Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Lord of the Rings 1 Part 2

Dedaunan panjang, rumput hijau,

Tinggi indah pepohonan cemara, Dan di padang tampak cahaya kemilau
Bintang-bintang berkelip di keremangan

Tinuviel menari di sana

Diiringi nada suling indah memukau, Cahaya bintang gemerlap di rambutnya,
Pun di pakaiannya berkilauan.



Datang Beren dari pegunungan dingin nan sepi,

Di bawah dedaunan tersesat mengembara, Menyusuri sepanjang tepi Sungai Peri
Melangkah sendiri, dicekam kepedihan. Mengintip di antara ranting-ranting cemara
Terpesona oleh bunga-bunga emas indah tak terperi

Pada jubah dan lengan si gadis jelita,

Dan rambutnya yang terurai, sekelam bayangan.



Terpesona ia oleh pemandangan itu

Kakinya yang letih seketika pulih; Kuat dan tangkas, ia bergegas maju,
Menggapai alur-alur sinar bulan kemilau. Di rimba belantara hutan Peri

Tinuviel lari dengan kaki-kaki lincah berpacu, Dan tinggallah Beren mengembara sendiri
Di belantara sepi, mendengarkan terpukau.



Sering ia dengar tapak-tapak lincah

Kaki-kaki ringan bagai tanpa suara, Atau musik yang memancar di bawah tanah,
Tersembunyi bergetar di liang-liang. Kini layu tergeletak berkas-berkas cemara,
Berguguran satu per satu sambil mendesah

Daun-daun beech ikut berjatuhan pula

Di hutan musim dingin melayang-layang.



Beren s’lalu mencari si gadis Peri

Di hamparan tebal daun-daun berguguran, Di bawah cahaya bulan dan bintang yang berseri
Di angkasa dingin dan berembun beku. Jubah Tinuviel gemerlap di bawah sinar rembulan,
Seperti di puncak bukit nan jauh dan tinggi

Ia menari, dan di kakinya bertaburan

Kabut perak yang gemetar malu-malu.



Musim dingin berlalu, Tinuviel datang lagi, Nyanyiannya membangunkan musim semi,
Bagai hujan rintik dan burung penyanyi, Mencairkan air yang dingin beku.
Di kakinya merekah bunga-bunga Peri

Berkembang indah dan berseri kembali

Ingin Beren menari dan bernyanyi

Di atas rumput bersamanya selalu.

Beren datang menghampiri, namun Tinuviel lari.

Tinuviel! Tinuviel! Dipanggilnya nama si gadis Peri;
Si gadis pun berhenti, bagai tersihir

Sesaat tertegun si gadis Tinuviel

Terpikat suara Beren yang menggugah hati, Beren mendatangi, dan luluhlah Tinicviel
Oleh pesona yang mengikatnya sampai akhir.



Kala menatap mata Tinuviel si Jelita

Yang tersembunyi bayangan rambutnya, Tampak oleh Beren tercermin di dalamnya.
Kemilau bintang-bintang yang gemetar perlahan

Tinuviel nan cantik memesona, Gadis Peri yang bijaksana,
Mengurai rambutnya menutupi dirinya

Dan lengan-lengannya yang gemerlap keperakan.



Nasib membawa mereka mengembara, Lewat gunung berbatu dingin kelabu,
Lewat lorong besi dan pintu kegelapan nan menyiksa, Dan hutan bayangan tanpa harapan.
Dipisahkan Samudra luas yang menderu,

Sebelum akhirnya kembali berjumpa, Kini mereka t'lah lama berlalu
Bernyanyi tanpa duka, di dalam hutan.



Strider menarik napas panjang, dan berhenti sebelum berbicara lagi. "Itu sebuah lagu," katanya, "di antara kaum Peri disebut anntennath, tapi sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Umum, dan ini hanya gema kasar dari lagu itu. Lagu ini menceritakan perjumpaan Beren, putra Barahir, dengan Luthien

Tinuviel. Beren manusia biasa, tapi Luthien adalah putri Thingol, raja Peri di Dunia Tengah, ketika dunia masih muda; dia gadis tercantik yang pernah ada di antara anak-anak dunia. Kecantikannya seperti bintang-bintang di atas kabut negeri-negeri Utara, dan wajahnya bercahaya. Di masa itu, Musuh Besar tinggal di Angband di Utara, dan Sauron hanyalah anak buahnya. Bangsa Peri dari Barat kembali ke Dunia Tengah untuk berperang dengannya, demi merebut kembali Silmaril yang telah dicurinya; nenek moyang Manusia mendukung para Peri. Tapi Musuh menang dan Barahir tewas dibunuh. Beren, yang melarikan diri melalui bahaya besar, pergi lewat Pegunungan Teror, masuk ke Kerajaan Thingol yang tersembunyi di hutan Neldoreth. Di sana dia melihat Luthien menyanyi dan menari di padang, di sisi Sungai Esgalduin yang tersihir; Beren menamainya Tinuviel, artinya burung bulbul dalam bahasa kuno. Banyak penderitaan menimpa mereka setelah itu, dan mereka terpisah untuk waktu lama. Tinuviel menyelamatkan Beren dari penjara bawah tanah Sauron, dan bersama-sama mereka melewati bahaya-bahaya besar, bahkan menjatuhkan Musuh Besar dan takhtanya, dan mengambil dan mahkota besinya satu dari tiga Silmaril, yang paling cemerlang di antara semua berlian, untuk maskawin Luthien kepada Thingol ayahnya. Namun pada akhirnya Beren dibunuh Serigala yang datang dari gerbang Angband, dan dia mail di pelukan Tinuviel. Tapi Tinuviel memilih menjadi manusia biasa, dan mati di dunia, agar bisa menyusul Beren; dalam lagunya dikatakan bahwa mereka berjumpa lagi di seberang Samudra Pemisah, hidup lagi bersama-sama selama suatu masa singkat di hutan hijau, mereka mati lama berselang, meninggalkan dunia fana ini. Begitulah, hanya Luthien Tinuviel dan bangsa Peri yang mati dan meninggalkan dunia, dan mereka kehilangan dia yang paling mereka cintai. Tapi dari keturunannya muncul garis silsilah bangsawan Peri masa lampau yang turun di antara Manusia. Sampai sekarang keturunannya masih hidup, dan konon silsilahnya tidak akan pernah berhenti. Elrond dan Rivendell termasuk sanaknya. Karena dan Beren dan Luthien lahirlah ahli waris Dior Thingol; dan dari dia turun Elwing the White yang dinikahi Earendil, dia yang berlayar dengan kapalnya, keluar dari kabut dunia, masuk ke lautan surga, dengan Silmaril di dahinya. Dan dari Earendil

lahirlah Raja-raja dan Numenor, yaitu Westernesse."

Sementara Strider berbicara, mereka memperhatikan wajahnya yang bergairah aneh, disinari cahaya remang-remang nyala api merah. Matanya berbinar, suaranya dalam dan gagah. Di atasnya terbentang langit gelap berbintang. Mendadak cahaya pucat muncul dari atas mahkota Weathertop di belakang Strider. Bulan yang semakin besar mendaki perlahan ke atas bukit yang melindungi mereka, dan bintang-bintang di atas puncak bukit memudar.
Kisah itu berakhir. Para hobbit bergerak dan meregangkan tubuh. "Lihat!" kata Merry. "Bulan sudah tinggi: pasti sudah larut malam."
Yang lain juga menengadah. Ketika itulah mereka melihat di puncak bukit sesuatu yang kecil dan gelap, berlatar belakang kilauan bulan yang sedang naik. Mungkin juga sesuatu itu hanya sebuah baru besar atau karang menonjol yang kena cahaya pucat.
Sam dan Merry bangkit dan menjauh dari api. Frodo dan Pippin tetap duduk diam. Strider memperhatikan cahaya bulan di atas bukit dengan cermat. Semua diam dan tenang, tapi Frodo merasa ketakutan, setelah Strider tidak berbicara lagi. Ia meringkuk lebih dekat ke api. Pada saat itu Sam berlari kembali dari pinggir lembah.
"Aku tidak tahu apa itu," katanya, "tapi tiba-tiba aku merasa takut. Aku tidak berani keluar dan lembah ini; aku merasa sesuatu sedang merangkak naik di lerengnya."
"Apakah kau melihat sesuatu?" tanya Frodo sambil melompat bangkit. "Tidak, Sir. Aku tidak melihat apa pun, tapi aku tidak berhenti untuk
melihat."

"Aku melihat sesuatu," kata Merry, "atau kupikir begitu di sebelah barat sana, di mana sinar bulan jatuh ke atas dataran rendah di balik bayangan puncak bukit, aku menyangka ada dua atau tiga sosok hitam. Kelihatannya mereka bergerak ke arah sini."
"Tetaplah dekat ke api, dengan wajah menghadap ke luar!" teriak Strider. "Siapkan beberapa tongkat panjang di tangan kalian!"
Untuk waktu lama, hampir tanpa bernapas, mereka duduk di sana, diam

dan waspada, membelakangi api, masing-masing menatap ke dalam kekelaman di sekitar. Tak ada yang terjadi. Tak ada bunyi atau gerakan di malam itu. Frodo bergerak, merasa perlu memecah kesunyian: ia ingin sekali berteriak keras.
"Sst!" bisik Strider. "Apa itu?" Pippin menarik napas kaget pada saat bersamaan.
Dari atas bibir lembah kecil itu, di sisi yang jauh dari bukit, mereka merasa sebuah bayangan muncul, satu bayangan atau lebih dari satu. Mereka mengamati lebih tajam, dan bayangan-bayangan itu seolah bertambah. Tak lama kemudian, tak bisa diragukan lagi: tiga atau empat sosok tinggi gelap berdiri di lereng, memandang mereka. Begitu hitam, hingga tampak bagaikan lubang hitam dalam keremangan di belakang. Frodo merasa mendengar desis samar- samar, seperti napas beracun, dan ada hawa dingin yang menusuk tajam. Lalu sosok-sosok itu perlahan-lahan mendekat.
Kengerian melanda Pippin dan Merry, dan mereka tiarap ke tanah. Sam mengerut ke sisi Frodo. Frodo sama ngerinya dengan kawan-kawannya; ia gemetar, seakan-akan sangat kedinginan, tapi ketakutannya tertelan dalam suatu godaan mendadak untuk memasang Cincin-nya. Hasrat ini mencengkeramnya, dan ia tak bisa memikirkan hal lain. Ia tidak lupa Barrow, juga tidak lupa pesan Gandalf; tapi seolah ada yang mendorongnya untuk tidak mengacuhkan semua peringatan, dan ia sangat ingin menyerah. Bukan karena berharap bisa melarikan diri, atau melakukan sesuatu, baik ataupun buruk: ia hanya merasa harus mengambil Cincin itu dan memasangnya di jarinya. Ia tak mampu berbicara. Ia merasa Sam memandangnya, seolah tahu bahwa majikannya sedang dalam kesulitan besar, tapi Frodo tak bisa menoleh kepadanya. Ia memejamkan mata dan berjuang untuk beberapa saat; tapi kemudian ia tak tahan lagi. Akhirnya perlahan-lahan ia mengeluarkan rantainya, dan menyelipkan Cincin itu di jari telunjuk tangan kirinya.
Dalam sekejap, meski semua yang lain tetap seperti sebelumnya, remang-remang dan gelap, sosok-sosok itu menjadi jelas sekali. Ia mampu melihat menembus selubung hitam mereka. Ada lima sosok tinggi: dua berdiri di bibir lembah, tiga maju mendekat. Pada wajah putih mereka menyala mata yang

tajam dan tidak kenal kasihan; di bawah mantel mereka ada jubah kelabu panjang; di atas rambut mereka yang kelabu ada topi baja dari perak; di tangan mereka yang kurus kering ada pedang baja. Mata mereka menemukan dirinya dan menusuknya, saat mereka lari mendekati. Dengan nekat ia menghunus pedangnya. Pedang itu menyala merah, seperti sebatang puntung berapi. Dua dari sosok itu berhenti. Yang ketiga lebih tinggi daripada yang lain: rambutnya panjang mengilat, dan di atas topi bajanya ada mahkota. Di satu tangan ia memegang pedang panjang, dan di tangan lainnya sebilah pisau; pisau dan tangan yang memegangnya sama-sama bersinar dengan cahaya pucat. Ia melompat maju dan menghantam Frodo.
Tepat pada saat itu Frodo melemparkan diri ke depan, ke atas tanah, dan ia mendengar dirinya sendiri berteriak nyaring, Oh Elbereth! Gilthoniel! Pada saat yang sama ia memukul kaki musuhnya. Teriakan nyaring terdengar di malam kelam, dan Frodo merasa perih, seakan-akan sebatang anak panah dari es beracun menembus pundak kirinya. Ketika pingsan, ia menangkap sekilas- seolah melalui kabut yang berputar-putar-sosok Strider meloncat keluar dari kegelapan dengan tongkat kayu menyala di kedua tangannya. Dengan upaya terakhir, sambil menjatuhkan pedangnya, Frodo melepaskan Cincin di jarinya dan menggenggamnya erat-erat dalam kepalan tangannya.

BAB 12

PELARIAN KE FORD



Ketika Frodo sadar kembali, ia masih mencengkeram Cincin itu dengan erat. Ia berbaring dekat api, yang sekarang sudah ditumpuk tinggi dan menyala terang sekali. Ketiga kawannya membungkuk di atasnya.
"Apa yang terjadi? Di mana raja pucat itu?" tanya Frodo liar.

Sesaat mereka terlalu gembira mendengar ia berbicara, sehingga tidak langsung menjawabnya; lagi pula, mereka tidak memahami pertanyaannya. Akhirnya ia tahu dari Sam bahwa mereka tidak melihat apa pun, kecuali bentuk- bentuk samar-samar dan gelap yang datang ke arah mereka. Mendadak dengan ngeri Sam menyadari majikannya sudah hilang; pada scat itu sebuah bayangan hitam berlari melewatinya, dan ia jatuh. Ia mendengar suara Frodo, tapi seakan- akan datang dari jauh sekali, atau dari bawah tanah, meneriakkan kata-kata aneh. Mereka tidak melihat apa pun lagi, sampai mereka tersandung tubuh Frodo yang berbaring seperti mati, wajah tertelungkup di atas rumput, dengan pedangnya di bawahnya. Strider menyuruh mereka mengangkatnya dan membaringkannya di dekat api, lalu ia menghilang. Sekarang semua itu sudah cukup lama berlalu.
Sam jelas sudah mulai meragukan Strider lagi; tapi sementara mereka berbicara, Strider kembali, muncul tiba-tiba dari kegelapan. Mereka bergerak kaget, dan Sam menghunus pedangnya, sambil berdiri di atas Frodo; tapi Strider dengan cepat berjongkok di sisinya.
"Aku bukan Penunggang Hitam, Sam," katanya lembut, " juga tidak bersekongkol dengan mereka. Aku tadi berupaya mencari tahu tentang gerakan mereka; tapi aku tidak menemukan apa pun. Aku tidak mengerti, mengapa mereka pergi dan tidak menyerang lagi. Tapi sekarang tidak ada perasaan tentang kehadiran mereka di mana pun."
Setelah mendengar cerita Frodo, Strider menjadi sangat khawatir. Ia menggelengkan kepala dan mengeluh, lalu menyuruh Pippin dan Merry memanaskan sebanyak mungkin air yang bisa mereka tampung dalam ceret

kecil mereka, dan membasuh luka Frodo dengan itu. “Jaga agar api tetap bagus, dan usahakan Frodo tetap hangat!" katanya. Lalu ia bangkit dan berjalan menjauh, memanggil Sam. "Rasanya sekarang aku lebih memahami hal ini," katanya dengan suara rendah. "Kelihatannya hanya ada lima orang di pihak musuh. Mengapa mereka tidak semua di sini, aku tidak tahu; tapi kurasa mereka tak menduga akan mendapat perlawanan. Mereka mundur untuk sementara. Tapi tidak jauh. Mereka akan kembali lain kali, kalau kita tak bisa lari. Mereka hanya menunggu, karena mengira tujuan mereka sudah hampir tercapai, dan bahwa Cincin itu tak bisa terbang lebih jauh lagi. Aku cemas mereka mengira majikanmu sudah mendapat luka mematikan, yang akan membuatnya menyerah menuruti kemauan mereka. Kita lihat saja!"
Sam tercekik menahan tangis. "Jangan putus asa!" kata Strider. "Kau harus mempercayai aku sekarang. Frodo-mu ternyata lebih tangguh daripada yang kuduga, meski Gandalf sudah memperkirakan hal itu. Dia tidak tewas, dan kurasa dia akan sanggup melawan kekuatan jahat dari lukanya, lebih lama daripada yang diharapkan musuh-musuhnya. Aku akan berusaha sebisaku untuk membantu dan menyembuhkannya. Jagalah dia baik-baik, sementara aku pergi!" Strider bergegas pergi dan lenyap kembali ditelan kegelapan.


Frodo tertidur sebentar, meski rasa pedih dari lukanya lambat lawn semakin berat, dan rasa dingin yang mematikan menyebar dari pundaknya ke tangan dan sisi tubuhnya. Kawan-kawannya menjaganya, menghangatkannya, dan membasuh lukanya. Malam berlalu perlahan dan melelahkan. Fajar mulai merebak di langit, dan lembah kecil itu mulai dipenuhi cahaya kelabu, ketika Strider akhirnya kembali.
"Lihat!" teriak Strider; sambil membungkuk ia memungut sebuah jubah hitam yang tergeletak di tanah, tersembunyi kegelapan. Satu kaki di atas kelimannya ada sayatan. "Ini bekas sapuan pedang Frodo," katanya. "Aku khawatir ini satu-satunya cedera yang diderita musuh; karena dia tak bisa terluka, dan semua mata pisau yang menusuk Raja mengerikan itu pasti hancur. Yang lebih mematikan untuknya adalah nama Elbereth."

"Dan lebih mematikan untuk Frodo adalah ini!" ia membungkuk lagi dan mengangkat sebuah pisau panjang tipis. Ada kilauan dingin di dalamnya. Saat Strider mengangkatnya di bawah cahaya yang semakin terang, mereka memandang keheranan, karena mata pisau itu tampaknya melebur dan lenyap seperti asap di udara, meninggalkan pangkalnya di tangan Strider. "Aduh!" teriaknya. "Inilah pisau terkutuk yang menimbulkan luka ini. Pada masa sekarang, hanya sedikit orang yang punya keahlian menyembuhkan, untuk menandingi senjata jahat seperti itu. Tapi aku akan berusaha semampuku."
Strider duduk di tanah, mengambil pangkal pisau itu dan meletakkannya di lututnya, sambil menyanyikan lagu lambat dalam bahasa asing. Lalu ia menyisihkan pisau itu dan berbicara dengan nada lembut kepada Frodo, dengan kata-kata yang tak bisa ditangkap oleh yang lain. Dari tas pinggangnya ia mengeluarkan beberapa helai daun panjang.
"Daun-daun ini," katanya, "sudah kucari jauh sekali; karena tanaman ini tidak tumbuh di bukit-bukit gersang, melainkan di semak-semak jauh di selatan Jalan. Aku menemukannya dalam kegelapan, dengan mencium bau daunnya." ia menghancurkan satu dengan jarinya, dan daun itu mengeluarkan ban manis dan pedas. "Untung aku bisa menemukannya, sebab inilah tanaman penyembuh yang dibawa Manusia dari Barat ke Dunia Tengah. Mereka menamakannya athelas, sekarang jarang tumbuh dan hanya ada di tempat-tempat mereka pernah tinggal atau berkemah di masa lalu; daun ini tidak dikenal di Utara, kecuali oleh beberapa pengembara di Belantara. Daun ini punya banyak manfaat bagus, tapi untuk luka semacam ini mungkin kekuatan penyembuhannya tidak seberapa."
Ia melemparkan daun-daun itu ke dalam air mendidih dan membasuh bahu Frodo. Wangi uapnya sangat menyegarkan, dan mereka yang tidak terluka merasa pikiran mereka menjadi tenang dan jernih. Tanaman itu juga berpengaruh terhadap luka Frodo, sebab Frodo merasa kepedihan dan rasa dingin membeku di sisi tubuhnya agak berkurang; tapi tangannya masih tetap mati rasa, dan ia tak bisa mengangkat atau menggunakannya. Dengan getir ia menyesali kebodohannya, dan mengomeli dirinya sendiri karena kelemahannya;

sekarang ia sadar bahwa dengan memakai Cincin itu ia bukan mengikuti hasratnya sendiri, melainkan mengikuti kemauan Musuh yang menguasainya. Ia bertanya dalam hati, apakah ia akan selamanya cacat, dan bagaimana mereka akan berhasil meneruskan perjalanan. Ia merasa terlalu lemah untuk berdiri.
Yang lainnya juga sedang membahas pertanyaan tersebut. Mereka mengambil keputusan cepat untuk meninggalkan Weathertop sesegera mungkin. "Kurasa musuh sudah mengawasi tempat ini sejak lama,” kata Strider. "Kalau Gandalf pernah ke sini, maka dia terpaksa menyingkir dan tidak akan kembali. Bagaimanapun, kita akan berada dalam bahaya besar di sini setelah gelap, sejak penyerangan semalam. Kalaupun kita pergi, hampir tak mungkin kita bertemu bahaya yang lebih besar."
Begitu hari terang, mereka makan tergesa-gesa dan berkemas. Frodo tak mampu berjalan, maka mereka membagi bagian terbesar bawaan mereka di antara mereka berempat, dan menempatkan Frodo di alas kuda. Dalam beberapa hari terakhir, hewan malang itu sudah banyak mengalami kemajuan; ia bahkan sudah kelihatan lebih gemuk dan kuat, dan mulai menunjukkan rasa sayang kepada majikan-majikannya yang baru, terutama Sam. Pasti perlakuan Bill Ferny kepadanya buruk sekali, sampai-sampai perjalanan di hutan malah terasa jauh lebih baik daripada kehidupannya yang lama.
Mereka berangkat ke arah selatan. Ini berarti harus menyeberangi Jalan, tapi itulah rute tercepat untuk sampai ke wilayah yang lebih banyak hutannya. Dan mereka butuh makanan; karena Strider mengatakan Frodo harus tetap hangat, terutama di malam hari, sementara api bisa memberikan perlindungan bagi mereka semua. Strider juga berniat memperpendek perjalanan mereka dengan memotong satu lagi lengkungan besar Jalan; ke arah timur melewati Weathertop, jalan itu berubah haluan dan membelok lebar ke arah utara.


Mereka berjalan perlahan dan hati-hati mengitari lereng bukit sebelah barat daya, dan setelah beberapa saat mereka sampai ke pinggir jalan. Tak ada tanda- tanda adanya para Penunggang. Tapi sementara bergegas menyeberangi Jalan, mereka mendengar dua teriakan di kejauhan: sebuah suara dingin memanggil

dan suara dingin lain menjawab. Dengan gemetar mereka melompat dan berlari ke belukar yang ada di depan. Tanah di depan mereka melandai ke selatan, tapi liar dan tak ada jejak jalan: semak-semak dan pohon-pohon kerdil tumbuh dalam kerumunan rapat, dengan banyak tempat kosong di antaranya. Rumput jarang sekali, kasar dan kelabu; dan dedaunan di semak-semak sudah pudar dan rontok. Suatu wilayah yang tidak menyenangkan. Mereka hanya berbicara sedikit, sambil berjalan susah payah. Frodo sangat sedih ketika melihat mereka berjalan dengan kepala tertunduk dan Punggung bungkuk dibebani bawaan. Bahkan Strider tampak letih dan tidak bersemangat.
Sebelum perjalanan hari pertama selesai, rasa sakit Frodo semakin bertambah, tapi ia tidak mengungkapkannya untuk waktu lama. Empat hari berlalu, tanpa banyak perubahan pada tanah ataupun pemandangan, kecuali bahwa di belakang mereka Weathertop tenggelam perlahan-lahan, dan di depan mereka pegunungan di kejauhan semakin dekat. Namun sejak bunyi teriakan tadi, mereka tidak melihat atau mendengar tanda bahwa musuh sudah mengetahui pelarian mereka atau mengejar mereka. Mereka merasa takut pada saat-saat gelap, dan bergantian berjaga berpasangan di malam hari, setiap saat mengira akan melihat sosok-sosok hitam mengikuti mereka di malam kelabu, disinari samar-samar oleh bulan yang terselubung awan; tapi mereka tidak melihat apa pun, tidak mendengar suara kecuali desiran daun dan rumput layu. Tak sekali pun mereka merasakan kehadiran kejahatan yang menyerang mereka sebelum penyerbuan di lembah. Rasanya terlalu berlebihan untuk berharap bahwa para Penunggang itu sudah kehilangan jejak mereka lagi. Mungkin mereka sedang menunggu untuk menghadang di suatu tempat sempit?
Pada akhir hari kelima, tanah sekali lagi mulai menanjak landai, keluar dari lembah lebar yang telah mereka turuni. Strider sekarang memutar arah mereka ke timur laut lagi, dan pada hari keenam mereka sampai di puncak sebuah lereng yang mendaki panjang, dan melihat di kejauhan sekelompok bukit berhutan. Jauh di bawah mereka terlihat Jalan menyapu melingkari kaki bukit- bukit itu; dan di sebelah kanan mereka, sebuah sungai kelabu berkilau pucat di bawah sinar matahari yang tipis. Di kejauhan mereka melihat sungai lain lagi, di

lembah berbatu yang setengah terselubung kabut.

"Aku khawatir kita terpaksa kembali ke Jalan untuk beberapa waktu," kata Strider. "Sekarang kita sudah sampai di Sungai Hoarwell, yang oleh bangsa Peri disebut Mitheithel. Sungai ini mengalir keluar dari Ettenmoors, dataran tinggi berbatu tempat bangsa troll di sebelah utara Rivendell, dan bergabung dengan Loudwater di Selatan. Beberapa orang menyebutnya Greyflood setelah itu. Sungainya besar sekali sebelum bermuara di Laut. Tak ada jalan melintasi sumbernya di Ettenmoors, kecuali melewati Jembatan Terakhir yang dilintasi Jalan."
"Sungai apa itu yang jauh di sana?" tanya Merry.

"Itu Loudwater, Bruinen dari Rivendell," jawab Strider. "Jalan menyusuri pinggiran bukit, sepanjang beberapa mil dari Jembatan, sampai ke Ford di Bruinen. Tapi aku belum memikirkan bagaimana kita akan menyeberangi sungai itu. Satu per satu sajalah! Kita akan beruntung kalau tidak ada rintangan menghadang di Jembatan Terakhir."


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka turun lagi ke pinggir Jalan. Sam dan Strider berjalan di muka, tapi tidak menemukan tanda-tanda pelancong ataupun penunggang kuda. Di sini, di bawah bayangan pepohonan, hujan sudah turun beberapa waktu yang lalu. Strider memperkirakan hujan itu jatuh dua hari yang lalu, dan sudah menghilangkan semua jejak kaki. Tidak ada penunggang kuda yang lewat, sejauh ia bisa melihat.
Mereka bergegas secepat mungkin, dan setelah satu-dua mil mereka melihat Jembatan Terakhir di depan, pada dasar lereng pendek yang curam. Mereka takut akan melihat sosok-sosok hitam menunggu di sana, tapi ternyata tidak ada satu pun. Strider menyuruh mereka bersembunyi di dalam belukar di sisi Jalan, sementara ia main untuk menyelidiki.
Tak berapa lama kemudian, ia bergegas kembali. "Aku tidak melihat tanda-tanda ada musuh," katanya, "dan aku sangat ingin tahu apa artinya itu. Tapi aku menemukan sesuatu yang sangat aneh."
Ia mengulurkan tangannya, dan menunjukkan sebutir permata hijau pucat.

"Aku menemukannya di dalam lumpur di tengah Jembatan," katanya. "Ini beryl, batu permata Peri. Apakah memang diletakkan di sana, atau jatuh tanpa sengaja, aku tidak tahu; tapi ini memberiku harapan. Aku akan menganggapnya tanda bahwa kita boleh melewati Jembatan; tapi di luar itu aku tidak berani tetap berjalan di Jalan, tanpa suatu tanda yang lebih jelas."


Segera mereka berjalan lagi. Mereka menyeberangi Jembatan dengan selamat, tidak mendengar bunyi apa pun kecuali bunyi air berputar-putar menabrak ketiga lengkungan jembatan itu. Satu mil dari sana mereka menjumpai sebuah jurang yang menjulur ke arah utara, melewati tanah terjal di sebelah kiri Jalan. Di sini Strider membelok, dan segera mereka hilang di tengah negeri suram dengan pohon-pohon gelap berbelok-belok melalui kaki perbukitan yang cemberut.
Para hobbit senang meninggalkan negeri yang muram dan Jalan yang berbahaya di belakang mereka; tapi negeri baru ini malah tampak mengancam dan tidak ramah. Saat mereka maju, bukit-bukit di sekitar mereka semakin tinggi. Di sana-sini, di atas dataran tinggi dan punggung bukit, mereka menangkap sekilas pemandangan tembok-tembok batu kuno dan puing-puing menara: mereka tampak mengancam. Frodo, yang tidak berjalan kaki, mempunyai waktu untuk memandang ke depan dan berpikir. Ia ingat cerita Bilbo tentang perjalanannya dan menara-menara mengancam di perbukitan sebelah utara Jalan, di negeri dekat hutan Troll, di mana ia mengalami petualangan seriusnya yang pertama. Frodo menduga sekarang mereka berada di wilayah yang sama, dan ia bertanya dalam hati, apakah mungkin mereka akan lewat di dekat tempat yang sama.
"Siapa yang tinggal di negeri ini?" tanya Frodo. "Dan siapa yang membangun menara-menara ini? Apakah ini negeri troll?"
"Bukan!" kata Strider. "Troll tidak membangun. Tidak ada yang hidup di negeri ini. Manusia pernah tinggal di sini, berabad-abad yang lalu; tapi sekarang tidak ada lagi. Mereka menjadi bangsa jahat, menurut dongeng-dongeng, karena mereka jatuh di bawah bayangan Angmar. Tapi semua musnah dalam perang yang membawa Kerajaan Utara ke kehancurannya. Tapi itu sudah begitu lama

berlalu, hingga bukit-bukit pun sudah melupakan mereka, meski bayangan gelap masih menggantung di atas negeri ini."
"Di mana kau belajar kisah-kisah seperti itu, kalau semua negeri kosong dan pelupa?" tanya Peregrin. "Burung-burung dan hewan tidak menceritakan kisah-kisah semacam itu."
"Pewaris-pewaris Elendil tidak lupa semua kejadian di masa lalu," kata

Strider, "dan banyak lagi hal yang bisa kuceritakan masih diingat di Rivendell." "Seringkah kau ke Rivendell?" tanya Frodo.
"Sering," kata Strider. "Aku pernah tinggal di sana, dan aku masih kembali ke sana kalau bisa. Hatiku ada di sana; tapi bukan takdirku untuk duduk diam, meski di rumah indah milik Elrond."


Sekarang mereka mulai dikurung perbukitan. Jalan di belakang mereka masih tetap menuju Sungai Bruinen, tapi keduanya sekarang tertutup dari pandangan. Para pelancong itu masuk ke sebuah lembah panjang; sempit, dengan belahan dalam, gelap, dan sepi. Pohon-pohon dengan akar-akar tua dan terpelintir menggantung di atas batu karang, dan menumpuk di belakang menjadi lereng hutan cemara yang mendaki.
Para hobbit mulai kelelahan. Mereka maju sangat lambat, karena terpaksa memilih, jalan melalui' pedalaman, dibebani pohon-pohon tumbang dan batu- batu yang terguling. Selama mungkin mereka menghindari mendaki, demi Frodo, dan karena memang sulit untuk mencari jalan naik keluar dari lembah-lembah sempit itu. Mereka sudah dua hari berada di negeri itu ketika cuaca menjadi basah. Angin mulai berembus terus dari Barat, mencurahkan air dari lautan jauh ke atas kepala-kepala bukit yang gelap, dalam hujan rintik-rintik yang membuat basah kuyup. Di malam hari mereka semua basah kuyup, dan mereka bermalam dengan muram, karena tidak berhasil menyalakan api. Hari berikutnya perbukitan semakin tinggi dan lebih terjal di depan mereka, dan mereka terpaksa berbalik ke utara, keluar dari jalur arah semula. Strider rupanya mulai cemas: mereka sudah hampir sepuluh hari keluar dari Weathertop, dan persediaan makanan sudah sangat menipis. Hujan terus turun.

Malam itu mereka bermalam di suatu dataran berbatu, dengan tembok batu karang di belakang, di mana ada sebuah gua pendek, hanya semacam cekungan di dalam batu karang. Frodo resah. Hawa dingin dan basah membuat lukanya semakin pedih, rasa sakit dan dingin yang mematikan menghilangkan kantuk. Ia berbaring gelisah, can mendengarkan bunyi-bunyi malam dengan perasaan takut: angin di celah-celah pecahan batu karang, air menetes, keriutan, bunyi geletar jatuh batu yang tiba-tiba terlepas. Ia merasa ada sosok-sosok hitam mendekat untuk mencekiknya, tapi ketika ia bangkit duduk, ia tidak melihat apa pun kecuali punggung Strider yang duduk meringkuk, mengisap pipanya, dan berjaga. Ia berbaring lagi dan bermimpi buruk, di mana ia berjalan di halaman rumput kebunnya di Shire, tapi halaman itu kelihatan kabur dan samar- samar, kurang jelas dibanding dengan bayangan-bayangan tinggi hitam yang berdiri memandang dari atas pagar.


Di pagi hari ia terbangun, dan menyadari hujan sudah berhenti. Awan-awan masih tebal, tapi sudah pecah, dan serpihan-serpihan biru muncul di antaranya. Angin berubah arah lagi. Mereka tidak berangkat pagi-pagi. Segera sesudah sarapan yang dingin dan tidak enak, Strider pergi sendirian, menyuruh yang lain tetap di bawah perlindungan sebuah batu karang, sampai ia kembali. Ia akan mendaki, kalau bisa, dan mempelajari letak tanah.
Ketika kembali, ia tidak membawa berita gembira. "Kita sudah terlalu jauh ke utara," katanya, "dan kita harus menemukan cara untuk balik arah ke selatan lagi. Kalau tetap pada arah sekarang ini, kita akan sampai di Ettendales, jauh di utara Rivendell. Itu negeri troll, dan tidak begitu kukenal. Mungkin kita bisa mencari jalan untuk lewat dan sampai di Rivendell dari utara; tapi itu akan makan waktu terlalu lama, karena aku tidak tahu jalannya, dan makanan kita tidak akan cukup. Jadi, bagaimanapun kita harus menemukan Ford Bruinen."
Sisa hari itu mereka habiskan dengan merangkak di tanah berbatu. Mereka menemukan jalan di antara dua bukit yang membawa mereka kt sebuah lembah yang menjulur ke tenggara, arah yang mereka ingin ambil; tetapi, menjelang penghujung hari, jalan mereka dihadang punggung dataran tinggi;

pinggirannya yang gelap, pada latar belakang langit, terpecah ke dalam banyak ujung, seperti gigi-gigi gergaji tumpul. Hanya ada dua pilihan: balik arah atau mendakinya.
Mereka memutuskan mencoba mendakinya, tapi ternyata sangat sulit. Tak lama kemudian, Frodo terpaksa turun dari kuda dan berjuang dengan berjalan kaki. Meski begitu, mereka putus asa menaikkan kuda mereka, atau bahkan mencari jalan untuk mereka sendiri, dengan dibebani begitu banyak barang. Cahaya hampir hilang, dan mereka semua kelelahan, ketika akhirnya mereka mencapai puncak. Mereka naik ke atas sebuah pelana sempit di antara dua puncak yang lebih tinggi, dan tanah turun lagi dengan curam, sedikit lebih jauh dari sana. Frodo melemparkan tubuhnya ke tanah, dan berbaring menggigil di sana. Tangan kirinya lumpuh, sisi tubuh serta pundaknya serasa dicengkeram cakar sedingin es. Pohon-pohon dan batu-batu di sekitarnya terlihat kabur dan
kelam.

"Kita tak bisa pergi lebih jauh lagi," kata Merry pada Strider. "Aku khawatir ini sudah terlalu berat untuk Frodo. Aku sangat cemas tentang dia. Apa yang harus kita lakukan? Menurutmu, apakah mereka akan bisa menyembuhkannya di Rivendell, kalau kita bisa sampai ke sana?"
"Kita lihat saja nanti," kata Strider. "Tak ada lagi yang bisa kulakukan di belantara; dan justru karena lukanya, aku sangat ingin terus maju. Tapi aku setuju, kita tak bisa berjalan lebih jauh lagi malam ini."
"Apa masalahnya dengan majikanku?" tanya Sam dengan suara rendah, memandang memohon pada Strider. "Lukanya kecil, dan sudah tertutup. Tidak ada yang kelihatan, kecuali bekas putih di pundaknya."
"Frodo sudah disentuh senjata Musuh," kata Strider, "dan ada semacam racun atau kekuatan jahat yang berada di luar kemampuanku untuk menyembuhkan. Tapi jangan putus harapan, Sam!"


Malam di atas punggung bukit dingin sekali. Mereka menyalakan api kecil di bawah akar-akar kasar sebatang cemara yang menggantung di atas sebuah sumur dangkal; tampaknya seperti bekas tambang penggalian batu. Mereka

duduk bersama. Angin bertiup dingin melewati celah, dan mereka mendengar puncak-puncak pepohonan di bawah mengerang dan mengeluh. Frodo berbaring setengah bermimpi, membayangkan sayap-sayap gelap yang tak henti-henti terbang melayang di atasnya, dan di atas sayap terbanglah para pengejar yang mencarinya di semua celah bukit
Pagi merekah cerah dan indah; udara bersih, tampak cahaya pucat dan jernih di langit yang sudah dibasuh hujan. Semangat mereka bangkit, tapi mereka mendambakan matahari untuk menghangatkan anggota tubuh yang kedinginan. Setelah hari terang, Strider membawa Merry bersamanya dan pergi mempelajari tanah dari ketinggian, sampai sebelah timur celah. Matahari sudah terbit dan sudah bersinar terang ketika ia kembali dengan kabar yang lebih menggembirakan. Sekarang mereka sudah berjalan kurang-lebih ke arah yang benar. Kalau mereka meneruskan perjalanan, menuruni sisi sebelah sana punggung bukit, Pegunungan akan berada di sebelah kiri mereka. Tak jauh di depan, Strider sudah melihat sekilas Loudwater lagi, dan ia tahu bahwa, meski tersembunyi dari pandangan, Jalan ke arah Ford tidak jauh dari Sungai dan terletak pada sisi yang paling dekat dengan mereka.
"Kita harus pergi ke Jalan lagi," kata Strider. "Kita tak bisa mengharapkan menemukan jalan melewati bukit-bukit ini. Bahaya apa pun yang ada di sana, Jalan itu adalah satu-satunya cara kita untuk sampai di Ford."


Selesai makan, mereka langsung berangkat. Perlahan mereka menuruni sebelah selatan punggung bukit: tapi jalan itu jauh lebih mudah daripada yang mereka duga, karena lerengnya tidak begitu terjal pada sisi ini, dan tak lama kemudian Frodo bisa menunggang kuda lagi. Kuda Bill Ferny yang malang ternyata punya bakat tak terduga untuk mencari jalan, dan untuk sebisa mungkin menghindari penunggangnya terguncang-guncang. Semangat rombongan itu kembali meningkat. Bahkan Frodo merasa agak baikan dalam cahaya pagi, tapi sebentar-sebentar kabut seolah menghalangi pandangannya, dan ia menyeka matanya.
Pippin agak lebih di depan yang lainnya. Tiba-tiba ia menoleh dan

memanggil mereka. "Ada jalan di sini!" teriaknya.

Ketika mereka berdiri sejajar dengannya, mereka melihat Pippin tidak salah: di sana dengan jelas ada awal sebuah jalan, yang mendaki berkelok-kelok keluar dari hutan di bawah, dan menghilang di atas puncak bukit di belakang. Di beberapa tempat ia agak kabur dan dipenuhi tanaman, atau sesak dengan batu- batu dan pohon-pohon tumbang, tapi tampaknya pernah ramai digunakan. Jalan itu sudah dibuat oleh tangan-tangan kuat dan kaki berat. Di sana-sini pohon- pohon lama sudah ditebang atau dipatahkan, dan batu-batu besar dibelah atau digulingkan ke pinggir untuk membuka jalan.
Mereka mengikuti jalan itu untuk beberapa saat, karena merupakan jalan termudah untuk turun, tapi mereka berjalan hati-hati, dan kecemasan mereka semakin bertambah ketika mereka masuk ke hutan yang gelap, dan jalan itu semakin jelas dan lebar. Mendadak jalan itu keluar dari segerombolan pohon cemara, menurun curam di sebuah lereng, dan membelok tajam ke kin', mengitari pojok sebuah punggung bukit berbatu. Ketika sampai ke pojok itu, mereka melayangkan pan_ dang ke sekeliling dan melihat bahwa jalan itu menjulur terus di tanah datar, di bawah sebuah karang rendah yang dipenuhi pohon. Di tembok bebatuan ada sebuah pintu yang menggantung miring terbuka pada satu engselnya.
Di luar pintu itu mereka semua berhenti. Ada sebuah gua atau liang batu karang di belakangnya, tapi dalam keremangan tak ada yang terlihat. Strider, Sam, dan Merry mendorong sekuat tenaga, dan berhasil membuka pintu lebih lebar, lalu Strider dan Merry masuk. Mereka tidak pergi jauh, karena di lantai bertebaran banyak tulang-belulang, dan tidak ada yang terlihat dekat pintu masuk, kecuali beberapa guci kosong dan pot-pot pecah.
"Pasti ini gua troll, kalau itu memang ada!" kata Pippin. "Keluar, kalian berdua, dan mari kita pergi. Sekarang kita tahu siapa yang membuat jalan ini, dan sebaiknya kita secepatnya keluar dari sini."
"Tak perlu, kukira," kata Strider, yang keluar dari gua. "Memang ini sebuah lubang troll, tapi kelihatannya sudah lama ditinggalkan. Kurasa kita tak perlu takut. Tapi kita harus turun terus dengan hati-hati, dan nanti kita lihat saja."

Jalan itu berlanjut lagi dan pintu, dan membelok ke kanan lagi, melintasi tanah datar, terjun menuruni lereng yang berhutan rapat. Pippin, yang tidak mau menunjukkan pada Strider bahwa ia masih takut, berjalan di depan dengan Merry. Sam dan Strider di belakang mereka, mengapit kuda Frodo, karena jalan itu tidak cukup lebar untuk empat atau lima hobbit berjalan satu baris. Mereka belum berjalan jauh ketika Pippin datang berlari, disusul Merry. Mereka berdua tampak ketakutan.
"Ada troll!" Pippin berkata terengah-engah. "Di bawah, di tempat terbuka di hutan, tidak jauh dari sini. Kami melihatnya dari antara batang-batang pohon. Mereka besar sekali!"
"Kita akan pergi melihat mereka," kata Strider sambil memungut sebuah tongkat. Frodo tidak mengatakan apa-apa, tapi Sam kelihatan takut.


Matahari sekarang sudah tinggi, dan bersinar melalui ranting-ranting pohon yang sudah setengah gundul, menyinari tempat terbuka itu dengan bercak-bercak cahaya terang. Mereka berhenti tiba-tiba di pinggiran, dan mengintip melalui batang-batang pohon, sambil menahan napas. Di sana berdiri troll-troll: tiga troll besar. Satu membungkuk, dan dua yang lain berdiri memandangnya.
Strider berjalan maju dengan tak acuh. "Bangun, batu kuno!" katanya, dan ia mematahkan tongkatnya ke alas troll yang membungkuk.
Tidak terjadi apa-apa. Para hobbit terenyak kaget, lalu Frodo tertawa. "Well!" katanya. "Rupanya kita lupa sejarah keluarga kita! Ini pasti ketiga troll yang ditangkap Gandalf ketika mereka sedang bertengkar tentang cara yang tepat untuk memasak tiga belas Kurcaci dan satu hobbit."
"Aku sama sekali tidak tahu kita sudah berada di dekat tempat itu!" kata Pippin. Ia kenal betul kisah itu. Bilbo dan Frodo sudah cukup sering menceritakannya; tapi sebenarnya ia hanya setengah percaya. Bahkan sekarang ia memandang troll-troll dan batu itu dengan penuh curiga, bertanya-tanya apakah karena sihir mereka jangan-jangan hidup lagi.
"Kalian bukan hanya lupa sejarah keluarga kalian, tapi semua yang pernah kalian ketahui tentang troll," kata Strider. "Saat ini tengah hari, dan

matahari bersinar cerah, tapi kalian mencoba menakut-nakutiku dengan cerita ada troll hidup menunggu kita di tempat terbuka ini! Pasti kalian sudah melihat, pada salah satu dan mereka ada sarang burung lama di belakang telinganya. Itu perhiasan yang sangat tidak lazim untuk troll hidup!"
Mereka semua tertawa. Frodo merasa semangatnya bangkit lagi: ingatan akan petualangan sukses Bilbo yang pertama sangat membesarkan hati. Matahari juga terasa hangat menghibur, dan kabut di depan matanya tampak agak tersingkap. Mereka beristirahat sejenak di tempat terbuka itu, dan makan siang di bawah bayangan kaki troll yang besar.
"Adakah yang mau menyanyi untuk kita, sementara matahari masih tinggi?" kata Merry ketika mereka selesai. "Sudah berhari-hari kita tidak mendengar lagu atau cerita."
"Tidak sejak Weathertop," kata Frodo. Yang lain memandangnya. Jangan khawatir tentang aku!" tambahnya. "Aku merasa jauh lebih baik, tapi rasanya aku tak bisa menyanyi. Mungkin Sam bisa menggali sesuatu dari ingatannya."
"Ayo, Sam!" kata Merry. "Kau punya banyak materi di dalam kepalamu,

melebihi yang kauperlihatkan."

"Entah ya," kata Sam. "Tapi bagaimana kalau yang ini? Ini bukan puisi betulan, kalau kau paham: hanya sedikit omong kosong. Tap, patung-patung kuno ini mengingatkanku pada ini." Sambil berdiri, dengan tangan di belakang punggung, seolah berada di sekolah, ia mulai menyanyikan lagu lama.


Troll duduk sendirian di kursi batu, Menggigit dan mengunyah tulang kaku; Bertahun-tahun sudah menggigit tanpa lelah, Karena daging susah didapat.
Babat! Rapat!

Troll tinggal sendirian di gua bukit batu, Dan daging susah didapat.


Datang Tom bersepatu bot besar.

Katanya kepada Troll: "Maaf, apa yang kaukunyah itu? Kok seperti tulang kering pamanku Tim,
Yang mestinya berbaring di kuburan. Pelataran! Halaman!
Sudah lama pamanku mati,

Dan kukira dia di dalam kuburan."



"Anakku, " kata Troll, "tulang ini aku curi. Tapi tulang dalam lubang tentu tak berarti. Pamanmu sudah kaku seperti bongkah batu, Sebelum aku menemukan tulangnya. Tulangnya! Belulangnya!
Dia bisa kasih satu pada troll tua malang ini, Karena dia tidak butuh tulang keringnya."


Kata Tom, "Aku tidak paham, kenapa yang semacam kau ini

Mengambil seenaknya, tanpa permisi

Tulang kering sanak ayahku; Tulang tua itu, kembalikan! Pakan! Lakan!
Tulang itu miliknya, meski dia sudah mati; Jadi tulang itu kembalikan!"


“Supaya lebih kenyang," kata Troll sambil tertawa, "kumakan kau sekalian, berikut tulang keringmu juga. Sedikit daging sebag bisa membuatku bugar!
Kucoba gigiku padamu sekarang. Ha sekarang! Lihat sekarang!
Aku jemu mengunyah tulang dan kulit lama; Aku ingin makan kau sekarang."

Mangsa sudah tertangkap, begitu dikiranya, Ternyata hanya angin dalam, genggamannya. Sebelum ia sadar, Tom sudah menghindar Dengan sepatu bot menendangnya.
Tendang dia! Kemplang dia!

Pikir Tom, tendangkan sepatu bot di pantatnya, Biar dia tahu rasa.


Tapi... aduh, kerasnya daging dan tulang troll itu, Lebih keras daripada bukit batu.
Ditendang berkali-kali, tidak berarti sama sekali, Pantat troll tidak merasa apa-apa.
K'rasa apa! B'rasa apa!

Mendengar Tom mengerang, Troll tua merasa sangat lucu

Kar'na ia tahu, kaki Toni sakit luar biasa.



Kaki Tom kalah, dia pun pulanglah, Dan kakinya tanpa bot lumpuh sudah;
Tapi Troll tak peduli, dan masih duduk sendiri, Dengan tulang yang dicuri dari pemiliknya. Biliknya! Ciliknya!
Pantat Troll masih sama,

Dan tulang yang dicuri dari pemiliknya!



"Wah, itu peringatan untuk kita semua!" tawa Merry. "Untung kau menggunakan tongkat, dan bukan tanganmu, Strider!"
"Di mana kaudengar itu, Sam?" tanya Pippin. "Aku belum pernah dengar kata-kata itu."
Sam bergumam tidak jelas. "Itu keluar dari kepalanya sendiri, tentu," kata Frodo. "Aku belajar banyak tentang Sam Gamgee dalam perjalanan ini. Mula- mula dia bersekongkol, sekarang dia melawak. Nanti dia akan menjadi tukang

sihir... atau pejuang!"

"Kuharap tidak," kata Sam. "Aku tidak ingin menjadi salah satu!"



Di siang hari, mereka berjalan terus ke hutan. Mungkin mereka menapak tilas jalan yang dipakai bertahun-tahun lalu oleh Gandalf, Bilbo, dan para Kurcaci. Setelah beberapa mil, mereka keluar di puncak tebing tinggi di atas Jalan. Pada titik ini, Jalan sudah meninggalkan Hoarwell jauh di belakang, di lembahnya yang sempit, dan sekarang menempel dekat ke kaki bukit, menjulur dan berbelok- belok ke arah timur di antara pohon-pohon dan lereng tertutup tanaman heather yang menurun ke arah Ford dan Pegunungan. Tak jauh dari tebing, Strider menunjuk sebuah batu di tengah rumput. Di atasnya bisa terlihat lambang- lambang rune para Kurcaci dan tanda-tanda rahasia, tergores kasar dan sudah termakan cuaca.
"Lihat!" kata Merry. "Itu pasti batu yang menandai tempat emas para troll disembunyikan. Berapa sisa bagian Bilbo, Frodo?"
Frodo memandang batu itu, dan berharap Bilbo dulu tidak membawa pulang harta yang lebih berbahaya dan sulit dilepaskan. "Tidak ada yang tersisa," kata Frodo. "Bilbo membagi-bagikan semuanya. Katanya dia merasa harta itu sebenamya bukan miliknya, karena datang dari para perampok."


Jalan itu sepi di bawah bayang-bayang panjang senja yang datang lebih awal. Tak ada tanda-tanda pelancong lain. Karena tidak ada arah -lain yang bisa diambil, mereka menuruni tebing dan membelok ke kiri, berjalan secepat mungkin. Dengan segera tampak sebuah punggung bukit, menghalangi cahaya matahari yang terbenam dengan cepat. Angin dingin mengalir ke bawah, menyambut mereka dari pegunungan di depan.
Mereka mulai mencari tempat bermalam di luar Jalan, namun mendadak terdengar bunyi yang membuat rasa takut kembali merayapi hati mereka: bunyi derap kaki kuda di belakang. Mereka menoleh, tapi tak bisa melihat jauh karena Jalan itu banyak membelok dan turun-naik. Secepat mungkin mereka merangkak keluar dari jalan dan masuk ke semak-semak heather dan belukar berry di

lereng-lereng di atas, sampai tiba di sebuah kerumunan hazel yang tumbuh lebat. Saat mengintip ke luar dari semak-semak, mereka bisa melihat Jalan, samar-samar dan kelabu dalam cahaya yang sudah mulai suram, sekitar tiga puluh kaki di bawah sana. Bunyi derap kaki kuda semakin dekat. Derap langkahnya cepat, dengan bunyi klipeti-klipeti-klip ringan. Lalu samar-samar, seolah menjauh terembus angin, mereka mendengar dering redup, seperti bunyi bel-bel kecil berdenting.
"Kedengarannya bukan bunyi kuda Penunggang Hitam!" kata Frodo, mendengarkan dengan cermat. Hobbit-hobbit yang lain juga berharap demikian, tapi mereka masih curiga. Mereka sudah begitu lama hidup dalam ketakutan dikejar, sampai-sampai setiap bunyi dari belakang kedengaran mengancam dan tidak ramah. Tapi sekarang Strider mencondongkan badan ke depan, membungkuk ke tanah, dengan satu tangan di dekat telinga, dan pandangan gembira pada wajahnya.
Cahaya memudar, dan dedaunan di semak-semak bergemersik lembut. Bunyi bel-bel All jadi lebih jelas dan semakin dekat, dan klipeti-klip datanglah kaki-kaki yang cepat. Tiba'-tiba terlihat seekor kuda putih, mengilap dalam keremangan, berlari kencang. Dalam cahaya senja, tali kekangnya mengilat dan gemerlap, seolah bertaburan permata bintang-bintang yang hidup. Jubah penunggangnya berkibar-kibar di belakang, dan kerudungnya terbuka; rambutnya yang keemasan mengalun kemilau dalam angin kecepatannya. Frodo melihat seakan-akan ada cahaya putih yang bersinar dari dalam pakaian dan sosok penunggang itu, seolah menembus selubung tipis.
Strider melompat keluar dari persembunyian dan berlari kembali ke Jalan, melompat sambil berteriak melintasi semak-semak heather; tapi bahkan sebelum ia bergerak atau memanggil, penunggang itu sudah menghentikan kudanya dan berhenti, menengadah ke arah belukar tempat mereka berdiri. Ketika melihat Strider, ia turun dari kudanya dan berlari ke arahnya sambil berteriak, Ai na vedui Dunadan! Mae govannen! Bahasanya dan suaranya yang berdering jernih tidak menimbulkan keraguan lagi dalam hati mereka: penunggang itu dari bangsa Peri. Tak ada bangsa lain di dunia yang mempunyai suara yang begitu indah

didengar. Tapi tampaknya ada nada ketergesaan atau ketakutan dalam teriakannya, dan sekarang mereka melihat ia berbicara cepat dan mendesak kepada Strider.
Segera Strider memanggil mereka, lalu para hobbit meninggalkan semak- semak dan bergegas turun ke Jalan. "Ini Glorfindel, yang tinggal di rumah Elrond," kata Strider.
"Salam, dan selamat bertemu akhirnya!" kata Pangeran Peri itu kepada

Frodo. "Aku dikirim dari Rivendell untuk mencarimu. Kami khawatir kalian dalam bahaya di jalan."
"Kalau begitu, Gandalf sudah sampai di Rivendell?" seru Frodo gembira. "Belum. Dia belum datang ketika aku berangkat, tapi itu sudah sembilan
hari yang lalu," jawab Glorfindel. "Elrond menerima berita yang membuatnya cemas. Beberapa dari bangsaku, yang mengembara d" negerimu di luar Baranduin (Sungai Brandywine), mendengar bahwa ada masalah, dan segera mengirimkan pesan secepat mungkin. Kata mereka, Kaum Sembilan sudah di luar negeri mereka sendiri, dan bahwa kalian berkeliaran dengan membawa beban berat tanpa panduan, karena Gandalf belum kembali. Hanya sedikit di Rivendell yang bisa melawan Kaum Sembilan dengan terbuka; tapi yang ada, dikirim Elrond ke utara, barat, dan selatan. Sudah diperkirakan kalian akan mengambil jalan memutar jauh demi menghindari pengejaran, dan tersesat di belantara.
"Tugasku adalah mengambil Jalan ini, dan aku sampai di Jembatan Mitheithel, serta meninggalkan tanda di sana, kira-kira hampir tujuh hari yang lalu. Tiga anak buah Sauron ada di atas Jembatan itu, tapi mereka menarik diri dan aku mengejar mereka ke arah barat. Aku juga bertemu dua yang lain, tapi mereka berbalik arah ke selatan. Sejak itu aku mencari jejak kalian. Dua hari yang lalu aku menemukannya, dan mengikutinya melintasi Jembatan; hari ini aku mengamati di mana kalian turun lagi dari perbukitan. Tapi ayolah! Tidak ada waktu untuk berita lebih banyak. Karena kalian ada di sini, kita harus mengambil risiko bahaya di Jalan dan pergi. Ada lima di belakang kita, dan kalau mereka menemukan jejak kalian di Jalan, mereka akan menyusul kita bagai angin. Dan

mereka belum semuanya. Di mana empat yang lain, aku tidak tahu. Aku khawatir

Ford sudah diduduki untuk mencegat kita."

Sementara Glorfindel berbicara, kegelapan turun semakin dalam. Frodo merasa keletihan berat menyergapnya. Sejak matahari mulai terbenam, kabut di depan matanya semakin pekat, dan ia merasa ada bayang-bayang timbul di antara dirinya dan wajah kawan-kawannya. Sekarang rasa pedih menyerangnya, dan ia merasa dingin. Ia terhuyung, dan memegang tangan Sam.
"Majikanku sakit dan terluka," kata Sam marah. "ia tidak bisa meneruskan naik kuda setelah malam tiba. Dia butuh istirahat."
Glorfindel menangkap Frodo yang terkulai ke tanah, dan sambil mengangkatnya dengan lembut ke dalam pelukannya, ia memandang wajah Frodo dengan kecemasan mendalam.
Dengan singkat Strider menceritakan penyerangan terhadap kemah mereka di bawah Weathertop, dan tentang pisau mematikan itu. Ia mengeluarkan pangkalnya, yang disimpannya, dan memberikannya pada Peri itu. Glorfindel merinding saat mengambilnya, tapi ia memperhatikannya dengan saksama.
"Banyak hal jahat tertera di atas pangkal pisau ini," katanya "meski mungkin matamu tak bisa melihatnya. Simpanlah, Aragorn, sampai kita tiba di rumah Elrond! Tapi hati-hatilah, dan peganglah sesedikit mungkin! Aduh! Luka- luka akibat senjata ini ada di luar kemampuanku untuk menyembuhkan. Aku akan melakukan sebisaku, tapi kuminta kalian berjalan terus tanpa istirahat."
Ia menelusuri luka pada pundak Frodo dengan jemarinya, dan wajahnya semakin muram, seolah apa yang ditemukannya membuatnya resah. Tetapi rasa dingin di sisi tubuh dan lengan Frodo mulai berkurang; sedikit kehangatan merangkak turun dari pundak ke tangannya, dan rasa pedih itu jadi lebih ringan. Cahaya senja di sekitarnya seakan jadi agak terang, seolah sebuah awan sudah ditarik. Ia bisa melihat wajah kawan-kawannya lebih jelas, dan sedikit harapan baru serta kekuatan kembali kepadanya.
"Kau menunggang kudaku," kata Glorfindel. "Aku akan memendekkan sanggurdi sampai ke pinggir pelana, dan kau harus duduk sediam mungkin. Tapi

kau tak perlu takut: kudaku tidak akan menjatuhkan penunggang yang kusuruh dibawanya. Langkahnya ringan dan lancar; dan kalau bahaya terlalu dekat, dia akan membawamu dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi kuda-kuda hitam musuh."
"Tidak, tidak akan!" kata Frodo. "Aku tidak akan menunggangnya, kalau aku akan dibawa ke Rivendell atau ke tempat lain, meninggalkan teman-temanku dalam bahaya."
Glorfindel tersenyum. Katanya, "Menurutku teman-temanmu tidak akan

berada dalam bahaya bila kau tidak bersama mereka! Kurasa para pengejar itu akan mengikutimu dan meninggalkan kami dengan tenteram. Kaulah sasaran mereka, Frodo. Kau dan apa yang kaubawa itu yang membawa kita semua ke dalam bahaya."


Frodo tak bisa menjawab, dan ia bisa dibujuk untuk menaiki kuda putih Glorfindel. Kuda mereka dibebani sebagian besar bawaan lain, agar mereka bisa berjalan lebih ringan. Untuk sementara mereka maju dengan kecepatan tinggi, tapi para hobbit mulai kesulitan menyamai kecepatan langkah kaki Peri yang tak pernah letih. Ia terus memacu mereka, masuk ke mulut kegelapan, dan masih terus dalam malam gelap berawan. Tak ada bintang maupun bulan. Baru saat fajar kelabu ia membolehkan mereka berhenti. Pippin, Merry, dan Sam saat itu sudah hampir tertidur sambil berdiri terhuyung-huyung; bahkan Strider tampak letih, terlihat dari pundaknya yang menggantung. Frodo duduk di atas kuda sambil bermimpi gelap.
Mereka membaringkan diri di dalam semak-semak heather beberapa Meter dari sisi jalan dan langsung tertidur Rasanya mereka baru saja memejamkan mata ketika Glorfindel, yang berjaga sendirian sementara mereka tidur, membangunkan mereka lagi. Matahari sudah tinggi di langit pagi itu, dan awan-awan serta kabut malam sebelumnya sudah sirna.
"Minumlah ini!" kata Glorfindel pada mereka, menuangkan untuk masing- masing sedikit minuman manis dari botol kulitnya yang bertatahkan perak. Cairannya jernih seperti air dari mata air, dan tidak ada rasanya, juga tidak

terasa dingin ataupun panas di dalam mulut; tapi kekuatan dan semangat mengalir ke seluruh tubuh mereka saat meminumnya. Setelah itu, makan roti basi dan buah-buah kering (sekarang itu saja yang tersisa) bisa memuaskan rasa lapar mereka melebihi banyak sarapan enak yang pernah mereka nikmati di Shire.


Setelah beristirahat hampir lima jam, mereka masuk ke Jalan lagi. Glorfindel masih mendesak mereka berjalan terus, dan hanya mengizinkan dua perhentian singkat selama perjalanan hari itu. Dengan cara ini, mereka menempuh hampir dua puluh mil sebelum malam, dan sampai ke suatu titik di mana Jalan membelok ke kanan dan menurun menuju dasar lembah, yang sekarang langsung menuju Bruinen. Sejauh itu tidak ada tanda atau bunyi pengejaran yang bisa didengar para hobbit; tapi Glorfindel sering berhenti untuk mendengarkan sejenak, kalau mereka tertinggal di belakang; wajahnya mencerminkan kecemasan. Satu-dua kali ia berbicara dengan Strider dalam bahasa Peri.
Tapi, meski pemandu-pemandu mereka sangat cemas, jelas sekali bahwa para hobbit tak bisa meneruskan perjalanan lagi malam itu. Mereka berjalan terhuyung-huyung, pusing karena letih dan tak bisa memikirkan hal lain kecuali kaki dan tungkai mereka. Rasa sakit Frodo semakin menjadi-jadi, dan sepanjang hari itu benda-benda di sekitarnya terlihat kabur, sampai seperti bayangan kelabu. Ia hampir gembira menyambut malam hari, karena saat itu dunia jadi tidak terlalu pucat dan kosong.


Para hobbit masih letih ketika mereka berangkat lagi pagi-pagi keesokan harinya. Masih bermil-mil jarak antara mereka dan Ford, dan mereka berjalan terpincang-pincang dengan kecepatan terbaik yang bisa mereka upayakan.
"Bahaya paling besar yang mengancam kita adalah sebelum kita sampai di sungai," kata Glorfindel. "Hatiku memperingatkan bahwa pengejaran sudah sangat dekat di belakang kita, dan bahaya lain mungkin menunggu di Ford."
Jalan itu masih menurun terus dari bukit. dan sekarang di beberapa

tempat ada banyak rumput di kedua sisinya; di situlah para hobbit berjalan bila mungkin, untuk meredakan kelelahan kaki mereka. Siang itu mereka tiba di bagian Jalan yang dinaungi bayang-bayang gelap pohon-pohon cemara tinggi, lalu terjun ke dalam sebuah terowongan dalam, dengan dinding-dinding curam dari batu merah yang basah. Langkah mereka menimbulkan gema yang terus terdengar sementara mereka bergegas maju; serasa ada banyak langkah kaki yang mengikuti. Tiba-tiba, seolah melewati gerbang cahaya, Jalan itu keluar lagi dari ujung terowongan ke udara terbuka. Di sana, di dasar sebuah lereng terjal, di depan mereka terhampar tanah datar sepanjang satu mil; dan di seberangnya Ford dari Rivendell. Di sisi seberang ada tebing terjal kecokelatan, dilintasi jalan berkelok-kelok; dan di belakangnya gunung-gunung tinggi menjulang, pundak demi pundak, dan puncak demi puncak, ke langit yang memudar.
Masih ada bunyi gema seperti langkah kaki yang mengejar di terowongan di belakang mereka; bunyi berdesir seolah angin yang muncul dan mengalir melalui ranting-ranting pohon cemara. Suatu saat Glorfindel menoleh dan mendengarkan, lalu ia melompat ke depan dengan teriakan keras.
"Cepat!" teriaknya. "Cepat! Musuh sudah dekat!"

Kuda putih melompat maju. Para hobbit berlari menuruni lereng. Glorfindel dan Strider menyusul sebagai penjaga garis belakang. Mereka baru separuh jalan melintasi tanah datar, ketika tiba-tiba ada bunyi kuda lari berderap. Keluar dari gerbang yang baru saja mereka tinggalkan, muncul seorang Penunggang Hitam. Ia menahan kudanya dan berhenti, bergoyang di pelananya. Satu lagi mengikutinya, lalu yang lain lagi, dan dua lagi.
"Jalan maju! Jalan?" teriak Glorfindel pada Frodo.

Frodo tidak langsung menuruti perintahnya, karena keengganan yang aneh timbul dalam dirinya. Menahan kudanya agar berjalan perlahan, ia menoleh ke belakang. Penunggang-Penunggang Hitam tampak duduk di atas kuda-kuda mereka yang besar, bagai patung-patung yang mengancam di atas bukit yang gelap dan kokoh, sementara semua hutan dan tanah di sekitar mereka seolah tertelan kabut. Tiba-tiba dalam hati Frodo tahu bahwa mereka diam-diam memerintahkannya menunggu. Dalam sekejap ketakutan dan kebencian bangkit

dalam dirinya. Tangan kirinya melepaskan tali kekang dan memegang Pangkal pedangnya, dan dengan satu kilatan merah ia menghunusnya.
"Jalan terus! Jalan terus!" teriak Glorfindel, lalu dengan nyaring dan jelas ia memanggil kudanya dalam bahasa Peri: noro lim, noro lim, Asfaloth!
Serentak kuda putih itu melompat maju dan berpacu seperti angin sepanjang sisa terakhir Jalan. Pada saat bersamaan, kuda-kuda hitam berpacu menuruni bukit mengejarnya, dan dari para Penunggang terdengar teriakan mengerikan, seperti yang terdengar oleh Frodo memenuhi hutan di Wilayah Timur nun jauh di sana. Teriakan itu dijawab: dengan ngeri Frodo dan teman- temannya melihat empat penunggang lain keluar dari pohon-pohon dan batu- batu di sebelah kiri. Dua melaju ke arah Frodo, dua lainnya berpacu kencang sekali menuju Ford, untuk memotong pelariannya. Sepertinya mereka melaju pesat bagai angin, dengan cepat sosok mereka semakin besar dan gelap, ketika lintasan mereka bertemu dengan lintasannya.
Sejenak Frodo menoleh ke belakang. Ia sudah tak bisa melihat teman- temannya lagi. Penunggang-Penunggang Hitam mulai tertinggal: bahkan kuda- kuda besar mereka tak bisa menandingi kecepatan kuda Peri putih milik Glorfindel. Ia melihat ke depan lagi, dan harapannya memudar. Kelihatannya sebelum mencapai Ford jalannya akan dipotong oleh para Penunggang lain yang sudah bersembunyi untuk menyergapnya. Ia bisa melihat mereka dengan jelas sekarang: rupanya mereka sudah melepaskan kerudung dan mantel hitam mereka, sekarang mereka berjubah putih dan kelabu. Pedang terhunus di tangan mereka yang pucat; topi baja di kepala mereka. Mata mereka dingin berkilauan, dan mereka meneriakinya dengan suara-suara menyeramkan.
Ketakutan memenuhi seluruh benak Frodo. Ia tak ingat lagi pedangnya. Tak ada teriakan dari mulutnya. Ia memejamkan mata dan berpegangan erat pada rambut tengkuk kudanya. Angin bersiul di telinganya, dan bel-bel pada tali kekang berbunyi liar dan nyaring. Embusan angin dingin menusuknya bagai tombak ketika kuda Peri itu berpacu bagai kilatan api putih, seolah bersayap, lewat tepat di depan Penunggang terdepan.
Frodo mendengar bunyi cemplungan air.. Air berbuih di sekitar kakinya. Ia

merasakan gerakan mengangkat dan menyentak cepat saat kudanya keluar dari sungai dan berjuang mendaki jalan berbatu. Ia sedang mendaki tebing terjal. Ia sudah di seberang Ford.
Tetapi para pengejar sudah dekat sekali. Di atas tebing, kuda Frodo berhenti dan membalikkan badan sambil meringkik galak. Ada Sembilan Penunggang di tepi air di bawah, dan semangat Frodo merosot di depan wajah- wajah mereka yang menengadah mengancam• Rasanya tak ada yang bisa mencegah mereka menyeberangi sungai semudah yang telah ia lakukan; dan ia merasa sia-sia mencoba melarikan diri melintasi jalan panjang dan tidak pasti dari Ford ke pinggir Rivendell, kalau para Penunggang itu sudah menyeberang. Bagaimanapun, ia merasa diperintah dengan mendesak untuk berhenti. Kebencian kembali bergejolak dalam dirinya, tapi ia sudah tak punya kekuatan untuk menolaknya.
Tiba-tiba Penunggang terdepan memacu kudanya maju. Kuda itu berhenti di batas air dan berdiri pada kaki belakangnya. Dengan upaya keras Frodo duduk tegak dan mengacungkan pedangnya.
"Kembali!" teriaknya. "Kembalilah ke Negeri Mordor, dan jangan kejar aku lagi!" Suaranya kedengaran tipis dan melengking di telinganya sendiri. Para Penunggang itu berhenti, tapi Frodo tidak mempunyai kekuatan seperti Bombadil. Musuh-musuhnya menertawakannya dengan bunyi tawa kasar dan mengerikan. "Ke sini! Ke sini!" teriak mereka. "Kami akan membawamu ke Mordor!"
"Pergilah!" bisik Frodo.

"Cincin! Cincin!" teriak mereka dengan suara menyeramkan, dan serentak pemimpin mereka menyuruh kudanya maju ke dalam air, diikuti dari dekat oleh dua pengikutnya.
"Demi Elbereth dan Luthien sang Putri Cantik," kata Frodo dengan upaya terakhir, sambil mengangkat pedangnya, "kau tidak akan mendapatkan Cincin ataupun diriku!"
Lalu pemimpin mereka, yang sudah separuh menyeberangi Ford, berdiri mengancam di sanggurdinya, dan mengangkat tangannya. Frodo merasa kelu.

Lidahnya terpaku di mulutnya, dan jantungnya berdebar kencang. Pedangnya patah dan jatuh dari tangannya yang gemetar. Kuda Peri berdiri di kedua kaki belakangnya dan mendengus. Kuda hitam terdepan sudah hampir menginjak tepi sungai.
Pada saat itu terdengar geraman dan desiran: bunyi air deras menggulingkan banyak batu. Samar-samar Frodo melihat sungai di bawahnya naik, dan dari alirannya muncul barisan gelombang berbusa. Nyala putih tampak berkelip di puncak-puncaknya, dan ia serasa melihat penunggang-penunggang putih -di atas kuda-kuda putih dengan Surai berbuih di tengah air. Tiga Penunggang yang masih berada di tengah Ford tenggelam: mereka lenyap, terkubur tiba-tiba di bawah buih yang menggelegak. Mereka yang masih di belakang mundur dengan ngeri.
Dengan kesadarannya yang mulai hilang, Frodo mendengar teriakan- teriakan, dan rasanya di belakang Penunggang yang ragu-ragu di tepi sungai, ia melihat sebuah sosok bercahaya putih yang menyala-nyala, dan di belakangnya berlarian sosok-sosok kabur kecil melambaikan api, yang menyala merah di dalam kabut kelabu yang mulai menutupi dunia.
Kuda-kuda hitam menggila, dan sambil melompat maju dengan ketakutan mereka membawa penunggang mereka ke dalam air bah yang mengganas. Teriakan tajam mereka tenggelam dalam raungan sungai ketika mereka tersapu air. Lalu Frodo merasa dirinya jatuh, dan raungan serta kebingungan itu seolah naik dan membenamkannya bersama musuh-musuhnya. Setelah itu ia tak melihat dan mendengar apa-apa lagi.

BUKU DUA



BAB 1

BANYAK PERTEMUAN



Frodo bangun dan mendapati dirinya berbaring di tempat tidur. Mulanya ia mengira ia bangun kesiangan, setelah suatu mimpi panjang yang tidak menyenangkan, yang masih melayang-layang di batas ingatannya. Atau mungkin ia sakit? Tapi langit-langit kelihatan aneh; datar, dan ada balok-balok gelap yang dipenuhi ukiran. Ia: masih berbaring beberapa lama sambil memandangi bercak-bercak sinar matahari pada dinding, dan mendengarkan bunyi air terjun. °
"Di mana aku, dan jam berapa sekarang?" ia berkata keras-keras pada langit-langit.
"Di Rumah Elrond, dan sekarang jam sepuluh pagi," sebuah suara

berkata. "Sekarang pagi tanggal dua puluh empat Oktober, kalau kau mau tahu." "Gandalf!" teriak Frodo sambil bangkit duduk. Penyihir itu duduk di kursi
dekat jendela tebuka.

"Ya," kata Gandalf, "aku di sin'. Dan kau beruntung berada di sini juga, setelah semua hal tidak masuk akal yang sudah kaulakukan sejak kau meninggalkan rumahmu."
Frodo berbaring kembali. Ia merasa terlalu nyaman dan damai untuk berdebat, dan bagaimanapun rasanya ia tidak akan menang ber-debat. Ia sudah sadar sepenuhnya sekarang, dan ingatan tentang perjalanannya kembali bangkit: "jalan pintas" melalui Old Forest yang membawa bencana; "kecelakaan" di Kuda Menari; dan kegilaannya memakai Cincin di lembah di bawah Weathertop. Ada kesunyian panjang yang hanya dipecahkan oleh isapan-isapan lembut pipa Gandalf saat ia mengembuskan cincin-cincin asap putih ke luar jendela, sementara Frodo memikirkan semua itu, dan dengan sia-sia mencoba membawa ingatannya sampai kepada saat ia tiba di Rivendell.
"Di mana Sam?" tanya Frodo akhirnya. "Dan apakah semua yang lain

baik-baik saja?"

"Ya, mereka semua aman dan selamat," jawab Gandalf. "Sam ada di sini, sampai aku menyuruhnya keluar untuk beristirahat sebentar, kira-kira setengah jam yang lalu."
"Apa yang terjadi di Ford?" tanya Frodo. "Semua terasa kabur, dan masih begitu sampai sekarang."
"Ya, memang begitu. Kau sudah mulai memudar," jawab Gandalf. "Luka

itu akhirnya menguasaimu. Kalau lewat beberapa jam lagi, kami sudah tak bisa membantumu. Tapi dalam dirimu ada kekuatan, hobbit yang budiman! Seperti yang kautunjukkan di Barrow. Di situ keadaan tak menentu: mungkin saat paling berbahaya dari semuanya. Kalau saja kau bisa bertahan ketika di Weathertop."
"Rupanya kau sudah tahu banyak," kata Frodo. "Aku belum bicara dengan yang lain tentang Barrow. Mula-mula terlalu mengerikan, dan sesudahnya banyak hal lain yang harus dipikirkan. Bagaimana kau tahu tentang itu?"
"Kau berbicara panjang dalam tidurmu, Frodo," kata Gandalf lembut, "dan

tidak sulit bagiku untuk membaca pikiran dan ingatanmu. Jangan khawatir! Meski barusan aku bilang 'tidak masuk akal', aku tidak bermaksud begitu. Penilaianku terhadapmu baik juga tentang yang lain. Bukan prestasi kecil untuk datang sejauh ini, dan melalul bahaya yang begitu besar, dan masih membawa Cincin."
"Kami tak mungkin berhasil tanpa Strider," kata Frodo. "Tapi kami membutuhkanmu. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa kau."
"Aku terhalang," kata Gandalf, "dan itu hampir saja menyebabkan kehancuran kita. Tapi aku tidak yakin; mungkin memang lebih baik begitu."
"Kuharap kau menceritakan apa yang terjadi!"

"Nanti saja! Kau tidak perlu berbicara atau mengkhawatirkan apa pun hari ini, sesuai perintah Elrond."
"Tapi berbicara akan membuatku berhenti berpikir dan bertanya-tanya; dua hal itu sama melelahkannya," kata Frodo. "Aku sadar penuh sekarang, dan aku ingat banyak sekali hal yang membutuhkan penjelasan. Mengapa kau tertahan? Setidaknya kau harus menceritakan itu padaku."
"Sebentar lagi kau akan mendengar semua yang ingin kauketahui," kata

Gandalf. "Kita akan mengadakan rapat Dewan, setelah kau cukup sehat. Saat ini aku hanya akan mengatakan bahwa aku ditawan.
"Kau?" seru Frodo.

"Ya, aku, Gandalf si Kelabu," kata tukang sihir tersebut dengan khidmat. "Banyak sekali kekuatan di dalam dunia, untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Beberapa lebih hebat daripada aku. Ada beberapa yang belum pernah kucoba tandingi. Tapi saatku akan tiba. Penguasa dari Morgul dan para Penunggang Hitam sudah muncul. Perang akan meletus!"
"Kalau begitu, kau sudah tahu tentang para Penunggang itu-sebelum aku berjumpa dengan mereka?"
"Ya, aku tahu tentang mereka. Bahkan aku pernah membicarakannya denganmu; karena para Penunggang Hitam itu adalah Hantu-Hantu Cincin, Sembilan Pelayan dari Penguasa Cincin. Tapi aku tidak tahu bahwa mereka sudah bangkit lagi; kalau tidak, aku sudah langsung mendampingimu dalam pelarianmu. Aku baru mendengar berita tentang mereka setelah aku meninggalkanmu di bulan Juni; tapi kisah itu harus menunggu. Untuk sementara ini, kita sudah diselamatkan dari bencana oleh Aragorn."
"Ya," kata Frodo, "memang Strider yang menyelamatkan kami. Meski begitu, mula-mula aku takut padanya. Sam tak pernah sepenuhnya mempercayai dia, kukira, setidaknya sebelum kami bertemu Glorfindel."
Gandalf tersenyum. "Aku sudah dengar semuanya tentang Sam," katanya. "Sekarang dia sudah tidak menyimpan keraguan lagi."
"Aku senang," kata Frodo. "Karena aku jadi sangat sayang pada Strider.

Yah, sayang mungkin bukan kata yang tepat. Maksudku, dia sangat berharga bagiku; meski dia aneh, dan kadang-kadang muram. Sebenarnya dia sering mengingatkanku padamu. Aku tidak tahu bahwa di antara Makhluk-Makhluk Besar ada yang seperti dia. Dulu kupikir mereka, yah, hanya besar, dan agak bodoh: ramah dan bodoh seperti Butterbur, atau bodoh dan jahat seperti Bill Ferny. Tapi memang kita tidak tahu banyak tentang Manusia di Shire, kecuali mungkin bangsa Bree."
"Bahkan tentang mereka pun kau tidak tahu banyak, kalau kaupikir

Barliman tua itu bodoh," kata Gandalf. "Dia cukup bijak dengan caranya sendiri. Dia memang lebih banyak bicara daripada berpikir, dan lebih lamban; tapi dia bisa melihat menembus tembok bata bila perlu (seperti kata orang-orang Bree). Tapi hanya sedikit tersisa orang di Dunia Tengah yang menyamai Aragorn, putra Arathorn. Bangsa Raja-Raja dari seberang Laut sudah hampir punah. Mungkin sekali Perang Cincin ini akan menjadi petualangan mereka yang terakhir."
"Maksudmu Strider salah satu manusia dab bangsa Raja-Raja kuno?" kata Frodo dengan kagum. "Kukira mereka semua sudah lenyap lama sekali. Kukira dia hanya seorang Penjaga Hutan."
"Hanya Penjaga Hutan!" seru Gandalf. "Frodo-ku yang baik, justru itulah kaum Penjaga Hutan: sisa-sisa terakhir di Utara dari bangsa besar, Manusia dari Barat. Mereka sudah pernah membantuku, dan aku akan membutuhkan bantuan mereka di masa depan, karena kita sudah sampai di Rivendell, tapi Cincin itu masih belum tenang."
"Kurasa memang belum," kata Frodo. "Tapi sejauh ini pikiranku satu- satunya hanyalah untuk bisa sampai di sini; dan kuharap aku talc perlu pergi lebih jauh lagi. Nikmat sekali kalau bisa beristirahat saja. Sudah sebulan aku melarikan diri dan menjalani petualangan, dan kusadari itu sudah lebih dari cukup untukku."
Frodo terdiam dan memejamkan mata. Setelah beberapa saat, ia berbicara lagi. "Aku sudah hitung-hitung," katanya, "dan aku tak bisa menjumlah semuanya sampai mencapai dua puluh empat Oktober. Seharusnya masih tanggal dua puluh satu. Kita pasti mencapai Ford sekitar tanggal dua puluh."
"Kau bicara dan menghitung lebih banyak daripada seharusnya," kata Gandalf. "Bagaimana rasanya bagian samping tubuhmu dan pundakmu sekarang?"
"Aku tidak tahu," jawab Frodo. "Sama sekali tidak terasa apa-apa: itu suatu kemajuan, tapi" ia mencobanya "aku bisa menggerakkan tanganku sedikit. Ya, sudah mulai hidup kembali. Tidak dingin," tambahnya, menyentuh tangan kirinya dengan tangan kanan.
"Bagus!" kata Gandalf. "Sudah sembuh dengan cepat. Tak lama lagi kau

akan sehat kembali. Elrond yang menyembuhkanmu: dia merawatmu berhari- hari, sejak kau dibawa masuk."
"Berhari-hari?" kata Frodo.

"Ya, empat malam dan tiga hari, tepatnya. Para Peri membawamu dari Ford pada malam kedua puluh, dan itulah saatnya kau kehilangan hitungan. Kami sangat cemas, dan Sam hampir tak pernah meninggalkan sisimu, kecuali kalau disuruh. Elrond penyembuh yang hebat, tapi senjata Musuh kita sangat mematikan. Sebenarnya, aku hampir tak punya harapan, karena aku menduga masih ada pecahan pisau dalam luka yang sudah tertutup. Tapi tak bisa ditemukan sampai tadi malam. Lalu Elrond mengeluarkan serpihan itu. Letaknya sangat dalam, dan bekerja di dalam."
Frodo menggigil, teringat pisau kejam dengan pangkal bergores yang lenyap di tangan Strider. "Jangan cemas!" kata Gandalf. "Sudah hilang sekarang. Sudah dilebur. Dan kelihatannya hobbit tidak mudah memudar. Aku kenal pejuang-pejuang kuat dari antara Makhluk-Makhluk Besar yang pasti cepat kalah oleh serpihan itu, tapi kau sanggup menahankannya selama tujuh belas hari."
"Apa yang akan mereka lakukan padaku?" tanya Frodo. "Apa yang penunggang itu coba lakukan?"
"Mereka berusaha menusuk jantungmu dengan pisau Morgul yang tertinggal di dalam luka. Kalau mereka berhasil, kau akan jadi seperti mereka, hanya lebih lemah dan di bawah kekuasaan mereka. Kau akan menjadi hantu di bawah pemerintahan Penguasa Kegelapan, dan dia akan menyiksamu karena mencoba menyimpan Cincin-nya-itu kalau ada siksaan yang lebih berat daripada melihat cincin itu dirampok dan dipakai olehnya."
"Syukurlah aku tidak tahu bahaya mengerikan itu!" kata Frodo lemah. "Memang aku sangat ketakutan, tapi seandainya aku tahu lebih banyak, aku tidak bakal berani bergerak. Sungguh suatu mukjizat bahwa aku bisa selamat!"
"Ya, kau tertolong oleh keberuntungan atau nasibmu," kata Gandalf, "juga keberanianmu. Sebab jantungmu tidak kena, dan hanya pundakmu yang tertembus; dan itu karena kau bertahan sampai titik penghabisan. Tapi kau memang nyaris kena. Kau dalam bahaya sangat besar sementara memakai

Cincin itu, karena saat itu kau setengah berada di dalam dunia hantu, dan mereka bisa menangkapmu. Kau bisa melihat mereka, dan mereka bisa melihatmu."
"Aku tahu," kata Frodo. "Tampang mereka seram sekali! Tapi kenapa kami semua bisa melihat kuda mereka?"
"Karena mereka kuda-kuda sungguhan; seperti halnya jubah-jubah hitam itu juga jubah sungguhan, yang mereka pakai untuk memberi bentuk pada ketiadaan mereka, kalau mereka berurusan dengan makhluk hidup."
"Lalu mengapa kuda-kuda hitam itu mau melayani penunggang seperti mereka? Semua hewan lain ngeri kalau mereka mendekat, termasuk kuda Peri milik Glorfindel. Anjing-anjing melolong dan angsa-angsa meneriaki mereka."
"Karena kuda-kuda ini dilahirkan dan dibesarkan untuk melayani Penguasa Kegelapan di Mordor. Tidak semua pelayan dan barang bergerak mereka adalah hantu! Ada Orc dan troll, ada warg dan serigala jadi-jadian; dan dari dulu hingga sekarang ada banyak Manusia, Pejuang, dan raja-raja, yang menjadi makhluk hidup tapi berada di bawah kekuasaannya. Dan jumlah mereka semakin hari semakin bertambah."
"Bagaimana dengan Rivendell dan kaum Peri? Apakah Rivendell aman?" "Ya, saat ini, sampai semua yang lain dikalahkan. Bangsa Peri mungkin
takut kepada Penguasa Kegelapan, dan mereka mungkin melarikan diri darinya, tapi mereka tidak akan pernah lagi mendengarkan atau melayaninya. Dan di sini, di Rivendell, masih hidup beberapa di antara musuh-musuh utamanya: Kaum Bijak bangsa Peri, para pangeran Eldar, yang berasal dari lautan-lautan terjauh. Mereka tidak takut pada Hantu-Hantu Cincin, karena mereka yang pernah tinggal di Alam Berkah sekaligus hidup dalam dua dunia, dan mereka mempunyai kekuatan besar terhadap Yang Terlihat maupun Yang Tidak Terlihat."
"Rasanya aku melihat sebuah sosok putih bercahaya yang tidak memudar seperti yang lain. Apakah itu Glorfindel?"
"Ya, kau melihatnya sejenak dalam wujudnya di dunia lain: salah satu yang perkasa dari kaum Yang Pertama Lahir. Dia adalah Pangeran Peri dari keturunan bangsawan. Memang di Rivendell ada kekuatan yang bisa menahan

kehebatan Mordor, untuk sementara: dan di tempat-tempat lain, kekuatan- kekuatan lain masih ada. Ada juga kekuatan jenis lain di Shire. Tapi semua tempat seperti itu akan segera menjadi pulau-pulau terkepung, kalau keadaan tetap berlanjut seperti ini. Sang Penguasa Kegelapan sedang mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Meski begitu," kata Gandalf, sambil tiba-tiba bangkit berdiri dan mengangkat dagu, hingga jenggotnya menjadi kaku dan lurus bagai tambang berdiri, "kita harus tetap mempertahankan keberanian kita. Kau akan segera sehat, kalau aku tidak mematikanmu dengan omonganku. Kau berada di Rivendell, dan kau tidak perlu khawatir tentang apa pun saat ini."
"Aku tidak punya keberanian untuk dipertahankan," kata Frodo, "tapi aku tidak cemas saat ini. Aku ingin tahu tentang teman-temanku, dan akhir kejadian di Ford, karena aku akan terus bertanya; setelah itu, aku akan puas untuk sementara. Dan aku akan tidur lagi; tapi aku tidak akan bisa memejamkan mata sampai kau menyelesaikan cerita itu untukku."
Gandalf menggeser kursinya ke samping tempat tidur, dan memandang Frodo dengan cermat. Wajah Frodo sudah tidak pucat lagi, matanya jernih, sadar serta -bangun sepenuhnya. Ia tersenyum, dan kelihatannya tidak ada masalah. Tapi Gandalf merasa melihat suatu perubahan samar, begitu samar, seolah Frodo menjadi agak tembus pandang, terutama tangan kirinya yang berada di luar, di atas selimut.
"Itu sudah bisa diduga," kata Gandalf pada dirinya sendiri. "Dia belum sepenuhnya sembuh, dan apa yang akan terj adi padanya kelak, bahkan Elrond pun takkan bisa menebak. Dia tidak akan berubah ja' hat, kurasa. Dia mungkin akan jadi seperti gelas berisi cahaya terang bagi mata yang bisa melihat."
"Kau kelihatan sehat." kata Gandalf keras-keras. "Aku akan menambil risiko menceritakan kisah singkat, tanpa meminta nasihat Elrond. Tapi sangat singkat, camkan itu, lalu kau harus tidur lagi. Inilah yang terjadi, sejauh yang kuketahui. Para Penunggang itu langsung mengejarmu, begitu kau lari. Mereka sudah tidak membutuhkan panduan dari kuda-kuda mereka: mereka bisa melihatmu, karena kau sudah berada di ambang dunia mereka. Dan Cincin itu

juga menarik mereka. Teman-temanmu meloncat menghindar, keluar dari Jalan, kalau tidak mereka akan tergilas. Mereka tahu tidak ada yang bisa menyelamatkanmu, kalau kuda putih itu tidak bisa. Para Penunggang itu terlalu cepat untuk disusul, dan terlalu banyak jumlahnya untuk dilawan. Dengan berjalan kaki, bahkan Glorfindel dan Aragorn tidak bakal bisa melawan mereka ber-Sembilan.
"Ketika Hantu-Hantu Cincin itu lewat, teman-temanmu berlari mengejar. Dekat ke Ford ada suatu lembah kecil di samping jalan, diselubungi beberapa pohon kerdil. Di sana mereka tergesa-gesa menyalakan api; Glorfindel tahu bahwa banjir akan datang, bila para penunggang itu mencoba menyeberangi sungai, lalu dia harus menghadapi mereka yang tertinggal di sisi sungai sebelah sini. Saat banjir muncul, dia berlari keluar, diikuti Aragorn dan yang lainnya dengan tongkat-tongkat menyala. Terjebak di antara api dan air, dan melihat seorang Pangeran Peri dalam kemarahan, mereka kaget dan kuda-kuda mereka menjadi gila. Mereka' tersapu serangan banjir pertama; yang lainnya terlempar ke dalam air oleh kuda-kuda mereka, dan tenggelam."
"Dan itu akhir dari para Penunggang Hitam?" tanya Frodo.

"Tidak," kata Gandalf. "Kuda-kuda mereka kelihatannya mati, dan tanpa mereka, para Penunggang itu lumpuh. Tapi Hantu-Hantu Cincin itu sendiri tidak mudah dihancurkan. Namun sekarang ini tak ada yang perlu dicemaskan dari mereka. Teman-temanmu menyeberang setelah banjir reda, dan mereka menemukanmu berbaring telungkup di puncak tebing, dengan pedang patah di bawahmu. Kuda putih berdiri menjaga di sampingmu. Kau pucat dan din-in, dan mereka khawatir kau sudah mati, atau lebih buruk daripada itu. Anak buah Elrond menjumpai mereka, perlahan-lahan menggotongmu ke Rivendell."
"Siapa yang membuat banjir?" tanya Frodo.

"Elrond memerintahkannya," jawab Gandalf. "Sungai di lembah ini ada di bawah kekuasaannya, dan akan naik dalam kemarahan kalau Elrond benar- benar perlu menutup Ford. Begitu kapten para Hantu Cincin masuk ke dalam air, banjirnya dikerahkan. Kalau boleh kukatakan, aku menambahkan beberapa sentuhanku sendiri: mungkin kau tidak memperhatikannya, tapi beberapa ombak

mengambil bentuk kuda putih dengan penunggang putih bercahaya; dan banyak batu besar menggelinding dan menggilas. Sejenak aku cemas bahwa kemurkaan yang kami lepaskan terlalu besar, dan banjir tak terkendali akan menyapu kalian semua. Air yang berasal dari salju di Pegunungan Berkabut punya kekuatan sangat besar."
"Ya, aku ingat semua sekarang," kata Frodo. "Raungan hebat itu. Kukira aku akan tenggelam, dengan teman, musuh, dan semuanya. Tapi sekarang kami aman!"
Gandalf dengan cepat melirik Frodo, tapi Frodo sudah memejamkan mata. "Ya, kalian semua aman untuk saat ini. Tak lama lagi akan ada pesta dan bersuka-ria untuk merayakan kemenangan di Ford Bruinen, dan kalian semua akan duduk di tempat kehormatan."
"Bagus!" kata Frodo. "Sungguh membahagiakan bahwa Elrond, Glorfindel, dan pangeran-pangeran lain yang begitu agung, tak lupa Strider juga, bersedia menunjukkan keramahan begitu besar padaku."
"Yah, banyak sekali alasan mereka melakukan itu," kata Gandalf sambil

tersenyum. "Aku salah satu alasan bagusnya. Cincin itu adalah alasan lainnya:

kau adalah si pembawa Cincin. Dan kau ahli waris Bilbo, sang penemu Cincin." "Bilbo yang baik!" kata Frodo sambil mengantuk. "Aku ingin tahu, di mana
dia. Kalau saja dia ada di sini, dan bisa mendengar semua kisah ini. Dia pasti akan tertawa. Sapi meloncat di atas Bulan! Dan troll tua malang!" Lalu Frodo tertidur lelap.


Frodo sekarang aman di dalam Rumah Nyaman yang Terakhir di sebelah timur Laut. Rumah itu, seperti diberitakan Bilbo dulu, "sebuah rumah sempurna, entah kau senang makan atau tidur, bercerita atau bernyanyi, atau hanya duduk dan berpikir, atau gabungan menyenangkan dari itu semua." Berada di sana saja sudah merupakan obat untuk keletihan, ketakutan, dan kesedihan.
Sementara hari semakin malam, Frodo bangun lagi, dan ia sadar ia sudah tidak butuh istirahat atau tidur; ia ingin makan-minum, dan mungkin bernyanyi dan bercerita setelahnya. Ia turun dari tempat tidur dan menyadari lengannya

sudah hampir bisa digunakan lagi seperti semula. Ia menemukan pakaian bersih dari kain hijau sudah disiapkan, pas sekali untuknya. Sambil becermin, ia kaget melihat bayangan dirinya yang jauh lebih kurus daripada yang diingatnya: tampaknya sangat mirip dengan keponakan muda Bilbo yang biasa pergi berjalan-jalan dengan pamannya di Shire; tapi matanya memandang dengan merenung.
"Ya, kau sudah melihat berbagai hal sejak terakhir kali kau becermin," katanya pada bayangannya. "Tapi sekarang mari kita pergi ke pertemuan gembira!" ia mengulurkan tangannya dan menyiulkan sebuah lagu.
Saat itu ada ketukan di pintu, dan Sam masuk. Ia berlari menghampiri Frodo dan memegang tangan kirinya, canggung dan malu-malu. Ia membelainya dengan lembut, lalu wajahnya memerah, dan dengan cepat ia membuang muka.
"Halo, Sam!" kata Frodo.

"Panas sekali!" kata Sam. "Maksudku tanganmu, Mr. Frodo. Selama ini selalu terasa dingin selama malam-malam panjang. Tapi... selamat dan ceria!" serunya, membalik lagi dengan mata bersinar dan menarinari. "Bahagia sekali melihatmu sudah bangun dan sudah sehat lagi, Sir! Gandalf memintaku ke sini, untuk melihat apakah kau sudah siap turun, dan aku mengira dia berkelakar."
"Aku sudah siap," kata Frodo. "Ayo kita pergi dan mencari yang lainnya!" "Aku bisa mengantarmu pada mereka, Sir," kata Sam. "Rumah ini besar
sekali, dan aneh. Selalu ada hal baru yang bisa ditemukan, dan kita tidak tahu apa yang bakal kita temukan di balik tikungan. Dan para Peri, Sir!' Peri di sini, Peri di sana! Beberapa seperti raja, hebat dan luar biasa; beberapa sangat ceria seperti anak kecil. Dan musik serta nyanyiannya—meski aku tak punya banyak waktu atau semangat untuk mendengarkan sejak kita sampai di sini. Tapi aku sudah mulai tahu adat kebiasaan di tempat ini."
"Aku tahu apa yang sudah kaulakukan, Sam," kata Frodo sambil memegang tangan Sam. "Tapi malam ini kau akan gembira, dan mendengarkan sepuas-puasnya. Ayo, tuntun aku lewat tikungan-tikungan!"
Sam menuntunnya melewati beberapa selasar, menuruni banyak tangga, dan keluar ke sebuah halaman tinggi di atas tebing curam su-ngai. Ia

menemukan teman-temannya duduk di teras, di samping rumah yang menghadap ke timur. Keremangan sudah menggantung di atas lembah di bawah, tapi masih ada cahaya di wajah pegunungan Jauh di atas. Cuaca hangat. Bunyi air mengalir dan jatuh terdengar sangat keras, dan udara senja dipenuhi wangi lembut pepohonan dan bunga-bunga, seolah musim panas masih bertahan di kebun Elrond.
"Hura!" seru Pippin sambil bangkit berdiri. "Ini dia sepupu kita yang mulia! Beri jalan untuk Frodo, si Penguasa Cincin!"
"Husy!" kata Gandalf dari kegelapan di bagian belakang teras. "Hal-hal jahat tidak masuk ke lembah ini, tapi sebaiknya kita jangan menyebut-nyebut mereka. Penguasa Cincin bukan Frodo, melainkan
Master dari Menara Kegelapan di Mordor, yang kekuatannya sekali lagi menggapai seluruh dunia! Saat ini kita tengah duduk di dalam benteng. Di luar sudah mulai gelap."
"Gandalf sudah banyak mengatakan hal-hal menggembirakan se_ macam

itu," kata Pippin. "Dia pikir aku perlu ditertibkan. Tapi tampaknya tak mungkin merasa muram di tempat ini. Rasanya aku ingin bernyanyi, kalau saja aku tahu lagu yang tepat untuk kesempatan ini."
"Aku sendiri juga merasa ingin nyanyi," tawa Frodo. "Meski saat ini aku lebih ingin makan dan minum!"
"Itu bisa segera dipenuhi," kata Pippin. "Seperti biasa, kau sudah menunjukkan kelihaianmu, bangun tepat saat makanan dihidangkan."
"Lebih dari sekadar makanan! Ini pesta!" kata Merry. "Begitu Gandalf

melaporkan bahwa kau sudah sembuh, persiapan segera dimulai." Baru saja ia selesai berbicara, mereka dipanggil ke aula oleh bunyi denting banyak lonceng.


Aula rumah Elrond penuh dengan banyak orang: kebanyakan kaum Peri, meski ada beberapa tamu dari jenis lain. Elrond, seperti biasa, duduk di kursi besar, di ujung meja panjang di panggung; di kiri-kanannya duduk Glorfindel dan Gandalf.
Frodo memandang mereka dengan kagum, karena ia belum pernah melihat Elrond, yang banyak dibicarakan dalam dongeng-dongeng; ketika

mereka duduk di kanan-kirinya, Glorfindel, dan bahkan Gandalf, yang ia sangka sudah dikenalnya benar, baru tampak sebagai sosok-sosok berwibawa dan berkuasa.
Glorfindel tinggi dan tegap; rambutnya bercahaya keemasan, wajahnya indah dan muda, serta berani dan penuh kegembiraan; matanya tajam bersinar, dan suaranya bagai musik; di dahinya ada kebijakan, dan di tangannya ada kekuatan.
Wajah Elrond seolah tanpa usia, tidak muda maupun tua, meski di dalamnya terpancar ingatan kepada banyak hal, yang gembira maupun sedih. Rambutnya gelap seperti bayang-bayang senja, dan di kepalanya ada mahkota perak; matanya kelabu seperti senja yang bening, menyorotkan cahaya seperti cahaya bintang. Ia tampak patut dimuliakan sebagai raja yang sudah melewati banyak musim dingin, namun masih begitu kuat sebagai pejuang ulung dalam kekuatan sempurna- ia adalah Penguasa Rivendell, dan sangat hebat di antara kaum Peri maupun Manusia.
Di tengah meja, bersandar pada kain-kain tenunan di dinding, ada sebuah kursi di bawah kanopi, dan di sana duduk seorang wanita cantik; ia sangat mirip Elrond dalam bentuk wanita, sampai-sampai Frodo menduga ia salah seorang saudara dekatnya. Ia muda, tapi juga tidak muda. Kepang-kepang rambutnya berwarna gelap, tak tersentuh warna putih sedikit pun, lengannya putih, dan wajahnya bening mulus tanpa cacat, matanya menyimpan binar-binar cahaya bintang yang cerah, kelabu seperti malam tak berawan; ia seperti seorang ratu, tatapan matanya menyorotkan pengetahuan dan pemikiran, seolah ia tahu banyak hal yang sudah terjadi. Kepalanya tertutup topi renda perak bertabur batu-batu permata kecil, putih berkilauan; tapi pakaiannya yang lembut kelabu tidak ada hiasannya, kecuali sabuk dedaunan yang ditempa dari perak.
Begitulah, Frodo melihat sosok jelita yang belum banyak dilihat makhluk hidup lainnya; dialah Arwen, putri Elrond, yang konon begitu mirip dengan Luthien; dan ia dipanggil Undomiel, karena ia adalah Evenstar di antara bangsanya. Lama sekali ia tinggal di negeri sanak ibunya, di Lorien di balik pegunungan, dan baru saja kembali ke Rivendell, ke rumah ayahnya. Tetapi

saudara-saudaranya, Elladan dan Elrohir, sedang keluar bertugas: karena mereka sering naik kuda sampai jauh bersama para Penjaga Hutan Utara, tak pernah melupakan penderitaan ibu mereka di kandang para Orc.
Belum pernah Frodo melihat ataupun membayangkan dalam benaknya kecantikan sedemikian besar pada makhluk hidup; ia kaget dan malu, menyadari bahwa ia duduk di meja Elrond, di antara semua orang yang tinggi dan tampan itu. Meski mendapat kursi yang pas, dan duduk di atas beberapa bantal, ia masih merasa sangat kecil dan agak tidak serasi di lingkungan itu; tapi perasaan itu cepat berlalu. Pesta itu riang sekali, dan makanan yang tersedia cukup untuk memuaskan rasa laparnya. Baru beberapa saat kemudian ia mulai melihat sekeliling, atau berbicara pada orang-orang di sebelahnya.
Pertama-tama ia mencari kawan-kawannya. Sam sudah memohon agar diizinkan melayani majikannya, tapi ia diberitahu bahwa kali ini ia menjadi tamu kehormatan. Frodo bisa melihatnya sekarang, duduk bersama Pippin dan Merry di ujung salah satu meja dekat panggung. Ia tidak melihat Strider.
Di sebelah Frodo, di samping kanannya, duduk seorang kerdil yang tampak penting, berpakaian mewah. Jenggotnya sangat panjang dan bercabang- cabang, berwarna putih, hampir sama putihnya dengan Pakaiannya yang seputih salju. Ia memakai ikat pinggang perak, dan di sekeliling lehernya tergantung rantai perak dan berlian. Frodo berhenti makan untuk memandangnya.
"Selamat datang, dan selamat berjumpa!" kata orang kerdil itu, berbicara pada Frodo. Lalu ia bangkit berdiri dan membungkuk. "Gloin siap melayani Anda," katanya, dan ia membungkuk semakin dalam.
"Frodo Baggins, siap melayani Anda dan keluarga Anda," kata Frodo

dengan sopan, bangkit dengan kaget dan memberantakkan bantal-bantalnya. "Benarkah kau Gloin, salah satu dari dua belas pendamping Thorin Oakenshield yang agung?"
"Betul sekali," jawab orang kerdil itu, mengumpulkan bantal-bantal, dan dengan sopan membantu Frodo duduk kembali. "Dan aku tidak bertanya, karena aku sudah diberitahu bahwa kau adalah sanak dan ahli waris yang diadopsi oleh kawan kami Bilbo yang termasyhur. Izinkan aku memberi selamat atas

kesembuhanmu."

"Terima kasih banyak," kata Frodo.

"Kau mengalami petualangan-petualangan yang sangat aneh, kudengar," kata Gloin. "Aku sangat ingin tahu, apa yang membuat empat hobbit melakukan perjalanan sejauh ini. Belum ada kejadian seperti ini sejak Bilbo ikut kami. Tapi mungkin aku tidak pantas bertanya-tanya terlalu banyak, karena kelihatannya Elrond dan Gandalf tak ingin membicarakan ini."
"Mungkin kami tidak akan membahas ini, setidaknya belum sekarang," kata Frodo sopan. Ia menduga bahwa, bahkan di rumah Elrond, masalah Cincin ini bukanlah pokok pembicaraan yang santai; lagi pula, ia ingin melupakan kesulitan-kesulitannya untuk sementara waktu. "Tapi aku juga sama ingin tahunya, mengapa seorang Kurcaci sepenting dirimu sampai datang jauh-jauh dari Gunung Sunyi."
Gloin memandangnya. "Kalau kau belum dengar, kukira kita juga tak perlu membahas itu. Tak lama lagi Master Elrond akan memanggil kita semua, lalu kita akan mendengar banyak hal. Tapi banyak hal lain yang bisa diceritakan."
Sepanjang menyantap hidangan, mereka bercakap-cakap, tapi Frodo lebih banyak mendengarkan daripada berbicara; karena berita dari Shire, selain tentang Cincin, tampak kecil dan sangat jauh, dan tidak periling, sementara Gloin punya banyak cerita tentang kejadian-kejadian dan wilayah utara Belantara. Frodo diberitahu bahwa sekarang Grimbeorn the Old, putra Beorn, menjadi penguasa dari sejumlah manusia kekar, dan tidak ada Orc maupun serigala yang berani pergi ke negeri mereka, yang terletak di antara Pegunungan dan Mirkwood.
"Bahkan," kata Gloin, "kalau bukan karena bangsa Beorning, jalan dari Dale ke Rivendell sudah lama tak mungkin dilewati. Mereka gagah berani, dan menjaga agar High Pass dan Ford di Carrock tetap terbuka. Tapi cukai mereka tinggi," tambahnya sambil menggelengkan kepala; "dan seperti Beorn, sejak dulu mereka tidak begitu menyukai orang kerdil. Bagaimanapun, mereka bisa dipercaya, dan All cukup bagus untuk saat ini. Di mana pun tidak ada orang- orang yang seramah Manusia dari Dale. Bangsa Barding baik sekali. Mereka

diperintah oleh cucu Bard si Pemanah, Brand putra Bain putra Bard. Dia raja yang kuat, dan negerinya sekarang mencapai jauh ke selatan dan timur Esgaroth."
"Bagaimana tentang bangsamu sendiri?" tanya Frodo.

"Banyak yang bisa diceritakan, baik dan buruk," kata Gloin, "tapi kebanyakan bagus: sejauh ini kami beruntung, meski kami tak bisa melarikan diri dari kegelapan masa kini. Kalau kau benar-benar ingin mendengar tentang kami, aku akan menceritakannya dengan senang hati. Tapi hentikanlah aku-kalau kau lelah! Lidah para Kurcaci suka mengoceh terus kalau membahas kegiatan mereka sendiri, kata orang."
Dan dengan itu Gloin memulai cerita panjang-lebar tentang kegiatan di kerajaan Kurcaci. Ia senang menemukan pendengar yang begitu sopan; karena Frodo tidak menunjukkan tanda-tanda kejemuan dan tidak berusaha mengalihkan pokok pembicaraan, meski sebenarnya ia bingung mendengar nama-nama aneh orang-orang dan tempat yang belum pernah ia dengar. Meski begitu, ia sangat tertarik mendengar bahwa Dain masih menjadi Raja di Bawah Gunung, dan sekarang sudah tua (sudah lewat dua ratus lima puluh tahun), sangat mulia dan luar biasa kaya. Dari kesepuluh pendamping yang selamat dalam Pertempuran Lima Pasukan, tujuh orang masih bersamanya: Dwalin, Gloin, Dori, Nori, Bifur, Bofur, dan Bombur. Bombur sekarang gemuk sekali, sampai tak bisa berjalan dari sofa ke kursi di depan meja, dan butuh enam Kurcaci muda untuk mengangkatnya.
"Dan apa yang terjadi dengan Balm, Ori, dan Oin?" tanya Frodo.

Wajah Gloin tampak muram. "Kami tidak tahu," jawabnya. "Sebagian besar karena Balin-lah aku datang untuk meminta nasihat mereka Yang tinggal di Rivendell. Tapi malam ini mari kita bicarakan hal-hal Yang lebih menggembirakan!"
Gloin kemudian mulai membahas pekerjaan rakyatnya, menceritakan Pada Frodo tentang pekerjaan besar mereka di Lembah dan di bawah Gunung. "Kami sudah berhasil baik," katanya. "Tapi dalam karya logam, kami belum bisa menyaingi ayah-ayah kami, yang rahasia-rahasianya sudah banyak hilang. Kami

membuat baju baja bagus dan pedang-pedang tajam, tapi lempeng-lempeng baja dan mata pisau yang kami buat mutunya tidak lagi sebagus yang dulu dibuat sebelum kedatangan naga. Hanya dalam pertambangan dan pembangunan kami melampaui keberhasilan zaman dulu. Kau perlu melihat saluran-saluran air di Lembah, Frodo, juga air mancur, dan kolam-kolam! Kau harus melihat jalan berlapis batu berwarna-warni! Lorong-lorong serta jalan-jalan besar di bawah tanah, dengan lengkungan yang dipahat seperti pohon, dan teras-teras serta menara di lereng Gunung! Maka kau akan melihat bahwa kami tidak berdiam diri."
"Aku akan datang, kalau bisa," kata Frodo. "Bilbo pasti akan kaget melihat semua perubahan di Padang Gersang Smaug!"
Gloin memandang Frodo dan tersenyum. "Kau sangat sayang pada Bilbo, bukan?" tanyanya.
"Ya," jawab Frodo. "Aku lebih senang melihat dia daripada semua menara dan istana di dunia."


Akhirnya pesta itu selesai sudah. Elrond dan Arwen bangkit dan berjalan melewati aula, diikuti berurutan oleh seluruh rombongan. Pintu-pintu dibuka, mereka melewati selasar lebar serta pintu-pintu lain, dan masuk ke aula lain. Di dalamnya tidak ada meja-meja, tapi api menyala terang di sebuah perapian besar, di tengah-tengah tiang-tiang berukiran pada kedua sisinya.
Frodo berjalan bersama Gandalf. "Ini Aula Api," kata penyihir itu. "Di sini kau akan mendengar banyak nyanyian dan kisah kalau kau bisa tetap terjaga. Tapi, kecuali pada hari-hari raya, biasanya aula ini kosong dan sepi; orang-orang yang mengharapkan kedamaian dan ingin merenung datang ke sini. Di sini selalu ada api menyala, tapi hanya sedikit cahaya lain."
Saat Elrond masuk dan berjalan menuju kursi yang disiapkan untuknya, para Peri pemusik mulai memperdengarkan musik mereka yang indah. Lambat laun aula itu terisi penuh, dan Frodo dengan gembira memandang wajah-wajah yang berkumpul di sana; nyala api keemasan menyinari mereka dan berkilauan di rambut mereka. Mendadak, tidak jauh dari ujung api sebelah sana, ia melihat

sebuah sosok kecil gelap duduk di bangku, dengan punggung bersandar pada sebuah tiang. Di sebelahnya, di lantai, ada cangkir minuman dan sedikit roti. Frodo bertanya-tanya apakah orang itu sakit (kalau ada yang bisa sakit di Rivendell), dan tidak bisa menghadiri pesta tadi. Kepala orang itu tampak terkulai pada dadanya karena tertidur, do ujung jubahnya yang gelap menutupi wajahnya.
Elrond maju ke depan dan berdiri di samping sosok diam itu. "Bangun, Tuan kecil!" katanya dengan tersenyum. Lalu, sambil menoleh ke Frodo, ia memanggil. "Sekarang sudah tiba saat yang kaudambakan, Frodo," katanya. "Inilah sahabat yang sudah lama kaurindukan."
Sosok gelap itu mengangkat kepala dan memperlihatkan wajahnya. "Bilbo!" seru Frodo, mengenalinya tiba-tiba, dan ia melompat maju.
"Halo, Frodo, anakku!" kata Bilbo. "Jadi, akhirnya kau sampai juga di sini. Sudah kuharapkan kau akan berhasil. Wah, wah! Jadi, pesta pora ini untuk menghormatimu, begitulah yang kudengar. Kuharap kau menikmatinya?"
"Kenapa kau tidak hadir?" teriak Frodo. "Dan mengapa aku tidak diizinkan

bertemu denganmu sebelum ini?"
"Karena kau tidur. Aku sudah banyak melihatmu. Aku duduk di sampingmu bersama Sam setiap hari. Tapi tentang pesta, aku sudah tidak begitu senang pada keramaian seperti itu. Dan aku harus menyelesaikan pekerjaan lain."

"Apa yang sedang kaulakukan?"

"Yah, duduk dan berpikir. Aku banyak melakukan dua hal itu sekarang ini, dan inilah tempat terbaik bagiku untuk melakukannya. Bangun, yang benar saja!" kata Bilbo sambil melirik Elrond. Ada kilatan cerah di matanya, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda mengantuk di sana. "Bangun! Aku tidak tidur, Master Elrond. Kalau mau tahu, kalian semua terlalu cepat datang dari pesta, dan kalian mengganggu aku—saat aku tengah menciptakan sebuah lagu. Aku sedang buntu menyusun sebaris-dua baris dan sedang merenungkannya, tapi sekarang rasanya aku takkan pernah menemukan kalimat yang tepat. Sebentar lagi akan ada begitu banyak nyanyian, dan gagasan yang ada di kepalaku akan tersapu

bersih. Aku terpaksa minta bantuan sahabatku Dunadan. Di mana dia?"

Elrond tertawa. "Dia akan ditemukan," katanya. "Lalu kalian berdua akan pergi ke pojok dan menyelesaikan tugas kalian, kami akan mendengarkannya dan menilainya, sebelum kami mengakhiri pesta pora ini." Pelayan-pelayan disuruh mencari sahabat Bilbo, meski tak ada yang tahu di mana ia berada, atau mengapa ia tidak hadir di pesta itu.
Sementara itu, Frodo dan Bilbo duduk berdampingan. Sam datang dengan cepat, dan menempatkan dirinya di dekat mereka. Mereka berbicara dengan suara perlahan, tidak memedulikan keceriaan dan musik di sekitar mereka. Bilbo tidak banyak bercerita tentang dirinya sendiri. Ketika meninggalkan Hobbiton, ia berkelana tanpa tujuan, sepanjang Jalan atau di pedalaman di salah satu sisinya; tapi, entah bagaimana, sepanjang waktu itu pengembaraannya selalu mengarah ke Rivendell.
"Aku sampai di sini tanpa banyak petualangan," katanya, "dan setelah istirahat, aku pergi bersama para Kurcaci ke Lembah: perjalananku yang terakhir. Aku tidak akan melancong lagi. Balin Tua sudah pergi. Lalu aku kembali ke sini, dan di sinilah aku berada. Aku melakukan ini dan itu. Aku meneruskan menulis bukuku. Dan, tent, raja, aku menciptakan beberapa lagu. Mereka sesekali menyanyikannya: hanya untuk menyenangkan hatiku, kukira; karena, tentu saja, lagu-lagu itu kurang bagus untuk Rivendell. Aku mendengarkan dan berpikir. Di sini waktu seakan-akan tidak berlalu: waktu selalu ada. Sebuah tempat yang luar biasa. Aku mendengar segala macam berita, dari seberang Pegunungan, dan dari Selatan, tapi hampir tidak ada dari Shire. Tentu aku mendengar tentang Cincin. Gandalf sudah sering kemari. Tapi dia tidak banyak bercerita padaku; dia malah semakin tertutup beberapa tahun terakhir ini. Malah Dunadan lebih banyak bercerita. Bayangkan, Cincin-ku itu menimbulkan begitu banyak masalah! Sayang Gandalf tidak mengetahuinya lebih awal. Seharusnya aku bisa membawa sendiri benda itu ke sini, tanpa banyak kesulitan. Sering aku berpikir untuk kembali ke Hobbiton, mengambilnya: tapi aku sudah mulai tua, dan mereka tidak mengizinkan aku: maksudku, Gandalf dan Elrond. Mereka rupanya berpikir Musuh sedang mencariku di mana-mana, dan akan

mencincangku habis-habisan, kalau mereka menangkapku terhuyung-huyung berkeliaran di Belantara.
"Dan Gandalf mengatakan, 'Cincin sudah beralih tangan, Bilbo. Tidak akan membawa kebaikan bagimu atau yang lain, kalau kau berusaha mencampuri urusan itu lagi.' Komentar yang aneh, seperti biasanya Gandalf. Tapi dia bilang sedang mengawasimu, jadi kubiarkan saja. Aku sangat gembira melihatmu selamat dan what." ia berhenti dan menatap Frodo dengan ragu.
"Apakah kau membawanya?" tanya Bilbo sambil berbisik. "Mau tak mau aku ingin tahu, setelah semua yang kudengar. Aku sangat ingin melihatnya, sebentar saja."
"Ya, aku membawanya," jawab Frodo, sambil merasakan keengganan yang talc bisa_- dijelaskan. "Benda itu masih kelihatan sama seperti dulu."
"Yah, aku ingin melihatnya sebentar saja," kata Bilbo.

Tadi, ketika sedang berpakaian, Frodo menemukan bahwa sementara ia tidur, Cincin itu digantungkan di lehernya dengan rantai baru, ringan tapi kuat. Perlahan-lahan ia mengeluarkannya. Bilbo mengulurkan tangan, tapi Frodo dengan cepat menarik kembali Cincin itu. Dengan kaget dan sedih ia melihat bahwa ia tidak lagi memandang Bilbo; sebuah bayangan seolah jatuh di antara mereka, dan dari baliknya ia menyadari bahwa ia sedang menatap sebuah sosok keriput dengan wajah lapar dan tangan kurus menggapai. Frodo merasakan keinginan kuat untuk memukulnya.
Musik dan nyanyian di sekitar mereka seolah terputus-putus dan tiba-tiba sunyi. Bilbo melihat sejenak wajah Frodo, lalu menyeka matanya dengan tangan. "Aku mengerti sekarang," katanya. "Simpanlah! Aku menyesal: menyesal kau jadi menanggung beban ini: menyesal tentang segalanya. Apakah petualangan tak pernah berakhir? Kukira tidak. Selalu mesti ada orang lain yang melanjutkan kisahnya. Yah, apa boleh buat. Aku bertanya-tanya, apakah ada manfaatnya menyelesaikan bukuku? Tapi jangan kita cemaskan sekarang ayo kita dengarkan berita yang sebenarnya! Ceritakan semua tentang Shire!"


Frodo menyembunyikan Cincin-nya, dan bayangan itu lenyap tanpa

meninggalkan sedikit pun bekas dalam ingatan. Cahaya dan musik Rivendell kembali mengelilingi dirinya. Bilbo tersenyum dan tertawa bahagia. Setiap kabar tentang Shire yang bisa diceritakan Frodo-dibantu dan dibetulkan sewaktu-waktu oleh Sam-sangat menarik perhatiannya, mulai dari penebangan pohon kecil, sampai ulah nakal anak terkecil di Hobbiton. Mereka begitu asyik membahas peristiwa-peristiwa di Keempat Wilayah, sampai tidak memperhatikan kedatangan seorang prig berpakaian hijau tua. Selama beberapa menit ia berdiri menatap mereka sambil tersenyum.
Mendadak Bilbo menengadah. "Ah, akhirnya kau datang juga, Dunadan!" serunya.
"Strider!" kata Frodo. "Kelihatannya kau mempunyai banyak nama."

"Ya, Strider salah satu yang belum kudengar," kata Bilbo. "Kenapa kau memanggilnya begitu?"
"Mereka di Bree memanggilku dengan nama itu," kata Strider tertawa, "dan dengan nama itulah aku diperkenalkan padanya."
"Dan mengapa kau memanggilnya Dunadan?" tanya Frodo.

"Sang Dunadan," kata Bilbo. "Dia sering dipanggil demikian di sini. Tapi kukira kau cukup kenal bahasa Peri untuk setidaknya tahu arti dun-adan: Manusia dari Barat, Numenorean. Tapi sekarang bukan waktu untuk pelajaran!" Bilbo berbicara pada Strider. "Ke mana saja kau; sahabatku? Mengapa kau tidak hadir pada jamuan makan? Lady Arwen hadir di sana."
Strider memandang Bilbo dengan muram. "Aku tahu," katanya. Tapi sering aku harus mengesampingkan kegembiraan. Tak disangka-sangka, Elladan dan Elrohir sudah kembali dari Belantara, dan mereka membawa berita yang ingin segera kudengar."
"Nah, sahabatku yang baik," kata Bilbo, "kini kau sudah dengar beritanya, tidakkah kau bisa meluangkan waktu sejenak untukku? Aku butuh bantuanmu untuk sesuatu yang gawat. Elrond bilang laguku harus diselesaikan sebelum akhir senja ini, dan aku menemui kebuntuan. Ayo kita ke pojok dan menyelesaikannya!"
Strider tersenyum. "Ayolah!" katanya. "Perdengarkan padaku!" Frodo

ditinggal sendirian untuk sementara, karena Sam tertidur. Frodo merasa sendirian dan agak sedih, meski di sekelilingnya semua penduduk Rivendell berkumpul. Tapi yang ada di dekatnya diam, memperhatikan dengan saksama bunyi suara dan alat musik, dan mereka tidak memedulikan semua yang lain. Frodo mulai mendengarkan.
Pada mulanya, keindahan nada dan jalinan kata-kata dalam bahasa Peri itu memukaunya, meski ia hanya sedikit memahami. Kata-kata yang dinyanyikan itu seolah langsung mengambil bentuk, dan pemandangan negeri-negeri jauh dan hal-hal cerah yang belum pernah dibayangkannya terurai di depannya; aula yang disinari nyala api itu menjadi seperti kabut keemasan yang melayang di atas lautan buih yang mendesah di batas-batas dunia. Lain pesonanya makin seperti impian, hingga Frodo merasa seolah ada sungai tak berujung, penuh emas dan perak melimpah ruah, mengaliri dirinya, terlalu beragam polanya untuk bisa dipahami; ia menjadi bagian dari udara yang berdenyut di sekelilingnya, menenggelamkan dan membenamkannya. Dengan cepat Frodo terbenam di bawah bobotnya yang berkilauan, masuk ke dalam tidur lelap.
Di sana ia berkeliaran lama sekali dalam impian musik yang berubah menjadi air mengalir, lalu mendadak menjadi suatu suara. Rupanya suara Bilbo yang sedang menyanyikan sajak-sajak. Mula-mula perlahan, akhirnya semakin jelas kata-katanya.


Earendil seorang pelaut

yang berlama-lama di Arvernien; Membangun kapal dari batang kayu,
‘tuk melancong di Nimbrethil; layarnya dianyam dari perak indah, pun lenteranya dibuat dariperak, haluannya berbentuk angsa,
dengan umbul-umbul berkibar ringan. Dengan pakaian besi raja-raja kuno,

dan rantai cincin ia mempersenjatai diri;

perisainya yang kemilau penuh torehan lambang

‘tuk menangkis semua luka dan kejahatan; busurnya terbuat dari tanduk naga, panahnya dari kayu eboni
rompi tempurnya dari perak

sarung pedangnya dari batu manikam;

pedang bajanya gagah, topi bajanya tinggi kokoh,
bulu garuda pada puncaknya, batu zamrud pada dadanya.


Di bawah Bulan dan bintang

ia melancong jauh dari pantai-pantai utara, tertegun pada jalan-jalan yang memukau melewati masa negeri manusia,
dari kertakan Es Sempit

di mana kegelapan hinggap pada bukit-bukit membeku, dari bawah panas dan puing terbakar
ia kembali dengan tergesa, dan masih mengembara di lautan jauh dari berbintang
akhirnya tiba di Malam Ketiadan, dan melewati tanpa pernah melihat
pantai kemilau maupun cahaya yang dicarinya. Angin kemurkaan datang mendorongnya, dengan membta ia berpacu
dari barat ke timur, tanpa tujuan,

tanpa banyak cakap ia bergegas pulang.



Di sana Elwing berbang menemuinya,

dan cahaya api menyala dalam kegelapan;

lebih cerah daripada cahaya berlian api diikat kepalanya
Batu Silmaril dipasangnya pada Earendil dan memahkotainya dengan cahaya hidup lalu dengan berani dan semangat membara ia memutar haluan; dan di malam hari
dari Dunia Lain di seberang Laut badai kuat dan bebas kerkecamuk, angin kekuatan di Tarmenel;
pada jalan yang jarang dilalui manusia kapalnya tabah menjalani
seperti kekuatan maut di atas samudra kelabu dan sengsara yang sudah lama tak dijelajahi: dari timur ke barat ia pergi


Melalui Malam Abadi kembalilah ia

melintasi ombak hitam dan meraung yang melompat melewati wilayah gelap dan pantai-pantai terbenam yang sudah tenggelam sebelum Waktu berawal, sampai ia mendengar pada untaian mutiara
di ujung dunia nada-nada panjang,

di mana ombak-ombak berbuih mengalun mengaliri emas kuning dan permata memudar. Ia melihat Gunung menjulang sepi
di mana senja menggantung di atas lutut

Valinor, Eldamar

terlihat dari jauh di seberang samudra. Pengembara yang lolos dari malam hari ke pelabuhan putih akhirnya ia datang, ke rumah Peri nan hijau indah
di mana udara jernih, pucat bagai kaca

di bawah Bukit Ilmarin kemilau di lembah dalam menara bercahaya dari Tirion tercermin di Telaga Bayangan.


Di sana ia tinggal lama,

dan meraka mengajarinya nada-nada, kaum bijak tua menuturkan dongeng ajaib, dan harpa emas di bawah kepadanya.
Mereka memakaikan busana Peri putih kepadanya, dan tujuh cahaya dikirimkan di depannya,
saat ia pergi lewat Calacirian

ke negeri tersembunyi dengan hati sedih. Tibalah ia di ruang-ruang abadi
di mana tahun-tahun tak terhingga bercahaya,

dan Raja Bijak memerintah abadi di atas Gunung terjal Ilmarin;
dan kata-kata tak dikenal diucapkan kala itu tentang bangsa Manusia dan sanak Peri,
di sebrang dunia, di mana pemandangan nyata terlarang bagi mereka yang tinggal di sana


Sebuah kapal baru mereka bangun untuknya dari mithril dan kaca Peri
dengan haluan bercahaya, tanpa dayung terpotong atau layar pada tiang perak:
Silmaril bercahaya bagai lentera

dan bendera terang dengan nyala hidup yang berkilauan di atasnya
dipasang sendiri oleh Elbereth yang datang ke sana

dan membuat sayap-sayap keabadian untuknya, memberkatinya dengan kehidupan kekal,
untuk berlayar di langit tak berpantai menyusul Matahari dan sinar Bulan


Dari bukit-bukit tinggi Evereven

di mana air mancur memercik lembut

sayapnya membawanya, seberkas cahay berkelana, di luar Tembok Gunung yang perkasa.
Dari Ujung Dunia ia kembali,

mendamba ‘tuk menemukan

rumahnya nan jauh di seberang kegelapan, yang menyala seperti pulau bintang
tinggi di atas kabut ia datang,

bak nyala api jauh di depan Matahari, mukjizat sebelum fajar datang
di mana air kelabu sungai Norland mengalir.



Dan di atas Dunia Tengah ia berjalan hingga akhirnya mendengar tangisan sedih para wanita dan gadis-gadis Peri
di Zaman Peri, lama berselang.

Tapi takdir berat terbeban di pundaknya, sampai Bulan pudar dan bintang-bintang berlalu dan tak pernah lagi tinggal
di Pantai jauh tempat manusia berada; Selamanya menjadi pengembara dalam tugas yang tak pernah selesai
‘tuk membawa lampunya yang besinar sang Flammifer dari Westernesse.

Nyanyian itu berakhir. Frodo membuka matanya dan melihat bahwa Bilbo duduk di bangkunya, dikelilingi sekelompok pendengar yang tersenyum dan bertepuk tangan.
"Sekarang kita perlu mendengarnya lagi," kata seorang Peri.

Bilbo bangkit dan membungkuk. "Aku tersanjung, Lindir," katanya. "Tapi akan terlalu meletihkan kalau hams mengulanginya semua."
"Tidak meletihkan untukmu," para Peri menjawab sambil tertawa. "Kau

tahu kau tidak pernah jemu menyanyikan sajak-sajakmu sendiri. Tapi kami benar-benar tak bisa menjawab pertanyaanmu kalau hanya satu kali mendengar!"
"Apa!" teriak Bilbo. "Kau tidak bisa membedakan mana bagianku dan mana bagian Dunadan?"
"Tidak mudah bagi kami untuk mengetahui perbedaan antara dua manusia," kata Peri itu.
"Omong kosong, Lindir," dengus Bilbo. "Kalau kau tidak bisa

membedakan antara seorang Manusia dengan seorang Hobbit, maka penilaianmu lebih jelek daripada yang kubayangkan. Mereka berbeda sekali, seperti kacang polong dengan apel."
"Mungkin. Bagi seekor domba, domba lain pasti kelihatan berbeda," tawa Lindir. "Atau bagi penggembalanya. Tapi Manusia tidak menjadi bahan pelajaran kami. Kami punya tugas lain."
"Aku tidak akan berdebat denganmu," kata Bilbo. "Aku sudah mengantuk setelah begitu banyak musik dan bernyanyi. Aku akan membiarkan kalian menebak, kalau kalian mau."
Bilbo bangkit dan berjalan ke arah Frodo. "Nah, selesai sudah,'° katanya dengan suara pelan. "Lebih baik daripada dugaanku. Tidak sering aku diminta menyitir untuk kedua kali. Bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak akan berusaha menebak," kata Frodo sambil tersenyum.

"Tak perlu," kata Bilbo. "Sebenarnya semuanya hasil ciptaanku. Kecuali bahwa Aragorn bersikeras memasukkan batu hijau di dalam' nya. Dia tampaknya menganggap itu penting. Aku tidak tahu kenapa Selebihnya, dia menganggap

seluruhnya agak di luar kemampuanku, dan dia mengatakan bahwa kalau aku berani membuat sajak tentang Earendil di rumah Elrond, maka itu urusanku. Kupikir dia benar.'
"Aku tidak tahu," kata Frodo. "Menurutku cukup pas, meski aku tak bisa menjelaskannya. Aku setengah tertidur ketika kau memulai, dan tampaknya nyanyianmu seperti kelanjutan dari sesuatu yang kumimpikan. Aku tidak tahu kaulah yang sedang, berbicara, sampai hampir di akhirnya."
"Sulit sekali untuk tetap terjaga di sini, sampai kau terbiasa," kata Bilbo. "Hobbit tidak akan pernah tergila-gila pada musik, puisi, dan dongeng, seperti kaum Peri. Bagi mereka, ketiga hat itu sudah seperti makanan, atau bahkan lebih. Mereka masih akan berlama-lama menyanyi. Bagaimana kalu kita menyelinap pergi untuk bercakap-cakap dengan lebih tenang?"
"Bisakah'?" tanya Frodo.

"Tentu saja. Ini pesta pora, bukan masalah tugas. Datang dan pergilah sesukamu, selama kau tidak berisik."

Mereka bangkit dan diam-diam menyelinap ke dalam kegelapan, menuju pintu. Mereka meninggalkan Sam, yang tertidur telap masih dengan senyuman pada wajahnya. Meski Frodo senang berkumpul bersama Bilbo, ia merasa agak menyesal ketika mereka keluar dari Aula Api. Sementara mereka melewati ambang pintu, sebuah suara tunggal jernih muncul dalam nyanyian.


A Elbereth Gilthoniel, silivren penna miriel
o menel aglar elenath! Na-chaered palan-diriel
o galadhremmin ennorath, Fanuilos, le linnathon
nef aear, si nef aearon!



Frodo berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Elrond duduk di kursinya,

dan nyala api menyinari wajahnya, seperti cahaya musim Panas di atas pepohonan. Di dekatnya duduk Lady Arwen. Dengan heran Frodo melihat Aragorn berdiri di sebelahnya; jubahnya yang gelap tersingkap, dan ia tampak mengenakan baju be;si kaum Peri. sebuah bintang bersinar di dadanya. Mereka berbicara berdua, dan mendadak Frodo merasa Arwen menoleh ke arahnya, sinar matanya terarah pada sosoknya, dan menusuk hatinya.
Frodo berdiri terpukau, sementara suku-suku kata manis lagu bangsa Peri berjatuhan bagai permata jernih dari bauran kata dan irama. "Itu lagu memuja Elbereth," kata Bilbo. "Mereka akan menyanyikan itu, dan lagu-lagu lain dari Alam Berkah, sering sekali malam ini. Ayo!”
Bilbo menuntun Frodo ke kamarnya sendiri yang kecil Kamar itu membuka ke arah kebun, dan menghadap ke selatan, ke seberang rang Bruinen. Di sana mereka duduk sejenak, memandang ke luar jendela, ke bintang-bintang cerah di atas hutan-hutan yang meiijulang, dan berbicara perlahan. Mereka tidak lagi membicarakan kabar dari Shire yang jauh, tetapi tentang hal-hal indah yang mereka lihat bersama di dunia, tentang kaum Peri, tentang pepohonan, dan musim gugur yang lembut dalam tahun yang cerah di hutan.


Akhirnya terdengar ketukan di pintu. "Maaf," kata Sam, melongokkan kepalanya ke dalam, "tapi aku ingin tahu apakah Anda membutuhkan sesuatu."
"Maaf juga, Sam," jawab Bilbo. "Kukira maksudmu sudah waktunya majikanmu tidur."
"Well, Sir, kudengar besok pagi-pagi ada pertemuan Dewan, dan dia baru

hari ini bangun untuk pertama kalinya."

"Betul sekali, Sam," tawa Bilbo. "Kau bisa pergi dan mengatakan pada Gandalf bahwa Frodo sudah pergi tidur. Selamat malam, Frodo! Senang sekali bertemu denganmu lagi! Bagaimanapun, paling enak berbicara dengan hobbit. Aku sudah mulai tua sekali, dan aku tidak yakin masih akan hidup untuk menyaksikan bagianmu dalam kisah kita. Selamat malam! Aku akan berjalan- jalan, dan memandang bintang-bintang Elbereth di kebun. Tidurlah dengan nyenyak!"



BAB 2

DEWAN PENASIHAT ELROND



Keesokan harinya Frodo bangun pagi, merasa segar dan sehat. Ia berjalan sepanjang teras di atas Bruinen yang mengalir berisik, memperhatikan matahari yang sejuk dan pucat terbit di atas pegunungan jauh di sana, sinarnya jatuh miring melalui kabut tipis keperakan; embun berkilauan di atas dedaunan kuning, dan anyaman jaring labah-labah berkelip di setiap semak. Sam berjalan di sampingnya, tidak mengatakan apa pun, hanya menghirup udara, dan sesekali memandang dengan penuh keheranan ke ketinggian yang menjulang di Timur. Salju putih tampak di atas puncak-puncaknya.
Di bangku yang dipahat dari batu, di samping tikungan jalan, mereka bertemu dengan Gandalf dan Bilbo yang sedang asyik bercakap-cakap. "Halo! Selamat pagi!" kata Bilbo. "Sudah siap untuk rapat akbar?"
"Aku merasa siap untuk apa pun," jawab Frodo. "Tapi terlebih lagi aku

ingin berjalan kaki hari ini, menjelajahi lembah. Aku ingin masuk ke dalam hutan pinus di atas sana." ia menunjuk jauh ke atas, di sisi Rivendell sebelah utara.
"Mungkin nanti kau akan mendapat kesempatan," kata Gandalf. "Tapi kita belum bisa membuat rencana apa pun. Banyak yang harus didengar dan diputuskan hari ini."


Tiba-tiba, sementara mereka bercakap-cakap, terdengar dentang nyaring lonceng. "Itu lonceng panggilan untuk Rapat Dewan Penasihat Elrond," teriak Gandalf. "Ayo ikut sekarang! Baik kau maupun Bilbo ditunggu."
Frodo dan Bilbo mengikuti penyihir itu dengan cepat, melalui jalan berliku, kembali ke rumah; Sam berjalan cepat di belakang mereka, tidak diundang dan untuk sementara terlupakan.
Gandalf menuntun mereka ke teras di mana Frodo menemukan kawan- kawannya pada sore sebelumnya. Cahaya pagi musim gugur yang jernih sekarang bersinar di lembah. Air bergelembung naik dari dasar sungai yang berbuih. Burung-burung bernyanyi, dan kedamaian terasa di seluruh negeri. Bagi

Frodo, pelariannya yang penuh bahaya, dan desas-desus tentang kegelapan yang berkembang di dunia luar, sekarang terasa seperti kenangan sebuah mimpi buruk belaka; tetapi wajah-wajah yang menoleh menyambut mereka masuk, terlihat muram.
Elrond ada di sana, dan beberapa yang lain duduk diam di sekelilingnya. Frodo melihat Glorfindel dan Gloin; dan di sebuah pojok Strider duduk sendirian, memakai pakaian perjalanannya yang lama dan usang. Elrond menarik Frodo ke kursi di sampingnya, dan memperkenalkannya pada seluruh kelompok itu, sambil berkata,
"Inilah, kawan-kawanku, hobbit bernama Frodo, putra Drogo. Tidak banyak yang pernah datang kemari melalui bahaya yang lebih besar atau dengan urusan yang lebih gawat."
Lalu ia menunjuk dan menyebut nama mereka-mereka yang belum dijumpai Frodo. Ada Kurcaci di sisi Gloin: putranya, Gimli. Di sebelah Glorfindel ada beberapa penasihat rumah tangga Elrond, dengan Erestor sebagai ketuanya; dan bersamanya ada Galdor, seorang Peri dari Grey Havens yang datang sebagai utusan Cirdan the Shipwright, sang Pembuat Kapal. Ada juga seorang Peri asing berpakaian hijau dan cokelat, Legolas, utusan ayahnya, Thranduil, Raja bangsa Peri dari Mirkwood Utara. Dan duduk agak terpisah adalah pria jangkung berwajah tampan dan agung, berambut gelap dan bermata kelabu, angkuh dan tajam tatapannya.
Ia berjubah dan bersepatu bot, seperti untuk perjalanan naik kuda; meski pakaiannya mewah dan jubahnya berlapis bulu, namun tampak lusuh karena perjalanan jauh. Ia memakai kalung perak bertatahkan satu batu permata putih; rambutnya dipotong sebatas bahu. Ia membawa sebuah terompet besar berlapis perak, yang sekarang diletakkan di atas lututnya: ia menatap Frodo dan Bilbo dengan kagum.
"Ini," kata Elrond, menoleh pada Gandalf, "adalah Boromir, pria dari Selatan. Dia tiba di pagi kelabu, untuk meminta nasihat. Aku memintanya hadir, karena di sini pertanyaannya akan terjawab."

Tidak semua yang dibahas dan dibicarakan dalam Rapat Dewan perlu diceritakan. Banyak yang diungkapkan tentang peristiwa-peristiwa di dunia luar, terutama di Selatan, dan di negeri-negeri luas sebelah timur Pegunungan. Tentang hal-hal ini, Frodo sudah banyak mendengar selentingan; tapi kisah Gloin baru kali itu ia dengar, dan ketika orang kerdil itu berbicara, ia mendengarkan dengan cermat. Rupanya di tengah kehebatan karya mereka, hati para Kurcaci dari Gunung Sunyi sedang susah.
"Sudah lewat bertahun-tahun lalu," kata Gloin, "sejak bayangan kerisauan timbul dalam hati rakyat kami. Dari mana datangnya, pada awalnya kami tidak tahu. Kata-kata mulai dibisikkan secara rahasia: katanya kami terkurung dalam tempat sempit, dan bahwa kekayaan lebih besar dan hebat akan ditemukan di dunia yang lebih luas. Beberapa menyebut-nyebut Moria: karya hebat nenek moyang kami, yang dalam bahasa kami disebut Khazad-dum; dan mereka menyatakan bahwa sekarang setidaknya kami mempunyai kekuatan dan jumlah yang sesuai untuk kembali."
Gloin mengeluh. "Moria! Mori-a! Keajaiban dari dunia Utara! Terlalu dalam kami menggali di sana, dan membangunkan ketakutan yang tidak bernama. Lama sekali rumah-rumah besar di sana kosong, sejak anak-anak Durin melarikan diri. Tapi sekarang kami membicarakannya lagi dengan penuh kerinduan, namun juga den-an ketakutan; karena tak ada orang kerdil yang berani melewati pintu gerbang Khazad-dum selama pemerintahan sekian banyak raja, kecuali Thor, dan dia sudah mati. Akhirnya Balin mendengarkan juga bisikan-bisikan itu, dan memutuskan akan per-i; dan meski Dain tidak mengizinkannya dengan ikhlas, dia membawa serta Ori dan Oin serta banyak dari bangsa kami, dan mereka pergi ke selatan.
"Itu terjadi hampir tiga puluh tahun yang lalu. Untuk sementara, kami menerima kabar yang tampaknya bagus: laporan-laporan memberitakan bahwa Moria sudah dimasuki, dan pekerjaan besar sudah dimulai di sana. Lalu sunyi, dan tidak pernah ada kabar lagi dari Moria sejak itu.
"Kemudian, setahun yang lalu, seorang utusan datang ke Dain, tapi bukan dari Moria, melainkan dari Mordor: seorang penunggang kuda di malam hari,

yang memanggil Win ke gerbangnya. Lord Sauron Yang Perkasa, katanya, mengharapkan persahabatan kami. Untuk itu dia akan memberikan cincin-cincin, seperti dulu. Dan dia bertanya dengan mendesak tentang hobbit, jenis apa mereka, dan di mana mereka tinggal. 'Karena Sauron tahu,' katanya, 'bahwa salah seorang dari mereka dikenal oleh bangsa kalian.'
"Mendengar ini, kami sangat cemas, dan tidak memberikan jawaban. Lain dia merendahkan suaranya yang jahat, dan mungkin akan mempermanisnya kalau bisa. 'Sebagai bukti persahabatan kalian, Sauron meminta kalian menemukan pencuri ini,' begitu katanya, 'dan menambil darinya, dengan atau tanpa izinnya, sebuah cincin kecil, cincin paling kecil yang dicurinya dulu. Permintaan Sauron sangat sederhana, dan dengan memenuhinya, kalian bisa menunjukkan kesungguhan niat baik kalian. Temukan itu, dan tiga cincin yang dimiliki raja-raja Kurcaci sejak dulu akan dikembalikan pada kalian, wilayah Moria pun akan selamanya menjadi milik kalian. Carikan berita tentang pencuri itu, apakah dia masih hidup dan di mana, dan kalian akan menerima imbalan besar serta persahabatan abadi Sauron. Tolak permintaan ini, dan keadaan akan menjadi kurang baik. Apa kalian menolak?'
"Pada saat itu napasnya keluar seperti desis ular, dan semua yang berdiri di dekat situ menggigil, tapi Dain mengatakan, ‘Aku tidak mengatakan ya maupun tidak. Aku harus mempertimbangkan pesan ini, dan apa maksudnya, di balik selubungnya yang manis.
"'Pertimbangkan dengan baik, tapi jangan terlalu lama,' katanya. "'Lamanya aku berpikir adalah urusanku sendiri,' jawab Dain.
"'Untuk sementara,' katanya, lalu dia melaju pergi ke dalam kegelapan. "Hati pemimpin-pemimpin kami sejak malam itu terasa berat sekali. Kami
tak perlu mendengar suara jahat utusan itu untuk memperingatkan kami bahwa kata-katanya mengandung ancaman dan tipu daya; karena kami sudah tahu bahwa kekuatan yang masuk kembali ke Mordor belum berubah, dan selamanya akan mengkhianati kami, seperti dulu. Dua kali utusan itu datang kembali, dan pergi tanpa menerima jawaban. Kali ketiga dan terakhir akan segera datang, katanya, sebelum akhir tahun.

"Karena itulah aku akhirnya diutus oleh Dain untuk memperingatkan Bilbo bahwa dia dicari Musuh, dan untuk mengetahui, kalau boleh, mengapa dia menginginkan cincin ini, yang paling kecil dari keseluruhan cincin? Kami juga mendambakan nasihat Elrond. Karena Kegelapan semakin membesar dan semakin mendekat. Kami menemukan bahwa utusan-utusan juga datang ke Raja Brand di Dale, dan bahwa dia takut. Kami khawatir dia akan menyerah. Perang sudah mulai mengancam di perbatasannya di sebelah timur. Kalau kami tidak menjawab, mungkin Musuh akan menggerakkan Manusia di bawah kekuasaannya untuk menyerang Raja Brand, dan juga Dain."
"Tindakanmu datang kemari sudah tepat," kata Elrond. "Hari kau akan mendengar semua yang kaubutuhkan, agar memahami tujuan Musuh. Tidak ada yang bisa kaulakukan, selain menolak, dengan atau tanpa harapan. Tapi kau tidak sendirian. Kau akan tahu bahwa masa lalumu hanya sebagian dari masalah seluruh dunia barat. Cincin! Apa yang akan kita lakukan dengan Cincin, cincin terkecil, hal sepele yang diinginkan Sauron? Itulah malapetaka yang harus kita pertimbangkan.
"Itulah tujuan kalian semua dipanggil kemari. Dipanggil, kataku, meski aku tidak memanggil kalian, orang-orang asing dan negeri-negeri jauh. Kalian datang dan bertemu di sini, tepat pada waktunya, seolah karena kebetulan. Namun bukan begitu sebenarnya. Yakinlah bahwa sesungguhnya sudah diatur agar kitalah yang duduk di sini, bukan orang lain, untuk mencari penyelesaian bagi bahaya yang mengancam dunia.
"Karena itu, segala sesuatu yang sebelumnya dirahasiakan, kecuali pada beberapa orang, sekarang akan dibahas secara terbuka. Dan pertama-tama, agar semua yang hadir di sini bisa mengerti bahayanya, Kisah Cincin akan dipaparkan dari awal sampai masa sekarang ini. Aku yang akan memulainya, meski orang-orang lainlah yang akan mengakhirinya."


Semua mendengarkan, sementara Elrond, dengan suaranya yang jernih, membicarakan Sauron dan Cincin-Cincin Kekuasaan itu, serta pembuatannya di Zaman Kedua dunia, di masa yang sudah lama berlalu. Sebagian kisah ini sudah

dikenal beberapa yang hadir di sana, tapi kisah selengkapnya belum ada yang tahu. Semua mata menatap Elrond dengan takut dan heran ketika ia menceritakan tentang para pandai besi bangsa Peri dari Eregion dan persahabatan mereka dengan Moria, serta gairah mereka untuk menambah pengetahuan, yang dimanfaatkan Sauron untuk menjerat mereka. Waktu itu Sauron belum tampak jahat, maka mereka menerima bantuannya, dan menjadi sangat terampil dalam pekerjaan kriya, sementara Sauron mempelajari semua rahasia mereka, dan mengkhianati mereka, dan secara sembunyi-sembunyi menempa Cincin Utama-di Gunung Api untuk menjadi penguasa mereka. Tapi Celebrimbor tahu rahasia Sauron, dan menyembunyikan Tiga Cincin yang telah dibuatnya; maka perang pun berkobar, negeri itu dikosongkan, dan gerbang Moria ditutup.
Kemudian, selama bertahun-tahun Sauron menelusuri jejak Cincin itu; tapi kisah itu tidak akan diuraikan di sini, karena juga diceritakan di bagian lain, bahkan Elrond sendiri menuliskannya di dalam buku-buku dongengnya. Kisah itu panjang sekali, penuh perbuatan besar dan mengerikan, dan meski Elrond berbicara sangat singkat, tahu-tahu matahari sudah naik di langit, dan pagi itu lewat sebelum ceritanya selesai.
Ia membicarakan Numenor, keagungannya dan kejatuhannya, dan kembalinya Raja-Raja Manusia ke Dunia Tengah dari kedalaman Laut, menunggang sayap-sayap badai. Lalu Elendil si Jangkung dan putra-putranya yang hebat, Isildur dan Anarion, menjadi pangeran-pangeran agung; merekalah yang membangun wilayah Utara di Arnor, serta wilayah Selatan di Gondor, di atas mulut Anduin. Tapi Sauron dari Mordor menyerang mereka, dan mereka membentuk Persekutuan Terakhir Bangsa Peri dan Manusia, dan pasukan Gil- galad dan Elendil dikerahkan di Arnor.
Sampai di situ Elrond berhenti sejenak dan mendesah. "Aku ingat betul kecemerlangan bendera-bendera mereka," katanya. "Mengingatkanku pada kegemilangan Zaman Peri dan pasukan-pasukan Beleriand; begitu banyak pangeran dan kapten berkumpul. Meski begitu, tidak sebanyak atau sehebat ketika Thangorodrim dikalahkan, dan bangsa Peri menganggap kejahatan sudah

selamanya dihentikan, walau ternyata tidak begitu."

"Kau ingat?" kata Frodo, berbicara keras karena terkejutnya. "Kukira... kukira kejatuhan Gil-galad sudah berabad-abad yang lalu," katanya terbata-bata, ketika Elrond menoleh kepadanya.
"Memang begitu," jawab Elrond dengan khidmat. "Tapi ingatanku mencapai Zaman Peri dulu. Earendil adalah ayahku, yang lahir di Gondolin sebelum kejatuhannya; dan ibuku adalah Elwing, putri Dior, putra Luthien dari Doriath. Aku sudah menyaksikan tiga zaman di bagian Barat dunia; banyak kekalahan dan banyak kemenangan yang tidak berbuah.
"Aku adalah bentara Gil-galad dan berjalan bersama pasukannya. Aku hadir dalam Pertempuran di Dagorlad, yang berlangsung di depan Gerbang Hitam Mordor; kami lebih unggul, karena tak ada yang bisa melawan Tombak Gil-galad dan Pedang Elendil, Aiglos dan Narsil. Aku menyaksikan pertarungan terakhir di lereng-lereng Orodruin, di mana Gil-galad tewas, dan Elendil roboh, Narsil patah di bawahnya; tapi Sauron sendiri dikalahkan, dan Isildur memotong Cincin dari tangannya dengan pecahan pangkal pedang ayahnya, dan mengambilnya untuk dirinya sendiri." '
Tepat pada saat itu, si orang asing Boromir memotong pembicaraan. "Jadi, itulah yang terjadi dengan Cincin itu!" serunya. "Seandainya kisah ini pernah diceritakan di Selatan, pasti itu sudah lama dilupaka". Aku mendengar tentang Cincin Utama dari dia yang tidak kami sebutkan namanya; tapi kami percaya bahwa cincin itu sudah lenyap dari dunia, dalam kehancuran alam pertama. Isildur yang mengambilnya! Ini baru berita."
"Ya," kata Elrond. "Isildur mengambilnya, meski seharusnya tidak. Seharusnya dia membuang cincin itu, saat itu juga, ke dalam api Orodruin yang berada dekat tempat cincin itu dibuat. Tapi hanya sedikit yang memperhatikan perbuatan Isildur. Hanya dia seorang yang mendampingi ayahnya dalam pertarungan maut terakhir itu; dan yang mendampingi Gil-galad hanya Cirdan dan aku. Tapi Isildur tidak mau mendengarkan nasihat kami.
"'Cincin ini akan kusimpan sebagai pemanis kenangan akan ayahku, dan saudaraku,' katanya; maka, meski kami melarangnya, dia mengambilnya untuk

disimpan. Tapi tak lama kemudian dia dikhianati oleh cincin itu, sampai menemui ajalnya; maka itu di Utara cincin ini disebut Kutukan Isildur. Namun kematian barangkali lebih baik daripada nasib lain yang mungkin menimpanya.
"Hanya ke Utara berita ini menyebar, dan hanya pada beberapa orang. Maka tidak mengherankan bila kau belum pernah mendengar tentang ini, Boromir. Dari puing-puing Gladden Fields, tempat Isildur tewas, hanya tiga orang yang kembali melalui pegunungan, setelah lama berkeliaran. Salah satunya adalah Ohtar, panglima Isildur, yang membawa pecahan-pecahan pedang Elendil; dia membawanya pada Valandil, ahli waris Isildur yang tetap tinggal di Rivendell, karena masih kanak-kanak. Tapi Narsil sudah hancur dan cahayanya padam, dan belum ditempa kembali.
"Apakah tadi sudah kukatakan, bahwa kemenangan Persekutuan Terakhir itu tidak berbuah? Memang tidak sepenuhnya demikian, tapi juga tidak mencapai tujuannya. Sauron berhasil dihalau, tapi tidak dihancurkan. Cincinnya hilang, tapi tidak dimusnahkan. Menara Kegelapan hancur, tapi fondasi-fondasinya tidak dihilangkan; mereka dibangun dengan kekuatan Cincin, dan selama Cincin itu masih ada, mereka juga akan bertahan. Banyak Peri dan Manusia hebat, serta banyak kawan mereka, tewas dalam perang itu. Anarion tewas, juga Isildur tewas: Gil-galad dan Elendil sudah mati. Takkan pernah lagi ada persekutuan bangsa Peri dengan Manusia; karena Manusia berkembang biak dan kaum Peri berkurang, dan kedua bangsa itu saling terasing. Sejak saat itu, bangsa Numenor semakin hancur, dan masa hidup mereka semakin pendek.
Di Utara, setelah perang dan pembantaian di Gladden Fields, Orang- Orang W esternesse berkurang jumlahnya; kota mereka, Annuminas, yang terletak di samping Danau Evendim, hancur menjadi puing-puing; pewaris- pewaris Valandil pindah dan tinggal di Fornost, di dataran tinggi North Downs, dan itu pun sekarang sudah kosong. Orang-orang menyebutnya Tanggul Orang- orang Mati, dan mereka takut menginjakkan kaki di sana. Bangsa Arnor semakin menyusut, dilahap musuh mereka, dan raja-raja mereka meninggal, hanya menyisakan gundukan-gundukan hijau di bukit-bukit berumput.
"Di Selatan, kekuasaan Gondor bertahan lama; dan untuk sementara

waktu kegemilangannya berkembang, agak mengingatkan pada kejayaan Numenor sebelum jatuh. Menara-menara tinggi yang dibangun orang-orang, benteng-benteng kuat, pelabuhan untuk banyak kapal, dan mahkota bersayap dari Raja-Raja Manusia dikagumi bangsa dari berbagai bahasa. Ibu kota mereka adalah Osgiliath, yang berarti Benteng Bintang-Bintang, dan di tengahnya mengalir Sungai. Dan mereka membangun Minas Ithil, Menara Bulan Terbit, di sebelah timur, di bahu bukit Pegunungan Bayang-Bayang; di sebelah barat, di kaki pegunungan Putih, mereka membangun Minas Anor, Menara Matahari Terbenam. Di sana, di halaman istana Raja, tumbuh sebatang pohon putih, dari benih yang dibawa Isildur dari seberang lautan. Benih pohon itu sebelumnya berasal dari Eressea, dan sebelumnya lagi dari Wilayah Paling Barat, di Masa sebelum hitungan hari, ketika dunia masih muda.
"Tapi selama perjalanan tahun yang begitu cepat di Dunia Tengah, garis keturunan Meneldil, putra Anarion, gagal, dan Pohon itu layu, darah bangsa Numenor tercampur dengan manusia yang lebih rendah. Lalu penjagaan terhadap dinding-dinding Mordor terlena, dan makhluk-makhluk kegelapan merangkak kembali ke Gorgoroth. Suatu saat kejahatan mulai muncul, menduduki Minas Ithil dan tinggal di dalamnya, membuatnya menjadi tempat mengerikan, hingga menara itu disebut Minas Morgul, Menara Sihir. Lalu Minas Anor diberi nama baru Minas Tirith, Menara Penjagaan; kedua kota itu selalu berperang, tapi Osgiliath yang berada di tengahnya, menjadi kosong, dan di reruntuhannya bayang-bayang berkeliaran.
"Begitulah keadaannya sepanjang masa kehidupan banyak manusia. Tapi para Penguasa Minas Tirith masih terus berperang, menjaga lintasan dari Sungai, mulai dari Argonath sampai ke Lautan. Sekarang bagian kisah. yang kuceritakan sudah mendekati akhirnya. Karena di masa Isildur, Cincin Penguasa hilang tak diketahui rimbanya, dan Tiga Cincin lainnya dilepaskan. Tapi sekarang mereka kembali berada dalam bahaya, karena ternyata Cincin Utama sudah ditemukan. Biarlah orang-orang lain yang membicarakannya, sebab di situ peranku kecil saja."

Elrond berhenti, tapi Boromir langsung berdiri, tinggi dan angkuh di depan mereka. "Master Elrond," katanya. "Pertama-tama, izinkan aku menceritakan lebih banyak tentang Gondor, karena aku datang dari negeri Gondor. Dan akan baik bagi semua untuk mengetahui apa saja yang terjadi di sana. Sebab kurasa hanya sedikit yang tahu tentang perbuatan-perbuatan kami, dan tak menduga bahaya yang mengancam mereka, kalau kami akhirnya gagal.
"Jangan percaya bahwa di negeri Gondor darah Numenor dikucurkan sia- sia, juga bahwa kebanggaan dan kehormatannya sudah dilupakan. Berkat keberanian kami, bangsa-bangsa liar dari Timur masih bisa dikekang, dan teror dari Morgul ditangkis; hanya karena itulah kedamaian dan kebebasan bisa dipertahankan di negeri-negeri di belakang kami, benteng dunia Barat. Tapi kalau lintasan Sungai jatuh ke tangan mereka, apa akibatnya?
"Tapi barangkali saat itu takkan bisa dicegah lebih lama lagi. Musuh Tak Bernama sudah bangkit kembali. Asap mengepul lagi dari Orodruin, yang kami sebut Gunung Ajal. Kekuatan Negeri Hitam semakin berkembang dan kami dikepung. Ketika Musuh kembali, bangsa kami diusir dari Ithilien, wilayah kami yang indah di sebelah timur Sungai, meski kami mempunyai- benteng di sana, dan kekuatan senjata. Tapi tahun ini, di bulan Juni, perang mendadak menimpa kami dari Mordor, dan kami disapu habis. Kami kalah dalam jumlah, karena Mordor bersekutu dengan bangsa Easterling dan Haradrim yang kejam; tapi bukan karena jumlah kami kalah. Ada kekuatan di sana, yang sebelumnya tidak kami rasakan.
"Beberapa mengatakan kekuatan itu bisa dilihat, seperti sosok penunggang kuda hitam, bayang-bayang gelap di bawah bulan. Di mana pun dia datang, kegilaan menimpa musuh-musuh kami, tapi ketakutan menimpa orang- orang kami yang paling berani, sehingga kuda dan manusia menyerah dan lari. Hanya sisa kecil pasukan timur kami Yang kembali, menghancurkan jembatan terakhir yang masih berdiri di tengah reruntuhan Osgiliath.
"Aku berada dalam pasukan yang mempertahankan jembatan, sampai dihancurkan di belakang kami. Hanya empat yang selamat dengan berenang: kakakku dan aku, serta dua yang lain. Tapi kami masih bertempur,

mempertahankan semua pantai barat Anduin; dan mereka yang berlindung di belakang kami memuji-muji kalau mendengar llama kami: banyak pujian, tapi sedikit bantuan. Sekarang hanya dari Rohan masih ada yang mau datang kalau kami panggil.
"Dalam masa berbahaya ini, aku datang kepada Elrond dengan membawa pesan, menempuh jarak jauh penuh bahaya: seratus sepuluh hari aku berjalan sendirian. Tapi aku tidak mencari sekutu untuk berperang. Konon kehebatan Elrond bukan dalam senjata, melainkan dalam kebijaksanaan. Aku datang untuk meminta nasihat dan pengungkapan arti kata-kata keras. Karena pada malam sebelum serangan mendadak itu, kakakku mendapat mimpi selagi tidur gelisah; dan setelah itu, mimpi yang sama sering datang lagi kepadanya, dan satu kali kepadaku.
"Dalam mimpi itu, aku merasa langit timur menjadi gelap, dan ada petir yang sernakin keras, tapi di Barat sebuah cahaya pucat menggantung, dan dari sana aku mendengar suara, jauh tapi jelas, meneriakkan:


Carilah Pedang yang sudah patah: Di Imladris ia berada;
Mesti diambil langkah-langkah

Yang lebih ampuh daripada

Morgul dan mantra-mantranya

Akan ada suatu tanda

Bahwa Ajal sudah di depan mata,

Kar'na Kutukan Isildur akan terjaga, Dan makhluk Hobbit akan maju ke muka.


Kami tak memahami kata-kata ini, dan kami bicara pada ayah kami, Denethor, Penguasa Minas Tirith, yang ahli dalam adat-istiadat Gondor. Dia hanya bisa mengatakan bahwa Imladris adalah nama yang pada zaman dahulu, di antara bangsa Peri, menunjukkan rumah tempat tinggal Elrond sang Setengah Peri, yang terbesar di antara para ahli pengetahuan. Maka kakakku, yang

melihat betapa mendesaknya kebutuhan kami, berniat menanyakan arti mimpi itu di Imladris; tapi karena jalanan yang mesti ditempuh penuh bahaya dan kera- guan, maka aku sendirilah yang pergi. Ayahku enggan sekali mengizinkan, dan sudah lama aku menempuh jalan-jalan yang telah lama dilupakan, mencari rumah Elrond yang sudah banyak didengar orang, tapi hanya sedikit yang tahu letaknya."


"Dan di sini, di rumah Elrond, kau akan mendapatkan penjelasan lebih banyak," kata Aragorn sambil bangkit berdiri. Ia melemparkan pedangnya ke atas meja di depan Elrond, dan mata pedangnya ternyata terbelah dua. "Inilah Pedang Patah itu!" katanya.
"Siapa kau ini, dan apa urusanmu dengan Minas Tirith?" tanya Boromir, memandang penuh keheranan wajah kurus sang Penjaga Hutan, dan jubahnya yang lusuh penuh noda.
"Dia Aragorn, putra Arathorn," kata Elrond, "dan dia keturunan dari banyak

ayah dari Isildur, putra Elendil dari Minas Ithil. Dia Kepala Dunedain di Utara, dan

hanya sedikit yang sekarang tersisa dari bangsa itu.”

"Kalau begitu, cincin itu milikmu, dan bukan milikku sama sekali!" seru Frodo den-an kaget, melompat berdiri, seolah mengharapkan Cincin itu akan segera dituntut darinya.
"Cincin itu bukan milik salah satu dari kita!" kata Aragorn, "tapi, sudah ditakdirkan kau yang memegangnya untuk sementara."
"Keluarkan Cincin itu, Frodo!" kata Gandalf dengan khidmat. "Saatnya

sudah datang. Angkatlah tinggi-tinggi, maka Boromir akan memahami akhir teka- tekinya."


Mendadak suasana sepi, dan semua menoleh ke arah Frodo. Frodo terguncang oleh rasa malu dan ketakutan yang tiba-tiba; ia merasa enggan sekali mengeluarkan Cincin itu, dan tak ingin menyentuhnya. Ia berharap berada di tempat yang jauh dari sana. Cincin itu berkilauan dan berkelip ketika ia memegangnya di depan mereka dengan tangannya yang gemetar.

"Lihatlah Kutukan Isildur!" kata Elrond.

Mata Boromir bersinar-sinar ketika menatap cincin emas itu. "Hobbit!" ia bergumam. "Apakah akhirnya ajal Minas Tirith sudah datang? Tapi, kalau begitu, mengapa kami harus mencari pedang patah itu?"
"Bukan Ajal Minas Tirith yang disebutkan dalam mimpi itu," kata Aragorn. "Tapi ajal dan perbuatan besar memang akan terjadi. Karena Pedang Patah itu adalah pedang Elendil yang patah di bawahnya ketika dia jatuh. Pedang itu disimpan dengan hati-hati oleh pewaris-pewarisnya, ketika semua peninggalan lain hilang; karena di antara kami sudah sejak dulu direncanakan agar pedang itu diperbaiki lagi, saat Cincin yang menjadi Kutukan Isildur telah ditemukan kembali. Sekarang, setelah melihat Pedang yang kaucari, apa yang mau kautanyakan? Apakah kau mengharapkan Rumah Elendil kembali ke Negeri Gondor?"
"Aku bukan dikirim untuk meminta anugerah, hanya untuk mencari tahu art, sebuah teka-teki," jawab Boromir angkuh. "Meski begitu, kami sangat terdesak, dan Pedang Elendil akan merupakan bantuan yang tak disangka- sangka—kalau benda semacam itu memang bisa kembali dari bayangan masa lalu." ia menatap Aragorn lagi, matanya menyorotkan keraguan.
Frodo merasa Bilbo bergerak gelisah di sampingnya. Rupanya ia merasa tersinggung demi kawannya. Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan berkata:


Emas belum tentu gemerlap,

Tak semua pengembara tersesat;

Yang tua tapi kokoh akan bertahan tetap,

Akar yang tertanam dalam akan bertahan kuat. Dari abu akan menyala api,
Dari bayangan akan muncul cahaya;

Mata pisau yang patah akan diperbaharui:

Yang tidak bermahkota 'kan kembali menjadi raja.



"Mungkin tidak begitu bagus, tapi tepat pada sasaran-kalau kau butuh

lebih dari kata-kata Elrond. Kalau itu sebanding dengan perjalanan seratus sepuluh hari untuk didengar, sebaiknya kaudengarkan." Bilbo duduk kembali sambil mendengus.
"Aku sendiri yang mengarang itu," bisiknya pada Frodo, "untuk Dunadan, sudah lama berselang, ketika dia pertama kali menceritakan tentang dirinya padaku. Aku hampir mengharap petualanganku belum berakhir, dan bahwa aku bisa pergi bersamanya bila saatnya tiba."
Aragorn tersenyum padanya, lalu menoleh lagi pada Boromir. "Aku memaafkan keraguanmu," katanya. "Aku sama sekali tidak mirip sosok-sosok Elendil dan Isildur yang terukir dalam keagungan mereka di aula di Denethor. Aku hanyalah pewaris Isildur, bukan Isildur sendiri. Aku sudah mengalami hidup panjang dan keras; dan jarak yang terbentang dari sini sampai ke Gondor hanyalah sebagian kecil dari jumlah perjalananku yang sangat besar. Aku sudah banyak melintasi pegunungan dan sungai, dan menginjak banyak padang, bahkan ke dalam negeri-negeri jauh seperti Rhun dan Harad, yang bintang- bintangnya terlihat asing.
"Tapi rumahku sekarang adalah di Utara. Di sanalah pewaris-pewaris Valandil tinggal, dalam garis keturunan yang tidak terputus, dari ayah sampai putra, selama banyak generasi. Masa kami telah menggelap, dan jumlah kami sudah menyusut; tapi Pedang sudah beralih ke tangan yang baru. Dan kukatakan ini padamu, Boromir, sebelum aku mengakhiri. Kami adalah orang- orang kesepian, para Penjaga Hutan dari belantara, pemburu-selamanya menjadi pemburu anak buah Musuh; karena mereka bisa ditemukan di banyak tempat, bukan hanya di Mordor.
"Bila Gondor sudah berperan sebagai menara pendukung, kami pun sudah memainkan peran lain. Banyak sekali kejahatan yang tak bisa ditahan oleh dindingmu yang kuat dan pedangmu yang cemerlang. Van hanya tahu sedikit sekali tentang negeri-negeri di luar batas negerimu. Kedamaian dan kebebasan, katamu? Utara tidak akan mengenalnya kalau bukan karena kami. Ketakutan sudah akan menghancurkan mereka. Tapi bila hal-hal gelap datang dari bukit-bukit tak bertuan, atau merangkak keluar dari hutan-hutan gelap,

mereka lari bila kami dekati. Jalanan-jalanan mana yang berani diinjak orang, keamanan apa yang ada di negeri-negeri tenang, atau di rumah-rumah orang- orang sederhana di malam hari, kalau kaum Dunedain tidur, atau semua sudah masuk kuburan?
"Meski begitu, kami menerima lebih sedikit ucapan terima kasih daripadamu. Pelancong-pelancong merengut melihat kami, dan penduduk berbagai negeri memberi kami sebutan hina. 'Strider' begitu aku dipanggil oleh seorang lelaki gemuk yang tinggal hanya satu hari perjalanan jaraknya dari musuh yang bisa membekukan jantungnya, atau menghancurkan kotanya yang kecil, kalau dia tidak dijaga tak putus-putus. Namun kami tak ingin lain dari itu. Kalau orang-orang sederhana bebas dari keresahan dan ketakutan, maka mereka akan tetap bersahaja, dan kami perlu bekerja diam-diam agar mereka tetap begitu. Itulah tugas bangsaku, sementara tahun-tahun berlalu dan rumput semakin tinggi.
"Tapi kini dunia berubah lagi. Zaman baru telah menjelang. Kutukan Isildur ditemukan. Pertempuran sudah dekat. Pedang akan ditempa kembali. Aku akan datang ke Minas Tirith."
"Kutukan Isildur sudah ditemukan, katamu," kata Boromir. "Aku sudah melihat cincin gemerlap di tangan hobbit itu; tapi Isildur sudah mati sebelum awal abad ini, kata orang. Bagaimana para Bijak tahu bahwa inilah cincinnya? Dan bagaimana cincin ini bisa berpindah-pindah tangan selama bertahun-tahun, sampai dibawa kemari oleh utusan yang begitu aneh?"
"Itu akan diceritakan," kata Elrond.

"Tapi jangan dulu, kumohon, Master!" kata Bilbo. "Sekarang sudah tengah hari, dan aku merasa perlu memperkuat diriku."
"Aku belum menyebut-nyebut dirimu," kata Elrond sambil tersenyum. "Tapi sekarang aku akan menyebutmu. Ayo! Ceritakan kisahmu. Dan kalau kau belum menuangkan kisah ini ke dalam sajak, kau boleh menceritakannya dengan kata-kata biasa. Semakin singkat, semakin eepat kau bisa menyegarkan
diri."

"Baiklah," kata Bilbo. "Akan kulakukan. Tapi sekarang aku akan

menceritakan kisah yang sebenarnya, dan kalau di sini ada yang pernah mendengar aku menceritakannya lain"—ia melirik Gloin—"kuminta mereka melupakannya dan memaafkan aku. Dulu aku hanya ingin mengakui cincin itu sebagai milikku, dan terhindar dari sebutan pencuri yang diberikan padaku. Tapi mungkin sekarang pemahamanku sudah lebih baik. Pokoknya, inilah yang terjadi."


Bagi beberapa yang hadir di sana, kisah Bilbo sama sekali bani, dan mereka mendengarkan dengan kagum sementara hobbit tua itu, bukan tanpa perasaan senang, menceritakan petualangannya dengan Gollum secara lengkap. Tak satu pun teka-tekinya ketinggalan. Bahkan ia juga akan menceritakan selengkapnya tentang pesta dan lenyapnya dirinya dari Shire, kalau diizinkan, tapi Elrond mengangkat tangannya.
"Bagus sekali, kawanku," katanya, "tapi itu sudah cukup untuk saat ini. Untuk sementara, cukup diketahui bahwa Cincin sudah beralih ke tangan Frodo, pewarismu. Biarkan dia sekarang berbicara!"
Dengan tidak terlalu bergairah seperti Bilbo, Frodo menceritakan semua kejadian sejak Cincin itu beralih ke tangannya. Setiap langkah perjalanannya dari Hobbiton sampai ke Ford di Bruinen dipertanyakan dan dipertimbangkan, dan semua yang bisa diingatnya tentang Penunggang Hitam diteliti. Akhirnya ia duduk kembali.
"Lumayan," kata Bilbo padanya. "Kau sebenarnya bisa menceritakan kisah bagus, kalau saja mereka tidak terus-terusan memotongmu. Aku mencoba membuat beberapa catatan, tapi kita harus memeriksanya bersama suatu waktu, kalau aku berniat menuliskannya. Banyak sekali bahan cerita untuk mengisi bab- bab sebelum kau sampai di sini!"
"Ya, memang kisah yang cukup panjang," jawab Frodo. ."Tapi cerita ini masih belum lengkap bagiku. Aku masih ingin tahu banyak, terutama tentang Gandalf."


Galdor dari Havens, yang duduk di dekatnya, mendengar perkataan Frodo. "Aku

juga punya keinginan sama," serunya, dan sambil menoleh ke Elrond ia berkata, "Para Bijak mungkin punya alasan baik untuk percaya bahwa harta yang dibawa hobbit ini memang Cincin Utama yang diperebutkan itu, meski kelihatannya tak mungkin bag, mereka yang hanya tahu sedikit. Tapi bolehkah kita mendengar bukti-buktinya? Selain itu, ada hal lain yang ingin kutanyakan. Bagaimana dengan Saruman? Dia pakar dalam hal pengetahuan tentang Cincin-Cincin itu, namun dia tidak hadir di antara kita. Apa nasihatnya! kalau dia tahu hal-hal yang kita dengar di sini'?"
"Pertanyaan-pertanyaanmu, Galdor, saling berhubungan," kata Elrond. "Aku bukan melupakannya, dan pertanyaan itu akan dijawab. Tapi hal-hal ini adalah bagian Gandalf, dan aku akan memanggilnya paling akhir, karena itu tempat kehormatan, dan dalam seluruh masalah ini dia menjadi pemimpinnya."
Gandalf berkata, "Galdor, ada orang-orang yang akan menganggap berita-berita dari Gloin, dan pengejaran Frodo, sudah merupakan bukti cukup bahwa harta itu merupakan benda yang sangat berharga bagi Musuh. Tapi harta itu hanyalah sebuah cincin. Jadi, bagaimana? Yang Sembilan disimpan kaum Nazgul. Yang Tujuh sudah diambil atau dihancurkan." Mendengar ini Gloin bergerak, tapi tidak berbicara. "Yang Tiga kita ketahui keberadaannya. Jadi, apa sebabnya yang satu ini begitu didambakan Musuh?
"Memang ada tenggang waktu lama yang hilang antara Sungai dan Gunung, antara kehilangan dan ditemukannya lagi. Tapi kekosongan dalam pengetahuan para Bijak akhirnya sudah terisi. Namun terlalu lamban. Karena Musuh sudah dekat di belakang, lebih dekat daripada yang kukhawatirkan. Dan untunglah baru tahun-ini, musim panas ini, Musuh mengetahui kebenaran selengkapnya.
"Beberapa yang hadir di sini tentunya ingat bahwa bertahun-tahun yang lalu, aku sendiri berani melewati gerbang si ahli nujum di Dol Guldur, dan diam- diam menyelidiki sepak terjangnya. Akhirnya kutemukan bahwa kekhawatiran kita memang benar: dia tak lain dari Sauron, Musuh kita sejak dulu, yang akhirnya mengambil bentuk dan mempunyai kekuatan lagi. Beberapa juga masih ingat bahwa Saruman membujuk kami untuk tidak melakukan tindakan terbuka

melawan Sauron, dan untuk waktu lama kami hanya memperhatikannya. Tapi akhirnya, ketika bayang-bayangnya semakin membesar, Saruman menyerah. Dewan mengeluarkan kekuatannya dan mengusir kejahatan dari Mirkwood—dan itu terjadi dalam tahun ditemukannya Cincin ini: kebetulan yang sangat aneh, kalau itu suatu kebetulan.
"Tapi kami sudah terlambat, seperti sudah diduga Elrond. Sauron juga sudah mengamati kami, dan sudah lama mempersiapkan diri terhadap serangan kami. Dia memerintah Mordor dari jauh, melalui Minas Morgul, di mana Sembilan anak buahnya tinggal, sampai semuanya siap. Lalu dia mundur di depan kami, tapi hanya berpura-pura melarikan diri, dan tak lama kemudian dia datang ke Menara Gelap, dan menyatakan dirinya secara terbuka. Lalu, untuk terakhir kalinya, Dewan mengadakan rapat; karena sekarang kami sudah tahu bahwa dia den-an gigih sedang mencari Cincin Utama. Saat itu kami khawatir dia sudah mendengar kabar yang belum kami ketahui. Tapi Saruman mengatakan tidak, dan mengulang apa yang sebelumnya dikatakannya pada kami: bahwa Cincin Utama takkan pernah ditemukan lagi di Dunia Tengah.
"'Seburuk-buruknya,' katanya, 'Musuh kita tahu kita tidak memilikinya, dan bahwa Cincin itu masih hilang. Tapi apa yang hilang masih mungkin ditemukan, begitu pikirnya. Jangan cemas! Harapannya akan menipunya. Bukankah aku sudah mempelajari hal ini dengan cermat? Cincin itu jatuh ke dalam Sungai Besar Anduin; dan lama berselang, ketika Sauron tidur, cincin itu mengalir dari Sungai, masuk ke Laut. Biarkan dia di sana, sampai Akhir-nya tiba."'


Gandalf terdiam, sambil memandang ke timur dari beranda, ke puncak-puncak Pegunungan Berkabut yang sudah sekian lama menyembunyikan bahaya yang mengancam dunia di dalam akar-akarnya yang besar. Ia mengeluh.
"Di situlah aku membuat kesalahan," katanya. "Aku terlena oleh kata-kata Saruman sang Bijak; kalau aku lebih cepat mencari tahu kebenarannya, bahaya yang kita hadapi sekarang tentu tidak sebesar ini."
"Kita semua bersalah," kata Elrond, "dan kalau bukan berkat penjagaanmu, Kegelapan mungkin sudah menguasai kita sekarang. Teruskan!"

"Sejak awal hatiku kurang tentram, melawan segala alasan yang kuketahui," kata Gandalf, "dan aku ingin tahu, bagaimana benda ini bisa sampai ke tangan Gollum, dan sudah berapa lama dia memilikinya. Maka aku mengintainya, menduga tak lama lagi dia akan keluar dari kegelapan untuk mencari hartanya. Dia keluar, tapi dia lolos dan tak ditemukan. Lalu... ah! Aku membiarkan masalah ini, hanya memperhatikan dan menunggu, seperti yang sudah terlalu sering kita lakukan.
"Waktu berlalu dengan membawa banyak masalah, sampai keraguanku bangkit dengan ketakutan tiba-tiba. Dari mana datangnya cincin hobbit itu? Apa yang harus dilakukan dengannya, kalau kecemasanku benar? Hal-hal itu perlu kuputuskan. Tapi aku belum membicarakan kekhawatiranku dengan siapa pun, karena menyadari bahayanya membisikkan sesuatu sebelum waktunya, apalagi kalau bisikan itu sampai tersebar. Dalam semua perang panjang dengan Menara Kegelapan, pengkhianatan selalu menjadi musuh terbesar kita.
"Itu tujuh belas tahun yang lalu. Segera aku menyadari bahwa mata-mata dari segala jenis, bahkan burung dan binatang, berkumpul di sekitar Shire, dan ketakutanku semakin bertambah. Aku meminta pertolongan bangsa Dunedain, dan penjagaan mereka digandakan; dan aku membuka hatiku kepada Aragorn, pewaris Isildur."
"Dan aku," kata Aragorn, "menasihati agar kami mencari Gollum, meski tampaknya sudah terlambat. Dan karena kuanggap pantas kalau pewaris Isildur memperbaiki kesalahan Isildur, maka aku pergi bersama Gandalf dalam pencarian panjang dan tanpa harapan."
Lalu Gandalf menceritakan bagaimana mereka menjelajahi seluruh Belantara, bahkan sampai ke Pegunungan Bayang-Bayang dan pagar-pagar Mordor. "Di sana kami menangkap selentingan tentang dia, dan kami menduga cukup lama dia tinggal di perbukitan gelap itu; tapi kami tak pernah menemukannya, dan akhirnya aku putus asa. Lalu dari keputusasaanku aku ingat sebuah ujian yang mungkin membuat kami tak perlu meneruskan mencari Gollum. Cincin itu sendiri mungkin akan menceritakan, apakah dia yang Utama. Ingatan akan pembicaraan di Dewan terlintas lagi dalam pikiranku: kata-kata

Saruman, yang hanya setengah diperhatikan saat itu. Kata-kata itu terngiang jelas di telingaku.
"'Yang Sembilan, Yang Tujuh, dan yang Tiga,' katanya, 'semua mempunyai permata yang serasi. Tapi Yang Utama tidak demikian. Yang Utama bentuknya bulat, tidak berhias, seperti cincin biasa; tapi pembuatnya menorehkan lambang-lambang di atasnya, yang mungkin bisa dilihat dan dibaca para ahli.'
"Apa lambangnya, dia tidak cerita. Jadi, siapa yang tahu? Pembuatnya. Dan Saruman? Meski pengetahuannya sangat luas, pasti ada sumbernya. Tangan siapa selain Sauron yang pernah memegang benda ini, sebelum hilang? Hanya tangan Isildur. '
"Dengan pikiran itu, aku membatalkan pengejaran, dan secepatnya pergi ke Gondor. Di masa lalu, anak buah kelompokku diterima baik di sana, tapi terutama Saruman yang paling disambut baik. Sering dia menjadi tamu para bangsawan di Kota itu. Penyambutan Lord Denethor terhadapku kurang begitu ramah, tidak seperti dulu, dan dengan menggerutu dia membolehkan aku mencari di antara timbunan gulungan surat-surat dan buku-bukunya.
"'Kalau seperti katamu, kau hanya mencari laporan-laporan zaman kuno dan awal mula Kota ini, silakan!' katanya. 'Karena bagiku yang sudah terjadi lebih jelas daripada apa yang akan datang, dan itulah yang penting bagiku. Tapi kalau kau tidak punya keterampilan lebih besar daripada Saruman yang sudah lama belajar di sini, kau tidak bakal menemukan apa pun yang belum diketahui olehku, pakar pengetahuan Kota ini.'
"Begitulah kata Denethor. Namun dalam tumpukannya banyak terdapat catatan yang hanya sedikit orang bisa membacanya. termasuk para pakar pengetahuan, karena tulisan dan bahasa mereka sudah tak dikenal manusia sesudahnya. Dan Boromir, di Minas Tirith kuduga masih ada sebuah gulungan surat yang dibuat oleh Isildur sendiri, yang belum dibaca siapa pun kecuali Saruman dan aku sendiri sejak kejatuhan raja-raja. Karena Isildur tidak langsung pergi dari perang di Mordor, seperti yang diceritakan beberapa orang."
"Mungkin beberapa di Utara," potong Boromir. "Yang kami ketahui di

Gondor adalah bahwa dia mula-mula pergi ke Minas Anor, tinggal bersama keponakannya, Meneldil, untuk beberapa lama, mengajarinya, sebelum menyerahkan padanya kepemimpinan Kerajaan Selatan. Di masa itu dia menanam di sana anak pohon terakhir dari Pohon Putih, sebagai kenangan kepada kakaknya."
"Tapi pada masa itu dia juga membuat surat ini," kata Gandalf, "dan itu tidak diingat di Gondor, rupanya. Karena surat ini mengenai Cincin, dan Isildur menulis di dalamnya:
Cincin Utama sekarang akan menjadi pusaka di Kerajaan Utara; tapi catatan tentang ini akan ditinggal di Gondor, di mana tinggal keturunan Elendil, kalau-kalau suatu saat nanti ingatan tentang peristiwa-peristiwa besar ini mulai memudar.
"Dan setelah kata-kata ini, Isildur menguraikan tentang Cincin yang ditemukannya.
Panas sekali ketika aku mengambilnya, panas bagai api, dun tanganku

terbakar, hingga aku ragu apakah aku akan pernah terbebas dari rasa sakitnya. Tapi, sementara aku menulis, cincin itu sudah agak dingin, dan seolah menyusut, meski tidak kehilangan keindahan maupun bentuknya. Tulisan di atasnya, yang mula-mula jelas seperti nyala api merah, sudah mengabur dan sekarang hampir tak bisa dibaca. Tulisan itu dibuat dalam tulisan Peri dari Eregion, karena mereka di Mordor tak punya huruf untuk pekerjaan halus seperti itu; tapi bahasanya tidak kukenal. Kuduga itu bahasa Negeri Hitam, karena keji dan kasar. Kekejian apa yang terkandung di dalamnya, aku tidak tahu; tapi di sini aku menyalinnya agar jangan hilang dari ingatan. Mungkin Cincin itu kehilangan kehangatan tangan Sauron, yang hitam tapi menyala bagai api, dan begitulah Gil-galad dihancurkan; dan mungkin kalau emasnya dipanasi lagi, tulisannya akan diperbaharui. Tapi aku sendiri tak mau mengambil resiko dengan mencederai cincin ini: dari semua karya Sauron, hanya ini yang paling indah. Benda ini berharga bagiku, meski aku membelinya dengan kepedihan besar.


"Ketika membaca kata-kata ini, pencarianku berakhir. Karena tulisan yang

ditorehkan itu memang seperti yang diduga Isildur, dalam bahasa Mordor dan para pelayan Menara. Dan apa yang dikatakan di dalamnya sudah diketahui. Karena pada hari Sauron pertama kali memakainya, Celebrimbor, pembuat Tiga Cincin, menyadari hal itu, dan dari jauh dia mendengar Sauron mengucapkan kata-kata itu, dengan demikian menyingkap tujuan jahatnya.
"Segera aku minta diri pada Denethor, tapi ketika aku pergi ke utara, berita-berita datang dari Lorien bahwa Aragorn sudah lewat sana, dan sudah menemukan makhluk bernama Gollum. Maka itu aku lebih dulu menemuinya dan mendengarkan ceritanya. Tak berani aku menduga-duga, bahaya maut apa yang ditembusnya sendirian."
"Tak perlu menceritakan itu," kata Aragorn. "Kalau seseorang sampai perlu berjalan di depan Gerbang Hitam, atau menginjak bunga-bunga maut Morgul Vale, pasti dia akan melalui bahaya besar. Aku juga akhirnya putus asa, dan mulai berjalan pulang. Kebetulan aku tiba-tiba menemukan apa yang kucari: jejak kaki lembut di samping kolam berlumpur. Tapi sekarang jejak itu segar dan cepat, dan tidak menuju Mordor, tapi menjauh dari sana. Sepanjang tepi Rawa- Rawa Mati aku mengikutinya, lalu menangkapnya. Bersembunyi dekat sebuah telaga menggenang, menatap ke dalam air saat senja gelap turun, aku menangkapnya, Gollum. Dia tertutup lumpur hijau. Dia takkan pernah menyukaiku, rasanya; karena dia menggigitku, dan aku tidak bersikap lembut. Tak ada lagi yang kuperoleh dari mulutnya, kecuali bekas gigitannya. Menurutku itu bagian terburuk dari perjalananku, perjalanan kembali sambil mengawasinya siang-malam, membuatnya berjalan di depanku dengan tali leher pada tengkuknya, disumpal mulutnya, sampai dia jadi jinak karena kelaparan dan kehausan, sambil terus mendorongnya ke arah Mirkwood. Akhirnya aku berhasil membawanya ke sana dan memberikannya pada kaum Peri, karena kami sudah sepakat akan melakukan itu; dan aku senang bisa lepas dari dia, karena dia bau. Aku akan senang kalau tak perlu melihatnya lagi; tapi Gandalf datang dan bercakap-cakap lama dengannya."
"Ya, percakapan panjang dan melelahkan," kata Gandalf, "tapi ada hasilnya. Salah satunya, kisah yang dia ceritakan tentang kehilangan cincinnya

cocok dengan yang diceritakan Bilbo untuk pertama kali secara terbuka; tapi itu tidak begitu penting, karena aku sudah men_ duganya. Tapi pertama-tama aku jadi tahu bahwa cincin Gollum ke luar dari Sungai dekat ke Gladden Fields. Dan aku juga jadi tahu bahwa Gollum sudah lama sekali memilikinya. Amat sangat lama. Kekuatan Cincin itu sudah memperpanjang umurnya, jauh melewati jangka hidupnya; tapi kekuatan semacam itu hanya dipunyai Cincin-Cincin Besar.
"Dan kalau itu belum cukup untuk bukti, Galdor, ada ujian yang kusebutkan tadi. Pada cincin ini, yang kalian semua sudah lihat tadi, bulat dan tanpa hiasan, huruf-huruf yang dilaporkan Isildur masih bisa dibaca, kalau kita mempunyai kemauan kuat untuk memasukkan benda emas ini sebentar ke dalam api. Itu sudah kulakukan, dan inilah yang kubaca:
Ash nazg durbatuluk, ash nazg gimbatul, ash nazg thrakatuluk agh burzum-ishi krimpatul.”


Perubahan dalam suara penyihir itu sangat mengagetkan. Mendadak ia terdengar mengancam, berwibawa, dan keras seperti batu. Matahari yang sudah tinggi seakan tertutup bayang-bayang, dan teras sejenak menjadi gelap. Semua gemetar, para Peri menutup telinga.
"Belum pernah ada yang berani mengucapkan kata-kata dalam bahasa itu di Imladris, Gandalf si Kelabu," kata Elrond, ketika bayang-bayang itu berlalu dan rombongan itu bisa bernapas lagi.
"Dan mudah-mudahan tidak akan ada lagi yang mengucapkannya di sini," jawab Gandalf. "Bagaimanapun, aku tidak akan minta maaf, Master Elrond. Sebab kalau bahasa itu tidak segera terdengar di setiap penjuru Barat, maka biarlah semua melepaskan keraguan bahwa benda ini memang yang dinyatakan oleh para Bijak: harta sang Musuh, penuh dengan semua kebenciannya; dan di dalamnya tersimpan sebagian besar kekuatannya sejak dulu. Dari Tahun-Tahun Hitam, datang kata-kata.yang didengar para pandai besi dari Eregion, dan mereka tahu mereka sudah dikhianati:
Satu Cincin 'tuk menguasai mereka semua, Satu Cincin 'tuk menemukan mereka semua, Satu Cincin 'tuk membawa mereka semua dan mengikat mereka dalam

Kegelapan.



"Ketahuilah juga, kawan-kawanku, bahwa aku mendengar lebih banyak lagi dari Gollum. Dia enggan berbicara, dan kisahnya tidak jelas, tapi tak bisa diragukan lagi, dia memang pergi ke Mordor, dan di sana dia dipaksa mengungkapkan semua yang diketahuinya. Jadi, Musuh tahu bahwa Cincin Utama sudah ditemukan, bahwa dia lama berada di Shire; dan karena anak buahnya sudah mengejarnya hampir sampai ke pintu kita, dia akan segera tahu, atau sudah tahu, bahkan saat aku berbicara sekarang, bahwa Cincin itu ada di sini."


Semua duduk diam beberapa saat, sampai akhirnya Boromir berbicara. "Dia makhluk kecil, katamu, si Gollum ini? Kecil tapi kenakalannya besar. Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana kau menghukum dia?"
"Dia dipenjara, tapi tidak lebih buruk daripada itu," kata Aragorn. "Dia

sudah banyak menderita. Tak diragukan lagi, dia sengsara, dan rasa takut pada Sauron menggantung berat di hatinya. Bagaimanapun, aku senang dia dijaga dengan baik oleh kaum Peri yang waspada di Mirkwood. Kejahatannya besar sekali, dan memberinya kekuatan tak terbayangkan dalam dirinya yang begitu kurus dan layu. Dia masih bisa banyak berbuat jahat, seandainya dia bebas. Dan aku tidak ragu dia diizinkan meninggalkan Mordor karena diberi tugas jahat."
"Aduh! Aduh!" seru Legolas, wajahnya yang tampan menunjukkan ekspresi sedih. "Kabar yang harus kusampaikan mesti diceritakan sekarang. Bukan kabar baik, tapi baru di sini aku tahu betapa jelek kabar ml bagi kami semua di sini. Smeagol, yang sekarang dipanggil Gollum, sudah melarikan diri."
"Lari?" seru Aragorn. "Itu benar-benar kabar buruk. Kami semua akan menyesalinya. Bagaimana mungkin bangsa Thranduil gagal dalam tugas mereka?"
"Bukan karena kurang waspada," kata Legolas, "tapi mungkin karena terlalu baik hati. Dan kami khawatir tahanan kami mendapat bantuan dari pihak lain, dan bahwa kegiatan kami lebih banyak diketahui daripada semestinya. Kami

menjaga makhluk ini siang-malam, atas permintaan Gandalf, meski kami sangat lelah karena tugas ini. Tapi Gandalf meminta kami tetap menunggu dia sembuh, dan kami tak sampai hati menahannya terus di ruang bawah tanah, di mana dia akan tenggelam lagi dalam pikiran-pikiran gelapnya yang lama."
"Kalian tidak selembut itu terhadapku," kata Gloin dengan kilatan marah di matanya, ketika teringat kembali akan penahanannya di tempat-tempat dalam di aula raja-raja Peri.
"Sudahlah!" kata Gandalf. "Tolong jangan memotong, Gloin-ku yang

budiman. Kesalahpahaman itu patut disesalkan, tapi sudah lama dibetulkan. Kalau semua dendam antara bangsa Peri dan Kurcaci akan dikemukakan di sini, sebaiknya kita hentikan saja Rapat Akbar Dewan ini."
Gloin bangkit berdiri dan membungkuk, dan Legolas melanjutkan ceritanya. "Kalau cuaca sedang bagus, kami menuntun Gollum ke dalam hutan; ada pohon tinggi agak terpisah dari yang lain, yang suka dipanjatnya. Sering kami membiarkannya memanjat dahan-dahan tertinggi, sampai dia bisa. merasakan tiupan angin; tapi kami menempatkan penjaga di kaki pohon. Suatu hari dia menolak turun, dan para penjaga tak mau memanjat mengejarnya, sebab dia sudah mahir berpegangan erat pada dahan-dahan dengan kaki dan tangannya; maka mereka duduk di bawah pohon sampai jauh malam.
"Tepat pada malam musim panas itu, yang tanpa bulan dan bintang, sekelompok Orc mendadak menyerang kami. Kami berhasil memukul mundur mereka setelah beberapa saat; jumlah mereka banyak dan mereka garang, tapi mereka datang dari seberang pegunungan, dan tidak terbiasa dengan hutan. Ketika pertempuran selesai, kami menemukan Gollum sudah hilang, para penjaganya dibunuh atau ditawan. Baru jelas bagi kami bahwa penyerangan itu adalah untuk membebaskan Gollum, dan bahwa dia sudah tahu itu sebelumnya. Bagaimana itu direncanakan, kami tak bisa perkirakan; tapi Gollum memang cerdik, dan mata-mata Musuh banyak sekali. Makhluk-makhluk kegelapan yang diusir dalam tahun kejatuhan Naga sudah kembali dalam jumlah lebih besar, dan Mirkwood sudah menjadi tempat buruk lagi, kecuali di wilayah kami.
"Kami gagal menangkap kembali Gollum. Kami menemukan jejaknya di

antara jejak kaki rombongan Orc, masuk jauh sekali ke dalam Forest, ke arah selatan. Tapi tak lama kemudian jejaknya melampaui kemampuan kami, dan kami tidak berani melanjutkan perburuan; karena kami sudah mendekati Doi Guldur, dan itu masih merupakan tempat jahat; kami tidak pernah pergi ke sana." "Hm, jadi dia sudah pergi," kata Gandalf. "Kita tak punya waktu untuk mencarinya lagi. Biarkan dia berbuat semaunya. Mungkin nanti dia akan memainkan peran entah apa, yang tidak diketahui oleh dirinya sendiri maupun
oleh Sauron.

"Dan sekarang aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Galdor yang lain. Bagaimana dengan Saruman? Apa nasihatnya pada kita tentang masalah ini? Kisah ini harus kuceritakan lengkap, karena baru Elrond yang mendengarnya, itu pun secara singkat saja, tapi cerita ini sangat berpengaruh pada semua yang harus kita pecahkan. Ini bab terakhir dalam Kisah Cincin, sejauh yang sudah berjalan.


“Di akhir Juni, aku berada di Shire, tapi hatiku berat oleh kecemasan besar. Aku pun naik kuda ke perbatasan selatan negeri kecil itu, karena aku mendapat firasat ada bahaya yang masih tersembunyi bagiku, tapi sudah semakin dekat. Di sana aku mendapat kabar tentang perang dan kekalahan di Gondor, dan ketika mendengar tentang Bayangan Hitam, jantungku didera kedinginan membeku. Tapi aku tidak menemukan apa pun kecuali beberapa pelarian dari Selatan: kulihat ada ketakutan dalam hati mereka, yang tak mau mereka ungkapkan. Saat itu aku membelok ke timur dan utara, dan berjalan sepanjang Greenway; tidak jauh dari Bree, aku bertemu seorang pelancong yang duduk di tebing pinggir jalan, den-an kudanya makan rumput di sampingnya. Dia adalah Radagast si Cokelat, yang pernah tingal di Rhosgobel, dekat perbatasan Mirkwood. Dia salah satu dari kelompokku, tapi-aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya.
“’Gandalf!' teriaknya. 'Aku sedang mencarimu. Tapi aku asing di wilayah ini. Aku hanya tahu kau bisa ditemukan di suatu wilavah belantara dengan nama yang kurang bagus, Shire.'
"'Informasimu benar,' kataku. 'Tapi jangan bicara seperti itu, kalau kau

bertemu penduduknya. Kau berada dekat perbatasan Shire sekarang. Dan apa yang kauinginkan denganku? Pasti mendesak. Kau tidak pernah melancong, kecuali kalau terdorong kebutuhan mendesak.'
"'Memang ada masalah penting,' katanya. 'Beritaku buruk.' Lalu dia melihat sekeliling, seolah pagar-pagar di situ punya telinga. 'Nazgul,' bisiknya.
'Kelompok Sembilan sudah mengembara lagi. Diam-diam mereka sudah melintasi Sungai, dan sedang bergerak ke barat. Mereka menyamar sebagai Penunggang Hitam.'
"Saat itu tahulah aku apa yang kucemaskan di bawah sadarku.

"'Musuh pasti punya tujuan atau maksud penting,' kata Radagast, tapi apa yang membuatnya mencari ke daerah yang begitu terasing dan kosong, aku tidak tahu.'
"’Apa maksudmu?' kataku.

Aku diberitahu bahwa ke mana pun mereka pergi, para Penunggang itu menanyakan kabar tentang negeri yang disebut Shire.'
"'Shire,' kataku: tapi semangatku merosot. Sebab para Bijak pun mungkin akan cemas untuk bertahan melawan Kelompok Sembilan, bila mereka berkumpul di bawah pemimpin mereka yang kejam. Dulu dia seorang raja dan penyihir agung, dan kini dia menimbulkan ketakutan besar. 'Siapa yang menceritakan itu padamu, dan siapa yang mengirimmu?'
"'Saruman si Putih,' jawab Radagast. 'Dan dia mengatakan bahwa bila kau merasa perlu, dia akan membantumu; tapi kau harus segera mencari pertolongannya, kalau tidak mungkin sudah terlambat.'
"Pesan itu membawa harapan bagiku. Karena Saruman si Putih adalah

yang terbesar dari kelompokku. Memang Radagast juga seorang Penyihir terhormat, ahli dalam bentuk dan perubahan warna; dia punya banyak pengetahuan tentang tanaman dan hewan, dan terutama burung adalah sahabatnya. Tapi Saruman sudah lama mempelajari keterampilan Musuh sendiri, karena itulah kami sering mampu mencegahnya. Melalui peralatan yang dibuat Saruman, kami mengusirnya dari Dol Guldur. Mungkin dia sudah menemukan senjata yang bisa memukul mundur Kelompok Sembilan.

"'Aku akan pergi ke Saruman,' kataku.

"'Kalau begitu, kau harus pergi sekarang,' kata Radagast, 'karena aku sudah membuang-buang waktu mencarimu, dan hari-hari sudah semakin pendek. Aku disuruh menemukanmu sebelum Pertengahan Musim Panas, dan sekarang sudah Pertengahan Musim Panas. Kalaupun kau berangkat dari tempat ini, mungkin Kelompok Sembilan sudah menemukan negeri yang mereka cari sebelum kau sempat bertemu Saruman. Aku sendiri akan segera pulang.' Lalu dia naik ke kudanya dan sudah akan langsung pergi.
"'Tunggu sebentar!' kataku. 'Kami akan membutuhkan pertolonganmu, dan pertolongan semua makhluk yang mau memberikannya. Kirimlah pesan pada semua hewan dan burung yang menjadi sahabatmu. Katakan pada mereka untuk membawa semua kabar tentang masalah ini kepada Saruman dan Gandalf. Biarkan pesan-pesan dikirimkan ke Orthanc.'
"'Akan' kulakukan,' katanya, dan dia melaju pergi, bagai dikejar Kelompok

Sembilan.



"Aku tak bisa mengejarnya langsung. Aku sudah berjalan jauh hari itu, dan sudah lelah seperti kudaku; aku juga perlu mempertimbangkan keadaan. Maka malam itu aku menginap di Bree, dan memutuskan bahwa aku tak punya waktu untuk kembali ke Shire. Belum pernah aku membuat kesalahan yang lebih besar!
"Aku menulis pesan pada Frodo, dan menitipkannya pada temanku si pemilik penginapan. Aku pergi saat fajar, dan akhirnya tiba di tempat tinggal Saruman. Dia tinggal jauh di selatan, di Isengard, di ujung Pegunungan Berkabut, tidak jauh dari Celah Rohan. Boromir akan menceritakan bahwa ada lembah Was terbuka yang terletak di antara Pegunungan Berkabut dan kaki perbukitan paling utara dari Ered Nimrais, Pegunungan Putih dari kampung halamannya. Tetapi Isengard merupakan lingkaran batu karang terjal yang mengurung sebuah lembah seperti dinding, dan di tengah lembah itu ada menara batu yang dinamakan Orthanc. Menara itu bukan dibuat Saruman, tapi oleh Orang-Orang Numenor lama berselang; menara itu tinggi sekali dan banyak rahasianya, namun tidak kelihatan seperti karya kriya. Dia tak bisa didekati,

kecuali dengan mengelilingi lingkaran Isengard; dan dalam lingkaran itu hanya ada satu gerbang.
"Larut senja aku sampai di gerbang itu, yang bentuknya seperti lengkungan besar dalam dinding batu karang, dan dijaga ketat. Tetapi para penjaga gerbang sudah mengetahui kedatanganku, dan mengatakan Saruman sudah menungguku. Aku melaju di bawah lengkungan, dan gerbang itu tertutup tanpa suara di belakangku. Mendadak aku merasa takut, meski aku tidak tahu sebabnya.
"Aku melaju sampai ke kaki Orthanc, dan sampai ke tangga Saruman; di sana dia menemuiku, dan menuntunku sampai ke kamarnya, tinggi di atas. Dia memakai sebentuk cincin di jarinya.
"'Jadi, akhirnya kau datang, Gandalf,' katanya padaku dengan khidmat;
tapi di matanya seolah ada cahaya putih, seakan-akan di hatinya ada tawa dingin.

"'Ya, aku datang,' kataku. 'Aku datang untuk meminta bantuanmu, Saruman si Putih.' Rupanya gelar itu membuatnya marah.
"'Begitukah. Gandalf si Kelabu!' ejeknya. 'Kau minta bantuan? Jarang terdengar bahwa Gandalf si Kelabu mencari bantuan.. Gandalf yang begitu cerdik dan bijak, mengembara di seluruh negeri, dan mencampuri semua urusan, baik urusannya sendiri maupun bukan.'
"Aku menatapnya dan merasa heran. 'Kalau aku tidak salah,' kataku,

'keadaan saat ini mengharuskan kita semua menyatukan kekuatan.'

"'Mungkin memang begitu,' katanya, 'tapi pikiran itu muncul terlambat sekali dalam benakmu. Sudah berapa lama kausembunyikan dariku, ketua Dewan, suatu masalah yang sangat penting? Apa yang sekarang membawamu dari tempat persembunyianmu di Shire?T
'"Kelompok Sembilan sudah muncul lagi,' jawabku. 'Mereka sudah melintasi Sungai. Begitulah yang dikatakan Radagast padaku.'
"'Radagast si Cokelat!' tawa Saruman, tidak menyembunyikan lagi cemoohannya. 'Radagast sang Penjinak Burung! Radagast yang Bersahaja! Radagast yang Tolol! Meski begitu, dia masih punya akal untuk memainkan

peran yang kutugaskan padanya. Karena akhirnya kau datang, dan itu saja maksud pesanku. Di sinilah kau akan tinggal, Gandalf si Kelabu, dan berhenti melancong. Karena aku adalah Saruman yang Bijak, Saruman pembuat Cincin, Saruman yang Berwarna Banyak!'
"Saat itu aku memandangnya dan melihat jubahnya, yang semula tampak putih, ternyata tidaklah putih, melainkan teranyam dari semua warna. Bila dia bergerak, jubahnya berkilauan dan berganti nuansa, hingga membingungkan
mata.

'" Aku lebih suka putih,' kataku.

"'Putih!' dia mengejek. 'Itu hanya untuk permulaan. Kain putih bisa diberi warna. Halaman putih bisa ditulis ulang; dan cahaya putih bisa dipecahkan.'
'"Kalau begitu, dia tidak putih lagi,' kataku. 'Dan orang yang memecah sesuatu untuk mencari tahu apa yang ada di dalamnya, berarti sudah meninggalkan jalan kebijakan.'
"'Jangan bicara padaku seperti kepada salah satu temanmu yang bodoh,'

katanya. 'Aku membawamu kemari bukan untuk memerintahku, tapi untuk memberimu pilihan.'
"Lalu dia bangkit berdiri dan mulai berdeklamasi, seolah menucapkan pidato yang sudah lama dilatihnya. "Zaman Peri sudah lewat. Hari-Hari Pertengahan sedang berlalu. Masa-masa Lebih Baru akan dimulai. Masa kaum Peri sudah lewat, tapi masa kita sudah dekat: dunia Manusia, yang harus Kita perintah. Tapi kita harus mempunyai kekuatan, kekuatan untuk memerintah semuanya sekehendak kita, demi kebaikan yang hanya bisa dilihat kaum Bijak.
"'Dan dengarlah, Gandalf, teman dan rekan lamaku!' katanya sambil mendekat dan berbicara lebih perlahan. 'Kukatakan kita, karena kekuasaan itu bisa kita pegang bersama, kalau kau mau bergabung denganku. Kekuatan Baru sedang bangkit. Menghadapinya, semua sekutu dan kebijaksanaan lama sama sekali tidak bermanfaat bagi kita. Tak ada harapan kepada bangsa Peri atau Numenor yang sedang sekarat. Inilah pilihan yang ada di depanmu, di depan kita. Kita bergabung dengan Kekuatan itu. Itu pilihan yang bijak, Gandalf. Dengan demikian, ada harapan. Kemenangannya sudah dekat, dan akan ada

imbalan besar bagi mereka yang membantunya. Sementara Kekuatan itu tumbuh, mereka yang terbukti sebagai sahabat-sahabatnya juga akan tumbuh; dan kaum Bijak, seperti kau dan aku, dengan kesabaran akhirnya akan bisa mengendalikannya, mengarahkannya. Kita bisa menunggu waktu kita, kita bisa menyimpan pikiran-pikiran kita dalam hati, mungkin menyesali beberapa kejahatan yang dilakukan dalam prosesnya, tapi menyetujui tujuan tertinggi dan terutama: Pengetahuan, Hukum, Ketertiban; semua hal yang sejauh ini sia-sia kita upayakan, karena lebih banyak dihambat daripada dibantu oleh teman- teman yang lemah atau bermalas-malasan. Tak perlu ada, dan tak akan ada, perubahan nyata dalam rencana kita, yang berubah hanya cara-cara kita.'
"'Saruman,' kataku, 'aku sudah pernah mendengar pidato semacam ini, tapi hanya dari mulut utusan-utusan Mordor, untuk menipu mereka-mereka yang tidak tahu. Aku tak habis pikir bahwa kau membuatku datang sejauh ini hanya untuk melelahkan telingaku.'
"Dia melirikku, dan berhenti sebentar untuk mempertimbangkan. 'Rupanya kau belum berniat memilih arah yang bijak ini,' katanya. 'Belum? Belum kalau ada cara lebih baik yang bisa ditemukan?'
"Dia mendekatiku dan meletakkan tangannya yang panjang di lenganku.

'Dan mengapa tidak, Gandalf?' bisiknya. 'Mengapa tidak? Cincin Utama itu? Kalau kita bisa memerintahnya, maka Kekuatan akan beralih pada kita. Itulah alasan sesungguhnya aku membawamu kemari. Karena aku punya banyak mata, dan kurasa kau tahu di mana benda berharga ini sekarang berada. Bukankah begitu? Kalau tidak, kenapa Kelompok Sembilan menanyakan Shire, dan apa kegiatanmu di sana?' Ketika dia mengatakan itu, suatu nafsu besar yang tak bisa ia sembunyikan bersinar di matanya.
"'Saruman,' kataku, sambil berdiri menjauh darinya, 'hanya satu tangan pada satu saat yang bisa memegang Cincin Utama, dan kau tahu betul itu, jadi jangan repot-repot mengatakan kita! Tapi aku tidak akan memberikannya, tidak, aku bahkan tidak akan memberi kabar tentang Cincin itu padamu, setelah aku tahu pikiranmu. Kau menjadi ketua Dewan, tapi akhirnya kau membuka kedokmu sendiri. Kelihatannya pilihanku adalah menyerah pada Sauron, atau pada dirimu.

Aku tidak akan memilih salah satunya. Apa kau punya tawaran lain?'

"Sekarang sikapnya dingin dan berbahaya. 'Ya,' katanya. 'Aku memang tidak mengharapkan kau menunjukkan kebijakan, walau demi dirimu sendiri; tapi aku sudah memberimu kesempatan untuk secara sukarela membantuku, dan dengan demikian menghindarkanmu dari banyak kesulitan dan kepedihan. Pilihan ketiga adalah tinggal di sini, sampai akhir.'
"'Sampai akhir apa?'

"'Sampai kau menunjukkan padaku, di mana Cincin Utama bisa ditemukan. Aku bisa mencari cara untuk membujukmu. Atau setelah Cincin itu ditemukan, meski kau menolak, dan sang Penguasa sudah punya waktu untuk menghadapi masalah-masalah yang, lebih ringan: misalnya untuk merencanakan ganjaran yang cocok bagi rintangan dan kekurangajaran Gandalf si Kelabu.'
"'Jangan terlalu menganggap ringan masalah itu,' kataku. Dia menertawakanku, karena kata-kataku kosong, dan dia tahu itu."


"Mereka membawaku dan menempatkanku sendirian di puncak Orthanc, di mana Saruman biasanya memperhatikan bintang-bintang. Tak ada jalan turun, kecuali melalui tangga sempit yang terdiri atas beberapa ribu anak tangga, dan lembah di bawah kelihatan sangat jauh. Aku memandangnya, dan melihat bahwa bagian yang dulu kelihatan hijau dan indah, sekarang penuh dengan lubang- lubang dan bengkel besi. Serigala dan Orc bertempat tinggal di Isengard, karena Saruman mengumpulkan kekuatan besar untuk keperluannya sendiri, untuk bersaing dengan Sauron, bukan untuk menjadi anak buah Sauron-belum. Di atas semua karyanya itu menggantung asap gelap yang melilit sisi-sisi Orthanc. Aku berdiri sendirian di sebuah pulau di tengah awan-awan; aku tak mungkin melarikan diri, dan hari-hariku pahit sekali. Aku kedinginan, dan hanya mempunyai sedikit ruang untuk melangkah ke sana kemari, memikirkan kedatangan para Penunggang Hitam ke Utara.
"Bahwa Kelompok Sembilan memang sudah bangkit, itu aku yakin, terpisah dari kata-kata Saruman yang mungkin saja bohong. Jauh sebelum aku datang ke Isengard, aku sudah mendengar kabar yang tak mungkin salah. Aku

selalu cemas tentang teman-temanku di Shire, tapi aku masih punya harapan. Aku berharap Frodo segera berangkat, seperti kudesak dia dalam suratku, dan bahwa dia sudah mencapai Rivendell sebelum pengejaran maut dimulai. Dan baik harapan maupun ketakutanku ternyata salah. Karena harapanku kutumpu pada seorang laki-laki gemuk di Bree, dan ketakutanku didasarkan pada kecerdikan Sauron. Tapi laki-laki gemuk yang menjual bir punya banyak urusan lain, dan kekuatan Sauron masih kurang dari yang ditakutkan. Tapi dalam keadaan terjebak dan sendirian di lingkaran Isengard, tak mudah untuk berpikir bahwa para pemburu yang dijauhi semua, atau sudah menjatuhkan banyak orang, akan tertatih-tatih di Shire jauh di sana."
"Aku melihatmu!" teriak Frodo. "Kau berjalan bolak-balik. Bulan bersinar di rambutmu."
Gandalf berhenti dengan tercengang dan menatapnya. "Itu hanya mimpi," kata Frodo, "tapi tiba-tiba teringat olehku. Aku hampir lupa hal itu. Mimpi aku terjadi beberapa waktu yang lalu; rasanya setelah aku meninggalkan Shire."
"Kalau begitu, sudah terlambat," kata Gandalf, "seperti akan kaulihat

nanti. Situasiku buruk sekali. Dan mereka yang kenal aku akan setuju bahwa jarang aku mengalami keadaan seperti itu, dan tak bisa bertahan dengan baik dalam keadaan yang begitu tidak menguntungkan. Gandalf si Kelabu tertangkap seperti lalat dalam sarang labah-labah yang sangat curang! Meski begitu, labah- labah terhebat juga punya titik lemah.
"Pada mulanya aku cemas, seperti pasti sudah diharapkan Saruman, bahwa Radagast juga sudah menipuku. Tapi aku sama sekali tidak menangkap tanda-tanda tidak wajar dalam suaranya, atau di matanya, dalam pertemuan kami waktu itu. Seandainya ya, mungkin aku tidak akan pernah pergi ke Isengard, atau aku akan pergi dengan lebih hati-hati. Rupanya Saruman sudah menduga, maka dia menyembunyikan pikirannya yang jahat dan menipu utusannya itu. Tidak ada gunanya kalau dia mencoba membujuk Radagast yang jujur untuk berkhianat. Radagast menemui aku dengan penuh kepercayaan, karena itulah dia bisa membujukku.
"Di situlah Saruman membuat kesalahan. Karena Radagast tidak melihat

alasan untuk menolak permintaanku; dia melaju menuju Mirkwood, di mana dia banyak mempunyai kawan lama. Elang-elang dari Pegunungan pergi jauh dan menyebar, dan mereka melihat banyak hal: berkumpulnya para serigala dan pengerahan bangsa Orc; dan Kelompok Sembilan pergi ke sana kemari di semua negeri; dan mereka mendengar kabar tentang pelarian Gollum. Mereka mengirimkan utusan untuk membawa kabar ini kepadaku.
"Maka, ketika musim panas sudah surut, datanglah malam bulan purnama, dan Gwaihir si Penguasa Angin, yang tercepat di antara Elang-Elang Besar, tanpa terduga datang ke Orthanc; dia menemukan aku berdiri di puncak. Aku berbicara kepadanya, dari dia membawaku pergi, sebelum Saruman menyadarinya. Aku sudah jauh dari Isengard, sebelum serigala-serigala dan Orc keluar dari gerbang-gerbang untuk mengejarku.
"'Berapa jauh kau bisa membawaku?' kataku pada Gwaihir.

"'Jauh sekali,' katanya, 'tapi tidak ke ujung dunia. Aku dikirim untuk membawa berita, bukan beban.'
"'Kalau begitu, aku perlu punya kuda di darat,' kataku, 'dan kuda yang sangat cepat, karena aku sangat terburu-buru sekarang.'
"Kalau begitu, aku akan membawamu ke Edoras, di mana Penguasa Rohan duduk di istananya,' katanya, 'tempat itu tidak jauh dari sini. Aku gembira, karena di Riddermark Rohan tinggal kaum Rohirrim, para Penguasa Kuda, dan kuda-kuda yang dibesarkan di lembah luas antara Pegunungan Berkabut dan Pegunungan Putih sungguh tak ada tandingannya.
"'Apakah Orang-Orang Rohan masih bisa dipercaya, menurutmu? tanyaku pada Gwaihir, karena pengkhianatan Saruman telah mengguncangkan kepercayaanku.
"'Mereka membayar upeti berupa kuda,' jawabnya, 'dan banyak mengirimkan kuda setiap tahun ke Mordor, begitu kabarnya; tapi mereka belum ditindas olehnya.- Namun kalau Saruman sudah menjadi jahat, seperti katamu, maka nasib buruk mungkin menimpa mereka sebentar lagi.'


"Dia mengantarku ke negeri Rohan sebelum fajar; kisahku sudah kubeberkan

terlalu panjang. Sisanya harus lebih singkat. Di Rohan aku menemukan kejahatan sudah bekerja: kebohongan Saruman; dan raja negeri itu sudah tak mau mendengarkan peringatan-peringatanku. Dia memintaku mengambil seekor kuda dan pergi; aku memilih satu yang sangat kusukai, tapi dia tak suka aku mengambilnya. Aku mengambil kuda terbaik di negerinya, dan belum pernah aku melihat yang semacam itu."
"Kalau begitu, dia pasti hewan mulia," kata Aragorn, "hatiku lebih pedih mendengar Sauron menerima upeti semacam itu, daripada ketika mendengar kabar-kabar buruk lain. Ketika aku terakhir datang ke negeri itu, situasinya belum seperti ini."
"Sekarang pun tidak, aku bersumpah," kata Boromir. "Itu kebohongan yang datang dari Musuh. Aku kenal Orang-Orang Rohan. Mereka jujur dan berani, dan mereka sekutu kami, masih tinggal di negeri yang sudah sangat lama kami berikan pada mereka."
"Bayangan Mordor menutupi negeri-negeri jauh," jawab Aragorn. "Saruman sudah jatuh di bawahnya. Rohan sudah diserang. Siapa tahu apa yang akan kautemukan di sana, kalau kau kembali?"
"Tapi tak mungkin mereka mau membeli nyawa mereka dengan kuda- kuda," kata Boromir. "Mereka mencintai kuda-kuda itu, seperti keluarga mere ka
.sendiri. Dan bukan tanpa sebab, karena kuda-kuda Riddermark datang dari padang-padang Utara, jauh dari Bayang-bayang. Dan seperti majikan mereka, kuda-kuda itu adalah keturunan dari masa-masa merdeka di zaman dahulu kala." "Memang benar!" kata Gandalf. "Dan ada satu di antara mereka yang mungkin dilahirkan di pagi dunia. Kuda-kuda Kelompok Sembilan tak bisa menandinginya; kuda ini tak kenal lelah, cepat bagai embusan angin. Mereka menyebutnya Shadowfax. Di siang hari kulitnya berkilauan seperti perak, dan di malam hari dia seperti bayangan; dia berlalu tanpa terlihat. Ringan sekali langkahnya! Belum pernah ada orang yang menungganginya, tapi aku mengambilnya dan menjinakkannya. Begitu cepat dia membawaku, hingga aku sampai di Shire ketika Frodo berada di Barrow-downs, meski aku berangkat dari
Rohan setelah dia berangkat dari Hobbiton.

"Namun kecemasan dalam diriku memuncak sementara. aku berkuda. Semakin jauh ke Utara, aku mendengar kabar tentang para Penunggang itu, dan meski semakin hari aku semakin mendekati mereka, mereka selalu berada di depanku. Mereka membagi kelompok, kudengar: beberapa tetap di perbatasan timur, tak jauh dari Greenway, dan beberapa menyusup ke dalam Shire dari selatan. Aku datang ke Hobbiton dan Frodo sudah pergi; tapi aku sempat berbicara dengan Gamgee tua. Banyak bicara, tapi sedikit yang bermakna. Dia banyak membicarakan kekurangan para penghuni baru Bag End.
"'Aku tak bisa menerima perubahan,' katanya, 'tidak pada usiaku ini, dan paling tidak bisa kalau perubahan itu ke arah yang buruk.' 'Perubahan ke arah yang buruk,' sering diulanginya.
"'Buruk adalah kata yang jelek,' kataku padanya, 'dan kuharap kau sudah tidak hidup lagi untuk menyaksikannya.' Tapi di tengah percakapannya, aku menyimpulkan bahwa akhirnya Frodo sudah meninggalkan Hobbiton kurang dari seminggu sebelumnya, dan bahwa seorang penunggang kuda hitam datang ke Bukit sore itu juga. Lalu aku meneruskan perjalanan dengan ketakutan. Aku datang ke Buckland dan menemukannya dalam keadaan kacau, sesibuk sarang semut yang diusik dengan tongkat. Aku datang ke rumah di Crickhollow, yang ternyata sudah hancur dan kosong; tapi di ambang -pintu aku menemukan jubah yang pernah menjadi milik Frodo. Untuk beberapa saat harapanku sirna, dan aku tidak menunggu untuk mengumpulkan berita; kalau tidak, aku mungkin akan terhibur; aku berjalan terus mengikuti jejak para Penunggang. Sulit dilacak, karena menuju ke banyak arah, dan aku kebingungan. Tapi tampaknya satu atau dua sudah berjalan menuju Bree; dan ke arah itulah aku pergi, karena aku memikirkan kabar-kabar yang mungkin sudah diberikan kepada pemilik penginapan.
"'Butterbur mereka memanggilnya,' pikirku. 'Kalau keterlambatan ini kesalahannya, akan kulebur dia jadi mentega. Akan kupanggang si tua tolol itu di atas api kecil.' Dia sudah menduga, rupanya, dan ketika melihatku dia jatuh tengkurap dan langsung melebur di tempat itu juga."
"Apa yang kaulakukan padanya?" seru Frodo kaget. "ia sangat baik pada

kami, dan berusaha membantu sebisanya!"

Gandalf tertawa. "Jangan takut!" katanya. "Aku tidak menggigit, dan gonggonganku hanya sedikit. Aku begitu gembira mendengar kabar yang diberikannya saat dia berhenti gemetaran, sampai-sampai kupeluk si tua itu. Bagaimana kejadiannya saat itu, aku tak bisa menebak, tapi aku diberitahu kau berada di Bree malam sebelumnya, dan sudah berangkat pagi itu bersama Strider.
"'Strider!' teriakku, saking gembiranya.

"'Ya, Sir, aku khawatir begitu, Sir,' kata Butterbur, salah paham. "Dia menjerat mereka, meski aku berusaha mencegah, dan mereka ikut dengannya. Sikap mereka aneh sekali selama berada di sini: seolah sengaja begitu.'
"'Keledai! Tolol! Barliman yang budiman dan terhormat!' kataku. 'Ini berita terbaik yang kudapat sejak pertengahan musim panas: ini berharga sedikitnya satu lembar emas. Semoga bir-mu menjadi bir paling baik selama tujuh tahun!' kataku. 'Sekarang aku bisa tidur semalam, yang pertama sejak kapan aku sudah lupa.'


"Maka aku tinggal di sana malam itu, sambil bertanya-tanya dalam hati, apa yang sudah terjadi dengan para Penunggang itu; karena baru dua yang terdengar kabarnya di Bree, rupanya. Tapi di malam hari kami mendengar lebih banyak. Setidaknya lima datang dari barat, menjatuhkan gerbang-gerbang dan melewati Bree bagai raungan angin; penduduk Bree masih gemetar dan menunggu kiamat. Aku bangun sebelum fajar, dan pergi menyusul mereka.
"Aku tidak tahu, tapi kelihatannya jelas bahwa inilah yang terjadi. Kapten mereka bersembunyi di selatan Bree, sementara dua berjalan mendahului, memasuki desa, dan empat lagi memasuki Shire. Tapi ketika mereka digagalkan di Bree dan di Crickhollow, mereka kembali ke Kapten mereka dengan membawa kabar, membiarkan Jalan tidak terjaga untuk sementara, kecuali oleh mata-mata mereka. Lalu sang Kapten mengirimkan beberapa anak buahnya ke arah timur, lurus melewati pedalaman, sementara dia sendiri berjalan bersama sisanya, menelusuri Jalan dengan kemarahan besar.

"Aku berlari ke Weathertop bagai angin badai, dan sampai di sana sebelum matahari terbenam, di hari kedua dari Bree—dan mereka sudah ada di sana sebelum aku. Mereka menjauh dariku, karena merasakan amarahku, dan mereka tidak berani menghadapinya sementara Matahari masih di langit. Tapi mereka mengepungku di malam hari dan aku diserang di puncak bukit, di lingkaran kuno Amon Sul. Aku benar-benar mendapat serangan hebat: cahaya dan nyala api semacam itu pasti sudah lama tak terlihat di Weathertop, sejak menara api perang di zaman dulu.
"Saat matahari terbit, aku lolos dan lari ke arah utara. Aku tak mungkin berharap berbuat lebih dari itu. Sangat mustahil menemukanmu di belantara, Frodo, dan akan sangat bodoh kalau aku mencobanya dengan Kelompok Sembilan mengejarku. Maka aku terpaksa mempercayai Aragorn. Tapi aku berharap bisa mengelabui beberapa dari mereka, dan tetap mencapai Rivendell sebelum kalian. Empat penunggang memang mengikuti aku, tapi mereka berbalik setelah beberapa saat, dan rupanya pergi ke Ford. Itu agak membantu, karena hanya ada lima, bukan sembilan, ketika perkemahanmu diserang.
"Aku sampai di sini akhirnya, melalui jalan panjang dan sulit, mendaki Hoarwell dan melewati Ettenmoors, dan turun dari utara. Hampir empat belas hari kuhabiskan dari Weathertop, karena aku tak bisa mengendarai kuda di antara bebatuan bangsa troll, dan Shadowfax meninggalkan aku. Aku mengirimnya kembali ke majikannya, tapi di antara kami sudah terjalin persahabatan erat, dan kalau aku membutuhkannya, dia akan datang memenuhi panggilanku. Tapi begitulah, aku sampai di Rivendell hanya tiga hari sebelum Cincin itu datang, dan kabar tentang bahaya yang. mengancamnya sudah dibawa ke sini yang ternyata benar.
"Begitulah, Frodo, akhir kisahku. Mudah-mudahan Elrond dan yang lain memaafkan panjangnya. Tapi hal semacam ini belum pernah terjadi, bahwa Gandalf tidak memenuhi janji untuk bertemu dan tidak datang pada waktu yang telah dijanjikannya. Kurasa laporan tentang peristiwa yang begitu aneh perlu diberikan pada pembawa Cincin.
"Nah, kisahnya sudah diceritakan sekarang, dari awal sampai akhir. Di sini

kita semua berada, juga Cincin itu. Tapi sedikit pun kita belum mendekati tujuan kita. Apa yang mesti kita lakukan dengan Cincin itu?"


Sunyi sepi. Akhirnya Elrond berbicara lagi.

"Berita tentang Saruman sangat menyedihkan," katanya, "karena kami mempercayainya, dan dia memegang peran sangat penting dalam semua dewan penasihat kami. Memang berbahaya mempelajari terlalu mendalam seni keterampilan Musuh, entah demi kebaikan ataupun kejahatan. Tapi kejatuhan dan pengkhianatan semacam itu sudah sering terjadi sebelumnya, sayang sekali. Dan semua kisah yang kita dengar hari ini, kisah Frodo yang paling aneh bagiku. Aku hanya kenal sedikit hobbit, kecuali Bilbo; dan mungkin dia sebenarnya tidak begitu aneh dan khas seperti kukira dulu. Dunia sudah banyak berubah sejak terakhir aku berada di jalan-jalan menuju ke barat.
"Hantu-hantu Barrow kita kenal dengan banyak sebutan; dan tentang Old Forest banyak kisah sudah diceritakan: yang tertinggal sekarang hanya wilayah terpencil dari bentangannya ke utara. Dulu seekor tupai bisa melompat dari pohon ke pohon, mulai dari wilayah yang sekarang menjadi Shire, sampai ke Dunland di sebelah barat Isengard. Di negeri-negeri itu dulu aku mengembara, dan banyak hal liar dan aneh yang kukenal. Tapi aku sudah lupa tentang Bombadil, kalau dia memang orang yang sama, yang dulu berjalan di hutan dan di bukit; saat itu pun dia sudah lebih tua daripada yang paling tua. Kala itu namanya tidak begitu. Kami memanggilnya Iarwain Ben-adar, yang tertua dan tak berayah. Tapi banyak nama lain yang diberikan padanya oleh bangsa- bangsa lain sejak itu; Forn oleh bangsa Kurcaci, Orald oleh Orang-Orang Utara, dan nama-nama lain di samping itu. Dia makhluk aneh. Mungkin mestinya aku memanggilnya ke Rapat Akbar kita."
"Dia pasti tidak akan datang," kata Gandalf.

"Tak bisakah kita mengirimkan pesan kepadanya, dan meminta bantuannya?" tanya Erestor. "Sepertinya dia punya kekuatan untuk mengendalikan Cincin itu."
"Tidak, menurutku bukan begitu," kata Gandalf. "Lebih tepat dikatakan

bahwa Cincin itu tak bisa menguasainya. Tom adalah majikan atas dirinya sendiri. Tapi dia tak bisa mengubah Cincin itu, tidak juga bisa mematahkan kekuasaannya terhadap orang lain. Dan sekarang dia sudah tinggal terasing di suatu negeri kecil, dalam batas-batas yang ditentukannya sendiri, meski tak ada yang bisa melihatnya, mungkin menunggu perubahan masa, dan dia tak mau melangkah keluar dari sana."
"Tapi di dalam batas-batas itu kelihatannya tak ada yang menyulitkannya," kata Erestor. "Tidak maukah dia mengambil Cincin itu dan menyimpannya di sana, agar tidak merusak selamanya?"
"Tidak," kata Gandalf, "tidak secara sukarela. Mungkin dia akan melakukannya, kalau semua penduduk merdeka di dunia memohonnya, tapi dia tidak akan memahami pentingnya. Dan kalau Cincin itu diberikan padanya, dia akan segera melupakannya, atau sangat mungkin membuangnya. Hal-hal seperti itu tidak terpatri dalam ingatannya. Dia akan menjadi penjaga yang sangat tidak aman, dan itu saja sudah cukup merupakan jawaban."
"Bagaimanapun," kata Glorfindel, "mengirimkan Cincin kepadanya hanya akan menunda hari malapetaka. Dia jauh dari sini. Kita tak mungkin membawa Cincin itu kepadanya, tanpa diduga, atau ketahuan mata-mata. Dan meski kita bisa, cepat atau lambat Penguasa Cincin akan tahu tempat persembunyiannya, dan akan mengarahkan seluruh kekuatannya ke sana. Apakah kekuatan itu bisa dikalahkan oleh Bombadil sendirian? Kukira tidak. Kukira akhirnya, bila semua yang lain sudah ditaklukkan, Bombadil pun akan jatuh, yang Terakhir sebagaimana dia yang Pertama; lalu Malam akan datang."
"Aku hanya tahu sedikit tentang Iarwain, kecuali namanya," kata Galdor, "tapi kukira Glorfindel benar. Kekuatan untuk mengalahkan Musuh tidak ada pada dirinya, kecuali kekuatan seperti itu ada di dalam bum) sendiri. Meski begitu, kita melihat bahwa Sauron bisa menyiksa dan menghancurkan bukit- bukit. Kekuatan yang masih tersisa ada di sini bersama kita, di Imladris, atau bersama Cirdan di Havens, atau di Lorien. Tapi apakah mereka punya kekuatan untuk menahan Musuh, kedatangan Sauron pada akhirnya, ketika semua yang lain sudah dihancurkan?"

"Aku tak punya kekuatan," kata Elrond, "mereka pun tidak."

"Kalau Cincin itu tak bisa ditahan darinya untuk selamanya dengan kekuatan," kata Glorfindel, "hanya dua hal tersisa untuk kita upayakan: mengirimkannya ke seberang Lautan, atau menghancurkannya."
"Tapi Gandalf sudah mengungkapkan pada kita, bahwa Cincin itu tak bisa dihancurkan dengan keterampilan yang kita miliki di sini," kata Elrond. "Dan mereka yang tinggal di seberang Lautan takkan mau menerimanya: dengan alasan apa pun, Cincin itu menjadi milik Dunia Tengah; kitalah yang masih tinggal di sini, yang harus menghadapinya."
"Kalau begitu," kata Glorfindel, "mari kita buang Cincin itu ke dalam bumi, dengan demikian kebohongan Saruman menjadi kenyataan. Karena sudah jelas sekarang bahwa semasa masih dalam Dewan Penasihat pun, kakinya sudah berada di jalan yang bengkok. Dia tahu bahwa Cincin itu belum hilang untuk selamanya, tapi dia ingin kita berpikir demikian; karena dia sendiri mulai berhasrat memilikinya. Tap, sering dalam kebohongan ada kebenaran: di dasar Lautan, Cincin itu akan aman."
"Tidak untuk selamanya," kata Gandalf. "Ada banyak benda di Perairan dalam; lautan dan daratan bisa berubah. Dan tugas kita bukan hanya memikirkan satu musim, atau beberapa jangka waktu kehidupan Manusia, atau abad yang berlalu di dunia. Kita harus mencari penyelesaian akhir untuk ancaman ini, meski tak ada harapan kita bisa menemukannya."
"Dan itu tidak akan kita temukan di jalan menuju Lautan," kata Galdor. "Kalau kembali ke larwain dianggap terlalu berbahaya, maka pelarian ke Lautan sekarang penuh dengan bahaya terburuk. Hatiku mengatakan Sauron mengharapkan kita mengambil jalan ke barat, kalau dia tahu apa yang sudah terjadi. Dia segera akan tahu. Kelompok Sembilan memang sudah tak berkuda, tapi itu hanya penundaan sementara, sebelum mereka menemukan kuda-kuda baru yang lebih cepat. Hanya kekuatan Gondor yang makin menyusut yang sekarang menghalanginya untuk bergerak maju sepanjang pantai-pantai hingga ke Utara; dan kalau dia datang, menyerang Menara-Menara Putih dan Havens, setelah ini bangsa Peri mungkin tak bisa lolos lagi dari bayang-bayang Dunia

Tengah yang semakin memanjang."

"Pergerakan itu masih akan tertunda lama," kata Boromir. "Gondor semakin melemah, katamu. Tapi Gondor masih berdiri, dan bahkan sisa-sisa kekuatannya masih tetap sangat kuat."
"Namun begitu, penjagaannya tak bisa lagi menghadang Kelompok Sembilan," kata Galdor. "Dan dia bisa menemukan jalan lain yang tidak dijaga Gondor."
"Kalau begitu," kata Erestor, "hanya ada dua jalan, seperti dinyatakan

Glorfindel: menyembunyikan Cincin untuk selamanya, atau menghancurkannya. Tapi keduanya di luar kemampuan kita. Siapa yang akan menyelesaikan teka- teki ini untuk kita?"
"Tak ada di sini yang bisa melakukannya," kata Elrond dengan muram. "Setidaknya, tak ada yang bisa meramal apa yang akan terjadi, kalau kita mengambil jalan ini atau itu. Tapi bagiku sekarang tampaknya sudah jelas, jalan mana yang harus kita ambil. Jalan ke barat tampaknya yang paling mudah. Karena itu justru dia harus dihindari. Jalan itu pasti akan diawasi. Terlalu sering bangsa Peri lari ke arah itu. Sekarang setidaknya kita barns mengambil jalan yang sulit, jalan yang tidak terduga. Di sanalah letak harapan kita, kalau ada harapan. Berjalan menuju bahaya ke Mordor. Kita barns mengirim Cincin itu ke Api."


Sepi lagi. Frodo merasakan kegelapan pekat di hatinya, meski ia berada di rumah indah itu, yang menghadap ke arah lembah yang disinari matahari, dan dipenuhi bunyi-bunyi air jernih. Boromir bergerak, dan Frodo menatapnya. Ia memain-mainkan terompetnya dengan Jarinya, dahinya berkerut. Akhirnya ia berbicara.
"Aku tidak mengerti ini semua," katanya. "Saruman memang pengkhianat, tapi tidakkah dia memiliki sepercik kebijakan? Kenapa kau ,; selalu membicarakan tentang menyembunyikan dan menghancurkan? Kenapa tidak kita anggap saja Cincin Utama ini jatuh ke tangan kita untuk melayani kita saat dibutuhkan? Dengan memakainya, pasti para penguasa Merdeka bisa

mengalahkan Musuh. Kurasa itulah yang paling ditakutinya.

"Orang-orang Gondor sangat berani, dan mereka takkan pernah menyerah; tapi mungkin mereka akan ditaklukkan. Keberanian pertama-tama membutuhkan kekuatan, lalu senjata. Biarkan Cincin itu menjadi senjatamu, kalau dia mempunyai kekuatan seperti yang kaukatakan. Ambillah dan majulah merebut kemenangan!"
"Tidak," kata Elrond. "Kita tak bisa memakai Cincin Utama itu. Kita tahu betul itu. Cincin itu milik Sauron, dibuat sendiri olehnya, dan benar-benar jahat. Kekuatannya, Boromir, terlalu kuat untuk dikendalikan siapa pun, kecuali mereka yang sudah mempunyai kekuatan besar. Tapi untuk mereka Cincin itu malah membawa bahaya lebih mematikan. Hasrat untuk memilikinya merusak hati. Lihat saja Saruman. Kalau salah satu kaum Bijak berhasil menjatuhkan Penguasa Mordor, dengan bantuan Cincin ini, sambil menggunakan keahliannya sendiri, maka dia akan menduduki takhta Sauron, dan seorang Penguasa Kegelapan lain akan muncul. Itu satu alasan lagi, mengapa Cincin ini harus dihancurkan: selama Cincin ini berada di dunia, dia akan selalu menjadi bahaya, bagi kaum Bijak sekalipun. Sebab tak ada sesuatu yang jahat pada awalnya. Bahkan Sauron pun tidak. Aku takut mengambil Cincin itu untuk menyembunyikannya, terlebih lagi untuk menggunakannya."
"Aku juga," kata Gandalf.

Boromir memandang mereka dengan penuh keraguan, tapi ia menundukkan kepala. "Baiklah," katanya. "Jadi, kami di Gondor harus mengandalkan senjata-senjata yang sudah kami miliki. Dan setidaknya, sementara kaum Bijak menjaga Cincin ini, kami akan terus berjuang. Mungkin Pedang-yang-sudah-Patah masih bisa menyurutkan gelombang pasang—kalau tangan yang memegangnya bukan hanya mewarisi suatu pusaka, tetapi juga otot Raja-Raja Manusia."
"Siapa tahu?" kata Aragorn. "Akan kita uji suatu hari nanti."

"Mudah-mudahan hari itu tidak terlalu lama lagi," kata Boromir. "Karena meski aku tidak meminta bantuan, kami membutuhkannya. Akan terasa lebih ringan kalau kami tahu bahwa yang lain juga berjuang dengan semua kekuatan

yang mereka punyai."

"Kalau begitu, kau boleh merasa terhibur," kata Elrond. "Sebab ada kekuatan-kekuatan lain dan alam-alam yang tidak kauketahui, dan semua itu tersembunyi darimu. Sungai Besar Anduin mengalir melewati banyak pantai, sebelum sampai di Argonath dan Gerbang-Gerbang Gondor."
"Meski begitu, mungkin akan baik untuk semuanya kalau semua kekuatan ini digabungkan," kata Gloin si Kurcaci, "dan kekuatan masing-masing dimanfaatkan dalam persekutuan. Mungkin ada cincin-cincin lain yang tidak begitu jahat, yang bisa digunakan untuk kebutuhan kita. Tujuh Cincin sudah hilang dari kita-kalau Balin tidak menemukan cincin Thror, yang merupakan yang terakhir; tidak ada kabar darinya sejak Thror mati di Moria. Bolehlah kuungkapkan saat ini, bahwa sebagian alasan Balin pergi adalah karena dia mengharapkan menemukan cincin aku."
"Balin tidak akan menemukan cincin di Moria," kata Gandalf. "Thror memberikannya pada Thrain, putranya, tapi Thrain tidak memberikannya pada Thorin. Cincin itu diambil dari Thrain melalui penyiksaan hebat di ruang bawah tanah di Dol Guldur. Aku datang terlambat."
"Aaah!" seru Gloin. "Kapan hari pembalasan kami akan tiba? Tapi masih ada Cincin yang Tiga. Bagaimana dengan Tiga Cincin bangsa Peri? Katanya cincin-cincin itu sangat hebat. Bukankah para Peri Bangsawan menyimpannya? Tapi mereka juga dibuat oleh sang Penguasa Kegelapan, lama berselang. Apakah mereka tidak dipakai? Aku melihat para Peri Bangsawan di sini. Apa mereka tidak akan mengungkapkannya?"
Para Peri tidak menjawab. "Tidakkah kau mendengarku, Gloin?" kata Elrond. "Yang Tiga itu bukan dibuat oleh Sauron, dan dia belum pernah menyentuhnya. Tapi kami tak boleh membicarakannya. Hanya itu yang boleh kukatakan dalam masa keraguan ini. Mereka bukan tidak digunakan. Tapi mereka bukan dibuat untuk digunakan sebagai senjata perang atau untuk mengalahkan: bukan itu kekuatan mereka. Mereka yang membuatnya bukan mengharapkan kekuatan, penguasaan, atau kekayaan berlimpah, melainkan pemahaman, penciptaan, dan penyembuhan, untuk memelihara semua hal agar

tidak bernoda. Hal-hal ini sebagian sudah dicapai bangsa Peri di Dunia Tengah, meski dengan banyak kesedihan. Tapi segala sesuatu yang dibuat oleh tangan- tangan yang memakai Tiga Cincin akan berbalik ke kehancuran, dan hati serta pikiran mereka akan terungkap kepada Sauron, kalau dia memiliki kembali Cincin Utama. Lebih baik Tiga Cincin itu tak pernah ada. Itulah tujuannya."
"Tapi apa yang akan terjadi kalau Cincin Utama dihancurkan seperti kauusulkan?" tanya Gloin.
"Kami tidak tahu pasti," jawab Elrond sedih. "Beberapa berharap Tiga Cincin, yang belum pernah disentuh Sauron, akan bebas, dan para penguasa mereka bisa menyembuhkan luka-luka dunia yang disebabkan Sauron. Tapi kalau Cincin Utama sudah hilang, mungkin Tiga Cincin itu akan gagal, dan banyak hal indah akan mengabur dan dilupakan. Itu keyakinanku."
"Namun semua Peri bersedia memikul kemungkinan ini," kata Glorfindel, "kalau dengan demikian kekuatan Sauron bisa dipatahkan, dan ketakutan terhadap kekuasaannya hilang selamanya."
"Jadi, sekali lagi kita kembali ke rencana menghancurkan Cincin," kata

Erector, "tapi sepertinya tidak ada solusi. Kekuatan apa yang kita miliki, untuk menemukan Api tempat Cincin itu dibuat? Jalan itu sungguh jalan keputusasaan. Bahkan kebodohan, kataku, kalau kebijakan Elrond yang sangat leas tidak melarangku berkata demikian."
"Putus asa, atau kebodohan?" kata Gandalf. "Bukan putus asa, karena putus asa hanya bagi mereka yang melihat akhirnya dengan yakin. Kita tidak melihatnya. Orang bijak menyadari kebutuhan, bila semua jalan lain sudah ditimbang, meski jalan yang dipilih mungkin tampak sebagai kebodohan, bagi mereka yang berpegang pada harapan palsu. Nah, biarlah kebodohan men ad' jubah kita, selubung di depan mata Musuh! Karena dia sangat pintar, dan dia menimbang semua hal hingga sekecil-kecilnya, dalam timbangan kejahatannya. Tapi satu-satunya ukuran yang dia kenal adalah hasrat, hasrat untuk kekuasaan; dan begitulah dia menilai semua orang. Dalam hatinya takkan pernah terlintas pikiran bahwa ada orang yang akan menolak, bahwa kita ingin memiliki Cincin itu untuk menghancurkannya. Kalau kita memilih ini, dia akan salah perhitungan."

"Setidaknya untuk sementara," kata Elrond. "Jalan ini harus dilewati, meski akan sulit sekali. Kekuatan maupun kebijakan takkan membawa kita jauh di jalan itu. Perkara ini bisa diupayakan oleh yang lemah, dengan harapan sama besar seperti yang kuat. Tapi wring seperti itulah justru jalannya perbuatan- perbuatan yang menggerakkan roda dunia: tangan-tangan kecil melakukannya karena terpaksa, sementara mata yang lebih kuat sedang menoleh ke tempat lain."


"Baiklah, baiklah, Master Elrond!" kata Bilbo tiba-tiba. "Jangan katakan apa-apa lagi! Sudah jelas apa yang kaumaksud. Bilbo si hobbit bodoh yang memulai masalah ini, dan sebaiknya Bilbo juga yang mengakhiri, atau menghabisi dirinya sendiri. Aku sangat nyaman di sini, dan bisa menulis bukuku dengan senang. Kalau kau mau tahu, aku sedang menuliskan akhir ceritanya. Aku berniat menulis: dan dia hidup bahagia selamanya, sampai akhir hayatnya. Itu akhir yang bagus, walau sudah wring digunakan. Sekarang aku terpaksa mengubahnya, karena kelihatannya tidak akan menjadi kenyataan; lagi pula, tampaknya akan ada beberapa bab tambahan, kalau aku masih hidup untuk menuliskannya. Sangat mengganggu. Kapan aku harus mulai?"
Boromir memandang kaget ke arah Bilbo, tapi ia tidak jadi tertawa ketika melihat semua yang lain memandang hobbit tua itu dengan hormat dan khidmat. Hanya Gloin yang tersenyum, tapi senyumannya karena mengingat kenangan
lama.

"Tentu saja, Bilbo-ku sayang," kata Gandalf. "Kalau benar-benar kau yang memulai perkara ini, kau tentu diharapkan menyelesaikannya. Tapi kau tahu betul bahwa siapa pun tak bisa menganggap dirinyalah yang memulai sesuatu, dan dalam perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan pahlawan mana pun, peran yang dimainkannya kecil saja. Kau tidak perlu membungkuk! Meski perkataanmu sungguh-sungguh, dan kami tidak ragu bahwa di balik kelakarmu, kau menawarkan sesuatu yang berani. Tapi urusan ini ada di luar kemampuanmu, Bilbo. Kau tak bisa mengembalikan benda ini. Dia sudah beralih pada yang lain. Kalau kau masih memerlukan nasihatku, menurutku bagianmu

sudah selesai, kecuali sebagai pencatat. Selesaikan bukumu, dan biarkan akhirnya tanpa perubahan! Masih ada harapan untuk itu. Tapi bersiaplah untuk menulis lanjutannya, kalau mereka kembali."
Bilbo tertawa. "Belum pernah kau memberiku nasihat menyenangkan," katanya. "Karena semua nasihatmu yang tidak menyenangkan ternyata bagus, aku jadi bertanya-tanya apakah nasihat ini tidak buruk. Bagaimanapun, rasanya aku tak punya kekuatan ataupun keberuntungan untuk menangani Cincin ini. Dia sudah tumbuh, sedangkan aku tidak. Tapi katakan: apa maksudmu dengan mereka?"
"Utusan-utusan yang dikirimkan bersama Cincin itu."

"Tepat! Dan siapakah mereka? Kurasa itulah yang harus diputuskan Rapat ini, hanya itu. Bangsa Peri mungkin bisa kenyang dari berbicara saja, dan para Kurcaci bisa menanggung kelelahan besar; tapi aku hanya seorang hobbit tua, dan aku ingin makan siang. Tak bisakah kalian memikirkan beberapa nama sekarang? Atau menundanya sampai setelah makan malam?"


Tidak ada yang menjawab. Lonceng tengah hari berdentang. Masih tidak ada yang bicara. Frodo melirik semua wajah, tapi mereka tidak memandangnya. Seluruh Dewan duduk dengan mata menunduk, seolah berpikir sangat dalam. Kecemasan besar menimpa diri Frodo, seolah ia sedang menunggu pengumuman, tentang bahaya maut yang sudah lama dilihatnya, dan sia-sia diharapkan tidak jadi dibahas. Hasrat besar untuk beristirahat dan tinggal dengan damai di dekat Bilbo. di Rivendell menguasai hatinya. Akhirnya, dengan susah payah ia berbicara, dan heran mendengar kata-katanya sendiri, seolah ada kekuatan lain yang menggerakkan suaranya yang kecil.
"Aku akan membawa Cincin itu," katanya, "meski aku tidak tahu jalannya."



Elrond mengangkat mata menatapnya, dan Frodo merasa hatinya tertusuk oleh ketajaman pandangannya yang tiba-tiba. "Kalau aku mengerti dengan benar semua yang telah kudengar," katanya, "maka kurasa tugas ini dibebankan padamu, Frodo; dan kalau kau tak bisa menemukan jalannya, maka takkan ada

orang lain yang bisa. Inilah saatnya bangsa Shire bangkit dari ladang-ladang mereka yang tenang, untuk mengguncang menara-menara dan meruntuhkan anggapan-anggapan orang-orang Bijak. Siapa di antara kaum Bijak yang bisa meramalkan hal ini? Atau, kalau mereka bijak, mengapa mereka berharap akan mengetahuinya, sampai saatnya tiba?
"Tapi ini beban 'yang sangat berat. Begitu berat, hingga tak layak memindahkannya kepada yang lain. Aku tidak membebankannya padamn. Tapi kalau kau menerimanya dengan sukarela, akan kukatakan bahwa pilihanmu benar; dan meski semua sahabat bangsa Peri sejak dulu—Hador, Hurin, dan Turin, dan Beren sendiri—berkumpul bersama, maka tempatmu adalah di antara mereka."
"Tapi kau tentu tidak akan mengirimnya sendirian, Master?" teriak Sam, tak bisa menahan diri lebih lama lagi, dan melompat dari pojok tempat ia sebelumnya duduk diam di lantai.
"Memang tidak!" kata Elrond, menoleh kepadanya dengan tersenyum.

"Kau akan pergi bersamanya. Hampir tak mungkin memisahkanmu dari dia, meski dia dipanggil ke rapat rahasia ini dan kau tidak."
Sam duduk kembali, wajahnya memerah, dan ia menggumam, "Kita menerjunkan diri ke dalam masalah ruwet, Master Frodo!" katanya sambil menggelengkan kepala.

BAB 3

CINCIN PERGI KE SELATAN



Hari itu, setelah Rapat Dewan, para hobbit mengadakan pertemuan sendiri di kamar Bilbo. Merry dan Pippin marah ketika mendengar Sam diam-diam masuk ke Rapat Dewan, dan sudah dipilih sebagai pendamping Frodo.
"Itu sangat tidak adil," kata Pippin. "Bukannya melempar dia keluar dan

memborgolnya, Elrond malah memberinya imbalan untuk kekurangaj arannya!" "Imbalan!" kata Frodo. "Aku tak bisa membayangkan hukuman yang lebih
berat. Kau bicara tanpa pikir panjang: dikutuk untuk pergi dalam perjalanan tanpa harapan, itu imbalan? Kemarin aku bermimpi tugasku sudah selesai, dan aku bisa beristirahat di sini untuk waktu lama, bahkan mungkin untuk selamanya."
"Aku tidak heran," kata Merry, "dan aku berharap keinginanmu kesampaian. Tapi kami iri pada Sam, bukan padamu. Kalau kau harus pergi, maka bagi kami yang ditinggal, meski di Rivendell, itu merupakan suatu hukuman. Kami sudah berjalan jauh bersamamu dan sudah melewati saat-saat gawat. Kami ingin melanjutkan perjalanan."
"Itu maksudku," kata Pippin: "Kita kaum hobbit harus tetap bersama, dan itu akan kita lakukan. Aku akan pergi, kecuali mereka mengikatku. Harus ada orang yang punya kecerdasan dalam rombongan."
"Kalau begitu, kau pasti tidak akan dipilih, Peregrin Took!" kata Gandalf, menengok ke dalam jendela, yang dekat ke tanah. "Tapi kalian tak perlu khawatir dine. Belum ada yang diputuskan."
"Tidak ada yang diputuskan!" sera Pippin. "Kalau begitu, apa yang kalian semua lakukan? Kalian di ruang tertutup selama berjam-jam."
"Berbicara," kata Bilbo. "Banyak sekali pembicaraan, dan semua mempunyai kejutan. Bahkan Gandalf tea. Kukira berita Legolas tentang Gollum juga membuatnya terguncang, meski dia kemudian tidak menghiraukannya."
"Kau salah," kata Gandalf. "Kau tidak memperhatikan. Aku sudah mendengarnya dari Gwaihir. Kalau kau mau tahu, yang benar-benar kejutan,

seperti kau menyebutnya, adalah kau dan Frodo; dan aku satu-satunya yang tidak kaget."
"Yang jelas," kata Bilbo, "tidak ada yang diputuskan selain memilih Frodo dan Sam yang malang. Aku sudah khawatir ini akan terjadi, kalau aku dibolehkan mencetuskannya. Tapi menurutku Elrond akan mengutus sejumlah besar orang, kalau laporan-laporan sudah masuk. Apa mereka sudah mulai, Gandalf?"
"Ya," kata penyihir itu. "Beberapa pengintai sudah dikirimkan. Lebih banyak lagi akan berangkat besok. Elrond mengirimkan kaum Peri, dan mereka akan menghubungi para Penjaga Hutan, dan mungkin juga bangsa Thranduil di Mirkwood. Aragorn berangkat bersama putra-putra Elrond. Kita harus memeriksa seluruh negeri-negeri sekitar untuk jarak jauh sekali, sebelum melakukan gerakan apa pun. Jadi, bergembiralah, Frodo! Mungkin kau akan lama sekali tinggal di sini."
"Ah!" kata Sam muram. "Kita hanya akan menunggu cukup lama, sampai musim dingin tiba."
"Itu tak bisa dihindari," kata Bilbo. "Itu sebagian adalah kesalahanmu, Frodo anakku: menuntut untuk menunggu sampai ulang tahunku. Cara aneh untuk menghormatinya, kupikir. Bukan hari yang akan kupilih untuk membiarkan keluarga S.-Bs. masuk ke Bag End. Tapi begitulah: kau sekarang tak bisa menunggu sampai musim semi; dan kau tak bisa pergi sebelum laporan-laporan
masuk.

Saw musim dingin pertama muncul

meretakkan bebatuan di malam beku dan sepi,

saat telaga-telaga menghitam dan pepohonan pun gundul, janganlah berjalan di Belantara seorang diri.
Tapi aku khawatir nasibmu justru seperti itu."

"Aku juga khawatir begitu," kata Gandalf. "Kita belum bisa berangkat sebelum tahu tentang para Penunggang itu."
"Kupikir mereka semua sudah hancur kena banjir," kata Merry.

"Hantu-Hantu Cincin seperti itu tak bisa dihancurkan," kata Gandalf. "Mereka bergantung pada kekuatan tuan mereka, dan mereka berdiri atau jatuh

bersamanya. Moga-moga mereka semua sudah tidak mempunyai kuda lagi dan sudah terbuka topengnya, hingga untuk sementara
tidak begitu berbahaya; tapi kita harus mencari tahu dengan pasti. Sementara itu, kau harus mencoba melupakan kesulitanmu, Frodo. Entah aku bisa membantumu atau tidak, tapi aku main membisikkan ini padamu. Ada yang bilang, perlu ada yang cerdas dalam rombongan ini. Dia benar. Kupikir aku akan ikut denganmu."
Frodo begitu bahagia mendengar pernyataan itu, sampai Gandalf meninggalkan ambang jendela tempat ia duduk selama itu, dan melepaskan topinya sambil membungkuk. "Aku hanya bilang kupikir aku akan ikut. Dalam hal ini, Elrond yang akan banyak memutuskan, dan temanmu Strider. Omong- omong, aku jadi teringat. Aku harus menemui Elrond. Aku harus pergi."
"Menurutmu, berapa lama waktuku di sini?" kata Frodo pada Bilbo, ketika

Gandalf sudah pergi.

"Oh, aku tidak tahu. Aku tak bisa menghitung hari di Rivendell," kata Bilbo. "Tapi cukup lama, kupikir. Kita akan bisa banyak bercakap-cakap. Bagaimana kalau kau membantuku dengan bukuku, dan membuat awal buku berikutnya? Apa kau sudah memikirkan akhir ceritanya?"
"Ya, beberapa, semuanya gelap dan tidak menyenangkan," kata Frodo. "Oh, tidak boleh!" kata Bilbo. "Buku seharusnya mempunyai akhir kisah
yang bagus. Bagaimana kalau begini: dan mereka semua tinggal dan hidup bersarna dengan bahagia?"
"Cukup baik, kalau memang akan sampai ke sana," kata Frodo. "Ah!" kata

Sam. "Dan di mana mereka akan tinggal? Itu yang sering kupertanyakan."



Untuk beberapa saat, para hobbit melanjutkan bercakap-cakap dan memikirkan perjalanan yang sudah lalu, serta bahaya-bahaya di depan; tapi begitu menyenangkan kehidupan di negeri Rivendell, hingga tak lama kemudian semua kecemasan hilang dari benak mereka. Masa depan, baik atau buruk, tidak dilupakan, tapi sudah tak punya kekuatan untuk menguasai masa kini. Kesehatan dan harapan tumbuh kuat dalam diri mereka, dan mereka puas

dengan setiap hari bagus yang datang, bergembira dengan setiap hidangan, setiap kata dan lagu.
Begitulah hari-hari berlalu, sementara setiap pagi merekah cerah dan indah, dan setiap sore mengikuti dengan sejuk dan jernih. Tapi musim augur menyurut dengan cepat; perlahan-lahan cahaya keemasan pudar menjadi pucat keperakan, dan dedaunan yang masih bertahan jatuh dari pohon-pohon. Angin mulai berembus dingin dari Pegunungan Berkabut di timur. Bulan Pemburu membesar membulat di langit malam, dan mengusir semua bintang kecil. Namun rendah di Selatan, satu bintang bersinar merah. Setiap malam, ketika Bulan memudar lagi, bintang itu bersinar semakin terang dan semakin terang. Frodo bisa melihatnya dari jendelanya, jauh di langit, menyala seperti mata yang waspada, yang menyorot dari atas pepohonan di ujung lembah.


Para hobbit sudah hampir dua bulan berada di Rumah Elrond. November lewat dengan sisa-sisa terakhir musim gugur, dan Desember sedang berlalu, ketika para pengintai mulai kembali. Beberapa sudah pergi ke utara, di seberang mata air Hoarwell, masuk ke Ettenmoors; yang lain sudah pergi ke barat, dan dengan bantuan Aragorn serta para Penjaga Hutan, sudah menyelidiki negeri jauh di sepanjang Greyflood, sampai sejauh Tharbad, di mana Jalan Utara lama menyeberangi sungai dekat kota yang sudah menjadi puing. Banyak yang sudah pergi ke timur dan ke selatan; beberapa dari mereka menyeberangi Pegunungan dan masuk ke Mirkwood, sementara yang lainnya mendaki jalan di sumber Sungai Gladden, masuk ke Belantara dan melintasi Gladden Fields, akhirnya sampai ke rumah lama Radagast di Rhosgobel. Radagast tidak ada di sana; dan mereka kembali melalui jalan tinggi yang disebut Tangga Dimrill. Putra-putra Elrond, Elladan dan Elrohir, yang terakhir kembali; mereka sudah melakukan perjalanan besar, masuk lewat Silverlode ke dalam negeri aneh, tapi mereka hanya mau berbicara pada Elrond tentang tugas mereka.
Di wilayah mana pun, para pengintai tidak menemukan tanda-tanda atau kabar tentang para Penunggang atau anak buah lain dari Musuh. Bahkan dari Elang-Elang Pegunungan Berkabut pun mereka tidak mendapat kabar baru. Tak

ada yang terlihat atau terdengar tentang Gollum; tapi serigala- serigala liar masih berkumpul, dan berburu lagi jauh di sana, sepanjang Sungai Besar. Tiga dari kuda hitam sudah ditemukan tenggelam seketika di Ford yang banjir. Di alas bebatuan air terjun di bawahnya, para pencari menemukan tubuh lima kuda lagi, Juga sebuah jubah panjang hitam, tergores dan tercabik-cabik. Penunggang- Penunggang Hitam sama sekali tidak meninggalkan jejak, dan kehadiran mereka tak bisa dirasakan di mana pun. Tampaknya mereka sudah lenyap dari Utara.
"Delapan dari Sembilan setidaknya sudah ada laporannya," kata Gandalf. "Memang agak gegabah kalau kita terlalu yakin, tapi menurutku kita boleh berharap para Hantu Cincin sudah tercerai-berai, dan terpaksa kembali sebisa mungkin ke tuan mereka di Mordor, kosong dan tak berwujud.
"Kalau memang begitu, mereka baru akan mulai berburu lagi setelah beberapa saat. Tentu saja Musuh mempunyai anak buah lain, tapi mereka harus berjalan sampai ke perbatasan Rivendell sebelum bisa melacak jejak kita. Dan, kalau kita berhati-hati, jejak kita akan sulit ditemukan. Tapi kita tak boleh menunda lebih lama lagi."


Elrond memanggil para hobbit. Ia memandang Frodo dengan muram. "Saatnya sudah tiba," katanya. "Kalau Cincin itu mesti disingkirkan, maka sekaranglah saatnya. Tapi mereka yang pergi bersamanya tak boleh berharap tugas mereka akan dibantu perang atau kekuatan. Mereka harus masuk ke dalam wilayah Musuh, jauh dari bantuan. Apa kau masih memegang janjimu, Frodo, bahwa kau akan menjadi pembawa Cincin?"
"Ya," kata Frodo. "Aku akan pergi dengan Sam."

"Kalau begitu, aku tak bisa banyak membantumu, tidak juga dengan nasihat," kata Elrond. "Aku tak bisa meramal banyak tentang perjalananmu; dan bagaimana tugasmu bisa diselesaikan, aku tidak tahu. Bayang-bayang itu sudah merangkak ke kaki Pegunungan, bahkan mendekati perbatasan Greyflood; dan di bawah Bayang-Bayang itu semuanya gelap bagiku. Kau akan bertemu banyak musuh, beberapa terbuka, beberapa menyamar; dan kau mungkin akan menemukan sahabat di perjalanan, pada saat yang sama sekali tak terduga. Aku

akan mengirimkan pesan-pesan sebisaku, pada mereka yang kukenal di dunia luas; tapi sekarang negeri-negeri sudah jadi begitu berbahaya, hingga beberapa pesan mungkin tidak akan sampai, atau sampai tidak lebih cepat daripada dirimu.
"Dan aku akan memilihkan pendamping untuk pergi bersamamu, sejauh mereka mau atau nasib mengizinkan. Jumlahnya harus sedikit, karena harapanmu terletak dalam kecepatan dan kerahasiaan. Seandainya aku mempunyai pasukan bersenjata kaum Peri, seperti pada Zaman Peri, itu pun tidak akan banyak membantu, justru hanya akan membangkitkan kekuatan Mordor.
"Para Pembawa Cincin akan berjumlah Sembilan; dan Sembilan Pejalan ini akan melawan Sembilan Penunggang yang jahat. Bersamamu dan pelayanmu yang setia, Gandalf akan ikut; karena in, akan menjadi tugas besarnya, dan mungkin akhir dari pekerjaannya.
"Sisanya, mereka akan mewakili Bangsa-Bangsa Merdeka lain di Dunia: Peri, Kurcaci, dan Manusia. Legolas mewakili kaum Peri, dan Gimli putra Gloin mewakili para Kurcaci. Mereka bersedia pergi, setidaknya sejauh celah-celah di Pegunungan, dan mungkin lebih dari itu. Mewakili Manusia adalah Aragorn putra Arathorn, karena Cincin Isildur berhubungan erat dengannya."
"Strider!" kata Frodo.

"Ya," kata Strider sambil tersenyum. "Aku minta izin sekali lagi untuk menjadi pendampingmu."
"Aku pasti akan memohonmu untuk ikut," kata Frodo, "hanya saja aku

mengira kau akan pergi ke Minas Tirith bersama Boromir."

"Memang," kata Aragorn. "Dan Pedang-yang-sudah-Patah itu akan ditempa kembali sebelum aku maju perang. Tapi jalanmu dan jalanku berdampingan selama beratus-ratus mil. Karena itu, Boromir juga akan ikut dalam rombongan. Dia orang yang gagah berani."
"Tapi itu berarti tidak ada tempat untuk kami!" teriak Pippin sedih. "Kami tidak mau ditinggal Kami ingin ikut dengan Frodo."
"Itu karena kau tidak mengerti dan tak bisa membayangkan apa yang

bakal kauhadapi," kata Elrond.

"Begitu juga Frodo," kata Gandalf, tiba-tiba mendukung Pippin. "Tak satu pun di antara kita tahu pasti. Memang benar, hobbit-hobbit ini tidak akan berani pergi kalau mereka memahami bahayanya. Tapi mereka masih tetap ingin pergi, atau berharap mereka berani, dan akan malu serta sedih. Elrond, menurutku dalam masalah ini lebih baik mempercayai persahabatan mereka daripada kebijakan besar. Meski kau memilihkan seorang Pangeran Peri untuk kami, misalnya Glorfindel, dia tidak akan bisa menyerang Menara Kegelapan, atau membuka jalan ke Api dengan kekuatan yang ada di dalam dirinya."
"Kau berbicara serius," kata Elrond, "tapi aku ragu. Menurutku saat ini Shire tidak bebas dari bahaya, dan mungkin dua hobbit ini akan kukirim sebagai pembawa berita ke sana, untuk memperingatkan penduduknya tentang bahaya- ini. Bagaimanapun, kurasa yang termuda di antara mereka berdua, Peregrin Took, perlu tetap di sini. Hatiku berat membiarkan dia pergi."
"Kalau begitu, Master Elrond, kau harus menyekapku di penjara, atau mengirimku pulang terikat dalam karung," kata Pippin. "Karena kalau tidak, aku akan tetap ikut dengan Rombongan."
"Ya sudahlah. Kau akan pergi," kata Elrond, dan ia mengeluh. "Sekarang rombongan Sembilan sudah lengkap. Dalam tujuh hari, kalian harus berangkat."


Pedang Elendil ditempa kembali oleh para pandai besi bangsa Peri, pada matanya ditorehkan alat berbentuk tujuh bintang di antara Bulan Sabit dan Matahari yang bersinar, dan di sekitarnya dituliskan banyak lambang; karena Aragorn, putra Arathorn, akan pergi berperang melawan barisan Mordor. Pedang itu bersinar kemilau setelah diperbaiki utuh kembali; cahaya matahari bersinar merah di dalamnya, dan cahaya bulan bersinar dingin, tepiannya keras dan tajam. Aragorn memberinya nama baru, Anduril, Nyala Api dari Barat.
Aragorn dan Gandalf berjalan bersama, atau duduk membicarakan perjalanan dan bahaya yang akan mereka temui; mereka merenungi tumpukan peta dan buku pengetahuan yang ada di rumah Elrond. Kadang-kadang Frodo bersama mereka; tapi ia puas mengandalkan bimbingan mereka, dan sebanyak

mungkin waktu dihabiskannya bersama Bilbo.

Di hari-hari terakhir itu, para hobbit duduk bersama di sore hari di Aula Api. Di sana, di antara banyak dongeng, mereka mendengar selengkapnya syair tentang Beren dan Luthien, dan tentang keberhasilan Beren menyunting Permata Agung itu; tapi di pagi hari, sementara Pippin dan Merry berjalan-jalan, Frodo dan Sam bisa ditemukan bersama Bilbo di dalam kamarnya yang kecil. Bilbo akan membacakan beberapa bab dari bukunya (yang masih kelihatan sangat tidak lengkap), atau potongan sajak-sajaknya, atau mencatat petualangan Frodo.
Di pagi hari terakhir, Frodo berdua saja dengan Bilbo, dan hobbit tua itu mengeluarkan sebuah peti kayu dari bawah tempat tidurnya. Ia membuka tutupnya dan meraba-raba di dalamnya.
"Ini pedangmu," katanya. "Tapi sudah patah. Aku mengambilnya untuk menyimpannya dengan aman, tapi aku lupa menanyakan apakah para pandai besi bisa memperbaikinya. Sudah tak ada waktu lagi sekarang. Maka, kupikir, mungkin kau mau menerima ini."
Dari dalam peti, Bilbo mengambil sebilah pedang kecil terbungkus sarung kulit yang sudah usang. Lalu ia menghunusnya, dan pedang yang terawat dan sudah digosok itu tiba-tiba berkilauan, dingin dan terang. "Ini Sting," kata Bilbo, dan menusukkannya tanpa banyak upaya ke dalam balok kayu. "Ambillah, kalau kau suka. Aku tidak akan memerlukannya lagi, kukira."
Frodo menerimanya dengan bersyukur.

"Juga ada ini!" kata Bilbo, mengeluarkan sebuah bungkusan yang tampak agak terlalu berat untuk ukurannya. Bilbo membuka beberapa lipatan kain tua, dan mengangkat sebuah rompi kecil dari logam. Rompi itu terbuat dari tenunan cincin rapat, sangat lemas, hampir seperti kain linen, dingin seperti es, dan lebih keras daripada baja. Ia berkilauan seperti perak yang kena cahaya bulan, dan bertatahkan permata putih. Juga ada ikat pinggang dari mutiara dan kristal.
"Indah, bukan?" kata Bilbo, menggerakkannya di bawah cahaya. "Dan berguna sekali. Ini rompi logam Kurcaci yang diberikan Thorin padaku. Aku mengambilnya kembali dari Michel Delving sebelum aku berangkat, dan

mengepaknya bersama barang bawaanku. Aku membawa semua kenang- kenangan Petualangan-ku, kecuali Cincin. Tapi kurasa aku tidak akan memakainya, dan aku tidak membutuhkannya sekarang, kecuali untuk sekali- sekali dilihat. Hampir tidak terasa beratnya kalau dipakai."
"Aku pasti akan kelihatan... yah, kurasa aku tidak akan tampak bagus kalau memakainya," kata Frodo.
"Persis seperti yang kukatakan pada diriku sendiri," kata Bilbo. "Tapi

jangan hiraukan penampilan. Kau bisa memakainya di bawah pakaian luarmu. Ayo! Ini rahasia antara kau dan aku. Jangan ceritakan pada siapa pun! Tapi aku akan merasa lebih bahagia kalau aku tahu kau memakainya. Mungkin rompi ini bisa menahan pisau Penunggang Hitam sekalipun," ia mengakhiri perkataannya dengan suara rendah.
"Baiklah, baiklah, aku akan memakainya," kata Frodo. Bilbo mengenakannya pada Frodo, dan mengikat Sting pada ikat pinggangnya yang berkilauan; lalu Frodo memakai celana, jubah, dan jaketnya yang sudah lusuh kena cuaca.
"Kau kelihatan seperti hobbit biasa," kata Bilbo. "Tapi di dalam dirimu ada sesuatu yang lebih besar daripada yang tampak di permukaan. Selamat dan sukses untukmu!" Bilbo membuang muka dan memandang ke luar jendela, sambil mencoba menyenandungkan sebuah lagu.
"Bilbo, ucapan terima kasih saja takkan cukup untuk ini, dan untuk semua kebaikanmu di masa lalu," kata Frodo.
"Tak perlu!" kata hobbit tua itu sambil membalikkan tubuh dan menepuk

punggung Frodo. "Aduh!" teriaknya. "Kau sekarang sudah terlalu keras untuk dipukul! Tapi begitulah: para hobbit harus selalu bekerja sama, terutama keluarga Baggins. Yang kuminta sebagai balasan hanya: jaga dirimu sebaik mungkin, dan bawalah kembali semua berita sebisa mungkin, dan lagu serta dongeng kuno yang kautemukan. Aku akan berupaya sebaik mungkin untuk menyelesaikan bukuku sebelum kau kembali. Aku ingin menulis buku kedua, kalau aku diberi waktu untuk tetap hidup." Bilbo memutuskan pembicaraan dan membalikkan badan ke jendela lagi, sambil bernyanyi perlahan.

Di depan perapian, aku duduk memikirkan segala hal yang pernah kulihat,
bunga-bunga di padang dan kupu-kupu yang berterbangan di musim panas yang telah lewat;


Dedaunan kuning dan jaringan sutra di musim gugur yang telah berlalu bersama kabut pagi dan cahaya matahari serta angin yang bertiup di rambutku.


Di depan perapian, aku duduk memikirkan tentang apa jadinya dunia ini
bila hanya ada musim dingin tanpa disusul musim semi.


Kar'na masih sangat banyak

Hal-hal yang belum sempat kukagumi:

di setiap hutan dalam setiap musim semi

ada warna hijau yang berbeda ‘tuk dinikmati.



Di dekat perapian, aku duduk memikirkan orang-orang di zaman dahulu,
dam orang-orang yang akan melihat dunia

yang aku sendiri takkan pernah tahu.



Tapi sementara aku duduk berpikir tentang masa-masa yang telah berlalu, kupasang telinga mendengarkan langkah kaki dan suara-suara di depan pintu..


Hari itu cuaca dingin kelabu, mendekati akhir Desember. Angin Timur

mengalir melalui dahan-dahan gundul pepohonan, dan menggelegak di pohon- pohon cemara di bukit. Potongan awan-awan bergegas di atas, gelap dan rendah. Ketika keremangan muram sore hari mulai latuh, Rombongan itu bersiap-siap berangkat. Mereka akan berangkat senja, karena Elrond menyarankan mereka berjalan di bawah lindungan malam sesering mungkin, sampai mereka jauh dari Rivendell.
"Kau harus waspada terhadap banyak mata anak buah Sauron," katanya. "Tak kuragukan bahwa kabar tentang malapetaka yang dialami para Penunggang sudah sampai ke telinganya, dan dia pasti gusar sekali. Tak lama lagi, mata-matanya yang berjalan maupun bersayap akan berkelana di negeri- negeri utara. Bahkan langit di atasmu harus diwaspadai dalam perjalananmu."


Rombongan itu hanya membawa sedikit senjata perang, karena harapan mereka ada pada kerahasiaan, bukan pertempuran. Aragorn membawa Anduril, tapi tidak membawa senjata lain, dan ia pergi hanya berpakaian hijau dan cokelat, sebagai penjaga belantara. Boromir mempunyai pedang panjang, bentuknya seperti Anduril, tapi garis keturunannya tidak begitu hebat, dan ia juga membawa perisai serta terompet perangnya.
"Bunyinya nyaring dan jelas di lembah-lembah perbukitan," katanya, "maka biarlah semua musuh Gondor lari!" Sambil memasang terompet itu di bibirnya, ia meniupnya; gemanya berlompatan dari karang ke karang, dan semua yang mendengarnya di Rivendell melompat bangkit.
"Jangan terlalu cepat membunyikan terompetmu itu lagi, Boromir," kata Elrond, "sampai kau sekali lagi berdiri di perbatasan negerimu, dan menghadapi situasi gawat."
"Mungkin," kata Boromir. "Tapi aku selalu membunyikan terompetku kalau berangkat, dan meski setelahnya kami akan berjalan dalam kegelapan, aku tidak akan pergi seperti maling di malam hari."
Hanya Gimli si Kurcaci yang mengenakan secara terbuka sebuah kemeja pendek terbuat dari cincin-cincin baja, karena orang-orang kerdil bisa mengangkat beban dengan enteng; dalam ikat pinggangnya ada sebuah kapak

bermata lebar. Legolas mempunyai sebuah busur dan tempat anak panah, dan di ikat pinggangnya sebilah pisau panjang putih. Hobbit-hobbit yang lebih muda membawa pedang-pedang yang mereka ambil dari Barrow; tapi Frodo hanya membawa Sting; rompi logamnya tetap tersembunyi, seperti diinginkan Bilbo. Gandalf membawa tongkatnya, tapi terpasang di pinggangnya adalah Glamdring, pedang bangsa Peri, pasangan pedang Orcrist yang sekarang terbaring di atas dada Thorin, di bawah Gunung Sunyi.
Mereka semua dibekali pakaian tebal yang hangat oleh Elrond; mereka juga mempunyai jaket can mantel berlapis bulu. Persediaan makanan, pakaian, dan kebutuhan lain diangkut seekor kuda, tak lain daripada hewan malang yang mereka bawa dari Bree.
Tinggal di Rivendell telah membawa perubahan hebat pada si kuda: bulunya mengilap, dan semangatnya menggebu-gebu. Sam yang bersikeras memilihnya, menyatakan bahwa Bill (begitu ia memanggilnya) akan sakit kalau tidak diajak.
"Hewan itu hampir bisa bicara," katanya, "dan akan berbicara, kalau dia tinggal di sini lebih lama lagi. Dia memandangku sama jelasnya seperti Mr. Pippin bicara: 'Kalau kau tidak membiarkan aku ikut denganmu, Sam, aku akan ikut sendiri." Maka Bill pun ikut sebagai hewan muatan, tapi justru ia satu- satunya anggota rombongan yang tidak tampak tertekan.


Mereka sudah berpamitan di aula besar dekat perapian, dan sekarang mereka hanya menunggu Gandalf, yang belum keluar dari rumah. Secercah cahaya api keluar melalui pintu-pintu yang terbuka, dan cahaya-cahaya lembut bersinar di dalam banyak jendela. Bilbo yang berselubung jubah berdiri diam di ambang pintu, di samping Frodo. Aragorn duduk dengan kepala tertunduk sampai ke lutut; hanya Elrond yang tahu persis arti saat ini baginya. Yang lainnya terlihat sebagai sosok-sosok kelabu di dalam kegelapan.
Sam berdiri dekat kuda, sambil mengisap-isap giginya, dan memandang muram ke dalam keremangan, di mana sungai bergemuruh di atas bebatuan di bawah; gairahnya untuk petualangan sedang surut sampai titik terendah.

"Bill, sobatku," katanya, "seharusnya kau tidak ikut kami. Kau bisa saja tetap di sini, makan jerami terbaik sampai rumput baru datang." Bill mengibaskan ekornya dan tidak mengatakan apa pun.
Sam membetulkan letak ransel di pundaknya, dan dengan cemas mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah ia masukkan ke dalamnya, bertanya-tanya apakah ia melupakan sesuatu: hartanya yang utama, alat-alat masaknya; dan kotak garam kecil yang selalu dibawa dan diisinya kembali sebisa mungkin; persediaan rumput tembakau (tapi pasti kurang banyak); korek api dan bahan bakar; kaus kaki wol; beberapa benda milik majikannya yang dilupakan Frodo dan yang dikemas Sam untuk suatu saat nanti dikeluarkan dengan bangga kalau dicari. Ia mengingat-ingat semuanya.
"Tambang!" ia menggerutu. "Tidak ada tambang! Padahal baru tadi malam kau bilang pada dirimu sendiri, 'Sam, bagaimana dengan tambang? Kau akan memerlukannya, kalau kau tidak punya.' W ell, aku akan menginginkannya. Tapi aku tak mungkin mendapatkannya sekarang."


Saat itu Elrond keluar bersama Gandalf, dan ia memanggil Rombongan. "Inilah ucapanku yang terakhir," katanya dengan suara rendah. "Pembawa Cincin akan berangkat ke Gunung Maut. Pada dirinya seorang, tanggung jawab terbeban: tidak membuang Cincin, atau memberikannya kepada anak buah Musuh, juga tidak membolehkan siapa pun memegangnya, kecuali anggota Rombongan dan Dewan Penasihat, dan hanya dalam keadaan sangat gawat. Yang lain-lain pergi bersamanya sebagai pendamping bebas, untuk membantunya di jalan. Kalian boleh tetap tinggal, atau kembali, atau membelok ke jalan lain, tergantung kesempatan. Semakin jauh kalian pergi, semakin tak mudah mengundurkan diri; tapi tak ada sumpah atau ikatan yang dibebankan pada kalian untuk pergi lebih jauh daripada yang kalian inginkan. Karena kalian tidak tahu kekuatan hati kalian, dan kalian tak bisa tahu sebelumnya, apa yang akan dijumpai masing- masing dalam perjalanan ini."
"Dia yang pamit ketika jalan menjadi gelap adalah orang yang tak punya keyakinan," kata Gimli.

"Mungkin," kata Elrond, "tapi jangan biarkan seseorang bersumpah untuk berjalan dalam kegelapan, kalau dia belum melihat datangnya malam."
"Tapi kata-kata sumpah mungkin bisa memperkuat had yang gemetar," kata Gimli.
"Atau mematahkannya," kata Elrond. "Jangan menatap terlalu jauh ke depan! Tapi pergilah sekarang dengan hati bersih! Selamat jalan, dan semoga berkat bangsa Peri dan Manusia dan semua Bangsa Merdeka menyertaimu. Semoga bintang-bintang menerangi wajahmu!"
"Semoga... semoga berhasil!" teriak Bilbo, berbicara terbata-bata karena kedinginan. "Kurasa kau tidak akan sempat menulis buku harian, Frodo anakku, tapi aku mengharapkan laporan lengkap bila kau kembali. Dan jangan terlalu lama! Selamat jalan!"


Para anggota lain dalam rumah tangga Elrond berdiri dalam bayang-bayang, memperhatikan mereka berangkat, mengucapkan selamat jalan dengan suara- suara lembut. Tak ada tawa, dan tak ada nyanyian atau musik. Akhirnya mereka membalikkan badan, dan diam-diam berlalu dalam kegelapan.
Rombongan itu melintasi jembatan, dan perlahan-lahan mendaki jalan curam panjang yang keluar dari lembah Rivendell yang terbelah; akhirnya mereka sampai ke dataran tinggi, di mana angin mendesis melalui semak-semak heather. Lalu, dengan satu tatapan terakhir ke Rumah Nyaman terakhir yang berkelip-kelip di bawah sana, mereka berjalan maju ke dalam kegelapan malam.


Di Ford Bruinen mereka meninggalkan Jalan, dan menuju ke selatan, melalui jalan-jalan sempit di tengah daratan yang penuh lipatan-lipatan tanah. Rencana mereka adalah tetap berjalan ke arah ini di sisi barat Pegunungan, untuk beberapa mil dan hari. Pedalaman itu jauh lebih kasar dan lebih gersang daripada di lembah hijau Sungai Besar di Belantara, di sisi sebelah sana jajaran gunung, dan perjalanan mereka akan lamban; tapi dengan cara ini mereka berharap bisa menghindari ketahuan oleh mata yang tidak bersahabat. Mata- mata Sauron selama ini jarang terlihat di negeri kosong ini, dan jalan-jalannya

tidak dikenal, kecuali oleh penduduk Rivendell.

Gandalf berjalan di depan, dan bersamanya berjalan Aragorn, yang kenal negeri ini bahkan dalam gelap. Yang lainnya berbaris ke belakang, dan Legolas yang bermata tajam menjadi penjaga belakang. Bagian pertama perjalanan mereka keras dan melelahkan, dan Frodo hanya sedikit mengingatnya, kecuali anginnya. Selama berhari-hari angin sedingin es bertiup dari Pegunungan di timur, dan tak ada pakaian yang mampu menahan rabaan jemarinya. Meski Rombongan itu berpakaian baik, jarang mereka merasa hangat, baik selagi bergerak maupun bila sedang beristirahat. Mereka tidur dengan gelisah di tengah hari, di suatu lembah, atau tersembunyi di bawah semak belukar berduri yang tumbuh bergerombol di banyak tempat. Di siang hari, mereka dibangunkan oleh penjaga, dan menyantap makan siang: dingin dan tak menyenangkan biasanya, karena mereka jarang bisa mengambil risiko menyalakan api. Di sore hari mereka melanjutkan perjalanan, selalu sedapat mungkin ke arah selatan, bila mereka bisa menemukan jalan.
Pada mulanya, para hobbit merasa perjalanan ini tidak membawa mereka ke mana-mana, dan terasa selamban siput, meski mereka sudah berjalan tersandung-sandung sampai kelelahan. Setiap hari pedalaman itu kelihatan sama saja seperti hari sebelumnya. Namun toh pegunungan semakin dekat. Di Selatan Rivendell mereka menjulang semakin tinggi, dan melengkung ke barat; dan di sekitar kaki gunung utama terhampar negeri perbukitan yang lebih luas, dan lembah-lembah berisi air yang bergolak. Jalan setapak hanya sedikit dan berkelok-kelok, dan sering hanya menuntun mereka ke ujung suatu jurang terjal, atau masuk ke rawa-rawa jahat.


Mereka sudah dua minggu dalam perjalanan, ketika cuaca berubah. Angin mendadak berhenti, dan berputar ke arah selatan. Awan-awan yang mengalir cepat mendadak lenyap dan melebur, dan matahari muncul, pucat dan cerah. Fajar dingin jernih merebak di akhir perjalanan malam yang panjang dan terhuyung-huyung. Para pelancong aku sampai ke sebuah punggung bukit

rendah yang dimahkotai pepohonan holly kuno, dengan batang-batang kelabu yang seolah dibangun dari batu-batu bukit itu sendiri. Daun-daunnya yang gelap bersinar, dan buah beryn-nya menyala merah dalam cahaya matahari terbit.
Jauh di selatan, Frodo bisa melihat sosok remang-remang pegunungan tinggi yang sekarang seolah berdiri di atas jalan yang mereka lalui. Di sebelah kiri barisan pegunungan ini menjulang tiga puncak; yang tertinggi dan paling dekat berdiri seperti gigi berlapiskan salju; ngarainya yang besar dan gersang di sisi utara masih diliputi keremangan, tapi menyala merah di bagian yang disinari cahaya matahari.
Gandalf berdiri di samping Frodo, dan memandang dari bawah tudungan tangannya. "Kita sudah berhasil baik," katanya. "Kita sudah mencapai perbatasan negeri yang disebut Hollin. Banyak Peri hidup di sini di masa-masa yang lebih bahagia, ketika namanya masih Eregion: Sudah lima puluh lima mil kita berjalan, menurut ukuran terbang burung gagak, meski lebih banyak mil lagi yang sudah ditempuh kaki kita. Negeri dan cuacanya akan lebih lembut sekarang, tapi mungkin justru semakin berbahaya."
"Berbahaya atau tidak, terbitnya matahari sangat menyenangkan," kata Frodo, menyingkapkan kerudungnya dan membiarkan cahaya pagi jatuh ke wajahnya.
"Tapi pegunungan ada di depan kita," kata Pippin. "Pasti tadi malam kita berbelok ke timur."
"Tidak," kata Gandal£ "Tapi kau bisa melihat lebih jauh di bawah sinar terang. Di seberang puncak-puncak itu, pegunungan membengkok ke barat daya. Banyak sekali peta di rumah Elrond, tapi kurasa tak terpikir olehmu untuk mengamatinya?"
"Ya, aku melakukannya, kadang-kadang," kata Pippin, "tapi aku tak ingat. Frodo lebih cerdas untuk hal-hal semacam ini."
"Aku tidak butuh peta," kata Gimli, yang datang bersama Legolas. Ia menatap ke depan dengan sorot aneh di matanya yang dalam. "Dahulu kala, di negeri itulah ayah-ayah kami bekerja, dan kami menempa gambar pegunungan itu ke dalam banyak karya dari logam dan batu. Dan ke dalam banyak lagu dan

dongeng. Mereka menjulang tinggi dalam mimpi-mimpi kami: Baraz, Zirak, Shathur.
"Hanya sekali aku melihat mereka dari jauh dalam hidup ini, tapi, aku tahu mereka dan nama-nama mereka, karena di bawahnya terletak Khazad-dum, Dwarrowdelf, yang sekarang dinamakan Sumur Hitam, atau Moria dalam bahasa Peri. Di sana berdiri Barazinbar, si Tanduk Merah, Caradhras yang kejam; di seberangnya ada Silvertine dan Cloudyhead: Celebdil si Putih, dan Funaidhol si Kelabu, yang kami namakan Zirakzigil dan Bundushathur.
"Di sana Pegunungan Berkabut terbagi, dan di antara lengan-lengannya terletak lembah gelap yang tak mungkin kami lupakan: Azanulbizar, Lembah Dimrill, yang oleh bangsa Peri disebut Nanduhirion."
"Kita menuju Lembah Dimrill," kata Gandalf. "Kalau kita mendaki celah yang dinamakan Gerbang Tanduk Merah, di bawah sisi terjauh Caradhras, kita akan menuruni Tangga Dimrill, masuk ke lembah dalam, tempat para Kurcaci. Di sana terletak Mirrormere, dan di sana Sungai Silverlode muncul dalam mata- mata an-nya yang sedingin es."
"Gelap air Kheled-zaram," kata Gimli, "dan dingin mata air Kibil-nala. Hatiku bergetar memikirkan bahwa segera aku akan melihatnya."
"Semoga kau bahagia melihatnya, Kurcaci yang budiman!" kata Gandalf. "Tapi apa pun yang akan kaulakukan, kita tak bisa tinggal di lembah itu. Kita harus melewati Silverlode, masuk ke hutan rahasia, lalu ke Sungai Besar, lalu..."
Ia berhenti.

"Ya, terus ke mana?" tanya Merry.

"Sampai ke akhir perjalanan—pada akhirnya," kata Gandalf. "Kita tak bisa terlalu jauh melihat ke depan. Biarlah kita berbahagia bahwa tahap pertama sudah selesai dengan selamat. Kupikir kita akan beristirahat di sini, bukan hanya hari ini, tapi juga nanti malam. Suasana di Hollin ini bagus sekali. Banyak kejahatan harus menimpa suatu negeri, sebelum negeri itu sama sekali melupakan bangsa Peri, kalau mereka pernah tinggal di sana."
"Itu benar," kata Legolas. "Tapi kaum Peri di negeri ini berasal dari ras yang asing bagi kami bangsa silvan, dan sekarang pepohonan dan rumput

sudah tak ingat mereka lagi. Hanya bebatuan kudengar meratapi mereka: mereka mempelajari kami sangat dalam, mereka membuat kami indah, mereka membangun kami tinggi; tapi mereka sudah pergi. Mereka pergi. Mereka menuju Havens, lama berselang."


Pagi itu mereka menyalakan api dalam cekungan dekat semak-semak holly, dan makan malam-sarapan mereka jauh lebih gembira daripada sejak saat mereka baru berangkat. Mereka tidak bergegas pergi tidur setelahnya, karena mengharapkan punya waktu sepanjang malam untuk tidur, dan sesuai rencana, mereka tidak akan melanjutkan perjalanan sampai sore hari berikutnya. Hanya Aragorn diam dan resah. Setelah beberapa saat, ia meninggalkan Rombongan dan berjalan sampai ke atas punggung bukit; di sana ia berdiri di bawah bayangan pohon, memandang ke arah selatan dan barat, kepalanya dalam posisi sedang mendengarkan. Lalu ia kembali ke pinggir lembah dan memandang teman-temannya yang tertawa dan bercakap-cakap di bawah.
"Ada apa, Strider?" Merry berteriak. "Apa yang kaucari? Apakah kau kehilangan Angin Timur?"
"Bukan itu," jawab Aragorn. "Tapi aku kehilangan sesuatu. Akusudah sering ke Hollin selama banyak musim. Tidak ada penduduknya sekarang, tapi banyak makhluk lain tinggal di sini setiap saat, terutama burung. Sekarang semua makhluk diam, kecuali kalian. Aku bisa merasakannya. Tidak ada bunyi sejauh bermil-mil di sekitar kita, dan suara-suara kalian tampaknya membuat tanah bergema. Aku tidak mengerti ini."
Gandalf tiba-tiba menoleh dengan penuh perhatian. "Menurutmu, apa kira- kira penyebabnya?" tanyanya. "Apakah lebih dari sekadar kekagetan melihat empat hobbit, belum lagi yang lainnya, di tempat orang biasanya jarang terlihat atau terdengar?"
"Kuharap itu penyebabnya," jawab Aragorn. "Tapi aku merasakan suatu kewaspadaan, dan ketakutan, yang belum pernah kurasakan di sini."
"Kalau begitu, kita harus lebih berhati-hati," kata Gandalf. "Kalau bepergian dengan Penjaga Hutan, sebaiknya ucapannya kita perhatikan,

terutama kalau Penjaga Hutan itu adalah Aragorn. Kita harus berhenti berbicara keras; kita beristirahat dengan tenang, dan mulai berjaga bergiliran."


Hari itu giliran Sam untuk penjagaan pertama, tapi Aragorn bergabung dengannya. Yang lain tertidur. Lalu keheningan semakin pekat, sampai Sam juga merasakannya. Napas mereka yang tidur bisa terdengar jelas sekali. Kibasan ekor kuda dan gerakan kakinya sesekali, menjadi bunyi-bunyian yang keras sekali. Sam bisa mendengar sendi-sendinya sendiri berkeriut, kalau ia bergerak. Keheningan pekat menggantung di sekitamya, dan di atas semuanya terbentang langit biru jernih, sementara Matahari naik dari Timur. Jauh di Selatan, sebuah bercak gelap muncul, semakin besar, dan melayang ke utara, seperti asap mengalir diterbangkan angin.
"Apa itu, Strider? Itu tidak seperti awan," Sam berbisik kepada Aragorn. Aragorn tidak menjawab; ia menatap tajam ke langit; tapi tak lama kemudian Sam bisa melihat sendiri, apa yang sedang men_ dekat. Kawanan burung, terbang dengan kecepatan tinggi, berputar-putar melintasi seluruh daratan, seolah sedang mencari sesuatu; dan mereka semakin lama semakin dekat.
"Berbaring datar dan diam!" desis Aragorn, menarik Sam ke bawah bayangan semak holly; karena sejumlah besar burung tiba-tiba melepaskan diri dari pasukan utama, dan terbang rendah, langsung menuju punggung bukit. Sam menduga mereka sejenis burung gagak berukuran besar. Saat mereka melintas di atas-dalam kerumunan yang begitu rapat, sampai-sampai bayangan mereka mengikuti dengan gelap di tanah di bawah-terdengar bunyi gaokan parau.
Baru setelah mereka menghilang di kejauhan, utara dan barat, dan langit sudah jernih kembali, Aragorn bangkit berdiri. Lalu ia melompat dan membangunkan Gandalf.
"Kawanan burung gagak hitam terbang di atas seluruh daratan di antara Pegunungan dan Greyflood," katanya, "dan mereka melintasi Hollin. Mereka bukan burung asli daerah itu; mereka crebain dari Fangorn dan Dunland. Aku tidak tahu apa urusan mereka: mungkin ada kesulitan di selatan, dan mereka melarikan diri; tapi kupikir mereka memata-matai daratan. Aku juga melihat

banyak elang terbang tinggi di langit. Kurasa kita harus berjalan terus malam ini. Hollin sudah tidak sehat untuk kita: dia diawasi."
"Kalau begitu, Gerbang Tanduk Merah juga," kata Gandalf. "Dan bagaimana kita bisa melewatinya tanpa kelihatan, tak bisa aku bayangkan. Kita pikirkan nanti saja, kalau sudah saatnya. Kalau tentang berjalan lagi begitu kegelapan turun, kurasa kau benar."
"Untung api kita hanya sedikit berasap, dan sudah menyala kecil sebelum crebain datang," kata Aragorn. "Api itu harus dipadamkan dan jangan dinyalakan lagi."


"Nah, itu benar-benar gangguan menjengkelkan!" kata Pippin. Beritanya: tidak boleh ada api, dan berjalan lagi malam ini, sudah diberitahukan kepadanya begitu ia bangun siang itu. "Semua hanya karena sekawanan burung gagak! Aku sudah mengharapkan makan malam enak malam ini: sesuatu yang hangat."
"Yah, kau bisa meneruskan mengharapkannya," kata Gandalf. "Mung" kin saja ada pesta makan tak terduga nanti. Aku sendiri ingin sekali mengisap pipa dengan nyaman, dan kaki yang lebih hangar. Tapi ada satu hal pasti: akan semakin panas kalau kita sampai di selatan."
"Terlalu panas, aku tidak akan heran," gerutu Sam pada Frodo. "Tapi aku mulai berpikir, sudah saatnya kita melihat Gunung Api, dan akhir Jalan ini. Tadinya kukira Tanduk Merah ini, atau apa pun namanya, adalah Gunung Api, sampai Gimli berbicara. Bahasa Kurcaci pasti sulit sekali diucapkan!" Sam tak bisa mencerna peta-peta, dan semua jarak dalam negeri-negeri asing ini rasanya begitu luas, sampai ia kehilangan hitungan.
Sepanjang hari itu mereka tetap bersembunyi. Burung-burung hitam itu sesekali melintas; tapi ketika Matahari yang semakin condong ke barat mulai memerah, mereka menghilang ke selatan. Senja hari mereka berangkat, dan sekarang dengan berbelok setengah ke timur, mereka mengarahkan perjalanan menuju Caradhras, yang di kejauhan masih menyala merah samar-samar, dalam cahaya terakhir Matahari yang sedang terbenam. Satu demi satu bintang-bintang muncul, sementara langit memudar.

Dipimpin oleh Aragorn, mereka menemukan jalan yang bagus. Bagi Frodo tampaknya seperti sisa jalan kuno, yang dulu pernah lebar dan direncanakan dengan baik, dari Hollin sampai ke celah gunung. Bulan, yang sekarang sudah purnama, naik di atas pegunungan, melemparkan cahaya pucat yang membuat bayangan bebatuan kelihatan hitam. Banyak bebatuan itu tampak seperti dikerjakan dengan tangan, meski mereka sekarang menggeletak terguling, seperti puing-puing di daratan gersang dan pucat.
Jam-jam dingin menggigit mendahului merekahnya fajar, dan bulan sudah rendah. Frodo menengadah ke langit. Tiba-tiba ia melihat, atau merasa, sebuah bayangan melintas tinggi di atas bintang-bintang, seolah untuk sejenak mereka memudar, lalu berkelip lagi. Ia menggigil.
"Kau melihat sesuatu melintas di atas?" bisiknya pada Gandalf, yang berjalan persis di depannya.
"Tidak, tapi aku merasakannya, apa pun itu," jawab Gandalf. "Mungkin bukan apa-apa; hanya seuntai awan tipis."
"Kalau begitu, dia bergerak cepat sekali," gerutu Aragorn, "dan bukan terbawa angin."


Tak ada lagi yang terjadi malam itu. Keesokan paginya malah lebih cerah dari sebelumnya. Tapi udara dingin lagi; angin sudah berbalik kembali ke timur. Selama dua malam mereka berjalan terus, mendaki terus, namun sangat perlahan, sementara jalan mereka melingkar masuk ke perbukitan, dan pegunungan menjulang tinggi, semakin de ant dan semakin dekat. Pada pagi ketiga, Caradhras menjulang di depan mereka, puncak yang hebat, ujungnya tertutup salju seperti perak, tapi sisi-sisinya curam telanjang, merah kusam seolah bernoda darah.
Langit tampak hitam, dan matahari pucat. Angin sekarang sudah pergi ke timur laut. Gandalf menghirup udara dan menoleh ke belakang.
"Musim dingin semakin pekat di belakang kita," ia berkata tenang pada Aragorn. "Ketinggian di utara sana lebih putih dari sebelumnya; salju sudah membentang jauh ke pundaknya. Malam ini kita akan berjalan mendaki ke

Gerbang Tanduk Merah. Mungkin sekali kita kelihatan oleh mata-mata di jalan sempit itu, dan dihadang oleh sesuatu yang buruk; tapi cuaca mungkin bisa menjadi musuh yang lebih mematikan daripada yang lain. Bagaimana menurutmu sekarang arah perjalanan kita, Aragorn?"
Frodo mendengar kata-kata itu, dan memahami bahwa Gandalf dan Aragorn sedang melanjutkan perdebatan yang sudah lama dimulai. Ia mendengarkan dengan cemas.
"Menurutku arah perjalanan kita sejak awal sampai akhir tidak baik, kau

sudah tahu itu, Gandalf," jawab Aragorn. "Bahaya-bahaya yang dikenal dan tak dikenal akan tumbuh, sementara kita berjalan terus. Tapi kita harus melanjutkannya; tidak baik kita menunda perjalanan melewati pegunungan. Di sebelah selatan tak ada celah, sampai di Celah Rohan. Aku tidak percaya jalan itu sejak kabarmu tentang Saruman. Siapa yang tahu, pihak mana yang sekarang dilayani para Penguasa Kuda itu?"
"Siapa yang tahu, memang!" kata Gandalf. "Tapi ada jalan lain, dan bukan melalui celah Caradhras: jalan gelap dan rahasia yang pernah kita bahas."
"Tapi jangan kita bicarakan lagi! Jangan dulu. Jangan katakan apa pun pada yang lain, kumohon, sampai jelas tak ada jalan lain lagi."
"Kita harus memutuskannya sebelum berjalan lebih jauh," jawab Gandalf. "Kalau begitu, ma i kita pertimbangkan masalah ini dalam pikiran kita,
sementara yang lain beristirahat dan tidur," kata Aragorn.



Di siang larut, sementara yang lain menghabiskan sarapan, Gandalf dan Aragorn pergi menjauh bersama, dan berdiri memandang Caradhras. Sisi-sisinya sekarang gelap dan cemberut, kepalanya diliputi awan-awan kelabu. Frodo memperhatikan mereka, bertanya-tanya ke arah mana debat itu akan berlangsung. Ketika mereka kembali Rombongan, Gandalf berbicara, lalu Frodo tahu bahwa diputuskan menghadapi cuaca dan celah tinggi. Ia lega. Ia tak bisa menduga, apa jalan lain yang gelap dan rahasia, yang disebut-sebut Gandalf, tapi mendengarnya saja tampaknya sudah membuat Aragorn ngeri, dan Frodo senang pilihan itu ditinggalkan.

"Dari tanda-tanda yang akhir-akhir ini kami lihat," kata Gandalf, ''aku khawatir Gerbang Tanduk Merah sudah diawasi; aku juga ragu tentang cuaca yang muncul di belakang kita. Salju mungkin akan datang. Kita harus pergi dengan segenap kecepatan yang bisa kita kerahkan. Meski begitu, masih butuh waktu dua hari berjalan sebelum kita mencapai puncak celah. Kegelapan akan datang lebih awal sore ini. Kita harus berangkat sesegera mungkin, begitu kalian
siap."

"Aku ingin menambahkan sedikit nasihat, kalau boleh," kata Boromir. "Aku lahir di bawah bayangan Pegunungan Putih, dan aku tahu sedikit tentang perjalanan di tempat-tempat tinggi. Kita akan menghadapi hawa dingin yang tajam, kalau tidak lebih buruk lagi, sebelum mencapai sisi sebelah sana. Bila kita pergi dari sini, di mana masih ada beberapa pohon dan semak, masing-masing harus membawa seikat kayu bakar, sebanyak yang bisa dibawa."
"Dan Bill juga bisa tambah sedikit beban lagi, ya kan, Nak?" kata Sam. Kuda itu memandangnya dengan muram.
"Baiklah," kata Gandalf. "Tapi kita tak boleh menggunakan kayu itu—

kecuali bila sudah terdesak pilihan antara api dan mati."



Rombongan itu berangkat lagi dengan kecepatan bagus pada awalnya; tapi, tak lama kemudian, jalan mereka menjadi sulit dan curam. Jalan Yang membelok- belok dan mendaki di banyak tempat hampir hilang, dan dirintangi oleh banyak batu yang jatuh. Malam semakin pekat di bawah awan-awan besar. Angin dingin berputar di antara bebatuan. Saat tengah malam, mereka sudah mendaki sampai ke lutut pegunungan besar itu. Jalan mereka yang sempit sekarang menjulur di bawah dinding batu karang terjal di sebelah kiri, di atas mana sisi-sisi Caradhras Yang suram menjulang tak kelihatan dalam kegelapan; di sebelah kanan ada gelombang kegelapan, di mana daratan mendadak jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.
Dengan susah payah mereka mendaki lereng curam, dan berhenti sejenak di puncaknya. Frodo merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Ia mengulurkan tangan, dan melihat keping-keping salju putih samar-samar jatuh

ke atas lengannya.

Mereka berjalan terus. Tapi tak lama kemudian salju turun deras, memenuhi seluruh angkasa, dan berputar-putar masuk ke mata Frodo. Sosok- sosok Gandalf dan Aragorn yang gelap dan membungkuk, hanya dua langkah di depannya, hampir tak terlihat.
"Aku sama sekali tidak suka ini," Sam terengah-engah di belakangnya. "Salju menyenangkan kalau pagi hari, tapi aku lebih suka berada di ranjang sementara salju jatuh. Kuharap salju ini mau pergi ke Hobbiton! Di sana penduduknya akan menyambut dengan senang.'' Kecuali di dataran tinggi Wilayah Utara, hujan salju deras sangat langka di Shire, dan dianggap suatu kejadian menyenangkan dan kesempatan untuk bersuka ria. Tidak ada hobbit yang masih hidup (kecuali Bilbo) yang ingat Musim Dingin Naas di tahun 1311, ketika serigala putih menyerang Shire melalui Brandywine yang membeku.
Gandalf berhenti. Salju sudah tebal di atas kerudung dan pundaknya;

sudah setinggi pergelangan kaki di sekitar sepatu botnya.

"Ini yang kukhawatirkan," katanya. "Bagaimana sekarang menurutmu, Aragorn?"
"Aku juga sudah mengkhawatirkannya," jawab Aragorn, "tapi tidak terlalu. Aku sudah tahu risiko salju; meski jarang turun begitu deras di selatan ini, kecuali tinggi di pegunungan. Tapi kita belum tinggi sekarang; kita masih jauh di bawah, dan jalan di bawah biasanya selalu terbuka sepanjang musim dingin."
"Aku bertanya-tanya, apakah ini bukan bikinan Musuh," kata Boromir. "Di negeriku, mereka mengatakan dia bisa memerintah badai di Pegunungan Bayang-Bayang yang terletak di perbatasan Mordor. Dia mempunyai kekuatan aneh dan banyak sekutu."
"Lengannya pasti sudah tumbuh panjang sekali," kata Gimli, "kalau dia bisa menarik salju dari Utara untuk mengganggu kita di sini, sejauh tiga ribu mil dari sana."
"Lengannya memang sudah tumbuh panjang," kata Gandalf.



Sementara mereka berhenti, angin surut, dan salju melambat sampai hampir

berhenti: Mereka berjalan lagi. Tapi belum lagi mereka melangkah lebih dari dua ratus meter, badai kembali berkecamuk dengan ganas. Angin bersiul dan salju menjadi badai membutakan. Tak lama kemudian, Boromir pun merasa sulit melangkah. Para hobbit sudah membungkuk dalam sekali, bersusah payah di belakang orang-oran° yang lebih tinggi, tapi sudah jelas mereka tak bisa pergi lebih jauh kalau salju terus turun. Kaki Frodo terasa seperti timah berat. Pippin terseok-seok di belakang. Bahkan Gimli, meski untuk ukuran Kurcaci ia cukup kekar, menggerutu sementara berjalan dengan susah payah.
Rombongan itu berhenti mendadak, seolah sudah sepakat tanpa berbicara. Mereka mendengar bunyi-bunyi menyeramkan dalam kegelapan di sekitar mereka. Mungkin saja itu hanya tipuan angin dalam celah-celah dan parit- parit di dinding bebatuan, tapi bunyi-bunyi itu seperti teriakan melengking dan raungan tertawa liar. Batu-batu mulai berjatuhan dari sisi gunung, bersiul di atas kepala mereka, atau jatuh berantakan ke jalan di samping mereka. Sesekali mereka mendengar bunyi gemuruh samar-samar, setiap ada batu besar berguling ke bawah dari ketinggian tersembunyi di atas.
"Kita tak bisa berjalan lebih jauh malam ini," kata Boromir. "Biarlah menganggapnya angin kalau mau; tapi ada suara-suara jahat di udara; dan batu- batu ini ditujukan pada kita."
"Aku memang menganggapnya ulah angin," kata Aragorn. "Tapi itu bukan berarti apa yang kaukatakan tidak benar. Banyak sekali hal-hal jahat dan tidak ramah di dunia yang tidak menyukai makhluk berkaki dua; mereka bukan merupakan sekutu Sauron, namun mempunyai tujuan sendiri. Beberapa sudah berada di dunia lebih lama daripada Sauron."
"Caradhras dulu disebut si Kejam, dan mempunyai nama jelek," kata Gimli, "sudah lama sekali, ketika selentingan tentang Sauron masih belum terdengar di wilayah ini."
"Tidak penting siapa musuh kita, kalau kita tak bisa menangkis serangannya," kata Gandalf.
"Tapi apa yang bisa kita lakukan?" seru Pippin sedih. Ia bersandar pada

Merry dan Frodo. Dan menggigil.

"Berhenti di sini, atau kembali," kata Gandalf. "Tidak baik meneruskan perjalanan. Hanya sedikit lebih tinggi, kalau ingatanku benar, jalan ini meninggalkan batu karang dan masuk ke palung lebar dan dangkal di kaki lereng panjang yang terjal Di sana kita tak punya perlindungan terhadap salju, atau batu-atau hal lain."
"Dan tidak baik berjalan kembali sementara masih badai," kata Aragorn. "Sepanjang jalan, kita tidak melewati tempat yang memberikan lebih banyak perlindungan daripada di bawah batu karang tempat kita berdiri sekarang."
"Perlindungan!" gerutu Sam. "Kalau ini merupakan perlindungan, maka satu dinding tanpa atap bisa dikatakan rumah."


Sekarang mereka berkumpul bersama sedekat mungkin ke batu karang. Batu itu menghadap ke selatan, di dekat kakinya agak menjorok keluar, sehingga mereka berharap mendapat sedikit perlindungan terhadap angin utara dan batu-batu yang berjatuhan. Tapi tiupan angin berputar-putar di sekeliling mereka dari setiap sisi, dan salju turun semakin deras dan rapat.
Mereka meringkuk bersama, bersandar ke dinding batu. Bill si kuda berdiri dengan sabar tetapi sedih di depan para hobbit, dan agak melindungi mereka; tapi tak lama kemudian salju sudah mencapai lututnya, dan masih terus meninggi. Seandainya tidak mempunyai pendamping yang lebih tinggi, para hobbit pasti segera terbenam seluruhnya.
Rasa kantuk berat menyerang Frodo; ia merasa dirinya tenggelam dengan cepat ke dalam mimpi hangat dan kabur. Ia mengira nyala api memanaskan jari kakinya, dan dari kegelapan di sisi seberang perapian ia mendengar suara Bilbo. Buku harianmu tidak begitu hebat menurutku, katanya. Badai salju tanggal 12 Januari: tidak perlu kembali hanya untuk melaporkan itu!
Tapi aku ingin istirahat dan tidur, Bilbo, jawab Frodo dengan susah payah, ketika merasa dirinya diguncang-guncang, dan ia pun bangun dengan rasa tersiksa. Boromir sudah mengangkatnya dari tanah, keluar dari setumpuk salju.
"Mereka bisa mati, Gandalf," kata Boromir. "Tak ada gunanya duduk di sini sampai- salju menutupi kepala kita. Kita harus melakukan sesuatu untuk

menyelamatkan diri."

"Berikan ini pada mereka," kata Gandalf, sambil mencari dalam ranselnya dan mengeluarkan sebuah botol kulit. "Hanya sepengisi mulut masing-masing— untuk kita semua. Ini sangat berharga. Ini miruvor, anggur dari Imladris. Elrond memberikannya padaku ketika kita berangkat. Edarkan keliling!"
Begitu menelan sedikit anggur hangat dan wangi itu, Frodo merasakan kekuatan baru dalam dirinya, dan kantuk berat itu hilang dari tubuhnya. Yang lain juga menjadi segar, serta menemukan harapan dan semangat baru. Tapi salju tidak berhenti. Ia berputar-putar di sekitar mereka, semakin tebal, dan angin bertiup semakin kencang.
"Bagaimana menurutmu kalau menyalakan api?" tanya Boromir tiba-tiba. "Sekarang pilihannya sudah mendekati antara api dan kematian, Gandalf. Pasti kita akan tersembunyi dari semua mata yang tidak ramah, kalau salju sudah menutupi kita, tapi itu tidak akan membantu kita."
"Kau boleh menyalakan api, kalau bisa," kata Gandalf. "Kalau ada mata- mata yang bisa bertahan dalam badai ini, mereka akan bisa melihat kita, dengan atau tanpa api."
Tapi, meski mereka membawa kayu dan ranting-ranting kecil atas saran Boromir, ternyata untuk menyalakan api yang bisa bertahan di tengah pusaran angin atau menyalakan bahan bakar basah, sudah di luar kemampuan para Peri maupun orang kerdil. Akhirnya dengan enggan Gandalf turun tangan. Sambil memungut sebatang ranting, ia mengangkatnya sebentar, lalu dengan satu perintah, naur an edraith ammen! ia menusukkan ujung tongkatnya ke tengah ranting. Dalam sekejap semprotan besar nyala hijau dan biru memancar, dan kayu itu menyala dan berderak.
"Kalau ada yang sedang melihat, aku pasti sudah ketahuan," kata Gandalf. "Aku telah menuliskan Gandalf ada di sini dengan tanda-tanda yang bisa dibaca semua makhluk, mulai dari Rivendell sampai ke muara Anduin."
Tapi mereka sudah tak peduli tentang pengamat atau mata yang tidak ramah. Hati mereka gembira sekali melihat cahaya api. Kayu itu terbakar dengan ceria; meski di sekitarnya salju berdesis, dan genangan lumpur salju mengalir di

kaki mereka, mereka menghangatkan tangan dengan gembira dekat nyala api. Di sanalah mereka berdiri, membungkuk dalam lingkaran di seputar nyala api kecil yang menari-nari. Nyala merah tampak di wajah mereka yang letih dan cemas; di belakang mereka, malam membentang bagaikan dinding hitam kelam.
Tapi kayu itu terbakar dengan cepat, dan salju masih turun.



Api semakin kecil, dan kayu terakhir sudah dilemparkan ke atasnya. "Malam suciah larut sekali," kata Aragorn. "Tak lama lagi fajar tiba." "Kalau ada fajar yang bisa menembus awan-awan ini,." kata Gimli.
Boromir melangkah keluar dari lingkaran, dan menatap ke atas, ke dalam kegelapan. "Salju sudah berkurang," katanya, "dan angin sudah surut."
Frodo memandang dengan lelah ke keping-keping yang masih berjatuhan dari kegelapan, bersinar putih sekejap dalam nyala api yang sudah mau mati; tapi lama sekali ia tidak melihat tanda-tanda salju akan berkurang. Lalu mendadak, ketika rasa kantuk mulai menyerangnya lagi, ia menyadari angin memang sudah berhenti, dan keping-keping salju semakin besar dan jarang. Cahaya samar-samar mulai muncul, sangat lambat. Akhirnya salju berhenti turun sama sekali.
Ketika cahaya semakin kuat, tampaklah dunia sepi terselubung. Di bawah tempat perlindungan mereka ada gundukan-gundukan putih dan kubah-kubah, serta lembah-lembah tak berbentuk, dan di bawahnya jalan yang kemarin mereka lalui sama sekali hilang; tapi ketinggian di atas tersembunyi dalam awan- awan besar yang masih sarat dengan ancaman salju.
Gimli menengadah dan menggelengkan kepala. "Caradhras belum memaafkan kita," katanya. "Dia masih punya lebih banyak salju untuk dilemparkan pada kita, kalau kita melanjutkan perjalanan. Lebih baik kita turun kembali sesegera mungkin."
Semua sepakat tentang itu, tapi jalan kembali mereka sekarang sulit. Bahkan mungkin mustahil. Hanya beberapa langkah dari tempat abu api mereka, salju menumpuk setinggi beberapa kaki, lebih tinggi daripada kepala para hobbit; di beberapa tempat bahkan tersapu dan tertumpuk oleh angin menjadi timbunan

besar yang bersandar pada batu karang.

"Kalau Gandalf berjalan di depan dengan api terang, mungkin dia bisa meleburkan jalan untukmu," kata Legolas. Badai tidak banyak mengganggunya, dan hanya dia dari Rombongan itu yang masih bersemangat tinggi.
"Kalau Peri bisa terbang di atas pegunungan, mereka mungkin akan mengambil Matahari untuk menyelamatkan kita," jawab Gandalf. "Tapi aku harus punya sesuatu untuk dinyalakan. Aku tak bisa membakar salju."
"Nah," kata Boromir, "kalau kepala sudah kehilangan akal, maka tubuh

yang harus digunakan, begitu kata orang di negeriku. Yang terkuat di antara kita harus mencari jalan. Lihat! Meski semuanya tertutup salju, jalan kita, ketika kita naik, membelok mengelilingi pundak batu di bawah sana. Di sana salju pertama- tama jatuh. Kalau kita bisa mencapai titik itu, mungkin akan lebih mudah di sebelah sananya. Tidak lebih jauh dari dua ratus meter, kukira."
"Kalau begitu, mau kita membuka jalan ke arah sana, kau dan aku!" kata

Aragorn.

Aragorn yang paling jangkung dalam Rombongan itu, tapi Boromir, yang sedikit lebih pendek, tubuhnya lebih kekar dan berat. Ia memimpin jalan, dan Aragorn mengikutinya. Perlahan-lahan mereka berjalan, dan segera kelihatan bersusah payah. Di beberapa tempat, saljunya setinggi dada, dan sering Boromir tampak berenang atau menggali dengan tangannya daripada berjalan.
Selama beberapa saat, Legolas memperhatikan mereka dengan tersenyum, lalu menoleh pada yang lain. "Yang paling kuat harus mencari jalan, katanya? Tapi kataku: biarkan tukang bajak membajak, tapi pilihlah berang- berang untuk berenang, dan untuk berlari ringan di rumput, dedaunan, dan salju... seorang Peri tentunya."
Sambil berkata begitu, ia berlari maju dengan gesit, lalu Frodo melihat, seolah baru untuk pertama kali, meski ia sudah lama mengetahuinya, bahwa Peri itu tidak memakai sepatu bot, melainkan hanya mengenakan sepatu ringan, seperti biasanya, dan kakinya hanya sedikit meninggalkan jejak di atas salju.
"Selamat tinggal!" katanya pada Gandalf. "Aku akan pergi mencari

Matahari!" Lalu dengan cepat, seperti pelari di atas pasir padat, ia berlari pergi,

dengan cepat menyusul kedua laki-laki yang bekerja keras itu, dengan lambaian tangannya ia melewati mereka, dan melaju ke kejauhan, lalu menghilang di balik tikungan batu.


Yang lain menunggu sambil meringkuk, memperhatikan sampai Boromir dan Aragorn mengecil hingga tinggal berupa bercak hitam di tengah lautan putih. Akhirnya mereka juga hilang dari pandangan. Waktu berlalu. Awan-awan merendah, dan sekarang beberapa keping salju mulai turun berputar-putar lagi.
Satu jam mungkin berlalu, meski rasanya jauh lebih lama, lalu akhirnya mereka melihat Legolas datang kembali. Pada saat bersamaan, Boromir dan Aragorn juga muncul dari balik tikungan jauh di belakangnya, dan datang berjalan dengan susah payah mendaki lereng.
"Nah," seru Legolas sambil berjalan naik, "aku tidak membawa Matahari. Dia masih berjalan di padang-padang biru di Selatan, dan sedikit rangkaian salju di atas bukit Tanduk Merah ini sama sekali tidak mengganggunya. Tapi aku membawa pulang secercah harapan bagi mereka yang terpaksa berjalan kaki. Ada timbunan besar sekali, persis setelah tikungan, dan di sana kedua Orang Kuat kita hampir saja terkubur. Mereka putus asa, sampai aku kembali dan menceritakan pada mereka bahwa timbunan itu hanya sedikit lebih lebar daripada tembok. Dan di sebelah sana salju mendadak menipis, sementara lebih jauh ke bawah, salju hanya berupa selimut putih tipis untuk mendinginkan jari kaki hobbit."
"Ah, jadi memang seperti sudah kukatakan," geram Gimli. "Bukan badai biasa. Ini hasrat jahat Caradhras. Dia tidak menyukai Peri dan Kurcaci, dan angin itu dikeluarkan untuk memotong pelarian kita."
"Tapi untung Caradhras lupa bahwa ada Manusia bersamamu," kata Boromir, yang muncul tepat pada saat itu. "Manusia-manusia yang tangguh, kalau boleh kukatakan begitu; meski manusia-manusia Yang kurang gagah, namun membawa sekop, mungkin akan lebih berguna bagimu. Pokoknya kami sudah membuka jalan melalui timbunan; dan untuk itu, semua di sini yang tidak bisa berlari seringan bangsa Peri boleh bersyukur."

"Tapi bagaimana kita bisa turun ke sana, meski kau sudah memotong timbunan?" tanya Pippin, menyuarakan pikiran semua hobbit.
"Jangan putus asa!" kata Boromir. "Aku memang letih, tapi masih punya sedikit kekuatan, Aragorn juga. Kami akan menggendong orang-orang kecil. Yang lainnya pasti akan berupaya berjalan di belakang kami. Mari, Master Peregrin! Aku akan mulai denganmu."
Ia mengangkat hobbit itu. "Berpeganganlah ke punggungku! Aku akan membutuhkan tanganku," katanya dan ia melangkah maju. Aragorn dengan Merry berjalan di belakangnya. Pippin kagum dengan kekuatan Boromir, ketika, melihat jalan tembus yang sudah dibuatnya tanpa alat, selain tangannya yang besar. Bahkan sekarang, sambil membawa beban, ia memperlebar jalan untuk mereka yang mengikuti, mendorong salju ke samping sambil berjalan melewatinya.
Akhirnya mereka sampai ke timbunan besar. Timbunan itu terlempar melintang di atas jalan gunung, bagai tembok kokoh yang tiba-tiba ada; puncaknya, yang tajam bagai dibentuk dengan pisau, menjulang lebih tinggi daripada dua kali tinggi tubuh Boromir; tapi di tengahnya sudah dibuat jalan, naik-turun seperti jembatan. Di sisi sebelah sana Merry dan Pippin diturunkan, dan di sana mereka menunggu bersama Legolas, sampai sisa Rombongan datang.
Setelah beberapa saat, Boromir kembali sambil membawa Sam. Di belakang, di jalan sempit yang sekarang sudah banyak dijejaki, menyusul Gandalf, menuntun Bill dengan Gimli bertengger di antara muatannya. Terakhir adalah Aragorn, yang berjalan sambil mengangkat Frodo. Mereka melewati jalan itu; tapi baru saja Frodo menginjak tanah, terdengar deruman keras batu-batu menggelinding ke bawah, serta salju merayap turun. Cipratannya setengah membutakan Rombongan itu, sementara mereka meringkuk bersandar ke batu karang. Ketika udara sudah jernih lagi, mereka melihat jalan tadi sudah tertutup di belakang mereka.
"Cukup! Cukup!" teriak Gimli. "Kami akan pergi secepat mungkin!" Dan memang, dengan sapuan terakhir itu, kejahatan sang gunung seolah berakhir,

seakan-akan Caradhras puas bahwa para penyusup sudah diusir dan tidak akan berani kembali. Ancaman salju lenyap, dan cahaya mulai makin menyebar.
Seperti dilaporkan Legolas, salju semakin tipis ketika mereka turun, sehingga para hobbit juga bisa berjalan kaki. Tak lama kemudian, mereka semua sudah kembali berdiri di bidang tanah datar, di puncak lereng curam tempat mereka pertama kali merasakan turunnya salju malam sebelumnya.
Pagi sudah menjelang siang sekarang. Dari tempat tinggi itu, mereka menoleh kembali ke barat, di atas dataran rendah. Jauh di sana, di hamparan daratan yang terletak di kaki gunung, tampak lembah tempat mereka memulai mendaki celah.
Kaki Frodo sakit. Ia kedinginan sampai ke tulang-tulangnya, dan lapar; kepalanya pusing saat ia memikirkan perjalanan panjang dan sengsara menuruni bukit. Bercak-bercak hitam berenang-renang di depan matanya. Ia menyeka matanya, tapi bercak-bercak hitam itu tetap ada. Di kejauhan di bawahnya, namun masih tinggi di atas kaki bukit yang lebih rendah, titik-titik gelap berputar- putar di angkasa.
"Burung-burung lagi!" kata Aragorn sambil menunjuk ke bawah.

"Tak bisa dihindari sekarang," kata Gandalf. "Entah mereka baik atau jahat, atau sama sekali tidak ada urusan dengan kita, kita harus segera turun. Kita tidak akan menunggu satu malam lagi, meski di lutut Caradhras."
Angin dingin mengalir ke bawah di belakang, saat mereka membelakangi Gerbang Tanduk Merah, dan berjalan letih terhuyung-huyung menuruni lereng. Caradhras sudah mengalahkan mereka.

BAB 4

PERJALANAN DALAM GELAP



Sudah sore, dan cahaya kelabu sekali lagi memudar dengan cepat, ketika mereka berhenti untuk bermalam. Mereka letih sekali. Pegunungan terselubung senja yang semakin pekat, dan angin sangat dingin. Gandalf menyisihkan lagi untuk mereka masing-masing satu teguk miruvor dari Rivendell. Selesai makan, ia mengadakan rapat.
"Kita tentu saja tak bisa melanjutkan perjalanan lagi malam ini," katanya. "Serangan di Gerbang Tanduk Merah sudah menguras habis tenaga kita, dan kita harus beristirahat di sini untuk beberapa lama."
"Lalu ke mana kita harus pergi?" tanya Frodo.

"Masih ada perjalanan dan tugas kita," jawab Gandalf. "Tak ada pilihan kecuali berjalan terus, atau kembali ke Rivendell."
Wajah Pippin jelas berbinar mendengar perkataan kembali ke Rivendell;

Merry dan Sam menengadah penuh harap. Tapi Aragorn dan Boromir tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Frodo tampak resah.
"Aku berharap kembali berada di sana," katanya. "Tapi bagaimana aku bisa kembali tanpa rasa malu, kecuali memang tak ada jalan lain, dan kita sudah dikalahkan?"
"Kau benar, Frodo," kata Gandalf, "pulang berarti mengakui kekalahan, dan menghadapi kekalahan lebih hebat lagi. Kalau kita kembali sekarang, Cincin harus tetap berada di sana: kita takkan mungkin pergi lagi. Lalu, cepat atau lambat Rivendell akan diserang, dan setelah suatu saat yang singkat dan pahit, dia akan ditaklukkan. Hantu-Hantu Cincin merupakan musuh mematikan, tapi itu belum seberapa dibandingkan kekuatan dan teror yang bisa mereka miliki kalau Cincin Utama sudah di tangan majikan mereka lagi."
"Kalau begitu; kita harus berjalan terus, kalau ada jalan," kata Frodo sambil mengeluh. Sam surut lagi dalam kemuraman.
"Ada jalan yang mungkin bisa kita coba," kata Gandalf. "Sejak awal, ketika pertama mempertimbangkan perjalanan ini, aku merasa kita harus mencobanya.

Tapi jalan ini bukan jalan yang nyaman, dan aku belum membahasnya dengan Rombongan. Aragorn menolaknya, sampai setidaknya perjalanan melewati celah gunung dicoba dulu."
"Kalau jalan ini lebih buruk daripada Gerbang Tanduk Merah, berarti dia pasti sangat jelek," kata Merry. "Tapi sebaiknya kau menceritakannya pada kami, dan biarkan kami langsung tahu yang terburuk."
"Jalan yang kubicarakan ini melewati Tambang Moria," kata Gandalf.

Hanya Gimli yang mengangkat kepala; api menyala bersinar-sinar di matanya. Yang lain merasa ketakutan mendengar nama itu. Bahkan bagi para hobbit nama itu merupakan dongeng yang samar-samar mengerikan.
"Jalan itu mungkin menuju Moria, tapi bagaimana kita bisa tahu dia keluar melalui Moria?" kata Aragorn muram.
"Nama itu penuh pertanda buruk," kata Boromir. "Dan aku tidak melihat perlunya pergi ke sana. Kalau tak bisa melintasi pegunungan, sebaiknya kita berjalan ke selatan, sampai tiba di Celah Rohan, yang penduduknya ramah terhadap bangsaku, mengambil jalan yang kuambil ketika aku kemari. Atau kita bisa lewat dan menyeberangi Isen, masuk ke Langstrand dan Lebennin, dan dengan begitu sampai di Gondor dari wilayah yang dekat ke laut."
"Keadaan sudah banyak berubah sejak kau datang ke utara, Boromir," jawab Gandalf. "Tidakkah kaudengar apa yang kuceritakan tentang Saruman? Dengan dia, aku ada urusan sendiri kalau semua ini sudah selesai. Tapi Cincin tak boleh mendekati Isengard, kalau itu bisa dihindari dengan cara apa pun. Celah Rohan tertutup bagi kita selama kita berjalan bersama Pembawa Cincin.
"Tentang jalan yang panjang: kita tak ada waktu. Kita mungkin akan menghabiskan satu tahun untuk perjalanan semacam itu, dan kita akan melewati banyak negeri kosong yang tidak berpenduduk. Tap, di situ tidak akan aman. Mata waspada Saruman dan Musuh memperhatikan daerah itu. Ketika kau datang ke utara, Boromir, di mata Musuh kau hanya seorang pelancong yang berkeliaran sendiri dari Selatan, dan tidak penting baginya: benaknya sibuk dengan pengejaran Cincin. Tapi sekarang kau kembali sebagai anggota Rombongan Cincin, dan kau berada dalam bahaya selama kau bersama kami.

Bahaya semakin besar dengan setiap, mil yang kita jejaki ke Utara, di bawah langit terbuka.
"Sejak percobaan terbuka kita di lintasan gunung, keadaan kita semakin buruk, kukira. Sekarang aku tidak melihat banyak harapan, kalau kita tidak segera menghilang dari pandangan, untuk sementara, dan menutupi jejak kita. Karena itu aku menyarankan kita tidak melewati pegunungan atau mengelilinginya, tapi lewat di bawahnya. Jalan itu setidaknya paling tak terduga oleh Musuh."
"Kita tidak tahu apa yang diduganya," kata Boromir. "Mungkin dia memperhatikan semua jalan, yang mungkin maupun yang mustahil. Dalam hal itu, masuk ke Moria berarti masuk perangkap, sama saja dengan mengetuk pintu Menara Kegelapan sendiri. Nama Moria hitam sekali."
"Kau berbicara tentang sesuatu yang tidak kaukenal, kalau kau menyamakan Moria dengan benteng Sauron," jawab Gandalf. "Hanya aku yang pernah masuk ke ruang bawah tanah Penguasa Kegelapan itu, dan hanya di tempat tinggalnya yang lama dan lebih kecil di Dol Guldur. Mereka yang melewati gerbang Barad-dur tidak pernah kembali. Tapi aku tidak akan menuntun kalian ke Moria kalau tidak ada harapan untuk keluar lagi. Memang benar, kalau ada Orc di sana, mungkin akan buruk bagi kita. Tapi kebanyakan Orc dari Pegunungan Berkabut sudah tercerai-berai atau hancur dalam Pertempuran Lima Pasukan. Elang-elang melaporkan bahwa Orc sudah mulai berkumpul lagi dari jauh; tapi ada harapan bahwa Moria masih bebas.
"Bahkan kemungkinan ada kaum Kurcaci di sana, dan barangkali di salah satu lorong istana ayahnya, Balin putra Fundin bisa ditemukan. Bagaimanapun nanti jalan itu, kita harus menapaki jalan yang sesuai kebutuhan!"
"Aku akan menapaki jalan yang kaupilih, Gandalf!" kata Gimli. "Aku akan pergi dan memandang aula-aula Durin, apa pun yang menunggu di sana—kalau kau bisa menemukan pintu-pintu yang tertutup itu."
"Baik, Gimli!" kata Gandalf. "Kau memberiku semangat. Akan kita cari pintu-pintu tersembunyi itu, dan kita pasti berhasil melewatinya. Di reruntuhan Kurcaci, seorang Kurcaci tidak akan sebingung Peri, Manusia, atau hobbit. Meski

begitu, ini bukan pertama kali aku ke Moria. Aku pernah lama mencari Thrain, putra Thror, di sana, setelah dia hilang. Aku berhasil melewatinya, dan keluar hidup-hidup!"
"Aku juga pernah melalui Gerbang Dimrill," kata Aragorn tenang, "tapi, meski aku juga keluar hidup-hidup, ingatan tentang tempat itu sangat jelek. Aku tak ingin masuk Moria untuk kedua kalinya."
"Aku bahkan tak ingin masuk biar sekali pun," kata Pippin.

"Aku juga tidak," gerutu Sam.

"Tentu saja tidak!" kata Gandalf. "Siapa yang mau? Tapi pertanyaannya adalah: siapa yang mau ikut aku, kalau aku menuntun kalian ke sana?”
"Aku," kata Gimli penuh gairah.

"Aku," kata Aragorn dengan berat. "Kau mengikuti tuntunanku sebelumnya, di salju itu, yang ternyata hampir menjadi bencana, dan kau tidak sedikit pun menyalahkanku. Aku akan mengikuti panduanmu sekarang-kalau peringatan terakhir ini tidak menggoyahkanmu. Bukan masalah Cincin, atau kami yang lain yang kupikirkan sekarang, tapi kau, Gandalf. Dan aku katakan padamu: kalau kau melewati gerbang Moria, waspadalah!"
"Aku tidak akan pergi," kata Boromir, "kecuali suara seluruh Rombongan melawanku. Bagaimana dengan Legolas dan si kecil? Suara Pembawa Cincin tentu harus didengarkan."
"Aku tidak ingin pergi ke Moria," kata Legolas.

Para hobbit tidak mengatakan apa pun. Sam memandang Frodo. Akhirnya Frodo berbicara. "Aku tak ingin pergi," katanya, "tapi aku juga tak ingin menolak nasihat Gandalf. Kuminta agar jangan ada pemungutan suara, sampai setelah kita tidur. Gandalf akan lebih mudah mendapat suara di cahaya pagi daripada dalam kemuraman yang dingin ini. Keras sekali raungan angin!"
Mendengar kata-kata itu, semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka mendengar angin mendesis di antara bebatuan dan pepohonan, raungan dan lolongannya mengelilingi mereka di ruang-ruang kosong malam hari.

Mendadak Aragorn melompat berdiri. "Raungan angin itu!" teriaknya. "Itu suara raungan serigala. Warg sudah datang ke sebelah barat Pegunungan!"
"Apa kita perlu menunggu sampai pagi, kalau begitu?" kata Gandalf. "Seperti telah kukatakan. Perburuan sudah dimulai! Meski kita hidup untuk menyaksikan fajar, siapa sekarang mau berjalan ke selatan dengan serigala mengejar?"
"Berapa jauhkah Moria?" tanya Boromir.

"Ada pintu di sebelah barat daya Caradhras, sekitar lima belas mil ukuran terbang gagak, dan mungkin dua puluh mil untuk lad serigala," Jawab Gandalf muram.
"Kalau begitu, mari kita berangkat begitu hari terang besok, kalau bisa," kata Boromir. "Suara serigala lebih mengerikan daripada Orc yang ditakuti."
"Benar!" kata Aragorn, mengendurkan pedangnya di dalam sarungnya. "Tapi di mana warg melolong, di sana pula Orc berkeliaran."
"Aku menyesal tidak mengikuti saran Elrond," gerutu Pippin pada Sam.

"Bagaimanapun, aku tidak bermanfaat sama sekali. Tidak cukup banyak darah Bandobras the Bullroarer di dalam diriku: lolongan ini membekukan darahku. Belum pernah aku merasa sesial ini."
"Hatiku juga sudah turun ke jari kaki, Mr. Pippin," kata Sam, "Tapi kita belum dimakan, dan ada orang-orang gagah berani bersama kita. Apa pun nasib Gandalf, aku bertaruh pasti bukan di dalam perut serigala."


Untuk pertahanan mereka di malam hari, Rombongan itu mendaki puncak bukit kecil tempat tadi mereka berlindung. Puncak bukit itu bermahkotakan jalinan pohon-pohon tua yang saling melilit, dan di sekitarnya terdapat sebuah lingkaran yang tidak utuh, dari batu-batu besar. Di tengahnya mereka menyalakan api, karena tak ada harapan bahwa kegelapan dan kesunyian akan menyembunyikan jejak mereka dari kawanan pemburu.
Di sekeliling api mereka duduk, dan mereka yang tidak berjaga, tertidur dengan gelisah. Bill si kuda malang gemetaran dan berkeringat di tempatnya berdiri. Lolongan serigala sekarang ada di sekeliling mereka, kadang-kadang

dekat dan kadang-kadang agak jauh. Di malam pekat, banyak mata bersinar mengintai dari atas pundak bukit. Beberapa malah mendekat hampir sampai lingkaran batu. Di celah lingkaran, sesosok besar serigala terlihat berhenti, menatap mereka. Lolongan menggetarkan keluar dari mulutnya, seolah ia kapten yang memanggil kelompoknya untuk menyerang.
Gandalf berdiri dan melangkah ke depan, memegang tinggi tongkatnya. "Dengar, Anjing Sauron!" teriaknya. "Gandalf ada di sini. Pergi cepat, kalau kau menghargai kulitmu yang busuk! Akan kukerutkan kau dari ekor sampai moncong, kalau kau masuk ke lingkaran ini."
Serigala itu menggeram dan melompat ke arah Gandalf dengan satu lompatan besar. Saat itu terdengar bunyi desing tajam. Legolas melontarkan anak panahnya. Ada teriakan menyeramkan, dan sosok yang melompat jatuh ke tanah; anak panah Peri sudah menghunjam lehernya. Mata-mata yang mengawasi mendadak padam: Gandalf dan Aragorn melangkah maju, tapi bukit itu sudah kosong; kawanan serigala pemburu sudah lari. Di sekitar mereka kegelapan semakin sunyi, dan tak ada teriakan yang diterbangkan angin.


Malam sudah larut; di sebelah barat, bulan yang memudar sudah mulai tenggelam, bersinar gelisah dari antara awan-awan yang memecah.
Tiba-tiba Frodo terbangun kaget. Tanpa peringatan, badai raungan ganas dan liar berkecamuk di sekitar seluruh perkemahan. Sepasukan besar warg sudah berkumpul diam-diam, dan sekarang menyerang mereka dari semua sisi sekaligus.
"Tambahkan kayu ke api!" teriak Gandalf kepada para hobbit. °'Hunus pisau kalian, dan berdiri saling memunggungi!"
Dalam cahaya yang membesar, ketika kayu segar berkobar, Frodo melihat banyak sekali sosok kelabu melompati lingkaran batu. Lebih banyak dan lebih banyak lagi menyusul. Aragorn menusukkan pedangnya ke leher salah satu pemimpin yang besar; dengan ayunan lebar, Boromir menebas tenggorokan yang lainnya. Di sampingnya Gimli berdiri dengan kakinya yang kekar terbuka lebar, mengayunkan kapaknya. Busur Legolas sibuk bernyanyi.

Dalam cahaya api yang bergetar, Gandalf seolah tumbuh membesar: ia bangkit berdiri, sosoknya besar mengancam, seperti monumen seorang raja kuno dari batu yang ditempatkan,di atas bukit. Membungkuk seperti awan, ia memungut sebatang ranting menyala dan maju mendekati serigala-serigala. Mereka mundur di depannya. Tinggi di udara Gandalf melambungkan ranting yang menyala itu. Ranting itu berkobar dengan cahaya putih mendadak, seperti petir; suaranya menggeram seperti guruh.
"Naur an edraith ammen! Naur dan i ngaurhoth!" teriaknya.

Ada deruman dan keriutan, dan pohon di atas Gandalf mencetuskan nyala api membutakan. Api itu melompat dari puncak pohon ke puncak pohon. Seluruh bukit dimahkotai cahaya menyilaukan. Pedang-pedang dan pisau-pisau para pengembara itu berkilauan dan berkelip. Anak panah Legolas yang terakhir terbang bercahaya di udara, dan menghunjam menyala ke dalam jantung seekor pemimpin serigala besar. Serigala-serigala yang lain lari.
Perlahan-lahan api padam, sampai tak ada yang tertinggal kecuali abu dan percikan yang jatuh; asap pahit berputar-putar di atas batang-batang pohon yang terbakar, dan terbang muram dari bukit, ketika cahaya pertama fajar datang samar-samar di langit. Musuh mereka sudah ditaklukkan dan tidak kembali.
"Apa kataku, Mr. Pippin," kata Sam, menyarungkan kembali pedangnya. "Serigala tidak berani menangkapnya. Itu benar-benar kejutan, dan tidak salah lagi! Hampir saja rambutku gosong!"


Ketika cahaya pagi sudah merebak penuh, tidak ada tanda-tanda bekas-bekas serigala, dan mereka sia-sia mencari bangkai-bangkainya. Tak ada bekas-bekas pertempuran, kecuali pohon-pohon yang gosong dan panah-panah Legolas yang bertebaran di puncak bukit. Semua tidak rusak, kecuali satu yang hanya tersisa ujungnya.
"Seperti sudah kukhawatirkan," kata Gandalf. "Mereka bukan serigala biasa yang memburu makanan di belantara. Mari kita makan cepat, lalu berangkat!"
Hari itu cuaca berubah lagi, seolah berada di bawah perintah suatu

kekuatan yang tidak lagi memanfaatkan salju, karena mereka sudah pergi dari celah pegunungan; sekarang kekuatan itu menghendaki cahaya terang, hingga semua yang bergerak di belantara bisa terlihat dari jauh. Angin beralih dari utara ke barat taut sewaktu masih malam, dan kini sudah reda. Awan-awan menghilang ke arah selatan dan langit terbuka, tinggi dan biru. Ketika mereka berdiri di lereng bukit, siap berangkat, cahaya matahari pucat bersinar di atas puncak pegunungan.
"Kita harus mencapai gerbang sebelum matahari terbenam," kata Gandalf, "kalau tidak, aku khawatir kita tidak akan mencapainya sama sekali. Jaraknya tidak jauh, tapi jalan kita mungkin berkelok-kelok, karena di sini Aragorn tak bisa menuntun kita; dia jarang berjalan di negeri ini, dan aku baru satu kali pergi ke bawah tembok barat Moria, itu pun sudah lama sekali.
"Di sana letaknya," kata Gandalf, sambil menunjuk ke arah tenggara, di mana lereng pegunungan jatuh curam ke dalam bayangan di kakinya. Di kejauhan samar-samar terlihat sebaris batu karang, gundul, dan di tengahnya, lebih tinggi dari yang lain, satu tembok kelabu besar. "Ketika kita meninggalkan celah, aku membimbing kalian ke arah selatan, dan tidak kembali ke tempat awal kita berangkat; mungkin beberapa di antara kalian memperhatikan hat itu. Untunglah aku melakukan itu, karena jarak yang harus kita tempuh jadi lebih pendek, dan kita memang perlu cepat. Ayo berangkat!"
"Aku tidak tahu harus mengharap apa," kata Boromir muram, "bahwa Gandalf menemukan apa yang dicarinya, atau bahwa sesampainya di batu- karang kita menemukan gerbang itu sudah hilang selamanya. Semua pilihan tampak buruk, dan mungkin sekali kita terjebak di antara serigala dan tembok. Jalanlah terus!"


Gimli sekarang berjalan di depan, di samping sang penyihir, karena ia begitu bergairah ingin melihat Moria. Bersama-sama mereka menuntun Rombongan kembali ke arah pegunungan. Satu-satunya jalan Moria lama dari barat terletak sepanjang aliran sungai, Sungai Sirannon yang keluar dari kaki bukit karang dekat tempat pintu gerbang. Tapi mungkin Gandalf tersesat, atau mungkin

daerah itu sudah berubah sejak beberapa tahun belakangan; karena ia tidak menemukan sungai di tempat yang dicarinya, hanya beberapa mil ke selatan dari tempat mereka berangkat.
Pagi sudah menjelang tengah hari, dan Rombongan itu masih mengembara dan merangkak di daratan gersang penuh batu merah. Di mana pun mereka tidak melihat kilauan air atau mendengar suaranya. Semuanya gersang dan kering. Semangat mereka merosot. Mereka tidak melihat satu pun makhluk hidup, dan tidak satu pun burung di langit; apa yang akan terjadi di malam hari, kalau mereka terjebak di daratan kosong itu, tak ada yang berani memikirkannya.
Mendadak Gimli, yang berjalan cepat di depan, memanggil mereka. Ia berdiri di atas sebuah bukit kecil, dan menunjuk ke kanan. Mereka bergegas ke sana, dan melihat di bawah mereka sebuah saluran dalam dan sempit. Saluran itu kosong dan sunyi, hampir tak ada kucuran air yang mengalir di antara batu- batu bernoda cokelat dan merah di dasarnya; tapi di sisi terdekat ada sebuah jalan, sudah terputus-putus dan rusak, menjulur di antara puing-puing tembok dan batu ubin suatu jalan raya kuno.
"Ah! Itu dia akhirnya!" kata Gandalf. "Di sinilah sungai mengalir: Sirannon, Sungai Gerbang, dulu mereka menyebutnya begitu. Tapi apa yang terjadi dengan airnya, aku tidak tahu; dulu dia mengalir deras dan berisik. Ayo! Kita harus buru-buru. Kita sudah kesiangan."


Kaki mereka sudah sakit dan letih, tapi mereka masih juga berjalan susah payah sepanjang jalan yang kasar dan berkelok-kelok, hingga beberapa mil. Matahari beralih dari tengah hari dan mulai pergi ke barat. Setelah istirahat singkat dan makan tergesa-gesa, mereka berjalan lagi. Di depan mereka tampak pegunungan yang cemberut, tapi berhubung jalan yang mereka telusuri ada di sebuah palung dalam, mereka hanya bisa melihat pundak-pundak yang lebih tinggi dan puncak-puncak di timur yang jauh.
Akhirnya mereka tiba di sebuah tikungan tajam. Di sana, jalan yang selama ini mengarah ke selatan, di antara tepi saluran dan lereng curam di

sebelah kiri, membalik dan menuju ke arah timur lagi. Ketika melewati tikungan, mereka melihat di depan sana ada sebuah batu karang rendah, setinggi kira-kira lima fathom, dengan puncak patah dan bergerigi. Dari atasnya air menetes, melalui lipatan lebar yang tampaknya dipahat oleh air terjun yang dulu besar dan penuh.
"Memang banyak perubahan di sini!" kata Gandalf. "Tapi tempat ini tak mungkin salah. Itu sisa-sisa Tangga Air Terjun. Kalau ingatanku betul, ada tangga yang dipahat dalam batu di sisinya, tapi jalan utama membelok ke kin', dan menanjak dengan beberapa putaran naik ke dataran di puncak. Dulu ada lembah dangkal di luar air terjun, sampai ke tembok Moria, dan Sungai Sirannon mengalir melintasinya, dengan jalan di sampingnya. Mari kita pergi dan melihat bagaimana keadaannya sekarang!"
Mereka menemukan tangga batu itu tanpa kesulitan, dan Gimli melompat gesit menaikinya, diikuti Gandalf dan Frodo. Ketika sampai ke puncak, ternyata mereka tak bisa berjalan lebih jauh ke arah itu, dan penyebab keringnya Sungai Gerbang terungkap. Di belakang mereka, Matahari yang sedang terbenam mengisi langit barat yang sejuk dengan cahaya kemilau keemasan. Di depan mereka terbentang sebuah telaga. Baik langit maupun matahari terbenam tercermin di permukaannya yang cemberut. Sirannon sudah dibendung dan mengisi seluruh lembah. Di seberang telaga luas itu, menjulang batu-batu karang besar, wajah mereka yang keras tampak pucat dalam cahaya yang memudar: tak bisa ditawar dan tak bisa dilewati. Tak ada tanda-tanda gerbang atau pintu masuk, tak sebuah retakan atau celah terlihat oleh Frodo di bebatuan yang cemberut itu.
"Di sanalah Tembok-Tembok Moria berada," kata Gandalf, menunjuk ke seberang air. "Dan di sana dulu berdiri Gerbang-nya, Pintu Peri di ujung jalan dari Hollin, dan mana kita datang. Tapi arah ini tertutup. Kurasa tak ada di antara kita yang mau berenang dalam air muram ini di penghujung hari. Tampaknya tidak sehat."
"Kita harus menemukan jalan memutari ujung utara," kata Gimli. "Pertama-tama, kita mesti mendaki jalan utama, dan melihat ke mana dia

menuntun kita. Meski tak ada danau, kita tak mungkin membawa kuda muatan kita menaiki tangga ini."
"Bagaimanapun, kita tak bisa membawa kuda malang itu masuk ke Tambang," kata Gandalf. "Jalan di bawah gunung gelap sekali, dan ada tempat- tempat sempit dan terjal yang tak bisa dijejakinya, meski kita bisa."
"Bill tua malang!" kata Frodo. "Aku tidak memikirkan itu. Kasihan Sam! Apa yang akan dikatakannya?"
"Aku menyesal," kata Gandalf. "Bill yang malang sudah menjadi pendamping yang sangat berguna, dan aku sangat sedih hams melepaskannya sekarang. Kalau tergantung aku, aku akan bepergian dengan bawaan lebih ringan dan tidak membawa hewan, apalagi hewan yang disayangi Sam ini. Aku sudah khawatir selama ini, bahwa kita akan


Hari itu hampir berakhir, bintang-bintang dingin berkelip di langit tinggi di atas matahari terbenam, ketika Rombongan itu, dent,-an kecepatan maksimum, mendaki lereng-lereng dan mencapai pinggir telaga. Lebar telaga itu tampaknya tidak lebih dari dua atau tiga kali dua ratusan meter di bagian paling lebar. Berapa jauh ia menghampar ke selatan, mereka tak bisa melihatnya dalam cahaya yang sudah mulai lenyap; tapi ujungnya di sebelah utara tidak lebih dari setengah mil dari tempat mereka berdiri, dan di antara pundak-pundak berbatu yang mengurung lembah dan pinggir danau ada sepetak tanah terbuka. Mereka bergegas maju, karena masih ada satu-dua mil yang harus dilewati, sebelum bisa sampai ke titik di pantai seberang yang dituju Gandalf; lalu ia masih harus menemukan pintunya.
Sampai di ujung utara telaga, mereka menemukan sungai sempit yang merintangi jalan mereka. Airnya hijau dan tidak mengalir, menjulur keluar seperti lengan berlumpur ke arah bukit-bukit yang mengepung. Gimli melangkah ke depan, dan menemukan airnya dangkal, tidak lebih tinggi daripada pergelangan kaki. Mereka berjalan berbaris di belakangnya, melangkah hati-hati, karena di bawah permukaan air yang penuh rerumputan itu ada batu-batu licin yang bergerak, dan sulit sekali untuk menginjakkan kaki. Frodo menggigil jijik ketika

kakinya tersentuh air gelap yang kotor.

Ketika Sam, yang berjalan paling belakang, menuntun Bill naik ke daratan kering di seberang, terdengar suara lembut: bunyi desiran, diikuti cemplungan, seolah ada ikan mengganggu permukaan air yang tenang. Mereka menoleh cepat dan melihat riak-riak, berpiriggiran hitam gelap dalam cahaya yang sudah memudar: lingkaran-lingkaran besar mengembang keluar dari suatu titik jauh di tengah danau. Ada bunyi menggelembung, kemudian sepi. Senja semakin pekat, dan cahaya terakhir matahari terbenam terselubung awan.
Gandalf kini melangkah cepat sekali, yang lain mengikutinya secepat mungkin. Mereka sampai di hamparan tanah kering antara telaga dan batu karang: sempit, sering hanya beberapa meter lebarnya, dan dipenuhi batu-batu jatuh; tapi mereka menemukan jalan, sambil memegang batu karang dan melangkah sejauh mungkin dan air. Satu mil ke selatan di pantai, mereka menemukan pohon-pohon holly. Tunggul-tunggul pohon dan dahan-dahan mati membusuk di cekungan, tampaknya sisa-sisa semak lama atau pagar yang pernah membatasi Jalan sepanjang lembah yang sudah terendam. Tapi dekat di bawah batu karang berdiri dua pohon tinggi, masih kuat dan hidup, lebih besar daripada pohon holly mana pun yang pernah dilihat atau dibayangkan Frodo. Akar-akar mereka yang besar menjulur dari dinding sampai ke tepi air. Di bawah batu karang yang menjulang, mereka tampak seperti semak saja, bila dilihat dari jauh, dari puncak Tangga; tapi sekarang mereka menjulang ke atas, kaku, gelap dan diam, melemparkan bayangan malam pekat di sekitar kaki mereka, berdiri seperti tiang penjaga di ujung jalan.
"Nah, sampai juga kita akhirnya!" kata Gandalf. "Di sini jalan bangsa Peri dari Hollin berakhir. Holly adalah kenang-kenangan dari penduduk negeri itu, dan mereka menanamnya di sana untuk memberi tanda batas wilayah mereka; karena Pintu Barat dibuat terutama untuk lalu lintas mereka dengan pap Penguasa Moria. Masa-masa itu adalah masa-masa bahagia, ketika kadang masih ada persahabatan erat antara bermacam-macam bangsa dari ras berbeda, bahkan di antara Kurcaci dan Peri."
"Bukan salah bangsa Kurcaci bahwa persahabatan itu memudar," kata

Gimli.



"Aku tidak mendengar bahwa itu salah bangsa Peri," kata Legolas.

"Aku mendengar keduanya," kata Gandalf, "dan aku tidak akan


memberikan penilaian sekarang. Tapi kumohon kalian berdua, Legolas dan Gimli, setidaknya bertemanlah, dan bantulah aku. Aku membutuhkan kalian berdua. Pintu-pintu itu tertutup dan tersembunyi, dan semakin cepat kita menemukannya, semakin baik. Malam sudah dekat!"
Menoleh kepada yang lain, ia berkata, "Sementara aku mencari, masing- masing dari kalian bersiap-siaplah masuk ke Tambang. Karena di sini aku khawatir kita harus berpisah dengan hewan muatan kita. Kalian harus meninggalkan banyak barang yang kita bawa untuk menghadapi cuaca dingin: kalian tidak akan membutuhkannya di dalam, juga tidak, kuharap, kalau kita berhasil keluar dan meneruskan perjalanan ke Selatan. Kalian masing-masing harus mengambil bagian dari muatan kuda, terutama makanan dan botol-botol air dari kulit.''
"Tapi kau tak bisa meninggalkan Bill tua yang malang di tempat sunyi ini, Mr. Gandalf!" seru Sam, marah dan sedih. "Aku tidak mau, dan itu tak bisa ditawar. Apalagi dia sudah ikut kita sejauh ini!"
"Aku menyesal, Sam," kata penyihir itu. "Tapi bila Pintu terbuka, aku khawatir kau tidak akan bisa menyeret Bill-mu masuk ke dalam," kegelapan panjang Moria. Kau terpaksa memilih antara Bill dan majikanmu."
"Dia akan mengikuti Mr. Frodo masuk ke sarang naga, kalau aku menuntunnya," protes Sam. "Ini sama saja dengan membunuhnya, kalau dia kita lepaskan di tempat banyak serigala berkeliaran."
"Mudah-mudahan tidak sama dengan membunuh, kuharap," kata Gandalf. Ia meletakkan tangannya ke atas 'kepala kuda itu, dan berbicara dengan suara rendah. "Pergilah dengan doa dan bimbinganku," katanya. "Kau hewan bijak, dan sudah belajar banyak di Rivendell. Pergilah ke tempat-tempat kau bisa menemukan rumput, lalu kembalilah ke rumah Elrond, atau ke mana pun kau mau pergi.
"Nah, Sam! Kesempatan Bill untuk menghindari serigala dan pulang,

sama besarnya dengan kesempatan kita."

Sam berdiri cemberut dekat kuda dan tidak menjawab. Bill, yang tampaknya mengerti betul apa yang sedang terjadi, menyondolnya, mendekatkan hidungnya ke telinga Sam. Sam menangis, dan meraba-raba membuka ikatan, membongkar seluruh muatan kuda dan melemparkan barang- barang ke tanah. Yang lain memilah-milah barangbarang itu, menumpuk semua yang bisa ditinggal, dan membagi sisanya.
Setelah selesai, mereka menoleh untuk memperhatikan Gandalf. Kelihatannya ia tidak berbuat apa pun. Ia berdiri di antara kedua pohon, menatap dinding batu karang yang polos, seolah akan membuat lubang di dalamnya dengan matanya. Gimli berjalan ke sana kemari, mengetuk-ngetuk bebatuan di sana-sini dengan kapaknya. Legolas bersandar pada batu karang, seolah sedang mendengarkan.
"Kami semua sudah siap," kata Merry, "tapi di mana Gerbang itu? Aku tidak melihatnya sama sekali."
"Pintu Kurcaci tidak dibuat untuk bisa dilihat kalau tertutup," kata Gimli. "Mereka tak bisa dilihat, dan majikan mereka sendiri tak bisa menemukan atau membukanya kalau rahasianya terlupa."
"Tapi Pintu ini tidak dibuat sebagai rahasia yang hanya diketahui para Kurcaci," kata Gandalf, yang tiba-tiba bergerak dan menoleh. "Kecuali keadaan sama sekali berubah, mata yang tahu apa yang harus dicari mungkin akan menemukan tanda-tandanya."
Ia berjalan maju mendekati dinding. Tepat di antara bayangan pohon ada bidang mulus, dan di atasnya ia menggerakkan tangannya ke sana kemari, sambil menggumamkan kata-kata berbisik. Lalu ia mundur.
"Lihat!" katanya. "Kalian bisa melihat sesuatu sekarang?"

Bulan sekarang menyinari permukaan kelabu batu karang, tapi mereka tak bisa melihat apa pun untuk beberapa saat, Lalu perlahan-lahan, di Permukaan yang tadi tersapu tangan penyihir itu, muncul garis-garis samar seperti urat-urat tipis dari perak, tergores batu. Mulanya tidak lebih dari siratan benang pucat, begitu halus, hingga hanya berkelip tertegun-tegun di mana Bulan

menyinarinya, tapi garis-garis itu tumbuh semakin jelas dan lebar, sampai polanya bisa ditebak.
Di puncaknya, setinggi Gandalf bisa meraih, ada lengkungan jalinan huruf-huruf dalam tulisan Peri. Di bawahnya, meski benang-benangnya kabur atau terputus di beberapa tempat, bisa terlihat garis bentuk sebuah landasan dan palu dengan mahkota serta tujuh bintang di atasnya. Di bawahnya ada gambar dua pohon, masing-masing dengan bulan sabit di atasnya. Lebih jelas dari yang lain, di tengah pintu, menyala terang sebuah bintang dengan banyak sinar.
"Itu lambang Durin!" seru Gimli.

"Dan itu Pohon Peri-Peri Tinggi!" kata Legolas.

"Dan Bintang Rumah Feanor," kata Gandalf. "Mereka ditempa dari bahan ithildin yang hanya memantulkan sinar bintang dan bulan, dan tidur sampai disentuh orang yang mengucapkan kata-kata yang sudah lama dilupakan di Dunia Tengah. Sudah lama aku tidak mendengarnya, dan aku berpikir dalam sekali sebelum bisa mengingatnya lagi."
"Apa artinya tulisan itu?" tanya Frodo, yang mencoba membaca dan menguraikan tulisan pada lengkungan. "Kukira aku kenal huruf-huruf Peri, tapi aku tidak bisa membaca yang ini."
"Kata-katanya dalam bahasa Peri dari Dunia Tengah sebelah Barat, dari Zaman Peri," jawab Gandalf. "Tapi tidak menguraikan sesuatu yang penting kepada kita. Artinya hanya: Pintu-pintu Durin, Penguasa Moria. Bicaralah, kawan, dan masuklah. Dan di bawahnya tertulis kecil dan kabur: Aku, Narvi, membuatnya. Celebrimbor dari Hollin yang menggambar lambang-lambang ini."
"Apa maksudnya, bicaralah, kawan, dan masuklah?" tanya Merry. "Maksudnya cukup jelas," kata Gimli. "Kalau kau seorang kawan, ucapkan
kata sandinya, pintu akan terbuka, dan kau bisa masuk."

"Ya," kata Gandalf, "pintu-pintu ini mungkin diperintah oleh kata-kata. Beberapa gerbang Kurcaci hanya terbuka pada saat-saat khusus, atau untuk orang-orang tertentu; beberapa mempunyai kunci dan anak kunci yang masih dibutuhkan bila semua waktu dan kata sudah diketahui. Pintu-pintu ini tidak punya kunci. Di masa Durin, ini bukan rahasia. Biasanya mereka terbuka, dan

penjaga pintu duduk di sini. Tapi kalau mereka tertutup, siapa pun yang tahu kata sandinya bisa mengucapkannya dan bisa masuk. Setidaknya begitu yang tercatat, bukan begitu, Gimli?"
"Memang," kata orang kerdil itu. "Tapi apa kata itu, sudah tidak diingat. Narvi dan keterampilannya, dan semua dari jenisnya sudah hilang dari muka
bumi."

"Tapi tidakkah kau tahu kata itu, Gandalf?" tanya Boromir kaget. "Tidak!" sahut penyihir itu.
Yang lain tampak cemas; hanya Aragorn, yang kenal betul Gandalf, tetap diam dan tidak kaget.
"Kalau begitu, apa gunanya membawa kita ke tempat terkutuk ini?" teriak Boromir, sambil menoleh ke danau yang gelap di belakang. "Katamu kau sudah pernah masuk ke Tambang. Bagaimana itu mungkin, kalau kau tidak tahu caranya masuk?"
"Jawaban atas pertanyaanmu yang pertama, Boromir," kata penyihir itu, "adalah bahwa aku tidak tahu kata itu-belum. Tapi kita akan segera mengetahuinya. Dan," tambahnya, dengan mata bersinar-sinar di bawah alisnya yang tebal, "kau boleh mempertanyakan manfaat perbuatanku kalau sudah terbukti tidak berguna. Kalau tentang pertanyaanmu yang lain: kau meragukan ceritaku? Atau kau tidak punya otak? Aku tidak masuk dari sini. Aku dulu datang dari Timur.
"Kalau kau ingin tahu, akan kukatakan padamu bahwa pintu-pintu ini membuka ke luar. Kita bisa membukanya dari dalam, dengan mendorongnya. Dari luar tidak akan ada yang bergerak, kecuali melalui perintah sihir. Mereka tidak bisa dipaksa membuka ke dalam."
"Apa yang akan kaulakukan, kalau begitu?" tanya Pippin, tidak gentar melihat alis Gandalf yang berdiri.
"Mengetuk pintu dengan kepalamu, Peregrin Took," kata Gandalf. "Tapi kalau itu tidak berhasil, dan aku tidak diganggu pertanyaan-pertanyaan bodoh, aku akan mencari kata sandi pembuka pintu ini.
"Dulu aku tahu semua mantra dalam bahasa Peri, Manusia, dan Orc, yang

digunakan untuk maksud seperti ini. Aku masih ingat sepuluh di antaranya, tanpa harus mencari-cari dalam ingatanku. Tapi hanya beberapa percobaan yang dibutuhkan, kukira; dan aku tidak perlu meminta bantuan Gimli untuk kata-kata bahasa rahasia orang kerdil yang tidak mereka ajarkan pada siapa pun. Kata- kata pembukanya dalam bahasa Peri, seperti tulisan di lengkungannya: itu tampaknya pasti."
Gandalf naik ke batu karang lagi, dan dengan ringan menyentuh bintang di tengah dengan tongkatnya, di bawah lambang landasan.
Annon edhellen, edro hi ammen! Fennas nogothrim, lasto beth lammien!
katanya dengan suara berwibawa. Garis-garis perak memudar, tapi batu polos kelabu itu tidak bergerak.
Berkali-kali ia mengulang kata-kata itu dalam urutan berbeda, atau mengubah-ubahnya. Lalu ia mencoba mantra lain, satu demi satu, kadang- kadang berbicara lebih cepat dan keras, kadang-kadang pelan dan lambat. Lalu ia mengucapkan banyak kata-kata tunggal bahasa Peri. Tidak ada yang terjadi. Batu karang itu menjulang di malam pekat, beratus bintang menyala, angin berembus dingin, dan pintu-pintu itu tetap tertutup rapat.
Sekali lagi Gandalf mendekati dinding, dan sambil mengangkat tangannya, ia berbicara dengan nada perintah dan semakin marah. Edro, edro! serunya, lalu memukul karang itu dengan tongkatnya. Buka, buka! teriaknya, lalu mengikutinya dengan perintah yang sama dalam setiap bahasa yang pernah digunakan di bagian Barat Dunia Tengah. Kemudian ia melempar tongkatnya ke tanah, dan duduk diam.


Saat itu, dari jauh angin membawa bunyi lolongan serigala ke telinga mereka. Bill si kuda bergerak kaget ketakutan, dan Sam melompat ke sisinya, berbisik perlahan kepadanya.
"Jangan biarkan dia lari!" kata Boromir. "Kelihatannya kita masih memerlukannya, kalau serigala-serigala tidak menemukan kita. Aku benci sekali danau jelek ini!" ia membungkuk dan memungut batu besar, lalu

melemparkannya jauh ke dalam air gelap.

Batu itu lenyap dengan bunyi kecipak pelan, tapi dalam sekejap terdengar bunyi desir dan gelembung. Muncul riak-riak besar di permukaan air, melebar dari tempat jatuhnya batu, dan riak-riak itu bergerak perlahan menuju kaki batu karang.
"Kenapa kaulakukan itu, Boromir?" kata Frodo. "Aku juga benci tempat ini, dan aku takut. Aku tidak tahu apa yang kutakuti: bukan serigala, atau kegelapan di balik pintu itu, tapi sesuatu yang lain. Aku takut pada danau ini. Jangan ganggu dia!"
"Aku berharap kita bisa pergi dari sini!" kata Merry.

"Mengapa Gandalf tidak segera melakukan sesuatu?" tanya Pippin. Gandalf tidak memperhatikan mereka. Ia duduk dengan kepala tertunduk,
mungkin putus asa atau sedang berpikir cemas. Lolongan menyeramkan para serigala terdengar lagi. Riak air semakin besar dan mendekat; beberapa bahkan sudah memukul-mukul pantai.
Dengan mendadak Gandalf melompat berdiri, hingga mengagetkan

semua orang. Ia tertawa! "Aku sudah tahu!" teriaknya. "Tentu saja, tentu saja! Sederhana sekali, seperti kebanyakan teka-teki kalau kita melihat jawabannya."
Sambil mengangkat tongkatnya, ia berdiri di depan batu karang itu dan berkata dengan suara jelas: Mellon!
Bintang- di pintu bersinar sekilas, dan memudar lagi. Lalu, tanpa suara, tampak sebuah ambang pintu besar, meski sebelumnya tidak ada celah atau sambungan yang terlihat. Perlahan-lahan ambang itu terbagi di tengah dan membuka keluar inci demi inci, sampai kedua daun pintunya bersandar ke dinding. Melalui bukaannya bisa terlihat sebuah tangga gelap mendaki ke atas dengan terjal; tapi di seberang tangga, kegelapan lebih pekat daripada malam kelam. Rombongan itu memandang dengan kagum.
"Ternyata aku salah," kata Gandalf. "Gimli juga. Justru Merry yang berada pada jejak yang benar. Kata pembuka pintu itu terukir di lengkungannya sendiri! Terjemahannya seharusnya: Katakan 'Kawan' dan masuklah. Aku hanya perlu mengucapkan kata kawan dalam bahasa Peri, dan pintu itu akan terbuka.

Sederhana sekali. Terlalu sederhana untuk seorang ahli pengetahuan di masa- masa penuh kecurigaan sekarang. Zaman dulu lebih membahagiakan. Mari kita masuk!"


Gandalf maju ke depan dan menginjakkan kakinya pada tangga paling bawah. Tapi tepat pada saat itu beberapa hal terjadi. Frodo merasa sesuatu menangkap pergelangan kakinya, dan ia terjatuh sambil berteriak. Bill si kuda meringkik liar ketakutan, lalu membalikkan badan dan lari menyusuri pinggir danau, masuk ke dalam kegelapan. Sam melompat mengejarnya, tapi berlari kembali ketika mendengar teriakan Frodo, sambil menangis dan memaki-maki. Yang lainnya menoleh dan melihat air danau menggelegak, seolah sepasukan ular sedang berenang ke atas, dari ujung selatan.
Dari air merangkak keluar sebuah sulur panjang berotot; warnanya hijau pucat, basah bersinar-sinar. Ujungnya yang berjari memegang kaki Frodo dan menyeretnya ke dalam air. Sam sedang berlutut sambil menebasnya dengan
pisau.

Lengan itu melepaskan Frodo, dan Sam menarik Frodo sambil berteriak minta tolong, Dua puluh lengan lain keluar bergelombang. Air yang gelap mendidih, dan tercium bau busuk sekali.
"Masuk gerbang! Naik tangga! Cepat!" teriak Gandalf sambil melompat kembali. Ia mendorong mereka ke depan, menyadarkan mereka semua dari kengerian yang membuat mereka terpaku di tanah, kecuali Sam.
Mereka tepat waktu. Sam dan Frodo baru beberapa langkah naik, dan

Gandalf baru saja mulai naik, ketika sulur-sulur yang mengapai itu menggeliat melintasi pantai sempit, meraba-raba dinding batu karang. berkilauan di bawah sinar bintang. Gandalf menoleh dan berhenti. Ia tak perlu bersusah payah memikirkan kata apa yang bisa menutup lagi pintu itu dari dalam. Lengan-lengan yang saling berbelit memegang pintu-pintu itu di kedua sisinya, dan memutarnya dengan kekuatan mengerikan. Pintu itu terbanting menutup dengan gema sangat keras, dan semua cahaya hilang. Bunyi berisik mengoyak-ngoyak dan menabrak terdengar samar-samar melalui bebatuan.

Sam, yang memegangi lengan Frodo, lunglai di atas tangga dalam kegelapan. "Kasihan Bill!" katanya dengan suara tercekik. "Kasihan Bill! Serigala dan ular! Tapi ular terlalu menyeramkan baginya. Aku terpaksa memilih, Mr. Frodo. Aku harus ikut denganmu."
Mereka mendengar Gandalf kembali menuruni tangga dan mendorong tongkatnya ke pintu. Bebatuan itu bergetar, dan tangganya gemetar, tapi pintu- pintu tidak terbuka.


"Wah, wah!" kata penyihir itu. "Jalan sudah tertutup di belakang kita sekarang, dan hanya ada satu jalan keluar-di sisi pegunungan sebelah sana. Aku menduga dari bunyinya bahwa batu-batu besar sudah ditumpuk, dan pohon-pohon ditumbangkan, dilemparkan melintang di depan gerbang. Sayang sekali, karena pohon-pohon itu indah, dan sudah lama berdiri."
"Aku merasa ada sesuatu yang mengerikan di dekat kita, sejak saat kakiku pertama menyentuh air," kata Frodo. "Makhluk apa itu, atau banyakkah jumlah mereka?"
"Aku tidak tahu," jawab Gandalf, "tapi semua lengan itu dipimpin oleh satu tujuan. Sesuatu sudah merangkak keluar. Atau didorong keluar dari air gelap di bawah pegunungan. Ada makhluk-makhluk yang lebih tua dan jahat daripada Orc, di tempat-tempat dalam di dunia." ia tidak mengatakan pikirannya, bahwa makhluk apa pun yang ada di dalam danau itu, ia pertama-tama menangkap Frodo di antara semua anggota Rombongan.
Boromir menggerutu perlahan, tapi bebatuan yang menggemakan suara memperkeras suaranya menjadi bisikan parau yang terdengar oleh semuanya, "Di tempat-tempat dalam di dunia! Dan ke sanalah kita pergi, meski aku tak ingin. Siapa sekarang yang akan memimpin kita dalam kegelapan pekat ini?"
"Aku akan memimpin," kata Gandalf, "dan Gimli akan berjalan di sampingku. Ikuti tongkatku!"


Gandalf berjalan terus menaiki tangga besar, memegang tongkatnya tinggi- tinggi, dan dari ujungnya menyebar cahaya samar-samar. Tangga lebar itu

kondisinya bagus dan tidak rusak. Dua rates anak tangga jumlahnya, lebar dan dangkal; di puncaknya mereka menemukan' selasar dengan langit-langit melengkung dan berlantai datar yang menjulur dalam kegelapan.
"Kita duduk dulu di sini, beristirahat dap makan sedikit, berhubung kita tak bisa menemukan ruang makan!" kata Frodo. Ia sudah mulai bisa melupakan ketakutannya dipegang lengan tadi, dap tiba-tiba ia merasa sangat lapar.
Usul itu disambut baik oleh semua; mereka pun duduk di tangga paling

atas, sosok-sosok kabur dalam kegelapan. Setelah mereka makan, untuk ketiga kalinya Gandalf memberikan masing-masing orang minuman miruvor dari Rivendell.
"Tak lama lagi akan habis," katanya, "tapi kurasa kita memerlukannya setelah kengerian di gerbang tadi. Dan kecuali kita sangat beruntung, kita akan membutuhkan seluruh sisanya sebelum melihat sisi seberang! Air juga mesh dihemat! Banyak sekali sungai dan sumur di Tambang, tapi tidak boleh disentuh. Mungkin tidak bakal ada kesempatan untuk mengisi botol-botol sampai kita masuk ke Lembah Dimrill."
"Berapa lama lagi?" tanya Frodo.

"Aku tidak tahu persis," kata Gandalf. "Itu tergantung banyak hal. Tapi kalau kita berjalan lures, tanpa kecelakaan atau tersesat, kita akan melewati tiga atau empat perbatasan, kukira. Tak mungkin kurang dari empat puluh mil, dari pintu Barat ke gerbang Timur dalam garis lures, dap jalanannya mungkin akan banyak berbelok-belok."


Setelah istirahat singkat, mereka mulai berjalan lagi. Semua bergairah untuk secepat mungkin menyelesaikan perjalanan,, dap bersedia berjalan terus selama- beberapa jam lagi, meski mereka sudah sangat letih. Gandalf berjalan di depan, seperti sebelumnya. Di tangan kirinya ia memegang tinggi tongkatnya yang menyala, yang cahayanya hanya memperlihatkan sedikit tanah di depan kakinya; di tangan kanannya ia memegang pedang Glamdring. Di belakangnya berjalan Gimli, matanya bersinar dalam cahaya suram ketika ia menolehkan kepala dari kiri ke kanan. Di belakang Gimli berjalan Frodo, menghunus Sting,

pedant pendeknya. Tak ada kilauan pada Sting maupun Glamdring; dap itu cukup menghibur, karena pedang-pedang itu hash karya kaum pandai besi bangsa Peri di Zaman Peri, yang akan bersinar dengan cahaya dingin kalau ada Orc di dekatnya. Di belakang Frodo berjalan Sam, dan setelahnya Legolas, lalu para hobbit muda, lalu Boromir. Dalam kegelapan, paling belakang, berjalan Aragorn, muram dan diam.
Selasar itu berbelok beberapa kali, lalu mulai turun. Ia tetap menurun selama beberapa saat, sebelum akhirnya datar lagi. Udara menjadi papas mencekik, tapi tidak berbau busuk, dap sesekali mereka merasakan aliran udara yang lebih dingin menyapu wajah, keluar dari bukaan yang mereka duga ada pada dinding-dinding. Banyak sekali bukaan. Di bawah sinar pucat tongkat Gandalf, Frodo menangkap sekilas tangga-tangga dap lengkungan, dap selasar- selasar serta terowongan lain, naik curam atau menurun terjal, atau membuka hitam pekat di kedua sisi. Sangat membingungkan, dap rasanya tak mungkin bisa diingat-ingat.
Gimli sangat sedikit membantu Gandalf, kecuali dengan keberaniannya yang gigih. Setidaknya ia tidak seperti kebanyakan yang lain, terganggu oleh kegelapan itu sendiri. Sering Gandalf meminta nasihatnya kalau menghadapi pilihan jalan yang meragukan; tapi selalu Gandalf yang memutuskan kata akhir. Tambang Moria leas sekali dap sangat remit, melebihi bayangan Gimli, putra Gloin, meski ia orang kerdil dari bangsa pegunungan. Bagi Gandalf, ingatan tentang perjalanan yang sudah lama berlalu itu tidak banyak membantu, tapi bahkan dalam keremangan, dan meski jalannya berbelok-belok, ia tahu ke mana ia ingin pergi, dap ia tidak rage, selama ada jalan yang mengarah ke tujuannya.


"Jangan takut!" kata Aragorn. Ada kesunyian yang lebih lama daripada biasanya, dap Gandalf dengan Gimli berbisik-bisik; yang lain bergerombol di belakang, sambil menunggu dengan cemas. "Jangan takut! Aku sudah wring mendampinginya dalam banyak perjalanan, meski belum pernah segelap ini; dap ada kisah-kisah dari Rivendell tentang perbuatan-perbuatannya yang lebih hebat daripada yang pernah kulihat. Dia tidak akan tersesat-kalau ada jalan yang harus

ditemukan. Dia Sudah membawa kita masuk ke sini, melawan ketakutan kita, tapi dia akan memimpin kita keluar lagi, apa pun pengorbanannya. Dia lebih mahir menemukan jalan pulang di malam beta daripada kucing-kucing Ratu Beruthiel."
Syukurlah mereka mempunyai pemandu seperti itu. Mereka tak punya bahan bakar atau alat untuk membuat obor; dalam pertarungan di dekat pintu, banyak barang tertinggal. Tapi tanpa cahaya mereka pasti segera menemui malapetaka. Tidak banyak jalan untuk dipilih, lubang dan perangkap tersebar di banyak tempat, juga sumur-sumur gelap, di samping jalan di mana langkah kaki mereka bergema. Ada retakan dan jurang-jurang di dinding dan lantai, dan sering kali sebuah retakan membuka tepat di depan kaki mereka. Lubang terbesar lebih dari tujuh kaki lebarnya, dan lama sekali baru Pippin bisa mengumpulkan keberanian untuk melompati celah mengerikan itu. Bunyi air menggeluguk naik dari bawah, seolah sebuah roda penggilingan sedang berputar di kedalaman.
"Tambang!" gerutu Sam. "Aku pasti membutuhkannya, kalau aku tidak membawanya!"


Ketika bahaya-bahaya ini semakin sering muncul, langkah mereka semakin melambat. Mereka rasanya sudah berjalan terus, terus, tanpa henti ke akar pegunungan. Mereka sudah lebih dari letih, namun toh tak ada rasa nyaman kalau memikirkan berhenti di suatu tempat. Semangat Frodo sempat naik setelah ia lolos tadi, dan setelah makan dan minum seteguk anggur manis; tapi sekarang perasaan sangat tidak nyaman, yang berkembang menjadi kengerian, kembali menyergapnya. Meski luka sabetan pisau yang dideritanya sudah disembuhkan di Rivendell, bekas luka yang suram itu bukan tanpa akibat. Indra-indranya sekarang lebih tajam dan lebih menyadari hal-hal yang tidak terlihat. Salah satu perubahan yang segera disadarinya adalah bahwa ia bisa melihat lebih jelas dalam gelap daripada semua temannya, kecuali mungkin Gandalf. Dan bagaimanapun ia adalah pembawa Cincin: cincin itu tergantung pada rantainya, menempel di dadanya, dan terkadang terasa sangat berat. Ia bisa merasakan

kejahatan yang mengejarnya di depan dan di belakang; tapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia memegang hulu pedangnya lebih erat, dan berjalan terus dengan mantap.
Rombongan di belakangnya jarang berbicara; kalaupun bersuara, hanya berupa bisikan terburu-buru. Tak ada bunyi lain selain bunyi langkah mereka sendiri; ketukan teredam dari sepatu bot orang kerdil yang dipakai Gimli; langkah berat Boromir; langkah ringan Legolas; langkah lembut hampir tak terdengar dari kaki para hobbit; dan paling belakang adalah langkah kaki tegas dan lambat dari Aragorn, dengan langkahnya yang panjang-panjang. Ketika mereka berhenti sejenak, tidak terdengar apa pun, kecuali sesekali bunyi aliran dan tetesan samar-samar dari air yang tidak tampak. Meski begitu, Frodo mulai mendengar, atau merasa mendengar, sesuatu yang lain: seperti bunyi langkah redup kaki telanjang yang lembut. Tak pernah cukup keras, atau cukup dekat, bagi Frodo untuk merasa pasti bahwa ia mendengarnya; tapi sekali bunyi itu dimulai, ia tak pernah berhenti sementara Rombongan bergerak. Tapi bunyi itu bukan gema, karena ketika mereka berhenti, bunyi langkah itu berderai-derai sendiri sejenak, lalu berhenti.


Malam sudah turun ketika mereka masuk ke Tambang. Mereka sudah beberapa jam berjalan, dengan hanya beberapa perhentian singkat, ketika Gandalf dihadapkan pada pilihan besar yang pertama. Di depannya berdiri sebuah lubang lebar bercabang ke dalam tiga selasar: semua menuju arah umum yang sama, ke timur; tapi selasar kiri turun ke bawah, sementara yang kanan mendaki, dan yang tengah tampaknya menjulur terus, mulus dan datar, namun sangat sempit.
"Aku sama sekali tidak ingat tempat seperti ini!" kata Gandalf, berdiri ragu- ragu di bawah lengkungan. Ia mengangkat tongkatnya, dengan harapan menemukan tulisan atau tanda yang mungkin bisa membantu pilihannya; tapi tidak ada tanda-tanda apa pun. "Aku terlalu letih untuk memutuskan," katanya sambil menggelengkan kepala. "Dan kurasa kalian semua sama lelahnya seperti aku, atau bahkan lebih. Sebaiknya kita berhenti di sini, sepanjang sisa malam ini.

Kau tahu maksudku! Di dalam sini selalu gelap, tapi di luar Bulan sedang bergerak ke barat, dan tengah malam sudah lewat."
"Kasihan Bill!" kata Sam. "Aku bertanya-tanya, di mana dia berada. Kuharap serigala-serigala itu belum menangkapnya."
Di sebelah kiri lengkungan besar, mereka menemukan sebuah pintu batu: setengah tertutup, tapi membuka dengan mudah ketika didorong perlahan. Di dalamnya ada ruangan besar yang dipahat dari dalam bebatuan.
"Tenang! Tenang!" seru Gandalf ketika Merry dan Pippin berlari ke depan,

senang bisa menemukan tempat beristirahat yang setidaknya lebih terlindung daripada di selasar terbuka. "Tenang! Kau belum tahu apa yang ada di dalamnya. Aku akan masuk dulu."
Gandalf masuk dengan hati-hati, yang lain berbaris di belakang. "Itu!" katanya, sambil mengarahkan tongkatnya ke tengah lantai. Di depan kakinya, mereka melihat sebuah lubang bundar besar seperti lubang sumur. Rantai-rantai patah dan karatan tergeletak di pinggirnya, dan menjulur ke dalam sumur hitam itu. Pecahan-pecahan batu bertebaran di dekatnya.
"Salah satu dari kalian mungkin saja jatuh ke dalamnya, dan entah kapan menyentuh dasarnya," kata Aragorn pada Merry. "Biarkan pemandu masuk lebih dulu, selama dia masih ada."
"Rupanya dulu ini ruang penjaga, dibuat untuk mengawasi ketiga selasar itu," kata Gimli. "Lubang itu jelas merupakan sumur untuk para penjaga, ditutup dengan batu. Tapi tutup batunya pecah, dan kita semua harus berhati-hati dalam gelap."
Pippin merasa tertarik sekali pada sumur itu. Sementara yang lain sedang membuka selimut dan menyiapkan tempat tidur di dekat dinding, sejauh mungkin dari lubang, ia merangkak ke pinggirnya dan mengintip ke dalam. Udara dingin seperti memukul wajahnya, naik dari kedalaman yang tak terlihat. Tergerak suatu dorongan, mendadak ia meraih sebuah batu lepas, dan membiarkannya jatuh. Jauh di bawah, batu itu seolah jatuh ke air dalam, di sebuah tempat berongga. Lalu terdengar bunyi cemplungan, sangat jauh, tapi diperkeras dan diulang-ulang dalam lubang kosong itu.

"Apa itu?" seru Gandalf. Ia lega ketika Pippin menceritakan apa yang dilakukannya; tapi ia marah, dan Pippin bisa melihat matanya berkilat-kilat. "Took tolol!" geramnya. "Ini perjalanan serius, bukan pesta jalan-jalan hobbit! Lain kali lemparkan dirimu ke dalam, biar kau tidak menjadi gangguan lagi. Sekarang diamlah!"
Tidak terdengar apa pun selama beberapa menit, tapi kemudian muncul ketukan redup dari dalam lubang: tom-tap, tap-tom. Lalu berhenti, dan ketika gemanya sudah hilang, bunyinya berulang lagi: tap-tom, tom-tap, tap-tap, tom. Kedengarannya meresahkan, seperti semacam tanda; tapi setelah beberapa saat ketukan itu hilang dan tidak terdengar lagi.
"Itu bunyi palu, kalau tidak salah," kata Gimli.

"Ya," kata Gandalf, "dan aku tidak suka bunyinya. Mungkin tak ada hubungannya dengan batu tolol si Peregrin; tapi mungkin ada sesuatu yang merasa terganggu. Kumohon jangan lakukan hal semacam itu lagi! Mudah- mudahan kita bisa beristirahat sedikit, tanpa kesulitan lain. Kau, Pippin, bisa giliran jaga pertama, sebagai ganjaran," geram Gandalf sambil menutupi dirinya dengan selimut.
Pippin duduk sedih dekat pintu, dalam kegelapan pekat; tapi ia terus menoleh, takut ada makhluk tak dikenal merangkak keluar dari sumur. Ia ingin sekali menutup lubang itu, meski hanya dengan selimut, tapi ia tak berani bergerak atau mendekatinya, meski Gandalf tampaknya tidur.
Sebenarnya Gandalf bangun, meski ia berbaring diam dan tenang. Ia sedang berpikir keras, mencoba mengingat-ingat segala sesuatu tentang perjalanannya dulu ke Tambang, dan mempertimbangkan dengan cemas jalan berikut yang harus diambilnya; arah yang salah akan berakibat malapetaka. Setelah satu jam, ia bangkit dan mendekati Pippin.
"Pergi ke pojok dan tidurlah, anakku," katanya dengan suara ramah. "Kau pasti ingin tidur, kukira. Aku tidak bisa tidur, jadi sebaiknya aku berjaga saja.
"Aku tahu apa yang salah denganku," gerutu Gandalf ketika ia duduk dekat pintu. "Aku butuh merokok! Aku tidak mengisap pipa sejak pagi sebelum badai salju."

Pemandangan terakhir yang dilihat Pippin ketika ia tertidur adalah sosok sekilas penyihir tua itu meringkuk di lantai, melindungi kepingan menyala dalam tangannya yang keriput, di antara lututnya. Kerlipan itu sejenak memperlihatkan hidungnya yang tajam, dan kepulan asap.


Gandalf yang membangunkan mereka semua dan tidur. Ia sudah duduk dan berjaga sendirian selama enam jam, membiarkan yang lain tidur. "Dan sambil berjaga aku sudah membuat keputusan," katanya. "Aku tidak menyukai rasa jalan tengah; dan aku tidak suka ban jalan di sebelah kiri: udaranya busuk di dalam sana, sebagai pemandu aku bisa menciumnya. Aku akan mengambil jalan di sebelah kanan. Sudah waktunya kita mulai mendaki lagi."
Selama delapan jam gelap, tidak termasuk dua perhentian singkat, mereka berjalan terus; mereka tidak bertemu bahaya, tidak mendengar apa pun, dan tidak melihat apa pun kecuali sinar redup cahaya penyihir itu, bergoyang- goyang seperti cetusan api di depan mereka. Jalan yang mereka pilih berliku-liku dan terus mendaki dengan teratur. Sejauh mereka bisa menilai, jalan itu berbelok-belok mendaki dalam lingkaran besar, dan sementara mendaki ia bertambah tinggi dan le- . bar. Sekarang tak ada bukaan ke selasar atau terowongan lain di kedua sisinya, lantainya datar dan padat, tanpa sumur atau retakan. Tampaknya mereka sudah menemukan jalan yang dulu sangat penting; dan mereka berjalan maju lebih cepat daripada sebelumnya.
Dengan cara ini, mereka maju sekitar lima belas mil, bila diukur dalam garis lurus ke timur, meski sebenarnya mereka sudah berjalan sekitar dua puluh mil atau lebih. Ketika jalan mendaki ke atas, semangat Frodo naik sedikit; tapi ia masih merasa tertekan, dan sesekali masih mendengar, atau merasa mendengar, jauh di belakang mereka dan di luar bunyi langkah mereka, suatu langkah kaki yang mengikuti, yang bukan bunyi gema.


Mereka sudah berjalan sejauh bisa dilakukan para hobbit tanpa istirahat, dan semua memikirkan tempat untuk tidur, ketika mendadak tembok di sebelah kiri dan kanan hilang. Tampaknya mereka sudah melewati sebuah ambang pintu

melengkung ke dalam ruang hitam dan kosong. Di belakang mereka ada aliran besar udara yang lebih hangat, dan di depan mereka kegelapan yang dingin menerpa wajah Mereka berhenti dan berkerumun dengan cemas.
Gandalf kelihatan puas. "Aku sudah memilih jalan yang benar,', katanya. "Akhirnya kita sampai ke bagian yang bisa dihuni, dan kuduga kita tidak jauh dari sisi timur. Tapi kita sudah tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada Gerbang Dimrill, kecuali kalau aku salah. Menilik udaranya, rasanya kita sekarang berada di dalam sebuah aula luas. Sekarang aku akan mengambil risiko menyalakan cahaya terang."
Ia mengangkat tongkatnya, dan sekilas ada nyala seperti kilatan petir. Bayangan besar muncul dan hilang, dan sejenak mereka melihat langit-langit luas, jauh di atas kepala, ditopang oleh banyak tiang besar dari batu. Di depan mereka dan di kedua sisi membentang sebuah aula besar kosong; dinding- dindingnya yang hitam, digosok dan licin seperti kaca, menyala berkilauan. Mereka melihat tiga pintu masuk lain, lengkungan hitam gelap: satu tepat di depan mereka, ke arah timur, dan satu di setiap sisi. Lalu cahaya padam.
"Untuk sementara, itu saja risiko yang akan kuambil," kata Gandalf. "Dulu ada banyak jendela besar di sisi pegunungan, dan terowongan-terowongan menuju ke cahaya di bagian atas Tambang. Kukira kita sudah sampai sekarang, tapi di luar sudah malam lagi, dan kita tak bisa tahu sampai pagi. Kalau aku benar, maka besok kita bisa melihat matahari mengintip masuk. Sementara itu, sebaiknya kita tidak berjalan lebih jauh. Biarlah kita istirahat, kalau bisa. Sejauh ini keadaan cukup bagus, dan bagian terbesar jalanan gelap sudah dilewati. Tapi kita belum sepenuhnya keluar, dan masih panjang jalan ke Gerbang yang membuka ke dunia luar."


Mereka melewatkan malam itu di dalam aula besar, meringkuk berdekatan di sebuah pojok, untuk menghindari angin: tampaknya ada aliran udara dingin yang masuk terus-menerus melalui ambang pintu timur. Sementara mereka berbaring, kegelapan pekat menggantung di sekitar mereka, kosong dan luas tak terhingga. Mereka tertekan oleh kesepian dan kebesaran aula serta tangga-tangga dan

jalan-jalan yang bercabang-cabang tak terhingga. Khayalan-khayalan paling liar yang pernah dirasakan kaum hobbit akibat selentingan gelap yang mereka dengar sama sekali tak bisa menandingi kengerian dan keajaiban sesungguhnya dari Moria.
"Dulu pasti banyak sekali Kurcaci di sini," kata Sam. "Dan mereka lebih sibuk daripada luak selama lima ratus tahun untuk membangun ini semua, dan kebanyakan dalam batu keras pula! Untuk apa mereka melakukan ini semua? Mereka kan tidak tinggal di dalam lubang-lubang gelap ini?"
"Ini bukan lubang-lubang," kata Gimli. "Ini wilayah besar dan kota Dwarrowdelf. Dan dulu tidak gelap, tapi penuh cahaya dan kecemerlangan, seperti masih diingat dalam lagu-lagu kami."
Ia bangkit berdiri dalam gelap, dan mulai bernyanyi dengan suara berat, sementara gemanya berlarian jauh ke langit-langit.
Saat dunia masih muda, dan pegunungan pun hijau, Dan bulan tak bernoda bersinar kemilau,
Tak ada kata pada sungai atau batu

Ketika Durin terjaga dan berjalan merintang waktu. Ia memberi nama bukit-bukit dan lembah;
Ia minum dari sumur-sumur yang banyak berlimpah; Ia menatap ke dalam Mirrormere yang tenang,
Dan tampak olehnya sebentuk mahkota bintang, Seperti permata pada benang perak,
Di atas bayangannya yang bergerak-gerak.



Dunia masih indah, pegunungan pun tinggi, Begitulah keadaan di Zaman Peri
Sebelum kejatuhan raja-raja hebat

Di Nargothrond dan Gondolin yang s'karang tak terlihat

Kar'na sudah lenyap ditelan Samudra Barat:

Namun dunia di Masa Durin sungguh indah memikat.

Ia raja di singgasana. mulia

Dengan tiang-tiang di aula-aula batu istananya Lantainya dari perak, langit-langitnya emas, Lambang-lambang kekuatan di pintu jadi penghias. Lampu-lampu kristal menyala gemilang Memancarkan cahaya mentari, bulan dan bintang Tak redup oleh awan atau kegelapan kelam Menyala indah tak tersentuh malam.


Di sana palu menghantam landasan,

Pahat membelah, dan pengukir menorehkan;

Di sana pedang ditempa, disambungkan pada gagang; Rumah dibangun, dan penggali menambang.
Di sana beryl, mutiara, dan opal pucat berkilauan, Dan logam ditempa seperti sisik ikan,
Gesper dan rompi, pedang dan kapak, Dan susunan mengilat tumpukan tombak.


Tak kenal jemu bangsa Durin saat itu; Di bawah pegunungan musik berlagu:
Para pemusik memetik harpa, para penyanyi berdendang, Dan di gerbang-gerbang terompet berkumandang.


Lalu dunia menjadi kelabu, pegunungan pun berubah beku, Api pandai besi sudah dingin mengabu;
Tak ada harpa dipetik, tak ada palu berbunyi: Kegelapan menggantung di aula-aula Durin nan sepi; Kuburannya bersapu bayangan
Di Moria, di Khazad-dum, yang tinggal kenangan. Namun bintang-bintang masih gemerlap
Di dalam Mirrormere yang tenang dan gelap;

Di air pekat mahkotanya tergeletak,

Sampai Durin bangkit kembali dari tidur nyenyak.



"Aku suka itu!" kata Sam. "Aku ingin belajar lagu itu. Di Moria, di Khazad- dum! Tapi ini membuat kegelapan makin pekat, kalau memikirkan semua lampu itu. Apa masih ada tumpukan permata dan emas di sini?"
Gimli diam. Setelah melantunkan lagunya, ia tak ingin berbicara lebih

banyak lagi.

"Tumpukan permata?" kata Gandalf. "Tidak. Bangsa Orc sudah merampok Moria; tak ada yang tersisa di aula-aula atas. Dan sejak bangsa Kurcaci, tidak ada yang berani mencari terowongan dan harta-harta yang dipendam di tempat-tempat dalam: sudah tergenang oleh air-atau oleh bayangan ketakutan."
"Kalau begitu, untuk apa orang kerdil ingin kembali ke sini?" tanya Sam. "Untuk mithril," jawab Gandalf. "Kekayaan Moria bukan dalam emas atau
permata-semua itu cuma mainan kaum Kurcaci; bukan juga besi, pelayan mereka. Bahan-bahan itu mereka temukan di sin", memang, terutama besi; tapi mereka tak perlu menggalinya; semua yang mereka inginkan bisa mereka peroleh melalui perdagangan. Hanya di sini di dunia bisa ditemukan perak-Moria, atau perak sejati seperti dinamakan beberapa orang: mithril namanya dalam bahasa Peri. Orang-orang kerdil mempunyai nama untuk itu, yang tidak mau mereka ungkapkan. Nilainya sepuluh kali lipat nilai emas, dan sekarang bahkan lebih dari itu; karena hanya sedikit yang tersisa di atas tanah, dan bahkan bangsa Orc tidak berani menggalinya di sini. Lapisan-lapisan itu terbentang sampai ke utara, mendekati Caradhras, dan ke bawah ke dalam kegelapan. Orang-orang kerdil tidak bercerita; tapi, selain menjadi landasan kemakmuran mereka, mithril juga menjadi sumber kehancuran mereka: mereka menggali terlalu rakus dan terlalu dalam, dan mengganggu sesuatu yang kemudian membuat mereka melarikan diri, Kutukan Durin. Apa yang mereka bawa ke atas tanah hampir semuanya dirampok bangsa Orc, yang kemudian menjadikannya upeti kepada Sauron, yang sangat mendambakannya.

"Mithril! Semua bangsa mendambakannya. Logam itu bisa ditempa seperti tembaga, dan dipoles seperti kaca; dan dari bahan itu, orang-orang kerdil bisa membuat logam ringan namun lebih keras daripada baja. Keindahannya mirip perak biasa, tapi keindahan mithril tidak suram atau memudar. Bangsa Peri sangat menyukainya, dan di antara banyak kegunaannya, mereka membuat ithildin dari bahan itu, starmoon, yang sudah kalian lihat pada pintu gerbang tadi. Bilbo mempunyai rompi dari cincin-cincin mithril yang diberikan Thorin kepadanya. Aku ingin tahu, apa yang terjadi dengan benda itu? Mungkin cuma jadi pajangan di Michel-Delving Mathom-house, kukira."
"Apa?" teriak Gimli kaget, hingga terbangun dari sikap diamnya. "Rompi dari perak Moria? Itu hadiah kerajaan!"
"Ya," kata Gandalf. "Aku tak pernah memberitahunya, tapi nilainya lebih besar daripada nilai seluruh Shire dan isinya."
Frodo tidak mengatakan apa pun, tapi ia memasukkan tangan ke bawah kemejanya, dan menyentuh cincin-cincin pakaian logamnya. Ia tertegun memikirkan bahwa ia sudah berjalan ke sana kemari dengan harta Shire di bawah jaketnya. Apakah Bilbo tahu? ia tidak ragu, Bilbo pasti tahu betul hal itu. Memang ini sebuah hadiah kerajaan. Tapi kini pikirannya melayang jauh dari Tambang yang gelap, ke Rivendell, ke Bilbo, dan ke Bag End di masa Bilbo masih tinggal di sana. Ia berharap sepenuh hatinya bahwa ia kembali berada di sana, dan di masa itu, memotong rumput halaman, atau berjalan santai di tengah bunga-bungaan, tak, pernah mendengar tentang Moria. atau mithril—atau Cincin.


Hening sekali. Satu demi satu yang lain tertidur. Giliran Frodo berjaga. Rasa takut menyelimutinya, bagaikan napas yang masuk melalui pintu tak terlihat, keluar dari tempat-tempat dalam. Tangannya dingin dan alisnya lembap. Ia mendengarkan. Pikirannya sepenuhnya tertuju untuk mendengarkan suara, selama dua jam yang lamban sekali; tapi ia tidak mendengar bunyi apa pun, tidak juga merasa mendengar bunyi gema langkah kaki.
Ketika giliran jaganya hampir selesai, jauh di sana... di tempat ia menduga

ambang pintu barat berdiri, ia seolah melihat dua titik cahaya yang redup, hampir seperti mata yang bercahaya. Ia bergerak kaget. Tadi ia agak mengantuk. "Rupanya aku hampir tertidur sambil berjaga," pikirnya. "Aku berada di batas mimpi." ia bangkit berdiri dan menyeka matanya, dan tetap berdiri, mengintai ke dalam kegelapan, sampai ia digantikan oleh Legolas.
Ketika berbaring, dengan cepat ia tertidur, tapi rasanya mimpinya berlanjut: ia mendengar bisikan-bisikan, dan melihat dua titik cahaya redup mendekat, perlahan-lahan. Ia bangun dan menyadari yang lain sedang berbicara perlahan di dekatnya, dan cahaya redup itu jatuh di atas wajahnya. Jauh tinggi di atas lengkungan ambang pintu timur, melalui lubang dekat langit-langit, masuk seberkas sinar panjang dan pucat; dan di seberang aula, melalui ambang pintu utara, juga masuk cahaya yang bersinar redup dan jauh.
Frodo bangkit duduk. "Selamat pagi!" kata Gandalf. "Sebab sekarang sudah pagi lagi. Ternyata aku benar. Kita berada tinggi di sisi timur Moria. Sebelum hari ini berakhir, seharusnya kita sudah menemukan Gerbang-Gerbang Besar dan melihat air Mirrormere di Lembah Dimrill di depan kita."
"Aku akan gembira," kata Gimli. "Aku sudah melihat Moria, dan memang hebat sekali, tapi sudah menjadi gelap dan menyeramkan; dan kita tidak menemukan satu pun tanda dari bangsaku. Aku sekarang ragu, apakah Balin pernah ke sini."


Setelah mereka sarapan, Gandalf memutuskan untuk berjalan lagi segera. "Kita masih letih, tapi kita akan beristirahat lebih enak kalau sudah berada di luar," katanya. "Kukira di antara kita tidak ada yang mau menghabiskan satu malam lagi di Moria."
"Memang tidak," kata Boromir. "Jalan mana yang akan kita ambil? Melalui pintu di seberang timur sana?"
"Mungkin," kata Gandalf. "Tapi aku belum tahu persis di mana kita berada. Kecuali aku sudah benar-benar tersesat, kurasa kita berada di atas, dan lebih ke utara Gerbang-Gerbang Besar; dan mungkin tidak akan gampang menemukan jalan yang benar ke sana. Lengkungan timur barangkali akan terbukti sebagai

jalan yang harus kita ambil; tapi, sebelum memutuskan, kita harus melihat sekeliling kita. Mari kita mendekati cahaya di pintu utara. Kalau kita bisa menemukan jendela, itu akan membantu, tapi aku khawatir cahaya itu hanya datang dari lubang-lubang yang dalam sekali."
Mengikuti tuntunan Gandalf, mereka berjalan di bawah lengkungan utara. Mereka menyadari sudah berada dalam selasar yang lebih lebar. Ketika mereka berjalan terus, cahaya itu semakin kuat, datangnya dari sebuah lubang pintu di sebelah kanan mereka. Pintu itu tinggi, bagian atasnya datar, dari pintu batunya masih melekat pada engselnya, setengah terbuka. Di luarnya ada kamar besar berbentuk persegi. Ruangan itu bercahaya remang-remang, tapi untuk mata mereka, setelah begitu lama berada dalam gelap, cahayanya terasa menyilaukan, dan mereka mengerjap-ngerjapkan mata ketika masuk.
Kaki mereka mengepulkan debu di lantai, dan tersandung-sandung benda-benda yang tergeletak di ambang pintu, yang mulanya tak bisa mereka lihat bentuk-bentuknya. Ruangan itu diterangi oleh sebuah corong tinggi di dinding timur; corong itu condong ke atas, dan jauh di atas sana terlihat sepotong kecil langit biru. Cahaya dari corong itu jatuh tepat di atas sebuah meja di tengah ruangan: sebuah balok persegi, kira-kira dua kaki tingginya, di atasnya terletak selembar batu putih besar.
"Kelihatannya seperti kuburan," gumam Frodo, dan ia membungkuk ke depan dengan perasaan waswas, untuk mengamatinya lebih saksama. Gandalf cepat mendekatinya. Di batu itu terdapat torehan lambang-lambang.
"Ini Lambang-Lambang Daeron, seperti yang digunakan di Moria kuno,"

kata Gandalf. "Di sini tertulis dalam bahasa Manusia dan Kurcaci: BALIN PUTRA FUNDIN
PENGUASA MORIA."



"Kalau begitu, dia sudah mati," kata Frodo. "Aku sudah mengira." Gimli menutupkan kerudungnya ke atas kepala.

BAB 5

JEMBATAN KHAZAD-DUM



Para pengembara itu berdiri diam di samping kuburan Balin. Frodo memikirkan Bilbo dan persahabatannya yang panjang dengan orang kerdil itu, dan ia ingat kunjungan Balin ke Shire dulu. Di ruangan berdebu di dalam pegunungan, rasanya itu sudah seribu tahun yang lalu, dan terjadi di belahan dunia lain.
Akhirnya mereka bergerak dan menengadah, dan mulai mencari apa pun yang bisa memberitahu mereka tentang nasib Balin, atau menunjukkan apa yang terjadi dengan bangsanya. Ada sebuah pintu yang lebih kecil di sisi seberang ruangan itu, di bawah corong. Dekat kedua pintu, sekarang mereka bisa melihat tulang-belulang berserakan, di antaranya banyak pedang patah dan kepala kapak, perisai-perisai terbelah dan topi baja. Beberapa pedang itu bengkok: pedang Orc dengan mata pedang hitam.
Banyak relung dipahat di batu dinding, di dalamnya terdapat peti-peti kayu yang diikat besi. Semuanya sudah dipecahkan dan dijarah; tapi di samping salah satu tutup yang hancur tergeletak sisa sebuah buku. Buku itu sudah disayat dan bernoda, dan separuh terbakar, dan begitu banyak noda hitam dan noda-noda gelap lain, seperti darah lama, hingga hanya sedikit yang masih bisa terbaca. Gandalf mengangkatnya hati-hati, tapi halaman-halamannya berderak dan hancur ketika ia meletakkannya di atas keping batu. Ia membacanya beberapa saat, tanpa berbicara. Frodo dan Gimli yang berdiri di sampingnya bisa melihat, saat Gandalf dengan hati-hati membalik halaman-halamannya, bahwa buku itu ditulisi banyak tangan berbeda, dengan lambang-lambang dari Moria dan Lembah, dan di sana-sini dalam tulisan Peri.
Akhirnya Gandalf mengangkat wajah. "Tampaknya ini catatan tentang riwayat rakyat Balin," katanya. "Kurasa ini diawali dengan kedatangan mereka ke Lembah Dimrill hampir tiga puluh tahun yang lalu: kelihatannya lembaran- lembarannya mempunyai angka yang menandai tahun-tahun setelah kedatangan mereka. Halaman paling atas ditandai satu-tiga, jadi setidaknya dua sudah hilang dari awalnya. Dengarkan ini!

"Kami mengusir para Orc dari gerbang besar dan penjaga—kukira; kata selanjutnya agak kabur dan terbakar: mungkin ruangan—kami membunuh banyak di bawah cahaya matahari yang terang—kukira—di lembah. Floi terbunuh oleh panah. Dia membunuh yang besar. Lalu ada kekaburan, diikuti Floi di bawah rumput di Mirror mere. Satu-dua baris berikutnya tak bisa kubaca. Lalu ada kami sudah memakai aula kedua puluh satu di ujung Utara untuk tinggal. Ada—aku tak bisa baca. Sebuah corong disebut-sebut. Lalu Balin mengambil kedudukan di Ruang Mazarbul."
"Ruang Catatan," kata Gimli. "Kurasa itulah nama ruang tempat kita sekarang berdiri ini."
"Well, aku tak bisa membaca lagi untuk bagian yang panjang sekali," kata Gandalf, "kecuali kata emas, dan Kapak Durin, lalu sesuatu seperti topi baja. Lalu Balin sekarang penguasa Moria. Tampaknya itu mengakhiri sebuah bab. Setelah beberapa bintang, tangan lain mulai menulis, dan aku bisa melihat kami menemukan perak sejati, kemudian kata ditempa dengan bagus, lalu sesuatu, aku tahu! mithril; dan dua baris terakhir Oin mencari gudang senjata di Kedalaman Ketiga, sesuatu pergi ke barat, kabur, ke gerbang Hollin."
Gandalf berhenti dan menyisihkan beberapa lembar. "Ada beberapa halaman yang semacam, ditulis dengan terburu-buru dan banyak rusak," katanya, "tapi aku tak bisa membaca banyak dengan cahaya int. Pasti ada beberapa halaman hilang, karena yang ini diberi angka lima, tahun kelima mereka tinggal di sin), kukira. Coba lihat! Tidak, ternyata terlalu terpotong dan bernoda; aku tak bisa membacanya. Mungkin kita bisa membacanya lebih baik di bawah cahaya matahari. Tunggu! Di sini ada sesuatu: tulisan besar dan jelas dalam huruf Peri."
"Itu mungkin tulisan Ori," kata Gimli, sambil melongok dari atas lengan

Gandalf. "Dia bisa menulis bagus dan cepat, dan sering menggunakan tulisan

Peri."

"Aku khawatir yang disampaikannya dalam tulisan indah itu adalah berita buruk," kata Gandalf. "Kata pertama yang jelas adalah duka, tapi sisa kalimatnya hilang, kecuali diawali dengan kema. Ya, tampaknya memang kema, diikuti rin

adalah hari kesepuluh november Balin penguasa Moria jatuh di Lembah Dimrill. Dia pergi sendirian untuk melihat ke dalam Mirror mere. Seorang Orc menembaknya dari balik sebuah batu. Kami membunuh Orc itu, tapi masih banyak lagi... datang dari timur Silverlode. Sisa lembaran ini begitu kabur, sampai aku hampir tak bisa membacanya, tapi rasanya aku bisa membaca kami memalang gerbang, lalu bisa menahannya lama kalau, lalu mungkin mengerikan dan tersiksa. Kasihan Balin! Kelihatannya gelar sebagai Penguasa Moria cuma bertahan kurang dari lima tahun dipegangnya. Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi sesudahnya; tapi tak ada waktu untuk menebak halaman-halaman terakhir. Ini halaman terakhir." ia berhenti dan mengeluh.
"Bacaan yang muram," katanya. "Aku khawatir akhir mereka mengenaskan sekali. Dengar! Kami tak bisa keluar. Kami tak bisa keluar. Mereka sudah menduduki Jembatan dan aula kedua. Frar, Loni, dan Nali tewas di sana. Lalu ada empat baris yang kotor sekali, sampai aku hanya bisa membaca pergi lima hari yang lalu. Baris-baris terakhir terbaca kolam sudah mencapai dinding di Gerbang Batat. Penjaga di dalam Air mengambil Oin. Kami tak bisa keluar. Akhirnya sudah dekat, lalu genderang, genderang di kedalaman. Aku tak tahu apa artinya itu. Kalimat terakhir tertulis dalam goresan terseret-seret huruf Peri: mereka datang. Lalu tidak ada tulisan lagi." Gandalf berhenti dan berdiri diam sambil merenung.
Kengerian dan ketakutan mendadak terhadap ruangan itu meliputi mereka. "Kami tak bisa keluar," gerutu Gimli. "Untung bagi kita, danau agak surut, dan si Penjaga sedang tidur di ujung selatan."
Gandalf mendongakkan kepala dan melihat sekelilingnya. "Tampaknya

mereka melakukan pertahanan terakhir di kedua pintu," katanya, "tapi sudah tidak banyak yang tersisa saat itu. Maka berakhirlah upaya untuk mengambil kembali Moria! Memang gagah berani, tapi bodoh. Saatnya belum tiba.. Sekarang kurasa kita hams pamit pada Balin putra Fundin. Di sini dia harus berbaring, di aula nenek moyangnya. Kita akan membawa buku ini, Buku Mazarbul, dan di kemudian hari memeriksanya lebih cermat. Sebaiknya kau menyimpannya, Gimli, dan membawanya kembali pada Dain, kalau ada

kesempatan. Ayo, mari kita pergi! Sudah siang sekarang." "Ke arah mana kita akan pergi?" tanya Boromir.
"Kembali ke aula," jawab Gandalf. "Tapi kunjungan kita ke ruangan ini tidak sia-sia. Sekarang aku tahu kita berada di mana. Ini, seperti kata Gimli, adalah Ruang Mazarbul; dan aula ini adalah yang kedua puluh satu di ujung Utara. Karena itu, kita harus pergi lewat gerbang timur aula, mengarah ke kanan dan selatan, lalu turun. Aula Kedua Puluh Satu seharusnya ada di Tingkat Ketujuh, berarti enam tingkat di atas Gerbang. Ayo! Kembali ke aula!"


Baru saja Gandalf mengucapkan kata-kata itu, terdengar suara heboh: bunyi Bum menderum yang seolah datang dari kedalaman jauh di bawah, dan bergetar di bebatuan di bawah kaki mereka. Mereka melompat ke pintu dengan cemas. Duum, duum, terdengar lagi, seolah ada tangan-tangan besar mengubah gua- gua luas di Moria menjadi genderang raksasa. Lalu terdengar ledakan bergema: sebuah terompet ditiup di aula, dan terompet-terompet serta teriakan-teriakan parau terdengar membalas di kejauhan. Bunyi langkah kaki tergesa-gesa terdengar.
"Mereka datang!" teriak Legolas. "Kita tak bisa keluar," kata Gimli.
"Terjebak!" seru Gandalf. "Kenapa aku menunda-nunda? Kita terjebak di sini, persis seperti mereka dulu. Tapi dulu aku tidak di sini. Akan kita lihat, apa…" Duum, duum bunyi pukulan genderang, dan dinding-dinding bergetar.
"Tutup pintu dan sumbat!" teriak Aragorn. "Dan tetap pakai ransel kalian selama

mungkin: mungkin kita mendapat kesempatan untuk lolos.”

"Tidak!" kata Gandalf. "Jangan terperangkap di sini. Biarkan pintu timur tetap terbuka! Kita akan pergi lewat sana, kalau ada kesempatan."
Tiupan terompet keras dan teriakan nyaring berbunyi. Kaki-kaki berdatangan lewat selasar. Ada bunyi dering gemerincing ketika Rombongan itu menghunus pedang mereka. Glamdring bersinar dengan cahaya pucat, dan Sting berkilauan pada ujungnya. Boromir mendorong pintu barat dengan bahunya.

"Tunggu sebentar! Jangan tutup dulu!" kata Gandalf. Ia melompat maju ke samping Boromir dan berdiri tegak.
"Siapa yang datang mengganggu peristirahatan Balin Penguasa Moria?" teriaknya keras.
Bunyi tawa parau berderai, seperti jatuhnya batu-batu yang tergelincir masuk ke sumur; di tengah bunyi berisik, sebuah suara besar terdengar memberi perintah. Duum, buum, duum bunyi genderang di kedalaman.
Dengan gerakan cepat, Gandalf melangkah ke depan bukaan sempit pintu

itu dan mendorong tongkatnya ke depan. Cahaya menyilaukan menerangi ruangan dan selasar di luar. Sekejap penyihir itu memandang ke luar. Panah- panah berdesing dan meraung sepanjang selasar ketika ia melompat mundur.
"Banyak sekali Orc," katanya. "Beberapa besar dan jahat: Uruk-Uruk hitam dari Mordor. Saat ini mereka masih menahan diri, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Troll gua yang besar, kukira, atau lebih dari satu. Tak ada harapan untuk lolos ke arah itu."
"Dan tak ada harapan sama sekali, kalau mereka juga datang ke pintu lain," kata Boromir.
"Di luar sini belum ada suara," kata Aragorn, yang berdiri dekat pintu timur sambil mendengarkan. "Selasar di sisi ini langsung terjun ke bawah melalui tangga: jelas tidak menuju aula. Tapi tidak baik lari membabi buta ke arah ini dengan musuh mengejar persis di belakang. Kita tak bisa memalang pintu. Anak kuncinya hilang dan kuncinya rusak, dan arah bukanya ke dalam. Kita harus melakukan sesuatu untuk menunda musuh. Kita akan membuat mereka ngeri pada Ruang Mazarbul!" kata Aragorn geram, sambil meraba-raba ujung pedangnya, Anduril.


Langkah-langkah berat terdengar di selasar. Boromir melemparkan diri ke pintu dan menutupnya, lalu menjepitnya dengan mata pedang yang patah dan serpihan kayu. Rombongan itu mundur ke sisi seberang ruangan. Tapi mereka belum mendapat kesempatan melarikan diri. Pintu dihantam hingga bergetar; lalu pintu itu perlahan-lahan mulai terbuka, mendorong benda-benda

penahannya. Sebuah tangan dan pundak besar, berkulit gelap bersisik kehijauan, terjulur melalui lubang yang semakin besar. Lalu sebuah kaki besar dan datar, tanpa jari, didorong masuk di bawah. Di luar hening sekali.
Boromir melompat maju dan menebas tangan itu sekuat tenaga; tapi pedangnya mendenging, -luput, dan jatuh dari tangannya yang gemetar. Mata pedangnya tertakik.
Mendadak, dan dengan kaget, Frodo merasakan kemarahan panas

bergemuruh di dadanya: "Shire!" teriaknya, lalu melompat ke samping Boromir, ia membungkuk dan menghunjamkan Sting ke kaki yang menjijikkan itu. Terdengar teriakan, dan kaki itu ditarik mundur, hampir merenggutkan Sting dari tangan Frodo. Tetes-tetes hitam menetes dari mata pedangnya dan berasap di lantai. Boromir melemparkan diri ke pintu dan menutupnya lagi.
"Satu untuk Shire!" teriak Aragorn. "Gigitan hobbit dalam sekali! Pedangmu bagus, Frodo putra Drogo!"
Pintu dihantam dari luar, susul-menyusul. Pelantak dan palu memukul-

mukulnya. Pintu itu berderak dan terdorong ke belakang, dan tiba-tiba lubang pintu membesar. Panah-panah masuk berdesing, tapi menabrak dinding utara, dan jatuh ke lantai tanpa merusak. Ada bunyi tiupan terompet dan langkah kaki bergegas, dan satu demi satu Orc masuk ke ruangan itu.
Entah berapa banyak Orc yang datang. Serangan mereka tajam, tapi para Orc kaget dengan perlawanan sengit yang garang. Legolas memanah dua Orc, menembus tenggorokan. Gimli menebas kaki Orc lain yang meloncat ke atas kuburan Balin. Boromir dan Aragorn membunuh banyak sekali. Ketika sudah tiga belas jatuh, sisanya lari sambil berteriak, meninggalkan para pengembara itu tanpa cedera, kecuali Sam yang terkena goresan di kulit kepalanya. Karena menunduk cepat, ia selamat, dan ia berhasil menumbangkan satu Orc dengan tusukan kuat pisau Barrow-nya. Api menyala-nyala di matanya yang cokelat, dan pasti bisa membuat Ted Sandyman mundur, seandainya ia melihatnya.
"Sekarang saatnya!" teriak Gandalf. "Ayo kita pergi, sebelum troll kembali!"
Tapi selagi mereka pergi, dan sebelum Merry dan Pippin mencapai

tangga di luar, seorang pemimpin Orc yang besar, hampir setinggi manusia, berpakaian logam hitam dari kepala sampai ke kaki, melompat masuk ke ruangan itu; di belakangnya, para pengikutnya berkerumun di ambang pintu. Wajahnya yang lebar dan datar berwarna hitam, matanya bagai bara api, dan lidahnya merah; ia memegang tombak besar. Dengan dorongan perisai kulitnya yang besar, ia memelintir pedang Boromir dan mendorongnya mundur, sampai Boromir terjatuh. Ia membungkuk di bawah pukulan Aragorn, dan secepat ular mematuk ia menyerang Rombongan dan menusukkan tombaknya langsung ke Frodo. Tusukan itu mengenai sisi kanannya, Frodo terlempar ke dinding dan terjepit. Sam berteriak dan menebas pangkal tombak hingga patah. Saat Orc itu melemparkan tongkatnya dan menghunus pedang pendeknya, Anduril memukul topi bajanya. Ada kilatan seperti nyala api, dan topi baja itu hancur remuk. Orc itu jatuh dengan kepala terbelah. Pengikut-pengikutnya lari sambil melolong, ketika Boromir dan Aragorn menyerang mereka.
Duum, duum, bunyi genderang jauh di dalam. Suara besar itu terdengar


lagi.




"Sekarang!" teriak Gandalf. "Sekarang kesempatan terakhir. Lari!"




Aragorn mengangkat Frodo dari tempat ia berbaring dekat dinding, dan berjalan ke tangga sambil mendorong Merry dan Pippin di depannya. Yang lain mengikutinya; tapi Gimli terpaksa diseret oleh Legolas: meski dikelilingi bahaya, Gimli berlama-lama dekat kuburan Balin dengan kepala tertunduk. Boromir menutup pintu timur, yang berderit pada engselnya. Pintu itu mempunyai cincin besi besar pada setiap sisi, tapi tak bisa dikunci.
"Aku baik-baik saja," Frodo terengah-engah. "Aku bisa jalan. Turunkan


aku!"




Aragorn hampir menjatuhkannya karena kaget. "Kukira kau sudah mati,"


serunya.

"Belum!" kata Gandalf. "Tetapi tak ada waktu untuk terheran-heran. Pergi kalian semua, turun tangga! Tunggu aku beberapa menit di bawah, tapi kalau aku tidak datang, teruskan perjalanan! Pergilah cepat dan pilihlah jalan yang

menuju ke kanan dan turun."

"Kami tak bisa meninggalkanmu untuk menahan pintu sendirian!" kata

Aragorn.

"Lakukan apa yang kukatakan!" kata Gandalf garang. "Pedang tidak berguna lagi di sini. Pergi!"


Sekarang di selasar tak ada cahaya lagi, suasananya gelap gulita. Mereka meraba-raba jalan menuruni tangga yang sangat panjang, lalu menoleh ke belakang; tapi mereka tak bisa melihat apa pun, kecuali cahaya redup tongkat sang penyihir, tinggi di atas mereka. Tampaknya ia masih berdiri waspada di depan pintu yang tertutup. Frodo bernapas berat dan bersandar pada Sam, yang memeluknya. Mereka berdiri mengintai ke atas tangga, ke dalam kegelapan. Frodo merasa mendengar suara Gandalf di atas, menggumamkan kata-kata yang turun dari langit-langit miring dengan gema mengalun. Ia tak bisa menangkap apa yang dikatakan. Dinding-dinding seolah bergetar. Sekali-sekali bunyi genderang berdenyut dan mengalir: duum, duum.
Tiba-tiba di puncak tangga ada kilatan cahaya putih. Lalu terdengar deruman redup dan bunyi gedebuk berat. Pukulan genderang meledak liar; duum-buum, duum buum, lalu berhenti. Gandalf datang berlari menuruni tangga, dan jatuh ke lantai di tengah Rombongan.
"Well, well! Sudah selesai!" kata penyihir itu sambil bangkit berdiri dengan susah payah. "Aku sudah berusaha sebisanya. Tapi aku mendapat lawan yang setanding, dan hampir saja aku hancur. Jangan berdiri di sana! Jalan terus! Kalian terpaksa jalan tanpa cahaya untuk beberapa lama: aku agak terguncang. Jalan terus! Jalan terus! Di mana kau, Gimli? Ikut aku jalan di depan! Yang lainnya baris di belakang!"
Mereka berjalan terhuyung-huyung di belakang Gandalf, sambil bertanya dalam hati, apa yang sudah terjadi. Duum, duum, terdengar pukulan genderang lagi: sekarang kedengaran teredam dan jauh sekali, tapi tetap mengikuti. Tak ada bunyi pengejaran lain, baik langkah kaki maupun suara. Gandalf tidak membelok-belok, ke kanan maupun ke kiri, karena selasar itu tampaknya menuju

arah yang diinginkannya. Sesekali selasar itu turun beberapa tangga, sekitar lima puluh atau lebih, ke tingkat yang lebih rendah. Untuk sementara, aku merupakan bahaya utama bagi mereka; karena dalam kegelapan mereka tak bisa melihat lantai yang menurun, sampai mereka menapakinya, dan menjulurkan kaki ke kekosongan. Gandalf meraba-raba tanah dengan tongkatnya, seperti orang buta.
Setelah satu jam, mereka sudah menempuh satu mil, atau mungkin lebih sedikit, dan sudah menuruni banyak tangga. Masih tidak terdengar bunyi pengejar. Mereka setengah berharap sudah berhasil lolos. Di dasar tingkat ketujuh, Gandalf berhenti.
"Semakin panas!" ia menarik napas terengah. "Seharusnya kita sudah mencapai tingkat Gerbang sekarang. Kurasa tak lama lagi kita harus mencari tikungan ke kiri, untuk membawa kita ke timur. Kuharap tidak jauh lagi. Aku letih sekali. Aku harus istirahat sejenak di sini, meski semua Orc yang pernah dilahirkan ada di belakang kita."
Gimli memegang tangannya dan membantunya duduk di tangga. "Apa yang terjadi tadi di atas di pintu?" tanyanya. "Apa kau bertemu dengan pemukul genderang itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Gandalf. "Tapi tiba-tiba aku menyadari aku berhadapan dengan sesuatu yang belum pernah kujumpai. Aku tak bisa memikirkan hal lain, kecuali mencoba menyihir pintu. Aku tahu banyak mantra, tapi perlu waktu untuk melakukan hal seperti itu dengan benar, dan biarpun begitu, pintu masih bisa dihancurkan dengan kekuatan.
"Ketika aku berdiri di sana, bisa kudengar suara-suara Orc di balik pintu: setiap saat aku mengira pintu akan mereka buka. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan; tampaknya mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri yang menjijikkan. Aku hanya menangkap kata ghash, yang artinya 'api'. Lalu sesuatu masuk ke ruangan—aku bisa merasakannya melalui pintu, dan para Orc juga takut dan diam. Dia memegang cincin besi, lalu melihatku dan sihirku.
"Apakah sesuatu itu, aku tak bisa menduga, sebab belum pernah aku

merasakan tantangan yang begitu besar. Sihir balasannya hebat sekali. Hampir menghancurkanku. Untuk beberapa saat, pintu lepas dari kendaliku dan mulai terbuka! Aku harus mengucapkan kata Perintah. Ternyata itu berat sekali. Pintu meledak, hancur berantakan. Sesuatu yang gelap seperti awan menutupi semua cahaya di dalam ruangan, dan aku terjungkal dari atas tangga. Seluruh dinding menyerah, juga langit-langit ruangan, kukira.
"Aku menduga Balin dikuburkan dalam sekali, dan mungkin ada sesuatu yang lain, yang juga dikuburkan di sini. Aku tidak tahu. Ah! Belum pernah aku merasa begitu terkuras, tapi sekarang aku sudah membaik. Bagaimana denganmu, Frodo? Aku belum sempat mengatakannya, tapi belum pernah aku merasa begitu gembira seperti ketika mendengar kau bicara. Aku tadi cemas Aragorn mengangkat hobbit yang berani, tapi sudah mati."
"Aku?" kata Frodo. "Aku hidup, dan utuh, kukira. Agak tergores dan kesakitan, tapi tidak terlalu parah."
"Well," kata Aragorn, "aku hanya bisa mengatakan bahwa para hobbit

terbuat dari bahan yang sangat tangguh, yang belum pernah kutemui. Seandainya aku tahu, di Bree aku mungkin akan berbicara lebih lembut! Tusukan tombak itu bisa membantai babi hutan liar!"
"Well, tapi ternyata tidak menewaskanku," kata Frodo, "meski aku merasa seolah terperangkap di antara palu dan landasannya." ia tidak berkata apa-apa lagi. Ternyata bernapas pun terasa sakit.
"Kau seperti Bilbo," kata Gandalf. "Dalam dirimu terdapat sesuatu yang lebih hebat daripada yang terlihat, seperti kukatakan kepadanya dulu." Frodo bertanya dalam hati, apakah komentar itu menyimpan makna tersembunyi.


Mereka berjalan terus. Tak lama kemudian, Gimli berbicara. Ia mempunyai penglihatan tajam dalam gelap. "Kurasa ada cahaya di depan," katanya. "Tapi bukan cahaya pagi hari: Warnanya merah. Apa itu?"
"Ghash!" gerutu Gandalf. "Aku ingin tahu, apakah ini maksud mereka: bahwa tingkat-tingkat yang lebih rendah sedang terbakar? Bagaimanapun, kita hanya bisa berjalan terus."

Dengan segera cahaya itu menjadi jelas sekali, dan bisa dilihat se-mua. Ia berkelip dan bersinar pada dinding-dinding selasar di depan. Mereka sekarang bisa melihat jalan: di depan, jalan menurun cepat, dan tak berapa jauh dari sana berdiri sebuah lengkungan rendah; dari sanalah cahaya aku datang. Udara menjadi panas sekali.
Ketika mereka sampai di lengkungan, Gandalf melewatinya, memberi isyarat pada mereka untuk menunggu. Saat ia berdiri tepat di luar lubang, mereka melihat wajahnya kemilau kemerahan. Ia mundur dengan cepat.
"Ada sihir baru di sini," katanya, "pasti dirancang untuk menyambut kita. Tapi sekarang aku tahu kita ada di mana: kita sudah sampai Kedalaman Pertama, tingkatan persis di bawah Gerbang. Ini Aula Kedua Moria Kuno, dan Gerbang-nya tidak jauh dari sini: di ujung timur sebelah kiri, tak lebih dari seperempat mil. Menyeberangi Jembatan, menaiki tangga lebar, melalui jalan lebar lewat Aula Pertama, dan keluar! Coba kemari dan lihat!"
Mereka mengintai ke luar. Di depan mereka ada sebuah aula yang sangat besar. Lebih tinggi dan jauh lebih panjang daripada aula tempat mereka tidur. Mereka sudah dekat ke ujung sebelah timurnya; ke arah barat semakin gelap. Di tengah-tengah berdiri barisan ganda tiang menjulang. Tiang-tiang, itu berukiran, seperti batang pohon besar yang dahan-dahannya menopang atap, dengan garis batu yang bercabang. Batang mereka licin dan hitam, tapi seberkas cahaya merah tercermin di sisi-sisinya. Di lantai, dekat ke kaki dua tiang besar itu, sebuah retakan menganga lebar. Dari sana keluar cahaya merah ganas, sesekali kobaran api menjilat tepinya dan menggulung di sekitar kaki tiang-tiang itu. Untaian asap gelap menggantung di udara.
"Kalau kita melewati jalan utama dari aula-aula di atas, kita pasti terjebak di sini," kata Gandalf. "Mudah-mudahan sekarang ada api di ,antara kita dan pengejar kita. Ayo! Jangan buang-buang waktu."
Tepat saat ia berbicara, mereka mendengar lagi bunyi genderang yang mengejar: duum, duum, duum. Jauh di belakang kegelapan di ujung barat aula terdengar teriakan dan tiupan terompet. Duum, duum: tiang-tiang seolah bergetar dan nyala api gemetar.

"Sekarang pacuan terakhir!" kata Gandalf. "Kalau matahari di luar bersinar, kita masih bisa lolos. Ikuti aku!"
Ia membelok ke kiri dan berlari melintasi lantai aula yang mulus. Jaraknya lebih jauh daripada kelihatannya. Saat berlari, mereka mendengar pukulan dan gema banyak kaki di belakang mereka. Teriakan nyaring keluar: mereka sudah terlihat. ,Ada bunyi gemerincing dan pukulan baja. Panah berdesing melewati kepala Frodo.
Boromir tertawa. "Mereka tidak menduga akan seperti ini," katanya. Api menghalangi mereka. Kita berada di sisi yang salah!"
"Lihat ke depan!" teriak Gandalf. "Jembatan sudah dekat. Sempit dan berbahaya."
Mendadak Frodo melihat jurang hitam di depannya. Di ujung aula, lantai menghilang dan terjun ke kedalaman yang tak diketahui. Pintu luar hanya bisa dicapai melalui jembatan batu yang sempit, tanpa pinggiran atau pagar, yang membentang di atas jurang dengan satu lengkungan sepanjang lima puluh kaki. Sebuah pertahanan kuno para orang kerdil melawan musuh yang mungkin menduduki Aula Pertama dan selasar luar. Mereka hanya bisa melewatinya dalam barisan satu-satu. Di ujungnya Gandalf berhenti, dan yang lain berkerumun di belakang.
"Pimpin jalannya, Gimli!" katanya. "Pippin dan Merry berikutnya. Lurus ke depan, dan naik tangga di balik pintu!"
Panah-panah berjatuhan di antara mereka. Satu mengenai Frodo dan melenting kembali, yang lain menembus topi Gandalf dan tertancap di sana seperti bulu hitam. Frodo menoleh ke belakang. Di seberang api, ia melihat sosok-sosok hitam berkerumun: tampaknya ada ratusan Orc. Mereka mengacungkan tombak dan pedang yang bersinar merah seperti darah dalam cahaya api. Duum, duum, bunyi pukulan genderang, semakin keras dan semakin keras, duum, duum.
Legolas berbalik dan memasang panah pada busurnya, meski jarak tembaknya terlalu panjang untuk busurnya yang kecil ia menariknya, tapi tangannya terkulai dan panah itu meleset ke tanah. Ia berteriak cemas dah takut.

Dua troll besar muncul; mereka membawa keping batu besar sekali, dan melemparkannya untuk dipakai sebagai jembatan melewati api. Tapi bukan troll- troll itu yang membuat Legolas ketakutan. Barisan-barisan Orc terbuka, dan mereka berkerumun menjauh, seolah mereka sendiri juga takut. Sesuatu datang dari belakang mereka. Entah apa, tak terlihat: seperti bayangan besar, di tengahnya ada bentuk gelap, mungkin seperti bentuk manusia, tapi lebih besar; kekuatan dan teror ada di dalamnya, memancar dari dirinya.
Ia datang ke pinggiran api, dan cahaya pun memudar, seolah tertutup awan. Lalu dengan cepat ia melompati retakan. Nyala api berkobar ke atas menyambutnya, dan melingkarinya; dan asap hitam mengepul di udara. Rambutnya yang panjang menyala dan berkobar di belakangnya. Di tangan kanannya ada pisau seperti lidah api yang menusuk; di tangan kirinya ia memegang pecut dengan banyak tali.
"Aduh! Aduh!" ratap Legolas. "Balrog! Balrog sudah datang!"

Gimli memandang dengan mata melotot. "Kutukan Durin!" teriaknya, lalu menjatuhkan kapaknya sambil menutupi wajah.
"Balrog," gerutu Gandalf. "Sekarang aku mengerti." ia terhuyung-huyung dan bersandar berat pada tongkatnya. "Sial sekali! Padahal aku sudah sangat lelah."


Sosok gelap menyala itu berlari cepat ke arah mereka. Orc-Orc menjerit dan berhamburan di lorong-lorong batu. Boromir mengangkat terompetnya dan meniupnya. Tantangannya berbunyi nyaring melenguh, seperti teriakan banyak tenggorokan di bawah atap berongga itu. Sejenak para Orc gemetar, dan sosok menyala itu berhenti. Lalu gema terompet itu lenyap mendadak, seperti nyala api ditiup angin gelap, dan musuh kembali menerjang maju.
"Naik jembatan!" seru Gandalf, mengumpulkan kembali tenaganya. "Lari! Ini musuh yang tak bisa kalian tandingi. Aku harus mempertahankan jalan sempit ini. Lari!" Aragorn dan Boromir tidak memedulikan perintahnya, tetap bertahan di tempat mereka, berdampingan, di belakang Gandalf di ujung jembatan. Yang lain berhenti tepat di ambang pintu di ujung aula, dan menoleh, tak sampai hati

meninggalkan pemimpin mereka menghadapi musuh sendirian.

Balrog sudah sampai jembatan. Gandalf berdiri di tengah bentangan, bersandar pada tongkat di tangan kirinya, tapi di tangan kanannya Glamdring bersinar, dingin dan putih. Musuhnya berhenti lagi, menghadapi Gandalf, bayangannya menyebar seperti dua sayap besar. Ia mengangkat pecut, talinya meraung dan berderak. Api keluar dan lubang hidungnya. Tapi Gandalf berdiri
kokoh.

"Kau tidak bisa lewat," katanya. Para Orc berdiri diam, hening semuanya. "Aku pelayan Api Rahasia, pemegang nyala api Anor. Kau tidak bisa lewat. Api gelap tidak akan membantumu, nyala api Udun. Kembalilah ke Kegelapan! Kau tidak bisa lewat."
Balrog itu tidak menjawab. Api di dalamnya seolah padam, tapi kegelapan semakin meluas. Ia melangkah maju perlahan-lahan ke atas jembatan, dan tiba- tiba ia berdiri tegak, tinggi sekali, sayapnya terbentang dari dinding ke dinding; tapi Gandalf masih terlihat, bersinar dalam kegelapan; ia tampak kecil, dan sangat sendirian: kelabu dan bungkuk, seperti pohon yang layu sebelum diterpa
badai.

Dari kegelapan, sebuah pedang merah menyala menjulur. Glamdring membalas dengan sinar putih.
Terdengar dering pedang beradu dan tusukan api putih. Balrog itu mundur, pedangnya terbang hancur berkeping-keping. Gandalf limbung di atas jembatan, mundur selangkah, lalu kembali berdiri diam.
"Kau tidak bisa lewat!" katanya.

Dengan satu loncatan, Balrog itu naik seluruhnya ke atas jembatan. Pecutnya berputar-putar dan mendesis.
"Dia tak bisa bertahan sendirian!" teriak Aragorn tiba-tiba, lalu berlari kembali sepanjang jembatan. "Elendil!" teriaknya. "Aku bersamamu, Gandalf!"
"Gondor!" teriak Boromir, dan melompat mengikutinya.

Saat itu Gandalf mengangkat tongkatnya, dan dengan berteriak keras ia memukul jembatan di depannya. Tongkatnya patah dan jatuh dan tangannya. Kobaran api putih menyilaukan muncul. Jembatan berderak. Tepat di kaki Balrog

jembatan itu patah, dan batu tempat ia berdiri jatuh ke dalam jurang, sementara sisanya tetap di tempat, bergetar seperti lidah bebatuan yang menjorok ke ruang kosong.
Dengan teriakan seram Balrog itu jatuh ke depan, bayangannya terjun ke bawah dan lenyap. Tapi sambil jatuh ia mengayunkan pecutnya, talinya memukul dan menggulung lutut Gandalf, menyeretnya ke pinggir jurang. Penyihir itu terhuyung-huyung dan jatuh, sia-sia memegang bebatuan, akhirnya tergelincir ke dalam jurang. "Lari, kalian bodoh!" teriaknya, lalu ia hilang.


Nyala api padam, ruangan itu menjadi gelap pekat. Rombongan itu terpaku ngeri sambil memandang ke dalam jurang. Saat Aragorn dan Boromir datang berlarian kembali, sisa jembatan berderak dan jatuh. Dengan sebuah teriakan Aragorn membangunkan mereka.
"Ayo! Aku yang memimpin kalian sekarang!" teriaknya. "Kita harus menaati perintahnya yang terakhir. Ikuti aku!"
Mereka berjalan tersandung-sandung, menaiki tangga besar di balik pintu. Aragorn memimpin, Boromir di belakang. Di puncak tangga ada selasar lebar yang bergema. Mereka lari melewatinya. Frodo mendengar Sam di sisinya menangis, lalu ia menyadari ia sendiri menangis sambil berlari. Duum, duum, duum, genderang berbunyi di belakang mereka, sekarang terdengar sedih dan lambat.
Mereka terus berlari. Cahaya mulai makin terang di depan sana; corong- corong besar melubangi atap. Mereka berlari lebih cepat. Mereka masuk ke dalam sebuah aula, terang oleh cahaya pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi timur. Mereka lari melintasinya. Melalui pintu-pintunya yang besar dan sudah rusak mereka keluar, dan mendadak di depan mereka Gerbang Besar membuka, sebuah lengkungan penuh cahaya menyilaukan.
Beberapa Orc penjaga meringkuk dalam keremangan, di balik kusen- kusen pintu yang menjulang di kedua sisi, tapi gerbang-gerbangnya sendiri sudah hancur dan roboh. Aragorn menghantam pemimpin Orc yang menghalangi jalan, dan sisanya lari ketakutan melihat kemurkaan Aragorn.

Rombongan itu berlari lewat, tidak memedulikan mereka. Di luar Gerbang, mereka lari dan melompati tangga-tangga besar yang sudah dimakan cuaca, ambang pintu Moria.
Akhirnya mereka keluar ke bawah bentangan langit terbuka, dan merasakan angin menerpa wajah.
Mereka tidak berhenti sampai sudah berada di luar jangkauan tembakan panah dan dinding. Lembah Dimrill mengelilingi mereka. Bayangan Pegunungan Berkabut menutupinya, tapi di sebelah timur ada cahaya emas di atas daratan. Baru jam satu siang. Matahari bersinar; awan-awan berarak putih dan tinggi.
Mereka menoleh ke belakang. Lengkungan Gerbang menganga gelap di bawah bayangan pegunungan. Redup dan jauh di bawah tanah terdengar deruman lambat pukulan genderang: Awl. Asap tipis hitam mengalir keluar. Tak ada yang lain yang kelihatan; lembah di sekeliling mereka kosong. Duum. Akhirnya kesedihan menguasai mereka, dan lama sekali mereka menangis: beberapa sambil berdiri diam, beberapa sambil terpuruk jatuh ke tanah. Duum, duum. Bunyi genderang meredup.

BAB 6

LOTHLORIEN



"Aduh! Aku khawatir kita tak bisa lebih lama di sini," kata Aragorn. Ia memandang ke arah pegunungan dan mengangkat pedangnya. "Selamat tinggal, Gandalf!" serunya. "Bukankah sudah kukatakan padamu: kalau masuk gerbang Moria, waspadalah? Sayang sekali, ternyata kata-kataku benar! Harapan apa yang kami miliki tanpa dirimu?"
Ia menoleh kepada yang lainnya. "Kita harus bisa melanjutkan tanpa harapan," katanya. "Mungkin kita bisa membalas suatu saat nanti. Bersiap- siaplah, dan jangan lagi menangis! Ayo! Perjalanan masih panjang, dan banyak yang masih harus dilakukan."
Mereka bangkit dan melihat sekeliling. Ke arah utara, lembah itu menanjak naik ke sebuah celah gelap di antara dua lengan gunung, yang di atasnya tiga puncak putih bersinar: Celebdil, Fanuidhol, Caradhras, Pegunungan Moria. Di puncak celah, aliran air deras mengalir seperti renda putih, melewati tangga tak berujung yang terdiri atas air terjun pendek-pendek; kabut busa menggantung di udara, di kaki pegunungan.
"Di sanalah Tangga Dimrill," kata Aragorn, menunjuk air terjun. "Kita seharusnya turun melalui jalan yang mendaki di samping air terjun, seandainya nasib lebih ramah pada kita."
"Atau Caradhras tidak begitu kejam," kata Gimli. "Di sana dia berdiri, tersenyum di bawah matahari!" ia mengepalkan tinjunya ke arah puncak gunung bersalju terjauh, lalu membalikkan badan.
Di timur, lengan pegunungan yang terjulur tiba-tiba berakhir, dan daratan- daratan jauh di luarnya bisa terlihat, luas dan samar-samar. Ke arah selatan, Pegunungan Berkabut berdiri tak terhingga, sejauh mata memandang. Kurang satu mil dari sana, dan sedikit di bawah mereka—karena mereka masih berdiri tinggi di bagian barat lembah—tampak sebuah danau. Bentuknya panjang lonjong, seperti kepala tombak yang menghunjam ke dalam lembah, tapi ujung selatannya ada di luar bayang-bayang, di bawah langit yang penuh sinar

matahari. Namun airnya gelap: biru tua seperti langit senja yang jernih, dilihat dari ruangan yang diterangi lampu. Permukaannya tenang dan mulus. Di sekitarnya terdapat padang rumput, menurun di semua sisinya, ke batas airnya yang terbuka dan tak terputus-putus.
"Itulah Mirrormere, Kheled-zaram yang dalam!" kata Gimli sedih. "Aku ingat dia mengatakan, 'Semoga kau gembira melihatnya! Tapi kita tidak bisa berlama-lama di sana.' Sekarang perjalananku masih panjang sebelum aku bisa gembira lagi. Akulah yang harus pergi terburu-buru, dan dia yang tinggal di sini."


Sekarang mereka melewati jalan dari Gerbang. Jalannya kasar dan hancur, mengabur menjadi rute berkelok-kelok di antara semak heather dan whin yang tumbuh di tengah bebatuan yang pecah. Tapi masih terlihat bahwa dulu pernah ada jalan besar berubin, naik ke atas dari dataran rendah kerajaan Kurcaci. Di beberapa tempat ada bangunan-bangunan batu yang sudah menjadi puing di sisi jalan, dan gundukan hijau dengan pohon birch ramping tumbuh di atasnya, atau pohon cemara yang mengeluh ditiup angin. Tikungan ke timur membawa mereka langsung ke pinggir Mirrormere, dan di sana, tak jauh dari tepi jalan, berdiri sebuah tiang tunggal yang bagian atasnya retak.
"Itu Batu Durin!" seru Gimli. "Aku mesti keluar sebentar dari jalan, untuk mengamati keajaiban lembah ini!"
"Kalau begitu, cepatlah!" kata Aragorn, sambil menoleh ke Gerbang. "Matahari terbenam lebih cepat. Para Orc mungkin tidak akan keluar saat senja, tapi kita harus sudah jauh dari sini sebelum malam tiba. Bulan hampir habis, dan akan gelap sekali malam ini."
"Ikut aku, Frodo!" teriak Gimli, melompat keluar dari jalan. "Aku tak ingin kau pergi tanpa melihat Kheled-zaram." ia berlari menuruni lereng hijau yang panjang. Frodo menyusul perlahan, tertarik pada air biru tenang itu, meski ia merasa sakit dan letih; Sam berjalan di belakang.
Di samping batu berdiri itu Gimli berhenti, dan menengadah. Batu itu retak-retak dan lapuk karena cuaca, dan lambang-lambang kabur pada sisinya tak bisa terbaca. "Tiang ini menandai tempat Durin untuk pertama kalinya

menatap ke dalam Mirrormere," kata orang kerdil itu. "Coba sekarang kita juga

melihatnya satu kali, sebelum pergi!”

Mereka membungkuk di atas air gelap itu. Mula-mula mereka tak bisa melihat apa pun. Lalu perlahan mereka melihat bentuk-bentuk pegunungan yang mengurung mereka tercermin dalam kebiruan air yang sangat dalam, puncak- puncaknya bagai bulu api putih di atas mereka; di luarnya ada langit terbuka. Di sana bintang-bintang gemerlap bak permata yang terbenam di dalam air, meski matahari bertengger di langit di atas. Sosok mereka sendiri yang membungkuk tak terlihat di dalamnya.
"Oh, Kheled-zaram yang indah dan ajaib!" kata Gimli. "Di sanalah tergeletak Mahkota Durin, sampai dia bangun kembali. Selamat tinggal!" ia membungkuk, lalu pergi, dan bergegas melintasi padang rumput ke jalan lagi.
"Apa yang kaulihat?" tanya Pippin pada Sam, tapi Sam asyik merenung, sehingga tidak menjawab.


Jalanan itu kini membelok ke selatan, dan menurun dengan cepat, keluar dari antara lengan-lengan lembah. Sedikit di bawah danau, mereka sampai ke sebuah sumur air yang dalam, sebening kristal; airnya jatuh dari bibir batu, mengalir kemilau dan bergeluguk menuruni saluran batu yang curam.
"Ini mata air dari mana Silverlode berasal," kata Gimli. "Jangan diminum! Dinginnya seperti es."
"Tak lama lagi dia menjadi sungai deras, dan mengumpulkan air dari banyak sungai gunung yang lain," kata Aragorn. "Jalan kita membentang di sisinya sejauh beberapa mil. Aku akan menuntun kalian melalui jalan yang dipilih Gandalf, dan pertama-tama kuharap kita menemukan hutan tempat Silverlode bermuara ke dalam Sungai Besar di luar sana." Mereka melihat ke arah yang ditunjuknya, dan di depan sana tampak sungai itu mengalir turun ke palung lembah, mengalir terus dan menghilang di daratan-daratan yang lebih rendah, sampai lenyap dalam kabut keemasan.
"Di sana letaknya hutan Lothlorien!" kata Legolas. "Itu tempat tinggal bangsaku yang paling indah. Tak ada pohon seperti pohon-pohon di negeri itu.

Karena di musim gugur daun-daunnya tidak jatuh, tapi berubah menjadi berwarna emas. Baru ketika musim semi datang dan tunas-tunas hijau mekar, mereka berguguran, lalu dahan-dahan penuh dengan bunga-bunga kuning; lantai hutan berwarna emas, atapnya pun emas, dan tiang-tiangnya dari perak, karena kulit batang pohon-pohon itu licin dan kelabu. Begitulah nyanyian kami tentang Mirkwood. Hatiku akan bahagia kalau berada di bawah atap hutan itu, dan musim semi sedang berlangsung!"
"Hatiku akan senang bahkan di musim dingin," kata Aragorn. Tapi jaraknya masih jauh. Mari kita bergegas ke sana!"


Untuk beberapa lama, Frodo dan Sam berhasil menyamakan langkah dengan yang lain; tapi Aragorn memimpin mereka dengan kecepatan tinggi, dan sesudah beberapa lama, mereka tertinggal di belakang. Mereka tidak makan apa pun sejak pagi. Luka Sam terbakar seperti api, dan kepalanya terasa ringan. Meski matahari bersinar, angin terasa dingin setelah kegelapan yang hangat di Moria. Frodo merasa setiap langkah semakin menyakitkan, dan ia terengah-engah.
Akhirnya Legolas menoleh, dan ketika melihat mereka sudah jauh tertinggal, ia memberitahu Aragorn. Yang lain berhenti, dan Aragorn berlari kembali, memanggil Boromir untuk ikut dengannya.
"Maaf, Frodo!" teriaknya dengan cemas. "Begitu banyak yang terjadi hari ini, dan kita sangat perlu bergegas-gegas, sampai aku lupa kau terluka; Sam juga. Seharusnya kau bilang. Kami seharusnya berusaha meringankan penderitaanmu, tapi kami tidak berbuat apa-apa, meski semua Orc dari Moria mengejar kita. Ayo! Sedikit lagi ada tempat untuk beristirahat sejenak. Di sana aku akan berusaha menolongmu sebisaku. Ayo, Boromir! Kita akan menggendong mereka."
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah sungai lain yang mengalir dari Barat, dan bergabung dengan airnya yang bergelembung ke Silverlode yang mengalir deras. Bersama-sama mereka terjun dari bebatuan berwarna kehijauan, dan terjun berbuih-buih ke dalam sebuah lembah. Di sekitarnya berdiri pohon-pohon cemara, pendek dan bungkuk, sisinya curam dan penuh dengan

harts-tongue serta semak-semak whortle-berry. Di dasarnya ada tanah datar di mana sungai mengalir berisik melewati batu-batu mengilap. Di sini mereka beristirahat. Sekarang sudah hampir jam tiga, dan mereka baru beberapa mil berjalan dari Gerbang. Matahari sudah mulai menuju ke barat.
Sementara Gimli dan kedua- hobbit yang lebih muda menyalakan api dari kayu semak dan cemara, dan mengambil air. Aragorn merawat Sam dan Frodo. Luka Sam tidak dalam, tapi tampak buruk, dan wajah Aragorn kelihatan muram ketika memeriksanya. Setelah sesaat, ia menengadah dengan lega.
"Selamat, Sam!" katanya. "Banyak yang menderita lebih parah daripada ini, setelah membunuh Orc mereka yang pertama. Luka ini tidak beracun, seperti umumnya luka bekas pisau Orc. Akan sembuh dengan baik setelah aku merawatnya. Basuhlah kalau Gimli sudah mempunyai air panas."
Aragorn membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa daun layu. "Daun- daun ini kering, dan sebagian dayanya sudah hilang," katanya. "Tapi aku masih punya sedikit daun athelas yang kukumpulkan dekat Weathertop. Hancurkan satu dalam air, basuh lukamu sampai bersih, dan aku akan membalutnya. Sekarang giliranmu, Frodo!"
"Aku baik-baik saja," kata Frodo, enggan membiarkan pakaiannya disentuh. "Yang kubutuhkan hanyalah sedikit makanan dan istirahat."
"Tidak!" kata Aragorn. "Kita harus melihat akibat lukamu itu. Aku masih kagum bahwa kau bisa bertahan hidup." Dengan lembut ia melepaskan jaket lama Frodo dan kemejanya yang usang, dan terkesiap kaget. Lalu ia tertawa. Rompi perak itu berkilauan di depan matanya, seperti cahaya di atas laut yang berombak. Dengan hati-hati ia melepaskannya dan mengangkatnya, permatanya gemerlapan bagai bintang-bintang, dan bunyi cincin-cincin logamnya yang bergoyang terdengar seperti denting hujan di kolam.
"Lihat, kawan-kawanku!" serunya. "Ini kulit hobbit yang indah, pantas untuk membungkus pangeran Peri! Seandainya ada yang tahu bahwa hobbit- hobbit mempunyai kulit seperti ini, semua pemburu Dunia Tengah akan berdatangan ke Shire."
"Dan semua panah pemburu di seluruh dunia akan sia-sia," kata Gimli,

menatap rompi logam itu dengan kagum. "Ini rompi mithril. Mithril! Aku belum pernah melihat atau mendengar tentang rompi sebagus ini. Inikah rompi yang diceritakan Gandalf? Kalau begitu, dia menilainya terlalu rendah. Tapi pemberian ini pantas sekali!"
"Aku sering bertanya-tanya, apa yang kaulakukan bersama Bilbo, berdua saja di kamarnya," kata Merry. "Semoga hobbit tua itu diberkahi! Aku semakin menyayanginya. Kuharap kita mendapat kesempatan untuk menceritakan ini padanya!"
Di sisi dan dada kanan Frodo ada memar gelap menghitam. Di bawah rompi logam itu ada kemeja kulit lembut, tapi pada satu titik cincin-cincin rompi itu terdorong masuk ke dalam daging. Sisi kiri Frodo juga memar di bagian ia terlempar ke dinding. Sementara yang lain menyiapkan makanan, Aragorn membasuh memar-memar itu dengan air rendaman athelas. Baunya yang tajam memenuhi lembah, dan semua yang membungkuk di atas air beruap itu merasa segar dan kuat kembali. Segera Frodo merasa sakitnya hilang, dan napasnya ringan, meski selama beberapa hari ia masih merasa kaku dan sakit bila disentuh. Aragorn mengikat beberapa bantalan kain lembut pada sisi tubuhnya.
"Rompi ini luar biasa ringan," katanya. "Pakailah lagi, kalau kau tahan. Hatiku gembira mengetahui kau mempunyai rompi itu. Jangan lepaskan, meski kau sedang tidur, kecuali nasib membawamu ke tempat aman untuk beberapa saat; dan hal itu akan jarang terjadi, sementara tugasmu belum selesai."


Sesudah makan, mereka bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Mereka memadamkan api dan semua jejaknya. Lalu mereka mendaki keluar dari lembah, dan masuk ke jalan lagi. Mereka belum pergi jauh ketika matahari terbenam di balik pegunungan di barat, dan bayangan-bayangan gelap merangkak menutupi sisi-sisi gunung. Senja menyelubungi kaki mereka, dan kabut naik di lembah. Jauh di timur, cahaya senja menerangi dengan pucat bentangan ladang dan hutan yang samar-samar tampak di kejauhan. Sam dan Frodo, yang sekarang sudah merasa jauh lebih ringan dan segar, mampu berjalan dengan kecepatan cukup tinggi, dan hanya dengan satu perhentian

singkat, Aragorn memimpin mereka berjalan lagi selama hampir tiga jam.

Sudah gelap. Malam sudah larut. Banyak bintang terang, tapi bulan yang membesar dengan cepat tidak akan terlihat sampai sesudah larut malam. Gimli dan Frodo berjalan di belakang, perlahan dan tanpa berbicara, mendengarkan bunyi di jalan di belakang. Akhirnya Gimli memecah kesunyian.
,"Tak ada bunyi kecuali angin," katanya. "Tak ada goblin di dekat kita; kalau aku salah, berarti telingaku terbuat dari kayu. Mudah-mudahan saja para Orc sudah puas dengan hanya mengusir kita dari Moria. Mungkin hanya itu tujuan mereka, dan mereka tidak ada urusan lain dengan kita-dengan Cincin. Meski Orc sering mengejar musuh sampai bermil-mil di padang, kalau ingin balas dendam atas tewasnya kapten mereka."
Frodo tidak menjawab. Ia memandang Sting, mata pedangnya tampak redup. Meski begitu, ia mendengar sesuatu, atau merasa mendengar sesuatu. Setelah kegelapan mengelilingi mereka, dan jalan di belakang menjadi remang- remang, ia mendengar lagi bunyi langkah kaki cepat. Bahkan sekarang pun ia mendengamya. Ia menoleh dengan cepat. Ada dua titik kecil cahaya di belakang, atau untuk sekilas ia merasa melihatnya, tapi kedua titik itu segera menepi dan lenyap.
"Ada apa?" tanya Gimli.

"Aku tidak tahu," jawab Frodo. "Rasanya aku mendengar langkah kaki, dan aku mengira melihat cahaya-seperti mata. Aku sering menyangka begitu, sejak pertama kali kita masuk ke Moria."
Gimli berhenti dan membungkuk ke tanah. "Aku tidak mendengar apa pun

kecuali percakapan malam tumbuh-tumbuhan dan bebatuan," katanya. "Ayo! Cepatlah! Yang lain sudah tidak tampak lagi."


Angin malam bertiup dingin dari lembah, menyambut mereka. Di depan mereka, sebuah bayangan besar berdiri, dan mereka mendengar desiran dedaunan tak henti-henti, seperti pohon poplar tertiup angin.
"Lothlorien!" seru Legolas. "Lothlorien! Kita sudah sampai ke atap Hutan

Emas. Sayang sekali sedang musim dingin!"

Di malam hari, pepohonan itu menjulang tinggi di depan mereka, melengkung di atas jalan dan sungai yang tiba-tiba mengalir di bawah dahan- dahan yang menyebar. Di bawah sinar bintang yang redup, batang-batangnya tampak kelabu, dan daun-daunnya yang bergetar bernada emas kosong.
"Lothlorien!" kata Aragorn. "Aku senang mendengar angin di pepohonan lagi! Kita baru sekitar lima mil lebih sedikit dari Gerbang, tapi kita tak bisa berjalan terus. Mudah-mudahan kebajikan para Peri akan membuat kita terhindar dari bahaya yang datang dari belakang malam ini."
"Kalau Peri masih tinggal di sini, di dunia yang semakin gelap," kata Gimli. "Sudah lama sejak bangsaku sendiri melancong kembali ke negeri tempat
kami mengembara berabad-abad yang lalu," kata Legolas, "tapi kami dengar Lothlorien tidak kosong, karena ada kekuatan rahasia di sini, yang menahan kejahatan memasuki negeri ini. Namun begitu, penduduknya jarang terlihat, dan mungkin sekarang mereka tinggal jauh di dalam hutan, dan jauh dari perbatasan
utara."

"Memang mereka tinggal jauh di dalam hutan," kata Aragorn, dan ia menarik napas panjang, seolah hatinya tergetar oleh suatu kenangan. "Kita harus menjaga diri sendiri malam ini. Kita akan maju sedikit lagi, sampai pohon- pohon mengurung kita, lalu kita akan melangkah keluar dari jalan dan mencari tempat untuk beristirahat."
Ia melangkah maju; tapi Boromir berdiri ragu dan tidak mengikutinya. "Apakah tidak ada jalan lain?" katanya.
"Jalan lain mana yang lebih bagus yang kauinginkan?" tanya Aragorn.

"Jalan biasa, meski lewat di bawah pagar pedang," kata Boromir. "Rombongan ini sudah dituntun melewati jalan-jalan yang aneh, dan sejauh ini selalu bernasib buruk. Melawan kehendakku, kita melalui kegelapan Moria, yang terbukti membawa malapetaka. Dan sekarang kita harus masuk ke Hutan Emas, katamu. Tapi kami di Gondor sudah mendengar tentang negeri berbahaya ini, dan katanya hanya sedikit yang bisa keluar setelah masuk; dan dari yang sedikit itu, tidak ada yang lolos tanpa cedera."
"Jangan bilang tanpa cedera; kalau kau bilang tanpa berubah, mungkin

ada benarnya," kata Aragorn. "Tapi pengetahuan di Gondor sudah memudar, Boromir, kalau sekarang di kota tempat para bijak pernah tinggal mereka bicara buruk tentang Lothlorien. Kau. boleh saja percaya itu, tapi tak ada jalan lain untuk kita-kecuali kau mau kembali ke gerbang Moria, atau menapaki pegunungan tanpa jalan, atau berenang menyeberangi Sungai Besar sendirian."
"Kalau begitu, jalanlah terus!" kata Boromir. "Tapi jalan ini penuh bahaya." "Berbahaya memang," kata Aragorn, "indah dan berbahaya; tapi hanya kejahatan yang perlu takut kepadanya, atau mereka yang membawa kejahatan.
Ikuti aku!"



Setelah berjalan satu mil lebih sedikit, masuk ke hutan, mereka sampai di sebuah sungai lain yang mengalir cepat dari lereng-lereng berpohon yang mendaki ke barat, ke arah pegunungan. Mereka mendengarnya bercipratan terjun dari bebatuan, di keremangan di sebelah kanan mereka. Airnya yang gelap mengalir deras melintasi jalan di depan, dan bergabung dengan Silverlode, dengan pusaran redup di antara akar-akar pepohonan.
"Ini Nimrodel!" kata Legolas. "Tentang sungai ini, kaum Peri Silvan dulu menciptakan banyak sekali lagu, dan kami di Utara masih menyanyikannya, mengingat pelangi di atas air terjunnya, dan bunga-bunga emas yang mengambang di atas buih airnya. Semuanya gelap sekarang, dan Jembatan Nimrodel sudah patah. Aku akan membasuh kakiku, karena katanya air ini menyembuhkan mereka yang letih." ia maju dan menuruni tebing yang dalam, masuk ke sungai.
"Ikuti aku!" teriaknya. "Airnya tidak dalam. Mari kita berjalan ke seberang! Di tebing sana kita bisa beristirahat, dan bunyi air terjun akan membawa tidur dan menjadi pelipur lara bagi kita."
Satu demi satu mereka turun mengikuti Legolas. Untuk sejenak Frodo berdiri dekat pinggir sungai, membiarkan airnya mengaliri kakinya yang letih. Airnya dingin, tapi bersih. Ketika ia berjalan terus dan airnya mencapai lutut, ia merasa noda-noda perjalanan dan keletihan terhapus dari tubuhnya.
Ketika seluruh Rombongan sudah menyeberang, mereka duduk

beristirahat dan makan sedikit; Legolas menceritakan dongeng-dongeng tentang Lothlorien yang masih disimpan bangsa Peri Mirkwood dalam hati mereka, tentang cahaya matahari dan bintang di atas padang-padang dekat Sungai Besar, sebelum dunia menjadi kelabu.
Akhirnya sepi sekali, dan mereka mendengar musik air terjun jatuh dengan lembut di keremangan. Frodo merasa bisa mendengar suara bernyanyi, berbaur dengan bunyi air.
"Kaudengar suara Nimrodel?" tanya Legolas. "Aku akan menyanyikan

lagu gadis Nimrodel; namanya sama dengan nama sungai tempat ia dulu tinggal di tepiannya. Dalam bahasa hutan kami, nyanyian ini indah sekali; tapi beginilah bunyinya dalam Bahasa Westron, seperti sekarang dinyanyikan di Rivendell." Dengan suara lembut yang hampir tak terdengar di antara desiran daun-daun, di atas mereka, ia memulai:


Dahulu kala ada gadis Peri, Bintang terang di siang hari:
Jubahnya putih, tepiannya emas murni, Sepatunya kelabu perak, indah sekali.


Di dahinya bersinar bintang, Rambutnya berkilau bercahaya Seperti matahari yang gemilang Di Lorien yang damai sentausa.


Rambutnya panjang, sosoknya putih halus, Cantik nian ia, dan bebas merdeka; Gerakannya ringan, bak angin yang berembus Di antara daun-daun pohon cemara.


Di samping Nimrodel, air terjun sejuk, Suaranya jatuh di permukaan danau

Yang berair jernih dan lembut berdeguk, Bak perak bercahaya kemilau.


Di mana ia kini tak ada yang tahu pasti,

Di bawah sinar mentari atau di keteduhan; Sebab lama berselang Nimrodel pergi
Dan mengembara di pegunungan.



Di pelabuhan kelabu berlabuh kapal Peri

Di bawah lambung gunung

Menantinya lama sekali

Di samping samudra yang menggerung.



Angin malam di negeri-negeri Utara kini Membubung naik dan berseru keras, Mendorong kapal dari pantai Peri Mengarungi pasang naik nan deras.


Fajar datang, negeri itu tak lagi tampak, Pegunungannya terbenam tak kelihatan
Di seberang ombak dahsyat yang menggelegak

Melemparkan buih-buih semburan membutakan.



Amroth melihat pantai yang kian menjauh

Sekarang rendah di bawah gelombang,

Ia mengutuki kapal yang mengangkat sauh

Membawanya pergi dari Nim.rodel tersayang



Dahulu ia seorang Raja Peri, Menguasai pepohonan dan lembah,
Ketika pepohonan berwarna emas di musim semi

Di Lothlorien nan indah.



Ke laut mereka melihatnya melompat, Seperti panah lepas dari busurnya, Menyelam jauh ke air gelap pekat, Bagaikan burung laut menyambar mangsa.


Angin mengibarkan rambutnya, Buih laut kemilau di sekitarnya; Dari jauh mereka melihatnya
Kuat dan tampan, berenang bagai angsa.



Tapi dari Barat tak ada kabar, Dan di Pantai Sana
Bangsa Peri tak pernah lagi mendengar

Berita tentang Amroth yang entah di mana.



Suara Legolas terputus-putus dan nyanyiannya berhenti. "Aku tak bisa menyanyi lagi," katanya. "Ini hanya sebagian, karena aku sudah lupa banyak. Lagunya panjang dan sedih, karena menceritakan bagaimana duka menyelimuti Lothlorien, Lorien yang mekar, ketika para Kurcaci membangunkan kejahatan di pegunungan."
"Tapi bukan Kurcaci yang menciptakan kejahatan itu," kata Gimli.

"Aku tidak mengatakan begitu; pokoknya kejahatan itu datang," jawab Legolas sedih. "Lalu banyak Peri dari keluarga Nimrodel meninggalkan tempat tinggal mereka dan pergi, dan dia hilang jauh di Selatan, di celah Pegunungan Putih; dia tidak datang ke kapal di mana Amroth, kekasihnya, menunggu. Tapi di musim semi, kala angin berembus di dedaunan, gema suaranya masih bisa terdengar dekat air terjun yang memakai namanya. Dan bila angin ada di Selatan, suara Amroth datang naik dari laut; karena Nimrodel bermuara ke dalam Silverlode, yang oleh bangsa Peri disebut Celebrant, dan Celebrant

masuk ke Anduin, Sungai Besar, dan Anduin mengalir ke Teluk Belfalas, dari mana bangsa Peri berlayar. Tapi baik Nimrodel maupun Amroth tak pernah kembali.
"Konon Nimrodel membangun rumah di dahan pohon yang tumbuh dekat air terjun; karena sudah kebiasaan para Peri dari Lorien untuk tinggal di dalam pohon, dan mungkin sampai sekarang pun masih demikian. Maka itu mereka disebut kaum Galadhrim, penduduk pohon. Jauh di dalam hutan mereka, pohon- pohonnya besar sekali. Penduduk hutan tidak menggali tanah seperti orang kerdil, juga tidak membuat bangunan-bangunan kuat dari batu sebelum Bayangan itu datang."
"Dan bahkan di masa kini, tinggal di pepohonan mungkin dianggap lebih aman daripada duduk di tanah," kata Gimli. Ia memandang ke seberang sungai, ke jalan yang membentang kembali ke Lembah Dimrill, lalu ke dahan-dahan gelap di atas.
"Kata-katamu mengandung saran yang bagus, Gimli," kata Aragorn. "Kita tak bisa membangun rumah, tapi malam ini kita akan meniru cara bangsa Galadhrim, mencari keselamatan di puncak pohon, kalau bisa. Kita sudah duduk terlalu lama di tepi jalan."


Mereka kini keluar dari jalan, dan masuk ke kegelapan hutan yang lebih dalam, ke arah barat sepanjang sisi sungai pegunungan, menjauh dari Silverlode. Tidak jauh dari air terjun Nimrodel, mereka menemukan segerombolan pohon, beberapa di antaranya melengkung di atas sungai. Batang mereka yang kelabu besar sekali, tapi ketinggian mereka tak bisa diduga.
"Aku akan memanjat," kata Legolas. "Aku kenal betul pepohonan, baik akar-akarnya maupun dahannya, meski pohon-pohon ini agak asing bagiku, kecuali sebagai sebuah nama dalam lagu. Mellyrn namanya, dan mereka mempunyai bunga kuning, tapi aku belum pernah memanjat salah satunya. Aku sekarang akan memeriksa bentuk dan arah tumbuhnya."
"Pohon apa pun mereka," kata Pippin, "bagus sekali kalau bisa menawarkan istirahat di malam hari, kecuali untuk burung. Aku tak bisa tidur di

atas dahan!"

"Kalau begitu, galilah lubang di tanah," kata Legolas, "kalau itu lebih cocok untukmu. Tapi kau harus menggali cepat dan dalam, kalau ingin bersembunyi dari para Orc." ia melompat ringan dari tanah dan menangkap sebuah dahan yang tumbuh dari batang jauh tinggi di atas kepalanya. Tapi ketika ia bergelantungan di sana sejenak, sebuah suara tiba-tiba berbicara dari bayangan pohon di atasnya.
"Daro!" katanya dengan suara memerintah, dan Legolas melompat turun kembali dengan kaget dan takut. Ia berdiri bersandar pada batang pohon.
"Berdiri diam!" ia berbisik pada yang lain. "Jangan bergerak atau berbicara!"
Ada bunyi tertawa lembut di atas kepala mereka, lalu suara lain berbicara dalam bahasa Peri yang jelas. Frodo hanya mengerti sedikit dari apa yang diucapkan, karena bahasa bangsa Silvan di sebelah timur pegunungan, yang mereka gunakan di antara mereka sendiri, tidak sama dengan bahasa Peri di Barat. Legolas menengadah dan menjawab dalam bahasa yang sama.
"Siapa mereka, dan apa yang mereka katakan?" tanya Merry. "Mereka

Peri," kata Sam. "Tak bisakah kau mendengar suara mereka?"

"Ya, mereka Peri," kata Legolas, "dan mereka bilang kau bernapas begitu keras, sampai mereka bisa menembakmu dalam gelap." Cepat-cepat Sam menutupi mulutnya dengan tangan. "Tapi mereka bilang kau tak perlu, takut. Mereka sudah tahu kehadiran kita sejak tadi. Mereka mendengar suaraku di seberang Nimrodel, dan tahu aku salah satu keluarga mereka dari Utara, karena itulah mereka tidak merintangi penyeberangan kita; setelah itu mereka mendengar nyanyianku. Sekarang mereka minta aku naik bersama Frodo; karena rupanya mereka sudah mendapat kabar tentang dia dan perjalanan kita. Yang lain diminta menunggu sebentar dan berjaga-jaga di kaki pohon, sampai mereka memutuskan apa yang akan dilakukan."


Dari balik bayangan, sebuah tangga-diturunkan; terbuat dari tambang kelabu keperakan dan bersinar dalam gelap, dan meski kelihatan ramping, ternyata

cukup kuat untuk menahan berat banyak orang. Legolas memanjat ringan ke atas, dan Frodo menyusul perlahan; di belakangnya Sam ikut sambil mencoba tidak bernapas terlalu keras. Dahan-dahan pohon mallorn itu tumbuh hampir lurus keluar dari batangnya, lalu melenting ke atas; tapi di dekat puncak, batang utama terbelah menjadi mahkota berdahan banyak, dan di antaranya mereka menemukan sebuah panggung kayu, atau flet seperti mereka menyebutnya di masa itu: bangsa Peri menyebutnya talan. Panggung itu bisa dicapai melalui lubang bundar tempat tangga diturunkan.
Ketika akhirnya Frodo naik ke flet, ia melihat Legolas duduk bersama tiga Peri lain. Mereka berpakaian kelabu gelap, dan tidak tampak di antara batang- batang pohon, kecuali bila mereka tiba-tiba bergerak. Mereka bangkit berdiri, salah satunya membuka selubung sebuah lampu kecil yang mengeluarkan sinar tipis keperakan. Ia mengangkatnya, menatap wajah Frodo, dan Sam. Lalu ia menutup lampunya lagi, dan mengucapkan kata-kata sambutan dalam bahasa Peri. Frodo membalasnya dengan terputus-putus.
"Selamat datang!" kata Peri itu lagi dalam Bahasa Umum, berbicara perlahan. "Kami jarang menggunakan bahasa lain selain bahasa kami sendiri; karena sekarang kami tinggal di jantung hutan, dan enggan melakukan hubungan dengan bangsa lain. Bahkan keluarga kami sendiri di Utara sudah terpisah dari kami. Tapi masih ada di antara kami yang pergi ke luar untuk mencari berita dan mengawasi musuh, dan mereka bisa berbicara bahasa negeri-negeri lain. Aku salah satunya. Namaku Haldir. Saudara-saudaraku, Rumil dan Orophin, hanya sedikit bicara bahasamu.
"Tapi kami sudah mendengar selentingan tentang kedatanganmu, karena utusan-utusan Elrond mampir ke Lorien dalam perjalanan pulang mereka naik Tangga Dimrill. Kami sudah lama tidak mendengar tentang... hobbit, atau halfling, sudah bertahun-tahun, dan tidak tahu bahwa masih ada dari mereka yang tinggal di Dunia Tengah. Kau tidak tampak jahat! Dan karena kau datang bersama seorang Peri dari keluarga kami, kami mau bersikap ramah kepadamu, sesuai permintaan Elrond; meski bukan kebiasaan kami untuk memasukkan orang asing ke negeri kami. Tapi kau hams tinggal di sini malam ini. Berapa

orang jumlah rombonganmu?"

"Delapan," kata Legolas. "Aku sendiri, empat hobbit, dan dua manusia, salah satunya Aragorn, seorang sahabat Peri dari bangsa Westernesse."
"Nama Aragorn, putra Arathorn, sudah dikenal di Lorien," kata Haldir, "dan dia disukai Lady. Kalau begitu, semua beres. Tapi kau baru menyebutkan tujuh."
"Yang kedelapan seorang Kurcaci," kata Legolas.

"Kurcaci!" kata Haldir. "Itu tidak bagus. Kami tidak berurusan dengan Kurcaci sejak Hari-Hari Kegelapan. Mereka tidak diizinkan masuk ke negeri kami. Aku tak bisa membiarkannya masuk."
"Tapi dia dari Gunung Sunyi, salah satu anak buah Win yang tepercaya, dan bersahabat dengan Elrond," kata Frodo. "Elrond sendiri memilihnya untuk menjadi salah satu anggota rombongan, dan dia sudah bersikap berani dan
setia."

Para Peri berembuk bersama dengan suara perlahan, dan menanyai Legolas dalam bahasa mereka sendiri. "Baiklah," kata Haldir akhirnya. "Begini saja... meski kami tak suka, kalau Aragorn dan Legolas mau menjaganya, dan bertanggung jawab untuknya, dia boleh masuk; tapi dia harus berjalan dengan mata ditutup melalui Lothlorien.
"Sekarang kita jangan berdebat lebih lama lagi. Orang-orangmu jangan tetap di tanah. Kami sudah mengawasi sungai-sungai, sejak kami melihat sepasukan besar Orc berjalan ke utara, menuju Moria, sepanjang sisi pegunungan, beberapa hari yang lalu. Serigala-serigala melolong di perbatasan hutan. Kalau kau memang datang dari Moria, bahaya pasti tidak jauh di belakang. Besok pagi-pagi kalian harus melanjutkan perjalanan.
"Keempat hobbit harus naik ke sini dan tinggal bersama kami-kami tidak takut pada mereka! Ada talan lain di pohon sebelah. Di sanalah yang lainnya harus bermalam. Kau, Legolas, harus bertanggung jawab atas mereka pada kami. Panggillah kami, kalau ada yang tidak beres! Dan awasi orang kerdil itu!"


Legolas segera turun dari tangga untuk membawa pesan Haldir; tak lama kemudian, Merry dan Pippin memanjat naik ke flet tinggi itu. Mereka kehabisan

napas dan kelihatan agak takut.

"Nah!" kata Merry sambil terengah-engah. "Kami sudah membawa ke atas selimutmu, juga selimut kami sendiri. Strider sudah menyembunyikan sisa bawaan kami di dalam timbunan daun."
"Sebenarnya kalian tidak membutuhkan beban kalian," kata Haldir. "Memang dingin di puncak pohon, pada musim dingin, meski angin malam ini ada di Selatan; tapi kami punya makanan dan minuman untuk kalian, yang akan menghilangkan dinginnya malam, dan kami punya kulit dan jubah lebih."
Para hobbit menerima makan malam kedua (yang jauh lebih enak) dengan senang hati. Lalu mereka membungkus diri dengan hangat, bukan hanya dengan mantel bulu kaum Peri, tapi juga dengan selimut mereka sendiri, dan mencoba tidur. Tapi, meski mereka letih sekali, hanya Sam yang bisa tertidur dengan mudah. Hobbit tidak menyukai ketinggian, dan tak pernah tidur di atas, meski mereka punya rumah bertingkat. Flet itu sama sekali tidak memenuhi harapan mereka sebagai suatu kamar tidur. Flet itu tidak berdinding, bahkan berpagar pun tidak; hanya pada satu sisi ada tirai anyaman ringan, yang bisa digeser dan ditempatkan di posisi berbeda, sesuai arah angin.
Pippin berbicara terus untuk beberapa lama. "Mudah-mudahan aku tidak menggelinding ke bawah, kalau aku tertidur di atas sini," katanya.
"Sekali aku tertidur," kata Sam, "aku akan tetap tidur, meski aku terguling atau tidak. Dan semakin sedikit berbicara, semakin cepat aku akan tertidur, kalau kau mengerti maksudku."


Frodo berbaring terjaga untuk beberapa saat, memandang bintang-bintang yang bersinar melalui atap pucat dedaunan yang bergetar. Sam sudah mendengkur di sampingnya, jauh sebelum ia sendiri memejamkan mata. Ia bisa melihat samar- samar sosok kelabu dua Peri yang duduk tanpa bergerak, dengan lengan melingkari lutut, berbicara berbisik. Yang satu lagi sedang turun untuk giliran jaga di salah satu dahan yang lebih rendah. Akhirnya, terlena oleh angin di dahan-dahan atas, dan gumaman manis air terjun Nimrodel di bawah, Frodo tertidur dengan nyanyian Legolas masih mengiang dalam benaknya.

Larut malam ia terbangun. Hobbit-hobbit yang lain masih tidur. Para Peri sudah pergi. Bulan sabit bersinar redup di antara dedaunan. Angin tak berembus. Agak di kejauhan, Frodo mendengar bunyi tawa parau dan langkah banyak kaki di tanah. Ada deringan logam. Bunyi-bunyi itu lambat laun menghilang, dan tampaknya pergi ke arah selatan, atau ke dalam hutan.
Sebuah kepala mendadak muncul di lubang lantai flet. Frodo bangkit duduk dengan cemas, dan melihat ternyata itu salah seorang Peri yang berkerudung kelabu. Ia memandang ke arah hobbit-hobbit.
"Ada apa?" kata Frodo.

"Yrch!" kata Peri itu dengan bisikan mendesis, dan meletakkan tangga tambang yang sudah digulung ke atas flet.
"Orc!" kata Frodo. "Apa yang mereka lakukan?" Tapi Peri itu sudah pergi. Tak ada bunyi lagi. dedaunan pun diam, air terjun juga seolah meredam
suaranya. Frodo duduk menggigil dalam balutan selimutnya. Ia bersyukur mereka tidak tertangkap di tanah; tapi ia merasa pepohonan juga hanya memberikan sedikit perlindungan, kecuali persembunyian. Konon penciuman Orc sangat tajam, seperti anjing pemburu, dan mereka juga bisa memanjat. Frodo menghunus Sting: pedang itu menyala berkilau seperti api biru, lalu perlahan meredup lagi dan kelihatan pudar. Meski sinar pedangnya memudar, perasaan bahwa ada bahaya di dekatnya tidak meninggalkan Frodo, tapi justru semakin kuat. Ia bangkit berdiri dan merangkak ke lubang, lalu mengintip ke bawah. Ia hampir yakin bisa mendengar gerakan diam-diam di kaki pohon, jauh di bawah.
Bukan Peri, karena gerakan mereka sama sekali tidak menimbulkan bunyi. Lalu ia mendengar bunyi lamat-lamat, seperti mendengus, dan sesuatu tampaknya sedang menggaruk-garuk kulit batang pohon. Frodo menatap ke bawah, ke dalam kegelapan, sambil menahan napas.
Sesuatu itu sekarang memanjat perlahan, dan napasnya keluar seperti desis pelan melalui gigi yang terkatup. Lalu sambil naik, dekat ke batang, Frodo melihat dua mata pucat. Mata itu berhenti dan menatap ke atas tanpa berkedip. Mendadak mereka membalik, dan sebuah sosok gelap menyelinap melewati batang pohon, lalu lenyap.

Tak lama kemudian, Haldir memanjat cepat menaiki dahan-dahan. "Ada sesuatu di pohon ini, yang belum pernah kulihat," katanya. "Bukan Orc. Dia lari begitu aku menyentuh batang pohon. Kelihatannya dia hati-hati, dan punya keahlian menyangkut pohon, kalau tidak mungkin aku mengira dia salah satu dari kalian hobbit.
"Aku tidak berteriak, karena tak berani membuat suara gaduh: kita tak bisa mengambil risiko pertempuran. Pasukan kuat Orc lewat sini tadi. Mereka menyeberangi Nimrodel—terkutuklah kaki mereka yang kotor di dalam airnya yang jernih!—dan terus pergi lewat jalan lama di samping sungai. Tampaknya mereka sedang mengikuti jejak, dan mereka memeriksa sebentar-tempat kalian tadi berhenti. Kami bertiga tak bisa melawan seratus, maka kami berjalan ke sana dan berbicara dengan suara dibuat-buat, untuk mengalihkan mereka ke dalam hutan.
"Orophin sekarang buru-buru kembali ke rumah kami untuk memperingatkan rakyat kami. Tidak ada Orc yang bakal pernah kembali dari Lorien. Dan akan banyak Peri bersembunyi di perbatasan utara, sebelum malam berikutnya. Tapi kalian harus mengambil jalan selatan begitu hari terang.”


Sinar pagi merekah pucat dari Timur. Cahayanya yang semakin kuat tersaring melalui dedaunan kuning pohon mallorn. Bagi para hobbit, matahari itu seperti matahari pagi musim panas yang sejuk. Langit biru muda mengintip dari antara dahan-dahan yang bergerak. Memandang melalui bukaan di sisi selatan flet, Frodo melihat seluruh lembah Silverlode terhampar bagai lautan emas yang mengalun lembut oleh tiupan angin.
Masih pagi sekali, dan dingin, ketika Rombongan itu berangkat lagi, sekarang dipandu oleh Haldir dan saudaranya, Rumil. "Selamat tinggal, Nimrodel cantik!" seru Legolas. Frodo menoleh dan menangkap sekilas buih putih di antara batang-batang pohon kelabu. "Selamat tinggal," katanya. Tampaknya ia takkan pernah lagi mendengar air terjun yang begitu indah, senantiasa membaurkan nada-nadanya yang tak terhitung ke dalam musik yang selalu berubah-ubah tak terhingga.

Mereka kembali ke jalan yang masih menjulur sepanjang sisi barat Silverlode, dan hingga jarak tertentu, mereka menyusurinya ke selatan. Ada jejak kaki Orc di tanah. Tapi tak lama kemudian Haldir keluar dari jalan dan masuk ke pepohonan, berhenti di tebing sungai, di tempat teduh.
"Ada satu anak buahku di seberang sungai," katanya, "meski mungkin kalian tidak melihatnya." ia memanggil dengan siulan rendah seperti burung, dan dari gerombolan pohon muda keluarlah seorang Peri, berpakaian kelabu, tapi kerudungnya terbuka; rambutnya mengilap seperti emas di bawah sinar matahari pagi. Dengan terampil Haldir melemparkan segulungan tambang kelabu melintasi sungai, Peri itu menangkapnya dan mengikatnya ke sebatang pohon di tebing.
"Di sini Celebrant sudah menjadi sungai deras, seperti kalian lihat," kata Haldir, "dia mengalir deras dan dalam, dan sangat dingin. Kami tidak menginjaknya begitu jauh ke utara, kecuali terpaksa. Tapi di masa waspada ini kami tidak membuat jembatan. Begini cara kami menyeberang! Ikuti aku!" ia mengikat ujung tambangnya dengan erat pada sebatang pohon lain, lalu berlari ringan di atasnya, melintasi sungai dan kembali lagi, seolah menapaki jalan
biasa.

"Aku bisa berjalan di atas tali itu," kata Legolas, "tapi yang lain tidak punya keterampilan ini. Apa mereka harus berenang?"
"Tidak!" kata Haldir. "Kami masih punya dua tambang lagi. Kami akan mengikatnya di atas yang satu, satu setinggi bahu, dan satu separuh tinggi bahu, dan dengan memegang itu, tamu-tamu asing ini bisa menyeberang dengan hati-
hati."

Ketika jembatan ramping ini sudah dibuat, Rombongan itu menyeberanginya, beberapa dengan hati-hati dan lambat, yang lain lebih mudah. Dari antara para hobbit, ternyata Pippin yang paling bagus, karena langkahnya mantap, dan ia berjalan cepat, hanya berpegangan dengan satu tangan; tapi ia tetap memandang ke tebing di depan, dan tidak melihat ke bawah. Sam berjalan menyeret-nyeret kaki, sambil berpegangan erat, dan melihat ke dalam air yang berputar-putar di bawah, bak jurang di pegunungan.

Ia bernapas lega ketika sudah sampai dengan selamat di seberang. "Hidup dan belajar! seperti kata ayahku selalu. Meski yang dimaksudnya adalah berkebun, bukan bertengger seperti burung, juga bukan mencoba berjalan seperti labah-labah. Bahkan pamanku Andy tak pernah melakukan akrobat seperti ini!"
Ketika akhirnya seluruh Rombongan berkumpul di tebing timur Silverlode, para Peri membuka ikatan tambang mereka dan menggulung dua di antaranya. Rumil, yang tetap di tebing sana, menarik kembali tambang terakhir, menggantungkannya di bahunya, dan sambil melambaikan tangannya ia pergi, kembali ke Nimrodel untuk berjaga.
"Nah, teman-teman," kata Haldir, "kalian sudah masuk Naith di Lorien, atau Gore, menurut kalian, karena daratan ini seperti kepala tombak di antara lengan Silverlode dan Sungai Besar Anduin. Kami tidak mengizinkan orang- orang asing memata-matai rahasia Naith. Sedikit saja yang diperbolehkan menginjakkan kaki di sana.
"Seperti sudah disepakati, di sini aku akan menutup mata Gimli si Kurcaci. Yang lainnya boleh berjalan bebas untuk sementara, sampai kita tiba lebih dekat ke tempat tinggal kami, di Egladil, di Angle di antara air."
Ini sama sekali tidak disukai Gimli. "Kesepakatan itu dibuat tanpa persetujuanku," katanya. "Aku tidak mau berjalan dengan mata ditutup, seperti peminta-minta atau tahanan. Dan aku bukan mata-mata. Bangsaku belum pernah berurusan dengan anak buah Musuh. Kami juga tak pernah menyakiti bangsa Peri. Aku tidak lebih mungkin mengkhianati kalian daripada Legolas, atau siapa pun dari kawan-kawanku."
"Aku tidak meragukanmu," kata Haldir. "Tapi ini hukum kami. Aku bukan penguasa hukum, dan tak bisa mengesampingkannya. Aku sudah berbuat banyak dengan membiarkan kalian menyeberangi Celebrant."
Gimli keras kepala. Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangannya memegang pangkal kapaknya. "Aku akan berjalan bebas," katanya, "atau aku akan kembali dan mencari negeriku sendiri, di mana aku dikenal jujur, meski aku tewas sendirian di belantara."

"Kau tidak bisa kembali," kata Haldir keras. "Kau sudah berjalan sejauh ini, dan kau harus dibawa ke hadapan Lord dan Lady. Mereka akan menilaimu, menahanmu, atau memberimu izin, terserah mereka. Kau tak bisa menyeberangi sungai lagi, dan di belakangmu sekarang ada penjaga-penjaga rahasia yang tak bisa kaulewati. Kau akan dibunuh sebelum sempat melihat mereka."
Gimli menarik kapak dari ikat pinggangnya. Haldir dan kawannya meregangkan busur mereka. "Terkutuklah Kurcaci dan sifat kepala batu mereka!" kata Legolas.
"Sudah!" kata Aragorn. "Kalau aku masih memimpin Rombongan ini, kau harus melakukan apa yang kuminta. Sulit bagi orang kerdil ini untuk ditutup matanya sendirian. Kami semua akan berjalan dengan mata ditutup, juga Legolas. Itu jalan terbaik, meski akan membuat perjalanan lambat dan menemukan."
Gimli mendadak tertawa. "Kita akan terlihat seperti rombongan orang tolol! Apakah Haldir akan menuntun kita dengan tali, seperti beberapa orang buta dengan hanya seekor anjing? Tapi aku akan puas kalau Legolas saja yang bersama-sama denganku ditutup matanya."
"Aku Peri dan saudara di sini," kata Legolas, yang sekarang jadi marah


juga.




"Sekarang mari kita berseru, 'Terkutuklah sifat keras kepala kaum Peri!"'


kata Aragorn. "Biarlah seluruh anggota Rombongan mendapat perlakuan sama rata. Ayo, tutup mata kami, Haldir!"
"Aku akan menuntut ganti rugi penuh kalau aku tersandung atau jari

kakiku lecet, kalau kau tidak menuntun kami dengan baik," kata Gimli ketika mereka mengikat penutup matanya.
"Kau tidak perlu menuntut," kata Haldir. "Aku akan menuntunmu dengan baik, dan jalanan di sini mulus dan lurus."
"Konyol sekali semua ini!" kata Legolas. "Kita semua bersatu melawan Musuh yang sama, tapi aku dipaksa berjalan dengan mata ditutup, sementara matahari bersinar cerah di hutan, di bawah dedaunan emas! "
"Memang bodoh," kata Haldir. "Tapi justru di sinilah tampak jelas kekuatan

sang Penguasa Kegelapan, yang mencerai-beraikan mereka-mereka yang masih menentangnya. Namun sekarang ini begitu sedikit kepercayaan dan keyakinan yang bisa kami temukan di dunia di luar Lothlorien, kecuali mungkin di Rivendell, itu sebabnya kami tak berani menaruh kepercayaan yang sekiranya bisa membahayakan negeri kami. Kami sekarang hidup di sebuah pulau, di tengah banyak bahaya, dan tangan kami lebih sering memegang busur daripada harpa.
"Sungai-sungai sudah lama membela kami, tapi sekarang mereka bukan penjaga yang aman lagi; karena Bayangan itu sudah merangkak ke utara, mengelilingi kami. Beberapa berniat untuk pergi, tapi itu pun tampaknya sudah terlambat. Pegunungan di sebelah barat sudah menjadi jahat; di sebelah timur, daratannya sudah rusak dan penuh makhluk-makhluk Sauron; dan kabarnya kami sekarang tak bisa lewat dengan aman di selatan, melalui Rohan, dan muara-muara Sungai Besar diawasi Musuh. Meski kami bisa sampai ke pantai Lautan, kami takkan bisa menemukan perlindungan lagi di sana. Katanya di sana masih ada pelabuhan-pelabuhan Peri Bangsawan, tapi letaknya jauh di utara dan barat, di luar negeri hobbit. Tapi di mana tempat itu berada, meski Lord dan Lady mungkin tahu, aku sendiri tidak tahu."
"Kau setidaknya harus mengira-ngira, sejak melihat kami," kata Merry. "Ada pelabuhan-pelabuhan Peri di sebelah barat negeriku, Shire, tempat para hobbit tinggal."
"Betapa bahagianya bangsa hobbit, bisa tinggal dekat pantai!" kata Haldir. "Sudah lama sekali sejak bangsaku melihatnya, meski begitu kami masih mengingatnya dalam lagu-lagu kami. Ceritakan tentang pelabuhan-pelabuhan ini sementara kita berjalan."
"Aku tak bisa. Aku belum pernah melihatnya. Aku belum pernah keluar dari negeriku. Dan seandainya aku tahu dunia luar seperti apa, kurasa aku tidak bakal mau meninggalkan Shire."
"Tidak juga untuk melihat Lothlorien yang indah?" kata Haldir. "Dunia memang penuh bahaya, dan di dalamnya banyak tempat gelap; tapi masih banyak hal indah, dan meski di semua negeri sekarang cinta tercampur dengan duka, mungkin dia justru tumbuh semakin hebat.

"Beberapa di antara kami bernyanyi bahwa Bayangan itu akan mundur, dan kedamaian akan datang lagi. Namun begitu, aku tak percaya bahwa dunia di sekitar kita akan kembali seperti semula, atau sinar matahari akan seperti dulu lagi. Untuk bangsa Peri, mungkin yang terbaik adalah mengadakan gencatan senjata, agar mereka bisa lewat tanpa rintangan ke Lautan, dan meninggalkan Dunia Tengah untuk selamanya. Sayang sekali Lothlorien yang kucintai! Sungguh menyedihkan, hidup di negeri yang tak ada pohon mallorn tumbuh. Tapi entah ada pohon mallorn atau tidak di seberang Lautan, belum ada yang melaporkannya."
Sambil berbicara, Rombongan itu berbaris perlahan menelusuri jalan di hutan, dipimpin Haldir, sementara Peri satunya berjalan di belakang. Mereka merasa tanah di bawah kaki mereka mulus dan lembut, dan setelah beberapa saat, mereka berjalan lebih bebas, tanpa takut sakit atau jatuh. Karena penglihatannya dihambat, Frodo merasa pendengaran dan indra-indranya yang lain jadi lebih tajam. Ia bisa mencium aroma pohon-pohon dan rumput yang diinjaknya. Ia bisa mendengar banyak nada berbeda dalam desiran daun di atas kepala, sungai yang bergumam di sebelah kanannya, dan suara-suara kecil jernih burung-burung di angkasa. Ia merasa matahari menyinari wajah dan tangannya ketika mereka melewati padang terbuka.
Begitu ia menginjakkan kaki di tebing Silverlode, sebuah perasaan aneh, timbul dalam dirinya, dan perasaan itu semakin kuat ketika ia berjalan masuk ke Naith: ia serasa melangkahi jembatan waktu, masuk ke suatu sudut Zaman Peri, dan kini memasuki dunia yang sudah tidak ada. Di Rivendell ada kenangan tentang' hal-hal kuno; di Lorien hal-hal kuno masih hidup di dunia yang sadar. Kejahatan sudah terlihat dan terdengar di Rivendell, dan duka sudah dikenal; bangsa Peri takut dan tidak mempercayai dunia luar: serigala melolong di perbatasan hutan: tapi di daratan Lorien tak ada bayangan.


Sepanjang hari itu mereka berjalan terus, sampai merasakan sore sejuk datang, dan mendengar angin malam berbisik di antara dedaunan. Lalu mereka beristirahat dan tidur tanpa rasa takut di tanah; karena sang pemandu tidak

mengizinkan mereka membuka tutup mata, dan mereka tak bisa memanjat. Di pagi hari mereka berangkat lagi, berjalan tanpa terburu-buru. Tengah hari mereka berhenti, dan Frodo menyadari mereka sudah keluar dari bawah Matahari. Mendadak ia bisa mendengar banyak suara di sekitar mereka.
Sepasukan Peri sudah berjalan diam-diam, mendekati mereka: pasukan itu sedang bergegas ke perbatasan utara, untuk berjaga terhadap serangan dari Mona; dan mereka membawa berita, beberapa di antaranya dilaporkan Haldir. Rombongan Orc perampok sudah dihadang, dan hampir semuanya dihancurkan; sisanya lari ke barat, ke arah pegunungan, dan sedang dikejar. Suatu makhluk aneh juga terlihat, berlari dengan punggung bungkuk dan tangan dekat ke tanah, seperti hewan tapi tidak berbentuk hewan. Ia' lolos, dan mereka tidak menembaknya, karena tidak tahu ia baik atau jahat. Makhluk itu menghilang lewat Silverlode, ke arah selatan.
"Juga," kata Haldir, "mereka membawa pesan dari Lord dan Lady bangsa Galadhrim. Kalian semua boleh berjalan bebas, termasuk Gimli si Kurcaci. Kelihatannya Lady tahu siapa dan apa setiap anggota Rombongan-mu. Mungkin berita-berita baru sudah datang dari Rivendell."
Ia melepaskan tutup mata Gimli dulu. "Maafkan aku!" katanya sambil membungkuk rendah. "Lihatlah kami sekarang dengan mata yang ramah! Lihatlah dan berbahagialah, karena kau orang kerdil pertama yang menyaksikan pohon-pohon Naith di Lorien sejak masa Durin!"
Ketika tutup matanya dibuka, Frodo mengangkat wajah dan terperangah. Mereka berdiri di sebuah tempat terbuka. Di sebelah kiri berdiri gundukan besar, tertutup rumput sehijau Musim-Semi di Zaman Peri. Di atasnya tumbuh dua lingkaran pepohonan, seperti mahkota ganda: lingkaran luar mempunyai kulit batang seputih salju, tidak berdaun namun indah dalam ketelanjangan mereka; lingkaran dalam terdiri atas pohon-pohon mallorn yang sangat tinggi, masih dihiasi warna emas pucat. Tinggi di antara dahan-dahan sebatang pohon yang menjulang tinggi di tengah, sebuah flet putih berkilauan. Di kaki pohon, dan di sekitar seluruh sisi bukit hijau itu, rumput-rumputnya bertatahkan bunga-bunga kecil keemasan berbentuk bintang. Di antaranya, mengangguk-angguk pada

batang-batang ramping, ada bunga-bunga lain, putih dan hijau muda: berkilauan seperti kabut, di tengah warna rumput yang hijau segar. Di atas semua itu membentang langit biru, matahari siang menyinari bukit dan menjatuhkan bayang-bayang hijau panjang di bawah pepohonan.
"Lihatlah! Kau sudah sampai di Cerin Amroth," kata Haldir. "Karena di sinilah terletak jantung wilayah kuno ini, seperti di zaman dahulu kala, dan di sinilah bukit Amroth, di mana pada masa yang lebih bahagia berdiri rumalrnya. Di sini selalu berkembang bunga-bunga musim dingin di antara rumput yang tak pernah pudar: elanor kuning dan niphredil pucat. Di sini kita akan tinggal sebentar, dan masuk ke kota Galadhrim sore nanti."


Yang lainnya merebahkan din ke atas rumput wangi, tapi Frodo masih berdiri keheranan. Ia serasa melangkah masuk melalui sebuah jendela tinggi yang membuka ke dunia yang sudah hilang. Seberkas cahaya menyinarinya, yang dalam bahasanya tak bisa diungkapkan. Ia melihat semuanya berwujud indah, dengan bentuk-bentuk yang begitu jelas, seolah pertama kali dirancang dan digambar saat matanya dibuka, namun juga sarat oleh usia, seakan sudah ada sejak dahulu kala. Ia tidak melihat warna, kecuali yang dikenalnya—emas, putih, biru, dan hijau—namun warna-warna itu segar dan tajam, seolah baru pertama kali itu ia melihatnya, dan memberi mereka nama-nama baru dan indah. Di musim dingin di sini, tak ada yang bisa berduka mendambakan musim semi atau musim panas. Tak ada penyakit, noda, atau cacat pada semua yang tumbuh di bumi. Negeri Lorien bersih tak bernoda.
Ia membalikkan badan dan melihat Sam sekarang berdiri di sampingnya, melihat sekeliling dengan ekspresi heran, dan menggosok-gosok mata seolah tak yakin ia sedang sadar. "Sekarang ini masih siang dan matahari terang benderang," katanya. "Kupikir Peri hanya ada saat bulan dan bintang bersinar: tapi yang kulihat ini lebih bersifat Peri daripada apa pun yang pernah kudengar. Aku merasa seolah berada di dalam nyanyian, kalau kau paham maksudku."
Haldir memandang mereka, dan kelihatannya ia benar-benar memahami pikiran maupun perkataan Sam. Ia tersenyum. "Kau merasakan kekuatan Lady

Galadhrim," katanya. "Maukah kalian naik bersamaku ke Cerin Amroth?"

Mereka mengikutinya ketika ia melangkah ringan mendaki lereng berumput. Meski ia berjalan dan bernapas, dan di sekitarnya daun-daun dan bunga-bunga hidup digetarkan oleh angin sejuk yang juga mengipasi wajahnya, Frodo merasa berada di suatu negeri tanpa waktu, yang tidak memudar, berubah, atau terlupakan. Setelah meninggalkan negeri itu dan kembali ke dunia luar pun, Frodo si pengembara dari Shire masih tetap terkenang saat-saat ia berjalan di sana, di rumput di antara elanor dan niphredil, di Lothlorien yang
indah.

Mereka masuk ke lingkaran pohon-pohon putih. Pada saat itu Angin Selatan berembus ke atas Cerin Amroth, dan mengeluh di antara dahan- dahannya. Frodo berdiri diam, dan mendengar samudra besar memukul-mukul pantai yang sudah lama hilang tersapu, serta burung-burung laut yang berteriak, yang rasnya sudah lama hilang dari muka bumi.
Haldir sudah maju dan sekarang memanjat ke flet yang tinggi. Saat bersiap-siap menyusulnya, Frodo menyentuhkan tangan ke pohon di samping tangga, dan ia tersentak. Belum pernah ia merasakan dengan begitu tajam, rasa dan permukaan kulit pohon serta kehidupan yang tersimpan di dalamnya. Ia merasa bahagia menyentuh kayu itu, bukan sebagai penjaga hutan maupun sebagai tukang kayu; melainkan kebahagiaan karena pohon hidup itu sendiri.
Ketika akhirnya ia naik ke panggung tinggi itu, Haldir memegang tangannya dan membalikkan badan Frodo ke arah Selatan. "Lihat ke sini dulu!" katanya.
Frodo memandang. Agak jauh di sana, ia melihat bukit yang entah penuh

pepohonan tinggi besar, atau kota dengan menara-menara hijau. Dari sanalah rupanya asal kekuatan dan cahaya yang mengendalikan seluruh negeri itu. Frodo mendadak ingin sekali terbang seperti burung untuk beristirahat di kota itu. Lalu ia memandang ke arah timur, dan melihat seluruh negeri Lorien terhampar sampai ke Anduin,
Sungai Besar yang berkilau pucat. Ia mengangkat matanya ke seberang sungai, dan semua cahaya padam, dan ia kembali lagi ke dunia yang dikenalnya.

Di luar sungai, daratan tampak datar dan kosong, tak berbentuk dan kabur, dan naik lagi di kejauhan, seperti dinding gelap dan seram. Matahari yang bersinar di atas Lothlorien tak berdaya untuk menyinari kegelapan di ketinggian yang jauh
itu.

"Di sana terhampar luas Mirkwood Selatan," kata Haldir. "Tertutup hutan cemara gelap, di mana pohon-pohon saling bersaing dan dahan-dahan mereka membusuk dan layu. Di tengahnya, di atas dataran tinggi berbatu, berdiri Dol Guldur, di mana Musuh tersembunyi itu dulu tinggal. Kami khawatir sekarang dia sudah didiami lagi, dan dengan kekuatan berlipat ganda tujuh kali. Awan hitam sering menggantung di atasnya belakangan ini. Di tempat tinggi ini kau bisa melihat kedua kekuatan yang saling berlawanan; dan mereka tetap bersaing dalam pikiran, tapi meski cahaya ini melihat jantung kegelapan, rahasianya sendiri belum terungkap. Belum." Haldir membalikkan badannya dan cepat-cepat turun. Mereka mengikutinya.
Di kaki bukit, Frodo menemukan Aragorn berdiri diam dan tenang, seperti sebatang pohon; di tangannya ada bunga elanor kecil keemasan, dan matanya bersinar-sinar. Ia terbenam dalam ingatan indah: dan ketika Frodo memandangnya, ia tahu Aragorn tengah membayangkan keadaan di tempat ini, lama berselang. Sebab perjalanan tahun yang muram kini terhapus dari wajah Aragorn; dan ia seolah berpakaian putih, seorang pangeran muda yang jangkung dan tampan; dan ia berbicara dengan bahasa Peri pada seseorang yang tak bisa dilihat Frodo. Arwen vanimelda, namarie! katanya, lalu ia menghela napas. Setelah terjaga dari lamunannya, ia menatap Frodo dan tersenyum.
"Di sinilah jantung kerajaan Peri di bumi," katanya, "dan di sinilah hatiku berada; kecuali ada cahaya di luar jalan-jalan gelap yang masih harus kita tapaki, kau dan aku. Ikutlah aku!" Dan sambil memegang tangan Frodo, ia meninggalkan bukit Cerin Amroth. Ia tak pernah kembali ke sana dalam keadaan hidup.

BAB 7

CERMIN GALADRIEL



Matahari terbenam di balik pegunungan, dan bayangan-bayangan di hutan semakin gelap, ketika mereka berjalan lagi. Sekarang mereka masuk ke gerombolan pohon, di mana senja sudah mulai terasa. Malam menghampiri di bawah pepohonan, sementara mereka berjalan, dan para Peri membuka selubung lampu mereka.
Tiba-tiba mereka sampai di sebuah tempat terbuka lagi, di bawah langit malam pucat bertaburkan beberapa bintang yang muncul awal. Di depan mereka ada tempat luas tanpa pohon, berbentuk lingkaran besar dan membelok ke luar di kedua sisinya. Di luarnya ada jurang dalam yang hilang dalam kegelapan, tapi rumput di tebingnya tampak hijau, seolah masih bersinar mengenang matahari yang sudah pergi. Di sisi seberang berdiri menjulang sebuah dinding hijau, mengurung bukit hijau yang dipenuhi pohon mallorn yang lebih tinggi daripada yang telah mereka lihat di negeri itu. Tingginya tak bisa ditebak, tapi dalam cahaya senja itu, mereka tampak seperti menara-menara yang hidup. Di dalam dahan-dahannya yang bercabang-cabang, dan di tengah dedaunannya yang selalu bergerak, menyala lampu-lampu yang tak terhitung jumlahnya—hijau, emas, dan perak. Haldir berbicara pada mereka.
"Selamat datang ke Caras Galadhon!" katanya. "Inilah kota tempat tinggal Lord Celeborn dan Lady Galadriel dari Lorien. Tapi kita tak bisa masuk dari sini, karena gerbang-gerbangnya tidak menghadap ke utara. Kita harus berjalan memutar ke selatan, dan jalan itu tidak pendek, karena kota ini besar."
Ada jalan berlapis bate putih terbentang di tebing luar jurang. Mereka menyusuri jalan ini, ke arah barat, sementara kota itu mendaki terus seperti awan hijau di sebelah kiri mereka; ketika malam semakin larut, lebih banyak cahaya muncul, hingga seluruh bukit seperti menyala penuh bintang-bintang. Akhirnya mereka sampai ke sebuah jembatan putih, dan setelah menyeberanginya, mereka tiba di gerbang-gerbang kota. Gerbang-gerbang itu menghadap ke barat daya, terletak di antara ujung-ujung dinding yang

mengelilinginya, yang di sini saling menutupi. Pintu-pintunya tinggi dan kuat, diterangi banyak lampu gantung.
Haldir mengetuk dan berbicara, dan gerbang itu membuka tanpa suara; tapi Frodo tak bisa melihat penjaganya. Mereka masuk ke dalam, dan gerbang itu tertutup lagi di belakang mereka. Mereka berada di sebuah jalan di antara ujung-ujung dinding; dengan cepat mereka melewatinya, dan masuk ke Kota Pohon. Tak ada orang tampak, juga tidak terdengar bunyi langkah kaki di jalan; tapi ada banyak suara di sekitar mereka, dan di udara di atas. Jauh di atas bukit, mereka bisa mendengar nyanyian mengalun dari atas, seperti hujan lembut di atas dedaunan.
Mereka melewati banyak jalan dan mendaki banyak tangga, sampai akhirnya tiba di tempat tinggi. Di depan mereka, di tengah halaman luas, sebuah air mancur berkilauan. Air mancur itu diterangi lampu-lampu perak yang menggantung pada dahan-dahan pepohonan, airnya jatuh ke dalam mangkuk perak, dan dari situ mengalir menjadi aliran putih. Di sisi selatan halaman berdiri pohon paling besar; batangnya yang besar dan mulus bersinar seperti sutra kelabu, dan ia menjulang begitu tinggi, hingga dahan-dahannya yang pertama, jauh di atas, membuka tangan-tangan besar mereka di bawah awan daun yang gelap. Di sebelahnya berdiri sebuah tangga lebar putih, dan di kakinya duduk tiga Peri. Mereka melompat berdiri ketika para pengembara itu mendekat. Frodo melihat bahwa mereka tinggi sekali dan berpakaian logam kelabu, dari pundak mereka menggantung jubah putih panjang.
"Di sini tinggal Celeborn dan Galadriel," kata Haldir. "Mereka mengharapkan kalian naik dan berbicara dengan mereka."
Salah satu penjaga Peri meniupkan nada nyaring pada terompet kecilnya, dan dijawab tiga kali dari jauh di atas. "Aku akan menghadap lebih dulu," kata Haldir. "Biar Frodo berikutnya, dan Legolas bersamanya. Yang lain boleh menyusul sekehendak mereka. Panjatannya panjang sekali untuk mereka yang tidak terbiasa pada tangga semacam ini, tapi kalian boleh istirahat selama naik."


Ketika Frodo memanjat perlahan, banyak sekali flet yang dilewatinya: beberapa

di satu sisi, beberapa di sisi lain, dan beberapa mengurung batang pohon, sehingga tangga itu melewati tengahnya. Di suatu ketinggian, jauh di atas tanah, ia sampai ke sebuah talan yang luas, seperti geladak kapal besar. Di atasnya berdiri sebuah rumah, begitu besar, sampai hampir bisa dipakai sebagai aula untuk Manusia di bumi. Ia masuk di belakang Haldir, dan menyadari ia berada di sebuah ruang berbentuk lonjong; di tengah ruangan tumbuh sebatang pohon mallorn besar, namun batangnya semakin ke atas semakin mengecil, sampai ke mahkotanya, tapi masih membentuk tiang dengan lingkaran sangat besar.
Ruangan itu berisi cahaya lembut; dinding-dindingnya hijau dan perak, dan atapnya dari emas. Banyak Peri duduk di sana. Di atas dua kursi, di bawah batang pohon dan beratap dahan hidup, duduk berdampingan Celeborn dan Galadriel. Mereka berdiri untuk menyambut tamu mereka, sesuai adat-istiadat kaum Peri, bahkan mereka yang termasuk raja-raja hebat. Mereka sangat jangkung, dan sang Lady juga tak kalah jangkung daripada sang Lord; mereka tampak khidmat dan indah. Pakaian mereka serbaputih; rambut Lady Galadriel berwarna emas pekat, dan rambut Lord Celeborn keperakan dan panjang, serta bersinar; tapi tak ada tanda-tanda ketuaan pada diri mereka, kecuali dalam mata mereka; karena mata mereka tajam bagai lembing di bawah sinar bintang, namun sangat dalam, seperti sumur ingatan yang dalam.
Haldir membimbing Frodo ke hadapan mereka, dan Lord Celeborn menyambutnya dengan bahasanya sendiri. Lady Galadriel tidak mengatakan apa-apa, tapi menatap wajahnya lama sekali.
"Duduklah di sampingku, Frodo dari Shire!" kata Celeborn. "Kalau semua

sudah datang, kita akan bercakap-cakap."

Setiap anggota rombongan disambut dengan sopan, nama masing- masing disebutkan ketika mereka masuk. "Selamat datang, Aragorn putra Arathorn!" katanya. "Sudah delapan dan tiga puluh tahun sejak kau datang ke negeri ini; dan tahun-tahun itu membebanimu dengan berat. Tapi akhirnya sudah dekat, entah baik ataupun buruk. Simpanlah dulu bebanmu sejenak di sini!"
"Selamat datang, putra Thranduil! Terlalu jarang keluargaku dari Utara berkunjung kemari."

"Selamat datang, Gimli putra Gloin! Memang sudah lama kami tak melihat salah satu dari bangsa Durin di Caras Galadhon. Tapi hari ini kami membatalkan hukum kami yang sudah lama. Mudah-mudahan menjadi pertanda bahwa meski dunia sekarang lebih gelap; tapi masa yang lebih baik sudah mendekat, dan persahabatan di antara bangsa kita akan diperbaharui." Gimli membungkuk dalam sekali.
Ketika semua tamu sudah duduk di depan kursinya, Lord Celeborn menatap mereka lagi. "Di sini ada delapan," katanya. "Sembilan yang berangkat: begitulah menurut pesan yang disampaikan. Tapi mungkin ada perubahan saran yang belum kami dengar. Elrond jauh sekali, dan kegelapan membubung di antara kami, dan sepanjang tahun ini bayang-bayang yang muncul semakin panjang."
"Tidak, tidak ada perubahan rencana," kata Lady Galadriel, berbicara untuk pertama kali. Suaranya jernih dan berirama, tapi lebih dalam daripada biasanya suara wanita. "Gandalf si Kelabu berangkat bersama Rombongan, tapi dia tidak berhasil melewati perbatasan negeri ini. Sekarang ceritakan pada kami, di mana dia; karena aku sangat ingin berbicara lagi dengannya. Tapi aku tak bisa melihatnya dari jauh, kecuali dia masuk ke dalam lingkungan Lothlorien: kabut kelabu menyelimutinya, dan langkah kaki serta pikirannya tersembunyi bagiku."
"Sayang sekali!" kata Aragorn. "Gandalf si Kelabu jatuh ke dalam gelap. Dia tetap di Moria, dan tidak berhasil lolos."
Mendengar itu, semua Peri di aula berteriak keras, penuh kesedihan dan kekagetan. "Ini berita buruk," kata Celeborn, "berita paling buruk yang pernah dibicarakan di sini, selama tahun-tahun panjang yang penuh kesedihan." ia berbicara pada Haldir. "Mengapa tentang ini belum ada yang diceritakan padaku?" tanyanya dalam bahasa Peri.
"Kami belum berbicara dengan Haldir tentang perbuatan atau tujuan kami," kata Legolas. "Pada mulanya kami letih, dan bahaya terlalu dekat di belakang; setelah itu kami hampir melupakan kesedihan kami sebentar, saat kami berjalan dengan bahagia di jalan-jalan indah Lorien."
"Namun kesedihan kami besar sekali, dan kehilangan kami tak bisa

dipulihkan," kata Frodo. "Gandalf adalah pemandu kami, dan dia menuntun kami melalui Moria; ketika pelarian kami tampak tak ada harapan lagi, dia menyelamatkan kami, dan jatuh."
"Ceritakan sekarang pada kami seluruh kisahnya!" kata Celeborn.

Maka Aragorn menceritakan semua yang terjadi di jalan di Caradhras, dan di hari-hari berikutnya; ia juga berbicara tentang Balm dan bukunya, pertempuran di Ruang Mazarbul, api, jembatan sempit, dan kedatangan makhluk pembawa Teror. "Tampaknya makhluk jahat dari Dunia Lama, yang belum pernah kulihat," kata Aragorn. "Bentuknya seperti bayangan, sekaligus nyala api, kuat dan mengerikan."
"Itu Balrog dari Morgoth," kata Legolas, "yang paling mematikan dari antara semua kutukan Peri, kecuali bagi yang Satu itu, yang berada di Menara Kegelapan."
"Memang di jembatan aku melihat sesuatu yang menghantui mimpi kita yang paling gelap. Aku melihat Kutukan Durin," kata Gimli dengan suara rendah, kengerian terpancar dari matanya.
"Aduh!" kata Celeborn. "Sudah lama kami khawatir ada kejahatan yang tertidur di bawah Caradhras. Tapi seandainya aku tahu bahwa kaum Kurcaci sudah membangunkan lagi kejahatan di Moria, aku akan melarang kalian melewati perbatasan utara, kau dan semua yang pergi bersamamu. Dan bila mungkin, akan ada yang bilang bahwa Gandalf akhirnya jatuh dari kebijakan ke kebodohan, pergi sia-sia masuk ke dalam jaring Moria."
"Gegabah sekali kalau ada yang berkata begitu," kata Galadriel muram. "Karena perbuatan Gandalf sepanjang hidupnya tak pernah sia-sia. Mereka yang mengikutinya tidak tahu pikirannya, dan tak bisa melaporkan keseluruhan rencananya. Tapi apa pun yang dilakukan sang pemandu, pengikut-pengikutnya tidak bersalah. Jangan menyesal telah menyambut Kurcaci ini. Seandainya bangsa kami dikucilkan jauh dan lama dari Lothlorien, siapa di antara bangsa Galadhrim—termasuk Celeborn yang Bijak sekalipun—yang bisa menahan diri untuk lewat di dekatnya tanpa keinginan melihat rumah mereka yang lama, meski rumah itu sudah menjadi tempat tinggal para naga?

"Gelap sekali air Kheled-zaram, sangat dingin mata air Kibil-nala, dan sangat indahlah aula-aula bertiang banyak di Khazad-dum pada Zaman Peri, sebelum kejatuhan raja-raja besar di bawah bebatuan." ia menatap Gimli yang duduk dengan cemberut dan sedih. Dan Galadriel tersenyum. Men-dengar nama-nama tersebut diucapkan dalam bahasanya sendiri yang kuno, Gimli menengadah dan bertemu pandang dengan Galadriel; ia serasa melihat ke dalam hati musuh, namun yang dijumpainya adalah kasih sayang dan pengertian. Wajah Gimli diliputi keheranan, lalu ia membalas senyuman itu.
Ia bangkit berdiri dengan canggung dan membungkuk secara adat Kurcaci, sambil berkata, "Tetapi negeri Lorien yang hidup jauh lebih indah, dan kecantikan Lady Galadriel melebihi kecantikan semua permata yang ada di bawah tanah!"


Hening sejenak. Akhirnya Celeborn berbicara lagi. "Aku tidak tahu bahwa keadaanmu begitu mengerikan," katanya. "Semoga Gimli melupakan kata-kataku yang keras: aku mengungkapkan kesusahan hatiku. Aku akan berusaha membantu kalian sebisaku, masing-masing sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya, tapi terutama untuk si kecil yang membawa beban itu."
"Tugas kalian sudah kami ketahui," kata Galadriel, sambil menatap Frodo. "Tapi kita tak akan membicarakannya di sini dengan lebih terbuka. Mungkin kedatangan kalian ke negeri ini untuk mencari pertolongan tidaklah sia-sia. Tampaknya ini memang direncanakan oleh Gandalf. Karena Lord Galadhrim dianggap yang paling bijak di antara bangsa Peri di Dunia Tengah, dan pemberi hadiah di luar kemampuan raja-raja. Dia sudah tinggal di Barat sejak masa fajar, dan aku tinggal bersamanya sudah tak terhitung lamanya; karena sebelum kejatuhan Nargothrond atau Gondolin aku telah melewati pegunungan, dan selama berabad-abad kami bersama-sama melawan kekalahan yang panjang.
"Akulah yang pertama kali mengumpulkan Dewan Penasihat Putih. Kalau rencanaku tidak gagal, dewan itu akan dipimpin oleh Gandalf si Kelabu, dan mungkin situasinya akan berbeda. Tapi sekarang pun masih ada harapan. Aku tidak akan memberikan nasihat, menyuruh lakukan ini, lakukan itu. Karena

dengan tidak berbuat atau merencanakan, juga dengan tidak memilih antara jalan ini atau itu, aku bisa berguna; cukuplah dengan tahu apa yang sudah terjadi dan sedang terjadi, dan sebagian tentang apa yang bakal terjadi. Tapi kukatakan ini pada kalian: Pencarian kalian ada di ujung pisau. Melenceng sedikit, kalian akan jatuh, dan menyebabkan kehancuran semuanya. Namun masih ada harapan bila seluruh Rombongan bersungguh-sungguh."
Dan dengan kata itu ia menahan mereka dengan matanya, dalam keheningan ia memandang mereka satu per satu. Hanya Legolas dan Aragorn yang bisa menahan tatapannya untuk waktu lama. Sam cepat memerah wajahnya dan menundukkan kepala.
Akhirnya Lady Galadriel melepaskan mereka dari pandangan matanya, dan ia tersenyum. "Janganlah kalian bersusah hati," katanya. "Malam ini kalian akan tidur dalam kedamaian." Lalu mereka mengeluh dan tiba-tiba merasa letih, seperti sudah ditanyai lama dan dalam, meski tak ada kata-kata yang diucapkan secara terbuka.
"Pergilah!" kata Celeborn. "Kalian letih karena sedih dan kerja keras. Meski Pencarian kalian tidak berhubungan erat dengan kami, kalian hams mendapat perlindungan di Kota ini, sampai kalian sembuh dan segar. Sekarang kalian akan beristirahat, dan kita tidak akan membicarakan perjalanan kalian selaniutnya, untuk sementara."


Malam itu Rombongan tidur di tanah, dan para hobbit sangat senang. Para Peri membentangkan sebuah paviliun untuk mereka di antara pepohonan dekat air mancur, dan di dalamnya diletakkan ranjang-ranjang empuk; setelah mengucapkan kata-kata damai dengan suara-suara Peri yang indah, mereka meninggalkan Rombongan. Untuk beberapa saat para pengembara itu membicarakan malam sebelumnya di puncak pohon, dan tentang perjalanan mereka hari itu, juga tentang Lord Celeborn dan Lady Galadriel; karena mereka tak sampai hati mengingat lebih jauh ke belakang.
"Kenapa wajahmu memerah, Sam?" kata Pippin. "Kau cepat sekali menunduk. Siapa pun akan mengira kau merasa bersalah. Kuharap kau tidak

punya rencana jahat selain, barangkali, rencana untuk mencuri salah satu selimutku."
"Aku tidak pernah terpikir untuk mencuri selimutmu," jawab Sam, tidak bergairah untuk berkelakar. "Kalau kau mau tahu, aku merasa seperti tidak memakai busana, dan aku tak suka itu. Seolah-olah Lady itu memandang ke dalam diriku, dan bertanya apa yang akan kulakukan kalau dia memberiku kesempatan terbang pulang ke Shire, ke sebuah lubang nyaman dengan... kebunku sendiri."
"Aneh," kata Merry. "Hampir sama dengan apa yang kurasakan juga; hanya... hanya... yah, kurasa aku tidak mau bilang apa-apa lagi," ia mengakhiri kata-katanya dengan tertegun.
Semuanya, rupanya, mengalami hal yang sama: masing-masing merasa dihadapkan pada pilihan antara bayangan penuh ketakutan yang terbentang di depan, dan sesuatu yang sangat didambakan. Sesuatu itu terpeta jelas sekali dalam pikiran, dan untuk mendapatkannya mudah saja: mereka tinggal keluar dari jalan, dan membiarkan orang lain yang melakukan Pencarian serta perang melawan Sauron.
"Dan kelihatannya bagiku," kata Gimli, "pilihanku akan tetap rahasia, dan hanya aku sendiri yang tahu."
"Bagiku rasanya sangat aneh," kata Boromir. "Mungkin itu hanya ujian, dan dia membaca pikiran kita demi tujuannya sendiri yang baik; tapi aku hampir- hampir menganggap dia sedang menggoda kita, menawarkan sesuatu yang seolah-olah ada dalam kekuasaannya, untuk memberikannya pada kita. Tapi aku tak mau mendengarkannya. Manusia Minas Tirith selalu memegang teguh perkataan mereka." Namun Boromir tidak mengatakan, apa yang ia kira ditawarkan Galadriel kepadanya.
Frodo juga tak mau bicara, meski Boromir mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan. "Dia sangat lama memandangmu, Pembawa Cincin," katanya.
"Ya," kata Frodo, "tapi apa pun yang timbul dalam pikiranku akan kusimpan dalam hati."

"Terserah!" kata Boromir. "Aku tidak begitu yakin akan wanita Peri itu dan maksud-maksudnya."
"Jangan bicara buruk tentang Lady Galadriel!" kata Aragorn keras. "Kau tidak tahu apa yang kaukatakan. Di dalam dirinya dan di negeri ini tidak ada kejahatan, kecuali dibawa ke sini oleh manusia. Maka orang itu sendiri perlu waspada! Tapi malam ini, untuk pertama kali sejak meninggalkan Rivendell, aku akan tidur tanpa rasa takut. Semoga tidurku lelap, dan untuk sementara kesedihanku terlupakan! Aku merasa letih jiwa-raga." ia membaringkan diri di ranjang, dan segera tertidur lama sekali.
Yang lain melakukan hal yang sama, dan tak ada suara atau mimpi mengganggu tidur mereka. Ketika bangun, mereka menemukan cahaya pagi sudah menerangi halaman di depan paviliun, air mancur memancar dan memercik berkilauan disinari matahari.


Mereka tinggal beberapa hari di Lothlorien, sejauh mereka bisa memperhatikan atau ingat. Selama mereka tinggal di sana, matahari bersinar terang, hujan lembut kadang-kadang turun, dan berlalu dengan meninggalkan hawa bersih dan segar. Udara sejuk dan lembut, seolah sedang awal musim semi, walau mereka merasakan keheningan musim dingin yang dalam dan khusyuk di sekitar mereka. Tampaknya kegiatan mereka hanyalah makan, minum, istirahat, dan berjalan-jalan di antara pepohonan; namun rasanya itu sudah cukup.
Mereka belum bertemu Lord Celeborn dan Lady Galadriel lagi, dan mereka jarang berbicara dengan bangsa Peri, karena hanya sedikit dari mereka yang kenal atau mau menggunakan bahasa Westron. Haldir sudah pamit pada mereka dan kembali ke pagar-pagar Utara, di mana kini dilakukan penjagaan ketat, sejak berita tentang Moria yang dibawa Rombongan. Legolas sering berada di antara kaum Galadhrim, dan setelah malam pertama ia tidak tidur bersama anggota rombongan yang lain, meski ia kembali untuk makan dan minum bersama mereka. Sering kali ia membawa Gimli bersamanya ketika berkeliaran di negeri itu, dan yang lain heran dengan perubahan ini.
Sekarang, saat anggota-anggota rombongan duduk atau berjalan

bersama, mereka suka membicarakan Gandalf. Segala sesuatu yang telah dikenal dan dilihat masing-masing orang tentang Gandalf kini teringat jelas. Saat mereka mulai sembuh dari kepenatan dan kesakitan fisik, kesedihan atas kehilangan mereka justru semakin tajam. Sering mereka mendengar suara-suara Peri bernyanyi di dekat mereka, dan mereka tahu para Peri itu membuat lagu- lagu yang menangisi kejatuhan Gandalf, karena mereka menangkap namanya di antara kata-kata manis yang mereka kenal.
Mithrandir, Mithrandir para Peri bernyanyi, Oh, Pengembara Kelabu! Sebab dengan nama itulah mereka suka memanggilnya. Namun bila Legolas sedang bersama Rombongan, ia tak mau menerjemahkan lagu-lagu itu untuk mereka, dengan alasan bahwa ia tidak ahli dalam hal itu, dan bahwa baginya duka itu masih terlalu tajam, masih menimbulkan tangisan, dan belum bisa diutarakan dalam nyanyian.
Frodo yang pertama kali menuangkan sedikit rasa dukanya ke dalam kata-kata terputus-putus. Ia jarang tergerak untuk membuat lagu atau sajak, bahkan di Rivendell ia hanya mendengarkan dan tidak bernyanyi sendiri, meski ingatannya penuh dengan karangan orang lain yang sudah dibuat sebelum itu. Tapi kini, ketika ia duduk di samping air mancur di Lorien dan mendengar suara- suara Peri di sekitarnya, pikirannya mewujudkan diri ke dalam lagu yang baginya terasa indah; namun ketika ia mencoba mengulangnya di depan Sam, hanya potongan-potongan lagu itu yang tersisa, pudar seperti segenggam daun-daun layu.


Di senja kelabu ia muncul mendatangi langkah kakinya terdengar di Bukit sana; sebelum fajar ia pergi lagi
dalam perjalanan panjang tanpa berita.



Dari Belantara hingga pantai Barat,

dari tanah kosong utara hingga ke bukit selatan, lewat sarang naga dan pintu yang tersembunyi rapat

dan hutan-hutan gelap tempat ia berjalan.



Dengan Kurcaci dan Hobbit, Peri dan Manusia, dengan makhluk fana dan makhluk abadi,
dengan burung di dahan dan hewan di sarangnya, ia berbicara dalam bahasa rahasia mereka sendiri.


Pedangnya mematikan, tangannya menyembuhkan, punggungnya bungkuk menanggung beban;
suara terompet, kayu yang berkeriapan, pengembara letih yang lama berjalan.


Orang bijak di kursinya yang mulia, cepat marah, cepat pula tertawa;
Orang tua dengan topi usang dan lama;

bersandar pada tongkat berduri miliknya.



Berdiri sendirian di atas jembatan

api dan Bayangan dua-duanya ditaklukkan;

tonngkatnya patah di atas bebatuan,

di Khazad-dum tewas, akhir kebijakan



"Wah, kau akan mengalahkan Mr. Bilbo nanti!" kata Sam.

"Tidak, kurasa tidak," kata Frodo. "Tapi ini yang terbaik yang bisa kukarang."
"Well, Mr. Frodo, kalau kau mencoba lagi, kuharap kau menyebutkan sedikit tentang kembang apinya," kata Sam. "Kira-kira seperti ini:


Roket paling indah yang pernah ada:

memancar bagai bintang biru dan merah muda, atau hujan emas setelah petir membahana

berjatuhan deras bagai hujan bunga.



Meski masih jauh sekali dari kenyataan."

"Tidak, biar kau saja yang mengarangnya, Sam. Atau Bilbo. Tapi... well, aku tak bisa membicarakannya lagi. Aku tidak tega memikirkan harus menyampaikan berita itu kepadanya."


Suatu sore, Frodo dan Sam sedang berjalan-jalan bersama di udara sejuk. Keduanya gelisah lagi. Mendadak Frodo merasa bayang-bayang perpisahan membebaninya: entah bagaimana, ia tahu saatnya sudah dekat ia harus meninggalkan Lothlorien.
"Bagaimana pendapatmu sekarang tentang bangsa Peri, Sam?" tanyanya. "Aku pernah menanyakan hal yang sama-rasanya sudah lama sekali; tapi kau sudah lebih banyak bertemu mereka sejak itu."
"Memang!" kata Sam. "Dan kupikir ada Peri dan 'Peri'. Mereka semua

cukup bersifat Peri, tapi mereka tidak sama. Bangsa ini bukan pengembara atau tidak berumah, dan lebih mirip dengan bangsa kita: mereka seolah menyatu dengan tempat ini, bahkan melebihi kaum hobbit di Shire. Apakah mereka yang membangun negeri ini, atau negeri ini yang membangun mereka, sulit dikatakan, kalau kau paham maksudku. Di sini luar biasa tenang. Tak ada sesuatu yang terjadi, dan tak ada yang menginginkan sesuatu terjadi. Kalau ada sihir di dalamnya, maka sihirnya dalam sekali, sampai aku tak bisa memegangnya, ibaratnya begitu."
"Kita bisa melihat dan merasakannya di mana-mana," kata Frodo.

"Well," kata Sam, "kita tak bisa melihat ada orang yang melakukan sihir di sini. Tidak berupa kembang api yang biasa dipertunjukkan Gandalf. Aku heran kita tidak melihat Lord dan Lady selama beberapa hari ini. Kubayangkan sang Lady bisa melakukan hal-hal hebat, kalau dia mau. Aku sangat ingin melihat sihir Peri, Mr. Frodo!"
"Aku tidak. Aku puas. Dan aku tidak kehilangan kembang api Gandalf, tapi aku kehilangan alisnya yang tebal, wataknya yang pemarah, dan suaranya."

"Kau benar," kata Sam. "Dan jangan kira aku sedang mencari-cari kesalahan. Aku sering ingin melihat sedikit sihir, seperti diceritakan dalam dongeng-dongeng kuno, tapi aku belum pernah mendengar tentang negeri yang lebih indah daripada ini. Seperti berada di rumah, sekaligus sedang berlibur, kalau kau paham maksudku. Aku tak ingin pergi. Sekaligus, aku mulai merasa bahwa kalau kita harus meneruskan perjalanan, maka sebaiknya segera kita lakukan.
"Pekerjaan yang belum dim-ulai adalah yang butuh waktu paling lama untuk diselesaikan, begitulah kata ayahku yang sudah tua. Dan kupikir bangsa ini tak bisa membantu kita lebih banyak, dengan atau tanpa sihir. Kalau kita sudah meninggalkan negeri ini, kita akan semakin merasa kehilangan Gandalf, kukira."
"Aku khawatir itu benar sekali, Sam," kata Frodo. "Namun aku sangat berharap sebelum pergi kita masih akan melihat Lady Peri itu."
Tepat saat ia berbicara, mereka melihat, Lady Galadriel berjalan

mendekat, seolah sebagai jawaban atas ucapan mereka tadi. Jangkung dan putih, dan cantik jelita, ia berjalan di bawah pepohonan. Ia tidak berbicara, tapi memanggil mereka dengan isyarat tangan.
Sambil berjalan keluar, ia menuntun mereka ke lereng selatan bukit Caras Galadhon, dan setelah melewati pagar hijau yang tinggi, mereka masuk ke sebuah kebun tertutup. Tak ada pohon tumbuh di sana, dan kebun itu hanya beratapkan langit. Bintang malam sudah muncul dan bersinar putih di atas hutan sebelah barat. Menuruni tangga panjang, Lady Galadriel masuk ke sebuah lembah hijau yang dalam, di mana sebuah sungai perak mengalir menggeluguk, bersumber dari air mancur di atas bukit. Di dasamya, di atas sebuah alas rendah yang diukir seperti pohon bercabang, terletak sebuah mangkuk perak, lebar dan dangkal, dan di sampingnya terdapat botol air dari perak.
Dengan air dari sungai, Galadriel mengisi mangkuk sampai penuh, dan bernapas ke atasnya. Ketika airnya sudah tenang lagi, ia berbicara. “Inilah Cermin Galadriel,” katanya “Aku membawa kalian kemari agar kalian bisa melihat ke dalamnya, kalau mau."

Udara hening sekali, dan lembah itu gelap. Wanita Peri ini begitu jangkung dan pucat. "Apa yang akan kita cari, dan apa yang akan kita lihat?" tanya Frodo, kagum sekali.
"Banyak hal yang bisa kuperintahkan pada Cermin untuk diungkapkan," jawab Galadriel, "dan pada beberapa orang aku bisa memperlihatkan apa yang ingin mereka lihat. Tapi Cermin ini juga akan menunjukkan hal-hal yang tidak diminta, dan itu biasanya lebih aneh dan lebih bermanfaat daripada hal-hal yang ingin kita lihat. Apa yang akan kalian lihat, kalau Cermin ini dibiarkan bekerja bebas, aku tidak tahu. Karena dia menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Tapi yang mana yang dilihatnya, bahkan kaum bijak tidak selalu tahu. Apakah kau ingin melihat?"
Frodo tidak menjawab.

"Dan kau?" kata Galadriel kepada Sam. "Karena inilah yang disebut sihir oleh bangsamu, kukira; meski aku tak mengerti maksud mereka; sebab mereka juga menggunakan kata yang sama untuk tipu muslihat Musuh. Tapi ini, kalau kau suka, adalah sihir Galadriel. Bukankah kau mengatakan ingin melihat sihir bangsa Peri?"
"Memang," kata Sam, gemetar sedikit, antara ketakutan dan ingin tahu. "Aku mau mengintip sedikit, Lady, kalau boleh."
"Dan aku juga ingin melihat sekilas keadaan di rumah," katanya pada Frodo sambil lalu. "Rasanya sudah lama sekali aku pergi. Tapi di sana mungkin aku hanya akan melihat bintang-bintang, atau sesuatu yang tidak kumengerti."
"Mungkin juga," kata Galadriel dengan tawa lembut. "Mari, kau akan

memandang dan melihat apa yang boleh kaulihat. Jangan sentuh airnya!"

Sam naik ke atas kaki alas dan mencondongkan badannya ke mangkuk. Airnya tampak keras dan gelap. Bintang-bintang tercermin di dalamnya.
"Hanya ada bintang-bintang, seperti sudah kuduga," kata Sam. Lalu ia terkesiap, karena bintang-bintang itu padam. Seolah sehelai selubung gelap sudah disingkap, Cermin itu menjadi kelabu, kemudian jernih. Ada matahari bersinar, dahan-dahan pohon melambai dan bergerak-gerak ditiup angin. Tapi sebelum Sam bisa memikirkan apa yang dilihatnya, cahayanya meredup;

sekarang ia menyangka melihat Frodo dengan wajah pucat tertidur lelap di bawah batu karang besar yang gelap. Lalu ia seolah melihat dirinya sendiri, berjalan melewati selasar panjang yang gelap, mendaki sebuah tangga yang berputar tak henti-henti. Mendadak ia tahu bahwa ia sedang mencari-cari sesuatu, tapi entah apa. Seperti mimpi, pemandangannya beralih dan kembali, dan ia melihat pepohonan lagi. Tapi kali ini mereka tidak begitu rapat, dan ia bisa melihat apa yang sedang terjadi: mereka tidak melambai-lambai kena tiupan angin, melainkan berjatuhan ke tanah.
"Hai!" teriak Sam dengan marah. "Itu Ted Sandyman, menebangi pohon, padahal tidak seharusnya dia lakukan itu. Pohon-pohon itu tak boleh ditebang: itu jalan di luar Mill yang memayungi jalan ke Bywater. Kalau saja aku bisa melabrak Ted, akan kutonjok dia!"
Tapi sekarang Sam melihat bahwa Old Mill sudah lenyap, dan sebuah bangunan bata merah besar sedang dibangun di sana. Ada cerobong asap merah tinggi di dekatnya. Asap hitam tampak menyelubungi permukaan Cermin.
"Ada sihir jahat sedang bekerja di Shire," kata Sam. "Elrond tahu apa

yang perlu dilakukan, ketika dia ingin mengirim kembali Mr. Merry." Mendadak Sam menjerit dan melompat mundur. "Aku tak bisa tetap di sini," katanya ribut. "Aku harus pulang. Mereka menggali Bagshot Row, dan ayahku yang malang berjalan turun dari Bukit dengan barang-barangnya di dalam gerobak. Aku harus pulang!"
"Kau tidak bisa pulang sendirian," kata Galadriel. "Kau tidak mau pulang tanpa majikanmu, sebelum kau melihat ke dalam Cermin, padahal kau tahu banyak peristiwa jahat mungkin terjadi di Shire. Ingatlah bahwa Cermin ini menunjukkan banyak hal, tapi tidak semua akan terjadi. Beberapa tidak pernah terjadi, bila mereka yang melihatnya tidak keluar dari jalan mereka untuk mencegah terjadinya. Cermin ini berbahaya sebagai panduan mengambil tindakan."
Sam duduk di tanah dan memegangi kepalanya dengan dua tangan. "Kalau saja aku tidak pernah datang ke sini, dan aku tidak mau lagi melihat sihir," katanya, lalu ia terdiam. Setelah beberapa saat, ia berbicara dengan suara

tercekat, seolah melawan air mata. "Tidak, aku akan pulang melalui jalan panjang bersama Mr. Frodo, atau tidak sama sekali," katanya. "Tapi aku berharap suatu hari nanti aku akan pulang. Kalau apa yang kulihat memang benar, seseorang akan menerima balasannya!"


"Apakah kau sekarang ingin melihat, Frodo?" kata Lady Galadriel. "Kau tidak ingin melihat sihir Peri, dan sudah merasa cukup puas."
"Apakah kau menyarankan aku untuk melihat?" tanya Frodo.

"Tidak," kata Galadriel. "Aku tidak memberi nasihat untuk melakukan atau tidak melakukan. Aku bukan penasihat. Kau mungkin bisa belajar sesuatu dari Cermin ini, dan entah yang kaulihat itu baik atau buruk, pengetahuan itu mungkin menguntungkan, mungkin juga tidak. Melihat bisa baik, bisa juga berbahaya. Tapi, Frodo, kurasa kau punya cukup keberanian dan kebijakan untuk mencobanya, kalau tidak aku tidak akan membawamu kemari. Lakukan apa yang kauinginkan!"
"Aku akan melihat," kata Frodo, lalu ia naik ke atas alas dan membungkuk di atas air yang gelap. Cermin itu langsung jernih, dan ia melihat daratan saat senja. Pegunungan menjulang gelap di kejauhan, berlatar belakang langit pucat. Sebuah jalan panjang kelabu menjulur ke belakang, sampai menghilang dari pandangan. Dari jauh sebuah sosok berjalan perlahan melewati jalan itu, kabur dan kecil mula-mula, tapi semakin membesar dan jelas saat mendekat. Tiba-tiba Frodo menyadari bahwa sosok itu mengingatkannya pada Gandalf. Ia hampir memanggil nama penyihir itu, tapi kemudian ia sadar bahwa sosok itu bukan berpakaian kelabu, melainkan putih-warna putih yang bersinar redup di senja hari; dan di tangannya ada tongkat putih. Kepalanya menunduk, sehingga Frodo tak bisa melihat wajahnya. Tak lama kemudian, sosok itu membelok di tikungan jalan dan keluar dari pandangan Cermin. Frodo mulai ragu: apakah yang dilihatnya itu Gandalf pada salah satu perjalanannya di masa lalu, ataukah itu Saruman?
Pemandangan sekarang berganti. Singkat dan kecil, tapi jelas sekali ia menangkap sekilas Bilbo berjalan gelisah di kamarnya. Mejanya penuh kertas

berserakan; hujan menerpa jendela-jendela.

Lalu berhenti sebentar, dan setelah itu banyak adegan cepat yang diketahui Frodo sebagai bagian dari sejarah besar yang melibatkan dirinya. Kabut tersingkap, dan ia melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya, tapi ia langsung tahu: Lautan. Hari menjadi gelap. Lautan itu mengamuk dalam badai dahsyat. Lalu di depan Matahari yang terbenam merah-darah ke dalam reruntuhan awan, ia melihat siluet hitam sebuah kapal tinggi dengan layar robek, datang dari Barat. Lalu sebuah sungai lebar mengalir melalui kota yang berpenduduk banyak. Kemudian sebuah benteng putih dengan tujuh menara. Kemudian sebuah kapal lagi dengan layar hitam, tapi kini sudah pagi lagi, air berombak berkilauan kena cahaya, dan sebuah bendera berlambang pohon putih bersinar di bawah matahari. Muncul asap, Seperti dari api dan pertempuran, dan sekali lagi matahari terbenam dengan warna merah manyala yang mengabur ke dalam kabut kelabu; dan ke dalam kabut, sebuah kapal kecil berlayar, berkelip-kelip dengan cahaya. Lalu ia menghilang, dan Frodo mengeluh, bersiap-siap mundur.
Mendadak Cermin itu menjadi gelap seluruhnya, seakan sebuah lubang telah membuka di dalam dunia penglihatan, dan Frodo menatap ke dalam kekosongan. Di dalam jurang hitam itu muncul sebuah Mata yang membesar perlahan, memenuhi hampir seluruh Cermin. Begitu mengerikan, sampai-sampai Frodo berdiri terpaku, tak mampu berteriak atau mengalihkan tatapan. Mata itu berpinggiran nyala api, tapi bolanya sendiri berlapis kaca, kuning seperti mata kucing, waspada dan tajam, dan celah hitam pupilnya membuka ke sebuah sumur, jendela ke ketiadaan.
Lalu Mata itu mulai menjelajah, mencari-cari ke sana kemari; dan Frodo tahu pasti, dengan perasaan ngeri, bahwa di antara banyak hal yang dicari Mata itu, dirinya adalah salah satunya. Tapi ia juga tahu Mata itu tak bisa melihatnya belum, sampai ia memang menghendakinya. Cincin yang menggantung di rantainya, melingkari lehernya, menjadi berat, lebih berat daripada batu besar, dan kepala Frodo tertarik ke bawah. Cermin itu seolah menjadi panas, dan untaian nap panas naik dari air. Frodo tergelincir ke depan.

"Jangan sentuh airnya!" kata Lady Galadriel lembut. Pemandangan itu mengabur, dan Frodo mendapati dirinya sedang melihat bintang-bintang sejuk berkelip di dalam mangkuk perak. Ia mundur sambil gemetaran dan memandang Galadriel.
"Aku tahu apa yang terakhir kaulihat," kata Galadriel. "Sebab pemandangan itu juga ada dalam benakku. Jangan takut! Tapi jangan kira bahwa hanya dengan bernyanyi di tengah-tengah pepohonan, atau dengan panah-panah ramping kaum Peri, negeri Lothlorien dirawat dan dipertahankan terhadap Musuh. Kukatakan padamu Frodo, bahwa sementara aku berbicara padamu, aku melihat sang Penguasa Kegelapan dan aku tahu jalan pikirannya, atau seluruh pikirannya yang berhubungan dengan bangsa Peri. Dia selalu mencari-cari untuk melihatku dan pikiranku. Tapi pintu masih tetap tertutup!"
Lady Galadriel mengangkat tangannya yang putih, dan mengulurkannya ke arah Timur dengan gerakan menolak dan membantah.
Earendil, Bintang Malam yang paling dicintai bangsa Peri, bersinar terang

di atas. Begitu terang, sampai sosok wanita Peri itu menimbulkan bayangan samar-samar di tanah. Cahaya bintang menyinari sebentuk cincin di jarinya; cincin itu gemerlap seperti emas yang dipoles berlapiskan cahaya perak, dan sebutir permata putih di dalamnya berkelip, seolah Bintang Malam sudah turun untuk beristirahat di tangan Galadriel Frodo memandang cincin itu dengan kagum, karena tiba-tiba ia merasa memahaminya.
"Ya," kata Galadriel, bisa menebak pikiran Frodo. "Ini tak boleh dibicarakan, dan Elrond tak bisa mengungkapkannya. Tapi hal ini tak bisa disembunyikan terhadap Pembawa Cincin, dan orang yang sudah melihat Mata itu. Memang di sinilah salah satu dari Tiga Cincin itu berada, di negeri Lorien, pada jari Galadriel. Ini Nenya, Cincin Keteguhan Hati, dan akulah penguasanya.
"Musuh curiga, tapi dia tidak tahu-belum. Tidakkah kau mengerti sekarang, bahwa kedatanganmu kemari seperti langkah Kiamat bagi kami? Karena kalau kau gagal, maka kita semua akan terungkap di depan Musuh. Tapi kalau kau berhasil, kekuatan kami akan berkurang, Lothlorien akan memudar, dan gelombang pasang Waktu akan menyapunya. Kami harus pergi ke Barat,

atau menyusut menjadi bangsa dusun di lembah dan gua, lambat laun melupakan dan dilupakan."
Frodo menundukkan kepalanya. "Dan apa yang kauharapkan?" katanya akhirnya.
"Bahwa apa yang harus terjadi, terjadilah," kata Lady Galadriel. "Kecintaan bangsa Peri kepada negeri dan pekerjaan mereka lebih dalam daripada kedalaman Lautan, dan penyesalan mereka tidak akan berakhir dan tak bisa sepenuhnya diredakan. Namun mereka lebih rela membuang semuanya daripada menyerah kepada Sauron: karena mereka sudah tahu, seperti apa dia. Kau tidak bertanggung jawab terhadap nasib Lothlorien, hanya terhadap pelaksanaan tugasmu sendiri. Meski begitu, aku berharap, seandainya ada manfaatnya, bahwa Cincin Utama tak pernah dibuat, atau hilang selamanya."
"Kau bijak dan berani, Lady Galadriel," kata Frodo. "Aku akan memberikan Cincin Utama ini padamu, kalau kau memintanya. Tugas ini terlalu besar untukku."
Galadriel tiba-tiba tertawa nyaring. "Lady Galadriel boleh bijak," katanya,

"namun kini dia bertemu tandingannya dalam hal basa-basi. Dengan lembut kau membalas dendam karena ujian yang kuberikan pada hatimu pada pertemuan kita yang pertama. Kau mulai memandang dengan mata tajam. Aku tidak mengingkari bahwa hatiku sangat mendambakan untuk meminta apa yang kautawarkan. Selama bertahun-tahun aku merenungi apa yang akan kulakukan, seandainya Cincin Utama jatuh ke tanganku, dan lihatlah! Dia dibawa ke dalam jangkauanku. Kejahatan yang diciptakan dahulu kala, bekerja dengan banyak cara, entah Sauron berjaya atau jatuh. Bukankah akan menjadi perbuatan mulia untuk menghargai Cincin itu, kalau aku mengambilnya dengan paksa atau dengan menakut-nakuti tamuku?
"Kini kesempatan itu datang juga. Kau mau memberikan Cincin itu dengan sukarela padaku! Di tempat sang Penguasa Kegelapan, kau akan mendudukkan seorang Ratu. Dan wujudku tidak akan gelap
tetapi cantik dan mengerikan, seperti Pagi dan Malam! Indah seperti

Samudra dan Matahari dan Salju di atas Ginning! Mengerikan seperti Badai dan

Petir! Lebih kuat daripada landasan-landasan bumi. Semua akan mencintaiku dan merasa putus asa!"
Lady Galadriel mengangkat tangannya, dan dari cincin yang dikenakannya keluar cahaya besar yang hanya menerangi dirinya, sementara semua yang lain menjadi gelap. Ia berdiri di depan Frodo, dan sekarang tampak tinggi tak terhingga, cantik tak tertahankan, mengerikan dan patut dipuja. Lain ia menurunkan tangannya, cahaya itu memudar, dan mendadak ia tertawa lag*, dan lihat! Ia sudah menyusut: kembali menjadi seorang wanita Peri, berpakaian putih sederhana, dengan suara lembut dan sedih.
"Aku lulus ujian," katanya. "Aku akan menyusut dan pergi ke Barat, tapi aku tetap Galadriel."


Lama sekali mereka berdiri diam. Akhirnya Galadriel berbicara lagi. "Mari kita kembali!" katanya. "Besok pagi kau barns berangkat, karena sekarang kita sudah memilih, dan gelombang nasib sudah mengalir."
"Aku ingin minta satu hal sebelum kami per-'," kata Frodo, "suatu hal yang

sering ingin kutanyakan pada Gandalf di Rivendell. Aku diizinkan memakai Cincin Utama: kenapa 'aku tak bisa melihat semua yang lain dan tahu pikiran mereka yang mengenakannya?"
"Kau belum mencoba," kata Galadriel. "Baru tiga kali kau memakai Cincin pada jarimu, sejak kau tahu benda apa yang kauwarisi itu. Jangan coba! Itu akan menghancurkanmu. Tidakkah Gandalf menceritakan padamu bahwa cincin- cincin itu memberikan kekuatan sesuai ukuran setiap pemiliknya? Sebelum kau bisa menggunakan kekuatan itu, kau barns menjadi jauh lebih kuat, dan melatih hasratmu untuk menguasai orang lain. Meski begitu, sebagai Pembawa Cincin dan sebagai orang yang sudah memakainya di jarinya, dan melihat apa yang tersembunyi, penglihatanmu sudah semakin tajam. Kau sudah melihat pikiranku jauh lebih jelas daripada banyak orang bijak. Kau melihat Mata dia yang memegang Tujuh Cincin dan Sembilan Cincin. Dan bukankah kau melihat dan mengenali cincin di jariku? Apakah kau melihat cincinku?" ia bertanya pada Sam. "Tidak, Lady," jawab Sam. "Sejujurnya, aku heran apa yang kalian

bicarakan. Aku melihat bintang melalui jarimu. Tapi maafkan aku, kupikir majikanku benar. Kuharap kau mau mengambil Cincin ini. Kau akan membuat semuanya jadi benar. Kau akan menghentikan mereka menggali rumah ayahku dan membuat dia terkatung-katung. Kau akan membuat orang-orang tertentu membayar kejahatan mereka."
"Memang," kata Lady Galadriel. "Begitulah pada mulanya. Tapi tidak akan berhenti sampai di situ, sayang sekali! Kita tidak akan membicarakannya lagi. Ayo kita pergi!"

BAB 8

SELAMAT TINGGAL LORIEN



Malam itu Rombongan dipanggil lagi ke istana Celeborn. Di sana Lord Celeborn dan Lady Galadriel menyambut mereka dengan kata-kata indah. Akhirnya Celeborn membicarakan keberangkatan mereka.
Katanya, "Sekaranglah saatnya mereka yang mau melanjutkan Pencarian

harus menguatkan hati untuk meninggalkan negeri ini. Mereka yang tak ingin melanjutkan, boleh tetap tinggal di sini, untuk sementara. Tapi entah mereka pergi atau tinggal, tak ada kepastian akan kedamaian. Karena sekarang kita sudah mendekati kiamat. Mereka yang mau, boleh menunggu di sini, hingga jalan dunia terbuka lagi, atau sampai kami mengumpulkan mereka untuk kebutuhan terakhir Lorien. Setelah itu mereka boleh kembali ke negeri mereka sendiri, atau pergi ke rumah peristirahatan lama untuk mereka yang jatuh dalam pertempuran."
Hening sekali. "Mereka semua bertekad terus maju," kata Galadriel yang menatap ke dalam mata mereka.
"Bagiku," kata Boromir, "jalan pulang ke rumahku ada di depan, dan bukan kembali."
"Itu benar," kata Celeborn, "tapi apakah seluruh Rombongan ini akan pergi bersamamu ke Minas Tirith?"
"Kami belum menentukan arah jalan kami, kata Aragorn. "Di luar Lothlorien, aku tidak tahu rencana Gandal£ Bahkan menurutku dia belum punya tujuan jelas."
"Mungkin tidak," kata Celeborn, "tapi kalau kau meninggalkan negeri ini, kau tidak bisa lagi melupakan Sungai Besar. Seperti beberapa di antara kalian sudah tahu, sungai itu tak bisa diseberangi pelancong yang membawa muatan di antara Lorien dan Gondor, kecuali dengan perahu. Dan bukankah jembatan- jembatan Osgiliath sudah putus dan semua pelabuhan sekarang dikuasai Musuh?
"Di sisi mana kalian akan berjalan? Jalan ke Minas Tirith terletak di sisi ini,

di barat; tapi jalan lurus Pencarian terletak di sebelah timur Sungai, di pantai yang lebih gelap. Pantai mana yang akan kalian ambil?"
"Kalau saranku diperhatikan, maka kami akan mengambil pantai barat, dan jalan ke Minas Tirith," jawab Boromir. "Tapi aku bukan pemimpin Rombongan." Yang lain tidak berbicara, Aragorn kelihatan ragu dan resah.
"Kulihat kau belum tahu harus melakukan apa," kata Celeborn. "Bukan bagianku untuk memilihkan bagimu; tapi aku akan mencoba membantumu sebisaku. Ada beberapa di antara kalian yang bisa menangani perahu: Legolas, yang bangsanya mengenal Sungai Forest yang deras; Boromir dari Gondor; dan Aragorn si pengembara."
"Dan satu hobbit!" teriak Merry. "Tidak semua dari kami memandang perahu seperti kuda liar. Keluargaku tinggal di tepi Brandywine."
"Bagus sekali," kata Celeborn. "Kalau begitu, aku akan melengkapi Rombongan-mu dengan perahu-perahu. Perahunya harus kecil dan ringan, sebab kalau kau pergi jauh melewati air, akan ada tempat-tempat di mana kau terpaksa menggotongnya. Kau akan sampai ke Air Terjun Sarn Gebir, dan mungkin akhirnya sampai ke air terjun besar Rauros, di mana Sungai mengguruh terjun dari Nen Hithoel; dan ada bahaya-bahaya lain. Perahu akan membuat perjalanan kalian tidak terlalu melelahkan, untuk sementara waktu. Tapi perahu itu tidak akan memberi kalian pertolongan: pada akhirnya kalian harus meninggalkannya dan keluar dari Sungai, membelok ke barat-atau timur."
Aragorn mengucapkan terima kasih banyak pada Celeborn. Pemberian perahu sangat menghibur hatinya, karena mereka jadi tak perlu menentukan arah untuk beberapa hari mendatang. Yang lain juga tampak lebih berpengharapan. Apa pun bahaya yang ada di depan, rasanya lebih baik mengambang melalui sungai lebar Anduin untuk menghadapinya, daripada berjalan susah payah dengan punggung, membungkuk. Hanya Sam yang agak ragu: setidaknya ia masih beranggapan perahu sama buruknya dengan kuda liar, atau lebih buruk lagi, dan tidak semua bahaya yang sudah dilaluinya membuatnya berpandangan lebih baik tentang perahu.
"Semuanya akan disiapkan untukmu, dan menunggu kalian di pelabuhan

sebelum tengah hari besok," kata Celeborn. "Aku akan mengirim anak buahku pada kalian untuk membantu mempersiapkan perjalanan. Sekarang kami doakan kalian semua malam yang indah dan tidur nyenyak."
"Selamat tidur kawan-kawanku!" kata Galadriel. "Tidurlah dengan damai! Jangan risaukan perjalanan kalian. Mungkin jalan yang masing-masing akan kalian lewati sudah terhampar di depan kalian, meski kalian tidak melihatnya. Selamat malam!"


Rombongan itu berpamitan dan kembali ke paviliun mereka. Legolas pergi bersama mereka, karena inilah malam terakhir mereka di Lothlorien, dan meski sudah mendengar kata-kata Galadriel tadi, mereka tetap ingin membicarakan perjalanan mereka bersama-sama.
Untuk waktu lama mereka berdebat tentang apa yang harus dilakukan, dan bagaimana cara terbaik mencoba memenuhi tujuan mereka dengan Cincin: tapi mereka tidak berhasil mencapai keputusan. Jelas sekali beberapa di antara mereka ingin pergi ke Minas Tirith dulu, untuk mengelak dari teror Musuh untuk sementara waktu. Mereka sebenarnya bersedia mengikuti seorang pemimpin menyeberangi Sungai dan masuk ke kegelapan Mordor; tapi Frodo tidak berbicara, dan Aragorn masih bercabang pikirannya.
Rencana Aragorn, ketika Gandalf masih bersama mereka, adalah pergi dengan Boromir, dan dengan pedangnya membantu menyelamatkan Gondor. Karena ia percaya pesan-pesan dalam mimpinya memang suatu panggilan, dan bahwa saatnya sudah tiba bag' pewaris Elendil untuk maju bertanding dengan Sauron, merebut kekuasaan. Tapi di Moria beban Gandalf beralih ke pundaknya; dan ia tahu ia tak bisa meninggalkan Cincin sekarang, kalau Frodo akhirnya menolak pergi dengan Boromir. Meski begitu, pertolongan apa yang bisa ia berikan pada Frodo, kecuali berjalan dengan membabi buta mendampinginya masuk ke kegelapan?
"Aku akan pergi ke Minas Tirith, sendirian kalau terpaksa, karena itu tugasku," kata Boromir. Setelah itu ia diam sejenak, duduk menatap Frodo, seolah mencoba membaca pikiran hobbit itu. Akhirnya ia berbicara lagi perlahan,

seolah berdebat dengan dirinya sendiri. "Kalau kau hanya ingin menghancurkan Cincin," katanya, "maka perang dan senjata tidak banyak gunanya; dan Orang- Orang Minas Tirith tak bisa membantu. Tapi kalau kau ingin menghancurkan kekuatan bersenjata Penguasa Kegelapan, maka bodoh sekali kalau kau masuk ke wilayahnya tanpa kekerasan; dan bodoh sekali untuk membuangnya." ia berhenti mendadak, seolah menyadari ia tengah mengucapkan pikirannya keras- keras. "Maksudku, bodoh sekali untuk membuang kehidupan dengan sia-sia," katanya. "Ini adalah pilihan antara mempertahankan tempat yang kuat dan berjalan terang-terangan masuk ke tangan kematian. Setidaknya, begitulah pendapatku."
Frodo menangkap sesuatu yang baru dan aneh dalam tatapan Boromir, dan ia memandang pria itu dengan tajam. Jelas pikiran Boromir berbeda dengan kata-katanya yang terakhir. Bodoh sekali untuk membuangnya? Membuang apa? Cincin Kekuasaan? ia pernah mengatakan hal semacam ini di Dewan, tapi kemudian ucapannya dikoreksi oleh Elrond. Frodo memandang Aragorn, tapi tampaknya Aragorn sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan tidak menunjukkan tanda bahwa ia mendengar kata-kata Boromir. Dengan demikian, debat mereka berakhir. Merry dan Pippin sudah tertidur, dan Sam mengangguk- angguk. Malam semakin larut.


Di pagi hari, saat mereka mulai mengemasi barang-barang mereka yang sedikit, beberapa Peri yang bisa berbicara bahasa mereka datang membawakan banyak hadiah, berupa makanan dan pakaian untuk perjalanan. Makanannya kebanyakan berupa kue yang sangat tipis, bagian dalamnya berwarna krem. Gimli mengambil salah satu kue dan memandangnya dengan ragu.
"Cram," katanya berbisik, lain ia mematahkan ujung yang garing dan mengunyahnya. Ekspresi wajahnya cepat berubah, dan ia memakan seluruh sisa kue itu dengan senang.
"Cukup, cukup!" seru para Peri sambil tertawa. "Kau sudah makan cukup untuk sehari perjalanan panjang."
"Kukira ini hanya semacam cram, seperti yang dibuat orang-orang Dale

untuk perjalanan di belantara," kata Gimli.

"Memang begitu," jawab mereka. "Tapi kami menyebutnya lembas atau waybread, roil perjalanan, dan ini lebih menguatkan daripada makanan mana pun yang dibuat Manusia, dan lebih lezat daripada cram."
"Memang begitu," kata Gimli. "Wah, bahkan lebih enak daripada kue madu kaum Beorning, dan itu merupakan pujian besar, karena kaum Beorning adalah tukang roti terbaik yang kukenal; tapi di masa kini mereka tidak bersedia membagi-bagikan kue mereka kepada pelancong. Kalian tuan rumah yang sangat baik hati!"
"Tapi kami sarankan kalian menghemat makanan itu," kata mereka. Makanlah sedikit saja setiap kali, dan hanya kalau dibutuhkan. Karena kue-kue ini diberikan untuk memenuhi kebutuhan kalian bila makanan lain tidak ada. Kue- kue ini akan tetap manis selama beberapa hari, kalau dibiarkan utuh dan tetap dalam bungkusan mereka, seperti sekarang ini. Satu kue cukup untuk membuat seorang pelancong bertahan selama satu hari kerja keras, meski dia salah satu Manusia jangkung dari Minas Tirith."
Kemudian para Peri membuka dan memberikan pada setiap anggota Rombongan pakaian yang mereka bawa. Untuk setiap orang sudah disediakan kerudung dan jubah, sesuai ukuran masing-masing, dari bahan semacam sutra yang ringan tapi hangat, hasil tenunan kaum Galadhrim. Sulit disebut warnanya: kelabu bernada senja di bawah pepohonan, dan kalau digerakkan, atau diletakkan di bawah cahaya lain, tampak hijau seperti daun yang remang- remang, atau cokelat seperti padang kosong di malam hari, perak-senja seperti air di bawah sinar bintang. Setiap jubah diikat di leher, den-an bros seperti daun hijau berurat perak.
"Apakah ini jubah sihir?" tanya Pippin, memandangnya dengan kagum. "Aku tidak tahu maksudmu," jawab pemimpin kelompok Peri. "Ini pakaian
indah, dan tenunannya bagus, karena dibuat di negeri ini. Memang ini jubah kaum Peri, kalau itu maksudmu. Daun dan dahan, air dan batu: mereka memiliki warna dan keindahan semua itu, di bawah senja Lorien yang kami cintai; karena kami memasukkan pikiran tentang semua yang kami cintai ke dalam segala

sesuatu yang kami buat. Tapi ini pakaian, bukan senjata, dan tidak bisa menangkis batang tombak atau mata pisau. Tapi mereka akan sangat berguna: ringan dipakai, dan cukup hangat atau sejuk, sesuai kebutuhan. Dan kau akan menyadari bahwa pakaian ini akan sangat membantumu menyembunyikan diri dari pandangan mata yang tidak ramah, baik kau berjalan di antara bebatuan atau pepohonan. Kalian benar-benar sangat disayangi Lady! Karena dia sendiri dan gadis-gadis pelayannya yang menenun bahan ini; dan belum pernah kami memakaikan pakaian bangsa kami sendiri pada orang asing."


Setelah makan pagi, Rombongan itu pamit kepada halaman dekat air mancur. Hati mereka terasa berat; karena tempat itu indah sekali, dan sudah terasa seperti rumah sendiri, meski mereka tak bisa menghitung siang dan malam yang sudah mereka lewatkan di sana. Saat mereka berdiri sejenak memandang air putih di bawah sinar matahari, Haldir datang mendekati, melintasi rumput hijau lapangan itu. Frodo menyambutnya dengan gembira.
"Aku sudah kembali dari Pagar-Pagar Utara," kata Peri itu, "dan aku sekarang dikirim untuk menjadi pemandu kalian lagi. Lembah Dimrill penuh nap dan awan asap, dan pegunungannya resah. Ada bunyi berisik dari dalam bumi. Seandainya ada di antara kalian yang berniat pulang ke utara, ke rumah kalian, kalian takkan mungkin melewati jalan itu. Tapi marilah! Jalan kalian sekarang ke selatan."
Ketika mereka melewati Caras Galadhon, jalan-jalan yang hijau tampak kosong; tapi di pepohonan di atas banyak suara bergumam dan bernyanyi. Mereka sendiri berjalan diam. Akhirnya Haldir menuntun mereka menuruni lereng-lereng selatan bukit, dan mereka kembali mendekati gerbang besar yang digantungi lampu-lampu, dan ke jembatan putih; dan begitulah, mereka keluar dan pergi dari kota bangsa Peri. Lalu mereka keluar dari jalan berubin dan men- ambil rute yang masuk ke gerombolan pohon mallorn yang rapat, dan berjalan terus, melewati wilayah hutan berbayang-bayang keperakan, terus-menerus turun, ke selatan dan ke timur, menuju tebing Sungai.
Mereka sudah berjalan sekitar sepuluh mil, dan tengah hari telah

menjelang ketika mereka tiba di sebuah tembok hijau yang tinggi. Melalui sebuah bukaan, tiba-tiba mereka sudah keluar dari antara pepohonan. Di depan mereka terhampar halaman panjang rumput yang bersinar-sinar, bertatahkan elanor emas yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Halaman itu menjulur sampai ke suatu lidah sempit di antara pinggiran yang cerah: di sebelah kanan dan barat, Silverlode mengalir kemilau; di sebelah kiri dan timur, Sungai Besar mengalunkan airnya yang luas, dalam, dan gelap. Di pantai seberang, hutan masih membentang ke selatan, sejauh mata memandang, tapi semua tebing kosong dan gersang. Tak ada mallorn yang merentangkan dahan-dahan bermuatan emas di luar Negeri Lorien.
Di tebing Silverlode, agak jauh dari tempat pertemuan sungai, ada dermaga dari batu dan kayu putih. Banyak perahu dan tongkang berlabuh di sana. Beberapa dicat dengan warna cerah, dan gemerlap dengan perak, emas, dan hijau, tapi kebanyakan hanya kelabu atau putih. Tiga perahu kelabu kecil sudah disiapkan bagi para pelancong, dan ke dalamnya para Peri menaikkan bawaan mereka. Mereka juga menambahkan gulungan tambang, tiga gulling untuk setiap perahu. Tampak ramping, tapi kuat, terasa seperti sutra, berwarna kelabu seperti jubah-jubah Peri.
"Apa ini?" tanya Sam, memegang satu yang tergeletak di rumput.

"Itu tambang!" jawab para Peri dari atas perahu. "Jangan pernah berjalan jauh tanpa membawa tambang! Dan harus yang kuat dan ringan. Tambang ini kuat dan ringan. Akan membantu dalam banyak kebutuhan."
"Kau tak perlu mengatakan itu padaku!" kata Sam. "Aku datang tanpa

membawa tambang satu pun, dan aku cemas selama iii. Tapi aku bertanya- tanya, tambang ini dibuat dari bahan apa, karena aku tahu sedikit tentang pembuatan tambang; sudah kebiasaan dalam keluargaku, bisa dikatakan begitu.”
"Tambang ini terbuat dari hithlain," kata Peri itu, "tapi sekarang tak ada waktu untuk mengajarimu seni pembuatannya. Seandainya kami tahu keterampilan ini kausukai, kami bisa banyak mengajarimu. Sayang sekali! Kecuali suatu saat kau kembali ke sini, kau harus puas dengan pemberian kami

ini. Mudah-mudahan berguna bagimu!"

"Ayo!" kata Haldir. "Semua sudah siap. Masuklah ke perahu! Tapi hati- hatilah pada mulanya!"
"Perhatikan kata-katanya!" kata Peri-Peri yang lain. "Perahu-perahu ini ringan dan andal, tidak seperti perahu bangsa lain. Tidak akan karam, meski bermuatan penuh; tapi mereka akan melawan bila diperlakukan kasar. Sebaiknya kalian membiasakan diri naik-turun dari perahu, selagi ada tempat berlabuh di sini, sebelum kalian berangkat mengikuti aliran sungai."


Rombongan diatur sebagai berikut: Aragorn, Frodo; dan Sam dalam satu perahu; Boromir, Merry, dan Pippin di perahu lain; perahu ketiga diisi Legolas dan Gimli, yang sudah menjadi sahabat kental sekarang. Di perahu terakhir inilah sebagian besar barang dan bungkusan dimasukkan. Perahu-perahu digerakkan dan dikemudikan dengan dayung pendek berbilah lebar berbentuk daun. Ketika semua sudah siap, Aragorn memimpin mereka sebagai percobaan melalui Silverlode. Alirannya deras, dan mereka maju perlahan. Sam duduk di haluan, memegang pinggiran perahu, dan memandang sedih ke arah pantai. Matahari yang berkilauan di permukaan air menyilaukan matanya. Saat mereka melewati padang hijau Tongue, pepohonan melengkung ke bawah, sampai menyentuh tepian sungai. Di sana-sini daun-daun keemasan berputar mengambang di atas aliran sungai yang beriak. Udara sangat cerah dan tenang, dan hening sekali, kecuali nyanyian bernada tinggi dari burung-burung lark di kejauhan.
Mereka mengikuti tikungan tajam di sungai, dan di sana, berlayar gagah di depan, menuju ke arah mereka, tampak seekor angsa besar. Air beriak-riak di kedua sisi dadanya yang putih, di bawah lehernya yang melengkung. Paruhnya mengilat seperti emas yang dipoles, dan matanya bersinar bagai permata hitam yang dipasang di tengah permata kuning; sayapnya yang besar dan putih setengah terangkat. Musik mengalun melintasi sungai ketika ia mendekat, dan mendadak mereka menyadari bahwa itu sebuah kapal, dibangun dan diukir dengan keterampilan Peri hingga menyerupai seekor angsa. Dua Peri berpakaian putih mengemudikannya dengan kayuh hitam. Di tengah kapal duduk

Celeborn, dan di belakangnya berdiri Galadriel, jangkung dan putih; di rambutnya ada rangkaian bunga emas, di tangannya ia memegang harpa, dan ia bernyanyi. Sedih dan manis bunyi suaranya, di udara yang jernih dan sejuk:


Tentang dedaunan aku bernyanyi, daun-daun emas, daun-daun emas yang tumbuh di sana
Tentang angin aku bernyanyi, angin yang datang dan membuat terlena.

Di bawah Matahari, di bawah rembulan, berbuih-buih Lautan luas, Dan di pantai Ilmarin tumbuh sebatang Pohon emas.
Di bawah bintang-bintang Ever-eve ia bersinar, Di samping tembok Elven Tirion, di Eldamar Daun-daun emasnva lama tumbuh di sana,
Namun di seberang Samudra, Peri-Peri menitikkan air mata.

Oh Lorien! Musim dingin t'lah tiba, Hari yang gersang dan tak berdaun; Daun-daun berguguran ke dalam air, namun Sungai terus bergerak
mengalun.

Oh Lorien! Terlalu lama pantaimu kutinggalkan,

Dan bunga elanor emas, mahkotanya mulai memudar perlahan, Ingin kubernyanyi tentang kapal, tapi kapal apa 'kan datang padaku, Kapal apa mau membawaku, menyeberangi Samudra seluas itu?


Aragorn menghentikan perahunya ketika Kapal Angsa itu sampai di sampingnya. Lady Galadriel mengakhiri nyanyiannya dan menyalami mereka. "Kami datang untuk mengucapkan selamat jalan," katanya, . "dan mengantar kalian dengan berkat dari negeri ini."
"Meski kalian sudah menjadi tamu kami," kata Celeborn, "kalian belum makan bersama kami, maka 'dari itu kami mengundang kalian ke pesta perpisahan, di sini... di antara air mengalir yang akan membawa kalian jauh dari Lorien."
Angsa itu bergerak perlahan menuju dermaga. Mereka memutar perahu dan mengikutinya. Di sana, di ujung Egladil, di hamparan rumput hijau, pesta

perpisahan berlangsung; tapi Frodo hanya sedikit makan dan minum; ia lebih banyak memperhatikan kecantikan Lady Galadriel dan suaranya. Galadriel tidak lagi tampak berbahaya atau mengerikan, sosoknya pun tidak tampak menyimpan kekuatan tersembunyi. Di mata Frodo, ia kelihatan nyata sekaligus tidak nyata, bagaikan pemandangan yang hidup dari sesuatu yang telah ditinggalkan jauh di belakang, oleh aliran sungai Waktu; sosok Peri yang seperti itulah yang sesekali masih terlihat oleh manusia di belakang hari.


Setelah mereka makan dan minum, sambil duduk di rumput, Celeborn berbicara lagi tentang perjalanan mereka, dan sambil mengangkat tangannya ia menunjuk ke selatan, ke hutan-hutan di luar Tongue.
"Kalau kalian melalui air," katanya, "kalian tidak akan menemukan pepohonan lagi. Kalian akan sampai ke sebuah negeri gersang. Di sana Sungai mengalir di lembah berbatu di tengah dataran tinggi gersang, dan setelah bermil- mil dia sampai ke pulau tinggi Tindrock, yang kami sebut Tol Brandir. Di sana dia menjulurkan lengannya ke tebing curam pulau itu, lalu jatuh dengan berisik dan penuh asap melewati air terjun Rauros, turun ke Nindalf, yang dalam bahasa kalian disebut Wetwang. Itu adalah wilayah luas tanah berair, di mana aliran sungai jadi berbelit-belit dan banyak terbagi. Di sana Entwash mengalir masuk dari banyak muara di Hutan Fangorn di barat. Sekitar sungai itu, di sisi sebelah sini Sungai, terletak Rohan. Di sisi yang lebih jauh terdapat bukit-bukit gersang Emyn Muil. Angin bertiup dari Timur di sana, karena bukit-bukit itu memandang ke luar, melewati Rawa-Rawa Mati dan negeri-negeri Noman, sampai Cirith Gorgor dan gerbang-gerbang hitam Mordor.
"Boromir, dan siapa pun yang akan pergi bersamanya mencari Minas Tirith, sebaiknya meninggalkan Sungai Besar di atas Rauros dan menyeberangi Entwash sebelum sampai ke rawa-rawa. Tapi jangan terlalu jauh mengarungi sungai itu, juga jangan mengambil risiko tersesat di Hutan Fangorn. Itu negeri aneh, dan sekarang hanya sedikit dikenal. Tapi Boromir dan Aragorn pasti tidak membutuhkan peringatan ini."
"Memang kami sudah mendengar tentang Fangorn di Minas Tirith," kata

Boromir. "Tapi dari apa yang pernah kudengar, tampaknya kebanyakan berupa dongeng nenek-nenek, seperti yang kita ceritakan pada anak-anak kita. Semua yang letaknya di sebelah Utara Rohan sekarang begitu jauh dari kami, sehingga khayalan bisa bergerak bebas. Sejak dulu Fangorn berada di perbatasan dunia kita; tapi sudah lama sekali berlalu, sejak ada di antara kami yang mengunjunginya, untuk membuktikan kebenaran ataupun ketidakbenaran legenda-legenda yang sudah turun-temurun dari zaman dulu.
"Aku sendiri sesekali ke Rohan, tapi aku belum pernah melewatinya ke arah utara. Ketika aku dikirim sebagai utusan, aku melewati Celah di kaki Pegunungan Putih, melintasi Isen dan Greyflood, masuk ke Northerland. Perjalanan panjang dan melelahkan. Empat ratus league jaraknya, dan makan waktu berbulan-bulan; karena aku kehilangan kudaku di Tharbad, di tempat dangkal Greyflood. Setelah perjalanan itu, dan jalan yang kulalui bersama Rombongan ini, aku tidak ragu bahwa aku bisa menemukan jalan melalui Rohan, dan Fangorn juga, kalau terpaksa."
"Kalau begitu, aku tak perlu mengatakan apa-apa lagi." kata Celeborn. "Tapi jangan meremehkan pengetahuan yang sudah turun-temurun; karena sering kali nenek-nenek tua mengingat hal-hal yang dulu memang perlu diketahui orang-orang bijak."


Kini Galadriel bangkit dari rumput. Sambil mengambil cangkir dari salah seorang dayang-dayangnya, ia mengisinya dengan anggur madu putih dan memberikannya pada Celeborn.
"Kini saatnya minum anggur perpisahan," kata Galadriel. "Minumlah, Lord

Galadhrim! Dan janganlah hatimu sedih, meski malam harus mengikuti siang, dan senja sudah menjelang."
Lalu ia membawa cangkir itu kepada masing-masing anggota Rombongan, dan memohon mereka meminumnya, serta mengucapkan selamat jalan pada mereka. Tapi, setelah mereka minum, ia menyuruh mereka duduk lagi di rumput. Kursi-kursi dibawa untuk Galadriel dan Celeborn. Dayang-dayangnya berdiri diam di sekitarnya, dan sejenak ia menatap tamu-tamunya. Akhirnya ia

berbicara lagi.

"Kita sudah minum dari cangkir perpisahan," katanya, "dan kegelapan jatuh di antara kita. Tapi, sebelum kalian pergi, aku membawa banyak hadiah di kapalku, untuk diberikan pada kalian oleh Lord dan Lady Galadhrim, sebagai kenang-kenangan kepada Lorien." Lalu ia memanggil mereka bergantian.
"Ini hadiah dari Celeborn dan Galadriel kepada pemimpin Rombongan," katanya kepada Aragorn; lalu ia memberikan sebuah sarung pedang yang dibuat sesuai ukuran pedangnya. Sarung itu berhiaskan gambar bunga-bunga dan daun-daun terbuat dari perak dan emas, di atasnya, dalam lambang Peri yang dibentuk oleh batu-batu permata, tertulis nama Anduril dan garis keturunan pedang itu.
"Pedanyang dihunus dari sarung ini tidak akan ternoda atau patah, bahkan bila kalah," katanya. "Tapi adakah hal lain yang kauinginkan dariku pada perpisahan ini? Karena kegelapan akan mengalir di antara kita, dan mungkin kita tidak akan bertemu lagi, kecuali jauh di sana, di suatu jalan yang tak ada jalur kembali."
Aragorn menjawab, "Lady, kau tahu semua hasratku, dan sudah lama kau menyimpan harta satu-satunya yang kucari. Namun bukan hakmu untuk memberikannya padaku, meski kau mau; hanya melalui kegelapan aku bisa mencapainya."
"Namun mungkin ini akan meringankan hatimu," kata Galadriel, "karena benda ini diberikan padaku untuk dirawat dan disimpan untuk diberikan kepadamu, seandainya kau melalui negeri ini." Lalu dari pangkuannya ia mengambil sebuah batu besar berwarna hijau bening, dipasang pada sebuah bros perak yang ditempa dalam bentuk elang dengan sayap terkembang; ketika ia mengangkatnya, perhiasan itu bersinar seperti cahaya matahari melalui dedaunan musim semi. "Batu ini dulu kuberikan kepada Celebrian, putriku, dan dia memberikannya kepada putrinya; sekarang dia datang kepadamu sebagai tanda harapan. Saat ini terimalah nama yang sudah diramalkan bagimu, Elessar, batu Peri dari rumah Elendil!"
Aragorn mengambil batu itu dan memasang bros di dadanya, dan mereka

yang melihatnya terkagum-kagum: karena sebelumnya mereka tidak memperhatikan betapa jangkung dan gagah sosok Aragorn, seperti seorang raja. Mereka juga melihat seolah-olah perjalanan tahun yang keras lepas dari pundaknya. "Untuk hadiah-hadiah yang kauberikan padaku, aku mengucapkan terima kasih," kata Aragorn. "Oh, Lady Lorien, dari siapa turun Celebrian dan Arwen Evenstar. Bagaimana lagi bisa kunaikkan puji-pujian?"
Galadriel menundukkan kepalanya, kemudian beralih kepada Boromir, dan kepadanya ia memberikan ikat pinggang emas; kepada Merry dan Pippin ia memberikan ikat pinggang kecil dari perak, masing-masing dengan gesper yang ditempa menyerupai bunga emas. Kepada Legolas ia memberikan busur sama den-an yang digunakan bangsa Galadhrim, lebih panjang dan kokoh daripada panah Mirkwood, dan diikat dengan seutas rambut Peri. Bersama itu diberikannya juga setabung anak panah.
"Untukmu, tukang kebun kecil dan pecinta pohon," kata Galadriel pada Sam, "aku hanya punya hadiah kecil." ia meletakkan ke tangan Sam sebuah kotak kecil dari kayu kelabu polos, tidak berhias, kecuali satu lambang perak di tutupnya. "Ini huruf G untuk Galadriel," katanya, "tapi juga bisa berarti 'kebun' dalam bahasamu. Di dalam kotak ini ada tanah dari kebun buah-buahanku, dan berkat yang masih bisa dilimpahkan Galadriel ada di dalamnya. Tanah ini tidak akan membuatmu bertahan di jalan, atau membelamu terhadap bahaya; tapi kalau kau menyimpannya dan kelak kau kembali pulang, mungkin dia baru menunjukkan manfaatnya. Meski lingkungan sekitarmu gersang dan kosong, kebunmu akan menjadi satu dari sedikit kebun paling indah di Dunia Tengah, kalau kau menaburkan tanah itu di sana. Lalu kau akan ingat pada Galadriel, dan kau akan melihat sekilas pemandangan di Lorien dari jauh, yang hanya kausaksikan di saat musim din,-In. Sebab musim semi dan musim panas kami sudah lewat, dan takkan terlihat lagi di dunia, kecuali dalam ingatan."
Wajah Sam memerah sampai ke telinganya, dan ia menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar, ketika ia memegang erat kotak itu dan membungkuk sebagus mungkin.
"Dan hadiah apa yang akan diminta seorang Kurcaci dari ban-sa Peri?"

tanya Galadriel kepada Gimli.

"Tidak ada, Lady," jawab Gimli. "Sudah cukup bagiku telah melihat Lady bangsa Galadhrim, dan mendengarkan kata-katanya yang lembut."
"Dengar itu, hat para Peri!" seru Galadriel kepada semua di sekitarnya. "Jangan ada lagi yang mengatakan bahwa Kurcaci adalah bangsa yang rakus dan tidak tahu berterima kasih! Tapi Gimli, putra Min, pasti ada sesuatu yang kauinginkan, yang bisa kuberikan. Sebutkan, kumohon! Kau tidak boleh menjadi satu-satunya tamu tanpa hadiah."
"Tidak ada, Lady Galadriel," kata Gimli, membungkuk rendah dan berbicara terbata-bata. "Tidak ada, kecuali kalau boleh kecuali diizinkan untuk meminta... maksudku untuk menyebut... satu helai rambutmu yang keindahannya melebihi emas di bumi, seperti bintang melebihi permata-permata dari tambang. Aku tidak layak meminta hadiah seperti itu. Tapi kau memerintahkan aku untuk menyebutkan hasratku."
Para Peri tersentak dan bergumam kaget, dan Celeborn menatap Kurcaci itu dengan heran, tapi Galadriel tersenyum. "Konon keterampilan bangsa Kurcaci ada pada tangan mereka, bukan pada lidah," katanya, "tapi itu tidak berlaku bagi Gimli. Karena belum pernah ada yang mengajukan permintaan yang begitu berani, namun begitu sopan. Dan bagaimana aku bisa menolak, karena aku yang memerintahkannya berbicara? Tapi katakan padaku, apa yang akan kaulakukan dengan hadiah seperti itu?"
"Menyimpannya dengan hati-hati, Lady," jawab Gimli, "sebagai kenangan terhadap kata-katamu pada pertemuan kita yang pertama. Dan kalau aku suatu saat nanti kembali ke tukang pandai besi di rumah, maka rambut itu akan diawetkan dalam kristal yang tak bisa hancur, untuk menjadi pusaka rumahku, dan sebagai ikrar iktikad baik antara wilayah Gunung dan Hutan, sampai akhir zaman." Lalu Galadriel membuka salah satu jalinan rambutnya yang panjang, memotong tiga helai rambut emas, dan meletakkannya di tangan Gimli. "Kukatakan padamu, bersama dengan pemberian ini," katanya. "Aku tidak meramal, karena semua ramalan sekarang sia-sia: di satu pihak ada kegelapan, dan di pihak lain hanya harapan. Tapi kalau harapan akhirnya menang, maka

kukatakan padamu, Gimli putra Gloin, bahwa tanganmu akan dialiri emas, namun emas itu tidak akan menguasai hatimu.
"Dan kau, Pembawa Cincin," kata Galadriel, berbicara pada Frodo. "Aku mendatangimu terakhir, meski tempatmu bukan yang terakhir dalam pikiranku. Untukmu aku sudah menyiapkan ini." ia mengangkat sebuah tabung kecil dari kristal: berkilauan ketika ia menggerakkannya, dan sinar-sinar putih keluar dari tangannya. "Dalam tabung ini," katanya, "ada cahaya bintang Earendil, dimasukkan ke dalam air dari air mancurku. Dia akan bersinar lebih terang pada malam hari. Semoga ini menjadi cahaya bagimu di tempat-tempat gelap, ketika semua cahaya lain padam. Ingatlah Galadriel dan Cermin-nya!"
Frodo menerima tabung itu, dan untuk beberapa saat, ketika tabung itu bersinar di antara mereka, ia sekali lagi melihat Galadriel berdiri seperti ratu, agung dan cantik, namun tak lagi mengerikan. Ia membungkuk, dan tak bisa menemukan kata-kata untuk diucapkan.


Setelah itu Galadriel bangkit berdiri, dan Celeborn menuntunnya kembali ke dermaga. Tengah hari yang kuning menggantung di atas daratan hijau Tongue, dan air berkilau keperakan. Semuanya akhirnya siap. Rombongan itu menempati tempat masing-masing, seperti tadi. Sambil meneriakkan salam perpisahan, para Peri dari Lorien mendorong mereka keluar ke air yang mengalir, dengan tongkat panjang kelabu, dan air yang beriak perlahan-lahan membawa mereka pergi. Para pengembara itu duduk diam, tak bergerak ataupun berbicara. Di tebing hijau dekat ujung Tongue, Lady Galadriel berdiri sendirian dan diam. Saat melewatinya mereka menoleh, dan mata mereka memperhatikannya perlahan mengambang menjauh dari mereka. Sebab seperti itulah tampaknya bagi mereka: Lorien menyelinap mundur, seperti kapal cemerlang dengan pohon- pohon sihir sebagai tiang, berlayar ke pantai-pantai terlupakan, sementara mereka duduk tak berdaya di perbatasan dunia yang kelabu tanpa dedaunan.
Sementara mereka memandang, Silverlode mengalir keluar ke aliran Sungai Besar, perahu-perahu mereka membelok dan mulai melaju ke selatan. Tak lama kemudian, sosok putih Lady Galadriel menjadi kecil dan jauh. Ia

bercahaya seperti jendela kaca di atas bukit, jauh di bawah matahari yang sedang terbenam, atau seperti danau di kejauhan,
yang terlihat dari gunung: sebuah kristal yang jatuh ke pangkuan bumi. Frodo merasa melihat Galadriel mengangkat tangannya sebagai perpisahan terakhir, dan jauh tapi tajam, suaranya yang jernih terdengar, bernyanyi menunggang angin. Tapi kini ia bernyanyi dalam bahasa Peri kuno dari seberang Laut, dan Frodo tak mengerti kata-katanya: musiknya indah, namun tidak menghiburnya.
Tapi kata-kata Peri itu akan selalu terpatri dalam ingatan Frodo, dan jauh setelahnya ia menerjemahkannya, sebisa mungkin: bahasanya seperti bahasa Peri dalam lagu, dan menceritakan hal-hal yang hanya sedikit diketahui di Dunia Tengah.


Ai! laurie lantar lassi surinen, yeni unotime ve ramar aldaron! Yeni ve linte yuldar avanier
mi oromardi lisse-miruvoreva Andune pella, Vardo tellumar nu luini yassen tintilar I eleni omaryo airetari-lirinen.


Si man I yulma enquantuva?



An si Tintalle Varda Oisolosseo ve fanyar maryat Elentari ortane ar ilye tier undulave lumbule;
ar sindanoriello caita mornie

I falmalinnar imbe met, ar hisie untupa Calaciryo miri oiale.
Si vanwa na, Romello vanwa, Valimar!

Namarie! Nai hiruvalye Valimar. Nai elye hiruva. Namarie!


"Ah! Bagaikan emas, daun-daun berjatuhan dalam tiupan angin, tahun- tahun panjang seperti sayap pepohonan! Tahun-tahun panjang sudah berlalu, seperti tegukan cepat anggur manis di aula-aula megah di luar Barat, di bawah kubah-kubah Varda di mana bintang-bintang bergetar dalam nyanyiannya, suci dan agung. Siapa sekarang akan mengisi kembali cangkir untukku? Karena kini si Pembuat Api, Varda, Ratu Bintang, dari Gunung Everwhite, mengangkat tangannya seperti awan, dan semua jalan terbenam dalam kegelapan; dan di luar negeri kelabu itu kegelapan menutupi ombak berbuih di antara kita, dan kabut menyelubungi permata Calacirya untuk selamanya. Kini Valimar hilang, hilang dari Timur! Selamat tinggal! Mungkin kau akan menemukan Valimar. Mungkin kau akan menemukannya. Selamat tinggal!" Varda adalah nama Lady yang oleh bangsa Peri di negeri terasing ini disebut Elbereth.


Mendadak aliran Sungai membelok, tebingnya naik di kedua sisi, dan cahaya

Lorien pun tersembunyi. Ke negeri elok itu Frodo tak pernah lagi kembali.

Para pengembara itu sekarang menghadapi perjalanan mereka; matahari ada di depan, dan mata mereka silau, karena semuanya tergenang air mata. Gimli menangis terang-terangan.
"Aku telah melihat pemandangan terindah, untuk terakhir kali," katanya kepada Legolas, sahabatnya. "Mulai sekarang takkan ada yang indah bagiku, kecuali hadiahnya." ia meletakkan tangannya di dada.
"Katakan padaku, Legolas, kenapa aku ikut dalam Pencarian ini? Aku sama sekali tidak tahu, di mana bahayanya yang utama! Elrond berkata benar, bahwa kita takkan bisa meramalkan apa yang bakal kita temui di jalan. Siksaan dalam gelap adalah bahaya yang kutakuti, namun itu tidak menahanku untuk ikut. Tapi aku tidak akan ikut seandainya aku tahu bahaya kebahagiaan dan cahaya. Sekarang aku menderita luka paling parah dalam perpisahan ini, kalaupun malam ini juga aku langsung dihadapkan pada sang Penguasa

Kegelapan. Aduh, malangnya Gimli putra Gloin!"

"Tidak!" kata Legolas. "Malang kita semua! Dan semua yang mengembara di dunia, di hari-hari masa sisa ini. Karena begitulah keadaannya: menemukan dan kehilangan, seperti yang dialami mereka yang perahunya melaju di air. Tapi menurutku kau termasuk diberkati, Gimli putra Gloin: sebab kehilanganmu kauderita atas kemauan sendiri, padahal kau bisa saja memilih yang lain. Tapi kau tidak meninggalkan kawan-kawanmu, dan setidaknya imbalan yang akan kauterima adalah bahwa ingatan kepada Lothlorien akan selalu jelas tak bernoda di dalam hatimu, tak akan mengabur atau membusuk."
"Mungkin," kata Gimli, "dan terima kasih atas kata-katamu. Kata-kata yang tulus, tapi semua penghiburan seperti itu dingin rasanya. Kenangan bukanlah apa yang kuinginkan. Kenangan hanya seperti cermin, meski sejernih Kheled- zaram. Begitulah menurut kata hati Gimli si Kurcaci. Bangsa Peri mungkin punya pandangan lain. Memang kudengar bahwa bagi mereka, ingatan lebih seperti dunia alam sadar daripada seperti mimpi. Namun tidak demikian halnya bagi Kurcaci.
"Tapi sudahlah, jangan kita bicarakan lagi hal itu. Perhatikan perahu! Dia terlalu rendah masuk ke air, dengan semua muatan ini, dan Sungai Besar deras alirannya. Aku tak ingin membenamkan kesedihanku di dalam air dingin." ia mengangkat sebuah dayung, dan mengemudi ke arah tebing barat, mengikuti perahu Aragorn di depan, yang sudah bergerak keluar dari aliran tengah.
Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan panjang mengarungi sungai deras, terus menuju selatan. Pohon-pohon gundul menjulang di sepanjang tebing di kedua sisi, dan mereka tak bisa melihat sama sekali daratan di belakangnya. Angin berhenti dan Sungai terus mengalir tanpa suara. Tak ada cericip burung memecah kesunyian. Matahari jadi berkabut ketika hari semakin sore, sampai ia bersinar di langit pucat seperti mutiara putih tinggi. Lalu ia memudar ke Barat, dan senja datang dengan cepat, disusul malam kelabu tak berbintang. Sampai larut malam mereka mengapung jauh, mengemudikan perahu di bawah bayangan hutan yang menggantung di atas. Pohon-pohon besar lewat bagai hantu-hantu, menjorokkan akar-akar mereka yang terpelintir

dan haus ke dalam air dari balik kabut. Dingin dan suram. Frodo duduk mendengarkan pukulan dan geluguk lemah Sungai yang resah di antara akar- akar pepohonan dan kayu apung dekat pantai, sampai kepalanya mengangguk- angguk dan ia tertidur gelisah.

BAB 9

SUNGAI BESAR



Frodo dibangunkan Sam. Ia menemukan dirinya terbaring, diselimuti dengan baik, di bawah pohon-pohon tinggi berkulit kelabu di sebuah pojok tenang, di hutan tebing barat Sungai Besar Anduin. Ia sudah tidur sepanjang malam, dan cahaya kelabu pagi tampak redup di antara dahan-dahan gundul. Gimli sedang sibuk dengan api kecil di dekatnya.
Mereka berangkat lagi sebelum pagi merebak. Bukan karena kebanyakan anggota Rombongan ingin terburu-buru pergi ke selatan: mereka puas bahwa keputusan yang harus mereka ambit, paling lambat saat mereka sampai ke Rauros dan Pulau Tindrock, masih beberapa hari di depan; dan mereka membiarkan Sungai itu membawa mereka dengan kecepatannya sendiri, tanpa ingin mempercepat perjalanan menuju bahaya yang ada di depan, arah mana pun yang mereka pilih pada akhirnya. Aragorn membiarkan mereka mengapung mengikuti aliran sungai sekehendak mereka, menghemat tenaga menghadapi keletihan yang akan datang. Tapi ia menuntut setidaknya mereka berangkat awal setup pagi, dan berjalan sampai larut sore; karena dalam hati ia merasa waktu sudah mendesak, dan ia khawatir sang Penguasa Kegelapan tidak berdiam diri ketika mereka berlama-lama di Lorien.
Meski demikian, mereka tidak melihat tanda-tanda ada musuh pada hari itu, atau keesokannya. Jam-jam menjemukan yang kelabu berlalu tanpa kejadian apa-apa. Ketika hari ketiga perjalanan mereka berlanjut, daratan lambat laun berubah: pohon-pohon semakin jarang, kemudian sama sekali hilang. Di tebing timur sebelah kiri, mereka melihat lereng-lereng panjang tak berbentuk, mendaki ke atas, menuju langit; cokelat dan layu tampaknya, seolah bekas diterjang api, tidak menyisakan sehelai pun kehijauan: suatu tanah kosong yang tidak ramah, tanpa satu pun pohon patah atau bebatuan kokoh untuk mengisi kekosongannya. Mereka telah tiba di Negeri-Negeri Cokelat yang terbentang luas dan kosong, antara Mirkwood Selatan dari bukit-bukit Emyn Mull. Entah wabah atau perang atau kejahatan apa dari Musuh yang telah menghancurkan

wilayah itu, bahkan Aragorn pun tidak tahu.

Di sisi barat sebelah kiri, tanahnya juga tak berpohon, namun datar. Di banyak tempat, ada kehijauan dengan padang-padang rumput luas. Di sisi Sungai ini mereka melewati hutan-hutan alang-alang tinggi, begitu tinggi hingga menutupi seluruh pemandangan ke barat, ketika perahu-perahu kecil itu berdesir melewati tepi sungai yang bergetar. Bulu-bulu alang-alang yang layu membengkok dan bergoyang dalam udara dingin, mendesis perlahan dan sedih. Di sana-sini, melalui bukaan, Frodo bisa melihat sekilas padang-padang terhampar, jauh di belakangnya berdiri bukit-bukit di bawah matahari terbenam, dan jauh di batas penglihatan ada sebuah garis gelap, di mana berdiri berbaris punggung-punggung selatan Pegunungan Berkabut.
Tak ada tanda-tanda makhluk hidup yang bergerak, kecuali burung. Banyak sekali burung: unggas-unggas kecil bersiul dan berbunyi nyaring di tengah alang-alang, tapi jarang tampak. Sekali-dua kali para pengembara itu mendengar kepakan dan desiran sayap angsa. Ketika menengadah, mereka melihat sekawanan besar angsa terbang di angkasa.
"Angsa!" kata Sam. "Dan sangat besar pula!" "Ya," kata Aragorn, "dan mereka angsa hitam."
"Betapa luas dan kosong, dan menyedihkan negeri ini!" kata Frodo. "Aku selalu membayangkan bahwa kalau kita berjalan ke selatan, suasana akan semakin hangat dan gembira, sampai musim dingin tertinggal di belakang untuk selamanya."
"Tapi kita belum berjalan jauh ke selatan," jawab Aragorn. "Sekarang masih musim dingin, dan kita jauh dari laut. Di sini dunia akan dingin, sampai musim semi merekah tiba-tiba, dan mungkin masih akan turun salju lagi. Jauh di Teluk Belfalas, ke mana Anduin mengalir, cuacanya hangat dan gembira- mungkin-atau bisa begitu kalau tidak ada Musuh. Tapi sekarang ini kita berada lebih dari enam puluh league, kukira, di sebelah selatan Wilayah Selatan Shire- mu, ratusan mil yang panjang di sana. Sekarang kau memandang ke arah barat- daya, melintasi padang utara Riddermark, Rohan, negeri para Penguasa Kuda. Tak lama lagi kita sampai ke muara Limlight yang mengalir dari Fangorn untuk

bergabung dengan Sungai Besar. Itu batas utara Rohan; dan sejak dulu semua yang terletak antara Limlight
dan Pegunungan Putih menjadi milik bangsa Rohirrim. Negeri yang kaya dan nyaman, dan rumputnya tak tertandingi; tapi di masa kelam ini tak ada orang yang tinggal dekat Sungai atau sering naik kuda sampai ke pantainya. Anduin lebar sekali, tapi para Orc bisa menembakkan panah mereka jauh menyeberangi sungai; dan belakangan ini, katanya, mereka sudah berani menyeberangi` sungai, merampok ternak dan kuda Rohan."
Sam memandang dari tebing ke tebing dengan perasaan tidak enak. Sebelumnya, pepohonan kelihatan bermusuhan, seolah mereka mempunyai mata rahasia dan menyimpan bahaya tersembunyi; sekarang ia berharap pohon- pohon itu masih di sana. Ia merasa Rombongan mereka terlalu telanjang, mengapung dalam perahu-perahu terbuka di tengah negeri tanpa perlindungan, di sungai yang merupakan garis depan perang.
Pada satu-dua hari berikutnya, ketika mereka meneruskan perjalanan, terus mengarah ke selatan, perasaan tidak aman menghinggapi seluruh Rombongan. Sehari penuh mereka berdayung memacu perahu. Tebing-tebing lewat dengan cepat. Segera Sungai itu melebar dan jadi semakin dangkal; pantai-pantai panjang berbatu ada di sisi timur, dan ada beting-beting batu di dalam air, sehingga mereka harus mengemudi dengan hati-hati. Negeri-Negeri Cokelat menjelma menjadi perbukitan terbuka yang gersang, dari atasnya angin dingin dari Timur berembus. Di sisi lain, padang-padang menjelma menjadi bukit- bukit rendah, dengan rumput layu di tengah daratan yang penuh genangan air dan gerombolan rumput tebal. Frodo menggigil memikirkan halaman dan air mancur, hujan lembut dan jernih di Lothlorien. Hanya sedikit pembicaraan, dan tidak ada tawa di dalam perahu-perahu mereka. Setiap anggota Rombongan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hati Legolas sedang berlari di bawah sinar bintang di malam musim panas, di suatu lembah utara di antara pepohonan beech; Gimli sedang memegang emas dalam pikirannya, mempertimbangkan pantaskah emas itu ditempa ke dalam wadah yang akan dipergunakan untuk menyimpan pemberian

Lady Galadriel. Merry dan Pippin di perahu tengah merasa tidak nyaman, karena Boromir menggerutu sendirian, kadang-kadang menggigit kuku, seolah tengah diliputi keresahan atau keraguan, kadang-kadang mengangkat dayung dan memacu perahu sampai dekat ke perahu Aragorn. Pippin, yang duduk di haluan menghadap ke belakang, menangkap sinar aneh dalam mata Boromir, ketika ia menatap tajam ke Frodo. Sam sudah lama memutuskan bahwa, meski perahu mungkin tidak berbahaya seperti yang diyakininya selama ini, toh perahu itu jauh lebih tidak nyaman daripada yang dibayangkannya. Ia terkekang dan sengsara, tanpa kegiatan lain selain menatap dataran musim dingin merangkak lewat dan air kelabu di kedua sisinya. Bahkan ketika dayung harus digunakan, mereka tidak mempercayai Sam untuk mengayuh.
Ketika senja turun di hari keempat, Sam memandang ke belakang dari atas, kepala Frodo dan Aragorn dan perahu-perahu yang mengikuti; ia mengantuk dan sangat mendambakan tidur serta merasakan tanah di bawah jari kakinya. Mendadak sesuatu menarik perhatiannya: mula-mula ia memandangnya tanpa gairah, lain ia duduk tegak dan menyeka matanya; tapi ketika ia memandang lagi, "sesuatu" aku sudah tak terlihat.


Malam itu mereka bermalam di sebuah pulau kecil, dekat ke tebing barat. Sam berbaring diselubungi selimut di samping Frodo. "Aku mimpi aneh satu-dua jam sebelum kita berhenti, Mr. Frodo," katanya. "Atau mungkin itu bukan mimpi. Tapi pokoknya lucu."
"Well, apa itu?" kata Frodo, tahu bahwa Sam tidak akan diam sebelum menceritakannya, apa pun itu. "Aku tidak melihat atau memikirkan apa pun yang bisa membuatku tersenyum sejak kita meninggalkan Lothlorien."
"Bukan lucu semacam itu, Mr. Frodo. Ganjil. Aneh sekali, kalau aku bukan mimpi. Dan sebaiknya kau mendengarnya. Seperti ini: aku melihat batang kayu bermata!"
"Batang kayu memang benar," kata Frodo. "Banyak batang kayu di

Sungai. Tapi tanpa mata!"

"Tidak bisa," kata Sam. "Justru mata aku yang membuat aku duduk tegak,

bisa dikatakan begitu. Aku melihat sesuatu yang kukira batang kayu mengambang dalam cahaya remang-remang di belakang perahu Gimli; tapi aku tidak begitu memperhatikan. Kemudian tampaknya batang kayu itu menyusul kita perlahan-lahan. Dan itu aneh, karena kita semua mengambang bersama di atas aliran air. Persis saat itu aku melihat matanya: dua titik pucat, agak bersinar, pada benjolan di ujung terdekat batang itu. Lagi pula, ternyata itu bukan batang kayu, karena dia mempunyai kaki pengayuh, hampir seperti angsa, hanya kelihatan lebih besar, dan keluar-masuk ke dalam air.
"Saat itulah aku duduk tegak dan menyeka mataku, dengan maksud akan berteriak, kalau dia masih ada di sana setelah aku menghapus kantuk dari mataku. Sebab, benda apa pun itu, sekarang dia mulai mendekat dengan cepat dan sudah dekat sekali di belakang Gimli. Tapi apakah dua lampu itu melihat aku bergerak dan memandang, ataukah aku yang sadar kembali, aku tidak tahu. Ketika aku menengok lagi, dia sudah tidak di sana. Meski begitu, aku merasa melihat sekilas, dengan ekor mataku, begitu istilahnya, sesuatu yang gelap meluncur cepat ke bawah bayangan tebing. Tapi aku tak bisa melihat mata itu
lagi.

"Aku berkata pada diriku sendiri, 'Mimpi lagi, Sam Gamgee.' Dan aku tidak berbicara lagi saat itu. Tapi sejak itu aku berpikir terus, dan sekarang aku tidak begitu yakin. Bagaimana menurutmu, Mr. Frodo?"
"Menurutku yang kaulihat itu tidak lebih dari sebatang kayu, juga senja dan kantuk dalam matamu, Sam," kata Frodo, "kalau Hit pertama kalinya mata aku terlihat. Tapi ini bukan pertama kalinya. Aku melihatnya di utara, sebelum kita sampai di Lorien. Dan aku melihat makhluk aneh yang mempunyai mata memanjat pohon malam itu. Haldir juga melihatnya. Dan ingatkah kau laporan para Peri yang mengejar gerombolan Orc?"
"Ah," kata Sam, "aku ingat; dan aku ingat lebih banyak lagi. Aku tidak suka pikiranku; tapi setelah memikirkan satu dan lain hal, termasuk cerita-cerita Mr. Bilbo dan lain-lain, rasanya aku bisa memberi nama pada makhluk itu, menebak-nebaknya. Sebuah nama yang jahat. Gollum, mungkin?"
"Ya, aku yang kukhawatirkan selama beberapa waktu belakangan ini,"

kata Frodo. "Sejak malam di atas flet. Kuduga dia bersembunyi di Moria, dan menangkap jejak kita di sana; tapi kuharap masa-masa kita di Lorien akan membuat dia kehilangan jejak lagi. Makhluk malang aku pasti bersembunyi di hutan dekat Silverlode, memperhatikan kita berangkat!"
"Kira-kira begitu," kata Sam. "Dan sebaiknya kita sedikit lebih waspada, atau kita akan merasakan jari-jari menjijikkan aku di leher kita suatu hari nanti, kalau kita bisa bangun untuk merasakan sesuatu. Dan itulah tujuan pembicaraanku. Tak perlu mengganggu Strider atau yang lain malam ini. Aku akan berjaga. Aku bisa tidur besok, karena aku cuma menjadi muatan di perahu ini, bisa dibilang begitu."
"Aku bisa bilang begitu," kata Frodo, "kau adalah 'muatan bermata'. Kau boleh berjaga, kalau kau berjanji akan membangunkan aku menjelang pagi, kalau tidak ada yang terjadi sebelumnya."


Di pagi buta Frodo terjaga dari tidur yang dalam dan gelap, dan menyadari bahwa Sam membangunkannya. "Sayang sekali harus membangunkanmu," bisik Sam, "tapi kau sudah berpesan begitu. Tidak ada yang bisa diceritakan, atau tidak banyak. Rasanya aku mendengar suara cemplungan dan mendengus- dengus, beberapa waktu lain; tapi banyak bunyi aneh seperti itu terdengar di dekat sungai pada malam hari."
Sam berbaring, dan Frodo bangkit duduk, meringkuk dalam selimutnya, melawan rasa kantuknya. Bermenit-menit atau berjam-jam lewat dengan lamban, dan tidak ada yang terjadi. Frodo baru saja menyerah pada godaan untuk berbaring lagi ketika suatu sosok gelap, hampir tidak kelihatan, mengambang dekat ke salah satu perahu yang berlabuh. Tangan panjang keputih-putihan terlihat samar-samar ketika sosok itu keluar dari air dan memegang bibir perahu; dua mata seperti lampu yang bersinar dingin memandang ke dalam perahu, kemudian mata itu naik dan memandang Frodo di atas pulau. Jaraknya tidak lebih dari dua meter atau lebih, dan Frodo mendengar bunyi desis perlahan napas yang ditarik. Frodo berdiri, menghunus Sting dari sarungnya, dan menghadap ke kedua mata itu. Langsung sinar mata itu padam. Terdengar bunyi

desis lagi dan cemplungan, dan sosok kayu gelap itu meluncur cepat dalam air, menghilang di malam gelap. Aragorn bergerak dalam tidurnya, membalikkan tubuh, dan bangkit duduk.
"Ada apa?" bisiknya, melompat berdiri dan mendekati Frodo. "Aku merasakan sesuatu dalam tidurku. Kenapa kau menghunus pedangmu?"
"Gollum," jawab Frodo. "Atau setidaknya dia, kuduga."
"Ah!" kata Aragorn. "Kalau begitu, kau juga tahu tentang perampok kecil kita, bukan? Dia terus berjalan di belakang kita di Moria, sampai ke Nimrodel. Sejak kita naik perahu, dia berbaring di atas batang kayu dan mengayuh dengan tangan dan kakinya. Aku mencoba menangkapnya sekali-dua kali di malam hari, tapi dia lebih lihai daripada rubah, dan sama licinnya seperti ikan. Aku berharap perjalanan lewat sungai akan mengalahkannya, tapi dia makhluk air yang terlalu cerdik.

"Besok kita terpaksa mencoba meluncur lebih cepat. Sekarang kau berbaring saja, dan aku akan berjaga sepanjang sisa malam ini. Aku berharap bisa menangkap makhluk malang itu. Kita bisa memanfaatkan dia. Tapi kalau tidak bisa, kita harus mencoba melepaskan diri darinya. Dia berbahaya sekali. Selain dia sendiri bisa membunuh di malam hari, dia bisa membuat musuh yang sedang berkeliaran jadi tahu jejak kita."


Malam itu berlalu tanpa Gollum menunjukkan bayangannya lagi. Setelah itu Rombongan tersebut terus waspada, tapi mereka tidak melihat Gollum lagi sepanjang perjalanan itu. Kalau ia masih mengikuti mereka, maka ia sangat hati- hati dan cerdik. Atas permintaan Aragorn, sekarang mereka mendayung cukup lama, dan tebing-tebing lewat dengan cepat. Tapi mereka hanya sedikit melihat daratan, karena kebanyakan mereka berjalan di malam dan senja hari, beristirahat di pa-1 hari, dan bersembunyi sebisa mungkin, sesuai keadaan daratan. Dengan cara ini, waktu berlalu tanpa kejadian apa pun sampai hari ketujuh.
Cuaca masih mendung dan kelabu, an-in bertiup dari Timur, tapi ketika senja menjelma menjadi malam, langit di barat mulai jernih, dan kolam-kolam

cahaya redup, berwarna kuning dan hijau pucat, tersingkap di bawah kerumunan awan kelabu. Di sana kulit putih Bulan baru terlihat bersinar di danau-danau nun jauh. Sam memandangnya dan mengerutkan ails.
Keesokan harinya, daratan di kedua sisi sungai mulai berubah cepat. Tebing-tebing mulai mendaki dan jadi berbatu-batu. Tak lama kemudian, mereka melewati daratan berbukit batu karang, di kedua pantai ada lereng-lereng curam yang terkubur di bawah semak-semak berduri dan semak buah sloe, kusut dengan bramble dan tanaman merambat. Di belakangnya berdiri batu-batu karang rendah yang hancur, dan cerobong-cerobong batu kelabu yang termakan cuaca dan gelap karena dipenuhi tanaman ivy; di belakangnya lagi menjulang punggung-punggung bukit bermahkotakan cemara yang menggeliat-geliat tertiup angin. Mereka sudah mendekati daratan berbukit kelabu. Emyn Muil, perluasan Belantara sebelah selatan.
Banyak burung di sekitar batu karang dan cerobong batu, dan sepanjang hari kawanan burung berputar-putar jauh tinggi di angkasa, hitam berlatar belakang langit pucat. Ketika mereka berbaring di perkemahan hari itu, Aragorn memperhatikan burung-burung itu dengan ragu, bertanya dalam hati, apakah Gollum sudah berbuat kenakalan, dan kabar tentang perjalanan mereka sekarang sedang bergerak di belantara. Ketika matahari sedang terbenam, dan Rombongan mereka bersiap-siap berangkat lagi, ia melihat sebuah bercak, gelap di depan cahaya yang memudar: seekor burung besar tinggi dan jauh sekali, kadang berputar-putar, kadang terbang terus perlahan ke selatan.
"Apa itu, Legolas?" tanya Aragorn, menunjuk ke langit utara. "Apakah itu seekor dang, seperti yang kuduga?"
"Ya," kata Legolas. "Itu elang, elang pemburu. Pertanda apa itu kira-kira? Dia jauh dari pegunungan."
"Kita tidak akan berangkat sampai gelap sama sekali," kata Aragorn.



Malam kedelapan perjalanan mereka. Sunyi dan tidak berangin; angin timur yang kelabu sudah berlalu. Bulan sabit tipis sudah muncul lebih awal saat matahari terbenam, tapi langit di atas jernih, dan meski jauh di selatan ada kerumunan

awan yang masih bersinar redup, di Barat bintang-bintang bercahaya terang. "Ayo!" kata Aragorn. "Kita akan memberanikan diri lagi melakukan
perjalanan malam hari. Kita sampai ke wilayah Sungai yang tidak begitu kukenal, sebab aku belum pernah melakukan perjalanan melalui air di wilayah ini, antara sini dengan air terjun Sarn Gebir. Tapi bila perkiraanku benar, air terjun itu masih bermil-mil jaraknya dari sini. Tapi masih ada berbagai tempat berbahaya sebelum kita tiba di sana: batu-batu dan pulau berbatu di sungai. Kita harus waspada dan mencoba mendayung tidak terlalu cepat."
Sam di perahu pelopor ditugasi sebagai pengawas. Ia berbaring sambil mengintai ke dalam kegelapan. Malam kelam, tapi bintang-bintang di atas sangat terang, cahayanya tercermin di permukaan Sungai. Sudah dekat tengah malam, dan mereka sudah mengambang untuk beberapa saat, hampir tidak menggunakan dayung, ketika mendadak Sam berteriak. Hanya beberapa meter di depan, sosok-sosok gelap muncul di sungai, dan ia mendengar putaran air berpacu. Ada aliran deras yang membelok ke kiri, ke pantai timur yang salurannya mulus. Ketika mereka tersapu ke samping, para pengembara itu bisa melihat, dekat sekali sekarang, buih-buih pucat Sungai memukul batu-batu tajam yang menjorok jauh ke tengah, seperti pinggiran bergerigi. Perahu-perahu semuanya berkerumun.
"Hai, Aragorn!" teriak Boromir, ketika perahunya menabrak perahu pelopor. "Ini gila! Kita tak bisa menentang Air Terjun di malam hari! Tapi tidak ada perahu yang bisa bertahan di Sarn Gebir, baik siang maupun malam."
"Kembali, kembali!" teriak Aragorn. "Putar! Putar, kalau bisa!" ia

mendorong dayungnya ke dalam air, berusaha menahan perahu dan memutarnya.
"Aku salah hitung," katanya pada Frodo. "Aku tidak tahu kita sudah berjalan sejauh ini: Anduin mengalir lebih kencang daripada perkiraanku. Sarn Gebir pasti sudah dekat sekali."


Dengan upaya keras, mereka mengendalikan perahu dan memutarnya perlahan;

pada mulanya mereka hanya bisa melaju lambat sekali melawan arus, dan

selama itu mereka terbawa semakin dekat ke tebing timur. Kini tebing itu menjulang gelap dan mengancam dalam kegelapan malam.
"Dayung bersama-sama, dayung!" teriak Boromir. "Dayung! Kalau tidak, kita akan terempas ke tebing." Bahkan saat Boromir masih bicara, Frodo sudah merasa lunas perahu menggesek bebatuan di bawah.
Tepat pada saat itu ada bunyi dentingan busur: beberapa panah berdesing lewat di atas mereka, dan beberapa jatuh di antara mereka. Satu menghantam Frodo di antara bahunya, dan ia bergerak maju sambil berteriak, melepaskan dayungnya, tapi panah itu jatuh terpental, ditahan oleh rompi logamnya yang tersembunyi. Satu yang lain menembus kerudung Aragorn: dan yang ketiga menancap pada pinggiran lambung perahu, dekat tangan Merry. Sam merasa bisa melihat sekilas sosok-sosok hitam berlarian ke sana kemari di atas tumpukan papan panjang yang terletak di bawah pantai timur. Tampaknya mereka dekat sekali.
"Yrch!" kata Legolas, memakai bahasanya sendiri. "Orc!" teriak Gimli.
"Gara-gara Gollum, aku yakin," kata Sam pada Frodo. "Dan tempat yang manis pula untuk dipilih. Sungai ini seolah bertekad mengantar kita langsung ke tangan mereka!"
Mereka semua bersandar ke depan sambil mendayung dengan giat: bahkan Sam ikut mengayuh. Setiap saat mereka menunggu gigitan panah berbulu hitam. Banyak panah mendesing di atas kepala, atau menghunjam masuk ke air di dekat mereka; tapi tidak ada lagi yang kena sasaran. Malam gelap, tapi tidak terlalu gelap untuk mata-malam para Orc, dan di bawah cahaya bintang, mereka pasti menjadi sasaran empuk bagi musuh yang cerdik, kecuali kalau jubah-jubah kelabu dari Lorien dan kayu kelabu dari perahu-perahu buatan Peri bisa mengalahkan kejahatan para pemanah dari Mordor.
Kayuhan demi kayuhan mereka terus mendayung. Dalam kegelapan, sulit untuk yakin apakah mereka memang bergerak; tapi lambat laun putaran air semakin berkurang, dan bayangan tebing timur memudar kembali ke dalam kegelapan malam. Akhirnya, sejauh mereka bisa menduga, mereka sudah

sampai ke tengah aliran sungai lagi dan perahu mereka sudah diputar balik cukup jauh di atas bebatuan yang menonjol. Lalu, sambil setengah berputar, mereka mendorong perahu-perahu mereka sekuat tenaga menuju pantai barat. Di bawah bayangan semak-semak yang condong di atas permukaan air, mereka berhenti dan menarik napas.
Legolas meletakkan dayungnya dan mengambil busur yang dibawanya dari Lorien. Lalu ia melompat ke darat dan mendaki beberapa langkah ke atas tebing. Sambil menarik busur dan memasang panah, ia membalikkan badan, mengintai kembali ke arah Sungai, ke dalam kegelapan. Di seberang sungai terdengar teriakan-teriakan nyaring, tapi tidak terlihat apa-apa.
Frodo memandang Legolas yang berdiri tinggi di atasnya, menatap ke dalam malam kelam, mencari sasaran untuk dipanah. Kepalanya gelap, bermahkotakan bintang-bintang putih tajam yang bersinar di kolam-kolam hitam langit di belakangnya. Tapi kini awan-awan besar naik dan meluncur dari Selatan, mengirimkan pengawal-pengawal gelap ke padang-padang berbintang. Rasa cemas mendadak menyerang Rombongan.
"Elbereth Gilthoniel!" keluh Legolas sambil menengadah. Ketika ia mengangkat kepala ke langit, sebuah bentuk gelap seperti awan tapi bukan awan, karena ia bergerak jauh lebih cepat-muncul dari kehitaman di Selatan, dan melaju cepat mendekati Rombongan, menutupi semua cahaya ketika semakin mendekat. Tak lama kemudian, ia tampak sebagai makhluk besar bersayap, lebih hitam daripada sumur di malam hari. Suara-suara garang naik menyambutnya dari seberang sungai. Rasa dingin tiba-tiba mengaliri Frodo dan mencengkeram jantungnya; rasa dingin mematikan, seperti ingatan pada luka lama di pundaknya. Ia berjongkok, seolah hendak bersembunyi.
Mendadak busur besar dari Lorien berdesing. Dengan nyaring sebatang anak panah lepas dari busur Legolas. Frodo mendongakkan kepala. Hampir tepat di atasnya, bentuk bersayap itu melayang. Ada bunyi teriakan parau ketika ia jatuh dari udara, menghilang ke dalam kegelapan pantai timur. Langit kembali bersih. Ada keributan banyak suara jauh sekali, menyumpah dan meraung dalam kegelapan, kemudian sepi. Baik panah maupun teriakan tak muncul lagi dari

timur malam itu.



Sesudah beberapa saat, Aragorn memimpin perahu-perahu kembali ke arah hulu. Mereka mereka-reka jalan sepanjang pinggir sungai, sampai jarak tertentu, hingga mereka menemukan sebuah teluk kecil yang dangkal. Beberapa pohon rendah tumbuh dekat ke pinggir air, dan di belakangnya mendaki sebuah tebing berbatu yang curam. Di sini Rombongan memutuskan tinggal dan menunggu fajar: tak ada gunanya mencoba maju lebih jauh malam itu. Mereka tidak menyiapkan tempat berkemah dan tidak menyalakan api, tapi berbaring meringkuk di dalam perahu-perahu yang ditambatkan saling berdekatan.
"Terpujilah busur Galadriel, serta tangan dan mata Legolas!" kata Gimli sambil mengunyah kue lembas. "Itu tembakan hebat dalam gelap, kawanku!"
"Tapi siapa yang tahu apa yang dikenainya?"

"Aku tidak tahu," kata Gimli. "Tapi aku gembira bahwa bayangan itu tidak semakin dekat. Aku sama sekali tidak menyukainya. Terlalu mengingatkanku pada bayangan di Moria-bayangan Balrog," ia mengakhiri perkataannya sambil berbisik.
"Itu bukan Balrog," kata Frodo, masih menggigil karena kedinginan yang menimpanya. "Makhluk ini lebih dingin. Kukira dia adalah..." Lalu ia berhenti dan
diam.

"Kaupikir dia apa?" tanya Boromir bergairah, mencondongkan tubuhnya keluar dari perahu, seolah mencoba menangkap sekilas wajah Frodo.
"Kukira... tidak, aku tidak akan mengatakannya," jawab Frodo. "Apa pun

itu, kejatuhannya sudah membuat cemas musuh kita."

"Kelihatannya begitu," kata Aragorn. "Tapi di mana mereka, dan berapa banyak, dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, kita tidak tahu. Malam ini kita semua pasti tak bisa tidur! Kegelapan menyembunyikan kita saat ini. Tapi apa yang akan ditunjukkan pagi hari, siapa yang tahu? Senjata-senjata harus dalam jangkauan!"


Sam duduk mengetuk-ngetuk pangkal pedangnya, seolah ia sedang menghitung

dengan jarinya, dan melihat ke langit. "Ini aneh sekali," ia bergumam. "Bulan itu sama, entah dilihat di Shire maupun di Belantara, atau seharusnya begitu. Tapi mungkin dia sudah keluar dari jadwalnya, atau aku sama sekali salah hitung. Kau ingat, Mr. Frodo, Bulan sedan memudar ketika kita berbaring di atas flet di pohon: itu seminggu sebelum bulan purnama, kupikir. Dan kita sudah seminggu dalam perjalanan tadi malam, lalu muncul Bulan Baru setipis rautan kuku, seolah kita sama sekali tidak pernah tin-gal di negeri Peri.
"Well, aku bisa ingat tiga malam di sana dengan pasti, dan aku rasanya ingat beberapa hal lagi, tapi aku berani bersumpah itu tidak sampai satu bulan penuh. Seolah-olah waktu di dalam negeri itu tak bisa dihitung!"
"Dan mungkin memang begitulah keadaannya," kata Frodo. "Di negeri itu, kita berada di suatu masa yang di tempat lain sudah lama berlalu. Menurutku, baru sejak Silverlode membawa kita kembali ke Anduin kita kembali ke waktu yang mengalir melalui negeri makhluk hidup, sampai ke Laut Besar. Dan aku tidak ingat ada bulan di Caras Galadhon, baik bulan baru maupun lama. Hanya ada bintang-bintang di malam hari, dan matahari di siang hari."
Legolas bergerak di dalam perahunya. "Tidak, waktu tak pernah berlambat-lambat," katanya, "tapi perubahan dan pertumbuhan tidak selalu sama pada semua benda dan tempat. Untuk para Peri, dunia bergerak, dan dia bergerak sangat cepat sekaligus sangat lambat. Cepat, karena mereka sendiri hanya sedikit berubah, sementara semua yang lain berpacu lewat: sangat menyedihkan bagi mereka. Lambat, karena mereka tidak menghitung tahun- tahun yang berlalu, tidak untuk diri mereka sendiri. Musim-musim yang berlalu hanya sekadar riak-riak yang selalu diulang dalam aliran yang amat sangat panjang. Meski begitu, di bawah Matahari semua hal harus menemui akhirnya suatu saat nanti."
"Tapi 'akhir' itu berjalan lamban sekali di Lorien," kata Frodo. "Kekuasaan Lady Galadriel menahannya. Jam-jam bermuatan penuh, meski kelihatan pendek, di Caras Galadhon, di mana Galadriel memakai Cincin Peri."
"Seharusnya hal itu tidak diungkapkan di luar Lorien, juga tidak kepadaku," kata Aragorn. "Jangan bicarakan lagi! Tapi 'begitulah, Sam: di negeri

itu kau kehilangan hitungan. Di sana waktu berlalu sangat cepat untuk kita, seperti untuk bangsa Peri. Bulan tua berlalu, bulan baru membesar dan memudar di dunia luar, sementara kita berlama-lama di sana. Dan tadi malam sebuah bulan baru datang lagi. Muslin dingin sudah hampir sirna. Waktu mengalir ke musim semi dengan hanya sedikit harapan."


Malam itu berlalu sepi sekali. Tidak ada lagi suara atau teriakan yang terdengar di seberang sungai. Para pengembara itu meringkuk dalam perahu masing- masing, merasakan perubahan cuaca. Udara menjadi panas dan hening sekali di bawah awan-awan besar yang lembap, yang datang mengalir—dari Selatan dan lautan yang jauh. Bunyi desiran Sungai di atas bebatuan air terjun tampaknya semakin keras dan dekat. Ranting-ranting pohon di atas mereka mulai menetes.
Ketika pagi merekah, dunia sekitar mereka menjadi lembut dan sedih. Perlahan-lahan fajar tumbuh menjadi cahaya pucat, membaur dan tidak berbayang-bayang. Kabut menggantung di alas Sungai, dan kabut putih menyapu pantai; tebing di seberang tidak tampak.
"Aku benci kabut," kata Sam, "tapi yang ini kelihatannya menguntungkan. Mungkin sekarang kita bisa lolos tanpa goblin-goblin terkutuk itu melihat kita."
"Mungkin begitu," kata Aragorn. "Tapi akan sulit menemukan jalan, kecuali kabut tersingkap nanti. Dan kita harus menemukan jalan, kalau mau melewati Sarn Gebir dan mencapai Emyn Mull."
"Aku tidak mengerti, kenapa kita harus melewati Air Terjun atau mengikuti Sungai lebih jauh lagi," kata Boromir. "Kalau Emyn Mull ada di depan kita, kita bisa meninggalkan perahu-perahu tiram ini, dan berjalan ke arah barat dan selatan, sampai tiba di Entwash dan masuk ke negeriku sendiri."
"Itu bisa, kalau kita menuju Minas Tirith," kata Aragorn, "tapi itu belum disepakati. Dan perjalanan ke arah sana bisa lebih berbahaya daripada kedengarannya. Lembah Entwash datar dan penuh tanah basah, dan kabut di sana merupakan bahaya mematikan bagi yang berjalan kaki dan membawa muatan. Aku tidak akan meninggalkan perahu kita sampai benar-benar perlu. Sungai Jill setidaknya suatu jalan yang jelas."

"Tapi Musuh menguasai tebing timur," protes Boromir. "Kalaupun kau bisa melewati Gerbang-Gerbang Argonath dan datang tanpa cedera ke Tindrock, apa yang akan kaulakukan kemudian? Melompat dari air terjun dan mendarat di rawa-rawa?"
"Tidak!" jawab Aragorn. "Lebih baik kita mengangkat perahu kita melalui jalan kuno ke kaki Rauros, dan di sana masuk ke air lagi. Tidakkah kau tahu, Boromir, atau kau memilih untuk melupakan Tan--a Utara, dan takhta tinggi di atas Amon Hen, yang dibangun di masa raja-raja agung? Setidaknya aku ingin berdiri di tempat tinggi itu lagi, sebelum menentukan arahku selanjutnya. Di sana, mungkin, kita akan melihat suatu pertanda yang bisa membimbing kita."
Boromir bertahan lama melawan pilihan itu; tapi ketika sudah jelas bahwa Frodo akan mengikuti Aragorn ke mana pun ia pergi, Borornir menyerah. "Bukan watak Orang Minas Tirith untuk meninggalkan kawan-kawannya ketika mereka membutuhkan dia," katanya, "dan kalian akan membutuhkan kekuatanku, agar bisa mencapai Tindrock. Ke pulau tinggi itu aku akan pergi, tapi tidak lebih jauh lagi. Di sana aku akan pulang ke rumahku, sendirian kalau pertolonganku tidak membuahkan imbalan didampingi kawan."


Hari semakin siang, dan kabut sudah agak tersingkap. Diputuskan bahwa Aragorn dan Legolas segera maju menelusuri pantai, sementara yang lain tetap tingQal di dekat perahu. Aragorn berharap akan menemukan jalan yang bisa dilalui sambil menggotong perahu dan muatan ke bagian sungai yang lebih tenang di luar Jeram.
"Perahu-perahu Peri mungkin tidak akan tenggelam," kata Aragorn, "tapi itu bukan berarti kita bisa melewati Sam Gebir hidup-hidup. Belum ada yang pernah melakukan itu. Tidak ada jalan yang dibangun Orang-Orang Gondor di wilayah ini, karena bahkan di masa kejayaan mereka, wilayah mereka tidak sampai mencapai Anduin di luar Emyn Mull; tapi ada jalan angkutan di suatu tempat di pantai barat, kalau aku bisa menemukannya. Mestinya belum hancur, karena perahu-perahu ringan dulu biasa pergi dari Belantara ke Osgiliath, dan masih begitu sampai beberapa tahun yang lalu, ketika Orc dari Mordor mulai

berkembang biak."

"Jarang sekali dalam hidupku ada perahu yang keluar dari Utara, dan para Orc berkeliaran di pantai timur," kata Boromir. "Kalau kau maju terus, bahaya akan tumbuh bersama setiap mil, meski kau menemukan jalan."
"Bahaya ada di depan, di setiap jalan ke selatan," kata Aragorn. "Tunggulah kami satu hari. Kalau kami tidak kembali dalam waktu itu, kau akan tahu bahwa kami ditimpa malapetaka. Maka kau harus menunjuk pemimpin baru dan mengikutinya sebaik mungkin."
Dengan hati berat Frodo melihat Aragorn dan Legolas mendaki tebing terjal dan hilang dalam kabut; tapi ketakutannya terbukti tidak berdasar. Hanya dua atau tiga jam berlalu, dan baru tengah hari, ketika sosok-sosok kabur kedua penjelajah itu muncul kembali.
“Semua beres," kata Aragorn ketika menuruni tebing. "Ada jalan setapak, yang menuju sebuah dermaga yang masih bisa digunakan. Jaraknya tidak jauh: puncak Jeram hanya setengah mil di bawah kita, dan hanya satu mil lebih sedikit panjangnya. Tidak jauh dari sana, sungai menjadi mulus dan jernih lagi, meski deras alirannya. Pekerjaan terberat adalah membawa perahu-perahu dan barang bawaan kita ke jalan angkutan yang lama. Kami sudah menemukannya, tapi cukup jauh dari tepi sungai sini, dan membentang di bawah lambung dinding batu karang, sekitar dua ratus meter atau lebih dari pantai. Kami tidak menemukan„letak dermaga utara. Kalau masih ada, mungkin sudah kita lewati tadi malam. Kita bisa bersusah payah melawan arus, dan mungkin tidak melihatnya karena kabut. Aku khawatir kita harus meninggalkan Sungai sekarang, dan menuju jalan angkutan sedapat mungkin dari sini."
"Itu tidak akan mudah, meski seandainya kita semua Manusia," kata

Boromir.

"Tapi kita akan mencoba apa adanya," kata Aragorn.

"Ya, kita akan mencobanya," kata Gimli. "Langkah kaki Manusia akan ketinggalan di jalan yang kasar, sementara Kurcaci bisa terus berjalan, meski bebannya dua kali berat badannya sendiri, Master Boromir!"
Memang pekerjaan itu ternyata sangat berat, tapi akhirnya selesai juga.

Muatan dikeluarkan dari dalam perahu dan dibawa ke puncak tebing, di mana ada tempat datar. Lalu perahu-perahu ditarik keluar dari air dan diangkat ke atas. Perahu-perahu itu tidak seberat yang mereka sangka. Dari pohon apa yang tumbuh di negeri Peri mereka dibuat, bahkan Legolas pun tidak tahu; kayunya alot, tapi ringan sekali. Merry dan Pippin bisa menggotong perahu mereka dengan mudah berdua saja, sepanjang tanah datar. Meski begitu, butuh kekuatan dua Manusia untuk mengangkat dan menyeretnya melewati daratan yang sekarang dilewati Rombongan. Tanah itu menanjak menjauh dari Sungai, tanah kosong penuh bergelimpangan batu-batu kapur kelabu, dengan lubang- lubang tersembunyi yang diselubungi rumput-rumput tinggi dan semak; ada semak bramble dan lembah-lembah kecil terjal; di sana-sini ada kolam-kolam berlumpur yang menampung air dari teras-teras yang lebih jauh di pedalaman.
Satu demi satu Boromir dan Aragorn menggotong perahu-perahu, sementara yang lain bekerja keras dan melangkah susah payah di belakang mereka, dengan barang-barang bawaan masing-masing. Akhirnya semuanya selesai dipindahkan dan diletakkan di jalan. Tanpa banyak rintangan, kecuali dari ranting-ranting yang menggeletak dan bebatuan yang terjatuh, mereka bergerak maju bersama-sama. Kabut masih menggantung tebal di atas dinding batu karang yang remuk. Dan di sebelah kiri mereka kabut menyelimuti Sungai: mereka bisa mendengarnya mendesir dan berbuih melewati ujung-ujung dan geligi tajam Sam Gebir, tapi mereka tak bisa melihatnya. Dua kali mereka melakukan perjalanan itu, sebelum semua terbawa dengan aman ke dermaga selatan.
Di sana jalan membelok kembali ke tepi sungai, menjulur turun dengan lembut ke pinggir kolam kecil yang dangkal. Tampaknya seolah digali di tebing sungai, bukan dengan tangan, melainkan oleh air yang berputar-putar turun dari Sam Gebir, menghantam batu karang rendah yang menjorok sedikit ke tengah. Di luarnya pantai mendaki menjadi baru karang kelabu, dan tak ada jalan lagi untuk pejalan kaki.
Siang yang pendek sudah lewat, dan senja remang-remang berawan mulai mengepung. Mereka duduk di tepi air, mendengarkan desiran dan

deruman kacau Jeram yang tersembunyi di dalam kabut; mereka letih dan mengantuk, hati mereka sama muramnya seperti hari yang sedang berlalu.
"Nah, di sinilah kita, dan di sini kita harus bermalam sekali lagi," kata Boromir. "Kita perlu tidur. Walau seandainya Aragorn berniat melewati Gerbang- Gerbang Argonath di malam hari, kita semua sudah terlalu lelah kecuali, pasti, Kurcaci kita yang kokoh."
Gimli tidak menjawab: ia sudah mengangguk-angguk mengantuk sambil duduk.
"Mari kita istirahat sebanyak mungkin sekarang," kata Aragorn. "Besok kita harus berjalan lagi saat hari terang. Kecuali cuaca berubah kembali lagi dan mengkhianati kita, kita punya kesempatan bagus untuk menyelinap pergi, tanpa terlihat oleh mata mana pun di pantai timur. Tapi malam ini dua orang sekaligus harus berjaga, setiap kali giliran bergantian: tiga jam istirahat dan satu jam jaga."


Tidak ada yang terjadi malam itu, selain gerimis singkat saw jam sebelum fajar. Kabut sudah mulai menipis. Mereka berjalan sedekat mungkin ke tepi barat, dan mereka bisa melihat bentuk-bentuk kabur batu-batu karang rendah yang menjulang semakin tinggi dinding-dinding gelap dengan kaki di dalam sungai yang mengalir kencang. Tengah hari awan-awan semakin rendah, dan hujan mulai turun deras.. Mereka menebarkan penutup kulit ke atas perahu-perahu, agar tidak kebanjiran dan bisa terus mengambang; hanya sedikit yang bisa terlihat di depan atau di sekitar mereka melalui tirai kelabu yang berjatuhan.
Ternyata hujan tidak berlangsung lama. Perlahan-lahan langit di atas semakin terang, kemudian tiba-tiba awan-awan pecah, pinggirannya yang basah mengalir ke arah utara Sungai. Kabut sudah hilang. Di depan mereka terhampar sebuah jurang lebar, dengan tebing berbatu besar yang ditumbuhi beberapa pohon pada beting dan retakannya. Bentangan sungai semakin sempit-dan Sungai mengalir semakin kencang. Sekarang mereka meluncur cepat, tanpa harapan bisa berhenti atau memutar, apa pun yang akan mereka temui di depan. Di atas mereka, ada jalur langit biru pucat, di sekeliling mereka Sungai yang gelap penuh bayangan, dan di depan mereka berdiri bukit-bukit Emyn Muil yang

hitam, menutupi matahari, dan tak terlihat satu pun bukaan.

Frodo, yang mengintai ke depan, melihat di kejauhan dua batu karang besar mendekat: seperti puncak besar atau tiang batu tampaknya. Tinggi dan curam, serta mengancam, berdiri di kedua sisi sungai.
Ada celah sempit di antaranya, dan Sungai menyapu perahu-perahu ke arah celah tersebut.
"Lihatlah Argonath, Pilar-Pilar Raja-Raja!" teriak Aragorn. "Kita akan

segera melewatinya. Atur perahu-perahu berbaris, jaga jarak masing-masing sejauh mungkin! Tetap di tengah sungai!"
Ketika Frodo terbawa mendekati mereka, kedua pilar besar itu menjulang menyambutnya, seperti menara. Di matanya, mereka tampak seperti raksasa. Sosok-sosok besar kelabu yang diam, namun mengancam. Lalu ia melihat bahwa mereka memang dibentuk dan dihias: keterampilan dan kekuatan masa lain telah mengukir mereka, dan bentuk mereka masih seperti pada saat mereka dipahat, bertahan terhadap sinar matahari dan hujan selama perjalanan tahun- tahun yang terlupakan. Di atas landasan besar yang dibangun dalam air, berdiri dua raja dari batu: masih dengan mata kabur dan alis bercelah mereka mengerutkan kening ke arah Utara. Tangan kiri masing-masing terangkat, dengan telapak tangan menghadap keluar, dalam isyarat memperingatkan; di masing-masing tangan kanan ada kapak; di atas masing-masing kepala ada topi baja dan mahkota yang runtuh. Kekuatan hebat dan keagungan masih tercermin dalam sosok mereka, pengawas-pengawas bisu dari kerajaan yang sudah lama hilang. Rasa kagum bercampur takut meliputi Frodo, dan ia gemetar, memejamkan mata dan tidak berani menengadah ketika perahu semakin dekat. Bahkan Boromir pun menundukkan kepala ketika perahu-perahu melewati patung-patung itu, tampak lemah dan tak berarti, seperti dedaunan kecil di bawah bayangan pengawas-pengawas Numenor. Begitulah, mereka masuk ke dalam jurang gelap Gerbang.
Batu-batu karang yang mengerikan mendaki terjal sampai ketinggian yang tak bisa diduga di kedua sisi. Jauh di sana tampak langit redup. Air sungai hitam menderum dan bergema, dan angin berteriak berembus di atas mereka. Frodo

yang berlutut mendengar Sam bergumam dan mengerang di depan, "Tempat macam apa ini! Tempat mengerikan! Biarkan aku keluar dari perahu ini, dan aku tidak akan pernah membasahi kakiku dalam genangan air lagi, apalagi sungai!"
"Jangan cemas!" kata sebuah suara asing di belakangnya. Frodo menoleh dan melihat Strider, tapi bukan Strider; karena si Penjaga Hutan yang tangguh dimakan cuaca sudah tak ada lagi. Sebagai gantinya, di buritan duduk Aragorn putra Arathorn, gagah dan tegak, mengemudikan perahu dengan kayuhan andal; kerudungnya tersingkap ke belakang, rambutnya yang gelap berkibar ditiup angin, dan matanya bersinar-sinar: sosok seorang raja yang kembali dari pengasingan kenegerinya sendiri.
"Jangan takut!" katanya. "Sudah lama aku berhasrat ingin melihat patung- patung Isildur dan Anarion, raja-rajaku dulu. Di bawah bayangan mereka, Elessar, putra batu-Peri dari Arathorn, dari Rumah Valandil putra Isildur, pewaris Elendil, tidak takut pada apa pun!"
Lalu sinar matanya meredup, dan ia berbicara pada dirinya sendiri, "Seandainya Gandalf ada di sini! Hatiku rindu pada Minas Anor dan tembok- tembok kotaku sendiri! Tapi ke mana sekarang aku akan pergi?"
Jurang itu panjang dan gelap, penuh dengan bunyi angin dan air yang mengalir deras serta batuan yang bergema. Jurang itu agak melengkung ke barat, sehingga pada mulanya semuanya gelap di depan; tapi, tak lama kemudian, Frodo melihat celah tinggi bercahaya di depannya, yang semakin besar. Dengan cepat ia mendekat, dan mendadak perahu-perahu meluncur melewatinya, keluar ke dalam cahaya lebar jernih.


Matahari, yang sudah jauh dari tengah hari, bersinar di langit yang berangin. Air yang tertahan menyebar ke dalam telaga panjang lonjong, Nen Hithoel yang pucat, dipagari bukit-bukit curam yang sisi-sisinya dipenuhi pepohonan, tapi kepala mereka gundul, bersinar dingin dalam cahaya matahari. Di ujung jauh sebelah selatan menjulang tiga puncak. Yang tengah berdiri lebih maju daripada yang lain, memisahkan dari mereka sebuah pulau di tengahnya, dan di sekelilingnya Sungai melontarkan lengan-lengannya yang pucat berkilauan. Jauh

tapi keras, dibawa angin, terdengar bunyi menderum seperti bunyi guruh yang terdengar dari jauh.
"Lihatlah Tol Brandir!" kata Aragorn sambil menunjuk ke selatan, ke puncak yang tinggi. "Di sebelah kiri berdiri Amon Lhaw, dan di sebelah kanan adalah Amon Hen, Bukit-Bukit Pendengaran dan Penglihatan. Di masa raja-raja agung, di sana ada tempat-tempat duduk tinggi, dan di sana pengawas berjaga. Tapi konon" tak pernah ada kaki manusia yang menginjak Tol Brandir. Sebelum kegelapan malam tiba, kita akan sampai ke sana. Aku mendengar bunyi abadi Rauros memanggil."
Rombongan itu sekarang beristirahat sejenak, meluncur ke selatan, mengikuti arus yang mengalir di tengah telaga. Mereka makan sedikit, lalu mengambil dayung dan tergesa-gesa melanjutkan perjalanan. Sisi-sisi bukit di barat masuk ke dalam bayangan, Matahari menjadi bundar dan merah. Di sana- sini bintang redup mengintip. Ketiga puncak itu menjulang tinggi di depan mereka, gelap di senja hari. Rauros menderum keras. Malam sudah menyelubungi air yang mengalir ketika para pengembara itu akhirnya sampai ke bawah bayangan bukit-bukit.
Hari kesepuluh perjalanan mereka berakhir sudah. Belantara ada di belakang. Mereka tak bisa pergi lebih jauh tanpa memilih antara jalan timur dan jalan barat. Tahap terakhir Pencarian ada di depan.

BAB 10

PERPECAHAN



Aragorn menuntun mereka ke cabang kanan Sungai. Di sini, di sisi baratnya, di bawah bayangan Tol Brandir, padang rumput hijau menghampar sampai ke tepi sungai dari kaki Amon Hen. Di belakangnya muncul lereng-lereng pertama bukit yang mendaki lembut, ditumbuhi pepohonan, dan pepohonan berbaris terus ke arah barat, sepanjang pantai sungai yang melengkung. Mata air kecil mengucur ke bawah, membasahi rumput.
"Di sini kita akan istirahat malam ini," kata Aragorn. "Ini halaman Parth Galen: tempat indah di musim panas zaman dulu. Mudah-mudahan kejahatan belum sampai ke sini."
Mereka menaikkan perahu-perahu ke tebing hijau, dan di sampingnya mereka menyiapkan perkemahan. Mereka berjaga bergantian, tapi tidak melihat maupun mendengar tanda-tanda kehadiran musuh. Seandainya Gollum berhasil mengikuti mereka, ia tetap tidak tampak dan tidak terdengar. Meski begitu, ketika malam semakin larut, Aragorn menjadi resah, banyak bergerak dalam tidurnya, dan sering terbangun. Pagi-pagi buta ia bangun dan mendatangi Frodo yang sedang giliran berjaga.
"Kenapa kau bangun?" tanya Frodo. "Bukan giliranmu jaga."

"Aku tidak tahu," jawab Aragorn, "tapi sebuah bayangan dan ancaman berkembang dalam tidurku. Sebaiknya kau menghunus pedangmu."
"Mengapa?" tanya Frodo. "Apa ada musuh di dekat kita?"

"Coba kita lihat, apa yang ditunjukkan Sting," jawab Aragorn. Frodo menghunus pedang Peri-nya dari sarungnya. Dengan cemas ia melihat tepi- tepinya bersinar redup dalam gelap. "Orc!" katanya.
"Tidak begitu dekat, tapi cukup dekat, rupanya."

"Sudah kukhawatirkan," kata Aragorn. "Tapi mungkin mereka bukan di sisi Sungai sebelah sini. Cahaya Sting redup, dan mungkin juga hanya menunjukkan mata-mata Mordor yang berkeliaran di lereng Amon Lhaw. Aku belum pernah mendengar tentang Orc di atas Amon Hen. Tapi siapa tahu apa yang bisa terjadi

di masa buruk seperti sekarang, setelah Minas Tirith tidak lagi mengamankan jalan melalui Anduin. Kita harus berjalan hati-hati sekarang."


Pagi hari datang seperti api dan asap. Di Timur, kerumunan hitam awan-awan rendah menggantung bagaikan asap kebakaran besar. Matahari yang terbit menerangi awan-awan dari bawah dengan lidah api merah suram; tapi tak lama kemudian matahari naik ke atas mereka, ke langit yang jernih. Puncak Tol Brandir berlapis emas. Frodo memandang ke timur dan menatap pulau tinggi itu. Sisi-sisinya muncul dengan curam dari dalam air yang mengalir. Jauh di atas batu karang tinggi terdapat lereng-lereng yang didaki pepohonan, kepala demi kepala tersusun ke atas; dan di atasnya lagi wajah-wajah bebatuan kelabu yang tak bisa ditundukkan, dimahkotai puncak menara dari batu. Banyak burung terbang berputar-putar di atasnya, tapi tak ada tanda-tanda makhluk hidup lain.
Ketika mereka sudah makan, Aragorn memanggil semuanya berkumpul. "Hari ini tiba juga akhirnya," katanya. "Hari untuk membuat pilihan yang sudah lama kita tunda. Apa yang akan terjadi dengan Rombongan kita yang sudah berjalan bersama sejauh ini? Apakah kita akan pergi ke barat bersama Boromir dan menyongsong perang di Gondor, atau pergi ke timur, menuju Ketakutan dan Bayangan; ataukah kita akan memutuskan persekutuan dan pergi sesuai pilihan masing-masing? Apa pun yang akan kita lakukan, harus secepatnya dilakukan. Kita tak bisa berhenti lama di sini. Musuh ada di pantai timur, kita tahu itu; tapi aku cemas bahwa Orc sudah berada di sisi sungai sebelah sini."
Keheningan lama berlangsung, tak ada yang berbicara atau bergerak. "Well, Frodo," kata Aragorn akhirnya. "Kurasa beban berada di pundakmu.
Kaulah Pembawa Cincin yang ditunjuk Dewan Penasihat. Hanya kau yang bisa memilih jalanmu sendiri. Dalam hal ini, aku tak bisa memberimu saran. Aku bukan Gandalf, dan meski aku mencoba memerankan bagiannya, aku tidak tahu rencana atau harapan apa yang dimilikinya saat ini, seandainya ada. Tampaknya kalaupun dia ada di sini, kemungkinan terbesar pilihan tetap tergantung padamu. Begitulah nasibmu."
Frodo tidak langsung menjawab. Kemudian ia berbicara dengan lambat,

"Aku tahu sekarang dibutuhkan kecepatan, tapi aku masih belum bisa memilih. Beban ini berat sekali. Berilah aku satu jam lagi, dan aku akan berbicara. Biarkan aku sendirian!"
Aragorn memandangnya dengan perasaan iba. "Baiklah, Frodo putra Drogo," katanya. "Kau akan mendapat satu jam untuk sendirian. Kami akan tetap di sini untuk beberapa saat. Tapi jangan pergi jauh atau di luar jarak panggil."
Frodo duduk sebentar dengan kepala tertunduk. Sam yang

memperhatikan majikannya dengan saksama, menggelengkan kepala dan menggerutu, "Sudah jelas seperti tongkat lembing, tapi tidak baik kalau Sam Gamgee angkat bicara sekarang ini."
Tak lama kemudian, Frodo bangkit berdiri dan berjalan menjauh; Sam melihat bahwa sementara yang lain menahan diri dan tidak memandangnya, mata Boromir mengikuti Frodo dengan tajam, sampai ia hilang dari pandangan, di pepohonan di kaki Amon Hen.


Frodo, yang mula-mula mengembara tanpa tujuan di hutan, menyadari kakinya mengantarnya menuju lereng bukit. Ia sampai ke sebuah jalan setapak, reruntuhan yang semakin menyusut dari sebuah jalan di zaman dulu. Di tempat- tempat terjal sudah dipahat tangga batu, tapi kini mereka sudah retak dan usang, dan terbelah oleh akar-akar pepohonan. Untuk beberapa saat Frodo mendaki, tak peduli ke arah mana ia berjalan, sampai ia tiba di sebuah tempat berumput. Pohon-pohon rowan tumbuh di sekitarnya, dan di tengahnya ada batu lebar dan datar. Halaman dataran tinggi kecil itu terbuka di sisi Timur, dan sekarang terisi matahari pagi. Frodo berhenti dan memandang ke atas Sungai, jauh di bawahnya, ke arah Tol Brandir dan burung-burung yang terbang berputar-putar di jurang udara besar, di antara dirinya dengan pulau yang tak pernah diinjak. Bunyi Rauros menderum hebat, berbaur dengan dentuman berdenyut keras.
Frodo duduk di atas batu itu, bertopang dagu dengan dua tangan, sambil menatap ke arah timur, tapi tatapannya nyaris kosong. Semua yang sudah terjadi sejak Bilbo meninggalkan Shire melintas dalam benaknya, dan ia mengingat kembali serta merenungi semua yang bisa diingatnya dari perkataan

Gandalf. Waktu berlalu, dan ia masih belum bisa memilih.

Mendadak ia tersentak dari renungannya: ada perasaan aneh bahwa sesuatu tengah mengintai di belakangnya, bahwa ada mata yang tidak ramah menatapnya. Ia melompat berdiri dan membalikkan badan; tapi dengan heran ia melihat hanya ada Boromir yang tersenyum ramah.
"Aku mengkhawatirkan kau, Frodo," katanya, melangkah maju. "Kalau Aragorn benar dan Orc sudah dekat, maka tidak boleh ada di antara kita yang berjalan sendirian, terutama kau: banyak sekali yang tergantung padamu. Di mana banyak orang, pembicaraan menjadi debat tanpa akhir. Tapi dua bersama mungkin bisa menemukan kebijakan."
"Kau baik hati," jawab Frodo. "Tapi kurasa tidak ada pembicaraan yang bisa membantuku. Karena aku tahu apa yang harus kulakukan, tapi aku takut melakukannya, Boromir. Takut."
Boromir berdiri diam. Rauros menderum tak henti-henti. Angin berbisik di dahan-dahan pohon. Frodo menggigil.
Tiba-tiba Boromir mendekat dan duduk di sampingnya. "Apa kau yakin kau tidak menderita sia-sia?" katanya. "Aku ingin menolongmu. Kau butuh saran dalam pilihanmu yang sulit. Tidakkah kau mau menerima saranku?"
"Rasanya aku sudah tahu saran apa yang akan kauberikan padaku, Boromir," kata Frodo. "Dan saranmu akan kedengaran bijak, kalau saja hatiku tidak memperingatkan lain."
"Peringatan? Peringatan terhadap apa?" kata Boromir tajam.

"Terhadap penundaan. Terhadap jalan yang tampak lebih mudah. Terhadap penolakan beban yang diberikan padaku. Terhadap... well, kalau perlu diungkapkan, terhadap kepercayaan atas kekuatan dan kebenaran Manusia."
"Meski begitu, kekuatan itu sudah lama melindungimu jauh di sana, di negerimu yang kecil, meski kau tidak tahu."
"Aku tidak meragukan keberanian bangsamu. Tapi dunia sedang berubah. Tembok-tembok Minas Tirith mungkin kelihatan kokoh, tapi tidak cukup kokoh. Kalau mereka jatuh, lalu bagaimana?"
"Kita semua akan jatuh dalam pertempuran gagah berani. Tapi masih ada

harapan bahwa mereka tidak akan gagal."

"Tidak ada harapan selama Cincin itu masih utuh," kata Frodo.

"Ah! Cincin!" kata Boromir, matanya berbinar. "Cincin! Bukankah suatu takdir aneh, bahwa kita harus menderita begitu banyak ketakutan dan keraguan, hanya demi benda kecil semacam itu? Benda sekecil itu! Dan aku hanya melihatnya sekilas di Rumah Elrond. Apakah aku bisa melihatnya lagi?"
Frodo menengadah. Hatinya tiba-tiba menjadi dingin. Ia menangkap sinar aneh dalam mata Boromir, meski wajahnya masih ramah dan bersahabat. "Sebaiknya dia tetap tersembunyi," jawab Frodo.
"Terserah. Aku tidak peduli," kata Boromir. "Tapi apakah aku tidak boleh hanya membicarakannya? Karena kau selalu hanya memikirkan kekuatannya di tangan Musuh: tentang kegunaannya yang jahat, bukan yang baik. Dunia sedang berubah, katamu. Minas Tirith akan jatuh, kalau Cincin itu tetap utuh. Tapi mengapa? Memang akan begitu kalau Cincin ada di tangan Musuh. Tapi bagaimana kalau Cincin itu ada di tangan kita?"
"Bukankah kau juga ikut Rapat Akbar?" jawab Frodo. "Kita tak bisa menggunakan Cincin itu, dan apa yang dilakukan dengannya berubah menjadi
jahat."

Boromir bangkit berdiri dan mondar-mandir tak sabar. "Begitu terus kau bicara," serunya. "Gandalf, Elrond-semua orang ini sudah mengajarimu berkata begitu. Mungkin untuk diri mereka sendiri mereka benar. Peri-peri dan separuh Peri serta penyihir mungkin akan bernasib jelek. Tapi sering aku meragukan, apakah mereka memang bijak atau sebenarnya hanya tidak berani. Tapi biarlah masing-masing apa adanya. Manusia berhati sejati, mereka tidak akan curang. Kami dari Minas Tirith setia selama tahun-tahun panjang pencobaan. Kami tidak menginginkan kekuatan raja penyihir, kami hanya ingin kekuatan untuk membela diri sendiri, kekuatan untuk perkara yang adil. Dan lihatlah! Dalam keadaan membutuhkan, kesempatan memunculkan Cincin Kekuasaan. Itu suatu hadiah, kataku; hadiah kepada musuh-musuh Mordor. Gila kalau tidak memanfaatkannya, memanfaatkan kekuatan Musuh untuk melawannya. Yang berani, yang kejam, hanya mereka yang akan memperoleh kemenangan. Apa

yang tidak bisa dilakukan pejuang di saat seperti ini, seorang pemimpin besar? Apa yang tidak bisa dilakukan Aragorn? Atau kalau dia menolak, mengapa bukan Boromir? Cincin itu akan memberiku kekuatan Perintah. Aku akan mengusir pasukan-pasukan Mordor, dan semua manusia akan datang berduyun- duyun ke panji-panjiku!"
Boromir melangkah mondar-mandir, berbicara semakin keras. Seolah ia hampir lupa pada Frodo, sementara pembicaraannya melantur tentang tembok dan senjata, dan pengerahan manusia; ia menjabarkan rencana-rencana untuk persekutuan besar serta kemenangan hebat yang akan terwujud; ia akan menjatuhkan Mordor, dan ia sendiri menjadi raja yang hebat, baik, dan bijak. Mendadak ia berhenti dan mengibaskan tangannya.
"Dan mereka menyuruh kita membuang Cincin itu!" serunya. "Aku tidak mengatakan menghancacrkannya. Itu mungkin baik, kalau akal sehat bisa menunjukkan manfaatnya melakukan hal itu. Tapi tidak. Rencana satu-satunya yang disarankan pada kita adalah membiarkanmu masuk membabi buta ke dalam Mordor, dan menawarkan Musuh semua kesempatan untuk mengambilnya kembali. Bodoh!"
"Pasti kau melihat itu, kawanku," kata Boromir, tiba-tiba berbicara pada Frodo lagi. "Katamu kau takut. Kalau memang begitu, orang yang paling berani perlu memaafkanmu. Tapi bukankah sebenarnya akal sehatmu yang melawan?" "Tidak, aku takut," kata Frodo. "Hanya takut. Tapi aku senang mendengarmu berbicara terus terang. Sekarang pikiranku sudah terang."
"Kalau begitu, kau akan datang ke Minas Tirith untuk beberapa waktu?" Boromir mendesak. "Kotaku sekarang tidak jauh lagi; dan dari sana jaraknya tinggal sedikit, daripada dari sini ke Mordor. Kita sudah lama berada di belantara, dan kau perlu berita tentang Musuh sebelum bergerak. Ikutlah bersamaku, Frodo," kata Boromir. "Kau perlu istirahat sebelum meneruskan perjalanan, kalau kau harus pergi." ia meletakkan tangannya ke atas pundak hobbit itu dengan sikap bersahabat; tapi Frodo merasa tangan itu gemetar dengan gairah yang ditahan. Ia mundur cepat, dan menatap dengan cemas Manusia tinggi itu, hampir dua kali tingginya dan berlipat ganda tandingannya dalam kekuatan.

"Mengapa kau begitu tidak ramah?" kata Boromir. "Aku manusia sejati, bukan maling atau pemburu. Aku membutuhkan Cincin-mu: kau tahu itu sekarang; tapi aku bersumpah aku tidak berhasrat menyimpannya. Setidaknya bisakah kau membiarkan aku mencoba rencanaku? Pinjamkan aku Cincin itu!"
"Tidak! Tidak!" teriak Frodo. "Dewan Penasihat menyuruhku menjadi pembawanya."
"Karena kebodohan kita sendiri Musuh akan mengalahkan kita," seru

Boromir. "Itu membuatku marah! Bodoh! Bodoh dan keras kepala! Sengaja lari menyongsong kematian dan menghancurkan tujuan kita. Kalau ada makhluk hidup yang berhak atas Cincin itu, maka manusia Numenor-lah yang berhak, bukan hobbit. Cincin itu bukan milikmu, kecuali karena suatu kebetulan yang buruk. Mestinya bisa jadi milikku. Seharusnya jadi milikku. Berikan padaku!"
Frodo tidak menjawab, tapi bergerak menjauh sampai mereka dibatasi oleh sebuah batu datar besar. "Ayo, ayo, kawanku!" kata Boromir dengan suara lebih lembut. "Kenapa tidak kaulepaskan saja? Kenapa tidak kaubebaskan dirimu dari keraguan dan ketakutan? Kau bisa menyalahkan aku, kalau mau. Kau bisa bilang aku terlalu kuat, dan bahwa aku mengambil Cincin itu dengan paksa. Karena aku memang terlalu kuat untukmu, hobbit," teriak Boromir; mendadak ia meloncati batu itu dan melompat ke arah Frodo. Wajahnya yang elok dan menyenangkan berubah menyeramkan; api berkobar di matanya.
Frodo mengelak ke samping, sekali lagi membuat batu berada di antara mereka. Hanya satu hal yang bisa dilakukannya: dengan gemetar ia mengeluarkan Cincin pada rantainya, dan dengan cepat mengalungkannya ke jarinya, tepat ketika Boromir melompat lagi ke arahnya. Boromir menarik napas kaget, memandang heran beberapa saat lamanya, kemudian berlari ke sana kemari, mencari di mana-mana di antara bebatuan dan pepohonan.
"Penipu jelek!" teriaknya. "Aku akan menangkapmu! Sekarang aku tahu pikiranmu. Kau akan membawa Cincin itu ke Sauron dan menjual kita semua. Kau hanya menunggu kesempatan untuk meninggalkan kami dalam kesulitan. Terkutuklah kau dan semua hobbit. Biar kalian mati dalam kegelapan!" Lalu ia tersandung sebuah batu, dan jatuh tertelungkup. Sejenak ia diam, seolah

dihantam oleh kutukannya sendiri; lalu tiba-tiba ia menangis.

Ia bangkit dan menyapukan tangan ke matanya, menyeka air mata. "Apa yang sudah kukatakan?" serunya. "Apa yang sudah kulakukan? Frodo, Frodo!" ia memanggil. "Kembalilah! Aku sempat lupa diri tadi, tapi itu sudah berlalu. Kembalilah!"


Tidak ada jawaban. Frodo bahkan tidak mendengar teriakan Boromir. Ia sudah jauh sekali, melompat membabi buta, mendaki jalan sampai ke puncak bukit. Teror dan kesedihan menggetarkan hatinya, dalam benaknya ia melihat wajah Boromir yang garang dan gila, dan matanya yang membara.
Tak lama kemudian, ia muncul sendirian di puncak Amon Hen, dan berhenti, terengah-engah. Seolah melalui kabut, ia melihat sebuah lingkaran datar yang luas, dilapisi ubin-ubin besar dan dikelilingi tembok rendah yang remuk; dan di tengah, dibangun di atas empat tiang berukir, ada takhta tinggi yang bisa dicapai melalui tangga. Ia naik dan duduk di kursi kuno itu, merasa seperti anak tersesat yang memanjat naik ke takhta raja pegunungan.
Mulanya ia hanya bisa melihat sedikit. Ia seolah berada di dunia kabut, di mana hanya ada bayang-bayang: Cincin itu masih dipakainya. Lalu di sana-sini kabut tersingkap, dan ia melihat banyak pemandangan: kecil dan jelas, seolah ada di bawah matanya, di atas sebuah meja, tap) sekaligus begitu jauh. Tak ada suara, hanya citra-citra hidup yang sangat terang. Dunia seolah menyusut dan terdiam. Ia duduk di Kursi Penglihatan, di Amon Hen, Bukit Mata Orang-Orang Numenor. Ke arah timur ia memandang, ke daratan luas yang belum dipetakan, padang-padang tak bernama, dan hutan-rimba yang belum dijelajahi. Ke Utara ia memandang, dan Sungai Besar menjulur seperti pita di bawahnya, Pegunungan Berkabut berdiri kecil dan keras, seperti gigi yang retak. Ke arah Barat ia menatap, dan melihat padang-padang rumput luas di Rohan; dan Orthanc, puncak menara Isengard, seperti paku hitam. Ke Selatan ia memandang, dan di bawah kakinya Sungai Besar melingkar seperti ombak tumbang dan meloncat ke atas air terjun Rauros, masuk ke dalam sumur berbuih; pelangi bercahaya bermain-main di atas uapnya. Dan ia melihat Ethir Anduin, delta besar Sungai,

ribuan burung laut terbang berputar-putar seperti debu putih di bawah sinar matahari, dan di bawah mereka lautan hijau dan perak, beriak-riak tak putus-
putus.

Tapi ke mana pun ia memandang, ia melihat tanda-tanda perang. Pegunungan Berkabut merangkak seperti gundukan semut: para Orc keluar dari ribuan lubang. Di bawah cabang-cabang pohon di Mirkwood ada perselisihan maut antara Peri dan Manusia dan hewan-hewan buruk. Negeri bangsa Beorning terbakar; awan menyelimuti Moria; asap naik di perbatasan Lorien.
Pasukan berkuda berderap di rumput Rohan; serigala-serigala keluar dari Isengard. Dari pelabuhan-pelabuhan Harad, kapal-kapal muncul di lautan; dan dari Timur, Manusia bergerak tak henti-hentinya: ahli pedang, ahli tombak, pemanah di atas kuda, kereta-kereta kepala suku, dan kereta penuh muatan. Seluruh kekuatan sang Penguasa Kegelapan sedang bergerak. Lalu memandang ke selatan lagi ia melihat Minas Tirith. Tampak sangat jauh dan indah: bertembok putih, banyak menaranya, gagah dan elok di atas kedudukannya di pegunungan; tembok-tembok bentengnya berkilauan dengan baja, dan menara-menara kecilnya tampak cerah dengan panji-panji. Sebersit harapan merekah di hatinya. Tapi berhadapan dengan Minas Tirith berdiri sebuah benteng lain, lebih besar dan lebih kuat. Tanpa ia sadari matanya tertarik ke arah timur. Melewati reruntuhan jembatan-jembatan Osgiliath, gerbang- gerbang Minas Morgul yang menyeringai, dan wilayah Pegunungan yang dihantui, matanya tertuju pada Gorgoroth, lembah teror di Negeri Mordor. Kegelapan menghampar di sana, di bawah Matahari. Gunung Maut terbakar, dan ban tajam naik. Akhirnya tatapannya terhenti: tembok demi tembok, atap-atap benteng hitam, kuat sekali, gunung besi, gerbang baja, menara kokoh, ia melihatnya: Barad-dur, Benteng Sauron. Semua harapannya sirna.
Tiba-tiba ia merasakan kehadiran sang Mata. Ada mata yang tidak tidur di Menara Kegelapan. Frodo tahu bahwa mata itu sudah menyadari tatapannya. Ada sorot garang dan bergairah di dalamnya. Mata itu melompat ke arahnya; hampir seperti jari, mencarinya. Segera mata itu akan menemukannya, tahu persis di mana dirinya. Mata itu menyentuh Amon Lhaw. Ia melirik Tol Brandir-

Frodo melemparkan dirinya dari takhta itu, membungkuk, menutupi kepala dengan kerudungnya yang kelabu.
Ia mendengar suaranya sendiri berteriak, Takkan pernah! Takkan pernah! Atau sebenarnya, Aku 'kan datang, datang kepadamu? ia tidak tahu. Lalu seperti kilatan dari ujung lain kekuatan, timbul pikiran lain dalam benaknya: Lepaskan! Lepaskan! Bodoh, lepaskan! Lepaskan Cincin itu!
Kedua kekuatan itu bertempur dalam dirinya. Untuk sesaat, dalam keseimbangan sempurna antara kedua ujung yang tajam, Frodo menggeliat tersiksa. Mendadak ia menyadari dirinya sudah kembali sendirian. Frodo, tak ada Suara maupun Mata: ia bebas memilih, dan waktunya sangat singkat. Ia melepaskan Cincin dari jarinya. Ia berlutut di bawah sinar matahari terang di depan takhta tinggi. Sebuah bayangan gelap seolah lewat bagaikan lengan, di atasnya; gagal menyentuh Amon Hen dan menggapai ke barat, lalu menghilang. Lalu seluruh langit bersih dan biru, dan burung-burung bernyanyi di setiap pohon.
Frodo bangkit berdiri. Ia merasa sangat lelah, tapi kehendaknya kokoh dan hatinya lebih ringan. Ia berbicara keras-keras pada dirinya sendiri. "Sekarang aku akan melakukan apa yang harus kulakukan," katanya. "Setidaknya satu hal ini sudah jelas: kejahatan Cincin itu sudah bekerja, bahkan di dalam Rombongan kami sendiri, dan Cincin ini harus meninggalkan mereka sebelum menimbulkan kerusakan lebih banyak. Aku akan pergi sendirian. Beberapa orang tak bisa kupercayai, dan mereka yang bisa kupercayai terlalu kusayangi: Sam yang malang, Merry dan Pippin. Strider juga: hatinya merindukan Minas Tirith, dan dia akan dibutuhkan di sana, setelah Boromir jatuh ke dalam kejahatan. Aku akan pergi sendirian. Segera."
Ia melangkah cepat melewati jalan, dan kembali ke halaman tempat Boromir menemukannya. Lalu ia berhenti, mendengarkan. Ia merasa bisa mendengar teriakan dan panggilan dari hutan dekat pantai di bawah.
"Mereka sedang mencariku," katanya. "Aku ingin tahu, berapa lama aku sudah pergi? Berjam-jam, kukira." ia berdiri ragu. "Apa yang bisa kulakukan?" ia menggerutu. "Aku harus pergi sekarang, kalau tidak, aku takkan pernah pergi.

Aku tidak akan mendapat kesempatan lagi. Aku tidak suka meninggalkan mereka, begitu saja, tanpa penjelasan. Tapi pasti mereka akan mengerti. Sam akan mengerti. Dan apa lagi yang bisa kulakukan?"
Perlahan-lahan ia mengeluarkan Cincin itu dan memakainya sekali lagi. Ia menghilang dan berjalan menuruni bukit, nyaris seperti desiran angin.


Yang lain tetap di tepi sungai untuk waktu sangat lama. Selama beberapa saat mereka tidak bersuara, sambil bergerak gelisah; tapi sekarang mereka duduk dalam lingkaran, dan berbicara. Sesekali mereka berusaha membicarakan hal lain, tentang perjalanan mereka yang lama dan sekian banyak petualangan; mereka bertanya pada Aragorn tentang wilayah Gondor dan sejarahnya yang kuno, serta sisa-sisa karya besarnya yang masih terlihat di negeri aneh di perbatasan Emyn Mull: raja-raja dari batu dan takhta Lhaw dan Hen, dan Tangga besar di samping air terjun Rauros. Tapi selalu saja pikiran dan percakapan mereka kembali ke Frodo dan Cincin itu. Apa yang akan dipilih Frodo? Mengapa ia ragu?
"Dia sedang mempertimbangkan jalan mana yang paling nekat, kukira," kata Aragorn. "Dan sebaiknya begitu. Sekarang makin mustahil bagi kita untuk pergi ke timur, karena jejak kita sudah tercium Gollum, dan kita perlu khawatir bahwa rahasia perjalanan kita sudah tersingkap. Tapi Minas Tirith masih jauh dari Api dan tugas menghancurkan Cincin itu.
"Kita bisa tinggal di sana untuk sementara, dan bertahan dengan berani; tapi Lord Denethor dan semua anak buahnya tak mungkin bisa melakukan apa yang menurut Elrond sekalipun berada di luar kekuasaannya: entah untuk merahasiakan Cincin itu, atau untuk menahan kekuatan lengkap Musuh saat dia datang untuk mengambilnya. Jalan mana yang akan dipilih salah satu di antara kita, kalau kita ada di tempat Frodo? Aku tidak tahu. Sekarang memang kita sangat kehilangan Gandalf."
"Kehilangan kita sangat menyedihkan," kata Legolas. "Namun begitu, kita harus mengambil keputusan tanpa pertolongannya. Mengapa kita tidak bisa mengambil keputusan, dan dengan demikian membantu Frodo? Kita panggil saja

dia, lalu mengambil suara! Aku memilih Minas Tirith."

"Aku juga," kata Gimli. "Memang kita hanya diutus untuk membantu Pembawa Cincin di sepanjang perjalanan, tak perlu pergi lebih jauh daripada yang kita inginkan; dan tidak ada di antara kita yang berada di bawah sumpah atau perintah untuk mencari Gunung Maut. Dengan berat hati aku berpisah dari Lothlorien. Meski begitu, aku sudah berjalan sejauh ini, dan beginilah tekadku: sekarang, saat kita sampai pada pilihan terakhir, sudah jelas bagiku bahwa aku tak bisa meninggalkan Frodo. Aku ingin memilih Minas Tirith, tapi kalau dia tidak ke sana, maka aku akan mengikutinya."
"Aku juga akan mendampinginya," kata Legolas. "Kalau sekarang " berpisah, berarti tidak setia."
"Memang akan menjadi pengkhianatan, kalau kita semua meninggalkannya," kata Aragorn. "Tapi kalau dia pergi ke timur, tidak semua perlu pergi bersamanya. Menurutku itu tidak perlu. Sebab itu langkah nekat, entah yang berangkat delapan orang, tiga orang, dua orang, atau bahkan sendirian. Kalau kalian membolehkan aku memilih, maka aku akan menunjuk tiga pendamping: Sam, yang pasti tidak ta ;r han kalau tidak ikut; Gimli; dan aku sendiri. Boromir akan kembali ke kotanya sendiri, di mana ayahnya dan rakyatnya membutuhkannya, dan bersama dia yang lain harus pergi; atau setidaknya Meriadoc dan Peregrin, kalau Legolas tidak mau meninggalkan
kami."

"Tidak bisa!" teriak Merry. "Kami tak bisa meninggalkan Frodo! Pippin dan aku berniat ikut dengannya, ke mana pun dia pergi, sampai sekarang. Tapi kami tidak menyadari apa artinya. Tampaknya be `" gitu berbeda ketika masih jauh di Shire atau di Rivendell. Gila dan kejam sekali kalau membiarkan Frodo pergi ke Mordor. Mengapa kita tak bisa menghentikannya?"
"Kita harus menghentikannya," kata Pippin. "Dan itu yang dia khawatirkan, aku yakin. Dia tahu kita tidak akan setuju dia pergi ke timur. Dan dia tidak mau meminta siapa pun untuk pergi dengannya. Kawanku yang malang. Bayangkan: pergi ke Mordor sendirian!" Pippin menggigil. "Tapi hobbit bodoh itu harus tahu bahwa dia tak perlu meminta. Dia harus tahu bahwa kalau kita tak bisa

menghentikannya, kita tidak akan meninggalkannya."

"Maaf," kata Sam. "Kukira kalian tidak memahami majikanku sama sekali. Dia bukan ragu tentang jalan mana yang harus diambil. Tentu saja tidak! Apa manfaat ke Minas Tirith? Bagi dia, maksudku, maaf, Master Boromir," tambahnya, dan menoleh. Saat itulah mereka menyadari bahwa Boromir, yang pada mulanya duduk diam di luar lingkaran, sudah tidak di sana lagi.
"Nah, ke mana dia?" seru Sam, tampak cemas. "Dia agak aneh belakangan ini, menurutku. Tapi bagaimanapun dia tidak terlibat urusan ini. Dia mau pulang, seperti selalu dikatakannya; dan dia tak bisa disalahkan. Tapi Mr. Frodo tahu bahwa dia harus menemukan Celah Ajal, kalau -bisa. Tapi dia takut. Kini, setelah tiba saatnya, dia takut. Itu kesulitannya. Memang dia sudah belajar banyak, bisa dikatakan begitu kita semua juga-sejak kita meninggalkan rumah. Kalau tidak, dia pasti akan sangat takut, dan akan membuang begitu saja Cincin- nya ke dalam Sungai, lalu lari terbirit-birit. Tapi dia masih terlalu ketakutan untuk memulai. Dia juga tidak khawatir tentang kita, entah kita akan menemaninya atau tidak. Dia tahu kita berniat begitu. Itu hal lain yang menyusahkan hatinya. Kalau dia mengumpulkan keberanian untuk pergi, dia akan ingin pergi sendirian. Camkan kata-kataku! Kita akan mendapat masalah kalau dia kembali. Karena dia pasti akan mengumpulkan keberanian, sama pastinya dengan namanya, Baggins."
"Aku percaya kau berbicara lebih bijak daripada kami semua, Sam," kata

Aragorn. "Dan apa yang harus kita lakukan, kalau kau terbukti benar?" "Hentikan dia! Jangan biarkan dia pergi!" seru Pippin.
"Aku ragu," kata Aragorn. "Dia yang ditugaskan membawa Cincin itu, dan Beban untuk menyingkirkan benda itu ada di pundaknya. Kukira tidak sepantasnya kita mendorong dia ke arah mana pun. Kalaupun kita mencoba, belum tentu akan berhasil. Ada kekuatan-kekuatan lain yang sedang bekerja, dan jauh lebih kuat."
"Well, kuharap Frodo berhasil mengumpulkan keberanian, dan kembali kemari, biar semuanya beres," kata Pippin. "Menunggu begini sangat menyiksa! Pasti waktu satu jam itu sudah habis?"

"Ya," kata Aragorn. "Saw jam sudah lama lewat. Pagi sudah hampir berakhir. Kita harus memanggilnya."


Saat itu Boromir muncul. Ia keluar dari pepohonan dan melangkah ke arah mereka, tanpa berbicara. Wajahnya kelihatan muram dan sedih. Ia berhenti, seolah menghitung mereka yang hadir, lalu ia duduk menyendiri, matanya menatap ke bawah.
"Ke mana kau tadi, Boromir?" tanya Aragorn. "Apa kau melihat Frodo?" Boromir ragu sejenak. "Ya dan tidak," ia menjawab lambat. "Ya, aku
menemukannya di atas bukit, dan aku berbicara padanya. Aku mendesaknya agar pergi ke Minas Tirith dan jangan pergi ke timur. Aku marah-marah dan dia meninggalkan aku. Dia lenyap. Aku belum pernah melihat hat semacam itu, meski aku pernah mendengarnya dalam dongeng-dongeng. Pasti dia memakai Cincin-nya. Aku tak bisa menemukannya lagi. Kupikir dia kembali pada kalian."
"Hanya itu yang bisa kaukatakan?" kata Aragorn, menatap tajam dan tidak terlalu ramah kepada Boromir.
"Ya," jawab Boromir. "Untuk sementara, itu saja yang kukatakan."

"Ini gawat sekali!" seru Sam sambil melompat berdiri. "Aku tidak tahu apa yang sudah diperbuat Manusia ini. Mengapa Mr. Frodo memakai Cincin-nya? Sebenarnya dia tak perlu melakukan itu; dan kalau dia melakukannya, siapa tahu apa saja yang sudah terjadi!"
“Tapi dia tidak akan terus memakainya,” kata Merry. “Tidak kalau dia sudah lolos dan tamu yang tak diundang, seperti Bilbo dulu." "Tapi ke mana dia pergi? Di mana dia?" seru Pippin. "Dia sudah lama sekali pergi."
"Berapa lama sejak terakhir kau melihat Frodo, Boromir?" tanya Aragorn. "Setengah jam, mungkin," jawab Boromir. "Atau mungkin juga satu jam.
Aku berkeliaran beberapa lama sesudahnya. Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!" Boromir memegangi kepalanya dengan dua tangan, dan duduk seolah membungkuk karena sedih.
"Satu jam sejak dia lenyap!" teriak Sam. "Kita harus berusaha mencarinya sekarang juga. Ayo!"

"Tunggu sebentar!" teriak Aragorn. "Kita harus berpasangan dan menyusun strategi sini, tahan dulu! Tunggu!"
Sia-sia saja. Mereka tidak memperhatikan Aragorn. Sam sudah lari lebih dulu. Merry dan Pippin mengikutinya, dan menghilang ke barat, ke dalam pepohonan dekat pantai, sambil berteriak: Frodo! Frodo! dengan suara hobbit mereka yang jernih dan tinggi. Legolas dan Gimli juga berlari. Kepanikan atau kegilaan mendadak seolah menimpa Rombongan itu.
"Kita semua akan tercerai-berai dan tersesat," erang Aragorn. "Boromir! Aku tidak tahu peran apa yang kaumainkan dalam kekacauan ini, tapi sekarang bantulah! Susullah kedua hobbit muda itu, dan setidaknya jaga mereka, meski kau tak bisa menemukan Frodo. Kembalilah ke tempat ini kalau kau menemukannya, atau jejaknya. Aku akan segera kembali."


Aragorn melompat lari dan mengejar Sam. Persis di halaman kecil di antara pohon rowan, ia berhasil menyusul Sam yang sedang bersusah payah mendaki, sambil terengah-engah dan memanggil, Frodo!
"Ikut aku, Sam!" kata Aragorn. "Jangan sampai satu di antara kita sendirian. Ada kejahatan berkeliaran. Aku bisa merasakannya. Aku akan pergi ke puncak, ke Takhta Amon Hen, untuk melihat apa yang bisa dilihat. Ikuti aku dan buka matamu lebar-lebar!" Aragorn memacu jalannya.
Sam berupaya keras, tapi tak bisa menyamai langkah Strider sang Penjaga Hutan, dan segera tertinggal di belakang. Ia belum melangkah jauh, tapi Aragorn sudah tak terlihat lagi di depan. Sam berhenti dan terengah-engah. Mendadak ia menepukkan tangan ke kepalanya.
"Hai, Sam Gamgee!" katanya keras-keras. "Kakimu terlalu pendek, jadi gunakanlah otakmu! Coba lihat dulu! Boromir tidak berbohong, itu bukan caranya; tapi dia tidak menceritakan seluruh ceritanya. Ada sesuatu yang membuat Mr. Frodo sangat ketakutan. Dia mengerahkan keberaniannya untuk bertindak, dengan tiba-tiba. Dia mengambil keputusan akhirnya—untuk pergi. Ke mana? Ke Timur. Tanpa Sam? Ya, bahkan tanpa Sam-nya. Itu kejam, sangat kejam."

Sam mengusapkan tangan ke matanya, menyeka air mata. "Tenang, Gamgee!" katanya. "Pikir, kalau bisa! Dia tak bisa terbang melintasi sungai, dan dia juga tak bisa melompati air terjun. Dia tak punya peralatan. Maka dia harus kembali ke perahu-perahu. Kembali ke perahu! Kembali ke perahu, Sam, secepat kilat!"
Sam membalikkan tubuh dan berlari kembali ke jalan setapak. Ia jatuh dan lututnya terluka. Ia bangkit dan terus berlari. Ia sampai ke pinggir halaman rumput Parth Galen di pantai, di mana perahu-perahu sudah dinaikkan keluar dari air. Tak ada siapa pun di sana. Terdengar teriakan-teriakan di hutan di belakang, tapi ia tidak memedulikannya. Ia berdiri menatap sejenak, diam melongo. Sebuah perahu sedang meluncur sendiri, turun dari tebing. Dengan berteriak Sam berlari melintasi rumput. Perahu itu masuk ke dalam air.
"Datang, Mr. Frodo! Datang!" teriak Sam, dan ia melemparkan dirinya dari tebing, menyambar perahu yang sedang berangkat itu. Tangkapannya meleset sekitar satu meter. Sambil berteriak, ia tercemplung jatuh ke sungai dalam yang deras. Ia tenggelam sambil kemasukan air, dan Sungai itu menutup di atas kepalanya yang berambut keriting.
Teriakan sedih keluar dan perahu kosong itu. Sebuah dayung berputar dan perahu itu membalik. Tepat pada waktunya, Frodo menjambak rambut Sam saat ia muncul ke atas, bergelembung-gelembung dan meronta-ronta. Ketakutan memancar dari matanya yang bulat cokelat.
"Naiklah, Sam, anakku!" kata Frodo. "Sekarang pegang tanganku!" "Selamatkan aku, Mr. Frodo!" Sam terengah-engah. "Aku tenggelam. Aku
tak bisa melihat tanganmu."

"Ini dia. Jangan mencubit-cubit, anakku! Aku tidak akan melepaskanmu. Tendang-tendanglah air, jangan menggelepar, nanti perahunya goyang. Nah, peganglah lambung perahu, dan biarkan aku memakal dayung."
Dengan beberapa kayuhan, Frodo membawa kembali perahunya ke tebing, dan Sam bisa memanjat keluar, basah seperti tikus air. Frodo melepaskan Cincin dan naik ke darat lagi.
"Dari semua gangguan menjengkelkan, kaulah yang terburuk, Sam!" kata

Frodo.



"Oh, Mr. Frodo, itu kejam!" kata Sam sambil menggigil, "Kejam sekali,


mencoba pergi tanpa aku. Kalau aku tidak menebak dengan benar, di mana kau sekarang?"
"Aman dalam perjalanan."

"Aman!" kata Sam. "Sendirian tanpa aku untuk menolongmu? Aku tidak akan tahan, aku bisa mati."
"Kau akan mati kalau kau pergi denganku, Sam," kata Frodo, "dan aku tidak tahan itu."
"Tidak sepasti kalau ditinggal," kata Sam. "Tapi aku akan pergi ke Mordor."
"Aku sudah tahu itu, Mr. Frodo. Tentu saja kau akan ke sana. Dan aku akan pergi bersamamu."
"Nah, Sam," kata Frodo, "jangan ganggu aku! Yang lain setiap saat akan kembali. Kalau mereka mencegatku di sini, aku terpaksa berdebat dan menjelaskan, dan aku tidak akan pernah sampai hati atau mendapat kesempatan untuk berangkat. Tapi aku harus segera pergi. Ini jalan satu- satunya."
"Tentu saja," jawab Sam. "Tapi tidak sendirian. Aku juga ikut, atau tidak ada di antara kita yang pergi. Aku akan melubangi semua perahu dulu."
Frodo benar-benar tertawa. Perasaan hangat dan bahagia mendadak menyentuh hatinya. "Tinggalkan satu!" katanya. "Kita akan membutuhkannya. Tapi kau tak bisa ikut seperti ini, tanpa peralatan, makanan, atau apa pun."
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil barang-barangku!" teriak Sam

bersemangat. "Sudah siap semua. Aku sudah berpikir kita harus berangkat hari ini." ia berlari ke tempat perkemahan, mengambil ranselnya dari tumpukan yang disusun Frodo ketika ia mengosongkan perahu dari bawaan teman-temannya, meraih selembar selimut tambahan dan beberapa bungkusan makanan, lalu berlari kembali.
"Rusaklah seluruh rencanaku!" kata Frodo. "Sia-sia mencoba melarikan diri darimu. Tapi aku gembira, Sam. Aku tak bisa mengungkapkan betapa

gembiranya aku. Ayo! Sudah jelas kita ditakdirkan harus pergi bersama. Kita akan pergi, dan mudah-mudahan yang lain menemukan Plan yang aman! Strider akan mengurus mereka. Kurasa kita tidak akan melihat mereka lagi."
"Mungkin kita masih akan bertemu mereka, Mr. Frodo. Mungkin masih." kata Sam.
Maka Frodo dan Sam mengawali tahap terakhir Pencarian bersama- sama. sama. Frodo mendayung menjauhi pantai, dan Sungai itu membawa mereka dengan cepat, melalui cabang barat melewati batu-batu karang Tol Brandir yang cemberut. Raungan air terjun besar semakin mendekat. Bahkan meski dibantu Sam, perlu kerja keras untuk menyeberangi arus di ujung selatan pulau, dan mengemudikan perahu ke timur, menuju pantai seberang.
Akhirnya mereka mendarat lagi di lereng selatan Amon Lhaw. Di sana mereka menemukan pantai sempit, dan mereka pun menarik perahu keluar, tinggi di atas air, dan menyembunyikannya sebaik mungkin di balik sebuah batu besar. Lain dengan membawa barang-barang mereka, keduanya berangkat, mencari jalan yang akan membawa mereka melintasi bukit-bukit kelabu Emyn Mull, dan turun ke Negeri Bayang-Bayang.


Bersambung ke buku kedua…

0 Response to "The Lord of the Rings 1 Part 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified