Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Lord of the Rings 3 Part 1

Return of the Kings
J. R. R. Tolkien


MINAS TIRITH

Pippin mengintip keluar dari balik jubah Gandalf. Hatinya bertanya-tanya, ini mimpi atau bukan. la serasa masih berada dalam mimpi yang meluncur cepat, yang telah menyelubunginya begitu lama sejak perjalanan berkuda ini dimulai. Dunia sekitar yang diselimuti kegelapan bagai mendesir lewat, angin menderu keras di telinganya. la tak bisa melihat apa pun kecuali bintang-bintang yang bergulir. Di sebelah kanannya bayangan-bayangan besar menutupi langit, dan pegunungan Selatan berderap melewatinya. Sambil terkantuk-kantuk dicobanya merangkai kembali berbagai peristiwa dalam perjalanan mereka, tapi ingatannya masih berkabut.
Mula-mula mereka berkuda dengan kecepatan sangat tinggi, tanpa berhenti, lalu saat fajar ia melihat secercah sinar keemasan redup. Mereka telah tiba di kota sunyi dan rumah besar kosong di atas bukit. Baru saja mereka sampai di sana, bayangan bersayap itu terbang kembali melewati mereka; orang-orang lemas ketakutan. Tapi Gandalf menenangkannya dengan kata-kata lembut, dan Ia pun tertidur di pojok, letih tapi tak bisa tidur nyaman; samar-samar ia ingat banyak orang datang dan pergi, ada suara orang-orang berbicara, dan Gandalf memberi perintah. Lalu melaju naik kuda lagi, melaju dalam kegelapan malam. Sekarang malam kedua, eh bukan, malam ketiga sejak ia memandang ke dalam Batu Penglihatan itu. la terbangun seketika, saat teringat kejadian mengerikan itu, dan menggigil, sementara deru angin dipenuhi suara-suara yang mengusik.
Seberkas cahaya merebak di langit, kobaran api kuning di balik tembok-tembok gelap. Pippin gemetar ketakutan, sejenak ia sangat cemas, bertanya-tanya ke negeri mengerikan mana Gandalf membawanya. la menggosok-gosok mata, lalu melihat bulan sedang muncul di atas bayang-bayang di timur, dan kini hampir purnama. Jadi, malam belum begitu larut dan perjalanan masih panjang. Pippin

beringsut dan berkata.

“Di mana kita, Gandalf?” tanyanya.

“Di wilayah Gondor,” jawab penyihir itu. “Kita sedang melewati daerah Anorien.” Beberapa saat sunyi. Lalu, “Apa itu?” teriak Pippin tiba-tiba, sambil mencengkeram jubah Gandalf. “Lihat! Api, api merah! Apakah ada naga di negeri ini? Lihat, ada lagi!”
Sebagai jawaban, Gandalf berseru keras-keras pada kudanya. “Terus, Shadowfax! Kita harus cepat. Waktu kita singkat. Lihat! Api mercusuar Gondor sudah dinyalakan untuk meminta bantuan. Perang sudah berkobar. Lihat, ada api di atas Amon diri, dan di atas Eilenach; dan yang lainnya ke arah barat: Nardol, Erelas, Min-Rimmon, Calenhad, dan Halifirien di perbatasan-perbatasan Rohan.”
Tapi Shadowfax malah memperlambat derapnya menjadi langkah berjalan biasa, lalu mengangkat kepalanya dan meringkik. Dari dalam kegelapan datang jawaban: ringkikan kuda-kuda lain; tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda; tiga penunggang menyusul melewati mereka, bagai hantu-hantu melayang di bawah sinar bulan, lenyap ke arah Barat. Shadowfax kembali tenang dan melompat berlari, terselubung malam, bagai angin yang menderu.
Pippin mulai mengantuk lagi dan tidak begitu memperhatikan Gandalf yang menceritakan berbagai adat kebiasaan Gondor, tentang Penguasa Kota yang membangun mercusuar di puncak bukit-bukit paling luar sepanjang kedua perbatasan padang luas itu, dan menempatkan pos penjagaan pada titik-titik tersebut, di mana selalu ada kuda segar yang siap membawa utusan-utusan ke Rohan di Utara, atau ke Belfalas di Selatan. “Sudah lama sekali mercu-mercu suar di Utara tidak dinyalakan,” kata Gandalf, “dan di zaman Gondor purba, hal itu tidak diperlukan, karena mereka memiliki Tujuh Batu Penglihatan.” Pippin bergerak gelisah.
“Tidurlah lagi, dan jangan takut!” kata Gandalf “Sebab kau tidak pergi ke Mordor seperti Frodo, tapi ke Minas Tirith. Di sana kau akan aman, lebih aman dibanding tempat lain di dunia saat ini. Kalau Gondor jatuh, atau Cincin diambil, maka Shire bukan tempat perlindungan yang aman.”

“Kau tidak menghiburku,” kata Pippin, tapi rasa kantuk menyerangnya lagi. Yang terakhir diingatnya sebelum tertidur dan bermimpi adalah kilasan puncak-puncak putih yang menjulang tinggi, berkilauan seperti pulau-pulau mengambang di atas awan saat mereka menangkap cahaya bulan yang sedang bergerak ke barat. la bertanya-tanya, di mana Frodo sekarang; apakah sudah sampai di Mordor, atau sudah mati; ia tidak tahu bahwa nun jauh di sana, Frodo sedang menatap bulan yang sama, yang terbenam di luar Gondor sebelum fajar menyingsing.


Pippin terbangun mendengar suara-suara orang. Satu hari lagi dalam persembunyian, dan satu malam perjalanan telah berlalu. Cahaya langit tampak temaram: fajar dingin sudah menyongsong, kabut kelabu menyelubungi. Shadowfax berdiri, tubuhnya penuh keringat yang mengepulkan uap, namun Ia tetap mengangkat lehernya dengan tegap dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Banyak pria jangkung berjubah tebal berdiri di sampingnya; di belakang mereka, dalam kabut, berdiri sebuah tembok batu. Tampaknya sebagian sudah menjadi puing, tapi sebelum malam berakhir sudah terdengar bunyi orang-orang bekerja terburu-buru: dentam palu, denting kulir, dan derit roda. Obor dan nyala api bersinar di sana-sini dalam kabut. Gandalf sedang berbicara dengan orang-orang yang merintangi jalannya. Pippin mendengarkan, dan menyadari dirinyalah yang sedang dibahas.
“Yea, memang kami kenal kau, Mithrandir,” kata pemimpin orang-orang itu. “Kau tahu kata sandi untuk Tujuh Gerbang dan kau bebas masuk. Tapi kami tidak kenal pendampingmu. Siapa dia? Kurcaci dan pegunungan di Utara? Kami tak ingin ada orang asing di negeri kami pada saat ini, kecuali mereka pejuang gagah berani yang bisa kami harapkan bantuan dan keteguhan hatinya.”
“Aku yang akan menjaminnya di depan takhta Denethor,” kata Gandalf. “Dan mengenai keberanian … keberanian tak bisa dinilai dari ukuran badan. Dia sudah melewati lebih banyak pertempuran dan bahaya daripadamu, Ingold, meski kau dua kali lebih jangkung daripadanya; dia datang setelah penyerbuan ke Isengard, yang akan kami kabarkan pada kalian, dan dia sudah sangat letih; kalau tidak, pasti aku akan membangunkannya. Namanya Peregrin, orang yang

sangat berani.”

“Orang?” kata Ingold ragu, lalu yang lain tertawa.

“Orang!” teriak Pippin, terbangun seketika. “Orang! Sama sekali bukan! Aku ini hobbit. Aku bukan orang dan aku tidak pemberani, kecuali mungkin sesekali, bila diperlukan. Jangan biarkan Gandalf menipu kalian.”
“Banyak orang yang sudah melakukan perbuatan-perbuatan besar juga tidak

membual,” kata Ingold. “Tapi apa sebenarnya hobbit?”

“Hobbit adalah Halfling,” jawab Gandalf. “Bukan, bukan Halfling yang satu itu,” tambahnya ketika melihat keheranan pada wajah orang-orang tersebut. “Bukan dia, tapi salah seorang dari kaumnya.”
“Ya, dan yang sudah mengembara bersamanya,” kata Pippin. “Boromir dan Kota kalian ada bersama kami saat itu. Dia menyelamatkan aku di tengah salju Utara, dan tewas terbunuh ketika membelaku dari musuh yang banyak jumlahnya.” “Damai!” kata Gandalf “Kabar duka itu sebenarnya harus disampaikan pada ayahnya lebih dulu.”
“Tapi kami sudah menduga,” kata Ingold, “sebab akhir-akhir ini banyak pertanda aneh. Cepatlah masuk sekarang! Penguasa Minas Tirith akan senang berjumpa seseorang yang membawa berita terakhir tentang putranya, entah dia manusia maupun …”
“Hobbit,” kata Pippin. “Hanya sedikit yang bisa kuberikan pada penguasamu, tapi apa yang bisa kulakukan, akan kulakukan, sebagai penghormatanku terhadap Boromir yang gagah berani.”
“Selamat jalan!” kata Ingold; para pria itu memberi jalan pada Shadowfax, dan

kuda itu masuk ke suatu gerbang sempit di tembok. “Semoga kau bisa memberi saran bagus pada Denethor yang sedang membutuhkannya, dan pada kami semua, Mithrandir!” seru Ingold. “Tapi konon kau selalu datang membawa kabar duka dan bahaya, seperti sudah kebiasaanmu.”
“Aku jarang datang, kecuali bila pertolonganku dibutuhkan,” jawab Gandalf. “Dan tentang saran, padamu kukatakan bahwa kau agak terlambat memperbaiki tembok Pelennor. Hanya dengan mengandalkan keberanian kau bisa menghadapi badai yang bakal datang itu, dan harapan yang aku bawa. Sebab

aku tidak selalu membawa kabar buruk. Tapi tinggalkan kulir kalian dan asahlah

pedang kalian!”

“Pekerjaan ini akan selesai sebelum sore nanti,” kata Ingold. “Ini bagian terakhir tembok yang diperbaiki untuk pertahanan: bagian yang paling kecil kemungkinannya diserang, karena menghadap ke arah tempat sahabat-sahabat kami dari Rohan. Sudahkah kau punya kabar tentang mereka? Akankah mereka memenuhi panggilan kami, menurutmu?”
“Ya, mereka akan datang. Tapi mereka sudah terlibat banyak pertempuran di belakang kalian. Jalan ini dan semua jalan lain tidak lagi aman sekarang. Waspadalah! Kalau bukan karena Gandalf si Pembawa Kabar Buruk, kalian mungkin akan melihat pasukan musuh datang dari wilayah Anorien, bukan para Penunggang Kuda Rohan. Dan itu masih mungkin terjadi. Selamat berjaga, jangan tertidur!”


Sekarang Gandalf melintas masuk ke daerah luas di belakang Rammas Echor. Begitulah sebutan bangsa Gondor untuk tembok benteng yang sudah mereka bangun dengan kerja keras, setelah Ithilien jatuh ke dalam bayang-bayang Musuh. Sejauh sepuluh league lebih tembok itu menjulur dan pegunungan dan meliuk mendekatinya lagi, dengan demikian mengurung Padang-Padang Pelennor: tanah indah dan subur di lereng dan teras-teras yang menurun ke kedalaman Sungai Anduin. Di timur laut, pada titik terjauh Gerbang Agung Kota, tembok itu berjarak empat league; bertengger di atas tebing yang tampak kelam, gerbang itu menghadap ke arah daratan-daratan panjang di sebelah sungai; mereka membuatnya tinggi dan kuat; karena pada titik itu, di atas sebuah jalan layang berdinding, jalan itu masuk dari arungan-arungan dan jembatan-jembatan Osgiliath, melewati sebuah gerbang yang dijaga, yang berdiri di antara menara- menara yang sering diserang. Bagian tembok terdekat hanya berjarak sekitar satu league dari Kota, letaknya di sebelah tenggara. Di sana Anduin yang mengalir dalam lengkungan besar mengitari bukit-bukit Emyn Amen di Ithilien Selatan, membelok tajam ke barat, dan tembok luar menjulang di atas tebingnya; di bawahnya terdapat dermaga dan pelabuhan Hariond untuk kapal-kapal yang

datang ke hulu sungai dari selatan.

Tanah pemukiman itu subur sekali, digarap secara Was dan banyak kebun buah- buahan, juga banyak peternakan dengan gudang pengering buah hop dan penyimpan daun; ada ceruk di bukit tempat beternak domba, ada kandang sapi, dan sungai-sungai kecil mengalir melintasi alam hijau, dari dataran tinggi turun ke Anduin. Meski begitu, tidak banyak peternak dan petani yang bermukim di sana. Sebagian besar rakyat Gondor tinggal di dalam ketujuh lingkaran Kota, atau di lembah-lembah tinggi pegunungan di perbatasan di Lossarnach, atau lebih jauh ke selatan di Lebennin yang indah dengan kelima sungainya yang mengalir deras. Di antara pegunungan dan laut bermukim penduduk tangguh yang dianggap bangsa Gondor juga, meski mereka sudah berdarah campuran; di antara mereka terdapat orang-orang hitam dan pendek yang nenek moyangnya berasal dari bangsa terlupakan, yang berdiam dalam bayang-bayang perbukitan di masa Tahun-Tahun Kegelapan sebelum kedatangan para raja. Tapi di Belfalas, Pageran Imrahil tinggal di kastilnya, Dol Amroth, di dekat laut, dan Ia berdarah bangsawan, begitu pula rakyatnya, manusia-manusia jangkung yang gagah dan bermata kelabu laut.
Setelah Gandalf berkuda beberapa lama, cahaya pagi mulai muncul di langit. Pippin bangkit duduk, dan memandang ke atas. Di sebelah kirinya ada lautan kabut, menjulang menjadi bayangan pudar di Timur; tapi di sebelah kanannya pegunungan tinggi menjulang, menjulurkan kepala, membentang dari Barat sampai ke ujung yang terjal dan berakhir dengan mendadak, seolah-olah ketika daratan diciptakan, Sungai mendobrak suatu rintangan besar, sambil memahat sebuah lembah luas yang di masa mendatang akan menjadi negeri penuh pertempuran dan pertikaian. Dan di ujung Pegunungan Putih Ered Nimrais, Pippin melihat sosok gelap Gunung Mindolluin, bayangan ungu gelap lembah- lembahnya, dan wajahnya yang memutih menjulang tinggi di pagi hari. Semuanya persis seperti telah dikatakan Gandalf. Dan di atas lututnya yang menjorok keluar terletak Kota Benteng, dengan tujuh dinding batu yang sangat kuat dan kuno, hingga seolah-olah bukan dibangun, melainkan dipahat dari tulang-belulang bumi oleh para raksasa.

Di bawah tatapan kagum Pippin, dinding-dinding itu berganti warna dari kelabu menjadi putih, agak memerah dalam cahaya fajar; tiba-tiba matahari keluar dari atas bayangan timur dan memancarkan berkas cahaya yang menerpa wajah Kota. Lalu Pippin berteriak keras, karena Menara Ecthelion, yang berdiri tinggi di sebelah dalam dinding teratas, bersinar di depan langit, berkilauan bak paku mutiara dan perak, tinggi dan indah, puncaknya bersinar seakan-akan terbuat dari kristal; panji-panji putih terlihat berkibar di atas dinding-dinding benteng, tertiup angin pagi, dan di kejauhan Ia mendengar bunyi nyaring yang jernih, seperti bunyi terompet dari perak.


Demikianlah saat matahari baru terbit, Gandalf dan Peregrin melaju ke Gerbang

Agung Orang-Orang Gondor. Pintu besinya dibukakan untuk mereka.

“Mithrandir! Mithrandir!” teriak orang-orang. “Sekarang kami yakin bahwa badai sudah dekat!”
“Memang sudah di atas kalian,” kata Gandalf. “Aku terbang menunggang

sayapnya. Biarkan aku lewat! Aku harus menghadap penguasa kalian, Yang Mulia Denethor, selagi kekuasaan masih di tangannya. Apa pun yang akan terjadi, akhir dari Gondor yang kalian kenal selama ini sudah dekat. Biarkan aku lewat!”
Maka orang-orang pun memberi jalan, tidak lagi bertanya-tanya, meski mereka memandang heran pada hobbit yang duduk di depannya dan kuda yang ditungganginya. Penduduk Kota jarang menggunakan kuda dan jarang kelihatan kuda di jalan-jalan kota, kecuali kuda-kuda yang ditunggangi utusan-utusan penguasa mereka. Lalu mereka berkata, “Bukankah itu salah satu kuda hebat milik Raja Rohan? Mungkin bangsa Rohirrim akan segera datang untuk memperkuat pertahanan Kita.” Dan Shadowfax pun melangkah gagah menapaki jalan panjang berkelok-kelok.


Minas Tirith dibangun tujuh tingkat, masing-masing dipahat ke dalam bukit, di sekeliling masing-masing tingkat didirikan sebuah tembok, dan di setiap tembok ada sebuah gerbang. Tapi gerbang-gerbang itu tidak berada dalam satu garis

lurus: Gerbang Agung di Tembok Kota terletak di sebelah timur jalan keliling, tapi tingkat berikutnya menghadap setengah ke selatan, dan yang ketiga setengah ke utara, begitulah seterusnya arah hadapan itu dibolak-balik sampai ke yang paling atas; sehingga jalan berlantai batu keras yang menanjak menuju Benteng itu harus berkelok ke satu arah lalu ke arah lainnya, melintasi wajah perbukitan. Dan setiap kali jalan itu lewat tempat yang segaris dengan Gerbang Agung, ada sebuah terowongan lengkung, menembus batu karang besar yang menjorok keluar, membagi seluruh lingkaran Kota menjadi dua, kecuali yang pertama. Sebab di sana berdiri sebuah kubu baluarti dari batu, menjulang tinggi di bagian belakang pelataran besar di balik Gerbang, ujungnya tajam bagai lunas kapal menghadap ke timur. Kubu ini sebagian dibentuk secara alam oleh perbukitan, sebagian lagi merupakan kriya hebat dari zaman purba. Begitu tinggi kubu ini, hingga mencapai lingkaran paling atas, dan di sana, di puncaknya, terdapat dinding benteng; dengan begitu, orang-orang di Benteng bisa seperti para pelaut dalam kapal sebesar gunung, memandang dari puncaknya ke bawah, sampai ke Gerbang yang terletak 210 meter di bawahnya. Jalan masuk ke Benteng juga menghadap ke timur, dan dipahat dari inti batu karang; sebuah lereng terjal yang diterangi lampu menanjak naik sampai atas, ke gerbang ketujuh. Barulah orang bisa mencapai Takhta Agung, dan Wahana Air Mancur di depan kaki Menara Putih: tinggi dan indah, lima puluh fathom dari dasar sampai ke puncaknya, di mana panji-panji para Pejabat Istana berkibar 300 meter di atas padang datar. Sungguh sebuah benteng yang kuat, dan tak mungkin ditaklukkan pasukan musuh, kalau di dalam masih ada orang-orang bersenjata; kecuali bila ada musuh yang bisa mendekat dari belakang dan memanjat menyusuri bagian bawah Mindolluin, dengan demikian bisa sampai di tingkap sempit yang menghubungkan Bukit Penjagaan ke pegunungan. Tapi bahu tingkap itu pun, yang menjulang sampai ke puncak tembok kelima, dihalangi dengan kubu-kubu besar sampai ke tebing curam yang menonjol keluar di atas ujung sebelah barat; dan di tempat itu berdiri rumah-rumah dan kuburan berkubah raja-raja dan bangsawan penguasa zaman dulu, yang sudah membisu selamanya di antara pegunungan dan menara.



Pippin memandang kota batu yang besar itu dengan penuh kekaguman. Kota itu jauh lebih besar dan menakjubkan daripada apa pun yang pernah diimpikannya; lebih besar dan lebih kuat daripada Isengard, dan jauh lebih indah. Namun sesungguhnya kota itu kian lama kian rapuh; dan kini sudah kehilangan separuh penduduknya yang seharusnya bisa bermukim nyaman di sana. Di setiap jalan mereka melewati rumah besar atau pelataran, dengan tulisan indah berbentuk aneh dan kuno di atas pintu dan gerbang lengkung: menurut dugaan Pippin, tulisan itu adalah nama-nama orang-orang besar dan keluarga-keluarga besar yang pernah tinggal di sana; namun kini yang tersisa hanya kesunyian membisu, tak ada langkah kaki di jalan lebar berubin batu itu, tidak terdengar suara apa pun di serambi-serambinya, juga tidak ada wajah-wajah yang melongok keluar dari pintu atau jendela.
Akhirnya mereka keluar dari kegelapan dan tiba di gerbang ketujuh. Matahari panas yang bersinar di atas sungai, sementara Frodo berjalan di padang-padang Ithilien, di sini menyinari dinding-dinding mulus dan tiang-tiang yang berdiri kokoh, serta lengkungan besar dengan dasar yang dipahat menyerupai kepala raja bermahkota. Gandalf turun dari kudanya, sebab tak ada kuda yang diizinkan masuk ke dalam Benteng. Shadowfax membiarkan dirinya dituntun pergi setelah diberi bisikan halus oleh majikannya.
Pasukan Pengawal di gerbang berpakaian jubah hitam, helm mereka berbentuk aneh, berpuncak tinggi, dengan pelindung pipi yang panjang dan melekat ketat pada wajah mereka; di atas pelindung pipi terdapat sayap putih burung laut; tapi helm-helm itu berkilauan seperti perak, karena memang dibuat dari tempaan mithril, logam pusaka peninggalan zaman kuno yang agung. Pada rompi-rompi hitam mereka terlihat sulaman pohon putih yang mekar berkembang seperti salju, di bawah sebuah mahkota perak dan bintang-bintang bersegi banyak. Itulah seragam para pewaris Elendil. Tidak ada lagi yang memakainya di seluruh Gondor, kecuali para Pengawal Benteng di depan Istana Air Mancur, di mana Pohon Putih pernah tumbuh.

Tampaknya kabar kedatangan mereka sudah lebih dulu diketahui; mereka langsung dipersilakan masuk, diam, tanpa pertanyaan. Dengan cepat Gandalf melangkah melintasi pelataran berubin. Sebuah air mancur indah menari-nari di sana, di bawah sinar matahari pagi, dikelilingi sebidang tanah berumput hijau cerah; namun di tengah-tengah, terkulai di atas kolam, berdiri sebatang pohon mati, butir-butir air mengalir perlahan dengan sedih pada cabang dan ranting- rantingnya yang gundul dan sudah patah-patah, akhirnya menetes kembali ke air yang jernih.
Pippin meliriknya sepintas ketika ia bergegas di belakang Gandalf. Kelihatan menyedihkan, pikirnya, dan Ia heran mengapa pohon mati itu dibiarkan tetap di sana, sementara semua yang lain dipelihara dengan baik.
Tujuh bintang dan tujuh batu dan satu pohon putih.

Kata-kata yang dibisikkan Gandalf kembali ke dalam ingatan Pippin. Tahu-tahu Ia sudah berdiri di depan pintu-pintu balairung besar di bawah menara kemilau itu; mengikuti Gandalf, ia melewati para pengawal pintu yang diam dan jangkung, masuk ke dalam bayang-bayang sejuk rumah batu itu.
Mereka menapaki jalan berubin batu, panjang dan kosong, dan sementara itu Gandalf berbicara perlahan pada Pippin. “Berhati-hatilah dengan kata-katamu, Master Peregrin! Kau tidak bisa berceloteh sesuka hati di sini. Theoden pria tua yang ramah. Tapi Denethor sama sekali berbeda; dia angkuh dan halus, berasal dari keturunan yang jauh lebih agung dan lebih kuat, meski dia tidak disebut raja. Dia akan lebih banyak berbicara denganmu, dan banyak menanyaimu, sebab kaulah yang bisa menceritakan tentang putranya, Boromir. Dia sangat menyayangi Boromir: mungkin malah terlalu sayang; terlebih karena mereka berbeda watak. Dia akan mengira lebih mudah mengorek berita yang ingin diketahuinya darimu daripada dari aku. Jangan ceritakan lebih dari yang perlu, dan jangan bicarakan masalah tugas Frodo. Aku yang akan mengemukakan itu, bila sudah saatnya nanti. Juga jangan katakan apa-apa tentang Aragorn, kecuali bila terpaksa.”
“Mengapa tidak? Apa yang salah dengan Strider?” bisik Pippin. “Dia juga berniat

datang ke sini, bukan? Bagaimanapun, tak lama lagi dia pasti datang.”

“Mungkin, mungkin,” kata Gandalf. “Meski kalau dia datang, kemungkinan besar dengan cara yang tidak terduga oleh siapa pun, tidak juga oleh Denethor. Sebaiknya memang begitu. Setidaknya Aragorn datang tanpa pemberitahuan dari kita.”
Gandalf berhenti di depan sebuah pintu tinggi dari logam yang dipoles. “Ketahuilah, Master Pippin, sudah tak ada waktu lagi untuk mengajarimu sejarah Gondor; kalau saja kau belajar sedikit tentang sejarahnya, ketika kau masih kanak-kanak. Tapi kau suka bolos dari pelajaran, untuk bermain-main di hutan di Shire. Turuti saja kataku! Tidak bijak membawa kabar kematian putra mahkota pada seorang penguasa agung, sambil membahas kedatangan seseorang yang akan menuntut kedudukannya sebagai raja bila dia datang. Cukup jelaskah itu?” “Kedudukan sebagai raja?” kata Pippin kaget.
“Ya,” kata Gandalf. “Jika selama ini kau berjalan dengan telinga tertutup dan pikiran tertidur, sekarang bangunlah!” Lalu Gandalf mengetuk pintu.


Pintu terbuka, tapi tidak tampak orang yang membukanya. Pippin melihat ke dalam balairung besar. Cahaya masuk dari jendela-jendela di lorong-lorong lebar di kedua sisi, di balik barisan tiang tinggi yang menopang atapnya. Tiang-tiang besar dari batu pualam hitam, menjulang sampai ke mahkota atap yang dipahat berbentuk hewan-hewan aneh serta sulur-sulur dedaunan; jauh di atasnya, dalam keremangan kubah yang besar, tampak saputan emas pudar, disisipi pola hiasan sulur yang mengalir beraneka warna. Tak ada hiasan gantung atau jaring jaring bertingkat, juga tak ada benda-benda tenunan atau dari kayu di balairung panjang bersuasana khidmat itu; namun di antara tiang-tiang berjajar patung- patung batu tinggi yang dingin membisu.
Tiba-tiba Pippin teringat pahatan batu karang di Argonath, dan dengan takjub Ia memandang lorong penuh patung raja-raja yang sudah lama mati itu. Di ujung ruangan, di atas sebuah panggung bertangga, ada sebuah takhta tinggi di bawah langit-langit pualam yang dibentuk menyerupai mahkota; di belakangnya ada pahatan gambar pohon yang sedang berbunga, dihiasi batu permata. Tapi takhta itu kosong. Di bawah panggung, di atas anak tangga paling bawah yang lebar

dan panjang, ada sebuah kursi batu, hitam dan tanpa hiasan, dan di kursi itu duduk seorang laki-laki tua yang menatap pangkuannya. Tangannya menggenggam tongkat putih dengan tombol emas. la tidak menengadah. Dengan khidmat Gandalf dan Pippin melangkah mendekatinya, sampai mereka berdiri tiga langkah dari tumpuan kakinya. Lalu Gandalf berbicara.
“Hidup, Penguasa dan Pejabat Agung Istana Minas Tirith, Denethor putra Ecthelion! Aku datang membawa amanat dan berita dalam masa kegelapan ini.” Lalu laki-laki tua itu mengangkat kepala. Pippin melihat wajahnya yang kaku, dengan raut gagah dan kulit bagai gading. Hidungnya panjang dan agak melengkung di antara sepasang mata besar dan gelap; wajah itu justru mengingatkan Pippin pada Aragorn, bukan Boromir. “Masa-masa ini memang sungguh gelap,” katanya, “dan pada saat-saat seperti ini biasanya kau datang, Mithrandir. Tapi meski semua pertanda meramalkan bahwa malapetaka Gondor sudah dekat, kegelapan itu tidaklah seberat kegelapan hatiku sendiri. Kabarnya kau membawa orang yang melihat kematian putraku. Diakah itu?”
“Memang betul,” kata Gandalf. “Salah satu dari dua sekawan. Yang satunya berada bersama Theoden dari Rohan, dan mungkin akan datang ke sini juga. Mereka Halfling, seperti bisa kaulihat, tapi bukan dia yang dimaksud oleh pertanda-pertanda itu.”
“Tapi dia tetap seorang Halfling,” kata Denethor muram, “dan aku tidak begitu suka sebutan itu, sebab kata-kata terkutuk itulah yang telah membingungkan dewan penasihat kami dan membuat putraku pergi untuk tugas berbahaya yang membawanya pada kematian. Boromir-ku! Kini kami sangat membutuhkanmu. Seharusnya Faramir yang pergi waktu itu.”
“Dia memang berniat begitu,” kata Gandalf. “Namun jangan sampai kau bersikap tidak adil dalam kesedihanmu! Boromir telah mengajukan diri dan tak ingin orang lain yang melakukan tugas itu. Dia memang hebat, dan selalu berupaya meraih apa yang diinginkannya. Aku sudah mengembara jauh bersamanya dan kenal wataknya. Tapi kau membicarakan kematiannya. Apa kau sudah mendengar kabar itu sebelum kami datang?”
“Aku menerima ini,” kata Denethor, dan sambil meletakkan tongkatnya ia

mengangkat dari pangkuannya benda yang selama ini Ia amati. Dengan kedua tangannya Ia mengangkat masing-masing separuh bagian dari sebuah tanduk besar yang patah di tengah tanduk sapi liar berlapis perak.
“Itu terompet yang selalu dipakai Boromir!” teriak Pippin.

“Memang,” kata Denethor. “Aku juga pernah memakainya, begitupula setiap putra tertua keluarga kami sebelumnya, sampai jauh di masa sebelum runtuhnya kekuasaan para raja, sejak Vorondil ayah Mardil berburu ternak Araw di padang- padang Rhun nun jauh di sana. Terakhir kali kudengar terompet ini berbunyi sayup-sayup di padang utara tiga belas hari yang lalu, dan Sungai membawanya padaku, sudah patah tidak akan berbunyi lagi.” Ia diam sebentar, suasana sunyi mencekam. Tiba-tiba ia memandang Pippin dengan muram. “Apa ceritamu tentang itu, Halfling?”
“Tiga belas, tiga belas hari,” Pippin berkata terbata-bata. “Ya, '' kurasa begitulah. Ya, aku berdiri di sampingnya ketika dia meniup terompetnya. Tapi bantuan tak juga datang. Makin banyak Orc yang muncul.”
“Jadi,” kata Denethor, sambil menatap tajam wajah Pippin, “kau berada di sana?

Ceritakan lebih banyak! Mengapa tidak ada yang datang membantu? Dan bagaimana kau bisa lolos, sedangkan Boromir tidak, padahal dia begitu hebat, dan hanya Orc-Orc yang merintanginya?”
Wajah Pippin memerah dan Ia lupa ketakutannya. “Orang paling hebat pun bisa terbunuh oleh sebatang panah,” katanya, “dan Boromir tertembus banyak sekali panah. Terakhir aku melihatnya duduk di samping sebatang pohon, mencabut sebatang panah dari sisi tubuhnya. Lalu aku pingsan dan ditawan. Aku tidak melihatnya lagi, dan tidak tahu lebih banyak lagi. Tapi aku sangat menghormatinya, karena dia gagah berani. Dia mati demi menyelamatkan kami, saudaraku Meriadoc dan aku, yang diserang di hutan oleh pasukan sang Penguasa Kegelapan; meski dia tewas dan gagal, rasa terima kasihku tidak berkurang karenanya.”
Kemudian Pippin menatap mata Denethor lekat-lekat, sebab Ia tersinggung oleh cemoohan dan kecurigaan dalam suara dingin pria tua itu. “Mungkin tawaranku ini tak berarti bagi Penguasa manusia yang demikian agung, apalagi aku hanya

hobbit sederhana, Halfling dari Shire Utara; tapi aku ingin mempersembahkan diriku, demi membayar utangku.” Sambil menyingkap jubahnya, Pippin menghunus pedangnya yang kecil dan meletakkannya di depan kaki Denethor. Senyum lamat-lamat, seperti seberkas sinar dingin matahari di senja musim dingin, muncul di wajah tua itu; tapi Ia menundukkan kepala dan mengulurkan tangannya, sambil menyingkirkan pecahan-pecahan terompet itu. “Berikan senjata itu padaku!” katanya.
Pippin mengangkatnya dan menyodorkan pangkal pedangnya kepada Denethor. “Dari mana asal benda ini?” kata Denethor. “Sudah sangat sangat kuno. Pasti pedang ini ditempa bangsa kami sendiri di Utara di zaman lampau?”
“Asalnya dari kuburan di perbatasan negeriku,” kata Pippin. “Tapi sekarang hanya hantu-hantu jahat yang tinggal di sana, dan aku tak ingin bercerita lebih banyak tentang mereka.”
“Banyak cerita aneh yang kauketahui rupanya,” kata Denethor, “dan sekali lagi terbukti bahwa penampilan bisa mengecoh baik bagi manusia maupun Halfling. Kuterima persembahanmu. Sebab kau tidak takut menghadapi kata-kata; dan kau berbicara sopan, meski bunyinya aneh bagi kami orang-orang di Selatan. Kami membutuhkan semua orang terhormat, besar maupun kecil, di masa-masa mendatang. Ikrarkan sumpahmu sekarang!”
“Pegang pangkal pedangmu,” kata Gandalf, “dan ikuti kata-kata Yang Mulia,

kalau hatimu sudah bulat.”

“Aku sudah yakin,” kata Pippin.

Pria tua itu meletakkan pedang Pippin di pangkuannya, Pippin menyentuh pangkalnya dengan tangan, dan perlahan-lahan mengikuti kata-kata Denethor, “Dengan ini aku bersumpah setia dan mengabdi kepada Gondor, kepada Penguasa dan Pejabat Agung Istana wilayah ini, untuk berbicara dan berdiam diri, berbuat dan membiarkan, datang dan pergi, dalam kekurangan maupun kemakmuran, dalam damai maupun perang, hidup maupun mati, sejak saat ini, sampai Tuanku membebaskan aku, atau kematian menjemputku, atau dunia berakhir. Demikianlah sumpahku, Peregrin putra Paladin dari Shire, negeri asal kaum Halfling.”

“Dan aku mendengar, aku Denethor putra Ecthelion, Penguasa Gondor, Pejabat Istana Raja Agung, dan aku tidak akan melupakannya, juga tidak akan lupa memberi imbalan untuk apa yang telah diberikan: kesetiaan dibalas dengan cinta kasih, keberanian dengan penghormatan, pelanggaran sumpah akan mendapat balasannya.” Kemudian Pippin menerima kembali pedangnya dan menyarungkannya.
“Dan kini,” kata Denethor, “perintah pertamaku padamu: bicaralah dan jangan diam saja! Ceritakan kisahmu selengkapnya, dan cobalah mengingat segala sesuatu tentang putraku Boromir sebisamu. Duduk dan mulailah!” Sambil berbicara ia memukul sebuah gong kecil dari perak yang berdiri di dekat tumpuan kakinya. Dengan segera para pelayan berdatangan. Pippin baru menyadari bahwa mereka sudah sejak tadi berdiri di relung-relung kedua sisi pintu, tak terlihat ketika Pippin dan Gandalf masuk.
“Bawakan anggur dan makanan serta kursi untuk para tamu,” kata Denethor, “dan jagalah agar tidak ada yang mengganggu kami selama satu jam ini.”
“Hanya satu jam itu yang bisa kusisihkan, sebab masih banyak urusan penting lain yang harus diperhatikan,” kata Denethor pada Gandalf. “Banyak yang jauh lebih penting, kelihatannya, namun tidak terlalu mendesak bagiku. Tapi mungkin kita bisa bercakap-cakap lagi di penghujung hari ini nanti,”
“Dan mudah-mudahan lebih awal,” kata Gandalf. “Sebab aku berkuda ke sini dari Isengard yang jaraknya seratus lima puluh league dengan kecepatan angin, bukan hanya untuk membawa kepadamu seorang prajurit kecil, meski dia sangat sopan. Tak adakah artinya bagimu bahwa Theoden sudah melakukan pertempuran besar, bahwa Isengard sudah dikalahkan, dan bahwa aku sudah mematahkan tongkat Saruman?”
“Sangat berarti bagiku. Tapi aku sudah tahu cukup banyak tentang peristiwa- peristiwa itu untuk menentukan sikapku dalam menghadapi ancaman bahaya dari Timur.” Denethor menatap Gandalf dengan matanya yang hitam, dan kini Pippin melihat kemiripan di antara mereka; ia juga merasakan ketegangan di antara kedua orang itu, seolah-olah ada garis api membara yang membentang dari mata ke mata, yang mungkin saja bisa meledak dan berkobar mendadak.

Memang Denethor lebih kelihatan seperti penyihir besar daripada Gandalf, lebih agung, gagah perkasa; dan tampak lebih tua. Namun jauh di dalam hatinya Pippin merasa Gandalf-lah yang lebih kuat, lebih bijak, dan memliki keagungan terselubung. Dan Gandalf jauh lebih tua daripada Denethor. “Seberapa jauh lebih tuakah?” tanya Pippin dalam hati. Aneh sekali, Ia belum pernah memikirkan hal itu. Treebeard pernah mengatakan sesuatu tentang kaum penyihir, tapi saat itu Ia tidak menganggap Gandalf sebagai salah satunya. Siapa sebenarnya Gandalf? Kapan dan di manakah Ia mula-mula muncul di permukaan bumi, dan kapan ia akan meninggalkannya? Kemudian lamunannya terputus, Ia melihat Denethor dan Gandalf masih saling menaTapi seolah-olah sedang saling membaca pikiran. Akhirnya Denethor yang mengalihkan pandang lebih dulu.
“Ya,” katanya, “meski Batu-Batu Penglihatan itu sudah hilang, menurut kata orang-orang, Penguasa-Penguasa Gondor tetap mempunyai penglihatan lebih tajam daripada orang biasa, dan banyak sekali berita yang datang pada mereka. Tapi duduklah sekarang!”


Kemudian datanglah orang-orang membawakan kursi dan bangku rendah, salah satu membawa baki berikut cangkir dan kendi perak, serta kue-kue putih. Pippin duduk, tapi tak bisa melepaskan pandangannya dari bangsawan tua itu. la merasa Denethor melirik sekilas ke arahnya ketika menyebutkan Batu-Batu itu. Benarkah demikian, atau hanya khayalannya saja?
“Nah, sekarang ceritakan kisahmu, pelayanku,” kata Denethor, setengah ramah, setengah mengejek. “Aku menyambut gembira” kata pippin tak pernah melupakan pertemuan di balairung besar itu, di bawah tatapan tajam sang Penguasa Gondor yang menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan licin. Sementara itu, ia sangat menyadari kehadiran Gandalf di sampingnya, memperhatikan dan mendengarkan, sambil (menurut perasaan Pippin) menahan amarah dan rasa tak sabar yang mulai timbul. Ketika satu jam telah berlalu dan Denethor memukul gong lagi, Pippin sudah sangat letih. “Sekarang pasti belum lebih dari jam sembilan,” pikirnya, “aku bisa makan tiga sarapan berturut-turut.,” “Bawalah Lord Mithrandir ke penginapan yang sudah disiapkan untuknya,” kata

Denethor, “dan pendampingnya boleh tinggal bersamanya untuk sementara, bila mau. Tapi umumkan bahwa dia sudah diambil sumpah sebagai pelayanku. Dia akan dikenal dengan nama Peregrin putra Paladin, dan akan diberitahu kata-kata sandi umum. Beritahu para Kapten bahwa mereka ditunggu di sini, segera sesudah tanda jam ketiga berbunyi.
“Dan kau, Lord Mithrandir, harus datang juga, kapan saja kau mau. Takkan ada yang menghalangimu datang kepadaku kapan saja, kecuali saat aku tidur. Buanglah kemarahanmu atas kebodohan orang tua ini, lalu kembalilah ke sampingku!”
“Kebodohan?” kata Gandalf. “Tidak, Tuanku, kalau kau sudah pikun, kau akan mati. Bahkan kesedihanmu bisa kaugunakan sebagai tameng. Kaupikir aku tidak mengerti tujuanmu menanyai orang yang paling tidak tahu apa-apa selama satu jam, sementara aku berada di sampingnya?”
“Kalau kau memahaminya, tentu kau sudah puas,” kata Denethor. “Bodoh kiranya kalau keangkuhan membuat orang meremehkan bantuan dan nasihat yang dibutuhkannya; tapi kau suka menghambur-hamburkan pemberian itu sesuai rencanamu sendiri. Bagaimanapun, Penguasa Gondor takkan mau dijadikan alat bagi tujuan orang lain, meski tujuan paling mulia sekalipun. Dan baginya sekarang ini tak ada tujuan yang lebih mulia di dunia daripada kebaikan untuk Gondor; dan kekuasaan di Gondor, Tuanku, ada di tanganku dan bukan orang lain, kecuali bila sang raja kembali ke sini.”
“Kecuali bila raja kembali?” kata Gandalf. “Nah, Tuanku Pejabat Istana, tugasmu adalah sedapat mungkin mempertahankan sebagian kerajaan ini sampai terjadinya peristiwa itu sampai sang raja kembali. Sedikit sekali orang-orang yang memperhatikan hal ini sekarang. Dalam tugas itu kau akan memperoleh segala bantuan yang kau minta. Tapi kukatakan ini: aku bukan penguasa wilayah mana pun, baik Gondor maupun wilayah lain, besar maupun kecil. Tapi sudah tugasku untuk menyelamatkan semua hal berharga yang terancam bahaya di dunia ini. Dan bila dilihat dari tugasku, aku tidak sepenuhnya gagal meskipun Gondor hancur, bila masih ada yang bertahan melewati malam ini, yang di kemudian hari masih bisa tumbuh subur dan berkembang serta berbuah. Karena

aku pun seorang pejabat penjaga. Tidakkah kau tahu itu?” Setelah mengatakan itu, Gandalf membalikkan badan dan berjalan keluar dari balairung dengan Pippin berlari di sampingnya.
Gandalf sama sekali tidak memandang atau berbicara dengan Pippin ketika mereka pergi. Mereka diantar pemandu keluar dari pintu balairung, melintasi Pelataran Air Mancur, dan masuk ke sebuah lorong di antara bangunan- bangunan batu yang tinggi. Setelah beberapa tikungan, mereka tiba di sebuah rumah dekat dinding benteng di sisi utara, tak jauh dari bahu yang menghubungkan bukit dengan pegunungan. Di dalamnya, di lantai pertama di atas jalan, menaiki sebuah tangga lebar berukir, si pemandu membawa mereka ke sebuah kamar indah, terang dan luas, dengan banyak hiasan gantung emas polos yang berkilau pucat. Perabotnya hanya sedikit, hanya sebuah meja kecil, dua kursi, dan satu bangku; tapi di kedua sisi ada relung bertirai dengan tempat tidur berseprai bagus di dalamnya, beserta kendi dan waskom untuk membasuh tubuh. Ada tiga jendela sempit yang tinggi, menghadap ke utara, dengan pemandangan ke lengkungan besar Sungai Anduin yang masih terselubung kabut, juga ke Emyn Mull dan Rauros di kejauhan sana. Pippin harus memanjat ke atas bangku agar bisa melihat melalui relung jendela yang lebar.
“Kau marah padaku, Gandalf?” tanya Pippin ketika si pemandu sudah keluar dan menutup pintu. “Aku sudah berusaha sebaik mungkin.”
“Memang!” kata Gandalf, tiba-tiba tertawa; Ia mendekati Pippin, merangkul hobbit itu, pandangannya menerawang ke luar jendela. Pippin sekarang menatap heran ke wajah itu, yang begitu dekat dengan wajahnya sendiri, karena bunyi tawanya terdengar riang gembira. Semula ia hanya melihat garis-garis kesusahan dan duka di wajah penyihir tua itu; tapi setelah menatap lebih cermat, Ia melihat bahwa di balik ekspresi susah itu ada suatu kegembiraan besar: ibarat air mancur keceriaan yang cukup untuk membuat seisi kerajaan tertawa, seandainya ia memancar keluar.
“Memang kau sudah berbuat sebaik mungkin,” kata Gandalf, “dan kuharap untuk waktu sangat lama kau tidak terjepit lagi di antara dua laki-laki tua yang mengerikan. Meski begitu, Penguasa Gondor mendapat lebih banyak informasi

darimu daripada yang kauduga, Pippin. Kau tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa bukan Boromir yang memimpin Rombongan keluar dari Moria, dan bahwa di antara kalian ada seorang yang mulia, yang akan datang ke Minas Tirith; dan bahwa dia mempunyai pedang yang tersohor. Orang banyak menganggap penting dongeng-dongeng tentang masa lampau di Gondor; Denethor sudah lama memikirkan sajak dan rima Kutukan Isildur sejak Boromir pergi.”
“Dia tidak seperti orang-orang lain di masa kini, Pippin. Apa pun keturunannya dari ayah ke putra, kebetulan darah Westernesse mengalir hampir murni dalam dirinya, seperti juga dalam diri putranya yang lain, Faramir, namun tidak dalam diri Boromir, yang justru putra kesayangannya. Denethor mempunyai penglihatan tajam. Kalau mau, dia bisa melihat apa yang dipikirkan orang lain, meski mereka berada jauh darinya. Sulit untuk menipunya, bahkan berbahaya untuk mencobanya.”
“Ingatlah itu! Sebab kini kau sudah disumpah sebagai pelayannya. Aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan hal itu. Tapi tindakanmu bagus. Aku tidak menghalanginya, sebab perbuatan baik tak boleh dihambat oleh nasihat dari hati yang dingin. Hatinya tersentuh, begitu pula rasa humornya, kalau boleh kukatakan begitu. Dan setidaknya kau sekarang bebas pergi ke mana pun kau mau di Minas Tirith bila sedang tidak bertugas. Namun ada sisi lain yang melekat pada tugasmu. Kau ada di bawah perintahnya, dan dia tidak akan lupa itu. Tetaplah waspada!”
Gandalf diam sejenak, kemudian mendesah. “Ya sudahlah, tak ada gunanya memikir-mikirkan apa yang akan terjadi besok. Satu hal, hari esok pasti akan membawa hal-hal yang lebih buruk daripada hari ini, untuk waktu cukup lama. Dan tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mengelakkannya. Papan permainan sudah ditata, dan bidak-bidak sudah bergerak. Satu bidak yang ingin sekali kujumpai adalah Faramir. Sekarang dia menjadi putra mahkota Denethor. Kurasa dia tidak berada di Kota; tapi aku belum punya waktu untuk mencari berita tentang dia. Aku harus pergi, Pippin. Aku harus ke Dewan Penasihat Penguasa dan mencari tahu sebanyak mungkin. Tapi Musuh sudah mengawali

langkah, dan akan membuka permainan penuh. Bidak-bidak pun akan melihat banyak hal, Peregrin putra Paladin, serdadu Gondor. Asahlah pedangmu!” Gandalf pergi ke pintu, dan di sana ia membalikkan badan. “Aku harus bergerak cepat, Pippin,” katanya. “Bantulah aku kalau kau pergi keluar. Meski kau belum beristirahat, kalau kau tidak terlalu letih, pergilah mencari Shadowfax, perhatikan apakah dia diperlakukan dengan baik. Orang-orang di sini baik terhadap hewan- hewan, karena mereka bangsa yang baik dan bijak, tapi mereka kurang terampil, khususnya dalam memelihara kuda.”


Gandalf pergi, dan tepat pada saat itu terdengar bunyi lonceng berdentang jernih di suatu menara benteng itu. Tiga kali dentang, bagai bunyi perak di udara, lalu berhenti: jam ketiga setelah terbitnya matahari.
Sesaat kemudian Pippin pergi ke pintu, menuruni tangga dan melihat-lihat ke jalan. Matahari bersinar hangat dan cerah, menara-menara serta rumah-rumah tinggi menjatuhkan bayangan panjang dan tegas ke arah barat. Gunung Mindolluin mengangkat topi dan jubah saljunya jauh tinggi ke angkasa biru. Orang-orang bersenjata hilir-mudik di jalan-jalan Kota, seolah-olah akan pergi ke pergantian tugas dan pos pada saat lonceng berbunyi.
“Kalau di Shire kita menyebutnya jam sembilan,” kata Pippin keras-keras pada diri sendiri. “Waktu yang tepat untuk sarapan enak di dekat jendela terbuka, di bawah sinar matahari musim semi. Ah, aku ingin sekali sarapan! Apakah orang- orang di sini juga sarapan, atau mungkin sudah lewat? Kapan mereka makan malam dan di mana?”
Tak lama kemudian Ia melihat seorang pria berpakaian hitam dan putih, datang melalui jalan sempit dari pusat benteng, menuju dirinya. Pippin merasa kesepian dan sudah bertekad akan menyapa orang itu saat melewatinya; tapi ternyata tidak perlu. Orang itu melangkah langsung menghampirinya.
“Apakah kau Peregrin, si Halfling?” katanya. “Aku diberitahu bahwa kau sudah disumpah sebagai pelayan Penguasa dan Kota ini. Selamat datang!” Ia mengulurkan tangannya dan Pippin menyambutnya.
“Namaku Beregond putra Baranor. Aku tidak bertugas pagi ini, dan aku dikirim

untuk mengajarimu kata-kata sandi, dan menceritakan banyak hal yang pasti ingin kauketahui. Aku sendiri ingin belajar darimu. Kami belum pernah melihat Halfling di negeri ini, dan meski kami sudah mendengar selentingan tentang mereka, tidak banyak yang diceritakan dalam dongeng-dongeng yang kami kenal. Terlebih lagi kau sahabat Mithrandir. Kau kenal baik dengannya?”
“W ell,” kata Pippin. “Sepanjang hidupku yang singkat ini aku cukup tahu tentang dia, boleh dibilang begitu; dan akhir-akhir ini aku melancong jauh bersamanya. Tapi masih banyak yang perlu diketahui tentang dia, dan aku baru tahu sebagian kecil saja. Apa-apa yang kuketahui tentang dia tidak jauh beda dengan yang diketahui beberapa orang lain yang mengenalnya. Kurasa hanya Aragorn dalam Rombongan kami yang benar-benar mengenalnya.”
“Aragorn?” kata Beregond. “Siapa dia?”

“Oh,” kata Pippin terbata-bata, “dia ikut dengan kami. Kurasa dia sekarang

berada di Rohan.”

“Kau juga pernah ke Rohan, kudengar. Banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu tentang negeri itu, sebab kami menggantungkan harapan pada mereka. Tapi aku lupa tugas utamaku, mendahulukan menjawab apa-apa yang kautanyakan. Apa yang ingin kauketahui, Master Peregrin?”
“Eh, begini,” kata Pippin, “satu pertanyaan yang mendesak sekali dalam benakku sekarang ini adalah, eh … bagaimana tentang sarapan dan semuanya itu? Maksudku, kapan waktu-waktu untuk makan, kalau kau paham maksudku, dan di mana ruang makan, kalau memang ada? Dan kedai-kedai makanan? Aku mencari-cari, tapi tak satu pun kulihat ketika kami berjalan, padahal aku sangat berharap bisa minum sedikit begitu kami tiba di negeri yang penduduknya ramah dan bijak ini.”
Beregond menatapnya serius. “Oh, serdadu tulen, aku paham,” katanya. “Konon orang-orang yang pergi berperang selalu berharap mendapat makanan dan minuman; meski aku sendiri tidak banyak mengembara. Kalau begitu, kau belum makan hari ini?”
“Ya, sebenarnya … sebenarnya sih sudah,” kata Pippin. “Aku mencicipi secangkir anggur dan satu-dua potong kue putih atas kemurahan hati

penguasamu; tapi sebelumnya dia menyiksaku selama satu jam dengan pertanyaan-pertanyaan, dan itu membuatku lapar.”
Beregond tertawa. “Di meja makan, orang-orang kecil bisa melakukan perbuatan besar, begitu ungkapan kami. Tapi kau sudah berbuka puasa sebaik siapa pun di benteng ini, dengan penghormatan lebih tinggi pula. Tempat ini sebuah benteng dan menara penjagaan, yang sekarang dalam keadaan siaga perang. Kami bangun sebelum matahari terbit, makan sedikit saat hari masih remang-remang, dan pergi bertugas pada jam pembuka. Tapi jangan putus asa!” Ia tertawa lagi melihat kecemasan pada wajah Pippin. “Mereka yang mendapat tugas agak berat boleh makan sedikit untuk memulihkan kekuatan menjelang siang. Lalu ada nuncheon, pada tengah hari atau setelahnya, sesuai kesempatan di antara tugas; orang-orang juga berkumpul untuk makan sOrc, dan hiburan bila ada, sekitar saat matahari terbenam.
“Ayo! Kita jalan lagi sebentar, lalu mencari sedikit penyegar, makan minum di

tembok benteng, dan menikmati keindahan pagi ini.”

“Sebentar!” kata Pippin dengan wajah merah. “Kerakusan, atau istilah sopannya: kelaparan, usirlah itu dari benakku. Tapi Gandalf, atau Mithrandir seperti kau menyebutnya, memintaku mengurus kudanya, Shadowfax, kuda jantan hebat dari Rohan, kesayangan Raja, katanya, meski dia sudah memberikan kuda itu pada Mithrandir atas jasa layanannya. Menurutku majikannya yang baru ini lebih menyayangi kudanya daripada orang-orang, dan kalau niat baiknya cukup berarti bagi kota ini, kau akan memperlakukan Shadowfax dengan penuh hormat: dengan kemurahan hati lebih besar daripada kau memperlakukan hobbit ini, jika mungkin.”
“Hobbit?” kata Beregond.

“Begitulah kami menyebut diri kami sendiri,” kata Pippin.

“Aku senang mengetahuinya,” kata Beregond. “Bisa kukatakan bahwa logat aneh tidak merusak bahasa yang indah, dan kaum hobbit pandai berbicara. Tapi ayolah! Perkenalkan aku pada kuda bagus itu. Aku menyukai binatang, dan di kota batu ini kami jarang melihat binatang; sebab bangsaku datang dari lembah- lembah pegunungan, dan sebelum itu dari Ithilien. Tapi jangan cemas,

kunjungan kita singkat saja, sekadar penghormatan, dan dari sana kita pergi ke

ruang sepen.”



Pippin melihat Shadowfax diberi kandang bagus dan diurus dengan baik. Di lingkaran keenam, di luar dinding benteng, ada beberapa kandang kuda bagus, khusus untuk kuda-kuda cepat, dekat dengan tempat tinggal para utusan berkuda sang Penguasa: utusan-utusan yang selalu siap pergi atas perintah mendesak dari Denethor atau kapten-kapten pimpinannya. Tapi kini semua kuda dan penunggangnya sedang pergi.
Shadowfax meringkik kecil dan menolehkan kepala ketika Pippin masuk ke kandangnya. “Selamat pagi!” kata Pippin. “Gandalf akan datang sesegera mungkin. Dia sibuk dan mengirimkan salam. Aku harus memeriksa apakah kau baik-baik saja; kuharap kau beristirahat, setelah bekerja keras.”
Shadowfax mendongakkan kepala ke belakang dan mengentakkan kaki. Tapi Ia membolehkan Beregond menyentuh kepalanya dengan lembut dan membelai sisi tubuhnya yang besar.
“Dia tampak segar dan siap berpacu, bukan seperti baru datang dari perjalanan jauh,” kata Beregond. “Betapa kuat dan gagahnya dia! Di mana pakaiannya? Pasti mewah dan indah.”
“Tidak ada yang cukup mewah dan indah untuknya,” kata Pippin.

“Dia tidak mau memakainya. Kalau dia setuju membawamu, dia akan membawamu; kalau tidak, tak ada tali kekang, sanggurdi, cambuk, atau tali kulit yang bisa menjinakkannya. Selamat tinggal, Shadowfax! Sabarlah. Pertempuran sudah dekat.”
Shadowfax mendongak-dongakkan kepala dan meringkik, sampai kandangnya bergetar dan mereka menutup telinga. Lalu mereka pergi, setelah memastikan palungnya terisi penuh.
“Sekarang ke palungan kita,” kata Beregond, dan Ia membawa pippin kembali ke benteng, ke sebuah pintu di sisi utara menara besar. Di sana mereka menuruni tangga panjang yang sejuk, masuk ke sebuah lorong yang diterangi lampu- lampu. Di sisi tembok ada lubang-lubang palka, salah satunya terbuka.

“Ini gudang dan ruang sepen pasukanku, Para Pengawal,” kata Beregond. “Salam, Targon!” ia berteriak melalui lubang itu. “Masih pagi, tapi ada pendatang baru yang dipekerjakan Penguasa. Dia datang berkuda dari jauh dan lama dalam perjalanan, dengan ikat pinggang kencang. Dia sudah bekerja keras pagi tadi, dan dia lapar sekarang. Berikan apa yang ada!”
Mereka mendapat roti, mentega, keju, serta apel: yang terakhir dari simpanan musim dingin, keriput tapi bagus dan manis; juga satu kendi kulit berisi ale yang baru saja dibuat, piring kayu serta cangkir. Semuanya mereka masukkan ke dalam keranjang rotan, lalu mereka keluar lagi ke bawah sinar matahari; Beregond membawa Pippin ke sebuah tempat di ujung timur dinding benteng yang menjorok keluar, di mana ada lubang di dinding dengan bangku batu di bawah ambangnya. Dari sana mereka bisa memandang ke dunia luar di pagi hari.
Mereka makan dan minum; kadang-kadang membicarakan Gondor dan adat- istiadatnya, kadang-kadang tentang Shire dan negeri-negeri ajaib yang sudah dikunjungi Pippin. Dan semakin banyak mereka bercakap-cakap, semakin heran Beregond. Dengan kagum Ia menatap hobbit itu, yang mengayun-ayunkan kakinya yang pendek sambil duduk di bangku, atau berdiri berjinjit untuk bisa mengintip dari atas ambang ke daratan di bawah.
“Aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu, Master Peregrin,” kata Beregond. “Terus terang, dalam pandangan kami, kau tampak seperti anak kecil, laki-laki seumur kira-kira sembilan musim panas; tapi kau sudah mengalami begitu banyak bahaya dan melihat hal-hal ajaib yang mungkin hanya dialami dan bisa dibanggakan oleh sedikit orang tua yang sudah beruban. Tadinya kukira Penguasa kami hanya iseng-iseng mengambil seorang pesuruh laki-laki, seperti biasa dilakukan raja-raja zaman dulu. Tapi sekarang aku tahu bahwa bukan demikian halnya, dan kau harus memaafkan kebodohanku.”
“Ya sudahlah,” kata Pippin. “Meski kau sebenarnya tidak begitu salah. Aku memang masih termasuk remaja menurut hitungan bangsaku sendiri, dan masih empat tahun lagi sebelum aku 'dewasa', seperti istilah kami di Shire. Tapi jangan terlalu perhatikan diriku. Kemarilah melihat, dan ceritakan padaku apa-apa yang

kulihat.”



Matahari sudah merayap naik, kabut di lembah pun sudah tersingkap. Kabut terakhir sedang melayang pergi, persis di atas mereka, sebagai untaian awan putih yang menunggangi angin dingin dari Timur, yang kini memukul-mukul dan menarik-narik panji-panji serta bendera-bendera di benteng. Nun jauh di dasar lembah, sekitar lima puluh league dalam jarak pandang mata, Sungai Besar terlihat kelabu berkilauan, keluar dari barat laut, melengkung dalam sapuan besar ke selatan, lalu ke barat lagi, sampai hilang dari pandangan ke dalam kilauan dan kekaburan, dan jauh dari sana Laut menghampar, lima puluh league jauhnya.
Pippin bisa melihat seluruh Pelennor terhampar di depannya, sampai di kejauhan, dipenuhi noktah-noktah tanah dan rumah pertanian serta dinding- dinding kecil, lumbung dan kandang, tapi Ia tak melihat satu pun ternak atau hewan lain. Banyak jalan dan jejak melintasi padang-padang hijau, dan banyak yang lalu-lalang: kereta-kereta berbaris menuju Gerbang Agung, dan yang lain keluar. Sesekali seorang penunggang kuda datang, melompat turun dari atas pelana, dan bergegas masuk ke Kota. Tapi kebanyakan lalu-lintas pergi keluar melalui jalan raya utama, dan jalan itu membelok ke selatan, lalu menikung lebih cepat daripada Sungai, menyusuri perbukitan dan segera hilang dari pandangan. Jalan utama lebar dan berubin kuat, dan sepanjang sisi timur membentang sebuah jalan lebar berumput hijau untuk berkuda, di sebelah luarnya ada dinding. Di jalan kuda banyak penunggang menderap hilir-mudik, tapi jalan utama penuh sesak dengan kereta-kereta besar bertutup yang pergi ke arah selatan. Tapi tak lama kemudian Pippin melihat bahwa sebenarnya semuanya sangat teratur: kereta-kereta bergerak maju dalam tiga jalur, satu berjalan lebih cepat dan ditarik oleh kuda; satu lagi lebih lambat, berupa kereta-kereta yang lebih besar dengan badan kereta beraneka warna, ditarik oleh sapi; sepanjang sisi barat jalan banyak gerobak lebih kecil yang ditarik susah payah oleh manusia.
“Itu jalan ke lembah Tumladen dan Lossamach, dan desa-desa pegunungan,

yang berlanjut sampai ke Lebennin,” kata Beregond. 'Itu kereta-kereta terakhir yang pergi untuk menyelamatkan orang-orang tua, anak-anak, dan wanita yang harus pergi bersama mereka. Mereka semua harus pergi dari Gerbang, dan jalan harus sudah kosong sebelum tengah hari: begitulah perintah yang diturunkan. Tindakan menyedihkan ini terpaksa diambil.” Ia mengeluh. “Mungkin dari antara mereka yang sekarang terpisah, hanya sedikit yang akan saling bertemu lagi. Sejak dulu memang terlalu sedikit anak-anak di kota ini; tapi sekarang bahkan tidak ada sama sekali kecuali beberapa anak muda yang tidak mau pergi, dan memilih menyumbangkan tenaga di sini: putraku sendiri salah satu dari mereka.” Selama beberapa saat mereka diam. Pandangan Pippin menerawang cemas ke arah timur, seolah takut akan melihat ribuan Orc berdatangan melintasi padang- padang. “Apa itu yang kulihat di sana?” tanyanya, sambil menunjuk ke tengah lengkungan Sungai Anduin. “Kota lainkah itu, atau apa?”
“Dulu memang sebuah kota,” kata Beregond, “ibu kota Gondor, sedangkan tempat ini hanya bentengnya. Di sana itu puing-puing Osgiliath di kedua sisi Anduin, yang direbut dan dibakar musuh-musuh kami, lama berselang. Meski begitu, di masa muda Denethor kami merebutnya kembali: bukan untuk dihuni, tapi dipertahankan sebagai pos terdepan, dan untuk membangun kembali jembatan bagi lalu-lintas pasukan kami. Lalu Penunggang-Penunggang Jahat dari Minas Morgul datang.”
“Para Penunggang Hitam?” kata Pippin, membuka matanya lebar-lebar, ketakutan lamanya bangkit kembali.
“Ya, mereka hitam,” kata Beregond, “dan rupanya kau tahu tentang mereka,

meski kau tidak menyebutnya dalam kisah-kisahmu.”

“Aku tahu tentang mereka,” kata Pippin perlahan, “tapi aku tidak mau bicara tentang mereka, sudah begitu dekat, sangat dekat.” Ia berhenti berbicara dan memandang ke atas Sungai, seolah-olah hanya bisa melihat sebuah bayangan besar mengancam. Barangkali yang dilihatnya itu hanya pegunungan yang menjulang di batas penglihatan, dengan puncak-puncak bergerigi yang dikaburkan oleh sekitar dua puluh league udara berkabut; mungkin juga hanya dinding awan, dan di luarnya lagi ada kegelapan yang lebih kelam. Tapi

sementara ia memandang, rasanya kegelapan itu semakin besar dan luas, naik sangat perlahan untuk mencekik wilayah matahari.
“Begitu dekat ke Mordor?” kata Beregond tenang. “Ya, di situlah letaknya. Kami jarang menyebutnya; tapi kami sudah sejak dulu bermukim dalam jarak pandang bayangan itu: kadang-kadang kelihatan lebih kabur dan lebih jauh; kadang- kadang lebih dekat dan lebih gelap. Sekarang dia sedang membesar dan menggelap; karena itu ketakutan dan keresahan kami juga memuncak. Dan para Penunggang Jahat, kurang dari setahun yang lalu mereka merebut kembali tempat-tempat penyeberangan. Banyak serdadu terbaik kami tewas. Boromirlah yang memukul mundur musuh dari pantai barat ini, dan kami masih menguasai separuh Osgiliath yang letaknya lebih dekat ke sini. Untuk sementara. Tapi kini kami menduga akan ada serangan gencar lagi di sana. Mungkin serangan utama dari perang yang akan datang.”
“Kapan?” kata Pippin. “Apa kau punya perkiraan? Sebab tadi malam aku melihat api mercusuar dan para utusan berkuda; Gandalf mengatakan itu pertanda perang sudah dimulai. Kelihatannya dia terburu-buru sekali. Tapi sekarang tampaknya situasinya sudah lebih tenang.”
“Sebab sekarang semuanya sudah siap,” kata Beregond. “Tinggal satu tarikan napas panjang sebelum terjun.”
“Tapi mengapa mercu suar dinyalakan tadi malam?”

“Sudah terlambat sekali untuk minta bantuan kalau kita sudah diserbu,” jawab Beregond. “Tapi aku tidak tahu rencana Penguasa dan kapten-kaptennya. Mereka punya banyak cara untuk mengumpulkan berita. Dan Lord Denethor tidak seperti orang kebanyakan: dia bisa melihat masa depan. Ada yang mengatakan bila dia duduk sendirian di ruangannya yang tinggi di Menara pada malam hari, dan memusatkan pikirannya ke sana kemari, dia bisa membaca masa depan; kadang kala dia bahkan mencari pikiran Musuh, dan bergulat dengannya. Karena itu dia jadi begitu tua, tua sebelum waktunya. Tapi bagaimanapun, Tuanku Faramir sedang berada di luar sana, di seberang Sungai, menjalani tugas berbahaya, dan mungkin dia sudah mengirim berita.” “Tapi kalau kau ingin tahu pendapatku mengapa mercu suar dinyalakan,

tampaknya ada berita kemarin sore dari Lebennin. Ada armada besar sedang mendekati muara Anduin, diawaki para perompak dari Umbar di Selatan. Mereka sudah lama tidak gentar terhadap kekuasaan Gondor. Mereka sudah bersekutu dengan Musuh, dan kini melancarkan gempuran hebat demi mendukung dia. Serangan ini akan banyak mengurangi bantuan yang kami harapkan dari Lebennin dan Belfalas, yang penduduknya berhati tabah dan banyak jumlahnya. Karena itu kami semakin mengharapkan bantuan dari Rohan; dan kami semakin gembira mendengar kabar kemenangan yang kaubawa.”
“Meski begitu” ia berhenti dan berdiri, melihat sekeliling, ke utara, timur, dan selatan “kejadian di Isengard seharusnya memperingatkan kami bahwa kami sudah terperangkap dalam jaringan dan strategi besar. Ini bukan lagi sekadar pertikaian di ford-ford, merampok Ithilien dan Anorien, penyergapan dan penjarahan. Ini sudah menjadi perang besar yang telah lama direncanakan, dan kami hanya segelintir bidak di dalamnya, meski kami terlalu sombong untuk mengakuinya. Sudah terjadi pertempuran-pertempuran di luar Perairan Dalam, begitu kabarnya; dan di utara, di Mirkwood dan sekitarnya; dan di selatan, di Harad. Sekarang semua wilayah akan diuji, akankah tetap tegar berdiri, atau jatuh terpuruk … ke bawah Bayang-Bayang.
“Tapi, Master Peregrin, kami mendapat kehormatan ini: sejak dulu kamilah yang menanggung pukulan terberat dari kebencian si Penguasa Kegelapan, sebab kebencian itu berpangkal dari masa silam yang sudah lama berselang, melampaui jarak jauh dari seberang Lautan. Di sinilah pukulan palu paling keras akan dijatuhkan. Karena itu Mithrandir tergesa-gesa datang kemari. Sebab kalau kami jatuh, siapa lagi yang bisa berdiri? Dan, Master Peregrin, adakah kau melihat harapan bahwa kami akan tetap berdiri?”
Pippin tidak menjawab. la memandang tembok-tembok besar, menara-menara dan panji-panji yang gagah, dan matahari di langit tinggi, kemudian ke kegelapan yang mulai membesar di Timur; dan ia memikirkan jemari panjang Bayang- Bayang itu: Orc-Orc di hutan dan di pegunungan, pengkhianatan Isengard, burung mata-mata jahat, dan para Penunggang Hitam yang sudah berkeliaran bahkan di jalan-jalan di Shire-serta teror bersayap itu, para Nazgul. Ia gemetar,

dan rasanya harapan pun mulai menyusut. Tepat pada saat itu sinar matahari sejenak terputus dan tertutup, seakan-akan dilewati semacam sayap gelap. Nyaris di luar batas pendengaran, Pippin serasa mendengar teriakan, tinggi jauh di angkasa: samar-samar, namun membuat jantung tercekat, kejam dan dingin. Wajah Pippin menjadi pucat, dan ia bersandar di tembok sambil gemetar ketakutan.
“Apa itu?” tanya Beregond. “Kau juga merasakan sesuatu?”

“Ya,” gerutu Pippin. “Itu pertanda kejatuhan kita, bayangan maut, Penunggang

Jahat di angkasa.”

“Ya, bayangan maut,” kata Beregond. “Aku khawatir Minas Tirith akan jatuh. Malam gelap akan datang. Kehangatan darahku serasa sudah surut.”


Untuk beberapa saat mereka duduk berdampingan dengan kepala tertunduk tanpa berbicara. Tiba-tiba Pippin menengadah dan melihat matahari masih bersinar, panji-panji juga masih berkibar ditiup angin.
la mengguncang dirinya sendiri. “Sudah berlalu,” katanya. “Tidak, aku belum

boleh putus asa. Gandalf pernah tewas, tapi sekarang sudah kembali bersama kita. Kita masih bisa berdiri, meski hanya di atas satu kaki, atau setidaknya masih berdiri di atas lutut kita.”
“Benar sekali ucapanmu!” teriak Beregond sambil bangkit berdiri, lalu melangkah kian kemari. “Tidak, meski semua harus berakhir pada waktunya, Gondor belum akan hancur. Meski tembok-tembok direbut musuh nekat yang hendak menumpuk daging bangkai di depannya. Masih banyak benteng lain, dan jalan- jalan rahasia untuk melarikan diri ke pegunungan. Harapan dan kenangan masih akan hidup di suatu lembah tersembunyi yang rumputnya masih hijau.” “Bagaimanapun, aku ingin semua ini sudah berlalu, entah baik atau buruk hasil akhirnya,” kata Pippin. “Aku bukan pejuang, dan aku tidak menyukai pertempuran; menunggu di ujung sebuah pertempuran yang tak bisa kuelakkan sungguh sangat menyiksa. Hari ini rasanya sudah begitu panjang! Aku akan jauh lebih senang bila kita tidak terpaksa berdiri dan menunggu, tanpa bertindak, tanpa melancarkan pukulan ke mana pun. Di Rohan juga takkan pernah ada

pukulan yang dilancarkan, kalau bukan karena Gandalf.”

“Nah, kau menusuk persis di titik pedih yang dirasakan banyak orang!” kata Beregond. “Tapi mungkin keadaan akan berubah bila Faramir kembali. Dia berani, lebih berani daripada dugaan banyak orang; sebab di masa kini orang- orang tak percaya bahwa seorang kapten seperti dia bisa bijak dan piawai dalam buku-buku pengetahuan dan lagu-lagu, sekaligus tabah dan cepat mengambil keputusan di medan pertempuran. Tapi begitulah Faramir. Mungkin kurang nekat dan bersemangat seperti Boromir, namun tidak kalah tegas. Meski begitu, apa yang bisa dilakukannya? Kami tak mampu menyerbu wilayah pegunungan sebelah sana. Jangkauan kami sudah memendek, dan kami tak bisa memukul sebelum musuh masuk ke dalam jangkauan kami. Barulah tangan kami akan memukul dengan mantap!” Ia memukul pangkal pedangnya.
Pippin memandangnya: tinggi, gagah, dan mulia, seperti semua laki-laki yang sudah dilihatnya di negeri itu; matanya bersinar-sinar saat memikirkan pertempuran. “Sayang sekali! Tanganku sendiri terasa ringan bagai bulu,” pikirnya, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. “Kita ini bidak, kata Gandalf? Mungkin begitu; tapi kita berada di papan catur yang salah.”


Begitulah mereka bercakap-cakap sampai matahari sudah tinggi, dan tiba-tiba lonceng tengah hari dibunyikan. Benteng mulai ramai, sebab semua orang pergi makan, kecuali para pengawal.
“Kau mau ikut aku?” kata Beregond. “Kau boleh bergabung di ruang makan denganku hari ini. Aku belum tahu ke pasukan mana kau akan dimasukkan; atau bisa juga Penguasa menempatkanmu langsung di bawah perintahnya. Tapi kau pasti akan diterima bila bergabung. Dan memang sebaiknya kau bertemu orang sebanyak kaubisa, sementara masih ada waktu.”
“Aku akan senang kalau bisa ikut,” kata Pippin. “Terus terang, aku kesepian. Aku meninggalkan sahabat karibku di Rohan, dan tak ada orang yang bisa kuajak bicara atau berkelakar. Siapa tahu aku benar-benar bisa bergabung dengan pasukanmu? Apakah kau kaptennya? Kalau ya, apakah kau bisa menerimaku, atau menyampaikan keinginanku?”

“Bukan, bukan,” tawa Beregond, “aku bukan kapten. Aku tak punya jabatan, pangkat, atau kebangsawanan. Aku hanya serdadu biasa dari Pasukan Ketiga Benteng. Meski begitu, Master Peregrin, menjadi serdadu di pasukan Pengawal Menara di Gondor sudah dianggap bergengsi di Kota, dan orang-orang seperti itu mendapat penghormatan di negeri ini.”
“Kalau begitu, hal itu jauh di luar jangkauanku,” kata Pippin. “Bawalah aku kembali ke kamar kami, dan kalau Gandalf tidak ada di sana, aku akan ikut denganmu, ke mana saja kau suka-sebagai tamu.”


Gandalf tak ada di tempat penginapan, juga tidak mengirimkan pesan, maka Pippin pergi dengan Beregond dan diperkenalkan pada anggota-anggota Pasukan Ketiga. Pippin disambut hangat, Beregond juga mendapat penghormatan sama seperti tamunya. Sudah banyak tersiar kabar di benteng tentang pendamping Mithrandir dan pertemuannya yang tertutup dengan sang Penguasa; menurut desas-desus, seorang Pangeran Halfling datang dari Utara dan sudah bersumpah setia kepada Gondor dan lima ribu pedang. Ada pula yang mengatakan bahwa bila para Penunggang dari Rohan datang, masing- masing akan membawa seorang pejuang Halfling, bertubuh kecil, tapi gagah berani.
Dengan menyesal Pippin terpaksa harus meluruskan kisah penuh harapan itu, tapi Ia tak bisa melepaskan diri dari kedudukannya yang baru, yang bagi orang- orang Gondor dianggap sangat pantas untuk orang yang bersahabat dengan Boromir dan dihormati oleh Lord Denethor; karena itu mereka berterima kasih kepadanya atas kehadirannya di antara mereka; dengan penuh gairah mereka mendengarkan semua perkataan dan cerita-ceritanya tentang negeri-negeri lain, serta memberikan sebanyak mungkin makanan dan minuman yang diinginkannya. Hanya satu masalah yang dihadapinya, yaitu agar tetap “waspada”, sesuai nasihat Gandalf, dan jangan sampai mengumbar mulut terlalu bebas.


Akhirnya Beregond bangkit berdiri. “Selamat tinggal untuk sementara” katanya.

“Aku bertugas sampai matahari terbenam, begitu juga semua yang ada di sini. Tapi kalau kau kesepian, seperti katamu tadi, mungkin kau perlu seorang pemandu ceria untuk mengantarmu berkeliling Kota. Putraku dengan senang hati akan mengantarmu. Dia anak baik, menurutku. Kalau kau mau, pergilah ke lingkaran paling bawah dan tanyakan Old Guesthouse di Rath Celerdain, Jalan Pembuat Lampu. Kau akan menemukannya di sana, dengan anak-anak lain yang masih tinggal di Kota. Mungkin ada beberapa objek menarik untuk dilihat di dekat Gerbang Agung, sebelum ditutup.”
Beregond keluar, yang lainnya segera menyusul. Hari masih cerah, meski mulai berkabut, cuaca cukup panas meski saat itu bulan Maret dan tempat ini berada jauh di selatan. Pippin mengantuk, tapi tempat penginapan tampak muram, maka ia memutuskan turun menjelajahi Kota. Ia mengambil beberapa sisa makanan yang disimpannya, dan membawanya ke Shadowfax. Makanan itu diterima dengan baik, meski kuda itu kelihatannya tidak kekurangan makan. Lalu Pippin turun melewati jalan-jalan yang berliku-liku.
Banyak orang menatapnya ketika Ia lewat. Di depannya mereka bersikap sopan dan serius, menyalaminya dengan gaya Gondor, dengan kepala tertunduk dan tangan di dada; tapi di belakangnya Ia mendengar banyak teriakan, karena mereka yang ada di luar memanggil yang lainnya untuk datang dan melihat Pangeran bangsa Halfling, pendamping Mithrandir. Banyak yang menggunakan bahasa lain daripada Bahasa Umum, tapi sebentar kemudian Ia sudah tahu apa yang dimaksud dengan Emil Pheriannath, dan bahwa gelarnya sudah mendahuluinya ke dalam Kota.
Akhirnya, setelah melalui jalan-jalan yang di atasnya penuh lengkungan serta lorong-lorong indah berubin, Ia sampai ke lingkaran paling bawah yang paling lebar, dan di sana ia ditunjukkan arah ke Jalan Pembuat Lampu, sebuah jalan lebar yang membentang menuju Gerbang Agung. Di jalan itu Ia menemukan Old Guesthouse, sebuah bangunan besar dari batu kelabu yang sudah dimakan cuaca, dengan dua sayap menjulur ke belakang dari jalan, dan bentangan lapangan hijau sempit di antaranya. Di belakang lapangan itu ada sebuah rumah berjendela banyak, dengan teras sepanjang lebar bangunannya, tiang-tiang, dan

tangga sampai ke rumput. Beberapa anak lelaki sedang bermain-main di antara tiang-tiang, dan Pippin berhenti untuk memandangi mereka. Hanya anak-anak inilah yang dilihat Pippin di Minas Tirith. Akhirnya salah satu di antara mereka melihat Pippin, dan dengan teriakan lantang Ia berlari melintasi rumput dan masuk ke jalan, disusul yang lainnya. la berdiri di depan Pippin, menatapnya dari atas ke bawah.
“Salam!” katanya. “Dari mana kau datang? Kau orang asing di Kota.”

“Tadinya aku orang asing,” kata Pippin, “tapi katanya aku sudah menjadi pria

Gondor sekarang.”

“Ah yang benar saja!” kata anak itu. “Kalau begitu, kita semua di sini juga pria dewasa. Berapa umurmu, dan siapa namamu? Umurku sudah sepuluh tahun, dan sebentar lagi tinggiku 150 senti. Aku lebih tinggi daripada kau. Tapi memang ayahku seorang Pengawal, salah satu yang paling jangkung. Apa pekerjaan ayahmu?”
“Pertanyaan mana yang harus kujawab lebih dulu?” kata Pippin. “Ayahku bertani di sekitar Whitwell, dekat Tuckborough di Shire. Umurku hampir dua puluh sembilan, jadi aku unggul dalam usia; meski tinggi badanku hanya 120 senti, dan tidak banyak kemungkinan tumbuh lagi, kecuali ke samping.”
“Dua puluh sembilan!” kata anak itu, dan ia bersiul. “Wah, kau sudah tua juga! Sama tuanya dengan pamanku Iorlas. Tapi,” tambahnya penuh harap, “aku bertaruh bisa menjatuhkanmu atau membantingmu.”
“Mungkin bisa, kalau aku membiarkanmu,” kata Pippin sambil tertawa. “Dan mungkin aku juga bisa melakukan yang sama kepadamu: di negeriku yang kecil, kami tahu beberapa jurus gulat. Dan di negeriku aku dianggap cukup besar dan kuat; aku tidak pernah membiarkan orang menjatuhkanku. Jadi, kalau sampai perlu diuji dan tak bisa dielakkan lagi, mungkin aku terpaksa membunuhmu. Kalau sudah dewasa kau akan tahu bahwa penampilan orang bisa mengecoh; meski kau mengira aku anak laki-laki asing dan gampang dimangsa, kuperingatkan kau: aku tidak begitu, aku ini Halfling, keras, berani, dan jahat!” Pippin memasang wajah menakutkan sampai anak itu mundur selangkah, tapi langsung maju kembali dengan tangan dikepal dan sinar laga di matanya.

“Tidak!” Pippin tertawa. “Jangan pula percaya apa yang dikatakan orang asing tentang diri mereka sendiri! Aku bukan tukang berkelahi. Tapi bagaimanapun lebih sopan kalau penantang memperkenalkan dirinya sendiri.”
Anak itu berdiri tegak dengan gagah. “Aku Bergil putra Beregond dari Pasukan

Pengawal,” katanya.

“Sudah kuduga,” kata Pippin, “karena kau mirip ayahmu. Aku kenal dia, dan dia

memang menyuruhku mencarimu.”

“Kalau begitu, mengapa tidak langsung kaukatakan?” kata Bergil, dan tiba-tiba ia tampak cemas. “Jangan katakan dia sudah berubah pikiran dan menyuruhku pergi bersama para gadis! Tapi tidak, kereta terakhir sudah berangkat.” “Pesannya tidak seburuk itu, bahkan mungkin baik,” kata Pippin. “Katanya daripada menantang aku, mungkin kau lebih suka membawaku keliling kota sebentar dan mengusir kesepianku. Sebagai imbalannya, aku bisa menceritakan kisah-kisah dari negeri-negeri jauh.”
Bergil bertepuk tangan dan tertawa lega. “Bagus sekali,” teriaknya. “Ayo ikut aku! Sebentar lagi kami memang akan ke Gerbang untuk menonton. Kami berangkat sekarang.”
“Apa yang akan terjadi di sana?”

“Para Kapten dari Perbatasan akan datang melalui Jalan Selatan sebelum matahari terbenam. Ikutlah dengan kami, dan kau akan menyaksikannya sendiri.”


Bergil ternyata kawan yang menyenangkan, pendamping terbaik yang diperoleh Pippin sejak ia berpisah dengan Merry, dan tak lama kemudian mereka sudah tertawa-tawa dan bercakap-cakap riang sambil berjalan, tanpa menghiraukan pandangan yang dilemparkan orang-orang pada mereka. Sebentar kemudian mereka sudah berada di tengah kerumunan orang yang sedang menuju Gerbang Agung. Di sana Bergil semakin menghormati Pippin, sebab ketika Pippin mengucapkan nama dan kata sandinya, penjaga di sana memberi salam hormat dan mengizinkannya lewat; terlebih lagi, Ia membolehkan Pippin membawa serta pendampingnya.

“Bagus sekali!” kata Bergil. “Kami anak-anak lelaki tidak diizinkan lagi melewati Gerbang tanpa didampingi orang dewasa. Sekarang kita bisa menonton lebih jelas.”
Di luar Gerbang berdiri kerumunan orang di sepanjang pinggir jalan dan sisi pelataran besar berlapis ubin, tempat semua jalan ke Minas Tirith bermuara. Semua mata memandang ke selatan, dan sejenak kemudian terdengar bisikan bergemuruh, “Ada kepulan debu di sana! Mereka datang!”
Pippin dan Bergil menyelinap untuk menerobos sampai ke depan kerumunan, dan menunggu. Terompet-terompet berbunyi di kejauhan, dan bunyi sorak-sorai mengalir ke arah mereka seperti angin yang semakin kencang. Lalu terdengar tiupan terompet nyaring, dan di sekitar mereka semua orang berteriak.
“Forlong! Forlong!” Pippin mendengar orang-orang memanggil. “Apa kata mereka?” tanyanya.
“Forlong sudah datang,” jawab Bergil, “Forlong Gendut, Penguasa Lossarnach. Kakekku tinggal di sana. Hore! Itu dia. Forlong yang baik!”
Di ujung barisan berjalan seekor kuda besar bertungkai gemuk, dan di atasnya duduk seorang pria berbahu lebar dan bertubuh besar, namun sudah tua dan berjanggut kelabu, mengenakan baju besi dan helm hitam, serta menyandang tombak panjang dan berat. Di belakangnya berbaris gagah sepasukan pria penuh debu, bersenjata lengkap dan membawa kapak-kapak perang yang besar. Wajah mereka muram, tubuh mereka lebih pendek dan hitam daripada pria-pria yang dilihat Pippin selama ini di Gondor.
“Forlong!” teriak orang-orang. “Sahabat yang setia! Forlong!” Tapi ketika orang- orang Lossarnach sudah lewat, mereka menggerutu, “Sedikit sekali! Cuma dua ratus orang, atau berapa? Kita mengharapkan sepuluh kali jumlah itu. Rupanya begitulah berita terakhir dari armada hitam. Mereka hanya menyisihkan sebagian kecil kekuatan mereka. Tapi biarlah, tambahan kecil pun tetap berarti.”


Demikianlah pasukan-pasukan berdatangan, disambut gembira dan masuk melalui Gerbang; orang-orang dari Perbatasan berbaris untuk membela Kota Gondor dalam masa gelap itu; tapi jumlah mereka selalu terlalu sedikit, selalu

lebih sedikit daripada yang diharapkan atau dibutuhkan. Pasukan dari Lembah Ringlo di belakang putra penguasa mereka, Dervorin, berjalan kaki: tiga ratus orang. Dari dataran tinggi Morthond, Lembah Blackroot yang luas, si jangkung Duinhir bersama kedua putranya, Duilin dan Derufin, dengan lima ratus pasukan panah. Dari Anfalas, Langstrand yang jauh di sana, dalam barisan panjang yang terdiri atas aneka ragam orang, pemburu dan peternak, serta orang-orang dari desa-desa kecil, dengan Perlengkapan seadanya, kecuali para penghuni rumah tangga penguasa mereka, Golasgil. Dari Lamedon, beberapa manusia bukit berwajah muram tanpa kapten. Nelayan-nelayan dari Ethir, jumlahnya beberapa ratus lebih, disisihkan dari kapal-kapal. Hirluin yang Elok dari Perbukitan Hijau di Pinnath Gelin, dengan tiga ratus pria perkasa berpakaian hijau. Dan yang terakhir, yang paling gagah, Imrahil, pangeran dari Dol Amroth, saudara Penguasa, dengan panji-panji berlapis emas bergambar lambang Kapal dan Angsa Perak, dan pasukan ksatria berbaju besi lengkap menunggang kuda-kuda kelabu; di belakang mereka ada tujuh ratus serdadu, jangkung seperti para bangsawan, bermata kelabu, berambut hitam, datang sambil bernyanyi.
Itu sudah semuanya, kurang dari tiga ribu orang jumlahnya. Tak ada lagi yang datang. Teriakan dan bunyi langkah kaki mereka masuk ke Kota kemudian menghilang. Para penonton masih berdiri diam selama beberapa saat. Debu terus mengambang di udara, karena angin berhenti bertiup dan senja terasa berat. Saat penutupan gerbang segera tiba, matahari merah sudah lenyap di belakang Mindolluin. Kegelapan pun turun di atas Kota.
Pippin menengadah. la merasa seolah-olah langit berubah kelabu seperti abu, seakan-akan debu dan asap tebal menggantung di atas mereka, dan cahaya pun meredup pudar. Tapi di Barat matahari yang sedang terbenam sudah menggelar tabir asap merah api, maka kini Mindolluin terlihat gelap kelam di depan kobaran cahaya merah yang dipenuhi bercak bara api. “Begitulah, hari yang indah berakhir dalam geram kemarahan!” kata Pippin, lupa pada anak yang berdiri di sampingnya.
“Memang itulah yang akan terjadi, kalau aku tidak kembali sebelum lonceng matahari terbenam,” kata Bergil. “Ayo! Itu bunyi terompet untuk penutupan

Gerbang.”



Sambil bergandeng tangan mereka masuk ke Kota lagi. Merekalah yang terakhir masuk sebelum Gerbang ditutup; ketika mereka sampai ke Jalan Pembuat Lampu, semua lonceng di menara-menara berdentang khidmat. Di jendela- jendela terlihat cahaya lampu, dan dari rumah-rumah serta bangsal-bangsal serdadu terdengar nyanyian.
“Selamat berpisah untuk sementara,” kata Bergil. “Kirim salam untuk ayahku, dan bilang terima kasih untuk pendamping yang dia kirimkan. Datanglah lagi segera, kumohon. Aku sebenarnya berharap tak ada perang, supaya kita berdua bisa bersenang-senang bersama. Kita bisa pergi ke Lossarnach, ke rumah kakekku; menyenangkan sekali di sana, dengan hutan dan padang penuh bunga-bunga. Tapi mungkin suatu saat nanti kita bisa pergi ke sana. Musuh tidak akan pernah mengalahkan Penguasa kita, dan ayahku gagah berani. Selamat jalan dan datanglah kembali!”
Mereka berpisah, dan Pippin bergegas kembali ke benteng. Rasanya jauh sekali, hingga Ia kepanasan dan sangat lapar; malam pun turun dengan cepat dan pekat. Tak satu pun bintang menghiasi langit. Makan malam sudah dimulai ketika Pippin datang ke bangsal. Beregond menyambutnya dengan gembira, dan menyuruh Pippin duduk di sampingnya sambil menanyakan kabar putranya. Setelah makan, pippin masih tinggal beberapa saat, kemudian Ia pamit pergi, karena hatinya terasa berat. la sangat ingin segera menemui Gandalf lagi.
“Kau sudah tahu jalan?” kata Beregond di pintu bangsal yang kecil itu, di sisi utara benteng, tempat mereka tadi duduk. “Malam ini gelap sekali, dan jadi lebih gelap karena ada perintah bahwa cahaya lampu di dalam Kota harus diredupkan dan tidak boleh memancar keluar dari dinding. Ada juga perintah lain: kau akan dipanggil menghadap Lord Denethor besok pagi-pagi. Dugaanku, kau tidak akan dimasukkan ke Pasukan Ketiga. Tapi kita masih bisa berharap akan bertemu lagi. Selamat jalan dan tidurlah dengan damai.”
Tempat penginapan itu gelap, hanya diterangi cahaya lentera kecil di atas meja. Gandalf tidak ada di sana. Pippin semakin gundah. la memanjat ke atas bangku

dan mencoba memandang ke luar jendela, tapi ternyata ia seperti menatap telaga tinta hitam. la turun dan menutup jendela, lalu naik ke tempat tidur. Selama beberapa saat ia berbaring dan mendengarkan, kalau-kalau Gandalf kembali; kemudian ia terlelap dan tidur dengan gelisah.
Tengah malam Ia terbangun oleh cahaya. la melihat Gandalf sudah kembali dan sedang berjalan mondar-mandir di ruangan itu, di balik kelambu relung tempat tidur. Banyak lilin di lantai, dan gulungan-gulungan kertas. la mendengar penyihir itu mendesah dan bergumam, “Kapan Faramir kembali?”
“Halo!” kata Pippin, sambil menjulurkan kepala dari kelambu. “Kukira kau sudah lupa sama sekali tentang aku. Aku senang kau sudah kembali. Hari ini rasanya panjang sekali.”
“Tapi malam ini hanya singkat sekali,” kata Gandalf “Aku kembali ke sini karena aku perlu ketenangan, sendirian. Kau harus tetap tidur di tempat tidur, selagi masih bisa. Saat matahari terbit aku akan membawamu ke Lord Denethor lagi. Tidak, maksudku kalau panggilannya sudah datang, bukan saat matahari terbit. Kegelapan sudah dimulai. Takkan ada fajar.”

BAB 2

KEBERANGKATAN ROMBONGAN KELABU



Gandalf sudah pergi, dan bunyi derap kaki Shadowfax sudah lenyap ditelan malam, ketika Merry kembali ke sisi Aragorn. Barang bawaannya hanya sedikit, karena Ia kehilangan ranselnya di Parth Galen. Yang dimilikinya sekarang hanya beberapa benda berguna yang dipungutnya dari tengah reruntuhan Isengard. Hasufel sudah dipasangi pelana. Legolas dan Gimli berdiri di dekatnya bersama kuda mereka.
“Jadi, empat anggota Rombongan masih bersama-sama,” kata Aragorn. “Kita akan berkuda maju bersama. Tapi kita tidak akan sendirian, seperti yang kusangka. Raja sudah bertekad berangkat segera. Sejak kedatangan bayangan bersayap, dia ingin kembali ke perbukitan di bawah lindungan kegelapan malam.”
“Lalu ke mana?” kata Legolas.

“Belum bisa kupastikan,” jawab Aragorn. “Raja akan pergi ke apel siaga yang diperintahkannya di Edoras, empat malam dari sekarang. Kurasa di sana dia akan mendengar berita-berita tentang perang, dan para Penunggang dari Rohan akan pergi ke Minas Tirith. Tapi aku sendiri, dan mereka yang mau pergi bersamaku …”
“Aku pasti mau!” seru Legolas.

“Dan Gimli akan ikut bersamanya!” kata si Kurcaci.

“W ell, aku sendiri,” kata Aragorn, “bagiku masih belum jelas tujuan di depanku. Aku juga seharusnya pergi ke Minas Tirith, tapi aku merasa belum siap. Tapi saat yang tepat dan sudah lama direncanakan dengan cermat akan segera tiba.” “Jangan tinggalkan aku!” kata Merry. “Selama ini aku belum banyak berguna, tapi aku tak mau disingkirkan seperti barang bawaan yang baru dimasukkan lagi bila semuanya sudah beres. Kurasa para Penunggang takkan mau direpotkan oleh kehadiranku sekarang. Meski Raja mengatakan aku harus duduk di dekatnya bila dia sudah pulang untuk bercerita tentang Shire kepadanya.”
“Ya,” kata Aragorn, “dan menurutku kau ditakdirkan berjalan bersama dia, Merry.

Tapi jangan mengharapkan kegembiraan pada akhir perjalanan. Aku khawatir masih lama sekali sebelum Theoden duduk di Meduseld lagi. Banyak harapan akan layu dalam Musim Semi yang kejam ini.”


Tak lama kemudian, semua sudah siap berangkat: dua puluh empat kuda, dengan Gimli duduk di belakang Legolas, dan Merry di depan Aragorn. Segera mereka melaju cepat menembus malam. Belum lama mereka melewati gundukan-gundukan tanah di Ford-ford Isen, ketika seorang Penunggang datang berderap dari belakang barisan.
“Tuanku,” Ia berkata kepada Raja, “ada pengendara kuda di belakang kita. Ketika kita, melintasi arungan sungai, rasanya hamba sudah mendengar mereka. Sekarang kami yakin. Mereka akan segera menyusul kita, karena mereka berlari kencang sekali.”
Segera Theoden memerintahkan barisan berhenti. Para Penunggang memutar balik dan meraih tombak-tombak mereka. Aragorn turun dari kudanya dan menurunkan Merry, lalu sambil menghunus pedangnya Ia berdiri di samping sanggurdi Raja. Eomer dan pendampingnya melaju kembali ke belakang. Merry semakin merasa seperti barang bawaan yang tidak dibutuhkan, dan ia bertanya- tanya, seandainya terjadi pertempuran, apa yang harus Ia lakukan. Bagaimana seandainya rombongan kecil Raja dijebak dan dikalahkan, tapi Ia sendiri lolos dalam kegelapan-sendirian di padang liar Rohan, tanpa tahu di mana Ia berada di wilayah luas tanpa batas itu? “Tidak baik!” pikimya. la menghunus pedang dan mengencangkan sabuknya.
Bulan yang sedang terbenam, tertutup awan besar yang mengalir, tapi tiba-tiba muncul cerah lagi. Lalu mereka mendengar gemuruh kaki kuda, dan bersamaan dengan itu melihat sosok-sosok gelap melaju cepat di jalan yang keluar dari arungan. Sinar bulan berkilauan di atas ujung tombak di sana-sini. Jumlah para pengejar tidak jelas, tapi setidaknya tidak kurang daripada rombongan Raja. Ketika jarak mereka tinggal sekitar lima puluh langkah, Eomer berteriak dengan suara nyaring, “Berhenti! Berhenti! Siapa yang berjalan di Rohan?”
Para pengejar menghentikan kuda-kuda jantan mereka dengan mendadak.

Beberapa saat hening; kemudian dalam sinar bulan terlihat seorang penunggang kuda turun dan berjalan maju perlahan. Tangannya Yang diacungkan tampak putih, dengan telapak tangan menghadap keluar, sebagai isyarat perdamaian; tapi anak buah Raja mencengkeram senjata mereka. Pada jarak sepuluh langkah, pria itu berhenti. Sosoknya yang jangkung dan gelap hanya berupa bayang-bayang yang berdiri. Lalu suaranya yang jernih terdengar nyaring. “Rohan? Kaubilang Rohan? Kata yang menggembirakan. Kami datang dari jauh mencari negeri itu.”
“Kau sudah menemukannya,” kata Eomer. “Saat kau menyeberangi arungan di sana itu, kau sudah masuk ke negeri Rohan. Tapi ini wilayah Raja Theoden. Tak ada yang boleh masuk ke sini tanpa izinnya. Siapa kau? Dan apa urusanmu yang mendesak?”
“Halbarad Dunadan, Penjaga Hutan dari Utara, itulah aku,” serunya. “Kami mencari Aragorn putra Arathorn, dan kami dengar dia sedang berada di Rohan.” “Kau sudah menemukannya!” teriak Aragorn. Sambil memberikan tali kekangnya kepada Merry, Ia berlari maju dan memeluk pendatang baru itu. “Halbarad!” katanya. “Ini sangat menggembirakan dan tak terduga!”
Merry menarik napas lega. la sudah sempat berpikir, jangan-jangan itu tipu muslihat terakhir dari Saruman, menyergap Raja yang hanya didampingi sedikit orang; tapi tampaknya Ia belum perlu mati demi membela Theoden. Maka Ia menyarungkan kembali pedangnya.
“Semua beres,” kata Aragorn sambil membalikkan badan. “Ternyata mereka ini saudara-saudaraku dari jauh, negeri tempat tinggalku. Tapi mengapa mereka datang, dan berapa jumlah mereka, Halbarad yang akan menceritakannya pada kita.”
“Tiga puluh orang bersamaku,” kata Halbarad. “Hanya sebanyak itu yang bisa kukumpulkan dengan terburu-buru; tapi dua bersaudara Elladan dan Elrohir juga datang bersama kami, karena mereka berhasrat maju perang. Kami datang secepat mungkin sejak panggilanmu datang.”
“Tapi aku tidak memanggil kalian,” kata Aragorn. “Aku hanya berharap dalam

hati. Aku sering memikirkan kalian, terutama malam ini; tapi sungguh, aku tidak

mengirim berita. Tapi sudahlah! Hal itu tak perlu dibahas sekarang. Kami sedang terburu-buru dan dalam bahaya. Ikutlah dengan kami sekarang, kalau Raja mengizinkan.”
Theoden gembira sekali mendengar berita itu. “Bagus sekali!” katanya. “Kalau saudara-saudaramu sama tangguhnya dengan dirimu, Lord Aragorn, maka tiga puluh ksatria seperti itu merupakan kekuatan hebat yang tak bisa diukur menurut jumlah.”


Mereka pun berangkat lagi, dan selama beberapa saat Aragorn melaju di samping kaum Dunedain; ketika mereka sudah menceritakan kabar-kabar dari Utara dan Selatan, Elrohir berkata kepadanya, “Aku membawa pesan dari ayahku: Waktunya sangat singkat. Kalau keadaan sudah mendesak, ingatlah Jalan Orang-Orang Mati. “
“Bagiku waktu selalu terasa sangat singkat untuk mencapai hasratku,” jawab Aragorn. “Tapi aku baru akan mengambil jalan itu kalau keadaan sudah benar- benar mendesak.”
“Kita lihat saja nanti,” kata Elrohir. “Sekarang jangan kita bicarakan lagi hal-hal

semacam ini di jalan terbuka!”

Lalu Aragorn berkata pada Halbarad, “Benda apa yang kaubawa itu, saudaraku?” Karena Ia melihat Halbarad bukan membawa tombak, melainkan sebuah tongkat panjang, seperti tiang, dibungkus gulungan kain hitam yang diikat jalinan tali kulit.
“Ini hadiah yang kubawa untukmu, pemberian Lady dari Rivendell,” jawab Halbarad. “Dia membuatnya diam-diam, dan membuatnya makan waktu lama sekali. Dia juga mengirim pesan untukmu: Hari-hari begitu singkat. Bisa jadi harapan kita terpenuhi, atau tidak sama sekali. Karena itu kukirimkan apa yang kubuat untukmu. Selamat jalan, Elfstone! “
Lalu Aragorn berkata, “Sekarang aku tahu apa yang kaubawa. Simpankanlah untukku sementara ini!” Kemudian Ia membalikkan badan, memandang ke Utara, di bawah bintang-bintang besar, dan tidak berbicara lagi sepanjang perjalanan itu.



Malam sudah larut, dan Timur tampak kelabu ketika mereka akhirnya keluar dari Deeping-coomb, kembali ke Homburg. Di sana mereka beristirahat sebentar, dan berunding.
Merry tidur sampai Ia dibangunkan oleh Legolas dan Gimli. “Matahari sudah tinggi,” kata Legolas. “Semua sudah bangun dan bersiap-siap. Ayo, Tuan Pemalas, lihat-lihat tempat ini selagi masih bisa!”
“Di sini tiga malam yang lalu ada pertempuran,” kata Gimli, “dan di sini Legolas

dan aku melakukan permainan yang kumenangkan dengan satu Orc. Ayo, lihat tempat ini! Di sini juga ada gua-gua, Merry, gua-gua indah sekali! Apakah kita akan menjenguknya, Legolas? Bagaimana menurutmu?”
“Jangan! Tak ada waktu,” kata Legolas. “Jangan merusak keindahan dengan bertindak terburu-buru! Sudah kujanjikan bahwa aku akan kembali ke sini bersamamu, kalau masa damai dan kemerdekaan sudah datang. Tapi sekarang sudah hampir tengah hari, saatnya makan, lalu berangkat lagi, begitulah kudengar.”
Merry bangun dan menguap. Tidurnya yang baru beberapa jam terasa belum cukup; Ia letih dan agak sedih. la merindukan Pippin, dan merasa dirinya hanya menjadi beban, sementara semua orang sedang merencanakan bergerak cepat dalam suatu urusan yang tidak sepenuhnya Ia pahami. “Di mana Aragorn?” tanyanya.
“Di ruang atas Burg,” kata Legolas. “Kurasa dia belum istirahat ataupun tidur. Dia ke sana beberapa jam yang lalu, katanya dia perlu memikirkan sesuatu, dan hanya saudaranya, Halbarad, yang ikut dengannya. Tampaknya dia sedang dihinggapi keraguan atau kecemasan besar.”
“Mereka pasukan yang aneh, para pendatang baru ini,” kata Gimli. “Tangguh dan gagah. Para Penunggang dari Rohan tampak seperti anak-anak di samping mereka; karena wajah mereka muram, kebanyakan tampak kasar seperti batu karang termakan cuaca, seperti Aragorn juga; dan mereka pendiam.”
“Dan seperti Aragorn juga, mereka sangat sopan kalau berbicara,” kata Legolas. “Apakah kau memperhatikan kakak-beradik Elladan dan Elrohir? Pakaian

mereka tidak begitu kusam seperti yang lainnya. Mereka tampan dan santun seperti bangsawan Peri; dan itu tidak mengherankan, karena mereka putra-putra Elrond dari Rivendell.”
“Mengapa mereka datang? Tahukah engkau sebabnya?” tanya Merry. Sekarang Ia sudah berpakaian lengkap, dan mengenakan jubah kelabunya; ketiganya berjalan keluar bersama-sama, menuju reruntuhan gerbang Burg.
“Mereka datang memenuhi panggilan, seperti telah kaudengar,” kata Gimli.

“Kabar sampai ke Rivendell, katanya: Aragorn membutukan saudara- saudaranya. Kaum Dunedain agar menemuinya di Rohan!
Tapi dari mana kabar itu datang, mereka juga bingung sekarang. Menurut

dugaanku, Gandalf yang mengirim kabar itu.”

“Bukan dia, tapi Galadriel,” kata Legolas. “Bukankah dia berbicara melalui

Gandalf tentang perjalanan Rombongan Kelabu dari Utara?”

“Ya, kau benar,” kata Gimli. “Lady dari Hutan itu! Dia selalu membaca pikiran dan hasrat hati. Nah, mengapa kita tidak mengharapkan kedatangan beberapa saudara sebangsa kita, Legolas?”
Legolas berdiri di depan gerbang, matanya yang tajam memandang ke utara dan timur, wajahnya yang elok kelihatan muram. “Kupikir takkan ada yang datang,” jawabnya. “Mereka tak perlu maju perang; perang sudah berkecamuk di negeri mereka sendiri.”


Untuk beberana saat ketiga sekawan itu berjalan bersama, membicarakan ini itu tentang pertempuran. Mereka berjalan terus dari gerbang runtuh, melewati kuburan pejuang yang tewas dalam pertempuran di lapangan hijau samping jalan, sampai mereka berdiri di Helm's Dike dan memandang ke dalam Coomb. Bukit Kematian sudah menjulang di sana, hitam, tinggi, berbatu-batu, dan bekas injakan para Huorn di rumput bisa terlihat jelas. Kaum Dunlending dan banyak orang dari pasukan Burg sedang bekerja di Dike atau di padang, dan di sekitar tembok-tembok yang rusak di belakang; namun suasana terasa lengang dan sunyi: suasana lembah letih yang sedang istirahat setelah badai besar. Segera mereka berbalik menuju jamuan makan siang di serambi Burg.

Raja sudah berada di sana. Begitu mereka masuk, Ia memanggil Merry dan memerintahkannya duduk di sampingnya. “Ini bukan seperti yang kuinginkan,” kata Theoden, “sebab di sini tidak seperti rumahku di Edoras. Dan temanmu yang seharusnya ada di sini sudah pergi. Tapi mungkin masih lama sebelum kita bisa duduk bersama lagi, kau dan aku, di meja tinggi di Meduseld; takkan ada waktu untuk berpesta pora kalau aku kembali ke sana. Tapi ayolah! Makan dan minumlah, dan mari kita berbicara sementara masih ada kesempatan. Lalu kau akan berkuda bersamaku.”
“Aku?” kata Merry, kaget dan senang. “Itu bagus sekali!” Belum pernah ia merasa begitu bersyukur atas perkataan yang ramah. “Aku khawatir hanya menjadi gangguan bagi semuanya,” Ia berkata terbata-bata, “tapi sebenarnya aku ingin melakukan apa pun yang aku bisa.”
“Aku tidak meragukan itu,” kata Raja. “Aku sudah menyuruh siapkan kuda poni bukit untukmu. Dia akan membawamu sama cepatnya dengan kuda lain melewati jalan-jalan yang akan kami lalui. Karena aku akan pergi dari Burg melalui jalan-jalan pegunungan, tidak melewati padang, dan dengan begitu datang ke Edoras melalui Dunharrow, di mana Lady Eowyn menunggu kedatanganku. Kau akan menjadi pendampingku, kalau kau mau. Eomer, adakah di sini pakaian tempur yang bisa dipakai ksatria pedangku?”
“Di sini tak ada gudang alat dan senjata yang lengkap, Tuanku,” jawab Eomer. “Mungkin bisa dicarikan helm ringan yang cocok untuknya; tapi tak ada baju besi atau pedang untuk orang seukuran dia.”
“Aku punya pedang,” kata Merry sambil turun dari tempat duduknya, dan

menghunus pedangnya yang berkilau dari sarungnya yang hitam. Tiba-tiba suatu perasaan sayang yang besar merebak dalam dirinya terhadap pria tua itu, dan ia menekuk satu lututnya, mengambil tangan Raja, lalu mengecupnya. “Bolehkah aku meletakkan pedang Meriadoc dari Shire di pangkuamnu, Raja Theoden?” serunya. “Terimalah bakti pelayananku, bila kau berkenan!”
“Kuterima dengan senang hati,” kata Raja; sambil meletakkan tangannya yang panjang dan tua di rambut cokelat hobbit itu, ia memberkatinya. “Bangkitlah berdiri, Meriadoc, esquire Rohan dari istana Meduseld!” katanya. “Ambillah

pedangmu dan pergunakan demi kebaikan!” “Engkau sudah seperti ayah bagiku,” kata Merry. “Untuk sementara waktu,” kata Theoden.


Mereka bercakap-cakap sambil makan, sampai akhirnya Eomer berbicara. “Sudah saatnya kita berangkat, Tuanku,” katanya. “Bolehkah aku menyuruh orang-orang membunyikan terompet? Tapi di mana Aragorn? Tempatnya kosong dan dia belum makan.”
“Kita akan bersiap-siap berangkat,” kata Theoden. “Tolong kirim pesan pada

Aragorn bahwa jam berangkat hampir tiba.”

Raja bersama para pengawalnya serta Merry di sampingnya berjalan turun dari gerbang Burg, menuju tempat para Penunggang berkumpul di lapangan rumput. Banyak yang sudah naik ke atas kuda masing-masing. Rombongan itu akan besar sekali. Raja hanya meninggalkan pasukan kecil di Burg, dan semua yang bisa ikut akan berangkat ke apel siaga di Edoras. Sudah seribu tombak yang pergi di malam hari; tapi masih akan ada lima ratus lebih yang pergi bersama Raja, sebagian besar terdiri atas orang-orang dari padang-padang dan lembah Westfold.
Para Penjaga Hutan duduk agak terpisah, dalam diam, dengan susunan teratur, bersenjatakan tombak, busur, dan pedang. Mereka berpakaian jubah kelabu tua, dengan kerudung menutupi helm di kepala. Kuda mereka kuat-kuat dan gagah, dan berbulu kasar; ada seekor kuda yang berdiri tanpa penunggang -- kuda Aragorn yang mereka bawa dari Utara; namanya Roheryn. Pakaian kuda dan perlengkapan mereka sama sekali tidak diberi permata, emas berkilauan, ataupun benda-benda hiasan lainnya; para penunggangnya pun sama sekali tidak memakai lencana atau tanda, hanya saja jubah mereka dikaitkan ke bahu kiri dengan bros perak berbentuk bintang.
Raja naik ke atas kudanya, Snowmane, dan Merry duduk di atas kuda poni bernama Stybba, di sampingnya. Tak lama kemudian Eomer keluar dari gerbang bersama Aragorn dan Halbarad, yang membawa tongkat besar dililit kain hitam, dan dua pria jangkung, tidak tua maupun muda. Mereka begitu mirip, kedua

putra Elrond, hingga hanya sedikit orang yang bisa membedakan mereka: Berambut gelap, bermata kelabu, wajah seindah Peri pada umumnya, berpakaian sama, logam cemerlang di bawah jubah kelabu keperakan. Di belakang mereka berjalan Legolas dan Gimli. Tapi mata Merry hanya tertuju pada Aragorn, karena perubahan yang terlihat pada dirinya begitu mengejutkan, seolah-olah dalam satu malam kesulitan bertubi-tubi jatuh di atas kepalanya. Wajahnya muram, kelabu, dan letih.
“Pikiranku sedang kusut, Tuanku,” kata Aragorn sambil berdiri di sarnping kuda Raja. “Aku sudah mendengar berita-berita aneh, dan melihat banyak bahaya baru di kejauhan. Aku sudah berpikir-pikir lama sekali, dan rasanya aku harus mengubah haluanku. Katakan, Theoden, kalau sekarang kau berangkat ke Dunharrow, berapa lama Tuanku akan sampai di sana?”
“Sekarang sudah satu jam setelah tengah hari,” kata Eomer. “Sebelum malam hari ketiga, seharusnya kami tiba di Hold. Bulan saat itu sudah satu malam lebih sejak purnamanya, dan apel yang diperintahkan Raja akan diadakan hari berikutnya. Kami tak mungkin lebih cepat daripada itu, kalau seluruh kekuatan Rohan harus dikumpulkan.”
Aragorn diam sejenak. “Tiga hari,” gumamnya, “dan apel Rohan baru akan dimulai. Tapi aku mengerti bahwa hal itu tak bisa dipercepat.” Ia menengadah, dan tampaknya ia sudah mengambil beberapa keputusan; kemuraman di wajahnya kelihatan berkurang. “Kalau begitu, Tuanku, atas izinmu aku harus berembuk lagi dengan saudara-saudaraku. Kami harus pergi sendiri, dan tidak lagi secara rahasia. Karena bagiku saat untuk diam-diam sudah berakhir. Aku akan pergi ke timur melalui jalan tercepat, dan aku akan mengambil Jalan Orang-Orang Mati.”
“Jalan Orang-Orang Mati!” kata Theoden, dan Ia gemetar. “Mengapa kau membicarakan mereka?” Eomer memutar badannya, menatap Aragorn, dan Merry merasa wajah-wajah para Penunggang yang bisa mendengar kata-kata itu menjadi pucat. “Kalau memang ada jalan Seperti yang kaumaksud itu,” kata Theoden, “gerbangnya ada di Dunharrow; tapi tak ada manusia hidup yang bisa melewatinya.”

“Aduh! Aragorn sahabatku!” kata Eomer. “Aku sudah berharap kita akan maju perang bersama-sama; tapi kalau kau mencari Jalan Orang-orang Mati, maka kita harus berpisah, dan sangat kecil kemungkinan kita bertemu lagi di bawah Matahari.”
“Itulah jalan yang akan kuambil,” kata Aragorn. “Tapi kukatakan padamu Eomer, bahwa kita masih mungkin bertemu dalam pertempuran, meski kita dipisahkan oleh seluruh pasukan Mordor.”
“Lakukan apa yang memang harus kaulakukan, Tuanku Aragorn,” kata Theoden.

“Mungkin memang sudah takdirmu untuk menapaki jalan-jalan aneh yang tak berani dilalui seorang pun. Perpisahan ini membuatku sedih, dan semangatku turun karenanya; tapi kini aku harus mengambil jalan pegunungan dan tak bisa menundanya lebih lama lagi. Selamat jalan!”
“Selamat jalan, Lord!” kata Aragorn. “Majulah menuju kemasyhuran besar! Selamat jalan, Merry! Kuserahkan kau pada orang-orang yang baik, lebih baik daripada yang kita harapkan ketika memburu Orc sampai ke Fangom. Kuharap Legolas dan Gimli masih akan berburu bersamaku; tapi kami takkan melupakanmu.”
“Selamat jalan!” kata Merry. Hanya itu yang bisa Ia katakan. la merasa sangat kecil, Ia bingung dan tertekan oleh semua kata-kata muram itu. Dan ia jadi makin merasa kehilangan Pippin yang keceriaannya tak pernah habis. Pasukan Berkuda sudah siap, dan kuda-kuda mereka sudah gelisah; Ia berharap mereka segera berangkat dan mengakhiri saat-saat membingungkan ini.
Theoden berbicara dengan Eomer, kemudian mengangkat tangannya dan berteriak keras-keras; mendengar teriakan itu, para Penunggang mulai bergerak maju. Mereka melaju melintasi Dike dan melewati Coomb, kemudian membelok ke timur dengan cepat, mengambil jalan yang menyusuri kaki perbukitan sejauh sekitar satu mil, sampai jalan itu berkelok ke selatan dan masuk kembali ke tengah perbukitan, lalu lenyap dari pandangan. Aragorn maju ke Dike, memperhatikan sampai rombongan Raja sudah jauh di tengah Coomb. Lalu Ia berbicara pada Halbarad.
“Tiga orang yang kucintai sudah pergi, yang terkecil malah yang paling

kusayangi,” katanya. “Dia tidak tahu nasib apa yang menunggunya; namun seandainya pun tahu, dia tetap akan maju terus.”
“Orang-orang kecil, tapi sangat tinggi nilainya, begitulah penduduk Shire,” kata Halbarad. “Mereka sama sekali tidak tahu kerja keras kami demi keamanan perbatasan mereka, tapi aku tidak dendam karenanya.”
“Kini nasib kita terjalin bersama mereka,” kata Aragorn. “Namun sekarang kita harus berpisah. Sayang sekali! Nah, aku perlu makan sedikit, lalu kita pun harus segera berangkat. Ayo, Legolas dan Gimli! Aku perlu bicara dengan kalian sambil makan.”
Bersama-sama mereka masuk kembali ke Burg; untuk beberapa saat Aragorn hanya duduk diam di depan meja, dan yang lainnya menunggu Ia berbicara. “Ayo!” kata Legolas akhirnya. “Berbicaralah dan hiburlah hatimu, dan buanglah bayangan gelap itu! Apa yang terjadi sejak kita kembali ke tempat muram ini di pagi yang kelabu?”
“Suatu pertempuran yang menurutku tentu menegangkan daripada pertempuran di Homburg,” jawab Aragorn. “Aku sudah melihat ke dalam Batu Orthanc, kawan- kawan.” 'Kau memandang ke dalam batu sihir terkutuk itu!” seru Gimli terkejut, wajahnya memancarkan kengerian. “Apakah kau mengatakan sesuatu pada … dia? Bahkan Gandalf pun takut terhadap pertemuan itu.”
“Kau lupa dengan siapa kau berbicara,” kata Aragorn keras, matanya berkilat- kilat. “Apa yang kau khawatirkan akan kukatakan kepadanya? Bukankah dengan terbuka telah kunyatakan gelarku di depan pintu Edoras? Tidak, Gimli,” katanya dengan suara lebih lembut, kemuraman itu lenyap dari wajahnya, dan Ia tampak seperti orang yang telah bermalam-malam menanggung kesedihan besar yang merampas tidur nyenyak. “Tidak, kawan-kawanku, aku penguasa sah Batu itu, dan aku memiliki hak serta kekuatan untuk menggunakannya, atau begitulah menurut pendapatku. Hak itu tak perlu diragukan lagi. Tapi kekuatanku … nyaris tidak cukup.”
Aragorn menarik napas panjang. “Suatu perjuangan keras, dan keletihan yang ditimbulkannya belum juga hilang. Aku tidak berbicara dengannya, dan akhirnya aku membuat Batu itu tunduk pada kemauanku. Itu saja sudah sangat berat

untuk ditelan olehnya. Dan dia melihatku. Ya, Master Gimli, dia melihatku, tapi dalam wujud lain daripada yang kaulihat sekarang. Kalau itu bisa memberi petunjuk padanya, maka celakalah aku. Tapi kurasa tidak begitu halnya. Mengetahui aku hidup dan menjejakkan kaki di bumi sudah merupakan pukulan berat baginya, kukira; sebab sebelumnya dia tidak tahu hal ini. Mata di Orthanc tak bisa menembus pakaian baja Theoden; tapi Sauron tak mungkin melupakan Isildur dan pedang Elendil. Kini, saat rencana besarnya akan dimulai, pewaris Isildur dan Pedang itu pun tersingkap; sebab aku telah menunjukkan pedang yang sudah ditempa kembali itu kepadanya. Kehebatannya belum sampai membuat dia kebal dari rasa takut; tidak, keragu-raguan masih selalu menggerogotinya.”
“Meski begitu, dia memegang kekuasaan besar,” kata Gimli, “dan sekarang dia

akan menyerang lebih cepat.”

“Pukulan yang tergesa-gesa sering meleset,” kata Aragorn. “Kita harus menekan Musuh, dan tidak menunggunya melakukan serangan lebih dulu. Ketahuilah, kawan-kawan, ketika aku sudah menguasai Batu itu, aku belajar banyak hal. Sudah kulihat ancaman besar tak terduga yang akan datang ke Gondor dari Selatan, dan akan menyedot banyak kekuatan demi membela Minas Tirith. Kalau tidak segera dilawan, Kota akan jatuh dalam waktu kurang dari sepuluh hari.” “Kalau begitu, terpaksa dibiarkan jatuh,” kata Gimli. “Sebab bantuan apa yang bisa dikirim ke sana, dan bagaimana bisa tiba di sana tepat pada waktunya?”
“Tak ada bantuan yang bisa dikirimkan, maka aku sendiri harus pergi ke sana,” kata Aragorn. “Tapi hanya ada satu jalan melewati pegunungan yang bisa mengantarku ke wilayah pantai sebelum terlambat. Jalan Orang-Orang Mati.” “Jalan Orang-Orang Mati” kata Gimli. “Nama yang mengerikan dan tidak disukai manusia Rohan, seperti kusaksikan tadi. Apakah orang-orang hidup bisa melewati jalan seperti itu tanpa kehilangan nyawa? Dan kalaupun kau bisa melewati jalan itu, apa gunanya jumlah yang begitu sedikit untuk melawan serangan Mordor?”
“Orang-orang hidup belum pernah menggunakan jalan itu sejak kedatangan

kaum Rohirrim,” kata Aragorn, “sebab jalan itu tertutup bagi mereka. Tapi di saat

genting ini pewaris Isildur boleh menggunakannya, kalau dia berani. Dengar! Inilah pesan yang dibawa putra-putra Elrond dari ayah mereka di Rivendell, yang pengetahuannya paling tinggi: Beritahu Aragorn agar mengingat kata-kata sang peramal, dan Jalan Orang-Orang Mati. “
“Dan apa kata-kata sang peramal?” tanya Legolas.

“Beginilah kata Malbeth sang Peramal, di masa Arvedui, raja terakhir Fornost,”

kata Aragorn:



Sebuah bayangan menggantung di atas daratan,

sayap-sayap kegelapan yang menggapai sampai ke barat. Menara bergetar; maut menghampiri makam para raja. Yang Mati bangun kembali;
sebab sudah tiba saatnya bagi para pelanggar sumpah:

di Batu Erech mereka akan berdiri lagi

dan mendengar terompet berbunyi di bukit-bukit.

Terompet siapakah gerangan? Siapa yang akan memanggil mereka keluar dari senja kelabu, mereka yang terlupakan?
Dialah pewaris pada siapa mereka telah bersumpah setia. Dari Utara dia akan datang, dikejar kegentingan:
Melewati Pintu ke Jalan Orang-Orang Mati.



“Jalan yang gelap, pasti,” kata Gimli, “tapi bagiku tidak lebih gelap daripada

tongkat-tongkat ini.”

“Bila ingin lebih memahaminya, kuminta kalian ikut denganku,” kata Aragorn, “sebab aku akan melewati jalan itu. Tapi aku bukan pergi dengan senang hati, melainkan karena terdesak kebutuhan. Karena itu kuharap kalian ikut denganku atas kemauan sendiri, sebab di sana kalian akan menghadapi kerja berat dan rasa takut yang luar biasa, bahkan mungkin lebih buruk daripada itu.”
“Aku tetap akan menyertaimu di Jalan Orang-Orang Mati, ke mana pun jalan itu

menuju,” kata Gimli.

“Aku juga ikut,” kata Legolas, “karena aku tidak takut pada orang-Orang Mati.”

“Kuharap orang-orang yang terlupakan belum lupa cara bertempur,” kata Gimli, “kalau tidak, menurutku tak ada gunanya kita mengganggu mereka.”
“Itu tidak akan kita ketahui sebelum kita sampai di Erech,” kata Aragorn. “Tapi sumpah yang mereka langgar adalah sumpah untuk berjuang melawan Sauron, karena itu mereka harus bertempur kalau mau memenuhi sumpah itu. Sebab di Erech berdiri sebuah batu hitam yang konon dibawa dari Numenor oleh Isildur, dan diletakkan di atas bukit. Di atasnya para Raja Pegunungan bersumpah setia pada Isildur di masa awal kerajaan Gondor. Tapi ketika Sauron kembali dan kekuasaannya semakin berkembang, Isildur memanggil Manusia Pegunungan agar mereka memenuhi sumpah, dan ternyata mereka menolak: karena mereka sudah menjadi pemuja Sauron di Masa Kegelapan.”
“Lalu Isildur berkata pada raja mereka, 'Kau akan menjadi raja terakhir. Dan kalau Barat terbukti lebih berkuasa daripada Raja Kegelapan-mu, maka terkutuklah kau dan bangsamu: kalian takkan pernah istirahat dalam damai sampai sumpah kalian terpenuhi. Karena perang ini akan berlangsung tak terhingga lamanya, kalian akan dipanggil lagi sebelum akhirnya tiba.” Lalu mereka melarikan diri dari kemarahan Isildur, dan tidak berani maju perang membela Sauron; mereka bersembunyi di tempat-tempat gelap di pegunungan dan tak pernah berhubungan dengan manusia lain; lambat laun jumlah mereka semakin menyusut di bukit-bukit gersang. Gangguan teror Orang-orang Mati Yang Tidak Tidur itu membentang di sekitar Bukit Erech dan semua tempat di mana orang-orang itu pernah tinggal. Tapi aku harus melintasi jalan itu, sebab tak ada manusia hidup yang bisa membantuku.”
la berdiri. “Ayo!” teriaknya; Ia menghunus pedangnya, dan pedang itu berkilau dalam serambi temaram di Burg. “Ke Batu Erech! Aku akan menuju Jalan Orang- Orang Mati. Ikutlah bersamaku siapa pun Yang mau!”
Legolas dan Gimli tidak menjawab, tapi mereka bangkit berdiri dan menyusul Aragorn keluar dari serambi. Di pelataran hijau sudah menunggu para Penjaga Hutan berkerudung, berdiri diam tanpa berbicara. Legolas dan Gimli menaiki kuda mereka. Aragorn melompat ke atas Roheryn. Lalu Halbarad mengangkat sebuah terompet besar, bunyinya yang nyaring menggema di Helm's Deep:

serentak mereka berderap maju, melaju melintasi Coomb, gemuruh bagai halilintar, sementara semua orang yang ditinggal di Dike dan Burg menyaksikan dengan kagum.


Sementara pasukan Theoden bergerak perlahan di jalan-jalan pegunungan, Rombongan Kelabu melintas cepat di padang-padang, dan siang hari berikutnya mereka sampai di Edoras; di sana mereka hanya berhenti sebentar, sebelum mendaki keluar dari lembah. Mereka tiba di Dunharrow ketika kegelapan sudah turun.
Lady Eowyn menyambut kedatangan mereka dengan senang, sebab ia belum pernah melihat laki-laki yang lebih gagah daripada kaum Dunedain dan putra- putra Elrond yang elok; namun matanya selalu tertambat ke arah Aragorn. Saat duduk makan malam bersamanya, mereka bercakap-cakap, dan Eowyn pun mendengar semua peristiwa yang sudah terjadi setelah Theoden pergi. Sebelumnya Ia hanya mendengar kabar sepotong-sepotong; ketika mendengar tentang pertempuran di Helm's Deep dan pembantaian besar terhadap musuh- musuh mereka, serta serbuan Theoden dan para ksatrianya, matanya tampak berbinar-binar.
Akhirnya Ia berkata, “Tuan-tuan, kalian pasti sangat letih. Sekarang beristirahatlah di tempat tidur seadanya yang sempat kami siapkan untuk kalian. Tapi besok kami pasti akan menyiapkan tempat tinggal yang lebih baik.”
Tapi Aragorn berkata, “Tidak usah, jangan repot-repot! Kalau kami boleh berbaring di sini malam ini dan makan sarapan besok, itu sudah cukup. Sebab tugasku sangat mendesak, dan bersama datangnya cahaya pagi pertama kami sudah harus pergi.”
Eowyn tersenyum kepadanya dan berkata, “Sungguh baik hati Tuanku, mau menyimpang begitu jauh dari arah yang seharusnya ditempuh, hanya untuk membawa kabar pada Eowyn dan berbincang-bincang dengannya dalam pengucilannya ini.”
“Tak ada orang yang akan menganggap perjalanan seperti ini sia-sia;” kata

Aragorn, “meski begitu, Lady, aku takkan mampir ke sini kalau memang bukan

jalan ini yang harus kulalui untuk menuju Dunharrow.”

Dan Eowyn menjawab seakan-akan Ia tidak menyukai apa yang didengarnya, “Kalau begitu, Lord, kau sudah tersesat; sebab dari Harrowdale tak ada jalan yang menuju timur atau selatan; sebaiknya kau kembali lewat jalan yang kau ambil ketika datang kemari.”
“Tidak, Lady,” kata Aragorn, “aku tidak tersesat; karena aku sudah mengembara di negeri ini sebelum kau lahir memperindahnya. Ada jalan keluar dari lembah ini, dan jalan itulah yang akan kuambil. Besok aku akan melintasi Jalan Orang- Orang Mati.”
Eowyn menatapnya lama sekali dengan pandangan kaget, wajahnya memucat, dan lama sekali Ia tidak berbicara, sementara semua duduk diam. “Tapi, Aragorn,” katanya akhirnya, “tugasmukah untuk mencari kematian? Sebab hanya kematian yang akan kau temui di jalan itu. Mereka tidak akan mengizinkan orang hidup lewat di sana.”
“Mungkin mereka akan mempersulit aku lewat,” kata Aragorn; “tapi setidaknya aku akan mencoba. Tak ada jalan lain yang bisa membawa hasil.”
“Tapi ini gila,” kata Eowyn. “Para pria termasyhur dan gagah perkasa ini tidak seharusnya dibawa ke dalam kegelapan, melainkan harus kau pimpin maju perang, di mana kalian dibutuhkan. Kumohon kau tetap di sini dan berjalan bersama kakakku; dengan demikian kami semua akan gembira, dan harapan kami lebih cerah.”
“Ini bukan kegilaan, Lady,” jawab Aragorn, “sebab aku melintasi jalan yang memang sudah ditunjuk bagiku. Dan orang-orang ini mendampingiku atas kehendak sendiri. Jika mereka ingin tinggal dan berjalan bersama kaum Rohirrim, mereka boleh melakukannya. Tapi aku akan melewati Jalan Orang- Orang Mati, sendirian, kalau perlu.”
Lalu mereka tidak berbicara lagi, dan makan dalam diam; namun mata Eowyn terus melekat pada Aragorn, dan yang lain melihat ia sangat resah. Akhirnya mereka bangkit, berpamitan pada sang Lady, dan berterima kasih kepadanya atas semua yang telah diberikannya, kemudian pergi beristirahat.
Tapi ketika Aragorn sampai di pondok tempat Ia akan menginap bersama

Legolas dan Gimli, dan saat kawan-kawannya sudah masuk, Lady Eowyn menyusulnya dan memanggilnya. Aragorn membalikkan tubuh dan melihat sosoknya yang bagaikan kilauan di malam hari, karena Ia berpakaian putih; tapi matanya berapi-api.
“Aragorn,” katanya, “mengapa kau hendak pergi lewat jalan maut itu?”

“Karena aku harus,” kata Aragorn. “Hanya dengan cara itu aku masih punya harapan untuk melakukan peranku dalam perang melawan Sauron. Aku bukan memilih jalan yang penuh bahaya, Eowyn. Seandainya boleh memilih, sekarang ini aku seharusnya sedang berkelana di Utara, di lembah indah Rivendell.” Sejenak Eowyn terdiam, seolah-olah merenungi arti perkataan Aragorn. Lalu tiba-tiba ia meletakkan tangannya ke atas lengan Aragorn. “Kau ksatria yang teguh dan tegas,” katanya, “memang begitulah orang-orang termasyhur.” Ia diam sebentar. “Lord,” katanya, “kalau kau memang harus pergi, izinkan aku ikut dalam rombonganmu. Sebab aku sudah letih bersembunyi di bukit-bukit; aku ingin menghadapi bahaya dan pertempuran.”
“Tugasmu adalah mendampingi rakyatmu,” jawab Aragorn.

“Sudah terlalu sering aku mendengar tentang tugas,” seru Eowyn. “Bukankah aku anggota keluarga Istana Eorl, wanita pejuang dan bukan perawat? Sudah cukup lama aku mendampingi kaki-kaki yang terhuyung-huyung. Karena kaki- kaki itu sudah tidak terhuyung-huyung, tidakkah sekarang aku boleh menjalani hidupku sesuai kehendakku?”
“Hanya sedikit yang bisa melakukan itu dengan penuh martabat,” jawab Aragorn. “Tapi mengenai dirimu, Lady, bukankah kau sudah menerima tugas untuk memerintah rakyatmu sampai Raja kembali? Bila bukan kau yang dipilih, salah seorang marsekal atau kapten akan mengemban tugas itu, dan dia pun tak bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawabnya, entah dia jemu ataupun tidak.” “Apakah aku harus selalu dipilih?” kata Eowyn getir. “Apakah aku akan selalu ditinggal ketika para Penunggang pergi, untuk menjaga istana sementara mereka memperoleh kemasyhuran, dan menyediakan makanan dan tempat tidur nyaman saat mereka kembali?”
“Tak lama lagi akan tiba saatnya tak seorang pun kembali,” kata Aragorn. “Pada

saat itulah dibutuhkan orang-orang yang mau menunjukkan keberanian tanpa berpamrih kemasyhuran, sebab takkan ada yang ingat tindakan-tindakan yang dilakukan sebagai pertahanan terakhir rumah-rumah kalian. Namun keberanian itu tidak jadi berkurang nilainya, meski tidak menerima pujian.”
Dan Eowyn menjawab, “Semua perkataanmu hanya menunjuk satu hal padaku: aku seorang wanita, dan tempatku di dalam rumah. Tapi bila kaum pria sudah mati dalam pertempuran dan kehormatan, aku boleh saja dipanggang di dalam rumah karena kaum pria tidak membutuhkanku lagi. Tapi aku keturunan Eorl. Aku bukan pelayan wanita. Aku bisa berkuda dan menggunakan pedang, dan aku tidak takut sakit atau mati.”
“Apa yang kautakuti, Lady?” tanya Aragorn.

“Sangkar,” kata Eowyn. “Terperangkap di belakang jeruji, sampai aku usang dan tua, dan semua kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan besar sudah lenyap dan tak mungkin bisa diharapkan lagi.”
“Tapi kau sendiri menasihati aku untuk tidak berpetualang ke jalan yang sudah

kupilih, karena penuh bahaya?”

“Memberi nasihat boleh saja,” kata Eowyn. “Tapi bukan maksudku agar kau lari dari bahaya. Aku ingin kau maju perang di mana pedangmu bisa memenangkan kemasyhuran dan kegemilangan. Aku tak suka melihat sesuatu yang istimewa dibuang percuma.”
“Begitu juga aku,” kata Aragorn. “Karena itu kukatakan padamu, Lady. Tetaplah

di sini! Karena kau tidak diperintahkan pergi ke Selatan.”

“Begitu juga mereka yang pergi bersamamu. Mereka ikut hanya karena tak ingin berpisah darimu … karena mereka mencintaimu.” Lalu Ia membalikkan badan dan menghilang dalam kegelapan malam.


Ketika cahaya pagi sudah menerangi langit, tapi matahari masih belum naik ke atas punggung gunung tinggi di Timur, Aragorn bersiap-siap berangkat. Rombongannya sudah di atas kuda masing-masing, dan Aragorn pun sudah siap melompat naik ke atas kudanya, ketika Lady Eowyn datang untuk menyampaikan salam perpisahan pada mereka. la berpakaian seperti seorang

Penunggang dan menyandang pedang. la memegang sebuah cangkir, dan membawanya ke bibirnya, lalu minum seteguk sambil mendoakan perjalanan lancar bagi mereka; kemudian Ia memberikan cangkir itu kepada Aragorn, yang meminumnya juga dan berkata, “Selamat tinggal, Lady dari Rohan! Aku bersulang untuk keberuntungan Istana-mu, juga keberuntunganmu, dan seluruh rakyatmu. Sampaikan pada kakakmu: Di seberang bayang-bayang kita akan bertemu lagi!”
Lalu Gimli dan Legolas yang berdiri di dekatnya merasa melihat Eowyn menangis, dan karena air mata itu ditumpahkan oleh orang yang begitu keras dan angkuh, rasanya jadi semakin menyedihkan. Tapi Eowyn berkata, “Aragorn, akan pergikah engkau?”
“Aku akan pergi,” kata Aragorn.

“Kalau begitu, tak bolehkah aku bergabung dengan rombongan ini, sesuai permintaanku?”
“Tidak, Lady,” kata Aragorn. “Aku tak bisa memberi izin itu tanpa Persetujuan

Raja dan kakakmu; dan mereka baru akan datang besok. Sedangkan sekarang

setiap jam, bahkan setiap menit, sangat berharga untukku! Selamat tinggal!” Lalu Eowyn berlutut sambil berkata, “Kumohon dengan sangat!”
“Tidak, Lady,” kata Aragorn. Diraihnya tangan Eowyn dan ditegakkannya lagi gadis itu. Lalu ia mengecup tangan Eowyn, dan langsung melompat naik ke pelana, melaju pergi tanpa menoleh; hanya mereka yang akrab dengannya dan berada di dekatnya bisa melihat kepedihan yang dirasakannya.
Eowyn berdiri diam seperti patting batu, tangannya mengepal di sisinya, dan Ia memperhatikan mereka sampai mereka masuk ke dalam bayang-bayang di bawah Dwimorberg yang hitam, Gunung Hantu, di mana terdapat Pintu Orang- Orang Mati. Ketika mereka sudah hilang dari pandangan, Ia berputar sambil terhuyung-huyung seperti orang buta, dan kembali ke pondoknya. Tak satu pun rakyatnya menyaksikan peristiwa tadi. Mereka bersembunyi ketakutan dan tak mau keluar sampai hari sudah terang, dan orang-orang asing yang nekat itu sudah pergi.
Dan ada yang mengatakan, “Mereka hantu-hantu Peri. Biarkan mereka pergi ke

tempat asal mereka, ke tempat-tempat gelap, dan jangan kembali lagi. Sekarang

ini sudah cukup banyak kejahatan.”



Cahaya pagi masih kelabu ketika mereka melaju, karena matahari masih belum naik ke atas punggung pegunungan yang hitam di depan sana, Gunung Hantu. Rasa ngeri mulai menerpa ketika mereka lewat di antara barisan batu-batu purba dan sampai ke Dimholt. Bahkan Legolas pun tidak tahan berlama-lama di bawah kemurungan pohon-pohon hitam di sana. Mereka menemukan sebuah tempat cekung di kaki gunung yang terbuka, dan tepat di atas jalan mereka, berdiri sebuah batu tunggal tinggi seperti jari ajal.
“Aku merinding,” kata Gimli, tapi yang lain diam saja, dan suaranya teredam oleh jarum-jarum cemara yang basah di dekat kakinya. Kuda-kuda tidak mau melewati batu yang mengancam itu, sampai para penunggang turun dan menuntun mereka. Akhirnya mereka masuk sampai jauh ke dalam lembah; di sana berdiri sebuah tembok batu karang terjal, dan pada tembok itu ada Pintu Gelap menganga di depan mereka, seperti mulut malam yang kelam. Tanda- tanda dan lambang-lambang dipahat pada palang lengkungnya, terlalu kabur untuk dibaca, dan kengerian mengalir keluar dari pintu itu, bagai uap kelabu. Rombongan berhenti, tak ada di antara mereka yang tidak gemetar, kecuali mungkin Legolas sang Peri, yang tidak takut pada hantu Manusia.
“Ini pintu maut,” kata Halbarad, “dan kematianku ada di seberangnya, bagaimanapun, aku akan nekat melewatinya, tapi tak ada kuda yang mau masuk.”
“Tapi kita harus masuk, jadi kuda-kuda juga harus ikut,” kata Aragorn. “Sebab

kalau kita bisa keluar dari kegelapan ini, masih jauh jarak yang harus kita tempuh, dan setiap jam yang hilang membuat kemenangan Sauron semakin dekat. Ikuti aku!”
Lalu Aragorn memimpin jalan, dan tekadnya begitu besar, sehingga seluruh kaum Dunedain dan kuda-kuda mereka pun mengikutinya. Dan memang kasih sayang kuda-kuda para Penjaga Hutan kepada penunggang mereka begitu besar, sampai-sampai mereka bersedia menghadapi kengerian Pintu itu, kalau

hati majikan mereka tetap teguh. Tapi Arod, kuda dari Rohan, menolak maju; ia berdiri sambil berkeringat dan gemetar ketakutan, menyedihkan sekali untuk dilihat. Maka Legolas menutupi matanya dengan tangan dan menyanyikan beberapa kata yang mengalir lembut dalam kemuraman itu, sampai kuda itu mau dituntun, dan Legolas masuk. Tinggal Gimli si Kurcaci berdiri sendirian.
Lututnya gemetar, dan Ia marah pada dirinya sendiri. “Sungguh keterlaluan!” katanya. “Seorang Peri saja mau masuk ke bawah tanah, kenapa seorang Kurcaci justru tidak berani.” Sambil berkata begitu Ia terjun masuk. Tapi Ia merasa kakinya berat seperti timah ketika melangkahi ambang pintu; dan seketika itu juga matanya tak lagi bisa melihat, padahal Ia Gimli putra Gloin, yang sudah biasa berjalan tanpa gentar ke lorong-lorong gelap bawah tanah di dunia.


Aragorn sudah membawa obor dari Dunharrow, ia berjalan di depan sambil mengangkat tinggi satu obor; Elladan dengan obor lain berjalan di belakang, dan Gimli, yang masih terhuyung-huyung di belakang, berupaya menyusul. la tak bisa melihat apa pun kecuali nyala redup obor-obor; tapi bila rombongan berhenti, seperti ada bisikan tanpa henti di sekelilingnya, gumaman kata-kata dalam bahasa yang belum pernah didengarnya.
Tak ada yang menyerang atau menghambat rombongan itu, namun ketakutan semakin mencekam hati si Kurcaci ketika Ia terus berjalan: terutama karena Ia tahu tak mungkin bisa berbalik arah lagi; seluruh jalan di belakangnya sudah dipenuhi pasukan halus tidak kasat mata, yang mengikuti mereka dalam gelap. Demikianlah waktu yang tak terkira lamanya berlalu, sampai Gimli melihat suatu pemandangan yang di kemudian hari enggan ia ingat-ingat, jalan itu lebar sekali, sejauh perkiraannya, tapi rombongan mereka tiba-tiba masuk ke sebuah rang besar yang kosong, tak ada lagi dinding di kedua sisi. Kengerian yang amat sangat mencengkeram dirinya, sampai ia hampir tak bisa berjalan. Agak di sebelah kiri ada sesuatu berkilauan ketika obor Aragorn mendekat. Lalu Aragorn berhenti dan mendekatinya untuk memeriksa.
“Apakah dia tak punya rasa takut?” gerutu si Kurcaci. “Di gua lain, Gimli putra

Gloin pasti akan menjadi yang pertama berlari mendekati kilauan emas. Tapi jangan di sini! Biarkan tetap tergeletak di situ!”
Tapi ia toh mendekat juga, dan ia melihat Aragorn berlutut, sementara Elladan memegang kedua obor tinggi-tinggi. Di depannya ada kerangka seorang pria besar. la memakai pakaian logam, dan pakaian kudanya masih utuh, karena udara di dalam gua itu sangat kering seperti debu. Mantelnya berlapis emas, sabuknya dari emas dan batu akik merah tua, dan helmnya berlapis emas tebal, masih ada di kepalanya yang terjerembap di lantai. la dulu tentu terjatuh dekat dinding gua, dan di depannya ada sebuah pintu batu yang tertutup rapat: tulang- tulang jarinya mencengkeram kaku dan masih menancap di celah-celah pintu batu. Sebilah pedang yang gerompang dan patah berada di dekatnya. Rupanya ia telah mencoba memukul batu itu dalam keputusasaannya.
Aragorn tidak menyentuhnya, tapi setelah menatap diam untuk beberapa saat, ia bangkit berdiri dan mengeluh. “Bunga-bunga sebelumnya takkan pernah berlalu ke sana, hingga akhir zaman,” gumamnya. “Sembilan kuburan dan tujuh ada di sana, tertutup rumput hijau, dan selama bertahun-tahun dia berbaring di depan pintu yang tak bisa dibukanya. Menuju ke manakah pintu itu? Mengapa dia ingin masuk? Takkan pernah ada yang tahu!”
“Karena itu bukan tugasku!” teriak Aragorn sambil berputar kembali dan berbicara pada kegelapan yang berbisik di belakang. “Simpanlah harta dan rahasiamu agar tetap tersembunyi di Tahun-Tahun Terkutuk! Kami hanya minta kecepatan. Biarkan kami lewat, lalu ikutlah! Aku memanggilmu ke Batu Erech!”


Tak ada jawaban, kecuali keheningan mencekam yang lebih mengerikan daripada bisikan-bisikan sebelumnya; lalu embusan angin dingin bertiup, obor- obor berkedip, lalu mati, tak bisa dinyalakan lagi. Saat-saat setelah itu, entah satu jam atau lebih, Gimli tak ingat banyak. Yang lain terus berjalan maju, tapi ia selalu ketinggalan di belakang dikejar kengerian menggapai-gapai yang serasa nyaris menangkapnya di belakangnya terdengar suara berisik seperti bunyi banyak kaki melangkah diam-diam. la terus terseok-seok, bahkan sampai merangkak seperti hewan, dan akhirnya ia tak tahan lagi: ia harus menemukan

akhir jalan dan melarikan diri, atau seperti orang gila lari kembali untuk menjumpai ketakutan yang mengikutinya.
Mendadak ia mendengar denting tetes air, nyaring dan jernih, seperti batu jatuh ke dalam mimpi penuh bayangan gelap. Cahaya mulai tampak, dan lihat! Rombongan mereka masuk ke sebuah gerbang lain, berambang lebar dengan palang lengkung sangat tinggi, sebuah sungai kecil mengalir keluar di samping mereka; dan di seberang ada jalan menurun curam di antara batu karang terjal. Sisisisinya yang tajam tampak di depan langit tinggi di atas. Begitu dalam dan sempit jurang itu, hingga langit tampak gelap dan bintangbintang kecil berkelip di dalamnya. Tak lama kemudian Gimli baru tahu bahwa sebenarnya masih dua jam sebelum matahari terbenam, di hari yang sama, hari mereka berangkat dari Dunharrow; meski menurut perasaannya hari sudah senja di tahun yang lain, atau di dunia yang lain.
Rombongan itu kemudian naik kuda lagi, dan Gimli kembali pada Legolas. Mereka berkuda dalam satu barisan, rembang petang sudah menyongsong dengan senja biru gelap; ketakutan masih menghantui mereka. Legolas memutar badannya, melihat ke belakang untuk berbicara dengan Gimli, dan Kurcaci itu melihat pancaran sinar mata Peri yang cerah. Di belakang mereka Elladan melaju, dialah yang terakhir dari Rombongan, tapi bukan yang terakhir menuruni jalan itu.
“Orang-Orang Mati mengikuti kita,” kata Legolas. “Aku melihat bentuk-bentuk Manusia dan kuda, panji-panji pucat seperti serpihan awan, dan tombak-tombak bagai belukar di malam musim dingin yang berkabut. Orang-Orang Mati mengikuti kita.”
“Ya, orang-orang Mati berkuda di belakang kita. Mereka sudah dipanggil,” kata

Elladan.



Rombongan mereka akhirnya keluar dari jurang itu, begitu mendadak, hingga mereka seakan keluar dari sebuah celah di dinding; di depan mereka terbentang dataran tinggi sebuah lembah luas, dan sungai di samping mereka mengalir turun dengan bunyi dingin melewati jeram-jeram.

“Di Mana gerangan di Dunia Tengah kita berada?” kata Gimli; dan Elladan menjawab, “Kita sudah turun dari hulu Morthond, sungai panjang dan dingin yang mengalir ke laut dan membasuh tembok-tembok Dot Amroth. Kau tak perlu bertanya dari mana asal namanya orang-orang menyebutnya Akar Hitam.” Lembah Morthond membentuk sebuah teluk besar yang mendaki sampai ke lereng pegunungan. Lereng-lerengnya yang terjal ditumbuhi rumput; tapi saat itu semua kelihatan kelabu, karena matahari sudah menghilang, dan jauh di bawah, tampak lampu-lampu berkelip di rumah-rumah Manusia. Lembah itu subur dan banyak penghuninya.
Lalu, tanpa memutar badan, Aragorn berteriak keras agar semua bisa mendengar, “Kawan-kawan, lupakan keletihan kalian! Maju terus, maju! Kita harus tiba di Batu Erech sebelum hari ini berakhir, jalan masih jauh.” Maka tanpa menengok ke belakang mereka melaju terus melintasi padang-padang pegunungan, sampai tiba di sebuah jembatan yang menyeberangi aliran sungai yang semakin besar, dan bertemu jalan yang melintasi daratan itu.
Lampu-lampu di rumah-rumah dan dusun-dusun dipadamkan ketika rombongan mereka mendekat. Orang-orang yang sedang berada di luar berteriak-teriak ketakutan dan berlarian seperti rusa liar yang diburu. Teriakan yang sama terdengar di malam yang semakin kelam itu, “Raja Orang-Orang Mati! Raja Orang-Orang Mati datang ke sini!”
Lonceng-lonceng berdentangan jauh di bawah, dan semua orang lari menjauh dari Aragorn; tapi Rombongan Kelabu melaju kencang seperti pemburu, hingga kuda-kuda mereka agak terhuyung-huyung keletihan. Dan demikianlah, tepat sebelum tengah malam, dalam kegelapan yang sama hitamnya dengan gua-gua di pegunungan tadi, akhirnya mereka tiba di Bukit Erech.


Sudah sekian lama ketakutan akan Kematian menyelubungi bukit dan ladang- ladang kosong sekitarnya. Pada puncaknya berdiri sebuah batu hitam, bulat seperti bola besar, setinggi manusia, meski separuhnya terbenam di dalam tanah. Tampaknya seperti bukan berasal dari bumi, seolah-olah jatuh dari langit, seperti dipercayai sebagian orang; tapi mereka yang masih ingat kisah

Westernesse mengatakan bahWa batu itu dibawa dari reruntuhan Numenor dan diletakkan di sana oleh Isildur ketika Ia mendarat. Penduduk lembah itu tak ada yang berani mendekatinya, juga tak mau tinggal di dekatnya; karena menurut mereka tempat itu merupakan tempat pertemuan Manusia-Manusia Bayangan yang sesekali berkumpul di sana dalam masa-masa ketakutan. berkerumun sambil berbisik dan bergumam di sekitar Batu itu.
Rombongan kemudian menuju Batu itu dan berhenti pada tengah malam buta. Lalu Elrohir memberikan pada Aragorn sebuah terompet perak, dan Ia meniupnya; mereka yang berdiri di dekatnya merasa mendengar bunyi balasan, seperti gema di dalam gua-gua di kejauhan. Tidak terdengar suara lain, namun mereka menyadari ada pasukan besar berkumpul di sekitar bukit tempat mereka berdiri; angin dingin berembus turun dari pegunungan, terasa seperti napas hantu-hantu. Lalu Aragorn turun dari kudanya, dan sambil berdiri dekat batu Ia berteriak dengan suara lantang,
“W ahai pelanggar-pelanggar Sumpah, mengapa kalian datang?”

Lalu sebuah suara membalasnya dari dalam malam kelam, seakan-akan dari tempat yang sangat jauh,
“Untuk memenuhi sumpah kami dan memperoleh kedamaian.”

Lalu Aragorn berkata, “Saatnya sudah tiba sekarang. Aku akan pergi ke Pelargir di Anduin, dan kalian akan mengikuti aku. Bila seluruh negeri ini sudah bersih dari anak buah Sauron, kuanggap sumpah kalian telah terpenuhi. Kalian akan memperoleh kedamaian dan pergi untuk selamanya. Sebab akulah Elessar, pewaris Isildur dari Gondor.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Aragorn meminta Halbarad membuka gulungan kain yang melilit tongkat besar yang dibawanya; dan lihatlah! Ternyata hanya hitam, kalaupun ada lambang atau tanda di atasnya, kegelapan menutupinya. Suasana menjadi sangat hening, tak ada bisikan atau desahan sepanjang malam itu. Rombongan itu lalu berkemah di samping Batu, tapi mereka hanya bisa tidur sebentar, karena hati mereka dicekam kengerian kepada Bayang-Bayang yang mengepung.
Di saat fajar dingin dan pucat menyongsong, Aragorn sudah bangun dan segera

memimpin Rombongan melanjutkan perjalanan dengan sangat terburu-buru dan penuh keletihan. Belum pernah mereka berjalan seperti ini, kecuali Aragorn sendiri. Hanya kemauan keras Aragorn yang membuat mereka bertahan untuk terus berjalan. Tak ada Manusia lain yang bisa bertahan, kecuali kaum Dunedain dari Utara, dan bersama mereka Gimli si Kurcaci dan Legolas sang Peri.
Mereka melewati Tarlang's Neck dan masuk ke Lamedon; Pasukan Bayang- Bayang mendesak dari belakang, perasaan takut menghantui di depan, sampai mereka tiba di Calembel di Ciril, dan matahari pun terbenam meninggalkan semburat merah bagaikan darah di belakang pinnath Gelin, jauh di Barat di belakang mereka. Ternyata kotapraja dan arungan Ciril telah kosong, karena kebanyakan penduduknya sudah pergi berperang; yang masih tersisa sudah lari ke perbukitan ketika mendengar kedatangan Raja Orang-Orang Mati. Tapi keesokan harinya cahaya fajar tidak datang, sementara Rombongan Kelabu bergerak terus ke dalam kegelapan Badai Mordor dan menghilang dari pandangan makhluk hidup; namun Orang-Orang Mati masih terus mengikuti mereka.

BAB 3

APEL SIAGA DI ROHAN



Kini semua jalan bergabung di Timur untuk menyongsong datangnya perang dan serbuan Bayang-Bayang. Ketika Pippin berdiri di Gerbang Agung di Kota dan melihat Pangeran Dol Amroth masuk dengan panji-panjinya, pada saat bersamaan Raja Rohan keluar dari perbukitan.
Saat itu sudah mulai senja. Di bawah surutnya sinar matahari, pasukan Penunggang membentuk bayang-bayang panjang meruncing di depan mereka. Kegelapan sudah menyusup masuk di bawah hutan cemara yang bergumam, yang memenuhi lereng pegunungan curam. Sekarang Raja melaju perlahan di penghujung hari. Akhirnya jalan itu mengitari pundak gunung yang panjang dan gersang, lalu terjun ke dalam kekelaman pepohonan yang mendesah lembut. Mereka turun terus dalam barisan panjang berkelok-kelok. Ketika akhirnya mereka tiba di dasar ngarai, ternyata sore sudah turun di tempat-tempat dalam itu. Matahari sudah lenyap. Senja menggantung di atas air terjun.
Sepanjang hari, jauh di bawah sana, sebuah sungai mengalir turun dari celah tinggi di belakang, membelah dinding-dinding penuh pohon cemara; sekarang Ia mengalir keluar dari gerbang batu, masuk ke lembah yang lebih besar. Para Penunggang mengikutinya, dan tiba-tiba Harrowdale terbentang di depan mereka, dengan bunyi gemuruh air di sore hari itu. Di sanalah Snowbourn yang putih, yang bergabung dengan sungai-sungai kecil, mengalir deras, uapnya mengepul di atas bebatuan, merayap turun ke Edoras, bukit-bukit hijau, dan padang-padang datar. Di sebelah kanan, di ujung lembah besar, Starkhorn menjulang di atas penopangnya yang lebar, disapu awan; puncaknya yang bergerigi, diselubungi salju abadi, berkilauan jauh di atas dunia, berbayang- bayang biru di Timur, bebercak merah oleh matahari terbenam di sisi Barat. Merry, yang sudah mendengar banyak kisah tentang negeri ini dalam perjalanan panjang mereka, menatap kagum negeri asing ini. Sebuah dunia tanpa langit, di mana melalui teluk-teluk udara remang-remang yang kabur, ia hanya melihat lereng-lereng tinggi yang terus mendaki, dinding demi dinding batu besar, serta

ngarai-ngarai yang merengut dikitari kabut. Sejenak Ia duduk terenyak setengah bermimpi, mendengarkan bunyi air, bisikan pohon-pohon gelap, derak bebatuan, dan keheningan yang menunggu di balik tiap bunyi. la mencintai pegunungan, atau setidaknya senang membayangkannya bila mendengar kisah-kisah tentang negeri-negeri jauh; tapi kini Ia merasa tertekan oleh beban berat Dunia Tengah. Ia ingin sekali menghindari impitan luasnya dunia itu dan duduk di sebuah ruangan yang tenang dekat perapian.
la sangat letih, sebab meski berkuda perlahan-lahan, mereka jalan terus hampir tanpa istirahat. Dari waktu ke waktu, selama hampir tiga hari itu Ia terangguk- angguk turun-naik, melewati celah-celah, melintasi lembah-lembah panjang, dan menyeberangi banyak sungai. Kadang-kadang di tempat yang jalannya lebih lebar Ia berkuda di samping Raja, dan Ia tidak tahu bahwa banyak Penunggang tersenyum geli melihat mereka berdua berdampingan: hobbit itu di atas kuda poni kelabu berbulu panjang, dan Raja Rohan di atas kudanya yang putih besar. Saat itu Ia bercakap-cakap dengan Theoden, menceritakan kampung halamannya dan tingkah laku penduduk Shire, atau sebaliknya mendengarkan kisah-kisah tentang Mark dan orang-orang hebat di masa lampau. Tapi di hari terakhir itu Merry lebih banyak berjalan sendirian di belakang Raja, tanpa berbicara, mencoba memahami bahasa Rohan yang lambat nyaring dan merdu yang diucapkan orang-orang di belakangnya. Dalam bahasa itu rupanya banyak sekali kata yang dikenalnya, meski diucapkan lebih kuat dan berat daripada di Shire; namun Ia tak juga bisa menangkap arti rangkaian kata-kata itu. Sesekali seorang Penunggang menyanyikan lagu yang menyentuh perasaan, dengan suara jernih, dan Merry merasa hatinya hanyut melambung, meski Ia tidak tahu makna lagu itu.
Namun ia merasa kesepian, terlebih lagi di penghujung hari itu. la bertanya-tanya dalam hati, ke mana gerangan Pippin pergi dalam dunia ajaib ini; dan apa yang terjadi dengan Aragorn, Legolas, dan Gimli. Lalu tiba-tiba, seakan-akan sesuatu yang dingin menyentub hatinya, ia teringat Frodo dan Sam. “Aku lupa mereka!” katanya, menyesali diri sendiri. “Padahal mereka lebih penting daripada kita semua. Aku ikut untuk membantu mereka, tapi sekarang mereka pasti sudah

ratusan mil jauhnya, kalau mereka masih hidup.” Ia menggigil.



“Akhirnya sampai di Harrowdale!” kata Eomer. “Perjalanan kita hampir selesai.” Mereka berhenti. Jalan keluar dari ngarai yang sempit turun dengan curam. Lembah besar di bawah hanya sekilas tampak dalam keremangan senja, seperti pemandangan yang dilihat melalui jendela tinggi. Sekerlip titik cahaya kecil bisa terlihat di dekat sungai.
“Mungkin perjalanan ini sudah selesai,” kata Theoden, “tapi aku masih harus pergi jauh. Tadi malam bulan purnama, dan esok pagi aku akan pergi ke Edoras, menghadiri apel siaga di Mark.”
“Tapi kalau Tuanku mau mendengar saranku,” kata Eomer dengan suara berbisik, “Tuanku harus kembali ke sini, sampai perang selesai, kalah maupun menang.”
Theoden tersenyum. “Tidak, anakku sebab begitulah aku akan memanggilmu jangan ucapkan kata-kata lembut Wormtongue di telingaku yang tua ini!” Ia duduk tegak dan menengok ke arah barisan panjang anak buahnya yang mengabur dalam keremangan senja di belakang. “Rasanya seperti sudah bertahun-tahun, padahal baru beberapa hari sejak aku maju ke barat; tapi aku takkan pernah bertopang tongkat lagi. Kalau kita kalah perang, apa gunanya aku bersembunyi di pegunungan? Dan kalau kita menang, untuk apa berduka kalaupun aku jatuh saat mengerahkan tenagaku yang terakhir? Tapi sudahlah. Malam ini aku akan tidur di Hold of Dunharrow. Setidaknya satu malam tenang masih tersisa untuk kita. Ayo maju terus!”


Dalam keremangan senja yang kian menggelap, mereka masuk ke lembah. Di sini Snowbourn mengalir di dekat dinding barat lembah, dan tak lama kemudian jalan itu mengantar mereka ke arungan tempat air dangkal berbunyi gemuruh di atas bebatuan. Arungan itu dijaga. Ketika Raja mendekatinya, banyak yang melompat keluar dari balik bayangan batu karang; saat melihat Raja, mereka berseru gembira, “Raja Theoden! Raja Theoden! Raja dari Mark kembali!”
Lalu seseorang membunyikan terompet dengan tiupan panjang bergema di

lembah. Terompet-terompet lain membalas, dan cahaya-cahaya bersinar dari seberang sungai.
Tiba-tiba serentetan bunyi terompet nyaring berkumandang dari atas, seolah- olah datang dari suatu tempat kosong, memadukan nada-nada mereka ke dalam satu suara, meluncurkannya bergulir dan mengempas dinding-dinding batu. Demikianlah Raja dari Mark telah kembali pulang dengan membawa kemenangan gemilang, keluar dari Dunharrow di bawah kaki Pegunungan Putih. Di sana Ia menemukan sisa laskar rakyatnya sudah berkumpul; sebab begitu mereka mengetahui kedatangannya, para kapten maju naik kuda untuk menemuinya di arungan, sambil membawa pesan-pesan dari Gandalf. Dunhere, pemimpin penduduk Harrowdale, berada di kepala barisan.
“Saat fajar tiga hari yang lalu, Tuanku,” katanya, “Shadowfax datang bagai angin dari Barat ke Edoras, dan Gandalf membawa kabar tentang kemenanganmu yang menggembirakan. Tapi dia juga menyampaikan pesan darimu agar mempercepat apel siaga para Penunggang. Lalu datang Bayangan Bersayap.” “Bayangan Bersayap?” kata Theoden. “Kami juga melihatnya, tapi di tengah malam buta, sebelum Gandalf meninggalkan kami.”
“Mungkin, Tuanku,” kata Dunhere. “Mungkin bayangan yang sama, atau bayangan lain yang serupa, kegelapan yang terbang dalam bentuk seekor burung besar, melintasi Edoras pagi itu, dan semua orang gemetar ketakutan. Karena dia menukik di atas Meduseld, dan ketika dia melayang rendah, hampir serendah bubungan atap rumah, terdengar teriakan melengking dahsyat yang membuat denyut jantung terhenti. Ketika itulah Gandalf menyarankan agar jangan berkumpul di ladang-ladang, melainkan menemuimu di sini, di lembah bawah pegunungan ini. Dia juga menyuruh kami hanya menyalakan api atau lampu kalau benar-benar sangat perlu. Begitulah yang kami lakukan. Gandalf berbicara dengan kewibawaan besar. Kami percaya bahwa ucapannya sesuai dengan keinginan paduka. Di Harrowdale belum pernah terlihat makhluk jahanam semacam itu.”
“Baiklah,” kata Theoden. “Sekarang aku akan pergi ke Hold, dan di sana, sebelum beristirahat, aku akan menjumpai para marsekal dan kapten. Suruh

mereka datang sesegera mungkin!”



Pada bagian lembah yang hanya sekitar satu mil lebarnya, jalannya menuju timur, lurus melintasi lembah itu. Dataran dan padang-padang rumput kasar yang tampak kelabu di malam hari terhampar di manamana, dan di depan sana, di sisi lembah terjauh, Merry melihat dinding yang merengut cemberut; itulah tonjolan terakhir kaki Starkhorn, dibelah oleh sungai di abad-abad lampau.
Di setiap tempat datar banyak orang berkumpul. Beberapa berkerumun sampai ke sisi jalan, mengelu-elukan Raja dan para penunggang dari Barat dengan teriakan gembira; dan menghampar jauh ke belakang berdiri barisan-barisan kemah dan tenda yang berjajar teratur, barisan kuda berpenjaga, dan gudang- gudang senjata yang besar, dengan tombak-tombak terpancang yang tampak seperti semak-semak pohon yang baru saja ditanam. Sekarang seluruhnya tertutup bayangan, namun meski angin dingin bertiup dari atas, tak ada lentera menyala, dan tak ada api dinyalakan. Penjaga-penjaga berjubah tebal berjalan mondar-mandir.
Merry bertanya dalam hati, berapa banyak sebenarnya Penunggang yang berkumpul di sana. la tak bisa memperkirakan jumlah mereka dalam keremangan yang semakin gelap, tapi di matanya mereka seperti pasukan besar, kira-kira berkekuatan ribuan orang. Sementara ia melayangkan pandang, rombongan Raja sampai ke batu karang yang menjulang tinggi di sisi timur lembah; di sana tiba-tiba.jalannya mendaki, dan Merry memandang penuh kekaguman. la belum pernah melihat jalan yang serupa dengan jalan tempat Ia kini berada, karya besar tangan manusia dari masa sebelumnya yang dinyanyikan dalam lagu-lagu. Jalan itu mendaki ke atas, berkelok-kelok seperti ular, menembus lereng batu karang yang terjal. Terjal seperti tangga, jalan itu meliuk ke depan dan ke belakang, sambil terus menanjak. Kuda-kuda bisa berjalan di atasnya, kereta juga bisa ditarik perlahan-lahan; tapi tak mungkin ada musuh yang bisa datang melalui jalan itu, kecuali turun dari angkasa, kalau regu pengamanan mempertahankannya dari atas. Di setiap tikungan berdiri batu-batu besar yang dipahat menyerupai manusia, besar, dengan tungkai dan lengan

kaku, berjongkok dengan kaki disilangkan dan lengan pendek dilipat di atas perut. Beberapa, karena sudah bertahun-tahun dimakan cuaca, telah kehilangan semua detailnya, kecuali lubang gelap mata mereka yang masih menatap sedih orang-orang yang lewat. Para Penunggang hampir tidak memperhatikan kehadiran batu-batu itu. Mereka menyebutnya Orang Pukel, dan tidak menghiraukannya: tak ada lagi, kesan menakutkan dalam batu-batu itu, tapi Merry memandang mereka dengan heran dan perasaan sendu, nyaris iba, melihat mereka tampak mengenaskan dalam keremangan senja.
Setelah beberapa saat, ia menoleh dan menyadari ia sudah mendaki beberapa ratus meter ke atas lembah, tapi jauh di bawah Ia masih bisa melihat samar- samar barisan Penunggang yang berkelok menyeberangi arungan dan berbaris sepanjang jalan, menuju kemah yang disiapkan untuk mereka. Hanya Raja dan pengawal-pengawalnya yang naik ke Hold.
Akhirnya rombongan Raja sampai ke tebing terjal, dan jalan yang menanjak itu masuk ke sebuah celah di antara dinding batu karang, lalu mendaki lereng pendek dan keluar lagi menuju suatu dataran tinggi luas. Orang-orang menyebutnya Firienfeld, sebuah padang pegunungan berumput dan bersemak hijau, tinggi di atas aliran Snowbourn yang dalam, terletak di pangkuan pegunungan besar di belakang: Starkhorn di selatan, dan di sebelah utara, Irensaga yang bergerigi, dan di antaranya, menghadap pasukan berkuda, terdapat tembok hitam suram Dwimorberg, Gunung Hantu yang menjulang keluar dan lereng-lereng terjal yang dipenuhi pepohonan cemara kelam. Dataran tinggi itu terbelah dua oleh barisan ganda batu-batu berdiri yang tidak dibentuk tangan manusia, dan kelihatan remang-remang di senja hari itu, lalu lenyap di tengah pepohonan. Mereka yang berani menapaki jalan itu akan segera sampai ke Dimholt yang hitam di bawah Dwimorberg, dengan tiang batu yang tampak mengancam serta bayangan menganga pintu terlarang.
Seperti itulah Dunharrow yang gelap, hasil karya orang-orang yang sudah lama terlupakan. Nama-nama mereka hilang, dan tak ada lagu atau legenda yang mengingatkan hal itu. Untuk apa mereka membangun tempat ini, sebagai kota atau kuil rahasia, atau makam para raja, tak ada orang di Rohan yang tahu. Di

sini mereka bekerja keras di Masa Kegelapan, bahkan sebelum kapal-kapal datang ke pantai barat, atau sebelum Gondor dibangun kaum Dunedain; kini mereka sudah lenyap, dan hanya para Pukel tua yang tersisa, yang masih duduk di tikungan-tikungan jalan.
Merry tertegun memandang barisan bebatuan: hitam dan sudah dikikis cuaca; beberapa sudah condong, beberapa sudah jatuh, beberapa lagi sudah retak atau pecah; mereka tampak seperti barisan gigi yang tua dan lapar. la bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya itu, dan ia berharap Raja tidak akan masuk ke dalam kegelapan mengikuti mereka. Lalu ia melihat di kiri-kanan jalan berbatu itu ada kelompok-kelompok tenda dan gardu-gardu; tapi tidak didirikan dekat pohon- pohon, malah tampaknya mengelompok agak menjauh dari pcpohonan, ke arah tepi batu karang. Jumlah terbesar ada di sebelah kanan, di mana Firienfeld lebih lebar; di kiri ada perkemahan lebih kecil, dan di tengahnya berdiri sebuah paviliun tinggi. Dari sisi itu seorang penunggang kuda keluar untuk menyambut mereka, dan mereka keluar dari jalan.
Ketika mereka semakin dekat, Merry melihat bahwa penunggang kuda itu seorang wanita dengan rambut panjang dijalin, bersinar dalam cahaya senja, tapi ia mengenakan helm, berpakaian seperti tentara, dan menyandang pedang. “Hidup, Lord dari Mark!” teriaknya. “Hatiku senang kau sudah kembali.”
“Dan kau, Eowyn,” kata Theoden, “apakah kau baik-baik saja?”

“Baik-baik saja,” jawabnya; namun Merry merasa suaranya mengingkarinya, dan Ia menduga Eowyn baru saja menangis, kalau memang mungkin orang berwajah sekeras itu bisa menangis. “Semua baik-baik. Perjalanan meletihkan bagi orang- orang itu, sebab mereka direnggutkan tiba-tiba dari rumah. Banyak kata-kata keras, sebab sudah lama sekali sejak peperangan mengusir kita keluar dari padang-padang hijau; tapi tidak terjadi perbuatan-perbuatan jahat. Semuanya sudah teratur sekarang, seperti bisa tuanku lihat. Dan tempat berkemah bagi tuanku sudah disiapkan juga; karena aku sudah mendapat kabar tentang dirimu, dan sudah tahu kapan kau akan datang.”
“Kalau begitu Aragorn sudah datang,” kata Eomer. “Apakah dia masih di sini?” “Tidak, dia sudah pergi,” kata Eowyn sambil menoleh ke pegunungan gelap di

Timur dan Selatan.

“Ke mana dia pergi?” tanya Eomer.

“Aku tidak tahu,” jawab Eowyn. “Dia datang di malam hari, dan berangkat lagi kemarin pagi, sebelum Matahari naik di atas puncak-puncak gunung. Dia sudah pergi.”
“Kau sedih, putriku,” kata Theoden. “Apa yang terjadi? Katakan, apakah dia membicarakan jalan itu?” Ia menunjuk ke garis-garis bebatuan yang sudah menggelap, yang menuju Dwimorberg. “Tentang Jalan Orang-Orang Mati?”
“Ya, tuanku,” kata Eowyn. “Dan dia sudah masuk ke dalam bayangan, dari mana tak pernah ada yang kembali. Aku tak bisa membujuknya untuk mengurungkan niat. Dia sudah pergi.”
“Kalau begitu, jalan kita sudah terpisah,” kata Eomer. “Dia sudah hilang. Kita harus maju perang tanpa dia, dan harapan kita pun menipis.”
Perlahan-lahan mereka melintasi belukar-belukar pendek dan rerumputan dataran tinggi itu tanpa berbicara lagi, sampai tiba di paviliun Raja. Di sana Merry mendapati semuanya sudah disiapkan, bahkan dirinya pun tidak dilupakan. Tenda kecil sudah dipasang untuknya di samping kemah Raja; dan di sana Ia duduk sendirian, sementara orang-orang berlalu lalang, masuk ke kemah Raja untuk berbicara. Malam datang dan puncak-puncak gunung yang separuh terlihat di sebelah barat dimahkotai bintang-bintang, tapi sisi Timur gelap dan kosong. Barisan batu sudah memudar dari pandangan, tapi di seberang mereka, lebih kelam daripada kesuraman itu, Dwimorberg menjulang, sesosok bayangan besar yang membisu.
“Jalan Orang-Orang Mati,” Merry menggerutu sendiri. “Jalan Orang-Orang Mati? Apa artinya semua ini? Mereka semua meninggalkan aku sekarang. Mereka semua pergi menuju malapetaka: Gandalf dan Pippin ke medan perang di Timur; Sam dan Frodo ke Mordor; Strider, Legolas, dan Gimli ke Jalan Orang-Orang Mati. Tapi kurasa giliranku akan segera datang. Aku heran apa yang mereka bicarakan, dan apa yang akan dilakukan Raja. Sebab sekarang aku harus ikut ke mana pun dia pergi.”
Di tengah pikiran-pikiran muram itu, ia tiba-tiba ingat bahwa ia sudah lapar

sekali, lalu Ia bangkit untuk melihat apakah orang-orang lain di perkemahan aneh ini juga merasakan hal yang sama. Tapi tepat pada saat itu terompet berbunyi, dan seseorang datang memanggilnya. Sebagai pelayan, Ia harus melayani Raja di pertemuan dewan.


Di bagian tengah paviliun ada ruangan kecil, dibatasi tirai-tirai bersulam dan dihampari kulit-kulit binatang; di depan sebuah meja kecil duduklah Theoden bersama Eomer dan Eowyn, serta Dunhere, penguasa Harrowdale. Merry berdiri di samping kursi Raja dan melayaninya, sampai akhirnya pria tua itu selesai merenung, lalu berbicara dan tersenyum kepadanya.
“Ayo, Master Meriadoc!” katanya. “Kau jangan berdiri. Kau duduk di sebelahku, selama aku berada di negeriku sendiri, dan kau harus meringankan hatiku dengan cerita-ceritamu.”
Mereka memberi tempat kepada hobbit itu di samping tangan kiri Raja, tapi tak ada yang meminta cerita-cerita. Bahkan hanya sedikit pembicaraan, dan mereka makan-minum sambil diam hampir sepanjang waktu, sampai akhirnya, dengan mengerahkan keberanian, Merry mengajukan pertanyaan yang menyiksanya. “Sudah dua kali, Tuanku, aku mendengar tentang Jalan Orang-orang Mati,” katanya. “Jalan apakah itu? Dan ke manakah Strider, maksudku, Lord Aragorn, pergi?”
Raja mengeluh, tapi tak ada yang menjawab, sampai akhirnya Eomer berbicara. “Kami tidak tahu, dan kami sangat cemas,” katanya. “Tapi mengenai Jalan Orang-Orang Mati, kau sendiri sudah menapaki awal tangganya. Bukan, aku bukan bermaksud membicarakan pertanda buruk! Jalan yang tadi kita daki adalah jalan menuju Pintu, di sana di Dimholt. Tapi apa yang ada di seberangnya, tak ada yang tahu.”
“Tak ada yang tahu,” kata Theoden, “meski begitu, legenda-legenda kuno yang sekarang jarang diceritakan, melaporkan beberapa hal. Kalau kisah-kisah kuno ini, yang diceritakan turun-temurun dari ayah ke anak di Istana Eorl, memang benar, maka Pintu di bawah Dwimorberg menuju suatu jalan rahasia di bawah pegunungan, yang mengantar pada suatu tempat yang terlupakan. Tapi tak

pernah ada yang berani masuk untuk meneliti rahasianya, sejak Baldor, putra Brego, masuk ke Pintu itu dan tak pernah kembali di antara manusia hidup. Dia mengucapkan ikrar yang sembrono, ketika dia mabuk di pesta yang diadakan Brego untuk menyucikan Meduseld yang baru dibangun, dan Baldor, putra mahkota, tak pernah sampai menduduki takhta.
“Katanya Orang-Orang Mati dan Tahun-Tahun Kegelapan menjaga jalan itu, dan tidak mengizinkan manusia hidup memasuki balairung mereka yang tersembunyi; tapi sesekali mereka tampak keluar dan pintu, seperti bayangan, dan berjalan melewati jalan berbatu. Saat itu penduduk Harrowdale menutup rapat pintu-pintu rumah mereka dan menutupi jendela-jendelanya, dan mereka sangat ketakutan. Tapi Orang-orang Mati jarang keluar, hanya pada saat-saat akan ada keributan besar dan menjelang petaka maut yang hebat.”
“Meski begitu, orang bilang di Harrowdale,” kata Eowyn dengan suara rendah, “di malam-malam tanpa bulan beberapa hari yang lalu, satu pasukan besar berpakaian tempur aneh lewat di sana. Dari mana mereka datang tak ada yang tahu, tapi mereka mendaki jalan berbatu itu dan hilang ke dalam perbukitan, seolah-olah pergi memenuhi janji untuk bertemu.”
“Kalau begitu, mengapa Aragorn pergi ke sana?” tanya Merry. “Adakah alasannya yang bisa kaujelaskan?”
“Kecuali dia mengatakan sesuatu padamu sebagai temannya, yang tidak kami

dengar,” kata Eomer, “tak ada di dunia ini yang bisa menebak tujuannya.”

“Dia sangat berubah sejak pertama kali datang ke istana Raja,” kata Eowyn, “lebih muram, dan lebih tua. Kupikir dia tampak aneh, dan seperti orang yang dipanggil Orang-Orang Mati.”
“Mungkin dia memang dipanggil,” kata Theoden, “dan di hatiku aku merasa takkan bertemu lagi dengannya. Namun dia orang bermartabat seperti raja, dengan takdir yang mulia. Dan putriku, biarkanlah Pelipur hati ini menyelinap ke dalam hatimu yang sedang menanggung kesedihan karena tamu itu. Alkisah ketika kaum Eorlingas keluar dari Utara dan mendaki Snowbourn, sambil mencari tempat-tempat Perlindungan yang kuat untuk saat-saat darurat, Brego dan putranya Baldor menaiki Tangga Hold dan sampai ke depan Pintu. Di

ambang pintu duduk seorang pria tua, sudah sangat lanjut usianya; dulu berbadan tinggi tegap, tapi kini sudah layu seperti batu tua. Bahkan mereka mengira dia patting batu, karena dia diam tak bergerak, hanya membisu, sampai mereka mencoba melewatinya dan masuk. Lalu sebuah suara keluar dari dirinya, seperti dari dalam tanah, dan dengan kaget mereka dengar dia berbicara dalam bahasa barat: Jalan ini tertutup.
“Lalu mereka berhenti dan memandangnya, dan melihat dia masih hidup; tapi dia tidak menatap mereka. Jalan ini tertutup, suaranya berkata lagi. Jalan ini dibuat oleh mereka yang sudah Mati, dan yang Mati yang menjaganya, sampai saatnya tiba. Jalan ini tertutup.”
“Dan kapankah saatnya tiba?” kata Baldor. Tapi dia tidak memperoleh jawaban. Karena pria tua itu mati saat itu juga dan jatuh tertelungkup; tak ada berita lain yang pernah kami dengar tentang penduduk zaman dulu di pegunungan. Meski begitu, mungkin saat yang dimaksud sudah tiba, dan Aragorn bisa lewat.”
“Tapi bagaimana orang bisa tahu apakah saatnya sudah tiba atau belum, kecuali dengan mencoba melewati Pintu itu?” kata Eomer. “Aku tidak akan mau pergi ke sana meski seluruh pasukan Mordor menghadangku, sementara aku sedang sendirian dan tak punya tempat perlindungan lain. Sayang sekali suasana hati yang aneh menimpa orang hebat seperti itu, lebih-lebih di saat gawat ini! Bukankah sudah cukup banyak kejahatan berkeliaran tanpa harus mencarinya di bawah tanah? Perang sudah dekat.”
la berhenti, karena saat itu ada suara berisik di luar, suara seorang pria menyerukan nama Theoden, dan suara teguran penjaga.


Tak lama kemudian, kapten Penjaga menyingkap tirai. “Ada seseorang di sini, Tuanku,” katanya, “seorang utusan berkuda dari Gondor. Dia ingin menghadap segera.”
“Persilakan dia masuk!” kata Theoden.

Seorang pria jangkung masuk, dan Merry menahan teriakan kagetnya, karena untuk sesaat ia seolah melihat Boromir hidup lagi dan kembali. Lalu ia sadar ia keliru, karena pria itu orang asing, tapi sangat mirip Boromir, seakan-akan

saudaranya: jangkung, gagah, dan bermata kelabu. la berpakaian penunggang kuda dengan jubah hijau tua di atas rompi logam halus; di bagian depan helmnya ada hiasan bintang perak kecil. Di tangannya Ia membawa sebatang panah berbulu hitam dan berkepala kait baja, tapi ujungnya dicat merah.
la berlutut di atas satu lutut dan mempersembahkan panah itu pada Theoden. “Hidup, Penguasa Rohirrim, sahabat Gondor!” katanya. “Aku Hirgon, utusan berkuda Denethor, yang membawa tanda perang ini. Gondor sangat membutuhkan bantuan. Sudah sering kaum Rohirrim membantu kami, tapi kini Lord Denethor memohon seluruh kekuatan dan kecepatanmu; kalau tidak, Gondor akan jatuh.”
“Panah Merah!” kata Theoden, memegang panah itu seperti orang menerima panggilan yang sudah lama ditunggu, tapi toh merasa ngeri ketika panggilan itu datang. Tangannya gemetar. “Panah Merah belum pernah terlihat di Mark selama masa kekuasaanku! Sudah sedemikian parahkah keadaannya? Dan bagaimana perkiraan Lord Denethor tentang seluruh kekuatan dan kecepatanku?”
“Untuk hal itu, tentu Tuan sendirilah yang paling tahu,” kata Hirgon. “Tapi tak lama lagi Minas Tirith akan terkepung, dan kecuali Tuanku punya kekuatan untuk membubarkan serangan gabungan banyak pasukan, Lord Denethor menyuruhku menyampaikan pesan bahwa menurutnya pasukan kuat dari Rohirrim lebih baik ada di dalam tembok-temboknya daripada di luar.”
“Tapi dia tahu bahwa bangsa kami lebih mahir bertarung di atas kuda, di tempat terbuka, juga bahwa permukiman kami terpisah-pisah dan perlu waktu untuk mengumpulkan para Penunggang kami. Bukankah benar, Hirgon, bahwa Penguasa Minas Tirith tahu lebih banyak daripada yang dia kirim melalui pesannya? Karena kami sudah dalam keadaan perang, seperti kaulihat, dan kami sudah dalam keadaan siaga. Gandalf si Kelabu saat itu berada di antara kami, dan sekarang pun kami sedang bersiap siaga menghadapi pertempuran di Timur.”
“Apa yang diketahui atau diduga Lord Denethor tentang semua ini, aku tidak

tahu,” jawab Hirgon. “Tapi keadaan kami benar-benar sangat genting.

Penguasaku tidak mengeluarkan perintah pada Tuanku. Dia hanya memohon agar Tuanku ingat persahabatan lama dan sumpah-sumpah yang sudah lama diikrarkan, dan berusaha membantu sebisanya, demi kebaikan Tuanku sendiri. Kami mendapat laporan bahwa banyak raja datang dari Timur untuk memperkuat Mordor. Dari Utara sampai ke padang Dagorlad terjadi pertempuran, dan ada selentingan tentang bakal adanya perang. Di Selatan kaum Haradrim bergerak, dan ketakutan sudah mencekam semua pantai kami, sehingga takkan banyak bantuan untuk kami dari sana. Bergegaslah! Sebab di depan tembok-tembok Minas Tirith waktu kiamat kami akan ditentukan dan kalau gelombang bencana tidak dihentikan di sana, maka dia akan membanjiri semua padang elok Rohan, bahkan di Hold ini di tengah perbukitan, takkan ada perlindungan.”
“Kabar buruk,” kata Theoden, “tapi bukan tidak terpikirkan. Katakan pada Denethor, meski Rohan sendiri tidak merasakan ancaman, kami pasti datang membantunya. Tapi kami sendiri telah menderita banyak kehilangan dalam pertempuran melawan Saruman si pengkhianat, bahkan masih harus memikirkan perbatasan kami di utara dan timur, seperti ditegaskan juga dalam pesan Denethor. Kekuatan Penguasa Kegelapan yang rupanya sangat besar itu bisa saja melibatkan kami dalam pertempuran di depan Kota, juga melancarkan pukulan keras dari seberang Sungai di luar Gerbang Para Raja.”
“Tapi kami tidak akan lagi membahas saran-saran bijak. Kami akan datang. Apel siaga direncanakan besok pagi. Seharusnya sepuluh ribu pasukan tombak bisa kukirim melewati padang, untuk menakuti musuh-musuhmu. Tapi aku khawatir jumlah itu sudah berkurang sekarang; karena aku tak mau meninggalkan semua bentengku tanpa penjagaan. Meski begitu, setidaknya enam ribu orang akan pergi bersamaku. Katakan pada Denethor bahwa kali ini Raja dari Mark sendiri akan datang ke Gondor, meski mungkin dia tidak akan kembali ke negerinya sendiri. Tapi jauh mau jarak ke sana, dan manusia serta kuda harus tiba di sana dengan tenaga cukup untuk bertempur. Kira-kira seminggu sejak esok pagi kalian akan mendengar teriakan Putra-Putra Eorl datang dari Utara.”
“Seminggu!” kata Hirgon. “Kalau harus demikian, ya sudahlah. Tapi

kemungkinan besar Tuanku hanya akan menemukan puing-puing, tujuh hari dari

sekarang, kecuali bila bala bantuan lain yang tak terduga datang. Bagaimanapun,. mungkin Tuanku masih bisa membubarkan para Orc dan Manusia Hitam berpesta pora di Menara Putih.”
“Setidaknya itu yang akan kami lakukan,” kata Theoden. “Tapi aku sendiri baru saja datang dari pertempuran dan menempuh perjalanan yang sangat panjang, jadi sekarang aku akan istirahat dulu. Menginaplah di sini, jadi kau bisa menyaksikan apel siaga Rohan dan pergi dengan hati lebih gembira karena sudah melihatnya sendiri, dan akan lebih cepat karena sudah beristirahat. Di pagi hari perembukan berjalan lebih lancar, dan malam hari hanya akan banyak mengubah pikiran.”


Setelah berkata demikian, Raja bangkit berdiri, diikuti yang lainnya. “Sekarang masing-masing pergilah beristirahat,” katanya, “dan tidurlah dengan nyenyak. Dan kau, Master Meriadoc, malam ini kau tidak kuperlukan lagi. Tapi siaplah melayaniku begitu Matahari terbit.”
“Aku akan siap,” kata Merry, “bahkan jika aku diminta mendampingi Tuanku menempuh Jalan Orang-Orang Mati.”
“Jangan ucapkan kata-kata penyebar firasat!” kata Raja. “Sebab mungkin saja lebih dari satu jalan yang menyandang nama itu. Aku tidak mengatakan memintamu mendampingiku dalam perjalanan mana pun. Selamat malam!”


“Aku tidak mau ditinggal, hanya untuk dipanggil melayani kalau dia sudah kembali!” kata Merry. “Aku tidak mau ditinggal, tidak mau.” Dan sambil mengulangi kata-kata itu berkali-kali, akhirnya Ia tertidur di dalam tendanya.
la terbangun karena seseorang mengguncang badannya. “Bangun, bangun, Master Holbytla!” teriaknya. Merry tersadar dari mimpi dan tersentak duduk. Masih gelap sekali, pikirnya.
“Ada apa?” tanyanya. “Raja memanggilmu.”
“Tapi Matahari belum terbit,” kata Merry.

“Belum, dan tidak akan terbit hari ini, Master Holbytla. Bahkan kelihatannya tidak

akan pernah lagi terbit, kalau melihat kegelapan sekarang ini. Tapi waktu tidak

berhenti berjalan, meski Matahari hilang. Bergegaslah!”

Sambil cepat-cepat mengenakan pakaian, Merry memandang keluar. Dunia terlihat kelam. Bahkan udara terlihat cokelat, semuanya tampak hitam dan kelabu, tanpa bayang-bayang; terasa kesunyian mencekam. Tak ada awan yang tampak, kecuali jauh di barat, seperti jari-jari kemurungan yang terjulur menggapai-gapai dan merayap perlahan, dengan seberkas cahaya merembes dari sela-selanya. Di atas kepala menggantung atap langit berat, suram dan lengang, dan cahaya justru terasa semakin memudar, bukan semakin terang. Merry melihat banyak orang berkerumun, menatap langit dan menggerutu; wajah mereka kelabu dan murung, beberapa orang tampak ketakutan. Dengan hati berat Merry berjalan ke arah Raja. Hirgon utusan dari Gondor ada di depannya, di sampingnya berdiri orang lain, mirip dengannya dan berpakaian serupa, namun lebih pendek dan lebih lebar. Ketika Merry masuk, Ia sedang berbicara dengan Raja.
“Datangnya dari Mordor, Tuanku,” katanya. “Mulai tadi malam, ketika matahari terbenam. Dari bukit-bukit wilayah Tuanku di Eastfold aku melihatnya naik dan merayap di langit. Sepanjang malam, ketika aku melaju, dia menyusul di belakang dan menelan bintang-bintang sekarang awan besar itu menggantung di atas semua daratan antara daerah ini dan Pegunungan Bayang-Bayang; makin lama semakin kelam. Perang sudah dimulai.”


Sejenak Raja duduk diam. Akhirnya Ia berbicara. “Jadi, akhirnya kita sampai juga ke sana,” katanya. “Pertempuran besar masa kini; banyak yang akan hancur dan musnah. Tapi setidaknya tak perlu lagi bersembunyi. Kita akan melalui jalan langsung dan terbuka, dengan kecepatan penuh. Apel siaga akan segera dimulai, dan takkan menunggu mereka yang terlambat. Punyakah engkau persediaan cukup di Minas Tirith? Sebab kalau kami harus segera berangkat, maka kami harus pergi tanpa banyak beban, hanya bekal makanan dan minuman cukup untuk sampai ke pertempuran.”
“Kami punya persediaan banyak yang sudah lama dipersiapkan,” jawab Hirgon.

“Pergilah sekarang dengan bekal ringan dan secepat mungkin!”

“Kalau begitu, panggillah para tentara, Eomer,” kata Theoden. “Para

Penunggang agar segera menyusun barisan!”

Eomer keluar; tak lama kemudian terompet-terompet berbunyi di Hold, dan dijawab oleh banyak terompet di bawah; tapi menurut Merry bunyinya tidak sejernih dan segagah malam sebelumnya. Kedengarannya redup dan parau di udara pengap, seperti ringkikan mengancam.


Raja berbicara pada Merry. “Aku akan maju perang, Master Meriadoc,” katanya. “Sebentar lagi aku berangkat. Kubebaskan kau dari melayani diriku, tapi tidak dari persahabatanku. Kau akan tinggal di sini, dan kalau mau, kau akan melayani Lady Eowyn, yang akan memerintah rakyatku atas namaku.”
“Tapi, Tuanku,” kata Merry terbata-bata, “aku sudah mempersembahkan pedangku. Aku tak ingin dipisahkan darimu seperti ini, Baginda Theoden. Dan karena semua kawanku sudah pergi berperang, aku akan malu kalau ditinggal di belakang.”
“Tapi kami akan naik kuda yang tinggi dan cepat,” kata Theoden. “Meski kau gagah berani, kau takkan bisa menunggang hewan seperti itu.”
“Kalau begitu ikatlah aku ke punggung salah satu kuda, atau biarkan aku menggantung pada tali kekang, atau apalah,” kata Merry. “Terlalu jauh untuk berlari, tapi aku akan berlari, kalau aku tak bisa berkuda, meski kakiku akan lecet dan aku datang berminggu-minggu terlambat.”
Theoden tersenyum. “Daripada begitu, lebih baik kubawa kau bersamaku naik Snowmane,” katanya. “Setidaknya kau bisa ikut aku sampai ke Edoras dan melihat Meduseld; sebab aku akan lewat sana. Sejauh itu Stybba bisa membawamu: pacuan besar baru akan dimulai saat kami sampai ke padang- padang.”
Lalu Eowyn bangkit berdiri. “Kemarilah, Meriadoc!” katanya. “Akan kutunjukkan perlengkapan yang sudah kusiapkan untukmu.” Mereka keluar bersama-sama. “Hanya ini permintaan Aragorn padaku,” kata Eowyn ketika mereka berjalan di antara tenda-tenda, “yaitu agar kau dipersenjatai untuk menghadapi

pertempuran. Sudah kulaksanakan permintaan itu sebaik mungkin. Sebab jauh di dalam hati, aku tahu kau akan membutuhkan perlengkapan itu sebelum akhir pertempuran.”
Lalu ia menuntun Merry ke sebuah gardu di antara kemah-kemah pengawal Raja; di sana seorang pengawas senjata membawakannya helm berukuran kecil, perisai bundar, dan perlengkapan-perlengkapan lain.
“Kami tak punya rompi logam yang pas ukurannya untukmu,” kata Eowyn, “juga

tak sempat membuat hauberk; tapi ini ada rompi kuat dari kulit, juga sabuk dan pisau. Pedang kau sudah punya.”
Merry membungkuk, dan Lady Eowyn menunjukkan perisai kepadanya, serupa dengan perisai yang diberikan pada Gimli, di atasnya ada lambang kuda putih. “Ambillah semua barang ini,” katanya, “dan pakailah untuk memperoleh kemenangan! Selamat jalan, Master Meriadoc! Mungkin kita masih akan bertemu lagi, kau dan aku.”


Demikianlah, di tengah kegelapan yang semakin mencekam, Raja dari Mark bersiap-siap memimpin semua Penunggang-nya ke jalan menuju timur. Banyak yang merasa murung dan ketakutan. Tapi mereka bangsa yang tabah, setia pada penguasa mereka, sehingga tidak terdengar tangisan atau gerutuan, tidak juga di kamp di Hold, di mana para pengungsi dari Edoras bermukim kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang tua. Bencana besar mengancam mereka, tapi mereka menghadapinya dengan diam.
Dua jam yang singkat berlalu. kini Raja duduk di atas kuda putihnya yang tampak bersinar dalam cahaya remang-remang itu. Tinggi dan gagah ia tampaknya, meski rambut yang terurai dari bawah helm tingginya sudah seputih salju; banyak yang kagum melihatnya, dan jadi bersemangat karena raja mereka begitu teguh dan tidak gentar.
Di sana, di padang-padang datar samping sungai yang gemercik, sudah tersusun pasukan-pasukan, terdiri atas sekitar lima ratus lima puluh Penunggang bersenjata lengkap, dan ratusan lagi dengan kuda-kuda cadangan yang membawa beban bekal ringan. Sebuah terompet tunggal berbunyi. Raja

mengangkat tangannya, dan sambil membisu pasukan Mark mulai bergerak. Paling depan berjalan dua belas anak buah istana, para Penunggang termasyhur. Lalu Raja mengikuti, dengan Eomer di sebelah kanannya. la berpamitan pada Eowyn yang berdiri di Hold atas sana, dan kenangan itu sangat memedihkan; tapi kini ia memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Di belakangnya Merry menunggangi Stybba, berdampingan dengan para utusan dari Gondor, dan di belakang mereka dua belas lagi anak buah istana. Mereka melewati barisan panjang orang-orang yang menunggu dengan wajah tabah dan keras. Tapi ketika mereka sudah hampir sampai ke ujung barisan, salah satu mendongakkan kepala dan sekilas menatap hobbit itu dengan tajam. Seorang pemuda, pikir Merry ketika membalas tatapan itu, tidak begitu tinggi dan tegap seperti kebanyakan yang lain. Merry menangkap kilauan mata kelabu jernih; hatinya menggigil, karena tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bahwa wajah itu mencerminkan orang tanpa harapan yang sedang menyongsong kematian. Mereka terus melaju di jalan, di samping Snowbourn yang mengalir deras di atas bebatuan; melewati dusun-dusun kecil Underharrow dan Upbourn, di mana wajah-wajah murung perempuan mengintip keluar dari balik pintu gelap; demikianlah, tanpa bunyi terompet, harpa, atau, nyanyian, perjalanan besar ke Timur itu diawali. Perjalanan yang banyak dikisahkan dalam lagu-lagu Rohan sampai masa-masa kehidupan manusia setelahnya.


Dari Dunharrow yang gelap di pagi buta

bersama para serdadu dan kapten melajulah putra Thengel:

ke Edoras ia datang, ke balairung kuno para pengawal Mark, berselubung kabut;
dengan papan papan keemasan terkurung kegelapan. Berpamitan ia pada rakyatnya yang merdeka,
pada perapian dan takhta, dan tempat-tempat keramat,

di mana sejak lama ia berpesta pora sebelum datangnya senja. Terus maju sang Raja, meninggalkan ketakutan,
takdir ada di depannya. Kesetiaan dimilikinya;

sumpah-sumpah sudah diambilnya, semua menepatinya. Majulah Theoden. Lima hari lima malam
ke timur mereka melaju, kaum Eorlingas, melintasi Folde dan Fenmarch dan hutan Firien, enam ribu tombak pergi ke Sunlending, Mundburg nan perkasa di bawah Mindolluin, Kota para raja laut di kerajaan Selatan
dikepung musuh, dikelilingi api.

Ajal mendorong mereka maju. Kegelapan menyergap, kuda dan penunggangnya; derap kaki kuda di kejauhan ditelan keheningan: begitu kata lagu-lagunya.


Benarlah, Raja sampai di Edoras di tengah kegelapan, meski saat itu baru tengah hari. Di sana Ia hanya berhenti sebentar untuk memperkuat pasukannya dengan tiga barisan Penunggang yang terlambat datang ke apel siaga. Setelah makan Ia bersiap-siap berangkat lagi, dan berpamitan pada pendampingnya. Tapi Merry untuk terakhir kali memohon agar tidak dipisahkan darinya.
“Sudah kukatakan padamu, ini bukan perjalanan untuk kuda seperti Stybba,” kata Theoden. “Dan dalam pertempuran yang akan kami hadapi di padang- padang Gondor, apa yang akan kaulakukan, Master Meriadoc, meski kau ksatria pedang dan berjiwa lebih besar daripada ukuran tubuhmu?”
“Tentang itu, siapa yang tahu?” jawab Merry. “Tapi, Tuanku, mengapa kau menerimaku sebagai ksatria pedang, kalau bukan untuk mendampingimu? Aku tidak mau diriku dikisahkan dalam lagu-lagu sebagai orang yang selalu ditinggalkan!”
“Aku menerimamu demi keselamatanmu,” jawab Theoden, “juga agar kau menaati apa yang kuperintahkan. Tak ada Penunggang kami yang bisa membawamu, sebab kau akan jadi beban. Seandainya pertempuran berlangsung di depan gerbangku, mungkin tindakanmu akan dipuji-puji kaum pemusik; tapi dari sini ke Mundburg di mana Denethor menjadi penguasa, masih seratus dua league jaraknya. Aku takkan mengatakan apa pun lagi.”

Akhirnya Merry membungkuk dan pergi dengan sedih, sambil menatap barisan penunggang kuda. Pasukan-pasukan sudah mulai bersiap-slap berangkat: orang-orang mengatur pelana, mengencangkan Pengikat, mengelus kuda-kuda; beberapa memandang gelisah ke langit yang semakin mendung. Diam-diam seorang Penunggang mendekat dan berbisik ke telinga si hobbit.
“Saat kemauan dihalangi, ada jalan terbuka, begitu pepatah kami,” ia berbisik, “dan aku sendiri sudah menemukan jalan itu.” Merry menengadah dan melihat bahwa orang itu ternyata pemuda Penunggang yang diperhatikannya tadi pagi. “Kau pasti ingin ikut ke mana pun Penguasa Mark pergi; bisa kulihat pada wajahmu.”
“Memang,” kata Merry.

“Kalau begitu, kau ikut aku,” kata si Penunggang. “Akan kubawa kau duduk di depanku, di bawah jubahku, sampai kita berada jauh di tengah padang, dan kegelapan sudah semakin kelam. Kebaikan semacam ini tak boleh ditolak. Jangan bicara lagi pada siapa pun, ikutlah aku!”
“Terima kasih banyak,” kata Merry. “Terima kasih, Sir, meski aku tak kenal

namamu.”

“Kau tidak tahu?” kata Penunggang itu lembut. “Kalau begitu, panggillah aku

Dernhelm.”



Maka ketika Raja berangkat, di depan Dernhelm duduklah Meriadoc si hobbit, dan kuda jantan besar, Windfola, yang tidak keberatan dengan beban itu, karena Dernhelm tidak seberat kebanyakan orang lain, meski ia lincah dan sosoknya tegap.
Mereka melaju terus ke dalam gelap. Di kerimbunan semak-semak willow tempat Snowbourn mengalir masuk ke Entwash, dua belas league dari Edoras, mereka berkemah malam itu. Lalu maju terus melintasi Folde; melewati Fenmarch, di mana hutan-hutan besar pohon ek merayapi lereng-lereng perbukitan di sebelah kanan mereka, di bawah bayangan Halifirien yang gelap, dekat perbatasan Gondor; di sebelah kiri mereka, kabut menyelimuti rawa-rawa yang digenangi air dari muara-muara Entwash. Dan ketika mereka berjalan maju, datang

selentingan tentang perang di Utara. Orang-orang yang berkeliaran sendirian, membawa kabar tentang musuh-musuh yang menyerang perbatasan timur mereka, tentang pasukan-pasukan Orc yang berjalan di Wold di Rohan.
“Maju terus! Maju terus!” teriak Eomer. “Sudah terlambat sekarang untuk menyimpang. Rawa-rawa Entwash akan melindungi barisan belakang kita. Kita perlu kecepatan. Maju terus!”
Demikianlah Raja Theoden keluar dari wilayahnya sendiri, jalan yang panjang

terbentang mil demi mil, dan bukit-bukit mercu suar melintas berbaris: Calenhad, Min-Rimmon, Erelas, Nardol. Tapi api mereka sudah padam. Semua daratan tampak kelabu dan diam; bayangan gelap di depan mereka semakin kelam, dan harapan sudah pudar di hati masing-masing.

BAB 4

PENYERBUAN GONDOR



Pippin dibangunkan oleh Gandalf. Di kamar mereka lilin-lilin dinyalakan, sebab hanya cahaya redup senja yang masuk dari jendela-jendela; udara pengap, seakan-akan halilintar sedang mendekat.
“Jam berapa sekarang?” kata Pippin sambil menguap.

“Sudah lewat jam kedua,” kata Gandalf “Sudah saatnya bangun dan berpakaian pantas. Kau dipanggil Penguasa Kota untuk diberitahu tugas-tugas barumu.” “Apakah dia akan memberikan sarapan?”
“Tidak! Aku yang menyediakannya hanya itu yang akan kauterima sampai tengah hari. Sekarang makanan dibagi-bagikan menurut perintah.”
Pippin memandang sedih jatahnya-sepotong kecil roti dan olesan mentega yang menurutnya sangat sedikit, berikut secangkir susu. “Kenapa kau membawaku kemari?” katanya.
“Kau tahu betul kenapa,” kata Gandalf. “Agar kau tidak melakukan kenakalan

lagi; kalau kau tidak suka berada di sini, ingatlah bahwa kau sendiri

penyebabnya.” Pippin diam saja.



Tak lama kemudian, Pippin berjalan bersama Gandalf sepanjang selasar yang dingin, menuju pintu Serambi Menara. Di sana Denethor duduk dengan murung, seperti labah-labah tua yang sabar, pikir Pippin; ia seperti belum bergerak sejak kemarin. la menawarkan kursi pada Gandalf, tapi Pippin dibiarkan sendiri untuk beberapa saat, tidak dihiraukan. Akhirnya pria tua itu berbicara kepadanya,
“Nah, Master Peregrin, kuharap hari kemarin sudah kaumanfaatkan dengan baik, untuk kesenanganmu? Meski aku khawatir makanan di kota ini tidak semelimpah yang kauharapkan.”
Pippin merasa kurang enak, rupanya hampir semua yang ia katakan atau lakukan, entah bagaimana bisa diketahui Penguasa Kota, dan banyak juga pikirannya yang bisa ditebak. la tidak menjawab.
“Apa yang akan kaulakukan untuk melayaniku?”

“Kupikir Anda akan memberitahukan tugasku, Sir.”

“Akan kuberitahukan, kalau aku sudah tahu kemampuanmu,” kata Denethor. “Dan itu mungkin bisa secepatnya kuketahui kalau kau tetap bersamaku. Pelayan kamarku meminta izin pergi ke asrama serdadu di luar, jadi kau akan menggantikan dia untuk sementara. Kau akan melayaniku, membawa pesan- pesan, dan berbicara padaku, kalau perang dan perundingan masih menyisakan waktu senggang bagiku. Bisakah kau menyanyi?”
“Ya,” kata Pippin. “Ya, cukup baik kalau untuk bangsaku sendiri. Tapi kami tak punya lagu-lagu yang pantas untuk ruang balairung besar dan di saat buruk seperti ini, Lord. Kami jarang bernyanyi tentang topik yang mengerikan, paling- paling tentang hujan atau angin. Dan kebanyakan lagu-lagu yang kukenal berkisah tentang hal-hal yang membuat kami tertawa; atau tentang makanan dan minuman, tentu saja.”
“Dan mengapa lagu-lagu seperti itu kurang pantas dinyanyikan di serambiku, atau di masa gelap seperti sekarang? Bukankah kami yang sudah lama hidup di bawah Bayang-Bayang boleh mendengarkan gema dari negeri yang tidak diganggu kegelapan? Dengan demikian, kami akan merasa penjagaan kami tidak sia-sia, meski mungkin ucapan terima kasih tak pernah kami terima.”
Pippin jadi gelisah. la tidak begitu senang harus menyanyikan lagu dari Shire untuk Penguasa Minas Tirith, apalagi lagu-lagu jenaka yang paling dikenalnya; lagu-lagu itu agak terlalu, ah … terlalu kasar untuk kesempatan seperti sekarang. Tapi untuk sementara Ia terhindar dari cobaan itu. la tidak diperintahkan menyanyi. Denethor berbicara pada Gandalf, menanyakan kaum Rohirrim dan kebijakan-kebijakan mereka, serta kedudukan Eomer, keponakan Raja. Pippin kagum menyaksikan pengetahuan luas sang Penguasa tentang bangsa yang tinggal jauh, padahal pasti sudah lama sekali Denethor tidak pergi ke luar negerinya.
Akhirnya Denethor melambaikan tangannya ke arah pippin dan menyuruhnya pergi. “Pergilah ke gudang senjata di Benteng,” katanya, “ambillah di sana seragam dan perlengkapan untuk kaupakai di Menara. Sudah disiapkan. Sudah kuperintahkan kemarin. Kembalilah kalau kau sudah mengenakannya!”

Begitulah, tak lama kemudian Pippin sudah berpakaian aneh, semuanya serba hitam dan perak. Ia memakai hauberk kecil, cincin-cincinnya mungkin ditempa dari baja, tapi hitam legam; dan sebuah helm bermahkota tinggi dengan sayap hitam kecil di kedua sisinya, di tengah-tengahnya terdapat hiasan bintang perak. Di atas baju logamnya ada rompi pendek berwarna hitam, dan pada dadanya ada sulaman lambang pohon perak. Pakaiannya yang lama dilipat dan disimpan. la diperbolehkan menyimpan jubah kelabu dari Lorien, tapi tak boleh memakainya saat sedang bertugas. Seandainya Ia tahu, sekarang ia benar- benar mirip Emil Pheriannath, pangeran kaum Halfling, seperti julukan yang diberikan orang-orang kepadanya; tapi ia merasa tidak nyaman. Dan kemuraman mulai membebani semangatnya.
Sepanjang hari itu gelap dan suram. Sejak fajar tanpa matahari, sampai sore bayangan gelap semakin kelam, dan semua yang berada di Kota merasa tertekan. Jauh di atas, sebuah awan besar melayang perlahan ke arah barat dari Negeri Hitam, melahap cahaya, diterbangkan angin perang; tapi di bawah, udara diam tak bergerak, seolah-olah seluruh Lembah Anduin menunggu datangnya badai dahsyat yang membawa malapetaka.


Sekitar jam kesebelas, Pippin dibebaskan sebentar dari tugasnya. la keluar mencari makanan dan minuman untuk menghibur hatinya yang murung dan membuat tugasnya melayani lebih terdukung. Di ruang makan ia bertemu lagi dengan Beregond, yang baru saja datang dari tugas melintasi Pelennor ke Menara Penjagaan di atas Jalan Layang. Berdua mereka berjalan ke dinding, karena Pippin merasa seperti dipenjara bila berada di dalam ruangan, dan merasa pengap meski berada di benteng tinggi. Sekarang mereka duduk berdampingan lagi di relung yang menghadap ke timur, di mana sehari sebelumnya mereka makan dan minum.
Saat itu matahari terbenam, tapi kesuraman besar sudah menjulur jauh ke Barat. Sesaat sebelum terbenam ke dalam Laut, barulah Matahari bisa lolos sejenak untuk mengirimkan seberkas sinar, sebagai salam pamit sebelum malam tiba; tepat pada saat yang sama, Frodo juga melihatnya ketika Ia berada di

Persimpangan Jalan; cahaya itu menyentuh kepala raja yang sudah jatuh. Namun padang-padang Pelennor, di bawah bayangan Mindolluin tidak tersapu oleh berkas eahaya itu; mereka tampak cokelat dan layu.
Pippin merasa sudah bertahun-tahun yang lalu duduk di sana, pada suatu saat yang setengah terlupakan, ketika ia masih seorang hobbit, pengembara riang yang tidak banyak tersentuh hatinya oleh bahaya-bahaya yang sudah dilaluinya. kini Ia telah menjadi serdadu kecil di sebuah kota yang sedang bersiap-siap menghadapi serbuan besar, berpakaian dengan gaya Menara Penjagaan yang gagah namun muram.
Seandainya saat dan tempatnya berbeda, mungkin Pippin akan senang dengan pakaiannya yang baru, tapi sekarang Ia tahu bahwa ia bukan memainkan peran dalam suatu pertunjukan; Ia benar-benar melayani seorang majikan yang keras, dalam situasi berbahaya yang sangat dahsyat. Hauberk yang dipakainya sangat mengganggu, helmnya pun terasa membebani. Jubahnya sudah Ia letakkan di bangku. la mengalihkan pandangannya yang letih dan padang-padang gelap di bawah, dan menguap. Lalu Ia mengeluh.
“Kau jemu hari ini?” kata Beregond.

“Ya,” kata Pippin, “sangat jemu karena menganggur dan menunggu. Aku hanya menganggur di depan pintu kamar majikanku selama berjam-jam, sementara dia berembuk dengan Gandalf, Pangeran, dan orang-orang penting lain. Aku tidak biasa meladeni orang lain sementara mereka makan, Master Beregond. Itu cobaan berat bagi seorang hobbit. Pasti kaupikir aku seharusnya merasa terhormat. Tapi apa gunanya kehormatan seperti itu? Apa gunanya makanan dan minuman di bawah bayangan gelap yang menjalar ini? Apa artinya ini? Bahkan udara kelihatan tebal dan cokelat! Seringkah kau mengalami kesuraman semacam ini bila angin datang dan Timur?”
“Tidak,” kata Beregond, “ini bukan cuaca dari dunia ini. Ini alat buatan Penguasa Kegelapan yang keji; semacam panggangan asap dan Gunung Api, yang dikirimkannya untuk menggelapkan hati dan pikiran. Dan memang itulah yang terjadi. Kuharap Lord Faramir kembali. Dia tidak akan cemas. Tapi siapa yang tahu apakah dia akan kembali, menyeberangi Sungai keluar dan Kegelapan?”

“Ya,” kata Pippin, “Gandalf juga sangat cemas. Rupanya dia kecewa tidak menemukan Faramir di sini. Dan dia sendiri, ke manakah perginya? Dia meninggalkan Dewan Penasihat Raja sebelum makan tengah hari, dan kelihatannya dia sedang resah. Jangan-jangan dia mendapat firasat kabar buruk.”


Tiba-tiba, sementara bercakap-cakap, mereka terkejut hingga terdiam membisu, membeku seperti batu yang memasang telinga. Pippin gemetaran, meringkuk dengan tangan menekan telinga; tapi Beregond yang sedang memandang ke luar dinding benteng ketika membicarakan Faramir, tetap berdiri, kaku, melotot terkejut. Pippin kenal teriakan mengerikan yang didengarnya: sama dengan yang pernah Ia dengar di Marish di Shire, tapi kini sudah semakin besar kekuatan dan kekejiannya, menusuk hati dengan keputusasaan beracun.
Akhirnya Beregond berbicara dengan susah payah. “Mereka sudah datang!” katanya. “Kerahkan keberanianmu dan lihatlah! Banyak makhluk jahat di bawah.” Dengan enggan Pippin memanjat bangku dan memandang dan atas tembok. Padang Pelennor terhampar samar-samar di bawahnya, semakin jauh semakin kabur ke arah garis samar-samar Sungai Besar. Tapi kini di tengah angkasa di bawahnya, Ia melihat lima sosok mirip burung, mengerikan seperti burung pemakan bangkai, tapi lebih besar daripada elang, kejam seperti elmaut, melayang cepat melintasi padang, bagai bayangan malam yang datang terlalu awal. Kadang-kadang mereka menukik mendekat, terbang hampir dalam jarak tembakan panah dan tembok, kadang terbang menjauh berputar-putar. “Penunggang Hitam!” gerutu Pippin. “Penunggang Hitam di udara! Tapi lihat, Beregond!” teriaknya. “Mereka mencari sesuatu, bukan? Lihat bagaimana mereka berputar-putar dan menukik, selalu ke titik di bawah sana! Dan bisakah kau melihat sesuatu bergerak di tanah? Benda-benda kecil gelap. Ya, orang- orang berkuda empat atau lima! Ah! Aku tidak tahan! Gandalf! Gandalf, tolong selamatkan kami!”
Lagi terdengar teriakan panjang melengking, lalu menghilang, dan Pippin menjatuhkan diri dan tembok, terengah-engah seperti hewan yang diburu. Di

antara teriakan itu, samar-samar dan sangat jauh ia mendengar bunyi terompet di bawah, berakhir dengan nada tinggi panjang.
“Faramir! Lord Faramir! Itu bunyi terompetnya!” teriak Beregond. “Pemberani! Tapi bagaimana dia bisa selamat sampai ke Gerbang, kalau elang-elang jahat itu punya senjata lain selain ketakutan? Tapi lihat! Mereka maju terus. Mereka akan sampai ke Gerbang. Tidak! Kuda-kuda mereka kocar-kacir ketakutan. Lihat! Penunggangnya terlempar jatuh; mereka lari. Tidak, satu masih di atas kuda, tapi dia kembali pada yang lainnya. Pasti itu Kapten kita, dia bisa mengendalikan manusia maupun hewan. Ahl salah satu makhluk busuk itu menukik ke arahnya. Tolong! Tolong! Tak adakah yang membantunya? Faramir!”
Lalu Beregond melompat dan lari ke dalam gelap. Malu karena merasa takut sementara Beregond dan pasukan Pengawal lebih memikirkan kapten yang disayanginya, Pippin bangkit dan mengintip atas. Saat itu ia menangkap kilatan putih dan perak datang dari Utara, seperti bintang kecil di bawah, di atas padang-padang yang diselubungi senja. Gerakannya secepat panah dan semakin besar ketika mendekat, bergabung cepat dengan keempat orang yang berlari menuju Gerbang. Pippin seolah-olah melihat cahaya pudar memancar darinya, dan bayangan-bayangan gelap pun menyingkir; ketika kilatan itu semakin dekat, ia serasa mendengar suara besar berteriak, seperti gema di tembok-tembok. “Gandalf!” teriaknya. “Gandalfl Dia selalu datang di saat-saat paling gelap. Maju terus! Maju, Penunggang Putih! Gandalf, Gandalf?” ia berteriak liar, seperti penonton lomba besar yang bersorak-sorai mendorong semangat pelari yang sudah di atas angin.
Tapi bayangan-bayangan gelap yang menyambar sudah melihat pendatang baru itu. Salah satu berputar ke arahnya; Pippin rasanya melihat Gandalf mengangkat tangan, dan dari tangan itu keluar seberkas cahaya putih yang menusuk ke atas. Nazgul itu meraung panjang dan terbang menjauh; keempat makhluk lainnya bimbang, lalu terbang cepat ke atas, melingkar-lingkar, dan lenyap ditelan awan rendah di timur; untuk sejenak Padang Pelennor tidak begitu gelap lagi.
Pippin memperhatikan; ia melihat penunggang kuda tadi dan Penunggang Putih bertemu dan berhenti, menunggu mereka yang berjalan kaki. Sekarang banyak

orang bergegas keluar dan Kota; tak lama kemudian, mereka semua hilang dari pandangan di bawah dinding luar, dan Pippin tahu mereka sudah masuk ke Gerbang. Karena menduga mereka akan segera menuju Menara dan ke Pejabat Istana, ia bergegas pergi ke jalan masuk benteng. Di sana banyak orang lain bergabung dengannya, yang sudah menyaksikan pacuan dan penyelamatan, dari atas dinding.
Segera sesudah itu terdengar bunyi hiruk-pikuk di jalan-jalan yang menuju ke atas, dari lingkaran-lingkaran luar; terdengar banyak sorak sorai dan seruan nama Faramir dan Mithrandir. Lalu Pippin melihat obor-obor dan dua penunggang kuda berjalan lambat, diikuti kerumunan orang yang berdesakan. Satu penunggang berpakaian putih, tapi sudah tidak bersinar lagi, kelihatan pucat dalam cahaya senja, seolah-olah apinya sudah padam atau terselubung; satunya lagi berkulit gelap dan kepalanya tertunduk. Mereka turun dari kuda masing-masing, dan sementara para pengurus kuda mengambil Shadowfax serta kuda satunya, kedua penunggang itu menghampiri penjaga gerbang: Gandalf berjalan tegap, jubah kelabunya tersingkap ke belakang, matanya masih menyala-nyala; orang satunya berpakaian serbahijau, berjalan perlahan dan agak terhuyung-huyung, seperti orang yang letih atau terluka.
Pippin mendesak ke depan saat mereka lewat di bawah lampu lengkungan gerbang; ketika melihat wajah Faramir yang pucat, ia menarik napas kaget. Wajah Faramir menunjukkan ekspresi ketakutan atau kecemasan yang luar biasa, tapi Ia sudah berhasil mengatasinya dan sudah kembali tenang: Ia berdiri gagah dan murung ketika berbicara dengan penjaga, dan Pippin yang memandangnya melihat bahwa ia mirip sekali dengan kakaknya, Boromir. Sejak awal Pippin menyukai Boromir karena sikapnya yang agung namun ramah. Entah mengapa tiba-tiba hatinya sangat terharu melihat Faramir, suatu perasaan yang belum pernah dialaminya. Faramir mempunyai pembawaan agung, seperti kadang-kadang ditunjukkan oleh Aragorn; mungkin tidak seagung Aragorn, tapi juga tidak semisterius dan menjaga jarak seperti Aragorn: salah satu dari Raja- Raja Manusia yang dilahirkan di masa belakangan, namun menyimpan kebijakan dan kemurungan bangsa Peri. Sekarang Pippin tahu mengapa Beregond

menyebut nama Faramir dengan penuh kasih sayang. Dia kapten yang mampu membuat anak buahnya mau mengikutinya, dan Beregond pun mau mengikutinya, sampai ke bawah bayang-bayang sayap hitam sekalipun. “Faramir!” teriak Pippin, bersama-sama semua yang lain. “Faramir!” Dan Faramir, menangkap suaranya yang asing di tengah kegemparan penduduk Kota, berputar dan memandangnya terheran-heran.
“Dari mana kau datang?” katanya. “Seorang Halfling, dan memakai seragam

Menara! Dari mana …?”

Tapi Gandalf melangkah mendekati Faramir dan berkata, “Dia datang bersamaku dan negeri kaum Halfling,” katanya. “Dia datang bersamaku. Tapi janganlah kita berlama-lama di sini. Masih banyak yang harus dibicarakan dan dilakukan, dan kau letih. Dia akan ikut bersama kita. Sudah seharusnya, sebab dia harus mendampingi tuannya lagi sekarang ini. Ayo, Pippin, ikut kami!”


Akhirnya mereka sampai ke ruangan pribadi Penguasa Kota. Di dalam ruangan itu beberapa kursi empuk mengelilingi kompor arang; anggur dihidangkan; di sana Pippin, hampir tidak kelihatan, berdiri di belakang kursi Denethor dan tidak merasa letih, karena ia sangat bergairah mendengarkan semua yang dibahas. Ketika Faramir sudah mengambil roti putih dan minum seteguk anggur, ia duduk di kursi rendah di sisi kiri ayahnya. Agak jauh di sisi lainnya, Gandalf duduk di kursi kayu berukir; mulanya Ia seperti tertidur. Sebab mula-mula Faramir hanya membicarakan tugas yang diembannya ketika Ia berangkat sepuluh hari yang lalu, dan ia membawa kabar tentang Ithilien serta gerakan Musuh dan sekutu- sekutunya; Ia juga menceritakan pertempuran di jalan, saat orang-orang Harad dan hewan besar mereka digulingkan: begitulah seorang kapten melapor kepada atasannya perkara-perkara yang sudah sering didengar, hal-hal sepele dalam pertempuran perbatasan yang kini tampak sia-sia dan remeh, setelah dilucuti kemasyhurannya.
Lalu tiba-tiba Faramir memandang Pippin. “Tapi sekarang kita sampai ke masalah-masalah aneh,” katanya. “Sebab ini bukan Halfling pertama yang kulihat, yang muncul dari legenda utara dan masuk ke negeri-negeri Selatan.”

Mendengar itu Gandalf duduk tegak dan mencengkeram lengan kursinya; tapi ia tidak mengatakan apa pun, dengan sorot matanya ia menghentikan seruan kaget yang akan keluar dari bibir Pippin. Denethor memandang wajah-wajah mereka dan menganggukkan kepala, seolah menyatakan bahwa sudah cukup banyak yang dibacanya pada wajah mereka, sebelum mereka sendiri membuka suara. Dengan perlahan-lahan, sementara yang lain duduk diam dan tenang, Faramir menceritakan kisahnya, sambil memandang Gandalf, meski sesekali tatapannya beralih pada Pippin, seolah-olah untuk menyegarkan ingatan akan hobbit lain yang pernah dilihatnya.
Ketika ceritanya sampai pada pertemuan dengan Frodo dan pelayannya serta kejadian-kejadian di Henneth Annun, Pippin menyadari bahwa tangan Gandalf yang mencengkeram lengan kursinya yang berukir tampak gemetar. Sekarang tangan itu kelihatan putih dan sangat tua, dan saat Pippin memandangnya, mendadak getaran ketakutan menyerangnya dan Ia menyadari bahwa Gandalf sendiri juga khawatir, bahkan takut. Udara di ruangan itu pengap dan diam. Akhirnya, ketika Faramir menceritakan perpisahannya dengan para pengembara itu, serta niat mereka untuk pergi ke Cirith Ungol, suaranya jadi terbata-bata; ia menggelengkan kepala dan mengeluh. Lalu Gandalf melompat berdiri.
“Cirith Ungol? Lembah Morgul?” katanya. “W aktunya, Faramir, waktunya! Kapan kau berpisah dengannya? Kapan mereka akan sampai ke lembah terkutuk itu?” “Aku berpisah dengan mereka pada pagi dua hari yang lalu,” kata Faramir. “Dari sana jaraknya lima belas league ke lembah Morgulduin kalau mereka berjalan lurus ke selatan; lalu mereka masih berada lima league di sebelah barat Menara terkutuk. Dengan kecepatan paling tinggi, mereka tak mungkin bisa sampai ke sana sebelum hari ini, dan mungkin mereka belum sampai di sana. Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Tapi kegelapan ini bukan karena petualangan mereka.” “Awalnya kemarin sOrc, seluruh Ithilien tertutup bayang-bayang gelap tadi malam. Sudah jelas bahwa Musuh telah lama merencanakan untuk menyerang kita, dan saatnya sudah ditentukan sebelum para pengembara itu pergi dari perlindunganku.”
Gandalf melangkah mondar-mandir. “Pagi dua hari yang lalu, sudah hampir tiga

hari perjalanan! Seberapa jauh tempat berpisah itu?”

“Sekitar dua puluh lima league seukuran jarak terbang burung,” jawab Faramir. “Tapi aku tak mungkin datang lebih cepat. Kemarin sore aku berada di Cair Andros, pulau panjang di Sungai sebelah utara yang masih kita pertahankan; dan kuda-kuda disimpan di tebing sebelah sini. Ketika kegelapan semakin pekat, aku tahu bahwa kita perlu bergerak cepat, jadi aku pergi ke sana bersama tiga orang lain yang juga bisa berkuda. Sisa pasukanku kukirim ke selatan untuk memperkuat benteng di arungan Osgiliath. Kuharap tindakanku tidak salah?” Ia memandang ayahnya.
“Salah?” seru Denethor, matanya mendadak berkilat-kilat. “Mengapa kau bertanya? Orang-orang itu di bawah perintahmu. Atau kau meminta penilaianku atas setiap tindakanmu? Kau bersikap merendah di depanku, padahal sudah lama kau berpaling dari nasihatku. Lihat, kau bicara dengan sangat fasih, seperti biasa; tapi kulihat matamu terus-menerus memandang Mithrandir, untuk meyakinkan apakah kau sudah berbicara dengan baik atau terlalu banyak? Sudah lama dia menguasai hatimu.”
“Anakku, ayahmu memang sudah tua, tapi belum pikun. Aku bisa melihat dan mendengar, seperti biasanya; hanya sedikit dari apa yang hanya setengahnya kau ungkapkan atau tidak kau ungkapkan, yang tersembunyi dariku. Aku tahu jawaban atas banyak teka-teki! Sayang sekali, sayang sekali tentang Boromir!” “Kalau apa yang kulakukan membuatmu gusar, Ayah,” kata Faramir tenang, “aku menyesal tidak mendapatkan nasihatmu sebelum beban pengambilan keputusan yang begitu berat dipikulkan padaku.”
“Akankah itu berpengaruh pada keputusanmu?” kata Denethor. “Kurasa kau tetap akan berbuat hal yang sama. Aku kenal betul sifatmu. Kau selalu ingin tampil agung dan murah hati, seperti raja zaman dahulu; anggun dan lembut. Mungkin sikap itu pantas bagi seorang bangsawan, kalau dia duduk di atas takhta dan di masa damai. Tapi di masa-masa genting, kelembutan bisa membuahkan kematian.”
“Biarlah kalau itu mesti terjadi,” kata Faramir.

“Biarlah?” teriak Denethor. “Yang mati bukan hanya dirimu, Lord Faramir, tapi

juga ayahmu, dan seluruh rakyatmu, padahal tugasmulah melindungi mereka

sekarang, setelah Boromir tewas.”

“Apakah Ayah berharap kami bertukar tempat?” kata Faramir.

“Ya, itu yang kuharapkan,” kata Denethor. “Sebab Boromir setia padaku, bukannya menjadi murid seorang penyihir. Dia pasti ingat kegawatan situasi ayahnya, dan tak akan membuang sia-sia apa yang dipersembahkan keberuntungan pada kita. Dia pasti akan membawa hadiah besar untukku.” Sejenak Faramir tak sanggup menahan diri. “Kuharap Ayah ingat, mengapa aku, dan bukan dia, yang pergi ke Ithilien. Pada kesempatan itu, setidaknya nasihatmulah yang berlaku, belum lama ini. Penguasa Kota-lah yang menugaskan Boromir berangkat pergi.”
“Jangan mengaduk-aduk kepahitan yang telah kuramu bagi diriku sendiri,” kata Denethor. “Bukankah sudah bermalam-malam aku merasakannya di lidahku, firasat bahwa masih ada hal lebih buruk menungguku? Dan begitulah kenyataannya. Andai saja kejadiannya tidak seperti ini! Andai saja benda itu jatuh ke tanganku!”
“Kau tak perlu menyesal!” kata Gandalf “Tak mungkin Boromir membawanya padamu. Dia sudah mati, dan dia mati dengan pantas; semoga dia beristirahat dalam damai! Tapi kau menipu dirimu sendiri. Boromir tergoda oleh benda itu, dan dengan mengambilnya dia akan hancur. Dia pasti akan menyimpannya sendiri, dan saat dia kembali, kau takkan mengenali putramu lagi.”
Wajah Denethor menjadi kaku dan dingin. “Kau merasa sulit mengendalikan Boromir, bukan?” katanya perlahan. “Tapi aku ayahnya, dan aku yakin dia akan membawa benda itu padaku. Mungkin kau bijak, Mithrandir, tapi dengan segala kehalusanmu itu kebijakan bukan hanya milikmu seorang. Masih ada saran- saran yang bukan dari penyihir, dan bukan juga dari orang bodoh yang bertindak terburu-buru. Dalam hal ini, aku punya lebih banyak pengetahuan dan kebijakan daripada yang kauduga.”
“Kalau begitu, bagaimanakah kebijakanmu itu?” kata Gandalf.

“Aku cukup jeli untuk melihat bahwa ada dua kebodohan yang mesti dihindari.

Menggunakan benda ini sangatlah berbahaya. Saat ini, mempercayakannya

pada seorang Halfling tolol dan menyuruhnya masuk ke negeri Musuh, seperti

yang kaulakukan, dan juga putraku ini, sungguh suatu kegilaan.” “Dan apakah yang akan dilakukan Lord Denethor?”
“Dua-duanya tidak. Tapi yang pasti, dengan alasan apa pun, Denethor takkan membahayakan benda ini dan mengambil risiko kehancuran total bagi kita semua, andaikan benda ini sampai jatuh kembali ke tangan muusuh. Tidak, seharusnya benda itu tetap disembunyikan, jauh dan dalam. Tidak digunakan, menurutku, kecuali dalam keadaan sangat gawat, tapi harus disimpan di luar jangkauan Musuh, kecuali bila dia memperoleh kemenangan mutlak, sehingga apa pun-yang terjadi takkan mengganggu kita lagi, karena kita sudah mati.”
“Kau hanya memikirkan Gondor, seperti biasanya, Tuanku,” kata Gandalf “Tapi ada bangsa-bangsa lain dan nyawa-nyawa lain, dan waktu yang masih akan terus berlangsung. Dan aku, aku bahkan menaruh kasihan pada budak- budaknya.”
“Lalu ke mana orang-orang lain akan mencari bantuan, kalau Gondor jatuh?” jawab Denethor. “Andaikan benda itu ada di ruang besi di benteng ini, kita takkan gemetar ngeri di bawah kegelapan, sambil mencemaskan hal terburuk; pemikiran kita pun takkan terganggu. Kalau kau tak percaya aku bisa bertahan melewati ujian ini, berarti kau belum mengenalku.”
“Bagaimanapun, aku tidak mempercayaimu,” kata Gandalf. “Jika aku percaya, sejak dulu sudah kukirimkan benda itu ke sini, hingga terhindarlah aku dan orang-orang lain dari siksaan besar. Sekarang, setelah mendengarmu berbicara, aku bahkan makin tak percaya padamu, seperti aku tak percaya pada Boromir. Tidak, tahan dulu amarahmu! Aku pun tidak mempercayai diriku sendiri, dan aku menolak benda ini, andai pun diberikan sebagai hadiah. Kau kuat dan masih bisa mengendalikan dirimu sendiri dalam beberapa hal, Denethor, tapi jika kau memperoleh benda ini, dia akan mengalahkanmu. Meski dikubur di bawah kaki Mindolluin, dia masih akan menggerogoti pikiranmu saat kegelapan semakin tebal, dan perkara-perkara yang lebih buruk akan menimpa kita, menyusulnya dengan cepat.”
Sejenak mata Denethor kembali berkilat-kilat ketika ia memandang Gandalf, dan

sekali lagi Pippin merasakan kedua orang itu adu kekuatan dalam tatapan; namun kini sorot mata mereka seperti pisau yang berkilat-kilat sementara mereka saling menyerang. Pippin gemetar, khawatir akan terjadi suatu pukulan mengerikan. Tapi mendadak Denethor mengendur dan bersikap dingin lagi.
'“Jika aku begini! Jika kau begitu!” katanya. “Berandai-andai seperti itu sia-sia saja. Benda itu sudah masuk ke dalam Bayang-Bayang, dan pada waktunya nanti, kita akan tahu bencana apa yang menantinya, dan akan menimpa kita. Saatnya tak lama lagi. Dalam sedikit waktu yang masih tersisa, mudah-mudahan semua yang melawan Musuh dengan caranya masing-masing, bersatu dan tetap bersemangat tinggi, serta masih punya ketabahan untuk mati sebagai orang merdeka.” Ia berbicara pada Faramir. “Bagaimana menurutmu benteng di Osgiliath?”
“Tidak begitu kuat,” kata Faramir. “Aku sudah mengirim pasukan dari Ithilien untuk memperkuatnya, seperti sudah kulaporkan tadi.”
“Tidak cukup, kukira,” kata Denethor. “Di sanalah pukulan pertama akan datang.

Mereka memerlukan seorang kapten yang tangguh di sana.” .

“Di sana dan di banyak tempat lainnya,” kata Faramir, dan ia mengeluh. “Aduh, aku sedih sekali tentang kakakku yang sangat kucintai!” Ia bangkit berdiri. “Sudah bolehkah aku pergi, Ayah?” Lalu Ia terhuyung-huyung dan bersandar ke kursi ayahnya.
“Kau letih,” kata Denethor. “Kau baru dari perjalanan jauh dan berpacu cepat, di

bawah bayang-bayang kejahatan di angkasa, begitulah kudengar.” “Jangan bicarakan hal itu!” kata Faramir.
“Kalau begitu, kita tidak akan membicarakannya,” kata Denethor. “Sekarang pergilah beristirahat sebisa mungkin. Besok keadaan akan semakin genting.” Kemudian semua memohon diri pada Penguasa Kota dan pergi beristirahat sebisa mungkin. Di luar gelap tanpa bintang ketika Gandalf, dengan Pippin di sampingnya, membawa sebuah obor kecil, berjalan menuju tempat penginapan mereka. Mereka tidak berbicara sampai mereka berada di belakang pintu tertutup. Pippin memegang tangan Gandalf.
“Katakan padaku,” katanya, “apakah masih ada harapan? Untuk Frodo

maksudku; atau setidaknya terutama bagi Frodo.”

Gandalf meletakkan tangannya di atas kepala Pippin. “Sebenamya sejak dulu tidak banyak harapan,” jawabnya. “Hanya harapan orang bodoh, kata orang- orang. Dan saat aku mendengar tentang Cirith Ungol …” Ia berhenti dan melangkah ke jendela, seakan-akan matanya bisa menembus kegelapan malam di Timur. “Cirith Ungol!” gerutunya. “Kenapa lewat sana?” Ia memutar badannya. “Tadi jantungku hampir berhenti berdenyut, Pippin, ketika mendengar nama itu. Tapi sebenarnya aku merasa bahwa kabar yang dibawa Faramir mengandung harapan. Sebab sudah jelas sekarang bahwa Musuh telah membuka perang, dan sudah membuat gerakan pertama ketika Frodo masih bebas. Jadi, sekarang, selama beberapa hari matanya akan tertuju ke sana kemari, jauh dari negerinya sendiri. Tapi, Pippin, dari jauh bisa kurasakan ketergesaan dan ketakutannya. Dia sudah memulai lebih awal dan rencananya semula. Ada sesuatu yang mengusiknya.”
Gandalf berdiri merenung sejenak. “Mungkin,” gerutunya. “Mungkin kebodohanmu justru membantu, anakku. Coba lihat sekitar lima hari yang lalu dia menyadari bahwa kita sudah mengalahkan Saruman, dan sudah mengambil Batu itu. Tapi lantas kenapa? Toh kita tak bisa memanfaatkannya, atau memakainya tanpa sepengetahuan dia. Ah! Ada satu pertanyaan sekarang. Aragorn? Saat baginya sudah dekat. Dia kuat dan tangguh, Pippin; dia berani, tekadnya kuat, mampu memutuskan sendiri, dan berani mengambil risiko besar bila dibutuhkan. Mungkin itu masalahnya. Mungkin dia sudah memakai Batu itu dan menunjukkan dirinya pada Musuh, menantangnya, demi tujuan ini. Apakah memang begitu? Nah, kita takkan mengetahuinya sampai para Penunggang Rohan datang, kalau mereka tidak terlambat. Hari-hari mendatang akan sangat buruk. Ayo kita tidur selagi masih sempat!”
“Tapi,” kata Pippin.

“Tapi apa?” kata Gandalf. “Aku hanya mengizinkan satu tapi malam ini.”

“Gollum,” kata Pippin. “Bagaimana mungkin mereka malah bepergian bersamanya, bahkan mengikutinya? Dan aku tahu bahwa Faramir tidak menyukai tempat dia membawa Frodo dan Sam, seperti halnya kau. Apa

masalahnya?”

“Aku tak bisa menjawab sekarang,” kata Gandalf. “Tapi dalam hati aku sudah menduga bahwa Frodo dan Gollum akan bertemu sebelum akhir cerita. Demi kebaikan, atau demi kejahatan. Tapi aku tak mau membahas Cirith Ungol malam ini. Aku mengkhawatirkan pengkhianatan; pengkhianatan oleh makhluk malang itu. Tapi apa yang harus terjadi biarlah terjadi. Ingat saja bahwa seorang pengkhianat bisa mengkhianati dirinya sendiri dan berbuat suatu kebaikan tanpa sengaja. Kadang-kadang hal semacam itu bisa terjadi. Selamat malam!”


Pagi berikutnya kelabu seperti senja berdebu, dan semangat orang-orang yang sempat terangkat dengan kedatangan Faramir, sekarang merosot lagi. Bayang- Bayang bersayap tidak tampak lagi hari itu, tapi sesekali, tinggi di atas kota, ada teriakan sayup-sayup, dan banyak yang mendengarnya berdiri kaget sambil merasakan sekelebat ketakutan, sementara yang tidak begitu kuat hatinya, gemetar dan menangis.
Dan sekarang Faramir sudah pergi lagi. “Mereka tidak membiarkan dia istirahat,” bisik beberapa orang. “Penguasa kita terlalu-keras pada putranya, dan kini dia harus melakukan tugas dua orang, untuk dirinya sendiri dan demi dia yang sudah tiada.” Orang-orang terus memandang ke arah utara, sambil bertanya, “Di mana para Penunggang dari Rohan?”
Sebenarnya Faramir pergi bukan karena kemauannya sendiri. Tapi Penguasa Kota adalah pemimpin Dewan Penasihat, dan hari itu ia sama sekali tak mau menuruti saran orang lain. Pagi-pagi sekali Dewan Penasihat sudah dipanggil. Di sana semua kapten menilai bahwa menghadapi ancaman dari Selatan, kekuatan mereka tidak memadai untuk memulai serangan dari pihak mereka, kecuali bila para Penunggang Rohan datang. Sementara itu, mereka perlu mengambil posisi di tembok-tembok dan menunggu.
“Meski begitu, kita takkan begitu saja mengabaikan pertahanan di bagian luar, yang dibangun kaum Rammas dengan kerja keras. Dan Musuh harus membayar mahal bila menyeberangi Sungai. Itu tak bisa dilakukannya, menyerang Kota dengan kekuatan penuh, baik di sebelah utara Cair Andros, karena ada rawa-

rawa, atau ke selatan menuju Lebenniri, karena lebarnya Sungai, yang membutuhkan banyak kapal. Pasti dia akan mencoba menyerang Osgiliath, sama seperti ketika Boromir menghadangnya agar tak bisa masuk.”
“Itu baru uji coba,” kata Faramir. “Hari ini mungkin kita berhasil membuat Musuh membayar sepuluh kali lipat kehilangan kita dalam penyeberangan itu, tapi mungkin juga kita akan menyesali pertukaran itu. Sebab bagi musuh kehilangan satu pasukan tidak seberapa besar artinya, sedangkan bagi kita itu suatu kerugian besar. Dan menarik pasukan kita dari tempat itu untuk ditugaskan di tempat jauh, akan berbahaya kalau ternyata musuh berhasil menyeberang dengan kekuatan besar.”
“Dan bagaimana dengan Cair Andros?” kata Pangeran. “Itu juga harus dipertahankan, kalau Osgiliath. dipertahankan. Jangan lupa bahaya di sebelah kiri. Kaum Rohirrim mungkin datang, mungkin tidak. Tapi Faramir sudah menceritakan tentang pasukan-pasukan yang semakin banyak menuju Gerbang Hitam. Lebih dari satu pasukan mungkin keluar dari gerbang itu, dan menyerang lebih dari satu jalan masuk.”
“Banyak risiko yang harus diambil dalam perang,” kata Denethor. “Cair Andros sudah dijaga, dan tak ada lagi pasukan yang bisa dikirim ke sana sejauh ini. Tapi aku tak mau menyerahkan Sungai dan Pelennor tanpa perjuangan-tidak kalau ada kapten di sini yang masih punya keberanian untuk melakukan kehendak penguasanya.”
Kemudian semua diam. Tapi akhirnya Faramir berkata, “Aku tidak menentang kehendakmu, Ayah. Karena kau sudah kehilangan Boromir, aku akan pergi melakukan apa yang bisa kulakukan sebagai penggantinya … kalau Ayah memerintahkannya.”
“Aku memerintahkanmu,” kata Denethor.

“Kalau begitu, selamat tinggal!” kata Faramir. “Tapi kalau aku kembali, kuharap anggapan Ayah tentang diriku lebih baik.” “Itu tergantung kondisimu saat kau kembali,” kata Denethor.
Gandalf yang terakhir berbicara pada Faramir sebelum ia pergi ke timur. “Jangan

sia-siakan hidupmu dengan sembrono atau karena dendam,” katanya. “Kau akan

dibutuhkan di sini, untuk hal-hal lain selain perang. Ayahmu mencintaimu,

Faramir, dan dia akan ingat itu sebelum akhir perang. Selamat jalan!”



Maka Lord Faramir pun pergi lagi, membawa sepasukan orang yang mau atau bisa dibiarkan pergi. Di atas tembok, beberapa orang menatap melalui kegelapan ke arah reruntuhan kota, dan mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di sana, karena pandangan mereka terhalang. Yang lain, seperti biasa, selalu melihat ke utara dan menghitung jarak ke Theoden di Rohan. “Akan datangkah dia? Ingatkah dia persekutuan lama kita?” kata mereka.
“Ya, dia akan datang,” kata Gandalf, “meski mungkin terlambat. Coba pikirkan! Paling-paling Panah Merah itu baru dua hari yang lalu sampai ke tangannya, dan jarak ke sini dari Edoras sangat jauh.”


Sudah malam ketika datang kabar baru. Seorang pria berkuda datang tergesa- gesa dari arungan, memberitahukan bahwa serombongan pasukan sudah keluar dari Morgul dan sudah mendekati Osgiliath; pasukan itu bergabung dengan resimen-resimen dari Selatan, kaum Haradrim yang kejam dan berbadan jangkung. “Kami juga mendengar bahwa Kapten Hitam lagi yang memimpin mereka, dan rasa takut kepadanya sudah terbang mendahuluinya ke seberang Sungai.”
Dengan kabar buruk itu, hari ketiga pun berakhir sejak Pippin datang ke Minas Tirith. Kebanyakan orang tidak tidur sekarang, sebab tipis sekali harapan bahwa Faramir akan bisa mempertahankan arungan itu untuk waktu lama.


Hari berikutnya, kegelapan sudah pekat sempurna dan tidak semakin kelam lagi, tapi justru semakin membebani hati orang-orang, dan ketakutan yang sangat besar menimpa mereka. Kabar buruk segera. datang lagi. Jalan masuk ke Anduin sudah dimenangkan oleh Musuh. Faramir mundur sampai ke dinding Pelennor, mengumpulkan anak buahnya di Benteng-Benteng Causeway; tapi jumlah musuh sepuluh kali lipat lebih besar.
“Seandainya dia bisa menang di Pelennor, musuhnya akan dekat sekali dengan

pasukannya,” kata utusan itu. “Musuh sudah membayar mahal atas penyeberangan itu, tapi tidak sebesar yang kita harapkan. Mereka telah menyusun rencana dengan baik. Sekarang baru ketahuan bahwa sudah lama mereka membangun diam-diam sejumlah besar rakit dan perahu di Osgiliath Timur. Mereka berbondong-bondong menyeberang bagai kumbang. Tapi Kapten Hitam-lah yang mampu mengalahkan kami. Tak banyak yang mampu berdiri dan tetap tabah, meski baru mendengar kedatangannya. Anak buahnya pun gemetar di depannya, dan mereka bersedia bunuh diri kalau diperintahkannya.”
“Kalau begitu, aku lebih banyak dibutuhkan di sana daripada di sini,” kata Gandalf, dan ia langsung pergi, kilau sosoknya segera memudar dari pandangan. Sepanjang malam itu Pippin sendirian dan tak bisa tidur, berdiri di atas dinding dan memandang ke arah timur.


Lonceng-lonceng pagi hari baru saja berbunyi, seperti ejekan dalam kegelapan tanpa cahaya. Pippin melihat di kejauhan api mulai menyala, di keremangan tempat dinding-dinding Pelennor berdiri. Para penjaga berteriak keras, dan semua orang di Kota siap siaga. Sesekali ada kilasan merah, dan melalui udara mendung mereka bisa mendengar bunyi gemuruh sayup-sayup.
“Mereka sudah merebut tembok!” teriak orang-orang. “Mereka menembakinya sampai retak dan berlubang. Mereka datang!”
“Di mana Faramir?” teriak Beregond cemas. “Jangan katakan dia sudah jatuh!” Gandalf yang pertama-tama membawa kabar. Dengan beberapa penunggang kuda ia datang di tengah hari, berjalan sebagai barisan pendamping untuk sebarisan kereta. Kereta-kereta itu berisi orang-orang yang terluka, semua yang bisa diselamatkan dari reruntuhan Benteng Causeway. Segera ia pergi ke Denethor., Penguasa Kota sekarang duduk di sebuah ruangan di atas Serambi Menara Putih, dengan Pippin di sampingnya; melalui jendela-jendela yang kusam; ke utara dan selatan serta ke timur, ia memandang dengan matanya yang gelap, seolah-olah ingin menembus bayang-bayang malapetaka yang mengepungnya. Kebanyakan ia memandang ke arah Utara, dan kadang-kadang ia diam sejenak untuk mendengarkan, seakan-akan dengan seni kemahiran

kuno ia bisa mendengar derap kaki kuda di padang jauh di sana.

“Apakah Faramir sudah datang?” tanyanya.

“Belum,” kata Gandalf. “Tapi dia masih hidup ketika aku meninggalkannya. Dia bertekad tetap tinggal bersama pasukan garis belakang, agar gerakan mundur melintasi Pelennor tidak menjadi kacau. Mungkin dia bisa tetap mempertahankan pasukannya cukup lama tapi aku meragukan hal itu. Musuhnya terlalu besar. Sebab yang kutakutkan sudah datang.”
“Bukan … Penguasa Kegelapan?” teriak Pippin, lupa kedudukannya, saking

takutnya.

Denethor tertawa getir. “Bukan, belum, Master Peregrin! Dia tidak akan datang kecuali untuk membanggakan diri saat semuanya sudah dia taklukkan. Dia menggunakan orang lain sebagai senjatanya. Begitulah yang dilakukan semua penguasa besar, kalau mereka bijak, Master Halfling. Kalau tidak, mengapa aku duduk di sini di menaraku berpikir, memperhatikan, dan menunggu, bahkan memanfaatkan putra-putraku? Padahal aku masih bisa menggunakan pedang!”
la bangkit berdiri, menyingkap jubahnya yang hitam panjang, dan lihatlah … ia mengenakan pakaian logam di bawahnya, dan menyandang pedang panjang berpangkal besar dalam sarung hitam-keperakan. “Seperti inilah setiap hari aku berjalan, selama bertahun-tahun pula aku tidur dengan pakaian begini,” katanya, “agar jangan sampai tubuhku melembek dan gentar dengan bertambahnya usia.” “Tapi sekarang, di bawah perintah Penguasa Barad-dur, kaptennya yang paling jahat sudah menguasai tembok perbatasanmu yang paling luar” kata Gandalf. “Raja Angmar di zaman lampau, Penyihir, Hantu Cincin, Penguasa Nazgul, tombak teror di tangan Sauron, bayangan malapetaka.”
“Kalau begitu, Mithrandir, ada lawan yang sebanding denganmu,” kata Denethor. “Aku sendiri sebenarnya sudah lama tahu, siapa kapten kepala pasukan- pasukan dari Menara Kegelapan. Apakah kau kembali hanya untuk mengatakan itu? Atau mungkin kau mundur karena sudah kewalahan?”
Pippin gemetar, khawatir Gandalf akan marah, tapi kekhawatirannya ternyata tidak terbukti. “Mungkin,” jawab Gandalf perlahan. “Tapi Ujian terhadap kekuatan kita belum datang. Dan kalau ramalan dari zaman lampau memang benar, maka

dia akan jatuh bukan oleh tangan laki-laki, dan ajalnya tersembunyi dari Kaum Bijak. Bagaimanapun, Kapten Malapetaka sendiri belum maju. Gaya kepemimpinannya kira-kira seperti yang baru saja kauungkapkan, dari belakang, mendorong budak-budaknya yang gila mendahuluinya di depan.”
“Bukan, aku datang untuk menjaga orang-orang terluka yang masih bisa disembuhkan; sebab Rammas sudah diterobos di mana-mana, dan tak lama lagi pasukan-pasukan Morgul akan masuk dari beberapa tempat. Aku datang terutama untuk menyampaikan ini. Segera akan ada pertempuran di padang. Kita perlu mempersiapkan serangan mendadak, yang dilakukan pasukan berkuda. Harapan kita hanya pada mereka, sebab hanya ada satu kekurangan pada musuh dia hanya punya sedikit penunggang kuda.”
“Kita juga hanya punya sedikit. Kalau pasukan Rohan datang sekarang, waktunya tepat sekali,” kata Denethor.
“Mungkin sekali kita akan lebih dulu melihat pendatang baru yang lain,” kata Gandalf. “Pelarian dan Cair Andros sudah sampai ke sini. Pulau itu sudah jatuh. Pasukan lain datang dan Gerbang Hitam, menyeberang dari timur laut.”
“Ada yang menuduhmu, Mithrandir, bahwa kau senang membawa kabar buruk,” kata Denethor, “tapi bagiku ini bukan berita lagi: aku sudah mengetahuinya sebelum tadi malam. Mengenai serangan mendadak, aku sudah memikirkannya. Mari kita turun.”


Waktu berlalu. Akhirnya para pengamat di atas tembok melihat mundurnya pasukan-pasukan garis depan. Kelompok-kelompok kecil orang-orang yang letih dan terluka datang lebih dulu, dengan tidak teratur; beberapa berlari kocar-kacir seperti sedang dikejar. Di sana, di sebelah timur, api berkelip-kelip, dan di sana- sini api menjalar di atas padang. Rumah-rumah dan gudang-gudang terbakar. Lalu dari banyak tempat, nyala api merah menjalar menyerbu seperti sungai- sungai kecil, mengalir berkelok-kelok dalam kegelapan, menyatu mendekati garis jalan lebar yang terbentang antara gerbang Kota sampai ke Osgiliath.
“Musuh,” bisik orang-orang. “Bendungan sudah jatuh. Mereka datang berbondong-bondong, masuk lewat lubang-lubang! Dan mereka membawa obor.

Di mana pasukan kita sendiri?”.

Lambat laun hari semakin sOrc, cahaya sudah begitu redup, sampai-sampai orang-orang bermata tajam di atas benteng, yang bisa melihat jauh, tak bisa melihat jelas keadaan di padang, kecuali kebakaran-kebakaran yang semakin banyak, serta garis-garis api yang semakin panjang dan merebak cepat. Akhirnya, kurang satu mil dari Kota, segerombolan orang yang lebih teratur mulai terlihat, berjalan berbaris dan bukan berlari, masih bersatu.
Para pengamat menahan napas. “Pasti Faramir ada di sana,” kata mereka. “Dia bisa mengendalikan manusia dan hewan. Dia akan berhasil.”
Sekarang pasukan yang mundur tidak lebih jauh dari dua furlong. Dan kegelapan di belakang, serombongan kecil pasukan berkuda datang berderap; hanya itu yang tersisa dan pasukan garis belakang. Sekali lagi mereka berputar untuk bertahan, menantang garis api yang menyongsong datang. Lalu tiba-tiba ada bunyi teriakan liar hiruk-pikuk. Pasukan berkuda musuh maju ke depan. Garis- garis api menjadi aliran deras, baris demi baris Orc membawa api, dan manusia- manusia Southron dengan panji-panji merah, berteriak dalam bahasa kasar, bergelombang naik, menyusul pasukan yang mundur. Dan dengan teriakan tajam, dan langit yang redup turun bayangan-bayangan bersayap, para Nazgul menukik untuk membunuh.
Gerakan mundur menjadi kacau. Orang-orang sudah mulai memisahkan diri, berlarian liar seperti gila, ke sana kemari, melemparkan senjata, menjerit ketakutan, dan berjatuhan ke tanah.
Lalu terompet di Benteng berbunyi, dan Denethor akhirnya melepas pasukan

untuk serangan mendadak. Dalam keadaan siap siaga dalam gelap dekat Gerbang, dan di bawah tembok-tembok tinggi yang menjulang di luar, mereka sudah menunggu-nunggu isyaratnya: semua orang bersenjata yang masih ada di Kota. Sekarang mereka melompat maju, membentuk barisan, mempercepat langkah sampai lari menderap, dan menyerbu dengan teriakan nyaring. Dari atas tembok terdengar teriakan balasan; sebab di barisan terdepan para ksatria Dol Amroth maju dengan Pangeran mereka dan panji birunya di ujung barisan. “Amroth demi Gondor!” teriak mereka. “Amroth ke Faramir!”

Seperti halilintar mereka menerjang musuh di kedua sisi pasukan yang mundur; tapi satu penunggang maju lebih cepat daripada yang lain, melesat seperti angin di rumput: Shadowfax yang membawanya; dia yang bersinar-sinar, sekali lagi tersingkap jati dirinya, seberkas cahaya menyala di tangannya yang terangkat. Para Nazgul berteriak parau dan menghindar, sebab Kapten mereka belum siap menantang api putih musuhnya. Pasukan Morgul yang sedang asyik memperhatikan mangsanya, dikejutkan ketika sedang berlari kencang, lalu mereka terpecah, tercerai-berai bagai percikan api ditiup angin. Pasukan barisan depan dengan sorak sorai nyaring berbalik dan memukul pengejar mereka. Pemburu menjadi yang diburu. Gerakan mundur menjadi serangan. Padang itu penuh bertebaran dengan Orc dan manusia yang terpukul, ban sangit naik dari obor-obor yang dibuang, mendesis padam dan menimbulkan asap berputar- putar. Pasukan berkuda terus melaju.
Tapi Denethor tidak mengizinkan mereka pergi terlalu jauh. Meski musuh agak tertahan, dan untuk sementara mundur, pasukan-pasukan besar mulai mengalir masuk dari Timur. Sekali lagi terompet berbunyi, sebagai isyarat untuk mundur. Pasukan berkuda dan uonaor nernenh. Di balik pagar yang mereka bentuk, pasukan baris depan membentuk kembali barisan mereka. Sekarang mereka berjalan pulang dengan teratur. Mereka sampai ke Gerbang Kota dan masuk, melangkah gagah; dengan bangga orang-orang di Kota menatap mereka dan menyerukan puji-pujian untuk mereka, tapi kecemasan mereka tak hilang juga. Sebab anggota pasukan-pasukan berkurang banyak. Faramir telah kehilangan sepertiga anak buahnya. Dan di manakah dia?
la datang paling akhir. Anak buahnya masuk. Ksatria-ksatria berkuda kembali, dan di belakang mereka panji Dol Amroth serta sang Pangeran. Di depannya, di atas kudanya ia membawa tubuh saudaranya, Faramir putra Denethor, yang ditemukannya di padang pertempuran.
“Faramir! Faramir!” teriak orang-orang di jalan, sambil menangis. Tapi Ia tidak menjawab, dan mereka membawanya melalui jalan berkelok-kelok, ke Benteng ke ayahnya. Ketika para Nazgul mengelak dari serangan Penunggang Putih, ada panah mematikan yang melesat terbang, dan Faramir yang sedang menahan

jagoan berkuda dari Harad, jatuh ke tanah. Serangan Dol Amroth menyelamatkannya dari pedang-pedang merah dari selatan, yang sudah akan menusuknya ketika ia tergeletak di sana.
Pangeran Imrahil membawa Faramir ke Menara Putih, dan ia berkata, “Putramu kembali, Tuanku, setelah melakukan tugas dengan hebat,” dan ia menceritakan semua yang sudah dilihatnya. Tapi Denethor bangkit dan memandang wajah putranya dengan diam. Kemudian ia menyuruh mereka menyiapkan tempat tidur di ruangan itu, dan membaringkan Faramir di atasnya, lalu mereka disuruhnya pergi. la sendiri naik ke ruangan rahasia di puncak Menara, sendirian; orang- orang yang memandang ke sana saat itu melihat cahaya pucat bersinar dan berkelip melalui jendela jendela sempit selama beberapa saat. Cahaya itu berkelip sekilas, lalu padam. Ketika Denethor turun lagi, Ia menghampiri Faramir dan duduk di sampingnya, tanpa berbicara, tapi wajahnya kelabu, lebih pucat daripada wajah putranya.


Maka Kota pun dikepung, dikelilingi lingkaran musuh. Rammas sudah hancur, seluruh Pelennor diduduki Musuh. Kabar terakhir datang dari luar tembok- tembok, dibawa oleh orang-orang yang berlari masuk lewat jalan utara sebelum Gerbang ditutup. Mereka adalah sisa para penjaga yang dipertahankan di titik tempat jalan dari Anorien dan Rohan masuk ke pedesaan. Ingold yang memimpin mereka; dialah yang mengizinkan Gandalf dan Pippin masuk, kurang dan lima hari sebelumnya, ketika matahari masih terbit dan pagi hari masih membawa harapan.
“Tak ada kabar dari kaum Rohirrin,” katanya. “Rohan tidak akan datang sekarang. Kalaupun mereka datang, tidak akan bermanfaat bagi kita. Kami mendengar bahwa pasukan baru musuh sudah datang menyeberangi sungai dari Andros. Mereka sangat kuat: batalion-batalion Orc dari Mata, dan pasukan- pasukan Manusia jenis baru yang belum pernah kita jumpai, tak terhitung banyaknya. Tidak tinggi, tapi lebar dan kekar, berjenggot seperti kurcaci, bersenjata kapak-kapak besar. Kami duga mereka berasal dari sebuah negeri liar di Timur. Mereka menduduki jalan ke utara; dan sudah banyak yang masuk

ke Anorien. Kaum Rohirrim tak bisa ke sini.”



Gerbang sudah ditutup. Sepanjang malam para penjaga di atas tembok mendengar hiruk-pikuk musuh yang berkeliaran di luar, membakar ladang dan pohon, menebas setiap orang yang mereka jumpai di luar, baik hidup maupun mati. Jumlah mereka yang sudah menyeberangi Sungai sulit diduga dalam kegelapan, tapi saat pagi tiba dan bayangannya yang pucat menjalar di atas padang, terlihat bahwa ketakutan di malam sebelumnya tidak menyebabkan orang salah memperkirakan jumlah. Padang itu dipenuhi pasukan berbaris, dan sejauh mata bisa memandang menembus keremangan, di seputar kota yang dikepung muncul kemah-kemah hitam atau merah kusam, tumbuh bagai jamur busuk.
Orc-Orc bergegas dan sibuk bagai semut, menggali alur-alur parit dalam lingkaran besar, tepat di luar jarak jangkauan panah dari tembok; parit-parit itu masing-masing diisi api, meski tidak kelihatan bagaimana dinyalakan atau dibesarkannya, apakah dengan seni keterampilan tinggi atau dengan sihir jahat. Sepanjang hari pekerjaan itu dilanjutkan, sementara orang-orang Minas Tirith menyaksikan, tanpa bisa menghalangi. Dan setiap kali sebuah parit panjang selesai dibuat, mereka bisa melihat kereta-kereta besar mendekat; lalu lebih banyak lagi pasukan musuh dengan cepat memasang mesin-mesin besar untuk menembakkan peluru, masing-masing di belakang lindungan parit. Di atas tembok Kota tidak ada mesin yang cukup besar untuk menjangkau sejauh itu, atau menghentikan pekerjaan itu.
Pada awalnya orang-orang tertawa dan tidak begitu mencemaskan alat-alat itu. Sebab dinding utama Kota sangat tinggi dan luar biasa tebal, dibangun sebelum kekuasaan dan kemahiran Numenor memudar dalam pengasingan; permukaan luarnya sama seperti Menara Orthanc, keras, gelap, dan mulus, tak bisa dihancurkan oleh baja atau api, tak terpecahkan kecuali mungkin oleh gempa yang merobek tanah di bawahnya.
“Tidak,” kata mereka, “bahkan jika Dia yang Tak Bernama datang sendiri, dia

pun takkan bisa masuk ke sini sementara kita masih hidup.” Tapi beberapa

menjawab, “Sementara kita masih hidup? Berapa lama lagi? Dia punya senjata yang sudah menaklukkan banyak tempat kuat sejak awal dunia. Kelaparan. Jalan jalan sudah tertutup. Rohan takkan datang.”
Tapi mesin-mesin itu tidak menyia-nyiakan tembakan ke tembok kokoh tersebut. Bukan perampok atau pemimpin Orc yang memerintahkan serangan terhadap musuh terbesar Penguasa Mordor. Ada suatu kekuatan cerdik dan jahat yang memimpinnya. Begitu katapel-katapel besar itu ditempatkan, diiringi teriakan dan derak tambang serta derek, mereka mulai melontarkan peluru-peluru tinggi sekali, melewati atas tembok dan jatuh berdebam di dalam lingkaran pertama Kota; banyak di antaranya, entah memakai ilmu apa, meledak menyala ketika jatuh.
Tak lama kemudian, api besar mengancam di balik dinding, dan semua yang bisa disisihkan, sibuk memadamkan nyala api yang muncul di banyak tempat. Kemudian di antara, lemparan peluru-peluru besar jatuh lontaran lain, tidak begitu merusak, tapi jauh lebih mengerikan. Di seluruh jalan dan lorong di belakang Gerbang menggelinding tembakan kecil bulat yang tidak menyala. Tapi ketika orang-orang berlari mendekat untuk melihatnya, mereka berteriak keras atau mengerang. Karena musuh melemparkan ke dalam Kota semua kepala mereka yang tewas dalam pertempuran di Osgiliath, atau di Rammas, atau di padang. Pemandangan menyedihkan; meski beberapa sudah hancur dan tidak berbentuk, dan beberapa sudah dicederai dengan keji, tapi masih banyak yang punya ciri-ciri yang bisa dikenali, dan kelihatannya mereka mati kesakitan; semuanya diberi cap lambang Mata Tak Berkelopak. Meski dalam keadaan rusak dan tercemar, ternyata masih banyak yang mengenali wajah-wajah orang yang pernah dikenalnya, yang pernah berjalan gagah menyandang senjata, atau bercocok tanam di ladang, atau datang berkuda dari lembah di perbukitan hijau untuk berlibur.
Sia-sia orang-orang mengepalkan tinju pada musuh kejam yang berkerumun di depan Gerbang. Mereka tidak menghiraukan maklmakian, juga tidak memahami bahasa orang-orang barat, dan mereka berteriak dengan suara parau seperti hewan liar serta burung pemakan bangkai. Tapi tak lama kemudian hanya sedikit

orang di Minas Tirith yang masih berani berdiri dan menantang pasukan-pasukan dari lviordor. Sebab Penguasa Menara Kegelapan masih punya satu lagi senjata, yang menyerang lebih cepat daripada kelaparan: ketakutan dan keputusasaan. Para Nazgul datang lagi, dan saat Penguasa Kegelapan semakin mengembangkan dan mengerahkan kekuatannya, begitu pula suara mereka, yang memancarkan keserakahan dan kejahatan Penguasa mereka, penuh kekejian dan kengerian. Mereka terus terbang berputar-putar di atas kota, seperti elang yang sudah mengincar untuk melahap bangkai sekenyangnya. Mereka terbang di luar jangkauan pandangan dan tembakan, tapi mereka selalu ada, suara jeritan mereka merobek-robek udara. Teriakan demi teriakan, suara mereka semakin tak tertahankan dan tak kunjung mengendur. Akhirnya bahkan orang-orang paling berani pun menjatuhkan diri ke lantai saat sambaran dahsyat tersembunyi itu lewat di atas mereka, atau mereka tetap berdiri, membiarkan senjata mereka jatuh dari tangan yang gemetar lemas, sementara benak mereka disusupi kegelapan, dan pikiran mereka tidak lagi pada perang, melainkan pada bagaimana bisa merangkak bersembunyi, dan pada kematian.
Sepanjang hari yang hitam itu Faramir berbaring di tempat tidur di dalam ruangan Menara Putih, tubuhnya menggigil karena demam tinggi; seseorang mengatakan Ia sedang menunggu kematian, dan tak lama kemudian semua orang di tembok dan di jalan-jalan mengatakan ia sedang menuju kematian. Ayahnya duduk di sampingnya, membisu dan mengawasi, sama sekali tidak menghiraukan pertahanan dan perlawanan perangnya lagi.
Belum pernah Pippin mengalami saat-saat segelap itu, tidak juga ketika Ia dalam cengkeraman kaum Uruk-hai. Ia bertugas mendampingi Penguasa Kota, dan begitulah ia menunggu, sambil berdiri di dekat pintu ruangan yang gelap itu, seolah terlupakan, sambil mencoba menguasai rasa takutnya sendiri. Dan ketika ia perhatikan, Denethor seakan-akan bertambah tua di depan matanya, seolah- olah kekuatan kepribadiannya sudah putus, pikirannya yang teguh sudah tumbang. Mungkin karena kesedihan dan penyesalan. la melihat air mata pada wajah yang dulu tak pernah menangis itu, dan pemandangan itu lebih menyiksanya daripada kemarahan.

“Jangan menangis, Tuanku,” kata Pippin terbata-bata. “Mungkin dia masih bisa

sembuh. Sudahkah Tuanku bertanya pada Gandalf?”

“Jangan hibur aku dengan penyihir!” kata Denethor. “Harapan si bodoh itu sudah hilang. Musuh sudah menemukannya, dan sekarang kekuatannya semakin besar; dia bisa melihat pikiran kita, dan semua yang kita lakukan akan membawa kebinasaan.”
“Aku mengirim putraku, tanpa dibalas terima kasih, tanpa diberi berkat, keluar menyongsong bahaya sia-sia, dan sekarang dia terbaring dengan racun mengalir dalam urat darahnya. Tidak, tidak, apa pun yang akan terjadi dalam perang ini, garis keturunanku juga akan berakhir; bahkan keturunan Pejabat Istana juga telah gagal. Bangsa yang jahat akan menguasai sisa-sisa terakhir para Raja Manusia, bersembunyi di bukit-bukit sampai semuanya habis diburu.”
Orang-orang datang ke pintu, berteriak memanggil sang Penguasa Kota. “Tidak, aku tak mau turun,” kata Denethor. “Aku harus mendampingi putraku. Mungkin dia masih bisa berbicara sebelum ajalnya tiba. Tapi maut sudah dekat. Ikuti saja siapa yang kalian mau, bahkan si Bodoh Kelabu itu, meski harapannya sudah pupus. Aku akan tetap di sini.”


Dengan demikian, Gandalf-lah yang memimpin perlawanan terakhir Kota Gondor. Ke mana pun Ia datang, semangat orang-orang kembali timbul, dan bayang-bayang bersayap itu terlupakan. Tanpa kenal lelah ia berjalan dari Benteng ke Gerbang; dari utara ke selatan sekitar dinding; Pangeran dari Dol Amroth mendampinginya, berpakaian logam mengilap. Sebab Ia dan para ksatrianya masih bersikap seperti bangsawan penguasa, keturunan asli bangsa Numenor. Orang-orang yang melihat mereka berbisik-bisik, “Seperti kisah-kisah lama; dalam urat nadi mereka mengalir darah bangsa Peri, sebab bangsa Nimrodel dulu tinggal di negeri itu, lama berselang.” Lalu ada yang bernyanyi di tengah-tengah kemurungan itu, beberapa bait lagu Nyanyian Nimrodel, atau lagu-lagu lain tentang Lembah Anduin dari masa lampau.
Meski begitu, saat Gandalf dan Pangeran sudah pergi, kegelapan kembali menyelubungi, hati orang-orang menjadi dingin, dan keberanian Gondor layu

menjadi abu. Begitulah perlahan-lahan mereka beralih dari hari gelap penuh ketakutan ke dalam kekelaman malam yang naas. Api berkobar tak terkendali di lingkar pertama Kota, dan jalan mundur bagi pasukan di atas tembok luar sudah terputus di beberapa tempat. Hanya sedikit prajurit setia yang masih bertahan di posnya masing-masing; kebanyakan sudah lari ke belakang gerbang kedua.


Jauh di belakang pertempuran, jembatan sudah dipasang di Sungai, dan sepanjang hari semakin banyak kekuatan musuh dan senjatanya yang mengalir menyeberang. Akhirnya di tengah malam serangan dilancarkan. Barisan depan lewat di antara parit-parit api, melalui jalan berliku-liku yang tersisa di antaranya. Mereka maju terus, tidak takut kehilangan, masih bergerombol dan digiring, dalam jarak jangkauan pemanah-pemanah di atas tembok. Tapi terlalu sedikit pemanah yang masih ada untuk bisa mencederai musuh, meski cahaya obor menunjukkan banyak sasaran bagi para pemanah hebat yang pernah dibanggakan Gondor. Karena menyadari bahwa keberanian Kota sudah runtuh, Kapten yang tersembunyi mengerahkan kekuatan penuh. Perlahan-lahan menara-menara sergap yang besar, yang dibuat di Osgiliath, menggelinding maju dalam kegelapan.


Utusan-utusan berdatangan lagi ke Menara Putih, dan Pippin membiarkan mereka masuk, karena pesan-pesan yang mereka bawa sangat mendesak. Dengan perlahan Denethor menolehkan kepala dari wajah Faramir, dan memandang mereka sambil membisu.
“Lingkar pertama Kota sudah terbakar, Tuanku,” kata mereka. “Bagaimana perintahmu? Kau masih Penguasa dan Pejabat Istana. Tidak semuanya mau mengikuti perintah Mithrandir. Orang-orang lari dari tembok, membiarkannya tidak dijaga.”
“Kenapa? Kenapa orang-orang bodoh itu lari?” kata Denethor. “Lebih baik terbakar lebih awal, daripada terlambat, sebab bagaimanapun kita akan dibakar. Kembalilah ke api unggunmu! Dan aku? Aku akan pergi ke api unggunku! Api unggunku! Tak ada kuburan bagi Denethor dan Faramir. Tak ada kuburan! Tak

ada tidur kematian yang panjang dalam pengawetan. Kami akan dibakar seperti raja-raja kafir, sebelum kapal-kapal dari Barat berlayar ke sini. Barat sudah gagal. Pergilah dan terbakarlah!”
Para utusan berlari pergi tanpa membungkuk atau menjawab.

Sekarang Denethor bangkit berdiri dan melepaskan tangan Faramir yang panas karena demam, yang selama itu dipegangnya. “Dia sudah terbakar, sudah terbakar,” kata Denethor dengan sedih. “Rumah jiwanya mulai runtuh.” Lalu sambil melangkah perlahan ke arah Pippin, ia memandangnya.
“Selamat tinggal!” katanya. “Selamat tinggal, Peregrin putra Paladin! Rasa

baktimu singkat sekali, dan kini sudah hampir berakhir.”

“Kubebaskan kau dari baktimu dalam waktu pendek yang masih tersisa. Pergilah, dan matilah dengan cara terbaik menurutmu. Bersama siapa pun yang kau kehendaki, bahkan temanmu yang dengan kebodohannya telah menyeretmu ke dalam kematian. Panggillah pelayan-pelayanku, lalu pergilah. Selamat tinggal!”
“Aku tak mau berpamitan, Tuanku,” kata Pippin sambil berlutut. Dan tiba-tiba ia kembali ke watak hobbit-nya. la berdiri dan memandang ke dalam mata pria tua itu. “Aku minta izinmu, Sir,” katanya, “sebab memang aku sangat ingin bertemu Gandalf Tapi dia bukan orang bodoh; dan aku takkan memikirkan kematian kecuali dia sudah putus asa. Tapi selama kau masih hidup, aku tak ingin dibebaskan dari sumpah dan pelayanan kepadamu. Kalau akhirnya musuh masuk ke Benteng, kuharap aku berada di sini dan berdiri di sampingmu, hingga layaklah aku menyandang senjata yang sudah kauberikan padaku.”
“Lakukan sekehendakmu, Master Halfling,” kata Denethor. “Tapi hidupku sudah

hancur. Panggillah pelayan-pelayanku!” Tatapannya kembali pada Faramir.



Pippin meninggalkannya dan memanggil para pelayan. Mereka pun datang: enam pelayan istana, kuat dan gagah; namun mereka gemetar mendapat panggilan itu. Tapi dengan suara tenang Denethor menyuruh mereka meletakkan selimut-selimut hangat di tempat tidur Faramir dan mengangkatnya. Maka mereka mengangkat tempat tidur itu dan membawanya keluar ruangan.

Mereka melangkah perlahan, sedapat mungkin tidak mengganggu pria yang demam itu. Denethor, yang membungkuk bertopang tongkat, mengikuti mereka; dan terakhir Pippin.
Mereka berjalan keluar dari Menara Putih, seperti sedang menuju pemakaman, keluar ke dalam kegelapan, di mana awan yang rendah disinari kilatan merah redup dari bawah. Perlahan-lahan mereka menapaki pelataran besar, dan atas perintah Denethor mereka berhenti di samping Pohon yang Telah Layu.
Sepi sekali, kecuali gemuruh peperangan di Kota di bawah, dan air yang menetes sedih dari ranting-ranting mati ke dalam kolam yang gelap. Mereka berjalan terus melewati gerbang Benteng. Para penjaga memandang heran dan cemas. Setelah membelok ke barat, mereka sampai ke sebuah pintu di dinding belakang lingkar keenam. Namariya Fen Hollen, dan pintu itu selalu tertutup, kecuali di saat pemakaman. Hanya Penguasa Kota yang boleh menggunakan jalan itu, atau mereka yang membawa lambang makam dan merawat kuburan di sana. Setelah masuk pintu itu, terbentang sebuah jalan berkelok-kelok dengan banyak tikungan, menuju dataran sempit di bawah bayangan ngarai Mindolluin, di mana berdiri bangunan makam para Raja yang sudah berpulang serta para Pejabat mereka.
Seorang penjaga pintu duduk di pondok kecil di samping jalan itu, dan dengan pandangan penuh ketakutan Ia melangkah maju sambil lnembawa lentera. Atas perintah sang Penguasa ia membuka kunci pintu, dan tanpa suara pintu itu mengayun terbuka; mereka lewat, sambil mengambil lentera dari tangan si penjaga. Gelap sekali jalan yang mendaki di antara tembok-tembok kuno dan pagar bertiang yang tampak samar-samar dalam cahaya lentera yang bergoyang. Langkah perlahan kaki mereka bergema, terus hingga mereka sampai ke Jalan Sunyi, Rath Dinen, di antara kubah-kubah pucat dan serambi- serambi kosong serta patung orang-orang yang sudah lama mati; lalu mereka masuk ke Makam Para Pejabat dan meletakkan beban yang mereka bawa.
Pippin memandang sekelilingnya dengan gelisah, dan melihat bahwa ia berada di sebuah ruangan lebar berkubah, seolah berhiaskan bayangan-bayangan besar yang ditimbulkan oleh cahaya lentera kecil di dindingnya yang terselubung.

Samar-samar tampak barisan-barisan meja, dari pualam yang dipahat; di atas setiap meja terbaring sebuah sosok tertidur, dengan tangan dilipat, kepala berbantalkan batu. Tapi satu meja yang berdiri paling dekat, lebar dan kosong. Atas isyarat Denethor mereka membaringkan Faramir dan ayahnya berdampingan, menyelimuti mereka dengan satu selubung, lalu mereka berdiri dengan kepala menunduk, seperti pelayat di samping jenazah. Kemudian Denethor berbicara dengan suara rendah.
“Di sini kita akan menunggu,” katanya. “Jangan panggil para Pembalsem jenazah. Bawakan kayu yang cepat terbakar, sebarkan di sekeliling kami, dan di bawah; tuangkan minyak ke atasnya. Saat kuperintahkan, nyalakan dengan obor. Lakukan itu dan jangan berbicara lagi padaku. Selamat tinggal!”
“Mohon izin, Tuanku!” kata Pippin sambil berbalik, lalu lari ketakutan dari makam itu. “Kasihan Faramir!” pikirnya. “Aku harus menemukan Gandalf. Kasihan Faramir! Dia lebih membutuhkan obat daripada air mata. Oh, di mana aku bisa menemukan Gandalf? Dia pasti berada di tengah kesibukan paling hebat dalam pertempuran; mungkin dia tak punya waktu untuk orang yang sekarat atau gila.” Di pintu ia berbicara pada salah seorang pelayan yang masih berjaga di sana. “Majikanmu sedang kurang waras,” katanya. “Perlambatlah tindakanmu! Jangan bawa api ke tempat ini selama Faramir masih hidup! Jangan berbuat apa pun sampai Gandalf datang!”
“Siapa penguasa Minas Tirith?” jawab orang itu. “Lord Denethor atau

Pengembara Kelabu?”

“Pengembara Kelabu, atau tak ada sama sekali, begitulah tampaknya,” kata Pippin; ia berlari kembali melalui jalan berkelok-kelok, secepat mungkin, melewati penjaga pintu yang kaget, keluar dari pintu, terus sampai tiba di dekat gerbang Benteng. Penjaga gerbang menyalaminya ketika ia lewat, dan Pippin mengenali suara Beregond.
“Ke mana kau berlari, Master Peregrin?” teriaknya. “Mencari Mithrandir,” jawab Pippin.
“Tugas dari Penguasa sangat penting dan tak seharusnya kurintangi,” kata

Beregond, “tapi ceritakan dengan cepat, kalau bisa: apa yang sedang terjadi? Ke

mana Penguasa-ku? Aku baru saja bertugas, tapi kudengar Penguasa menuju

Pintu Tertutup, dan Faramir digotong di depannya.” “Ya,” kata Pippin, “ke Jalan Sunyi.”
Beregond menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya. “Kata

mereka dia sedang sekarat,” keluhnya, “dan sekarang dia sudah mati.”

“Tidak,” kata Pippin, “belum. Kupikir kematiannya bisa dielakkan. Tapi Penguasa Kota sudah jatuh sebelum kotanya direbut. Sikapnya aneh dan berbahaya.” Dengan cepat Ia menceritakan kata-kata dan tingkah laku Denethor yang aneh. “Aku harus segera menemukan Gandalf.”
“Kalau begitu, kau harus pergi ke tempat pertempuran berlangsung.”

“Aku tahu. Penguasa sudah memberiku izin. Tapi, Beregond, kalau bisa, lakukanlah sesuatu sebisa mungkin, untuk menghindari terjadinya sesuatu yang mengerikan.”
“Penguasa tidak mengizinkan siapa pun yang berseragam hitam dan perak meninggalkan posnya untuk alasan apa pun, kecuali bila diperintah olehnya.” “Nah, kau harus memilih antara menuruti perintah atau menyelamatkan hidup Faramir,” kata Pippin. “Dan tentang perintah, kupikir dia sudah gila, bukan lagi penguasa. Aku harus lari. Aku akan kembali kalau sudah memungkinkan.”
Pippin terus berlari, terus, terus menuju batas luar kota. Orang-orang yang berlarian menjauh dari kebakaran berpapasan melewatinya, dan beberapa yang melihat seragamnya berputar dan berteriak, tapi ia tidak menghiraukan mereka. Akhirnya ia melewati Gerbang Kedua, di seberangnya api besar berkobar di antara dinding-dinding. Namun suasana sepi sekali. Tak ada teriakan perang atau bunyi gemuruh senjata. Tiba-tiba ada teriakan mengerikan dan kejutan besar, serta bunyi dentuman menggema. Sambil memaksa dirinya terus berlari melawan getaran ketakutan dan kengerian yang mengguncangnya hingga Ia nyaris lemas, Pippin membelok di sebuah tikungan, yang mengantarnya ke sebuah pelataran besar di belakang Gerbang Kota. Ia berhenti mendadak. la sudah menemukan Gandalf; tapi Ia mundur ketakutan, gemetar dalam bayang- bayang gelap.

Sejak tengah malam, serangan besar terus berlangsung. Genderang berbunyi. Ke utara dan selatan pasukan demi pasukan musuh menyerbu tembok-tembok. Hewan-hewan besar berdatangan, seperti rumah bergerak dalam cahaya merah dan gelisah, para mumakil dari Harad melangkah sambil menyeret menara- menara dan mesin-mesin besar melalui jalan di antara kobaran api. Namun kapten mereka tidak begitu peduli apa yang mereka lakukan atau berapa banyak yang mereka bunuh: tujuan mereka hanya untuk menguji kekuatan perlawanan dan membuat orang-orang Gondor sibuk di berbagai tempat. Serangan paling berat akan dilancarkan ke Gerbang. Gerbang itu memang sangat kuat, ditempa dari besi dan baja, dijaga oleh menara-menara dan kubu-kubu dari batu keras sekali, tapi justru itulah kuncinya, titik terlemah pada dinding tinggi yang tak bisa ditembus itu.
Genderang mulai berdentam lebih keras. Api berkobar semakin tinggi. Mesin- mesin besar merangkak melalui padang; dan di tengah-tengah ada pelantak besar, sebesar pohon rimba sepanjang 30 meter, berayun pada rantai raksasa. Lama sekali pelantak itu ditempa di bengkel besi gelap di Mordor, ujungnya yang mengerikan dibuat dari baja hitam, dibentuk seperti kepala serigala kelaparan, dan penuh dengan torehan lambang sihir untuk kehancuran. Mereka menamakannya Grond, untuk mengenang palu dari Dunia Bawah di zaman lampau. Hewan-hewan besar menghelanya, Orc-Orc mengelilinginya, dan di belakangnya berjalan troll-troll pegunungan sebagai pengendalinya.
Di sekitar Gerbang perlawanan masih gigih, dan di sana ksatria-ksatria Dol Amroth serta serdadu-serdadu paling berani masih tetap bertahan. Tembakan dan panah berluncuran rapat; menara-menara penyerang tiba-tiba pecah berderak atau berkobar seperti obor. Di depan tembok di kedua sisi Gerbang, tanah penuh dengan reruntuhan dan mayat-mayat mereka yang tewas; tapi musuh masih terus berdatangan, bagai didorong kegilaan.
Grond terus merangkak. Lapisan kulit luarnya tak bisa terbakar; dan meski sesekali hewan yang menyeretnya tiba-tiba mengamuk dan menginjak-injak para Orc penjaga yang tak terhitung banyaknya, tubuh mereka segera disingkirkan ke tepi jalan dan digantikan oleh yang lain.

Grond masih terus merangsek maju. Genderang-genderang bertalu-talu. Dari atas bukit-bukit bangkai, muncul sebuah sosok mengerikan: seorang penunggang kuda, tinggi, berkerudung, berjubah hitam. Perlahan-lahan, sambil menginjak mereka yang tewas, ia melangkah maju, tidak memedulikan panah- panah. la berhenti dan mengangkat sebilah pedang pucat panjang. Melihat itu, ketakutan mencekam semuanya, baik kawan maupun lawan; tangan orang- orang terjatuh lemas dan tak ada lagi panah yang melesat. Sejenak semuanya sunyi.
Genderang-genderang mendebur dan mendentam. Dengan dorongan keras Grond terlontar ke depan oleh tangan-tangan besar. la pun mencapai Gerbang. Berayun. Dentum gelegar dahsyat menggemuruh menembus Kota, seperti guruh menggeletar di gumpalan mega. Tapi pintu-pintu dari besi dan tiang baja menahan pukulan itu.
Lalu Kapten Hitam berdiri di sanggurdinya dan berteriak keras dengan suara menyeramkan, dalam bahasa asing yang sudah lama terlupakan. la mengeluarkan kata-kata berisi teror yang sanggup membelah hati dan batu.
Tiga kali Ia berteriak. Tiga kali pelantak besar itu berdentum. Dan mendadak pada benturan terakhir, Gerbang Gondor pecah. Bagai kena sihir jahat, pintu itu meledak pecah berkeping-keping: ada kilatan cahaya yang merobek, dan pintu- pintu jatuh berkeping-keping ke lantai.


Masuklah Penguasa Nazgul. Sosoknya yang hitam besar muncul di depan api, menjelma menjadi ancaman besar yang mematahkan harapan. Masuklah Penguasa Nazgul, di bawah ambang gerbang melengkung yang belum pernah dilalui musuh, dan semuanya lari menjauh.
Semuanya kecuali satu. Menunggu di sana, diam dan tenang di depan Gerbang, duduklah Gandalf di atas Shadowfax: Shadowfax satu-satunya di antara kuda- kuda merdeka di dunia yang bertahan terhadap teror itu, tak bergerak, kokoh seperti patung berhala di Rath Dinen.
“Kau tak bisa masuk ke sini,” kata Gandalf, dan bayangan besar itu berhenti. “Kembalilah ke jurang yang sudah disiapkan untukmu! kembali! Terjunlah ke

dalam kekosongan yang menunggu kau dan Majikan-mu. Pergi!”

Penunggang Hitam menyingkapkan kerudungnya yang hitam, dan lihatlah! Ia memakai mahkota raja; namun kepalanya tidak tampak. Api merah berkobar di antara mahkota dan pundaknya yang lebar gelap berselubung jubah. Dari mulutnya yang tidak tampak keluar bunyi tertawa mematikan.
“Tua bangka bodoh!” katanya, “Tua bangka bodoh! Saat ini adalah saatku. Tak bisakah kau mengenali maut saat melihatnya? Matilah sekarang dan mengutuklah dengan sia-sia!” Lalu ia mengangkat tinggi pedangnya, dan nyala api menggulung mengaliri bilahnya.


Gandalf tak bergerak. Tepat pada saat itu, jauh di sebuah halaman di Kota, seekor ayam jantan berkokok. Bunyinya nyaring dan jelas, sama sekali tak menghiraukan sihir atau perang, hanya menyambut fajar yang datang menyingsing, jauh di langit tinggi, di atas bayang-bayang kematian.
Dan seolah-olah sebagai jawaban, dari jauh terdengar nada lain. Bunyi terompet, terompet, terompet. Di tebing-tebing Mindolluin yang gelap bunyi itu bergema redup: Terompet-terompet besar dari Utara bertiup nyaring. Rohan sudah datang.

BAB 5

PERJALANAN KAUM ROHIRRIM



Hari sudah gelap, dan Merry tak bisa melihat apa pun, ketika ia berbaring di tanah, berselubung selimut; meski malam itu tak ada angin, di sekitarnya pohon- pohon tersembunyi mengeluh perlahan. la mengangkat kepala. Lagi-lagi didengarnya suara itu: bunyi sayup-sayup seperti genderang di bukit berhutan dan di lereng gunung. Dentaman itu berhenti tiba-tiba, lalu mulai lagi di tempat lain, kadang lebih dekat, kadang lebih jauh. la bertanya dalam hati, apakah para penjaga juga mendengarnya.
la tak bisa melihat mereka, tapi Ia tahu bahwa di sekitarnya ada pasukan- pasukan Rohirrim. Ia bisa mencium bau kuda-kuda dalam gelap, bisa mendengar gerak-gerik dan entakan lembut kaki mereka di tanah yang dipenuhi jarum cemara. Pasukan berkemah di hutan pinus yang bergerombol di sekitar Mercu Suar Eilenach, sebuah bukit tinggi yang menjulang di atas punggung- punggung panjang Hutan Druadan yang berdiri di samping jalan besar di Anorien Timur.
Meski sangat letih, Merry tak bisa tidur. la sudah berkuda empat hari berturut- turut, dan kegelapan yang semakin pekat sangat membebani hatinya. la mulai bertanya-tanya, mengapa ia begitu bersemangat untuk ikut, padahal Ia sudah diberi segala macam alasan, bahkan perintah dari penguasanya, untuk tetap tinggal di belakang. la bertanya juga dalam hati, apakah Raja tua itu tahu bahwa perintahnya dilanggar, dan apakah ia marah. Mungkin juga tidak. Rupanya ada semacam kesepakatan antara Dernhelm dan Elfhelm, marsekal yang memimpin eored tempat mereka bergabung. la dan semua anak buahnya tidak menghiraukan Merry dan pura-pura tidak mendengar kalau ia berbicara. la bagaikan karung tambahan yang dibawa Dernhelm. Dernhelm juga tidak menghibur: Ia tak pernah berbicara dengan siapa pun. Merry merasa kecil, tidak diperlukan, dan ia kesepian. Sekarang saat-saat penuh kecemasan, dan pasukan itu berada dalam bahaya. Mereka berada kurang dari sehari perjalanan dari tembok luar Minas Tirith yang mengelilingi pedesaan. Utusan-utusan sudah

dikirim. Beberapa tidak kembali. Lainnya terburu-buru kembali, melaporkan bahwa pasukan musuh menghadang di jalan. Pasukan musuh berkemah di jalan itu, tiga mil sebelah barat Amon diri, dan beberapa orang sudah rnemenuhi jalan, dalam jarak kurang dari tiga league. Orc-Orc berkeliaran di bukit-bukit dan hutan sepanjang jalan. Raja dan Eomer berembuk saat berjaga malam.
Merry ingin ada yang menemaninya bercakap-cakap, dan Ia memikirkan Pippin. Tapi itu hanya membuatnya semakin resah. Pippin yang malang, terjebak di kota batu, sendirian dan takut. Merry menyesali dirinya sendiri, kenapa ia bukan seorang Penunggang bertubuh jangkung seperti Eomer, bisa meniup terompet atau semacamnya, dan pergi naik kuda untuk menyelamatkan Pippin. Ia bangkit duduk, mendengarkan bunyi genderang yang kembali berdentam, sekarang lebih dekat. Tak lama kemudian Ia mendengar suara-suara berbicara pelan, dan Ia melihat lentera-lentera setengah terselubung menyala redup, lewat di antara pepohonan. Orang-orang di dekatnya mulai bergerak ragu-ragu dalam gelap. Sebuah sosok jangkung muncul dan tersandung tubuh Merry, lalu mengumpat akar-akar pepohonan. la mengenali suara Elfhelm sang Marsekal.
“Aku bukan akar pohon, Sir,” kata Merry, “juga bukan karung, tapi hobbit yang terluka. Sekurang-kurangnya, sebagai ganti rugi kau bisa menceritakan padaku apa yang sedang berjalan.”
“Apa pun yang masih bisa berjalan di tempat setan ini,” jawab Elfhelm. “Tapi Tuanku berpesan bahwa kita harus bersiap-siap: mungkin sekali akan ada perintah untuk gerakan mendadak.”
“Apakah musuh sudah datang ke sini?” tanya Merry cemas. “Apakah itu

genderang mereka? Kupikir itu hanya khayalanku, sebab kelihatannya tak ada

orang lain yang memperhatikannya.”

“Bukan, bukan,” kata Elfhelm, “musuh ada di jalan, bukan di bukit-bukit. Yang kaudengar itu kaum Woses, Manusia Liar dari Belantara: begitu cara mereka saling berbicara dari kejauhan. Konon mereka masih menghantui Hutan Druadan. Mereka adalah sisa-sisa masa lampau, hanya sedikit jumlahnya dan hidup secara sembunyisembunyi, liar dan waspada seperti binatang buas. Mereka tidak pergi berperang bersama Gondor ataupun Mark; tapi sekarang

mereka terganggu oleh kegelapan dan kedatangan para Orc; mereka khawatir Tahun-Tahun Gelap akan kembali, dan memang kelihatannya sangat mungkin terjadi. Bersyukurlah bahwa mereka tidak memburu kita; sebab mereka menggunakan panah-panah beracun, dan sangat terampil membuat barang- barang dari kayu. Tapi mereka menawarkan jasa pada Raja Theoden. Sekarang ini salah satu pemimpin mereka sedang menghadap Raja. Ke sanalah lampu- lampu itu pergi. Hanya itu yang kudengar, tidak lebih. Dan sekarang aku harus menjalankan perintah Tuanku. Berkemaslah, Master Karung!” Ia lenyap ditelan bayang-bayang.
Merry tidak menyukai pembicaraan tentang orang-orang liar dan panah beracun itu, tapi sebuah kecemasan besar membebaninya. Rasanya ia tidak tahan menunggu. la ingin sekali tahu apa yang sedang terjadi. la bangkit dan segera berjalan hati-hati, mengejar lentera terakhir sebelum menghilang di antara pepohonan.


Akhirnya ia sampai ke sebuah tempat terbuka. Sebuah tenda kecil berdiri untuk Raja, di bawah sebatang pohon besar. Sebuah lentera besar, bagian atasnya diselubungi, disangkutkan di dahan, membentuk lingkaran cahaya di bawahnya. Di sana duduk Theoden dan Eomer, dan di depan mereka, di tanah, duduk suatu sosok aneh dan lebar, seorang pria yang kelihatan kasar dan berbonggol- bonggol seperti batu tua, janggutnya yang tipis terjurai di atas dagunya yang kasar, seperti lumut kering. la berkaki pendek dan bertangan gemuk, pendek- gemuk, dan hanya mengenakan rumput di sekeliling pinggangnya. Merry merasa pernah melihatnya di suatu tempat, dan tiba-tiba ia teringat manusia-Pukel di Dunharrow. Inilah salah satu patung kuno dalam ujud yang hidup, atau mungkin makhluk keturunan asli selama bertahun-tahun yang tak terhitung, dari model yang digunakan para pengrajin zaman dahulu kala.
Ketika Merry merangkak mendekat, suasana sepi, lalu Manusia Liar itu mulai berbicara, rupanya menjawab beberapa pertanyaan. Suaranya dalam dan garau, tapi dengan heran Merry mendengarnya berbicara Bahasa Umum, meski dengan terbata-bata, dan kadang-kadang terselip kata-kata kasar di dalamnya.

“Tidak, bapak kaum Penguasa Kuda,” katanya, “kami tidak bertempur. Kami hanya berburu. Membunuh gorgun di hutan, kami benci bangsa Orc. Kau juga benci gorgun. Kami akan membantu sebisa kami. Manusia Liar punya telinga panjang dan mata tajam; tahu semua jalan. Manusia Liar sudah tinggal di sini sebelum ada Rumah-Rumah Batu; sebelum Manusia Jangkung muncul dari dalam Air.”
“Tapi yang kami butuhkan adalah bantuan dalam pertempuran,” kata Eomer. “Bagaimana kau dan bangsamu akan membantu kami?”
“Membawa berita,” kata Manusia Liar. “Kami memandang jauh dari bukit-bukit. Kami mendaki gunung dan melihat ke bawah. Kota batu sudah tertutup. Api menyala di luarnya; sekarang di dalam juga. Kau ingin ke sana? Kalau begitu, kau harus cepat. Tapi gorgun dan manusia-manusia dari jauh,” Ia melambaikan tangannya yang pendek dan benjol ke arah timur, “menduduki jalan untuk kuda. Banyak sekali, jauh lebih banyak daripada Pasukan Berkuda.”
“Bagaimana kau tahu?” kata Eomer.

Wajah datar pria tua itu, serta matanya yang gelap, tidak menunjukkan perasaannya, tapi suaranya terdengar jengkel. “Manusia Liar memang liar, tapi bukan anak-anak,” jawabnya. “Aku kepala suku hebat, Ghan-buri-Ghan. Aku banyak menghitung: bintang-bintang di langit, daun-daun di pohon, orang-orang dalam gelap. Anak buahmu jumlahnya sebanyak sepuluh kali dan lima. Mereka punya lebih banyak. Pertempuran besar, dan siapa yang akan menang? Dan masih banyak lagi berkeliaran di sekitar tembok Rumah-Rumah Batu.”
“Aduh! Dia memang pintar sekali,” kata Theoden. “Dan pengintai-pengintai kita memberitahu bahwa musuh sudah membuat parit-parit dan memancangkan tiang-tiang di jalan. Kita tak bisa menyapu bersih mereka dengan serangan mendadak.”
“Padahal kita membutuhkan kecepatan tinggi,” kata Eomer. “Mundburg sudah terbakar!”
“Biarkan Ghan-buri-Ghan menyelesaikan omongannya!” kata Manusia Liar itu. “Dia tahu lebih dari satu jalan. Dia akan menuntun kalian melalui jalan yang tak ada lubang-lubang, tak ada gorgun berkeliaran, hanya Manusia Liar dan hewan-

hewan. Banyak jalan dibangun saat bangsa Rumah Batu lebih kuat. Mereka memahat bukit-bukit seperti pemburu memotong daging hewan. Manusia Liar menyangka mereka makan batu. Mereka pergi melintasi Druadan sampai ke Rimmon dengan kereta-kereta besar. Mereka sudah tidak lewat sana lagi. Jalan itu sudah terlupakan, tapi Manusia Liar masih ingat. Melintasi bukit dan di belakangnya, jalan itu masih ada di bawah rumput dan pohon, di sana di belakang Rimmon dan terus sampai ke diri, ujungnya berakhir di jalan Pasukan Berkuda. Manusia Liar akan menunjukkan jalan itu padamu. Lalu kau akan membunuh gorgun dan mengusir kegelapan jahat dengan besi menyala, dan Manusia Liar bisa tidur lagi dengan tenang di hutan-hutan belantara.”
Eomer dan Raja berembuk dalam bahasa mereka sendiri. Akhirnya Theoden berbicara pada Manusia Liar. “Kami terima tawaranmu,” katanya. “Sebab meski kita meninggalkan sepasukan musuh di belakang, apa artinya? Kalau Kota Batu jatuh, kita takkan bisa kembali. Kalau Kota diselamatkan, maka pasukan Orc itu sendiri yang akan terputus jalannya. Kalau kau bisa dipercaya, Ghan-buri-Ghan, maka kami akan memberikan imbalan besar padamu, dan kau akan memperoleh persahabatan Mark untuk selamanya.”
“Orang mati tak bisa menjadi sahabat orang hidup, dan tak bisa memberikan imbalan,” kata Manusia Liar. “Tapi kalau kau masih hidup setelah Kegelapan, maka biarkan Manusia Liar di hutan-hutan dan jangan lagi memburu mereka seperti hewan liar. Ghan-buri-Ghan takkan membawamu masuk perangkap. Dia sendiri akan pergi bersama bapak para Penunggang Kuda, dan kalau dia membawamu ke jalan yang salah, kau akan membunuhnya”
“Setuju!” kata Theoden.

“Berapa lama untuk berjalan menghindari musuh dan kembali ke jalan?” tanya Eomer. “Kita harus pergi dengan kecepatan langkah kaki manusia, kalau kau memandu kami; dan aku yakin jalannya pasti sempit.”
“Manusia Liar berjalan cepat sekali,” kata Ghan. “Jalannya cukup lebar untuk empat kuda di Lembah Stonewain sana,” ia melambaikan tangannya ke selatan, “tapi sempit di pangkal dan ujungnya. Manusia Liar bisa berjalan dari sini ke diri antara waktu matahari terbit dan tengah hari.”

“Kalau begitu, kita harus memperhitungkan setidaknya tujuh jam untuk para pemimpin,” kata Eomer, “tapi secara keseluruhan perkiraannya sekitar sepuluh jam. Hal-hal tak terduga mungkin akan menghambat kita, dan kalau pasukan kita dibuat memanjang ke belakang, akan makan waktu lama untuk mengaturnya kembali saat kita keluar dari perbukitan. Sekarang jam berapa?”
“Siapa yang tahu?” kata Theoden,. “Semuanya seperti malam sekarang.” “Memang semuanya gelap, tapi tidak semuanya malam,” kata Ghan. Bila Matahari datang, kita bisa merasakannya, meski dia tersembunyi. Dia sudah mendaki pegunungan Timur. Pagi hari sudah merebak di padang langit.”
“Kalau begitu, kita harus berangkat sesegera mungkin,” kata Eomer. “Tapi kita

tak mungkin bisa tiba di Gondor hari ini untuk membantu mereka.”

Merry tidak menunggu untuk mendengarkan lebih banyak lag. Ia menyelinap pergi dan mempersiapkan diri untuk panggilan berangkat. lnilah tahap terakhir sebelum pertempuran. Merry merasa tak banyak dari mereka bisa bertahan dalam pertempuran. Tapi ia ingat Pippin dan kebakaran di Minas Tirith, maka Ia menekan ketakutannya.
Semuanya berjalan baik hari itu; musuh yang menunggu untuk merintangi mereka tidak terlihat atau terdengar sama sekali. Manusia-manusia Liar sudah menebar tabir pemburu-pemburu yang waspada, sehingga tak ada Orc atau mata-mata berkeliaran yang bisa mencium gerak-gerik mereka di perbukitan. Cahaya semakin redup ketika mereka semakin dekat ke kota yang dikepung, dan pasukan Penunggang Kuda berjalan dalam barisan panjang seperti bayang- bayang gelap manusia dan kuda. Setiap pasukan didampingi seorang manusia hutan liar, tapi Ghan tua berjalan di samping Raja. Keberangkatan mereka ternyata lebih lambat dari yang diharapkan, sebab banyak waktu habis untuk para Penunggang menuntun dan menaiki kuda mereka, untuk menemukan jalan melintasi punggung hutan lebat di belakang perkemahan mereka, dan masuk ke Lembah Stonewain yang tersembunyi. Sudah siang sekali ketika para pimpinan sampai ke semak-semak besar berwarna kelabu yang membentang di seberang sisi timur Amon diri, dan menyembunyikan sebuah celah besar di garis perbukitan yang mengarah ke timur dan barat, sejak dari Nardol sampai ke Din.

Jalan kereta yang sudah terlupakan menjulur melintasi celah itu, sampai ke jalan utama untuk kuda dari Kota ke Anorien; tapi sudah lama sekali pepohonan tidak tumbuh liar di sana, dan jalannya sudah lenyap, hancur terpendam di bawah tumpukan dedaunan sejak bertahun-tahun silam. Tapi masih ada semak-semak sebagai perlindungan terakhir bagi para Penunggang sebelum mereka terjun ke dalam pertempuran terbuka; sebab di seberang mereka terletak jalan dan padang-padang Anduin, sementara di timur dan selatan lereng-lerengnya gundul dan berbatu, sedangkan kerutan bukit-bukit bergabung menyatu dan terjal meninggi, seperti benteng bertumpuk benteng, melebur menjadi sosok besar pundak Mindolluin.
Pasukan paling depan terhenti. Mereka yang di belakang berbaris keluar dari palung Lembah Stonewain, menyebar dan menuju tempattempat berkemah di bawah pohon-pohon yang kelabu. Raja memanggil Para kapten untuk berembuk. Eomer mengirim pengintai untuk memata-matai jalan; tapi Ghan tua menggelengkan kepala.
“Tak ada gunanya mengirim Penunggang Kuda,” katanya. “Manusia Liar sudah melihat apa yang bisa dilihat dalam cuaca buruk ini. Mereka akan segera datang melapor padaku.”
Para kapten datang; lalu dari pepohonan muncul sosok-sosak pukel yang sangat mirip Ghan, sampai Merry hampir tak bisa membedakan mereka. Mereka berbicara pada Ghan dengan bahasa aneh yang terdengar garau.
Akhirnya Ghan berbicara pada Raja. “Banyak yang dilaporkan Manusia Liar,” katanya. “Pertama-tama, hati-hatilah! Masih banyak orang di perkemahan di diri, satu jam perjalanan ke arah sana,” ia melambaikan tangannya ke barat, ke arah mercu suar hitam. “Tapi tak ada yang terlihat antara sini dan tembok baru Bangsa Batu. Banyak yang sibuk di sana. Tembok sudah tidak berdiri lagi: gorgur, sudah menghancurkannya dengan petir-bumi dan pemukul dari besi. Mereka tidak waspada dan tidak memperhatikan sekitarnya. Mereka kira teman- teman mereka yang memperhatikan semua jalan!” Sambil mengatakan itu, Ghan tua mengeluarkan bunyi mendeguk aneh; rupanya ia sedang tertawa.
“Kabar bagus!” seru Eomer. “Meski gelap, masih ada secercah harapan. Alat-alat

Musuh sering malah menguntungkan kami. Kegelapan terkutuk ini malah menjadi selubung bagi kami. Dan kini, karena gairah menggebu untuk menghancurkan Gondor dan meruntuhkannya batu demi batu, anak-anak buahnya malah menghilangkan kekhawatiranku yang paling besar. Dinding perbatasan itu bisa menghambat pasukan kami untuk waktu yang cukup lama. Tapi sekarang kami bisa meluncur masuk … kalau kami bisa sampai sejauh itu.” I'Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih padamu, Ghan-buriGhan dari hutan,” kata Theoden. “Semoga kau selamat, sebagai imbalan atas berita dan pemanduanmu yang baik!”
“Bunuh gorgun! Bunuh bangsa Orc! Tak ada kata-kata lain yang menyenangkan hati Manusia Liar,” jawab Ghan. “Usirlah hawa jahat dan kegelapan dengan besi bersinar!”
“Memang untuk itulah kami bepergian sejauh ini,” kata Raja, “dan kami akan berusaha. Tapi apa yang bisa kita capai, baru akan tampak esok.”
Ghan-bun-Ghan berjongkok dan menyentuh tanah dengan alisnya yang keras

sebagai tanda pamit. Tapi tiba-tiba ia bangkit berdiri seperti hewan hutan yang kaget, mencium bau aneh. Matanya mulai bersinar-sinar.
“Angin berubah arah!” teriaknya, dan setelah mengatakan dalam sekejap ia dan teman-temannya sudah lenyap ke dalam keremangan, dan tak pernah lagi kelihatan oleh para Penunggang dari Rohan. Tak lama kemudian, jauh di timur, sayup-sayup terdengar bunyi genderang berdentam lagi. Tapi seluruh anggota pasukan tidak khawatir bahwa Manusia Liar akan mengkhianati janji, meski mereka kelihatan aneh dan tidak elok dipandang mata.
“Kita tidak membutuhkan panduan lebih lanjut,” kata Elfhelm, “sebab banyak penunggang di pasukan ini yang pernah pergi ke Mundburg di masa damai. Salah satunya aku. Bila kita sudah sampai ke sana, jalannya akan menikung ke selatan, dan di depan kita masih akan ada tujuh league sebelum mencapai tembok pedesaan. Sepanjang hampir seluruh jalan itu ada rumput di kiri-kanan. Pada jalur itu para utusan Gondor selalu memperhitungkan bisa.berlari dengan kecepatan tertinggi. Kita pun bisa melewatinya dengan cepat, tanpa banyak suara berisik.”

“Setelah itu kita harus mewaspadai kejahatan yang mengintai dan kita membutuhkan seluruh kekuatan kita,” kata Eomer, “kusarankan kita sekarang istirahat, dan berangkat ke sana di malam hari, dengan memperhitungkan agar kita sampai di padang-padang ketika esok pagi sudah terang, meski mungkin agak remang-remang, atau saat penguasa kita memberi isyarat.”
Raja setuju, dan para kapten pergi. Tapi segera Elfhelm kembali. “Tak ada yang bisa dilaporkan para pengintai di seberang hutan kelabu, Tuanku,” katanya, “kecuali dua orang saja, dua orang mati dan dua kuda mati.”
“Jadi?” kata Eomer. “Kenapa?”

“Begini, Tuanku, mereka utusan dan Gondor; mungkin salah satunya Hirgon. Setidaknya tangannya masih memegang Panah Merah, tapi kepalanya sudah terpenggal. Dan ini juga, melihat tanda-tandanya, rupanya mereka lari ke arah barat ketika mereka jatuh. Menurut pendapatku, mereka menemukan musuh sudah berada di tembok perbatasan luar, atau sedang menggempurnya ketika mereka kembali … dan itu kira-kira dua malam yang lalu, kalau mereka menggunakan kuda segar dari pos, seperti biasanya. Mereka tak bisa masuk ke Kota lalu berputar kembali.”
“Aduh!” kata Theoden. “Kalau begitu, Denethor belum mendengar berita kedatangan kita. Dia pasti mengira kita tidak akan datang.”
“Keadaan darurat memanggil kita segera, tapi terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali, “ kata Eomer. “Mungkin sekarang ungkapan lama itu akan terbukti kebenarannya, melebihi yang pernah terbukti sejak manusia berbicara dengan mulut mereka.”


Sudah malam. Di kedua sisi jalan pasukan Rohan bergerak tanpa suara. Sekarang jalan yang melewati kaki Mindolluin menikung ke selatan. Jauh di sana, hampir lurus di depan, sinar merah menyala di bawah langit hitam dan sisi- sisi gunung muncul di depannya kelihatan gelap. Mereka sedang mendekati Rammas di Pelennor; tapi pagi belum menyingsing.
Raja berjalan di tengah pasukan pemimpin, para anak buah istana mengelilinginya. Kemudian eored Eomer di belakangnya; Merry memperhatikan

bahwa Dernhelm sudah meninggalkan tempatnya, dan dalam kegelapan mulai maju ke depan, sampai akhirnya Ia berjalan tepat di belakang pengawal Raja. Ada yang datang. Merry mendengar suara-suara berbicara pelan di depan. Para Penunggang sudah kembali. Mereka mendahului barisan yang berjalan hampir sampai ke tembok. Kini mereka menemui Raja.
“Banyak kebakaran, Tuanku,” kata salah satunya. “Di Kota berkobar api di berbagai tempat, dan padang-padang penuh dengan musuh. Tapi rupanya semua diserap untuk penyerangan. Sejauh dugaan kami, hanya sedikit yang ditinggal di tembok perbatasan luar, dan mereka tidak menghiraukan sekeliling mereka, karena sedang sibuk dalam penghancuran.”
“Tuanku ingat perkataan si Manusia Liar?” kata yang lain. “Aku tinggal di Wold terbuka di masa damai; namaku Widfara, dan udara juga membawa berita padaku. Angin sudah berbalik arah. Ada embusan angin dari Selatan; tercium ban laut samar-samar. Pagi akan mengantar hal-hal baru. Saat Tuanku nanti melewati dinding, di atas asap ini fajar sudah menyingsing.”
“Kalau ucapanmu benar, Widfara, mudah-mudahan kau tetap hidup setelah hari ini, dan selama bertahun-tahun penuh berkah!” kata Theoden. Ia berbicara dengan para anak buah istana yang berada di dekatnya, suaranya jelas, sehingga banyak penunggang dari eored pertama bisa mendengarnya.
“Saatnya sudah tiba, para Penunggang dari Mark, putra-putra Eorl! Musuh dan api ada di depanmu, dan rumahmu jauh di belakang. Namun meski kalian bertempur di medan asing, kemuliaan yang akan kalian raih di sini akan menjadi milik kalian selamanya. Kalian sudah bersumpah: kini penuhi sumpah kalian, demi Raja, demi negeri, dan demi persekutuan sahabat!”
Orang-orang membentur-benturkan pedang ke perisai.

“Eomer, anakku! Kau memimpin eored pertama,” kata Theoden “dan tempatnya di tengah, di belakang panji-panji Raja. Elfhelm, bimbinglah pasukanmu ke kanan saat kita melewati dindin Grimbold akan memimpin pasukannya ke kiri. Pasukan-pasukan yang lain agar mengikuti ketiga pasukan yang memimpin di depan, sebisa mungkin. Gempur setiap kerumunan musuh. Rencana lain tak bisa kita buat, sebab kita belum tahu keadaan di medan tempur. Maju sekarang,

dan jangan takut terhadap kegelapan!”



Pasukan pemimpin melaju secepat kilat, sementara cuaca masih gelap pekat. meski Widfara sudah meramalkan perubahan. Merry naik kuda di belakang Dernhelm, berpegangan erat dengan tangan kirinya, sementara tangan satunya berusaha mengendurkan pedang dalam sarungnya. Sekarang dengan getir Ia merasakan kebenaran kata-kata raja tua itu dalam pertempuran seperti itu, apa yang akan kaulakukan, Meriadoc? “Hanya ini,” pikirnya, “membebani seorang penunggang, sebisa mungkin bertahan duduk agar tidak diinjak sampai mati oleh kaki kuda yang menderap!”


Jaraknya tak lebih satu league sampai ke tempat dinding perbatasan pernah berdiri. Mereka segera mencapainya; terlalu cepat bagi Merry. Teriakan-teriakan liar memecah suasana, dan terjadi benturan senjata, tapi hanya singkat. Para Orc yang sibuk di sekitar dinding hanya sedikit jumlahnya. Mereka terkejut, dan dengan cepat mereka ditewaskan atau diusir. Di depan reruntuhan gerbang utara di Rammas, Raja berhenti lagi. Eared pertama berkumpul di belakangnya dan di kedua sisinya. Dernhelm mengambil tempat dekat dengan Raja, meski pasukan Elfhelm berada di kanan. Anak buah Grimbold membelok ke samping dan berjalan melingkar, sampai mencapai lubang besar di tembok agak jauh di sebelah timur.
Merry mengintip dari balik punggung Dernhelm. Jauh sekali, mungkin sepuluh mil atau lebih, ada kebakaran besar, tapi di antara kebakaran itu dengan para Penunggang, garis-garis api berkobar dalam lengkungan besar. Titik api terdekat jaraknya kurang dari satu league. Ia tak bisa melihat lebih banyak lagi di padang gelap itu. la Juga belum melihat fajar menyingsing, atau merasakan angin yang entah sudah berubah arah atau belum.
Sekarang diam-diam pasukan ltohan bergerak maju di padang Gondor, berjalan mengalir perlahan tapi teratur, seperti gelombang pasang mengalir melalui celah- celah di bendungan yang terlihat kokoh. Pikiran-pikiran dan kehendak Kapten Hitam sepenuhnya tertuju pada kota yang sedang jatuh, dan sejauh itu tidak ada

laporan yang sampai kepadanya untuk memperingatkannya bahwa rencananya mempunyai kelemahan.
Setelah beberapa saat, Raja memimpin pasukannya agak ke timur agar bisa menyelinap di antara api pengepungan dan padang-padang paling luar. Mereka masih belum ketahuan dan ditantang musuh, dan Theoden masih belum memberi isyarat. Akhirnya Ia berhenti sekali lagi. Kota sudah lebih dekat sekarang. Bau sangit dari kebakaran menggantung di udara, juga bayangan kematian. Kuda-kuda gelisah. Tapi Raja duduk di atas Snowmane, tak bergerak, memandang kesengsaraan Minas Tirith, seolah tiba-tiba terpukul oleh kesedihan, atau kengerian. la seperti menyusut, bungkuk oleh usia. Merry sendiri merasa seolah-olah kengerian dan kebimbangan menekannya bagai beban berat. W aktu seakan berhenti dalam keraguan. Mereka sudah terlambat! Terlambat malah lebih buruk daripada tak pemah! Mungkin Theoden akan ketakutan, menundukkan kepala, memutar badan, menyelinap pergi untuk bersembunyi di perbukitan.


Dan akhirnya Merry merasakannya, tak perlu diragukan lagi perubahan. Angin menerpa wajahnya! Cahaya mulai muncul. Jauh, jauh di Selatan awan-awan tampak seperti bentuk-bentuk kelabu samar, menggulung, melayang pagi hari sudah di seberang mereka.
Tapi pada saat bersamaan ada kilatan cahaya, seolah-olah halilintar muncul dari bumi di bawah Kota. Selama satu detik yang membakar, kilatan cahaya itu bersinar menyilaukan di kejauhan, hitam dan putih, puncaknya seperti jarum berkilauan; ketika kegelapan bersatu lagi, bunyi dentuman besar datang mengalir melintasi padang.
Mendengar bunyi itu, sosok bungkuk sang raja tiba-tiba duduk tegak. la kelihatan tinggi dan gagah lagi; sambil berdiri di sanggurdinya ia berteriak nyaring, lebih nyaring daripada suara manusia mana pun sebelum itu:


Bangkit, bangkit, pasukan Penunggang Theoden! Kejahatan merajalela: api dan pembantaian!

Tombak akan diguncangkan, perisai dipecahkan, Hari pedang, hari merah, sebelum matahari terbit! Maju sekarang, maju sekarang! Maju ke Gondor!


Lain Ia merebut sebuah terompet besar dari Guthlaf, pembawa panjinya, dan meniupnya begitu keras hingga terompet itu terbelah. Seketika seluruh pasukannya mengangkat dan membunyikan terompet mereka, dan bunyi terompet Rohan saat itu seperti badai di atas padang dan guruh di pegunungan.


Maju sekarang, maju sekarang! Maju ke Gondor!



Tiba-tiba Raja berteriak pada Snowmane dan kuda itu melesat maju. Di belakangnya pa njinya berkibar-kibar tertiup angin, kuda putih di atas bidang hijau, tapi Ia berlari lebih kencang. Di belakangnya, ksatria-ksatria istananya menderap bergemuruh, tapi Ia tetap di depan lnereka. Eomer juga melaju di sana, ekor putih pada helmnya melambai karena kecepatannya, dan barisan depan eored menderu seperti gelombang besar memecah, di pantai, tapi Theoden tak bisa disusul. la kelihatan aneh, atau mungkin semangat berjuang nenek moyangnya mengalir bagai api baru dalam urat nadinya, dan Ia melaju di atas Snowmane bagai dewa zaman lampau, seperti Orome Agung dalam pertempuran Valar, ketika dunia masih muda. Perisai emasnya tersingkap, , dan lihat! Ia kemilau seperti citra Matahari, dan rumput menyala hijau di sekitar kaki putih kuda jantannya. Karena pagi sudah merebak, pagi dan angin dari laut; kegelapan tersingkir, pasukanpasukan dari Mordor mengerang, ketakutan menyerang; mereka lari, dan tewas, kaki-kaki kemarahan menggilas mereka. Lalu seluruh pasukan Rohan mulai bernyanyi, dan mereka bernyanyi sambil menerjang, sebab kegembiraan berperang tumbuh di hati mereka. Suara nyanyian dahsyat mereka yang indah menggetarkan itu bahkan terdengar sampai ke Kota.

BAB 6

PERTEMPURA.N DI PADANG PELENNOR



Tapi bukan pemimpin Orc atau Orc perampok yang memimpin serbuan ke Gondor. Kegelapan terlalu cepat sirna, sebelum waktu yang ditentukan sang Penguasa untuk sementara nasib telah mengkhianatinya, dan dunia sudah berbalik menentangnya; kemenangan luput dari tangan yang sedang diulurkannya. Tapi panjang nian tangannya. la masih berkuasa, mempunyai kekuatan besar. Raja, Hantu Cincin, Penguasa Nazgul, Ia punya banyak senjata. la meninggalkan Gerbang dan pergi.


Theoden raja dari Mark sudah mencapai jalan dari Gerbang ke Sungai, dan Ia berpaling menuju Kota yang kini tak sampai satu mil jauhnya. la mengurangi kecepatannya sedikit, mencari-cari musuh baru. Ksatria-ksatria berkumpul di sekitarnya, Dernhelm juga bergabung dengan mereka. Di depan, agak lebih dekat ke tembok, anak buah Elfhehn berada di tengah mesin-mesin penyerbu, memukul, membunuh, mengusir musuh-musuh ke dalam kobaran api mereka. Sudah hampir seluruh bagian utara Padang Pelennor direbut, kemah-kemah terbakar, Orc-Orc berlarian ke Sungai seperti gerombolan hewan dikejar pemburu; dan kaum Rohirrim pergi ke sana kemari sekehendak mereka. Tapi mereka belum berhasil mematahkan pengepungan, atau merebut Gerbang. Masih banyak musuh berdiri di depannya, dan di sisi lain padang itu masih ada pasukan-pasukan lain yang belum dihajar. Di selatan, di seberang jalan, ada pasukan utama kaum Haradrim. Pasukan berkuda mereka berkumpul di dekat panji sang pemimpin. la memandang keluar, dan dalam cahaya yang semakin terang Ia melihat panji Raja. Tampak olehnya pasukan Raja jauh sekali dari pertempuran dengan hanya sedikit anak buah. Lalu hatinya dipenuhi amarah besar dan Ia berteriak lantang. Sambil memamerkan panjinya yang berlambang ular hitam di atas warna merah manyala, ia menyerbu ke arah kuda putih dan hijau dengan sejumlah besar anak buahnya; pedang lengkung yang dihunus kaum Southron berkilauan bagai bintang-bintang.

Lalu Theoden menyadari kedatangannya, dan tidak menunggu. Sambil berteriak pada Snowmane Ia langsung menyerbu menyambut musuhnya. Benturan antara keduanya dahsyat sekali. Tapi amarah manusia Utara lebih membara, dan mereka ksatria-ksatria yang jauh lebih terampil dengan tombak panjang, juga lebih tabah. Jumlah mereka lebih sedikit, tapi mereka membelah kaum Southron bagai petir di hutan. Theoden putra Thengel maju terus menerobos pasukan musuh, dan tombaknya patah ketika Ia menjatuhkan pemimpin mereka. Keluarlah pedangnya, dan ia berpacu menuju panji, menebas tiang panji serta pembawanya; ular hitam itu terperosok. Lalu semua yang tersisa dari.pasukan musuh berkuda itu berbalik dan lari terbirit-birit.
Tapi lihat! Tiba-tiba, sementara Raja duduk di atas kudanya dengan penuh kegemilangan, perisai emasnya meredup. Pagi hari yang baru merebak, terhapus dari langit. Kegelapan menyelubunginya. Kuda-kuda mendompak dan meringkik. Orang-orang yang terlempar dari pelana menggeliat di tanah.
“Kemari! Kemari!” teriak Theoden. “Bangkit kaum Eorlingas! Jangan takut pada kegelapan!” Tapi Snowmane yang mengganas ketakutan, mendompak tinggi, mencakar-cakar udara, lalu dengan teriakan keras Ia rebah pada sisinya: sebatang panah hitam menembusnya. Raja jatuh tertindih di bawahnya.
Bayang-bayang besar itu turun seperti gumpalan awan mendung. Dan lihatlah! Ternyata satu makhluk bersayap: kalau Ia burung, ia jauh lebih besar daripada burung-burung lain, dan tubuhnya gundul, tidak berbulu, ujung-ujung sayapnya besar bagaikan jaringan kulit di antara jari-jarinya yang bertanduk; dan baunya pun sangat busuk. Mungkin ia makhluk dari dunia kuno, dari jenis yang tinggal di Pegunungan dingin di bawah Bulan yang sudah terlupakan, dan hidup lebih lama daripada semestinya; dalam sarang mereka yang mengerikan, mereka membesarkan keturunan mereka yang terakhir dan lahir terlalu cepat, yang wataknya cenderung jahat. Lalu Penguasa Kegelapan mengambilnya, memeliharanya, dan memberinya makan daging busuk, Sampai ia tumbuh melebihi ukuran semua makhluk terbang; lalu diberikannya makhluk itu pada pelayannya untuk dipakai sebagai kuda jantan tunggangannya. la menukik turun, terus turun, lalu, Sambil melipat sayapnya yang berjari, ia mengeluarkan teriakan

parau dan hinggap di atas tubuh Snowmane, menghunjamkan cakarnya, membungkukkan lehernya yang panjang dan gundul.
Di atasnya duduk sebuah sosok besar mengancam, berjubah hitam. la memakai mahkota baja, tapi di antara lingkaran mahkota dan jubahnya tak ada yang terlihat, kecuali kilatan mata mematikan: dialah Penguasa Nazgul. Ia sudah kembali ke angkasa, memanggil kuda jantannya sebelum kegelapan hilang, dan kini Ia datang lagi, membawa kehancuran, mengubah harapan menjadi keputusasaan, kemenangan menjadi kematian. Di tangannya ada sebatang tongkat hitam besar.
Tapi Theoden tidak sepenuhnya ditinggal sendirian. Ksatria-ksatria istananya bertebaran di sekitarnya, sudah tewas, atau sudah dibawa jauh oleh kuda-kuda mereka yang terserang kegilaan. Tapi masih ada satu ksatria berdiri di sana: Dernhelm yang belia, tetap setia, melampaui rasa takutnya; dan Ia menangis, sebab ia mencintai tuannya sebagai ayahnya. Merry terbawa di belakangnya tanpa terluka, menembus serbuan, sampai Bayang-Bayang itu datang; lalu Windfola melemparkan mereka dalam ketakutannya, dan sekarang Ia berlari liar di padang. Merry merangkak dengan tangan dan kakinya, seperti hewan yang linglung, hatinya penuh kengerian sampai-sampai ia menjadi buta dan mual. “Pendamping Raja! Pendamping Raja!” hatinya berteriak. “Kau harus tetap bersamanya. Katamu dia akan kauanggap seperti ayahmu sendiri.” Tapi tekadnya tidak bereaksi, dan tubuhnya gemetar. la tak berani membuka matanya atau menengadah.
Lalu dan dalam kegelapan pikirannya ia merasa mendengar Dernhelm berbicara; tapi sekarang suaranya kedengaran aneh, mengingatkan pada suara lain yang dikenal Merry.
“Enyah, keparat busuk, penguasa burung pemakan bangkai! Jangan ganggu

orang-orang mati!”

Sebuah suara dingin menjawab, “Jangan pisahkan Nazgul dengan mangsanya! Kalau tidak, dia takkan membunuhmu saat giliranmu tiba. Dia akan membawamu pergi ke rumah ratapan, dalam kegelapan paling kelam, di mana dagingmu akan dilahap, dan pikiranmu yang sudah keriput dihadapkan kepada Mata Tanpa

Kelopak.”

Sebilah pedang berdenting saat dihunus. “Lakukan sekehendakmu tapi aku akan menghalangimu sebisaku.”
“Menghalangiku! Kau bodoh. Tak ada laki-laki hidup yang bisa merintangiku!” Kemudian Merry mendengar bunyi paling aneh pada saat Rupanya Dernhelm tertawa, suaranya yang jernih terdengar seperti dentingan baja. “Tapi aku bukan laki-laki! Yang kaupandang ini seorang wanita. Aku Eowyn, putri Eomund. Kau berdiri di antara aku dan Tuanku yang juga kerabatku. Pergi, kalau kau bukan makhluk yang tak bisa mati! Sebab baik hidup atau gelap tapi tidak mati, aku akan memukulmu, kalau kau menyentuhnya.”
Makhluk bersayap itu berteriak kepadanya, tapi si Hantu Cincin tidak menjawab; Ia membisu, seolah tiba-tiba bimbang. Keheranan yang amat sangat sejenak mengalahkan ketakutan Merry. Ia membuka matanya dan kegelapan sudah lenyap. Beberapa langkah dari dirinya duduklah hewan besar itu, semua di sekitarnya kelihatan gelap, dan di atasnya muncul Penguasa Nazgul bagai bayang-bayang keputusasaan. Agak di sebelah kiri, menghadap mereka, berdiri orang yang dipanggilnya Dernhelm. Tapi helm yang menutupi rahasianya sudah tersingkap, dan rambutnya yang kemilau, terlepas dari ikatannya, bersinar pucat keemasan di atas bahunya. Matanya yang kelabu seperti samudra bersinar keras dan tajam, namun pipinya basah oleh air mata. Pedang ada di tangannya, dan ia mengangkat perisainya sebagai perlindungan terhadap mata musuh yang menyeramkan.
Memang dia Eowyn, tapi juga Dernhelm. Sebab dalam benak Merry terlintas ingatan kepada wajah yang dilihatnya pada saat keberangkatan pasukan dari Dunharrow wajah seseorang yang mencari kematian, karena sudah tak punya harapan. Rasa iba dan kekaguman memenuhi hati Merry, dan tiba-tiba dalam dirinya bangkitlah keberanian bangsanya yang biasanya memang timbul lamban. la mengepalkan tangannya. Eowyn tak boleh mati, ia begitu cantik, dan begitu nekat! Setidaknya jangan sampai ia mati sendirian, tanpa bantuan.
Wajah musuh tidak menghadap ke arahnya, tapi Ia masih belum berani bergerak, khawatir mata yang mengerikan itu akan melihatnya. Perlahan-lahan,

sangat perlahan, Ia mulai merangkak ke pinggir; tapi Kapten Hitam, yang dalam kebimbangan dan kekejiannya sedang memusatkan perhatian pada wanita di depannya, tidak menghiraukan, seakan-akan ia hanya seekor cacing dalam lumpur.
Mendadak hewan besar itu mengepakkan sayapnya yang menjijikkan, baunya luar biasa busuk. la melompat lagi ke udara, dan dengan cepat menukik ke arah Eowyn, sambil menjerit, memukul dengan paruh dan cakarnya.
Eowyn tetap tak bergerak: gadis kaum Rohirrim, keturunan para raja, ramping

namun setangguh pisau baja, cantik sekaligus mengerikan. la melancarkan pukulan cepat; sangat andal dan mematikan. la menebas leher yang terjulur itu, dan kepala yang terpenggal itu jatuh bagai batu. la melompat mundur ketika sosok besar itu jatuh dan hancur, dengan sayap terbentang lebar, rebah ke tanah; dengan kejatuhannya, bayangan gelap pun sirna. Cahaya menyinari Eowyn, dan rambutnya berkilauan dalam cahaya matahari.
Dalam reruntuhan bangkitlah Penunggang Hitam, tinggi mengancam, membubung tinggi di atasnya. Dengan teriakan penuh kebencian yang menusuk telinga bagai racun, Ia menjatuhkan tongkatnya. Perisai Eowyn pecah berkeping- keping, dan lengannya patah; Ia jatuh berlutut. Penunggang Hitam membungkuk di atasnya bagai awan, matanya bersinar-sinar; Ia mengangkat tongkatnya untuk membunuh gadis itu.
Tapi tiba-tiba Ia sendiri jatuh terjungkal sambil menjerit kesakitan, dan pukulannya melenceng jauh, menghunjam ke tanah. Pedang Merry menusuknya dari belakang, menembus jubah hitamnya, dan naik dari balik hauberk-nya, menembus otot di balik lututnya yang besar.
“Eowyn! Eowyn!” teriak Merry. Sambil terhuyung-huyung Eowyn bangkit berdiri dengan susah payah, dan dengan kekuatannya yang terakhir Ia menusukkan pedangnya ke antara mahkota dan jubah ketika pundak besar si Penunggang Hitam membungkuk jatuh di depannya. Mahkotanya menggelinding berdentang. Eowyn jatuh di atas musuhnya yang rebah terjerembap. Tapi lihat! Jubah dan baju besi makhluk itu kosong, menggeletak tanpa bentuk di tanah, hancur luluh. Lalu sebuah teriakan menggaung di angkasa yang bergetar, dan meredup

menjadi lengkingan menyayat, berlalu bersama angin, desir suara tanpa tubuh, lalu diam dan mati, tertelan tuntas dan tak pernah terdengar lagi di kurun zaman itu di dunia ini.


Dan di sanalah berdiri Meriadoc si hobbit, di tengah-tengah orang-orang yang tewas, mengedipkan matanya seperti burung hantu di siang hari, karena matanya penuh air mata; seperti melalui kabut ia memandang kepala Eowyn yang cantik, yang berbaring tak bergerak di sana; Ia juga menatap wajah Raja yang jatuh di tengah kegemilangannya. Sebab Snowmane, dalam kesakitannya, berguling menjauh darinya; namun hal itu malah membawa petaka bagi majikannya.
Merry membungkuk dan mengangkat tangan sang Raja untuk mengecupnya, dan lihat! Theoden membuka mata, matanya jernih sekali, dan ia berbicara dengan suara tenang, meski susah payah.
“Selamat tinggal, Master Holbytla!” katanya. “Tubuhku sudah hancur. Aku akan

pergi kepada nenek moyangku. Sekarang aku tak merasa malu lagi menghadap mereka. Aku sudah membunuh ular hitam itu. Pagi yang muram, dan hari yang gembira, dan matahari emas terbit!”
Merry tak mampu berbicara; ia menangis lagi. “Maafkan aku, Tuanku,” akhirnya ia berkata, “bahwa aku melanggar perintahmu, dan hanya bisa melayanimu dengan menangis pada saat perpisahan kita.”
Raja tua itu tersenyum. “Jangan sedih! Sudah kumaafkan. Jiwa besar takkan ditolak. Hiduplah terus dengan penuh berkat; saat nanti kau duduk tenang dan damai mengisap pipamu, ingatlah aku! Sebab kini aku takkan pernah duduk bersamamu di Meduseld, seperti telah kujanjikan, atau mendengarkan pengetahuanmu tentang tanaman bumbu.” Ia memejamkan matanya, dan Merry membungkuk di sampingnya. Akhirnya Raja berbicara lagi. “Di mana Eomer? Penglihatanku sudah mulai gelap. Aku ingin bertemu dia sebelum aku pergi. Dia harus menjadi raja menggantikan aku. Dan aku ingin mengirimkan pesan pada Eowyn. Dia, dia tak ingin aku meninggalkannya, dan kini aku takkan bertemu lagi dengannya, dia yang sangat kusayangi sepcrti putriku sendiri.”

“Tuanku, Tuanku,” Merry mulai berkata terbata-bata, “dia …” Tapi tepat pada saat itu terjadi kegemparan besar, dan di sekitar mereka bunyi terompet terdengar. Merry melihat sekelilingnya: Ia sudah lupa akan perang dan seluruh dunia di luarnya; rasanya sudah lama sekali sejak Raja maju menyongsong kejatuhannya, padahal sebenarnya baru sebentar sekali. Sekarang Ia melihat bahwa mereka terancam terjebak di tengah pertempuran besar yang akan segera terjadi.
Pasukan-pasukan baru dari pihak musuh sedang bergegas di jalan dari Sungai; dari bawah dinding-dinding, legiun-legiun dari Morgul berdatangan; dan dari padang-padang di sebelah selatan datang pasukan pejalan kaki dari Harad dengan pasukan berkuda di depan mereka, di belakang mereka muncul punggung-punggung besar para mumakil dengan menara perang di atasnya. Tapi di sebelah utara, helm putih Eomer memimpin barisan depan kaum Rohirrim yang sudah dikumpulkan dan disusunnya kembali; dari Kota keluar seluruh kekuatan pasukan yang ada di dalamnya, dan panji angsa perak Dol Amroth diusung di barisan depan, mengusir musuh dari Gerbang.
Sejenak sebuah pikiran melintas dalam benak Merry: “Di mana Gandalf? Apakah dia tidak di sini? Bukankah dia bisa menyelamatkan Raja dan Eowyn?” Tapi kemudian Eomer datang melaju dengan cepat, dan bersamanya ikut pula para ksatria istana yang masih hidup dan sudah bisa mengendalikan kuda-kuda mereka. Mereka memandang heran ke bangkai hewan jahat yang terbaring di sana; kuda-kuda jantan mereka tak mau mendekatinya. Tapi Eomer melompat dari Pelana, kesedihan serta kecemasan tergurat di wajahnya ketika ia mendekati Raja dan berdiri di sana dalam diam.
Lalu salah seorang ksatria mengambil panji Raja dari tangan Guthlaf, pembawa panji yang terbaring tewas, dan mengangkatnya. Perlahan-lahan Theoden membuka mata. Melihat panjinya diangkat, ia memberi isyarat agar panji itu diberikan pada Eomer.
“Hidup, Raja dari Mark!” katanya. “Majulah sekarang ke kemenangan! Sampaikan salam perpisahanku pada Eowyn!” Lalu ia menutup mata, tak tahu bahwa Eowyn terbaring di dekatnya. Mereka yang berdiri di sana menangis,

sambil berteriak, “Raja Theoden! Raja Theoden!”

Tapi Eomer berkata,



Jangan sedih berlebihan! Penuh keagungan dia yang jatuh, perburuan menjadi akhir hayatnya. Saat kuburannya dibangun, wanita-wanita akan menangis. Sekarang perang memanggil kita!


Tapi Ia sendiri berbicara sambil menangis. “Biarkan ksatria-ksatrianya tetap di sini,” katanya, “dan mengusung jenazahnya dengan penuh hormat keluar dari medan laga, agar pertempuran tidak melindasnya! Ya, juga semua anak buah Raja yang terbaring di sini.” Dan Ia memandang mereka yang tewas, mengingat- ingat nama-nama mereka. Tiba-tiba Ia melihat adiknya, Eowyn, terbaring di sana, dan ia mengenalinya. la berdiri sejenak seperti orang yang jantungnya ditembus anak panah sementara ia tengah berteriak; lalu wajahnya menjadi pucat pasi, dan kemarahan besar memuncak dalam dirinya, sampai Ia tak mampu berbicara beberapa saat lamanya. Perasaannya tak keruan.
“Eowyn, Eowyn!” akhirnya Ia berteriak. “Eowyn, bagaimana kau bisa sampai ke sini? Apakah ini kegilaan atau sihir? Kematian, kematian, kematian! Kematian menimpa kita semua!”
Lalu tanpa berembuk atau menunggu kedatangan orang-orang dari Kota, ia langsung berpacu kembali ke depan pasukan, meniupkan terompet, dan berteriak keras untuk menyerbu. Di atas padang suaranya yang jernih berkumandang, “Kematian! Maju, maju ke kehancuran dan akhir dunia!”
Dan dengan kata-kata itu pasukan mulai bergerak. Tapi kaum Rohirrim tidak bernyanyi lagi. Kematian, mereka teriakkan dengan satu suara nyaring mengerikan, dan sambil menambah kecepatan, pasukan mereka menyapu bagai gelombang pasang besar di sekitar Raja yang telah jatuh dan berpulang, menuju selatan dengan suara gemuruh.


Meriadoc si hobbit masih berdiri di sana sambil mengedipkan matanya yang dipenuhi air mata; tak ada yang berbicara kepadanya, bahkan tak ada yang

menghiraukannya. la menyeka air matanya, membungkuk untuk memungut perisai hijau yang dibenkan Eowyn kepadanya, lalu menggantungkannya di punggungnya. Setelah itu ia mencari pedangnya yang sudah Ia jatuhkan; sebab ketika Ia mengayunkan pukulan tadi, lengannya menjadi mati rasa, dan kini Ia hanya bisa menggunakan tangan kirinya. Dan lihat! Itu dia senjatanya, tapi mata pedangnya berasap seperti dahan kering yang dilempar ke dalam api; saat ia memperhatikan, pedang itu menggeliat dan menyusut, lalu hilang lenyap. Begitulah akhir pedang dari Barrow-downs, hasil karya kaum Westernesse. Tapi pembuatnya pasti senang bila tahu takdirnya. Pedang itu ditempa dengan cermat, lama berselang di kerajaan Utara, ketika kaum Dunedain masih muda, dan musuh utama mereka adalah wilayah Angmar yang mengerikan dengan raja penyihirnya. Tak ada pedang lain, meski ditempa oleh tangan-tangan yang lebih hebat, yang bisa melukai musuh begitu parah, membelah daging yang hidup, memecahkan sihir yang menjalin otot-otot tak terlihat, sesuai kehendaknya.


Beberapa orang mengangkat jenazah Raja, memindahkannya ke atas usungan dari tombak-tombak yang ditutupi beberapa helai jubah, lalu menggotongnya ke Kota; yang lain mengangkat Eowyn dengan lembut dan mengusungnya di belakang Raja. Tapi mereka belum sempat membawa para anak buah istana yang bertebaran di padang; sebab tujuh ksatria Raja sudah jatuh di sana, dan salah satunya, Deorwine, pemimpin mereka. Jadi, tubuh-tubuh mereka dipisahkan dari mayat-mayat musuh dan hewan Was itu, lalu mereka menancapkan tombak-tombak mereka di sekitarnya. Tapi setelah semuanya berakhir, orang-orang kembali ke sana dan membuat api untuk membakar bangkai hewan itu; untuk Snowmane mereka menggali kuburan dan menempatkan batu di atasnya, dengan tulisan dalam bahasa Gondor dan Mark:


Pelayan setia namun menjadi petaka bagi tuannya,

Anak kuda yang ringan langkah, Snowmane yang berlari cepat.



Rumput di atas makam Snowmane tumbuh hijau dan panjang, Tapi tanah tempat

hewan buas itu dibunuh selamanya hitam dan gersang.



Dengan perlahan dan sedih Merry berjalan di samping para pengusung, tidak lagi memperhatikan pertempuran. la letih dan kesakitan, tungkai dan lengannya gemetar seperti kedinginan. Hujan besar datang dari arah Laut, dan tampaknya seolah-olah semua menangis untuk Theoden dan Eowyn, memadamkan kebakaran-kebakaran di Kota dengan air mata kelabu. Melalui kabut air matanya Merry melihat barisan terdepan pasukan Gondor mendekat. Imrahil, Pangeran dari Dol Amroth, datang dan menghentikan kudanya di depan mereka.
“Apa yang kalian usung, Orang-Orang Rohan?” teriaknya.

“Raja Theoden,” jawab mereka. “Dia tewas. Tapi Eomer yang sekarang menjadi raja, sedang bertempur di sana: dia yang memakai bulu putih di atas helmnya, yang melambai-lambai ditiup angin.”
Lalu sang pangeran turun dari kudanya, dan berlutut dekat usungan untuk. menghormati Raja yang telah menyerbu dengan gagah; ia menangis. Sambil bangkit berdiri Ia melihat Eowyn, dan terkejut. “Ini seorang wanita?” katanya. “Apakah wanita-wanita dari Rohirrim juga sudah dikerahkan untuk ikut perang membantu kami?”
“Tidak! Hanya satu ini,” jawab mereka. “Dia Lady Eowyn, adik Eomer; dan baru

sekarang kami tahu bahwa dia ikut berperang. Kami sangat menyesalinya.”

Lalu sang pangeran yang melihat kecantikannya, meski wajahnya pucat dan dingin, menyentuh tangannya sambil membungkuk untuk melihatnya dengan lebih saksama. “Manusia Rohan!” serunya. “Apakah di antara kalian tidak ada penyembuh? Dia memang terluka, mungkin nyaris mematikan, tapi kuduga dia masih hidup.” Dan ia menjulurkan tabung logam, pelindung lengan bawah yang mengilap, yang terpasang pada lengannya, ke depan bibir Eowyn yang dingin, dan lihat! embun tipis menempel di permukaannya, hampir tidak kelihatan. “Cepat, kita perlu bertindak segera;” katanya, dan Ia mengirimkan satu anak buahnya kembali ke Kota untuk memanggil bantuan. Tapi ia sendiri, sambil membungkuk rendah ke arah kedua korban, berpamitan dengan mereka, dan sambil naik ke atas kiidanya melaju pergi ke medan laga.



Pertempuran di padang Pelennor semakin sengit; gemuruh senjata-senjata terdengar keras, bersamaan dengan teriakan orang-orang dan ringkikan kuda- kuda. Bunyi sumbang terompet dan nafiri terdengar, dan para mumakil melenguh saat mereka didorong-dorong masuk ke pcrtempuran. Di bawah tembok-tembok Kota bagian selatan, pasukan pejalan kaki dari Gondor mendesak pasukan Morgul yang masih berkumpul di sana. Tapi pasukan berkuda melaju ke timur untuk menolong Eomer: Hurin si Jangkung, Pemegang Kunci, Penguasa Lossamach, Hirluin dari Bukit Hijau, dan Pangeran Imrahil yang gagah dengan ksatria-ksatrianya.
Mereka datang tepat pada waktunya untuk membantu kaum Rohirrim; sebab nasib sudah berbalik menentang Eomer, dan kemarahannya sudah mengkhianatinya. Kedahsyatan serbuannya telah menjatuhkan barisan depan musuhnya, dan banyak penunggang sudah menembus masuk ke dalam barisan kaum Southron, mengganggu orang-orang mereka yang berkuda, serta menggilas pasukan pejalan kaki mereka. Tapi di mana para mumakil datang, kuda-kuda tidak mau mendekat, melainkan mendongak kaget dan membelok menjauh; hewan-hewan besar itu tidak dilawan, dan mereka berdiri di sana seperti menara pertahanan, dengan kaum Haradrim berkumpul di dekatnya. Situasi kaum Rohirrim, yang dalam serbuannya diungguli kaum Haradrim dengan jumlah pasukan tiga kali lipat, malah semakin buruk; sebab sekarang kekuatan baru datang mengalir ke padang dari Osgiliath. Di sana pasukan- pasukan itu sudah berkumpul untuk penggarongan Kota dan penghancuran Gondor, menunggu panggilan dari Kapten mereka. Kapten mereka sudah hancur, tapi Gothmog si letnan dari Morgul menerjunkan mereka ke dalam keributan itu; kaum Easterling dengan kapak-kapak, kaum Variag dari Khand, bangsa Southron berpakaian merah tua, dan dari Harad Jauh, orang-orang hitam yang tampak seperti setengah troll dengan mata putih dan lidah merah. Beberapa di antara mereka sekarang mengejar kaum Rohirrim dari belakang, yang lainnya pergi ke barat untuk menahan kekuatan dari Gondor dan menghalangi mereka bergabung dengan Rohan.

Demikianlah, ketika nasib buruk mulai berbalik menimpa pihak Gondor dan harapan mereka sudah guncang, sebuah teriakan baru bergema di Kota. Saat itu sudah tengah hari, angin besar bertiup, dan hujan terbang ke utara, sementara matahari bersinar. Di udara jernih flu para pengamat di atas tembok melihat pemandangan baru yang menakutkan di kejauhan, dan harapan terakhir mereka lenyap sudah.
Sebab Sungai Anduin, sejak tikungan di Hariond, mengalir sedemikian rupa, sehingga dari atas Kota orang-orang bisa melihatnya sejauh beberapa league, dan mereka yang bisa melihat jauh, bisa melihat kapal-kapal yang datang. Ketika melihat ke sana, mereka berteriak cemas; sebab tampak sebuah armada hitam berlayar dibawa angin di atas aliran sungai yang berkilauan: dromund, dan kapal-kapal besar dengan banyak dayung serta layar-layar hitam menggelembung kena angin.
“Para Corsair dari Umbar!” teriak orang-orang. “Para Corsair dari Umbar! Lihat! Para Corsair dari Umbar sudah datang! Kalau begitu Belfalas sudah jatuh, dan Ethir serta Lebennin sudah hilang. Para Corsair menyerang kita! Ini pukulan maut terakhir!”
Karena tak ada yang bisa memimpin mereka di Kota, beberapa orang berlarian ke lonceng-lonceng dan membunyikan alarm; beberapa meniupkan terompet sebagai tanda untuk bergerak mundur. “Kembali ke tembok-tembok!” teriak mereka. “Kembali ke tembok! Kembali ke Kota sebelum semua kewalahan!” Tapi angin yang mendorong kapalkapal itu bertiup kencang dan menyapu hiruk-pikuk suara mereka sampai hilang tanpa arti.
Kaum Rohirrim memang tidak membutuhkan berita atau alarm. Mereka bisa melihat sendiri dengan jelas layar-layar hitam itu. Sebab sekarang Eomer berada kurang satu mil dari Hariond, dan sepasukan besar musuh berada di antara dirinya dengan pelabuhan di sana, sementara musuh-musuh baru datang berputar-putar di belakang, memisahkannya dari Pangeran Imrahil. Sekarang Ia memandang ke arah Sungai, dan harapan di hatinya sirna; angin yang tadi dipujinya sekarang ia maki-maki. Tapi pasukan-pasukan Mordor semakin bersemangat; dipenuhi kemarahan dan gairah baru mereka datang menyerbu

sambil berteriak-teriak.

Hati Eomer kini mengeras, dan pikirannya kembali jernih. la menyuruh terompet- terompet ditiup untuk sedapat mungkin memanggil semua anak buahnya berkumpul di sekeliling panjinya; sebab ia merencanakan membentuk dinding perisai pagar betis, dan bertahan, bertempur tanpa berkuda sampai tetes darah terakhir, dan melakukan tindak kepahlawanan di padang Pelennor seperti yang dinyanyikan dalam lagu-lagu, meski takkan ada manusia tersisa di Barat yang ingat Raja terakhir dari Mark. Maka Ia beranjak ke sebuah bukit hijau dan menancapkan panjinya di sana, dan Kuda Putih itu berkibar ditiup angin.


Keluar dari kebimbangan, keluar dari kegelapan, menyongsong pagi datang

Aku melangkah di bawah sinar mentari sambil bernyanyi dan menghunus pedang.
Aku melaju sampai ke akhir pengharapan, dan menuju kepedihan: Mengumbar kemarahan, menuju kehancuran di malam yang merah!


la mengucapkan sajak itu, tapi sambil tertawa. Sebab sekali lagi semangat pertempuran bergolak dalam dirinya; dan Ia masih belum cedera, Ia masih muda, dan Ia seorang raja: penguasa rakyat yang berkekuatan dahsyat. Dan lihat! Sambil menertawakan keputusasaan, ia memandang kapal-kapal hitam itu lagi, dan mengacungkan pedangnya untuk menantang mereka.
Namun tiba-tiba Ia diliputi keheranan, serta lonjakan kegembiraan besar; dilemparkannya pedangnya ke udara yang disinari matahari, dan bernyanyi sambil menangkapnya kembali. Semua mata mengikuti tatapannya, dan lihatlah! Di atas kapal terdepan sebuah panji besar muncul, dan angin menyingkapkannya ketika kapal itu berbelok ke Hariond. Tampak lambang pohon Putih, lambang Gondor, tapi ada Tujuh Bintang di sekitarnya, serta sebuah mahkota tinggi di atasnya, lambang-lambang Elendil yang sudah bertahun-tahun tak pernah dipakai seorang pun penguasa. Dan bintang-bintang itu bersinar di bawah cahaya matahari, karena gambar itu dibuat dari permata oleh Arwen putri Elrond; dan mahkotanya berkilauan di pagi hari itu, karena

terbuat dari mithril dan emas.

Demikianlah kedatangan Aragorn, Elessar, pewaris Isildur, keluar dari Jalan Orang-Orang Mati, didorong angin dari Laut sampai ke Kerajaan Gondor; kaum Rohirrin mengungkapkan kegembiraan mereka dengan sorak sorai dan tawa ria disertai kilatan pedang, suka-cita dan keheranan dari Kota dilantunkan dengan bunyi terompet serta loncenglonceng yang berdentang. Tapi pasukan-pasukan dari Mordor kebingungan melihat kapal-kapal mereka sendiri berisi musuh- musuh; mereka pikir itu pasti perbuatan sihir. Mereka dilanda rasa ngeri mencekam, karena mereka tahu bahwa nasib sudah berbalik menentang mereka, dan ajal mereka sudah dekat.
Kstaria-ksatria Dol Amroth melaju ke timur, mendesak musuh di depan mereka: manusia troll, Variag, dan Orc yang benci cahaya matahari. Eomer melaju ke selatan, dan musuh-musuh lari porak-poranda di depannya; mereka seperti terjebak di antara palu dengan landasannya. Sebab sekarang orang-orang berlompatan dari atas kapal ke dermaga Hariond, dan melaju ke utara seperti badai. Muncullah Legolas, Gimli yang mengayunkan kapaknya, Halbarad yang membawa panji, Elladan dan Elrohir dengan bintang-bintang di dahi mereka serta kaum Dunedain yang bertangan baja, para Penjaga Hutan dart Utara, memimpin rakyat yang gagah berani dari Lebennin dan Lamedon serta ladang- ladang di Selatan. Dan di depan semuanya melajulah Aragorn dengan Api dari Barat, Anduril yang bagai api baru dinyalakan, Narsil yang ditempa kembali menjadi bentuknya yang asli; dan di dahinya ada Bintang Elendil.
Demikianlah akhirnya Eomer dan Aragorn bertemu di tengah pertempuran; sambil bertumpu pada pedang masing-masing, mereka saling memandang, sangat gembira.
“Kita bertemu lagi, meski seluruh pasukan Mordor ada di antara kita,” kata Aragorn kemudian. “Bukankah sudah kukatakan begitu di Homburg sana?” “Memang kau berkata begitu,” kata Eomer, “tapi kita sering tertipu oleh harapan, dan saat itu aku tak tahu kau bisa melihat masa depan. Bantuan tak terduga ini merupakan berkat ganda, dan belum pernah pertemuan dua sahabat sebahagia ini.” Mereka pun saling berjabat tangan. “Juga belum pernah begitu tepat pada

waktunya,” kata Eomer. “Kau tidak datang terlalu awal, sahabatku. Sudah

banyak kehilangan dan kepedihan yang kami derita.”

“Kalau begitu mari kita balas dendam, sebelum membahasnya!” kata Aragorn,

dan mereka pun maju bersama-sama ke lahan pertempuran.



Masih banyak perjuangan dan kerja keras di depan mereka; sebab kaum Southron bangsa yang berani dan keras, dan garang kalau sudah putus asa; sedangkan kaum Easterling kuat dan berhati baja dan tidak akan minta ampun. Maka di sana-sini, dekat perumahan atau gudang yang sudah terbakar, di atas bukit-bukit kecil atau gundukan-gundukan, di bawah tembok atau di padang, mereka masih bergerombol dan bersatu, bertempur sampai hari sudah semakin larut.
Matahari akhirnya turun di belakang Mindolluin, mengisi seluruh langit dengan nyala api, sampai bukit-bukit dan pegunungan berwarna merah darah; api menyala di Sungai, dan rumput Pelennor terhampar merah di senja hari. Di saat itu Pertempuran Besar di Gondor berakhir, tak satu pun musuh hidup yang tersisa di sekitar Rammas. Semuanya tewas, kecuali mereka yang lari untuk mati, atau tenggelam di busa merah Sungai. Hanya sedikit yang bisa sampai ke Morgul di timur atau Mordor; dan di negeri Haradrim hanya tersiar dongeng dari jauh selentingan tentang kemarahan dan teror dari Gondor.


Aragorn, Eomer, serta Imrahil kembali ke Gerbang Kota. Mereka begitu letih, sampai tidak lagi merasakan kegembiraan maupun kepedihan. Ketiganya tidak cedera, sebab memang begitulah keberuntungan, kepiawaian, serta kehebatan senjata mereka, dan tidak banyak yang berani mendekati atau menghadapi mereka ketika mereka sedang marah. Tapi banyak lainnya yang cedera, teraniaya, atau tewas di padang. Forlong tumbang tertebas kapak-kapak ketika Ia bertempur sendirian tanpa kuda; Duilin dari Morthond dan saudaranya terinjak-injak sampai mati ketika mereka menyerang mumakil, saat memimpin para pemanah dalam jarak dekat untuk menembak mata hewan-hewan dahsyat itu. Hirluin yang gagah takkan kembali ke Pinnath Gelin, Grimbold pun tidak akan

pulang lagi ke Grimslade, atau Halbarad ke Negeri Utara, sang Penjaga Hutan yang bertangan baja. Tak sedikit yang tewas, termasyhur maupun tak dikenal, kapten maupun serdadu; sebab pertempuran itu sungguh dahsyat dan tak ada dongeng yang menceritakan keseluruhan kisahnya secara lengkap. Lama sesudahnya, seorang penyair di Rohan mengatakan dalam lagunya tentang Kuburan Mundburg:


Kami dengar bunyi terompet di bukit-bukit, pedang pedang berkilauan di kerajaan Selatan. Kuda-kuda jantan melangkah pergi ke negeri Batu bagai angin di pagi hari. Perang berkobar
Di sana Theoden gugur, keturunan Thengling yang agung, ke balairung emasnya dan padang padang hijau
di Utara ia tak pernah lagi kembali, sang bangsawan penguasa pasukan.
Harding dan Guthlaf, Dunhere dan Deorwine, Grimbold yang gagah, Herefara dan Herubrand, Horn dan Fastred,
berjuang dan tewas di negeri nun jauh di sana:

di Kuburan Mundburg di bawah tanah cokelat mereka terbaring bersama sekutu-sekutu mereka, para bangsawan Gondor
Baik Hirluin yang Gagah ke bukit-bukit dekat laut maupun Porlong yang tua ke lembah-lembah berbunga tak pernah, ke Arnach, ke negerinya sendiri
kembali dengan kemenangan; begitu juga para pemanah jangkung,

Derufin dan Duilin, ke danau-danau gelap,

telaga Morthond di bawah bayang-bayang pegunungan. Kematian menjemput penguasa dan rakyat
di pagi hari dan di penghujungnya. Kini mereka tidur panjang di bawah rumput Gondor dekat Sungai Besar.
Kelabu seperti air mata, perak yang berkilauan, dulu menggulir merah, air yang menggemuruh:

busa diwarnai darah manyala di senja hari;

bagai mercu suar gunung-gunung menyala di malam hari;

merah embunnya jatuh di Rammas Echor.

BAB 7

API DENETHOR



Ketika bayangan gelap di Gerbang sudah pergi, Gandalf masih duduk tak bergerak. Tapi Pippin bangkit berdiri, seakan-akan sebuah beban berat sudah diangkat dari pundaknya; Ia berdiri sambil mendengarkan bunyi terompet, dan hatinya serasa akan pecah oleh kegembiraan mendengar bunyi itu. Hingga bertahun-tahun sesudahnya Ia selalu merasa terharu jika mendengar bunyi terompet di kejauhan. Tapi kini tiba-tiba Ia teringat kembali akan tugasnya, dan ia berlari maju. Saat itu Gandalf bergerak dan berbicara pada Shadowfax, dan sudah akan pergi keluar Gerbang.
“Gandalf, Gandalf!” teriak Pippin, dan Shadowfax berhenti.

“Apa yang kaulakukan di sini?” kata Gandalf “Bukankah peraturan di Kota ini, mereka yang mengenakan seragam hitam dan perak harus tetap di Benteng, kecuali kalau penguasa mereka memberi izin?”
“Dia sudah memberiku izin,” kata Pippin. “Dia menyuruhku pergi. Tapi aku

cemas. Sesuatu yang mengerikan mungkin terjadi di sana. Kurasa Lord Denethor sudah tidak waras. Aku khawatir dia akan bunuh diri, juga membunuh Faramir. Tak bisakah kau melakukan sesuatu?”
Gandalf memandang ke luar Gerbang yang menganga, dan di padang ia sudah mendengar bunyi gemuruh pertempuran memuncak. la mengepalkan tangannya. “Aku harus pergi,” katanya. “Penunggang Hitam ada di luar, dan dia masih akan mencoba menghancurkan kita. Aku tak punya waktu.”
“Tapi Faramir!” teriak Pippin. “Dia belum mati, dan mereka akan membakarnya hidup-hidup, kalau tidak ada yang menghentikan mereka.”
“Membakarnya hidup-hidup?” kata Gandalf. “Cerita apa ini? Cepatlah!”

“Denethor sudah pergi ke Kuburan,” kata Pippin, “dan dia membawa Faramir. Dia bilang kita semua akan dibakar, dan dia tidak mau menunggu. Mereka harus membuat tumpukan kayu bakar dan membakar dia di atasnya, begitu juga Faramir. Dia sudah menyuruh orang-orang mencari kayu dan minyak. Aku sudah menceritakan pada Beregond, tapi aku khawatir dia tidak berani meninggalkan

posnya: dia sedang tugas jaga. Dan apa yang bisa dilakukannya?” Demikianlah Pippin melaporkan ceritanya, sambil menyentuh lutut Gandalf dengan tangannya yang gemetar. “Tak bisakah kau menyelamatkan Faramir?”
“Mungkin bisa,” kata Gandalf, “tapi kalau itu kulakukan, mungkin orang lain akan mati. Well, aku harus ke sana, sebab takkan ada bantuan lain untuknya. Tapi kejahatan dan duka akibatnya. Bahkan di pusat benteng kita, Musuh punya kekuatan untuk memukul karena kehendaknyalah semua ini terjadi.”
Setelah mengambil keputusan, Ia bertindak cepat; sambil mengangkat Pippin dan mendudukkannya di depannya, Ia memutar Shadowfax tanpa berkata sepatah pun. Mereka mendaki jalan-jalan menanjak di Minas Tirith dengan bunyi berderak, sementara gemuruh perang memuncak di belakang. Di mana-mana orang-orang bangkit dari keputusasaan dan rasa ngeri mereka, merenggut senjata sambil saling berteriak, “Rohan sudah datang!” Kapten-kapten berteriak, pasukan-pasukan berkumpul lagi; banyak yang sudah berbaris ke arah Gerbang. Mereka bertemu Pangeran Imrahil, dan Ia berteriak pada mereka, “Ke mana kau, Mithrandir? Kaum Rohirrim berjuang di padang Gondor! Kita harus mengerahkan seluruh kekuatan yang ada.”
“Kau akan membutuhkan setiap orang dan lebih dari itu,” kata Gandalf. “Bergegaslah. Aku akan datang bila sudah bisa. Tapi ada satu tugas untuk Lord Denethor yang harus kuselesaikan, dan ini tak bisa ditunda. Kendalikan semuanya sementara Penguasa tidak ada!”


Mereka berjalan terus; ketika mendaki dan mendekati Benteng, angin berembus menerpa wajah, dan mereka menangkap kilau pagi hari di kejauhan. Tapi pemandangan itu tidak meningkatkan harapan, sebab mereka tidak tahu bencana apa yang ada di depan sana, dan mereka khawatir sudah terlambat. “Kegelapan sudah mulai menyingkir” kata Gamdaif. “tapi masih menggantung berat di atas Kota.”
Di Gerbang Benteng tidak ada penjaga. “Kalau begitu Beregond sudah pergi,” kata Pippin, harapan mulai tumbuh di hatinya. Mereka membelok dan bergegas melewati jalan menuju Pintu Tertutup. Pintu itu kini terbuka lebar, penjaganya

terbaring di depannya. la sudah tewas dan kuncinya diambil.

“Ini pekerjaan Musuh!” kata Gandalf. “Dia senang sekali perbuatan-perbuatan seperti ini: sesama kawan saling bertempur; kesetiaan terbagi dalam kebingungan hati.” Sekarang Ia turun dan menyuruh Shadowfax kembali ke kandang. “Sahabatku,” katanya, “kau dan aku sebenarnya sudah lama harus berjalan ke padang, tapi masalah-masalah lain menunda keberangkatanku. Tapi kau harus segera datang bila aku memanggilmu!”
Mereka masuk ke Pintu dan berjalan terus lewat jalan curam dan berkelok-kelok. Cahaya mulai merebak, tiang-tiang tinggi serta patung-patung di sisi jalan berlalu perlahan seperti hantu-hantu kelabu.
Mendadak kesunyian memecah, dan di bawah mereka mendengar bunyi teriakan dan dentingan pedang: bunyi-bunyi yang tak pernah terdengar di tempat-tempat keramat sejak pembangunan Kota. Akhirnya mereka sampai ke Rath Dinen dan bergegas menuju Rumah Para Pejabat, yang menjulang dalam cahaya senja, di bawah kubahnya yang besar.
“Berhenti! Berhenti!” seru Gandalf, sambil melompat maju ke tangga batu di depan pintu. “Hentikan kegilaan ini!”
Di sana ada pelayan-pelayan Denethor dengan pedang dan obor di tangan; tapi di beranda, di anak tangga terakhir, berdiri Beregond, sendirian, berpakaian hitam dan perak-seragam Penjaga dan ia mempertahankan pintu terhadap serangan mereka. Dua sudah jatuh terkena sabetan pedangnya, menodai tempat suci itu dengan darah mereka; yang lain memaki-makinya, menyebutnya pelanggar hukum dan pengkhianat terhadap majikannya.
Ketika Gandalf dan Pippin berlari maju, mereka mendengar suara Denethor berteriak dari dalam kuburan, “Cepat, cepat! Lakukan yang kuperintahkan! Bunuh pembelot ini! Haruskah aku yang melakukannya sendiri?” Lalu pintu yang dipegang dengan tangan kiri oleh Beregond agar tetap tertutup, dibuka paksa, dan di belakangnya berdiri Penguasa Kota, tinggi mengancam; matanya menyorotkan sinar seperti nyala api, dan ia memegang pedang terhunus.
Tapi Gandalf melompat menaiki tangga, dan orang-orang menyingkir darinya serta menutup mata; sebab kedatangannya bagai cahaya putih yang masuk ke

tempat gelap, dan Ia datang dengan kemarahan besar. la mengangkat tangannya, memukul pedang Denethor hingga terbang terlepas dari genggaman, jatuh di belakangnya, di dalam bayangan bangunan itu; Denethor melangkah mundur dari Gandalf, seperti orang terkejut.
“Apa-apaan ini, Tuanku?” kata penyihir itu. “Rumah kaum mati bukan tempat untuk yang masih hidup. Dan mengapa orang-orang bertarung di Tempat Keramat ini, sementara di depan Gerbang sudah cukup banyak pertempuran? Apakah Musuh kita sudah datang ke Rath Dinen?”
“Sejak kapan Penguasa Gondor harus bertangung jawab kepadamu?” kata Denethor. “Atau tak bolehkah aku memerintah pelayan-pelayanku sendiri?” “Boleh,” kata Gandalf. “Tapi orang lain boleh menentang kehendakmu, kalau sudah beralih ke kegilaan dan kejahatan. Di mana putramu Faramir?”
“Dia berbaring di dalam,” kata Denethor, “terbakar, sudah terbakar. Mereka menyalakan api dalam tubuhnya. Tapi segera semuanya akan terbakar. Barat sudah gagal. Semuanya akan musnah dalam kebakaran besar, dan berakhir. Abu! Abu dan asap diembus angin!”
Ketika Gandalf melihat kegilaan yang menimpa Denethor, Ia khawatir Denethor sudah melakukan suatu perbuatan yang mencelakakan. Maka Ia menerobos maju, dengan Beregond dan Pippin di belakangnya, sementara Denethor mundur sampai berdiri di samping meja di dalam. Tapi di sana mereka menemukan Faramir masih bermimpi dalam demamnya, terbaring di atas meja. Kayu kering sudah ditumpuk di bawah, juga di sekitarnya dalam tumpukan tinggi; semuanya dibasahi minyak, bahkan pakaian Faramir dan selimutnya; tapi api belum dinyalakan. Lalu Gandalf menyingkap kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya, seperti juga cahaya kekuatan yang tersembunyi di balik jubah kelabunya. la meloncat ke atas kayu bakar, dan sambil mengangkat si sakit dengan ringan Ia melompat turun lagi, membawanya ke pintu. Tapi ketika Ia melakukan itu, Faramir mengerang dan memanggil ayahnya sambil bermimpi.
Denethor terkesiap, seperti orang tersadar dari kerasukan. Nyala api di matanya

padam, dan ia menangis, katany; “Jangan ambil putraku! Dia memanggilku.”

“Dia memanggil,” kata Gandalf, “tapi kau belum bisa menjumpainya. Karena dia

harus mencari penyembuhan di ambang kematian dan mungkin saja dia tak bisa menemukannya. Sedangkan peranmu adalah pergi berperang demi Kota-mu, dan mungkin kematian menunggumu. Kau sendiri tahu itu di hatimu.”
“Dia tidak akan bangun lagi,” kata Denethor. “Pertempuran itu sia-sia Untuk apa kita berharap hidup lebih lama lagi? Kenapa kita tidak mati berdampingan saja?” “Pejabat Gondor, kau tidak diberi wewenang untuk menentukan saat kematianmu,” jawab Gandalf “Hanya raja-raja kafir, di bawah kekuasaan Kekuatan Gelap, melakukan itu, membunuh diri sendiri dalam keangkuhan dan keputusasaan, membunuh saudara-saudara mereka untuk meringankan kematian mereka sendiri.” Lalu, sambil keluar dari pintu kuburan dia meletakkan Faramir di usungan yang dipakai untuk membawanya kemari, dan yang sekarang diletakkan di beranda. Denethor mengikutinya, dan berdiri sambil gemetaran, memandangi wajah putranya dengan penuh kerinduan. Sejenak Gandalf mulai ragu, sementara semuanya diam dan tenang, dan Ia sendiri menatap Penguasa yang sedang kebingungan itu.
“Ayo!” kata Gandalf. “Kita dibutuhkan. Masih banyak yang bisa kaulakukan.”

Tiba-tiba Denethor tertawa. la berdiri tegak dan bersikap angkuh lagi. Sambil berjalan cepat ke meja, ia mengangkat bantal yang tadi dipakainya. Ketika mendekati ambang pintu, Ia menyingkap selimutnya, dan lihat! di tangannya ada sebuah palantir. Saat Ia mengacungkannya ke atas, bagi mereka yang menyaksikan, tampak bola itu mulai mengeluarkan cahaya dari dalam, sehingga wajah Penguasa yang kurus itu disinari semacam api merah, dan wajahnya kelihatan seperti pahatan batu keras, tajam, dengan bayangan-bayangan gelap, anggun, angkuh, dan mengerikan. Matanya bersinar-sinar.
“Kesombongan dan keputusasaan!” teriaknya. “Apa kau mengira mata Menara Putih itu buta? Tidak, aku sudah melihat lebih banyak daripada yang kau tahu, Kelabu Bodoh. Sebab harapanmu hanya terletak pada ketidaktahuan. Pergilah dan bekerja keras untuk penyembuhan! Maju terus dan berjuanglah! Kesombongan. Untuk sejenak kau mungkin berjaya di medan perang, hanya untuk sehari. Tapi takkan ada kemenangan melawan Kekuatan yang sekarang bangkit. Baru jari tangannya yang pertama dia ulurkan di atas Kota. Seluruh

Timur sedang bergerak. Sekarang pun angin harapanmu mengkhianatimu dan mengembuskan kapal berlayar hitam lewat Sungai Anduin. Barat sudah gagal. Sudah saatnya pergi bagi semua yang tak ingin menjadi budak.”
“Saran seperti itu justru semakin memastikan kemenangan Musuh,” kata

Gandalf.

“Kalau begitu, teruslah berharap!” tawa Denethor. “Bukankah aku Sudah mengenalmu, Mithrandir? Kau berharap bisa menggantikan aku memerintah, berdiri di belakang setiap takhta, utara, selatan, atau barat. Aku sudah membaca pikiran dan kebijakan-kebijakanmu. Bukankah aku tahu bahwa kau membawa Halfling itu ke sini untuk memata-mataiku di ruanganku sendiri? Meski begitu, dalam pembicaraan kita bersama, aku sudah bisa tahu semua nama dan tujuan kawan-kawanmu. Nah! Dengan tangan kin kau mau memanfaatkan aku untuk beberapa saat sebagai perisai terhadap Mordor, dan dengan tangan kanan kau mendatangkan Penjaga Hutan dari Utara ini untuk menggantikan aku.”
“Tapi kukatakan padamu, Gandalf Mithrandir, aku tak mau menjadi alatmu! Aku Pejabat Istana Anarion: Aku tidak akan turun takhta untuk menjadi pengurus rumah tangga tua bangka bagi orang yang sedang naik daun. Meski pengakuannya terbukti, bagaimanapun dia hanya keturunan Isildur. Aku tak mau menghormati orang seperti itu, keturunan terakhir dari keluarga istana yang acak-acakan, yang sudah lama kehilangan kebangsawanan dan martabatnya.” “Kalau begitu, apa yang kauinginkan,” kata Gandalf, “seandainya keinginanmu bisa terkabul?”
“Aku ingin semuanya seperti selama ini dalam hidupku,” jawab Denethor, “dan di masa leluhurku sebelum aku: menjadi Penguasa Kota dalam damai, dan meninggalkan takhtaku pada putraku, yang menjadi tuannya sendiri dan bukan murid seorang penyihir. Tapi kalau nasib tidak mengizinkan itu, maka aku tak mau menerima apa pun: tak mau hidupku dikurangi, atau cinta yang dibagi, atau kehormatanku menyurut.”
“Menurutku seorang Pejabat Istana yang dengan taat menyerahkan tanggung jawabnya, tidak akan kurang dicintai atau kurang dihormati,” kata Gandalf. “Dan setidaknya kau tidak boleh merampas hak putramu sementara kematiannya

masih diragukan.”

Mendengar kata-kata itu mata Denethor kembali menyala, dan sambil mengambil Batu itu ia menghunus sebilah pisau, lalu melangkah ke arah usungan. Tapi Beregond melompat maju dan menempatkan dirinya di depan Faramir.
“Nah!” seru Denethor. “Kau sudah mencuri separuh cinta putraku. Sekarang kau juga mencuri hati ksatria-ksatriaku, hingga akhirnya mereka merampok putraku dari sisiku. Tapi setidaknya dalam hal ini kau tidak akan menentang kehendakku: mengatur akhir hayatku sendiri.”
“Ayo ke sini!” teriaknya pada pelayan-pelayannya. “Kemarilah, kalau kalian tidak pengecut semuanya!” Dua pelayannya berlari menaiki tangga, mendekatinya. Dengan cepat Ia merebut sebuah obor dan tangan salah satu, dan melompat kembali ke dalam kuburan.
Sebelum Gandalf bisa menghalanginya, ia mendorong obor itu ke dalam minyak;

segera api berkobar dan berderak.

Lalu Denethor meloncat ke atas meja, berdiri di atasnya, dikurung api dan asap; ia memungut tongkat lambang pemerintahan yang tergeletak di dekat kakinya, dan mematahkannya di atas lututnya. Sambil membuang potongan-potongannya ke dalam api, ia membungkuk dan membaringkan diri di atas meja, menggenggam palantir dengan kedua tangan di dada. Setelah itu, konon bila ada yang memandang ke dalam Batu tersebut, ia hanya melihat dua tangan tua terbakar, kecuali bila Ia punya daya kuat untuk mengalihkan Batu itu ke tujuan lain.
Penuh kesedihan dan kengerian Gandalf membuang muka dan menutup pintu. Sejenak Ia berdiri merenung, diam di ambang pintu, sementara mereka yang berada di luar mendengar bunyi kobaran api yang rakus di dalam. Lalu Denethor berteriak keras sekali, setelah itu suaranya tak terdengar lagi, dan Ia tak pernah terlihat lagi oleh seorang manusia pun.


“Berakhir sudah riwayat Denethor, putra Ecthelion,” kata Gandalf.

Lalu ia berbicara pada Beregond dan para pelayan sang Penguasa yang berdiri

kaget di sana. “Dengan demikian berakhirlah masa Gondor yang kalian kenal; demi kebaikan maupun keburukan, masa itu sudah berakhir. Perbuatan jahat sudah dilakukan di sini; tapi janganlah kini ada permusuhan di antara kalian, sebab Musuh-lah yang telah menciptakan dan menggerakkannya. Kalian sudah terjebak dalam sebuah jaring peperangan yang tidak kalian rajut. Tapi sekarang renungkan, kalian para pelayan Penguasa, yang buta dalam ketaatanmu, bahwa bila bukan karena pengkhianatan Beregond tadi, maka Faramir, Kapten Menara Putih, sekarang sudah tewas dibakar.”
“Sekarang bawalah kawan-kawan kalian yang sudah jatuh, keluar dari tempat penuh duka ini. Dan kita akan menggotong Faramir, Penguasa Gondor, ke suatu tempat di mana dia bisa tidur dengan tenang, atau mati jika itu sudah takdirnya.” Lalu Gandalf dan Beregond mengangkat usungan dan membawanya ke Rumah Penyembuhan, sementara di belakang mereka Pippin berjJalan tertunduk. Tapi para pelayan penguasa berdiri seperti orang bam kena tampar, sambil memandang bangunan makam itu; saat Gandalf sampai ke ujung Rath Dinen, terdengar bunyi keras. Ketika menoleh mereka melihat kubah makam itu retak dan asap keluar dari dalam; lalu dengan cepat dan bergemuruh kubah itu runtuh ke dalam kegaduhan api; tapi nyala api tidak segera padam, masih menari-nari dan berkedip-kedip di sela reruntuhan. Lalu dengan penuh ketakutan para pelayan berlari dan mengikuti Gandalf.


Akhirnya mereka sampai ke Pintu Pejabat, dan Beregond memandang penjaga pintunya dengan sedih. “Perbuatan ini akan selalu kusesali,” katanya, “tapi aku sedang terburu-buru, dan dia tak mau mendengarkan, malah menantangku dengan pedangnya.” Sambil mengambil kunci yang sudah direbutnya dari orang itu, Ia menutup pintu dan menguncinya. “Kunci ini sekarang harus diberikan pada Lord Faramir,” katanya.
“Pangeran dari Dol Amroth sementara memerintah menggantikan Penguasa,” kata Gandalf. “Tapi karena dia tidak berada di sini, aku yang akan memutuskan hat ini. Kuperintahkan kau menyimpan kunci itu dan menjaganya, sampai Kota sudah tertib kembali.”

Akhirnya mereka masuk ke lingkaran-lingkaran tinggi di Kota, dan dalam cahaya pagi mereka pergi menuju Rumah Penyembuhan; bangunan-bangunannya indah sekali, digunakan untuk perawatan orang-orang yang sakit parah, tapi sekarang dimanfaatkan untuk merawat orang-orang yang terluka dalam pertempuran atau yang sedang sekarat. Mereka berdiri tidak jauh dari Gerbang Benteng, di lingkar keenam, dekat tembok selatan, dan di sekelilingnya ada kebun dan lapangan rumput hijau dengan pepohonan, satu-satunya tempat semacam itu di Kota. Di sana tinggal beberapa wanita yang diperbolehkan tetap tinggal di Minas Tirith, karena mereka ahli dalam penyembuhan atau melayani para penyembuh.
Tapi ketika Gandalf dan para pendampingnya datang sambil menggotong usungan itu ke pintu utama Rumah Penyembuhan, mereka mendengar teriakan keras dari padang di depan Gerbang, semakin nyaring melengking dan tajam, membubung ke angkasa, lalu hilang ditiup angin. Teriakan itu begitu menyeramkan, sehingga untuk beberapa saat semuanya terdiam, tapi ketika suara itu sudah berlalu, mendadak semangat mereka bangkit kembali, penuh harap, seperti belum pernah mereka rasakan sejak datangnya kegelapan dari Timur; mereka merasa seolah-olah cahaya semakin terang dan matahari menerobos mega-mega.


Tapi wajah Gandalf muram dan sedih. Setelah menyuruh Beregond dan Pippin membawa Faramir ke Rumah Penyembuhan, Ia naik ke tembok di dekat sana; ia berdiri seperti patung putih di bawah sinar rnatahari, memandang jauh. Dengan kemampuan sihirnya Ia melihat apa yang sudah terjadi tadi; saat Eomer keluar dari barisan terdepan pasukannya dan berdiri di samping mereka yang jatuh di padang, Ia mengeluh, lalu menutup erat jubahnya dan pergi dari tembok. Beregond dan Pippin menemukannya berdiri merenung di depan Rumah Penyembuhan ketika mereka keluar.
Mereka memandangnya, dan sejenak ia diam. Akhirnya ia berbicara. “Teman- temanku,” katanya; “juga semua penduduk kota dan negeri Barat ini! Hal-hal yang sangat menyedihkan dan penting sudah terjadi. Apakah kita akan menangis atau bergembira? Di luar harapan, kapten musuh kita sudah

dimusnahkan, dan kalian sudah mendengar gema keputusasaannya yang terakhir. Tapi, dia tidak pergi tanpa kepedihan dan kehilangan yang pahit. Dan sebenarnya hat itu bisa kuhindari kalau perhatianku tidak dialihkan pada kegilaan Denethor. Sudah begitu jauh jangkauan Musuh! Aduh! Tapi sekarang aku mengerti, bagaimana kekuatannya bisa masuk hingga ke jantung Kota.”
“Meski para Pejabat Istana merasa telah menyimpan rapat-rapat rahasia itu di antara mereka sendiri, aku sudah lama menduga bahwa di Menara Putih ini setidaknya ada satu Batu Penglihatan tersimpan. Ketika masih bijaksana, Denethor tidak menyalahgunakannya untuk menentang Sauron, sebab dia tahu keterbatasan kekuatannya sendiri. Tapi kemudian kebijaksanaannya hilang; dan rupanya ketika bahaya di wilayahnya semakin mengancam, dia melihat ke dalam Batu itu dan tertipu: terlalu sering dia melihat ke dalamnya, kukira, terutama sejak kepergian Boromir. Dia terlalu hebat untuk ditundukkan oleh kehendak Kekuatan Gelap, tapi Kekuatan itu membuat dia hanya bisa melihat hal-hal yang boleh dilihatnya. Pengetahuan yang diperolehnya dengan cara itu tentu saja sering berguna baginya; tapi melihat kekuatan dahsyat dari Mordor yang ditunjukkan padanya menumbuhkan rasa putus asa di hatinya, sampai akal sehatnya dikalahkan.”
“Sekarang aku baru mengerti, apa yang bagiku kelihatan aneh!” kata pippin, gemetar ketika mengingatnya sambil berbicara. “Sang Penguasa pergi dari ruang tempat Faramir dibaringkan; sesudah dia kembali, baru aku tersadar bahwa dia sudah berubah, menjadi tua dan patah semangat.”
“Memang, tepat saat Faramir dibawa ke Menara, banyak di antara kami melihat cahaya aneh di ruang paling atas;” kata Beregond. “Tapi sebelumnya kami sudah pernah melihat cahaya itu, dan sudah lama didesas-desuskan di Kota bahwa kadang-kadang Penguasa bertempur dalam pikiran dengan Musuh-nya.” “Aduh! Kalau begitu dugaanku benar,” kata Gandalf “Dengan cara itulah kehendak Sauron masuk ke Minas Tirith; karena itulah aku tertahan di sini. Dan di sini aku terpaksa tetap tinggal, sebab tak lama lagi aku harus merawat orang lain, bukan hanya Faramir.”
“Sekarang aku harus turun menyambut mereka yang datang. Aku sudah melihat

kejadian di padang yang sangat menyedihkan hatiku, dan duka yang lebih besar mungkin akan terjadi. Ikutlah aku, Pippin! Tapi kau, Beregond, harus kembali ke Benteng dan memberitahu kepala Pengawal di sana apa yang sudah terjadi. Aku khawatir dia terpaksa menarikmu dari jajaran Pengawal; tapi katakan kepadanya bahwa kalau aku boleh memberi saran, kau harus dikirim ke Rumah Penyembuhan, untuk menjadi penjaga dan pelayan bagi kaptenmu; dan mendampinginya saat dia bangun kalau itu terjadi. Sebab kaulah yang menyelamatkan dia dari api. Pergilah sekarang! Aku akan segera kembali.” Dengan kata-kata itu Ia memutar badannya dan pergi bersama Pippin, menuju kota bagian bawah. Ketika mereka bergegas pergi, angin membawa hujan kelabu, semua api padam, dan di depan mereka asap membubung tinggi.

BAB 8

RUMAH PENYEMBUHAN



Mata Merry dipenuhi kabut air mata dan kelelahan ketika mereka mendekati reruntuhan Gerbang Minas Tirith. Ia hampir tidak memperhatikan puing-puing dan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Api, asap, dan bau busuk menggantung di udara; sebab banyak alat-alat perang yang dibakar atau dibuang ke dalam api, juga banyak mayat dari mereka yang tewas, sementara di sana-sini menggeletak bangkai-bangkai hewan besar Southron yang mengerikan, setengah terbakar, atau mati kena lemparan batu, atau ditembak matanya oleh pemanah-pemanah berani dari Morthond. Hujan deras sudah reda untuk sementara, dan matahari bersinar di atas; tapi kota bagian bawah masih terselubung asap berbau busuk.
Orang-orang sudah mulai bekerja membuat jalan untuk melewati reruntuhan bekas pertempuran; kini beberapa dari mereka keluar dari Gerbang sambil membawa tandu. Dengan hati-hati mereka meletakkan Eowyn di atas bantal- bantal lembut; tubuh Raja mereka selimuti dengan kain emas besar, dan mereka membawa obor-obor di sekitarnya; nyala api pucat di bawah sinar matahari berkelip ditiup angin.
Begitulah Theoden dan Eowyn datang ke Kota Gondor; semua yang melihat mereka menundukkan kepala dan membungkuk; mereka melewati abu dan asap lingkaran kota yang terbakar, terus mendaki jalan batu. Merry merasa pendakian itu bagai berlangsung berabad-abad lamanya, perjalanan sia-sia dalam mimpi yang tidak menyenangkan, berlangsung terus sampai suatu akhir suram yang tak bisa dicapai oleh ingatan.
Perlahan-lahan cahaya obor-obor di depannya berkelip dan padam, dan Ia berjalan dalam kegelapan; ia berpikir: “Ini terowongan yang menuju kuburan; di sana kita akan tinggal untuk selamanya.” Tapi tiba-tiba dalam mimpinya terdengar suara orang hidup.
la menengadah, dan kabut di depan matanya agak tersingkap. Itu Pippin! Mereka berhadapan muka di sebuah lorong sempit, dan hanya ada mereka

berdua di lorong itu. la menyeka matanya.

“Di mana Raja?” katanya. “Dan Eowyn?” Lalu Ia tersandung dan duduk di

ambang sebuah pintu, lalu mulai menangis lagi.

“Mereka sudah naik ke Benteng,” kata Pippin. “Kupikir kau tertidur sambil berjalan, dan mengambil tikungan yang salah. Ketika kami menyadari kau tidak bersama mereka, Gandalf mengirimku untuk mencarimu. Merry yang malang! Aku bahagia sekali melihatmu lagi! Tapi kau tentu kelelahan, dan aku tidak akan mengganggumu dengan omonganku. Tapi katakan padaku, apakah kau terluka, atau cedera?”
“Tidak,” kata Merry. “W ell, kukira tidak. Tapi aku tak bisa memakai tangan kananku, Pippin, sejak aku menusuknya. Dan pedangku hangus musnah seperti sepotong kayu.”
Wajah Pippin kelihatan cemas. “Nah, sebaiknya kau ikut aku secepat mungkin,” katanya. “Seandainya aku bisa menggotongmu. Kau sudah tidak kuat berjalan. Semestinya mereka tidak membiarkanmu berjalan sama sekali; tapi kau harus memaafkan mereka. Begitu banyak kejadian mengerikan yang terjadi di Kota, Merry, sehingga satu hobbit malang yang datang dari pertempuran gampang sekali terabaikan.”
“Tidak selalu merugikan kalau tidak diperhatikan,” kata Merry. “Tadi aku tidak diperhatikan oleh … tidak, tidak, aku tak bisa membicarakannya. Tolong aku, Pippin! Semuanya jadi gelap lagi, dan tanganku dingin sekali.”
“Bersandarlah padaku, Merry kawanku!” kata Pippin. “Ayo! Langkah demi langkah. Tidak jauh lagi.”
“Apakah kau akan menguburku?” kata Merry.

“Oh, bukan, tentu tidak!” kata Pippin, berusaha kedengaran gembira, meski hatinya dipelintir rasa takut dan kasihan. “Tidak, kita akan pergi ke Rumah Penyembuhan.”


Mereka keluar dari lorong yang menjulur di antara rumah-rumah tinggi dan dinding luar lingkar keempat, dan mereka sampai kembali ke jalan utama yang mendaki ke Benteng. Langkah demi langkab mereka berjalan, sambil Merry

terhuyung-huyung dan menggumam seperti orang mengigau dalam tidurnya.

“Aku tak sanggup membawanya ke sana,” pikir Pippin. “Tak adakah yang bisa membantuku? Aku tak bisa meninggalkanya di sisni.” Tepat pada saat itu Ia terkejut melihat seorang anak lelaki datang berlari dari belakangnya, dan saat Ia menyusul, Ia mengenali Bergil, putra Beregond.
“Halo, Bergil!” teriaknya. “Ke mana kau pergi? Senang melihatmu lagi, masih hidup!”
“Aku sedang bertugas untuk para Penyembuh,” kata Bergil. “Aku tidak bisa diam di sini.”
“Jangan!” kata Pippin. “Tapi beritahu mereka di atas sana bahwa ada hobbit sakit di sini bersamaku, seorang perian, camkan itu, yang baru datang dari medan tempur. Kupikir dia tak mampu berjalan sejauh itu. Kalau Mithrandir ada di sana, Ia akan senang menerima pesan itu.” Bergil terus berlari.
“Sebaiknya aku menunggu di sini saja,” pikir Pippin. Jadi, ia membiarkan Merry rebah perlahan ke atas ubin batu di tengah seberkas sinar matahari, lalu Ia duduk di sampingnya, dan meletakkan kepala Merry di pangkuannya. la meraba- raba tubuh dan tungkai Merry dengan lembut, dan memegang tangan kawannya. Tangan kanan Merry terasa dingin seperti es.
Tak lama kemudian Gandalf sendiri datang mencari mereka. la membungkuk di atas Merry dan membelai dahinya; lalu diangkatnya Merry dengan hati-hati. “Seharusnya dia dibawa masuk dengan penuh penghormatan ke kota ini,” katanya. “Dia sudah membalas kepercayaanku dengan balk; kalau Elrond tidak menyerah pada saranku, kalian berdua takkan ikut dalam petualangan ini; lalu bencana yang .terjadi hari ini akan jauh lebih pedih.” Ia mengeluh. “Tapi sekarang ada beban lain lagi di tanganku, sementara pertempuran dalam keadaan tak menentu.”


Maka akhirnya Faramir, Eowyn, dan Meriadoc dibaringkan di tempat tidur di Rumah Penyembuhan; di sana mereka dirawat dengan baik. Sebab meski semua pengetahuan di masa kini sudah sangat merosot, tidak sesempurna di masa lampau, tapi ilmu penyembuhan Gondor masih tinggi, dan sangat manjur

dalam menyembuhkan luka dan cedera, serta segala macam penyakit yang sering diderita manusia yang berdiam di wilayah timur Lautan. Kecuali usia tua. Untuk itu mereka tak punya obat; dan memang jangka waktu hidup mereka sekarang sudah menyusut sampai hampir sama dengan manusia lainnya, dan di antara mereka semakin sedikit yang usianya bisa mencapai lima hitungan tahun dengan sehat, kecuali dalam beberapa kelompok keturunan darah murni. Tapi kini seni dan pengetahuan mereka dibingungkan oleh banyaknya penderita penyakit yang tak bisa disembuhkan; mereka menyebutnya kena Bayang-Bayarg Gelap, karena berasal dari para Nazgul. Mereka yang tertimpa penyakit itu lambat laun terbenam mimpi yang semakin dalam, lalu masuk ke dalam suatu kesunyian dan kedinginan mematikan, hingga akhirnya tak tertolong lagi. Mereka yang merawat orang-orang sakit, melihat bahwa penyakit itu menyerang Halfling dan Lady dari Rohan dengan hebat. Namun ketika hari semakin siang, kadang- kadang mereka berbicara, menggumam sambil bermimpi; sang penjaga mendengarkan semua yang mereka katakan, berharap bisa mengetahui sesuatu untuk membantu memahami penyakit mereka. Tapi tak lama kemudian mereka jatuh ke dalam kegelapan, dan ketika matahari beranjak ke barat, bayangan kelabu mulai menutupi wajah mereka. Sementara Faramir masih terbakar oleh demam yang tak mau surut.
Gandalf mengunjungi mereka bergantian dengan penuh perhatian, dan kepadanya para penjaga menceritakan semua yang mereka dengar. Demikianlah hari itu berlalu, sementara pertempuran di luar masih berlangsung dalam harapan silih berganti dan kabar-kabar aneh; Gandalf masih menunggu dan menunggu dan tak juga pergi; sampai akhirnya cahaya matahari merah memenuhi seluruh langit, binarbinarnya masuk melalui jendela, jatuh ke atas wajah kelabu orang-orang sakit. Mereka yang berdiri di dekat si sakit melihat wajah keduanya seolah mulai memerah perlahan, seakan-akan sudah kembali sehat, tapi mereka tertipu harapan palsu.
Lalu seorang wanita tua, Ioreth, wanita paling tua yang bertugas di Rumah Penyembuhan itu, menangis saat memandang wajah elok Faramir, karena semua orang mencintainya. Dan Ia berkata, “Sayang sekali kalau dia mati!

Seandainya ada raja-raja di Gondor, seperti di zaman lampau, begitulah kata orang-orang! Sebab menurut ilmu kuno: Tangan seorang raja adalah tangan penyembuh. Dengan begitu, raja yang berhak bisa dikenali.”
Dan Gandalf yang berdiri di dekatnya, berkata, “Kata-katamu itu akan selalu diingat orang, joreth! Karena di dalamnya ada harapan. Mungkin seorang raja memang sudah kembali ke Gondor; atau kau belum mendengar kabar-kabar aneh yang datang ke Kota?”
“Aku sudah terlalu sibuk dengan ini-itu untuk memperhatikan semua teriakan dan seruan,” jawabnya. “Yang kuharapkan hanya agar setan-setan pembantai itu tidak masuk ke Rumah ini dan mengganggu mereka yang sakit.”
Lalu Gandalf keluar bergegas, api di langit mulai padam, dan bukit-bukit membara mulai suram, sementara senja kelabu seperti abu merangkak di padang-padang.


Ketika matahari sedang terbenam, Aragorn, Eomer, dan Imrahil mendekati Kota dengan kapten-kapten dan ksatria-ksatria mereka; saat mereka sampai di depan Gerbang, Aragorn berkata,
“Lihatlah Matahari terbenam dikelilingi api berkobar! Itu pertanda akhir dan kejatuhan dari banyak perkara, dan perubahan keadaan dunia. Tapi Kota dan wilayah sudah lama berada di bawah tanggung jawab para Pejabat, dan aku khawatir bila aku masuk tanpa dipanggil, keraguan dan perdebatan mungkin timbul; ini tak boleh terjadi sementara perang masih berkecamuk. Aku takkan masuk, atau menuntut hak, sampai sudah jelas apakah kita atau Mordor yang menang. Orang-orang akan memasang kemah-kemahku di atas padang, dan di sinilah aku akan menunggu penyambutan oleh Penguasa Kota.”
Tapi Eomer berkata, “Kau sudah mengibarkan panji para Raja dan lambang- lambang Istana Elendil. Apakah kau tidak keberatan kalau panji dan lambang itu ditentang?”
“Tidak,” kata Aragorn. “Tapi menurutku saatnya belum tepat; dan aku tak ingin

bertikai, kecuali dengan Musuh dan budak-budaknya.”

Dan Pangeran Imrahil berkata, “Kata-katamu, Lord, sangatlah bijak, kalau aku

sebagai saudara Lord Denethor boleh memberi saran dalam hal ini. Dia punya kemauan keras dan angkuh, tapi dia sudah tua; dan suasana hatinya aneh sekali sejak putranya cedera. Tapi aku tak ingin kau tetap di luar seperti pengemis di depan pintu.”
“Bukan pengemis,” kata Aragorn. “Anggap saja aku ini kapten kaum Penjaga Hutan, yang tidak terbiasa dengan kehidupan di kota dan rumah-rumah batu.” Ia memerintahkan panjinya digulung, lalu ia melepaskan Bintang Kerajaan Utara dan memberikannya pada putra-putra Elrond untuk disimpan.


Lalu Pangeran Imrahil dan Eomer dari Rohan meninggalkannya dan masuk ke Kota melewati kerumunan orang yang hiruk-pikuk, naik ke Benteng; mereka memasuki Balairung di Menara, mencari sang pejabat. Tapi mereka menemukan kursinya kosong, dan di depan panggung berbaring Theoden, Raja dari, Mark, di tempat tidur kehormatan; dua belas obor mengelilinginya, serta dua belas pengawal, ksatria-ksatria dari Rohan dan Gondor. Hiasan hijau dan putih menggantung dari tempat tidur, tapi tubuh Raja tertutup kain emas sampai ke dada, dan di atas kain itu terletak pedangnya yang terhunus, serta perisai di dekat kakinya. Cahaya obor-obor berkilauan di rambut putihnya, seperti cahaya matahari dalam semburan halus air mancur; wajahnya elok dan tampak muda, memancarkan kedamaian yang tak mungkin diraihnya semasa muda; dan Ia kelihatan seperti sedang tidur.
Setelah beberapa saat berdiri diam di samping Raja, Imrahil berkata, “Di mana

Pejabat itu? Dan di mana Mithrandir?”

Salah satu pengawal menjawab, “Pejabat Gondor ada di Rumah Penyembuhan.” Tapi Eomer berkata, “Di mana Lady Eowyn, adikku; bukankah seharusnya dia berbaring di samping Raja, dengan penghormatan yang setidaknya sama? Di mana mereka membaringkannya?”
Imrahil berkata, “Tapi Lady Eowyn masih hidup ketika mereka membawanya kemari. Tidakkah kau tahu?”
Hati Eomer melonjak gembira oleh harapan, yang seketika diikuti kekhawatiran serta ketakutan; Ia tidak berkata apa-apa lagi, melainkan membalikkan badan

dan dengan cepat keluar dari balairung; Pangeran Imrahil mengikutinya. Di luar malam sudah merebak, banyak bintang gemerlap di langit. Gandalf datang berjalan kaki, bersama seseorang berjubah kelabu; mereka bertemu di depan pintu Rumah Penyembuhan. Mereka menyalami Gandalf dan berkata, “Kami mencari sang Pejabat, dan katanya beliau ada di sini. Cederakah dia? Dan Lady Eowyn, di mana dia?”
Gandalf menjawab, “Dia berbaring di dalam dan belum mati, tapi dia sudah hampir mati. Lord Faramir luka oleh panah beracun, seperti telah kaudengar. Sekarang dialah sang Pejabat, sebab Denethor sudah mati, dan kuburannya sudah hangus menjadi abu.” Mereka pun sedih dan heran mendengar cerita itu. Tapi Imrahil berkata, “Jadi, kemenangan ini sudah kehilangan kegembiraannya, dan sudah dibeli dengan mahal, kalau Gondor maupur, Rohan di hari yang sama kehilangan penguasa mereka. Eomer memimpin kaum Rohirrim. Siapa yang akan memimpin Kota sementara ini? Tidakkah sebaiknya kita sekarang memanggil Lord Aragorn?”
Orang berjubah itu berbicara dan katanya, “Dia sudah datang.” Dan ketika ia maju ke bawah cahaya lentera dekat pintu, mereka melihat bahwa dialah Aragorn, berpakaian jubah kelabu Lorien di atas baju besinya, dan hanya memakai lambang batu, hijau dart Galadriel. “Aku datang karena Gandalf memintaku,” katanya. “Tapi untuk sementara aku hanya Kapten kaum Dunedain dari Arnor; penguasa Dol Amroth akan memerintah Kota sampai Faramir bangun. Tapi kusarankan sebaiknya Gandalf yang memimpin kita semua di hari- hari mendatang dan dalam pertikaian kita dengan Musuh.” Mereka semua setuju. Lalu Gandalf berkata, “Janganlah kita tetap di depan pintu ini, karena waktu sangat mendesak. mari kita masuk! Sebab hanya kedatangan Aragorn yang bisa membawa harapan bagi mereka yang sakit di dalam Rumah Penyembuhan. Begitulah kata loreth, wanita bijak dari Gondor: Tangan seorang raja adalah tangan penyembuh, dan dengan demikian raja yang asli bisa dikenali. “


Aragorn masuk lebih dulu, yang lain mengikuti. Di pintu ada dua pengawal berpakaian seragam Benteng: satu jangkung, tapi satunya lagi hampir tidak lebih

tinggi daripada anak lelaki kecil; ketika melihat mereka, Ia berteriak keras karena kaget dan gembira.
“Strider! Hebat! Aku sudah menduga kaulah yang berada di kapal-kapal hitam itu. Tapi mereka semua berteriak corsair dan tak mau mendengarkan aku. Bagaimana kau melakukannya?”
Aragorn tertawa dan memegang tangan hobbit itu. “Selamat bertemu kembali!”

katanya. “Tapi belum ada waktu untuk kisah-kisah perjalanan.”

Lalu Imrahil berkata pada Eomer, “Begitukah caranya kita berbicara dengan raja- raja? Tapi mungkin dia akan memakai mahkotanya dengan menggunakan nama lain!”
Aragorn yang mendengar perkataannya, berputar dan berkata, “Benar, sebab dalam bahasa klasik kuno aku adalah Elessar, Permata Peri, dan Envinyatar, sang Pembaru”; ia mengangkat batu hijau di dadanya. “Tapi Strider akan menjadi nama keluargaku, kalau suatu saat nanti terbentuk. Dalam bahasa klasik nama itu tidak terdengar jelek, dan terlontar akan menjadi julukanku serta semua pewaris keturunanku.”
Lalu mereka masuk ke Rumah Penyembuhan; sambil melangkah ke ruang tempat kaum sakit dirawat, Gandalf menceritakan tindakan Eowyn dan Meriadoc. “Sebab aku mendampingi mereka lama sekali,” katanya, “mula-mula mereka banyak berbicara sambil mimpi, sebelum tenggelam ke dalam kegelapan kelam. Aku juga bisa melihat kejadian-kejadian yang jauh.”
Mula-mula Aragorn mendekati Faramir, kemudian Lady Eowyn, dan terakhir Merry. Setelah melihat wajah-wajah mereka dan mengamati cedera masing- masing, Ia mengembuskan napas panjang. “Aku harus mengerahkan seluruh kekuatan dan kemahiran yang sudah diberikan padaku,” katanya. “Aku ingin sekali Elrond ada di sini, karena dia yang tertua dan seluruh ras kami, dan mempunyai kekuatan terbesar.”
Eomer, yang melihat Aragorn sangat sedih dan letih, berkata, “Kau harus istirahat dulu, dan setidaknya makan dulu sedikit?”
Tapi Aragorn menjawab, “Tidak, untuk mereka bertiga, dan paling cepat untuk

Faramir, waktu sudah mulai habis. Perlu bertindak cepat.”

Lalu ia memanggil loreth dan berkata, “Kau punya simpanan tanaman obat di sini?”
“Ya, Tuan,” jawabnya, “tapi kukira tidak cukup untuk semua yang membutuhkannya. Aku tidak tahu di mana kita bisa menemukan lebih banyak; semuanya kacau di masa sulit ini, akibat kebakaran-kebakaran. Hanya sedikit anak-anak yang bisa disuruh ke sana kemari, dan semua jalan ditutup. Sudah berhari-hari sejak kurir terakhir dari Lossarnach datang ke pasar! Tapi kami berusaha memanfaatkan sebaik mungkin apa yang ada di Rumah ini, dan aku yakin Tuanku tahu itu.”
“Aku akan menilai hal itu kalau aku sudah melihatnya,” kata Aragorn. “Satu hal lagi, tak banyak waktu untuk berbicara. Kau punya athelas?”
“Aku tidak tahu, Tuanku,” jawabnya, “setidaknya tidak dengan nama itu. Aku akan pergi menanyakannya pada ahli obat-obatan; dia tahu semua nama lama.” “Tanaman itu juga disebut kingsfoil,” kata Aragorn; “mungkin kau mengenalnya dengan nama itu, karena begitulah penduduk desa menyebutnya belakangan ini.”
“Oh, itu!” kata Ioreth. “Kalau Tuanku mengatakannya sejak awal, aku bisa memberitahu. Tidak, kami tidak punya itu, aku yakin. Wah, aku belum pernah dengar bahwa tanaman itu punya khasiat bagus; bahkan aku sering berkata pada saudara-saudaraku ketika kami menemukannya di hutan. 'Kingsfoil,' kataku, 'itu nama aneh, dan aku heran mengapa disebut begitu; kalau aku jadi raja, aku ingin tanaman yang lebih cerah di kebunku.' Tapi memang baunya wangi kalau diremas, bukankah begitu? Kalau wangi adalah istilah yang tepat: . mungkin kata sehat lebih tepat.”
“Memang menyehatkan,” kata Aragorn. “Dan sekarang, Nyonya, kalau kau menyayangi Lord Faramir, larilah secepat lidahmu berbicara dan ambilkan kingsfoil untukku, kalau masih ada daun itu di Kota.”
“Dan kalau tidak ada,” kata Gandalf, “aku akan berkuda ke Lossamach dengan loreth di belakangku. Dia akan membawaku ke hutan, tapi tidak ke saudara- saudaranya. Shadowfax akan menunjukkan kecepatannya berlari.”

Setelah loreth pergi, Aragorn meminta wanita-wanita lainnya memanaskan air. Lalu ia memegang tangan Faramir, dan dengan tangan satunya ia menyentuh dahi si sakit. Dahi Faramir basah oleh keringat, tapi Faramir sama sekali tidak bergerak atau memberi isyarat, dan kelihatannya hampir tidak bernapas. “Keadaannya sudah gawat sekali,” kata Aragorn pada Gandalf.
“Tapi ini bukan karena lukanya. Lihat! Lukanya sudah mulai sembuh. Seandainya dia kena panah Nazgul, seperti kauduga, dia pasti sudah mati malam itu. Luka ini disebabkan panah Southron, kurasa. Siapa yang mencabutnya? Apakah panahnya disimpan?”
“Aku yang mencabutnya,” kata Imrahil, “dan membebat lukanya. Tapi aku tidak menyimpan panah itu, sebab banyak yang harus kami lakukan ketika itu. Panahnya seingatku seperti yang dipakai kaum Southron. Tapi aku menduga datangnya dari Bayang-Bayang di atas, sebab bila tidak, tak mungkin dia demam dan sakit seperti ini, sebab lukanya tidak dalam atau mematikan. Menurutmu apa penyebab sebenamya?”
“Keletihan, kesedihan karena sikap ayahnya, luka, dan terutama … Napas Hitam,” kata Aragorn. “Dia berhati teguh, sebab dia sudah pernah mendekati Bayang-Bayang itu sebelum pergi bertempur di tembok perbatasan. Pasti lambat laun kegelapan menyergapnya, saat dia bertempur dang berjuang untuk mempertahankan pos luarnya. Ah, seandainya aku datang lebih awal!”


Lalu ahli obat-obatan masuk. “Tuanku menanyakan kingsfoil, seperti orang-orang dusun menamainya,” katanya; “atau athelas dalam bahasa tinggi, atau bagi mereka yang tahu sedikit tentang Valinorean …”
“Aku tahu,” kata Aragorn, “dan aku tak peduli apakah kau mengatakan asea aranion atau kingsfoil, asal kau punya beberapa.”
“Maaf, Tuanku!” kata pria itu. “Ternyata kau juga seorang ilmuwan, bukan hanya kapten perang. Tapi sayang sekali, Sir! Kami tidak menyimpan benda ini di Rumah Penyembuhan, di mana hanya mereka yang terluka parah atau sakit gawat yang dirawat. Sebab setahu kami kingsfoil tidak mempunyai khasiat, kecuali mungkin untuk menyegarkan udara pengap, atau mengusir rasa berat

menekan. Kecuali kalau kau mempercayai sajak-sajak zaman lampau yang diucapkan wanita-wanita kami seperti loreth, tanpa mengerti maknanya.


Ketika napas hitam mengentak

dan bayang-bayang kematian merebak dan semua cahaya padam tanpa bekas, datanglah athelas! datanglah athelas! Kehidupan bagi yang sekarat
Di tangan raja ia terdapat!



Kupikir itu hanya sajak tak bermutu, yang sudah terbalik-balik dalam ingatan para wanita tua. Maknanya terserah penilaianmu, kalau memang ada artinya. Tapi orang-orang tua masih menggunakan ramuannya untuk meringankan sakit kepala.”
“Kalau begitu, atas nama Raja, pergi dan cari orang tua yang pengetahuan ilmunya kurang, tapi kebijakannya lebih besar, yang masih menyimpan tanaman ini di rumahnya!” seru Gandalf.


Sekarang Aragorn berlutut di samping Faramir, dan meletakkan tangan di dahinya. Mereka yang memperhatikan, merasa sebuah perjuangan besar sedang berlangsung. Wajah Aragorn menjadi kelabu karena keletihan; sesekali Ia memanggil nama Faramir, tapi makin lama suaranya makin redup, seolah-olah Aragorn sendiri menjauh dari mereka, dan berjalan jauh di suatu lembah gelap, memanggil-manggil seseorang yang hilang.
Akhirnya Bergil datang berlari, membawa enam helai daun dibungkus kain. “Ini kingsfoil, Sir,” katanya, “tapi tidak segar. Paling tidak sudah dua minggu yang lalu dipetik. Kuharap masih bisa dimanfaatkan, Sir?” Ketika melihat Faramir, air matanya menetes deras tak terbendung.
Tapi Aragorn tersenyum. “Masih bisa dimanfaatkan,” katanya. “Keadaan yang paling gawat sudah lewat. Tetaplah di sini dan rasakan kenyamanan!” Aragorn mengambil dua lembar daun, meletakkannya di tangannya, dan mengembuskan

napas di atasnya, lalu meremasnya. Seketika suatu kesegaran yang hidup memenuhi ruangan, seakan-akan udara bangun bergetar, penuh percik kegembiraan. Aragorn memasukkan daun-daun itu ke dalam mangkuk berisi air panas, dan semua langsung merasa gembira. Keharuman yang menyebar dan daun itu. Berbagai kenangan pada pagi berembun di bawah sinar matahari yang tidak terselubung, di suatu negeri yang melebihi keindahan dunia di Musim Semi. Aragorn tampak segar kembali, matanya tersenyum ketika ia memegang mangkuk itu di depan wajah Faramir yang masih bermimpi.
“W ah! Siapa sangka?” kata Ioreth pada wanita yang berdiri di sampingnya. “Tanaman itu lebih hebat daripada yang kusangka. Mengingatkan aku pada mawar-mawar Imloth Melui ketika aku masih gadis remaja. Tak ada yang lebih bagus yang bisa diminta seorang raja.”
Tiba-tiba Faramir bergerak dan membuka mata. la memandang Aragorn yang membungkuk di atasnya; sorot mengenali dan kasih sayang terpancar dari dalam matanya, dan ia berbicara perlahan. “Tuanku, kau memanggilku. Aku datang. Apa yang kauperintahkan, Raja?”
“Jangan lagi berjalan dalam kegelapan, tapi bangunlah!” kata Aragorn. “Kau letih.

Istirahatlah dulu, dan makanlah. Bila aku kembali, kau harus sudah siap.”

“Akan kulakukan, Tuanku,” kata Faramir. “Siapa yang mau berbaring dan menganggur bila Raja sudah kembali?”
“Selamat berpisah untuk sementara!” kata Aragorn. “Aku harus pergi ke yang lain, yang membutuhkan aku.” Ia meninggalkan ruangan itu bersama Gandalf dan Imrahil; tapi Beregond dan putranya tetap di sana, dengan kegembiraan meluap-luap. Saat mengikuti Gandalf dan menutup pintu, Pippin mendengar loreth berseru,
“Raja! Kaudengar itu? Apa kataku? Tangan seorang penyembuh, kataku.” Segera tersiar keluar dari Rumah Penyembuhan, bahwa Raja sudah datang di antara mereka, membawa penyembuhan setelah perang; dan kabar itu pun menyebar ke seluruh Kota.


Lalu Aragorn mendatangi Eowyn, dan berkata, “Dia mengalami cedera

menyedihkan dan pukulan berat. Lengan yang patah sudah dirawat dan akan sembuh pada waktunya, kalau dia bisa bertahan hidup. Lengan perisailah yang sudah dilumpuhkan; tapi bencana terberat menimpa lengan pedang. Sekarang lengan itu sama sekali tidak kelihatan hidup, meski tidak patah.”
“Sayang sekali! Dia menentang musuh yang melebihi kekuatan Pikiran atau tubuhnya. Dan mereka yang mengangkat senjata terhadap musuh semacam itu harus lebih kokoh daripada baja, kalau tidak benturan itu akan menghancurkan mereka. Malapetaka besar telab menempatkannya di jalan musuh. Karena dia gadis cantik, tercantik dari keturunan ratu-ratu. Entah apa harus kukatakan tentang dia. Ketika aku pertama kali melihatnya dan menyadari kesedihannya, rasanya dia seperti sekuntum bunga putih yang berdiri tegak dan angkuh, indah seperti bunga lili, tapi keras seperti ditempa dari baja oleh pandai besi Peri. Atau terkena embun beku yang berubab menjadi es, dan demikianlah dia berdiri, pahit-manis, masih indah dipandang, tapi sudah terpukul, dan segera akan jatuh dan mati? Penyakitnya sebenarnya berawal jauh sebelum ini, bukankah begitu, Eomer?”
“Aku heran kau menanyakan itu padaku, Tuan,” jawab Eomer. “Sebab dalam hal ini aku tidak menyalahkanmu, seperti juga dalam semua hal lain; tapi aku tidak tahu apakah adikku Eowyn, sudah tersentuh embun beku, sampai pertama kali dia memandangmu. Dia mengalami kesedihan dan kengerian yang dibaginya bersamaku di masa Wormtongue masih menancapkan pengaruhnya pada Raja; dan dia merawat Raja dengan rasa takut yang semakin besar. Tapi bukan itu yang membawanya pada keadaan ini!”
“Sahabatku,” kata Gandalf, “kau mempunyai kuda-kuda, kau bisa bertarung mengangkat senjata, dan keluar ke padang-padang bebas; tapi dia, yang lahir dalam tubuh seorang wanita, mempunyai semangat dan keberanian setidaknya sama besar denganmu. Namun dia ditakdirkan menunggui seorang pria tua yang disayanginya seperti seorang ayah, dan dia melihat pria itu jatuh ke dalam usia lanjut dalam keadaan menyedihkan; dia merasa perannya sangat hina, lebih hina daripada tongkat yang dipakai Raja untuk penopang.”
“Apa kaukira Wormtongue hanya menyebarkan racun untuk telinga Theoden?

Tua bangka! Istana Eorl tak lebih dari sebuah gubuk beratap jerami di mana para perampok minum di tengah bau busuk, dan anak-anak mereka berguling-guling di lantai, di tengah-tengah anjing-anjing. Apa kau tak pernah mendengar kata- kata itu? Saruman yang mengucapkannya, guru Wormtongue. Meski aku tak ragu bahwa di rumahmu Wormtongue. membungkus makna itu dalam kata-kata yang lebih cerdik. Tuanku, seandainya cinta kasih adikmu terhadapmu, dan kepatuhannya terhadap tugas, tidak menahan bibirnya, mungkin kau juga akan mendengar ucapan semacam itu keluar dari mulutnya. Tapi siapa yang tahu apa yang dikatakannya pada kegelapan, saat dia sedang sendirian, dalam penantian getir di malam hari, ketika seluruh hidupnya terasa menyusut dan dinding-dinding kamar mengepungnya seperti kandang untuk mengungkung binatang liar?” Eomer terdiam dan menatap adiknya, seakan merenungi kembali seluruh masa lampau hidup mereka bersama. Tapi Aragorn berkata, “Aku juga melihat apa yang kaulihat, Eomer. Di antara begini banyak kesedihan serta keburukan- keburukan dunia ini, tak ada yang lebih pahit dan memalukan bagi hati seorang pria, daripada menyaksikan cinta seorang wanita yang begitu cantik dan berani, yang tak bisa dibalasnya. Kesedihan dan rasa iba meliputiku sejak aku rneninggalkannya dalam keputusasaan di Dunharrow,. saat aku pergi ke Jalan Orang-Orang Mati; Kami takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi, Eomer, rasa sayangnya padamu lebih murni daripada cintanya padaku; sebab dia mengenalmu sepenuhnya; sementara cintanya padaku hanya berupa bayang-bayang dan angan-angan: harapan akan kegemilangan dan perbuatan-perbuatan hebat, serta negeri-negeri yang jauh dari padang-padang Rohan.”
“Mungkin aku punya kekuatan untuk menyembuhkan tubuhnya, dan memanggilnya keluar dari lembah gelap. Tapi apa yang akan ditemukannya setelah dia terjaga: harapan, atau kealpaan, atau keputusasaan, aku tidak tahu. Dan kalau keputusasaan yang ditemukannya; maka dia akan mati, kecuali ada penyembuhan lain yang tak bisa kuberikan. Oooh! Tindakannya telah menempatkan dirinya setara dengan para ratu termasyhur.”
Lalu Aragorn membungkuk dan menatap wajah Eowyn, dan memang wajahnya

putih pucat seperti bunga lili; dingin seperti embun beku, dan keras seperti patung batu. Aragorn membungkuk dan mengecup keningnya, memanggilnya dengan lembut,
“Eowyn putri Eomund, bangunlah! Sebab musuhmu sudah mati!”

Eowyn tak bergerak, tapi kini mulai bernapas lagi, sehingga dadanya naik-turun di bawah seprai putih. Sekali lagi Aragorn meremas dua lembar daun athelas dan melemparkannya ke dalam air mendidih; Ia mengusap kening Eowyn dengan air itu, juga lengan kanannya yang terbaring dingin dan beku di atas selimut.
Lalu, entah karena Aragorn memang mempunyai kekuatan Westernesse yang sudah terlupakan, atau karena kata-katanya tentang Lady Eowyn merasuki diri mereka, ketika pengaruh dedaunan itu menyebar di dalam ruangan tersebut, mereka yang berdiri di sana merasa seolah-olah ada angin tajam bertiup melalui jendela, tidak mengantar bau wangi, tapi merupakan udara segar, bersih, dan mumi, seakan-akan belum pernah dihirup makhluk hidup dan baru saja datang dari pegunungan bersalju tinggi di bawah kubah berbintang, atau dari pantai- pantai perak nun jauh di sana, yang disapu oleh lautan berbuih.
“Bangun, Eowyn, Lady dari Rohan!” kata Aragorn lagi; Ia mengambil tangan kanan gadis itu dan merasakan kehangatan kembali mengalir di dalamnya. “Bangun! Bayang-Bayang itu sudah pergi, dan seluruh kegelapan sudah dibasuh bersih!” Lalu ia meletakkan tangan Eowyn di tangan Eomer dan, melangkah mundur. “Panggillah dia!” katanya, dan Ia keluar diam-diam dari kamar itu. “Eowyn, Eowyn!” seru Eomer sambil menangis. Eowyn membuka matanya dan berkata, “Eomer! Aku sangat bahagia! Mereka bilang kau sudah tewas. Oh … bukan, itu hanya suara-suara gelap dalam mimpiku. Sudah berapa lama aku bermimpi?”
“Tidak lama, adikku,” kata Eomer. “Tapi jangan kaupikirkan lagi!”

“Aku merasa lelah sekali,” kata Eowyn. “Aku perlu istirahat dulu. Tapi bagaimana dengan Penguasa Mark? Aduh! Jangan katakan itu hanya mimpi; sebab aku tahu itu bukan mimpi. Dia sudah mati, seperti telah diramalkannya sendiri.”
“Dia sudah mati,” kata Eomer, “tapi dia berpesan padaku untuk mengirim salam

pamit kepada Eowyn, yang disayanginya melebihi anak sendiri. Sekarang dia

dibaringkan dengan penghormatan penuh di Benteng Gondor.”

“Menyedihkan sekali,” kata Eowyn. “Tapi itu lebih baik daripada yang berani kuharapkan di masa gelap, ketika rasanya kehormatan Istana Eorl sudah jatuh begitu rendah, lebih rendah daripada tempat tidur seorang gembala. Dan bagaimana dengan pendamping Raja, si Halfling? Eomer, kau harus mengukuhkannya sebagai ksatria dari Riddermark, karena dia begitu gagah berani!”
“Dia berbaring tak jauh dari sini, di Rumah Penyembuhan ini juga, dan aku akan pergi menemuinya,” kata Gandalf “Eomer akan tetap di sini untuk beberapa saat. Tapi janganlah membicarakan perang atau kesedihan, sampai kau sembuh benar. Sangat membahagiakan melihatmu bangun lagi menyongsong kesehatan dan harapan, wanita yang begitu gagah berani!”
“Kesehatan?” kata Eowyn. ““Mudah-mudahan begitu. Setidaknya selama masih ada pelana kosong milik seorang penunggang yang bisa kuisi, dan banyak tugas yang bisa kulakukan. Tapi harapan? Aku belum tahu.”


Gandalf dan Pippin masuk ke kamar Merry. Di sana mereka menemukan Aragorn berdiri di samping tempat tidur. “Merry yang malang!” teriak Pippin, dan Ia berlari ke samping tempat tidur, karena Ia melihat temannya itu tampak lebih gawat dan wajahnya kelabu, seolah-olah beban duka bertahun-tahun menekannya; tiba-tiba Pippin ketakutan bahwa Merry akan mati.
“Jangan cemas,” kata Aragorn. “Aku datang tepat pada waktunya, dan aku sudah memanggilnya kembali. Dia letih sekali sekarang, dan sedih, dan dia menderita cedera seperti Lady Eowyn, karena dia sudah berani melukai makhluk berbahaya itu. Tapi cedera seperti ini bisa disembuhkan, dia punya semangat kuat dan hati yang ceria. Dia tidak akan melupakan kesedihannya; tapi itu tidak akan membuat hatinya dirundung kegelapan, justru akan mengajarinya kebijaksanaan.”
Lalu Aragorn meletakkan tangannya ke atas kepala Merry, dan sambil mengusap rambut keritingnya dengan lembut, ia menyentuh kelopak mata Merry dan

memanggil namanya. Saat keharuman athelas menyebar di ruangan itu, seperti keharuman kebun buah-buahan dan semak heather di bawah sinar matahari penuh kumbang, mendadak Merry bangun dan berkata,
“Aku lapar. Jam berapa sekarang?”

“Sudah lewat waktu makan malam sekarang,” kata Pippin, “tapi aku yakin bisa membawakanmu makanan, kalau mereka mengizinkan.”
“Mereka akan mengizinkanmu,” kata Gandalf. “Dan apa pun yang dikehendaki

Penunggang dari Rohan ini, yang bisa ditemukan di Minas Tirith, di mana

namanya sangat dihormati.”

“Bagus!” kata Merry. “Kalau begitu aku ingin makan malam dulu, setelah itu aku mau mengisap pipa.” Tapi wajahnya merengut. “Tidak, jangan pipa. Rasanya aku tidak akan pernah mengisap pipa lagi.”
“Mengapa tidak?” kata Pippin.

“W ell,” jawab Merry perlahan. “Dia sudah mail. Pipa itu membuatku teringat semuanya. Dia bilang dia menyesal belum. sempat membicarakan ilmu tanaman denganku. Itulah di antaranya kata-kata terakhir yang dia ucapkan. Aku takkan pernah bisa merokok lagi tanpa memikirkan dia, dan hari itu, Pippin, ketika datang ke Isengard, dia bersikap begitu sopan.”
“Merokok sajalah dan ingatlah dia!” kata Aragorn. “Sebab dia berhati lembut dan raja yang hebat; dia memenuhi sumpahnya, dan dia naik dari dalam bayangan gelap ke suatu pagi indah terakhir. Meski layananmu kepadanya singkat saja, tapi akan menjadi kenangan bahagia dan terhormat sampai akhir hayatmu.”
Merry tersenyum. “Nah,” katanya, “kalau Strider menyediakan apa yang dibutuhkan, aku akan merokok dan berpikir. Aku bawa sedikit tembakau terbaik milik Saruman di ranselku, tapi apa yang terjadi dengannya di tengah pertempuran, aku tidak tahu.”
“Master Meriadoc,” kata Aragorn, “kalau kaupikir aku melintasi pegunungan dan wilayah Gondor dengan api dan pedang hanya untuk membawakan tanaman bagi seorang serdadu yang lalai, yang membuang perlengkapannya, maka kau keliru. Kalau ranselmu tidak ditemukan, kau harus memanggil ahli obat Rumah ini. Dan dia akan menceritakan kepadamu bahwa dia tidak tahu tanaman yang

kau cari mempunyai khasiat, tapi bahwa tanaman itu disebut westmansweed oleh orang-orang kasar, dan galenas oleh kaum bangsawan, dan nama-nama lain dalam bahasa-bahasa yang lebih terpelajar, dan setelah menambahkan beberapa sajak yang sepanih terlupakan, yang tidak dia mengerti, dengan menyesal dia akan memberitahumu bahwa tanaman itu sama sekali tidak ada di Rumah ini, dan dia akan membiarkanmu merenungi sejarah bahasa-bahasa. Itulah yang harus kulakukan sekarang. Sebab aku belum tidur di tempat tidur seperti ini. sejak aku pergi dari Dunharrow, juga belum makan sejak menjelang fajar.”
Merry meraih tangan Aragorn dan mengecupnya. “Aku sangat menyesal,” katanya. “Pergilah segera! Sejak malam di Bree itu kami sudah menjadi beban bagimu. Tapi memang sudah watak bangsaku untuk berbicara dengan enteng seperti itu, padahal bukan maksud kami menyinggung perasaan. Kami takut bicara terlalu banyak. Karena kami jadi kehilangan kata-kata yang tepat bila suatu kelakar tidak pada tempatnya.”
“Aku tahu betul hal itu, kalau tidak aku tidak akan bicara denganmu dengan cara yang sama,” kata Aragorn. “Semoga Shire hidup selamanya dan tak pernah layu!” Sambil mencium Merry Ia pergi keluar, dan Gandalf pergi bersamanya.


Pippin masih tinggal di sana. “Pernah adakah orang seperti dia?” katanya. “Kecuali Gandalf, tentu. Bodohku yang kusayangi, ranselmu ada di samping tempat tidurmu, dan kau menyandangnya di punggungmu ketika aku bertemu denganmu. Pasti Strider sudah melihatnya selama berbicara denganmu. Selain itu, aku punya sedikit tembakau. Ayolah! Jenisnya Longbottom Leaf. Nikmatilah sambil aku mencari makanan. Lalu mari kita santai sejenak. Wah, wah! Kita kaum Took dan Brandybuck, kita tak bisa hidup lama di antara para petinggi.” “Tidak,” kata Merry. “Aku tak bisa. Setidaknya belum. Tapi setidaknya, Pippin, kita sekarang bisa melihat dan menghormati mereka. Sebaiknya memang mencintai apa yang pantas kita cintai: kita harus mulai di suatu tempat dan mempunyai akar, dan tanah Shire cukup dalam. Bagaimanapun, ada hal-hal yang lebih dalam dan tinggi; dan tak ada orang tua yang bisa merawat kebunnya

dengan tenang dan damai kalau bukan karena mereka, meski dia tahu atau tidak tentang mereka. Aku senang tahu sedikit tentang mereka. Tapi aku tidak tahu mengapa aku berbicara seperti ini. Di mana daunnya? Dan keluarkan pipaku dari ranselku, kalau belum patah.”


Aragorn dan Gandalf sekarang pergi ke Pengawas Rumah Penyembuhan, memberitahukan bahwa Faramir dan Eowyn harus tetap di sana dan masih harus dirawat dengan penuh perhatian untuk beberapa hari.
“Lady Eowyn,” kata Aragorn, “pasti ingin segera bangun dan pergi; tapi jangan izinkan dulu, kalau kau bisa menahannya dengan cara apa pun, sampai sekurang-kurangnya sepuluh hari.”
“Kalau Faramir,” kata Gandalf, “dia harus segera tahu bahwa ayahnya sudah mati. Tapi cerita selengkapnya tentang kegilaan Denethor jangan disampaikan dulu, sampai dia sudah sembuh dan harus bertugas. Jagalah agar Beregond dan perian yang berada bersamanya tidak membahas dulu hal-hal itu dengannya!” “Dan perian satunya, Meriadoc, yang ada dalam perawatanku, bagaimana dengan dia?” kata Pengawas.
“Mungkin besok pagi dia sudah cukup sehat untuk bangun sejenak,” kata Aragorn. “Biarkan dia bangun, kalau dia menghendakinya. Dia boleh berjalan- jalan sedikit, sambil diawasi teman-temannya.”
“Mereka bangsa yang hebat,” kata Pengawas, sambil menganggukkan kepala.

“Sangat kuat otot-ototnya.”



Di dekat pintu Rumah Penyembuhan sudah banyak orang berkerumun untuk melihat Aragorn, dan mereka mengikutinya ketika akhirnya ia makan malam, orang-orang berdatangan dan memohonnya untuk menyembuhkan saudara- saudara atau teman-teman mereka yang hidupnya terancam bahaya, karena terluka atau cedera, atau yang berada di bawah pengaruh Bayang-Bayang Hitam. Aragorn bangkit dan keluar, memanggil putra-putra Elrond, dan bersama- sama mereka bekerja keras sampai larut malam. Dan kabar yang menyebar di Kota, “Raja memang sudah datang.” Mereka menamakannya Elfstone, Permata

Peri, karena batu hijau yang dipakainya; dengan demikian, nama yang pada saat kelahirannya sudah diramalkan akan disandangnya, dipilih oleh rakyatnya sendiri.
Ketika sudah tak kuat lagi bekerja, Aragorn menutupi diri dengan jubahnya, dan menyelinap keluar dari kota, pergi ke kemahnya persis sebelum fajar, dan tidur sejenak. Pagi harinya papji Dol Amroth, kapal putih seperti bangsa di atas air biru, berkibar dari atas Menara. Orang-orang melihat ke atas dan bertanya-tanya apakah kedatangan Raja bukan hanya mimpi.

BAB 9

PERBINCANGAN TERAKHIR



Pagi setelah pertempuran ternyata cerah, dengan awan-awan ringan dan angin yang bertiup ke arah barat. Legolas dan Gimli sudah bangun pagi-pagi sekali, dan minta izin masuk ke Kota; mereka sudah tak sabar ingin bertemu Merry dan Pippin.
“Senang sekali mereka ternyata masih hidup,” kata Gimli, “demi mereka kita sudah bersusah payah melewati padang Rohan, dan aku tak ingin jerih payah semacam itu terbuang sia-sia.”
Bersama-sama, Peri dan Kurcaci masuk ke Minas Tirith, dan orang-orang yang melihat mereka kagum sekali memandang keduanya; karena wajah Legolas sangat elok, melampaui ukuran manusia, dan ia menyanyikan lagu Peri dengan suara jernih sambil berjalan di pagi hari itu; Gimli berjalan kaku di sampingnya, mengelus-elus janggutnya dan melihat-lihat sekeliling.
“Cukup banyak karya batu bagus di sini,” katanya sambil memandangi tembok- tembok, “tapi juga banyak yang kurang bagus, dan jalan jalan sebenarnya bisa dibuat lebih baik. Kalau Aragorn sudah menerima takhta yang menjadi haknya, aku akan menawarkan jasa para pengrajin batu dari pegunungan kepadanya, dan kami akan membuat kota ini patut dibanggakan.” .
“Mereka butuh lebih banyak kebun,” kata Legolas. “Rumah-rumah di sini mati, terlalu sedikit yang bertumbuh dan bersuka ria. Kalau Aragorn sudah menerima kembali takhta warisannya, penduduk Hutan akan membawakannya burung- burung yang bernyanyi dan pohon-pohon yang tidak akan mati.”


Akhirnya mereka bertemu Pangeran Imrahil. Legolas memandangnya dan membunekuk rendah, karena ia melihat bahwa darah Peri memang mengalir dalam diri pria itu. “Hidup, Lord!” katanya. “Sudah lama orang-orang Nimrodel meninggalkan hutan-hutan Lorien, tapi ternyata belum semua berlayar pergi dan pelabuhan Amroth ke barat, melintasi lautan.”
“Begitulah kabarnya dalam kisah-kisah kuno negeriku,” kata sang pangeran, “tapi

sudah bertahun-tahun di sana tak lagi terlihat salah satu bangsa Peri yang elok. Dan aku kagum sekali melihat satu di sini sekarang, di tengah-tengah duka dan peperangan. Apa yang kaucari?”
“Aku salah satu dari Sembilan Pejalan Kaki yang berangkat bersama Mithrandir dari Imladris,” kata Legolas, “dan bersama Kurcaci ini, temanku, aku datang bersama Lord Aragorn. Tapi kini kami ingin menjumpai kawan-kawan kami, Meriadoc dan Peregrin, yang berada di bawah kekuasaanmu, begitulah kami dengar.”
“Kalian akan menemukan mereka di Rumah Penyembuhan, dan aku akan mengantar kalian ke sana,” kata Imrahil.
“Sudah cukup bila kau mengirim salah seorang pemandu untuk mengantar kami, Lord,” kata Legolas. “Sebab Aragorn mengirimkan pesan ini padamu. Dia tidak mau masuk lagi ke Kota kali ini. Tapi para kapten perlu segera berunding, dan dia memohon agar kau dan Eomer datang ke kemahnya sesegera mungkin. Mithrandir sudah berada di sana.”
“Kami akan datang,” kata Imrahil; dan mereka berpisah dengan kata-kata sopan. “Dia seorang bangsawan gagah dan kapten hebat,” kata Legolas. “Kalau Gondor mempunyai orang-orang seperti dia di masa sedang surut kejayaannya, pasti kegemilangan mereka luar biasa di masa jaya.”
“Dan pasti karya-karya batu yang bagus berasal dari zaman yang lebih lama, dan dibuat dalam masa pembangunan pertama,” kata Gimli. “Selalu begitu halnya dengan benda-benda yang diawali oleh Manusia: ada embun beku di Musim Semi, atau kutukan di Musim. Panas, dan mereka tak bisa memenuhi janji mereka.”
“Tapi mereka jarang gagal dalam pembenihan,” kata Legolas. “Benihnya akan tersembunyi dalam debu dan membusuk, kemudian muncul lagi di saat dan di tempat yang tak terduga. Perbuatan-perbuatan Manusia akan melampaui masa hidup kita, Gimli.”
“Tapi kuduga pada akhirnya tidak akan menghasilkan apa pun, kecuali

kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbukti,” kata si Kurcaci. “Bangsa Peri tidak tahu jawaban atas ucapan itu,” kata Legolas.



Setelah berkata begitu, pelayan Pangeran datang dan mengantar mereka ke Rumah Penyembuhan; teman-teman mereka ada di kebun, dan pertemuan mereka sangat menggembirakan. Untuk beberapa saat mereka berjalan-jalan dan bercakap-cakap, bercengkrama sejenak dalam kedamaian pagi hari jauh tinggi di atas, di lingkar Kota yang berkelok-kelok itu. Ketika Merry letih, mereka pergi duduk di atas tembok, halaman hijau Rumah Penyembuhan terhampar di belakang; jauh di depan mereka, di sebelah selatan, Sungai Anduin kemilau dalam cahaya matahari, mengalir jauh hingga di luar batas penglihatan Legolas, sampai ke tanah datar dan kabut hijau Lebennin serta Ithilien Selatan.
Kini Legolas terdiam, sementara yang lain terus berbincang-bincang. la memandang menerawang menentang cahaya matahari, dan ketika itu Ia melihat burung-burung laut putih terbang di atas Sungai.
“Lihat!” teriaknya. “Burung camar! Mereka terbang jauh ke darat. Mengherankan sekaligus menyusahkan hati. Sepanjang hidupku belum pernah aku melihat mereka, sampai kita tiba di Pelargir, dan di sana aku mendengar mereka berteriak-teriak di udara ketika kita pergi ke pertempuran kapal-kapal. Lalu aku berdiri diam, lupa perang di Dunia Tengah; sebab suara mereka yang melengking kelu bercerita padaku tentang Laut. Laut! Sayang sekali! Aku belum pernah melihatnya. Tapi jauh di dalam hatiku dan semua saudaraku, ada kerinduan mendalam kepada Laut, yang berbahaya kalau dikobarkan. Sayang sekali! Gara-gara burung-burung camar itu, aku takkan bisa menemukan kedamaian lagi di bawah pohon elm maupun pohon beech.”
“Jangan berbicara begitu!” kata Gimli. “Masih banyak hal yang tak terhitung banyaknya untuk dilihat di Dunia Tengah, dan banyak perbuatan besar masih perlu dilakukan. Tapi kalau semua bangsa elok pergi ke Havens, dunia akan menjadi sangat menjemukan bagi mereka yang terpaksa tetap tinggal.” “Menjemukan dan suram!” kata Merry. “Jangan pergi ke Havens, Legolas. Akan selalu ada orang-orang, besar maupun kecil, bahkan kurcaci bijak seperti Gimli, yang membutuhkanmu. Setidaknya aku berharap begitu. Meski aku merasa bagian terburuk peperangan ini masih harus terjadi. Aku sangat berharap semua

ini sudah berlalu, dan berlalu dengan baik!”

“Jangan murung begitu!” seru Pippin. “Matahari bersinar, dan kita masih berkumpul, setidaknya untuk sehari dua hari. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang kalian semua. Ayo, Gimli! Kau dan Legolas sudah sering sekali menyebut-nyebut perjalanan kalian yang aneh bersama Strider, sepanjang pagi ini. Tapi kau belum menceritakan pun tentang itu. Matahari bersinar di sini,” kata Gimli, “tapi banyak kenangan jalan-jalan dalam kegelapan itu yang tak ingin kuingat kembali. Seandainya aku tahu apa yang menunggu di depanku, kurasa aku takkan mau mengambil Jalan Orang-Orang Mati, biar demi perbuatan mana pun.”
“Jalan Orang-Orang Mati?” kata Pippin. “Aku mendengar Aragorn mengatakan itu, dan aku bertanya-tanya apakah artinya. Tidakkah kau mau menceritakan lebih banyak?”
“Tidak dengan senang hati,” kata Gimli. “Sebab di jalan itu aku dipermalukan: Gimli putra Gloin, yang menganggap dirinya lebih tabah daripada Manusia, dan lebih ulet di bawah tanah daripada Peri. Tapi aku tak bisa membuktikan keduanya; aku tetap bertahan di jalan hanya karena dorongan tekad Aragorn.” “Juga karena rasa sayangmu padanya,” kata Legolas. “Semua yang megenalnya, menyayangi dia apa adanya, bahkan perawan dingin dari Rohirrim itu. Pagi-pagi sekali, di hari sebelum kau datang ke sana, Merry, ketika kami meninggalkan Dunharrow dan ketakutan mencekam semua orang, tak ada yang mau mengantar keberangkatan kami kecuali Lady Eowyn, yang sekarang cedera dan berbaring di Rumah Penyembuhan di bawah. Banyak duka dalam perpisahan itu, dan aku sedih melihatnya.”
“Aduh! Ternyata aku hanya memperhatikan diriku sendiri,” kata Gimli. “Sudah, sudah, jangan! Aku tidak mau membicarakan perjalanan itu.”
Ia terdiam, tapi Pippin dan Merry begitu bergairah ingin mendengar kisahnya, sampai akhirnya Legolas berkata, “Aku akan menceritakan secukupnya demi ketenangan kalian; sebab aku tidak merasakan kengerian, dan tidak takut pada bayangan manusia, karena kuanggap mereka tak berdaya dan lemah.”
Dengan cepat Ia menceritakan jalan angker dan berhantu di bawah pegunungan,

pertemuan gelap di Erech, dan perjalanan berkuda yang panjang sesudahnya, sembilan puluh tiga league ke Pelargir di Anduin. “Empat hari empat malam, terus sampai malam kelima, kami berkuda dari Batu Hitam,” katanya. “Dan aneh! Justru dalam kegelapan Mordor harapanku bangkit; sebab dalam kegelapan itu Pasukan Bayangan malah semakin kuat dan lebih mengerikan untuk dilihat. Kulihat beberapa di antara mereka berkuda, beberapa berjalan kaki, tapi semuanya bergerak dengan kecepatan tinggi yang sama. Mereka di air, tapi mata mereka bersinar-sinar. Di dataran tinggi Lamedon mereka menyusul kuda- kuda kami, dan berjalan di sekitar kami, dari sudah akan mendahului kami kalau tidak dilarang oleh Aragorn.”
“Atas perintahnya mereka menahan langkah sampai berjalan di belakang kami. Bahkan bayang-bayang Manusia pun menaati kehendak Aragorn, begitu pikirku. Mungkin mereka masih akan berguna untuk melayaninya!”
“Kami meneruskan perjalanan di suatu hari yang penuh cahaya, kemudian datanglah hari tanpa fajar, dan kami masih terus melaju, melintasi Ciril dan Ringlo; hari ketiga kami sampai ke Linhir di atas mulut Gilrain. Di sana orang- orang Lamedon sedang memperebutkan arungan dengan orang-orang jahat dari Umbar dan Harad yang berlayar di sungai. Tapi pembela dan musuh sama-sama menghentikan pertempuran dan melarikan diri ketika kami datang, sambil berteriak bahwa Raja Kematian menyerang mereka. Hanya Angbor, Penguasa Lamedon, yang berani mematuhi kami; dan Aragorn memintanya mengumpulkan rakyatnya dan mengikuti kami, kalau berani, setelah Pasukan Kelabu lewat.”
“'Di Pelargir, pewaris Isildur membutuhkanmu,”' katanya.

“Jadi kami melintasi Gilrain, mendorong sekutu-sekutu Mordor bergerak mundur di depan kami; lalu kami istirahat sebentar. Tapi tak lama kemudian Aragorn bangkit, sambil berkata, 'Lihat! Minas Tirith sudah diserbu. Aku khawatir dia sudah jatuh sebelum kita sampai ke sana.' Maka kami berangkat lagi sebelum malam lewat, dan pergi dengan kecepatan paling tinggi, sekuat kuda kami bisa bertahan di padang-padang Lebennin.”
Legolas diam sejenak dan mengeluh, sambil menengok ke selatan perlahan Ia bernyanyi,



Bagai perak mengalir sungai dari Celos ke Erui

Di padang hijau Lebennin!

Rumput tinggi tumbuh di sana. Dalam tiupan angin Laut

Bunga lili putih bergoyang,

Dan lonceng-lonceng emas pun berguguran

Di padang-padang hyau Lebennin

Dalam embusan angin dari Laut!



“Padang-padang itu hijau dalam lagu-lagu bangsaku; tapi saat itu ternyata warnanya gelap, tanah gersang kelabu dalam kegelapan di depan kami. Dan melintasi daratan luas, sambil menginjak rumput dan bunga tanpa peduli, kami memburu musuh sehari semalam, sampai akhirnya kami tiba di Sungai Besar.” “Dalam hati kupikir kami sudali mendekati Laut; sebab dalam kegelapan airnya tampak sangat luas, burung-burung laut yang tak terhitung banyaknya berteriak di pantainya. Aduh, ratapan burung-burung camar! Bukankah sang Lady sudah memperingatkan aku untuk waspada terhadapnya? Dan kini aku tak bisa melupakannya.”
“Kalau aku, aku tidak memperhatikan mereka,” kata Gimli, “sebab akhirnya kami terlibat pertempuran serius. Di Pelargir armada utama Umbar berlabuh, lima puluh kapal besar dan kapal-kapal lebih kecil yang tak terhitung banyaknya. Banyak di antara mereka yang kami kejar sudah mencapai pelabuhan lebih dulu, dengan membawa serta perasaan takut mereka; beberapa kapal sudah berangkat, berupaya lolos lewat sungai atau untuk mencapai pantai seberang; banyak kapal yang lebih kecil sudah terbakar. Tapi kaum Haradrim, yang sekarang sudah terdorong sampai ke tebing, tetap bertahan, dan dalam keputusasaan mereka menjadi sangat garang; mereka menertawakan kami ketika melihat kami, karena pasukan mereka masih besar sekali.”
“Tapi Aragorn berhenti dan berteriak lantang, 'Sekarang maju! Demi Batu Hitam aku memanggil kalian!' Dan mendadak Pasukan Bayang-Bayang yang berjalan di belakang selama ini, muncul bagai gelombang pasang kelabu, menyapu

bersih semua yang menghalangi. Aku mendengar teriakan samar-samar, dan gumaman seperti suara-suara dari jauh, bagai gema pertempuran yang sudah terlupakan di Tahun-Tahun Kegelapan lama berselang. Pedang-pedang pucat dihunus, tapi aku tidak tahu apakah mata pedang itu masih bisa menusuk, sebab Orang-Orang Mati tidak membutuhkan senjata apa pun kecuali rasa takut. Tak ada yang bisa bertahan melawan mereka.”
“Mereka mendekati setiap kapal yang sedang berlayar, lalu mengarungi air untuk mendekati kapal-kapal yang tertambat; semua pelaut terserang kegilaan karena ngeri dan mereka pun melompat keluar, kecuali para budak yang terikat pada dayung-dayung. Dengan nekat kami melaju menerobos musuh-musuh yang berlarian, mendorong mereka bagai daun-daun, sampai kami tiba di pantai. Lalu Aragorn mengirim satu Dunedain ke setiap kapal yang masih tertinggal, dan mereka menenangkan tawanan-tawanan yang ada di atasnya, meminta para tawanan menghilangkan rasa takut dan membebaskan diri.”
“Sebelum hari gelap itu berakhir, tak ada lagi musuh tersisa yang akan melawan kami; semuanya sudah tenggelam, atau lari ke selatan dengan harapan akan sampai ke negeri mereka sendiri dengan berjalan kaki. Menurutku aneh dan hebat sekali bahwa rencana Mordor malah dikalahkan oleh hantu-hantu ketakutan dan kegelapan. Dengan senjatanya sendiri dia digulingkan.”
“Memang aneh sekah,” kata Legolas. “Saat itu aku menatap Aragorn dan berpikir bahwa dia bisa menjadi penguasa hebat dan dahsyat dengan kehendaknya yang kuat, seandainya dia mengambil cincin itu untuk dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan Mordor takut kepadanya. Tapi jiwanya lebih mulia daripada yang bisa dipahami Sauron; sebab bukankah dia keturunan Luthien? Garis keturunan itu takkan pernah gagal, meski zaman bergulir tanpa akhir.”
“Ramalan-ramalan semacam itu ada di luar kemampuan mata kaum Kurcaci,” kata Gimli. “Tapi memang Aragorn hari itu sangat hebat. Lihat! Seluruh armada hitam ada di tangannya; dia memilih kapal terbesar untuk dirinya sendiri, dan dia naik ke dalamnya. Lalu dia menyuruh bunyikan sederet terompet yang direbut dari musuh; dan Pasukan Bayang-Bayang mundur ke pantai. Di sana mereka berdiri diam, nyaris tak tampak, kecuali sinar merah di mata mereka yang

menangkap nyala api yang membakar kapal-kapal. Dan Aragorn berbicara dengan suara nyaring kepada Orang-orang Mati; teriaknya,”
“Dengarkan sekarang kata-kata Pewaris Isildur! Sumpahmu sudah terpenuhi. Kembalilah dan jangan pernah mengganggu lembah lagi! Pergilah dan istirahatlah dengan tenang!”
“Setelah itu Raja Orang-Orang Mati berdiri di depan pasukannya, mematahkan tombaknya dan membuangnya. Lalu Ia membungkuk dan membalikkan badan; dengan cepat seluruh pasukan kelabu pergi, menghilang bagai kabut ditiup angin mendadak; dan aku merasa seperti terbangun dari mimpi.”
“Malam itu kami istirahat sementara yang lainnya bekerja keras. Banyak tawanan dibebaskan, dan banyak budak dilepaskan, yang pernah menjadi penduduk Gondor dan diangkut ketika terjadi serangan-serangan; segera saja banyak orang dari Lebennin dan Ethir berkumpul, dan Angbor dari Lamedon datang bersama semua orang berkuda yang bisa dikumpulkannya. Ketika ketakutan pada Orang-Orang Mati sudah hilang, mereka datang untuk membantu kami dan untuk melihat Pewaris Isildur; sebab selentingan tentang nama itu sudah menjalar seperti nyala api dalam gelap.”
“Kita hampir sampai ke akhir cerita. Karena sepanjang sore dan malaln itu banyak kapal dipersiapkan dan dipenuhi awak kapal; di pagi hari berangkatlah armada itu. Rasanya sudah lama berlalu, padahal baru pagi sebelum kemarin, hari keenam sejak kami berangkat dari Dunharrow. Tapi Aragorn masih khawatir bahwa waktu sudah terlalu pendek.”
“'Masih empat puluh league dari Pelargir sampai ke dermaga Sarlonct, Katanya. bagaimanapun, kita harus sampai ke Hariond besok, atau gagal sama sekali.” “Kini dayung-dayung sudah dikayuh oleh orang-orang bebas, dan mereka bekerja keras; namun kami menganmgi Sungai Besar dengan sangat lambat, karena kami melawan arus, dan meski arusnya tidak begitu deras di Selatan, tak ada bantuan angin. Kalau saja Legolas tidak tertawa mendadak, hatiku sebenarnya terasa berat sekali, meski semua kemenangan sudah kami raih di pelabuhan.”
“Ayo tegakkan janggutmu, putra Durin!” katanya. “Sebab ada ungkapan begini:

Sering harapan lahir ketika semua sudah hilang. Tapi harapan apa yang sudah dilihatnya dari jauh, dia tidak mau katakan. Ketika malam tiba, kegelapan malah semakin pekat, dan hati kami sangat panas, sebab jauh di Utara kami melihat cahaya merah di bawah awan, dan Aragorn berkata, 'Minas Tirith terbakar.’”
“Tapi tengah malam harapan baru timbul. Pelaut-pelaut dari Ethir yang memandang ke selatan, mengatakan ada perubahan dengan datangnya angin segar dan Laut. Jauh sebelum fajar kapal-kapal membentangkan layar, dan kecepatan kami bertambah, sampai fajar memutihkan buih di haluan kapal kami. Dan demikianlah, seperti sudah kauketahui, kami datang di jam ketiga pagi hari dengan angin bagus dan membawa matahari, dan kami pun menggelar panji besar dalam pertempuran. Hari dan jam yang hebat, apa pun yang akan terjadi sesudahnya.”
“Apa pun yang akan terjadi nanti, perbuatan besar tidak berkurang nilainya,” kata Legolas. “Menapaki Jalan Orang-Orang Mati adalah perbuatan besar, dan tetap akan besar, meski takkan ada orang tersisa di Gondor yang bisa menyanyikan lagu tentang itu di masa-masa mendatang.”
“Dan itu sangat mungkin terjadi,” kata Gimli. “Karena wajah Aragorn dan Gandalf sangat suram. Aku sangat ingin tahu apa yang dibahas di tenda-tenda di bawah. Aku sendiri, seperti mereka, sangat berharap bahwa dengan kemenangan ini perang sudah berakhir. Tapi apa pun yang masih harus dilakukan, aku berharap masih bisa berperan serta, demi kehormatan bangsa dari Gunung Sunyi.”
“Dan aku, demi bangsa dari Hutan Besar,” kata Legolas, “dan demi cinta kepada

Pohon Putih.”

Lalu para sahabat itu terdiam, tapi untuk beberapa saat mereka duduk saja di tempat tinggi itu, masing-masing asyik merenung sendiri, sernentara para Kapten berembuk.


Ketika Pangeran Imrahil berpisah dengan Legolas dan Gimli, ia segera memanggil Eomer; berdua mereka keluar dari Kota, dan datang ke kemah Aragorn yang didirikan di padang tak jauh dari tempat Raja Theoden jatuh. Di sana mereka berembuk dengan Gandalf dan Aragorn serta putra-putra Elrond.

“Tuan-Tuan,” kata Gandalf, “dengarkan kata-kata Pejabat Gondor sebelum dia meninggal: Mungkin kau menang di padang Pelennor untuk sehari, tapi melawan Kekuatan yang sekarang sudah bangkit, takkan ada kemenangan. Aku tak meminta kalian putus asa seperti dia, tapi kuminta renungkanlah kebenaran yang terkandung dalam kata-kata itu.
“Batu Penglihatan tidak berbohong, bahkan Penguasa Barad-dur tak bisa memaksa mereka melakukannya. Dengan kehendaknya dia bisa memilih hal-hal yang bisa terlihat oleh pikiran yang lebih lemah, atau menyebabkan mereka salah paham tentang makna hal yang mereka lihat. Namun tak diragukan lagi bahwa ketika Denethor melihat kekuatan besar sudah disusun di Mordor untuk menentangnya, dan lebih banyak lagi kekuatan sedang dikumpulkan, dia memang melihat yang sebenarnya terjadi.”
“Kekuatan kita nyaris tak cukup untuk menepis serangan besar pertama. Yang berikutnya akan lebih besar. Kalau begitu perang ini tanpa harapan, seperti dilihat Denethor. Kemenangan tak bisa dicapai dengan senjata, entah kau duduk di sini untuk menahan serangan demi serangan, atau maju keluar sampai kewalahan di seberang sungai. Kau hanya punya pilihan yang semuanya buruk; kalau kau bijaksana, kau akan memperkuat tempat-tempat pertahanan kuat yang sudah kaupunyai, dan menunggu serangan di sana; dengan demikian kau punya waktu lebih panjang menjelang akhir.”
“Kalau begitu maksudmu kita harus mundur ke Minas Tirith, atau Dol Amroth, atau ke Dunharrow, dan duduk di sana seperti anak-anak kecil di atas istana pasir sementara gelombang pasang sudah datang?” kata Imrahil.
“Itu bukan saran baru,” kata Gandalf. “Bukankah ini yang kaulakukan, dan tak

lebih daripada itu di masa pemerintahan Denethor? Tapi tidak! Tadi kukatakan ini tindakan bijaksana. Tapi aku bukan menyarankan kebijaksanaan. Kukatakan bahwa kemenangan tak bisa diraih dengan senjata. Aku masih mengharapkan kemenangan, tapi bukan dengan senjata. Karena di tengah semua rencana ini ada Cincin Kekuasaan, fondasi Barad-dur, dan harapan Sauron.”
“Tentang benda ini, Tuan-Tuan, sekarang kalian semua sudah tahu cukup banyak untuk memahami keadaan kita, dan keadaan Sauron. Kalau dia berhasil

mengambilnya kembali, maka keberanian kalian sia-sia, dan kemenangannya akan cepat dan sempurna: begitu sempurna sehingga tak ada yang bisa meramal akhirnya, sementara dunia ini masih bertahan. Kalau Cincin itu dihancurkan, dia akan jatuh; dan kejatuhannya akan begitu rendah sampai tak ada yang bisa meramal kebangkitannya lagi. Dia akan kehilangan bagian terbesar kekuatan aslinya yang dia miliki pada awalnya, dan semua yang dibuat atau diawali dengan kekuatan itu akan runtuh, dan dia akan runtuh selamanya, menjadi roh jahat yang menggerogoti dirinya sendiri dalam kegelapan, tapi tak bisa lagi tumbuh atau mengambil wujud. Dengan demikian kejahatan besar di dunia ini akan tersingkir.”
“Masih ada kejahatan lain yang bisa datang; karena Sauron sendiri hanya seorang pelayan atau utusan. Tapi bukan peran kita untuk menguasai semua gelombang pasang dunia ini; cukuplah kita bertindak sesuai kemampuan demi membantu masa di mana kita ditempatkan, membasmi kejahatan di padang- padang yang kita kenal, agar mereka yang hidup setelah kita bisa mengolah tanah yang bersih. Cuaca apa yang akan mereka alami, sudah bukan lagi dalam kekuasaan kita.”
“Sauron sudah tahu semua ini, dan dia tahu bahwa benda berharga yang hilang darinya sudah ditemukan; tapi dia belum tahu di mana benda itu berada, atau begitulah harapanku. Jadi, sebenamya dia bimbang. Sebab kalau kita sudah menemukan benda ini, maka di antara kita ada yang memiliki kekuatan cukup besar untuk menggunakannya. Kalau aku tidak salah duga, Aragorn, kau sudah menunjukkan dirimu padanya dalam Batu Orthanc?”
“benar, sebelum aku pergi ke Hornburg,” jawab Aragorn. “Kuanggap sudah saatnya, dan bahwa batu itu datang padaku untuk tujuan itu. Waktu itu sudah sepuluh hari sejak Pembawa Cincin pergi ke timur dari Rauros, dan kupikir Mata Sauron harus ditarik keluar dari negerinya sendiri. Terlalu jarang dia ditantang sejak dia kembali ke Menara-nya. Meski seandainya aku tahu betapa cepat serbuannya datang sebagai balasan, mungkin aku takkan beram menunjukkan diri. Sangat singkat waktu yang diberikan padaku untuk datang membantumu.” “Tapi bagaimana ini?” tanya Eomer. “Semuanya sia-sia, katamu, kalau dia

memegang Cincin. Mengapa bukan dia yang berpikir semua akan sia-sia kalau

kita yang memegang Cincin?”

“Dia belum yakin,” kata Gandalf, “dan dia tidak membangun kekuatannya dengan menunggu sampai semua musuhnya menjadi kuat, seperti yang kita lakukan. Begitu juga kita tak mungkin belajar bagaimana menggunakan kekuatan itu sepenuhnya dalam waktu singkat. Memang kekuatan itu hanya bisa digunakan oleh satu penguasa, bukan oleh banyak pihak sekaligus; dan dia akan mencari saat pertikaian, sebelum salah satu orang hebat di antara kita menjadikan dirinya penguasa dan mencampakkan yang lainnya. Di saat seperti itu, Cincin bisa membantunya, kalau dia bertindak mendadak.”
“Dia sedang memperhatikan. Dia melihat dan mendengar banyak; Nazgul-nya masih berkeliaran. Mereka melintasi padang ini sebelum matahari terbit, meski hanya sedikit di antara yang letih dan tidur yang menyadari kehadiran mereka. Dia mempelajari tanda-tanda: Pedang yang merebut hartanya sudah ditempa kembali; angin keberuntungan berbalik menguntungkan kita, dan kekalahan tak terduga menimpanya dalam serangannya yang pertama; kejatuhan Kapten-nya yang hebat.”
“Keraguannya akan semakin bertambah, bahkan saat kita berbincang di sini. Matanya sekarang tertuju ke arah kita, hampir buta terhadap semua hal lain yang bergerak. Kita harus berusaha mempertahankan situasi ini. Di situlah terletak harapan kita. Begini saranku, Cincin itu tak ada pada kita. Entah bijaksana atau bodoh, kita sudah mengirimkannya untuk dihancurkan, agar benda itu tidak menghancurkan kita. Tanpa Cincin itu kita tak bisa mengalahkan kekuatannya dengan kekuatan juga. Tapi bagaimanapun kita harus mengalihkan matanya dari bahaya yang sebenarnya mengancam dia. Kita tak bisa meraih kemenangan dengan senjata, tapi dengan senjata kita bisa memberikan kesempatan satu- satunya pada Pembawa Cincin, meski lemah sekali.”
“Seperti sudah dimulai oleh Aragorn, dengan cara itulah kita harus melanjutkannya. Kita harus mendesak Sauron sampai ke lemparan dadunya yang terakhir. Kita harus menarik keluar kekuatannya yang tersembunyi, agar dia mengosongkan negerinya. Kita harus segera pergi menantangnya. Kita harus

memasang diri kita sebagai umpan, meski rahangnya akan dia katupkan untuk menelan kita. Dia pasti akan menangkap umpan itu, dengan penuh harap dan keserakahan, karena dia akan mengira bahwa Penguasa Cincin yang baru, dengan penuh kesombongan akan bertindak sembrono, dan dia akan berkata,
'Nah! Dia sudah terlalu berani dan terlalu cepat menjulurkan lehernya. Biarkan dia maju terus, dan lihat saja nanti, aku akan menjebaknya ke dalam perangkap, dan dia takkan bisa lolos. Lalu aku akan menghancurkannya, dan apa yang sudah diambilnya dengan begitu kurang ajar, akan menjadi milikku lagi selamanya.”
“Kita harus masuk ke dalam jebakan itu dengan mata terbuka, dengan keberanian, tanpa banyak harapan bagi diri kita sendiri. Sebab, Tuan-Tuan, sangat mungkin terjadi bahwa kita sendiri akan binasa dalam pertempuran berat, jauh dari negeri orang-orang hidup; kalaupun Barad-dur hancur, kita pun takkan hidup untuk menyaksikan zaman baru. Tapi menurutku inilah tugas kita. Dan lebih baik begitu, daripada binasa tanpa perlawanan kita akan binasa kalau hanya duduk di sini dan menyadari di saat kematian bahwa takkan ada zaman baru.”


Mereka diam selama beberapa saat. Akhirnya Aragorn berbicara. “Aku akan meneruskan apa yang sudah kumulai. Sekarang kita sudah sampai ke ujung, di mana harapan dan keputusasaan menjadi sama. Bila ragu, kita akan jatuh. Janganlah kita menolak saran-saran Gandalf, di saat upaya kerasnya untuk menentang Sauron akan diuji. Kalau bukan karena dia, semuanya sudah sejak lama binasa. Tapi aku tidak memerintah siapa pun. Silakan memilih sesuai kehendak masing-masing.”
Lalu Elrohir berkata, “Kami datang dari Utara dengan tujuan ini, dan Elrond ayah kami juga memberikan saran yang sama. Kami tidak akan mundur.”
“Kalau menyangkut diriku,” kata Eomer, “aku tak punya cukup pengetahuan tentang masalah-masalah berat seperti ini; tapi sebenarnya aku tidak membutuhkannya. Sudah cukup bagiku bahwa temanku Aragorn membantuku dan rakyatku,. maka aku akan membantunya bila dia memintaku. Aku akan pergi

bersamanya.”

“Sedangkan aku,” kata Imrahil, “bagiku Lord Aragorn adalah penguasaku yang harus kutaati, entah dia menuntut atau tidak. Bagiku harapannya adalah perintah. Aku juga akan pergi. Tapi untuk sementara ini, aku menggantikan kedudukan Pejabat Gondor, dan pertama-tama aku harus memikirkan nasib rakyatnya. Kebijaksanaan masih perlu diperhatikan. Kita harus siap menghadapi segala kemurigkinan, baik maupun buruk. Nah, mungkin kita akan memperoleh kemenangan, dan sementara masih ada harapan, Gondor harus dilindungi. Aku tak ingin kita kembali dengan membawa kemenangan ke Kota yang sudah menjadi puing dan negeri yang porak-poranda di belakang kita. Sedangkan dari kaum Rohirrim kita dengar masih ada pasukan di sisi utara yang belum kita lawan.”
“Benar sekali,” kata Gandalf. “Aku tidak menyarankan kau meninggalkan kota tanpa pasukan bersenjata sama sekali. Bahkan kekuatan yang akan kita bawa ke timur tak perlu besar untuk serangan Sungguh-sungguh ke Mordor; cukuplah sekadar untuk menantang bertempur. Dan pasukan itu harus segera bergerak. Karena itu aku bertanya kepada para Kapten: kekuatan macam apa yang bisa kita kerahkan dan berangkatkan paling lambat dalam waktu dua hari?” Mereka haruslah orang-orang tabah yang pergi dengan sukarela, dan tahu bahaya yang mengancam.”
“Semuanya letih, banyak sekali yang terluka, ringan ataupun parah,” kata Eomer, “kita juga kehilangan sejumlah besar kuda, dan itu sulit diatasi. Kalau kita harus segera pergi, rasanya tak mungkin aku bisa menyertakan dua ribu orang, sekaligus menyiapkan orang sama banyaknya untuk mempertahankan Kota.” “Bukan hanya mereka yang bertempur di padang sini, yang perlu dihitung,” kata Aragorn. “Kekuatan baru sedang dalam perjalanan dari padang-padang selatan, karena pantai-pantai sudah disapu bersih dari musuh. Sudah empat ribu yang kusuruh berjalan dari Pelargir melalui Lossarnach, dua hari yang lalu; dan Angbor si pemberani berjalan di depan mereka. Kalau kita berangkat dua hari lagi, mereka pasti sudah berada dekat sini sebelum kita berangkat. Lagi pula, banyak yang sudah kuminta mengikuti aku mengarungi Sungai, naik kapal apa

saja yang bisa mereka kumpulkan; dengan angin ini mereka akan segera tiba, bahkan beberapa kapal sudah tiba di Hariond. Menurut perkiraanku kita bisa mengantar sekitar tujuh ribu yang berkuda maupun berjalan kaki, dan masih bisa meninggalkan Kota dengan pertahanan lebih kuat daripada ketika pertama kali serangan musuh dimulai.”
“Gerbang sudah hancur,” kata Imrahil, “dan di mana kita bisa menemukan ahli-

ahli untuk membangunnya kembali?”

“Di Erebor, di Kerajaan Dain, ada orang-orang yang memiliki keahlian itu,” kata Aragorn. “Kalau semua harapan kita tidak musnah, pada waktunya aku akan mengirim Gimli putra Gloin untuk meminta bantuan tukang-tukang dari pegunungan. Tapi lebih baik mengandalkan manusia daripada gerbang; tak ada gerbang yang bisa bertahan terhadap Musuh kalau orang-orang kita sudah meninggalkannya.”


Demikianlah akhir perbincangan para penguasa: bahwa mereka akan berangkat di pagi hari kedua sejak hari itu, dengan tujuh ribu orang, kalau ada; sebagian besar pasukan ini akan berjalan kaki, mengingat keadaan berbahaya di negeri yang akan mereka datangi. Aragon akan mencari sekitar dua ribu orang yang sudah dikumpulkannya di Selatan; Imrahil akan mencari tiga ribu lima ratus; sedangkan Eomer lima ratus dari kaum Rohirrim yang tidak berkuda, tapi layak bertempur dan ia sendiri akan memimpin lima ratus Penunggang terbaiknya dengan berkuda; akan ada satu pasukan lain yang terdiri atas lima ratus kuda, di antaranya adalah putra-putra Elrond bersama kaum Dunedain dan ksatria-ksatria Dol Amroth; seluruhnya berjumlah enam ribu pejalan kaki dan seribu penunggang kuda. Tapi kekuatan utama Rohirrim yang masih berkuda dan mampu bertempur, sekitar tiga ribu di bawah pimpinan Elfhelm, akan mempertahankan Jalan Barat untuk mencegat musuh yang berada di Anorien. Penunggang-penunggang yang bergerak cepat akan segera dikirimkan untuk mengumpulkan berita-berita yang bisa diperoleh di utara; serta di timur mulai dari Osgiliath, dan dari jalan-ke ini nas.Tirith.
Sesudah mereka selesai menghitung seluruh kekuatan dan memikirkan masak-

masak perjalanan yang harus dilakukan, serta jalan yang harus dipilih, tiba-tiba

Imrahil tertawa keras.

“Ini benar-benar lelucon terbesar sepanjang sejarah Gondor,” serunya, “bahwa kita akan maju perang dengan tujuh ribuan orang, yang sangat kurang dibanding barisan terdepan pasukan bersenjata di masa jayanya. Dengan pasukan seperti itu kita akan menyerang pegunungan dan gerbang Negeri Hitam yang tak bisa diterobos! Seperti anak kecil dengan busur panah mainan dari tali dan willow hijau, mengancam seorang ksatria perang berbaju best! Kalau Penguasa Kegelapan tahu sebanyak yang kaukatakan, Mithrandir, tidakkah dia bakal tersenyum daripada merasa takut, dan dengan jari kelingkingnya dia akan menggerus kita bagai lebah yang mencoba menyengatnya?”
“Tidak, dia akan mencoba menjebak lebah itu dan menerima sengatannya,” kata Gandalf. “Dan di antara kita ada tokoh-tokoh yang lebih berharga daripada seribu ksatria berbaju besi. Tidak, dia tidak akan tersenyum.”
“Kita juga tidak akan tersenyum,” kata Aragorn. “Kalau ini sebuah lelucon, maka

ini terlalu pahit untuk ditertawakan. Bukan, ini adalah gerakan terakhir dalam keadaan bahaya besar, dan akan merupakan akhir permainan bagi salah satu pihak.” Lalu Ia menghunus Anduril, dan pedang itu tampak kemilau ketika Ia mengacungkannya di bawah matahari. “Kau tidak akan disimpan lagi sampai pertempuran terakhir selesai,” katanya.

BAB 1 0

GERBANG HITAM TERBUKA



Dua hari kemudian pasukan Barat sudah berkumpul di Pelennor. Pasukan- pasukan Orc dan Easterling sudah kembali dari Anorien, tapi karena mereka dikejar dan tercerai-berai oleh kaum Rohirrim, akhirnya mereka bubar dan lari tanpa banyak perlawanan ke Cair Andros; dengan dihancurkannya ancaman itu dan adanya pasukan baru dari Selatan, Kota mempunyai pertahanan kuat. Para pengintai melaporkan bahwa tak ada musuh tertinggal di jalan jalan ke arah timur, sampai sejauh persimpangan jalan Raja jatuh. kini semuanya sudah siap untuk lemparan dadu terakhir.
Legolas dan Gimli akan naik kuda bersama-sama lagi dalam rombongan Aragorn dan Gandalf, yang pergi di barisan depan bersama kaum Diinedain dan putra- putra Elrond. Tapi Merry sangat malu karena tidak ikut dengan mereka.
“Kau tidak cukup sehat untuk perjalanan seperti ini,” kata Aragorn. “Tapi jangan

merasa malu. Kalaupun kau tidak ambil bagian lagi dalam perang ini, kau sudah cukup memperoleh kehormatan. Peregrin yang akan pergi mewakili rakyat Shire; dan jangan iri padanya karena mendapat kesempatan menentang bahaya, sebab meski perbuatannya sudah cukup baik sesuai yang diizinkan nasibnya, dia masih perlu menyamai jasa-jasamu. Tapi sesungguhnya semua berada dalam bahaya yang sama besarnya. Meski kami akan menemui akhir yang pahit di depan Gerbang Mordor, kau pun akan menghadapi pertempuran terakhir, di sini atau di mana pun gelombang pasang hitam menyusulmu. Selamat tinggal!” Demikianlah Merry dengan sedih berdiri memperhatikan persiapan bala tentara itu. Bergil mendampinginya, dan ia juga sedih, sebab ayahnya akan berangkat memimpin sebuah pasukan Penduduk Kota: Beregond belum bisa bergabung kembali dengan para pengawal sampai kasusnya diadili. Dalam pasukan itu pula Pippin akan pergi, sebagai serdadu dari Gondor. Merry bisa melihatnya berdiri tak jauh dari sana, sosok kecil tapi tegak di antara manusia-manusia jangkung dari Minas Tirith.
Akhirnya terompet-terompet berbunyi dan bala tentara itu mulai bergerak.

Pasukan demi pasukan, kompi demi kompi, mereka pergi ke arah timur. Lama setelah mereka hilang dari pandangan, melewati jalan besar menuju Jalan Lintas, Merry masih berdiri di sana. Kilatan cahaya terakhir pada tombak dan topi baja berkelip lenyap, dan ia masih juga berdiri dengan kepala tertunduk dan hati sedih, merasa tanpa teman dan kesepian. Semua yang dikasihinya sudah pergi ke dalam kesuraman yang menggantung di langit timur nun jauh di sana; dan rasanya sangat tipis harapan bahwa Ia akan berjumpa lagi dengan mereka.
Rasa pedih di lengannya kembali terasa, seolah dibangkitkan oleh rasa putus asa di hatinya; Ia merasa lemah dan tua, dan cahaya matahari seakan-akan begitu tipis. la terbangun karena tangan Bergil menyentuhnya.
“Ayo, Master Perian!” kata anak itu. “Kau masih kesakitan, rupanya. Aku akan mengantarmu kembali ke para Penyembuh. Dan jangan khawatir! Mereka, pasti kembali. Orang-orang Minas Tirith tidak akan pernah dikalahkan, kini mereka mempunyai Lord Elfstone, juga Beregond dari pasukan Pengawal.”


Sebelum tengah hari bala tentara itu sampai di Osgiliath. Di sana semua pekerja dan pengrajin yang bisa dikumpulkan sedang sibuk. Beberapa sedang memperkuat kapal tambang dan jembatan jembatan yang dibuat oleh musuh dan sebagian dirusak oleh mereka ketika mereka lari; beberapa lagi mengumpulkan perbekalan dan barang rampasan; dan yang lain, di sisi timur di seberang Sungai, sedang membangun pertahanan dengan tergesa-gesa.
Barisan depan berjalan melewati reruntuhan Gondor Lama, melintasi Sungai yang lebar, dan terus berjalan melalui jalan panjang lurus yang di masa jaya Gondor dibuat untuk menghubungkan Menara Matahari yang indah ke Menara Bulan yang tinggi, yang kini sudah menjadi Minas Morgul di lembahnya yang terkutuk. Lima mil setelah keluar dari Osgiliath mereka berhenti, mengakhiri perjalanan hari pertama.
Tapi pasukan berkuda maju terus, dan sebelum malam tiba mereka sampai ke persimpangan jalan dan lingkaran besar pepohonan; semuanya sepi. Mereka tidak melihat tanda-tanda adanya musuh, tidak mendengar teriakan atau panggilan, tidak ada panah yang melesat dari batu karang atau semak-semak di

sepanjang jalan, tapi ketika berjalan maju mereka merasakan kewaspadaan negeri itu semakin bertambah. Pohon dan batu, rumput dan daun sedang mendengarkan dengan penuh perhatian. Kegelapan sudah disingkirkan, dan jauh di sebelah barat matahari sedang terbenam di atas Lembah Anduin, puncak-puncak putih pegunungan memerah di angkasa biru; tapi sebuah bayangan gelap dan kemuraman menunggu di atas Ephel Duath.
Lalu Aragorn menempatkan peniup terompet di masing-masing empat jalan yang masuk ke dalam lingkaran pepohonan; mereka meniup dengan nyaring, dan para bentara menyambut dengan berteriak keras, “Para Penguasa Gondor sudah kembali, mengambil hak atas seluruh wilayah negeri milik mereka ini.” Kepala Orc yang menjijikkan, yang telah diletakkan di atas badan patting raja, digulingkan dan hancur berkeping-keping, dan pahatan kepala raja yang lama diangkat dan diletakkan kembali di tempatnya. Kepala itu masih bermahkotakan bunga-bunga, putih dan emas, beberapa orang mencuci dan menghapus coretan-coretan keji yang sudah dibubuhkan para Orc pada patung batu itu. Dalam perembukan terakhir, ada yang mengusulkan agar Minas Morgul diserang lebih dulu, dan jika mereka berhasil menumbangkannya, maka perlu dimusnahkan seluruhnya. “Dan mungkin,” kata Imrahil, “jalan yang menuju ke sana, ke jalan lintas di atas, akan lebih mudah dilalui untuk menyerang Penguasa Kegelapan daripada gerbangnya di sisi utara.”
Tapi Gandalf menolak tegas usul itu, karena lembah itu dipenuhi kekuatan kejahatan sedemikian rupa, sehingga pikiran orang hidup bisa diseran.g kegilaan dan kengerian; alasan lain adalah berita yang dibawa Faramir. Jika benar Penyandang Cincin sudah mengambil jalan itu, justru jangan sampai mereka menarik perhatian Mata dari Mordor ke arah tersebut. Maka hari berikutnya, ketika pasukan utama sudah datang, mereka menempatkan penjagaan kuat di atas Persimpangan Jalan untuk pertahanan, seandainya Morgul mengirimkan kekuatannya lewat Celah Morgul, atau membawa lebih banyak orang dari Selatan. Untuk penjagaan itu mereka memilih para pemanah yang kenal jalan jalan di wilayah Ithilien; para pemanah ini akan bersembunyi di hutan dan lereng sekitar persimpangan jalan. Tapi Gandalf dan Aragorn berjalan bersama barisan

depan ke lembah Morgul, dan memandang ke arah kota kejahatan itu. Suasananya gelap, lengang, dan mati; para Orc dan makhluk-makhluk rendah lain yang berdiam di sana sudah dimusnahkan dalam pertempuran, dan para Nazgul sedang berada di luar. Namun udara lembah itu sarat oleh ketakutan dan kebencian. Lalu mereka menghancurkan jembatan kejahatan dan membakar padang-padang sial itu, kemudian pergi.


Hari berikutnya, hari ketiga sejak mereka berangkat dari Minas Tirith, pasukan itu memulai perjalanan ke arah utara melalui jalan besar. Jarak dari Persimpangan Jalan sampai ke Morannon sekitar beberapa ratus mil, dan mereka belum tahu apa yang mungkin terjadi sebelum sampai ke sana. Mereka berjalan secara terbuka tapi waspada, dengan pengintai-pengintai berkuda di depan, dan pengintai yang berjalan kaki di kedua sisi, terutama di sisi timur; sebab pada sisi itu banyak semak belukar gelap, tanah hancur yang dipenuhi ngarai dan tebing- tebing berbatu terjal, dan di belakangnya lereng-lereng panjang suram Ephel Duath mendaki ke atas. Cuaca masih bagus, dan angin tetap bertahan di barat, tapi tak ada yang bisa menyingkirkan kemuraman dan kabut sedih yang bertahan di sekitar Pegunungan Bayang-Bayang; di belakang mereka sesekali asap membubung tinggi dan melayang-layang diembus angin di angkasa.
Sekali-sekali Gandalf menyuruh terompet-terompet dibunyikan, dan para bentara lalu berseru, “Para Penguasa Gondor sudah datang! Tinggalkan negeri ini atau serahkan!” Tapi Imrahil berkata, “Jangan katakan Para Penguasa Gondor. Katakan Raja Elessar. Itulah yang benar, meski dia belum duduk di takhtanya; dan Musuh akan lebih memperhatikan bila para bentara menggunakan nama itu.” Setelah itu tiga kali dalam sehari para bentara menggembar-gemborkan kedatangan Raja Elessar. Tapi tak ada yang menjawab tantangan itu.
Namun, walau berjalan dalam suasana yang tampak damai, seluruh anggota pasukan, dari yang terendah sampai yang tertinggi, merasa muram; sambil berjalan maju, semakin lama semakin mereka merasakan firasat buruk. Menjelang akhir hari kedua perjalanan sejak dari Persimpangan Jalan untuk pertama kalinya mereka menjumpai tantangan Pertempuran. Sepasukan kuat

Orc dan Easterling berupaya menjebak Pasukan Gondor ke dalam serangan mendadak; dan itu terjadi persis di tempat Faramir sudah mencegat orang-orang dari Harad, jalan besar yang melewati sebuah ceruk dalam, melalui suatu tonjolan bukit-bukit timur. Tapi para Kapten dari Barat sudah diperingatkan oleh pengintai-pengintai mereka, orang-orang mahir dari Henneth Annun yang dipimpin Mablung; musuh yang melakukan serangan mendadak malah jadi terjebak. Sebab pasukan berkuda berjalan melingkar ke barat dan muncul di sisi musuh serta di belakang mereka; maka musuh-pun dihancurkan atau terdesak mundur ke perbukitan.
Tapi kemenangan itu tidak cukup membangkitkan semangat para kapten. “Itu hanya pukulan pura-pura,” kata Aragorn, “dan kuduga tujuan utamanya adalah menipu kita agar kita keliru tentang kelemahan Musuh, bukan untuk melukai kita, belum.” Sejak malam itu dan seterusnya, para Nazgul datang dan mengikuti setiap gerakan pasukan dari Barat. Mereka masih terbang tinggi dan di luar batas pandang semuanya, kecuali Legolas; namun kehadiran mereka bisa dirasakan, bagai kegelapan yang semakin pekat serta matahari yang kian terselubung; meski para Hantu Cincin tidak menukik rendah di atas mereka, dan hanya diam saja, tidak mengeluarkan mereka tak bisa melepaskan diri dari rasa ngeri yang mencekam.


Demikianlah waktu dan perjalanan yang serasa tanpa harapan itu berlanjut bagai tak berujung. Pada hari keempat dari Persimpangan Jalan dan hari keenam sejak keberangkatan dari Minas Tirith, akhirnya mereka sampai ke batas akhir negeri hidup, dan mereka mulai masuk ke tanah tandus yang terletak di depan gerbang Celah Cirith Gorgor; mereka bisa melihat rawa-rawa dan gurun yang membentang ke utara dan barat, sampai ke Emyn Mull. Tempat itu begitu gersang dan mencekam, penuh getaran mengerikan, hingga beberapa anggota pasukan terpaku ketakutan, tak mampu berjalan maupun naik kuda lebih jauh ke utara.
Aragorn memandang mereka, di matanya terpancar rasa iba, bukan kemarahan;

karena mereka adalah pemuda-pemuda dari Rohan dan Westfold, atau lebih

jauh lagi, atau petani-petani dari Lossarnach, yang sejak masa kanak-kanak menganggap Mordor sebagai nama kejahatan, tapi hanya dalam legenda, jauh dari kenyataan dalam kehidupan mereka yang bersahaja; kini mereka berjalan seperti orang dalam mimpi menyeramkan yang menjadi kenyataan, sama sekali tidak memahami perang ini atau mengapa nasib membawa mereka pada keadaan seperti ini.
“Pergilah!” kata Aragorn. “Tapi pertahankan kehormatanmu sebisa mungkin, dan jangan lari! Ada tugas yang bisa kalian lakukan, sehingga kalian tidak terlalu malu. Ambillah jalan ke arah barat daya sampai tiba di Cair Andros. Kalau tempat itu masih diduduki musuh, seperti yang kuduga, maka rebutlah kembali, kalau kalian bisa; dan pertahankan tempat itu demi membela Gondor dan Rohan!”
Beberapa di antara mereka merasa malu terhadap kemurahan hati Aragorn, hingga akhirnya mampu mengatasi rasa takut mereka; yang lainnya merasa melihat harapan baru ketika mendengar tentang perbuatan gagah yang masih mampu mereka lakukan, dan mereka pun berangkat. Dengan demikian, karena banyak orang sudah ditinggal di persimpangan Jalan, para Kapten dari Barat akhirnya datang bersama kurang dari enam ribu orang untuk menantang Gerbang Hitam dan kedahsyatan Mordor.


Sekarang mereka maju perlahan, setiap saat bersiap-siap mendapat jawaban atas tantangan mereka, dan mereka berkumpul bersama, sebab tak ada gunanya mengirim pengintai atau sekelompok kecil orang keluar dari pasukan utama. Saat malam tiba di hari kelima perjalanan dari lembah Morgul, mereka berkemah untuk terakhir kali. Di sekeliling perkemahan mereka membakar kayu- kayu mati dan semak-semak yang bisa ditemukan. Mereka melewatkan malam panjang itu sambil tetap berjaga, dan mereka melihat banyak hal yang setengah kasat mata, berjalan berkeliling di sekitar, juga mendengar lolongan serigala. Angin sudah berhenti dan udara terasa diam. Mereka hampir tak bisa melihat apa-apa, sebab meski langit tak berawan dan bulan yang membesar sudah berusia empat malam, banyak sekali asap dan uap muncul keluar dari tanah,

dan bulan sabit putih terselubungi kabut Mordor.

Malam semakin dingin. Ketika pagi sudah datang, angin mulai bergerak lagi, tapi sekarang datangnya dari Utara, dan tak lama kemudian tiupannya semakin kuat, menjadi semilir angin sepoi-sepoi yang makin lama makin kencang. Semua makhluk malam sudah pergi, dan daratan kelihatan lengang. Di Utara, di tengah sumur-sumur yang mengganggu perjalanan, terdapat gundukan-gundukan besar pertama serta bukit-bukit bahan buangan dan batu-batu pecah, serta tanah jahanam, muntahan makhluk belatung Mordor; tapi di sebelah selatan, yang sekarang sudah dekat, muncul benteng raksasa Cirith Gorgor, dengan Gerbang Hitam di tengahnya, dan kedua Menara Gigi, tinggi dan gelap di kedua sisinya. Sebab dalam perjalanan mereka yang terakhir, para Kapten menyimpang dari jalan lama saat jalan itu membelok ke timur, dan mereka menghindari bahaya dari perbukitan yang tersembunyi. Sekarang mereka mendekati Morannon dari arah barat laut, sama persis dengan yang dilakukan Frodo sebelumnya.
Kedua pintu besi Gerbang Hitam di bawah palang lengkung yang tampak sangar tertutup rapat. Tak ada yang terlihat di atas tembok benteng. Keadaan sepi, tapi terasa waspada. Akhirnya mereka sampai ke penghujung kebodohan mereka, berdiri sedih dan kedinginan dalam cahaya kelabu pagi buta, di depan menara- menara dan tembok-tembok yang tak mungkin diserang pasukan mereka, meski seandainya mereka membawa mesin-mesin penggempur berkekuatan besar ke sana, dan musuh tak punya kekuatan kecuali untuk mempertahankan gerbang dan tembok. Walau begitu, mereka tahu bahwa semua bukit dan batu karang di sekitar Morannon dipenuhi musuh-musuh tak terlihat, dan bangunan gelap di seberang sudah dilubangi dan dibuat terowongan oleh kerumunan padat makhluk-makhluk jahat. Sambil berdiri di sana, mereka melihat semua Nazgul berkumpul bersama, melayang di atas Menara Gigi bagai burung pemakan bangkai; dan mereka tahu mereka sedang diawasi. Tapi Musuh masih belum memberikan isyarat.
Tak ada pilihan bagi mereka, selain memainkan peran sampai selesai. Maka Aragorn mengatur pasukan sebaik mungkin; mereka ditempatkan di atas dua bukit besar bebatuan hancur dan tanah yang sudah ditumpuk selama bertahun-

tahun kerja keras oleh para Orc. Di depan mereka rawa besar berlumpur dan genangan-genangan yang berbau sangat busuk membentang ke arah Mordor, bagai parit. Setelah semuanya selesai diatur, para Kapten melaju ke Gerbang Hitam dengan serombongan besar pengawal berkuda dan panji, serta bentara- bentara dan peniup terompet. Ada Gandalf sebagai pernimpin bentara, Aragorn bersama putra-putra Elrond, Eomer dari Rohan, dan Imrahil; Legolas dan Gimli serta Peregrin juga diminta ikut, agar semua musuh Mordor diwakili seorang saksi.
Mereka maju sampai ke dalam jangkauan pendengaran dari Morannon, lalu membuka gulungan panji, dan meniup terompet-terompet; para tentara berdiri di luar barisan, berteriak nyaring agar suara mereka terdengar sampai melewati tembok benteng Mordor.
“Keluar!” teriak mereka. “Penguasa Negeri Hitam agar keluar! Keadilan akan diberlakukan terhadapnya. Karena dia sudah bersalah dengan berperang melawan Gondor dan merebut wilayah-wilayahnya. Raja Gondor menuntut agar Penguasa Negeri Hitam menebus kejahatannya, lalu pergi selamanya. Keluar!” Kesunyian panjang menyusul, dari atas tembok dan gerbang tidak terdengar teriakan atau bunyi sebagai jawaban. Tapi Sauron sudah mengatur rencana, dan ingin mempermainkan tikus-tikus ini dengan kejam sebelum melancarkan pukulan mematikan untuk mereka. Maka ketika para Kapten sudah hendak berbalik kembali, kesunyian itu tiba-tiba dipecahkan. Gemuruh dentum genderang-genderang besar berkumandang bagai guruh di pegunungan, lalu terdengar ringkikan terompet-terompet yang menggetarkan bebatuan dan mengejutkan telinga manusia. Setelah itu pintu Gerbang Hitam dibuka dengan bunyi dentang keras, dan keluarlah rombongan utusan Menara Kegelapan.
Di depannya melaju sebuah sosok tinggi dan jahat, menunggang kuda hitam, kalau itu memang kuda; sebab bentuknya besar menjijikkan, dan wajahnya seperti topeng menyeramkan, lebih menyerupai tengkorak daripada kepala hidup, di rongga mata dan lubang hidungnya berkobar nyala api. Penunggang itu berjubah serba hitam, topi bajanya yang tinggi juga hitam; tapi ini, bukan Hantu Cincin, melainkan manusia hidup. Dialah Letnan Menara Barad-dur, tak ada

yang ingat namanya dalam kisah mana pun; sebab ia sendiri sudah melupakannya, dan Ia berkata, “Aku adalah Mulut Sauron.” Tapi konon ia seorang pembelot, berasal dari bangsa yang dinamakan Numenorean Hitam; karena mereka menetap di Dunia Tengah di masa kekuasaan Sauron, dan mereka memujanya, karena sudah terpikat ilmu jahat. la mempersembahkan jasa layanannya pada Menara Kegelapan ketika Sauron sudah bangkit kembali, dan karena kecerdikannya Ia semakin disenangi Penguasa Kegelapan; Ia belajar sihir tinggi, dan tahu banyak tentang pikiran Sauron; dan Ia jauh lebih kejam daripada para Orc.
Dialah yang kini melaju keluar, bersamanya datang serombongan kecil tentara berpakaian besi hitam, dan sebuah panji tunggal, hitam berlambangkan Mata Jahat berwarna merah. Sekarang ia berhenti beberapa langkah di depan para Kapten dari Barat dan memandang mereka dari atas ke bawah, lalu tertawa. “Adakah seseorang di tengah rombongan kacau balau ini yang punya wewenang untuk berunding denganku?” tanyanya. “Atau bahkan yang cukup cerdas untuk memahami aku? Setidaknya bukan kau!” ia mengejek, berbicara pada Aragorn sambil mencemooh. “Untuk menjadi raja, tak bisa sekadar memiliki sekeping kaca Peri, atau pengacau-pengacau semacam ini. Perampok dari bukit juga bisa mengajak pengikut-pengikut seperti ini!”
Aragorn tidak mengatakan apa pun untuk menjawab, tapi ia menatap mata sang letnan dan menahannya, dan untuk beberapa saat mereka beradu mata; tapi tak lama kemudian, meski Aragorn tak bergerak atau mengambil senjata, lawannya gemetar dan bergerak kaget, seolah diancam dengan pukulan. “Aku seorang bentara dan duta, tidak boleh diserang!” teriaknya.
“Di mana hukum seperti itu berlaku,” kata Gandalf, “sudah menjadi kebiasaan bahwa para duta juga tidak bersikap kurang ajar. Tapi tak ada yang mengancammu. Kau tak perlu khawatir terhadap kami, sampai kau menyelesaikan tugasmu. Kecuali majikanmu sudah lebih bijak, maka kau bersama semua pelayannya berada dalam bahaya besar.”
“Nah!” kata si Utusan. “Kalau begitu kaulah juru bicara, si tua berjenggot kelabu?

Bukankah kami sudah sering mendengar tentang dirimu, dan pengembaraanmu,

selalu merencanakan persekongkolan dan mengacau dari jarak yang aman? Tapi kali ini kau menjulurkan hidungmu terlalu jauh, Master Gandalf; akan kau lihat apa yang terjadi pada dia yang memasang jaring-jaring bodoh di depan kaki Sauron yang Agung. Aku membawa tanda-tanda yang harus kuperlihatkan padamu terutama padamu, kalau kau berani datang.” Ia memberi isyarat pada salah seorang pengawal, dan pengawal itu maju ke depan sambil membawa sebuah buntalan dibungkus kain hitam.
Si Utusan menyingkap kain itu; dengan kaget dan sedih semua Kapten menyaksikan Ia mula-mula mengangkat pedang pendek yang selalu dibawa Sam, berikutnya sebuah jubah kelabu dengan bros Peri, dan terakhir rompi dari logam mithril yang dipakai Frodo di bawah pakaiannya yang lusuh. Pandangan mereka tertutup kegelapan, dan dunia seolah-olah berhenti bergerak dalam kesunyian sekejap; semangat mereka padam dan harapan terakhir mereka sirna. Pippin yang berdiri di belakang Pangeran Imrahil melompat ke depan dengan teriakan sedih.
“Diam!” kata Gandalf tegas, mendorong Pippin mundur; tapi Utusan itu tertawa

keras.

“Jadi, kau membawa salah satu anak nakal bersamamu!” serunya. “Manfaat apa yang kau lihat dalam diri mereka tidak terpikir olehku; tapi mengirim mereka sebagai mata-mata ke Mordor sudah melebihi kebodohan yang biasanya kautunjukkan. Bagaimanapun, aku berterima kasih padanya, sebab sudah jelas bahwa anak nakal ini setidaknya pernah melihat benda-benda ini, dan sekarang sia-sia kalau kau membantah hal itu.”
“Aku tidak bermaksud membantah kebenaran itu,” kata Gandalf “Memang, aku kenal semua benda itu dan riwayatnya, dan meski kau mencemoohku, Mulut Sauron yang busuk, kau tidak tahu sebanyak itu. Tapi mengapa kau membawanya kemari?”
“Jubah kurcaci, jubah Peri, pedang dari negeri Barat yang sudah runtuh, dan mata-mata dari negeri tikus kecil di Shire jangan, jangan kaget! Kami sudah tahu inilah tanda-tanda persekongkolan. Nah, mungkin dia yang memakai benda- benda ini adalah makhluk yang tidak kau sesali kalau kau kehilangan, tapi

mungkin juga malah sebaliknya: makhluk yang justru sangat kau sayangi? Kalau begitu, berembuklah cepat dengan memakai sedikit kecerdasan yang masih kau miliki. Karena Sauron tidak menyukai mata-mata, dan nasibnya sekarang tergantung pilihanmu.”
Tak ada yang menjawab; tapi Ia melihat wajah mereka kelabu ketakutan, kengerian pun memancar dari mata mereka, dan ia tertawa lagi, sebab baginya permainannya berlangsung baik. “Bagus, bagus!” katanya. “Kau sangat menyayanginya, bisa kulihat itu. Atau mungkin tugasnya tak boleh gagal? Tapi sekarang sudah gagal. Dan dia akan mengalami siksaan perlahan-lahan selama bertahun-tahun, selama dan selambat yang bisa dilakukan ilmu kami di Menara Besar. Dan dia takkan pernah dibebaskan, kecuali mungkin kalau dia sudah berubah dan patah semangat, agar dia bisa datang kepadamu, dan kau bisa melihat akibat perbuatanmu. Ini pasti terjadi, kecuali kau menerima syarat-syarat Penguasa-ku.”
“Sebutkari syarat-syaratnya,” kata Gandalf dengan sikap teguh, tapi mereka yang berdiri di dekatnya menyaksikan kepedihan di wajahnya, dan kini Ia tampak seperti orang tua keriput yang telah hancur dan kalah. Mereka yakin.ia akan menerima syarat-syarat itu.
“Ini syarat-syaratnya,” kata si Utusan, dan ia tersenyum sambil menatap mereka satu demi satu. “Para pengacau dari Gondor dan sekutunya yang teperdaya harus mundur segera ke seberang Anduin, setelah bersumpah tidak akan lagi menyerang Sauron yang Agung dengan bersenjata, baik secara terbuka maupun rahasia. Semua daratan sebelah timur Anduin akan menjadi milik Sauron, selamanya. Sebelah barat Anduin sejauh Pegunungan Berkabut dan Celah Rohan akan menjadi jajahan Mordor, dan penduduk di sana tidak boleh memiliki senjata, tapi akan mendapat izin untuk mengatur urusan mereka sendiri. Tapi mereka akan membantu membangun kembali Isengard yang sudah mereka hancurkan dengan sembarangan, dan Isengard akan menjadi milik Sauron; di sana letnannya akan tinggal: bukan Saruman, tapi seseorang yang lebih patut dipercayai.”
Mereka bisa membaca pikiran si Utusan ketika menatap matanya. Tentu dialah

sang letnan itu, dan Ia akan mengumpulkan semua yang tersisa dari Barat di bawah kekuasaannya; ia akan menjadi tiran mereka dan mereka akan menjadi budaknya.
Tapi Gandalf berkata, “Terlalu banyak tuntutan hanya untuk menyerahkan seorang pelayan: dalam pertukaran ini terlalu banyak yang akan diterima majikanmu. Seharusnya dia baru bisa memperoleh semua itu dengan melakukan banyak pertempuran! Atau mungkin medan tempur Gondor sudah memusnahkan harapannya kepada perang, sehingga dia merendahkan diri untuk berunding? Kalau memang tawananmu itu begitu berharga bagi kami, kepastian apa yang karni punyai bahwa Sauron, si Ahli Tipu, akan memegang janjinya? Di mana tawanan ini? Bawalah dia kemari dan serahkan pada kami, maka akan kami pertimbangkan tuntutan itu.”
Gandalf yang memperhatikan lawannya dengan saksama, seakan-akan terlibat pertarungan anggar dengan musuhnya, merasa melihat si Utusan bingung selama satu tarikan napas; tapi dengan cepat ia tertawa lagi.
“Jangan bersikap kurang ajar pada Mulut Sauron dan jangan bermain kata-kata!”

teriak si Utusan. “Kau menghendaki kepastian! Sauron tidak akan memberikan. Kalau kau menuntut pengampunannya, kau harus menaati tuntutannya. Begitulah syarat-syaratnya. Ambil atau tinggalkan!”
“Ini yang akan kami ambil!” kata Gandalf tiba-tiba. la menyingkap jubahnya, dan cahaya putih bersinar bagai pedang di tempat gelap. Si Utusan mundur melihat tangan Gandalf yang diacungkan. Gandalf mendekatinya, merebut dan mengambil benda-benda itu: jubah, rompi, dan pedang. “Ini akan kami ambil sebagai kenangan kepada kawan kami,” teriaknya. “Mengenai syarat-syaratmu, kami menolak semuanya. Pergilah, karena tugasmu sebagai duta sudah berakhir, dan kematian sudah menjemputmu. Kami datang ke sini bukan untuk membuang kata-kata dalam perundingan dengan Sauron yang terkutuk dan tak bisa dipercaya; apalagi dengan salah satu budaknya. Pergi!”
Utusan Mordor itu tidak tertawa lagi. Wajahnya berkerut penuh keheranan dan kemarahan, mirip binatang liar yang merunduk siap menerkam mangsa, namun dipukul moncongnya dengan cambuk menyengat. Kemarahan memenuhi

hatinya, mulutnya meneteskan lendir liur, dan bunyi-bunyi marah yang tidak jelas keluar dari tenggorokannya. Tapi saat menatap wajah-wajah garang para Kapten dan mata mereka yang memancarkan tatapan mematikan, rasa takut pun mengalahkan kemarahannya. la berteriak keras dan berbalik, melompat ke atas kuda jantannya, dan bersama rombongannya menderap liar kembali ke Cirith Gorgor. Sementara mereka pergi, serdadu-serdadunya meniup terompet dengan isyarat yang telah disepakati; dan sebelum mereka sampai ke gerbang, Sauron sudah membuka perangkapnya.


Genderang berdentam dan api berkobar. Pintu-pintu besar Gerbang Hitam terbuka lebar. Pasukan besar keluar cepat bagai air bah yang meluncur deras dan bergulung-gulung saat pintu air dibuka.
Para Kapten naik kembali ke kuda masing-masing dan mundur menghindar; pasukan Mordor mengeluarkan teriakan mencemooh. Debu beterbangan menyesakkan udara, ketika dari dekat datang pasukan kaum Easterling yang sudah menunggu isyarat dalam bayang-bayang Ered Lithui di seberang Menara yang lebih jauh. Dari bukit-bukit di kedua sisi Morannon mengalir para Orc yang tak terhingga jumlahnya. Manusia-manusia dari Barat sudah terperangkap, dan tak lama kemudian, di sekeliling bukit-bukit kelabu tempat mereka berdiri, bala tentara berkekuatan sepuluh kali dan lebih dari sepuluh kali lipat kekuatan Barat mengepung mereka dalam lautan musuh. Sauron sudah menggigit umpan dengan rahang baja.
Aragorn hanya punya sedikit sekali waktu untuk mengatur pasukan tempurnya. Di atas bukit yang satu Ia berdiri bersama Gandalf, dan di sana berkibar panji Pohon dan Bintang, indah dan nekat. Di atas bukit lain di dekatnya berdiri panji- panji Rohan dan Dol Amroth, Kuda Putih dan Angsa Perak. DI sekeliling setiap bukit dibentuk lingkaran menghadap ke semua arah, siap tempur dengan tombak dan pedang. Sementara di depan, menghadap ke Mordor, di mana serangan pahit pertama akan terjadi, berdiri putra-putra Elrond di sisi kiri, dengan kaum Dunedain di sekeliling mereka; di sisi kanan berdiri Pangeran Imrahil bersama orang-orang Dol Amroth yang jangkung dan gagah, serta orang-orang pilihan

dari Menara Pengawal.

Angin berembus, terompet-terompet bernyanyi, dan panah-panah berdesing; matahari yang sedang naik ke arah Selatan terselubung oleh rawa-rawa Mordor, bersinar melalui kabut yang mengancam, jauh, merah pudar, seakan-akan sudah mendekati akhir hari itu, atau bahkan kiamat dari seluruh dunia cahaya. Lalu para Nazgul datang dengan suara dingin mereka, meneriakkan kata-kata kematian; maka semua harapan padam.


Pippin menunduk, hancur luluh dalam kengerian saat mendengar Gandalf menolak syarat-syarat Sauron, dan dengan demikian menghukum Frodo dengan siksaan Menara; tapi kini Ia sudah bisa menguasai diri lagi, dan ia berdiri di samping Beregond, di barisan depan pasukan Gondor bersama anak buah Imrahil. Pippin merasa lebih baik segera mati dan meninggalkan kisah pahit hidupnya, sebab rasanya semua sudah hancur berantakan.
“Seandainya Merry ada di sini,” ia mendengar dirinya sendiri berkata, berbagai pikiran berpacu dalam benaknya, sementara Ia memperhatikan musuh maju menyerang. “Nah, nah, sekarang setidaknya aku bisa lebih memahami Denethor yang malang. Mungkin saja kami mati bersama, Merry dan aku, dan berhubung kami akan mati, mengapa tidak? Well, karena dia tidak ada di sini, kuharap dia menjumpai akhir yang Iebih mudah. Tapi kini aku harus berupaya sebaik mungkin.”
la menghunus pedang dan menatapnya, jalinan ukiran merah dan emas, serta lambang-lambang Numenor yang berkilauan seperti api di atas mata pedangnya. “Untuk saat seperti inilah pedang ini dibuat,” pikirnya. “Seandainya aku bisa memukul Utusan jahat itu dengan pedangku, maka aku hampir menyamai jasa Merry. W ell, aku akan memukul beberapa makhluk busuk ini sebelum akhir tiba. Semoga aku bisa melihat sinar matahari sejuk dan rumput hijau lagi!”
Sementara Pippin memikirkan hal-hal itu, serbuan pertama menghantam mereka. Para Orc yang terhalang oleh rawa-rawa yang membentang di depan perbukitan, berhenti dan menembakkan panah-panah mereka ke barisan depan. Dengan mengaum bagai hewan liar, sepasukan besar troll perbukitan yang

berasal dari Gorgoroth datang menerobos pasukan Orc. Mereka lebih tinggi dan lebar daripada Manusia, dan mereka hanya berpakaian jala sisik tanduk yang ketat, atau mungkin juga itu kulit asli mereka yang menjijikkan; mereka membawa perisai bundar besar dan hitam, serta memegang palu berat dengan tangan mereka yang benjol-benjol. Dengan nekat mereka meloncat ke dalam rawa-rawa dan berjalan melintasinya, sambil berteriak. Seperti badai mereka menghantam barisan orang-orang Gondor; memukul topi baja dan kepala, lengan dan perisai lawan mereka, seperti tukang besi menempa besi panas. Di sebelah Pippin, Beregond pingsan kewalahan, dan jatuh; pemimpin troll besar yang sudah memukulnya sampai jatuh, membungkuk di atasnya dan menjulurkan cakar untuk mencengkeram; sebab makhluk-makhluk keji ini menggigit leher musuh yang mereka jatuhkan.
Lalu Pippin menusuk ke atas, mata pedangnya yang penuh lambang-lambang Westernesse menusuk menembus kulit hingga jauh ke dalam alat vital si troll, dan darahnya yang hitam menyembur keluar. Troll itu terhuyung ke depan dan jatuh bagai batu karang runtuh, menimpa mereka yang ada di bawahnya. Kegelapan, bau busuk, serta kesakitan yang luar biasa menimpa Pippin, dan pikirannya serasa runtuh ke dalam kegelapan besar.
“Sudah berakhir, seperti telah kuduga,” sempat terlintas dalam benaknya, sesaat sebelum kesadarannya hilang; Ia tertawa sedikit dalam benaknya, nyaris gembira karena akhirnya bisa membuang semua keraguan, keprihatinan, dan ketakutan. Ketika pikirannya melayang pergi ke dalam kealpaan, Ia mendengar suara-suara seolah berteriak di suatu dunia yang jauh di atas,
“Para Rajawali datang! Para Rajawali datang!”

Untuk sejenak pikiran Pippin melayang diam. “Bilbo!” katanya. “Tidak! Itu kan ada dalam ceritanya, dulu, sudah lama berlalu. Ini ceritaku, dan sekarang sudah berakhir. Selamat tinggal!” Kemudian pikirannya terbang jauh dan matanya tidak melihat apa-apa lagi.

BUKU ENAM



BAB 1

MENARA CIRITH UNGOL



Sam bangkit dari lantai dengan susah payah, sambil menahan rasa sakit. Untuk beberapa saat Ia bingung di mana Ia berada, lalu Ia teringat kembali semua kesengsaraan dan keputusasaan yang dialami-nya. la berada dalam gelap pekat, di luar gerbang bawah benteng Orc; pintunya yang terbuat dari kuningan tertutup rapat. Rupanya ia jatuh pingsan ketika membantingkan diri ke pintu itu; tapi berapa lama Ia sudah berbaring di situ, Ia tidak tahu. Saat itu hatinya panas, nekat, dan marah; sekarang Ia menggigil kedinginan. la merangkak ke arah pintu dan menempelkan telinganya ke situ.
Jauh di dalam Ia mendengar sayup-sayup suara berisik para Orc, tapi tak lama kemudian mereka diam atau keluar dari jangkauan pendengarannya. Kepala Sam sakit dan matanya berkunang-kunang dalam gelap, tapi ia berjuang untuk tenang dan berpikir. Sudah jelas tak ada harapan baginya untuk masuk ke benteng Orc melalui gerbang itu; bisa jadi ia harus menunggu di sini berhari-hari sebelum pintu itu dibuka lagi, dan Ia tak bisa menunggu: waktu sangat berharga. la tidak ragu lagi tentang tugasnya: Ia harus menyelamatkan majikannya atau tewas dalam upaya itu.
“Jauh lebih besar kemungkinan aku tewas, dan itu malah lebih gampang,” ia berkata dengan muram pada diri sendiri, sambil menyarungkan Sting dan menjauhi pintu-pintu kuningan. Perlahan-lahan Ia meraba-raba jalan kembali dalam gelap sepanjang terowongan, karena Ia tidak berani menggunakan cahaya Peri; sambil berjalan ia mencoba merangkai kembali semua kejadian sejak ia dan Frodo meninggalkan Persimpangan Jalan. Ia bertanya-tanya sudah jam berapa sekarang. Mungkin antara hari kemarin dan hari berikutnya, pikirnya; tapi Ia juga sudah tak ingat lagi hitungan hari-hari saat itu. la berada dalam suatu dunia gelap di mana hari-hari dunia seolah terlupakan, juga semua yang masuk ke dalamnya dilupakan orang.

“Aku bertanya-tanya apakah mereka masih memikirkan kami,” katanya, “dan apa yang terjadi pada mereka semua, jauh di sana.” Ia melambaikan tangan dengan ragu di depannya; tapi sebenarnya ia sekarang sedang menghadap ke selatan, kembali ke terowongan Shelob, bukan ke Barat. Di dunia luar sebelah Barat, waktu sudah menjelang tengah hari pada hari keempat belas bulan Maret menurut hitungan Shire; saat itu Aragorn sedang memimpin armada hitam dari Pelargir, dan Merry sedang berkuda bersama kaum Rohirrim melalui Lembah Stonewain, sementara di Minas Tirith api berkobar dan Pippin memperhatikan kegilaan yang semakin berkembang di mata Denethor. Meski begitu, di tengah semua keprihatinan dan kecemasan, pikiran kawan-kawan mereka selalu kembali pada Frodo dan Sam. Mereka tidak dilupakan. Tapi mereka jauh di luar jangkauan pertolongan, dan belum ada yang bisa memberikan bantuan pada Samwise putra Hamfast; Ia benar-benar sendirian.


Akhirnya Sam sampai ke pintu batu lorong Orc, dan karena belum bisa menemukan kunci atau gerendel yang menguncinya, Ia memanjat pintu itu seperti sudah Ia lakukan tadi, lalu melompat perlahan ke lantai. Diam-diam Ia berjalan keluar dari terowongan Shelob, di mana potongan-potongan jaringnya yang besar masih berayun dan bergoyang di udara dingin. Bagi Sam udara terasa dingin setelah Ia keluar dari kegelapan yang menekan, tapi embusannya menyegarkan. Dengan hati-hati Ia merangkak keluar.
Semuanya sepi, kesepian yang mengancam. Cuaca remang-remang seperti senja di penghujung hari yang gelap. Uap yang naik di Mordor dan mengalir ke arah barat melintas rendah di atas kepalanya, seperti tumpukan besar awan campur asap yang kini disinari cahaya merah redup dari bawah.
Sam menengadah dan memandang ke menara Orc, dan tiba-tiba dari jendela jendelanya yang sempit memancar cahaya seperti mata kecil merah. la bertanya dalam hati, mungkinkah itu semacam isyarat. Sekarang ketakutannya kepada para Orc, yang sempat terlupakan karena tadi Ia begitu marah dan hatinya remuk redam, kembali menyerangnya. Rasanya hanya satu jalan yang mungkin diambilnya: ia harus mencari jalan masuk utama ke menara menyeramkan itu;

tapi lututnya terasa lemas dan tubuhnya gemetaran. Sambil melepaskan pandang dari menara dan tanduk Celah di depannya, ia memaksa kakinya yang enggan menaatinya, lalu perlahan-lahan, sambil menajamkan pendengaran dan mengintai ke dalam bayangan pekat batu-batu karang di sisi jalan, Ia menapak tilas langkahnya, melewati tempat Frodo jatuh, di mana bau busuk Shelob masih tertinggal, lalu terus dan naik, sampai akhirnya Ia berdiri lagi di celah yang sama, tempat Ia tadi memakai Cincin dan melihat rombongan Shagrat melewatinya.
Di sana ia berhenti dan duduk. Untuk sementara Ia tak bisa memaksakan diri terus berjalan. la merasa bahwa begitu melangkah melewati mahkota celah dan benar-benar masuk ke negeri Mordor, maka ia tak mungkin mundur lagi. la takkan pernah kembali. Tanpa tujuan jelas Ia mengeluarkan Cincin dan memakainya. Segera ia merasakan bobot benda itu membebaninya; sekali lagi Ia merasakan kekejian Mata Mordor, lebih kuat dan mendesak, mencari-cari, mencoba menembus bayangan yang sudah diciptakannya demi pertahanan diri sendiri, dan kini menghalanginya dalam kericuhan dan keraguannya.
Seperti sebelumnya, Sam mendapati pendengarannya jadi lebih tajam, tapi dalam penglihatannya semua benda di dunia ini kelihatan tipis dan samar-samar. Dinding-dinding batu karang di sisi jalan itu tampak pucat, seolah terlihat melalui kabut, tapi dari jauh Ia mendengar bunyi Shelob tersiksa; Ia juga mendengar teriakan-teriakan dan benturan logam, keras dan jelas, seolah-olah sangat dekat. la melompat berdiri dan menekan tubuhnya ke dinding samping jalan. la bersyukur ada Cincin, karena ternyata ada satu lagi pasukan Orc berjalan. Atau begitulah pikirnya mula-mula. Tiba-tiba ia menyadari bahwa itu tidak benar, bahwa pendengarannya menipunya: teriakan-teriakan Orc datang dari menara, dan tanduk menara paling atas sekarang berada tepat di atas Sam, di sisi kiri Celah.
Sam gemetar dan berusaha memaksa diri untuk bergerak. Jelas sekali ada semacam kekejaman sedang berlangsung. Meski sudah ada perintah, Orc-Orc mungkin sudah kesetanan dan mereka sedang menyiksa Frodo, atau bahkan mencincangnya dengan buas. Sam mendengarkan; sementara itu secercah harapan timbul di hatinya. Tak perlu diragukan lagi: ada pertikaian di menara.

Pasti para Orc saling berperang di antara mereka sendiri. Shagrat dan Gorbag sedang berkelahi. Meski dugaan itu hanya membawa harapan kabur, tapi sudah cukup untuk membangkitkan semangatnya. Mungkin saja ada kesempatan. Rasa sayangnya pada Frodo timbul, mengalahkan pikiran-pikirannya yang lain, dan untuk sementara Ia lupa semua bahaya yang mengancamiiya; ia berteriak keras-keras, “Aku datang, Mr. Frodo!”
la berlari menuju jalan yang mendaki, dan melewatinya. Segera jalan itu membelok ke kiri dan terjun ke bawah dengan curam. Sam sudah masuk ke Mordor.


la melepaskan Cincin, mungkin karena terdorong firasat ada bahaya meski sebenarnya Ia hanya ingin bisa melihat lebih jelas. “Sebaiknya melihat yang terburuk,” gerutunya. “Tidak baik berjalan terhuyung-huyung dalam kabut!” Pemandangan negeri yang dilihatnya ternyata keras, kejam, dan getir. Di depan kakinya, punggung gunung tertinggi Ephel Duath terjun dengan lereng-lereng besar curam ke palling gelap, di sisi terjauhnya menjulang sebuah punggung lain, jauh lebih rendah, pinggirannya penuh takikan dan bergerigi dengan tebing- tebing batu, seperti gigi taring yang menonjol hitam, dilatarbelakangi cahaya merah di belakangnya: itulah Morgai yang suram, lingkaran paling dalam pagar negeri itu. Jauh di seberangnya, hampir lurus di depan, di seberang sebuah telaga kegelapan luas yang dipenuhi bercak-bercak api kecil, ada cahaya besar menyala; dari sana naik asap berputar-putar menyerupai tiang-tiang besar, merah kelabu pada akar-akarnya, dan hitam di atas, di mana asap itu berbaur dengan langit-langit bergelombang yang menutupi seluruh negeri terkutuk itu. Sam menatap Orodruin, Gunung Api. Sesekali tungku-tungku jauh di bawah kerucutnya yang pucat akan memanas, dan dengan gelombang menggelora dan denyutan keras memuntahkan sungai lelehan batu-batuan dari retakan-retakan di sisinya. Beberapa mengalir membara menuju Barad-dur melalui saluran- saluran besar; beberapa mengalir berkelok-kelok ke padang berbatu, sampai kemudian mendingin dan tergolek seperti sosok-sosok naga terpelintir yang dimuntahkan dari bumi yang tersiksa. Tepat saat Glinting Maut bekerja keras

seperti itu Sam menyaksikannya, juga cahayanya yang terpotong oleh tabir tinggi Ephel Math dari pandangan mereka yang mendaki lewat jalan dari Barat, dan sekarang menyala silau ke arah wajah batu yang dingin, hingga seolah-olah wajah-wajah itu berlumuran darah.
Dalam cahaya menakutkan itu Sam berdiri terperanjat, sebab sekarang dengan menoleh ke sisi kirinya, ia bisa melihat Menara Cirith Ungol dalam keseluruhannya yang menakjubkan. Tanduk yang dilihatnya dari sisi seberang ternyata baru menara paling atas. Sedangkan sisi sebelah timur terdiri atas tiga tingkat, menjulang ke atas dari sebuah ambal di sisi pegunungan jauh di bawah; sisi belakangnya menghadap sebuah batu karang besar, dan dari sana ia menonjol keluar dengan benteng-benteng kemelut saling bertumpuk, makin ke atas makin mengecil, dengan tembok-tembok curam dari batu yang disusun dengan keterampilan tinggi, menghadap ke timur laut dan tenggara. Di sekitar tingkat paling bawah, 60 meter di bawah tempat Sam sekarang berdiri, ada sebuah dinding benteng yang mengelilingi pelataran sempit. Gerbangnya yang terletak di sisi tenggara yang dekat ke situ, membuka ke suatu jalan lebar, sedangkan pembatas sisi jalan itu menjulur sepanjang tebing sebuah jurang, sampai membelok ke selatan dan berkelok-kelok masuk ke kegelapan, untuk bergabung dengan jalan yang melintasi Celah Morgul. Lalu jalan itu menjulur terus melalui sebuah celah bergerigi di Morgai, keluar ke lembah Gorgoroth dan terus ke Barad-dur. Jalan sempit di atas, tempat Sam berdiri, melompat turun dengan cepat, berupa anak tangga dan jalan curam, untuk bertemu dengan jalan utama di bawah tembok-tembok dekat gerbang Menara.
Sementara memandangi, tiba-tiba Sam menyadari dengan terkejut bahwa benteng ini sebenarnya dibangun bukan untuk menghindari musuh masuk ke Mordor, tapi justru untuk menahan mereka di dalam. Memang menara itu salah satu hasil karya Gondor lama berselang, sebuah pos penjagaan di timur untuk pertahanan Ithilien, yang dibuat setelah Persekutuan Terakhir, ketika orang- orang W esternesse mewaspadai negeri Sauron yang jahat, di mana makhluk- makhluknya masih bersembunyi. Tapi sama seperti di Narchost dan Carchost, Menara-Menara Gigi, di sini penjagaan juga gagal. Oleh pengkhianatan, Menara

sudah direbut oleh Penguasa Hantu Cincin, dan sudah bertahun-tahun dicengkeram kejahatan. Sejak kembali ke Mordor, Sauron menganggapnya cukup bermanfaat; sebab ia hanya mempunyai sedikit pelayan, tapi banyak sekali budak dari ketakutan, dan tujuan utamanya sejak zaman dulu adalah mencegah pelarian dari Mordor. Meski seandainya ada musuh yang begitu nekat mencoba masuk diam-diam ke negeri itu, menara itu juga berfungsi sebagai Penjaga yang tak pernah tidur, mengawasi siapa pun yang mungkin melewati penjagaan Morgul dan Shelob.
Sam melihat jelas bahwa tak ada harapan baginya kalau ia merangkak melewati tembok-tembok bermata banyak itu dan masuk ke gerbang yang dijaga ketat. Kalaupun Ia berhasil, Ia takkan bisa berjalan jauh di jalan yang dijaga di seberang itu: bayangan-bayangan hitam tebal yang tak bisa ditembus cahaya merah juga tidak akan melindunginya terhadap penglihatan tajam para Orc. Tapi meski jalan itu kelihatan tanpa harapan, tugasnya kini jauh lebih berat dan buruk: bukan menghindari gerbang dan meloloskan diri, tapi memasukinya sendirian.


Pikirannya beralih pada Cincin, tapi itu tidak membuatnya terhibur, malah membuatnya merasakan kengerian dan bahaya. Begitu berada dalam jarak pandang Gunung Maut yang membara jauh di sana, ia menyadari perubahan pada beban yang dibawanya. Semakin dekat ke tungku api besar tempat Ia ditempa dan dibentuk di zaman lampau, Cincin itu jadi semakin jahat, tak bisa dikendalikan kecuali oleh kehendak yang sangat kuat. Ketika Sam berdiri di sana, meski Cincin itu tidak dipakainya dan hanya menggantung pada rantai di lehernya, ia merasa dirinya seakan-akan membesar, seolah terselubung bayangan besar dirinya dalam bentuk menyimpang, bagai ancaman besar dan berbahaya yang tertangkap tembok-tembok Mordor. Ia merasa bahwa sekarang Ia punya dua pilihan: menahan diri dan bersabar terhadap Cincin, meski akan tersiksa olehnya; atau menuntut hak atasnya, dan menantang kekuatan yang duduk di bentengnya yang gelap di seberang lembah bayangan. Cincin itu mulai menggodanya, menggerogoti kehendak dan pikirannya. Khayalan-khayalan liar bangkit dalam pikirannya; Ia seakan-akan melihat Samwise yang Kuat,

Pahlawan Zaman, melangkah dengan pedang menyala melintasi negeri gelap, bala tentara berdatangan memenuhi panggilannya saat Ia maju untuk membinasakan Barad-dur. Lalu semua awan lenyap dan matahari putih bersinar; atas perintahnya seluruh lembah Gorgoroth menjadi kebun bunga dan pepohonan, dan menghasilkan buah-buahan. la cukup memakai Cincin dan mengakuinya sebagai miliknya, dan semuanya akan terwujud.
Saat cobaan itu datang, hanya rasa sayang pada majikannya yang menolongnya untuk tetap teguh; lagi pula jauh di dalam hati, akal sehatnya sebagai hobbit masih belum terkalahkan, pada dasarnya Ia tahu bahwa dirinya tak cukup hebat untuk menanggung beban seberat itu, meski pemandangan seperti dalam khayalannya bukan sekadar tipuan untuk mengkhianatinya. Sebuah kebun kecil dan menjadi tukang kebun yang bebas, itu saja yang Ia butuhkan, bukan kebun yang membengkak menjadi satu wilayah luas; Ia hanya ingin tangannya sendiri untuk merawat kebunnya, bukan tangan orang lain untuk diperintah. “Bagaimanapun, semua gagasan itu hanya tipu muslihat,” katanya pada diri sendiri. “Penguasa Kegelapan akan langsung melihatku dan mengancamku, sebelum aku sempat berteriak. Dia akan segera melihatku kalau aku memakai Cincin sekarang, di Mordor. Nah, aku hanya bisa mengatakan: kelihatannya keadaanku benar-benar tanpa harapan, seperti embun beku di musim semi. Justru saat keadaan tidak kasat mata akan sangat bermanfaat, aku tak mungkin memakai Cincin! Dan kalau aku bisa pergi lebih jauh, Cincin hanya akan menjadi penahan dan beban pada setiap langkahku. Jadi, apa yang harus kulakukan?” Sebenarnya Ia tidak ragu lagi. la tahu bahwa Ia harus segera pergi ke gerbang dan tidak menundanya lebih lama lagi. Dengan mengangkat bahu, seolah-olah untuk menghilangkan bayangan dan membuang hantu-hantu, perlahan-lahan ia mulai berjalan turun. Langkah demi langkah seakan-akan membuatnya semakin kecil. Belum berjalan jauh, Ia sudah menyusut kembali menjadi hobbit yang sangat kecil dan ketakutan. Sekarang Ia melewati tembok Menara, teriakan- teriakan dan suara pertengkaran terdengar jelas olehnya tanpa bantuan Cincin. Kedengarannya bunyi-bunyi itu datang dari pelataran di belakang dinding paling luar.



Sam sudah menapaki separuh jalan itu ketika dua Orc berlari keluar dari gerbang gelap ke dalam cahaya merah. Mereka tidak berlari ke arahnya. Mereka berlari ke arah jalan utama; tapi kemudian mereka tersandung dan jatuh, lalu berbaring diam. Sam tidak melihat panah, tapi ia menduga Orc-Orc itu sudah ditembak oleh yang lain di atas tembok benteng atau yang bersembunyi di bayangan gerbang. la maju terus, sambil memeluk tembok di sisi kirinya. Sekali menengadah ke atas, sudah jelas baginya bahwa mustahil memanjat ke sana. Pasangan batu itu menjulang setinggi sembilan meter, tanpa celah retakan atau ambal penumpu, sampai mencapai jalan yang menggantung di atas, seperti anak tangga yang tertelungkup. Hanya gerbanglah satu-satunya jalan masuk.
la merangkak maju terus; sambil berjalan Ia bertanya dalam hati, berapa banyak Orc yang tinggal di dalam Menara bersama Shagrat, dan berapa anak buah Gorbag, lalu apa yang sedang mereka pertengkarkan, kalau memang itu yang sedang terjadi. Rombongan Shagrat kelihatannya berjumlah sekitar empat puluh, dan anggota rombongan Gorbag dua kali lipat itu; tapi tentu rombongan patroli Shagrat baru sebagian saja dari seluruh pasukannya. Sudah hampir pasti mereka sedang bertengkar tentang Frodo, dan barang rampasan. Selama sedetik Sam berhenti, karena tiba-tiba semuanya menjadi jelas baginya, seolah- olah ia sudah melihatnya sendiri. Rompi mithril! Tentu saja, Frodo sedang memakainya, dan mereka pasti menemukannya. Dan dari apa yang didengar Sam, pasti Gorbag akan berhasrat memilikinya. Tapi Perintah dari Menara Kegelapan menjadi satu-satunya perlindungan bagi Frodo sekarang, dan kalau perintah itu diabaikan, ada kemungkinan Frodo akan terbunuh setiap saat.
“Ayo, kau pemalas malang!” teriak Sam pada dirinya sendiri. “Maju sekarang!” Ia menghunus Sting dan berlari ke gerbang yang terbuka. Tapi tepat ketika akan masuk di bawah balok lengkungnya yang besar, Ia merasakan suatu kejutan: seakan-akan Ia sudah menabrak jaring seperti jaring Shelob, tapi tidak kasat mata. la tak bisa melihatnya sama sekali, tapi sesuatu yang terlalu kuat untuk dilawan oleh kehendaknya menghalangi jalan. la memandang sekeliling, lalu dalam bayangan gerbang Ia melihat Dua Penjaga.

Mereka seperti dua sosok besar yang duduk di atas takhta. Masing-masing mempunyai tiga tubuh yang digabungkan, dan tiga kepala yang menghadap ke arah luar, ke dalam, dan ke seberang jalan masuk. Kepala-kepala itu berwajah seperti burung pemakan bangkai, dan di atas lutut mereka yang besar terletak tangan-tangan seperti cakar. Tampaknya mereka dipahat dari bongkahan batu besar, tak bisa digerakkan, tapi mempunyai kesadaran: suatu ruh menyeramkan penuh kewaspadaan yang kejam berdiam dalam diri mereka. Mereka mengenali musuh, baik kasat mata atau tidak, tak ada yang bisa lewat tanpa ketahuan. Mereka akan melarangnya masuk, atau menghalangi pelariannya.
Sambil mengeraskan hati, Sam maju sekali lagi, dan tersentak berhenti, terhuyung-huyung seolah kena pukulan di dada dan kepalanya. Lalu dengan sangat berani, karena tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan, dan sebagai jawaban atas suatu pikiran yang tiba-tiba terlintas, dengan perlahan Ia mengeluarkan tabung Galadriel dan mengacungkannya. Cahayanya yang putih dengan cepat membesar, dan bayang-bayang gelap di bawah balok lengkung itu menyingkir. Para Penjaga yang menyeramkan itu duduk dingin dan diam, sosok mereka yang menjijikkan tersingkap seluruhnya. Sejenak Sam menangkap kilatan sinar dalam batu hitam yang menjadi mata mereka, dan kekejian yang terpancar membuatnya gemetar ketakutan; tapi perlahan-lahan Ia merasa kekuatan kehendak mereka goyah, dan akhirnya runtuh menjadi ketakutan.
la melompat melewati mereka; tapi saat melompat sambil memasukkan kembali tabung Galadriel ke balik bajunya, ia menyadari dengan sangat jelas, sejelas suara palang besi ditutup dengan keras di belakangnya, bahwa kewaspadaan mereka sudah bangkit kembali. Dan dari kepala-kepala keji itu datang teriakan nyaring melengking yang bergema di tembok-tembok yang menjulang tinggi di depannya. Jauh tinggi di atas, sebuah lonceng berbunyi kasar dengan satu kali dentangan, seperti isyarat balasan.
“Celaka!” kata Sam. “Aku sudah membunyikan bel pintu depan! Nah, kemarilah, siapa saja!” teriaknya. “Katakan pada Shagrat bahwa pejuang Peri hebat sudah datang, bersama pedang Peri-nya!”
Tak ada jawaban. Sam melangkah maju. Sting bersinar biru di tangannya.

Pelataran tertutup bayangan gelap, tapi Ia bisa melihat bahwa lantai yang berubin dipenuhi tubuh-tubuh berserakan. Di dekat kakinya tergeletak dua Orc pemanah dengan pisau menancap di punggung mereka. Di luar itu masih banyak sosok bergelimpangan; beberapa sendiri-sendiri, dalam posisi saat mereka dipukul jatuh atau ditembak; ada juga yang berpasangan, masih saling berpegangan erat, mati selagi sibuk menusuk, mencekik, dan menggigit. Ubin- ubin lantainya licin karena basah oleh darah.
Sam melihat dua macam pakaian seragam, satu berlambang Mata Merah, satunya lagi bergambar Bulan yang bentuknya dirusak oleh wajah kematian yang menyeramkan; tapi Ia tidak berhenti untuk memperhatikan lebih cermat. Di seberang pelataran, sebuah pintu besar di kaki Menara setengah terbuka, cahaya merah memancar keluar; satu Orc besar tergeletak mati di ambangnya. Sam melompati tubuh itu dan masuk; lalu ia melihat sekeliling dengan bingung. Sebuah lorong lebar dan bergema membentang dari pintu menuju sisi pegunungan. Cahaya redup obor-obor yang menyala dalam penyangga pada dinding menerangi selasar itu, tapi ujungnya yang jauh di sana, hilang dalam gelap. Banyak pintu dan bukaan terlihat di sana-sini; tapi lorong itu kosong, kecuali dua atau tiga tubuh yang tergeletak di lantai. Berdasarkan yang didengarnya dari pembicaraan para kapten, Sam tahu bahwa hidup atau mati, Frodo sangat mungkin berada di suatu ruangan jauh tinggi di menara; tapi bisa jadi Ia harus mencari seharian sebelum bisa menemukan jalan ke sana.
“Mungkin ada dekat bagian belakang,” gerutu Sam. “Seluruh Menara menjulang

ke atas, agak condong ke belakang. Sebaiknya aku mengikuti lampu-lampu ini.”

la maju sepanjang lorong itu, perlahan-lahan, setiap langkah semakin enggan. Rasa takut sudah mulai merasukinya lagi. Tak ada bunyi lain kecuali derap kakinya, yang terasa semakin keras seperti bunyi berisik bergema, seperti bunyi tangan besar memukul bebatuan. Tubuh-tubuh yang mati, kelengangan, tembok- tembok gelap lembap yang dalam cahaya obor tampak meneteskan darah, ketakutan bahwa maut sedang bersembunyi di ambang pintu atau dalam bayang-bayang; dan di latar belakang pikirannya selalu muncul ingatan pada kejahatan yang waspada dan menunggu di gerbang: terlalu banyak yang Ia

paksakan untuk dihadapi. Dengan senang hati Ia akan menyambut pertempuran asalkan tidak terlalu banyak musuh pada saat bersamaan daripada ketidakpastian dalam diam menunggu ini. la memaksakan diri memikirkan Frodo yang berbaring terikat, atau dalam kesakitan, atau mati di suatu tempat dalam bangunan mengerikan ini. Sam berjalan terus.
la masuk melewati obor terakhir, dan hampir sampai ke sebuah pintu lengkung di ujung lorong, bagian dalam gerbang bawah. Dugaannya benar, ketika dari jauh di atas terdengar jeritan tercekik mengerikan. la berhenti mendadak. Lalu terdengar bunyi langkah mendekat. Seseorang sedang berlari terburu-buru dari atas, menuruni tangga yang bergema.
Tekad Sam terlalu lemah dan lamban untuk menahan tangannya. Tangannya menarik-narik rantai dan menggenggam Cincin. Tapi Sam tidak memakainya; sebab saat Ia mendekap Cincin ke dadanya, satu Orc datang dengan bunyi berisik. Melompat keluar dari suatu lubang gelap di sisi kanan, datang berlari ke arahnya. Orc itu jaraknya tak lebih enam langkah dari Sam, ketika Ia mendongakkan kepala dan melihat Sam; Sam bisa mendengar napas kagetnya dan sorot matanya yang merah. Orc itu mendadak berhenti dengan terkejut. Sebab yang dilihatnya bukan seorang hobbit kecil yang ketakutan, yang mencoba memegang pedang dengan kokoh: Ia melihat sosok besar diam, terselubung bayangan kelabu, muncul di depan cahaya yang bergoyang di belakangnya; di satu tangan ia memegang pedang yang cahayanya terasa sangat menyakitkan, sedangkan tangan satunya mengepal di dada, menyembunyikan kekuatan dan bencana mengancam yang tidak diketahui wujudnya.
Untuk beberapa saat Orc itu merunduk, lalu dengan jerit ketakutan mengerikan ia berputar dan lari kembali. Sam, yang tak menduga hal ini, merasa seperti anjing yang bangkit semangatnya ketika musuhnya berlari menjauh. Dengan berteriak Ia mengejar Orc itu.
“Ya! Pejuang Peri sudah lepas!” teriaknya. “Aku datang. Tunjukkan saja jalan ke atas, kalau tidak, aku akan mengulitimu!”
Tapi Orc itu berada di tempat yang sudah dikenalnya, lagi pula Ia lincah dan

sudah cukup makan. Sedangkan Sam asing di sana, lapar dan letih. Tangganya tinggi, curam, dan berputar-putar. Sam mulai terengah-engah. Orc itu segera hilang dari pandangan, hanya sayup-sayup terdengar bunyi entakan kakinya saat Ia berlari naik. Sesekali Orc itu berteriak, dan gemanya mengalir sepanjang tembok. Tapi perlahan-lahan semua suaranya lenyap.
Sam berjalan terus dengan susah payah. la merasa sudah berada di jalan yang benar, dan semangatnya sudah cukup melambung. la menyingkirkan Cincin dan memperketat sabuknya. “Well, well!” katanya. “Kalau mereka semua ternyata tidak menyukai aku dan Sting, mungkin keadaan akan lebih baik daripada yang kuduga. Bagaimanapun, tampaknya Shagrat, Gorbag, dan anak buah mereka sudah melakukan sebagian besar tugasku. Kecuali tikus kecil yang ketakutan itu, kurasa tak ada lagi di tempat ini yang masih hidup!”
Saat berpikir begitu, Ia berhenti dengan terkejut, seolah-olah kepalanya terbentur tembok batu. la baru menyadari sepenuhnya makna ucapannya itu. Tidak ada yang masih hidup! Jadi, teriakan siapa yang tadi terdengar, teriakan mengerikan seperti jeritan orang dihadang kematian? “Frodo, Frodo! Master!” teriak Sam, setengah terisak. “Kalau mereka sudah membunuhmu, apa yang harus kulakukan? Well, aku datang akhirnya, langsung ke puncak menara, untuk melihat apa yang harus kulakukan.”


Ia pun naik, naik terus. Gelap sekali, hanya sesekali ada obor menyala di tikungan, atau di samping bukaan yang menuju tingkat-tingkat lebih tinggi di Menara. Sam mencoba menghitung anak-anak tangga, tapi setelah dua ratus hitungannya mulai kacau: Ia bergerak diam-diam sekarang, karena mengira mendengar suara-suara berbicara, agak di atas. Rupanya masih lebih dari satu “tikus” yang hidup.
Tiba-tiba, saat napasnya sudah hampir putus dan Ia tak sanggup lagi memaksa lututnya menekuk, tangga itu berakhir. la berdiri diam. Suara-suara itu sekarang keras dan jelas. Sam melihat sekitarnya: Ia sudah mendaki langsung sampai ke atap datar di tingkat ketiga, tingkat paling tinggi di Menara: sebuah tempat terbuka, sekitar dua puluh meter lebarnya, dengan tembok pembatas rendah. Di

sana tangga tertutup sebuah ruang kecil berkubah di tengah pelataran aTapi dengan pintu-pintu rendah menghadap ke timur dan barat. Di timur Sam bisa melihat padang Mordor yang luas dan gelap di bawah, dan gunung yang membara jauh di sana. Gejolak baru sedang berkecamuk Jauh di dalam sumur- sumurnya, dan sungai-sungai api menyala sangat cerah, sehingga pada jarak sejauh itu cahayanya menerangi menara dengan sinar merah. Ke arah barat, pemandangan terhalang oleh kaki Puncak menara yang berdiri di bagian belakang pelataran atap itu, tanduknya menjulang tinggi di atas puncak perbukitan yang mengelilinginya. Cahaya bersinar di celah jendelanya. Pintunya kurang sepuluh meter dari tempat Sam berdiri. Pintu itu terbuka tapi gelap, dari dalam keremangannya suara-suara itu terdengar.
Mula-mula Sam tidak mendengarkan; ia keluar satu langkah dari pintu timur dan melihat sekelilingnya. Rupanya di atap inilah pertengkaran paling dahsyat terjadi. Seluruh pelataran dipenuhi Orc mati bergelimpangan; kepala, tungkai, atau lengan mereka yang sudah terpancung berserakan di mana-mana. Tempat itu berbau kematian. Suara geraman yang disusul pukulan dan teriakan membuat Sam berlari kembali untuk bersembunyi. Suara Orc meninggi sambil marah, dan Sam segera mengenalinya, parau, kasar, dan dingin. Shagrat, Kapten Menara, yang berbicara.
“Kau tidak mau pergi lagi, katamu? Terkutuklah kau, Snaga, belatung kecil! Kau keliru kalau mengira aku sudah terluka begitu parah, sehingga kau bisa seenaknya mencemoohku. Kemari kau, akan kupencet matamu keluar, persis seperti telah kulakukan pada Radbug. Dan kalau anak buah yang baru sudah datang, aku akan menghukummu: akan kukirim kau ke Shelob.”
“Mereka tidak akan datang, tidak sebelum kau mati,” jawab Snaga dengan merengut. “Sudah dua kali kuceritakan bahwa bajingan-bajingan Gorbag sampai ke gerbang lebih dulu, dan anak buah kita sama sekali tak ada yang sempat keluar. Lagduf dan Muzgash lari keluar, tapi mereka ditembak. Aku melihatnya dari jendela, sudah kuceritakan tadi. Dan mereka yang terakhir.”
“Kalau begitu, kau harus pergi. Bagaimanapun, aku harus tetap di sini. Tapi aku

cedera. Semoga Gorbag si pemberontak busuk terjeblos ke dalam Sumur-Sumur

Hitam!” Suara Shagrat melantur mengeluarkan serentetan sumpah serapah dan makian. “Aku memperlakukan dia lebih baik daripada yang patut diperolehnya, tapi keparat kotor itu menusukku dengan pisau, sebelum aku sempat mencekiknya. Kau harus pergi, kalau tidak, aku akan memakanmu. Berita ini harus sampai ke Lugburz, kalau tidak kita berdua akan dibuang ke Sumur Hitam. Ya, kau juga. Kau tidak akan bisa lolos dengan tetap bersembunyi di sini.”
“Aku tidak akan turun lewat tangga itu lagi,” geram Snaga, “meski kau kapten atau bukan. Tidak! Lepaskan tanganmu dari pisaumu, kalau tidak aku akan menembusmu dengan pariah. Kau tidak akan lama lagi menjadi kapten kalau mereka mendengar tentang semua kejadian ini. Aku sudah berkelahi demi membela Menara terhadap bajingan-bajingan busuk dan Morgul itu, tapi kalian kapten yang hebat malah mengacaukan semuanya, mempertengkarkan barang rampasan.”
“Bicaramu sudah cukup,” gertak Shagrat. “Aku melakukan apa yang diperintahkan padaku. Gorbag yang memulainya, mencoba mencuri rompi bagus itu.”
“Nah, kau yang membuatnya jengkel, dengan sikapmu yang begini angkuh dan sombong. Bagaimanapun, dia lebih cerdas daripadamu. Sudah lebih dari satu kali dia bilang padamu bahwa yang paling berbahaya dan mata-mata itu masih bebas berkeliaran, dan kau tidak mau mendengarkan. Kini pun kau tidak mau mendengarkan. Gorbag benar, aku yakin itu. Ada seorang petarung hebat di sekitar sini, salah satu Peri bertangan kejam, atau salah satu dari tark menjijikkan itu. (lihat Apendiks F) Dia akan datang ke sini, percayalah padaku. Kau juga sudah dengar bel, kan? Dia sudah berhasil melewati para Penjaga, dan itu pasti ulah tark. Dia sudah berada di tangga. Dan selama dia belum pergi dan situ, aku tidak mau turun. Biarpun kau jadi Nazgul, aku tidak akan mau.”
“Oh, jadi begitu rupanya, ya?” teriak Shagrat. “Kau memilih-milih mau melakukan apa? Kalau tark itu datang, kau akan lari meninggalkan aku? Tidak, tidak akan! Akan kubuat perutmu penuh lubang belatung dulu.”
Orc yang lebih kecil itu lari keluar dari pintu puncak menara. Di belakangnya muncul Shagrat, Orc besar dengan lengan panjang mencapai lantai saat Ia

berlari sambil merunduk. Tapi satu lengan tergantung lemas dan tampaknya mengucurkan darah; satunya lagi memegang bungkusan besar hitam. Sam, yang meringkuk di belakang pintu tangga, menangkap sekilas wajah kejamnya yang terkena cahaya merah ketika ia melewatinya: wajahnya penuh goresan, seperti dicabik-cabik oleh cakar dan berlumuran darah; air liur menetes dari taringnya yang mencuat; mulutnya menggeram seperti hewan.
Sejauh yang Sam lihat, Shagrat memburu Snaga sekeliling aTapi hingga Orc yang lebih kecil itu dengan merunduk dan mengelak akhirnya lari sambil menjerit, kembali ke ruang puncak menara, lalu menghilang. Kemudian Shagrat berhenti. Dan' balik pintu timur Sam bisa melihatnya berdiri dekat tembok pembatas yang rendah, sambil megap-megap, cakar kirinya mengepal dan membuka dengan lemah. la meletakkan bungkusan itu di lantai, dan dengan cakar kanannya menghunus sebilah pisau panjang merah dan meludahinya. Lalu Ia mendekati tembok pembatas dan membungkuk di atasnya, memandang ke pelataran jauh di bawahnya. Dua kali Ia memanggil, tapi tak ada jawaban.
Tiba-tiba, ketika Shagrat masih membungkuk di atas tembok pembatas, sambil membelakangi pelataran aTapi dengan tercengang Sam melihat bahwa salah satu tubuh yang menggeletak itu bergerak. Sosok itu merangkak. la menjulurkan satu cakar dan mencengkeram bungkusan itu. la bangkit berdiri sambil terhuyung-huyung. Di tangan satunya ia memegang tombak berujung lebar dengan pegangan pendek yang sudah patah. la bersiap menyerang dengan menusuk. Tapi tepat pada saat itu keluar bunyi desis dari antara giginya, entah embusan napas kesakitan atau kedengkian. Cepat bagai ular Shagrat menggeser tubuhnya, berputar, dan menusukkan pisaunya ke leher musuhnya. “Kena kau, Gorbag!” teriaknya. “Belum mati betul, hah? Nah, akan kuselesaikan tugasku sekarang.” Ia meloncat ke atas tubuh yang terjatuh itu, dan sambil mengamuk, menginjak-injak dan menindasnya dan sesekali membungkuk untuk menusuk dan menyayatnya dengan pisaunya. Setelah puas, ia mendongakkan kepala dan mengeluarkan teriakan kemenangan sambil berdeguk. Lalu ia menjilat pisaunya dan menjepitnya dengan giginya. Sambil memungut bungkusannya ia berlari menuju pintu tangga terdekat.

Sam sudah tak punya waktu untuk berpikir. la bisa saja menyelinap keluar dan pintu lainnya, tapi hampir tak mungkin tanpa terlihat; dan ia tak bisa main petak umpet dengan Orc menjijikkan ini untuk waktu lama. Maka ia melakukan yang terbaik untuk situasinya saat itu. la melompat maju untuk menyambut Shagrat sambil berteriak. la tidak memegang Cincin lagi, tapi Cincin itu masih ada padanya, suatu kekuatan tersembunyi, ancaman menakutkan bagi budak-budak Mordor; tangannya memegang Sting, dan cahayanya memukul mata Orc itu seperti kilauan bintang-bintang kejam di negeri-negeri Peri yang mengerikan, yang merupakan mimpi buruk bagi bangsa Orc. Shagrat tak mungkin berkelahi sambil tetap memegang hartanya. la berhenti, menggeram, dan menyeringai. Lalu sekali lagi, dengan gaya Orc, ia melompat ke pinggir. Ketika Sam melompat ke arahnya, Shagrat menggunakan bungkusan berat itu sebagai perisai sekaligus senjata, dan mendorongnya dengan keras ke wajah musuhnya. Sam terhuyung-huyung, dan sebelum ia bisa pulih, Shagrat berlari melewatinya dan menuruni tangga.
Sam berlari mengejarnya sambil memaki-maki, tapi tidak mengejar sampai jauh. Tak lama kemudian pikirannya kembali pada Frodo, dan ia ingat bahwa Orc satunya sudah masuk kembali ke ruang puncak menara. Lagi-lagi ia dihadapkan pada pilihan sulit, dan ia tak punya waktu untuk merenunginya. Kalau Shagrat berhasil lolos, ia pasti segera kembali dengan membawa bala bantuan. Tapi kalau Sam mengejarnya, mungkin Orc satunya akan melakukan sesuatu yang mengerikan di atas sana. Bagaimanapun, mungkin saja serangan Sam terhadap Shagrat meleset, atau Shagrat berhasil membunuhnya. Sam cepat membalikkan badan dan kembali menaiki tangga sambil berlari. “Salah lagi, rasanya,” keluhnya. “Tapi sudah tugasku untuk naik ke puncak dulu, apa pun yang terjadi setelah itu.”
Jauh di bawah. Shaurat melompati anak-anak tangga dan keluar melintasi pelataran, melewati gerbang sambil membawa bebannya yang berharga. Andai Sam melihatnya dan tahu kesedihan yang akan diakibatkan oleh pelariannya, mungkin ia akan takut. Tapi kini perhatiannya tertuju pada tahap terakhir pencariannya. Dengan hati-hati ia mendekati pintu puncak menara dan

melangkah masuk. Di dalam ternyata gelap. Tapi segera matanya melihat cahaya redup di sisi kanannya. Cahaya itu keluar dari bukaan yang menuju tangga lain, gelap dan sempit: rupanya tangga itu melingkar naik di puncak menara itu, menyusuri bagian dalam tembok luarnya yang bundar. Sebuah obor bersinar dan suatu tempat di atas.
Pelan-pelan Sam mulai naik. la sampai ke obor yang berkelip-kelip, di atas sebuah pintu di sisi kirinya; pintu itu menghadap sebuah celah jendela yang memandang ke arah barat: salah satu mata merah yang dilihatnya bersama Frodo dan bawah, di mulut terowongan. Dengan cepat Sam melewati pintu itu dan bergegas naik ke tingkat dua, dengan perasaan cemas kalau-kalau ia diserang dan ada jari-jari mencekik lehernya dari belakang. Setelah itu ia sampai ke sebuah jendela yang menghadap ke timur, dan sebuah obor lain di atas pintu ke selasar yang melintas bagian tengah menara. Pintunya terbuka, selasarnya gelap, hanya diterangi nyala obor dan cahaya merah dari guar yang merembes melalui celah jendela. Tapi di sini tangga berakhir, tidak berlanjut ke atas lagi. Sam maju perlahan-lahan ke dalam selasar. Di kedua sisi ada pintu rendah; keduanya tertutup dan terkunci. Tak ada bunyi lama sekali.
“Buntu,” gerutu Sam, “setelah aku bersusah payah naik! Ini tak mungkin puncak

menara. Tetapi apa yang bisa kulakukan sekarang?”

la berlari kembali ke tingkat yang lebih rendah dan mencoba membuka pintunya. Tidak bergerak lama sekali. la lari ke atas lagi, keringat mulai mengucur di wajahnya. la merasa menit-menit pun sangat berharga, tapi satu demi satu menu-menu itu berlalu; dan ia tak bisa melakukan apa-apa. la sudah tak peduli pada Shagrat atau Snaga atau Orc mana pun yang pernah dikembangbiakkan. la hanya rindu pada majikannya, mendambakan melihat wajahnya sekali lagi, atau merasakan sentuhan tangannya walau hanya sekali.
Akhirnya, dengan lelah dan perasaan kalah, ia duduk di anak tangga di bawah tingkat berselasar, dan menundukkan kepalanya ke dalam tangan. Sunyi sekali, kesunyian yang mencekam. Obor yang sejak tadi menyala kecil kini berkedap- kedip, lalu padam; kegelapan menyelubunginya bagai gelombang pasang. Mendadak, di penghujung perjalanan panjang dan kesedihannya yang sia-sia ini,

tergerak entah oleh pikiran apa, Sam mulai menyanyi perlahan.

Suaranya kedengaran kecil dan gemetar di menara yang dingin dan gelap: suara hobbit yang kesepian dan letih. Tak mungkin Orc yang mendengarnya bisa terkecoh mengira itu nyanyian jernih seorang pangeran Peri. Sam menggumamkan lagu-lagu kanak-kanak lama dari Shire, dan potongan-potongan sajak Mr. Bilbo yang terlintas dalam pikirannya, seperti kilasan tentang kampung halamannya. Tiba-tiba semangat baru bangkit dalam dirinya, dan suaranya berbunyi nyaring, sementara kata-katanya sendiri muncul tanpa dicari-cari untuk dicocok dengan nadanya.


Di negeri-negeri barat di bawah Matahari bunga-bunga tumbuh di Musim Semi,
air mengalir, pohon pohon bersemi, kutilang ceria bernyanyi.
Mungkinkah di sana malam tak bermega

dan menggantung di pohon beech bergoyang bintang-bintang Peri putih bak permata
di antara rambutnya yang bercabang-cabang.



Meski kuberbaring di akhir perjalanan di sini, jauh dalam kegelapan terbenam,
di luar semua menara kuat dan tinggi, di seberang semua gunung curam,
di atas keremangan beranjak Matahari Dan Bintang-Bintang berdiam selamanya: takkan kubilang sudah usai Mari ini,
serta Bintang-Bintang, takkan kupamit padanya.



“Di luar semua menara kuat dan tinggi,” Ia mulai lagi, lalu mendadak berhenti. la merasa mendengar suara lemah menjawabnya. Tapi sekarang Ia tak bisa mendengar apa pun. Ya, ada yang terdengar, tapi bukan suara. Langkah kaki

sedang mendekat. Lalu sebuah pintu dibuka dengan tenang di selasar di atas; engsel-engselnya berkeriut. Sam meringkuk sambil mendengarkan. Pintu tertutup dengan bunyi gedebuk teredam; lalu suara Orc yang menggertak terdengar keras.
“Ho la! Kau yang di atas, kau tikus busuk! Hentikan decitanmu, kalau tidak, aku

akan datang dan menghajarmu. Kaudengar?”

Tak ada jawaban.

“Ya sudah,” geram Snaga. “Tapi aku tetap akan datang melihatmu, supaya aku tahu apa yang kaurencanakan.”
Engsel-engsel berkeriut lagi, dan Sam, yang sekarang mengintip dari atas sudut ambang pintu, melihat kilasan cahaya di sebuah ambang pintu terbuka, dan sosok kabur satu Orc keluar. Rupanya ia sedang menggotong tangga. Tiba-tiba jawabannya terlintas dalam pikiran Sam: ruang paling atas dicapai melalui pintu kolong di atap selasar. Snaga mendorong tangga ke atas, mengukuhkannya, lalu memanjat dan hilang dari pandangan. Sam mendengar sebuah kunci dibuka. Lalu ia mendengar suara menjijikkan itu berbicara lagi.
“Berbaring diam, kalau tidak, kau kuhajar! Tidak banyak waktu lagi bagimu untuk hidup tenang; tapi kalau kau tak ingin pestanya dimulai sekarang, tutup mulutmu! Ini peringatan!” Terdengar bunyi lecutan cambuk.
Mendengar bunyi itu, amarah Sam bangkit. la melompat, berlari, dan memanjat tangga bagai kucing. Kepalanya muncul di tengah lantai ruangan bundar yang luas. Lampu merah tergantung dari langit-langitnya; celah jendela di sisi barat menjulang tinggi dan gelap. Sesuatu terbaring di lantai, dekat tembok di bawah jendela, tapi di atasnya sesosok Orc mengangkanginya. Orc itu mengacungkan cambuknya untuk kedua kali, tapi lecutannya tak pernah sampai ke tujuannya. Dengan berteriak Sam melompat maju, Sting terhunus di tangannya. Orc itu berputar, tapi sebelum Ia bisa bergerak Sam menebas tangan yang memegang cambuk hingga lepas dari lengannya. Sambil menjerit kesakitan dan ketakutan, tapi nekat, Orc itu menyerangnya dengan kepala merunduk. Pukulan Sam berikutnya melenceng jauh, dan karena kehilangan keseimbangan ia terjatuh ke belakang, sambil mencengkeram Orc yang tersandung jatuh di atasnya.

Sebelum bisa bangkit berdiri, Sam mendengar teriakan dan bunyi gedebuk. Saking terburu-buru, Orc itu tersandung ujung tangga dan jatuh melalui pintu kolong yang terbuka. Sam tidak memperhatikannya lagi. la berlari mendekati sosok yang meringkuk di lantai. Ternyata Frodo.


Frodo telanjang, berbaring seolah pingsan, di tumpukan potongan kain kotor: lengannya terangkat, melindungi kepalanya, sisi tubuhnya tergurat noda merah bekas lecutan cambuk.
“Frodo! Mr. Frodo, ya ampun!” teriak Sam, sementara air mata mengaburkan pandangannya. “Aku Sam, aku sudah datang!” Ia setengah mengangkat majikannya dan mendekapnya ke dadanya. Frodo membuka mata.
“Apakah aku masih bermimpi?” gumamnya. “Tapi mimpi-mimpi yang lain sangat

mengerikan.”

“Kau sama sekali bukan bermimpi, Master,” kata Sam. “Ini kenyataan. Ini aku. Aku sudah datang.”
“Aku hampir tak percaya,” kata Frodo, memegang Sam erat-erat.

“Ada Orc dengan cambuk, lalu dia berubah menjadi Sam! Kalau begitu aku tidak bermimpi sama sekali saat mendengar nyanyian di bawah tadi, dan aku mencoba menjawabnya? Kaukah itu?”
“Memang, Mr. Frodo. Aku sudah putus asa, hampir. Aku tak bisa menemukanmu.”
“Nah, sekarang kau sudah menemukan aku, Sam, Sam sayang,” kata Frodo, dan Ia berbaring dalam pelukan Sam yang lembut, memejamkan matanya, seperti seorang anak yang merasa tenang saat kecemasan malam hari sudah diusir oleh suara atau tangan orang yang dikasihinya.
Sam merasa bisa duduk seperti itu dalam kebahagiaan selamanya; tapi itu tak mungkin. Belum cukup bahwa Ia sudah menemukan majikannya; Ia masih harus mencoba menyelamatkan Frodo. Dikecupnya dahi Frodo. “Ayo! Bangun, Mr. Frodo!” katanya, berusaha kedengaran ceria seperti ketika Ia membuka tirai di Bag End pada pagi hari musim panas.
Frodo mengeluh dan bangkit duduk. “Di mana kita? Bagaimana aku sampai ke

sini?”

“Tak ada waktu untuk cerita-cerita sampai kita berhasil sampai di tempat lain, Mr. Frodo,” kata Sam. “Tapi sekarang kau berada di puncak menara yang kita lihat dari bawah, di dekat terowongan, sebelum para Orc menangkapmu. Sudah lebih dari satu hari, kurasa.”
“Baru selama itu?” kata Frodo. “Rasanya seperti sudah berminggu-minggu. Kau harus menceritakan semuanya padaku, kalau sudah ada kesempatan. Ada yang memukulku, bukan? Lalu aku jatuh ke dalam kegelapan dan mimpi-mimpi buruk, lalu bangun dan ternyata keadaannya malah lebih buruk lagi. Di sekitarku Orc semua. Kuduga mereka baru saja menuangkan minuman panas menjijikkan ke dalam tenggorokanku. Pikiranku jadi lebih jernih, tapi aku kesakitan dan letih. Mereka melucutiku; lalu dua Orc besar dan kasar datang menanyaiku, bertanya terus hingga aku merasa bakal jadi gila, sementara mereka berdiri di atasku, bergembira melihatku tersiksa, sambil meraba-raba pisau mereka. Aku takkan pernah melupakan cakar dan mata mereka.
“Kau tidak akan lupa kalau kau terus membicarakannya, Mr. Frodo,” kata Sam. “Dan kalau kita tak ingin melihat mereka lagi, sebaiknya kita secepat mungkin pergi dari sini. Kau bisa jalan?”
“Ya, aku bisa jalan,” kata Frodo, sambil perlahan-lahan bangkit berdiri. “Aku tidak cedera Sam. Hanya saja aku merasa sangat letih, dan di sini terasa sakit.” Ia meletakkan tangannya di belakang leher, di atas bahu kirinya. la berdiri, dan Sam merasa seolah tubuh Frodo terbungkus nyala api, kulitnya yang telanjang terlihat merah padam di bawah cahaya lampu di atas. la melangkah melintasi ruangan dua kali.
“Itu lebih baik!” kata Frodo, sementara semangatnya agak bangkit. “Aku tidak berani bergerak ketika ditinggal sendirian, atau bila salah satu penjaga datang. Sampai teriakan dan perkelahian itu dimulai. Kedua Orc besar dan kasar itu rupanya bertengkar. Tentang aku dan barang-barangku. Aku berbaring di sini sambil ketakutan. Lalu semuanya jadi sepi, dan itu bahkan lebih buruk.”
“Ya, rupanya mereka bertengkar,” kata Sam. “Sebenarnya ada sekitar beberapa

ratus makhluk menjijikkan itu di tempat ini. Agak membuat kewalahan Sam

Gamgee, bisa dikatakan begitu. Tapi mereka sendiri sudah saling bunuh. Beruntung sekali, tapi terlalu lama kalau membuat lagu tentang itu, sampai kita keluar dari sini. Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau tak bisa mengembara di Negeri Hitam dengan bertelanjang, Mr. Frodo.”
“Mereka sudah mengambil semuanya, Sam,” kata Frodo. “Semua yang kumiliki. Kau mengerti? Semuanya!” Ia meringkuk lagi di lantai dengan kepala tertunduk, saat ucapannya sendiri membuat Ia menyadari sepenuhnya makna bencana itu, dan rasa putus asa menimpanya. “Misi kita sudah gagal, Sam. Meski bisa keluar dan sini, kita takkan bisa lolos. Hanya Peri yang bisa melarikan diri. Pergi, pergi dari Dunia Tengah, pergi jauh mengarungi Samudra. Itu pun kalau Samudra cukup luas untuk menghindari Bayang-Bayang itu masuk.”
“Tidak, tidak semuanya, Mr. Frodo. Dan misi kita belum gagal. Aku mengambilnya, Mr. Frodo, maaf. Dan sudah kusimpan dengan aman. Sekarang ada di leherku, rasanya berat sekali.” Sam merabaraba mencari Cincin dan rantainya. “Tapi kurasa kau harus mengambilnya kembali.” Sekarang, ketika saatnya tiba, Sam merasa enggan menyerahkan Cincin itu dan membebani lagi majikannya.
“Kau menyimpannya?” Frodo menarik napas kaget. “Ada di sini? Sam, kau benar-benar hebat!” Lalu dengan cepat dan ajaib suara Frodo berubah. “Berikan padaku!” teriaknya sambil berdiri, mengulur tangannya yang gemetaran. “Segera berikan padaku! Kau tidak boleh memegangnya!”
“Baik, Mr. Frodo,” kata Sam, agak terkejut. “Ini dia!” Perlahan-lahan Ia mengeluarkan Cincin itu dan menarik rantainya ke atas kepala. “Tapi kau sekarang berada di negeri Mordor, Sir; di luar nanti, kau akan melihat Gunung Api dan semuanya. Kau akan menyadari Cincin itu sudah sangat berbahaya sekarang, dan merupakan beban yang sangat berat untuk dipikul. Kalau tugas ini terlalu berat, mungkin aku bisa berbagi denganmu?”
“Tidak, tidak!” teriak Frodo sambil merebut Cincin dan rantai itu dari tangan Sam. “Tidak, tidak akan, kau maling!” Frodo terengah-engah, menatap Sam dengan mata melotot, penuh ketakutan dan kebencian. Lalu tiba-tiba, sambil menggenggam Cincin itu dalam kepalan tangannya, Ia berdiri terperanjat.

Penglihatannya yang tadi tertutup kabut seolah kembali terang, dan Ia menyapukan tangan ke dahinya. Pemandangan mengerikan itu terasa begitu nyata, sementara ia masih setengah linglung karena luka-luka dan ketakutannya. Tadi, di depan matanya, Sam berubah menjadi Orc lagi, melirik dan mencakar hartanya, sesosok makhluk kecil busuk dengan mata serakah dan mulut meneteskan air liur. Tapi kini pemandangan itu sudah berlalu. Itu dia Sam, berlutut di depannya, wajahnya menggeliat kesakitan, seolah-olah jantungnya sudah ditusuk; air mata menggenangi matanya.
“Oh, Sam!” teriak Frodo. “Apa yang sudah kukatakan? Apa yang sudah kulakukan? Maafkan aku! Setelah semua yang sudah kaulakukan. Inilah kekuatan mengerikan Cincin itu. Kalau saja Cincin ini tak pernah ditemukan. Tapi jangan hiraukan aku, Sam. Aku harus memikul beban ini sampai akhir. Itu tak bisa diubah. Kau tak mungkin mengelakkan aku dari bencana ini.”
“Tidak apa-apa, Mr. Frodo,” kata Sam sambil menyeka matanya dengan lengan baju. “Aku mengerti. Tapi aku masih bisa membantu, bukan? Aku harus mengeluarkanmu dari sini. Segera! Tapi pertama-tama kau butuh beberapa pakaian dan perlengkapan, lalu sedikit makanan. Pakaian adalah yang termudah. Berhubung kita berada di Mordor, sebaiknya kita berpakaian dengan gaya Mordor; lagi pula, tak ada pilihan lain. Aku khawatir kau terpaksa memakai pakaian Orc, Mr. Frodo. Aku juga. Kalau kita pergi bersama-sama, sebaiknya kita berpakaian serasi. Sekarang pakailah ini!”
Sam membuka jubah kelabunya dan memasangkannya ke bahu Frodo. Lalu ia melepaskan ranselnya dan meletakkannya di lantai. la menghunus Sting dan sarungnya. Sekarang pedang itu tidak bersinar. “Aku lupa ini, Mr. Frodo,” katanya. “Tidak, mereka tidak mengambil semuanya! Kau meminjamkan Sting padaku, kalau kau ingat, dan tabung kaca Galadriel. Semua ada padaku. Tapi pinjamkan lebih lama lagi padaku, Mr. Frodo. Aku harus pergi dan berusaha menemukan barang-barang keperluan kita. Kau di sini saja. Jalan-jalanlah sedikit untuk melemaskan kakimu. Aku tidak akan lama. Aku tidak perlu pergi jauh.”
“Hati-hati, Sam!” kata Frodo. “Dan cepatlah! Mungkin saja ada Orc yang masih hidup, sedang bersembunyi dan menunggu.”

“Aku terpaksa mengambil risiko itu,” kata Sam. Ia mendekati pintu kolong dan menuruni tangga. Semenit kemudian kepalanya rnuncul lagi. la melemparkan sebilah pisau ke lantai.
“Ini bisa bermanfaat,” katanya. “Dia mati Orc yang mencambukmu. Kelihatannya lehernya patah saat dia lari terburu-buru. Sekarang tariklah tangga ini ke atas, kalau bisa, Mr. Fr.odo; dan jangan turunkan sampai kau mendengar aku menyebutkan kata sandi. Aku akan berteriak Elbereth. Seperti yang diucapkan kaum Peri. Tak mungkin ada Orc mengucapkan kata itu.”


Untuk beberapa saat Frodo duduk menggigil, sementara pikiran-pikiran mengerikan berkejaran dalam benaknya. Lalu Ia bangkit berdiri, merapatkan jubah Peri itu ke tubuhnya, dan agar pikirannya tetap sibuk, ia mulai berjalan mondar-mandir, membongkar-bongkar dan mengamati semua sudut penjaranya. Tak berapa lama kemudian, rasanya sekitar satu jam karena ia menunggu sambil ketakutan, Ia mendengar suara Sam berteriak perlahan dari bawah: Elbereth, Elbereth. Frodo menurunkan tangga yang ringan itu. Sam memanjat naik, sambil membawa bungkusan besar di atas kepalanya. la menjatuhkannya dengan bunyi gedebuk.
“Sekarang cepat-cepatlah, Mr. Frodo!” katanya. “Aku sudah susah payah mencari sesuatu yang cukup kecil bagi hobbit macam kita. Kita terpaksa memakai baju seadanya. Tapi kita harus bertindak cepat. Aku tidak bertemu makhluk hidup, juga tidak melihat apa pun, tapi hatiku tidak enak. Kupikir tempat ini diawasi. Aku tak bisa menjelaskannya, tapi kira-kira seperti ini; rasanya salah satu Penunggang jahat itu ada di sekitar sini, di atas, dalam kegelapan, sehingga dia tidak terlihat.”
Sam membuka bungkusan itu. Frodo memandang isinya dengan jijik, tapi tak ada pilihan lain: ia harus mengenakan barang-barang itu atau tetap telanjang. Ada celana panjang berbulu dari kulit hewan yang menjijikkan, dan jubah dari kulit kotor. la memakainya. Di atas jubah ia memakai rompi cincin besi yang kokoh, terlalu pendek bagi Orc yang besar, tapi bagi Frodo terlalu panjang dan berat. la mengikatnya dengan sabuk, dan pada sabuk itu menggantung sebuah

sarung pendek berisi pedang tusuk bermata lebar. Sam sudah membawa beberapa helm Orc. Salah satunya pas untuk Frodo, topi hitam dengan pinggiran besi, dan lingkaran-lingkaran besi dilapisi kulit bergambar Mata Jahat berwarna merah, di atas tudung berbentuk seperti moncong.
“Sebenarnya barang-barang Morgul, perlengkapan si Gorbag, lebih cocok dan buatannya lebih bagus,” kata Sam, “tapi kupikir sebaiknya tidak membawa-bawa lambangnya masuk ke Mordor, terutama setelah kejadian di sini. Nah, beres sudah, Mr. Frodo. Orc kecil yang sempurna, kalau boleh kukatakan begitu setidaknya kau bisa seperti Orc, kalau kita menutupi wajahmu dengan topeng, memberimu lengan lebih panjang, dan membuat kakimu bengkok. Itu akan menyembunyikan beberapa tanda yang membuat kita ketahuan.” Ia menyampirkan sehelai jubah besar hitam ke bahu Frodo. “Sekarang kau sudah siap! Kau bisa memungut sebuah perisai sambil kita berjalan.”
“Bagaimana denganmu, Sam? Bukankah kita akan mencocokkan pakaian kita agar serasi?”
“Nah, Mr. Frodo, aku sudah berpikir-pikir,” kata Sam. “Sebaiknya aku tidak meninggalkan barang-barangku di sini, dan kita tak bisa memusnahkannya. Aku tak bisa mengenakan baju besi Orc di atas semua pakaianku, bukan? Aku hanya perlu menutupinya.”
Sam berlutut dan dengan cermat melipat jubah Peri-nya. Mengherankan sekali, jubah itu bisa dilipat menjadi gulungan kecil. la memasukkannya ke dalam ransel yang tergeletak di lantai. Sambil berdiri, Ia mengayunkan ransel itu ke belakang punggung, memakai helm Orc di kepalanya, dan menyampirkan jubah hitam lain ke bahunya. “Nah!” katanya, “kita sudah serasi, lumayan. Sekarang kita harus pergi!”
“Aku tidak bisa berlari sepanjang jalan, Sam,” kata Frodo dengan senyum sedih. “Kuharap kau sudah bertanya-tanya apakah ada penginapan di sepanjang jalan? Atau kau sudah lupa tentang makanan dan minuman?”
“Ya ampun, memang aku lupa!” kata Sam. Ia bersiul kaget. “Maaf, Mr. Frodo, kau berhasil membuatku lapar dan haus! Aku tidak tahu, kapan terakhir kali tetesan air atau remah-remah masuk ke mulutku. Aku sudah lupa, karena sibuk

mencari-carimu. Tapi coba kupikir dull! Kali terakhir aku mengamati, aku masih punya cukup roti perjalanan, dan sisa dari yang diberikan Kapten Faramir pada kita, untuk memenuhi kebutuhanku selama beberapa minggu, bila berhemat. Tapi tak setetes pun air tersisa dalam botolku, sama sekali tidak. Bagaimanapun, itu tidak akan cukup bagi kita berdua. Apakah Orc tidak makan dan minum? Atau mereka hanya hidup dari udara busuk dan racun?”
“Tidak, Sam, mereka makan dan minum. Bayangan yang membiakkan mereka hanya bisa meniru, tidak bisa menciptakan benda-benda yang benar-benar baru. Kurasa bukan dia tidak memberi kehidupan kepada para Orc; dia hanya merusak dan mengubah bentuk mereka; supaya bisa hidup, mereka harus hidup seperti makhluk-makhluk hidup lain. Air busuk dan daging busuk mungkin akan mereka makan, kalau tidak ada yang lebih baik, tapi racun tidak. Mereka memberiku makan, jadi keadaanku malah lebih baik daripadamu. Pasti ada makanan dan minuman di suatu tempat di sini.”
“Tapi tak ada waktu untuk mencarinya,” kata Sam.

“W ell, sebenarnya keadaan kita lebih baik daripada yang kaukira,” kata Frodo. “Aku agak beruntung ketika kau pergi. Memang mereka tidak mengambil semuanya. Aku sudah menemukan tas, makananku di lantai, di antara beberapa kain gombal. Tentu saja mereka sudah menggeledahnya. Tapi mungkin mereka tidak suka melihat dan mencium bau lembas, lebih tidak suka daripada Gollum. Agak berserakan, beberapa terinjak dan patah, tapi sudah kukumpulkan lagi. Tidak jauh berbeda dengan apa yang kau miliki. Tapi mereka mengambil makanan dari Faramir dan menyayat botol airku.”
“Nah, kalau begitu tidak perlu kita bahas lagi,” kata Sam. “Kita punya cukup bekal untuk memulai perjalanan. Tapi air akan menjadi masalah berat. Tapi ayolah, Mr. Frodo! Kita pergi, kalau tidak, biar ada satu telaga penuh air, tidak akan ada gunanya sama sekali!”
“Kita tidak akan berangkat sampai kau sudah makan sedikit, Sam,” kata Frodo. “Aku tidak mau mengalah. Ini, ambillah kue Peri ini, dan minumlah tetes terakhir dalam botolmu! Semuanya memang tanpa harapan, jadi tidak baik kalau cemas tentang hari esok. Mungkin saja hari esok tidak pernah datang.”



Akhirnya mereka berangkat. Mereka menuruni tangga, lalu Sam mengambil dan meletakkannya di selasar, dekat tubuh Orc mati yang meringkuk. Tangganya gelap, tapi di pelataran aTapi cahaya menyilaukan dari Ginning masih terlihat, meski sudah mulai memudar menjadi merah pucat. Mereka memungut dua perisai untuk melengkapi penyamaran mereka, lalu pergi.
Mereka menuruni tangga langkah demi langkah. Ruangan tinggi di puncak menara, tempat mereka tadi bertemu, hampir terasa seperti di rumah, sekarang mereka berada di alam luar lagi, dan kengerian merambati tembok-tembok. Memang semuanya sudah mati di Menara Cirith Ungol, tapi bangunan itu masih diliputi ketakutan dan kejahatan.
Akhirnya mereka sampai ke pintu di pelataran paling luar, dan berhenti. Dan tempat mereka berdiri mereka bisa merasakan kekejian para Penjaga menerpa mereka, sosok-sosok hitam yang diam, di kedua sisi gerbang, melalui mana cahaya Mordor terlihat sarnarsamar. Ketika mereka mencari jalan di antara tubuh-tubuh Orc yang menjijikkan, setiap langkah terasa semakin sulit. Sebelum sampai ke balok lengkung gerbang, mereka terhenti. Bergerak maju satu inci saja terasa menyakitkan dan sangat melelahkan bagi tungkai mereka.
Frodo tak punya kekuatan untuk perjuangan semacam itu. la rebah ke lantai. “Aku tak bisa berjalan terus, Sam,” gumamnya. “Aku akan pingsan. Aku tidak tahu apa yang menimpaku.”
“Aku tahu, Mr. Frodo! Tabahlah! Gerbang itu penyebabnya. Ada sihir jahat di situ. Tapi aku berhasil lewat, dan aku akan keluar. Tak mungkin lebih berbahaya daripada sebelumnya. Ayo!”
Sam mengeluarkan lagi tabung kaca Galadriel. Seakan untuk menghormati ketabahannya, dan menyemarakkan dengan gemilang tangan Sam yang cokelat dan setia, yang sudah melakukan perbuatan-perbuatan baik, tabung itu menyala terang sekali dengan tiba-tiba, sehingga seluruh pelataran gelap itu diterangi oleh kecemerlangan menyilaukan seperti halilintar; cahayanya tetap bersinar dan tidak padam.
“Gilthoniel, A Elbereth!” teriak Sam. Entah mengapa, tiba-tiba ia ingat kembali

para Peri di Shire, dan nyanyian yang mengusir Penunggang Hitam di hutan.

“Aiya elenion ancalima!” teriak Frodo sekali lagi di belakangnya.

Kekuatan para Penjaga mendadak terpecah seperti tali yang putus, dan Frodo serta Sam terhuyung-huyung ke depan. Lalu mereka lari. Melalui gerbang dan melewati sosok-sosok besar yang duduk dengan mata berkilauan. Ada bunyi derakan. Batu pengunci lengkung gerbang jatuh nyaris di atas kaki mereka, dan tembok di atasnya runtuh, jatuh berpuing-puing. Mereka nyaris tidak luput. Sebuah lonceng berbunyi; para Penjaga keluar dengan sebuah teriakan tinggi melengking yang menyeramkan. Dan dalam kegelapan jauh tinggi di atas datang jawabannya. Dan langit turun bagai petir sebuah sosok bersayap, merobek awan-awan dengan jeritan mengerikan.

BAB 2

NEGERI BAYANG-BAYANG



Sam belum kehilangan akal. la cepat-cepat memasukkan kembali tabung kaca itu ke balik bajunya. “Lari, Mr. Frodo!” teriaknya. “Tidak, jangan ke sana! Ada jurang curam di luar tembok. Kemari, ikuti aku!”
Dan gerbang mereka lari di jalan yang membentang. Dalam lima puluh langkah,

dengan satu kelokan yang menikung tajam menyusuri sebuah tonjolan kubu batu karang, jalan itu membawa mereka keluar dari jarak pandang Menara. Untuk sementara mereka lolos. Sambil gemetaran mereka bersandar ke batu karang, menarik napas dalam, lalu masing-masing mencengkeram dada. Kini Nazgul yang bertengger di atas tembok samping gerbang yang runtuh meneriakkan jeritan-jeritan mautnya. Semua batu karang pun bergema.
Penuh ketakutan mereka terus berjalan terseok-seok. Tak lama kemudian, jalan itu kembali membelok tajam ke timur, dan sejenak membuat mereka bisa terlihat dari arah Menara. Saat melintas cepat, mereka menoleh dan melihat sosok besar hitam di atas tembok; lalu mereka pun terjun turun ke antara dinding- dinding batu karang tinggi di celah yang curam dan bersambung dengan jalan dari Morgul. Mereka kini sampai ke pertemuan jalan. Belum ada tanda-tanda para Orc, juga belum ada jawaban atas teriakan Nazgul; tapi mereka tahu kesunyian itu takkan bertahan lama. Setiap saat pengejaran akan dimulai. “Langkah kita tidak tepat, Sam,” kata Frodo. “Kalau kita memang Orc, mestinya kita berlari kembali ke Menara, bukan melarikan diri. Musuh pertama yang bertemu dengan kita pasti akan mengenali. Bagaimanapun, kita harus keluar dari jalan ini:”
“Tapi kita tidak bisa,” kata Sam. “Tidak bisa bila tanpa sayap.”



Permukaan timur Ephel Duath curam sekali, terjun ke dalam celah batu karang dan ngarai, sampai ke palling hitam yang terletak di antara mereka dan punggung gunung sebelah dalam. Tak jauh dan pertemuan jalan, setelah lereng curam, sebuah jembatan batu melayang di atas jurang dan mengantar jalan

melintas masuk ke lereng-lereng dan lembah-lembah Morgai yang bersusun. Dengan berlari cepat Frodo dan Sam melintasi jembatan; tapi sebelum sampai ke ujungnya mereka mulai mendengar sorak-sorai dan gempita teriakan. Jauh di belakang mereka, tinggi di sisi gunung, menjulang Menara Cirith Ungol, bebatuannya bersinar redup. Mendadak loncengnya yang kasar berbunyi lagi, lalu semakin nyaring menjadi dentang memekakkan. Terompet-terompet berbunyi. Kemudian dari seberang jembatan datang teriakan balasan. Di bawah, di dalam palling yang gelap, terpotong dari sinar Orodruin yang mulai padam, Frodo dan Sam tak bisa melihat ke depan, namun mereka sudah mendengar bunyi langkah kaki bersepatu besi, dan derap cepat kaki kuda di jalan.
“Cepat, Sam! Kita melompat saja!” teriak Frodo. Mereka memanjat tembok pembatas jembatan yang rendah. Untung di tempat itu jarak ke dasar ngarai sudah tidak begitu dalam, sebab lereng-lereng Morgai sudah naik sampai hampir sejajar dengan jalan; tapi cuaca terlalu gelap bagi mereka untuk bisa menduga seberapa dalam mereka jatuh.
“Nah, ayo, Mr. Frodo,” kata Sam. “Selamat berpisah!”

la menjatuhkan diri. Frodo menyusulnya. Tepat saat jatuh mereka mendengar pengendara kuda melintas cepat di atas jembatan, dan bunyi derak kaki Orc mengikuti di belakang. Sam sebenarnya ingin tertawa, seandainya berani. Sambil setengah cemas akan terjatuh dan cedera di atas batu karang yang tidak tampak, kedua hobbit yang terjun tak lebih dari jarak setinggi selusin kaki itu mendarat dengan bunyi gedebuk dan derakan ke dalam semak berduri yang kusut. Di sana Sam berbaring diam, dengan lembut mencecap tangannya yang luka tergores.
Ketika bunyi derap kaki kuda dan kaki Orc sudah berlalu, ia memberanikan diri berbisik. “Ya ampun, Mr. Frodo, aku tidak tahu bahwa masih ada yang tumbuh di Mordor! Seandainya aku tahu, justru hal semacam ini yang kucari. Duri-duri ini kira-kira tiga puluh senti panjangnya, sejauh aku bisa merabanya; mereka menembus semua yang kupakai. Coba aku memakai rompi besi itu!”
“Baju besi Orc tidak akan kuat menahan duri-duri ini,” kata Frodo. “Bahkan rompi kulit juga tidak kuat.”



Dengan susah payah mereka berhasil keluar dari semak-semak itu. Duri-duri dan onak itu alot seperti kawat dan mencengkeram bagai cakar. Jubah mereka compang-camping terkoyak-koyak sebelum akhirnya mereka terbebas.
“Sekarang kita turun, Sam,” Frodo berbisik. “Turun cepat ke dalam lembah, lalu membelok ke arah utara, secepat mungkin.”
Pagi hari sudah merebak lagi di dunia luar, dan jauh di seberang kemuraman

Mordor, Matahari memanjat ke atas pinggiran timur Dunia Tengah; tapi di sini semuanya masih gelap seperti malam hari. Api Gunung berangsur padam menjadi bara. Cahayanya memudar dari batu-batu karang. Angin timur yang berembus sejak mereka meninggalkan Ithilien, sekarang berhenti. Perlahan- lahan dan dengan susah payah mereka turun, sambil meraba-raba, tersandung, dan merangkak di antara batu karang, duri, dan kayu mati dalam bayang-bayang gelap membuta, turun dan turun sampai tak bisa maju lebih jauh lagi.
Akhirnya mereka pun berhenti, dan duduk berdampingan, bersandar ke sebuah batu besar. Keduanya basah berkeringat. “Seandainya Shagrat sendiri menawariku segelas air, akan kujabat tangannya,” kata Sam.
“Jangan bicara begitu!” kata Frodo. “Hanya membuat keadaan lebih buruk.” Lalu Ia berbaring, sambil merasa pusing dan letih, dan untuk beberapa lama Ia tidak berbicara lagi. Akhirnya dengan upaya keras ia bangkit berdiri. la tercengang melihat Sam sudah tertidur. “Bangun, Sam!” katanya. “Ayo! Sudah waktunya kita melakukan upaya lain lagi.”
Sam buru-buru bangkit berdiri. “Ya ampun!” katanya. “Aku tertidur tanpa sengaja. Sudah lama sekali, Mr. Frodo, aku tidak bisa tidur dengan baik, dan tadi mataku tertutup begitu saja.”


Sekarang Frodo yang memimpin jalan, sedapat mungkin ke arah utara sesuai perkiraannya, di antara bebatuan yang bertebaran memenuhi dasar jurang. Tapi tak lama kemudian Ia berhenti lagi.
“Ini tidak benar, Sam,” katanya. “Aku tidak tahan. Maksudku, rompi mau ini.

Dalam keadaanku sekarang ini aku tidak kuat. Bahkan rompi mithril-ku terasa

sangat berat bila aku sedang lelah. Yang ini jauh lebih berat. Dan apa gunanya?

Kita tidak akan bisa menerobos dengan cara berkelahi.”

“Tapi mungkin saja nanti kita perlu berkelahi,” kata Sam. “Juga ada pisau-pisau dan panah-panah nyasar. Gollum juga belum mati. Aku tidak suka memikirkan kau hanya dilindungi secarik kulit terhadap tusukan dalam gelap.”
“Begini, Sam, anak manis,” kata Frodo. “Aku letih, lelah, aku sudah tanpa harapan. Tapi aku tetap mesti mencoba mencapai Gunung itu, selama aku masih bisa bergerak. Cincin ini sudah cukup berat. Beban tambahan ini menyiksaku. Beban ini harus dibuang. Tapi jangan menganggap aku tidak berterima kasih. Aku tidak tega membayangkan kau terpaksa melakukan pekerjaan kotor di antara tubuh-tubuh Orc untuk mencarikan pakaian ini bagiku.” “Jangan dibahas, Mr. Frodo. Aku siap menggendongmu; seandainya bisa. Sudahlah, buang saja!”
Frodo menyingkap jubahnya, melepaskan baju besi Orc itu, dan membuangnya. la agak menggigil. “Yang sebenarnya kubutuhkan adalah sesuatu yang hangat,” katanya. “Sekarang hawanya dingin, atau mungkin aku yang agak demam.”
“Kau bisa memakai jubahku, Mr. Frodo,” kata Sam. Ia melepaskan ranselnya dan mengeluarkan jubah Peri. “Bagaimana kalau ini, Mr. Frodo?” katanya. “Tutuplah jubah Orc itu lebih rapat, dan pasanglah sabuk di luamya. Lalu jubah ini bisa menutupi semuanya. Memang tidak kelihatan seperti gaya Orc, tapi ini akan membuatmu lebih hangat; dan aku yakin kau akan lebih terlindung memakai ini daripada memakai perlengkapan lain. Jubah ini dibuat oleh Lady Galadriel.”
Frodo mengambil jubah itu dan mengunci brosnya. “Ini lebih baik!” katanya. “Aku merasa lebih ringan sekarang. Aku bisa melanjutkan perjalanan. Tapi kegelapan pekat ini rasanya mulai merasuki hatiku. Ketika terbaring di penjara, Sam, aku mencoba mengingat Brandywine, dan Woody End, dan Sungai yang mengalir melewati Hobbiton. Tapi kini aku tak bisa melihat semua itu.”
“Nah, nah, Mr. Frodo, sekarang kaulah yang membicarakan air!” kata Sam. “Seandainya Lady bisa melihat atau mendengar kita, akan kukatakan padanya,
'Lady yang mulia, yang kami inginkan hanya cahaya dan air: air bersih dan

cahaya pagi, hari yang lebih indah daripada permata mana pun, maaf.” Tapi dari

sini jauh sekali ke Lorien.” Sam mengeluh dan melambaikan tangannya ke arah Ephel Duath yang menjulang tinggi, yang kini hanya bisa diduga-duga keberadaannya sebagai bayangan lebih gelap di depan langit hitam.
Mereka mulai berjalan lagi. Belum jauh berjalan, Frodo berhenti lagi. “Ada Penunggang Hitam di atas kita,” katanya. “Bisa kurasakan. Sebaiknya kita diam dulu sejenak.”
Mereka duduk meringkuk di bawah sebuah batu besar, menghadap ke barat dan

tidak berbicara untuk beberapa saat. Lalu Frodo menarik napas lega. “Sudah lewat,” katanya. Mereka bangkit berdiri dan memandang penuh keheranan. Jauh di sisi kiri mereka, ke arah selatan, di depan langit yang sedang berubah kelabu, puncak-puncak dan punggung-punggung tinggi jajaran pegunungan yang luas mulai tampak gelap dan hitam, sosok mereka mulai terlihat jelas. Cahaya sedang muncul dan membesar di. belakangnya. Perlahan-lahan cahaya meraya ke Utara. Ada pertarungan jauh tinggi di angkasa. Awan-awan dari Mordor yang menggelembung terdorong mundur, tepi-tepinya terkoyak-koyak ketika angin dari dunia yang hidup datang menyapu asap dan uap ke negeri asalnya yang gelap. Di bawah pinggiran atap muram yang terangkat, cahaya redup merembes masuk ke Mordor, seperti pagi yang pucat masuk melalui jendela kusam sebuah penjara.
“Lihat, Mr. Frodo!” kata Sam. “Lihat! Angin berubah arah. Sesuatu sedang terjadi. Penguasa Kegelapan tidak lagi berkuasa sepenuhnya. Kegelapannya sedang terkoyak di dunia luar sana. Seandainya aku bisa melihat apa yang sedang terjadi!”
Hari itu pagi kelima belas bulan Maret. Di atas Lembah Anduin, Matahari terbit di atas bayangan dari timur, dan angin barat daya berembus. Theoden sedang menjelang ajal di medan perang Padang Pelennor.
Ketika Frodo dan Sam berdiri memandang, lingkaran cahaya itu menyebar ke sepanjang garis jajaran Ephel Duath, lalu mereka melihat sosok besar bergerak dengan kecepatan tinggi dari Barat, mula-mula hanya sebuah bintik hitam berlatar belakang garis kemilau di atas puncak-puncak gunung, lalu semakin besar, dan akhirnya seperti petir menyambar masuk ke langit-langit gelap, lewat

jauh tinggi di atas mereka. Ketika lewat, Ia mengeluarkan teriakan panjang melengking, suara Nazgul; tapi teriakan ini tidak lagi membuat mereka ketakutan: teriakan itu penuh kesengsaraan dan kepedihan, berita buruk untuk Menara Kegelapan. Penguasa Hantu Cincin sudah bertemu ajalnya.
“Apa kubilang? Sesuatu sedang terjadi!” teriak Sam. “'Perang berlangsung bagus, kata Shagrat; tapi Gorbag tidak begitu yakin. Dan ternyata dia benar. Keadaan mulai membaik, Mr. Frodo, Tidakkah harapanmu bangkit lagi sekarang?”
“W ell, tidak, tidak terlalu, Sam,” keluh Frodo. “Perang itu kan di sana, di seberang pegunungan. Kita sedang berjalan ke timur, bukan ke barat. Aku sudah sangat lelah. Dan Cincin ini begitu berat. Aku mulai melihatnya dalam benakku sepanjang waktu, seperti lingkaran api besar.”
Semangat Sam langsung merosot lagi. la memandang majikannya dengan cemas, dan memegang tangannya. “Ayo, Mr. Frodo!” katanya. “Ada satu hal yang kuinginkan: sedikit cahaya. Cukup untuk membantu kita, meski agak berbahaya juga. Cobalah melangkah lebih jauh, lalu kita berbaring istirahat. Sekarang ambillah ini untuk dimakan, sedikit makanan Peri; mungkin akan membangkitkan semangatmu.”


Sambil berbagi satu wafer lembas, dan mengunyah sebisanya dengan mulut yang terasa kering, Frodo dan Sam terus berjalan. Meski yang ada kini hanya cahaya senja kelabu, itu sudah cukup bag, mereka untuk melihat bahwa mereka berada jauh di dalam lembah, di antara pegunungan. Lembah itu mendaki dengan lembut, di dasarnya membentang dasar sungai yang sekarang sudah layu dan mengering. Di luar alurnya yang penuh bebatuan mereka melihat sebuah jalan yang tampak sudah sering ditapaki, menuju ke bawah kaki batu karang di sisi barat. Seandainya mereka tahu, sebenarnya mereka bisa mencapainya lebih cepat, sebab jalur itu meninggalkan jalan utama Morgul di ujung barat jembatan, dan turun seperti tangga yang dipahat ke dalam batu karang, sampai ke dasar lembah. Jalan itu digunakan oleh patroli-patroli atau utusan-utusan yang pergi dengan cepat ke pos-pos yang lebih kecil dan

benteng-benteng di arah utara, di antara Cirith Ungol dan bagian sempit Sungai

Isenmouthe, rahang-rahang besi Carach Angren.

Sangat berbahaya bagi kedua hobbit untuk menggunakan jalan semacam itu, tapi mereka membutuhkan kecepatan, dan Frodo merasa tidak tahan merangkak di antara batu-batu besar atau di lembah tanpa jejak di Morgai. Ia menilai bahwa pemburu-pemburu mungkin menduga mereka akan mengambil jalan ke arah utara. Jalan ke timur, ke padang, atau celah di belakang di barat, jalan-jalan itu yang pertamatama akan mereka sisir dengan cermat. Baru setelah berada jauh di utara Menara, Ia bermaksud membelok dan mencari jalan ke timur, ke timur pada tahap paling nekat perjalanannya. Maka sekarang mereka melintasi dasar berbatu dan mengambil jalan Orc, dan untuk beberapa lama mereka menyusurinya. Batu-batu karang di sisi kiri mereka membentuk aTapi dan mereka tak bisa terlihat dari atas; tapi jalan itu banyak berkelok, di setiap tikungan mereka memegang pangkal pedang dan maju dengan hati-hati.
Cahaya tidak bertambah kuat, sebab Orodruin masih memuntahkan asap besar yang memuncak semakin tinggi dan semakin tinggi karena terembus udara yang berlawanan arah, sampai mencapai wilayah di atas angin dan menyebar menjadi atap tak terhingga luasnya, yang tiang pusatnya muncul dari dalam bayang- bayang di luar jarak pandang mereka. Mereka sudah berjalan susah payah selama lebih dari satu jam ketika terdengar bunyi yang membuat langkah mereka terhenti.
Tak bisa dipercaya, tapi tak mungkin keliru. Air menetes. Dan sebuah selokan di sebelah kin, tajam dan sempit hingga seolah-olah batu karang hitam itu dibelah sebuah kapak besar, air menetes turun; mungkin sisa-sisa terakhir hujan manis yang terkumpul dari lautan yang bermandikan cahaya matahari, tapi bernasib buruk sehingga akhirnya jatuh ke dinding-dinding Negeri Hitam, sia-sia mengembara turun ke dalam debu. Di sini Ia keluar dari batu karang, bercucuran jatuh menjadi sungai kecil, lalu mengalir melintasi jalan, dan sambil membelok ke selatan, mengalir deras lalu menjauh sampai hilang di antara bebatuan yang mati.
Sam melompat mendekatinya. “Kalau aku bertemu Lady lagi suatu saat nanti,

akan kuceritakan ini padanya!” teriaknya. “Tadi cahaya, dan sekarang air!” Lalu

Ia berhenti. “Biar aku dulu yang minum, Mr. Frodo,” katanya. “Baiklah, tapi sebetulnya tempatnya cukup luas untuk berdua.”
“Bukan itu maksudku,” kata Sam. “Maksudku, kalau ternyata beracun, atau ada apa-apa, lebih baik aku yang kena daripada kau, Master, kalau kau paham maksudku.”
“Aku mengerti. Tapi kupikir kita akan bersama-sama mempercayai

keberuntungan kita, Sam; atau berkat kita. Tapi hati-hatilah, kalau-kalau airnya

dingin sekali!”

Airnya memang dingin, tapi tidak sedingin es, dan rasanya tidak enak, berminyak dan getir, atau begitulah kira-kira ungkapan di kampung halaman mereka. Di sini tampaknya air itu melampaui segala pujian, ketakutan, atau kewaspadaan. Mereka minum sepuas-puasnya, dan Sam mengisi kembali botol airnya. Setelah itu Frodo merasa lebih baik, dan mereka berjalan terus sepanjang beberapa mil, sampai pelebaran jalan dan awal suatu tembok kasar di tepinya memperingatkan mereka bahwa mereka sudah mendekati benteng Orc lain.
“Kita harus menyimpang dari jalan ini, Sam,” kata Frodo.. “Dan kita harus membelok ke timur.” Ia mengeluh sambil menatap punggung-punggung gunung yang muram di seberang lembah. “Sisa kekuatanku hanya cukup untuk mencari lubang di atas sana. Lalu aku harus istirahat sebentar.”


Sekarang dasar sungai berada agak di bawah jalan. Mereka merangkak turun ke sana dan mulai melintasinya. Mereka tercengang sekali ketika menemukan kolam-kolam gelap yang menerima kucuran air dari suatu sumber yang letaknya lebih tinggi di lembah. Di daerah perbatasan paling luar di bawah sisi barat pegunungan, Mordor memang negeri yang sedang sekarat, tapi belum mati. Dan di sini masih ada yang tumbuh, kasar, terpelintir, getir, berjuang untuk bisa hidup. Di celah-celah gunung di Morgai di sisi seberang lembah itu pepohonan rendah kerdil bersembunyi dan melekat erat, sementara berkas-berkas rumput kasar kelabu bertarung dengan bebatuan, dan lumut kering merayap di atasnya; semak-semak besar, kusut penuh duri dan tumbuh menggeliat, malang

melintang di mana-mana. Beberapa mempunyai duri panjang menusuk, beberapa mempunyai duri seperti kait setajam pisau yang mengoyak-ngoyak. Dedaunan kering dari tahun lalu masih menggantung di sana, berciut dan berkertak-kertuk di udara muram itu, sementara kuncup-kuncup berbelatung baru mulai mekar. Lalat-lalat, cokelat keabuan atau kelabu, atau hitam, ditandai seperti Orc dengan bercak merah berbentuk mata, mendengung dan menyengat; di atas rumpun-rumpun semak berduri kawanan serangga menari-nari dan terhuyung-huyung.
“Pakaian Orc tidak nyaman,” kata Sam sambil mengibaskan tangannya.

“Seandainya aku punya kulit Orc!”

Akhirnya Frodo tidak bisa pergi lebih jauh lagi. Mereka sudah mendaki keluar dari sebuah ngarai sempit berbeting-beting, tapi masih harus berjalan jauh sebelum bisa sampai ke dalam jarak pandang punggung bukit terjal terakhir. “Sekarang aku perlu istirahat, Sam, dan tidur kalau bisa,” kata Frodo. Ia melihat sekeliling, tapi rupanya tak ada satu tempat pun di daratan suram ini yang bisa dimasuki untuk berlindung, tidak juga untuk seekor binatang. Akhirnya, karena kelelahan, mereka menyelinap ke bawah tirai semak berduri yang menggantung seperti tikar di atas permukaan tanah rendah berbatu.
Mereka duduk di sana dan makan seadanya. Lembas yang berharga disimpan untuk saat-saat genting yang akan datang, dan mereka makan separuh dari sisa perbekalan di ransel Sam, yang diberikan Faramir: beberapa buah kering, dan sepotong kecil daging diawetkan; mereka juga menyesap sedikit air. Mereka sudah minum lagi dari kolam-kolam di lembah, tapi masih sangat haus. Ada rasa getir dalam air Mordor yang mengeringkan mulut. Bahkan ketika memikirkan air, Sam yang biasanya penuh harapan dan bersemangat, merasa kecil hati. Di seberang Morgai terbentang padang Gorgoroth yang mengerikan, yang harus mereka lintasi.
“Kau dulu yang tidur, Mr. Frodo,” katanya. “Sudah mulai gelap lagi. Tampaknya hari ini hampir berlalu.”
Frodo mengeluh dan hampir tertidur seketika. Sam berjuang dengan rasa letihnya sendiri, dan ia memegang tangan Frodo; di situlah ia diam-diam sampai

larut malam. Akhirnya, agar bisa tetap terjaga, ia merangkak keluar dari tempat persmbunyian dan melihat sekeliling. Daratan itu penuh dengan bunyi-bunyi keriut dan derak dan bunyi diam-diam, tapi tidak terdengar suara atau langkah kaki. Jauh di atas Ephel Duath di Barat, langit malam masih redup dan pucat. Di sana, mengintip dari antara reruntuhan awan, di atas bukit berbatu yang dnggi di pegunungan, Sam melihat sebuah bintang putih berkelip untuk beberapa saat. Keindahannya sangat menyentuh hati ketika ia rnenengadah melihat negeri yang lengang itu, dan hatinya dipenuhi harapan lagi. Bagai suatu sorotan jernih dan dingin, sebuah pikiran menembus hatinya bahwa pada akhirnya Bayang-Bayang itu hanyalah hal kecil dan akan berlalu: masih ada cahaya dan keindahan yang selamanya berada di luar jangkauannya. Nyanyian Sam di Menara lebih merupakan penentangan daripada harapan; sebab saat itu ia memikirkan dirinya sendiri. Kini, untuk sejenak, Ia tidak lagi mencemaskan nasibnya sendiri maupun nasib majikannya. la merangkak kembali ke dalam semak-semak dan berbaring di sisi Frodo. Dengan membuang semua ketakutannya, Ia membiarkan dirinya tertidur lelap tanpa gangguan.


Mereka bangun bersamaan, saling berpegangan tangan. Sam merasa cukup segar, siap untuk hari yang baru; tapi Frodo mengeluh. Tidurnya tidak nyaman, penuh mimpi-mimpi tentang api, dan setelah bangun pun hatinya tidak lebih ringan. Tapi bagaimanapun tidur itu telah membawa perbaikan: Ia sudah lebih kuat, mampu memikul bebannya satu tahap lebih jauh. Mereka tidak tahu waktu, juga tidak tahu berapa lama mereka sudah tidur; tapi setelah makan sedikit dan minum seteguk air, mereka melanjutkan berjalan mendaki jurang, sampai jurang itu berakhir pada suatu tebing terjal penuh batu karang pecah dan batu-batu gundul. Di sana perjuangan tumbuh-tumbuhan Untuk hidup, berakhir sudah; puncak-puncak Morgai tidak berumput, gundul, bergerigi, dan gersang seperti batu tulis.
Setelah berjalan ke sana kemari dan mencari-cari, akhirnya mereka menemukan jalan yang bisa mereka panjat. Dengan merangkak sambil mencakar sepanjang sekitar tiga puluh meter, akhirnya mereka, sampai di atas. Mereka sampai ke

suatu celah di antara dua tebing batu terjal yang gelap, dan setelah melewatinya, mereka mendapati bahwa mereka sudah berada di batas pagar terakhir Mordor. Di bawah mereka, di dasar tebing. curam setinggi sekitar 450 meter, padang luas terbentang sampai menghilang dalam keremangan tak berbentuk di luar batas pandang. Angin sekarang bertiup dari Barat, awan-awan besar terangkat tinggi, melayang ke arah timur; tapi hanya cahaya kelabu yang menerangi padang- padang muram Gorgoroth. Di sana asap merayap di atas tanah dan bersembunyi di dalam cekungan-cekungan, sementara uap merembes keluar dari celah-celah di tanah.
Mereka melihat Gunung Maut masih jauh sekali, setidaknya masih empat puluh mil, kakinya beralaskan puing-puing kelabu, kerucutnya yang besar menjulang tinggi, dan kepalanya yang menyebarkan asap, terbungkus awan-awan. Apinya sekarang redup, seolah tertidur sambil tetap membara, berbahaya dan mengancam, seperti binatang buas yang sedang tidur. Di belakangnya menggantung bayangan besar, mengancarn seperti awan petir, tirai-tirai Barad- dur yang berdiri jauh di sana, di atas jajaran panjang Pegunungan Abu yang menjulur dari Utara. Kekuasaan Gelap sedang berpikir keras, dan Mata sedang melihat ke dalam, merenungi kabar-kabar tentang bahaya dan kebimbangan: ia melihat sebuah pedang bersinar, dan sebuah wajah keras dan mulia seperti raja, dan untuk sementara Ia tidak terlalu memperhatikan hal-hal lain; semua bentengnya yang besar, gerbang demi gerbang, dan menara demi menara, sedang terselubung kemuraman pekat.
Frodo dan Sam memandang negeri itu dengan jijik bercampur heran. Di antara mereka dan gunung berasap, dan sekitarnya di utara dan selatan, semuanya tampak seperti reruntuhan, gurun yang terbakar dan tercekik. Mereka bertanya- tanya, bagaimana Penguasa wilayah ini merawat dan memberi makan budak- budak dan bala tentaranya. Meski begitu, ia memang mempunyai bala tentara. Sejauh mata memandang, sepanjang pinggiran Morgai dan di sebelah selatan berdiri kemah-kemah, beberapa berupa tenda-tenda, beberapa seperti kota yang tersusun rapi. Salah satu yang terbesar berada tepat di bawah mereka. Tidak sampai satu mil masuk ke padang itu, perkemahan tersebut kelihatan

bergerombol seperti sarang serangga, dengan jalan-jalan suram didereti gubuk- gubuk dan bangunan panjang rendah yang tidak menarik di sisi-sisinya. Di sekitarnya banyak orang sibuk mondar-mandir; sebuah jalan lebar menjulur dari tenggara dan bergabung dengan jalan Morgul, dan di sepanjang jalan itu barisan-bari sari panjang sosok hitam kecil sedang berjalan cepat.
“Aku sama sekali tidak suka apa yang kulihat,” kata Sam. “Boleh dibilang tak ada harapan lagi kecuali bahwa di mana ada banyak orang, pasti juga banyak sumber air, apalagi makanan. Dan mereka manusia, bukan Orc, atau barangkali penglihatanku keliru.”
Baik Sam maupun Frodo tidak tahu tentang padang-padang besar jauh di selatan di wilayah ini, yang diolah oleh para budak, di seberang asap Gunung dekat Telaga Nurnen dengan airnya yang gelap dan murung; mereka pun tidak tahu tentang jalan-jalan besar yang menjulur sampai ke timur dan selatan ke negeri-negeri jajahan, ! dari mana serdadu-serdadu dari Menara membawa serangkaian panjang kereta penuh barang dan rampasan serta budak-budak. Di wilayah utara ini terdapat pertambangan dan bengkel besi, dan pengerahan perang yang sudah lama direncanakan; di sini Kekuasaan Gelap menggerakkan pasukannya bagai bidak- bidak di papan catur. Gerakangerakannya yang pertama, peraba-peraba pertama kekuatannya, sudah diuji di perbatasan barat, selatan, dan utara. Untuk sementara ia menarik mereka mundur, dan mengerahkan pasukan baru, mengumpulkan mereka di Cirith Gorgor untuk serangan balasan. Seandainya ia bermaksud mempertahankan Gunung terhadap pendekatan dari mana pun, Ia sudah mempersiapkannya dengan sangat baik.
“Nah!” kata Sam. “Apa pun yang mereka makan dan minum, kita tak mungkin bisa mendapatkannya. Aku tidak melihat ada jalan turun ke sana. Dan kita tak mungkin melintasi daratan terbuka yang dipenuhi musuh, andai pun kita bisa turun ke sana.”
“Tapi kita harus mencoba,” kata Frodo. “Ini tidak lebih buruk daripada yang kudup. Aku memang tidak berharap bisa menyeberang ke sana. Aku tidak melihat sedikit pun harapan. Tapi aku tetap harus berusaha melakukan yang

terbaik. Berarti aku tak boleh sampai tertangkap, selama mungkin. Jadi, kita masih harus pergi ke utara, melihat keadaannya di tempat padang terbuka ini lebih sempit.”
“Aku bisa menduga keadaannya,” kata Sam. “Di tempat yang lebih sempit, Orc dan Manusia pasti bergerombol lebih rapat lagi. Lihat saja nanti, Mr. Frodo.” “Kelihatannya begitu, kalau kita bisa sampai sejauh itu,” kata Frodo, dan Ia membalikkan badan.


Segera mereka mendapati bahwa mereka tak mungkin berjalan melewati punggung Morgai, atau di mana pun sepanjang dataran tingginya, karena tidak ada jalan, dan banyak ngarai di sana-sini; Pada akhirnya mereka terpaksa kembali turun ke jurang yang sudah mereka daki, dan mencari jalan melalui lembah. Jalannya sulit sekali, karena tnereka tidak berani masuk ke jalan di sisi barat. Setelah kurang-lebih satu mil atau lebih, sambil meringkuk di suatu cekungan di kaki batu karang, mereka melihat benteng Orc yang sudah mereka duga berada di dekat sana: sebuah tembok dan sekelompok gubuk batu yang terletak dekat mulut sebuah gua gelap. Kelihatannya sepi-sepi saja, tapi kedua hobbit merangkak lewat dengan hati-hati, sedapat mungkin tetap berada dekat semak-semak berduri yang tumbuh rapat di tempat itu, di kedua sisi palung sungai lama.
Mereka berjalan dua atau tiga mil lebih jauh, dan benteng.Orc sudah tersembunyi dari penglihatan; tapi baru saja mereka mulai bernapas agak lega, terdengar suara-suara Orc yang parau dan keras. Dengan cepat mereka menyelinap bersembunyi di balik belukar cokelat yang kerdil. Suara-suara itu mendekat. Akhirnya dua Orc terlihat. Salah satu berpakaian cokelat dan bersenjata busur dari tanduk; ia dari jenis yang kecil, berkulit hitam, dengan lubang hidung lebar yang mengendus-endus: rupanya ia semacam pencari jejak. Satunya lagi Orc besar jenis petarung, seperti anak buah Shagrat, memakai lambang Mata. Ia juga membawa busur di punggungnya dan sebuah tombak berkepala lebar. Seperti biasanya mereka sedang bertengkar, dan karena mereka dari jenis yang berbeda, mereka menggunakan Bahasa Umum sesuai

gaya mereka.

Hanya dua puluh langkah dari tempat kedua hobbit bersembunyi, Orc yang kecil berhenti. “Tidak!” geramnya. “Aku mau pulang saja.” Ia menunjuk ke seberang lembah, ke benteng Orc. “Tak ada gunanya melelahkan hidungku dengan mencium-cium bebatuan. Sudah tak ada jejak tertinggal, menurutku. Aku kehilangan jejaknya setelah menuruti kemauanmu. Jejaknya naik ke perbukitan, bukan melewati lembah, sudah kubilang.”
“Kau tidak banyak berguna, bukan?” kata Orc yang besar. “Kupikir pasti mata lebih baik daripada hidung kalian yang beringus.”
“Kalau begitu, apa yang kaulihat dengan matamu?” gertak yang satunya. “Keparat! Kau bahkan tidak tahu apa yang harus kaucari.”
“Salah siapa itu?” kata serdadu itu. “Bukan salahku. Datangnya dari Petinggi di Atas. Mula-mula mereka bilang itu seorang Peri besar dengan senjata bersinar, lalu katanya dia semacam kurcaci manusia kecil, lalu katanya pasti itu segerombolan pemberontak Uruk-hai; atau mungkin semuanya bersama-sama.” “Ah!” kata si pencari jejak. “Mereka pasti sudah kehilangan akal sehat. Dan beberapa pimpinan akan dihukum juga, kukira, kalau apa yang kudengar memang benar: Menara diserang, ratusan kawanmu mati, dan tawanan berhasil lolos. Kalau begitu caranya kalian berulah, tidak heran kalau ada kabar buruk dari medan perang.”
“Siapa bilang ada kabar buruk?” teriak si serdadu. “Ah! Siapa bilang tidak ada?”
“Itu omongan terkutuk para pemberontak, dan aku akan menusukmu kalau kau

tidak berhenti bicara seperti itu, tahu?”

“Baik, baik!” kata si pencari jejak. “Aku tidak akan bicara lebih banyak lagi dan akan terus berpikir. Tapi apa hubungannya penyelinap hitam itu dengan semua ini? Kalkun jantan dengan tangan mengepak-ngepak itu?”
“Aku tidak tahu. Mungkin tidak ada. Tapi pasti dia bermaksud jahat, memata- matai. Terkutuklah dia! Baru saja dia luput dari tangan kita dan lari, datang perintah bahwa dia harus ditangkap hidup-hidup, dengan segera.”
“W ell, kuharap mereka menangkapnya dan menghukumnya,” geram si pencari

jejak. “Dia merusak jejak di sana, dengan mencuri rompi mau yang ditemukannya, dan berjalan ke sana kemari sebelum aku tiba di sana.”
“Tapi tindakan itu menyelamatkannya,” kata si serdadu. “Sebelum aku tahu dia harus ditangkap, aku menembaknya, sangat jitu, dari jarak lima puluh langkah, tepat di punggungnya; tapi dia terus lari.”
“Persetan! Kau gagal,” kata si pencari jejak. “Mula-mula kau menembak acak- acakan, lalu kau berlari terlalu lamban, kemudian kau meminta bantuan para pencari jejak yang malang. Aku sudah muak denganmu.” Ia mengeloyor pergi. “Kembali ke sini,” teriak si serdadu, “kalau tidak, aku akan melaporkanmu!”
“Pada siapa? Bukan ke Shagrat-mu yang hebat. Dia tidak akan menjadi kapten

lagi.”

“Aku akan memberi nama dan nomormu pada para Nazgul,” kata si serdadu sambil merendahkan suaranya sampai mendesis. “Salah satu dari mereka yang sekarang berkuasa di Menara.”
Orc satunya itu berhenti, suaranya penuh ketakutan dan kemarahan. “Kau

maling lihai terkutuk!” jeritnya. “Kau tidak mampu melakukan tugasmu, juga tidak bisa membela bangsamu sendiri. Pergi kau ke Penjerit-mu yang najis. Semoga mereka merontokkan dagingmu, kalau musuh tidak lebih dulu memusnahkan mereka. Kudengar musuh sudah menewaskan. Nomor Satu, dan kuharap itu benar!”
Orc yang besar, dengan tombak siap di tangan, melompat mengejarnya. Tapi si pencari jejak melompat ke belakang sebuah batu, dan menembak mata si serdadu dengan panah ketika ia berlari mendekat. Serdadu itu jatuh berdebum. Si pencari jejak lari melintasi lembah dan menghilang.


Selama beberapa saat kedua hobbit duduk diam. Akhirnya Sam bergerak “Well, itu baru benar-benar jitu,” katanya. “Kalau sikap bersahabat yang ramah ini menyebar di seluruh Mordor, separuh kesulitan kita hilang.”
“Diam, Sam,” bisik Frodo. “Mungkin masih ada yang berkeliaran. Rupanya kita nyaris lolos, dan mereka yang memburu kita ternyata lebih tahu jejak kita daripada yang kita sangka. Tapi begitulab memang semangat di Mordor, Sam;

dan itu sudah menyebar ke seluruh penjurunya. Tapi tidak banyak harapan yang bisa kaupetik darinya. Mereka jauh lebih benci pada kita, seluruhnya dan sepanjang waktu. Seandainya dua Orc tadi melihat kita, mereka pasti menghenti- kan pertengkaran mereka sampai kita mati.”
Sepi lagi untuk waktu lama. Sam memecahnya lagi, tapi kali ini ia berbisik. “Kaudengar apa kata mereka tentang kalkun jantan itu, Mr, Frodo? Sudah kubilang Gollum belum mati, bukankah begitu?”
“Ya, aku ingat. Dan aku heran bagaimana kau bisa tahu,” kata Frodo. “W ell, ya

sudah! Kupikir sebaiknya kita tidak keluar dari sini lagi, sampai hari sudah gelap. Lalu kau akan menceritakan padaku bagaimana kau tahu itu, dan semua yang sudah terjadi. Kalau kau bisa melakukannya dengan tenang.”
“Akan kucoba,” kata Sam, “tapi aku jadi marah dan ingin teriak-teriak bila

memikirkan si Stinker itu.”

Begitulah kedua hobbit itu duduk di bawah naungan belukar berduri, sementara cahaya muram Mordor dengan lambat memudar menjadi malam kelam tanpa bintang; Sam membisikkan ke telinga Frodo semua kata yang bisa ditemukannya untuk mengungkapkan pengkhianatan Gollum, Shelob yang mengerikan, dan petualangannya sendiri dengan para Orc. Ketika Ia selesai, Frodo tidak mengatakan apa pun, tapi meraih tangan Sam dan meremasnya. Akhirnya ia bergerak.
“Nah, kita harus pergi lagi,” katanya. “Aku ingin tahu, berapa lama lagi sebelum kita benar-benar tertangkap dan semua jerih payah serta penyelinapan kita berakhir sia-sia.” Ia bangkit berdiri. “Sudah gelap, dan kita tidak bisa memakai tabung kaca Lady. Simpanlah dengan aman untukku, Sam. Aku tak bisa menyimpannya sekarang, kecuali di tanganku, sedangkan aku membutuhkan kedua tanganku di malam buta ini. Tapi kuberikan Sting padamu. Aku punya pedang Orc, tapi rasanya aku tidak akan memukul dengan pedang lagi.”


Sangat sulit dan berbahaya berjalan di malam hari, di daratan tanpa jalan itu; perlahan-lahan, dengan tersandung-sandung, kedua hobbit bekerja keras jam demi jam ke arah utara, menyusuri sisi timur lembah berbatu. Ketika cahaya

kelabu sudah merangkak kembali di atas dataran tinggi barat, lama setelah pagi hari merebak di negeri-negeri seberang, mereka bersembunyi lagi dan tidur sejenak, bergiliran. Kala sedang terbangun, Sam sibuk memikirkan makanan. Akhirnya ketika Frodo bangun dan menyinggung tentang makan serta bersiap- siap untuk upaya selanjutnya, Sam mengajukan pertanyaan yang sangat mengganggunya.
“Maaf, Mr. Frodo,” katanya, “apa kau tahu kira-kira masih berapa jauh perjalanan

kita?”

“Tidak, Sam, aku tak punya perkiraan jelas,” jawab Frodo. “Di Rivendell, sebelum pergi aku ditunjukkan peta Mordor yang dibuat sebelum Musuh kembali ke sini; tapi aku hanya ingat samar-samar. Yang paling kuingat adalah ada tempat di utara, di mana pegunungan barat dan timur menjulurkan taji yang nyaris saling bertemu. Tempat itu setidaknya dua puluh league dari jembatan dekat Menara. Mungkin itu tempat yang baik untuk menyeberang. Tapi tentu saja, kalau sampai di sana, kita berada lebih jauh dari Gunung, menurutku kira-kira enam puluh mil jaraknya. Menurut perkiraanku, kita sudah berjalan sekitar dua belas league ke arah utara dari jembatan. Meski semuanya berjalan baik, aku tak mungkin mencapai Gunung dalam waktu seminggu. Aku khawatir beban ini akan semakin berat, dan semakin dekat ke sana, jalanku akan semakin lamban.”
Sam mengeluh. “Persis seperti yang kukhawatirkan,” katanya. “Nah, tanpa menyinggung masalah air, makanan kita juga sangat kurang, Mr. Frodo, atau kita harus bergerak sedikit lebih cepat, setidaknya sementara kita masih berada di lembah ini. Satu kali makan lagi, lalu habislah semua makanan kita, tinggal roti dari para Peri.”
“Aku akan mencoba berjalan lebih cepat, Sam,” kata Frodo sambil menarik napas dalam. “Ayo! mari kita berangkat lagi!”


Hari belum begitu gelap. Mereka berjalan dengan susah payah, hingga larut malam. Jam demi jam mereka lalui dengan langkahlangkah berat melelahkan sambil terseok-seok, dengan beberapa Perhentian singkat. Saat tanda-tanda pertama cahaya kelabu muncul di bawah tepian langit-langit bayangan, mereka

menyembunyikan diri lagi di sebuah cekungan, di bawah batu yang menonjol. Lambat laun cahaya semakin terang, hingga lebih terang daripada selama ini. Angin kencang dari Barat sekarang mendorong uap-uap Mordor dari langit atas. Tak lama kemudian kedua hobbit bisa lnelihat wujud daratan sampai sejauh beberapa mil di sekitar mereka. Palung di antara pegunungan dan Morgai semakin mengecil sementara ia menjulang ke atas, dan punggung sebelah dalam sekarang tak lebih dari sebuah birai di lereng terjal Ephel Duath; tapi di timur ia terjun dengan curam ke Gorgoroth. Di depan sana, saluran air berakhir di tangga baru karang yang sudah hancur; sementara dari pegunungan utama muncul sebuah taji tinggi dan gundul, menonjol ke arah tirnur bagai tembok. Sebuah lengan panjang menjulur keluar dari pegunungan utara Ered Lithui yang kelabu dan berkabut, mendekati taji itu; di antara.ujung-ujungnya ada celah sempit: Carach Angren, Isenmouthe, dengan lembah Udun di seberangnya. Di lembah di belakang Morannon itulah terletak terowongan-terowongan dan gudang-gudang senjata yang dibuat para budak Mordor untuk pertahanan Gerbang Hitam negeri mereka; dan di sanalah sekarang Penguasa mereka sedang mengumpulkan dengan cepat pasukan-pasukan besar untuk menghadapi serbuan para Kapten dari Barat. Di atas taji-taji yang menonjol, benteng-benteng dan menara-menara sudah dibangun, dan api penjagaan menyala; melintang di seluruh celah itu sudah berdiri suatu tembok tanah, dan sebuah parit dalam sudah digali, yang hanya bisa diseberangi melalui satu jembatan tunggal.
Beberapa mil ke utara, tinggi di sudut tempat taji barat menyimpang dan pegunungan utama, berdiri kastil lama Durthang, yang sekarang menjadi salah satu benteng Orc yang banyak terdapat di sekitar lembah Udun. Sebuah jalan berkelok-kelok, yang sudah mulai kelihatan dalam cahaya yang semakin terang, menjulur keluar dari benteng itu. Kira-kira dua mil dari tempat kedua hobbit berbaring, jalan itu membelok ke timur, menyusuri birai yang terpahat di sisi lereng, dan akhirnya turun ke padang, lalu terus ke Isenmouthe.
Ketika kedua hobbit melihat sekeliling, rasanya seluruh perjalanan mereka ke utara sudah sia-sia. Padang di sisi kanan mereka kabur dan berasap, dan

mereka tidak melihat kemah maupun pasukan bergerak; tapi seluruh wilayah itu di bawah pengawasan benteng-benteng Carach Angren.
“Kita sudah sampai jalan buntu, Sam,” kata Frodo. “Kalau berjalan terus, kita hanya akan sampai ke menara Orc itu, tapi satu-satunya jalan yang bisa diambil adalah yang turun dari benteng kecuali kalau kita kembali. Kita tak bisa mendaki ke arah barat, atau turun, ke arah timur.”
“Kalau begitu, kita harus mengambil jalan itu, Mr. Frodo,” kata Sam. “Kita harus mengambilnya dan mengadu keberuntungan kita, itu pun kalau ada keberuntungan di Mordor. Kalau kita mengembara terus, atau mencoba kembali, itu sama saja dengan menyerahkan diri makanan kita tidak akan cukup. Kita harus lari cepat!”
“Baiklah, Sam,” kata Frodo. “Tuntunlah aku! Selama kau masih menyimpan harapan. Harapanku sudah sirna. Tapi aku tak bisa lari, Sam. Aku hanya akan berjalan pelan-pelan di belakangmu.”
“Sebelum mulai berjalan pelan-pelan lagi, kau butuh tidur dan makanan, Mr.

Frodo. Ayo, tidurlah dan makanlah sebisa mungkin!”

la memberikan air pada Frodo dan wafer tambahan dari roti Peri, lalu dari jubahnya Ia membuat bantal untuk kepala majikannya. Frodo terlalu lelah untuk memperdebatkan masalah itu, dan Sam tidak mengatakan pada Frodo bahwa Frodo sudah minum tetes terakhir persediaan air mereka, dan sudah makan bagian Sam juga selain bagiannya sendiri. Ketika Frodo sudah tidur, Sam membungkuk di atasnya dan mendengarkan bunyi napasnya, sambil mengamati wajahnya. Wajah Frodo kurus dan bergurat, tapi dalam tidurnya Ia kelihatan puas dan tidak takut. “Nah, ini dia, Master!” gerutu Sam pada diri sendiri. “Aku terpaksa meninggalkanmu sejenak, dan menggantungkan harapan pada nasib baik. Kita harus mendapat air, kalau tidak kita tidak bisa jalan terus.”
Sam merangkak keluar, dan sambil melompat dari batu ke batu dengan sangat hati-hati layaknya seorang hobbit, Ia pergi ke saluran air, lalu mengikutinya beberapa lama sambil mendaki ke utara, sampai Ia tiba di tangga batu karang di mana lama berselang, mata airnya turun mengalir sebagai air terjun. Sekarang semuanya kelihatan kering dan diam; tapi Sam menolak berputus asa. la

membungkuk dan mendengarkan, dan dengan gembira Ia menangkap bunyi tetesan air. Setelah mendaki beberapa langkah, Ia menemukan sungai kecil berair gelap yang muncul dari sisi bukit dan mengisi sebuah kolam kecil gundul, dari mana airnya meluap dan menghilang di bawah bebatuan gersang.
Sam mencicipi airnya, rasanya cukup baik. Lalu Ia minum sepuasnya, mengisi kembali botolnya, dan membalikkan badan untuk kembali. Saat itu ia melihat sekilas suatu sosok hitam atau bayangan melintas di antara batu karang di dekat tempat persembunyian Frodo. Sambil menahan teriakan, Sam melompat turun dari mata air dan berlari, melompat dari batu ke batu. Makhluk itu berhati-hati, sulit dilihat, tapi Sam tidak meragukannya: Ia ingin sekali mencekiknya. Tapi Sosok itu mendengar Sam datang dan cepat menyelinap pergi. Sam merasa melihat sekilas sosok itu mengintip dari pinggiran jurang timur, sebelum merunduk dan lenyap.
“W ell, keberuntunganku masih ada,” gerutu Sam, “tapi tadi itu nyaris sekali! Bukankah sudah cukup bahwa ada ribuan Orc, tanpa harus ada keparat busuk itu berkeliaran di sini? Seandainya dulu dia ditembak!” Ia duduk dekat Frodo dan tidak membangunkannya; tapi ia sendiri tidak berani tidur. Akhirnya, ketika merasa matanya mulai terpejam dan ia tak sanggup lagi menahan kantuk, Ia membangunkan Frodo dengan lembut.
“Aku khawatir si Gollum ada di sekitar sini, Mr. Frodo,” katanya “Kalau itu bukan dia, berarti ada dua Gollum. Aku pergi mencari air dan melihatnya berkeliaran tepat saat aku akan kembali. Kupikir tidak aman kalau kita berdua tidur bersamaan, dan maaf sekali, aku sudah tak bisa membuka kelopak mataku lebih lama lagi.”
“Sam yang baik!” kata Frodo. “Berbaringlah dan tidurlah sekarang! Tapi aku lebih suka pada Gollum daripada Orc. Setidaknya dia tidak akan mengkhianati kita kecuali dia sendiri tertangkap.”
“Tapi dia mungkin saja merampok dan membunuh dengan tangannya sendiri,” geram Sam. “Bukalah matamu terus, Mr. Frodo! Ada sebotol penuh air. Minumlah sampai habis. Kita bisa mengisinya lagi saat kita berangkat lagi.” Setelah mengatakan itu Sam tertidur.



Cahaya sudah memudar lagi ketika ia bangun. Frodo duduk bersandar ke batu karang di belakangnya, tapi ia sudah tertidur. Botol air sudah kosong. Tak ada tanda-tanda Gollum.
Kegelapan Mordor sudah kembali, dan api penjagaan di dataran tinggi menyala merah garang ketika kedua hobbit berangkat lagi, memasuki tahap perjalanan mereka yang paling berbahaya. Mula-mula mereka pergi ke mata air kecil, setelah mendaki dengan hati-hati mereka sampai ke bagian jalan yang membelok ke arah timur, menuju Isenmouthe yang berjarak dua puluh mil dan sana. Bukan jalan lebar, tidak ada tembok atau dinding rendah sepanjang pinggirannya, sedangkan lereng di sisinya semakin jauh semakin curam. Kedua hobbit itu tidak mendengar gerakan apa pun, dan setelah mendengarkan sebentar mereka pergi ke arah timur dengan langkah tegap.
Setelah berjalan sekitar dua belas mil, mereka berhenti. Sedikit di belakang mereka, jalan itu agak membelok ke arah utara, dan jalur yang baru saja mereka lewati agak terhalang dan pandangan. Ternyata itu membawa malapetaka. Mereka berhenti beberapa menit, lalu berjalan lagi; baru maju beberapa langkah, tiba-tiba di kesunyian malam mereka mendengar bunyi yang selama itu sudah mereka khawatirkan: bunyi langkah kaki berbaris. Masih agak jauh di belakang, tapi ketika menoleh mereka bisa melihat kerlip obor-obor dari balik tikungan yang tidak sampai satu mil jaraknya, dan bergerak cepat: terlalu cepat bagi Frodo untuk bisa lolos dengan berlari melewati alan di depan.
“Sudah kukhawatirkan, Sam,” kata Frodo. “Kita percaya pada keberuntungan, dan ternyata gagal. Kita terjebak.” Ia memandang dengan mata melotot ke tembok yang cemberut, di mana para pembuat jalan masa lampau sudah memotong batu karang menjadi curam sejauh beberapa fathom di atas kepala mereka. la lari ke sisi lain dan melihat dan atas pinggiran ke dalam sumur gelap yang kelam. “Akhirnya kita terjebak!” katanya. Ia terduduk di tanah bawah dinding batu karang dan menundukkan kepala.
“Rupanya begitu,” kata Sam. “Well, kita hanya bisa menunggu dan melihat.”

Setelah mengatakan itu, ia duduk di samping Frodo di bawah bayangan batu

karang.

Mereka tak perlu menunggu lama. Para Orc melangkah sangat cepat. Orc-Orc yang berjalan di barisan terdepan membawa obor. Mereka berdatangan, nyala merah dalam gelap, yang dengan cepat membesar. Sekarang Sam juga menundukkan kepala, berharap wajahnya tersembunyi saat obor-obor melewati mereka; Ia meletakkan perisai mereka di depan lutut, untuk menyembunyikan kaki.
“Mudah-mudahan mereka terburu-buru dan mengabaikan sepasang serdadu

yang letih, dan berjalan terus!” pikir Sam.

Kelihatannya itulah yang akan terjadi. Para Orc yang memimpin di depan datang berlari dengan napas terengah-engah, kepala merunduk. Mereka dan jenis yang lebih kecil, yang di luar keinginan mereka sedang didorong menuju perang Penguasa Kegelapan; mereka hanya ingin perjalanan itu cepat selesai dan lolos dari cambuk. Di sisi mereka, berlari mondar-mandir di samping barisan, ada dua uruk besar dan galak yang melecutkan cambuk dan berteriak. Baris demi baris lewat, dan cahaya obor yang menerangi sudah agak jauh di depan. Sam menahan napas. Sudah lebih dari separuh pasukan lewat. Tiba-tiba salah satu mandor budak melihat kedua sosok di sisi jalan. la melecutkan cambuk ke arah mereka dan berteriak, “Hei, kau! Bangun!” Mereka tidak menjawab, dan sambil berteriak Ia menghentikan seluruh pasukan.
“Ayo, kalian siput!” teriaknya. “Ini bukan saatnya berlambat-lambat.” Ia melangkah mendekati mereka, dan bahkan dalam keremangan itu ia bisa mengenali lambang pada perisai mereka. “Desersi, ya?” gertaknya. “Atau sedang memikirkannya? Semua pasukanmu seharusnya sudah berada di dalam Udun sebelum kemarin sore. Kalian tahu itu. Ayo bangkit dan masuk barisan, kalau tidak aku akan mencatat nomor kalian dan melaporkannya.”
Mereka bangkit berdiri dengan susah payah, dan sambil tetap merunduk, berjalan terpincang-pincang bagai serdadu yang sakit kakiinya, menyeret kaki mereka ke arah barisan belakang. “Tidak, jangan di belakang!” mandor budak berteriak. “Tiga baris ke depan. Dan tetap di sana, atau kuhajar kalian kalau aku sedang lewat!” Ia melecutkan cambuknya yang panjang di atas kepala mereka;

lalu dengan satu lecutan disertai teriakan Ia menyuruh pasukan berangkat lagi dengan berlari cepat.
Bagi Sam itu sudah cukup berat, karena Ia begitu letih; tapi bagi Frodo itu suatu siksaan, dan segera menjadi mimpi buruk. la menabahkan hati dan mencoba menghentikan pikirannya, dan terus berjuang. Bau busuk Orc-Orc berkeringat di sekitarnya terasa mencekik, dan Ia mulai terengah-engah kehausan. Mereka melaju terus, terus, dan ia menguatkan tekad agar tetap menarik napas dan kakinya tetap berlari; namun Ia tidak berani memikirkan akhir yang menantinya di ujung segala siksaan ini. Tak ada harapan bisa keluar dari barisan tanpa terlihat. Sesekali mandor Orc itu mundur dan mengejek mereka.
“Nah, kan!” tawanya sambil melecut kaki mereka. “Di mana ada cambuk di situ ada kemauan, siput-siputku. Ayo tegak! Aku ingin sekali menyegarkan kalian dengan cambuk, tapi kalian pasti akan dihajar sebanyak yang bisa diterima kulit kalian, kalau kalian datang terlambat ke kemah. Bagus untuk kalian. Kalian tidak tahu ya, kita sedang perang?”


Mereka sudah berlari beberapa mil, dan jalan itu akhirnya menjulur menuruni lereng panjang ke padang, ketika kekuatan Frodo habis dan tekadnya berkurang. la terhuyung ke depan dan tersandung. Dengan nekat Sam mencoba menolongnya dan menahan badannya agar tetap tegak, meski ia sendiri sudah hampir tidak tahan berlari lebih jauh lagi. Sekarang ia tahu bahwa akhir kisah ini mungkin akan tiba: majikannya akan pingsan atau jatuh, semuanya akan terungkap, dan jerih payah mereka akan sia-sia. “Tapi aku mau membalas si mandor budak, setan besar itu,” pikirnya.
Tapi tepat ketika ia meletakkan tangan di atas pangkal pedangnya, tanpa terduga muncul kesempatan baru. Mereka sekarang ada di padang, dan semakin dekat ke gerbang masuk Udun. Sedikit di depannya, sebelum gerbang di ujung jembatan, jalan dan barat bergabung dengan jalan-jalan lain yang datang dan selatan, dan dari Barad-dur. Di semua jalan pasukan-pasukan sedang bergerak; karena para Kapten dari Barat semakin dekat dan Penguasa Kegelapan memacu pasukan-pasukannya ke utara. Dengan demikian beberapa

pasukan bertemu di pertemuan jalan, dalam kegelapan di luar cahaya api penjagaan di atas tembok. Segera terjadi dorong-mendorong dan umpat- mengumpat ketika setiap pasukan berusaha sampai ke gerbang lebih dulu, dan dengan demikian sampai ke akhir perjalanan mereka. Meski para mandor berteriak dan menghujani mereka dengan lecutan cambuk, terjadi baku hantam, bahkan beberapa pedang dihunus. gepasukan uruk bersenjata berat dari Barad- dur menyerbu pasukan dan Durthang dan memorakporandakan mereka.
Meski pusing karena kesakitan dan kelelahan, Sam terbangun dan dengan cepat meraih kesempatan, melemparkan dirinya ke tanah, sambil menyeret Frodo bersamanya. Orc-Orc tersandung berjatuhan di atas mereka, menggertak dan mengumpat. Dengan perlahan kedua hobbit merangkak keluar dan kerusuhan itu, lalu berhasil meloncat tanpa terlihat dari pinggir jalan di seberang. Pembatasnya tinggi, untuk panduan para pemimpin pasukan saat malam gelap atau berkabut, bertumpuk beberapa meter di atas permukaan daratan terbuka. Mereka diam tak bergerak untuk beberapa saat. Terlalu gelap untuk mencari perlindungan, itu pun kalau ada yang bisa ditemukan; tapi Sam merasa mereka perlu menjauh dan jalan jalan raya dan keluar dari jangkauan cahaya obor.
“Ayo, Mr. Frodo!” bisiknya. “Satu kali lagi merangkak, lalu kau bisa berbaring diam.”
Dengan susah payah Frodo mengangkat dirinya dengan bertopang pada tangan, dan berjuang untuk maju kurang-lebih dua puluh meter. Lalu ia menjatuhkan diri ke dalam lubang dangkal yang tiba-tiba ada di depan mereka, dan di sana Ia berbaring seperti mati.

BAB 3

GUNUNG MAUT



Sam meletakkan jubah Orc-nya yang koyak-koyak di bawah kepala majikannya, dan menyelimuti mereka berdua dengan jubah kelabu dari Lorien; pada saat yang sama, pikirannya menerawang ke negeri nun jauh di sana, kepada Peri- Peri; Ia berharap kain yang ditenun Peri-Peri itu bisa menyembunyikan mereka, meski hampir tak ada harapan lagi dalam belantara mengerikan ini. la mendengar suara perkelahian dan teriakan-teriakan mereda saat pasukan- pasukan itu masuk ke Isenmouthe. Rupanya dalam kekacauan dan campur- aduknya aneka ragam pasukan, kepergian mereka tidak ketahuan, setidaknya belum.
Sam meneguk sedikit air, tapi Ia mendesak Frodo agar minum. Setelah kekuatan majikannya agak pulih, Ia memberikan satu wafer utuh dari bekal roti mereka yang berharga dan memastikan Frodo memakannya. Lalu mereka berbaring, namun sudah terlalu letih untuk merasakan ketakutan. Mereka tidur sebentar- sebentar dengan gelisah; keringat membuat tubuh mereka terasa dingin, sementara bebatuan keras menusuk-nusuk, dan mereka menggigil. Dari utara, dari Gerbang Hitam melalui Cirith Gorgor, udara tipis dingin mengalir berbisik di atas tanah.
Di pagi hari cahaya kelabu datang lagi, sementara di dataran-dataran tinggi Angin Barat masih berembus. Tapi di atas bebatuan di belakang pagar Negeri Hitam udara seolah-olah mati, dingin menusuk, namun mencekik. Sam melihat sekelilingnya dari dalam cekungan. Daratan sekitarnya muram, datar, dan bernada suram. Di jalan-jalan dekat situ tak ada yang bergerak; tapi Sam mengkhawatirkan mata yang waspada di atas tembok Isenmouthe, yang jaraknya tak lebih satu furlong ke arah utara. Di tenggara, jauh bagai bayangan gelap yang berdiri, menjulang gunung. Asap mengalir keluar darinya, naik ke angkasa dan mengalir pergi ke arah timur, sementara awan-awan besar menggulung turun di sisi-sisinya dan menyebar ke atas seluruh negeri. Beberapa mil ke arah timur laut, perbukitan di kaki Pegunungan gelabu berdiri bagai hantu-

hantu kelabu yang murung, di belakangnya menjulang puncak-puncak pegunungan di utara, seperti garis awan di kejauhan yang nyaris sama gelapnya dengan langit yang rendah.
Sam mencoba menduga-duga jarak, dan memutuskan jalan mana yang perlu mereka anibil. “Tampaknya benar-benar jauh, sejauh lima puluh mil,” gerutunya murung, sambil memandang ke pegunungan yang mengancam itu, “dan itu akan makan waktu seminggu, mungkin malah lebih, kalau melihat keadaan Mr. Frodo.” Ia menggelengkan kepala dan mengotak-atik pikirannya. Perlahan-lahan suatu pikiran gelap muncul dalam benaknya. Selama itu belum pernah harapan lenyap untuk waktu lama dari dalam hatinya yang tabah, dan sampai sekarang Ia masih berharap mereka bisa pulang kembali nanti. Tapi akhirnya ia menyadari kenyataan pahit itu: paling-paling persediaan makanan mereka hanya cukup untuk berjalan sampai ke tujuan; saat tugas sudah terlaksana, mereka akan menghadapi ajal di sana, sendirian, tanpa rumah, tanpa makanan, di tengah- tengah gurun mengerikan. Mereka takkan bisa kembali.
“Jadi, itulah tugas yang kurasa harus kulakukan ketika aku memulai perjalanan ini, pikir Sam, “untuk menolong Mr. Frodo sampai langkah terakhir, lalu mati bersamanya? Nah, kalau memang itu tugasku, aku harus melakukannya. Tapi aku sangat ingin melihat Bywater lagi, Rosie Cotton dan saudara-saudaranya, juga Gaffer, Marigold, dan semuanya. Entah mengapa, aku merasa tak mungkin Gandalf mengirim Mr. Frodo melakukan tugas ini, kalau sama sekali tak ada harapan dia bisa kembali. Semuanya kacau ketika Gandalf tewas di Moria. Andai itu tidak terjadi. Dia pasti akan bertindak.”
Tapi meski harapan dalam diri Sam padam, atau seakan-akan padam, ternyata Ia justru mendapat kekuatan baru. Wajah hobbit Sam yang polos menjadi keras, hampir suram, ketika tekadnya membaja dan getaran semangat mengaliri seluruh tungkai dan lengannya; ia seolah-olah berubah menjadi makhluk dari batu dan baja yang tak mungkin terpatahkan oleh keputusasaan, keletihan, maupun oleh jarak bermil-mil yang gersang.
Dengan perasaan tanggung jawab yang baru, Ia mengalihkan pandang ke daratan yang lebih dekat memikirkan tindakan berikutnya. Ketika cahaya agak

membesar, dengan heran Ia melihat bahwa yang dari jauh terlihat sebagai daratan luas dan datar sebenarnya hancur berantakan. Bahkan seluruh permukaan padang Gorgoroth dipenuhi bercak-bercak lubang besar, seolah-olah ditimpa hujan panah dan batu katapel besar saat tanahnya masih berlumpur lembek. Lubang-lubang terbesar berpinggiran bubungan batu karang pecah, dan retakan, retakan lebar menyebar dari pinggiran ke semua arah. Daratan ini memungkinkan orang merangkak dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian lain tanpa terlihat, kecuali oleh mata yang sangat waspada: orang yang kuat dan tidak memerlukan kecepatan pasti bisa melakukannya. Bagi yang lapar dan lelah, yang harus pergi jauh sebelum hidup berakhir, daratan itu kelihatan kejam.
Sambil memikirkan semua itu Sam kembali ke majikannya. la tak perlu membangunkan Frodo. Frodo sedang berbaring telentang dengan mata terbuka, menatap langit berawan. “W ell, Mr. Frodo,” kata Sam, “aku sudah melihat-lihat sekeliling dan berpikir-pikir. Jalan-jalan kosong, dan sebaiknya kita pergi selagi masih ada kesempatan. Kau bisa berjalan?”
“Aku bisa,” kata Frodo. “Aku harus bisa.”



Sekali lagi mereka berangkat, merangkak dari cekungan ke cekungan, melompat ke belakang perlindungan yang bisa mereka temukan, tapi selalu bergerak dalam arah miring menuju kaki perbukitan dari pegunungan di utara. Sepanjang perjalanan, jalan paling timur mengikuti mereka, sampai suatu saat Ia menyimpang dan menyusuri pinggir pegunungan, menjulur masuk ke tembok bayangan gelap, jauh di depan. Tak ada orang maupun Orc yang berjalan melewati jalur datar kelabu itu; sebab Penguasa Kegelapan sudah hampir selesai mengumpulkan semua pasukannya, dan bahkan di wilayahnya yang luas itu ia mengharapkan kerahasiaan malam hari, dan Ia cemas akan angin dunia yang sudah berbalik arah menyerangnya, sambil menyingkap selubungnya; Ia juga terganggu oleh berita-berita yang dibawa mata-matanya yang berani, yang sudah pergi keluar dari pagar-pagarnya.
Kedua hobbit berhenti setelah menempuh beberapa mil yang melelahkan. Frodo

tampaknya hampir kewalahan. Sam melihat Frodo tak mungkin bisa melanjutkan perjalanan dengan cara seperti itu, merangkak, membungkuk, kadang-kadang mengambil jalan yang meragukan dengan sangat lamban, kadang-kadang berlari tersandung-sandung.
“Aku akan kembali ke jalan, sementara cahaya masih ada, Mr. Frodo,” katanya. “Percaya pada nasib baik lagi! Kali terakhir kita hampir gagal, tapi tidak sepenuhnya. Langkah tetap untuk beberapa mil lagi, lalu kita istirahat.”
Sam mengambil risiko jauh lebih besar daripada yang diketahuinya; tapi Frodo

tak bisa mendebat, karena sudah terlalu sibuk dengan bebannya dan perjuangan dalam benaknya; Ia bahkan hampir putus asa, sehingga tidak begitu peduli. Mereka memanjat ke atas jalan lintas dan berjalan dengan susah payah, melalui jalan keras dan kejam yang menuju Menara Kegelapan. Tapi nasib baik mereka bertahan, dan sepanjang hari itu mereka tidak bertemu makhluk hidup atau bergerak; ketika malam tiba, mereka menghilang dalam kegelapan Mordor. Seluruh negeri itu seolah sedang menunggu kedatangan badai besar: para Kapten dari Barat sudah melewati Persimpangan Jalan dan membakar padang- padang mematikan di Imlad Morgul.
Demikianlah perjalanan nekat itu berlanjut, sementara Cincin pergi ke selatan dan panji-panji Raja melaju ke utara. Bagi kedua hobbit, setiap hari, setiap mil, lebih pahit daripada yang sebelumnya, sementara kekuatan mereka menyusut dan daratan itu semakin kejam. Sesekali di malam hari, ketika mereka gemetar ketakutan atau tertidur gelisah di suatu tempat persembunyian di samping jalan, mereka mendengar teriakan dan bunyi berisik banyak kaki atau derap langkah kuda jantan yang ditunggangi dengan kejam. Tapi jauh lebih buruk daripada segala macam bahaya itu adalah ancaman yang semakin dekat, yang mendera mereka saat berjalan maju: ancaman mengerikan dari Kekuasaan yang menunggu, sambil merenung dan menanti dengan kekejaman yang tak pernah tertidur, di balik selubung gelap sekitar Takhta-nya. Semakin dekat dan semakin dekat Ia menghampiri, muncul semakin hitam, bagai kedatangan tembok malam di penghujung kiamat dunia.
Akhirnya tibalah malam yang mengerikan; ketika para Kapten dari Barat semakin

dekat ke batas negeri hidup, kedua pengembara sudah tertimpa keputusasaan mendalam. Sudah empat hari berlalu sejak mereka lolos dari para Orc, tapi masa itu rasanya bagai mimpi yang semakin kelam. Sepanjang hari terakhir itu Frodo tidak berbicara, tapi berjalan setengah membungkuk, sering tersandung, seakan- akan matanya tidak lagi melihat apa yang ada di depan kakinya. Sam menduga bahwa di tengah semua kepedihan yang mereka pikul, Frodo-lah yang memikul beban terberat, beban Cincin yang semakin besar, beban bagi tubuh dan siksaan bagi pikiran. Dengan cemas Sam memperhatikan bahwa majikannya sering mengangkat tangan kirinya, seolah-olah mengelakkan pukulan, atau untuk melindungi matanya dari Mata mengerikan yang ingin menatap ke dalamnya. Kadang-kadang juga tangan kanannya bergerak perlahan ke dada, mencengkeram, lalu perlahan-lahan, setelah tekadnya pulih, tangan itu ditariknya kembali.
Sekarang, ketika kekelaman malam turun lagi, Frodo duduk dengan kepala di antara lutut, lengannya tergantung lemas ke tanah, sementara tangannya berkedut-kedut lemah. Sam memperhatikannya, sampai malam menyelimuti mereka dan mereka sudah tak bisa saling melihat lagi. Sam tak bisa menemukan kata-kata untuk diucapkan, dan ia mulai terpengaruh pikiran gelapnya sendiri. la masih punya sisa kekuatan, meski Ia letih dan tertekan bayangan ketakutan. Tanpa lembas yang berkhasiat mungkin mereka sudah lama menyerah dan berbaring untuk mati. Makanan itu tidak memuaskan hasrat, dan sesekali pikiran Sam dipenuhi ingatan tentang makanan; ia mendambakan roti dan daging yang biasa. Meski begitu, roti Peri itu mempunyai daya kekuatan yang semakin bertambah bila mereka memakannya tanpa dicampur makanan lain. Lembas itu memperkuat tekad, memberi kekuatan untuk bertahan, dan mengendalikan otot serta tungkai melebihi ukuran kemampuan makhluk fana. Tapi kini perlu mengambil keputusan baru. Mereka tak bisa lagi mengikuti jalan itu; karena jalan itu mengarah ke timur dan masuk ke dalam Bayangan besar, sedangkan Gunung sekarang menjulang di sebelah kanan mereka, hampir di selatan, dan mereka harus membelok ke arahnya. Tapi di depannya masih terbentang daratan luas berasap, gersang, dan penuh abu.

“Air, air!” gerutu Sam. Ia sudah berhemat-hemat, lidahnya seakan-akan tebal dan bengkak di dalam mulutnya yang kering; tapi meski ia sudah begitu hati-hati, sisa air mereka hanya sedikit, mungkin hanya setengah botol, dan mungkin masih berhari-hari lagi mereka harus berjalan. Semuanya mungkin sudah lama habis seandainya mereka tidak berani mengikuti jalan para Orc. Sebab sepanjang jalan itu, pada jarak-jarak tertentu yang cukup jauh, sudah dibangun waduk- waduk untuk digunakan oleh pasukan-pasukan yang bergerak cepat di wilayah tanpa air. Di salah satu waduk Sam menemukan sedikit air tersisa, sudah basi, dikotori para Orc, tapi masih mencukupi bagi keadaan mereka yang gawat. Tapi itu sudah sehari yang lalu. Tak ada harapan akan menemukan air lagi.
Akhirnya Sam tertidur, karena letih oleh kekhawatiran. Malam bergulir menuju pagi; ia sudah tak bisa melakukan apa pun. Mimpi dan bangun berbaur dengan gelisah. la melihat cahaya seperti mata yang memandang dengan tamak, dan sosok-sosok gelap yang merangkak, dan ada bunyi seperti bunyi binatang buas atau teriakan mengerikan makhluk-makhluk yang disiksa; ia tersentak bangun dan mendapati dunia gelap; hanya ada kehitaman kosong di sekitarnya hanya satu kali, ketika ia berdiri dan memandang gelisah ke sekelilmgnya, meski sudah terjaga Ia seolah-olah masih melihat cahaya pucat seperti mata; tapi segera cahaya itu berkelip dan padam.


0 Response to "The Lord of the Rings 3 Part 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified