Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Lord of the Rings 2 Part 2

Tapi Treebeard tetap berkepala dingin. Syukurlah dia tidak menderita luka bakar sama sekali. Dia tak ingin rakyatnya melukai diri mereka sendiri dalam kemarahan, dan dia tak ingin Saruman lolos di tengah kekacauan. Banyak Ent menabrakkan diri ke menara Orthanc, tapi menara itu mengalahkan mereka. Menara itu mulus dan keras sekali. Ada daya sihir di dalamnya, mungkin lebih tua daripada sihir Saruman. Pokoknya mereka tak bisa menyerangnya, atau memecahkannya; dan mereka mencederai serta melukai diri sendiri padanya.” "Maka Treebeard keluar ke pelataran dan berteriak. Suaranya yang luar biasa terdengar nyaring di atas semua hiruk-pikuk. Suasana mendadak jadi sangat sepi. Dalam keheningan itu, kami mendengar tawa melengking dan sebuah jendela tinggi di menara. Itu berakibat aneh pada para Ent. Amarah mereka sudah meluap, kini mereka menjadi dingin, muram seperti es, dan diam. Treebeard berbicara pada mereka dalam bahasa mereka sendiri untuk beberapa saat; kurasa dia menceritakan sebuah rencana yang sudah lama ada di kepalanya. Lalu diam-diam mereka menghilang dalam cahaya kelabu. Fajar hampir tiba saat itu.”
"Mereka rupanya mengawasi menara, tapi para pengawas ini tersembunyi begitu baik dalam kegelapan dan begitu diam, sampai-sampai aku tak bisa melihat mereka. Yang lain pergi ke utara. Sepanjang hari itu mereka sibuk, tidak kelihatan. Kebanyakan kami ditinggal sendirian. Hari itu muram sekali; kami berkeliaran sedikit, meski sedapat mungkin kami tetap di luar sudut pandang jendela jendela Orthanc: mereka menatap kami dengan begitu mengancam. Kebanyakan kami menghabiskan waktu mencari sesuatu untuk dimakan. Kami juga duduk dan bercakap-cakap, sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di selatan, di Rohan, dan apa yang terjadi dengan sisa Rombongan. Sesekali kami bisa mendengar bunyi kertakan dan jatuhnya bebatuan di kejauhan, serta bunyi dentuman yang bergema di perbukitan.”
"Di siang hari kami berjalan mengelilingi lingkaran, dan pergi melihat apa yang sedang terjadi. Ada hutan besar remang-remang terdiri atas para Huorn di puncak lembah, dan satu lagi mengelilingi tembok utara. Kami tidak berani masuk. Tapi di dalam terdengar bunyi kesibukan merobek dan mengoyak. Ent

dan Huorn sedang menggali sumur dan parit-parit raksasa, membuat kolam dan bendungan besar, mengumpulkan seluruh air Isen dan semua sungai serta mata air yang bisa mereka temukan. Kami membiarkan mereka.
"Senja hari Treebeard datang kembali ke gerbang. Dia bersenandung dan menderum sendiri, dan kelihatan puas. Dia berdiri merentangkan tangan dan kakinya yang besar, lalu menarik napas panjang. Aku bertanya apakah dia lelah. "'Lelah?” katanya, “lelah? Well, tidak, tidak lelah, tapi kaku. Aku butuh minuman Entwash yang bagus. Kami sudah bekerja keras; hari ini kami sudah banyak sekali memecahkan batu dan menggerogoti tanah, melebihi yang pernah kami lakukan bertahun-tahun silam. Tapi kami sudah hampir selesai. Kalau malam tiba, jangan berada dekat gerbang ini atau terowongan lama! Air mungkin akan mengalir masuk dan untuk sementara akan berupa air busuk, sampai seluruh sampah Saruman tercuci bersih. Baru Isen bisa mengalir jernih lagi.” ia mulai menghancurkan sedikit dinding-dinding lagi dengan santai, seolah hanya menghibur diri sendiri.
"Kami baru mulai bertanya-tanya, di mana tempat yang aman untuk berbaring dan mencoba tidur sejenak, ketika hal paling mengagumkan terjadi. Seorang penunggang berkuda cepat melewati jalan. Merry dan aku berbaring diam, dan Treebeard bersembunyi dalam bayang-bayang di bawah lengkungan. Mendadak seekor kuda besar melangkah seperti kilatan perak. Malam gelap, tapi bisa kulihat wajah Penunggang itu dengan jelas: tampaknya bersinar, dan seluruh pakaiannya putih. Aku duduk tegak, melongo. Aku mencoba berteriak, tapi tak bisa.”
"Ternyata aku tak perlu berteriak. Penunggang itu berhenti di dekat kami dan menatap kami. 'Gandalf!' kataku akhirnya, tapi suaraku hanya berupa bisikan. Apakah dia mengatakan, 'Halo, Pippin! Ini kejutan menyenangkan!'? Oh, tidak! Dia berkata, 'Bangun kau, Took tolol! Di mana Treebeard berada di tengah puing-puing ini? Aku perlu dia, cepat!'”
"Treebeard mendengar suaranya, dan segera keluar dari balik bayang-bayang; pertemuan mereka aneh. Aku heran, karena masing-masing sama sekali tidak kelihatan kaget. Gandalf jelas sudah menduga akan menemukan Treebeard di

sini, dan Treebeard seolah memang sengaja berkeliaran dekat gerbang untuk menemuinya. Meski begitu, kami sudah menceritakan pada Ent tua itu segala sesuatu tentang Moria. Tapi kemudian aku ingat tatapan aneh di matanya saat itu. Kuduga dia sudah bertemu Gandalf, atau sudah mendengar kabar tentang dial, tapi tak mau mengatakan apa pun dengan terburu-buru. 'Jangan terburu- buru' adalah motonya; tapi memang tidak ada makhluk apa pun, termasuk Peri, yang mau bicara banyak tentang gerak-gerik Gandalf kalau dia tak ada di sana.” "'Huum! Gandalf!” kata Treebeard. “Aku senang kau sudah datang. Kayu dan air, ternak dan batu, bisa kuatasi; tapi di sini ada Penyihir yang harus ditangani.” "'Treebeard,” kata Gandalf. “Aku butuh bantuanmu. Kau sudah berbuat banyak, tapi aku perlu lebih banyak lagi. Aku harus menangani sekitar sepuluh ribu Orc.” Lalu mereka berdua pergi dan mengadakan rapat di suatu pojok. Pasti rasanya sangat tergesa-gesa bagi Treebeard, karena Gandalf amat sangat terburu-buru, dan berbicara sangat cepat sebelum mereka keluar dari jangkauan pendengaran. Mereka hanya pergi beberapa menit, mungkin seperempat jam. Lalu Gandalf kembali ke tempat kami, dan dia kelihatan lega, hampir-hampir gembira. Katanya dia gembira melihat kami saat itu.
"'Tapi Gandalf,” aku berteriak, “ke mana saja kau selama ini? Dan apakah kau sudah bertemu yang lain?”
"'Ke mana pun aku pergi, aku sudah kembali,” jawabnya dengan gaya khas Gandalf. “Ya, aku sudah bertemu beberapa dari yang lain. Tapi berita harus menunggu. Ini malam yang berbahaya, dan aku harus berjalan cepat. Tapi fajar mungkin akan lebih cerah; dan nanti kita akan bertemu lagi. Jaga dirimu sendiri, dan jauhilah Orthanc! Selamat tinggal!”
Treebeard merenung setelah Gandalf pergi. Rupanya dalam waktu singkat dia sudah mendengar banyak, dan sedang mencernakannya. Dia memandang kami dan berkata, “Hm, well, ternyata kalian bukan orang-orang yang sangat terburu- buru seperti semula kuduga. Apa yang kalian ucapkan jauh lebih sedikit daripada apa yang bisa kalian ucapkan, dan tidak lebih dari yang seharusnya. Hm, ini berita besar dan tidak salah lagi! Well, sekarang Treebeard harus sibuk lagi.” "Sebelum dia pergi, hanya sedikit berita yang bisa kami minta darinya; dan berita

itu sama sekali tidak membuat kami gembira. Tapi saat itu kami lebih memikirkan kalian bertiga daripada Frodo dan Sam, atau Boromir yang malang. Karena kami menyimpulkan ada pertempuran hebat sedang berlangsung, atau bakal berlangsung, dan bahwa kalian terlibat di dalamnya, dan mungkin tidak akan lolos.
"'Para Huorn akan membantu,” kata Treebeard. Lalu dia pergi, dan kami tidak

melihatnya lagi sampai pagi ini.



"Sudah larut malam. Kami berbaring di atas tumpukan batu, dan tak bisa melihat apa pun di luarnya. Kabut atau bayang-bayang memburamkan penglihatan, seperti bentangan selimut besar di sekitar kami. Udara terasa panas dan berat, dipenuhi bunyi desiran, keriutan, dan gumaman seperti suara-suara yang lewat. Kurasa ratusan Huorn lewat untuk membantu pertempuran. Kemudian ada bunyi gemuruh besar seperti petir di selatan, dan kilatan halilintar jauh di atas Rohan. Sesekali kami bisa melihat puncak-puncak gunung, bermil-mil jauhnya dari sini, menjulang mendadak, hitam dan putih, kemudian lenyap. Dan di belakang kami ada bunyi-bunyi seperti guruh di bukit-bukit, tapi berbeda. Saat-saat tertentu, seluruh lembah bergema.”
"Sekitar tengah malam, para Ent membelah bendungan dan mengucurkan seluruh air yang dikumpulkan melalui lubang di dinding utara, masuk ke Isengard. Kegelapan Huorn sudah lewat, dan guruh menghilang. Bulan tenggelam di balik pegunungan barat.
"Isengard mulai terisi aliran dan kolam-kolam hitam merayap, berkilauan dalam cahaya terakhir Bulan, ketika mereka menyebar memenuhi pelataran. Sesekali air itu menemukan jalan masuk turun ke cerobong atau lubang semprotan. Uap putih besar mendesis naik. Asap melayang bergelombang-gelombang. Ada ledakan-ledakan dan embusan api. Satu pilinan besar asap naik berputar-putar, mengitari Orthanc, sampai tampak seperti puncak awan tinggi, berapi-api di bawah dan disinari cahaya bulan di atasnya. Air masih terus mengalir masuk, sampai akhirnya Isengard tampak seperti wajan besar datar, beruap dan bergelembung."

"Kami melihat awan asap dan uap dari selatan tadi malam, ketika kami sampai di mulut Nan Curunir," kata Aragorn. "Kami khawatir Saruman menggodok suatu sihir baru untuk menyambut kami."
"Tidak!" kata Pippin. "Dia mungkin sedang tercekik dan sudah tidak tertawa lagi. Di pagi hari, kemarin pagi, air sudah masuk ke semua lubang, dan ada kabut tebal. Kami menyelamatkan diri ke ruang penjagaan di sana; kami agak ketakutan. Kolam mulai meluap dan mengalir keluar dan terowongan lama, dan air dengan cepat naik sampai ke tangga. Kami mengira akan terjebak seperti Orc di dalam lubang, tapi kami menemukan tangga putar di bagian belakang sebuah gudang yang membawa kami ke puncak lengkungan. Kami hampir terjepit ketika hendak keluar, sebab jalan keluar sudah retak dan setengah terhalang oleh timbunan batu yang jatuh dekat puncaknya. Di sana kami duduk tinggi di atas banjir, memperhatikan terbenamnya Isengard. Para Ent terus mengalirkan lebih banyak air, sampai semua api padam dan semua gua terisi. Kabut perlahan- lahan berkumpul, naik menjadi payung awan yang sangat besar: kira-kira satu mil tingginya. Di senja hari ada pelangi besar di perbukitan timur; kemudian matahari terbenam terhapus oleh hujan gerimis tebal di lereng pegunungan. Suasana menjadi sangat sepi. Beberapa serigala melolong, jauh sekali. Para Ent menghentikan pengaliran air malam itu, dan mengalirkan Isen kembali ke alurnya yang lama. Itulah akhir kisahnya.”


"Sejak itu air sudah surut lagi. Pasti ada lubang keluar di suatu tempat di bawah gua-gua. Kalau Saruman mengintip keluar dan salah satu jendelanya, semua pasti kelihatan kacau berantakan serta muram. Kami merasa sangat kesepian. Tak ada Ent untuk diajak mengobrol dalam puing-puing ini; dan tak ada berita. Kami melewatkan malam di atas sana, di puncak lengkungan, hawanya dingin dan lembap, dan kami tidak tidur. Kami merasa setiap saat bisa terjadi sesuatu. Saruman masih di dalam menaranya. Ada bunyi berisik seperti angin berembus mendaki lembah. Aku menyangka semua Ent dan Huorn yang pergi sudah kembali; tapi ke mana mereka semua pergi, aku tidak tahu. Pagi itu berkabut dan basah ketika kami turun dan melihat sekeliling; tak ada orang sama sekali. Dan

itulah semua yang bisa diceritakan. Sekarang suasana hampir-hampir kelihatan damai, setelah huru-hara itu. Dan lebih aman juga, sejak Gandalf kembali. Aku bisa tidur!"


Semua terdiam sesaat. Gimli mengisi kembali pipanya. "Ada satu hal yang kuherankan," katanya sambil menyalakan pipanya dengan korek dan kotak geretan. "Wormtongue. Kaubilang pada Theoden bahwa dia bersama Saruman. Bagaimana dia bisa sampai di sana?"
"Oh, ya, aku lupa tentang dia," kata Pippin. "Dia baru datang tadi pagi. Kami baru saja menyalakan api dan sarapan ketika Treebeard muncul lagi. Kami mendengar dia mendengung dan memanggil nama kami di luar.”
"'Aku datang untuk melihat keadaan kalian, anak-anakku,” katanya, “dan untuk memberi sedikit kabar. Para Huorn sudah kembali. Semuanya beres; ya beres sekali!” Dia tertawa dan menepuk pahanya. “Tak ada lagi Orc di Isengard, tak ada lagi kapak! Dan orang-orang akan berdatangan dari selatan sebelum hari siang; kalian akan senang melihat mereka.”
"Baru saja dia bilang begitu, kami mendengar derap kaki kuda di jalan. Kami berlari ke depan gerbang, aku berdiri dan melotot, setengah berharap Strider dan Gandalf datang membawa pasukan. Tapi dari kabut keluar seorang laki-laki menunggang kuda tua yang letih; dia sendiri tampak seperti sejenis makhluk aneh. Tak ada orang lain. Ketika dia keluar dari kabut, dan melihat semua puing dan kehancuran di depannya, dia melongo, wajahnya hampir hijau. Dia begitu tercengang, sampai mulamula tidak melihat kami. Ketika melihat kami, dia berteriak dan mencoba memutar kudanya untuk pergi. Tapi Treebeard maju tiga langkah dan menjulurkan tangannya yang panjang, mengangkat orang itu dan pelananya. Kudanya Iari ketakutan, dan dia menyembah-nyembah di tanah. Dia mengatakan dia Grima, sahabat dan penasihat Raja yang dikirim membawa pesan-pesan penting dari Theoden untuk Saruman.”
“Tak ada yang berani melewati daratan terbuka, penuh dengan Orc jahat.” katanya, “jadi aku yang dikirim. Perjalananku penuh bahaya, aku lapar dan letih. Aku berjalan menyimpang ke utara, karena dikejar serigala.”

Aku menangkap lirikan-lirikannya ke arah Treebeard. “Pembohong,” Pikirku. Treebeard memandangnya dengan caranya yang lama dan lamban, sampai laki- laki memelas itu menggeliat di lantai. Akhirnya Treebeard berkata, “Ha, hm, aku sudah menunggu kedatanganmu, Master Wormtongue.” Laki-laki itu kaget mendengar nama itu. “Gandalf sudah lebih dulu datang kemari. Jadi aku sudah tahu yang perlu kuketahui tentang dirimu, dan aku tahu apa yang harus kulakukan padamu. Masukkan semua tikus dalam satu perangkap,” kata Gandalf; “dan itu akan kulakukan. Aku sekarang penguasa Isengard, tapi Saruman terkurung di dalam menaranya; kau bisa masuk ke sana dan memberikan semua pesan yang bisa kaukarang.”
“Biarkan aku pergi!” kata Wormtongue. “Aku tahu jalannya.”

“Dulu kau tahu jalannya, aku tidak meragukan itu,” kata Treebeard. “Tapi

keadaan sudah berubah sedikit sekarang. Pergi dan lihatlah!”

Dia membiarkan Wormtongue pergi. Orang itu berjalan terpincang-pincang melewati lengkungan, dengan kami di belakangnya, sampai dia tiba di dalam lingkaran dan bisa melihat air banjir yang memisahkan dirinya dengan Orthanc. Lalu dia berbicara pada kami.
“Biarkan aku pergi!” ratapnya. “Biarkan aku pergi! Pesan-pesanku sudah tak

berguna lagi sekarang.”

“Memang,” kata Treebeard. “Tapi kau hanya punya dua pilihan: tetap bersamaku sampai Gandalf dan majikanmu datang, atau menyeberangi air. Maria yang kaupilih?”
Laki-laki itu gemetar mendengar majikannya disebut. Dia memasukkan satu kaki

ke dalam air, tapi menariknya kembali. “Aku tidak bisa berenang,” katanya. “Airnya tidak dalam,” kata Treebeard. “Memang kotor, tapi tidak akan mencederaimu, Master Wormtongue. Masuk sekarang!”
Orang malang itu menggelepar-gelepar masuk ke air bah. Airnya hampir setinggi lehernya sebelum dia terlalu jauh untuk kulihat. Terakhir aku melihatnya berpegangan pada sebuah tong lapuk atau sebatang kayu. Tapi Treebeard berjalan di belakangnya, memperhatikan kemajuan perjalanannya.
“W ell, dia sudah masuk,” kata Treebeard ketika kembali. “Aku melihatnya

merangkak menaiki tangga, seperti tikus kehujanan. Masih ada orang di dalam menara: sebuah tangan keluar dan menariknya masuk. Jadi dia ada di sana, dan kuharap dia menyukai penyambutannya. Sekarang aku harus pergi dan mencuci bersih lumpur pada tubuhku. Aku akan berada di sebelah utara, kalau ada yang ingin bertemu denganku. Di sini tidak ada air bersih yang patut diminum Ent, atau untuk mandi. Jadi, kuminta kalian berdua menjaga dekat gerbang, menunggu orang-orang yang akan datang. Penguasa Padang-Padang Rohan akan datang, perhatikan! Kalian harus menyambutnya sebaik mungkin: anak buahnya sudah bertempur hebat dengan para Orc. Mungkin kalian lebih tahu daripada Ent, kata-kata penyambutan macam apa yang pantas untuk seorang penguasa seperti itu. Sudah banyak sekali penguasa di padang-padang hijau di zamanku, dan aku belum pernah belajar bahasa atau nama-nama mereka. Mereka pasti menginginkan makanan manusia, dan kalian tahu semua tentang itu, kukira.
“Jadi, carilah apa yang menurut kalian pantas dimakan seorang raja, kalau bisa. Dan itulah akhir kisah ini. Meski aku ingin tahu siapa sebenarnya Wormtongue ini. Benarkah dia penasihat Raja?"
"Dulunya," kata Aragorn, "dan juga mata-mata serta anak buah Saruman di Rohan. Sudah sepantasnya dia mendapat nasib demikian. Melihat bahwa semua yang dikiranya kuat dan hebat ternyata hancur, pasti merupakan kejutan berat baginya. Tapi kurasa nasib yang lebih buruk akan menimpanya."
"Ya, kurasa Treebeard mengirimnya ke Orthanc bukan karena berbaik hati," kata Merry. "Treebeard kelihatan senang, dan tertawa sendiri ketika pergi untuk minum dan mandi. Kami sibuk sekali sesudahnya, memeriksa barang-barang yang terapung, menggeledah sana-sini. Kami menemukan dua atau tiga gudang di beberapa tempat berbeda dekat sini, di permukaan air banjir. Tapi Treebeard menyuruh beberapa Ent turun, dan mereka membawa banyak sekali barang.” “Kami perlu makanan manusia untuk dua puluh lima orang,” kata para Ent, jadi kau bisa tahu ada yang menghitung rombonganmu dengan cermat sebelum kau datang. Kalian bertiga rupanya dianggap bergabung dengan para petinggi. Tapi nasib kalian tidak akan lebih bagus. Kami menyimpan makanan, selain

mengirimkannya. Lebih baik malah, karena kami tidak mengirimkan minuman.

“Bagaimana dengan minuman?” kataku kepada para Ent.

“Ada air dari Isen,” kata mereka, “dan itu cukup baik bagi Ent maupun Manusia.” Kalau saja para Ent punya cukup waktu untuk membuat minuman mereka sendiri dari mata air pegunungan, akan kita lihat jenggot Gandalf keriting kalau dia kembali. Setelah para Ent pergi, kami merasa letih dan lapar. Tapi kami tidak menggerutu kerja keras kami mendapat imbalan cukup baik. Ketika sedang men- cari-cari makananlah Pippin menemukan harta paling bagus dari benda-benda terapung itu-tong-tong Homblower itu. “Tembakau lebih enak dinikmati setelah makan,” kata Pippin; begitulah terjadinya.
"Kami sudah mengerti sepenuhnya sekarang," kata Gimli.

"Semua, kecuali satu hal," kata Aragorn. "Tembakau dari Wilayah Selatan ada di Isengard. Semakin kupikirkan, semakin aneh rasanya. Aku belum pernah ke Isengard, tapi aku sudah mengembara di daratan ini, dan aku tahu betul daratan- daratan kosong di antara Rohan dan Shire. Tak ada barang maupun orang yang lewat di sana selama bertahun-tahun, tidak secara terbuka. Saruman pasti punya urusan rahasia dengan seseorang di Shire. Mungkin bisa ditemukan Wormtongue lain di rumah-rumah lain selain rumah Raja Theoden. Apakah ada tanggal pada tong-tong itu?"
"Ya," kata Pippin. "Itu panen tahun 1417, berarti tahun lalu; bukan, tahun sebelumnya, tentu tahun yang bagus."
"Ah … sudahlah, kejahatan apa pun yang dulu ada, sudah habis sekarang, kuharap; atau mungkin sekarang berada di luar jangkauan kita," kata Aragorn. "Tapi aku akan memberitahukan ini pada Gandalf, meski ini hanya masalah kecil saja di tengah urusan-urusannya yang besar."
"Heran, apa yang dilakukannya sekarang," kata Merry. "Siang sudah semakin larut. nian kita pergi melihat-lihat! Setidaknya kau bisa masuk Isengard sekarang, Strider, kalau kau mau. Tapi pemandangannya tidak menggembirakan."

BAB 10

SUARA SARUMAN



Mereka melewati terowongan yang sudah hancur dan berdiri di atas timbunan batu, memandang karang gelap Orthanc dan jendelanya yang banyak, yang masih merupakan ancaman di tengah kegersangan sekitarnya. Sekarang hampir seluruh air sudah surut. Di sana-sini beberapa genangan air masih ada, tertutup sampah dan puing-puing, tapi sebagian besar lingkaran luas itu sudah terbuka lagi, sebuah belantara lumpur dan batu jatuh, berlubang-lubang gelap, penuh bertebaran dengan tiang-tiang dan tonggak-tonggak yang bersandar condong ke segala arah, seolah mabuk. Di pinggiran mangkuk yang pecah terletak lereng- lereng dan gundukan luas, seperti keping-keping yang diangkat oleh badai besar; di luarnya, lembah yang hijau dan kusut menghampar sampai ke jurang panjang di antara lengan-lengan pegunungan. Di seberang kegersangan, mereka melihat penunggang-penunggang kuda memilih jalan; mereka datang dari sisi utara, dan sudah semakin dekat ke Orthanc.
"Itu Gandalf, dan Theoden serta anak buahnya!" kata Legolas. "Mari kita pergi menyambut mereka!"
"Hati-hati berjalan!" kata Merry. "Banyak batu lepas yang mungkin naik dan melemparkanmu masuk ke lubang, kalau kau tidak hati-hati.”


Mereka mengikuti jalan yang tersisa dari gerbang sampai ke Orthanc, melangkah perlahan, karena batu-batunya retak-retak dan berlumpur. Melihat mereka menghampiri, para penunggang itu berhenti di bawah bayangan batu karang, dan menunggu. Gandalf maju menyambut mereka.
"Well, Treebeard dan aku sudah mengadakan diskusi menarik, dan membuat beberapa rencana," katanya, "dan kami semua sudah istirahat sesuai kebutuhan. Sekarang kita harus pergi lagi. Kuharap kawan-kawanmu juga sudah istirahat dan menyegarkan diri?"
"Sudah," kata Merry. "Tapi diskusi kami dimulai dan diakhiri dengan asap. Tapi setidaknya perasaan tak senang kami terhadap Saruman sudah berkurang."

"O ya?" kata Gandalf. "Well, aku tidak. Aku punya tugas terakhir sebelum pergi: aku harus mengunjungi Saruman untuk pamit. Berbahaya, dan mungkin tidak berguna, tapi harus dilakukan. Siapa yang mau, boleh ikut denganku tapi waspadalah! Dan jangan bergurau! Ini bukan saatnya."
"Aku akan ikut," kata Gimli. "Aku ingin melihatnya, dan ingin tahu apakah dia memang mirip denganmu."
"Bagaimana kau akan tahu itu, Master Kurcaci?" kata Gandalf. "Saruman bisa

tampak seperti aku di matamu, kalau itu yang dia niatkan. Dan apakah kau sudah cukup bijak untuk mencium semua tipuannya? W ell, akan kita lihat, barangkali. Mungkin dia akan malu menunjukkan dirinya kepada banyak mata sekaligus. Tapi aku sudah menyuruh semua Ent untuk tidak menunjukkan diri, jadi mungkin kita bisa membujuk Saruman keluar."
"Apa bahayanya?" tanya Pippin. "Apakah dia akan menembak kita, dan menyemburkan api dari jendelanya? Atau dia bisa menyihir kita semua dari jarak jauh?"
"Yang terakhir itu lebih mungkin, kalau kau mendekati pintunya dengan hati

ringan," kata Gandalf. "Tapi kita tidak tahu apa yang bisa dilakukannya, atau akan dicobanya. Hewan liar yang terjebak tidak aman untuk didekati. Dan Saruman punya kekuatan yang tak bisa ditebak. Waspadalah terhadap suaranya!"


Sekarang mereka sampai ke kaki Orthanc. Menara itu hitam, batuannya mengilap seolah basah. Permukaan batuan itu banyak mempunyai ujung-ujung tajam, seolah baru dipahat. Beberapa goresan dan keping kecil seperti serpihan dekat dasarnya, hanya itu bekas-bekas kemarahan para Ent yang tampak.
Di sisi timur, di sudut antara dua dermaga, ada pintu besar dan tinggi di atas tanah; di atasnya ada jendela berpenutup, membuka ke sebuah balkon yang dipagari jeruji besi. Sebuah tangga dengan dua puluh tujuh anak tangga naik sampai ke ambang pintu, dipahat dari batu hitam yang sama. Ini satu-satunya pintu masuk ke menara; tapi banyak jendela tinggi dipahat dengan relung-relung dalam pada dinding yang menjulang: mengintai jauh di atas mereka, seperti

mata-mata kecil pada wajah terjal batu karang.

DI kaki menara, Gandalf dan Raja turun dari kuda. "Aku akan naik," kata Gandalf

"Aku sudah pernah berada di dalam Orthanc, dan sudah tahu bahayanya."

"Aku juga akan naik," kata Raja. "Aku sudah tua, dan tidak takut bahaya lagi. Aku ingin bicara dengan musuh yang sudah begitu banyak merugikanku. Eomer akan ikut aku, mengawasi agar kakiku yang tua tidak terhuyung-huyung."
"Terserah kau," kata Gandalf. "Aragorn akan ikut denganku. Biar yang lain

menunggu di kaki tangga. Mereka akan melihat dan mendengar cukup, kalau ada yang bisa dilihat atau didengar."
"Tidak!" kata Gimli. "Legolas dan aku ingin melihat dari dekat. Hanya kami yang mewakili bangsa kami. Kami juga ikut di belakangmu.”
"Ayolah kalau begitu!" kata Gandalf, lalu ia menaiki tangga, Theoden ikut di sampingnya.
Para Penunggang Rohan duduk gelisah di atas kuda mereka, di kedua sisi tangga, dan menatap muram ke menara besar, khawatir apa yang akan terjadi pada raja mereka. Merry dan Pippin duduk di tangga paling bawah, merasa tidak penting dan tidak aman.
"Setengah mil dari sini sampai ke gerbang!" gerutu Pippin. "Kuharap aku bisa menyelinap kembali ke ruang jaga, tanpa terlihat. Untuk apa kita ikut? Kita tidak dibutuhkan."
Gandalf berdiri di depan pintu Orthanc dan memukulnya dengan tongkatnya. Bunyinya bergema. "Saruman! Saruman!" teriaknya dengan suara keras bernada memerintah. "Saruman, keluarlah!"
Untuk beberapa saat tidak ada jawaban. Akhirnya jendela di atas pintu dibuka

palangnya, tapi tidak terlihat siapa pun di ambangnya yang gelap. "Siapa itu?" kata sebuah suara. "Apa yang kauinginkan?"
Theoden kaget. "Aku kenal suara itu," katanya, "dan terkutuklah hari ketika pertama kali aku mendengarkannya."
"Pergi dan jemput Saruman, karena kau sudah jadi pelayannya, Grima

Wormtongue!" kata Gandalf. "Jangan buang-buang waktu kami!"

Jendela tertutup. Mereka menunggu. Mendadak sebuah suara lain berbicara,

rendah berirama, bunyinya sangat memukau. Mereka yang mendengarkan dengan tidak waspada jarang bisa menceritakan kata-kata yang mereka dengar; kalaupun bisa, mereka heran, karena kekuatan mereka sendiri hampir lenyap. Mereka hanya ingat bahwa sangat menyenangkan mendengar suara itu berbicara, semua yang dikatakannya terdengar bijak dan masuk akal, dan dalam diri mereka timbul gairah seketika untuk tampak bijak juga. Bila orang lain berbicara, kedengarannya keras dan kasar, sangat kontras; dan kalau mereka menyangkal suara itu, timbul kemarahan dalam hati mereka yang terpengaruh sihirnya. Untuk beberapa orang, sihir itu hanya bertahan selama suara itu berbicara pada mereka, dan ketika ia berbicara pada yang lain, mereka tersenyum, seperti orang yang tahu tipu muslihat seorang pesulap, sementara yang lain melongo menyaksikannya. Bagi banyak orang, bunyi suara itu saja sudah cukup untuk membuat mereka tetap terpengaruh sihirnya; dan bagi mereka yang terkalahkan olehnya, sihir itu tetap mengikuti ketika mereka sudah jauh, dan mereka selalu mendengar suara lembut itu berbisik dan mendesak. Tapi tak ada yang tidak tersentuh; tak ada yang menolak permohonan dan perintahnya tanpa upaya keras dari kehendak dan pikiran, selama tuannya bisa mengendalikannya.
"Well?" kata suara itu sekarang, dengan pertanyaan lembut. "Mengapa kau harus mengganggu istirahatku? Apa kau sama sekali tak mau memberiku kedamaian, siang maupun malam?" Nadanya seperti keluar dari hati ramah yang sedih karena dilukai secara tak pantas.
Mereka menengadah dengan kaget, karena sama sekali tidak mendengar kedatangannya; mereka melihat sebuah sosok berdiri di birai tangga, menatap ke bawah, ke arah mereka; sosok laki-laki tua dalam jubah besar yang warnanya sulit disebut, karena berubah-ubah bila mereka menggerakkan mata atau ia bergerak. Wajahnya panjang, dengan dahi tinggi, matanya dalam dan gelap, sulit ditebak, meski tatapannya muram dan penuh kebajikan, serta agak letih. Rambut dan janggutnya putih, namun helai-helai rambut hitam masih terlihat dekat bibir dan telinganya.
"Mirip, tapi tidak mirip," gerutu Gimli.

"Nah," kata suara lembut itu. "Setidaknya aku kenal dua di antara kalian. Gandalf hampir pasti tidak berniat mencari bantuan atau nasihat dari sini. Tapi kau, Theoden, penguasa Mark Rohan, aku mengenalimu dari perlengkapanmu yang mulia, dan terutama dari roman muka elok Istana Eorl. Oh, putra Thengel yang tersohor dan mulia, mengapa kau tidak datang sebelumnya, sebagai sahabat? Aku sangat ingin bertemu denganmu, raja terhebat dari negeri-negeri barat, terutama di tahun-tahun belakangan ini, untuk menyelamatkanmu dari nasihat- nasihat jahat dan tidak bijak yang menguasaimu! Apakah sudah terlambat? Meski semua kerugian yang kuderita ini sebagian diakibatkan peran manusia Rohan, aku masih ingin menyelamatkanmu dan mengeluarkanmu dari keruntuhan yang semakin dekat dan tak mungkin ditolak, kalau kau menapaki jalan yang kaupilih. Bahkan hanya aku yang bisa membantumu sekarang." Theoden membuka mulutnya, seolah akan berbicara, tapi tidak mengatakan apa pun. Ia menatap wajah Saruman yang memandangnya dengan matanya yang gelap dan suram, kemudian menatap Gandalf di sampingnya; kelihatannya ia ragu. Gandalf tidak memberi isyarat, hanya berdiri diam seperti batu, seperti orang yang dengan sabar menunggu giliran. Para Penunggang bergerak sedikit, menggumam setuju dengan kata-kata Saruman; lalu mereka juga terdiam, seperti kena sihir. Rasanya Gandalf belum pernah berbicara sebagus dan sesopan itu pada raja mereka. Kini semua pembicaraannya dengan Theoden tampak kasar dan angkuh. Hati mereka mulai dirayapi bayang-bayang, ketakutan akan suatu bahaya besar: akhir dari Mark di dalam kegelapan, ke mana Gandalf sedang mendorong mereka, sementara Saruman berdiri di samping pintu pembebasan, membiarkannya setengah terbuka, hingga seberkas cahaya masuk. Ada keheningan yang berat.
Tiba-tiba Gimli bersuara. "Penyihir ini memutarbalikkan kata-kata," ia menggeram, memegang erat gagang kapaknya. "Dalam bahasa Orthanc, bantuan berarti kehancuran, dan menyelamatkan berarti membunuh, itu jelas. Tapi kami tidak datang kemari untuk meminta-minta."
"Damai!" kata Saruman, sekilas suaranya tidak begitu lembut, matanya berkilat- kilat sejenak, lalu kembali redup. "Aku belum berbicara padamu, Gimli putra

Gloin," katanya. "Rumahmu jauh sekali, dan kesulitan-kesulitan negeri ini bukan urusanmu. Tapi bukan karena rencanamu sendiri kau terlibat di dalamnya, jadi aku tidak akan menyalahkan peran yang kaumainkan peran berani, itu tidak kuragukan. Tapi kumohon, izinkan aku berbicara dengan Raja Rohan, tetanggaku yang dulu sahabatku.”
"Apa katamu, Raja Theoden? Maukah kau berdamai denganku, dan menerima bantuan yang bisa kuberikan berkat pengetahuanku yang dibangun selama tahun-tahun yang panjang? Apakah kita akan bersatu menghadapi masa buruk, dan memperbaiki kerusakan dengan niat baik, sampai kedua negeri kita berkembang lebih indah daripada sebelumnya?"
Theoden masih belum menjawab. Entah ia berjuang melawan kemarahan atau keraguan, tak ada yang tahu. Eomer yang berbicara. "Tuanku, dengarkan aku!" katanya. "Sekarang kita sedang menghadapi bahaya yang sudah diperingatkan pada kita. Apakah kita maju Perang dan merebut kemenangan hanya untuk terpukau pada akhirnya oleh seorang pembohong tua bermulut manis dengan lidah bercabang? Begitulah serigala yang terjebak berbicara kepada anjing pemburu, kalau bisa. Bantuan apa yang bisa dia berikan sebenamya? Dia hanya ingin meloloskan diri dari keadaannya yang buruk. Apakah kau mau berembuk dengan pelaku pengkhianatan dan pembunuhan? Ingat Theodred di Ford-ford, dan kuburan Hama di Helm's Deep!"
"Omong-omong tentang lidah beracun, apa katamu tentang lidahmu sendiri, ular muda?" kata Saruman, kilatan kemarahan di matanya terlihat jelas. "Tapi Eomer, putra Eomund!" lanjutnya dengan suara lembut kembali, "Setiap orang punya peran masing-masing. Keberanian dalam pertempuran bersenjata adalah peranmu, dan kau memenangkan kehormatan tinggi dalam bidang itu. Bunuhlah mereka yang disebut musuh oleh rajamu, dan puaslah. Jangan campuri politik yang tidak kaupahami. Mungkin, kalau kau menjadi raja, kau akan menyadari bahwa dia harus memilih teman-temannya dengan hati-hati. Persahabatan Saruman dan kekuatan Orthanc tak bisa dengan enteng dikesampingkan, meski mungkin di belakangnya terdapat dendam, baik nyata atau khayal. Kau memenangkan pertempuran, tapi bukan perang-itu pun berkat bantuan yang

sekarang tak bisa lagi kauharapkan. Mungkin kau akan menemukan Bayang- Bayang Hutan di depan rumahmu setelah ini: dia suka melawan, tidak berakal, dan tidak mencintai Manusia.”
"Tapi, Penguasa Rohan, adilkah kalau aku disebut pembunuh, karena manusia- manusia pemberani sudah gugur dalam pertempuran? Kalau kau pergi berperang dengan sia-sia sebab aku sendiri tidak menginginkannya sudah pasti banyak yang akan terbunuh. Tapi kalau dengan begitu aku dianggap pembunuh, maka seluruh Istana Eorl pun sudah ternoda oleh pembunuhan; karena mereka sudah banyak berperang, dan menyerang banyak orang yang menentang mereka. Meski begitu, dengan beberapa pihak mereka akhirnya berdamai, karena alasan politis. Karena itu, Theoden Raja, tidakkah sebaiknya kita berdamai dan bersahabat? Keputusan ini kitalah yang menentukan."
"Kita akan berdamai," kata Theoden akhirnya, dengan upaya keras. Beberapa Penunggang berteriak gembira. Theoden mengangkat tangannya. "Ya, kita akan berdamai," katanya dengan suara jelas, "kita akan berdamai bila kau dan seluruh karyamu sudah hancur dan karya majikanmu yang gelap, kepada siapa kau berniat menyerahkan kami. Kau pembohong, Saruman, dan perusak hati manusia. Kauulurkan tanganmu padaku, tapi yang kulihat adalah cakar Mordor. Kejam dan dingin! Walau seandainya kau punya alasan untuk memerangiku meski kenyataannya tidak, dan walau seandainya kau sepuluh kali lebih bijak pun, kau tetap tidak berhak memerintah aku dan rakyatku demi keuntunganmu sendiri-apa alasanmu menebarkan obor-obormu di Westfold hingga menewaskan anak-anak di sana? Dan mereka masih juga memukuli tubuh Hama di depan gerbang Homburg, setelah dia tewas. Kalau kau sudah tergantung-gantung di jendelamu dan menjadi mangsa burung-burung hitammu, barulah aku akan berdamai denganmu dan Orthanc. Begitu pula halnya seisi Istana Eorl. Mungkin aku bukan yang terhebat dari keturunan raja-raja hebat, tapi aku tak perlu menjilat jarimu. Bicaralah dengan orang lain. Tapi kurasa suaramu sudah kehilangan pesonanya."
Para Penunggang itu memandang Theoden seperti orang-orang yang terbangun kaget dari mimpi. Suara raja mereka terdengar kasar seperti burung gagak

dibandingkan suara Saruman yang bernada musik. Untuk beberapa saat, Saruman sangat marah. Ia bersandar melewati birai, seolah akan memukul Raja dengan tongkatnya. Bagi beberapa orang, tiba-tiba ia tampak seperti ular yang membelitkan diri, siap menyerang.
"Tiang gantungan dan burung-burung hitam!" desisnya, dan mereka gemetar melihat perubahan mendadak itu. "Tua pikun! Istana Eorl hanya gubuk jerami untuk perampok-perampok berlumuran bau busuk, dan anak-anak mereka yang berguling-guling di lantai di tengah-tengah anjing. Sudah terlalu lama mereka lolos dari tiang gantungan. Tapi jerat itu akan datang, ditarik perlahan-lahan, erat dan keras pada akhirnya. Gantunglah aku kalau kau mau!" Sekarang suaranya berubah, setelah ia bisa mengendalikan diri. "Heran, kenapa aku sabar berbicara denganmu. Toh aku tidak membutuhkanmu, atau rombongan kecil penunggangmu yang cepat maju dan cepat kabur, Theoden Tuan Kuda. Dulu aku menawarimu sebuah negeri, melampaui jasa jasa dan kecerdasanmu. Aku sudah menawarkannya lagi, agar mereka yang kau kelabui-labui bisa melihat dengan jelas pilihan jalan yang ada. Tapi kau malah memberiku bualan dan aniaya. Ya sudah. Kembalilah ke gubukgubukmu!”
"Tapi kau, Gandalf! Bagimu setidaknya aku sedih. Bisa kuhayati rasa malu yang kauderita. Bagaimana mungkin kau tahan didampingi rombongan seperti ini? Karena kau angkuh, Gandalf dan bukan tanpa alasan, sebab kau memiliki watak mulia dan mata berpandangan jauh ke depan. Sekarang pun kau tak mau mendengarkan nasihatku?"
Gandalf bergerak dan menengadah. "Adakah perkataanmu yang belum kauucapkan pada pertemuan kita yang terakhir?" tanyanya. "Atau mungkin ada hal-hal yang mau kauralat?"
Saruman terdiam. "Ralat?" ia merenung, seolah heran. "Ralat? Aku berupaya keras menasihatimu, demi kebaikanmu sendiri, tapi kau hampir tidak mendengarkan. Kau angkuh dan tidak menyukai nasihat, karena kau memang punya segudang pengetahuan. Tapi pada kesempatan waktu itu kau keliru, sengaja menyalahartikan niatku. Mungkin aku hilang sabar karena terlalu bersemangat membujukmu. Aku menyesali itu. Karena aku tidak berniat jahat

terhadapmu; bahkan sekarang pun tidak, meski kau kembali padaku dengan didampingi rombongan orang-orang bengis dan dungu. Bagaimana aku bisa? Bukankah kita berdua anggota kelompok tinggi dan kuno yang paling istimewa di Dunia Tengah? Persahabatan kita akan menguntungkan masing-masing. Masih banyak yang bisa kita capai bersama-sama, untuk menyembuhkan kekacauan dunia. Biarlah kita saling memahami, dan menghilangkan orang-orang rendahan ini dari pikiran kita! Biar mereka melayani keputusan-keputusan kita! Demi kebaikan bersama, aku bersedia menebus masa lalu, dan menerimamu. Kau tidak mau berembuk denganku? Kau tidak mau naik ke sini?"
Begitu hebat kekuatan yang digunakan Saruman dalam upayanya yang terakhir ini, sampai semua yang mendengar jadi terharu. Tapi sekarang sihirnya sama sekali berbeda. Mereka seolah mendengar keluhan seorang raja yang ramah terhadap seorang menteri yang berbuat salah, namun sangat disayangi. Tapi mereka terhalang masuk di depan pintu, mendengarkan kata-kata yang tidak ditujukan pada mereka: anak-anak yang tidak sopan atau pelayan-pelayan dungu yang menguping percakapan orangtua mereka yang sulit ditangkap, dan bertanya-tanya pengaruh percakapan tersebut pada nasib mereka. Kedua penyihir itu termasuk golongan yang lebih mulia: terhormat dan bijaksana. Sudah jelas mereka akan bersekutu. Gandalf akan naik ke dalam menara, untuk mendiskusikan hal-hal pelik di luar pernahaman mereka di ruang tinggi di Orthanc. Pintu akan tertutup, dan mereka akan ditinggal di luar, disuruh pergi untuk menunggu tugas atau hukuman yang akan dibagikan. Bahkan dalam pikiran Theoden sudah mulai terbentuk keraguan: "Dia akan mengkhianati kami; dia akan pergi-kami akan kalah."
Lalu Gandalf tertawa. Dan khayalan itu sirna bagai kepulan asap.

"Saruman, Saruman!" kata Gandalf, masih tertawa. "Saruman, kau sudah tersesat di jalanmu. Seharusnya kau menjadi badut raja, dan mencari nafkahmu dengan meniru penasihat-penasihatnya. Aduh!" ia berhenti, berusaha menahan kegeliannya. "Saling.memahami? Aku khawatir kau tak bisa memahami aku. Tapi kau, Saruman, bisa kupahami dengan sangat jelas kini. Ingatanku tentang alasan-alasan dan perbuatanmu lebih jelas daripada yang kauduga. Ketika

terakhir aku mengunjungimu, kau menjadi kepala penjara Mordor, dan akan mengirimku ke sana. Tidak, tamu yang sudah lolos lewat atap akan berpikir dua kali sebelum masuk kembali melalui pintu. Tidak, aku tidak akan naik. Tapi dengar, Saruman, untuk terakhir kalinya! Tidakkah kau mau turun? Isengard tidak sekuat yang kauharapkan dan khayalkan. Begitu pula hal-hal lain yang masih kaupercayai. Tidakkah lebih baik meninggalkannya untuk sementara? Mungkin untuk mengalihkan perhatian pada hal-hal baru? Pikirkan baik-baik, Saruman! Tidakkah kau mau turun.”
Wajah Saruman tersaput bayang-bayang, kemudian menjadi pucat pasi. Sebelum ia bisa menyembunyikannya, mereka telah melihat menembus topeng itu, dan bisa merasakan pergolakan batinnya; enggan untuk tetap di sana, tapi juga takut meninggalkan tempat perlindungannya. Sekejap ia ragu, dan tak ada yang bernapas. Lalu ia berbicara, suaranya nyaring dan dingin. Kesombongan dan kebencian menguasai dirinya.
"Apakah aku akan turun?" ia mengejek. "Apakah orang yang tidak bersenjata akan turun untuk berbicara dengan perampok-perampok di luar pintu? Aku mengerti betul maksudmu. Aku tidak bodoh, dan aku tidak mempercayaimu, Gandalf. Mereka memang tidak berdiri secara terbuka di tanggaku, tapi aku tahu di mana hantu-hantu hutan liar bersembunyi, di bawah perintahmu."
“Para pengkhianat selalu penuh curiga," jawab Gandalf dengan letih. "Tapi kau tak perlu khawatir atas nyawamu. Aku tak ingin membunuhmu, atau melukaimu, dan seharusnya kau tahu hal itu, kalau kau benar-benar memahami aku. Aku punya kekuatan untuk melindungimu. Aku memberimu kesempatan terakhir: Kau bisa meninggalkan Orthanc, bebas-kalau kau memilih."
"Kedengarannya bagus," ejek Saruman. "Benar-benar gaya Gandalf si Kelabu: begitu merendahkan diri, dan begitu bermurah hati. Aku tidak ragu kau akan menganggap Orthanc sangat luas, dan kepergianku tepat. Tapi untuk apa aku memilih pergi? Dan apa maksudmu dengan 'bebas'? Pasti ada syarat-syarat, kukira?"
"Alasan untuk pergi bisa kaulihat dari jendelamu," jawab Gandalf. "Yang lain akan terpikir sendiri olehmu. Pelayan-pelayanmu sudah hancur dan tercerai-

berai; tetanggamu sudah menjadi musuhmu; dan kau mengkhianati majikanmu yang baru, atau mencoba mengkhianatinya. Kalau matanya mengarah kemari, mata itu akan penuh kemarahan. Saat aku mengatakan 'bebas', yang kumaksud memang 'bebas': bebas dari ikatan, dari rantai, atau perintah: pergi ke mana pun kau mau, bahkan ke Mordor, Saruman, kalau kau mau. Tapi pertama-tama kau harus menyerahkan Kunci ke Orthanc, dan tongkatmu. Sebagai ikrarmu atas kelakuanmu, yang akan dikembalikan di kemudian hari, kalau kau sudah pantas memperolehnya lagi."
Wajah Saruman menjadi pucat, menyeringai penuh kemarahan, cahaya merah menyala di matanya. Ia tertawa liar. "Di kemudian hari!" teriaknya, suaranya membesar menjadi teriakan. "Di kemudian hari! Ya, kalau kau juga sudah mempunyai Kunci Barad-dur, kukira; serta mahkota tujuh raja, dan tongkat Lima Penyihir, dan sudah membeli sepasang sepatu bot beberapa ukuran lebih besar daripada yang kaupakai sekarang! Rencana bersahaja. Di dalamnya bantuanku tidak diperlukan! Aku punya banyak tugas lain. Jangan bodoh. Kalau kau ingin berembuk denganku sementara kau masih punya kesempatan, pergilah, dan kembalilah kalau kau sudah waras! Tinggalkan pembunuh-pembunuh dan bajingan kecil yang menggantungi ekormu! Selamat siang!" ia membalikkan badan dan meninggalkan balkon.
"Kembali, Saruman!" kata Gandalf dengan suara memerintah. Dengan heran yang lain menyaksikan Saruman berbalik lagi, dan seolah diseret melawan kehendaknya, ia kembali perlahan-lahan ke pagar besi, bersandar di situ dengan napas terengah-engah. Wajahnya bergurat dan mengerut. Tangannya mencengkeram tongkatnya yang hitam berat, seperti cakar.
"Aku belum memberimu izin untuk pergi," kata Gandalf keras. "Aku belum selesai. Kau jadi bodoh, Saruman, tapi juga sangat memelas. Sebenarnya kau bisa memalingkan diri dari kejahatan dan kebodohan, dan bisa bermanfaat. Tapi kau memilih untuk tetap tinggal dan menggerogoti ujung-ujung rencanamu yang lama. Kalau begitu tinggallah! Tapi kuperingatkan, kau tidak akan mudah keluar lagi. Tidak, sampai tangan-tangan gelap dari Timur terulur untuk mengambilmu. Saruman!" teriaknya, suaranya semakin mengandung kekuatan dan kekuasaan.

"Lihat, aku bukan Gandalf si Kelabu yang kaukhianati. Aku Gandalf sang Putih yang sudah kembali dari kematian. Kau tidak punya warna sekarang, dan aku membuangmu dari ordo dan Dewan Penasihat."
Gandalf mengangkat tangannya, dan berbicara perlahan dengan suara jernih dan dingin. "Saruman, tongkatmu sudah patah." Ada bunyi kertakan, dan tongkat itu terbelah hancur remuk di tangan Saruman, kepalanya terjatuh di depan kaki Gandalf. "Pergi!" kata Gandalf. Sambil berteriak Saruman mundur dan merangkak pergi. Pada saat itu, sebuah benda berat bercahaya jatuh terlempar dari atas. Benda itu terpental pada pagar besi, persis ketika Saruman meninggalkannya, dan lewat dekat kepala Gandalf, menghantam tangga tempat Gandalf berdiri. Pagar besi berdering dan terbelah. Tangga berderak pecah menjadi serpihan bercahaya. Tapi bola itu tidak cedera: ia menggelinding dari tangga, bola kristal, gelap, dengan inti api menyala. Ketika bola itu meluncur terus sampai ke genangan air, pippin berlari mengejarnya dan memungutnya. "Bajingan pembunuh!" teriak Eomer. Tapi Gandalf tak bergerak. "Tidak, itu bukan dilempar oleh Saruman," katanya, “juga bukan atas perintahnya, kukira. Asalnya dari jendela jauh di atas. Satu tembakan perpisahan dari Master W ormtongue, kukira, tapi sasarannya meleset."
"Sasarannya mungkin meleset, karena dia tak bisa memutuskan siapa yang lebih dibencinya, Saruman atau kau," kata Aragorn.
"Mungkin," kata Gandalf. "Mereka berdua tidak akan banyak saling menghibur: mereka akan saling menggerogoti dengan kata-kata. Tapi itu hukuman yang pantas. Kalau Wormtongue bisa keluar hidup-hidup dari Orthanc, itu sudah lebih dari yang pantas diperolehnya.”
"Hai, anakku, berikan padaku benda itu! Aku tidak memintamu menanganinya," teriak Gandalf, membalikkan badannya dengan cepat dan melihat Pippin naik tangga perlahan-lahan, seolah membawa benda yang sangat berat. Gandalf membungkuk untuk mendekati Pippin, dan dengan terburu-buru mengambil bola itu darinya, menyembunyikannya dalam lipatan jubahnya. "Aku akan mengurus benda ini;" katanya. "Kurasa Saruman tidak mau kehilangan benda ini, sebenamya."

"Tapi mungkin dia akan melemparkan benda-benda lain," kata Gimli. "Kalau perdebatan kalian sudah berakhir, mari kita menyingkir dari sini, supaya tidak terkena lemparan lagi!"
"Sudah berakhir," kata Gandalf. "Mari kita pergi."

Mereka memunggungi pintu Orthanc dan turun. Para penunggang menyambut Raja dengan gembira, dan memberi hormat pada Gandalf. Sihir Saruman sudah patah: mereka sudah melihatnya datang kalau dipanggil, dan merangkak pergi saat diperintah.
"Nah, sudah beres,", kata Gandalf. "Sekarang aku harus mencari Treebeard dan menceritakan jalannya peristiwa."
"Pasti dia sudah menduganya," kata Merry. "Mungkinkah peristiwa ini berakhir dengan cara lain?"
"Kemungkinan besar tidak," jawab Gandalf, "meski nyaris saja. Tapi aku punya alasan untuk mencoba; sebagian karena perasaan iba, dan sebagian lagi bukan. Pertama-tama, aku ingin memperlihatkan pada Saruman bahwa pesona suaranya sudah memudar. Dia tak bisa sekaligus menjadi lalim dan juga penasihat. Ketika rencana sudah matang, hal itu bukan lagi rahasia. Meski begitu, dia jatuh juga ke dalam perangkap, dan mencoba tawar-menawar dengan korban-korbannya sedikit demi sedikit, sementara yang lain mendengarkan. Lalu aku memberinya pilihan terakhir dan adil: melepaskan Mordor dan rencana- rencananya sendiri, dan memperbaikinya dengan membantu kita dalam kesulitan. Dia tahu kesulitan kita, sangat tahu. Dia bisa sangat membantu, tapi dia memilih tidak mau bekerja sama. Dia memilih untuk mempertahankan kekuatan Orthanc. Dia tidak mau melayani, hanya mau memerintah. Sekarang dia hidup di bawah teror Mordor, namun masih bermimpi akan menunggang badai. Si bodoh yang malang! Dia akan dilahap habis kalau kekuatan dari Timur menjulurkan tangannya ke Isengard. Kita tak bisa menghancurkan Orthanc dari luar, tapi Sauron siapa tahu apa yang mampu dilakukannya?"
"Dan bagaimana kalau Sauron tidak mengalahkannya? Apa yang akan kaulakukan padanya?" tanya Pippin.
"Aku? Tidak ada!" kata Gandalf. "Aku tidak akan melakukan apa pun padanya.

Aku tidak menginginkan kekuasaan. Apa yang akan terjadi dengannya? Aku tidak tahu. Aku sedih bahwa begitu banyak hal yang dulu baik sekarang membusuk di menara. Bagaimanapun, bagi kita keadaan tidak terlalu buruk. Ajaib sekali perputaran nasib! Sering kali kebencian mencederai dirinya sendiri! Dugaanku, meski kita berhasil masuk, kita tidak akan menemukan harta yang, lebih berharga di dalam Orthanc daripada benda yang dilemparkan Wormtongue pada kita."
Mendadak terdengar teriakan melengking yang sekonyong-konyong terpotong, dari jendela terbuka jauh di atas.
"Tampaknya Saruman juga berpikir begitu," kata Gandalf "Mari kita tinggalkan mereka!"


Mereka kembali ke reruntuhan pintu gerbang. Baru saja mereka keluar dari bawah lengkungan, dari bayangan timbunan batu-batu tempat mereka tadi berdiri, muncul Treebeard dan selusin Ent lain. Aragorn, Gimli, dan Legolas memandang mereka dengan kagum.
"Ini tiga dari kawan-kawanku, Treebeard," kata Gandalf. "Aku sudah cerita tentang mereka, tapi kau belum melihat mereka." ia menyebutkan nama mereka satu per satu.
Ent tua itu memandang mereka dengan saksama, lalu berbicara bergantian pada mereka. Terakhir ia berbicara pada Legolas. "Jadi, kau datang dan Mirkwood yang jauh, Peri yang baik? Hutan itu luas sekali!"
"Dan masih tetap luas," kata Legolas. "Tapi kami yang tinggal di sana tidak jemu

melihat pohon baru. Aku ingin sekali mengembara di Hutan Fangorn. Aku hanya sampai ke tonjolan atapnya, dan aku sebenarnya tak ingin meninggalkannya." Mata Treebeard bersinar-sinar gembira. "Semoga keinginanmu terkabul, sebelum bukit-bukit ini semakin tua," katanya.
"Aku akan datang, kalau nasib membawaku ke sana," kata Legolas. "Aku sudah membuat perjanjian dengan temanku bahwa kalau semua berjalan baik, kami akan mengunjungi Fangorn bersama-sama dengan seizinmu."
"Setiap Peri yang ikut denganmu akan disambut baik," kata Treebeard.

"Teman yang kumaksud ini bukan Peri," kata Legolas. "Yang kumaksud adalah Gimli, putra Gloin ini." Gimli membungkuk rendah, kapaknya tergelincir dan ikat pinggangnya, jatuh dengan berisik ke tanah.
"Huum, hm! Aduh," kata Treebeard, menatap Gimli dengan suram.

"Kurcaci yang membawa kapak! Huum! Aku bersahabat dengan kaum Peri, tapi permintaanmu sulit. Persahabatan yang aneh!"
"Mungkin memang aneh," kata Legolas, "tapi sementara Gimli masill hidup, aku

tidak akan datang sendirian ke Fangorn. Kapaknya bukan untuk menebang potion, tapi untuk menebas leher Orc, oh Fangorn, Master Hutan Fangorn. Empat puluh dua Orc ditaklukkannya dalam pertempuran."
"Hoho! Begitu!" kata Treebeard. "Begitu lebih baik! Nah, nah, kita lihat saja nanti; tak ada gunanya terburu-buru. Tapi untuk sementara kita harus berpisah. Hari sudah hampir berakhir, dan kata Gandalf kalian harus pergi sebelum malam tiba; Penguasa Mark juga sudah merindukan rumahnya."
"Ya, kami harus pergi, dan pergi sekarang," kata Gandalf "Aku terpaksa membawa penjaga gerbangmu. Tapi kau akan baik-baik saja tanpa mereka." "Mungkin memang begitu," kata Treebeard. "Tapi aku akan merindukan mereka. Kami sudah menjadi sahabat dalam waktu begitu singkat, sampai kupikir aku terlalu terburu-buru-seperti semasa remajaku, barangkali. Tapi begitulah, mereka adalah hal baru pertama yang kulihat di bawah Matahari atau Bulan, setelah sekian lama. Aku tidak akan melupakan mereka. Aku memasukkan nama mereka ke dalam Daftar Panjang. Para Ent akan mengingatnya.


Ent yang lahir di bumi, setua pegunungan yang dihuni, langkahnya lebar, air minumannya;
lapar bagai pemburu, si anak-anak Hobbit, kaum mungil ceria, yang gemar tertawa,


mereka akan tetap menjadi sahabat, selama dedaunan masih tumbuh lagi. Selamat jalan! Kabari aku kalau mendengar kabar di negerimu yang nyaman, di Shire. Kau tahu maksudku: kabar tentang para Entwives. Datanglah langsung

kalau bisa!"

"Akan kami lakukan!" kata Merry dan Pippin berbarengan, lalu mereka memutar badan dengan tergesa-gesa. Treebeard memandang mereka, dan terdiam sejenak, sambil menggelengkan kepala seperti merenung. Lalu ia berbicara dengan Gandalf.
"Jadi, Saruman tak mau pergi?" katanya. "Sudah kuduga. Hatinya sama, busuknya dengan hati Huorn hitam. Aku sendiri, seandainya aku dikalahkan dan semua pohonku hancur, aku juga tidak bakal mau keluar kalau masih punya satu lubang gelap untuk bersembunyi."
"Pasti," kata Gandalf "Tapi kau kan tidak mematangkan rencana untuk memenuhi seluruh dunia dengan pepohonanmu dan mencekik semua makhluk hidup lainnya. Jadi, begitulah. Saruman berniat memelihara kebenciannya, dan sekali lagi menjalin jaring-jaring sebisanya. Dia mempunyai Kunci Orthanc, tapi jangan biarkan dia lolos."
"Tidak akan! Kami kaum Ent akan mengawasinya," kata Treebeard. "Saruman tidak akan menginjakkan kakinya di luar menara, tanpa seizinku. Ent-Ent akan mengawasinya."
"Bagus!" kata Gandalf. "Itu yang kuharapkan: Sekarang aku bisa pergi dan mengurus masalah-masalah lain. Satu masalah sudah berkurang. Tapi kau harus hati-hati. Air sudah surut. Tidak cukup hanya menempatkan pengawal di sekitar menara. Aku yakin banyak terowongan di bawah Orthanc, dan Saruman berharap bisa datang dan pergi tanpa terlihat, tak lama lagi. Kuharap kau memasukkan air lagi, sampai Isengard menjadi telaga tetap, atau mencari lubang-lubang keluar itu. Kalau semua tempat di bawah tanah sudah terendam air, dan lubang-lubang keluar sudah ditutup, Saruman akan terpaksa tetap di atas, hanya bisa memandang keluar dari jendela jendela."
"Percayakan saja pada Ent," kata Treebeard. "Kami akan memeriksa lembah dari ujung ke ujung, dan mengintip di bawah setiap batu. Pohon-pohon sudah datang untuk tinggal di sini, pohon-pohon tua, pohon-pohon liar. Kami akan menyebutnya Watchwood Hutan Jaga. Seekor tupai pun takkan lolos dari pandanganku. Serahkan kepada para Ent! Kami takkan berhenti mengawasi

Saruman, sampai tujuh kali masa dia menyiksa kami berlalu."

BAB 11

PALANTIR



Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pegunungan ketika Gandalf dan para pendampingnya, serta Raja dan para Penunggang-nya, berangkat lagi dari Isengard. Gandalf berkuda dengan Merry di belakangnya, dan Aragorn dengan Pippin. Dua pengikut Raja berjalan lebih dulu, menunggang kuda dengan cepat, dan segera hilang dari pandangan, masuk ke lembah. Yang lain mengikuti dengan langkah sedang.
Para Ent berdiri dalam barisan khidmat, seperti patung di gerbang, lengan mereka yang panjang diangkat ke atas, tapi mereka tidak mengeluarkan suara. Merry dan Pippin menoleh ke belakang, ketika sudah melaju agak jauh melewati jalan yang berbelok-belok. Matahari masih bersinar di langit, tapi ada bayang- bayang panjang yang menjulur sampai ke Isengard: puing-puing kelabu yang jatuh ke dalam kegelapan. Treebeard berdiri sendirian di sana, seperti tunggul batang potion yang jauh: kedua hobbit teringat pertemuan pertama mereka di bentangan dataran cerah, jauh di perbatasan Fangorn.
Mereka sampai di pilar Tangan Putih. Pilar itu masih berdiri, tapi patung tangannya sudah jatuh dan pecah berkeping-keping. Tepat di tengah jalan tergeletak sebuah jari telunjuk panjang putih dalam cahaya senja, kukunya yang merah menggelap menjadi hitam.
"Para Ent memperhatikan setiap detail!" kata Gandalf. Mereka terus melaju, dan senja semakin larut di lembah.


"Apa kita akan pergi jauh malam ini, Gandalf?" tanya Merry setelah beberapa saat. "Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu memboncengi aku, tapi bajingan kecil ini sudah letih dan akan senang berhenti menjuntai juntai begini. Aku ingin berbaring."
"Hmm, kau mendengar rupanya?" kata Gandalf "Jangan sakit hati! Bersyukurlah tak ada lagi kata-kata yang dilontarkan kepadamu. Dia mengamatimu. Aku yakin saat ini kau dan Pippin lebih memenuhi pikirannya daripada yang lain-lain di

antara kita. Siapa kalian; bagaimana kalian sampai ke sana, dan mengapa; apa yang kalian ketahui; apakah kalian tertangkap, dan kalau begitu, bagaimana kalian lolos ketika semua Orc tewas teka-teki seperti itulah yang saat ini memenuhi : otak Saruman. Ejekan dan dia, Meriadoc, adalah pujian, kalau kau merasa bangga dengan perhatiannya."
"Terima kasih!" kata Merry. "Tapi lebih terhormat menjuntai dan ekormu, Gandalf. Setidaknya, dalam posisiku ini, aku punya kesempatan bertanya untuk kedua kali. Apakah kita akan pergi jauh malam ini?"
Gandalf tertawa. "Kau memang hobbit yang susah dipuaskan! Semua Penyihir perlu mempunyai satu-dua hobbit dalam asuhannya untuk mengajari mereka arti kata 'bajingan kecil' itu, dan mengoreksi mereka. Aku minta maaf. Tapi aku sudah memikirkan hal-hal sekecil itu sekalipun. Kita masih meneruskan perjalanan selama beberapa jam, perlahan-lahan, sampai tiba di ujung lembah. Besok kita harus maju lebih cepat.”
"Sebelumnya, kita berencana untuk pergi langsung dan Isengard ke istana Raja di Edoras, melalui padang-padang, perjalanan naik kuda selama beberapa hari. Tapi kami sudah memikirkannya lagi dan mengubah rencana. Utusan-utusan sudah pergi lebih dahulu ke Helm's Deep, untuk mengabarkan bahwa Raja akan kembali besok. Dari sana dia akan pergi bersama banyak anak buahnya ke Dunharrow, melalui jalan di antara perbukitan. Mulai sekarang, hanya dua-tiga orang boleh berkuda bersama-sama secara terbuka melintasi daratan, baik siang maupun malam, kalau bisa dihindari."
"Ini benar-benar khas gayamu!" kata Merry. "Yang kupikirkan malam ini cuma tempat tidur. Di mana dan apa Helm's Deep dan semua yang lainnya? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang negeri ini.”
"Kalau begitu, sebaiknya kau belajar sesuatu, kalau ingin memahami apa yang sedang terjadi. Tapi jangan sekarang, dan bukan dari aku: terlalu banyak pikiran mendesak yang harus kuhadapi sekarang:"
"Baiklah, aku akan bertanya pada Strider di api unggun nanti: dia agak lebih sabar. Tapi kenapa harus begitu rahasia? Kukira kita sudah memenangkan pertempuran!"

"Ya, kita menang, tapi hanya kemenangan pertama, dan itu memperbesar bahaya kita. Ada hubungan yang belum berhasil kutebak antara Isengard dan Mordor. Bagaimana mereka bertukar berita, aku belum yakin; tapi mereka melakukannya. Mata Barad-dur akan mengamati Lembah Penyihir dengan tak sabar; dan ke arah Rohan. Semakin sedikit yang dilihatnya, semakin baik."


Jalan berlalu dengan lambat, meliuk-liuk menuruni lembah. Kadang-kadang jauh, kadang-kadang dekat, Sungai Isen mengalir dalam palungnya yang berbatu. Malam turun dari pegunungan. Seluruh kabut sudah hilang. Angin dingin berembus. Bulan sudah membulat, mengisi langit timur dengan sinar pucat dan dingin. Bahu pegunungan di sebelah kanan mereka menurun ke bukit-bukit gundul. Padang-padang luas terbentang kelabu di depan.
Akhirnya mereka berhenti, lalu membelok meninggalkan jalan raya, dan memasuki tanah kering berumput lagi. Berjalan ke arah barat sejauh satu mil, mereka sampai di sebuah lembah kecil. Lembah itu membuka ke selatan, bersandar ke lereng Dol Baran yang bundar, bukit terakhir dan pegunungan utara, berkaki hijau, dimahkotai semak heather. Sisi lembah kecil itu kusut dengan pakis tahun lalu; di antara pakis-pakis, daun-daun musim semi yang keriting rimbun baru saja, muncul dan tanah yang harum. Semak berduri tumbuh lebat di atas tebing-tebing rendah, dan di bawahnya mereka menyiapkan perkemahan, sekitar dua jam sebelum tengah malam. Mereka menyalakan api dalam sebuah cekungan, di bawah akar hawthorn yang menyebar, tinggi seperti pohon, keriput karena usia, tapi ranting-rantingnya kuat segar. Kuncup-kuncup bertebaran di setiap ujung ranting.
Penjaga disiagakan, dua orang setiap giliran. Setelah makan malam, yang lainnya menyelubungi diri dengan jubah dan selimut, kemudian tidur. Kedua hobbit berbaring di suatu pojok, di atas setumpuk pakis lama. Merry sudah mengantuk, tapi Pippin tampak resah. Pakis itu berdesir dan berkerut saat ia berputar dan menggeliat.
"Ada apa?" tanya Merry. "Kau tidur di atas sarang semut?"

"Bukan," kata Pippin, "tapi aku merasa tidak nyaman. Aku ingin tahu, sudah

berapa lama aku tidak tidur di ranjang lagi?"

Merry menguap. "Hitung saja dengan jarimu!" katanya. "Tapi kau harus tahu, berapa lama sejak kita meninggalkan Lorien."
"Oh, itu!" kata Pippin. "Maksudku tempat tidur di kamar tidur."

"Well, kalau begitu Rivendell," kata Merry. "Tapi aku bisa tidur di mana saja malam ini."
"Kau beruntung, Merry," kata Pippin perlahan, setelah diam sejenak. "Kau naik

kuda bersama Gandalf" "Memangnya kenapa?"
"Apa kau mendapat berita atau keterangan darinya?"

"Ya, lumayan. Lebih dari biasanya. Tapi kau juga sudah mendengar hampir semuanya; kau kan dekat kami, dan kami tidak membicarakan rahasia. Tapi kau boleh ikut dia besok, kalau menurutmu kau bisa mengorek lebih banyak cerita darinya dan kalau dia mau membawamu."
"Bisakah aku? Bagus! Tapi dia tertutup, kan? Sama sekali tidak berubah." "Memang!" kata Merry, agak terbangun, dan mulai heran apa yang sebenarnya mengganggu temannya. "Dia sudah lebih matang, atau semacamnya. Dia bisa lebih ramah, tapi juga lebih mengagetkan, lebih gembira, tapi juga lebih serius daripada dulu. Dia sudah berubah; tapi kita belum punya kesempatan banyak untuk melihatnya. Tapi ingat bagian terakhir pembicaraan dengan Saruman! Ingat bahwa dulu kedudukan Saruman lebih tinggi daripada Gandalf: ketua Dewan Penasihat, atau apa namanya. Dia dulu Saruman si Putih. Sekarang Gandalf yang menjadi Putih. Saruman datang ketika disuruh, dan tongkatnya diambil; lalu dia diperintahkan pergi, dan dia pergi!"
"Well, kalau ada perubahan dalam diri Gandalf, perubahannya adalah dia justru makin tertutup, itu saja," kata Pippin. "Misalnya bola kaca itu. Dia tampak sangat puas dengan benda itu. Dia tahu atau menduga sesuatu tentang benda itu. Tapi apakah dia menceritakan pada kita, apa sebenarnya benda itu? Tidak, tidak satu kata pun. Padahal aku yang memungutnya, dan aku menyelamatkannya agar tidak menggelinding jatuh ke dalam genangan air. Sini, aku yang akan membawa itu, anakku itu saja yang dikatakannya. Aku ingin tahu, benda apa itu? Rasanya

berat sekali." Suara Pippin menjadi sangat pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Halo!" kata Merry. "Jadi itu yang mengganggu pikiranmu? Nah, Pippin anakku, jangan lupa pepatah Gildor yang selalu dikutip Sam: Jangan mencampuri urusan Penyihir, karena mereka berperangai halus dan cepat marah. "
"Tapi selama berbulan-bulan ini kita sudah banyak mencampuri urusan Penyihir," kata Pippin. "Aku ingin memperoleh sedikit keterangan, bukan cuma bahaya. Aku ingin melihat bola itu."
"Tidurlah!" kata Merry. "Kau akan mendapat keterangan, cepat atau lambat. Pippin-ku yang baik, biasanya rasa ingin tahu seorang Brandybuck tak bisa dikalahkan oleh seorang Took, tapi kali ini mungkin berbeda. Benarkah begitu?" "Baiklah! Apa salahnya kuceritakan padamu apa yang kuinginkan? Aku ingin mengamati batu itu. Aku tahu aku tak bisa melakukannya berhubung Gandalf mendudukinya seperti induk ayam mengerami telurnya. Tapi setidaknya kau bisa memberi komentar yang lebih menghibur, daripada cuma bilang, 'Kau tidak bisa melakukannya, jadi tidur lah!”
"Well, apa lagi yang bisa kukatakan?" kata Merry. "Maaf, Pippin, tapi kau benar- benar harus menunggu sampai pagi. Aku juga pasti ingin tahu nanti, setelah sarapan, dan aku akan membantumu sedapat mungkin untuk memancing- mancing penyihir itu. Tapi sekarang mataku sudah berat. Kalau aku menguap lagi, wajahku akan pecah sampai ke telinga. Selamat malam!"


Pippin tidak berbicara lagi. Ia berbaring diam sekarang, tapi tetap tidak merasa mengantuk; ia kesal mendengar bunyi pelan napas Merry yang segera tertidur setelah mengucapkan selamat malam. Pikiran tentang bola gelap itu semakin kuat ketika suasana semakin sepi. Ia seolah bisa merasakan lagi berat bola itu di tangannya, dan melihat lagi kedalaman merah misterius yang ditatapnya sekejap. Ia bergulak-gulik gelisah dan mencoba memikirkan hal lain.
Akhirnya ia tidak tahan lagi. Ia bangun dan melihat sekelilingnya. Hawa dingin sekali, dan ia merapatkan jubahnya. Bulan bersinar dingin dan putih, sampai ke dalam lembah; bayangan semak-semak berwarna hitam. Di mana-mana

berbaring sosok-sosok yang tertidur. Kedua penjaga tidak tampak: mungkin mereka ada di atas bukit, atau bersembunyi di tumpukan pakis. Terdorong suatu desakan yang tidak dipahaminya, Pippin berjalan perlahan ke tempat Gandalf berbaring. Ia menatap Gandalf. Penyihir itu tampaknya tidur, tapi kelopak matanya tidak tertutup rapat; ada kilauan mata di bawah bulu matanya yang panjang. Pippin mundur terburu-buru. Tapi Gandalf tidak bergerak; Pippin maju sekali lagi, setengah melawan kemauannya, merangkak dari balik kepala Gandalf. Gandalf terbungkus dalam selimut, jubahnya ditebarkan di atasnya; di dekatnya, di antara sisi kanan tubuhnya dan lengannya yang ditekuk, ada gundukan kecil, sesuatu yang bulat dibungkus kain gelap; tangannya sepertinya baru saja tergelincir ke tanah dari benda bulat itu.
Hampir tidak bernapas, Pippin merangkak mendekat, sedikit demi sedikit. Akhirnya ia berlutut. Lalu ia mengulurkan tangannya diam-diam, dan perlahan- lahan mengangkat gundukan itu: ternyata tidak seberat yang diduganya. "Mungkin hanya bungkusan tetek-bengek," pikirnya dengan perasaan lega yang aneh; tapi ia tidak meletakkan kembali bungkusan itu. Ia berdiri sejenak sambil memeluknya. Lalu suatu gagasan muncul dalam pikirannya. Ia berjingkat-jingkat pergi mengambil sebuah batu besar, dan kembali.
Dengan cepat ia membuka kain pembungkus, lalu membungkus batu itu, dan meletakkannya kembali di dekat tangan Gandalf. Akhirnya ia memandang benda yang sudah disingkapnya. Itu dia: bola kristal mulus, sekarang gelap dan mati, menggeletak terbuka di depan lututnya. Pippin mengangkatnya, cepat-cepat menutupinya dengan jubahnya sendiri, dan setengah membalikkan badan untuk kembali ke tempat tidurnya. Saat itu Gandalf bergerak dalam tidurnya, dan menggumamkan beberapa kata: tampaknya dalam bahasa asing; tangannya meraih dan memegang batu yang dibungkus, lalu ia mengeluh dan tidak bergerak lagi.
"Kau tolol sinting!" Pippin menggerutu pada dirinya sendiri, "Kau akan mendapat kesulitan besar sekali. Lekas kembalikan!" Tapi sekarang lututnya gemetar, dan ia tidak berani mendekati Gandalf untuk menggapai bungkusan itu. "Aku tidak akan bisa mengembalikannya tanpa membangunkan dia," pikirnya, "kecuali

kalau aku sudah sedikit lebih tenang. Kalau begitu, lebih baik sekalian kulihat saja dulu. Tapi jangan di sini!" ia menjauh diam-diam, dan duduk di atas sebuah bukit hijau kecil, tak jauh dari tempat tidurnya. Bulan mengintip dari atas pinggiran lembah.
Pippin duduk dengan lutut ditarik ke atas, menjepit bola itu. Ia membungkuk rendah di atasnya, seperti anak rakus membungkuk di atas mangkuk penuh makanan, di sebuah pojok terpencil. Ia menyingkap jubahnya dan memandang bola itu. Udara terasa diam dan tegang di sekitarnya. Mula-mula bola itu gelap, hitam pekat, sinar bulan berkilauan di permukaannya. Lalu muncul sinar redup dan gerakan di pusatnya, menahan matanya, sehingga ia tak bisa memandang ke arah lain. Dengan segera keseluruhan bola itu seperti terbakar di dalam; bola itu berputar-putar, atau cahaya di dalamnya berputar. Mendadak cahayanya padam. Pippin terkesiap dan meronta; tapi ia tetap membungkuk, mencengkeram bola itu dengan kedua tangannya. Semakin dekat dan semakin dekat ia membungkuk, lalu ia menjadi kaku; bibirnya bergerak tanpa suara untuk beberapa saat. Lalu dengan teriakan tercekik ia terjatuh dan berbaring diam. Teriakannya tajam menembus kesunyian. Para penjaga melompat turun dari tebing. Seluruh perkemahan bergerak.


“Jadi, inilah malingnya!" kata Gandalf. Cepat-cepat ia menyelubungkan jubahnya ke atas bola itu, di tempat benda tersebut tergeletak. "Kau, pippin! Menyedihkan sekali!" ia berlutut dekat tubuh Pippin: hobbit itu berbaring telentang, kaku, menatap langit dengan mata kosong. "Jahanam! Kekacauan apa yang diakibatkannya pada dirinya sendiri, dan pada kita semua?" Wajah Gandalf tampak muram dan kurus.
la mengambil tangan Pippin dan membungkuk di atas wajahnya, mendengarkan napasnya; kemudian ia meletakkan tangannya ke dahi pippin. Hobbit itu gemetar. Matanya terpejam. Ia berteriak dan bangkit duduk, menatap bingung ke semua wajah di sekelilingnya, pucat di bawah sinar bulan.
"Itu bukan untukmu, Saruman!" teriaknya dengan suara melengking datar, lalu ia mundur menjauh dari Gandalf. "Aku akan segera mengambilnya. Mengerti?

Katakan begitu!" Lalu ia meronta-ronta untuk bangkit dan lari, tapi Gandalf memeganginya dengan lembut dan tegas.
"Peregrin Took!" katanya. "Kembali!"

Hobbit itu mengendur dan mundur, berpegangan pada tangan penyihir itu. "Gandalf!" teriaknya. "Gandalf! Maafkan aku!"
"Maafkan?" kata Gandalf "Ceritakan dulu apa yang sudah kaulakukan!"

"Aku … aku mengambil bola itu dan memandang ke dalamnya," kata Pippin terbata-bata, "dan aku melihat hal-hal yang menakutkanku. Aku ingin lari, tapi tak bisa. Lalu dia datang menanyai aku; dia menatapku, dan … dan itulah yang kuingat."
"Itu tidak cukup," kata Gandalf keras. "Apa yang kaulihat, dan apa yang kaukatakan?"
Pippin memejamkan matanya dan menggigil, tapi tidak mengatakan sesuatu. Mereka semua memandangnya dalam diam, kecuali Merry yang memalingkan muka. Tapi wajah Gandalf masih keras. "Bicaralah!" katanya.
Dengan suara rendah tersendat-sendat, Pippin mulai lagi, lambat laun suaranya

semakin jelas dan kuat. "Aku melihat langit gelap, dan tembok benteng tinggi," katanya. "Dan bintang-bintang kecil. Tampaknya jauh sekali dan sudah lama berlalu, namun sangat jelas dan Jernih. Lalu bintang-bintangnya keluar masuk dipotong makhluk-makhluk bersayap. Sangat besar sebenarnya, kukira, tapi di dalam kaca tampak seperti kelelawar berputar-putar mengitari menara: Rasanya mereka bersembilan. Satu mulai terbang langsung ke arahku, semakin besar dan semakin besar. Mengerikan sekali tidak, tidak, aku tak bisa mengungkapkannya.”
"Aku berusaha melarikan diri, karena kukira dia akan terbang keluar; tapi ketika sudah memenuhi seluruh bola, dia menghilang. Lalu dia datang. Dia tidak berbicara, jadi aku tidak mendengar kata-kata. Dia hanya menatap, dan aku mengerti.”
"'Jadi, kau sudah kembali? Mengapa kau lalai melapor padaku sekian lama?'

"Aku tidak menjawab. Dia berkata, 'Siapa kau?' Aku masih tidak menjawab, tapi aku merasa sangat sakit; dia mendesakku, maka aku berkata, 'Aku hobbit.'”

"Lalu tiba-tiba dia seolah melihatku, dan menertawakanku. Sangat kejam. Rasanya seperti ditusuk dengan pisau. Aku meronta. Tap, dia berkata, 'Tunggu dulu! Kita akan segera bertemu lagi. Katakan pada Saruman, perhiasan ini bukan untuknya! Aku akan segera mengirim utusan untuk mengambilnya. Kau paham? Katakan saja itu!'”
"Lalu dia tertawa puas melihatku. Aku merasa hancur berkeping-keping. Tidak, tidak! Aku tak bisa bercerita lagi. Aku tak ingat yang lain."
"Tatap aku!" kata Gandalf.

Pippin memandang langsung ke dalam mata Gandalf. Penyihir itu menahan pandangannya untuk beberapa saat. Kemudian wajahnya melembut, dan senyuman samar muncul di bibirnya. Ia meletakkan tangannya dengan lembut di atas kepala Pippin.
"Baiklah!" katanya. "Tak perlu bicara lagi! Kau tidak terluka. Tak ada kebohongan seperti yang kukhawatirkan di matamu. Tapi dia tidak bicara lama denganmu. Kau bodoh, tapi jujur, Peregrin Took. Orang yang lebih pintar mungkin bisa bertindak lebih buruk dalam keadaan seperti itu. Tapi camkan ini! Kau dan semua temanmu selamat hanya karena nasib baik. Kau tak bisa mengandalkan itu untuk kedua kalinya. Seandainya dia menanyaimu, saat itu juga, hampir pasti kau akan menceritakan semua yang kauketahui, dan itu akan mengakibatkan kehancuran kita semua. Tapi dia terlalu bergairah. Dia tak puas dengan keterangan saja: dia menginginkan dirimu, segera, supaya bisa menanganimu di Menara Kegelapan, perlahan-lahan. Jangan menggigil! Kalau mau mencampuri urusan Penyihir, kau harus siap memikirkan akibatnya. Tapi ayolah! Aku memaafkanmu. Bersyukurlah! Keadaan tidak seburuk yang mungkin terjadi!" Gandalf mengangkat Pippin dengan lembut, dan menggendongnya kembali ke tempat tidurnya. Merry menyusul, dan duduk di sampingnya. "Berbaringlah dan istirahatlah kalau bisa, Pippin!" kata Gandalf. "Percayalah padaku. Kalau tanganmu usil lagi, beritahu aku! Itu bisa disembuhkan. Tapi, hobbit-ku yang baik, jangan lagi meletakkan sebongkah batu di bawah sikuku! Nah, akan kutinggalkan kalian berdua untuk sementara”

Gandalf kembali pada yang lain, yang masih berdiri dekat batu Orthanc dengan merenung gelisah. "Bahaya datang di malam hari, pada saat paling tak terduga," kata Gandalf. "Nyaris kita tak bisa lolos!"
"Bagaimana keadaan Pippin?" tanya Aragorn.

"Sudah beres," jawab Gandalf. "Dia tidak lama ditahan, dan hobbit punya kekuatan mengagumkan untuk sembuh. Ingatan, atau kengerian atas kejadian itu, akan segera memudar. Terlalu cepat, barangkali. Maukah kau, Aragorn, membawa batu Orthanc itu dan menjaganya? Benda itu beban berbahaya." "Berbahaya memang, tapi tidak bagi semua orang," kata Aragorn. "Ada satu yang bisa mengakuinya sebagai haknya. Benda itu pasti palantir dari Orthanc, harta pusaka Elendil, disimpan di sana oleh Raja-Raja Gondor. Kini saatku semakin dekat. Aku akan membawanya."
Gandalf memandang Aragorn, dan kemudian, disaksikan dengan heran oleh semua yang lain, ia mengangkat Batu yang tertutup itu dan membungkuk ketika menyerahkannya.
"Terimalah, Pangeran!" katanya, "seperti hal-hal lain yang akan dikembalikan

padamu. Tapi kalau boleh aku memberimu nasihat, jangan gunakan benda itu jangan dulu! Hati-hatilah!"
"Kapan aku bersikap terburu-buru atau tidak hati-hati, aku yang sudah menunggu dan bersiap-siap selama tahun-tahun yang panjang?" kata Aragorn. "Belum pernah. Jadi, jangan sampai tersandung di akhir perjalanan," jawab Gandalf "Setidaknya rahasiakan benda ini. Kau dan semua yang berdiri di sini! Peregrin si hobbit, terutama, tak boleh tahu pada siapa benda ini sudah diberikan. Dia masih mungkin terkena pengaruh jahat lagi. Sebab dia sudah memegang batu itu dan memandang ke dalamnya, yang seharusnya tidak boleh terjadi. Seharusnya dia tak boleh menyentuhnya di Isengard, dan seharusnya aku bertindak lebih cepat di sana. Tapi perhatianku sedang tertuju pada Saruman, dan aku tidak langsung menduga kegunaan Batu itu. Kemudian aku letih, dan ketika sedang berbaring memikirkannya, aku tertidur. Kini aku sudah tahu!"
"Ya, tidak ragu lagi," kata Aragorn. "Akhirnya kita tahu ada hubungan antara

Isengard dan Mordor, dan bagaimana cara kerjanya. Banyak hal sudah menjadi jelas."
"Musuh-musuh kita punya kekuatan aneh, dan kelemahan aneh!" kata Theoden. "Tapi sudah sejak dulu dikatakan: kehendak jahat sering dirusak kejahatan. "
"Itu sudah terbukti berulang kali," kata Gandalf "Tapi saat ini kita sangat beruntung. Mungkin aku sudah diselamatkan oleh hobbit ini dari suatu kesalahan besar. Aku sudah mempertimbangkan akan memeriksa sendiri Batu ini, untuk menemukan kegunaannya. Seandainya itu kulakukan, pasti aku terungkap olehnya. Aku belum siap untuk ujian seperti itu, dan entah apakah akan pernah siap. Tapi, kalaupun aku punya kekuatan untuk melepaskan diri, sangat berbahaya kalau dia melihatku sekarang ini sebelum tiba saatnya menyingkap segala rahasia."
"Kukira saatnya sudah tiba," kata Aragorn.

"Belum," kata Gandalf. "Masih ada waktu singkat penuh keraguan, yang harus kita manfaatkan. Musuh, sudah jelas, mengira Batu itu berada di Orthanc mengapa tidak? Berarti si hobbit terperangkap di sana, didesak untuk memandang ke dalam kaca oleh Saruman. Benaknya yang gelap sekarang terisi oleh suara dan wajah hobbit itu, dan dipenuhi harapan: perlu waktu sebelum dia tahu kekeliruannya. Kita harus merebut kesempatan itu. Kita terlalu santai selama ini. Kita harus bergerak. Wilayah sekitar Isengard bukan tempat untuk berlama-lama ditinggali. Aku akan segera berjalan di depan, dengan Peregrin Took. Akan lebih baik baginya daripada berbaring di kegelapan, sementara yang lain tidur."
"Aku akan mengurus Eomer dan kesepuluh Penunggang," kata Raja. "Mereka akan berjalan bersamaku saat fajar. Sisanya bisa pergi dengan Aragorn, dan berangkat secepat mereka inginkan."
"Terserah kau," kata Gandalf "Tapi bergegaslah pergi ke perlindungan bukit- bukit, ke Helm's Deep!"


Saat itu sebuah bayangan menyelimuti mereka. Sinar bulan yang terang mendadak hilang. Beberapa Penunggang berteriak, dan meningkuk,

mengangkat tangan ke atas kepala, seolah mengelakkan pukulan dari atas: ketakutan mencekam dan kedinginan mematikan menimpa mereka. Sambil gemetar ketakutan, mereka menengadah. Sosok besar bersayap melewati bulan, seperti awan hitam. Ia berputar-putar dan pergi ke utara, terbang dengan kecepatan jauh lebih tinggi daripada angin mana pun di Dunia Tengah. Bintang- bintang memudar di depannya. Lalu lenyaplah dia.
Mereka bangkit berdiri, kaku seperti batu. Gandalf melihat ke atas, lengannva

teruntai kaku ke bawah, tangannya dikepal.

"Nazgul!" teriaknya. "Utusan dari Mordor. Badai akan datang. Para Nazgul sudah menyeberangi Sungai! Jalan, jalan! Jangan tunggu fajar! Jangan biarkan yang cepat menunggu yang lambat! Jalan!"
la melompat pergi, memanggil Shadowfax sambil berlari. Aragorn mengikutinya. Gandalf menghampiri Pippin dan mengangkatnya. "Kau ikut denganku kali ini," katanya. "Shadowfax akan menunjukkan kecepatannya padamu." Lalu ia berlari ke tempat ia tadi tidur. Shadowfax sudah berdiri di sana. Gandalf mengayunkan satu-satunya tas kecil yang dibawanya ke pundaknya, lalu melompat menaiki punggung kuda. Aragorn mengangkat Pippin dan menempatkannya ke dalam pelukan Gandalf, terbungkus jubah dan selimut.
"Selamat berpisah! Cepat menyusul!" teriak Gandalf "Jalan, Shadowfax!"

Kuda besar itu mengangkat kepalanya. Ekornya berjuntai mengilap di bawah sinar bulan. Lalu ia melompat maju, menerjang tanah, dan menghilang seperti angin utara dari pegunungan.


"Malam indah yang tenang!" kata Merry pada Aragorn. "Ada orang yang memang beruntung. Dia tidak mau tidur, dan dia ingin naik kuda bersama Gandalf keinginannya terkabul! Dia bukannya diubah menjadi batu, agar berdiri di sini sebagai peringatan."
"Seandainya kau yang pertama mengangkat batu Orthanc, dan bukan dia, bagaimana sekarang keadaannya?" kata Aragorn. "Mungkin saja reaksimu lebih parah. Siapa tahu? Sekarang nasib menentukan kau harus ikut denganku. Pergi dan bersiaplah, dan bawa semua yang tertinggal oleh Pippin. Bergegaslah!"



Shadowfax terbang di atas padang, tak butuh desakan dan tuntunan. Belum sampai satu jam, mereka sudah sampai di Ford-ford Isen dan menyeberanginya. Kuburan kelabu para Penunggang dengan tombak-tombak dinginnya sudah berada di belakang mereka.
Pippin sudah mulai pulih. Badannya hangat, tapi angin yang menerpa wajahnya terasa tajam menyegarkan. Ia bersama Gandalf. Kengerian batu dan bayangan menyeramkan di depan bulan sudah memudar, ditinggal di kabut pegunungan atau di dalam mimpi yang sudah berlalu. Pippin menarik napas panjang.
"Aku tidak tahu kau menunggang kuda tanpa pelana, Gandalf," katanya. "Kau tidak pakai pelana maupun tali kekang!"
"Aku tidak biasa naik kuda dengan gaya Peri, kecuali kalau naik Shadowfax," kata Gandalf "Tapi Shadowfax tidak mau memakai pelana. Bukan aku yang mengendarai Shadowfax: dia mau mengangkut si penunggang atau tidak. Kalau dia mau, itu sudah cukup. Setelah itu urusan dia agar kau tetap berada di punggungnya, kecuali kalau kau melompat ke udara."
"Seberapa cepat jalannya?" tanya Pippin. "Cepat sekali kalau melihat anginnya, tapi sangat mulus. Dan betapa ringan langkahnya!"
"Dia lari secepat kuda tercepat bisa berderap," jawab Gandalf, "tapi baginya itu tidak cepat. Daratan di sini agak menanjak, dan lebih terpecah-pecah daripada di seberang sungai. Tapi lihatlah bagaimana Pegunungan Putih mulai mendekat di bawah sinar bintang! Di sana puncak-puncak Trihyrne mencuat seperti tombak hitam. Tak lama lagi kita sampai , di jalan bercabang dan tiba di Deeping-coomb, tempat pertempuran berlangsung dua hari yang lalu."
Pippin diam lagi beberapa saat. Ia mendengar Gandalf bernyanyi lembut, menggumamkan potongan-potongan singkat sajak dalam berbagai bahasa, sementara bermil-mil berlalu di bawah mereka. Akhirnya penyihir itu menyanyikan lagu yang kata-katanya bisa ditangkap oleh si hobbit: beberapa baris terdengar jelas melalui desiran angin:


Kapal-kapal tinggi dan raja-raja gagah

Tiga-tiga datang dengan megah,

Apa yang dibawa mereka dari negeri nun jauh di sana

Melintasi bentangan aliran samudra? Tujuh bintang dan tujuh batu nilam Dan satu pohon seputih pualam.


"Apa yang kauucapkan itu, Gandalf?" tanya Pippin.

"Aku hanya mengingat-ingat beberapa Sajak Adat-Istiadat," jawab Gandalf. "Kurasa para hobbit sudah melupakannya, termasuk sajak-sajak yang pernah mereka kenal."
"Tidak, tidak semuanya," kata Pippin. "Kami sendiri punya banyak sajak, yang mungkin tidak menarik perhatianmu. Tapi aku belum pernah mendengar yang ini. Apa maksudnya … tujuh bintang dan tujuh batu?"
"Tentang palantiri Raja-Raja Zaman Dulu," kata Gandalf. "Apa itu palantiri?" "Nama itu sendiri berarti yang memandang jauh. Batu Orthanc itu salah satunya."
"Kalau begitu, benda itu tidak dibuat" Pippin ragu "oleh Musuh?" "Tidak," kata Gandalf. "Juga bukan oleh Saruman. Itu di luar kemampuannya, dan di luar kemampuan Sauron juga. Palantiri datang dari luar Westernesse, dari Eldamar. Kaum Noldor membuatnya. Eeanor sendiri mungkin membuatnya, di masa yang sudah sangat lama berlalu, sampai tak bisa dihitung dalam tahun. Tapi tak ada yang tak bisa diubah Sauron untuk tujuan jahat. Malang sekali Saruman! Batu itu menjadi kejatuhannya, sekarang aku baru tahu. Semua karya keterampilan yang lebih hebat daripada yang kita miliki, jadi berbahaya bagi kita. Namun dia yang harus menanggung kesalahannya. Bodoh! Merahasiakan kristal itu demi keuntungannya sendiri. Dia tak pernah mengungkapkannya sedikit pun kepada Dewan Penasihat. Kami memang belum memikirkan nasib palantiri dari Gondor dalam peperangannya yang menghancurkan. Oleh manusia, palantiri sudah hampir dilupakan. Bahkan di Gondor batu itu adalah rahasia yang hanya diketahui sedikit orang saja; di Arnor mereka diingat hanya dalam sajak kuno di antara kaum Dunedain."

"Untuk apa Manusia zaman dulu menggunakannya?" tanya Pippin, gembira dan kaget mendapat jawaban atas begitu banyak pertanyaan, dan bertanya-tanya berapa lama keadaan itu akan bertahan.
"Untuk melihat jauh, dan untuk saling berhubungan melalui pikiran," kata Gandalf. "Dengan cara itulah mereka menjaga dan menyatukan wilayah Gondor. Mereka menaruh Batu-Batu itu di Minas Anor, Minas Ithil, dan di Orthanc, di dalam lingkaran Isengard. Pemimpin mereka ada di bawah Kubah Bintang di Osgiliath sebelum kehancurannya. Tiga yang lain berada jauh di Utara. Di rumah Elrond diceritakan bahwa mereka berada di Annuminas, dan Amon Sul, dan Batu Elendil ada di Bukit-Bukit Menara yang memandang ke arah Mithlond di Teluk Lune, di mana kapal-kapal kelabu berlabuh.
"Setiap palantir saling berhubungan, tapi semua yang ada di Gondor selalu menampakkan pemandangan Osgiliath. Sekarang, karena batu karang Orthanc bisa bertahan terhadap badai waktu, maka palantir menara itu tetap di sana. Tapi sendirian batu itu hanya bisa melihat hal-hal kecil yang jauh dari masa lalu. Sangat bermanfaat, tentu, bagi Saruman; tapi rupanya dia belum puas. Lebih jauh dan makin jauh dia memandang, sampai tatapannya jatuh ke Barad-dud Maka terjebaklah dia!”
"Siapa yang tahu, di mana Batu-Batu Arnor dan Gondor yang sudah hilang sekarang berada, terkubur, atau tenggelam jauh? Tapi setidaknya satu diperoleh Sauron dan dikuasainya sendiri. Kurasa itu batu Ithil, karena dia sudah lama sekali menaklukkan Minas Ithil dan mengubahnya menjadi tempat kejahatan: menjadikannya Minas Morgul.”
"Sekarang gampang ditebak, bagaimana cepatnya mata Saruman yang berkeliaran ke mana-mana dijebak dan ditahan; dan bagaimana sejak itu dia dibujuk dari jauh, ditakut-takuti bila bujukan tidak lagi berhasil. Penggigit menggigit, elang di bawah kaki rajawali, labah-labah dalam jaring baja! Aku ingin tahu, sudah berapa lama dia dipaksa sering mendatangi batu itu untuk diperiksa dan diperintah? Dan batu Orthanc begitu condong ke Barad-dur, hingga siapa pun yang melihat ke dalamnya kecuali orang yang punya tekad kuat pikiran dan penglihatannya akan terbawa dengan cepat ke sana. Dan betapa kuatnya daya

tarik benda itu! Bukankah aku juga merasakannya? Bahkan sekarang pun aku masih berhasrat mengujikan kehendakku padanya, untuk melihat apakah aku bisa merenggutnya dari Sauron dan memutarnya ke mana aku mau memandang ke seberang lautan air dan waktu yang luas, ke Tirion Yang Elok, melihat tangan dan pikiran Feanor yang hebat dalam pekerjaannya, sementara Pohon Putih dan Emas sedang berbunga!" ia mengeluh, lalu diam.
"Andai aku tahu semua ini sebelumnya," kata Pippin. "Aku tak mengerti apa yang kulakukan."
"Kau mengerti," kata Gandalf "Kau tahu kau telah berbuat bodoh dan keliru; dan kaukatakan itu pada dirimu sendiri, meski kau tidak menghiraukannya. Aku tidak menceritakan semua ini sebelumnya padamu, karena aku sendiri baru mengerti setelah merenungi semua yang sudah terjadi, sementara kita naik kuda bersama-sama. Tapi, kalaupun aku memberitahukannya lebih dulu padamu, itu tidak akan mengurangi hasratmu, atau membuatmu lebih mudah menolaknya. Malah sebaliknya! Tidak, tangan yang terbakar justru menjadi pelajaran terbaik. Setelah itu, barulah nasihat tentang api akan dimasukkan ke dalam hati." "Memang," kata Pippin. "Seandainya ketujuh batu itu diletakkan di depanku sekarang, aku akan memejamkan mata dan memasukkan tanganku ke saku baju."
"Bagus!" kata Gandalf "Itu yang kuharapkan." "Tapi aku ingin tahu …”, Pippin

mulai.

"Ya ampun!" teriak Gandalf "Kalau rasa ingin tahumu bisa dipuaskan dengan penjelasan, akan kuhabiskan sisa hidupku untuk menjawab pertanyaanmu. Apa lagi yang ingin kauketahui?"
"Nama-nama semua bintang, dan semua makhluk hidup, dan seluruh sejarah Dunia Tengah dan Langit Atas, dan Samudra Pemisah," tawa Pippin. "Ya … Apa lagi? Tapi aku tidak terburu-buru malam ini. Saat ini aku hanya ingin tahu tentang bayangan hitam itu. Aku mendengarmu berteriak, 'Utusan Mordor'. Apa itu? Apa yang dilakukannya di Isengard?"
"Itu Penunggang Hitam naik makhluk bersayap. Nazgul," kata Gandalf "Dia bisa saja membawamu ke Menara Kegelapan."

"Tapi dia bukan datang mencari aku, bukan?" Pippin tergagap. "Maksudku, dia

tidak tahu bahwa aku …"

"Tentu saja tidak," kata Gandalf "Penerbangan lurus dari. Barad-dur ke Orthanc jaraknya lebih dari dua ratus league, dan seekor Nazgul juga perlu waktu beberapa jam untuk menempuhnya. Tapi Saruman pasti sudah melihat ke dalam Batu itu sejak serangan oleh para Orc, dan pikirannya yang rahasia sudah terbaca lebih banyak dari yang direncanakannya. Maka Sauron mengirim utusan, untuk mencari tahu apa yang dilakukannya. Dan setelah peristiwa malam ini, kurasa yang lain akan berdatangan, dengan segera. Maka Saruman akan mendapati dirinya terpojok sampai ke sudut. Dia tak punya tawanan untuk diserahkan, tak punya Batu untuk melihat, dan tak bisa membalas panggilan. Sauron hanya bisa menduga bahwa Saruman menahan si tawanan dan menolak menggunakan Batu itu. Tak ada gunanya Saruman menceritakan hal yang sebenarnya kepada utusan itu. Memang Isengard sudah hancur berantakan, tapi dia masih aman berada di Orthanc. Jadi, mau tak mau, dia akan tampak seperti pemberontak. Meski begitu, dia menolak kita, justru agar tidak dianggap pemberontak! Apa yang akan dilakukannya dalam keadaan buruk seperti itu, aku tidak tahu. Selama dia masih tinggal di Orthanc, kurasa dia masih punya kekuatan untuk menolak Sembilan Penunggang. Mungkin dia akan mencoba melakukan itu. Mungkin dia akan mencoba menjebak Nazgul, atau setidaknya menewaskan makhluk yang ditungganginya di udara. Kalau itu terjadi, Rohan perlu mengawasi kuda-kuda mereka!”
"Tapi aku tidak tahu, apakah itu akan berakibat baik atau buruk untuk kita. Mungkin saja Musuh menjadi bingung, atau terhalang karena kemarahannya kepada Saruman. Mungkin juga dia akan tahu bahwa aku berada di sana dan berdiri di tangga Orthanc dengan beberapa hobbit di belakangku. Atau bahwa seorang putra mahkota Elendil masih hidup dan berdiri mendampingiku. Kalau Wormtongue tidak tertipu senjata-senjata Rohan, dia akan ingat Aragorn dan gelar yang diakuinya. Itu yang aku khawatirkan. Karena itulah kita laribukan dari bahaya, tapi memasuki bahaya yang lebih besar. Setiap langkah Shadowfax membawamu semakin dekat ke Negeri Bayang-Bayang, Peregrin Took."

Pippin tidak menjawab, tapi mencengkeram jubahnya, seolah mendadak hawa dingin menerpanya. Daratan kelabu berlalu di bawah mereka.
"Lihat sekarang!" kata Gandalf. "Lembah-lembah Westfold sudah terbuka di depan. Kita kembali ke jalan menuju timur. Bayangan gelap di sana adalah mulut Deeping-coomb. Ke arah sana ada Aglarond dan Gua-Gua Bersinar. Jangan tanya tentang itu. Tanyakan pada Gimli, kalau kau bertemu dia lagi, dan untuk pertama kalinya kau akan mendapat jawaban lebih panjang daripada yang kauharapkan. Kau tidak akan melihat sendiri gua-gua itu, tidak dalam perjalanan ini. Tempat ini akan segera kita tinggalkan jauh di belakang." .
"Kukira kau akan berhenti di Helm's Deep!" kata Pippin. "Kalau begitu, kau akan ke mana?"
"Ke Minas Tirith, sebelum lautan peperangan mengepungnya." "Oh! Dan seberapa jauhkah jaraknya?"
"League demi league," jawab Gandalf "Tiga kali jarak ke istana Raja Theoden, dan lebih dari seratus mil ke timur dari sini, sesuai jarak terbang utusan-utusan dari Mordor. Shadowfax harus melintasi jalan yang lebih panjang. Siapa yang akan terbukti lebih cepat?”
"Kita akan maju terus sampai fajar, dan itu masih beberapa jam lagi. Kemudian Shadowfax pun perlu istirahat, di suatu lembah perbukitan: di Edoras, kuharap. Tidurlah, kalau bisa! Mungkin kau akan melihat cahaya pertama fajar di atas atap emas istana Eorl. Dan dua hari kemudian, kau akan melihat bayangan merah lembayung Gunung Mindolluin dan tembok menara Denethor yang putih di pagi hari.”
"Lari, Shadowfax! Lari, kuda gagah, lari seperti belum pernah kaulakukan! Kita sudah sampai ke daratan tempatmu dilahirkan, dan kau kenal setiap batu di sini. Lari! Harapanku terletak dalam kecepatan!"
Shadowfax mengangkat kepalanya dan meringkik keras, seolah dipanggil oleh terompet maju perang. Kemudian ia melompat maju. Api memercik dan kakinya; malam memburu melintasinya.
Ketika kantuk mulai menjelang, Pippin mempunyai perasaan aneh: ia dan

Gandalf seolah diam bagai batu, duduk di atas patting kuda berlari, sementara

dunia menggelinding berlalu di bawah kakinya dengan bunyi embusan angin kencang.

BUKU EMPAT



BAB 1

SMEAGOL DIJINAKKAN



"Well, Master, kita dalam kesulitan, tak salah lagi," kata Sam Gamgee. ia berdiri sedih di samping Frodo, mengintai keluar dengan mata dikerutkan ke dalam kegelapan.
Kini malam ketiga sejak mereka melarikan diri dari Rombongan, sejauh yang mereka ketahui: entah sudah berapa lama mereka mendaki dan berjalan susah payah di tengah lereng-lereng gersang dan bebatuan Emyn Mull, kadang menapaki kembali jejak mereka karena tak bisa menemukan jalan maju, kadang menemukan bahwa mereka sudah berputar-putar di situ-situ juga, dan akhirnya kembali ke tempat mereka berada berjam-jam sebelumnya. Tapi secara keseluruhan mereka terus berjalan ke arah timur, sedapat mungkin tetap mengikuti jalan tersingkat ke pinggir paling luar simpul perbukitan yang ruwet itu. Tapi mereka selalu menemukan wajah-wajah perbatasannya terjal sekali, tinggi dan tak mungkin dilalui, seperti mengerutkan kening melihat padang di bawah; di luar pinggirannya yang terjun ke bawah, terletak rawa-rawa membusuk. Tak ada yang bergerak di situ, bahkan tak seekor burung pun tampak.


Kedua hobbit itu sekarang berdiri di pinggir batu karang tinggi, gundul, dan muram, kakinya terselubung kabut; di belakang mereka menjulang dataran tinggi yang dimahkotai awan berarak. Malam sudah mulai menyelubungi daratan tak berbentuk di depan mereka; warnanya yang hijau pucat memudar menjadi cokelat cemberut. Jauh di sebelah kanan, Sungai Anduin yang bersinar tertegun- tegun di bawah sinar matahari yang terputus-putus sepanjang hari, kini tersembunyi dalam keremangan. Tapi mata mereka tidak memandang ke seberang Sungai, ke arah Gondor, ke kawan-kawan mereka, ke negeri Manusia. Mereka memandang ke selatan dan timur; di sana, pada batas malam yang akan segera tiba, sebuah garis gelap menggantung, seperti pegunungan asap yang

diam di kejauhan. Sesekali nyala merah kecil nun di sana berkelip naik di batas bumi dan langit.
"Betul-betul kesulitan besar!" kata Sam. "Itu satu-satunya tempat yang tak ingin kita lihat lebih dekat, di antara semua negeri yang pernah kita dengar; tapi justru ke sanalah kita menuju! Dan kita justru tak bisa mendekatinya, tak mungkin. Kita sudah lewat jalan yang salah. Kita tak bisa turun; kalaupun bisa, aku yakin kita akan mendapati seluruh daratan hijau itu berupa rawa-rawa menjijikkan. Bah! Bisa kaucium baunya?" ia mendengus mengendus angin.
"Ya, aku bisa menciumnya," kata Frodo, tapi ia tidak bergerak, matanya tetap terpaku ke satu titik, menatap ke garis gelap dan nyala api yang berkelip. "Mordor!" ia menggerutu perlahan. "Kalau aku memang harus ke sana, aku berharap bisa ke sana secepatnya dan mengakhiri semuanya!" ia menggigil. Angin sangat tajam menggigit, tapi dipenuhi bau pembusukan dingin. "Well," katanya, akhirnya mengalihkan pandang, "kita tak bisa di sini semalaman, ada atau tidak ada kesulitan. Kita harus menemukan tempat yang lebih terlindung, dan berkemah lagi; mungkin besok kita akan menemukan jalan lain."
"Atau besoknya lagi, dan besoknya lagi," gerutu Sam. "Atau mungkin tidak akan pernah. Kita sudah menempuh jalan yang salah." .
"Aku ingin tahu," kata Frodo. "Kurasa sudah suratan takdirku untuk pergi ke Bayang-Bayang di sana itu, jadi kita pasti akan menemukan jalannya. Tapi kebaikan atau kejahatankah yang akan menunjukkannya padaku? Kita harus cepat. Itu satu-satunya harapan kita. Penundaan hanya akan menguntungkan Musuh dan di sinilah aku berada: tertahan. Kehendak Menara Gelap-kah yang mengemudikan kita? Semua pilihanku ternyata buruk. Seharusnya aku meninggalkan Rombongan jauh lebih dulu, dan turun dari Utara, sebelah timur Sungai dan Emyn Mull, dengan demikian melintasi Padang Pertempuran, sampai ke celah Mordor. Tapi sekarang tak mungkin kita mencari jalan kembali sendirian, sementara para Orc berkeliaran di tebing timur. Setiap hari yang berlalu merupakan waktu berharga yang hilang. Aku letih, Sam. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Makanan apa yang tersisa?"
"Hanya itu … apa namanya … lembas, Mr. Frodo. Cukup banyak. Lumayanlah,

daripada tidak ada sama sekali. Ketika pertama menggigitnya, tak kukira aku akan mengharapkan makanan lain. Tapi sekarang aku berharap ada sepotong roti biasa, dan secangkir bir atau setengah cangkir cukuplah. Aku membawa seluruh perlengkapan masakku dari perkemahan terakhir, tapi apa manfaatnya sampai sekarang? Tak ada yang bisa dibuat api, dan tak ada yang bisa dimasak, bahkan rumput pun tidak!"


Mereka berbalik dan masuk ke sebuah cekungan berbatu. Matahari yang sedang terbenam terjebak ke dalam awan-awan, dan malam datang dengan cepat. Mereka tidur sedapat mungkin, meski sangat kedinginan, bergerak-gerak terus dalam sebuah sudut di antara puncak-puncak bergerigi batu karang yang lapuk; setidaknya mereka terlindung dari angin timur.
"Apa kau melihatnya lagi, Mr. Frodo?" tanya Sam ketika mereka duduk, kaku dan kedinginan, mengunyah wafer lembas dalam cahaya pagi yang dingin dan kelabu.
"Tidak," kata Frodo. "Sudah dua malam ini aku tidak mendengar apa pun, juga

tidak melihat apa pun."

"Aku juga," kata Sam. "Brrr! Mata itu mengagetkanku! Tapi mungkin kita sudah lolos darinya. Si makhluk malang. Gollum! Akan kuberi dia gollum di tenggorokannya, kalau aku bisa menangkapnya."
"Semoga kau tidak perlu melakukan itu," kata Frodo. "Entah bagaimana dia bisa mengikuti kita; mungkin sekarang dia sudah kehilangan jejak kita lagi, seperti katamu. Di daratan kering muram ini, kita tak bisa meninggalkan banyak jejak, juga tidak banyak ball, bahkan untuk hidungnya yang tajam itu."
"Kuharap begitu," kata Sam. "Kuharap kita bisa lepas darinya untuk seterusnya!" "Begitu pula aku," kata Frodo, "tapi dia bukan masalahku yang utama. Kuharap kita bisa keluar dari perbukitan ini! Aku benci mereka. Aku merasa telanjang di sisi timur, terjebak di sini, hanya dipisahkan oleh dataran mati dengan Bayang- Bayang di sana. Ada Mata di dalamnya. Ayo! Kita harus turun hari ini, dengan satu dan lain cara."

Tapi hari semakin larut, dan ketika siang sudah menjelang senja, mereka masih merangkak menyusuri punggung bukit, belum menemukan jalan keluar.
Kadang-kadang, dalam keheningan daratan gersang itu, mereka berkhayal mendengar bunyi-bunyi samar di belakang mereka, sebuah batu jatuh, atau bunyi kaki mengepak di atas bebatuan. Tapi kalau mereka berhenti dan berdiri mendengarkan, mereka tidak mendengar apa-apa, hanya angin yang mengeluh di atas ujung-ujung bebatuan itu pun mengingatkan mereka akan napas yang mendesis perlahan melalui gigi-gigi tajam.
Sepanjang hari punggung luar Emyn Mull membelok perlahan ke utara, sementara mereka terus berjalan. Di sepanjang pinggirnya kini membentang dataran luas penuh batu-batu yang sudah termakan cuaca, sesekali terpotong selokan-selokan seperti parit yang menurun terjal ke takikan dalam pada wajah batu karang. Untuk menemukan jalan di tengah belahan-belahan itu, yang semakin dalam dan semakin sering ditemui, Frodo dan Sam terdorong makin ke kiri, jauh sekali dari pinggiran, tidak memperhatikan bahwa untuk beberapa mil mereka sudah berjalan perlahan namun terus-menerus menuruni bukit: puncak bukit terbenam sampai ke permukaan dataran rendah.
Akhirnya mereka terpaksa berhenti. Punggung bukit membelok tajam ke utara, dibelah sebuah jurang dalam. Di ujung seberang ia kembali menjulang tinggi, satu jarak besar, sekali lompatan: sebuah batu karang kelabu besar menjulang di depan mereka, terjun curam ke bawah, seolah dipotong dengan pisau. Mereka tak bisa maju lebih jauh lagi, dan harus membelok ke barat atau ke timur. Tapi ke barat hanya akan membawa mereka pada lebih banyak kerja keras dan penundaan, kembali ke jantung perbukitan; ke timur akan membawa mereka ke ngarai paling luar.
"Tak bisa lain, kecuali merangkak menuruni parit ini, Sam," kata Frodo. "Mari kita lihat, ke mana tujuannya!"
"Pasti jauh ke bawah sana," kata Sam.

Parit itu lebih panjang dan dalam daripada tampaknya. Agak jauh dari sana, mereka menemukan beberapa pohon kerdil yang benjol-benjol, gerumbulan pohon pertama yang mereka lihat setelah berhari-hari: kebanyakan pohon birch

yang terpelintir, diselingi pohon cemra di sana-sini. Banyak yang sudah mati dan kurus, termakan habis oleh angin timur. Mungkin dulu, di masa yang lebih cerah cuacanya, pepohonan itu berupa gerumbulan indah di jurang, tapi kini, setelah sekitar lima puluh yard, pepohonan itu berakhir, meski beberapa batang patah masih merangkak terus sampai hampir ke tepian batu karang. Dasar parit, yang terbentang sepanjang sisi retakan batu karang, menurun curam dan kasar, dipenuhi pecahan batu. Ketika akhirnya mereka sampai ke ujungnya, Frodo membungkuk dan mencondongkan badannya keluar.
"Lihat!" katanya. "Kita sudah berjalan jauh sekali, atau mungkin batu karangnya yang sudah terbenam. Di sini jauh lebih rendah daripada sebelumnya, dan tampaknya juga lebih mudah."
Sam berlutut di sebelahnya, mengintip dengan enggan dari pinggiran. Lalu ia menoleh ke atas, ke batu karang besar yang menjulang jauh di sebelah kiri mereka. "Lebih mudah!" gerutunya. "Well, memang selalu lebih mudah turun daripada naik. Mereka yang tak bisa terbang bisa melompat!"
"Tapi masih tetap suatu lompatan besar," kata Frodo. "Sekitar, well" ia berdiri sejenak, mengukur dengan matanya "sekitar delapan belas fathom, kukira. Tidak lebih."
"Dan itu sudah cukup!" kata Sam. "Uuh! Aku benci memandang ke bawah dari ketinggian! Tapi melihat lebih baik daripada mendaki."
"Bagaimanapun," kata Frodo, "kurasa kita bisa mendaki di sini; dan menurutku kita harus mencoba. Lihat … batu ini berbeda dengan yang ada beberapa mil dari sini tadi. Batu ini sudah tergelincir dan retak."
Tebing paling luar memang tidak begitu terjal lagi, tapi agak menjorok keluar.

Tampaknya seperti kubu besar atau dinding samudra yang fondasinya beralih tempat, sehingga arahnya jadi berbelok-belok tidak beraturan, meninggalkan retakan besar dan pinggiran panjang miring yang di beberapa tempat hampir selebar tangga.
"Dan kalau hendak mencoba turun, sebaiknya segera saja. Sebentar lagi gelap. Kurasa akan ada badai."
Kekaburan pegunungan di Timur hilang dalam kegelapan yang sudah

menggapai ke arah barat dengan lengannya yang panjang. Di kejauhan terdengar gemuruh petir terbawa angin yang sedang naik. Frodo mengendus- endus udara dan menengadah ragu ke langit. Ia memasang ikat pinggangnya di luar jubah dan mengeratkannya, menempatkan ranselnya di punggung, kemudian melangkah ke pinggiran. "Aku akan mencobanya," katanya.
"Baik!" kata Sam murung. "Tapi aku duluan."

"Kau?" kata Frodo. "Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"

"Aku tidak berubah pikiran. Ini sekadar akal sehat: biarkan yang paling mungkin tergelincir, turun lebih dulu. Aku tak ingin jatuh ke atasmu dan membuatmu jatuh juga jangan sampai dua orang jadi mati dengan sekali jatuh."
Sebelum Frodo bisa menghentikannya, ia sudah duduk, mengayunkan kaki melewati pinggiran, dan berputar, meraba-raba dengan jari kakinya, mencari injakan. Entah apakah ia pernah melakukan tindakan yang lebih berani, atau lebih sembrono daripada itu, dengan kepala dingin.
"Jangan, jangan! Sam, tolol kau!" kata Frodo. "Kau bisa mati kalau melompat seperti itu, tanpa melihat dulu apa yang harus dituju. Kembali!" ia memegang Sam di bawah ketiaknya dan menariknya lagi ke atas. "Sabar dulu!" katanya. Lalu ia berbaring di tanah, menjulurkan tubuh, dan melihat ke bawah; tapi rupanya cahaya cepat meredup, meski matahari belum terbenam. "Kurasa kita bisa berhasil," katanya akhirnya. "Setidaknya aku bisa; kau juga, kalau kau tetap memakai akal sehat dan mengikuti aku dengan cermat."
"Heran, mengapa kau bisa begitu yakin," kata Sam. "Kau kan tak bisa melihat sampai ke dasar, dengan cahaya ini. Bagaimana kalau kau sampai ke bagian yang tidak ada tempat untuk meletakkan tangan atau kakimu?"
"Aku akan memanjat ke atas lagi," kata Frodo.

"Mudah mengatakannya," kata Sam. "Lebih baik menunggu sampai pagi dan lebih banyak cahaya."
"Tidak! Tidak kalau aku bisa berupaya," kata Frodo tiba-tiba, berapi-api. "Aku menyesali setiap jam, setiap menit. Aku akan turun untuk mencobanya. Jangan ikuti aku sebelum aku kembali atau memanggilmu!"
Sambil mencengkeram bibir berbatu tebing dengan jarinya, ia menurunkan diri

perlahan-lahan. Ketika lengannya sudah hampir sepenuhnya teregang, jari kakinya menemukan tempat berpijak. "Satu langkah turun!" katanya. "Dan dataran ini melebar ke kanan. Aku bisa berdiri di sana tanpa berpegangan. Aku akan …” kata-katanya terpotong.


Kegelapan yang memburu sekarang bergerak dengan kecepatan tinggi, muncul dari Timur dan menelan langit. Ada ledakan guruh keras membelah langit, tepat di atas. Halilintar membakar menghantam bukit-bukit di bawah. Lalu muncul embusan angin keras, dan bersamaan dengan itu, berbaur dengan raungannya, terdengar sebuah teriakan tinggi melengking. Para hobbit pernah mendengar teriakan persis seperti itu, jauh di Marish, ketika mereka lari dari Hobbiton. Bahkan di sana, di hutan di Shire, bunyi itu membekukan darah mereka. Kini, di daratan gersang itu, terornya terasa jauh lebih besar: menembus mereka dengan mata pisau kengerian dan keputusasaan, menghentikan jantung dan napas. Sam jatuh tengkurap. Tanpa sengaja Frodo mengendurkan pegangannya, menutupi kepala dan telinganya dengan tangan. Ia bergoyang, tergelincir, dan meluncur ke bawah dengan teriakan meratap.
Sam mendengarnya, dan merangkak dengan susah payah ke pinggiran. "Master!" teriaknya. "Master!"
la tidak mendengar jawaban. Ia menyadari dirinya gemetaran, tapi ia menarik napas dalam-dalam, dan sekali lagi berteriak, "Master!"
Angin seolah mengembus suaranya kembali ke dalam tenggorokan, tapi ketika angin berlalu, menderum naik ke pant dan melintasi bukit-bukit, terdengar teriakan lemah sebagai jawaban:
"Sudah, sudah! Aku di sini. Tapi aku tak bisa melihat."

Frodo memanggil dengan suara lemah. Sebenarnya ia tidak begitu jauh dari sana. la tergelincir dan tidak jatuh, dan terhenti tersentak dengan kaki berpijak di sebuah birai yang lebih lebar, beberapa meter lebih ke bawah. Untung permukaan batu di tempat itu agak condong ke belakang, dan angin menekannya ke batu, sehingga ia tidak terjungkir. la mengokohkan dirinya sedikit, menempelkan wajahnya ke permukaan tembok batu yang dingin, sambil

merasakan jantungnya berdegup kencang. Tapi entah kegelapan sudah sempurna, atau matanya kehilangan daya penglihatan sekitarnya tampak hitam pekat. la bertanya-tanya, apakah ia sudah menjadi buta. la menarik napas panjang.
"Kembali! Kembali!" ia mendengar suara Sam dari kegelapan di atas.

"Aku tak bisa," katanya. "Aku tak bisa melihat. Aku tak bisa menemukan pegangan. Aku belum bisa bergerak."
"Apa yang bisa kulakukan, Mr. Frodo? Apa yang bisa kulakukan?" teriak Sam, menjulurkan badannya jauh sekali. Mengapa majikannya tak bisa melihat? Memang cahaya remang-remang, tapi tidak sampai gelap sekali. la bisa melihat Frodo di bawahnya, sebuah sosok kelabu menyedihkan yang condong di depan batu karang. Tapi ia jauh dari jangkauan bantuan tangan siapa pun.
Ada gelegar bunyi guruh lagi; kemudian hujan turun. Deras sekali, berbaur dengan hujan batu, menghantam batu karang, dingin sekali.
"Aku akan turun ke dekatmu," teriak Sam, meski ia tidak tahu bagaimana harus

membantu Frodo.

"Tidak, tidak! Tunggu!" Frodo balas berteriak, sekarang lebih kuat. "Aku akan segera lebih baik. Aku sudah merasa baikan. Tunggu! Kau tak bisa melakukan apa pun tanpa tambang."
"Tambang!" teriak Sam, berbicara sendiri dengan penuh gairah dan kelegaan. "Wah, aku memang pantas digantung di ujung tambang, sebagai peringatan bagi orang-orang goblok! Kau benar-benar tolol, Sam Gamgee: itu sudah sering dikatakan Gaffer padaku. Ya, begitulah katanya. Tambang!"
"Berhenti mengoceh!" teriak Frodo, yang sekarang sudah cukup pulih, hingga merasa jengkel bercampur geli. "Jangann hiraukan Gaffermu! Jadi, maksudmu, kau membawa tambang di sakumu? Kalau ya, keluarkan!"
"Ya, Mr. Frodo, di ranselku. Sudah kubawa beratus-ratus mil, dan aku sama sekali lupa!"
"Kalau begitu, cepat ambil dan ulurkan ujungnya!"

Cepat Sam melepaskan ranselnya dan mencari-cari di dalamnya. Memang di dasar ransel ada gulungan tambang sutra kelabu buatan penduduk Lorien. ia

melemparkan ujungnya pada majikannya. Kegelapan seolah tersingkap dari mata Frodo, atau mungkin penglihatannya pulih kembali. la bisa melihat garis kelabu yang turun menjuntai, dan rasanya tambang itu bersinar redup keperakan. Kini, setelah ada satu titik dalam kegelapan untuk memusatkan pandangan, ia tidak terlalu pusing lagi. Dengan tetap mencondongkan tubuh ke depan, ia mengikatkan ujung tambang ke pinggangnya, lalu memegang tambang itu dengan kedua tangannya.
Sam mundur dan menjejakkan kakinya ke sebuah tunggul pohon, sekitar satu- dua meter dari pinggir. Setengah ditarik, setengah merangkak, Frodo muncul dan melemparkan dirinya ke tanah.
Petir menggelegar di kejauhan, dan hujan masih turun deras. Kedua hobbit merangkak kembali ke parit, tapi tidak menemukan banyak perlindungan di sana. Sungai-sungai kecil mulai mengalir turun, dan segera berkembang menjadi banjir yang mencebur dan berasap di atas bebatuan, menyemprot keluar dari batu karang, seperti pancuran-pancuran atap besar.
"Aku bisa setengah tenggelam di bawah sana, atau tersapu bersih," kata Frodo. "Untung kau membawa tambang itu!"
"Lebih beruntung kalau aku ingat sejak, awal," kata Sam. "Mungkin kau ingat mereka memasukkan tambang-tambang ke dalam perahu ketika kita berangkat: di negeri kaum Peri. Aku sangat menyukainya, dan aku memasukkan satu gulungan ke dalam ranselku. Rasanya itu sudah bertahun-tahun yang lalu. 'Ini bisa membantu dalam berbagai kebutuhan,' kata Haldir, atau salah satu dari mereka. Dan ternyata omongannya betul."
"Sayang sekali aku tak ingat membawa seutas lagi," kata Frodo, "tapi aku meninggalkan Rombongan dengan begitu terburu-buru, dan dalam kebingungan. Seandainya kita punya cukup banyak tambang, kita bisa gunakan untuk turun. Berapa panjang tambangmu? Aku ingin tahu."
Sam mengukurnya dengan lambat, dengan lengannya, "Lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh meter, kurang lebih," katanya.
"Siapa sangka!" seru Frodo.

"Ah! Siapa yang tahu?" kata Sam. "Bangsa Peri memang luar biasa. Tampaknya

agak tipis, tapi hati dan lembut seperti susu di tangan. Bisa dikemas kecil sekali, dan sangat ringan. Mereka memang bangsa hebat!"
"Tiga puluh meter!" kata Frodo. "Kukira cukup panjang. Kalau badai berhenti sebelum malam, aku akan mencobanya."
"Hujan memang sudah hampir berhenti," kata Sam, "tapi jangan lnengambil risiko lagi dalam kegelapan, Mr Frodo! Dan aku masih belum pulih setelah mendengar teriakan yang dibawa angin tadi; kau mungkin sudah. Kedengarannya seperti Penunggang Hitam tapi di angkasa, kalau mereka bisa terbang. Sebaiknya kita tetap berbaring di sini sampai malam lewat."
"Aku tidak mau menghabiskan waktu lebih lama daripada yang kubutuhkan, terjebak di pinggiran ini dengan mata Negeri Gelap memandang melalui rawa- rawa," kata Frodo.
Sambil berkata begitu, ia bangkit berdiri dan pergi ke dasar parit lagi. la memandang keluar. Langit sudah mulai jernih lagi di Timur sana. Sisa-sisa badai sudah terangkat, bergerigi dan basah, dan pertempuran utama sudah berlalu untuk menebarkan sayapnya yang besar di atas Emyn Mull, di mana pikiran gelap Sauron merenunginya untuk sementara. Dari sana badai membalik, menghantam Lembah Anduin dengan hujan batu dan halilintar, menjatuhkan bayangannya ke atas Minas Tirith dengan ancaman perang. Lalu ia semakin turun di pegunungan, mengumpulkan puncak-puncak menaranya yang besar, menggelinding perlahan melintasi Gondor dan pinggiran Rohan, sampai jauh di sana, para Penunggang di padang melihat menara-menaranya yang hitam bergerak ke belakang matahari, ketika mereka berjalan ke arah Barat. Tapi di sini, di atas gurun dan rawa-rawa berbau busuk, warna biru gelap langit sekali lagi tersingkap, dan beberapa bintang pucat muncul, seperti lubang-lubang kecil putih di langit-langit di atas bulan sabit.
"Rasanya menyenangkan bisa melihat lagi," kata Frodo, menarik napas panjang. "Kau tahu, tadi aku sempat mengira sudah kehilangan penglihatanku. Mungkin karena halilintar, atau sesuatu yang lebih buruk. Aku tak bisa melihat apa pun, sampai tambang kelabu itu turun. Tambang itu seperti bersinar."
"Memang agak seperti perak dalam gelap," kata Sam. "Aku tak pernah

memperhatikannya sebelum ini, meski aku tak ingat pernah mengeluarkannya sejak aku pertama memasukkannya. Tapi kalau kau begitu bertekad memanjat, Mr. Frodo, bagaimana kau akan menggunakannya? Tiga puluh meter, atau katakanlah, sekitar delapan belas fathom: itu kan cuma perkiraanmu tentang ketinggian batu karang itu!”
Frodo berpikir sejenak. "Ikatkan ke tunggul itu, Sam!" katanya. "Kurasa keinginanmu untuk turun lebih dulu akan terkabul kali ini. Aku akan menurunkanmu, dan kau cuma perlu menggunakan tangan dan kakimu untuk menolakkan tubuhmu pada batu karang. Tapi kalau kau sesekali menjejakkan kakimu di atas birai dan aku bisa istirahat, itu akan sangat membantu. Kalau kau sudah di bawah, aku akan menyusul. Aku sudah benar-benar pulih seperti sebelumnya."
"Baiklah," kata Sam dengan berat hati. "Kalau memang harus begitu, biar secepatnya saja!" ia mengangkat tambang dan mengikatnya pada tunggul yang terdekat ke pinggiran; ujung satunya diikatkan ke pinggangnya sendiri. Dengan enggan ia memutar badannya, bersiapsiap melewati ujung untuk kedua kalinya. Ternyata tidak seburuk yang diduganya. Tambang itu membuatnya merasa percaya diri, meski ia memejamkan matanya lebih dan sekali ketika memandang ke bawah dan antara kakinya. Ada satu titik sulit, di mana tak ada birai, tembok batu karangnya terjal, bahkan cekung untuk suatu jarak pendek; di sana ia tergelincir dan menggelantung pada garis perak tambang itu. Tapi Frodo menurunkannya perlahan-lahan dan kokoh, dan akhirnya selesai sudah. Semula ia takut tambang itu tidak cukup panjang, dan ia akan tergantung-gantung di suatu tempat di atas, tapi ternyata masih ada sisa gulungan di tangan Frodo ketika Sam sampai ke dasar dan berteriak ke atas, "Aku sudah sampai!" Suaranya naik dengan jelas dari bawah, tapi Frodo tak bisa melihatnya; jubah Peri yang kelabu membuat sosoknya berbaur dengan cahaya senja.
Frodo agak lebih lama menyusulnya. la sudah mengikat tambang di pinggangnya, ujung di atas juga sudah terikat erat, dan ia sudah memendekkannya agar tambang itu menariknya ke atas sebelum ia sampai ke tanah; tapi ia tak ingin mengambil risiko jatuh, dan ia tidak terlalu percaya pada

tambang tipis kelabu itu. Tapi ada dua titik di mana ia sepenuhnya terpaksa bergantung pada tambang tersebut, yakni di permukaan mulus yang tidak ada pegangan untuk jan hobbit-nya yang kuat sekalipun, dan birai-birainya saling terpisah jauh. Tapi akhirnya ia sampai juga di bawah.
"Nah!" serunya. "Kita berhasil Kita sudah lolos dari Emyn Muil! Sekarang apa lagi? Mungkin tak lama lagi kita akan merindukan batu karang keras di bawah kaki kita."
Tapi Sam tidak menjawab: ia menatap ke atas batu karang. "Tolol!" katanya.

"Sialan! Tambangku yang bagus! Tambang itu terikat pada tunggul, dan kita ada di bawah sini. Ini sama saja dengan meninggalkan tangga bagus bagi Gollum. Kenapa tidak sekalian memasang papan petunjuk untuk memberitahu ke arah mana kita pergi! Sudah kupikir, rasanya kok terlalu mudah." '
"Kalau kau bisa menemukan cara lain untuk menggunakan tambang itu dan membawanya turun bersama kita sekaligus, kau boleh mewariskan sebutan tolol itu padaku, atau sebutan lain yang diberikan Gaffer padamu," kata Frodo. "Panjatlah dan lepaskan tambangnya, lalu turunkan dirimu sendiri, kalau kau mau!"
Sam menggaruk kepalanya. "Tidak, aku tak bisa memikirkan caranya, maaf," katanya. "Tapi aku tak senang harus meninggalkannya." ia membelai ujung tambang dan menggoyangkannya dengan lembut. "Rasanya sulit berpisah dengan apa pun yang kubawa keluar dan negeri Peri. Apalagi benda yang mungkin dibuat sendiri oleh Galadriel. Galadriel," gumamnya, menganggukkan kepalanya dengan sedih. la menengadah dan menarik tambang itu sekali lagi, seperti hendak berpamitan.
Kedua hobbit itu sangat tercengang ketika tambang itu terlepas. Sam terjatuh, gulungan panjang kelabu itu meluncur diam-diam ke atasnya. Frodo tertawa. "Siapa yang mengikat tambang ini?" katanya. "Untung saja dia bertahan selama itu! Bayangkan, aku sudah mempercayakan bobot badanku seluruhnya pada simpul ikatanmu!"
Sam tidak tertawa. "Mungkin aku tidak begitu pintar memanjat, Mr. Frodo," ia berkata dengan nada tersinggung, "tapi aku cukup tahu tentang tambang dan

simpul-simpul. Sudah bakat turunan, bisa dikatakan begitu. Kakekku, dan pamanku Andy, kakak tertua Gaffer, biasa berjalan di atas tambang di Tighfield selama bertahun-tahun. Aku bisa memasang ikatan lebih kuat pada tunggul, danpada yang bisa dilakukan orang lain, di dalam maupun di luar Shire."
"Kalau begitu, tambangnya putus-teriris pinggiran batu karang, kurasa," kata

Frodo.

"Kukira tidak!" kata Sam dengan nada lebih tersinggung lagi. la membungkuk dan mengamati ujung-ujung tambang. "Dan memang tidak. Bahkan satu untai pun tidak!"
"Kalau begitu, rasanya simpulnya yang salah," kata Frodo.

Sam menggelengkan kepala dan tidak menjawab. la meraba tambang itu dengan jarinya, sambil merenung. "Terserah kau, Mr. Frodo," akhirnya ia berkata, "tapi menurutku tambang ini lepas sendiri ketika aku memanggilnya." ia menggulung tambang itu dan memasukkannya dengan penuh kasih sayang ke dalam ranselnya.
"Mungkin juga," kata Frodo, "dan itu yang penting. Sekarang kita perlu memikirkan tindakan selanjutnya. Malam akan segera tiba. Betapa indahnya bintang-bintang, dan Bulan!"
"Pemandangan yang menghibur hati, bukan?" kata Sam sambil melihat ke atas. "Entah bagaimana, mereka seperti Peri. Dan Bulan semakin membesar. Kita sudah sekitar dua malam tidak melihatnya dalam cuaca berawan ini. Sinarnya sudah cukup terang."
"Ya," kata Frodo, "tapi dia tidak akan purnama selama beberapa hari lagi. Sebaiknya kita jangan mencoba melewati rawa-rawa di bawah sinar bulan separuh."


Di bawah keremangan pertama malam itu, mereka menempuh tahap kedua perjalanan mereka. Setelah beberapa saat, Sam menoleh ke jaIan yang sudah mereka lalui. Mulut parit tampak bagaikan titik hitam di batu karang yang kabur. "Aku senang kita mempunyai tambang," katanya. "Si perampok kecil itu pasti kebingungan. Dia boleh coba menginjakkan kakinya yang menjijikkan dan

mengepak ngepak pada birai-birai itu!"

Mereka memilih jalan menjauh dari pinggiran batu karang, melewati belantara bebatuan besar dan batu-batu kasar yang basah dan licin karena hujan deras. Tanah masih menurun tajam. Belum jauh berjalan, mereka sampai di sebuah lubang yang tiba-tiba menganga hitam di depan kaki mereka. Memang tidak lebar, tapi terlalu lebar untuk dilompati dalam cahaya remang-remang. Mereka merasa mendengar air menggeluguk di kedalamannya. Celah itu membelok di sebelah kiri mereka, ke arah utara, kembali ke perbukitan, dengan demikian menutup jalan mereka ke arah itu, setidaknya sementara cuaca masih gelap. "Sebaiknya kita mencoba jalan kemb.ali ke selatan, menyusuri garis batu karang," kata Sam. "Mungkin kita akan menemukan tempat persembunyian di sana, gua atau semacamnya."
"Mungkin juga," kata Frodo. "Aku lelah, dan tak mungkin lebih lama lagi merangkak di antara bebatuan malam ini-meski aku menyesali penundaan ini. Seandainya ada jalan jelas di depan kita, aku akan terus berjalan sampai kakiku tidak kuat."


Temyata berjalan di kaki Emyn Mull yang retak-retak tidak lebih mudah. Sam juga tidak menemukan tempat perlindungan atau gua untuk bernaung: hanya ada lereng-lereng berbatu gersang yang mendaki terjal di batu karang yang sekarang menjulang lagi, lebih tinggi dan lebih terjal ketika mereka kembali. Akhirnya, karena kelelahan, mereka membaringkan diri di bawah tonjolan batu besar yang tidak jauh dari kaki jurang. Di sana mereka duduk meringkuk untuk beberapa saat, merasa sedih di malam dingin itu, sementara kantuk mendatangi, meski mereka berupaya menolaknya sekuat tenaga. Bulan melayang tinggi dan jernih. Cahayanya yang putih tipis menyinari wajah batu karang dan membanjiri tembok-tembok batu karang dingin yang cemberut, mengubah kegelapan yang luas membayang menjadi kelabu pucat dingin, bebercak bayang-bayang hitam. "Yah!" kata Frodo, bangkit berdiri dan menarik jubahnya lebih rapat ke tubuhnya. "Kau tidur dulu sebentar, Sam. Pakailah selimutku. Aku akan mondar-mandir sebentar untuk berjaga." Mendadak ia terdiam, dan mencengkeram lengan Sam.

"Apa itu?" bisiknya. "Lihat di sana, di batu karang!"

Sam memandang, lalu terkesiap kaget. "Sss!" katanya. "Itu dia. Itu Gollum! Ular keparat! Bayangkan, tadi kupikir kita sudah membuat dia bingung dengan pendakian kita! hihat dia! Seperti labah-labah menjijikkan merayap di dinding."


Menuruni wajah ngarai, tipis dan hampir mulus di bawah sinar bulan pucat, sebuah sosok kecil hitam bergerak dengan anggota tubuhnya yang kurus meregang keluar. Mungkin tangan dan jari kakinya yang lembut dan lengket bisa menemukan celah-celah dan injakan kaki yang tak mungkin terlihat atau digunakan hobbit, tapi tampaknya ia merayap turun dengan telapak lengket, seperti semacam serangga besar yang sedang mencari mangsa. Dan ia turun dengan kepala lebih dulu, seolah sedang mengendus-endus arahnya. Sesekali ia mengangkat kepalanya perlahan, memutarnya ke belakang pada lehernya yang kurus panj ang, dan kedua hobbit itu menangkap sekilas dua cahaya pudar bersinar, matanya yang berkedip melihat bulan sejenak, kemudian cepat dipejamkan lagi.
"Kaupikir dia bisa melihat kita?" kata Sam.

"Aku tidak tahu," kata Frodo tenang, "tapi kukira tidak. Sulit sekali melihat jubah Peri kita, biarpun dengan mata yang ramah: aku saja tak bisa melihatmu dalam gelap, dari jarak beberapa langkah. Dan kudengar dia tidak menyukai Matahari maupun Bulan."
"Kalau begitu, mengapa dia turun ke sini?" tanya Sam.

"Diam, Sam!" kata Frodo. "Mungkin dia bisa mencium kita. Dan aku yakin pendengarannya tajam, seperti Peri. Kurasa dia sudah mendengar sesuatu sekarang: mungkin suara kita. Tadi kita banyak berteriak di sana; dan kita berbicara terlalu keras barusan, sampai semenit yang lalu."
"Aku sudah muak dengannya," kata Sam. "Dia sudah terlalu sering datang, dan aku akan bicara dengannya, kalau bisa. Bagaimanapun, kita tak bisa luput dari perhatiannya sekarang." Sambil menarik kerudungnya yang kelabu menudungi wajahnya, Sam merangkak diamdiam menuju batu karang.
"Hati-hati!" bisik Frodo yang menyusul di belakangnya. "Jangan membuatnya

kaget! Dia jauh lebih berbahaya daripada kelihatannya."

Sosok hitam yang merayap itu sekarang sudah tiga perempat jalan turun, dan mungkin sekitar lima puluh kaki atau kurang di atas kaki batu karang. Sambil meringkuk diam bagai batu di dalam bayangan batu besar, kedua hobbit memperhatikannya. Rupanya Gollum sampai ke suatu tempat yang sulit dilewati, atau mencemaskah sesuatu. Mereka bisa mendengarnya mendengus, dan sesekali ada bunyi desis kasar napasnya yang terdengar seperti sumpah serapah. la mengangkat kepala, dan mereka merasa mendengarnya meludah. Lalu ia maju lagi. Kini mereka bisa mendengar suaranya berkeriut dan bersiul. "Ahh, sss! Hati-hati, sayangku! Kalau terburu-buru, malah jadi buntu. Jangan mengambil risssiko, ya, sayangku? Jangan, Sayang gollum!" ia mengangkat kepalanya lagi, mengedip ke arah bulan, dan cepat memejamkan mata kembali. "Kita benci itu," desisnya. "Sssinar bergetar menjijikkan-sss-memata-matai kita, sayangku menyakitkan mata kita."
la sudah semakin turun, bunyi desis itu semakin jelas dan tajam. "Di mmana dia, di mmana dia: sayangku, sayangku. Itu milik kita, dan kita menginginkannya. Pencuri, pencuri, pencuri kecil jorok. Di mana mereka dengan sssayangku yang berharga? Terkutuklah mereka! Kita benci mereka."
"Sepertinya dia tidak tahu kita berada di sini, bukan?" bisik Sam. "Dan apa yang

dia maksud dengan sayangku yang berharga itu? Apakah maksudnya …"

"Sst!" bisik Frodo. "Dia sudah dekat sekarang, cukup dekat untuk mendengar bisikan."
Memang Gollum mendadak berhenti lagi, kepalanya yang besar berayun pada

lehernya yang kurus, seolah sedang mendengarkan. Matanya yang pucat setengah terbuka. Sam menahan diri, meski jarinya berkedut. Matanya yang dipenuhi kemarahan dan rasa jijik terpaku pada sosok malang itu ketika ia bergerak lagi, masih berbisik dan mendesis pada dirinya sendiri.
Akhirnya ia tinggal selusin kaki di atas tanah, tepat di atas kepala kedua hobbit. Dari titik itu ada lereng terjal, karena batu karangnya agak cekung, dan bahkan Gollum juga tak bisa menemukan injakan untuk kakinya. Ketika sedang berupaya memutar badan, agar kakinya turun lebih dulu, mendadak ia jatuh

dengan teriakan melengking. Sambil jatuh, ia melingkarkan kaki dan tangan ke tubuhnya, seperti labah-labah yang talinya sudah putus ketika hendak turun.
Sam keluar dari persembunyiannya, menyeberangi jarak antara dirinya dan kaki batu karang dengan beberapa lompatan. Sebelum Gollum bisa berdiri, ia sudah di atas makhluk itu. Tapi ternyata Gollum lebih hebat dari yang diperkirakannya, meski ditangkap dengan mendadak seperti itu, setelah terjatuh. Sebelum Sam bisa memegangnya dengan kuat, kaki dan lengan Gollum yang panjang sudah melingkar di tubuhnya, menjepit lengannya; cengkeraman itu lembut, tapi sangat kuat, memencetnya perlahan seperti tali-tali yang semakin erat; jarijari basah mencari lehernya, lalu gigi yang tajam menggigit pundaknya. la hanya bisa menghantamkan kepalanya yang bulat dan keras ke samping, ke wajah makhluk itu. Gollum mendesis dan meludah, tapi tidak melepaskan Sam.
Keadaan akan buruk sekali bagi Sam, seandainya ia sendirian. Tapi Frodo melompat dan menghunus Sting dari sarungnya. Dengan tangan kirinya ia menarik kepala Gollum pada rambutnya yang tipis dan lemas, meregangkan lehernya yang panjang, dan memaksa matanya yang pucat dan sengit menatap langit.
"Lepaskan! Gollum," katanya. "Ini Sting. Kau sudah pernah melihatnya. Lepaskan, atau kau akan merasakannya kali ini! Akan kutebas lehermu."
Gollum runtuh dan menjadi lemas seperti tali basah. Sam bangkit berdiri, meraba pundaknya. Matanya membawa penuh kemarahan, tapi ia tak bisa membalas dendam: musuhnya yang malang berbaring merendahkan diri di atas bebatuan, sambil meratap.
"Jangan lukai kami! Jangan biarkan mereka melukai kita, sayangku! Mereka tidak akan melukai kita, bukan, hobbit kecil manis? Kita tidak bermaksud jelek, tapi mereka melompat ke atas kita seperti kucing ke atas tikus malang, begitu kan, sayangku? Dan kita begitu kesepian, gollum. Kita akan bersikap manis pada mereka, kalau mereka juga manis pada kita, bukan begitu, ya kan, ya kan?" "Hmm, apa yang harus kita lakukan dengannya?" kata Sam. "Ikat saja, supaya dia tak bisa lagi mengejar kita dengan diam-diam."
"Tapi itu akan mematikan kita, mematikan kita," ratap Gollum. "Hobbit kecil

kejam. Mengikat kita di daratan keras dingin dan meninggalkan kita, gollum, gollum." Isak tangis muncul dari tenggorokannya yang ber-gollum-gollum.
"Tidak," kata Frodo. "Kalau mau membunuhnya, kita harus langsung membunuhnya. Tapi kita tak bisa melakukan itu, tidak dalam keadaan seperti ini. Makhluk malang! Dia tidak melakukan kejahatan terhadap kita."
"Oh, memang tidak!" kata Sam sambil menggosok pundaknya. "Tapi tadi dia bermaksud begitu, dan masih berniat begitu, aku yakin. Mencekik kita sementara kita tidur, itu rencananya "
"Mungkin juga," kata Frodo. "Tapi apa yang dia niatkan, itu masalah lain." ia diam sebentar, berpikir. Gollum berbaring diam, tapi berhenti meratap. Sam berdiri memandangnya dengan marah.
Frodo merasa mendengar suara-suara dari masa lalu; jauh, namun sangat jelas:



Sayang sekali Bilbo tidak menusuk makhluk busuk itu, ketika ada kesempatan! Kasihan? Perasaan Welas Asih-lah yang menahan tangannya.
Perasaan Welas Asih dan Pengampunan: untuk tidak memukul bila tak perlu. Aku tidak merasa kasihan sama sekali pada Gollum. Dia pantas mati.
Pantas mati! Menurutku memang begitu. Banyak yang hidup sepantasnya mati. Dan beberapa yang matt sepantasnya tetap hidup. Apa kau bisa memberikan kehidupan pada mereka? Jadi, jangan terlalu bersemangat menebar kematian atas nama keadilan, karena mencemaskan keselamatanmu sendiri. Karena bahkan kaum bijak tidak selamanya tahu apa yang akan terjadi kelak.


"Baiklah," jawab Frodo dengan suara keras, sambil menurunkan pedangnya. "Tapi aku masih takut. Pokoknya aku tidak mau menyentuh makhluk itu. Sebab sekarang, setelah melihatnya, aku merasa kasihan padanya."
Sam melongo melihat majikannya yang seperti sedang berbicara pada seseorang yang tidak terlihat. Gollum mengangkat kepalanya.
"Yaa, memang kita malang, ssayangku," ia merengek. "Sengsara sengsara! Hobbit tidak akan membunuh kita, hobbit maniss!"
"Tidak, kami tidak akan membunuhmu," kata Frodo. "Tapi kami juga tidak akan

melepasmu. Kau penuh dengan kejahatan dan kenakalan, Gollum. Kau harus ikut kami, itu saja, tapi kami tetap mengawasimu. Dan kau harus membantu kami, kalau bisa. Satu perbuatan baik pantas dibalas dengan perbuatan baik juga."
"Yaa, ya, memang," kata Gollum sambil bangkit duduk. "Hobbit maniss! Kita ikut mereka. Mencarikan jalan aman dalam gelap untuk mereka, ya, akan kita lakukan. Dan ke mana mereka akan pergi di daratan dingin dan keras ini, kita ingin tahu, ya, kita ingin tahu." ia menatap mereka, matanya yang pucat berkedip-kedip sesaat, memancarkan sorot redup yang menyiratkan kecerdikan dan semangat.
Sam merengut melihatnya, dan mengisap giginya; tapi ia mengerti ada yang aneh dalam suasana hati majikannya, dan masalah itu tak bisa diperdebatkan. Namun ia kaget mendengar jawaban Frodo.
Frodo menatap langsung ke dalam mata Gollum yang tersentak dan langsung memalingkan muka. "Kau sudah tahu, atau kau bisa menduga ke mana kami akan pergi, Smeagol," katanya dengan tenang dan keras. "Kami pergi ke Mordor, tentu. Dan kau tahu jalan ke sana, aku yakin."
"Aah! Sss!" kata Gollum, menutupi telinganya dengan tangan, seolah kejujuran seperti itu, dan keterbukaan menyebut nama itu, menyakitkan baginya. "Kita menduga, ya, kita sudah menduganya," bisiknya, "dan kita tak ingin mereka pergi, bukan begitu? Tidak, ssayangku, hobbit maniss, jangan. Abu, abu, dan debu, dan kehausan ada di sana; dan sumur, sumur, sumur, dan Orc, ribuan Orc. Hobbithobbit maniss jangan pergi ke-sss-tempat seperti itu."
"Jadi, kau sudah pernah ke sana?" desak Frodo. "Dan kau merasa ditarik untuk kembali ke sana, bukan?"
"Yaa. yaa. Tidak!" teriak Gollum. "Satu kali, tidak sengaja, bukan, ssayangku? Ya, tanpa sengaja. Tapi kami tidak ingin kembali, tidak, tidak!" Lalu mendadak suara dan bahasanya berubah, dan ia terisak, berbicara tapi bukan pada mereka. "Lepaskan mereka, gollum! Kau menyakiti aku. Oh, tanganku yang malang, gollum! Aku, kita, aku tidak mau kembali. Aku tidak bisa menemukannya. Aku sudah letih. Aku, kita tidak bisa menemukannya, gollum,

gollum, tidak, tidak ada di mana-mana. Mereka selalu bangun. Kurcaci, Manusia, Peri, Peri mengerikan dengan mata bersinar. Aku tidak bisa menemukannya. Aah!" ia bangkit berdiri dan mengepalkan tangannya yang panjang menjadi simpul tulang tanpa daging, mengayunkannya ke arah Timur. "Kami tidak mau!" teriaknya. "Bukan untukmu." Lalu ia roboh lagi. "Gollum, gollum," ia mengerang dengan wajah menempel ke tanah. "Jangan pandangi kami! Pergi! Pergi tidur!" "Dia tidak akan pergi atau tidur atas perintahmu, Smeagol," kata Frodo. "Kalau kau benar-benar ingin bebas dari dia, kau harus membantuku. Dan itu berarti kau harus mencari jalan untuk kami menuju dia. Tapi kau tak perlu ikut selamanya sampai akhir, tak perlu sampai masuk gerbang negerinya."
Gollum duduk lagi, dan menatap dari bawah kelopak matanya. "Dia ada di sana," ia berkotek. "Selalu di sana. Orc-Orc akan membawamu sepanjang jalan. Gampang menemukan Orc di sebelah timur Sungai. Jangan tanya Smeagol. Smeagol malang, malang sekali, dia sudah pernah pergi. Mereka mengambil Kesayangannya, dan dia sudah lenyap sekarang."
"Mungkin kita akan menemukannya lagi, kalau kau ikut kami," kata Frodo.

"Tidak, tidak, tidak pernah! Dia sudah kehilangan Kesayangannya," kata Gollum. "Bangun!" kata Frodo.
Gollum berdiri dan mundur sampai ke batu karang.

"Nah!" kata Frodo. "Kau memilih berjalan siang atau malam? Kami lelah, tapi kalau kau memilih malam hari, kita akan berangkat malam ini."
"Cahaya besar menyakiti mata kami, begitu," ratap Gollum. "Jangan jalan dulu di bawah Wajah Putih, jangan dulu. Dia akan segera pergi ke balik bukit, yaa. Istirahat dulu sebentar, hobbit maniss!" "Kalau begitu, duduk," kata Frodo, "dan jangan bergerak!"
Kedua hobbit duduk mengapitnya, dengan punggung bersandar pada tembok batu, mengistirahatkan kaki. Tak perlu pengaturan dengan kata-kata: mereka tahu mereka tak boleh tidur sekejap pun. Perlahan-lahan bulan berlalu. Bayang- bayang menyelimuti perbukitan, dan semuanya menjadi gelap di depan. Bintang- bintang semakin rapat dan terang di langit. Tak ada yang bergerak. Gollum duduk dengan kedua kaki ditekuk ke atas, lutut di bawah dagu, tangan datar dan

kaki renggang di atas tanah, matanya terpejam; tapi ia tampak tegang, seolah sedang berpikir atau mendengarkan.
Frodo menatap Sam. Mata mereka bertemu, dan mereka saling memahami. Mereka duduk santai, menyandarkan kepala ke belakang, dan memejamkan mata, atau pura-pura memejamkan mata. Dengan segera bunyi napas mereka lembut terdengar. Tangan Gollum agak berkedut. Hampir tidak kelihatan kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mula-mula satu mata membuka, lalu mata satunya. Kedua hobbit tidak bergerak.
Mendadak, dengan kegesitan dan kecepatan mengejutkan, Gollum lari ke dalam kegelapan, langsung melompat seperti belalang atau kodok.
Tapi justru itu yang ditunggu-tunggu Frodo dan Sam. Sam sudah menerkamnya sebelum ia maju lebih dari dua langkah setelah loncatannya. Frodo, yang menyusul, memegang kakinya dan merobohkannya.
"Mungkin tambangmu bisa berguna lagi, Sam," katanya.

Sam mengeluarkan tambangnya. "Dan ke mana kau akan pergi di negeri dingin dan keras ini, Mr. Gollum?" geramnya. "Kami bertanya-tanya, ya, kami bertanya- tanya. Untuk mencari beberapa teman Orc-mu, kurasa. Kau makhluk curang jahat. Seharusnya tambang ini mengikat lehermu dengan sangat erat."
Gollum berbaring diam, tidak mencoba tipuan lain. la tidak menjawab, tapi melemparkan pandangan jahat ke arah Sam.
"Kita butuh sesuatu untuk memegangnya," kata Frodo. "Kita ingin dia berjalan, jadi tak ada gunanya mengikat kakinya atau tangannya, sebab dua-duanya banyak dia gunakan. Ikat satu ujung tambang pada pergelangan kakinya, dan pegang ujung lainnya."
Frodo berdiri di dekat Gollum, sementara Sam mengikat simpulnya.

Hasilnya mengejutkan mereka berdua. Gollum mulai menjerit, bunyi tajam mengiris, sangat mengerikan. la menggeliat, mencoba mendekatkan mulut ke pergelangan kakinya, dan menggigiti tambang. la terus menjerit.
Akhirnya Frodo yakin ia benar-benar kesakitan; tapi pasti bukan karena ikatannya. la memeriksanya, dan menemukan simpul itu tidak terlalu erat, bahkan tak bisa dibilang erat. Sam merasa kasihan, meski tadi ia bicara keras

pada Gollum. "Ada apa denganmu?" katanya. "Kalau kau mencoba lari, kau harus diikat; tapi kami tidak bermaksud menyakitimu."
"Sakit, sakit," desis Gollum. "Tambang ini membekukan, menggigit! Peri yang memilinnya, terkutuklah mereka! Hobbit jahat kejam! Karena itu kita mencoba lari, tentu saja, ssayangku. Kita sudah menduga mereka hobbit kejam. Mereka mengunjungi kaum Peri, Peri galak dengan mata bersinar. Lepaskan tambang ini! Ssakit!"
"Tidak, aku tidak akan melepaskannya," kata Frodo, "tidak, kecuali" ia berhenti untuk berpikir sejenak "kecuali kau membuat janji yang bisa kupercayai."
"Kita bersumpah akan melakukan apa yang dia inginkan, ya, ya,"

kata Gollum, masih menggeliat dan mencoba meraih pergelangan kakinya. "Ini menyakitkan kami."
"Sumpah?" kata Frodo.

"Smeagol," kata Gollum dengan tiba-tiba dan jelas, membuka lebar-lebar matanya dan memandang Frodo dengan sinar aneh. "Smeagol akan bersumpah pada Kesayangannya."
Frodo berdiri tegak, dan sekali lagi Sam kaget mendengar kata-katanya dan suaranya yang keras. "Pada Kesayanganmu? Berani-beraninya kau!" katanya. "Pikir!”


Satu Cincin untuk menguasai mereka semua dan mengikat mereka dalam

Kegelapan.



“Apakah kau mau mengikat janjimu pada benda itu, Smeagol? Cincin itu akan mengikatmu. Tapi dia lebih curang daripadamu. Mungkin dia akan memutar- balikkan kata-katamu. Waspadalah!"
Gollum gemetar ketakutan. "Pada Kesayangan-ku, pada Kesayangan-ku!" ulangnya.
"Dan apa yang akan kauikrarkan?" tanya Frodo.

"Aku akan bersikap baik sekali," kata Gollum. Lalu sambil merangkak ke kaki

Frodo ia merendahkan diri di depannya, dan berbisik parau; ia menggigil, seolah

kata-kata itu menggoyang tulang-belulangnya dengan kengerian. "Smeagol bersumpah tidak akan pernah membiarkan Dia memilikinya. Tidak akan pernah! Smeagol akan menyelamatkannya. Tapi dia harus bersumpah pada Kesayangan-nya itu."
"Tidak! Tidak padanya," kata Frodo, menatap Gollum dengan iba. "Kau hanya ingin melihat dan menyentuhnya, kalau bisa, meski kau tahu itu akan membuatmu gila. Jangan bersumpah pada Kesayanganmu, tapi bersumpahlah demi benda itu, kalau mau. Karena kau tahu di mana dia. Ya, kau tahu, Smeagol. Dia ada di depanmu."
Untuk beberapa saat, Sam merasa seolah majikannya tumbuh membesar, sedangkan Gollum mengkerut: Frodo menjadi sebuah sosok tinggi kokoh, seorang penguasa hebat yang menyembunyikan cahayanya dalam jubah kelabu, dan di kakinya seekor anjing kecil merengekrengek. Meski begitu, dalam segi tertentu keduanya mempunyai persamaan dan tidak asing: mereka bisa saling memahami pikiran masingmasing. Gollum bangkit dan mulai mencakar-cakar Frodo, merendah-rendah di lutut Frodo.
"Turun! Turun!" kata Frodo. "Sekarang ucapkan janjimu!"

"Kita berjanji, ya, aku berjanji," kata Gollum. "Aku akan melayani penguasa Kesayangan-ku. Majikan baik, Smeagol baik, gollum, gollum!" Mendadak ia mulai menangis dan menggigit pergelangan kakinya lagi.
"Lepaskan tambang itu, Sam!" kata Frodo.

Dengan enggan Sam mematuhinya. Segera Gollum berdiri dan mulai berjingkrak jingkrak seperti anjing kampung yang ditepuk-tepuk oleh majikannya sehabis dicambuk. Sejak saat itu terjadi perubahan pada dirinya, dan bertahan hingga beberapa lama. la tidak terlalu sering lagi mendesis dan meratap, dan ia berbicara langsung pada pendamping-pendampingriya, bukan pada dirinya sendiri, Ia akan takut dan tersentak kalau mereka melangkah di dekatnya atau membuat gerakan tiba-tiba, dan ia menghindari sentuhan jubah Peri mereka; tapi ia ramah, bahkan sangat ingin menyenangkan, sampai terlihat mengibakan. la akan tertawa terbahak-bahak dan melonjak-lonjak kalau ada kelakar, atau bahkan bila Frodo berbicara ramah kepadanya, dan menangis kalau Frodo

menegumya. Sam tidak banyak bicara dengannya. la lebih curiga daripada sebelumnya, dan tidak begitu menyukai Gollum yang baru ini, dibandingkan yang lama.
"Well, Gollum, atau apa pun nama panggilanmu," kata Sam, "ayo! Bulan sudah pergi, dan malam semakin larut. Sebaiknya kita berangkat."
"Ya, ya," Gollum setuju, sambil melompat-lompat ke sana kemari. "Mari kita pergi! Hanya ada satu jalan melintasi ujung Utara dan ujung Selatan. Aku menemukannya. Orc tidak menggunakannya, Orc tidak tahu tentang ini. Orc tidak melintasi Rawa-Rawa, mereka berjalan memutar bermil-mil. Untung sekali kau lewat jalan ini. Sangat beruntung kau menemukan Smeagol, ya. Ikuti Smeagol!”
la maju beberapa langkah, dan menoleh ke belakang dengan sikap bertanya, seperti seekor anjing mengajak berjalan-jalan. "Tunggu dulu, Gollum!" teriak Sam. "Jangan terlalu jauh di depan! Aku akan memukul ekormu, dan tambangku sudah siap."
"Tidak, tidak!" kata Gollum. "Smeagol sudah berjanji."

Di tengah malam larut, di bawah bintang-bintang terang dan tajam, mereka berangkat. Gollum menuntun mereka kembali ke arah utara untuk beberapa saat, melalui jalan tempat mereka mula-mula datang; lalu ia membelok ke kanan, menjauhi pinggiran terjal Emyn Mull, menuruni lereng-lereng berbatu yang hancur, menuju tanah rawa luas di bawah. Mereka segera menghilang lamat- lamat ke dalam kegelapan. Di tanah gersang yang luas di depan gerbang Mordor, keheningan yang hitam menggantung berat.

BAB 2

MELINTASI RAW A-RAWA



Gollum bergerak cepat, kepala dan lehernya menjulur ke depan. la sering menggunakan tangan dan kakinya. Frodo dan Sam mengikutinya dengan susah payah; tapi rupanya Gollum sudah tidak berniat melarikan diri lagi. Kalau mereka ketinggalan, ia akan menoleh dan menunggu mereka. Setelah beberapa saat, ia membawa mereka ke pinggiran parit sempit yang sudah mereka temui sebelumnya; tapi kini mereka berada lebih jauh dari bukit-bukit.
"Ini dia!" serunya. "Ada jalan turun ke sana, ya. Sekarang kita mengikutinya keluar, keluar di sana." ia menunjuk ke selatan dan timur, ke arah rawa-rawa. Bau busuknya sampai ke hidung mereka, berat dan sangat keras dalam udara malam yang dingin.
Gollum berjalan turun-naik di tebing, dan akhirnya memanggil mereka. "Di sini! Di sini kita bisa turun. Smeagol pernah lewat jalan ini: aku lewat sini, bersembunyi dan para Orc."
la memimpin jalannya, dan kedua hobbit mengikutinya turun di kegelapan. Tidak sulit, karena jurang di titik ini hanya sekitar lima belas kaki dalamnya, dan lebarnya sekitar dua belas kaki. Ada air mengalir di dasarnya: sebenarnya itu palung dari salah satu sungai yang banyak mengalir turun dan bukit-bukit untuk mengairi genangan-genangan air dan lumpur yang diam. Gollum berbelok ke kanan, kurang-lebih ke selatan, dan menceburkan kakinya ke dalam sungai berbatu yang dangkal. la tampak sangat gembira merasakan air, dan tertawa sendiri, kadang-kadang bahkan menyanyikan semacam lagu dengan suaranya yang parau.


Tanah keras dan beku Menggigit tangan yang kaku, Menggerogoti kaki yang garing.


Bebatuan dan batu karang

Seperti tulang-belulang yang lekang

Semuanya tak lagi berdaging.



Tapi air sungai dan telaga

Basah dan sejuk:

Nyaman kaki di air bening!

Dan sekarang kami ingin …



"Ha! Ha! Apa yang kita inginkan?" katanya, melirik kedua hobbit. "Akan kita ceritakan," ia berkuak. "Dia sudah lama menebaknya, Baggins menebaknya." Matanya bersinar-sinar, dan Sam yang meriangkap sinar itu menganggapnya sangat tidak menyenangkan.


Hidup tanpa pernapasan; Sedingin kematian;
Tak pernah kehausan, bersanding minuman; Berbaju logam, tanpa dentingan.
Terdampar di tanah gersang, Menyangka pulau rindang Pegunungan yang menjulang; Mengira pancuran
Embusan angin kering. Begitu elok dan ramping!
Betapa senang berjumpa dengannya! Kami hanya menginginkan
Berhasil menangkap ikan,

Yang lembut-manis dagingnya!



Kata-kata itu membuat Sam semakin gelisah memikirkan suatu masalah yang memang sudah mengganggunya sejak majikannya berniat membawa Gollum sebagai pemandu mereka: masalah makanan. la menduga majikannya belum

memikirkan hal itu, tapi ia merasa Gollum sudah memikirkannya. Bagaimana Gollum selama ini mencari makan dalam perjalanannya yang sendirian? "Tidak begitu baik," pikir Sam. "Dia tampak kelaparan. Aku yakin dia tidak terlalu pilih- pilih untuk mencoba rasa hobbit kalau tidak ada ikan-seandainya dia bisa menangkap kami kalau sedang tidur. Tapi itu tidak akan terjadi: tidak pada sam gamgee.”


Mereka berjalan lama sekali, terseok-seok menyusuri parit panjang berbelok- belok, atau begitulah rasanya bagi kaki Frodo dan Sam yang letih. Parit itu membelok ke timur, dan ketika mereka semakin jauh, ia melebar dan lambat laun menjadi lebih dangkal. Akhirnya langit di atas menjadi pucat oleh sinar kelabu pertama pagi hari. Gollum belum menunjukkan tanda-tanda lelah, tapi sekarang ia menoleh dan berhenti.
"Pagi sudah dekat," bisiknya, seolah Pagi itu sesuatu yang bisa mendengarnya dan menerkamnya. "Smeagol akan tinggal di sini: aku akan tinggal di sini, dan Wajah Kuning tidak akan melihatku."
"Kami akan senang melihat Matahari," kata Frodo, "tapi kami akan tetap di sini:

kami terlalu letih untuk berjalan lebih jauh saat ini."

"Kau tidak bijak kalau senang dengan Wajah Kuning," kata Gollum. "Dia membuatmu kentara. Hobbit manis pintar tetap bersama Smeagol. Orc dan makhluk-makhluk jahat berkeliaran. Mereka bisa melihat jauh sekali. Tinggal di sini dan bersembunyi bersamaku!"
Ketiganya berhenti untuk beristirahat di kaki tembok berbatu parit itu. Sekarang ketinggiannya tidak lebih daripada tinggi manusia, dan di kakinya ada bidang- bidang datar lebar dari batu kering; airnya mengalir dalam saluran di sisi yang lain. Frodo dan Sam duduk di atas salah satu bidang datar, menyandarkan punggung. Gollum mendayung dan berjuang dalam aliran sungai.
"Kita perlu makan sedikit," kata Frodo. "Kau lapar, Smeagol? Makanan kami sedikit sekali, tapi akan kami sisakan sebisa mungkin bagimu."
Mendengar kata lapar, sinar hijau menyala dalam mata Gollum yang pucat, dan kedua mata itu seolah semakin menonjol di wajahnya yang kurus dan tampak

sakit. Untuk sesaat ia kembali ke gaya Gollum-nya. "Kita kelaparan, ya kelaparan kita, ssayangku," katanya. "Apa yang mereka makan? Apakah mereka punya ikan enak?" Lidahnya menjulur keluar dari antara giginya yang kuning, menjilat bibirnya yang pucat.
"Tidak, kami tidak punya ikan," kata Frodo. "Kami hanya punya ini" _ ia mengangkat sebatang wafer lembas _ "dan air, kalau air di smi bisa diminum." "Yaa, air bagus," kata Gollum. "Minum, minum saja, selagi masih bisa! Tapi apa yang mereka punya, ssayangku? Apakah bisa dikunyah? Apakah rasanya enak?"
Frodo mematahkan sebagian wafer dan memberikannya pada Gollum di atas daun pembungkusnya. Gollum mencium daun itu, dan wajahnya berubah: kejang-kejang karena jijik, dan sentuhan kedengkiannya yang lama muncul. "Smeagol menciumnya!" katanya. "Daun dari negeri Peri, bah! Bau sekali. Dia pernah memanjat pohon itu, dan dia tak bisa mencuci bersih bau itu dari tangannya, tanganku yang manis." Sambil menjatuhkan daunnya, ia mengambil sepotong lembas itu dan mengunyahnya. la meludah, lalu terbatuk-batuk.
"Aah! Tidak!" ia merepet. "Kau mencoba mencekik Smeagol malang. Debu dan abu, dia tak bisa makan. Dia akan mati kelaparan. Tapi Smeagol tidak peduli. Hobbit manis! Smeagol sudah janji. Dia akan mati kelaparan. Dia tak bisa makan makanan hobbit. Dia akan mati kelaparan. Smeagol malang yang kurus!"
"Aku menyesal," kata Frodo, "tapi aku tak bisa membantumu. Kukira makanan ini akan baik bagimu, kalau kau mau mencoba. Tapi mungkin kau tak bisa mencoba, setidaknya belum sekarang."


Kedua hobbit mengunyah lembas mereka dalam keheningan. Sam berpikir, entah mengapa, rasanya lebih enak daripada sebelumnya: sikap Gollum membuatnya memperhatikan lagi rasanya. Tapi ia tidak merasa nyaman. Gollum memperhatikan setiap remah dari tangan sampai ke mulut, seperti anjing yang menunggu penuh harap, dekat kursi orang yang sedang makan. Baru ketika mereka selesai dan bersiap-siap istirahat, ia tampak yakin bahwa tak ada makanan lezat tersembunyi yang bisa ikut dimakannya. Lalu ia pergi duduk

sendirian beberapa langkah dari mereka, dan agak merengek.

"Begini!" bisik Sam pada Frodo, tidak terlalu perlahan: ia tidak begitu peduli apakah Gollum mendengarnya atau tidak. "Kita perlu tidur sebentar, tapi jangan berbarengan dengan adanya bajingan lapar di dekat kita. Janji atau tidak. Smeagol atau Gollum tidak akan serta-merta mengubah kebiasaannya, aku yakin. Kau tidur dulu, Mr. Frodo, dan aku akan memanggilmu kalau kelopak mataku sudah tak bisa terbuka lagi. Waspadalah, sama seperti sebelumnya, sementara dia berkeliaran bebas."
"Mungkin kau benar, Sam," kata Frodo dengan terang-terangan. "Memang ada perubahan pada dirinya, tapi perubahan macam apa dan seberapa dalam, aku belum yakin. Kurasa kita tak perlu khawatir sekarang ini, tapi tetap awasi sajalah kalau kau mau. Berikan aku dua jam, jangan lebih, lalu bangunkan aku."
Frodo begitu lelah, sampai kepalanya jatuh ke dadanya, dan ia hampir-hampir langsung tertidur setelah mengucapkan kata-kata itu. Gollum tampaknya sudah tidak takut lagi. la meringkuk dan cepat tertidur, tanpa menghiraukan apa pun. Tak lama kemudian, napasnya mendesis lembut melalui giginya yang dikatupkan, tapi ia berbaring diam seperti batu. Setelah beberapa saat, karena takut tertidur juga kalau mendengarkan napas kedua pendampingnya, Sam berdiri dan dengan lembut menyodok Gollum. Kepalan tangannya terbuka dan berkedut, tapi ia tidak membuat gerakan lain. Sam membungkuk dan mengatakan ikan dekat telinganya, tapi tak ada reaksi, bahkan napasnya pun tidak tersentak.
Sam menggaruk kepalanya. "Benar-benar tidur," gerutunya. "Dan kalau aku seperti Gollum, dia tidak akan pernah bangun lagi." ia menahan diri agar tidak memikirkan pedang dan tambangnya, lalu pergi duduk dekat majikannya.
Ketika ia bangun, langit di atas redup; tidak lebih terang, tapi lebih gelap daripada ketika mereka sarapan. Sam melompat berdiri. Dari perasaan segar bercampur lapar yang menyelimuti dirinya, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia sudah tidur sepanjang hari, setidaknya sudah sembilan jam. Frodo masih tidur lelap, sekarang berbaring miring. Gollum tidak tampak. Sam memaki-maki dirinya sendiri. Kemudian terlintas dalam benaknya bahwa majikannya juga benar: untuk

sementara, tidak ada yang perlu diawasi. Setidaknya mereka berdua masih hidup dan tidak dicekik.
"Makhluk malang!" kata Sam, setengah menyesali. "Aku ingin tahu ke mana dia pergi?"
"Tidak jauh, tidak jauh!" kata sebuah suara di atasnya. Sam menengadah dan melihat bentuk kepala Gollum yang besar, serta telinganya, berlatar belakang langit senja.
"Nah, apa yang kaulakukan?" teriak Sam, kecurigaannya kembali timbul begitu

melihat sosok Gollum.

"Smeagol lapar," kata Gollum. "Akan segera kembali."

"Kembali sekarang!" teriak Sam. "Hai! Kembali!" Tapi Gollum sudah menghilang. Frodo bangun mendengar suara teriakan Sam dan bangkit duduk, menyeka matanya. "Halo!" katanya. "Ada masalah? Jam berapa sekarang?"
"Aku tidak tahu," kata Sam. "Sudah lewat matahari terbenam, kukira. Dan dia pergi. Katanya dia lapar."
"Jangan khawatir!" kata Frodo. "Itu tak bisa dihindari. Tapi dia akan kembali, lihat saja nanti. Janji itu masih akan mengikatnya untuk sementara waktu. Dan dia tidak akan meninggalkan Kesayangannya."
Frodo menganggap enteng bahwa mereka tidur lelap selama berjam-jam didampingi Gollum yang sangat lapar, yang bebas lepas di samping mereka. "Jangan mengomel-omel seperti Gaffer-mu," katanya. "Kau sudah letih sekali, dan ternyata semuanya berakhir dengan baik: sekarang kita berdua sudah cukup istirahat. Masih ada perjalanan sulit di depan, jalan terburuk sampai sekarang." "Tentang makanan," kata Sam. "Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melakukan tugas ini? Dan kalau sudah selesai, apa yang akan kita lakukan? Roti ini memang membuat kita kuat berdiri, tapi tidak cukup memuaskan perut, bisa dikatakan begitu: setidaknya untukku, tanpa bermaksud menghina mereka yang membuatnya. Tapi kita harus makan sedikit setiap hari, dan roti itu akan makin sedikit. Menurut Perhitunganku, persediaan kita cukup untuk sekitar tiga minggu, itu kalau dihemat-hemat, camkan itu. Kita agak boros sejauh ini."
"Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk. … untuk

menyelesaikan tugas," kata Frodo. "Kita tertunda dengan menyedihkan di perbukitan. Tapi Samwise Gamgee, hobbit-ku yang baik, yang paling kusayangi sahabat di antara sahabat kukira kita tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Melakukan tugas itu, seperti istilahmu apa harapan kita bahwa kita akan berhasil? Dan kalau kita berhasil, siapa tahu apa akibatnya? Kalau Cincin Utama masuk ke dalam Api, dan kita di dekatnya? Coba pikir, Sam, apa kita masih akan membutuhkan roti? Kukira tidak. Kalau kita bisa merawat anggota tubuh kita untuk membawa kita ke Gunung Maut, itu saja cukuplah. Itu sudah lebih dari yang bisa kulakukan, rasanya begitu."
Sam mengangguk diam. la memegang tangan majikannya dan membungkuk di atasnya. la tidak menciumnya, meski air matanya jatuh ke atasnya. Lalu ia berpaling, menyeka hidungnya dengan lengan baju, dan bangkit berdiri, mengentak-entakkan kaki, mencoba bersiul, dan di tengah upaya itu berkata, "Di mana makhluk keparat itu?”
Sebenarnya Gollum sudah kembali, tapi ia datang begitu diam-diam, sampai- sampai mereka tidak mendengarnya. Jari dan wajahnya berlumuran lumpur hitam. la masih mengunyah dan meneteskan air liur. Apa yang dikunyahnya, tidak mereka tanyakan atau pikirkan.
"Cacing atau kumbang, atau sesuatu yang berlumpur dari dalam lubang-lubang," pikir Sam. "Brr! Makhluk menjijikkan; makhluk memelas!"
Gollum tidak berkata apa-apa pada mereka, sampai ia minum sepuasnya dan membasuh dirinya di sungai. Lalu ia naik kembali menghampiri mereka, sambil menjilat bibirnya. "Sekarang lebih baik," katanya. "Kita sudah cukup istirahat? siap melanjutkan perjalanan? Hobbit-hobbit manis, mereka tidur indah sekali. Percaya Smeagol sekarang? Sangat, sangat bagus."


Tahap berikutnya perjalanan mereka sangat mirip yang sebelumnya. Ketika mereka berjalan maju, parit itu semakin dangkal dan kemiringan dasarnya semakin landai. Dasarnya tidak begitu berbatu dan lebih banyak tanahnya, dan perlahan-lahan sisi-sisinya menjelma menjadi tebing biasa. Parit itu mulai berliku-liku dan arahnya tidak teratur. Malam itu hampir berakhir, tapi awan-awan

sekarang menutupi bulan-bintang, dan mereka mengetahui kedatangan fajar hanya dari penyebaran cahaya kelabu tipis yang lambat.
Pada jam-jam fajar yang dingin, mereka sampai di ujung aliran air. Tebing- tebingnya berubah menjadi gundukan hijau lumut. Melewati dataran terakhir dengan bebatuan membusuk, sungai mengalir menggeluguk dan jatuh ke dalam tanah cokelat berlumpur, lalu menghilang. Ilalang kering mendesis dan berderak, meski mereka tidak merasakan angin lewat.


Di kedua sisi dan di depan, tanah basah dan lumpur luas membentang ke selatan dan timur, masuk ke cahaya yang kabur. Kabut mengeriting dan naik seperti asap, dari genangan gelap dan tak menyenangkan. Bau busuknya menggantung di udara, serasa mencekik. Jauh di sana, hampir ke arah selatan, tembok pegunungan Mordor menjulang, seperti balok hitam awan-awan bergerigi melayang di atas lautan penuh kabut yang berbahaya.


Kedua hobbit sekarang sepenuhnya berada di tangan Gollum. Mereka tidak tahu, dan tidak menduga bahwa mereka sebenarnya berada persis di dalam batas utara rawa-rawa, yang hamparannya terbentang di sebelah selatan mereka. Kalau mereka kenal daratan itu, mereka bisa berjalan kembali sedikit, lalu membelok ke timur, berjalan memutar melalui jalan keras, sampai ke padang gersang Dagorlad: medan pertempuran zaman kuno di depan gerbang-gerbang Mordor. Bukannya ada harapan besar dengan melalui jalan itu. Di padang berbatu itu tak ada tempat perlindungan, dan jalan raya Orc serta bala tentara Musuh melintasinya. Bahkan jubah Lorien takkan bisa menyembunyikan mereka di sana.
"Bagaimana arah perjalanan kita sekarang, Nmeagor!" tanya Frodo. "Apakah kita harus melintasi tanah berbau busuk ini?"
"Tidak perlu, sama sekali tidak perlu," kata Gollum. "Tidak kalau hobbit ingin sampai di pegunungan gelap dan pergi menemui Dia lekas-lekas. Kembali sedikit dan berputar sedikit" tangannya yang kurus melambai ke utara dan timur- "dan kau bisa sampai di jalan keras dan dingin, sampai di gerbang negeri-Nya.

Banyak anak buah Dia di sana, menunggu kedatangan tamu, sangat senang bisa membawa mereka langsung kepada Dia, oh ya. Matanya memperhatikan jalan itu sepanjang waktu. Dia menangkap Smeagol di sana, dulu." Gollum menggigil. "Tapi sejak itu Smeagol menggunakan matanya, ya, ya: aku menggunakan mata dan kaki dan hidung sejak itu. Aku tahu Parit lain. Lebih sulit, tidak begitu cepat; tapi lebih baik, kalau kita tak ingin kelihatan olehNya. Ikuti Smeagol! Dia bisa membawamu melewati rawa-rawa, melalui kabut, kabut tebal bagus. Ikuti Smeagol dengan hati-hati, dan kau bisa berjalan jauh sekali, cukup jauh, sebelum Dia menangkapmu, ya barangkali."


Ketika itu sudah pagi, pagi yang tidak berangin dan muram, asap tengik rawa- rawa menggantung berat di udara. Tak ada matahari menembus langit yang berawan rendah, dan Gollum tampaknya sudah tak sabar untuk segera melanjutkan perjalanan. Maka, setelah istirahat singkat, mereka berangkat lagi dan segera masuk ke dunia remangremang sepi, terputus hubungan dengan pemandangan daratan sekitarnya, baik bukit-bukit yang sudah mereka tinggalkan atau pegunungan yang mereka tuju. Mereka berjalan perlahan, berbaris satu-satu: Gollum, Sam, Frodo.
Frodo tampaknya yang paling lelah di antara mereka bertiga, dan meski mereka berjalan lambat, ia sering tertinggal. Kedua hobbit segera menyadari bahwa apa yang terlihat seperti rawa luas sebenarnya suatu jaringan kolam-kolam tak terhingga dan lumpur lembek, serta aliran air setengah tercekik yang berkelok- kelok. Di medan ini, sepasang mata dan kaki cerdik bisa mencari jalan. Gollum memang punya kecerdikan itu, dan membutuhkan semuanya. Kepalanya di atas lehernya yang panjang selalu berputar ke sana kemari, sementara ia mengendus-endus dan menggerutu sendiri sepanjang waktu. Kadang-kadang ia mengangkat tangannya dan menghentikan mereka, sementara ia berjalan maju sedikit, merundukkan badan, menguji tanah dengan jari tangan atau kaki, atau hanya mendengarkan dengan satu telinga ditempelkan ke tanah.
Sangat muram dan melelahkan. Musim dingin yang lembap dan dingin masih menguasai daratan kosong ini. Satu-satunya warna hijau yang tampak adalah

buih rumput liar pucat di atas permukaan air murung yang gelap berminyak. Rumput mati dan ilalang membusuk menjulang di tengah kabut, seperti bayangan bergerigi dari musim panas yang sudah lama terlupakan.
Ketika hari semakin larut, cahaya bertambah terang, dan kabut tersingkap, semakin tipis dan tembus pandang. Jauh di atas pembusukan dan asap dunia, Matahari melayang tinggi dan keemasan di sebuah negen hening dengan lantai busa menyilaukan, tapi mereka hanya bisa melihat hantunya lewat di bawah, muram, pucat, tidak memancarkan warna maupun kehangatan. Tapi bahkan kehadirannya yang redup sudah membuat Gollum cemberut dan tersentak. la menghentikan perjalanan mereka, dan mereka beristirahat, jongkok seperti hewan-hewan kecil yang sedang diburu, di tengah gerombolan besar ilalang cokelat. Kesepian mencekam, hanya dipecahkan oleh getaran lemah bulu-bulu biji yang kosong, dan helai-helai rumput patah yang bergetar dalam gerakan udara lembut yang tak bisa mereka rasakan.
"Tak ada satu burung pun!" kata Sam sedih.

"Tidak, tak ada burung," kata Gollum. "Burung manis!" ia menjilat giginya. "Tak ada burung di sini. Ada ular-ular, cacing, makhluk-makhluk di dalam kolam. Banyak sekali, banyak makhluk jahat. Tidak ada burung," ia mengakhiri omongannya dengan sedih. Sam memandangnya dengan jijik.


Begitulah akhir hari ketiga perjalanan mereka bersama Gollum. Sebelum bayangan senja memanjang di daratan yang lebih cerah, mereka berangkat lagi, selalu maju dan hanya berhenti sebentar-sebentar. Perhentian itu bukan hanya untuk istirahat, tapi untuk membantu Gollum; karena sekarang ia pun harus melangkah maju dengan sangat hatihati, dan kadang-kadang ia agak bingung. Mereka sudah sampai di tengah Rawa-Rawa Mati, dan cuaca gelap pekat. Mereka berjalan lambat, membungkuk, berbaris rapat, mengikuti dengan cermat semua gerakan yang dilakukan Gollum. Rawa-Rawa semakin basah, meluas menjadi danau yang menggenang diam, dan sekarang semakin sulit menemukan tempat yang lebih kokoh di antaranya, di mana kaki bisa melangkah tanpa tenggelam ke dalam lumpur yang berdeguk. Para pengembara itu ringan

bobotnya; kalau tidak, mungkin tak ada di antara mereka yang bisa melewatinya. Akhirnya cuaca sama sekali gelap: udara tampak hitam, dan sulit untuk bernapas di dalamnya. Ketika muncul cahaya-cahaya, Sam menyeka matanya: ia menyangka benaknya mulai aneh. Mula-mula ia melihat seuntai sinar pucat yang meredup lagi; tapi yang lain segera muncul setelahnya: beberapa seperti asap bersinar redup, beberapa seperti nyala api kabur yang berkelip perlahan di atas lilin yang tidak tampak; di sana-sini mereka menggeliat seperti lembaran- lembaran pucat yang dibentangkan tangan-tangan tersembunyi. Tapi kawan- kawan seperjalanannya tak ada yang berbicara.
Akhirnya Sam tidak tahan lagi. "Apa ini, Gollum?" bisiknya. "Lampu-lampu ini? Mereka di sekitar kita sekarang. Apakah kita terjebak? Siapa mereka?"
Gollum menoleh. Air gelap ada di depannya, dan ia sedang merangkak di tanah, ke sana kemari, ragu-ragu mencari jalan. "Ya, mereka di sekeliling kita," bisiknya. "Cahaya-cahaya yang penuh tipuan. Lilin para mayat, ya, ya. Jangan hiraukan mereka! Jangan lihat! Jangan ikuti mereka! Di mana majikan?"
Sam menoleh, dan menyadari Frodo tertinggal lagi. la mundur beberapa langkah, tidak berani bergerak jauh, dan hanya berani memanggil dengan bisikan parau. Mendadak ia menabrak Frodo yang sedang berdiri melamun, memandangi cahaya-cahaya pucat itu. Lengannya tergantung kaku di sisinya; air dan lumpur mengucur dari tangannya.
"Ayo, Mr. Frodo!" kata Sam. "Jangan pandangi mereka! Kata Gollum, jangan memandang mereka. Mari kita ikuti dia, dan keluar secepat mungkin dari tempat terkutuk ini kalau bisa!"
Sambil bergegas maju lagi, Sam terjungkal, kakinya tersandung sebuah akar tua

atau segumpal rumput. la jatuh dengan berat di atas tangannya, yang terbenam ke dalam lumpur lengket, sehingga wajahnya dekat ke permukaan rawa gelap itu. Ada bunyi desis samar-samar, bau menusuk keluar, cahaya-cahaya berkelip menari-nari dan berputar-putar. Sejenak air di bawahnya tampak seperti sebuah jendela yang dilapisi kaca sangat kotor, dan ia bisa mengintip ke baliknya. Sambil merenggutkan tangannya dari lumpur, Sam melompat mundur dan menjerit. "Ada mayat-mayat, wajah-wajah mayat di dalam air," teriaknya ngeri.

"Wajah mayat!"

Gollum tertawa. "Rawa-Rawa Mati, ya, ya: itu nama mereka," ia berkotek. "Kau jangan melihat ke dalam kalau lilin menyala."
"Siapa mereka? Apa mereka?" tanya Sam sambil menggigil, menoleh pada

Frodo yang sekarang ada di belakangnya.

"Aku tidak tahu," kata Frodo dengan suara seperti sedang bermimpi. "Tapi aku juga melihatnya. Di kolam, kalau lilin-lilin menyala. Aku meiihat mereka: wajah- wajah murung dan jahat, wajah-wajah mulia dan sedih. Banyak wajah angkuh dan elok, rambut perak mereka terbelit rumput. Tapi semua buruk, semua membusuk, semua mati. Ada cahaya jahat di dalam mereka." Frodo menyembunyikan matanya dengan tangan. "Aku tidak tahu siapa mereka, tapi rasanya aku melihat ada Manusia, Peri, dan Orc di samping mereka."
"Ya, ya," kata Gollum. "Semua mati, semua sudah busuk. Peri, Manusia, dan Orc. Rawa-Rawa Mati. Ada pertempuran di zaman dahulu kala, ya, begitu ceritanya ketika Smeagol masih kecil, sebelum Kesayangan-ku datang. Pertempuran besar sekali. Manusia-manusia tinggi dengan pedang panjang, Peri-Peri yang mengerikan, dan Orc-Orc yang menjerit. Mereka bertempur di padang selama berhari-hari dan berbulan-bulan di Gerbang Hitam. Tapi sejak itu Rawa-Rawa itu sudah membesar, menelan kuburan-kuburan; selalu merayap, selalu merayap."
"Tapi itu sudah lebih dari seabad yang lalu," kata Sam. "Makhluk-makhluk Mati tak mungkin benar-benar ada di sini! Apakah ini suatu sihir yang dikembangkan di Negeri Gelap?"
"Siapa tahu? Smeagol tidak tahu," jawab Gollum. "Kau tak bisa menghubungi

mereka, tak bisa menyentuh mereka. Kami pernah mencobanya, ya, sayangku. Aku pernah mencobanya: tapi ternyata tak bisa disentuh. Hanya sosok-sosok untuk dilihat, barangkali, tapi bukan untuk disentuh. Tidak, sayangku! Semuanya mati."
Sam menatap Gollum dengan murung, dan menggigil lagi. la bisa menduga, mengapa Smeagol mencoba memegang mereka. "Well, aku tidak mau melihat mereka," katanya. "Tidak mau lagi! Bisakah kita jalan terus dan pergi?"

"Ya, ya," kata Gollum. "Tapi perlahan-lahan, sangat perlahan. Sangat berhati- hati! Atau kalau tidak, hobbit-hobbit akan turun bergabung dengan Makhluk- Makhluk Mati dan menyalakan lilin-lilin kecil. Ikuti Smeagol! Jangan lihat cahaya- cahaya!"


Gollum merangkak ke kanan, mencari jalan mengitari kolam. Kedua hobbit berjalan dekat di belakangnya, membungkuk, sering menggunakan tangan mereka, seperti Gollum. "Kalau ini berlangsung lebih lama lagi, kita akan segera menjadi tiga Gollum kecil dalam satu barisan," pikir Sam.
Akhirnya mereka sampai di ujung kolam hitam, dan menyeberanginya dengan nekat, merangkak atau melompat dari satu pulau rumput berbahaya ke pulau rumput lainnya. Sering kali mereka tertegun, melangkah atau jatuh dengan tangan lebih dulu ke dalam air yang sangat menjijikkan bagai sumur jamban, sampai mereka penuh berlumuran lumpur, kotor sampai hampir ke leher, dan saling memancarkan bau busuk ke dalam lubang hidung masing-masing.
Sudah larut malam ketika akhirnya mereka kembali sampai ke tanah yang lebih kokoh. Gollum mendesis dan berbisik pada dirinya sendiri, tapi rupanya ia puas: dengan cara misterius, dengan indra peraba, penciuman, dan ingatannya yang aneh terhadap bentuk-bentuk dalam gelap, tampaknya ia sudah yakin di mana ia berada, dan sudah yakin akan jalan di depan.
"Sekarang kita maju terus!" katanya. "Hobbit-hobbit manis! Hobbit-hobbit gagah berani. Tentu sangat letih; begitu juga kita, semuanya. Tapi kita harus membawa majikan pergi dari cahaya-cahaya jahat, ya, ya, harus." Setelah berkata begitu, ia berjalan lagi, hampir berlari, menuruni jalur yang tampaknya seperti jalan panjang di tengah alang-alang tinggi; mereka terhuyung-huyung di belakangnya, secepat yang dimungkinkan. Tapi, tak lama kemudian, mendadak ia berhenti dan mengendus-endus udara dengan ragu, mendesis seolah gelisah atau tak senang lagi.
"Ada apa?" geram Sam, menyalah-artikan tanda-tanda itu. "Apa gunanya mengendus-endus? Bau busuk ini hampir membuatku pingsan, biarpun hidungku kututup. Kau bau, majikan bau; seluruh tempat ini bau."

"Ya, ya, Sam juga bau!" jawab Gollum. "Smeagol malang mencium itu, tapi Smeagol yang baik menahan diri. Membantu majikan baik. Tapi itu bukan masalah. Udara bergerak, perubahan sedang datang. Smeagol bertanya-tanya; dia tidak gembira."


la maju lagi, tapi keresahannya semakin menjadi-jadi, dan sebentar-sebentar ia berdiri tegak, menjulurkan leher ke timur dan selatan. Untuk beberapa lama, para hobbit tak bisa mendengar atau merasakan apa yang membuatnya gelisah. Kemudian mendadak ketiganya berhenti, dan mendengarkan dengan tegang. Frodo dan Sam merasa mendengar teriakan panjang melengking di kejauhan- tinggi, tajam, dan kejam. Mereka menggigil. Pada saat yang sama, pergerakan udara jadi semakin kentara, dan hawa menjadi sangat dingin. Ketika mereka memasang telinga, serasa terdengar bunyi angin yang berembus dari jauh. Cahaya-cahaya pucat berkedip, meredup, dan padam.
Gollum tak mau bergerak. la berdiri gemetar dan merepet pada dirinya sendiri, sampai angin mendatangi mereka dalam embusan keras, mendesis dan menggeram melewati rawa-rawa. Kepekatan malam jadi berkurang, cukup terang bagi mereka untuk melihat, atau setengah melihat, arus kabut tak berbentuk yang berpusar dan berputar-putar menggulung di atas mereka, kemudian berlalu. Ketika menengadah, mereka melihat awan-awan memecah dan terkoyak-koyak; tinggi di selatan, bulan bersinar keluar, menunggangi awan. Untuk beberapa saat, pemandangan itu menggembirakan hati kedua hobbit; tapi Gollum gemetaran di bawah, menggerutu dan menyumpahi si Wajah Putih. Lalu Frodo dan Sam yang sedang memandang langit sambil menghirup dalam-dalam udara yang lebih segar, melihatnya datang: sebuah awan kecil terbang dari perbukitan; sebuah bayangan hitam yang dilepas dari Mordor; sosok besar bersayap dan mengancam. la bergerak cepat melintasi bulan, dan dengan teriakan tajam pergi ke barat, melebihi kecepatan angin.
Mereka tersungkur ke depan, telungkup di tanah yang dingin, tanpa menghiraukan sekitamya. Tapi bayangan maut itu berputar dan kembali, sekarang melintas lebih rendah, tepat di atas mereka, menyapu bau busuk rawa-

rawa dengan sayapnya yang mengerikan. Kemudian ia menghilang, terbang kembali ke Mordor dengan kecepatan kemarahan Sauron; di belakangnya angin menderum buas, meninggalkan Rawa-Rawa Mati gersang dan pucat. Tanah kosong yang telanjang, sejauh mata memandang, bahkan sampai ke pegunungan jauh yang mengancam, bebercak sinar bulan yang resah.
Frodo dan Sam bangkit berdiri, menyeka mata seperti anak kecil yang bangun dari mimpi buruk, dan menemukan malam yang ramah masih menyelubungi dunia. Tapi Gollum berbaring di tanah seolah terpukau. Mereka membangunkannya dengan susah payah, dan untuk beberapa saat ia tidak mau mengangkat wajahnya, tapi bertumpu pada sikunya, menutupi bagian belakang kepalanya dengan tangannya yang besar dan datar.
"Hantu!" teriaknya. "Hantu bersayap! Kesayangan-ku adalah majikan mereka. Mereka melihat segalanya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari mereka. Terkutuklah Wajah Putih! Dan mereka menceritakan semuanya pada Dia. Dia melihat, Dia tahu. Aah, gollum, gollum!" Baru setelah bulan terbenam, jauh di balik Tol Brandir, ia mau bangkit atau bergerak.


Sejak saat itu, Sam merasa melihat perubahan lagi dalam diri Gollum. Ia lebih bersikap menjilat dan pura-pura ramah, tapi kadang-kadang Sam memergoki pandangan aneh di matanya, terutama terhadap Frodo; dan semakin lama ia semakin kembali ke gaya bicaranya yang lama. Ada satu hal lagi yang dicemaskan Sam. Frodo tampaknya letih, letih sampai hampir kehabisan tenaga. la tidak berbicara, bahkan hampir tidak berbicara sama sekali; ia juga tidak mengeluh, tapi ia berjalan seperti orang membawa beban yang beratnya makin bertambah; jalannya pun terseret-seret, semakin pelan dan semakin pelan, sampai Sam sering harus meminta Gollum menunggu dan jangan meninggalkan majikan mereka.
Bahkan dengan setiap langkah menuju Gerbang Mordor, Frodo merasa Cincin pada rantai yang menggantung di lehernya semakin berat. Benda itu seperti suatu bobot yang menarilcnya ke bumi. Tapi ia jauh lebih gelisah karena sang Mata: begitulah ia memberi julukan dalam hatinya. Lebih karena sang Mata

daripada bobot Cincin yang membuatnya gemetar dan membungkuk ketika berjalan. Sang Mata: perasaan mengerikan yang semakin besar terhadap suatu hasrat jahat yang berusaha keras menembus bayangan awan, bumi, dan daging, dan berusaha melihatmu: menjepitmu di bawah pandangannya yang mematikan, hingga kau merasa telanjang, tak bisa bergerak. Sudah begitu tipis, lemah dan tipis, selubung-selubung yang masih menahannya. Frodo tahu persis di mana kedudukan dan hasrat hati itu sekarang berada: sepasti orang bisa mengatakan arah matahari dengan mata terpejam. la sedang menghadapi kekuatan itu, dan bisa merasakan potensi kekuatan tersebut di dahinya.
Gollum mungkin merasakan hal yang sama. Tapi apa yang berlangsung di hatinya yang malang, di bawah tekanan sang Mata, dan nafsu yang begitu besar untuk memiliki Cincin yang begitu dekat, serta janjinya yang dibuat karena ketakutan pada pedang, kedua hobbit itu tak bisa menebaknya. Frodo tidak memikirkannya. Benak Sam sebagian besar dipenuhi pikiran tentang majikannya, dan ia hampir tidak memperhatikan awan gelap yang telah menutupi hatinya sendiri. la menempatkan Frodo di depannya sekarang, mengawasi setiap gerakannya dengan saksama, menopangnya kalau Frodo terhuyung, dan mencoba memberinya semangat dengan kata-kata yang canggung.


Ketika akhirnya pagi datang, kedua hobbit kaget melihat betapa dekatnya sekarang pegunungan yang tampak mengancam. Udara lebih jernih dan lebih dingin, dan meski masih jauh, tembok-tembok Mordor tidak lagi berupa sosok mengancam yang hanya tampak samar-samar, melainkan sudah berupa menara-menara hitam murung di daratan kosong yang menyedihkan. Rawa- rawa sudah habis, menghilang dalam tanah gemuk mati dan lempeng-lempeng lebar lumpur kering. Daratan di depan menjulang dengan lereng-lereng panjang, gersang dan kejam, menuju gurun yang menghampar di depan gerbang Sauron. Sementara cahaya kelabu masih ada, mereka gemetaran di bawah sebuah batu hitam, seperti cacing-cacing, mengerut, khawatir makhluk bersayap mengerikan itu akan lewat dan melihat mereka dengan matanya yang kejam. Sisa perjalanan itu merupakan bayangan ketakutan yang semakin besar, dan di dalamnya

ingatan tak bisa mencari sesuatu untuk berpijak. Masih dua malam lagi mereka berjuang melewati daratan menjemukan tanpa jalan setapak. Udara semakin keras, dipenuhi bau pahit yang mencekik napas dan mengeringkan mulut. Akhirnya, di pagi kelima sejak menempuh perjalanan dengan Gollum, mereka berhenti sekali lagi. Di depan mereka, pegunungan tinggi menjulang sampai ke puncak asap dan awan. Di kaki mereka bertebaran dinding-dinding penopang dan bukit-bukit yang paling dekat jaraknya sekitar beberapa lusin mil. Frodo melihat sekelilingnya dengan ngeri. Rawa-Rawa Mati sudah menyeramkan, begitu pula rawa-rawa kering negeri tak bertuan, tapi daratan yang sekarang mulai tersingkap perlahan di depan matanya oleh pagi yang merangkak, jauh lebih memuakkan. Bahkan ke Kolam Wajah-Wajah Mayat sentuhan kurus musim semi masih mau datang; tapi di sini musim semi maupun musim panas takkan pernah datang lagi: Di sini tak ada yang hidup, tidak juga tanaman sakit yang tumbuh dari kebusukan. Kolam-kolam menganga dipenuhi abu dan lumpur merayap, putih dan kelabu pucat, seolah gunung-gunung sudah memuntahkan isi perut mereka yang kotor ke daratan sekitarnya. Gundukan tinggi batu karang hancur dan berbubuk, kerucut-kerucut besar tanah bekas ledakan api dan bernoda racun, berdiri seperti kuburan jelek dalam barisan tak terhingga, perlahan-lahan tersingkap dalam cahaya yang redup.
Mereka sudah sampai ke kegersangan yang terletak di depan Mordor: monumen abadi untuk kerja keras budak-budak yang harus bertahan ketika semua tujuan mereka ditiadakan; sebuah daratan yang telah dikotori, sakit, dan tak bisa disembuhkan kecuali kalau Samudra Besar membanjirinya dan menyapu bersih keberadaannya. "Aku merasa mual," kata Sam. Frodo tidak berbicara.
Untuk beberapa saat mereka berdiri di sana, seperti orang-orang di ambang tidur, di mana mimpi buruk bersembunyi, menahannya, meski mereka tahu bahwa mereka hanya bisa mencapai pagi hari melalui kegelapan. Cahaya semakin terang dan keras. Lubang-lubang menganga dan gundukan beracun jadi semakin jelas mengerikan. Matahari sudah terbit, berjalan di antara awan- awan dan panji-panji asap panjang, tapi bahkan matahari pun tercemar. Kedua hobbit tidak menyambut gembira cahaya semacam itu; terasa tidak ramah,

menyingkap ketidakberdayaan mereka-hantu-hantu kecil berkuak yang mengembara di antara gundukan abu Penguasa, Kegelapan.


Karena sudah terlalu letih untuk berjalan lebih jauh, mereka mencari tempat beristirahat. Untuk beberapa saat mereka duduk tanpa berbicara di bawah bayangan gundukan ampas bijih; tapi uap berbau busuk keluar dari gundukan itu, mencekik tenggorokan mereka. Gollum yang pertama berdiri. Sambil merepet dan menyumpah ia bangkit, dan tanpa berbicara atau memandang kedua hobbit ia merangkak pergi pada kaki dan tangannya. Frodo dan Sam merangkak mengikutinya, sampai mereka tiba di sebuah sumur lebar, hampir bundar, bertebing tinggi di sebelah barat. Sumur itu dingin dan mati, di dasarnya ada genangan lumpur berminyak aneka warna yang membusuk. Dalarn lubang jelek ini mereka duduk gemetaran, berharap bisa menghindari perhatian sang Mata dalam kegelapannya.
Hari itu berlalu lamban. Kehausan besar mengganggu mereka, tapi mereka hanya minum beberapa tetes dari botol-terakhir diisi di parit, yang sekarang terasa sebagai tempat yang indah dan damai dalam bayangan mereka. Kedua hobbit bergantian berjaga. Pada mulanya, karena kelelahan, mereka tak bisa tidur; tapi ketika matahari sedang turun memasuki awan-awan yang bergerak perlahan, Sam tertidur sejenak. Giliran Frodo berjaga. la bersandar pada lereng sumur, tapi itu tidak meringankan bobot beban yang dipikulnya. la menengadah memandang langit yang dipenuhi coretan-coretan asap, dan melihat momok- momok aneh, sosok-sosok gelap melaju, dan wajah-wajah dari masa lalu. la sudah tidak menyadari waktu, melayang antara tidur dan terjaga, sampai kantuk mengalahkannya.


Mendadak Sam terbangun, mengira majikannya memanggilnya. Hari sudah senja. Frodo tak mungkin memanggilnya, karena Frodo sudah tertidur, tergelincir sampai hampir ke dasar sumur. Gollum berdiri di dekatnya. Semula Sam menyangka ia sedang mencoba membangunkan Frodo, tapi ternyata tidak. Gollum sedang berbicara sendiri. Smeagol berdebat dengan suatu pikiran lain

yang menggunakan suara yang sama, tapi membuatnya berdecit dan mendesis. Cahaya pucat dan cahaya hijau bergantian bersinar di matanya ketika ia berbicara.
"Smeagol sudah berjanji," kata pikiran pertama.

"Ya, ya, sayangku," terdengar jawabannya, "kita sudah berjanji: menyelamatkan Kesayangan kita, jangan sampai Dia mendapatkannya jangan pernah. Tapi Kesayangan kita sedang mendekati Dia, ya, semakin dekat dengan setiap langkah. Apa yang akan dilakukan hobbit-hobbit dengannya, kita ingin tahu, ya, kita ingin tahu."
"Aku tidak tahu. Aku tidak berdaya. Majikan yang membawanya. Smeagol sudah berjanji akan membantu Majikan."
"Ya, ya, membantu Majikan, Majikan Kesayangan. Tapi kalau kita yang jadi

Majikan, kita bisa membantu diri kita sendiri, ya, dan tetap memegang janji."

"Tapi Smeagol sudah bilang akan bersikap baik. Hobbit manis! Dia melepaskan tambang kejam dari kaki Smeagol. Dia bicara ramah padaku."
"Sangat sangat baik, eh, sayangku? Ayo kita bersikap baik, baik seperti ikan, manisku, tapi untuk diri kita sendiri. Jangan menyakiti hobbit manis, tentu saja, jangan."
"Tapi Kesayangan-ku memegang janji," suara Smeagol terdengar keberatan. "Kalau begitu, ambil saja," kata pikiran satunya, "dan biar kita menyimpannya sendiri! Dengan begitu, kita akan jadi Majikan, gollum! Biar hobbit satunya, hobbit yang jahat dan pencuriga, biar dia merangkak, ya, gollum!"
"Tapi jangan hobbit yang manis?"

"Oh tidak, jangan kalau itu tidak menyenangkan kita. Tapi, bagaimanapun, dia seorang Baggins, sayangku, ya, seorang Baggins. Seorang Baggins yang mencurinya. Dia menemukannya dan tidak mengatakan apa pun, sama sekali tidak. Kita benci kaum Baggins."
"Tidak, Baggins yang ini tidak."

"Ya, semua Baggins. Semua orang yang menyimpan Kesayangan kita. Kita harus memilikinya!"
"Tapi Dia akan melihat, Dia akan tahu. Dia akan mengambilnya dan kita!"

"Dia melihat. Dia tahu. Dia dengar kita bikin janji bodoh melawan perintahnya, ya. Harus mengambilnya. Hantu-hantu masih mencarinya. Harus mengambilnya."
"Bukan untuk Dia!"

"Tidak, manisku. Begini, sayangku: kalau kita memilikinya, kita bisa lolos, bahkan dari Dia, heh? Mungkin kita akan menjadi sangat kuat, lebih kuat daripada Hantu-Hantu. Lord Smeagol? Gollum Agung? Sang Gollum! Makan ikan setiap hari, tiga kali sehari, segar dari laut. Yang Termulia Gollum! Harus memilikinya.
Kita menginginkannya, kita menginginkannya, kita menginginkannya!"

"Tapi mereka berdua. Mereka akan segera bangun dan membunuh kita," ratap

Smeagol dalam upaya terakhir. "Jangan sekarang. Jangan dulu."

"Kita menginginkannya! Tapi" dan di sini ia berhenti lama, seolah pikiran baru timbul. "Belum, eh? Mungkin tidak. Perempuan itu mungkin akan membantu. Mungkin dia membantu, ya."
"Jangan, jangan! Jangan dengan cara itu!" erang Smeagol.

"Ya! Kita menginginkannya! Kita menginginkannya!"

Setiap kali pikiran kedua berbicara, tangan Gollum yang panjang perlahan-lahan merangkak maju, menggapai ke arah Frodo, lalu ditarik kembali dengan sentakan ketika Smeagol berbicara lagi. Akhirnya kedua lengannya, dengan jemari panjang dilenturkan dan berkedut, terulur ke leher Frodo.


Selama itu Sam berbaring diam, terpukau pada debat itu, tapi mengawasi setiap gerakan Gollum dan bawah kelopak matanya yang setengah terpejam. Bagi pikirannya yang sederhana, ancaman utama dan Gollum adalah kelaparan yang biasa, hasrat untuk makan hobbit. Sekarang ia menyadari bukan begitu halnya: Gollum sedang merasakan panggilan mengerikan dan Cincin tersebut. Yang dimaksudnya dengan Dia tentu saja sang Penguasa Kegelapan; tapi Sam bertanya-tanya, siapa perempuan yang disebutnya. Salah satu kawan jahat yang ditemuinya dalam salah satu pengembaraannya, pikir Sam. Lalu ia lupa hal itu, karena jelas kelakuan Gollum sudah keterlaluan, dan mulai berbahaya. Rasa berat menekan seluruh tubuhnya, tapi dengan susah payah ia membangunkan

dirinya sendiri dan duduk tegak. Sesuatu memperingatkannya agar berhati-hati dan jangan memperlihatkan bahwa ia sudah menguping debat itu. la mengeluarkan desahan panjang dengan keras, dan menguap lebar sekali.
"Jam berapa sekarang?" katanya sambil mengantuk.

Gollum mengeluarkan desis panjang melalui giginya. la berdiri tegak sejenak, tegang dan mengancam; kemudian ia roboh, jatuh ke depan pada tangan dan kakinya, dan merangkak mendaki tebing sumur. "Hobbit manis! Sam manis!" katanya. "Si pengantuk, ya, si pengantuk! Biarkan Smeagol yang baik berjaga! Tapi sudah sore. Senja sudah merayap. Sudah waktunya pergi."
"Memang sudah waktunya!" pikir Sam. "Dan sudah saatnya kita berpisah juga." Tapi terlintas dalam pikirannya, apakah Gollum tidak lebih berbahaya kalau berkeliaran bebas, daripada bila berjalan bersama mereka. "Terkutuklah dia! Kuharap dia mati tercekik!" gerutu Sam.
la terhuyung-huyung melintasi tebing, dan membangunkan majikannya. Mengherankan sekali, ternyata Frodo merasa segar. la sudah bermimpi. Bayangan gelap sudah lewat, dan pemandangan elok mengunjunginya di negeri bobrok ini. Tak ada yang tertinggal dalam ingatannya, tapi karena mimpi itu ia merasa bahagia, dan hatinya terasa lebih ringan. Bebannya tidak begitu berat lagi. Gollum menyambutnya dengan gembira, bagai seekor anjing. la tertawa dan mengoceh, mengertakkan jari jarinya yang panjang, dan mencakar lutut Frodo. Frodo tersenyum padanya.
"Ayo!" katanya. "Kau sudah menuntun kami dengan baik dan setia. Ini tahap terakhir. Bawalah kami ke Gerbang, dan aku tidak akan memintamu pergi lebih jauh. Bawalah kami ke Gerbang, dan kau bebas pergi ke mana pun kau mau tapi jangan ke musuh-musuh kami."
"Ke Gerbang, eh?" decit Gollum, kelihatan heran dan ketakutan. "Ke Gerbang, kata Master! Ya, dia bilang begitu. Dan Smeagol yang baik melakukan apa yang dimintanya, oh ya. Tapi kalau kita sudah dekat, kita lihat saja bagaimana, kita lihat saja nanti. Tidak akan menyenangkan sama sekali. Oh tidak! Oh tidak!"
"Ayo jalan!" kata Sam. "Mari kita selesaikan secepatnya."

Di saat senja turun, mereka merangkak keluar dari sumur dan perlahan-lahan menapaki jalan mereka melalui daratan mati itu. Belum lagi berjalan jauh, mereka sudah kembali merasa ketakutan, seperti ketika sosok bersayap itu terbang di atas rawa-rawa. Mereka berhenti, gemetaran di tanah yang berbau busuk; tapi mereka tidak melihat apa-apa di langit muram di atas, dan dengan segera ancaman itu lewat, jauh tinggi di atas, mungkin pergi untuk tugas cepat dari Barad-dur. Setelah beberapa saat, Gollum bangkit dan merangkak maju lagi, sambil menggerutu dan gemetaran.
Sekitar satu jam setelah tengah malam, ketakutan menimpa mereka untuk ketiga kalinya, tapi kini rasanya lebih jauh, seolah ia lewat tinggi di atas awan-awan, bergegas dengan kecepatan tinggi ke Barat. Tapi Gollum tak berdaya karena ngeri. la yakin mereka diburu, dan bahwa kedatangan mereka ketahuan.
"Tiga kali!" ratapnya. "Tiga kali sudah sangat gawat. Mereka merasakan kita, mereka merasakan Kesayangan-ku. Kesayangan-ku adalah majikan mereka. Kita tak bisa pergi lebih jauh melalui jalan ini, tidak. Tak ada gunanya, tak ada gunanya!"
Memohon-mohon dan kata-kata ramah tidak berguna lagi. Baru setelah Frodo memerintahkannya dengan marah dan memegang pangkal pedangnya, Gollum mau bangkit lagi. la bangkit sambil menggeram, dan berjalan di depan mereka seperti anjing yang kalah.
Begitulah … mereka terseok-seok sepanjang akhir malam yang melelahkan, dan sampai datangnya hari baru, mereka berjalan membisu dengan kepala tertunduk, tidak melihat apa pun, tidak mendengar apa pun kecuali angin yang mendesis di telinga.

BAB 3

GERBANG HITAM TERTUTUP



Sebelum fajar hari berikutnya, perjalanan mereka ke Mordor sudah berakhir. Rawa-rawa Ban gurun sudah tertinggal di belakang. Di depan mereka, pegunungan yang tinggi mengangkat kepala dengan garang, tampak gelap berlatar belakang langit pucat.
Di sisi barat Mordor menjulur jajaran muram Ephel Duath, Pegunungan Bayang- Bayang, dan di utara adalah puncak-puncak hancur dan pundak gersang Ered Lithui, kelabu seperti abu. Tapi ketika jajaran ini saling mendekati, karena mereka memang bagian dari satu tembok besar yang mengelilingi padang- padang murung Lithlad Ban Gorgoroth, dan lautan pedalaman dingin Nurnen di tengahnya, mereka menjulurkan lengan-lengan panjang ke arah utara; dan di antara dengan-lengan ini ada suatu jalan sempit yang dalam. Itulah Cirith Gorgor, Jalan Berhantu, jalan masuk ke negeri Musuh. Batu-batu karang tinggi menurun dari kedua sisi, dan dari mulutnya menjorok keluar dua bukit terjal, dengan rusukrusuk hitam dan gundul. Di atasnya berdiri Gigi Mordor, dua menara kuat dan tinggi. Di masa lampau, kedua menara itu dibangun oleh Orang-orang Gondor dalam kebanggaan dan kekuatan mereka, setelah penaklukan Sauron dan pelariannya, agar ia tidak mencoba kembali ke lingkungannya yang lama. Tapi kekuatan Gondor gagal, manusia tertidur, dan selama bertahun-tahun kedua menara itu kosong. Lalu Sauron kembali. Kini menara-menara penjagaan, yang sudah runtuh dan rusak, diperbaiki dan diisi senjata, dan pasukan tentara siap siaga tanpa henti. Kedua menara itu tampak kakis seperti batu, dengan lubang-lubang jendela menghadap ke utara, timur, dan barat, setup jendela penuh dengan mata yang tak pernah mengantuk. Melintasi mulut jalan, dari bukit batu karang yang seberang menyeberang, sang Penguasa Kegelapan sudah membangun kubu batu, Di dalamnya ada satu gerbang besi, Ban di atas temboknya pengawal-pengawal melangkah bolak-balik tanpa henti. Di bawah perbukitan di kedua sisinya, batu karang dilubangi menjadi ratusan gua dan lubang belatung: di sana pasukan Orc bersembunyi, siap

menunggu tanda untuk keluar, seperti semut hitam pergi perang. Tak ada yang bisa melewati Gigi Mordor tanpa merasakan gigitan mereka, kecuali dipanggil oleh Sauron, atau tahu sandi rahasia untuk membuka Morannon, gerbang hitam negeri itu.
Kedua hobbit menatap menara-menara dan tembok itu dengan putus asa. Bahkan dari jarak jauh, dalam cahaya kabur mereka bisa melihat gerakan- gerakan para penjaga di atas tembok, dan patroli di depan gerbang. Mereka sekarang berbaring mengintai dari atas sebuah lembah berbatu, di bawah juluran bayangan dinding penopang Ephel Duath paling utara. Seekor burung gagak yang terbang dalam garis lurus menembus udara berat, mungkin hanya bisa terbang sekitar dua ratus meter dari tempat persembunyian mereka, sampai ke puncak hitam menara terdekat. Asap tipis mengepul di atasnya, seakan-akan api berkobar di bukit di bawahnya.


Pagi hari tiba, matahari yang telanjang bersinar di atas pundak-pundak Ered Lithui yangg tidak bernyawa. Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring terompet: meraung dari menara-menara jaga, dan dari tempat-tempat pertahanan serta pos-pos terdepan yang tersembunyi di bukit-bukit terdengar panggilan balasan; lebih jauh lagi, jauh sekali namun besar dan mengancam, di daratan kosong di luar, bergema terompet-terompet dan genderang-genderang besar Barad-Bur. Hari baru yang penuh kengerian dan kerja keras sudah datang ke Mordor; para penjaga malam dipanggil ke ruang bawah tanah dan hall-hall, dan para pengawal pagi yang bermata kejam dan tajam sedang berbaris ke pos-pos mereka. Baja berkilauan samar-samar di atas tembok.


"Nah, di sinilah kita!" kata Sam. "Inilah Gerbang-nya, dan kelihatannya hanya sejauh ini kita bisa berjalan. Gaffer pasti akan mengomel kalau melihatku sekarang! Dia sudah sering bilang aku akan berakhir menyedihkan, kalau aku tidak waspada. Rasanya aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Dia tidak akan bisa lagi mengatakan sudah kubilang, Sam. Semakin menyedihkan. Aku tidak keberatan diomeli terus-menerus olehnya, selama dia masih bernapas,

asalkan aku bisa melihat wajahnya lagi. Tapi aku harus membasuh badan dulu.

Kalau tidak dia tidak bakal mengenaliku.”

"Kurasa sekarang tak ada gunanya menanyakan ke mana kita mesti jalan. Kita tak bisa maju terus kecuali kita minta tumpangan kepada para Orc."
"Tidak, tidak!" kata Gollum. "Tak ada gunanya. Kita tak bisa jalan lebih jauh. Smeagol sudah bilang begitu. Dia bilang: kita akan pergi ke Gerbang, lalu kita lihat. Dan kita memang melihat. Oh ya, sayangku, kita melihat. Smeagol tahu hobbit tak bisa lewat jalan ini. Oh ya, Smeagol sudah tahu."
"Kalau begitu, kenapa kau membawa kami ke sini, keparat?" tanya Sam, tidak merasa perlu bersikap adil atau bijak.
"Majikan bilang begitu. Majikan bilang: Bawa kami ke Gerbang. Jadi, Smeagol yang baik menuruti. Majikan bilang begitu, Majikan yang bijak."
"Memang," kata Frodo. Wajahnya muram dan tegang, tapi tegas. la kotor, kurus, dan keletihan, tapi ia sudah tidak gemetaran lagi, dan matanya jernih. "Aku memang bilang begitu, karena aku berniat masuk ke Mordor, dan aku tidak tahu jalan lain. Karena itu, aku akan lewat jalan ini. Aku tidak minta siapa pun ikut denganku."
"Jangan, jangan, Majikan!" erang Gollum, mencakar-cakarnya, dan ia tampak resah sekali. "Tidak ada gunanya lewat jalan itu! Tidak ada gunanya! Jangan bawa Kesayangan-ku pada Dia! Dia akan melahap kita semua, melahap seluruh dunia. Simpanlah, Majikan yang baik, dan baik-baiklah pada Smeagol. Jangan biarkan Dia memilikinya. Atau pergilah, pergi ke tempat-tempat bagus, dan kembalikanlah Itu pada Smeagol kecil manis. Ya, ya, Majikan: kembalikan, ya? Smeagol akan menyimpannya dengan aman; dia akan melakukan banyak kebajikan, terutama pada hobbit-hobbit manis. Hobbit pulang. Jangan pergi ke Gerbang!"
"Aku sudah diperintahkan pergi ke negeri Mordor, karena itu aku akan pergi," kata Frodo. "Kalau memang hanya ada satu jalan, aku harus menapakinya. Apa yang akan terjadi sesudahnya, memang harus terjadi."


Sam tidak mengatakan apa-apa. Ekspresi wajah Frodo sudah cukup untuknya; ia

tahu kata-katanya tidak akan bermanfaat. Lagi pula, ia memang tidak terlalu berharap sejak awal; tapi karena ia hobbit penggembira, ia tidak butuh harapan, selama keputusasaan masih bisa ditunda. Sekarang mereka sudah sampai di akhir yang pahit. Tapi ia sudah setia kepada majikannya sepanjang perjalanan; itu alasan utama ia ikut, dan ia masih akan setia pada Frodo. Majikannya tidak akan pergi sendirian ke Mordor. Sam akan pergi dengannya dan bagaimanapun mereka akan menyingkirkan Gollum.


Tapi Gollum belum mau disingkirkan, belum mau. la berlutut di kaki Frodo, meremas-remas tangannya, dan mendecit. "Jangan jalan ini, Majikan!" ia memohon, "Ada jalan lain. Oh ya, memang ada. Jalan lain, lebih gelap, lebih sulit ditemukan, lebih rahasia. Tapi Smeagol tahu jalan itu. Biar Smeagol menunjukkannya padamu!"
"Jalan lain!" kata Frodo ragu, menatap Gollum dengan pandangan menyelidik. "Yaa! Yaa, memang! Dulu ada jalan lain. Smeagol menemukannya. mari kita pergi dan melihat, apakah masih ada di sana!"
"Kau tidak menceritakan ini sebelumnya."

"Tidak. Majikan tidak bertanya. Majikan tidak bilang niatnya. Dia tidak bilang pada Smeagol malang. Dia cuma bilang. Smeagol, bawa aku ke Gerbang lalu selamat tinggal! Smeagol bisa lari dan bisa baik. Tapi sekarang dia bilang: Aku mau masuk ke Mordor lewat jalan ini. Jadi Smeagol ketakutan. Dia tak ingin kehilangan majikannya yang baik. Dan dia berjanji, Majikan sudah membuatnya berjanji, untuk menyelamatkan Kesayangan-nya. Tapi Majikan akan membawanya pada Dia, langsung ke Tangan Hitam, kalau Majikan akan lewat jalan ini. Maka Smeagol harus menyelamatkan mereka dua-duanya, dan dia memikirkan jalan lain yang dulu pernah ada. Majikan baik. Smeagol baik sekali, selalu membantu."


Wajah Sam berkerut. Kalau ia bisa melubangi Gollum dengan matanya, itu pasti akan dilakukannya. Pikirannya penuh kecurigaan. Gollum kelihatannya benar- benar cemas dan ingin membantu Frodo. Tapi Sam ingat perdebatan antara

Gollum dan Smeagol, dan merasa sulit percaya bahwa Smeagol yang sudah lama ditekan sekarang bisa menang: setidaknya bukan Smeagol yang menang dalam perdebatan itu. Dugaan Sam adalah: Smeagol dan Gollum (atau yang dalam hatinya ia sebut Slinker dan Stinker) sudah melakukan gencatan senjata dan untuk sementara bersekutu: keduanya tak ingin Musuh mendapatkan Cincin; keduanya berharap Frodo tidak tertangkap, dan tetap berada di bawah pengawasan mereka, selama mungkin setidaknya selama Stinker punya kesempatan untuk mengambil "Kesayangan"-nya. Sam tidak yakin ada jalan lain ke Mordor.
Syukurlah masing-masing bagian bajingan jahat itu tidak tahu apa rencana Majikan," pikirnya. "Kalau dia tahu Mr. Frodo berusaha menghabisi Kesayangan- nya untuk selamanya, pasti akan ada masalah, "aku yakin bagaimanapun, Stinker takut sekah pada Musuh dan pernah berada di bawah perintahnya- sehingga dia mungkin memilih untuk mengkhianati kami daripada tertangkap basah sedang membantu kami; dan daripada membiarkan Kesayangan-nya dilebur, munglcin. Setidaknya, begitulah kecurigaanku. Dan kuharap Majikan akan memikirkan dengan cermat. Dia bijak sekali, tapi hatinya lembek. Sudah di luar kemampuan seorang Gamgee untuk menebak apa yang bakal dilakukannya selanjutnya."
Frodo tidak langsung menjawab Gollum. Sementara keraguan ini melintasi benak Sam yang lamban namun tajam, Frodo justru berdiri menerawang ke arah batu karang gelap Cirith Gorgor. Cekungan tempat mereka berlindung digali di sisi bukit rendah, di suatu ketinggian di atas lembah berbentuk parit panjang yang terletak di antara bukit tersebut dan dinding penopang paling luar pegunungan. Di tengah lembah berdiri fondasi hitam menara jaga sebelah barat. Dalam cahaya pagi, jalan jalan yang menyatu menuju Gerbang Mordor sekarang bisa dilihat jelas, pucat dan berdebu; satu menjulur ke utara; satu menjulur ke timur, masuk ke dalam kabut yang menggantung di kaki Ered Lithui; dan yang ketiga menjulur ke arahnya. Ketika jalan itu membelok tajam di seputar menara, ia memasuki jalan sempit dan lewat tidak jauh di bawah cekungan tempat Frodo berdiri. Di sebelah kanannya, ke arah Barat, jalan itu membelok, menyusuri

pundak pegunungan, dan pergi ke selatan, ke dalam bayang-bayang gelap yang menyelimuti semua sisi barat Ephel Duath; di luar batas pandangannya, ia berjalan terus sampai ke daratan sempit di antara pegunungan dan Sungai Besar.
Saat memandang, Frodo menyadari ada gerakan dan gelombang besar di padang. Seperti sepasukan besar bala tentara sedang berbaris, meski sebagian besar tersembunyi oleh asap dan uap busuk yang mengalir dari rawa-rawa dan tanah kosong di luamya. Tap, di sana-sini ia menangkap sekilas kilatan tombak dan topi baja; dan di atas tanjakan-tanjakan di sisi jalan terlihat pasukan berkuda melaju dalam rombongan-rombongan besar. la ingat pemandangan dari jauh di atas Amon Hen, hanya beberapa hari yang lalu, meski sekarang terasa seperti sudah bertahun-tahun silam. Dan tahulah ia bahwa harapan yang sempat melambung di hatinya ternyata sia-sia. Terompet-terompet itu tidak berbunyi sebagai tantangan, melainkan sebagai sambutan. Ini bukan serangan menyerbu Penguasa Kegelapan oleh Orang-orang Gondor yang bangkit bagai hantu-hantu dari kuburan keberanian yang sudah lama mati. Ini Manusia-Manusia dari bangsa lain, dari Eastland yang luas, berkumpul atas panggilan Penguasa mereka; bala tentara yang berkemah di depan Gerbang-nya tadi malam, dan sekarang berbaris masuk untuk memperbesar kekuatannya yang semakin meningkat. Seolah mendadak menyadari bahayanya kedudukan mereka sendirian, dalam cahaya pagi yang semakin terang, begitu dekat dengan ancaman besar itu Frodo cepat-cepat menarik kerudungnya yang tipis kelabu agar erat menutupi kepalanya, dan melangkah turun ke lembah. Lalu ia berbicara pada Gollum.
"Smeagol," katanya, "aku akan mempercayaimu satu kali lagi. Tampaknya tak ada pilihan lain, dan sudah takdirku untuk menerima bantuan darimu hal yang sungguh tak kuduga dan takdirmu untuk membantuku yang sudah lama kaukejar dengan tujuan jahat. Sejauh ini kau sudah diperlakukan dengan pantas, dan sudah menepati janjimu dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh, kataku, dan aku serius dengan ucapanku," tambahnya sambil melirik Sam, "karena sudah dua kali kami berada dalam kekuasaanmu, dan kau tidak mencelakakan

kami. Kau juga tidak mencoba mengambil apa yang pernah kaucari. Mudah- mudahan ketiga kalinya akan terbukti yang terbaik! Tapi aku memperingatkanmu, Smeagol, kau dalam bahaya."
"Ya, ya, Majikan!" kata Gollum. "Bahaya mengerikan! Tulang-tulang tulang Smeagol gemetar memikirkan itu, tapi dia tidak lari. Dia harus membantu majikan yang baik."
"Maksudku bukan bahaya bagi kita bersama," kata Frodo. "Maksudku bahaya

hanya bagi dirimu sendiri. Kau bersumpah demi apa yang kausebut Kesayangan-mu. Ingat itu! Dia akan memegang sumpahmu; tapi dia akan mencari jalan untuk memutar balikkannya dan mencelakakanmu. Kau sudah diputar-balikkan. Baru saja kau menyingkap kan dirimu sendiri padaku dengan sangat bodoh. Kembalikan pada Smeagol, katamu. Jangan katakan itu lagi! Jangan biarkan pikiran itu tumbuh dalam dirimu! Kau tidak akan pernah memperolehnya kembali. Tapi hasrat kepadanya mungkin akan mengkhianatimu sampai ke akhir yang pahit. Kalau sangat terpaksa, Smeagol, aku akan memakai Kesayangan-mu itu; dan Kesayangan-mu pernah menguasaimu. Kalau aku, sambil memakainya, memerintahkanmu, kau akan taat, meski untuk melompat dari tebing curam atau melemparkan dirimu sendiri ke dalam api. Dan itulah yang akan kuperintahkan. Jadi, hati-hatilah, smeagol!"
Sam memandang majikannya dengan sikap setuju, tapi juga tercengang: ekspresi wajah dan nada suara Frodo yang seperti itu belum pernah didengarnya. la selalu mengira bahwa kebaikan hati Mr. Frodo sedemikian tinggi, Xsampai-sampai Mr. Frodo seperti buta, tak bisa menilai orang. Tentu saja ia juga berpegang teguh pada keyakinannya bahwa Mr. Frodo adalah orang paling bijak di dunia (dengan pengecualian Mr. Bilbo Tua dan Gandalf, mungkin). Gollum sendiri mungkin membuat kesalahan yang sama-tapi ini bisa lebih dimaklumi, mengingat ia belum lama mengenal Frodo mengacaukan kebaikan hati dengan kebutaan. Bagaimanapun, omongan itu membuat Gollum malu dan ketakutan. la menyembah-nyembah di tanah dan tak bisa mengucapkan kata- kata yang jelas, kecuali Majikan baik.
Frodo menunggu dengan sabar untuk beberapa saat, kemudian berbicara lagi,

dengan nada lebih lunak. "Ayo, Gollum atau Smeagol, kalau kau mau, ceritakan padaku tentang jalan lain itu, dan tunjukkan kalau bisa, harapan apa yang ada bila lewat jalan itu, supaya aku tidak merasa bersalah beralih dari jalan yang langsung ini. Aku perlu cepat."
Tapi keadaan Gollum menyedihkan, dan ancaman Frodo membuatnya agak bingung. Tidak mudah mendapat keterangan jelas darinya, di tengah gumaman dan decitannya, yang ditingkahi dengan sikapnya merangkak-rangkak di lantai sambil memohon agar mereka berbaik hati kepada "Smeagol kecil yang malang". Setelah beberapa lama, barulah ia lebih tenang, dan Frodo berhasil mendapatkan informasi sedikit demi sedikit bahwa kalau mengikuti jalan yang membelok ke barat Ephel Duath, setelah beberapa waktu mereka akan tiba di persimpangan di tengah lingkaran pepohonan. Di sebelah kanan ada jalan menuju Osgiliath dan jembatan jembatan Anduin; di tengah, jalan itu menjulur terus ke arah selatan.
"Terus, terus, terus," kata Gollum. "Kami belum pernah lewat jalan itu, tapi katanya dia membentang seratus league, sampai kau bisa melihat Samudra Besar yang tak pernah diam. Banyak ikan di sana, dan burung-burung besar yang makan ikan: burung-burung baik: tapi kami belum pernah ke sana, sayangnya belum! Kami tidak pernah mendapat kesempatan. Dan lebih jauh ke sana ada daratan lagi, katanya, tapi W ajah Kuning di sana panas sekali, dan jarang ada awan, manusianya garang dan berwajah gelap. Kami tidak ingin melihat negeri itu."
"Tidak!" kata Frodo. "Tapi jangan menyimpang dari jalanmu itu. Bagaimana dengan belokan ketiga?"
"Oh ya, oh ya, ada jalan ketiga," kata Gollum. "Itu jalan yang ke kiri. Langsung mendaki, naik, berbelok-belok dan mendaki kembali kebayangan tinggi. Saat dia mengitari batu karang hitam, kau akan melihatnya, mendadak ada di atasmu, dan kau ingin bersembunyi." "Melihatnya, melihatnya? Apa yang akan kaulihat?" "Benteng kuno, sangat tua, sangat mengerikan sekarang. Dulu kami mendengar dongeng-dongeng dari Selatan, ketika Smeagol masih muda, dahulu kala. Oh ya, kami biasa menceritakan banyak dongeng di sore hari, sambil duduk di

tebing Sungai Besar, di negeri pohon willow, ketika Sungai juga masih lebih muda, gollum, gollum." ia mulai menangis dan menggerutu. Kedua hobbit menunggu dengan sabar.
"Dongeng-dongeng dari Selatan," lanjut Gollum, "tentang Manusia-Manusia tinggi dengan mata bersinar, rumah mereka yang seperti bukit batu, mahkota perak Raja mereka, dan Pohon Putih: dongeng indah. Mereka membangun menara-menara tinggi sekali, salah satunya berwarna putih perak, di dalamnya ada batu seperti Bulan, dan di sekelilingnya ada dinding-dinding putih besar. Oh ya, banyak sekali dongeng tentang Menara Bulan."
"Itu pasti Minas Ithil, yang dibangun oleh Isildur, putra Elendil," kata Frodo. "Isildur yang memotong jari Musuh."
"Ya, Dia hanya punya empat jari di Tangan Hitam, tapi itu sudah cukup," kata

Gollum sambil menggigil. "Dan Dia benci kota Isildur."

"Apa yang tidak dibencinya?" kata Frodo. "Tapi apa hubungannya Menara Bulan dengan kita?"
"Well, Majikan, menara itu sudah ada sejak dulu, sampai sekarang: menara tinggi, rumah-rumah putih, dan tembok; tapi sekarang tidak indah, tidak menyenangkan. Dia sudah menaklukkannya lama berselang. Sekarang sudah menjadi tempat mengerikan. Pengembara-pengembara menggigil melihatnya, mereka merangkak mengelak, menghindari bayangannya. Tapi Majikan terpaksa lewat jalan itu. Itu satu-satunya jalan lain. Karena pegunungan di sana lebih rendah, dan jalan yang lama naik dan naik terus, sampai tiba di suatu jalan pintas di puncak, lalu turun, turun lagi ke Gorgoroth." Suaranya berubah menjadi bisikan, dan ia gemetar.
"Tapi bagaimana itu bisa membantu kita?" tanya Sam. "Pasti Musuh tahu semua tentang pegunungannya sendiri, dan jalan itu pasti dijaga sama cermatnya dengan jalan yang ini. Menara itu tidak kosong, bukan?"
"Oh tidak, tidak kosong!" bisik Gollum. "Kelihatannya kosong, tapi tidak begitu, oh tidak! Makhluk-makhluk yang sangat mengerikan tinggal di sana. Orc, ya … selalu Orc; tapi makhluk-makhluk yang lebih buruk hidup di sana juga. Jalannya menanjak tepat di bawah baYangan tembok, dan melewati gerbang. Tak ada

yang bergerak di jaIan yang tidak mereka ketahui. Makhluk-makhluk di dalamnya tahu: Penjaga-Penjaga Tersembunyi."
"Jadi, itu saranmu?" kata Sam. "Agar kita menempuh perjalanan panjang lain ke selatan, lalu terjebak dalam keadaan yang sama, atau malah lebih buruk, setelah sampai di sana, itu pun kalau kita bisa sampai?"
"Bukan, bukan begitu," kata Gollum. "Hobbit perlu tahu, harus mencoba mengerti. Dia tidak menduga ada serangan dari arah sana. Mata-nya ada di mana-mana, tapi ada tempat-tempat yang mendapat perhatian lebih besar daripada yang lain. Dia tidak bisa sekaligus melihat semuanya, belum. Kau tahu, Dia sudah mengalahkan semua negen di sebelah barat Pegunungan Bayang- Bayang sampai ke Sungai, dan Dia menguasai jembatan jembatan sekarang. Dia pikir tidak ada yang bisa sampai ke Menara Bulan tanpa pertempuran besar di jembatan, atau tanpa banyak kapal yang kehadirannya tak mungkin disembunyikan darinya."
"Tampaknya kau tahu banyak tentang apa yang Dia lakukan dan pikirkan," kata Sam. "Apakah kau suka bercakap-cakap dengannya belakangan ini? Atau hanya bergaul rapat dengan para Orc?"
"Hobbit yang tidak ramah, tidak bijak," kata Gollum, melirik marah pada Sam dan berbicara pada Frodo. "Smeagol memang sudah berbicara dengan Orc, ya tentu saja, sebelum dia bertemu Majikan, dan dengan banyak orang: dia sudah berjalan jauh sekali. Dan apa yang dikatakannya sekarang sudah banyak dikatakan juga oleh orang-orang. Di sini, di Utara, bahaya besar mengintai Dia, dan kita. Dia akan keluar dari Gerbang Hitam suatu saat, segera. Hanya lewat jalan itu pasukan besar bisa datang. Tapi di sebelah barat Dia tidak takut, dan di sana ada Penjaga-Penjaga Tersembunyi."
"Persis!" kata Sam, tidak mau mengalah. "Jadi, kita bisa berjalan maju dan mengetuk pintu gerbang mereka, bertanya apakah kita sudah berada di jalan yang benar ke Mordor? Atau mereka terlalu bisu untuk menjawab? Tidak masuk akal. Lebih baik kita lakukan saja di sini, supaya tidak perlu pergi jauh jauh." "Jangan berkelakar tentang itu," desis Gollum. "Ini tidak lucu, oh tidak! Tidak menggelikan. Sama sekali tidak masuk akal, berusaha masuk ke Mordor. Tapi

kalau Majikan berkata aku harus pergi atau aku akan pergi, maka dia harus mencoba. Tapi janganlah pergi ke kota yang mengerikan itu, oh tidak, tentu saja tidak. Di situlah Smeagol membantu, Smeagol yang baik, meski dia tidak tahu ada apa ini sebenarnya Smeagol membantu lagi. Dia menemukannya. Dia tahu jalan itu.”
"Apa yang kautemukan?" tanya Frodo.

Gollum meringkuk, suaranya merendah menjadi bisikan lagi. "Sebuah jalan kecil masuk ke pegunungan; kemudian sebuah tangga, tangga sempit, oh ya, panjang dan sempit sekali. Kemudian lebih banyak tangga lagi. Lalu" suaranya semakin rendah lagi "sebuah terowongan, terowongan gelap, dan akhirnya sebuah belahan kecil, dan jalan tinggi di atas jalan utama. Lewat jalan itulah dulu Smeagol keluar dari kegelapan. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Mungkin saja jalan itu sudah lenyap sekarang; tapi mungkin juga tidak, mungkin tidak."
"Aku tidak suka mendengar penjelasannya," kata Sam. "Kedengarannya terlalu mudah. Kalau jalan itu masih ada, pasti dijaga juga. Bukankah jalan itu dijaga, Gollum?" Ketika mengatakan itu, ia menangkap atau merasa menangkap sinar hijau di dalam mata Gollum. Gollum menggerutu, tapi tidak menjawab.
"Bukankah jalan itu dijaga?" tanya Frodo keras. "Dan apakah kau melarikan diri dari kegelapan, Smeagol? Bukannya diizinkan pergi mengemban tugas? Setidaknya begitulah dugaan Aragorn, yang menemukanmu di Rawa-Rawa Mati beberapa tahun yang lalu."
"Itu bohong!" desis Gollum, cahaya jahat timbul di matanya mendengar nama Aragorn disebutkan. "Dia berbohong tentang aku, ya dia berbohong. Aku memang melarikan diri, sendirian. Memang aku disuruh mencari Kesayangan-ku; aku sudah mencari dan mencari, tentu saja. Tapi bukan untuk si Jahat. Kesayangan-ku dulu milik kami, milikku. Aku melarikan diri."
Anehnya Frodo merasa yakin kali ini ucapan Gollum tidak jauh dari kebenarannya; bahwa ia memang berhasil mencari jalan keluar dari Mordor, dan setidaknya menganggap itu karena kecerdikannya sendiri. Salah satunya, ia memperhatikan bahwa Gollum menggunakan kata aku. la jarang menggunakan

kata itu, dan biasanya itu pertanda bahwa saat ini sisa-sisa sifat jujur dan tulusnya sedang menang. Tapi, meski Gollum bisa dipercaya dalam hal itu, Frodo tidak melupakan tipu muslihat Musuh. Mungkin saja "pelarian" itu memang sudah diatur, dan sudah diketahui di Menara Kegelapan. Bagaimanapun, jelas Gollum masih menyimpan banyak rahasia.
"Aku bertanya sekali lagi," kata Frodo, "tidakkah jalan rahasia ini dij aga?"

Tapi nama Aragorn sudah membuat Gollum merengut. la bersikap sakit hati, seperti seorang pembohong yang sekali itu menceritakan kebenaran, atau sebagian kebenaran. la tidak menjawab.
"Tidakkah jalan itu dijaga?" ulang Frodo.

"Ya, ya, mungkin. Tak ada tempat aman di daratan ini," kata Gollum, cemberut. "Tak ada tempat aman. Tapi Majikan harus mencobanya, atau pulang. Tak ada jalan lain." Mereka tak bisa memaksanya mengatakan lebih dari itu. Nama tempat dan jalan tinggi yang berbahaya itu tak bisa diceritakannya. Atau tidak mau.
Namanya Cirith Ungol, nama yang penuh selentingan menyeramkan. Aragorn mungkin bisa menceritakan pada mereka nama dan maknanya; Gandalf akan memperingatkan mereka. Tapi mereka sendirian dan Aragorn jauh dari mereka, sementara Gandalf sedang berdiri di tengah reruntuhan Isengard dan berjuang melawan Saruman, tertahan karena pengkhianatan. Tapi, saat mengucapkan kata-katanya yang terakhir pada Saruman, dan saat palantfr jatuh ke dalam api di tangga Orthanc, pikirannya senantiasa tertuju pada Frodo dan Samwise, menembus jarak sekian jauh, mencari-cari mereka dengan penuh harapan dan rasa iba.
Mungkin Frodo merasakannya, meski ia tidak tahu, seperti ketika berada di Amon Hen, mesti ia percaya bahwa Gandalf sudah mati, sudah pergi selamanya dalam kegelapan Moria nun jauh di sana. la duduk di tanah lama sekali, kepalanya tertunduk, berjuang untuk mengingat kembali semua yang sudah dikatakan Gandalf kepadanya. Tapi untuk pilihan ini tak ada saran Gandalf yang diingatnya. Nasihat-nasihat Gandalf sudah terlalu cepat direnggutkan dari mereka, terlalu cepat, sementara Negeri Kegelapan masih jauh sekali.

Bagaimana mereka harus memasukinya, Gandalf belum mengatakannya. Mungkin ia tidak tahu. Gandalf pernah memberanikan diri masuk ke benteng Musuh di Utara, masuk ke Dol Guldur. Tapi masuk ke Mordor, ke Gunung Api dan ke Barad-dur, sejak Penguasa Kegelapan kembali berkuasa, sudah pernahkah ia berkelana ke sana? Menurut Frodo belum. la sendiri hanyalah seorang hobbit sederhana dari pedalaman yang tenang; ia diharapkan menemukan jalan yang tak bisa atau tak berani ditempuh oleh mereka yang pemberani dan hebat. Sungguh takdir yang kejam. Tapi ia sudah menerima beban itu di ruang duduknya sendiri, di musim semi yang sudah lama berlalu, dan kini terasa begitu jauh, hingga rasanya seperti suatu bab dalam cerita masa remaja dunia, ketika Pohon-Pohon Perak dan Emas masih mekar. Ini pilihan yang buruk. Jalan mana yang harus dipilihnya? Dan kalau keduanya menuju teror dan kematian, apa gunanya memilih?


Hari semakin larut. Keheningan mendalam mencekam lembah tempat mereka berada, di dekat perbatasan negeri ketakutan: kesepian yang begitu tajam, bagai selubung tebal yang memisahkan mereka dari dunia sekitar. Di atas mereka ada kubah langit pucat yang ditutupi asap berarak, tapi tampak tinggi dan jauh sekali, seolah kelihatan melalui lapisan-lapisan udara tebal yang dipenuhi pikiran berat. Bahkan seekor elang yang berhenti di depan matahari bisa melihat kedua hobbit duduk di sana, di bawah beban maut, diam tak bergerak, diselubungi jubah tipis mereka yang kelabu. Mungkin sejenak ia akan memperhatikan Gollum, sosok kecil yang terjulur di tanah: mungkin di sana menggeletak kerangka seorang anak Manusia yang mati kelaparan, pakaiannya yang compang-camping masih menempel padanya, kaki dan tangannya yang panjang hampir putih dan tipis seperti tulang: tak ada daging yang layak untuk dilahap.
Frodo tertunduk di atas lututnya, tapi Sam bersandar dengan tangan di belakang kepala, menatap keluar dari balik kerudungnya ke langit yang kosong. Setidaknya langit kosong untuk waktu sangat lama. Kemudian Sam merasa melihat sebuah sosok gelap seperti burung, berputar-putar memasuki lingkup pandangannya, lalu melayang, dan berputar pergi lagi. Dua lagi mengikutinya,

kemudian yang keempat. Mereka kelihatan sangat kecil, tapi ia tahu bahwa sebenarnya mereka sangat besar, dengan jangkauan sayap lebar, terbang tinggi sekali. la menudungi matanya dan membungkuk ke depan, gemetaran. Ketakutan yang sama menimpanya, seperti ketika merasakan kehadiran para Penunggang Hitam, kengerian tak berdaya yang datang dengan teriakan yang dibawa angin dan bayangan di bulan, meski kengerian yang satu ini tidak begitu menekan atau mendesak: ancaman itu lebih jauh jaraknya. Tapi tetap sebuah ancaman. Frodo juga merasakannya. Pikirannya terputus. la bergerak dan menggigil, tapi tidak menengok ke atas. Gollum meringkuk seperti labah-labah yang terkepung. Sosok-sosok bersayap itu berputar, menukik cepat ke bawah, dan terbang cepat kembali ke Mordor.
Sam menarik napas panjang. "Para Penunggang sedang berkeliaran lagi di angkasa," katanya dengan bisikan parau. "Aku melihat mereka. Kaupikir mereka bisa melihat kita? Mereka terbang tinggi sekali. Dan kalau mereka Penunggang Hitam, sama seperti dulu, maka mereka tak bisa melihat banyak di siang hari, bukan?"
"Tidak, mungkin tidak," kata Frodo. "Tapi kuda jantan mereka bisa melihat. Dan makhluk bersayap yang mereka tunggangi sekarang mungkin bisa melihat lebih banyak daripada makhluk lain. Mereka seperti burung pemakan bangkai yang sangat besar. Mereka mencari sesuatu: Musuh sedang waspada, rupanya." Perasaan takut sudah lewat, tapi kesepian yang menyelubungi sudah pecah. Untuk beberapa lama mereka sudah terpisah dari dunia, seolah berada di suatu pulau yang tidak tampak; sekarang mereka sudah ditelanjangi lagi, bahaya sudah kembali. Tapi Frodo masih belum berbicara kepada Gollum atau membuat pilihan. Matanya terpejam, seakan sedang bermimpi, atau melihat ke dalam hati dan ingatannya.
Akhirnya ia bergerak dan berdiri, dan tampaknya baru akan berbicara dan memutuskan. Tapi, "Dengar!" katanya. "Apa itu?"


Ketakutan baru menimpa mereka. Mereka mendengar nyanyian dan teriakan parau. Pada mulanya kedengarannya jauh, tapi makin lama makin mendekat:

menghampiri mereka. Terlintas dalam benak mereka bahwa Sayap Hitam sudah melihat mereka, dan mengirimkan tentara bersenjata untuk menangkap mereka: tidak ada kecepatan yang terlalu besar bagi pelayan-pelayan Sauron yang mengerikan. Mereka meringkuk mendengarkan. Suara-suara, denting senjata dan perisai yang terdengar sangat dekat. Frodo dan Sam mengendurkan pedang kecil mereka dari dalam sarungnya. Lari sudah tak mungkin.
Gollum bangkit perlahan dan merangkak seperti serangga, sampai ke bibir cekungan. Dengan hati-hati sekali ia mengangkat dirinya sedikit demi sedikit, sampai ia bisa mengintip melalui dua ujung batu yang pecah. la diam tak bergerak untuk beberapa saat, tanpa bersuara. Tak lama kemudian suara-suara itu mulai menjauh lagi, kemudian perlahan-lahan menghilang. Jauh di sana, sebuah terompet berbunyi di benteng Morannon. Kemudian diam-diam Gollum turun kembali dan menyelinap ke dalam cekungan.
"Lebih banyak Manusia pergi ke Mordor," katanya dengan suara rendah. "Wajah- wajah gelap. Kami belum pernah melihat Manusia seperti ini, tidak, Smeagol belum pernah. Mereka garang. Mereka punya mata hitam, rambut hitam panjang, dan cincin emas di hidung mereka; ya, banyak emas indah. Beberapa memakai cat merah di telinga, dan di ujung-ujung tombak mereka; mereka mempunyai perisai bundar, kuning, dan hitam, dengan banyak paku. Tidak ramah; tampaknya mereka Manusia jahat yang kejam sekali. Hampir sama jahat- nya seperti Orc, dan jauh lebih besar. Menurut Smeagol, mereka datang dari Selatan, di luar ujung Sungai Besar: mereka datang lewat jalan itu. Mereka sudah lewat sampai ke Gerbang Hitam; tapi mungkin masih ada lagi yang akan datang. Selalu lebih banyak manusia datang ke Mordor. Suatu hari semua orang akan berada di dalam."
"Apakah ada oliphaunt?" tanya Sam, lupa akan ketakutannya, saking bergairah mendengar kabar dan tempat-tempat asing.
"Tidak, tidak ada oliphaunt. Apa itu oliphaunt?" kata Gollum.



Sam bangkit berdiri, meletakkan tangannya di belakang punggung (seperti yang selalu dilakukannya kalau "membaca sajak"), dan memulai:



Kelabu bak tikus sawah, Besar seperti rumah, Hidung seperti ular,
Aku membuat tanah bergetar, Saat kutapaki rumput yang lebat; Pepohonan berderak ketika aku lewat. Dengan tanduk di mulutku,
Di Selatan kutapaki langkahku, Mengibas cuping sebesar daun. Tak terhitung banyaknya tahun Aku jalani kian kemari,
Tak pernah merebahkan diri, Tidak juga untuk mati.
Aku ini Oliphaunt,

Yang terbesar di antara kamu, Besar, tua, dan tinggi badanku, Kalau kau pernah jumpa denganku Kau tak akan melupakanku.
Kalau belum pernah jumpa, Kaupikir aku ini tiada;
Tapi aku ini Oliphaunt tua,

Tidak pernah bohong sekali juga.



"Itu," kata Sam, setelah selesai mensitirnya, "adalah salah satu sajak kami di Shire. Mungkin omong kosong, mungkin juga tidak. Tapi kami juga punya dongeng-dongeng, dan berita-berita dari Selatan. Di masa lampau, para hobbit suka mengembara sekali-sekali. Tidak banyak yang kembali, dan tidak semua yang mereka katakan dipercayai: kabar dari Bree, dan tidak pasti seperti omongan Shire, begitu istilahnya. Tapi aku mendengar dongeng-dongeng tentang manusia besar jauh di sana, di Sunlands. Kami menyebut mereka

Swerting dalam dongeng-dongeng kami; dan kabarnya mereka menunggang oliphaunt kalau bertempur. Mereka menempatkan rumah dan menara di atas punggung oliphaunt, dan para oliphaunt saling melemparkan batu dan pohon. Jadi, ketika kaubilang, 'Manusia dari Selatan, semuanya pakai merah dan emas, maka kukatakan, 'apakah ada oliphaunt?' Karena kalau ada, aku akan mengintipnya, ada atau tidak ada risiko. Tapi kini kupikir aku tidak akan pernah melihat oliphaunt. Mungkin memang tidak ada hewan seperti itu." ia mengeluh. "Tidak, tidak ada oliphaunt," kata Gollum lagi. "Smeagol belum pernah dengar tentang mereka. Dia tak ingin melihat mereka. Dia tak ingin mereka ada. Smeagol ingin pergi dari sini dan bersembunyi di tempat yang lebih aman. Smeagol ingin Majikan pergi. Majikan manis, tidakkah dia mail ikut Smeagol?" Frodo bangkit berdiri. la tertawa di tengah segala kesulitannya ketika Sam mengucapkan sajak kuno tentang Oliphaunt, dan tawa itu melepaskannya dari keraguan. "Kalau saj a kita punya seribu oliphaunt, dengan Gandalf di atas oliphaunt putih di barisan depan," katanya. "Maka mungkin kita bisa mendobrak masuk ke negeri jahat ini. Tapi kita tak punya; hanya ada kaki kita sendiri yang letih. Nah, Smeagol, mungkin kali ketiga terbukti yang paling baik. Aku akan ikut kau."
"Majikan baik, Majikan bijak, Majikan manis!" teriak Gollum kegirangan, menepuk-nepuk lutut Frodo. "Majikan baik! Kalau begitu, sekarang istirahat dulu, hobbit-hobbit manis, di bawah bayangan batubatu, rapat di bawah bebatuan! Istirahatlah dan berbaring tenang, sampai Wajah Kuning pergi. Lalu kita bisa pergi cepat. Lembut dan cepat, seperti bayangan!"

BAB 4

BUMBU MASAK DAN KELINCI REBUS



Selama cahaya siang masih tersisa beberapa jam, mereka beristirahat, pindah ke tempat teduh ketika matahari bergerak, sampai akhirnya bayang-bayang di pinggiran barat lembah mereka memanjang, dan kegelapan memenuhi seluruh cekungan. Gollum tidak makan apa pun, tapi ia menerima air dengan senang hati.
"Nanti kita akan dapat lebih banyak," katanya sambil menjilat bibirnya. "Air bagus mengalir di sungai yang menuju Sungai Besar, air bagus di daratan yang kita tuju. Smeagol akan dapat makanan juga di sana, mungkin. Dia lapar sekali, ya, gollum!" ia meletakkan kedua tangannya yang lebar dan datar di atas perutnya yang mengerut, cahaya hijau pucat muncul di matanya.


Ketika akhirnya mereka berangkat, senja sudah larut, merayap melewati pinggiran barat lembah, dan memudar seperti hantu ke dalam daratan hancur di perbatasan jalan. Masih tiga malam sebelum purnama, tapi ia baru memanj at ke atas pegunungan saat hampir tengah malam, dan malam yang masih muda itu sangat gelap. Cahaya tunggal merah menyala tinggi di Menara-Menara Gigi, tapi selain itu tidak terlihat atau terdengar tanda-tanda penjagaan terus-menerus di Morannon.
Selama bermil-mil mata merah itu seakan-akan menatap mereka ketika mereka pergi, terhuyung-huyung melewati daratan gersang berbatu. Mereka tidak berani mengambil jalan utama, tapi membiarkannya tetap di sebelah kiri mereka, mengikuti garisnya sebaik mungkin pada jarak tertentu. Akhirnya, ketika malam sudah larut dan mereka sudah letih, karena mereka hanya berhenti sebentar untuk istirahat, mata itu meredup menjadi titik kecil menyala, kemudian lenyap: mereka sudah mengitari pundak utara yang gelap dari pegunungan yang lebih rendah, dan sedang menuju selatan.
Dengan hati agak ringan, mereka beristirahat lagi, tapi tidak lama. Bagi Gollum, mereka masih kurang cepat. Menurut perhitungannya, jaraknya sekitar tiga puluh

league dari Morannon ke persimpangan di atas Osgiliath, dan ia berharap menyelesaikan jarak itu dalam empat perjalanan. Jadi, mereka segera berjuang maju lagi, sampai fajar mulai menyebar perlahan dalam kekosongan kelabu yang luas. Saat itu mereka sudah berjalan hampir delapan league, dan kedua hobbit sudah tak bisa berjalan lebh jauh lagi, meski seandainya mereka berani.


Cahaya yang semakin merebak menampakkan sebuah daratan yang tidak begitu gersang dan hancur. Pegunungan masih menjulang mengancam di sebelah kiri mereka, tapi pada jarak yang lebih dekat mereka bisa melihat jalan ke selatan, sekarang menjauh dari akar-akar hitam bukit-bukit dan condong ke barat. Di luarnya ada lereng-lereng yang ditutupi pepohonan muram seperti awan-awan gelap, tapi di sekitar mereka ada padang rumput liar yang berantakan, ditumbuhi ling, broom, cornel, dan semak-semak lain yang tidak mereka kenal. Di sana-sini mereka melihat gerombolan-gerombolan pohon pinus tinggi. Semangat para hobbit agak meningkat, meski mereka letih: udara di sini sejuk dan wangi, mengingatkan mereka pada dataran tinggi di Wilayah Utara nun jauh di sana. Rasanya menyenangkan berada di sini, berjalan di daratan yang baru beberapa tahun berada di bawah kekuasaan Penguasa Kegelapan, dan belum seluruhnya hancur membusuk. Tapi mereka tidak lupa bahaya yang mengancam, maupun Gerbang Hitam yang masih terlalu dekat, meski tersembunyi di balik ketinggian yang muram. Mereka mencari-cari tempat berlindung dari si mata jahat, selagi hari masih terang.


Hari itu lewat dengan tidak nyaman. Mereka berbaring jauh di dalam semak heather dan menghitung jam jam yang berlalu lamban, yang tampaknya hanya membawa sedikit perubahan; mereka masih berada di bawah bayangan Ephel Duath, matahari terselubung tersembunyi. Kadang-kadang Frodo tidur, lelap dan damai, entah karena ia mempercayai Gollum atau terlalu letih untuk mengkhawatirkannya; tapi Sam hanya bisa tidur sebentar-sebentar, meski Gollum sendiri tidur lelap, menggeliat dan berkedut dalam mimpinya yang rahasia. Mungkin rasa laparlah yang membuatnya tetap waspada, melebihi

kecurigaan ia sudah mulai merindukan makanan lezat di rumah. Makanan panas dari panci.
Ketika daratan memudar menj adi kelabu tak berbentuk saat malam tiba, mereka berangkat lagi. Tak lama kemudian, Gollum menuntun mereka melewati jalan yang menuju selatan; setelah itu mereka berjalan lebih cepat, meski bahayanya lebih besar. Telinga mereka waspada menunggu bunyi kaki kuda atau kaki manusia di jalan di depan, atau mengikuti mereka dari belakang; tapi malam lewat, dan mereka tidak mendengar bunyi pejalan kaki maupun penunggang kuda.
Jalan itu dibuat di masa yang sudah lama berlalu. Untuk sekitar tiga puluh mil di bawah Morannon, jalan itu baru-baru ini diperbaiki, tapi semakin ke selatan, batas-batasnya semakin dipenuhi belantara. Hasil karya Manusia zaman dulu masih tampak dalam bentangannya yang lurus dan pasti, serta kerataannya: sesekali jalan itu memotong lereng bukit, atau melompati sungai di atas lengkungan lebar yang indah, yang terbuat dari bangunan batu yang tahan lama; tapi akhirnya semua karya bangunan batu memudar, kecuali beberapa tiang hancur di sana-sini, mengintip keluar dari semak di pinggir, atau batu ubin lama yang masih bersembunyi di tengah rumput liar dan lumut. Heather, pepohonan, dan pakis merayap ke bawah dan menggantung dari atas tebing-tebing, atau bertebaran di permukaan. Akhirnya jalan itu mengecil menjadi jalan kereta pedalaman yang jarang digunakan, tapi tidak berbelok-belok: ia tetap pada arahnya sendiri yang pasti, dan menuntun mereka melalui jalan tercepat.


Dengan begitu, mereka masuk ke wilayah perbatasan utara dari negeri yang dulu dinamakan Ithilien oleh Manusia, negeri indah dengan hutan mendaki dan sungai-sungai deras. Malam semakin indah di bawah bintang dan bulan, dan kedua hobbit merasa keharuman udara semakin bertambah ketika mereka maju semakin jauh; Gollum rupanya juga memperhatikan-kentara dari dengusan dan gerutuannya dan tidak menyukainya. Ketika tanda-tanda pertama pagi hari muncul, mereka berhenti lagi. Mereka sudah sampai di ujung sebuah alur panjang, dalam dan bersisi curam di tengah, di mana jalan itu membentang

melalui pundak bukit berbatu. Sekarang mereka memanjat naik ke tebing sebelah barat dan memandang ke seberang.
Pagi hari merebak di langit, dan mereka melihat pegunungan sudah tampak lebih jauh, mundur ke arah timur dalam tikungan panjang yang lenyap di kejauhan. Di depan mereka, saat mereka membelok ke barat, lereng-lereng landai turun ke dalam kekaburan jauh di bawah. Di sekitar mereka ada hutan-hutan kecil yang terdiri atas pepohonan berdamar, cemara dan cedar dan cypress, dan jenis-jenis lain yang tidak dikenal di Shire, dengan lapangan luas di tengah-tengahnya; di mana-mana banyak sekali tanaman obat dan semak-semak harum. Perjalanan panjang dari Rivendell sudah membawa mereka ke selatan, jauh dari negeri mereka sendiri, tapi baru sekarang, di wilayah yang agak terlindung ini, mereka merasakan perubahan iklim. Di sini Musim Semi sudah sibuk di sekeliling mereka: pakis-pakis menembus lumut dan jamur, pohon larch berjari hijau, bunga-bunga kecil mekar di tanah berumput, burung-burung bernyanyi. Ithilien, kebun Gondor yang sekarang kosong, masih mempertahankan kecantikan peri hutan yang kusut.
Ke selatan dan ke barat ia menghadap lembah-lembah Anduin yang lebih rendah dan hangat, terlindung dari timur oleh Ephel Duath, tapi belum berada di bawah bayangan pegunungan, terlindung dari utara oleh Emyn Mull, terbuka ke udara selatan dan angin lembap dari Samudra jauh. Banyak pohon besar tumbuh di sana, sudah lama ditanam di sana, menjadi tua tanpa perawatan di tengah pohon-pohon lebih muda yang tumbuh tidak teratur; semak belukar tamarisk dan terebinth yang berbau tajam, zaitun dan bay; juga ada juniper dan myrtle; dan thyme yang tumbuh di semak-semak, atau batang-batang yang keras menjalar melapisi batu-batu tersembunyi dengan permadani tebal; bermacam-macam sage yang berbunga-bunga biru, atau merah, atau hijau pucat; marjoram serta parsley yang baru bertunas, dan banyak tanaman obat berbentuk dan berbau wangi di luar perbendaharaan kebun Sam. Gua-gua dan tembok berbatu sudah dihiasi oleh saxifrage dan stonecrop. Primerole dan anemone sudah bangun di semak-semak filbert; dan asphodel serta bunga lili menganggukkan kepala mereka yang setengah terbuka di tengah rumput: rumput tebal hijau di tepi

kolam-kolam, di mana sungai-sungai berhenti di cekungan sejuk dalam perjalanan mereka ke Anduin.
Para pengembara membelakangi jalan dan pergi menuruni bukit. Sementara mereka berjalan, menyerempet semak dan tanaman obat, bau wangi tercium di sekitar mereka. Gollum batuk dan muntah-muntah, tapi kedua hobbit menarik napas dalam. Tiba-tiba Sam tertawa, karena gembira, bukan karena berolok- olok. Mereka mengikuti aliran sungai yang mengalir deras di depan mereka. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah telaga kecil yang jernih di lembah dangkal letaknya di tengah reruntuhan kolam batu kuno yang sudah hancur, dengan pinggiran berukir hampir sepenuhnya tertutup lumut dan semak mawar; bunga iris sword berdiri berjajar di sekelilingnya, dan daun-daun lili air mengambang di permukaannya yang berombak lembut; telaga itu dalam dan segar, dan air meluap dengan lembut dari atas bibir batu di ujungnya.
Di sini mereka membasuh diri dan minum sepuasnya di aliran air yang masuk. Kemudian mereka mencari tempat istirahat dan tempat bersembunyi; karena daratan ini, yang raasih kelihatan indah, bagaimanapun merupakan wilayah Musuh. Mereka belum pergi jauh dari jalan, tapi dalam jarak sependek itu mereka sudah menyaksikan luka-luka peperangan zaman lampau, dan luka-luka lebih baru yang dibuat para Orc dan anak buah lain sang Penguasa Kegelapan: sebuah sumur penuh kotoran dan sampah yang tidak bertutup; pohon-pohon di tebang sembarangan dan dibiarkan mati, dengan lambang-lambang jahat atau lambang Mata diukir dengan sapuan kasar pada kulit kayunya.
Sam, yang merangkak di bawah air yang jatuh dari telaga, sambil menciumi dan meraba tanaman-tanaman dan pohon-pohon yang tidak dikenalnya, dan sejenak lupa pada Mordor, tiba-tiba teringat bahaya yang selalu mengancam mereka. la menemukan sebuah lingkaran yang masih hangus karena api, di tengahnya ia melihat setumpuk tulang dan tengkorak hangus dan hancur. Belantara yang tumbuh cepat, dengan briar dan eglantine dan clematis yang merayap sudah mulai membentuk selubung menutupi tempat pesta pora dan penyembelihan mengerikan itu; tapi itu bukan peninggalan masa yang sudah lama lewat. Sam kembali bergabung dengan kawan-kawannya, tapi tidak mengatakan apa pun:

tulang-belulang itu sebaiknya dibiarkan dalam kedamaian, jangan sampai dicakar dan digali oleh Gollum.
"Ayo kita cari tempat untuk berbaring," katanya. "Jangan lebih ke bawah. Lebih ke atas bagiku lebih cocok."


Sedikit melewati telaga, mereka menemukan tumpukan daun pakis tebal dan cokelat, sisa tahun lalu. Di luarnya ada belukar pepohonan bay berdaun gelap yang mendaki sebuah tebing curam bermahkotakan pohon-pohon cedar tua. Di sini mereka memutuskan beristirahat dan melewatkan hari itu, yang tampaknya akan cerah dan panas. Hari yang bagus bagi mereka untuk berjalan-jalan menyusuri semak-semak dan lapangan Ithilien; tapi, meski Orc takut pada sinar matahari, terlalu banyak tempat untuk mereka bersembunyi dan mengawasi; dan mata jahat lain juga berkeliaran: Sauron punya banyak sekali anak buah. Gollum, setidaknya, tak mau bergerak di bawah tatapan Wajah Kuning. Tak lama lagi matahari akan mengintip dari atas punggung-punggung Ephel Dnath, dan ia akan pingsan dan gemetaran dalam cahaya dan panasnya.
Sam memikirkan dengan serius tentang makanan ketika mereka berjalan. Kini, setelah keputusasaan tentang Gerbang yang tak bisa dilalui sudah lenyap, ia tidak seperti majikannya, yang tidak memikirkan persediaan makanan mereka setelah tugas mil berakhir; bagaimanapun, tampaknya lebih bijak menyimpan roti dan kaum Peri untuk masa-masa yang lebih sulit di depan. Enam hari atau lebih sudah berlalu sejak ia menghitung mereka hanya mempunyai sedikit persediaan untuk tiga minggu.
"Kami beruntung kalau bisa mencapai Api dalam waktu tiga minggu!" pikirnya. "Dan kami mungkin ingin pulang kembali. Mungkin!"
Di samping itu, pada akhir perjalanan panjang, setelah mandi dan minum, ia malah merasa lebih lapar daripada biasanya. Makan malam, atau sarapan, di dekat api di dapur di Bagshot Row, itulah yang diinginkannya. Suatu gagasan muncul, dan ia berbicara pada Gollum. Gollum baru saja menyelinap pergi sendirian, dan sedang merangkak dengan keempat anggota tubuhnya, melewati pakis.

"Hai! Gollum!" kata Sam. "Ke mana kau pergi? Berburu? Well, begini, pemburu tua, kau tidak suka makanan kami, dan aku juga tidak menolak perubahan. Moto-mu yang baru kan: selalu siap membantu. Bisakah kau menemukan sesuatu untuk hobbit yang lapar?"
"Ya, mungkin, ya," kata Gollum. "Smeagol selalu membantu, kalau mereka minta kalau mereka minta dengan manisss."
"Betul!" kata Sam. "Aku minta. Dan kalau itu belum cukup manisss, aku

memohon."



Gollum menghilang. la pergi beberapa lama. Setelah makan beberapa suap lembas, Frodo berbaring di tumpukan pakis dan tidur. Sam memandangnya. Cahaya pagi baru saja merangkak masuk ke bayangan di bawah pepohonan, tapi ia melihat jelas wajah majikannya, juga tangannya yang menggeletak diam di tanah di sampingnya. Mendadak ia teringat ketika Frodo berbaring tidur di rumah Elrond, setelah terluka parah. Saat itu, ketika menjaganya, Sam memperhatikan bahwa pada saat-saat tertentu ada cahaya yang bersinar redup dari dalam tubuh Frodo; tapi kini cahaya itu semakin terang dan kuat. Wajah Frodo damai, bekas-bekas ketakutan dan kesusahan sudah hilang; tapi ia tampak tua, tua dan elok, seolah pahatan tahun-tahun yang membentuknya sekarang tersingkap dalam banyak garis halus yang sebelumnya tersembunyi, meski identitas wajahnya tidak berubah. Tapi bukan itu yang ada dalam pikiran Sam Gamgee. ia menggelengkan kepala, seolah merasa percuma mewujudkan pikirannya dalam kata-kata. la hanya bergumam, "Aku sayang sekali padanya. Dia memang seperti itu, dan kadang-kadang cahaya itu menembus keluar, entah bagaimana. Tapi aku sayang padanya, seperti apa pun keadaannya."
Gollum kembali dengan diam-diam, dan mengintip dari atas bahu Sam. Setelah memandang Frodo, ia memejamkan mata dan merangkak pergi tanpa suara. Sam mendatanginya beberapa waktu kemudian, dan menemukan Gollum sedang mengunyah dan menggerutu sendiri. Di sebelahnya ada dua ekor kelinci kecil yang ia tatap dengan rakus.
"Smeagol selalu membantu," katanya. "Dia sudah membawa kelinci, kelinci

enak. Tapi Master sudah tidur, dan mungkin Sam juga mau tidur. Tidak mau kelinci sekarang? Smeagol ingin membantu, tapi tak bisa menangkap semuanya dengan cepat."
Tapi ternyata Sam tidak keberatan sama sekali dengan kelinci. Setidaknya pada kelinci yang dimasak. Semua hobbit tentu saja bisa masak, karena mereka lebih dulu mempelajari seni memasak sebelum belajar pengetahuan (yang tidak tercapai oleh kebanyakan hobbit); dan Sam juru masak yang hebat, bahkan menurut ukuran kaum hobbit. la sudah sering masak selama perjalanan mereka, bila ada kesempatan. la masih membawa peralatan memasak di ranselnya: kotak korek api kecil, dua panci dangkal, yang kecil masuk ke yang lebih besar; di dalamnya ada sendok kayu, garpu pendek bergigi dua, dan beberapa tusuk daging; dan tersembunyi di dasar ranselnya adalah sebuah kotak kayu datar berisi harta yang sudah sangat berkurang sedikit garam. Tapi ia butuh api, dan beberapa hal lainnya. la berpikir sebentar, lalu mengeluarkan pisaunya, membersihkan dan mengasahnya, dan mulai membumbui kelinci-kelinci itu. la tidak akan meninggalkan Frodo sendirian dalam keadaan tidur, meski hanya beberapa menit.
"Nah, Gollum," katanya, "aku punya tugas lain untukmu. Pergi dan isi panci-panci ini dengan air, dan bawa kembali!"
"Smeagol akan ambil air, ya," kata Gollum. "Tapi hobbit mau pakai air itu untuk apa? Dia sudah minum, dia sudah mandi."
"Jangan pikirkan," kata Sam. "Kalau kau tidak bisa menebak, kau akan segera tahu. Dan semakin cepat kau mengambil air, semakin cepat kau akan tahu. Jangan merusak salah satu panciku, atau kau kuiris-iris menjadi daging cincang." Sementara Gollum pergi, Sam memandang Frodo lagi. la masih tidur tenang, tapi kini Sam terkesan oleh kekurusan wajah dan tangannya. "Dia terlalu kurus dan letih," gerutu Sam. "Tidak baik untuk seorang hobbit. Kalau kelinci ini sudah matang, aku akan membangunkannya."
Sam mengumpulkan setumpuk pakis paling kering, lalu merangkak mendaki tebing untuk mengumpulkan seikat ranting dan kayu patah; dahan pohon cedar yang jatuh di puncak tebing memberinya persediaan bahan bakar cukup. la

memotong beberapa rumput kering di kaki tebing, persis di luar tanah yang ditumbuhi pakis, lalu membuat sebuah lubang kecil dan meletakkan bahan bakarnya di dalamnya. Dengan cekatan ia membuat api kecil dengan korek api dan bahan bakar tersebut. Api itu hampir tidak berasap, tapi mengeluarkan bau harum. Ia baru saja membungkuk di atas apinya, melindunginya dan membesarkannya dengan kayu yang lebih berat, ketika Gollum kembali, membawa kedua panci dengan hati-hati dan menggerutu sendirian.
la meletakkan panci-panci, kemudian tiba-tiba melihat apa yang sedang dilakukan Sam. ia mengeluarkan jeritan tajam mendesis, dan tampak ketakutan serta marah. "Aah! Sss jangan!" teriaknya. "Tidak! Hobbit bodoh, tolol, ya tolol! Jangan lakukan itu!"
"Jangan lakukan apa?" tanya Sam kaget.

"Jangan bikin lidah merah jahat," desis Gollum. "Api, api! Itu berbahaya, ya berbahaya. Membakar, membunuh. Dan akan mengundang musuh, ya benar." "Kukira tidak," kata Sam. "Menurutku tidak berbahaya, asal api ini tidak dibasahi dan ditutupi. Tapi kalau mati, ya keluar asap. Pokoknya aku akan mengambil risiko. Aku akan merebus kelinci ini."
"Merebus kelinci!" jerit Gollum dengan kaget. "Merusak daging bagus yang. Smeagol simpan untukmu, Smeagol malang yang lapar! Untuk apa? Untuk apa, hobbit bodoh? Kelinci itu muda, empuk; enak. Makan, makan!" ia mencakar kelinci yang paling dekat, sudah dikuliti dan menggeletak dekat api.
"Nah, nah!" kata Sam. "Masing-masing orang punya selera sendiri. Roti kami membuatmu tercekik, dan aku tidak doyan kelinci mentah. Kalau kauberikan aku kelinci, kelinci itu milikku, boleh kumasak semauku. Dan aku mau begitu. Kau tidak perlu memperhatikan aku. Pergi dan tangkap yang lain, makanlah dengan cara yang kausukaidi tempat tersendiri dan di luar pandanganku. Jadi, kau tidak akan melihat api, dan aku tidak melihatmu, dan kita berdua akan lebih gembira. Aku akan mengawasi api ini agar tidak berasap, kalau itu membuatmu terhibur." Gollum pergi sambil menggerutu, dan merangkak masuk ke gerombolan pakis. Sam sibuk dengan panci-pancinya. "Yang dibutuhkan hobbit dengan kelinci," katanya pada dirinya sendiri, "adalah beberapa bumbu dan akar-akar, terutama

kentang-apalagi roti. Bumbu bukan masalah, tampaknya."

"Gollum!" ia memanggil pelan. "Tiga kali membantu, utangmu lunas. Aku perlu sedikit bumbu." Gollum mengintip keluar dari antara tanaman pakis, tapi tatapannya tidak kelihatan ingin membantu ataupun ramah. "Beberapa daun bay, sedikit thyme dan sage, itu cukup sebelum airnya mendidih," kata Sam.
"Tidak!" kata Gollum. "Smeagol tidak senang. Dan Smeagol tidak suka daun- daun berbau. Dia tidak makan rumput atau akar-akar, tidak, sayangku, kecuali dia hampir mati atau sakit parah, Smeagol malang."
"Smeagol akan benar-benar mendapat kesulitan, kalau air ini sudah mendidih, kalau dia tidak melakukan apa yang diminta," geram Sam. "Sam akan memasukkan kepalanya ke dalam air, ya sayangku. Dan aku akan menyuruhnya mencari lobak cina dan wortel, juga tater, kalau sedang musimnya. Aku yakin berbagai tanaman bagus tumbuh liar di daratan ini. Aku rela memberi banyak demi setengah lusin tater."
"Smeagol tidak mau pergi, Oh tidak, sayangku, kali ini tidak," desis Gollum. "Dia takut dan sangat letih, dan hobbit ini tidak manis, sama sekali tidak manis. Smeagol tidak mau mencongkel akar-akar dan wortel dan tater. Apa itu tater, sayangku, apa itu tater?"
"Kentang," kata Sam. "Kesukaan Gaffer, dan pemberat bagus yang langka untuk perut kosong. Tapi kau tidak akan menemukan kentang, jadi kau tidak perlu mencarinya. Tapi berbaik hatilah, Smeagol, ambilkan bumbu-bumbu itu, dan pandanganku tentangmu akan lebih baik. Apalagi kalau kau membuka lembaran baru; dan menjaga lembaranmu tetap bersih, aku akan memasakkanmu kentang suatu saat nanti. Ya, akan kulakukan: ikan goreng dan keripik, dihidangkan oleh S. Gamgee. Kau tak bisa menolak itu."
"Ya, ya, kita bisa menolaknya. Merusak ikan enak, membuatnya gosong. Beri aku ikan sekarang, dan simpan keripik busukmu!"
"Ah, kau benar-benar payah," kata Sam. "Tidur saja sana!"



Akhirnya Sam terpaksa mencari sendiri apa yang diinginkannya; tapi ia tak perlu pergi jauh, tidak sampai keluar dari lingkup pandang tempat majikannya masih

berbaring tidur. Untuk beberapa saat Sam duduk melamun, menjaga api sampai airnya mendidih. Cahaya pagi semakin terang dan hawa semakin panas; embun lenyap dari tanah berumput dan dedaunan. Tak lama kemudian, kelinci-kelinci yang sudah dipotong-potong, mendidih perlahan-lahan di dalam panci, bersama bumbu yang diikat. Sam hampir tertidur ketika waktu berlalu. la membiarkan kelinci masak selama hampir satu jam, sesekah menusuknya dengan garpu, dan mencicipi kaldunya.
Ketika menganggap semua sudah matang, ia mengangkat panci dari atas api, dan merangkak menghampiri Frodo. Frodo setengah membuka mata ketika Sam berdiri di sampingnya, kemudian ia terbangun dari mimpi: satu lagi mimpi lembut yang damai, yang tak mungkin diingat kembali.
"Halo, Sam!" katanya. "Tidak istirahat? Apakah ada masalah? Jam berapa sekarang?"
"Sekitar beberapa jam setelah fajar," kata Sam, "dan hampir jam setengah sembilan menurut jam di Shire, mungkin. Tapi tidak ada masalah. Meski bukan keadaan yang bisa kusebut benar: tidak ada persediaan, tidak ada bawang, tidak ada kentang. Aku punya sedikit rebusan untukmu, dan sedikit kaldu, Mr. Frodo. baik untukmu. Kau harus memakannya dalam cangkirmu; atau langsung dari panci, kalau sudah agak dingin. Aku tidak bawa mangkuk, atau yang lain yang pantas."
Frodo menguap dan meregangkan badannya. "Seharusnya kau istirahat, Sam," katanya. "Lagi pula, berbahaya menyalakan api di wilayah ini. Tapi aku memang lapar. Hmmm! Apakah aku bisa menciumnya dari sini? Apa yang kaurebus?" "Pemberian Smeagol," kata Sam, "sepasang kelinci muda; kurasa sekarang Gollum menyesal. Tapi tak ada yang bisa disantap dengan kelinci ini, kecuali beberapa bumbu."


Sam dan majikannya duduk dalam kerumunan pakis dan makan rebusan dari panci, berbagi garpu dan sendok tua. Mereka menjatahkan diri masing-masing setengah potong roti pemberian kaum Peri. Rasanya seperti pesta.
"Hull! Gollum!" Sam memanggil dan bersiul pelan. "Ayo! Masih ada waktu untuk

berubah pikiran. Masih ada sisa, kalau kau mau mencoba kelinci rebus." Tak ada jawaban.
"Oh, ya sudah, kurasa dia pergi mencari makanan untuk dirinya sendiri. Kita habiskan ini," kata Sam.
"Setelah itu, kau harus tidur dulu," kata Frodo.

"Jangan tidur sementara aku mengantuk, Mr. Frodo. Aku tidak terlalu mempercayainya. Masih banyak bagian Stinker Gollum yang jahat, maksudku dalam dirinya, dan sudah mulai menguat lagi. Meski kupikir dia akan mencoba mencekikku lebih dulu. Kami tidak bersahabat, dan dia tidak suka pada Sam, oh tidak, sayangku, sama sekali tak suka."


Mereka selesai makan, dan Sam pergi ke sungai untuk mencuci peralatannya. Ketika bangkit berdiri untuk kembali, ia menoleh ke atas lereng. la melihat matahari muncul ke atas bau busuk, atau kabut, atau bayangan gelap, atau apa pun itu, yang selalu menggantung di sebelah timur, dan mengirimkan berkas sinarnya yang keemasan ke atas pepohonan dan lapangan sekitarnya. Lalu ia memperhatikan sebuah spiral tipis asap kelabu-biru, jelas terlihat ketika menangkap cahaya matahari, naik dari semak di atasnya. Dengan kaget ia menyadari itu asap dari api masaknya yang kecil, yang lupa dipadamkannya.
"Itu tidak baik! Aku tak mengira akan kelihatan seperti itu!" ia menggerutu, dan mulai berlari kembali. Mendadak ia berhenti dan mendengarkan. Bunyi siulankah itu? Atau bukan? Atau panggilan seekor burung asing? Kalau itu siulan, datangnya bukan dari arah Frodo. Nah, itu siulan lagi dari tempat lain! Sam mulai berlari sebisa mungkin, mendaki bukit.
la menemukan sebuah kayu kecil menyala, yang terbakar sampai ke ujungnya, dan telah menyulutkan api ke beberapa pakis. Pakis yang berkobar membuat tanah berumput berasap. Lekas-lekas ia menginjak-injak api yang tersisa, menyebarkan abunya, dan menempatkan tanah berumput di atas lubangnya. Lalu ia merangkak kembali ke Frodo.
"Kau mendengar siulan, dan balasannya?" tanyanya. "Beberapa menit yang lalu. Kuharap hanya burung, tapi bunyinya tidak seperti itu: lebih seperti orang meniru

siulan burung, kukira. Dan aku khawatir apiku berasap. Bisa timbul kesulitan, dan aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Dan mungkin juga tidak akan punya kesempatan untuk itu!"
"Hus!" bisik Frodo. "Rasanya aku mendengar suara-suara."



Kedua hobbit mengikat ransel mereka yang kecil, memasangnya agar siap lari, kemudian merangkak lebih jauh ke dalam gerombolan pakis. Di sana mereka berjongkok mendengarkan.
Kini suara-suara itu sudah jelas. Mereka berbicara dengan nada rendah.dan sembunyi-sembunyi, tapi mereka dekat, dan semakin mendekat. Kemudian mendadak satu suara berbicara sangat dekat.
"Di sini! Dari sini asap datang!" katanya. "Pasti dekat sini. Di dalam pakis, pasti. Kita tangkap seperti kelinci dalam jebakan. Lalu kita akan tahu makhluk macam apa itu."
"Ya, dan apa yang diketahuinya!" kata suara kedua.

Segera empat orang datang memasuki pakis dari arah berbedabeda. Karena melarikan diri dan bersembunyi sudah tak mungkin lagi, Frodo dan Sam melompat berdiri, saling memunggungi dan mengeluarkan pedang kecil mereka. Kalau mereka kaget dengan apa yang mereka lihat, penangkap mereka bahkan lebih kaget lagi. Empat Manusia jangkung berdiri di sana. Dua memegang tombak berujung lebar dan tajam. Dua membawa busur besar, hampir sama tinggi dengan tubuh mereka, dan tempat panah besar penuh panah panjang berbulu hijau. Semua membawa pedang, dan berpakaian hijau dan cokelat dalam berbagai nada warna, seolah hendak menyembunyikan kehadiran mereka di padang-padang Ithilien. Sarung tangan hijau menutupi tangan mereka, wajah mereka berkerudung dan bertopeng hijau, kecuali mata mereka yang tajam cerah. Frodo langsung teringat Boromir, karena Manusia-Manusia ini mirip dia dalam sosok dan sikap, dan gaya bicara mereka.
"Kami tidak menemukan apa yang kami cari," kata salah satu. "Tapi apa yang kami temukan?"
"Bukan Orc," kata yang lain, melepas pangkal pedangnya, yang sudah

dipegangnya ketika ia melihat kilauan Sting di tangan Frodo. "Peri?" kata yang ketiga, ragu.
"Bukan! Bukan Peri," kata yang keempat, yang paling jangkung, dan rupanya pemimpin mereka. "Peri tidak mengembara di Ithilien pada zaman ini. Dan Peri sangat elok dipandang, kabarnya begitu."
"Maksudnya kami tidak elok, aku paham," kata Sam. "Terima kasih banyak. Dan kalau kalian sudah selesai memperbincangkan kami, mungkin kalian akan memberitahu kami, siapa kalian, dan mengapa kalian tak bisa membiarkan dua pengembara beristirahat."
Orang yang jangkung hijau tertawa. "Aku Faramir, Kapten dari Gondor," katanya. "Tapi di daratan ini tidak ada pengembara: yang ada hanya para pelayan Menara Kegelapan, atau pelayan sang Putih."
"Tapi kami bukan dua-duanya," kata Frodo. "Dan kami memang pelancong, apa pun yang dikatakan Kapten Faramir."
"Kalau begitu, cepatlah ungkapkan siapa dirimu dan apa tugasmu," kata Faramir.

"Kami punya pekerjaan, dan ini bukan tempat maupun waktu untuk tebak- tebakan atau berembuk. Ayo! Di mana anggota ketiga rombongan kalian?"
"Yang ketiga?"

"Ya, makhluk yang mengendap-endap, yang kami lihat dengan hidungnya di dalam kolam di bawah sana. Dia kelihatan jahat. Semacam mata-mata keturunan Orc, kuduga, atau pengikut mereka. Tapi dia mengecoh kami dengan tipu muslihat."
"Aku tidak tahu di mana dia," kata Frodo. "Dia hanya kebetulan kami jumpai dalam perjalanan kami, dan aku tidak bertanggung jawab atasnya. Kalau kau menemukannya, amankan dia. Bawalah atau kirim dia pada kami. Dia hanya makhluk malang, tapi untuk sementara aku melindunginya. Kami sendiri adalah Hobbit dari Shire, jauh di Utara dan Barat, di seberang banyak sungai. Frodo putra Drogo namaku, dan bersamaku adalah Samwise putra Hamfast, seorang hobbit mulia yang melayaniku. Kami sudah melakukan perjalanan jauh sekali berangkat dari Rivendell, atau beberapa orang menyebutnya Imladris." Mendengar itu Faramir kaget, dan mulai penuh perhatian. "Kami punya tujuh

pendamping: Satu hilang di Mona, yang lain kami tinggalkan di Parth Galen di atas Rauros: dua dari keluargaku; satu Kurcaci juga ada, dan seorang Peri, dan dua Manusia. Mereka adalah Aragorn; dan Boromir, yang mengatakan bahwa dia datang dari Minas Tinith, kota di Selatan."
"Boromir!" keempat orang itu berseru.

"Boromir putra Lord Denethor?" kata Faramir, pandangan aneh dan keras tampak di wajahnya. "Kau berjalan bersamanya? Ini betul-betul berita, kalau benar. Ketahuilah, orang asing kecil, bahwa Boromir putra Denethor adalah Pengawal Tinggi di Menara Putih, dan Kapten Jenderal kami: kami sangat kehilangan dia. Kalau begitu, siapa kau, dan apa urusanmu dengannya? Cepatlah, karena matahari semakin tinggi!"
"Apa kau tahu kata-kata teka-teki yang dibawa Boromir ke Rivendell?" jawab

Frodo.



Carilah Pedang yang sudah Patah. Di Imladris dia berada.


"Aku kenal kata-kata itu," kata Faramir dengan kaget. "Itu salah satu bukti kebenaranmu bahwa kau juga tahu kata-kata itu."
"Aragorn yang tadi kusebut-sebut adalah penyandang Pedang yang sudah

Patah," kata Frodo. "Dan kamilah Halfling yang disebut dalam sajak itu."

"Bisa kulihat itu," kata Faramir sambil merenung. "Atau bahwa kemungkinan itu ada. Apa itu Kutukan Isildur?"
"Itu rahasia," jawab Frodo. "Akan dijelaskan pada saatnya."

"Kami perlu tahu lebih banyak tentang ini," kata Faramir, "dan mencari tahu hal apa yang membawamu begitu jauh ke timur, di bawah bayangan itu" ia menunjuk, namun tidak menyebutkan nama. "Tapi tidak sekarang. Kau dalam bahaya, dan kau tak bisa pergi jauh lewat ladang atau jalan hari ini. Akan ada pertempuran keras dekat sini sebelum siang. Lalu kematian, atau pelarian cepat kembali ke Anduin. Aku akan meninggalkan dua orang untuk menjagamu, demi kebaikanmu dan kebaikanku. Di daratan ini, orang bijak tidak mempercayai

pertemuan kebetulan di jalan. Setelah aku kembali, aku akan bicara lebih banyak denganmu."
"Selamat berpisah" kata Frodo sambil membungkuk rendah. "Apa pun yang kaupikir, aku adalah sahabat semua musuh dan musuh yang satu. Kami akan ikut denganmu, kalau kami bisa berharap melayanimu, manusia-manusia yang tampak begitu gagah berani dan kuat, dan seandainya tugasku menyisakan kesempatan. Semoga cahaya menyinari pedang-pedangmu!"
"Kaum Halfling memang bangsa yang sangat sopan," kata Faramir. "Selamat berpisah!"


Kedua hobbit itu duduk lagi, tapi tidak saling mengungkapkan pikiran dan keraguan mereka. Dekat sekali, tepat di bawah bayangan bebercak pepohonan bay yang gelap, dua orang tetap berjaga. Mereka melepaskan topeng mereka sesekali, untuk mendinginkannya, sementara panas siang semakin terik. Frodo melihat mereka orang-orang yang lumayan, berkulit pucat, berambut gelap, dengan mata kelabu serta wajah sedih dan angkuh. Mereka berbicara berdua dengan suara lembut, mula-mula menggunakan Bahasa Umum, tapi dengan gaya zaman kuno, kemudian beralih ke bahasa mereka sendiri. Dengan heran Frodo menyadari bahwa mereka berbicara bahasa Peri, atau bahasa yang hampir sama; dan ia memandang mereka dengan takjub, karena ia jadi tahu bahwa mereka pasti kaum Dunedain dari Selatan, orang-orang keturunan para Penguasa Westernesse.
Setelah beberapa saat, ia mengajak mereka berbicara; tapi mereka lambat dan berhati-hati dalam menjawab. Mereka menyebut diri mereka Mablung dan Damrod, tentara dan Gondor, dan mereka adalah Penjaga Hutan di Ithilien, karena mereka keturunan bangsa yang dulu tinggal di Ithilien, sebelum dijajah. Dan antara orang-orang seperti itulah Lord Denethor memilih para prajuritnya, yang menyeberangi Anduin dengan sembunyi-sembunyi (bagaimana dan di mana, mereka tidak mall mengatakan) untuk mengganggu para Orc dan musuh- musuh lain yang berkeliaran antara Ephel Duath dan Sungai.
"Sekitar hampir sepuluh league dari sini ke pantai timur Anduin," kata Mablung,

"dan kami jarang pergi sejauh ini. Tapi kami punya tugas baru dalam perjalanan ini: kami datang untuk menyergap Manusia dari Harad. Terkutuklah mereka!"
"Ya, terkutuklah bangsa Southron!" kata Damrod. "Katanya sejak zaman dulu ada hubungan antara Gondor dan kerajaan-kerajaan Harad di Selatan Jauh; meski tak pernah ada persahabatan. Di masa itu, perbatasan kami ada di selatan, di seberang mulut Anduin. Umbar, wilayah terdekat mereka, mengakui kekuasaan kami. Tapi itu sudah lama berlalu. Sudah banyak masa kehidupan Manusia berlalu sejak ada hubungan di antara kami. Belakangan ini kami dengar Musuh datang kepada mereka, dan mereka menyeberang ke pihak Dia, atau kembali pada Dia mereka selalu siap menaatinya seperti banyak yang lain di Timur. Aku tidak ragu bahwa Gondor sudah mendekati akhir kejayaannya, dan tembok-tembok Minas Tirith akan jatuh, begitu besar kekuatan dan kekejian- Nya."
"Meski begitu, kami tidak duduk diam membiarkan Dia berbuat semaunya," kata Mablung. "Bangsa Southron terkutuk ini sekarang datang berbaris melalui jalan kuno, untuk memperbesar pasukan Menara Kegelapan. Yah, melalui jalan yang justru merupakan hasil karya Gondor. Dan mereka semakin seenaknya, mengira kekuatan majikan mereka yang baru cukup hebat, sehingga bayangan bukit- bukit-Nya saja sudah melindungi mereka. Kami datang untuk memberi pelajaran. Kami mendapat laporan bahwa mereka datang dengan kekuatan besar, berbaris ke utara. Menurut perhitungan kami, salah satu resimen mereka akan segera lewat menjelang tengah hari-di jalan di atas, di bagian yang melewati celah yang dipahat. Tapi mereka tidak bakal bisa lewat! Tidak, selama Faramir masih menjadi kapten. Dia sekarang memimpin dalam semua petualangan berbahaya. Tapi dia bernasib baik, atau takdir menyelamatkannya untuk tujuan lain."


Pembicaraan mereka berhenti menjadi kesunyian sambil mendengarkan. Semua tampak diam dan waspada. Sam, yang meringkuk di pinggiran gerombolan pakis, mengintip keluar. Dengan mata hobbit-nya yang tajam, ia bisa melihat banyak Manusia di sekitarnya. la bisa melihat mereka diam-diam mendaki lereng-lereng, satu-satu atau dalam barisan panjang, selalu bernaung di bawah

bayangan semak atau belukar, atau merangkak, hampir tak tampak dalam pakaian hijau-cokelat mereka, melewati rumput dan pakis. Semuanya berkerudung dan bertopeng, memakai sarung tangan, bersenjata seperti Faramir dan pendampingpendampingnya. Tak lama kemudian, mereka semua lewat dan menghilang. Matahari naik sampai mendekati Selatan. Bayangan-bayangan mengerut.
"Aku ingin tahu di mana si Gollum terkutuk itu," pikir Sam ketika merangkak kembali ke dalam bayangan yang lebih gelap. "Bisa-bisa dia dipanggang karena disangka Orc, atau terbakar Wajah Kuning. Tapi mungkin dia bisa menjaga dirinya sendiri." ia berbaring di samping Frodo dan mulai mengantuk.
la bangun, merasa mendengar bunyi terompet ditiup. la bangkit duduk. Sekarang sudah tengah hari. Para penjaga berdiri waspada dan tegang di bawah bayangan pohon. Mendadak terompet-terompet berbunyi lebih keras dan jelas sekali dari atas, di puncak lereng. Sam merasa mendengar pekikan dan teriakan liar juga, tapi bunyinya redup, seolah datang dari gua yang jauh. Kemudian terdengar bunyi pertempuran pecah di dekat mereka, persis di atas tempat persembunyian mereka. la bisa mendengar dengan jelas denting garutan baja pada baja, pedang pada topi besi, pukulan tumpul mata pedang pada perisai; orang-orang berteriak dan menjerit, dan sebuah suara keras yang jelas meneriakkan Gondor! Gondor!
"Kedengarannya seperti, seratus pandai besi bersama-sama menempa besi," kata Sam pada Frodo. "Mereka sudah terlalu dekat sekarang."


Tapi suara berisik itu semakin mendekat. "Mereka datang!" teriak Damrod. "Lihat! Beberapa kaum Southron sudah lolos dari jebakan dan lari dari jalan. Itu mereka! Orang-orang kami mengejar mereka, dipimpin oleh Kapten."
Sam, yang ingin sekali melihat lebih banyak, pergi bergabung dengan para pengawal. la mendaki sedikit ke dalam salah satu kerumunan pohon bay yang lebih besar. Untuk beberapa saat, ia melihat sekilas orang-orang berkulit agak gelap, berpakaian merah, berlarian menuruni lereng agak jauh dari sana, dikejar oleh pejuang-pejuang berpakaian hijau yang menumbangkan mereka sementara

mereka berlari. Panah-panah memenuhi udara. Tiba-tiba seseorang jatuh langsung dari pinggir tebing tempat mereka berlindung, menerobos pepohonan yang ramping, hampir menimpa mereka. Ia terhenti di gerombolan pakis beberapa meter dari sana, wajah terngkurap, bulu panah hijau mencuat dari lehernya, di bawah kerahnya yang keemasan. Pakaiannya yang merah robek- robek, rompinya yang terbuat dari keping-keping kuningan koyakkoyak tergores, sedangkan rambut hitamnya yang dikepang dengan emas basah oleh darah. Tangannya yang cokelat masih memegang pangkal pedang yang patah.
Baru pertama kali itu Sam menyaksikan pertempuran Manusia lawan Manusia, dan ia tidak begitu menyukainya. la senang tak bisa melihat wajah orang mati itu. la bertanya-tanya, siapa nama orang itu, dari mana asalnya, apakah ia benar- benar jahat, atau kebohongan dan ancaman apa yang membawanya menempuh perjalanan panjang dari kampung halamannya; dan apakah ia tidak lebih suka tetap tinggal di rumah dengan damai semua pikiran itu muncul sekilas, namun segera terusir dari benaknya. Sebab, tepat ketika Mablung berjalan maju ke arah tubuh yang jatuh itu, ada bunyi berisik yang sangat hebat. Teriakan dan jeritan keras. Di tengahnya Sam mendengar embusan atau tiupan terompet melengking nyaning. Kemudian bunyi gedebukan dan tabrakan, seperti pelantak-pelantak besar menghantam lantai.
"Awasi Hati-hati!" teriak Damrod pada kawannya. "Mudah-mudahan Valar bisa membelokkannya! Mumak! Mumak!"
Dengan kaget dan ketakutan, tapi juga dengan sukacita, Sam melihat sebuah sosok besar menerobos keluar dari pepohonan, dan datang berlari dengan liar menuruni lereng. Sebesar rumah, jauh lebih besar daripada rumah, di mata Sam, seperti bukit kelabu yang bergerak. Ketakutan dan kekaguman, mungkin, membuat sosok itu kelihatan lebih besar di mata sang hobbit, tapi Mumak dari Harad memang hewan yang sangat besar, dan binatang sejenisnya sekarang tak ada lagi di Dunia Tengah; saudara-saudaranya yang masih hidup di masa kemudian tak bisa menandingi ukuran dan kebesarannya. la melaju terus, langsung menuju para penonton, kemudian membelok tepat pada waktunya, melewati mereka pada jarak hanya beberapa meter, menggetarkan tanah di

bawah kakinya: kakinya sebesar pohon, telinganya besar seperti layar mengembang, moncongnya panjang seperti ular besar yang siap mematuk, matanya yang kecil merah mengamuk. Taringnya yang mencuat ke atas seperti tanduk, diikat pita-pita emas dan bercucuran darah. Pakaiannya yang berwarna merah dan emas sudah sobek-sobek dan berkibaran liar. Di punggung mereka ada reruntuhan seperti menara perang, terbanting ketika ia melaju garang melalui hutan; dan tinggi di atas lehernya ada sebuah sosok kecil berpegangan erat tubuh seorang pejuang besar, raksasa di antara kaum Swerting.
Hewan besar itu melaju terus, menabrak kolam dan semak belukar dalam kemarahannya yang membabi-buta. Panah-panah melompat berdesing tanpa melukainya di sekitar kulit panggulnya yang berlapis tiga. Orang-orang dari kedua belah pihak melarikan diri dari depannya, tapi banyak yang terkejar dan terinjak. Tak lama kemudian, ia sudah menghilang dari pandangan, masih meraung-raung dan berlari mengentakkan kaki. Apa yang terjadi dengannya Sam tak pernah tahu: entah ia lolos dan mengembara di belantara untuk sementara, sampai tewas jauh dari rumahnya, atau terjebak dalam lubang dalam; ataukah ia mengamuk terus sampai terjun masuk ke Sungai Besar dan tenggelam.


Sam menarik napas panjang. "Itu Oliphaunt!" katanya. "Jadi, memang ada Oliphaunt dan aku sudah melihatnya. Pengalaman hebat! Tapi di rumah takkan ada yang percaya padaku. Well, kalau semua sudah selesai, aku ingin tidur dulu."
"Tidurlah selagi masih sempat," kata Mablung. "Tapi Kapten akan kembali, kalau dia tidak terluka; dan kalau dia sudah datang, kami akan segera berangkat. Kami akan dikejar begitu berita tentang perbuatan kami sampai ke telinga Musuh, dan itu tidak akan lama lagi."
"Pergilah diam-diam kalau perlu!" kata Sam. "Tak usah mengganggu tidurku. Aku sudah berjalan terus sepanjang malam."
Mablung tertawa. "Kurasa Kapten tidak akan meninggalkanmu di sini, Master

Samwise," katanya. "Tapi kaulihat sajalah nanti."

BAB 5

JENDELA YANG MENGHADAP KE BARAT



Sam merasa baru tidur beberapa menit ketika ia bangun dan menyadari hari sudah siang, dan Faramir sudah kembali. la membawa banyak sekali orang; memang semua yang selamat dalam penggerebekan itu berkumpul di lereng dekat situ, sekitar dua atau tiga ratus orang. Mereka duduk dalam setengah lingkaran besar; Faramir duduk di tanah, di tengah lengan-lengan lingkaran, sementara Frodo berdiri di depannya. Tampaknya seperti pemeriksaan sidang pengadilan terhadap seorang tawanan.
Sam merangkak keluar dari pakis, tapi tak ada yang memperhatikan. la menempatkan dirinya di ujung barisan orang-orang, agar bisa melihat dan mendengar apa yang sedang berlangsung. la memperhatikan dan mendengarkan dengan saksama, siap lari membantu majikannya bila diperlukan. la bisa meiihat wajah Faramir yang sekarang tak bertopeng: keras dan otoriter, ada kecerdasan tajam di balik sorot matanya yang menyelidik. Keraguan terpancar dari mata kelabunya yang terus memandang Frodo.
Sam segera menyadari bahwa sang kapten tidak puas dengan cerita Frodo tentang dirinya sendiri pada beberapa titik: apa perannya dalam Rombongan yang berangkat dari Rivendell; mengapa ia meninggalkan Boromir, dan ke mana ia hendak pergi. la terutama sering kembali ke masalah Kutukan Isildur. ia melihat jelas bahwa Frodo menyembunyikan sesuatu yang sangat penting.
"Tapi dengan kedatangan seorang Halfling, Kutukan Isildur akan bangkit, atau begitulah kata-kata itu harus ditafsirkan," ia bersikeras. "Kalau kau adalah Halfling yang disebut-sebut itu, tentu kau membawa benda itu ke Rapat Akbar yang kauceritakan, dan di sana Boromir melihatnya. Apakah kau menyangkal itu?"
Frodo tidak menjawab. "Nah!" kata Faramir. "Kalau begitu, aku ingin tahu lebih banyak darimu tentang benda itu; apa yang menyangkut Boromir adalah urusanku. Menurut dongeng-dongeng lama, sebatang panah Orc menewaskan Isildur. Tapi panah Orc banyak sekali, dan melihat salah satu panah itu tidak

akan dianggap pertanda Maut oleh Boromir dari Gondor. Apakah kau menyimpan benda itu? Kaubilang benda itu tersembunyi; tapi bukankah itu karena kau memilih menyembunyikannya?"
"Bukan, bukan karena aku yang memilih," jawab Frodo. "Benda ini bukan milikku. Dia bukan milik makhluk fana, besar maupun kecil; kalau ada yang bisa mengakuinya sebagai miliknya, dialah Aragorn putra Arathorn, pemimpin Rombongan dari Moria ke Rauros."
"Mengapa dia, dan bukan Boromir, pangeran dari Kota yang dibangun putra- putra Elendil?"
"Sebab Aragorn adalah keturunan langsung Isildur, putra Elendil sendiri, ayah ke ayah. Dan pedang yang disandangnya adalah pedang Elendil."
Suara menggumam kaget menyebar di antara orang-orang yang duduk di dalam lingkaran itu. Beberapa berseru keras-keras, "Pedang Elendil! Pedang Elendil datang ke Minas Tirith! Kabar besar!" Tapi wajah Faramir tidak berubah. "Mungkin," katanya. "Tapi pengakuan yang begitu besar perlu dipastikan, dan bukti-bukti jelas diperlukan, kalau Aragorn ini akan datang ke Minas Tirith. Dia belum datang, atau siapa pun dari Rombongan-mu, ketika aku berangkat enam hari yang lalu."
"Boromir puas dengan pengakuan itu," kata Frodo. "Bahkan kalau Boromir ada di sini, dia akan menjawab semua pertanyaanmu. Dia sudah berada di Rauros beberapa hari yang lalu, dan berniat langsung kembali ke kotamu. Kalau kau kembali, kau akan segera menemukan jawabannya di sana. Peranku dalam Rombongan itu diketahui olehnya, juga oleh yang lain, karena ditugaskan padaku oleh Elrond dari Imladris di depan Rapat Akbar. Dengan tugas itulah aku masuk ke negeri ini, tapi bukan hakku untuk mengungkapkannya pada siapa pun di luar Rombongan. Tapi mereka yang mengaku melawan Musuh sebaiknya jangan merintangi."
Nada suara Frodo angkuh, apa pun yang dirasakannya, dan Sam setuju dengannya, tapi itu tidak menenteramkan Faramir.
"Jadi!" katanya, "kau minta aku menangani urusanku sendiri, pulang kembali dan membiarkanmu. Boromir akan menceritakan semuanya kalau dia datang. Kalau

dia datang, katamu! Apa kau sahabat Boromir?"

Frodo ingat jelas serangan Boromir kepadanya, dan sejenak ia ragu. Mata Faramir yang memperhatikannya memancarkan sinar keras. "Boromir anggota Rombongan kami yang gagah berani," kata Frodo akhirnya. "Ya, aku sahabatnya."
Faramir tersenyum muram. "Kalau begitu, kau akan sedih mendengar bahwa

Boromir sudah tewas?"

"Aku akan sedih," kata Frodo. Melihat sorot mata Faramir, ia menjadi bimbang. "Tewas?" katanya. "Maksudmu dia sudah tewas, dan kau tahu itu? Kau berusaha menjebakku dalam kata-kata, mempermainkan aku? Atau sekarang kau mencoba menjeratku dengan tipuan?”
“Aku tidak akan menjerat Orc sekalipun dengan tipuan,” kata Faramir.

"Kalau begitu bagaimana dia tewas, dan bagaimana kau tahu tentang itu? Katamu tak ada anggota Rombongan yang sampai ke kota ketika kau berangkat."
"Bagaimana caranya dia tewas, justru aku berharap sahabat dan

pendampingnya akan menceritakan padaku."

"Tapi dia masih hidup dan kuat ketika kami berpisah. Dan dia masih hidup, sejauh kuketahui. Meski memang banyak bahaya di dunia."
"Memang banyak," kata Faramir, "dan pengkhianatan salah satunya yang tidak kurang berbahaya."


Sam sudah semakin tak sabar dan marah mendengar percakapan itu. Kata-kata terakhir itu sudah keterlaluan. Ia berlari ke tengah lingkaran, menghampiri majikannya.
"Maaf, Mr. Frodo," katanya, "tapi ini sudah keterlaluan. Dia tidak berhak berbicara seperti itu padamu. Kau sudah banyak berkorban demi dia dan semua Manusia hebat ini, juga untuk yang lain.”
"Begini, Kapten!" ia berdiri persis di depan Faramir, berkacak pinggang, ekspresi wajahnya seolah ia sedang berbicara dengan seorang hobbit muda yang lancang ketika ditanyai tentang kunjungannya ke kebun. Terdengar suara

bergumam, tapi juga terlihat wajah-wajah nyengir orang-orang yang menyaksikannya: melihat Kapten mereka duduk di tanah, berhadapan mata dengan seorang hobbit muda yang berdiri dengan kaki terentang lebar, mendengus marah. Ini pemandangan yang luar biasa bagi mereka. "Lihat!" kata Sam. "Apa maksudmu? Langsung saja, sebelum semua Orc dari Mordor menyerbu kita! Kau sinting kalau mengira majikanku membunuh Boromir, lalu lari. Tapi katakan saja, dan selesaikan! Lalu kami ingin tahu, apa yang akan kaulakukan berkaitan dengan itu. Sayang sekali kalian tak bisa membiarkan orang lain mengurus urusan mereka sendiri. Musuh akan sangat senang kalau bisa melihatmu sekarang. Pasti dia mengira sudah dapat teman baru."
"Sabar!" kata Faramir, tidak marah. "Jangan bicara mendahului majikanmu yang lebih cerdas. Dan aku tidak butuh siapa pun untuk mengajariku tentang bahaya yang mengancam kita. Biarpun begitu, aku masih mau menimbang-nimbang, agar bisa menilai suatu masalah sulit dengan bijak. Kalau aku juga tergesa-gesa sepertimu, sudah kubunuh kau sejak awal. Karena aku diperintahkan membunuh siapa pun yang kujumpai berada di daratan ini tanpa seizin Penguasa Gondor. Tapi aku tidak membunuh manusia atau hewan dengan siasia, dan bukan dengan senang hati meski diperlukan. Aku juga tidak berbicara sia-sia. Jadi, tenanglah. Duduk di samping majikanmu, dan diamlah!"
Sam duduk dengan wajah merah. Faramir berbicara pada Frodo lagi. "Kau bertanya bagaimana aku tahu putra Denethor sudah tewas. Kabar kematian mempunyai banyak sayap. Malam sering membawa kabar pada keluarga dekat. Boromir adalah kakakku."
Bayangan kesedihan terpancar di wajahnya. "Apa kau ingat tanda khas yang dibawa Pangeran Boromir di antara semua perlengkapannya?"
Frodo berpikir sebentar, khawatir ada jebakan baru, dan bertanya-tanya bagaimana debat ini akan berakhir. la sudah susah payah menyelamatkan Cincin dari rengkuhan tangan Boromir yang angkuh dan entah bagaimana ia bisa berhasil di tengah-tengah begitu bahaya pejuang gagah dan kuat ini. Meski begitu, dalam hati ia merasa bahwa Faramir, meski penampilannya mirip sekali dengan saudaranya, bukanlah orang yang sombong, juga lebih keras dan bijak.

"Aku ingat Boromir membawa terompet," kata Frodo akhirnya.

"Ingatanmu benar. Rupanya kau memang pernah melihatnya," kata Faramir. "Kalau begitu, mungkin kau bisa melihat terompet itu dalam ingatanmu: terompet besar dari tanduk lembu jantan dari Timur, diikat perak dan ditulisi huruf-huruf kuno. Terompet itu dibawa putra sulung keluarga kami selama beberapa generasi; konon kalau terompet itu ditiup dalam saat kesulitan, di mana pun dalam perbatasan Gondor, dalam wilayah seperti di masa lalu, bunyinya tidak akan lewat tanpa diperhatikan.”
"Lima hari sebelum menempuh perjalanan ini, sebelas hari yang lalu sekitar jam jam ini, aku mendengar terompet itu ditiup: kedengarannya datang dari utara, tapi redup, seolah hanya gema dalam benakku. Ayahku dan aku merasa itu pertanda berita buruk, karena kami belum mendengar berita sama sekali dari Boromir sejak dia pergi, dan tak ada penjaga di perbatasan yang melihatnya lewat. Dan pada malam ketiga setelahnya, ada kejadian lain yang lebih aneh.” "Malam hari aku duduk dekat Sungai Anduin, dalam keremangan kelabu di bawah bulan muda yang pucat, memperhatikan sungai yang terus mengalir, dan ilalang yang sedih mendesir. Begitulah kami selalu menjaga pantai-pantai dekat Osgiliath, yang sebagian dikuasai musuhmusuh kami, yang keluar dari sana untuk mengganggu negeri kami. Tapi malam itu seluruh dunia tertidur di tengah malam. Kemudian aku melihat, atau serasa melihat, sebuah perahu mengambang di air, mengilap kelabu sebuah perahu kecil berbentuk aneh dan berhaluan tinggi tak ada yang mengayuh atau mengemudikannya.”
"Aku tertegun melihatnya, sebab seberkas sinar pucat mengitarinya. Aku bangkit dan berjalan ke tebing, lalu mulai melangkah ke air, bagai tertarik ke perahu itu. Lalu perahu itu berbelok ke arahku dan mengurangi kecepatannya, mengambang perlahan dalam jangkauan tanganku, namun aku tak berani menyentuhnya. la mengambang cukup dalam, seolah terisi beban berat. Ketika lewat di depanku, perahu itu seolah terisi penuh oleh air jernih, yang dari dalamnya memancarkan sinar. Dan di dalam air itu berbaring seorang pejuang.” "Di lututnya tergeletak sebilah pedang patah. Tubuhnya penuh luka-luka. Dia ternyata Boromir, kakakku, sudah tewas. Aku kenal pakaiannya, pedangnya,

wajahnya yang kusayangi. Hanya satu yang tidak ada: terompetnya. Dan ada satu benda yang tidak kukenal: ikat pinggang indah, seolah terbuat dari rangkaian daun-daun emas di pinggangnya. Boromir! teriakku. Di mana terompetmu? Ke mana kau pergi? Oh Boromir! Tapi dia sudah berlalu. Perahu itu kembali memasuki aliran sungai, hanyut berkilauan ke dalam malam pekat. Seperti mimpi, tapi bukan mimpi, karena aku tidak terbangun sesudahnya. Dan aku tidak ragu dia memang sudah tewas, berlalu ke Samudra, menyusuri Sungai."


"Aduh!" kata Frodo. "Itu memang Boromir yang kukenal. Sebab ikat pinggang emas itu diberikan kepadanya di Lothlorien oleh Lady Galadriel. Dia pula yang memberi kami pakaian seperti yang kaulihat sekarang, kelabu bangsa Peri. Bros ini hasil kriya yang sama." ia menyentuh daun hijau dan perak yang mengikat jubahnya, di bawah tenggorokannya.
Faramir memandangnya dengan cermat. "Indah sekali," katanya. "Ya, ini hasil kriya yang sama. Jadi, kalian lewat Negeri Lorien? Dulu namanya Laurelind Orenan, tapi kini sudah lama berada di luar pengetahuan Manusia," tambahnya lembut, menatap Frodo dengan kekaguman baru di matanya. "Sekarang banyak hal aneh tentang dirimu mulai kupahami. Tidakkah kau mau menceritakan lebih banyak padaku? Karena aku terpukul sekali bahwa Boromir tewas dalam jarak pandang kampung halamannya."
"Aku tak bisa mengatakan lebih dari yang sudah kukatakan," jawab Frodo. "Namun ceritamu menimbulkan firasat di hatiku. Kurasa yang kaulihat itu hanyalah sebuah visi, suatu bayangan peristiwa buruk yang sudah atau akan terjadi. Kecuali itu memang tipuan bohong dari Musuh. Aku sudah melihat wajah- wajah pejuang gagah dari zaman dulu berbaring tidur di dalam kolam Rawa- Rawa Mati, atau begitulah kelihatannya, karena tipuan sihimya."
"Tidak, yang kulihat itu bukan tipuan," kata Faramir. "Hasil karya Musuh memenuhi hati dengan kebencian; padahal hatiku dipenuhi kesedihan dan rasa iba."
"Tapi bagaimana mungkin hal seperti itu bisa benar-benar terjadi?" tanya Frodo.

"Sebab tak ada perahu yang bisa digotong melewati bukit-bukit berbatu Tol Brandir; lagi pula, Boromir berniat pulang melintasi Entwash dan padang-padang Rohan. Bagaimana bisa sebuah perahu melintasi air terjun besar yang menggelegak berbuih, tanpa tersendat di telaga-telaga mendidih, meski diisi penuh dengan air?"
"Aku tidak tahu," kata Faramir. "Tapi dari mana perahu itu berasal?"

"Dan Lorien," kata Frodo. "Dengan tiga perahu semacam itu kami mendayung melintasi Anduin, sampai ke Air Terjun. Perahu itu juga buatan kaum Peri."
"Kau melewati Negeri Tersembunyi," kata Faramir, "tapi kurang memahami daya kekuatannya. Kalau manusia berurusan dengan Wanita Sihir yang tinggal di Hutan Emas, hal-hal aneh akan terjadi. Sangat berbahaya bagi manusia fana untuk pergi dari dunia Matahari ini, dan hanya sedikit yang kembali dari sana tanpa berubah, begitulah kata orang-orang.”
"Boromir, oh Boromir!" serunya. "Apa yang dia katakan padamu, Wanita yang hidup abadi itu? Apa yang dilihatnya? Apa yang bangkit di hatimu ketika itu? Mengapa kau melewati Laurelind Orenan, bukan lewat jalanmu sendiri, naik kuda Rohan dan pulang di pagi hari?"
Lalu ia berbicara lagi pada Frodo dengan suara tenang. "Untuk pertanyaan- pertanyaan itu, kau tentu bisa menjawabnya, Frodo putra Drogo. Mungkin tidak di sini, dan tidak sekarang. Tapi agar kau tidak menganggap ceritaku hanya khayalan, akan kuceritakan ini. Terompet Boromir akhirnya kembali dalam kenyataan, bukan hanya sebagai bayangan. Terompetnya datang, tapi sudah terbelah dua, seperti dipatahkan oleh kapak atau pedang. Beberapa keping pecahannya sampai ke pantai: salah satu ditemukan di antara ilalang, di mana para penjaga Gondor berbaring, sebelah utara di bawah aliran masuk Sungai Entwash; yang lainnya ditemukan berputar-putar di atas aliran sungai oleh penjaga di sana. Kebetulan yang aneh, yang hanya timbul bila terjadi pembunuhan, begitu kata orang-orang.”
"Dan kini dua keping pecahan terompet putra tertua ada di pangkuan Denethor yang duduk di takhtanya yang tinggi, menunggu kabar berita. Dan kau tak bisa menceritakan padaku tentang patahnya terompet itu?"

"Tidak, aku tidak tahu tentang itu," kata Frodo. "Tapi hari ketika kau mendengarnya ditiup, kalau hitunganmu benar, adalah hari ketika kami berpisah, ketika aku dan pelayanku meninggalkan Rombongan. Kini ceritamu membuatku cemas. Kalau Boromir ketika itu berada dalam bahaya dan tewas dibunuh, aku khawatir semua pendampingku juga tewas. Padahal mereka adalah keluargaku dan sahabat-sahabatku.”
"Tidakkah kau mau melupakan sebentar kecurigaanmu padaku dan membiarkan aku pergi? Aku letih, juga sangat sedih dan takut. Tapi ada tugas yang harus kulakukan, atau berusaha kulakukan, sebelum aku pun tewas dibunuh. Dan aku perlu meriyelesaikan tugas ini lebih cepat, kalau hanya kami berdua yang tersisa dari rombongan kami.”
"Pulanglah, Faramir, Kapten Gondor yang gagah, dan pertahankan kotamu selagi masih bisa. Biarkan aku pergi ke mana takdirku membawa."
"Bagiku pembicaraan ini sangat tidak menyenangkan," kata Faramir, "tapi ketakutanmu jelas terlalu berlebihan. Kecuali orang-orang Lbrien sendiri datang kepadanya, siapa yang mendandani Boromir seperti untuk pemakaman? Bukan Orc ataupun pelayan Dia yang Tak Bernama. Beberapa dan Rombonganmu masih hidup, kukira.”
"Tapi apa pun yang terjadi dalam Perjalanan ke Utara, kau, Frodo, tak lagi kucurigai. Masa-masa sulit ini membuatku waspada terhadap katakata dan wajah Manusia, tapi mungkin aku boleh menebak tentang kaum Halfling!" Kini ia tersenyum, "Ada yang aneh pada dirimu, Frodo, sifat bangsa Peri, mungkin. Tapi pembicaraan kita ternyata mengandung makna lebih dalam dan yang sebelumnya kuduga. Seharusnya aku membawamu ke Minas Tirith sekarang, untuk menghadap Denethor. Biarlah aku mati kalau keputusanku kini ternyata merugikan kotaku. Aku tidak akan terburu-buru memutuskan apa yang harus dilakukan. Tapi kami harus berangkat dan sini tanpa penundaan lebih lama lagi." la melompat berdiri dan mengeluarkan beberapa perintah. Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya segera memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil, dan pergi ke beberapa arah, menghilang dengan cepat dalam bayangan batu karang dan pepohonan. Hanya Mablung dan Damrod tetap di sana.

"Sekarang kau, Frodo dan Samwise, akan ikut bersamaku dan pengawalku," kata Faramir. "Kau tak bisa terus menyusuri jalan ke selatan, seandainya itu niatmu. Tidak aman untuk beberapa hari, dan selalu diawasi lebih cermat setelah penggerebekan ini. Bagaimanapun, kau tidak bakal bisa pergi jauh hari ini, karena kau lelah. Begitu pula kami. Kami akan pergi ke suatu tempat rahasia, sekitar sepuluh mil dari sini. Para Orc dan mata-mata Musuh belum menemukannya, dan kalaupun mereka menemukannya, kami bisa mempertahankannya untuk waktu lama, meski melawan banyak musuh. Di sana kita bisa berbaring dan beristirahat. Di pagi hari aku akan memutuskan apa yang terbaik dilakukan bagiku, juga bagimu."


Frodo hanya bisa menuruti permintaan atau perintah itu. Saat itu, tampaknya tindakan tersebut cukup bijak, sebab penggerebekan yang dilakukan orang- orang Gondor membuat pengembaraan di Ithilien semakin berbahaya.
Mereka segera berangkat: Mablung dan Damrod agak di depan, Faramir dengan

Frodo dan Sam di belakang. Dengan menyusuri sisi kolam di mana para hobbit sudah mandi, mereka menyeberangi sungai, mendaki tebing panjang, dan masuk ke wilayah hutan kehijauan yang membentang di bawah dan ke arah barat. Sementara berjalan, secepat yang dimungkinkan oleh langkah kaki kedua hobbit, mereka berbicara dengan suara pelan.
"Aku memotong pembicaraan kita," kata Faramir, "bukan hanya karena waktu sudah mendesak, seperti diingatkan oleh Master Samwise, tapi juga karena kita semakin mendekati masalah yang sebaiknya tidak diperbincangkan secara terbuka di depan banyak orang. Karena itulah aku lebih banyak membicarakan masalah kakakku dan membiarkan masalah Kutukan Isildur. Kau tidak sepenuhnya jujur padaku, Frodo.”
"Aku tidak berbohong, dan aku sudah memberitahukan kebenarannya sebisa mungkin," kata Frodo.
"Aku tidak menyalahkanmu," kata Faramir. "Kau berbicara dengan taktis pada saat-saat sulit, dan bijak, menurutku. Tapi aku bisa tahu atau menduga lebih banyak daripada yang kauungkapkan. Kau tak bersahabat dengan Boromir, atau

tidak berpisah dalam suasana bersahabat.; Kau, dan Master Samwise, punya keluhan terhadapnya. Aku sangat menyayangi kakakku, dan dengan senang hati akan membalas kematiannya, tapi aku kenal betul dia. Kutukan Isildur aku menebak bahwa Kutukan Isildur berada di antara kalian, dan merupakan penyebab pertikaian dalam Rombongan-mu. Jelas benda itu adalah pusaka yang sangat hebat, dan benda semacam itu tidak menyebarkan kedamaian di antara para sekutu, begitulah selalu yang terjadi menurut dongeng-dongeng kuno. Bukankah ucapanku mendekati kebenarannya?"
"Dekat sekali," kata Frodo, "tapi tidak tepat. Tak ada pertikaian dalam Rombongan, meski ada keraguan: keraguan tentang jalan yang akan kami ambil dan Emyn Muil. Tapi dongeng-dongeng kuno memang mengajari kita tentang bahayanya mengucapkan kata-kata gegabah mengenai benda-benda pusaka." "Ah, kalau begitu dugaanku benar: masalahmu hanya dengan Boromir. Dia ingin benda itu dibawa ke Minas Tirith. Sayang sekali! Takdir yang berliku-liku telah mengunci bibirmu. Kau yang terakhir melihatnya, dan kau menyembunyikan dariku apa yang sangat ingin kuketahui: apa yang ada dalam hati dan pikirannya pada saat-saat terakhir hidupnya. Entah dia keliru atau tidak, aku yakin satu hal ini: dia mati dengan terhormat. Wajahnya lebih elok daripada ketika dia masih hidup.
"Tapi, Frodo, aku mula-mula mendesakmu dengan keras tentang Kutukan Isildur. Maafkan aku! Itu sangat tidak bijak, di waktu dan tempat seperti itu. Aku belum sempat berpikir panjang. Kami sudah mengalami pertempuran berat, dan aku banyak pikiran. Tapi ketika berbicara denganmu, aku semakin dekat pada sasaran, maka aku sengaja menembak lebih melebar. Karena kau perlu tahu bahwa banyak pengetahuan kuno masih disimpan di antara para Penguasa kota dan tidak disebarkan keluar. Keluargaku bukan keturunan Elendil, meski darah Niunenor mengalir dalam diri kami. Karena garis keturunan kami berasal dari Mardil, kepala rumah tangga istana yang baik, yang menggantikan memerintah ketika Raja pergi berperang. Dialah Raja Earnur, yang terakhir dari garis keturunan Anarion, dan dia tidak mempunyai putra. Dia tak pernah kembali. Sejak itu, kota diperintah para pelayan istana, meski itu sudah beberapa

generasi Manusia yang lalu.

"Dan aku ingat ketika Boromir masih anak-anak, ketika kami bersama-sama belajar riwayat ayah-ayah kami dan sejarah kota kami. Dia selalu tidak puas bahwa ayahnya bukan raja. ‘Berapa ratus tahun diperlukan untuk membuat pelayan menjadi raja, kalau raja tidak kembali?' dia bertanya. 'Di tempat lain, yang keturunan rajanya kurang agung, mungkin hanya beberapa tahun,' ayahku menjawab. 'Di Gondor sepuluh ribu tahun tidak akan cukup.' Sayang sekali! Boromir malang! Cerita ini cukup menunjukkan sifatnya, bukan?"
"Ya," kata Frodo. "Meski begitu, dia selalu memperlakukan Aragorn dengan penuh hormat."
"Aku tidak meragukan itu," kata Faramir. "Kalau dia puas dengan pengakuan Aragorn, seperti katamu, dia pasti sangat menghormatinya. Tapi waktu itu belum ada tekanan. Mereka belum sampai di Minas Tirith atau menjadi saingan dalam peperangan-peperangannya.
"Tapi aku melenceng. Kami di rumah Denethor kenal banyak pengetahuan kuno karena tradisi, dan terlebih lagi dalam harta kami banyak benda-benda disimpan: buku-buku dan catatan-catatan yang ditulis pada perkamen, ya, dan pada batu, pada daun-daun dari emas dan perak, dalam aneka macam huruf. Beberapa tak bisa dibaca oleh seorang pun; dan sisanya hanya sedikit yang pernah membukanya. Aku bisa sedikit-sedikit membacanya, karena aku pernah belajar. Catatan-catatan inilah yang membawa Pengembara Kelabu pada kami. Aku pertama kali melihatnya ketika aku masih kanak-kanak, dan dia sudah dua atau tiga kali datang sejak itu."
"Pengembara Kelabu?" kata Frodo. "Apakah dia punya nama?"

"Kami memanggilnya Mithrandir dalam bahasa Peri," kata Faramir, "dan dia puas. Banyak namaku di banyak negeri, katanya. Mithrandir di antara kaum Peri, Tharkun untuk kaum Kurcaci; Olorin namaku di masa remaja, di Barat yang sudah terlupakan, di Selatan Incanus, di Utara Gandalf; ke Timur aku tidak pergi."
"Gandalfl" kata Frodo. "Sudah kukira. Gandalf si Kelabu, penasihat kami tersayang. Pemimpin Rombongan kami. Dia hilang di Moria."

"Mithrandir hilang!" kata Faramir. "Nasib buruk bagi rombonganmu. Sulit memang untuk mempercayai bahwa orang yang begitu luas pengetahuannya, dan punya daya begitu hebat karena dia melakukan banyak hal mengagumkan di tengah-tengah kami bisa tewas. Sungguh suatu kehilangan besar bagi dunia. Apa kau yakin dia tewas, bukan hanya meninggalkanmu?"
"Sayang sekali! Ya," kata Frodo. "Aku melihatnya jatuh ke dalam jurang." "Rupanya ada kisah yang sangat mengerikan tentang ini," kata Faramir. "Mungkin bisa kauceritakan padaku nanti malam. Kurasa Mithrandir ini bukan sekadar ahli pengetahuan: seorang pelaku tindakan-tindakan besar pada masa kita. Seandainya dia berada di tengahtengah kami, bisa kami tanyakan padanya makna kata-kata keras dalam impian kami, dan dia bisa menjelaskannya pada kami tanpa perlu perantara utusan. Tapi mungkin dia tidak akan melakukan itu, dan Boromir memang ditakdirkan tewas. Mithrandir tak pernah berbicara pada kami tentang masa depan, atau menyingkapkan niatnya. Entah bagaimana caranya, dia memperoleh izin dari Denethor untuk melihat rahasia harta kami. Aku belajar sedikit darinya, kalau dia mau mengajari kami (meski itu jarang terjadi). Dia selalu mencari dan menanyai kami, terutama tentang semua yang berhubungan dengan Pertempuran Besar di Dagorlad, di masa awal Gondor, ketika Dia yang tidak kami sebutkan, ditaklukkan. Dan dia sangat ingin tahu cerita-cerita tentang Isildur, meski kami hanya bisa sedikit bercerita; sebab kami tak pernah tahu pasti tentang kematiannya."
Sekarang suara Faramir merendah menjadi bisikan. "Tapi aku tahu atau menduga, dan selama ini menyimpannya sebagai rahasia: bahwa Isildur mengambil sesuatu dari tangan Dia yang Tak Bernama, sebelum dia pergi dari Gondor, dan tak pernah terlihat lagi di antara makhluk fana. Di sinilah kukira jawaban atas pertanyaan Mithrandir. Tapi waktu itu tampaknya hanya orang- orang yang suka belajar tentang masa lalu yang berkepentingan dengan masalah tersebut. Begitu pula ketika teka-teki mimpi kami diperdebatkan, tak terpikir olehku bahwa Kutukan Isildur adalah benda yang sama. Karena Isildur disergap dan dibunuh panahpanah Orc, menurut satu-satunya legenda yang kami kenal, dan Mithrartdir tak pernah menceritakan lebih dari itu.

"Apa sebenamya Benda ini, tak bisa aku duga; tapi pasti suatu pusaka dahsyat dan berbahaya. Senjata jahat, mungkin, yang diciptakan sang Penguasa Kegelapan. Kalau benda itu memberi keuntungan dalam pertempuran, aku bisa percaya bahwa Boromir yang angkuh dan berani, sering gegabah, dan selalu mengharapkan kemenangan Minas Tirith (dengan demikian kemuliaan dirinya sendiri), mungkin menginginkan benda semacam itu dan terpikat olehnya. Sayang sekali dia pergi untuk tugas itu! Seharusnya aku yang dipilih oleh ayahku dan para tetua, tapi dia mengajukan dirinya sendiri, karena dia lebih tua dan lebih tabah (keduanya memang benar), dan dia tak mail dihalangi.
"Tapi jangan takut! Aku tidak akan mengambil benda itu, meski tergeletak di dekat jalan raya. Juga tidak seandainya Minas Tirith jatuh dalam kehancuran dan hanya aku yang bisa menyelamatkannya dengan menggunakan senjata sang Penguasa Kegelapan demi kebaikan negeriku dan kemuliaanku. Tidak, aku tak ingin mengharapkan kemenangan macam itu, Frodo putra Drogo."
"Begitu juga Dewan Penasihat," kata Frodo. "Begitu juga aku. Aku tak ingin melakukan hal semacam itu."
"Aku sendiri," kata Faramir, "ingin melihat Pohon Putih berkembang lagi di halaman istana raja-raja, Mahkota Perak kembali, dan Minas Tirith penuh kedamaian: Minas Anor kembali seperti semula, penuh cahaya, tinggi dan indah, seperti ratu di antara ratu-ratu lain: bukan majikan dari banyak budak, tidak, bahkan bukan majikan yang baik hati di antara budak-budak yang taat. Perang memang terpaksa dilakukan, untuk membela diri terhadap perusak yang akan melahap semuanya; tapi bukan pedang yang tajam berkilau yang kucintai, bukan juga panah yang mendesing cepat, atau pejuang yang hebat. Aku hanya mencintai apa yang kubela: kota Orang-Orang Numenor; aku ingin dia dicintai karena kenangan-kenangannya, kekunoannya, keindahannya, dan kebijakannya yang sekarang. Bukan ditakuti, kecuali seperti orang yang disegani karena martabatnya, usianya, dan kebijaksanaannya.”
"Jadi, jangan takut padaku! Aku tidak minta kau menceritakan lebih dan itu. Aku bahkan tidak memintamu mengatakan apakah pembicaraanku sekarang sudah lebih mendekati kebenaran. Tapi kalau kau mempercayaiku, mungkin aku bisa

memberimu nasihat dalam pencarianmu yang sekarang, apa pun itu ya, dan bahkan membantumu."
Frodo tidak menjawab. Hampir saja ia menyerah pada keinginan untuk memperoleh bantuan dan nasihat, untuk menceritakan pada laki-laki muda yang serius ini, yang kata-katanya tampak bijak dan indah, semua yang ada dalam pikirannya. Tapi sesuatu menahannya. Hatinya berat dengan kekhawatiran dan kesedihan: kalau dia dan Sam memang sisa terakhir dari Sembilan Pengembara, maka kini dialah yang memegang pimpinan tunggal atas rahasia tugas mereka. Lebih baik tidak mempercayai daripada mengeluarkan kata-kata gegabah. Dan ingatan akan Boromir, serta perubahan mengerikan akibat godaan Cincin pada dirinya, terbayang jelas dalam ingatannya ketika ia memandang Faramir dan mendengarkan suaranya: mereka tidak mirip, namun juga banyak kesamaannya.


Untuk beberapa saat, mereka berjalan terus dalam diam, bergerak bagai bayang-bayang kelabu dan hijau di bawah pepohonan tua, menapak tanpa bersuara; di atas mereka banyak burung bernyanyi, dan matahari berkilauan di atas atap dedaunan gelap di hutan-hutan yang hijau abadi di Ithilien.
Sam tidak ikut ambil bagian dalam percakapan tadi, meski ia mendengarkan sekaligus memperhatikan dengan telinga hobbit-nya yang taiam semua bunyi lembut negeri hutan di sekitarnya. Satu hal yang diperhatikannya, dalam seluruh pembicaraan itu tidak satu kali pun nama Gollum disebut. la gembira, meski merasa tak ada gunanya berharap tidak pernah mendengar nama itu lagi. la juga segera menyadari bahwa meski mereka berjalan sendirian, banyak orang di dekat mereka: bukan hanya Damrod dan Mablung yang keluar-masuk dari bayang-bayang di depan, tapi ada yang lain di kedua sisi, semua berjalan dengan cepat dan sembunyi-sembunyi ke suatu tempat tertentu.
Satu kali ia menoleh mendadak ke belakang, seolah merasa ada yang memperhatikan. la merasa menangkap kilasan sebuah bayangan gelap menyelinap ke belakang batang pohon. la membuka mulutnya untuk berbicara, tapi menutupnya lagi. "Aku tidak yakin," ia berkata pada dirinya sendiri, "dan mengapa aku harus mengingatkan mereka pada bajingan tua itu, kalau mereka

memilih melupakannya! Kuharap aku bisa!"



Begitulah mereka berjalan, sampai hutan semakin menipis dan daratan mulai turun lebih curam. Lalu mereka menyimpang lagi ke kanan, dan dengan cepat sampai ke sebuah sungai kecil dalam ngarai sempit: sungai yang sama, yang jauh di atas mengucur dari kolam bundar, sekarang sudah menjelma menjadi aliran deras, melompat menuruni bebatuan di palung yang dalam, di atasnya menggantung ilex dan box-wood yang gelap. Ke arah barat mereka bisa melihat di bawah, dalam kabut cahaya, dataran rendah dan padang-padang luas, berkilauan di bawah sinar matahari yang menjelang terbenam, jauh di barat, air Sungai Anduin yang lebar."
"Sayang sekali! Di sini aku terpaksa bersikap kurang sopan," kata Faramir. "Kuharap kalian mau memaafkan aku yang sejauh ini sudah mengesampingkan tugasnya, hingga tidak membunuh atau mengikat kalian. Tapi ada perintah bahwa tak satu pun orang asing meski orang dan Rohan yang berjuang di pihak kami boleh melihat jalan yang sekarang kita tapaki dengan mata terbuka. Aku terpaksa menutup mata kalian."
"Terserah," kata Frodo. "Bahkan kaum Peri juga melakukan itu bila perlu, dan dengan mata tertutup kami menyeberangi perbatasan Lothlorien yang indah. Gimli si Kurcaci agak m.arah, tapi para hobbit menaatinya."
"Bukan ke tempat indah aku membawa kalian," kata Faramir.

"Tapi aku gembira kau mail menaatinya, hingga aku tak perlu memaksa dengan kekerasan."
la memanggil dengan pelan. Mablung dan Damrod keluar dari balik pepohonan dan kembali kepadanya. "Tutup mata tamu-tamu ini," kata Faramir. "Erat, tapi jangan sampai membuat mereka merasa tidak nyaman. Jangan ikat tangan mereka. Mereka bersumpah tidak akan berusaha melihat. Aku percaya mereka bisa memejamkan mata sendiri, tapi mata bisa berkedip kalau kaki tersandung. Tuntun mereka agar tidak terhuyung-huyung."
Dengan selendang hijau, kedua pengawal mengikat mata kedua hobbit, dan menarik kerudung mereka sampai hampir ke mulut; kemudian dengan cepat

mereka masing-masing memegang satu hobbit dan terus berjalan. Frodo dan Sam hanya bisa menduga-duga dalam gelap tentang akhir perjalanan mereka. Setelah beberapa saat, mereka menyadari berada di sebuah jalan yang menurun terjal; dengan segera jalan itu semakin sempit, hingga mereka hanya bisa berjalan satu-satu, menyentuh dinding di kedua sisi; kedua pengawal mengemudikan mereka dari belakang, memegangi pundak mereka. Sekali-sekali mereka sampai di tempat-tempat yang tidak rata, dan untuk beberapa saat mereka diangkat, kemudian ditempatkan di tanah lagi. Bunyi air mengalir ada di sebelah kanan mereka terus, semakin dekat dan keras. Akhirnya mereka dihentikan. Dengan cepat Mablung dan Damrod memutar-mutar badan mereka, dan mereka kehilangan seluruh perasaan tentang arah. Mereka mendaki sedikit: rasanya dingin, dan bunyi aliran air menjadi lemah. Kemudian mereka diangkat dan digotong menuruni banyak tangga, lalu membelok di suatu tikungan. Mendadak mereka mendengar air lagi, kini keras, mengalir deras dan mendebur. Bunyi itu serasa mengepung mereka, dan terasa hujan gerimis halus pada tangan dan pipi mereka. Akhirnya mereka diletakkan lagi di tanah. Untuk beberapa saat mereka berdiri seperti itu, setengah takut, mata tertutup, tidak tahu di mana mereka berada; dan tidak ada yang berbicara.
Kemudian suara Faramir terdengar dari belakang. "Biarkan mereka melihat!" katanya. Selendang-selendang dilepaskan, dan kerudung disingkap ke belakang. Mereka mengedipkan mata, lalu menarik napas kaget.
Mereka berdiri di lantai basah berlapis ubin yang dipoles, yang merupakan ambang sebuah gerbang batu karang yang dipahat kasar ke gua gelap di belakang. Tapi di depan mereka menggantung tirai air tipis, begitu dekat, hingga Frodo bisa mengulurkan tangan ke dalamnya. Tempat itu menghadap ke barat. Berkas-berkas mendatar sinar matahari yang sedang terbenam di baliknya menerpa tirai, dan cahaya merah terpecah menjadi sinar berkelip dengan aneka warna yang berubahubah. Mereka seolah berdiri di jendela sebuah menara Peri, bertirai untaian permata, perak, dan emas, batu merah delima, nilam, dan kecubung, semua menyala dengan api yang tidak membakar.

"Setidaknya kita sampai di saat yang tepat untuk memberi imbalan atas kesabaran kalian," kata Faramir. "Ini adalah Jendela Matahari Terbenam, Henneth Annun, jeram paling indah di Ithilien, negeri penuh air mancur. Hanya sedikit orang asing yang pernah melihatnya. Tapi di belakangnya tak ada balairung kerajaan untuk mendampingi! Masuklah sekarang dan lihatlah!"
Tepat ketika ia berbicara, matahari terbenam dan nyala api meredup di dalam air yang mengalir. Mereka membalik dan lewat ke bawah lengkungan rendah yang mengancam. Segera mereka berada di dalam ruangan batu karang, lebar dan kasar, dengan atap lengkung yang tidak rata. Beberapa obor dinyalakan, menjatuhkan cahaya redup pada dinding-dinding yang berkilauan. Sudah banyak orang di sana. Yang lain masih berdatangan, berdua atau bertiga, melalui pintu gelap sempit di satu sisi. Ketika mata mereka sudah menyesuaikan diri dengan keremangan, kedua hobbit itu melihat bahwa gua tersebut lebih luas daripada dugaan mereka, dan berisi sejumlah besar persediaan senjata dan makanan. "Nah, di sinilah tempat perlindungan kami," kata Faramir. "Bukan tempat yang nyaman, tapi di sini kalian bisa melewatkan malam penuh kedamaian. Setidaknya di sini kering, dan ada makanan, meski tak ada api. Dahulu kala air mengalir melalui gua ini dan keluar dari lengkungan, tapi alirannya diubah di sebelah sana, dekat mulutnya, oleh pekerja-pekerja zaman dulu, dan sungai mengalir terjun dari ketinggian ganda melalui batu karang jauh di atas. Semua jalan masuk ke gua ini lalu ditutup terhadap aliran air atau yang lainnya, kecuali satu. Sekarang hanya ada dua jalan keluar: jalan tempat kalian masuk dengan mata tertutup, dan melalui Tirai jendela masuk ke cekungan dalam yang berisi pisau-pisau batu. Sekarang istirahatlah sebentar, sampai makan malam dihidangkan."


Kedua hobbit dibawa ke pojok dan diberikan sebuah tempat tidur rendah untuk berbaring, kalau mereka mau. Sementara itu, orang-orang sibuk di dalam gua, cekatan dan tanpa suara. Meja-meja ringan diambil dari dekat dinding dan diletakkan di atas kuda-kuda, dipenuhi perlengkapan makan. Semuanya polos dan sebagian besar tidak berhias, tapi buatannya bagus dan indah: piring-piring

bundar, mangkuk dan piring dari tanah liat cokelat yang diglasir atau dari kayu peti yang dibubut, mulus dan bersih. Di sana-sini ada cangkir atau baskom dari perunggu yang dipoles; gelas minum berbentuk piala dan perak diletakkan di depan tempat duduk Kapten, di tengah meja yang terletak di pusat.
Faramir berkeliling di antara orang-orang, dengan lembut menanyai masing- masing ketika ia masuk. Beberapa datang dari pengejaran kaum Southron; yang lain, yang ditinggal sebagai pengintai dekat jalan, masuk paling akhir. Semua orang Southron sudah ketahuan nasibnya, kecuali mumak yang besar itu: apa yang terjadi padanya, tidak ada yang tahu. Dan pihak musuh tidak terlihat gerakan apa pun; bahkan mata-mata Orc tidak ada di luar.
"Kau tidak melihat dan mendengar apa pun, Anborn?" tanya Faramir pada pendatang terakhir.
"Well, tidak, Pangeran," kata orang itu. "Setidaknya bukan Orc. Tapi aku melihat, atau merasa melihat, sesuatu yang agak aneh. Waktu itu senja sudah larut, dan segala sesuatu, jadi terlihat lebih besar daripada sebenarnya. Jadi, mungkin juga yang kulihat itu hanya tupai." Sam memasang telinga ketika mendengar itu. "Kalau memang tupai, warnanya pasti hitam, dan aku tidak melihat ekornya. Sosoknya seperti sebuah bayangan di tanah, dan dia meluncur cepat ke belakang batang pohon ketika aku mendekat, memanjat ke atas secepat tupai. Kau tak ingin kami membunuh hewan-hewan liar dengan sia-sia, dan tampaknya dia cuma hewan liar, maka aku tidak mencoba memanahnya. Bagaimanapun, sudah terlalu gelap untuk menembak, dan makhluk itu sudah menghilang ke dalam kegelapan dedaunan, dalam sekejap. Tapi aku tetap di sana untuk beberapa saat, karena tampaknya aneh, kemudian aku buru-buru kembali. Rasanya aku mendengar makhluk itu mendesis padaku dari atas ketika aku pergi. Mungkin seekor tupai besar. Barangkali di bawah bayangan Dia yang Tak Bernama, beberapa hewan liar dari Mirkwood berkeliaran ke hutan-hutan kami. Kata orang-orang, di sana ada tupai hitam."
"Barangkali," kata Faramir. "Tapi itu berarti pertanda buruk. Kita tidak menginginkan pelarian dan Mirkwood di Ithilien." Sam merasa Faramir melirik cepat ke arab para hobbit ketika berbicara; tapi Sam tidak mengatakan apa-apa.

Untuk beberapa saat, ia dan Frodo berbaring memperhatikan cahaya obor, dan orang-orang yang bergerak kian kemari sambil berbicara dengan suara teredam. Kemudian tiba-tiba Frodo tertidur.
Sam berdebat dengan dirinya sendiri. "Mungkin dia benar," pikirnya, "dan mungkin juga tidak. Omongan manis bisa menyembunyikan hati yang busuk." ia menguap. "Aku bisa tidur selama seminggu, untuk memulihkan diri. Lagi pula, apa yang bisa kulakukan, kalaupun aku tetap terjaga? Aku sendirian, dengan Manusia-Manusia besar di sekitarku. Tidak ada, Sam Gamgee; tapi kau harus tetap bangun." Dan entah bagaimana ia berhasil. Cahaya meredup dari pintu gua, dan selubung kelabu air terjun semakin pudar, lalu hilang dalam kegelapan yang semakin pekat. Bunyi air selalu terdengar, nadanya tak pernah berubah, pagi atau sore atau malam. Air itu bergumam dan berbisik tentang tidur. Sam mengganjal matanya dengan buku jari.


Kini lebih banyak obor dinyalakan. Sebuah tong anggur dibuka. Tong-tong Beberapa tong dari gudang dibuka. Orang-orang mengambil air dan berapa mencuci tangan dalam baskom. Sebuah mangkuk tembaga besar dan secarik kain putih dibawa kepada Faramir, dan ia membasuh dirinya.
"Bangunkan tamu-tamu kita," katanya, "dan bawakan air untuk mereka. Sudah saatnya makan."
Frodo duduk dan menguap, lalu meregangkan badan. Sam, yang tidak biasa dilayani, memandang heran kepada pria jangkung yang membungkuk sambil memegang baskom penuh air di depannya.
"Taruh saja di tanah, Bung," katanya. "Begitu lebih nyaman buatku dan buatmu."

Lalu ia memasukkan kepalanya ke dalam air dingin itu, membasahi leher dan kedua telinganya. Orang-orang yang melihatnya merasa kaget sekaligus geli. "Apakah di negerimu ada kebiasaan membasuh kepala sebelum makan malam?" kata orang yang melayani kedua hobbit.
"Tidak, biasanya justru sebelum sarapan," kata Sam. "Tapi kalau kurang tidur, air dingin di leher rasanya seperti hujan di daun selada layu. Nah! Sekarang aku bisa melek cukup lama untuk makan sedikit."

Mereka dibawa ke tempat duduk di samping Faramir: tong-tong berlapis kulit bulu yang lebih tinggi daripada bangku-bangku Manusia, sehingga mereka bisa duduk nyaman. Sebelum makan, Faramir dan semua anak buahnya menoleh ke arah barat untuk beberapa saat, dalam diam. Faramir memberi tanda kepada Frodo dan Sam agar melakukan hal yang sama.
"Begitulah kebiasaan kami," katanya ketika mereka duduk. "Kami memandang ke Numenor yang pernah ada, ke rumah kaum Peri di baliknya, dan ke wilayah di luar negeri kaum Peri, yang akan selalu ada. Apakah kau tidak mempunyai kebiasaan semacam itu saat makan?"
"Tidak," kata Frodo, yang merasa sangat kasar dan tidak terpelajar. "Tapi, sebagai tamu, kami membungkuk kepada tuan rumah kami, dan setelah makan kami bangkit dan mengucapkan terima kasih kepadanya."
"Itu juga kami lakukan," kata Faramir.



Setelah mengembara dan berkemah untuk waktu begitu lama, dan berhari-hari dilewatkan di belantara sepi, makan malam itu seperti pesta bagi kedua hobbit: minum anggur kuning pucat, sejuk dan wangi, makan roti dan mentega, daging asin, buah-buahan kering, dan keju merah yang bagus, dengan tangan bersih dan memakai pisau dan piring bersih. Frodo dan Sam tidak menolak apa pun yang ditawarkan, juga tidak porsi kedua, bahkan ketiga. Anggur mengalir dalam urat darah dan anggota tubuh mereka yang letih. Mereka merasa gembira dan ringan hati hal yang belum pernah mereka rasakan sejak meninggalkan negeri Lorien.
Selesai makan, Faramir membawa mereka ke suatu relung di bagian belakang gua, sebagian tertutup tirai-tirai; sebuah kursi dan dua bangku dibawa ke sana. Sebuah lampu kecil dari tanah hat menyala dalam relung.
"Mungkin kalian ingin segera tidur," katanya, "terutama Samwise yang budiman, yang tidak mau memejamkan matanya sebelum makan entah karena takut rasa laparnya hilang, atau takut padaku, aku tidak tahu. Tapi tidak baik tidur terlalu cepat setelah makan, apalagi menyusul puasa yang lama. Mari kita bercakap- cakap dulu. Tentang perjalanan kalian dari Rivendell pasti banyak yang bisa

diceritakan. Kalian juga mungkin ingin tahu sesuatu dari kami dan negeri tempat kalian sekarang berada. Ceritakan tentang Boromir kakakku, tentang Mithrandir tua, dan tentang penduduk Lorien yang elok."
Frodo sudah tidak mengantuk, dan ia mau berbicara. Tapi, meski makanan dan anggur sudah membuatnya nyaman, ia belum kehilangan seluruh kewaspadaannya. Sam berseri-seri dan bersenandung, tapi ia puas hanya mendengarkan Frodo berbicara, dan kadang-kadang saja berani berseru menyatakan persetujuan.
Frodo menceritakan banyak kisah, tapi selalu membelokkan masalah dari kisah pencarian Rombongan dan Cincin, lebih banyak membesarkan bagian gagah berani yang diperankan Boromir dalam semua petualangan mereka, dengan serigala-serigala dari belantara, salju di bawah Caradhras, dan di pertambangan Moria di mana Gandalf tewas. Faramir terutama sangat terharu dengan cerita pertempuran di atas jembatan.
"Pasti Boromir jengkel harus lari dari para Orc," katanya, "atau bahkan dari makhluk busuk yang kausebut Balrog meski dia yang terakhir pergi."
"Dia yang terakhir," kata Frodo, "tapi Aragorn terpaksa memimpin kami. Hanya dia yang tahu jalan setelah kejatuhan Gandalf. Seandainya tidak harus menjaga kami, orang-orang yang lebih lemah ini, dia maupun Boromir pasti tidak akan lari ketika itu."
"Mungkin, lebih baik bila Boromir tewas di sana bersama Mithrandir," kata Faramir, "dan tidak berjalan terus menyongsong takdir yang menunggunya di atas air terjun Rauros."
"Mungkin. Tapi sekarang ceritakan kisahmu sendiri," kata Frodo, mengalihkan

pembicaraan lagi. "Karena aku ingin belajar lebih banyak tentang Minas Ithil dan Osgiliath, dan Minas Tirith yang bertahan lama. Harapan apa yang kaupunyai untuk kota itu dalam peperanganmu yang berlangsung lama?"
"Harapan apa yang kami punyai?" kata Faramir. "Sudah lama kami tidak mempunyai harapan. Pedang Elendil, kalau dia kembali, mungkin bisa mengobarkannya lagi, tapi kurasa pedang itu pun hanya sanggup menunda hari buruk, kecuali kalau datang bantuan lain yang tidak terduga, dari kaum Peri atau

Manusia. Karena Musuh semakin banyak, sedangkan kami semakin menyusut. Kami bangsa yang sudah gagal, kami adalah musim gugur yang takkan pernah melihat musim semi.”
"Manusia Numenor dulu tinggal di seantero pantai dan wilayah sekitar laut di Daratan Besar, tapi sebagian besar dari mereka jatuh ke dalam kejahatan dan kebodohan. Banyak yang terpikat oleh Kegelapan dan sihir hitamnya; beberapa jatuh ke dalam kemalasan dan pengangguran, dan beberapa bertikai antara mereka sendiri, sampai mereka dikalahkan dalam kelemahan mereka oleh orang-orang liar.”
"Sihir jahat tak pernah dipraktekkan di Gondor, dan Dia Yang Tak Bemama tidak disanjung di sana; kebijakan serta keindahan lama yang dibawa dari Barat masih lama dipertahankan di masa putraputra Elendil Yang Elok, dan masih tetap berada di sana. Meski begitu, Gondor telah menyebabkan pembusukannya sendiri, dan mengalami penurunan secara bertahap, mengira Musuh tertidur, padahal Musuh hanya terusir, tapi belum hancur.”
"Kematian selalu hadir, karena bangsa Numenor masih berhasrat akan kehidupan abadi yang tidak berubah, seperti selama masa kerajaan lama yang sudah hilang dari tangan mereka. Raja-raja mendirikan kuburan yang lebih hebat daripada rumah-rumah untuk orang hidup, dan menganggap nama-nama lama dalam garis keturunan mereka lebih penting daripada nama-nama putra-putra mereka. Para penguasa yang tidak mempunyai putra duduk di balairung kuno sambil melamun tentang lambang-lambang; di ruang-ruang rahasia, orang-orang tua yang sudah layu membuat obat-obat mujarab, atau di menara-menara tinggi mengajukan pertanyaan tentang bintang-bintang. Dan raja terakhir dari garis keturunan Anarion tidak mempunyai putra mahkota.”
"Tapi para pelayan lebih bijak dan lebih beruntung. Lebih bijak, karena mereka merekrut kekuatan bangsa kekar dari pantai, dan penduduk pegunungan yang tabah dan Ered Nimrais. Mereka melakukan gencatan senjata dengan bangsa- bangsa angkuh dari Utara, yang dulu sering menyerang kami, orang-orang gagah berani, tapi masih bertalian keluarga jauh dengan kami, tidak seperti kaum Easterling yang liar atau Haradrim yang kejam.”

"Demikianlah maka di masa Cirion, Steward Kedua Belas (ayahku adalah yang kedua puluh enam), mereka datang membantu kami. Di Padang Celebrant yang luas mereka menghancurkan musuh-musuh yang sudah merebut provinsi- provinsi kami di utara. Itulah kaum Rohirrim, penguasa kuda, begitu kami menyebut mereka. Kami serahkan pada mereka padang-padang Calenardhon yang sejak itu disebut Rohan; karena provinsi itu sudah lama sekali jarang penduduknya. Mereka menjadi sekutu kami, dan terbukti selalu setia pada kami, membantu dalam kesulitan, dan menjaga jalan-jalan kami di utara dan Celah Rohan.”
"Mereka mempelajari pengetahuan dan adat-istiadat kami sebanyak yang mereka anggap perlu, dan para penguasa mereka berbicara dalam bahasa kami bila dibutuhkan; tapi sebagian besar dari mereka masih memegang adat-istiadat nenek moyang mereka, dan di antara mereka sendiri mereka berbicara dalam bahasa Utara. Kami menyayangi mereka: laki-laki jangkung dan wanita-wanita cantik, sama-sama gagah berani, berambut emas, bermata cerah, dan kuat; mereka mengingatkan kami pada Manusia dahulu kala, di Zaman Peri. Menurut ahli-ahli pengetahuan kami, mereka sejak dulu mempunyai pertalian keturunan dengan kami, karena mereka berasal dan Tiga Istana Manusia, seperti halnya bangsa Numenor pada masa awalnya; mungkin bukan dari Hador Rambut Emas, sahabat kaum Peri, tapi dari keturunan dan rakyatnya yang menolak panggilan dan tidak pergi menyeberangi Samudra, masuk ke Barat.”
"Beginilah pembagian Manusia dalam adat-istiadat kami: Bangsa Agung, atau Manusia dari Barat, yaitu kaum Numenor; Bangsa Menengah, Manusia Senja, seperti kaum Rohirrim dan keluarga mereka yang masih tinggal jauh di Utara; dan Bangsa Liar, Manusia Kegelapan.”
"Tapi sekarang, sementara kaum Rohirrim tumbuh semakin mirip dengan kami, berkembang dalam seni dan peradaban, kami pun jadi semakin mirip dengan mereka, dan hampir-hampir tak layak lagi menyandang gelar Bangsa Agung. Kami sudah menjelma menjadi Bangsa Menengah, Manusia Senja, namun menyimpan kenangan akan hal-hal lain. Sama seperti kaum Rohirrim, kami kini menyukai peperangan dan keberanian, baik sebagai olahraga maupun tujuan;

dan meski menurut kami seorang pejuang harus punya keterampilan dan pengetahuan, bukan sekadar menguasai senjata dan membunuh, kami toh lebih menghargai seorang pejuang daripada orang-orang dengan keahlian lain. Begitulah kebutuhan masa kini. Begitu pula kakakku, Boromir: dia pemberani, dan dia dianggap orang terbaik di Gondor. Dia memang sangat gagah berani: tak ada putra mahkota dari Minas Tirith yang bekerja begitu keras selama bertahun- tahun, begitu tak kenal takut dalam pertempuran, dan begitu nyaring meniup Terompet Besar itu." Faramir mengeluh dan diam sejenak.


"Kau tidak bicara banyak tentang kaum Peri dalam kisah-kisahmu, Sir," kata Sam, yang tiba-tiba bangkit keberaniannya. la memperhatikan Faramir menyebut kaum Peri dengan penuh penghormatan, dan sikapnya itulah yang membuat Sam menaruh respek padanya dan menghilangkan kecurigaannya, melebihi kesopanan yang ditunjukkan Faramir, serta makanan dan anggur yang dihidangkannya.
"Memang tidak, Master Samwise," kata Faramir, "karena aku tidak ahli dalam pengetahuan tentang kaum Peri. Tapi di sini kau menyentuh satu hal lain lagi, di mana kami mengalami perubahan, merosot dari Numenor ke Dunia-Tengah. Kalau Mithrandir adalah pendamping kalian, dan kalau kau sudah berbicara dengan Elrond, tentunya kau tahu bahwa kaum Edain, Nenek Moyang kaum Numenor, bertempur bersama kaum Peri dalam peperangan-peperangan pertama, dan diberi imbalan kerajaan di tengah Samudra, dalam jarak pandang kampung halaman kaum Peri. Tapi di Dunia-Tengah, Manusia dan Peri jadi saling terasing di masa kegelapan, karena pengaruh sihir Musuh, dan karena perjalanan waktu. Masing-masing bangsa terpisah semakin jauh. Kini Manusia takut dan mencurigai kaum Peri, namun hanya tahu sedikit tentang mereka. Dan kami dari Gondor tumbuh seperti Manusia lain, seperti Orang-Orang Rohan; karena mereka pun, yang menjadi musuh Penguasa Kegelapan, menghindari kaum Peri dan berbicara tentang Hutan Emas dengan penuh ketakutan.
"Tapi di antara kami masih ada yang berurusan dengan kaum Peri bila perlu. Sesekali masih ada yang diam-diam pergi ke Lorien, dan jarang kembali. Aku

tidak. Karena menurutku sangat berbahaya sekarang bagi manusia fana untuk sengaja mencari Kaum Peri. Meski begitu, aku ini bahwa kau sudah berbicara dengan Wanita Peri itu."
"Lady dan Lorien! Galadriel!" seru Sam. "Kau harus melihatnya, Sir, harus. Aku hanya seorang hobbit, dan pekerjaanku di rumah cuma berkebun, Sir. Aku tidak pintar bersajak tidak mahir mengarang sajak: paling-paling sedikit sajak jenaka, kadang-kadang, tapi bukan puisi sejati maka aku tak bisa menggambarkan yang kumaksud. Seharusnya ini dinyanyikan. Kau perlu Strider, alias Aragorn, atau Mr. Bilbo tua, untuk itu. Tapi aku berharap bisa membuat nyanyian tentang dia. Dia cantik sekali, Sir! Memikat! Kadang-kadang seperti pohon besar yang sedang berbunga, kadang-kadang seperti daffadowndilly putih, mungil dan ramping. Keras bagai berlian, lembut bagai sinar bulan. Hangat seperti cahaya matahari, dingin seperti es di dalam bintang-bintang. Angkuh dan jauh seperti gunung salju, dan ceria seperti gadis remaja dengan bunga daisy di rambutnya di musim semi. Tapi itu omong kosong semua, jauh sekali dari sasaranku."
"Kalau begitu, dia memang sangat cantik," kata Faramir. "Cantik yang berbahaya."
"Aku tidak tahu tentang berbahaya," kata Sam. "Tampaknya orang-orang membawa bahaya mereka sendiri masuk ke Lorien, dan menemukannya di sana karena mereka sendiri membawanya. Tapi barangkali bisa kausebut dia berbahaya, karena dia sendiri punya daya kekuatan. Kau, kau bisa hancur berkeping-keping menabrakkan dirimu padanya, seperti kapal menabrak batu karang, atau membenamkan dirimu sendiri, seperti hobbit di sungai. Tapi batu karang maupun sungai tak bisa disalahkan. Nah, Boro …” ia berhenti dan wajahnya memerah.
"Ya? Nah, Boromir … itu yang hendak kaukatakan?" kata Faramir. "Kau akan

bilang apa? Dia membawa bahayanya sendiri?"

"Ya, Sir, maaf, padahal kakakmu itu orang hebat, kalau boleh kukatakan begitu. Tapi kau memang sudah mencium kebenaran sejak tadi. Nah, aku memperhatikan Boromir dan mendengarkannya, sejak Rivendell sampai dalam perjalanan aku hanya menjaga majikanku, bukan bermaksud jahat pada Boromir

dan menurutku di Lorien-lah dia pertama kali melihat jelas apa yang sudah lebih dulu kuduga: apa yang diinginkannya. Sejak pertama kali melihatnya, dia menginginkan Cincin Musuh!"
"Sam!" seru Frodo kaget. la sedang melamun, dan mendadak tersentak. tapi sudah terlambat.
"Aduh duh!" kata Sam, wajahnya jadi pucat, kemudian merah padam. "Telanjur lagi aku! Setiap kali kau membuka mulut besarmu itu, kedokmu pasti langsung terbuka, begitu kata Gaffer selalu, dan itu memang benar. Ya ampun, ya ampun!" "Nah begini, Sir!" katanya pada Faramir dengan segenap keberanian yang bisa dikerahkannya. "Jangan mengambil kesempatan terhadap majikanku hanya karena pelayannya yang bodoh ini. Kau sudah berbicara bagus sekali selama ini, hingga aku jadi tidak waspada, membahas Peri dan sebagainya. Tapi penampilan elok dibarengi perbuatan elok, begitu kata orang. Sekarang kesempatan untuk menunjukkan kualitasmu."
"Begitu rupanya," kata Faramir, pelan dan sangat lambat, dengan senyuman aneh. "Jadi, itulah jawaban terhadap semua teka-teki! Cincin Utama yang disangka sudah hilang dan dunia. Boromir mencoba mengambilnya dengan paksa? Dan kau lolos? lari langsung kepadaku! Dan di sini, di belantara, aku menangkapmu: dua Halfling, sepasukan tentara di bawah perintahku, dan Cincin segala Cincin. Nasib yang sangat bagus! Kesempatan bagi Faramir, kapten dari Gondor, untuk menunjukkan kualitasnya! Ha!" ia bangkit berdiri, sosoknya jangkung dan keras, mata kelabunya bersinar-sinar.
Frodo dan Sam melompat dan kursi mereka dan berdiri berdampingan membelakangi dinding, meraba-raba pangkal pedang mereka. Sepi sekali. Semua orang di gua berhenti berbicara dan memandang heran ke arah mereka. Tapi Faramir duduk kembali di kursinya dan mulai tertawa perlahan-lahan, kemudian mendadak serius lagi.
"Sayang sekali Boromir! Ujian itu terlalu berat baginya!" katanya. "Kalian sudah menambah dukaku, kalian dua pengembara asing dari jauh, membawa bahaya Manusia! Tapi kalian tidak pintar menilai Manusia, seperti aku bisa menilai Halfling. Kami, Orang-Orang Gondor, selalu mengatakan kebenaran. Kami

jarang membual, lalu berbuat, atau mati dalam upaya itu. Meski kutemukan Cincin itu di jalan raya, tidak akan aku mengambilnya, begitu sudah kukatakan. Meski seandainya aku memiliki hasrat besar terhadap benda ini, dan meski seandainya aku tidak tahu pasti tentang benda itu ketika aku berbicara, toh aku akan memegang kata-kataku sebagai sumpah, dan menaatinya.
"Tapi aku bukan orang seperti itu. Atau aku cukup bijak untuk tahu bahwa ada bahaya-bahaya yang iebih baik dihindari manusia. Duduklah dengan damai! Dan tenanglah, Samwise. Anggaplah ketelanjuranmu berbicara memang sudah ditakdirkan. Hatimu pintar dan juga setia, dan bisa melihat lebih jernih daripada matamu. Mungkin kelihatannya aneh, tapi tak usah cemas telah mengungkapkan hal itu padaku. Mungkin keterusteranganmu bisa membantu majikan yang kausayangi. Segalanya akan berjalan baik baginya, sejauh kekuitsaanku memungkinkan. Jadi, tenanglah. Tapi jangan lagi menyebut keraskeras benda ini. Satu kali sudah cukup."


Kedua hobbit kembali ke tempat duduk mereka, dan duduk diam. Orang-orang kembali menghadapi makanan dan minuman mereka, menganggap kapten mereka hanya berkelakar atau semacamnya dengan tamu-tamunya, dan itu sudah lewat.
"Well, Frodo, setidaknya sekarang kita saling memahami," kata Faramir. "Kalau kau menerima beban ini tanpa kehendakmu sendiri melainkan karena permintaan orang lain, maka kau mendapat rasa iba dan hormatku. Dan aku kagum padamu: membiarkannya tersembunyi dan tidak menggunakannya. Kalian merupakan bangsa dan dunia baru bagiku. Apakah semua keluarga kalian seperti ini? Pasti negerimu suatu wilayah penuh kedamaian dan kepuasan dan di sana ada ahliahli kebun yang sangat dihormati."
"Tidak semuanya baik di sana," kata Frodo, "tapi memang ahli-ahli kebun dihormati."
"Tapi pasti penduduk di sana lambat-laun juga letih, bahkan di kebun-kebun mereka, seperti semua makhluk di bawah Matahari. Kalian jauh dari rumah dan letih dari perjalanan. Cukup untuk malam ini.

Tidurlah, kalian berdua dengan damai, kalau bisa. Jangan takut! Aku tak ingin melihat, menyentuh, atau mengetahui lebih banyak daripada yang sudah kuketahui (yang sudah cukup) tentang benda itu, agar jangan sampai bahaya merintangi aku dan aku jatuh lebih rendah dalam ujian ini daripada Frodo putra Drogo. Sekarang istirahatlah tapi sebelumnya ceritakan dulu padaku, kalau mau, ke mana kau ingin pergi, dan apa tujuanmu. Sebab aku harus berjaga, dan menunggu, dan berpikir. Waktu berlalu. Di pagi hari, kita masing-masing harus cepat pergi melalui jalan yang diperuntukkan bagi kita."
Frodo merasa gemetaran ketika rasa takutnya yang mula-mula itu lewat. Sekarang keletihan besar menyelubunginya seperti awan. la tak mampu menyembunyikan dan melawannya lebih lama lagi.
"Aku akan mencari jalan masuk ke Mordor," katanya lemah. "Aku akan pergi ke Gorgoroth. Aku harus menemukan Gunung Api dan melemparkan benda itu ke dalam kobaran Maut. Gandalf bilang begitu. Aku tidak yakin akan sampai ke sana."
Faramir menatapnya sejenak dengan tercengang. Lalu mendadak ia menangkap tubuh Frodo yang bergoyang, dan sambil mengangkatnya dengan lembut, membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana, menyelimutinya dengan hangat. Segera Frodo tertidur lelap.
Satu tempat tidur lain diletakkan di sampingnya, untuk pelayannya. Sam ragu sejenak, kemudian sambil membungkuk rendah ia berkata, "Selamat malam, Kapten, My Lord. Kau telah mempergunakan kesempatan ini, Sir." ‘
"Begitukah?" kata Faramir.

"Ya, Sir, dan kau telah menunjukkan kualitasmu: yang tertinggi."

Faramir tersenyum. "Kau pintar bicara, Master Samwise. Tapi tidak: pujian dari orang terpuji lebih tinggi nilainya daripada semua imbalan. Meski begitu, tak ada yang perlu dipuji dalam hal ini. Aku tidak berhasrat atau terpikat untuk berbuat lain dari yang sudah kulakukan."
"Ah, Sir," kata Sam, "kaubilang majikanku punya sifat-sifat Peri; itu memang benar dan bagus. Tapi menurutku kau juga punya sifat yang mengingatkan aku pada, pada … well, pada Gandalf, pada penyihir-penyihir."

"Mungkin," kata Faramir. "Mungkin samar-samar kau bisa merasakan sifat-sifat bangsa Numenor. Selamat malam!"

BAB 6

KOLAM TERLARANG



Frodo bangun dan menyadari Faramir membungkuk di atasnya. Untuk beberapa saat, rasa takut kembali menyergapnya, membuatnya duduk dan mundur.
"Tak ada yang perlu dicemaskan," kata Faramir.

"Sudah pagikah sekarang?" kata Frodo sambil menguap.

"Belum, tapi malam hampir berakhir, dan bulan purnama sedang terbenam. Maukah kau melihatnya? Selain itu, aku memerlukan nasihatmu. Aku minta maaf sudah membangunkanmu, tapi maukah kau ikut aku?"
"Ya, aku mau," kata Frodo. ia bangkit dan menggigil sedikit ketika meninggalkan selimut dan kulit bulu yang hangat. Rasanya dingin dalam gua tanpa api. Bunyi air terdengar nyaring dalam keheningan. la memakai jubahnya dan mengikuti Faramir.
Sam, yang dibangunkan tiba-tiba oleh naluri kewaspadaannya, mulamula melihat tempat tidur majikannya kosong. la melompat berdiri. Kemudian ia melihat dua sosok gelap, Frodo dan seorang pria, sosoknya membayang di ambang pintu yang kini dipenuhi cahaya putih pucat. la mengejar mereka dengan terburu-buru, melewati barisan orang tidur di atas kasur-kasur sepanjang dinding. Ketika lewat mulut gua, ia melihat bahwa Tirai sekarang sudah menjadi selubung memukau benang sutra dan mutiara serta perak: sinar bulan seperti untaian air beku yang mencair. Tapi ia tidak berhenti untuk mengaguminya, dan sambil membelok ia mengikuti majikannya melewati ambang pintu sempit di dinding gua.
Mereka mula-mula berjalan melewati selasar panjang hitam, kemudian menaiki banyak anak tangga, dan sampai di sebuah dataran kecil yang dipahat di dalam batu dan disinari langit pucat, berkilauan jauh di atas, melalui cerobong panjang yang dalam. Dari sini menjulur dua tangga: satu tampaknya terus ke arah tebing tinggi di tepi sungai; yang lainnya membelok ke kiri. Mereka mengikuti yang ini. Tangga itu membelok naik seperti tangga putar di menara.


Akhirnya mereka keluar dari kegelapan yang pekat, dan melihat sekeliling.

Mereka berada di atas batu lebar datar, tanpa pagar atau tembok. DI sebelah kanan mereka, ke arah timur, air sungai jatuh mendebur melewati banyak tangga, kemudian mengalir menuruni palung curam, mengisi sebuah saluran yang dipahat mulus dengan air gelap berbuih. Air itu berputar-putar dan mengalir kencang dekat kaki mereka, lalu terjun melewati pinggiran terjal yang menganga di sebelah kiri mereka. Seorang pria berdiri di situ, dekat pinggiran, diam, sambil memandang ke bawah.
Frodo menoleh untuk memperhatikan leher-leher air yang jenjang ketika mereka berputar, kemudian terjun. Lalu ia mengangkat matanya dan menerawang jauh. Dunia sepi dan dingin, seolah fajar sudah hampir menjelang. Jauh di Barat, bulan purnama sedang terbenam, bundar dan putih. Kabut pudar berkilauan di lembah luas di bawah: sebuah teluk besar dari asap perak, yang di bawahnya mengalir airmalam yang sejuk dari Anduin. Kegelapan hitam menjulang di seberang, dan di dalamnya berkilauan puncak-puncak Ered Nimrais, Pegunungan Putih dari Negeri Gondor yang berlapis salju abadi, dingin, tajam, dan jauh, putih seperti gigi hantu.
Untuk beberapa saat Frodo berdiri di atas batu tinggi, menggigil, bertanya-tanya apakah di suatu tempat di dalam negeri malam yang luas itu, kawan-kawan serombongannya dulu berjalan atau tidur, atau berbaring mati berselimutkan kabut? Kenapa ia dibawa ke sini, keluar dari tidur yang membuat lupa?
Sam juga sangat ingin tahu jawaban atas pertanyaan yang sama, dan tak bisa menahan diri untuk menggerutu perlahan, hanya kepada majikannya, "Memang ini pemandangan bagus, Mr. Frodo, tapi membekukan hati dan tulang-belulang! Apa yang terjadi?"
Faramir mendengamya dan menjawab, "Bulan terbenam di atas Gondor. Ithil yang indah, saat dia pergi dari Dunia-Tengah, melirik ke rambut putih Mindolluin tua. Pantaslah kalau kita jadi menggigil melihatnya. Tapi bukan ini alasannya aku membawamu kemari meski kau, Samwise, kau tidak diajak, dan kau ada di sini hanya mengikuti naluri waspadamu. Seteguk anggur akan menyenangkanmu. Mari, lihat!"
Faramir mendekati pengawal yang diam di ujung yang gelap, dan Frodo

mengikuti. Sam berdiri agak di belakang. la sudah merasa kurang aman berada di atas dataran tinggi dan basah ini. Faramir dan Frodo melihat ke bawah. Jauh di bawah, mereka melihat air putih mengalir masuk ke mangkuk berbuih, kemudian menggulung di mangkuk lonjong di dalam batu karang, sampai menemukan jalan keluar lagi melalui sebuah gerbang sempit, mengalir menjauh, beruap dan berceloteh, masuk ke sudut-sudut yang lebih tenang dan lebih datar. Sinar bulan masih condong ke kaki air terjun dan menyinari riak-riak air. Frodo menyadari ada suatu benda kecil gelap di tebing terdekat, tapi ketika ia memandangnya, benda itu terjun dan menghilang tepat di balik gelegak dan gelembung air terjun, membelah air yang gelap dengan rapi, seperti panah atau batu tajam.
Faramir berbicara pada pria di sampingnya. "Menurutmu itu apa, Anborn? Seekor tupai, atau burung kingfisher? Apakah ada kingfisher hitam di Mirkwood?"
"Apa pun benda itu, yang jelas bukan burung," jawab Anborn. "Dia punya empat

anggota tubuh dan terjun seperti manusia; dan tampaknya mahir sekali. Apa rencananya? Mencari jalan masuk ke belakang Tirai, ke tempat persembunyian kita? Rupanya kita ketahuan juga. Busurku ada di sini, dan aku sudah menempatkan pemanah-pemanah lain secara tersembunyi di kedua tebing, pemanah-pemanah ulung seperti diriku. Kami hanya menunggu perintahmu untuk menembak, Kapten."
"Apakah kita akan menembak?" kata Faramir, menoleh cepat pada Frodo. Sejenak Frodo tidak menjawab. Kemudian, "Tidak!" katanya. "Tidak! Kumohon jangan." Kalau Sam berani, ia akan mengatakan, "Ya," lebih cepat dan lebih keras. la tak bisa melihat, tapi bisa menduga dari kata-kata mereka, apa yang sedang mereka lihat.
"Kalau begitu, kau tahu itu makhluk apa?" kata Faramir. "Ayo, sekarang setelah kau melihatnya, katakan padaku mengapa dia harus diselamatkan. Dalam semua pembicaraan bersama kita, kau tidak satu kali pun menyebut-nyebut kawanmu yang aneh itu, dan untuk sementara aku membiarkannya. Dia bisa menunggu sampai ditangkap dan dibawa ke hadapanku. Aku mengirimkan

pemburu-pemburuku yang paling lihai untuk mencarinya, tapi dia menipu mereka, dan mereka tidak melihatnya sampai sekarang, kecuali Anborn, satu kali kemarin sore. Tapi sekarang pelanggaran yang dilakukannya lebih berat. Dia bukan sekadar menangkap kelinci di dataran tinggi: dia sudah berani datang ke Henneth Annun, karena itu dia mesti mati. Tapi aku kagum pada makhluk itu: begitu rahasia dan licik, dia berani datang ke kolam di depan jendela kami. Apakah dia menyangka manusia tidur tanpa penjagaan sepanjang malam? Kenapa dia begitu?"
"Ada dua jawaban, kukira," kata Frodo. "Pertama-tama, dia hanya tahu sedikit tentang Manusia, dan meski dia licik, perlindunganmu begitu tersembunyi hingga dia tidak tahu ada Manusia bersembunyi di sini. Kedua, dia ditarik oleh suatu hasrat yang lebih kuat daripada kehati-hatiannya."
"Dia tertarik ke sini, katamu?" kata Faramir dengan suara rendah. "Mungkinkah

karena … dia tahu tentang bebanmu?"

"Dia tahu. Dia sendiri pernah menyandang benda itu selama bertahun-tahun." "Dia menyandangnya?" kata Faramir, terkesiap kaget. "Masalah ini tak henti- hentinya menghadirkan berbagai teka-teki baru. Kalau begitu, dia mengejar benda itu?"
"Mungkin. Baginya benda itu berharga. Tapi bukan itu yang kumaksud." "Kalau begitu, apa yang dicarinya?" "Ikan," kata Frodo. "Lihat!"


Mereka menatap kolam yang gelap. Sebuah kepala hitam kecil muncul di ujung terjauh kolam, persis keluar dari bayangan gelap batu karang. Ada sekilas kilauan perak, dan lingkaran riak kecil. Makhluk itu berenang ke tepi, kemudian dengan sangat gesit sebuah sosok seperti katak memanjat keluar dari air, menaiki tebing. Segera ia duduk dan mulai menggigiti benda perak kecil yang bersinar-sinar ketika ia menoleh: berkas-berkas terakhir sinar bulan sekarang jatuh ke belakang dinding batu di ujung kolam.
Faramir tertawa pelan. "Ikan!" katanya. "Dia lapar rupanya. Atau mungkin juga tidak: tapi ikan dari kolam Henneth Annun mungkin bisa menyebabkan dia kehilangan nyawanya."

"Aku sudah membidiknya dengan panah," kata Anborn. "Tidakkah aku harus menembak, Kapten? Datang tanpa izin ke tempat ini hukumannya adalah mati, menurut hukum kita."
"Tunggu dulu, Anborn," kata Faramir. "Masalah ini lebih pelik daripada tampaknya. Bagaimana menurutmu, Frodo? Mestikah kita membiarkan dia hidup?"
"Makhluk itu malang dan lapar," kata Frodo, "dan tidak menyadari bahaya yang

mengancamnya. Dan Gandalf, Mithrandir-mu, dia pasti meminta kita untuk tidak membunuhnya karena alasan itu, dan alasanalasan lainnya. Dia sudah melarang para Peri berbuat demikian. Aku tidak tahu jelas sebabnya, dan tentang dugaanku aku tak bisa membicarakannya secara terbuka di sini. Tapi makhluk ini entah bagaimana terlibat dengan tugasku. Sampai kau menemukan dan membawa kami, dialah pemanduku."
"Pemandumu!" kata Faramir. "Masalah ini semakin aneh. Aku ingin berbuat banyak untukmu, Frodo, tapi yang satu ini tak bisa kukabulkan: membiarkan pengembara licik ini pergi begitu saja dari sini, untuk kemudian bergabung lagi denganmu sesukanya. Kalau dia ditangkap para Orc, dia akan menceritakan semua yang diketahuinya, di bawah ancaman akan disakiti. Dia harus dibunuh atau ditangkap. Dibunuh, kalau tak bisa ditangkap dengan cepat. Tapi bagaimana makhluk licin yang banyak kedoknya ini bisa ditangkap, kecuali dengan panah berbulu?"
"Biarkan aku mendekatinya diam-diam," kata Frodo. "Kalian boleh tetap meregangkan busur, dan setidaknya menembakku kalau aku gagal. Aku tidak akan melarikan diri."
"Pergilah kalau begitu, dan cepatlah!" kata Faramir. "Kalau dia berhasil tetap hidup, dia akan menjadi pelayanmu yang setia selama sisa hidupnya yang menyedihkan. Tuntun Frodo turun ke tebing, Anborn, dan jangan bersuara. Makhluk itu punya telinga dan hidung. Berikan busurmu padaku."
Anborn menggeram dan memimpin jalan menuruni tangga putar sampai ke dataran, kemudian menaiki tangga satunya, sampai mereka tiba di sebuah lubang sempit yang tertutup semak-semak tebal. Sambil melewatinya perlahan,

Frodo menyadari ia berada di puncak tebing selatan di atas kolam. Sekarang sudah gelap, dan, air terjun berwama kelabu pucat, hanya memantulkan sinar bulan yang masih tersisa di langit barat. la tak bisa melihat Gollum. ia maju sedikit, Anborn mengikutinya perlahan.
"Terus!" bisiknya di telinga Frodo. "Hati-hati sebelah kanan. Kalau kau jatuh ke kolam, hanya temanmu yang menangkap ikan itu yang bisa menolongmu. Dan jangan lupa ada pemanah-pemanah di dekat sini, meski kau tak bisa melihat mereka."
Frodo merangkak maju, menggunakan tangannya seperti gaya Gollum untuk meraba jalan dan mengukuhkan dirinya sendiri. Batu karang itu sebagian besar datar dan mulus, tapi licin. la berhenti untuk mendengarkan. Mula-mula ia tak bisa mendengar apa pun kecuali debur air terjun yang tak henti-henti di belakangnya. Kemudian akhirnya ia bisa mendengar gumam mendesis, tak jauh di depan.
"Ikan, ikan. Wajah Putih sssudah pergi, sayangku, akhirnya, ya. Sssekarang kita bisssa makan ikan dengan tenang. Bukan, bukan dengan tenang, sayangku. Karena sayangku sudah hilang; ya, hilang. Hobbit jelek, hobbit jahat. Pergi meninggalkan kita, gollum; dan sayangku juga sudah pergi. Hanya Smeagol malang sendirian. Tak ada sayangku. Manusia jahat, mereka mengambilnya, mencuri sayangku. Maling. Kita benci. mereka. Ikan, ikan enak. Membuat kita kuat. Membuat mata cerah, jari rapat, ya. Kita cekik mereka, sayangku. Mereka semua, ya, kalau ada kesempatan. Ikan enak. Ikan enak!" Begitulah ia mengoceh terus, hampir seperti air terjun yang tak henti-hentinya berdebur, hanya terputus bunyi lemah tetesan air liur dan bunyi berdeguk. Frodo menggigil, mendengarkan penuh rasa iba dan jijik. la berharap bunyi itu berhenti, dan bahwa ia tak perlu mendengar suara itu lagi untuk selamanya. Anborn berada tidak jauh di belakangnya. la bisa merangkak kembali dan meminta agar pemburu-pemburu itu menembak. Mereka mungkin bisa menghampiri cukup dekat, sementara Gollum sedang makan dengan rakus dan tidak waspada. Satu tembakan tepat, dan Frodo akan terbebas selamanya dari suara malang itu. Tapi tidak, Gollum berhak atas dirinya sekarang.

Sang pelayan telah berjanji pada sang majikan untuk melayani, meski melayani dalam ketakutan. Mereka pasti tersesat di Rawa-Rawa Mati kalau tidak dibantu Gollum. Frodo juga tahu bahwa Gandalf tidak menginginkan Gollum dibunuh. "Smeagol!" ia berkata lembut. "Ikannn, ikann enak," kata suara itu.
"Smeagol!" kata Frodo, sedikit lebih keras. Suara itu berhenti.

"Smeagol, Majikan datang mencarimu. Majikan di sini. Ayo, Smeagol!" Tak ada jawaban kecuali desis lemah, seperti sentakan napas kaget.
"Ayo, Smeagol!" kata Frodo. "Kita dalam bahaya. Orang-orang akan membunuhmu kalau menemukanmu di sini. Kemari cepat, kalau kau ingin lolos dari kematian. Datanglah pada Majikan!"
"Tidak!" kata suara itu. "Majikan tidak manis. Meninggalkan Smeagol malang dan pergi dengan teman-teman baru. Majikan bisa menunggu. Smeagol belum selesai."
"Tidak ada waktu," kata Frodo. "Bawa ikanmu. Ayo!" "Tidak! Harus makan ikan dulu."
"Smeagol!" kata Frodo putus asa. "Ke-Sayangan-mu akan marah. Aku akan membawa Sayang-mu itu, dan akan kukatakan: biar dia tercekik tulang dan tidak pernah merasakan makan ikan lagi. Ayo, Sayang-mu sudah menunggu!"
Ada bunyi desis tajam. Akhirnya dari kegelapan Gollum muncul merangkak, seperti anjing yang bersalah, dipanggil agar taat. Di mulutnya ada ikan yang baru separuh dimakan dan satu lagi di tangannya. la mendekati Frodo, hampir bersentuhan hidung, dan mengendus-endus. Matanya yang pucat bersinar-sinar. Lalu ia mengeluarkan ikan dari dalam mulutnya dan bangkit berdiri.
"Majikan baik!" bisiknya. "Hobbit manis, kembali ke Smeagol yang malang. Smeagol yang baik datang. Sekarang mari pergi, pergi cepat, ya. Melewati pohon-pohon, sementara Wajah-Wajah masih gelap. Ya, ayo kita pergi!"
"Ya, kita akan segera pergi," kata Frodo. "Tapi tidak sekarang. Aku akan pergi denganmu seperti sudah kujanjikan. Aku berjanji lagi. Tapi jangan sekarang. Kau belum aman. Aku akan menyelamatkanmu, tapi kau harus mempercayaiku." "Kami harus mempercayai Majikan?" kata Gollum ragu. "Mengapa? Kenapa tidak langsung pergi? Di mana yang satunya, hobbit kasar dan pemarah itu? Di mana

dia?"

"Di atas sana," kata Frodo, sambil menunjuk ke air terjun. "Aku tidak akan pergi tanpa dia. Kita harus kembali ke dia." Semangat Frodo merosot. la merasa seperti sedang menebar tipu muslihat. la tidak benar-benar cemas bahwa Faramir akan membiarkan Gollum dibunuh, tapi mungkin Gollum akan dijadikan tawanan dan diikat; ini tentu akan dianggap pengkhianatan oleh makhluk memelas itu. Rasanya mustahil membuatnya mengerti atau percaya bahwa Frodo sudah menyelamatkannya dengan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan. Apa lagi yang bisa dilakukannya? selain berusaha mempertahankan kepercayaan kedua belah pihak sedapat mungkin? "Ayo!" katanya. "Kalau tidak, Kesayangan-mu akan marah. Kita akan kembali sekarang, menyusuri sungai. Ayo, maju, kau di depan!"
Gollum merangkak maju menyusuri tebing untuk beberapa saat, mendengus curiga. Tak lama kemudian ia berhenti dan mengangkat kepala. "Ada sesuatu di sana!" katanya. "Bukan hobbit." Mendadak ia memutar badan. Cahaya hijau menyala di matanya yang melotot. "Majikan, Majikan!" desisnya. "Jahat! Penipu! Licik!" ia meludah dan mengulurkan tangannya yang panj ang dengan jari-jari putih mengertak.
Saat itu sosok hitam besar Anborn berdiri di belakangnya dan menerkamnya. Sebuah tangan besar kuat memegang lehernya dan menjepitnya. Gollum berputar seperti kilat, basah dan berlumpur, menggeliat seperti belut, menggigit dan menggaruk seperti kucing. Tapi dua orang lagi muncul dari balik bayangan. "Diam!" kata yang seorang. "Kalau tidak, kami akan menusukmu samnai penuh peniti seperti landak. Diam!"
Gollum lemas, lalu mulai meratap dan menangis. Mereka mengikatnya, lumayan keras.
"Pelan-pelan, pelan-pelan!" kata Frodo. "Kekuatannya tidak sebanding dengan kalian. Jangan menyakitinya, kalau bisa. Dia akan lebih tenang kalau kau tidak melukainya. Smeagol! Mereka tidak akan menyakitimu. Aku akan ikut denganmu, dan kau tidak akan dilukai. Tidak, kecuali kalau mereka membunuhku juga. Percayalah pada Majikan!"

Gollum menoleh dan meludahinya. Orang-orang mengangkatnya, menutup matanya, dan membawanya.
Frodo mengikuti mereka, merasa sangat sedih. Mereka melalui lubang di belakang semak-semak, dan kembali, menuruni tangga dan selasar-selasar, masuk ke gua. Dua atau tiga obor sudah dinyalakan. Orang-orang sudah sibuk. Sam ada di sana, dan ia memandang aneh ke bungkusan lemas yang digotong orang-orang. "Dapat dia?" katanya ke Frodo.
"Ya. W ell, tidak, aku tidak menangkapnya. Dia datang padaku, karena mempercayaiku pada mulanya. Aku tak ingin dia diikat seperti ini. Kuharap dia baik-baik saja; tapi aku benci seluruh urusan ini."
"Begitu juga aku," kata Sam. "Dan takkan ada yang beres selama ada makhluk malang itu."
Seseorang datang memanggil kedua hobbit, dan membawa mereka ke relung di bagian belakang gua. Faramir sedang duduk di sana, dan lampu sudah dinyalakan lagi di ceruk di atas kepalanya. la memberi isyarat pada mereka agar duduk di sampingnya. "Bawa anggur untuk para tamu," katanya. "Dan bawa tawanan kemari."
Anggur disajikan, kemudian Anborn datang menggotong Gollum. ia melepaskan kerudung dari kepala Gollum dan memberdirikannya, lalu ia sendiri berdiri di belakangnya untuk menopangnya. Gollum berkedip, menyembunyikan kekejian di matanya dengan kelopaknya yang berat. la tampak sangat mengibakan, menetes-netes dan lembap, bau ikan (ia masih memegang satu di tangannya); rambut ikalnya yang jarang menggantung seperti rumput halus di atas alisnya yang tipis, hidungnya beringus.
"Lepaskan kami! Lepaskan kami!" katanya. "Talinya menyakiti kami, ya begitu, sakit, dan kami tidak melakukan apa-apa."
"Tidak melakukan apa-apa?" kata Faramir, memandang makhluk malang itu dengan tajam, tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, tidak marah atau kasihan maupun keheranan. "Tidak melakukan apa-apa? Apa kau tak pernah melakukan sesuatu yang membuatmu patut diikat atau mendapat hukuman lebih berat? Bagaimanapun, bukan urusanku untuk menilainya. Tapi malam ini kau datang ke

tempat terlarang, dan kematianlah hukumannya. Ikan di kolam ini mesti kaubayar mahal."
Gollum menjatuhkan ikan di tangannya. "Tidak mau ikan," katanya.

"Masalahnya bukan ikannya," kata Faramir. "Datang kemari dan memandang kolam pun akan dijatuhi hukuman mati. Aku sudah mengecualikanmu atas permohonan Frodo, yang mengatakan setidaknya kau patut menerima ucapan terima kasih darinya. Tapi kau juga harus memuaskan aku. Siapa namamu? Dari mana asalmu? Dan ke mana kau akan pergi? Apa urusanmu?"
"Kami tersesat," kata Gollum. "Tak ada nama, tak ada urusan, tak ada Yang Berharga, tak ada apa-apa. Hanya kosong. Hanya lapar; ya, kami lapar. Beberapa ikan kecil, ikan kecil kurus jelek, untuk makhluk malang, dan mereka bilang kami harus mati. Mereka begitu bijak, begitu adil."
"Kami tidak begitu bijak," kata Faramir. "Kalau adil: ya barangkali, seadil mungkin sesuai kebijakan kami memungkinkan. Lepaskan ikatannya, Frodo!" Faramir mengambil pisau kecil dari ikat pinggangnya dan memberikannya pada Frodo. Gollum, yang menyalah artikan isyarat itu, berteriak dan jatuh.
"Nah, Smeagol!" kata Frodo. "Kau harus mempercayaiku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Jawab sejujurnya, kalau kau bisa. Itu akan berakibat baik, bukan merugikanmu." ia memotong ikatan tali di pergelangan tangan dan kaki Gollum dan mengangkatnya agar berdiri.
"Kemarilah!" kata Faramir. "Pandang aku! Kau tahu nama tempat ini? Pernahkah kau ke sini sebelumnya?"
Perlahan-lahan Gollum mengangkat matanya, dan dengan enggan memandang

ke dalam mata Faramir. Semua cahaya lenyap dari mata Gollum. Untuk beberapa saat ia menatap pudar dan pucat ke dalam mata jernih tegas manusia Gondor itu. Ada keheningan lama. Kemudian Gollum menundukkan kepalanya dan menyusut turun, sampai ia berjongkok di 'tanah, menggigil. "Kami tidak tahu dan tidak ingin tahu," rengeknya. "Belum pernah ke sini; tidak akan pernah ke sini lagi."
"Ada pintu-pintu dan jendela-jendela terkunci dalam pikiranmu, serta ruang-ruang gelap di belakangnya," kata Faramir. "Tapi dalam hal ini aku menilaimu bicara

jujur. Syukurlah. Sumpah apa yang akan kau ikrarkan bahwa kau takkan pernah kemari lagi, dan takkan pernah membawa makhluk hidup ke sini, baik dengan kata ataupun petunjuk?"
"Majikan tahu," kata Gollum sambil melirik ke arah Frodo. "Ya, dia tahu. Kami akan berjanji pada Majikan, kalau dia menyelamatkan kami. Kami berjanji demi itu, ya." ia merangkak ke kaki Frodo.
"Selamatkan kami, Majikan baik!" ratapnya. "Smeagol berjanji pada Kesayangan-

nya, berjanji dengan setia. Tidak akan datang lagi, tidak bicara, tidak akan! Tidak, sayangku, tidak!"
"Kau sudah puas?" kata Faramir.

"Ya," kata Frodo. "Setidaknya kau harus menerima janjinya, atau menghukumnya. Tapi kau tidak akan memperoleh apa-apa lagi. Aku sudah berjanji bahwa kalau dia datang kepadaku, dia tidak akan dilukai. Dan aku tak ingin dianggap tak bisa dipercaya."


Faramir duduk merenung sejenak. "Baiklah," katanya akhirnya. "Kau kuserahkan pada majikanmu Frodo putra Drogo. Biar dia memberi pernyataan, apa yang akan dilakukannya denganmu!"
"Tapi, Lord Faramir," kata Frodo sambil membungkuk, "kau belum mengungkapkan kehendakmu mengenai aku, dan kalau itu belum diungkapkan, aku tak bisa membuat rencana untuk diriku sendiri maupun para pendampingku. Katamu kau akan memberikan penilaianmu pada pagi hari; tapi sekarang sudah pagi."
"Kalau begitu, aku akan menyatakannya," kata Faramir. "Tentang dirimu, Frodo, sejauh ada di dalam kekuasaanku, kunyatakan kau bebas bergerak di wilayah Gondor sampai ke perbatasan paling jauh; hanya saja kau dan siapa pun yang ikut denganmu tidak dibenarkan datang ke tempat ini tanpa izin. Hukum ini berlaku selama setahun dan satu hari, lalu berakhir, kecuali sebelum itu kau datang ke Minas Tirith dan menghadap sendiri kepada penguasa kota itu. Maka aku akan memohonnya untuk menyetujui tindakanku dan membuatnya berlaku seumur hidup. Sementara itu, siapa pun yang kaulindungi akan berada di bawah

perlindunganku juga dan di bawah naungan Gondor. Sudah terjawabkah pertanyaanmu?"
Frodo membungkuk rendah. "Sudah terjawab," katanya, "dan kutempatkan diriku dalam pelayanan kepadamu, kalau itu cukup berharga bagi orang yang begitu agung dan terhormat seperti dirimu."
"Itu sangat berharga," kata Faramir. "Dan sekarang, apakah kau menempatkan makhluk ini, Smeagol ini, di bawah perlindunganmu?"
"Aku akan melindungi Smeagol," kata Frodo. Sam mengeluh dengan keras; bukan karena bosan dengan sopan santun itu. Di Shire masalah seperti itu bisa lebih bertele-tele lagi penyelesaiannya.
"Kalau begitu, kukatakan padamu," kata Faramir pada Gollum, "kau dihukum mati, tapi selama kau berjalan bersama Frodo, kau aman dari pihak kami. Tapi kalau siapa pun dari Gondor menemukanmu tanpa Frodo, hukuman itu akan dilaksanakan. Dan semoga kematianmu berlangsung lekas, di dalam maupun di luar Gondor, kalau kau tidak melayaninya dengan baik. Sekarang jawablah aku: ke mana kau akan pergi? Kau pemandunya, katanya. Ke mana kau akan menuntunnya?" Gollum tidak menjawab.
"Aku tak mau ini menjadi rahasia," kata Faramir. "Jawab aku, atau kutarik kembali penilaianku!" Gollum masih tidak menjawab.
"Aku akan menjawab untuknya," kata Frodo. "Dia membawaku ke Gerbang Hitam, sesuai permintaanku; tapi jalan itu tak bisa dilewati." "Tak ada pintu terbuka ke Negeri Tanpa Nama," kata Faramir. "Melihat itu, kami menyimpang lalu melewati jalan Selatan," lanjut Frodo, "sebab katanya ada, atau mungkin ada, jalan dekat Minas Ithil."
"Minas Morgul," kata Faramir.

"Aku tidak tahu jelas," kata Frodo, "tapi jalan itu mendaki naik ke pegunungan di sisi utara lembah, tempat kota lama berdiri. Jalan itu naik ke sebuah celah tinggi, kemudian turun ke tempat yang ada di bawahnya."
"Kau tahu nama jalan itu?" kata Faramir. "Tidak," kata Frodo.

"Namanya Cirith Ungol." Gollum mendesis tajam dan mulai menggumam sendiri. "Bukankah itu namanya?" kata Faramir kepadanya.

"Tidak!" kata Gollum, kemudian ia mendecit, seolah ada yang menusuknya. "Ya, ya, kami pernah dengar nama itu. Tapi apa gunanya nama itu bagi kami? Majikan bilang dia harus masuk. Jadi, kami harus mencoba suatu cara. Tak ada jalan lain untuk dicoba, tidak."
"Tak ada jalan lain?" kata Faramir. "Bagaimana kau tahu? Dan siapa yang menjelajahi semua perbatasan wilayah gelap itu?" ia menatap Gollum lama sekali, sambil merenung. Akhirnya ia berbicara lagi. "Bawa pergi makhluk ini, Anborn. Perlakukan dia dengan lembut, tapi awasi dia. Dan kau, Smeagol, jangan berani terjun ke dalam jeram. Bata karang bergerigi tajam di sini akan membunuhmu sebelum waktumu. Tinggalkan kami sekarang dan bawalah ikanmu!"
Anborn keluar, dan Gollum berjalan meringkuk di depannya. Tirai di depan relung ditutup.


"Frodo, menurutku kau sangat tidak bijak dalam hal ini," kata Faramir. "Kupikir sebaiknya kau tidak pergi bersama makhluk itu. Dia jahat."
"Tidak, tidak sepenuhnya jahat," kata Frodo.

"Mungkin tidak sepenuhnya," kata Faramir, "tapi kejahatan melahapnya seperti pembusukan, dan kejahatan itu semakin bertumbuh: Dia akan membawa kesulitan padamu. Kalau kau mau berpisah dengannya, akan kuberi dia pengawalan dan jaminan keamanan, sampai tempat mana pun di perbatasan Gondor yang disebutnya."
"Dia tidak akan mau menerimanya," kata Frodo. "Dia akan mengejarku seperti yang sudah lama dilakukannya. Dan aku sudah sering berjanji akan melindunginya dan pergi ke mana dia menuntunku.
Kau tidak memintaku mengkhianati kepercayaannya?" '"Tidak," kata Faramir.

"Tapi hatiku memintanya. Sebab menyarankan orang untuk mengingkari janjinya rasanya tidak terlalu jahat daripada kalau kita sendiri yang ingkar janji, terutama kalau kita melihat seorang kawan tanpa sadar terikat pada sesuatu yang merugikannya. Tapi kalau dia akan pergi denganmu, kau harus tabah bersamanya. Namun menurutku sebaiknya kau tidak ke Cirith Ungol, sebab dia

tahu lebih banyak daripada yang dia ceritakan padamu. Bisa kulihat itu dengan jelas dalam pikirannya. Jangan pergi ke Cirith Ungol!"
"Kalau begitu, ke mana aku harus pergi?" kata Frodo. "Kembali ke Gerbang Hitam dan menyerahkan diri pada pengawal? Apa yang kauketahui tentang keburukan tempat ini, sampai-sampai namanya begitu mengerikan?"
"Aku tidak tahu pasti," kata Faramir. "Kami dari Gondor tak pernah lewat di sebelah timur Jalan di masa kini, dan tak ada di antara kami kaum muda yang pernah melakukan itu, juga tak ada yang pernah menginjak Pegunungan Bayang-Bayang. Tentang itu kami hanya tahu laporan lama dan desas-desus masa lalu. Tapi ada teror gelap yang tinggal di jalan di atas Minas Morgul. Kalau Cirith Ungol disebut-sebut, orang-orang tua dan ahli-ahli pengetahuan menjadi pucat dan diam.
"Lembah Minas Morgul sudah sejak lama beralih ke dalam kejahatan. Lembah itu sudah menjadi ancaman dan sumber ketakutan ketika Musuh yang terusir masih tinggal di tempat jauh, dan sebagian besar Ithilien masih dalam kekuasaan kami. Seperti kauketahui, kota itu dulu sebuah tempat kuat, gagah, dan indah, Minas Ithil, saudara kembar kota kami. Tapi dia diserobot orang- orang jahat yang dikuasai Musuh pada tahap-tahap awal kekuatannya, dan yang mengembara tak mempunyai rumah dan majikan setelah kejatuhannya. Katanya para penguasa mereka adalah orang-orang Numenor yang jatuh ke dalam kejahatan gelap; pada mereka Musuh memberikan cincin-cincin kekuatan, dan dia sudah melahap mereka: mereka sudah menjadi hantu-hantu hidup, kejam, dan jahat. Setelah kepergiannya, mereka mengambil Minas Ithil dan tinggal di sana, memenuhi tempat itu serta seluruh lembah di sekitarnya dengan pembusukan; kelihatannya tempat itu kosong, tapi sebenarnya tidak demikian, sebab ada ketakutan tanpa bentuk hidup di tengah reruntuhan dindingnya. Ada sembilan penguasa di sana, dan setelah mereka kembali ke majikan mereka, yang mereka bantu dan persiapkan secara rahasia, mereka menjadi kuat kembali. Lalu Sembilan Penunggang muncul dari gerbang kengerian, dan kami tak bisa menahan mereka. Jangan dekati benteng mereka. Kau akan terlihat oleh mata-mata. Tempat itu penuh kekejian yang tak pernah tidur, dan mata

yang tidak berkelopak. Jangan pergi ke arah sana!"

"Tapi ke arah mana lagi kau akan menunjukkan jalan padaku?" kata Frodo. "Katamu kau sendiri tak bisa menuntunku ke pegunungan, tidak juga untuk melewatinya. Tapi melewati pegunungan aku harus pergi, demi menunaikan perintah Dewan Penasihat, untuk mencari jalan atau tewas dalam pencarian. Dan kalau aku kembali, menolak meneruskan sampai akhir, ke mana aku akan pergi di antara Peri maupun Manusia? Apakah kau ingin aku pergi ke Gondor dengan Benda ini, Benda yang membuat kakakmu gila karena hasratnya? Sihir apa yang akan diteliarkannya di Minas Tirith? Akankah ada dua kota Minas Morgul, saling menyeringai dari seberang daratan yang penuh kebusukan?"
"Aku tak ingin seperti itu," kata Faramir.

"Kalau begitu, kau ingin aku melakukan apa?"

"Aku tidak tahu. Hanya saja aku tak ingin kau pergi menyongsong kematian atau siksaan. Dan menurutku Mithrandir takkan memilih jalan yang ini."
"Tapi karena dia sudah pergi, aku terpaksa mengambil jalanku sendiri. Dan aku

tak punya banyak waktu untuk mencari," kata Frodo.

"Sungguh berat tugas ini, dan tanpa harapan," kata Faramir. "Tapi setidaknya camkan peringatanku: waspadalah terhadap Smeagol ini. Dia sudah pernah membunuh. Bisa kubaca itu dalam dirinya." ia mengeluh.
"Well, sekarang kita mesti berpisah, Frodo putra Drogo. Kau tidak membutuhkan kata-kata lembut: aku tak berharap bertemu lagi denganmu suatu saat di bawah sinar Matahari. Tapi pergilah bersama restuku, untukmu dan semua anak buahmu. Istirahatlah sebentar sementara makanan untukmu disiapkan.”
"Aku ingin sekali tahu, bagaimana sampai Smeagol yang merangkak ini bisa memiliki Benda yang kita bicarakan itu, dan bagaimana dia kehilangan Benda itu, tapi aku takkan menanyakannya sekarang. Kalau ternyata kau kembali ke negeri makhluk hidup suatu saat nanti, dan kita menceritakan kembali kisah-kisah kita, sambil duduk di tembok di bawah sinar matahari, menertawakan kesedihan lama, saat itulah kau akan menceritakannya padaku. Untuk saat ini, hingga masa yang tak bisa diramalkan oleh Batu Penglihatan dari Numenor, selamat berpisah!"

la bangkit berdiri dan membungkuk rendah pada Frodo, lalu menyibakkan tirai dan keluar ke gua.

BAB 7

PERJALANAN KE PERSIMPANGAN



Frodo dan Sam kembali ke tempat tidur mereka, dan berbaring sambil diam, beristirahat sebentar, sementara orang-orang sibuk dan kegiatan hari itu dimulai. Setelah beberapa saat, air disajikan, kemudian mereka dibawa ke sebuah meja, di mana sudah dihidangkan makanan untuk tiga orang. Faramir membuka puasanya bersama mereka. la tidak tidur sejak pertempuran sehari sebelumnya, tapi ia tidak kelihatan letih.
Selesai makan, mereka bangkit berdiri. "Mudah-mudahan rasa lapar tidak mengganggu kalian dalam perjalanan," kata Faramir. "Kalian hanya punya sedikit persediaan, tapi sudah kuperintahkan agar kepada kalian dibawakan sedikit persediaan makanan yang pantas untuk pengembara. Kalian tidak akan kekurangan air selama berjalan di Ithilien, tapi jangan minum dari sungai yang mengalir dari Mad Morgul, Lembah Mayat Hidup. Harus kuberitahukan juga bahwa semua pengintai dan pengawasku sudah kembali, termasuk beberapa yang sudah memasuki jarak pandang dari Morannon. Mereka semua menemukan hal aneh. Daratan itu kosong melompong. Tak ada orang di jalan, tak ada bunyi langkah kaki, atau terompet, atau busur di mana pun. Ada keheningan yang sedang mematangkan diri di atas . Negeri Tak Bernama itu. Aku tidak tahu pertanda apakah ini. Tapi tak lama lagi sesuatu akan terjadi. Badai akan datang. Bergegaslah sementara masih bisa! Kalau kalian sudah siap, mari kita pergi. Matahari akan segera naik di atas bayang-bayang."
Ransel para hobbit dikembalikan (sedikit lebih berat daripada sebelumnya), juga dua tongkat kuat dari kayu yang digosok, diberi sepatu besi, dengan kepala berukir yang dijalin kepangan tali kulit.
"Aku tak punya hadiah yang pantas untuk diberikan sebagai tanda perpisahan kita," kata Faramir, "tapi ambillah tongkat-tongkat ini. Bisa berguna bagi mereka yang berjalan atau mendaki di belantara. Orang-orang dari Pegunungan Putih menggunakannya; meski yang ini sudah dipotong sesuai tinggi badan kalian dan diberi sepatu baru. Tongkat ini terbuat dari potion indah lebethron, yang paling

disukai tukang-tukang kayu Gondor, dan mempunyai keajaiban untuk menemukan dan kembali kepada pemiliknya. Mudah-mudahan keajaiban itu tidak kalah di bawah pengaruh Bayang-Bayang yang akan kalian datangi!"
Kedua hobbit membungkuk rendah. "Tuan rumah yang baik hatl," kata Frodo, "Elrond sudah mengatakan padaku bahwa aku akan menemukan persahabatan di jalan, rahasia dan tak terduga. Aku tak pernah berharap akan mendapatkan persahabatan seperti yang kautunjukkan. Dengan menemukannya, kejahatan berubah menjadi kebaikan."


Sekarang mereka bersiap-siap berangkat. Gollum dibawa keluar dari sebuah pojok atau lubang persembunyian, dan ia tampak lebih puas daripada sebelumnya, meski ia tetap dekat-dekat Frodo dan menghindari tatapan Faramir. "Pemandumu harus ditutup matanya," kata Faramir, "tapi kau dan pelayanmu Samwise dibebaskan dari kewajiban itu, kalau kau mau."
Gollum mendecit dan menggeliat, dan memegang Frodo dengan erat, ketika mereka datang untuk menutupi matanya. Frodo berkata, "Tutup mata kami bertiga, dan tutup mataku lebih dulu, sehingga dia mengerti bahwa kalian tidak bermaksud jahat." Saran Frodo dilaksanakan, dan mereka dituntun dari gua Henneth Annun. Setelah melewati selasar-selasar dan tangga-tangga, mereka merasakan hawa pagi yang sejuk, segar, dan manis, di sekeliling mereka. Masih dengan mata ditutup, mereka berjalan terus untuk beberapa lama, naik-turun dengan lembut. Akhirnya Faramir memerintahkan tutup mata mereka dilepas. Mereka sudah berdiri di bawah dahan-dahan pohon lagi. Bunyi air terjun tidak terdengar lagi, karena sekarang ada sebuah lereng panjang ke arah selatan, yang memisahkan mereka dengan jurang tempat sungai mengalir. Ke arah Barat mereka bisa melihat cahaya di antara pepohonan, seolah dunia berakhir tiba- tiba, di ujung yang hanya memandang ke langit.
"Di sini kita berpisah," kata Faramir. "Kalau kalian mengikuti saranku, janganlah menyimpang ke timur dulu. Berjalan luruslah, dengan demikian kalian akan dilindungi hutan sejauh beberapa mil. Di sebelah barat ada ujung yang menurun tajam ke dalam lembah-lembah besar, kadang-kadang dengan mendadak dan

terjal, kadang-kadang sebagai sisi bukit yang memanjang. Tetaplah dekat-dekat ujung ini dan pinggiran hutan. Di awal perjalanan, kalian mungkin bisa berjalan di siang hari. Daratan ini cuma kelihatannya saja tenang, dan untuk sementara se- mua kejahatan menghilang. Selamat jalan, mudah-mudahan!"
la memeluk kedua hobbit itu dengan gaya bangsanya, membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di pundak mereka, lalu mengecup dahi mereka. "Pergilah dengan restu dari semua manusia yang baik!" katanya.
Mereka membungkuk sampai ke tanah. Lalu Faramir membalikkan badan dan

mendekati kedua pengawalnya yang berdiri agak jauh. Mereka kagum melihat kecepatan gerak orang-orang berpakaian hijau itu, yang menghilang hampir dalam satu kedipan mata. Hutan tempat Faramir tadi berdiri kelihatan kosong dan muram, seolah sebuah mimpi sudah berlalu.


Frodo menarik napas panjang dan menghadap kembali ke selatan. Seolah memamerkan ketidakpeduliannya atas semua sopan santun itu, Gollum mengais-ngais jamur di kaki pohon. "Sudah lapar lagi?" pikir Sam. "Hmm, sekarang mulai lagi!"
"Sudah pergi mereka?" kata Gollum. "Manusia jahat kejam! Leher Smeagol masih sakit, ya sakit. Ayo kita pergi!"
"Ya, mari kita pergi," kata Frodo. "Tapi lebih baik kau diam, kalau kau hanya bisa bicara jelek tentang mereka yang sudah menunjukkan belas kasihan padamu!" "Majikan baik!" kata Gollum. "Smeagol hanya bercanda. Selalu memaafkan, ya, ya, selalu memaafkan, bahkan tipuan-tipuan kecil Majikan. Oh ya, Majikan baik, Smeagol baik!"
Frodo dan Sam tidak menjawab. Sambil memasang ransel dan mencekal tongkat mereka, kedua hobbit itu masuk ke dalam hutan Ithilien.
Hari itu mereka dua kali beristirahat dan makan sedikit dari perbekalan yang dibawakan Faramir: buah-buah kering dan daging asin, cukup untuk beberapa hari; dan roti yang cukup untuk bertahan selama masih segar. Gollum tidak makan apa-apa.
Matahari naik dan lewat di atas, tanpa terlihat, lalu mulai tenggelam; cahayanya

di antara pepohonan di barat menjadi keemasan; mereka selalu berjalan di bawah bayangan hijau sejuk, di sekitar mereka sepi sekali. Burung-burung entah sudah pergi atau sudah jadi bisu.
Kegelapan datang lebih awal ke hutan sepi itu, dan sebelum malam tiba mereka berhenti, letih karena sudah berjalan tujuh league atau lebih dari Henneth Annun. Frodo berbaring tidur sepanjang malam di kerumunan jamur tebal di bawah sebatang pohon tua. Sam berbaring agak resah di sampingnya: ia sering bangun, tapi selalu tidak ada tanda-tanda dari Gollum, yang segera pergi ketika yang lain hendak beristirahat. Entah ia tidur sendirian di sebuah lubang di dekat situ, atau mengembara dengan gelisah mencari mangsa sepanjang malam, ia tidak bilang; tapi ia kembali ketika cahaya pertama pagi muncul, dan membangunkan kawan-kawannya.
"Harus bangun, ya harus bangun!" katanya. "Masih jauh perjalanan kita, ke selatan dan timur. Hobbit harus buru-buru!"


Hari itu berlalu hampir seperti hari sebelumnya, kecuali bahwa keheningan rasanya semakin dalam; udara menjadi berat, dan mulai terasa pengap di bawah pepohonan. Guruh seolah sedang menggelegak. Gollum sering berhenti, mengendus-endus udara, lalu menggerutu sendiri dan mendesak kedua hobbit untuk lebih cepat.
Ketika tahap ketiga perjalanan hari itu semakin jauh dan siang hari memudar, hutan itu membuka keluar, pohon-pohon semakin besar dan lebih tercerai-berai. Pohon-pohon ilex yang berdiameter sangat besar berdiri gelap dan khidmat di tempat terbuka yang luas, diselingi pohon-pohon asli tua di sana-sini; serta pohon ek raksasa yang baru saja mengeluarkan kuncup-kuncupnya yang cokelat-hijau. Di sekitar mereka terhampar padang-padang panjang berumput hijau, dengan bercak-bercak bunga celandine dan anemone putih dan biru, yang sekarang terlipat untuk tidur; ada juga padang-padang yang dipenuhi dedaunan hyacinth hutan: tangkai-tangkai bunganya yang ramping mendesak keluar dari antara jamur. Tak ada makhluk hidup, hewan, atau burung, yang tampak, tapi di tempat-tempat terbuka ini Gollum menjadi takut, dan kini mereka berjalan hati-

hati, melompat dari satu bayangan panjang ke bayangan lainnya.

Cahaya dengan cepat memudar ketika mereka sampai di ujung hutan. Di sana mereka duduk di bawah pohon ek tua yang berbonggol-bonggol, yang menjulurkan akar-akarnya bagai ular menuruni tebing remuk yang curam. Sebuah lembah dalam yang remang-remang terhampar di depan mereka. Di sisi seberangnya hutan bergerombol lagi, biru dan kelabu di bawah senja yang muram, membentang sampai ke selatan. Di sebelah kanan berkilauan Pegunungan-Pegunungan Gondor, jauh di Barat, di bawah langit bebercak api. Di sebelah kiri terhampar kegelapan: dinding-dinding Mordor yang menjulang tinggi; dan lembah panjang itu muncul dari kegelapan, jatuh dengan curam ke dalam palung yang semakin lebar, menuju Anduin. Di dasarnya mengalir sungai deras: Frodo bisa mendengar gemuruhnya naik mengatasi keheningan; di sampingnya, di sisi yang lebih dekat, sebuah jalan menjulur ke bawah seperti pita pucat, masuk ke kabut dingin kelabu yang tidak tersentuh sinar matahari sama sekali. Jauh di sana, seolah mengambang di atas samudra yang remang- remang, Frodo serasa melihat puncakpuncak tinggi menara-menara tua yang sepi dan gelap, tampak kabur dan pecah-pecah.
la berbicara pada Gollum. "Kau tahu di mana kita sekarang?" katanya.

"Ya, Majikan. Tempat-tempat berbahaya, Ini jalan dari Menara BuIan, Majikan, sampai ke reruntuhan kota dekat pantai Sungai. Reruntuhan kota, ya, tempat yang busuk sekali, penuh musuh. Kita seharusnya tidak mengikuti saran Manusia. Hobbit-hobbit sudah jauh menyimpang dari jalan. Sekarang harus pergi ke timur, di atas sana." ia melambaikan tangannya yang kurus ke arah pegunungan yang gelap. "Dan kita tak bisa memakai jalan ini. Oh tidak! Orang- orang kejam lewat sini, turun dari Menara!"
Frodo memandang jalan itu. Setidaknya saat mil tak ada yang bergerak di sana. Kelihatannya kosong dan sepi, menjulur ke dalam puing-puing kosong dalam kabut. Tapi ada perasaan jahat di udara, seolah ada sesuatu yang hilir-mudik, yang tidak tampak oleh mata. Frodo merinding lagi ketika memandang puncak- puncak jauh yang sekarang menghilang ditelan malam, serta bunyi air yang kedengaran dingin dan kejam: suara Morgulduin, sungai tercemar yang mengalir

dari Lembah Hantu.

"Apa yang akan kita lakukan?" katanya. "Kita sudah berjalan jauh dan lama. Apakah kita akan mencari tempat di hutan, untuk berbaring tersembunyi?"
"Tidak baik bersembunyi dalam gelap," kata Gollum. "Justru pagi hari hobbit- hobbit harus bersembunyi, ya, pagi hari."
'"Ah, yang benar!" kata Sam. "Kita perlu istirahat sebentar, meski kita akan bangun lagi tengah malam. Masih cukup banyak waktu gelap, untukmu membawa kami berjalan panjang, kalau kau tahu jalannya."
Dengan enggan Gollum menyetujuinya, lalu ia kembali ke pepohonan, berjalan ke arah timur untuk beberapa saat, sepanjang pinggiran hutan yang berjurai. la tak mau istirahat di tempat yang masih begitu dekat dengan jalan jahat itu, dan setelah perdebatan kecil, mereka semua mendaki ke dalam kelangkang sebatang pohon holm-oak besar; dengan dahan-dahannya yang tebal, yang muncul bersamaan dari batangnya, pohon itu menyediakan tempat persembunyian yang baik dan perlindungan yang cukup nyaman. Malam tiba, hari menjadi gelap pekat di bawah atap pohon itu. Frodo dan Sam minum sedikit air dan makan sedikit roti serta buah kering, tapi Gollum langsung meringkuk dan tidur. Kedua hobbit tidak memejamkan mata.


Sudah sedikit lewat tengah malam ketika Gollum bangun: tiba-tiba mereka menyadari matanya yang pucat terbuka kelopaknya, dan berkilauan ke arah mereka. la mendengarkan dan mengendus-endusbegitulah caranya untuk mengetahui waktu.
"Apa kita sudah cukup istirahat? Sudah tidur enak?" katanya. "Ayo pergi!"

"Kami belum cukup istirahat, dan tidak tidur," Sam menggeram. "Tapi aku akan pergi kalau memang harus."
Gollum segera melompat turun dari dahan pohon, mengambil posisi merangkak;

kedua hobbit mengikuti dengan lebih lambat.

Setelah turun, mereka berjalan lagi ke arah timur, dengan dipimpin Gollum, mendaki daratan yang menanjak. Mereka hanya bisa melihat sedikit, karena malam sudah sangat larut dan kelam, hingga mereka hampir-hampir tidak

melihat batang-batang pohon sampai mereka menabraknya. Tanah menjadi lebih hancur dari berjalan menjadi lebih sulit, tapi rupanya Gollum sama sekali tidak menemui kesulitan. la memimpin mereka melewati belukar dan sisa-sisa semak; kadang-kadang mengitari bibir belahan yang dalam atau sumur gelap, kadang-kadang turun ke cekungan yang diselubungi semak-semak hitam dan keluar lagi; tapi selalu bila mereka turun sedikit, lereng selanjutnya lebih panj ang dan lebih terj al. Mereka mendaki terus. Pada perhentian pertama, mereka menoleh dan bisa melihat samar-samar atap hutan yang mereka tinggalkan di belakang, terhampar bagai bayangan luas pekat, malam yang lebih kelam di bawah langit gelap yang kosong. Tampaknya ada suatu kehitaman besar naik perlahan-lahan dari Timur, melahap bintang-bintang yang bersinar lemah. Beberapa saat kemudian, bulan lolos dari awan yang mengejar, tapi ia dikelilingi lingkaran sinar kuning yang pucat.
Akhirnya Gollum berbicara kepada para hobbit. "Fajar segera datang," katanya. "Hobbit harus cepat-cepat. Tidak aman untuk tetap di tempat terbuka di sini. Bergegaslah!"
Ia mempercepat langkahnya, dan mereka mengikutinya dengan lelah. Tak lama kemudian, mereka mulai mendaki ke sebuah punggung daratan besar. Sebagian besar tertutup tanaman gorse dan whortleberry yang tumbuh rapat, dengan duri- duri panjang alot, meski di sana-sini ada tempat terbuka, sisa-sisa kebakaran yang belum lama. Semak-semak gorse semakin banyak ketika mereka hampir sampai ke puncak; sangat tua dan tinggi, kurus dan ramping di bagian bawah, tapi tebal di atas, dan sudah mulai mengeluarkan bunga-bunga kuning yang berkilauan dalam kegelapan dan mengeluarkan bau wangi lembut. Begitu tinggi semak-semak kurus itu, sehingga kedua hobbit bisa berjalan tegak di bawahnya, melewati jalur jalur panjang kering yang dilapisi jamur tebal menusuk-nusuk.
Di ujung terjauh punggung bukit lebar ini mereka berhenti berjalan, dan merangkak untuk bersembunyi di bawah jalinan duri yang kusut. Dahan- dahannya yang terpilin, membungkuk sampai ke tanah, ditutupi jaringan briar yang tumbuh merayap simpang siur. Jauh di dalam ada ruang kosong, dengan cabang-cabang mati dan belukar beratapkan dedaunan dan tunas-tunas pertama

musim semi. Di sana mereka berbaring sebentar, masih terlalu letih untuk makan; mereka mengintip keluar dari lubang-lubang di persembunyian, mengamati hari merekah dengan lambat.
Tapi tak ada cahaya muncul, kecuali senja yang cokelat mati. Di Timur ada sinar merah redup di bawah awan yang merendah: bukan merahnya matahari terbit. Di seberang daratan yang membentang tak beraturan, pegunungan Ephel Duath memandangi mereka dengan angker, hitam tak berbentuk, dan di bawahnya malam masih tebal menggantung, tak mau beranjak, di atasnya puncak-puncak dan pinggiran bergerigi tergelar keras mengancam di depan nyala merah yang garang. Di sebelah kanan mereka, salah satu pundak pegunungan besar mencuat, gelap dan hitam di antara bayangan-bayangan, mendesak ke barat.
"Ke arah mana kita pergi dari sini?" tanya Frodo. "Apakah yang di sana itu bukaan dari Lembah Morgul, di sana di seberang kegelapan itu?"
"Apa kita sudah perlu memikirkan itu?" kata Sam. "Kita kan tidak akan berjalan lagi hari ini, kalau ini memang sudah pagi?"
"Mungkin tidak, mungkin tidak," kata Gollum. "Tapi kita harus segera pergi ke Persimpangan Jalan. Ya, ke Persimpangan Jalan. Itu jaIan yang di sana, ya, Majikan."


Nyala merah di atas Mordor meredup. Senja semakin gelap ketika asap-asap besar naik di Timur, dan merangkak di atas mereka. Frodo dan Sam makan sedikit, kemudian berbaring, tapi Gollum resah. la tidak mau makan makanan mereka, tapi ia minum sedikit, kemudian merangkak kian kemari di bawah semak-semak, sambil mendengus dan menggerutu. Mendadak ia menghilang. "Pergi berburu, kukira," kata Sam sambil menguap. Gilirannya untuk tidur lebih dulu, dan segera ia lelap bermimpi. la menyangka sudah berada di Bag End lagi, mencari sesuatu; tapi di punggungnya ada ransel berat sekali, yang membuatnya terbungkuk. Semua kelihatan penuh rumput dan busuk, duri-duri serta pakis menyusup ke dalam kelompok tanaman di pagar paling bawah.
"Aku tahu itu tugas untukku, tapi aku lelah sekali," ia berkata terus-menerus. Akhirnya ia ingat apa yang dicarinya. "Pipaku!" katanya, dan dengan kata itu ia

terbangun.

"Bodoh!" ia berkata pada dirinya sendiri ketika ia membuka mata, dan heran mengapa ia berbaring di bawah pagar. "Ada di dalam ranselmu selama ini!" Lalu ia menyadari, pertama, pipanya mungkin ada di ranselnya, tapi ia tak punya tembakau, dan kedua, ia jauh sekali dari Bag End. ia bangkit duduk. Tampaknya hampir gelap. Mengapa majikannya membiarkan ia tidur melebihi gilirannya, sampai malam sudah tiba?
"Kau tidak tidur, Mr. Frodo?" katanya. "Jam berapa sekarang? Rupanya sudah malam!"
"Tidak," kata Frodo. "Tapi hari semakin gelap, bukan makin terang: semakin gelap dan semakin gelap. Setahuku sekarang belum tengah hari, dan kau hanya tidur sekitar tiga jam."
"Aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi," kata Sam. "Apakah akan ada badai? Kalau benar, pasti akan dahsyat sekali. Kita akan berharap ada di dalam lubang dalam, bukan hanya terjebak di bawah semak." ia memasang telinga. "Apa itu? Petir, atau genderang, atau apa?"
"Aku tidak tahu," kata Frodo. "Sudah agak lama berlangsung. Kadang-kadang tanah seolah bergetar, kadang-kadang seperti udara berat berdenyut di dalam telingamu."
Sam melihat sekeliling. "Ke mana Gollum?" katanya. "Apa dia belum kembali?" "Belum," kata Frodo. "Tidak ada tanda-tanda atau bunyi darinya."
"Well, aku benci dia," kata Sam. "Takkan kusesali kalau dia hilang. Memang khas dia, setelah berjalan sejauh ini, pergi dan hilang justru sekarang, ketika sedang sangat dibutuhkan itu pun kalau dia bisa bermanfaat."
"Kau lupa Rawa-Rawa," kata Frodo. "Kuharap tidak terjadi apa-apa dengannya." "Dan kuharap dia tidak berniat melakukan tipu muslihat. Bagaimanapun, mudah- mudahan dia tidak jatuh ke tangan pihak lain, seperti istilahmu. Sebab kalau dia sampai tertangkap, kita bakal dapat kesulitan."
Saat itu bunyi menderum dan menggelegar terdengar lagi, lebih keras dan lebih dalam. Tanah terasa bergetar di bawah kaki mereka. "Kurasa kita sudah dalam kesulitan sekarang," kata Frodo. "Aku khawatir perjalanan kita sudah mendekati

akhirnya."

"Mungkin," kata Sam, "tapi selama masih ada kehidupan, berarti masih ada harapan, begitu Gaffer biasa berkata; dan masih perlu makanan, biasanya dia menambahkan. Kau makan sedikit, Mr. Frodo, lalu tidur sebentar."


Siang hari itu kalau bisa disebut siang sesuai dugaan Sam berlanjut terus. Ketika melongok ke luar, ia hanya bisa melihat dunia cokelatkelabu, tanpa bayang- bayang, meredup perlahan ke dalam keremangan tak berbentuk dan berwarna. Terasa mencekik, namun tidak hangat. Frodo tidur gelisah sekali, bergulak-gulik dan membalikkan badan, kadang-kadang menggumam. Dua kali Sam merasa mendengar ia menyebut nama Gandalf. Waktu berlalu sangat lamban. Mendadak Sam mendengar bunyi desis di belakangnya, dan Gollum muncul dengan merangkak, memandang mereka dengan mata bersinar.
"Bangun, bangun! Bangun, penidur-penidur!" bisiknya. "Bangun! Tak boleh menyia-nyiakan waktu. Kita harus pergi, ya, kita harus segera pergi. Tak boleh menyia-nyiakan waktu."
Sam menatapnya curiga: Gollum kelihatan ketakutan atau bergairah. "Pergi sekarang? Apakah ini tipu muslihatmu? Sekarang belum waktunya pergi. Bahkan belum waktu untuk minum teh, setidaknya tidak di tempat beradab, di mana ada saat untuk minum teh."
"Bodoh!" desis Gollum. "Kita tidak berada di tempat beradab. Waktu sudah sangat mendesak, ya, mendesak sekali. Tak bisa membuang-buang waktu. Kita harus pergi. Bangun, Majikan, bangun!" ia mencakar Frodo; Frodo, terbangun kaget, mendadak duduk dan memegang tangannya. Gollum melepaskan diri dan mundur.
"Mereka jangan sampai bodoh," desisnya. "Kita harus pergi. Tak boleh buang- buang waktu!" Dan mereka tak bisa membuatnya mengungkapkan lebih banyak. Ke mana ia sudah pergi, dan apa yang dipikirkannya akan terjadi, sampai ia tergesa-gesa begitu, Gollum tak mau mengungkapkan. Sam curiga, dan menunjukkannya; tapi Frodo tidak menunjukkan ekspresi apa pun. la mengeluh, mengangkat ranselnya, dan bersiap-siap pergi ke kegelapan yang semakin

pekat.

Diam-diam Gollum menuntun mereka menuruni sisi bukit, berusaha tetap terlindung sebisa mungkin, dan berlari, hampir membungkuk sampai ke tanah, melintasi tempat-tempat terbuka; tapi kini cahaya begitu redup, sampai-sampai mata tajam hewan liar pun hampir tak bisa melihat para hobbit yang berkerudung dan berjubah kelabu gelap, juga tak bisa mendengar mereka berjalan sehati-hati mungkin. Tanpa derakan ranting maupun desiran daun, mereka lewat dan menghilang.


Selama sekitar satu jam mereka berjalan terus, tanpa suara, dalam barisan satu- satu, tertekan oleh kemuraman dan keheningan sempurna daratan itu, yang hanya sesekali dipecah oleh gemuruh petir lemah yang jauh, atau bunyi genderang di suatu lembah bukit. Mereka berjalan turun dari tempat persembunyian tadi, kemudian membelok ke selatan, berjalan dalam arah selurus yang bisa ditemukan Gollum, melintasi sebuah lereng panjang yang hancur, yang bersandar pada pegunungan. Tak lama kemudian, tidak jauh di depan, mereka melihat sekelompok pohon yang menjulang bagai dinding hitam. Ketika mereka mendekat, mereka menyadari pohon-pohon itu besar sekali, sudah sangat tua rupanya, dan masih menjulang tinggi, meski puncak- puncaknya kurus kering dan patah, seolah telah tersapu badai dan halilintar, namun tak bisa dibunuh atau digoyahkan akar-akarnya yang dalam. "Persimpangan Jalan, ya," bisik Gollum, kata-kata pertama yang diucapkannya sejak mereka meninggalkan tempat persembunyian mereka. "Kita harus pergi ke sana." Sambil mengarah ke timur, ia memimpin mereka mendaki lereng; tiba-tiba di depan mereka tampak Jalan ke Selatan, menjulur sepanjang kaki paling luar pegunungan, sampai akhirnya masuk ke dalam lingkaran besar pepohonan.
"Ini satu-satunya jalan," bisik Gollum. "Tak ada jalan di luar jalan ini. Tak ada jalan. Kita harus pergi ke Persimpangan Jalan. Tapi cepatlah! Dan diamlah!" Dengan sembunyi-sembunyi, seperti pengintai di tengah perkemahan musuh, mereka merangkak ke jalan, dan diam-diam menyusuri pinggir baratnya di bawah tebing berbatu, kelabu seperti bebatuan itu sendiri, dan berkaki lembut

seperti kucing yang sedang berburu. Akhirnya mereka sampai di pepohonan, dan menyadari mereka berdiri di dalam lingkaran besar tanpa atap, terbuka di tengah, ke langit yang muram; ruangan di antara batang-batang raksasa itu tampak seperti lengkungan besar yang gelap dari suatu balairung yang sudah hancur. Di tengahtengah, empat jalan bertemu. Di belakang mereka terletak jalan ke Morannon; di depan mereka, jalan itu keluar lagi dalam perjalanannya yang panjang ke selatan; di sebelah kanan mereka, jalan dari Osgiliath datang mendaki dan melintas, menghilang di timur, ke dalam kegelapan: yang keempat, jalan yang akan mereka tempuh.
Ketika berdiri di sana sambil dipenuhi kengerian, Frodo melihat seberkas cahaya; berkilauan pada wajah Sam di sampingnya. la menoleh ke arah itu, dan melihat di luar suatu lengkungan dahan-dahan, jalan ke Osgiliath menjulur hampir lurus seperti pita terentang, terus, terus sampai ke Barat. Nun jauh di sana, di luar Gondor yang sedih, yang sekarang tersaput bayang-bayang, Matahari sedang tenggelam, menuju tepi awan-awan besar yang berarak pelan, dan jatuh sebagai api benderang ke Samudra yang masih belum ternoda. Sejenak cahayanya jatuh di atas sebuah sosok besar yang sedang duduk, diam dan khidmat seperti raja-raja batu besar dari Argonath. Perjalanan tahun telah mengikisnya, dan tangan-tangan kasar sudah merusaknya. Kepalanya hilang, dan sebagai gantinya sebongkah batu yang dipahat kasar diletakkan di sana untuk mencemooh, dicat oleh tangan-tangan liar untuk menyerupai wajah menyeringai dengan satu mata besar merah di tengah dahinya. Di atas lututnya dan kursinya yang sangat besar, dan di sekitar dasar patung, terdapat cakaran iseng bercampur dengan lambang-lambang jahat yang biasa digunakan bangsa maggot dari Mordor.
Mendadak, karena kena jalur-jalur cahaya matahari yang mendatar, Frodo melihat kepala raja tua itu: menggeletak di pinggir jalan. "Lihat, Sam!" serunya kaget. "Lihat! Raja itu sudah kembali bermahkota!"
Mata patung itu cekung, dan janggutnya yang diukir sudah pecah, tapi di sekitar dahinya yang tinggi dan keras ada mahkota dari perak dan emas. Sebuah tanaman rambat dengan bunga-bunga seperti bintang-bintang putih kecil telah

membentuk jalinan di dahinya, seolah menghormati raja yang telah jatuh itu, dan di celah-celah rambutnya yang keras tampak kemilau bunga stonecrop kuning. "Mereka tak bisa selamanya menaklukkan!" kata Frodo. Lalu mendadak kilasan sekejap itu hilang. Matahari turun dan lenyap, dan seolah lampu dipadamkan; malam hitam pun menjelang.

BAB 8

TANGGA CIRITH UNGOL



Gollum menarik-narik jubah Frodo, dan mendesis takut bercampur tak sabar. "Kita harus pergi," katanya. "Jangan berdiri di sini. Cepatlah!"
Dengan enggan Frodo membelakangi Barat, mengikuti pemandunya yang menuntunnya keluar, ke Timur yang gelap. Mereka meninggalkan lingkaran pepohonan, dan merangkak menyusuri jalan menuju pegunungan. Jalan ini juga menjulur lurus untuk beberapa saat, tapi lalu mulai membelok ke selatan, sampai tiba tepat di bawah pundak besar batu karang yang sudah mereka lihat dari jauh. Hitam dan menakutkan ia menjulang di atas mereka, lebih gelap daripada langit gelap di belakangnya. Jalan itu merangkak terus di bawah bayangannya, dan sambil melingkarinya jalan itu menjulur ke timur lagi, mulai mendaki dengan terjal.
Frodo dan Sam berjalan terus dengan berat hati, tak lagi mampu memedulikan bahaya besar yang mengancam mereka. Kepala Frodo tertunduk menanggung beban berat. Begitu Persimpangan Jalan dilewati, bobotnya yang hampir terlupakan ketika masih di Ithilien mulai semakin berat lagi. Kini, merasa jalan yang ditapakinya semakin terjal, ia memandang ke atas dengan letih; kemudian ia melihatnya, seperti sudah dikatakan Gollum: kota para Hantu Cincin. ia gemetaran di tebing berbatu itu.
Suatu lembah panjang bergelombang, teluk gelap yang besar, menghampar jauh ke dalam pegunungan. Di sisi terjauh, agak masuk ke lengan lembah, tinggi di atas tempat duduk batu karang, di atas lutut hitam Ephel Duath, berdiri dinding dan menara Minas Morgul. Semua gelap di sekitarnya, bumi dan langit, tapi menara itu sendiri disinari cahaya. Bukan cahaya bulan terkungkung yang naik melalui dindingdinding pualam Minas Ithil zaman dahulu, Menara Bulan yang indah dan bersinar di cekungan bukit. Cahaya yang sekarang terlihat lebih pucat daripada bulan yang merana dalam gerhana lamban, berpendar bimbang seperti napas dari pembusukan yang berbau tak sedap, cahaya mayat, cahaya yang tidak menyinari apa pun. Di dinding dan menara tampak jendela jendela, seperti

lubang-lubang hitam tak terhitung banyaknya, memandang ke dalam kekosongan; tapi puncak menara paling atas berputar perlahan ke satu arah, kemudian ke arah lainnya, seperti hantu besar mengintai ke dalam gelapnya malam. Untuk beberapa saat, ketiga pengembara berdiri di sana, ketakutan, memandang ke atas dengan mata enggan. Gollum yang pertama-tama tersadar. la menarik-narik jubah mereka lagi, tapi tidak berbicara. la hampir-hampir menyeret mereka maju. Setiap langkah dilakukan dengann enggan, dan waktu seolah melambatkan kecepatan, sehingga antara mengangkat kaki dan meletakkannya kembali terasa seperti bermenit-menit penuh keengganan. Demikianlah, mereka sampai dengan perlahan ke jembatan putih. Di sini jalanannya berkilauan samar-samar, melewati sungai di tengah lembah, membelok berliku-liku menuju gerbang kota: sebuah mulut hitam menganga di lingkaran luar dinding utara. Di kedua tebing terletak dataran luas, padang- padang gelap dipenuhi bunga-bunga putih pucat. Padang-padang ini juga bersinar, indah namun mengerikan, seperti wujud-wujud gila dalam mimpi buruk; samar-samar mereka mengeluarkan bau rumah mayat yang memuakkan; bau busuk memenuhi udara. Jembatan terbentang dari padang ke padang. Patung- patung menghiasi ujungnya, diukir dengan terampil menyerupai bentuk manusia dan hewan, namun semuanya rusak dan menjijikkan. Sungai yang mengalir di bawahnya tampak diam dan beruap, tapi uap yang naik, menggulung, dan berputar-putar di sekitar jembatan itu terasa dingin. Frodo merasa pusing, pikirannya berat. Tiba-tiba, seolah digerakkan oleh suatu kekuatan di luar dirinya, ia mulai berjalan cepat, terhuyunghuyung ke depan, tangannya menggapai-gapai terjulur, kepalanya berputar dari satu sisi ke sisi lain. Sam dan Gollum berlari mengejarnya. Sam menangkap majikannya dalam pelukannya, ketika Frodo tersandung hampir jatuh, tepat di ambang jembatan.
"Jangan ke sana! Tidak, jangan ke sana!" bisik Gollum, napas yang mendesis di antara giginya seolah merobek kesepian yang berat itu, seperti desing peluit, dan ia gemetar ketakutan di tanah.
"Tabah, Mr. Frodo!" gerutu Sam ke telinga Frodo. "Kembali! Jangan lewat jalan itu. Kata Gollum jangan, dan kali ini aku setuju dengannya."

Frodo menyeka dahi dan mengalihkan pandang dari kota di bukit. Menara yang bersinar itu memukaunya, dan ia menahan hasrat yang timbul dalam dirinya untuk berlari lewat jalan bersinar menuju gerbang. Akhirnya dengan susah payah ia membalikkan badan. Namun ia merasa Cincin itu melawannya, menarik kalung yang menggantung di lehernya; dan matanya, ketika dipalingkan, juga sejenak seperti buta. Kegelapan di depannya seakan tak tertembus.
Gollum yang merangkak di tanah seperti hewan ketakutan, sudah menghilang dalam keremangan. Sam yang menopang dan menuntun majikannya yang terhuyung-huyung, mengikutinya secepat mungkin. Tak jauh dari tebing sungai terdekat ada celah di tembok batu di samping jalan. Mereka masuk melalui lubang itu, dan tiba di sebuah jalan sempit yang mulanya bersinar redup, seperti jalan utama, tapi setelah mulai mendaki di atas padang bunga-bunga mematikan, jalan itu memudar dan menjadi gelap, berliku-liku sampai ke sisi utara lembah.
Kedua hobbit menyusuri jalan ini berdampingan, tak bisa melihat Gollum di depan mereka, kecuali ketika ia menoleh untuk memanggil mereka maju terus. Saat itu matanya bersinar dengan cahaya hijaukeputihan, mungkin mencerminkan kilauan Morgul yang tak sedap, atau dikobarkan oleh suasana hatinya yang menjawab panggilan Morgul. Sam dan Frodo selalu menyadari kilauan mematikan serta lubang-lubang mata yang gelap itu, yang membuat mereka selalu menoleh ketakutan, hingga mereka segera mengalihkan mata, untuk menemukan kembali jalan yang semakin gelap. Dengan lambat dan susah payah mereka maju terus. Ketika sudah melewati bau busuk dan uap sungai beracun itu, napas mereka semakin ringan dan kepala semakin jernih; tapi sekarang tubuh mereka letih sekali, seolah mereka sudah berjalan sepanjang malam membawa beban, atau berenang melawan arus air yang berat. Akhirnya mereka tak bisa berjalan lebih jauh lagi tanpa berhenti dulu sejenak.
Frodo berhenti, dan duduk di atas batu. Mereka sekarang sudah mendaki sampai ke puncak sebongkah besar batu karang gundul. Di depan mereka ada teluk di sisi lembah; melingkari teluk ini, jalanan itu terus terjulur, hanya berupa bidang datar lebar dengan jurang di sebelah kanan; di seberang wajah selatan

pegunungan yang curam ia mendaki naik, sampai menghilang dalam kegelapan di atas.
"Aku perlu istirahat sebentar, Sam," bisik Frodo. "Berat sekali, Sam anakku, berat sekali. Entah seberapa jauh aku bisa membawa benda ini? Bagaimanapun, aku harus istirahat sebelum kita memberanikan diri ke sana." ia menunjuk ke jalan sempit di depan.
"Ssst! Ssst!" desis Gollum yang bergegas kembali pada mereka. "Ssst!" ia menaruh jari di bibimya dan menggelengkan kepala kuat-kuat. Sambil menarik- narik lengan baju Frodo, ia menunjuk ke arah jalan itu; tapi Frodo tak mau bergerak.
"Belum," katanya, "belum." Keletihan, dan lebih dari sekadar keletihan, terasa menekannya; seolah suatu sihir berat sudah menimpa pikiran dan tubuhnya. "Aku harus istirahat," gumamnya.
Mendengar ini, ketakutan dan kecemasan Gollum semakin bertambah, hingga ia berbicara lagi, mendesis di belakang tangannya, seolah menahan suaranya dari pendengar-pendengar yang tidak tampak di udara. "Jangan di sini, tidak. Jangan istirahat di sini. Bodoh! Mata bisa melihat kita. Kalau mereka sampai ke jembatan, mereka akan melihat kita. Menyingkir dari sini! Naik, naik! Ayo!"
"Ayo, Mr. Frodo," kata Sam. "Dia benar. Kita tak bisa tetap di sini." "Baiklah," kata Frodo dengan suara lemah, seperti setengah tertidur. "Akan kucoba." Dengan susah payah ia berdiri.


Tapi sudah terlambat. Saat itu batu karang di bawah mereka bergetar dan bergoyang. Bunyi keras menderum, lebih keras daripada sebelumnya, menggelegar di dalam tanah dan bergema di pegunungan. Lalu dengan ketajaman mendadak muncul sebuah kilatan merah besar. Jauh di luar pegunungan timur ia melompat ke langit, dan memercikkan warna merah ke awan-awan yang merendah. Di lembah bayangan dan cahaya dingin mematikan, kilatan itu tampak luar biasa liar dan garang. Puncak-puncak batu dan punggung gunung melompat berdiri bagi pisau tertakik, hitam tajam di depan kobaran api yang naik di Gorgoroth. Lalu bunyi petir menggelegar.

Dan Minas Morgul menjawab. Ada kobaran halilintar tajam: cabang-cabang nyala biru meloncat dari menara dan dari bukit-bukit yang mengepung, naik ke awan-awan yang muram. Bumi mengerang, dan dari kota terdengar bunyi teriakan. Berbaur dengan suara-suara parau melengking seperti burung pemangsa, serta ringkikan kuda yang liar karena ketakutan dan kemarahan, terdengar teriakan mengoyak, bergetar, naik dengan cepat menjadi nada tajam menusuk di luar batas pendengaran. Kedua hobbit berputar-putar, melemparkan diri sambil menutup telinga dengan tangan.
Ketika teriakan mengerikan itu berakhir, mereda menjadi suatu ratapan memuakkan yang berangsur diam, Frodo perlahan-lahan mengangkat kepala. Di seberang lembah sempit, hampir sejajar dengan matanya, berdiri tembok kota jahat itu, gerbangnya yang besar dibentuk menyerupai mulut menganga dengan gigi-gigi mengilap. Gerbang itu sudah terbuka lebar, dan dari dalamnya keluar sepasukan tentara.
Seluruh pasukan itu berpakaian hitam, gelap seperti malam. Di depan tembok- tembok pudar dan ubin-ubin jalan yang mengilap Frodo bisa melihat mereka, sosok-sosok hitam kecil baris demi baris, berjalan cepat dan diam, keluar dalam aliran tanpa henti. Di depan mereka adalah pasukan kavaleri penunggang kuda yang bergerak seperti bayangan yang teratur, di ujungnya ada satu yang lebih besar: seorang Penunggang, hitam seluruhnya, di kepalanya yang berkerudung ia memakai topi baja seperti mahkota yang bersinar dengan cahaya mengancam. Sekarang ia sudah mendekati jembatan di bawah, dan mata Frodo mengikutinya, tak mampu berkedip atau melepaskan pandangan. Bukankah itu pimpinan Sembilan Penunggang yang kembali ke bumi untuk memimpin pasukan mengerikan itu ke pertempuran? Ya, dialah raja Hantu yang tangannya telah menikamkan pisau mematikan kepada sang Penyandang Cincin. Luka lama itu berdenyut sakit, dan rasa dingin membekukan menyebar ke jantung Frodo.
Tepat saat pikiran-pikiran itu menusuknya dengan ketakutan dan menahannya hingga ia bagai tersihir, Penunggang itu mendadak berhenti, tepat di ambang jembatan, dan di belakangnya seluruh pasukan ikut berhenti. Ada keheningan

yang sangat tajam. Mungkin Cincin yang memanggil pimpinan Hantu itu, dan untuk beberapa saat ia terganggu, merasakan kekuatan lain di lembah itu. Kepala gelap bertopi baja dan bermahkotakan ketakutan itu berputar ke sana kemari, menyapu kegelapan dengan matanya yan.g tidak terlihat. Frodo menunggu, tak mampu bergerak, seperti burung didekati ular. Saat menunggu, ia merasa diperintahkan untuk memakai Cincin itu. Namun ia tak mau menyerah. la tahu Cincin itu akan mengkhianatinya, dan meski memakainya, ia belum punya kekuatan untuk menghadapi raja Morgul itubelum. Atas perintah itu, ia tak lagi bisa menjawabnya atas kehendak sendiri, meski ia begitu ketakutan. la hanya merasa dipengaruhi oleh suatu kekuatan besar dari luar. Kekuatan itu mengambil tangannya, dan ketika Frodo memperhatikan dengan pikirannya tidak menghendaki, tapi juga sangat tegang, seperti menyaksikan cerita lama yang sudah berlalu kekuatan itu menggerakkan tangannya inci demi inci menuju rantai di lehernya. Lalu tekadnya bangkit; perlahan-lahan ia memaksa tangannya kembali dan menyuruhnya menemukan benda lain, sebuah benda yang tersembunyi dekat dadanya. Rasanya dingin dan keras ketika ia mencengkeramnya: bejana dari Galadriel yang sudah lama disimpannya, hampir terlupakan sampai detik itu. Ketika ia menyentuhnya, untuk beberapa saat semua pikiran tentang Cincin itu terusir dari benaknya. la mengeluh dan menundukkan kepala.
Saat itu si raja Hantu membalikkan badan dan memacu kudanya, melaju melewati jembatan, diikuti seluruh pasukannya yang gelap. Mungkin kerudung Peri itu menipu matanya yang tak terlihat, dan pikiran musuhnya yang kecil, yang telah diperkuat, mengalihkan pikirannya. Tapi ia sedang terburu-buru. Saatnya sudah tiba, dan ia harus pergi ke peperangan di Barat, mengikuti perintah Majikan-nya.
Segera ia lewat, seperti bayang-bayang masuk ke dalam bayangan, melewati jalan berliku-liku, di belakangnya barisan-barisan hitam masih menyeberangi jembatan. Sejak zaman Isildur; belum pernah pasukan sedemikian besar keluar dari lembah itu; belum pernah ada pasukan yang begitu jahat dan kuat persenjataannya menyerang arungan Anduin; tapi itu baru satu pasukan, dan

bukan pasukan terbesar yang sekarang dikirimkan Mordor.



Frodo tersentak. Tiba-tiba ia teringat Faramir. "Badai sudah meledak," pikirnya. "Gabungan besar tombak dan pedang akan pergi ke Osgiliath. Akankah Faramir melintas tepat waktu? Dia sudah menduga, tapi tahukah dia waktunya yang tepat? Siapa yang bisa mempertahankan arungan kalau Raja Sembilan Penunggang sudah datang? Dan pasukan lain juga akan datang. Aku terlambat. Semuanya gagal. Aku terlalu berlama-lama di jalan. Semuanya gagal. Bahkan kalau tugasku sudah terlaksana, takkan ada yang tahu. Takkan ada siapa pun yang bisa kuberitahu. Akan sia-sia saja." ia meratap kelelahan. Dan pasukan Morgul masih melintasi jembatan.
Lalu di kejauhan, seolah datang dari kenangan tentang Shire pada suatu pagi cerah, ketika hari baru dimulai dan pintu-pintu dibuka, ia mendengar suara Sam berbicara. "Bangun, Mr. Frodo! Bangun!" Seandainya suara itu menambahkan, "Sarapanmu sudah siap," ia tidak akan kaget. Suara Sam terdengar sangat mendesak. "Bangun, Mr. Frodo! Mereka sudah pergi," katanya.
Ada bunyi dentingan teredam. Gerbang Minas Morgul sudah ditutup. Barisan tombak terakhir sudah lenyap. Menara itu masih menyeringai dari seberang lembah, tapi cahaya di dalamnya sudah meredup. Seluruh kota kembali ke keremangan yang gelap, dan keheningan. Namun masih tetap dipenuhi kewaspadaan.
"Bangun, Mr. Frodo! Mereka sudah pergi, dan sebaiknya kita juga pergi. Masih ada yang hidup di tempat itu, sesuatu yang bermata, atau pikiran yang bisa melihat; semakin lama kita tetap di satu tempat, semakin cepat dia akan menemukan kita. Ayo, Mr. Frodo!"
Frodo mengangkat kepala, kemudian berdiri. Keputusasaan belum meninggalkannya, tapi kelemahan itu sudah berlalu. la bahkan tersenyum muram, perasaannya kini begitu bertolak belakang dengan beberapa saat sebelumnya. Apa yang perlu ia lakukan, harus ia lakukan, kalau bisa. Tidak penting apakah Faramir, Aragorn, Elrond, Galadriel, Gandalf, atau siapa pun yang lain akan pernah tahu tentang itu. la memegang tongkatnya dengan satu

tangan dan bejana Galadriel di tangan lainnya. Ketika melihat cahaya terang itu sudah keluar melalui jemarinya, ia memasukkan bejana itu ke dekat dadanya, memegangnya dekat ke hatinya. Kemudian, sambil membelakangi kota Morgul yang kini hanya berupa kilauan kelabu di seberang teluk gelap, ia bersiap-siap menapaki jalan mendaki.
Gollum tampaknya sudah merangkak pergi menyusuri pinggiran kegelapan di sana, ketika gerbang Minas Morgul dibuka, meninggalkan kedua hobbit di tempat mereka terbaring. Sekarang ia datang merangkak kembali, giginya gemerutuk dan jarinya dikertakkan. "Bodoh! Tolol!" desisnya. "Cepatlah! Jangan kira bahaya sudah lewat. Belum. Cepatlah!"
Mereka tidak menjawab, tapi mengikutinya sampai ke pinggiran yang mendaki. Hal itu sama sekali tidak disukai kedua hobbit, tidak juga setelah menghadapi begitu banyak bahaya lain; tapi itu tidak berlangsung lama. Dengan segera jalan itu mencapai sebuah sudut membulat, di mana sisi pegunungan membengkak lagi, dan di sana tiba-tiba memasuki lubang sempit di batu karang. Mereka sudah samliai ke tangga pertama yang diceritakan Gollum. Kegelapan hampir sempurna, dan mereka tak bisa melihat banyak di luar jangkauan tangan mereka; tapi mata Gollum bersinar pucat, beberapa meter di atas, ketika ia menoleh ke arah mereka.
"Hati-hati!" bisiknya. "Tangga. Banyak tangga. Harus hati-hati!"

Kehati-hatian memang dibutuhkan. Awalnya Sam dan Frodo merasa gampang, karena ada dinding di kedua sisi, tapi tangga itu curam sekali, hampir tegak, dan ketika mereka terus mendaki, mereka semakin menyadari jurang hitam panjang di belakang. Selain itu, anak-anak tangganya sempit sekali, berbeda-beda lebarnya, dan sering menipu: sudah usang dan mulus di pinggirnya, beberapa sudah pecah, dan beberapa pecah ketika kaki menapakinya. Kedua hobbit berjuang terus, sampai akhirnya mereka berpegangan ke anak tangga di depan, dan memaksa lutut mereka yang sakit untuk melipat dan meluruskan kaki; tangga itu masih terus mendaki semakin dalam ke gunung yang curam, sementara dinding batu menjulang semakin tinggi di atas kepala.
Akhirnya, tepat ketika merasa sudah tak tahan lagi, mereka melihat mata Gollum

memandang ke arah mereka lagi. "Kita sudah di atas," bisiknya. "Tangga pertama sudah lewat. Hobbit pintar sudah bisa naik setinggi ini, hobbit sangat pintar. Tinggal beberapa anak tangga lagi, itu saja, ya."


Dalam keadaan sangat pusing dan letih, Sam dan Frodo yang mengikutinya, merangkak menaiki anak tangga terakhir, lalu duduk menggosok kaki dan lutut. Mereka berada dalam sebuah selasar gelap yang rupanya masih mendaki di depan sana, meski lerengnya lebih lembut dan tanpa anak tangga. Gollum tidak membiarkan mereka beristirahat lama.
"Masih ada tangga lain," katanya. "Tangga yang jauh lebih panjang. Istirahat kalau kita sudah sampai ke puncak tangga berikutnya. Sekarang belum."
Sam mengerang. "Lebih panjang, katamu?" tanyanya.

"Ya, ya, lebih panjang," kata Gollum. "Tapi tidak begitu sulit.

Hobbit sudah mendaki Tangga Lurus. Berikutnya Tangga Putar." "Dan setelah itu apa?" kata Sam.
"Kita akan lihat," kata Gollum pelan. "Ya, kita akan lihat!"

"Rasanya kaubilang ada terowongan," kata Sam. "Bukankah ada terowongan atau semacamnya yang harus dilewati?"
"Oh, ya, ada terowongan," kata Gollum. "Tapi hobbit tak bisa istirahat sebelum mencoba itu. Kalau sudah melewatinya, berarti mereka sudah hampir sampai ke puncak. Dekat sekali, kalau mereka bisa lewat. Oh ya!"
Frodo menggigil. Pendakian itu membuatnya berkeringat, tapi sekarang ia merasa dingin dan lembap, dan di selasar bertiup angin dingin, berembus turun dari ketinggian yang tidak tampak di atas sana. la bangkit dan menggoyangkan badan. "Well, mari kita lanjutkan!" katanya. "Ini bukan tempat untuk duduk- duduk."


Selasar itu seakan bermil-mil panjangnya, dan udara dingin selalu saja mengalir di atas mereka, membesar menjadi angin tajam ketika mereka naik semakin tinggi. Gunung-gunung seolah berusaha mengecilkan hati mereka dengan napas beku mematikan, agar mereka memalingkan diri dari rahasia tempat-tempat

tinggi, atau untuk meniup mereka ke kegelapan di belakang. Mereka baru tahu mereka sudah sampai ke ujung, ketika mendadak mereka merasa tak ada dinding di sebelah kanan. Mereka hanya bisa melihat sedikit saja. Sosok-sosok besar tak berbentuk dan bayangan kelabu tebal menjulang di atas dan di sekitar mereka, tapi sesekali seberkas cahaya merah pudar berkobar naik di bawah awan-awan yang merendah, dan untuk sekejap mereka melihat puncak-puncak tinggi, di depan dan di kedua sisi, seperti tiang-tiang yang menopang atap besar. Rupanya mereka sudah mendaki sekian ratus kaki, sampai ke sebuah dataran lebar. Batu karang ada di sebelah kin, dan jurang di sebelah kanan.
Gollum memimpin jalan di bawah batu karang. Untuk sementara mereka tidak lagi mendaki, tapi tanah sekarang lebih hancur dan berbahaya dalam gelap, ada balok-balok dan bongkah-bongkah batu yang terjatuh menghalangi jalan. Mereka berjalan lambat dan hati-hati. Entah sudah berapa jam berlalu sejak mereka masuk Lembah Morgul, Sam maupun Frodo tak bisa mengira-ngira. Malam serasa tak berujung.
Akhirnya mereka sekali lagi melihat sebuah tembok menjulang, dan sebuah tangga di depan. Sekali lagi mereka berhenti, dan sekali lagi mulai mendaki. Pendakian panjang dan melelahkan; tapi tangga ini tidak masuk ke dalam sisi pegunungan. Di sini wajah batu karang besar mendaki ke belakang, jalanannya berbelok-belok seperti ular. Pada satu titik, jalan itu merayap ke pinggir, langsung sampai ke ujung jurang gelap. Ketika Frodo melirik ke bawah, ia melihat ngarai besar di ujung Lembah Morgul, seperti sebuah sumur dalam yang luas. Di kedalamannya terjulur jalan hantu dan kota mati ke Jalan Tak Bernama, bersinar seperti ulat kelapkelip. Lekas-lekas Frodo memalingkan muka.


Tangga masih terus naik, membelok dan merayap; akhirnya, dengan satu tanjakan terakhir, pendek dan lurus, ia mendaki keluar ke sebuah dataran lain. Jalan itu sudah menyimpang dari jalan utama di jurang besar, dan sekarang mengikuti arahnya sendiri yang meliuk berbahaya di dasar sebuah belahan, di tengah wilayah yang lebih tinggi dari Ephel Duath. Samar-samar kedua hobbit bisa melihat tonjolan-tonjolan dan pttncak bergerigi dan batu di kedua sisi, di

antaranya ada retakan-retakan dan celah-celah besar yang lebih hitam daripada malam, di mana musim dingin yang terlupakan sudah menggerogoti dan memahat batu yang tak pernah disinari matahari. Dan kini cahaya merah di langit tampak lebih kuat, meski mereka tidak tahu apakah pagi han yang mengerikan akan datang ke tempat gelap ini, ataukah yang mereka lihat itu hanyalah nyala api akibat kekejaman Sauron yang sedang menyiksa Gorgoroth di luar sana. Masih jauh sekali, dan masih tinggi di atas, Frodo yang menengadah melihat puncak jalan keras itu. Di depan kemerahan langit timur terlihat sebuah belahan di punggung bukit paling atas, sempit, terbelah sangat dalam di antara dua pundak hitam; dan di masing-masing pundak ada terompet batu.
la berhenti dan memandang lebih cermat. Terompet di sebelah kini tinggi dan ramping; di dalamnya menyala cahaya merah, atau mungkin nyala merah dan daratan di luar bersinar melalui sebuah lubang. Sekarang ia melihatnya: ternyata sebuah menara hitam yang berdiri di atas celah luar. la menyentuh tangan Sam dan menunjuknya.
"Aku tak suka melihatnya!" kata Sam. "Jadi, jalan rahasiamu ini toh dijaga juga," geramnya, berbicara pada Gollum. "Kuduga selama ini kau sudah tahu, bukan?" "Semua jalan diawasi, ya," kata Gollum. "Tentu saja begitu. Tapi hobbit harus mencoba salah satunya. Jalan ini mungkin yang tidak terlalu ketat diawasi. Mungkin mereka semua sudah berangkat perang, mungkin!"
"Mungkin," gerutu Sam. "Well, tampaknya masih cukup jauh, dan masih lama sebelum kita sampai di sana. Juga masih ada terowongan. Kupikir kau sekarang perlu istirahat, Mr. Frodo. Aku tidak tahu jam berapa sekarang, pagi atau malam, tapi kita sudah berjalan terus selama berjam-jam."
"Ya, kita perlu istirahat," kata Frodo. "Mari kita cari pojok yang tidak kena angin, dan mengumpulkan kekuatan-untuk putaran terakhir." Karena ia merasa begitulah kenyataannya. Kengerian negeri di sana itu, dan tugas yang harus dilakukannya di sana, tampak jauh, masih terlalu jauh untuk mengganggunya. Seluruh pikirannya tertuju pada cara untuk menerobos atau lewat di atas tembok dan penjagaan yang tak bisa ditembus itu. Kalau suatu saat ia bisa melakukan hal yang mustahil itu, berarti selesailah tugasnya, atau begitulah tampaknya bagi

Frodo di saat gelap penuh keletihan itu, sementara ia berjalan susah payah dalam bayang-bayang gelap di bawah Cirith Ungol.


Mereka duduk dalam sebuah celah gelap di antara dua tonjolan batu karang: Frodo dan Sam agak masuk ke dalam, dan Gollum meringkuk di tanah, dekat bukaannya. Di sana kedua hobbit menyantap bekal mereka, yang rasanya bakal menjadi hidangan terakhir sebelum mereka masuk ke Negeri Tak Bernama itu bahkan mungkin hidangan terakhir yang akan mereka makan bersama. Mereka makan sedikit makanan dan Gondor, dan wafer dari kaum Peri, juga minum sedikit. Tapi mereka menghemat air dan hanya minum sedikit untuk membasahi mulut yang kering.
"Aku ingin tahu, kapan kita akan menemukan air lagi?" kata Sam. "Tapi di negen itu mereka juga minum, bukan? Orc juga minum, kan?"
"Ya, mereka minum," kata Frodo. "Tapi jangan bicarakan itu. Minuman seperti itu bukan untuk kita."
"Kalau begitu, kita perlu sekali mengisi botol air," kata Sam. "Tapi tidak ada air di atas sini: aku tidak mendengar bunyi aliran atau tetesan sama sekali. Bagaimanapun, Faramir bilang kita jangan minum air di Morgul."
"Tidak ada air yang mengalir keluar dari Imlad Morgul, begitu katanya," kata Frodo. "Kita bukan berada di lembah itu sekarang, dan kalau kita sampai ke sebuah mata air, maka airnya mengalir masuk, bukan keluar, darinya."
"Aku tidak bakal mau minum air di sini," kata Sam, "kecuali kalau aku sudah hampir mati kehausan. Ada kesan jahat di tempat ini." ia mengendus-endus. "Dan bau aneh, kukira. Kauperhatikan itu? Bau yang aneh, agak pengap. Aku tak suka ini."
"Aku sama sekali tak suka apa pun di sini," kata Frodo, "tangga atau batu, napas atau tulang. Bumi, udara, dan air semuanya seperti dikutuk. Tapi mau tak mau jalan kita harus lewat sini."
"Ya, memang," kata Sam. "Dan seharusnya kita tidak berada di sini, seandainya kita tahu lebih banyak tentang ini, sebelum kita berangkat. Tapi kupikir memang sering terjadi hal seperti ini. Peristiwaperistiwa gagah berani dalam dongeng-

dongeng dan lagu-lagu lama, Mr. Frodo: petualangan, aku menyebutnya. Dulu aku mengira untuk hal-hal seperti itulah orang-orang mengagumkan dalam kisah-kisah itu pergi dan mencarinya, karena mereka menginginkannya, karena petualangan itu menggairahkan dan karena kehidupan agak menjemukan, jadi seperti semacam olahraga, bisa dikatakan begitu. Tapi ternyata bukan begitu kenyataannya dengan kisah-kisah yang benar-benar penting, atau kisah-kisah yang tetap diingat sepanjang masa. Tampaknya orang-orang begitu saja terdampar di dalamnya, biasanya jalan mereka memang diarahkan lewat sana, seperti kaukatakan. Sebenamya mereka punya banyak kesempatan untuk kembali, seperti kita, tapi mereka tidak melakukannya. Dan kalau mereka kembali, kita tidak akan tahu, sebab mereka jadi terlupakan. Kita mendengar tentang mereka yang tetap maju terus dan tidak semuanya menemukan akhir yang baik, ingat itu; setidaknya bukan akhir yang dianggap baik oleh orang-orang di dalam kisah itu sendiri, bukan oleh orang-orang di luar cerita itu. Maksudku, mereka pulang dan menemukan segalanya baik-baik saja, meski tidak sepenuhnya sama-seperti Mr. Bilbo tua. Tapi kisah-kisah semacam itu belum tentu kisah yang paling bagus untuk didengar, meski mungkin bagus untuk terdampar di dalamnya! Aku ingin tahu, cerita macam apa tempat kita terdampar ini?"
"Aku juga bertanya-tanya," kata Frodo. "Tapi aku tidak tahu. Begitulah biasanya sebuah cerita. Ambillah satu yang kausukai. Kau mungkin tahu atau menduga, kisah macam apa itu, berakhir bahagia atau sedih, tapi orang-orang di dalamnya saat itu belum tahu. Dan kau tak ingin mereka tahu sebelumnya."
"Tidak, Sir, tentu saja tidak. Misalnya Beren, dia tak pernah menduga dia akan pergi mengambil Silmaril dari Mahkota Besi di Thangorodrim, tapi dia toh melakukannya, dan tempat itu jauh lebih buruk dan lebih berbahaya daripada yang kita hadapi sekarang. Tapi kisah itu panjang sekali, berlalu melampaui kebahagiaan, memasuki kesedihan, dan masih banyak lagi Silmaril berlalu dan sampai ke Earendil. Dan, Sir, wah, aku belum pernah memikirkannya! Kitakan mempunyai sedikit cahaya Silmaril itu dalam bejana kaca bintang yang diberikan Lady Galadriel kepadamu! Wah, kalau dipikir-pikir, kita masih berada dalam

kisah yang sama! Kisah itu masih terus berlanjut. Bukankah kisah-kisah besar tak pernah berakhir?"
"Tidak, mereka tak pernah berakhir sebagai kisah," kata Frodo. "Tapi orang- orang di. dalamnya datang dan pergi ketika peran mereka berakhir. Peran kita akan berakhir kemudian atau segera."
"Lalu kita bisa istirahat dan tidur," kata Sam. Ia tertawa muram. "Dan maksudku memang begitu, Mr. Frodo. Maksudku kita benarbenar beristirahat, tidur, dan bangun menghadapi pekerjaan pagi hari di kebun. Hanya itu yang kuharapkan selama mi. Semua rencana besar yang penting bukanlah untuk orang semacam aku ini. Bagaimanapun, aku ingin tahu apakah kita akan dimasukkan ke dalam lagu atau cerita. Sekarang kita memang sudah berada dalam satu cerita; tapi maksudku: dituangkan ke dalam kata-kata, diceritakan dekat perapian, atau dibaca dalam buku besar dengan huruf-huruf merah dan hitam, bertahun-tahun kemudian. Dan orang-orang akan berkata, 'Ayo kita dengarkan kisah Frodo dan Cincin!' Dan anak-anak akan berkata, 'Ya, itu salah satu dongeng favoritku. Frodo gagah berani, bukan begitu, Dad?' 'Ya, anakku, dia hobbit paling termasyhur, dan itu artinya besar sekali. "'
"Itu terlalu berlebihan," kata Frodo, dan ia tertawa, tawa jernih panjang dari dalam hatinya. Suara semacam itu belum pernah terdengar di tempat itu sejak Sauron datang ke Dunia Tengah. Sam merasa sekonyong-konyong semua batu mendengarkan, dan batu karang tinggi itu condong ke arah mereka. Tapi Frodo tidak menghiraukan; ia tertawa lagi. "Wah, Sam," katanya, "mendengar omonganmu entah kenapa membuatku gembira sekali, seolah cerita itu sudah ditulis. Tapi kau melupakan salah satu tokoh utama: Samwise yang berhati teguh.”
“Aku ingin dengar lebih banyak tentang Sam, Dad. Mengapa mereka tidak memuat lebih banyak tentang omongannya, Dad? Itu justru yang kusukai, membuatku tertawa. Dan Frodo tak mungkin berhasil tanpa Sam, ya kan, Dad?"' "Nah, Mr. Frodo," kata Sam, "seharusnya kau tidak berkelakar. Aku serius." "Begitu juga aku," kata Frodo, "dan memang begitu. Kita bergerak terlalu cepat. Kau dan aku, Sam, masih terjebak di salah satu tempat terburuk dalam cerita ini,

dan sangat mungkin seseorang akan berkata pada titik ini, 'Tutup bukunya, Dad;

kami tak ingin membacanya lagi.’”

"Mungkin," kata Sam, "tapi bukan aku yang akan bicara begitu. Peristiwa yang sudah berlalu dan dijadikan bagian dari cerita-cerita besar memang berbeda. Wah, bahkan Gollum bisa kedengaran bagus dalam dongeng, setidaknya lebih baik daripada kenyataannya. Dan dulu dia juga suka sekali mendengarkan cerita. Aku ingin tahu, apakah menurut pendapatnya sendiri dirinya adalah pahlawan atau penjahat?”
"Gollum!" teriaknya. "Kau ingin jadi pahlawan ke mana pula dia?"

Tak ada tanda-tanda Gollum berada di mulut perlindungan mereka, juga tidak di dalam bayangan di dekat situ. la menolak makanan mereka, tapi mau menerima seteguk air, seperti biasanya. Kemudian tampaknya ia meringkuk untuk tidur. Saat itu mereka menyangka salah satu alasan kepergiannya kemarin adalah untuk berburu makanan yang disukainya; kini rupanya ia menyelinap pergi lagi, sementara mereka bercakap-cakap. Tapi untuk apa kali ini?
"Aku tak suka dia menyelinap pergi tanpa memberitahu," kata Sam. "Apalagi sekarang. Dia tak mungkin mencari makanan di atas sini, kecuali ada batu yang disukainya. Di sini lumut pun tak ada!"
"Tak ada gunanya mencemaskan dia sekarang," kata Frodo. "Tanpa dia, kita tak mungkin pergi sejauh ini, tidak dalam jarak pandang celah ini sekalipun. Karena itu, kita terpaksa menerima saja ulahnya. Kalau dia licik, ya sudah, dia memang licik"
"Bagaimanapun, aku lebih suka kalau bisa mengawasinya," kata Sam. "Apalagi kalau dia memang licik. Kau ingat dia tak pernah mau menceritakan apakah jalan ini dijaga atau tidak? Dan sekarang kita melihat menara di sini mungkin menara itu kosong, mungkin juga tidak. Apa menurutmu dia pergi menjemput mereka, Orc atau apa saja?"
"Tidak, kurasa tidak," jawab Frodo. "Memang bukan tak mungkin dia punya rencana busuk, tapi kurasa dia tidak pergi menjemput Orc atau pelayan Musuh. Kenapa harus menunggu sampai sekarang, setelah mendaki dengan susah payah, dan pergi begitu dekat ke negeri yang ditakutinya? Dia bisa saja

mengkhianati kita berkali-kali dan mengumpankan kita kepada para Orc sejak kita bertemu dengannya. Tidak, kalau dia memang punya rencana jahat, itu pasti rancangannya sendiri, yang dikiranya masih sangat rahasia."
"Well, kurasa kau benar, Mr. Frodo," kata Sam. "Tapi aku tetap cemas. Aku tidak salah: aku tidak ragu dia akan menyerahkanku pada kaum Orc dengan senang hati. Tapi aku lupa Kesayangan-nya itu. Ya, kurasa selama ini niatnya adalah mendapatkan Kesayangannya itu. Itu satu-satunya inti dalam semua rencananya, kalau dia punya rencana. Tapi bagaimana dia bisa mewujudkan rencananya itu dengan membawa kita naik kemari, aku tak tahu."
"Mungkin sekali dia sendiri belum bisa memikirkannya," kata Frodo. "Dan menurutku dia bukan hanya punya satu rencana dalam kepalanya yang kacau- balau itu. Kurasa sebenarnya dia ingin mencoba menyelamatkan Kesayangan- nya itu dari tangan Musuh, sedapat mungkin. Sebab bisa menjadi malapetaka terakhir bagi dirinya sendiri, kalau Musuh memperoleh Kesayangan-nya. Di luar itu, mungkin dia hanya menunggu waktu dan kesempatan."
"Ya, Slinker dan Stinker, seperti pernah kukatakan," kata Sam. "Tapi semakin dekat ke negeri Musuh, Slinker akan semakin mirip Stinker. Camkan kata- kataku: kalau kita sampai ke celah itu, dia tidak akan membiarkan kita membawa benda berharga itu melewati perbatasan tanpa mencoba mencegahnya."
"Kita belum sampai ke sana," kata Frodo.

"Tidak, tapi sebaiknya kita memasang mata sampai kita tiba di sana. Kalau kita tertangkap sedang tidur, Gollum akan cepat sekali menerkam. Tapi bukan berarti sekarang tidak aman bagimu untuk tidur sebentar, Master. Aman kalau kau berbaring dekat denganku. Aku akan senang sekali melihatmu tidur. Aku akan menjagamu; kalau kau berbaring dekat aku, dengan tanganku memelukrnu, takkan ada yang bisa menyentuhmu tanpa diketahui Sam."
"Tidur!" kata Frodo, dan ia mengeluh, seolah di tengah-tengah padang pasir ia melihat fatamorgana hijau sejuk. "Ya, aku bisa tidur, walau di tempat ini sekalipun."
"Kalau begitu, tidurlah, Master! Baringkan kepalamu di pangkuanku."

Dan begitulah Gollum menemukan mereka beberapa jam kemudian, ketika ia kembali, merangkak dan merayap melewati jalari gelap di depan. Sam duduk bersandar pada batu, kepalanya jatuh ke samping, napasnya berat. Di pangkuannya berbaring Frodo, tenggelam dalam tidur lelap; di dahinya yang putih Sam meletakkan salah satu tangannya yang cokelat, tangan satunya menggeletak lembut pada dada majikannya. Kedamaian terpancar pada wajah mereka.
Gollum memandang mereka. Ekspresi aneh menyapu wajahnya yang kurus dan lapar. Sinar di matanya lenyap, matanya menjadi redup dan kelabu, tua dan letih. Kedut kesakitan seolah memelintirnya, dan ia memalingkan muka, memandang kembali ke jalan di atas, lalu menggelengkan kepala, seolah terlibat perdebatan dalam hati. Lalu ia kembali, perlahan mengulurkan tangannya yang gemetar, dan dengan hati-hati sekali ia menyentuh lutut Frodo tapi sentuhan itu hampir seperti belaian. Untuk sekilas, seandainya salah satu di antara yang sedang tidur itu bisa melihatnya, mereka pasti menyangka melihat seorang hobbit tua yang lelah, menyusut karena usia yang sudah membawanya jauh melebihi waktunya, melampaui keluarga dan teman-temannya, dan padang-padang serta sungai- sungai masa remajanya, sebuah sosok tua kelaparan yang mengibakan.
Tapi karena sentuhan itu Frodo bergerak dan berseru pelan dalam tidurnya, dan Sam langsung terbangun. Hal pertama yang dilihatnya adalah Gollum sedang "mencakar-cakar Majikan," pikimya.
"Hei kau!" katanya kasar. "Apa yang kaulakukan?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," kata Gollum lembut. "Majikan baik!"

"Masa?" kata Sam. "Tapi tadi kau ke mana menyelinap pergi dan menyelinap kembali, kau bajingan tua?"
Gollum mundur, cahaya kehijauan bersinar di bawah kelopak matanya yang berat. Sekarang ia tampak hampir seperti labah-labah, meringkuk bersandar pada kakinya yang ditekuk, matanya melotot. Saat sekejap itu sudah berlalu, tak bisa kembali lagi. "Menyelinap, menyelinap!" desisnya. "Hobbit selalu sangat sopan, ya. Oh, hobbit baik! Smeagol membawa mereka lewat jalan rahasia yang tak seorang pun tahu. Dia lelah, dia haus, ya … haus; dia menuntun mereka dan

mencari jalan, dan mereka bilang dia menyelinap, menyelinap. Kawan-kawan baik sekali. Oh ya, sayangku, baik sekali."
Sam agak menyesal, meski tetap tak percaya. "Maaf," katanya. "Aku menyesal, tapi kau mengagetkanku. Dan seharusnya aku tidak tidur, itu sebabnya aku agak ketus. Tapi Mr. Frodo lelah, dan kuminta dia tidur sebentar; yah, begitulah ceritanya. Maaf. Tapi sebenarnya kau ke mana?"
"Menyelinap," kata Gollum, dan sinar hijau itu tidak hilang dari matanya.

"Oh, ya sudah," kata Sam, "terserah kau! Kurasa itu tidak terlalu jauh dari kebenarannya. Dan sekarang lebih baik kita semua menyelinap bersama-sama. Jam berapa sekarang? Apakah masih hari ini atau sudah besok?"
"Sudah besok," kata Gollum, "atau hari ini adalah besok saat hobbit tidur. Bodoh sekali, sangat berbahaya kalau Smeagol malang tidak menyelinap ke sekitar untuk berjaga."
"Kurasa kita akan segera jemu dengan kata itu," kata Sam. "Tapi tak apa. Aku akan membangunkan Majikan." Dengan lembut ia menyingkapkan rambut Frodo yang jatuh ke alisnya, dan sambil membungkuk ia berbicara dengan lembut. "Bangun, Mr. Frodo! Bangun!"
Frodo bergerak dan membuka mata, lalu tersenyum melihat wajah Sam dekat wajahnya. "Membangunkan aku pagi-pagi, bukan, Sam?" katanya. "Masih gelap!"
"Ya, di sini selalu gelap," kata Sam. "Tapi Gollum sudah kembali, Mr. Frodo, dan dia bilang sekarang sudah besok. Jadi, kita harus berjalan lagi. Putaran terakhir." Frodo menarik napas dalam sekali dan bangkit duduk. "Putaran terakhir!" katanya. "Halo, Smeagol! Sudah menemukan makanan? Sudah istirahat?"
"Tidak ada makanan, tidak ada istirahat, tidak ada apa-apa untuk Smeagol," kata

Gollum. "Dia penyelinap."

Sam mendecakkan lidah, tapi menahan diri.

"Jangan mengata-ngatai dirimu sendiri, Smeagol," kata Frodo. "Itu tidak bijak, biarpun benar atau salah."
"Smeagol harus menerima apa yang diberikan kepadanya," jawab Gollum. "Dia diberi nama itu oleh Master Samwise, hobbit yang tahu banyak."

Frodo menatap Sam. "Ya, Sir," katanya. "Aku memang menggunakan kata itu, ketika bangun dengan kaget dari tidurku dan menemukan dia sudah dekat sekali. Aku sudah bilang aku menyesal, tapi sebentar lagi aku tidak akan menyesal lagi."
"Ayo, yang sudah ya sudah," kata Frodo. "Tapi sekarang kita mesti bicara, kau dan aku, Smeagol Katakan, bisakah kami sekarang menemukan sendiri sisa jalan ini? Kita sudah melihat celah itu, jalan masuknya, dan kalau kita bisa menemukannya sekarang, maka kupikir persetujuan kita berakhir. Kau sudah memenuhi janjimu, dan kau bebas: bebas untuk kembali mencari makanan dan istirahat, ke mana pun kau mau pergi, kecuali ke anak buah Musuh. Dan suatu saat nanti aku akan memberimu imbalan, aku atau mereka yang ingat aku." "Jangan, jangan dulu!" rengek Gollum. "Oh tidak! Mereka tak bisa mencari jalan sendiri, kan? Oh tidak. Masih ada terowongan. Smeagol harus tetap mendampingi. Tidak ada istirahat. Tidak ada makanan. Tidak sekarang."

BAB 9

SARANG SHELOB



Mungkin saja sekarang sudah pagi, seperti kata Gollum, tapi kedua hobbit tak bisa melihat perbedaannya, kecuali, mungkin, langit berat di atas tidak begitu hitam lagi, lebih seperti atap asap besar; sementara itu, bukan kegelapan malam pekat yang tampak kecuali di celah-celah dan lubang-lubang melainkan bayangan kelabu kabur yang menyelubungi dunia bebatuan di sekitar mereka. Mereka berjalan terus, Gollum di depan dan kedua hobbit sekarang berdampingan, mendaki jurang panjang di tengah tonjolan dan tiang-tiang batu yang koyak-koyak dimakan cuaca, yang berdiri seperti patung-patung besar tak berbentuk di kedua sisi. Tak ada bunyi. Tidak seberapa jauh di depan, sekitar satu mil, ada tembok besar berwarna kelabu, wujud besar terakhir dari batu pegunungan yang menjulang. Semakin gelap ia menjulang, dan lambat laun semakin tinggi ketika mereka mendekat, sampai menjulang tinggi di atas mereka, menutupi semua pemandangan di belakangnya. Bayangan kelam tergelar di kakinya. Sam mengendus-endus udara.
"Ahhh! Baunya!" katanya. "Semakin keras baunya."

Akhirnya mereka berada di bawah bayang-bayang itu, dan di tengahnya mereka melihat lubang gua. "Ini jalan masuknya," kata Gollum perlahan. "Ini jalan masuk ke terowongan." ia tidak menyebutkan namanya: Torech Ungol, Sarang Shelob. Bau busuk keluar dari lubang itu, bukan bau memuakkan dari pembusukan di padang-padang Morgul, melainkan bau busuk tak terkira dari kotoran yang bertumpuk dan ditimbun di dalam gua gelap itu.
"Apakah ini satu-satunya jalan, Smeagol?" tanya Frodo.

"Ya, ya," jawabnya. "Ya, kita harus lewat jalan ini sekarang."

"Maksudmu kau sudah pernah lewat gua ini?" kata Sam. "Bah! Tapi mungkin kau tidak peduli bau busuk."
Mata Gollum bersinar. "Dia tidak tahu apa yang best bagi kita, ya kan, sayangku? Tidak, dia tidak tahu. Tapi Smeagol bisa tahan banyak hal. Ya. Dia pernah lewat sini. Oh ya, lewat sini. Ini satu-satunya jalan."

"Dan apa yang menimbulkan bau ini, aku ingin tahu," kata Sam. "Seperti … yah, aku tak ingin mengucapkannya. Aku yakin lubang menjijikkan milik kaum Orc, dengan ratusan tahun kotoran mereka tertimbun di dalamnya."
"Well," kata Frodo, "Orc atau tidak, kalau ini satu-satunya jalan, kita harus melewatinya."


Dengan menarik papas dalam, mereka masuk. Setelah beberapa langkah, mereka sudah berada dalam kegelapan pekat dan tidak tembus pandang. Sejak selasar-selasar Moria yang gelap, Frodo dan Sam belum pernah mengalami kegelapan seperti ini; bahkan di sini lebih gelap dan pekat. Di Moria, udara masih mengalir, masih ada gema, dan terasa ada ruang. Di sini udaranya diam, tak bergerak, berat, dan setiap bunyi tidak bergema. Mereka seolah berjalan dalam uap hitam yang dijalin dari kegelapan itu sendiri, yang kalau dihirup mengakibatkan kebutaan bukan hanya pada mata, tapi juga pada pikiran, sehingga ingatan akan warna, bentuk, dan cahaya sama sekali lenyap dari pikiran. Seakan-akan malam sudah sejak dulu ada, akan selalu ada, dan hanya malam yang berkuasa.
Tapi untuk beberapa saat mereka masih bisa merasakan, dan mula-mula indra peraba pada jari-jari kaki dan tangan mereka jadi lebih tajam, sampai hampir menyakitkan. Mereka heran karena dinding-dinding terasa mulus, lantai pun datar dan rata, kecuali sesekali di beberapa tempat, mendaki terus dengan kemiringan yang sama. Terowongan itu tinggi dan lebar, begitu lebar sehingga, meski kedua hobbit berjalan berdampingan, hanya menyentuh sisi-sisi tembok dengan tangan terentang, mereka toh terpisah, terputus hubungan dalam kegelapan.
Gollum sudah masuk lebih dulu, dan tampaknya hanya beberapa langkah di depan. Mereka masih bisa mendengar napasnya mendesis dan mendesah tepat di depan mereka. Tapi, setelah beberapa saat, indra-indra mereka semakin tumpul, daya sentuh dan daya dengar seolah kian mati rasa, namun mereka terus maju, meraba-raba, berjalan, maju terus, terutama karena tekad besar mereka sejak memasuki gua ini, kemauan untuk melewati jalan ini, dan hasrat

untuk keluar sampai ke gerbang tinggi di sana.

Sebelum mereka berjalan jauh-mungkin belum jauh, tapi Sam sudah tak bisa mengukur waktu dan jarak sekarang Sam yang berjalan di sebelah kanan meraba-raba tembok dan menyadari ada bukaan di sisi itu: sekejap ia menangkap angin lemah dari udara yang tidak begitu berat, kemudian mereka pun lewat.
"Ada lebih dari satu selasar di sini," ia berbisik dengan susah payah: rasanya sulit untuk mengeluarkan suara. "Tempat ini pasti penuh Orc!"
Setelah itu, mereka melewati tiga atau empat bukaan seperti itu Sam di sebelah kanan, Frodo di sebelah kin. Beberapa bukaan itu lebih lebar, beberapa lebih sempit; tapi sampai sekarang jalan utama tak perlu diragukan, karena ia menjulur lurus, tidak berbelok, dan masih terus menanjak. Tapi seberapa panjang jalan itu? Berapa banyak lagi yang bisa mereka tahankan atau harus mereka derita? Kepengapan udara semakin terasa ketika mereka mendaki; dan sekarang, dalam kegelapan, mereka sering merasakan suatu perlawanan yang lebih berat daripada udara busuk di situ. Ketika mereka maju terus, terasa ada benda-benda menyapu kepala atau menyentuh tangan mereka. Mungkin sulur- sulur panjang atau tanaman gantung: mereka tidak tahu benda apa itu. Bau busuk juga semakin tajam. Begitu tajam, sampai rasanya hanya bau itu satu- satunya indra yang masih tersisa, itu pun hanya demi menyiksa mereka. Satu jam, dua jam, tiga jam: berapa jam sudah berlalu dalam terowongan tanpa cahaya ini? Berjam-jam berhari-hari, malah berminggu-minggu rasanya. Sam meninggalkan sisi terowongan dan mendekati tubuh Frodo, tangan mereka bertemu dan berpegangan, dan begitulah mereka berdua terus berjalan.
Akhirnya Frodo, yang meraba-raba tembok sebelah kiri, sekonyong-konyong sampai ke sebuah lubang. Hampir saja ia jatuh ke samping, ke dalam kekosongan. Di sini ada bukaan dalam batu karang yang jauh lebih lebar dari yang pernah mereka lewati; dan dari sana muncul bau yang sangat busuk, serta perasaan tajam bahwa ada ancaman tersembunyi di sana, sampai Frodo terhuyung-huyung. Saat itu Sam juga terhuyung-huyung dan jatuh ke depan. Sambil melawan rasa mual dan ketakutan, Frodo mencengkeram tangan Sam.

"Bangkit!" katanya dengan suara serak tanpa bunyi. "Semuanya berasal dan sini, bau busuk dan bahayanya. Ayo! Cepat!"
Dengan mengumpulkan sisa kekuatan dan tekadnya, ia menyeret Sam berdiri dan memaksakan anggota tubuhnya sendiri bergerak. Sam tersandung di sebelahnya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah-setidaknya enam langkah. Mungkin mereka sudah melewati lubang mengerikan yang tidak tampak, tapi entah benar atau tidak, tiba-tiba rasanya lebih mudah bergerak, seolah untuk sementara mereka lepas dan suatu kehendak jahat yang menguasai mereka. Mereka berjuang terus untuk maju, masih bergandengan tangan.
Tapi hampir seketika mereka menjumpai kesulitan baru. Terowongan itu bercabang, atau tampaknya begitu, dan dalam gelap mereka tidak tahu jalan mana yang lebih lebar, atau yang lebih mendekati jalan lurus. Yang mana yang harus mereka ambil, kini atau kanan? Tak ada petunjuk untuk menuntun mereka, tapi pilihan keliru hampir pasti berakibat fatal.
"Jalan mana yang dilalui Gollum?" Sam terengah-engah. "Dan mengapa dia tidak menunggu?"
"Smeagol!" kata Frodo, berusaha memanggil. "Smeagol!" Tapi suaranya parau, dan nama itu sudah tak berbunyi ketika meninggalkan bibirnya. Tak ada jawaban, tak ada gema, bahkan tak ada getaran di udara.
"Kurasa dia benar-benar pergi kali ini," gerutu Sam. "Barangkali dia memang berniat membawa kita ke tempat ini. Gollum! Kalau suatu saat nanti aku berhasil menangkapmu, kau akan menyesal."
Akhirnya, dengan meraba-raba dan mencari-cari dalam gelap, mereka

menemukan bahwa lubang ke sebelah kini tertutup: mungkin buntu, atau ada batu besar jatuh ke dalam selasar. "Tak mungkin ini jalannya," bisik Frodo. "Benar atau salah, kita harus lewat jalan satunya."
"Dan cepatlah!" Sam terengah-engah. "Ada sesuatu yang lebih buruk daripada

Gollum di sekitar sini. Bisa kurasakan sesuatu mengamati kita."

Mereka baru berjalan beberapa meter ketika dari belakang datang suatu bunyi, mengejutkan dan mengerikan dalam kesunyian pekat itu: suatu bunyi berdeguk, menggelegak, dan desis panjang menyeramkan. Mereka berputar menoleh, tapi

tak ada yang tampak. Mereka berdiri diam seperti batu, memandang, menunggu entah makhluk apa yang datang.
"Ini perangkap!" kata Sam, dan ia memegang pangkal pedangnya; pada saat bersamaan, ia teringat kegelapan Barrow-downs. "Kalau saja Tom ada bersama kita sekarang!" pikirnya. Lalu, ketika ia berdiri dikurung kegelapan serta rasa putus asa dan amarah yang menghitam di hatinya, ia merasa melihat seberkas cahaya: seberkas cahaya dalam pikirannya, mula-mula hampir tak tertahankan terangnya, seperti sinar matahari bagi mata orang yang sudah lama bersembunyi di sumur tanpa jendela. Lalu cahaya itu berubah menjadi warna- warna: hijau, emas, perak, dan putih. Jauh sekali, seolah dalam lukisan kecil goresan jeman Peri, ia melihat Lady Galadriel berdiri di bentangan rumput di Lorien, dengan berbagai hadiah di tangannya. Dan kau, Penyandang Cincin, ia mendengar Galadriel berkata, jauh tapi jelas, untukmu aku sudah menyiapkan ini.
Desis menggelegak itu semakin dekat, dan ada bunyi berderak, seolah suatu benda bersendi-sendi sedang bergerak perlahan-lahan dalam gelap. Bau busuk mendahuluinya. "Master, Master!" seru Sam, suaranya menyiratkan gairah hidup dan semangat. "Hadiah dari sang Lady! Kaca bintang! Cahaya bagimu di tempat- tempat gelap, begitu katanya. Kaca bintang!"
"Kaca bintang?" gumam Frodo, seperti orang yang menjawab sambil tidur, hampir tidak memahami. "Oh ya! Kenapa aku sampai lupa! Cahaya ketika semua cahaya lain padam! Dan sekarang memang hanya cahaya yang bisa menolong kita."


Perlahan-lahan tangannya bergerak ke dada, dan pelan-pelan ia mengangkat Bejana Galadriel. Sesaat bejana itu bersinar, redup seperti bintang yang sedang naik, berjuang keras dalam kabut berat yang menuju bumi. Kemudian, ketika kekuatannya makin besar, dan dalam pikiran Frodo timbul harapan, bejana itu mulai menyala dan berkobar menjadi api perak, setitik inti cahaya terang menyilaukan, seolah Earendil sendiri sudah datang dalam galur-galur matahari terbenam, dengan Silmaril terakhir di dahinya. Kegelapan mundur dari api perak

itu, dan akhirnya api itu seolah bersinar di pusat sebuah bola kristal besar, tangan yang memegangnya berkelip-kelip dengan api putih.
Frodo menatap kagum hadiah indah yang sudah lama dibawanya itu, tanpa menduga nilai dan kekuatannya yang hebat. Jarang ia ingat benda itu dalam perjalanannya, sampai mereka tiba di Lembah Morgul, dan ia belum pernah menggunakannya, takut cahayanya akan, menyingkap kehadirah mereka. Aiya Earendil Elenion Ancalima! teriaknya. la tidak tahu apa yang diteriakkannya, sebab rasanya suatu suara lain berbicara melalui suaranya, jernih, tidak terganggu oleh udara busuk gua itu.
Tapi ada kekuatan lain di Dunia Tengah, kekuatan hebat yang sudah tua dan sangat kuat. Dan Dia yang berjalan dalam Kegelapan telah mendengar kaum Peri menyerukan teriakan itu, jauh di relung-relung waktu, namun dia tidak mengindahkannya; sekarang pun itu tidak membuatnya kecil hati. Saat berbicara, Frodo merasa sebuah kekejian besar mendesaknya, dan sebuah mata jahat yang ditujukan terhadapnya. Tidak jauh di dalam terowongan, antara mereka dengan lubang tempat mereka terhuyung-huyung dan tersandung, ia melihat sepasang mata muncul, dua bercak besar mata berjendela banyak- bahaya yang akan datang itu akhirnya tersingkap. Kecemerlangan kaca bintang itu menyebar kini, berpendar dalam ribuan fasetnya, namun di balik kilauan itu sebuah api mematikan mulai tumbuh dari dalam, nyala api yang dikobarkan dalam semacam sumur pikiran jahat yang sangat dalam. Mata yang mengerikan dan menyeramkan, seperti binatang, namun penuh tekad dan memancarkan. kegembiraan menjijikkan, menatap tamak mangsanya yang terjebak, tanpa harapan untuk lolos.


Frodo dan Sam hampir lumpuh ketakutan; mereka mulai mundur perlahan-lahan, terpaku menatap sorot mengerikan dari mata yang keji itu; tapi semakin mereka mundur, semakin mata itu mendekat. Tangan Frodo gemetar, dan pelan-pelan bejana kaca itu terkulai. Sekonyong-konyong, saat terbebas sementara dari sihir mata itu, mereka membalikkan badan dan lari bersama-sama dengan panik. Tapi ketika mereka berlari, Frodo menoleh dan melihat dengan ngeri bahwa sepasang

mata itu melompat mengejar. Bau busuk kematian mengepungnya seperti awan. "Berhenti! Berhenti!" teriaknya putus asa. "Berlari tak ada gunanya."
Pelan-pelan mata itu merangkak menghampiri.

"Galadriel!" teriak Frodo, dan sambil mengumpulkan keberaniannya ia mengangkat sekali lagi bejana kaca itu. Mata itu berhenti. Sejenak pandangannya mengendur, seolah ragu. Hati Frodo berkobar, dan tanpa memikirkan apa yang dilakukannya, entah itu kebodohan, atau putus asa, atau keberanian, ia memegang Bejana tersebut dengan tangan kirinya, dan menghunus pedangnya dengan tangan kanan. Sting keluar dengan bersinar, mata pedang Peri yang tajam itu berkilauan dalam cahaya perak, tapi di kedua tepiannya berkelip cahaya biru. Kemudian, sambil memegang Bejana itu tinggi- tinggi, dan menghunus pedangnya yang bersinar, Frodo, hobbit dari Shire itu, berjalan maju dengan tabah untuk menghadapi sang mata.
Mata itu guncang. Timbul keraguan, di dalamnya ketika cahaya di tangan Frodo menghampirinya. Satu demi satu mata itu meredup, dan perlahan mundur. Belum pernah ada cahaya terang yang begitu mematikan menimpanya. Selama ini, mata itu aman dari cahaya matahari, bulan, dan bintang, di bawah tanah, tapi kini sebuah bintang sudah turun ke dalam bumi. Cahaya itu kian dekat, dan mata itu mulai gemetar. Lalu satu demi satu mata itu menggelap; mereka berbalik, dan suatu sosok besar, di luar jangkauan cahaya, menghela bayangannya yang besar di antaranya. Dan ia pergi.


"Master, Master!" teriak Sam. ia dekat di belakang Frodo, pedangnya juga terhunus siap. "Bintang-bintang dan kemenangan! Kaum Peri pasti akan membuat lagu kalau mereka mendengar tentang kejadian ini! Mudah-mudahan aku masih hidup untuk menceritakannya pada mereka, dan mendengar mereka menyanyikannya. Tapi jangan jalan terus, Master. Jangan masuk ke sarang itu! Sekarang kesempatan kita satu-satunya. mari kita keluar dari lubang busuk ini. Maka mereka berputar sekali lagi, mula-mula berjalan, kemudian berlari, karena jalan dalam terowongan itu mendaki terjal, dan setiap langkah membawa mereka semakin jauh di atas bau busuk dan sarang yang tidak tampak itu. Tubuh dan

hati mereka kembali diliputi kekuatan. Tapi kebencian sang Pengintai masih bersembunyi di belakang mereka, untuk sementara mungkin buta, tapi belum terkalahkan, masih ingin membunuh. Kini aliran udara datang menyambut mereka, dingin dan tipis. Lubang akhir terowongan ada di depan. Sambil terengah-engah, merindukan tempat tanpa atap, mereka melemparkan diri ke depan, lalu dengan tercengang mereka terhuyung-huyung, terpental kembali. Lubang itu ditutup semacam penghalang, tapi bukan dari batu: lembut dan agak lentur rupanya, namun sangat kuat dan tidak mempan didorong; udara merembes masuk, tapi berkas cahaya tidak. Sekali lagi mereka menyerbu, dan terpental kembali.
Sambil mengangkat Bejana itu, Frodo mengamati. Di depannya ia melihat bidang kelabu yang tak bisa ditembus kecemerlangan kaca bintang, juga tak bisa disirtari, seolah bayangan itu terjadi bukan karena kena cahaya, sehingga tak ada cahaya yang bisa menghilangkannya. Melintasi lebar dan tinggi terowongan itu, sebuah jaring sudah dijalin, teratur seperti sarang labah-labah raksasa, tapi tenunannya lebih rapat dan jauh lebih besar, dan setiap benangnya setebal tambang.
Sam tertawa muram. "Sarang labah-labah!" katanya. "Hanya itu? Sarang labah- labah! Tapi labah-labah macam apa itu! Serbu, hancurkan!"
Dengan marah ia memukulkan pedangnya, tapi benang yang dipukulnya tidak putus. Benang itu hanya melentur sedikit, kemudian melenting kembali seperti tali busur yang dipetik, memutar mata pedang dan melemparkan ke atas baik pedang maupun tangan. Tiga kali Sam memukul sekuat tenaga, dan akhirnya satu benang tunggal di antara semua benang yang tak terhitung jumlahnya itu putus dan terpelintir, menggulung dan memecut di udara. Satu ujungnya mencambuk tangan Sam, dan ia berteriak kesakitan, melompat mundur dan menarik tangannya ke atas bibir.
"Bisa makan waktu berhari-hari, membuka jalan seperti ini," katanya. "Kita harus berbuat apa? Apa mata itu sudah kembali?"
"Tidak, tidak terlihat," kata Frodo. "Tapi aku masih merasa mereka memandangiku, atau memikirkan aku: mungkin membuat rencana lain. Kalau

cahaya ini diturunkan, atau padam, mata itu akan segera datang lagi."

"Kita terjebak!" kata Sam pahit, kemarahannya melebihi keletihan dan keputusasaannya. "Seperti serangga dalam jala. Semoga kutukan Faramir menggigit Gollum dan menggigitnya cepat!"
"Itu tidak akan membantu kita sekarang," kata Frodo. "Ayo! Coba kita lihat, apa yang bisa dilakukan Sting. Ini pedang Peri. Ada jaring-jaring mengerikan di jurang-jurang gelap di Beleriand, di mana dia ditempa. Tapi kau harus menjaga dan menahan mata itu. Nih, ambil kaca bintang ini. Jangan takut. Angkat tinggi- tinggi dan waspada!"


Kemudian Frodo maju ke dekat jala besar kelabu itu, dan menyapunya dengan satu pukulan, menyabetkan sisi tajam pedangnya dengan cepat ke susunan tali yang terjalin rapat, sambil langsung melompat mundur. Pedang yang bersinar biru itu menebas jala jala tersebut seperti sabit besar membabat rumput, hingga mereka meloncat menggeliat, kemudian tergantung bebas. Sebuah koyakan besar menganga.
Pukulan demi pukulan ia lancarkan, sampai akhirnya seluruh jala dalam jangkauannya hancurlah, bagian atasnya bergerak dan bergoyang seperti selubung kendur dalam angin yang berembus masuk. Perangkap itu sudah hancur.
"Ayo!" teriak Frodo. "Maju, maju!" Kegembiraan menggebu-gebu atas lolosnya mereka dari mulut maut mendadak mengisi seluruh benaknya. Kepalanya berputar-putar, seolah habis minum anggur keras. la melompat keluar, sambil berteriak.
Daratan remang-remang itu tampak terang di matanya yang sudah melewati gua malam. Asap-asap besar sudah naik dan menipis, dan jam-jam terakhir suatu hari muram sedang berlalu; nyala merah dari Mordor sudah padam dalam keremangan suram. Namun Frodo merasa ia tengah menatap pagi yang tiba-tiba kembali dipenuhi harapan. la sudah hampir sampai di puncak tembok. Tinggal sedikit lebih tinggi sekarang. Celah itu, Cirith Ungol, ada di depannya, sebuah noktah redup di punggung bukit hitam, dengan tanduk-tanduk batu karang gelap

di langit di kedua sisinya. Hanya sejarak lari cepat, jalan lurus untuk pelari cepat, dan ia sudah sampai!
"Celah, Sam!" teriaknya, tanpa menghiraukan lengkingan suaranya, yang setelah terbebas dari udara menyesakkan di terowongan sekarang berbunyi nyaring dan liar. "Celah! Lari, lari, dan kita akan melewatinya lewat sebelum ada yang bisa menghentikan kita!"
Sam menyusul secepat kakinya bisa dipaksakan; tapi, meski gembira sudah bebas, ia tetap merasa cemas, dan sambil berlari, ia terus menoleh kembali ke lengkungan gelap terowongan itu, takut melihat sepasang mata, atau suatu wujud yang melampaui khayalannya, meloncat keluar mengejar mereka. la maupun majikannya belum tahu seberapa lihainya Shelob. Makhluk itu punya banyak sekali jalan keluar dari sarangnya.


Sudah berabad-abad ia bermuKini di situ, suatu bentuk jahat dalam wujud labah- labah, seperti jenis yang pernah hidup di zaman dulu, di Negeri Peri di Barat, yang sekarang sudah terbenam di Samudra; seperti yang dilawan Beren di Pegunungan Teror di Doriath, hingga ia , berjumpa Luthien di padang rumput, di tengah pohon-pohon cemara di bawah sinar bulan, lama berselang. Bagaimana caranya Shelob bisa sampai ke sana, meloloskan diri dari kehancuran, tak ada ceritanya, sebab dari Tahun-Tahun Gelap hanya sedikit dongeng yang ada. Bagaimanapun, ia ada di sana, lebih dulu daripada Sauron, dan lebih dulu daripada batu pertama Barad-dur; ia hanya melayani dirinya sendiri, minum darah Peri dan Manusia, membengkak gemuk menikmati pesta poranya, menjalin jaring-jaring kegelapan; semua makhluk hidup menjadi makanannya, dan muntahannya adalah kegelapan. Keturunannya yang lebih kecil, anak dan pasangan-pasangannya yang malang, anak-anaknya sendiri yang dibunuhnya, menyebar dan lembah ke lembah, dari Ephel Duath ke bukit-bukit timur, sampai ke Dol Guldur dan Mirkwood yang luas. Tapi tak ada yang bisa menandinginya, Shelob Agung, anak terakhir dari Ungoliant yang mengganggu dunia yang sengsara.
Sudah bertahun-tahun yang lalu Gollum melihatnya; Smeagol yang mengorek-

ngorek semua lubang gelap. Di masa lampau ia membungkuk memuja Shelob. Kegelapan dari hasrat jahat makhluk itu mendampinginya dalam keletihannya, memisahkannya dari cahaya dan penyesalan. Dan ia sudah berjanji akan membawakan makanan. Tapi gairah Shelob bukan gairah Gollum. Shelob tak peduli tentang menaramenara, atau cincin, atau apa pun yang merupakan hasil karya pikiran ataupun tangan. Shelob hanya mengharapkan kematian makhluk- makhluk lain, tubuh maupun pikiran, dan ia menghendaki kelimpahan untuk dirinya sendiri, hingga tubuhnya membengkak dan pegunungan tak lagi sanggup menopangnya, dan kegelapan tak bisa lagi menyembunyikannya.
Tapi hasrat itu masih jauh sekali, dan sekarang ini ia sudah lama kelaparan, bersembunyi di sarangnya, sementara kekuatan Sauron semakin besar, dan cahaya serta makhluk-makhluk hidup meninggalkan perbatasan-perbatasannya; kota di lembah itu sudah mati, tak ada Peri maupun Manusia yang mendekatinya, selain Orc-Orc yang sengsara. Makanan yang tidak lezat dan selalu waspada. Tapi ia harus makan, dan meski Orc-Orc itu sibuk menggali jalan-jalan baru yang berliku-liku dari celah dan menara mereka, Shelob selalu menemukan cara untuk menjerat mereka. Tapi ia ingin daging yang lebih manis. Dan Gollum sudah membawakannya untuknya. “Lihat saja, lihat saja," Gollum sering berkata pada dirinya sendiri, ketika suasana hatinya sedang jahat, saat ia melewati jalan berbahaya dan Emyn Muil ke Lembah Morgul. "Kita lihat saja. Mungkin sekali, oh ya, mungkin sekali; kalau Dia sudah membuang tulang-tulang dan pakaian mereka, mungkin kita akan menemukannya, kita akan memperolehnya, sayangku, hadiah untuk Smeagol malang yang membawa makanan enak. Dan kita akan menyelamatkan sayangku, seperti sudah kita janjikan. Oh ya. Dan kalau benda itu sudah aman, Shelob akan tahu, oh ya, dan kita akan membalas budi Shelob, sayangku. Nanti semuanya kita beri imbalan!" Begitu pikirnya dengan cerdik. Namun rencana ini masih disembunyikannya dari Shelob, meski ia sudah menghadap dan membungkuk di depan labah-labah itu ketika kedua hobbit sedang tidur.
Sementara itu, Sauron tahu di mana Shelob bersembunyi. la senang Shelob tinggal di sana dalam keadaan lapar, dengan kekejiannya yang tidak berkurang.

Makhluk itu malah menjadi penjaga jalan masuk ke negerinya yang sangat ampuh, lebih ampuh daripada yang mungkin diciptakan Sauron sendiri dengan keahliannya. Orc juga pelayan yang berguna, tapi ia punya banyak sekali. Kalau sesekali Shelob menangkap mereka untuk memenuhi selera makannya, boleh- boleh saja: toh sisanya masih cukup banyak. Dan kadang-kadang, seperti orang melemparkan makanan lezat pada kucingnya (Sauron menyebut Shelob kucingnya, tapi Shelob tidak mengakui Sauron sebagai majikannya) Sauron suka mengirimkan tawanan-tawanan yang tak bisa dimanfaatkannya untuk hal lain: ia menyuruh mereka didesak sampai ke lubang persembunyian Shelob, dan menunggu laporan tentang aksi Shelob.
Begitulah mereka berdua hidup, senang dengan cara masing-masing tidak mencemaskan serangan, kemarahan, maupun akhir kekejian mereka. Belum pernah ada yang lolos dari jaring jaring Shelob, dan sekarang kemarahan dan kelaparannya makin menjadi-jadi.


Tapi Sam sama sekali tidak tahu tentang bahaya ini, bahaya yang mereka kobarkan terhadap diri sendiri. la hanya merasa ada ketakutan yang timbul dalam dirinya, suatu ancaman yang tak bisa dilihatnya; dan perasaan ini menjadi beban berat baginya, sampai-sampai menghambat pelariannya, dan kakinya serasa terbuat dari timah.
Kengerian mengepungnya, musuh-musuhnya ada di celah di depannya, sementara majikannya sedang sinting dan justru berlari menyongsong musuh tanpa menghiraukan bahaya. Sam mengalihkan pandang dari bayangan di belakang, juga dari keremangan pekat di bawah batu karang di sisi kirinya. la menatap ke depan, dan melihat dua hal yang memperparah kekagetannya. la melihat pedang yang masih dipegang Frodo dalam keadaan terhunus, bersinar dengan cahaya biru; dan ia melihat bahwa meski langit di belakangnya sekarang gelap, jendela di menara itu menyala merah.
"Orc!" gerutunya. "Kita tak bisa gegabah begini. Banyak Orc di sekitar sini, dan makhluk-makhluk lain yang lebih jahat daripada Orc." Lalu diam-diam ia menangkupkan tangan pada Bejana yang masih dibawanya. Sejenak tangannya

bersinar merah oleh darahnya sendiri, kemudian ia memasukkan cahaya terang itu ke saku bajunya dan menutup rapat jubah Peri-nya. Sekarang ia mencoba mempercepat langkah. Majikannya sudah sekitar dua puluh langkah di depan, melompat-lompat seperti bayangan; tak lama lagi Frodo akan segera lenyap tertelan dunia kelabu itu.


Baru saja Sam menyembunyikan cahaya kaca bintang itu, Shelob datang. Agak di depan, dan di sebelah kirinya, sekonyong-konyong Sam melihat wujud paling menjijikkan yang pernah dilihatnya, muncul dari sebuah lubang hitam di bawah batu karang, mengerikan melebihi mimpi seram. Makhluk itu sangat mirip labah- labah, tapi jauh lebih besar daripada hewan pemburu besar, dan lebih mengerikan daripada mereka, karena niat keji yang terpancar dari matanya yang kejam. Mata yang dikira Sam sudah kecil hati dan kalah itu ternyata kembali bersinar dengan cahaya busuk, menggumpal di kepalanya yang dijulurkan. la mempunyai tanduk besar, dan di belakang lehernya yang seperti batangan pendek terdapat tubuhnya yang membengkak besar, seperti kantong besar yang gembung, bergoyang dan melengkung di antara kakinya; bagian terbesar berwarna hitam, bebercak tandatanda pucat, tapi perut di bawahnya pucat bercahaya dan mengeluarkan bau busuk. Kakinya tertekuk, dengan sendi-sendi besar dan benjol tinggi di atas punggungnya, serta rambut-rambut yang menjulur seperti duri-duri baja, dan pada setiap ujung kakinya ada cakar.
Setelah mendesak badannya yang lembek dan anggota tubuhnya yang terlipat keluar dari lubang bagian atas sarangnya, ia bergerak maju dengan kecepatan mengerikan, kadang-kadang berlari dengan kakinya yang berderak, kadang- kadang melompat mendadak. la berada di antara Sam dan Frodo. Mungkin ia tidak melihat Sam, atau menghindarinya untuk sementara, karena Sam membawa cahaya. la memusatkan seluruh perhatiannya pada satu mangsa, yaitu Frodo yang tidak memegang Bejana-nya, berlari tanpa mengacuhkan sekitarnya, belum menyadari bahaya yang mengancam. Frodo berlari cepat, tapi Shelob lebih cepat; dalam beberapa lompatan ia pasti bisa menangkap Frodo. Sam terengah-engah dan mengumpulkan seluruh sisa napasnya untuk berteriak.

"Awas di belakang!" teriaknya. "Awas, Master! Aku …” tapi sekonyong-konyong teriakannya terhenti.
Sebuah tangan panjang basah menutup mulutnya, dan satu tangan lain mencengkeram lehernya, sementara sesuatu mendekap kakinya. Karena terkejut, ia jatuh ke belakang, ke dalam cengkeraman penyerangnya.
"Dapat!" desis Gollum di telinganya. "Akhirnya, sayangku, kita menangkapnya, ya, hobbit yang jahat. Kita ambil yang ini. Dia dapat yang lainnya. Oh ya, Shelob akan dapat dia, bukan Smeagol; Smeagol sudah berjanji tidak akan melukai Majikan sama sekali. Tapi Smeagol dapat kau, kau penyelinap kecil jahat dan busuk!" ia meludahi leher Sam.
Murka karena dikhianati, dan merasa putus asa karena hambatan ini, sementara majikannya sedang menghadapi bahaya mematikan, mendadak Sam memperlihatkan kekuatan dan keganasan luar biasa, yang jauh di luar perkiraan Gollum. Apalagi selama ini ia menganggap Sam hobbit yang lamban dan bodoh. Bahkan Gollum sendiri tak mampu menggeliat lebih cepat atau lebih ganas. Pegangannya di mulut Sam terlepas, Sam menunduk dan melompat maju, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pada lehernya. Pedangnya masih di tangan kanan, dan di tangan kirinya, menggantung pada tali, ada tongkat yang diberikan Faramir. Dengan tekad besar Sam berusaha memutar tubuh dan menikam musuhnya. Tapi Gollum terlalu gesit.
Tangannya yang panjang menjulur cepat, memegang pergelangan tangan Sam: jarinya seperti penjepit; perlahan-lahan dan tanpa kenal ampun ia menekuk tangan Sam ke bawah dan ke depan, sampai Sam melepaskan pedangnya sambil berteriak kesakitan. Pedang itu terjatuh ke tanah; sementara itu, tangan Gollum yang lainnya mencekik leher Sam makin keras.
Kemudian Sam memainkan tipuannya yang terakhir. Dengan seluruh kekuatannya, ia mundur dan menapakkan kakinya dengan kokoh; lalu mendadak ia mendorong kakinya dari tanah, dan melemparkan diri ke belakang dengan seluruh kekuatannya.
Karena tak menduga Sam akan melakukan tipuan sederhana ini, Gollum jatuh terjungkal dengan Sam di atasnya, dan hobbit kekar itu mendarat di perutnya.

Gollum mengeluarkan desis tajam, dan sejenak cengkeraman tangannya di leher Sam mengendur; tapi jarinya masih memegang pangkal pedang. Sam melepaskan diri dan menjauh, lalu bangkit berdiri, dengan cepat memutar tubuhnya ke kanan, berputar pada sumbu pergelangan yang dipegang Gollum. Sambil memegang tongkat dengan tangan kirinya, Sam mengayunkannya ke atas, lalu dengan bunyi derak berdesing ia menghantam tangan Gollum yang terulur, persis di bawah sikunya.
Dengan menjerit Gollum melepaskannya. Lalu Sam maju: tanpa menunggu untuk memindahkan tongkat dari kiri ke kanan, ia melancarkan pukulan lain yang juga keras. Cepat seperti ular Gollum meluncur ke pinggir, dan cambukan yang ditujukan ke kepalanya jatuh ke punggungnya. Tongkat itu berderak dan patah. Cukup sudah. Menangkap dari belakang memang taktik lamanya, dan ia jarang gagal. Tapi kali ini, tertipu oleh kedengkiannya, ia membuat kesalahan dengan berbicara dan berbangga sebelum kedua tangannya mencekik leher korbannya. Seluruh rencananya hancur berantakan, sejak cahaya mengerikan itu mendadak muncul dalam kegelapan. Dan sekarang ia berhadapan langsung dengan musuh yang galak, yang ukuran tubuhnya tidak jauh berbeda. Perkelahian ini bukan untuknya. Sam memungut pedangnya dari tanah dan mengangkatnya. Gollum mendecit, sambil melompat ke pinggir dan mendarat dalam posisi merangkak, ia melompat pergi dengan satu loncatan seperti katak. Sebelum Sam bisa mengejarnya, ia sudah hilang, berlari dengan kecepatan mengagumkan, kembali ke terowongan.
Dengan pedang di tangan, Sam mengejarnya. Untuk sementara ia lupa segala sesuatunya, kecuali kemarahan besar dalam pikirannya, dan hasrat untuk membunuh Gollum. Tapi sebelum ia bisa menyusul, Gollum sudah lenyap. Kemudian, ketika lubang hitam itu sudah ada di depannya dan bau busuk keluar menyongsongnya, seperti gelegar guruh pikiran tentang Frodo dan monster timbul dalam benak Sam. ia membalikkan badan dan berlari liar melewati jalan, memanggil dan memanggil nama majikannya. Sudah terlambat. Sejauh itu rencana Gollum berhasil.

BAB 10

PILIHAN MASTER SAMW ISE



Frodo berbaring tengkurap di tanah, dan monster itu merunduk di atasnya, begitu asyik mengamati korbannya, hingga tidak memedulikan Sam dan teriakannya, sampai ia sudah dekat sekali. Ketika Sam berlari menghampiri, Frodo sudah terikat jalinan tall, dari pergelangan kaki sampai pundak, dan dengan kedua kaki depannya monster itu sudah mulai setengah mengangkat setengah menyeret tubuhnya pergi.
Di dekat Frodo menggeletak pedangnya yang bersinar, jatuh tak berdaya dari genggaman tangannya. Sam tidak menunggu untuk bertanya-tanya apa yang harus dilakukan, atau apakah ia berani, atau setia, atau penuh amarah. la meloncat maju sambil berteriak, dan mengambil pedang majikannya dengan tangan kirinya. Lalu ia menyerbu. Belum pernah terlihat serangan gencar yang lebih ganas di dunia hewan liar, di mana suatu makhluk kecil nekat yang hanya dipersenjatai gigi kecil, menyerang menara dari tanduk dan kulit yang berdiri di atas pasangannya yang terjatuh.
Terganggu oleh teriakan Sam yang kecil, seolah terbangun dari suatu mimpi tamak, Shelob perlahan-lahan mengalihkan tatapannya yang keji dan mengerikan ke arah Sam. Tapi, hampir sebelum ia menyadari bahwa kemarahan yang menyerangnya jauh lebih besar daripada yang pernah dialaminya selama bertahun-tahun yang tak terhitung, pedang bersinar itu menggigit kakinya dan memangkas cakarnya. Sam melompat masuk ke dalam lengkungan kakinya, dan dengan tusukan cepat ke atas, tangannya yang lain menusuk kerumunan mata di dahinya yang sedang menunduk. Satu mata besar padam.
Sekarang Sam berada tepat di bawah Shelob, dan untuk sementara di luar jangkauan sengat dan cakarnya. Perutnya yang besar berada di atas Sam dengan cahayanya yang busuk, dan baunya yang tengik hampir membuat Sam pingsan. Tapi kemarahannya masih bertahan untuk satu pukulan lagi, dan sebelum Shelob bisa menjatuhkan diri ke atas Sam, mencekik Sam yang telah berani melawannya, Sam membanting bilah pedang Peri yang bersinar itu ke

arahnya dengan nekat.

Tapi Shelob bukan naga. la tidak mempunyai titik lembek, kecuali matanya. Kulitnya yang sudah sangat tua memang tampak benjolbenjol dan berbintik- bintik, tapi semakin menebal dan dalam, lapis demi lapis. Pedang itu menggOrcsnya dengan luka mengerikan, tapi lipatan-lipatan menjijikkan itu tak dapat ditembus kekuatan manusia mana pun, meski baja pisau tersebut ditempa oleh Peri atau Kurcaci, dan diayunkan oleh tangan Beren atau Turin. Shelob mengalah pada pukulan itu, kemudian mengangkat perutnya yang seperti kantong besar itu tinggi-tinggi di atas kepala Sam. Racun berbusa dan menggelembung keluar dari lukanya. Sambil meregangkan kaki, ia menjatuhkan sosoknya yang besar ke atas Sam. Terlalu cepat. Karena Sam masih berdiri tegak; setelah menjatuhkan pedangnya sendiri, dengan kedua tangannya ia memegang pedang Peri itu dengan ujung menghadap ke atas, menahan atap perut yang memuakkan itu; dengan begitu Shelob, yang terdorong oleh hasrat kejamnya sendiri, menusukkan dirinya ke atas pedang Peri itu, dengan kekuatan lebih besar daripada tangan prajurit mana pun. Sangat, sangat dalam pedang itu menusuknya, sementara Sam terjepit ke tanah perlahan-lahan.
Shelob belum pernah mengalami penderitaan seperti itu, dan tak pernah bermimpi mengalaminya, sepanjang masa hidupnya yang penuh kekejian. Bahkan serdadu paling berani dari Gondor lama, atau Orc paling ganas yang terjebak, belum pernah sanggup melawannya, atau menusuk dagingnya yang teramat ia cintai. Tubuhnya gemetar. Sambil mengangkat badannya lagi, merenggutkan diri dari rasa sakit, ia menekuk anggota tubuhnya yang menggeliat di bawahnya, dan melompat mundur dengan loncatan menggelepar. Sam sudah jatuh berlutut dekat kepala Frodo, pusing karena bau tengik itu, kedua tangannya masih memegang erat pangkal pedang. Melalui kabut di depan matanya, ia melihat wajah Frodo; dengan keras hati ia berjuang untuk mengendalikan dirinya sendiri, dan bangun dari pingsannya. Pelan-pelan ia mengangkat kepala dan melihat Shelob, hanya beberapa langkah darinya, menatapnya, paruhnya meneteskan air liur beracun, dan lendir hijau mengalir keluar dari bawah matanya yang terluka. Di sana ia meringkuk, perutnya yang

gemetaran teregang di tanah, kakinya yang melengkung bergetar ketika ia menyiapkan diri untuk satu lompatan lagi kali ini untuk menginjak dan menusuk sampai mati: bukan gigitan kecil beracun untuk menghentikan korbannya yang meronta-ronta; kali ini untuk membunuh, kemudian mengoyak-ngoyak.
Ketika Sam meringkuk sambil memandang Shelob, melihat kematiannya sendin membayang di mata makhluk itu, sekonyong-konyong suatu pikiran hinggap dalam benaknya, seolah ada suara berbicara dan jauh. la meraba-raba di dadanya, dan menemukan apa yang dicarinya: dingin dan keras, dan padat rasanya ketika ia memegangnya di dunia hantu penuh kengerian itu; Bejana Galadriel.
"Galadriel!" katanya lemah, kemudian ia mendengar suara-suara dari jauh, tapi jelas sekali: teriakan para Peri ketika mereka berjalan di bawah bintang-bintang, dalam bayang-bayang Shire tercinta, diiringi musik para Peri, seperti yang ia dengar dalam mimpinya ketika tidur di Aula Api di rumah Elrond.


Gilthoniel A Elbereth!



Lalu lidahnya mengeluarkan serangkaian kata, berteriak dalam bahasa yang tidak dikenalnya:


A Elbereth Gilthoniel o menel palan-diriel,
le nallon si di 'nguruthos!

A tiro nin, Fanuilos!



Dengan itu ia terhuyung-huyung berdin dan kembali menjadi Samwise sang hobbit, putra Hamfast.
"Nah, sekarang majulah, bedebah busuk!" teriaknya. "Kau melukai majikanku, bajingan, dan kau akan mendapat balasannya. Kami akan tents berjalan; tapi kami akan membereskanmu dulu. Ayo, rasakan lagi pedang ini!"
Seolah digerakkan oleh semangatnya yang gigih, kaca bejana itu tiba-tiba

menyala seperti obor putih di tangannya. Bersinar seperti bintang yang melompat dan cakrawala dan membakar udara gelap dengan cahaya menyilaukan. Belum pernah ada teror dari langit yang membakar wajah Shelob. Berkas-berkas sinar itu masuk ke dalam kepalanya yang terluka, menghantamnya dengan kepedihan luar biasa, dan menyebar dari mata ke mata. la jatuh sambil menggelepar dan memukul udara dengan kaki depannya, penglihatannya diserbu halilintar dan dalam, benaknya tersiksa. Kemudian, sambil memalingkan kepalanya yang cedera, ia berguling ke samping dan mulai merangkak, cakar demi cakar, menuju lubang di batu karang gelap di belakangnya.
Sam maju terus. la sempoyongan seperti orang mabuk, tapi ia terus maju. Dan Shelob akhirnya ketakutan, menyusut dalam kekalahan, tersentak dan gemetar sambil menjauh lekas-lekas. la sampai ke lubang itu, dan sambil mendorong turun badannya, ia menyelinap masuk dengan meninggalkan jejak lumpur hijau kekuningan, tepat saat Sam mengayunkan pukulan terakhir ke kakinya yang terseret. Kemudian Sam terjatuh.


Shelob sudah pergi; entah ia bersembunyi lama di sarangnya, memulihkan luka dan kejahatannya, menyembuhkan diri dan dalam selama tahun-tahun gelap yang lamban, membentuk kembali matanya, lalu sekali lagi menjalin tali jaring yang mengerikan di lembah-lembah Pegunungan Bayang-Bayang, karena digerakkan oleh rasa lapar mematikan itu tidak diceritakan dalam kisah ini.
Sam kini sendirian. Dengan letih ia merangkak kembali ke arah majikannya, sementara senja di Negeri Tak Bernama itu menyongsong tempat pertempuran. "Master, Master yang baik," katanya, tapi Frodo tidak menjawab. Tadi, ketika ia berlari maju dengan penuh semangat, gembira karena bebas, Shelob menghampirinya dan belakang dengan kecepatan mengenkan, lalu dengan satu sapuan cepat menyengatnya di leher. Sekarang Frodo terbaring pucat, tidak mendengar suara, dan tidak bergerak.
"Master, Master yang baik!" kata Sam, dan ia menunggu lama sekali dalam keheningan, mendengarkan dengan sia-sia.

Kemudian secepat mungkin ia memotong tali-tali pengikatnya dan meletakkan kepalanya ke atas dada Frodo, lalu ke mulut majikannya itu, tapi ia tidak menemukan gerakan kehidupan, juga tidak merasakan getaran jantung sekecil apa pun. Berulang kali ia menggosok tangan dan kaki majikannya, dan menyentuh dahinya, tapi semuanya dingin.
"Frodo, Mr. Frodo!" teriaknya. "Jangan tinggalkan aku sendirian di sini! Ini Sam memanggilmu. Jangan pergi ke mana aku tak bisa menyusulmu! Bangun, Mr. Frodo! Oh bangunlah, Frodo, sayangku, sayangku. Bangunlah!"


Kemudian kemarahan menyentaknya, dan ia berlari mengitari tubuh majikannya sambil marah-marah, menusuk-nusuk udara, memukul batu-batu, dan meneriakkan tantangan. Akhirnya ia kembali, dan sambil menunduk ia mengamati wajah Frodo di bawahnya, pucat dalam cahaya senja. Mendadak ia menyadari, bahwa ia berada dalam situasi yang disingkapkan kepadanya dalam cermin Galadriel di Lorien: Frodo dengan wajah pucat, tidur lelap di bawah batu karang besar yang gelap. Atau saat itu ia menyangka Frodo tidur lelap. "Dia mati!" katanya. "Bukan tidur, tapi mati!" Dan ketika ia mengatakannya, katakata itu seolah membuat racun Shelob bekerja lagi, membuat wajah Frodo menjadi hijau pucat di matanya.
Kemudian keputusasaan berat menimpanya, dan Sam membungkuk sampai ke tanah, menarik kerudung kelabunya ke atas kepala; hatinya serasa diliputi malam, dan ia pun tak sadarkan diri lagi.


Ketika akhirnya kegelapan itu berlalu, Sam menengadah. Sudah banyak bayang- bayang di sekitarnya; tapi berapa menit atau jam dunia sudah berjalan, ia tidak tahu. la masih di tempat yang sama, dan majikannya masih berbaring mati di sebelahnya. Pegunungan tidak runtuh dan bumi tidak hancur.
"Apa yang akan kulakukan? Apa yang akan kulakukan?" katanya. "Apakah aku datang sejauh ini dengan sia-sia?" Kemudian ia ingat ucapannya sendiri yang waktu itu belum ia pahami, pada awal perjalanan mereka: Ada sesuatu yang harus kulakukan sebelum akhir perjalanan. Aku harus menyelesaikannya, Sir,

kalau kau paham.

"Tapi apa yang bisa kulakukan? Jangan tinggalkan Mr. Frodo mati tanpa dikubur di puncak gunung, dan pulang? Atau maju terus? Maju terus?" ulangnya, dan untuk beberapa saat keraguan dan ketakutan mengguncangnya. "Maju terus? Itukah yang harus kulakukan? Dan meninggalkannya?"
Akhirnya ia mulai menangis; didekatinya tubuh Frodo, dan dilipatnya kedua tangan maj ikannya yang dingin di dada, lalu dibungkusnya tubuh Frodo dengan jubahnya; pedang Frodo ia letakkan di satu sisi, dan tongkat yang diberikan Faramir di sisi lainnya.
"Kalau aku harus maju terus," katanya, "maka aku harus mengambil pedangmu, dengan seizinmu, Mr. Frodo, tapi yang satu ini kuletakkan untuk mendampingimu, seperti dulu dia tergeletak di kuburan sang raja tua; dan kau masih memakai rompi mithril indah pemberian Mr. Bilbo tua. Dan kaca bintangmu, Mr. Frodo, kau meminjamkannya padaku dan aku akan membutuhkannya, sebab sekarang aku akan selalu berada dalam kegelapan. Benda ini terlalu bagus untukku, dan sang Lady memberikannya padamu, tapi mungkin dia akan mengerti. Kau paham, Mr. Frodo? Aku harus maju terus."


Tapi ia belum bisa pergi, belum bisa. la berlutut dan memegang tangan Frodo, tak sanggup melepaskannya. Waktu berlalu dan ia masih berlutut, memegang tangan majikannya, dalam hati masih terus berdebat.
Sekarang ia berupaya menemukan kekuatan untuk melepaskan diri dan pergi dalam perjalanan sepi untuk balas dendam. Kalau suatu saat nanti ia bisa pergi, kemarahannya akan membawanya melalui semua jalan di dunia, mengejar sampai dapat: Gollum. Dan Gollum akan mati di pojokan. Tapi bukan untuk itu ia berangkat. Takkan bermanfaat kalau ia meninggalkan majikannya hanya untuk tujuan itu. Majikannya takkan bisa hidup kembali. Tak ada yang bisa mengembalikkannya. Lebih baik mereka berdua mati bersama. Dan itu pun akan menjadi perjalanan yang sangat sepi.
la mengamati ujung pedang yang bersinar. Ia memikirkan tempat-tempat di belakang sana, di mana ada pinggiran hitam dan jurang kekosongan. Tapi ia tak

bisa melepaskan diri dengan cara itu. Itu sama saja dengan tidak berbuat apa- apa, bahkan bersedih hati pun tidak. Bukan untuk itu ia berangkat dalam perjalanan ini. "Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?" ia berteriak lagi, dan sekarang rasanya ia tahu jawabannya dengan jelas: menyelesaikannya. Lagi-lagi suatu perjalanan sepi, dan paling berat.
"Apa? Aku sendirian, pergi ke Celah Ajal dan seterusnya?" ia gemetar, tapi tekadnya semakin kuat. "Apa? Aku mengambil Cincin dari dia? Dewan memberikan Cincin itu padanya."
Tapi jawabannya segera datang: "Dan Dewan memberinya pendamping, agar tugasnya tidak gagal. Kaulah yang terakhir dari Rombongan ini. Tugas ini tak boleh gagal."
"Kalau saja aku bukan yang terakhir," erangnya. "Kalau saja Gandalf tua ada di sini, atau orang lain. Kenapa aku ditinggal sendirian untuk mengambil keputusan? Aku yakin aku akan keliru. Lagi pula, bukan hakku untuk mengambil Cincin itu, mengajukan diriku sendiri.”
"Tapi kau tidak mengajukan dirimu sendiri; kau diajukan oleh keadaan. Bahwa kau merasa dirimu bukan orang yang tepat dan pantas untuk mengemban tugas itu, nah, Mr. Frodo juga tak bisa dikatakan tepat, begitu pula Mr. Bilbo tua. Mereka juga tidak memilih diri mereka sendiri.”
"Ah, well, aku harus memutuskan sendiri. Akan kuputuskan. Tapi aku pasti bakal keliru: itu sudah ciri khas Sam Gamgee. "Coba kupikirkan: kalau kami ditemukan di sini, atau Mr. Frodo ditemukan, dan Benda itu ada pada dirinya, well, Musuh akan mengambilnya. Itu berarti tamatlah riwayat kami semua, mulai dari Lorien, Rivendell, Shire, dan semuanya. Aku tak boleh buang-buang waktu, kalau tidak semuanya akan berakhir. Peperangan sudah dimulai, dan sangat mungkin semuanya berjalan sesuai rencana Musuh. Tak ada kemungkinan untuk kembali dengan Benda itu, dan meminta saran atau izin. Tidak, pilihannya adalah duduk di sini sampai mereka datang dan membunuhku di atas tubuh majikanku, dan mengambil Benda Itu; atau aku mengambil Benda Itu dan pergi." Ia menarik napas panjang. "Kalau begitu, baiklah. Akan kuambil Benda Itu!"

la membungkuk. Dengan sangat lembut ia membuka rantai di leher Frodo, dan menyelipkan tangannya ke dalam kemeja Frodo; lalu dengan tangan satunya ia mengangkat kepala Frodo, mengecup dahinya yang dingin, dan perlahan menarik kalung itu melalui kepalanya. Kemudian ia membaringkan kembali kepala majikannya. Tak ada perubahan pada wajah yang diam itu, karena itulah Sam akhirnya yakin bahwa Frodo sudah mati dan meninggalkan Tugas-nya. "Selamat tinggal, Master yang kucintai!" gumamnya. "Maafkan Sam-mu. Dia akan kembali ke tempat ini bila tugas sudah selesai kalau dia berhasil. Setelah itu, dia takkan meninggalkanmu lagi. Istirahatlah dengan tenang, sampai aku datang; dan semoga tak ada makhluk busuk mendekatimu! Kalau sang Lady bisa mendengarku dan mengabulkan satu permohonanku, aku berharap bisa kembali dan menemukanmu lagi. Selamat tinggal!”
Kemudian ia mengalungkan rantai itu, dan kepalanya langsung tertunduk sampai ke tanah, karena beratnya Cincin itu, seolah sebuah batu besar telah diikatkan kepadanya. Namun perlahan-lahan, seolah bobot Cincin itu telah berkurang, atau entah ada kekuatan baru tumbuh dalam dirinya, ia mengangkat kepalanya, dengan susah payah ia bangkit berdiri dan menyadari ia bisa berjalan dan menanggung beban berat itu. Setelah beberapa saat, ia mengangkat Bejana Galadriel dan memandang majikannya melalui Bejana tersebut; cahayanya kini bersinar lembut, dengan kelembutan cahaya bintang senja musim panas, dan dalam cahaya itu wajah Frodo kembali tampak elok, pucat namun indah, seperti keindahan Peri, seperti orang yang sudah lama melewati bayang-bayang kegelapan. Pemandangan itu memberinya penghiburan pahit, dan dengan membawa perasaan tersebut, Sam membalikkan badan, menyembunyikan cahaya Bejana itu, dan terseok-seok masuk ke kegelapan.


Ia tak perlu pergi jauh. Terowongan itu berada agak di belakang; Celah berada beberapa ratus meter di depan, atau kurang. Jalan itu tampak jelas dalam cahaya senja, alur dalam yang sudah usang karena ditapaki berabad-abad lamanya, menjulur naik dengan lembut di dalam suatu palung panjang dengan batu karang di kedua sisi. Palung itu dengan cepat menyempit. Segera Sam

sampai di sebuah tangga panjang dengan anak tangga lebar dan dangkal. Sekarang menara Orc berada tepat di atasnya, hitam muram, dan di dalamnya menyala mata merah. Sekarang ia tersembunyi dalam bayangan gelap di bawahnya. la sudah sampai di puncak tangga, dan akhirnya berada di Celah itu. "Aku sudah mengambil keputusan," katanya pada diri sendiri. Tapi sebenarnya belum. Meski ia sudah berupaya sebisa mungkin untuk memikirkannya, apa yang dilakukannya ini sama sekali bertentangan dengan wataknya yang sesungguhnya. "Apakah aku salah?" gerutunya. "Sebenarnya apa yang harus kulakukan?"
Ketika sisi-sisi Celah itu mengurungnya, sebelum ia mencapai puncaknya, sebelum ia akhirnya memandang jalan yang mendaki masuk ke Negeri Tak Bernama, ia menoleh. Sejenak ia berdiri diam dalam kebimbangan luar biasa, memandang ke belakang. la masih bisa melihat mulut terowongan itu, seperti sebuah bercak dalam keremangan yang semakin pekat; dan ia merasa bisa melihat atau menduga di mana Frodo terbaring. la seolah melihat sinar di tanah di bawah sana, atau mungkin itu hanya tipuan air matanya, ketika ia menerawang ke tempat tinggi berbatu itu, di mana seluruh hidupnya jadi hancur berantakan.
"Seandainya satu-satunya harapanku dikabulkan, satu harapan saja!" keluhnya, "untuk kembali dan menemukannya lagi!" Akhirnya ia menoleh lagi ke jalan di depannya, dan mengambil beberapa langkah: yang terberat dan yang paling enggan diambilnya.


Hanya beberapa langkah; tinggal beberapa langkah lagi, dan ia akan turun, takkan pernah melihat tempat tinggi itu lagi. Tapi tiba-tiba ia mendengar teriakan dan suara-suara. la berdiri diam membatu. Suarasuara Orc. Di belakang dan di depannya. Bunyi kaki-kaki yang menginjak dan teriakan parau: Orc-Orc sedang naik ke Celah, dari ujung terjauh, dari suatu jalan masuk ke menara, mungkin. Kaki-kaki menginjak dan teriakan di belakang. la berputar. la melihat cahaya- cahaya kecil merah, obor-obor, berkelip-kelip di bawah, saat keluar dari terowongan. Akhirnya pengejaran dimulai. Mata merah menara tidak buta

rupanya. la sudah tertangkap.

Kini kelipan obor yang mendekat dan denting baja di depan sudah sangat dekat. Dalam sekejap mereka akan sampai di puncak dan menjumpainya. la sudah terlalu lama membuang waktu untuk mengambil keputusan, dan sekarang keadaan sangat buruk. Bagaimana ia bisa lolos, atau menyelamatkan dirinya dan Cincin itu? Cincin. Tak ada pikiran atau keputusan apa pun dalam benaknya. la hanya menyadari dirinya mengeluarkan rantai itu dan memegang Cincin di tangannya. Pimpinan rombongan Orc muncul di Celah, tepat di depannya. Maka ia pun memakai Cincin itu.


Dunia berubah, waktu sekilas terisi dengan satu jam pemikiran. la langsung menyadari bahwa pendengarannya menjadi lebih tajam, sementara penglihatannya agak kabur, tapi berbeda dengan sewaktu di sarang Shelob. Semua benda di sekitarnya bukan gelap, tapi samarsamar; sementara ia sendiri berada dalam sebuah dunia kelabu yang kabur, sendirian, seperti batu karang kecil padat dan hitam, dan Cincin itu, yang membebani tangan kirinya dengan berat, terasa seperti bola emas panas. la sama sekali tidak merasa tidak tampak; ia justru merasa amat sangat kelihatan; dan ia tahu, di suatu tempat sebuah Mata sedang mencarinya.
la mendengar derakan batu, dan gumaman air jauh di Lembah Morgul; di bawah, di dalam batu karang, terdengar bunyi bergelembung dari Shelob yang tersiksa, meraba-raba, mungkin tersesat dalam selasar buntu; dan suara-suara di ruang bawah tanah di menara; teriakan para Orc saat mereka keluar dari terowongan; dan benturan kaki yang memekakkan, menderum dalam telinganya, serta bunyi hiruk-pikuk tajam dari Orc-Orc di depannya. la menyurut ke sisi batu karang. Tapi mereka datang berbaris seperti rombongan hantu, sosok-sosok kelabu dengan bentuk kacau, hanya mimpi ketakutan dengan nyala api pucat di tangan. Dan mereka melewatinya. la gemetaran, mencoba merangkak ke suatu celah untuk bersembunyi.
la mendengarkan. Orc-Orc dari terowongan dan yang berbaris turun sudah saling melihat, kedua pihak sekarang bergegas dan berteriak-teriak. la

mendengar mereka dengan jelas, dan memahami apa yang mereka katakan. Mungkin Cincin itu memberi pengertian atas semua bahasa, atau sekadar pernahaman, terutama tentang pelayan-pelayan Sauron si pembuat Cincin, sehingga kalau ia memperhatikan, ia bisa mengerti dan menerjemahkan pikiran itu untuk dirinya sendiri. Kekuatan Cincin itu memang tumbuh pesat ketika mendekati tempatnya dulu ditempa; tapi satu hal tak bisa diberikannya, yaitu keberanian. Sekarang Sam hanya ingin bersembunyi, diam sampai semuanya kembali tenang; ia mendengarkan dengan cemas. la tidak tahu seberapa dekat suarasuara itu, kata-kata itu seperti ada di dalam telinganya.


"Hai! Gorbag! Sedang apa kau di sini? Sudah bosan perang?"

"Perintah, tolol. Dan kau sedang apa, Shagrat? Sudah jemu bersembunyi di atas sana? Sedang pikir-pikir turun untuk bertempur?"
"Perintah untukmu. Aku yang menguasai jalan ini. Jadi bicaralah sopan. Apa laporanmu?"
"Tidak ada."

"Hai! Hai! Hooi!" Sebuah teriakan memotong percakapan kedua pemimpin. Para Orc di bawah rupanya melihat sesuatu. Mereka mulai berlari. Begitu juga yang lain.
"Hai! Huah! Ada sesuatu di sini! Berbaring di jalan. Mata-mata, mata-mata!" Bunyi teriakan yang menggeram dan suara-suara kacau balau.


Sam tersentak dari perasaan takutnya. Mereka sudah melihat majikannya. Apa yang akan mereka lakukan? ia pernah mendengar cerita-cerita yang meremangkan bulu roma tentang Orc. Ini tak tertahankan. la melompat berdiri. Ta melupakan urusan Cincin ini, berikut ketakutan dan keraguannya. Sekarang ia tahu di mana seharusnya ia berada: di sisi majikannya, meski apa yang bisa dilakukannya di sana tidak jelas. la kembali lari menuruni tangga, menuju Frodo. "Berapa banyak Orc yang ada?" pikirnya. Setidaknya tiga puluh atau empat puluh dari menara, dan masih banyak lagi dari bawah, kukira. Berapa banyak yang bisa kubunuh sebelum mereka menangkapku? Mereka akan melihat nyala

pedang ini begitu aku menghunusnya, dan cepat atau lambat mereka akan menangkapku. Akankah ada lagu untuk mengenangnya: bagaimana Samwise jatuh di High Pass dan melindungi majikannya dengan tubuhnya. Tidak, takkan ada lagu. Tentu saja tidak, sebab Cincin itu akan ditemukan, dan takkan ada lagu-lagu lagi. Bukan salahku. Tempatku bersama Mr. Frodo. Mereka harus mengerti itu Elrond dan Dewan, juga para Lord dan Lady dengan kebijakan mereka yang besar. Rencana mereka sudah gagal. Aku tak bisa menjadi Penyandang Cincin. Tidak tanpa Mr. Frodo."


Tetapi para Orc sudah berada di luar jangkauan pandangannya sekarang. la belum sempat memikirkan dirinya sendiri, tapi sekarang ia menyadari ia letih sekali, sampai hampir pingsan: kakinya tak mau mengangkatnya seperti yang ia inginkan. la terlalu lamban. Jalan itu serasa masih bermil-mil panjangnya. Ke mana mereka pergi dalam kabut ini?
Nah, itu mereka lagi! Masih cukup jauh di depan. Orc-Orc itu mengelilingi sesuatu yang berbaring di tanah; beberapa kelihatannya melompat-lompat ke sana kemari, membungkuk seperti anjing mencari jejak. la mencoba berlari.
"Ayo, Sam!" katanya, "kalau tidak, kau akan terlambat lagi." ia mengendurkan pedang dalam sarungnya. Sebentar lagi ia akan menghunusnya, lalu …
Ada bunyi hiruk-pikuk ribut sekali, teriakan dan tawa, ketika sesuatu diangkat dari tanah. "Ya hoi! Ya harri hoi! Angkat! Angkat!"
Lalu sebuah suara berteriak, "Sekarang berangkat! Jalan pintas. Kembali ke Gerbang Bawah! Kalau melihat gelagatnya, dia tidak akan mengganggu kita." Seluruh barisan Orc mulai bergerak. Empat di tengah menggotong sesosok tubuh di pundak mereka. "Ya hoi!"


Mereka sudah mengambil tubuh Frodo. Mereka sudah pergi. la tak bisa menyusul mereka. la masih terus berjalan susah payah. Para Orc sampai ke terowongan dan masuk. Mereka yang menggotong beban masuk lebih dulu, di belakang mereka terj adi saling serobot dan saling desak. Sam maju terus. la menghunus pedang, tampak kilatan biru di tangannya yang gemetar, tapi mereka

tidak melihatnya. Ketika ia datang dengan terengah-engah, Orc terakhir sudah menghilang dalam lubang hitam.
Untuk beberapa saat Sam berdiri terengah-engah, memegang dadanya. Lalu ia menarik lengan bajunya ke wajah, menyeka kotoran dan keringat, dan air mata. "Terkutuklah bajingan-bajingan busuk itu!" katanya, lalu ia melompat menyusul mereka dalam gelap.


Di dalam terowongan sudah tidak tampak gelap bagi Sam, malah seolah-olah ia sudah keluar dari kabut tipis, masuk ke kabut yang lebih tebal. Kelelahannya makin terasa, tapi tekadnya semakin kuat. la merasa bisa melihat cahaya obor- obor sedikit di depan, tapi bagaimanapun ia berusaha, ia tak bisa menyusul mereka. Orc-Orc berjalan cepat sekali dalam terowongan, dan terowongan ini mereka kenal betul; meski ada Shelob, mereka terpaksa sering menggunakannya sebagai jalan tercepat dari Kota Mati melewati pegunungan. Kapan terowongan utama dan lubang bundar besar itu dulu dibuat, mereka tidak tahu; tapi banyak jalan menyimpang yang mereka gali sendiri di kedua sisi, agar bisa menghindari sarang itu dalam lalu lintas mereka ke dan dari sang majikan. Malam ini mereka tidak berniat pergi jauh; mereka sedang bergegas mencari jalan simpang untuk kembali ke menara jaga di atas batu karang. Kebanyakan dari mereka riang gembira, senang dengan apa yang mereka temukan dan lihat, dan sambil berlari mereka berceloteh cepat dan berbicara ribut dengan gaya mereka. Sam mendengar keberisikan suara parau mereka, datar dan keras di udara mati, dan ia bisa mengenali dua suara di antaranya; suara itu lebih keras dan lebih dekat kepadanya. Rupanya kapten-kapten kedua pihak berjalan di barisan belakang, sambil berdebat.


"Tak bisakah kau menghentikan keberisikan pengacau-pengacaumu itu, Shagrat?" gerutu yang satu. "Kita tak ingin Shelob menyerang kita."
"Yang benar saja, Gorbag! Pengacau-pengacaumu malah lebih berisik," kata yang satunya. "Tapi biarkan saja mereka bermain! Tak perlu khawatir tentang Shelob untuk sementara. Rupanya dia tertikam paku, tak perlu kita tangisi. Kau

tidak lihat? Dia mengeluarkan lendir menjijikkan sepanjang jalan kembali ke sarangnya yang terkutuk. Sudah ratusan kali kita menyumbatnya. Jadi, biarkan mereka tertawa. Dan kita cukup beruntung: memperoleh sesuatu yang diinginkan Lugburz."
"Lugburz menginginkannya, ha? Apa itu, menurutmu? Kelihatannya dia seperti bangsa Peri, tapi agak lebih kecil ukurannya. Apa sih bahayanya?"
"Belum tahu sebelum kita melihatnya."

"Aha! Jadi mereka belum menceritakan padamu apa yang mereka harapkan? Mereka tidak menceritakan semua yang mereka ketahui, bukan? Setengahnya pun tidak. Tapi mereka bisa membuat kesalahan, bahkan Pimpinan-Pimpinan Puncak juga bisa salah."
"Ssst, Gorbag!" Shagrat merendahkan suaranya, sehingga Sam nyaris tidak menangkap apa yang dikatakannya, meski sekarang pendengarannya lebih tajam. "Mungkin saja, tapi mereka punya mata dan telinga di mana-mana; beberapa di antaranya mungkin anak buahku. Tapi tak diragukan lagi, mereka cemas tentang sesuatu. Para Nazgul di bawah memang khawatir, menurutmu; Lugburz juga. Sesuatu hampir saja luput."
"Hampir, katamu!" kata Gorbag.

"Baiklah," kata Shagrat, "tapi itu kita bicarakan nanti saja. Tunggu sampai kita tiba di Terowongan. Ada tempat untuk kita berbicara sebentar, sementara anak buah berjalan terus."
Tak lama kemudian, Sam melihat obor-obor menghilang. Lalu ada bunyi menderum, dan bunyi benturan, tepat ketika ia bergegas maju. la menduga para Orc sudah berbelok ke lubang yang telah ia jelajahi bersama Frodo, lubang yang ternyata buntu. Dan sekarang masih juga buntu.
Rupanya ada batu besar menghalangi, tapi para Orc entah bagaimana bisa melewatinya, sebab ia bisa mendengar suara-suara mereka di belakangnya. Mereka masih terus berlari, semakin jauh masuk ke dalam gunung, kembali ke menara. Sam merasa putus asa. Mereka membawa tubuh majikannya untuk suatu tujuan keji, dan ia tak bisa menyusul mereka. la mendorong-dorong dan membenturkan diri ke batu itu, tapi batu itu tidak bergeser sedikit pun. Lalu tidak

begitu jauh di dalam, atau setidaknya begitulah perkiraannya, ia mendengar suara kedua kapten Orc berbicara. la berdiri mendengarkan sebentar, berharap akan mendengar sesuatu yang berguna. Siapa tahu Gorbag, yang rupanya berasal dari Minas Morgul, akan keluar, lalu ia bisa menyelinap masuk.
"Tidak, aku tidak tahu," kata suara Gorbag. "Pesan-pesan lewat lebih cepat daripada apa pun yang terbang, semestinya. Tapi aku tidak menanyakan bagaimana itu bisa terjadi. Paling aman tidak menanyakan itu. Grrr! Nazgul- Nazgul itu menyeramkan sekali. Dan mereka dengan mudah menyiksamu, dan membiarkanmu kedinginan di pihak lawan. Tapi Dia menyukai mereka: mereka menjadi favorit-Nya belakangan ini, jadi percuma saja menggerutu. Kukatakan padamu, tidak enak bekerja di kota."
"Kau harus mencoba berada di atas sini, didampingi Shelob," kata Shagrat.

"Aku ingin mencoba tempat di mana tidak ada mereka semua. Tapi perang sedang berlangsung, dan kalau perang sudah selesai, mungkin keadaan akan lebih mudah."
"Kabarnya perang berlangsung cukup lancar."

"Kata mereka," gerutu Gorbag. "Kita lihat saja. Kalau memang berlangsung lancar, seharusnya lebih banyak kesempatan. Bagaimana menurutmu? Kalau dapat kesempatan, kau dan aku pergi diam-diam dan bermukim di suatu tempat, dengan beberapa anak buah tepercaya, tempat di mana cukup banyak rampasan bagus, dan tidak ada majikan.
"Ah!" kata Shagrat. "Seperti zaman dulu."

"Ya," kata Gorbag. "Tapi jangan terlalu berharap. Aku merasa tak enak hati. Seperti kukatakan, Majikan-Majikan Besar, yah," suaranya hampir berbisik, "ya, bahkan yang paling Hebat pun bisa keliru. Sesuatu nyaris luput, katamu. Menurutku, sesuatu itu sudah luput. Dan kita harus waspada. Selalu kaum Uruk malang yang harus membetulkan kesalahan, dan hanya menerima sedikit terima kasih. “Tapi jangan lupa: musuh-musuh tidak suka pada kita, seperti juga pada Dia, dan kalau mereka menang melawan Dia, riwayat kita juga habis. Tapi omongomong, kapan kau diperintahkan keluar?"
"Satu jam yang lalu, tepat sebelum kau melihat kami. Ada pesan datang: Nazgul

khawatir. Mata-mata mungkin sudah berada di Tangga. Gandakan kewaspadaan. Patroli agar ke ujung Tangga. Aku segera datang."
"Urusan buruk," kata Gorbag. "Coba lihat-para Penjaga Tersembunyi kita sudah dua hari yang lalu merasa cemas, itu aku tahu. Tapi patroliku tidak diperintahkan bergerak sampai sehari lagi, juga tidak ada pesan yang dikirimkan ke Lugburz: sebab Isyarat Agung sudah dikeluarkan, Nazgul Tinggi pergi berperang, dan sebagainya. Kabarnya selama beberapa waktu mereka tak bisa memaksakan perhatian Lugburz."
"Mungkin Mata sedang sibuk di tempat lain," kata Shagrat. "Peristiwa-peristiwa besar sedang terjadi di barat, katanya."
"Pasti," geram Gorbag. "Tapi sementara itu musuh berhasil mendaki Tangga. Dan kau sedang apa? Kau seharusnya mengawasi, ada atau tidak ada perintah khusus, bukan begitu? Buat apa ada kau?"
"Cukup! Jangan mencoba mengajariku. Kami menjaga terus. Kami sudah tahu ada hal-hal aneh terjadi."
"Aneh sekali!"

"Ya, aneh sekali: cahaya, teriakan, dan sebagainya. Tapi Shelob sedang berkeliaran. Anak buahku melihatnya bersama Sneak."
"Sneak? Apa itu?"

"Pasti kau sudah melihatnya: makhluk kecil kurus; mirip labah-labah juga, atau mungkin lebih seperti katak kelaparan. Dia sudah pernah ke sini. Keluar dari Lugburz pertama kali, bertahun-tahun lalu, dan kami mendapat pesan dari Pimpinan Tertinggi agar membiarkannya lewat. Sejak itu dia sudah satu-dua kali lewat, tapi kami membiarkannya: rupanya dia bersekutu dengan Yang Mulia Lady Shelob. Kupikir dia bukan santapan lezat: Shelob tidak akan peduli perintah dari Atas. Tapi penjagaan kalian di lembah memang payah: dia sudah berada di sini sehari sebelum keonaran ini. Tadi malam agak awal kami melihatnya. Anak buahku melaporkan bahwa Yang Mulia Lady sedang bersuka ria, dan bagiku itu sudah cukup, sampai datangnya pesan. Kupikir Sneak membawakannya mainan, atau kau mungkin mengiriminya hadiah, tawanan perang atau semacamnya. Aku tidak mall mengganggu kalau dia sedang bermain. Tak ada

yang bisa lolos dari Shelob kalau dia sedang berburu."

"Tidak ada, katamu! Apa kau tidak pakai matamu tadi? Sudah kubilang hatiku tidak enak. Apa pun yang datang mendaki Tangga, sudah berhasil lewat. Sudah memotong jaringnya dan keluar sama sekali dari lubangnya. Itu perlu dipikirkan!" "Ah, ya sudah, tapi akhirnya dia berhasil menangkapnya, bukan?" "Menangkapnya? Menangkap siapa? Orang kecil ini? Tapi kalau dia satu- satunya, Shelob pasti sudah lama membawa dia ke sarangnya, dan di sanalah dia bakal berada. Dan kalau Lugburz menginginkannya, kau harus pergi mengambilnya. Enak, bukan? Tapi ada lebih dari satu."
Saat itu Sam mulai mendengarkan lebih saksama dan menempelkan telinganya ke batu.
"Siapa yang memotong tali-tali yang diikatkan padanya, Shagrat? Sama dengan yang memotong jaring. Dan siapa yang menusukkan paku ke Yang Mulia Lady? Sama juga, pasti. Dan di mana dia? Di mana dia, Shagrat?"
Shagrat tidak menjawab.

"Sebaiknya kau berpikir keras sekali, kalau kau punya otak. Ini bukan masalah enteng. Tidak ada, belum pernah ada satu orang pun yang menusuk Shelob, kau tahu betul. Memang tak perlu disedihkan; tapi pikirlah-ada seseorang masih berkeliaran, lebih berbahaya daripada pemberontak terkutuk mana pun yang pernah ada sejak masa lalu yang buruk, sejak Serangan Besar. Ada sesuatu yang sudah luput."
"Apa itu?" geram Shagrat.

"Kalau melihat tanda-tandanya, Kapten Shagrat, menurutku ada pejuang besar berkeliaran, sangat mungkin Peri, dengan pedang Peri, dan mungkin juga kapak; dia berkeliaran bebas dalam wilayahmu, dan kau tak pernah melihatnya. Sangat aneh memang!" Gorbag meludah. Sam tersenyum muram mendengar penjelasan tentang dirinya sendini.
"Ah, ya, kau selalu melihat dan sisi muram," kata Shagrat. "Kau boleh saja menafsirkan tanda-tandanya sesukamu, tapi masih ada cara lain untuk menjelaskannya. Bagaimanapun, aku punya penjaga di setiap titik, dan aku akan menangani ini satu demi satu. Kalau sudah melihat orang yang kita tangkap,

baru aku akan memikirkan hal-hal lain."

"Menurutku tidak banyak yang bisa kautemukan pada makhluk kecil itu," kata Gorbag. "Mungkin saja dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekacauan yang sebenamya. Makhluk besar dengan pedang tajam itu rupanya tidak menganggap dia cukup berharga dia ditinggalkan berbaring di sana: tipuan asli kaum Peri."
"Kita lihat saja. Ayo! Kita sudah cukup berbincang. Mari kita pergi dan melihat tawanan!"
"Apa yang akan kaulakukan dengannya? Jangan lupa, aku yang pertama melihatnya. Kalau akan ada permainan, aku dan anak buahku harus dilibatkan." "Wah, wah," gerutu Shagrat. "Aku sudah dapat perintah. Dan ini lebih penting daripada diriku, atau dirimu. Setiap pelanggar yang ditemukan para penjaga harus ditawan di menara. Tawanan harus dilucuti. Uraian lengkap tentang setiap benda, pakaian, senjata, surat, cincin, atau perhiasan harus segera dikirimkan ke Lugburz, hanya ke Lugburz. Dan tawanan harus diamankan agar tetap utuh, dengan ancaman kematian bagi setiap penjaga, sampai Dia mengirimkan utusan atau Dia sendiri datang. Itu sudah cukup jelas, dan itu yang akan kulakukan." "Dilucuti, hei?" kata Gorbag. "Apa, gigi, kuku, rambut, dan semuanya?"
"Tidak, bukan seperti itu. Kan sudah kubilang, dia ini untuk Lugburz. Mereka menginginkannya utuh dan selamat."
"Itu akan sulit sekali," tawa Gorbag. "Dia hanya daging bangkai sekarang. Apa yang akan dilakukan Lugburz dengan benda semacam itu, aku tak habis pikir. Dia pantasnya dipanggang saja."
"Tolol kau," geram Shagrat. "Kau sok pintar, tapi banyak hal yang tidak

kauketahui, meski kebanyakan orang lain tahu. Kau yang bakal diumpankan pada Shelob, kalau kau tidak hati-hati. Daging bangkai! Hanya itu yang kauketahui tentang Yang Mulia Lady? Kalau dia mengikat korbannya dengan tali- talinya, berarti dia mengincar daging. Dia tidak makan daging mati, juga tidak mengisap darah dingin. Orang ini belum mati!"


Sam terhuyung-huyung mencengkeram batu itu. la merasa seolah seluruh dunia

yang gelap ini jungkir balik. Begitu besar kejutannya, sampai ia hampir pingsan, tapi saat ia berjuang untuk mengendalikan diri, jauh di dalam dirinya ia menyadari hal itu: "Kau bodoh, dia belum mati, dan hatimu sebenarnya tahu itu. Jangan percaya otakmu, Samwise, itu bukan bagian terbaik dirimu. Masalahnya, kau selalu pesimis. Sekarang apa yang harus dilakukan?" Untuk sementara tidak ada, kecuali menekankan dirinya ke batu yang tak bergerak itu dan mendengarkan, mendengarkan suara-suara Orc yang keji itu.


"Aduh!" kata Shagrat. "Dia punya lebih dari satu macam racun. Kalau sedang berburu, dia hanya menyuntikkan sedikit ke leher korbannya dan mereka langsung lemas seperti ikan, lalu dia bisa leluasa dengan mereka. Kau ingat Ufthak tua? Kami kehilangan dia berhari-hari. Lalu kami menemukannya di suatu sudut; tergantung-gantung, tapi dia sadar penuh dan melotot. Kami menertawakannya! Mungkin Shelob lupa padanya, tapi kami tidak menyentuhnya tidak baik mengganggu Dia. Jadi, keparat kecil ini akan bangun beberapa jam lagi; selain merasa agak mual, dia akan baik-baik saja. Atau akan baik-baik, kalau Lugburz tidak mengacuhkannya. Paling-paling dia bertanya-tanya, di mana dia berada dan apa yang sudah terjadi padanya."
"Dan apa yang bakal terjadi padanya," tawa Gorbag. "Paling tidak, kita bisa menceritakan beberapa hal padanya, kalau kita tak bisa melakukan hal lain. Dia pasti belum pernah ke Lugburz yang indah, jadi mungkin dia ingin tahu apa yang menantinya. Ini akan lebih lucu daripada yang kukira. Ayo kita pergi!"
"Tidak akan lucu, kuperingatkan kau," kata Shagrat. "Dan dia harus disimpan dengan aman, atau kita semua mati."
"Baiklah! Tapi seandainya aku jadi kau, aku akan menangkap yang besar, yang masih berkeliaran, sebelum mengirim laporan apa pun ke Lugburz. Tidak bagus kedengarannya kalau kau melaporkan sudah menangkap anak kucing tapi membiarkan induk kucing lolos."


Suara-suara itu mulai bergerak menjauh. Sam mendengar bunyi langkah surut. la sedang pulih dari kekagetannya, dan kini amukan kemarahan menggelora

dalam dirinya. "Aku keliru sama sekali!" teriaknya. "Aku sudah tahu, pasti bakal begini. Sekarang mereka membawanya, setansetan! Keparat-keparat! Jangan pernah tinggalkan majikanmu, jangan pernah, jangan pernah: patokanku sudah benar. Dan dalam hati aku sudah tahu itu. Semoga aku diampuni! Sekarang aku harus kembali kepadanya. Entah bagaimana, entah bagaimana!"
la menghunus pedangnya lagi, dan memukul batu dengan pangkalnya, tapi batu itu hanya mengeluarkan bunyi teredam. Namun pedangnya bersinar begitu terang, sampai Sam bisa melihat sekitarnya dengan samar-samar dalam cahayanya. Dengan terkejut ia melihat bahwa bongkah batu besar itu berbentuk seperti pintu berat, dan kurang dari dua kali tinggi badannya. Di atasnya ada ruang kosong gelap antara bagian tertinggi dan terendah lengkungan ambang pintu. Mungkin pintu itu hanya dimaksudkan untuk menangkis gangguan Shelob, dikunci dari dalam dengan kunci gerendel atau palang pintu yang tak bakal bisa dibukanya. Dengan sisa kekuatannya, Sam melompat dan menggapai puncaknya, memanjat naik, lalu menjatuhkan diri; kemudian ia berlari kencang sekali, dengan pedang menyala di tangannya, membelok di suatu tikungan dan melewati suatu terowongan berliku-liku.
Kabar bahwa majikannya masih hidup membangkitkan semangatnya untuk melakukan upaya terakhir, tanpa menghiraukan keletihannya. la tak bisa melihat apa pun di depan, karena selasar baru ini berkelokkelok dan berliku-liku terus; tapi ia menduga ia sudah mulai menyusul kedua Orc tadi: suara-suara mereka sudah mulai dekat lagi. Sekarang rupanya mereka sudah cukup dekat.


"Itu yang akan kulakukan," kata Shagrat dengan suara bernada marah. "Menempatkannya di ruang paling atas."
"Untuk apa?" geram Gorbag. "Apa kau tidak punya penjara bawah tanah?" "Sudah kubilang dia tidak boleh sampai cedera," jawab Shagrat. "Tahu? Dia berharga. Aku tidak percaya semua anak buahku, juga anak buahmu; aku juga tidak percaya kau, kalau kau lagi gila permainan begitu. Dia akan ditaruh di tempat yang kuinginkan, dan kau tidak boleh ke sana, kalau kau tidak sopan. Di puncak, kataku. Dia akan aman di sana."

"Apa benar?" kata Sam. "Kau lupa pejuang Peri yang besar itu, yang masih berkeliaran bebas!" Dan dengan kata-kata itu ia bergegas melewati tikungan terakhir, hanya untuk menemukan bahwa karena tipuan terowongan, atau pendengaran yang diberikan Cincin kepadanya, ia sudah salah menduga jaraknya.
Kedua Orc masih cukup jauh di depan. la bisa melihat mereka sekarang, hitam dan pendek gemuk di depan nyala merah. Selasar itu akhirnya membentang lurus, mendaki tanjakan pendek; di ujungnya, terbuka lebar, ada pintu ganda besar, mungkin menuju ruangan-ruangan luas jauh di bawah tanduk tinggi menara. Pasukan Orc dengan bebannya sudah masuk ke dalam. Gorbag dan Shagrat sudah menghampiri gerbang.
Sam mendengar ledakan nyanyian serak, tiupan terompet dan pukulan gong, bunyi berisik ingar-bingar. Gorbag dan Shagrat sudah berada di ambang pintu. Sam berteriak dan mengacungkan Sting, tapi suaranya yang kecil tenggelam dalam kebingaran. Tak ada yang memedulikannya.
Pintu gerbang besar itu tertutup. Bum. Palang-palang besi terpasang di tempatnya. Dung. Gerbang terkunci. Sam membenturkan diri ke keping-keping kuningan yang terkunci dan jatuh pingsan ke tanah. la di luar, dalam gelap. Frodo masih hidup, tapi ditangkap Musuh.

PETA-PETA



CATATAN TENTANG PETA-PETA



Dalam edisi orisinalnya, yang diterbitkan pada tahun 1954-5, peta-peta dalam buku The Lord of the Rings digambar oleh Christopher Tolkien, terdiri atas sebuah Peta Umum daerah-daerah sebelah barat Dunia Tengah, serta satu peta Rohan, Gondor, dan Mordor yang lebih mendetail, dalam warna hitam dan merah, di kertas-kertas besar yang dilipat serta ditempelkan di halaman akhir ketiga buku tersebut. Dalam buku The Fellowship of the Ring dan The Two Towers disisipkan Peta Umum, sedangkan dalam The Return of the King disisipkan peta Rohan, Gondor, dan Mordor. Sebagai tambahan, ada juga peta Shire dalam warna merah dan hitam, yang ada di halaman depan Buku Pertama: The Fellowship of the Ring. Christopher Tolkien meriggambar ulang Peta Umum tersebut secara kilat, untuk disisipkan dalam buku Unfinished Tales (1980), tapi kemudian peta ini menggantikan bentuk orisinalnya dalam edisi-edisi The Lord of the Rings.
Dalam edisi-edisi paperback, Peta Umum dibagi menjadi empat bagian, dibuat hanya dalam warna hitam, dengan ukuran sesuai halaman buku, sementara peta keseluruhannya juga dibuat dalam ukuran sangat diperkecil, sebagai panduan atas keempat bagian Peta Umum tersebut. Peta Rohan, Gondor, dan Mordor ditampilkan dalam dua halaman yang saling berhadapan.
Namun peta-peta orisinal tersebut tidak dapat ditampilkan secara memuaskan kalau formatnya diperkecil. Karenanya, Mr. Stephen Raw menggambar ulang semua peta tersebut, dengan mengikuti contohcontoh aslinya dengan sangat saksama, dengan hasil yang jauh lebih jelas. Sebagai panduan terhadap keempat bagian Peta Umum, Mr. Stephen Raw telah menggambar satu peta keseluruhan yang baru, yang menampilkan petunjuk-petunjuk yang perlu, dalam bentuk yang telah disederhanakan.

Bersambung…

0 Response to "The Lord of the Rings 2 Part 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified