Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Lord of the Rings 2 Part 1

Lord of the Rings 2
Two Towers
J. R. R. Tolkien


KEMATIAN BOROMIR



Aragorn bergegas mendaki bukit. Sesekali ia membungkuk ke tanah. Hobbit bisa berjalan ringan, jejak kaki mereka tak mudah dibaca, meski oleh Penjaga Hutan sekalipun, tapi tidak jauh dari puncak, sebuah mata air melintasi jalan, dan di tanah yang basah Aragorn melihat apa yang dicarinya.
"Aku sudah benar membaca tanda-tandanya," kata Aragorn pada dirinya sendiri. "Frodo lari ke puncak bukit. Apa yang dilihatnya di sana? Tapi dia kembali lewat jalan yang sama, dan menuruni bukit lagi."
Aragorn ragu. Ia ingin pergi ke takhta tinggi itu, berharap melihat sesuatu yang bisa menuntunnya dalam kebingungannya; tapi waktu sudah mendesak. Mendadak ia melompat maju dan berlari ke puncak, melintasi ubin-ubin besar dan menaiki tangga. Lalu, sambil duduk di takhta, ia memandang sekelilingnya. Tapi matahari seolah meredup, dunia tampak remang-remang dan jauh. Ia mengalihkan pandang dari Utara, lalu memandang ke Utara lagi, dan tidak melihat apa pun selain perbukitan di kejauhan. Pada jarak sejauh itu ia bisa melihat lagi seekor burung besar seperti elang tinggi di angkasa, terbang turun dengan lambat, melingkar-lingkar ke bumi.
Saat ia memandang, pendengarannya yang tajam menangkap bunyi-bunyi di hutan di bawah, di sisi barat Sungai. ia berdiri kaku. Ada suara-suara teriakan, dan di antaranya, dengan ngeri ia mengenali suara-suara Orc. Lalu sekonyong- konyong terdengar bunyi berat terompet, lenguhannya membelah perbukitan dan bergema di lembah, naik dengan teriakan keras melebihi gemuruh air terjun. "Terompet Boromir!" teriak Aragorn. "Dia perlu bantuan!" Aragorn melompat

menuruni tangga dan berlari menuruni jalan. "Aduh! Hari ini nasibku benar-benar buruk, semua yang kulakukan kacau. Di mana Sam?"
Sementara ia berlari, teriakan-teriakan itu terdengar makin keras, tapi bunyi terompet semakin lemah dan terdengar putus asa. Teriakan-teriakan Orc terdengar garang dan nyaring, dan tiba-tiba tiupan terompet berhenti. Aragorn lari menuruni lereng terakhir, tapi sebelum ia mencapai kaki bukit, bunyi-bunyi itu sudah hilang; ketika ia belok ke kiri dan berlari ke arah bunyi-bunyi itu, suara mereka makin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Sambil menghunus pedangnya yang bersinar dan berteriak Elendil! Elendil! ia menerobos pepohonan.


Kira-kira satu mil dari Parth Galen, di sebuah lembah kecil tak jauh dari telaga, ia menemukan Boromir. Boromir duduk bersandar pada sebatang pohon besar, seolah beristirahat. Tapi Aragorn melihat tubuhnya ditembus banyak sekali panah berbulu hitam; pedangnya masih di tangan, tapi sudah patah dekat pangkalnya; terompetnya tergeletak terbelah dua di sisinya. Banyak sekali Orc mati, bertumpuk di sekitarnya dan di dekat kakinya.
Aragorn berlutut di sampingnya. Boromir membuka mata dan berusaha berbicara. Akhirnya perlahan-lahan keluar kata-kata. "Aku mencoba mengambil Cincin itu dari Frodo," katanya. "Aku menyesal. Aku sudah membayarnya." ia melirik ke arah musuh-musuhnya yang sudah tewas; sekurang-kurangnya ada dua puluh Orc terbaring di sana. "Mereka sudah pergi: kedua Halfling itu; Orc- Orc membawa mereka. Kurasa mereka tidak mati. Orc-Orc mengikat mereka." Ia diam dan memejamkan mata dengan letih. Setelah beberapa saat, ia berbicara lagi.
"Selamat jalan, Aragorn! Pergilah ke Minas Tirith dan selamatkan rakyatku! Aku sudah gagal!"
"Tidak!" kata Aragorn, memegang tangan Boromir dan mengecup dahinya. "Kau sudah menang. Hanya sedikit yang memperoleh kemenangan seperti itu. Tenanglah! Minas Tirith tidak akan jatuh!"
Boromir tersenyum.

"Ke arah mana mereka pergi? Apakah Frodo bersama mereka?" kata Aragorn. Tapi Boromir tidak berbicara lagi.
"Sayang sekali!" kata Aragorn. "Demikianlah akhir hayat putra mahkota Denethor, Penguasa Menara Penjagaan! Sungguh akhir yang pahit. Sekarang Rombongan ini hancur berantakan. Akulah yang gagal. Kepercayaan Gandalf padaku sia-sia. Apa yang akan kulakukan sekarang? Boromir memintaku pergi ke Minas Tirith, dan hatiku pun menginginkannya; tapi di mana Cincin dan Penyandangnya? Bagaimana aku akan menemukan mereka dan menyelamatkan Pencarian ini dari malapetaka?"
la berlutut sebentar, merunduk sambil menangis, masih menggenggam tangan Boromir. Begitulah Legolas dan Gimli menemukannya. Mereka datang dan lereng barat bukit, diam-diam, merangkak di antara pepohonan, seolah sedang berburu. Gimli memegang kapaknya, dan Legolas memegang pisau panjangnya: semua anak panahnya habis terpakai. Ketika masuk ke lembah, mereka berhenti dengan kaget; lalu mereka berdiri sejenak dengan kepala tertunduk karena duka, sebab jelas sudah apa yang telah terjadi.
"Sayang!" kata Legolas, sambil mendekati Aragorn. "Kami memburu dan membunuh banyak Orc di hutan, tapi sebenarnya kami akan lebih bermanfaat di sini. Kami datang ketika mendengar bunyi terompet tapi rupanya terlambat. Aku khawatir kau terluka parah."
"Boromir tewas," kata Aragorn. "Aku tidak terluka, karena aku tidak berada di sini bersamanya. Dia jatuh ketika membela para hobbit, sementara aku berada jauh di atas bukit."
"Para hobbit!" seru Gimli. "Di mana mereka, kalau begitu? Di mana Frodo?"

"Aku tidak tahu," jawab Aragorn lelah. "Sebelum mati, Boromir mengatakan padaku bahwa para Orc mengikat mereka; menurutnya mereka tidak dibunuh. Aku menyuruhnya mengikuti Merry dan Pippin, tapi aku tidak bertanya apakah Frodo dan Sam bersamanya; akhirnya sudah terlambat. Semua yang kulakukan hari ini gagal. Apa yang harus dilakukan sekarang?"
"Pertama-tama, kita. harus mengurus yang sudah tewas," kata Legolas. "Kita tak bisa meninggalkannya di sini, berbaring seperti bangkai di antara Orc-Orc

menjijikkan ini."

"Tapi kita harus cepat," kata Gimli. "Dia tidak akan mau kita berlama-lama di sini. Kita harus mengikuti Orc-Orc itu, siapa tahu masih ada harapan, bahwa anggota Rombongan kita ditawan hidup-hidup."
"Tapi kita tidak tahu, apakah Penyandang Cincin ada bersama mereka atau tidak," kata Aragorn. "Apakah kita akan meninggalkannya? Tidakkah kita harus mencarinya dulu? Pilihan sulit ada di depan kita!"
"Kalau begitu, kita bereskan dulu urusan yang lebih penting," kata Legolas. "Kita

tak punya waktu atau alat untuk menguburkan kawan kita dengan pantas, atau membuat gundukan tanah di atasnya. Mungkin kita bisa membuat tumpukan batu."
"Pekerjaannya akan lama dan keras: tak ada batu yang bisa kita gunakan, selain yang ada di tepi sungai," kata Gimli.
"Kalau begitu, sebaiknya kita masukkan dia ke dalam perahu, bersama senjatanya dan senjata musuh-musuhnya yang tewas," kata Aragorn. "Kita akan mengirimnya ke Air Terjun Rauros dan menyerahkannya kepada Anduin. Setidaknya Sungai Gondor akan menjaga agar tidak ada makhluk jahat yang mencemarkan tulang-belulangnya."
Dengan cepat mereka menggeledah tubuh Orc-Orc, mengumpulkan pedang- pedang, topi baja pecah, serta perisai menjadi satu tumpukan.
"Lihat!" seru Aragorn. "Ada yang meninggalkan tanda-tanda!"



Dari tumpukan senjata mengerikan itu ia mengambil dua bilah pisau, dengan mata berbentuk daun, berhiaskan emas dan batu mirah; setelah mencari lebih lanjut, ia juga menemukan sarung-sarungnya, hitam dan bertatahkan permata merah kecil-kecil. "Ini bukan senjata Orc!" katanya. "Ini senjata yang dibawa para hobbit. Pasti para Orc merampasnya, tapi takut menyimpannya karena tahu ini sebenarnya apa: karya dari Westernesse, dipenuhi sihir untuk mengutuk Mordor. Yah, kalau kawan-kawan kita masih hidup, maka mereka tidak bersenjata. Akan kubawa benda-benda ini, siapa tahu bisa kukembalikan pada mereka."
"Dan aku," kata Legolas, "akan kuambil semua anak panah yang bisa

kutemukan, karena tempat panahku sudah kosong." ia mencari-cari di tumpukan dan di tanah sekitarnya, dan menemukan tidak sedikit anak panah yang tidak patah, lebih panjang daripada yang biasa dipakai Orc. ia mengamatinya dengan saksama.
Aragorn memandang mereka yang tewas, dan berkata, "Di sini banyak yang bukan rakyat Mordor. Ada yang dari Utara, dari Pegunungan Berkabut, kalau pengetahuanku tentang Orc dan bangsanya benar. Senjata mereka sama sekali tidak seperti jenis yang dipakai Orc!"
Ada empat serdadu goblin yang tubuhnya lebih besar, kehitaman, bermata sipit, berkaki kekar dan bertangan besar. Mereka dipersenjatai pedang bermata pendek, bukan pedang bengkok yang biasa dipakai Orc; mereka mempunyai busur dari pohon cemara, panjang dan bentuknya seperti busur milik Manusia. Di atas perisai mereka ada lambang aneh: tangan putih kecil di tengah bidang hitam; di bagian depan topi baja mereka ada lambang S, ditempa dari suatu logam putih
"Aku belum pernah melihat tanda seperti ini," kata Aragorn. "Apa artinya?" "S itu berarti Sauron," kata Gimli. "Itu mudah dibaca."
"Tidak!" kata Legolas. "Sauron tidak menggunakan huruf Peri." "Dia juga tidak menggunakan nama sebenamya, atau mengizinkan namanya ditulis atau diucapkan," kata Aragorn. "Dan dia tidak menggunakan warna putih. Orc-Orc yang melayani Barad-dur menggunakan lambang Mata Merah." ia berdiri sambil merenung sejenak. "S mungkin berarti Saruman," kata Aragorn akhirnya. "Ada kejahatan yang berkembang di Isengard, dan wilayah Barat sudah tidak aman lagi. Seperti sudah dikhawatirkan Gandalf: entah bagaimana, Saruman sudah tahu berita perjalanan kita. Mungkin juga dia sudah tahu tentang kejatuhan Gandalf. Para pengejar dari Moria mungkin sudah lolos dari penjagaan Lorien, atau mereka menghindari negeri itu dan datang ke Isengard melalui jalan lain. Orc-Orc bisa berjalan sangat cepat. Tapi Saruman punya banyak cara untuk mendapat berita. Kau ingat burung-burung itu?"
"Well, kita tak punya waktu untuk menebak teka-teki," kata Gimli. "Mari kita menggotong Boromir pergi!"

"Tapi sesudahnya harus kita pecahkan teka-teki itu, kalau ingin memilih jalan yang tepat," jawab Aragorn.
"Mungkin tak ada pilihan yang benar," kata Gimli.



Dengan kapaknya, Gimli memotong beberapa dahan, kemudian dahan-dahan itu diikat dengan tali-tali busur. Setelah itu, mereka membentangkan jubah mereka di atas kerangka tersebut. Dengan usungan kasar ini mereka menggotong jenazah kawan mereka ke pantai, bersama beberapa kenang-kenangan dari pertempurannya yang terakhir, yang mereka pilihkan untuk diangkut bersamanya. Jarak yang harus ditempuh tidak jauh, tapi ternyata pekerjaan itu tidak mudah, karena Boromir berperawakan tinggi kekar.
Aragorn berdiri di tepi sungai, menjaga usungan, sementara Legolas dan Gimli bergegas berjalan kaki ke Parth Galen. Jaraknya satu mil lebih, dan baru beberapa saat kemudian mereka kembali, mendayung dua perahu dengan cepat menyusuri pantai.
"Ada yang aneh," kata Legolas. "Hanya ada dua perahu di tebing. Kami tak bisa menemukan jejak yang satu lagi."
"Apakah Orc datang ke sana?" tanya Aragorn.

"Kami tidak melihat tanda-tanda mereka," jawab Gimli. "Dan Orc pasti akan merusak semua perahu, berikut muatannya juga."
"Aku akan mengamati tanah di sana nanti," kata Aragorn.



Sekarang mereka meletakkan Boromir di tengah perahu yang akan membawanya pergi. Kerudung kelabu dan jubah Peri mereka lipat dan letakkan di bawah kepalanya. Mereka menyisir rambutnya yang panjang dan gelap, dan merapikannya di sekitar bahunya. Ikat pinggang emas dari Lorien berkilauan di pinggangnya. Topi bajanya mereka letakkan di sampingnya, dan di pangkuannya mereka menaruh terompet yang terbelah, berikut pangkal serta pecahan- pecahan pedangnya; di bawah kakinya mereka meletakkan pedang-pedang musuhnya. Lalu mereka mengikat haluan perahunya ke buritan perahu satunya, dan menariknya masuk ke sungai. Mereka mengayuh dengan sedih menyusuri

pantai, membelok masuk ke saluran air deras, melewati padang hijau Parth Galen. Tebing-tebing curam Tol Brandir tampak bersinar: sekarang sudah menjelang sore. Ketika mereka melaju ke selatan, uap Rauros naik berkilauan di depan, bagai kabut keemasan. Derum dan gemuruh air terjun menggetarkan udara yang tidak berangin.
Dengan sedih mereka melepaskan perahu jenazah itu: di sana Boromir berbaring, damai dan tenang, meluncur di permukaan air yang mengalir. Aliran air menghanyutkan perahunya, sementara mereka menahan perahu mereka sendiri dengan dayung. Perahu Boromir meluncur melewati mereka, pergi menjauh perlahan-lahan, mengabur menjadi bercak gelap di depan cahaya keemasan; lalu mendadak ia lenyap. Rauros menderum tanpa henti. Sungai itu telah mengambil Boromir, putra Denethor. ia takkan pernah terlihat lagi di Minas Tirith, berdiri seperti biasanya di atas Menara Putih di pagi hari. Tapi di kemudian hari, di Gondor diceritakan bahwa perahu Peri itu menunggangi air terjun dan telaga berbuih yang membawanya sampai ke Osgiliath, melewati banyak muara Anduin, masuk ke Samudra di malam hari, di bawah sinar bintang-bintang.


Selama beberapa saat, tiga sekawan itu berdiam diri, memandangi kepergian Boromir. Lalu Aragorn berbicara. "Mereka akan mencarinya dari Menara Putih," katanya, "tapi dia tidak akan kembali dari gunung atau lautan." Kemudian perlahan-lahan ia mulai bernyanyi:


Melintasi Rohan, menyeberangi rawa dan padang berumput panjang

Angin Barat datang mengitari dinding-dinding tinggi lenjang.

"Kabar apa dari Barat yang kaubawa padaku malam ini, wahai angin kelana? Kaulihatkah Boromir yang Jangkung, dalam sinar bulan atau bintang?"
"Aku melihatnya menyusuri tujuh sungai, lebar dan kelabu; Kulihat dia berjalan di padang hampa, sampai lenyap berlalu Dalam kegelapan Utara. Dan tak kulihat lagi dia di situ.
Angin Utara mungkin mendengar lengkingan terompet putra Denethor itu." "Oh Boromir! Dari tembok tinggi di Barat aku memandang sejauh mata,

Tapi kau tak datang jua dari negeri hampa di mana manusia tiada." Lalu Legolas bernyanyi:
Dari mulut Samudra, Angin Selatan terbang, dari bukit pasir bebatuan yang garang;
Dalam ratapan camar ia diantar, dan di gerbang ia mengerang.

"Wahai angin mendesah, kabar apa kaubawa dari Selatan, di hari petang?

Di mana kini Boromir yang Elok? Ia berlambat-lambat, dan ke dalam duka aku tergelimang. "
“Jangan tanya padaku di mana ia berada-banyak nian tulang terserak masai

Di pantai putih dan pantai gelap, di bawah langit badai; Banyak nian yang meluncur lewat Anduin, mencari Samudra mengalir berliku.
Tanyakan pada Angin Utara tentang mereka yang dikirim padaku!" "Oh Boromir! Di luar gerbang arus laut ke selatan nan menggebu,
Kau pun tidak datang bersama camar meratap dari mulut lautan kelabu." Lalu Aragorn bernyanyi lagi:
Dari Gerbang Raja-Raja, Angin Utara bertiup, melewati desau air terjun yang menggaung;
Bening dan dingin di seputar menara, terompetnya membahana nyaring meraung.
"Kabar apa dari Utara, Oh angin perkasa, yang kaubawa untukku hari ini? Bagaimana kabar Boromir yang Berani? Karena ia pergi sudah selama ini."
"Di bawah Amon Hen kudengar teriakannya. Di sana banyak musuh dilawannya. Perisainya yang terbelah, pedangnya yang patah, ke sungai mereka membawanya.
Kepalanya nan gagah, wajahnya nan elok, tubuhnya dibaringkan; Dan Rauros, air terjun emas Rauros merengkuhnya ke haribaan." "Oh Boromir! Menara Penjagaan 'kan selalu menatap ke Utara

Ke Rauros, air terjun emas Rauros, sampai akhir masa."



Demikian mereka mengakhirinya. Lalu mereka memutar perahu dan mengayuhnya secepat mungkin melawan arus, kembali ke Parth Galen.
"Kau menyisakan Angin Timur untuk kunyanyikan," kata Gimli, "tapi aku takkan mengatakan apa pun tentang itu."
"Seharusnyalah demikian," kata Aragorn. "Di Minas Tirith mereka menahankan

tiupan Angin Timur, tapi tidak menanyakan kabar kepadanya. Kini Boromir sudah mengambil jalannya sendiri, dan kita harus bergegas memilih jalan kita."
Aragorn memeriksa padang hijau itu dengan cepat namun saksama, sering membungkuk ke tanah. "Tidak ada Orc datang ke sini," katanya. "Selebihnya tak ada yang bisa dipastikan. Semua jejak kaki kita ada di sini, bersilangan dan bersilangan lagi. Aku tidak tahu apakah ada di antara para hobbit yang kembali ke sini sejak pencarian Frodo dimulai." ia kembali ke tebing, dekat tempat anak sungai dari mata air mengalir masuk ke Sungai. "Ada jejak-jejak jelas di sini," kata Aragorn. "Seorang hobbit masuk ke air dan kembali; tapi aku tidak tahu sudah lewat berapa lama."
"Bagaimana kau membaca teka-teki ini?" tanya Gimli.

Aragorn tidak langsung menjawab, tapi kembali ke tempat berkemah dan memeriksa barang bawaan. "Dua ransel hilang," katanya, "satu pasti milik Sam: agak besar dan berat. Kalau begitu, inilah jawabannya: Frodo pergi naik perahu, dan pelayannya ikut dengannya. Pasti Frodo kembali ketika kita semua sedang pergi. Aku melihat Sam naik ke bukit. Kusuruh dia mengikutiku, tapi tampaknya dia tidak melakukan itu. Dia menebak pikiran majikannya, dan kembali ke sini sebelum Frodo pergi. Pasti tidak mudah bagi Frodo untuk meninggalkan Sam!" "Tapi mengapa dia meninggalkan kita semua, tanpa pemberitahuan?" kata Gimli. "Itu aneh sekali!"
"Dan berani sekali," kata Aragorn. "Sam benar, kukira. Frodo tak ingin membawa teman mana pun ke kematian bersamanya di Mordor. Dia tahu dia harus pergi sendirian. Ada yang terjadi setelah dia meninggalkan kita sesuatu yang membuatnya bisa mengatasi ketakutan dan keraguannya."

"Mungkin Orc pemburu memergokinya, dan dia lari," kata Legolas.

"Dia memang lari," kata Aragorn, "tapi bukan dari Orc, kukira." Aragorn tidak mengungkapkan dugaannya tentang penyebab keputusan dan pelarian mendadak Frodo. Kata-kata terakhir Boromir dirahasiakannya hingga lama.
"Nah, sebegitu jauh sudah cukup jelas," kata Legolas. "Frodo tidak berada di sisi Sungai sebelah sini lagi: hanya dia yang mungkin mengambil perahu itu. Dan Sam bersamanya; hanya dia yang pasti membawa ranselnya."
"Kalau begitu, pilihan kita adalah membawa perahu yang tersisa dan menyusul

Frodo, atau mengejar Orc dengan berjalan kaki," kata Gimli. "Tidak banyak harapan pada pilihan mana pun. Kita sudah cukup banyak kehilangan waktu yang sangat berharga."
"Coba kupikirkan dulu!" kata Aragorn. "Mudah-mudahan sekarang aku membuat pilihan yang tepat, dan mengubah nasib buruk hari yang malang ini!" Ia berdiri diam sejenak. "Aku akan mengikuti Orc," katanya akhirnya. "Aku sebenarnya ingin membimbing Frodo ke Mordor dan mendampinginya sampai akhir; tapi kalau aku mencarinya sekarang di belantara, aku harus membiarkan kedua hobbit yang ditawan itu menjadi korban penyiksaan dan kematian. Hatiku akhirnya berkata jelas: nasib Penyandang Cincin sudah tidak di tanganku lagi. Rombongan ini sudah memainkan perannya. Kita yang tersisa tak bisa meninggalkan kawan-kawan kita, sementara kita masih punya kekuatan. Ayo! Kita pergi sekarang. Tinggalkan semua yang bisa ditinggal! Kita akan berjalan terus siang-malam!"


Mereka mengangkat perahu terakhir dan menggotongnya ke pepohonan. Perahu itu diletakkan di bawah barang-barang mereka yang sudah tidak diperlukan dan tak bisa mereka bawa. Lalu mereka meninggalkan Parth Galen. Hari sudah siang ketika mereka kembali ke lembah tempat Boromir jatuh. Di sana mereka mencari jejak Orc. Tidak perlu keterampilan hebat untuk menemukannya.
"Tidak ada bangsa lain yang menginjak-injak tanah seperti ini," kata Legolas. "Kelihatannya mereka senang membabat dan menebangi tumbuh-tumbuhan yang tidak menghalangi jalan mereka sekalipun."

"Tapi mereka berjalan sangat cepat," kata Aragorn, "dan mereka tidak mudah letih. Nanti mungkin kita harus mencari jalan di dataran gersang yang keras." "Well, kejar mereka!" kata Gimli. "Kurcaci juga bisa berjalan cepat, dan sama tangguhnya dengan Orc. Tapi pengejaran ini akan lama sekali: mereka sudah berangkat jauh lebih dulu."
"Ya," kata Aragorn, "kita semua memerlukan ketangguhan Kurcaci. Tapi ayolah! Dengan atau tanpa harapan, kita ikuti jejak musuh kita. Dan celakalah mereka kalau ternyata kita lebih cepat! Kita buat pengejaran ini sebagai keajaiban di antara Tiga Bangsa: Peri, Kurcaci, dan Manusia. Majulah Tiga Pemburu!"
Seperti kijang, Aragorn melesat pergi. Di antara pepohonan ia bergegas. Terus dan terus ia memimpin mereka, cepat dan tak kenal lelah, sebab keputusannya sudah bulat. Hutan di sekitar telaga sudah mereka tinggalkan jauh di belakang. Lereng-lereng panjang mereka daki; lereng-lereng gelap yang tampak keras di depan langit yang sudah merah oleh cahaya matahari terbenam. Senja pun tiba. Mereka berjalan terus, sosok mereka menjadi bayangan-bayangan kelabu di dataran berbatu.

BAB 2

PARA PENUNGGANG KUDA ROHAN



Senja semakin larut. Kabut menggantung di belakang mereka, di antara pepohonan di bawah, dan melayang di atas tepi-tepi Anduin yang pucat. Namun langit tampak jernih. Bintang-bintang bermunculan. BuIan yang sedang membesar melayang di Barat, dan bayangan batu-batu karang tampak hitam. Mereka sudah tiba di kaki perbukitan berbatu, dan kecepatan mereka berkurang, karena jejak-jejak itu tak lagi mudah diikuti. Di sini Dataran Tinggi Emyn Muil menjalar dari Utara ke Selatan dalam dua punggung gunung yang menjulang. Sisi barat setiap punggung begitu terjal dan sulit, namun lereng-lereng sisi timur lebih lembut, bergalur-galur dengan banyak pant dan jurang sempit. Sepanjang malam ketiga sahabat itu berjuang di negeri kerontang ini, mendaki ke puncak punggung pertama yang paling tinggi, lalu turun kembali ke lembah yang meliuk- liuk gelap di sisi berlawanan.
Di sana, dalam jam-jam tenang dan sejuk sebelum fajar, mereka beristirahat sejenak. Bulan sudah lama turun, bintang-bintang gemerlap di atas mereka; cahaya fajar pertama belum lagi muncul dari balik bukit-bukit gelap di belakang. Untuk sementara Aragorn bingung: jejak Orc turun ke dalam lembah, tapi hilang di sana.
"Ke arah mana mereka berbelok, menurutmu?" kata Legolas. "Ke utara, untuk mengambil jalan yang lebih lurus ke Isengard, atau ke Fangorn, kalau itu tujuan mereka yang kauduga? Atau ke selatan, menuju Entwash?" "Mereka tidak akan menuju sungai, apa pun tujuan mereka," kata Aragorn. "Dan kecuali sudah terjadi kekacauan di Rohan dan kekuatan Saruman sudah jauh lebih besar, mereka akan mengambil jalan terpendek yang bisa mereka temukan melewati padang-padang Rohirrim. Mari kita can ke arah utara!"


Lembah itu menjalar bagai parit berbatu di antara punggung-punggung bukit, dan sungai mengalir di antara bebatuan di dasarnya. Sebuah batu karang yang tampak muram berdiri di sisi kanan mereka; di sebelah kiri menjulang lereng-

lereng kelabu, kabur dan gelap di malam yang sudah larut. Mereka berjalan terus ke utara sejauh satu mil lebih. Aragorn mencari-cari, membungkuk ke tanah, di antara lipatan-lipatan dan parit-parit yang mendaki lereng barat. Legolas sudah agak di depan. Mendadak Peri itu berteriak, dan yang lain berlarian mendekatinya.
"Kita sudah menyusul beberapa di antara mereka," kata Legolas. "Lihat!" ia menunjuk, dan mereka melihat bahwa apa yang tadi mereka sangka bebatuan berserakan di kaki lereng ternyata adalah tubuh-tubuh yang meringkuk. Lima Orc mati tergeletak di sana, ditebas dengan banyak sapuan kejam; dua dipenggal kepalanya. Tanah dibasahi darah mereka yang gelap.
"Ini teka-teki baru!" kata Gimli. "Kita memerlukan cahaya siang untuk memecahkannya, tapi kita tak bisa menunggu."
"Apa pun kesimpulanmu, tampaknya bukan tanpa harapan," kata Legolas. "Musuh kaum Orc mungkin bisa menjadi teman kita. Apakah ada penduduk di perbukitan ini?"
"Tidak," kata Aragorn. "Bangsa Rohirrim jarang kemari, dan tempat ini jauh dari

Minas Tirith. Mungkin ada rombongan Manusia sedang berburu di sini, untuk tujuan yang tidak kita ketahui. Tapi kupikir tidak."
"Bagaimana menurutmu?" tanya Gimli.

"Kurasa musuh membawa musuh di dalam tubuhnya sendiri," jawab Aragorn. "Ini kaum Orc dari Utara yang jauh. Di antara yang tewas tidak ada Orc dengan lencana aneh itu. Mungkin ada pertengkaran: itu tidak mustahil di antara bangsa jahat ini. Mungkin ada percekcokan tentang jalan yang akan diambil."
"Atau tentang para tawanan," kata Gimli. "Mudah-mudahan mereka juga tidak menemui ajal mereka di sini."


Aragorn menelusuri tanah di situ dalam lingkaran besar, tapi tak bisa menemukan jejak lain dan pertempuran tersebut. Mereka berjalan terus. Langit timur sudah mulai memucat; bintang-bintang memudar, dan sebersit cahaya kelabu sedikit demi sedikit mulai membesar. Sedikit lebih ke utara, mereka sampai ke sebuah lipatan tanah di mana sebuah sungai kecil, meliuk dan terjun,

memotong jalan berbatu menuruni lembah. Di dalamnya tumbuh beberapa semak, dan ada bercak-bercak rumput di tepi-tepinya.
"Akhirnya!" kata Aragorn. "Inilah jejak yang kita cari! Naik ke saluran air ini: ini jalan yang diambil para Orc setelah percekcokan mereka."
Dengan cepat para pengejar membelok dan mengikuti jalan yang barn itu. Seolah segar karena istirahat semalam, mereka melompat dari batu ke batu. Akhirnya mereka sampai ke puncak bukit kelabu, dan sekonyong-konyong angin mengembus rambut mereka, menggerakkan jubah mereka: angin fajar yang dingin.
Ketika menoleh, mereka melihat bukit-bukit di seberang Sungai bagai menyala. Cahaya pagi melompat ke langit. Tepian merah matahari mengintip di atas bahu daratan yang kelam. Di depan mereka, di Barat, dunia terhampar diam, tak berbentuk dan kelabu; tapi tepat saat mereka memandangnya, bayangan malam melebur, warna-warna dunia yang terjaga kembali menjelang: hijau mengalir di atas padang-padang luas Rohan; kabut putih berkilauan di lembah air; dan jauh di sebelah kiri, berjarak kira-kira tiga puluh league atau lebih, menjulang Pegunungan Putih, diselimuti warna biru dan merah lembayung, naik menjadi puncak hitam, ditutupi salju kemilau, menyala kena sinar pagi yang kemerahan. "Gondor! Gondor!" teriak Aragorn. "Semoga aku bisa melihatmu lagi di waktu yang lebih bahagia! Jalanku masih belum menuju ke selatan, ke sungai- sungaimu yang jernih.”


Gondor! Gondor, di tengah Gunung dan Samudra!

Angin Barat bertiup di sana; di atas Pohon Perak tampak cahaya; Jatuh berderai bak butiran hujan di taman Raja-Raja.
Oh tembok nan megah! Menara-menara putih gagah! Oh mahkota bersayap dan takhta kencana!
Oh Gondor, Gondor! Akankah Manusia melihat Pohon Perak,

Ataukah Angin Barat bertiup lagi di antara Gunung dan Samudra beriak?



"Ayo kita pergi sekarang!" kata Aragorn sambil melepaskan pandangannya dari

Selatan, menatap ke barat dan utara, ke jalan yang harus dilaluinya.



Di depan kaki mereka, punggung bukit tempat kawanan itu berdiri meluncur curam ke bawah. Di bawahnya, sekitar dua puluh fathom atau lebih, ada dataran lebar dan kasar yang berakhir tiba-tiba di tepi sebuah batu karang terjal: Tembok Timur Rohan. Begitulah Emyn Muil berakhir, dan kini padang hijau Rohirrim membentang jauh di depan mereka, sampai batas pandang.
"Lihat!" teriak Legolas, menunjuk ke langit pucat di atas. "Elang itu terlihat lagi! Terbangnya tinggi sekali. Tampaknya sekarang dia terbang pergi dari negeri ini, kembali ke Utara. Dia terbang sangat cepat. Lihat!"
"Tidak, bahkan mataku tak bisa melihatnya, Legolas yang baik," kata Aragorn. "Pasti dia sangat tinggi. Aku heran, apa gerangan tugasnya, kalau dia burung yang sama dengan yang kulihat sebelumnya. Tapi lihat! Aku bisa melihat sesuatu yang lebih dekat dan lebih mendesak ada sesuatu bergerak melintasi padang!"
"Banyak," kata Legolas. "Sebuah pasukan besar yang berjalan kaki; selebihnya aku tidak tahu, juga tak bisa kulihat bangsa macam apa mereka. Mereka masih sekitar dua belas league dari sini, kukira; tapi datarnya padang ini sulit diukur." "Meski begitu, kupikir kita tak butuh jejak lagi untuk memberitahukan ke arah mana kita harus pergi," kata Gimli. "Coba kita cari jalan turun ke padang secepat mungkin."
"Aku ragu kita bisa menemukan jalan yang lebih cepat daripada yang dipilih para

Orc," kata Aragorn.

Sekarang mereka mengikuti musuh mereka di siang hari. Kelihatannya Orc-Orc sudah berjalan sekencang mungkin. Sesekali para pengejar menemukan barang- barang yang dijatuhkan atau dibuang: tas, makanan, remah-remah dan kulit roti kelabu keras, jubah hitam yang robek, sebuah sepatu besi berat yang pecah di atas bebatuan. Jejak itu membawa mereka ke utara, menelusuri puncak lereng. Akhirnya mereka sampai ke sebuah alur dalam yang dipahat di bebatuan oleh sebuah sungai yang mengalir turun dengan berisik. Di jurang sempit itu ada sebuah jalan kasar yang menurun seperti tangga curam ke padang.

Di dasarnya, sekonyong-konyong mereka sampai ke hamparan rumput Rohan. Rumput itu membentang seperti lautan hijau, sampai ke kaki Emyn Mull. Sungai yang mengalir turun All menghilang ke dalam semak-semak seledri yang tebal dan tanaman air; mereka bisa mendengarnya bergemericik masuk ke terowongan-terowongan hijau, menuruni lereng panjang lembut, menuju dataran berair di sekitar Lembah Entwash jauh di sana. Seakan-akan mereka sudah meninggalkan musim dingin yang masih mencengkeram bukit-bukit di belakang sana. Di sini udara lebih lembut dan hangat, dan menebarkan keharuman samar, seolah musim semi sudah menggeliat, dan getah-getah sudah mengalir kembali di dalam tanaman dan dedaunan. Legolas menarik napas dalam-dalam, seperti orang yang minum banyak setelah menderita kehausan panjang di tempat gersang.
"Ah! Keharuman rumput dan dedaunan!" kata Legolas. "Lebih menyegarkan daripada tidur panjang. Mari kita berlari!"
"Kaki ringan bisa berlari cepat di sini," kata Aragorn. "Mungkin lebih cepat

daripada Orc yang bertapal besi. Sekarang kita punya kesempatan untuk mengurangi jarak dengan mereka!"


Mereka berbaris satu-satu, berlari seperti anjing yang memburu jejak kuat, mata berbinar-binar penuh semangat. Hampir menuju ke barat, jejak lebar kaki Orc membekas dalam di celah yang tampak sangat jelek; rumput indah Rohan sudah rusak menghitam ketika mereka lewat. Tak lama kemudian, Aragorn berteriak dan membelok.
"Diam di sini! Jangan ikuti aku dulu!" ia berlari cepat ke kanan, keluar dari jalan utama; sebab ia sudah melihat jejak kaki yang melangkah ke sana, menjauh dari yang lain, bekas kaki kecil yang tidak bersepatu. Tapi belum apa-apa jejak kaki ini sudah ditabrak jejak kaki Orc, yang juga keluar dari jalan utama di belakang dan di depan, lalu membelok tajam kembali dan hilang dalam bekas injakan kaki. Di titik terjauh, Aragorn membungkuk dan memungut sesuatu dari rumput; lalu ia berlari kembali.
"Ya," katanya, "ini jelas sekali: jejak kaki hobbit. Kurasa jejak Pippin. Dia lebih

kecil dari Merry. Dan lihat ini!" ia mengangkat sebuah benda yang gemerlap kena sinar matahari. Tampaknya seperti daun pohon beech yang baru mekar, indah dan aneh di dataran tak berpohon itu.
"Bros jubah Peri!" teriak Legolas dan Gimli bersamaan.

"Daun-daun Lorien tidak jatuh dengan sia-sia," kata Aragorn. "Ini bukan jatuh tak disengaja: benda ini dilempar sebagai tanda untuk siapa pun yang mengejar. Kurasa Pippin lari keluar barisan untuk maksud itu."
"Kalau begitu, setidaknya dia masih hidup," kata Gimli. "Dan dia memakai

akalnya, juga kakinya. Baguslah. Pengejaran kita tidak sia-sia."

"Mudah-mudahan dia tidak membayar terlalu mahal untuk keberaniannya itu," kata Legolas. "Ayo! Mari kita jalan terus! Membayangkan hobbit-hobbit muda yang periang itu didorong-dorong seperti ternak membuatku marah."


Matahari mendaki langit sampai tengah hari, lalu melayang turun perlahan. Awan-awan ringan naik dari laut di Selatan yang jauh, dan diembus pergi oleh angin. Matahari semakin turun. Bayang-bayang mulai muncul di belakang, mengulurkan lengan mereka yang panjang dari Timur. Para pemburu masih terus berjalan. Sudah satu hari lewat sejak Boromir tewas, dan Orc-Orc masih jauh di depan. Sedikit pun mereka tidak kelihatan lagi di padang-padang datar. Ketika bayangan malam sudah mulai menyelimuti, Aragorn berhenti. Hanya dua kali mereka beristirahat dalam perjalanan itu, dan sudah dua belas league terbentang di antara mereka dengan tembok timur tempat mereka berdiri saat fajar.
"Akhirnya kita dihadapkan pada pilihan sulit," kata Aragorn. "Apakah kita akan istirahat di malam hari, atau jalan terus sementara masih punya tekad dan kekuatan?"
"Kecuali musuh kita juga istirahat, mereka akan meninggalkan kita jauh di belakang, kalau kita tidur dulu," kata Legolas.
"Pasti Orc juga perlu istirahat dalam perjalanan?" kata Gimli.

"Jarang sekali Orc berjalan di tempat terbuka di bawah sinar matahari, tapi kelompok ini melakukannya," kata Legolas. "Pasti mereka tidak istirahat di

malam hari."

"Tapi kalau kita berjalan malam, kita tak bisa mengikuti jejak mereka," kata Gimli. "Jejaknya lurus, dan tidak membelok ke kiri maupun ke kanan, sejauh mataku bisa melihat," kata Legolas.
"Mungkin. Aku bisa memimpin kalian dalam gelap, dengan mengira-ngira, dan bertahan pada garis yang benar," kata Aragorn, "tapi kalau kita menyimpang, atau mereka membelok, akan sulit bagi kita menemukan jejak mereka lagi sesudah hari terang."
"Selain itu," kata Gimli, "hanya di siang hari kita bisa melihat apakah ada jejak yang menyimpang. Kalau ada tawanan yang lolos, atau kalau ada yang dibawa misalnya ke timur, ke Sungai Besar, menuju Mordor, kita mungkin tidak melihat tanda-tandanya saat melewati."
"Itu benar," kata Aragorn. "Tapi kalau aku membaca tanda-tanda di sana tadi dengan benar, maka yang bertahan adalah Orc-Orc dari Tangan Putih, dan seluruh rombongan sekarang menuju Isengard. Arah mereka kini membuktikan dugaanku."
"Tapi akan gegabah kalau kita yakin dengan bukti itu," kata Gimli.

"Selain itu, bagaimana dengan kemungkinan kedua hobbit melarikan diri? Dalam gelap, tanda-tanda yang menuntunmu ke bros itu pasti akan terlewat oleh kita." "Para Orc pasti jauh lebih waspada sejak itu, dan tawanan mereka semakin letih," kata Legolas. "Tidak akan ada pelarian lagi, kalau bukan kita yang membuatnya terjadi. Bagaimana caranya, tak bisa diperkirakan, tapi pertama- tama kita harus menyusul mereka."
"Meski aku Kurcaci yang sudah banyak mengembara, dan tergolong tabah di antara bangsaku, tapi aku tak bisa berlari sepanjang jalan ke Isengard tanpa istirahat sama sekali," kata Gimli. "Hatiku juga terbakar, dan aku ingin berangkat lebih awal; tapi sekarang aku harus istirahat sebentar, agar bisa berlari lebih baik. Dan kalau kita akan beristirahat, maka malam buta adalah saat yang paling tepat."
"Sudah kukatakan ini pilihan sulit," kata Aragorn. "Bagaimana kita akan mengakhiri debat ini?"

"Kau pemimpin kami," kata Gimli, "dan kau yang ahli dalam pengejaran. Kaulah yang memilih."
"Hatiku ingin kita berjalan terus," kata Legolas. "Tapi kita harus bisa sepakat. Aku akan mengikuti saranmu."
"Kau menyerahkan keputusan pada pemilih yang buruk," kata Aragorn. "Sejak kita lewat di Argonath, pilihan-pilihanku semuanya salah." Ia terdiam, menatap lama ke utara dan ke barat, ke dalam malam kelam.
"Kita tidak akan berjalan dalam gelap," akhirnya ia berkata. "Lebih besar

kemungkinan kita tidak melihat jejak atau tanda-tanda kepergian dan kedatangan lainnya. Bila Bulan bercahaya cukup terang, kita bisa memanfaatkan sinarnya. Tapi sayang! Bulan tenggelam begitu awal, dan sinarnya masih muda dan pucat."
"Bagaimanapun, malam ini dia terselubung," gumam Gimli. "Kalau saja Lady Galadriel menghadiahi kita cahaya, seperti yang diberikannya pada Frodo!" "Frodo lebih membutuhkan cahaya itu," kata Aragorn. "Pada dialah segalanya bergantung. Pencarian kita hanya satu titik kecil dalam perbuatan-perbuatan besar masa kini. Pengejaran yang sejak awal mungkin sudah sia-sia, tak bisa diperbaiki ataupun dirusak oleh pilihanku. Well, aku sudah memilih. Maka biarlah kita menggunakan waktu sebaik mungkin!"


Aragorn membaringkan diri di tanah dan langsung tertidur, karena ia belum tidur sejak malam di bawah bayang-bayang Tol Brandir. Sebelum fajar menyingsing, ia sudah bangun dan bangkit berdiri. Gimli masih tertidur lelap, tapi Legolas tampak berdiri menatap ke utara, ke dalam kegelapan, merenung diam seperti pohon muda di malam tak berangin.
"Mereka sudah jauh sekali," katanya sedih, pada Aragorn. "Dalam hatiku, aku tahu mereka tidak beristirahat tadi malam. Hanya seekor elang yang bisa menyusul mereka sekarang."
"Kita akan terus mengikuti sebisa mungkin," kata Aragorn. ia membungkuk, membangunkan Gimli. "Ayo! Kita harus pergi," katanya. "Jejak-jejak itu sudah mulai dingin."

"Tapi masih gelap," kata Gimli. "Bahkan Legolas di atas puncak bukit takkan bisa melihat mereka sampai Matahari terbit."
"Aku cemas mereka sudah berjalan melampaui pandanganku, dari bukit maupun padang, di bawah matahari maupun bulan," kata Legolas.
"Di mana penglihatan gagal, bumi bisa membawa kabar," kata Aragorn. "Bumi pasti bergetar di bawah kaki mereka yang jahanam." Aragorn menelungkup di tanah, menempelkan telinga. Ia tiarap begitu lama, sampai Gimli bertanya-tanya apakah ia pingsan atau tertidur lagi. Fajar datang bersinar-sinar, dan perlahan- lahan cahaya kelabu menebar di sekitar mereka. Akhirnya Aragorn bangkit berdiri, dan sekarang teman-temannya bisa melihat wajahnya: pucat dan muram, pandangannya cemas.
"Bumi terdengar redup dan bingung," kata Aragorn. "Tak ada yang berjalan di atasnya sejauh beberapa mil di sekitar kita. Lemah dan jauh kaki musuh kita. Tapi keras sekali bunyi derap kaki kuda. Sekarang aku teringat bahwa aku sudah mendengarnya, bahkan ketika aku masih berbaring tidur, dan bunyi itu mengganggu mimpiku: kuda-kuda menderap lewat di sebelah Barat. Tapi sekarang mereka bahkan semakin jauh dari kita, melaju ke utara. Aku bertanya- tanya, apa gerangan yang terjadi di negeri ini?"
"Mari kita pergi!" kata Legolas.



Maka hari ketiga pengejaran pun dimulai. Sepanjang perjalanan panjang, dengan awan-awan dan matahari yang gelisah, mereka hampir tidak beristirahat, kadang melangkah lebar, kadang berlari, seolah tak ada kelelahan yang bisa memadamkan api yang membara di hati. Mereka jarang berbicara. Melintasi keheningan luas mereka lewat, jubah Peri mereka tampak pucat berlatar belakang ladang-ladang hijau-kelabu; bahkan di bawah cahaya matahari lembut tengah hari, hanya mata Peri yang bisa melihat mereka, sampai mereka sudah berada dekat sekali. Dalam hati mereka sering mengucapkan terima kasih pada sang Lady dari Lorien, atas pemberiannya yang berupa lembas, sebab mereka bisa memakannya dan menemukan kekuatan baru sementara berlari.
Sepanjang hari jejak musuh mereka berjalan lurus, menuju arah barat laut, tanpa

putus atau berbelok. Ketika sekali lagi hari itu berakhir, mereka sampai ke lereng-lereng panjang tak berpohon, di mana tanah menanjak, membengkak naik ke sebuah garis padang berpunggung rendah yang bungkuk di depan. Jejak Orc semakin samar ketika membelok ke utara mendekatinya, karena tanah menjadi keras dan rumputnya lebih pendek. Jauh di sebelah kiri, Sungai Entwash meliuk bagai seutas benang perak di tanah hijau. Tak ada makhluk bergerak yang terlihat. Sering Aragorn heran bahwa mereka sama sekali tidak melihat tanda- tanda hewan ataupun manusia. Tempat tinggal kaum Rohirrim masih berjarak banyak league ke arah Selatan, di bawah atap hutan Pegunungan Putih yang kini tersembunyi di dalam kabut dan awan; meski begitu, para Penguasa Kuda ini dulu banyak memelihara ternak dan kuda pembiak di Eastemnet, wilayah timur tempat tinggal mereka, dan di sana banyak penggembala mengembara, hidup di dalam kemah dan tenda, bahkan di musim dingin. Tapi kini seluruh daratan itu kosong, diliputi kesunyian yang tidak membawa ketenangan dan kedamaian.


Senja hari mereka berhenti lag. Sekarang sudah dua puluh empat league padang Rohan mereka lintasi, dan tembok Emyn Muil hilang ditelan bayang- bayang dari Timur. Bulan muda bersinar di langit berkabut, hanya memancarkan cahaya redup, bintang-bintang pun terselubung.
"Kini aku sangat menyesali saat-saat istirahat atau perhentian dalam pengejaran kita," kata Legolas. "Orc-Orc sudah jauh mendahului, seakan dikejar oleh cemeti Sauron sendiri. Aku khawatir mereka sudah mencapai hutan dan bukit-bukit gelap, dan bahkan saat ini sedang masuk ke dalam bayangan pepohonan."
Gimli mengertakkan gigi. "Ini akhir yang pahit bagi seluruh harapan dan kerja keras kita!" katanya.
"Untuk harapan, mungkin, tapi tidak bagi kerja keras," kata Aragorn. "Kita tidak akan memutar arah di sini. Tapi aku lelah sekali." Aragorn menoleh ke belakang, ke jalan yang sudah mereka lalui menuju malam yang mulai turun di Timur. "Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di negeri ini. Aku tidak mempercayai kesunyiannya. Aku bahkan tidak mempercayai Bulan yang pucat. Bintang- bintang begitu samar; dan aku letih sekali, seperti belum pernah kurasakan;

keletihan yang tidak seharusnya dirasakan seorang Penjaga Hutan yang sedang melacak jejak yang begitu jelas. Ada semacam kekuatan yang memberi kecepatan pada musuh kita, dan menempatkan rintangan tak terlihat di depan kita: kelelahan yang lebih banyak dirasakan di dalam hati daripada di tubuh ini sendiri."
"Benar!" kata Legolas. "Itu sudah kurasakan sejak pertama kita turun dari Emyn Muil. Kekuatan itu ada di depan kita, bukan di belakang." ia menunjuk jauh melintasi tanah Rohan, ke keremangan Barat di bawah bulan sabit.
"Saruman!" gerutu Aragorn. ‘"Tapi dia tidak akan membuat kita pulang kembali! Kita harus berhenti sekali lagi, karena lihatlah! Bahkan Bulan sudah jatuh ke dalam awan yang berkumpul. Tapi di utara terletak jalan kita, di antara padang dan rawa saat hari sudah pagi kembali."


Seperti sebelumnya, Legolas bangun paling awal, kalau ia memang sudah tidur. "Bangun! Bangun!" teriaknya. "Fajar ini merah. Hal-hal aneh menunggu kita di bawah atap hutan. Baik atau jahat, aku tidak tahu; tapi kita sudah dipanggil. Bangun!"
Yang lain melompat berdiri, dan hampir serentak mereka berangkat lagi. Perlahan-lahan bukit-bukit mendekat. Masih satu jam sebelum tengah hari ketika mereka sampai di sana: lereng-lereng hijau mendaki ke punggung gundul yang berbaris ke arah Utara. DI kaki mereka, tanahnya kering dan rumputnya pendek, tapi daratan panjang yang melesak, dengan lebar sekitar sepuluh mil, menjulur di antara mereka dan sungai yang mengembara jauh ke dalam semak-semak ilalang dan rerumputan. Di sebelah Barat lereng paling selatan ada cincin besar, di mana rumputnya sudah rusak diinjak oleh banyak kaki. Dari sana jejak Orc keluar lagi, membelok ke utara, menelusuri lereng-lereng bukit yang kering. Aragorn berhenti dan memeriksa jejak itu dengan cermat.
"Mereka istirahat sebentar di sini," katanya, "tapi jejak keluar juga sudah lama. Aku khawatir perasaanmu benar, Legolas: sudah tiga kali dua belas jam, kukira, sejak Orc-Orc itu berdiri di tempat kita sekarang berdiri. Kalau kecepatan mereka tetap, saat matahari terbenam kemarin mereka sudah sampai di perbatasan

Fangorn."

"Aku tak bisa melihat apa pun di utara atau barat, kecuali rumput yang menghilang ke dalam kabut," kata Gimli. "Bisakah kita melihat hutan, kalau kita mendaki bukit-bukit?"
"Masih jauh sekali," kata Aragorn. "Kalau ingatanku benar, bukit-bukit ini menjalar delapan league atau lebih ke utara, lalu ke barat laut sampai ke muara Entwash masih ada daratan luas, sekitar lima belas league lagi."
"Well, mari kita teruskan," kata Gimli. "Kakiku harus melupakan jarak. Mereka

akan lebih menurut, kalau hatiku tidak terlalu berat."



Matahari mulai terbenam ketika akhirnya mereka mendekati akhir barisan bukit. Selama berjam-jam mereka berjalan tanpa istirahat. Sekarang mereka berjalan perlahan, punggung Gimli sudah bungkuk. Kurcaci ulet sekali dalam bekerja atau berjalan, tapi pengejaran tanpa akhir ini mulai terasa berat olehnya, ketika semua harapan sudah sirna di hatinya. Aragorn berjalan di belakangnya, muram dan diam, sesekali membungkuk untuk memeriksa jejak atau tanda di tanah. Hanya Legolas yang masih melangkah ringan seperti biasa, kakinya hampir tidak menekan rumput, tidak meninggalkan jejak ketika ia lewat; roti bangsa Peri sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya akan makanan, dan ia bisa tidur kalau itu bisa disebut tidur oleh Manusia dengan mengistirahatkan benaknya dalam liku-liku aneh mimpi Peri, bahkan ketika ia sedang berjalan dengan mata terbuka di dunia yang terang benderang.
"Mari kita naik ke bukit hijau ini!" kata Legolas. Dengan letih mereka mengikutinya, mendaki lereng panjang, sampai tiba di puncak. Bukit itu bundar, mulus dan gundul, berdiri sendiri, yang paling utara dari barisan bukit tersebut. Matahari terbenam dan bayang-bayang senja turun bagai tirai. Mereka sendirian di dunia kelabu tak berbentuk, tanpa tanda atau ukuran. Nun jauh di barat laut ada kegelapan pekat di depan cahaya yang mulai meredup: Pegunungan Berkabut dan hutan di kaki mereka.
"Tak ada yang bisa kita lihat untuk memandu kita di sini," kata Gimli. "Wah, sekarang kita terpaksa berhenti lagi, menunggu malam lewat. Sudah dingin

sekali!"

"Angin bertiup dari utara, dari daerah salju," kata Aragorn.

"Dan sebelum pagi, angin akan berada di Timur," kata Legolas. "Istirahatlah kalau perlu. Tapi jangan dulu membuang semua harapan. Besok siapa tahu. Tuntunan sering diperoleh saat Matahari terbit."
"Sudah tiga kali matahari terbit selama pengejaran kita, tanpa memberikan tuntunan," kata Gimli.


Malam semakin dingin. Aragorn dan Gimli tidur dengan gelisah, dan setiap kali terbangun, mereka melihat Legolas berdiri di samping mereka, atau berjalan mondar-mandir sambil bernyanyi perlahan dalam bahasanya sendiri; ketika ia bernyanyi, bintang-bintang putih tersingkap di kubah hitam keras di atas. Begitulah malam itu berlalu. Bersama-sama mereka memperhatikan fajar merekah perlahan di langit yang kini kosong tak berawan, sampai akhirnya matahari terbit. Pucat dan . jernih. Angin bertiup dari Timur, dan semua kabut sudah hilang; daratan luas menghampar pucat di sekitar mereka, di bawah cahaya yang pahit.
Di depan dan di sebelah timur mereka melihat Padang Terbuka Rohan yang menanjak berangin, yang sudah mereka lihat sekilas beberapa hari lampau dari Sungai Besar. Di Barat Laut menjulang hutan gelap Fangorn; sepuluh league dari mereka, berdiri atapnya yang gelap, lereng-lerengnya yang lebih jauh meredup ke kebiruan samar. Di luarnya, nun jauh di sana, bersinar kepala putih Methedras yang tinggi, puncak terakhir Pegunungan Berkabut, seolah mengambang di atas awan kelabu. Keluar dari hutan, Entwash mengalir mendekatinya, alirannya deras dan sempit sekarang, dan tebingnya terbelah sangat dalam. Jejak Orc membelok dari perbukitan, menuju sungai itu.
Mengikuti jejak itu ke sungai dengan matanya yang tajam, lalu dari sungai ke dekat hutan, Aragorn melihat sebuah bayangan di kehijauan yang jauh, suatu bercak gelap kabur yang bergerak cepat. Ia melemparkan diri ke tanah dan mendengarkan lagi dengan saksama. Tapi Legolas berdiri di sebelahnya, menaungi mata Peri-nya yang tajam dengan tangannya yang panjang dan

ramping, dan ia melihat bukan bayangan ataupun bercak kabur, melainkan sosok-sosok kecil pengendara kuda, banyak pengendara kuda; kilauan cahaya pagi pada ujung tombak mereka tampak seperti kerlip bintang-bintang kecil di luar jangkauan penglihatan makhluk hidup. Jauh di belakang mereka, asap gelap membubung naik dalam untaian tipis keriting.
Keheningan menyelimuti padang-padang kosong itu, dan Gimli bisa mendengar udara bergerak di rerumputan.
"Penunggang kuda!" seru Aragorn, melompat berdiri. "Banyak penunggang naik kuda gesit datang ke arah kita!"
"Ya," kata Legolas, "ada seratus lima. Kuning rambut mereka, dan kemilau tombak mereka. Pemimpin mereka jangkung sekali."
Aragorn tersenyum. "Tajam sekali mata Peri," katanya.

"Tidak! Para penunggang itu jaraknya hanya lima league lebih sedikit dari sini," kata Legolas.
"Lima league atau satu," kata Gimli, "kita tak bisa lolos dari mereka di padang

kosong ini. Kita tunggukah mereka di sini; atau pergi melanjutkan perjalanan?" "Kita akan menunggu," kata Aragorn. "Aku letih, dan perburuan kita sudah gagal. Atau setidaknya orang lain sudah mendahului kita; karena penunggang- penunggang kuda ini baru kembali dari menelusuri jejak Orc. Mungkin kita akan memperoleh berita dari mereka."
"Atau tombak," kata Gimli.

"Ada tiga pelana kosong, tapi aku tidak melihat hobbit," kata Legolas.

"Aku tidak mengatakan kita akan mendengar berita baik," kata Aragorn. "Tapi buruk atau baik, kita tunggu di sini."
Ketiga sahabat itu meninggalkan puncak bukit, di mana mereka mungkin menjadi sasaran empuk di depan langit pucat; mereka berjalan lambat menuruni lereng utara. Sedikit di atas kaki bukit mereka berhenti, dan sambil menutupi diri dengan jubah Peri, mereka duduk meringkuk di rumput yang pucat. Angin berembus tajam menusuk. Gimli merasa gelisah.
"Apa yang kauketahui tentang penunggang-penunggang kuda ini, Aragorn?"

katanya. "Apakah kita duduk di sini, menunggu kematian mendadak?”

"Aku pernah berada di antara mereka," jawab Aragorn. "Mereka gagah dan punya tekad keras, tapi mereka berhati lurus, murah hati dalam pikiran dan perbuatan; berani tapi tidak kejam; bijak tapi tidak terpelajar, tidak menulis buku- buku, tapi menyanyikan banyak lagu, mengikuti gaya anak-anak Manusia sebelum Tahun-Tahun Gelap. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi di sini akhir- akhir ini, juga tidak tahu bagaimana hubungan antara Rohirrim dengan pengkhianat Saruman dan ancaman dari Sauron sekarang ini. Mereka lama menjadi sahabat bangsa Gondor, meski mereka bukan saudara bangsa itu. Bertahun-tahun silam, Eorl Muda membawa mereka keluar dari Utara, dan pertalian keluarga mereka lebih dekat dengan kaum Barding di Dale, serta dengan kaum Beorning di Hutan; di antara mereka masih banyak terlihat manusia-manusia tinggi dan elok, seperti para Penunggang Kuda Rohan. Setidaknya mereka tidak menyukai Orc."
"Tapi kata Gandalf ada selentingan bahwa mereka membayar upeti pada

Mordor," kata Gimli.

"Aku tidak mempercayainya, seperti juga Boromir," kata Aragorn.

"Kau akan segera mengetahui kebenarannya," kata Legolas. "Mereka sudah dekat."


Akhirnya bahkan Gimli bisa mendengar bunyi samar derap kaki-kaki kuda. Para penunggang kuda itu, mengikuti jejak, sudah membelok dari sungai, dan sudah mendekati perbukitan. Mereka melaju seperti angin.
Kini terdengar teriakan-teriakan jernih dan nyaring melintasi ladang-ladang.

Mendadak mereka datang dengan bunyi berisik seperti petir. Penunggang paling depan membelok, lewat di depan kaki bukit, dan memimpin pasukannya kembali ke selatan, menyusuri pinggiran bukit-bukit sebelah barat. Rombongannya melaju di belakangnya: barisan panjang laki-laki berpakaian logam, gesit, bercahaya, gagah dan elok dipandang.
Kuda mereka besar-besar, kuat, dan bertubuh bagus; kulit mereka kelabu mengilap, ekor mereka yang panjang berkibar ditiup angin, surai mereka dikepang di atas leher mereka yang gagah. Manusia-manusia yang

menunggangi mereka pun serasi sekali: tinggi semampai; rambut pirang pucat menjulur dari bawah topi baja mereka yang ringan, bergantungan dalam kepang panjang di belakang; wajah mereka keras dan tajam. Di tangan mereka ada tombak-tombak panjang dari kayu ash, perisai mereka yang dicat tergantung pada punggung, pedang panjang terselip di pinggang, pakaian logam mereka yang mengilap terjurai menutupi lutut.
Berpasangan mereka menderap lewat, dan meski sesekali ada yang berdiri di sanggurdinya, menatap ke depan dan ke kedua sisi, rupanya mereka tidak melihat ketiga orang asing yang duduk diam memperhatikan. Pasukan itu sudah hampir lewat ketika mendadak Aragorn berdiri dan berseru nyaring,
"Kabar apa dari Utara, Penunggang-Penunggang Rohan?"



Dengan kecepatan dan keterampilan mengagumkan mereka menghentikan kuda-kuda, berputar, dan datang menyerbu. Segera ketiga sahabat itu berada dalam kepungan penunggang yang bergerak melingkar, naik ke lereng bukit di belakang, dan turun berputar-putar di sekeliling mereka, semakin memperkecil lingkaran. Aragorn berdiri diam, dua yang lain duduk tak bergerak, bertanya- tanya bagaimana akhir semua ini.
Tanpa kata atau teriakan, mendadak para Penunggang itu berhenti. Tombak- tombak diarahkan pada ketiga orang asing tersebut; beberapa Penunggang memegang busur di tangan, panah mereka sudah dipasang pada busurnya. Lalu salah seorang maju ke depan, seorang pria jangkung, lebih jangkung daripada yang lain; dari topi bajanya, sebuah ekor kuda putih terjulur seperti hiasan. Ia maju sampai ujung tombaknya tinggal berjarak satu kaki dari dada Aragorn. Aragorn tak bergerak.
"Siapa kau, dan apa yang kaulakukan di negeri ini?" kata Penunggang itu, menggunakan Bahasa Umum dari Barat, dengan gaya dan nada suara seperti Boromir, Orang Gondor.
"Panggilanku Strider," jawab Aragorn. "Aku datang dari Utara. Aku memburu

Orc."

Penunggang itu melompat turun dari kudanya. Sambil memberikan tombaknya

kepada orang lain yang maju dan turun di sebelahnya, ia menghunus pedangnya dan berdiri berhadapan dengan Aragorn, mengamatinya dengan tajam dan heran. Akhirnya ia berbicara lagi.
"Mula-mula kupikir kau sendiri Orc," katanya, "tapi ternyata bukan. Pasti kau hanya tahu sedikit tentang Orc, kalau kau memburu mereka dengan cara ini. Mereka berjalan cepat dan bersenjata lengkap, dan jumlah mereka banyak. Kau akan berubah dari pemburu menjadi mangsa, seandainya kau bisa menyusul mereka. Tapi ada yang aneh pada dirimu, Strider." ia menatap Penjaga Hutan itu dengan matanya yang jernih dan bersinar. "Yang kausebutkan itu bukan nama Manusia. Dan pakaianmu juga aneh. Apakah kau muncul dari dalam rumput? Bagaimana kau bisa lolos dari pandangan kami? Apakah kau dari bangsa Peri?" "Bukan," kata Aragorn. "Hanya satu di antara kami adalah Peri, Legolas dari Wilayah Woodland di Mirkwood yang jauh. Tapi kami sudah melewati Lothlorien, dan hadiah serta kebaikan hati sang Lady mendampingi kami."
Penunggang itu memandang mereka dengan lebih heran lagi, tapi matanya memancarkan sorot keras kini. "Kalau begitu, memang ada Lady di Hutan Emas itu, seperti diceritakan dongeng-dongeng kuno!" katanya. "Konon hanya sedikit yang lolos dari jaringnya. Masa-masa ini sungguh aneh! Tapi kalau kau memperoleh kemurahan hatinya, mungkin kau juga pembuat jaring dan penyihir." ia menatap dingin ke arah Legolas dan Gimli. "Kenapa kalian tidak berbicara, kalian yang diam saja?" tuntutnya.
Gimli bangkit dan berdiri dengan dua kaki terbuka lebar; tangannya memegang gagang kapaknya, matanya yang gelap bersinar-sinar. "Sebutkan dulu namamu, Tuan Kuda, dan akan kusebutkan namaku, bahkan lebih dari itu," katanya.
"Kalau tentang itu," kata si Penunggang sambil memandang Gimli, "pendatang asing seharusnya memperkenalkan diri lebih dulu. Meski begitu, namaku Eomer putra Eomund, dan aku disebut sebagai Marsekal Ketiga Riddermark."
"Kalau begitu, Eomer putra Eomund, Marsekal Ketiga Riddermark, biarlah Gimli si Kurcaci memperingatkanmu atas kata-kata bodohmu. Kau bicara jelek tentang sesuatu yang jauh di luar jangkauan pikiranmu, dan hanya kepandiran yang bisa membuatmu dimaafkan."

Mata Eomer bersinar geram, Orang-Orang Rohan menggumam marah dan maju merapat, mengacungkan tombak. "Akan kupenggal kepalamu, termasuk janggut dan yang lainnya, Tuan Kurcaci, kalau saja kau berdiri agak lebih tinggi dari tanah," kata Eomer.
"Dia tidak sendinan," kata Legolas, menarik busurnya dan memasang panah dengan gerakan tangan lebih cepat daripada penglihatan. "Kau akan mati sebelum sempat menjatuhkan pukulan."
Eomer mengangkat pedangnya, dan keadaan mungkin akan menjadi buruk,

kalau Aragorn tidak melompat di antara mereka dan mengangkat tangannya. "Maaf, Eomer!" serunya. "Kalau kau tahu lebih banyak, kau akan mengerti mengapa kau membuat marah kawan-kawanku. Kami tidak bermaksud buruk kepada Rohan, juga tidak kepada penduduknya, baik manusia maupun kuda. Tidakkah kau mau mendengar dulu kisah kami sebelum kau memukul?"
"Baiklah," kata Eomer sambil menurunkan pedangnya. "Tapi pengembara di Riddermark sebaiknya jangan terlalu sombong di masa kini yang penuh keraguan. Pertama-tama, sebutkan namamu yang sebenarnya."
"Katakan dulu, siapa yang kaulayani," kata Aragorn. "Apakah kau teman atau musuh Sauron, Penguasa Kegelapan dari Mordor?"
"Aku hanya melayani Penguasa Mark, Raja Theoden putra Thengel," jawab Eomer. "Kami tidak melayani Kekuatan Negeri Hitam jauh di sana, tapi kami juga belum berperang secara terbuka dengannya; kalau kau melarikan diri darinya, sebaiknya kau meninggalkan negeri ini. Sekarang ada masalah di setiap perbatasan kami, dan kami terancam; tapi kami hanya ingin merdeka, menjalani hidup sebagaimana biasa, mengurus diri sendiri, dan tidak melayani penguasa asing, baik maupun jahat. Kami menyambut baik tamu-tamu asing di masa yang lebih baik, tapi saat ini tamu tak diundang akan melihat kami bersikap curiga dan keras. Ayo! Siapa kalian? Siapa yang kalian layani? Atas perintah siapa kalian memburu Orc di negeri kami?"
"Aku tidak melayani siapa pun," kata Aragorn, "tapi anak buah Sauron akan kukejar, ke negeri mana pun mereka pergi. Hanya sedikit di antara Manusia yang tahu lebih banyak tentang Orc; bukan pilihanku kalau aku memburu mereka

dengan cara ini. Orc-Orc yang kami kejar menangkap dua temanku. Dalam keadaan demikian, manusia tanpa kuda akan berjalan kaki, dan dia tidak akan meminta izin untuk mengikuti jejak. Juga tidak. akan menghitung jumlah musuh, kecuali dengan pedang. Aku bukan tidak bersenjata."
Aragorn menyingkap jubahnya ke belakang. Sarung pedang Peri bersinar ketika ia memegangnya, dan mata pedang Anduril bercahaya seperti nyala api ketika ia menghunusnya. "Elendil," teriaknya. "Aku Aragorn putra Arathom, dan aku dipanggil Elessar, Elfstone, Dunadan, pewaris Isildur, putra Elendil dan Gondor. Inilah Pedang yang Patah dan sudah ditempa kembali! Akankah kau membantu atau menghalangi aku? Tentukan pilihanmu!"
Gimli dan Legolas memandang kawan mereka dengan kagum, sebab belum pernah mereka melihatnya seperti ini. Sosoknya seolah tumbuh membesar, sementara Eomer jadi menyusut; di wajah Aragorn mereka menangkap sekilas sorot kekuatan dan keagungan seperti yang terpancar pada sosok patung raja- raja dari batu itu. Sejenak Legolas seolah melihat sebuah nyala putih berkelip di atas dahi Aragorn, seperti mahkota bercahaya.
Eomer mundur, pandangan kagum menyapu wajahnya. Ia menundukkan matanya yang angkuh. "Ini benar-benar masa yang aneh," gerutunya. "Mimpi dan legenda muncul hidup-hidup dan tengah rumput.
"Centakan, Pangeran," kata Eomer, "apa yang membawamu kemari? Dan apa arti kata-kata gelap itu? Sudah lama Boromir pergi mencari jawaban, dan kuda yang kami pinjamkan padanya kembali tanpa penunggang. Malapetaka apa yang kaubawa dari Utara?"
"Malapetaka yang dipilih sendiri," kata Aragorn. "Kau boleh mengatakan ini pada Theoden putra Thengel: perang terbuka sudah ada di depannya, memihak Sauron atau melawan dia. Sekarang tak ada yang bisa tetap hidup seperti sediakala, dan hanya sedikit yang akan tetap mempertahankan apa yang mereka anggap milik mereka. Tapi tentang masalah-masalah besar ini aku akan berbicara kemudian. Kalau ada kesempatan, aku sendiri akan menghadap Raja. Sekarang aku dalam kebutuhan mendesak, dan aku mohon bantuan, atau setidaknya berita. Kaudengar kami mengejar pasukan Orc yang membawa

teman-teman kami. Apa yang bisa kauceritakan pada kami?"

"Bahwa kalian tak perlu mengejar mereka lagi," kata Eomer. "Orc-Orc itu sudah dimusnahkan."
"Dan kawan-kawan kami?" "Kami hanya menemukan Orc."
"Tapi itu aneh sekali," kata Aragorn. "Apa kau sudah memeriksa mereka yang tewas? Apakah tidak ada mayat yang lain selain jenis Orc? Mereka kecil, hanya seperti kanak-kanak dalam pandanganmu, tidak bersepatu, tapi berpakaian kelabu."
"Tidak ada Kurcaci maupun anak-anak," kata Eomer. "Kami sudah menghitung semua yang tewas dan melucuti mereka, lalu kami menumpuk bangkai- bangkainya dan membakarnya, sesuai kebiasaan kami. Arangnya masih berasap."
"Yang kami maksud bukanlah Kureaci atau anak-anak," kata Gimli. "Teman- teman kami hobbit."
"Hobbit?" kata Eomer. "Apa itu? Nama yang aneh."

"Nama aneh untuk bangsa aneh," kata Gimli. "Tapi yang ini sangat kami sayangi. Rupanya kalian di Rohan juga mendengar kata-kata yang meresahkan Minas Tirith. Mereka berbicara tentang Halfling. Hobbit-hobbit ini adalah Halfling." "Halflingi" tawa Penunggang yang berdiri di samping Eomer. "Halfling! Tapi mereka kan hanya bangsa kecil dalam lagu-lagu kuno dan dongeng anak-anak dari Utara. Apakah kita berjalan dalam legenda atau menapak bumi yang hijau di siang hari?"
"Manusia bisa melakukan keduanya," kata Aragorn. "Sebab bukan kita yang akan membuat legenda di masa ini, melainkan generasi yang datang setelah kita. Bumi yang hijau, katamu? Bumi yang hijau adalah suatu legenda hebat, meski kau menginjaknya di siang hari!"
"Waktu sudah mendesak," kata Penunggang itu, tidak mengacuhkan Aragorn. "Kita harus bergegas ke selatan, Pangeran. Biar kita tinggalkan orang-orang liar ini dengan khayalan mereka. Atau kita ikat mereka dan kita bawa ke hadapan Raja."

"Tenang, Eothain!" kata Eomer dalam bahasanya sendiri. "Tinggalkan aku sebentar. Beritahu para eored untuk berkumpul di jalan, dan bersiap-siap untuk berjalan ke Entwade."


Dengan menggerutu Eothain pergi, dan berbicara pada yang lain-lain. Segera mereka meninggalkan Eomer sendirian bersama tiga sekawan itu.
"Semua yang kaukatakan aneh, Aragorn," kata Eomer. "Tapi ucapanmu benar,

itu jelas: Orang-Orang Mark tidak berbohong, dan karenanya mereka tidak mudah tertipu. Tapi kau belum menceritakan semuanya. Bisakah kau sekarang menceritakan lebih lengkap tentang tugasmu, sehingga aku bisa memutuskan apa yang harus kulakukan?"
"Aku berangkat dari Imladris, begitulah namanya dalam sajak, beberapa minggu yang lalu," jawab Aragorn. "Bersamaku juga ikut Boromir dari Minas Tirith. Tugasku adalah pergi ke kota itu bersama putra Denethor, untuk membantu. rakyatnya dalam perang mereka melawan Sauron. Tapi Rombongan yang berangkat bersamaku mempunyai tugas lain. Tentang itu tak bisa kuceritakan sekarang. Gandalf si Kelabu yang memimpin kami saat itu."
"Gandalf!" seru Eomer. "Gandalf Greyhame sangat dikenal di Mark; tapi kuperingatkan kau, namanya bukan lagi jaminan untuk mendapatkan kemurahan hati Raja. Dia sering menjadi tamu di negeri kami, datang sekehendaknya, setelah satu musim, atau setelah beberapa tahun. Dia selalu menjadi pembawa kabar peristiwa-peristiwa aneh: pembawa kejahatan, kata beberapa orang.
"Sejak kedatangannya yang terakhir di musim panas, semua kacau. Saat itulah kesulitan kami dengan Saruman dimulai. Sebelumnya kami menganggap Saruman sahabat kami, tapi Gandalf datang dan memperingatkan kami bahwa perang mendadak sedang dipersiapkan di Isengard. Dia mengatakan dia sendiri sudah menjadi tawanan di Orthanc dan baru saja lolos, dan dia memohon bantuan. Tapi Theoden tak mau mendengarkannya, dan Gandalf pergi. Jangan sebut nama Gandalf keras-keras di telinga Theoden! Dia gusar. Karena Gandalf mengambil kuda bernama Shadowfax, yang paling berharga di antara semua kuda Raja, pemimpin Mearas, yang hanya boleh ditunggangi Penguasa Mark.

Sebab leluhur ras mereka adalah kuda agung dari Eorl yang kenal bahasa Manusia. Tujuh malam yang lalu Shadowfax kembali, tapi kemarahan Raja tidak berkurang, karena sekarang kuda itu menjadi liar dan tak mau dipegang siapa pun."
"Kalau begitu, Shadowfax menemukan sendiri jalannya dari Utara yang jauh," kata Aragorn, "karena di sanalah Gandalf dan kuda itu berpisah. Tapi sayang! Gandalf tidak akan lagi menunggang kuda. Dia jatuh ke dalam kegelapan di Tambang Moria dan tidak muncul lagi."
"Itu berita buruk," kata Eomer. "Setidaknya untukku, dan banyak yang lain; meski tidak untuk semua. Seperti yang akan kauketahui kalau kau menghadap Raja.” "Berita itu lebih buruk daripada yang bisa dipahami siapa pun di negeri ini, meski pengaruhnya akan menyentuh mereka sebelum tahun ini berakhir," kata Aragorn. "Tapi bila yang besar jatuh, yang lebih kecil harus memimpin. Akulah yang mengambil peran memimpin Rombongan dalam perjalanan panjang dari Moria. Kami melalui Lorien tentang hal itu sebaiknya kau belajar tentang kenyataan sebenarnya, sebelum membicarakannya lagi lalu lewat Sungai Besar yang panjang, sampai ke air terjun Rauros. Di sana Boromir tewas di tangan Orc- Orc yang kauhancurkan!"
"Kabar-kabar yang kaubawa semuanya menyedihkan!" seru tomer sedih. "Kematian Boromir merupakan kehilangan besar bagi Minas Tirith dan kami semua. Dia orang yang terhormat! Semua memujinya.
Dia jarang datang ke Mark, karena selalu terlibat perang di perbatasan Timur; tapi aku sudah melihatnya. Bagiku dia lebih mirip putra-putra Eorl yang gesit daripada Orang-Orang Gondor yang muram, dan tampaknya dia akan menjadi kapten hebat untuk rakyatnya bila saatnya tiba. Tapi kami belum mendengar kabar tentang kehilangan menyedihkan ini dari Gondor. Kapan dia tewas?" "Sekarang hari keempat dia tewas," jawab Aragorn. "Dan sejak sore hari itu, kami berjalan kaki dari bawah bayangan Tol Brandir."
"Jalan kaki?" teriak Eomer. "Ya, seperti kaulihat."
Keheranan yang amat sangat terpancar di mata Eomer. "Strider bukan nama

yang cocok untukmu, putra Arathorn," kata Eomer. "Kunamai kau Wingfoot, Kaki Bersayap. Perbuatan tiga sekawan ini akan dinyanyikan di dalam banyak aula. Empat puluh lima league sudah kautempuh sebelum hari keempat berakhir! Bangsa Elendil sangat tabah!
"Tapi sekarang apa yang kauharap aku lakukan, Pangeran? Aku harus segera kembali pada Theoden. Aku berbicara hati-hati di depan anak buahku. Memang benar kami belum berperang secara terbuka dengan Negeri Hitam, dan ada beberapa orang yang dekat dengan telinga Raja, yang memberikan saran-saran bernada pengecut; tapi perang akan datang. Kami tak akan melepaskan persekutuan lama kami dengan Gondor, dan sementara mereka berperang, aku akan membantu mereka: begitu kataku dan semua yang berdiri di belakangku. Mark sebelah Timur menjadi tanggung jawabku sebagai Marsekal Ketiga, dan aku sudah memindahkan semua ternak dan penggembala kami, menarik mereka keluar dari Entwash, hanya meninggalkan penjaga-penjaga dan pengintai- pengintai gesit."
"Kalau begitu, kau tidak membayar upeti pada Sauron?" kata Gimli.

"Kami tidak dan belum pernah membayar upeti," kata Eomer dengan mata berkilat, "meski sudah sampai ke telingaku bahwa kebohongan itu disebarkan. Beberapa tahun yang lalu, Penguasa Negeri Hitam ingin membeli kuda-kuda dari kami dengan harga tinggi, tapi kami menolaknya, karena dia menggunakan hewan-hewan untuk keperluan jahat. Lalu dia mengirimkan Orc untuk menjarah, dan mereka membawa apa yang bisa mereka ambil, selalu memilih kuda-kuda hitam: hanya sedikit sekarang yang tersisa. Oleh karena itu, pertikaian kami dengan Orc sangat tajam.
"Tapi saat ini tantangan utama kami adalah Saruman. Dia mengaku sebagai penguasa seluruh negeri ini, dan sejak berbulan-bulan ada perang antara kami dengannya. Dia sudah mengambil Orc-Orc sebagai anak buahnya, juga para Penunggang Serigala dan Manusia-Manusia jahat, dan dia sudah menutup Celah, sehingga kami bisa diserang dari barat maupun timur.
"Berat sekali menghadapi musuh seperti itu: dia penyihir yang cerdik dan licik, punya banyak samaran. Konon dia berjalan ke sana kemari, seperti orang tua

berkerudung dan berjubah, sangat mirip dengan Gandalf, seingat banyak orang. Mata-matanya menyelinap melalui setiap jaring, dan burung-burung pembawa pertanda buruk miliknya beterbangan di seluruh angkasa. Aku tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir, dan hatiku terasa berat; karena rupanya teman-temannya tidak semuanya tinggal di Isengard. Tapi kalau kau datang ke istana Raja, kau akan melihat sendiri. Maukah kau datang? Sia-siakah harapanku bahwa kau dikirim untuk membantu dalam keraguan dan kebutuhan?" "Aku akan datang, kalau aku bisa," kata Aragorn.
"Kumohon!" kata Eomer. "Pewaris Elendil akan menjadi kekuatan bagi Putra- Putra Eorl dalam masa buruk ini. Ada pertempuran sekarang ini di Westemnet, dan aku khawatir semuanya akan berakhir buruk bagi kami.”
"Memang, dalam perjalanan ke utara, aku pergi tanpa izin Raja, dan dalam kepergianku istananya ditinggal dengan hanya sedikit penjaga. Tapi pengintai- pengintai memperingatkanku bahwa sepasukan Orc datang dari Tembok Timur tiga malam yang lalu, dan di antara mereka dilaporkan ada yang memakai lencana putih Saruman. Jadi, karena mencurigai apa yang paling kutakuti, yakni persekutuan antara Orthanc dan Menara Kegelapan, aku memimpin para eored- ku, laki-laki dari rumah tanggaku sendiri; kami menyusul para Orc di malam hari, dua hari yang lalu, dekat ke perbatasan Entwood. Di sana kami mengepung mereka, dan bertempur kemarin di saat fajar. Aku kehilangan lima belas orang, dan dua belas kuda! Karena jumlah Orc jauh lebih besar daripada yang kami perkirakan. Yang lain bergabung dengan mereka, keluar dari Timur dari seberang Sungai Besar: jejak mereka jelas kelihatan, agak ke utara dari tempat ini. Yang lain-lain juga keluar dari hutan. Orc-Orc Besar, yang juga memakai lambang Tangan Putih dari Isengard: jenis itu lebih kuat dan jahat daripada semua yang lain.
"Bagaimanapun, kami berhasil menaklukkan mereka. Tapi kami sudah terlalu lama pergi. Kami dibutuhkan di selatan dan di barat. Maukah kau ikut? Ada kuda- kuda kosong, seperti bisa kaulihat. Ada pekerjaan untuk dilakukan oleh Pedang. Ya, kami juga bisa memanfaatkan kapak Gimli serta busur Legolas, kalau mereka mau memaafkan kata-kataku yang kasar tentang Lady di Hutan. Aku

hanya berbicara seperti semua manusia di negeriku, dan dengan senang hati aku mau belajar lebih banyak."
"Aku mengucapkan terima kasih atas kata-katamu yang indah," kata Aragorn, "dan hatiku ingin sekali ikut denganmu; tapi aku tak bisa meninggalkan teman- temanku sementara masih ada harapan."
"Tidak ada lagi harapan," kata Eomer. "Kau tidak akan menemukan kawan- kawanmu di perbatasan Utara."
"Meski begitu, kawan-kawanku tidak ada di belakang. Kami menemukan tanda jelas, tak jauh dari Tembok Timur, bahwa setidaknya satu masih hidup di sana. Tapi di antara tembok dan padang-padang tidak kami temukan jejak lain dari mereka, dan tidak ada jejak yang menyimpang, ke sana atau ke sini, kecuali kalau keahlianku membaca jejak sama sekali sudah hilang."
"Kalau begitu, menurutmu apa yang terjadi dengan mereka?"

"Aku tidak tahu. Mungkin mereka dibunuh dan dibakar di antara para Orc; tapi menurutmu itu tak mungkin, dan aku tidak cemas tentang itu. Aku hanya bisa menduga bahwa mereka dibawa ke hutan sebelum pertempuran, bahkan sebelum kau mengepung musuhmu, mungkin. Bisakah kau bersumpah tak ada yang lolos dengan cara itu?"
"Aku bersumpah tidak ada Orc yang lolos setelah kami melihat mereka," kata Eomer. "Kami tiba di hutan lebih dulu daripada mereka, dan kalau setelah itu ada makhluk hidup yang menerobos lingkaran kami, maka itu bukan Orc, dan dia mempunyai kekuatan Peri."
"Kawan-kawan kami berpakaian seperti kami," kata Aragorn, "dan kau melewati kami di siang hari yang terang benderang."
"Aku lupa itu," kata Eomer. "Sulit untuk yakin tentang apa pun di antara begitu banyak keajaiban. Dunia sudah menjadi aneh sekali. Peri berdampingan dengan Kurcaci, berjalan di ladang-ladang kami; orang-orang berbicara dengan Lady di Hutan dan tetap hidup; dan Pedang yang Patah di masa sebelum ayah dari ayah kami masuk ke Mark, sekarang kembali menuju perang! Bagaimana manusia bisa menilai apa yang mesti dilakukan pada masa seperti itu?"
"Seperti selama ini dia menilai," kata Aragorn. "Baik dan jahat belum berubah

sejak dahulu kala; begitu pula ini bukan sekadar persoalan bangsa Peri dan Kurcaci, dan persoalan lain di antara Manusia. Manusia mesti bisa membedakannya, baik di Hutan Emas maupun di rumahnya sendiri."
"Memang benar," kata Eomer. "Tapi aku tidak meragukanmu, tidak juga perbuatan yang akan kulakukan sesuai kata hatiku. Meski begitu, aku tidak bebas melakukan apa yang kuinginkan. Membiarkan pendatang asing mengembara sekehendak mereka adalah melawan hukum kami, sampai Raja sendiri memberi mereka izin, dan di masa berbahaya sekarang ini, perintah itu semakin tegas. Aku sudah memohonmu ikut secara sukarela bersamaku, dan kau tidak mau. Aku segan memulai pertempuran seratus lawan tiga."
"Kukira hukummu itu bukan dibuat untuk kesempatan seperti ini," kata Aragorn. "Dan aku sebenarnya bukan orang asing, karena aku sudah pernah datang ke negeri ini, lebih dari sekali, dan aku sudah berjalan bersama pasukan Rohirrim, meski memakai nama lain dan dengan samaran lain. Kau belum pernah kulihat, karena kau masih muda, tapi aku sudah berbicara dengan Eomund ayahmu, dan dengan Theoden putra Thengel. Di masa lalu tak pernah seorang pangeran agung dari negeri ini menahan seseorang untuk meninggalkan pencarian seperti yang sedang kujalani sekarang. Tugasku setidaknya jelas, melanjutkan perjalananku. Mari putra Eomund, kau harus memilih. Bantulah kami, atau setidaknya biarkan kami berjalan bebas. Atau jalankan hukummu itu. Dengan demikian, akan lebih sedikit yang kembali ke perangmu atau ke rajamu."
Eomer diam sejenak, lalu berbicara. "Kita berdua terburu-buru," katanya. "Rombonganku sudah tak sabar untuk pergi, dan setiap jam harapanmu semakin tipis. Inilah pilihanku. Kau boleh pergi; selain itu, aku akan meminjamkan kuda- kuda. Hanya ini permintaanku: bila pencarianmu berhasil, atau terbukti sia-sia, kembalilah dengan kuda-kuda itu melintasi Entwade ke Meduseld, istana tempat Theoden sekarang bertakhta. Dengan demikian, kau membuktikan kepadanya bahwa aku tidak salah menilaimu. Dengan ini aku menempatkan diriku, dan bahkan mungkin nyawaku, dalam kepercayaan penuh kepadamu. Jangan mengecewakanku."
"Aku tidak akan mengecewakanmu," kata Aragorn.



Ketika Eomer memberi perintah agar kuda-kuda tak berpenunggang dipinjamkan pada orang-orang asing itu, keheranan besar menyelimuti anak buahnya, banyak pandangan curiga dan suram muncul di antara mereka; tapi hanya Eothain yang berani berbicara terus terang.
"Mungkin kuda kita pantas ditunggangi pangeran dari bangsa Gondor ini, seperti pengakuannya," kata Eothain, "tapi siapa pernah mendengar kuda dari Mark diberikan pada Kurcaci?"
"Tidak ada," kata Gimli. "Dan jangan repot-repot: hal itu takkan pernah terjadi. Aku lebih baik berjalan kaki daripada duduk di punggung hewan sebesar itu, entah dipinjamkan dengan bebas atau dengan enggan."
"Tapi sekarang kau harus menunggang kuda, kalau tidak, kau akan menghambat kita," kata Aragorn.
"Ayo, kau akan duduk di belakangku, kawan Gimli," kata Legolas. "Maka semuanya beres, dan kau tidak perlu meminjam kuda atau diganggu oleh masalah kuda."
Seekor kuda besar kelabu gelap dibawa kepada Aragorn, dan ia menaikinya. "Namanya Hasufel," kata Eomer. "Mudah-mudahan dia membawamu dengan baik, dan kepada nasib yang lebih baik daripada Garulf, majikannya yang sudah tiada!"
Seekor kuda yang lebih kecil, tapi resah dan berapi-api, dibawa pada Legolas. Arod namanya. Tapi Legolas meminta agar pelana dan tali kekangnya dilepas. "Aku tidak membutuhkannya," katanya. Dengan ringan ia melompat naik, dan dengan penuh keheranan mereka melihat bahwa Arod menjadi jinak dan menurut padanya, mau diperintah cukup dengan satu kata: begitulah kehebatan bangsa Peri dengan semua hewan yang baik. Gimli diangkat ke belakang kawannya, dan ia berpegangan pada Legolas, tidak lebih nyaman daripada Sam Gamgee di dalam perahu.
"Selamat jalan, semoga kalian menemukan apa yang kalian cari!" teriak Eomer. "Kembalilah secepat mungkin, dan biarlah pedang kita bersinar bersama-sama setelahnya!"

"Aku akan kembali," kata Aragorn.

"Aku juga," kata Gimli. "Masalah Lady Galadriel masih ada di antara kita. Aku masih harus mengajarimu kata-kata sopan."
"Kita lihat saja nanti," kata Eomer. "Begitu banyak hal aneh yang terjadi, sehingga belajar pujian terhadap seorang Lady di bawah sapuan sayang kapak Kurcaci tidak terlalu mengherankan lagi. Selamat jalan!"


Begitulah mereka berpisah. Kuda-kuda Rohan sangat cepat. Ketika sesaat kemudian Gimli menoleh, rombongan Eomer sudah tampak kecil dan jauh sekali. Aragorn tidak menoleh: ia memperhatikan jejak, sementara mereka bergegas melaju, membungkuk rendah dengan kepalanya di samping leher Hasufel. Tak lama kemudian, mereka sampai ke perbatasan Entwash, dan di sana mereka menemukan jejak lain yang dibicarakan Eomer, datang dari Timur, keluar dari Padang Terbuka.
Aragorn turun dari kudanya dan memeriksa tanah, lalu melompat kembali ke pelana, melaju ke arah timur sebentar, tetap berjalan di satu sisi, dan berhati-hati agar tidak menginjak jejak kaki. Lalu ia turun lagi dan memeriksa tanah, berjalan maju-mundur.
"Tidak banyak yang bisa ditemukan," katanya ketika kembali. "Jejak utama seluruhnya berantakan oleh para penunggang kuda yang kembali; jejak kepergian mereka pasti di dekat sungai. Tapi jejak ke timur ini segar dan jelas. Tak ada tanda kaki yang pergi ke arah berlawanan, kembali ke Anduin. Sekarang kita harus berkuda lebih lambat, dan memastikan tidak ada jejak atau langkah kaki yang bercabang ke sisi mana pun. Pasti para Orc di tempat ini sudah menyadari bahwa mereka dikejar; mungkin mereka sudah berusaha membawa pergi kedua tawanan sebelum mereka disusul."


Ketika mereka melaju terus, cuaca mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah di atas bentangan Padang. Kabut menyelimuti matahari. Lereng-lereng Fangorn yang penuh pepohonan menjulang semakin dekat, perlahan-lahan menggelap ketika matahari pergi ke barat. Mereka tidak melihat tanda jejak apa

pun, baik di kiri maupun di kanan, tapi di sana-sini mereka melewati Orc satu- satu, yang terjatuh selagi melangkah, dengan panah berbulu kelabu menancap di punggung atau leher mereka.
Akhirnya, ketika siang mulai meredup, mereka sampai ke atap hutan, dan di sebuah tempat terbuka di antara pepohonan pertama, mereka menemukan tempat pembakaran besar: abunya masih panas berasap. Di sampingnya ada tumpukan besar topi baja, baju besi, perisai terbelah, pedang-pedang pecah, panah dan busur, serta senjata-senjata perang lainnya. Di atas sebuah tiang pancang di tengah, terpasang sebuah kepala goblin besar; pada topi bajanya yang hancur masih terlihat lencana putih. Lebih jauh dari situ, tak jauh dari sungai yang mengalir keluar dari pinggir hutan, ada gundukan tanah. Gundukan itu masih baru: tanah segar, ditutupi tanah berumput kering yang baru saja dipotong: di sekitarnya ditanam lima belas tombak.
Aragorn dan kawan-kawannya mencari-cari di sekitar tempat pertempuran, tapi cahaya kian redup, dan sore segera turun, kelam berkabut. Saat malam tiba, mereka belum menemukan jejak Merry dan Pippin.
"Kita tak bisa berbuat lebih dari ini," kata Gimli sedih. "Sejak datang ke Tol Brandir, kita sudah dihadapkan pada banyak teka-teki, tapi yang ini paling sulit ditebak. Aku menduga tulang-belulang hobbit-hobbit yang sudah dibakar sekarang berbaur dengan tulang-tulang Orc. Ini berita sedih bagi Frodo, kalau dia hidup untuk mendengarnya; dan sedih juga untuk hobbit tua yang menunggu di Rivendell. Elrond tidak setuju mereka turut serta."
"Tapi Gahdalf setuju," kata Legolas.

"Tapi Gandalf memilih untuk ikut sendiri, dan dia justru yang pertama tewas," jawab Gimli. "Perhitungannya gagal."
"Saran Gandalf bukan didasarkan atas pengetahuan lebih dulu tentang keselamatan dirinya maupun yang lain," kata Aragorn. "Ada beberapa hal yang lebih baik dimulai daripada ditolak, meski akhirnya akan gelap. Tapi aku belum akan meninggalkan tempat ini. Setidaknya kita harus menunggu di sini sampai cahaya pagi tiba."

Sedikit lebih jauh dan medan pertempuran, mereka berkemah di bawah potion yang dahan-dahannya menyebar luas: tampaknya seperti pohon chestnut, tapi pohon itu masih dipenuhi daun-daun lebar berwarna cokelat dari tahun lalu, seperti tangan kering dengan jemari panjang yang meregang; daun-daun itu berderak sedih ditiup angin malam.
Gimli menggigil. Mereka masing-masing hanya membawa satu selimut. "Mari kita menyalakan api," katanya. "Aku sudah tak peduli pada bahayanya. Biarkan Orc datang setebal kerumunan serangga di sekitar lilin!"
"Kalau hobbit-hobbit malang itu tersesat di hutan, mungkin api akan menarik mereka kemari," kata Legolas.
"Dan juga menarik makhluk lain, yang bukan Orc maupun hobbit," kata Aragorn. "Kita dekat barisan pegunungan Saruman si pengkhianat. Kita juga berada di tepi Fangorn. Berbahaya kalau menyentuh pohon-pohon hutan itu, begitu kata orang-orang."
"Tapi kaum Rohirrim kemarin membuat api besar di sini," kata Gimli, "dan mereka menebang pohon untuk api itu, seperti bisa kita lihat. Toh mereka bisa bermalam dengan aman di sini, ketika pekerjaan mereka selesai."
"Jumlah mereka banyak," kata Aragorn, "dan mereka tidak memedulikan kemarahan Fangorn, karena mereka jarang datang kemari, juga mereka tidak pergi ke dalam hutan. Tapi jalan kita sangat mungkin akan menuntun kita masuk ke dalam hutan. Jadi, hati-hatilah! Jangan memotong kayu yang hidup!"
"Tidak perlu," kata Gimli. "Para Penunggang meninggalkan serpihan kayu dan dahan-dahan cukup banyak, dan banyak sekali kayu mati berserakan." ia pergi mengumpulkan bahan bakar, lalu menyibukkan diri dengan membuat dan menyalakan api; tapi Aragorn duduk diam dengan punggung bersandar pada pohon besar, asyik merenung; Legolas berdiri sendirian di tempat terbuka, memandang ke arah bayangan hutan yang kelam, sambil mencondongkan badan ke depan, seperti orang mendengar suara-suara memanggil dari jauh. Ketika Gimli sudah berhasil mengobarkan nyala api kecil yang terang, tiga sekawan itu mendekatinya dan duduk bersama, menutupi cahaya dengan sosok- sosok mereka yang berkerudung. Legolas menengadah, memandang ke dahan-

dahan pohon yang merentang di atas mereka. "Lihat!" katanya. "Pohon itu gembira dengan api ini!"
Mungkin sekali bayangan-bayangan yang menari-nari itu menipu mata mereka, tapi tampaknya dahan-dahan itu memang meliuk-liuk ke sana kemari agar bisa mendekati nyala api, sementara ranting-ranting paling atas membungkuk ke bawah: dedaunan yang cokelat sekarang menjulur kaku, saling bergesek seperti banyak tangan retak-retak yang kedinginan sedang menikmati kehangatan api. Hening sekali, karena mendadak hutan gelap tak dikenal itu, yang kini begitu dekat, membuat dirinya terasa bagai kehadiran besar yang muram dan penuh rahasia. Setelah beberapa saat, Legolas berbicara lagi.
"Celeborn memperingatkan kita untuk tidak masuk ke Fangorn," katanya. "Kau tahu kenapa, Aragorn? Dongeng-dongeng apa tentang hutan ini yang pernah didengar Boromir?"
"Aku sudah banyak mendengar dongeng di Gondor dan di tempat-tempat lain," kata Aragorn, "tapi kalau bukan karena kata-kata Celeborn, mungkin aku hanya menganggapnya dongeng yang dikarang Manusia ketika pengetahuan sejati sudah memudar. Aku berniat menanyakanmu tentang kebenaran hal ini. Dan kalau seorang Peri Hutan pun tidak tahu, bagaimana pula seorang Manusia harus menjawab?"
"Kau sudah mengembara lebih jauh daripada aku," kata Legolas. "Aku tidak mendengar apa pun tentang ini di negeriku, kecuali lagu-lagu yang menceritakan bahwa bangsa Onodrim, yang oleh Manusia disebut Ent, dulu tinggal di sana; karena Fangorn sudah sangat tua, bahkan menurut hitungan bangsa Peri."
"Ya, memang sudah tua sekali," kata Aragorn, "setua hutan di Barrow-downs, dan jauh lebih besar. Menurut Elrond keduanya bersaudara, benteng-benteng terakhir hutan belantara di Zaman Peri, ketika bangsa Firstborn ini sudah mengembara, sementara Manusia masih tertidur. Meski begitu, Fangorn menyimpan suatu rahasia khusus. Aku tidak tahu apa itu."
"Dan aku tak ingin tahu," kata Gimli. "Mudah-mudahan makhluk-makhluk yang tinggal di Fangorn tidak terganggu olehku!"
Sekarang mereka menarik undian untuk giliran jaga, dan yang pertama

mendapat giliran adalah Gimli. Yang lain berbaring. Hampir segera mereka tertidur lelap. "Gimli!" kata Aragorn sambil mengantuk. "Ingat, berbahaya untuk memotong dahan atau ranting dari pohon hidup di Fangorn. Tapi jangan pergi terlalu jauh untuk mencari kayu mati. Lebih baik biarkan api itu padam! Panggil aku kalau perlu!"
Dengan kata-kata itu ia tertidur. Legolas sudah berbaring tak bergerak, kedua tangannya yang elok dilipat di dadanya, matanya tidak terpejam, membaurkan malam yang hidup dengan mimpi yang dalam, sebagaimana kebiasaan bangsa Peri. Gimli duduk meringkuk dekat api, menyapukan ibu jari sepanjang pinggir kapaknya, sambil merenung. Pohon-pohon berdesir. Tak ada bunyi lain. Mendadak Gimli mengangkat wajah, dan di sana … tepat di pinggir batas cahaya api, berdiri seorang pria tua bungkuk, bersandar pada sebatang tongkat, dan berjubah lebar; topinya yang berpinggiran lebar menutupi matanya. Gimli melompat berdiri, terlalu kaget untuk sesaat, sampai tak bisa berteriak, meski langsung terlintas dalam benaknya bahwa Saruman sudah menangkap mereka. baik Aragorn maupun Legolas terbangun karena gerakan Gimli yang tiba-tiba. Mereka bangkit duduk dan memandang. Pria tua itu tidak berbicara atau membuat isyarat.
"Bapa, apa yang bisa kami lakukan untukmu?" kata Aragorn, melompat berdiri. "Mari ke sini dan hangatkan badanmu, kalau kau kedinginan!" ia melangkah maju, tapi pria tua itu lenyap. Tak ada jejaknya di dekat mereka, dan mereka tidak berani berjalan lebih jauh. Bulan sudah terbenam dan malam gelap pekat. Mendadak Legolas berteriak. "Kuda-kuda! Kuda-kuda!"
Kuda-kuda sudah hilang. Hewan-hewan itu sudah menyeret tiang pancang mereka dan menghilang. Untuk beberapa saat ketiganya berdiri tak bergerak, gelisah karena gangguan nasib buruk ini. Mereka berada di bawah atap Fangorn, dan jarak antara mereka dengan Orang-Orang Rohan sahabat-sahabat mereka satu-satunya di negeri luas dan berbahaya ini jauh sekali. Ketika mereka berdiri, rasanya mereka mendengar bunyi kuda meringkik dan mendengking, jauh di keremangan malam. Lalu semuanya kembali sepi, kecuali desiran dingin angin.

"Yah, mereka sudah pergi," kata Aragorn akhirnya. "Kita tak bisa menemukan atau menangkap mereka; jadi, kalau mereka tidak kembali atas kehendak sendiri, kita harus berjalan tanpa mereka. Kita memulai dengan berjalan kaki, dan kita masih mempunyai kaki."
"Kaki!" kata Gimli. "Tapi kita tak bisa memakannya sekaligus memakainya untuk berjalan." ia melemparkan sedikit bahan bakar ke atas api, dan merosot di sampingnya.
"Baru beberapa jam yang lalu kau enggan duduk di atas kuda Rohan," tawa

Legolas. "Kau bisa jadi penunggang ulung."

"Kelihatannya mustahil aku akan mendapat kesempatan itu," kata Gimli.

"Kalau kau ingin tahu apa yang kupikirkan," kata Gimli lagi setelah beberapa saat, "kurasa orang tadi itu Saruman. Siapa lagi? Ingat kata-kata Eomer: dia berkeliaran ke sana kemari seperti pria tua berkerudung dan berjubah. Begitu katanya. Dia sudah pergi dengan kuda-kuda kita, atau menakuti mereka sampai mereka lari, dan di sinilah kita. Akan ada lebih banyak gangguan datang pada kita, camkan itu!”
"Aku mencamkannya," kata Aragorn. "Tapi aku juga ingat bahwa pria tua ini memakai topi, bukan kerudung. Tapi aku tidak ragu bahwa dugaanmu benar, dan bahwa kita di sini dalam bahaya, baik malam maupun siang. Sementara ini tak ada yang bisa kita lakukan, kecuali istirahat, selagi masih sempat. Aku akan berjaga sebentar sekarang, Gimli. Aku lebih butuh berpikir daripada tidur."
Malam berlalu lambat. Legolas menggantikan Aragorn, dan Gimli menggantikan Legolas, dan giliran jaga mereka berlanjut. Tapi tak ada yang terjadi. Pria tua itu tidak muncul lagi, dan kuda-kuda tidak kembali.

BAB 3

PASUKAN URUK-HAI



Pippin bermimpi buruk dan menggelisahkan: ia serasa bisa mendengar suaranya sendiri bergema di dalam terowongan-terowongan hitam, memanggil Frodo, Frodo! Tapi bukan Frodo yang muncul, melainkan ratusan wajah Orc menyeramkan yang menyeringai kepadanya dari balik bayang-bayang gelap, ratusan tangan menjijikkan menggapainya dari semua sisi. Di mana Merry?
la bangun. Udara dingin menerpa wajahnya. Ia mendapati dirinya berbaring telentang. Senja mulai turun, dan langit di atas berangsur redup. Ia membalikkan badan dan menyadari mimpinya tidak lebih buruk daripada keterjagaannya. Pergelangan tangan, kaki, dan pergelangan kakinya diikat dengan tali. Di sampingnya berbaring Merry, wajahnya pucat, sehelai kain kotor melilit dahinya. Di sekitar mereka duduk dan berdiri serombongan besar Orc.
Dalam kepala Pippin yang kesakitan, perlahan-lahan ingatannya mulai bekerja, melepaskan diri dari bayang-bayang mimpi. Tentu saja: ia dan Merry lari ke dalam hutan, waktu itu. Apa yang merasuki mereka? Mengapa mereka lari seperti itu, tanpa menghiraukan Strider? Mereka lari jauh sekali, sambil berteriak ia tak ingat berapa jauh atau berapa lama; lalu tiba-tiba mereka menabrak serombongan Orc. Orc-Orc itu sedang berdiri sambil mendengarkan, dan rupanya tidak melihat Merry dan Pippin sampai kedua hobbit itu hampir masuk ke dalam pelukan mereka. Kemudian Orc-Orc itu berteriak, dan puluhan goblin lain melompat keluar dari balik pepohonan. Merry dan Pippin menghunus pedang, tapi Orc-Orc itu tak ingin bertempur, dan hanya mencoba menangkap mereka, meski Merry sudah memenggal lengan dan tangan beberapa di antaranya. Merry yang hebat!
Lalu Boromir datang melompat dari antara pepohonan. Ia lawan yang tangguh. Ia menewaskan banyak Orc, dan sisanya lari. Tapi belum jauh mereka lari, mereka diserang lagi oleh ratusan Orc, beberapa di antaranya besar sekali, dan mereka menembakkan hujan panah: selalu ke arah Boromir. Boromir meniup terompetnya yang besar sampai hutan berdering. Pada awalnya para Orc cemas

dan mundur, tapi ketika tak ada jawaban, kecuali bunyi gemanya, mereka menyerang lebih garang. Pippin tak ingat lebih banyak lagi. Ingatannya yang terakhir adalah tentang Boromir bersandar ke pohon, mencabut sebatang panah; lalu tiba-tiba gelap.
"Kurasa kepalaku dipukul," kata Pippin pada dirinya sendiri. "Apakah Merry yang malang terluka parah? Apa yang terjadi dengan Boromir? Mengapa para Orc tidak membunuh kami? Di mana kami, dan ke mana kami akan pergi?"
la tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia merasa dingin dan mual.

"Seandainya saja Gandalf tidak membujuk Elrond agar kami ikut," pikirnya. "Apa manfaat kehadiranku? Hanya menjadi gangguan: penumpang, sepotong barang bawaan. Kini aku diculik, dan aku hanya sepotong barang bawaan untuk para Orc. Kuharap Strider atau seseorang akan datang mengambil kami! Tapi pantaskah aku mengharapkan itu? Bukankah itu membuyarkan semua rencana? Kalau saja aku bisa membebaskan diri!"


Pippin meronta sedikit, dengan sia-sia. Salah satu Orc yang duduk di dekatnya tertawa dan mengatakan sesuatu pada temannya dalam bahasa mereka yang buruk. "Istirahat selagi masih bisa, bodoh!" katanya kemudian pada Pippin, dalam Bahasa Umum, yang dari mulutnya terdengar hampir sama menjijikkan dengan bahasanya sendiri. "Istirahat selagi masih bisa! Kami akan memanfaatkan kakimu tak lama lagi. Kau akan berharap tak punya kaki sebelum kami sampai ke rumah."
"Kalau aku bebas berbuat sesukaku, kau akan berharap sudah mati sekarang," kata yang lainnya. "Akan kubuat kau mendecit, tikus malang." ia membungkuk di atas Pippin, mendekatkan gigi taringnya yang kuning ke wajah Pippin. Di tangannya ia memegang pisau hitam dengan mata panjang bergerigi. "Berbaring diam, kalau tidak … kugelitik kau dengan ini," desisnya. "Jangan menarik perhatian; kalau tidak, mungkin aku akan lupa perintahku. Terkutuklah bangsa Isengard! Ugluk u bagronk sha pushdug Saruman-glob bubhosh skai”: ia beralih ke dalam percakapan marah yang panjang dalam bahasanya sendiri, yang lambat laun berubah menjadi gerutuan dan geraman.

Pippin yang ketakutan berbaring diam, meski rasa sakit pada pergelangan tangan dan kakinya semakin parah, dan bebatuan di bawah badannya menusuk- nusuk punggungnya. Untuk mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri, ia mendengarkan dengan cermat semua yang bisa didengarnya. Banyak suara di sekitarnya, dan meski bahasa Orc kadang seperti dipenuhi kebencian dan kemarahan, tampak jelas bahwa ada pertengkaran, yang semakin lama semakin panas.
Dengan heran Pippin menyadari bahwa sebagian besar percakapan mereka bisa dipahaminya; banyak Orc yang menggunakan B.ahasa Umum. Rupanya mereka terdiri atas beberapa suku, dan tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Ada perdebatan marah tentang apa yang akan mereka lakukan sekarang: jalan mana yang akan mereka ambil, dan apa yang harus dilakukan dengan kedua tawanan.
"Tak ada waktu untuk membunuh mereka dengan benar," kata salah satu Orc. "Tak ada waktu untuk main-main dalam perjalanan ini."
"Itu tak bisa dihindari," kata yang lain. "Tapi mengapa tidak cepat saja membunuh mereka, sekarang juga? Mereka jadi gangguan terkutuk, dan kita sedang terburu-buru. Senja mulai turun, dan kita harus berjalan lagi."
"Perintah," geram suara ketiga. "Bunuh semua, tapi JANGAN bunuh Halfling; mereka harus dibawa pulang HIIDUP-HIIDUP secepat mungkin. Itu perintah yang kuterima."
"Apa gunanya mereka ini?" tanya beberapa suara. "Kenapa hidup-hidup? Apa mereka bisa dipakai untuk permainan?"
"Bukan! Kudengar satu di antara mereka memiliki sesuatu, sesuatu yang dibutuhkan untuk Perang, sesuatu semacam persekongkolan Peri. Bagaimanapun, keduanya akan ditanyai."
"Itu saja yang kauketahui? Kenapa tidak kita geledah mereka dan mencari tahu? Mungkin kita akan menemukan sesuatu yang bisa kita manfaatkan sendiri." "Komentar yang sangat menarik," ejek sebuah suara, lebih perlahan dari yang lain, tapi lebih jahat. "Aku perlu melaporkan itu. Tawanan TIIDAK boleh digeledah atau dirampok: begitu perintah yang kuterima."

"Bukan perintah kami!" kata salah satu suara yang lebih awal. "Kami datang jauh-jauh dari Tambang untuk membunuh, dan membalaskan dendam rakyat kami. Aku ingin membunuh, kemudian kembali ke utara."
"Harapanmu tinggal harapan," kata suara yang menggeram. "Aku Ugluk. Aku yang memimpin. Aku kembali ke Isengard melalui jalan terpendek."
"Siapa sebenarnya yang berkuasa, Saruman atau Mata Agung?" kata suara yang bemada jahat. "Kita harus segera kembali ke Lugburz."
"Kalau kita bisa menyeberangi Sungai Besar, mungkin bisa," kata suara lain. "Tapi jumlah kita tidak cukup banyak untuk berani berjalan sampai ke jembatan jembatan."
"Aku sudah menyeberanginya," kata suara yang jahat. "Nazgul bersayap menanti kita di utara, di tebing timur."
"Mungkin, mungkin! Lalu kau akan terbang dengan tawanan kami, kau yang memperoleh semua bayaran dan pujian di Lugbiuc, sementara kami ditinggalkan berjalan kaki sebisanya melewati Negeri Kuda. Tidak, kita harus tetap bersama- sama. Daratan di sini berbahaya: penuh dengan pemberontak dan perampok keji."
"Ya, kita harus tetap bersatu," geram Ugluk. "Aku tidak percaya padamu, babi kecil. Kau tidak punya keberanian di luar kandangmu. Kalau bukan karena kami, kalian semua sudah lari. Kami kaum pejuang Uruk-hai! Kami menewaskan pejuang besar itu. Kami yang membawa tawanan. Kami anak buah Saruman yang Bijak, Tangan Putih: Tangan yang memberi kami daging manusia untuk dimakan. Kami datang dari Isengard, menuntun kalian ke sini, dan kami akan menuntun kalian kembali melalui jalan yang kami pilih. Aku Ugluk. Aku sudah berbicara."
"Kau sudah berbicara lebih dari cukup, Ugluk," ejek suara jahat itu. "Aku ingin tahu, bagaimana pendapat mereka yang di Lugburz. Mereka mungkin berpikir untuk memenggal kepalamu yang sombong itu. Mereka mungkin bertanya dari mana dia mendapat gagasan-gagasannya yang aneh. Apakah dari Saruman, mungkin? Memang dia pikir dia siapa, mengangkat dirinya sendiri dengan lencana putihnya yang kotor? Mungkin mereka akan setuju denganku, dengan

Grishnakh, utusan mereka yang terpercaya; dan aku, Grishnakh, berkata begini: Saruman tolol, dan pengkhianat tolol yang menjijikkan. Tetapi Mata Agung sedang mengincarnya.”
"Babi katamu? Bagaimana perasaan kalian disebut babi oleh pecundang- pecundang seorang penyihir kecil jelek? Pasti mereka makan daging Orc, kujamin itu."
Teriakan-teriakan seru dalam bahasa Orc membalasnya, disusul bunyi denting

benturan senjata yang dihunus. Dengan hati-hati Pippin menggulingkan badan, berharap bisa melihat apa yang sedang terjadi. Penjaga-penjaganya pergi bergabung ke dalam keributan itu. Dalam cahaya senja, Pippin melihat salah satu Orc hitam besar, mungkin Ugliilc, berdiri menghadap Grishnakh, makhluk pendek berkaki bengkok, lebar sekali, dengan tangan sangat panjang, menggantung hampir ke tanah. Di sekitamya banyak goblin yang lebih kecil. Pippin menduga mereka datang dari Utara. Mereka sudah menghunus belati dan pedang, tapi ragu untuk menyerang Ugluk.
Ugluk berteriak, dan sejumlah Orc yang hampir seukuran dirinya berlari maju. Kemudian, tanpa peringatan, Ugluk melompat maju, dan dengan dua sapuan cepat memenggal kepala dua lawannya. Grishnakh menghindar dan menghilang ke dalam kegelapan. Yang lain mundur, satu melangkah mundur dan jatuh tersandung sosok Merry yang terbaring, sambil mengumpat. Tapi mungkin itu justru menyelamatkannya, karena pengikut Ugluk melompatinya dan menebas yang lain dengan pedang mereka yang bermata lebar. Ternyata si penjaga bertaring kuning. Ia jatuh tepat di atas badan Pippin, masih memegang pisaunya yang bermata panjang bergerigi.
"Simpan senjata kalian!" teriak Ugluk. "Dan jangan lagi main-main! Kita akan langsung pergi ke barat dari sini, dan menuruni tangga. Dari sana langsung ke perbukitan, lalu sepanjang tepi sungai ke hutan. Dan kita berjalan siang-malam. Jelas?"
"Wah," pikir Pippin, "kalau saja si jelek itu butuh waktu beberapa lama untuk mengendalikan pasukannya, aku bisa punya kesempatan." Secercah harapan timbul di hatinya. Ujung pisau hitam Orc yang mati sudah menggores tangannya,

lalu tergelincir turun sampai ke kepergelangannya. Ia merasa darah menetes ke tangannya, tapi ia juga merasakan sentuhan dingin baja pada kulitnya.
Para Orc sudah siap-siap berjalan lagi, tapi beberapa Orc Utara masih enggan, dan Orc Isengard membunuh dua lagi sebelum sisanya takut. Banyak umpatan dan kekacauan. Untuk sementara, Pippin tidak diperhatikan. Kakinya terikat ketat, tapi lengannya hanya diikat di sekitar pergelangan, dan kedua tangannya ada di depan badannya. Ia bisa menggerakkan keduanya bersamaan, meski ikatannya erat sekali. Ia mendorong Orc yang sudah mati ke pinggir, lalu sambil hampir tidak berani bernapas, ia menggosokkan simpul tali pengikat pergelangannya ke atas sisi mata pisau. Pisau itu tajam, dan tangan hitam Orc yang sudah mati itu memegangnya erat. Talinya terpotong! Dengan cepat Pippin memegangnya dengan jarinya, lalu membuat simpul longgar dengan dua lingkaran, dan menyelipkannya ke tangannya. Kemudian ia berbaring diam.


"Angkat tawanan-tawanan!" teriak Ugluk. "Jangan main-main dengan mereka! Kalau mereka tidak hidup saat kita sudah kembali, orang lain juga akan mati." Salah satu Orc mengangkat Pippin seperti karung, memasukkan kepalanya di antara tangan Pippin yang terikat, meraih lengannya dan menariknya ke bawah, sampai wajah Pippin tertekan ke leher Orc itu; lalu Orc itu berlari pergi membawanya. Orc lain memperlakukan Merry dengan cara yang sama. Tangan Orc yang seperti cakar mencengkeram tangan Pippin bagai besi; kukunya terasa menusuk tajam. Pippin memejamkan mata dan kembali bermimpi buruk. Mendadak ia dilemparkan ke tanah berbatu lagi. Malam baru saja menjelang, tapi bulan sudah turun ke barat. Mereka berada di tepi sebuah batu karang yang tampaknya menghadap ke lautan kabut yang pucat. Ada bunyi air terjun di dekatnya.
"Para pengintai sudah kembali," kata salah satu Orc di dekat mereka. "Nah, apa yang kautemukan?" geram suara Ugluk.
"Hanya seorang penunggang kuda, dan dia pergi ke barat. Semua aman sekarang."
"Sekarang, mungkin. Tapi berapa lama? Tolol! Kalian seharusnya

menembaknya. Dia akan membunyikan tanda bahaya. Pemelihara-pemelihara kuda terkutuk itu akan mendengar tentang kita besok pagi. Sekarang kita terpaksa berjalan lebih cepat berlipat ganda."
Sebuah sosok membungkuk di atas Pippin. Ternyata Ugluk. "Duduk!" kata Orc itu. "Anak buahku lelah menggotongmu ke sana kemari. Kita harus turun bukit, dan kau harus menggunakan kakimu sendiri. Tunjukkan sikap baik. Jangan berteriak, jangan mencoba lari. Kami punya cara yang tidak bakal kausukai untuk membalas tipu muslihat, meski tidak akan merusak manfaatmu bagi Tuan kami." la memotong tali sekitar kaki dan pergelangan kaki Pippin, mengangkatnya dan mendirikannya di atas kakinya. Pippin jatuh, dan Ugluk menyeretnya dengan menjambak rambutnya. Beberapa Orc tertawa. Ugluk memasukkan sebuah botol ke mulut Pippin dan menuangkan cairan membara ke dalam kerongkongan Pippin: ia merasakan nyala panas membakar mengalir di tubuhnya. Rasa sakit di kaki dan pergelangan kakinya hilang. Ia bisa berdiri.
"Sekarang yang satunya!" kata Ugluk. Pippin melihatnya menghampiri Merry yang berbaring di dekat situ, dan menendangnya. Merry mengerang. Ugluk memegangnya dengan kasar dan menariknya ke dalam posisi duduk, lalu melepaskan balutan di kepalanya. Kemudian ia mengoleskan bahan berwarna gelap dari dalam kotak kayu kecil pada luka Merry. Merry berteriak dan meronta- ronta dengan liar.
Para Orc bertepuk tangan dan bersorak-sorak. "Tidak tahan obat," ejek mereka. "Tidak tahu apa yang baik untuknya. Aih! Kita akan bersenang-senang nanti!"
Tapi pada saat itu Ugluk tak ingin main-main. Ia butuh kecepatan, dan terpaksa

membujuk kedua tawanan yang enggan. Ia mengobati Merry dengan cara Orc, dan pengobatannya bekerja cepat. Setelah memaksakan seteguk minuman dari botolnya ke dalam kerongkongan hobbit itu, ia memotong ikatan kaki Merry dan mengangkatnya sampai berdiri. Merry berdiri tegak, kelihatan pucat, tapi teguh dan menantang, dan sangat hidup. Luka di keningnya sudah tidak mengganggunya lagi, tapi ada bekas luka kecokelatan yang bertahan sampai akhir hayatnya.
"Halo, Pippin!" katanya. "Jadi, kau juga ikut dalam penjelajahan kecil ini? Di

mana kita bisa dapat tempat tidur dan sarapan?"

"Ayo!" kata Ugluk. "Jangan sembarangan. Tahan mulutmu. Jangan saling berbicara. Setiap gangguan akan dilaporkan di sana, dan Dia akan tahu bagaimana membalasmu. Kau pasti akan dapat tempat tidur dan sarapan: lebih dan yang sanggup kautelan."


Gerombolan Orc menuruni tebing jurang sempit yang menuju sebuah dataran berkabut di bawah. Merry dan Pippin, terpisah oleh puluhan Orc atau lebih, ikut turun bersama mereka. Di dasar jurang mereka menapak rumput, dan semangat para hobbit meningkat.
"Jalan terus!" teriak Ugluk. "Ke barat dan agak ke utara. Ikuti Lugdush."

"Tapi apa yang akan kita lakukan kalau matahari sudah terbit?" tanya beberapa

Orc Utara.

"Terus lari," kata Ugluk. "Kaupikir apa? Duduk di rumput dan menunggu Kulit

Putih bergabung dengan tamasya kita?"

"Tapi kita tak bisa lari dalam cahaya matahari."

"Kau akan lari dengan aku di belakangmu," kata Ugluk. "Lari! Atau kalian tidak akan pernah melihat lubang tercinta kalian lagi. Demi Tangan Putih! Apa gunanya mengirimkan belatung-belatung gunung yang hanya setengah terlatih? Lari, keparat, lari! Lari selagi masih malam!"
Lalu seluruh rombongan mulai berlari dengan langkah panjang gaya Orc. Mereka berlari tanpa aturan, mendorong-dorong, berdesak-desakan, sambil mengumpat; meski begitu, kecepatan mereka tinggi sekali. Setiap hobbit dijaga tiga Orc. Pippin tertinggal jauh di belakang. Ia bertanya-tanya, berapa lama lagi ia bisa berlari dengan kecepatan seperti itu: ia tidak makan sejak pagi. Salah satu penjaganya memegang cambuk. Tapi, saat ini anggur manis kaum Orc masih hangat dalam tubuhnya. Pikirannya juga bisa bekerja jernih.
Sesekali muncul dalam benaknya bayangan Strider yang membungkuk di atas jejak gelap, dan berlari, berlari di belakang. Tapi apa yang bisa dilihat oleh seorang Penjaga Hutan sekalipun, kecuali jejak membingungkan kaki-kaki Orc? Jejak kakinya sendiri dan kaki Merry terbenam oleh injakan kaki bersepatu besi

di depan, di belakang, dan di sekeliling mereka.

Mereka baru berlari sekitar satu mil dari batu karang ketika daratan itu menurun masuk ke suatu lembah kecil yang tanahnya lembut dan basah. Kabut menggantung di sana, bersinar redup di bawah cahaya terakhir bulan sabit. Sosok-sosok gelap para Orc di depan menjadi kabur, lalu ditelan kabut.
"Hai! Tenang sekarang!" teriak Ugluk dari depan.

Sebuah pikiran mendadak muncul dalam benak Pippin, dan ia segera melakukannya. Ia membelok ke kanan, dan melompat keluar dari jangkauan penjaganya, kepala lebih dulu ke dalam kabut; ia mendarat telentang di atas rumput.
"Berhenti!" teriak Ugluk.

Untuk beberapa saat, terjadi keributan dan kebingungan. Pippin melompat berdiri dan berlari lagi. Tapi Orc-Orc mengejarnya. Beberapa mendadak berada di depannya.
"Tak ada harapan untuk lolos!" pikir Pippin. "Tapi ada harapan bahwa aku

meninggalkan beberapa jejak kakiku utuh di tanah basah." ia meraih lehernya dengan kedua tangannya yang diikat, dan membuka bros pada jubahnya. Tepat ketika tangan panjang dan cakar keras Orc memegangnya, ia menjatuhkan bros itu. "Kurasa bros itu akan tetap di sana, sampai akhir zaman," pikirnya. "Entah mengapa aku melakukan itu. Kalau yang lain lolos, mungkin mereka semua pergi bersama Frodo."
Cambuk tali melingkar di seputar kakinya, dan Pippin menahan teriakannya. "Cukup!" teriak Ugluk yang datang berlari. "Dia masih harus berlari jauh. Buat mereka berdua berlari! Gunakan cambuk hanya sebagai pengingat."
"Tapi itu belum semuanya," ia menggeram, berbicara pada Pippin. "Aku tidak akan lupa. Pembalasan hanya ditunda. Lari!"


Baik Pippin maupun Merry tak ingat banyak tentang bagian terakhir perjalanan itu. Mimpi buruk dan bangun dalam keadaan buruk sudah berbaur dalam suatu terowongan panjang penuh kesengsaraan, dengan harapan yang semakin menipis. Mereka berlari, dan berlari, berupaya menyamai kecepatan yang

ditentukan para Orc, setiap sebentar dicambuk dengan pecut kejam yang ditangani dengan lihai. Bila berhenti atau tersandung, mereka diangkat dan diseret hingga jarak tertentu.
Kehangatan minuman Orc sudah lenyap. Pippin kembali merasa dingin dan mual. Tiba-tiba ia jatuh tertelungkup di tanah kering. Tangan-tangan keras dengan kuku yang mengoyak-ngoyak mencengkeram dan mengangkatnya. Sekali lagi ia digotong seperti karung, dan kegelapan menyelimuti dirinya: apakah kegelapan malam, atau matanya menjadi buta, ia tidak tahu.
Samar-samar ia menyadari mendengar suara hiruk-pikuk: rupanya banyak Orc minta berhenti. Ugluk berteriak. Pippin merasa badannya terlempar ke tanah, dan ia berbaring dalam posisi ia terjatuh, sampai mimpi-mimpi hitam menguasainya. Tapi hanya sesaat ia lolos dari kesakitan; dengan segera cengkeraman besi tangan-tangan yang tak kenal kasihan sudah mengaitnya lagi. Lama sekali ia terguncang-guncang dan terlambung-lambung, lalu lambat laun kegelapan memudar, ia kembali ke dunia sadar, dan menemukan hari sudah pagi. Perintah-perintah diteriakkan, dan ia dilempar ke atas rumput.
Di sana ia berbaring sesaat, melawan keputusasaan. Kepalanya pusing, tapi dari rasa panas yang mengalir di tubuhnya, ia menduga dirinya sudah diberi seteguk minuman Orc lagi. Satu Orc membungkuk di atasnya, melemparkan sedikit roti dan sepotong daging kering mentah. Pippin memakan roti basi itu dengan rakus, tapi dagingnya tidak. Ia memang kelaparan, tapi belum sedemikian parah, sampai mau makan daging yang diberikan Orc kepadanya; daging yang tidak berani ia bayangkan berasal dari makhluk apa.
Pippin bangkit duduk dan melihat sekelilingnya. Merry tidak jauh dari situ. Mereka berada di tebing sungai sempit yang mengalir deras. Di depan sana, pegunungan menjulang: sebuah puncak tinggi menangkap sinar pertama matahari. Sapuan gelap hutan membentang di lerenglereng yang lebih rendah di depan mereka.
Di antara para Orc terjadi banyak teriakan dan perdebatan; rupanya mulai timbul pertengkaran lagi antara Orc Utara dan Orc dari Isengard. Beberapa menunjuk ke arah selatan di belakang, dan beberapa menunjuk ke arah timur.

"Baiklah," kata Ugluk. "Kalau begitu, biar aku yang menangani mereka! Tak ada pembunuhan, seperti sudah kukatakan; tapi kalau kalian mau membuang apa yang sudah kita peroleh dengan pergi sejauh ini, buanglah! Aku akan menjaganya. Biarlah para pejuang Urukhai menuntaskan pekerjaan ini, seperti biasanya. Kalau kalian takut pada Kulit Putih, larilah! Lari! Itu hutan," teriaknya sambil menunjuk ke depan. "Masuklah ke sana! Itu harapan terbaik kalian. Pergi! Dan cepat, sebelum aku memenggal lagi beberapa kepala, agar yang lainnya memakai akal sehat."
Terdengar bunyi umpatan dan perkelahian, lalu sebagian besar Orc Utara melepaskan diri dan lari, lebih dari seratus Orc, berlari kocar-kacir sepanjang sisi sungai ke arah pegunungan. Hobbit-hobbit ditinggal bersama Orc dari Isengard: gerombolan gelap dan muram, sejumlah Orc bertubuh besar kehitaman, dengan mata sipit dan membawa panah besar serta pedang bermata lebar. Beberapa Orc Utara yang lebih besar dan berani tetap tinggal bersama mereka.
"Sekarang kita akan menangani Grishnakh," kata Ugluk; tapi beberapa pengikutnya memandang resah ke arah selatan.
"Aku tahu," geram Ugluk. "Manusia-manusia berkuda terkutuk sudah tahu tentang kita. Tapi itu semua salahmu, Snaga. Kau dan pengintai-pengintai yang lain seharusnya dihukum potong telinga. Tapi kita prajurit tempur. Kita akan berpesta pora makan daging kuda, atau bahkan yang lebih baik."
Saat itu Pippin baru tahu mengapa beberapa dari rombongan itu menunjuk ke timur. Dari arah tersebut datang teriakan-teriakan parau, dan Grishnakh muncul lagi, di belakangnya sejumlah Orc lain yang serupa dengannya: Orc berlengan panjang dan berkaki bengkok. Ada gambar mata merah di atas perisai mereka. Ugluk maju ke depan, menyambut mereka.
"Jadi, kau kembali?" kata Ugluk. "Sudah berubah pikiran, ha?"

"Aku kembali untuk memastikan Perintah dijalankan dan tawanan selamat," jawab Grishnakh.
"Oh, begitu!" kata Ugluk. "Buang tenaga sia-sia. Aku akan memastikan perintah dilaksanakan di bawah kekuasaanku. Dan untuk apa lagi kau kembali? Kau pergi terburu-buru. Apakah ada yang tertinggal?"

"Aku meninggalkan orang tolol," gertak Grishnakh. "Tapi ada beberapa orang gagah bersama si tolol yang terlalu bagus untuk dilepas. Aku tahu kau akan membawa mereka ke dalam kekacauan. Aku datang untuk membantu mereka." "Bagus!" tawa Ugluk. "Tapi kecuali kau berani bertempur, kau mengambil jalan yang salah. Lugburz tujuanmu. Kulit Putih akan datang. Apa yang terjadi dengan Nazgul-mu yang hebat? Apakah ada tunggangan lain yang gagal dibawanya? Nah, seandainya kau membawa dia, itu baru berguna kalau Nazgul ini memang seperti yang dibangga-banggakan."
“Nazgul, Nazgul," kata Grishnakh, menggigil dan menjilat bibimya, seolah kata itu mengeluarkan rasa busuk yang dinikmatinya penuh kepedihan. "Kau bicara tentang hal yang jauh di luar jangkauan mimpimu yang penuh lumpur, Ugluk," katanya. "Nazgul! Ah! Seperti yang dibangga-banggakan! Suatu saat nanti, kau akan menyesal telah berkata begitu. Monyet!" bentaknya garang. "Kau harus tahu, mereka buah hati Mata Agung. Tapi Nazgul bersayap: belum, belum. Dia tidak akan membiarkan mereka menunjukkan diri di seberang Sungai Besar, tidak secepat ini. Mereka disiapkan untuk Perang-dan maksud- maksud lain." "Rupanya kau tahu banyak," kata Ugluk. "Lebih dari yang baik untukmu, kukira. Mungkin mereka yang di Lugburz akan heran bagaimana, dan mengapa. Tapi, sementara itu, Uruk-hai dari Isengard bisa melakukan pekerjaan kotor, seperti biasanya. Jangan berdiri di sana sambil meneteskan air liur! Kumpulkan perusuh-perusuhmu! Babi-babi yang lain lari ke hutan. Sebaiknya kaususul mereka. Kau tidak akan kembali hidup-hidup ke Sungai Besar. Itu di luar kemampuanmu! Nah! Aku berjalan di belakangmu."


Para Orc Isengard mengangkat Merry dan Pippin lagi, menggendong mereka di punggung. Lalu rombongan itu berangkat. Jam demi jam mereka berlari, berhenti sesekali hanya untuk melemparkan para hobbit kepada penggendong baru. Entah karena mereka lebih cepat dan ulet, atau karena suatu rencana dari Grishnakh, Orc-Orc Isengard lambat laun menerobos rombongan Orc dari Mordor, dan anak buah Grishnakh menjadi barisan belakang. Segera mereka pun menyusul para Orc Utara di depan. Hutan semakin dekat.

Pippin tergores dan terluka, kepalanya yang sakit terparut oleh rahang kotor dan telinga berbulu Orc yang menggendongnya. Persis di depan, banyak punggung membungkuk dan kaki gemuk kokoh turun-naik, turun-naik, tanpa berhenti, seolah terbuat dari kawat dan gading, mengetukkan detik-detik mimpi buruk yang tak terhingga lamanya.
Di siang hari, pasukan Ugluk menyusul para Orc Utara. Mereka sedang lesu di bawah sinar matahari yang cerah, meski itu matahari musim dingin yang bersinar di langit pucat sejuk, kepala mereka tertunduk dan lidah mereka menjulur keluar. "Belatung!" ejek para Orc Isengard. "Habislah kalian. Kulit Putih akan menangkap dan memakan kalian. Mereka akan datang!"
Teriakan Grishnakh menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kelakar. Penunggang-penunggang kuda yang melaju kencang memang sudah terlihat: masih jauh di belakang, tapi semakin dekat dengan pasukan Orc, menyusul mereka seperti gelombang pasang naik di atas dataran, membenamkan orang- orang yang tersesat dalam pasir apung.
Para Orc Isengard mulai berlari dengan kecepatan berlipat ganda yang mengherankan Pippin, seolah-olah mereka mengerahkan kekuatan untuk akhir balapan. Lalu ia melihat matahari sedang terbenam, jatuh di balik Pegunungan Berkabut; kegelapan menggapai daratan. Prajurit-prajurit Mordor mengangkat kepala dan menambah kecepatan. Hutan gelap dan rapat. Mereka sudah melewati beberapa pohon di pinggir hutan. Tanah mulai mendaki ke atas, semakin curam; tapi para Orc tidak berhenti. Baik Ugluk maupun Grishnakh berteriak, mendorong mereka untuk upaya terakhir.


"Mereka akan berhasil. Mereka bisa lolos," pikir Pippin. Lalu ia berhasil memutar leher, agar bisa menoleh dengan satu mata dari atas bahunya. Ia melihat para Penunggang sudah sejajar dengan para Orc, menderap kencang di bentangan padang. Matahari terbenam melapisi tombak dan pedang mereka dengan warna emas, bersinar di rambut mereka yang pucat dan panjang berkibar. Mereka mulai mengepung para Orc, agar tidak tercerai-berai, dan mendorong mereka maju sepanjang sisi sungai.

Pippin bertanya-tanya, bangsa apakah mereka. Sekarang ia menyesal, kenapa tidak belajar lebih banyak ketika masih di Rivendell, lebih banyak mengamati peta dan hal-hal lain; tapi waktu itu rencana perjalanan tampalrnya berada di tangan yang lebih mampu, dan ia tak pernah memperhitungkan akan terpisah dan Gandalf, atau Strider, bahkan dan Frodo. Yang bisa diingatnya tentang Rohan hanya bahwa kuda Gandalf, Shadowfax, datang dari negeri itu. Sejauh ini kedengarannya memberi harapan.
"Tapi bagaimana mereka bisa tahu bahwa kami bukan Orc?" pikir Pippin. "Kuduga mereka belum pernah mendengar tentang hobbit di sana. Mestinya aku gembira bahwa tampaknya Orc-Orc biadab ini akan dihancurkan, tapi aku lebih senang kalau diselamatkan." Kemungkinannya, ia dan Merry akan dibunuh bersama-sama dengan penawan mereka, sebelum Orang-Orang Rohan menyadari keberadaan mereka.
Beberapa penunggang kuda rupanya pemanah ulung, mahir memanah dari atas kuda yang berlari. Melaju cepat ke dalam jarak tembak, mereka menembakkan panah ke Orc-Orc yang berjalan di belakang, dan beberapa di antara mereka jatuh; lalu para Penunggang itu berputar menjauh dari jarak tembak balasan panah-panah musuh yang memanah sembarangan, karena tidak berani berhenti. Ini terjadi beberapa kali, dan suatu ketika panah-panah jatuh di antara Orc-Orc Isengard. Salah satu dari mereka, persis di depan Pippin, jatuh dan tidak bangun lagi.


Malam turun tanpa para Penunggang mendekat untuk bertempur. Banyak Orc sudah tewas, tapi masih dua ratus yang tersisa. Dalam kegelapan awal, kelompok Orc tiba di sebuah bukit kecil. Ambang hutan sudah dekat sekali, mungkin tak lebih dari tiga kali dua ratusan meter jauhnya, tapi mereka tak bisa maju lagi. Para Penunggang Kuda sudah mengepung mereka. Sekelompok kecil Orc tidak mematuhi perintah Ugluk, dan lari ke arah hutan: hanya tiga yang kembali.
"Nah, di sinilah kita," ejek Grishnakh. "Kepemimpinan yang hebat! Kuharap

Ugluk yang agung akan memimpin kita keluar dari sini."

"Letakkan Halfling itu!" perintah Ugluk, tidak mengacuhkan Grishnakh. "Kau, Lugdush, panggil dua yang lain dan jaga mereka! Mereka tidak boleh dibunuh, kecuali Kulit Putih busuk itu menerobos masuk. Mengerti? Selama aku masih hidup, aku menghendaki mereka. Tapi mereka tidak boleh berteriak, dan mereka jangan sampai diselamatkan. Ikat kaki mereka!"
Bagian terakhir perintah itu dilaksanakan dengan kejam. Tapi kali itu Pippin diletakkan berdekatan dengan Merry. Para Orc hiruk-pikuk, berteriak dan menggerakkan senjata dengan bunyi berisik, dan kedua hobbit bisa saling berbisik untuk beberapa saat.
"Ini gawat," kata Merry. "Aku sudah capek sekali. Rasanya aku tidak akan bisa merangkak jauh, meski aku bebas."
"Lembas!" bisik Pippin. "Lembas: aku masih punya sedikit. Kau punya? Kurasa

mereka tidak mengambil barang lain kecuali pedang”.

"Ya, aku punya sekantong di saku bajuku," jawab Merry, "tapi pasti sudah hancur menjadi remah-remah. Aku tak bisa memasukkan mulutku ke dalam saku baju!" "Tidak perlu. Aku …” Tapi tepat saat itu sebuah tendangan keras memperingatkan Pippin bahwa bunyi berisik sudah mereda, dan penjaga- penjaga mereka sudah kembali waspada penuh.


Malam sepi dan dingin. Di seputar bukit kecil tempat para Orc berkumpul, muncul api-api kecil, merah keemasan dalam kegelapan, satu lingkaran penuh. Api itu dalam jarak tembak panah panjang, tapi para Penunggang Kuda tidak memperlihatkan diri mereka di depan nyala api, dan para Orc menyia-nyiakan banyak panah dengan menembak ke arah api, sampai Ugluk menghentikan mereka. Para Penunggang itu tidak mengeluarkan bunyi sama sekali. Malam sudah lebih larut ketika bulan muncul dari balik kabut, dan barulah mereka kadang-kadang terlihat, sosok-sosok kabur yang sesekali bersinar dalam cahaya putih, ketika mereka bergerak meronda tanpa henti.
"Mereka menunggu Matahari, persetan!" geram salah satu penjaga. "Kenapa kita tidak bersatu dan menerobos menyerang? Apa sih yang dipikirkan Ugluk tua, aku ingin tahu?"

"Aku tahu kau pasti ingin tahu," bentak Ugluk yang datang dari belakang mereka. "Berarti aku sama sekali tidak berpikir, eh? Keparat! Kau sama parahnya dengan pecundang-pecundang yang lain: belatung dan monyet dari Lugburz. Tak ada gunanya mencoba menyerang bersama mereka. Mereka hanya akan berteriak dan lari, dan penunggang-penunggang kuda busuk itu jumlahnya lebih dari cukup untuk menyapu habis kelompok kita.”
"Hanya satu yang bisa dilakukan belatung-belatung itu: mereka bisa melihat jelas dan tajam sekali dalam gelap. Tapi Kulit Putih ini mempunyai mata-malam yang jauh lebih bagus daripada kebanyakan Manusia, dari apa yang pernah kudengar; dan jangan lupa kuda-kuda mereka! Mereka bisa melihat angin malam, atau begitulah katanya. Tapi masih ada satu hal yang. tidak diketahui orang-orang hebat itu: Mauhur dan anak buahnya ada di dalam hutan, dan setiap saat mereka bisa datang."
Kata-kata Ugluk rupanya cukup untuk menenangkan kaum Orc dari Isengard; tapi Orc-Orc yang lain patah semangat dan bersikap memberontak. Mereka menempatkan beberapa penjaga, tapi kebanyakan dari mereka berbaring di tanah, beristirahat dalam kegelapan yang nyaman. Memang kegelapan sudah menjadi sangat pekat; karena bulan pergi ke barat, masuk ke dalam awan tebal, dan Pippin tak bisa melihat apa pun pada jarak beberapa meter. Api yang menyala tidak menerangi bukit. Meski begitu, para Penunggang Kuda tidak puas hanya dengan menunggu fajar dan membiarkan musuh mereka beristirahat. Teriakan ribut mendadak di sisi timur bukit menunjukkan ada yang tidak beres. Rupanya beberapa Manusia maju dekat sekali, turun dari kuda mereka, merangkak sampai ke pinggir perkemahan, dan membunuh beberapa Orc, lalu menghilang lagi. Ugluk berlari untuk menghentikan penyerbuan.
Pippin dan Merry bangkit duduk. Penjaga-penjaga mereka, Orc-Orc Isengard, pergi bersama Ugluk. Tapi kalaupun kedua hobbit itu berniat kabur, niat tersebut segera sirna. Sebuah tangan panjang berbulu memegang leher mereka masing- masing dan mendekatkan mereka. Samar-samar mereka menyadari kepala Grishnakh yang besar dan wajahnya yang mengerikan di antara mereka; napasnya yang busuk mengenai pipi mereka. Ia mulai menyentuh dan meraba-

raba mereka. Pippin menggigil ketika jari-jari keras dan dingin meraba-raba sepanjang lehernya.
"Nah, kawan-kawan kecilku!" Grishnakh berbisik perlahan. "Menikmati istirahat kalian yang nyaman? Atau tidak? Tidak begitu enak tempatnya, mungkin: pedang dan cambuk di satu sisi, dan tombak-tombak kejam di sisi lain! Orang- orang kecil tidak seharusnya mencampuri urusan yang terlalu besar untuk mereka." Jari-jarinya masih terus meraba-raba. Matanya menyorotkan sinar seperti api pucat yang panas.
Tiba-tiba suatu pikiran terlintas dalam benak Pippin, seolah langsung ditangkap dari pikiran mendesak musuhnya: Grishnakh tahu tentang Cincin! Ia mencarinya sementara Ugluk sibuk: mungkin ia menginginkannya untuk dirinya sendiri. Ketakutan yang amat sangat mencekam hati Pippin, tapi pada saat bersamaan ia bertanya dalam hati, bagaimana ia bisa memanfaatkan hasrat Grishnakh. "Menurutku kau tidak akan menemukannya dengan cara itu," bisik Pippin. "Itu tidak mudah ditemukan."
"Menemukannya?" kata Grishnakh: jari-jarinya berhenti merangkak dan mencengkeram pundak Pippin. "Menemukan apa? Apa yang kaubicarakan, kawan kecil?"
Sejenak Pippin diam. Lalu, mendadak, dalam kegelapan ia membuat bunyi dalam tenggorokannya: gollum, gollum. "Tidak ada, sayangku," tambahnya. Kedua hobbit merasakan jari Grishnakh berkedut. "Ah ha!" desis goblin itu perlahan. "Itu yang dimaksudnya, bukan? Ah ha! Sangat sangat berbahaya, kawan-kawan kecilku."
"Mungkin," kata Merry, yang sekarang waspada dan menyadari dugaan Pippin. "Mungkin, dan bukan hanya untuk kami. Bagaimanapun, kau sendiri yang paling tahu urusanmu. Kau menginginkannya atau tidak? Dan apa yang mau kauberikan untuk itu?"
"Apakah aku menginginkannya? Apakah aku menginginkannya?" kata Grishnakh, seolah keheranan; tapi tangannya gemetar. "Apa yang mau kuberikan untuk itu? Apa maksudmu?"
"Maksud kami," kata Pippin, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "tak ada

gunanya meraba-raba dalam gelap. Kami bisa membuatmu terhindar dari waktu lama dan kesulitan. Tapi kau harus melepaskan ikatan kaki kami dulu, atau kami tidak akan melakukan apa pun, dan tidak mengatakan apa pun."
"Kawan-kawan kecil yang baik dan tolol," desis Grishnakh, "semua yang kalian miliki, dan semua yang kalian ketahui, akan dikeluarkan dari kalian pada saatnya: semuanya! Kalian akan berharap bisa menceritakan lebih banyak untuk memuaskan sang Pemeriksa, pasti: segera. Kami tidak akan mempercepat pemeriksaan. Oh, tidak! Kalian pikir untuk apa kalian dibiarkan tetap hidup? Kawan-kawan kecil tersayang, percayalah padaku kalau kukatakan itu bukan karena kebaikan hati: bahkan Ugluk pun sama sekali tidak baik hati."
"Aku percaya," kata Merry. "Tapi kau belum berhasil membawa pulang mangsamu. Dan kelihatannya benda itu tidak akan menjadi milikmu, apa pun yang terjadi. Kalau kita sampai di Isengard, bukan Grishnakh yang beruntung: Saruman yang akan mengambil semua yang bisa ditemukannya. Kalau kau menginginkan sesuatu untuk dirimu sendiri, sekaranglah saatnya untuk berurusan."
Grishnakh mulai kehilangan kesabaran. Nama Saruman sepertinya membuat ia sangat murka. Waktu berlalu dan gangguan mulai reda. Ugluk atau Orc Isengard sewaktu-waktu akan kembali. "Apakah kau membawanya salah satu dari kalian?" bentak Grishnakh.
"Gollum, gollum!" kata Pippin.

"Lepaskan ikatan kaki kami!" kata Merry.

Mereka merasa tangan Orc itu gemetar hebat. "Terkutuklah kalian, racun busuk!" desisnya. "Melepaskan ikatan kakimu? Akan kulepaskan semua ikatan di tubuh kalian. Kaukira aku tak mampu menggeledah kalian sampai ke tulang-tulang? Menggeledah! Akan kupotong kalian berdua menjadi serpih-serpih gemetaran. Aku tak perlu bantuan kaki kalian untuk melenyapkan kalian dan untuk memiliki kalian bagi diriku sendiri!"
Mendadak ia mengangkat mereka. Kekuatan tangannya yang panjang dan pundaknya sungguh mengerikan. Ia mengepit mereka masing-masing di satu ketiak, dan menjepit mereka dengan keras ke sisi tubuhnya; sebuah tangan

besar menutup mulut mereka. Lalu ia melompat maju sambil membungkuk rendah. Cepat dan diam-diam ia pergi, sampai tiba di pinggir bukit. Di sana, sambil memilih celah di antara para penjaga, ia menyelinap seperti bayangan jahat dan menghilang dalam kegelapan malam, menuruni lereng dan menjauh ke barat, menuju sungai yang mengalir keluar dari hutan. Di sebelah sana ada tempat terbuka yang luas, dengan hanya satu nyala api.
Setelah melangkah beberapa meter, ia berhenti, mengintip dan mendengarkan. Tak ada yang terdengar atau terlihat. Ia merangkak terus perlahan-lahan, membungkuk sampai hampir terlipat. Lalu ia berjongkok dan mendengarkan lagi. Kemudian ia bangkit berdiri, seolah hendak berlari tiba-tiba. Saat itu juga sosok gelap seorang Penunggang menjulang tepat di depannya. Seekor kuda mendengus dan mendompak-dompak. Seorang pria berteriak.
Grishnakh melemparkan diri ke tanah, menyeret para hobbit ke bawah tubuhnya; lalu ia menghunus pedang. Tak ayal lagi, ia bermaksud membunuh tawanannya, daripada membiarkan mereka lolos atau diselamatkan; tapi ternyata itu menjadi malapetaka untuknya. Pedang itu berdesing samar-samar, dan bersinar redup dalam cahaya api di sebelah kirinya. Sebuah panah berdesing keluar dari kegelapan: dibidik dengan piawai, atau dituntun takdir, dan menembus tangan kanannya. Ia menjatuhkan pedangnya dan berteriak. Ada bunyi derap kaki kuda cepat, dan ketika Grishnakh melompat berdiri dan berlari, ia dilindas dan sebuah tombak menembusnya. Ia mengeluarkan teriakan bergetar yang mengerikan, dan berbaring diam.
Para hobbit tetap berbaring rata di tanah, seperti saat ditinggalkan Grishnakh. Seorang Penunggang Kuda lain melaju cepat untuk membantu kawannya. Entah karena ketajaman penglihatannya, atau karena indra lain, kuda itu mengangkat tubuhnya dan melompati mereka dengan ringan; tapi penunggangnya tidak melihat mereka yang berbaring diselimuti jubah Peri, terlalu kaget untuk sementara, dan terlalu takut untuk bergerak.


Akhirnya Merry bergerak dan berbisik perlahan, "Sejauh ini bagus, tapi bagaimana supaya kita tidak dipanggang?"

Jawabannya datang hampir dalam sekejap. Teriakan Grishnakh membuat Orc- Orc lain waspada. Kalau mendengar teriakan dan bunyi ciutan yang datang dari bukit, kedua hobbit menduga lenyapnya mereka sudah diketahui: Ugluk mungkin sedang memenggal beberapa kepala lagi. Lalu mendadak teriakan balasan para Orc terdengar di sebelah kanan, di luar lingkaran penjagaan, dari arah hutan dan pegunungan. Rupanya Mauhur sudah datang menyerbu para penyerang. Ada bunyi kuda berderap. Para Penunggang menarik lingkaran mereka mendekati bukit, sambil mengambil risiko terkena panah, demi menghindari penyerangan, sementara satu rombongan maju untuk menangani pendatang baru. Mendadak Merry dan Pippin menyadari bahwa tanpa bergerak mereka sudah berada di luar lingkaran: sekarang mereka bisa melarikan diri dengan bebas.
"Sekarang," kata Merry, "kalau saja tangan dan kaki kita bebas, kita mungkin bisa lolos. Tapi aku tak bisa menyentuh simpulnya, juga tak bisa menggigitnya." "Tak perlu mencoba," kata Pippin. "Aku tadi mau memberitahumu: aku sudah berhasil membebaskan tanganku. Lingkaran-lingkaran ini hanya untuk pura-pura. Sebaiknya kau makan sedikit lembas dulu."
Pippin melepaskan tali dari pergelangan tangannya, dan mengeluarkan satu bungkusan. Kuenya hancur, tapi masih bagus, masih dalam bungkusan daunnya. Mereka makan dua atau tiga buah. Rasa kue itu mengembalikan ingatan pada wajah-wajah elok dan bunyi tawa, dan makanan bergizi di masa tenang yang sekarang sudah lama berlalu. Untuk beberapa saat, mereka makan sambil merenung, duduk dalam gelap, tidak menghiraukan teriakan dan bunyi pertempuran di dekat mereka. Pippin yang pertama menyadari kembali keadaan sekitamya.
"Kita harus berangkat," katanya. "Sebentar!" Pedang Grishnakh menggeletak di dekat mereka, tapi terlalu berat dan canggung untuk digunakan Pippin; maka ia merangkak maju, dan ketika menemukan tubuh goblin itu, ia mengeluarkan pisau panjang tajam dari sarungnya. Dengan pisau ini ia memotong ikatan mereka dengan cepat.
"Sekarang pergi!" kata Pippin. "Kalau badan kita sudah lentur lagi, mungkin kita bisa berdiri kembali, dan berjalan. Tapi sebaiknya kita mulai dengan merangkak

dulu."

Mereka merangkak. Tanah kering cukup tebal dan lentur, dan itu membantu mereka; hanya saja rasanya lama sekali mereka maju. Mereka mengitari api dari jarak jauh sekali, dan merangkak perlahan sedikit demi sedikit, sampai tiba di pinggir sungai yang menggeluguk mengalir ke dalam bayang-bayang gelap di bawah tebing-tebingnya yang dalam. Lalu mereka menoleh.
Keributan sudah reda. Rupanya Mauhur dan anak buahnya sudah dibunuh atau diusir. Para Penunggang sudah kembali melakukan penjagaan sunyi yang mengancam. Takkan lama lagi. Malam sudah semakin larut. Di Timur, yang tetap tak berawan, langit mulai kelihatan pucat.
"Kita harus bersembunyi," kata Pippin, "atau kita akan terlihat. Apa artinya kalau para penunggang itu baru menyadari kita bukan Orc setelah kita mati?" ia bangkit berdiri dan mengentakkan kaki. "Tali itu mengiris kakiku seperti kawat, tapi kakiku sudah mulai hangat lagi. Aku bisa berjalan sedikit sekarang. Bagaimana denganmu, Merry?"
Merry berdiri. "Ya," katanya, "aku juga bisa. Lembas itu memang membangkitkan semangat! Juga membuat perasaan lebih nyaman, daripada minuman Orc. Aku bertanya-tanya, minuman itu dibuat dari apa. Sebaiknya tidak tahu, kukira. Mari kita minum air sedikit, untuk menghilangkan pikiran tentang itu!"
"Jangan di sini, tebingnya terlalu terjal," kata Pippin. "Maju dulu!"

Mereka membelok dan berjalan berdampingan perlahan-lahan sepanjang tepi sungai. Di belakang mereka, cahaya mulai cerah di Timur. Sambil berjalan, mereka bercakap-cakap ringan dalam gaya hobbit tentang semua yang telah terjadi sejak mereka ditangkap. Kalau mendengar mereka, takkan ada yang menduga betapa mereka sudah disiksa dengan kejam, dan sudah berada dalam bahaya mengerikan menuju penyiksaan dan kematian; atau bahwa sekarang hanya ada sedikit kemungkinan mereka bisa bertemu lagi dengan kawan-kawan, atau bisa selamat.
"Kelihatannya keadaanmu lumayan baik, Master Took," kata Merry. "Kau bisa mengisi hampir satu bab dalam buku Bilbo tua, kalau aku punya kesempatan melapor padanya. Kerja bagus: terutama menduga permainan licik bajingan

berbulu itu, dan memanfaatkannya. Tapi aku bertanya-tanya, adakah yang akan menelusuri jejakmu dan menemukan brosmu itu? Aku tak ingin kehilangan brosku, tapi aku khawatir milikmu sudah hilang selamanya.”
"Aku perlu belajar lagi kalau ingin bisa sejajar denganmu. Dan sekarang Sepupu Brandybuck akan berjalan di depan. Di sinilah perannya dimulai. Kurasa kau tidak begitu tahu di mana kita sekarang; tapi aku memanfaatkan waktuku di Rivendell agak lebih baik. Kita sedang berjalan ke barat, sepanjang Entwash. Ujung Pegunungan Berkabut ada di depan, dan Hutan Fangorn."
Ketika ia berbicara, pinggir hutan yang gelap itu menjulang di depan mereka. Malam seolah melarikan diri ke bawah pepohonannya yang besar, merangkak menghindari Fajar yang mulai datang.
"Pimpinlah maju, Master Brandybuck!" kata Pippin. "Atau pimpin pulang kembali! Kita sudah diperingatkan terhadap Fangorn. Tapi orang berpengetahuan luas sepertimu pasti tidak lupa itu."
"Aku tidak lupa," jawab Merry, "tapi hutan itu tampak lebih baik bagiku, daripada

kembali masuk ke tengah pertempuran."



Merry memimpin perjalanan masuk ke bawah dahan-dahan besar pepohonan. Pohon-pohon di situ tampak tua tak terduga usianya. Janggut-janggut besar tanaman lumut menggantung dari pepohonan, bergoyang-goyang ditiup angin. Dan balik bayangan, kedua hobbit mengintip, memandang kembali ke bawah lereng: sosok-sosok kecil bersembunyi, yang dalam cahaya remang-remang tampak seperti anak-anak Peri di masa lalu, mengintip keluar dan Hutan Liar, kagum saat pertama kali melihat Fajar.
Jauh di seberang Sungai Besar, dan Negeri-Negeri Cokelat, berleague-league jauhnya, Fajar datang, merah seperti nyala api. Terompet perburuan berbunyi nyaring menyambutnya. Para Penunggang Rohan tiba-tiba sibuk kembali. Terompet sahut-menyahut silih berganti.
Jernih di udara dingin, Merry dan Pippin mendengar ringkikan kuda-kuda perang, dan nyanyian tiba-tiba dari banyak orang. Pinggiran Matahan terangkat, lengkungannya menyala di atas batas dunia. Lalu dengan teriakan dahsyat para

Penunggang Rohan menyerbu dari Timur; cahaya merah bersinar-sinar di atas logam dan tombak. Orc-Orc menjerit dan menembakkan semua panah yang masih tersisa. Kedua hobbit melihat beberapa penunggang kuda jatuh, tapi barisan mereka bertahan di bukit dan selebihnya, berbalik lalu menyerbu lagi. Kebanyakan Orc perampok yang masih hidup kemudian berpencar dan lari ke sana kemari, dikejar satu-satu sampai mati. Tapi satu gerombolan, yang tetap bersama-sama di suatu pojok gelap, maju dengan tekad baja ke arah hutan. Lurus mendaki lereng, mereka datang ke arah kedua pengintip. Sekarang mereka sudah mendekat, dan tampaknya sudah pasti mereka akan lolos: mereka sudah membabat tiga Penunggang yang menghalangi jalan mereka.
"Kita sudah terlalu lama menonton," kata Merry. "Itu Ugluk! Aku tak ingin bertemu dia lagi." Kedua hobbit membalikkan badan, dan Iari masuk jauh ke dalam kegelapan hutan.
Maka mereka tidak melihat bagian terakhir, di mana Ugluk disusul dan ditaklukkan persis di tepi Hutan Fangorn. Di sana ia akhirnya dibunuh oleh Eomer, Marsekal Ketiga dari Mark, yang turun dari kudanya dan bertempur dengannya pedang melawan pedang. Dan di seluruh padang luas itu, para Penunggang yang bermata tajam memburu Orc-Orc yang sudah lolos dan masih punya kekuatan untuk terbang.
Setelah menumpuk kawan-kawan mereka yang tewas dalam satu gundukan dan menyanyikan lagu-lagu pujian, para Penunggang membuat api besar dan menebarkan abu musuh-musuh mereka. Begitulah berakhir penyerbuan itu, dan tidak ada berita tentangnya yang kembali, baik ke Mordor maupun Isengard; namun asap pembakaran itu membubung tinggi ke langit, dan terlihat oleh banyak mata yang waspada.

BAB 4

TREEBEARD



Sementara itu, kedua hobbit berlari secepat mungkin ke dalam hutan gelap dan kusut itu, mengikuti garis aliran sungai, ke arah barat dan mendaki lereng pegunungan, masuk semakin jauh ke dalam Fangorn. Lambat laun ketakutan mereka pada Orc mereda, dan kecepatan berjalan mereka mengendur. Muncul perasaan aneh yang terasa mencekik, seakan-akan udara terlalu tipis atau terlalu sedikit untuk bernapas.
Akhirnya Merry berhenti. "Kita tak bisa berjalan terus seperti ini," ia terengah- engah. "Aku ingin mendapat sedikit udara segar."
"Baiklah, mari kita minum," kata Pippin. "Aku haus sekali." ia merangkak menaiki akar pohon besar yang melingkar masuk ke dalam sungai, dan dengan membungkuk ia mengambil sedikit air dalam tangannya yang ditangkupkan. Air itu jernih dan dingin, dan ia minum beberapa teguk. Merry mengikutinya. Air itu menyegarkan mereka, dan seolah membuat gembira; untuk beberapa saat, mereka duduk bersama di pinggir sungai, membasahi kaki dan tungkai yang sakit, sambil memandang ke sekeliling, melihat pepohonan yang berdiri diam di sekitar mereka, baris demi baris, sampai pepohonan itu mengabur dalam cahaya senja kelabu ke semua arah.
"Kuharap kau belum membuat kita tersesat?" kata Pippin, bersandar ke sebatang pohon besar. "Setidaknya kita bisa mengikuti aliran sungai ini, Entwash atau apa namanya, dan keluar lagi melalui jalan kita masuk?”
"Bisa, kalau kaki kita mau melakukannya," kata Merry, "dan kalau kita bisa

bernapas dengan benar."

"Ya, memang semuanya remang-remang dan pengap di dalam sini," kata Pippin. "Entah mengapa, ini mengingatkan aku pada ruangan kuno di Rumah Besar Took, di Smials di Tuckborough: ruangan itu besar, perabotnya belum pernah dipindahkan atau diganti selama beberapa generasi. Mereka. bilang, Old Took tinggal di sana tahun demi tahun. Ruangan itu semakin tua dan lusuh bersamaan dengan dirinya dan ruangan itu tak pernah diubah sejak dia meninggal, seabad

yang lalu. Dan Old Gerontius adalah kakek buyutku: begitulah ceritanya. Tapi itu bukan apa-apa dibandingkan kesan kuno dalam hutan ini. Lihat semua janggut dan kumis lumut yang menangis dan menggantung! Dan kebanyakan pohon tampaknya tertutup daun kering pecah-pecah yang tak pernah jatuh. Semrawut. Aku tak bisa membayangkan pemandangan musim semi di sini, kalau pernah ada musim semi datang apalagi kalau ada pembersihan musim semi."
"Tapi Matahari setidaknya pasti mengintip sesekali," kata Merry. “Di sini sama sekali tidak tampak atau terasa seperti uraian Bilbo tentang Mirkwood. Di sana semuanya gelap dan hitam, dan menjadi tempat bermuKini segala sesuatu yang hitam. Di sini hanya remang-remang dan penuh pepohonan menyeramkan. Tak bisa dibayangkan hewan hidup di sini, atau tinggal lama di sini."
"Tidak, begitu juga hobbit," kata Pippin. "Dan aku tak senang membayangkan mencoba melintasinya. Tak ada yang bisa dimakan sejauh bermil-mil, kuduga. Bagaimana keadaan persediaan bahan makanan kita?"
"Tipis," kata Merry. "Kita lari hanya membawa beberapa kantong lembas, dan

meninggalkan yang lainnya." Mereka mengamati kue Peri yang tersisa: pecahan- pecahan yang pas-pasan untuk sekitar lima hari, itu saja. "Dan tidak ada selimut," kata Merry. "Kita akan kedinginan malam ini, ke mana pun kita berjalan."
"Well, sebaiknya kita memutuskan arah jalannya sekarang," kata Pippin. "Pagi sudah semakin larut."
Tepat pada saat itu muncul seberkas cahaya kekuningan, agak lebih jauh di dalam hutan: berkas-berkas sinar matahari tampaknya mendadak menembus atap hutan.
"Halo!" kata Merry. "Matahari pasti masuk ke awan-awan ketika kaa berada di bawah pepohonan ini, dan sekarang dia sudah keluar lagi; atau kalau tidak, dia sudah naik cukup tinggi untuk bisa menembus suatu lubang. Tidak begitu jauh ayo kita pergi memeriksanya!"


Ternyata jaraknya lebih jauh daripada yang mereka sangka. Tanah masih mendaki curam, dan mulai penuh bebatuan. Cahaya itu semakin luas ketika

mereka maju terus, dan tak lama kemudian mereka melihat sebuah dinding batu karang di depan: sisi sebuah bukit, atau ujung sebuah akar panjang yang menjorok keluar dari pegunungan yang jauh. Tak ada pohon tumbuh di atasnya, dan matahari jatuh penuh ke wajahnya yang berbatu. Ranting-ranting pohon di kakinya terentang kaku dan diam, seolah menggapai kehangatan. Di mana tadi semuanya kelihatan begitu lusuh dan kelabu, hutan itu sekarang mengilap penuh warna cokelat yang kaya, dan warna mulus hitam-kelabu kulit batang pohon yang seperti dipoles. Batang-batang potion bersinar lembut kehijauan, seperti rumput muda: mereka seperti berada di tengah awal musim semi.
Pada wajah tembok batu ada sesuatu seperti tangga: mungkin alami, dan terjadi karena pecahnya bebatuan dan dimakan cuaca, sebab permukaannya kasar dan tidak rata. Tinggi di atas, hampir satu permukaan dengan puncak-puncak pohon di hutan, ada dataran di bawah batu karang. Tak ada yang tumbuh, kecuali sedikit rumput dan alang-alang di ujungnya, dan sebuah tunggul pohon tua dengan hanya dua dahan tersisa: hampir tampak seperti sosok pria tua keriput, berdiri di sana, berkedip-kedip di bawah cahaya matahari pagi.
"Ayo naik!" kata Merry dengan riang. "Mari kita hirup udara segar, dan melihat pemandangan daratan!"
Mereka mendaki dan merangkak menaiki batu karang. Seandainya tangga itu memang sengaja dibuat, maka pasti untuk dipanjat kaki yang lebih besar dan tungkai yang lebih panjang daripada kaki mereka. Mereka terlalu bergairah, hingga tidak menyadari bahwa mereka sudah pulih dari goresan dan luka-luka saat ditangkap, dan bahwa semangat mereka pun sudah kembali. Akhirnya mereka sampai ke pinggir dataran, hampir dekat kaki tunggul pohon tua itu; lalu mereka melompat naik dan menoleh sambil membelakangi bukit, menarik napas panjang, dan memandang ke arah timur. Mereka melihat bahwa mereka hanya masuk sekitar tiga atau empat mil ke dalam hutan: kepala-kepala pohon berbaris menuruni lereng-lereng, menuju padang. Di sana, dekat ujung hutan, kepulan asap hitam keriting seperti menara-menara tinggi naik ke atas, bergoyang dan melayang ke arah mereka.
"Angin sudah berganti arah," kata Merry. "Sudah ke arah timur lagi. Rasanya

sejuk di sini."

"Ya," kata Pippin, "aku khawatir cahaya ini hanya lewat, dan sebentar lagi semuanya akan kelabu lagi. Sayang sekali! Hutan tua lusuh ini kelihatan begitu berbeda di bawah cahaya matahari. Aku merasa hampir menyukai tempat ini."


"Hampir menyukai Hutan ini! Bagus sekali! Sangat baik hati," kata sebuah suara asing. "Berbaliklah dan biarkan aku memandang wajah kalian. Aku tadi hampir merasa tidak menyukai kalian berdua, tapi janganlah kita terburu-buru. Putar!" Sebuah tangan besar dengan buku jari berbonggol-bonggol memegang pundak mereka, dan mereka pun diputar, lembut tapi tegas; lalu dua tangan besar mengangkat mereka.
Mereka menatap sebuah wajah yang luar biasa aneh. Wajah milik sosok serupa Manusia, hampir seperti troll, tingginya sekitar empat belas kaki, kekar, dengan kepala tinggi, dan hampir tidak ada lehernya. Entah ia mengenakan pakaian seperti kulit kayu hijau dan kelabu, ataukah itu kulitnya sendiri, sulit dikatakan. Setidaknya tangannya, di bagian yang dekat ke batang tubuhnya, tidak keriput, tapi tertutup kulit mulus berwarna cokelat. Kakinya yang besar masing-masing mempunyai tujuh jari. Bagian bawah wajahnya yang panjang tertutup janggut kelabu panjang, tebal, hampir seperti ranting di dekat akar-akarnya, tipis dan berlumut pada ujungnya. Tapi saat itu para hobbit hanya memperhatikan matanya. Mata yang dalam itu sekarang meneliti mereka, lambat dan serius, tapi sangat tajam. Mata itu cokelat, dengan bercak cahaya hijau. Kelak Pippin sering mencoba menguraikan kesan pertamanya tentang mata tersebut.
"Seolah-olah ada sumur yang sangat dalam di balik matanya, terisi berabad- abad ingatan dan pikiran yang lambat, panjang, dan tenang; tapi permukaannya bersinar-sinar dengan masa kini: seperti matahari yang bercahaya di atas daun- daun paling luar sebuah pohon besar, atau di atas riak-riak telaga yang sangat dalam. Entah ya, tapi rasanya seakan-akan sesuatu yang tumbuh di tanah bisa dikatakan tertidur, atau merasakan dirinya sendiri, sebagai sesuatu di antara ujung akar dan ujung daun, di antara tanah dalam dan langit mendadak terbangun dan mengamatimu dengan perhatian lamban, seperti yang

diberikannya pada masalah-masalah di dalam dirinya sendiri selama bertahun- tahun yang tak terhingga."
"Hrum, Hum," gumam suara itu, suara besar seperti alat musik tiup. "Aneh sekali! Jangan terburu-buru, itu motoku. Tapi kalau aku melihat kalian sebelum mendengar suara kalian aku suka suara kalian: suara-suara kecil manis, mengingatkanku akan sesuatu yang tak bisa kuingat kalau aku melihat kalian sebelum mendengar suara kalian, pasti kalian akan kuinjak, dan baru menyadari kekeliruanku sesudahnya, sebab kupikir kalian Orc-Orc kecil. Kalian aneh sekali, memang aneh. Akar dan ranting, aneh sekali!"
Pippin, meski masih kaget, sudah tidak merasa takut lagi. Di bawah pandangan mata itu, ia merasakan ketegangan aneh, tapi bukan ketakutan. "Tolong," kata Pippin, "siapa kau? Dan apakah kau ini sebenarnya?"
Sorot aneh melintas dalam mata tua itu, semacam sikap hati-hati; sumur yang dalam itu tertutup kini. "Hram, nah," jawab suara itu; "well, aku ini Ent, atau begitulah sebutanku. Ya, Ent, itulah sebutannya. Sang Ent, itulah aku, begitu bisa dikatakan dalam gaya bahasamu. Fangorn adalah namaku menurut beberapa orang; yang lain menyebutku Treebeard. Treebeard saja."
"Ent?" kata Merry. "Apa itu? Tapi bagaimana kau memanggil dirimu sendiri? Siapa namamu yang sebenarnya?"
"Hei, hei!" jawab Treebeard. "Hei! Itu namanya membuka rahasia! Jangan terburu-buru. Dan aku yang bertanya di sini. Kau berada di negeriku. Kau ini apa? Aku heran. Aku tidak tahu jenis kalian. Rasanya kalian tidak ada dalam daftar-daftar kuno yang kupelajari ketika aku masih muda. Tapi itu sudah sangat sangat lama di masa lalu, dan mungkin mereka sudah membuat daftar baru. Sebentar! Sebentar! Bagaimana ya sajaknya?


Kini pelajari pengetahuan Makhluk Dunia!

Pertama-tama sebut yang empat, bangsa-bangsa merdeka: Yang tertua, anak-anak Peri;
Kurcaci sang penggali, gelap rumahnya;

Ent yang lahir di bumi, setua pegunungan yang dihuni

Manusia, insan fana, majikan kuda-kuda:



Hm, hm, hm.

Berang-berang si pembangun, kijang si peloncat, Beruang pemburu lebah, babi hutan petarung gegabah; Anjing si lapar, kelinci si penakut …


hm, hm.

Rajawali di sarang, lembu di rerumputan, Rusa bertanduk; elang yang tercepat,
Angsa si putih halus, ular yang dingin mulus …



Huum, hm, huum, hm, bagaimana terusannya? Rum tam, rum tam, rumti tum tam. Daftarnya panjang sekali. Tapi bagaimanapun kalian tidak termasuk di mana-mana!"
"Rupanya kami selalu tidak termasuk dalam daftar-daftar lama dan dongeng-

dongeng kuno," kata Merry. "Tapi kami sudah ada untuk waktu cukup lama. Kami hobbit."
"Mengapa tidak membuat baris baru saja?" kata Pippin.

"Hobbit yang separuh tumbuh, penghuni lubang. Masukkan kami di antara yang empat, setelah Manusia (Bangsa Besar) dan bereslah sudah."
"Hm! Tidak jelek, tidak jelek," kata Treebeard. "Cukup lumayan. Jadi, kalian tinggal di lubang, eh? Kedengarannya tepat dan pantas. Tapi siapa yang memanggil kalian hobbit? Itu tidak seperti kata dalam bahasa Peri. Bangsa Peri- lah yang membuat semua kata-kata kuno: mereka yang memulainya."
"Tidak ada yang menyebut kami hobbit; kami sendiri menamakan diri kami begitu," kata Pippin.
"Hum, hm! Ayolah! Jangan terburu-buru! Kalian menyebut diri kalian sendiri hobbit? Tapi tidak seharusnya kalian ceritakan itu pada siapa pun. Nanti tahu- tahu kalian menyatakan nama kalian yang sebenarnya, kalau tidak hati-hati." "Kami tidak perlu berhati-hati tentang itu," kata Merry. "Kalau kau mau tahu, aku

seorang Brandybuck, Meriadoc Brandybuck, meski kebanyakan orang memanggilku Merry saja."
"Dan aku dari keluarga Took, Peregrin Took, tapi biasanya dipanggil Pippin, atau bahkan Pip."
"Hm, tapi kalian memang bangsa yang tergesa-gesa, rupanya," kata Treebeard. "Aku merasa terhormat mendapat kepercayaan kalian, tapi sebaiknya kalian jangan terlalu bebas sekaligus. Ada Ent, dan ada Ent, tahu? Atau ada Ent dan ada hal-hal yang tampak seperti Ent, tapi sebenarnya bukan Ent. Aku akan memanggil kalian Merry dan Pippin nama-nama bagus. Tapi aku tidak akan menceritakan namaku pada kalian, setidaknya belum sekarang." Sorot aneh setengah tahu dan setengah geli memancar dengan binar-binar hijau dari dalam matanya. "Pertama, hal itu akan makan waktu lama: namaku tumbuh sepanjang waktu, dan aku sudah hidup lama sekali; jadi, namaku seperti cerita panjang. Nama sebenarnya selalu menceritakan kisah dari benda-benda yang memiliki nama itu, dalam bahasaku, bahasa Ent kuno, bisa dikatakan begitu. Bahasa itu bagus, tapi makan waktu lama sekali untuk mengatakan sesuatu dalam bahasa itu, karena kami tak pernah mengatakan apa pun dalam bahasa itu, kecuali memang pantas menghabiskan waktu lama untuk mengatakannya, dan mendengarkannya.
"Tapi sekarang," matanya menjadi sangat cerah dan menyorotkan "masa kini", juga tampak semakin mengecil dan hampir-hampir tajam "apa yang sedang terjadi? Apa yang kalian lakukan di dalamnya? Aku bisa melihat dan mendengar (dan mencium dan merasakan) banyak dari … dari … dari a-lalla-lalla-rumba- kamandalind-or-burume ini. Maafkan aku: itu sebagian dari sebutanku untuk itu; aku tidak tahu apa kata itu dalam bahasa luar: maksudku, di mana kita berada, di mana aku berdiri dan memandang pagi yang indah, dan berpikir tentang Matahari, rumput di luar hutan, kuda-kuda, awan-awan, dan penyingkapan dunia. Apa yang terjadi? Apa rencana Gandalf? Dan … burarum ini" ia membuat bunyi menderum besar, seperti bunyi sumbang pada sebuah organ besar "Orc-Orc ini, dan Saruman muda di Isengard? Aku senang berita. Tapi jangan terlalu cepat." "Banyak yang sedang terjadi," kata Merry, "dan meski kami mencoba untuk

cepat, akan makan waktu lama sekali untuk menceritakannya padamu. Tapi katamu kami jangan terburu-buru. Perlukah kami menceritakan sesuatu padamu sesegera ini? Tidak sopankah menurutmu, kalau kami bertanya apa yang akan kaulakukan dengan kami, dan pada siapa kau berpihak? Dan apakah kau kenal Gandalf?"
"Ya, aku kenal dia: satu-satunya penyihir yang benar-benar peduli pada pohon- pohon," kata Treebeard. "Kau kenal dia?"
"Ya," kata Pippin sedih, "kami kenal dia. Dia kawan yang hebat, dan waktu itu dia menjadi pemandu kami."
"Kalau begitu, aku bisa menjawab pertanyaanmu yang lain," kata Treebeard. "Aku tidak akan melakukan sesuatu pada kalian: tidak kalau yang kaumaksud melakukan sesuatu tanpa seizinmu. Mungkin kita bisa melakukan beberapa hal bersama-sama. Aku tidak tahu tentang berpihak. Aku menuruti jalanku sendiri; tapi mungkin jalanmu akan sejalan dengan jalanku untuk beberapa saat. Tapi kau bicara tentang Master Gandalf, seolah dia ada dalam cerita yang sudah berakhir."
"Ya, memang," kata Pippin sedih. "Cerita itu sendiri tampaknya masih berlanjut, tapi aku khawatir Gandalf sudah keluar dari cerita itu."
"Hoo, ah, masa!" kata Treebeard. "Huum, hm, ah ya sudah." ia berhenti, menatap kedua hobbit itu lama sekali. "Hum, ah, ya sudah, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Masa sih?"
"Kalau kau mau mendengar lebih banyak," kata Merry, "kami akan menceritakannya padamu. Tapi akan makan waktu cukup lama. Tidakkah kau mau menurunkan kami? Tak bisakah kita duduk bersama di sini, di bawah sinar matahari, selama dia masih bersinar? Kau pasti lelah mengangkat kami terus." "Hm, lelah? Tidak, aku tidak lelah. Aku tidak mudah lelah. Dan aku tidak duduk. Aku tidak begitu … hm … lentur. Tapi … tuh, Matahari akan masuk. Mari kita tinggalkan … apa namanya menurutmu tadi?"
"Bukit?" usul Pippin. "Dataran? Tangga?" usul Merry.

Treebeard mengulang kata-kata itu sambil merenung. "Bukit. Ya, itu dia. Tapi itu kata yang terburu-buru untuk sesuatu yang sudah berdiri di sini sejak bagian

dunia ini dibentuk. Ya sudah. Mari kita meninggalkannya, dan pergi." "Ke mana kita akan pergi?" tanya Merry.
"Ke rumahku, atau salah satu rumahku," jawab Treebeard. "Jauhkah itu?"
"Aku tidak tahu. Bagimu mungkin jauh, barangkali. Apakah itu penting?"

"Yah, begini … kami kehilangan semua barang kami," kata Merry, "kami hanya

punya sedikit makanan."

"Oh! Hmm! Kalian tidak perlu cemas tentang itu," kata Treebeard. "Aku bisa memberi kalian minuman yang akan membuat kalian tetap hijau dan tumbuh untuk waktu sangat sangat lama. Dan kalau kita memutuskan untuk berpisah, aku bisa menurunkan kalian di luar negeriku, di mana saja kalian pilih. Mari kita pergi!"


Dengan lembut tapi erat, Treebeard memegang kedua hobbit itu, satu di lengkungan masing-masing lengannya, lalu ia mengangkat satu kakinya yang besar, kemudian yang satunya lagi, memindahkannya ke ujung dataran. Jari-jari kakinya yang seperti akar mencengkeram batu-batu karang. Lalu dengan hati- hati dan khidmat ia menuruni tangga demi tangga, dan sampai ke dasar Hutan. Segera ia berjalan dengan langkah-langkah panjang tegas melalui pepohonan, semakin dalam masuk ke hutan, tak pernah jauh dari sungai, mendaki terus lereng pegunungan. Banyak pohon tampak tertidur, atau sama sekali tidak menyadari kehadiran Treebeard, seolah ia hanyalah makhluk yang sekadar lewat; tapi beberapa ada yang gemetar, dan beberapa mengangkat dahan- dahan mereka ke atas kepala ketika ia mendekat. Sementara berjalan, ia berbicara sendiri dengan suarasuara indah bagaikan musik.
Kedua hobbit diam sejenak. Anehnya, mereka merasa aman dan nyaman, dan banyak yang mereka pikirkan dan tanyakan dalam hati. Akhirnya Pippin memberanikan diri berbicara lagi.
"Tolong, Treebeard," katanya, "bisakah aku menanyakan sesuatu? Kenapa Celeborn memperingatkan kami tentang hutanmu? Dia bilang, kami jangan mengambil risiko tersesat di dalamnya."

"Hmm, begitukah?" gumam Treebeard. "Aku juga mungkin akan mengatakan hal semacam itu, kalau kau berjalan ke arah lain. Jangan mengambil risiko tersesat di hutan Laurelind Orcnan! Itu sebutan bangsa Peri untuknya, tapi sekarang mereka memperpendek namanya: Lothlorien mereka menyebutnya. Mungkin mereka benar: mungkin dia sudah memudar, tidak tumbuh lagi. Negeri Lembah Nyanyian Emas, dulu di zaman kuno. Sekarang dia menjadi Bunga Mimpi. Ah well! Tapi itu tempat ajaib, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Aku heran kalian bisa keluar, tapi lebih heran lagi bahwa kalian bisa masuk: itu belum pernah terjadi pada orang asing selama bertahun-tahun. Itu negeri aneh.” "Begitu juga negeri ini. Orang-orang banyak menemukan kesedihan di sini. Yah, memang begitu, kesedihan. Laurelind Orcnan lindel Orcndor malinornelion ornemalin," Treebeard bergumam pada dirinya sendiri. "Mereka di sana agak ketinggalan dari dunia, kupikir," katanya. "Baik negeri ini, maupun yang lain di luar Hutan Emas, sudah tidak seperti dulu, ketika Celeborn masih muda. Tapi:


Taurelilomea-tumbalemorna Tumbaletaurea Lomeanor. (lihat Apendiks F tentang

Ent)



begitu biasanya mereka bilang. Banyak perubahan, tapi masih ada beberapa yang bertahan."
"Apa maksudmu?" kata Pippin. "Apa yang bertahan?"

"Pohon-pohon dan Ent," kata Treebeard. "Aku sendiri tak mengerti semua yang berlangsung, jadi aku tak bisa menjelaskannya padamu. Beberapa di antara kami masih Ent sejati, dan cukup bersemangat menurut gaya kami, tapi banyak yang mulai mengantuk, jadi kepohon-pohonan, bisa dibilang begitu. Kebanyakan pohon memang hanya pohon, tentu; tapi banyak yang hanya setengah terjaga. Beberapa cukup sadar, dan beberapa lagi mulai menjadi … ah, agak menyerupai Ent. Itu terjadi sepanjang waktu.
"Kalau itu terjadi pada sebatang pohon, akan kaulihat bahwa beberapa mempunyai hati yang busuk. Bukan tergantung kayunya: bukan itu maksudku. Malah aku kenal beberapa pohon willow yang baik di dekat Entwash, tapi

mereka sudah hilang lama sekali, sayang! Batang mereka agak kosong, malah hampir hancur berantakan, tapi mereka tenang dan manis seperti daun muda. Lalu ada beberapa pohon di lembah di bawah pegunungan, sehat sekali, tapi berhati busuk. Hal semacam itu tampaknya menyebar. Dulu ada beberapa bagian berbahaya di negeri ini. Masih ada beberapa bercak hitam."
"Seperti Old Forest di utara sana, maksudmu?" tanya Merry.

"Ya, ya, semacam itu, tapi jauh lebih buruk. Aku tidak ragu, masih ada sedikit bayangan Kegelapan Besar di utara sana; dan ingataningatan buruk diwariskan. Tapi ada lembah-lembah kosong di negeri ini, di mana Kegelapan belum pernah tersingkap, dan pohon-pohonnya lebih tua bahkan daripadaku. Meski begitu, kami melakukan sebisa kami. Kami menolak pendatang asing dan yang gila- gilaan; kami melatih dan mengajar, berjalan dan menyiangi.”
"Kami gembala pohon, kami Ent-Ent tua. Hanya sedikit dari kami yang tersisa. Konon domba lambat laun menyerupai gembala, dan gembala menyerupai domba; dan dua-duanya tak punya waktu lama di dunia. Lebih cepat dan lebih dekat antara pohon dan Ent, dan mereka berjalan bersama selama berabad- abad. Karena Ent lebih seperti Peri kurang tertarik pada diri sendiri dibanding Manusia, dan lebih pintar menyusup ke dalam hal-hal lain. Meski begitu, Ent lebih seperti Manusia, lebih gampang berubah daripada Peri, dan lebih cepat menyerap warna lingkungan luar, bisa dibilang begitu. Atau lebih baik daripada keduanya: karena mereka lebih kokoh dan lebih lama memikirkan sesuatu. "Beberapa saudaraku sekarang tampak seperti pohon, dan perlu sesuatu yang hebat untuk membangunkan mereka; mereka hanya berbicara dengan berbisik. Tapi beberapa pohonku bisa melenturkan anggota tubuhnya, dan banyak yang bisa berbicara padaku. Tentu saja itu semua dimulai oleh bangsa Peri. Peri-lah yang membangunkan pohon-pohon, mengajari mereka berbicara, dan mempelajari bahasa mereka. Peri-Peri di masa lampau selalu ingin berbicara pada semuanya. Tapi kemudian Kegelapan Besar datang, dan mereka menyeberangi Samudra, atau lari ke lembah-lembah jauh, menyembunyikan diri dan membuat lagu-lagu tentang masa yang takkan pernah datang lagi. Takkan pernah. Ya, ya, dulu semuanya satu hutan, dari sini sampai ke Pegunungan

Lune, dan di sini ini hanya Ujung Timur.

"Itulah masa-masa lengang! Saat itu aku bisa berjalan dan bernyanyi seharian, dan tidak mendengar suara lain kecuali gema suaraku sendiri di bukit-bukit kosong. Hutannya seperti hutan Lothlorien, hanya saja lebih tebal, kuat, dan muda. Dan harumnya udara! Aku suka menghabiskan waktu seminggu hanya bernapas saja."
Treebeard kemudian diam, berjalan terus; meski begitu, langkah kakinya yang besar hampir tidak berbunyi. Lalu ia mulai bersenandung lagi, dan beralih ke dalam nyanyian yang digumamkan. Lambat laun kedua hobbit menyadari bahwa ia sedang bernyanyi untuk mereka:


Di padang pohon willow di Tasarinan, aku berjalan di Musim Semi. Di Nan-tasarion … Ah! pemandangan dan wanginya Musim Semi! Dan aku berkata baguslah ini.
Aku menjelajahi hutan pohon elm di Ossiriand di Musim Panas.

Ah! cahaya dan musik dekat Seven Rivers di Ossir di Musim Panas! Kupikir inilah yang terbaik dan pantas.
Aku datang ke pohon pohon beech di NeldOrcth di Musim Gugur.

Ah! warna emas dan merah dan desah dedaunan di Musim Gugur di Taur-na- neldor!l
Dan itu sudah melebihi hasratku.

Di antara pohon pohon cemara aku mendaki, di Musim Dingin di dataran tinggi

Dorthonion.

Ah! angin dan warna putih dan dahan-dahan hitam kelam Musim Dingin di atas

Orod-na-Thon!

Suaraku melengking bernyanyi di awang-awang.

Dan kini semua negeri itu ada di bawah gelombang, Dan aku berjalan di

Ambarona, di Tauremorna, di Aldalome, Di daratanku sendiri, di negeri Fangorn, Di mana akar-akar tumbuh memanjang,
Dan tebalnya tahun melebihi tebalnya daun-daun Di Tauremornalome.



Lagunya berakhir, dan Treebeard berjalan terus dalam diam; di seluruh hutan, sejauh telinga bisa mendengar, tak ada bunyi sama sekali.


Hari semakin gelap, dan senja sudah terjalin di seputar batang-batang pepohonan. Akhirnya kedua hobbit melihat daratan curam gelap, menjulang kabur di depan mereka: mereka sudah sampai ke kaki pegunungan dan ke akar- akar hijau Methedras yang tinggi. Menuruni sisi bukit, hulu Sungai Entwash melompat keluar dari mata airnya jauh tinggi di atas, meluncur berisik dari tangga ke tangga, menyambut mereka. Di sebelah kanan sungai ada lereng panjang ditumbuhi rumput, tampak kelabu di waktu senja. Tak ada pohon tumbuh di sana, dan tempat itu terbuka ke langit; bintang-bintang sudah bersinar di danau-danau di antara pantai-pantai awan.
Treebeard mendaki lereng, hampir tidak mengurangi kecepatannya. Sekonyong- konyong kedua hobbit melihat lubang besar di depan mereka. Dua pohon besar berdiri di sana, satu di setiap sisi, seperti tiang gerbang yang hidup; tapi tak ada gerbang, kecuali dahan-dahan mereka yang saling melintang dan berjalin. Ketika Ent tua itu mendekat, pohon-pohon tersebut mengangkat dahan mereka, semua daunnya bergetar dan berdesir. Keduanya adalah pohon yang hijau abadi, dedaunan mereka gelap mengilat, bersinar-sinar dalam cahaya senja. Di balik mereka ada sebidang tanah luas dan datar, seperti lantai sebuah aula besar yang dipahat di sisi bukit. Dindingnya menjulang terjal ke atas, sampai setinggi sekitar lima puluh kaki. Di sepanjang setiap dinding berdiri jajaran pohon yang juga semakin tinggi ketika mereka masuk.
Di ujung terjauh, dinding batu karang itu curam, tapi di dasarnya ada cekungan berbentuk teluk dangkal dengan atap melengkung: satusatunya atap aula, kecuali dahan-dahan pohon yang ujung sebelah dalamnya menutupi seluruh tanah, dan hanya menyisakan jalan terbuka lebar di tengah. Sebuah sungai kecil lolos dari mata air di atas, meninggalkan alirannya yang utama, jatuh berdenting menuruni wajah curam dinding itu, mengalir dalam tetesan perak, seperti tirai halus di depan teluk beratap lengkung. Airnya terkumpul lagi dalam sebuah

mangkuk batu di tanah, di tengah pepohonan. Dari sana airnya tumpah mengalir di sisi jalan terbuka, keluar dan bergabung lagi dengan Entwash dalam perjalanannya melalui hutan.


"Hm! Ini dia!" kata Treebeard, memecah keheningannya yang lama. "Aku sudah membawa kalian sejauh sekitar tujuh puluh ribu langkah Ent, tapi bagaimana ukurannya di negeri kalian, aku tidak tahu. Bagaimanapun, kita sudah dekat kaki Gunung Terakhir. Sebagian nama tempat ini mungkin Wellinghall, kalau diganti ke dalam bahasa kalian. Aku menyukainya. Kita akan tinggal di sini malam ini." ia menurunkan mereka di atas rumput, di antara jajaran pohon; dan mereka mengikutinya ke arah atap lengkung yang besar. Sekarang kedua hobbit memperhatikan bahwa ketika Treebeard berjalan, lututnya hampir tidak melipat, tapi kakinya membuka dalam langkah besar. Ia menurunkan jarinya yang besar (memang jarinya besar, dan lebar sekali) lebih dulu ke tanah, sebelum bagian lain kakinya.
Untuk beberapa saat, Treebeard berdiri di bawah hujan sungai yang jatuh mengalir, menarik napas panjang; lalu ia tertawa, dan masuk ke dalam. Sebuah meja batu besar berdiri di sana, tanpa kursi. Di bagian belakang teluk sudah gelap. Treebeard mengangkat dua buah kendi besar dan meletakkannya di meja. Tampaknya kedua kendi itu berisi air; tapi ia meletakkan tangan di atasnya, dan segera kedua kendi itu mulai berpendar, satu dengan cahaya emas, satunya lagi dengan cahaya hijau subur; pembauran kedua cahaya itu menerangi seluruh teluk, seolah matahari musim panas bersinar di antara atap daun-daun muda. Ketika menoleh, kedua hobbit melihat pepohonan di halaman juga mulai bercahaya, mula-mula redup, tapi semakin cerah, dan akhirnya setiap tepian daun seolah berpinggiran cahaya: beberapa hijau, beberapa emas, beberapa merah seperti tembaga; sementara batang-batang pohon tampak seperti tiang-tiang yang dipahat dari batu bercahaya.
"Well, well, sekarang kita bisa bercakap-cakap lagi," kata Treebeard. "Pasti kalian sudah haus. Mungkin juga sudah letih. Minumlah ini!" ia pergi ke bagian belakang teluk. Mereka melihat ada beberapa botol batu tinggi di sana, dengan

tutup yang berat. Ia membuka salah satu tutupnya, dan memasukkan sendok besar ke dalamnya, lalu mengisi tiga mangkuk, satu mangkuk besar sekali, dan dua lebih kecil.
"Ini rumah Ent," katanya, "dan tidak ada kursi, sayang sekali. Tapi kalian boleh duduk di meja." Treebeard mengangkat kedua hobbit, dan meletakkan mereka di atas bidang batu besar itu, enam kaki di atas tanah; di sanalah mereka duduk dengan kaki menjuntai, minum seteguk demi seteguk.
Minuman itu seperti air, bahkan sangat mirip rasa air yang mereka cicipi dari Entwash di dekat perbatasan hutan, tapi ada suatu aroma atau rasa di dalamnya, yang tak bisa mereka uraikan: samar-samar, tapi mengingatkan mereka kepada bau hutan yang dibawa dari jauh oleh angin sejuk di malam hari. Efek minuman itu diawali di jari kaki, dan naik secara bertahap melalui seluruh tubuh, membawa kesegaran dan daya hidup sambil mengalir ke atas, sampai ke ujung rambut. Memang kedua hobbit merasa rambut di kepala mereka benar- benar berdiri, menggeliat, melambai, dan tumbuh. Sementara itu, Treebeard mula-mula membasuh kakinya di mangkuk luar atap lengkung, lalu minum dari mangkuknya dalam satu tegukan-satu tegukan panjang dan perlahan. Kedua hobbit mengira ia takkan berhenti minum.
Akhirnya ia meletakkan kembali mangkuknya. "Ah … ah," keluhnya. "Hm, huum, sekarang kita bisa bercakap-cakap lebih mudah. Kalian bisa duduk di lantai, dan aku akan berbaring, untuk menghindari minuman ini naik ke kepalaku dan membuatku tertidur."


Di sebelah kanan teluk itu ada sebuah tempat tidur besar berkaki pendek, hanya beberapa meter tingginya, tertutup lapisan tebal rumput kering dan semacam daun pakis. Treebeard menurunkan tubuhnya perlahan-lahan ke atasnya (hanya dengan sedikit melipat bagian pinggangnya), sampai ia berbaring memanjang, dengan tangan di belakang kepala, menatap langit-langit, di mana terlihat kelipan cahaya lampu, seperti permainan dedaunan di bawah sinar matahari. Merry dan Pippin duduk di sampingnya, di atas bantal-bantal rumput.
"Sekarang ceritakan kisahmu, dan jangan buru-buru!" kata Treebeard.

Kedua hobbit mulai menceritakan kisah petualangan mereka sejak meninggalkan Hobbiton. Cerita mereka tidak berurutan, karena mereka terus-menerus saling memotong, dan Treebeard sering menghentikan si pembicara, kembali ke titik yang lebih awal, atau melompat ke depan dengan bertanya tentang kejadian di kemudian hari. Mereka sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang Cincin, dan tidak menceritakan mengapa mereka pergi atau ke mana mereka akan pergi; Treebeard juga tidak menanyakan alasan-alasan mereka.
la sangat tertarik pada seluruh cerita mereka: pada Penunggang Hitam, Elrond, dan Rivendell, pada Old Forest dan Tom Bombadil, pada Tambang Moria, Lothlorien, dan Galadriel. ia meminta mereka menjelaskan tentang Shire dan daratannya berkali-kali. Pada titik itu, ia mengatakan sesuatu yang aneh. "Kau pernah melihat … hm … Ent di sekitar Shire?" tanyanya. "Yah, bukan Ent, mungkin aku harus bilang Entwives."
"Entwives?" kata Pippin. "Apakah mereka serupa denganmu?"

"Ya, well, sebenarnya tidak: aku sebenarnya tidak tahu persis," kata Treebeard sambil merenung. "Tapi mereka pasti menyukai negerimu, jadi aku bertanya- tanya."
Meski begitu, Treebeard terutama sangat tertarik pada semua yang menyangkut Gandalf, serta perbuatan-perbuatan Saruman. Kedua hobbit menyesal sekali hanya tahu sedikit tentang kedua penyihir itu; hanya sepotong laporan yang tidak begitu jelas dari Sam, tentang apa yang diceritakan Gandalf pada Dewan Penasihat. Tapi setidaknya mereka tahu pasti bahwa Ugluk dan pasukannya datang dari Isengard dan menyatakan Saruman sebagai majikan mereka.
"Hm, huum!" kata Treebeard, ketika akhirnya kisah mereka mengalir dan mengembara sampai ke pertempuran pasukan Orc dengan para Penunggang Kuda Rohan. "Wah, wah, itu berita hebat, dan tidak salah lagi. Kalian belum menceritakan semuanya padaku, masih banyak yang belum. Tapi aku tidak ragu bahwa kalian sudah bertindak sesuai keinginan Gandalf. Ada peristiwa yang sangat besar sedang terjadi, entah apa, mungkin pada saatnya aku akan tahu. Demi akar dan ranting, tapi ini urusan aneh: muncul bangsa kecil yang tidak ada di dalam daftar-daftar lama, dan lihat! Sembilan Penunggang yang sudah

dilupakan muncul kembali untuk memburu mereka, Gandalf membawa mereka dalam perjalanan besar, Galadriel menyembunyikan mereka di Caras Galadhon, dan Orc-Orc mengejar mereka sampai sepanjang Belantara: memang tampaknya mereka terlibat badai besar. Kuharap mereka dapat bertahan."
"Dan bagaimana tentang dirimu sendiri?" tanya Merry.

"Huum, hm, aku tidak memedulikan Perang Besar," kata Treebeard, "itu kebanyakan melibatkan bangsa Peri dan Manusia. Itu urusan para Penyihir: Penyihir-penyihir selalu khawatir tentang masa depan. Aku tidak suka memikirkan masa depan. Aku tidak sungguh-sungguh ada di salah satu pihak, sebab tidak ada yang benar-benar ada di pihakku, kalau kalian paham: tidak ada yang sepeduli aku pada hutan, tidak juga bangsa Peri sekarang ini. Tapi aku masih lebih menyukai bangsa Peri daripada yang lain: bangsa Peri-lah yang dulu menyembuhkan kami dari kebisuan, dan itu pemberian hebat yang tak bisa dilupakan, meski sejak itu kami berpisah jalan. Ada juga beberapa hal, tentu saja, yang sama sekali tidak kudukung: itu lho … burarum (sekali lagi ia menderum keras, pertanda jijik) "… Orc-Orc itu, dan majikan mereka.”
"Dulu aku biasanya cemas kalau bayang-bayang gelap menggantung di atas Mirkwood, tapi ketika bayang-bayang itu beralih ke Mordor, untuk sementara aku tidak khawatir: Mordor masih jauh sekali dari sini. Tapi rupanya kemudian angin datang dari Timur, dan layunya hutan-hutan mungkin sudah dekat. Tidak ada yang bisa dilakukan Ent tua untuk menahan badai itu: dia harus bertahan atau hancur.”
"Tapi Saruman! Saruman tetangga kami: aku tak bisa mengabaikannya. Aku harus melakukan sesuatu, kukira. Akhir-akhir ini aku sering bertanya dalam hati, apa yang harus kulakukan tentang Saruman."
"Siapa Saruman?" tanya Pippin. "Apa kau tahu sesuatu tentang riwayatnya?" "Saruman seorang Penyihir," jawab Treebeard. "Lebih dari itu tak bisa kukatakan. Aku tidak tahu riwayat kaum Penyihir. Mereka muncul pertama kali setelah Kapal-Kapal Besar datang dari Samudra; tapi apakah mereka datang bersama-sama kapal-kapal itu, aku tidak tahu. Saruman termasuk yang terhebat di antara mereka, kukira. Dia berhenti mengembara dan mengurusi masalah

Manusia dan Peri, beberapa waktu yang lalu sudah sangat lama, menurut ukuran waktu kalian; dan dia menetap di Angrenost, atau Isengard, nama yang diberikan Orang-Orang Rohan. Mulanya dia tidak banyak tingkah, tapi kemudian ketenarannya mulai berkembang. Konon dia terpilih menjadi Ketua Dewan Penasihat Putih; tapi rupanya hasilnya tidak memuaskan. Sekarang aku jadi bertanya-tanya, apakah pada saat itu Saruman sudab mulai jahat. Tapi setidaknya dia tidak menyulitkan tetangga-tetangganya. Aku biasa bercakap- cakap dengannya. Dulu dia suka berjalan jalan di hutanku. Dia sopan sekali di masa itu, selalu meminta izinku (setidaknya kalau bertemu denganku), dan selalu bergairah untuk mendengarkan. Aku menceritakan banyak hal yang tak mungkin bisa ditemukannya sendiri; tapi dia tak pernah memberiku balasan serupa. Seingatku dia tak pernah menceritakan apa pun padaku. Dan dia semakin berubah seperti itu; wajahnya, seingatku aku sudah lama tidak melihatnya jadi seperti jendela di dinding batu: jendela dengan kerai-kerai di bagian dalam.”
"Rasanya sekarang aku mengerti rencananya. Dia merencanakan untuk menjadi suatu Kekuatan. Benaknya seperti terbuat dari logam dan roda; dan dia tak peduli pada makhluk-makhluk yang tumbuh, kecuali sejauh mereka bisa melayaninya untuk saat ini. Sekarang sudah jelas dia seorang pengkhianat jahat. Dia sudah bergabung dengan bangsa busuk, dengan kaum Orc. Brm, huum! Lebih buruk lagi: dia sudah melakukan sesuatu pada mereka; sesuatu yang berbahaya. Karena Orc-Orc Isengard ini lebih menyerupai Manusia keji. Makhluk-makhluk jahat yang datang bersama Kegelapan Besar tidak tahan terhadap Matahari; tapi Orc-Orc Saruman bisa bertahan di bawah sinar matahari, meskipun mereka membencinya. Aku heran, apa gerangan yang sudah dilakukannya? Apakah mereka Manusia yang dirusaknya, atau dia mencampurkan bangsa Orc dengan Manusia? Itu sihir hitam!"
Treebeard menggeram sejenak, seolah mengucapkan kutukan Ent bawah tanah. "Beberapa waktu yang lalu, aku sudah heran mengapa para Orc berani melewati hutan-hutanku dengan bebas," lanjutnya. "Baru akhir-akhir ini aku menduga Saruman-lah penyebabnya, bahwa sudah lama sekali dia memata-matai semua

jalan, dan menemukan semua rahasiaku. Dia dan anak buahnya yang busuk sekarang menimbulkan malapetaka. Di dekat perbatasan, mereka menebangi pohon- pohon-pohon bagus. Beberapa di antaranya mereka tebang dan biarkan membusuk-itu ulah para Orc; tapi kebanyakan dipotong-potong dan diangkut untuk bahan bakar api di Orthanc. Selalu ada asap naik dari Isengard akhir-akhir ini.”
"Terkutuklah dia, akar dan ranting! Banyak dari pohon-pohon itu adalah kawan- kawanku, makhluk-makhluk yang sudah kukenal sejak masih biji; banyak yang mempunyai suara sendiri, yang sekarang sudah hilang untuk selamanya. Dan ada bekas-bekas tunggul dan semak di mana dulu berdiri hutan kecil yang bernyanyi. Aku sudah terlalu lama menganggur. Aku sudah membiarkan malapetaka ini terjadi. Ini harus dihentikan!"
Treebeard bangkit dari tempat tidurnya dengan sentakan mendadak, lalu berdiri dan memukulkan tangannya ke meja. Kendi-kendi cahaya bergetar dan menyemburkan dua semprotan api. Ada kilatan seperti api hijau dalam mata Treebeard, janggutnya berdiri kaku seperti sapu kayu besar.
"Aku akan menghentikannya!" ia menderum. "Dan kalian akan pergi bersamaku. Kalian mungkin bisa membantuku. Dengan demikian, kalian membantu kawan- kawan kalian juga. Kalau Saruman tidak dibendung, Rohan dan Gondor akan punya musuh di belakang maupun di depan. Jalan kita searah ke Isengard!" "Kami akan pergi bersamamu," kata Merry. "Kami akan berusaha sebisa kami." "Ya!" kata Pippin. "Aku ingin melihat Tangan Putih ditaklukkan. Aku ingin berada di sana, meski seandainya aku tidak banyak berguna: aku tidak akan pernah melupakan Ugluk dan perlintasan daratan Rohan."
"Bagus! Bagus!" kata Treebeard. "Tapi aku berbicara terburu-buru. Kita tak boleh tergesa-gesa. Hatiku terlalu panas. Aku harus mendinginkan diriku dan berpikir; sebab lebih mudah berteriak berhenti! daripada melakukannya."
la melangkah ke gerbang dan berdiri sesaat di bawah tetesan hujan dan mata air. Lalu ia tertawa dan mengguncangkan badan; tetes-tetes air berkilauan, yang jatuh ke tanah dan tubuhnya, berkelap-kelip bagai bunga-bunga api merah dan hijau. Treebeard membaringkan diri lagi ke tempat tidur, dan berbaring diam.



Setelah beberapa saat, kedua hobbit mendengarnya bergumam lagi. Rupanya ia sedang menghitung dengan jarinya. "Fangorn, Finglas, Fladrif, ya, ya," keluhnya. "Masalahnya, hanya sedikit dan kami yang tersisa," katanya kepada para hobbit. "Hanya tiga tersisa dari Ent-Ent pertama yang berjalan di hutan sebelum Kegelapan: hanya aku sendiri, Fangorn, dan Finglas serta Fladrif itulah nama mereka dalam bahasa Peri; kalian bisa menyebut mereka Leaflock dan Skinbark kalau mau. Dari antara kami bertiga, Leaflock dan Skinbark tidak banyak berguna dalam urusan ini. Leaflock sudah mulai terkantuk-kantuk, hampir menyerupai pohon, bisa dibilang begitu: dia sekarang biasa berdiri sendiri setengah tertidur sepanjang musim panas, dengan rumput-rumput tinggi di padang mengitari lututnya. Dia sudah tertutup rambut seperti dedaunan. Dulu biasanya dia bangun di musim dingin, tapi belakangan ini dia terlalu mengantuk untuk bisa berjalan jauh. Skinbark dulu tinggal di lereng-lereng pegunungan sebelah barat Isengard. Di sanalah dulu terjadi bencana paling buruk. Dia dilukai Orc-Orc, banyak anak buahnya dan gembala pohonnya dibunuh dan dihancurkan. Dia sudah pergi ke tempat-tempat tinggi, di antara pohon-pohon birch yang paling disukainya, dan tidak mau turun. Tapi berani kupastikan aku bisa mengumpulkan cukup banyak kaum muda kami kalau aku bisa membuat mereka memahami kebutuhan kami: kalau aku bisa membangkitkan semangat mereka: kami bukan bangsa yang tergesa-gesa. Sayang sekali, hanya sedikit dari kami yang tersisa”.
"Kenapa hanya ada sedikit, kalau kau sudah begitu lama hidup di negeri ini?" tanya Pippin. "Apakah sudah banyak sekali yang mati?"
"Oh, tidak!" kata Treebeard. "Tidak ada yang mati di bagian dalam, bisa dikatakan begitu. Beberapa sudah jatuh dalam bencana tahun-tahun yang panjang, tentu; dan banyak lagi yang sudah mulai menyerupai potion. Tapi memang jumlah kami tak pernah banyak, dan kami tidak berkembang biak. Tidak ada Enting tidak ada anak-anak, seperti istilah kalian, dan sudah sangat lama sekali. Itu terjadi karena kami kehilangan Entwives!"
"Menyedihkan!" kata Pippin. "Bagaimana kisahnya sampai mereka semua mati?"

"Mereka tidak mati!" kata Treebeard. "Aku tidak pernah bilang mati. Kami kehilangan mereka, dan tak bisa menemukan mereka." ia mengeluh. "Kukira kebanyakan orang tahu tentang itu. Ada lagu-lagu tentang perburuan Entwives oleh Ent-Ent, yang dinyanyikan oleh Peri dan Manusia dari Mirkwood sampai ke Gondor. Mestinya lagu-lagu itu belum sepenuhnya terlupakan."
"Well, aku khawatir lagu-lagu itu tidak datang ke barat, melintasi Pegunungan, masuk ke Shire," kata Merry. "Tidakkah kau mau menceritakan lebih banyak, atau menyanyikan salah satu lagu itu?"
"Ya, akan kulakukan, terima kasih," kata Treebeard, tampak puas dengan permintaan itu. "Tapi aku tak bisa menceritakannya dengan lengkap, hanya singkat saja; lalu kita harus mengakhiri percakapan: besok kita harus mengadakan rapat, dan ada tugas yang harus dikerjakan, dan mungkin kita harus memulai perjalanan."


"Kisah yang akan kuceritakan ini agak aneh dan sedih," lanjut Treebeard setelah diam sebentar. "Ketika dunia masih muda, hutan-hutan masih luas dan liar, para Ent dan Entwives dan pada masa itu ada Entmaidens, gadis-gadis Ent: ah! kecantikan Fimbrethil, Wandlimb yang berkaki ringan, di masa muda kami! mereka berjalan bersama dan tinggal bersama. Tapi hati kami tidak terus tumbuh searah: para Ent memberikan kasih sayang mereka pada hal-hal yang mereka temukan di dunia, sementara Entwives memikirkan hal-hal lain. Para Ent mencintai pohon-pohon besar, hutan-hutan liar, dan lereng-lereng perbukitan yang tinggi; mereka minim dari sungai-sungai pegunurigan, dan hanya makan buah-buahan yang dijatuhkan pepohonan di jalan mereka; mereka belajar dari bangsa Peri dan berbicara dengan Pohon-Pohon. Tapi Entwives memusatkan perhatian pada pohon-pohon yang lebih kecil, dan pada padang-padang di bawah sinar matahari, di luar kaki hutan-hutan; mereka melihat buah sloe di gerumbulan, apel liar serta ceri mekar di musim semi, tanaman-tanaman hijau di daratan berair di musim panas, dan rumput yang disemai di ladang-ladang musim gugur. Mereka tidak berhasrat berbicara dengan tanaman-tanaman ini, tapi mereka ingin tanaman-tanaman itu mendengarkan mereka dan menaati apa

kata mereka. Entwives memerintahkan mereka tumbuh sesuai keinginan mereka, dan menumbuhkan daun dan buah sesuai kesukaan mereka; Entwives menyukai ketertiban, kemakmuran, dan kedamaian (yang berarti bahwa benda- benda harus tetap berada di tempat mereka diletakkan). Maka Entwives membuat kebun-kebun untuk tinggal. Tapi kami kaum Ent terus mengembara, dan hanya sesekali mampir di kebun-kebun itu. Lalu, ketika Kegelapan datang di Utara, Entwives menyeberangi Sungai Besar, membuat kebun-kebun baru, dan bercocok tanam di ladang-ladang baru, dan kami semakin jarang melihat mereka. Setelah Kegelapan ditaklukkan, daratan Entwives berkembang subur, dan ladang-ladang mereka penuh jagung. Banyak Manusia mempelajari keterampilan Entwives dan sangat menghormati mereka; tapi kami hanya merupakan legenda bagi mereka, suatu rahasia jauh di jantung hutan. Meski begitu, kami masih berada di sini, sementara semua kebun Entwives sudah hancur: Manusia sekarang menyebutnya NegeriNegeri Cokelat.
"Aku ingat zaman dulu di masa peperangan antara Sauron dengan Manusia dan Samudra aku dihinggapi hasrat untuk bertemu lagi dengan Fimbrethil. Dia masih sangat cantik di mataku, ketika terakhir aku melihatnya, meski tidak mirip Entmaiden dari masa lampau. Entwives menjadi bungkuk dan kecokelatan karena pekerjaan mereka; rambut mereka kering kena sinar matahari, hingga berwarna jagung matang, dan pipi mereka seperti apel merah. Meski begitu, mata mereka masih mata bangsa kami sendiri. Kami menyeberangi Anduin dan sampai di negeri mereka, tapi yang kami temukan hanyalah gurun pasir: semuanya terbakar dan tumbang, rusak oleh perang. Tetapi Entwives tidak ada di sana. Lama sekali kami memanggil, lama pula kami mencari; kami menanyai semua bangsa yang kami jumpai, ke mana Entwives pergi. Beberapa mengatakan belum pernah melihat mereka; beberapa mengatakan melihat mereka berjalan pergi ke arah barat, beberapa mengatakan ke timur, dan beberapa mengatakan ke selatan. Tapi ke mana pun kami mencari, kami tak bisa menemukan mereka. Kesedihan kami sangat besar. Meski begitu, hutan belantara memanggil, dan kami kembali ke sana. Selama bertahun-tahun, kami sesekali pergi untuk mencari Entwives, berjalan jauh dan memanggil mereka

dengan nama-nama mereka yang indah. Tapi dengan berlalunya waktu, kami semakin j arang pergi dan tidak mengembara j auh lagi. Kini Entwives tinggal kenangan bagi kami, dan janggut kami sudah panjang dan kelabu. Bangsa Peri membuat banyak lagu tentang Pencarian kaum Ent, dan beberapa lagu itu dialihkan ke dalam bahasa Manusia. Kami sendiri tidak membuat lagu tentang itu; kami sudah puas menyanyikan nama-nama mereka yang indah kala kami memikirkan mereka. Kami percaya, suatu saat kami akan bertemu lagi dengan mereka, dan mungkin kami akan menemukan suatu negeri, di suatu tempat, di mana kami bisa hidup bersama dan sama-sama puas. Tapi sudah diramalkan bahwa itu baru terjadi kalau kami sudah kehilangan semua yang kami miliki sekarang. Dan mungkin sekali saat itu sudah dekat. Sebab, kalau dulu Sauron menghancurkan kebun-kebun, maka musuh saat ini tampaknya akan menghancurkan hutan-hutan.”
"Ada sebuah lagu Peri yang mengungkapkan hal ini, atau setidaknya begitulah yang kutangkap. Biasanya dinyanyikan bila melintasi Sungai Besar. Bukan lagu Ent, bukan: dalam bahasa Ent akan menjadi lagu yang sangat panjang! Tapi kami hafal lagu itu, dan sesekali menyenandungkannya. Begini bunyinya dalam bahasa kalian:”


ENT:

Ketika Musim Semi menyingkap dedaunan, dan getah segar mengalir dalam tiap dahan;
Ketika cahaya menerangi sungai di hutan, dan angin berembus perlahan;

Ketika kaki melangkah panjang, napas dihirup dalam-dalam, dan udara pegunungan sejuk nyaman,
Kembalilah padaku! Kembalilah padaku, dan katakan negeriku indah nian!



ENTW IFE:

Ketika Musim Semi datang ke kebun dan ladang, dan jagung sudah berbuah rimbun;
Ketika bunga-bunga mekar seperti sa ju bersinar memenuhi kebun;

Ketika hujan dan Matahari di atas Bumi dengan udara semerbak wangi,

Aku 'kan tetap di sini dan takkan pergi, karena negeriku indah, indah sekali.



ENT:

Ketika Musim Panas datang ke dunia, pada siang hari yang kemilau gemerlap.

Di bawah atop dedaunan yang nyenyak, mimpi-mimpi pepohonan pun tersingkap;
Ketika relung-relung hutan menghijau sejuk, dan angin pun ada di Barat sana Kembalilah padakul Kembalilah padaku dan katakan negeriku paling hebat memesona!


ENTW IFE:

Ketika Musim Panas menghangatkan buah-buahan yang menggantung dan mematangkan buah beri hingga cokelat;
Ketika jerami berwarna keemasan, bulir-bulir jagung memutih, dan panen sudah

dekat;

Ketika madu tumpah-ruah, dan apel pun ranum masak, meski angin ada di

Barat,

Aku 'kan tetap di sini, di bawah Matahari, kar'na negeriku terbaik penuh berkat!



ENT:

Ketika Musim Dingin datang, musim dingin liar yang membantai bukit dan hutan; Ketika pepohonan tumbang dan malam tak berbintang melahap pagi tanpa mentari;
Ketika angin di Tamur meniupkan napas maut; maka dalam hujan yang pahit berduri
Aku 'kan mencarimu, dan memanggilmu; aku 'kan datang lagi padamu dengan berlari!


ENTW IFE:

Ketika Musim dingin tiba, dan nyanyianpun tamat; dan kegelapan datang

menjerat;

Ketika dahan yang gersang sudah patah, dan cahaya serta kerja keras sudah kelewat penat;
Aku 'kan mencarimu, dan menunggumu, sampai kita bertemu di bawah langit; Bersama-sama kita 'kan menapaki jalan di bawah curah hujan yang pahit!


BERDUA:

Bersama-sama kita akan melangkah menuju Barat,

Dan, nun di sana, 'kan kita temukan negeri di mana hati kita 'kan tenang bertambat.


Treebeard mengakhiri nyanyiannya. "Begitulah lagunya," katanya. "Lagu bangsa Peri, tentu ringan, dengan kata-kata singkat, dan cepat selesai. Bisa kukatakan lagu itu cukup bagus. Sebenarnya kaum Ent bisa menceritakan lebih banyak, kalau waktunya cukup! Tapi sekarang aku akan berdiri dan tidur sebentar. Di mana kalian akan berdiri?"
"Kami biasanya berbaring untuk tidur," kata Merry. "Kami cukup nyaman di tempat kami sekarang."
"Berbaring untuk tidur!" kata Treebeard. "Tentu saja, begitulah cara kalian! Hm, huum: aku sudah lupa: menyanyikan lagu itu membuatku merasa berada di masa lalu lagi; tadi hampir-hampir kukira aku sedang berbicara pada Enting- Enting muda, begitu. Well, kalian boleh berbaring di tempat tidur. Aku akan berdiri di bawah hujan. Selamat malam!"
Merry dan Pippin naik ke tempat tidur, meringkuk ke dalam rumput dan daun pakis lembut. Rasanya segar, wangi, dan hangat. Cahaya meredup, begitu pula sinar dari pepohonan; tapi di luar, di bawah lengkungan, mereka bisa melihat Treebeard berdiri tak bergerak, tangannya diangkat ke atas kepala. Bintang- bintang mengintip dari langit, menyinari pancuran air ketika tumpah ke atas jari dan kepala Treebeard, dan menetes, menetes dalam ratusan tetes perak ke kakinya. Sambil mendengarkan denting tetesan air, kedua hobbit itu tertidur.

Ketika bangun, mereka mendapati matahari sejuk menyinari halaman yang luas dan lantai teluk. Serpihan awan tinggi melayang di atas, mengalir ditiup angin timur. Treebeard tidak tampak, tapi ketika Merry dan Pippin mandi di mangkuk dekat lengkungan, mereka mendengamya bersenandung dan bernyanyi, saat ia melangkah mendaki jalan di tengah pepohonan.
"Hoo, ho! Selamat pagi, Merry dan Pippin!" ia berseru nyaring ketika melihat mereka. "Kalian tidur lama sekali. Aku sudah berjalan ratusan langkah hari ini. Sekarang kita akan minum, dan pergi ke Entmoot."
la menuangkan untuk mereka dua mangkuk penuh dari sebuah botol batu; tapi dan botol yang lain. Rasanya tidak sama dengan yang semalam: yang ini lebih membumi dan lebih kaya, lebih bergizi dan lebih menyerupai makanan, bisa dibilang begitu. Kedua hobbit minum sambil duduk di ujung tempat tidur, dan mengunyah remah-remah kecil kue Peri (bukan karena lapar, tapi lebih karena merasa saat sarapan, mereka memang perlu makan). Sementara itu, Treebeard berdiri, bersenandung dalam bahasa Ent atau Peri, atau bahasa asing lain, dan menengadah melihat langit.
"Di mana Entmoot?" Pippin memberanikan diri bertanya.

"Hoo, eh! Entmoot?" kata Treebeard sambil membalikkan badan. "Itu bukan tempat, itu acara kumpul-kumpul para Ent yang jarang terjadi sekarang ini. Tapi aku sudah berhasil membuat sejumlah Ent berjanji untuk datang. Kami akan bertemu di tempat biasanya: Demdingle, begitu Manusia menamakannya. Dari sini ke arah selatan letaknya. Kita harus berada di sana sebelum tengah hari." Tak lama kemudian, mereka berangkat. Treebeard menggendong kedua hobbit dengan lengan-lengannya, seperti hari sebelumnya. Di tempat masuk ke halaman, ia membelok ke kanan, melangkahi sungai, dan berjalan ke arah selatan, menyusuri kaki lereng-lereng besar yang jarang ditumbuhi pepohonan. Di atas ini, kedua hobbit melihat gerombolan pohon birch dan rowan, dan di luarnya hutan-hutan cemara gelap yang mendaki. Segera Treebeard agak menyimpang dari perbukitan, masuk ke alur-alur dalam, di mana pepohonannya lebih besar, lebih tinggi, dan lebih rapat daripada yang dilihat hobbit-hobbit itu sebelumnya. Untuk beberapa saat, samar-samar mereka merasa tercekik,

seperti ketika pertama kali masuk ke dalam Fangorn, tapi itu segera berlalu. Treebeard tidak mengajak mereka berbicara. Ia bersenandung sendiri sambil merenung, tapi Merry dan Pippin tidak menangkap kata-kata jelas: bunyinya seperti bum, bum, rambum, burar, bum, bum, dahrar bum bum, dahrar bum, begitu seterusnya, dengan perubahan nada dan irama yang tetap. Sesekali mereka merasa mendengar jawaban, dengungan, atau getaran bunyi, yang seolah keluar dan dalam bumi, atau dari dahan-dahan di atas kepala mereka, atau mungkin dan batang-batang pohon; tapi Treebeard tidak berhenti atau menoleh kiri-kanan.


Mereka sudah berjalan lama sekali Pippin mencoba menghitung "langkah- langkah Ent", tapi gagal, kehilangan hitungan saat sudah mencapai sekitar tiga ribu ketika Treebeard mulai meredam kecepatannya. Mendadak ia berhenti, menurunkan kedua hobbit, dan mengangkat kedua tangan ke mulutnya, membentuk corong, lalu meniup atau memanggil melaluinya. Bunyi hum, hom nyaring seperti terompet besar mendengung di dalam hutan, dan seolah bergema dan pepohonan. Dan jauh, dari beberapa arah berbeda, datang bunyi hum, hom, hum yang serupa, tapi bukan gema, melainkan jawaban.
Sekarang Treebeard meletakkan Merry dan Pippin di pundaknya dan berjalan lagi, sesekali mengeluarkan panggilan terompet lagi, dan setiap kali jawabannya datang lebih jelas dan lebih dekat. Akhirnya mereka sampai ke suatu tempat yang tampak seperti tembok pepohonan evergreen yang tak bisa ditembus, pepohonan dan jenis yang belum pernah dilihat kedua hobbit: bercabang langsung darii akar-akar mereka, dan tertutup rapat oleh dedaunan gelap mengilap yang tampak seperti holly tanpa duri, dipenuhi benang sari bunga- bunga yang menjulang kaku, dengan kuntum-kuntum besar mengilap berwarna hijau zaitun.
Treebeard membelok ke kin dan mengitari pagar besar ini; dalam beberapa langkah, ia sampai ke sebuah gerbang sempit. Di baliknya ada sebuah jalan yang tiba-tiba terjun menuruni lereng curam yang Panjang. Kedua hobbit melihat mereka sedang turun ke sebuah lembah besar, hampir bulat seperti mangkuk,

sangat lebar dan dalam, pinggirannya bermahkotakan pagar besar tinggi berupa pohon-pohon evergreen. Di dalamnya, tanahnya mulus dan berumput, tak ada pohon kecuali tiga pohon silver-birch tinggi dan indah yang berdiri di dasar lembah. Ada dua jalan lain masuk ke dalam lembah: dari barat dan timur. Beberapa Ent sudah tiba. Lebih banyak lagi sedang menuruni jalan jalan lain, dan beberapa sekarang mengikuti Treebeard. Ketika mereka mendekat, kedua hobbit memandang mereka. Mereka mengira akan melihat makhluk-makhluk yang serupa dengan Treebeard, seperti satu hobbit mirip hobbit yang lain (setidaknya bagi mata orang asing); dan mereka sangat heran karena tidak melihat hal semacam itu. Para Ent itu sangat berbeda satu sama lain, seperti pohon dengan pohon: beberapa berbeda seperti pohon yang sejenis, tapi dengan pertumbuhan dan riwayat berbeda; dan beberapa berbeda seperti jenis pohon yang berlainan, seperti pohon birch dengan pohon beech, pohon ek dengan pohon cemara. Ada beberapa Ent yang lebih tua, berjanggut dan benjol- benjol seperti pohon sehat, tapi tua sekali (meski tidak ada yang kelihatan setua Treebeard); dan ada Ent-Ent tinggi kuat, dengan tubuh mulus dan kulit halus, seperti pepohonan hutan yang masih muda; tapi tidak ada Ent-Ent muda, tidak ada anak-anak pohon. Seluruhnya ada sekitar dua lusin Ent berdiri di bentangan rumput lembah itu, dan masih banyak lagi yang berdatangan.
Pada mulanya, Merry dan Pippin terutama tercengang oleh keanekaragaman yang mereka lihat: aneka rupa bentuk, warna, perbedaan ukuran lilitan, tinggi, panjang tangan dan kaki, serta jumlah jari kaki dan tangan (antara tiga sampai sembilan). Beberapa kelihatannya bersaudara dengan Treebeard, dan mengingatkan mereka pada pohon-pohon beech atau ek. Tapi ada juga jenis lain. Beberapa mengingatkan pada pohon kastanya: Ent-Ent berkulit cokelat, dengan tangan-tangan besar berjari renggang dan kaki gemuk pendek. Beberapa mengingatkan pada pohon ash: Ent-Ent tinggi tegak dan kelabu, dengan tangan berjari banyak dan kaki panjang; beberapa seperti cemara (Ent- Ent yang paling tinggi), dan yang lain seperti birch, rowan, dan linden. Tapi ketika semua Ent berkumpul di sekitar Treebeard agak menundukkan kepala, bergumam dengan suara perlahan bernada musik, sambil memandang lama dan

tajam pada kedua pendatang asing itu baru kedua hobbit melihat bahwa mereka semua berasal dari rumpun yang sama, dengan mata yang sama: tidak semua mata mereka setua atau sedalam mata Treebeard, tapi semuanya memancarkan ekspresi lamban, kokoh, dan merenung yang sama, juga kelipan sinar hijau yang sama.
Setelah seluruh rombongan terkumpul, berdiri dalam lingkaran besar mengelilingi Treebeard, percakapan yang aneh dan tidak jelas pun dimulai. Para Ent mulai bergumam perlahan: mula-mula satu bergabung, lalu yang lain, sampai mereka semua bernyanyi bersama dengan irama panjang naik-turun, kadang lebih keras di salah satu sisi lingkaran, kadang reda di sana, dan naik menjadi dentuman besar di sisi lain. Meski tak bisa menangkap atau mengerti satu pun kata yang diucapkan ia menduga itu bahasa Ent _ Pippin menganggap bunyinya sangat enak didengar, pada mulanya; tapi lambat laun perhatiannya goyah.
Setelah waktu lama (dan nyanyian itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat), ia bertanya-tanya dalam hati: berhubung bahasa Ent adalah bahasa yang "tidak tergesa-gesa", jangan jangan mereka baru sampai pada tahap mengucapkan Selamat Pagi; dan bila Treebeard mengabsen semuanya, perlu waktu berapa hari untuk menyanyikan semua nama mereka? "Aku ingin tahu, apa kata dalam bahasa Ent untuk menyatakan ya atau tidak," pikir Pippin. ia menguap.
Treebeard segera memperhatikannya. "Hm, ha, hai, Pippin-ku!" katanya, dan semua Ent yang lain menghentikan nyanyian mereka. "Aku lupa, kalian bangsa yang terburu-buru; tapi memang sangat menjemukan mendengarkan percakapan yang tidak kalian pahami. Kalian boleh turun sekarang. Aku sudah memberitahukan nama-nama kalian pada Entmoot, mereka sudah melihat kalian, dan mereka setuju kalian bukan Orc, jadi sebuah baris baru akan ditambahkan ke dalam daftar lama. Kami baru sampai sejauh itu, tapi ini sudah termasuk cepat untuk sebuah Entmoot. Kau dan Merry boleh berjalan jalan di sekitar lembah ini, kalau mau. Ada sebuah sumur air yang bagus, kalau kalian perlu menyegarkan diri, di sana di tebing utara. Masih ada beberapa kata yang perlu diucapkan sebelum Moot benar-benar dimulai. Aku akan datang menemui

kalian lagi, dan menceritakan perkembangannya."

la menurunkan kedua hobbit. Sebelum berjalan pergi, mereka membungkuk rendah. Tingkah itu rupanya sangat menggelikan bagi para Ent, kentara dari nada gumam dan binar-binar mata mereka; tapi mereka segera kembali ke urusan mereka sendiri. Merry dan Pippin mendaki jalan yang masuk dari sebelah barat, dan memandang keluar melalui lubang dalam pagar. Lereng-lereng panjang yang ditumbuhi pepohonan menjulang dari bibir lembah, dan jauh di luar sana, di atas pohon-pohon cemara di punggung terjauh, menjulang puncak sebuah gunung tinggi, tajam, dan putih. Ke arah selatan di sisi kiri mereka, tampak hutan yang memudar dalam kejauhan yang kelabu. Jauh di sana ada sinar hijau pucat yang diduga Merry merupakan padang-padang Rohan.


"Di mana kira-kira Isengard?" kata Pippin.

"Aku tidak tahu persis, kita ada di mana," kata Merry, "tapi puncak itu mungkin Methedras, dan sejauh yang kuingat, lingkaran Isengard terletak di sebuah belahan dalam di ujung pegunungan. Mungkin di bawah, di balik punggung besar ini. Tampaknya ada asap atau kabut di sana, di sebelah kiri puncak, bukankah begitu?"
"Seperti apakah Isengard?" kata Pippin. "Aku bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan para Ent terhadapnya?"
"Aku juga berpikir begitu," kata Merry. "Isengard itu kan semacam lingkaran batu karang atau perbukitan, dengan sebidang tanah datar di tengahnya, dan sebuah pulau atau batu karang di tengah, yang disebut Orthanc. Saruman mempunyai sebuah menara di atasnya. Di sana ada gerbang, mungkin lebih dari satu, di dinding yang mengelilingi, dan kalau tidak salah ada sungai mengalir di tengahnya; bersumber dari pegunungan dan mengalir terus melintasi Celah Rohan. Kelihatannya bukan jenis tempat yang layak ditangani para Ent. Tapi aku punya . perasaan aneh tentang para Ent ini: entah bagaimana, menurutku mereka tidak seaman dan selucu tampaknya. Mereka kelihatan lamban, aneh, sabar, hampir-hampir sedih; tapi aku percaya kemarahan mereka bisa dibangkitkan. Kalau itu terjadi, aku lebih baik tidak berada di pihak lawan

mereka."

"Ya!" kata Pippin. "Aku tahu maksudmu. Mungkin saja mereka kelihatannya seperti seekor sapi tua yang duduk mengunyah sambil merenung, tapi mendadak mengamuk seperti banteng yang menyeruduk; dan perubahan itu bisa terjadi mendadak. Aku ingin tahu, apakah Treebeard bisa membangkitkan semangat mereka. Aku yakin dia berniat mencoba. Tapi mereka tak suka dibangkitkan. Treebeard sendiri juga bangkit amarahnya tadi malam, lalu dia menekannya lagi."
Kedua hobbit kembali lagi. Suara-suara Ent masih terdengar naik-turun di pertemuan mereka. Matahari kini sudah naik cukup tinggi untuk mengintip dari atas pagar: menyinari puncak-puncak pohon birch dan sisi utara lembah dengan cahaya sejuk kekuningan. Di sana mereka melihat sebuah air mancur kecil gemerlapan. Mereka berjalan menyusuri pinggir lembah, di kaki pohon-pohon evergreen _ nikmat sekali merasakan rumput sejuk di bawah kaki mereka lagi, dan tak usah terburu-buru lalu mereka turun ke air yang menyembur itu. Mereka minum sedikit, cairan bersih, dingin, dan tajam, dan mereka duduk di atas sebuah batu berlumut, memperhatikan bercak-bercak sinar matahari di atas rumput dan bayangan awan-awan yang melayang lewat di atas lantai lembah. Gumaman para Ent masih terus berlanjut. Tempat itu terasa sangat aneh dan jauh, di luar dunia mereka, jauh dari semua yang pernah terjadi pada mereka. Suatu kerinduan besar timbul dalam diri mereka, kepada wajahwajah dan suara- suara kawan-kawan mereka, terutama Frodo dan Sam, dan kepada Strider. Akhirnya suara-suara para Ent berhenti, dan ketika menoleh ke belakang, mereka melihat Treebeard datang menghampiri, dengan Ent , lain bersamanya. "Hm, hum, ini aku lagi," kata Treebeard. "Apakah kalian mulai jemu, atau merasa tak sabar, hmm, eh? Well, aku khawatir kalian mau tak mau harus sabar dulu. Kami sudah menyelesaikan tahap pertama, tapi aku masih harus memberi penjelasan pada mereka yang tinggal jauh, jauh dari Isengard, dan mereka yang belum sempat kutemui sebelum Moot, dan setelah itu kami harus memutuskan apa yang akan kami lakukan. Tapi memutuskan apa yang harus dilakukan tidak makan waktu lama bagi para Ent, tidak seperti kalau harus meneliti dulu semua

fakta dan kejadian yang mesti diputuskan. Tapi kami memang masih akan cukup lama di sini: mungkin beberapa hari. Jadi, aku membawa seorang teman untuk kalian. Dia mempunyai rumah Ent dekat sini. Namanya dalam bahasa Peri adalah Bregalad. Dia bilang dia sudah mengambil keputusan, dan tak perlu lagi mengikuti Moot. Hm, hm, dia Ent yang paling tergesa-gesa di antara kami. Pasti kalian akan cocok. Selamat tinggal!" Treebeard membalikkan badan dan meninggalkan mereka.
Bregalad berdiri beberapa lama, mengamati kedua hobbit itu dengan serius; mereka memandangnya, bertanya-tanya kapan ia akan menunjukkan tanda- tanda "ketergesaan". Bregalad berpostur tinggi, dan rupanya termasuk Ent yang masih muda; ia mempunyai kulit tangan dan kaki mulus mengilap; bibirnya merah segar, dan rambutnya kelabu kehijauan. Ia bisa membungkuk dan bergoyang seperti pohon ramping ditiup angin. Akhirnya ia berbicara; suaranya, meski bergema, lebih tinggi dan jernih daripada suara Treebeard.
"Ha, hmm, kawan-kawanku, mari kita berjalan!" katanya. "Aku Bregalad, artinya Quickbeam, Sinar Cepat, dalam bahasamu. Tapi itu hanya nama julukan, tentu. Mereka memanggilku dengan nama itu sejak aku bilang ya pada seorang Ent yang lebih tua sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya. Aku juga minum cepat sekali; dan pergi sementara yang lain masih membasahi janggut mereka. Mari ikut aku!"
la mengulurkan dua lengan-yang indah bentuknya, dan memberikan satu tangan berjari panjang pada masing-masing hobbit. Seharian mereka berjalan jalan di hutan dengannya, bernyanyi dan tertawa; Quickbeam sering tertawa. Ia tertawa kalau matahari keluar dari balik awan, tertawa kalau mereka sampai di sebuah sungai atau mata air: lalu ia membungkuk dan memercikkan air ke kaki dan kepalanya; kadang-kadang ia tertawa mendengar bunyi atau bisikan di tengah pepohonan. Setiap kali melihat pohon rowan, ia berhenti sejenak dengan tangan terulur, lalu bernyanyi dan bergoyang.
Ketika malam tiba, ia membawa mereka ke rumah Ent-nya: rumah itu tak lebih dari sebuah batu berlumut yang diletakkan di tumpukan tanah kering berumput padat di bawah tebing hijau. Pohon-pohon rowan tumbuh melingkar di

seputarnya, dan ada air (seperti di dalam semua rumah Ent), mata air yang keluarmenggelembung dari tebing. Mereka bercakap-cakap sejenak saat kegelapan menyongsong hutan. Tak jauh dari sana, suara-suara Entmoot masih terdengar, tapi kini lebih dalam dan tidak begitu santai; sesekali satu suara besar naik dengan bunyi musik tinggi dan membangkitkan semangat, sementara suara-suara lain mereda. Tapi di samping mereka Bregalad berbicara dengan lembut dalam bahasa mereka sendiri, hampir berbisik; mereka diberitahu bahwa ia termasuk rakyat Skinbark, dan negeri tempat mereka dulu tinggal sudah porak-poranda. Bagi para hobbit, hal itu sudah cukup untuk menjelaskan "ketergesaan" Bregalad, setidaknya dalam masalah Orc.
"Di rumahku dulu banyak pohon rowan," kata Bregalad, perlahan dan sedih, "pohon rowan yang mulai tumbuh ketika aku masih Ent kecil, zaman ketika dunia masih tenang. Yang paling tua ditanam oleh para Ent untuk mencoba menyenangkan hati Entwives; tapi mereka cuma memandang pohon-pohon itu dan tersenyum, dan mengatakan mereka tahu di mana bunga-bunga mekar lebih putih dan buah-buahan lebih banyak tumbuh. Namun dari sekian banyak pohon rasa Mawar, tak ada yang seindah pohon rowan bagiku. Pohon-pohon ini tumbuh dan tumbuh, sampai bayangan masing-masing pohon bagaikan sebuah balairung hij au; buah berry mereka yang merah sarat bergan-tungan di musim gugur, indah menakjubkan. Burung-burung biasanya bergerombol di situ. Aku suka burung, bahkan saat mereka berceloteh; dan pohon rowan menghasilkan cukup buah untuk dibagikan. Tapi burung-burung menjadi tidak ramah dan rakus; mereka merusak pohon-pohon itu, melemparkan buahnya, dan tidak memakannya. Lalu Orc-Orc datang dengan kapak dan menebang pohon- pohonku. Aku datang memanggil mereka dengan nama panjang mereka, tapi mereka tidak bergetar, mereka tidak mendengar atau menjawab: mereka tergeletak mati.


Oh Orofarne, Lassemista, Carnimirie!

Oh rowan elok, di rambutmu bunga putih mekar!

Oh rowanku, kulihat kau bersinar di musim panas, di hari yang segar,

Kulitmu cerah, dedaunanmu ringan, suaramu lembut teduh: Di kepalamu mahkota merah keemasan kaujunjung penuh! Oh rowan yang mati, rambutmu kering dan kelabu;
Mahkotamu runtuh, suaramu senyap selamanya ditelan debu. Oh Orofarne, Lassemista, Carnimirie!


Kedua hobbit tertidur mendengar nyanyian perlahan Bregalad, yang rupanya meratapi dalam banyak bahasa, kejatuhan pohon-pohon yang dicintainya.


Hari berikutnya juga mereka habiskan bersama Bregalad, tapi mereka tidak pergi jauh dari rumahnya. Kebanyakan mereka duduk diam di bawah naungan tebing: karena angin lebih dingin, dan awan-awan lebih rapat dan kelabu; hanya sedikit sinar matahari, di kejauhan suara-suara para Ent di Moot masih naik-turun, kadang keras dan kuat, kadang rendah dan sedih, kadang cepat, kadang lambat dan khidmat seperti nyanyian saat pemakaman. Malam kedua datang, dan para Ent masih mengadakan rapat di bawah awan yang berpacu dan bintang-bintang yang resah.
Hari ketiga tiba, muram dan berangin. Saat matahari terbit, suarasuara Ent berkembang menjadi gegap gempita, lalu mereda lagi. Ketika pagi semakin larut, angin berhenti dan udara seolah berat penuh penantian. Kedua hobbit melihat Bregalad sekarang mendengarkan dengan saksama, meski bagi mereka, di lembah rumah Bregalad, suara para Ent terdengar sayup sekali.
Siang tiba, matahari yang sedang melayang ke arah barat, ke pegunungan, memancarkan sinar-sinar panjang kuning di antara celah-celah dan retakan- retakan awan. Mendadak mereka menyadari bahwa suasana sangat hening; seluruh hutan berdiri diam mendengarkan. Tentu saja, suara-suara para Ent sudah berhenti. Apa artinya itu? Bregalad berdiri tegak dan tegang, menengok ke utara, ke arah Derndingle.
Lalu dengan bunyi menggemuruh terdengar teriakan nyaring: rahuum-rah! Pohon-pohon bergetar dan membungkuk, seolah ditimpa embusan angin keras. Hening kembali sesaat, lalu mulai terdengar musik mars yang bunyinya seperti

genderang-genderang khidmat, dan di atas suara pukulan dan dentuman yang mengalir itu, terdengar suara-suara bernyanyi tinggi dan kuat.


Kami datang, kami datang dengan pukulan genderang: ta-runda runda runda rom!


Para Ent berdatangan: semakin dekat dan nyaring lagu mereka terdengar:



Kami datang, kami datang dengan terompet dan genderang: ta-runa runa runa rom!


Bregalad mengangkat kedua hobbit dan melangkah pergi dan rumahnya.



Tak lama kemudian, mereka melihat barisan Ent berjalan mendekat: para Ent berjalan dengan langkah-langkah besar menuruni lereng, mendekati mereka. Treebeard paling depan, dengan sekitar lima puluh pengikut di belakangnya, berbaris dua-dua, menyamakan langkah dan mengetuk irama dengan tangan, ke sisi tubuh mereka. Ketika mereka mendekat, kilatan dan kilauan mata mereka bisa terlihat.
"Hum, hom! Kami datang dengan berdebum, akhirnya kami datang!" teriak Treebeard ketika melihat Bregalad dan kedua hobbit. "Ayo, ikutlah kami! Kami akan berangkat. Kami pergi ke Isengard!"
"Ke Isengard!" para Ent berteriak dengan aneka ragam suara.

"Ke Isengard!"



Ke Isengard! Meski Isengard dilingkari dan dengan pintu batu karang; Meski Isengard kuat dan keras, sedingin batu dan gersang seperti tulang,
Kami pergi, kami pergi, kami pergi berperang, membelah batu dan mendobrak gerbang;
Karena batang dan dahan sudah terbakar sekarang, bara api meregang-kami pergi perang!

Ke negeri maut dengan langkah maut, dengan pukulan genderang, kami datang, kami datang;
Ke Isengard dengan maut kami datang!

Dengan maut kami datang, dengan maut kami datang. Begitulah mereka bernyanyi, sambil berjalan ke arah selatan.
Dengan mata bersinar-sinar, Bregalad masuk ke dalam barisan, di samping Treebeard. Sekarang Ent tua itu mengambil kembali kedua hobbit, dan meletakkan mereka di pundaknya lagi; begitulah, mereka melaju dengan gagah di depan rombongan, bernyanyi dengan jantung berdegup kencang dan kepala tegak. Meski sudah menduga akan terjadi sesuatu, kedua hobbit merasa kaget atas perubahan yang terjadi pada para Ent. Begitu mengejutkan, seperti pecahnya banjir yang sudah lama ditahan bendungan.
"Para Ent ternyata cukup cepat juga mengambil keputusan," Pippin memberanikan diri berkata, setelah beberapa saat berlalu, ketika nyanyian itu berhenti sesaat, dan hanya pukulan tangan dan kaki yang terdengar nyaring. "Cepat?" kata Treebeard. "Hum! Ya, memang. Lebih cepat daripada yang kuduga. Bahkan aku belum pernah melihat semangat mereka bangkit seperti sekarang, selama berabad-abad. Kami kaum Ent tidak suka marah; dan kami tak pernah marah, kecuali sudah jelas bahwa pepohonan dan hidup kami berada dalam bahaya besar. Itu tidak terjadi di Hutan ini sejak peperangan Sauron dan Manusia dari Samudra. Yang membuat kami sangat marah adalah ulah kaum Orc, yang menebangi pohon dengan sembarangan rarum bahkan tanpa maksud menggunakan kayu-kayu itu sebagai kayu api; dan pengkhianatan seorang tetangga, yang seharusnya membantu kami. Penyihir seharusnya bersikap lebih arif mereka kan lebih arif Tak ada umpatan dalam bahasa Peri, Ent, atau bahasa-bahasa manusia yang cukup untuk pengkhianatan semacam itu. Tundukkan Saruman!"
"Apa kalian benar-benar akan mendobrak pintu-pintu Isengard?" tanya Merry. "Ho, hm, well, kami bisa! Kau mungkin tidak tahu betapa kuatnya kami. Mungkin

kau pernah dengar tentang troll? Mereka luar biasa kuat. Tapi troll hanya tiruan, dibuat oleh Musuh di Zaman Kegelapan Besar, untuk mengejek para Ent, seperti Orc juga merupakan penghinaan terhadap para Peri. Kami lebih kuat daripada troll. Kami diciptakan dan tulang-belulangnya bumi. Kami bisa membelah batu seperti akar pepohonan, tapi lebih cepat, jauh lebih cepat, kalau kami sedang marah! Kalau kami tidak ditebang, atau dihancurkan oleh api atau serangan sihir, kami mampu membelah Isengard menjadi serpihanserpihan dan memecah dinding-dindingnya menjadi puing. Tapi Saruman pasti akan mencoba menghentikanmu, bukan?"
"Hm, ah, ya, memang begitu. Aku tidak lupa hal itu. Bahkan aku sudah lama memikirkannya. Tapi banyak Ent yang lebih muda daripada diriku, dalam hitungan umur pohon. Mereka semua sudah marah sekarang, dan pikiran mereka tertuju pada satu hal: menghancurkan Isengard. Tapi tak lama lagi mereka akan mulai berpikir kembali; kemarahan mereka akan mereda sedikit, saat kami minum malam. Betapa hausnya kami nanti! Tapi sekarang biarkan mereka berjalan berbaris dan bernyanyi! Masih panjang jalan yang harus kami tempuh, dan masih ada waktu untuk berpikir. Sudah bagus kami bisa memulai ini."
Treebeard berjalan terus, bernyanyi dengan yang lain untuk beberapa saat. Tapi setelah beberapa lama suaranya semakin sayup menjadi bisikan, dan akhirnya ia diam. Pippin melihat dahinya yang tua berkerut dan kusut. Akhirnya ia menengadah lagi, dan Pippin melihat pandangan sedih di matanya, sedih tapi bukan tidak bahagia. Ada sinar di matanya, seolah nyala hijau itu sudah tenggelam semakin dalam ke sumur gelap pikirannya.
"Tentu saja, sangat mungkin, kawan-kawanku," kata Treebeard perlahan, "sangat mungkin bahwa kami akan menuju kematian: perjalanan terakhir kaum Ent. Tapi, kalaupun kami tetap di rumah dan tidak berbuat apa-apa, kematian tetap akan menemukan kami, cepat atau lambat. Pikiran itu sudah lama muncul dalam hati kami; karena itulah kami sekarang berjalan. Ini bukan keputusan yang terburu-buru. Sekarang setidaknya perjalanan terakhir kaum Ent pantas dibuatkan lagu. Yah," keluhnya, "kami mungkin bisa menolong orang lain

sebelum kami musnah. Bagaimanapun, aku sebenarnya ingin nyanyian tentang Entwives menjadi kenyataan. Aku sangat ingin melihat Fimbrethil lagi. Tapi begitulah, kawan-kawanku, lagu-lagu-seperti halnya pohonhanya berbuah pada waktunya sendiri, dan dengan cara mereka sendiri: dan kadang-kadang mereka layu sebelum waktunya."


Para Ent berjalan dengan kecepatan tinggi. Mereka sudah turun ke dalam lipatan tanah panjang yang menjalar ke selatan; sekarang mereka mulai mendaki lagi, naik, naik sampai ke punggung bukit barat. Hutan-hutan mulai habis, dan mereka sampai ke gerombolan pohon birch yang tersebar di sana-sini, lalu ke lereng- lereng gundul yang hanya ditumbuhi beberapa pohon cemara kurus kering. Matahari terbenam di balik punggung bukit gelap di depan. Senja kelabu tiba. Pippin menoleh ke belakang. Jumlah Ent sudah bertambah atau apa yang terjadi? Di tempat lereng-lereng gundul samar yang sudah mereka lewati, ia merasa melihat sekelompok pohon. Tapi mereka bergerak! Mungkinkah pohon- pohon Fangorn bangun dan seluruh hutan bangkit, berjalan mendaki bukit-bukit, menuju perang? ia menyeka matanya sambil bertanya-tanya, apakah rasa kantuk dan kegelapan menipunya; tapi sosok-sosok besar kelabu itu terus bergerak maju. Ada bunyi seperti angin di dahan-dahan. Para Ent sudah mendekati mahkota punggung bukit sekarang, dan semua nyanyian sudah berhenti. Malam tiba, semuanya hening: tak ada yang terdengar, kecuali getaran samar-samar bumi di bawah kaki para Ent, dan bunyi desiran, seperti bisikan lemah banyak dedaunan. Akhirnya mereka berdiri di puncak, menatap ke dalam sumur gelap: belahan besar di ujung pegunungan: Nan Curunir, Lembah Saruman.
"Malam menggantung di atas Isengard," kata Treebeard.

BAB 5

PENUNGGANG PUTIH



"Tulang-tulangku kedinginan," kata Gimli sambil mengepakkan lengan dan mengentakkan kaki. Pagi sudah tiba. Saat fajar, tiga sekawan itu sudah membuat sarapan sebisa mereka; sekarang, dalam cahaya yang semakin cerah, mereka bersiap-siap inemeriksa tanah lagi untuk mencari tanda-tanda para hobbit.
"Dan jangan lupa orang tua itu!" kata Gimli. "Aku akan lebih senang kalau bisa melihat jejak sepatu bot."
"Kenapa itu akan membuatmu senang?" kata Legolas.

"Sebab orang tua dengan kaki yang meninggalkan jejak mungkin memang benar hanya orang biasa," jawab Gimli.
"Mungkin," kata Legolas, "tapi sepatu bot berat barangkali tidak akan meninggalkan jejak di sini: rumputnya tebal dan lentur."
"Itu bukan masalah bagi seorang Penjaga Hutan," kata Gimli. "Sehelai rumput yang terlipat pun bisa dibaca oleh Aragorn. Tapi kurasa dia tidak bakal menemukan jejak di sini. Yang kita lihat semalam adalah hantu Saruman. Aku yakin itu, meski di bawah cahaya pagi hari. Barangkali saat ini pun matanya sedang mengamati kita dari Fangorn."
"Itu mungkin saja," kata Aragorn, "tapi aku tidak yakin. Aku memikirkan kuda- kuda itu. Tadi malam kaubilang, Gimli, bahwa mereka pergi karena ketakutan. Tapi kupikir bukan begitu. Kaudengar mereka, Legolas? Apa mereka kedengaran seperti hewan-hewan yang ketakutan?"
"Tidak," kata Legolas. "Aku mendengar mereka jelas sekali. Kalau bukan karena gelap dan ketakutan kita sendiri, aku menduga mereka seperti hewan-hewan yang ribut karena kegirangan mendadak. Mereka berbicara seperti yang dilakukan kuda kalau bertemu seorang sahabat yang sudah lama mereka rindukan."
"Aku juga berpendapat demikian," kata Aragorn, "tapi aku tak bisa menebak teka-teki ini, kecuali kalau mereka kembali. Ayo! Sudah semakin terang. Mari kita

melihat dulu, dan menebak kemudian! Kita harus mulai di sini, dekat tempat kita berkemah, mencari dengan saksama di sekitar sini, dan mengamati lereng sampai ke hutan. Tugas kita adalah menemukan para hobbit, apa pun yang kita pikirkan tentang tamu kita tadi malam. Kalau berhasil lolos, mereka pasti bersembunyi di tengah pepohonan; kalau tidak, mereka akan terlihat. Kalau kita tidak menemukan apa pun antara sini dan pinggiran atap hutan, kita lakukan pencarian terakhir di medan pertempuran dan di antara abu mayat. Tapi hanya sedikit harapan di sana: para Penunggang Kuda dari Rohan telah membakar habis semuanya."


Untuk beberapa saat, mereka merangkak dan meraba-raba di tanah. Pohon itu berdiri dengan sikap sedih di atas mereka, daun-daunnya yang kering menggantung lemas, berderak ditiup angin timur. Perlahan-lahan Aragorn bergerak menjauh. Ia sampai ke abu api unggun dekat tebing sungai, lalu mulai menelusuri kembali tanah menuju bukit kecil tempat pertempuran berlangsung. Mendadak ia membungkuk dan mendekatkan wajah ke rumput. Lalu ia memanggil yang lain. Mereka datang berlarian.
"Akhirnya di sini kita menemukan berita!" kata Aragorn. ia mengangkat sehelai daun rusak agar terlihat oleh mereka, daun besar pucat berwarna keemasan, yang sekarang sudah memudar menjadi cokelat. "Ini daun mallorn dari Lorien; ada remah-remah kecil di atasnya, dan beberapa remah lagi di rumput. Dan lihat! Ada beberapa utas tali terpotong di dekatnya!"
"Dan ini pisau yang memotongnya!" kata Gimli. ia membungkuk dan mengeluarkan mata pisau pendek bergerigi dari seberkas rumput yang terinjak sebuah kaki berat. Pangkal pisau tempat mata pisau itu direnggutkan, ada di sebelahnya. "Ini senjata Orc," kata Aragorn, memegangnya dengan hati-hati, dan memandang jijik ke pegangannya yang berukir: bentuknya seperti wajah mengerikan, dengan mata sipit dan mulut mengejek.
"Well, ini teka-teki paling aneh yang kita temukan!" seru Legolas. "Seorang tawanan yang diikat, lolos dari Orc maupun penunggang kuda yang mengepung. Lalu dia berhenti, sementara masih di tempat terbuka, dan memotong ikatannya

dengan pisau Orc. Tapi bagaimana dan mengapa? Kalau kakinya diikat, bagaimana dia berjalan? Dan kalau tangannya dibelenggu, bagaimana dia menggunakan pisaunya? Dan kalau tidak ada yang diikat, mengapa memotong talinya? Sudah puas dengan keterampilannya, dia lalu duduk dan makan roti dengan tenang! Itu sudah cukup menunjukkan pada kita bahwa dia seorang hobbit, tanpa daun mallorn sekalipun. Setelah itu, kukira, dia mengubah tangannya menjadi sayap, dan terbang sambil bernyanyi ke dalam pepohonan. Mudah sekali menemukannya: kita hanya butuh sayap juga!"
"Pasti ada sihir di sini," kata Gimli. "Apa yang dilakukan orang tua itu? Apa katamu, Aragorn, tentang tebakan Legolas? Bisakah kau memberi tebakan yang lebih baik?"
"Mungkin aku bisa," kata Aragorn, sambil tersenyum. "Ada beberapa tanda lain di dekat sini yang tidak kauperhatikan. Aku setuju bahwa tawanan itu seorang hobbit, dann tangan atau kakinya bebas, sebelum dia sampai ke sini. Mungkin tangannya yang bebas, sebab dengan demikian teka-tekinya jadi lebih mudah, dan kalau melihat jejak ini, menurutku dia digotong ke sini oleh Orc. Ada tumpahan darah, beberapa langkah dari sini, darah Orc. Ada jejak dalam kaki berladam di sekitar tempat ini, dan tanda-tanda suatu barang berat yang digotong. Orc itu dibunuh para penunggang kuda, kemudian tubuhnya diseret ke api. Tapi hobbit itu tidak kelihatan: kehadirannya tidak tersingkap, karena hari sudah malam dan dia masih memakai jubah Peri-nya. Dia letih dan lapar, dan tak perlu heran bahwa setelah melepaskan ikatannya dengan pisau musuh yang tewas, dia beristirahat dan makan sedikit sebelum merangkak pergi. Aku agak lega mengetahui bahwa dia punya sedikit lembas dalam saku bajunya, meski dia lari tanpa peralatan atau ransel; itu mungkin khas hobbit. Aku bilang dia, meski kuharap Merry maupun Pippin sudah bersama-sama di sini. Tapi tak ada bukti yang bisa memastikan hal itu."
"Dan menurutmu bagaimana salah satu teman kita bisa punya satu tangan bebas?"
"Aku tidak tahu bagaimana terjadinya," jawab Aragorn. "Aku juga tidak tahu mengapa Orc yang menculik mereka. Bukan untuk membantu mereka lolos, itu

pasti. Tidak, rasanya aku mulai paham masalah ini, yang sejak awal sudah membuatku heran: mengapa ketika Boromir tewas para Orc sudah puas dengan menangkap Merry dan Pippin? Mereka tidak mencari sisa rombongan, atau menyerang perkemahan kita; mereka malah pergi dengan kecepatan tinggi ke Isengard. Apa mereka menduga yang mereka tangkap itu adalah si Penyandang Cincin dan kawannya yang setia? Kukira tidak. Majikan mereka tidak akan berani memberi perintah seterus terang itu pada Orc, meski mereka sendiri sudah tahu sebanyak itu; mereka tidak akan berbicara terbuka tentang Cincin: Orc bukan pelayan setia. Kurasa para Orc diperintahkan menangkap hobbit, hidup-hidup, dengan segala cara. Tapi ada Orc yang mencoba menyelinap pergi bersama para tawanan sebelum pertempuran. Pengkhianatan sangat mungkin terjadi di antara gerombolan seperti itu; beberapa Orc yang besar dan berani mungkin berusaha melarikan diri dengan membawa tawanan berharga itu, untuk kepentingannya sendiri. Nah, itulah dugaanku. Dugaan lain bisa saja dikarang. Tapi setidaknya kita boleh berharap akan yang satu ini: setidaknya salah satu kawan kita lolos. Tugas kitalah untuk menemukannya dan membantunya, sebelum kita kembali ke Rohan. Kita jangan sampai kecil hati oleh Fangorn, karena dia terpaksa masuk ke tempat gelap itu."
"Entah yang mana yang membuatku lebih kecil hati: Fangorn, atau memikirkan perjalanan panjang melintasi Rohan dengan berjalan kaki," kata Gimli.
"Kalau begitu, nian kita pergi ke hutan," kata Aragorn.



Tak lama kemudian, Aragorn menemukan lagi tanda-tanda baru. Di satu tempat, dekat tebing Entwash, ia menemukan jejak kaki: kaki hobbit, tapi terlalu ringan untuk bisa diperkirakan artinya. Lalu sekali lagi di bawah sebatang pohon besar di tepi hutan banyak jejak kaki ditemukan. Tanah gersang dan kering, dan tidak banyak memberi petunjuk.
"Setidaknya satu hobbit berdiri di sini sebentar, dan menoleh; lalu dia berbalik dan masuk ke hutan," kata Aragorn.
"Kalau begitu, kita harus masuk juga," kata Gimli. "Tapi aku tidak suka penampilan Fangorn ini; dan kita sudah diberi peringatan tentangnya. Kuharap

pengejaran ini menuntun kita ke tempat lain!"

"Menurutku, hutan ini tidak tampak jahat, apa pun kata dongeng-dongeng," kata Legolas. ia berdiri di bawah atap hutan, membungkuk ke depan, seolah mendengarkan, dan mengintip dengan mata lebar ke dalam keremangan. "Tidak, hutan ini tidak jahat; kejahatan yang ada padanya berada jauh di dalam. Aku hanya menangkap gema samar-samar dan tempat-tempat gelap, di mana pohon-pohonnya berhati hitam. Tak ada kekejian di dekat kita, tapi ada kewaspadaan, dan kemarahan."
"Well, dia tak punya alasan untuk marah padaku," kata Gimli. "Aku tidak merusaknya."
"Untung saja," kata Legolas. "Meski begitu, dia sudah menderita kerusakan. Ada yang terjadi di dalam sana, atau akan terjadi. Apa kau tidak merasakan ketegangannya? Aku sampai tak bisa bernapas."
"Aku merasa udaranya pengap," kata Gimli. "Hutan ini lebih ringan daripada

Mirkwood, tapi apak dan usang."

"Hutan ini sangat sangat tua," kata Legolas. "Begitu tua, sampai aku hampir- hampir merasa muda kembali … perasaan yang sudah tidak kurasakan sejak aku berkelana dengan kalian, anak-anak. Hutan ini tua sekali dan penuh kenangan. Aku mungkin bisa bahagia di sini, kalau aku datang di masa damai." "Sudah pasti kau bisa," dengus Gimli. "Kau Peri Hutan, meski Peri macam apa pun tetap bangsa yang aneh. Tapi kau membuatku terhibur. Ke mana kau pergi, aku akan ikut. Tapi tetaplah siagakan busurmu, dan akan kusiagakan kapakku agak longgar dalam ikat pinggangku. Bukan untuk digunakan pada pohon- pohon," ia buru-buru menambahkan, sambil menengadah memandang pohon di belakang mereka. "Aku hanya tak ingin bertemu orang tua itu secara tak terduga, dalam keadaan tidak siaga, itu saja. Ayo kita pergi!"


Dengan itu, ketiga pemburu terjun ke dalam Hutan Fangorn. Legolas dan Gimli membiarkan Aragorn mencari jejak. Tak banyak yang bisa dilihatnya. Tanah hutan kering dan tertutup tumpukan dedaunan, tapi karena menduga para pelarian akan tetap dekat sungai, ia sering kembali ke tebing sungai. Dengan

begitu, ia sampai ke tempat Merry dan Pippin minum dan membasuh kaki. Di sana jelas terlihat jejak kaki dua hobbit, satu lebih kecil dari yang lainnya.
"Ini berita bagus," kata Aragorn. "Tapi jejak ini sudah berumur dua hari. Dan kelihatannya pada titik ini kedua hobbit meninggalkan tepi sungai."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" kata Gimli. "Kita tak bisa mengejar mereka melalui Hutan Fangorn yang seluas ini. Kita pergi tanpa perlengkapan memadai. Kalau mereka tidak segera kita temukan, kita tidak akan berguna bagi mereka; kita cuma akan bisa menunjukkan kesetiakawanan dengan mati kelaparan bersama-sama."
"Kalau memang hanya itu yang bisa dilakukan, maka harus kita lakukan," kata

Aragorn. "Mari kita meneruskan perjalanan."



Akhirnya mereka sampai ke ujung Bukit Treebeard yang curam dan berakhir dengan mendadak. Mereka menatap dinding batu karang dengan tangga kasar yang mendaki ke dataran tinggi. Berkas-berkas sinar matahari menembus awan yang berarak cepat, dan hutan itu kini tidak tampak sekelabu dan semuram sebelumnya.
"Mari kita naik dan memandang sekeliling!" kata Legolas. "Aku masih terengah-engah. Aku ingin menghirup udara segar sebentar."
Mereka mendaki bukit. Aragorn berjalan paling belakang, bergerak perlahan; ia mengamati anak-anak tangga dan pinggirannya dengan saksama.
"Aku hampir yakin para hobbit naik ke sini," katanya. "Tapi ada tanda-tanda lain, tanda-tanda aneh sekali, yang tidak kupahami. Aku ingin tahu, bisakah melihat sesuatu dan atas dataran ini, untuk membantu kita menduga arah mereka selanjutnya?"
la berdiri dan memandang sekeliling, tapi tidak melihat sesuatu yang bermanfaat. Dataran itu menghadap ke selatan dan timur; tapi hanya di sisi timur pemandangannya terbuka. Di sana ia bisa melihat kepala-kepala pepohonan turun bertahap, sampai ke padang tempat mereka tadi datang.
"Kita sudah berjalan memutar jauh sekali," kata Legolas. "Sebenarnya kita bisa datang bersama-sama dengan aman ke sini, kalau kita meninggalkan Sungai

Besar pada hari kedua atau ketiga, dan menuju ke barat. Memang susah menebak-nebak, ke mana suatu jalan akan membawa kita, sebelum kita sampai pada ujungnya."
"Tapi kita kan tidak ingin pergi ke Fangorn," kata Gimli.

"Tapi di sinilah kita, terjebak dengan manis ke dalam jaring," kata Legolas. "Lihat!"
"Lihat apa?" kata Gimli.

"Di sana, di antara pohon-pohon."

"Di mana? Aku tidak punya mata Peri."

"Sst! Pelankan suaramu! Lihat!" kata Legolas sambil menunjuk. "Di sana, di hutan, di bagian jalan tempat kita baru saja datang. Itu dia. Tak bisakah kau melihatnya, berjalan dari pohon ke pohon?"
"Aku lihat, aku lihat sekarang!" desis Gimli. "Lihat, Aragorn! Bukankah aku sudah memperingatkanmu? Itu orang tua yang kemarin. Berpakaian compang-camping warna kelabu: makanya aku tadi tak bisa melihatnya."
Aragorn memandang dan melihat sesosok bungkuk bergerak perlahan, tak jauh

dari mereka. Ia tampak seperti pengemis tua, berjalan letih, bersandar pada tongkat kasar. Kepalanya tertunduk, dan ia tidak melihat ke arah mereka. Di negeri lain, mereka akan menyalaminya dengan kata-kata ramah, tapi sekarang mereka berdiri diam, masing-masing menunggu dengan tegang: ada yang sedang mendekati mereka, sesuatu yang membawa kekuatan tersembunyi atau ancaman.
Gimli menatap dengan mata melotot selama beberapa saat, ketika langkah demi langkah sosok itu semakin dekat. Lalu mendadak ia berseru, tak bisa menahan diri lebih lama lagi, "Busurmu, Legolas! Rentangkan! Siap-siap! Itu Saruman. Jangan biarkan dia bicara, atau menyihir kita! Tembak duluan!"
Legolas mengambil busurnya dan meregangkannya perlahan, seolah ada kekuatan lain yang menolaknya. Ia memegang sebatang anak panah dengan longgar di tangannya, tapi tidak memasangnya ke busurnya. Aragorn berdiri diam, wajahnya waspada dan penuh perhatian.
"Mengapa kau menunggu? Ada apa denganmu?" kata Gimli dengan bisikan

mendesis.

"Legolas benar," kata Aragorn tenang. "Kita tak boleh menembak orang tua dengan cara begini, tak terduga dan tanpa ditantang, meski kita merasa takut atau ragu. Perhatikan dan tunggu!"


Pada saat itu, si orang tua mempercepat langkahnya, dan dengan kecepatan mengherankan ia sampai ke kaki dinding batu karang. Lalu tiba-tiba ia menengadah, sementara mereka berdiri memandang ke bawah. Tak ada suara. Mereka tak bisa melihat wajahnya: ia berkerudung, dan di atas kerudungnya ia memakai topi bertepi lebar, sehingga wajahnya tertutup bayang-bayang, kecuali ujung hidungnya dan janggutnya yang kelabu. Tapi Aragorn merasa menangkap kilatan mata tajam dan cerah dan balik bayangan alis yang tertutup kerudung. Akhirnya orang tua itu memecah kesunyian. "Kita bertemu lagi, kawan-kawanku," katanya dengan suara lembut. "Aku ingin bicara dengan kalian. Kalian akan turun, atau aku yang naik?" Tanpa menunggu jawaban, ia mulai mendaki. "Sekarang!" kata Gimli. "Hentikan dia, Legolas!"
"Bukankah sudah kukatakan aku ingin bicara dengan kalian?" kata orang tua itu. "Simpan busur itu, Master Peri!"
Busur dan panah itu jatuh dari tangan Legolas, dan tangannya menggantung lemas di sisinya.
"Dan kau, Master Kurcaci, tolong lepaskan tanganmu dan pegangan kapakmu, sampai aku ada di atas! Kau tidak memerlukan senjata itu."
Gimli bergerak kaget, lalu berdiri diam bagai batu, sementara orang tua itu

meloncati tangga kasar dengan gesit seperti kambing. Semua keletihannya seolah sirna. Ketika ia melangkah naik ke atas dataran, ada seberkas kilauan putih, terlalu singkat untuk dilihat nyata, seakan suatu pakaian yang terselubung pakaian kelabu compang-camping sejenak tersingkap. Tarikan napas Gimli terdengar seperti desis nyaring dalam keheningan.


"Kita bertemu lagi, kataku!" kata orang tua itu, sambil mendekati mereka. Ketika tinggal beberapa meter dari mereka, ia berdiri membungkuk pada tongkatnya,

kepalanya menjulur ke depan, mengintip mereka dan balik kerudungnya. "Dan apa yang kalian lakukan di wilayah ini? Satu Peri, satu Manusia, dan satu Kurcaci, semua berpakaian Peri. Pasti ada kisah yang patut didengarkan di balik itu semua. Hal semacam ini jarang terlihat di sini."
"Kau berbicara seperti orang yang sangat mengenal Fangorn," kata Aragorn. "Apa memang begitu?"
"Tidak kenal betul," kata orang tua itu. "Perlu beberapa masa kehidupan untuk

mempelajarinya. Tapi aku kadang-kadang datang kemari."

"Bolehkah kami tahu namamu, lalu mendengar apa yang ingin kaukatakan pada kami?" kata Aragorn. "Pagi sudah mulai larut, dan kami punya tugas yang tak bisa menunggu."
"Apa yang ingin kukatakan, sudah kukatakan: apa yang kalian lakukan, dan kisah apa yang bisa kalian ceritakan tentang diri kalian sendiri? Kalau tentang namaku!" ia berhenti berbicara, tertawa panjang dan perlahan. Aragorn menggigil mendengar suara itu, getaran dingin yang aneh; tapi bukan ketakutan atau teror yang dirasakannya: lebih seperti gigitan mendadak udara tajam, atau tamparan hujan dingin yang membangunkan orang yang tidur gelisah.
"Namaku!" kata orang tua itu lagi. "Bukankah kalian sudah menebaknya? Kalian sudah pernah mendengarnya, kukira. Ya, kalian sudah pernah mendengarnya. Tapi ayolah, bagaimana dengan kisah kalian?"
Tiga sekawan itu berdiri diam, tidak menjawab.

"Ada beberapa orang yang akan mulai ragu, apakah tugas kalian patut diceritakan," kata orang tua itu. "Untung aku tahu sedikit tentang itu. Kalian sedang mengikuti jejak dua hobbit muda, kukira. Ya, hobbit. Jangan melongo, seolah belum pernah mendengar nama itu. Kalian pernah mendengarnya, begitu juga aku. Well, mereka naik ke sini, kemarin dulu; dan mereka bertemu seseorang yang tidak mereka duga. Apakah itu menghibur hati kalian? Sekarang kalian ingin tahu ke mana mereka dibawa? Well, well, mungkin aku bisa memberi sedikit kabar tentang itu. Tapi mengapa kita berdiri? Tugas kalian sudah tidak begitu mendesak lagi. Mari kita duduk menyamankan diri."
Orang tua itu membalikkan badan dan pergi ke arah setumpuk batu yang jatuh di

kaki karang di belakang. Dengan segera tiga sekawan itu tersadar, seolah lepas dan pengaruh sihir, dan mereka mulai bergerak. Tangan Gimli segera memegang pangkal kapaknya lagi. Aragorn menghunus pedangnya. Legolas memungut busurnya.
Orang tua itu tidak menghiraukan; ia membungkuk dan duduk di sebuah batu datar yang rendah. Lalu jubah kelabunya tersingkap, dan mereka melihat, tanpa ragu lagi, bahwa ia berpakaian putih seluruhnya di bawahnya.
"Saruman!" seru Gimli, melompat ke arahnya dengan kapak di tangan. "Bicara!

Katakan di mana kau menyembunyikan kawan-kawan kami! Apa yang kaulakukan pada mereka? Bicara, atau kubuat goresan di topimu, yang sulit ditangani seorang penyihir sekalipun!"


Orang tua itu lebih cepat darinya. Ia bangkit dan melompat ke atas sebuah batu besar. DI sana ia berdiri, mendadak menjadi lebih tinggi, menjulang di atas mereka. Kerudung dan pakaian kelabunya yang compang-camping dilemparkan. Pakaian putihnya bersinar-sinar. Ia mengangkat tongkatnya, dan kapak Gimli melompat dan pegangannya, jatuh berdenting ke tanah. Pedang Aragorn, kaku di tangannya yang diam, bersinar dengan nyala mendadak. Legolas berteriak nyaring dan menembakkan panah tinggi ke udara: panahnya menghilang dalam kilatan nyala api.
"Mithrandir!" serunya. "Mithrandir!"

"Kita bertemu kembali, kukatakan sekali lagi padamu, Legolas!" kata orang tua itu.
Mereka semua memandangnya. Rambutnya seputih salju di bawah sinar matahan; jubahnya putih berkilauan; sepasang mata di bawah alisnya yang tebal sangat cerah, menusuk tajam seperti berkas sinar matahari; tangannya menyimpan kekuatan. Antara heran, bahagia, dan takut mereka berdiri dan tidak menemukan kata-kata untuk diucapkan.
Akhirnya Aragorn bergerak. "Gandalf!" katanya. "Sungguh tak dinyana, kau kembali pada kami di tengah kesulitan! Selubung apa yang menutupi pandanganku? Gandalf!" Gimli tidak mengatakan apa pun, tapi berlutut

menudungi matanya.

"Gandalf," orang tua itu mengulang, seolah mengingat kembali dari kenangan lama, suatu kata yang sudah lama tidak digunakan. "Ya, itulah namanya. Aku dulu Gandalf," katanya.
la turun dari batu itu, mengambil jubah kelabunya, dan menyelubungkannya kembali di tubuhnya. Matahari, yang tadi seakan muncul bersinar, sekarang kembali tersembunyi di balik awan. "Ya, kau masih boleh menyebutku Gandalf," katanya, dan suaranya adalah suara sahabat lama serta pemandu mereka tercinta. "Bangun, Gimli yang baik! Kau tidak salah, dan aku tidak cedera. Senjata kalian tak bisa melukaiku, kawan-kawan. Berbahagialah! Kita bertemu lagi. Ketika keadaan berubah. Badai besar akan datang, tapi perubahan sedang terjadi."
Ia meletakkan tangannya ke atas kepala Gimli; Kurcaci itu menatapnya, dan tiba- tiba tertawa. "Gandalfl" katanya. "Tapi kau berpakaian serbaputih!"
“Ya, aku kini putih," kata Gandalf. "Bisa dikatakan akulah Saruman; Saruman

seperti seharusnya. Tapi ayo, ceritakan tentang diri kalian sendiri! Aku sudah melewati api dan air dalam sejak kita berpisah. Aku sudah banyak lupa apa-apa yang rasanya dulu kuketahui, dan aku belajar kembali tentang hal-hal yang sudah kulupakan. Aku bisa melihat banyak hal jauh di depan, tapi hal yang dekat tak bisa kulihat. Ceritakan tentang diri kalian sendiri!"


"Apa yang ingin kauketahui?" kata Aragorn. "Akan panjang sekali ceritanya, kalau aku memaparkan semua yang terjadi sejak kita berpisah di jembatan. Maukah kau memberi kabar dulu tentang kedua hobbit? Apakah kau menemukan mereka, dan apakah mereka aman?"
"Tidak, aku tidak menemukan mereka," kata Gandalf "Ada kegelapan di atas lembah Emyn Mull, dan aku tidak tahu tentang penangkapan mereka, sampai burung elang menceritakannya padaku."
"Burung elang!" kata Legolas. "Aku melihat seekor elang, tinggi dan jauh di atas:

kali terakhir tiga hari yang lalu, di atas Emyn Muil."

"Ya," kata Gandalf, "itu Gwaihir si Penguasa Angin, yang menyelamatkan aku

dari Orthanc. Aku mengirimnya mendahuluiku untuk memperhatikan Sungai dan mengumpulkan berita. Matanya tajam, tapi dia tak bisa melihat semua yang lewat di bawah bukit dan pohon. Beberapa hal dilihatnya, beberapa lainnya aku sendiri yang melihat. Cincin itu sekarang sudah di luar jangkauan bantuanku, atau bantuan siapa pun dari Rombongan yang berangkat dari Rivendell. Hampir saja dia terungkap oleh Musuh, tapi dia lolos. Aku ikut berperan dalam hal itu: karena aku duduk di tempat tinggi, dan berjuang melawan Menara Kegelapan; Bayangan itu berlalu. Lalu aku letih, sangat letih; lama aku berjalan dengan pikiran gelap."
"Jadi, kau tahu tentang Frodo!" kata Gimli. "Bagaimana keadaannya?"

"Tak bisa kukatakan. Dia diselamatkan dari bahaya besar, tapi masih banyak yang mesti dihadapinya. Dia memutuskan untuk pergi sendirian ke Mordor, dan dia berangkat: itu saja yang bisa kukatakan."
"Tidak sendirian," kata Legolas. "Kami menduga Sam ikut dengannya."

"O ya?" kata Gandalf, matanya bersinar-sinar, dan senyuman menghiasi wajahnya. "Begitukah? Itu kabar baru untukku, tapi itu tidak mengagetkan. Bagus! Bagus sekali! Kau meringankan hatiku. Kau harus menceritakan lebih banyak. Sekarang duduklah di dekatku, dan ceritakan kisah perjalanan kaiian."


Mereka duduk di tanah, dekat kaki Gandalf, dan Aragorn memulai kisah itu. Lama sekali Gandalf tidak mengatakan apa pun, dan tidak mengajukan pertanyaan. Tangannya diletakkan di atas lutut, matanya terpejam. Akhirnya, ketika Aragorn berbicara tentang kematian Boromir dan perjalanannya yang terakhir di Sungai Besar, orang tua itu mengeluh.
"Kau belum mengatakan semua yang kauketahui atau kauduga, Aragorn kawanku," kata Gandalf tenang. "Boromir yang malang! Aku tak bisa melihat apa yang terjadi padanya. Itu cobaan menyakitkan bagi manusia seperti dia: pejuang dan penguasa di antara manusia. Galadriel menceritakan padaku bahwa Boromir dalam bahaya. Tapi akhirnya dia lolos. Aku senang. Tidak sia-sia hobbit-hobbit muda itu ikut kita, meski hanya demi Boromir. Tapi bukan itu peran satu-satunya yang harus mereka mainkan. Mereka dibawa ke Fangorn, dan kedatangan

mereka bagai jatuhnya batu-batu kecil yang memulai longsor di pegunungan. Sementara kita di sini, bercakap-cakap, aku sudah mendengar deruman pertama. Sebaiknya Saruman tidak terjebak di luar rumahnya saat bendungan pecah!"
"Dalam satu hal kau belum berubah, sahabatku tercinta," kata Aragorn, "bicaramu masih seperti teka-teki."
"Apa? Teka-teki?" kata Gandalf. "Tidak! Aku sebenarnya berbicara pada diriku

sendiri. Kebiasaan orang tua: orang paling bijak di antara yang hadir, dipilih untuk berbicara; capek sekali memberikan penjelasan-penjelasan panjang yang dibutuhkan orang-orang muda."
la tertawa, tapi sekarang tawanya hangat dan ramah, seperti seberkas sinar mentari.
"Aku sudah tidak muda lagi, meski dalam hitungan Manusia dari Keluarga- Keluarga Kuno," kata Aragorn. "Tidakkah kau mau membukakan pikiranmu dengan lebih jelas padaku?"
"Kalau begitu, apa yang harus kukatakan?" kata Gandalf. Ia berhenti sejenak,

sambil berpikir. "Singkatnya, beginilah aku melihat keadaan sekarang, kalau kau mau tahu jalan pikiranku sejelas mungkin.
Musuh, tentu saja, sudah lama tahu bahwa Cincin ada di luar negerinya, dan bahwa benda itu dibawa seorang hobbit. Dia sekarang tahu jumlah anggota rombongan kita yang berangkat dari Rivendell, dan jenis kita masing-masing. Tapi dia belum tahu persis tujuan kita. Dia menduga kita semua akan pergi ke Minas Tirith; sebab itulah yang akan dia lakukan kalau dia jadi kita. Dan sesuai pengetahuannya, itu akan menjadi pukulan berat bagi kekuatannya. Memang dia dalam ketakutan besar, tidak tahu makhluk hebat apa yang tiba-tiba akan muncul menyandang Cincin, dan mengobarkan perang terhadapnya, berusaha menaklukkannya dan mengambil takhtanya. Bahwa kita ingin menaklukkannya dan tak mau ada yang menggantikannya sama sekali tidak terpikir olehnya. Bahwa kita mau mencoba menghancurkan Cincin itu, belum terpikir olehnya dalam mimpinya yang paling gelap sekalipun. Di situlah terletak keberuntungan dan harapan kita. Sebab dengan membayangkan perang, dia telah lebih, dulu

memulai peperangan, yakin bahwa dia tak punya waktu untuk disia-siakan; sebab siapa yang melakukan pukulan pertama, kalau dia memukul cukup keras, mungkin tak perlu memukul lagi. Maka kekuatan-kekuatan yang sudah lama dipersiapkannya sekarang digerakkannya; lebih awal daripada yang direncanakannya. Si bodoh yang bijak. Jika dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menjaga Mordor, sehingga tak ada yang bisa masuk, dan memusatkan seluruh tipu muslihatnya untuk mengejar Cincin, harapan kita akan tipis: baik Cincin maupun penyandangnya pasti takkan bisa lama menghindarinya. Tapi sekarang matanya memandang jauh dari rumahnya; dan terutama ke Minas Tirith. Tak lama lagi dia akan menyerbu ke sana seperti badai.
"Sebab dia sudah tahu bahwa utusan-utusan yang dikirimnya untuk merintangi Rombongan sudah gagal lagi. Mereka tidak menemukan Cincin, dan tidak membawa hobbit sebagai tawanan. Seandainya mereka bisa membawa tawanan, itu saja sudah pukulan berat bagi kita, dan mungkin berakibat fatal. Tapi janganlah kita memuramkan hati dengan membayangkan kesetiaan hobbit- hobbit yang lembut itu diuji di Menara Kegelapan. Karena Musuh sudah gagal- sejauh ini. Berkat Saruman."
"Jadi, Saruman bukan pengkhianat?" kata Gimli.

"Justru dia pengkhianat," kata Gandalf "Untuk kedua belah pihak. Bukankah itu aneh? Penderitaan kita akhir-akhir ini tidaklah sebanding dengan kesedihan saat kita mengetahui pengkhianatan Isengard. Bahkan sebagai penguasa dan kapten, Saruman sudah tumbuh sangat kuat. Dia mengancam Orang-Orang Rohan dan menarik bantuan mereka pada Minas Tirith, justru ketika pukulan utama dari Timur sedang mendekat. Namun senjata yang berkhianat bahkan lebih berbahaya bagi tangan yang memegangnya. Saruman berniat menguasai Cincin itu untuk dirinya sendiri, atau setidaknya menjerat beberapa hobbit untuk tujuan jahatnya. Jadi, kedua musuh kita itu hanya berhasil membawa Merry dan Pippin dengan kecepatan tinggi, dan tepat pada waktunya, ke Fangorn, dan mereka tidak akan pernah sampai ke sana kalau bukan karena kejadian ini!
"Sekarang mereka juga sudah mulai diliputi keraguan baru yang mengganggu

rencana-rencana mereka. Takkan ada berita pertempuran yang sampai ke Mordor, berkat para Penunggang Kuda dari Rohan; tapi sang Penguasa Kegelapan tahu bahwa dua hobbit ditangkap di Emyn Muil dan dibawa ke Isengard, melawan kemauan anak buahnya. Sekarang dia perlu khawatir terhadap Isengard, selain Minas Tirith. Kalau Minas Tirith jatuh, keadaannya buruk untuk Saruman."
"Sayang sekali kawan-kawan kita ada di tengah-tengah," kata Gimli. "Seandainya tak ada daratan di antara Isengard dan Mordor, kita bisa memperhatikan dan menunggu sementara mereka bertempur."
"Pemenangnya akan muncul semakin kuat daripada keduanya, dan bebas dari keraguan," kata Gandalf "Tapi Isengard tak bisa melawan Mordor, kecuali Saruman memperoleh Cincin itu lebih dulu. Itu tidak akan terjadi sekarang. Dia belum tahu bahaya yang mengancamnya. Banyak yang tidak diketahuinya. Dia begitu bergairah untuk menangkap mangsanya, sampai tak sabar menunggu di rumah. Dia maju untuk menemui dan memata-matai utusan-utusannya. Tapi dia terlambat kali ini, pertempuran sudah selesai dan di luar kemampuannya untuk membantu sebelum dia sampai ke wilayah ini. Dia tidak tinggal lama di sini: Aku memandang ke dalam pikirannya, dan aku melihat keraguannya. Dia tak punya keterampilan tentang permainan kayu. Dia percaya para Penunggang Kuda telah membunuh dan membakar semuanya di medan pertempuran; tapi dia tidak tahu apakah para Orc membawa tawanan atau tidak. Dia juga tidak tahu tentang percekcokan anak buahnya dengan para Orc dari Mordor; begitu pula tentang Utusan Bersayap."
"Utusan Bersayap!" teriak Legolas. "Aku menembaknya dengan busur Galadriel di atas Sam Gebir, dan menjatuhkannya dari langit. Dia membuat kami sangat ketakutan. Teror baru macam apa pula ini?”
"Teror yang tak bisa kautewaskan dengan panah," kata Gandalf. "Kau hanya membinasakan tunggangannya. Bagus sekali, tapi tak lama kemudian Penunggangnya sudah naik kuda lagi. Sebab dia salah satu Nazgul, salah satu dari Kelompok Sembilan, yang sekarang mengendarai kuda bersayap. Tak lama lagi teror mereka akan mengalahkan pasukan terakhir kawan-kawan kita,

menutupi matahari. Tapi mereka belum diizinkan menyeberangi Sungai, dan Saruman belum tahu tentang ujud baru Hantu-Hantu Cincin ini. Pikirannya hanya tertuju pada Cincin. Apakah Cincin itu ada dalam pertempuran? Apakah Cincin itu sudah ditemukan? Bagaimana kalau Theoden, Penguasa Mark, menemukannya dan mengetahui kekuatannya? Itu bahaya yang dilihatnya, dan dia lari kembali ke Isengard untuk menggandakan dan melipattigakan serangannya ke Rohan. Padahal sepanjang waktu itu ada bahaya lain yang sangat dekat, namun tidak dilihatnya, karena dia sibuk dengan pikirannya yang berapi-api. Dia melupakan Treebeard."
"Lagi-lagi kau bicara pada dirimu sendiri," kata Aragorn sambil tersenyum. "Aku tidak kenal Treebeard. Dan aku sudah menduga peran Saruman dalam pengkhianatan ganda; meski begitu, aku tidak melihat manfaat kedatangan dua hobbit itu ke Fangorn, kecuali membuat kita melakukan pengejaran lama dan tanpa hasil."
"Tunggu sebentar!" seru Gimli. "Ada satu hal lain yang ingin kuketahui. Kaukah yang kami lihat tadi malam, Gandalf, ataukah Saruman?"
"Kau jelas tidak melihatku," jawab Gandalf, "karenanya kuduga yang kaulihat adalah Saruman. Rupanya penampilan kami begitu serupa, sehingga hasratmu untuk membuat penyok topiku mesti dimaafkan."
"Bagus, bagus!" kata Gimli. "Aku senang itu bukan kau."

Gandalf tertawa lagi. "Ya, Kurcaci-ku yang baik," katanya, "memang suatu penghiburan besar kalau kita tidak keliru dalam segala hal. Bukankah aku tahu betul itu! Tapi, tentu saja, aku tak pernah menyalahkanmu tentang penyambutanmu terhadapku. Bagaimana aku bisa menyalahkanmu … aku yang begitu sering menasihati kawan-kawanku untuk mencurigai tangan mereka sendiri ketika berhadapan dengan Musuh. Doa restuku bersamamu, Gimli putra Gloin! Mungkin kau akan melihat kami berdua bersama-sama suatu hari, dan menilai”.
"Tapi para hobbit!" potong Legolas. "Kami sudah berjalan jauh untuk mencari mereka, dan rupanya kau tahu di mana mereka. Di mana mereka sekarang?" "Bersama Treebeard dan kaum Ent," kata Gandalf.

"Ent!" seru Aragorn. "Kalau begitu, legenda-legenda lama tentang penghuni hutan rimba dan raksasa penggembala pepohonan memang mengandung kebenaran? Apakah masih ada Ent di dunia? Kupikir mereka hanya kenangan zaman lampau, kalau bukan sekadar legenda Rohan."
"Legenda Rohan!" teriak Legolas. "Tidak, semua Peri di Belantara pernah menyanyikan lagu-lagu tentang Onodrim tua dan duka panjang rriereka. Tapi bahkan di antara bangsa kami mereka hanya sebuah kenangan lama. Kalau aku bertemu satu Ent masih berjalan jalan di dunia ini, maka aku akan merasa muda lagi! Tapi Treebeard: itu hanya tafsiran Fangorn dalam Bahasa Umum; namun yang kaumaksud sepertinya seseorang. Siapakah Treebeard?"
"Ah! Sekarang kau bertanya terlalu banyak," kata Gandalf. "Sedikit cerita yang kuketahui dari kisahnya yang panjang dan lamban akan makan waktu lama untuk disampaikan, dan kita tak punya waktu untuk itu sekarang. Treebeard memang Fangorn, penjaga hutan; dialah yang tertua di antara para Ent, makhluk hidup tertua yang masih berjalan di bawah Matahari di Dunia Tengah. Kuharap kau bisa bertemu dengannya, Legolas. Merry dan Pippin beruntung: mereka bertemu dengannya di sini, di tempat kita duduk ini. Karena dia datang dua hari yang lalu dan membawa mereka ke rumahnya, jauh di kaki pegunungan. Dia sering datang ke sini, terutama kalau sedang gelisah, dan selentingan dari dunia luar mencemaskannya. Aku melihatnya empat hari yang lalu, berjalan di tengah pepohonan. Kukira dia melihatku, sebab dia berhenti; tapi aku tidak menyapanya, karena aku sibuk berpikir, dan letih setelah pertempuranku dengan Mata Mordor; dia juga tidak berbicara, atau memanggilku."
"Mungkin dia juga mengira kau Saruman," kata Gimli. "Tapi kau membicarakan dia seolah dia sahabatmu. Kukira Fangorn berbahaya."
"Berbahaya!" seru Gandalf. "Aku juga begitu, sangat berbahaya: lebih berbahaya daripada apa pun yang akan pernah kautemui, kecuali kau dibawa hidup-hidup ke hadapan takhta Penguasa Kegelapan. Aragorn pun berbahaya, juga Legolas. Kau dikelilingi bahaya, Gimli putra Glom; karena kau sendiri juga berbahaya, dengan caramu sendiri. Memang Hutan Fangorn berbahaya terutama bagi mereka yang terlalu siap memakai kapak; Fangorn sendiri juga berbahaya;

namun dia bijak dan baik hati. Tapi kini amarahnya yang panjang dan lambat sudah hampir tumpah, dan seluruh hutan dipenuhi olehnya. Kedatangan para hobbit dan berita yang mereka bawa membuat amarah itu meluap, dan segera akan mengalir seperti banjir; tapi amarah itu tertuju pada Saruman dan kapak- kapak Isengard. Sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Zaman Peri kini akan terjadi: para Ent akan bangun dan menyadari bahwa mereka kuat."
"Apa yang akan mereka lakukan?" tanya Legolas heran.

"Aku tidak tahu," kata Gandalf "Kurasa mereka sendiri pun tidak tahu. Aku jadi bertanya-tanya." Gandalf diam, kepalanya tertunduk sementara ia berpikir.


Yang lain memandangnya. Seberkas cahaya matahari jatuh dari balik iring- iringan awan ke tangannya yang sekarang berada di pangkuan, dengan telapak menghadap ke atas: tangannya seolah berisi cahaya, seperti cangkir terisi air. Akhirnya ia menengadah dan memandang langsung ke matahari.
"Pagi sudah hampir berakhir," kata Gandalf "Kita harus segera pergi."

"Apakah kita pergi untuk mencari kawan-kawan kita dan melihat Treebeard?" tanya Aragorn.
"Tidak," kata Gandalf. "Bukan jalan itu yang harus kauambil. Aku memberi kata- kata harapan. Tapi hanya tentang harapan. Harapan bukan kemenangan. Peperangan akan menimpa kita dan semua teman kita, perang yang hanya bisa dimenangkan dengan menggunakan Cincin. Itu membuatku sangat sedih dan cemas: sebab banyak sekali yang akan dihancurkan, dan mungkin semuanya akan hilang. Aku Gandalf, Gandalf sang Putih, tapi Hitam masih lebih kuat."
la bangkit dan menatap ke timur, menudungi matanya, seolah melihat sesuatu di kejauhan yang tidak terlihat oleh yang lain. Lalu ia menggelengkan kepala. "Tidak," katanya perlahan, "Cincin itu sudah di luar jangkauan kita, setidaknya kita boleh bergembira atas itu. Kita jadi tidak lagi tergoda untuk menggunakannya. Kita harus pergi menghadapi bahaya yang hampir mendekati titik putus asa, namun bahaya yang mematikan sudah dilenyapkan."
la membalikkan badan. "Ayo, Aragorn putra Arathorn!" kata Gandalf "Jangan sesali pilihanmu di lembah Emyn Muil, juga tak perlu menyebutnya pengejaran

yang sia-sia. Di antara sekian banyak keraguan, kau memilih jalan yang tampaknya benar; Pilihanmu bijak, dan itu sudah terbukti-kita bertemu tepat pada waktunya; kalau tidak, mungkin kita akan terlambat bertemu. Tapi pencarian kawan-kawanmu sudah berakhir. Perjalananmu selanjutnya sudah ditentukan oleh ikrarmu. Kau harus pergi ke Edoras dan mencari Theoden di istananya. Kau dibutuhkan di sana. Cahaya Anduril harus disingkap dalam pertempuran yang sudah lama ditunggunya. Ada perang di Rohan, dan kejahatan keji: keadaan Theoden sangat buruk."
"Kalau begitu, kita tidak akan bertemu kedua hobbit periang itu lagi?" kata

Legolas.

"Aku tidak mengatakan begitu," kata Gandalf "Siapa tahu? Bersabarlah. Pergilah ke mana harus pergi, dan berharaplah! Ke Edoras! Aku juga akan ke sana." "Jalan ke sana panjang sekali untuk dilalui dengan berjalan kaki, baik oleh yang muda maupun yang tua," kata Aragorn. "Aku khawatir pertempuran sudah lama selesai sebelum aku sampai di sana."
"Kita lihat saja, kita lihat saja," kata Gandalf "Maukah kau pergi bersamaku?"

"Ya, kita akan pergi bersama," kata Aragorn. "Tapi aku tidak ragu kau akan sampai ke sana sebelum aku, kalau kau mau." ia bangkit dan memandang Gandalf lama sekali. Yang lain memandang mereka dengan diam, sementara mereka berdiri berhadapan. Sosok kelabu manusia itu, Aragorn putra Arathorn, jangkung dan keras bagai batu, tangannya memegang pangkal pedangnya; ia tampak seperti seorang raja yang muncul dari balik kabut samudra, dan menginjak pantai manusia yang lebih rendah derajatnya. Di depannya membungkuk sosok tua berjubah putih, yang sekarang bersinar dengan cahaya dari dalam, bungkuk, sarat beban bertahun-tahun, tapi punya kekuatan melampaui kekuatan para raja.
"Bukankah benar kataku, Gandalf," kata Aragorn akhirnya, "bahwa kau bisa pergi ke mana pun kauinginkan, lebih cepat daripadaku? Dan kukatakan juga ini: kaulah kapten dan panji-panji kami. Penguasa Kegelapan mempunyai Sembilan andalan. Tapi kami mempunyai Satu, lebih hebat daripada mereka: sang Penunggang Putih. Dia sudah melewati api dan jurang, dan mereka akan takut

kepadanya. Kami akan pergi ke mana pun dituntunnya."



"Ya, kami akan mengikutimu," kata Legolas. "Tapi pertama-tama, Gandalf, akan sangat meringankan hatiku kalau mendengar apa yang terjadi denganmu di Moria. Tidakkah kau mau menceritakannya pada kami? Tak bisakah kau tinggal sebentar, untuk menceritakan pada teman-temanmu bagaimana kau bisa selamat?"
"Aku sudah terlalu lama di sini," kata Gandalf "Waktu kita singkat sekali. Tapi, meski seandainya masih punya waktu setahun untuk tinggal di sini, aku tidak akan menceritakan semuanya."
"Kalau begitu, ceritakan apa yang mau kauceritakan, dan secukupnya waktu yang ada!" kata Gimli. "Ayo, Gandalf, ceritakan kisahmu dengan Balrog itu!" "Jangan sebut namanya!" kata Gandalf, untuk beberapa saat awan kepedihan seakan menutupi wajahnya. Ia duduk diam, tampak tua seperti maut. "Lama sekali aku jatuh," akhirnya ia berkata lambat-lambat, seolah kesulitan mengingat. "Lama sekali aku jatuh, dan dia jatuh bersamaku. Apinya berkobar di sekitarku. Aku terbakar. Lalu kami terjun ke air dalam, dan semuanya gelap. Air itu sedingin maut: hampir membekukan jantungku."
"Dalam nian jurang yang menganga di bawah bentangan Jembatan Durin, dan belum ada yang mengukur kedaiamannya," kata Gimli.
"Tapi jurang itu mempunyai dasar, di luar cahaya dan pengetahuan," kata Gandalf. "Ke sanalah aku akhirnya sampai, ke landasan batu yang paling bawah. Dia masih bersamaku. Apinya sudah padam, tapi kini dia menjadi benda berlumpur, lebih kuat daripada ular yang mencekik.”
"Kami bertarung jauh di bawah bumi yang hidup, di mana waktu tak bisa dihitung. Dia terus memegangku, dan aku terus-menerus memukulnya, sampai akhirnya dia lari ke dalam terowongan gelap. Terowongan itu bukan dibuat oleh rakyat Durin, Gimli putra Gloin. Jauh, jauh di bawah galian bangsa Kurcaci yang paling dalam, bumi digerogoti makhluk-makhluk tak bernama. Bahkan Sauron pun tidak mengenal mereka. Mereka lebih tua daripada dia. Sekarang aku sudah berjalan di sana, tapi tak akan aku menyebarkan berita yang bakal memuramkan

hari. Dalam keputusasaan itu, musuhku justru harapanku satu-satunya, dan aku mengejarnya, persis di belakangnya. Demikianlah, dia membawaku kembali ke jalan-jalan rahasia Khazad-dum: dia kenal betul semua jalan itu. Kami naik terus, sampai tiba di Tangga Tak Berujung.”
"Tangga itu sudah lama hilang," kata Gimli. "Banyak yang bilang tangga itu tak pernah ada, kecuali dalam legenda, tapi ada juga yang bilang tangga itu sudah dihancurkan."
"Tangga itu ada, dan belum dihancurkan," kata Gandalf "Dan ruang bawah tanah

paling bawah, sampai ke puncak tertinggi dia mendaki, naik dalam bentuk spiral tak terputus, dengan ribuan anak tangga, dan akhirnya keluar di Menara Durin yang dipahat di batu karang hidup Zirakzigil, puncak Silvertine.”
"Di sana, di atas Celebdil, ada sebuah jendela di tengah saiju; di depannya ada ruang sempit, sebuah tonjolan jauh tinggi di atas kabut dunia. Matahari bersinar terang sekali di sana, tapi semua di bawahnya diselimuti awan. Balrog itu melompat keluar, dan ketika aku keluar di belakangnya, dia mencetuskan nyala api baru. Tak ada orang melihatnya, atau mungkin di abad-abad berikut akan dinyanyikan lagu-lagu tentang Pertempuran di Puncak." Mendadak Gandalf tertawa. "Tapi apa yang akan mereka katakan dalam lagu? Mereka, yang melihat ke atas dan jauh, mengira pegunungan tertutup badai. Mereka mendengar petir, dan konon kilat menghantam Celebdil, lalu terpental kembali dalam lidah-lidah api. Belum cukupkah itu? Asap besar mengelilingi kami, asap dan uap. Es berjatuhan bagai hujan. Aku melemparkan musuhku, dan dia jatuh dari tempat tinggi itu, memecahkan sisi gunung yang kena dihantamnya sambil jatuh. Lalu kegelapan meliputiku, dan aku mengembara keluar dari pikiran dan waktu, aku berkelana jauh di jalan-jalan yang tidak hendak kuceritakan.”
"Dengan telanjang aku dikirim kembali untuk suatu masa singkat, sampai tugasku selesai. Dengan telanjang aku berbaring di puncak gunung. Menara di belakang runtuh menjadi abu, jendelanya hilang; tangga yang hancur kini tertutup batu-batu yang terbakar dan pecah. Aku sendirian, terlupakan, tanpa jalan keluar di atas puncak dunia yang keras. Di sanalah aku berbaring, menatap ke atas, ke bintang-bintang yang lewat; setiap hari sama lamanya dengan satu

abad kehidupan dunia. Samar-samar sampai ke telingaku desas-desus berita dari semua negeri: yang sedang tumbuh dan yang sedang sekarat, nyanyian dan tangisan, dan erangan lambat tak henti-henti dari bebatuan yang menanggung beban terlalu berat. Akhirnya Gwaihir si Penguasa Angin menemukan aku lagi; dia memungutku dan membawaku pergi.”
"'Aku ditakdirkan selalu menjadi bebanmu, sahabatku dalam kesulitan,' kataku. "'Memang kau pernah menjadi beban,” jawabnya, “tapi sekarang tidak. Kau ringan seperti bulu angsa di dalam cakarku. Matahari bersinar menembusmu. Bahkan aku mengira kau tidak memerlukan aku lagi: seandainya aku menjatuhkanmu, kau akan melayang di atas angin.”
"'Jangan biarkan aku jatuh! aku berteriak kaget, sebab kurasakan kehidupan sudah kembali berembus di dalam diriku. Bawalah aku ke Lothlorien!”
"'Memang begitulah perintah Lady Galadriel, yang mengirimku mencarimu,”

jawabnya.

"Begitulah, aku sampai di Caras Galadhon dan mengetahui kalian baru saja pergi. Aku berlama-lama di sana, di negeri tanpa hitungan waktu, yang membawa kesembuhan dan bukan pembusukan. Di sana kutemukan kesembuhan, dan aku pun diberi pakaian putih. Aku memberi dan menerima nasihat. Melewati jalan-jalan aneh aku datang, dan aku membawa beberapa pesan untuk kalian. Kepada Aragorn aku di perintahkan mengatakan ini:”


Di manakah kini kaum Dunedain, Elessar, Elessar? Mengapa para kerabatmu mengembara jauh menyasar? Sudah saatnya Yang Kalah maju segera,
Dan Rombongan Kelabu berkuda dari Utara.

Namun gelap jalan yang kutunjuk padamu, saudara: Yang Mati mengawasi jalan menuju Samudra.


"Kepada Legolas dia mengirim berita ini:”



Legolas Greenleaf, lama sudah di bawah pepohonan

Kau hidup bahagia. Waspadalah terhadap Lautan! Kalau kaudengar teriakan burung camar di tepi laut, Hatimu tak lagi di hutan bertaut.


Gandalf diam dan memejamkan mata.

"Kalau begitu, dia tidak mengirim pesan untukku?" kata Gimli, lalu menundukkan kepalanya.
"Gelap sungguh kata-katanya," kata Legolas, "dan hampir tak ada artinya bagi yang menerimanya."
"Itu tidak menghibur," kata Gimli.

"Jadi, bagaimana?" kata Legolas. "Apa kau ingin dia bicara secara terbuka tentang kematianmu?"
"Ya, kalau tak ada hal lain yang bisa dikatakannya."

"Apa itu?" kata Gandalf, membuka matanya. "Ya, kukira aku bisa menebak arti kata-katanya. Maaf, Gimli! Aku sedang memikirkan pesannya lagi. Tapi memang dia mengirimkan pesan padamu, dan pesannya tidak gelap maupun sedih.” "'Kepada Gimli putra Gloin,’ katanya, 'berikan salam dari sang Lady. Pembawa rambut Galadriel, ke mana pun kau pergi, pikiranku bersamamu. Tapi hati-hatilah menggunakan kapakmu pada pohon yang tepat! "'
"Kau kembali pada kami pada masa yang bahagia, Gandalf," seru Kurcaci itu, meloncat-loncat sambil bernyanyi keras dalam bahasa Kurcaci yang aneh. "Ayo, ayo!" teriaknya sambil mengayunkan kapaknya. "Karena kepala Gandalf sekarang tak boleh ditebas, mari kita mencari sasaran yang lebih tepat!"
"Tak perlu mencari jauh-jauh," kata Gandalf, sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Ayo! Kita sudah cukup lama berhandai-handai. Sekarang kita perlu bergegas."


Gandalf memakai lagi jubah lamanya yang compang-camping, dan memimpin jalan. Mereka mengikutinya turun dengan cepat dari dataran tinggi dan berjalan melalui hutan, menyusuri tebing Entwash. Mereka tidak berbicara lagi, sampai tiba kembali di rumput di luar atap Fangorn. Tak ada tanda-tanda kuda-kuda

mereka.

"Mereka tidak kembali," kata Legolas. "Perjalanan ini akan melelahkan sekali!" "Aku tidak akan berjalan," kata Gandalf. "Waktu sudah mendesak."
Lalu, sambil mendongakkan kepala, ia bersiul panjang. Begitu jernih dan tajam bunyinya, sampai yang lain tercengang mendengar bunyi . seperti itu keluar dari bibir tua berjanggut itu. Tiga kali ia bersiul; lalu samar-samar, dan jauh sekali, mereka seolah mendengar ringkikan kuda dari padang-padang, dibawa angin timur. Mereka menunggu sambil bertanya-tanya. Tak lama kemudian terdengar bunyi derap kaki kuda, mula-mula sekadar getaran di tanah, yang hanya terdengar oleh Aragorn ketika ia berbaring di atas rumput, lalu semakin nyaring dan jelas, sampai menjadi derap cepat.
"Lebih dari satu kuda yang datang," kata Aragorn.

"Tentu," kata Gandalf. "Kita terlalu berat untuk satu kuda."

"Ada tiga," kata Legolas, memandang jauh ke seberang padang. "Lihat bagaimana mereka berlari! Itu Hasufel, dan itu kawanku Arod di sebelahnya! Tapi ada kuda lain yang berjalan di depan: kuda besar sekali. Belum pernah kulihat kuda semacam itu."
"Dan tidak akan pernah lagi," kata Gandalf "Itu Shadowfax. Dia pemimpin kaum Meara, kuda-kuda para raja. Bahkan Theoden, Raja Rohan, belum pernah melihat kuda yang lebih bagus daripadanya. Tidakkah dia kemilau bagai perak, dan berlari semulus aliran sungai yang lincah? Dia datang untukku: kuda sang Penunggang Putih. Kami akan pergi berperang bersama-sama."
Sementara penyihir tua itu berbicara, kuda besar itu datang berpacu mendaki lereng, ke arah mereka; kulitnya mengilap dan surainya berkibar-kibar diembus angin. Dua kuda yang lain mengikutinya, sekarang jauh di belakang. Begitu melihat Gandalf, Shadowfax meredam kecepatannya dan meringkik nyaring; lalu ia menderap maju perlahan, membungkukkan kepalanya yang gagah, dan menyundulkan hidungnya yang besar ke leher penyihir tua itu.
Gandalf membelainya. "Kita jauh sekali dari Rivendell, kawanku," katanya, "tapi kau bijak dan cepat, dan datang bila dibutuhkan. Mari kita berjalan jauh bersama, dan tidak berpisah lagi di dunia ini!"

Segera kedua kuda yang lain datang dan berdiri tenang, seolah menunggu perintah. "Kita akan langsung pergi ke Meduseld, balairung Theoden, majikan kalian," kata Gandalf, berbicara serius pada kuda-kuda itu. Mereka menundukkan kepala. "Waktu sudah sangat mendesak, jadi dengan seizin kalian, kawan-kawan, kami akan menunggang kalian. Kami mohon gunakan kecepatan kalian semaksimal mungkin. Hasufel akan membawa Aragorn, dan Arod membawa Legolas. Aku akan menempatkan Gimli di depanku, dan dengan izinnya Shadowfax akan membawa kami berdua. Kita akan menunggu sebentar, untuk minum sedikit."
"Sekarang aku mengerti sebagian dari teka-teki tadi malam," kata Legolas sambil melompat ringan ke atas punggung Arod. "Entah mereka mula-mula lari karena ketakutan, atau tidak, kuda-kuda kami bertemu Shadowfax, pemimpin mereka, dan menyambutnya dengan gembira. Apakah kau tahu dia ada di dekat-dekat sini, Gandalf?"
"Ya, aku tahu," kata penyihir itu. "Aku memusatkan pikiranku padanya, memintanya cepat datang; karena kemarin dia masih jauh di selatan negeri ini. Mudah-mudahan dia membawaku lagi dengan cepat!"


Gandalf sekarang berbicara pada Shadowfax, dan kuda itu berangkat dengan kecepatan tinggi, tapi tidak sampai membuat kuda-kuda yang lain tertinggal jauh di belakang. Setelah beberapa saat, ia membelok mendadak, dan sambil memilih tempat yang tebing sungainya lebih rendah, ia berjalan menyeberangi sungai, lalu membawa mereka ke selatan, masuk ke daratan rata tak berpohon yang sangat luas. Angin bertiup seperti gelombang kelabu, melewati bermil-mil rumput tanpa akhir. Tak ada tanda jalan atau jejak setapak, tapi Shadowfax tidak berhenti atau ragu.
"Dia sekarang mengambil jalan lurus menuju istana Theoden, di bawah lereng Pegunungan Putih," kata Gandalf. "Lebih cepat begini. Tanah di Eastemnet lebih keras, di sanalah jalan utama ke utara terletak, di seberang sungai, tapi Shadowfax tahu jalan melintasi setiap dataran rendah dan lembah."
Berjam-jam mereka melaju melalui padang-padang dan dataran sungai. Kadang-

kadang rumput begitu tinggi, melebihi lutut para penunggang, dan kuda-kuda mereka seolah berenang dalam lautan hijau-kelabu. Mereka sampai ke beberapa kolam tersembunyi, dan wilayah luas dengan sejenis rumput yang mengalun di atas tanah berlumpur berbahaya; tapi Shadowfax bisa menemukan jalan, dan kuda-kuda lain mengikuti jejaknya. Perlahan-lahan matahari turun ke Barat. Saat memandang melintasi dataran luas itu, matahari di kejauhan bagaikan api merah yang terbenam ke dalam rumput. Di batas pandangan, punggung-punggung bukit bersinar merah di kedua sisi. Asap tampak naik menggelapkan lingkaran matahari hingga menjadi warna darah, dan seolah membakar rumput ketika lewat di bawah pinggiran bumi.
"Itu Celah Rohan," kata Gandalf. "Sekarang hampir di sebelah barat kita. Ke arah itulah letak Isengard."
"Aku melihat asap besar," kata Legolas. "Kira-kira apa itu?" "Pertempuran dan perang!" kata Gandalf. "Jalan terus!"

BAB 6

RAJA BALAIRUNG EMAS



Mereka berjalan terus sementara matahari terbenam, disusul oleh senja yang merambat perlahan, dan malam yang kemudian menjelang. Ketika akhirnya mereka berhenti dan turun, bahkan Aragorn pun merasa kaku dan letih. Gandalf hanya mengizinkan mereka istirahat beberapa jam. Legolas dan Gimli tidur, dan Aragorn berbaring datar, telentang; tapi Gandalf berdiri bersandar pada tongkatnya, menerawang ke dalam kegelapan, timur dan barat. Semuanya hening, tak ada tanda atau bunyi makhluk hidup. Malam dihiasi awan yang berarakarak di atas angin dingin, ketika mereka terbangun kembali. Di bawah bulan dingin mereka melanjutkan perjalanan, sama cepatnya seperti di siang hari.
Berjam-jam berlalu, dan mereka masih terus melaju, Gimli terangguk-angguk dan pasti akan jatuh kalau Gandalf tidak memegangnya dan mengguncangnya. Hasufel dan Arod, lelah tapi gagah, mengikuti pemimpin mereka yang tak kenal lelah, bayangan kelabu yang hampir tak terlihat di depan mereka. Bermil-mil berlalu. Bulan yang membesar terbenam di langit Barat yang penuh awan.


Udara menjadi dingin dan tajam. Perlahan-lahan di Timur kegelapan memudar menjadi kelabu dingin. Galur-galur cahaya merah melompat ke atas dinding- dinding hitam Emyn Muil, jauh di sebelah kiri mereka. Fajar datang dengan cerah dan jernih; angin berembus di jalan mereka, berlari di antara rerumputan yang membungkuk. Mendadak Shadowfax berdiri diam dan meringkik. Gandalf menunjuk ke depan.
"Lihat!" serunya, dan mereka mengangkat mata dengan lelah. Di depan sana berdiri pegunungan Selatan: berpuncak putih dan bergaris-garis hitam. Daratan berumput menghampar sampai ke bukit-bukit yang bergerombol di kaki pegunungan, mengalir naik ke lembah-lembah yang masih kabur dan gelap, belum disentuh cahaya fajar, meliuk-liuk masuk ke jantung pegunungan besar. Tepat di depan para pengembara itu, celah terbesar membuka seperti teluk

panjang di antara perbukitan. Jauh ke dalam, sekilas tampak sosok pegunungan dengan satu puncak tinggi; di mulut lembah ada ketinggian tunggal yang berdiri seperti pengawal. Di kakinya mengalir sungai yang bersumber dari lembah, meliuk-liuk bak benang perak; di punggung gunung, masih jauh dari sana, mereka menangkap kilauan di bawah matahari yang sedang terbit, seberkas cahaya keemasan.
"Katakan, Legolas!" kata Gandalf. "Katakan apa yang kaulihat di sana, di depan kita!"
Legolas memandang jauh ke depan, menaungi matanya dari berkas-berkas datar sinar matahari yang baru saja terbit. "Aku melihat aliran sungai putih yang datang dari salju," katanya. "Di tempat dia keluar dari balik bayangan lembah, muncul bukit hijau di sebelah timur. Sebuah bendungan dan dinding tinggi serta pagar berduri mengelilinginya. Di dalamnya menjulang atap-atap rumah; dan di tengah, di atas teras hijau, berdiri sebuah balairung besar para Manusia. Atapnya seakan bersalut emas. Cahayanya bersinar sampai jauh ke atas daratan. Kusen-kusen pintunya juga terbuat dari emas. DI sana berdiri laki-laki berpakaian keping-keping logam yang terang; tapi para penghuni lain di istana masih tidur."
"Edoras nama istana itu," kata Gandalf, "dan balairung emas itu disebut Meduseld. Di sana tinggal Theoden putra Thengel, Raja Mark Rohan. Kita datang saat subuh. Sekarang jalanan di depan kita tampak jelas. Tapi kita harus lebih hati-hati, karena peperangan sedang berlangsung, dan para Rohirrim, Penguasa Kuda, tidak tidur, meski dari jauh mereka seolah terlelap. Kusarankan pada kalian, jangan mengokang senjata, jangan bicara angkuh, sampai kita tiba di hadapan takhta Theoden."


Pagi itu cerah dan jernih, dan burung-burung bernyanyi, ketika para pengembara sampai di sungai. Sungai itu mengalir cepat ke dataran, membelok di luar kaki bukit, melintasi jalan mereka dalam satu lengkungan lebar, mengalir ke timur untuk mengisi Entwash jauh di sana, di antara tebing-tebingnya yang dipenuhi alang-alang. Daratan itu hijau: di padang-padang basah dan tepi sungai yang

berumput tumbuh banyak pohon willow. Di negeri selatan ini, ujung-ujung willow sudah mulai bersemu merah, merasakan musim semi menghampiri. Di sungai ada sebuah arungan di antara tebing-tebing rendah yang sudah banyak terinjak lalu-lalang kuda. Para pengembara menyeberanginya, dan sampai ke sebuah jalan tanah lebar yang menuju dataran tinggi.
Di kaki bukit yang berdinding, jalan itu menjulur ke bawah bayangan perbukitan, tinggi dan hijau. Di sisi barat, rumputnya putih seperti tumpukan salju: bunga- bunga kecil menyembul seperti bintang-bintang mungil di antara tanah berumput kering.
"Lihat!" kata Gandalf. "Betapa eloknya warna-warna cerah di rumput itu! Namanya Evermind, simbelmyne di negeri Manusia ini, karena mereka berbunga sepanjang semua musim, dan tumbuh di tempat orang mati beristirahat. Lihat! Kita sudah tiba di kuburan besar tempat nenek moyang Theoden terbaring." "Tujuh gundukan di kiri, dan sembilan di kanan," kata Aragorn. "Sudah banyak kehidupan panjang manusia berlalu sejak balairung emas itu dibangun."
"Sudah lima ratus kali daun-daun merah berguguran di rumahku di Mirkwood, sejak saat itu," kata Legolas, "dan itu waktu yang sangat singkat bagi kami."
"Tapi bagi para Penunggang dari Mark, itu sudah sangat lama berlalu," kata Aragorn, "sehingga pembangunan istana ini hanya kenangan dari lagu lama, dari tahun-tahun sebelumnya hilang ditelan kabut waktu. Sekarang mereka menamakan daratan ini rumah mereka, milik mereka sendiri, dan bahasa mereka berbeda dari kerabat mereka di utara." Lalu ia mulai menyanyi perlahan dalam bahasa yang asing di telinga sang Peri dan Kurcaci; meski begitu, mereka mendengarkan, karena ada musik kuat di dalamnya.
"Kurasa itu bahasa kaum Rohirrim," kata Legolas, "karena kedengarannya seperti daratan ini sendiri; kaya dan berbukit-bukit sebagian, namun sebagian lain keras dan teguh seperti pegunungan. Tapi aku tak bisa menebak artinya, kecuali bahwa lagu itu menyimpan kesedihan Manusia Fana."
"Begini bunyinya dalam Bahasa Umum," kata Aragorn, "sedekat yang bisa

kuterjemahkan.”

Di mana kini kuda dan penunggangnya? Di mana gerangan terompet yang ditiup lantang?
Di manakah ketopong dan perisai, dan rambut cerah yang berkibar cemerlang? Di manakah tangan yang memetik harpa, dan api merah yang memanggang?
Di manakah musim semi dan panen, serta jagung yang tumbuh menjulang? Mereka sudah lewat, bagai hujan di gunung, dan angin di padang;
Hari-hari sudah turun ke Barat, di balik bukit, di kegelapan bayang-bayang.

Siapa akan mengumpulkan asap dari kayu mati yang menyala,

Atau merajut tahun-tahun yang berarak kembali dari Samudra raya?



Begitulah seorang penyair lama yang sudah terlupakan berbicara di Rohan, mengenang betapa jangkung dan elok Eorl Muda yang menunggang kuda keluar dari Utara; ada sayap di kaki-kaki kudanya, Felarof, ayah semua kuda. Lagu itu masih dinyanyikan manusia di senja hari."
Dengan kata-kata ini, para pengembara melewati gundukan-gundukan hening itu. Mengikuti jalan yang meliuk-liuk mendaki punggung bukit, akhirnya mereka sampai ke dinding-dinding lebar dan gerbang Edoras.
Di sana duduk banyak pria berpakaian logam cerah; orang-orang ini langsung melompat berdiri dan merintangi jalan dengan tombak mereka. "Diam, pendatang-pendatang asing!" mereka berteriak dalam bahasa Riddermark, menanyakan nama dan urusan para tamu itu. Keheranan memancar dari mata mereka, tapi tak ada keramahan; , dan mereka memandang Gandalf dengan garang.
"Aku mengerti bahasa kalian," jawab Gandalf dalam bahasa yang sama, "meski hanya sedikit orang asing bisa memahaminya. Mengapa kalian tidak berbicara dalam Bahasa Umum, seperti kebiasaan di Barat, kalau ingin mendapat jawaban?"
"Adalah perintah Theoden, raja kami, bahwa tak ada yang boleh masuk ke gerbangnya, kecuali mereka yang tahu bahasa kami dan menjadi sahabat kami," jawab salah satu penjaga. "Tak ada yang boleh masuk kemari di masa peperangan, kecuali bangsa kami sendiri, dan mereka yang datang dari

Mundburg di negeri Gondor. Siapakah kalian, yang datang tak acuh melewati padang dengan berpakaian aneh seperti ini, dan mengendarai kuda-kuda yang mirip kuda kami? Kami sudah lama berjaga di sini, dan kami memperhatikan kalian dari jauh. Kami belum pernah melihat para penunggang yang begitu aneh, atau kuda yang lebih gagah daripada salah satu yang kalian tunggangi. Dia salah satu Meara, kecuali mata kami ditipu oleh sihir. Katakan, bukankah kau seorang penyihir, mata-mata Saruman, atau hantu ciptaannya? Bicaralah dan cepat!"
"Kami bukan hantu," kata Aragorn, "dan matamu tidak menipumu. Karena memang kuda-kuda ini milikmu sendiri, seperti pasti sudah kauketahui sebelum menanyakannya. Tapi jarang pencuri pulang kembali ke kandang. Ini Hasufel dan Arod, yang dipinjamkan pada kami dua hari yang lalu oleh Eomer, Marsekal Ketiga Riddermark. Kami kembalikan mereka sekarang, seperti sudah kami janjikan padanya. Apakah Eomer belum kembali dari memberitahukan kedatangan kami?"
Pandangan gelisah terpancar di mata si penjaga. "Aku tak bisa bilang apa-apa tentang Eomer," jawabnya. "Kalau apa yang kaukatakan memang benar, pasti Theoden sudah mendengar tentang hal itu. Mungkin kedatanganmu bukannya tidak ditunggu-tunggu. Baru dua malam yang lalu Wormtongue mendatangi kami dan mengatakan bahwa, sesuai kehendak Theoden, tak ada tamu asing yang boleh memasuki gerbang ini."
"Wormtongue?" kata Gandalf, sambil memandang si penjaga dengan tajam. "Jangan bilang apa-apa lagi! Tugasku bukan menemui Wormtongue, tapi Penguasa Mark sendiri. Aku sangat terburu-buru. Maukah kau pergi memberitahukan bahwa kami sudah datang?" Mata Gandalf berbinar-binar di bawah alisnya yang tebal ketika ia memandang orang itu.
"Ya, aku akan pergi," jawab si penjaga perlahan. "Tapi nama apa yang akan kulaporkan? Dan apa yang akan kukatakan tentang dirimu? Sekarang kau tampak tua dan lelah, tapi di balik penampilan luarmu, kuduga kau jahat dan mengerikan."
"Kau melihat dan berbicara dengan benar," kata penyihir itu. "Karena akulah

Gandalf Aku sudah kembali. Dan lihat! Aku pun membawa kembali seekor kuda. Ini Shadowfax Agung, yang tak bisa dijinakkan tangan lain. Di sampingku adalah Aragorn putra Arathorn, putra mahkota para Raja, dan dia akan pergi ke Mundburg. Di sini ada juga Legolas sang Peri dan Gimli si Kurcaci, kawan-kawan kami. Pergilah sekarang, katakan pada majikanmu bahwa kami ada di depan gerbangnya, dan ingin berbicara dengannya, kalau dia mengizinkan kami masuk ke balairungnya."
"Nama-nama aneh yang kauberikan itu! Tapi aku akan melaporkannya seperti yang kauminta, dan menanyakan keinginan majikanku," kata si penjaga. "Tunggu di sini sebentar, dan aku akan membawa jawaban yang dianggap baik oleh majikanku. Jangan terlalu berharap! Saat ini masa-masa gelap." Dengan cepat ia pergi, meninggalkan tamu-tamu asing itu dalam penjagaan kawan- kawannya yang waspada.
Setelah beberapa saat, ia kembali. "Ikuti aku!" katanya. "Theoden mengizinkanmu masuk; tapi senjata apa pun yang kaubawa, meski hanya tongkat, harus kautinggalkan di ambang pintu. Para penjaga pintu akan menjaganya."


Gerbang gelap sekarang dibuka. Para pengembara itu masuk, berjalan berbaris di belakang pemandu mereka. Mereka menemukan jalan lebar berlapis ubin batu pahat, kadang berbelok naik, kadang mendaki dengan beberapa anak tangga yang jelas. Banyak rumah kayu dan pintu-pintu gelap mereka lalui. Di samping jalan, di dalam saluran batu, sebuah sungai jernih mengalir, berkilauan dan berceloteh. Akhirnya mereka sampai ke puncak bukit. Di sana ada dataran tinggi, di atas sebuah teras hijau, di kakinya sebuah mata air menyembur keluar dari batu yang dipahat berbentuk kepala kuda; di bawahnya ada kolam luas dari mana air itu meluap dan mengisi sungai yang mengalir. Sebuah tangga mendaki ke teras hijau, tinggi dan lebar, dan di kedua sisi tangga teratas ada tempat- tempat duduk dari batu yang dipahat. Di sana duduk penjaga-penjaga lain, dengan pedang terhunus di atas lutut. Rambut mereka yang keemasan dikepang menggantung sampai ke pundak; lambang matahari terlihat pada perisai mereka

yang hijau, rompi panjang mereka sudah dipoles mengilap; ketika mereka bangkit berdiri, mereka tampak lebih jangkung daripada manusia fana.


"Pintu-pintu itu sudah di depan kalian," kata pemandu mereka. "Sekarang aku harus kembali ke tugasku di gerbang. Selamat tinggal! Semoga Penguasa Mark menyambut kalian dengan ramah!"
la membalikkan badan dan kembali dengan cepat melewati jalan. Yang lain

mendaki tangga panjang itu di bawah tatapan para penjaga yang jangkung. Mereka berdiri diam di atas, tidak berbicara, sampai Gandalf melangkah ke teras di ujung tangga. Lalu mendadak, dengan suara jernih, mereka mengucapkan salam ramah dalam bahasa mereka sendiri.
"Hormat, para tamu dari jauh!" kata mereka, dan mengarahkan hulu pedang kepada para tamu, sebagai tanda damai. Permata-permata hijau berkilauan kena cahaya. Lalu salah satu penjaga melangkah maju dan berbicara dalam Bahasa Umum.
"Aku Penjaga Pintu Theoden," katanya. "Hama namaku. Di sini aku harus meminta kalian meninggalkan senjata sebelum masuk."
Maka Legolas meletakkan ke dalam tangan Hama pisaunya yang bergagang perak, berikut tempat panah dan busurnya. "Simpanlah dengan baik," katanya, "karena ini berasal dari Hutan Emas, pemberian Lady dari Lothlorien padaku." Sinar keheranan memenuhi mata Hama, dan ia meletakkan senjata-senjata itu terburu-buru dekat dinding, seolah takut memegangnya. "Takkan ada yang menyentuhnya, aku berjanji padamu," katanya.
Aragorn berdiri ragu sejenak. Katanya, "Bukan kehendakku untuk meletakkan pedangku atau menyerahkan Anduril ke tangan orang lain."
"Ini kehendak Theoden," kata Hama.

"Tidak jelas bagiku, apakah kehendak Theoden putra Thengelmeski dia adalah Penguasa Mark bisa lebih utama daripada kehendak Aragorn putra Arathorn, putra mahkota Elendil dari Gondor."
"Di sini rumah Theoden, bukan rumah Aragorn, meski dia Raja Gondor di takhta

Denethor," kata Hama, melangkah cepat ke depan pintu dan merintangi jalan

masuk. Pedangnya sekarang terhunus di tangan, ujungnya mengarah kepada para tamu.
"Ini omong kosong," kata Gandalf "Permintaan Theoden sebenarnya tak perlu, tapi tak ada gunanya menolak. Raja berhak mendapatkan apa yang dikehendakinya di dalam balairungnya sendiri, meski itu kebodohan atau kebijakan."
"Memang benar," kata Aragorn. "Dan aku bersedia memenuhi permintaan tuan rumah, meski ini hanya pondok tukang kayu, kalau pedang yang kubawa bukan Anduril!"
"Apa pun namanya," kata Hama, "di sinilah kau akan meletakkannya, kalau kau tidak mau bertempur sendirian melawan semua pria di Edoras."
"Tidak sendirian!" kata Gimli, meraba-raba mata kapaknya, dan menatap geram pada si penjaga, seolah ia sebatang pohon muda yang ingin ditebasnya. "Tidak sendirian!"
"Ayo, ayo!" kata Gandalf. "Kita semua bersahabat. Atau seharusnyalah begitu;

Mordor akan menertawakan kita kalau kita bertengkar. Tugasku sangat mendesak. Setidaknya inilah pedangku, Hama yang budiman. Simpanlah dengan baik. Namanya Glamdring, karena para Peri yang membuatnya, lama berselang. Sekarang biarkan aku masuk. Ayo, Aragorn!"
Perlahan-lahan Aragorn membuka ikat pinggangnya dan meletakkan pedangnya tegak bersandar pada dinding. "Di sini aku meletakkannya," katanya, "tapi kuperintahkan kau agar tidak menyentuhnya, atau membiarkan tangan lain menyentuhnya. Dalam sarung buatan Peri ini ada Pedang yang Dulu Patah dan sudah ditempa lagi. Telchar yang pertama kali menempanya, pada zaman dahulu kala. Celakalah siapapun yang berani menghunus pedang Elendil, kecuali putra mahkota Elendil."
Penjaga itu mundur dan memandang Aragorn dengan kagum. "Tampaknya kau datang mengendarai sayap-sayap lagu dari zaman lampau yang sudah terlupakan," katanya. "Perintahmu akan ditaati, Pangeran."
"Nah," kata Gimli, "kalau ada Anduril untuk menemaninya, kapakku juga boleh ditinggal di sini, tanpa malu-malu," dan ia meletakkan kapaknya di lantai. "Nah,

sekarang, kalau semuanya sudah seperti yang. kauinginkan, mari kita pergi dan berbicara dengan majikanmu."
Penjaga itu masih ragu. "Tongkatmu," katanya pada Gandalf. "Maaf, tapi itu pun harus ditinggalkan di dekat pintu."
"Tolol sekali!" kata Gandalf. "Berhati-hati boleh saja, tapi ini sudah tak sopan namanya. Aku sudah tua. Kalau aku tak boleh bersandar pada tongkatku sambil berjalan, maka aku akan duduk di luar sini, sampai Theoden berkenan keluar sendiri untuk berbicara denganku."
Aragorn tertawa. "Setiap orang punya benda kesayangan yang sulit dipercayakan pada orang lain. Tapi sampai hatikah kau memisahkan orang tua dari topangannya? Ayolah, masa kau tidak membolehkan kami masuk?"
"Tongkat di tangan seorang penyihir mungkin bukan sekadar topangan untuk berjalan," kata Hama. ia memandang tajam ke tongkat kayu asli yang disandari Gandalf "Tapi dalam keraguan, seorang pria terhormat akan percaya pada kebijakannya sendiri. Aku percaya kalian adalah sahabat dan orang-orang terhormat, yang tidak mempunyai maksud jahat. Kalian boleh masuk."


Para penjaga sekarang mengangkat palang berat dari pintu-pintu, dan membukanya perlahan ke arah dalam, dengan bunyi geraman pada engsel mereka yang besar. Para pengembara itu masuk. Di dalam terasa gelap dan hangat, setelah tadi mereka merasakan udara jernih di atas bukit. Balairung itu panjang dan lebar, dipenuhi bayang-bayang dan cahaya temaram; tiang-tiang tinggi besar menopang atapnya yang megah. Namun di sana-sini cahaya matahari cerah masuk dalam berkas-berkas gemerlap dari jendela-jendela sebelah timur, tinggi di bawah pinggiran atap yang lebar. Melalui kisi-kisi atap, di atas untaian tipis asap yang keluar, langit terlihat pucat dan biru. Setelah mata mereka menyesuaikan diri, mereka melihat bahwa lantai dilapisi ubin batu berbagai warna; lambang-lambang bercabang, dan hiasan-hiasan aneh yang terjalin di bawah kaki mereka. Sekarang mereka melihat bahwa pilar-pilar di situ berukiran penuh, berkilauan dengan emas dan warna-warna yang hanya separuh terlihat. Banyak kain tenun tergantung di dinding, pada bidang-

bidangnya yang luas berjajar sosok-sosok dari legenda-legenda kuno, beberapa sudah pudar dimakan waktu, beberapa gelap oleh bayang-bayang. Tapi sinar matahari jatuh di atas satu sosok: seorang pemuda di atas kuda putih. Ia meniup terompet besar, rambutnya yang kuning berkibar ditiup angin. Kepala kuda itu terangkat, lubang hidungnya lebar dan merah ketika ia meringkik, mencium peperangan di kejauhan. Air berbuih, hijau dan putih, mengalir dan menggelombang di dekat lututnya.
"Lihatlah Eorl Muda!" kata Aragorn. "Begitulah dia keluar dari Utara, menuju

Pertempuran di Padang Celebrant."



Sekarang keempat sahabat itu melangkah maju, melewati api terang yang menyala di perapian panjang di tengah balairung. Lalu mereka berhenti. Di ujung terjauh ruangan itu, di seberang perapian dan menghadap ke utara, ke pintu, ada sebuah panggung dengan tiga anak tangga; di tengah panggung ada takhta berlapis emas. Di takhta itu duduk seorang pria tua yang bungkuk karena usia, hingga sosoknya hampir-hampir kelihatan seperti orang kerdil; namun rambutnya yang putih sangat panjang dan tebal, jatuh dalam kepang-kepang besar dari bawah circlet emas kecil yang ia kenakan di atas dahinya. Di tengah dahinya bersinar sebuah berlian tunggal. Janggutnya yang bagai salju diletakkan di atas lututnya; tapi matanya masih bersinar dengan cahaya cerah menyilaukan ketika ia menatap para tamunya. Di belakang kursinya berdiri seorang wanita berpakaian putih. Di dekat kakinya, di atas tangga, duduk sesosok pria keriput, dengan wajah pucat yang cerdik dan mata berkelopak berat.
Hening sejenak. Pria tua itu duduk tak bergerak di kursinya. Akhirnya Gandalf berbicara, "Salam hormat, Theoden putra Thengel! Aku sudah kembali. Karena lihatlah! Badai akan datang, dan kini semua kawan harus bergabung, agar jangan sampai masing-masing dihancurkan."
Perlahan-lahan pria tua itu bangkit berdiri, bersandar berat pada tongkat hitam pendek bergagang tanduk putih; kini para tamu melihat, bahwa meski bungkuk, ia masih jangkung; di masa mudanya, sosoknya pasti tinggi dan gagah.
"Kusalami kalian," katanya, "dan mungkin kau mengharapkan penyambutan.

Tapi sejujurnya, kedatanganmu kemari tak sepenuhnya diharapkan, Master Gandalf Kau selalu menjadi pembawa kabar buruk. Kesulitan mengikutimu bagai burung gagak, dan lebih sering semakin buruk. Aku takkan berpura-pura padamu: ketika mendengar Shadowfax kembali tanpa penunggang, aku gembira atas kembalinya kuda itu, tapi terutama atas ketidakhadiran penunggangnya; dan ketika Eomer membawa kabar bahwa akhirnya kau sudah pergi ke rumah peristirahatanmu yang panjang, aku tidak berduka. Tapi kabar dari jauh jarang menghibur. Kini kau datang lagi! Dan bersamamu datang kejahatan yang lebih buruk daripada sebelumnya, seperti bisa diduga. Mengapa aku harus menyambutmu, Gandalf Pembawa Badai? Katakan padaku." Perlahan-lahan ia duduk kembali di kursinya.
"Kau berbicara benar, Tuanku," kata pria pucat yang duduk di tangga panggung. "Belum lima hari sejak kabar buruk datang bahwa Theodred, putramu, tewas di West Marches: tangan kananmu, Marsekal Kedua Riddermark. Eomer tak bisa dipercaya. Hanya sedikit orang yang akan ditinggal untuk menjaga tembok- tembokmu, kalau dia diizinkan memerintah. Dan sekarang ini kami dengar dari Gondor bahwa Penguasa Kegelapan sedang bergerak di Timur. Dan pengembara ini memilih masa-masa seperti ini untuk kembali. Katakan, mengapa kami harus menyambutmu, Master Pembawa Badai? Aku menamakanmu Lathspell, kabar buruk; dan kabar buruk adalah tamu buruk, kata orang-orang." ia tertawa jahat, sambil mengangkat kelopak matanya yang berat sejenak, dan menatap para tamu dengan mata suram.
"Kau dianggap bijak, temanku Wormtongue, dan kau pasti menjadi andalan majikanmu," jawab Gandalf dengan suara lembut. "Meski begitu, orang bisa datang membawa kabar buruk dalam dua cara. Mungkin dia sendiri berbuat jahat; atau dia tidak terlibat kejahatan, dan datang hanya untuk memberi bantuan pada saat dibutuhkan."
"Memang begitu," kata Warmtongue, "tapi ada jenis ketiga: pencuri tulang, pencampur urusan orang lain, unggas pemakan bangkai yang menjadi gemuk karena perang. Bantuan apa yang pernah kauberikan Pembawa Badai? Dan bantuan apa yang kaubawa sekarang? Kaulah yang mencari bantuan dari kami,

terakhir kali kau ke sini. Lalu rajaku memintamu memilih kuda mana saja yang kauinginkan dan pergi; dan semua tercengang ketika kau memilih Shadowfax dengan kekurangajaranmu. Rajaku sangat kecewa; namun bagi beberapa orang, harga yang kami bayar tidak terlalu tinggi, bila itu membuatmu pergi secepatnya dari negeri ini. Kuduga sekarang pun akan terjadi hal yang sama: kau ingin mencari bantuan, bukan memberikannya. Apakah kau membawa pasukan? Apakah kau membawa kuda, pedang, tombak? Itu kusebut bantuan; itu yang kami butuhkan sekarang. Tapi siapa ini yang mengikutimu? Tiga pengembara lusuh berpakaian kelabu, dan kau sendiri paling mirip pengemis di antara semuanya!"
“"Keramahan istanamu akhir-akhir ini agak berkurang, Theoden putra Thengel," kata Gandalf "Bukankah penjaga gerbang sudah memberitahukan nama-nama pendampingku? Jarang seorang Raja Rohan menerima tiga tamu seperti ini. Senjata-senjata mereka sudah mereka letakkan di pintu, senjata yang sama nilainya dengan banyak manusia hidup, bahkan yang terhebat. Kelabu pakaian mereka, karena demikianlah jubah yang diberikan bangsa Peri, hingga mereka bisa melewati bahaya besar untuk sampai ke balairungmu."
"Kalau begitu, benar seperti dilaporkan Eomer, bahwa kalian bersekongkol dengan Penyihir Wanita dari Hutan Emas?" kata Wormtongue. "Tidak mengherankan: jaring-jaring pengkhianatan selalu dibuat di Dwimordene."
Gimli maju selangkah, tapi tiba-tiba merasa tangan Gandalf mencengkeram pundaknya, dan ia berhenti, berdiri kaku seperti batu.


Di Dwimordene, di Lorien

Jarang kaki Manusia menapak kesunyian, Sedikit mata pernah melihat cahaya mencercah Yang senantiasa ada di sana, panjang dan cerah. Galadriel! Galadriel!
Air sumurmu jernih kekal;

Putih bintang di tanganmu yang putih;

Tidak tercemar, tidak ternoda, daun dan tanah bersih

Di Dwimordene, di Lorien,

Lebih elok daripada Makhluk Fana dalam impian.



Demikianlah Gandalf bernyanyi lembut, lalu mendadak ia berubah. Sambil melepaskan jubahnya yang lusuh, ia berdiri tegak, tidak lagi bersandar pada tongkatnya; ia berbicara dengan suara dingin dan jelas.
"Orang bijak hanya membicarakan yang diketahuinya, Grima putra Galmod. Kau

sudah menjelma menjadi cacing tolol. Oleh karena itu diamlah, simpan lidahmu yang bercabang di belakang gigimu. Aku melewati api dan kematian bukan untuk bertukar kata-kata miring dengan seorang pelayan sampai halilintar datang."
la mengangkat tongkatnya. Ada bunyi gemuruh petir. Matahari di jendela-jendela timur tertutup; seluruh balairung mendadak gelap seperti malam. Api padam menjadi bara api. Hanya Gandalf yang tampak, berdiri putih dan tinggi di depan perapian yang menghitam.
Dalam keremangan, mereka mendengar desis Wormtongue, "Bukankah aku sudah menasihatimu, Tuanku, untuk melarang dia membawa tongkatnya? Si tolol Hama sudah mengkhianati kita!" Ada kilatan seperti petir membelah atap. Lalu semuanya sepi. Wormtongue jatuh tengkurap. "Sekarang, Theoden putra Thengel, maukah kau mendengarkan aku?" kata Gandalf. "Apakah kau meminta bantuan?" ia mengangkat tongkatnya dan menunjuk ke sebuah jendela tinggi. Di sana kegelapan seolah memudar, dan melalui lubang itu tampak sebercak langit cerah, jauh dan tinggi. "Tidak semuanya gelap. Teguhkan hatimu, Penguasa Mark; bantuan yang lebih baik tak akan kautemukan. Aku tak punya saran untuk mereka yang putus asa. Tapi aku bisa memberikan nasihat dan kata-kata. Maukah kau mendengarkannya? Ini bukan untuk semua telinga. Kumohon kau keluar dari pintumu dan melihat sekelilingmu. Sudah terlalu lama kau duduk dalam kegelapan, percaya pada dongeng-dongeng berbelit dan bisikan-bisikan tak jujur."
Perlahan-lahan Theoden meninggalkan kursinya. Cahaya redup kembali bersinar di balairung. Wanita tadi bergegas ke sisi Raja, meraih tangannya, dan dengan terhuyung-huyung pria tua itu turun dari panggung, melangkah lembut melintasi

ruangan. Wormtongue tetap berbaring di lantai. Mereka sampai ke pintu, dan

Gandalf mengetuknya.

Buka" teriaknya. "Penguasa Mark akan keluar!” Pintu-pintu membuka, dan udara tajam masuk bersiul. Angin sedang bertiup di atas bukit.
"Suruh para penjagamu ke kaki tangga," kata Gandalf. "Dan kau Lady, tinggalkan dia bersamaku sebentar! Aku akan mengurusnya."
"Pergilah, Eowyn, putri saudaraku!„ kata raja tua itu. "Saat untuk takut sudah

lewat."

Wanita itu membalikkan badan dan perlahan-lahan masuk ke rumah. Ketika melewati pintu, ia menoleh ke belakang. Muram dan merenung tatapannya ketika ia memandang Raja dengan rasa iba yang dingin di matanya. Wajahnya cantik, rambut panjangnya tergerai seperti sungai emas. Ramping dan jangkung sosoknya dalam pakaian putih berhiaskan perak; tapi ia kelihatan kuat dan keras bagai baja, putri para raja. Demikianlah, untuk pertama kalinya, di bawah cahaya siang, Aragorn melihat Eowyn, Lady dari Rohan; dalam pandangannya, gadis itu cantik, cantik dan dingin, seperti pagi hari musim semi yang pucat, yang belum matang sebagai wanita. Dan gadis itu pun mendadak menyadari kehadiran Aragorn: putra mahkota para raja, bijak karena usia, berjubah kelabu, menyembunyikan kekuatan yang bagaimanapun bisa dirasakannya. Untuk beberapa saat ia berdiri diam seperti batu, lalu sambil berputar cepat ia pergi. "Nah, Raja," kata Gandalf, "pandanglah negerimu! Hiruplah udara bebas lagi!" Dari beranda di puncak teras tinggi, mereka bisa memandang ke seberang sungai dan melihat padang-padang hijau Rohan memudar di kejauhan yang kelabu. Tirai-tirai hujan yang ditiup angin jatuh miring. Langit di atas dan di barat masih gelap oleh guruh, halilintar berkeredap jauh di sana, di antara puncak bukit-bukit yang tersembunyi. Namun angin sudah beralih ke utara, dan badai yang datang dari Timur sudah mundur, mengalir ke lautan di sebelah selatan. Mendadak, melalui celah di antara awan-awan di belakang, seberkas sinar matahari menghunjam ke bawah. Hujan turun berkilauan bagai perak, dan jauh di sana, sungai gemerlap seperti kaca yang kemilau.
"Tidak begitu gelap di sini," kata Theoden.

"Tidak," kata Gandalf "Juga usia tidak begitu menekan pundakmu, seperti yang ingin dikesankan beberapa orang padamu. Buanglah tongkatmu!"
Tongkat di tangan Raja jatuh gemerincing ke atas batu. Theoden mengangkat dirinya perlahan, seperti orang yang kaku karena lama membungkuk untuk melakukan kerja keras. Kini ia berdiri tinggi dan tegak, matanya biru ketika menatap bentangan langit terbuka.
"Gelap nian mimpi-mimpiku belakangan ini," katanya, "tapi sekarang aku merasa seperti baru terbangun kembali. Andai kau datang lebih awal, Gandalf. Sebab aku khawatir kedatanganmu sudah terlambat; kau datang hanya untuk melihat hari-hari terakhir istanaku. Dinding tinggi yang didirikan Brego putra Eorl takkan tegak lebih lama lagi. Api akan melahap takhta ini. Apa yang harus dilakukan?" "Banyak," kata Gandalf. "Tapi pertama-tama panggillah Eomer. Tidakkah dugaanku tepat, bahwa kau menawannya atas saran Grima, dia yang dinamai Wormtongue oleh semua orang, kecuali kau sendiri?"
"Memang benar," kata Theoden. "Dia berontak melawan perintahku, mengancam akan membunuh Grima di istanaku."
"Orang bisa saja menyayangimu, tapi tidak menyayangi Wormtongue atau nasihat-nasihatnya," kata Gandalf.
"Mungkin sekali. Aku akan melakukan apa yang kauminta. Panggil Hama ke sini. Karena dia terbukti tak bisa dipercaya sebagai penjaga pintu, biarlah dia menjadi pesuruh. Yang bersalah akan membawa yang bersalah ke pengadilan," kata Theoden; suaranya muram, namun ia menatap Gandalf dan tersenyum; ketika ia tersenyum, banyak kerutan di wajahnya menghilang dan tidak kembali lagi.


Ketika Hama sudah dipanggil dan pergi, Gandalf menuntun Theoden ke kursi batu, lalu ia sendiri duduk di depan Raja, di tangga paling atas. Aragorn dan kawan-kawannya berdiri di dekatnya.
"Tak ada waktu untuk menceritakan semua yang harus kaudengar," kata Gandalf. "Tapi kalau harapanku tidak dikecewakan, tak lama lagi akan datang saatnya aku bisa berbicara lebih lengkap. Lihat! Kau berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada yang bisa dijalinkan akal Wormtongue ke dalam mimpi-

mimpimu. Tapi lihatlah! Kau tidak bermimpi lagi. Kau hidup. Gondor dan Rohan tidak berdiri sendiri. Musuh memang kuat, melampaui perhitungan kita, namun kita punya harapan yang tak diduganya."
Gandalf sekarang berbicara cepat. Suaranya rendah dan rahasia dan hanya Raja yang bisa mendengar perkataannya. Namun semakin banyak ia berbicara, cahaya di mata Theoden semakin terang; akhirnya ia bangkit berdiri, hingga tegak sekali, dan dengan Gandalf di sisinya, berdua mereka memandang dari ketinggian itu ke arah Timur.
"Sungguh," kata Gandalf, sekarang dengan suara nyaring, tajam, dan jelas, "di sanalah sekarang letak harapan kita, tempat ketakutan terbesar kita berada. Maut masih menggantung pada benang. Tapi masih tetap ada harapan, kalau kita bisa bertahan tak dikalahkan untuk sedikit waktu saja."
Yang lain juga memandang ke arah timur. Melalui bermil-mil daratan yang memisahkan, mereka memandang jauh ke sana, sampai ke batas penglihatan; harapan dan ketakutan membawa pikiran mereka melayang melewati pegunungan gelap, sampai ke Negeri Bayang-Bayang. Di manakah sekarang Penyandang Cincin berada? Betapa tipisnya benang penggantung maut! Legolas menyangka melihat sekilas warna putih, ketika ia memandang jauh dengan matanya yang tajam: mungkin jauh di sana matahari menyinari puncak Menara Penjagaan. Dan lebih jauh lagi, jauh tak terhingga namun tetap merupakan ancaman, ada sebuah lidah api yang tampak sangat kecil.
Perlahan Theoden duduk kembali, seolah keletihan masih berjuang untuk menguasainya, melawan kehendak Gandalf. ia berputar dan memandang istananya yang besar. "Sayang!" katanya, "bahwa saat yang buruk ini datang pada masaku, ketika usiaku sudah tua, dan bukan kedamaian yang sudah pantas kuterima. Sayang sekali Boromir yang berani! Yang muda tewas, sedangkan yang tua masih hidup berlama-lama, menjadi layu." ia memegang lututnya dengan tangannya yang keriput.
"Jari-jarimu akan lebih ingat kekuatannya yang dulu, kalau kau memegang pangkal pedang," kata Gandalf.
Theoden bangkit dan menaruh tangannya di sisinya; tapi tak ada pedang

menggantung dari ikat pinggangnya. "Di mana Grima menyimpannya?" ia bergumam pelan.
"Ambillah ini, Tuanku!" kata sebuah suara jernih. "Dia selalu siap melayanimu." Dua orang sudah naik perlahan ke tangga, dan sekarang berdiri beberapa langkah dari puncaknya. Eomer berdiri di sana. Tak ada topi baja di kepalanya, tak ada rompi logam di dadanya, namun di tangannya ia memegang pedang terhunus; sambil berlutut ia menyerahkan gagang pedang itu kepada rajanya. "Bagaimana ini terjadi?" kata Theoden keras. Ia berbicara pada Eomer, dan sekarang semua memandangnya heran, karena ia berdiri gagah dan tegak. Di mana gerangan sosok orang tua yang mereka tinggalkan meringkuk di kursinya, atau bersandar pada tongkatnya?
"Ini ulahku, Paduka," kata Hama, gemetar. "Aku tahu Eomer akan dibebaskan. Aku begitu gembira, hingga mungkin tindakanku keliru. Berhubung dia sudah bebas lagi, dan dia adalah Marsekal Mark, aku membawakan pedangnya, sesuai permintaannya."
"Untuk diletakkan di kakimu, Tuanku," kata Eomer.

Untuk beberapa saat Theoden berdiri diam, memandang Eomer yang masih berlutut di depannya. Keduanya tak bergerak.
"Kau tidak mau mengambil pedang itu?" kata Gandalf.

Perlahan-lahan Theoden mengulurkan tangan. Ketika jemarinya menyentuh pangkal pedang itu, kekokohan dan kekuatan seakan mengalir kembali ke tangannya yang kurus. Mendadak ia mengangkat pedang itu dan mengayunkannya berkilauan mendesing di udara. Lalu ia berteriak keras. Suaranya nyaring ketika ia menyanyikan lagu panggilan maju perang dalam bahasa Rohan.


Bangkitlah sekarang, bangkit, wahai Pasukan Berkuda Theoden! Tugas besar menunggu, gelap sudah di ufuk timur.
Pasang pelana kudamu, bunyikan sangkakala! Majulah kaum Eorlingas!

Para penjaga, yang mengira mereka dipanggil, melompat naik tangga. Mereka memandang raja mereka dengan keheranan, lalu sebagai satu pasukan mereka menghunus pedang dan meletakkannya di kaki Theoden. "Perintahkan kami!" kata mereka.
"Westu Theoden hal!" teriak Eomer. "Bahagia sekali melihatmu kembali menjadi dirimu sendiri. Gandalf, takkan pernah lagi dikatakan bahwa kau hanya datang membawa duka!"
"Ambillah kembali pedangmu, Eomer, putra saudaraku!" kata Raja. "Pergilah,

Hama, dan carilah pedangku! Grima menyimpannya. Bawa dia juga ke hadapanku. Nah, Gandalf, katamu ada nasihat yang bisa kauberikan, kalau aku mau menerimanya. Apa nasihatmu?"
"Kau sudah menerimanya," jawab Gandalf. "Lebih mempercayai Eomer, daripada seorang pria yang pikirannya tidak jujur. Melepaskan penyesalan dan ketakutan. Melakukan tugas yang ada di depanmu. Setiap laki-laki yang bisa naik kuda harus dikirim ke barat segera, seperti disarankan oleh Eomer: pertama-tama kita harus menghancurkan ancaman Saruman, sementara masih ada waktu. Kalau kita gagal, kita akan jatuh. Kalau kita berhasil kita menghadapi tugas berikutnya. Sementara itu, rakyatmu yang ditinggal kaum wanita, anak- anak, dan orang tua harus pergi ke tempat pengungsian yang kaumiliki di pegunungan. Bukankah tempat-tempat itu memang disiapkan untuk saat darurat seperti ini? Biarkan mereka membawa persediaan makanan, tapi jangan menunda-nunda, dan jangan bebani mereka dengan harta, besar maupun kecil. Nyawa mereka yang dipertaruhkan."
"Saran ini kedengaran bagus bagiku," kata Theoden. "Biarlah seluruh rakyatku bersiap-siap! Tapi kalian, tamu-tamuku memang benar katamu, Gandalf, bahwa keramahan istanaku sudah berkurang. Kalian sudah berkuda sepanjang malam, dan pagi sudah semakin siang. Kahan belum sempat tidur maupun makan. Rumah peristirahatan tamu akan disiapkan: di sana kalian akan tidur, setelah makan."
"Tidak, Tuanku," kata Aragorn. "Tak ada kesempatan beristirahat untuk yang sudah letih. Pasukan Rohan harus berangkat hari ini, dan kami akan menyertai

mereka, kapak, pedang, dan busur. Kami membawa senjata bukan untuk disandarkan ke dindingmu, Penguasa Mark.
Dan aku sudah berjanji pada Eomer bahwa pedangku dan pedangnya akan dihunus bersama-sama."
"Sekarang benar-benar ada harapan untuk menang!" kata Eomer.

"Harapan, ya," kata Gandalf. "Tapi Isengard sangat kuat. Dan bahaya-bahaya lain semakin dekat. Jangan menunda, Theoden, kalau kami sudah pergi. Pimpinlah rakyatmu secepatnya ke Benteng Dunharrow di bukit-bukit!"
"Tidak, Gandalf!" kata Raja. "Kau tidak tahu kehebatanmu dalam menyembuhkanku. Aku tidak akan pergi ke Benteng. Aku akan pergi berperang, jatuh di garis depan pertempuran, kalau perlu. Dengan demikian, aku akan tidur lebih nyenyak."
"Kalau begitu, bahkan kekalahan Rohan akan dinyanyikan dengan mulia dalam lagu," kata Aragorn. Para pengawal bersenjata yang berdiri di dekatnya saling menyentuhkan senjata, sambil berteriak, "Penguasa Mark akan maju! Majulah kaum Eorlingas!"
"Tapi rakyatmu jangan sampai tidak bersenjata dan tidak berpemimpin," kata Gandalf. "Siapa yang akan memimpin dan memerintah mereka sebagai gantimu?"
"Akan kupikirkan itu sebelum aku berangkat," jawab Theoden. "Ini dia penasihatku."


Saat itu Hama keluar lagi dari balairung. Di belakangnya, diapit dua laki-laki lain, datanglah Grima si Wormtongue. Wajahnya sangat pucat. Matanya berkedip- kedip kena cahaya matahari. Hama berlutut dan menyerahkan pada Theoden sebilah pedang panjang dalam sarung berhias emas dan bertatahkan permata hijau.
"Tuanku, inilah Herugrim, pedang pusakamu," kata Hama. "Pedang ini ditemukan di dalam peti Grima. Dia enggan memberikan kuncinya. Banyak benda lain di dalam petinya, benda-benda yang dicari-cari para pemiliknya."
"Kau bohong," kata Wormtongue. "Pedang ini diserahkannya sendiri padaku,

untuk disimpan."

"Dan sekarang aku memerlukannya lagi," kata Theoden. "Apakah itu membuatmu tak senang?"
"Tentu saja tidak, Tuanku," kata Wormtongue. "Aku merawatmu dan barang- barang milikmu sebaik mungkin. Tapi jangan membuat dirimu lelah, atau kekuatanmu terkuras. Biarkan yang lain menangani tamu-tamu menyebalkan itu. Makananmu sedang dihidangkan. Apakah kau tidak hendak makan dulu?"
"Aku akan makan dulu," kata Theoden. "Dan biarlah makanan untuk para tamu dihidangkan di meja di sampingku. Pasukan akan berangkat hari ini. Kirimkan bentara-bentara! Suruh mereka memanggil semua yang tinggal dekat! Setiap pria dan pemuda yang kuat memanggul senjata, dan semua yang memiliki kuda, agar siap di pelana mereka sebelum jam dua siang!"
"Astaga!" seru Wormtongue. "Sudah seperti yang kucemaskan. Penyihir ini sudah menyihirmu. Apakah tidak ada yang ditinggal untuk membela Balairung Emas nenek moyangmu, dan semua hartamu? Tidak ada yang menjaga Penguasa Mark?"
"Kalau ini sihir," kata Theoden, "bagiku rasanya lebih sehat daripada bisikan- bisikanmu. Sihirmu tak lama lagi akan membuatku berjalan memakai kaki dan tangan, seperti hewan. Tidak, takkan ada yang ditinggal, bahkan Grima pun tidak. Grima juga akan maju. Pergilah! Kau masih punya waktu untuk membersihkan karat dari pedangmu."
"Kasihanilah aku, Tuanku!" ratap W ormtongue, menggeliat di tanah. "Kasihanilah dia yang sudah lama mengabdi kepadamu. Jangan pisahkan aku darimu! Setidaknya aku akan mendampingimu saat yang lain sudah pergi. Jangan suruh pergi Grima-mu yang setia!"
"Kau kuberi belas kasihanku," kata Theoden. "Dan aku tidak memisahkanmu dariku. Aku sendiri akan maju perang bersama anak buahku. Aku menyuruhmu ikut denganku, untuk membuktikan kesetiaanmu."
Wormtongue memandang wajah demi wajah. Matanya memancarkan sorot ketakutan hewan yang berusaha mencari celah dalam lingkaran musuhnya. Ia menjilat bibir dengan lidah pucatnya yang panjang. "Keputusan semacam itu

sudah bisa diduga akan diambil oleh seorang penguasa Istana Eorl, meski dia sudah tua," katanya. "Tapi mereka yang benar-benar mencintainya tidak akan membiarkannya pergi, mengingat usianya sudah terlalu tua. Tapi rupanya aku terlambat. Orang lain, yang mungkin tidak terlalu bersedih hati bila dia mati, sudah membujuknya. Kalau aku tak bisa menghapus ulah mereka, setidaknya dengarkan aku untuk yang satu ini, Tuanku! Seseorang yang tahu pikiranmu dan menghormati perintahmu harus ditinggal di Edoras. Tunjuklah seorang pelayan setia. Biarkan penasihatmu, Grima, mengurus semua hal sampai kau kembali dan aku berdoa itu akan terjadi, meski orang-orang bijak menganggap tak ada harapan."
Eomer tertawa. "Dan kalau permohonan itu tidak menghindarimu dari ikut perang, Wormtongue yang sangat mulia," katanya, "tugas apa yang mau kauterima? Mengangkut karung tepung ke pegunungan kalau ada yang mempercayaimu melakukan itu?"
"Tidak, Eomer, kau belum sepenuhnya memahami pikiran Master Wormtongue," kata Gandalf, memusatkan tatapannya yang tajam ke arah Eomer. "Dia berani dan cerdik. Sekarang pun dia bermain-main dengan bahaya, dan dia berhasil mencuri angka. Sudah berjam-jam waktuku yang berharga dia buang. Tiarap, ular!" Gandalf berkata mendadak dengan suara mengerikan. "Tiarap pada perutmu! Sudah berapa lama sejak Saruman membelimu? Apa imbalan yang dijanjikannya? Kalau semua laki-laki sudah mati, kau akan mendapatkan bagianmu dari harta ini, dan boleh mengambil wanita yang kauinginkan? Sudah terlalu lama kau memperhatikannya dari bawah kelopak matamu dan menghantui setiap langkahnya."
Eomer memegang pedangnya. "Itu aku sudah tahu," gerutunya. "Karena itulah aku berniat membunuhnya sebelum ini, lupa akan hukum yang berlaku di istana ini. Tapi ada alasan-alasan lain." ia melangkah maju, tapi Gandalf menghentikannya dengan tangannya.
"Eowyn sudah aman sekarang," kata Gandalf. "Tapi kau, Wormtongue. Kau sudah melakukan apa yang bisa kaulakukan untuk majikanmu yang sesungguhnya. Sedikit imbalan setidaknya sudah kauperoleh. Tapi Saruman

suka lupa akan janjinya. Kusarankan kau pergi segera dan mengingatkannya, agar dia tidak lupa pelayananmu yang setia."
"Kau bohong," kata Wormtongue.

"Kata itu terlalu sering dan terlalu mudah keluar dari bibirmu," kata Gandalf. "Aku tidak berbohong. Lihat, Theoden, dia adalah ular! Kau tak bisa dengan aman membawanya serta, juga tak bisa meninggalkannya di sini. Patut sekali dia dibunuh. Tapi dia tidak selalu seperti sekarang ini. Dulu dia manusia, dan melayanimu dengan caranya sendiri. Berikan dia kuda dan biarkan dia pergi segera, ke mana pun yang dipilihnya. Dari pilihannya, kau bisa menilainya." "Kaudengar itu, Wormtongue?" kata Theoden. "Inilah pilihanmu: maju perang bersamaku, dan akan kita lihat apakah kau jujur dalam pertempuran; atau pergi sekarang, ke mana pun kauinginkan. Tapi bila begitu, kalau suatu saat kita bertemu lagi, aku tidak akan berbelas kasihan padamu."
Perlahan Wormtongue bangkit berdiri. Ia memandang mereka dengan mata setengah terpejam. Terakhir ia memandang wajah Theoden dan membuka mulutnya, seolah akan berbicara. Tiba-tiba ia menegakkan tubuh. Tangannya meremas-remas. Matanya berkilat-kilat. Begitu besar kedengkian di dalamnya, sampai semua mundur menjauh darinya. Ia menunjukkan giginya, lalu dengan napas mendesis ia meludah di depan kaki Raja, dan sambil melompat ke samping, ia berlari menuruni tangga.
"Kejar dia!" kata Theoden. "Jangan sampai dia melukai siapa pun, tapi jangan lukai atau rintangi dia. Berikan dia kuda, kalau dia menginginkannya."
"Dan kalau ada yang mau ditungganginya," kata Eomer.

Salah seorang penjaga berlari menuruni tangga. Satu lagi pergi ke sumur di kaki teras, mengambil air yang ditampung dalam topi bajanya. Dengan air itu ia menyiram bersih batu-batu yang dikotori Wormtongue.


"Sekarang, tamu-tamuku, mari!" kata Theoden. "Mari nikmatilah hidangan, sesempatnya waktu."
Mereka masuk kembali ke istananya yang besar. Di kota di bawah, mereka sudah mendengar bentara-bentara berteriak dan terompet perang membahana.

Sebab Raja akan maju segera, setelah semua laki-laki di kota, dan mereka yang tinggal di dekat situ, sudah dipersenjatai dan berkumpul.
Di meja Raja duduk Eomer dan keempat tamu, juga ada Lady Eowyn yang melayani Raja. Mereka makan dan minum dengan cepat. Yang lain diam ketika Theoden menanyai Gandalf tentang Saruman.
"Seberapa jauh pengkhianatannya sudah berjalan, siapa tahu?" kata Gandalf. "Tidak selamanya dia jahat. Dulu aku tidak ragu, dia adalah sahabat Rohan; bahkan ketika hatinya semakin dingin, dia masih menganggapmu bermanfaat. Tapi sekarang sudah lama dia merencanakan kejatuhanmu, mengenakan topeng persahabatan, sampai dia siap. Di tahun-tahun itu tugas Wormtongue mudah saja, dan semua yang kaulakukan segera diketahui di Isengard; karena negerimu terbuka, dan orang-orang asing datang dan pergi. Wormtongue selalu saja membisiki telingamu, meracuni pikiranmu, membekukan hatimu, melemaskan tubuhmu, sementara yang lain memperhatikan dan tak bisa berbuat apa-apa, karena kehendakmu ada dalam kekuasaannya.”
"Tapi ketika aku lolos dan memperingatkanmu, topengnya pun terbuka, bagi mereka yang bisa melihat. Setelah itu Wormtongue bermain menyerempet bahaya, selalu berusaha menghalangimu, menghindari kekuatanmu terkumpul penuh. Dia lihai: memperlemah kewaspadaan orang, atau mempengaruhi ketakutan mereka, sesuai keadaan. Tidakkah kau ingat betapa dia begitu bersemangat mendesak agar tak ada yang disisakan untuk melakukan pengejaran liar ke utara, sementara bahaya yang dekat justru ada di barat? Dia membujukmu untuk melarang Eomer mengejar Orc-Orc yang merampok. Kalau Eomer tidak menentang suara Wormtongue yang berbicara melalui mulutmu, pasukan Orc itu sekarang sudah mencapai Isengard, membawa hadiah berharga. Memang bukan hadiah yang diinginkan Saruman di atas semuanya, tapi setidaknya dua anggota Rombongan-ku, yang terlibat harapan rahasia, yang belum bisa kubicarakan secara terbuka bahkan kepadamu, Raja. Beranikah kau membayangkan kemungkinan penderitaan mereka sekarang, atau apa yang mungkin sudah diketahui Saruman, yang bisa dia manfaatkan untuk menghancurkan kita?"

"Aku berutang banyak pada Eomer," kata Theoden. "Hati yang setia mungkin bermulut lancang."
"Katakan juga," kata Gandalf, "bahwa bagi mata yang tidak lurus, kebenaran mengenakan wajah masam."
"Memang mataku hampir buta," kata Theoden. "Aku berutang paling banyak padamu, tamuku. Sekali lagi kau datang tepat pada waktunya. Aku ingin memberimu hadiah, sebelum kita pergi, yang boleh kaupilih sendiri. Sebut saja apa pun yang menjadi milikku. Aku hanya menyimpan pedangku sekarang!" "Apakah aku datang tepat waktu atau tidak, masih harus dibuktikan" kata Gandalf "Tapi tentang hadiah darimu, Raja, aku akan memilih satu yang sesuai dengan kebutuhanku: cepat dan pasti. Berikan Shadowfax padaku! Dulu dia hanya dipinjamkan, kalau kita bisa menyebutnya pinjaman. Tapi kini aku akan membawanya ke dalam keadaan penuh bahaya, memegang perak melawan hitam: aku tak ingin mengambil risiko dengan sesuatu yang bukan milikku. Dan di antara kami sudah ada ikatan kasih sayang."
"Pilihanmu bagus," kata Theoden, "dan sekarang aku memberikannya dengan senang hati. Meski begitu, ini hadiah yang besar sekali. Tak ada yang menyamai Shadowfax. Dalam dirinya, salah satu di antara kuda jantan terhebat sudah kembali. Takkan ada lagi yang seperti dia. Dan pada kalian, tamu-tamuku yang lain, aku menawarkan benda-benda lain yang bisa ditemukan dalam gudang senjataku. Pedang tidak kalian butuhkan, tapi ada topi baja dan rompi logam yang dibuat dengan keterampilan tinggi, pemberian pada nenek moyangku dari Gondor. Pilihlah di antaranya sebelum kita pergi, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kalian!"


Sekarang berdatangan laki-laki membawa pakaian perang dari timbunan senjata Raja, dan mereka mengenakan pakaian logam mengilap kepada Aragorn dan Legolas. Topi baja mereka pilih juga, berikut perisai bundar: hiasannya yang menonjol dilapisi emas dan bertatahkan permata, hijau, merah, dan putih. Gandalf tidak mengambil senjata, dan Gimli tidak memerlukan rompi rantai, meski seandainya ada yang cocok dengan ukurannya, karena tak ada rompi di

gudang Edoras yang buatannya lebih baik daripada rompi pendeknya yang ditempa di bawah Pegunungan Utara. Tapi ia memilih topi baja dan kulit yang pas di kepalanya; sebuah perisai kecil ia ambil juga. Pada perisai itu ada lambang kuda berlari, putih di atas hijau, lambang Istana Eorl.
"Semoga perisai itu menjagamu dengan baik!" kata Theoden. "Itu dulu dibuat untukku di masa Thengel, ketika aku masih kanak-kanak."
Gimli membungkuk. "Aku bangga memakai perlengkapanmu, Penguasa Mark,"

katanya. "Memang aku lebih baik membawa kuda daripada dibawa seekor kuda. Aku lebih suka kakiku sendiri. Tapi mungkin nanti ada kesempatan bagiku untuk bisa berdiri dan bertarung"
"Sangat mungkin terjadi," kata Theoden.

Sekarang Raja bangkit berdiri, dan Eowyn langsung maju ke depan, membawa anggur. "Ferthu Theoden hal!” katanya. "Terimalah cangkir ini, dan minumlah dalam saat bahagia ini. Semoga kesehatan menyertai kepergian dan kedatanganmu!"
Theoden minum dari cangkir itu, lalu Eowyn menyajikannya kepada para tamu. Ketika berdiri di depan Aragorn, ia berhenti mendadak dan menatap, matanya bersinar-sinar. Aragorn memandang wajahnya yang cantik dan tersenyum; tapi ketika ia mengambil cangkir, tangannya menyentuh tangan Eowyn, dan ia tahu Eowyn gemetar kena sentuhannya. "Hidup, Aragorn putra Arathorn!" katanya. "Hidup, Lady dari Rohan!" jawab Aragorn, tapi wajahnya sekarang gelisah, dan ia tidak tersenyum.
Ketika mereka Semua sudah minum, Raja beranjak ke pintu. Di sana para penjaga menunggunya, bentara-bentara berdiri, semua bangsawan dan pemimpin berkumpul bersama, semua yang tinggal di Edoras atau di dekatnya. "Lihat! Aku akan pergi, dan tampaknya ini akan menjadi kepergianku yang terakhir," kata Theoden. "Aku tak punya anak. Theodred putraku sudah tewas. Aku mengangkat Eomer, putra saudaraku, menjadi putra mahkota. Kalau tak ada di antara kami yang kembali, pilihlah penguasa baru sesuai kehendak kalian. Tapi rakyatku yang kutinggalkan harus kupercayakan pada seseorang, untuk memerintah mereka sebagai penggantiku. Siapa di antara kalian akan tetap

tinggal?"

Tak ada yang bicara.

"Tak ada yang mau kalian sebutkan? Siapa yang dipercaya rakyatku?" "Keturunan Eorl," jawab Hama.
"Tapi aku tak bisa menyisihkan Eomer, dan dia pun takkan mau tinggal di sini," kata Raja, "dan dialah yang terakhir dari keturunan itu."
"Maksudku bukan Eomer," jawab Hama. "Dan dia bukan yang terakhir. Ada

Eowyn, putri Eomund, saudara perempuan Eomer. Dia tak kenal takut, dan dia bersemangat tinggi. Semua mencintainya. Biarlah dia menjadi penguasa bagi rakyat Eorlingas, sementara kita pergi."
"Baiklah kalau begitu," kata Theoden. "Biarlah para bentara mengumumkan kepada rakyat bahwa Lady Eowyn akan memimpin mereka!"
Lalu Raja duduk di kursi di depan pintunya, Eowyn berlutut di depannya, menerima sebuah pedang dan rompi yang elok. "Selamat tinggal, putri saudaraku!" kata Raja. "Masa ini gelap, tapi mungkin kami akan kembali ke Balairung Emas. Namun di Dunharrow rakyat akan membela diri sendiri untuk waktu lama, dan kalau pertempuran gagal, kami semua yang bisa lolos akan datang ke sana."
"Jangan berbicara begitu!" jawab Eowyn. "Setiap hari yang berlalu akan terasa setahun bagiku, sampai kedatanganmu kembali." Tapi ketika ia berbicara, matanya melirik Aragorn yang berdiri di dekat situ.
"Raja akan datang lagi," kata Aragorn. "Jangan cemas! Bukan di Barat, melainkan di Timur maut menunggu kami."


Raja sekarang menuruni tangga, dengan Gandalf di sisinya. Yang lain mengikuti. Aragorn menoleh kembali ketika mereka berjalan menuju gerbang. Sendirian Eowyn berdiri di depan pintu istana di puncak tangga; pedangnya berdiri tegak di depannya, tangannya diletakkan di pangkalnya. Sekarang ia mengenakan pakaian logam yang bersinar bagai perak di bawah cahaya matahari.
Gimli berjalan bersama Legolas, kapaknya di atas pundak. "Well, akhirnya kita berangkat!" katanya. "Manusia selalu banyak bicara sebelum berbuat. Kapakku

sudah tak sabar di tanganku, meski aku tak ragu kaum Rohirrim ini cukup lihai bila diperlukan. Biarpun begitu, ini bukan peperangan yang cocok untukku. Bagaimana aku akan datang ke pertempuran? Kalau saja aku bisa berjalan kaki, dan tidak melonjak-lonjak seperti karung di atas pelana Gandalf."
"Duduk di situ lebih aman daripada di tempat lain," kata Legolas. "Tapi pasti Gandalf akan dengan senang hati menurunkanmu bila baku hantam sudah dimulai: atau Shadowfax sendiri. Kapak bukan senjata untuk penunggang kuda." "Dan Kurcaci bukan penunggang kuda. Leher-leher Orc-lah yang akan kutebas, bukan kulit kepala Manusia," kata Gimli, menepuk-nepuk gagang kapaknya.
Di gerbang, mereka menemukan pasukan besar laki-laki, tua dan muda, semua siap di atas pelana. Lebih dari seribu orang berkumpul di sana. Tombak mereka seperti hutan yang muncul tiba-tiba. Dengan nyaring dan gembira mereka berteriak ketika Theoden maju. Beberapa menyiagakan kuda Raja, Snowmane, yang lain memegang kuda Aragorn dan Legolas. Gimli berdiri gelisah, mengerutkan dahi, tapi Eomer datang menghampirinya, menuntun kudanya. "Hidup, Gimli putra Gloin!" serunya. "Aku belum sempat mempelajari bahasa halus di bawah ajaranmu, seperti kaujanjikan. Tapi bisakah kita mengesampingkan pertengkaran kita? Setidaknya aku tidak akan berbicara jelek lagi tentang Lady dari Hutan itu."
"Aku akan melupakan kemarahanku untuk sementara, Eomer putra Eomund," kata Gimli, "tapi kalau kau mendapat kesempatan melihat Lady Galadriel dengan matamu sendiri, maka kau harus mengakui dia yang tercantik di antara semua wanita, atau persahabatan kita akan berakhir."
"Baiklah!" kata Eomer. "Tapi untuk saat ini, maafkan aku, dan sebagai tanda penyesalanku, naiklah kuda bersamaku, kumohon. Gandalf akan berkuda di depan, bersama Penguasa Mark; tapi Firefoot, kudaku, akan membawa kita berdua, kalau kau bersedia."
"Terima kasih banyak," kata Gimli, senang sekali. "Aku dengan senang hati pergi bersamamu, kalau Legolas, kawanku, boleh menunggang kuda di sisi kita." "Jadilah demikian," kata Eomer. "Legolas di sebelah kiriku, Aragorn di kananku, dan tidak akan ada yang berani melawan kita!"

"Di mana Shadowfax?" kata Gandalf.

"Berlari-lari mengamuk di rumput," jawab mereka. "Tak mau dipegang siapa pun. Itu dia, jauh di sana dekat arungan sungai, seperti bayangan di antara pohon willow."
Gandalf bersiul dan memanggil keras-keras nama kuda itu; jauh di sana, Shadowfax memutar kepalanya dan meringkik, dan sambil membalikkan badannya berlari cepat seperti anak panah, ke arah pasukan.
"Seandainya napas Angin Barat memiliki ujud nyata, maka seperti itulah

ujudnya," kata Eomer, ketika kuda besar itu berlari mendekat, sampai ia berdiri di depan Gandalf.
"Dia sudah menjadi milikmu," kata Theoden. "Tapi dengarlah semuanya! Dengan ini kunyatakan tamuku Gandalf Greyhame, yang paling bijak di antara para penasihat, pengembara yang paling disambut gembira, sebagai penguasa Mark, pimpinan kaum Eorlingas selama keturunan kami masih bertahan; dan kuberikan padanya Shadowfax, pangeran di antara kuda-kuda."
"Kuucapkan terima kasih padamu, Raja Theoden," kata Gandalf. Kemudian tiba- tiba ia melepaskan jubah kelabunya dan topinya, dan melompat ke atas kudanya. Ia tidak mengenakan pakaian logam maupun topi baja. Rambutnya yang seputih salju melayang bebas ditiup angin, jubah putihnya bersinar menyilaukan dalam cahaya matahari.
"Lihatlah Penunggang Putih!" teriak Aragorn, dan semua mengulang kata- katanya.
"Raja kami dan Penunggang Putih!" teriak mereka. "Maju kaum Eorlingas!"

Terompet-terompet berbunyi. Kuda-kuda mengangkat kaki-kaki depan dan meringkik. Tombak beradu dengan perisai. Lalu Raja mengangkat tangannya, dan dengan gerakan cepat seperti tiupan angin besar, mendadak pasukan terakhir Rohan melaju dengan gemuruh ke arah barat.
Jauh di atas padang, Eowyn melihat kilauan tombak-tombak mereka, ketika ia berdiri diam, sendirian di depan pintu istana yang sepi.

BAB 7

HELM'S DEEP



Matahari sudah turun ke barat ketika mereka melaju dari Edoras, cahayanya di depan mata mereka mengubah semua padang Rohan menjadi kabut keemasan. Ada jalan dari barat laut sepanjang kaki perbukitan Pegunungan Putih, dan mereka menyusuri jalan ini, naik-turun di daratan hijau, melintasi banyak palung sungai-sungai kecil yang mengalir deras. Jauh di sana, di sebelah kanan mereka, menjulang Pegunungan Berkabut; semakin jauh semakin gelap dan tinggi. Matahari perlahan terbenam di depan. Senja hari menyusul datang. Pasukan itu terus melaju. Terdesak kebutuhan. Khawatir akan datang terlambat, mereka melaju dengan kecepatan setinggi mungkin, jarang berhenti. Kuda-kuda jantan Rohan berderap cepat dan kuat, tapi jarak yang harus ditempuh masih sangat jauh. Empat puluh league lebih, menurut ukuran burung terbang, dari Edoras ke palung Isen, di mana mereka berharap menemukan para anak buah Raja yang menahan pasukan Saruman.
Malam datang menyelubungi. Akhirnya mereka berhenti untuk berkemah. Mereka sudah berjalan sekitar lima jam, dan sudah jauh di atas padang barat; meski begitu, masih separuh lebih perjalanan yang mesh ditempuh. Dalam lingkaran besar, di bawah langit berbintang dan bulan yang semakin bulat, mereka menyiapkan kemah. Mereka tidak menyalakan api, karena belum tahu pasti keadaan sekitar; tapi nereka memasang penjaga-penjaga berkuda di sekeliling mereka, dan para pengintai melaju jauh ke depan, pergi bagai bayangan dalam lipatan-lipatan daratan. Malam berlalu lamban, tanpa kejadian atau peringatan. Saat fajar terompet-terompet membahana, dan dalam satu jam mereka sudah kembali berangkat.


Belum ada awan di langit, tapi udara terasa berat; agak panas untuk musim itu. Matahari yang sedang terbit agak berkabut, dan di belakangnya ada suatu kegelapan yang makin membesar, mengikutinya perlahan-lahan ke langit, seperti badai besar yang muncul dari Timur. Di Barat Laut tampak kegelapan lain

menggantung di kaki Pegunungan Berkabut, sebuah bayangan yang merangkak turun perlahan dari Lembah Penyihir.
Gandalf menahan kudanya hingga sejajar dengan Legolas yang melaju dekat Eomer. "Kau mempunyai mata tajam bangsamu yang elok, Legolas," katanya, "dan matamu bisa membedakan burung gereja dari kutilang dari jarak satu league. Katakan padaku, bisakah kau melihat sesuatu di sana, dekat Isengard?" "Jaraknya jauh sekali," kata Legolas, memandang ke arah tersebut sambil menaungi matanya dengan tangannya yang panjang. "Aku bisa melihat suatu kegelapan. Ada sosok-sosok bergerak di dalamnya, sosok-sosok besar, jauh di atas tebing sungai; tapi entah sosok apa, aku tidak tahu. Bukan kabut atau awan yang mengalahkan mataku: ada bayangan menyelubungi daratan ini, diturunkan oleh suatu kekuatan, dan dia bergerak maju perlahan menyusuri sungai. Seolah senja di bawah pepohonan yang tak terhingga mengalir turun dari perbukitan." "Dan di belakang kita datang badai dari Mordor," kata Gandalf. "Malam ini akan sangat kelam."


Ketika hari kedua perjalanan mereka berlalu, rasa berat di udara semakin besar. Di siang hari, awan-awan gelap mulai menyusul: seperti atap muram dengan tepi-tepi menggelembung besar, bebercak cahaya menyilaukan. Matahari terbenam, merah darah dalam kabut berasap. Tombak-tombak para Penunggang berujung nyala api ketika berkas-berkas cahaya terakhir menyinari wajah terjal puncak-puncak Thrihyrne: sekarang puncak-puncak itu berdiri dekat sekali di lengan paling utara Pegunungan Putih, tiga tanduk bergerigi yang menatap matahari tenggelam. Dalam cahaya merah terakhir, mereka yang berada di barisan depan melihat sebuah bercak hitam, seorang penunggang kuda yang mendekat. Mereka berhenti dan menunggunya.
Penunggang itu datang, seorang pria letih dengan topi penyok dan perisai terbelah. Perlahan ia turun dari kudanya, berdiri sejenak sambil terengah-engah. Akhirnya ia berbicara. "Apakah Eomer ada di sini?" tanyanya. "Kalian datang juga akhirnya, tapi sudah terlambat, dan pasukan kalian terlalu kecil. Keadaan memburuk sejak tewasnya Theodred. Kemarin kami didorong mundur melewati

Isen dengan kehilangan besar; banyak yang tewas ketika menyeberang. Lalu di malam hari pasukan baru datang menyeberangi sungai ke perkemahan kami. Pasti seluruh Isengard dikosongkan; Saruman sudah mempersenjatai penduduk bukit yang liar dan kaum penggembala Dunland di seberang sungai; dia menyuruh mereka menyerbu kami juga. Kami kewalahan. Tembok perisai terpecah. Erkenbrand dari Westfold sudah menarik mereka yang bisa dikumpulkannya ke bentengnya di Helm's Deep. Sisanya tercerai-berai.
"Di mana Eomer? Katakan padanya tak ada harapan di depan. Dia harus kembali ke Edoras sebelum serigala-serigala dari Isengard sampai di sana." Theoden duduk diam selama itu, tersembunyi dari pandangan laki-laki itu di belakang para pengawalnya; sekarang ia menyuruh kudanya maju. "Mari, berdiri di hadapanku, Ceorl!" katanya. "Aku ada di sini. Pasukan terakhir Eorlingas sudah maju perang. Kami tidak akan kembali tanpa bertarung."
Wajah laki-laki itu bersinar bahagia dan penuh keheranan. Ia bangkit berdiri, lalu berlutut dan menyerahkan pedangnya yang penyok kepada Raja. "Perintahkan aku, Yang Mulia!" teriaknya. "Dan maafkan aku! Kukira …"
"Kaukira aku tinggal di Meduseld, bungkuk seperti pohon tua di bawah salju muslin dingin. Memang begitulah keadaanku ketika kau berangkat ke medan perang. Tapi angin barat sudah menggoyang dahan-dahan," kata Theoden. "Berikan orang ini kuda yang masih segar! Mari kita maju mendukung Erkenbrand!"


Sementara Theoden berbicara, Gandalf melaju sedikit ke depan, dan duduk di sana sendirian, menatap ke utara, ke Isengard, dan ke barat, ke matahari terbenam. Sekarang ia kembali.
"Maju, Theoden!" katanya. "Majulah ke Helm's Deep! Jangan pergi ke Ford-ford Isen, dan jangan berlama-lama di padang! Aku harus meninggalkanmu sebentar. Shadowfax harus membawaku untuk tugas mendesak." Sambil berbicara pada Aragorn, Eomer, dan anak buah Raja, ia berteriak, "Jagalah Penguasa Mark, sampai aku kembali. Tunggu aku di Helm's Gate! Selamat berpisah!"
la mengatakan sesuatu pada Shadowfax, dan kuda itu melesat seperti anak

panah lepas dari busurnya. Bahkan ketika mereka menoleh, ia sudah lenyap: yang tertinggal hanya sekelebat warna perak di bawah cahaya matahari terbenam, desir angin di atas rumput, sebuah bayangan yang lari dan hilang dari pandangan. Snowmane mendengus dan mendompak-dompak ingin ikut, tapi hanya seekor burung yang terbang cepat bisa menyusulnya.
"Apa maksudnya itu?" kata salah seorang pengawal kepada Hama. "Bahwa Gandalf Greyhame perlu bergegas," jawab Hama. "Dia selalu datang dan pergi tanpa diduga."
"Seandainya Wormtongue ada di sini; pasti dia bisa menjelaskannya," kata si pengawal.
"Memang benar," kata Hama, "tapi aku sendiri lebih suka menunggu sampai bertemu Gandalf lagi."
"Mungkin kau akan menunggu lama sekali," kata pengawal itu.



Pasukan itu kini menyimpang dari jalan ke Ford-ford Isen, dan membelokkan arah mereka ke selatan: Malam tiba, dan mereka masih terus melaju. Bukit-bukit semakin dekat, namun puncak-puncak Thrihyrne yang tinggi sudah kabur di depan langit yang menggelap. Masih beberapa mil di depan, di ujung terjauh Lembah Westfold, ada daratan luas berupa teluk besar di pegunungan, dengan sebuah jurang yang keluar ke arah perbukitan. Penduduk di sana menyebutnya Helm's Deep, nama seorang pahlawan perang zaman lampau yang mengungsi ke sana. Jurang itu menjulur semakin terjal dan sempit dari sebelah utara, di bawah bayangan Thrihyrne, sampai batu-batu karang yang penuh burung hitam menjulang bagai menara-menara tinggi di kedua sisinya, menutupi cahaya.
Di Helm's Gate, sebelum mulut Helm's Deep, ada tumit batu karang yang menjorok keluar dekat karang sebelah utara. Di sana, di atas talinya, berdiri tembok-tembok tinggi dari bebatuan kuno, dan di dalamnya ada sebuah menara tinggi. Kata orang, di zaman dahulu, di masa kejayaan Gondor, para raja samudra membangun menara ini dengan tangan-tangan raksasa. Namanya Homburg, karena terompet yang dibunyikan di atas menara itu bergema di belakang, di Deep, seolah pasukan-pasukan yang sudah terlupakan sedang

maju perang dari gua-gua di bawah perbukitan. Dulu juga pernah dibangun sebuah tembok dari Homburg sampai batu karang sebelah selatan, merintangi jalan masuk ke jurang. Di bawahnya, melalui urung-urung lebar, Sungai Deeping mengalir keluar. Di sekitar kaki Hornrock ia menjulur, lalu mengalir melalui selokan di tengah aliran lebar seperti darah hijau, menurun lembut dari Helm's Gate ke Helm's Dike. Dan' sana ia mengalir ke Deeping-coomb dan keluar ke Lembah Westfold. Di sanalah, di Homburg di Helm's Gate, Erkenbrand, penguasa Westfold di perbatasan Mark, sekarang berada. Ketika masa-masa itu semakin gelap karena ancaman peperangan, ia dengan bijak sudah memperbaiki tembok dan memperkuat benteng itu.


Para Penunggang masih berada di lembah rendah di depan mulut Coomb, ketika terdengar teriakan dan bunyi terompet pengintai-pengintai mereka yang berjalan di depan. Dari dalam kegelapan, panah-panah berdesing. Seorang pengintai kembali dengan cepat, melaporkan bahwa ada penunggang-penunggang serigala di lembah, dan sepasukan Orc serta orang-orang liar sedang bergegas ke selatan dari Ford-ford Isen, tampaknya sedang menuju Helm's Deep.
"Kami menemukan banyak rakyat kita tergeletak mati ketika mereka lari ke sana," kata si pengintai. "Kami juga bertemu kelompok-kelompok yang tercerai- berai, pergi ke sana kemari, tanpa pemimpin. Apa yang terjadi dengan Erkenbrand, tak ada yang tahu. Sangat mungkin dia sudah disusul sebelum mencapai Helm's Gate, kalau dia belum tewas."
"Apakah ada yang melihat Gandalf?" tanya Theoden.

"Ya, Yang Mulia. Banyak yang melihat orang tua berpakaian putih naik kuda, melewati padang seperti angin bertiup di rumput. Beberapa mengira dia Saruman. Katanya dia pergi ke Isengard sebelum malam turun. Beberapa juga mengatakan melihat Wormtongue tadi, pergi ke utara dengan sepasukan Orc." "Nasib Wormtongue akan buruk, kalau Gandalf bertemu dengannya," kata Theoden. "Bagaimanapun, aku sekarang kehilangan kedua penasihatku, yang lama maupun yang baru. Tapi dalam kesulitan ini kita tak punya pilihan yang lebih baik selain maju terus, seperti kata Gandalf, ke Helm's Gate, entah

Erkenbrand ada di sana atau tidak. Apakah sudah diketahui berapa besar pasukan yang datang dari Utara?"
"Sangat besar," kata si pengintai. "Dia yang lari ketakutan menghitung setiap awak musuh dua kali, tapi aku sudah berbicara dengan orang-orang yang berhati teguh, dan aku tidak ragu bahwa kekuatan utama musuh memang beberapa kali lebih besar daripada yang kita miliki di sini”
"Kalau begitu, kita harus cepat," kata Eomer. "Mari kita menerobos musuh yang sudah ada di antara kita dan benteng. Ada gua-gua di Helm's Deep, di mana ratusan orang bisa bersembunyi; dan ada jalan-jalan rahasia dari sana, naik ke puncak bukit-bukit."
"Jangan percaya pada jalan-jalan rahasia," kata Raja. "Saruman sudah lama sekali memata-matai daratan di sini. Namun mungkin di tempat itulah kita akan bertahan lama. Ayo!"


Aragorn dan Legolas sekarang mendampingi Eomer di barisan depan. Sepanjang malam gelap mereka terus melaju, semakin lambat ketika kegelapan semakin pekat dan jalan mereka mendaki ke selatan, semakin tinggi dan semakin tinggi ke dalam lipatan remang-remang di sekitar kaki pegunungan. Mereka menemukan beberapa musuh di depan. Di sana-sini mereka bertemu gerombolan Orc, tapi gerombolan itu lari sebelum para Penunggang bisa menyusul atau membunuh mereka.
"Aku khawatir tak lama lagi kedatangan pasukan Raja akan ketahuan oleh pemimpin musuh kita, Saruman atau kapten mana pun yang dikirimnya," kata Eomer.
Hiruk-pikuk peperangan semakin keras di belakang. Sekarang mereka bisa mendengar bunyi nyanyian kasar, menembus kegelapan. Setelah mendaki jauh tinggi ke dalam Deeping-coomb, mereka menoleh ke belakang, dan melihat obor-obor, titik-titik nyala api yang tak terhitung jumlahnya di atas padang- padang gelap di belakang, bertebaran bagai bunga-bunga merah, atau menjulur ke atas dari dataran rendah dalam barisan panjang berkelap-kelip. Di sana-sini nyala api besar membubung.

"Pasukannya besar sekali, dan mengejar kita dengan cepat," kata Aragorn. "Mereka membawa api," kata Theoden, "dan mereka membakar tumpukan gandum, tempat tidur, dan pohon, sambil berjalan. Ini dulu lembah yang sangat subur dan banyak rumah. Kasihan rakyatku!"
"Seandainya hari sudah pagi dan kita bisa turun menyerbu mereka seperti badai dari pegunungan!" kata Aragorn. "Aku sedih harus lari di depan mereka."
"Kita tak perlu Iari jauh lagi," kata Eomer. "Helm's Dike sudah tak jauh di depan,

sebuah parit kuno dan benteng yang disusun sepanjang lembah, dua kali dua ratusan meter di bawah Helm's Gate. Di sana kita bisa berputar dan memberikan perlawanan."
"Tidak, jumlah kita terlalu sedikit untuk mempertahankan Dike," kata Theoden. "Benteng itu panjangnya kira-kira satu mil, dan ada celah yang sangat lebar."
"Di celah itulah barisan belakang kita harus bertahan, kalau kita terdesak." kata

Eomer.

Tak ada bintang maupun bulan ketika para Penunggang itu sampai ke lubang di Dike, tempat sungai dari atas mengalir keluar, dan jalan di sampingnya meluncur turun dari Homburg. Benteng itu mendadak menjulang di depan mereka, sebuah bayangan tinggi di seberang sumur kelam. Ketika mereka maju, seorang pengawal menegur mereka.
"Penguasa Mark pergi ke Helm's Gate," jawab Eomer. "Aku Eomer; putra

Eomund, yang berbicara."

"Ini kabar baik yang melebihi harapan," kata pengawal itu. "Cepatlah! Musuh sudah dekat sekali di belakangmu."
Pasukan itu melewati lubang, dan berhenti di atas tebing yang mendaki. Sekarang mereka gembira karena mendengar Erkenbrand sudah meninggalkan banyak orang untuk mempertahankan Helm's Gate, dan lebih banyak lagi yang sudah lolos ke sana.
"Mungkin kita mempunyai seribu pejalan kaki yang bisa bertempur," kata Gamling, seorang pria tua, pemimpin mereka yang menjaga Dike. "Tapi kebanyakan di antara mereka sudah terlalu tua, seperti aku, atau terlalu muda, seperti cucuku ini. Kabar apa dari Erkenbrand? Kemarin ada kabar bahwa dia

sedang mundur ke sini dengan sisa-sisa terbaik para Penunggang dari Westfold. Tapi dia belum datang."
"Aku khawatir dia tidak akan datang sekarang," kata Eomer. "Pengintai-pengintai kami tidak mendapat kabar tentang dia, dan musuh sudah memenuhi lembah di belakang kami."
"Aku berharap dia lolos," kata Theoden. "Dia orang hebat. Dalam dirinya masih berkobar keberanian Helm sang Hammerhand. Tapi kita tak bisa menunggunya di sini. Sekarang kita harus menarik semua kekuatan kita ke balik tembok- tembok. Apakah persediaanmu cukup? Kami hanya membawa sedikit persediaan makanan, karena kami maju ke perang terbuka, bukan ke pengepungan."
"Di belakang kami, di gua-gua Deep, ada sepertiga rakyat W estfold, tua dan muda, anak-anak dan wanita," kata Gamling. "Di sana juga sudah dikumpulkan banyak persediaan makanan, hewan, dan pakaia."
"Bagus," kata Eomer. "Musuh membakar atau merusak semua yang tertinggal di

lembah."

"Kalau mereka datang untuk menawar barang-barang kita di Helm's Gate, mereka akan membayar harga mahal," kata Gamling.


Raja dan para Penunggang itu berjalan terus. Sebelum jalan layang yang menyeberangi sungai, mereka turun dari kuda. Dalam barisan panjang mereka menuntun kuda-kuda mendaki jembatan, masuk ke gerbang Homburg. Di sana mereka disambut lagi dengan gembira dan harapan baru, karena sekarang cukup banyak orang untuk membela benteng maupun tembok pembatas.
Dengan cepat Eomer menyiapkan anak buahnya. Raja dan orang-orang dari istananya ada di Homburg, juga banyak orang dari W estfold. Tapi di Tembok Deeping dan menaranya, dan di belakangnya, Eomer menyusun hampir seluruh kekuatan yang dimilikinya, sebab di sini pertahanannya agak meragukan, kalau mereka diserang sangat keras dan dengan kekuatan besar. Kuda-kuda dituntun jauh ke dalam Deep, di bawah penjagaan yang bisa disisihkan.
Tembok Deeping tingginya dua puluh kaki, dan begitu tebal hingga empat orang

bisa berjalan berdampingan di puncaknya. Tembok itu dilindungi pagar tinggi, dan hanya orang yang jangkung bisa memandang dari atasnya. Di sana-sini ada belahan di tembok, untuk menembak. Benteng ini bisa dicapai melalui tangga yang turun dari sebuah pintu di halaman luar Homburg; tiga buah tangga juga naik ke tembok dari Deep di belakang; tapi bagian depan temboknya mulus, batu-batunya yang besar dipasang sedemikian rupa, sehingga sambungan- sambungannya tak bisa digunakan untuk mengaitkan kaki, dan di puncaknya mereka menjorok keluar seperti batu karang yang digali lautan.


Gimli berdiri bersandar pada tembok pertahanan di atas dinding. Legolas duduk di atas pagar tinggi, meraba-raba busurnya, dan mengintip ke dalam kegelapan. "Aku lebih suka ini," kata Gimli sambil mengentakkan kaki ke lantai batu. "Hatiku selalu melambung kalau kita berada di dekat pegunungan. Batu karang di sini bagus. Daratan ini mempunyai tulang kokoh. Aku merasakannya di dalam kakiku ketika kita naik dari bendungan. Beri aku waktu setahun dan seratus orang dari bangsaku, dan akan kujadikan tempat ini tak tertembus; pasukan-pasukan yang melabraknya akan memecah seperti air."
"Aku tidak ragu tentang itu," kata Legolas. "Tapi kau seorang Kurcaci, dan Kurcaci adalah bangsa yang aneh. Aku tidak suka tempat ini, tidak juga pada siang hari. Tapi kau membuatku terhibur, Gimli, dan aku gembira kau ada di dekatku, dengan kakimu yang kokoh dan kapakmu yang keras. Kuharap lebih banyak bangsamu ada di antara kita. Tapi aku akan lebih bahagia bila ada seratus pemanah ulung dari Mirkwood. Kita akan membutuhkan mereka. Para pemanah kaum Rohirrim cukup baik, tapi terlalu sedikit yang ada di sini, terlalu sedikit."
"Terlalu gelap untuk memanah sekarang," kata Gimli. "Sebenamya ini waktu untuk tidur. Tidur! Aku sangat membutuhkannya. Naik kuda sangat melelahkan. Namun kapakku gelisah di tanganku. Berikan padaku sebaris leher Orc dan ruang untuk mengayunkan kapak, dan semua keletihanku akan hilang!"


Waktu berlalu lambat sekali. Jauh di lembah di bawah, kobaran api masih

menyala di sana-sini. Pasukan Isengard sekarang maju diam-diam. Obor-obor mereka tampak berbelok-belok mendaki tebing dalam banyak barisan.
Mendadak dari Dike meledak teriakan dan sorak-sorai perang. Obor-obor menyala muncul di atas pinggiran dan berkumpul dekat celah, lalu tersebar dan menghilang. Orang-orang datang menderap kembali melintasi padang, mendaki jembatan ke gerbang Homburg. Barisan belakang dari Westfold sudah terdesak mundur.
"Musuh sudah datang!" kata mereka. "Kami menghujani mereka dengan panah, dan memenuhi Dike dengan Orc. Tapi itu takkan lama menahan mereka. Mereka sudah mulai menaiki tebing di banyak titik, tebal seperti semut berbaris. Tapi kami sudah mengajari mereka untuk tidak membawa obor."


Kini sudah lewat tengah malam. Langit gelap gulita, dan udara yang berat menekan seolah meramalkan bakal datangnya badai. Mendadak awan-awan terbakar oleh sebuah kilatan menyilaukan. Petir bercabang menyambar bukit- bukit sebelah timur. Sekilas para penjaga di atas tembok melihat seluruh ruang antara mereka dan Dike diterangi kilatan cahaya putihnya: sosok-sosok hitam menggelegak dan merangkak di dalamnya, beberapa pendek lebar, beberapa tinggi muram, dengan topi baja tinggi dan perisai hitam. Ratusan dan ratusan lagi mengalir dari atas Dike dan melewati celah. Pasang naik gelap itu mengalir sampai ke dinding-dinding, dari batu karang ke batu karang. Guruh menggelegar di lembah. Hujan turun mencambuk.
Panah-panah rapat seperti hujan datang bersiul melalui atas benteng, jatuh berdenting dan luput ke lantai batu. Beberapa mengenai sasaran. Serangan atas Helm's Deep sudah dimulai, namun tak ada bunyi atau tantangan terdengar dari dalam; tak ada balasan hujan panah.
Pasukan penyerbu berhenti, terhambat oleh batu dan tembok yang berdiri mengancam dalam diam. Berkali-kali petir merobek kegelapan. Lalu pasukan Orc berteriak, mengayunkan tombak dan pedang, dan menembakkan awan panah pada siapa saja yang tampak di atas benteng; orang-orang Mark melihat keluar dengan kaget, memandang padang jagung gelap yang luas, terombang-

ambing oleh prahara perang, setiap butirnya bersinar dengan cahaya berduri. Bunyi terompet terdengar nyaring. Musuh maju menggelora, beberapa menuju Tembok Deeping, yang lain mengarah ke jalan layang dan jembatan yang menuju gerbang Homburg. Di sana Orc-Orc paling besar dikerahkan, berikut orang-orang liar dari Dunland. Sejenak mereka ragu, kemudian terus maju. Petir berkeredap, di atas setiap topi baja dan perisai terlihat lambang tangan Isengard yang mengerikan. Mereka mencapai puncak batu karang; mereka mendesak ke arah gerbang.
Lalu akhirnya balasan datang: badai panah dan lemparan batu menyongsong mereka. Mereka terhuyung-huyung, pecah dan lari mundur; lalu menyerbu lagi, pecah dan menyerbu lagi; dan setiap kali, seperti laut yang sedang pasang naik, mereka berhenti di, titik yang lebih tinggi. Sekali lagi terompet-terompet berbunyi, disusul desakan orang-orang yang menderum melompat maju. Mereka mengangkat perisai besar di atas kepala, membentuk atap, di tengah-tengah membawa dua batang pohon yang sangat besar. Di belakang mereka Orc-Orc pemanah berkerumun, mengirimkan hujan panah ke arah para pemanah di atas tembok. Mereka sudah sampai ke gerbang. Pohon-pohon itu diayunkan tangan- tangan kuat, menghantam kayu gerbang dengan bunyi menggelegar mengoyak- ngoyak. Bila ada yang jatuh, remuk oleh batu yang dilemparkan dari atas, dua yang lain melompat untuk menggantikan. Lagi dan lagi pelantak berayun menabrak gerbang.
Eomer dan Aragorn berdiri bersama di atas Tembok Deeping. Mereka mendengar deruman suara-suara dan dentuman pelantak; lalu dalam cahaya sekilas, mereka melihat bahaya yang mengancam gerbang.
"Ayo!" kata Aragorn. "Inilah saatnya kita menghunus pedang bersama-sama!" Cepat bagai kilat, mereka melaju sepanjang tembok, naik ke atas tangga, dan pergi ke pelataran luar, sampai ke Rock. Sementara berlari, mereka mengumpulkan beberapa pemain pedang yang kuat. Ada sebuah pintu kecil di sudut tembok benteng sebelah barat, di mana ada bagian batu karang yang menjorok keluar ke arahnya. Pada sisi itu ada sebuah jalan sempit keliling menuju gerbang, di antara tembok dan tebing terjal Rock. Eomer dan Aragorn

melompat keluar dari pintu itu, anak buah mereka menyusul di belakang. Serentak mereka mencabut pedang masing-masing; kedua pedang itu berkilauan menyatu, saat keluar dari sarungnva.
"Guthwine!" teriak Earner. "Guthwine untuk Mark!" "Anduril!" seru Aragorn. "Anduril untuk Dunedain!"
Menyerbu dari samping, mereka melemparkan diri ke gerombolan orang-orang liar itu. Anduril naik-turun berkilauan dengan nyala api putih. Terdengar teriakan dari atas tembok dan menara, "Anduril! Anduril maju perang. Pedang yang Patah menyala kembali!"
Dengan kaget para pendobrak pintu menjatuhkan pohon-pohon dan berputar untuk bertempur; tapi dinding perisai mereka terbelah, seakan-akan oleh sapuan kilat, dan mereka disapu pergi, dipukul jatuh, atau terlempar dari atas Rock ke dalam sungai berbatu di bawah. Para Orc pemanah menembak membabi buta, lalu lari.


Sesaat Eomer dan Aragorn berhenti di depan gerbang. Guruh menggelegar di kejauhan. Halilintar masih berkeredap, jauh di antara pegunungan di Selatan. Angin tajam bertiup lagi dari Utara. Awan-awan pecah mengembara, bintang- bintang mengintip; di atas bukit-bukit di sisi Coomb, bulan melaju ke barat, menyala kuning dalam reruntuhan badai.
"Kita datang tidak terlalu cepat," kata Aragorn sambil memandang gerbang. Engsel-engselnya yang besar dan palang besinya sudah terpilin bengkok; banyak papan kayunya sudah retak.”
"Meski begitu, kita tak bisa tetap di luar ternbok untuk mempertahankannya,"

kata Eomer. "Lihat!" ia menunjuk ke jalan layang. Gerombolan besar Orc dan Manusia sudah berkumpul lagi di seberang sungai. Panah-panah berdesing dan berlompatan di atas bebatuan di sekitar mereka. "Ayo! Kita harus kembali, memeriksa apa yang bisa kita lakukan untuk menumpuk batu dan palang, membentengi pintu dari sebelah dalam. Ayo!"
Mereka berputar dan lari. Saat itu beberapa Orc yang berbaring tak bergerak di antara yang tewas melompat berdiri, dan dengan diam-diam lari mengikuti di

belakang. Dua menjatuhkan diri dekat tumit Eomer, membuatnya tersandung, dan dalam sekejap mereka sudah menerkamnya. Namun sebuah sosok kecil gelap yang tidak diperhatikan siapa pun melompat keluar dari balik bayang- bayang dan berteriak parau, Baruk Khazad! Khazad ai-menu! Sebuah kapak mengayun dan melekuk ke belakang. Dua Orc jatuh tanpa kepala. Sisanya melarikan diri.
Eomer berdiri lagi dengan susah payah, sementara Aragorn berlari kembali untuk membantunya.


Pintu kecil sudah tertutup lagi, pintu gerbang besi dipalang dan ditahan dengan tumpukan batu di sebelah dalam. Ketika semua sudah aman di dalam, Eomer membalikkan badan, "Aku berterima kasih padamu, Gimli putra Gloin!" katanya. "Aku tidak tahu kau ikut keluar bersama kami. Tapi sering sekali tamu tak diundang ternyata jadi sahabat terbaik. Bagaimana kau bisa sampai di sana?" "Aku mengikuti kalian untuk menghilangkan rasa kantuk," kata Gimli, "tapi kulihat manusia-manusia bukit itu terlalu besar untukku, maka aku duduk di sebelah sebongkah batu, untuk menyaksikan permainan pedang kalian."
"Takkan mudah bagiku membalas jasamu," kata Eomer.

"Mungkin akan ada kesempatan, sebelum malam ini lewat," tawa Kurcaci itu. "Tapi aku puas. Sebelum ini, aku hanya menghantam kayu sejak meninggalkan Moria."


"Dua!" kata Gimli sambil menepuk-nepuk kapaknya. Ia sudah kembali ke tempatnya di atas tembok.
"Dua?" kata Legolas. "Aku lebih banyak, meski sekarang aku harus mencari panah-panah yang sudah ditembakkan; panahku habis. Tapi setidaknya aku sudah berhasil memanah dua puluh. Namun jumlah itu sedikit sekali, ibaratnya hanya beberapa helai daun di dalam hutan."


Langit cepat menjadi jernih, dan bulan yang sedang tenggelam bersinar terang. Tapi cahaya itu hanya membawa sedikit harapan bagi para Penunggang dari

Mark. Musuh di depan mereka tampaknya semakin banyak, bukan berkurang, dan masih banyak lagi mendesak naik dari lembah, melalui celah. Pertempuran di Rock hanya membuahkan istirahat sejenak. Serangan ke gerbang dilipatgandakan. Pasukan Isengard menderum bagai lautan, menghantam Tembok Deeping. Orc dan orang-orang bukit berkerumun di kakinya dari ujung ke ujung. Tambang berkait dilemparkan ke atas tembok, begitu cepat, hingga lawan tak sempat memotong atau melemparkannya kembali. Ratusan tangga dinaikkan. Banyak yang dilemparkan ke bawah sampai hancur, tapi banyak lagi yang menggantikan, dan para Orc memanjatnya seperti monyet di hutan-hutan gelap di Selatan. Di depan kaki tembok bertumpuk tubuh-tubuh yang tewas dan hancur, seperti sirap kena badai; semakin tinggi tumpukan menjijikkan itu, tapi musuh masih terus berdatangan.
Orang-Orang Rohan mulai letih. Semua panah sudah dipakai, dan semua tombak sudah ditembakkan; pedang-pedang mereka penyok dan perisai mereka tergores. Tiga kali Aragorn dan Eomer mengerahkan mereka, dan tiga kali Anduril menyala dalam serangan nekat yang mengusir musuh dari tembok.
Lalu bunyi hiruk-pikuk muncul di Deep di belakang. Orc-Orc sudah merangkak seperti tikus melalui saluran tempat sungai mengalir keluar. Di sana mereka berkumpul di bawah bayangan batu karang, sampai serangan di atas mencapai puncaknya dan hampir semua pasukan pertahanan berlari ke puncak tembok. Kemudian mereka melompat keluar. Beberapa sudah masuk ke dalam rahang Deep dan berada di antara kuda-kuda, bertempur dengan para penjaga.
Dari atas tembok, Gimli melompat dengan teriakan garang yang bergema di batu-batu karang. "Khazad! Khazad!" Segera ia terlibat kerja keras.
"Ai-oi!" teriaknya. "Orc-Orc ada di belakang tembok! Ke sini, Legolas! Ada cukup banyak untuk kita berdua! Khazad ai-menu!"


Gamling Tua memandang ke bawah dari Homburg, dan mendengar suara Gimli si Kurcaci di atas segala keributan. "Orc-Orc ada di Deep!" teriaknya. "Helm! Helm! Majulah kaum Helmingas!" ia berteriak sambil melompat turun tangga dari Rock bersama banyak orang dari Westfold di belakangnya.

Mereka datang begitu garang dan mendadak, hingga para Orc menyerah. Tak lama kemudian, Orc-Orc sudah terkepung di ngarai yang sempit, semua tewas atau lari sambil menjerit-jerit ke dalam jurang Deep, dan jatuh di depan para penjaga gua-gua tersembunyi.
"Dua puluh satu!" teriak Gimli. ia mengayunkan kapaknya dengan dua tangan dan menewaskan Orc terakhir di depan kakinya. "Sekarang tanganku melebihi Master Legolas lagi."
Kita harus menutup lubang tikus ini," kata Gamling. "Konon kurcaci pintar sekali

menangani batu. Bantulah kami, Master!"

"Kami tidak membentuk batu dengan kapak perang, juga tidak dengan kuku jari," kata Gimli. "Tapi aku akan membantu sebisaku."
Mereka mengumpulkan batu-batu kecil dan batu-batu pecah yang bisa mereka temukan, dan di bawah petunjuk Gimli, orang-orang W estfold menutup ujung sebelah dalam saluran, hingga hanya tersisa sebuah lubang kecil. Sungai Deeping yang membengkak karena hujan, menggelegak dan menggeliat di jalannya yang tercekik, lalu menyebar perlahan ke dalam kolam-kolam dingin, dari batu karang ke batu karang.
"Di atas lebih kering," kata Gimli. "Ayo, Gamling, mari kita lihat keadaan di atas tembok!"
la memanjat ke atas dan menemukan Legolas di samping Aragorn dan Eomer. Legolas sedang mengasah pisaunya yang panjang. Untuk sementara ada jeda dalam serbuan, sejak usaha menerobos lewat saluran digagalkan.
"Dua puluh satu!" kata Gimli.

"Bagus!" kata Legolas. "Tapi hitunganku sekarang dua lusin. Di atas sini tadi, pisau yang berperan."


Eomer dan Aragorn bersandar letih pada pedang mereka. Di sebelah kiri, bunyi denting dan hiruk-pikuk pertempuran di Rock mulai nyaring kembali. Tapi Homburg masih bertahan, seperti pulau di tengah lautan. Gerbangnya hancur, namun belum ada musuh yang berhasil melewati rintangan dari balok-balok dan batu-batu.

Aragorn memandang bintang-bintang yang pucat, dan bulan yang sekarang sudah turun miring ke belakang perbukitan barat yang mengepung lembah. "Malam ini begitu panjang, serasa bertahun-tahun berjalan," katanya. "Berapa lama pagi hari baru akan datang?"
"Fajar sudah tidak jauh lagi," kata Gamling, yang sekarang sudah mendaki ke sampingnya. "Tapi aku khawatir fajar tidak akan membantu kita."
"Meski begitu, fajar selalu menjadi harapan manusia," kata Aragorn.

"Tapi makhluk-makhluk dari Isengard ini, Half-Orc dan Manusia Goblin yang dikembangbiakkan dengan keterampilan sihir jahat Saruman, mereka tidak akan gemetar melihat matahari," kata Gamling. "Begitu juga manusia-manusia liar dari bukit. Tidakkah kaudengar suara-suara mereka?"
"Aku mendengar mereka," kata Eomer, "tapi di telingaku kedengarannya hanya seperti teriakan burung dan auman hewan liar."
"Tapi banyak yang berteriak dalam bahasa Dunland," kata Gamling. "Aku kenal bahasa itu. Bahasa manusia kuno, dulu pernah digunakan di banyak lembah barat di Mark. Dengar! Mereka membenci kita, dan mereka gembira, karena bagi mereka ajal kita sudah dekat. 'Raja, Raja!' mereka berteriak. 'Kita ambil raja mereka! Matilah kaum Forgoil! Matilah kaum Strawhead! Matilah para perampok Utara!' Itulah julukan mereka pada kami. Dalam lima ratus tahun, tak sekali pun mereka lupa kekecewaan mereka bahwa para penguasa Gondor memberikan Mark kepada Eorl Muda dan bersekutu dengannya. Kebencian lama itu dikobarkan lagi oleh Saruman. Mereka bangsa yang ganas kalau sudah dibangkitkan. Mereka tidak akan mundur sekarang, baik untuk senja maupun fajar, sampai Theoden dikalahkan, atau.mereka sendiri tewas."
"Biar bagaimanapun, pagi hari akan membawa harapan padaku," kata Aragorn. "Bukankah pernah dikatakan bahwa Homburg tidak akan diambil musuh, kalau dibela manusia?"
"Begitulah kata para pemusik," kata Eomer.

"Kalau begitu, mari kita mempertahankannya, dan berharap!" kata Aragorn. Sementara mereka berbicara, terdengar bunyi terompet. Lalu ada bunyi

dentuman serta kilatan api dan asap. Air Sungai Deeping mengalir keluar dengan mendesis dan berbuih: airnya sudah tak terbendung, sebuah lubang menganga diledakkan di tembok. Sepasukan sosok gelap menyelinap masuk. "Sihir Saruman!" teriak Aragorn. "Mereka sudah merangkak kembali ke dalam saluran, sementara kita bercakap-cakap, dan mereka menyalakan api Orthanc di bawah kaki kita. Elendil, Elendil!" teriaknya sambil melompat ke celah di bawah; tepat saat itu ratusan tangga dinaikkan ke tembok benteng. Di atas dan di bawah tembok, serangan terakhir datang menggelora bagai gelombang gelap di atas bukit pasir. Pertahanan mereka tersapu habis. Beberapa Penunggang didesak mundur, semakin jauh ke dalam Deep, berjatuhan dan bertarung sambil mundur, selangkah demi selangkah ke arah gua-gua. Yang lain memotong jalan kembali ke benteng.
Sebuah tangga lebar mendaki dari Deep ke atas Rock dan gerbang belakang Homburg. DI dekat dasamya berdiri Aragorn. Di tangannya Anduril masih menyala, dan teror dari pedang itu untuk sementara masih bisa menahan musuh, ketika satu demi satu semua yang bisa mencapai tangga, naik menuju gerbang. Di belakang, di tangga teratas, Legolas berlutut. Busurnya direntangkan, tapi hanya satu panah yang tersisa, dan ia mengintai keluar sekarang, siap menembak Orc pertama yang berani mendekati tangga.
"Semua yang bisa masuk, sekarang sudah aman di dalam, Aragorn," teriaknya. "Kembalilah!"
Aragorn berputar dan bergegas menaiki tangga, tapi sementara berlari, ia tersandung karena letih. Segera para musuh melompat maju. Orc-Orc naik dengan berteriak, tangan mereka yang panjang terulur untuk menangkapnya. Yang paling depan jatuh dengan panah terakhir Legolas menancap di tenggorokannya, namun sisanya merangsek melompati. Sebuah batu besar dilemparkan dari tembok luar di atas, jatuh ke atas tangga, melemparkan mereka kembali ke Deep. Aragorn sampai ke pintu, dan dengan cepat pintu itu berdentang tertutup di belakangnya.
"Keadaan kita buruk sekali, kawan-kawan," katanya sambil menyeka keringat di dahinya.

"Buruk sekali," kata Legolas, "tapi bukan tanpa harapan, selama kau masih bersama kami. Di mana Gimli?"
"Aku tidak tahu," kata Aragorn. "Terakhir aku melihatnya bertarung di tanah di belakang tembok, tapi musuh memisahkan kami." "Aduh! Itu kabar buruk," kata Legolas.
"Dia kuat dan kokoh," kata Aragorn. "Semoga dia lolos ke gua-gua. Di sana dia akan aman untuk sementara. Lebih aman daripada kita. Perlindungan seperti itu pasti disukai Kurcaci."
"Aku pun berharap demikian," kata Legolas. "Tapi aku ingin dia kembali ke sini. Ingin kukatakan pada Master Gimli bahwa hitunganku sekarang tiga puluh sembilan."
"Kalau dia lolos ke gua, dia akan melebihi hitunganmu lagi," kata Aragorn sambil tertawa. "Belum pernah aku melihat kapak digunakan seperti itu."
"Aku harus pergi mencari panah," kata Legolas. "Kuharap malam ini segera berakhir, dan aku punya cahaya lebih bagus untuk memanah."


Aragorn masuk ke benteng. Di sana dengan kaget ia mendengar bahwa Eomer belum sampai ke Homburg.
"Tidak, dia tidak datang ke Rock," kata salah satu orang Westfold. "Terakhir aku melihatnya mengumpulkan orang-orang dan bertarung di mulut Deep. Gamling bersamanya, juga Kurcaci itu; tapi aku tak bisa menghampiri mereka."
Aragorn berjalan terus melalui pelataran dalam, naik ke ruangan tinggi di menara. Di sana berdiri sang Raja, sosoknya tampak gelap di depan jendela sempit, memandang ke arah lembah.
"Kabar apa, Aragorn?" katanya.

"Tembok Deeping sudah direbut, Yang Mulia, dan seluruh pertahanan disapu bersih; tapi banyak yang lolos ke Rock." "Apakah Eomer ada di sana?"
"Tidak, Yang Mulia. Tapi banyak anak buahmu mundur ke Deep; dan beberapa mengatakan Eomer ada di antara mereka. Di jurang yang sempit mungkin mereka bisa menahan musuh pergi ke gua-gua. Harapan apa bagi mereka setelah itu, aku tidak tahu."

"Harapan mereka lebih besar daripada kita. Kabamya di sana sudah terkumpul persediaan cukup. Dan udaranya pun sehat dengan adanya lubang-lubang di retakan bebatuan jauh di atas. Tak ada yang bisa memaksa masuk melawan orang-orang. yang bertekad besar. Mereka mungkin akan bertahan lama."
"Tapi para Orc membawa peralatan jahat dari Orthanc," kata Aragorn. "Mereka

mempunyai api peledak, dan dengan itu mereka menaklukkan Tembok. Kalau mereka tak bisa masuk ke gua-gua, mungkin mereka akan mengurung orang- orang yang ada di dalam. Tapi sekarang kita harus berkonsentrasi pada pertahanan kita sendiri."
"Aku gelisah dalam penjara ini," kata Theoden. "Seandainya aku bisa menghantamkan tombakku ke sasarannya, naik kuda di depan anak buahku di padang, mungkin bisa kurasakan lagi kebahagiaan pertempuran, dan kusambut ajalku dengan puas. Tapi di sini aku tidak banyak berguna."
"Di sini setidaknya Yang Mulia dijaga dalam pertahanan terkuat dari Mark," kata Aragorn. "Kami punya lebih banyak harapan membela Yang Mulia di Homburg daripada di Edoras, atau bahkan di Dunharrow di pegunungan."
"Konon Homburg tak pernah jatuh dalam serangan," kata Theoden, "tapi kini hatiku ragu. Dunia berubah, dan semua yang dulu kuat kini terbukti tak pasti. Bagaimana mungkin sebuah menara sanggup menahan serangan sebegitu besar dan kebencian yang begitu hebat? Seandainya aku tahu kekuatan Isengard sudah tumbuh sedemikian besar, mungkin aku tidak akan begitu gegabah maju menjumpainya, betapapun pintamya Gandalf membujukku. Sekarang sarannya tidak tampak meyakinkan seperti sewaktu di bawah matahari pagi."
"Jangan menilai saran Gandalf sebelum semuanya selesai, Yang Mulia," kata

Aragorn.

"Sebentar lagi akhir itu akan datang," kata Raja. "Tapi aku tak mau berakhir di sini, dikalahkan seperti musang dalam perangkap. Snowmane dan Hasufel dan kuda-kuda pengawalku ada di pelataran dalam. Bila fajar datang, akan kuminta orang-orang membunyikan terompet Helm, dan aku akan maju. Akankah kau maju bersamaku, Putra Arathorn? Mungkin kita akan membelah jalan, atau

mengukir akhir kisah yang pantas dibuat lagu-kalau ada di antara kita yang hidup untuk bemyanyi tentang kita setelah ini."
"Aku akan maju bersama Yang Mulia," kata Aragorn.

Setelah pamit, Aragorn kembali ke tembok dan berkeliling di seluruh lingkaran, memberi semangat pada orang-orang, dan memberi bantuan di tempat yang mendapat serangan berat. Legolas pergi bersamanya. Ledakan-ledakan api melompat dari bawah, menggetarkan batu-batu. Kait-kait berjepit dilemparkan, dan tangga-tangga dinaikkan lagi dan lagi para Orc mencapai puncak tembok paling luar, dan sekali lagi pihak lawan melemparkan mereka ke bawah.


Akhirnya Aragorn berdiri di atas gerbang-gerbang besar, tidak menghiraukan panah-panah musuh. Ketika memandang ke depan, ia melihat langit timur mulai memudar. Lalu ia mengangkat tangannya yang kosong, dengan telapak menghadap keluar sebagai tanda perundingan.
Para Orc berteriak dan mengejek. "Turun! Turun!" kata mereka. "Kalau kau ingin bicara dengan kami, turunlah! Bawa rajamu! Kami pejuang Uruk-hai. Kami akan mengambilnya dari lubangnya, kalau dia tidak mau keluar. Keluarkan rajamu yang bersembunyi!"
"Raja datang atau tidak atas kehendaknya sendiri," kata Aragorn.

"Kalau begitu, apa yang kaulakukan di sini?" tanya mereka. "Mengapa kau memandang keluar? Kau mau melihat kehebatan pasukan kami? Kami pejuang Uruk-hai."
"Aku memandang keluar untuk melihat fajar," kata Aragorn.

"Memangnya kenapa dengan fajar?" ejek mereka. "Kami kaum Uruk-hai: kami tidak menghentikan pertempuran demi malam ataupun siang, demi cuaca bagus maupun badai. Kami datang untuk membunuh, baik di bawah sinar matahari maupun bulan. Memangnya kenapa dengan fajar?"
"Tidak ada yang tahu, apa yang akan dibawa hari baru," kata Aragorn. "Pergilah, sebelum keadaan menjadi buruk untuk kalian."
"Turun, atau kami akan menembakmu jatuh dari tembok," teriak mereka. "Ini bukan perundingan. Kau tidak punya apa-apa untuk dibicarakan."

"Masih ada yang perlu kukatakan," jawab Aragorn. "Belum pernah ada musuh yang merebut Homburg. Pergilah, atau tak satu pun di antara kalian akan selamat. Tak satu pun akan tersisa untuk membawa kabar ke Utara. Kalian belum tahu bahaya yang mengancam."
Begitu besar keagungan dan kewibawaan seorang raja yang tampak dalam diri Aragorn, ketika ia berdiri sendirian di atas gerbang yang sudah hancur, di depan pasukan musuhnya, sampai-sampai banyak di antara orang-orang liar itu berhenti, dan menoleh ke lembah, beberapa menengadah ragu-ragu ke langit. Tetapi para Orc tertawa dengan suara keras, dan hujan panah bersiul di atas tembok, saat Aragorn melompat turun.
Ada bunyi raungan dan ledakan api. Lengkungan gerbang tempat Aragorn berdiri sesaat sebelumnya, hancur berantakan dan melebur menjadi asap dan abu. Barikade yang dipasang jadi tercerai-berai, seolah kena petir. Aragorn berlari ke menara Raja.
Tapi tepat saat gerbang jatuh, dan para Orc di sekitamya bersorak-sorai, bersiap-siap menyerbu, terdengar bunyi gemuruh di belakang mereka, seperti angin di kejauhan; bunyi gemuruh itu tumbuh menjadi hiruk-pikuk banyak suara yang meneriakkan berita aneh di saat fajar. Para Orc di Rock menjadi kaget mendengamya, dan menoleh ke belakang. Mendadak, dari menara di atas, berkumandang nyaring bunyi terompet besar Helm.


Semua yang mendengar bunyi itu gemetar. Banyak di antara para Orc menjatuhkan diri telungkup dan menutupi telinga dengan cakar mereka. Jauh dari Deep gema itu datang, bergaung dan terus bergaung, seolah di setiap batu karang dan bukit seorang bentara hebat berdiri. Tapi di atas tembok orang-orang menengadah, mendengarkan penuh keheranan, karena gema itu tidak berhenti. Bunyi terompet itu terus-menerus berputar di antara perbukitan; semakin dekat dan saling menjawab semakin keras, membahana dengan garang dan bebas. "Helm! Helm!" para Penunggang berteriak. "Helm sudah bangkit dan kembali berperang. Helm untuk Raja Theoden!"
Diiringi teriakan itu, Raja pun keluar. Kudanya seputih salju, perisainya emas,

dan tombaknya panjang. Di sebelah kanannya ada Aragorn, putra mahkota Elendil, di belakangnya para bangsawan dari Istana Eorl Muda mengiringi. Cahaya muncul di langit. Malam menyingkir.
"Maju Eorlingas!" Dengan teriakan dan bunyi gemuruh mereka menyerbu. Keluar dari gerbang mereka menderum, melewati jalan layang, menerobos pasukan Isengard seperti angin melewati rumput. Di belakang mereka, dari Deep, terdengar teriakan-teriakan keras para pria yang keluar dari gua-gua; menghalau musuh. Semua laki-laki yang masih tertinggal di Rock pun keluar, dan bunyi tiupan terompet terus-menerus bergema di bukit-bukit.
Mereka melaju terus, kaja dan para pendampingnya. Kapten-kapten dan prajurit- prajurit berjatuhan atau lari di depan mereka. Baik Orc maupun manusia tidak tahan melawan mereka. Punggung mereka membelakangi tombak dan pedang para Penunggang, dan wajah mereka menghadap lembah. Mereka berteriak dan meratap, ketakutan dan keheranan besar menyelimuti mereka seiring datangnya pagi.


Demikianlah Raja Theoden menunggang kuda dari Helm's Gate dan membelah jalannya ke Dike yang besar. Di sana rombongannya berhenti. Cahaya semakin terang di sekitar mereka. Berkas-berkas cahaya matahari menyala di atas bukit- bukit timur dan bersinar di atas tombak-tombak mereka. Tapi mereka duduk diam di atas kuda-kuda, menatap ke Deeping-coomb di bawah.
Daratan itu sudah berubah. Di mana sebelumnya terhampar sebuah lembah hijau, dengan lereng-lereng berumput memukul-mukul bukitbukit yang mendaki, di sana sekarang menjulang hutan. Pohon-pohon besar, gundul dan diam, berdiri baris demi baris, dengan dahan-dahan kusut dan kepala beruban; akar-akar mereka yang terpilin terkubur di dalam rumput panjang hijau. Kegelapan ada di bawah mereka. Di antara Dike dan atap hutan tak bernama itu hanya ada dua kali dua ratusan meter ruang terbuka. Di sana berdiri gemetaran pasukan gagah Saruman, ketakutan kepada Raja dan pepohonan. Mereka mengalir turun dari Helm's Gate, hingga sebelah atas Dike seluruhnya kosong dari mereka, tapi di bawah sana mereka berjejal seperti lalat berkerumun. Sia-sia mereka merangkak

dan memanjat dinding ngarai, ingin meloloskan diri. Di sebelah timur, sisi lembah terlalu terjal dan berbatu; dari sebelah kiri, dan dari barat, ajal menghampiri. Mendadak di atas punggung bukit muncul seorang penunggang kuda berpakaian serbaputih, bercahaya di bawah matahari yang sedang terbit. Di atas bukit-bukit rendah, terompet-terompet berbunyi. Di belakangnya, bergegas menuruni lereng-lereng panjang, ada seribu orang berjalan kaki dengan pedang terhunus. Di tengah mereka berjalan seorang laki-laki jangkung dan kuat. Perisainya merah. Ketika sampai ke tebing lembah, ia memasang terompet besar hitam pada bibirnya dan meniupnya keras sekali.


"Erkenbrand!" para Penunggang berteriak. "Erkenbrand!"

"Lihat Penunggang Putih!" teriak Aragorn. "Gandalf sudah kembali!"

"Mithrandir, Mithrandir!" kata Legolas. "Ini benar-benar sihir! Ayo! Aku ingin melihat hutan ini sebelum sihimya sirna."
Pasukan Isengard mengaum, bergoyang ke sana kemari, dari ketakutan beralih

ke ketakutan lagi. Sekali lagi terompet berbunyi dari menara. Turun melalui celah Dike, rombongan Raja menerobos. Dari bukit-bukit melompat Erkenbrand, penguasa Westfold. Shadowfax melompat turun, seperti rusa yang berlari dengan langkah pasti di pegunungan. Sang Penunggang Putih mengejar pasukan Isengard, dan kengerian akan kedatangannya membuat musuh terserang kegilaan. Manusia-manusia liar jatuh telungkup di depannya. Para Orc terhuyung-huyung, berteriak melemparkan pedang maupun tombak. Seperti asap hitam diembus angin yang semakin keras, mereka lari. Sambil meratap mereka pergi ke bawah bayangan pohon-pohon yang menunggu; dan dari bayangan itu tak ada yang kembali.

BAB 8

JALAN KE ISENGARD



Demikianlah, di pagi hari yang cerah, Raja Theoden dan Gandalf sang Penunggang Putih bertemu lagi di bentangan rumput hijau di samping Sungai Deeping. Di sana juga ada Aragorn putra Arathorn, Legolas sang Peri, Erkenbrand dari Westfold, dan para bangsawan dari Istana Emas. Di sekitar mereka berkumpul kaum Rohirrim, para Penunggang dari Mark. Kebahagiaan mereka karena memperoleh kemenangan digantikan oleh rasa heran, dan mata mereka tertuju ke hutan.
Mendadak ada teriakan keras, dan dari Dike datang rombongan yang sudah didesak mundur ke Deep. Tampak Gamling Tua, Eomer putra Eomund, dan di sebelah mereka berjalan Gimli si Kurcaci. ia tidak memakai topi baja, kepalanya terikat pita linen bernoda darah, tapi suaranya lantang dan nyaring.
"Empat puluh dua, Master Legolas!" teriaknya. "Sayang! Kapakku penyok: korban keempat puluh memakai kalung besi di lehernya. Bagaimana denganmu?"
"Nilaimu lebih tinggi satu daripada aku," jawab Legolas. "Tapi aku tidak sakit hati, aku begitu gembira melihatmu berjalan kaki!"
"Selamat datang, Eomer, putra saudaraku!" kata Theoden. "Kini, setelah melihatmu selamat, aku benar-benar bahagia."
"Hidup, Penguasa Mark!" kata Eomer. "Malam gelap sudah lewat, dan pagi kembali datang. Tapi pagi hari membawa kabar-kabar aneh." ia membalikkan tubuh dan menatap keheranan, mula-mula ke hutan, kemudian ke Gandalf. "Sekali lagi kau datang saat dibutuhkan, tanpa terduga," katanya.
"Tanpa terduga?" kata Gandalf. "Aku sudah bilang akan kembali dan menemuimu di sini."
"Tapi kau tidak menyebutkan jamnya, juga tidak mengatakan dengan cara apa kau akan datang. Sungguh ajaib bantuan yang kaubawa. Kau hebat dalam sihir, Gandalf sang Putih!"
"Mungkin. Tapi aku belum menunjukkannya. Aku baru sekadar memberikan

saran bagus dalam menghadapi bahaya, dan memanfaatkan kecepatan Shadowfax. Keberanianmu lebih banyak berbicara, begitu pula kaki-kaki kokoh orang-orang W estfold yang berjalan sepanjang malam."
Kemudian mereka semua memandang Gandalf dengan lebih heran lagi. Beberapa melirik cemas ke arah hutan, dan menyeka dahi dengan tangan, seolah mengira mata mereka melihat sesuatu yang lain.
Gandalf tertawa panjang dan gembira. "Pohon-pohon itu?" katanya. "Bukan, aku

juga melihat hutan itu, sama jelasnya seperti kalian. Tapi itu bukan perbuatanku. Ini sudah di luar bayangan kaum bijak. Lebih bagus daripada rencanaku, bahkan apa yang terjadi ini lebih bagus daripada harapanku."
"Kalau itu bukan sihirmu, lantas sihir siapa?" kata Theoden. "Bukan Saruman, itu jelas. Apakah ada orang bijak hebat yang belum kami kenal?"
"Ini bukan sihir, tapi suatu kekuatan yang jauh lebih tua," kata Gandalf, "suatu kekuatan yang mengembara di bumi, sebelum para Peri bernyanyi atau palu Kurcaci berdentang.”


“Sebelum besi ditemukan atau pohon ditumbangkan, Saat gunung-gunung masih muda di bawah rembulan; Sebelum cincin dibentuk, atau kesengsaraan dijelang, Dia menjelajahi hutan sudah lama berselang. "


"Dan apa jawaban atas teka-tekimu?" kata Theoden.

"Kalau kau ingin tahu, kau harus ikut aku ke Isengard," jawab Gandalf. "Ke Isengard?" mereka berteriak.
"Ya," kata Gandalf. "Aku akan kembali ke Isengard, dan siapa yang mau, boleh ikut denganku. Di sana kita akan melihat hal-hal ajaib."
"Tapi tidak cukup orang di Mark, meski semua dikumpulkan dan disembuhkan dari luka dan keletihan, untuk menyerang benteng Saruman," kata Theoden. "Meski begitu, aku tetap akan pergi ke Isengard," kata Gandalf. "Aku tidak akan lama di sana. Jalanku sekarang ke timur. Tunggulah aku di Edoras, sebelum bulan menghilang!"

"Tidak!" kata Theoden. "Di saat gelap sebelum fajar aku ragu, tapi sekarang kita tidak akan berpisah. Aku akan ikut denganmu, kalau kau menyarankan begitu." "Aku ingin berbicara dengan Saruman, sesegera mungkin," kata Gandalf, "dan karena dia sudah melukaimu sangat dalam, pantaslah kalau kau berada di sana juga. Tapi seberapa cepat kau bisa naik kuda?"
"Anak buahku letih karena bertempur," kata Raja, "aku sendiri pun demikian. Karena aku berjalan jauh dan hanya sedikit tidur. Sayang sekali! Usia tuaku bukan dibuat-buat atau hanya akibat bisikan-bisikan Wormtongue. Ini penyakit yang tak bisa disembuhkan sepenuhnya oleh dokter, tidak juga oleh Gandalf." "Kalau begitu, siapa yang akan ikut denganku biar beristirahat dulu," kata Gandalf. "Kita akan berjalan di bawah keremangan senja. Sebaiknya begitu. Kusarankan semua kepergian dan kedatangan kita lakukan serahasia mungkin, mulai sekarang. Tapi jangan terlalu banyak membawa orang bersamamu, Theoden. Kita akan pergi ke perundingan, bukan pertempuran."
Maka Raja pun memilih orang-orang yang tidak terluka dan mempunyai kuda yang cepat. Ia mengirim mereka menyebarkan berita kemenangan itu ke setiap lembah di Mark; mereka juga membawa pesannya, meminta semua laki-laki, tua- muda, agar segera datang ke Edoras. Di sana Penguasa Mark akan mengadakan pertemuan dengan semua yang bisa memanggul senjata, di hari kedua setelah bulan purnama. Untuk ikut bersamanya ke Isengard, Raja memilih Eomer dan dua puluh orang dari istananya. Bersama Gandalf ikut pula Aragorn, Legolas, dan Gimli. Meski cedera, Kurcaci itu tak mau ditinggal.
"Aku hanya kena pukulan ringan, dan topi bajaku mementalkannya," kata Gimli. "Aku tidak mau ditinggal, cuma gara-gara kena sedikit goresan Orc."
"Aku akan merawat lukamu, sementara kau istirahat," kata Aragorn.



Raja sekarang kembali ke Homburg, dan tidur, tidur dengan tenang hal yang sudah bertahun-tahun tidak dialaminya. Sisa rombongannya juga beristirahat. Tapi yang lain, semua yang tidak cedera atau terluka, memulai kerja keras; karena banyak yang tewas dalam pertempuran dan tergeletak mati di padang atau di Deep.

Tidak ada Orc yang masih hidup; mayat mereka tak terhitung banyaknya. Tapi banyak manusia bukit menyerahkan diri; mereka ketakutan, dan berteriak minta ampun.
Orang-Orang Mark melucuti senjata mereka, dan menyuruh mereka bekerja. "Sekarang bantu memulihkan akibat kejahatan kalian," kata Erkenbrand. "Setelah itu kalian harus bersumpah tidak akan pernah lagi melewati Ford-ford Isen dengan bersenjata, juga tidak berbaris bersama musuh Manusia; maka kalian akan bebas kembali ke negeri kalian. Sebab kalian telah ditipu Saruman. Kepercayaan kalian kepadanya hanya berbuah kematian; seandainya kalian menang pun, upah kalian tidak akan lebih baik."
Orang-orang Dunland keheranan, karena Saruman menceritakan pada mereka bahwa Orang-Orang Rohan kejam dan suka membakar hidup-hidup tawanan mereka.
Di tengah padang di depan Homburg dibuat dua gundukan, dan di bawahnya dibaringkan semua Penunggang dari Mark yang gugur dalam pertempuran; yang dari East Dales di, satu sisi, dan yang dari Westfold di sisi lainnya. Dalam sebuah kuburan yang dibuat terpisah di bawah bayangan Homburg berbaring Hama, kapten para pengawal Raja. ia tewas di depan Helm's Gate.
Para Orc ditumpuk dalam tumpukan besar, jauh dari gundukan Manusia, tidak jauh dari atap hutan. Dan orang-orang merasa gelisah, karena tumpukan bangkai itu terlalu besar untuk dikubur atau dibakar. Mereka hanya punya sedikit kayu untuk api, dan tidak ada yang berani menebang pohon-pohon aneh itu, walau seandainya Gandalf tidak memperingatkan mereka untuk tidak mencederai kulit maupun dahan yang akan membahayakan mereka.
"Biarkan para Orc menggeletak di situ," kata Gandalf "Mungkin kita bisa menemukan solusinya besok pagi."


Siang hari rombongan Raja bersiap-siap berangkat. Pekerjaan penguburan baru saja dimulai; Theoden berduka atas kematian Hama, kaptennya, dan melemparkan bongkah tanah pertama ke atas kuburannya.
"Saruman sudah melukai aku dan negeri ini," katanya, "dan aku akan ingat itu,

kalau kami bertemu."

Matahari sudah mendekati perbukitan di barat Coomb, ketika akhirnya Theoden, Gandalf, dan para pendamping mereka melaju turun dari Dike. Di belakang mereka berkumpul pasukan besar para Penunggang dan orang-orang Westfold, tua-muda, wanita dan anak-anak, yang keluar dari gua-gua. Mereka mengumandangkan nyanyian kemenangan dengan suara jernih; lalu mereka diam, bertanya-tanya apa yang akan terjadi, karena mata mereka kini memandang pohon-pohon, dan mereka merasa takut.
Sampai di hutan, para Penunggang berhenti; kuda dan manusia, mereka enggan masuk. Pepohonan itu tampak kelabu mengancam, berselimutkan entah kabut atau bayangan. Ujung-ujung dahan mereka yang panjang menggantung seperti jemari yang mencari-cari, akar-akar mereka berdiri di atas tanah seperti anggota tubuh monster aneh, dan lubang-lubang gelap menganga di bawahnya. Tapi Gandalf maju terus, memimpin rombongan, dan di pertemuan antara jalan dari Homburg dengan pepohonan, mereka melihat lubang seperti lengkungan gerbang di bawah dahan-dahan besar; Gandalf lewat di bawahnya, dan mereka mengikutinya. Lalu dengan keheranan mereka mendapati jalan itu terus membentang, Sungai Deeping ada di sampingnya; langit di atas terbuka dan dipenuhi cahaya keemasan. Tetapi barisan pepohonan di kedua sisi sudah terselubung senja, menjulur masuk ke dalam keremangan tak tertembus; di sana mereka mendengar keriut dan raungan dahan-dahan, teriakan-teriakan samar, serta hiruk-pikuk suara-suara tanpa kata, menggerutu marah. Tak ada Orc atau makhluk hidup lain yang terlihat.
Legolas dan Gimli sekarang menunggang satu kuda bersama-sama; mereka tetap dekat di samping Gandalf, karena Gimli takut pada hutan itu.
"Panas sekali di dalam sini," kata Legolas pada Gandalf "Aku merasakan kemarahan besar di sekitarku. Tidakkah kau merasakan udara berdenyut di telingamu?"
"Ya," kata Gandalf.

"Apa yang terjadi dengan Orc-Orc malang itu?" kata Legolas. "Kurasa takkan pernah ada yang tahu," kata Gandalf.



Selama beberapa saat mereka melaju dalam keheningan, tapi Legolas selalu menoleh ke kiri-kanan, dan sering hendak berhenti untuk mendengarkan bunyi- bunyian hutan, kalau Gimli membolehkannya.
"Ini pepohonan paling aneh yang pernah kulihat," kata Legolas, "padahal aku sudah sering melihat pohon ek tumbuh sejak dari biji hingga tua. Kalau saja aku bisa santai berjalan-jalan di antara mereka: mereka mempunyai suara, dan pada saatnya aku mungkin bisa memahami pikiran mereka."
"Jangan, jangan!" kata Gimli. "Mari kita tinggalkan mereka! Aku sudah menduga pikiran mereka: kebencian pada semua yang berjalan dengan dua kaki; dan pembicaraan tentang menghancurkan dan mencekik."
"Tidak semua yang berjalan dengan dua kaki," kata Legolas. "Kukira kau salah. Orc-lah yang mereka benci. Karena mereka tidak semestinya berada di sini, dan tidak tahu banyak tentang Peri dan Manusia. Jauh sekali lembah-lembah tempat asal mereka. Dan lembahlembah dalam di Fangorn, Gimli, kurasa dari sanalah mereka datang."
"Itu hutan paling berbahaya di Dunia Tengah," kata Gimli. "Aku bersyukur atas peran yang sudah mereka mainkan, tapi aku tidak mencintai mereka. Mungkin kau menganggap mereka indah, tapi aku sudah melihat keindahan yang lebih hebat di negeri ini, lebih indah daripada hutan atau padang yang pernah ada; dan hatiku masih dipenuhi olehnya.”
"Cara berpikir Manusia aneh sekali, Legolas! Di sini mereka mempunyai salah satu keajaiban Dunia Utara, tapi apa yang mereka katakan tentang itu? Gua, kata mereka! Gua! Lubang-lubang untuk bersembunyi di masa perang, untuk menyimpan makanan di dalamnya! Legolas yang budiman, tahukah kau bahwa gua-gua Helm's Deep begitu luas dan indah? Kaum Kurcaci akan berdatangan tak henti-henti hanya untuk mengamati gua-gua itu, kalau keberadaannya diketahui. Ya, mereka pasti bersedia membayar dengan emas murni, sekadar untuk melihat sekilas saja!"
"Dan aku rela memberi emas agar dibolehkan tidak ikut," kata Legolas, "dan lebih banyak lagi emas agar dibiarkan keluar, seandainya aku tersesat masuk!"

"Kau belum melihat gua-gua itu, jadi kumaafkan kelakarmu," kata Gimli. "Tapi kau bicara seperti orang bodoh. Kaupikir balairung-balairung tempat rajamu tinggal di Mirkwood itu indah? Kaum Kurcaci membantu membangunnya di masa silam. Itu hanya gubuk kalau dibandingkan gua-gua yang kulihat di sini: balairung luas tak terhingga, diisi musik abadi air yang berdenting ke dalam kolam-kolam, seindah Kheled-zaram di bawah sinar bintang.”
"Dan, Legolas, kalau obor-obor sudah dinyalakan dan orang berjalan di lantainya yang berpasir, di bawah kubah-kubah yang bergema, ah! Saat itulah, Legolas, permata, kristal, dan urat-urat logam mulia berharga berkilauan di dinding- dinding yang dipoles; cahaya bersinar melalui manner berlapis, seperti kerang, tembus cahaya bagaikan tangan Ratu Galadriel. Di sana ada pilar-pilar putih, kuning, dan merah muda, Legolas, bergalur dan dipilin menjadi wujud-wujud seperti dalam mimpi; mereka muncul dari lantai beraneka warna, bersambung dengan gantungan-gantungan bersinar dari atap: sayap-sayap, tambang- tambang, tirai-tirai sehalus awan beku; tombak-tombak, panji-panji, menara- menara istana gantung! Telaga-telaga yang tenang memantulkan bayangan mereka: sebuah dunia berkilauan menatap ke atas dari kolam-kolam gelap berlapiskan kaca jernih; kota-kota yang tak mungkin dibayangkan Durin dalam tidumya, menghampar melalui jalan-jalan dan pelataran berpilar-pilar, terus sampai ke relung-relung gelap yang tak tertembus cahaya. Lalu … pling! Setitik tetesan perak jatuh, dan kerut-kerut bundar pada kaca membuat semua menara membungkuk dan bergoyang, seperti rumput dan koral di gua dalam lautan. Lalu malam datang: mereka memudar dan padam; obor-obor masuk ke ruangan dan impian lain. Ada banyak sekali ruangan, Legolas, lorong demi lorong, kubah demi kubah, tangga setelah tangga; dan jalan yang berbelok-belok masih menuju jantung pegunungan. Gua-gua! Gua-gua Helm's Deep! Sungguh bahagia aku telah didorong ke sana oleh nasib! Dan aku ingin menangis saat harus meninggalkannya."
"Kalau begitu, kudoakan kau selamat kembali dari perang, dan bisa kemari untuk melihatnya lagi," kata Legolas. "Tapi jangan ceritakan penemuanmu itu pada seluruh saudaramu! Kelihatannya tinggal sedikit yang bisa mereka kerjakan,

kalau mendengar ceritamu. Mungkin orang-orang negeri ini cukup bijak untuk tidak bicara banyak: satu keluarga Kurcaci yang sibuk dengan palu dan pahat bisa merusak lebih banyak daripada menghasilkan."
"Tidak, kau tidak mengerti," kata Gimli. "Tak ada Kurcaci yang tidak terharu melihat keindahan seperti itu. Takkan ada bangsa Durin yang menambang gua- gua itu untuk batu atau logam mulia, meski berlian dan emas bisa didapatkan di sana. Apakah kau akan menebang pohon-pohon yang berbuah di musim semi untuk dijadikan kayu bakar? Kami akan merawat padang-padang yang berbunga batu, bukan menggalinya. Dengan terampil dan hati-hati, ketukan demi ketukan hanya menetak sepotong kecil batu, mungkin, dalam satu hari yang penuh kerja keras agar kami bisa bekerja, dan setelah tahun-tahun berlalu, kami akan membuka jalan-jalan baru, memamerkan ruangan-ruangan yang masih gelap, yang sekilas hanya seperti retakan dalam batu. Dan cahaya, Legolas! Kami akan membuat lampu-lampu, seperti yang pernah bersinar di Khazad-dum; dan bila kami mau, bisa kami usir malam yang sudah menggantung di sana sejak bukit- bukit diciptakan; kalau menginginkan istirahat, akan kami biarkan malam kembali datang."
"Kau menyentuh hatiku, Gimli," kata Legolas. "Belum pernah aku mendengarmu berbicara seperti ini. Kau hampir membuatku menyesal tidak melihat gua-gua ini. Ayo! Mari kita membuat perjanjian kalau kita berdua keluar dengan selamat dari bahaya-bahaya yang menunggu, kita akan berkelana bersama untuk beberapa saat. Kau akan mengunjungi Fangorn bersamaku, lalu aku akan ikut denganmu untuk melihat Helm's Deep."
"Itu bukan jalan kembali yang akan kupilih," kata Gimli. "Tapi aku mau mengunjungi Fangorn, kalau kau berjanji untuk kembali ke gua-gua itu dan berbagi keindahannya denganku."
"Aku berjanji," kata Legolas. "Tapi sayang sekali! Sekarang kita harus meninggalkan gua maupun hutan, untuk sementara. Lihat! Kita sudah sampai ke akhir pepohonan. Seberapa jauh jarak ke Isengard, Gandalf?"
"Sekitar lima belas league, menurut ukuran burung-burung hitam Saruman," kata

Gandalf "Lima league dari mulut Deeping-coomb sampai ke Ford-Ford; lalu

sepuluh league lagi dari sana ke gerbang-gerbang Isengard. Tapi kita tidak akan berjalan terus malam ini."
"Dan kalau kita sudah sampai di sana, apa yang akan kita lihat?" tanya Gimli. "Kau mungkin tahu, tapi aku tak bisa menebaknya."
"Aku sendiri tidak begitu pasti," jawab Gandalf. "Aku ada di sana saat senja kemarin, tapi mungkin sudah banyak yang terjadi sejak itu. Tapi kurasa kau tidak akan mengatakan perjalanan ini sia-sia meskipun gua-gua Aglarond yang berkilauan telah kautinggalkan di belakang."


Akhirnya rombongan itu berjalan melalui pepohonan, dan sampai di dasar Coomb, di mana jalan dari Helm's Deep bercabang, satu ke timur ke Edoras, dan yang lain ke utara ke Ford-ford Isen. Ketika mereka berjalan keluar dari bawah atap hutan, Legolas berhenti dan menoleh ke belakang dengan menyesal. Tiba- tiba ia berteriak.
"Ada mata!" katanya. "Mata-mata memandang dari balik bayangan dahan-dahan! Aku belum pernah melihat mata seperti itu."
Yang lain berhenti dan berputar, kaget karena teriakannya, tapi Legolas mulai berbalik arah.
"Tidak, tidak!" teriak Gimli. "Berbuatlah sesuka hatimu dalam kegilaanmu, tapi turunkan dulu aku dari kuda ini! Aku tidak mau melihat mata!"
"Berhenti, Legolas Greenleafl" kata Gandalf "Jangan kembali ke dalam hutan, jangan dulu! Belum saatnya."
Bahkan saat ia berbicara, dari dalam hutan muncul tiga sosok aneh. Mereka

setinggi troll, dua belas kaki atau lebih tingginya; tubuh mereka kuat, gagah seperti pohon muda, dan sepertinya mengenakan pakaian atau kulit yang sangat pas, berwarna kelabu dan cokelat. Anggota tubuh mereka panjang, tangan mereka berjari banyak; rambut mereka kaku, dan janggut mereka hijau-kelabu seperti lumut. Mereka memandang dengan mata serius, tapi tidak menatap para penunggang; mata mereka terarah ke utara. Mendadak mereka mengangkat tangan ke mulut dan mengeluarkan bunyi nyaring jernih seperti nada-nada terompet, tapi lebih berirama dan beraneka ragam. Panggilan itu dijawab. Ketika

menoleh lagi, para penunggang melihat makhluk-makhluk lain yang sejenis datang mendekat, melangkah di rumput. Mereka datang dari Utara dengan langkah cepat, berjalan dengan gaya burung bangau mengarungi air, tapi kaki mereka memukul lebih cepat daripada sayap burung bangau. Para penunggang berteriak keras keheranan, beberapa meletakkan tangan ke pangkal pedang. "Kalian tidak membutuhkan senjata," kata Gandalf "Mereka hanya penggembala. Mereka bukan musuh, bahkan mereka sama sekali tidak memedulikan kita." Rupanya memang begitu; sebab saat ia berbicara, sosok-sosok tinggi itu masuk ke dalam hutan dan menghilang, tanpa melihat kepada para penunggang tersebut.
"Penggembala!" kata Theoden. "Di mana kawanan domba mereka? Siapakah mereka, Gandalf? Karena bagimu setidaknya mereka tak asing lagi."
"Mereka penggembala pohon," jawab Gandalf "Kapan terakhir kali kau mendengar dongeng anak-anak? Ada anak-anak di negerimu yang, dari benang- benang kusut dongeng, bisa mencari jawaban atas pertanyaanmu. Yang kaulihat tadi adalah Ent, oh Raja, Ent-Ent dari Hutan Fangorn, yang dalam bahasamu kausebut Entwood. Apa kaupikir nama itu hanya diberikan secara iseng? Bukan, Theoden, justru sebaliknya: bagi mereka, kau hanyalah dongeng yang akan berlalu; tahun-tahun sejak Eorl Muda sampai Theoden Tua tidak berarti bagi mereka; dan semua perbuatan istanamu hanya masalah kecil."
Raja terdiam. "Ent!" katanya akhirnya. "Dari balik bayangan legenda aku mulai memahami keajaiban pepohonan, kukira. Aku telah menyaksikan saat-saat yang ajaib. Sudah lama kami merawat ternak dan padang-padang kami, membangun rumah-rumah kami, menempa alat-alat kami, atau pergi naik kuda untuk membantu peperangan di Minas Tirith. Dan itulah yang kami sebut kehidupan Manusia, peristiwa dunia. Kami tidak memedulikan apa yang ada di luar perbatasan negeri kami. Kami punya lagu-lagu yang mengisahkan hal-hal ini, tapi kami mulai melupakannya, hanya mengajarkan lagu-lagu itu pada anak- anak, sebagai adat-istiadat sambil lalu. Dan kini lagu-lagu itu sudah mewujudkan diri di antara kami, muncul dari tempat-tempat aneh, berjalan nyata di bawah Matahari."

"Seharusnya kau gembira, Raja Theoden," kata Gandalf. "Sebab bukan hanya kehidupan sepele kaum Manusia yang terancam, tapi juga kehidupan hal-hal yang kauanggap legenda. Kau bukan tanpa sekutu, meski kau tidak kenal mereka."
"Tapi aku tetap merasa sedih," kata Theoden. "Sebab bagaimanapun akhir peperangan ini, banyak hal indah dan hebat akan lenyap selamanya dari Dunia Tengah. Bukankah begitu?"
"Mungkin begitu," kata Gandalf. "Kejahatan Sauron tak bisa sepenuhnya

disembuhkan, dan tak bisa dibuat seolah tak pernah ada. Tapi memang kita sudah ditakdirkan menjalani masa seperti itu. mari kita teruskan perjalanan yang telah kita mulai!"


Rombongan itu pergi dari lembah dan hutan, mengambil jalan menuju Ford-ford. Legolas mengikuti dengan enggan. Matahari sudah terbenam, turun di balik ujung dunia; tapi ketika mereka melaju keluar dari bayangan bukit-bukit dan memandang ke Celah Rohan di sebelah barat, langit masih tampak merah, semburat menyala di bawah awan-awan yang melayang. Di depannya terbang berputar-putar sosok gelap burung-burung bersayap hitam. Beberapa terbang melintas dengan teriakan sedih, kembali ke rumah mereka di antara batu-batu karang.
"Burung-burung pemakan bangkai sudah sibuk di sekitar medan pertempuran," kata Eomer.
Sekarang mereka melaju dengan kecepatan sedang; malam kelam turun di

sekitar mereka. Bulan mulai naik dengan lamban, sekarang membesar hampir penuh, di bawah cahayanya yang dingin keperakan padang-padang rumput luas naik-turun bagai lautan luas kelabu. Setelah hampir empat jam berkuda dari percabangan jalan, mereka akhirnya mendekati Ford-ford. Lereng-lereng panjang berlarian cepat ke bawah, di mana sungai mengalir dengan arus berbatu-batu di antara tebing-tebing tinggi berumput. Bunyi lolongan serigala terbawa angin. Hati mereka berat, teringat banyaknya orang yang tewas dalam pertempuran di tempat itu.

Jalan itu menurun tajam di antara tebing-tebing tanah kering yang curam, mengukir arahnya sampai ke ujung sungai, dan naik lagi di sisi seberang. Ada tiga baris batu injakan datar menyeberangi aliran sungai, dan di antaranya bagian dangkal untuk kuda, yang membentang dari kedua tebing sampai ke pulau kecil gersang di tengah. Para penunggang menatap perlintasan itu, dan merasa aneh. Ford-ford itu dulu sebuah tempat penuh desiran dan celotehan air di atas batu, tapi kini suasananya begitu hening. Dasar sungai hampir kering, tanahnya gersang berpasir kelabu dan berkeping-keping.
"Tempat ini sudah menjadi tempat muram," kata Eomer. "Penyakit apa yang telah menyerang sungai? Banyak hal indah yang dirusak Saruman: apakah dia juga melahap mata air Isen?" "Kelihatannya begitu," kata Gandalf.
"Aduh!" kata Theoden. "Apakah kita harus melewati jalan ini, di mana burung- burung pemakan bangkai melahap begitu banyak Penunggang baik dari Mark?" "Inilah jalan kita," kata Gandalf "Memang menyedihkan kejatuhan anak buahmu, tapi akan kaulihat setidaknya serigala dari pegunungan tidak memakan mereka. Mereka berpesta pora memakan kawan-kawan mereka, para Orc: begitulah persahabatan di antara jenis mereka! Ayo!"
Mereka melaju sampai ke sungai; ketika mereka datang, para serigala berhenti melolong dan pergi. Mereka ketakutan melihat Gandalf di bawah sinar bulan, dan Shadowfax kudanya bersinar seperti perak. Para penunggang itu melintas sampai ke pulau kecil, mata-mata yang bersinar-sinar mengawasi mereka dengan lemah dari keremangan di tebing-tebing.
"Lihat!" kata Gandalf. "Kawan-kawan kita sudah bekerja keras di sini."

Di tengah pulau mereka melihat sebuah gundukan berdiri, dilingkari batu-batu, dan dipenuhi deretan tombak yang berdiri tegak.
"Di sini berbaring Orang-Orang Mark yang tewas di dekat tempat ini," kata

Gandalf.

"Biarlah mereka beristirahat di sini!" kata Eomer. "Saat tombak-tombak ini sudah berkarat membusuk, semoga gundukan mereka masih berdiri menjaga Ford-ford Isen!"
"Apakah ini juga pekerjaanmu, kawan?" kata Theoden. "Banyak sekali yang telah

kaulakukan dalam satu sore dan malam!"

"Dengan bantuan Shadowfax dan yang lain," kata Gandalf. "Aku melaju cepat dan jauh. Tapi di sini, di samping kuburan ini, kukatakan ini demi penghiburanmu: banyak yang tewas dalam pertempuran di Fordford, tapi lebih sedikit dari yang didesas-desuskan. Lebih banyak yang tercerai-berai daripada terbunuh; aku mengumpulkan semua yang bisa kutemukan. Beberapa orang kukirim bersama Grimbold dari Westfold untuk bergabung dengan Erkenbrand. Beberapa kusuruh membuat kuburan ini. Mereka sekarang sudah mengikuti marsekalmu, Elfhelm. Aku mengirim dia dengan sejumlah besar Penunggang ke Edoras. Aku tahu Saruman sudah mengirim kekuatan penuh untuk melawanmu; anak-anak buahnya sudah meninggalkan tugas-tugas lain dan pergi ke Helm's Deep tampaknya daratan ini kosong dari musuh, tapi aku khawatir para penunggang serigala dan perampok akan menuju Meduseld yang tidak dijaga. Tapi sekarang kukira kau tak perlu cemas: rumahmu masih akan berdiri untuk menyambut kedatanganmu kembali."
"Dan aku akan bahagia melihatnya lagi," kata Theoden, "meski sekarang aku tak ragu bahwa aku takkan lama berada di sana."
Dengan itu rombongan tersebut meninggalkan pulau dan kuburan, melintasi sungai, dan mendaki tebing seberangnya. Lalu mereka melaju terus, senang sudah meninggalkan Ford-ford yang murung. Ketika mereka pergi, lolongan serigala terdengar lagi.
Ada jalan kuno yang membentang dari Isengard sampai ke penyeberangan. Hingga jarak tertentu jalan itu menyusuri sungai, ikut membelok ke timur dan utara, namun akhirnya menjauh dan menjulur lurus menuju gerbang Isengard; gerbang ini letaknya di bawah sisi pegunungan di barat lembah, sekitar enam belas mil atau lebih dari mulutnya. Mereka mengikuti jalan ini, tapi tidak berkuda di atasnya, sebab tanah di sebelahnya kokoh dan datar, tertutup lapisan rumput kering pendek dan lentur sejauh beberapa mil. Sekarang mereka melaju lebih cepat, dan sekitar tengah malam Ford-ford itu sudah kira-kira lima league di belakang. Lalu mereka berhenti, mengakhiri perjalanan malam mereka, karena Raja lelah. Mereka sudah sampai di kaki Pegunungan Berkabut, lengan-lengan

panjang Nan Curunir menjulur ke bawah untuk menyambut mereka. Lembah di depan mereka diliputi kegelapan, karena bulan sudah bergeser ke Barat, cahayanya tersembunyi oleh bukit-bukit. Tapi dari bayangan kelam lembah itu muncul menara asap dan uap, menangkap berkas sinar bulan yang sedang terbenam di atas sana, menyebar dalam gelombang-gelombang bersinar, hitam dan perak, ke segenap penjuru langit berbintang.
"Menurutmu apakah itu, Gandalf?" tanya Aragorn. "Seolah-olah seluruh Lembah

Penyihir sedang terbakar."

"Selalu ada asap di atas lembah akhir-akhir ini," kata Eomer, "tapi belum pernah aku melihat yang seperti ini. Ini lebih menyerupai uap daripada asap. Saruman sedang meramu sihir untuk menyambut kita. Mungkin dia memasak seluruh air yang ada di Isen; itu sebabnya sungai menjadi kering."
"Mungkin begitu," kata Gandalf. "Besok kita akan tahu apa yang sedang dia lakukan. Sekarang mari kita istirahat sejenak, kalau bisa."
Mereka berkemah di sisi Sungai Isen; sungai itu masih diam dan kosong.

Beberapa di antara mereka tidur sebentar. Tapi larut malam para penjaga berteriak, dan semua terbangun. Bulan sudah lenyap. Bintang-bintang bersinar di atas; tapi di tanah mengalir sebuah kegelapan yang lebih kelam daripada malam. Ia mengalir ke arah mereka di kedua sisi sungai, menuju utara.
"Diam di tempat!" kata Gandalf "Jangan hunus senjata! Tunggu! Ini akan berlalu!" Kabut menebal di sekitar mereka. Di atas mereka, beberapa bintang masih bersinar redup, tapi di kedua sisi menjulang tembok-tembok muram tak tertembus; mereka berada di tengah jalur sempit antara menara-menara bayangan yang bergerak. Mereka mendengar suara-suara, bisikan dan erangan, dan bunyi desir tak terputus; burru bergetar di bawah mereka. Lama sekali rasanya mereka duduk ketakutan; tapi akhirnya kegelapan dan bunyi ribut itu berlalu, menghilang di antara lengan-lengan pegunungan.


Jauh di Homburg, di tengah malam, orang-orang mendengar bunyi keras seperti angin di lembah, dan bumi bergetar; semuanya takut dan tidak berani pergi. Tapi di pagi hari mereka keluar dan terkejut; mayat-mayat Orc sudah hilang, juga

pepohonan. Jauh di bawah, di lembah Deep, rumput-rumput sudah cokelat terinjak, seolah gembala-gembala raksasa sudah menggiring kawanan besar temak di sana; tapi ada lubang besar satu mil di bawah Dike, di atasnya batu- batu ditumpuk membukit. Orang-orang percaya bahwa para Orc yang tewas sudah dikubur di sana; tapi tak ada yang tahu apakah mereka yang lari ke dalam hutan ada di dalam lubang itu juga, sebab tak ada yang berani menginjak bukit itu. Setelah itu bukit tersebut dinamakan Death Down, dan tak ada rumput yang mau tumbuh di sana. Tapi pohon-pohon aneh itu tak pernah terlihat lagi di Deeping-coomb; mereka sudah kembali di malam hari, dan pergi jauh ke lembah gelap Fangorn. Dengan demikian, mereka sudah membalas dendam kepada para Orc.


Raja dan rombongannya tidak tidur lagi malam itu; tapi mereka tak melihat dan mendengar hal aneh lain, kecuali satu: sungai di samping mereka tiba-tiba bersuara lagi. Ada desiran air memburu turun di antara bebatuan, dan sesudahnya Isen mengalir dan bergelembung lagi di palungnya, seperti sediakala.
Di saat fajar mereka bersiap-siap pergi. Cahaya muncul kelabu dan pucat, dan mereka tidak melihat terbitnya matahari. Udara di atas berat oleh kabut, bau busuk menggantung di atas daratan sekitar mereka. Mereka maju dengan lambat, sekarang di atas jalan raya. Jalan itu lebar dan keras, dan terpelihara baik. Samar-samar, melalui kabut, mereka bisa melihat lengan-lengan panjang pegunungan menjulang di sebelah kiri. Mereka sudah masuk ke Nan Curunir, Lembah Penyihir. Sebuah lembah terlindung, hanya terbuka ke arah Selatan. Dulu tempatnya hijau dan indah, dan Sungai Isen mengalir melaluinya, sudah dalam dan deras sebelum mencapai padang-padang, karena diisi banyak mata air serta sungai-sungai kecil di antara perbukitan yang banyak dihujani, dan di sekitarnya terbentang tanah subur dan nyaman.
Tapi sekarang tidak demikian lagi keadaannya. Di bawah tembok-tembok Isengard masih ada tanah luas yang dipakai bercocok tanam oleh budak-budak Saruman; tapi sebagian besar lembah sudah menjadi belantara rumput liar dan

tanaman berduri. Tanaman bramble menjulur di tanah, atau memanjat semak dan tebing, membentuk gua-gua berbulu kusut tempat binatang-binatang kecil bersarang. Tak ada pohon tumbuh di sana, tapi di antara rumput tinggi masih terlihat tunggul-tunggul pohon lama yang sudah dibakar dan ditebang dengan kapak. Daratan itu muram sekali, dan hening. Hanya terdengar bunyi air mengalir di atas bebatuan. Asap dan uap melayang berbentuk awan murung dan bersembunyi di lembah-lembah. Para penunggang itu tidak berbicara. Banyak yang merasa ragu dalam hati, bertanya-tanya apa tujuan akhir perjalanan mereka yang suram.
Setelah mereka melaju beberapa mil, jalan raya itu menjadi jalan lebar berlapis batu-batu besar datar, berbentuk persegi dan dipasang dengan terampil; tak ada selembar rumput pun pada sambungan-sambungannya. Parit-parit dalam, berisi air mengalir, menjulur di kedua sisinya. Mendadak sebuah tiang tinggi menjulang di depan mereka. Warnanya hitam, di atasnya terletak sebuah batu besar, diukir dan dilukis menyerupai Tangan Putih panjang. Jarinya menunjuk ke utara. Mereka tahu kini, gerbang-gerbang Isengard sudah tak jauh lagi, dan hati mereka terasa berat; tapi mata mereka tak bisa menembus kabut di depan.


Di bawah lengan gunung di dalam Lembah Penyihir, sejak bertahun-tahun silam berdiri tempat kuno yang oleh Manusia disebut Isengard. Sebagian terbentuk saat pegunungan diciptakan, tapi karya hebat Orang-Orang Westemesse sudah hadir sejak dulu di sana; dan Saruman sudah lama tinggal di sana, tidak tinggal diam.
Begitulah keadaannya, ketika Saruman sedang dalam puncak kejayaannya, disegani sebagai pemimpin kaum Penyihir. Sebuah dinding lingkaran dari bebatuan, seperti batu karang yang menjulang, menjorok keluar dari naungan sisi pegunungan. Hanya satu jalan masuknya, suatu lengkungan besar yang digali di dinding selatan. Di sini telah dibuat sebuah terowongan, kedua ujungnya ditutup dengan pintu besi besar. Pintu-pintu ini ditempa dan dipasang pada engsel-engsel besar, pasak-pasak baja ditanamkan ke dalam batu yang hidup, sehingga bila palangnya dilepas, pintu-pintu ini bisa digerakkan tanpa suara,

dengan sentuhan ringan saja. Siapa yang masuk dan akhirnya keluar dari terowongan bergema itu akan melihat sebuah pelataran, sebuah lingkaran besar, agak cekung seperti mangkuk besar yang dangkal: ukurannya satu mil dari pinggir ke pinggir. Dulu tempat itu hijau dan penuh jalan raya serta gerombolan pohon berbuah, diairi sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan ke sebuah telaga. Tapi di masa Saruman tak ada tanaman hijau tumbuh di sana. Jalan-jalan dilapisi batu-batu pipih, gelap dan keras; dan di sisi-sisinya bukan pohon yang berdiri tegak, melainkan barisan tiang, beberapa dari marmer, beberapa dari tembaga dan besi, disambung dengan rantai berat.
Banyak sekali rumah di sana, ruangan-ruangan, aula-aula, dan selasar, dipahat masuk di dinding sebelah dalam, sehingga pelataran terbuka itu dikelilingi jendela dan pintu gelap yang tak terhitung banyaknya. Ribuan orang bisa tinggal di sana pekerja, pelayan, budak, dan pejuang dengan gudang senjata besar; serigala-serigala diberi makan dan dikandangi di bawah tanah. Pelataran itu juga digali dan dilubangi. Cerobong-cerobong ditanam jauh ke dalam tanah; ujung atasnya ditutupi gundukan rendah dan kubah batu, sehingga di bawah sinar bulan Lingkaran Isengard tampak seperti kuburan yang resah. Tanahnya bergetar. Cerobong-cerobong itu turun melalui banyak lereng dan tangga spiral ke gua-gua jauh di bawah; di sana Saruman mempunyai gudang harta, gudang perlengkapan, senjata, bengkel pandai besi, dan tungku-tungku besar. Roda- roda besi berputar tak henti-hentinya di sana, dan palu-palu berdentam. Di malam hari untaian uap mengalir dari lubang hawa, yang diterangi dari bawah dengan cahaya merah, biru, atau hijau racun.
Semua jalan di antara rantai-rantai pemisah itu menuju ke pusat. Di sana berdiri sebuah menara dengan bentuk menakjubkan. Menara itu dibuat oleh para pembangun zaman dulu, yang membuat mulus Lingkaran Isengard, tapi menara itu tidak tampak seperti buatan tangan Manusia, melainkan tumbuh dari tulang- tulang bumi di masa kesengsaraan perbukitan di masa lampau. Ia merupakan puncak dan pulau batu karang, hitam dan mengilap tajam: empat tiang besar dari batu bersisi banyak dilas menjadi satu, namun di dekat puncaknya mereka membuka menjadi tanduk menganga, ujung-ujungnya tajam seperti ujung

tombak, bersisi tajam bagai pisau. Di antaranya ada ruang sempit, dan di sana di lantai batu yang dipoles dan dipenuhi tulisan lambang-lambang aneh, orang bisa berdiri lima ratus kaki di atas pelataran. Inilah Orthanc, benteng Saruman, dan nama itu mempunyai dua makna (entah direncanakan atau kebetulan); karena dalam bahasa Peri, orthanc berarti Gunung Taring, tapi dalam bahasa Mark kuno berarti Otak Cerdik.
Dulu Isengard merupakan tempat kuat dan indah, dan lama sekali keindahannya bertahan; di sana para penguasa agung pernah tinggal, para pemelihara Gondor di sebelah Barat, dan orang-orang bijak yang mengamati bintang-bintang. Tapi Saruman perlahan-lahan mengubahnya sesuai dengan tujuannya sendiri, membuatnya lebih baik, begitu pikirnya, karena ia tertipu. Sebab semua keahlian dan sihir halus yang membuat ia meninggalkan pengetahuan dan kebijakannya yang lama, dan yang dikiranya berasal dari dirinya sendiri, sebenarnya hanya berasal dari Mordor; sehingga apa yang dibuatnya sekadar tiruan kecil contoh untuk anak kecil atau hanya bagus untuk budak-dari benteng luas, persenjataan, penjara, dan tungku berkekuatan hebat itu Barad-dur, Menara Kegelapan yang tak bisa ditandingi dan menertawakan sanjungan, menunggu waktunya, kokoh dalam keangkuhan dan kekuatannya yang tak terukur.
Itulah benteng Saruman, seperti disebarkan oleh kemasyhurannya. Dalam ingatan makhluk hidup, Orang-Orang Rohan belum pernah masuk ke gerbangnya, kecuali beberapa, seperti Wormtongue, yang masuk secara rahasia dan tidak menceritakan pada siapa pun apa yang mereka lihat.


Sekarang Gandalf maju ke tiang Tangan yang besar, dan melewatinya; ketika ia melakukan itu, para penunggang melihat dengan heran bahwa Tangan itu tidak lagi kelihatan putih, melainkan seperti temoda darah kering; dan ketika mengamati lebih dekat, mereka melihat kuku-kukunya merah. Tanpa menghiraukannya, Gandalf melaju terus ke dalam kabut dan dengan enggan mereka mengikutinya. Sekarang di sekitar mereka seolah ada banjir tiba-tiba, genangan-genangan air luas terhampar di samping jalan, mengisi cekungan- cekungan, dan sungai-sungai kecil mengalir di antara bebatuan.

Akhirnya Gandalf berhenti dan memanggil mereka dengan isyarat; mereka datang, dan melihat bahwa di depannya kabut sudah hilang, cahaya matahari pucat bersinar. Tengah hari sudah lewat. Mereka sudah sampai di gerbang- gerbang Isengard.
Tapi pintu-pintu gerbang itu sudah terlempar dan terpelintir di lantai. Di sekitarnya, bebatuan yang sudah pecah dan menyerpih menjadi keping-keping bergerigi tak terhitung banyaknya, bertebaran di manamana atau tertumpuk dalam timbunan puing. Lengkungan besar masih berdiri, tapi sekarang membuka ke sebuah jurang tak beratap: terowongan terbuka, dinding-dinding yang seperti batu karang sudah retak-retak dan terkoyak-koyak; menara-menaranya sudah hancur lebur menjadi debu. Seandainya Samudra sudah naik dengan marah dan jatuh seperti badai di atas bukit-bukit, kehancuran yang diakibatkannya tak mungkin lebih besar.
Lingkaran di seberang terisi air mendidih: kawah mendidih yang di dalamnya melayang dan mengambang puing-puing balok dan tiang, peti-peti dan kotak serta peralatan pecah. Tiang-tiang yang terpilin dan condong miring mengangkat batang-batang mereka yang pecah-pecah ke atas air bah, tapi semua jalan terendam. Jauh di sana, setengah terselubung dalam awan yang berputar-putar, menjulang pulau batu karang itu. Masih gelap dan tinggi, tidak hancur oleh badai, menara Orthanc masih berdiri. Air yang tampak pucat menerpa pelan kakinya. Raja dan seluruh rombongannya duduk diam di atas kuda mereka, terheran- heran menyadari bahwa kekuatan Saruman sudah ditaklukkan; bagaimana caranya, mereka tak bisa mereka-reka. Kini mereka mengarahkan pandang ke lengkungan dan gerbang yang runtuh. Di sana, di dekat gerbang, mereka melihat timbunan puing; mendadak mereka menyadari ada dua sosok kecil berbaring nyaman di atasnya, berpakaian kelabu, hampir tidak kelihatan di antara bebatuan. Ada botol-botol dan mangkuk serta piring-piring di samping mereka, seolah mereka baru saja makan sepuasnya, dan sekarang sedang beristirahat dari pekerjaan mereka. Satu orang tampaknya tertidur; satunya lagi, dengan kaki disilangkan dan lengan di belakang kepala, bersandar ke batu yang pecah, dari mulutnya mengembus untaian panjang serta cincin-cincin kecil asap biru tipis.



Untuk beberapa saat, Theoden, Eomer, dan semua anak buahnya memandang dengan heran. Di tengah seluruh reruntuhan Isengard, pemandangan paling aneh bagi mereka. Tapi sebelum Raja bisa berbicara, sosok kecil yang sedang merokok itu mendadak melihatnya, sementara mereka duduk diam di batas kabut. Ia melompat berdiri. Ia tampak seperti seorang pemuda, meski tingginya hanya separuh tinggi manusia; kepalanya yang berambut keriting cokelat tidak bertopi, tapi ia mengenakan jubah yang sudah lusuh, warna dan bentuknya sama dengan yang dikenakan para pendamping Gandalf ketika mereka berkuda ke Edoras. ia membungkuk rendah sekali, sambil meletakkan tangannya di dada. Lalu, seolah tidak melihat kehadiran Gandalf dan teman-temannya, ia berbicara pada Eomer dan Raja.
"Selamat datang di Isengard, Tuan-Tuan!" katanya. "Kami para penjaga pintu. Meriadoc, putra Saradoc, namaku; dan kawanku, yang sayang sekali, sedang kelelahan" ia menendang temannya dengan kakinya "adalah Peregrin, putra Paladin, dari keluarga Took. Jauh di Utara rumah kami. Lord Saruman ada di dalam, tapi saat ini dia sedang berdua dengan Wormtongue; kalau tidak, pasti dia ada di sini untuk menyambut tamu-tamu terhormat seperti ini."
"Sudah pasti!" tawa Gandalf. "Dan Saruman jugakah yang memerintahkanmu menjaga pintu-pintunya yang rusak, serta menunggu kedatangan tamu-tamu, bila perhatianmu bisa dialihkan dari piring dan botol?"
"Tidak, Sir, masalah itu lolos dari perhatiannya," jawab Merry dengan serius. "Dia sibuk sekali. Perintah kami datang dari Treebeard, yang sudah mengambil alih pengelolaan Isengard. Dia menyuruhku menyambut Penguasa Rohan dengan kata-kata yang pantas. Aku sudah berusaha sebaik mungkin."
"Dan bagaimana dengan para pendampingmu? Bagaimana tentang Legolas dan aku?" teriak Gimli, tak bisa menahan diri lagi. "Kalian bajingan, kalian berandal lembek dan lemah! Kalian sudah menjerumuskan kami ke dalam pengejaran hebat! Dua ratus league, melalui daratan basah dan hutan, pertempuran dan kematian, untuk menyelamatkan kalian! Ternyata di sini kami temukan kalian sedang berpesta pora dan menganggur dan merokok! Merokok! Dari mana

kalian mendapatkan rumputnya, bajingan! Palu dan jepitan! Aku marah sekaligus senang, dan sungguh ajaib kalau aku tidak meledak!"
"Tepat sekali ucapanmu, Gimli," tawa Legolas. "Tapi aku lebih ingin tahu, dari mana mereka mendapatkan anggur itu."
"Satu hal yang tidak kautemukan dalam perburuanmu, yakni otak yang lebih cerdas," kata Pippin sambil membuka satu matanya. "Kau menemukan kami duduk di medan kemenangan, di tengah barang rampasan milik musuh, dan kau heran dari mana kami mendapatkan beberapa kenikmatan yang pantas sebagai imbalan!"
"Imbalan pantas?" kata Gimli. "Aku tidak percaya itu!"

Para Penunggang itu tertawa. "Tak salah lagi, rupanya kami menyaksikan pertemuan antara sahabat-sahabat yang saling menyayangi," kata Theoden. "Jadi, inikah mereka yang hilang dari rombonganmu, Gandalf’? Masa kini sudah ditakdirkan penuh keajaiban. Banyak yang sudah kulihat sejak meninggalkan rumahku, dan sekarang di depan mataku berdiri sosok lain lagi dari bangsa dalam legenda. Bukankah ini para Halfling, yang beberapa di antara kami menyebutnya Holbytlan?"
"Hobbit, Yang Mulia," kata Pippin.

"Hobbit?" kata Theoden. "Bahasamu sudah berubah aneh, tapi nama itu kedengarannya cocok. Hobbit! Laporan yang kudengar selama ini tidak sesuai dengan kenyataan."
Merry membungkuk, Pippin juga bangkit berdiri dan membungkuk rendah. "Anda sangat ramah, Yang Mulia, begitu pula kata-kata Anda," katanya. "Dan ini suatu keajaiban lain lagi! Aku sudah mengembara ke banyak negeri, sejak aku meninggalkan rumahku, dan belum pernah aku bertemu orang yang tahu cerita tentang hobbit."
"Bangsaku datang dari Utara, lama berselang," kata Theoden. "Tapi aku tak akan menipumu: kami tidak tahu dongeng-dongeng tentang hobbit. Yang diceritakan di antara kami hanya bahwa jauh sekali, melewati banyak bukit dan sungai, ada bangsa halfling yang tinggal di dalam lubang di bukit pasir. Tapi tak ada legenda tentang perbuatan mereka, karena konon mereka tidak berbuat

banyak, dan menghindari dilihat manusia, mampu menghilang dalam sekejap, dan bisa mengubah suara mereka menyerupai siulan burung. Tapi tampaknya banyak lagi yang bisa diungkapkan."
"Memang, Yang Mulia," kata Merry.

"Salah satunya," kata Theoden, "aku belum mendengar bahwa mereka mengembuskan asap dari mulut mereka."
"Itu tidak mengherankan," jawab Merry, "karena ini seni yang sudah beberapa

generasi tidak kami praktekkan. Tobold Hornblower, dari Longbottom di Wilayah Selatan, yang pertama kali menanam tembakau pipa asli di kebunnya, sekitar tahun 1070 menurut hitungan kami. Bagaimana Old Toby menemukan tanaman itu …”
"Kau belum tahu bahaya yang kauhadapi, Theoden," potong Gandalf. "Hobbit- hobbit ini bisa duduk di ujung reruntuhan dan mendiskusikan kenikmatan makan, atau perbuatan-perbuatan kecil ayah mereka, kakek mereka, kakek buyut mereka, dan sepupu-sepupu jauh dari tingkat kesembilan, kalau kau mau mendengarkan dengan kesabaran luar biasa. Lain kali saja bercerita tentang sejarah merokok ini. Di mana Treebeard, Merry?"
"Di sebelah utara, kukira. Dia pergi minum-minum air bersih. Kebanyakan Ent lain ada bersamanya, masih sibuk bekerja di sana." Merry melambaikan tangannya ke arah kolam yang berasap; ketika memandang ke sana, mereka mendengar bunyi gemuruh dan kertak-kertuk samar, seolah tanah longsor jatuh dari sisi pegunungan. Dari jauh terdengar bunyi huum-hom, seperti bunyi terompet yang ditiup dengan penuh kemenangan.
"Dan apakah Orthanc ditinggal tanpa penjagaan?" tanya Gandalf.

"Kan ada air," kata Merry. "Tapi Quickbeam dan beberapa Ent lain mengawasinya. Tidak semua tiang dan tonggak di pelataran ditanam oleh Saruman. Kurasa Quickbeam ada di dekat batu karang, dekat kaki tangga."
"Ya, ada Ent tinggi kelabu di sana," kata Legolas, "tapi kedua lengannya ada di sampingnya, dan dia berdiri diam seperti kusen pintu."
"Sekarang sudah lewat tengah hari," kata Gandalf," dan kami belum makan sejak pagi tadi. Meski begitu, aku ingin segera bertemu Treebeard. Apakah dia tidak

meninggalkan pesan, ataukah piring dan botol sudah mengusir pesan itu dari ingatanmu?"
"Dia meninggalkan pesan," kata Merry, "dan aku baru saja hendak menyampaikannya, tapi aku terhambat banyak pertanyaan. Tadi aku ingin mengatakan bahwa kalau Penguasa Mark dan Gandalf mau pergi ke dinding utara, mereka akan bertemu Treebeard di sana, dan dia akan menyambut mereka. Boleh kutambahkan juga bahwa mereka akan menemukan makanan terbaik di sana, sudah ditemukan dan dipilih oleh pelayanmu yang rendah hati." ia membungkuk.
Gandalf tertawa. "Itu lebih baik!" katanya. "Nah, Theoden, kau mau pergi denganku untuk mencari Treebeard? Kita harus berjalan memutar, tapi tidak begitu jauh. Kalau bertemu Treebeard, kau akan belajar banyak darinya. Sebab Treebeard adalah Fangorn, Ent paling tua dan pemimpin mereka. Berbicara dengannya, kau akan mendengar bahasa makhluk hidup tertua."
"Aku akan ikut denganmu," kata Theoden. "Selamat tinggal, hobbit-hobbit-ku! Semoga kita bertemu lagi di rumahku! Di sana kalian akan duduk di sampingku dan menceritakan semua yang kalian inginkan: perbuatan nenek moyang kalian, sejauh yang bisa kalian ingat; kita juga akan membicarakan Tobold Tua dan pengetahuannya tentang tanaman. Selamat berpisah!"
Kedua hobbit membungkuk rendah. "Jadi, itu Raja Rohan!" kata Pippin dengan berbisik. "Orang tua yang sangat ramah. Sangat sopan "

BAB 9

BANJIR BESAR



Gandalf dan rombongan Raja pergi, membelok ke timer untuk mengitari lingkaran tembok-tembok Isengard yang sudah runtuh. Tapi Aragorn, Gimli, dan Legolas tetap di sana. Arod dan Hasufel dibiarkan merumput, sementara mereka sendiri duduk di samping kedua hobbit.
"Well, well! Perburuan sudah berakhir, dan kita bertemu lagi akhirnya, di tempat yang sungguh tak disangka-sangka," kata Aragorn.
"Dan sekarang, setelah para petinggi pergi untuk membicarakan masalah- masalah pelik," kata Legolas, "para pemburu mungkin bisa tahu jawaban atas teka-teki kecil mereka sendiri. Kami mengikuti jejak kalian sampai di hutan, tapi masih banyak hal yang ingin kuketahui kebenarannya."
"Dan banyak juga yang ingin kami ketahui tentang kalian," kata Merry. "Kami belajar beberapa hal dari Treebeard, Ent tea itu, tapi itu tidak mencukupi."
"Satu per satu," kata Legolas. "Kami para pemburu, dan kalianlah yang harus lebih dulu memberi laporan tentang diri kalian."
"Atau nanti saja," kata Gimli. "Mungkin lebih baik setelah makan. Aku sakit kepala, dan sudah lewat tengah hari. Kalian bisa menebus kesalahan dengan mencarikan sedikit rampasan yang kalian ceritakan. Makanan dan minuman bisa membayar sedikit kejengkelanku pada kalian."
"Baiklah, kalau begitu," kata Pippin. "Kau mau makan di sini, atau di dalam sisa- sisa gardu jaga Saruman yang lebih nyaman di bawah lengkungan gerbang di sana? Kami terpaksa piknik di luar sini, supaya bisa mengawasi jalan." "Mengawasi apa!" kata Gimli. "Tapi aku tidak akan masuk ke dalam rumah Orc mana pun; juga tidak mau menyentuh daging Orc atau apa pun yang mereka aniaya."
"Kami tidak akan menyuruhmu melakukan itu," kata Merry. "Kami sendiri sudah kenyang dengan Orc. Tapi banyak bangsa lain di Isengard. Saruman masih cukup bijak untuk tidak mempercayai Orc-Orc-nya. Dia memakai Manusia untuk menjaga gerbangnya: beberapa pelayannya yang paling setia, kukira. Mereka

disayang dan mendapat makanan bagus." "Dan tembakau?" tanya Gimli.
"Tidak, kukira tidak," tawa Merry. "Tapi itu cerita lain, yang bisa menunggu sampai setelah makan siang."
"Ayo kita pergi makan siang!" kata si Kurcaci.



Para hobbit memimpin jalan; mereka lewat di bawah gerbang, dan sampai di sebuah pintu lebar di sebelah kin, di puncak tangga. Pintu itu membuka langsung ke dalam sebuah ruangan besar, dengan pintu-pintu lain yang lebih kecil di sisi terjauh, serta sebuah perapian dan cerobong asap di sate sisi. Ruangan itu dipahat dalam bebatuan; dulu pasti gelap, karena jendelanya membuka ke dalam terowongan. Tapi kini cahaya masuk melalui atap yang rusak. Di perapian, kayu sedang dibakar.
"Aku menyalakan api," kata Pippin. "Untuk menghibur kami di dalam kabut. Hanya ada sedikit kayu bakar, dan kebanyakan kayu yang bisa kami temukan sudah basah. Tapi ada angin besar dalam cerobong: tampaknya cerobong itu naik keluar menembus batu karang, dan untungnya tidak tersumbat. Api selalu bermanfaat. Aku akan membuatkan sedikit roti panggang. Aku khawatir rotinya sudah berumur tiga atau empat hari."
Aragorn dan kawan-kawannya duduk di salah sate sisi meja panjang, dan kedua hobbit menghilang melalui salah satu pintu di dalam.
"Gudang persediaan ada di dalam sini, dan syukur berada di atas garis banjir," kata Pippin, ketika mereka kembali dengan membawa piring-piring, mangkuk, cangkir, pisau, dan bermacam-macam makanan.
"Dan kau tak perlu mencibir atas penyedia makanan ini, Master Gimli," kata Merry. "Ini bukan makanan Orc, tapi makanan manusia, begini Treebeard menyebutnya. Kau mau anggur atau bir? Ada di dalam tong di sana-sangat lumayan. Dan ini babi asin mutu paling bagus. Atau aku bisa memotong beberapa iris daging asap dan menggorengnya, kalau kau suka. Maaf, tidak ada sayuran hijau: pengiriman agak terganggu dalam beberapa hari terakhir ini! Aku tak bisa menawarkan yang lain setelah itu, kecuali mentega dan made untuk

rotimu. Apa kau sudah puas?"

"Ya, cukup," kata Gimli. "Aku sudah tidak terlalu jengkel lagi sekarang."

Ketiganya kemudian sibuk dengan makanan mereka; dan kedua hobbit, tanpa malu-malu, makan lagi untuk kedua kalinya. "Kami harus menemani tamu-tamu kami makan," kata mereka.
"Kalian benar-benar sopan pagi ini," tawa Legolas. "Tapi kalau kami tidak datang, mungkin kalian sudah saling menemani makan lagi."
"Mungkin, dan mengapa tidak?" kata Pippin. "Makanan kami buruk sekali bersama para Orc, dan sebelumnya kami hampir-hampir tidak makan. Rasanya sudah sangat lama sejak kami bisa makan sepuas-puasnya."
"Tapi tampaknya kalian baik-baik saja," kata Aragorn. "Bahkan kesehatan kalian seperti sedang bagus-bagusnya."
"Ya, memang," kata Gimli, mengamati mereka dari atas sampai ke bawah. "Malah rambut kalian dua kali lebih tebal dan keriting daripada ketika kita berpisah; dan aku berani sumpah kalian lebih tinggi sedikit, kalau itu mungkin bagi hobbit seumur kalian. Treebeard setidaknya tidak membiarkan kalian kelaparan."
"Memang tidak," kata Merry. "Tapi Ent hanya minum, dan minuman, tidak cukup untuk mengenyangkan. Mungkin minuman Treebeard sangat bergizi, tapi kami masih ingin sesuatu yang lebih padat. Bahkan lembas pun masih lebih lumayan sebagai selingan."
"Kau minum air Ent, bukan?" kata Legolas. "Ah, kalau begitu sangat mungkin mata Gimli tidak salah lihat. Lagu-lagu aneh sudah dinyanyikan tentang minuman Fangorn."
"Banyak kisah aneh tentang negeri itu," kata Aragorn. "Aku belum pernah memasukinya. Ayo, ceritakan lebih banyak tentang itu, dan tentang para Ent!" "Ent," kata Pippin, "Ent adalah … well, Ent itu berbeda. Tapi mata mereka, mata mereka sangat aneh." Ia mencoba menjelaskan dengan terbata-bata, tapi lalu berakhir dengan keheningan. "Oh ya," lanjutnya, "kalian sudah melihat beberapa dari kejauhan yang jelas, mereka melihat kalian, dan memberitahukan bahwa kalian sedang dalam perjalanan dan kalian akan melihat banyak yang lain,

kukira, sebelum kalian pergi dari sini. Kalian harus membentuk gagasan sendiri." "Nah, nah!" kata Gimli. "Kita memulai cerita ini langsung di tengah-tengah. Aku ingin mendengar cerita dalam susunan seharusnya, dimulai dari hari aneh ketika rombongan kita terpisah."
"Kau akan mendengamya, kalau ada waktu," kata Merry. "Tapi pertama-tama kalau kau sudah selesai makan kau mesti mengisi pipamu dan menyalakannya. Lalu kita bisa pura-pura berada di Bree kembali, atau di Rivendell."
la mengeluarkan tas kecil dari kulit, penuh berisi tembakau. "Kami punya banyak

sekali," katanya, "bisa kaubawa sebanyak yang kau mau, bila kita pergi. Kami mengumpulkan macam-macam pagi ini, pippin dan aku. Banyak sekali barang- barang mengambang di sini. pippin yang menemukan dua tong kecil, mengambang keluar dari sebuah gudang bawah tanah atau gudang persediaan, kukira. Ketika kami buka, isinya ternyata ini: tembakau yang bagus sekali, dan tidak rusak."
Gimli mengambil sedikit dan menggosoknya dengan telapak tangan, lalu menciumnya. "Rasanya bagus, dan baunya juga enak," katanya.
"Memang bagus!" kata Merry. "Gimli-ku yang baik, ini Longbottom Leaf! Ada cap Hornblower pada tong-tong itu, jelas sekali. Bagaimana bisa sampai ke sini, aku tidak mengerti. Mungkin untuk digunakan secara pribadi oleh Saruman. Tak kusangka barang ini bisa sampai kemari. Tapi sekarang sangat bermanfaat." "Bermanfaat sekali," kata Gimli, "kalau aku punya pipa untuk mengisapnya. Sayang sekali, aku kehilangan pipaku di Moria, atau sebelumnya. Tidak adakah pipa dalam pampasan perangmu?"
"Tidak, rasanya tidak," kata Merry. "Kami belum menemukan satu pipa pun, termasuk di ruang penjaga. Tampaknya Saruman menyimpan kemewahan ini untuk dirinya sendiri. Dan tak ada gunanya mengetuk pintu Orthanc untuk meminta pipa darinya! Kita harus berbagi pipa, seperti kawan baik bila keadaan memaksa."
"Tunggu sebentar!" kata Pippin. ia memasukkan tangan ke dalam jaketnya, dan mengeluarkan sebuah dompet kecil lunak yang diikat pada tall. "Aku menyimpan satu-dua harta, sama berharganya seperti Cincin bagiku. Ini satu: pipa kayuku

yang lama. Dan ini satu lagi: yang belum dipakai. Aku sudah membawanya jauh sekali, entah kenapa. Aku sebenarnya tidak berharap menemukan tembakau dalam perjalanan, ketika tembakauku sendiri habis. Tapi akhirnya pipa ini bermanfaat juga." ia mengangkat sebuah pipa kecil dengan mangkuk lebar datar, dan memberikannya pada Gimli. "Apakah dengan begini skor kita jadi seri?" "Seri!" teriak Gimli. "Hobbit yang mulia, sekarang justru aku yang sangat berutang budi padamu."
"Well, aku akan kembali ke udara terbuka, untuk melihat keadaan angin dan langit!" kata Legolas.
"Kami ikut bersamamu," kata Aragorn.

Mereka keluar, dan duduk di atas timbunan batu di depan jalan masuk. Sekarang mereka bisa memandang jauh ke dalam lembah; kabut sudah mulai tersingkap, dan melayang pergi di atas angin.
"Mari kita santai sejenak di sini!" kata Aragorn. "Kita akan duduk di pinggir puing- puing dan bercakap-cakap, seperti kata Gandalf, sementara dia sibuk di tempat lain. Aku merasakan keletihan yang jarang kurasakan sebelumnya." ia merapatkan jubah kelabunya hingga menutupi kemeja logamnya, dan menjulurkan kakinya yang panjang. Lalu ia berbaring, dari bibirnya keluar aliran tipis asap.
"Lihat!" kata Pippin. "Strider si Penjaga Hutan sudah kembali!"

"Dia tak pernah pergi," kata Aragorn. "Aku Strider dan juga Dunadan; aku milik

Gondor maupun Utara."



Mereka merokok dalam diam selama beberapa saat; matahari menyinari mereka, berkasnya jatuh ke dalam lembah dari antara awanawan putih tinggi di barat. Legolas berbaring diam, menatap matahari dan langit dengan mata tak berkedip, sambil bernyanyi perlahan. Akhirnya ia bangkit duduk. "Ayo!" katanya. "Sudah semakin larut, dan kabut sudah mengalir pergi, atau akan mengalir pergi kalau kalian, orang-orang aneh, tidak mengalungi diri sendiri dengan rangkaian asap. Bagaimana dengan ceritanya?"
"Well, kisahku diawali dengan bangun dalam gelap, dan menyadari diriku terikat

di dalam perkemahan Orc," kata Pippin. "Coba lihat, tanggal berapa sekarang?" "Tanggal lima Maret, menurut Hitungan Shire," kata Aragorn. Pippin menghitung dengan jarinya. "Baru sembilan hari yang lalu!"' katanya. (Setiap bulan dalam penanggalan Shire mempunyai tiga puluh hari.) "Rasanya sudah setahun sejak kami tertangkap. Well, meski separuhnya seperti mimpi buruk, kuhitung tiga hari yang mengerikan menyusul. Merry akan menambahkan, kalau aku lupa bagian yang penting: aku tidak akan menceritakan detail-detail: cambuk, kotoran, bau busuk, dan sebagainya; tidak tahan mengingatnya." Lalu ia terjun ke dalam cerita tentang pertarungan terakhir Boromir dan perjalanan bersama para Orc dari Emyn Mull ke Hutan. Yang lain mengangguk-angguk ketika beberapa bagian cocok dengan dugaan mereka.
"Ada beberapa harta yang kaujatuhkan," kata Aragorn. "Kau akan senang menerimanya kembali." ia melonggarkan ikat pinggangnya dari bawah jubah, dan mengambil dua bilah pisau bersarung.
"Well," kata Merry. "Aku tak mengira akan melihat itu lagi! Aku melukai beberapa

Orc dengan pisau itu, tapi Ugluk mengambilnya dari kami. Dia memandang kami dengan marah! Mulanya kukira dia akan menusukku, tapi dia membuang benda- benda itu, seakan-akan terbakar olehnya.”
"Dan ini brosmu, Pippin," kata Aragorn. "Aku menyimpannya, karena barang ini sangat berharga."
"Aku tahu," kata Pippin. "Memang memilukan untuk merelakannya, tapi apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Tidak ada," kata Aragorn. "Siapa yang tak mampu membuang harta dalam

keadaan darurat, akan terbelenggu. Kau sudah bertindak benar."

"Tindakan memotong tali di pergelangan tanganmu itu cerdik sekali!" kata Gimli. "Keberuntungan sedang bersamamu saat itu, tapi boleh dikatakan kau mengambil kesempatan dengan kedua tanganmu."
"Dan meninggalkan teka-teki berat bagi kami," kata Legolas. "Kupikir kau tiba- tiba punya sayap!"
"Sayang sekali tidak," kata Pippin. "Tapi kau tidak tahu tentang Grishnakh." ia menggigil dan tidak mengatakan apa-apa lagi, membiarkan Merry menceritakan

semua saat-saat terakhir yang mengerikan; tangan-tangan yang meraba-raba, napas panas, dan kekuatan mengerikan dalam tangan Grishnakh yang berbulu lebat.
"Segala sesuatu tentang Orc dari Barad-dur ini Lugburz sebutan mereka membuatku cemas," kata Aragorn. "Penguasa Kegelapan sudah tahu terlalu banyak, anak buahnya juga; tampaknya Grishnakh mengirim pesan ke seberang Sungai setelah percekcokan. Mata Merah akan mengamati Isengard. Tapi setidaknya Saruman sudah terjepit belahan tongkat yang dibuatnya sendiri."
"Ya, pihak mana pun yang menang, masa depannya jelek," kata Merry. "Semuanya mulai kacau sejak pasukan Orc-nya menginjakkan kaki di Rohan." "Kami melihat sekilas bajingan tua itu, atau begitulah menurut Gandalf," kata Gimli. "Di pinggir Hutan."
"Kapankah itu?" tanya Pippin.

"Lima malam yang lalu," kata Aragorn.

"Coba lihat," kata Merry, "lima malam yang lalu sekarang kita sampai ke bagian cerita yang sama sekali tidak kauketahui. Kami bertemu Treebeard pada pagi setelah pertempuran itu, dan malam itu kami berada di Wellinghall, salah satu rumah Ent miliknya. Pagi berikutnya kami ke Entmoot, pertemuan para Ent, hal paling aneh yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Pertemuan itu berlangsung sepanjang hari dan hari berikutnya; kami melewatkan malam bersama seorang Ent bernama Quickbeam. Lalu siang hari ketiga pertemuan mereka, mendadak para Ent marah. Mengherankan sekali. Hutan sudah terasa tegang, seakan-akan ada badai petir sedang dimasak di dalamnya: lalu tiba-tiba dia meledak. Seandainya kau bisa mendengar lagu yang mereka nyanyikan sambil berbaris." "Kalau Saruman mendengarnya, dia pasti kabur dari sini, mesh harus lari dengan kakinya sendiri," kata Pippin.


"Walau Isengard kuat dan keras, beku bagai batu dan gersang bagai tulang,

Kita pergi, kita pergi, kita pergi perang, membelah-belah batu dan mendobrak gerbang!

Masih banyak lagi. Banyak lagu mereka sama sekali tanpa syair, kedengarannya seperti bunyi terompet dan genderang. Sangat menggairahkan. Mulanya kukira musik itu hanya musik berbaris, hanya sebuah lagu sampai aku datang kemari. Aku sudah lebih tahu sekarang."
"Kami menuruni punggung bukit terakhir, masuk ke Nan Curunir, setelah malam tiba," lanjut Merry. "Saat itulah aku merasa hutan itu sendiri bergerak di belakang kami. Kukira aku sedang mimpi Ent, tapi Pippin juga melihatnya. Kami berdua ketakutan; tapi kami tidak mengerti banyak tentang itu, sampai kemudian,”
"Itulah Huorn, atau begitulah para Ent menyebut mereka dalam 'bahasa singkat'. Treebeard tidak mau bicara banyak tentang mereka, tapi kurasa mereka adalah Ent yang sudah hampir seperti pohon, setidaknya dari penampilan mereka. Mereka berdiri di sana-sini di hutan, atau di bawah pinggiran atap hutan, selamanya mengawasi pepohonan; jauh di lembah-lembah paling gelap ada ratusan dari mereka, kurasa.”
"Dalam diri mereka ada kekuatan dahsyat, dan tampaknya mereka mampu menyelubungi diri dalam bayangan: sulit sekali melihat mereka bergerak. Tapi mereka bisa bergerak. Mereka bisa bergerak sangat cepat, kalau marah. Kau berdiri diam memperhatikan cuaca, misalnya, atau mendengarkan desiran angin, lalu mendadak kau menyadari kau berada di tengah hutan, dengan pohon-pohon besar menggapai-gapai di sekelilingmu. Mereka masih mempunyai suara, dan bisa berbicara dengan para Ent karena itu mereka disebut Huorn, kata Treebeard tapi mereka sudah menjadi aneh dan liar. Berbahaya. Aku akan sangat ketakutan bertemu mereka, kalau tidak ada Ent asli di sekitarku untuk mengawasi mereka.”
"Well, di malam yang belum larut, kami merangkak menyusuri jurang panjang sampai ke ujung Lembah Penyihir, para Ent dengan semua Huorn mereka yang berdesir di belakang. .Kami tentu saja tak bisa melihat mereka, tapi seluruh udara dipenuhi bunyi keriutan. Malam itu sangat kelam dan berawan. Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi, segera setelah meninggalkan bukit-bukit, dan mengeluarkan bunyi seperti angin yang berembus keras. Bulan tidak muncul dari antara awan-awan, dan tak lama setelah tengah malam, sudah ada sebuah

hutan sepanjang sisi utara Isengard. Tak ada tanda-tanda musuh atau tantangan apa pun. Ada cahaya bersinar dari sebuah jendela tinggi di menara, itu saja. "Treebeard dan beberapa Ent terus merangkak, sampai berada dalam jarak pandang gerbang besar. Pippin dan aku bersamanya. Kami duduk di bahu Treebeard, dan bisa kurasakan getaran ketegangan di dalam dirinya. Tapi, meski amarah mereka sedang bangkit, Ent bisa sangat hati-hati dan sabar. Mereka berdiri diam seperti batu dipahat, bernapas dan mendengarkan.”
"Lalu mendadak ada gerakan hebat. Terompet berdengung, dan tembok-tembok Isengard bergema. Kami mengira kami sudah ketahuan dan pertempuran akan dimulai, tapi ternyata tidak. Semua anak buah Saruman berbaris pergi keluar. Aku tidak tahu banyak tentang perang ini, atau tentang para Penunggang dari Rohan, tapi kelihatannya Saruman berniat menewaskan Raja dan semua anak buahnya dengan satu pukulan akhir. Dia mengosongkan Isengard. Aku melihat musuh pergi: barisan-barisan tak berujung para Orc yang berjalan, dan pasukan- pasukan mereka yang mengendarai serigala-serigala besar. Ada juga batalyon- batalyon Manusia. Banyak di antara mereka membawa obor, dan dalam nyala apinya aku bisa melihat wajah mereka. Kebanyakan di antara mereka hanyalah manusia biasa, agak tinggi dan berambut gelap, muram tapi tidak bertampang jahat. Ada beberapa yang tampak mengerikan: seperti manusia, tapi dengan wajah goblin, pucat, melirik, bermata juling. Mengingatkanku pada orang Selatan di Bree itu; hanya saja dia tidak terlalu seperti Orc, tidak seperti kebanyakan nyakan di antara mereka ini."
"Aku juga ingat dia," kata Aragorn. "Kami banyak menghadapi Half-Orc ketika di Helm's Deep. Tampaknya jelas sekarang bahwa orang Selatan itu mata-mata Saruman; tapi apakah dia bekerja sama dengan para Penunggang Hitam, atau hanya untuk Saruman, aku tidak tahu. Sulit sekali mengetahui apakah bangsa jahat ini sedang bersekutu atau sedang saling menipu."
"Well, dari semua jenis dikumpulkan, setidaknya ada sepuluh ribu," kata Merry. "Makan waktu satu jam bagi mereka untuk keluar dari gerbang. Beberapa pergi melalui jalan raya ke arah Ford-ford, beberapa membelok dan pergi ke timur. Sebuah jembatan dibangun di sana, sekitar satu mil dari sini, di mana sungai

mengalir dalam palung yang sangat dalam. Kau bisa melihatnya sekarang, kalau berdiri. Mereka semua bernyanyi dengan suara parau, dan tertawa, membuat hiruk-pikuk menjijikkan. Kupikir keadaan Rohan akan buruk sekali. Tapi Treebeard tidak bergerak. Dia berkata, 'Urusanku malam ini adalah dengan Isengard, dengan batu karang dan bebatuan.'”
"Tapi, meski tak bisa melihat apa yang terjadi dalam kegelapan, aku menduga para Huorn bergerak ke selatan, begitu gerbang tertutup lagi. Urusan mereka rupanya dengan para Orc. Mereka sudah jauh sekali di lembah saat pagi tiba; atau setidaknya di sana ada bayang-bayang yang tak tertembus oleh mata.” "Begitu Saruman mengirimkan seluruh bala tentaranya, giliran kami tiba. Treebeard menurunkan kami dan pergi ke gerbang, lalu mulai memukul pintunya sambil memanggil Saruman. Tak ada jawaban, kecuali panah dan batu-batu dari atas tembok. Tapi panah tidak mempan terhadap Ent. Memang menyakiti mereka, dan membuat mereka marah: seperti nyamuk yang menggigit. Tapi Ent bisa dipenuhi panah Orc sampai seperti bantalan jarum, tanpa mengalami luka serius. Mereka tak bisa diracuni. Kulit mereka tampaknya sangat tebal, lebih alot daripada kulit pohon. Perlu sapuan kapak berat untuk benar-benar melukai mereka. Mereka tak senang kapak. Tapi perlu banyak sekali tukang kapak melawan satu Ent: orang yang satu kali menghantam Ent tidak bakal mendapat kesempatan untuk hantaman kedua. Pukulan Ent bisa menghancurkan besi seperti kaleng tipis.
"Saat beberapa panah sudah menancap dalam tubuh Treebeard, dia mulai memanas, benar-benar jadi 'terburu-buru', begitu istilahnya. Dia mendengungkan bunyi huum-hom nyaring, dan selusin Ent berdatangan. Ent yang sedang marah menakutkan sekali. Mereka melekatkan jari tangan dan kaki pada batu, dan merenggutkannya seperti kulit roti. Rasanya seperti melihat akar-akar pepohonan besar selama ratusan tahun yang beraksi dalam beberapa detik.” "Mereka mendorong, merenggut, merobek, mengguncang, dan menghantam; plang-bang, gedubrak-krak, dalam lima menit gerbang ini sudah hancur berserakan; beberapa Ent mulai menggerogoti tembok-tembok, seperti kelinci dalam perangkap pasir. Aku tidak tahu pikiran Saruman tentang apa yang terjadi;

tapi kurasa dia tidak tahu bagaimana menanganinya. Memang keahlian sihirnya agak menurun belakangan ini, tapi bagaimanapun kurasa dia tak mampu banyak menggertak, dan tidak cukup punya keberanian, sendirian di tempat terjepit tanpa banyak budak, mesin, dan peralatan, kalau kau mengerti maksudku. Sangat berbeda dengan Gandalf yang baik. Aku jadi bertanya-tanya, jangan- jangan kemasyhuran Saruman hanya disebabkan oleh kecerdikannya menetap di Isengard."
"Tidak," kata Aragorn. "Dulu dia pernah hebat. Pengetahuannya dalam, pikirannya halus, dan tangannya luar biasa terampil; dan dia punya kekuatan menguasai pikiran orang lain. Yang bijak bisa dibujuknya, dan orang-orang biasa bisa ditakutinya. Kekuatan itu masih dimilikinya. Menurutku, tidak banyak orang di Dunia Tengah yang aman kalau ditinggal sendirian bercakap-cakap dengannya, bahkan sekarang, setelah dia mengalami kekalahan. Gandalf, Elrond, dan Galadriel mungkin tidak terpengaruh olehnya, setelah kekejiannya terbuka kini, tapi hanya sedikit sekali orang-orang lain yang aman dari pengaruhnya.”
"Para Ent aman," kata Pippin. "Rupanya dulu dia pernah mengamati mereka, tapi tidak lagi. Bagaimanapun, dia tidak memahami mereka; dan dia membuat kesalahan besar dengan tidak memperhitungkan mereka. Dia tidak punya rencana untuk menghadapi mereka, dan sudah tak ada waktu lagi untuk membuat rencana, begitu mereka mulai bekerja. Setelah serangan dimulai, tikus- tikus yang masih tertinggal di Isengard mulai berlarian melalui semua lubang yang dibuat Ent. Para Ent membiarkan Manusia-Manusia pergi, setelah menanyai masing-masing, hanya dua atau tiga lusin di sebelah sini. Kurasa tidak banyak bangsa Orc dari ukuran apa pun yang lolos. Tidak dari para Huorn: ada satu hutan penuh mengepung Isengard saat itu, juga mereka yang datang melalui lembah.”
"Ketika para Ent sudah menghancurkan sebagian besar tembok selatan menjadi puing, dan sisa-sisa anak buahnya sudah lari meninggalkannya, Saruman lari dengan panik. Rupanya dia berada di dekat gerbang ketika kami tiba: kurasa dia datang untuk melihat bala tentaranya yang hebat berbaris keluar. Ketika para Ent

mendobrak masuk, dia pergi terburu-buru. Mula-mula mereka tidak melihatnya, tapi malam mulai terang, dan banyak cahaya bintang, cukup bagi para Ent untuk melihat. Tiba-tiba Quickbeam berteriak, 'Pembunuh pohon, pembunuh pohon!' Quickbeam makhluk yang lembut, tapi dia justru sangat membenci Saruman: rakyatnya banyak menderita di bawah kapak-kapak Orc. Dia melompat lari ke jalan dari gerbang dalam, dan dia bisa bergerak seperti angin kalau sudah marah. Sebuah sosok pucat berlari pergi keluar-masuk bayangan tiang-tiang, dan sudah hampir mencapai tangga ke pintu menara. Nyaris sekali. Quickbeam begitu Panas mengejarnya, sampai Saruman tinggal selangkah-dua langkah akan tertangkap dan dicekiknya, tapi Saruman berhasil menyelinap masuk ke pintu.
"Ketika sudah aman kembali di dalam Orthanc, Saruman mulai menjalankan beberapa mesinnya yang berharga. Saat itu sudah banyak Ent di dalam Isengard: beberapa mengikuti Quickbeam, yang lain datang menyerbu dan utara dan timur; mereka berkeliaran ke sana kemari, melakukan pengrusakan besar- besaran. Mendadak muncul api dan asap busuk: lubang-lubang angin dan cerobong-cerobong di seluruh pelataran mulai menyemprot dan menyembur. Beberapa Ent hangus melepuh. Salah satu di antara mereka, kalau tak salah namanya Beechbone, yang sangat tinggi dan tampan, terjebak semprotan api cair dan terbakar seperti obor: pemandangan mengerikan.
"Itu membuat mereka marah besar. Kukira mereka sudah benar-benar marah sebelumnya; ternyata aku salah. Akhirnya aku melihat kemarahan yang sebenarnya. Mencengangkan. Mereka menggeram, menderum, dan mengaum, sampai bebatuan mulai retak dan jatuh hanya karena bunyi berisik mereka. Merry dan aku berbaring di lantai, menyumpal telinga dengan jubah kami. Para Ent berjalan mengitari dan terus mengitari menara Orthanc, melangkah dan mengamuk bagai angin melolong, mematahkan tiang-tiang, melemparkan longsoran batu ke dalam cerobong-cerobong, dan keping-keping besar batu ke udara, seperti daun. Menara itu berada di tengah angin puyuh yang berputar- putar. Aku melihat tonggak-tonggak besi dan keping-keping bata tembok terbang meroket beberapa ratus kaki, dan hancur mengenai jendela jendela Orthanc.


0 Response to "The Lord of the Rings 2 Part 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified