyi seperti embusan napas muncul di semua daratan sekitar mereka; jantung mereka tiba-tiba berdetak lagi.
“Ini mengingatkan aku pada Numenor,” kata Faramir, dan Ia heran mendengar

dirinya sendiri berbicara.

“Numenor?” kata Eowyn.

“Ya,” kata Faramir, “negeri Westernesse yang terbenam, dan gelombang besar

gelap yang melahap daratan hijau dan bukit-bukit, melanda terus, kegelapan

yang tak bisa dielakkan. Aku sering bermimpi tentang itu.”

“Kalau begitu, kaupikir Kegelapan akan datang?” kata Eowyn. “Kegelapan yang

Tak Terelakkan?” Dan tiba-tiba Eowyn merapatkan tubuhnya ke Faramir.

“Bukan,” kata Faramir, sambil menatap wajah Eowyn. “Itu hanya gambaran dalam benak. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Pikiran sadarku memberitahukan bahwa suatu peristiwa buruk telah terjadi, dan kita sudah berada di ambang kiamat. Tapi hatiku mengatakan tidak; seluruh tungkaiku terasa ringan, harapan dan kegembiraan timbul dalam hatiku yang tak mungkin dibantah oleh pikiran. Eowyn, Eowyn, Lady Putih dari Rohan, saat ini aku yakin tak ada kegelapan yang bakal terus bertahan!” Lalu Faramir membungkuk dan mencium kening Eowyn.
Maka mereka berdiri di atas tembok Kota Gondor, sementara angin kencang mulai berembus; rambut mereka, hitam dan keemasan, berkibar dan berbaur di udara. Bayang-Bayang itu pergi, Matahari tersingkap, dan cahaya memancar lagi. Sungai Anduin bersinar bagai perak, dan di semua rumah di Kota, orang- orang bernyanyi karena hati mereka penuh kegembiraan yang entah dari mana asalnya.
Sebelum Matahari berjalan jauh dari tengah hari, seekor Elang datang dari Timur, membawa kabar yang melebihi harapan, dari para Penguasa Barat, bunyinya begini:


Kini bernyanyilah, hai orang-orang di Menara Anor, Karena Negeri Sauron sudah musnah selamanya, Menara Kegelapan jatuh berantakan.


Bernyanyi dan bergembiralaj, hai orang-orang di Menara Pengawal, Karena penjagaanmu tidak sia-sia,
Gerbang Hitam sudah hancur, Raja-mu sudah masuk ke sana, Dan ia sudah menang.

Bernyanyi dan bergembiralah, hai anak-anak dari Barat, Karena Raja-mu akan datang lagi,
Dan ia akan tinggal di antara kalian

Sepanjang masa hidupmu.



Pohon yang sudah layu akan diperbarui, la akan menanamnya di dataran tinggi, Dan Kota akan diberkati.


Bernyanyilah, hai semua orang!



Maka semua orang bernyanyi di segenap penjuru Kota.



Hari-hari berikutnya terasa indah, Musim Semi dan Musim Panas bergabung dan bersuka ria di padang-padang Gondor. kini kabarkabar disampaikan oleh utusan- utusan berkuda yang melaju cepat dari Cair Andros, memberitakan semua yang telah terjadi, dan Kota bersiap-siap menyambut kedatangan Raja. Merry dipanggil dan pergi bersama kereta-kereta gerbong yang membawa persediaan bahan ke Osgiliath, lalu diangkut dengan kapal ke Cair Andros; tapi Faramir tidak pergi, karena sekarang setelah sembuh, Ia mulai memangku jabatannya sebagai Pejabat dan menjalankan tanggung jawabnya, meski hanya sebentar saja. Tugasnya adalah mempersiapkan segala sesuatu bagi orang yang akan menggantikannya.
Eowyn juga tidak pergi, meski kakaknya mengirim pesan agar ia datang ke padang Cormallen. Faramir bertanya-tanya dalam hati tentang hal itu, tapi ia jarang bertemu Eowyn, karena sibuk dengan banyak hal; Eowyn masih tinggal di Rumah Penyembuhan dan berjalan-jalan sendirian di kebun, wajahnya sudah kembali pucat, tampaknya di Kota hanya dia yang sakit dan berduka. Pengawas Rumah Penyembuhan merasa khawatir, dan ia berbicara dengan Faramir.
Lalu Faramir datang mencarinya, dan sekali lagi mereka berdua berdiri di atas

tembok. Faramir berkata kepadanya, “Eowyn, mengapa kau berlama-lama di

sini, dan tidak pergi ke pesta di Cormallen di seberang Cair Andros, di mana kakakmu menunggu?”
Dan Eowyn berkata, “Tidakkah kau tahu?”

Tapi Faramir menjawab, “Mungkin ada dua alasan, tapi mana yang benar, aku tidak tahu.”
Eowyn berkata, “Aku tidak mau bermain teka-teki. Bicaralah lebih jelas!”

“Baiklah, sesuai keinginanmu, Lady,” kata Faramir. “Kau tidak pergi sebab hanya kakakmu yang memanggilmu, dan melihat Lord Aragorn, pewaris Elendil, di masa kejayaannya sekarang ini tidak akan memberimu kebahagiaan. Atau kau tidak pergi karena aku tidak pergi, dan kau ingin tetap berada di dekatku. Mungkin juga karena kedua alasan itu, dan kau tidak bisa memilih di antaranya. Eawyn, tidakkah kau mencintaiku, atau tak maukah kau mencintaiku?”
“Aku ingin dicintai seorang pria lain,” jawab Eowyn. “Tapi aku tak ingin menerima belas kasihan pria mana pun.”
“Aku tahu itu,” kata Faramir. “Kau mendambakan cinta Lord Aragorn. Karena dia

agung dan sangat berkuasa, dan kau mendambakan kemasyhuran dan kemuliaan, diangkat jauh di atas kekotoran yang merangkak di bumi ini. Dia kelihatan sangat mengagumkan bagimu, sama seperti seorang serdadu muda memandang seorang kapten hebat. Karena dia memang demikian, seorang penguasa agung di antara manusia, yang paling hebat dari yang sekarang ada. Tapi ketika dia hanya memberimu pengertian dan belas kasihan, maka kau tidak menginginkan apa pun, kecuali menjemput kematian dengan gagah berani dalam pertempuran. Pandanglah aku, Eowyn!”
Eowyn menatap lama dan teguh ke dalam mata Faramir; dan Faramir berkata, “Jangan mencemooh belas kasihan dari hati lembut yang tulus, Eowyn! Tapi aku tidak menawarkan rasa kasihan kepadamu. Sebab kau seorang wanita agung dan gagah berani, dan kau sendiri sudah berhasil memperoleh kemasyhuran yang tidak akan dilupakan orang; kau sangat cantik, menurutku, lebih daripada yang bisa diutarakan dengan bahasa Peri. Dan aku mencintaimu. Dulu aku merasa iba atas dukamu. Tapi kini, seandainya kau tidak berduka, tanpa ketakutan atau kekurangan, meski kau menjadi Ratu Gondor yang berbahagia,

aku tetap mencintaimu. Eowyn, tidakkah kau mencintaiku?”

Lalu hati Eowyn berubah, atau setidaknya akhirnya ia memahami hatinya sendiri. Mendadak musim dinginnya berlalu, dan matahari menyinarinya.
“Aku berdiri di Minas Anor, Menara Matahari,” katanya, “dan lihat! Bayang- Bayang itu sudah berlalu! Aku bukan gadis pejuang lagi, dan aku tidak akan lagi bersaing dengan para Penunggang, atau hanya menyukai nyanyian pembantaian. Aku akan menjadi penyembuh, mencintai semua yang tumbuh dan tidak tandus.” Lalu ia menatap Faramir lagi. “Aku sudah tidak mendambakan menjadi ratu lagi” katanya.
Lalu Faramir tertawa gembira. “Bagus sekali,” katanya, “karena aku bukan raja. Tapi aku akan menikahi Lady Putih dari Rohan, kalau dia bersedia. Dan kalau dia bersedia, marilah kita menyeberangi Sungai dan berdiam di Ithilien di masa yang lebih berbahagia, dan kita akan membuat kebun di sana. Semua akan tumbuh bahagia di sana, bila Lady Putih datang.”
“Kalau begitu, apakah aku harus meninggalkan bangsaku sendiri, orang Gondor?” kata Eowyn. “Dan apakah akan kau biarkan bangsamu yang tinggi hati berkata tentang dirimu, Itu dia penguasa yang menjinakkan seorang gadis pejuang liar dari Utara! Tak bisakah dia memilih wanita dari bangsa Numenor saja?”
“Ya, akan kubiarkan,” kata Faramir. Lalu Ia memeluk Eowyn dan menciumnya di bawah langit yang cerah, tak peduli bahwa mereka berdiri tinggi di atas tembok, kelihatan oleh banyak orang. Dan memang banyak yang melihat mereka serta cahaya yang memancar di sekeliling mereka, ketika mereka turun dari tembok dan berjalan bergandengan tangan ke Rumah Penyembuhan.
Kepada Pengawas Rumah Penyembuhan Faramir berkata, “Lihat Lady Eowyn dari Rohan, dia sudah sembuh.”
Dan si Pengawas berkata, “Kalau begitu aku sudah selesai merawatnya, dan aku mengucapkan selamat berpisah kepadanya. Semoga dia tak pernah menderita cedera atau sakit lagi. Aku rnenyerahkannya dalam perawatan Pejabat Kota, sampai kakaknya kembali.”
Tetapi Eowyn berkata, “Kini, setelah mendapat izin pergi, aku ingin tetap tinggal

di sini. Karena Rumah ini bagiku menjadi yang paling menyenangkan di antara semua tempat tinggal.” Dan ia tetap berdiam di sana sampai Raja Eomer datang.


Banyak persiapan di Kota; orang-orang berkerumun, karena berita sudah menyebar ke seluruh penjuru Gondor, dari Min-Rimmon sampai ke Pinnath Gelin dan pantai-pantai laut yang jauh; semua yang bisa datang ke Kota, bergegas datang. Kota sudah kembali dipenuhi wanita-wanita dan anak-anak yang kembali ke rumah mereka dengan membawa bunga-bunga; dari Dol Amroth berdatangan para pemusik harpa yang paling indah memainkan harpa; juga ada pemain biola, seruling dan terompet perak, dan penyanyi-penyanyi bersuara jernih dari lembah Lebennin.
Akhirnya senja pun tiba. Paviliun-paviliun di padang bisa terlihat dari atas tembok-tembok, dan sepanjang malam lampu-lampu menyala sementara orang- orang menunggu fajar. Ketika matahari terbit di pagi yang jernih, di atas pegunungan Timur yang sudah tidak diselubungi bayangan, semua lonceng berdentang dan semua panji berkibaran ditiup angin; di atas Menara Putih di benteng, pataka para Pejabat bersinar cerah keperakan bagai salju yang ditimpa sinar matahari, tidak berlambang atau berhias, berkibar untuk terakhir kali di atas Gondor.
Kini para Kapten dari Barat memimpin pasukan mereka menuju Kota, dan orang- orang melihat mereka maju barisan. demi barisan, berkelip kemilau di bawah sinar matahari, dan beriak-riak keperakan. Demikianlah mereka sampai di depan Gerbang dan berhenti sejauh satu furlong dari tembok. Pintu gerbang baru belum dibuat, tapi sebuah rintangan diletakkan melintang di depan jalan masuk ke Kota, dan di sana berdiri pengawal-pengawal berpakaian perak dan hitam dengan pedang panjang terhunus. Di depan rintangan berdiri Faramir sang Pejabat, Hurin Pemegang Kunci, kapten-kapten lain dari Gondor, Lady Eowyn dari Rohan bersama Elfhelm si Marsekal, dan banyak ksatria dari Mark; di kedua sisi Gerbang berdiri kerumunan orang gagah dan cantik, berpakaian aneka warna dan membawa karangan bunga.
Maka kini ada ruang luas di depan tembok-tembok Minas Tirith, yang semua

sisinya dikepung oleh para ksatria dan serdadu dari Gondor, dari Rohan, dan oleh orang-orang dari kota serta seluruh penjuru negeri. Semua terdiam ketika dari pasukan itu melangkah keluar kaum Dunedain berpakaian perak dan kelabu; dan di depan mereka; dengan langkah perlahan berjalan Lord Aragorn. Ia berpakaian logam hitam dengan hiasan dari perak, jubahnya putih panjang, diikat pada lehernya dengan batu permata besar hijau berkilauan; tapi di kepalanya hanya ada hiasan bintang di dahi, yang diikat seutas tali Perak tipis. Bersamanya berjalan Eomer dari Rohan, Pangeran Imrahil, Gandalf yang berpakaian serba putih, dan empat sosok kecil yang dikagumi banyak orang. “Bukan, saudaraku! Mereka bukan anak-anak lelaki kecil,” kata Ioreth kepada saudara wanitanya dari Imloth Melui yang berdiri di sampingnya. “Mereka itu Perian, dari negeri para Halfling yang jauh; konon di sana mereka aaalan pangeran-pangeran termasyhur. Aku tahu karena aku sudah pernah merawat salah satu dari mereka di Rumah Penyembuhan. Mereka kecil, tapi gagah berani. Bahkan, saudaraku, salah satu dari mereka pergi hanya membawa pelayannya ke Negeri Hitam, bertarung dengan Penguasa Kegelapan sendirian, dan membakar Menara-nya. Benar-benar menakjubkan. Setidaknya begitulah selentingan yang beredar di Kota. Rupanya itu dia yang berjalan dengan Elfstone kita. Mereka sahabat karib, kudengar. Nah, kalau Lord Elfstone, dia benar-benar mengagumkan: tidak terlalu lembut bila berbicara, camkan itu, tapi berhati emas; dan dia mempunyai tangan yang bisa menyembuhkan. 'Tangan seorang raja adalah tangan penyembuh', begitu kataku; dan begitulah semuanya tersingkap. Dan Mithrandir, dia berkata padaku, 'Inreth, orang-orang akan selalu mengenang kata-katamu,' dan …”
Tapi loreth tidak berhasil melanjutkan ceritanya pada saudaranya yang datang dari desa, karena terompet berbunyi, dan selanjutnya hening sekali. Lalu dari Gerbang majulah Faramir bersama Hurin Pemegang Kunci, tanpa yang lainnya, kecuali empat orang yang berjalan di belakang mereka, dengan helm tinggi dan pakaian besi dari Benteng; mereka membawa peti besar terbuat dari lebethron hitam yang dihiasi perak.
Faramir menemui Aragorn di tengah semua yang hadir, dan ia berlutut sambil

berkata, “Pejabat Gondor yang terakhir meminta izin untuk menyerahkan jabatannya.” Lalu Ia mengulurkan sebuah tongkat putih; tapi Aragorn mengambil tongkat itu dan mengembalikannya, sambil berkata, “Jabatan itu tidak berakhir, dan akan tetap menjadi jabatanmu, juga ahli warismu selama garis keturunanku berkuasa. Sekarang jalankan tugasmu!”
Lalu Faramir bangkit berdiri dan berbicara dengan lantang, “Orang-orang Gondor, dengarlah sekarang Pejabat Negeri ini! Saksikan! Akhirnya datang seseorang yang menuntut kedudukannya sebagai raja. Inilah Aragorn putra Arathorn, pemimpin kaum Dunedain dari Arnor, Kapten Pasukan dari Barat, penyandang Bintang dari Utara, penyandang Pedang yang Sudah Ditempa Kembali, yang sudah memenangkan pertempuran, dan tangannya memancarkan kesembuhan, sang Permata Peri, Elessar dari keturunan Valandil, putra Isildur, putra Elendil dari Numenor. Apakah dia akan menjadi raja dan masuk ke Kota dan tinggal di sini?”
Seluruh pasukan serta orang-orang yang hadir berteriak yaa dengan satu suara. Dan Ioreth berkata kepada saudaranya, “Ini hanya upacara untuk telah kuceritakan tadi; dan dia mengatakan padaku …” Lalu Ia terpaksa diam lagi, karena Faramir kembali berbicara.
“Orang-Orang Gondor, para pakar adat istiadat mengatakan bahwa sejak dahulu kala, menurut adat istiadat, raja haruslah dimahkotai oleh ayahnya sebelum dia meninggal; bila itu tak mungkin, maka raja sendiri harus pergi mengambilnya dari tangan ayahnya, di makam tempat sang ayah dikuburkan. Berhubung sekarang hal itu harus dilakukan dengan cara lain, dengan menggunakan kekuasaan Pejabat, maka dari Rath Dinen aku membawa mahkota Earnur, raja terakhir yang masa hidupnya sudah berlalu pada zaman nenek moyang kita.”
Lalu para pengawal melangkah maju, dan Faramir membuka peti, lalu mengangkat tinggi sebuah mahkota kuno. Bentuknya seperti helm para Pengawal Benteng, tapi lebih tinggi dan serba putih, sayap di kedua sisinya terbuat dari mutiara dan perak, menyerupai sayap burung laut, karena merupakan lambang para raja yang datang mengarungi Samudra; tujuh batu permata ditanam dalam lengkung di atas dahi, dan pada puncaknya tertanam

sebuah berlian tunggal dengan cahaya berkobar seperti nyala api.

Lalu Aragorn mengambil mahkota itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan berkata, Et Edrello Endorenna utulien. Sinome maruvan ar Hildinyar tenn ' Ambar-metta! Demikianlah kata-kata yang diucapkan Elendil ketika Ia datang dari Laut, berlayar di atas sayap angin, “Dari Samudra Besar aku datang ke Dunia Tengah. Di tempat inilah aku akan berdiam, begitu juga pewaris-pewarisku, sampai akhir dunia.”
Lalu dengan heran semua menyaksikan Aragorn tidak meletakkan mahkota di atas kepalanya, melainkan mengembalikannya kepada Faramir, seraya berkata, “Atas jerih payah dan keberanian banyak orang aku berhasil memperoleh kembali warisanku. Untuk menghormati ltu, kumohon Pembawa Cincin membawa mahkota kepadaku, dan membiarkan Mithrandir meletakkannya di kepalaku, bila dia bersedia; karena dialah penggerak dari semua yang sudah dicapai, dan kemenangan ini miliknya.”
Lalu Frodo maju dan mengambil mahkota dari tangan Faramir, lalu membawanya ke Gandalf; Aragorn berlutut, dan Gandalf meletakkan Mahkota Putih di kepalanya, sambil berkata,
“Dimulailah kiranya masa kekuasaan sang Raja, dan semoga masa ini penuh berkat sepanjang takhta Valar bertahan!”
Ketika Aragorn bangkit berdiri, semua yang melihatnya menatap tertegun, sebab seolah-olah baru saat itu Aragorn yang sesungguhnya tersingkap di depan mereka untuk pertama kali. Tinggi seperti raja, raja laut zaman dahulu, Ia berdiri melebihi ketinggian semua yang berdiri di dekatnya; Ia tampak tua sekaligus seperti baru memasulti usia sebagai pria dewasa; dahinya memancarkan kebijaksanaan, kekuatan serta penyembuhan terpancar dari tangannya, dan sosoknya bagai diselimuti cahaya. Lalu Faramir berseru,
“Lihatlah sang Raja!”

Saat itu semua terompet pun ditiup, Raja Elessar melangkah maju sampai ke depan rintangan, dan Hiuin Pemegang Kunci menyingkirkan rintangan itu; di tengah bunyi musik harpa, biola, dan seruling, serta nyanyian suara-suara jernih, sang Raja melangkah melewati jalan-jalan yang dipenuhi bunga-bunga, lalu Ia

sampai ke Benteng, dan masuk; sementara itu panji Pohon dan Bintang-Bintang dikibarkan di atas menara paling tinggi, dan masa pemerintahan Raja Elessar yang banyak dikisahkan dalam lagu-lagu pun dimulai.
Dalam masa pemerintahannya Kota dibangun lebih indah daripada sebelumnya, bahkan melebihi hari-hari pertama kegemilangannya; dipenuhi pepohonan dari air mancur, gerbang-gerbangnya ditempa dari mithril dan baja, jalan jalan dilapisi pualam putih; bangsa dari Pegunungan bekerja di dalamnya, Bangsa dari Hutan senang sekali berkunjung ke sana; semuanya disembuhkan dan diperbaiki, rumah-rumah dipenuhi pria dan wanita dan bunyi tawa anak-anak, tidak ada lagi jendela yang gelap, tidak ada pelataran yang kosong; setelah akhir Zaman Ketiga di dunia, masuk ke zaman baru, kegemilangan masa lalu masih tetap tersimpan dalam ingatan.


Pada hari-hari setelah penobatannya, Raja duduk di takhtanya di Balairung Raja dan mengumumkan keputusan-keputusannya. Banyak duta dan utusan dari berbagai negeri dan bangsa berdatangan, dari Timur dan Selatan, dari perbatasan Mirkwood, dan Dunland di barat. Raja memberi pengampunan kepada para Easterling yang sudah menyerahkan diri, dan membebaskan mereka, dan Ia berdamai dengan bangsa Harad; Ia juga membebaskan budak- budak Mordor dan memberikan pada mereka seluruh daratan di sekitar Telaga Nurnen. Banyak orang dibawa menghadap kepadanya untuk menerima pujian dan imbalan atas keberanian mereka; dan terakhir kapten Pengawal membawa Beregond untuk diadili.
Lalu Raja berkata kepada Beregond, “Beregond, dengan pedangmu darah terkucur di Hallows, tempat pertumpahan darah dilarang. Kau juga meninggalkan posmu tanpa izin dari Penguasa atau Kapten. Atas kesalahan-kesalahan ini, hukuman mati ganjarannya, seperti yang berlaku sejak zaman dahulu. Maka kini aku harus menyatakan hukumanmu.”
“Semua hukuman dibatalkan karena keberanianmu dalam pertempuran, terlebih lagi karena semua yang kaulakukan adalah demi rasa sayangmu kepada Lord Faramir. Namun kau harus meninggalkan pasukan Pengawal Benteng, dan pergi

dari Kota Minas Tirith.”

Wajah Beregond memucat, hatinya sedih sekali, dan Ia menundukkan kepala. Tetapi Raja berkata,
“Demikianlah adanya, karena kau ditunjuk sebagai Pasukan Putih, Pengawal Faramir, Pangeran Ithilien. Kau akan menjadi kaptennya dan berdiam di Emyn Amen dengan penuh kehormatan dan kedamaian, melayani dia untuk siapa kau telah mengambil risiko, demi menyelamatkannya dari kematian.”
Beregond, yang menyadari pengampunan dan keadilan dari Raja, merasa sangat gembira. Sambil berlutut Ia mencium tangan Raja, dan pergi dengan hati puas dan senang. Dan Aragorn memberikan Ithilien kepada Faramir untuk menjadi negerinya dan memerintahnya sebagai pangeran. la meminta Faramir agar tinggal di bukit-bukit Emyn Amen, dalam jarak pandang dari Kota.
“Sebab Minas Ithil di Lembah Morgul akan dihancurkan seluruhnya, dan meski suatu saat nanti akan dibersihkan, tak boleh ada manusia tinggal di sana untuk waktu yang sangat lama,” demikian sabda Raja. Terakhir Aragorn menyambut Eomer dari Rohan, dan mereka berpelukan, lalu Aragorn berkata, “Di antara kita tak ada kata-kata tentang memberi dan menerima, juga tidak tentang imbalan; karena kita bersaudara. Di masa bahagia Eorl datang dari Utara, dan belum pernah ada bangsa yang lebih teberkati, sehingga tak ada yang saling mengecewakan, dan tidak akan pernah mengecewakan. Nah, kau tentu tahu, kami sudah membaringkan Theoden yang Termasyhur di sebuah makam di Hallows. Di sana dia akan berbaring selamanya di tengah-tengah para Raja Gondor, kalau kau berkenan. Atau kalau kau menginginkannya, kami akan datang ke Rohan dan mengembalikannya untuk beristirahat di tengah bangsanya sendiri.”
Lalu Eomer menjawab, “Sejak hari kau muncul dari antara rerumputan di depanku di padang, aku sudah menyayangimu, dan rasa sayang itu takkan berakhir. Tapi kini aku harus pergi untuk sementara ke negeriku sendiri sebab banyak yang harus disembuhkan dan diperbaiki. Tapi tentang dia yang Gugur, bila semuanya sudah siap, kami akan kembali untuk menjemputnya; sementara ini biarlah dia berbaring di sini.”

Lalu Eowyn berkata kepada Faramir, “Sekarang aku harus kembali ke negeriku sendiri, untuk melihatnya lagi, serta membantu kakakku; tapi nanti, bila orang yang kukasihi sebagai ayahku sudah dibaringkan di tempat peristirahatan terakhirnya, aku akan kembali.”


Demikianlah masa-masa bahagia berlalu; di hari kedelapan bulan Mei, para Penunggang dari Rohan bersiap-siap, dan pergi melalui Jalan Utara; putra-putra Elrond pergi bersama mereka. Seluruh jalan dipenuhi orang-orang yang memuji dan memberi penghormatan pada mereka, mulai dari Gerbang Kota sampai ke tembok-tembok Pelennor. Kemudian yang lain, yang tinggal di tempat-tempat jauh, pulang kembali sambil bergembira; sementara itu di Kota banyak orang bergotong-royong memperbaiki dan membangun, serta menyingkirkan semua luka perang dan ingatan akan kegelapan.
Para hobbit masih tetap tinggal di Minas Tirith, bersama Legolas dan Gimli; karena Aragorn enggan membubarkan persekutuan mereka. “Memang semua itu harus berakhir,” katanya, “tapi kumohon kalian menunggu sebentar lagi: sebab akhir dari semua tindakan di mana kalian mengambil bagian, belum datang. Ada satu hari yang semakin dekat, yang sudah kunanti-nanti sepanjang masa sebagai seorang pria dewasa, dan bila hari itu tiba, aku ingin semua sahabatku ada di sisiku.” Tapi Ia tidak mau mengatakan lebih banyak tentang hari itu.
Di masa itu para anggota Rombongan Pembawa Cincin tinggal bersama-sama di sebuah rumah indah bersama Gandalf, dan mereka bepergian sekehendak hati. Lalu Frodo berkata pada Gandalf, “Apakah kau tahu hari apa yang dibicarakan Aragorn? Karena kami di sini sangat bahagia, dan aku tak ingin pergi; tapi waktu berlalu cepat, dan Bilbo menunggu; Shire adalah kampung halamanku.”
“Tentang Bilbo,” kata Gandalf, “dia juga menunggu hari yang sama, dan dia tahu apa yang membuatmu tertahan di sini. Tapi tentang waktu yang berlalu, sekarang baru Mei dan belum lagi musim panas; meski kelihatannya semua sudah berubah, seolah-olah suatu zaman sudah berlalu, tapi bagi pepohonan dan rumput belum lagi setahun sejak kau berangkat.”
“Pippin,” kata Frodo, “bukankah kaubilang Gandalf sudah tidak terlalu misterius

seperti dulu? Mungkin saat itu dia sedang lelah karena kerja keras. Sekarang

rupanya dia sudah mulai pulih.”

Lalu Gandalf berkata, “Banyak orang ingin tahu sebelumnya, apa yang akan dihidangkan di meja; tapi mereka yang sudah bekerja keras untuk menyiapkan pesta, ingin menyimpan rahasia; karena kejutan akan membuat pujian semakin deras. Dan Aragorn sendiri sedang menunggu suatu tanda.”


Pada suatu hari Gandalf tak bisa ditemukan di mana pun, dan para Sahabat bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Ternyata Gandalf membawa Aragorn keluar dari Kota di malam hari, menuju kaki selatan Gunung Mindolluin; di sana mereka menemukan jalan yang sudah dibuat berabad-abad lalu, yang kini tidak banyak orang berani melewati. Karena jalan itu terus mendaki gunung dan menuju sebidang tanah keramat di dataran tinggi yang biasanya hanya dikunjungi para raja. Lalu mereka mendaki melewati jalan-jalan terjal, sampai tiba di sebuah dataran tinggi di bawah salju yang menyelubungi puncak-puncak tinggi; sementara dataran itu sendiri menghadap ke ngarai di belakang Kota. Sambil berdiri di sana mereka mengamati daratan, sementara pagi hari sudah menjelang; menara-menara Kota di bawah sana tampak bagai pensil-pensil putih yang tersentuh cahaya matahari, seluruh Lembah Anduin bagai kebun, dan Pegunungan Bayang-Bayang terselubung kabut keemasan. Di satu sisi mereka bisa memandang sejauh Emyn Mull yang kelabu, dan kilauan Rauros bagai bintang yang berkelip di kejauhan; di sisi lain mereka melihat Sungai menjulur bagai pita sampai ke Pelargir, dan di seberangnya terlihat cahaya di batas kaki langit yang menyingkap Samudra.
Lalu Gandalf berkata, “Itulah negerimu, dan inti dari seluruh negeri yang akan terbentuk. Zaman Ketiga Dunia sudah berakhir, dan zaman baru sudah dimulai; tugasmulah untuk mengatur awalnya dan mempertahankan apa yang bisa dipertahankan. Karena meski banyak yang sudah diselamatkan, banyak juga yang sekarang harus berlalu; kekuatan Tiga Cincin juga sudah berakhir. Seluruh daratan yang kaulihat, dan sekitarnya, akan menjadi tempat tinggal Manusia. Sebab kin' sudah tiba masa kekuasaan Manusia, dan Bangsa Peri akan

memudar atau pergi.”

“Aku sudah tahu itu, sahabatku yang baik,” kata Aragorn, “tapi aku masih ingin

mendapat saran-saranmu.”

“Aku takkan lama lagi di sini,” kata Gandalf. .”Zaman Ketiga adalah zamanku. Aku Musuh Sauron, dan tugasku sudah selesai. Aku akan segera pergi. Sekarang beban ini terletak di tanganmu dan bangsamu.”
“Tapi aku pun akan mati,” kata Aragorn. “Karena aku manusia fana, meski aku

keturunan bangsa Barat yang masih murni. Aku akan hidup jauh lebih lama daripada manusia-manusia lain, tapi itu pun hanya sebentar sekali; saat bayi- bayi yang sekarang berada di rahim para wanita sudah lahir dan menjadi tua, aku pun akan tua. Siapakah nanti yang akan memerintah Gondor dan rakyat yang menganggap Kota ini ratu mereka, kalau keinginanku tidak dikabulkan? pohon di Halaman Air Mancur masih juga kering dan mandul. Kapan aku akan melihat pertanda bahwa keadaan sudah berbeda?”
“Alihkan pandanganmu dari dunia yang hijau, dan pandanglah ke tempat semuanya kelihatan tandus dan dingin!” kata Gandalf.
Lalu Aragorn membalikkan badan, di belakangnya ada lereng berbatu yang menurun dari pinggir-pinggir salju; ketika memandang, ia menyadari bahwa di tanah tandus itu berdiri sesuatu yang sedang tumbuh sendirian. Lalu Ia mendaki mendekatinya, dan melihat bahwa dari pinggir batas salju muncul sebuah pohon muda yang tingginya hanya satu meter. Daun-daun muda yang panjang dan indah sudah tumbuh padanya, gelap di atas dan perak di bagian bawahnya, di puncaknya yang ramping ada seberkas kecil bunga yang daun bunganya kemilau bagai salju disinari matahari.
Lalu Aragorn berseru, “Ye! utuvienyes! Sudah kutemukan! Lihat! Ini keturunan Pohon Tertua! Tapi bagaimana bisa ada di sini? Karena umurnya belum sampai tujuh tahun.”
Gandalf datang mengamatinya, dan berkata, “Memang ini anak pohon dari keturunan Nimloth yang elok; dan itu adalah bibit dari Galathilion, buah dari Telperion yang mempunyai banyak nama, pohon Tertua. Siapa yang tahu bagaimana bisa dia berada di sini pada saat yang sudah ditentukan? Tapi ini

memang tanah keramat, dan sebelum para raja gagal atau pohon layu di pelataran, mungkin buahnya sudah ditanam di sini. Karena menurut kisahnya, meski buah pohon ini jarang menjadi matang, namun kehidupan di dalamnya tetap ada dan tertidur selama bertahun-tahun, dan tak ada yang bisa meramalkan kapan dia terbangun lagi. Ingatlah ini. Jika suatu saat nanti buahnya ada yang matang, buah itu harus ditanam, agar garis keturunan ini tidak mati. Di sini dia tersembunyi di pegunungan, seperti bangsa Elendil tersembunyi di tanah kosong di Utara. Namun garis keturunan Nimloth bahkan lebih tua daripada garis keturunanmu, Raja Elessar.”
Lalu Aragorn menyentuh lembut pohon muda itu, dan lihat … rupanya pohon itu hanya tertanam dangkal di situ, dan bisa diangkat tanpa cedera; dan Aragorn membawanya ke Benteng. Lalu pohon yang sudah layu digali dengan penuh penghormatan; dan mereka tidak membakarnya, tapi membaringkannya untuk beristirahat di Rath Dinen yang sepi. Lalu Aragorn menanam pohon baru itu di halaman dekat air mancur, dan dengan cepat dan senang pohon itu tumbuh; ketika bulan Juni datang, pohon itu sudah dipenuhi bunga-bunga.
“Pertandanya sudah muncul,” kata Aragorn, “dan harinya sudah tidak jauh lagi.”

Lalu ia menyuruh para pengawal berjaga di atas tembok.



Sehari sebelum Pertengahan Musim Panas, datang utusan-utusan dari Amon din ke Kota. Mereka melaporkan bahwa ada serombongan orang gagah dan cantik datang dari Utara, dan sudah mendekati tembok-tembok Pelennor. Lalu Raja berkata, “Akhirnya mereka datang. Siapkan seluruh Kota!”
Saat malam Pertengahan Musim Panas, ketika langit sebiru batu safir dan bintang-bintang putih mekar di Timur, namun Barat masih bernada keemasan, dan hawa pun sejuk serta wangi, para penunggang datang melewati jalan Utara ke gerbang Minas Tirith. Di depan melaju Elrohir dan Elladan membawa panji perak, lalu Glorfindel, Erestor, dan seisi rumah Rivendell; di belakang mereka datang Lady Galadriel dan Celeborn, Penguasa Lothlorien, menunggang kuda jantan putih, dan bersama mereka banyak penduduk elok dan negeri mereka, berjubah kelabu dengan batu permata putih di rambut; terakhir Master Elrond,

yang paling berkuasa di antara Peri dan Manusia, membawa tongkat lambang kekuasaan Annitminas, dan di sampingnya, di atas kuda kelabu, melaju Arwen putrinya, Evenstar dari bangsanya.
Ketika Frodo melihatnya datang, berkilauan di malam hari, dengan bintang- bintang di dahinya dan menyebarkan keharuman dari sosoknya, ia sangat terharu dan kagum, lalu Ia berkata pada Gandalf, “Akhirnya aku mengerti mengapa kita harus menunggu! Inilah akhir kisahnya. Kini bukan hanya pagi hari yang indah, tapi malam pun akan indah dan penuh berkat, dan semua ketakutan akan hilang!”
Lalu Raja menyambut tamu-tamunya, dan mereka turun dari kuda masing- masing; Elrond menyerahkan tongkat kekuasaan, dan meletakkan tangan putrinya ke dalam tangan Raja; berdampingan mereka naik ke Kota Tinggi, dan semua bintang pun mekar di langit. Lalu Aragorn sang Raja Elessar menikahi Arwen Undomiel di Kota para Raja di hari Pertengahan Musim Panas, dan kisah penantian serta kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan.

BAB 6

PERPISAHAN



Ketika masa bergembira sudah berakhir, para Sahabat mulai berpikir untuk kembali ke rumah masing-masing. Lalu Frodo mendatangi Raja ketika Ia sedang duduk bersama Ratu Arwen dekat air mancur, dan Arwen sedang menyanyikan lagu dari Valinor, sementara Pohon tumbuh dan berkembang. Mereka menyambut Frodo dan bangkit untuk menyalaminya; dan Aragorn berkata,
“Aku sudah tahu apa yang ingin kaukatakan, Frodo: kau ingin kembali ke rumahmu sendiri. Nah, sahabatku tersayang, sebatang pohon selalu tumbuh paling bagus di negeri nenek moyangnya; tapi negeri-negeri di Barat akan selalu menyambutmu. Dan meski dulu bangsamu tidak banyak mencicipi kemasyhuran dalam legenda orang-orang hebat, kini mereka akan lebih termasyhur daripada banyak negeri lain yang lebih besar, yang sekarang sudah tak ada.”
“Memang benar aku ingin kembali ke Shire,” kata Frodo. “Tapi aku harus ke Rivendell dulu. Sebab rasanya masih ada yang kurang, di masa penuh berkat ini. Aku rindu pada Bilbo; aku sedih bahwa di antara semua penghuni rumah Elrond, dia tidak ikut datang.”
“Mengapa kau merasa heran, Pembawa Cincin?” kata Arwen. “Kau tahu kekuatan benda yang sudah hancur itu; dan segala pengaruhnya sekarang sudah hilang. Tapi Bilbo memiliki benda itu lebih lama daripadamu. Dia sudah sangat tua sekarang, menurut ukuran bangsamu; dan dia menunggumu, sebab dia takkan lagi melakukan perjalanan jauh, kecuali satu.”
“Kalau begitu, aku minta izin segera pergi,” kata Frodo.

“Dalam tujuh hari kita akan pergi,” kata Aragorn. “Karena kami akan mendampingimu di jalan, sampai sejauh negeri Rohan. Dalam tiga hari Eomer akan kembali ke sini untuk mengambil Theoden dan membawanya pulang untuk beristirahat di Mark. Kami akan berjalan bersamanya untuk menghormati dia yang sudah gugur. Tapi sebelum kau pergi aku akan menegaskan kata-kata yang pernah diucapkan Faramir kepadamu, dan kau akan terbebas dari negeri Gondor untuk selamanya; semua pendampingmu juga. Seandainya ada hadiah-

hadiah yang bisa kuberikan padamu yang sebanding dengan jasa-jasamu, kau akan memperolehnya; tapi apa pun yang kauinginkan boleh kaubawa, dan kau akan berjalan dengan penuh penghormatan dan keagungan, selayaknya para pangeran negeri ini.”
Tetapi Ratu Arwen berkata, “Aku ingin memberikan hadiah padamu. Karena aku putri Elrond. Aku tidak akan pergi bersamanya saat dia berangkat ke Havens; karena pilihanku sama dengan pilihan Luthien, dan seperti dia aku juga sudah memilih, yang manis maupun yang pahit. Tapi kau, Pembawa Cincin, akan pergi menggantikan aku bila saatnya tiba, dan kalau saat itu kau menginginkannya. Bila luka-lukamu masih mengganggu dan ingatan akan bebanmu terasa sangat berat, kau boleh pergi ke Barat, sampai semua luka dan keletihanmu sembuh. Pakailah ini sebagai kenang-kenangan kepada Elfstone dan Evenstar, yang hidupnya telah terjalin dengan hidupmu!”
Lalu Arwen mengambil sebuah permata putih seperti bintang, yang tergantung di dadanya pada seutas rantai perak, dan Ia mengalungkan rantai itu ke leher Frodo. “Bila ingatan akan ketakutan dan kegelapan mengganggumu,” katanya, “benda ini akan memberimu pertolongan.”


Dalam tiga hari, seperti sudah dikatakan Raja, Eomer dari Rohan datang menunggang kuda ke Kota, dan bersamanya datang satu eored ksatria paling gagah dari Mark. Ia disambut meriah; ketika mereka semua duduk di sekeliling meja di Merethrond, Balairung Pesta Besar, ia melihat kecantikan semua wanita yang hadir di sana, dan terkagum-kagum. Sebelum beristirahat Ia memanggil Gimli si Kurcaci, dan berkata kepadanya, “Gimli putra Gloin, apakah kapakmu sudah siap?”
“Belum, Lord,” kata Gimli, “tapi aku bisa mengambilnya segera, kalau memang diperlukan.”
“Kaulah yang akan menilainya,” kata Eomer. “Sebab ada beberapa perkataan gegabah menyangkut Lady dari Hutan Emas yang masih menjadi masalah di antara kita. Kini aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”
“Nah, Lord,” kata Gimli, “dan bagaimana pendapatmu sekarang?”

“Sayang sekali!” kata Eomer. “Aku tidak mau menyatakan dia sebagai wanita tercantik yang hidup.”
“Kalau begitu, aku harus pergi mengambil kapakku,” kata Gimli.

“Tapi sebelumnya aku ingin mengemukakan alasanku,” kata Eomer. “Seandainya aku melihatnya bersama-sama orang lain, mungkin aku akan berpendapat sesuai harapanmu. Tapi kini aku menempatkan Ratu Arwen sebagai nomor satu, dan aku siap melakukan pertempuran dengan siapa pun yang membantahnya. Perlukah aku menghunus pedangku?”
Lalu Gimli membungkuk rendah. “Tidak, kau dimaafkan, sejauh menyangkut aku, Lord,” kata Gimli. “Kau memilih Malam, tapi cintaku kuberikan kepada Pagi. Dan firasatku mengatakan bahwa tak lama lagi Pagi akan pergi untuk selamanya.”


Akhirnya hari perpisahan tiba, dan serombongan besar manusia gagah bersiap- siap pergi ke utara dari Kota. Raja Gondor dan Rohan pergi ke Hallows, dan mereka sampai ke kuburan di Rath Dinen. Mereka membawa pergi jenazah Raja Theoden di atas usungan emas, dan melewati Kota dalam keheningan. Lalu mereka meletakkan usungan itu di sebuah kereta besar yang dikelilingi para Penunggang dari Rohan, panjinya berkibar di depan; Merry, yang menjadi pelayan Theoden, naik ke atas kereta dan membawa senjata-senjata Raja.
Untuk para Pendamping yang lain disediakan kuda-kuda jantan yang sesuai ukuran tubuh mereka; Frodo serta Samwise naik kuda di samping Aragorn, dan Gandalf menunggang Shadowfax; Pippin melaju bersama para ksatria dari Gondor, Legolas serta Gimli menunggang Arod berdua, seperti biasanya.
Dalam rombongan itu juga ada Ratu Arwen, Celeborn dan Galadriel bersama rakyat mereka, dan Elrond serta putra-putranya; lalu para pangeran dari Dol Amroth dan Ithilien, dan banyak lagi kapten dan ksatria. Belum pernah ada raja dari Mark didampingi rombongan semacam itu, seperti yang pergi bersama Theoden putra Thengel ke tanah airnya.
Tanpa tergesa-gesa mereka masuk ke Anorien, sampai ke Hutan Kelabu di bawah Amon Din; di sana mereka mendengar bunyi seperti genderang berdentam di perbukitan, meski tak terlihat satu pun makhluk hidup. Lalu Aragorn

menyuruh terompet-terompet dibunyikan, dan para bentara berseru,

“Saksikan, Raja Elessar sudah datang! Hutan Druadan diberikannya kepada Ghan-buri-ghan dan rakyatnya, menjadi milik mereka untuk selamanya; setelah ini jangan ada orang masuk ke wilayah ini tanpa seizin mereka!”
Maka genderang-genderang berdentam keras, lalu diam.



Akhirnya, setelah lima belas hari perjalanan, kereta Raja Theoden masuk ke padang-padang hijau Rohan dan sampai ke Edoras; di sana mereka semua beristirahat. Balairung Emas dihiasi gantungan indah-indah dan dipenuhi cahaya, dan di sana diadakan pesta paling meriah yang pernah dilangsungkan sejak pembangunannya. Karena setelah tiga hari Orang-Orang dari Mark menyiapkan pemakaman Theoden; ia dibaringkan dalam sebuah rumah baru bersama senjata-senjatanya dan banyak benda indah lain miliknya; sebuah gundukan tanah dibangun di atasnya, dilapisi tanah berumput hijau dan evermind putih. kini ada delapan makam di sisi timur Barrowfield.
Lalu para Penunggang Istana Raja mengendarai kuda putih berkeliling pemakaman sambil menyanyikan lagu tentang Theoden putra Thengel yang diciptakan oleh Gleowine penyanyi istana, yang setelah itu tak pernah menciptakan lagu lagi. Suara-suara para Penunggang yang berirama lambat, menyentuh hati para pendengar, termasuk mereka yang tidak mengerti bahasa bangsa itu; tapi syair lagu itu membuat mata orang-orang Mark berbinar-binar, sebab mereka seolah-olah mendengar kembali gemuruh derap kaki kuda dari Utara, dan suara Eorl berteriak dalam pertempuran di Padang Celebrant; kisah- kisah para raja bergulir terus, dan terompet Helm berbunyi nyaring di pegunungan, sampai Kegelapan datang dan Theoden bangkit melaju melalui Bayang-Bayang, menuju api dan tewas dalam kegemilangan, saat Matahari, yang di luar dugaan sudah kembali, menyinari Mindolluin di pagi hari.


Dari kebimbangan, dari kegelapan, menjelang pagi hari

Ia melaju menghunus pedang, sambil bernyanyi di bawah matahari, Ia membangkitkan harapan, dan hilang dalam harapan;

Diangkat keluar dari kematian, dari ajal dan ketakutan

dari kehilangan dan kehidupan, menjumpai kegemilangan panjang.



Tetapi Merry berdiri dekat kaki gundukan tanah, dan menangis; ketika lagu itu berakhir, Ia bangkit dan berseru,
“Raja Theoden, Raja Theoden! Selamat jalan! Selama waktu yang sangat singkat, kau sudah seperti ayah bagiku. Selamat jalan!”


Ketika pemakaman selesai dan tangisan para wanita sudah berhenti, dan Theoden terbaring sunyi di dalam makamnya, orang-orang berkumpul di Balairung Emas untuk berpesta besar dan melupakan duka; karena Theoden sudah berumur cukup panjang dan gugur dalam kehormatan, tidak kalah dari nenek moyangnya yang paling hebat. Ketika tiba saat bersulang untuk mengenang para raja, sesuai adat istiadat mereka, Eowyn, Lady dari Rohan maju ke depan, sosoknya keemasan bagai matahari dan putih seperti salju; ia membawa secangkir penuh kepada Eomer.
Lalu scorang penyanyi yang juga pakar adat, berdiri dan menyebutkan satu per satu nama-nama para Penguasa Mark, sesuai urutannya. Eorl yang Muda; Brego yang membangun Balairung; Aldor saudara Baldor yang malang; Frea, Freawine, Goldwine, Deor, dan Gram; dan Helm yang terkubur di Helm's Deep ketika Mark ditaklukkan; demikianlah kesembilan kuburan di sisi barat, karena setelah itu garis keturunan terputus; berikutnya adalah kuburan di sisi timur: Frealaf, putra saudara perempuan Helm, Leofa, Walda, Folca, Folcwine, Fengel, Thengel, dan yang terakhir Theoden. Saat Theoden disebutkan, Eomer meminum isi cangkir sampai habis. Lalu Eowyn meminta para pelayan agar mengisi penuh semua cangkir, dan semua yang hadir bangkit berdiri dan berseru, “Hidup, Eorner, Raja dari Mark!”
Akhirnya menjelang usai pesta, Eomer bangkit dan berkata, “Ini pesta pemakaman Raja Theoden; tapi sebelum kita berpisah, aku ingin menyampaikan kabar gembira. Theoden pasti tidak keberatan aku melakukan itu, karena selama ini dia sudah seperti ayah bagi adikku Eowyn. Dengar, tamu-tamuku semua,

orang-orang gagah dan cantik dari mancanegeri, yang belum pernah berkumpul di balairung ini! Faramir, Pejabat dari Gondor, dan Pangeran dari Ithilien, meminta agar Eowyn, Lady dari Rohan, menjadi istrinya, dan Eowyn dengan sepenuh hati menyetujui pennintaannya. Oleh karena itu, mereka berdua akan dipertunangkan dengan disaksikan seluruh hadirin.”
Lalu Faramir dan Eowyn maju ke depan dan berpegangan tangan; semua hadirin bersulang untuk mereka dan bergembira. “Maka dengan ini,” kata Eomer, “persahabatan antara Mark dan Gondor dipererat dengan ikatan baru, dan aku semakin bahagia.”
“Kau memang tidak pelit, Eomer,” kata Aragorn, “memberikan kepada Gondor wujud tercantik yang ada di seluruh negerimu!”
Lalu Eowyn menatap ke dalam mata Aragorn, dan berkata, “Doakan aku

kebahagiaan, Tuanku penguasa dan penyembuh!”

Dan Aragorn menjawab, “Sejak pertama kali melihatmu, aku telah mendoakan

kebahagiaan bagimu. Hatiku sekarang damai, setelah melihatmu bahagia.”



Seusai pesta, mereka yang akan pergi berpamitan dengan Raja Eomer. Aragorn dan para ksatrianya, serta rakyat Lorien dan Rivendell, bersiapsiap berangkat; tetapi Faramir dan Imrahil tetap di Edoras; Arwen Evenstar juga tetap di sana, dan Ia berpamitan dengan saudarasaudaranya. Tak ada yang menyaksikan pertemuan terakhir Arwen dengan Elrond, ayahnya, karena mereka pergi mendaki perbukitan dan berbicara lama sekali di sana; perpisahan mereka sangatlah getir, karena akan berlangsung lebih lama dari akhir zaman dan kiamat dunia.
Akhirnya, sebelum para tamu berangkat, Eomer dan Eowyn mendekati Merry dan berkata, “Selamat jalan, Meriadoc dari Shire dan Holdwine dari Mark! Sambutlah nasib baik, dan segeralah kembali menemui kami!”
Lalu Eomer berkata, “Raja-raja zaman dulu pasti membanjirimu dengan hadiah- hadiah yang tak mungkin dibawa dengan kereta, atas jasa-jasamu di medan pertempuran Mundburg; tapi kau tidak mau menerima apa pun, kecuali perlengkapan perang yang sudah diberikan padamu. Aku sudah menyerah pada

keputusanmu itu, karena memang aku tak punya hadiah yang cukup pantas; tapi adikku memohon agar kau mau menerima benda kecil ini, sebagai kenang- kenangan kepada Dernhelm dan terompet-terompet dari Mark yang menyambut pagi hari.”
Lalu Eowyn memberikan kepada Merry sebuah terompet kuno, kecil tapi merupakan hasil karya yang indah, terbuat dari perak dengan baldric hijau; para pengrajin sudah mengukirkan padanya gambar penunggang kuda yang melaju cepat dalam barisan yang mengitari terompet dari ujung sampai ke mulutnya; juga banyak lambang kebajikan menghiasinya.
“Ini pusaka keluarga kami,” kata Eowyn. “Dibuat oleh para Kurcaci, dan berasal dari barang timbunan Scatha si Cacing. Eorl Muda membawanya dari Utara. Dia yang meniupnya akan membangkitkan ketakutan dalam hati musuh-musuh mereka dan kegembiraan dalam hati sahabat-sahabatnya, dan mereka akan mendatanginya ketika mendengarnya.”
Merry menerima terompet itu, karena tak mungkin ditolak, dan ia mengecup tangan Eowyn; lalu mereka memeluknya, dan begitulah mereka berpisah untuk sementara.


Sekarang tamu-tamu sudah siap, dan mereka minum minurnan keberangkatan. Dengan banyak pujian dan rasa persahabatan mereka berangkat, dan akhirnya sampai ke Helm's Deep; di sana mereka istirahat selama dua hari. Legolas menepati janjinya pada Gimli dan pergi bersamanya ke Gua-Gua Kemilau; ketika mereka kembali, Legolas diam saja dan hanya mengatakan bahwa Gimli satu- satunya yang bisa menemukan kata-kata yang pantas untuk menceritakan tentang gua-gua itu. “Belum pernah ada Kurcaci yang menang dari Peri dalam perlombaan kata-kata,” kata Legolas. “Jadi, marilah kita pergi ke Fangorn dan menyamakan angka!”
Dari Deeping-coomb mereka pergi bersama-sama ke Isengard, dan melihat bagaimana para Ent sudah bekerja dengan giat. Seluruh lingkaran batu sudah dihancurkan dan disingkirkan, tanah di dalamnya sudah menjelma menjadi kebun yang dipenuhi pohon buah dan pepohonan, dan sungai mengalir di

tengahnya; tapi di tengahnya ada sebuah telaga berair jernih, dan Menara Orthanc masih berdiri di sana, muncul dari dalam telaga, diam, tinggi, dan tahan terhadap serangan, bebatuannya yang hitam tecermin di air telaga.
Sejenak para pengembara duduk di tempat gerbang lama Isengard pernah berdiri, kini di tempat itu dua batang pohon berdiri bagai penjaga, di awal sebuah jalan berbatas hijau yang menuju Orthanc; dengan kagum mereka mengamati karya yang sudah dihasilkan, tapi mereka tidak melihat makhluk hidup di sekitarnya. Namun tak lama kemudian mereka mendengar suara yang berseru huum-hom, huumhom; tampak Treebeard melangkah di jalan itu, untuk menyambut mereka, bersama Quickbeam yang mendampinginya.
“Selamat datang di Kebun pohon Orthanc!” katanya. “Aku sudah tahu kalian datang, tapi aku sedang bekerja di lembah sana; masih banyak yang perlu dikerjakan. Kudengar kau juga tidak berpanglcu tangan di selatan dan di timur, dan semua yang kudengar sangat, sangat baik.” Lalu Treebeard memuji semua perbuatan mereka, yang rupanya Ia ketahui seluruhnya. Akhirnya Ia berhenti dan menatap Gandalf lama sekali.
“Nah, bagaimana ini!” kata Treebeard. “Sudah terbukti kau paling hebat, dan semua jerih payahmu berhasil dengan baik. Ke mana sekarang kau mau pergi? Dan mengapa kau kemari?”
“Untuk melihat kemajuan pekerjaanmu, sahabatku,” kata Gandalf, “dan untuk menyampaikan terima kasih atas bantuamrru dalam semua yang kita capai.” “Huum, itu cukup adil,” kata Treebeard, “sebab memang para Ent ikut berperan di sini. Bukan hanya dalam menangani, huum, penebang pohon terkutuk yang pernah tinggal di sini. Sebab mereka banyak sekali. Makhluk-makhluk yang, burarum, bermata jahat, bertangan hitam, berkaki bengkok, berhati keji, bercakar, berperut busuk, haus darah, mormaitesincahonda, huum, ya, karena kalian bangsa yang serba terburu-buru, sedangkan nama mereka sama panjangnya dengan tahun-tahun penuh siksaan, para Orc pengganggu itu; mereka datang melalui Sungai dan dari Utara dan dari sekitar hutan Laurelindorenan, yang tidak bisa mereka masuki berkat penjagaan Yang Mulia ini.” Ia membungkuk ke arah Lord dan Lady dari Lorien.

“Dan makhluk-makhluk busuk ini juga sangat terkejut ketika bertemu kami di Wold, sebab mereka belum pernah mendengar tentang kami; meski hal itu juga bisa dikatakan tentang bangsa lain yang lebih hebat. Dan tidak banyak di antara mereka yang akan ingat pada kami, sebab tidak banyak yang bisa lolos hidup- hidup, dan banyak dari mereka yang mati di sungai. Tapi beruntunglah kalian, sebab seandainya mereka tidak bertemu dengan kami, Raja padang-padang rumput tidak akan pergi jauh, dan seandainya dia bisa pergi jauh, rumahnya sudah hancur ketika dia kembali.”
“Kami sangat menyadan hal itu,” kata Aragorn, “dan itu takkan pernah dilupakan di Minas Tirith atau di Edoras.”
“Tidak pernah adalah masa yang terlalu panjang, bahkan untukku,” kata Treebeard. “Maksudmu pasti: tidak pernah selama kerajaanmu masih berdiri; tapi agar bagi para Ent itu terasa lama, butuh waktu yang luar biasa panjang.” “Zaman Baru sudah dimulai,” kata Gandalf, “dan mungkin saja di zaman ini ternyata kerajaan-kerajaan Manusia akan melebihi usiamu, Fangorn sahabatku. Tapi ceritakan padaku: bagaimana dengan tugas yang kuberikan kepadamu? Bagaimana kabar Saruman? Apakah dia belum jemu dengan Orthanc? Kurasa menurut dia kau tidak membuat Pemandangan dari jendelanya jadi lebih bagus.” Treebeard memandang Gandalf lama sekali, dengan tatapan cerdik, pikir Merry. “Ah!” katanya. “Sudah kuduga kau akan mengatakan itu. Jemu dengan Orthanc? Sangat jemu akhirnya; tapi dia lebih jemu pada suaraku. Huum! Aku menuturkan kepadanya beberapa kisah Panjang, atau setidaknya dalam bahasamu akan dianggap panjang.”
“Lalu kenapa dia tetap tinggal mendengarkanmu? Apakah kau masuk ke

Orthanc?” tanya Gandalf.

“Huum, tidak, tidak masuk ke Orthanc!” kata Treebeard. “Tapi dia mendekati jendelanya dan mendengarkan, karena dia tak mungkin mendapat kabar dengan cara lain, dan meski dia benci kabar-kabar itu, dia sangat ingin memperolehnya; aku memastikan dia mendengar semuanya. Tapi aku menambahkan banyak hal selain kabar-kabar itu yang baik untuk dipikirkan olehnya. Dia menjadi sangat jemu. Sejak dulu dia memang selalu terburu-buru. Itulah yang menyebabkan

kehancurannya.”

“Fangorn-ku yang budiman,” kata Gandalf, “Kuperhatikan kau berbicara seolah- olah Saruman sudah mati. Tapi benarkah begitu? Apakah dia sudah mati?” “Tidak, tidak mati, sejauh kutahu,” kata Treebeard. “Tapi dia sudah pergi. Ya, sudah tujuh hari dia pergi. Aku membiarkannya pergi. Sudah tidak banyak yang tersisa darinya ketika dia merangkak keluar, dan pengikutnya itu … dia sudah seperti bayangan pucat. Jangan katakan padaku, Gandalf, bahwa aku sudah berjanji akan menahannya dengan aman; karena aku sudah tahu itu. Tapi keadaan di sini sudah berubah. Aku sudah menahannya sampai aman, sampai dia tak bisa lagi merusak. Kau harus tahu bahwa aku sangat benci mengurung makhluk hidup, dan aku tak ingin mengurung makhluk-makhluk semacam ini sekalipun tanpa alasan mendesak. Ular tanpa taring beracun boleh merayap ke mana pun dia mau.”
“Mungkin kau benar,” kata Gandalf, “tapi kurasa ular yang ini masih punya satu gigi. Dia memiliki racun dalam suaranya, dan kuduga dia sudah membujukmu, Treebeard, karena dia tahu titik lemah di hatimu. Ya, dia sudah pergi sekarang, dan tak ada lagi yang bisa dikatakan. Tapi Menara Orthanc akan kembali kepada Raja yang memang berhak memilikinya. Meski mungkin dia tidak membutuhkannya.”
“Itu akan kami pertimbangkan di kemudian hari,” kata Aragorn. “Tapi aku akan memberikan seluruh lembah ini kepada para Ent, untuk dijadikan apa saja sekehendak mereka, asalkan mereka mengawasi Orthanc dan menjaga jangan sampai ada yang masuk ke dalamnya tanpa seizinku.”
“Pintunya terkunci,” kata Treebeard. “Aku menyuruh Saruman menguncinya dan memberikan kuncinya padaku. Quickbeam yang menyimpannya.”
Quickbeam membungkuk bagai pohon condong kena angin, dan memberikan pada Aragorn dua kunci hitam berbentuk rumit, diikat dengan sebuah cincin baja. “Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih padamu,” kata Aragorn, “dan aku mohon pamit. Semoga hutanmu tumbuh lagi dalam kedamaian. Bila lembah ini sudah terisi, masih banyak ruang kosong di sisi barat pegunungan, tempatmu mengembara di masa lampau.”

Wajah Treebeard menjadi sedih. “Hutan-hutan mungkin tumbuh,” katanya. “Pepohonan bisa berkembang dan menyebar. Tapi Ent tidak. Tidak ada Enting.” “Mungkin sekarang pencarianmu akan lebih optimis,” kata Aragorn. Banyak negeri di timur, yang dulu tertutup, sekarang terbuka bagimu.”
Tapi Treebeard menggelengkan kepala dan berkata, “Terlalu jauh jaraknya. Dan sudah terlalu banyak Manusia di sana sekarang ini. Omong-omong, aku lupa sopan santunku! Apakah kau mau istirahat sebentar di sini? Dan mungkin ada yang ingin berjalan melalui Hutan Fangorn, sehingga memperpendek jarak pulang ke rumah?” Ia menatap Celebom dan Galadriel.
Tapi semua, kecuali Legolas, mengatakan mereka harus pamit dan pergi ke selatan atau ke barat. “Ayo, Gimli!” kata Legolas. “Dengan izin Fangorn aku akan mengunjungi tempat-tempat terdalam di Hutan Ent, dan melihat pohon-pohon yang tak bisa ditemukan di tempat lain di Dunia Tengah. Kau akan ikut bersamaku dan menepati janjimu; dengan begitu, kita akan mengembara bersama menuju negeri kita masing-masing di Mirkwood dan seberangnya.”
Gimli menyetujuinya, meski tidak sepenuhnya dengan senang hati.

“Maka berakhirlah Persekutuan Cincin ini,” kata Aragorn. “Tapi kuharap tak lama lagi kalian akan kembali ke negeriku dengan membawa bala bantuan yang sudah kalian janjikan.”
“Kami akan datang, kalau diizinkan penguasa-penguasa kami,” kata Gimli. “Nah, selamat jalan, hobbit-hobbit-ku! Kalian pasti sampai dengan selamat ke rumah masing-masing, dan aku tidak akan terjaga karena khawatir kalian diintai bahaya. Kami akan mengirim kabar sebisa mungkin, dan mungkin beberapa di antara kita akan bertemu sesekali; tapi aku khawatir tidak semua dari kita akan pernah berkumpul bersama lagi.”


Lalu Treebeard berpamitan dengan masing-masing; Ia membungkuk tiga kali perlahan-lahan dan penuh hormat kepada Celeborn dan Galadriel. “Sudah lama lama sekali sejak kita bertemu di padang atau di bukit, A vanimar vanimklion nostari!” katanya. “Sangat menyedihkan bahwa kita hanya bertemu di akhir kisah. Karena dunia sedang berubah. Aku bisa merasakannya di dalam air, di

dalam tanah, dan di udara. Kurasa kita tidak akan bertemu lagi.”

Dan Celeborn menjawab, “Aku tidak tahu, Yang Tertua.” Tapi Galadriel berkata “Tidak di Dunia Tengah, juga tidak sampai negeri-negeri di bawah ombak samudra terangkat kembali. Ketika itulah kita akan bertemu lagi di padang willow di Tasarinan, di Musim Semi. Selamat tinggal!”
Terakhir Merry dan Pippin berpamitan kepada Ent tua, dan ia agak gembira ketika melihat mereka. “Nah, hobbit-hobbit-ku yang riang,” katanya, “maukah kalian minum seteguk bersamaku sebelum pergi?”
“Kami mau,” kata mereka, maka Treebeard membawa mereka ke bawah bayangan salah satu pohon, dan mereka melihat sudah ada bejana batu besar di sana. Treebeard mengisi tiga mangkuk, dan mereka minum; mereka melihat matanya yang aneh memandang mereka dari atas tepi mangkuknya. “Hati- hatilah, hati-hatilah!” katanya. “Karena kalian sudah tambah tinggi sejak terakhir aku melihat kalian.” Mereka tertawa dan menghabiskan minuman itu.
“Nah, selamat jalan!” kata Treebeard. “Jangan lupa, kalau mendengar tentang Entwives di negerimu, kirimkan kabar padaku.” Lalu ia melambaikan tangannya yang besar pada seluruh rombongan, dan masuk ke antara pepohonan.


Sekarang para pelancong berjalan lebih cepat, menuju Celah Rohan; akhirnya Aragorn berpamitan dengan mereka dekat tempat Pippin memandang ke dalam Batu Orthanc. Para hobbit sangat sedih dengan perpisahan itu, karena Aragorn tak pernah mengecewakan mereka dan selama itu selalu memandu mereka melewati berbagai bahaya.
“Coba kita punya Batu Penglihatan, sehingga kita bisa melihat semua sahabat kita,” kata Pippin, “dan bisa berbicara dengan mereka dari jauh!”
“Hanya satu yang tersisa, yang mungkin bisa kaupakai,” jawab Aragorn, “sebab kau pasti tidak akan mau melihat apa yang ditunjukkan Batu Minas Tirith kepadamu. Tapi Palantir dari Orthanc akan disimpan Raja, untuk melihat apa yang terjadi di negerinya, dan apa yang sedang dilakukan pelayan-pelayannya. Jangan lupa, Peregrin Took, kau ksatria Gondor, dan aku tidak membebaskanmu dari melayaniku. Sekarang kau pergi untuk cuti, tapi aku

mungkin akan memanggilmu kembali. Dan ingatlah, sahabat-sahabatku dari Shire, wilayah negeriku juga sampai ke Utara, dan aku akan datang ke sana suatu hari.”
Lalu Aragorn pamit kepada Celeborn dan Galadriel; sang Lady berkata kepadanya, “Elfstone, melalui kegelapan kau sampai kepada harapanmu, dan kini kau sudah memperoleh semua yang kauinginkan. Manfaatkan waktumu dengan baik!”
Tetapi Celeborn berkata, “Saudaraku, selamat jalan! Semoga ajalmu berbeda

denganku, dan hartamu akan tetap bersamamu hingga saat terakhir!”

Dengan kata-kata itu mereka berpisah, dan ketika itu matahari sedang terbenam. Setelah beberapa saat, mereka berbalik dan menoleh. Mereka melihat Raja dari Barat duduk di atas kudanya, dikelilingi para ksatrianya; Matahari yang sedang terbenam menyinari mereka, membuat baju besi mereka bersinar-sinar bagai emas merah, dan jubah putih Aragorn berubah menjadi nyala api yang berkobar. Lalu Aragorn memegang batu permata hijau dan mengacungkannya, maka seberkas nyala api hijau memancar dari tangannya.


Tak lama kemudian, rombongan yang semakin menyusut itu menyusuri Sungai Isen, membelok ke Barat, dan melewati Celah, masuk ke daratan kosong di seberangnya. Lalu mereka membelok ke utara, dan melewati perbatasan Dunland. Kaum Dunlending lari bersembunyi, karena mereka takut pada bangsa Peri, meski hanya sedikit yang pernah datang ke negeri mereka; tetapi para pelancong tidak menghiraukan mereka, karena rombongan mereka masih cukup besar dan membawa bekal cukup untuk memenuhi semua kebutuhan; dengan santai mereka meneruskan perjalanan, mendirikan, perkemahan di mana perlu.
Di hari keenam sejak perpisahan dengan Raja, mereka melewati sebuah hutan yang menuruni perbukitan, di kaki Pegunungan Berkabut yang sekarang berada di sisi kanan. Ketika keluar lagi ke daratan terbuka di saat matahari terbenam, mereka menyusul seorang pria tua yang bertopang pada sebatang tongkat, pakaiannya compang-camping, berwarna entah kelabu atau putih kotor; ia diikuti seorang pengemis lain yang membungkuk dan merengek.

“Nah, Saruman!” kata Gandalf. “Ke mana kau akan pergi?”

“Apa urusanmu?” jawab Saruman. “Apakah kau masih mau mengatur

kepergianku, dan apakah kau belum puas dengan kehancuranku?”

“Kau tahu jawabanku,” kata Gandalf, “tidak dan tidak. Tapi masa tugasku sudah hampir usai. Raja sudah mengambil alih beban ini. Seandainya kau menunggu di Orthanc, kau bisa bertemu dengannya, dan dia akan menunjukkan kebijakan dan pengampunan kepadamu.”
“Justru itu aku pergi lebih awal,” kata Saruman, “karena aku tidak menginginkan kedua hal itu darinya. Dan kalau kau menginginkan Jawaban atas pertanyaanmu yang pertama, aku sedang rnencari jalan keluar dari negerinya.”
“Kalau begitu, sekali lagi kau mengambil jalan yang salah,” kata Gandalf, “dan kulihat tak ada harapan dalam perjalananmu. Tapi apakah kau akan mencemooh pertolongan kami? Karena kami menawarkannya kepadamu.”
“Kepadaku?” kata Saruman. “Tidak, tolong jangan tersenyum kepadaku! Aku lebih suka melihatmu marah. Dan tentang Lady ini, aku tidak mempercayainya. Selama ini dia membenciku, dan dia bersekongkol di pihakmu. Aku tidak ragu, dia pasti sengaja membawamu lewat jalan ini, agar kau bisa bersuka ria melihat kemiskinanku. Seandainya tahu akan dikejar olehmu, aku akan berupaya menghindari pertemuan ini.”
“Saruman,” kata Galadriel, “kami punya tugas dan masalah lain yang jauh lebih penting daripada memburumu. Lebih baik kaukatakan bahwa kau disusul oleh nasib baik; karena sekarang kau punya kesempatan terakhir.”
“Kalau memang ini yang terakhir, aku senang sekali,” kata Saruman; “dengan

begitu, aku terhindar dari kerepotan untuk menolaknya lagi. Semua harapanku sudah hancur, tapi aku tidak mau berbagi harapanmu. Itu pun kalau kau punya harapan.”
Untuk beberapa saat mata Saruman bersinar-sinar. “Pergi!” katanya. “Tidak sia- sia aku menghabiskan waktu lama untuk mempelajari masalah-masalah seperti ini. Kau sudah mencelakakan diri sendiri, dan kau tahu itu. Aku akan sedikit terhibur dalam pengembaraanku, memikirkan bahwa kau sudah meruntuhkan rumahmu sendiri ketika menghancurkan rumahku. Dan kini, kapal apa yang akan

membawamu kembali mengarungi samudra yang begitu luas?” ia mengejek. “Kapal kelabu, penuh hantu-hantu.” Ia tertawa, tapi suaranya terdengar parau dan mengerikan.
“Bangun, kau tolol!” Ia berteriak kepada pengemis satunya, yang sudah duduk di tanah, dan memukulnya dengan tongkatnya. “Putar haluan! Kalau orang-orang hebat ini akan pergi ke arah yang sama dengan kita, kita akan ambil jalan lain. Ayo cepat, kalau tidak kau tidak akan kuberi makan malam!”
Si pengemis membalik dan berjalan membungkuk sambil merengek, “Grima tua yang malang! Grima tua yang malang! Selalu dipukul dan dicaci maki. Aku benci dia! Aku ingin meninggalkannya!”
“Kalau begitu, tinggalkan dia!” kata Gandalf.

Tapi W ormtongue hanya melirik Gandalf sekilas dengan mata muram penuh ketakutan, lalu ia menyeret-nyeret kakinya dengan cepat, mengikuti Saruman. Ketika pasangan malang itu melewati rombongan mereka sampai ke dekat para hobbit, Saruman berhenti dan memandangi mereka; tapi mereka menatapnya dengan rasa iba.
“Jadi, kalian juga datang untuk memuas-muaskan diri atas kemalanganku, bukan begitu, anak-anakku?” katanya. “Kalian tak peduli pada penderitaan seorang pengemis, bukan? Karena kalian memiliki semua yang kalian inginkan, makanan dan pakaian bagus, dan rumput terbaik untuk pipa kalian. Oh ya, aku tahu! Aku tahu dari mana asalnya. Kalian takkan mau memberi sejumput pada seorang pengemis, bukan?”
“Aku mau, kalau aku punya,” kata Frodo.

“Kau boleh mengambil apa yang tersisa padaku,” kata Merry, “kalau kau mau menunggu sebentar.” Ia turun dan mencari-cari dalam ransel di pelananya. Lalu Ia memberikan pada Saruman sebuah dompet kulit. “Ambil saja seadanya,” katanya. “Silakan saja; asalnya dan reruntuhan di Isengard.”
“Itu milikku, ya … milikku, dan kubeli dengan harga mahal sekali!” sera Saruman, mencengkeram dompet itu. “Kuanggap ini sebagai pembayaran kembali; karena kau sudah mengambil lebih dari ini, pasti. Tapi seorang pengemis harus bersyukur kalau seorang pencuri mengembalikan barang miliknya, meski hanya

secuil. Nah, kalian pantas memperolehnya, kalau kalian pulang dan melihat keadaan di Wilayah Selatan tidak sebaik yang kalian harapkan. Semoga negerimu kekurangan rumput pipa untuk waktu sangat lama!”
“Terima kasih!” kata Merry. “Kalau begitu aku minta dompetku kembali, karena itu bukan punyamu, dan dompet itu sudah melancong jauh bersamaku. Bungkuslah rumput dalam cabikan kainmu sendiri.”
“Satu pencuri pantas diperdaya pencuri lain,” kata Saruman. Ia membelakangi

Merry, lalu menendang Wormtongue, dan pergi ke arah hutan.

“Nah, aku suka itu!” kata Pippin. “Pencuri! Bagaimana dengan tuntutan kita mengenai ulah dia mencegat, melukai, dan menyuruh Orc-Orc menyeret kita melalui Rohan?”
“Ah!” kata Sam. “Dan dia bilang beli. Bagaimana dia membelinya, aku ingin tahu. Dan aku tidak suka caranya berbicara tentang Wilayah Selatan. Sudah saatnya kita kembali.”
“Aku yakin memang sudah saatnya,” kata Frodo. “Tapi kita tak bisa pergi lebih

cepat, kalau kita akan menemui Bilbo. Aku akan Pergi ke Rivendell dulu, apa pun

yang terjadi.”

“Ya, sebaiknya begitu,” kata Gandalf. “Tapi sayang sekali Saruman! Aku khawatir dia tak bisa diperbaiki lagi. Dia sudah layu dan kering. Tapi aku tidak yakin apakah Treebeard benar: kuduga dia masih bisa berbuat kejahatan dalam skala kecil yang licik.”
Hari berikutnya mereka masuk ke Dunland utara yang tidak berpenghuni, meski merupakan daratan hijau dan nyaman. September datang dengan hari-hari cerah keemasan dan malam-malam keperakan. Mereka berjalan santai sampai tiba di Sungai Swanfleet, dan menemukan arungan lama, di sisi timur air terjun yang mendadak turun ke daratan rendah. Jauh di barat terletak telaga-telaga dan pulau kecil yang diselubungi kabut, dan sungai itu menjalar melewati kabut, sampai ke Greyflood: di sana tak terhitung banyaknya yang tinggal di tengah alang-alang.
Begitulah mereka masuk ke Eregion, dan akhirnya pagi cerah merebak, berkilauan di atas kabut yang bersinar; dari perkemahan mereka di atas sebuah

bukit rendah, para pelancong itu memandang ke arah timur dan melihat Matahari menangkap tiga puncak yang menjulang tinggi ke angkasa, menembus awan- awan yang melayang: Caradhras, Celebdil, dan Fanuidhol. Mereka sudah mendekati Gerbang Moria.
Di sini mereka tinggal selama tujuh hari, sebab waktu untuk perpisahan lain sudah dekat, sedangkan mereka enggan berpisah. Tak lama lagi Celeborn dan Galadriel serta rakyat mereka akan membelok ke timur, melewati Gerbang Redhorn dan menuruni Tangga Dimrill ke Silverlode, lalu masuk ke negeri mereka sendiri. Sejauh ini mereka melalui jalan-jalan barat, karena masih banyak yang ingin mereka bicarakan dengan Elrond dan Gandalf, dan di sini mereka berlama-lama mengobrol dengan kawan-kawan mereka. Sering sekali, lama setelah para hobbit tertidur, mereka masih duduk bersama di bawah bintang-bintang, sambil mengenang kembali zaman-zaman yang sudah lewat, serta semua kegembiraan dan pekerjaan mereka di dunia, atau berembuk mengenai masa yang akan datang. Seandainya ada pengembara yang kebetulan lewat, mungkin hanya sedikit yang dilihat atau didengarnya, dan Ia seolah-olah hanya melihat sosok-sosok kelabu, terpahat dari batu, tugu peringatan tentang hal-hal terlupakan yang sudah hilang di daratan tak berpenghuni. Karena mereka tidak bergerak atau berbicara dengan mulut, tapi berkomunikasi melalui pikiran; hanya mata mereka yang bersinar, bergerak- gerak, dan menyala ketika pikiran-pikiran melintas ke sana kemari.
Tapi akhirnya semua sudah habis dibicarakan, dan mereka berpisah untuk sementara, sampai tiba saatnya bagi Tiga Cincin untuk pergi. Orang-orang berjubah kelabu dari Lorien dengan cepat menghilang ke dalam bebatuan dan bayang-bayang, berjalan menuju pegunungan; mereka yang akan pergi ke Rivendell duduk di atas bukit dan memperhatikan, sampai dari dalam kabut yang semakin tebal muncul sebuah kilatan; lalu mereka tidak melihat apa-apa lagi. Frodo tahu bahwa Galadriel sudah mengacungkan cincinnya sebagai tanda perpisahan.
Sam membalikkan badan dan mengeluh, “Aku ingin sekali kembali ke Lorien!”

Akhirnya pada suatu senja, setelah melewati padang-padang tinggi, mereka

sampai ke pinggir lembah Rivendell yang dalam. Jauh di bawah, mereka melihat lampu-lampu menyala di rumah Elrond. Kemudian mereka turun dan menyeberangi jembatan, tiba di depan pintu. Seluruh rumah dipenuhi cahaya dan nyanyian gembira menyambut kepulangan Elrond.
Pertama-tama, sebelum makan atau mandi, atau bahkan melepas jubah, para hobbit mencari Bilbo. Mereka menemukannya sendirian di kamarnya yang kecil. Kertas-kertas, pensil, serta pena berserakan di kamarnya; tapi Bilbo sedang duduk di kursi, di depan api kecil yang menyala terang. la tampak sangat tua, tapi damai dan mengantuk.
la membuka matanya dan menengadah ketika mereka masuk. “Halo, halo!” katanya. “Jadi, kalian sudah kembali? Kebetulan besok ulang tahunku. Pintar sekali kalian! Tahukah kalian, umurku akan jadi seratus dua puluh sembilan? Dan setahun lagi, kalau aku bertahan, aku akan menyamai Took tua. Aku ingin sekali mengalahkannya; tapi kita lihat saja nanti.”


Sesudah perayaan ulang tahun Bilbo, keempat hobbit tetap tinggal beberapa hari lagi di Rivendell, dan mereka sering berkumpul dengan sahabat tua mereka, yang kini lebih banyak menghabiskan waktunya di kamarnya sendiri, kecuali saat makan. la masih sangat tepat waktu untuk acara makan, seperti biasanya, dan jarang tidak bangun untuk menghadiri acara makan tepat pada waktunya. Sambil duduk di dekat Perapian, mereka bergiliran menceritakan semua yang bisa mereka ingat tentang lawatan dan petualangan mereka. Pada awalnya Bilbo Pura-pura mencatat; tapi Ia sering tertidur, dan ketika bangun ia akan berkata, “Bagus sekali! Betapa hebat! Tapi kita sudah sampai di mana?” Lalu mereka akan melanjutkan cerita dari titik di mana Bilbo mulai mengangguk-angguk mengantuk.
Satu-satunya bagian yang benar-benar membangkitkan semangatnya dan bisa membuat perhatiannya terpusat adalah cerita tentang penobatan dan pernikahan Aragorn. “Tentu saja aku diundang ke pernikahannya,” katanya. “Dan sudah cukup lama aku menanti-nanti. Tapi entah mengapa, ketika sudah tiba saatnya, rasanya masih begitu banyak pekerjaanku di sini; dan mengepak barang-barang

rasanya sangat merepotkan.”



Ketika sudah hampir dua minggu lewat, Frodo memandang ke luar jendela dan melihat bahwa semalam ada embun beku, sarang-sarang labah-labah tampak bagai jala jala putih. Tiba-tiba Ia tahu bahwa sudah saatnya Ia pergi dan pamit kepada Bilbo. Cuaca selama itu masih tenang dan cerah, setelah salah satu musim panas paling indah yang bisa diingat orang-orang; tapi Oktober sudah tiba, dan tak lama lagi pasti cuaca akan memburuk, mulai hujan dan berangin lagi. Dan perjalanan masih cukup jauh. Tapi sebenarnya bukan pikiran tentang cuaca yang meresahkan Frodo. Perasaannya mengatakan sudah saatnya ia kembali ke Shire. Sam juga mempunyai perasaan yang sama. Baru malam sebelumnya Ia mengatakan,
“Nah, Mr. Frodo, kita sudah pergi jauh dan sudah melihat banyak, tapi tidak ada tempat yang lebih baik daripada ini. Segala sesuatunya ada di sini, kalau kau paham maksudku: Shire dan Hutan Emas, Gondor dan rumah para raja, penginapan, padang rumput dan pegunungan, semuanya bergabung di sini. Meski begitu, aku merasa kita harus segera pergi. Terus terang, aku sebenarnya khawatir tentang ayahku.”
Hari itu Frodo berbicara pada Elrond, dan disepakati bahwa keesokan harinya mereka akan berangkat. Mereka senang sekali karena ternyata Gandalf mengatakan, “Kurasa aku akan ikut. Setidaknya sampai sejauh Bree. Aku ingin bertemu Butterbur.”
Sore itu mereka pamit pada Bilbo. “Nah, kalau kalian memang harus pergi, pergilah,” katanya. “Aku menyesal. Aku akan merindukan kalian. Menyenangkan sekali kalau tahu kalian ada di sekitar sini. Tapi aku sudah mulai mengantuk sekali.” Lalu ia memberikan pada Frodo rompi mithril dan Sting, lupa bahwa sebelumnya Ia sudah pernah melakukannya; Ia juga memberikan tiga buku tentang adat istiadat yang sudah dibuatnya pada saat-saat yang berbeda, tertulis dalam tulisan tangannya yang panjang-panjang dan tipis, dan pada sampul belakang yang merah ada tulisan: Terjemahan dari bahasa Peri, oleh B.B.
la memberikan pada Sam sebuah kantong kecil berisi emas. “Nyaris tetes

terakhir dari panen Smaug,” katanya. “Ini mungkin akan bermanfaat, kalau kau merencanakan menikah, Sam.” Wajah Sam memerah.
“Tidak banyak yang bisa kuberikan pada kalian anak-anak muda,” katanya kepada Pippin dan Merry, “kecuali nasihat bagus.” Setelah memberikan cukup banyak nasihat, Ia menambahkan dalam gaya Shire, “Jangan sampai kepala kalian jadi terlalu besar untuk topi kalian! Kalau kalian tidak berhenti tumbuh, kalian akan mengalami betapa mahalnya topi dan pakaian.”
“Kalau kau sendiri ingin mengalahkan Took tua,” kata Pippin, “kenapa kami tidak boleh mencoba mengalahkan Bullroarer?”
Bilbo tertawa, dan dari kantongnya ia mengeluarkan dua buah pipa yang indah, dengan bagian mulut dari mutiara, berhias tempaan perak halus. “Ingatlah aku saat kalian mengisap pipa ini!” katanya. Para Peri membuatkannya untukku, tapi sekarang aku sudah tidak merokok lagi.” Tiba-tiba ia mengangguk-angguk dan tertidur sejenak; saat terbangun lagi ia berkata, “Nah, di mana kita tadi? Ya, tentu saja, soal hadiah. Aku jadi ingat: apa yang terjadi dengan cincinku, Frodo, yang kauambil itu?”
“Sudah hilang, Bilbo yang baik,” kata Frodo. “Sudah kubuang, kau kan tahu itu.” “W ah, sayang sekali!” kata Bilbo. “Sebenarnya aku ingin melihatnya sekali lagi. Oh … tidak, kenapa aku jadi bodoh begini! Justru untuk itu kau pergi, kan? Untuk membuangnya? Tapi semuanya jadi membingungkan, karena begitu banyak hal lain yang tercampur dengan hal ini: masalah-masalah Aragorn, dan Dewan Penasihat Putih, Gondor, para Penunggang Kuda, bangsa Southron, dan oliphaunt kau benar-benar sudah melihatnya, Sam? gua-gua, menara-menara, pohon-pohon emas, dan entah apa lagi selain itu.”
“Rupanya jalan yang kuambil dari lawatanku terlalu lurus. Mestinya Gandalf bisa membawaku berkeliling. Tapi mungkin lelangnya sudah selesai sebelum aku kembali, dan aku malah jadi memperoleh lebih banyak kesulitan daripada yang sudah kualami. Pokoknya sekarang sudah terlambat; kupikir jauh lebih nyaman duduk di sini dan mendengarkan ceritanya. Kehangatan api di sini nyaman sekali, makanannya sangat lezat, dan di mana-mana ada Peri bila kita memerlukan. Apa lagi yang kurang dari itu?



Jalan ini tak ada habisnya Dari pintu tempat ia bermula, Terbentang hingga di kejauhan sana, Biarkan yang lain menjalani kalau bisa! Biarkan mereka berpetualang, Sementara kakiku yang lelah
Berjalan menuju penginapan yang terang,

'tuk istirahat sore dan tetirah.”



Ketika menggumamkan kata-kata terakhir, kepala Bilbo terkulai di dadanya dan ia tertidur nyenyak.


Senja semakin larut di kamar, dan api menyala lebih terang; mereka memandang Bilbo saat ia tidur, dan melihat wajahnya tersenyum. Untuk beberapa lama mereka duduk diam; lalu Sam memandang ke sekeliling ruangan dan bayangan-bayangan yang bergetar di dinding, dan berkata perlahan,
“Mr. Frodo, kurasa dia tidak banyak menulis selarna kita pergi. Dia tidak akan

pernah menulis kisah kita sekarang.”

Saat Sam berkata begitu, Bilbo membuka satu matanya, seolah mendengar- perkataan Sam. Lalu Ia bangun. “Kau tahu, aku jadi mengantuk sekali,” katanya. “Dan saat aku punya waktu untuk menulis, sebenarnya aku hanya senang menulis puisi. Aku ingin tahu, Frodo tersayang, maukah kau membereskan barang-barangku sebelum pergi? Kumpulkan semua catatan dan kertasku, juga buku harianku, dan bawalah, kalau kau mau. Aku tak punya banyak waktu untuk memilahmilah dan menyusunnya, dan sebagainya. Biar Sam membantumu, kalau sudah beres, kembalilah, dan aku akan memeriksanya. Aku tidak akan terlalu kritis.”
“Tentu saja aku mau!” kata Frodo. “Dan tentu aku akan segera kembali: sudah tidak ada bahaya lagi. Sudah ada raja yang asli sekarang, dan dia pasti akan segera membereskan semua jalan.”

“Terima kasih, sahabatku sayang!” kata Bilbo. “Aku jadi sangat lega.” Setelah

mengatakan itu, Ia tertidur lagi.



Hari berikutnya, Gandalf dan para hobbit pamit pada Bilbo di kamarnya, karena di luar hawa dingin sekali; lalu mereka berpamitan pada Elrond dan seisi rumahnya.
Ketika Frodo berdiri di ambang pintu, Elrond mendoakan selamat jalan dan

memberkatinya, sambil berkata,

“Frodo, kurasa kau tidak perlu kembali, kecuali kalau kau datang sangat segera. Kira-kira pada saat yang sama tahun depan, ketika dedaunan sudah berwarna emas sebelum gugur, carilah Bilbo di hutan di Shire. Aku akan mendampinginya.”
Tak ada orang lain yang mendengar kata-kata itu, dan Frodo menyimpannya sendiri dalam hati.

BAB 7

PULANG



Akhirnya para hobbit pun menempuh perjalanan pulang. Mereka sudah tak sabar ingin melihat Shire lagi; tapi pada mulanya mereka melaju lambat, karena hati Frodo terasa tidak enak. Ketika mereka sampai di Ford Bruinen, Ia berhenti, dan kelihatannya enggan masuk ke arungan sungai; mereka memperhatikan bahwa selama beberapa saat ia seakan-akan tidak melihat mereka atau hal-hal lain di sekitarnya.
Sepanjang hari itu Ia diam saja. Hari itu tanggal enam Oktober.

“Apakah kau kesakitan, Frodo?” kata Gandalf lembut ketika ia melaju di sisi

Frodo.

“Ya, memang,” kata Frodo. “Bahuku sakit. Lukanya terasa pedih, dan ingatan tentang kegelapan menekan hatiku. Hari ini persis satu tahun yang lalu.”
“Sayang sekali! Memang ada luka-luka yang tidak akan pernah sembuh

sepenuhnya,” kata Gandalf.

“Aku khawatir seperti itulah lukaku,” kata Frodo. “Bagiku tak ada istilah kembali pulang ke rumah. Meski aku pulang ke Shire, rasanya tidak akan sama; karena aku sudah tidak sama lagi. Aku sudah terluka oleh pisau, sengatan, gigi, dan beban yang menekan lama sekali. Di mana aku bisa menemukan ketenangan?” Gandalf tidak menjawab.


Di akhir hari berikutnya, kepedihan dan ketidaknyamanan itu berlalu, dan Frodo sudah gembira lagi, begitu gembira seolah-olah ia tak ingat lagi kehitaman hari kemarin. Setelah itu perjalanan berlangsung lancar, dan hari-hari berlalu cepat; karena mereka berjalan santai, dan sering tinggal agak lama di hutan-hutan indah, di mana daun-daun berwarna merah dan kuning di bawah matahari musim gugur. Akhirnya mereka sampai ke Weathertop; ketika itu menjelang senja, dan bayangan bukit yang gela[ terbentang di jalan. Maka Frodo meminta mereka mempercepat jalannya, dan Ia tidak mau menatap bukit; ia melaju melintasi bayangannya dengan kepala tertunduk, jubahnya dirapatkan erat-erat.

Malam itu cuaca berubah dan angin bertiup dari Barat, membawa hujan, embusannya kencang dan dingin, sehingga dedaunan kuning berputar-putar seperti burung di udara. Ketika mereka sampai ke Chetwood, dahan-dahan sudah nyaris gunciul, dan tirai hujan lebat menutupi pemandangan ke arah Bukit Bree.
Demikianlah di penghujung senja yang ganas dan busah di akhir bulan Oktober, kelima pengembara mendaki jalan yang menanjak dan sampai ke depan Gerbang Selatan Bree. Pintunya terkunci rapat; hujan menerpa wajah mereka, sementara di langit yang semakin gelap awan rendah terbang cepat; hati mereka agak murung, karena mereka mengharapkan penyambutan yang lebih meriah. Setelah mereka berkali-kali memanggil, akhirnya Penjaga Gerbang datang, dan mereka melihat Ia membawa pentungan besar. la menatap mereka penuh ketakutan dan kecurigaan; tapi ketika melihat Gandalf berdiri di sana, didampingi para hobbit, meski dandanan mereka agak aneh, baru wajahnya agak cerah dan Ia menyambut mereka dengan ramah. . “Mari masuk!” katanya, sambil membuka kunci gerbang. “Kita tak akan bertukar berita di luar, dalam hawa dingin dan basah, di malam jahanam ini. Tapi Barley tua pasti akan menyambutmu di Kuda Menari, dan di sana kau akan mendengar semua berita yang perlu didengar.”
“Di sana kau juga akan mendengar semua yang akan kami ceritakan, dan lebih

dari itu,” tawa Gandalf. “Bagaimana kabar Harry?”

Penjaga Gerbang mengerutkan dahi. “Sudah pergi,” katanya. “Tapi sebaiknya kautanyakan pada Barliman. Selamat malam!”
“Selamat malam juga!” kata mereka, lalu masuk; kemudian mereka melihat bahwa di balik pagar tepi jalan sudah dibangun sebuah pondok panjang dan rendah; beberapa orang keluar dari sana dan memandang mereka dari atas pagar. Ketika sampai di rumah Bill Ferny, mereka melihat pagarnya sudah koyak-koyak tidak terpelihara, dan semua jendela ditutup papan-papan.
“Apa dia mati kena lemparan apelmu, Sam?” kata Pippin.

“Aku tidak terlalu berharap, Mr. Pippin,” kata Sam. “Tapi aku ingin tahu apa yang

terjadi dengan kuda poni malang itu. Aku sering memikirkannya, apalagi kalau

ingat serigala yang melolong ketika itu.”



Akhirnya mereka tiba di Kuda Menari; dari luar, setidaknya tempat itu tidak kelihatan berubah; lampu-lampu menyala di balik tirai inerah di jendela-jendela bawah. Mereka membunyikan bel, lalu Nob datang ke pintu, membukanya sedikit, dan mengintip keluar; ketika melihat mereka berdiri di bawah lampu, Ia berteriak kaget.
“Mr. Butterbur! Master!” teriaknya. “Mereka datang lagi!”

“Oh, begitu? Akan kuhajar mereka,” terdengar suara Butterbur, dan ia lari keluar dengan membawa pentungan. Tapi ketika melihat mereka, Ia berhenti mendadak, pandangan marah di wajahnya berubah menjadi pandangan terperanjat penuh kegembiraan.
“Nob, kau tolol lembek!” teriaknya. “Apa kau tidak bisa menyebut nama teman- teman lama? Jangan bikin aku takut seperti itu, apalagi di masa seperti ini. Nah, nah! Dari mana kalian datang? Aku tak menduga akan melihat kalian lagi, apalagi mengingat kalian pergi ke Belantara bersama si Strider itu, dan sementara itu banyak Orang Hitam berkeliaran. Tapi aku senang sekali melihat kalian, apalagi Gandalf. Masuk! Masuk! Kamar yang sama seperti dulu? Kamar- kamar itu kosong. Kebanyakan kamar di sini kosong akhir-akhir ini, itu tidak akan kurahasiakan terhadap kalian, kalian akan segera tahu itu. Akan kucoba membuatkan makan malam untuk kalian, sesegera mungkin; tapi aku kekurangan pelayan sekarang ini. Hai, Nob, kau kaki lamban! Beritahu Bob! Ah, aku lupa, Bob sudah pergi: sekarang dia selalu pulang ke rumah orangtuanya kalau malam. Nah, bawalah kuda-kuda para tamu ke kandang, Nob! Dan kau pasti akan menuntun sendiri kudamu ke kandang, Gandalf. Kuda bagus, menurutku. Nah, masuklah! Anggaplah ini rumah kalian sendiri!”
Mr. Butterbur rupanya belum mengubah cara bicaranya, dan sikapnya masih seperti dulu, seolah-olah hidupnya penuh kesibukan. Padahal sebenarnya hampir tak ada orang di situ, dan keadaannya sepi sekali; dari Ruang Umum terdengar gumam suara dua-tiga orang. Dan ketika wajahnya diamati lebih teliti di bawah sinar lilin yang dinyalakan dan dibawanya untuk mereka, wajah pemilik

penginapan itu tampak agak keriput dan letih karena banyak pikiran.

la membawa mereka melewati selasar, ke ruang duduk yang pernah mereka gunakan di malam aneh lebih dari setahun lalu; mereka mengikutinya, agak gelisah, karena jelas terlihat bahwa Barliman tua berpura-pura tabah menghadapi suatu kesulitan. Keadaan tidak sama Seperti dulu. Tapi mereka tidak mengatakan apa pun, dan menunggu.
Seperti sudah diduga, Mr. Butterbur datang ke ruang duduk setelah makan malam, untuk memeriksa apakah semuanya sudah sesuai dengan keinginan mereka. Dan memang semuanya sudah memuaskan: setidaknya belum ada perubahan pada bir atau makanan di Kuda Kahan pergi ke Ruang Umum malam ini,” kata Butterbur. “Pasti kalian sudah lelah, lagi pula toh tidak banyak orang di sini malam ini. Tapi kalau kalian punya waktu setengah jam sebelum tidur, aku sangat ingin bicara dengan kalian, antara kita saja.”
“Setuju,” kata Gandalf. “Kami tidak lelah. Selama ini kami berjalan santai. Kami tadi basah, kedinginan, dan lapar, tapi sekarang tidak lagi, berkat pelayananmu. Ayo, duduklah! Lebih bagus lagi kalau kau punya sedikit rumput pipa.”
“W ah, andai kau meminta yang lain, aku akan lebih senang,” kata Butterbur. “Kami justru kekurangan rumput pipa. Persediaan kami hanya dari hasil tanam sendiri, dan itu tidak cukup. Akhir-akhir ini rumput itu tak bisa diperoleh di Shire. Tapi akan kuusahakan mengambil sedikit.”
Ketika kembali, Ia membawakan mereka rumput pipa cukup untuk persediaan sehari dua hari, seberkas daun yang belum dipotong. “Jenis Southlinch,” katanya, “dan ini yang terbaik yang kami punyai; tapi masih kalah dengan yang dari wilayah Selatan, seperti selalu kubilang, meski aku selalu menjagoi Bree dalam segala hal, maaf.”
Mereka menyuruh Butterbur duduk di kursi lebar dekat perapian, Gandalf duduk di sisi lain perapian, dan para hobbit di kursi-kursi rendah di antara mereka; lalu mereka bercakap-cakap selama setengah jam, dan bertukar berita sebanyak yang ingin diungkapkan atau didengar Mr. Butterbur. Kebanyakan cerita mereka membuat si tuan rumah kagum dan bingung, sebab apa yang Ia dengar jauh melampaui akalnya; cerita-cerita mereka membuat Ia berkomentar, “Masa?”

“Begitu” yang sering diulang-ulang, seakan-akan Ia tak percaya pada pendengarannya sendiri. “Masa begitu, Mr. Baggins, atau seharusnya Mr. Underhill? Aku jadi bingung. Masa begitu, Master Gandalf! Wah, wah, wall! Siapa kira bisa begitu di masa sekarang ini”
Tapi Ia sendiri punya banyak cerita. Keadaan sangat buruk, katanya bisnisnya merosot sekali, bahkan sangat buruk. “Tidak ada lagi orang luar datang ke Bree,” katanya. “Penduduk di sini kebanyakan tinggal di rumah dan memalang pintu mereka. Itu semua gara-gara pendatang-pendatang baru dan bajingan-bajingan yang mulai berdatangan dari Jalan Hijau tahun lalu, mungkin kau masih ingat; dan lebih banyak lagi yang datang kemudian. Beberapa hanya orang-orang malang yang melarikan diri dari kesulitan; tapi kebanyakan orang-orang jahat yang senang mencuri dan membuat onar. Dan di Bree ini banyak kejadian buruk, benar-benar buruk. Bahkan ada perkelahian, dan beberapa orang sampai terbunuh, terbunuh! Semoga kau percaya ceritaku.”
“Aku percaya,” kata Gandalf. “Berapa banyak?”

“Tiga dan dua,” kata Butterbur, maksudnya orang-orang besar dan orang-orang kecil. “Ada Mat Heathertoes malang, dan Rowlie AppledOrc, dan Tom Pickthorn kecil dari seberang Bukit; lalu Willie Banks dari atas sana, dan salah satu dari keluarga Underhill dari Stadle; semuanya orang-orang baik, dan kami sangat kehilangan mereka. Lalu Harry Goatleaf yang biasa menjaga gerbang Barat, dan Bill Ferny, mereka berpihak pada orang-orang asing itu, dan sudah pergi bersama mereka; aku yakin merekalah yang membiarkan orang-orang asing itu masuk. Maksudku, di malam perkelahian itu. Dan itu terjadi setelah kita mengusir mereka: sebelum akhir tahun; perkelahiannya terjadi awal Tahun Baru, setelah salju deras yang turun di sini.”
“Sekarang mereka sudah jadi perampok dan tinggal di luar, bersembunyi di hutan-hutan seberang Archet, dan di belantara utara. Menurutku, ini agak seperti masa lampau yang penuh kejahatan, seperti dikisahkan dalam cerita-cerita. Sudah tidak aman lagi di jalan, tidak ada yang berani pergi jauh jauh, dan orang- orang lebih awal mengunci pintu. Kami harus menempatkan penjaga di sekitar - pagar dan banyak sekali orang di gerbang setiap malam.”

“Tapi tidak ada yang mengganggu kami,” kata Pippin, “dan kami berjalan lambat,

tanpa berjaga-jaga. Kami kira semua kesulitan sudah berlalu.”

“Ah, ternyata belum, Master, dan ini lebih menyedihkan,” kata Butterbur. “Tapi tidak heran mereka tidak mengganggu kalian. Mereka tidak berani,menyerang orang-orang bersenjata, yang membawa pedang, memakai helm dan perisai, dan sebagainya. Mereka akan berpikir dua kali sebelum melakukan itu. Aku sendiri agak tercengang melihat kalian tadi.”
Tiba-tiba para hobbit menyadari bahwa orang-orang memandang mereka penuh keheranan bukan karena tercengang melihat mereka kembali, tapi mungkin karena kagum melihat pakaian dan perlengkapan mereka. Mereka sendiri sudah begitu terbiasa dengan peperangan dan menunggang kuda dalam barisan teratur, sampai lupa bahwa pakaian logam mengilap yang mengintip dari balik jubah mereka, helm Gondor dan Mark, serta hiasan-hiasan indah pada perisai mereka, tampak sangat asing di negeri mereka sendiri. Gandalf pun sekarang menunggang kudanya yang tinggi kelabu, berpakaian serba putih dengan jubah perak dan biru di atas semuanya, serta pedang panjang Glamdring di sisinya. Gandalf tertawa. “Wah, wah,” katanya, “kalau mereka sudah takut pada kami yang hanya berlima, maka kami sudah pernah bertemu mereka tidak akan mengganggu selama kami berada di sini.”
“Berapa lamakah itu?” kata Butterbur. “Kuakui kami akan senang bila kalian tetap di sini untuk sementara. Soalnya kami tidak terbiasa dengan kesulitan macam ini; dan semua Penjaga Hutan sudah pergi kata orang-orang. Baru sekarang kami memahami apa yang sudah mereka lakukan bagi kami selama ini. Bukan cuma perampok yang berkeliaran. Serigala-serigala melolong di sekitar pagar, pada musim dingin yang lalu. Juga ada sosok-sosok gelap di hutan, makhluk- makhluk mengerikan yang membuat kami merinding kalau memikirkannya. Sangat meresahkan, kalau kau paham maksudku.”
“Sudah kuduga,” kata Gandalf. “Hampir semua negeri terganggu akhir-akhir ini, sangat terganggu. Tapi gembiralah, Barliman! Kau sudah menginjak tepi kesulitan besar, dan aku gembira mendengar kau tidak terlibat terlalu jauh. Masa yang lebih baik akan segera datang. Mungkin bahkan lebih baik daripada yang

bisa kauingat. Para Penjaga Hutan sudah kembali. Kami kembali bersama mereka. Dan sudah ada raja lagi, Barliman. Tak lama lagi dia akan memikirkan wilayah ini.”
“Maka Jalan Hijau akan dibuka lagi, utusan-utusannya akan datang ke utara, dan akan ada lalu lintas ramai, sehingga hal-hal buruk dan jahat akan didesak keluar dari daratan-daratan kosong. Bahkan daratan kosong tidak akan kosong lagi, akan ada manusia dan ladang-ladang di tempat yang dulunya belantara.”
Mr. Butterbur menggelengkan kepala. “Kalau ada beberapa orang sopan dan terhormat di jalan, itu tidak mengganggu,” katanya. “Tapi kami tidak menginginkan lebih banyak pengacau dan bajingan. Kami tak ingin ada orang asing di Bree, juga tidak di dekat Bree. Kami tak ingin diganggu. Aku tak ingin ada rombongan-rombongan orang asing berkemah di sini, lalu tetap bermukim di sini, dan mengoyakngoyak belantara.”
“Kau tidak akan diganggu, Barliman,” kata Gandalf. “Cukup banyak ruang bagi wilayah-wilayah antara Isen dan Greyflood, atau sepanjang daratan pantai di selatan Brandywine, tanpa ada yang bermukim dalam jarak beberapa hari perjalanan dari Bree. Banyak orang yang dulu tinggal di utara sana, sekitar seratus mil atau lebih dari sini, di ujung terjauh Jalan Hijau: di North Downs atau dekat Telaga Evendim.”
“Di dekat Tanggul Orang Mail?” kata Butterbur, kelihatan semakin bimbang. “Itu kan negeri penuh hantu, menurut kata orang-orang. Tidak ada yang mau datang ke sana, kecuali perampok.”
“Para Penjaga Hutan pergi ke sana,” kata Gandalf. “Tanggul Orang Mati,

katamu. Memang sudah bertahun-tahun disebut begitu; tapi nama sebenarnya, Barliman, adalah Fornost Erain, Norbury para Raja. Dan Raja akan segera ke sana suatu hari nanti; lalu akan banyak orang terhormat berdatangan.”
“W ah, kedengarannya bagus sekali,” kata Butterbur. “Pasti bagus pengaruhnya untuk bisnis. Selama dia tidak mengganggu Bree.”
“Dia tidak akan mengganggu Bree,” kata Gandalf. “Dia kenal dan mencintainya.” “Masa?” kata Butterbur, kelihatan bingung. “Tapi aku yakin itu tidak mungkin. Dia kan duduk di takhtanya, di kastilnya yang besar, ratusan mil jauhnya dari sini.

Dan aku tidak akan heran kalau dia minum anggur dari cangkir emas. Apa artinya Kuda Menari baginya, atau mug-mug penuh bir? Bukannya birku kurang bagus, Gandalf. Sejak kau datang musim gugur tahun lalu dan memberkatinya, bir di sini sangat lezat. Itu cukup menghibur di tengah kesulitan, boleh kukatakan begitu.”
“Ah!” kata Sam. “Tapi Raja bilang birmu selalu enak.” “Dia bilang begitu?”
“Tentu saja. Sebab raja itu adalah Strider. Pemimpin para Penjaga Hutan. Apa

kau belum mengerti juga?”

Akhirnya Butterbur mengerti, dan Ia benar-benar tercengang. Matanya melotot bundar di wajahnya yang lebar, mulutnya ternganga, dan ia menarik napas kaget. “Strider!” serunya, setelah keterkejutannya reda. “Dia … memakai mahkota dan sebagainya, dan cangkir emas! Nah, apa lagi yang akan terjadi?” “Masa mendatang yang lebih bagus, setidaknya bagi Bree,” kata Gandalf.
“Aku sangat mengharapkan itu terjadi,” kata Butterbur. “Ya, ini percakapan paling menyenangkan selama satu bulan penuh hari Senin. Malam ini aku akan tidur lebih nyaman, dengan hati lebih ringan. Kalian telah memberikan banyak bahan untuk kupikirkan, tapi akan kutunda sampai besok. Aku ingin tidur sekarang, dan aku yakin kalian juga sudah ingin tidur. Hai, Nob!” teriaknya, sambil menuju pintu. “Nob, kau kaki lamban!”
“Nob!” kata Butterbur pada dirinya sendiri, sambil memukul dahinYa. “Nah, aku jadi ingat apa, ya?”
“Kuharap bukan surat lain lagi yang kaulupakan, Mr. Butterbur?” kata Merry.

“W ah, Mr. Brandybuck, jangan ingatkan aku tentang itu lagi! Wah, aku jadi lupa sekarang. Jadi, di mana aku tadi? Nob, kandang, ah! Itu dia. Ada sesuatu di sini yang sebenarnya milikmu. Kalau kau ingat Bill Ferny dan pencurian kuda: kuda poninya yang kau beli dulu, dia ada di sini. Kembali sendirian, ya, dia kembali sendirian. Tapi ke mana dia pergi waktu itu, pasti kalian lebih tahu daripada aku. Sudah kusut seperti anjing tua dan kurus bagai tali jemuran, tapi hidup. Nob yang merawatnya.”
“Apa? Bill kudaku?” teriak Sam. “Nah, aku memang selalu beruntung, apa pun

kata ayahku. Satu lagi harapan menjadi kenyataan! Di mana dia?” Sam tidak

mau masuk tempat tidur sebelum melihat Bill di kandangnya.



Para pengembara itu tetap di Bree sepanjang hari berikutnya, dan Mr. Butterbur tak bisa mengeluh tentang bisnisnya pada malam berikutnya. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut, dan rumahnya penuh sesak. Demi kesopanan, para hobbit menyempatkan diri mengunjungi Ruang Umum di senja hari dan menjawab banyak pertanyaan: Karena ingatan penduduk Bree sangat kuat, sering sekali Frodo ditanyai apakah Ia sudah jadi menulis bukunya.
“Belum,” jawabnya. “Sekarang aku akan pulang untuk membereskan catatan- catatanku.” Ia berjanji akan menulis tentang kejadian-kejadian mengherankan di Bree, sehingga menambah daya tarik buku yang tampaknya akan lebih banyak mengisahkan peristiwa-peristiwa yang tidak begitu penting dan terjadi jauh di “selatan sana”.
Lalu salah satu dari kaum muda meminta dinyanyikan lagu. Mendengar itu, semua terdiam; pemuda itu menerima tatapan marah dari orang-orang lain, dan permintaan itu tidak diulang lagi. Jelas sekali orang-orang tak ingin terjadi peristiwa gaib lagi di Ruang Umum.
Kedamaian Bree tidak terusik kesulitan di pagi hari, maupun bunyi-bunyi di malam hari, selama para pengembara masih berada di sana; pagi berikutnya mereka bangun pagi-pagi sekali; berhubung cuaca masih berhujan, mereka ingin tiba di Shire sebelum malam, dan perjalanan masih jauh. Penduduk Bree sangat bergairah menyaksikan keberangkatan mereka; orang-orang yang belum melihat pendatang-pendatang itu dalam atribut mereka selengkapnya, melongo kagum: Gandalf dengan jenggot putihnya, dan cahaya yang seakan-akan terpancar dari sosoknya, seolah-olah jubah birunya hanya seperti awan yang menutupi sinar matahari; keempat hobbit yang tampak seperti penunggang kuda dalam tugas, keluar dari dongeng-dongeng lama yang hampir dilupakan. Bahkan mereka yang menertawakan cerita tentang Raja mulai berpikir bahwa mungkin semua itu ada benarnya.
“Nah, selamat jalan, dan selamat sampai di rumah!” kata Butterbur. “Aku ingin

memperingatkan kalian bahwa keadaan di Shire juga tidak baik, kalau apa yang kami dengar memang benar. Peristiwa-peristiwa aneh sedang terjadi di sana, kata orang-orang. Tapi berbagai hal saling tumpang-tindih, dan aku begitu sibuk memikirkan kesulitankesulitanku sendiri. Tapi kalau aku boleh agak lancang, kelihatannya kalian sudah berubah sejak kembali dari lawatan kalian, dan kalian tampaknya sanggup menangani masalah-masalah berat. Aku yakin kalian akan segera membereskan semuanya. Semoga kalian beruntung! Dan semakin sering kalian datang kembali, aku akan semakin senang.”


Mereka pamit ke Butterbur, lalu pergi melewati Gerbang Barat, terus menuju Shire. Bill si kuda poni ikut bersama mereka, dan seperti dulu Ia membawa banyak barang, tapi Ia berjalan di samping Sam dan tampaknya merasa senang. “Aku ingin tahu apa yang dimaksud Barliman tua,” kata Frodo.
“Aku bisa menduga sebagian,” kata Sam murung. “Apa yang kulihat dalam Cermin: semua pohon ditebang, dan ayahku diusir dari Row. Seharusnya aku kembali lebih cepat.”
“Dan ruparlya ada masalah juga dengan Wilayah Selatan,” kata Merry. “Ada kekurangan rumput tembakau menyeluruh.”
“Apa pun itu,” kata Pippin, “Lotho pasti biang keladinya: pasti.”

“Mungkin dia biang keladinya, tapi bukan yang utama,” kata Gandalf. “Kau lupa

Saruman. Dia sudah tertarik pada Shire sebelum Mordor tertarik ke sana.”

“W ell, kau kan bersama kami,” kata Merry, “jadi masalahnya akan segera beres.” “Sekarang aku bersama kalian,” kata Gandalf, “tapi sebentar lagi tidak. Aku tidak akan ikut ke Shire. Kalian harus menyelesaikan masalah-masalah kalian sendiri; untuk itulah kalian dilatih. Apa kalian belum mengerti? Waktuku sudah berlalu: sudah bukan tugasku memperbaiki keadaan, maupun membantu orang-orang melakukannya. Dan kalian, sahabat-sahabatku yang baik, kalian tidak butuh bantuan. Kalian sudah dewasa sekarang. Bahkan sudah hebat; kalian termasuk orang-orang paling hebat, dan aku sudah tidak cemas tentang kalian.”
“Kalau kalian ingin tahu, aku akan segera belok. Aku ingin mengobrol panjang dengan Bombadil: percakapan yang sudah sekian lama tidak kulakukan. Dia

setia pada rumahnya, sedangkan aku batu yang terus bergulir. Tapi kini saat- saatku bergulir sudah mendekati akhir, dan sekarang banyak kesempatan untuk mengobrol bersama.”


Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat di Jalan Timur, di mana mereka berpisah dengan Bombadil; mereka setengah berharap akan melihatnya berdiri di sana, untuk menyalami mereka saat mereka lewat. Tapi tak ada tanda-tanda apa pun darinya; ada kabut kelabu di atas Barrow-downs di sebelah selatan, dan selubung kabut tebal di atas Old Forest jauh di sana.
Mereka berhenti, dan Frodo memandang ke selatan dengan sedih. “Aku ingin sekali bertemu lagi dengannya,” katanya. “Aku ingin tahu keadaannya.”
“Pasti sangat baik, seperti biasanya,” kata Gandalf. “Tanpa kesulitan; dan menurut dugaanku, pasti tidak terlalu tertarik pada apa pun yang sudah kita lakukan atau lihat, kecuali mungkin kunjungan kita kepada kaum Ent. Mungkin suatu saat nanti kau bisa bertemu dengannya. Tapi kalau aku jadi kau, aku akan secepatnya pulang sekarang; kalau tidak, kau tidak akan sampai ke Jembatan Brandywine sebelum gerbangnya dikunci.”
“Tapi di sana tidak ada gerbang,” kata Merry, “tidak ada gerbang di Jalan; kau kan tahu itu. Tentu saja ada Gerbang Buckland; tapi mereka akan membiarkan aku lewat kapan saja.”
“Dulu memang tidak ada gerbang,” kata Gandalf. “Kurasa sekarang kau akan menemukan beberapa. Mungkin kau bahkan akan menjumpai kesulitan di Gerbang Buckland, lebih dari yang kauduga. Tapi kalian akan bisa mengatasinya. Selamat jalan, kawan-kawan tersayang! Bukan untuk terakhir kalinya, belum. Selamat jalan!”
Gandalf memutar Shadowfax keluai dari Jalan, dan kuda besar itu melompati tanggul hijau yang menjulur di sisi jalan bagian ini; lalu dengan satu teriakan dari Gandalf Ia melesat pergi, berpacu ke Barrow-downs bagai angin Utara.


“Nah, sekarang tinggal kita berempat, yang berangkat bersama sejak awal,” kata

Merry. “Yang lain sudah memisahkan diri, satu demi satu. Rasanya seperti mimpi

yang perlahan-lahan memudar.”

“Bagiku tidak,” kata Frodo. “Bagiku rasanya seperti mulai tertidur lagi.”

BAB 9

PEMBERSIHAN DI SHIRE



Sudah malam, para pengembara yang sudah basah dan letih tiba di Brandywine, dan mendapati jalan ditutup. Di setiap ujung Jembatan ada gerbang besar berpaku-paku; dan mereka melihat di sisi seberang sungai berdiri banyak rumah baru: berlantai dua dengan jendela-jendela sempit bersisi lurus, tampak kosong dan suram, semuanya sangat muram dan sama sekali tidak bergaya Shire. Mereka menggedor gerbang paling luar dan memanggil-manggil, tapi mula-mula tidak ada jawaban; lalu mereka terkejut mendengar bunyi terompet, dan cahaya di balik jendela padam. Sebuah suara berseru dalam gelap,
“Siapa itu? Pergi! Kau tidak bisa masuk. Tak bisakah kau membaca tulisan: Tidak diizinkan masuk pada waktu antara matahari terbenam sampai matahari terbit?”
“Tentu saja kami tidak bisa baca tulisan kalau gelap begini,” Sam balas berteriak.

“Dan kalau para hobbit dari Shire akan dibiarkan kehujanan di luar pada malam

seperti ini, akan kurobohkan papan pengumumanmu kalau kutemukan.”

Sebuah jendela dibanting, dan sekelompok hobbit yang membawa lentera menghambur keluar dari rumah di sebelah kiri. Mereka membuka gerbang paling jauh, dan beberapa berdatangan melewati jembatan. Ketika melihat para pengembara itu, mereka tampak ketakutan.
“Ayo ke sini!” kata Merry, yang mengenali salah satu dari hobbit-hobbit itu. “Keterlaluan sekali kalau kau tidak mengenaliku, Hob Hayward. Aku Merry Brandybuck. Aku ingin tahu, ada apa sebenarnya, dan apa urusan seorang Bucklander seperti kau di sini. Biasanya kau berada di Gerbang Hay.”
“Ya ampun! Itu Master Merry, memang benar itu dia, dan dandanannnya seperti orang siap tempur!” kata Hob tua. “kabarnya kau sudah mati! Pasti tersesat di Old Forest. Aku senang kau ternyata masih hidup!”
“Kalau begitu, berhentilah melongo melihatku dari balik jeruji, dan bukalah pintu gerbang!” kata Merry.
“Maaf, Master Merry, kami hanya melakukan perintah.” “Perintah siapa?”

“Perintah Ketua di Bag's End.”

“Ketua? Ketua? Maksudmu Mr. Lotho?” kata Frodo.

“Begitulah, Mr. Baggins; tapi sekarang ini kami harus menyebutnya 'Ketua'.”

“Oh, begitu!” kata Frodo. “Nah, aku senang setidaknya dia melepaskan nama Baggins. Tapi sudah waktunya keluarga besar menghadapi dan mengingatkan dia pada kedudukan sebenarnya.”
Para hobbit di seberang gerbang terdiam. “Tidak baik berbicara begitu,” kata

salah satu. “Dia akan mendengar. Dan kalau kau ribut-ribut begini, Orang Besar

si Ketua bisa terbangun.”

“Akan kami bangunkan dia dengan cara yang bakal membuatnya tercengang,” kata Merry. “Kalau Ketua-mu yang hebat itu sudah menyewa bajingan-bajingan dari belantara, berarti kami tidak kembali terlalu cepat.” Ia melompat dari kudanya, ketika melihat papan pengumuman yang disinari cahaya lentera- lentera, ia merobohkannya dan melemparkannya ke atas gerbang. Para hobbit di balik gerbang mundur dan tidak bergerak untuk membuka pintu. “Ayo, Pippin!” kata Merry. “Dua orang sudah cukup.”
Merry dan Pippin memanjat pintu gerbang, dan kerumunan hobbit itu bubar berlarian. Sebuah terompet berbunyi lagi. Dari rumah yang lebih besar di sisi kanan, sebuah sosok besar dan lebar muncul di ambang pintu, dilatarbelakangi cahaya.
“Apa-apaan ini,” bentaknya sambil melangkah maju. “Melanggar aturan pintu gerbang? Cepat pergi, kalau tidak akan kupatahkan leher-leher kecil kalian yang kotor!” Lalu Ia berhenti, karena menangkap kilatan sinar pedang.
“Bill Ferny,” kata Merry, “kalau tidak kau buka pintu itu dalam sepuluh detik, kau

akan menyesalinya. Akan kuhajar kau dengan pedangku, kalau tidak menurut. Dan kalau pintu itu sudah kau buka, kau mesti pergi dan tidak pernah kembali lagi. Kau bajingan dan perampok jalanan.”
Bill Ferny tersentak dan melangkah terseret-seret ke gerbang, lalu membuka. kuncinya. “Berikan kunci itu padaku!” kata Merry. Tapi bajingan itu melemparkan kunci ke kepala Merry, lalu melesat lari ke dalam kegelapan. Ketika Ia melewati kuda-kuda, salah seekor kuda menendang dengan kakinya dan tepat mengenai

Bill, sementara ia berlari. Bill lari sambil menjerit, menghilang di malam kelam, dan tak pernah terdengar beritanya lagi.
“Bagus, Bill,” kata Sam, maksudnya kuda poninya.

“Beres sudah masalah Orang Besar kalian,” kata Merry. “Kami akan menemui si Ketua nanti. Kami butuh penginapan untuk malam ini. Berhubung kalian sudah merobohkan Penginapan Jembatan dan membangun tempat suram ini, kalian harus menampung kami.”
“Maaf, Mr. Merry,” kata Hob, “tapi itu tidak diizinkan.” “Apa yang tidak diizinkan?”
“Memasukkan pendatang begitu saja, makan tambahan makanan, dan hal lain semacamnya,” kata Hob.
“Ada apa dengan tempat ini?” kata Merry. “Apakah tahun ini buruk, atau apa? Kukira musim panas dan panen bagus.”
“Bukan begitu, tahun ini sebenarnya cukup lumayan,” kata Hob. “Kami menanam dan memanen cukup banyak, tapi entah apa yang terjadi dengan hasil panen. Kurasa ini ulah para 'pengumpul' dan 'pembagi', yang berkeliling sambil menghitung, mengukur, dan membawa ke gudang. Mereka lebih banyak melakukan 'pengumpulan' daripada berbagi, dan kami tidak pernah melihat sebagian besar hasil panen.”
“Aduh!” kata Pippin sambil menguap. “Ini semua terlalu melelahkan bagiku malam ini. Kami punya makanan di ransel. Berikan saja kami satu kamar untuk tidur. Di sini pasti masih lebih baik daripada banyak tempat lain yang sudah kusaksikan.”


Para hobbit di depan gerbang masih juga kelihatan gelisah. Rupanya ada peraturan atau semacamnya yang sudah dilanggar; tapi sulit sekali menolak empat pengembara hebat yang semuanya bersenjata, dan dua di antaranya kelihatan lebih besar daripada hobbit pada umumnya, serta kuat sekali. Frodo memerintahkan pintu gerbang dikunci lagi. Masuk akal kalau mereka masih memperketat penjagaan, sementara para bajingan masih bebas berkeliaran. Lalu empat sekawan itu masuk ke rumah jaga hobbit dan berusaha merasa

senyaman mungkin. Tempat itu kosong dan jelek, dengan perapian kecil yang tidak memungkinkan nyala api bagus. Di kamar-kamar lantai alas ada iajaran tempat tidur keras, di setiap dinding terpasang pengumuman dan daftar Peraturan. Pippin menurunkannya semua. Tidak ada bir dan hanya sedikit sekali makanan, tapi dari bekal yang mereka bawa dan mereka bagi bersama, semua kebagian makanan yang cukup lumayan; Pippin melanggar Aturan Nomor 4 dengan memasukkan sebagian besar persediaan kayu untuk besok ke dalam api.
“Nah, bagaimana kalau kami merokok, sementara kau menceritakan apa yang sudah terjadi di Shire?” kata Pippin.
“Tidak ada rumput pipa sekarang,” kata Hob, “hanya ada untuk anak buah Ketua. Rupanya seluruh persediaan sudah habis. Tapi kami mendengar desas-desus bahwa berkereta-kereta penuh rumput pipa pergi lewat jalan keluar dari Wilayah Selatan, melewati jalan Sam Ford. Itu terjadi akhir tahun lalu, setelah kalian pergi. Tapi sebelumnya rumput tembakau itu juga sudah keluar dalam jumlah kecil-kecilan. Lotho itu …”
“Nah, diam kau, Hob Hayward!” teriak beberapa hobbit lain. “Kau tahu omongan semacam itu dilarang. Ketua akan mendengar, dan kami semua akan menderita karenanya.”
“Dia tidak akan mendengar apa pun, kalau beberapa di antara kalian bukan mata-mata,” balas Hob sengit.
“Baik, baik!” kata Sam. “Cukup sudah. Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Tidak ada penyambutan, tidak ada bir, rumput pipa, malah banyak aturan dan omongan Orc. Aku sudah berharap bisa tidur, tapi rupanya banyak sekali pekerjaan dan kesulitan di depan kita. Mari kita tidur dan melupakannya sampai besok!”


“Ketua” yang baru rupanya punya cara sendiri untuk memperoleh berita. Jarak ke Bag End masih sekitar empat puluh mil dari Jembatan, tapi seseorang sudah melakukan perjalanan itu dengan cepat. Begitulah yang didapati Frodo dan kawan-kawannya.

Mereka, belum membuat rencana pasti, tapi sudah berpikir akan pergi bersama- sama ke Crickhollow, dan beristirahat sebentar di sana. Sekarang, setelah melihat keadaan, mereka memutuskan akan langsung pergi ke Hobbiton. Maka keesokan harinya mereka berangkat melalui jalan dan melangkah dengan irama tetap. Angin sudah mereda, tapi langit tampak kelabu. Daratan kelihatan agak muram dan kosong; bagaimanapun, sekarang sudah hari pertama bulan November, ujung akhir musim gugur. Tapi masih saja banyak kebakaran, dan asap membubung dari banyak tempat. Awan asap besar melayang tinggi ke arah Woody End.
Menjelang senja mereka sudah mendekati Frogmorton, sebuah desa di jalan, sekitar dua puluh dua mil dari jembatan. Di sana mereka berharap bisa bermalam; Batang Kayu Mengambang di Frogmorton adalah penginapan yang bagus. Tapi ketika sampai ke ujung timur desa, mereka mendapati sebuah rintangan dengan papan besar bertulisan: TIDAK ADA JALAN; di belakangnya berdiri sekelompok besar Shirriff yang membawa tongkat, dengan bulu-bulu menancap di topi mereka; mereka berlagak sok penting, tapi sekaligus agak ketakutan.
“Ada apa ini?” kata Frodo, merasa ingin tertawa.

“Begini, Mr. Baggins,” kata pimpinan para Shirriff, seorang hobbit berbulu dua, “kalian ditangkap karena Melanggar Pintu Gerbang, merusak Pengumuman Peraturan, Menyerang Penjaga Gerbang dan Masuk Tanpa Izin, Tidur di Gedung Shire Tanpa Izin, dan Menyogok Penjaga dengan Makanan.”
“Apa lagi?” kata Frodo.

“Itu sudah cukup, untuk sementara,” kata pimpinan Shirriff.

“Bisa kutambahkan beberapa lagi, kalau kau suka,” kata Sam. “Menghina Ketua- mu, berniat meninju wajahnya yang penuh jerawat, dan menganggap kalian para Shirriff seperti segerombolan orang gila.”
“Nah, sudah, Mister, cukup sudah. Perintah Ketua, kalian harus ikut dengan tenang. Kami akan membawa kalian ke Bywater dan menyerahkan kalian pada Anak Buah Ketua; kalau dia sudah menangani masalah kalian, silakan kalian mengutarakan pendapat. Tapi kalau kalian tak ingin ditahan lebih lama daripada

yang diperlukan di Lubang Penjara, sebaiknya jangan banyak omong.”

Tapi dengan jengkel si Shirriff menyaksikan Frodo dan kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak. “Jangan berbicara menggelikan!” kata Frodo. “Aku akan pergi ke mana pun aku suka, kapan aku suka. Memang aku akan ke Bag End untuk suatu urusan, tapi kalau kau menuntut ikut, nah, itu terserah kalian.”
“Baik, Mr. Baggins,” kata pemimpin Shirriff, sambil menyingkirkan rintangan.

“Tapi jangan lupa bahwa aku sudah menangkapmu.”

“Tidak akan kulupakan,” kata Frodo. “Tidak pernah. Tapi mungkin aku akan memaafkanmu. Aku tidak akan berjalan lebih jauh hari ini, jadi kalau kau bersedia mendampingiku ke Batang Kayu Mengambang, aku akan berterima kasih.”
“Itu tidak bisa kulakukan, Mr. Baggins. Penginapan itu sudah tutup. Ada rumah

Shirriff di seberang sana. Aku akan membawamu ke sana.”

“Baiklah,” kata Frodo. “Berjalanlah di depan, kami akan mengikutimu.”



Sam, yang sudah memandang para Shirriff dengan saksama, akhirnya melihat salah satu yang dikenalnya. “Hai, sini kau, Robin Smallburrowi,” panggilnya. “Aku ingin bicara denganmu.”
Dengan pandangan malu-malu ke arah pimpinannya, yang tampak marah tapi tidak berani memotong, Shirriff Smallburrow menahan langkahnya dan berjalan di sisi Sam, yang turun dari kudanya.
“Begini, Robin sombong!” kata Sam. “Kau kan dibesarkan di Hobbiton, seharusnya kau tidak mencegat Mr. Frodo dan sebagainya. Dan apa maksudnya penginapan sudah tutup?”
“Semuanya tutup,” kata Robin. “Ketua tidak suka bir. Begitulah awalnya. Tapi sekarang kuduga anak buahnya yang berkuasa. Dia juga tidak menyukai orang- orang yang mengembara ke sana kemari; jadi, kalau mereka mau atau harus bepergian, mereka harus pergi ke Rumah Shirriff dan menjelaskan urusan mereka.”
“Seharusnya kau malu terlibat dengan segala omong kosong ini,” kata Sam. “Kau sendiri dulu lebih senang berada di dalam penginapan daripada di luarnya.

Kau selalu mampir, selagi bertugas maupun tidak.”

“Sebenarnya aku masih ingin begitu, Sam, kalau bisa. Jangan bersikap keras terhadapku. Aku bisa apa? Kau tahu bagaimana keadaanku tujuh tahun yang lalu sebagai Shirriff, sebelum semua ini terjadi. Sebagai Shirriff aku berkesempatan keliling negeri dan bertemu orang-orang, mendengar berita- berita, dan tahu di mana bisa dapat bir bagus. Tapi kini semuanya berbeda.”
“Tapi kau kan bisa melepaskannya, berhenti menjadi Shirriff, kalau memang tugas ini sudah bukan pekerjaan terhormat lagi,” kata Sam. “Kami tidak diizinkan,” kata Robin.
“Kalau aku dengar lebih banyak lagi kata tidak diizinkan,” kata Sam, “aku akan marah besar.”
“Rasanya aku tidak akan menyesal melihatmu marah,” kata Robin sambil merendahkan suaranya. “Kalau kita marah bersama-sama, mungkin ada pengaruhnya. Tapi Orang-Orang itu, Sam, Anak Buah Ketua … dia mengirim mereka ke mana-mana, dan kalau ada di antara kami orang-orang kecil melawan untuk mempertahankan hak-hak kami, kami diseret ke Lubang Penjara. Pertama-tama mereka membawa Flourdumpling tua, Will Whitfoot si Wali Kota, dan mereka sudah mengambil banyak yang lainnya. Akhir-akhir ini, semakin buruk. Mereka sekarang sering memukuli.”
“Kalau begitu, mengapa kau mau bekerja pada mereka?” kata Sam marah. “Siapa yang mengirimmu ke Frogmorton?”
“Tidak ada. Kami tinggal di sini, di Rumah Shirriff besar. Sekarang kami menjadi Pasukan Wilayah Timur yang pertama. Seluruhnya ada ratusan Shirriff, dan mereka menginginkan lebih banyak lagi, apalagi dengan banyaknya peraturan baru. Kebanyakan ikut melawan kehendak mereka sendiri, tapi tidak semuanya. Bahkan di Shire ada beberapa yang senang mengorek urusan orang lain dan membual. Lebih buruk lagi: ada yang melakukan pekerjaan mata-mata bagi Ketua dan Anak Buah-nya.”
“Ah! Karena itulah kau bisa mendapat kabar tentang kami, bukan?”

“Benar. Kami tidak diizinkan menitipkan pengiriman sekarang, tapi mereka

menggunakan layanan Pos Cepat yang lama, dan menyiapkan

pesuruh-pesuruh di beberapa titik berbeda. Salah satu datang dari Winthertur tadi malam dengan 'pesan rahasia', dan yang lain menyambung pesan dari sini. Lalu sebuah pesan datang siang tadi, yang mengatakan kau harus ditangkap dan dibawa ke Bywater, tidak langsung ke Lubang Penjara. Rupanya Ketua ingin bertemu kau segera.”
“Dia tidak akan begitu bergairah kalau Mr. Frodo sudah membereskannya,”

kata Sam.



Rumah Shirriff di Frogmorton sama buruknya dengan Rumah Jembatan. Lantainya hanya satu, dengan jendela-jendela sempit yang sama, dibangun dari batu bata pucat yang jelek dan dipasang tidak rapi. Di dalanmya lembap dan suram, makan malam dihidangkan di meja panjang kosong yang sudah berminggu-minggu tidak dibersihkan. Makanannya tidak layak dihidangkan di tempat yang lebih baik. Para pengembara senang ketika meninggalkan tempat itu. Jarak ke Bywater sekitar delapan betas mil, dan mereka berangkat jam sepuluh pagi.
Mereka sebenarnya ingin berangkat lebih awal, tapi penundaan itu jelas-jelas menjengkelkan pimpinan Shirriff. Angin barat sudah beralih ke utara dan semakin dingin, tapi hujan sudah reda.
Iring-iringan yang meninggalkan desa kelihatan agak lucu, meskipun beberapa orang yang keluar dan melongo ketika melihat “dandanan” para pengembara itu tidak begitu yakin apakah mereka boleh tertawa.
Selusin Shirriff sudah diperintahkan mengawal para “tahanan”, tapi Merry

menyuruh mereka berjalan di depan, sementara Frodo dan kawan-kawannya naik kuda di belakang. Merry, Pippin, dan Sam duduk santai sambil tertawa bercakap-cakap dan bernyanyi, sementara Para Shirriff berjalan tersandung- sandung sambil berusaha kelihatan galak dan penting. Tapi Frodo diam saja, kelihatan agak sedih dan merenung.
Orang terakhir yang mereka lewati adalah seorang hobbit tua kekar yang sedang memangkas pagar. “Halo, halo!” ejeknya. “Siapa menawan siapa?” Dua di antara para Shirriff langsung meninggalkan rombongan dan

menghampirinya. “Pimpinan!” kata Merry. “Perintahkan anak buahmu kembali ke tempat mereka segera, kalau kau tidak ingin aku menangani mereka!”
Kedua hobbit kembali dengan merengut ketika ditegur keras oleh pimpinan mereka. “Sekarang maju terus!” kata Merry, setelah itu para pengembara sengaja mengatur kecepatan langkah kuda mereka untuk mendorong para Shirriff berjalan secepat mungkin. Matahari keluar, dan meski angin dingin berembus, tak lama kemudian mereka sudah terengah-engah dan bercucuran keringat.
Di Batu Wilayah Tiga mereka menyerah. Mereka sudah berjalan hampir empat belas mil dengan hanya satu kali istirahat saat tengah hari. Mereka lapar dan kaki mereka sakit sekali, dan mereka tidak tahan berjalan secepat itu.
“Nah, ikuti kecepatanmu sendiri saja!” kata Merry. “Kami akan jalan terus.” “Selamat tinggal, Robin sombong!” kata Sam. “Kau kutunggu di luar Naga Hijau, kalau kau belum lupa tempatnya. Jangan buang-buang waktu di jalan!”
“Kau melanggar penahanan,” pimpinan Shirriff menyesali mereka, “dan aku tidak

bertanggung jawab atas itu.”

“Kami akan melanggar banyak hal, dan tidak akan minta kau bertanggung jawab,” kata Pippin. “Semoga kau beruntung!”


Para pengembara melaju terus. Ketika matahari mulai terbenam mendekati Downs Putih jauh di ufuk barat, mereka tiba di Bywater dekat telaganya yang luas; di sana mereka mendapati kejutan pertama yang sungguh memilukan. Ini negeri Frodo dan Sam, dan baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka sangat mencintainya, melebihi tempat lain di dunia. Banyak rumah yang mereka kenal sudah hilang. Beberapa rupanya sudah terbakar. Barisan lubang hobbit yang menyenangkan di tebing sisi utara Telaga sudah kosong, dan kebun-kebun kecil mereka yang dulu menghampar sampai ke tepi air telaga, dipenuhi rumput- rumput liar. Lebih buruk lagi, ada jajaran rurnah baru yang jelek di sepanjang Tepi Telaga, tempat jalan Hobbiton menjulur dekat ke tebing. Dulu di sana berdiri barisan pepohonan. Sekarang semuanya lenyap. Ketika memandang cemas ke arah Bag End, mereka melihat cerobong asap tingi dari bata di kejauhan asap

hitam keluar dari cerobong, membubung di udara senja.

Sam marah sekali. “Aku akan jalan terus, Mr. Frodo!” teriaknya. “Aku akan memeriksa keadaan. Aku ingin mencari ayahku.”
“Sebaiknya kita mencari tahu dulu, apa yang menunggu kita, Sam,” kata Merry. “Kuduga si 'Ketua' sudah menyiagakan segerombolan bajingan. Sebaiknya kita mencari orang yang bisa menceritakan keadaan di sekitar sini.”
Tapi di Desa Bywater semua rumah dan lubang tertutup, dan tak ada yang

menyambut mereka. Mereka heran sekali, tapi segera menemukan penyebabnya. Ketika sampai ke Naga Hijau, rumah terakhir di sisi Hobbiton yang kini kosong melompong dan berjendela pecah-pecah, mereka kaget melihat selusin orang jahat bersandar pada tembok penginapan; orang-orang itu bermata juling dan berwajah pucat.
“Seperti teman si Bill Ferny di Bree,” kata Sam.

“Seperti yang banyak kuIihat di Isengard,” gerutu Merry.



Para bajingan memegang pentungan dan membawa terompet pada sabuk mereka, tapi tidak membawa senjata lain, sejauh terlihat. Ketika para pengembara itu maju, bajingan-bajingan itu meninggalkan tembok dan melangkah ke jalan, sambil menghalangi mereka.
“Mau ke mana kau?” kata salah satu, yang paling besar dan tampak paling jahat di antara para awak itu. “Kalian tidak boleh jalan terus. Dan di mana para Shirriff yang mulia itu?”
“Masih di belakang,” kata Merry. “Agak capek jalan kaki, mungkin. Kami berjanji

menunggu mereka di sini.”

“Persetan, apa kubilang?” kata bajingan itu pada kawan-kawannya. “Sudah kukatakan pada Sharkey, jangan percaya pada orang-orang kecil tolol itu. Mestinya orang-orang kita yang dikirim.”
“Apa bedanya kalau begitu?” kata Merry. “Kami tidak biasa bertemu bantalan

kaki di negeri ini, tapi kami tahu bagaimana menangani mereka.”

“Bantalan kaki, heh?” kata orang itu. “Jadi, begitu caramu berbicara, Ya? Ubah

sikapmu, kalau tidak, kami yang akan mengubahnya. Kalian orang-orang kecil

mulai bertingkah. Jangan terlalu mengharapkan kebaikan hati Pemimpin. Sharkey sudah datang sekarang, dan dia akan melakukan apa kata Sharkey.” “Melakukan apa?” kata Frodo tenang.
“Negeri ini perlu dibangun dan diatur dengan hukum,” kata bajingan itu, “dan Sharkey akan melakukannya; dia bisa main kasar, kalau terpaksa. Kalian butuh Pemimpin yang lebih besar. Dan kalian akan nemperolehnya, sebelum tahun ini berakhir, kalau masih banyak gangguan. Lalu kalian akan belajar beberapa hal, bangsa tikus kecil.”
“Memang. Aku senang mendengar rencana-rencanamu,” kata Frodo. “Aku sedang dalam perjalanan menemui Mr. Lotho, dan dia mungkin juga tertarik mendengarnya.”
Bajingan itu tertawa. “Lotho! Dia sudah tahu. Jangan khawatir. Dia akan melakukan apa kata Sharkey. Sebab kalau seorang Ketua membuat masalah, kami bisa menggantinya. Tahu? Dan kalau orang-orang kecil mencoba mencampuri hal-hal yang bukan urusan mereka, kami bisa membungkam kenakalan mereka. Tahu?”
“Ya, aku tahu,” kata Frodo. “Pertama-tama, kulihat kau sudah ketinggalan zaman dan berita. Sudah banyak yang terjadi sejak kau meninggalkan Selatan. Masa jayamu sudah berakhir, begitu juga masa semua bajingan yang lain. Menara Kegelapan sudah jatuh, dan sudah ada Raja di Gondor. Isengard sudah dimusnahkan, dan majikanmu yang hebat sudah menjadi pengemis di belantara. Aku bertemu dia di jalan. Utusan-utusan Raja yang sekarang akan melaju lewat Jalan Hijau, bukan penggertak-penggertak dari Isengard.”
Orang itu menatapnya dan tersenyum. “Pengemis di belantara!” ejeknya. “Oh, begitu ya? Membual, membual, kau penyombong kecil. Tapi itu tidak akan menghentikan kami tetap tinggal di negerimu yang kecil makmur, di mana kalian sudah terlalu lama bermalasmalasan. Dan …,” ia menjentikkan jarinya di depan wajah Frodo, “utusan-utusan Raja! Tidak ada artinya, tahu! Kalau aku melihat satu, mungkin, baru kuperhatikan.”
Bagi Pippin ini sudah keterlaluan. Pikirannya menerawang ke Padang Cormallen, dan di sini ada bangsat bermata juling yang menyebut Pembawa Cincin

“penyombong kecil”. Pippin menyingkap jubahnya, menghunus pedang, warna

perak dan hitam Gondor berkilauan pada tubuhnya ketika ia maju.

“Aku utusan Raja,” katanya. “Kau berbicara dengan sahabat Raja, yang paling termasyhur di semua negeri Barat. Kau bajingan bodoh. Berlutut di jalan dan minta maaf, kalau tidak kutancapkan pedang ke tubuhmu!”
Pedangnya bersirar-sinar dalam cahaya matahari yang sedang terbenam. Merry dan Sam juga menghunus pedang mereka dan maju untuk mendukung Pippin; tapi Frodo tidak bergerak. Para bajingan mundur. Selama ini mereka selalu menakut-nakuti petani-petani dari Bree, dan menggertak hobbit-hobbit yang kebingungan. Hobbit-hobbit yang tidak takut pada pedang kemilau dan wajah garang merupakan kejutan besar. Dan dalam suara para pendatang baru ini terdengar nada yang belum pernah mereka dengar. Mereka sampai membeku ketakutan.
“Pergi!” kata Merry. “Kalau kalian mengganggu desa ini lagi, kalian akan menyesal.” Ketiga hobbit maju terus, para bajingan berbalik dan lari, melewati jalan Hobbiton; tapi mereka meniup terompet sambil berlari.
“Nah, kita tidak kembali terlalu cepat,” kata Merry.

“Memang tidak terlalu cepat, tidak satu hari pun. Bahkan mungkin agak terlambat, setidaknya untuk menyelamatkan Lotho,” kata Frodo. “Si bodoh yang malang, aku kasihan padanya.”
“Menyelamatkan Lotho? Apa maksudmu?” kata Pippin. “Mestinya dia

dihancurkan, menurutku.”

“Kau tidak sepenuhnya mengerti masalah ini, Pippin,” kata Frodo. “Lotho tidak pernah berniat membuat keadaan jadi seperti ini. Dia memang bodoh dan jahat, tapi kini dia terjebak. Para bajingan inilah yang menjarah, merampok dan menggertak, mengatur atau menghancurkan semua sekehendak hati mereka, dengan memakai namanya. Bahkan tak lama lagi sudah bukan atas nama dia. Kurasa sekarang dia menjadi tawanan di Bag End, dan sedang sangat ketakutan. Seharusnya kita mencoba menyelamatkannya.”
“Nah, aku benar-benar kaget!” kata Pippin. “Dari semua akhir pengembaraan

kita, ini yang paling tidak terpikir olehku: harus bertarung melawan setengah-Orc

dan bajingan di Shire sendiri demi menyelamatkan Lotho si Jerawat!” “Bertarung?” kata Frodo. “Nah, mungkin saja. Tapi ingat: tidak boleh membunuh hobbit, meski mereka sudah menyeberang ke pihak lawan. Benar-benar menyeberang, maksudku; bukan sekadar mematuhi perintah para bajingan karena mereka ketakutan. Belum pernah ada hobbit yang saling bunuh dengan sengaja di Shire, dan tidak boleh sampai ada preseden. Bahkan jangan sampai ada yang dibunuh sama sekali, bila mungkin. Tahan amarah dan tangan kalian sampai saat terakhir sebisa mungkin!”
“Tapi kalau bajingan ini banyak,” kata Merry, “berarti pertempuran akan terjadi. Kau tidak akan bisa menyelamatkan Lotho, atau Shire, hanya dengan terkejut dan sedih, Frodo sayang.”
“Tidak,” kata Pippin. “Tidak akan mudah menakut-nakuti mereka untuk kedua kalinya. Mereka terkejut. Kaudengar terompetnya berbunyi? Rupanya banyak bajingan lain di dekat sini. Mereka akan Jauh lebih berani kalau jumlah mereka lebih banyak. Sebaiknya kita mencari persembunyian untuk malam ini. Bagaimanapun, kita cuma berempat, meskipun kita bersenjata.”
“Aku punya gagasan,” kata Sam. “Mari kita pergi ke rumah Tom Cotton tua di Lorong Selatan! Dia orang yang gagah. Dan dia punya banyak anak laki-laki, kawan-kawanku dulu.”
“Tidak,” kata Merry. “Tidak baik kalau 'bersembunyi'. Justru itu yang dilakukan semua orang selama ini, dan yang mereka sukai. Mereka pasti akan menyerang kita dengan kekuatan besar, memojokkan kita, lalu mendesak kita keluar, atau membakar kita. Tidak, kita harus melakukan sesuatu segera.”
“Melakukan apa?” kata Pippin.

“Bangunkan Shire!” kata Merry. “Sekarang! Bangunkan semua orang kita! Mereka benci ini semua, kita bisa lihat itu: semuanya kecuali satu dua bajingan, dan beberapa orang bodoh yang ingin jadi orang penting, Tapi tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi. Penduduk Shire sudah begitu lama hidup nyaman, sampai tidak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya butuh pemantik api, sebenarnya, lalu semangat mereka akan bangkit. Pasti Anak Buah Ketua tahu itu. Mereka akan mencoba menginjak-injak kita dan dengan cepat

memusnahkan kita. Kita hanya punya waktu singkat sekali.”

“Sam, larilah ke peternakan Cotton, kalau kau mau. Dia orang paling berkuasa di sini, dan paling tabah. Ayo! Aku akan meniup terompet Rohan, dan memperdengarkan musik yang belum pernah didengar orang-orang di sini.”


Mereka menunggang kuda kembali ke pusat desa. Di sana Sam membelok dan menderap cepat melewati jalan yang menuju rumah Cotton di selatan. la belum pergi jauh ketika mendengar bunyi terompet nyaring berkumandang di udara. Jauh ke atas bukit dan padang bunyinya bergema; begitu memaksa sampai Sam sendiri hampir berbalik dan berlari kembali. Kudanya mendompak dan meringkik. “Maju, kudaku, maju!” teriaknya. “Sebentar lagi kita kembali.” Lalu ia mendengar Merry mengubah bunyi nada terompetnya, dan berkumandanglah bunyi terompet Buckland, menggetarkan udara.


Bangun! Bangun! Awas, Api, Musuh! Bangun! Api, Musuh! Bangun!


Di belakangnya Sam mendengar ingar-bingar suara dan bunyi berisik keras serta bantingan pintu-pintu. Di depannya cahay-cahaya mulai menyala dalam gelap; anjing-anjing menyalak; kaki-kaki datang berlarian. Sebelum ia sampai ke ujung jalan sudah tampak Petani Cotton dengan tiga putranya, Tom Muda, Jolly, dan Nick, bergegas mendekatinya. Mereka memegang kapak, dan menghalangi jalan Sam.
“Bukan! Itu bukan salah satu bajingan,” Sam mendengar petani itu berkata. “Ini hobbit, kalau melihat ukurannya, tapi berpakaian aneh. Half” serunya. “Siapa kau, dan ada ribut-ribut apa?”
“Aku Sam, Sam Gamgee. Aku sudah kembali.”

Petani Cotton maju menghampirinya dan memandangnya dalam cahaya senja. “Nah!” serunya. “Suaranya memang benar, dan wajahmu tidak lebih jelek daripada sebelumnya, Sam. Tapi bila bertemu denganmu di jalan, aku pasti tidak mengenalimu. Rupanya kau sudah pergi ke negeri-negeri asing. Kami khawatir

kau sudah mati.”

“Aku belum mati!” kata Sam. “Begitu juga Mr. Frodo. Dia ada di sini bersama kawan-kawannya. Dan itulah tugas malam ini. Mereka sedang membangunkan Shire. Kami akan menghancurkan bajingan-bajingan itu, Ketua mereka juga. Kami akan mulai sekarang.”
“Bagus, bagus!” teriak Petani Cotton. “Terjadi juga akhirnya! Sepanjang tahun ini aku sudah gatal ingin memberontak, tapi orang-orang tidak mau membantu. Lagi pula, aku harus memikirkan istriku dan Rosie. Bajingan-bajingan ini tega melakukan apa pun. Tapi ayolah sekarang, anak-anak! Bywater sudah bangun! Kita harus terlibat!”
“Bagaimana dengan Mrs. Cotton dan Rosie?” kata Sam. “Belum aman untuk meninggalkan mereka sendirian.”
“Nibs ada bersama mereka. Tapi kau bisa pergi membantunya, kalau kau mau,” kata Petani Cotton sambil nyengir. Lalu Ia dan putra-putranya berlari menuju desa.
Sam bergegas ke rumah petani itu. Di pintu bundar yang besar, di Puncak

tangga yang naik dari halaman luas, berdiri Mrs. Cotton dan Rosie, serta Nibs di depan mereka, memegang garpu rumput.
“Ini aku!” teriak Sam sambil berlari naik. “Sam Gamgee! Jangan coba menusukku, Nibs. Aku memakai rompi logam.”
Sam melompat turun dari kudanya dan menaiki tangga. Mereka memandangnya

sambil diam. “Selamat malam, Mrs. Cotton!” katanya. “Halo, Rosie!”

“Halo, Sam!” kata Rosie. “Ke mana saja kau? Kata orang-orang kau sudah mati; tapi aku sudah menunggumu sejak Musim, Semi. Kau memang tidak buru-buru, ya?”
“Mungkin tidak,” kata Sam malu. “Tapi sekarang aku bergegas. Kami akan menyerang bajingan-bajingan, dan aku harus kembali ke Mr. Frodo. Tapi kupikir aku akan melihat sebentar keadaan Mrs, Cotton, dan kau, Rosie.”
“Kami baik-baik saja, terima kasih,” kata Mrs. Cotton. “Atau seharusnya begitu,

kalau bukan karena para bajingan penjarah itu.”

“Nah, pergilah sekarang!” kata Rosie. “Kalau selama ini kau menjaga Mr. Frodo,

kenapa kau meninggalkannya justru saat keadaan mulai berbahaya?”

Pertanyaan itu terlalu berat bagi Sam. Bisa makan waktu seminggu kalau mau menjelaskannya, atau lebih baik tidak dijawab sama sekali. la berbalik dan menaiki kudanya lagi. Tapi ketika Ia berangkat, Rosie berlari menuruni tangga. “Menurutku kau tampak hebat, Sam,” katanya. “Pergilah sekarang! Tapi jagalah dirimu, dan kembalilah segera setelah membereskan para bajingan itu!”


Ketika Sam kembali, Ia mendapati seluruh penduduk desa sudah bangun. Sudah lebih dari seratus hobbit kekar, selain banyak pemuda, berkumpul sambil membawa kapak, palu berat, pisau panjang, dan tongkat besar; beberapa membawa busur untuk berburu. Masih banyak lagi yang berdatangan dari peternakan-peternakan yang lebih jauh letaknya.
Beberapa penduduk desa sudah menyalakan api besar, hanya untuk meramaikan suasana, juga karena itu merupakan salah satu hal yang dilarang Ketua. Api berkobar terang sementara malam datang. Beberapa yang lain, atas perintah Merry, sedang memasang rintangan melintang di jalan, di setiap ujung desa. Ketika para Shirriff datang ke pinggir yang lebih rendah, mereka tercengang; tapi begitu melihat apa yang terjadi, kebanyakan dari mereka mencopot bulu di topi mereka dan bergabung dalam pemberontakan itu. Yang lainnya menyelinap pergi.
Sam mendapati Frodo dan kawan-kawannya sedang berdiri dekat api dan berbicara dengan Tom Cotton tua, sementara kerumunan orang Bywater mengelilingi mereka dan memandang melongo.
“Nah, apa tindakan berikutnya?” kata Petani Cotton.

“Belum bisa kukatakan,” kata Frodo, “sampai aku tahu lebih banyak. Berapa bajingan yang ada?”
“Itu sulit dikatakan,” kata Cotton. “Mereka datang dan pergi. Kadang-kadang ada lima puluh orang di bangsal-bangsal mereka di jalan Hobbiton; tapi dari sana mereka keluar untuk menjelajah ke sana kemari, sambil mencuri, atau yang mereka sebut 'mengumpulkan'. Meski begitu, setidaknya selalu ada dua puluh orang yang mendampingi Majikan, begitu mereka memanggilnya. Dia ada di Bag

End, atau dulu begitu; tapi sekarang dia tidak pergi keluar dari wilayah itu. Sudah sekitar seminggu dua minggu tidak ada yang melihatnya; tapi Orang-Orang itu tidak mengizinkan kami mendekat.”
“Hobbiton bukan satu-satunya tempat mereka berada, bukan?” kata pippin. “Tidak, sayang sekali,” kata Cotton. “Kudengar cukup banyak yang berada di selatan, di Longbottom dan Sam Ford; beberapa lagi bersembunyi di Woody End; mereka juga punya bangsal-bangsal di Waymeet. Lalu ada Lubang Penjara, begitu mereka menyebutnya: terowongan gudang lama di Michel Delving yang sudah diubah jadi penjara bagi mereka yang melawan. Tapi menurut hitunganku jumlah bajingan di seluruh Shire belum sampai tiga ratus orang. Kita bisa menguasai mereka, kalau kita bersatu.”
“Apa mereka punya senjata?” tanya Merry.

“Cambuk, pisau, pentungan, cukup untuk pekerjaan kotor mereka: hanya itu yang tampak sejauh ini,” kata Cotton. “Tapi aku yakin mereka punya perlengkapan lain, kalau terpaksa bertarung. Beberapa punya busur, setidaknya. Mereka sudah menembak beberapa orang kita.”
“Nah, Frodo!” kata Merry. “Aku sudah tahu kita pasti harus bertarung. Mereka

yang memulai pembunuhan.”

“Sebenarnya bukan begitu,” kata Cotton. “Setidaknya bukan penembakan. Kaum Took yang memulainya. Kau tahu, ayahmu, Mr. Peregrin, sudah sejak dulu dia tidak suka pada si Lotho: dia bilang kalau ada yang mau memainkan peran sebagai ketua saat ini, seharusnya Penguasa Shire yang sesungguhnya, bukan orang yang baru naik daun. Dan ketika Lotho mengirim anak buahnya, mereka tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Memang kaum Took beruntung, mereka punya lubang-lubang yang dalam sekali di Bukit Hijau, Smials Besar, dan sekitarnya, dan para bajingan tak bisa menyerang mereka; dan mereka tidak mengizinkan para bajingan masuk ke negeri mereka. Kalau bajingan-bajingan itu nekat juga, para Took memburu mereka. Kaum Took menembak tiga bajingan karena merampas dan merampok. Setelah itu para bajingan semakin jahat. Dan mereka menjaga ketat Tookland. Tak ada yang bisa masuk maupun keluar dari sana sekarang.”

“Bagus untuk kaum Took!” seru Pippin. “Tapi seseorang akan masuk lagi, sekarang. Aku akan pergi ke Smials. Ada yang mau ikut denganku ke Tuckborough?”
Pippin berangkat bersama kira-kira setengah lusin anak muda, naik kuda. “Sampai bertemu lagi segera!” teriaknya. “Hanya empat belas mil melewati padang-padang. Aku akan kembali membawa sepasukan Took besok pagi.” Merry meniupkan terompet di belakang mereka ketika mereka melaju pergi dalam kegelapan malam. Orang-orang bersorak-sorai.
“Bagaimanapun,” kata Frodo pada semua yang berdiri di dekatnya “aku tidak ingin ada pembunuhan, meski terhadap para bajingan sekalipun, kecuali terpaksa, bila harus mencegah mereka mencederai para hobbit.”
“Baik!” kata Merry. “Tapi sekarang kita bisa sewaktu-waktu dikunjungi gerombolan Hobbiton. Mereka tidak akan datang hanya untuk membahas masalah. Kita coba menghadapi mereka dengan cermat; tapi kita harus siap menghadapi yang terburuk. Aku punya gagasan.”
“Baiklah,” kata Frodo. “Kau yang mengatur.”

Tepat pada saat itu beberapa hobbit, yang sudah dikirim mengintai Hobbiton, datang berlarian. “Mereka datang!” kata mereka. “Sekitar dua puluhan lebih. Tapi ada dua yang pergi ke barat melintasi negeri.”
“Pasti ke Waymeet,” kata Cotton, “untuk menjemput lebih banyak anggota gerombolan. Nah, itu pulang-balik masing-masing lima belas mil. Kita tidak perlu khawatir dulu tentang mereka.”
Merry bergegas pergi untuk mengeluarkan perintah-perintah. Petani Cotton

mengosongkan jalan, menyuruh semuanya masuk ke rumah, kecuali para hobbit yang lebih tua dan mempunyai senjata. Mereka tidak perlu menunggu lama. Segera mereka mendengar suara-suara keras, lalu bunyi langkah kaki berat. Tak lama kemudian sepasukan bajingan datang lewat jalan. Melihat rintangan itu mereka tertawa. Mereka tidak membayangkan bahwa di negeri kecil ini ada yang bisa melawan dua puluh orang macam mereka bersama-sama.
Para hobbit membuka rintangan dan berdiri di sisi jalan. “Terima kasih!” ejek

Orang-Orang itu. “Sekarang larilah pulang dan tidur sebelum kalian dicambuk.”

Lalu mereka melangkah sepanjang jalan sambil berteriak, “Matikan lampu- lampu! Masuk ke rumah dan tetap di dalam! Atau kami akan membawa lima puluh hobbit ke Lubang Penjara untuk setahun. Masuk! Majikan sudah kehilangan kesabarannya.”
Tak ada yang menghiraukan perintah-perintah para bajingan; saat para bajingan sudah lewat, diam-diam para hobbit berbaris di belakang dan mengikuti mereka. Ketika Orang-Orang itu sampai ke api, tampak Petani Cotton berdiri sendirian sambil menghangatkan tangannya.
“Siapa kau, dan apa yang sedang kaulakukan?” kata pemimpin gerombolan

bajingan.

Petani Cotton perlahan-lahan menoleh memandangnya. “Aku baru saja mau menanyakan itu padamu,” katanya. “Ini bukan negerimu, dan kau tidak diinginkan di sini.”
“Nah, tapi kau dicari,” kata pimpinan bajingan. “Kami mau menangkapmu. Tangkap dia, anak-anak! Lubang Penjara untuk dia, dan buat dia diam!”
Orang-Orang itu maju satu langkah, lalu berhenti mendadak. Raungan suara membubung di sekitar mereka, dan tiba-tiba mereka menyadari bahwa Petani Cotton tidak sendirian. Mereka terkepung. Dalam gelap di pinggir lingkaran cahaya api, berdiri lingkaran hobbit yang diam-diam keluar dari dalam bayangan. Hampir dua ratus jumlah mereka, semuanya memegang senjata.
Merry melangkah maju. “Kita sudah pernah bertemu,” katanya pada pemimpin bajingan, “dan sudah kuperingatkan kau jangan kembali ke sini. Sekarang aku memperingatkanmu kembali: kau berdiri dalam cahaya dan sudah dikepung para pemanah. Kalau kau menyentuh petani ini dengan satu jam saja, atau menyentuh siapa pun, kau akan ditembak. Letakkan senjatamu!”
Pemimpin bajingan melihat sekeliling. la terperangkap. Tapi ia tidak takut, karena didampingi segerombolan kawan yang mendukungnya. la hanya tahu sedikit tentang para hobbit, sehingga tidak menyadari bahaya yang mengancam. Dengan bodoh Ia memutuskan untuk bertarung. Rasanya akan mudah sekali melepaskan diri.
“Serbu mereka, anak-anak!” teriaknya. “Biar mereka tahu rasa!”

Dengan pisau panjang di tangan kin' dan pentungan di tangan kanan Ia lari mendekati lingkaran, mencoba keluar, kembali ke arah Hobbiton. Ia mengarahkan pukulan keras pada Merry yang menghalangi jalannya. la jatuh mati dengan empat panah menancap di tubuhnya.
Itu sudah cukup bagi yang lainnya. Mereka menyerah. Senjata mereka dilucuti, dan mereka diikat bersama, dibawa masuk ke sebuah gubuk kosong yang mereka buat sendiri. Di sana tangan dan kaki mereka diikat, dan mereka ditahan dengan penjagaan. Pemimpin yang sudah mati diseret pergi dan dikuburkan. “Kelihatannya terlalu mudah, bukan?” kata Cotton. “Sudah kukatakan kita bisa menguasai mereka. Tapi kami butuh pemimpin. Kau kembali tepat pada waktunya, Mr. Merry.”
“Masih banyak yang harus dilakukan,” kata Merry. “Kalau perhitunganmu benar, maka kita baru menangani sebagian kecil saja dari mereka. Tapi sekarang sudah gelap. Kurasa pukulan berikutnya harus menunggu sampai pagi. Lalu kita harus mengunjungi Ketua.”
“Kenapa tidak sekarang?” kata Sam. “Belum jauh lewat jam enam, Dan aku ingin bertemu ayahku. Kau tahu bagaimana keadaannya, Mr. Cotton?”
“Keadaannya tidak begitu baik, juga tidak begitu buruk, Sam,” kata si petani. “Mereka membongkar Bagshot Row, dan itu pukulan menyedihkan baginya. Dia ada di salah satu rumah baru yang biasa dibangun Anak Buah Ketua ketika mereka masih giat bekerja selain membakar dan mencuri: tidak sampai satu mil dari pinggir Bywater. Tapi kadang-kadang dia mengunjungiku, kalau ada kesempatan, dan kelihatannya dia makan lebih baik daripada beberapa orang yang lebih malang. Semuanya tentu saja melanggar Aturan. Aku ingin menampungnya di rumahku, tapi itu tidak diizinkan.”
“Terima kasih, Mr. Cotton, aku tidak akan melupakan itu,” kata Sam. “Tapi aku ingin melihatnya. Majikan dan Sharkey yang mereka bicarakan itu mungkin saja melakukan sesuatu yang jahat sebelum esok pagi.”
“Baiklah, Sam,” kata Cotton. “Pilihlah satu-dua pemuda, pergi dan jemputlah dia dan bawa ke rumahku. Kau tidak perlu pergi ke dekat desa lama Hobbiton di seberang Air. Jolly putraku akan menunjukkan jalannya padamu.”



Sam pergi. Merry mengatur pengamat-pengamat di sekeliling desa dan penjaga di tempat barikade untuk bertugas sepanjang malam. Lalu Ia dan Frodo pergi bersama Petani Cotton. Mereka duduk bersama keluarga itu di dapur yang hangat, dan keluarga Cotton mengajukan beberapa pertanyaan basa-basi tentang lawatan mereka, tapi hampir tidak mendengarkan jawabannya; mereka jauh lebih memikirkan kejadian-kejadian di Shire.
“Semuanya berawal dari si Jerawat, begitu kami memanggilnya,” kata Petani Cotton, “dan mulainya segera setelah kau pergi, Mr. Frodo. Si Jerawat punya gagasan-gagasan aneh. Kelihatannya dia ingin memiliki segalanya sendirian, dan memerintah orang-orang lain. Ternyata dia sudah memiliki jauh lebih banyak daripada yang sewajarnya; dan dia selalu meraih lebih banyak, meskipun tidak jelas dari mana dia mendapat uangnya: penggilingan, gudang gandum, penginapan, peternakan, dan perkebunan daun tembakau. Dia sudah membeli penggilingan Sandyman sebelum datang ke Bag End, rupanya.”
“Tentu saja dia punya modal awal dari harta warisan ayahnya di Wilayah Selatan; dan rupanya dia menjual banyak daun tembakau terbagus, dan mengirimkannya diam-diam selama setahun dua-tahun. Tapi di akhir tahun lalu dia mulai mengirimkan banyak sekali barang, bukan hanya daun. Persediaan bahan mulai kurang, apalagi musim dingin sudah menjelang. Orang-orang mulai marah, tapi dia sudah punya jawabannya. Banyak sekali orang, kebanyakan bajingan, datang dengan kereta-kereta besar, beberapa untuk membawa barang-barang ke selatan, dan yang lain untuk tetap berdiam di sini. Kemudian lebih banyak lagi yang datang. Dan sebelum kami menyadari sepenuhnya, mereka sudah bercokol di sana-sini di seluruh Shire, menebang pohon, menggali, dan membangun bangsal-bangsal dan rumah-rumah sekehendak mereka. Mulanya barang-barang dan kerusakan dibayar oleh si Jerawat; tapi tak lama kemudian mereka mulai sok kuasa dan mengambil apa saja yang mereka inginkan.”
“Lalu ada sedikit gangguan, tapi tidak cukup besar. Will tua si Wali Kota pergi ke

Bag End untuk menyampaikan protes, tapi dia tak pernah sampai ke sana.

Bajingan-bajingan menangkapnya, dan mengurungnya di sebuah lubang di Michel Delving, dan di sanalah dia sekarang berada. Setelah itu, kira-kira setelah Tahun Baru; tidak ada lagi wali kota, dan si Jerawat menyebut dirinya sendiri Ketua Shirriff, atau hanya Ketua, dan berbuat sesukanya; kalau ada yang
'bertingkah', mereka mengalami nasib seperti Will. Maka keadaan makin lama makin buruk. Tidak ada rumput pipa lagi, kecuali untuk Orang-Orang itu. Ketua tidak suka bir, kecuali untuk Orang-Orangnya, dan dia menutup semua penginapan; segalanya, kecuali Aturan, semakin menyusut, kecuali bila ada yang bisa menyembunyikan sedikit untuk diri sendiri, saat para bajingan berkeliling mengumpulkan barang untuk 'dibagi-bagikan secara adil': artinya mereka yang mendapatkannya dan kami tidak, kecuali remah-remah sisa yang bisa diperoleh di Rumah-Rumah Shirriff, kalau kau mengerti. Semuanya buruk sekali. Tapi sejak Sharkey datang, segalanya benar-benar hancur berantakan.” “Siapa Sharkey. ini?” kata Merry. “Kudengar salah satu bajingan menyebutnya.” “Tampaknya dia bajingan terbesar di antara mereka semua,” jawab Cotton. “Sekitar masa panen terakhir, akhir September mungkin, kamu pertama kali mendengar tentang dia. Kami belum pernah melihatnya, tapi dia berada di Bag End; dia yang jadi Ketua sebenarnya sekarang. Semua bajingan melakukan perintahnya; dan kebanyakan dia menyuruh: ganyang, bakar, dan hancurkan; kini bahkan sampai membunuh. Sudah sama sekali tidak masuk akal, bahkan akal jahat sekalipun. Mereka menebang pohon dan membiarkannya menggeletak, mereka membakar rumah dan tidak membangun yang baru lagi.” “Misalnya saja penggilingan Sandyman. Si Jerawat merobohkannya tak lama sesudah dia datang ke Bag End. Lalu dia memasuldcan segerombolan Orang yang kelihatan kotor, untuk membangun yang lebih besar dan mengisinya dengan roda-roda dan alat-alat aneh lainnya. Hanya si bodoh Ted yang senang, dan dia bekerja di sana, membersihkan roda-roda untuk Orang-Orang itu, di tempat ayahnya pernah menjadi Penggiling dan berkuasa sendiri. Tujuan si Jerawat adalah menggiling semakin cepat dan semakin banyak, begitu katanya. Dia punya penggilingan-penggilingan lain semacam itu. Tapi kau harus punya biji gandum sebelum bisa menggiling; dan sudah tidak ada lagi bahan untuk digiling

di penggilingan lama maupun yang baru. Tapi sejak Sharkey datang mereka tidak lagi menggiling gandum sama sekali. Mereka selalu memukul palu, mengeluarkan asap dan bau busuk, bahkan di malam hari pun tidak ada ketenangan di Hobbiton. Dan mereka membuang kotoran dengan sengaja; mereka sudah mengotori semua Air di bawah, yang sudah mulai mengalir masuk ke Brandywine. Kalau mereka bermaksud menjadikan Shire gurun, maka mereka berhasil. Menurutku bukan si bodoh Jerawat yang berada di balik itu semua. Menurutku ini ulah Sharkey.”
“Benar!” sela Tom Muda. “Mereka juga menangkap ibu tua si Jerawat, Lobelia itu, padahal dia sayang pada ibunya, meski tidak ada orang lain yang menyukainya. Beberapa orang Hobbiton melihatnya. Lobelia melangkah sepanjang jalan dengan payungnya yang usang. Beberapa bajingan sedang berjalan mendaki sambil membawa gerobak besar.”
“'Ke mana kalian pergi?' kata Lobelia. “Ke Bag End,” kata mereka. “'Untuk apa?' kata Lobelia.
“Membangun beberapa bangsal untuk Sharkey,” kata mereka. “Kata siapa kalian boleh membangunnya?” kata Lobelia. “Sharkey,” kata mereka. “Jadi, menyingkir dari sini, kau cerewet tua!”
“Peduli amat dengan Sharkey-mu, bajingan kotor, pencuri!” kata Lobelia sambil mengacungkan payungnya dan membidik pemimpin para bajingan yang hampir dua kali lebih besar tubuhnya. Maka mereka menangkapnya. Menyeretnya ke Lubang Penjara, padahal dia sudah setua itu. Mereka juga menangkap yang lain yang lebih kami sesali, tapi tak bisa disangkal bahwa Lobelia menunjukkan semangat lebih tinggi daripada kebanyakan hobbit lain.


Di tengah pembicaraan ini Sam datang, menyerbu masuk bersama ayahnya. Gamgee tua tidak kelihatan jauh lebih tua, tapi sedikit lebih tuli.
“Selamat malam, Mr. Baggins!” katanya. “Aku benar-benar senang melihatmu kembali dengan selamat. Tapi ada keluhan yang perlu kusampaikan padamu, kalau aku boleh sedikit lancang. Seharusnya kau tidak menjual Bag End, seperti sudah selalu kubilang. Itu akar dari semua kejahatan yang terjadi. Dan

sementara kau mengembara di negeri-negeri asing, memburu Orang-Orang Hitam ke pegunungan, seperti yang kudengar dari putraku Sam, meski untuk apa, tidak dia jelaskan, mereka membongkar Bagshot Row dan merusak kentang-kentangku!”
“Aku menyesal sekali, Mr. Gamgee,” kata Frodo. “Tapi kini aku sudah kembali, aku akan berusaha mengganti kerugianmu.”
“Nah, bagus sekali kalau begitu,” kata pria tua itu. “Mr. Frodo Baggins memang

seorang gentle hobbit, sudah sering kubilang begitu, apa pun pendapatmu tentang anggota keluarga lainnya, mohon maaf. Kuharap putraku Sam bersikap sopan dan banyak membantumu?”
“Dia sangat membantu, Mr. Gamgee,” kata Frodo. “Bahkan, kalau kau percaya, sekarang dia sudah menjadi salah satu orang paling termasyhur di semua negeri, dan mereka sudah membuat lagu tentang jasa-jasanya, mulai dari sini sampai ke Samudra dan seberang Sungai Besar.” W ajah Sam memerah, tapi Ia memandang penuh rasa terima kasih pada Frodo, karena mata Rosie bersinar- sinar dan ia tersenyum pada Sam.
“Itu sulit dipercaya,” kata ayah Sam, “tapi bisa kulihat bahwa dia sudah bergaul dengan orang-orang aneh. Apa yang terjadi dengan rompinya? Aku tidak suka pakaian besi, entah enak dan pantas dipakai maupun tidak.”


Seisi rumah Petani Cotton dan semua tamunya sudah bangun pagi-pagi keesokan harinya. Tak ada yang terdengar sepanjang malam, tapi sudah pasti akan datang gangguan lebih banyak sebelum siang. “Rupanya tidak ada bajingan yang tertinggal di Bag End,” kata Cotton, “tapi gerombolan dari Waymeet akan datang sewaktu-waktu.”
Setelah sarapan, seorang utusan dari Tookland datang. la tampak bersemangat. “Si Thain sudah membangunkan seluruh negeri,” katanya, “dan berita ini menyebar bagai api ke seluruh penjuru. Para bajingan yang mengawasi negeri kami sudah melarikan diri ke selatan, mereka yang berhasil keluar hidup-hidup. Si Thain sudah pergi mengejar mereka, untuk menahan gerombolan besar melewati jalan itu; Tapi dia menyuruh Mr. Peregrin kembali dengan semua orang

lain yang bisa disisihkannya.”

Berita berikutnya kurang bagus. Merry, yang sudah keluar sepanjang malam, datang sekitar jam sepuluh. “Ada gerombolan besar sekitar empat mil dari sini,” katanya. “Mereka akan datang melalui jalan dari Waymeet, tapi sejumlah besar bajingan yang tersesat sendirian, sudah bergabung dengan mereka. Masih ada sekitar seratus bajingan, dan mereka berjalan sambil membakar-bakar. Terkutuklah mereka!”
“Ah! Gerombolan ini tidak bakal mau diajak bicara, mereka akan membunuh, kalau bisa,” kata Petani Cotton. “Kalau kaum Took tidak datang lebih cepat, sebaiknya kita berlindung dan menembak tanpa adu bicara. Terpaksa ada pertarungan sebelum semuanya beres, Mr. Frodo.”
Kaum Took memang datang lebih cepat. Tak lama kemudian mereka sudah berjalan masuk, sekitar seratus hobbit dari Tuckborough dan Bukit Hijau, dipimpin Pippin di barisan terdepan. Sekarang Merry punya cukup banyak hobbit kekar untuk menghadapi para bajingan. Pengintai-pengintai melaporkan bahwa para bajingan merapatkan barisan. Mereka tahu bahwa penduduk pedesaan sudah bangkit memberontak, dan jelas bahwa mereka bermaksud menangani pemberontakan dengan kejam, di pusat Bywater. Tapi bagaimanapun garangnya mereka, rupanya mereka tak punya pimpinan yang mengerti liku-liku pertempuran. Mereka datang tanpa sedikit pun kiat pencegahan. Merry dengan cepat menguraikan rencana perlawanannya.


Para bajingan datang menderap melalui Jalan Timur, dan tanpa berhenti mereka belok ke Jalan Bywater, yang untuk jarak tertentu mendaki di antara dua tebing berpagar rendah di atasnya. Setelah sebuah tikungan, sekitar satu furlong dari jalan utama, mereka mendapati sebuah barikade kokoh gerobak-gerobak pertanian usang yang dijungkir-balikkan. Mereka berhenti. Pada saat bersamaan, mereka menyadari bahwa pagar-pagar di kedua sisi, persis di atas kepala mereka, dipenuhi barisan hobbit. Di belakang mereka, hobbit-hobbit lain mendorong keluar beberapa gerobak yang disembunyikan di padang, dan dengan demikian memblokir jalan kembali. Sebuah suara berbicara pada mereka

dari atas.

“Nah, kalian sudah masuk perangkap,” kata Merry. “Teman-teman kalian dari Hobbiton melakukan hal yang sama, satu sudah mati dan sisanya sudah jadi tawanan. Letakkan senjata kalian! Lalu mundur dua puluh langkah dan duduk. Siapa pun yang mencoba lari, akan ditembak.”
Tapi para bajingan tidak mudah ditakut-takuti. Beberapa di antara lnereka menurut, tapi segera dicegat rekan-rekan mereka. Sekitar dua puluhan lari ke belakang dan menyerbu barisan gerobak. Enam tertembak, tapi sisanya berhasil menerobos keluar, sambil membunuh dua hobbit, lalu menyebar melintasi pedalaman ke arah Woody End. Dua lagi jatuh sambil berlari. Merry meniup terompet dengan nyaring, dan ada bunyi jawaban dari kejauhan.
“Mereka tidak akan berhasil pergi jauh,” kata Pippin. “Seluruh daratan itu sudah

penuh dengan pemburu-pemburu kita.”

Di belakang, para bajingan yang terjebak di jalan dan masih berjumlah sekitar delapan puluhan, mencoba memanjat barikade dan tebing; para hobbit terpaksa menembak banyak di antara mereka atau menebas mereka dengan kapak. Tapi banyak dari yang paling kuat dan paling nekat berhasil keluar di sisi barat, dan menyerang lawan mereka dengan garang; sekarang mereka cenderung ingin membunuh, bukan melarikan diri. Beberapa hobbit jatuh, dan sisanya bimbang, ketika Merry dan Pippin, yang berada di sisi timur, datang dan menyerang para bajingan. Merry sendiri membunuh pimpinan mereka, seorang kasar bermata juling yang mirip Orc besar. Lalu ia menarik mundur pasukannya, mengepung sisa-sisa terakhir para bajingan dalam lingkaran besar pemanah.
Akhirnya selesai sudah. Hampir tujuh puluh bajingan menggeletak mati di padang, dan selusin lagi sudah menjadi tawanan. Sembilan belas hobbit terbunuh, dan sekitar tiga puluh terluka. Para bajingan yang sudah mati ditumpuk di atas gerobak, dibawa ke sebuah sumur pasir lama di dekat situ, dan dikuburkan di sana: di dalam Sumur Pertempuran, begitu sebutannya kelak. Para hobbit yang mati dikubur bersama dalam satu kuburan di sisi bukit, dan di kemudian hari sebuah batu besar didirikan, dengan kebun di sekitarnya.
Begitulah berakhir Pertempuran Bywater 1419, pertempuran terakhir yang

berlangsung di Shire, dan satu-satunya pertempuran sejak Greenfields 1147 di Wilayah Utara sana: Akibatnya-meski syukurlah hanya meminta korban jiwa sedikit saja-di dalam Buku Merah ada satu bab tersendiri yang mengisahkan pertempuran itu, nama-nama yang terlibat dibuatkan daftar dan dihafalkan semua ahli sejarah Shire. Meningkatnya kemasyhuran dan keberuntungan kaum Cotton berasal dari masa itu; tapi di puncak Daftar di semua cerita tercantum nama-nama Kapten Meriadoc dan Peregrin.
Frodo memang hadir dalam pertempuran itu, tapi ia tidak menghunus pedangnya, dan perannya yang utama adalah mencegah para hobbit yang marah karena kehilangan beberapa kawan, membunuh musuh yang meletakkan senjata. Ketika pertarungan sudah selesai, dan pekerjaan-pekerjaan belakangan diperintahkan, Merry, Pippin, dan Sam bergabung dengannya, dan mereka kembali ke rumah keluarga Cotton. Mereka makan siang, meski terlambat, lalu Frodo berkata sambil mengembuskan napas dalam-dalam, “Nah, kurasa sekarang tiba saatnya menghadapi si 'Ketua'.”
“Ya, semakin cepat semakin baik,” kata Merry. “Dan tidak perlu terlalu lembut padanya! Dia yang bertanggung jawab atas masuknya bajingan-bajingan itu, serta semua kejahatan yang sudah mereka lakukan.”
Petani Cotton mengumpulkan sekitar dua puluh hobbit kekar. “Sebab kami hanya menduga-duga bahwa sudah tidak ada bajingan lagi di Bag End,” katanya. “Kami tidak tahu yang sebenarnya.” Lalu mereka pergi dengan berjalan kaki. Frodo, Sam, Merry, dan Pippin memimpin perjalanan.
Itulah salah satu saat paling menyedihkan dalam hidup mereka. Cerobong asap besar menjulang tinggi di depan; ketika mendekati desa lama di seberang Air, melalui jajaran rumah baru yang jelek di sepanjang setiap sisi jalan, mereka melihat penggilingan baru yang berdiri muram dan jelek: sebuah bangunan bata yang mengangkangi aliran sungai yang dikotorinya dengan aliran beruap dan berbau busuk. Sepanjang Jalan Bywater semua pohon sudah ditebang.
Ketika menyeberangi jembatan dan memandang ke arah Bukit, mereka terkesiap. Meski sudah melihat ke dalam Cermin, Sam tetap saja terperanjat melihat pemandangan itu. Rumah Desa Lama di sisi barat sudah dirobohkan,

dan sebagai gantinya berdiri barisan-barisan bangsal bernoda terhitam. Semua pohon chestnut sudah lenyap. Tebing-tebing dan pagar-pagar tanaman sudah hancur. Kereta-kereta besar berdiri tak beraturan di sebuah padang yang rumputnya sudah habis terinjak-injak. Bagshot Row sudah menjadi tambang pasir dan batu kerikil yang menganga. Bag End di atas tidak kelihatan, karena tertutup kerumunan besar gubuk.
“Mereka sudah menebangnya!” teriak Sam. “Mereka menebang Pohon Pesta!” Ia menunjuk ke arah pohon tempat Bilbo menyampaikan Pidato Perpisahannya. Pohon itu menggeletak terpotong-potong dan mati di padang. Tangis Sam meledak, seakan-akan hal ini sangat menghancurkan hatinya.
Bunyi tertawa menghentikan tangisnya. Seorang hobbit yang merengut duduk bersandar di atas tembok rendah halaman penggilingan. la berwajah kotor penuh minyak, dan tangannya kehitaman. “Kau tidak suka itu, ya, Sam?” ejeknya. “Tapi dari dulu hatimu memang lembek. Kupikir kau sudah pergi naik salah satu kapal yang suka kauocehkan dulu, berlayar, berlayar. Untuk apa kau kembali? Kita punya banyak tugas di Shire.”
“Begitulah kulihat,” kata Sam. “Tidak ada waktu untuk mandi, tapi cukup waktu untuk duduk-duduk di atas tembok. Tapi begini, Master Sandyman, aku masih harus balas dendam di desa ini, dan jangan bikin aku kesal dengan ejekan- ejekanmu itu, atau kau akan menyesal.”
Ted Sandyman meludah dari atas tembok. “Persetan!” katanya. “Kau tidak bisa menyentuhku. Aku sahabat Majikan. Dia akan langsung menanganimu, kalau aku mendengar hinaan lebih banyak lagi dari mulutmu.”
“Jangan buang-buang napas pada si bodoh itu, Sam!” kata Frodo. “Kuharap

tidak banyak hobbit yang jadi seperti dia. Itu lebih menyebalkan daripada semua

kerusakan yang diperbuat para bajingan itu.”

“Kau jorok dan kurang ajar, Sandyman,” kata Merry. “Juga sudah terlalu sombong. Kami akan pergi ke Bukit untuk menyingkirkan Majikan-mu yang hebat itu. Kami sudah membereskan orang-orangnya.”
Ted melongo, sebab saat itu ia baru melihat pengawal-pengawal yang sekarang berjalan melewati jembatan, atas isyarat Merry. Sambil berlari masuk ke

penggilingan, Ted keluar membawa terompet dan meniupnya dengan keras. “Simpan saja napasmu!” tawa Merry. “Aku punya yang lebih bagus.” Lalu ia mengangkat terompet peraknya dan meniupnya, bunyinya nyaring dan berkumandang sampai ke atas Bukit; dari lubang-lubang, bangsal-bangsal, dan rumah-rumah lusuh di Hobbiton, para hobbit menjawab dan menghambur keluar; sambil bersorak sorai dan berteriak keras mereka mengikuti rombongan itu mendaki jalan ke Bag End.
Di puncak jalan, rombongan itu berhenti, Frodo dan kawan-kawannya maju terus; akhirnya mereka sampai ke tempat yang dulu begitu mereka sayangi. Kebunnya penuh gubuk dan bangsal, beberapa begitu dekat ke jendela jendela barat, sainpai menutupi semua cahaya. Banyak tumpukan sampah di mana- mana. Pintu tergores; rantai bel menggantung kendur, dan belnya tidak berbunyi. Mengetuk pintu juga tidak menghasilkan jawaban. Akhirnya mereka mendorong, dan pintu itu terbuka. Mereka masuk. Tempat itu berbau busuk, penuh kotoran, dan sangat berantakan: rupanya sudah lama tidak dihuni.


“Di mana si Lotho yang menyedihkan itu bersembunyi!” kata Merry. Mereka mencari-cari di setiap ruangan, tapi tidak menemukan makhluk hidup kecuali tikus dan celurut. “Apa kita perlu menyuruh yang lainnya mencari di bangsal- bangsal?”
“Ini lebih buruk daripada Mordor!” kata Sam. “Lebih parah. Seperti tamparan di wajah, begitu istilahnya; karena dulu ini rumahmu, dan kau ingat keadaannya sebelum jadi hancur begini.”
“Ya, ini Mordor,” kata Frodo. “Salah satu ulahnya. Saruman yang selalu menjadi

perpanjangan tangannya, juga saat dia mengira dia bekerja untuk dirinya sendiri. Begitu juga, halnya dengan mereka yang ditipu Saruman, seperti Lotho.”
Merry memandang sekeliling dengan kaget dan jijik. “Mari kita keluar!” katanya. “Andai aku tahu semua kerusakan yang dilakukannya, seharusnya kudorong masuk dompetku ke dalam tenggorokan Saruman.”
“Memang, memang! Tapi tidak kaulakukan, maka aku berkesempatan menyambut kepulangan kalian.” Di sana, di ambang pintu, berdiri Saruman

sendiri, tampak cukup makan dan puas; matanya bersinar penuh kekejian dan rasa geli.
Tiba-tiba semua jadi jelas bagi Frodo. “Sharkey!” teriaknya.

Saruman tertawa. “Jadi, kau sudah dengar nama itu, bukan? Semua orangku biasa memanggilku dengan nama itu di Isengard. Mungkin suatu tanda sayang. Tapi rupanya kau tidak menduga akan bertemu aku di sini.”
“Tidak,” kata Frodo. “Tapi seharusnya sudah bisa kutebak. Gangguan kecil

dengan cara keji: Gandalf sudah memperingatkan bahwa kau masih mampu

untuk itu.”

“Sangat mampu,” kata Saruman, “dan lebih dari sekadar bisa. Kalian membuatku tertawa, bangsawan hobbit, berkumpul bersama semua orang hebat itu, begitu aman dan puas dengan diri kalian yang kecil. Kalian pikir kalian sudah berhasil dengan baik, dan bisa pulang menikmati masa tenang di pedesaan. Rumah Saruman bisa di obrak-abrik dan dia bisa diusir, tapi tak ada yang bisa menyentuh rumahmu. Oh, tidak! Sebab ada Gandalf untuk mengurusi masalah- masalah kalian.”
Saruman tertawa lagi. “Tapi dia bukan jenis seperti itu! Kalau kaki tangannya sudah melakukan tugas mereka, dia pergi. Tapi kalian malah mengikutinya, keluyuran dan mengobrol, pergi dua kali lebih jauh dari seharusnya. 'Nah,' pikirku, 'kalau mereka begitu bodoh, aku akan mendahului mereka dan memberi pelajaran. Satu perlakuan buruk harus dibalas dengan perlakuan buruk juga.' Aku akan memberi pelajaran yang lebih keras, kalau saja aku punya lebih banyak waktu dan orang. Tapi sudah banyak yang kulakukan, dan akan sangat sulit kalian perbaiki atau singkirkan dari hidup kalian. Aku akan senang mengingatnya, dan membandingkannya dengan kerugianku.”
“Nah, kalau itu yang kausebut kenikmatan,” kata Frodo, “aku kasihan padamu. Itu cuma akan memuaskan ingatanmu. Pergi sekarang dan jangan pernah kembali!”
Para hobbit dari desa-desa sudah melihat Saruman keluar dari salah satu gubuk, dan mereka pun berkerumun di pintu Bag End. Ketika mendengar perintah Frodo, mereka bergumam marah,

“Jangan biarkan dia pergi! Bunuh dia! Dia penjahat dan pembunuh. Bunuh diai” Saruman memandang sekeliling, menatap wajah-wajah yang tidak bersahabat itu, dan ia tersenyum. “Bunuh dia!” ejeknya. “Bunuh dia, kalau kalian pikir jumlah kalian cukup, para hobbit-ku yang berani!” Ia berdiri tegak dan menatap mereka dengan matanya yang hitam. “Tapi jangan kira aku sudah kehilangan semua kekuatanku, walau semua hartaku sudah lenyap! Siapa pun yang memukulku, akan dikutuk. Dan kalau darahku menodai Shire, negeri ini akan layu dan tidak akan pernah pulih lagi.”
Para hobbit mundur ketakutan. Tapi Frodo berkata, “Jangan percaya padanya! Dia sudah kehilangan semua kekuatannya, kecuali suaranya yang masih bisa mengecilkan hati dan menipu, kalau kaubiarkan. Tapi aku tidak ingin dia dibunuh. Tak ada gunanya mempertemukan balas dendam dengan balas dendam: itu tidak akan memulihkan apa pun. Pergi, Saruman, dan cepatlah!” “W orm! Worm!” teriak Saruman; dan dari sebuah gubuk di dekat situ keluarlah Wormtongue, merangkak seperti anjing. “Jalan lagi, Worm!” kata Saruman. “Orang-orang hebat dan bangsawan-bangsawan ini mengusir kita lagi. Ayo ikut!” Saruman berbalik untuk pergi, dan Wormtongue melangkah terseret-seret mengikutinya. Tapi ketika Saruman lewat dekat Frodo, sebuah pisau berkilau di tangannya, dan secepat kilat Ia menusuk Frodo. Mata pisau itu terpental pada rompi logam yang tersembunyi dan Patah. Beberapa hobbit, dipimpin oleh Sam, meloncat maju sambil berteriak dan membanting penjahat itu ke tanah. Sam menghunus pedangnya.
“Jangan, Sam!” kata Frodo. “Jangan bunuh dia, sekarang pun jangan. Sebab dia tidak berhasil melukai aku. Bagaimanapun, aku tak ingin dia dibunuh dalam suasana hati yang buruk ini. Dulu dia pernah hebat, orang yang mulia dan tidak akan berani kita lawan. Dia sudah terperosok, dan kita tak mampu memulihkannya; tapi aku masih ingin menyelamatkannya, dengan harapan dia akan menemukan penyembuhan.”
Saruman bangkit berdiri, dan menatap Frodo. Ada pandangan aneh di matanya, setengah kagum dan hormat, tapi juga benci. “Kau sudah tumbuh jadi dewasa, Halfling,” katanya. “Ya, kau sudah tumbuh pesat. Kau bijak, dan kejam. Kau

merampas kemanisan balas dendamku, dan kini aku harus pergi dalam kegetiran, berutang budi padamu. Aku benci itu, juga benci padamu! Nah, aku akan pergi sekarang dan tidak mengganggumu lagi. Tapi jangan harapkan aku mendoakan kesehatan dan hidup panjang bagimu. Kau tidak akan memiliki dua- duanya. Tapi itu bukan akibat ulahku. Aku hanya meramalkannya.”
la melangkah pergi, dan para hobbit memberi jalan baginya untuk lewat; tapi mereka tetap mencengkeram senjata, dan buku jari mereka memutih. Wormtongue bimbang, lalu mengikuti majikannya.
“W onmtongue!” panggil Frodo. “Kau tidak perlu ikut dengannya. Setahuku kau tidak melakukan kejahatan terhadapku. Kau boleh istirahat dan makan di sini untuk sementara, sampai kau lebih kuat dan bisa pergi menuju tujuanmu sendiri.”
Wormtongue berhenti dan menoleh ke Frodo, setengah siap untuk tetap tinggal. Saruman membalikkan badan. “Tidak melakukan kejahatan?” celotehnya. “Oh … tidak! Jadi, kalau dia menyelinap pergi di malam hari, tujuannya hanya untuk memandang bintang-bintang? Tapi tadi kudengar ada yang bertanya di mana Lotho malang bersembunyi? Kau tahu, bukan, Worm? Kau akan menceritakannya pada mereka?”
Wormtongue meringkuk gemetaran dan merengek, “Tidak, tidak!”

“Kalau begitu, aku akan menceritakannya,” kata Saruman. “Worm membunuh Ketua-mu, orang kecil malang, Majikan kalian yang mains. Bukankah begitu, Worm? Kau menusuknya selagi dia tidur, kalau tidak salah. Sudah kau kuburkan, kuharap; meskipun Worin akhir-akhir ini sangat kelaparan. Tidak, Worm tidak benar-benar baik hati. Sebaiknya kauserahkan dia padaku.”
Pandangan benci yang liar memancar dari mata Wormtongue yang merah. “Kau yang menyuruhku; kau yang memaksa aku melakukan Saruman tertawa. “Kau selalu melakukan apa yang diperintahkan Sharkey, selalu, bukan, Worm? Nah, sekarang dia bilang: ikut!” ia menendang wajah Wormtongue yang menyembah- nyembah, lalu ia berbalik dan berjalan lagi. Tapi saat itu terjadi sesuatu yang tak terduga: mendadak Wormtongue bangkit berdiri, menghunus pisau yang tersembunyi, lalu sambil menggeram seperti anjing ia melompat ke punggung

Saruman, menarik kepalanya ke belakang, menggorok lehernya, dan sambil menjerit lari lewat jalan. Sebelum Frodo pulih dari keterkejutannya dan bisa berbicara kembali, tiga busur hobbit berdesing. Wormtongue jatuh tersungkur dan mati.


Dengan tercengang mereka yang berdiri di dekatnya melihat semacam kabut kelabu bergumpal di sekitar tubuh Saruman, membubung perlahan hingga tinggi sekali seperti asap kebakaran; bagai sosok pucat berselubung Ia menjulang di atas Bukit. Sejenak sosok itu bergoyang-goyang, menghadap ke Barat; tapi dari Barat datang angin dingin, dan sosok itu melenggok menjauh, lalu hilang lenyap dengan bunyi keluhan.
Frodo menatap tubuh itu dengan rasa iba dan ngeri, sebab sementara ia memandang, tahun-tahun panjang kematian seolah tersingkap di dalamnya, dan tubuh itu menyusut, wajahnya yang keriput jadi seperti kain kulit buruk yang menutupi tengkorak mengerikan. Sambil mengangkat ujung jubah kotor yang terbentang di sisinya, Ia menutupi tubuh itu dan membalikkan badan.


“Begitulah akhir ceritanya,” kata Sam. “Akhir yang keji, dan aku berharap tak

usah melihatnya; tapi ini pembebasan yang bagus.”

“Dan mudah-mudahan akhir paling akhir dari Perang,” kata Merry.

“Kuharap begitu,” kata Frodo, dan Ia mengeluh. “Pukulan paling akhir. Tapi mengejutkan sekali bahwa ternyata terjadinya justru di sini, di depan pintu Bag End! Di tengah semua harapan dan kekhawatiranku, aku tak menduga ini bakal terjadi.”
“Aku belum bisa menyebutnya akhir kisah, sampai kita sudah membersihkan semua kekacauan ini,” kata Sam murung. “Dan itu akan makan waktu lama dan kerja keras.”

BAB 9

GREY HAVENS



Pembersihan itu memang makan waktu cukup lama, tapi tidak selama yang dikhawatirkan Sam. Sehari setelah pertempuran, Frodo naik kuda ke Michel Delving dan membebaskan para tawanan dari Lubang Penjara. Salah satu yang pertama mereka temukan adalah Fredegar Bolger malang, yang sudah bukan Fatty (Gendut) lagi. la ditangkap saat para bajingan membubarkan sekelompok pemberontak yang dipimpinnya keluar dari tempat persembunyian di Brockenbores di perbukitan Scary.
“Nasibmu akan lebih baik kalau kau ikut kami, Fredegar malang!” kata Pippin ketika mereka menggotongnya keluar, karena ia terlalu lemah untuk berjalan. Fredegar membuka matanya dan dengan gagah mencoba tersenyum. “Siapa raksasa muda bersuara keras ini?” bisiknya. “Masa ini Pippin kecil? Berapa sekarang ukuran topimu?”
Lalu ada Lobelia. Kasihan sekali, ia kelihatan sangat tua dan kurus ketika mereka menyelamatkannya dari sebuah sel sempit dan gelap. la bersikeras berjalan sendiri, meski terhuyung-huyung; dan ia disambut luar biasa meriah; begitu banyak tepuk tangan dan sorak sorai ketika ia muncul, bertopang pada lengan Frodo sambil mencengkeram payungnya; ia terharu sekali, dan pergi sambil bercucuran air mata. Belum pernah seumur hidupnya ia begitu disukai. Tapi hatinya hancur luluh mendengar berita pembunuhan Lotho, dan ia tidak mau pulang ke Bag End. ia mengembalikan Bag End pada Frodo, dan pergi ke keluarganya sendiri, kaum Bracegirdle di Hardbottle.
Ketika makhluk malang itu meninggal pada Musim Semi berikutnya bagaimanapun usianya sudah lebih dari seratus tahun Frodo kaget dan terharu; Lobelia mewariskan semua yang tersisa dari uangnya dan uang Lotho pada Frodo untuk digunakan membantu para hobbit yang kehilangan saat gangguan para bajingan berlangsung. Maka perseteruan keluarga itu berakhir sudah.
Will Whitfoot tua sudah berada di Lubang Penjara lebih lama daripada siapa pun, dan meski mungkin perlakuan terhadap dirinya tidak begitu kasar dibandingkan

beberapa yang lainnya, ia perlu makan banyak sebelum pantas menjadi wali kota lagi; maka Frodo bertindak sebagai wakilnya, sampai Mr. Whitfoot pulih kembali. Satu-satunya yang ia lakukan sebagai Wakil Wall Kota adalah menyusutkan jumlah dan tugas para Shirriff ke proporsi yang seharusnya. Tugas untuk memburu sisa-sisa terakhir para bajingan diserahkan pada Merry dan Pippin, dan tugas itu segera diselesaikan. Gerombolan bajingan selatan, setelah mendengar berita tentang Pertempuran di Bywater, lari keluar dari negeri itu dan hanya sedikit melawan si Thain. Sebelum Akhir Tahun, beberapa bajingan yang masih bertahan ditangkap di hutan, dan mereka yang menyerah dibawa ke perbatasan.
Sementara itu pekerjaan perbaikan berjalan cepat, dan Sam sibuk sekali. Hobbit- hobbit bisa bekerja seperti kumbang bila suasana hati dan kebutuhan menghadang. Ada ribuan tangan dari segala umur yang bersedia membantu, mulai dari tangan-tangan pemuda-pemudi yang kecil tapi terampil, sampai ke tangan-tangan pria dan wanita tua yang sudah letih dan kasar. Sebelum Natal, tak ada lagi bata tersisa dari bangunan rumah Shirriff baru atau apa pun yang dibangun “Orang-orang Sharkey”; bata-bata itu digunakan untuk memperbaiki banyak lubang lama, untuk membuatnya lebih nyaman dan kering. Persediaan barang dan bahan makanan serta bir yang selama itu disembunyikan para bajingan di bangsal-bangsal, gudang-gudang, dan lubang-lubang kosong, terutama di terowongan-terowongan di Michel Delving dan tambang-tambang lama di Scary, berhasil ditemukan, sehingga Natal itu lebih meriah daripada yang diharapkan para hobbit.
Salah satu hal pertama yang dilakukan di Hobbiton, sebelum penggusuran penggilingan baru, adalah pembersihan Bukit dan Bag End, dan perbaikan Bagshot Row. Bagian depan sumur pasir diratakan dan dibuat menjadi kebun luas yang banyak naungannya, lubang-lubang baru digali di sisi selatan, masuk ke dalam Bukit, dan dilapisi bata. Ayah Sam dikembalikan ke Nomor Tiga; ia sering berkata begini, tak peduli siapa yang mendengar,
“Ini , memang angin buruk yang tidak membawa keberuntungan bagi siapa pun.

Tapi semuanya sudah berakhir dengan baik!”

Ada sedikit diskusi tentang nama yang akan diberikan ke jajaran rumah baru itu. Medan Tempur diusulkan, atau Smials Bagus. Tapi setelah beberapa lama, dengan gaya khas hobbit yang bersahaja, tempat itu disebut Deretan Baru. Sebagai kelakar Bywater, tempat itu sering dijuluki Sharkey’s End.


Kehilangan dan kerusakan paling parah terjadi pada pepohonan, sebab atas perintah Sharkey mereka ditebang dengan sembrono di mana-mana di seluruh Shire; Sam sangat sedih tentang hal itu. Pertama-tama, kerusakan itu akan lama sekali penyembuhannya, dan mungkin hanya buyut-buyutnya yang bisa melihat alam Shire seperti seharusnya, begitu pikirnya.
Tiba-tiba suatu hari, karena selama berminggu-minggu ia terlalu sibuk dan tak sempat memikirkan petualangannya, ia ingat pemberian Galadriel ia mengeluarkan kotak itu dan menunjukkannya kepada Para Pengembara yang lain (sekarang mereka dipanggil seperti itu oleh semua orang), dan meminta saran mereka.
“Sudah kutanya-tanya dalam hati, kapan kau akan ingat ini,” kata Frodo. “Bukalah!”
Di dalam kotak itu ada debu kelabu, lembut dan halus, dan di tengahnya ada sebutir benih, seperti kacang kecil dengan serpihan perak. “Apa yang bisa kulakukan dengan ini?” kata Sam.
“Lempar ke udara di saat angin berembus, dan biarkan dia bekerja!” kata Pippin. “Di mana?” kata Sam.
“Pilih saja satu tempat untuk kebun bibit, dan lihat apa yang terjadi dengan

tanaman itu di sana,” kata Merry.

“Tapi aku yakin sang Lady tak ingin aku memanfaatkannya untuk kebunku

sendiri, setelah begitu banyak orang menderita,” kata Sam.

“Pakailah semua akal dan pengetahuan yang kaumiliki, Sam,” kata Frodo, “lalu gunakan pemberian itu untuk mendukung pekerjaanmu dan membuatnya lebih baik. Dan gunakan dengan hemat. Tidak banyak isinya, dan kuduga setiap butir ada nilainya.”
Maka Sam menanam anak pohon di semua tempat yang pohon-pohon indahnya

sudah dihancurkan, dan ia meletakkan sebutir debu berharga itu di tanah, dekat akar masing-masing. la mondar-mandir di Shire untuk melakukan tugas itu; tak ada yang menyalahkan bahwa ia lebih memberi perhatian khusus pada Hobbiton dan Bywater. Setelah selesai, ia mendapati masih ada sedikit debu tersisa; maka ia pergi ke Batu Wilayah Tiga, yang berada paling dekat pusat Shire, dan melemparkannya ke udara bersama doa berkatnya. Biji perak kecil ditanamnya di Padang Pesta, di mana pernah berdiri pohon yang disayanginya; dan ia bertanya dalam hati, apa yang akan terjadi. Selama musim dingin ia bersabar sebisa mungkin, dan mencoba menahan diri untuk tidak terus-menerus berkeliling untuk melihat apakah ada yang terjadi.


Musim semi jauh melebihi harapannya yang paling tinggi sekalipun. pohon- pohon itu mulai bertunas dan tumbuh, seakan-akan waktu berpacu dan ingin membuat satu tahun sama dengan dua puluh tahun. Di Padang Pesta tumbuh sebatang pohon indah: kulit kayunya keperakan, daun-daunnya panjang, dan bunga-bunga emas mekar di bulan April. Memang itu pohon mallorn, dan menjadi suatu keajaiban di wilayah itu. Di tahun-tahun berikutnya, ketika pohon itu tumbuh semakin anggun dan indah, ia jadi terkenal sampai ke seluruh pelosok, dan orang-orang berdatangan dari jauh untuk menyaksikannya; satu- satunya mallorn di sebelah barat Pegunungan dan sebelah timur Samudra, dan salah satu yang terindah di dunia.
Secara keseluruhan, tahun 1420 merupakan tahun menakjubkan di Shire. Bukan hanya cahaya matahari indah dan hujan nikmat pada saat-saat yang tepat dan dalam ukuran yang tepat pula, tapi rasanya ada sesuatu yang lebih: suasana kelimpahan dan pertumbuhan, kilau keindahan yang melampaui musim panas dunia fana yang hanya sekejap dan berlalu cepat di Dunia Tengah ini. Semua anak yang dilahirkan atau dikandung dalam tahun itu dan jumlahnya banyak sekali cantik-cantik dan elok serta kuat, dan kebanyakan di antara mereka berambut emas lebat, yang sebelumnya sangat jarang dimiliki para hobbit. Buah- buahan berlimpah, sampai anak-anak hobbit nyaris bermandikan arbei dan krim; mereka duduk di halaman, di bawah pohon plum, dan makan sampai tersusun

tumpukan batu seperti piramida-piramida kecil atau tumpukan tengkorak seorang penakluk, lalu mereka pergi. Dan tak ada yang sakit, semuanya senang, kecuali mereka yang harus memangkas rumput.
Di Wilayah Selatan tanaman anggur berbuah lebat, dan hasil panen “daun” sangat mencengangkan; di mana-mana begitu banyak gandum, sehingga saat Panen setiap lumbung penuh. Tanaman barley di wilayah Utara begitu bagus, sampai bir yang dibuat dari malt tahun 1420 dikenang terus untuk waktu lama, dan bahkan menjadi pemeo. Bahkan satu generasi kemudian, kadang-kadang terdengar seorang pria tua berkata, setelah menenggak bir di mug-nya sambil mendesah puas, “Ah! Itu bir empat belas dua puluh yang asli, memang!”


Mula-mula Sam tinggal di rumah keluarga Cotton bersama Frodo; tapi ketika Deretan Baru selesai dibangun, ia pindah tinggal bersama si Tua. Di samping semua pekerjaannya yang lain, ia juga sibuk mengatur pembersihan dan perbaikan Bag End; tapi ia sering pergi ke seluruh penjuru Shire untuk pekerjaan penanaman pohon. Jadi, ia tidak berada di rumah pada awal Maret, sehingga tidak tahu bahwa Frodo pernah sakit. Tanggal tiga belas bulan itu Petani Cotton mendapati Frodo berbaring di tempat tidurnya; ia menggenggam perhiasan putih yang menggantung pada rantai di lehernya, dan tampak setengah bermimpi. “Sudah hilang selamanya,” kata Frodo, “sekarang semuanya gelap dan kosong.” Tapi serangan itu berlalu, dan ketika Sam kembali pada tanggal dua puluh lima, Frodo sudah pulih dan tidak menceritakan tentang sakitnya. Sementara itu Bag End sudah dibereskan, Merry dan Pippin datang dari Crickhollow dengan membawa kembali semua perabot dan perlengkapan lama, sehingga lubang lama itu kelihatan sangat mirip dengan keadaannya dulu.
Ketika semuanya silap, Frodo berkata, “Kapan kau akan pindah dan bergabung denganku, Sam?”
Sam kelihatan agak canggung.

“Kau tidak perlu masuk sekarang, kalau kau tidak mau,” kata Frodo. “Tapi kau tahu ayahmu tinggal di dekat sini, dan dia akan dirawat dengan baik oleh Janda Rumble.”

“Bukan begitu, Mr. Frodo,” kata Sam, wajahnya merah sekali. “Nah, ada apa?” “Rosie, Rose Cotton,” kata Sam. “Rupanya dia tidak senang sama sekali bahwa aku pergi ke luar negeri; tapi karena aku belum bicara, dia tak bisa mengungkapkannya. Dan aku tidak bicara, karena aku harus melakukan tugasku dulu. Tapi sekarang aku sudah bicara, dan dia bilang: 'Nah, kau sudah membuang sia-sia satu tahun, jadi mengapa menunggu lebih lama lagi?' 'Sia- sia?' kataku. 'Menurutku tidak begitu.' Tapi aku mengerti apa maksudnya. Aku merasa terbagi, bisa dikatakan begitu.”
“Aku mengerti,” kata Frodo, “kau ingin menikah, tapi juga ingin tinggal bersamaku di Bag End? Sam tersayang, itu bukan masalah! Menikahlah sesegera mungkin, lalu pindah ke sini bersama Rosie. Cukup banyak ruangan di Bag End untuk keluarga sebesar apa pun yang kauinginkan.”


Begitulah semuanya disepakati. Sam Gamgee menikahi Rose Cotton pada Musim Semi 1420 (yang juga terkenal dengan banyaknya pernikahan), lalu mereka datang dan menetap di Bag End. sementara Sam menganggap dirinya sangat beruntung, Frodo tahu bahwa dirinyalah yang lebih beruntung daripada siapa pun; sebab selain dia, tak ada hobbit di Shire yang dirawat dengan begitu penuh kasih sayang dan perhatian. Ketika rencana kerja keras untuk perbaikan sudah dibuat dan mulai dilaksanakan, Frodo mulai hidup tenang, banyak menulis, dan memeriksa semua catatannya. la mengundurkan diri dari tugas sebagai Wakil Wali Kota pada saat Pekan Raya Bebas di tengah musim panas, dan Will Whitfoot mengenyam tujuh tahun lagi memimpin Perjamuan-Perjamuan. Merry dan Pippin tinggal bersama di Crickhollow untuk beberapa saat, dan sering mondar-mandir antara Buckland dan Bag End. Kedua Pengembara muda itu membangkitkan kekaguman di Shire dengan lagu-lagu dan cerita-cerita, dandanan mereka yang penuh gaya, serta pesta-pesta mereka yang menyenangkan. Orang-orang menyebut mereka hobbit “bangsawan”, dalam arti bagus; sebab semuanya sangat senang melihat mereka melaju naik kuda dengan pakaian rompi logam mengilap dan perisai indah, sambil tertawa dan menyanyikan lagu-lagu dari negeri jauh; meski sekarang mereka bertubuh besar

dan menakjubkan, dalam hal lain mereka tidak berubah, kecuali mereka memang berbicara lebih sopan, bersikap lebih ramah dan gembira daripada sebelumnya.
Namun Frodo dan Sam kembali mengenakan pakaian biasa, dan hanya bila diperlukan mereka mengenakan jubah panjang kelabu dari tenunan halus yang dijepit di leher dengan sebuah bros indah; Frodo selalu memakai permata putih pada rantai yang dikalungkan di lehernya, dan sering ia pegang-pegang.
Semua berjalan baik sekarang, dan selalu penuh harapan bahwa akan semakin balk; Sam cukup sibuk dan gembira, layaknya hobbit. Tak ada yang merusak tahun itu bagi Sam, kecuali sedikit kecemasan tentang majikannya. Frodo dengan tenang mengundurkan diri dari semua kegiatan di Shire, dan Sam sedih menyaksikan betapa sedikit penghormatan yang diterima Frodo di negerinya sendiri. Hanya sedikit orang yang tahu atau mau tahu tentang jasa-jasa dan petualangannya; kekaguman dan penghormatan mereka kebanyakan diberikan pada Mr. Meriadoc dan Mr. Peregrin, dan (andai Sam tahu) pada dirinya sendiri. Dan pada musim gugur muncul bayangan masalah lama.
Suatu sore Sam masuk ke ruang kerja dan mendapati majikannya tampak aneh. Frodo pucat sekali, dan matanya seolah melihat hal-hal yang sangat jauh.
“Ada apa, Mr. Frodo?” kata Sam.

“Aku terluka,” jawab Frodo, “terluka; tidak akan pernah pulih sepenuhnya.”

Tapi kemudian Frodo bangkit berdiri, rupanya perubahan itu berlalu, dan keesokan harinya ia sudah seperti biasa kembali. Baru belakangan Sam menyadari bahwa saat itu tanggal 6 Oktober. Dua tahun lalu di hari itu, keadaan sangat gelap di Weathertop.


Waktu terus berlalu, dan tahun 1421 datang. Frodo sakit lagi di bulan Maret, tapi dengan upaya keras ia menyembunyikannya, karena Sam sibuk memikirkan hal- hal lain. Anak pertama Sam dan Rosie lahir tanggal dua puluh lima Maret, dan tanggal ini dicatat oleh Frodo.
“Nah, Mr. Frodo,” katanya. “Aku punya masalah. Rose dan aku sudah sepakat menamainya Frodo, atas izinmu; tapi ternyata bukan laki-laki, tapi perempuan.

Tapi dia sangat cantik, lebih mirip Rose daripada aku, syukurlah. Maka kami

tidak tahu harus berbuat apa.”

“Nah, Sam,” kata Frodo, “apa salahnya mengikuti adat kebiasaan lama? Pilihlah nama bunga seperti Rose. Kebanyakan anak gadis di Shire mempunyai nama semacam itu; apa lagi yang lebih bagus?”
“Kukira kau benar, Mr. Frodo,” kata Sam. “Aku sudah mendengar banyak nama bagus dalam pengembaraan kita, tapi kupikir nama-nama itu terlalu hebat untuk nama sehari-hari. Ayahku bilang, 'Buat nama yang pendek, supaya tidak perlu memenggalnya sebelum kau bisa menggunakannya.' Tapi kalau memakai nama bunga, aku tidak peduli kalau namanya panjang: harus nama bunga yang bagus, karena bayiku sangat cantik, dan akan tumbuh semakin cantik.”
Frodo berpikir sejenak, “Nah, Sam, bagaimana kalau elanor, bintang matahari? Kau ingat bunga kecil emas di tengah rumput Lothlorien?”
“Sekali lagi kau benar, Mr. Frodo!” kata Sam gembira. “Itu yang kuinginkan.”



Elanor kecil sudah hampir enam bulan usianya, dan tahun 1421 sudah masuk ke musim gugur ketika Frodo memanggil Sam ke ruang kerjanya.
“Hari Kamis ini ulang tahun Bilbo, Sam,” katanya. “Dan dia akan melebihi usia Took Tua. Dia akan berusia seratus tiga puluh satu!” “Ya, memang!” kata Sam. “Menakjubkan sekali dia!”
“Nah, Sam,” kata Frodo, “aku ingin kau bicara dengan Rose dan menanyakan apakah dia bisa meminjamkanmu sebentar, agar kau dan aku bisa pergi bersama-sama. Tentu saja kau sekarang tidak bisa pergi jauh atau untuk waktu lama,” kata Frodo sedih.
“Ya, memang tidak mudah, Mr. Frodo.”

“Tentu tidak. Tapi biarlah. Kau bisa menemani keberangkatanku. Katakan pada Rose bahwa kau tidak akan pergi lama, hanya dua minggu; dan kau akan kembali dengan selamat.”
“Sebenarnya aku ingin pergi bersamamu sampai ke Rivendell, Mr. Frodo, dan bertemu Mr. Bilbo,” kata Sam. “Tapi yang paling kuinginkan adalah berada di sini. Begitu terbaginya hatiku.”

“Sam yang malang! Sudah pasti kau merasa begitu,” kata Frodo. “Tapi kau akan sembuh. Kau memang ditakdirkan untuk kokoh dan utuh, dan kau pasti akan seperti itu.”


Dalam beberapa hari berikutnya, Frodo memeriksa semua catatan dan tulisannya bersama Sam, dan menyerahkan kunci-kuncinya. Ada sebuah buku besar dengan sampul kulit merah polos; halaman-halamannya yang panjang hampir semuanya sudah terisi. Pada awalnya banyak halaman yang berisi tulisan tangan Bilbo yang tipis dan tidak teratur; tapi kebanyakan isinya ditulis dengan tulisan Frodo yang tegas dan mengalir. Tulisannya terbagi atas bab-bab, tapi Bab 80 belum selesai, dan setelahnya masih ada beberapa halaman kosong. Halaman judul berisi banyak judul yang dicoret satu demi satu, seperti ini:


Buku Harianku. Pengembaraanku yang Tidak Terduga. Pergi dan Kembali. Dan

Apa yang Terjadi Sesudahnya.

Petualangan Lima Hobbit. Kisah Cincin Sakti, dikumpulkan oleh Bilbo dari pengamatannya sendiri dan cerita kawan-kawannya. Apa yang kami lakukan dalam Perang Cincin.


Di sini tulisan Bilbo berakhir dan Frodo menulis:



KEHANCURAN PENGUASA CINCIN DAN KEMBALINYA SANG RAJA (sebagaimana disaksikan Orang-Orang Kecil; buku kenang-kenangan Bilbo dan Frodo dari Shire; tambahan bahan dari cerita kawan-kawan mereka dan pengetahuan Kaum Bijak.)


Digabungkan dengan petikan dari Buku Adat Istiadat yang diterjemahkan Bilbo di

Rivendell.

“W ah, kau sudah hampir menyelesaikannya, Mr. Frodo!” seru Sam. “Nah, kau rajin sekali menulisnya tanpa henti.”

“Sudah kuselesaikan, Sam,” kata Frodo. “Halaman-halaman terakhir kaulah yang

mengisinya.”



Pada tanggal dua puluh satu September mereka berangkat bersama-sama, Frodo naik kuda poni yang sudah membawanya dan Minas Tirith, dan kini dinamakan Strider; Sam naik Bill, kuda kesayangannya. Pagi itu cerah keemasan, dan Sam tidak bertanya ke mana mereka akan pergi: ia merasa bisa menebaknya.
Mereka mengambil Jalan Stock melewati perbukitan, dan pergi menuju Woody End. Kuda-kuda dibiarkan berjalan santai. Mereka berkemah di Bukit Hijau, dan pada tanggal dua puluh dua September mereka menunggang kuda perlahan- lahan, masuk ke tempat awal pepohonan tumbuh, ketika siang sudah semakin larut.
“Bukankah itu pohon tempat kau bersembunyi di belakangnya ketika Penunggang Hitam muncul untuk pertama kali, Mr. Frodo?” kata Sam sambil menunjuk ke arah kin. “Sekarang rasanya seperti mimpi.”


Sudah senja, bintang-bintang berkilauan di langit timur ketika mereka melewati pohon ek yang hancur, membelok, lalu meneruskan perjalanan di bukit, di antara semak-semak hazel. Sam diam, terbenam dalam kenangan. Akhirnya ia menyadari bahwa Frodo sedang bernyanyi pelan-pelan untuk dirinya sendiri, menyanyikan lagu perjalanan lama, tapi kata-katanya tidak persis sama.


Mungkin di balik tikungan menunggu Sebuah gerbang rahasia atau jalan baru; Dan meski sering sudah aku melewatinya, Suatu hari kan datang saat aku akhirnya Lewat jalan nan menjulur tersembunyi
di Barat Bulan, di Timur Matahari.



Dan seolah-olah sebagai jawabannya, dari bawah, mendaki jalan keluar dari

lembah, terdengar suara-suara bernyanyi:



A! Elbereth Gilthoniel!

silivren penna miriel

o menel aglar elenath, Gilthoniel, A! Elbereth!
Kami masih ingat, kami yang tinggal

Di negeri nan jauh di bawah pohon-pohon

Cahaya bintang di Samudra Barat.



Frodo dan Sam berhenti dan duduk diam dalam bayang-bayang lembut, sampai mereka melihat kilauan saat para pemilik suara itu menghampiri mereka.
Ada Gildor dan banyak orang dari bangsa Peri yang elok; dengan heran Frodo melihat Elrond dan Galadriel. Elrond memakai jubah kelabu dan sebuah bintang di dahinya, harpa perak di tangannya, di jarinya ada cincin emas dengan batu permata besar berwarna biru, Vilya, yang paling sakti di antara Tiga Cincin. Galadriel duduk di atas seekor kuda putih, berpakaian serba putih berkilauan, bagai awan-awan di sekitar Bulan; sosoknya seolah bersinar dengan cahaya lembut. Di jarinya ada Nenya, cincin yang terbuat dari mithril, dengan satu batu permata putih yang bersinar bagai bintang yang dingin. Menunggang kuda kecil kelabu yang berjalan perlahan di belakang mereka adalah Bilbo, yang tampak terangguk-angguk dalam tidurnya.
Elrond menyalami mereka dengan khidmat dan sopan, dan Galadriel tersenyum. “Nah, Master Samwise,” katanya. “Kudengar dan kulihat bahwa kau memanfaatkan pemberianku dengan baik. Shire akan semakin diberkati dan disayang.” Sam membungkuk, tapi tak bisa mengatakan apa pun. la sudah lupa betapa cantiknya Lady itu.
Lalu Bilbo bangun dan membuka matanya. “Halo, Frodo!” katanya. “Nah, hari ini aku sudah mengalahkan Took tua! Jadi, beres sudah. Sekarang aku sudah siap menempuh perjalanan lain. Apa kau akan ikut?”
“Ya, aku akan ikut,” kata Frodo. “Para Pembawa Cincin harus pergi bersama-

sama.”

“Ke mana kau akan pergi, Master?” seru Sam, meski akhirnya ia mengerti apa

yang sedang terjadi.

“Ke Havens, Sam,” kata Frodo.

“Dan aku tidak bisa ikut.”

“Tidak, Sam. Belum. Kau hanya pergi sejauh Havens. Meski kau Juga salah satu Pembawa Cincin, meski hanya untuk sedikit waktu lagi. Saatmu akan tiba. Jangan terlalu sedih, Sam. Hatimu tak boleh selalu terbelah dua. Kau harus utuh, untuk waktu lama. Kau masih punya banyak untuk dinikmati, kau masih harus berbuat banyak.”
“Tapi …,” kata Sam, dan air mata mulai menggenangi matanya “kupikir kau juga akan menikmati Shire selama bertahun-tahun, setelah semua yang sudah kaulakukan.”
“Aku pun pernah mengira begitu. Tapi aku sudah terluka begitu dalam, Sam. Aku mencoba menyelamatkan Shire, dan Shire sudah diselamatkan, tapi bukan untukku. Sering kali begitulah yang terjadi, Sam, bila sesuatu berada dalam bahaya: harus ada yang rela melepaskannya, agar orang lain bisa memeliharanya. Tapi kau pewarisku: semua yang kumiliki dan akan kumiliki kuwariskan padamu. Kau juga punya Rose, dan Elanor; Frodo kecil akan datang, juga gadis Rosie, dan Merry, Goldilocks, dan Pippin; dan mungkin lebih banyak lagi yang tidak bisa kulihat. Tangan dan akalmu akan dibutuhkan di mana-mana. Kau akan menjadi Wali Kota, tentu saja, selama kau kehendaki, dan tukang kebun paling termasyhur dalam sejarah; kau akan membacakan kisah-kisah dari Buku Merah, dan menghidupkan kenangan tentang zaman yang sudah berlalu, agar orang-orang ingat Bahaya Besar, dan dengan begitu akan semakin mencintai negeri mereka. Itu akan membuatmu sibuk dan bahagia, sebahagia mungkin, selama peranmu dalam Cerita ini berlanjut.”
“Mari, sekarang jalanlah bersamaku!”



Lalu Elrond dan Galadriel meneruskan berjalan; karena Zaman Ketiga sudah berlalu, dan Masa Tiga Cincin sudah berakhir; akhir kisah dan lagu masa itu

sudah datang. Bersama mereka pergi banyak Peri Bangsawan yang sudah tidak mau tinggal di Dunia Tengah; dan di antara mereka, dengan kesedihan penuh berkat dan tanpa kegetiran, berjalan Sam dan Frodo, serta Bilbo, dan para Peri dengan senang hati menghormati mereka.
Meski mereka berjalan di tengah-tengah Shire sepanjang senja dan malam, tak ada yang melihat mereka lewat, kecuali makhluk-makhluk liar; atau di sana-sini seorang pengembara dalam gelap bisa melibat kilauan yang bergerak cepat di bawah pepohonan, atau seberkas cahaya dan bayang-bayang yang mengalir melalui rumput, sementara Bulan bergerak ke barat. Setelah melewati Shire, melangkah mengitari pinggiran selatan White Downs, akhirnya mereka sampai ke Far Downs, dan ke Menara-Menara, memandang Samudra di kejauhan; begitulah akhirnya mereka pergi ke Mithlond, ke Grey Havens di muara panjang Lune.
Ketika mereka tiba di gerbang, Cirdan si Pembuat Kapal datang menyambut mereka. la sangat jangkung, janggutnya panjang; ia sudah tua dan kelabu, kecuali matanya yang tajam cemerlang bagai bintang; ia memandang mereka dan membungkuk, lalu berkata, “Semua sudah siap.”
Lalu Cirdan membawa mereka ke Havens, dan di sana sebuah kapal putih bersandar; di atas dermaga, di samping seekor kuda kelabu, berdiri sosok berjubah putih menunggu mereka. Ketika ia membalik dan menghampiri mereka, Frodo melihat bahwa Gandalf kini terang-terangan memakai Cincin Ketiga di jarinya, Narya Agung, batu permatanya merah seperti api. Maka mereka yang akan berangkat bersuka cita, karena tahu bahwa Gandalf juga pergi bersama mereka naik kapal.
Tapi Sam bersedih hati; ia merasa perpisahan ini akan pahit, dan perjalanan pulang sendirian akan lebih menyedihkan lagi. Tapi ketika mereka berdiri di sana, sementara para Peri naik ke kapal, dan semuanya dipersiapkan untuk keberangkatan, datanglah Merry dan Pippin menunggang kuda dengan cepat. Dan di antara air matanya, Pippin tertawa.
“Kau pernah mencoba menyelinap pergi, dan gagal, Frodo,” katanya. “Kali ini

kau hampir berhasil. Tapi kali ini bukan Sam yang membuka rahasiamu,

melainkan Gandalf sendiri!”

“Ya,” kata Gandalf, “sebab akan lebih baik pulang bertiga daripada satu sendirian. Nah, di sinilah akhirnya, kawan-kawan tercinta, di pantai Samudra datanglah akhir persekutuan kita di Dunia Tengah. Pergilah dengan damai. Tidak akan kukatakan: jangan menangis; sebab tidak semua air mata itu jelek.”
Frodo mencium Merry dan Pippin, dan terakhir Sam, lalu naik ke atas kapal; layar-layar dikembangkan, angin berembus, dan perlahan-lahan kapal itu meluncur pergi mengarungi muara panjang kelabu; cahaya dari tabung kaca Galadriel yang dipakai Frodo bersinar-sinar, kemudian hilang. Lalu kapal itu masuk ke Samudra Besar dan melaju ke Barat, sampai pada suatu malam ketika hujan turun, Frodo mencium keharuman manis di udara dan mendengar suara nyanyian yang datang dari seberang air. Lalu ia merasa seperti dalam mimpinya ketika berada di rumah Bombadil, bahwa tirai hujan kelabu berubah menjadi kaca perak yang menyibak. la menyaksikan pantai-pantai putih, dengan daratan hijau terbentang di seberangnya, di bawah matahari yang terbit dengan cepat. Tapi bagi Sam malam semakin kelam ketika ia berdiri di Haven; sementara menatap lautan kelabu, ia hanya melihat sebuah bayangan atas air yang segera lenyap di Barat. Sampai larut malam ia masih berdiri di sana, hanya mendengar desah dan gumam ombak mengempas di pantai Dunia Tengah, dan bunyi itu tertanam dalam di lubuk iatinya. Di sampingnya berdiri Merry dan Pippin, membisu.


Akhirnya tiga sekawan itu membalik, dan tanpa menoleh lagi mereka berjalan pulang; mereka tidak berbicara satu sama lain sampai tiba di Shire, tapi masing- masing merasa terhibur oleh kehadiran kawan-kawannya sepanjang jalan kelabu itu.
Akhirnya mereka melaju melewati padang-padang dan mengambil Jalan Timur, lalu Merry dan Pippin pergi ke Buckland; mereka sudah bernyanyi lagi sementara berjalan. Tapi Sam membelok ke Bywater, lalu sampai ke Bukit, saat hari sudah berakhir. la berjalan terus, lalu ada cahaya kuning, dan api di dalam; hidangan makan malam sudah siap, dan ia sudah ditunggu. Rose menyambutnya masuk,

mendudukkannya di kursinya, dan meletakkan Elanor kecil di pangkuannya.

Sam menarik napas dalam. “Nah, aku sudah pulang,” katanya.

APENDIKS A

SEJARAH PARA RAJA DAN PENGUASA



Mengenai sumber-sumber untuk sebagian besar isi yang termuat dalam Apendiks-Apendiks berikut, terutama A sampai D, periksalah catatan di akhir Prolog. Bagian A III, Rakyat Durin, mungkin diperoleh dari Gimli si Kurcaci, yang memelihara terus persahabatannya dengan Peregrin dan , Meriadoc, dan sering bertemu kembali dengan mereka di Gondor dan Rohan.
Legenda-legenda, sejarah, dan adat istiadat yang diperoleh dari sumber-sumber itu, sangat luas. Di sini hanya disajikan bagian-bagian terpilih yang banyak dipersingkat. Tujuan utamanya adalah memberi gambaran tentang Perang Cincin dan asal-usulnya, dan untuk mengisi beberapa kekosongan dalam cerita utama. Legenda-legenda kuno Zaman Pertama, yang merupakan perhatian utama Bilbo, disinggung secara singkat sekali, karena menyangkut asal-usul leluhur Elrond dan raja-raja serta kepala-kepala suku Numenor. Kutipan-kutipan asli dari catatan sejarah serta kisah-kisah yang lebih panjang, dicantumkan di antara tanda petik. Sisipan-sisipan yang dimasukkan belakangan, ditulis dalam tanda kurung. Catatan-catatan di antara tanda petik bisa ditemukan dalam sumber-sumber yang disebutkan. Yang lainnya adalah ulasan.
Tanggal yang dicantumkan adalah dari Zaman Ketiga, kecuali bila diberi tanda Z. KD. (Zaman Kedua) atau Z. KE. (Zaman Keempat). Sebenarnya Zaman Ketiga dianggap berakhir ketika Tiga Cincin pergi dari Dunia Tengah pada bulan September 3021, tapi demi pencatatan riwayat, di Gondor Z. KE I dimulai pada
25 Maret, 3021, Di dalam daftar-daftar, tanggal yang mengikuti nama raja dan penguasa adalah tanggal kematian mereka, kalau hanya ada satu tanggal. Tanda t menunjukkan kematian dini dalam peperangan atau karena sebab lain, meski tidak selalu ada catatan tentang peristiwa tersebut.


I PARA RAJA NUMENOR (i) NUMENOR



Feanor adatan tokoh Eldar yang paling menguasai seni dan adat istiadat, tapi juga paling angkuh dan berkehendak keras. Dialah yang menempa Tiga Permata, yang disebut Silmarilli, dan mengisinya dengan cahaya dari Dua Pohon, Telperion dan Laurelin, yang menebarkan cahayanya pada negeri kaum Valar. Permata-permata itu sangat didambakan Morgoth sang Musuh, yang mencurinya dan, setelah menghancurkan kedua Pohon, membawanya ke Dunia Tengah, dan menyimpannya di bawah penjagaan ketat di bentengnya yang besar di Thangorodrim. Melawan kehendak kaum Valar, Feanor meninggalkan Alam Berkah dan pergi mengasingkan diri ke Dunia Tengah, sambil membawa sebagian besar bangsanya; sebab dengan penuh kesombongan ia bermaksud merebut kembali Permata dari Morgoth dengan kekerasan. Setelah itu berlangsunglah perang dahsyat antara kaum Eldar dan Edain melawan Thangorodrim, di mana mereka akhirnya kalah total. Kaum Edam (Atani) merupakan tiga bangsa Manusia, yang pertama kali datang ke Dunia Tengah bagian Barat dan pantai-pantai Samudra Besar, dan mereka menjadi sekutu bangsa Eldar dalam melawan Musuh.
Ada tiga perkawinan antara kaum Eldar dan kaum Edam: Luthien dan Beren; Idril dan Tuor; Arwen dan Aragorn. Dalam perkawinan yang disebut terakhir, cabang- cabang keluarga bangsa Half-elven (setengah-Peri) yang sudah lama terpisah- pisah, bersatu lagi dan garis keturunan mereka tersambung kembali.
Luthien Tinuviel adalah putri Raja Thingol Jubah Kelabu dari Doriath di Zaman Pertama, ibunya adalah Melian dari bangsa Valar. Beren adalah putra Barahir dari Rumah Pertama bangsa Edam. Bersama-sama mereka merebut satu silmaril dari Mahkota Besi Morgoth. Luthien menjadi makhluk fana dan meninggalkan bangsa Peri. Dior adalah putranya. Dior mempunyai putri bernama Elwing, dan dialah yang menyimpan silmaril.
Idril Celebrindal adalah putri Turgon, raja kota tersembunyi, Gondolin. Tuor adalah putra Huor dari Rumah Hador, Rumah Ketiga kaum Edain, yang paling termasyhur dalam peperangan melawan Morgoth. Putra mereka adalah Earendil si Pelaut.

Earendil menikah dengan Elwing, dan dengan menggunakan kekuatan silmaril ia melewati Bayang-Bayang dan sampai ke Ujung Barat: Dengan bertindak sebagai duta bagi kaum Peri maupun Manusia, ia memperoleh dukungan bantuan untuk menjatuhkan Morgoth. Earendil tidak diperkenankan kembali ke negeri makhluk fana, dan kapalnya yang membawa silmaril dibiarkan melayari langit sebagai bintang, juga sebagai tanda pengharapan bagi para penghuni Dunia Tengah yang ditindas Musuh Besar atau kaki tangannya. Hanya silmarilli yang menyimpan cahaya dari Pohon-Pohon Valinor, sebelum Morgoth meracuni mereka; tapi dua yang lainnya hilang pada akhir Zaman Pertama. Kisah selengkapnya tentang ini, dan banyak hal lain menyangkut para Peri dan Manusia, diceritakan dalam The Silmarillion.


Putra-putra Earendil adalah Elros dan Elrond, yang termasuk kaum Peredhil atau Half-elven. Dalam diri merekalah garis keturunan para pimpinan bangsa Edain yang gagah berani di Zaman Pertama terpelihara; dan setelah kejatuhan Gil- galad, garis keturunan Raja-Raja Peri Bangsawan di Dunia Tengah juga hanya diwakili oleh keturunan mereka.
Pada akhir Zaman Pertama, kaum Valar memberikan pada kaum Halfelven suatu pilihan yang tidak dapat dibatalkan, yaitu untuk menentukan dalam bangsa mana mereka akan termasuk. Elrond memilih bangsa Peri, dan menjadi ahli pengetahuan serta kebijaksanaan. Kepadanya diberikan karunia yang sama seperti kaum Peri Bangsawan yang masih berdiam di Dunia Tengah: bila sudah jemu dengan dunia fana, mereka bisa naik kapal dari Grey Havens dan masuk ke Ujung Barat; karunia ini masih berlanjut terus setelah perubahan dunia. Begitu juga pada anak-anak Elrond diberikan pilihan: pergi bersamanya dari lingkungan dunia; atau kalau memilih tetap tinggal, mereka akan menjadi makhluk fana dan mati di Dunia Tengah. Karena itu, bagi Elrond, semua kemungkinan yang bisa terjadi dalam Perang Cincin penuh dengan duka.
Elros memilih menjadi manusia dan tetap tinggal bersama kaum Edam; tapi ia diberkati dengan masa hidup berlipat kali masa hidup manusia biasa.

Sebagai imbalan atas penderitaan mereka dalam perlawanan terhadap Morgoth, maka kaum Valar, Para Pelindung Dunia, menghadiahkan kepada bangsa Edam sebuah negeri sebagai tempat bermukim, jauh dari bahaya-bahaya Dunia Tengah. Maka sebagian besar dari mereka berlayar mengarungi Lautan, dan dengan dituntun Bintang Earendil, sampai ke Pulau Elenna yang besar, di wilayah paling barat dari semua negeri Fana. Di sana mereka mendirikan wilayah Numenor.
Di tengah negeri itu berdiri sebuah gunung tinggi, Meneltarma; dari puncaknya, mereka yang tajam penglihatannya bisa melihat menara putih Haven milik kaum Eldar di Eressea. Dari sanalah kaum Eldar mengunjungi kaum Edam dan memperkaya mereka dengan pengetahuan dan banyak yaitu “Kutukan Valar”: mereka dilarang berlayar ke barat sampai keluar dari jarak pandang pantai mereka sendiri, atau mencoba menapakkan kaki di Negeri Tanpa Kematian. Sebab meski dikaruniai masa hidup yang panjang, pada awalnya sebanyak tiga kali lipat masa hidup Manusia biasa, mereka tetap merupakan makhluk fana, karena kaum Valar tidak diizinkan mengambil kembali Karunia Manusia (atau di kemudian hari disebut Takdir Manusia) dari mereka.
Elros menjadi raja pertama Numenor, dan di kemudian hari dikenal dengan nama Bangsawan Peri, yaitu Tar-Minyatur. Keturunannya berumur panjang, tapi tetap makhluk fana. Kelak, ketika kekuasaan mereka sudah sangat besar, mereka menyesali pilihan nenek moyang mereka, karena mereka mendambakan kehidupan abadi dalam dunia seperti kaum Eldar, dan mereka menyebarkan bisikan menentang Larangan itu. Maka mulailah pemberontakan mereka yang, setelah dipengaruhi ajaran jahat dari Sauron, menyebabkan Kejatuhan Numenor dan kehancuran dunia lama, seperti dikisahkan dalam Akallabeth.


Inilah nama-nama para Raja dan Ratu Numenor: Elros Tar-Minyatur, Vardamir, Tar-Amandil, Tar-Elendil, Tar-Meneldur, Tar-Aldarion, Tar-Ancalime (Ratu Penguasa pertama), Tar-Anarion, Tar-Surion, Tar-Telperien (Ratu kedua), Tar- Minastir, Tar-Ciryatan, Tar-Atanamir Agung, Tar-Ancalimon, TarTelemmaite,, Tar-Vanimelde (Ratu ketiga), Tar-Alcarin, Tar-Calmacil.

Setelah Calmacil, para Raja memerintah dengan memakai nama dalam bahasa Numenor (atau Adunaic): Ar-Adunakhor, Ar-Zimrathon, Ar-Sakalthor, Ar-Gimilzor, Ar-Inziladun. Inziladun menyesali tingkah laku para Raja dan mengubah namanya menjadi Tar-Palantir si “Peramal”. Seharusnya putrinya menjadi Ratu keempat, Tar-Miriel, tapi keponakan Raja merampas kekuasaan dan menjadi Ar- Pharazon Emas, Raja terakhir bangsa Numenor.
Pada masa pemerintahan Tar-Elendil, kapal-kapal pertama bangsa Numenor kembali ke Dunia Tengah. Anak sulungnya, seorang putri, Silmarien. Putra Silmarien adalah Valandil, penguasa pertama Andunie di wilayah barat negeri, yang dikenal karena persahabatannya dengan kaum Eldar. Salah satu keturunannya adalah Amandil, penguasa terakhir, dan putranya Elendil si Jangkung.


Raja keenam hanya meninggalkan satu anak, seorang putri. la menjadi Ratu pertama; karena saat itu sudah menjadi hukum istana bahwa anak sulung Raja, baik laki-laki maupun wanita, akan mewarisi takhta.


Kerajaan Numenor bertahan sampai ke akhir Zaman Kedua, dan semakin bertambab kekuatan dan kegemilangannya; sampai separuh zaman berlalu, bangsa Numenor juga semakin bijak dan bahagia. Tanda pertama bayang- bayang kelam yang akan jatuh menimpa mereka, muncul di masa pemerintahan Tar-Minastir, Raja kesebelas. Dialah yang mengirim pasukan berkekuatan besar untuk membantu Gil-galad. ia mencintai bangsa Eldar, tapi juga iri pada mereka. Kini kaum Numenor sudah menjadi pelaut-pelaut ulung, menjelajahi semua samudra di sebelah timur, dan mereka mulai mendambakan wilayah Barat serta perairan terlarang; semakin hidup mereka bahagia, semakin mereka mendambakan keabadian hidup kaum Eldar.
Terlebih lagi, setelah Minastir, para Raja menjadi serakah harta dan kekuasaan. Pada mulanya bangsa Numenor datang ke Dunia Tengah sebagai sahabat dan guru bagi Manusia biasa yang menderita karena Sauron; tapi kini pelabuhan- pelabuhan mereka mulai menjadi benteng-benteng yang mempertahankan

wilayah-wilayah pantai sebagai jajahan. Atanamir dan raja-raja berikutnya memungut upeti-upeti besar, dan kapal-kapal bangsa Numenor kembali sambil membawa barang rampasan.
Syahdan, Tar-Atanamir yang pertama-tama secara terbuka menentang Larangan dan menyatakan bahwa kehidupan abadi kaum Eldar merupakan haknya. Dengan demikian bayang-bayang itu semakin gelap, dan pikiran tentang kematian mencekam hati orang-orang. Maka kaum Numenor jadi terpecah: di satu pihak ada Raja-Raja dan para pengikut mereka, terpisah dari bangsa Eldar dan Valar; di pihak lainnya, yang jumlahnya hanya sedikit, ada yang menyebut diri mereka sendiri Kaum Setia. Mereka kebanyakan berdiam di bagian barat negeri.
Sedikit demi sedikit para Raja meninggalkan penggunaan bahasa Eldar; pada akhirnya raja kedua puluh memakai nama bangsawan dalam bahasa Numenor, menyebut dirinya sendiri Ar-Adunakhor, “Penguasa Barat”. Bagi Kaum Setia itu merupakan pertanda buruk, sebab hingga saat itu mereka memakai gelar tersebut hanya untuk tokoh bangsa Valar, atau untuk Raja Eldar sendiri. Dan memang ternyata Ar-Adunakhor mulai menyiksa Kaum Setia dan menghukum mereka yang menggunakan bahasa Peri secara terbuka; lalu kaum Eldar tak pernah lagi datang ke Numenor.
Namun demikian, kekuasaan dan kekayaan bangsa Numenor semakin bertambah; tapi usia mereka semakin pendek, seiring ketakutan mereka yang semakin besar akan kematian, dan kebahagiaan mereka pun lenyap. Tar- Palantir berupaya memperbaiki hal itu, namun sudah terlambat, lalu terjadilah pemberontakan dan perselisihan di Numenor. Saat ia meninggal, keponakannya, pemimpin kaum pemberontak, merebut kekuasaan dan menjadi Raja Ar- Pharazon. Ar-Pharazon Emas menjadi raja paling angkuh dan berkuasa di antara semua Raja, dan ia bercita-cita menjadi raja seluruh dunia.
la memutuskan menantang Sauron Agung untuk memperebutkan kekuasaan tertinggi di Dunia Tengah, dan akhirnya ia sendiri berlayar bersama sebuah armada besar, dan berlabuh di Umbar. Begitu besar kehebatan dan kegemilangan kaum Numenor, sehingga anak buah Sauron sendiri

meninggalkannya; dan Sauron pun merendahkan dirinya sendiri, memberi penghormatan kepada Ar-Pharazon, dan memohon pengampunan. Kemudian karena kesombongannya, Ar-Pharazon melakukan suatu hal bodoh: ia membawa pulang Sauron ke Numenor sebagai tawanan. Tak lama kemudian Sauron sudah memikat Raja dan menjadi pemimpin dewan penasihatnya; segera pula ia membuat hati semua orang Nilmenor gelap kembali, kecuali sisa- sisa Kaum Setia.
Lalu Sauron berbohong kepada Raja, menyatakan bahwa kehidupan abadi bisa diperoleh orang yang menguasai Negeri Tanpa Kematian, dan bahwa Larangan itu diberlakukan hanya untuk mencegah agar Raja Manusia tidak melebihi kaum Valar. “Raja-raja besar akan mengambil apa yang menjadi hak mereka,” kata Sauron.
Akhirnya Ar-Pharazon mendengarkan nasihat Sauron, karena ia merasa hidupnya mulai memudar, dan ia hampir gila oleh ketakutan akan Kematian. Kemudian ia mempersiapkan perlengkapan perang terbesar yang pernah disaksikan dunia, dan setelah semuanya siap ia membunyikan terompet- terompetnya dan mulai berlayar; ia melanggar Larangan kaum Valar, maju perang untuk merebut kehidupan abadi dari para Penguasa Barat. Tapi ketika Ar-Pharazon mendarat di pantai Aman yang Diberkati, kaum Valar melepaskan Perwalian dan memanggil Yang Satu, lalu dunia pun berubah. Numenor dihancurkan dan terbenam di Samudra, dan Negeri Tanpa Kematiari dipisahkan selamanya dari lingkungan dunia. Dengan demikian berakhirlah masa jaya Nilmenor.
Para pemimpin terakhir dari kaum Setia, Elendil dan putra-putranya, berhasil lolos dari Kejatuhan dengan membawa sembilan kapal, membawa benih Nimloth, dan Tujuh Batu Penglihatan (pemberian bangsa Eldar pada Rumah mereka); mereka terbawa angin badai besar dan terlempar ke pantai Dunia Tengah. Di sana, di daerah Barat Laut, mereka mendirikan wilayah Numenor dalam pengasingan, Arnor dan Gondor. Elendil menjadi Raja Agung dan berdiam di Utara, di Annuminas; pemerintahan di wilayah selatan diserahkan kepada putra-putranya, Isildur dan Anarion. Di sana mereka mendirikan Osgiliath, di

antara Minas Ithil dan Minas Anor, tidak jauh dari perbatasan Mordor. Mereka percaya bahwa setidaknya ada satu kebaikan yang timbul dari kehancuran ini, yaitu bahwa Sauron juga sudah musnah.
Tapi ternyata tidak demikian halnya. Memang Sauron terjebak dalam reruntuhan Numenor, sehingga wujud tubuh yang sudah lama digunakannya musnah pula; tapi ia lari kembali ke Dunia Tengah, sebagai roh kebencian yang terbawa angin gelap. la tak mampu lagi memakai wujud yang terlihat elok bagi manusia, tapi ia menjadi hitam dan mengerikan, dan kekuatannya hanya terpancar melalui teror. la masuk kembali ke Mordor dan bersembunyi di sana untuk beberapa lama. Tapi ia sangat marah ketika tahu bahwa Elendil, yang paling dibencinya, sudah lolos darinya, dan kini memerintah suatu neeeri dekat perbatasan negerinya.
Oleh karena itu, setelah beberapa saat ia mengobarkan perang dengan kaum Terasing itu, sebelum mereka sempat berurat-berakar. Sekali lagi Orodruin meletus dan di Gondor diberi nama baru, Amon Amarth, Gunung Maut. Namun Sauron menggelar perang terlalu cepat, sebelum ia sendiri sempat menghimpun seluruh kekuatannya, sedangkan kekuatan Gil-galad sudah tumbuh sementara Sauron tidak hadir; dan dalam Persekutuan Terakhir yang menentangnya, Sauron digulingkan dan Cincin Utama direbut darinya. Demikianlah berakhir Zaman Kedua.


(ii)

NEGERI-NEGERI DALAM PENGASINGAN Garis keturunan Utara Pewaris pewaris Isildur


Arnor Elendil Z.KD. 3441, Isildur 2, Valandil 249, Eldacar 339, Arantar 435, Tarcil

515, Tarondor 602, Valandur 652, Elendur 777, Earendur 861.

Arthedain. Amlaith dari Fornost (putra tertua Earendur) 946, Beleg 1029, Mallor

1110, Celepharn 1191, Celebrindor 1272, Malvegil 1349, Argeleb 1356, Arveleg I

1409, Araphor 1589, Argeleb II 1670, Arvegil 1743, Arveleg II 1813, Araval 1891, Araphant 1964, Arvedui Raja-Terakhir 1975. Akhir Kerajaan Utara.
Kepala kepala suku. Aranarth (putra sulung Arvedui) 2106, Arahael 2177,

Aranuir 2247, Aravir 2319, Aragorn I t2327. Araglas 2455, Arahad I 2523, Aragost 2588, Aravorn 2654, Arahad II 2719, Arassuil 2784, Arathorn I 2848, Argonui 2912, Arador 2930, Arathorn II 2933, Aragorn II Z.KE-120.


Garis Keturunan Selatan Pewaris pewaris Andrion



Raja-raja Gondor. Elendil (Isildur dan) Andrion Z.KD. 3440, Meneldil putra Andrion 158, Cemendur 238, Earendil 324, Anardil 411, Ostoher 492, Romendacil I (Tarostar) 541, Turambar 667, Atanatar I 748, Siriondil 830. Berikutnya adalah keempat “Raja Kapal”:
Tarannon Falastur 913. ia raja pertama yang tidak mempunyai keturunan, dan ia digantikan oleh putra saudaranya, Tarciyan. Earnil I 936, Ciryandil 1015, Hyarmendacil I (Ciryaher) 1149. Saat itulah Gondor mencapai puncak kejayaannya.
Atanatar Il Alcarin “Agung” 1226, Narmacil I 1294. ia raja kedua tanpa keturunan dan digantikan adiknya. Calmacil 1304, Minalcar (wali 1240-1304), dinobatkan sebagai Romendacil II 1304, wafat 1366, Valacar. Di masa pemerintahannya, malapetaka pertama Gondor dimulai, Perselisihan antar-Saudara.
Eldacar putra Valacar (mula-mula disebut Vinitharyo.) diturunkan dari takhta

1437. Castamir si Perampas 1447. Eldacar kembali naik takhta, wafat 1490, Aldamir (putra kedua Eldacar) 1540. Hyarmendacil II (Vinyarion) 1621, Minardil
1634, Telemnar 1636. Telemnar dan semua anaknya tewas dalam wabah penyakit; ia digantikan keponakannya, putra Minastan, putra kedua Minardil. Tarondor 1798, Telumehtar Umbardacil 1850, Narmacil II 1856, Calimehtar
1936, Ondoher 1944. Ondoher dan dua putranya tewas dalam pertempuran. Setelah satu tahun mahkota raja diberikan kepada jenderal yang jaya, Earnil, seorang keturunan Telumehtar Umbardacil, Earnil II 2043, Earnur 2050. Di sini garis keturunan Raja-raja berakhir, sampai disambung kembali oleh Elessar Telcontar di tahun 3019. Negeri saat itu dipimpin oleh para Pejabat.
Para Pejabat Gondor. Rumah Hurin: Pelendur 1998. ia memerintah selama satu tahun setelah kejatuhan Ondoher, dan menyarankan pada Gondor agar menolak

tuntutan Arvedui menjadi raja. Vorondil sang Pemburu 2029. Mardil Uoronwe si “Tabah”, adalah yang pertama di antara para Pejabat. Pengganti-penggantinya tidak memakai nama-nama dalam bahasa Peri Tinggi lagi.
Pejabat. Mardil 2080, Eradan 2116, Herion 2148, Belegom 2204, Hurin I 2244, Turin I2278, Hador 2395, Barahir 2412, Dior 2435, Denethor I 2477, Boromir
2489, Cirion 2567. Di masa ini kaum Rohirrim datang ke Calenardhon.

Hallas 2605, Hurin 112628, Belecthor 12655, Orodreth 2685, Ecthelion I 2698, Egalmoth 2743, Beren 2763, Beregond 2811, Belecthor II 2872, Thorondir 2882, Turin 112914, Turgon 2953, Ecthelion 112984, Denethor II. Dialah yang terakhir dari para Pejabat, dan digantikan putranya yang kedua, Faramir, Penguasa Emyn Amen, Pejabat di bawah Raja Elessar, Z.KE- 82.


(iii)

ERIADOR, ARNOR, DAN PARA PEWARIS ISILDUR



“Eriador di zaman dahulu adalah nama untuk semua negeri di antara pegunungan Berkabut dan Pegunungan Biru; di Selatan ia dibatasi Greyflood dan Glanduin yang mengalir masuk ke dalamnya di atas Tharbad.”
“Pada puncak kejayaannya, Arnor meliputi seluruh Eriador, kecuali wilayah- wilayah di seberang Lune, dan daratan di sisi timur Greyflood serta Loudwater, di mana terdapat Rivendell dan Hollin. Di seberang Lune adalah negeri Peri, hijau dan tenang, tak pernah dikunjungi Manusia; namun para Kurcaci bermukim dan hingga sekarang masih tinggal di sisi timur Pegunungan Biru, terutama di wilayah-wilayah sebelah selatan Teluk Lune, di mana mereka mempunyai pertambangan yang masih digunakan. Oleh karena itu mereka terbiasa berjalan melewati Jalan Besar ke arah timur, seperti sudah bertahun-tahun mereka lakukan sebelum kami datang ke Shire. Cirdan si Pembuat Kapal tinggal di Grey Havens, bahkan ada yang mengatakan ia masih berdiam di sana, sampai Kapal Terakhir berlayar ke Barat. Di masa pemerintahan Raja-Raja, kebanyakan Peri Bangsawan yang masih bermukim di Dunia Tengah, tinggal bersama Cirdan atau di negeri-negeri pinggir laut di Lindon. Bila masih ada yang tinggal di sana

sekarang, hanya sedikit yang tersisa.”



Kerajaan Utara dan kaum Dunedain



Setelah Elendil dan Isildur, ada delapan Raja Agung di Amor. Setelah Earendur, karena ada pertikaian antara putra-putranya, wilayah mereka dibagi tiga: Arthedain, Rhudaur, dan Cardolan. Arthedain berada di Barat Laut dan meliputi daratan antara Brandywine dan Lune, juga daratan di utara Jalan Besar sejauh Perbukitan Weather. Rhudaur berada di Timur Laut, dan terletak antara Ettenmoors, Perbukitan Weather, dan Pegunungan Berkabut, tapi juga meliputi Sudut antara Hoarwell dan Loudwater. Cardolan terletak di Selatan, batas- batasnya adalah Brandywine, Greyflood, dan Jalan Besar.
Di Arthedain, garis keturunan Isildur masih dipertahankan dan dipelihara, namun di Cardolan dan Rhudaur, garis itu segera lenyap. Sering sekali terjadi pertikaian antara kerajaan-kerajaan itu, yang semakin mempercepat kemunduran kaum Dunedain. Masalah utama yang menjadi pokok perselisihan adalah kepemilikan Perbukitan Weather dan daratan sebelah barat Bree. Baik Rhudaur maupun Cardolan ingin sekali memiliki Amon Sul (Weathertop), yang berdiri di perbatasan wilayah mereka; karena Menara Amon Sul berisi Palantir utama dari Utara sedangkan dua yang lainnya disimpan di negeri Arthedain.
“Pada awal masa pemerintahan Malvegil di Arthedain, kejahatan menghampiri Arnor. Karena saat itu negeri Angmar muncul di Utara, di seberang Ettenmoors. Wilayahnya terletak di kedua sisi Pegunungan, dan di sana berkumpul banyak orang jahat, Orc-Orc, serta makhluk-makhluk jahat lainnya. Penguasa negeri itu dikenal sebagai Raja Penyihir, tapi baru di kemudian hari diketahui bahwa ia memang pemimpin para Hantu Cincin, yang datang ke utara dengan tujuan menghancurkan kaum Dunedain di Arnor, karena mengharapkan perpecahan akan menguntungkan pihak mereka, sementara Gondor masih jaya.”
Pada masa pemerintahan Argeleb putra Malvegil, karena tidak ada keturunan Isildur di kerajaan-kerajaan lain, maka para raja Arthedain sekali lagi menuntut kekuasaan penuh atas seluruh Arnor. Tuntutan itu ditentang oleh Rhudaur. Di

sana kaum Dunedain hanya sedikit jumlahnya, dan kekuasaan sudah direbut seorang penguasa jahat dari Orang-Orang Bukit, yang bersekutu secara rahasia dengan Angmar. Maka Argeleb memperkuat Perbukitan Weather; tapi ia tewas dalam pertempuran melawan Rhudaur dan Angmar.
Arveleg putra Argeleb, dengan bantuan Cardolan dan Lindon, mengusir musuhnya dari Perbukitan; selama bertahun-tahun Arthedain dan Cardolan menjaga ketat perbatasan di Perbukitan Weather, Jalan Besar, dan Hoarwell bawah. Konon saat itu Rivendell dikepung.
Suatu pasukan besar datang dari Angmar pada tahun 1409, menyeberangi sungai, masuk ke Cardolan, dan mengepung Weathertop. Kaum Dunedain kalah dan Arveleg tewas terbunuh. Menara Amon Sul dibakar dan diratakan dengan tanah; tetapi palantir berhasil diselamatkan dan dibawa kembali ke Fornost, Rhudaur dijajah Orang-Orang jahat yang mengabdi kepada Angmar, dan kaum Dunedain yang masih tersisa di sana, dibunuh atau lari ke barat. Cardolan porak- poranda. Araphor putra Arveleg masih belum dewasa, namun ia gagah berani, dan dengan bantuan Cirdan ia mengusir musuh dari Fornost dan Downs Utara. Sisa-sisa kaum Dunedain dari Cardolan yang setia juga bertahan di Tyrn Gorthad (Barrowdowns), atau mengungsi ke Forest di belakangnya.
Alkisah untuk beberapa waktu keganasan Angmar diredam oleh bangsa Peri yang datang dari Lindon; dan dari Rivendell, karena Elrond membawa bala bantuan dari Lorien, melintasi Pegunungan. Pada saat inilah bangsa Stoor yang tinggal di Sudut (antara Hoarwell dan Loudwater) lari ke barat dan selatan, gara- gara peperangan, ketakutan pada Angmar, juga karena negeri dan iklim Eriador, terutama di sebelah timur, berubah menjadi buruk dan tidak ramah. Beberapa kembali ke negeri Belantara dan bermukim di sisi Gladden, menjadi kelompok nelayan sungai.


Pada masa Argeleb II datang wabah penyakit ke Eriador dari Tenggara, dan cebanyakan penduduk Cardolan tewas, terutama di Minhiriath. Para Hobbit dan orang-orang lain banyak menderita, namun wabah itu semakin mereda sementara berjalan ke arah utara, dan wilayah-wilayah utara Arthedain tidak

banyak tertimpa wabah itu. Pada saat itulah kaum Dunedain di Cardolan lnusnah, dan roh-roh jahat dari Angmar dan Rhudaur masuk ke kuburan-kuburan yang ditinggal, dan berdiam di sana.
“Diceritakan bahwa kuburan-kuburan Tyrn Gorthad begitulah sebutan untuk Barrowdowns di zaman lampau sudah sangat kuno, dan banyak yang dibangun pada masa dunia purba di Zaman Pertama, oleh leluhur kaum Edain, sebelum mereka melintasi Pegunungan Bim masuk ke Beleriand, di mana sekarang ini hanya tersisa Lindon. Karena itulah bukit-bukit itu dihormati oleh kaum Dunedain setelah mereka kembali; banyak penguasa dan raja mereka yang dimakamkan di sana. Ada yang mengatakan bahwa kuburan tempat Pembawa Cincin pernah terperangkap adalah makam pangeran terakhir dari Cardolan, yang tewas dalam perang 1409.”
“Pada tahun 1974 kekuatan Angmar bangkit lagi, dan Raja Penyihir menyerbu Arthedain sebelum musim dingin berakhir. la merebut Fornost, dan mendesak sebagian besar kaurn Dunedain menyeberangi Lune; di antara mereka ada putra-putra raja. Tetapi Raja Arvedui bertahan di Downs Utara sampai saat terakhir, kemudian mengungsi ke utara bersama beberapa pengawalnya; mereka lolos karena kecepatan lari kuda-kuda mereka.”
“Untuk sementara Arvedui bersembunyi di terowongan-terowongan bekas pertambangan lama kaum Kurcaci dekat ujung terjauh Pegunungan, tapi akhirnya, terdorong rasa lapar, ia mencari bantuan kaum Lossoth, para Manusia Salju dari ForocheL ia menemukan beberapa dari bangsa ini sedang berkemah di pantai; tapi mereka tidak membantu Raja dengan suka hati, karena ia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikannya pada mereka; lagi pula mereka takut pada Raja Penyihir yang (menurut mereka) bisa membuat embun beku atau mencairkan es sekehendaknya. Namun karena kasihan kepada Raja dan anak buahnya yang kurus kering, juga karena takut pada senjata-senjatanya, mereka memberikan sedikit makanan kepadanya dan membangun beberapa pondok salju untuknya. Di sanalah Arvedui terpaksa menunggu, sambil mengharapkan bantuan dari selatan; karena semua kudanya mati.”
“Ketika Cirdan mendengar dari Aranarth putra Arvedui tentang pelarian Raja ke

utara, ia segera mengirim kapal ke Forochel untuk mencarinya. Akhirnya, Mereka bangsa yang aneh dan tidak ramah, sisa-sisa bangsa Forodwaith, Orang-orang dari zaman lampau, yang sudah terbiasa dengan kedinginan yang tajam di wilayah Morgoth. Hawa dingin itu memang masih bertahan di wilayah itu, meskipun letaknya hanya sedikit Icbih dari seratus league di sebelah utara Shire. Kaum Lossoth tinggal di dalam salju, dan menurut cerita-cerita, mereka bisa lari di atas es dengan tulang-tulang yang dipasang pada kaki mereka, dan mereka mempunyai gerobak tanpa roda. Sebagian besar mereka tinggal di Tanjung Forochel yang luas yang mcmbatasi teluk besar dengan nama yang sama di sebelah utara, dan di sana mereka tidak bisa dicapai oleh musuh-musuh mereka. Meski begitu, mereka juga sering berkemah di pantai-pantai selatan teluk di kaki Pegunungan. Setelah cukup lama, karena dihadang angin yang berlawanan arah, kapal itu tiba di sana, dan para pelaut melihat dari jauh api kecil dari kayu apung yang diupayakan tetap menyala oleh orang-orang yang hilang itu. Namun musirn dingin kala itu berlangsung sangat lama; dan meski sudah bulan Maret, es baru mulai mencair, dan letaknya jauh sekali dari tepi pantai.”
“Ketika para Manusia Salju melihat kapal itu, mereka heran dan takut, karena mereka belum pernah melihat kapal di lautan; namun mereka sekarang sudah lebih ramah, dan mereka mengantar Raja serta anggota rombongannya yang masih hidup melintasi es dengan kereta luncur, sejauh mereka berani pergi. Dengan cara ini, sebuah perahu yang diturunkan dari kapal bisa mencapai mereka.”
“Tetapi para Manusia Salju merasa gelisah: sebab menurut mereka, mereka mencium bahaya dalam angin. Dan pemimpin kaum Lossoth berkata kepada Arvedui, Jangan naik makhluk lautan ini! Kalau ada, biarlah para pelaut membawa makanan dan barang-barang lain yang kita butuhkan, dan kau boleh tinggal di sini sampai Raja Penyihir pulang. Di musim panas kekuatannya memudar; tapi kini napasnya mematikan, dan tangannya yang dingin sangat panjang.”
“Tetapi Arvedui tidak menghiraukan nasihatnya. la mengucapkan terima kasih,

dan sambil pamit memberikan cincinnya, sambil berkata, Ini benda berharga yang nilainya melebihi perkiraanmu. Karena kekunoannya saja, nilainya sudah tinggi sekali. Memang benda ini tidak mempunyai kekuatan, kecuali penghormatan dari mereka yang mencintai rumahku. Benda ini tidak akan membantumu, tapi kalau suatu saat kau menderita kekurangan, bangsaku akan menebusnya dengan sejumlah besar barang apa pun yang kauinginkan.” “Ternyata nasihat kaum Lossoth benar, entah kebetulan atau karena suatu firasat; kapal itu baru saja sampai ke lautan terbuka ketika badai angin besar muncul, datang dengan membawa salju membutakan dari Utara, sehingga kapal itu terdorong kembali ke alas es, dan menimbun es pada badan kapal. Bahkan para pelaut Cirdan pun tak berdaya. Di malam hari lambung kapal remuk, dan kapal itu tenggelam. Demikianlah Arvedui Raja Terakhir tewas, dan palantiri terkubur bersamanya di dasar lautan. Baru lama setelahnya kabar tentang karamnya kapal di Forochel diperoleh dari Manusia-Manusia Salju.”


Bangsa Shire selamat, meski perang menyapu mereka dan sebagian besar dan mereka mengungsi. Mereka mengirim beberapa pemanah untuk membantu Raja, tapi para pemanah ini tak pernah kembali; dan yang lainnya maju dalam perang di mana Angmar ditaklukkan (tentang hal ini diceritakan lebih banyak dalam catatan sejarah wilayah Selatan). Setelahnya, di masa damai, bangsa Shire memerintah wilayah mereka sendiri dan menjadi makmur. Mereka memilih seorang Thain sebagai Raja, dan mereka cukup puas; meski untuk waktu lama banyak yang masih menunggu-nunggu kembalinya Raja. Tapi akhirnya harapan itu terlupakan, dan hanya tersisa dalam ungkapan Kalau Raja sudah kembali, dipakai untuk menunjukkan suatu kebaikan yang tak mungkin bisa dicapai, atau suatu kejahatan yang tak bisa diperbaiki. Thain pertama dari Shire adalah Bucca dari Marish, yang menurut kaum Oldbuck adalah leluhur mereka. la menjadi Thain pada tahun 379 menurut hitungan tahun kami (1979).


Setelah Arvedui, Kerajaan Utara berakhir, karena sekarang kaum Dunedain tinggal sedikit dan semua rakyat Eriador sudah menyusut. Meski begitu, garis

keturunan para raja dilanjutkan oleh Kepala-Kepala Suku kaum Dunedain, dan Aranarth putra Arvedui adalah yang pertama. Putranya Arahael dipelihara di Rivendell, begitu pula semua putra para kepala suku setelahnya; dan di sana pula benda-benda pusaka dari rumah mereka disimpan: cincin Barahir, serpihan- serpihan Narsil, bintang Elendil, dan tongkat kekuasaan Annuminas.
“Ketika kerajaan mereka berakhir, kaum Dunedairn menghilang ke dalam bayang-bayang, lalu menjadi bangsa pengembara yang terselubung rahasia, dan jasa-jasa serta jerih payah mereka jarang dinyanyikan dalam lagu atau dicatat. Sedikit sekali yang diingat tentang mereka sejak Elrond pergi. Meskipun sebelum Damai Waspada berakhir, kejahatan sudah mulai menyerang Eriador atau menyelinap masuk diam-diam, para Kepala Sulcu sebagian besar masih sempat menjalani usia panjang. Menurut cerita, Aragorn I dibunuh serigala, yang setelah itu selalu menjadi bahaya yang mengancam Eriador, dan masih belum berakhir. Di masa Arahad I, para Orc, yang di kemudian hari baru diketahui bahwa selama itu mereka sudah lama berdiam di benteng-benteng dalam Pegunungan Berkabut, untuk merintangi semua jalan masuk ke Eriador, mendadak muncul secara terbuka. Tahun 2509 Celebrian, istri Elrond, sedang dalam perjalanan ke Lorien ketika ia dicegat di Celah Redhorn. Pengawal-pengawalnya tercerai-berai oleh serangan mendadak kaum Orc, sementara ia sendiri ditangkap dan dibawa pergi. la dikejar dan diselamatkan oleh Elladan dan Elrohir, tapi ia sudah telanjur mengalami penyiksaan dan luka beracun. la dibawa kembali ke Imladris, tapi meski fisiknya bisa disembuhkan oleh Elrond, ia tak pernah merasakan kebahagiaan lagi di Dunia Tengah. Tahun berikutnya ia pergi ke Havens dan menyeberangi Samudra. Kemudian di masa Arassuil, para Orc yang sudah berkembang biak banyak sekali di Pegunungan Berkabut mulai memorak- porandakan negeri-negeri, maka kaum Dunedain dan putra-putra Elrond memerangi mereka. Di masa itulah ada segerombolan besar Orc yang pergi jauh ke barat, sampai masuk ke negeri Shire, dan mereka diusir oleh Bandobras Took.
Ada lima belas Kepala Suku sebelum yang keenam belas dan yang terakhir

dilahirkan, Aragom II, yang kemudian menjadi Raja Gondor dan Arnor. “Raja

kami, begitu kami memanggilnya; dan bila ia datang ke utara, ke rumahnya di Anniuninas, untuk bersantai dan tinggal untuk sementara waktu di Telaga Evendim, maka semua orang di Shire bergembira. Tapi ia tidak masuk ke negeri ini, sebab ia mengikat dirinya dengan hukum yang dibuatnya sendiri, bahwa Orang-Orang Besar tidak boleh melewati perbatasan masuk ke Shire. Namun ia sering datang bersama serombongan bangsawan sampai ke Jembatan Besar, dan di sanalah ia menyambut teman-temannya, serta siapa pun yang ingin bertemu dengannya; lalu beberapa di antara mereka ikut pergi dengannya dan tinggal di rumahnya sekehendak mereka lamanya. Thain Peregrin sudah sering ke sana, begitu juga Master Samwise sang Wali Kota. Putrinya Elanor si Cantik menjadi salah satu dayang-dayang Ratu Evenstar.”
Garis Keturunan Utara membanggakan diri, sekaligus kagum, bahwa meskipun kekuasaan mereka hilang dan bangsa mereka menyusut, namun selama semua generasi, rangkaian pergantian tidak terputus antara para ayah ke putra mereka. Begitu pula, meski masa hidup kaum Dunedain semakin menyusut di Dunia Tengah, kepudaran mereka semakin cepat di Gondor setelah berakhirnya masa para raja; banyak Kepala Suku dari Utara hidup sampai dua kali lipat usia Manusia, dan jauh melampaui masa hidup orang-orang tertua di antara kami. Bahkan Aragorn mencapai usia dua ratus sepuluh tahun, lebih lama daripada siapa pun dari garis keturunannya sejak Raja Arvegil; tetapi dalam diri Aragorn Elessar, martabat para raja zaman dahulu diperbarui.


(iv)

GONDOR DAN PARA PEWARIS ANARION



Ada tiga puluh satu raja di Gondor setelah Anarion dibunuh di depan Barad-dur. Meski perang di perbatasan mereka tak pernah berhenti, selama lebih dari seribu tahun kekayaan dan kekuasaan kauin Dunedain di daratan maupun lautan semakin bertambah, sampai masa pemerintahan Atanatar II, yang disebut Alcarin Agung. Namun tanda-tanda kemerosotan sudah mulai muncul; karena para bangsawan Selatan menikah di usia senja, dan keturunan mereka sedikit

sekali. Raja pertama tanpa keturunan adalah Falastur, yang kedua Narmacil I, putra Atanatar Alcarin.


Adalah Ostoher, raja ketujuh, yand membangun kembali Minas Anor, di mana belakangan para raja lebih senang bermukim saat musim panas daripada di Osgiliath. Di masa pemerintahannya, untuk pertama kali Gondor diserang orang- orang liar dari Timur. Namun Tarostar, putranya, mengalahkan dan mengusir mereka, lalu ia memakai nama Romendacil “Penakluk Timur”. Namun kelak ia dibunuh dalam pertempuran melawan gerombolan baru kaum Easterling. Putranya, Turambar, membalas dendam, dan banyak memenangkan wilayah baru di sebelah timur.
Di bawah Tarannon, raja kedua belas, dimulailah garis keturunan para Raja Kapal, yang membangun angkatan laut dan memperluas kekuasaan Gondor di sepanjang pantai barat dan selatan Muara Anduin. Untuk memperingati kemenangan-kemenangannya sebagai Kapten Pasukan, Tarannon dinobatkan dengan nama Falastur “Penguasa Pantai”.
Earnil I, keponakan yang menggantikannya, memperbaiki pelabuhan kuno Pelargir dan membangun angkatan laut yang besar. la menyerbu Umbar dari laut dan darat, merebutnya, lalu daerah itu dijadikannya pelabuhan dan benteng kekuatan Gondor. Tapi Earnil tidak bertahan lama setelah kemenangannya. la hilang bersama banyak kapal dan anak buah dalam badai besar di Umbar. Ciryandil, putranya, melanjutkan pembuatan kapal-kapal; tapi Orang-Orang Harad, yang dipimpin para penguasa yang diusir dari Umbar, menyerang benteng itu dengan kekuatan besar, lalu Ciryandil jatuh dalam pertempuran di Haradwaith.
Selama bertahun-tahun Umbar dikepung kapal dan tentara, tapi tak bisa direbut, karena hebatnya kekuatan armada Gondor. Ciryaher putra Ciryandil menunggu kesempatan baik, dan setelah mengumpulkan kekuatan penuh, ia datang dari utara melalui darat dan laut, dan sambil menyeberangi Sungai Harnen, bala tentaranya menang telak atas Orang-Orang Harad, dan raja-raja mereka dipaksa mengakui kemaharajaan Gondor (1050). Setelah itu Ciryaher memakai nama

Hyarmendacil “Penakluk Selatan”.

Sepanjang sisa masa pemerintahannya yang panjang, tak ada musuh yang berani menentang kedahsyatan kekuatan Hyarmendacil. ia menjadi raja selama seratus tiga puluh empat tahun, masa pemerintahan terlama dari seluruh garis keturunan Anarion. Di masa pemerintahannya, Gondor mencapai puncak kejayaannya. Wilayah Gondor saat itu sampai ke Celebrant di utara, dan pinggiran selatan Mirkwood; ke barat sampai Greyflood; ke timur sampai ke Laut pedalaman Rhun; ke selatan sampai Sungai Harnen, kemudian dari sana sepanjang pantai sampai ke semenanjung dan pelabuhan Umbar. Orang-orang dari Lembah Anduin mengakui kekuasaannya; raja-raja Harad menyembah Gondor, sementara putra-putra mereka tinggal sebagai sandera di istana Raja Gondor. Mordor kosong, tapi dijaga ketat dengan benteng-benteng besar yang menjaga jalan melalui celah-celah.
Begitulah berakhir garis keturunan Raja-Raja Kapal. Gaya hidup Atanatar Alcarin, putra Hyarmendacil, sangat mewah, sehingga orang-orang mengatakan batu permata di Gondor adalah batu kerikil untuk mainan anak-anak. Namun Atanatar senang bersantai-santai, dan tidak melakukan apa pun untuk mempertahankan kekuasaan yang diwarisinya, dan kedua putranya juga bersikap sama. Kemunduran Gondor sudah dimulai sebelum ia meninggal, dan pasti diperhatikan oleh para musuhnya. Penjagaan terhadap Mordor diabaikan. Namun baru pada masa pemerintahan Valacar kejahatan pertama menimpa Gondor: perang saudara karena Pertikaian Saudara, di mana terjadi kerugian dan kehancuran besar yang tidak pernah diperbaiki dengan sempurna.


Minalcar, putra Calmacil, adalah orang yang bersemangat tinggi, dan pada tahun

1240 Narmacil, dalam upaya melepaskan diri dari semua masalah, menjadikannya bupati wilayah itu. Sejak saat itu ia memerintah Gondor atas nama Raja, sampai ia menggantikan ayahnya. Perhatiannya terutama tercurah kepada Orang-Orang Utara.
Orang-Orang Utara sudah berkembang pesat dalam masa damai yang terjadi di bawah kekuasaan Gondor. Para raja sangat bermurah hati pada mereka, karena

mereka manusia biasa yang mempunyai hubungan saudara terdekat dengan kaum Dunedain (karena sebagian besar adalah keturunan bangsa leluhur kaum Edain); dan mereka memberikan kepada Orang-Orang Utara itu wilayah-wilayah luas di seberang Anduin di selatan Greenwood Raya, sebagai pertahanan terhadap orang-orang dari Timur. Karena di masa lalu serangan-serangan kaum Easterling sebagian besar datang melalui padang-padang di antara Laut Pedalaman dan Pegunungan Abu.
Pada masa Narmacil I serangan-serangan mereka mulai lagi, meski pada awalnya dengan kekuatan kecil; namun kemudian Bupati tahu bahwa Orang- Orang Utara tidak selalu setia kepada Gondor, dan beberapa, bahkan bersedia bersekutu dengan kaum Easterling, entah karena serakah menginginkan pampasan perang, atau dalam rangka melanjutkan perselisihan antara pangeran-pangeran mereka. Oleh karena itu, pada tahun 1248 Minalcar memimpin pasukan besar, dan di antara Rhovanion dan Laut Pedalaman ia menaklukkan bala tentara besar kaum Easterling, menghancurkan semua perkemahan dan pemukiman mereka di sebelah timur Samudra. Kemudian ia memakai nama Romendacil.
Sekembalinya dari perang, Romendacil memperkuat pantai barat Anduin sampai sejauh aliran masuk Sungai Limlight, dan melarang orang asing mengarungi Sungai di seberang Emyn Muil. Dialah yang membangun tiang-tiang Argonath di gerbang masuk Nen Hithoel. Namun karena ia membutuhkan orang-orang, dan ingin memperkuat ikatan antara Gondor dan Orang-Orang Utara, maka ia mengambil sejumlah besar dari mereka untuk dijadikan anak buahnya, dan beberapa di antaranya ia berikan pangkat tinggi dalam bala tentaranya. Romendacil terutama menunjukkan kemurahan hati kepada Vidugavia yang sudah membantunya dalam perang. Vidugavia menyebut dirinya sendiri Raja Rhovanion, dan memang ia pangeran Utara yang paling berkuasa, meski wilayahnya sendiri terletak antara Greenwood dan Sungai Celduin. Pada tahun
1250 Romendacil mengirim putranya, Valacar, sebagai duta untuk tinggal selama beberapa waktu bersama Vidugavia, untuk mempelajari bahasa, tata krama, dan politik Orang-Orang Utara. Namun Valacar melampaui rancangan

ayahnya sendiri. la mencintai negeri Utara dan bangsa itu, dan menikahi Vidumavi, putri Vidugavia. Cukup lama waktu berlalu sebelum ia akhimya kembali. Dari perkawinan inilah di kemudian hari timbul perang menyangkut Pertikaian Saudara.
“Kaum bangsawan Gondor memandang curiga Orang-Orang Utara di antara mereka; lagi pula selama itu dianggap sangat tak pantas bahwa putra mahkota, atau putra raja mana pun, menikahi seseorang dari bangsa asing yang lebih rendah derajatnya. Sudah terjadi pemberontakan di provinsi-provinsi selatan ketika Raja Valacar menjelang tua. Ratunya memang cantik dan agung, tapi berusia pendek sesuai nasib Manusia biasa, dan kaum Dunedain khawatir bahwa keturunannya akan terbukti bernasib sama dan jatuh dari keagungan kaum Raja Manusia. Begitu pula mereka tidak bersedia menerima putranya sebagai penguasa, yang meski sekarang dinamai Eldacar, lahir di negeri asing dan di masa remajanya dinamai Vinitharya, nama yang berasal dari bangsa ibunya.
“Maka ketika Eldacar menggantikan ayahnya, terjadi perang di Gondor. Tapi ternyata Eldacar tidak mudah disingkirkan dari warisannya. la menambahkan semangat keberanian Orang-Orang Utara, yang tak pemah gentar, kepada garis keturunan Gondor. ia tampan dan gagah berani, dan tidak menunjukkan tanda- tanda menua lebih cepat daripada ayahnya. Ketika para sekutu yang dipimpin keturunan para raja memberontak terhadapnya, ia melawan mereka sampai batas akhir kekuatannya. Akhirnya ia diserang di Osgiliath, dan bertahan lama di sana, sampai kelaparan dan kekuatan kaum pemberontak yang lebih besar mengusirnya, meninggalkan kota dalam keadaan terbakar. Dalam serbuan dan kebakaran itu Kubah Osgiliath hancur, dan palantir hilang di dalam air.”
“Namun Eldacar lolos dari musuh-musuhnya, dan pergi ke Utara, kepada saudara-saudaranya di Rhovanion. Banyak yang bergabung dengannya, baik Orang-Orang Utara yang mengabdi kepada Gondor, maupun kaum Dunedain dari wilayah utara negeri itu. Banyak kaum Dunedain sudah mulai menghormatinya, dan lebih banyak lagi mulai membenci seterunya. Seterunya yaitu Castamir, cucu Calimehtar, adik Romendacil II. la bukan hanya salah satu

dari mereka yang bertalian saudara terdekat dengan mahkota Raja, tapi ia memiliki pengikut-pengikut terbanyak di antara para pemberontak; sebab ia adalah Kapten Kapal-Kapal, dan ia didukung oleh penduduk pantai serta pelabuhan-pelabuhan besar di Pelargir dan Umbar.”
“Castamir belum lama menduduki takhta, namun sudah terbukti ia berhati congkak dan jahat. la sangat kejam, seperti sudah ditunjukkannya dalam perebutan Osgiliath. ia menghukum mati Ornendil putra Eldacar, yang tertangkap saat itu; pembantaian dan penghancuran yang dilakukan di kota itu atas perintahnya pun jauh melampaui kebutuhan perang. Hal ini diingat di Minas Anor dan Ithilien; di sana kecintaan terhadap Castamir semakin menyusut ketika temyata ia mengabaikan daratan, dan hanya memikirkan armada-armada, bahkan berencana memindahkan takhta raja ke Pelargir.”
“Demikianlah ia baru sepuluh tahun menjadi raja, ketika Eldacar, yang melihat kesempatan sudah tiba untuknya, datang bersama sepasukan besar tentara dari utara. Orang-orang dari Calenardhon, Anorien, dan Ithilien datang berduyun- duyun untuk bergabung dengannya. Terjadilah pertempuran besar di Lebennin, di Persimpangan Erui, di mana banyak darah terbaik dan Gondor ditumpahkan. Eldacar sendiri menewaskan Castamir dalam pertarungan, dan dengan demikian sudah membalas dendam bagi Ornendil; tapi putra Castamir lolos, dan bersama- sama keluarga lain dan banyak pelaut dari armadanya, bertahan lama sekali di Pelargir.”
“Setelah mengumpulkan selunih kekuatan mereka sebisa mungkin (karena Eldacar tidak mempunyai kapal-kapal untuk mencegat mereka di laut), mereka berlayar pergi, dan berdiam di Umbar. Di sana mereka membangun tempat pengungsian bagi semua musuh Raja dan wilayah kekuasaan yang terlepas dari pemerintahan Raja. Untuk waktu sangat lama, Umbar masih tetap berperang melawan Gondor, menjadi ancaman bagi wilayah pantainya dan semua lalu lintas di lautan. Wilayah itu tak pernah ditundukkan dengan sempuma sampai masa pemerintahan Elessar; dan wilayah Gondor Selatan menjadi daerah sengketa antara kaum Corsair dan para Raja.”

“Kehilangan Umbar sangat menyedihkan bagi Gondor, bukan hanya karena wilayahnya di selatan semakin berkurang, dan kekuasaan mereka atas Orang- Orang Harad semakin kendur, tapi karena di sanalah Ar-Pharazon Emas, raja Nurnenor terakhir, mendarat dan berhasil menaklukkan Sauron. Meski setelahnya kejahatan besar muncul, bahkan para pengikut Elendil ingat dengan bangga kedatangan pasukan besar Raja Ar-Pharazon dari Samudra dalam; dan di bukit tertinggi tanjung di atas Haven mereka sudah mendirikan tiang besar berwarna putih sebagai monumen. Tiang itu dimahkotai sebuah bola kristal yang bersinar bagai bintang terang, yang bisa dilihat dalam cuaca bagus bahkan dari pantai-pantai Gondor atau jauh di atas laut barat. Di sanalah monumen itu berdiri, sampai setelah kebangkitan kedua Sauron, yang sudah semakin dekat, Umbar jatuh ke dalam penjajahan oleh pengabdi-pengabdi Sauron, dan monumen yang dianggap penghinaan terhadap Sauron, dirobohkan.”


Sekembalinya Eldacar, terjadi lebih banyak percampuran darah antara keluarga Raja dan keluarga-keluarga Dunedain lainnya dengan Orang-Orang biasa. Banyak tokoh tewas dalam Perang Saudara; Eldacar memberikan hadiah-hadiah kepada Orang-Orang Utara, karena dengan pertolongan mereka ia berhasil merebut kembali takhta, sedangkan orang-orang Gondor juga bertambah jumlahnya dengan orang-orang yang datang dari Rhovanion.
Percampuran darah ini pada mulanya tidak mempercepat penyusutan kaum Dunedain, seperti yang dikhawatirkan; namun penyusutan itu tetap berlanjut, sedikit demi sedikit, seperti sudah terjadi sebelumnya. Tak dapat diragukan lagi, hal itu disebabkan oleh Dunia Tengah sendiri, dan karena semakin menurunnya karunia-karunia yang semula dimiliki kaum Nitmenor setelah kejatuhan Negeri Bintang. Eldacar mencapai usia dua ratus tiga puluh lima tahun, menjadi raja selama lima puluh delapan tahun, sepuluh tahun di antaranya dihabiskan dalam pengasingan.


Malapetaka kedua dan terbesar menimpa Gondor pada masa Telemnar, raja kedua puluh enam. Ayah Telemnar adalah Minardil, putra Eldacar, yang dibunuh

di Pelargir oleh kaum Corsair dari Umbar (di bawah pimpinan Angamaite dan Sangahyando, cucu buyut Castamir.) tak lama kemudian datanglah wabah penyakit yang mematikan, menunggang angin gelap dari Timur. Raja dan semua anaknya meninggal, juga sejumlah besar orang Gondor, terutama yang tinggal di Osgiliath. Setelah itu, karena keletihan dan sedikitnya orang, pengawasan terhadap perbatasan dengan Mordor dihentikan, dan benteng-benteng yang menjaga jalan melalui celah-celah, dibiarkan kosong.
Belakangan baru diketahui bahwa semua itu terjadi ketika bayang-bayang sudah semakin kelam di Greenwood, dan banyak hal jahat muncul kembali, yang merupakan pertanda kebangkitan kembali Sauron. Memang benar musuh- musuh Gondor juga menderita, kalau tidak mungkin mereka sudah memanfaatkan kelemahannya dan mendudukinya; namun Sauron mampu menunggu, dan sangat mungkin ia memang terutama menghendaki terbukanya Mordor.
Ketika Raja Telemnar wafat, Pohon-Pohon Putih di Minas Anor juga layu dan mati. Tetapi Tarondor, keponakan yang menggantikannya, menanam kembali sebutir benih di benteng. Dialah yang memindahkan istana Raja untuk seterusnya ke Minas Anor, dan Osgiliath sekarang sebagian besar kosong, dan mulai runtuh. Hanya sedikit dari mereka yang melarikan diri dari wabah penyakit ke Ithilien atau ke lembah-lembah di barat, mau kembali ke sana.
Tarondor yang mulai menduduki takhta dalam usia muda, memiliki masa pemerintahan terlama dari semua Raja Gondor; tapi ia hanya mampu menata kembali wilayahnya, dan memelihara kekuatannya yang berjalan lamban. Telumehtar putranya, yang ingat kematian Minardil dan merasa resah atas kekurangajaran kaum Corsair yang merampas pantai-pantainya sampai sejauh Anfalas, mengumpulkan kekuatan dan pada tahun 1810 merebut Umbar dengan pertempuran dahsyat. Dalam perang itu keturunan ferakhir Castamir tewas, dan Umbar sekali lagi dikuasai para raja untuk sementara waktu. Maka Telumehtar menambahkan nama Umbardacil kepada namanya. Tetapi dalam malapetaka baru yang menimpa Gondor, mereka kehilangan Umbar lagi, yang jatuh ke tangan Orang-Orang Harad.



Malapetaka ketiga adalah penyerbuan oleh kaum Wainrider, yang menyedot kekuatan Gondor yang sudah menyusut, dalam perang-perang yang berlangsung selama hampir seratus tahun. Para Wainrider adalah suatu bangsa, atau gabungan banyak suku bangsa, yang datang dari Timur; mereka lebih kuat dan dipersenjatai lebih baik daripada bangsa mana pun yang pernah muncul sebelum itu. Mereka mengembara naik kereta-kereta besar, dan kepala-kepala suku mereka bertempur naik kereta perang. Mereka dihasut oleh utusan-utusan Sauron (belakangan hal itu baru diketahui), dan tiba-tiba menyerang Gondor, lalu Raja Narmacil II tewas dalam pertempuran di seberang Anduin pada tahun 1856. Orang-orang dari Rhovanion timur dan selatan dtjadixan budak; dan perbatasan liondor untux sementara waktu ditarik mundur ke Anduin dan Emyn Muil. Diperkirakan pada saat itulah para Hantu Cincin masuk kembali ke Mordor. Calimehtar, putra Narmacil II, dengan bantuan suatu pemberontakan di Rhovanion, membalas dendam demi ayahnya, dan ia mencapai kemenangan besar terhadap kaum Easterling di Dagorlad pada tahun 1899; untuk beberapa lama ancaman bahaya bisa dicegah. Pada masa pemerintahan Araphant di Utara dan Ondoher putra Calimehtar di Selatan, kedua kerajaan saling berembuk setelah saling terasing dan saling mendiarnkan. Karena akhirnya mereka menyadari bahwa ada satu kekuatan dan kehendak tunggal yang mengarahkan serangan dari banyak penjuru kepada sisa-sisa kaum Numenor yang masih bertahan. Sekitar saat itu Arvedui, putra mahkota Araphant, menikahi Firiel putri Ondoher (1940). Tapi kedua kerajaan sama-sama tak mampu saling membantu; karena Angmar memperbarui serangannya ke Arthedain pada saat bersamaan dengan munculnya kaum Wainrider yang berkekuatan dahsyat.
Banyak dari kaum Wainrider sekarang pergi ke selatan Mordor dan bersekutu dengan orang-orang dari Khand dan Harad Dekat; dan dalam serbuan besar dari utara dan selatan, Gondor nyaris hancur. Tahun 1944 Raja Ondoher dan kedua putranya, Artamir dan Faramir, tewas dalam pertempuran di utara Morannon, dan musuh mengalir masuk ke Ithilien. Namun Earnil, kapten Tentara Selatan, menang dengan gemilang di Ithilien Selatan dan menghancurkan tentara Harad

yang sudah menyeberangi Sungai Poros. Lalu bergegas ia lari ke utara, mengumpulkan sedapat mungkin semua anggota Tentara Utara yang sedang bergerak mundur, lalu menyerang perkemahan utama kaum Wainrider sementara mereka sedang berpesta pora dan bersuka ria, karena yakin Gondor sudah kalah dan mereka tinggal mengambil harta rampasan. Earnil menyerbu perkemahan dan membakar kereta-kereta mereka, mengusir musuh keluar dari Ithilien dalam gerakan mundur besar-besaran yang kacau-balau. Sebagian besar dari mereka yang lari karena didesak olehnya, tewas di Rawa-Rawa Mati.


“Setelah kematian Ondoher dan putra-putranya, Arvedui dari Kerajaan Utara menuntut haknya atas takhta Gondor, sebagai keturunan langsung Isildur dan sebagai suami Firiel, satu-satunya keturunan Ondoher yang masih hidup. Tuntuan itu ditolak. Dalam hal ini Pelendur, Pejabat di bawah Raja Ondoher, memainkan peran utama.
“Dewan Penasihat Gondor menjawab, 'Mahkota dan kerajaan Gondor adalah milik pewaris-pewaris Meneldil, putra Anarion, kepada siapa Isildur melepaskan negerinya. Di Gondor warisan ini hanya diperhitungkan melalui para putra; dan kami belum pernah mendengar ada hukum lain yang berlaku di Arnor.” “Mendengar ini Arvedui menjawab, Elendil mempunyai dua putra, sedangkan Isildur adalah yang sulung, putra mahkota ayahnya. Kami mendengar bahwa sampai seat ini nama Elendil berada di urutan teratas garis keturunan para Raja Gondor, sejak dia ditunjuk sebagai raja agung semua negeri kaum Dunedain. Sementara Elendil masih hidup, pemerintahan gabungan diserahkan pada kedua putranya; tapi ketika Elendil jatuh, Isildur yang mengambil peran raja agung menggantikan ayahnya, dan menyerahkan pemerintahan di Selatan dengan care same kepada puts adiknya. Dia tidak melepaskan kerajaannya di Gondor, juga tidak bermaksud agar negeri Elendil selamanya terbagi.
“'Terlebih lagi, sejak zaman dahulu di Numenor tongkat kekuasaan diturunkan kepada anak sulung raja, entah dia laki-laki atau perempuan. Memang benar bahwa hukum ini tidak diikuti di negeri-negeri dalam pengasingan yang senantiasa diganggu peperangan; tapi demikianlah hukum bangsa kita, dan

itulah yang sekarang kami tunjuk, mengingat putra-putra Ondoher wafat tanpa meninggalkan keturunan.''
“Gondor tidak menjawab. Mahkota akhirnya dituntut oleh Earnil, kapten yang membawa kemenangan; dan mahkota diserahkan kepadanya dengan persetujuan penuh dari seluruh kaum Dunedain dari Gondor, karena ia memang keturunan para raja. la putra Siriondil, putra Calimmacil, puts Arciryas, saudara Narmacil II Arvedui tidak bersikukuh dengan tuntutannya; karena ia tidak memiliki kekuatan maupun tekad untuk menentang pilihan para Dunedain dari Gondor; namun tuntutan itu tidak pernah dilupakan oleh keturunannya, bahkan ketika pangkat mereka sebagai keluarga raja sudah terhapus. Ketika itu seat berAkhirnya Kerajaan Utara sudah semakin dekat.”
“Memang Arvedui menjadi raja terakhir, seperti makna namanya. Menurut cerita, nama itu diberikan kepadanya ketika dia lahir, oleh Malbeth si Peramal, yang mengatakan kepada ayahnya, ‘Kau akan menamainya Arvedui, karena dialah yang menjadi raja terakhir di Arthedain. Meski akan ada pilihan bagi kaum Dunedain; tapi bila mereka memilih yang tidak begitu memberi harapan, maka putramu akan mengganti namanya dan menjadi raja wilayah yang sangat lugs. Kalau tidak, maka banyak duka dan masa hidup manusia akan berlalu, sampai kaum Dunedain bangkit dan bersatu kembali.’”
“Di Gondor juga hanya satu raja yang menggantikan Earnil. Mungkin saja bila mahkota dan tongkat kekuasaan dipersatukan, maka kerajaan bisa dipertahankan dan banyak malapetaka dihindari. Tetapi Earnil orang yang bijak dan tidak sombong, meski bagi kebanyakan orang di Gondor, wilayah Arthedain tampak sangat kecil, meski semua penguasanya berasal dari garis kettnunan yang hebat.”
“la mengirimkan pesan-pesan pada Arvedui, menyatakan bahwa ia sudah menerima mahkota Gondor, sesuai hukum dan kebutuhan Kerajaan Selatan, tetapi aku tidak melupakan kerajaan Arnor, juga tidak membantah tali persaudaraan kita, begitu juga aku tidak mengharapkan negeri Elendil akan terpisah-pisah. Aku akan mengirimkan bala bantuan bila kau membutuhkannya, sejauh kemampuanku.”

“Tetapi baru lama kemudian Earnil sendiri merasa cukup tangguh untuk mewujudkan janjinya. Raja Araphant dengan kekuatannya yang semakin surut, masih terus menahan serangan-serangan dari Angmar, demikian juga yang dilakukan Arvedui ketika menggantikannya; tapi akhirnya pada musim gugur tahun 1973 datanglah pesan-pesan ke Gondor bahwa Arthedain berada dalam kesulitan besar, dan bahwa Raja Penyihir sedang mempersiapkan pukulan terakhir ke sana. Make Earnil mengirim putranya Earnur ke utara dengan membawa armada, secepat mungkin, dengan kekuatan sebesar yang bisa disediakannya. Namun sudah terlambat. Sebelum Earnur mencapai pelabuhan Lindon, Raja Penyihir sudah menaklukkan Arthedain dan Arvedui sudah tewas. “Namun ketika Earnur sampai ke Grey Havens, kebahagiaan dan kekaguman bangkit di tengah kaum Peri dan Manusia. Kapal-kapal Earnur begitu besar dan banyak jumlahnya, sampai hampir tak cukup tempat untuk berlabuh, meski Hariond maupun Forlond sudah terisi; dan dari kapal-kapal itu turun bala tentara mahakuat, dengan persenjataan dan persediaan makanan bagi perang raja-raja agung. Begitulah kira-kira tampaknya bagi orang-orang Utara, meski ini baru satu kiriman kecil dari seluruh kekuatan tempur Gondor. Kuda-kudanya terutama sangat dipuji-puji, karena kebanyakan berasal dari lembah-lembah Anduin, dan bersama mereka datang penunggang-penunggang jangkung dan tampan, pangeran-pangeran gagah dari Rhovanion.”
“Lalu Cirdan memanggil semua berkumpul, dari Lindon atau Arnor, dan ketika semua sudah siap, pasukan itu menyeberangi Lune dan berjalan ke utara untuk menantang Raja Penyihir dari Angmar. Kini ia bermukim di Fomost, begitu kata orang-orang, dan sudah mengisinya dengan orang-orang jahat, merebut istana dan tampuk pemerintahan para raja. Dalam kesombongannya, ia tidak menunggu kedatangan musuh di bentengnya, tetapi pergi menyongsong mereka, berniat menyapu habis mereka, seperti yang lainnya sebelum itu, mendesak mereka ke Lune.”
“Namun Pasukan Barat datang menyerbunya dari Bukit-Bukit Evendim, dan terjadilah pertempuran akbar di padang antara Nenuial dan Downs Utara. bala tentara Angmar sudah mulai menyerah dan mundur ke arah Fornost, ketika

pasukan inti para penunggang kuda yang sudah mengitari perbukitan, menyetang mereka dari utara dan memorakporandakan pasukan mereka dalam gerakan yang kacau balau. Lalu Raja Penyihir, dengan semua yang sempat dikumpulkannya dari kehancuran itu, lari ke utara, menuju negerinya sendiri, Angmar. Sebelum Ia mencapai perlindungan di Cam Dam, pasukan berkuda Gondor menyusulnya di bawah pimpinan Earnur. Pada saat bersamaan, sepasukan tentara di bawah pimpinan Glorfindel sang Pangeran Peri datang dari Rivendell. Maka Angmar kalah total, sampai tak satu pun manusia atau Orc dari wilayah itu yang masih tersisa di barat Pegunungan.
“Tetapi menurut cerita, ketika pihaknya sudah kalah, mendadak Raja Penyihir muncul, berjubah dan bertopeng hitam, menunggang kuda hitarn. Ketakutan menimpa semua yang melihatnya; ia memilih Kapten dari Gondor untuk melampiaskan seluruh kebenciannya, dan dengan jeritan mengerikan ia maju lurus menuju sasarannya. Sebenamya Earnur menghadapinya dengan tabah; namun kudanya tidak tahan terhadap serangan itu; hewan itu membelok dan lari jauh sekali sebelum Earnur berhasil mengendalikannya lagi.”
“Maka Raja Penyihir tertawa, dan di antara mereka yang mendengar teriakannya, tak ada yang bisa melupakan rasa mencekam yang ditimbulkan jeritannya itu. Lalu Glorfindel maju di alas kuda putihnya, dan di tengah tertawanya, Raja Penyihir berbalik dan lari, lalu masuk ke dalam bayang-bayang. Malam sudah turun di alas padang, Raja Penyihir hilang, tak ada yang melihat ke mana perginya.”
“Sekarang Earnur melaju kembali, tetapi Glorfindel yang menatap ke dalam keremangan, berkata, ‘Jangan kejar dia! Dia tidak akan kembali ke negeri ini. Ajalnya masih lama, dan dia tidak akan tewas di tangan manusia.’ Banyak yang ingat kata-kata itu; tetapi Earnur marah sekali, dan ingin membalas dendam atas penghinaan yang dialaminya.”
“Dengan demikian berakhirlah negeri jahat Angmar; dan demikianlah Earnur, kapten dari Gondor, menjadi sasaran utama kebencian Raja Penyihir; tetapi masih panjang sekali waktu berlalu sebelum hal itu terungkap.”

Belakangan baru diketahui bahwa di masa Earnil, Raja Penyihir yang lari dari Utara datang ke Mordor. Di sana ia mengumpulkan para Hantu Cincin lainnya, dan ia menjadi pemimpin mereka. Tetapi baru pada tahun 2000 mereka keluar dari Mordor melalui Celah Cirith Ungol dan menyerang Minas Ithil. Mereka berhasil merebutnya pada tahun 2002, dan mengambil palantir dari menara. Selama Zaman Ketiga mereka tidak berhasil diusir; Minas Ithil pun menjadi tempat angker, dan kemudian dinamakan Minas Morgul. Banyak orang yang masih tinggal di Ithilien meninggalkan menara itu.
Earnur sama seperti ayahnya dalam hal keberanian, tapi tidak dalam ebijakan. la bertubuh kuat dan berhati panas; tapi ia tak mall beristri, sebab itu satunya hal yang dinikmatinya hanyalah pertempuran, atau latihan ertarung dengan senjata. Di Gondor tak ada orang yang bisa menghadapinya dalam pertarungan bersenjata yang begitu disukainya, karena ia sangat cakap dalam hal itu. la lebih kelihatan seperti seorang jagoan daripada seperti kapten atau raja, dan ia mempertahankan semangat hidup dan kernahirannya sampai usia jauh lebih lanjut daripada kebanyakan orang.
Ketika Earnur dimahkotai pada tahun 2043, Raja Minas Morgul menantangnya bertarung satu lawan satu, mengejeknya bahwa ia tidak berani maju ketika pertempuran di Utara berlangsung. Saat itu Mardil si Pejabat menahan kemarahan Raja. Minas Anor, yang sudah menjadi ibu kota negeri itu sejak masa Raja Telemnar, dan juga menjadi tempat tinggal para raja, sekarang diberi nama baru Minas Tirith, sebagai kota yang selalu siap siaga menghadapi kejahatan dari Minas Morgul.
Earnur baru tujuh tahun menduduki takhta ketika Penguasa Morgul sekali lagi menantangnya, mengejek bahwa kini Raja sudah menambahkan kelemahan usia lanjut pada sifat pengecutnya ketika masih muda. Mardil sudah tak mampu menahan Raja, dan Raja pun maju bersama sekelompok kecil ksatrianya ke gerbang Morgul. Pasukan berkuda itu tak pernah terdengar lagi beritanya. Di Gondor, orang-orang yakin bahwa musuh yang kejam sudah menjebak Raja, dan Raja meninggal setelah disiksa di Minas Morgul; namun karena tak ada saksi mata alas kematiannya, maka Mardil si Pejabat yang baik memerintah

Gondor atas nama Earnur selama bertahun-tahun.

Sekarang keturunan para raja sudah sangat sedikit. Jumlah mereka sudah banyak menyusut dalam Perang Saudara; sementara sejak saat itu para raja selalu cemburu dan penuh curiga. terhadap saudara-saudara dekat mereka. Sering terjadi bahwa mereka yang dicurigai, melarikan diri ke Urnbar dan bergabung dengan kaum pemberontak di sana; sementara yang lainnya melepaskan hak garis keturunan mereka dan memperistri orang-orang yang tidak berdarah Numenor.
Maka demikianlah tak bisa ditemukan orang yang berhak atas mahkota Raja, yang berdarah mumi atau bisa disetujui oleh semua pihak; semua mengkhawatirkan terjadinya Perang Saudara, karena mereka tahu bahwa bila terjadi lagi pertikaian semacam itu, Gondor pasti hancur. Karena itu, meski masa berlalu, Gondor tetap diperintah oleh seorang Pejabat, dan mahkota Elendil tetap berada di pangkuan Raja Earnil di Rumah Orang-Orang Mati, di mana Earnur sudah meninggalkannya.


Para Pejabat



Rumah para Pejabat disebut Rumah Hurin, karena mereka keturunan Pejabat Raja Minardil (1621-34); Hurin dari Emyn Amen, seorang bangsawan Numenor. Setelah dia, semua raja selalu memilih para pejabat dari antara keturunannya; dan setelah masa Pelendur, tampuk pemerintahan di bawah para Pejabat diwariskan turun-temurun, sama seperti pada kerajaan, dari ayah ke putra atau saudara terdekat.
Setiap Pejabat baru memangku jabatnnya dengan ikrar “memegang tongkat dan memerintah atas nama Raja, sampai dia kembali.” Tetapi segera kata-kata itu menjadi suatu ritual belaka, yang tidak begitu dihiraukan, karena para Pejabat menjalankan seluruh kekuasaan para raja. Namun banyak orang Gondor masih percaya bahwa seorang raja akan kembali suatu hari nanti; beberapa masih ingat garis keturunan kuno dari Utara, yang menurut desas-desus masih tetap berdiam dalam bayang-bayang. Tetapi para Pejabat yang Memerintah

mengeraskan hati menghadapi pikiran-pikiran semacam itu.

Bagaimanapun, para Pejabat tak pernah duduk di atas takhta kuno itu; mereka tidak mengenakan mahkota, juga tidak memegang tongkat kekuasaan. Mereka memegang sebuah tongkat putih hanya sebagai tanda jabatan mereka; dan panji mereka putih tanpa hiasan; namun panji kerajaan terbuat dari kulit hewan dan b'erlambangkan pohon putih yang sedang mekar di bawah tujuh bintang.


Setelah Mardil Uoronwe, yang dihitung sebagai yang pertama dari garis para Pejabat, menyusul kemudian dua puluh empat Pejabat Gondor, sampai masa Denethor II, yang kedua puluh enam dan terakhir. Pada mulanya mereka mengalami masa damai, karena saat itu adalah masa Damai Waspada, sementara Sauron mundur dari hadapan Dewan Penasihat Putih dan para Hantu Cincin tetap bersembunyi di Lembah Morgul. Tapi sejak masa Denethor, tak pernah ada kedamaian penuh lagi, dan meski Gondor tidak terlibat perang besar atau terbuka, perbatasan-perbatasannya selalu terancam serangan.
Pada tahun-tahun terakhir Denethor I, bangsa Uruk, Orc-Orc hitam yang punya kekuatan dahsyat, untuk pertama kali muncul dari Mordor; pada tahun 2475 mereka menyapu Ithilien dan merebut Osgiliath. Boromir putra Denethor (Boromir yang ikut dalam rombongan Sembilan Pejalan Kaki dinamai mengikuti namanya) mengalahkan mereka dan merebut kembali Ithilien; tetapi Akhirnya Osgiliath benar-benar hancur, dan jembatan batunya yang besar, rusak. Tak ada orang berdiam di sana lagi setelah itu. Boromir seorang kapten hebat, bahkan Raja Penyihir takut kepadanya. la sangat mulia dan tampan, kuat tubuh dan tekadnya, tapi dalam perang itu ia terluka oleh senjata Morgul, yang mempersingkat usianya, sementara itu tubuhnya merana penuh kesakitan, dan ia meninggal dua belas tahun setelah ayahnya wafat.
Setelah itu dimulailah masa pemerintahan Cirion yang panjang. la sangat waspada dan hati-hati, tetapi jangkauan Gondor sudah menyempit, dan ia lranya bisa membela perbatasan-perbatasannya, sementara musuh-musuhnya (atau kekuatan yang menggerakkan mereka) mempersiapkan pukulan-pukulan terhadapnya yang tak bisa ia elakkan. Kaum Corsair mengganggu pantai-

pantainya, tetapi di utaralah letak bahaya yang paling utama. Di wilayah-wilayah luas negeri Rbovanion, antara Mirkwood dan Sungai Deras, ada bangsa ganas yang sepenuhnya berada di bawah bayangan Dol Guldur. Mereka sering melancarkan serangan sambil melintasi hutan-hutan, hingga akhirnya seluruh lembah Anduin di selatan Gladden sebagian besar kosong. Orang-orang Balchoth ini terus-menerus bertambah dengan orang-orang lain yang sejenis, yang datang dari timur, sementara orang-orang Calenardhon sudah menyusut jumlahnya. Cirion dengan susah payah mempertahankan garis perbatasan Anduin.
“Karena sudah menduga akan ada badai serangan, Cirion memanggil bala bantuan dari utara, namun sudah sangat terlambat; sebab pada tahun itu (2510) kaum Balchoth, yang sudah membangun banyak kapal dan rakit besar di pantai timur Anduin, berduyun-duyun mengarungi Sungai dan menyapu bersih para pembela perbatasan. Sepasukan tentara yang datang dari selatan, dihadang dan didorong ke utara melintasi Limlight, dan di sana mendadak pasukan itu diserang segerombolan Orc dari Pegunungan, yang mendorong mereka ke arah Anduin. Namun dari Utara datang bantuan tak terduga, dan terompet-terompet kaum Rohirrim untuk pertama kali terdengar di Gondor. Eorl Muda datang bersama pasukan berkudanya dan menghalau musuh, mengejar kaum Balchoth melintasi padang-padang Calenardhon sampai mereka menemui ajal. Maka Cirion memberikan wilayah itu kepada Eorl untuk didiami, dan Eorl mengikrarkan Sumpah Eorl kepada Cirion, tentang persahabatan yang akan selalu siap melayani kebutuhan atau panggilan para Penguasa Gondor.”


Pada masa Beren, Pejabat kesembilan belas, lebih besar lagi malapetaka yang menimpa Gondor. Tiga armada panjang yang sudah lama dipersiapkan datang dari Umbar dan Harad, menyerang pantai-pantai Gondor dengan kekuatan besar; musuh mendarat di banyak tempat, bahkan sampai ke utara, sejauh muara Isen. Pada saat bersamaan kaum Rohirrim diserang dari barat dan timur, dan negeri mereka dibanjiri musuh, sampai mereka terdesak mundur ke lembah- lembah Pegunungan Putih. Pada tahun itu (2758) Musim Dingin diawali hawa

dingin dan hujan salju deras dari Utara dan Timur yang berlangsung selama hampir lima bulan. Helm dari Rohan beserta kedua putranya tewas dalam perang itu; terjadi banyak penderitaan dan kematian di Eriador dan Rohan. Tetapi di Gondor, di selatan pegunungan, keadaan tidak begitu buruk, dan sebelum musim semi Beregond putra Beren sudah menguasai para penyerbu. Segera ia mengirimkan bantuan kepada Rohan. Dialah kapten terhebat yang bangkit di Gondor sejak Boromir; dan saat ia menggantikan ayahnya (2763) kekuatan Gondor mulai pulih. Namun Rohan lebih lambat pulih dari luka-luka yang dideritanya. Karena itulah Beren menyambut kedatangan Saruman, dan memberikan kunci Orthanc kepadanya; dan sejak tahun itu (2759) Saruman berdiam di Isengard.


Di masa pemerintahan Beregond, Perang Kurcaci dan Orc berlangsung di Pegunungan Berkabut (2793-9), yang hanya terdengar selentingannya di selatan, sampai para Orc yang lari dari Nanduhirion berusaha melintasi Rohan dan menetap di Pegunungan Putih. Terjadi banyak sekali pertempuran di lembah-lembah sebelum bahaya itu hilang.
Ketika Belecthor II, Pejabat kedua puluh satu, wafat, Pohon Putih di Minas Tirith juga mati; tapi pohon itu dibiarkan tetap berdiri “sampai Raja kembali”, karena benihnya tidak ditemukan.
Di masa Turin II, musuh-musuh Gondor mulai bergerak lagi; sebab kekuatan Sauron sudah tumbuh kembali dan hari kebangkitannya sudah semakin dekat. Semua orang, kecuali yang paling tabah, meninggalkan Ithilien dan pindah ke barat mengarungi Anduin, karena negeri itu sudah dipenuhi Orc-Orc dari Mordor. Turin-lah yang membangun perlindungan rahasia bagi tentaranya di Ithilien, salah satunya Henneth Annun, yang paling lama dalam penjagaan dan diawaki. la juga memperkuat kembali pulau Cair Andros untuk mempertahankan Anorien. Namun bahaya utamanya ada di selatan, di mana kaum Haradrim menduduki Gondor Selatan, dan banyak terjadi pertarungan sepanjang Poros. Ketika Ithilien diserbu kekuatan musuh yang besar, Raja Folcwine dari Rohan memenuhi Sumpah Eorl dan membayar utangnya atas bantuan yang dikirim Beregond,

dengan mengirim banyak orang ke Gondor. Dengan bantuan mereka, Turin memperoleh kemenangan di penyeberangan Poros; namun putra-putra Folcwine tewas dalam pertempuran itu. Para Penunggang memakamkan mereka sesuai kebiasaan bangsa mereka, dan jenazah keduanya diletakkan dalam satu kuburan, karena mereka saudara kembar. Kuburan itu berdiri di sana untuk masa yang sangat lama, Haudh in Gwanur, tinggi di atas pantai sungai, dan musuhmusuh Gondor takut melewatinya.
Turgon yang menggantikan Turin, tetapi tentang masa pemerintahannya yang terutama diingat adalah bahwa dua tahun menjelang kematiannya, Sauron bangkit lagi dan menyatakan dirinya secara terbuka; ia masuk kembali ke Mordor yang sudah lama dipersiapkan untuknya. Maka Baraddiu pun dibangun kembali, Gunung Maut menyala lagi, dan sisa-sisa terakhir penduduk Ithilien melarikan diri ke tempat-tempat yang jauh sekali. Ketika Turgon wafat, Saruman mengakui Isengard sebagai miliknya, dan rnemperkuatnya.


“Ecthelion II, putra Turgon, orang yang bijaksana. Dengan kekuatan yang masih tersisa baginya, ia mulai memperkuat wilayahnya terhadap serangan Mordor. Ia menggugah semua orang yang mempunyai kemampuan, baik yang tinggal dekat maupun jauh, untuk mengabdi kepadanya, dan kepada mereka yang terbukti setia ia memberikan pangkat dan imbalan setara. Dals-un hampir semua hal ia memperoleh bantuan dan saran dari seorang kapten hebat yang sangat disayanginya, melebihi orang-orang lain. Orang-orang di Gondor memanggilnya Thorongil, Elang Bintang, karena Ia bergerak cepat dan berpenglihatan tajam, dan memakai bintang perak di jubahnya; tetapi tak ada yang tahu nama aslinya atau di mana ia dilahirkan. la datang ke Ecthelion dari Rohan, di mana Ia sudah mengabdi kepada Raja Thengel, tetapi ia bukan dari bangsa Rohirrim. Ia seorang pemimpin besar, untuk pasukan tentara darat maupun lautan, namun kemudian ia pergi entah ke mana, semisterius kedatangannya, sebelum masa pemerintahan Ecthelion berakhir.
“Sering sekali Thorongil memberi nasihat pada Ecthelion bahwa kekuatan kaum pemberontak di Umbar merupakan bahaya besar bagi Gondor, juga merupakan

ancaman terhadap wilayah selatan yang sangat mungkin mematikan, kalau Sauron melancarkan perang terbuka. Akhirnya ia mendapat izin dari Pejabat dan mengumpulkan sebuah armada kecil, lalu ia mendatangi Umbar di malam hari, di saat tak terduga, dan di sana ia membakar sebagian besar kapal kaum Corsair. Ia sendiri menaklukkan Kapten Haven dalam pertempuran di dermaga, lalu ia menarik mundur armadanya dengan hanya menderita sedikit kehilangan. Namun ketika mereka kembali ke Pelargir, dengan sedih dan heran orang-orang mendapati Thorongil tak mau kembali ke Minas Tirith, di mana ia akan disambut dengan penuh penghormatan.”
“la mengirimkan pesan perpisahan pada Ecthelion sambil berkata, ‘Tugas-tugas lain sekarang memanggilku, Lord. W aktu yang sangat lama akan berlalu, banyak malapetaka akan terjadi, sebelum aku datang lagi ke Gondor, kalau itu memang takdirku.’ Meski tak ada yang bisa menduga-duga tugas apa yang menunggunya, atau panggilan apa yang sudah diterimanya, tetapi orang-orang tahu ke mana ia pergi. Sebab ia naik kapal menyeberangi Anduin, dan di sana ia pamit kepada para pendampingnya, lalu melanjutkan perjalanan sendirian; terakhir terlihat wajahnya menghadap ke Pegunungan Bayang-Bayang.”
“Kota dirundung duka atas kepergian Thorongil yang terasa sebagai kehilangan besar, kecuali mungkin bagi Denethor, putra Ecthelion, yang sekarang sudah menjadi pria yang matang untuk memangku jabatan Pejabat, yang diwarisinya pada saat kematian ayahnya empat tahun kemudian.”
“Denethor II orang yang angkuh, jangkung, gagah perkasa, dan berwibawa, melebihi siapa pun yang pernah muncul di Gondor selama masa yang sangat lama; selain itu ia juga bijak, bisa melihat masa depan, dan pakar adat istiadat. la sangat mirip Thorongil, hampir seolah mereka bersaudara, namun ia hanya menempati unitan kedua setelah Thorongil, orang asing itu, dalam hati orang- orang dan dalam penilaian ayahnya. Saat itu banyak yang mengira Thorongil sengaja pergi sebelum saingannya menjadi majikannya; meski sebenarnya Thorongil sendiri tak pernah bersaing dengan Denethor, juga tak menganggap dirinya lebih tinggi dari sekadar pengabdi sang Pejabat. Hanya dalam satu hal mereka memberikan nasihat berbeda kepada sang Pejabat: Thorongil sering

memperingatkan Ecthelion agar jangan mempercayai Saruman si Putih dari Isengard, tetapi lebih baik menyambut Gandalf Si Kelabu. Namun antara Denethor dan Gandalf tidak saling menyukai; dan setelah masa Ecthelion, Pengembara Kelabu malah semakin tak disambut hangat di Minas Tirith. Oleh karena itu di kemudian hari, ketika semuanya sudah jelas, banyak yang menyangka bahwa Denethor, yang pikirannya sangat tajam dan punya pandangan lebih jauh dan mendalam daripada orang-orang lain pada masanya, sudah tahu siapa sebenarnya Thorongil, orang asing itu, dan curiga bahwa ia dan Mithrandir sudah bersekongkol untuk menggantikan dirinya.


“Ketika Denethor menjadi Pejabat (2984), ternyata ia penguasa yang hebat, mengendalikan semua dengan tangannya sendiri. la tidak banyak bicara. la mendengarkan nasihat-nasihat, lalu mengikuti pikirannya sendiri. la menikah dalam usia tidak muda lagi, (2976), dengan Finduilas, putri Adrahil dari Dol Amroth. Ia wanita yang sangat cantik dan berhati lembut, namun sebelum dua belas tahun berlalu, ia meninggal. Denethor mencintainya dengan caranya sendiri, lebih daripada siapa pun, kecuali putra sulung yang dilahirkannya. Tetapi orang-orang melihat Finduilas merana di kota benteng itu, seperti setangkai bunga dari lembah-lembah dekat laut yang ditanam di batu karang tandus. Bayangan di timur memenuhi hatinya dengan kengerian, dan ia selalu memandang jauh ke selatan, ke lautan yang dirindukannya.”
“Setelah kematiannya, Denethor jadi semakin murung dan pendiam, sering duduk lama dan merenung di menaranya, lalu ia mendapat firasat bahwa serangan dari Mordor akan berlangsung pada masa pemerintahannya. Belakangan orang-orang menduga bahwa karena membutuhkan pengetahuan, namun juga karena keangkuhan dan keyakinannya akan kekuatan tekadnya sendiri, ia berani memandang ke dalam palantir dari Menara Putih. Tak ada di antara para Pejabat yang berani melakukan itu, tidak juga Earnil dan Earnur, setelah kejatuhao Minas Ithil, saat palantir milik Isildur jatuh ke tangan Musuh. Batu di Minas Tirith adalah palantir dari Anarion, yang paling mirip dengan yang dimiliki Sauron.”

“Dengan cara ini Denethor memperoleh banyak pengetahuan tentang halhal yang terjadi di negerinya, dan jauh di seberang perbatasan-perbatasannya, dan orang-orang pun kagum; tetapi ia membeli pengetahuan itu dengan harga sangat mahal; ia lebih cepat menjadi tua, karena adu kekuatan dengan Sauron. Dengan demikian kesombongan di hati Denethor semakin membengkak, seiring dengan rasa putus asa, sampai-sampai dalam semua peristiwa masa itu ia hanya melihat satu pertarungan tunggal antara Penguasa Menara putih lawan Penguasa Barad-dur; ia curiga pada semua yang menentang Sauron, kecuali bila mereka mengabdi kepadanya seorang.”
“Perang Cincin semakin dekat, dan putra-putra Denethor tumbuh dewasa. goromir yang lebih tua lima tahun, sangat dicintai ayahnya. Boromir minp dengannya dalam hal wajah dan keangkuhan, tapi selebihnya hanya sedikit. Sifatnya lebih mirip Raja Eamur di zaman dahulu, yang tidak mau beristri dan lebih menikmati pertempuran; berani dan kuat, tapi tidak begitu memedulikan pengetahuan, kecuali kisah-kisah pertempuran lama. Faramir mirip dengannya dalam penampilan, tapi berbeda sifat-sifatnya. Faramir bisa membaca pikiran orang lain, sama tajamnya seperti ayahnya, tetapi apa yang terbaca olehnya malah menyentuh hatinya, membuatnya merasa iba, bukan memandang rendah. Pembawaannya lembut, dan ia pecinta pengetahuan dan musik, sehingga oleh orang-orang di masa itu ia dianggap kurang gagah berani seperti kakaknya. Namun sesungguhnya tidak demikian halnya, hanya saja Faramir tidak mencari kegemilangan tanpa tujuan dalam menghadapi bahaya. la menyambut Gandalf dengan gembira,setiap kali Gandalf datang ke Kota, dan ia belajar apa saja yang bisa diperolehnya dari kearifan Gandalf, dalam hal ini, serta banyak hal lainnya, ia membuat hati ayahnya tak senang.”
“Meski begitu, kedua bersaudara itu saling menyayangi sejak masa kanak-- kanak; Boromir selalu menjadi penolong dan pelindung Faramir. Tak pernah timbul kecemburuan atau persaingan di antara mereka, demi mendapatkan kasih sayang ayah mereka ataupun penghargaan orang lain. Bagi Faramir rasanya tak mungkin ada orang di Gondor yang bisa menyaingi Boromir, putra mahkota Denethor, Kapten Menara Putih; begitu pula pendapat Boromir. Namun

kemudian yang terbukti justru sebaliknya. Tetapi tentang semua kejadian yang menimpa ketiga tokoh ini dalam Perang Cincin banyak diceritakan dalam buku lain. Dan setelah Perang itu, masa pemerintahan para Pejabat pun berakhir; karena pewaris Anarion dan Isildur kembali dan kedudukan raja dipulihkan, sementara panji Pohon Putih berkibar lagi dari Menara Ecthelion.”


(v)

BERIKUT INI ADALAH SEBAGIAN KISAH ARAGORN DAN ARWEN



“Arador adalah kakek Raja. Putranya, Arathorn, meminang Gilraen yang Cantik, putri Dirhael, yang juga merupakan keturunan Aranarth. Dirhael tidak setuju dengan perkawinan ini karena Gilraen masih muda dan belum mencapai usia di mana biasanya kaum wanita Dunedain menikah.”
“Lagi pula,” katanya, “Arathorn pria yang keras dan sudah cukup umur, dan akan segera menjadi kepala suku; tapi aku punya firasat bahwa hidupnya akan sangat singkat.”
Tetapi Ivorwen, istrinya, yang juga berpandangan jauh, menjawab, “Justru kalau begitu, harus dipercepat! Masa gelap sebelum badai sudah menyongsong, dan peristiwa-peristiwa besar akan berlangsung. Kalau dua orang ini menikah sekarang, masih ada harapan bagi bangsa kita; tapi kalau mereka menundanya, perkawinan itu tidak akan terjadi selama zaman ini masih berlangsung.”
“Alkisah ketika Arathorn dan Gilraen baru satu tahun menikah, Arador diculik para troll bukit di Coldfells di sebelah utara Rivendell, dan dibunuh; maka Arathorn menjadi Kepala Suku kaum Dunedain. Tahun berikutnya Gilraen melahirkan putranya, yang dinamai Aragorn. Tetapi Aragorn baru berusia dua tahun ketika'Arathorn pergi bertempur melawan para Orc bersama kedua putra Elrond, dan ia terbunuh oleh panah Orc yang menembus matanya; dengan demikian hidupnya memang sangat singkat menurut ukuran orang dari bangsanya, karena umurnya baru enam puluh tahun ketika ia tewas.”
“Maka Aragorn, yang sekarang menjadi Pewaris Isildur, dibawa bersama ibunya untuk menetap di rumah Elrond; dan Elrond bertindak seperti ayah baginya, dan

sangat menyayanginya seperti terhadap putranya sendiri. Aragorn dipanggil Estel, yang berarti 'Harapan', dan nama aslinya serta. garis keturunannya dirahasiakan atas perintah Elrond; karena Kaum Bijak tahu bahwa Musuh berupaya mencari apakah masih ada yang hidup di antara Pewaris Isildur.” “Tetapi ketika Estel baru berusia dua puluh tahun, suatu saat ia kembali ke Rivendell setelah melakukan perbuatan-perbuatan gagah berani bersama kedua putra Elrond; Elrond memandangnya dan merasa puas, karena ia melihat Estel tampan dan mulia, dan cepat dewasa, meski ia masih akan tumbuh lebih hebat lagi, baik tubuh maupun pikirannya. Maka hari itu Elrond memanggilnya dengan nama aslinya, dan menceritakan siapa dia sebenarnya, putra siapa dia, lalu ia menyerahkan benda-benda pusaka rumahnya kepada Aragorn.”
“Ini cincin Barahir,” katanya, “tanda tali persaudaraan kita dari jauh; dan inilah serpihan-serpihan Narsil. Dengan benda-benda ini kau akan melakukan perbuatan-perbuatan besar; sebab kulihat masa hidupmu akan jauh lebih panjang daripada ukuran Manusia, kecuali kalau kau ditimpa bencana atau gagal dalam ujian. Ujiannya akan sulit dan lama. Tongkat kekuasaan Annuminas masih kutahan, karena kau harus membuktikan dirimu pantas memperolehnya.”
“Hari berikutnya, saat matahari terbenam, Aragorn berjalan-jalan sendirian di hutan, dan hatinya begitu senang; lalu ia bernyanyi, karena hatinya dipenuhi harapan dan dunia tampak begitu indah. Tiba-tiba, saat sedang bemyanyi, ia melihat seorang gadis berjalan di halaman hijau di antara batang-batang putih pohon birch; ia pun berhenti dan terkagum-kagum, karena menyangka Ia sudah tersasar masuk ke dalam sebuah mimpi, atau bahwa mungkin ia sudah diberkati seperti para penyanyi Peri, yang mampu mewujudkan hal-hal yang mereka nyanyikan, di depan mata mereka yang mendengarkan.”
“Sebab yang tadi dinyanyikan Aragorn adalah sebagian dari Syair Luthien, yang mengisahkan pertemuan Luthien dan Beren di hutan Neldoreth. Lalu lihatlah! Nun di sana, Luthien berjalan di depannya, di Rivendell, berpakaian jubah perak dan biru, cantik seperti senja di rumah Peri; rambutnya yang gelap berkibar tertiup angin yang tiba-tiba berembus, dan alisnya dihiasi permata seperti bintang-bintang.”

“Untuk sejenak Aragorn menatap diam, namun karena khawatir gadis itu akan pergi dan tidak terlihat lagi, Ia memanggil sambil berteriak, Tinuviel, Tinuviel! sama seperti yang dilakukan Beren pada Zaman Peri lama berselang.”
“Maka gadis itu memutar badannya dan tersenyum, lalu berkata, Siapakah kau?

Mengapa kau memanggilku dengan nama itu?”

Lalu Aragorn menjawab, “Karena aku memang menyangka kau Luthien Tinuviel, yang sedang kunyanyikan lagunya. Tapi kalau kau bukan dia, maka kau mirip sekali dengannya.”
“Banyak sekali yang mengatakan demikian,” jawab gadis itu dengan khidmat. “Tetapi namanya bukan namaku. Meski mungkin nasibku takkan berbeda jauh dengan nasibnya. Tapi siapakah kau?”
“Aku dinamai Estel,” sahut Aragorn; “tetapi aku adalah Aragorn, putra Arathorn, Pewaris Isildur, Penguasa kaum Dunedain.” Namun sambil mengatakan itu, Aragorn merasa bahwa keturunannya yang begitu mulia, yang membanggakan hatinya, kini tak bernilai tinggi, bahkan sama sekali tak berharga bila dibandingkan keagungan dan kecantikan gadis itu.
Tetapi gadis itu tertawa ceria dan berkata. “Kalau begitu, kita masih saudara jauh. Karena aku adalah Arwen putri Elrond, dan aku disebut juga Undomiel.”
“Di masa berbahaya, sering sekali orang-orang menyembunyikan harta mereka yang paling utama,” kata Aragorn. “Tetapi aku sungguh heran, karena meski aku tinggal di rumah ini sejak masa kanak-kanakku, tak pernah aku mendengar namamu disebut-sebut oleh Elrond maupun kedua kakakmu. Bagaimana bisa terjadi bahwa kita belum pernah bertemu? Tak mungkin ayahmu mengurungmu di gudangnya, bukan?”
“Tidak,” kata Arwen, sambil memandang Pegunungan yang menjulang di timur. “Untuk beberapa lama aku tinggal di negeri keluarga ibuku, di Lothlorien nun jauh di sana. Aku baru saja kembali untuk menjenguk ayahku lagi. Sudah bertahun-tahun aku tidak berjalan-jalan di Imladris.”
“Lalu Aragorn pun heran, karena tampaknya Arwen tidak jauh lebih tua daripada dirinya, yang baru hidup tak lebih dari dua puluh tahun di Dunia Tengah. Lalu Arwen menatap matanya dan berkata, 'Tak perlu heran! Anak-anak Elrond

mempunyai kehidupan seperti kaum Eldar.”

Maka Aragorn menjadi malu, karena Ia melihat cahaya peri dalam mata Arwen, serta kebijaksanaan yang tumbuh dari rnenjalani masa hidup yang lama; namun sejak saat itu hatinya terpaut kepada Arwen Undomiel putri Elrond.
Pada hari-hari berikutnya Aragorn menjadi pendiam, dan ibunya merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi dengannya; akhirnya Aragorn menyerah pada pertanyaan-pertanyaan ibunya dan menceritakan pertemuannya pada senja hari di hutan.
“Putraku,” kata Gilraen, “cita-citamu tinggi sekali, meski kau keturunan para raja. Karena wanita ini adalah yang paling mulia dan cantik yang sekarang ada di dunia ini. Dan tidak pantas kalau seorang manusia fana menikahi Peri.”
“Tapi kita masih punya pertalian saudara dengan bangsa Peri,” kata Aragorn, “kalau dongeng-dongeng nenek moyangku yang kudengar memang benar.” “Memang benar,” kata Gilraen, “tapi itu sudah lama berlalu, terjadi pada zaman lain di dunia ini, sebelum bangsa kita menyusut. Karena itu aku khawatir; sebab tanpa kebaikan hati Master Elrond, para Pewaris Isildur akan segera musnah. Tapi kukira dalam hal ini kau tidak akan memperoleh kebaikan hati dari Elrond.” “Kalau begitu hari-hariku akan sangat pahit, dan aku akan berjalan sendirian di belantara.”
“Memang itulah takdirmu,” kata Gilraen; meski punya keahlian meramal dalam batas-batas tertentu, Ia tidak mengatakan apa-apa lagi tentang firasatnya, juga tidak menceritakan pada siapa pun apa yang diceritakan putranya kepadanya. “Tetapi Elrond melihat banyak hal dan membaca banyak pikiran. Maka suatu hari, sebelum musim gugur tahun itu, ia memanggil Aragorn ke kamarnya dan berkata, 'Aragorn, putra Arathorn, Penguasa kaum Dunedain, dengarkan kata- kataku! Malapetaka besar menunggumu, kau mungkin akan bangkit melebihi keagungan semua nenek moyangmu sejak zaman Elendil, atau kau mungkin jatuh ke dalam kegelapan dengan semua yang tersisa dari bangsamu. Bertahun- tahun pencobaan ada di depanmu. Kau tidak akan mempunyai istri, juga tidak akan mengikat wanita mana pun dalam pertunangan, sampai datang saatmu, dan kau sudah terbukti pantas dan layak memperolehnya.”

“Maka Aragorn menjadi gelisah, dan ia berkata, 'Apakah ibuku sudah membicarakan hal ini?”
“Sama sekali tidak,” kata Elrond. “Matamu sendiri sudah mengkhianatimu. Tapi aku tidak berbicara hanya tentang putriku. Kau belum akan dijodohkan dengan putri siapa pun. Tapi Arwen yang Cantik, Lady dari Imladris dan Lorien, Evenstar dari bangsanya, berasal dari keturunan yang jauh lebih agung daripada garis keturunanmu, dan dia sudah hidup begitu lama di dunia, sehingga baginya kau hanyalah sebuah tunas muda di samping pohon birch muda yang sudah menyaksikan sekian banyak musim panas. Dia terlalu tinggi derajatnya bagimu. Dan kukira, begitu pula yang dia rasakan. Tapi meski hatinya terpaut padamu, aku masih tetap sedih karena takdir yang menguasai kami.”
“Takdir apakah itu?” kata Aragorn.

“Bahwa selama aku tinggal di sini, dia akan terus hidup mengecap masa muda kaum Eldar,” jawab Elrond, “dan kalau aku pergi dari dunia ini, dia akan pergi bersamaku, kalau itu pilihannya.”
“Aku mengerti,” kata Aragorn, “bahwa aku sudah jatuh hati pada suatu harta

yang tak kalah nilainya dibanding harta Thingol yang begitu didambakan Beren. Begitulah ternyata nasibku.” Maka tiba-tiba kepandaian meramal yang dimiliki bangsanya, timbul dalam dirinya, dan ia berkata, “Tapi lihatlah! Master Elrond, masamu berdiam di sini tak lama lagi akan berakhir juga, dan anak-anakmu akan segera dihadapkan pada pilihan, apakah akan berpisah denganmu atau dengan Dunia Tengah.”
“Benar,” kata Elrond. “Segera, menurut ukuran kami, meski masih lama kalau diukur dengan waktu Manusia. Tapi takkan ada pilihan untuk Arwen yang kusayangi, kecuali jika kau, Aragorn putra Arathorn, memisahkan kami dan mengantar salah satu dari kita, kau atau aku, ke suatu perpisahan yang sangat pahit, perpisahan yang melampaui kiamat dunia. Kau belum tahu seberapa beratnya hal ini bagiku.” Elrond menghela napas panjang, dan setelah beberapa saat, sambil memandang Aragorn dengan serius, ia berkata lagi, “Waktulah yang akan membawa apa yang dikehendakinya. Kita tidak akan membicarakan hal ini lagi sampai waktu yang lama sekali berlalu. Hari-hari gelap sudah menjelang,

dan banyak malapetaka akan terjadi.”

“Lalu Aragorn berpisah dari Elrond dengan penuh rasa kasih; hari berikutnya ia pamit kepada ibunya, kepada seisi rumah Elrond, dan kepada Arwen, lalu ia pergi ke belantara. Selama hampir tiga puluh tahun ia bekerja keras dalam upaya melawan Sauron; ia menjadi sahabat Gandalf yang Bijak, dari siapa ia memperoleh banyak kearifan. Bersama Gandalf ia melakukan banyak perjalanan penuh bahaya, tapi sementara tahun-tahun berlalu, ia semakin sering pergi sendirian. Pengembaraannya sulit dan panjang, dan ekspresi wajahnya menjadi murung, kecuali kalau kebetulan ia tersenyum; tapi ia tampak sangat mulia di mata orang-orang, seperti seorang raja dalam pengasingan, pada saat-saat ia tidak menyembunyikan wujudnya yang asli. la pergi dengan berbagai macam penyamaran, dan memperoleh kemasyhuran dengan berbagai nama. la bergabung dengan pasukan berkuda kaum Rohirrin, dan bertempur demi Penguasa Gondor di darat dan di laut; lalu di saat kemenangan ia menghilang tanpa sepengetahuan Orang-Orang Barat, dan pergi sendirian sampai jauh ke Timur dan Selatan, menjelajahi hati orang-orang jahat maupun baik, menyingkap komplotan dan tipu muslihat budak-budak Sauron.
Maka akhirnya ia menjadi orang yang paling tangguh di antara kaurn Manusia, mahir dalam keterampilan dan adat istiadat, namun melebihi mereka semua; karena ia juga mempunyai kebijakan kaum Peri, dan dan matanya terpancar cahaya yang hanya sedikit orang bisa tahan melihatnya wajahnya sedih dan keras karena takdirnya yang keras, namun masih ada harapan di hatinya, dan kadang-kadang kegembiraan muncul bagai mata air memancar keluar dari dalam batu karang.


Alkisah ketika Aragorn berusia empat puluh sembilan tahun ia kembali dari pengembaraan penuh bahaya di perbatasan gelap Mordor, di mana kini Sauron bermukim lagi dan sibuk menjalankan rencana-rencana jahatnya. Aragorn sangat letih dan ingin kembali ke Rivendell, beristirahat sebentar di sana sebelum berpetualang lagi ke negeri-negeri jauh; dalam perjalanannya ia sampai ke perbatasan Lorien, dan ia disambut di negeri tersembunyi itu oleh Lady

Galadriel.

la belum tahu bahwa saat itu Arwen Undomiel juga sedang berada di sana, untuk sementara waktu tinggal bersama keluarga ibunya. Arwen belum berubah banyak, karena ia tidak terpengaruh usia seperti makhluk-makhluk fana; namun wajahnya sekarang lebih serius, dan suara tawanya jarang terdengar lagi. Tetapi Aragorn sudah tumbuh sempurna secara fisik maupun mental, dan Galadriel meminta ia melepaskan pakaiannya yang lusuh karena perjalanan; ia memakaikan Aragorn pakaian perak dan putih, dengan jubah Peri kelabu dan sebuah permata cemerlang di dahinya. Maka Aragorn tampak lebih gagah daripada Manusia, bahkan ia tampak seperti bangsawan Peri dari Pulau-Pulau Barat. Seperti itulah Arwen pertama kali melihat Aragorn lagi setelah perpisahan mereka yang begitu lama; dan saat Aragorn berjalan ke arahnya_ di bawah pepohonan Caras Galadhon yang dipenuhi bunga-bunga emas, Arwen pun menjatuhkan pilihan yang menentukan nasibnya.
Selama satu musim itu mereka berjalan-jalan bersama di padang-padang Lothlorien, sampai tiba saatnya mereka harus berpisah. Pada senja hari Tengah Musim Panas, Aragorn putra Arathorn dan Arwen putri Elrond, pergi ke bukit indah Cerin Amroth, di pusat negeri, lalu mereka berjalan tanpa alas kaki di atas rumput abadi yang dipenuhi bunga elanor dan niphedril. Dari atas bukit mereka memandang ke timur, ke arah Bayang-Bayang, dan kepada Senja di barat, lalu mereka mengucapkan janji setia, dan merasa sangat bahagia.
Lalu Arwen berkata, “Bayang-Bayang itu sangat gelap, namun hatiku gembira; karena kau, Estel, akan berada di antara orang-orang hebat yang dengan berani akan menghancurkannya.”
Tetapi Aragorn menjawab, “Sayang sekali! Aku tak bisa melihat tanda-tandanya, dan bagaimana hal itu akan terjadi, masih rahasia bagiku. Tapi dengan didukung oleh harapanmu, aku akan terus berharap. Dan aku menolak sama sekali Bayang-Bayang itu. Tetapi, Lady, begitu juga Senja bukanlah untukku; karena aku makhluk fana, dan kalau kau mengikat dinmu kepadaku, Evenstar, maka kau juga harus melepaskan Senja.”
Lalu Arwen berdiri diam seperti pohon putih, menatap ke Barat, dan akhirnya Ia

berkata, “Aku akan menggantungkan diriku kepadamu, Dunadan, dan berpaling dari Senja. Meski di sanalah letak negeri bangsaku dan rumah tetirah seluruh bangsaku.” Arwen sangat menyayangi ayahnya.


Ketika Elrond tahu pilihan putrinya, ia diam saja, meski hatinya sangat sedih dan malapetaka yang sudah lama dikhawatirkannya tidak terasa lebih mudah dipikul. Tapi ketika Aragorn kembali ke Rivendell, Elrond memanggilnya dan berkata, “Anakku, akan datang saat-saat semua harapan pupus, dan di luar itu belum jelas bagiku apa yang akan terjadi. kini sebuah bayangan berada di antara kita. Mungkin juga memang sudah ditakdirkan begitu, bahwa dengan kehilanganku, kerajaan Manusia akan pulih kembali. Maka, meski aku menyayangimu, kukatakan padamu: Arwen Undomiel tidak akan mengorbankan hidupnya yang abadi demi perkara yang kurang berharga. Dia tidak akan menjadi pengantin Manusia yang derajatnya kurang daripada Raja Gondor dan Arnor. Namun bagiku kemenangan kami hanya akan membawa duka dan perpisahan-tapi bagimu akan ada harapan untuk mencapai kebahagiaan, untuk sementara waktu. Duh, anakku! Aku khawatir bahwa bagi Arwen, nasib menjalani Ajal Manusia pada akhirnya akan terasa berat.”
Begitulah keadaan antara Elrond dan Aragorn sejak itu, dan mereka tidak membahas masalah ini lagi; Aragorn pergi lagi menghadapi bahaya dan kerja keras. Sementara dunia menggelap dan ketakutan menimpa Dunia Tengah, ketika kekuatan Sauron semakin besar dan Barad-dur menjulang semakin tinggi dan kuat, Arwen tetap tinggal di Rivendell, dan ketika Aragorn berada di luar negeri, dari jauh ia memperhatikan di dalam hati; dengan penuh harapan ia membuat untuk Aragorn sebuah tiang panji besar dan agung, yang pantas dikibarkan seseorang yang menuntut hak kekuasaan bangsa Numenor dan warisan Elendil.
Setelah beberapa tahun, Gilraen pamit kepada Elrond dan kembali ke bangsanya sendiri di Eriador; ia hidup sendirian di sana, dan jarang melihat putranya lagi, karena Aragorn menghabiskan banyak waktu di berbagai negeri jauh. Tetapi pada suatu saat, ketika Aragorn kembali ke Utara dan

menjenguknya, ibunya mengatakan padanya sebelum ia pergi,

“Inilah perpisahan kita yang terakhir, Estel, putraku. Aku sudah tua, bahkan menurut ukuran Orang biasa; dan kini ketika kegelapan masa kita semakin dekat ke Dunia Tengah, aku tak sanggup menghadapinya. Aku akan segera meninggalkan dunia ini.”
Aragorn mencona mengmournya aengan aerxata, iapi mungkin ada ,ahaya setelah kegelapan; dan kalau memang begitu, aku ingin Ibu melihatnya Ian berbahagia.
Tetapi ibunya hanya menjawab dengan linnod ini:

“Onen i-Estel Edain, u-chebin estel anim,”



Lalu Aragorn pergi dengan berat hati. Gilraen meninggal sebelum musim semi berikutnya.
Demikianlah maka Perang Cincin semakin dekat; tentang itu diceritakan lebih banyak dalam buku lain: bagaimana terungkap cara yang tak terduga untuk menggulingkan Sauron, dan sekarang segala harapan sudah terpenuhi. Syahdan, pada saat kekalahan, Aragorn datang dari laut dan mengibarkan panji buatan Arwen dalam pertempuran di Medan Pelennor, dan saat itulah ia pertama kali disambut sebagai raja. Akhirnya ketika semua sudah selesai, ia menerima warisan leluhumya dan menerima mahkota Gondor serta tongkat kekuasaan Arnor; dan pada Tengah Musim Panas, di tahun Kejatuhan Sauron, ia menikahi Arwen Undomiel di Kota Para Raja.
Demikianlah Zaman Ketiga berakhir dengan kemenangan dan harapan; tetapi perpisahan Elrond dengan Arwen sangat menyedihkan, karena mereka dipisahkan oleh Samudra dan takdir maut yang melebihi kiamat dunia. Ketika Cincin Utama sudah dimusnahkan dan kekuatan Tiga Cincin hilang, Elrond akhirnya jemu dan meninggalkan Dunia Tengah, dan tak pernah kembali lagi. Tetapi Arwen menjadi manusia fana, meski nasibnya menentukan ia baru akan mati ketika semua yang sudah diperolehnya hilang.
Sebagai Ratu Peri dan Manusia, Arwen mendampingi Aragorn selama enam kali dua puluh tahun dalam kemuliaan dan kebahagiaan; tapi Akhirnya Aragorn

merasa usia tua sudah menjelang, dan ia tahu bahwa masa hidupnya sudah mendekati akhir, meski memang sudah berlangsung sangat lama. Maka Aragorn berkata kepada Arwen,
“Akhirnya, Lady Evenstar yang tercantik di dunia, dan sangat kucintai, duniaku sudah mulai memudar. Lihatlah! Kita sudah mengumpulkan dan menghabiskan, maka sekarang saat pembayaran sudah dekat.”
Arwen tahu apa yang dimaksud Aragorn, dan sudah lama ia tahu hal itu akan

terjadi; tapi bagaimanapun ia merasakan kesedihan yang amat mendalam. “Apakah kau akan meninggalkan bangsamu, yang menggantungkan diri kepadamu, sebelum waktumu, Tuan?” katanya.
“Bukan sebelum waktuku,” jawab Aragorn. “Karena kalau aku tidak pergi sekarang, tak lama lagi aku akan dipaksa pergi. Lagi pula Eldarion putra kita sudah matang untuk mengemban tugasnya sebagai raja.”
Maka Aragorn pergi ke Rumah Para Raja di Jalan Sunyi, membaringkan diri di pembaringan panjang yang sudah disiapkan untuknya. Di sana ia berpamitan kepada Eldarion, dan menyerahkan mahkota bersayap dari Gondor serta tongkat kekuasaan dari Arnor kepadanya; lalu semuanya, kecuali Arwen, meninggalkannya, dan ia berdiri sendirian di samping tempat tidur Aragorn. Dengan seluruh kebijakan dan keagungan keturunannya, Arwen toh tak bisa menahan diri untuk membujuk Aragorn agar tinggal bersamanya lebih lama. Arwen masih belum letih dalam usianya, maka ia merasakan sepenuhnya kegetiran kehidupan fana yang sudah ia pilih untuk dirinya sendiri.
“Lady Undomiel,” kata Aragorn, “memang perpisahan ini berat, tapi sudah ditakdirkan demikian, ketika kita bertemu hari itu di bawah pohonpohon birch putih di kebun Elrond yang sekarang kosong. Dan di bukit Cerin Amroth ketika kita meninggalkan Bayang-Bayang maupun Senja, kita sudah menerima takdir ini. Coba pikirkan, kekasihku, tanyakan apakah kau memang ingin aku menunggu sampai aku layu dan jatuh dari kedudukanku yang tinggi dalam keadaan pikun dan tak berdaya. Tidak, Lady, akulah yang terakhir dari bangsa Numenor dan Raja paling mutakhir dari Zaman Peri; kepadaku telah diberikan bukan hanya masa hidup tiga kali lipat Orang-orang Dunia Tengah, tetapi juga

anugerah untuk bisa pergi sekehendakku, dan mengembalikan pemberian itu.

Maka sekarang aku akan tidur.”

“Tak ada penghiburan yang bisa kuberikan padamu, karena memang tak ada penghiburan untuk kepedihan semacam ini di dalam lingkungan dunia. Pilihan terakhir ada di depanmu: pergi ke Havens, membawa ke Barat kenangan tentang masa kita hidup berdampingan, yang di sana akan selalu abadi, meski tak lebih dari kenangan; atau mematuhi hukum Ajal Manusia.”
“Tidak, Tuanku,” kata Arwen, “pilihan itu sudah lama lewat. Kini sudah tak ada lagi kapal yang akan membawaku ke sana, dan aku memang harus mematuhi hukum Ajal Manusia, mau tak mau: kehilangan dan kesunyian. Tapi ingin kukatakan padamu, Raja bangsa Numenor, bahwa baru kini aku memahami kisah bangsamu dan kejatuhan mereka. Dulu aku mencemooh mereka sebagai orang-orang bodoh yang jahat, tapi sekarang aku mengasihani mereka. Sebab kalau ini memang hadiah dari Yang Satu kepada Manusia, seperti dikatakan kaum Eldar, maka sungguh pahit untuk menerimanya.”
“Begitulah adanya,” kata Aragorn. “Tapi jangan sampai kita jatuh dalam ujian terakhir, kita yang dulu sudah melepaskan Bayang-Bayang dan Cincin. Memang kita harus pergi dengan penuh kesedihan, tapi bukan dengan putus asa. Lihatlah! kita tidak terikat selamanya kepada lingkungan dunia, di , luarnya masih ada banyak selain kenangan. Selamat tinggal!”
“Estel. Estel!” seru Arwen, sementara itu sambil memegang tangan Arwen dan mengecupnya, Aragorn tertidur. Sosoknya tampak begitu elok, sehingga semua yang datang setelah itu, memandangnya heran; karena mereka melihat keindahan masa mudanya, kegagahan masa dewasanya, dan kebijakan serta keagungannya di usia tua, semuanya berbaur jadi satu. Maka a berbaring lama di sana, sebuah citra kecemerlangan para Raja Manusia lalam kegemilangan yang tak pernah pudar, sebelum hancurnya dunia.
Lalu Arwen pergi dari Rumah itu, cahaya di matanya padam, dan orang)rang melihatnya menjadi dingin dan kelabu seperti malam musim dingin. anpa bintang. Lalu Arwen pamit kepada Eldarion, dan kepada putri-putrinya, Ian kepada semua yang dicintainya; ia keluar dari kota Minas Tirith dan )ergi ke

negeri Lorien, tinggal sendirian di sana, di bawah pepohonan yang ;udah mulai layu, sampai musim dingin tiba. Galadriel sudah pergi, begitu uga Celeborn, dan negeri itu sunyi senyap.
Di sanalah, di mana daun-daun mallorn berjatuhan, tetapi musim semi belum datang, akhirnya Arwen membaringkan dirinya di Cerin Amroth; di ianalah kuburannya yang hijau berada, sampai seluruh dunia berubah, dan ;eluruh masa hidupnya sama sekali terlupakan oleh orang-orang sesudah itu, Ian elanor serta niphredil tidak lagi mekar di sebelah timur Samudra.
Begitulah akhir kisah ini, sebagaimana diceritakan kepada kami oleh orang- orang Selatan; dan dengan wafatnya Evenstar tidak diceritakan lagi Kisah-kisah lain dalam buku tentang zaman lampau ini.


II RUMAH EORL



Eorl Muda adalah penguasa para Eotheod. Negeri itu letaknya dekat mata air Sungai Anduin, di antara pegunungan paling jauh dari Pegunungan Berkabut dan wilayah paling utara Mirkwood. Kaum Eotheod pindah ke Nilayah itu pada masa pemerintahan Raja Earnil II, dari negeri di lembah-lembah Anduin antara Carrock dan Gladden, dan mereka mempunyai asal-usul pertalian saudara dekat dengan kaum Beorning dan orang-orang di pinggiran barat hutan. Leluhur Eorl mengaku sebagai keturunan para raja Zhovanion, yang wilayahnya terletak di luar Mirkwood sebelum serangan kaum Wainrider; karena itu mereka menganggap diri mereka saudara para Raja Gondor yang diturunkan oleh Eldacar. Mereka paling menyukai padang-padang luas, dan sangat menyenangi kuda serta segala macam kemahiran berkuda; tetapi di lembah-lembah tengah Anduin pada masa itu tinggal banyak bangsa, lagi pula bayangan Dol Guldur semakiri panjang; maka cetika mendengar tentang jatuhnya Raja Penyihir, mereka mulai mencari wilayah lebih luas di Utara, dan mengusir sisa-sisa penduduk Angmar di sisi imur Pegunungan. Tetapi pada masa Leod, ayah Eorl, jumlah mereka sudah nembengkak, dan sekali lagi mereka menderita kekurangan di kampung ialaman sendiri.

“Pada tahun dua ribu lima ratus sepuluh di Zaman Ketiga, bencana baru Rhovanion dan datang dari negeri Cokelat, menyeberangi Anduin dengan rakit- rakit. Pada saat bersamaan, entah kebetulan atau sengaja, para Orc (yang kala itu sebelum berperang dengan para Kurcaci, dan masih mengenyam kekuatan besar) berdatangan, turun dari pegunungan. Para penyerbu menjatuhkan Calenardhon, dan Cirion, Pejabat Gondor, meminta bantuan dari utara; karena antara Orang-Orang dari Lembah Anduin dengan orang-orang Gondor sudah lama terjalin persahabatan. Tetapi di lembah Sungai sekarang hanya ada sedikit orang, dan mereka tercerai-berai, lagi pula sangat lamban dalam memberikan bantuan sebisa mungkin. Akhirnya kabar tentang kebutuhan Gondor sampai ke telinga Eorl, dan meski tampaknya sudah terlambat, ia berangkat dengan pasukan besar bala tentara berkuda.
“Demikianlah ia tiba di pertempuran di Padang Celebrant, begitulah nama negeri yang terletak antara Silverlode dan Limlight. Di sana pasukan utara dari Gondor terancam bahaya. Kalah di Wold dan terpisah dari selatan, pasukan itu terdesak melintasi Limlight, lalu mendadak diserang pasukan Orc yang mendesak mereka ke Anduin. Semua harapan pupus sudah, ketika tanpa terduga, pasukan Penunggang datang dari Utara dan menyerang bagian belakang musuh. Maka nasib pertempuran berbalik, dan musuhlah yang diusir dengan pembantaian melintasi Limlight. Eorl memimpin anak buahnya dalam , pengejaran, dan orang- orang begitu gentar melihat pasukan dari Utara, sampai penyerang W old pun panik, dan para Penunggang memburu mereka di padang-padang Calenardhon.” “Penduduk wilayah itu sudah tinggal sedikit sejak terkena Wabah, dan kebanyakan dari mereka yang masih tinggal di sana, sudah dibantai kaum Easterling. Oleh karena itu Cirion memberikan Calenardhon antara Anduin dan Isen kepada Eorl dan rakyatnya, sebagai imbalan atas bantuannya; lalu mereka mendatangkan para istri dan anak-anak beserta harta milik mereka dari utara, dan tinggal di negeri itu. Mereka memberinya nama baru: Mark Para Penunggang, dan mereka menyebut diri mereka sendiri kaum Eorlingas; namun di Gondor negeri mereka disebut Rohan, dan orang-orarignya dinamai Rohirrim (artinya Penguasa Kuda). Maka Eorl menjadi Raja pertama dari Mark, dan

sebagai tempat tinggalnya ia memilih sebuah bukit hijau di depan kaki Pegunungan Putih yang menjadi dinding selatan negerinya. Di sanalah kemudian kaum Rohirrim hidup sebagai bangsa merdeka di bawah raja dan hukum mereka sendiri, tapi selalu bersekutu dengan Gondor.


“Banyak penguasa dan pejuang, serta banyak wanita cantik dan gagah berani, disebut-sebut dalam lagu-lagu Rohan yang masih ingat wilayah Utara. Frumgar, menurut mereka adalah kepala suku yang memimpin rakyatnya ke Eotheod Tentang putranya, Fram, mereka menceritakan bahwa ia membunuh Scatha, naga besar dari Ered Mithrin, sehingga sejak itu negeri mereka terbebas dari naga-naga. Maka Fram memenangkan harta kekayaan besar, tapi ia berseteru dengan para Kurcaci yang menuntut harta rampasan Scatha. Fram tidak bersedia menyerahkan satu sen pun, malah mengirimkan mereka gigi Scatha yang sudah dibuat kalung, sambil berkata, ‘Permata seperti ini tidak akan ada tandingannya dalam gudang harta kalian, karena sulit diperoleh.’ Ada yang mengatakan bahwa para Kurcaci membunuh Fram karena penghinaannya itu. Begitulah maka tak ada rasa bersahabat antara kaum Eotheod dengan para Kurcaci.”
“Leod adalah nama ayah Eorl. Ia seorang penjinak kuda liar; memang saat itu banyak sekali kuda liar di negeri itu. la menangkap seekor anak kuda putih, yang dengan cepat tumbuh menjadi kuda yang kuat, elok, dan gagah. Tak ada orang yang bisa menjinakkannya. Ketika Leod berani menaikinya, kuda itu membawanya pergi, dan akhirnya melemparkannya; kepala Leod terbentur batu karang dan ia mati. Ketika itu ia baru berusia empat puluh dua tahun, dan putranya masih remaja berusia enam belas.”
“Eorl bersumpah akan membalas dendam demi ayahnya. Lama sekali ia memburu kuda itu, dan akhirnya melihatnya; para pendampingnya menyangka ia akan mencoba mendekati binatang itu sampai dalam jangkauan tembakan panah, lalu menembaknya. Tapi ketika mereka mendekatinya, Eorl berdiri dan memanggil dengan suara keras, ‘Kemari kau, Kutukan Manusia, dan terimalah nama baru!’ Dengan heran mereka menyaksikan kuda itu memandang Eorl, lalu

datang dan berdiri di depannya, lalu Eorl berkata, ‘Kunamai engkau Felarof Kau mencintai kemerdekaanmu, dan aku tidak menyalahkanmu. Tapi sekarang kau berutang satu weregild besar padaku, dan kau akan menyerahkan kebebasanmu padaku sampai akhir hayatmu.’”
“Lalu Eorl menaikinya, dan Felarof menyerah; Eorl menungganginya pulang tanpa tali kekang atau sanggurdi; dan setelahnya Ia selalu menunggang dengan gaya itu. Kuda itu mengerti semua ucapan manusia, tapi Ia tidak mengizinkan orang selain Eorl untuk menungganginya. Eorl pergi ke Padang Celebrant menunggangi Felarof; dan kuda itu ternyata hidup sama panjangnya dengan manusia, begitu juga keturunannya. Itulah para meara, yang tidak mau membawa siapa pun kecuali Raja dari Mark atau putra-putranya, sampai masa Shadowfax. Kata orang-orang, Bema (yang disebut Orome oleh kaurn Eldar) yang membawa leluhur kuda itu dari Barat di seberang Samudra.”


“Tentang para Raja dari Mark antara Eorl dengan Theoden, paling banyak diceritakan tentang Helm Hammerhand. Ia seorang laki-laki keras bertenaga sangat kuat. Pada saat itu ada seorang laki-laki bernama Freca, yang mengaku keturunan Raja Freawine, meskipun menurut cerita orang, dalam dirinya banyak mengalir darah Dunlending, dan ia berambut hitam. la menjadi kaya raya dan sangat berkuasa, mempunyai wilayah luas di kedua dan tidak menghiraukan Raja. Helm tidak mempercayainya, tetapi memanggilnya untuk duduk di dewan penasihatnya, dan ia pun datang sekehendaknya.”
“Pada saat salah satu rapat dewan sedang berlangsung, Freca datang dengan serombongan besar orang, dan ia meminang putri Helm untuk putranya, Wulf. Tetapi Helm berkata, ‘Kau semakin besar sejak terakhir kali kau kemari; tapi kukira sebagian besar hanya lemak’; lalu semua menertawakannya, karena Freca memang berperut gendut.”
“Maka Freca marah besar dan mencaci-maki Raja, dan akhirnya berkata begini,

‘Raja tua yang menolak tongkat yang ditawarkan, bisa-bisa jatuh berlutut.’ Helm menjawab, ‘Ayolah! Perkawinan putramu hanya soal sepele. Biar Helm dan Freca menangani masalah itu nanti. Sementara ini Raja dan dewan

penasihatnya perlu membicarakan masalah-masalah lain yang penting.’”

“Ketika rapat dewan selesai, Helm bangkit berdiri dan meletakkan tangannya yang besar ke atas pundak Freca, sambil berkata, ‘Raja tidak mengizinkan percekcokan di rumahnya, tapi di luar orang bisa lebih bebas’; lalu ia memaksa Freca berjalan di depannya, keluar dari Edoras ke padang. Kepada anak buah Freca yang mendekat ia berkata, ‘Pergi! Kami tidak memerlukan penguping. Kami akan membicarakan masalah pribadi berdua saja. Pergi dan bercakap- cakaplah dengan orang-orangku!’ Lalu anak buah Freca memandang sekeliling dan melihat bahwa jumlah anak buah dan teman-teman Raja jauh melebihi jumlah mereka, maka mereka pun mundur.”
“Nah. Dunlending,” kata Raja, “hanya Helm yang perlu kauhadapi, sendirian dan tidak bersenjata. Tapi kau sudah banyak bicara, dan kini giliranku bicara. Freca, ketololanmu tumbuh bersama dengan perutmu: Kau membicarakan tongkat! Kalau Helm tidak menyukai tongkat bengkok yang didorong kepadanya, dia mematahkannya. Begini!' Lalu ia menghajar Freca dengan tinjunya hingga Freca jatuh pingsan, dan tak lama kemudian mati.”
“Kemudian Helm menyatakan putra Freca serta keluarga dekatnya sebagai musuh Raja; lalu mereka melarikan diri, karena Helm segera mengirim pasukan berkuda ke wilayah perbatasan barat.”


Empat tahun kemudian (2758) kesulitan-kesulitan besar menimpa Rohan, dan tak ada bantuan yang bisa dikirimkan dari Gondor, karena tiga armada dari Corsair menyerangnya dan perang berkecamuk di semua pantainya. Pada saat bersamaan Rohan diserang lagi dari arah Timur, dan kaum Dunlending yang melihat kesempatan untuk mereka, datang melewati Isen dan Isengard. Segera diketahui bahwa Wulf pemimpin mereka. Mereka mempunyai kekuatan besar, karena mereka bergabung dengan musuh-musuh Gondor yang mendarat di muara-muara Lefnui dan Isen.
Kaum Rohirrim kalah dan negeri mereka jatuh; mereka yang tidak terbunuh atau diperbudak, lari ke lembah-lembah pegunungan. Helm didesak mundur dari Penyeberangan Isen dan menderita kekalahan besar, lalu ia berlindung di

Hornburg dan jurang di belakangnya (yang kelak dikenal sebagai Helm’s Deep). Di sana ia dikepung. Wulf merebut Edoras dan duduk di Meduseld, menyebut dirinya sendiri Raja. Di sana Haleth, putraHelm, tewas paling akhir ketika mempertahankan pintu Meduseld.
Tak lama kemudian Musim Dingin Panjang dimulai, dan Rohan tertimbun salju selama hampir lima bulan (November hingga Maret, 2758-9). Baik kaum Rohirrim maupun musuh mereka sangat menderita dalam kedinginan, dan dalam masa kekurangan yang berlangsung lebih lama. Di Helm's Deep terjadi musibah kelaparan besar setelah Yule; karena sudah sangat putus asa, maka dengan menentang nasihat Raja, Hama putranya yang bungsu memimpin serombongan orang dalam serangan mendadak dan penggerebekan, tapi mereka hilang dalam salju. Helm menjadi garang dan kurus kering karena menderita kelaparan dan memendam kesedihan; ketakutan yang ditimbulkannya sudah setara dengan kekuatan sejumlah besar orang yang membela Burg. Ia sering pergi sendirian, berpakaian putih, dan berjalan gagah seperti troll-salju masuk ke perkemahan musuhnya, dan membunuh banyak orang dengan tangannya. Orang-orang percaya bahwa kalau Helm tidak membawa senjata, maka tidak ada senjata yang bisa melukainya. Orang-orang Dunlending mengatakan bahwa kalau Helm tidak menemukan makanan, maka ia memakan orang. Dongeng itu bertahan lama di Dunland. Helm mempunyai terompet besar, dan segera orang-orang menandai bahwa sebelum bergerak maju, ia biasanya meniupkannya keras sekali hingga bunyinya bergema di jurang Deep; makaa ketakutan besar menimpa musuh-musuhnya, sehingga mereka bukannya berkumpul untuk menangkap atau membunuhnya, tetapi lari melintasi Coomb.
Pada suatu malam orang-orang mendengar terompet dibunyikan, tapi Helm tidak kembali. Di pagi hari seberkas cahaya matahari muncul, yang pertama setelah waktu sangat lama, dan mereka melihat sebuah sosok putih berdiri diam di atas Dike, sendirian, karena tak ada orang Dunlending yang berani mendekatinya. Di sanalah Helm berdiri, mati kaku bagai baru, sedangkan lututnya tetap lurus. Kata orang-orang, terompetnya kadang-kadang masih terdengar di jurang Deep, dan hantu Helm masih berjalan di antara musuh-musuh Rohan, hingga membuat

orang-orang mati ketakutan.

Tak lama kemudian, musim dingin berakhir. Lalu Frealaf, putra Hild, saudara perempuan Helm, datang dari Dunharrow, tempat pengungsian sebagian besar orang; dengan sate pasukan kecil beranggotakan orang-orang nekat, ia mengejutkan Wulf di Meduseld dan membunuhnya, dan merebut kembali Edoras. Setelah salju, terjadi banyak banjir besar, dan lembah Entwash menjadi dataran rendah basah yang leas sekali. Para penyerang dari Timor musnah atau lari; dan akhirnya datang bantuan dari Condor, melewati jalan di timer maupun barat pegunungan. Sebelum tahun itu (2759) berakhir, kaum Dunlending diusir, juga dari Isengard; lalu Frealaf menjadi raja.
Helm dibawa dari Homburg dan dibaringkan dalam kuburan kesembilan. Setelah itu simbelmyne putih selalu tumbuh subur di atasnya, sampai kuburan itu tampak seperti berselubung salju. Ketika Frealaf wafat, dibuatlah deretan kuburan baru.


Kaum Rohirrim sangat menyusut jumlahnya karena peperangan, kekurangan rnakanan, serta kehilangan ternak dan kuda; untung saja tak ada bencana besar mengancam mereka selama bertahun-tahun setelah itu, sebab baru di masa pemerintahan Raja Folcwine kekuatan mereka pulih seperti sediakala.
Pada saat penobatan Frealaf, Saruman muncul, membawa hadiah-hadiah, sambil memuji-muji keperkasaan kaum Rohirrim. Semua menganggapnya tamu yang menyenangkan. Tak lama kemudian ia bermukim di Isengard. Beren, Pejabat Condor, yang memberinya izin untuk itu, karena Condor masih mengakui Isengard sebagai salah satu benteng negerinya, yang bukan merupakan bagian dari wilayah Rohan. Beren juga memberikan kunci Orthanc kepada Saruman. Selama itu tak ada musuh yang bisa memasuki atau merusak menara itu.
Maka seiring dengan itu, Saruman mulai bersikap seperti penguasa Manusia; karena pada awalnya ia mengurus Isengard dengan kedudukan sebagai letnan Pejabat, dan penjaga menara. Tetapi Frealaf sama senangnya seperti Beren dengan keadaan itu, menganggap Isengard ada di tangan seorang kawan yang kuat. Untuk waktu lama Saruman bersikap seperti seorang sahabat, dan

mungkin pada awalnya memang begitulah sesungguhnya. Namun di kemudian hari orang-orang tidak meragukan bahwa Saruman pergi ke Isengard dengan harapan menemukan Batu Penglihatan masih ada di sana, dan berniat membangun kekuatannya sendiri. Pasti setelah pertemuan Dewan Putih terakhir (2953) niatnya terhadap Rohan sangat jahat, tapi ia berhasil merahasiakannya. Maka ia merebut Isengard menjadi miliknya dan mulai menjadikannya tempat kekuatan dan kengerian yang dijaga ketat, seolah-olah ingin menyaingi Barad- dur. Teman-teman dan budak-budaknya diambilnya dari Semua yang membenci Condor dan Rohan, baik Manusia atau makhluk-makhluk jahat lainnya.


PARA RAJA DARI MARK



Garis Pertama

2485 – 2545 1. Eorl Muda. Mendapat nama itu karena ia menggantikan ayahnya ketika ia masih muda, dan sampai akhir hayatnya ia masin tetap berambut xunmg aan berwajan sehat kemerahan. Hidupnya agak singkat karena serangan baru dari kaum Easterling. Eorl jatuh dalam pertempuran di Wold, dan dibangunlah kuburan pertama. Felarof juga dibaringkan di sana.
2512 – 70 2. Brego. Ia mengusir musuh keluar dari Wold, lalu selama bertahun- tahun Rohan tidak diserang lagi. Tahun 2569 ia menyelesaikan balairung besar Meduseld. Di pesta itu putranya, Baldor, bersumpah akan “menapaki Jalan Orang-Orang Mati” dan ia tak pernah kembali. Brego meninggal karena kesedihan yang sangat dalam pada tahun berikutnya.
2544 - 2645 3. Aldor Tua. Ia putra kedua Brego. Ia dikenal sebagai si Tua, karena usianya panjang sekali, dan menjadi raja selama 75 tahun. Pada masanya, kaum Rohirrim semakin besar jumlahnya, dan mengusir ataupun meredam sisa-sisa orang Dunland yang masih bermukim di sisi timur Isen. Harrowdale dan lembah-lembah lain di pegunungan sudah banyak berpenduduk. Tentang tiga raja berikutnya hanya sedikit yang diceritakan, karena Rohan mengalami kedamaian dan kemakmuran pada masa pemerintahan mereka.
2570 – 2659 4. Frea. Putra tertua, anak keempat dari Aldor; ia sudah tua ketika

menjadi raja.

2594 – 2680 5. Freawine.

2619 – 99 6. Goldwine.

2644 - 2718 7. Deor. Pada masa ini kaum Dunlending sering melancarkan serangan di Isen. Tahun 2710 mereka menduduki lingkaran Isengard yang kosong, dan tidak tergoyahkan keluar dari situ.
2668 – 2741 8. Gram.

2691 - 2759 9. Helm Hammerhand. Pada akhir masa pemerintahannya, Rohan menderita kehilangan besar, karena penyerangan dan Musim Dingin Panjang. Helm dan putra-putranya, Haleth dan Hama, tewas. Frealaf, putra saudara perempuan Helm, menjadi raja.


Garis Kedua

3726 - 2798 10. Frealaf Hildeson. Saat inilah Saruman datang ke Isengard, dari mana kaum Dunlending sudah terusir. Pada mulanya kaum Rohirrim memperoleh manfaat dari persahabatannya dalam masa serba kekurangan dan kelemahan yang terjadi setelah itu.
2752 – 2842 11. Brytta. Oleh rakyatnya ia disebut Leofa, karena ia dicintai oleh semuanya; ia murah hati dan selalu siap membantu yang miskin. Pada masanya, terjadi perang melawan para Orc yang terdesak dari Utara dan mencari perlindungan di Pegunungan Putih. Ketika ia wafat, orang-orang menyangka semua Orc sudah terusir keluar; tapi ternyata tidak demikian halnya.
2780 - 2851 12. W alda. Ia hanya sembilan tahun menjadi raja. la dibunuh bersama semua pendampingnya ketika mereka terjebak oleh para Orc, saat berkuda melewati jalan pegunungan dari Dunharrow.
2804 – 64 13. Folca. Ia seorang pemburu hebat, tapi ia bersumpah tidak akan memburu hewan liar bila masih ada Orc tersisa di Rohan. Ketika benteng Orc terakhir sudah ditemukan dan dihancurkan, ia pergi untuk memburu babi hutan besar di Hutan Firien. Ia membunuh babi hutan, tapi meninggal karena luka-luka taring yang dideritanya.
2830 - 2903 14. Folcwine. Ketika ia menjadi raja, kekuatan kaum Rohirrim sudah

pulih kembali seperti sediakala. la merebut kembali jalan barat (antara Adorn dan Tsen) yang pernah diduduki Dunlending. Rohan sudah menerima bantuan besar dari Gondor pada masa penuh kejahatan. Maka ketika ia mendengar bahwa kaum Haradrim menyerbu Gondor dengan kekuatan besar, ia mengirim banyak orang untuk membantu Pejabat. Ia ingin memimpin pasukan itu sendiri, namun ia diminta untuk tidak melakukannya, lalu putra kembarnya Folcred dan Fastred (lahir 2858) pergi sebagai gantinya. Mereka tewas berdampingan dalam pertempuran di Ithilien (2885). Maka Turin II dari Gondor, mengirimkan emas kepada Folcwine sebagai kompensasi.
2870 - 2953 15. Fengel. Ia putra ketiga dan anak keempat dari Folcwine. Orang- orang mengingatnya tanpa menyanjungnya. la serakah terhadap makanan dan emas, dan selalu bertikai dengan marsekal-marsekalnya, lalu dengan anak- anaknya. Thengel, anaknya yang ketiga dan putra satu-satunya, meninggalkan Rohan ketika dewasa dan tinggal lama di Gondor, dan memperoleh penghargaan dalam pengabdiannya kepada Turgon.
2905 - 80 16. Thengel. Ia tidak mempunyai istri sampai usia cukup matang, tapi pada tahun 2943 ia menikahi Morwen dari Lossarnach di Gondor, meskipun usia Morwen tujuh belas tahun lebih muda darinya. Morwen memberinya tiga anak di Gondor, di antaranya Theoden, anak kedua, adalah putra satu-satunya. Ketika Fengel wafat, kaum Rohirrim memanggil Thengel kembali, dan dengan enggan ia pulang. Namun ternyata ia menjadi raja yang baik dan bijak; meski bahasa Gondor digunakan dalam rumah tangganya, dan tidak semua orang menganggap itu baik. Morwen memberinya dua putri lagi di Rohan; dan yang bungsu, Theodwyn, adalah yang tercantik, meski ia lahir terlambat (2963), ketika Thengel sudah berusia tua. Kakak laki-lakinya, Theoden, sangat menyayanginya. Tak lama setelah kembalinya Thengel, Saruman menyatakan dirinya sendiri sebagai Penguasa Isengard, dan mulai mengganggu Rohan, melanggar batas-batasnya, dan mendukung musuh-musuhnya.
2948 - 3019 17. Theoden. Ia disebut Theoden Ednew dalam dongengdongeng Rohan, karena di bawah pengaruh sihir Saruman ia jatuh dalam kemerosotan, tapi ia disembuhkan oleh Gandalf, dan pada tahun terakhir hidupnya ia bangkit

dan memimpin orang-orangnya sampai mencapai kemenangan di Homburg, dan segera sesudah itu ke Padang-Padang Pelennor, ke pertempuran paling akbar pada Zaman itu. la jatuh di depan pintu gerbang Mundburg. Untuk sementara ia beristirahat di negeri kelahirannya, di antara Raja-Raja Gondor yang sudah mati, tapi kemudian ia dibawa kembali dan dibaringkan di kuburan kedelapan dari garisnya di Edoras. Lalu garis baru pun dimulai.


Garis Ketiga

Tahun 2989 Theodwyn menikah dengan Eomund dari Eastfold, Marsekal Utama dari Mark. Putranya Eomer lahir tahun 2991, dan putrinya Eowyn tahun 2995. Saat itu Sauron sudah bangkit lagi, dan bayangan Mordor menggapai Rohan. Orc-Orc mulai menyerang wilayah-wilayah timur dan membunuh atau mencuri kuda. Orc lain juga berdatangan dari Pegunungan Berkabut, sebagian besar kaum uruk yang mengabdi kepada Saruman, tapi saat itu mereka belum dicurigai. Tugas penjagaan utama bagi Eomund adalah di jalan-jalan timur; lagi pula ia seorang pecinta kuda dan pembenci Orc. Bila ada kabar tentang penyerbuan, sering ia berkuda menentang mereka sementara hatinya panas karena marah, dan ia pergi tanpa berhatihati dan hanya sedikit pendampingnya. Maka pada tahun 3002 ia terbunuh; ketika mengejar gerombolan kecil sampai ke perbatasan Emyn Muil, sementara di sana ia dikejutkan pasukan besar dan kuat yang bersembunyi menunggunya di tengah batu-batu karang.
Tak lama setelahnya, Theodwyn sakit dan meninggal. Ini sangat menghancurkan hati Raja. Ia membawa anak-anak Theodwyn ke rumahnya, dan menganggap mereka sebagai anaknya sendiri. la sendiri hanya mempunyai satu anak, Theodred putranya, yang saat itu berusia dua puluh empat tahun; Ratu Elthild meninggal saat melahirkannya, dan Theoden tidak menikah lagi. Eomer dan Eowyn tumbuh di Edoras dan menyaksikan bayang-bayang gelap jatuh di atas balairung Theoden. Eomer mirip dengan para leluhurnya; namun Eowyn jangkung dan ramping, dengan keluwesan dan kegagahan yang diwarisinya dari Selatan, dari Morwen dari Lossarnach, yang oleh kaum Rohirrim dipanggil Steelsheen.



2991 - Z.KE 63 (3084) Eomer Eadig. Ketika masih muda ia menjadi Marsekal dari Mark (3017) dan diberi tugas penjagaan jalan timur seperti ayahnya. Dalam Perang Cincin, Theodred tewas dalam pertempuran melawan Saruman di Penyeberangan Isen. Karena itu sebelum tewas di Padang Pelennor, Theoden mengangkat Eomer sebagai pewarisnya dan menyebutnya raja. Pada hari itu Eowyn juga memperoleh kemasyhuran, karena ia bertarung dalam pertempuran itu, berkuda sambil menyamar; dan setelahnya ia dikenal di Mark sebagai Lady Tangan Perisai. Eomer menjadi raja agung, dan karena ia masih muda ketika menggantikan Theoden, ia memerintah selama enam puluh lima tahun, lebih lama daripada semua raja sebelum dia, kecuali Aldor Tua. Dalam Perang Cincin ia menjalin persahabatan dengan Raja Elessar, dan Pangeran Imrahil dari Dol Amroth; dan ia sering mengunjungi Gondor. Dalam tahun-tahun terakhir Zaman Ketiga ia menikahi Lothiriel, putri Imrahil. Putra mereka, Elfwine yang Tampan, memerintah sesudahnya.


Pada masa Eomer di Mark, orang-orang memperoleh kedamaian bila memang menginginkannya; penduduk semakin bertambah di lembah-lembah maupun di padang-padang, dan kuda-kuda mereka pun bertambah banyak. Di Gondor sekarang Raja Elessar memerintah, begitu juga di Arnor. Di semua negeri yang mencakup wilayah zaman dahulu itu ia menjadi raja, kecuali di Rohan; karena ia memperbarui hadiah Cirion kepada Eomer, dan Eomer sekali lagi mengulangi Sumpah Eorl. Ia sering memenuhi sumpahnya itu. Karena meski Sauron sudah musnah, kebencian dan kejahatan yang sudah dibiakkannya belum mati, dan Raja dari Barat harus menaklukkan banyak sekali musuh sebelum Pohon Putih bisa tumbuh dengan damai. Dan ke mana pun Raja Elessar pergi berperang, Raja Eomer selalu mendampinginya; di seberang Laut Rhun dan di padang;padang jauh di Selatan, gemuruh derap kaki pasukan berkuda dari Mark terdengar, dan panji-panji Kuda Putih di atas Latar Hijau berkibar ditiup angin di banyak tempat, sampai Eomer menjadi tua.

III BANGSA DURIN



Mengenai asal-usul bangsa Kurcaci, banyak diceritakan kisah aneh, baik oleh bangsa Eldar maupun oleh kaum Kurcaci sendiri; tapi karena hal-hal ini berada jauh di luar masa kami, maka hal tersebut tidak banyak diungkapkan di sini. Durin adalah nama yang digunakan para Kurcaci untuk yang tertua dari Tujuh Ayah bangsa mereka, dan leluhur dari semua raja kaum Jenggot Panjang. Ia tidur sendirian, dan ketika tiba saatnya bangsa itu ' terjaga, ia datang ke Azanulbizar, dan di gua-gua di atas Kheledzaram di timur Pegunungan Berkabut ia membangun permukimannya, di mana belakangan berdiri Tambang Moria yang sangat termasyhur dalam lagu-lagu.
Di sana ia hidup sangat lama, sehingga ia dikenal di mana-mana sebagai Durin yang Tak Bisa Mati. Tapi akhirnya ia mati sebelum Zaman Peri berlalu, dan kuburannya berada di Khazad-dum; namun garis keturunannya tak pernah terputus, dan lima kali seorang pewaris dilahirkan di Rumah-nya, begitu mirip dengan Leluhur-nya, sehingga ia menerima nama Durin. Bahkan ia dianggap oleh para Kurcaci sebagai Durin yang Tak Bisa Mati, yang kembali lagi; karena mereka mempunyai banyak dongeng dan kepercayaan aneh menyangkut diri mereka sendiri dan nasib mereka di dunia.
Setelah akhir Zaman Pertama, kekuatan dan kekayaan Khazad-dum sangat meningkat; karena diperkaya oleh banyak orang dan adat istiadat serta keterampilan, ketika kota-kota kuno Nogrod dan Belegost di Pegunungan Biru hancur berantakan di saat kejatuhan Thangorodrim. Kejayaan Moria bertahan selama Tahun-Tahun Kegelapan dan kekuasaan Sauron, karena meskipun Eregion hancur dan gerbang-gerbang Moria ditutup, serambiserambi Khazad- dum terlalu kuat dan dipenuhi orang-orang dalam jumlah yang terlalu banyak bagi Sauron untuk dikalahkan dari luar. Maka kekayaannya untuk waktu lama tetap tidak terampas, meskipun rakyatnya mulai menyusut.
Alkisah pada pertengahan Zaman Ketiga, Durin sekali lagi menjadi rajanya; dia adalah yang keenam yang memiliki nama itu. Kekuatan Sauron, pengabdi Morgoth, saat itu sudah mulai tumbuh lagi di dunia, meskipun Bayangan di Hutan

yang menghadap ke Moria, belum diketahui persis apa hakikatnya yang sesungguhnya. Semua hal jahat sedang bergerak. Para Kurcaci di masa itu menggali sangat dalam, mencari mithril di bawah Barazinbar, logam yang sangat berharga dan semakin tahun semakin sulit didapat. Maka mereka membangkitkan dari tidurnya” suatu makhluk mengerikan yang terbang dari Thangorodrim dan sudah lama bersembunyi di dalam fondasi dunia sejak kedatangan Pasukan dari Barat: Balrog dari Morgoth. Durin tewas terbunuh olehnya, dan pada tahun berikufiya, giliran putranya, Nain I, yang tewas; lalu kejayaan Moria berlalu sudah, penduduknya hancur musnah atau lari jauh sekali.


Kebanyakan dari mereka yang melarikan diri akhirnya masuk ke Utara, dan Thrain I, putra Nain, datang ke Erebor, Pegunungan Sunyi, dekat pinggiran timur Mirkwood. Di sana ia memulai pekerjaan baru, dan menjadi Raja di bawah Pegunungan. Di Erebor ia menemukan permata agung, Arkenstone, Jantung Pegunungan. Tetapi Thorin I, putranya, pindah dan pergi ke Utara Jauh ke Pegunungan Kelabu, di mana sekarang kebanyakan rakyat Durin berkumpul; karena pegunungan itu kaya dan belum banyak digali. Namun di daratan kosong di luarnya banyak terdapat naga; setelah bertahun-tahun, naga-naga itu menjadi kuat dan berkembang biak, dan mereka melancarkan perang terhadap kaum Kurcaci, dan merampok hasil karya mereka. Akhirnya Dain I, bersama Fror, putranya yang kedua, tewas terbunuh di dekat pintu serambinya oleh seekor naga dingin raksasa.
Tak lama setelah kebanyakan bangsa Durin meninggalkan Pegunungan Kelabu, Gror, putra Dain, pergi dengan serombongan pengikutnya ke Perbukitan Besi; tapi Thror, pewaris Dain, bersama Borin saudara ayahnya dan sisa bangsanya kembali ke Erebor. Thror membawa kembali Arkenstone ke Balairung Besar Thrain, dan dia serta rakyatnya menjadi makmur dan kaya, dan mereka memperoleh persahabatan dari semua Manusia yang tinggal di dekat mereka. Sebab mereka bukan hanya membuat barang-barang yang mengagumkan dan sangat indah, tapi juga senjata dan perlengkapan perang bernilai tinggi; terjadilah perdagangan besar bijih besi antara mereka dengan saudara-saudara

mereka di Perbukitan ' Besi. Maka Orang-Orang Utara yang tinggal antara Celduin (Sungai Deras) dan Camen (Redwater) menjadi kuat dan mendesak mundur semua musuh mereka dari Timur; bangsa Kurcaci pun hidup berkecukupan, dan di serambi-serambi Erebor banyak berlangsung pesta pora yang dipenuhi nyanyian-nyanyian.
Demikianlah selentingan tentang kekayaan Erebor menyebar sampai ke luar negeri dan sampai ke telinga para naga. Akhirnya Smaug, Naga Emas, yang terbesar di antara para naga masa itu, bangkit dan mendadak menyerang Raja Thror, turun dari Pegunungan dengan api berkobar-kobar. Tak lama kemudian seluruh wilayah itu hancur berantakan, kota Dale di dekatnya juga hancur dan ditinggalkan; lalu Smaug masuk ke Balairung Besar dan berbaring di atas tempat tidur emas.
Banyak saudara Thror lolos dari perampokan dan pembakaran; terakhir Thror sendiri bersama putranya, Thrain II, keluar dari balairung melalui pintu rahasia. Mereka pergi ke selatan bersama keluarga mereka,t9 mengembara panjang dan tanpa rumah. Bersama mereka ikut juga serombongan kecil sanak keluarga dan pengikut-pengikut setia.


Bertahun-tahun kemudian, Thror yang sudah tua, miskin, dan putus asa, memberikan kepada putranya, Thrain, satu-satunya harta berharga yang masih ia miliki, yang terakhir dari Tujuh Cincin, lalu ia pergi bersama satu pendamping tua bernama Nar. Tentang Cincin ia mengatakan pada Thrain ketika mereka berpisah,
“Ini mungkin akan menjadi dasar untuk membangun harta baru bagimu kelak di kemudian hari, meskipun tampaknya mustahil. Tapi memang dibutuhkan emas untuk membiakkan emas.”
“Ayah tidak berpikir untuk kembali ke Erebor, kan?” kata Thrain.

“Tentu tidak, pada usiaku ini,” kata Thror. “Pembalasan kita terhadap Smaug kuwariskan kepadamu dan putra-putramu. Tapi aku sudah jenuh dengan kemiskinan dan penghinaan Manusia. Aku akan pergi mencari apa saja yang bisa kutemukan.” Ia tidak mengatakan ke mana akan pergi.

Mungkin ia agak sinting karena usianya, juga karena nasib sial dan sering mengenang kegemilangan Moria pada masa leluhurnya; atau mungkin Cincin itu, yang berubah menjadi jahat ketika penguasanya sekarang bangun lagi, mendorongnya melakukan kebodohan dan pengrusakan. Dan Dunland, tempat ia tinggal saat itu, ia pergi ke utara bersama Nar, lalu mereka menyeberangi Celah Redhorn dan masuk ke Azanulbizar.
Ketika Thror datang ke Moria, Gerbang sudah terbuka. Nar memohon agar ia berhati-hati, tapi Thror tidak menghiraukannya, dan berjalan masuk dengan angkuh bagai seorang ahli waris yang kembali ke tempat asalnya. Tapi ia tidak keluar lagi. Nar tetap tinggal di dekat situ selama beberapa hari, sambil bersembunyi. Pada suatu hari ia mendengar teriakan keras dan bunyi terompet, dan sesosok tubuh dilemparkan keluar ke atas tangga. Karena Ia khawatir itu Thror, Ia mulai merangkak mendekat, tapi dai.i dalam gerbang terdengar suara, “Ayo, maju, Jenggot! Kami bisa melihatmu. Tak ada alasan untuk takut hari ini. Kami butuh kau sebagai pembawa pesan.”
Lalu Nar mendekat, dan mendapati bahwa memang benar itu tubuh Thror, tapi kepalanya sudah dipenggal dan menggeletak tertelungkup. Ketika Nar berlutut di sana, ia mendengar bunyi tawa Orc di dalam bayang-bayang, dan suara itu berkata,
“Kalau peminta-minta tidak mau menunggu di depan pintu, tapi menyelinap masuk untuk mencuri, inilah yang kami lakukan terhadap mereka. Kalau ada dari bangsamu yang melongokkan jenggotnya yang kotor ke dalam sini lagi, mereka akan bernasib sama. Pergi dan beritahu mereka! Tapi kalau keluarganya ingin tahu siapa yang sekarang menjadi raja di sini, baca saja nama yang tertulis di wajahnya. Akulah yang menulisnya! Akulah yang membunuhnya! Akulah penguasa di sini!”
Lalu Nar membalikkan kepala itu dan melihat dahinya sudah dicap dengan lambang tulisan Kurcaci, sehingga ia bisa membacanya, nama AZOG. Nama itu terus tertanam di hatinya dan dalam hati semua Kurcaci setelah itu. Nar membungkuk untuk memungut kepala itu, tapi suara Azog berkata,
“Lepaskan! Enyah! Ini upahmu, jenggot peminta-minta.” Sebuah kantong kecil

dilemparkan kepadanya. Isinya beberapa koin perak yang tak seberapa nilainya. Sambil menangis tersedu-sedu, Nar lari menyusuri Silverlode; tapi satu kali ia menoleh dan melihat Orc-Orc keluar dari gerbang dan mencincang tubuh Thror, lalu melemparkan potongan-potongannya kepada burung-burung gagak hitam.


Begitulah kisah yang dibawa kembali oleh Nar kepada Thrain; selesai menangis dan mencabut-cabut jenggotnya, Ia terdiam. Tujuh hari lamanya ia duduk saja dan tidak berbicara. Lalu ia bangkit berdiri dan berkata, “Ini tidak bisa dibiarkan!” Itulah awal Perang Kurcaci melawan para Orc, yang berlangsung lama dan mematikan, dan untuk sebagian besar berlangsung di tempat-tempat yang sangat dalam di bumi.
Thrain langsung mengirimkan utusan-utusan yang membawa cerita itu ke utara, timur, dan barat; tapi baru setelah tiga tahun para Kurcaci selesai mengumpulkan kekuatan. Bangsa Dunn mengumpulkan seluruh pasukannya, dan pasukan-pasukan yang dikirim dari Rumah-Rumah Ayah-Ayah yang lain bergabung dengan pasukan mereka; sebab penghinaan terhadap pewaris Yang Tertua dari bangsa mereka menimbulkan kemarahan. Setelah semuanya siap, mereka menyerang dan merampok satu demi satu benteng para Orc sebisa mungkin antara Gundabad sampai ke Gladden. Kedua belah pihak tak kenal rasa kasihan, dan terjadilah kematian serta perbuatan-perbuatan kejam dalam gelap maupun di kala terang. Tetapi bangsa Kurcaci menang karena kekuatan mereka, senjata-senjata mereka yang tidak tertandingi, dan kobaran api kemarahan mereka, saat mereka memburu Azog di setiap sarang di bawah pegunungan.
Akhirnya semua Orc yang lari di depan mereka, berkumpul di Moria, dan pasukan Kurcaci yang mengejar, datang ke Azanulbizar, lembah besar yang berada di antara lengan-lengan pegunungan di sekitar telaga Kheled-zaram, dan sejak zaman lampau merupakan bagian dari kerajaan Khazad-ditm. Ketika kaum Kurcaci melihat gerbang rumah mereka yang lama di sisi bukit, mereka berteriak keras, yang terdengar bagai guruh di lembah. Namun sepasukan besar musuh berdiri di lereng-lereng di atas mereka, dan dari gerbang keluarlah sejumlah

besar Orc yang selama itu disimpan oleh Azog untuk keperluan terakhir.

Mula-mula nasib sial bagi bangsa Kurcaci; karena hari musim dingin itu gelap tanpa matahari, dan para Orc tidak ragu-ragu, juga jumlah mereka melebihi jumlah musuh, dan mereka berdiri di tempat yang lebih tinggi. Begitulah Pertempuran Azanulbizar dimulai (atau Nanduhirion dalam bahasa Peri), yang masih membuat para Orc gemetar kalau teringat hal itu, sedangkan bangsa Kurcaci menangis bila mengingatnya. Serangan pertama dari baris terdepan pasukan yang dipimpin oleh Thrain, dipukul mundur dan menderita banyak kehilangan, sementara Thrain terdesak masuk ke sebuah hutan penuh pohon- pohon besar yang di masa itu tumbuh dekat Kheled-zaram. Di sana Frerin putranya, dan Fundin saudaranya, tewas, dan masih banyak yang lain, dan baik Thrain maupun Thorin, terluka.21 Sementara itu pertempuran terus berlanjut dengan pembantaian besar-besaran, sampai akhirnya penduduk Perbukitan Besi mengubah jalannya pertempuran hari itu. Pejuang-pejuang berpakaian logam dari Nain, putra Gror, datang terlambat dan dalam keadaan masih segar, ke medan pertempuran, dan mereka menerobos pasukan Orc sampai ke ambang pintu Moria, sambil berteriak, “Azog! Azog!” sementara mereka memukul jatuh semua yang menghalangi jalan, dengan pacul-pacul mereka.
Lalu Nain berdiri di depan Gerbang dan berteriak dengan suara lantang, “Azog! Kalau kau ada di dalam, keluarlah! . Atau permainan di lembah terlalu kasar bagimu?”
Maka Azog pun keluar. Ternyata ia Orc yang besar, kepalanya berpakaian besi, tapi ia lincah dan kuat. Bersamanya datang banyak Orc yang mirip dengannya, para petarung yang menjadi pengawalnya, dan sementara mereka melawan pendamping-pendamping NAM, Ia berkata pada Nain,
“Apa? Peminta-minta lain lagi di depan pintuku? Apa kalian juga perlu dicap?” Lalu Ia berlari mendekati Nain dan mereka bertarung. Tapi Nain sudah setengah buta karena marah, juga sudah letih bertempur, sementara Azog masih segar, keji, dan penuh akal bulus. Tak lama kemudian Nain melancarkan pukulan hebat dengan mengerahkan seluruh sisa kekuatannya, tapi Azog melompat mengelak dan menendang kaki Nain, sehingga paculnya hancur berkeping-keping

terbentur batu tempat tadi ia berdiri, dan Nain terhuyung-huyung ke depan. Lalu Azog menebas lehernya dengan pukulan cepat. Kerah bajunya yang terbuat dari logam bertahan terhadap sisi tajam, tapi pukulan itu begitu keras sehingga leher Nain patah dan Ia pun jatuh.
Azog tertawa dan mengangkat kepalanya untuk mengeluarkan teriakan kemenangan; tapi teriakan itu tersendat di tenggorokannya. Karena ia melihat seluruh pasukannya di lembah kocar-kacir, para Kurcaci bergerak ke sana kemari sambil membantai, dan mereka yang bisa lolos dari kejaran Kurcaci, berlarian ke selatan, sambil menjerit jerit. Dan di dekatnya semua tentara pengawalnya sudah tergolek mati. la membalikkan badan dan lari kembali ke Gerbang.
Di belakangnya seorang Kurcaci melompat menaiki tangga, mengikutinya sambil memegang kapak merah. Itulah Dain Ironfoot, putra Nain. Tepat di depan pintu ia menangkap Azog dan membunuhnya di sana, memenggal kepalanya. Itu dianggap suatu perbuatan hebat, karena saat itu Dain masih pemuda tanggung menurut ukuran bangsa Kurcaci. Tapi usia panjang dan banyak pertempuran masih ada di depannya; ia masih tetap gagah hingga usia tuanya, ketika Akhirnya ia tewas dalam Perang Cincin. Namun meski ia tabah dan penuh kemarahan, kata orang-orang wajahnya kelihatan pucat kelabu ketika ia turun dari depan Gerbang, seperti orang merasakan ketakutan luar biasa.


Ketika Akhirnya pertempuran berakhir, bangsa Kurcaci yang masih tersisa berkumpul di Aznulbizar. Mereka mengambil kepala Azog dan memasukkan dompet uang kecil itu ke dalam mulutnya, lalu mereka meletakkannya di atas api unggun. Tapi tak ada pesta maupun nyanyian malam itu; karena jumlah Kurcaci yang tewas menimbulkan kesedihan luar biasa. Nyaris hanya separuh jumlah mereka, yang masih bisa berdiri atau masih punya harapan untuk bisa pulih kembali.
Meskipun begitu, pagi hari berikutnya Thrain sudah berdiri di depan mereka. Satu matanya menjadi buta, tak dapat disembuhkan lagi, dan ia pincang karena kakinya terluka; tapi ia berkata, “Bagus! Kita sudah memperoleh kemenangan.

Khazad-dum sudah jadi milik kita!”

Tetapi para kurcaci menjawab, “Memang kau pewaris Durin, tapi semestinya dengan satu mata kau bisa melihat lebih jelas. Kita bertarung dalam perang ini untuk balas dendam, dan balas dendam sudah kita lakukan. Tapi rasanya tidak manis. Kalau ini kemenangan; maka tangan kita terlalu kecil untuk memegangnya.”
Lalu mereka yang bukan Bangsa Durin juga berkata, “Khazad-dum bukanlah Rumah ayah kami. Apa artinya bagi kami, kecuali harapan akan harta? Tapi kini, kalau kami harus pergi tanpa imbalan dan emas yang patut kami peroleh, maka semakin segera kami kembali ke negeri kami sendiri, semakin senang hati kami.” Lalu Thrain berpaling pada Dain dan berkata, “Tentunya bangsaku sendiri tidak akan meninggalkan aku, bukan?” “Tidak,' kata Dain: “Kau ayah bangsa kami, kami sudah menumpahkan darah demi kau, dan masih akan melakukannya lagi. Tapi kami tidak akan memasuki Khazad-dum. Kau pun tidak akan memasuki Khazad-dum. Hanya aku yang melihat menembus kegelapan Gerbang. Di dalam bayangan dia masih menunggumu: Kutukan Durin. Dunia harus berubah dan suatu kekuatan yang lain daripada kekuatan kita harus datang sebelum Bangsa Durin berjalan lagi di Moria.”
Demikianlah maka setelah Azanulbizar, para Kurcaci terpisah-pisah lagi. Tapi sebelum itu mereka bekerja keras melucuti semua kaum mereka yang sudah mati, agar jangan sampai para Orc datang dan memperoleh gudang senjata dan mau di sana. Menurut cerita, setiap Kurcaci yang pergi meninggalkan medan pertempuran itu berjalan terbungkuk di bawah beban sangat berat. Lalu mereka membangun banyak api unggun dan membakar semua jenazah saudara- saudara mereka. Di lembah itu terjadi penebangan pohon besar-besaran, yang setelah itu untuk selamanya tetap gundul, dan asap pembakarannya bisa terlihat sampai ke Lorien.
Ketika api yang mengerikan sudah padam menjadi abu, para sekutu pergi ke negeri masing-masing, dan Dain Ironfoot memimpin rakyat ayahnya kembali ke Perbukitan Besi. Di sana Thrain berdiri di dekat api unggun besar dan berkata kepada Thorin Oakenshield, “Ada yang menganggap kepala ini dibayar mahal

sekali. Setidaknya kita sudah mengorbankan kerajaan kita demi itu. Apakah kau akan ikut bersamaku ke landasan palu? Atau kau akan meminta-minta roti di depan pintu-pintu angkuh?”
“Ke landasan,” kata Thorin. “Setidaknya mengayunkan palu bisa membuat tangan tetap kuat, sampai kita bisa menggunakan alat-alat yang lebih tajam lagi.” Maka Thrain dan Thorin dengan sisa-sisa pengikut mereka (di antaranya Balin dan Gloin) kembali ke Dunland, dan segera setelah itu mereka pindah dan mengembara di Eriador. Akhirnya mereka membangun rumah dalam pengasingan di sebelah. timur Ered Luin di seberang Lune. Kebanyakan barang yang mereka tempa pada masa itu terbuat dari besi, tapi mereka lumayan makmur, dan jumlah mereka sedikit demi sedikit meningkat. Tapi, seperti sudah dikatakan oleh Thror, Cincin memerlukan emas untuk membiakkan emas, dan mereka hanya sedikit atau sama sekali tidak memiliki logam itu atau logam lain yang berharga.


Tentang Cincin ini bisa diungkapkan sedikit di sini. Para Kurcaci dari Bangsa Durin percaya bahwa Cincin itu adalah yang pertama di antara Tujuh Cincin yang ditempa; dan menurut mereka Cincin itu diberikan kepada Raja Khazad-dum, Durin ILI, oleh para pandai besi Peri sendiri, bukan oleh Sauron, meski tak diragukan bahwa kekuatan jahatnya ada di dalamnya, karena Sauron membantu penempaan ke-Tujuh Cincin. Tapi para pemilik Cincin tidak memamerkan atau membahasnya, dan jarang mereka menyerahkannya kecuali kalau sudah menjelang ajal, sehingga kurcaci lain tidak tahu pasti kepada siapa Cincin itu dianugerahkan: Ada yang menyangka Cincin itu masih berada di Khazad-dum, di kuburan rahasia para raja, kalau belum ditemukan atau dijarah; tapi di antara para Pewaris Durin, diyakini (yang ternyata salah) bahwa Thror memakainya ketika ia kembali ke sana dengan sembrono. Apa yang kemudian terjadi dengannya, mereka tidak tahu. Cincin itu tidak ditemukan pada tubuh Azog. Namun sangat mungkin bahwa dengan kelihaiannya, seperti yang sekarang diyakini para Kurcaci, Sauron sudah menemukan siapa yang menyimpan Cincin itu, yang terakhir yang masih bebas, dan bahwa nasib sial luar biasa yang

menimpa para pewaris Durin terutama disebabkan oleh kejahatan Sauron. Karena bangsa Kurcaci sudah terbukti tak bisa dijinakkan dengan cara itu. Satu- satunya kekuatan pengaruh Cincin pada mereka adalah menggelorakan hati mereka dengan keserakahan kepada emas dan barang-barang berharga, sehingga kalau mereka kekurangan baranb barang itu, semua barang lain kelihatan tidak bermanfaat, dan mereka dipenuhi rasa marah dan keinginan untuk balas dendam pada semua yang membuat mereka menderita kekurangan itu. Sejak awal mereka diciptakan sebagai bangsa yang teguh ienentang penguasaan atas diri mereka. Meski mereka bisa dibunuh atau ihancurkan, mereka tak bisa direndahkan hingga menjadi bayangan yang iperbudak oleh kehendak suatu kekuatan lain; karena itu pula mereka tidak berpengaruh oleh Cincin mana pun, entah hidup lebih panjang atau lebih endek karenanya. Maka Sauron semakin membenci kaum pemilik Cincin itu, dan bertekad merebut harta mereka.


Demikianlah, mungkin sebagian karena kejahatan yang dikandung Cincin, sehingga Thrain setelah beberapa tahun menjadi resah dan tidak puas.
Kehausan akan emas selalu memenuhi benaknya. Akhirnya, ketika ia tidak tahan lagi, ia berpikir tentang Erebor, dan memutuskan untuk kembali ke sana. la tidak mengatakan apa pun pada Thorin tentang isi hatinya; lalu bersama Balin dan Dwalin serta beberapa yang lain, ia bangkit berdiri, mengucapkan selamat tinggal, dan berangkat.
Tidak banyak diketahui tentang apa yang terjadi dengannya setelah itu. Rupanya segera setelah ia keluar dari negerinya, dengan hanya ditemani sedikit pendamping, ia diburu oleh utusan-utusan Sauron. Serigala-serigala mengejarnya, Orc-Orc menghadangnya, burung-burung jahat membayangi perjalanannya, dan semakin jauh ia berupaya pergi ke utara, semakin banyak bencana menentangnya. Suatu ketika saat malam gelap, ia dan para pendampingnya sedang mengembara di negeri seberang Anduin, dan karena hujan hitam mereka terdesak untuk berlindung di bawah pinggiran hutan Mirkwood. Pagi harinya ia sudah tidak ada di perkemahan, dan kawankawannya

memanggil-manggilnya dengan sia-sia. Selama beberapa hari mereka mencarinya, sampai Akhirnya dengan putus asa mereka pergi dan kembali ke Thorin. Lama setelah itu baru diketahui bahwa Thrain sudah ditangkap hidup- hidup dan dibawa ke lubang-lubang Dol Guldur. Di sana ia disiksa dan Ciricin diambil darinya, dan di sanalah ia akhirnya meninggal.
Maka Thorin Oakenshield menjadi Pewaris Durin, tapi pewaris tanpa harapan. Ketika Thrain hilang, Thorin berusia lima puluh sembilan, Kurcaci besar berpembawaan gagah; tapi rupanya ia sudah cukup puas tetap tinggal di Eriador. Di sana ia bekerja keras dan berdagang, sambil mengumpulkan kekayaan sebisa mungkin; rakyatnya semakin banyak dengan datangnya Bangsa Durin yang mengembara, yang mendengar tentang tempat per- , mukimannya di barat, lalu mendatanginya. Mereka memiliki serambi-serambi indah di pegunungan, dan gudang-gudang perbekalan, dan kelihatannya keadaan mereka tidak begitu sulit, meski dalam lagu-lagu mereka selalu disinggung tentang Pegunungan Sunyi nun jauh di sana.
Tahun-tahun pun berlalu. Bara api di hati Thorin mulai berkobar lagi saat ia merenungi ketidakadilan yang terjadi terhadap Rumah-nya, dan rasa dendam kepada Naga yang sudah diwarisinya. la memikirkan senjata-senjata dan bala tentara serta persekutuan, saat palunya yang besar berdentam di bengkel besinya; tetapi bala tentara Kurcaci sudah tercerai-berai, persekutuan- persekutuan sudah bubar, sedangkan kapak-kapak rakyatnya tinggal sedikit; lalu kemarahan besar tanpa harapan membakar hatinya ketika ia memukul besi merah di atas landasannya.


Tapi akhirnya terjadi pertemuan kebetulan antara Gandalf dengan Thorin, yang mengubah nasib Rumah Durin, dan mengantar kepada tujuan-tujuan lain yang lebih besar. Suatu saat Thorin yang sedang dalam perjalanan kembali ke barat, bermalam di Bree. Gandalf pun berada di sana saat itu. Gandalf sedang dalam perjalanan ke Shire, yang sudah sekitar dua puluh tahun tidak dikunjunginya. la letih, dan berniat istirahat sebentar di sana.
Di antara banyak urusan, pikiran Gandalf terganggu oleh keadaan Utara yang

terancam bahaya; sebab saat itu ia sudah tahu bahwa Sauron sedang merencanakan perang, dan berniat menyerang Rivendell segera sesudah ia merasa cukup kuat. Tapi untuk menentang upaya dari Timur untuk merebut kembali wilayah Angmar dan celah-celah pegunungan di utara, kini hanya ada bangsa Kurcaci di Perbukitan Besi. Dan di seberang mereka terhampar wilayah tandus Naga. Mungkin Sauron akan menggunakan Naga dengan akibat yang mengerikan. Bagaimana caranya memusnahkan Smaug?
Tepat saat Gandalf duduk termenung memikirkan hal itu, Thorin berdiri di depannya dan berkata, “Master Gandalf, aku hanya kenal wajahmu, tapi aku ingin bicara denganmu. Sudah sering aku memikirkanmu akhir-akhir ini, seolah- olah aku disuruh mencarimu. Bahkan aku akan melakukannya, kalau aku tahu di mana harus mencarimu.”
Gandalf memandangnya heran. “Itu aneh sekali, Thorin Oakenshield,” katanya. “Karena aku juga memikirkanmu; dan meski aku dalam perjalanan menuju Shire, sudah terlintas dalam pikiranku bahwa ini juga merupakan jalan menuju serambi- serambimu.”
“Sebutlah begitu, kalau kau mau,” kata Thorin. “Sebenamya serambiserambi kami hanyalah permukiman buruk dalam pengasingan. Tapi kau akan disambut dengan senang hati di sana, kalau kau mau datang. Kata orang-orang, kau sangat bijak dan tahu lebih banyak daripada semua orang tentang apa yang terjadi di dunia; dan aku sedang diganggu banyak masalah dan akan senang memperoleh saran-saran darimu.”
“Aku akan datang,” kata Gandalf, “sebab kuduga ada satu masalah yang sama- sama menyusahkan kita. Naga dari Erebor ada dalam pikiranku, dan kukira dia belum dilupakan oleh cucu Thror.”


Cerita tentang hasil yang dibuahkan pertemuan itu dikisahkan di buku lain: tentang rencana aneh yang dibuat Gandalf demi membantu Thorin, dan bagaimana Thorin dan kawan-kawannya berangkat dari Shire dalam pencarian Pegunungan Sunyi, yang berakhir dengan kejadian tak terduga. Di sini hanya dikisahkan tentang hal-hal yang berkaitan langsung dengan Bangsa durin.

Naga dibunuh oleh Bard dari Esgaroth, tapi terjadi juga pertempuran di Dale. Para Orc menyerang Erebor begitu mereka mendengar tentang kembalinya bangsa Kurcaci; mereka dipimpin oleh Bolg, putra Azog yang dibunuh Dain pada masa remajanya. Dalam Pertempuran di Dale yang pertama, Thorin Oakenshield terluka parah; ia meninggal dan dibaringkan dalam kuburan di bawah Pegunungan, dengan Arkenstone diletakkan di atas dadanya. Di sana Fili dan Kili, anak-anak saudara perempuannya, juga tewas. Tetapi Dain Ironfoot, sepupunya yang datang dari Perbukitan Besi untuk membantu, sekaligus pewarisnya yang sah, lalu menjadi Raja Dain II. Maka Kerajaan di bawah Pegunungan bangkit kembali, persis seperti yang diinginkan Gandal£ Dain ternyata menjadi raja yang agung dan bijak, lalu bangsa Kurcaci pun makmur dan menjadi kuat lagi pada masa itu.
Pada akhir musim panas tahun yang sama (2941), Gandalf akhirnya berhasil mempengaruhi Saruman dan Dewan Penasihat Putih untuk menyerang Dol Guldur. Maka Sauron pun mundur dan pergi ke Mordor, di m ana ia mengira akan aman dari musuh-musuhnya. Demikianlah ketika Perang berlangsung, serangan utama diarahkan ke selatan; tapi Sauron dengan tangan kanannya yang menggapai jauh, bisa saja melakukan kejahatan besar di Utara, kalau saja Raja DAM dan Raja Brand tidak menghalangi jalannya. Begitu juga yang belakangan dikatakan Gandalf kepada Frodo dan Gimli, ketika mereka tinggal bersama untuk sementara waktu di Minas Tirith. Tak lama sebelumnya kabar tentang peristiwa-peristiwa di tempat-tempat jauh, sampai ke Gondor.
"Aku sedih atas kejatuhan Thorin," kata Gandalf, "dan sekarang kita mendengar bahwa Dain jatuh, bertempur lagi di Dale, sementara kita bertempur di sini. Menurutku itu kehilangan besar, bahkan sangat mengagumkan bahwa dalam usianya yang sudah begitu tua dia masih bisa menggunakan kapaknya dengan piawai, seperti kata orang-orang, dan itu dilakukannya sambil berdiri di samping tubuh Raja Brand di depan Gerbang Erebor, sampai kegelapan tiba. "Meski begitu, banyak hal mungkin saja berlangsung lain dan jauh lebih buruk. Kalau mengingat Pertempuran besar di Pelennor, jangan lupa pertempuran- pertempuran di Dale dan keberanian bangsa Durin. Bayangkan apa yang

mungkin terjadi. Api naga dan pedang-pedang liar di Eriador,'' malam di Rivendell. Mungkin tidak jadi ada Ratu di Gondor. Mungkin kita kembali dengan kemenangan hanya untuk menemukan puing-puing dan abu di sini. Tapi semua itu berhasil ditolak karena aku bertemu Thorin Oakenshield suatu sore pada penghujung musim semi di Bree. Pertemuan kebetulan, begitu istilahnya di Dunia Tengah."


Dis adalah putri Thrain II. la satu-satunya wanita Kurcaci yang disebut dalam sejarah ini. Gimli bercerita bahwa hanya sedikit wanita Kurcaci, mungkin hanya sepertiga dari jumlah seluruh bangsa Kurcaci. Mereka jarang pergi ke luar negeri, kecuali bila terpaksa. Dalam penampilan dan suara, juga dalam pakaiannya kalau hams melakukan perjalanan, mereka sangat mirip laki-laki Kurcaci, sehingga mata dan telinga bangsa lain tak bisa membedakan mereka. Ini mengakibatkan timbulnya anggapan bodoh di antara Manusia bahwa tidak ada wanita-wanita Kurcaci, dan para Kurcaci "lahir dari batu".
Karena sedikitnya wanita dalam bangsa mereka, mengakibatkan pertambahan bangsa Kurcaci sangat lambat, dan terancam bahaya jika mereka tidak mempunyai tempat tinggal aman. Para Kurcaci hanya mempunyai satu istri atau suami dalam hidup mereka, dan mereka pencemburu, begitu pula dalam semua masalah menyangkut hak. Jumlah laki-laki Kurcaci yang menikah sebenarnya hanya kurang dari sepertiganya. Karena tidak semua wanitanya mengambil suami: beberapa ada yang m emang tidak menginginkannya; beberapa menginginkan suami yang tidak mungkin bisa mereka peroleh, dan karena itu mereka tidak man menerima yang lain. Tentang para laki-laki, banyak juga yang tidak ingin menikah, karena terlalu sibuk dengan keterampilan berkarya mereka.


Gimli putra Gloin termasyhur karena ia salah satu dari Sembilan Pejalan Kaki yang pergi mengiringi Cincin; dan ia tetap mendampingi Raja Elessar sepanjang Perang. ia disebut sahabat Peri karena kasih sayang besar yang tumbuh antara dia dan Legolas, putra Raja Thranduil, dan karena penghormatannya

kepada Lady Galadriel.

Setelah kejatuhan Sauron, Gimli membawa sebagian bangsa Kurcaci dari Erebor ke selatan, dan ia menjadi Penguasa Gua-Gua Cemerlang. ia dan rakyatnya menghasilkan karya-karya besar di Gondor dan Rohan. Untuk Minas Tirith mereka menempa pintu gerbang dari mithril dan baja untuk menggantikan pintu yang dihancurkan Raja Penyihir. Legolas sahabatnya juga membawa Peri-Peri dari Greenwood ke selatan, lalu mereka berdiam di Ithilien, dan sekali lagi wilayah itu menjadi negeri paling indah di wilayah barat.


Namun ketika Raja Elessar menyerahkan hidupnya, akhiinya Legolas mengikuti panggilan hatinya dan berlayar menyeberangi Samudra.
Berikut adalah beberapa catatan terakhir dalam Buku Merah

Sudah kita dengar bahwa Legolas membawa Gimli putra Gloin bersamanya karena persahabatan mereka yang kental, lebih kental daripada persahabatan mana pun yang pernah ada antara Peri dan Kurcaci. Kalau ini benar, maka hal itu memang aneh: bahw a ada Kurcaci bersedia meninggalkan Dunia Tengah demi rasa sayang, atau bahw a para Eldar m au menerimanya, atau bahwa para Penguasa dari Barat mengizinkannya. Tapi menurut cerita, Gimli juga pergi karena ia sangat mendambakan melihat lagi kecantikan Galadriel; dan mungkin saja Lady yang termasuk mempunyai kekuasaan tinggi di' antara kaum Eldar, berhasil memperoleh karunia ini bagi Gimli. Tentang hal ini tak bisa diceritakan lebih banyak lagi.

APENDIKS B

KISAH TAHUN-TAHUN (KRONOLOGI NEGERI-NEGERI BARAT)



Zaman Pertama berakhir dengan Pertempuran Besar, di mana Pasukan Valinor menghancurkan Thangorodrim dan menjatuhkan Morgoth. Lalu sebagian besar bangsa Noldor kembali ke Barat Jauh dan tinggal di Eressea dalam jangkauan pandangan dari Valinor; dan banyak dari bangsa Sindar juga menyeberangi Samudra.
Zaman Kedua berakhir dengan penggulingan pertama Sauron, pengabdi

Morgoth, danppengambilan Cincin Utama.

Zaman Ketiga berakhir dalam Perang Cincin; tapi Zaman Keempat dianggap belum dimulai sampai Master Elrond pergi, dan datang saatnya bagi kekuasaan Manusia dan kernerosotan semua “bangsa berbicara” di Dunia Tengah.
Dalam Zaman Keempat, zaman-zaman terdahulu sering disebut Zammi Peri; tapi sebenarnya nama itu hanya diberikan pada masa sebelum pengusiran Morgoth. Sejarah masa itu tidak tercatat di sini.


Zaman Kedua



Inilah masa gelap bagi Orang-Orang di Dunia Tengah, tetapi bagi Numenor justru merupakan masa kejayaan. Tentang peristiwa-peristiwa di Dunia Tengah, hanya sedikit catatan singkat, dan tanggal-tanggalnya sering tidak pasti.
Di awal zaman ini masih banyak terdapat Peri Bangsawan. Kebanyakan dari

mereka tinggal di Lindon, sebelah barat Ered Luin; tapi sebelum pembangunan Barad-dur, banyak kaum Sindar pergi ke timur, beberapa membangun wilayah mereka di hutan-hutan jauh di sana. yang penduduknya kebanyakan bangsa Peri Silvan. Thranduil, Raja di utara Greenwood Agung, adalah salah satunya. Di Lindon sebelah utara Lune berdiam Gil-galad, pewaris terakhir raja-raja Noldor dalam pengasingan. la diakui sebagai Raja Agung bangsa Peri dari Barat. Di Lindon sebelah selatan Lune untuk beberapa saat Celeborn tinggal, saudara Thingol; istrinya adalah Galadriel, wanita Peri paling hebat. la saudara

perempuan Finrod Felagund, Sahabat Manusia yang pernah menjadi raja Nargothrond, yang mengorbankan hidupnya demi menvelamatkan Beren putra Barahir.
Di kemudian hari beberapa orang dari bangsa Noldor pergi ke Eregion, di sebelah barat Pegunungan Berkabut, dekat Gerbang Barat Moria. Mereka melakukan ini karena mereka tahu bahwa sudah ditemukan mithril di Moria. Bangsa Noldor terdiri atas pengrajin-pengrajin yang terampil, dan mereka lebih ramah terhadap bangsa Kurcaci daripada bangsa Sindar; tapi persahabatan yang tumbuh antara bangsa Durin dengan Peri-Peri pandai besi dari Eregion adalah yang terdekat yang pernah terjadi antara kedua bangsa itu. Celebrimbor adalah Penguasa Eregion dan yang paling hebat di antara para pengrajin. la keturunan Feanor.


1 Pembangunan Grey Havens, dan Lindon.

32 Bangsa Edam tiba di Numenor.

Sekitar 40 Banyak Kurcaci meninggalkan kota-kota lama mereka di Ered Luin dan pergi ke Moria dan meningkatkan jumlah mereka.
442 Kematian Elros Tar-Minyatur.

Sekitar 500 Sauron mulai bergerak lagi di Dunia Tengah.

548 Kelahiran Silmarien di Numenor.

600 Kapal-kapal pertama bangsa Numenor muncul di depan pantai-pantai.

750 Eregion dibentuk oleh bangsa Noldor.

Sekitar 1000 Sauron, yang cemas melihat kekuatan bangsa Numenor semakin meningkat, memilih Mordor sebagai negeri untuk dijadikan benteng. la memulai pembangunan Barad-dur.
1075 Tar-Ancalime menjadi Ratu pertama di Numenor.

1200 Sauron berupaya keras membujuk kaum Eldar. Gil-galad menolak berurusan dengannya; tapi para pandai besi dari Eregion terbujuk. Bangsa Numenor mulai membuat pelabuhanpelabuhan tetap.
Sekitar 1500 Para Peri pandai besi di bawah ajaran Sauron mencapai puncak keterampilan mereka. Mereka memulai penempaan Cincin-Cincin Kekuasaan.

Sekitar 1590 Tiga Cincin selesai dibuat di Eregion.

Sekitar 1600 Sauron menempa Cincin Utama di Orodruin. Ia menyelesaikan pembangunan Barad-dur. Niat jahat Sauron ketahuan oleh Celebrimbor.
1693 Perang antara bangsa Peri dengan Sauron dimulai.

1695 Kekuatan Sauron masuk ke Eriador. Gil-galad mengirim Elrond ke Eregion.

1697 Eregion rusak binasa. Kematian Celebrimbor. GerbangGerbang Moria tertutup. Elrond mundur bersama sisa bangsa Noldor dan mendirikan tempat perlindungan di Imladris.
1699 Sauron menggulingkan Eriador.

1700 Tar-Minastir mengirim angkatan laut besar dari Numenor ke Lindon. Sauron kalah.
1701 Sauron diusir dari Eriador. Negeri-Negeri Barat untuk waktu panjang mengecap masa damai.
Sekitar 1800 Sejak sekitar saat ini bangsa Numenor mulai membangun dominion di pantai-pantai. Sauron melebarkan kekuatannya ke arah timur. Bayangan gelap jatuh di atas Numenor.
2251 Tar-Atanamir memangku tongkat kekuasaan. Pemberontakan dan perpecahan bangsa Numenor dimulai. Sekitar saat itu para Nazgul atau Hantu Cincin, budak-budak Sembilan Cincin, muncul untuk pertama kali.
2280 Umbar dijadikan benteng besar Numenor.

2350 Pelargir dibangun. Tempat itu menjadi pelabuhan ketiga dari kaum

Numenor yang Setia.

2899 Ar-Adunakhor memegang tongkat kekuasaan.

3175 Penyesalan Tar-Palantir. Perang saudara di Numenor.

3255 Ar-Pharazon Emas merebut tongkat kekuasaan.

3261 Ar-Pharazon berlayar dan mendarat di Umbar.

3262 Sauron dibawa sebagai tawanan ke Numenor; 3262-3310. Sauron membujuk Raja dan merusak akhlak bangsa Numenor.
3310 Ar-Pharazon memulai pembangunan Persenjataan Perang Besar.

3319 Ar-Pharazon menyerang Valinor. Kejatuhan Numenor. Elendil dan putra- putranya lolos.

3320 Pendirian Negeri dalam Pengasingan: Arnor dan Gondor. Batu-batu dibagi- bagi. Sauron kembali ke Mordor.
3429 Sauron menyerang Gondor, merebut Minas Ithil dan membakar Pohon Putih. Isildur lolos mengarungi Anduin dan pergi ke Elendil di Utara. Anarion mempertahankan Minas Anor dan Osgiliath. Persekutuan Terakhir bangsa Peri dengan Manusia dibentuk.
3431 Gil-galad dan Elendil pergi ke timur, ke Imladris.

3434 Pasukan Persekutuan melintasi Pegunungan Berkabut. Pertempuran

Dagorlad dan kekalahan Sauron. Penyerangan terhadap Barad-dur dimulai.

3440 Anarion tewas.

3441 Sauron digulingkan oleh Elendil dan Gil-galad, yang akhirnya tewas. Isildur mengambil Cincin Utama. Sauron musnah dan para Hantu Cincin pergi ke dalam bayang-bayang. Zaman Kedua berakhu.


Zaman Ketiga



Inilah tahun-tahun memudamya bangsa Eldar. Untuk waktu yang cukup lama mereka mengalami kedamaian, memegang Tiga Cincin sementara Sauron berdiam diri dan Cincin Utama hilang; tapi mereka tidak mencoba hal-hal baru; mereka hanya hidup penuh kenangan tentang masa lampau. Para Kurcaci menyembunyikan diri di tempat-tempat dalam, sambil menjaga harta mereka; tapi ketika kejahatan mulai bergerak lagi dan naga-naga muncul kembali, satu demi satu harta mereka dirampok, dan mereka menjadi bangsa pengembara. Untuk waktu lama Moria tetap aman, tetapi jumlah pemukimnya semakin berkurang, banyak rumah-rumahnya yang besar menjadi gelap dan kosong. Kebijakan dan masa hidup bangsa Numenor juga menyusut saat mereka berbaur dengan Manusia biasa.
Ketika kira-kira seribu tahun sudah berlalu, dan bayang-bayang pertama jatuh di atas Greenwood Agung, para Istari atau Penyihir muncul di Dunia Tengah. Belakangan diceritakan bahwa mereka datang dari Barat Jauh dan merupakan utusan-utusan yang dikirim untuk menguji kekuatan Sauron, dan untuk

menyatukan semua yang bertekad menentangnya; namun mereka dilarang melawan kekuatan Sauron dengan kekuatan juga, atau berupaya menguasai Peri atau Manusia dengan kekuatan atau dengan menakut-nakuti.
Maka mereka datang dalam wujud Manusia, meski mereka tak pernah muda dan menua lambat sekali. Mereka punya banyak . daya kekuatan pikiran dan tangan. Nama mereka yang sebenarnya hanya diungkapkan pada sedikit orang, tapi mereka menggunakan nama-nama yang diberikan pada mereka. Dua yang tertinggi dari ordo ini (yang menurut cerita terdiri atas lima ordo) oleh kaum Eldar disebut Curunir, “Orang Mahir”, dan Mithrandir, “Pengembara Kelabu”, tapi oleh orang-orang Utara mereka disebut Saruman dan Gandalf. Curunir sering mengembara di Timur, tapi akhirnya bermukim di Isengard. Mithrandir yang paling bersahabat dengan kauun Eldar, mengembara kebanyakan di Barat, dan tak pernah membangun tempat tinggal tetap untuk dirinya sendiri.
Sepanjang Zaman Ketiga, penjagaan terhadap Tiga Cincin hanya diketahui oleh mereka yang memilikinya. Namun akhirnya diketahui bahwa cincin-cincin itu mula-mula dipegang ketiga tokoh Eldar yang paling agung: Gilgalad, Galadriel, dan Cirdan. Gil-galad sebelum wafat memberikan cincinnya pada Elrond; Cirdan di kemudian hari memberikan miliknya kepada Mithrandir. Karena Cirdan berpandangan lebih jauh dan lebih bijak daripada siapa pun di Dunia Tengah, dan dialah yang menyambut Mithrandir di Grey Havens; ia tahu kapan Mithrandir datang dan pergi.
“Ambillah cincin ini, Master,” katanya, “karena tugasmu berat sekali, dan cincin ini akan mendukungmu dalam pekerjaan berat yang kaubebankan pada dirimu sendiri. Ini Cincin Api, dan dengan Cincin ini kau bisa menyalakan kembali hati orang-orang, dalam dunia yang sudah mulai dingin. Tapi hatiku berada di Samudra, dan aku akan berdiam di pantai-pantai elabu sampai kapal terakhir berlayar. Aku akan menunggu kedatanganmu.”


2 Isildur menanam benih Pohon Putih di Minas Anor. Ia menyerahkan Kerajaan Selatan kepada Meneldil. Bencana Padang Gladden; Isildur dan ketiga putranya tewas.

3 Ohtar membawa serpihan-serpihan Narsil ke Imladris.

10 Valandil menjadi Raja Arnor.

109 Elrond menikahi Celebrian, putri Celeborn.

130 Kelahiran Elladan dan Elrohir, putra-putra Elrond.

241 Kelahiran Arwen Undomiel.

420 Raja Ostoher membangun kembali Minas Anor.

490 Penyerangan pertama oleh kaum Easterling.

500 Romendacil I mengalahkan kaum Easterling.

541 Romendacil tewas dalam pertempuran.

830 alastur memulai garis keturunan Raja-Raja Kapal dari Gondor.

861 Kematian Earendur, dan pembagian Arnor.

933 Raja Earnil I merebut Umbar, yang menjadi benteng Gondor.

936 Earnil hilang di laut.

1015 Raja Ciryandil dibunuh dalam penyerangan Umbar.

1050 Hyarmendacil menaklukkan kaum Harad. Gondor mencapai puncak kejayaannya. Sekitar saat inilah bayang-bayang kelam jatuh ke atas Greenwood, dan orang-orang mulai menyebutnya Mirkwood. Kaum Periannath untuk pertama kali mulai disebut-sebut dalam catatan-catatan, bersamaan dengan kedatangan kaum Harfoot ke Eriador.
Sekitar 1100 Para Bijak (kaum Istari dan tetua Eldar) menemukan bahwa suatu kekuatan jahat sudah membangun benteng di Dol Guldur. Diperkirakan salah satu Nazgul yang membangunnya.
149 Masa pemerintahan Atanatar Alcarin dimulai.

Sekitar 1150 Para Fallohide masuk ke Eriador. Kaum Stoor datang melintasi

Jalan Redhorn dan pindah ke Angle, atau ke Dunland.

Sekitar 1300 Kejahatan mulai meningkatkan diri. Para Orc bertambah banyak di Pegunungan Berkabut dan menyerang bangsa Kurcaci. Para Nazgul muncul. Pimpinannya datang ke Angmar di utara. Kaum Periannath bermigrasi ke barat; banyak yang berdiam di Bree.
1356 Raja Argeleb I tewas dalam pertempuran melawan Rhudaur. Sekitar saat ini bangsa Stoor meninggalkan Angle, dan beberapa kembali ke Belantara.

1409 Raja Penyihir dari Angmar menyerang Arnor. Raja Arvaleg I dibunuh. Fornost dan Tyrn Gorthad dipertahankan. Menara Amon Sul dihancurkan.
1432 Raja Valacar dari Gondor wafat, dan Perang Saudara karena Pertikaian

Keluarga dimulai.

1437 Pembakaran Osgiliath dan kehilangan palantir. Eldacar lari ke Rhovanion;

putranya Ornendil dibunuh.

1447 Eldacar kembali dan mengusir perebut kekuasaan, Castamir: Pertempuran di Penyeberangan Erui. Pelargir dikepung.
1448 Para pemberontak lolos dan merebut Umbar.

1540 Raja Aldamir tewas dalam perang melawan bangsa Harad dan Corsair dari

Umbar.

1551 Hyarmendacil II mengalahkan Orang-Orang Harad.

1601 Banyak Periannath bermigrasi dari Bree, dan diberikan wilayah di seberang

Baranduin oleh Argeleb II.

Sekitar 1630 Bangsa Stoor yang datang dari Dunland bergabung dengan mereka.
1634 Para Corsair memusnahkan Pelargir dan membunuh Raja Minardil.

1636 W abah Besar mengguncang Gondor. Kematian Raja Telemnar dan anak- anaknya. Pohon Putih mati di Minas Anor. Wabah penyakit menyebar ke utara dan ke barat, dan banyak wilayah Eriador menjadi kosong. Di seberang Baranduin, kaum Periannath bertahan hidup, tapi menderita kehilangan besar.
1640 Raja Tarondor memindahkan Rumah Raja ke Minas Anor, dan menanamkan benih Pohon P,utih. Osgiliath mulai hancur menjadi puing. Mordor ditinggal tanpa penjagaan.
1810 Raja Telumehtar Umbardacil merebut kembali Umbar dan mengusir bangsa Corsair.
1851 Serangan kaum Wainrider terhadap Gondor dimulai.

1856 Gondor kehilangan wilayahnya di timur, dan Narmacil II tewas dalam pertempuran.
1899 Raja Calimehtar mengalahkan kaum Wainrider di Dagorlad.

1900 Calimehtar membangun Menara Putih di Minas Anor.

1940 Gondor dan Arnor memperbarui hubungan dan membentuk persekutuan. Arvedui menikahi Firiel, putri Ondoher dari Gondor.
1944 Ondoher jatuh dalam pertempuran. Earnil mengalahkan musuh di Ithilien Selatan. Lalu ia memenangkan Pertempuran Camp, dan mengusir kaum Wainrider ke Rawa-Rawa Mati. Arvedui menuntut mahkota Gondor.
1945 Earnil II menerima mahkota.

1974 Akhir dari Kerajaan Utara. Raja Penyihir menggulingkan Arthedain dan merebut Fomost.
1975 Arvedui tenggelam di Teluk Forochel. Palwztiri dari Annuminas dan Amon Sul hilang. Earnur membawa armada ke Lindon. Raja Penyihir dikalahkan di Fornost dan dikejar sampai ke Ettenmoors. Ia hilang lenyap dari Utara.
1976 Aranarth memakai gelar Kepala Suku Dunedain. Bendabenda pusaka

Arnor dititipkan kepada Elrond untuk disimpan.

1977 Frumgar memimpin Eotheod ke Utara.

1979 Bucca dari Marish menjadi Thain pertama dari Shire.

1980 Raja Penyihir datang ke Mordor, dan di sana ia mengumpul kan para

Nazgul. Balrog muncul di Moria, dan membunuh Durin VI.

1981 Nain I dibunuh. Para Kurcaci lari dari Moria. Banyak Peri Silvan dari Lorien lari ke selatan. Amroth dan Nimrodel hilang.
1999 Thrain I datang ke Erebor dan membentuk kerajaan kurcaci “di bawah pegunungan”.
2000 Para Nazgul keluar dari Mordor dan menyerang Minas Ithil.

2002 Kejatuhan Minas Ithil, yang belakangan dikenal dengan nama Minas

Morgul. Palantir direbut.

2043 Earnur menjadi Raja Gondor. Ia ditantang oleh Raja Penyihir.

2050 Tantangan diperbarui. Earnur maju ke Minas Morgul dan hilang. Mardil menjadi Pejabat pertama.
2060 Kekuatan Dol Guldur semakin meningkat. Kaum Bijak khawatir bahwa sesungguhnya itu adalah Sauron yang mulai berwujud lagi.
2063 Gandalf pergi ke Dol Guldur. Sauron mundur dan bersembunyi di Timur. Masa Damai Waspada dimulai. Para Nazgul masih tinggal diam di Minas Morgul.

2210 Thorin I meninggalkan Erebor, dan pergi ke utara ke Pegunungan Kelabu, di mana kebanyakan sisa-sisa bangsa Durin sekarang berkumpul.
2340 Isumbras I menjadi Thain ketiga belas, dan yang pertama dari garis keturunan Took. Keluarga Oldbuck menduduki Buckland.
2460 Masa Damai Waspada berakhir. Sauron kembali dengan kekuatan lebih besar ke Dol Guldur.
2463 Dewan Penasihat Putih dibentuk. Sekitar saat ini Deagol orang Stoor

menemukan Cincin Utama, dan dibunuh oleh Smeagol.

2470 Sekitar saat ini Smeagol-Gollum bersembunyi di Pegunungan Berkabut.

2475 Serangan kembali terhadap Gondor. Osgiliath akhirnya hancur, dan jembatan batunya runtuh.
Sekitar 2480 Para Orc mulai membuat benteng-benteng rahasia di Pegunungan Kelabu untuk menutup semua jalan masuk ke Eriador. Sauron mulai mengisi Moria dengan makhluk-makhluk buatannya.
2509 Celebrian, yang sedang dalam perjalanan ke Lorien, dihadang di jalan

Redhorn, dan menderita luka beracun.

2510 Celebrian pergi menyeberangi Samudra. Orc-Orc dan kaum Easterling menggulingkan Calenardhon. Eorl Muda memenangkan pertempuran di Padang Celebrant. Kaum Rohirrim mulai bermukim di Calenardhon.
2545 Eorl jatuh dalam pertempuran di Wold.

2569 Brego putra Eorl menyelesaikan Balairung Emas.

2570 Baldor putra Brego masuk ke Pintu Terlarang dan hilang. Sekitar saat ini

Naga muncul kembali di Utara Jauh dan mulai menyerang para Kurcaci.

2589 Dain I dibunuh oleh Naga.

2590 Thror kembali ke Erebor. Gror saudaranya pergi ke Perbukitan Besi.

Sekitar 2670 Tobold menanam “rumput pipa” di Wilayah Selatan.

2683 Isengrim II menjadi Thain kesepuluh dan memulai penggalian Great

Smials.

2698 Ecthelion I membangun kembali Menara Putih di Minas Tirith. .

2740 Para Orc kembali menyerang Eriador.

2747 Bandobras Took mengalahkan gerombolan Orc di Wilayah Utara.

2758 Rohan diserang dari barat dan timur dan digulingkan. Gondor diserang armada bangsa Corsair. Helm dari Rohan mengungsi ke Helm's Deep. Wulf merebut Edoras. 2758-9: Musim Dingin Panjang menyusul. Penderitaan besar dan kehilangan nyawa besar-besaran terjadi di Eriador dan Rohan. Gandalf datang membantu bangsa Shire.
2759 Kematian Helm. Frealaf mengusir Wulf, dan memulai garis keturunan kedua para Raja dari Mark. Saruman mulai bermukim di Isengard.
2770 Smaug si Naga turun ke Erebor. Dale dihancurkan. Thror lolos bersama

Thrain II dan Thorin II.

2790 Thror dibunuh di Moria. Para Kurcaci bersatu untuk melancarkan perang balas dendam. Kelahiran Gerontius, belakangan dikenal sebagai Took Tua.
2793 Perang Kurcaci melawan Orc dimulai.

2799 Pertempuran Nanduhirion di depan Gerbang Timur Moria. Dain Ironfoot kembali ke Perbukitan Besi. Thrain II dan putranya Thorin mengembara ke barat. Mereka bermukim di Selatan Ered Luin di seberang Shire (2802).
2800-64 Orc dari Utara mengganggu Rohan. Raja Walda dibunuh oleh mereka

(2861).

2841 Thrain II pergi untuk mengunjungi Erebor lagi, tapi ia dikejar budak-budak

Sauron.

2845 Thrain Kurcaci dipenjara di Dol Guldur; yang terakhir dari Tujuh Cincin diambil darinya.
2850 Gandalf kembali masuk ke Dol Guldur, dan mendapati bahwa memang penguasanya adalah Sauron, yang sedang mengumpulkan semua Cincin dan mencari berita tentang Cincin Utama, dan tentang Pewaris Isildur. Ia menemukan Thrain dan menerima kunci Erebor. Thrain mati di Dol Guldur.
2851 Dewan Penasihat Putih mengadakan pertemuan lagi. Gandalf mendesak agar Dol Guldur diserang. Saruman menolak usulnya. Saruman mulai mencari- cari dekat Padang Gladden.
2852 Belecthor II dari Gondor wafat. Pohon Putih mati, dan benihnya tidak ditemukan. Pohon Mati dibiarkan berdiri di tempatnya.
2885 Karena dihasut oleh utusan-utusan Sauron, kaum Haradrim menyeberangi

Poros dan menyerang Gondor. Putra-putra Folcwine dari Rohan tewas sementara mereka mengabdi kepada Gondor.
2890 Bilbo lahir di Shire.

2901 Sebagian besar sisa penduduk Ithilien meninggalkan wilayah itu, gara-gara serangan kaum Uruk dari Mordor. Perlindungan rahasia Henneth Annun dibangun.
2907 Kelahiran Gilraen ibunda Aragorn II.

2911 Musim Dingin Naas. Baranduin dan sungai-sungai lain membeku. Serigala- Serigala Putih menyerang Eriador dari Utara.
2912 Banjir-banjir besar memorakporandakan Enedwaith dan Minhiriath. Tharbad hancur dan ditinggalkan hingga kosong.
2920 Kematian Took Tua.

2929 Arathorn putra Arador dari bangsa Dunedain menikah dengan Gilraen.

2930 Arador dibunuh para troll. Kelahiran Denethor II putra Ecthelion II di Minas

Tirith.

2931 Aragorn putra Arathorn II lahir tanggal I bulan Maret.

2933 Arathorn II tewas. Gilraen membawa Aragorn ke Imladris. Elrond menerimanya sebagai anak angkat dan memberinya nama Estel (Harapan); asal-usul keturunannya dirahasiakan.
2939 Saruman menemukan bahwa budak-budak Sauron sedang mencari-cari sekitar Anduin dekat Padang Gladden, dan dengan demikian berarti Sauron sudah tahu tentang peristiwa seputar kematian Isildur. Saruman cemas, tapi tidak mengatakan apa pun kepada Dewan Penasihat Putih.
2941 Thorin Oakenshield dan Gandalf menjenguk Bilbo di Shire. Bilbo bertemu Smeagol-Gollum dan menemukan Cincin. Dewan Penasihat Putih mengadakan rapat; Saruman menyetujui serangan ke Dol Guldur, karena sekarang ia ingin menghindari Sauron mencari-cari di Sungai. Sauron yang sudah membuat rencana, meninggalkan Dol Guldur. Pertempuran Lima Pasukan Tentara di Dale. Kematian Thorin II. Bard dari Esgaroth menewaskan Smaug. Dain dari Per- bukitan Besi menjadi Raja di bawah Pegunungan (Dain iI).
2942 Bilbo kembali ke Shire dengan membawa Cincin. Sauron diam-diam

kembali ke Mordor.

2944 Bard membangun kembali Dale dan menjadi Raja. Gollum meninggalkan

Pegunungan dan memulai pencarian “pencuri” Cincin.

2948 Theoden, putra Thengel, lahir.

2949 Gandalf dan Balin mengunjungi Bilbo di Shire.

2950 Kelahiran Finduilas, putri Adrahil dari Dol Amroth.

2951 Sauron secara terbuka menyatakan dirinya dan mengumpulkan kekuatan di Mordor. Ia memulai pembangunan kembali Barad-dur. Gollum pergi menuju Mordor. Sauron mengirimkan tiga Nazgul untuk menduduki lagi Dol Guldur. Elrond mengungkapkan jati diri dan leluhur “Estel” kepada yang bersangkutan dan memberikan kepadanya serpihan-serpihan Narsil. Anwen, yang baru saja datang dari Lorien, bertemu dengan Aragorn di hutan Imladris. Aragorn pergi ke Belantara.
2953 Pertemuan terakhir Dewan Penasihat Putih. Mereka memperdebatkan Cincin-Cincin. Saruman berpura-pura bahwa ia menemukan Cincin sudah mengalir bersama Anduin ke Samudra. Saruman mundur ke Isengard, yang ia akui sebagai miliknya, dan memperkuatnya. Karena cemburu dan takut terhadap Gandalf, ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi semua gerak-gerik Gandalf; ia melihat perhatian Gandalf terarah ke Shire. Segera ia mulai menempatkan agen-agennya di Bree dan Wilayah Selatan.
2954 Api Gunung Maut berkobar lagi. Sisa penduduk Ithilien lari mengarungi

Anduin.

2956 Aragorn bertemu Gandalf dan persahabatan mereka dimulai.

2957-80 Aragorn memulai pengembaraannya dan tugas-tugasnya yang panjang. Dalam penyamaran sebagai Thorongil, ia mengabdi kepada Thengel dari Rohan dan Ecthelion II dari Gondor.
2968 Kelahiran Frodo.

2976 Denethor menikah dengan Finduilas dari Dol Amroth.

2977 Bain putra Bard menjadi Raja Dale.

2978 Kelahiran Boromir putra Denethor II.

2980 Aragorn masuk ke Lorien, dan bertemu lagi dengan Arwen di sana.

Aragorn memberikannya cincin Barahir, dan mereka mengikrarkan sumpah setia mereka di atas bukit Cerin Amroth. Sekitar saat ini Gollum sampai ke perbatasan Mordor dan berkenalan dengan Shelob. Theoden menjadi Raja Rohan.
2983 Kelahiran Faramir putra Denethor. Kelahiran Samwise.

2984 Kematian Ecthelion IL Denethor II menjadi Pejabat Gondor.

2988 Finduilas meninggal dalam usia muda.

2989 Balin meninggalkan Erebor dan pergi ke Moria.

2991 Eomer putra Eomund lahir di Rohan.

2994 Balin tewas, dan perkampungan Kurcaci musnah.

2995 Kelahiran Eowyn saudara perempuan Eomer.

Sekitar 3000 Bayang-Bayang Mordor semakin panjang. Saruman berani menggunakan palantlr Orthanc, lalu ia terjerat Sauron yang memiliki Batu Ithil. Saruman menjadi pengkhianat Dewan Penasihat Putih. Mata-matanya melaporkan bahwa Shire dijaga ketat oleh para Penjaga Hutan.
3001 Pesta perpisahan Bilbo. Gandalf curiga cincin milik Bilbo adalah Cincin Utama. Penjagaan Shire dilipatgandakan. Gandalf mencari berita tentang Gollum dan meminta bantuan Aragorn.
3002 Bilbo menjadi tamu Elrond, dan tinggal di Rivendell.

3004 Gandalf mengunjungi Frodo di Shire, dan secara berkala mengunjunginya selama empat tahun berikutnya.
3007 Brand putra Bain menjadi Raja di Dale. Kematian Gilraen.

3008 Pada musim gugur Gandalf terakhir kali mengunjungi Frodo.

3009 Gandalf dan Aragorn memperbarui pemburuan terhadap Gollum secara berkala sepanjang delapan tahun berikutnya, mencari di lembah-lembah Anduin, Mirkwood, dan Rhovanion sampai ke perbatasan Mordor. Suatu ketika sekitar saat itu Gollum sendiri memberanikan diri masuk ke Mordor, dan ditangkap oleh Sauron. Elrond menyuruh Arwen pulang, lalu ia datang ke Imladris; Pegunungan dan semua negeri di timur menjadi berbahaya.
3017 Gollum dibebaskan dari Mordor. Ia dibawa Aragorn dari Rawa-Rawa Mati, dan dibawa ke Thranduil di Mirkwood. Gandalf mengunjungi Minas Tirith dan membaca catatan Isildur.



TAHUN-TAHUN ISTIMEWA

3018

April

12 Gandalf sampai ke Hobbiton. Juni
20 Sauron menyerang Osgiliath. Sekitar saat itu juga, Thranduil diserang, dan

Gollum lari. Juli
4 Boromir pergi dari Minas Tirith.

10 Gandalf dikurung di Orthanc. Agustus
Semua jejak Gollum hilang. Diperkirakan sekitar saat ini, karena diburu oleh bangsa Peri maupun budak-budak Sauron, ia berlindung di Moria; tapi ketika Akhirnya ia menemukan jalan ke Gerbang Barat, ia tidak bisa keluar.
September

18 Gandalf lolos dari Orthanc sekitar waktu fajar. Para Penunggang Hitam menyeberangi Ford-ford Isen.
19 Gandalf datang ke Edoras menyamar sebagai peminta-minta, dan ia dilarang masuk.
20 Gandalf akhirnya berhasil masuk ke Edoras. Theoden memerintahkannya

pergi, “Ambillah kuda mana saja, tapi pergilah sebelum esok!”

21 Gandalf bertemu Shadowfax, tapi kuda itu tidak mengizinkannya mendekat. la mengikuti Shadowfax dari jauh, melintasi padang-padang.
22 Para Penunggang Hitam mencapai Sam Ford pada senja hari; mereka menghalau para Penjaga Hutan. Gandalf menyusul Shadowfax.
23 Empat Penunggang Hitam masuk ke Shire sebelum fajar. Yang lainnya mengejar para Penjaga Hutan ke timur, lalu kembali untuk mengawasi Jalan Hijau. Seorang Penunggang Hitam datang ke Hobbiton pada malam hari. Frodo meninggalkan Bag End. Gandalf yang sudah berhasil menjinakkan Shadowfax, pergi dari Rohan.

24 Gandalf menyeberangi Isen.

26 Old Forest. Frodo menjumpai Bombadil.

27 Gandalf menyeberangi Greyflood. Malam kedua bersama Bombadil.

28 Para Hobbit ditangkap hantu Barrow. Gandalf sampai ke Sam Ford.

29 Frodo sampai ke Bree pada malam hari. Gandalf mengunjungi Gaffer.

30 Crickhollow dan Penginapan di Bree diserang sebelum fajar. Frodo meninggalkan Bree. Gandalf datang ke Crickhollow, dan mencapai Bree pada malam hari.
Oktober

1 Gandalf meninggalkan Bree.

3 Gandalf diserang pada malam hari di Weathertop.

6 Perkemahan di Weathertop diserang pada malam hari. Frodo terluka.

9 Glorfindel meninggalkan Rivendell.

11 ia mengusir para Penunggang Hitam dari Jembatan Mitheithel.

13 Frodo menyeberangi Jembatan.

18 Glorfindel menemukan Frodo pada senja hari. Gandalf sampai ke Rivendell.

20 Pelarian melintasi Arungan Bruinen.

24 Frodo pulih dan bangun. Boromir tiba di Rivendell pada malam hari.

25 Rapat Dewan Penasihat Elrond. Desember
25 Rombongan Cincin meninggalkan Rivendell pada senja hari.



3019

Januari

8 Rombongan sampai di Hollin.

11, 12 Salju di Caradhras.

13 Serangan oleh Serigala-Serigala pada saat sebelum fajar. Rombongan sampai ke Gerbang Barat Moria saat malam tiba. Gollum mulai mengikuti jejak Pembawa Cincin.
14 Malam di Serambi Dua Puluh Satu.

15 Jembatan Khazad-dum, dan kejatuhan Gandalf. Rombongan tiba di Nimrodel

larut malam.

17 Rombongan sampai ke Caras Galadhon pada senja hari.

23 Gandalf mengejar Balrog sampai ke puncak Zirakzigil.

25 Ia menjatuhkan Balrog dan mati. Tubuhnya terbaring di puncak. Februari
14 Cermin Galadriel. Gandalf hidup kembali, dan terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri.
16 Selamat tinggal kepada Lorien. Gollum bersembunyi di tebing barat, memperhatikan keberangkatan Rombongan.
17 Gwaihir membawa Gandalf ke Lbrien.

23 Perahu-perahu diserang pada malam hari dekat Sam Gebir.

25 Rombongan melewati Argonath dan berkemah di Parth Galen. Pertempuran

Pertama di Ford-ford Isen; Theodred putra Theoden tewas.

26 Rombongan terpecah. Kematian Boromir; terompetnya terdengar di Minas Tirith. Meriadoc dan Peregrin ditangkap. Frodo dan Samwise masuk ke Emyn Muil timur. Aragorn berangkat mengejar Orc-Orc pada senja hari. Eomer mendengar tentang serangan gerombolan Orc dari Emyn Muil.
27 Aragorn sampai ke batu karang barat saat matahari terbit. Eomer, yang menentang perintah Theoden, pergi dari Eastfold sekitar tengah malam untuk memburu para Orc.
28 Eomer menyusul para Orc di luar hutan Fangorn.

29 Meriadoc dan Pippin lolos dan bertemu Treebeard. Kaum Rohirrim menyerang saat matahari terbit dan menghancurkan para Orc. Frodo turun dari Emyn-Muil dan bertemu Gollum. Faramir melihat perahu pemakaman Boromir.
30 Entmoot dimulai. Eomer yang kembali ke Edoras bertemu Aragorn. Maret
1 Frodo mulai melintasi Rawa-Rawa Mati saat fajar. Entmoot masih berlangsung. Aragorn bertemu Gandalf si Putih. Mereka berangkat ke Edoras. Faramir meninggalkan Minas Tirith untuk melakukan tugas di Ithilien.
2 Frodo sampai ke ujung Rawa-Rawa. Gandalf datang ke Edoras dan menyembuhkan Theoden. Pasukan berkuda Rohirrim pergi ke barat untuk

melawan Saruman. Pertempuran Kedua di Ford-ford Isen. Erkenbrand kalah. Entmoot berakhir pada siang hari. Para Ent berjalan menuju Isengard dan sampai di sana pada malam hari.
3 Theoden mundur ke Helm's Deep. Pertempuran Homburg dimulai. Para Ent menyempumakan penghancuran Isengard.
4 Theoden dan Gandalf pergi dari Helm's Deep ke Isengard. Frodo sampai ke gundukan-gundukan ampas bijih di pinggir Tanah Kosong Morannon.
5 Theoden sampai ke Isengard siang hari. Cekcok mulut dengan Saruman di Orthanc. Nazgul bersayap melintas di atas perkemahan di Dol Baran. Gandalf pergi bersama Peregrin ke Minas Tirith. Frodo bersembunyi di depan Morannon, dan pergi ketika hari senja.
6 Aragorn disusul kaum Dunedain pada pagi buta. Theoden pergi dari Homburg ke Harrowdale. Aragorn berangkat kemudian.
7 Frodo dibawa Faramir ke Henneth Annun. Aragorn datang ke Dunharrow saat malam tiba.
8 Aragorn mengambil “Jalan Orang-Orang Mati” saat fajar; ia sampai

di Erech tengah malam. Frodo meninggalkan Henneth Annun.

9 Gandalf sampai ke Minas Tirith. Faramir meninggalkan Henneth Annun. Aragorn berangkat dari Erech dan sampai ke CalembeL ' Saat senja Frodo mencapai jalan Morgul. Theoden datang ke Dunharrow. Kegelapan mulai mengalir keluar dari Mordor.
10 Hari Tanpa Fajar. Apel Siaga Rohan: kaum Rohirrim berangkat dari Harrowdale. Faramir diselamatkan oleh Gandalf di luar gerbang Kota. Aragorn menyeberangi Ringlo. Sebuah pasukan tentara dari Morannon merebut Cair Andros dan masuk ke Anorien. Frodo melewati Persimpangan Jalan, dan melihat pasukan Morgul berangkat.
11 Gollum mengunjungi Shelob, tapi ketika melihat Frodo, ia hampir merasa menyesal. Denethor mengirim Faramir ke Osgiliath. Aragorn sampai ke Linhir dan menyeberang masuk ke Lebennin. Rohan Timur diserang dari utara. Serangan pertama ke Lorien.
12 Gollum menjebak Frodo masuk ke sarang Shelob. Faramir mundur sampai ke

Benteng Causeway. Theoden berkemah di bawah Minrimmon. Aragorn mendesak musuh ke arah Pelargir. Para Ent menaklukkan penyerang-penyerang Rohan.
13 Frodo ditangkap para Orc di Cirith Ungol. Padang Pelennor dibanjiri musuh. Faramir terluka. Aragorn sampai di Pelargir dan merebut armadanya. Theoden berada di Hutan Druadan.
14 Samwise menemukan Frodo di Menara. Minas Tirith dikepung. Kaum

Rohirrim yang dibimbing Orang-Orang Liar, sampai ke Hutan Kelabu.

15 Pada pagi buta Raja Penyihir menghancurkan Gerbang Kota. Denethor membakar diri di atas tumpukan kayu bakar. Terompetterompet kaum Rohirrim terdengar saat ayam berkokok. Pertempuran Pelennor. Theoden tewas. Aragorn mengangkat tiang panji buatan Arwen. Frodo dan Samwise lolos dan memulai perjalanan mereka ke utara menyusuri Morgai. Pertempuran di bawah pe- pohonan di Mirkwood; Thranduil mengusir kekuatan Dol Guldur. Serangan kedua ke Lorien.
16 Rembukan para pemimpin pasukan. Dari Morgai, Frodo melihat ke arah

Gunung Maut di atas perkemahan.

17 Pertempuran Dale. Raja Brand dan Raja Dain Ironfoot tewas. Banyak Kurcaci dan Manusia mengungsi ke Erebor dan diserang. Shagrat membawa jubah, rompi logam, dan pedang Frodo ke Barad-dur.
18 Pasukan Barat berjalan dari Minas Tirith. Frodo sudah bisa melihat

Isenmouthe; ia disusul Orc-Orc di jalan dari Durthang ke Udun.

19 Pasukan Barat sampai ke lembah Morgul. Frodo dan Samwise meloloskan diri dan memulai perjalanan mereka menyusuri rute ke Barad-dur.
22 Malam menakutkan. Frodo dan Samwise meninggalkan jalan dan membelok ke selatan, ke Ginning Maut. Serangan ketiga ke Lorien.
23 Pasukan Barat keluar dari Ithilien. Aragorn menyuruh pulang mereka yang kecil hati. Frodo dan Samwise membuang senjata dan perlengkapan mereka.
24 Frodo dan Samwise melakukan perjalanan mereka yang terakhir ke kaki

Gunung Maut. Pasukan Barat berkemah di Tanah Kosong Morannon.

25 Pasukan Barat dikepung di perbukitan ampas bijih. Frodo dan Samwise

sampai ke Sammath Naur. Gollum merebut Cincin dan jatuh ke dalam Celah

Maut. Kehancuran Barad-dur dan tewasnya Sauron.



Setelah kehancuran Menara Gelap dan tewasnya Sauron, Bayang-Bayang lenyap dari hati semua orang yang menentangnya, ketakutan dan keputusasaan menimpa semua budak dan sekutunya. Tiga kali Lorien diserang oleh Dol Guldur, tapi di samping keberanian bangsa Peri negeri itu, kekuatan yang ada di sana terlalu hebat untuk dikalahkan siapa pun, kecuali Sauron sendiri datang ke sana. Meski kerusakan yang diderita hutan indah itu di perbatasannya sungguh hebat, namun serangan-serangan itu berhasil dipukul mundur; dan ketika Bayang-Bayang sudah berlalu, Celebom muncul dan memimpin pasukan Lorien menyeberangi Anduin dalam banyak kapal. Mereka merebut Dol Guldur, Galadriel meruntuhkan dinding-dindingnya dan membuka sumursumurnya, dan hutan pun menjadi bersih.
Di Utara juga ada perang dan kejahatan. Wilayah Thranduil diserang, dan terjadi pertempuran panjang di bawah pepohonan dan kehancuran besarbesaran akibat kebakaran; tapi akhirnya Thranduil menang. Dan pada hari Tahun Baru Peri, Celeborn dan Thranduil bertemu di tengah hutan; mereka memberi nama baru kepada Mirkwood, menjadi Eryn Lasgalen, Hutan Daun Hijau. Thranduil mengambil seluruh wilayah utara sampai sejauh pegunungan yang menjulang dari hutan, sebagai wilayahnya; Celeborn mengambil seluruh hutan selatan di bawah Narrows, dan menamainya Lorien Timur; seluruh hutan luas di antaranya diberikan kepada kaum Beorning dan Orang-Orang Hutan. Tetapi beberapa tahun setelah kepergian Galadriel, Celeborn merasa jemu dengan negerinya dan pergi ke Imladris untuk tinggal bersama putraputra Elrond. Di Hutan Hijau, bangsa Peri Silvan masih tetap tidak terganggu, tapi di Lorien keadaannya menyedihkan, hanya beberapa sisa penduduknya yang dulu yang masih tinggal di sana, dan tidak ada lagi cahaya atau nyanyian di Caras Galadhon.


Pada saat bersamaan, ketika pasukan-pasukan tentara besar menyerang Minas

Tirith, sepasukan sekutu Sauron yang sudah lama mengancam perbatasan

negeri Raja Brand menyeberangi Sungai Carnen, dan Brand didesak mundur sampai ke Dale. Di sana ia memperoleh bantuan kaum Kurcaci dari Erebor; terjadilah pertempuran besar di kaki Pegunungan. Pertempuran itu berlangsung tiga hari, tapi pada Akhirnya Raja Brand maupun Raja Dain Ironfoot tewas, dan kaum Easterling memperoleh kemenangan. Tapi mereka tidak berhasil merebut Gerbang, dan banyak sekali Kurcaci maupun Manusia mencari perlindungan di Erebor, dan di sana mereka bertahan terhadap serangan musuh.
Ketika tersiar kabar tentang kemenangan besar di Selatan, bala tentara utara Sauron menjadi cemas; mereka yang diserang mulai maju dan mendesak mundur lawan mereka, sisa tentara Sauron lari ke Timur dan tidak mengganggu Dale lagi. Lalu Bard II, putra Brand, menjadi Raja di Dale, dan Thorin III Stonehelm, putra Dain, menjadi Raja di bawah Pegunungan. Mereka mengirim duta-duta mereka ke penobatan Raja Elessar; wilayah mereka setelah itu untuk selamanya bersahabat dengan Gondor, dan mereka berada di bawah mahkota serta perlindungan. Raja dari Barat.


HARI-HARI PENTING SEJAK KEJATUHAN BARAD-DUR HINGGA AKHIR ZAMAN KETIGA


3019

Hitungan Shire 1419

Maret 27. Bard II dan Thorin III Stonehelm mengusir musuh dari Dale.

28. Celebom menyeberangi Anduin; penghancuran Dol Guldur dimulai. April 6. Pertemuan Celeborn dan Thranduil.
8. Para Pembawa Cincin diberi penghormatan di Padang Cormallen.

Mei 1. Penobatan Raja Elessar; Elrond dan Arwen berangkat dari Rivendell.

8. Eomer dan Eowyn berangkat dari Rohan bersama putraputra Elrond.

20. Elrond dan Arwen sampai di Lorien.

27. Rombongan pendamping Arwen meninggalkan Lorien.

Juni 14. Putra-putra Elrond menemui rombongan pendamping dan membawa

Arwen ke Edoras.

16. Mereka berangkat ke Gondor.

25. Raja Elessar menemukan Pohon Putih muda. I Lithe.Arwen tiba di Kota.
Hari Tengah Tahun. Pernikahan Elessar dan Arwen. Juli 18. Eomer kembali ke Minas Tirith.
19. Rombongan pendamping jenazah Theoden berangkat. Agustus 7. Rombongan tiba di Edoras.
10. Pemakaman Raja Theoden.

14. Para tamu pamit kepada Raja Eomer.

18. Mereka tiba di Helm's Deep.

22. Mereka datang ke Isengard; pamit kepada Raja dari Barat saat matahari terbenam.
28. Mereka menyusul Saruman; Saruman pergi ke arah Shire. September 6. Mereka berhenti di depan Pegunungan Moria.
13. Celeborn dan Galadriel memisahkan diri, yang lainnya pergi ke Rivendell.

21. Mereka tiba di Rivendell.

22. Ulang tahun Bilbo yang keseratus dua puluh sembilan. Saruman datang ke

Shire.

Oktober 5. Gandalf dan para Hobbit meninggalkan Rivendell.

6. Mereka menyeberangi Arungan Bruinen; Frodo merasa kambuhnya rasa sakit yang pertama kali.
28. Mereka meninggalkan Bree pada malam hari.

30. “Para Pengembara” sampai ke Jembatan Brandywine ketika hari sudah

gelap.

November 1. Mereka ditangkap di Frogmorton.

2. Mereka sampai ke Bywater dan membangkitkan semangat pemberontakan penduduk Shire.
3. Pertempuran Bywater, dan Kematian Saruman. Akhir Perang Cincin.



3020

Hitungan Shire 1420: Tahun Emas Kemakmuran



Maret 13. Frodo sakit (pada ulang tahun hari ia diracuni Shelob). April 6. Pohon mallorn berkembang di Padang Pesta.
Mei 1. Samwise menikahi Rose.

Hari Tengah Tahun. Frodo mengundurkan diri dari jabatan sebagai wali kota, dan Will Whitfoot dikembalikan ke kedudukannya semula.
September 22. Ulang tahun Bilbo yang keseratus tiga puluh.

Oktober 6. Frodo sakit lagi.



3021

Hitungan Shire 1421: Yang Terakhir dari Zaman Ketiga

Maret 13. Frodo sakit lagi.

25. Kelahiran Elanor si Cantik, putri Samwise. Pada hari ini Zaman Keempat dimulai menurut perhitungan Gondor.
September 21. Frodo dan Samwise berangkat dari Hobbiton.

22. Mereka bertemu Rombongan Terakhir Para Pemilik Cincin di Woody End.

29. Mereka sampai ke Grey Havens. Frodo dan Bilbo pergi mengarungi Samudra bersama Tiga Pemilik Cincin. Akhir Zaman Ketiga.
Oktober 6. Samwise kembali ke Bag End.



PERISTIW A-PERISTIWA SELANJUTNYA YANG MENYANGKUT ANGGOTA PERSEKUTUAN CINCIN


Hitungan Shire

1422 Tahun ini menandai berawalnya Zaman Keempat menurut penghitungan tahun di Shire; namun angka-angka tahun dari Hitungan Shire dilanjutkan.
1427 Will Whitfoot pensiun. Samwise dipilih menjadi Wali Kota Shire. Peregrin Took menikah dengan Diamond dari Long Cleeve. Raja Elessar mengeluarkan maklumat bahwa Manusia tidak boleh masuk ke Shire, dan ia memproklamirkan- nya sebagai Negeri Bebas di bawah perlindungan Tongkat Kekuasaan Utara.
1430 Faramir, putra Peregrin, lahir.

1431 Goldilocks, putri Samwise, lahir.

1432 Meriadoc, yang disebut si Hebat, menjadi Master Buckland. Hadiah-hadiah besar dikirimkan kepadanya oleh Raja Eomer dan Lady Eowyn dari Ithilien.
1434 Peregrin menjadi sang Took sekaligus Thain. Raja Elessar menjadikan Thain, Penguasa Buckland, dan Wali Kota sebagai Penasihat Kerajaan Utara. Master Samwise untuk kedua kalinya dipilih menjadi Wali Kota.
1436 Raja Elessar pergi ke utara, dan untuk sementara waktu berdiam di Telaga

Evendim. Ia datang ke Jembatan Brandywine, dan di sana ia menemui sahabat- sahabatnya. la memberikan Bintang Dunedain kepada Master Samwise, dan Elanor dijadikan dayang-dayang kehormatan Ratu Arwen.
1441 Master Samwise untuk ketiga kalinya menjadi Wali Kota.

1442 Master Samwise, istrinya, dan Elanor pergi ke Gondor dan tinggal di sana selama setahun. Master Tolman Cotton bertindak sebagai wakil Wali Kota.
1448 Master Samwise menjadi Wali Kota untuk keempat kalinya.

1451 Elanor si Cantik menikah dengan Fastred dari Greenholm, di Far Downs.

1452 Westmarch, mulai dari Far Downs sampai ke Bukit-Bukit Menara (Emyn Beraid), ditambahkan pada Shire sebagai pemberian Raja. Banyak hobbit pindah untuk tinggal di sana.
1454 Elfstan Fairbairn, putra Fastred dan Elanor, lahir.

1455 Master Samwise untuk kelima kalinya menjadi Wali Kota. Atas permohonan Samwise, Thain menjadikan Fastred Penjaga Westmarch. Fastred dan Elanor menetap di Undertowers di Bukit-Bukit Menara, di mana keturunan mereka, kaum Fairbairn dari Menara-Menara, bermukim selama beberapa generasi.
1462 Untuk keenam kalinya Master Samwise menjadi Wali Kota.

1463 Faramir Took menikah dengan Goldilocks, putri Samwise.

1469 Master Samwise untuk ketujuh dan terakhir kalinya menjabat sebagai Wali Kota, dan pada tahun 1476, di akhir masa jabatannya ia berusia sembilan puluh enam tahun.
1482 Meninggalnya Mistress Rose, istri Master Samwise, pada hari Tengah Tahun. Tanggal 22 September Master Samwise pergi keluar dari Bag End. Ia datang ke Bukit-Bukit Menara, dan terakhir terlihat oleh Elanor, pada siapa ia

memberikan Buku Merah, yang untuk selanjutnya disimpan kaum Fairbairn. Di antara mereka, kisah yang diturunkan sesuai tradisi adalah bahwa Samwise mampir ke Menara-Menara, pergi ke Grey Havens, lalu pergi mengarungi Samudra, sebagai yang terakhir dari para Pembawa Cincin.
1484 Pada musim semi tahun itu, dari Rohan datang pesan ke Buckland bahwa Raja Eomer ingin bertemu Master Holdwine sekali lagi. Ketika itu Meriadoc sudah tua (102) tapi masih sehat walafiat. la berembuk dengan sahabatnya sang Thain, dan tak lama kemudian mereka menyerahkan barang-barang dan jabatan mereka kepada putra-putra mereka, lalu pergi melewati Sam Ford dan tak pernah terlihat lagi di Shire. Setelah itu baru diketahui bahwa Master Meriadoc tiba di Edoras dan mendampingi Raja Eomer sampai Raja wafat pada musim gugur itu. Lalu Meriadoc dan Thain Peregrin pergi ke Gondor dan menghabiskan waktu singkat yang masih tersisa bagi mereka di negeri itu, sampai mereka meninggal dan dibaringkan di Rath Dinen, di antara para petinggi Gondor.
1541 Pada tanggal 1 Maret Tahun ini4 Raja Elessar akhirnya wafat. Menurut cerita, tempat tidur Meriadoc dan Peregrin ditempatkan di samping tempat tidur raja agung itu. Lalu Legolas membangun kapal kelabu di Ithilien, berlayar mengarungi Anduin, lalu Samudra; konon bersamanya ikut pula Gimli si Kurcaci. Ketika kapal itu berlalu, berakhirlah sudah Persekutuan Cincin di Dunia Tengah.

APENDIKS C

SILSILAH-SILSILAH (HOBBIT)



Nama-nama yang dicantumkan dalam Silsilah-Silsilah ini hanya beberapa yang terpilih dari sekian banyak. Kebanyakan dari mereka adalah tamu pada Pesta Perpisahan Bilbo, atau keturunan langsung mereka. Tamu-tamu pada Pesta diberi garis bawah. Beberapa nama lain dari orang-orang yang tersangkut ialam peristiwa-peristiwa yang diceritakan, juga dicantumkan. Sebagai :ambahan, beberapa keterangan menyangkut silsilah juga diberikan dalam 3ilsilah Samwise yang mendirikan keluarga Gardner, yang di kemudian hari menjadi sangat termasyhur dan berpengaruh.
Angka-angka setelah nama-nama adalah tahun kelahiran (dan kematian, jika memang tercatat). Semua tanggal yang dicantumkan mengikuti Hitungan Shire, dihitung sejak penyeberangan Brandywine oleh Marcho dan Blanco bersaudara pada Tahun Shire 1 (Zaman Ketiga 1601).

APENDIKS D

PENANGGALAN SHIRE UNTUK PENGGUNAAN DALAM SEMUA TAHUN



Setiap tahun dimulai pada hari pertama dalam sepekan, Sabtu, dan berakhir pada pada hari terakhir sepekan, Jumat. Hari Tengah Tahun, dan Overlithe pada Tahun Kabisat, tidak mempunyai nama hari. Lithe sebelum Hari Tengah Tahun disebut 1 Lithe, dan satu hari setelahnya disebut 2 Lithe. Yule pada akhir tahun adalah I Yule, dan pada awal tahun adalah 2 Yule. Overlithe merupakan hari libur khusus, tapi hari itu tidak muncul dalam tahun-tahun penting dalam sejarah Cincin Utama. Hari itu terdapat pada tahun 1420, tahun panen yang tersohor dan musim panas indah, dan kemeriahan pada tahun itu dianggap yang terbesar dalam ingatan atau catatan.


KALENDER-KALENDER



Kalender di Shire berbeda dalam berbagai segi dengan penanggalan kita. Panjangnya tahun memang sama, karena zaman dulu itu yang diukur dengan tahun-tahun dan masa hidup manusia, sebenarnya belum terlalu jauh berlalu kalau dibandingkan riwayat Bumi. Para Hobbit mencatat bahwa mereka tidak mempunyai “minggu” ketika mereka masih menjadi bangsa pengembara, dan meski mereka mempunyai “bulan”, yang dikendalikan sedikit-banyaknya oleh Bulan, pencatatan mereka tentang tanggal dan perkiraan waktu agak samar- samar dan tidak teliti. Di wilayah-wilayah barat Eriador, ketika mereka mulai meneTapi mereka mulai menggunakan perhitungan Raja sesuai kaum Dunedain, yang sebenarnya bersumber dari kaum Eldar; namun para Hobbit dari Shire memasukkan beberapa perubahan kecil. Penanggalan ini, atau disebut juga “Hitungan Shire”, akhirnya digunakan juga di Bree, kecuali pemakaian Tahun 1 untuk tahun dimulainya permukiman di Shire.
Biasanya sulit menemukan dari dongeng-dongeng serta tradisi lama, keterangan yang tepat mengenai hal-hal yang diketahui orang-orang dan yang dianggap lumrah pada masa mereka (misalnya nama huruf, atau nama hari, atau nama

dan panjang setiap bulan). Tapi karena pada umumnya mereka tertarik pada persilisilahan, juga karena setelah Perang Cincin perhatian golongan terpelajar di antara mereka pada sejarah kuno berkembang, hobbit-hobbit dari Shire rupanya memberi perhatian cukup besar pada tanggaltanggal; bahkan mereka menggambar tabel-tabel rumit yang menunjukkan hubungan sistem mereka dengan yang lainnya. Saya tidak mahir dalam masalah-masalah semacam itu, dan mungkin membuat banyak kesalahan; tapi setidaknya kronologi tahun-tahun kritis Hitungan Shire 1418, 1419 diuraikan dengan sangat teliti dalam Buku Merah, sehingga tidak banyak keraguan tentang hari dan waktu dalam hal ini. Rupanya jelas bahwa kaum Eldar di Dunia Tengah, seperti dijelaskan oleh Samwise, memiliki lebih banyak waktu, mempunyai hitungan periode panjang, dan kata yen dalam bahasa Quenya, yang sering diterjemahkan sebagai “tahun”, sebenarnya berarti 144 tahun kita. Kaum Eldar lebih suka menghitung dalam kelipatan enam dan dua belas, sejauh mungkin. Satu “hari” matahari mereka namakan re dan dihitung dari matahari terbenam ke matahari terbenam. Yen terdiri atas 52.596 hari. Untuk tujuan ritual, kaum Eldar menghitung satu minggu atau enquie sama dengan enam hari; sedangkan yen terdiri atas 8.766 enquie, yang dihitung berkesinambungan sepanjang periode.
Di Dunia Tengah, kaum Eldar juga menjalankan suatu periode singkat atau tahun matahari, yang disebut coranar.atau “putaran matahari” ditinjau dari segi astronomi, tapi biasanya disebut “pertumbuhan” loa (terutama di negeri-negeri barat laut) terutama dilihat dari segi perubahan tumbuh-tumbuhan menurut musim, seperti sudah menjadi kebiasaan bangsa Peri secara umum. Loa dibagi- bagi dalam periode-periode yang bisa dianggap bulan panjang atau musim yang pendek. Tentu saja ini berbeda-beda di setiap wilayah; tapi kaum Hobbit hanya memberikan keterangan mengenai Penanggalan Imladris. Dalam penanggalan tersebut ada enam musim semacam itu, yang dalam bahasa Quenya disebut tuile, laire, yavie, quelle, hrive, coire, yang bisa diterjemahkan “musim semi, musim panas, musim gugur, musim pemudaran, musim dingin, musim pergerakan”. Nama-namanya dalam bahasa Sindarin adalah ethuil, laer, iavas, fiYith, rhiw, echuir. “Musim pemudaran” juga disebut lasse-lanta “daun-jatuh”,

atau dalam bahasa Sindarin narbeleth, “pemudaran matahari”.

Laire dan hrive masing-masing terdiri atas 72 hari, sedangkan sisanya masing- masing 54 hari. Loa dimulai dengan yestare, hari sebelum tuile, dan berakhir dengan mettare, hari setelah coire. Antara yavie dan queue disisipkan tiga enderi atau “hari-hari tengah”. Dengan demikian terbentuklah satu tahun dengan 365 hari yang diberi tambahan dengan menggandakan enderi (penambahan 3 hari) setiap dua belas tahun sekali.
Bagaimana cara menangani ketidakcermatan yang mungkin terjadi, tidak diketahui pasti. Kalau satu tahun sama panjangnya dengan tahun sekarang, maka yen pasti lebih panjang dari satu hari. Bahwa memang terdapat ketidakcermatan, diperlihatkan oleh adanya catatan dalam Penanggalan di Buku Merah, yang mengakibatkan bahwa dalam “Perhitungan Rivendell”, tahun terakhir dari setiap yen ketiga diperpendek tiga hari: dalam tahun itu penggandaan tiga enderi ditiadakan; “tapi hal itu tidak terjadi pada masa kami”. Tentang penyesuaian ketidaktelitian lain yang masih ada, tidak ada catatan.


Bangsa Numenor mengubah susunan ini. Mereka membagi loa dalam periode- periode lebih pendek dengan jangka waktu kurang-lebih sama; dan mereka mengikuti kebiasaan untuk memulai awal tahun pada pertengahan musim dingin, seperti dilakukan Orang-Orang Barat Laut dari siapa mereka berasal dalam Zaman Pertama. Di kemudian hari mereka juga membuat satu minggu mereka terdiri atas tujuh hari, dan mereka mereka menghitung satu hari dari matahari terbit (dari laut timur) sampai ke matahari terbit.
Sistem Numenor, seperti digunakan di Numenor, serta di Arnor dan Gondor sampai berAkhirnya masa para raja, disebut Perhitungan Raja. Tahun yang normal memiliki 365 hari. Satu tahun dibagi atas dua belas astar atau bulan, di antaranya sepuluh bulan mempunyai 30 hari dan dua bulan memiliki 31 hari. Astar panjang adalah yang berada di kedua sisi Tengah Tahun, kira-kira Juni dan Juli kita. Hari pertama dalam tahun disebut yestare, hari tengah (yang ke-
183) disebut loende, dan hari terakhir disebut mettare; ketiga hari ini bukan termasuk dalam bulan mana pun. Setiap empat tahun sekali, kecuali yang

terakhir dari satu abad (haranye); dua enderi atau “hari-tengah” dipakai sebagai

ganti loende.

Di Numenor perhitungan dimulai dengan Z.KD. 1. Defisit yang disebabkan oleh pengurangan 1 hari dari tahun terakhir setiap abad tidak disesuaikan sampai tahun terakhir satu milenium, menyisakan defisit milenia sebanyak 4 jam, 46 menit, 40 detik. Penambahan ini dibuat di Ntzmenor pada Z.KD. 1000, 2000,
3000. Setelah Kejatuhan pada Z.KD. 3319 sistem ini dipertahankan oleh orang- orang yang berada dalam pengasingan, tapi banyak ditinggalkan pada awal Zaman Ketiga dengan diadakannya penomoran baru: Z.KD. 3442 menjadi Z.KT
1. Dengan menjadikan Z.KT. 4 tahun kabisat, dan bukan Z.KT. 3 (Z.KD. 3444), maka satu tahun pendek yang hanya terdiri atas 365 hari dikacaukan lagi sehingga mengakibatkan defisit sebanyak 5 jam, 48 menit, 46 detik. Penambahan milenia dibuat terlambat 441 tahun: dalam Z.KT. 1000 (Z.KD.
4441) dan 2000 (Z.KD. 5441). Untuk mengurangi kesalahan yang diakibatkan oleh hal itu, juga pertambahan defisit milenia, maka Mardil, Pejabat Gondor, mengeluarkan suatu penanggalan yang diperbaiki untuk dijalankan pada Z.KT.
2060, setelah satu penambahan khusus sebanyak 2 hari ke 2059 (Z.KD. 5500), yang mengakhiri 51/2 milenia sejak permulaan sistem Nitmenor. Tapi dengan demikian masih tetap tersisa defisit 8 jam. Hador menambahkan I hari ke 2360, meski kekurangannya sebenamya tidak mencapai jangka waktu sepanjang itu. Setelah itu tidak dilakukan lagi penyesuaian. (Pada Z.KT. 3000, dengan adanya ancaman perang yang semakin dekat waktunya, masalah-masalah seperti itu diabaikan.) Pada akhir Zaman Ketiga, setelah 660 tahun, Defisit masih belum mencapai I hari.
Penanggalan Revisi yang diperkenalkan oleh Mardil, Pejabat Gondor, disebut Perhitungan Pejabat, dan akhirnya digunakan oleh sebagian besar pengguna bahasa Westron, kecuali bangsa Hobbit. Bulan-bulan semuanya terdiri atas 30 hari, dan 2 hari di luar bulan-bulan diperkenalkan: I antara bulan ketiga dan keempat (Maret, April), dan 1 antara bulan kesembilan dan kesepuluh (September, Oktober). Lima hari di luar bulan-bulan, yestare, tuilere, loende, yaviere, dan mettare, merupakan hari libur.

Bangsa Hobbit sangat konservatif dan melanjutkan menggunakan semacam Perhitungan Raja yang disesuaikan dengan adat kebiasaan mereka sendiri. Bulan-bulan mereka semuanya sama dan mempunyai masing-masing 30 hari; tapi mereka mempunyai 3 Hari Musim Panas, yang di Shire disebut Lithe atau Hari-Hari Lithe, antara Juni dan Juli. Hari terakhir dalam satu tahun dan hari pertama tahun berikutnya disebut Hari-Hari Yule. Hari-Hari Yule dan Lithe tetap berada di luar bulan, sehingga I Januari adalah hari kedua dan bukan yang pertama dari tahun bersangkutan. Setiap empat tahun sekali, kecuali pada tahun terakhir satu abad, ada empat hari Lithe. HariHari Lithe dan Yule adalah hari-hari libur utama dan merupakan saat berpesta pora. Hari Lithe tambahan ditambahkan setelah Hari Tengah Tahun, dan dengan demikian hari ke-184 dari tahun kabisat disebut Overlithe, dan merupakan hari untuk bergembira ria secara khusus. Selengkapnya masa Yule panjangnya enam hari, termasuk tiga hari terakhir dan tiga hari pertama setiap tahun.
Bangsa Shire memperkenalkan satu pembaruan kecil (akhirnya juga diper- gunakan di Bree), yang mereka sebut Pembaruan Shire. Menurut mereka, pergantian nama-nama minggu dalam kaitannya dengan tanggal dari tahun ke tahun, sangat tidak rapi dan juga agak menyulitkan. Maka pada masa Isengrim II mereka mengatur agar hari ganjil yang memutus urutan, tidak perlu diberi nama hari. Setelah itu Hari Tengah Tahun (dan Overlithe) hanya dikenal namanya dan tidak termasuk dalam salah satu minggu. Sebagai akibat pembaruan ini, awal tahun selalu dimulai pada Hari Pertama dalam satu minggu dan berakhir pada Hari Terakhir; dan tanggal yang sama pada tahun mana pun selalu mempunyai nama hari yang sama pada semua tahun lainnya, sehingga bangsa Shire tidak lagi menulis nama hari dalam surat-surat atau buku harian mereka. Bila berada di kampung halaman sendiri, hal itu terasa memudahkan, tapi tidak demikian halnya bila mereka pergi lebih jauh dari Bree.
Dalam catatan-catatan di atas, seperti dalam bagian cerita, saya menggunakan nama-nama modem untuk bulan dan nama hari, meski tentu kaum Eldar maupun Dunedain atau Hobbit tidak melakukannya. Terjemahan dari nama-nama dalam bahasa Westron tampaknya penting sekali untuk menghindari kebingungan,

sementara makna nama-nama itu sehubungan dengan musim kurang lebih sama, setidaknya di Shire. Meski begitu, rupanya Hari Tengah Tahun dimaksudkan sedekat mungkin sama dengan titik balik matahari pada musim panas. Dalam hal itu, tanggal-tanggal Shire sebenarnya malah lebih cepat sepuluh hari terhadap sistem penanggalan kita, dan hari Tahun Baru kita kurang- lebih sama dengan tanggal 9 Januari di Shire.
Dalam bahasa Westron, nama-nama bulan dalam bahasa Quenya biasanya tetap dipakai, seperti halnya nama-nama Latin sekarang dipakai secara luas dalam bahasa asing. Berikut nama-nama tersebut: Narvinye, Nenime, Sulime, Viresse, Lotesse, Narie, Cermie, Urime, Yavannie, Narquelie, Hisime, Ringare. Nama-namanya dalam bahasa Sindarin (hanya digunakan kaum Dunedain): Narwain, Ninui, Gwaeron, Gwirith, Lothron, Norui, Cerveth, Urui, Ivanneth, Narbeleth, Hithui, Girithron.
Namun tata nama kaum Hobbit, baik di Shire maupun di Bree, menyimpang dari penggunaan Westron, dan mengikuti penggunaan gaya lama nama-nama setempat mereka sendiri, yang kelihatannya mereka petik di zaman lampau dari Orang-Orang di Lembah Anduin; setidaknya nama-nama yang sama juga ditemukan di Dale dan Rohan (cf. catatan tentang bahasa-bahasa). Makna nama-nama ini, yang diciptakan Manusia, biasanya sudah lama dilupakan kaum Hobbit, juga meski pada awalnya mereka tahu artinya; dan bentuk nama-nama itu akhirnya banyak yang menjadi kabur: misalnya saja math, sebagai akhiran pada beberapa kata, merupakan penyingkatan dari month (bulan).
Nama-nama Shire diuraikan dalam Penanggalan. Bisa dicatat di sini bahwa Solmath biasanya diucapkan, dan kadang-kadang ditulis, Somath; Thrimidge sering ditulis Thrimich (kata kunonya: Thrimilch); dan Blotmath diucapkan Blodmath atau Blommath. Di Bree nama-namanya berbeda, yaitu Frery, Solmath, Rethe, Chithing, Thrimidge, Lithe, Hari-Hari Musim Panas, Mede, Wedmath, Harvestmath, Wintring, Blooting, dan Yulemath. Frery, Chithing, dan Yulemath juga digunakan di Wilayah Timur.
Minggu atau pekan Hobbit diambil dari kaum Dunedain, dan nama-namanya merupakan terjemahan dari nama-nama hari yang dipakai di Kerajaan Utara

lama, yang pada gilirannya berasal dari kaum Eldar. Pekan kaum Eldar yang terdiri atas enam hari, mempunyai nama-nama yang dipersembahkan kepada atau dinamakan menurut, Bintang-Bintang, Matahari, Bulan, Dua Pohon, Surga, dan Valar atau Kekuatan, dalam urutan seperti itu, dengan hari terakhir merupakan hari utama dalam satu minggu. Nama-namanya dalam bahasa Quenya adalah Elenya, Anarya, Isilya, Alduya, Menelya, Valanya (atau Tarion); nama-nama dalam bahasa Sindarin adalah: Orgilion, Oranor Orithil, Orgaladhad, Ormenel, Orbelain (atau Rodyn).
Kaum Numenor mempertahankan makna persembahan dan juga urutannya, tapi mengubah hari keempat menjadi Aldea (Orgaladh) yang hanya menunjuk pada Pohon Putih. Nimloth yang tumbuh di Halaman Raja di Numenor diyakini sebagai keturunannya. Karena mereka juga menginginkan hari ketujuh, dan karena mereka merupakan pelaut-pelaut tangguh, mereka menyelipkan satu “Hari Laut”, Edrenya (Oraearon), bahkan setelah Hari Langit.
Bangsa Hobbit mengambil alih susunan ini, tapi makna nama-nama terjemahannya tak lama kemudian sudah terlupakan, atau tidak lagi digunakan, sedangkan bentuk-bentuknya sangat dipersingkat, terutama dalam ucapan sehari-hari. Terjemahan pertama nama-nama Numenor mungkin dibuat dua ribu tahun lebih sebelum akhir Zaman Ketiga, ketika minggu kaum Dunedain (ciri cara perhitungannya yang paling dulu diterapkan oleh bangsa-bangsa asing) dipetik Orang-Orang Utara. Sama seperti nama-nama untuk bulan, bangsa Hobbit mengikuti terjemahan itu, meski di wilayah Westron- lainnya mungkin digunakan nama-nama Quenya.
Tidak banyak naskah kuno yang terpelihara di Shire. Pada akhir Zaman Ketiga, yang patut dicatat adalah penyimpanan Yellowskin, atau Buku Tahunan Tuckborough. Catatannya yang paling awal rupanya sudah dimulai setidaknya sembilan ratus tahun sebelum masa Frodo; dan banyak catatan di dalamnya dikutip dalam sejarah dan silsilah yang tercantum dalam Buku Merah. Di sini nama-nama hari muncul dalam bentuk kuno, dan yang paling kuno adalah sebagai berikut: (1) Sterrendei, (2) Sunnendei, (3) Monendei, (4) Trewesdei, (5) Hevenesdei, (6) Meresdei, (7) Highdei. Dalam bahasa di masa Perang Cincin,

nama-nama ini menjadi Sterday, Sunday, Monday, Trewsday, Hevensday (atau

Hensday), Mersday, Highday.

Saya juga menerjemahkan nama-nama ini ke dalam nama-nama yang biasa kita gunakan, tentu saja dimulai dengan Sunday (Minggu) dan Monday (Senin), yang di Shire memakai nama-nama yang sama, dan yang lainnya diberi nama baru. Tapi perlu dicatat bahwa di Shire, kaitan nama-nama itu berbeda. Hari terakhir dalam satu minggu, Friday/Highday (Jumat), merupakan hari utama, dan saat untuk libur (di siang hari) dan pesta-pesta di malam hari. Maka Saturday (Sabtu) bisa dianggap sama dengan Monday (Senin), dan Thursday (Kamis) sama dengan Saturday (Sabtu) kita.
Beberapa nama bisa disebutkan di sini, yang mempunyai kaitan dengan waktu, meski tidak digunakan dalam perhitungan yang tepat. Musim-musim yang biasanya disebutkan adalah tuile musim semi, laire musim panas, yavie musim gugur (atau panen), hrive musim dingin; tapi tidak ada definisi yang pasti, dan queue (atau lasselanta) juga digunakan untuk bagian terakhir musim gugur dan awal musim dingin.
Kaum Eldar memberi perhatian khusus kepada saat “senja” (di wilayah-wilayah utara), terutama sebagai saat memudar dan merekahnya bintangbintang. Mereka mempunyai banyak nama untuk periode-periode ini, dan yang paling umum adalah tindome dan undome; yang pertama paling sering menunjuk saat mendekati fajar, sedangkan undome menunjuk waktu sore. Nama Sindarin untuk ini adalah uial, yang bisa diuraikan menjadi minuial dan aduial. Di Shire sering disebut morrowdim dan evendim. Cf. Telaga Evendim sebagai terjemahan dari Nenuial.
Hanya Perhitungan dan tanggal-tanggal Shire yang penting untuk penceritaan kisah Perang Cincin. Semua hari, bulan, dan tanggal ada di dalam Buku Merah, sudah diterjemahkan ke dalam istilah-istilah Shire, atau disetarakan dengannya melalui catatan. Oleh karena itu, bulan-bulan dan hari-hari yang disebut di sepanjang kisah The Lord of The Rings merujuk kepada Penanggalan Shire. Titik-titik di mana perbedaan antara penanggalan Shire dean penanggalan kita menjadi penting bagi cerita ini pada saat kritis, yaitu akhir 3018 dan awal 3019

(Hitungan Shire: 1418, 1419), adalah: Oktober 1418 hanya mempunyai 30 hari, 1

Januari adalah hari kedua tahun 1419, dan Februari mempunyai 30 hari; sehingga 25 Maret, tanggal kejatuhan Barad-dur, sama dengan tanggal 27 Maret tanggalan kita, kalau tahun kita dimulai pada titik musiman yang sama. Tetapi tanggal itu dalam Perhitungan Raja maupun Perhitungan Pejabat adalah tanggal
25 Maret.

Perhitungan Baru dimulai di Kerajaan yang sudah dipulihkan kembali, pada Z.KT. 3019. Hal ini menandai dipergunakannya kembali Perhitungan Raja yang disesuaikan, agar cocok untuk permulaan musim semi seperti dalam loa kaum Eldar.
Dalam Perhitungan Baru, tahun baru dimulai pada tanggal 25 Maret gaya lama, untuk mengenang kejatuhan Sauron dan jasa jasa para Pembawa Cincin. Bulan- bulan tetap memakai nama lama, sekarang dimulai dengan Viresse (April), tapi menunjuk pada periode yang mulai lebih awal lima hari daripada kebiasaan sebelumnya. Semua bulan mempunyai 30 hari. Ada 3 Enderi atau Hari-Tengah (yang kedua disebut Loende), antara Yavannie (September) dan Narquelie (Oktober), yang sama dengan 23, 24, dan 25 September gaya lama. Tapi untuk menghormati Frodo, 30 Yavannie, yang sama dengan 22 September yang dulu, yaitu ulang tahunnya, dijadikan hari pesta, dan tahun kabisat ditetapkan dengan menggandakan pesta ini, yang disebut Cormare atau Hari Cincin.
Zaman Keempat dianggap mulai dengan kepergian Master Elrond, yang terjadi September 3021; tapi demi tujuan pencatatan, di Kerajaan Zaman Keempat 1 adalah tahun yang dimulai sesuai Perhitungan Baru pada bulan Maret, tanggal
25, tahun 3021, gaya lama.

Perhitungan ini diterapkan pada masa pemerintahan Raja Elessar di semua negerinya, kecuali Shire, di mana penanggalan lama masih dipertahankan dan Hitungan Shire masih dilanjutkan pemakaiannya. Dengan demikian tahun I Zaman Keempat disebut 1422; dan sejauh para Hobbit mengakui perubahan Zaman, mereka bersikeras bahwa itu dimulai dengan 2 Yule 1422, dan bukan pada bulan Maret sebelumnya.
Tidak ada catatan tentang penduduk Shire memperingati 25 Maret atau 22

September; tapi di Wilayah Barat, terutama di negeri sekitar Bukit Hobbiton, muncul kebiasaan untuk berlibur dan berdansa di Padang Pesta, bila cuaca mengizinkan, pada tanggal 6 April. Ada yang mengatakan bahwa itu hari ulang tahun Sam Gardner, ada juga yang mengatakan itu hari ketika Pohon Emas untuk pertama kali berbunga pada tahun 1420, dan ada juga yang mengatakan itu Tahun Baru kaum Peri. Di Buckland, Terompet dari Mark ditiup saat matahari terbenam setiap 2 November, lalu diikuti api unggun dan pesta pora.

APENDIKS E

TULISAN DAN EJAAN



1 PENGUCAPAN KATA-KATA DAN NAMA-NAMA



Bahasa Westron atau Bahasa Umum sudah diterjemahkan seluruhnya ke dalam padanan kata bahasa Inggris. Semua nama Hobbit dan kata-kata khusus dimaksudkan agar diucapkan sesuai dengan penulisannya dalam bahasa Inggris, misalnya Bolger mempunyai huruf g seperti dalam bulge, dan mathom berima dengan fathom.
Dalam merekam naskah-naskah kuno, saya mencoba menggambarkan bunyi- bunyi asli (sejauh bisa ditetapkan) dengan ketepatan yang cukup memadai, sekaligus menampilkan kata-kata dan nama-nama yang tidak terdengar asing dalam kesusastraan modern. Bahasa Quenya kaum Peri dieja semirip mungkin dengan ejaan Latin, sejauh dimungkinkan oleh bunyinya. Karena alasan inilah huruf c lebih disukai daripada k dalam kedua bahasa Eldarin.
Butir-butir berikut silakan dicermati oleh mereka yang tertarik pada detail-detail semacam itu.


KONSONAN

C selalu diucapkan k, juga bila berada di depan e dan i: celeb yang berarti

“perak” harus diucapkan keleb.

CH hanya digunakan untuk menggambarkan bunyi seperti terdengar dalam kata bach (dalam bahasa Jerman atau Welsh), bukan seperti kata church dalam bahasa Inggris. Kecuali di akhir kata dan di depan t, bunyi ini diredam menjadi h dalam bahasa Gondor, dan perubahan itu terdapat dalam beberapa nama, seperti Rohan, Rohirrim. (Imrahil adalah nama dari bahasa Numenor).
DH menggambarkan bunyi (lembut) th seperti dalam kata-kata these clothes dalam bahasa Inggris. Biasanya berhubungan dengan d, seperti dalam kata Sindarin galadh “pohon”, dibandingkan dengan bahasa Quenya alda; tapi kadang-kadang terjadi karena gabungan n + r, seperti dalam Caradhras

“Redhorn” berasal dari caran-rass.

F tetap diucapkan f, kecuali pada akhir kata, digunakan untuk menggambarkan bunyi v (seperti kata of dalam bahasa Inggris): Nindalf, Fladrif.
G hanya mempunyai bunyi g seperti dalam give, get: gil “bintang”, dalam Gildor,

Gilraen, Osgiliath, di awal kata seperti gild bahasa Inggris.

H kalau berdiri sendiri tanpa konsonan lain mempunyai bunyi h seperti dalam house, behold. Kombinasi dalam bahasa Quenya ht mempunyai bunyi seperti cht dalam bahasa Jerman echt, acht: misalnya dalam nama Telumehtar “Orion”. Lihat juga CH, DH, L, R, TH, W , dan Y.
I kalau berada di awal kata, di depan huruf vokal lain, mempunyai bunyi konsonan seperti y dalam you, yore hanya dalam Sindarin: seperti dalam Ioreth, larwain. Lihat Y.
K digunakan dalam nama-nama yang diambil dari bahasa lain selain bahasa Peri, diucapkan sebagai c; maka kh menggambarkan bunyi yang sama seperti ch dalam bahasa Orc Grishnakh, atau bahasa Adunaic (Numenor), Adunakhor. Tentang bahasa Kurcaci (Khuzdul) lihat catatan di bawah.
L menggambarkan kurang-lebih bunyi 1 bahasa Inggris pada awal kata, seperti dalam kata let. Namun l agak dibunyikan secara palatal bila terletak di antara e, I, dan konsonan, atau pada akhir kata setelah huruf e dan i. (Mungkin kaum Eldar akan menuliskan secara fonemis, bell dan fill bahasa Inggris sebagai beol, fiol.) LH menggambarkan bunyi ini kalau tidak disuarakan (biasanya berasal dari sl pada awal kata). Dalam Quenya kuno ditulis hl, tapi di Zaman Ketiga biasanya diucapkan l.
NG menggambarkan bunyi ng seperti dalam kata finger, kecuali pada akhir kata di mana ia disuarakan seperti kata sing bahasa Inggris. Yang terakhir ini juga terjadi pada awal kata dalam bahasa Quenya, tapi dituliskan n(seperti dalam Noldo), sesuai dengan pengucapan pada Zaman Ketiga.
PH mempunyai bunyi yang sama dengan f Digunakan bila (a) bunyi f muncul pada akhir kata, seperti dalam alph “angsa”; (b) di mana bunyi f berhubungan atau berasal dari p, seperti dalam kata iPheriannath “para Halfling” (perian); (c) di tengah beberapa kata di mana ia menggambarkan ff panjang (dari pp) seperti

dalam Ephel “pagar luar”; dan (d) dalam Adunaic dan bahasa Westron, seperti dalam Ar-Pharazon (pharaz “emas”).
QU digunakan untuk cw, suatu kombinasi yang sering terdapat dalam bahasa

Quenya, tapi tidak terdapat dalam bahasa Sindarin.

R menggambarkan r yang digetarkan dalam semua posisi; bunyinya tidak hilang bila di depan konsonan (seperti dalam kata part bahasa Inggris). Para Orc, dan beberapa Kurcaci, menurut cerita menggunakan r yang diucapkan dengan getaran lidah atau di bagian belakang lidah, bunyi yang oleh kaum Eldar dianggap menjijikkan. RH menggambarkan r yang tidak bersuara (biasanya berasal dari sr- lama di awal kata). Dalam bahasa Quenya ditulis hr. Lihat L.
S selalu tidak bersuara, seperti so, geese bahasa Inggris; suara z- tidak ada dalam Quenya atau Sindarin kontemporer. SH yang terdapat dalam bahasa Westron, Kurcaci, dan Orc menggambarkan bunyi serupa dengan sh bahasa Inggris.
TH menggambarkan th yang tidak bersuara dalam bahasa Inggris, seperti dalam thin cloth. Ini menjadi s dalam bahasa Quenya lisan, meski tetap ditulis dengan huruf berbeda, seperti dalam Quenya Isil, Sindarin: Ithil, “Bulan”.
TY menggambarkan bunyi yang mungkin sama dengan t dalam kata tune bahasa Inggris. Terutama berasal dari c atau t + y. Bunyi ch Inggris, yang sering terdapat dalam bahasa Westron, biasanya digunakan sebagai penggantinya, untuk mereka yang berbicara bahasa itu. Cf. HY di bawah Y.
V berbunyi seperti v Inggris, tapi tidak digunakan pada akhir kata. Lihat F.

W berbunyi seperti w Inggris. HW adalah w yang tidak bersuara, seperti dalam white bahasa Inggris (dengan ucapan logat utara). Ini bukan bunyi yang tidak lazim dalam Quenya, meski tidak ada contohnya dalam buku ini. Baik v dan w digunakan dalam transkripsi Quenya, meski sudah ada peleburan ejaannya ke dalam bahasa Latin, karena kedua bunyi tersebut, meski berbeda sumber, sama- sama terdapat dalam bahasa itu.
Y digunakan dalam Quenya sebagai konsonan y, seperti dalam you Inggris. Dalam Sindarin y adalah vokal (lihat di bawah). HY mempunyai hubungan dengan y yang sama seperti HW dengan w, dan menggambarkan bunyi seperti

itu yang sering terdengar dalam hew, huge Inggris; h dalam Quenya eht, iht, mempunyai bunyi yang sama. Bunyi sh Inggris, yang umum dalam bahasa Westron, sering diganti oleh para pengguna bahasa itu. Cf. TY di atas. HY biasanya bersumber pada sy- dan khy-; dalam kedua-duanya, kata-kata Sindarin menunjukkan huruf awal h, seperti dalam Hyarmen “Selatan” dalam bahasa Ouenya, dan Harad dalam bahasa Sindarin.


Perhatikan bahwa konsonan yang ditulis berulang, seperti tt, Il, ss, nn menggambarkan konsonan ganda yang panjang. Pada akhir kata yang terdiri atas lebih dari satu suku kata, biasanya ini disingkat: seperti kata Rohan dari Rochann (Rochand kuno).
Dalam Sindarin kuno, kombinasi ng, nd, mb yang terutama sangat disukai dalam bahasa-bahasa Eldarin pada tahap-tahap awal, , mengalami beberapa perubahan. mb menjadi m pada semua kasus, tapi masih terhitung sebagai konsonan panjang untuk kepentingan penekanan (lihat di bawah), maka ditulis mm dalam kasus di mana kalau tidak ditulis demikian, penekanannya menjadi tidak jelas. ng tetap tidak berubah, kecuali pada awal dan akhir kata, di mana ia menjadi bunyi nasal biasa (seperti dalam sing Inggris). nd biasanya menjadi nn, seperti Ennor “Dunia Tengah”, Endore bahasa Quenya; tapi tetap nd bila berada pada akhir suku kata tunggal yang mendapat penekanan penuh seperti thond “akar” (c£ Morthond “Akar Hitam”), dan juga di depan r, seperti Andros “busa panjang”. nd ini juga terdapat dalam beberapa nama kuno yang berasal dari periode yang lebih lama, seperti misalnya Nargothrond, Gondolin, Beleriand. Dalam Zaman Ketiga, nd pada akhir kata dalam kata-kata yang panjang menjadi n dari nn, seperti dalam Ithilien, Rohan, Anorien.


VOKAL



Untuk vokal digunakan huruf-huruf i, e, a, o, u, dan (hanya dalam bahasa Sindarin) y. Sejauh bisa ditegaskan, bunyi-bunyi yang digambarkan oleh huruf- huruf ini (selain y) biasa saja, meski tentu banyak terdapat variasi setempat yang

mungkin lolos dari perhatian. Maksudnya, bunyi-bunyi tersebut kira-kira sama seperti yang digambarkan oleh i, e, a, o, u dalam kata Inggris: machine, were, father, for, brute, tidak tergantung jumlahnya.
Dalam Sindarin e, a, o panjang diucapkan sama seperti vokal pendek, karena berasal dari vokal-vokal dari masa yang belum begitu lama berlalu (e, k, o lama sudah diubah). Dalam Quenya e dan o panjang, bila diucapkan dengan benar, seperti oleh bangsa Eldar, lebih keras dan “rapat” daripada vokal pendek.
Hanya Sindarin di antara bahasa-bahasa kontemporer yang memiliki u yang dimodifikasi atau diucapkan agak di depan, kurang-lebih seperti u dalam kata lune Prancis. Itu merupakan sebagian modifikasi dari o dengan u, sebagian lagi berasal dari diftong (bunyi rangkap) lama eu, iu. Untuk bunyi ini digunakan y (seperti dalam Inggris kuno): seperti dalam lyg “ular”, leuca atau emyn bentuk jamak dari amon “bukit” dalam bahasa Quenya. Di Gondor y ini biasanya diucapkan sebagai i.
Vokal panjang biasanya ditandai dengan “tekanan akut”, seperti dalam beberapa variasi tulisan Feanorian. Dalam Sindarin, vokal panjang dalam suku kata tunggal dengan penekanan, ditandai dengan tanda sirkomfleks “, karena dalam hal seperti itu cenderung terjadi perpanjangan khusus; seperti dalam dun bila dibandingkan dengan Dunedain. Penggunaan sirkomfleks dalam bahasa-bahasa lain seperti Adunaic atau Kurcaci tidak mempunyai arti penting, dan hanya digunakan untuk menandai bahasa asing (seperti dalam penggunaan k).
e pada akhir kata tak pernah bisu atau hanya sebagai tanda perpanjangan seperti dalam bahasa Ingggris. Untuk menandai e akhir ini sering ditulis sebagai e(tapi tidak secara konsisten).
Kelompok er, ir, ur (di akhir kata atau di depan konsonan) bukan dimaksud untuk diucapkan seperti fern, fir, fur bahasa Inggris, tapi lebih seperti air, eer, oor bahasa Inggris.
Dalam bahasa Quenya ui, oi, ai dan iu, eu, au, adalah diftong (maksudnya, diucapkan dalam satu suku kata). Semua pasangan vokal lain bukan satu suku kata. Ini sering ditentukan dengan menulis id (Ed), eo, oe.
Dalam Sindarin diftong-diftong ditulis ae, ai, ei, oe, ui, dan au. Kombinasi lain

bukanlah diftong. Penulisan au di akhir kata sebagai aw sesuai kebiasaan

Inggris, tapi sebenarnya bukan tidak lazim dalam ejaan Feanorian.

Semua diftong ini adalah diftong jatuh, maksudnya, penekanan pada unsur pertama, dan disusun dari vokal sederhana yang disandingkan. Maka, ai, ei, oi, ui dimaksudkan agar diucapkan masing-masing sebagai vokal dalam bahasa Inggris: rye (bukan ray), grey, boy, ruin; dan au (aw) seperti dalam loud, how dan bukan seperti dalam laud, haw.
Dalam bahasa Inggris tidak ada yang sepadan dengan ae, oe, eu; ae dan oe bisa diucapkan sebagai ai, oi.


TEKANAN



Posisi aksen atau tekanan tidak ditandai, karena dalam bahasa Eldarin yang terkait di sini, posisinya ditentukan oleh bentuk kata. Dalam kata-kata bersuku kata dua biasanya dalam hampir semua kasus, tekanannya pada suku kata pertama. Dalam kata-kata yang lebih panjang tekanannya jatuh pada suku kata sebelum yang terakhir, bila kata itu mengandung vokal panjang, diftong, atau vokal yang diikuti oleh dua (atau lebih) konsonan. Kalau suku kata sebelum yang terakhir mengandung (yang sering terjadi) vokal pendek yang diikuti hanya satu (atau sama sekali tidak) konsonan, maka penekanan jatuh pada suku kata di depannya, yang ketiga dari akhir. Kata-kata dalam bentuk terakhirlah yang paling disenangi dalam bahasa-bahasa Eldarin, terutama Quenya.
Dalam contoh-contoh berikut, vokal yang ditekankan ditandai dengan huruf besar: islldur, Orome, erEssea, fEanor, ancAlima, elentAri, dEnethor, periAnnath, ecthElion, pelArgir, sillvren. Kata-kata dari tipe elentAri “ratu bintang” jarang terdapat dalam Quenya di mana vokalnya adalah e, k, o, kecuali (seperti dalam kasus ini) mereka berupa penggabungan; hal ini lebih lazim dengan vokal i, u seperti dalam andUne “matahari terbenam, barat”. Hal ini tidak terdapat dalam Sindarin, kecuali dalam penggabungan. Perhatikan bahwa dh, th, ch dalam Sindarin berupa konsonan tunggal dan menggambarkan huruf tunggal dalam tulisan asli.



CATATAN



Dalam nama-nama yang diambil dari bahasa lain selain $ldarin, nilai yang sama diberikan untuk huruf-huruf, kalau tidak dijelaskan secara khusus di atas, kecuali dalam kasus bahasa Kurcaci. Dalam bahasa Kurcaci, yang tidak memiliki bunyi- bunyi yang digambarkan di atas oleh th dan ch (kh), th dan kh adalah bunyi aspirasi, artinya t atau k yang diikuti h, kurang-lebih seperti dalam kata backhand, outhouse.
Di mana terdapat z, bunyi yang dimaksud adalah seperti z bahasa Inggris. gh dalam Bahasa Hitam dan bahasa Orc menggambarkan bunyi “geseran belakang” (berhubungan terhadap g seperti dh terhadap d): seperti dalam ghdsh dan agh.
Nama-nama “luar” atau Mannish dari para Kurcaci diberikan dalam bentuk logat Utara, tapi pengucapannya sama seperti yang sudah dijelaskan. Begitu juga dalam kasus nama pribadi dan nama tempat di Rohan (yang tidak dipermodern), kecuali bahwa di sini ea dan eo adalah diftong, yang mungkin digambarkan dengan ea dari kata bear Inggris, dan eo dari Theobald; y adalah u yang dimodifikasi. Bentuk modernnya mudah dikenali Ian dimaksudkan agar diucapkan seperti dalam bahasa Inggris. Kebanyakan idalah nama-nama tempat: seperti Dunharrow (untuk Dunharg), kecuali Shadowfax dan W ormtongue.


II TULISAN



Tulisan dan huruf yang digunakan pada Zaman Ketiga semuanya bersumber pada kaum Eldarin, dan pada masa itu sudah termasuk sangat kuno. Mereka sudah mencapai taraf pengembangan abjad penuh, tapi cara lama di mana hanya konsonan yang ditunjukkan dengan huruf penuh, masih digunakan juga. Abjadnya terdiri atas dua jenis utama, yang asal-usulnya masing-masing berdiri sendiri: Tengwar atau Tiw, di sini diterjemahkan sebagai “aksara”; dan Certar atau Cirth, diterjemahkan sebagai “lambang”. Tengwar diciptakan untuk ditulis

dengan kuas atau pena, dan bentuk goresan-goresan persegi dalam hal ini berasal dari bentuk tertulis. Certar dibuat dan kebanyakan dipergunakan hanya untuk guratan yang ditoreh atau digoreskan.
Tengwar lebih kuno; karena dikembangkan oleh kaum Noldor, saudarasaudara kaum Eldar yang paling mahir dalam bidang seperti itu, jauh sebelum pengasingan mereka. Huruf-huruf Eldarin paling kuno, Tengwar dari Rumil, tidak digunakan di Dunia Tengah. Huruf-huruf yang dibuat kemudian, Tengwar dari Feanor, untuk sebagian besar merupakan penemuan baru, meski sedikit-banyak berasal dari huruf-huruf Rumil. Huruf-huruf itu dibawa ke Dunia Tengah oleh kaum Noldor yang diasingkan, dan dengan demikian dikenal oleh bangsa Edain dan bangsa Numenor. Pada Zaman Ketiga penggunaannya sudah menyebar hampir ke seluruh wilayah di mana Bahasa Umum dikenal.
Cirth pertama kali dibuat di Beleriand oleh bangsa Sindar, dan lama sekali digunakan hanya untuk menorehkan nama dan tanda peringatan pada kayu atau batu. Dari asal-usul itulah terjadi bentuk-bentuk tajam persegi, sangat mirip dengan lambang-lambang pada masa kini, meski berbeda dalam detial-detail dan sepenuhnya berbeda dalam susunannya. Cirth dalam bentuknya yang lebih lama dan lebih sederhana menyebar ke timur pada Zaman Kedua, dan dikenal banyak bangsa, orang-orang, maupun Kurcaci,; bahkan dikenal para Orc, yang mengubahnya agar sesuai dengan kegunaan mereka masing-masing, dan juga sesuai kemahiran atau justru kekurangmahiran mereka. Satu bentuk sederhana masih digunakan Orang-orang dari Dale, dan yang serupa dengan itu juga digunakan kaum Rohirrim.
Tapi di Beleriand, sebelum akhir Zaman Pertama, Cirth, yang sebagian di bawah pengaruh Tengwar dari bangsa Noldor, disusun kembali dan dikembangkan lebih lanjut. Bentuk yang paling kaya dan paling teratur dikenal sebagai Abjad Daeron, karena menurut tradisi Peri, dikatakan bahwa abjad itu diciptakan oleh Daeron, pemusik dan ahli adat istiadat Raja Thingol dari Doriath. Di antara bangsa Eldar, Abjad Daeron tidak dikembangkan menjadi bentuk kursif asli, karena untuk tulisan, bangsa Peri memakai huruf-huruf Feanorian. Bangsa Peri dari Barat bahkan sebagian besar tidak menggunakan lambang-lambang lagi. Namun di

negeri Eregion, Abjad Daeron dipertahankan penggunaannya dan dari sana disebarkan ke Moria, di mana ia menjadi abjad yang paling disukai para Kurcaci. Setelahnya abjad itu selamanya mereka gunakan, dan dibawa ke Utara. Karena itu di kemudian hari abjad itu sering disebut Anghertas Moria, atau jajaran Lambang Panjang dari Moria. Seperti juga bahasa lisan mereka, bangsa Kurcaci menggunakan tulisan mutakhir yang sedang berlaku, dan banyak di antara mereka bisa menulis hunif-huruf Feanorian dengan mahir sekali; tapi untuk bahasa mereka sendiri mereka menerapkan Cirth, dan mengembangkan bentuk tulisan pena dari sana.


(i) AKSARA FEANORIAN



Tabel ini menunjukkan, dalam bentuk formal tulisan buku, semua aksara yang biasanya digunakan di negeri-negeri Barat pada Zaman Ketiga. Susunannya adalah yang paling lazim pada masa itu, dan yang huruf-hurufnya biasanya diucapkan menurut namanya saat itu.
Tulisan ini pada awalnya bukanlah “abjad”, maksudnya hanya pengaturan tanpa rencana dari aksara-aksara, masing-masing mempunyai nilai sendiri, diucapkan dalam susunan tradisional yang sama sekali tidak berhubungan dengan bentuk ataupun fungsinya. Sebenarnya abjad itu lebih merupakan suatu sistem lambang konsonan, dengan bentuk dan gaya yang sama, yang bisa disesuaikan menurut pilihan atau demi kenyamanan, untuk menggambarkan konsonan dari bahasa- bahasa yang digunakan (atau dibuat) oleh bangsa Eldar. Tak satu pun aksara- aksara itu mempunyai nila-i tetap; tapi beberapa hubungan antara mereka lambat laun bisa dikenali.
Sistem itu mengandung dua puluh empat huruf utama, 1-24, disusun dalam empat ten-tar (seri), yang masing-masing mempunyai enam tveller (tingkat). Ada juga “huruf tambahan”, sebagai contoh 25-36. Di antaranya 27 dan 29 saja yang merupakan huruf yang berdiri sendiri; sisanya merupakan modifikasi dari aksara lain. Ada juga sejumlah tehtar (tanda, lambang) lengan berbagai penggunaan. Ini tidak tampil pada label.

Aksra-aksara primer masing-masing dibentuk dari telco (tangkai) dan luva (lengkungan). Bentuk-bentuk yang terlihat dalam 1-4 dianggap normal. Tangkainya bisa dinaikkan, seperti dalain 9-16; atau dipendekkan, seperti dalam
17-24. Lengkungannya bisa terbuka, seperti dalam Seri I dan III; atau tertutup, seperti di II dan IV; dan dalam kedua kasus bisa digandakan, seperti misalnya di
5-8.

Kebebasan teoretis dari penerapannya, dalam Zaman Ketiga sudah dimodifikasi oleh kebiasaan hingga Seri I umumnya diterapkan kepada seriseri dental atau t- (tincotema), dan II ke seri labial atau seri-seri p (parmatema). Penerapan Seri III dan IV bervariasi sesuai dengan kebutuhan dari berbagai bahasa yang berbeda. Dalam bahasa-bahasa seperti bahasa Westron, yang banyak menggunakan konsonan seperti ch, j, sh kita, Seri III biasanya diterapkan kepadanya; dalam hal mana Seri IV diterapkan ke seri k- normal (calmatema). Dalarn bahasa Quenya, yang di samping calmatema mempunyai seri palatal (tyelpetema) dan seri labial (quessetema), seri palatal digambarkan dengan tulisan diakritik Feanorian yang menunjukkan “mengikuti y” (biasanya dua titik penekanan), sementara Seri IV adalah seri kw-.
Dalam penerapan umum itu, hubungan-hubungan berikut ini juga terlihat. Aksara-aksara normal, Tingkat 1, diterapkan pada “perhentian tanpa suara”: t, p, k, dan seterusnya. Penggandaan iengkungan menunjukkan penambahan “suara”: jadi, kalau 1, 2, 3, 4 = t, p, ch, k (atau t, p, k, kw) maka 5, 6, 7, 8 = d, b, j, g (atau d, b, g, gw). Peninggian tangkai menunjukkan pembukaan konsonan menjadi “bunyi geseran”: dengan demikian mengambil nilai-nilai di atas untuk Tingkat 1, Tingkat 3 (9-12) = th, f sh, ch (atau th, f kh, khw/ hw), dan Tingkat 4 (13-16) = dh, v, zh, gh (atau dh, v, gh, ghw/w).
Sistem Feanorian asli juga memiliki tingkat dengan tangkai diperpanjang, baik di alas maupun di bawah garis. Biasanya ini memmjukkan konsonan aspirasi (misalnya t+h, p+h, k+h), tapi bisa juga menggambarkan variasi konsonan lainnya yang dibutuhkan. Hal ini tidak dibutuhkan dalam bahasa-bahasa pada Zaman Ketiga yang menggunakan tulisan ini; tapi bentuk perpanjangannya banyak digunakan sebagai varian (dibedakan lebih jelas dari Tingkat 1) dari

Tingkat 3 dan 4.

Tingkat 5 (17-20) biasanya diterapkan pada konsonan nasal: maka 17 dan 18 merupakan lambang paling umum bagi rT dan m. Sesuai prinsip yang dipakai di atas, Tingkat 6 seharusnya menggambarkan konsonan nasal tanpa suara; tapi karena bunyi-bunyi semacam itu (sebagai contoh: nh bahasa Welsh atau hn bahasa Inggris kuno) sangat jarang terdapat dalam bahasa-bahasa yang terkait, maka Tingkat 6 paling sering digunakan untuk konsonan paling lemah atau “semi-vokal” dari setiap seri. Ia terdiri atas bentuk-bentuk paling kecil dan sederhana di antara aksara-aksara utama. Maka 21 sering digunakan untuk r lemah (tidak digetarkan), bersumber pada bahasa Quenya dan dalam sistem bahasa itu dianggap sebagai konsonan paling lemah dari tincotema; 22 secara luas digunakan untuk w; sementara Seri III digunakan sebagai seri palatal, 23 umumnya digunakan sebagai y konsonan.
Karena beberapa konsonan dari Tingkat 4 cenderung semakin lemah pengucapannya, dan agar mendekati atau berbaur dengar_ yang ada di Tingkat
6 (seperti diuraikan di atas), banyak dari yang terakhir ini tidak lagi memptinyai fungsi jelas dalam bahasa-bahasa Eldarin; dari aksara inilah huruf-huruf yang menggambarkan bunyi vokal paling banyak diambil.


CATATAN



Ejaan standar Quenya menyimpang dari penggunaan aksara yang dijelaskan di atas. Tingkat 2 digunakan untuk nd, mb, ng, :ngw, yang semuanya sering digunakan, karena b, g, gw, hanya muncul dalam kombinasi ini, sedangkan untuk rd, Id aksara khusus 26, 28 digunakan. (untuk Iv, bukan untuk 1w, banyak pengguna, terutama bangsa Peri, menggunakan Ib: ini dituliskan dengan 27+6, karena lmb tidak mungkin terjadi.) Begitu pula, Tingkat 4 digunakan untuk kombinasi yang sangat sering terjadi: nt, mp, nk, nqu, karena Quenya tidak memiliki dh, gh, ghw, dan untuk v menggunakan aksara 22.
Aksara tambahan. No. 27 digunakan secara umum untuk l. No. 25 (aslinya sebuah modifikasi dari 21) digunakan untuk r yang digetarkan “penuh”. Nomor-

nomor 26, 28 merupakan modifikasi dari ini, dan banyak digunakan untuk masing-masing r tanpa suara (rh) dan l(lh). Tapi dalam bahasa Quenya mereka digunakan untuk rd dan Id. 29 menggambarkan s, dan 31 (dengan keriting ganda) menggambarkan z dalam bahasa-bahasa yang membutuhkannya. Bentuk yang terbalik, 30 dan 32, meski bisa digunakan se.bagai lambang terpisah, kebanyakan digunakan sebagai varian dari 29 dan 31, sesuai kenyamanan penulisannya, contohnya mereka banyak digunakan bila didampingi tehtar yang tumpang-tindih.
No. 33 aslinya merupakan variasi yang menggambarkan variasi no. 11 yang lebih lemah; penggunaannya paling sering di Zaman Ketiga adalah untuk h. 34 naline banyak di2unakan (kalairoun diI?unakan) untuk w tanpa suara tnw). .sD aan 3b ona algunakan sebagal konsonan, kebanyakan digunakan untuk masing- masing y dan iv.
Bunyi-bunyi vokal dalam banyak cara digambarkan dengan tehtar, biasanya ditempatkan di atas huruf konsonan. Dalam bahasa-bahasa seperti misalnya Quenya, di mana kebanyakan kata berakhir dengan vokal, tehta ditempatkan di atas konsonan di depannya; dalam bahasa seperti bahasa Sindarin, di mana kebanyakan kata berakhir dengan konsonan, ia ditempatkan di atas konsonan berikutnya. Bila tidak ada konsonan pada posisi yang dibutuhkan, tehta ditempatkan di atas “pengantar pendek”, dengan bentuk paling umum adalah seperti i- tanpa titik. Tehtar yang sebenarnya, yang digunakan dalam pelbagai bahasa untuk menunjukkan tanda vokal, sangat banyak jumlahnya. Yang paling umum, yang biasanya diterapkan pada (variasi dari) e, i, a, o. it, ditampilkan dalam contoh-contoh yang diberikan. Tiga titik, yang paling umum digunakan untuk a dalam tulisan formal, dalam gaya cepat dituliskan bervariasi, dengan bentuk seperti sirkomfleks paling sering digunakan.10 Titik tunggal dan “tekanan akut” sering digunakan untuk i dan e (tapi dalam beberapa cara lain, untuk e dan i). Lengkung ikalnya digunakan untuk o dan u. Dalam goresan tulisan pada Cincin, lengkungan yang terbuka ke kanan digunakan untuk u.; tapi di halaman judul ini menggambarkan o, dan lengkungan yang terbuka ke kiri sebagai u. Lengkungan ke kiri lebih disukai, sukai, dan penerapannya tergantung pada

bahasa terkait: dalam Bahasa Hitam o jarang ada.

Vokal panjang biasanya digambarkan dengan menempatkan tehta di atas “pengantar panjang”, yang lazimnya berbentuk seperti j tanpa titik. Tapi untuk tujuan yang sama tehtar bisa digandakan. Namun ini hanya sering dilakukan dengan lengkungannya, dan kadang-kadang dengan “tekanannya”. Dua titik lebih sering digunakan sebagai tanda untuk mengikuti y.
Tulisan pada Gerbang Barat menggambarkan cara “penulisan penuh” dengan semua vokal digambarkan oleh aksara-aksara terpisah. Semua huruf vokal yang digunakan dalam Sindarin diperlihatkan. Penggunaan No. 30 sebagai tanda untuk y vokal perlu diperhatikan; juga ekspresi diftong dengan menempatkan tehta “untuk mengikuti y” di atas huruf vokal. Tanda untuk mengikuti w (yang diperlukan untuk ekspresi au, aw) dalam cara ini berupa lengkungan -u atau modifikasinya -. Tapi diftong-diftong sering ditulis selengkapnya, seperti dalam transkripsi. Dalam cara ini panjang vokal biasanya ditandai oleh “tekanan akut”, dalam hal itu disebut andaith “tanda panjang.”
Di samping tehtar yang sudah disebutkan juga ada beberapa tanda lain, yang terutama digunakan untuk menyingkat penulisan, khususnya dengan mengekspresikan kombinasi konsonan yang sering terdapat, taripa menulisnya lengkap. Di antaranya, garis (atau tanda seperti tilde Spanyol) yang ditempatkan di atas konsonan sering digunakan untuk menunjukkan bahwa ia di dahului bunyi nasal dari seri yang sama (seperti dalam nt, mp, atau nk); namun tanda yang sama bila ditempatkan di bawah, terutama menunjukkan bahwa konsonan itu panjang atau digandakan. Kait yang menghadap ke bawah, yang menyambung dengan lengkungan (seperti dalam kata hobbit, kata terakhir di halaman judul) digunakan untuk menandai bahwa is diikuti s, terutama rlalam knmbinasi tc nc kc (r) vane rlisnkai dalam bahasa Ouenya.
Tentu saja tidak ada “cara” untuk menggambarkan bahasa Inggris. Satu cara yang memadai secara fonetik bisa dibuat dari sistem Feanorian. Contoh singkat di halaman judul tidak berupaya menunjukkan hal ini. la lebih merupakan contoh dari apa yang mungkin dihasilkan seorang Gondor, yang ragu antara nilai-nilai huruf yang dikenalnya dalam "caranya", dan ejaan tradisional Inggris. Bisa

dicatat bahwa suatu titik di bawah (salah satu fungsinya adalah untuk menggambarkan vokal lemah yang kabur) di sini digunakan dalam menggambarkan and yang tidak mendapat penekanan, tapi juga digunakan dalam here untuk e tanpa suara di akhir kata; the, of dan of the diekspresikan oleh singkatan (perpanjangan dh, perpanjangan v, dan yang terakhir dengan memakai garis bawah).


Nama-nama aksara. Dalam semua cara, setup aksara dan tanda mempunyai nama; tapi nama-nama ini dibuat agar sesuai atau untuk menjelaskan peng- gunaan fonetik dalam setup cara khususnya. Namun begitu, sering dirasa perlu, terutama dalam menjelaskan penggunaan aksara dalarn cara lain, agarr ada nama bagi setup aksara masing-masing sebagai bentuk tersendiri. Untuk tujuan ini "nama-nama lengkap" Quenya umumnya digunakan, bahkan juga bila menunjuk penggunaan yang khan dalam bahasa Quenya. Setup "nama lengkap" adalah kata dalam bahasa Quenya yang mengandung aksara termaksud. Di mana memungkinkan, is menjadi bunyi pertama kata itu; tapi bila bunyi atau kombinasi yang digambarkan tidak terdapat di awal kata, maka is langsung mengikuti vokal awal. Nama-nama aksara dalam tabel adalah (1) tinco logam, parma buku, calma lampu, quesse bulu; (2) ando gerbang, umbar takdir, anga besi, ungwe sarang labah-labah; (3) thule (sule) ruh, formen utara, karma harta (atau aha kemarahan), hwesta angin sepoi; (4) anto mulut, ampa kait, anca rahang, unque cekungan; (5) numen bast, malta emas, noldo (kuno: ngoldo) salah satu suku dari rumpun bangsa Noldor, nwalme (kuno: ngwalme) siksaan; (6) ore hati (batin), vala kekuatan malaikat, anna hadiah, vilya udara, langit (kuno: wilya); romen timur, arda wilayah, lambe lidah, alda pohon; silme cahaya, silme nuquerna (s dibalik), are cahaya matahari (atau esse nama), are nuquerna; hyarmen selatan, hwesta sindarinwa, yanta jembatan, tire panas. Bila ada varian, terjadinya karma nama-nama itu diberikan sebelum perubahan tertentu muncul dalam bahasa Quenya seperti yang dipakai orang-orang dalam Pengasingan. Maka No. 11 disebut karma kalau menggambarkan bunyi geseran ch dalam semua posisi, tapi ketika bunyi ini menjadi napas h di awal kata" (meski

bertempat di tengah) maka nama aha diciptakan. are aslinya adalah kze, tapi ketika z ini bersatu dengan 21, lambang ini dalam Quenya digunakan untuk penggunaan ss yang sering muncul, dan nama esse diberikan kepadanya. hwesta sindarinwa atau "hw Peri Kelabu" disebut begitu karma dalam Quenya,
12 mempunyai bunyi hw, dan tanda-tanda jelas untuk chw dan hw tidak diperlukan. Nama-nama aksara yang paling luas dikenal dan digunakan adalah
17 n, 33 hy, 25 r, 9 f: numen, hyarmen, romen, formen = bast, selatan, timur,

utara (cf. Sindarin dun atau anntsn, harad, rhun atau amrun, fbrod). Aksara- aksara ini umumnya menunjukkan titik-titik W, S, E, N (Bast, Selatan, Timur, Utara) bahkan dalam bahasa-bahasa yang menggunakan istilah yang sangat berbeda. Di negeri-negeri Barat, aksara-aksara itu disebut dalarn urutan ini, mulai dengan dan menghadap ke bast; hyarmen dan formen memang artinya wilayah tangan kiri dan wilayah tangan kanan (berlawanan dengan susunan dalam banyak bahasa Mannish).


CIRTH



Certhas Daeron pada awalnya dibuat untuk menggambarkan bunyi-bunyi

Sindarin saja. Cirth tertua adalah nomor-nomor 1, 2, 5, 6; 8, 9, 12; 18, 19, 22; 29,

31; 35, 36; 39, 42, 46, 50; dan sebuah certh yang bervariasi antara 13 dan 15. Penetapan nilai tidak sistematis. Nomor-nomor 39, 42, 46, 50 adalah vokal-vokal dan tetap demikian dalam semua perkembangan di kemudian hari. Nomor- nomor 13, 15 digunakan untuk h atau s, sesuai dengan 35 digunakan untuk s atau h. Kecenderungan untuk ragu-ragu dalam penetapan nilai untuk s dan h masih berlatijut dalam sususan-susunan kemudian. Dalam aksara-aksara yang terdiri atas sebuah "tangkai" dan "cabang", 1-31, penempatan cabang, bila hanya pada satu sisi, umumnya ditempatkan di sisi kanan. Kebalikannya cukup wring terjadi, tapi tidak mempunyai arti fonetik.


Pengembangan dan perluasan certhas ini dalam bentuknya yang kuno disebut

Angerthas Daeron, karena penambahan pada cirth lama dan penyusunan

kembali dianggap dilakukan oleh Daeron. Namun tambahan-tambahan utama, yaitu penambahan dua seri baru, 13-17, dan 23-28, sebenarnya sangat mungkin diciptakan oleh bangsa Noldor dari Eregion, karena digunakan untuk menggambarkan bunyi-bunyi yang tidak ditemui dalam Sindarin.
Dalam penyusunan kembali Angerthas, prinsip-prinsip berikut bisa dilihat (rupanya diilhami oleh sistem Feanorian): (1) menambahkan sapuan garis pada yang menambahkan "bunyi" pada cabang; (2) membalikkan certh yang ditunjuk sehingga membuka ke bunyi "geseran"; (3) menempatkan cabang di kedua sisi tangkai, menambahkan suara dan bunyi nasal (sengau). Prinsipprinsip ini secara teratur dilaksanakan, kecuali dalam satu hal. Untuk Sindarin (kuno) dibutuhkan tanda untuk m berbunyi geser (atau v sengau), ' dan karena hal ini paling baik ditandai dengan membalikkan tanda untuk rn; maka No. 6,yang bisa dibalik diberi nilai m, tapi No. 5 diberi nilai hw.
No. 36, yang nilai teoretisnya adalah z, digunakan dalam ejaan Sindarin atau

Quenya untuk ss: cf. Feanorian 31. No. 39 digunakan untuk i atau y (konsonan);

34, 35 digunakan untuk s; dan 38 digunakan untuk urutan nd yang sering muncul, meski bentuknya tidak berhubungan jelas dengan bunyi dental.


Dalam Tabel Nilai aksara di sebelah kiri, bila dipisahkan oleh -, merupakan nilai Angerthas lama. Yang berada di sisi kanan adalah nilai-nilai dari Angerthas Moria kaum Kurcaci. Bangsa Kurcaci dari Moria memperkenalkamsejumlah perubahan yang tidak sistematis dalam nilai-nilai, berikut beberapa birth baru:
37, 40, 41, 53, 55, 56. Per.yimpangan nilai terutama akibat dua sebab: (1) perubahan dalam nilai 34, 35, 54 masing-masing menjadi h, "(awal kata yang jelas atau dibunyikan dengan celah suara [glottal], dengan vokal awal yang muncul dalam Khuzdul), dan s; (2) dihilangkannya nomornomor 14, 16 yang oleh para Kurcaci diganti dengan 29, 30. Pemakaian berikutnya dari 12 untuk r, penciptaan 53 untuk n (dan pengacauannya dengan 22); penggunaan 17 sebagai z, untuk mendampingi 53 dalam nilainya sebagai s, dan pemakaian berikutnya dari 36 sebagai n dan certh baru 37 untuk ng bisa dilihat juga. Nomor- nomor 55 dan 56 yang baru, pada awalnya berupa bentuk separuh dari 46, dan

digunakan untuk vokal seperti yang terdengar dalam butter bahasa Inggris, yang sering terdapat dalam bahasa Kurcaci dan Westron. Bila lemah atau sudah - mulai menghilang, bentuknya sering diperkecil sampai tinggal seperti sapuan garis tanpa tangkai. Angerthas Moria ini terlihat dalam tulisan-tulisan pada makam.
Kurcaci dari Erebor menggunakan modifikasi lebih lanjut dari sistem ini, yang dikenal sebagai cara Erebor, dan ditampilkan contoh-contohnya dalam Buku Mazarbul. Karakteristik utamanya adalah: penggunaan 43 sebagai z; 17 sebagai ks (x); dan penciptaan dua cirth baru, 57, 58 untuk ps dan ts. Mereka juga memasukkan 14, 16 untuk nilai j, zh; tapi menggunakan 29, 30 untuk g, gh, atau hanya sebagai varian dari 19, 21. Keganjilan-keganjilan ini tidak dimasukkan ke dalam tabel, kecuali untuk cirth Erebor yang khusus.

APENDIKS F

I BAHASA-BAHASA DAN BANGSA_BANGSA ZAMAN KETIGA



Bahasa yang digambarkan dalam sejarah ini dalam bahasa Inggris adalah bahasa Westron atau "Bahasa Umum" dari negeri-negeri Barat di Dunia Tengah pada Zaman Ketiga. Dalam perjalanan zaman itu ia sudah menjadi bahasa asli dari hampir semua bangsa yang berbicara (kecuali bangsa Peri) yang tinggal dalam perbatasan kerajaan-kerajaan kuno Arnor dan Gondor, yaitu sepanjang semua pantai dari Umbar ke arah utara sampai ke Teluk Forochel, dan di pedalaman sampai sejauh Pegunungan Berkabut dan Ephel Math. ia juga sudah menyebar ke utara menyusuri Anduin, ke negeri-negeri sebelah barat Sungai dan timur pegunungan sampai sejauh Padang Gladden.
Pada saat Perang Cincin di akhir zaman, wilayah-wilayah ini masih menjadi perbatasannya sebagai bahasa asli, meski sekarang wilayah-wilayah besar di Eriador sudah kosong, dan hanya sedikit Manusia yang tinggal di pantai-pantai Anduin antara Gladden dan Rauros.
Beberapa Bangsa Liar kuno masih bersembunyi di Hutan Druadan di Anorien; dan di bukit-bukit Dunland masih berdiam sisa bangsa lama, penduduk zaman dulu dari sebagian besar wilayah Gondor. Mereka bertahan memakai bahasa mereka sendiri; sementara di padang-padang Rohan sekarang berdiam bangsa Utara, bangsa Rohirrim, yang masuk ke wilayah itu sekitar lima ratus tahun sebelumnya. Tetapi bahasa Westron digunakan sebagai bahasa kedua untuk saling berhubungan, oleh semua yang masih mempertahankan bahasanya sendiri, bahkan oleh bangsa Peri, bukan hanya di Arnor dan Gonclor, tapi juga di seantero lembah Anduin, dan di timur sampai ke pinggiran Mirkwood. Bahkan di antara Orang-Orang Liar dan kaum Dunlending yang menjauhkan diri dari bangsa lain, ada beberapa yang bisa bicara bahasa itu,


TENTANG BANGSA PERI



Pada Zaman Peri, bangsa Peri terpecah menjadi dua cabang utama: bangsa

Peri Barat (bangsa Mar) dan bangsa Peri Timur. Dalam kelompok terakhir termasuk kebanyakan bangsa Peri dari Mirkwood dan Lorien; tapi bahasabahasa mereka tidak muncul dalam riwayat ini, di mana semua nama dan kata-kata Peri disajikan dalam bentuk Eldarin.
Dari bahasa Eldarin, dua bisa ditemukan dalam buku ini: bahasa Peri Tinggi atau Quenya, dan bahasa Peri Kelabu atau Sindarin. Bahasa Peri Tinggi adalah bahasa kuno dari Eldamar di seberang Samudra, yang pertama direkam dalam tulisan. la sudah tidak lagi menjadi bahasa kelahiran, tapi sudah seperti "bahasa Latin kaum Peri", yang masih digunakan para Peri Tinggi yang kembali ke Dunia Tengah dalam pengasingan di akhir Zaman Pertama, untuk upacara-upacara dan perkara-perkara mulia dalam adat istiadat dan lagu-lagu.
Bahasa kaum Peri Kelabu sebenarnya berasal dari sumber yang sama dengan bahasa Quenya; karena merupakan bahasa kaum Eldar yang datang ke pantai- pantai Dunia Tengah dan tidak pergi mengarungi Samudra tetapi tetap bermukim di pantai-pantai wilayah Beleriand. Di sana Thingol Jubah Kelabu dari Doriath menjadi raja mereka, dan di senja yang panjang bahasa mereka berubah seiring dengan sifat negeri fana yang berubah-ubah, dan sudah menjadi terpisah jauh dari bahasa Eldar dari seberang Samudra.
Kaum Pengasingan, yang tinggal di antara Peri Kelabu yang berjumlah lebih banyak, mengadopsi bahasa Sindarin untuk bahasa sehari-hari; karena itu bahasa tersebut menjadi bahasa semua Peri dan bangsawan Peri yang muncul dalam riwayat ini. Karena mereka semua berasal dari bangsa Eldarin, juga di tempat-tempat di mana rakyat yang berada di bawah kekuasaan mereka berasal dari bangsa yang lebih rendah kedudukannya. Yang paling mulia adalah Lady Galadriel dari keluarga Raja Finarfin. ia saudara perempuan Finrod Felagund, Raja Nargothrond. Dalam batin Kaum Pengasingan, kerinduan kepada Samudra adalah suatu keresahan yang tak pernah bisa diredam; kerinduan itu tertidur dalam hati para Peri Kelabu, tapi sekali dibangunkan, ia tak bisa ditenteramkan.


TENTANG MANUSIA

Bahasa Westron adalah bahasa Manusia, meski diperkaya dan diperlembut oleh pengaruh Peri. Aslinya ia adalah bahasa mereka yang oleh bangsa Eldar disebut Atani atau Edain, "Ayah kaum Manusia", khususnya orangorang yang berasal dari Tiga Rumah sahabat para Peri yang datang ke barat ke Beleriand di Zaman Pertama, dan membantu bangsa Eldar dalam Perang Permata Agung melawan Kekuatan Gelap dari Utara.
Setelah penggulingan Kekuatan Gelap, sementara sebagian besar Beleriand tenggelam atau hancur, para sahabat Peri diberi imbalan, yaitu bahwa mereka pun, seperti kaum Eldar, boleh pergi ke barat menyeberangi Samudra. Tapi karena Wilayah Tanpa Kematian terlarang bagi mereka, sebuah pulau besar disisihkan bagi mereka, yang letaknya paling jauh ke barat dari semua negeri fana. Nama Pulau itu Numenor (Westernesse). Demikianlah kebanyakan sahabat Peri pergi dan tinggal di Numenor, di sana mereka menjadi hebat dan kuat, pelaut-pelaut termasyhur dan penguasa banyak kapal. Mereka berwajah elok dan bertubuh jangkung, dan masa hidup mereka tiga kali lebih panjang daripada masa hidup manusia dari Dunia Tengah. Inilah bangsa Numenor, Raja para Manusia, yang oleh bangsa Peri disebut kaum Dunedain.
Hanya kaum Dunedain di antara semua bangsa Manusia yang tahu dan berbicara bahasa Peri; karena leluhur mereka belajar bahasa Sindarin, dan mereka menurunkan ini pada anak-anak mereka sebagai adat-istiadat, yang hanya sedikit berubah selama tahun-tahun berlalu. Kaum bijak di antara mereka mempelajari juga bahasa Peri Tinggi, Quenya, dan menghargainya di atas semua bahasa lain; dengan bahasa itu mereka membuat nama-nama untuk tempat-tempat kemasyhuran dan kehormatan, serta nama bagi banyak orang keturunan kaum raja dan orang-orang yang sangat termasyhur.
Tapi bahasa ash Numenor untuk sebagian besar masih tetap merupakan bahasa leluhur Manusia, Adunaic, dan pada masa kejayaan mereka di kemudian hari, para raja dan bangsawan kembali memakainya, meninggalkan bahasa Peri, kecuali beberapa yang masih mempertahankan persahabatan lama mereka dengan kaum Eldar. Di masa kejayaan mereka bangsa Numenor mempunyai banyak benteng dan pelabuhan di pantai-pantai barat Dunia Tengah untuk

bantuan dari kapal-kapal mereka; salah satu yang utama berada di Pelargir, dekat Muara Anduin. Di sana bahasa Adunaic dipergunakan, berbaur dengan banyak kata dari bahasa orang-orang kebanyakan, sampai akhirnya menjadi Bahasa Umum yang menyebar dari sana menyusuri pantai, di antara semua yang berhubungan dengan Westernesse.
Setelah Kejatuhan Numenor, Elendil memimpin para sahabat Peri yang selamat; kembali ke pantai Barat-laut Dunia Tengah. Di sana sudah banyak yang bermukim, yang sebagian atau seluruhnya berdarah Numenor; tetapi hanya sedikit di antara mereka yang ingat bahasa Peri. Hitung punya hitung, ternyata kaum Dunedain sejak awal berjumlah jauh lebih sedikit daripada orang kebanyakan di tengah siapa mereka tinggal, dan yang mereka kuasai, sementara mereka adalah penguasa-penguasa yang memiliki masa hidup panjang dan kekuatan dahsyat serta kebijakan tinggi. Oleh karena itu mereka menggunakan Bahasa Umum dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain dan dalam pemerintahan wilayah mereka yang luas; tetapi mereka mengem- bangkan bahasa itu dan memperkayanya dengan banyak kata yang diambil dari bahasa Peri.
Pada masa raja-raja Numenor, bahasa Westron yang sudah lebih halus ini menyebar sampai jauh ke segala penjuru, bahkan di antara musuh-musuh mereka; dan semakin sering digunakan oleh bangsa Dunedain sendiri, sehingga saat Perang Cincin, bahasa Peri hanya dikenal sedikit oleh orang Gondor, dan sehari-hari semakin sedikit dipakai. Mereka kebanyakan tinggal di Minas Tirith dan daerah permukiman sekitarnya, dan di negeri-negeri pangeran-pangeran yang membayar upeti kepada Dol Amroth. Namun namanama dari hampir semua tempat dan tokoh di wilayah Gondor mempunyai bentuk dan makna dari bahasa Peri. Beberapa sumberny,a sudah tidak diketahui, dan rupanya diwariskan dari masa sebelum kapal-kapal Niunenor mengarungi Samudra; di antaranya adalah Umbar, Arnach, dan Erech; dan nama-nama gunung Eilenach dan Rimmon. Forlong juga nama semacam itu.
Kebanyakan Manusia dari wilayah utara negeri-negeri Barat adalah keturunan kaum Edain dari Zaman Pertama, atau dari keluarga dekat mereka. Karena itu,

bahasa mereka berhubungan dengan Adunaic, dan beberapa masih mempunyai kemiripan dengan Bahasa Umum. Orang-orang dari lembahlembah dataran tinggi Anduin termasuk dalam jenis ini: kaum Beorning, Orang-Orang Hutan dari Mirkwood Barat; dan lebih jauh ke utara dan timur adalah Orang-Orang Long Lake dan Dale. Dari wilayah antara Gladden dan Carrock datang bangsa yang di Gondor dikenal sebagai bangsa Rohirrim, Penguasa-Penguasa Kuda. Mereka masih menggunakan bahasa leluhur mereka, dan memberikan nama baru dalam bahasa itu kepada hampir semua tempat di negeri baru mereka; mereka
menyebut diri mereka sendiri kaum Eorling, atau Orang-Orang dari Ridden-nark.

Tapi kaum penguasa bangsa itu menggunakan secara bebas Bahasa Umum, dan mengucapkannya dengan agung, mengikuti gaya sekutu mereka di Gondor; karena di Gondor, dari mana ia berasal, bahasa Westron masih bergaya anggun dan kuno.
Yang sama sekali asing adalah bahasa Orang-Orang Liar dari Hutan Druadan. Bahasa kaum Dunlending juga asing, atau hanya sedikit sekali mempunyai kemiripan. Kaum Dunlending merupakan sisa-sisa bangsa yang berdiam di lembah-lembah Pegunungan Putih di masa lampau. Orang-Orang Mati dari Dunharrow termasuk saudara sebangsa mereka. Tapi di TahunTahun Gelap bangsa-bangsa lain pindah ke lembah-lembah selatan Pegunungan Berkabut; dari sana beberapa masuk ke negeri-negeri kosong sampai sejauh Barrow- downs. Dari merekalah berasal Orang-Orang Bree; tapi jauh sebelum mereka menjadi warga Kerajaan Utara dari Arnor dan mulai menggunakan bahasa Westron. Hanya di Dunland Orang-Orang dari bangsa ini mempertahankan bahasa dan sopan santun lama mereka: mereka bangsa yang penuh rahasia, tidak ramah terhadap kaum Dunedain, dan membenci bangsa Rohirrim.
Tentang bahasa mereka tidak ada yang muncul dalam buku ini, kecuali nama Forgoil yang mereka gunakan untuk menyebut kaum Rohirrim (yang berarti Kepala Jerami, begitu menurut ceritanya). Dunland dan Dunlending adalah nama-nama yang dipakai kaum Rohirrim untuk menyebut mereka, karena mereka berkulit dan berambut gelap; maka tidak ada hubungan antara kata dunn dalam nama-nama ini dengan kata bahasa Peri Kelabu Dun "barat".



TENTANG HOBBIT



Hobbit dari Shire dan dari Bree pada saat itu, mungkin sudah selama seribu tahun, mengadopsi Bahasa Umum. Mereka memakainya dengan gaya mereka sendiri yang bebas dan serampangan; meski kaum yang lebih terpelajar di antara mereka masih bisa menggunakan bahasa yang lebih formal bila dibutuhkan oleh keadaan.
Tidak ada rekaman tentang bahasa yang khusus bagi para Hobbit. Pada masa kuno kelihatannya mereka selalu menggunakan bahasa Orang-Orang yang tinggal di dekat mereka, atau di lingkungan siapa mereka hidup. Maka dengan cepat mereka mengadopsi Bahasa Umum setelah mereka masuk ke Eriador, dan saat mulai bermukim di Bree, mereka sudah mulai lupa bahasa mereka yang terdahulu. Bahasa mereka sebelum itu rupanya bahasa Mannish dari Anduin atas, berhubungan dengan bahasa kaum Rohirrim; meskipun kaum Stoor selatan tampaknya mengadopsi bahasa yang berkaitan dengan bahasa Dunlendish sebelum mereka datang ke utara ke Shire.
Di masa Frodo masih tersisa beberapa jejak dalam kata-kata dan namariama setempat, dan banyak di antaranya sangat mirip dengan yang ditemukan 3i Dale atau di Rohan. Khususnya nama-nama hari, bulan dan musim; be:)erapa kata lain yang sejenis (seperti mathom dan smial) juga masih umum Jipakai, sementara banyak lagi dipertahankan dalam nama-nama tempat di Bree dan Shire. Nama-nama pribadi para Hobbit juga sangat ganjil dan )anyak yang berasal dari masa lampau.
Hobbit adalah nama yang umumnya digunakan bangsa Shire untuk menunjuk semua orang dari bangsa mereka. Orang-orang menyebut mereka HaUhng, dan para Peri menyebut mereka Periannath. Kebanyakan dari mereka sudah lupa asal kata hobbit. Rupanya, sebenarnya itu nama yang pada awalnya diberikan kepada kaum Harfoot oleh bangsa Fallohide dan Stoor, dan merupakan bentuk pelunturan dari suatu kata yang dipertahankan lebih lengkap di Rohan: holbytla "pembuat lubang".



TENTANG BANGSA-BANGSA LAIN



Ent. Bangsa paling kuno yang masih bertahan hidup pada Zaman Ketiga adalah bangsa Onodrim atau Enyd. Ent adalah bentuk nama mereka dalam bahasa Rohan. Kaum Eldar tahu tentang mereka di zaman lampau, dan kaum Ent menganggap keinginan mereka untuk berbicara berasal dari bangsa Eldar. Bahasa yang mereka ciptakan sama sekali tidak mirip bahasa-bahasa lain: lamban, nyaring, bergumpal, berulang-ulang, bahkan sangat berkepanjangan; dibentuk dari keserbaragaman nada suara dan perbedaan nada serta kualitas yang bahkan oleh para pakar adat kaum Eldar tidak dicoba digambarkan dalam tulisan. Mereka menggunakan bahasa itu hanya di antara mereka sendiri; tapi mereka tidak perlu merahasiakannya; karena tidak ada orang lain yang bisa mempelajarinya.
Meski begitu, Ent sendiri sangat mahir dalam berbagai bahasa, mempelajarinya dengan cepat dan tidak pernah melupakannya. Tapi mereka lebih menyukai bahasa-bahasa bangsa Eldar, dan paling menyukai bahasa Peri Tinggi. Kata- kata dan nama-nama ganjil yang dipakai Treebeard dan Ent-Ent lain menurut catatan para hobbit, adalah bahasa Peri, atau bagian dari bahasa Peri yang dijalin sesuai gaya Ent. Beberapa berasal dari Quenya: seperti Taurelilomea- tumbalemorna Tumbaletaurea Lomeanor, yang bisa diterjemahkan sebagai "Hutanbanyakbayangan-lembahdalamhitam Lembahdalamberhutan NegeriSuram", dan dengan kata itu yang dimaksud Treebeard kurang-lebih: "ada bayangan hitam di lembah-lembah dalam di hutan." Beberapa berasal dari Sindarin: seperti Fangorn ' jenggot-(dari)-pohon", atau Fimbrethil "pohon beech ramping".
Orc dan Bahasa Hitam. Orc adalah bentuk nama yang dipakai bangsabangsa lain untuk menyebut bangsa keji ini, sebagaimana disebut dalam bahasa Rohan. liaiam nanasa 5mdann kata mi adalah orch. Tampaknya sudah pasti uruk dari bahasa Hitam juga berhubungan, meski biasanya kata ini hanya dipergunakan untuk menunjuk Orc tentara besar yang kala itu keluar dari Mordor dan Isengard.

Jenis yang lebih rendah disebut snaga "budak", terutama oleh para Uruk-hai.

Orc pertama kali dilahirkan dari Kekuatan Gelap dari Utara di Masa Peri. Menurut cerita, mereka tidak mempunyai bahasa sendiri, tapi mengambil sebisanya dari bahasa-bahasa lain dan menyelewengkannya sesuka mereka; tapi mereka hanya membuat jargon-jargon kasar, yang bahkan hampir tidak memenuhi kebutuhan mereka sendiri, kecuali untuk mencaci-maki dan meng- umpat. Dan makhluk-makhluk ini, yang dipenuhi kekejaman, membenci bahkan bangsa mereka sendiri, dengan cepat mengembangkan logat-logat biadab sebanyak kelompok atau permukiman bangsa mereka, sehingga bahasa Orkish mereka jarang bermanfaat dalam hubungan antara suku-suku yang berbeda. Demikianlah pada Zaman Ketiga untuk komunikasi antarsuku, para Orc menggunakan bahasa Westron; bahkan banyak suku yang lebih tua, seperti yang masih berdiam di Utara dan di Pegunungan Berkabut, sudah lama menggunakan bahasa Westron sebagai bahasa asli mereka, meski dengan gaya sedemikian rupa, sehingga hampir tidak kurang menjijikkannya daripada bahasa Orkish. Dalam jargon ini tark, "orang Gondor", merupakan bentuk penurunan dari tarkil, kata Quenya yang digunakan dalam bahasa Westron untuk menyebut orang dari keturunan Numenor.
Menurut cerita, Bahasa Hitam dibuat oleh Sauron pada Tahun-Tahun Gelap, dan bahwa ia ingin menjadikannya bahasa bagi semua yang mengabdi kepadanya, tapi ia gagal dalam hal itu. Namun dari Bahasa Hitam banyak dipetik kata-kata yang pada Zaman Ketiga menyebar luas di antara para Orc, seperti ghdsh "api", tapi setelah penggulingan pertama Sauron, bahasa ini dalam bentuknya yang kuno dilupakan oleh semua, kecuali para Nazgul. Ketika Sauron bangkit lagi, bahasa ini kembali menjadi bahasa Barad-dur dan para kapten Mordor. Tulisan pada Cincin adalah dalam Bahasa Hitam kuno, sementara umpatan Orc Mordor adalah bentuk penurunan nilai yang digunakan para tentara Menara Gelap, yang dipimpin Grishnakh sebagai kapten. Dalam bahasa itu sharku berarti laki-laki tua. Troll. Troll digunakan untuk menerjemahkan kata Torog dari bahasa Sindarin. Pada mulanya, jauh di masa senja bangsa Eldar, mereka adalah makhluk lamban dan bodoh dan tidak mempunyai bahasa, hampir tidak lebih daripada

hewan. Tapi Sauron memanfaatkan mereka, mengajari mereka apa saja sebisa mereka, dan mengembangkan akal mereka dengan kejahatan. Maka bangsa troll mengambil bahasa yang bisa mereka kuasai dari bangsa Orc; dan di negeri- negeri Barat Troll-Troll Batu berbicara dalam bentuk Bahasa Umum vane lebih rendah.
Tapi pada akhir Zaman Ketiga, suatu bangsa troll yang belum pernah terlihat sebelumnya, muncul di Mirkwood selatan dan di perbatasan pegunungan Mordor. Dalam Bahasa Hitam mereka disebut Olog-hai. Tak ada yang meragukan bahwa Sauron yang membiakkan mereka, namun tidak diketahui dari keturunan apa. Ada yang menduga mereka bukan Troll, melainkan Orc; tapi tubuh dan akal para Olog-hai sama sekali tidak mirip jenis Orc meski yang paling besar sekalipun, dan Troll-Troll itu bahkan jauh melebihi ukuran dan kekuatan para Orc. Mereka memang Troll, tapi penuh dengan niat jahat dari penguasa mereka: bangsa yang keji, kuat, lincah, garang dan lihai, tapi lebih keras daripada batu. Tidak seperti bangsa troll lama dari zaman Senja, mereka bisa tahan kena sinar Matahari, selama kehendak Sauron mengendalikan mereka. Mereka hanya berbicara sedikit, dan satu-satunya bahasa yang mereka kenal adalah Bahasa Hitam dari Barad-dur.
Kurcaci. Kurcaci merupakan bangsa tersendiri. Tentang asal-usul mereka yang aneh, dan mengapa mereka mirip tapi juga tidak mirip Peri dan Manusia, diceritakan dalam Silmarillion; tapi tentang cerita ini Peri yang lebih rendah di Dunia Tengah tidak tahu-menahu, sementara dongengdongeng Manusia di kemudian hari banyak dikacaukan dengan ingatan tentang bangsa-bangsa lain. Kurcaci bangsa yang ulet, keras, penuh rahasia, giat bekerja, memiliki ingatan kuat tentang penghinaan (dan keuntungan), mencintai bebatuan, permata, dan benda-benda yang dibentuk melalui keterampilan tangan pengrajin, daripada benda-benda yang tumbuh sendiri. Namun sifat mereka tidak jahat, dan jarang di antara mereka yang mengabdi kepada Musuh atas kehendak sendiri, apa pun yang diceritakan Manusia tentang mereka dalam cerita-cerita. Sebab Manusia zaman dulu sangat mendambakan harta kekayaan Kurcaci dan hasil karya mereka, dan di antara kedua bangsa itu ada kebencian.

Tapi pada Zaman Ketiga masih bisa ditemukan persahabatan erat antara Manusia dan Kurcaci; dan memang sudah watak bangsa Kurcaci bahwa sementara mereka mengembara, bekerja, dan berdagang di seantero negeri, seperti yang mereka lakukan setelah penghancuran tempat tinggal mereka yang lama, mereka menggunakan bahasa Manusia di lingkungan tempat mereka berdiam. Tapi secara rahasia (suatu rahasia yang, tidak seperti kaum Peri, tidak mudah mereka buka bahkan pada sahabat-sahabat mereka sendiri) mereka menggunakan bahasa mereka sendiri yang aneh, yang tidak banyak berubah selama bertahun-tahun; karena sudah lebih menjadi bahasa adat istiadat daripada bahasa kelahiran, dan mereka memelihara dan menjaganya bagai menjaga harta karun daii zaman lampau. Hanya sedikit bangsa lain yang berhasil mempelajarinya. Dalam riwayat ini, bahasa itu hanya muncul dalam nama-nama tempat seperti yang diungkapkan Gimli kepada kawan-kawannya, dan dalam seruan perang yang diteriakkannya dalam penyerangan Homburg. Setidaknya itu bukan rahasia, dan sudah pernah terdengar di banyak medan pertempuran ketika dunia masih muda. Baruk khazad! Khazdd ai-menu! "Kapak Kurcaci! Kurcaci menyerangmu!"
Namun nama Gimli sendiri, dan nama semua saudaranya, bersumber pada bahasa Utara (Mannish). Nama rahasia, nama "batin" mereka, nama ash mereka, tak pemah diungkapkan para Kurcaci pada siapa pun dari bangsa lain. Bahkan pada nisan kuburan mereka, nama itu tidak dituliskan.


II TENTANG TERJEMAHAN



Dalam menyuguhkan bahan bacaan Buku Merah, untuk dibaca sebagai sejarah bagi orang zaman sekarang, keseluruhan latar bahasa diterjemahkan sedapat mungkin ke dalam istilah-istilah masa kini. Hanya bahasa-bahasa yang asing terhadap Bahasa Umum tetap dibiarkan dalam bentuk aslinya; tapi terutama hanya muncul dalam nama-nama tokoh dan tempat.
Bahasa Umum, sebagai bahasa para Hobbit dan cerita-cerita mereka, mau tak mau diganti ke dalam bahasa Inggris modem. Dalam proses itu, perbedaan

antara keragaman penggunaan bahasa Westron dikurangi. Untuk menggambar- kan keragaman yang ada, ditampilkan beberapa variasi dalam jenis bahasa Inggris yang digunakan; tapi penyimpangan antara ucapan dan langgam suara Shire dan bahasa Westron di mulut kaum Peri atau kalangan bangsawan Gondor lebih besar daripada yang ditunjukkan dalam buku ini. Para Hobbit berbicara dengan logat kasar, sementara di Gondor dan Rohan digunakan bahasa yang lebih kuno, lebih formal, dan lebih tegas-singkat.
Satu hal tentang penyimpangan bisa dicatat di sini, karena meski penting, ternyata mustahil menggambarkannya. Bahasa Westron membuat pembedaan dalam kata ganti orang kedua (clan sering juga untuk orang ketiga), yang tidak tergantung jumlah, antara bentuk "akrab" dan "penghormatan". Meski begitu, temyata salah satu keganjilan penggunaan bahasa tersebut di Shire, yaitu bahwa bentuk penghormatan sudah hilang dari bahasa percakapan. Bentuk itu hanya bertahan di lingkungan orang-orang desa, terutama di Wilayah Barat, yang menggunakannya sebagai bentuk penunjukan kasih sayang. Hal inilah salah satunya yang dimaksud orang-orang Gondor bila mereka membicarakan keganjilan bahasa Hobbit. Misalnya saja, Peregrin Took, pada hari-hari pertama di Minas Tirith, ia menggunakan bentuk akrab untuk orang-orang dari semua tingkatan, termasuk Lord Denethor sendiri. Mungkin hal itu menggelikan bagi si Pejabat tua itu, tapi pasti mengejutkan bagi pelayan-pelayannya. Sangat mungkin penggunaan bebas bentuk akrab inilah yang membantu penyebaran selentingan bahwa Peregrin adalah seorang berpangkat tinggi di negerinya sendiri.
Bisa dilihat bahwa Hobbit seperti Frodo, dan orang-orang lain seperti Gandalf dan Aragom, tidak selalu menggunakan gaya yang sama. Ini memang disengaja. Golongan yang lebih terpelajar dan mahir di antara para Hobbit mempunyai sedikit pengetahuan tentang "bahasa buku", begitu istilahnya di Shire; mereka bisa cepat mengenali dan memakai gaya bicara orangorang yang mereka temui. Bagaimanapun, bagi orang-orang yang banyak mengembara sangat wajar jika berbicara kurang-lebih mengikuti gaya bahasa lingkungan yang mereka jumpai, terutama orang-orang seperti Aragom, yang sering berupaya keras

menyembunyikan asal-usul dan urusan mereka. Tapi pada masa itu, semua musuh dari Musuh yang satu itu sangat menghormati apa saja yang kuno, baik dalam bahasa maupun hal-hal lain, dan mereka menikmatinya sesuai tingkat pengetahuan mereka. Bangsa Eldar, yang terutama sangat fasih dalam penggunaan kata-kata, menguasai banyak gaya bahasa, meski pada umumnya mereka berbicara dalam gaya yang paling dekat dengan bahasa mereka sendiri, yang bahkan lebih kuno lagi daripada bahasa Gondor. Bangsa Kurcaci juga sangat fasih berbicara dan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka, meski pengucapan mereka terasa agak kasar dan garau. Tapi Ore dan Troll berbicara seenaknya, tanpa cinta akan katakata atau benda-benda; dan bahasa mereka bahkan lebih rendah dan menjijikkan daripada yang saya tunjukkan. Saya kira tidak ada yang ingin mendapatkan gambaran lebih jelas, meski contoh- contohnya cukup mudah ditemukan. Cukup banyak cara berbicara serupa masih bisa ditemukan di antara mereka yang berwatak Ore; suram dan berulang-ulang, penuh kebencian dan penghinaan, dan sudah terlalu lama jauh dari kebaikan, sehingga tidak memiliki kekuatan lisan, kecuali' bagi telinga mereka-mereka yang menganggap hanya kata-kata jorok yang terdengar kuat.
Terjemahan semacam ini tentu saja sudah umum, karena tak bisa dielakkan dalam penceritaan tentang masa lampau. Tapi saya mengolahnya lebih jauh lagi. Saya juga menerjemahkan semua nama dalam bahasa Westron sesuai maknanya. Bila ada nama-nama atau judul Inggris muncul dalam buku ini, itu menunjukkan bahwa nama-nama dalam Bahasa Umum saat itu memang digunakan, di samping atau sebagai pengganti nama dan judul dalam bahasa asing (yang biasanya berupa bahasa Peri).
Nama-nama Westron umumnya adalah terjemahan nama-nama lama: seperti Rivendell, Hoarwell, Silverlode, Langstrand, Musuh, Menara Gelap. Beberapa mempunyai arti berbeda: seperti Gunung Maut untuk Orodruin "gunung membara", atau Mirkwood untuk Taur e-Ndaedelos "hutan ketakutan besar". Beberapa merupakan perubahan nama-nama dalam bahasa Peri: seperti Lune dan Brandywine yang berasal dari Lhun dan Baranduin.
Mungkin prosedur ini memerlukan pembelaan. Bagi saya, rasanya kalau

menyajikan semua nama dalam bentuk aslinya akan menutupi ciri penting dari masa itu seperti diamati oleh para Hobbit (justru sudut pandang merekalah yang ingin saya pelihara): kontras antara bahasa yang sudah menyebar luas, yang bagi mereka wajar dan sudah biasa dipakai sama seperti bahasa Inggris bagi kita, dengan sisa-sisa yang masih hidup dari bahasa-bahasa yang jauh lebih kuno dan lebih dihormati. Semua nama, bila sekadar direkam, bagi pembaca modem akan terasa asing sekali: misalnya, bila nama Imladris dalam bahasa Peri dan terjemahan Westron-nya, Karningul, duaduanya tidak diganti. Tapi menyebut Rivendell sebagai Imladris sama halnya bila sekarang kita menyebut Winchester sebagai Camelot, kecuali bahwa di sini identitasnya sudah pasti, sementara di Rivendell masih berdiam seorang penguasa termasyhur yang jauh lebih tua daripada Arthur seandainya ia masih menjadi raja di Winchester sekarang ini.
Maka nama Shire (Suza) dan semua tempat Hobbit lainnya di-Inggris-kan. Hal ini tidak begitu sulit, karena nama-nama itu umumnya dibentuk dari unsur-unsur yang sama dengan yang dipakai dalam nama-nama tempat dalam bahasa Inggris sederhana; bisa kata-kata yang sekarang pun masih dipakai seperti bukit (hill) atau padang, (field); atau yang merupakan turunan seperti ton di samping town (kota). Tapi seperti sudah terlihat, beberapa berasal dari kata-kata hobbit yang sudah tidak dipakai, dan digambarkan dengan benda-benda serupa dalam bahasa Inggris, seperti wich, atau bottle "permukiman", atau michel "besar". Namun dalam hal orang, nama-nama Hobbit di Shire dan Bree untuk masa itu agak aneh, terutama bisa dilihat pada kebiasaan mewarisi namanama keluarga yang mulai timbul beberapa abad sebelum masa ini. Kebanyakan nama keluarga mempunyai makna yang jelas (dalam bahasa yang berlaku, berasal dari julukan sebagai kelakar, atau dari nama tempat, ataukhususnya di Bree-dari nama-nama tanaman dan pohon). Terjemahan namanama ini tidak begitu sulit; tapi masih tersisa satu-dua nama kuno yang maknanya sudah terlupakan, dan saya sudah puas dengan meng-Inggris-kan ejaannya: seperti Took untuk Tuk, atau Bofin untuk Bophin.
Nama-nama kecil Hobbit sejauh mungkin saya perlakukan dengan cara yang

sama. Para Hobbit biasanya memberi anak perempuannya nama-nama bunga atau permata. Kepada anak-anak lelaki mereka biasanya memberikan riama yang tidak mempunyai arti sama sekali dalam bahasa sehari-hari rnereka; dan beberapa nama-nama Hobbit wanita juga serupa. Dari jenis ini terdapat Bilbo, Bungo, Polo, Lotho, Tanta, Nina, dan seterusnya. Banyak sekali kemiripan yang tidak disengaja, dan tak bisa dihindari, dengan namanama yang sekarang kita pakai atau kenal: misalnya Otho, Odo, Drogo, Dora, Cora, dan semacamnya. Nama-nama ini tetap saya pertahankan, meskipun biasanya saya meng-Inggris- kannya dengan mengubah akhirannya, karena dalam nama-nama Hobbit a adalah akhiran untuk jenis maskulin, dan o serta e adalah feminin.
Dalam beberapa keluarga kuno, terutama yang berasal dari Fallohide seperti keluarga Took dan Bolger, ada kebiasaan untuk memberikan nama kecil yang terdengar berderajat tinggi. Karena kebanyakan nama-nama itu tampaknya diambil dari legenda-legenda masa lalu, baik dari Manusia ataupun Hobbit, dan banyak yang meski sekarang tidak bermakna bagi kaum Hobbit tapi sangat mirip dengan nama-nama Manusia di Lembah Anduin, atau di Dale, atau Mark, maka saya mengubahnya menjadi namanama kuno itu, yang sebagian besar berasal dari bahasa Frankish atau Gothik, yang masih kita gunakan atau bisa ditemukan dalam sejarah kita. Dengan demikian, saya setidaknya tetap memelihara kontras yang terkadang sangat menggelikan antara nama kecil dengan nama keluarga, yang sangat disadari kaum Hobbit sendiri. Nama-nama dari sumber klasik jarang digunakan; karena padanan paling dekat dengan bahasa Latin dan Yunani di Shire adalah bahasa Peri, dan para Hobbit jarang menggunakannya dalam tata nama. Hanya sedikit di antara mereka yang kenal "bahasa para raja", begitu istilah mereka untuk itu.
Nama-nama kaum Bucklander berbeda dari seluruh Shire yang lainnya. Penduduk Marish dan keturunan mereka di seberang Brandywine memiliki keganjilan dalam banyak hal, begitu menurut cerita. Pastilah dari bahasa terdahulu bangsa Stoor selatan, mereka mewarisi banyak nama mereka yang sangat aneh. Nama-nama itu umumnya tidak saya ganti, karena selain sekarang terdengar ganjil, di masa lalu pun dianggap ganjil. Nama-nama itu mengikuti

suatu gaya yang mungkin bisa kita anggap agak menyerupai "Celtic".

Karena bertahannya jejak bahasa kuno dari kaum Stoor dan orang-orang Bree serupa dengan bertahannya unsur-unsur Celtic di Inggris, kadangkadang saya meniru yang terakhir itu dalam terjemahan saya. Maka Bree, Combe (Coomb), Archet, dan Chetwood dibentuk sesuai peninggalan tata nama Inggris, yang dipilih sesuai maknanya: bree "hill/bukit", chet "wood/ hutan". Tapi hanya satu nama tokoh yang diganti dengan cara ini. Nama Meriadoc dipilih agar sesuai dengan fakta bahwa penyingkatan nama tokoh ini, Kali, dalam bahasa Westron berarti "gembira, riang", meski sebenarnya itu merupakan singkatan dari nama Buckland yang sekarang tidak bermakna, Kalimac.
Saya tidak menggunakan nama-nama yang berasal dari sumber Hebraic atau yang sejenis, dalam perubahan-perubahan yang saya lakukan. Dalam nama- nama Hobbit tidak ada yang sepadan dengan unsur ini dalam nama kita. Nama- nama pendek seperti Sam, Tom, Tim, Mat sudah umum sebagai singkatan nama-nama Hobbit yang asli, seperti Tomba, Tolma, Matta, dan sebagainya. Tapi Sam dan ayahnya, Ham, sebenamya dinamai Ban dan Ran. Itu penyingkatan dari Banazir dan Ranugad, nama julukan, yang berarti "setengah bijak, bersahaja"; dan "tetap tinggal di rumah"; kata-kata tersebut sudah hilang dari penggunaan bahasa sehari-hari, tapi masih bertahan sebagai nama-nama tradisional dalam beberapa keluarga tertentu. Karena itu saya mencoba mempertahankan ciri-ciri ini dengan memakai Samwise dan Hamfast, modemisasi dari bahasa Inggris kuno samwis dan hamfoest yang cocok artinya. Setelah berupaya sedapat mungkin untuk memodernisir dan mengakrabkan bahasa dan nama-nama Hobbit, saya terlibat dalam proses selanjutnya. Bahasa- bahasa Mannish yang berhubungan dengan bahasa Westron, menurut saya perlu diubah menjadi bentuk-bentuk yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Bahasa Rohan sudah saya buat agar semirip mungkin dengan bahasa Inggris kuno, karena ia berhubungan dengan Bahasa Umum (agak jauh) dan dengan bahasa lama kaum Hobbit utara (dekat sekali), dan bisa diperbandingkan dengan bahasa Westron kuno. Dalam Buku Merah di beberapa tempat dicatat bahwa bila Hobbit mendengarkan percakapan Rohan, mereka mengenali banyak

kata dan merasa bahasa itu bersaudara dengan bahasa mereka sendiri, sehingga rasanya janggal bila membiarkan namanama dan kata-kata bangsa Rohirrim tetap dalam gaya asing.
Dalam beberapa kasus, saya memodemisasi bentuk dan ejaan nama-nama tempat di Rohan: seperti dalam Dunharrow atau Snowboum; tapi saya tidak konsisten, karena saya mengikuti para Hobbit. Mereka mengganti namanama yang mereka dengar dengan cara yang sama, kalau terbentuk dari unsur-unsur yang mereka kenali, atau kalau mirip dengan nama-nama tempat di Shire; tapi banyak juga yang tidak mereka sentuh, seperti yang saya lakukan juga, misalnya, dalam Edoras "istana". Karena alasan yang sama, beberapa nama juga dimodernisasi, seperti Shadowfax dan Wormtongue.
Perpaduan ini memungkinkan cara yang sesuai untuk menggambarkan kata-kata khas hobbit yang aneh, yang berasal dari utara. Mereka diberi bentuk yang sangat mungkin diterapkan pada kata-kata Inggris yang sudah hilang, seandainya' mereka diwariskan ke masa kini. Jadi, mathom dimaksudkan untuk mengingatkan pada kata mathm Inggris kuno, dengan demikian menggambarkan hubungan antara kast Hobbit dengan R. kastu. Begitu pula smial (atau smile) "burrow/liang", adalah bentuk yang mungkin dibuat untuk turunan dari smygel, dan menggambarkan dengan baik hubungan antara tran Hobbit dengan R. trahan. Smeagol dan Deagol adalah padanan yang dibentuk dengan cara sama untuk nama-nama Trahald "menggali, masuk ke liang" dan Nahald "rahasia" dalam bahasa Utara.
Bahasa Dale yang bersumber lebih ke utara, dalam buku ini hanya terlihat dalam nama-nama Kurcaci yang datang dari wilayah itu, dan dengan demikian menggunakan bahasa manusia di sana, mengambil "nama luar" mereka dari bahasa itu. Bisa dilihat bahwa dalam buku ini, seperti juga dalam buku The Hobbit, bentuk dwarves (kurcaci-kurcaci) dipakai, meskipun menurut kamus- kamus bentuk jamak dwarf adalah dwarfs. Seharusnya menjadi dwarrows (atau dwerrows), kalau bentuk tunggal dan jamak masing-masing berjalan sendiri selama bertahun-tahun, seperti halnya kata man (pria/orang) dan men, atau goose (angsa) dan geese. Tapi kita sudah tidak lagi membahas kurcaci sesering

kita membahas pria/orang, atau bahkan angsa, sementara ingatan Manusia tidak begitu segar untuk tetap memelihara suatu bentuk jamak khusus bagi sebuah bangsa yang sekarang hanya ada dalam dongengdongeng rakyat, di mana setidaknya secercah kebenaran masih dipelihara, atau akhirnya hanya ada dalam cerita-cerita khayal di mana mereka hanya menjadi tokoh-tokoh lucu. Tapi di Zaman Ketiga, sedikit watak dan kekuatan mereka yang lama masih terlihat, meski sudah agak pudar; inilah keturunan bangsa Naugrim dari Zaman Peri, yang masih memendam pyala api kuno Aule si Pandai Besi, dan bara api dendam lama mereka terhadap bangsa Peri masih menyala-nyala; di tangan merekalah keterampilan berkarya dengan bebatuan masih hidup, dan belum bisa dikalahkan siapa pun.
Untuk menandai inilah saya memberanikan diri menggunakan bentuk dwarves, dan dengan demikian mungkin sedikit menjauhkan mereka dari cerita-cerita konyol masa kini. Mungkin Dwarrows lebih baik; tapi saya hanya menggunakan bentuk itu dalam nama Dwarrowdelf, untuk menggambarkan nama Moria dalam Bahasa Umum: Phurunargian. Sebab nama itu berarti "penggalian oleh Kurcaci", dan sudah merupakan kata berbentuk kuno. Moria adalah nama dalam bahasa Peri, yang diberikan tanpa rasa kasih sayang; karena bangsa Eldar, meski mereka membangun bentengbenteng di bawah tanah, bila diperlukan, dalam perang melawan Kekuatan Gelap dan pengabdi-pengabdinya, tidak dengan senang hati memilih menjadi penghuni tempat-tempat seperti itu. Mereka mencintai bumi yang hijau dan cahaya dari langit; dan dalam bahasa mereka, Moria berarti Jurang Hitam. Tapi para Kurcaci sendiri menyebutnya Khazad-Am, Rumah Para Khazad, dan nama ini setidaknya tidak mereka rahasiakan; Khazad adalah nama yang mereka berikan kepada bangsa mereka sendiri, dan sudah begitu sejak Aule memberikannya pada mereka saat penciptaan bangsa mereka, jauh di masa lampau.
Lives (Pert) dipakai untuk menerjemahkan Quendi "para pembicara", nama Peri tinggi untuk semua suku bangsa mereka, maupun Eldar, nama Tiga Bangsa yang mencari Negeri Tanpa Kematian dan datang ke sana pada awal Masa (kecuali bangsa Sindar). Kata kuno inilah satu-satunya yang ada, dan dulu

pernah cocok dipakai untuk diterapkan pada apa yang diingat Manusia tentang bangsa ini, atau bagi persepsi Manusia yang tidak begitu jauh berbeda. Namun sekarang ini kata itu sudah menurun artinya. Bagi banyak orang, sekarang kata itu lebih dikonotasikan dengan sosok-sosok yang mungkin cantik atau lucu, sama sekali tidak mirip dengan Quendi zaman dulu, seperti juga kupu-kupu tidak sama dengan burung elang-dan ini bukan berarti bangsa Quendi memiliki sayap pada tubuh mereka; ini sama tidak alamiahnya bagi mereka, seperti halnya bagi Manusia. Mereka bangsa yang jangkung dan elok, Anak-Anak sulung dunia ini, dan di antara mereka bangsa Eldar adalah raja-raja yang kini sudah tidak ada lagi: Kaum yang telah menjalani Lawatan Agung, Kaum dari Bintang-Bintang. Mereka bertubuh tinggi, berkulit halus, dan bermata kelabu, meski rambut mereka hitam, kecuali di rumah emas Finarfin; dan suara mereka memiliki nada- nada lebih indah daripada suara makhluk fana yang sekarang terdengar. Mereka gagah berani, namun riwayat mereka yang kembali ke Dunia Tengah dalam pengasingan sangat menyedihkan; dan meski di zaman lampau takdir mereka bersinggungan dengan takdir para Leluhur, namun takdir mereka bukanlah takdir Manusia. Kekuasaan mereka sudah lama berakhir, kini mereka berdiam di luar lingkungan dunia, dan tidak pemah kembali lagi.


Catatan tentang tiga nama:



Hobbit, Gamgee, dan Brandywine. Hobbit adalah nama ciptaan. Dalam bahasa Westron, kata yang digunakan bila bangsa ini yang dimaksud, adalah banakil "halfling". Tapi saat itu bangsa Shire dan Bree memakai kata kuduk, yang tidak ditemukan di mana pun. Tapi Meriadoc bahkan mencatat bahwa Raja Rohan memakai kata kud-dukan "penghuni lubang". Karena sudah diketahui bahwa bangsa Hobbit pemah berbicara bahasa yang sangat erat berhubungan dengan bahasa bangsa Rohirrim, rupanya sangat mungkin bahwa kuduk adalah turunan dari kata "d-dukan. Yang terakhir itu-untuk alasan-alasan yang sudah saya jelaskan-saya terjemahkan dengan holbytla; dan hobbit merupakan kata yang mungkin sekali merupakan bentuk turunan dari holbytla, seandainya nama itu

muncul dalam bahasa kuno kita sendiri.

Gamgee. Menurut tradisi keluarga, yang diuraikan di dalam Buku Merah, nama kecil Galbasi, atau dalam bentuk singkat Galpsi, berasal dari desa Galabas, yang secara populer dianggap berasal dari galab- "permainan" dan suatu unsur lama bas-, yang - kurang-lebih sepadan dengan wick, wich kita. Maka Gamwich (diucapkan Gammich) tampaknya penggambaran yang lumayan tepat. Namun begitu, dalam mengecilkan Gammidgy ke Gamgee, untuk menggambarkan Galpsi, di sini tidak dimaksud untuk menyatakan hubungan antara Samwise dengan keluarga Cotton, meskipun kelakar semacam itu memang sangat bergaya hobbit, kalau dalam bahasa mereka ada alasan untuk membenarkan hal itu.
Sebenarnya Cotton menggambarkan Hlothran, nama desa yang cukup umum di Shire, berasal dari kata hloth, "rumah atau lubang berkamar dua", dan ran(u) sebuah kelompok permukiman semacam itu di sisi bukit. Sebagai nama kecil mungkin kata itu adalah perubahan dari hlothram(a) "penghuni rumah desa". Hlothram, yang saya gambarkan dengan Cotman, adalah nama kakek Petani Cotton.


Brandywine. Nama-nama hobbit untuk sungai ini merupakan perubahan dari kata bahasa Peri Baranduin (bertekanan pada and), berasal dari baran "cokelat keemasan" dan duin "sungai (besar)". Brandywine tampak sebagai perubahan wajar dari Baranduin, di masa modern Sebenarnya nama hobbit kuno untuk sungai ini adalah Branda-nin "sungai perbatasan", yang mungkin lebih tepat digambarkan dengan Marchbourn; tapi karena kelakar yang sudah menjadi kebiasaan, yang menunjuk kepada warnanya, saat itu sungai itu biasanya disebut Bralda-him "bir keras".
Namun perlu diperhatikan bahwa ketika keluarga Oldbuck (Zaragamba) mengubah nama mereka menjadi Brandybuck (Brandagamba), unsur pertama berarti "wilayah perbatasan", dan Marchbuck mungkin lebih mendekati artinya. Hanya hobbit pemberani yang akan memberanikan diri menyebut Penguasa Buckland sebagai Braldagamba secara terang-terangan.

Tamat

0 Response to "The Lord of the Rings 3 Part 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified