Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Count of Monte Cristo 3

Monte Cristo mendengar suara jantungnya sendiri berdetak
semakin cepat. Betapapun terbiasanya seseorang dengan
sesuatu bahaya, namun dari denyut jantungnya dan bergetarnya
daging dia selalu menyadari betapa besarnya
perbedaan antara khayalan dan kenyataan, antara bencana
dan pelaksanaannya.
Monte Cristo memberi isarat kepada Ali, yang juga
mengetahui bahwa bahaya datang dari arah kamar majikannya.
Ia datang menghampiri- Monte Cristo ingin sekali
segera mengetahui siapa sebenarnya musuhnya dan berapa
orang banyaknya. Jendela yang kacanya sedang dipecahkan
terletak tepat sekati di hadapan lubang dinding tempat ia
melihat ke kamar pakaiannya. Dia mengarahkan matanya
ke jendela itu dan dia melihat sesosok bayangan di luar
kaca. Kaca itu tiba-tiba menjadi gelap, seakan-akan sehelai
kertas gelap direkatkan kepadanya. Tak berapa lama
kemudian, kaca itu pecah tanpa jatuh ke lantai. Sebuah
tangan masuk dari lubang itu melepaskan selot jendela.
Sesosok tubuh itu masuk- la hanya seorang diri.
Pada saat itu Monte Cristo merasakan Ali menyentuh
bahunya. Dia melihat kepada Ali. Ali menunjuk ke jendela
kamar tidur yang menghadap ke jalan. Monte Cristo sadar
akan ketajaman firasat pelayannya. Dia berjalan menuju
jendela itu dan melihat seorang laki-laki di luar seperti
sedang mengawasi apa yang sedang dan akan terjadi di
rumah itu.
"Seorang bertindak dan seorang lagi menjaga," pikir
Monte Cristo. Dia memberi isarat kepaaa Ali untuk
mengawasi orang yang di jalan, sedang dia sendiri kembali
mengawasi pencuri yang sudah berada di kamar
pakaiannya.
Orang itu berdiri di kamar itu, memperhatikan keadaan
sekelilingnya. Dia melihat bahwa ada dua pintu dalam
ruangan itu. la tidak mengetahui bahwa pegangan palang
pintu yang menuju ke kamar tidur sudah dilepaskan oleh
Monte Cristo. Ia merasa aman, tidak akan terganggu.
Monte Cristo mendengar suara gemerincing serangkaian
kunci seperti yang biasa dimiliki oleh tukang-tukang kunci
untuk menolong membukakan pintu-pintu yang hilang
kuncinya- Para pencuri memberi julukan "burung bulbul"
kepada rangkaian kunci semacam itu, pasti karena
kepuasannya mendengar suara yang terdengar sedap di
telinga ketika terbukanya pintu karena kunci itu.
"Ah!" pikir Monte Cristo dengan senyum kecewa.
"Hanya seorang pencuri."
Oleh karena tidak dapat menemukan kunci yang pas
dalam kegelapan, pencuri itu mengambil sebuah benda
yang diletakkan di atas meja ketika dia tadi masuk. lalu
salah satu menekan pernya dan tiba-tiba secercah cahaya
menerangi tangan dan wajahnya.
"Hah!" Monte Cristo terperanjat dan mundur selangkah.
"Dia adalah..."
Ali mengangkat kapaknya.
"Jangan bergerak!" perintah Monte Cristo berbisik. "Dan
letakkan kapak itu, kita tidak akan memerlukan senjata."
Lalu Monte Cristo menambahkan perintah-perintah lainnya
dengan suara yang lebih ditekan karena keterkejutannya
tadi, yang barangkali juga telah mengejutkan pula orang di
dalam kamar pakaian itu.
Dengan berjingkat-jingkat Ali pergi sebentar dan kembali
lagi sambil membawa pakaian hitam dan topi bersegi tiga-
Sementara itu Monte Cristo telah menanggalkan jas, rompi
dan kemejanya. Di bawah kemejanya ia memakai sebuah
baju besi. Yang terakhir dari jenis baju ini dipakai di
Perancis oleh Raja Louis XVI yang takut terhadap ancaman
pedang, tetapi wafat karena kapak. Segera pula baju besi ini
hilang tertutup oleh sebuah jubah panjang bersamaan
dengan hilangnya rambut Monte Cristo di bawah sebuah
wig. Topi bersegi tiga itu menutupi rambut palsunya,
melengkapi penyamaran Monte Cristo menjadi seorang
padri.
Pencuri yang sudah tidak mendengar lagi suara-suara
yang mencurigakan melanjutkan pekerjaannya.
"Baik," kata Monte Cristo yang rupanya mempunyai
juga pengetahuan tentang beberapa rahasia perk ncian yang
tidak diketahui oleh pencuri terpandai pun, "engkau akan
sibuk sementara ini." Dia berjalan ke arah jendela.
Orang yang di jalan sekarang sedang berjalan hilir
mudik. Anehnya, orang itu bukannya mengawasi kalaukalau
ada orang yang datang, melainkan memusatkan
perhatiannya kepada apa yang sedang terjadi di rumah
Monte Cristo. Maksud dia berjalan-jalan hanya untuk
melihat ke dalam kamar pakaian. Tiba-tiba Monte Cristo
memukul dahinya lalu tertawa agak ditahan. Dia kembali
kepada Ali dan berkata,. "Engkau tinggal di sini dan
bersembunyi dalam gelap. Apapun yang engkau dengar
atau apapun yang terjadi, engkau jangan keluar kecuali
kalau aku memanggil namamu."
Ali memberi isarat bahwa ia mengerti dan akan mematuhi
perintah itu.
Monte Cristo mengambil sebuah lilin dari lemari dan
menyalakannya. Selagi si pencuri sibuk dengan ikhtiarnya
membuka laci, dengan hati-hati sekali Monte Cristo membuka
pintu dan mengusahakan sedemikian rupa sehingga
wajahnya jelas diterangi cahaya lilin. Pintu terbuka dengan
perlahan sekali. Pencuri itu tidak mendengar apa-apa,
hanya saja dia terkejut sekali menyadari bahwa ruangan
tiba-tiba menjadi terang. Dia berbalik.
"Selamat malam, Tuan Caderousse," kata Monte Cristo.
"Apa yang sedang Tuan kerjakan di sini pada malam selarut
ini?"
'Padri Busoni!" Caderousse berteriak semakin terkejut.
Dia tidak mengerti bagaimana "hantu" ini dapat masuk
padahal ia merasa telah dengan cermat sekali menutup
pintu- Rangkaian kunci terjatuh dari tangannya dan ia
berdiri terbengong-bengong.
Monte Cristo berjalan beberapa langkah lagi lalu berhenti
antara Caderousse dan jendela. Dengan demikian dia
menghalangi satu-satunya jalan lari si pencuri.
"Padri Busoni!" katanya mengulang, masih dengan nada
dan pandangan heran.
"Betul, saya Padri Busoni. Dan saya merasa gembira
karena Tuan masih mengenal saya. Tuan Caderousse. Ini
membuktikan bahwa ingatan Tuan kuat sekali, karena,
kecuali kalau saya keliru, sudah sepuluh tahun lewat sejak
kita berjumpa . . . Dan sekarang Tuan sedang merampok
rumah Count of Monte Cristo."
"Padri Busoni," katanya lagi dengan suara dikulum. Dia
mencoba mendekati jendela yang dikawal Monte Cristo.
"Saya tidak . . . harap Bapak sudi mempercayai saya . . .
saya bersumpah . . ."
"Jendela kaca yang pecah, lentera, serangkai "burung
bulbul," sebuah laci meja yang hampir terbongkar . . . .
semua itu telah jelas."
Caderousse melihat ke sekeliling mencari tempat bersembunyi
atau lubang untuk meloloskan diri.
"Saya lihat Tuan tidak berubah: Tuan Caderousse si
Pembunuh," lanjut Monte Cristo.
"Oleh karena rupanya Bapak mengetahui segala-galanya,
tentu Bapak mengetahui juga bahwa itu kesalahan istri
saya, bukan salah saya. Pengadilan mengakui kebenaran
ini, ternyata dari hukuman yang dijatuhkan hanya berupa
kerja paksa."
"Apakah Tuan sudah selesai menjalani hukuman itu?"
"Tidak, Bapak, saya dibebaskan oleh seorang yang tidak
saya kenal."
"Orang itu telah berbuat amal yang baik sekali bagi
masyarakat."
"Begini Bapak, saya berjanji . . ."
"Kalau begitu Tuan adalah pelarian narapidana!" Monte
Cristo menyela.
"Saya kira begitu," jawab Caderousse bimbang.
"Dalam hal demikian, kejahatan kecil ini mungkin sekali
akan membawa Tuan ke tiang gantungan."
"Bapak, saya terpaksa . . .”
''Semua penjahat mengatakan demikian."
"Kemiskinan . . ."
"Sudah!" kata Busoni tajam. "Kemiskinan dapat menyebabkan
seseorang meminta-minta atau mencuri
sepotong roti, tetapi tidak menyebabkan dia membongkar
sebuah laci meja tulis dalam sebuah rumah yang dia sangka
tidak berpenghuni. Dan ketika engkau membunuh jauhari
yang datang untuk membayar harga intan yang aku berikan
kepadamu, apakah itu juga karena kemiskinan?"
"Maafkan saya, Bapak," kata Caderousse meminta.
"Bapak pernah sekali menyelamatkan jiwa saya, tolonglah
untuk kedua kalinya."
"Kejadian yang dahulu tidak akan mempengaruhi saya
sekarang."
"Apakah Bapak seorang diri, atau ada polisi bersama
Bapak untuk menangkap saya?"
"Sendiri," kata padri, "dan aku mau memaafkanmu,
sekalipun kelemahanku ini dapat menimbulkan keburukan
lainnya, kalau engkau bersedia mengatakan segala sesuatu
dengan sebenarnya."
"Oh, Bapak Busoni!" teriak Caderousse gembira sekali
sambil maju selangkah. "Bapak memang penyelamat saya!"
"Engkau mengatakan bahwa ada seseorang yang membebaskan
engkau dari penjara?"
"Benar, saya berani bersumpah!"
"Siapa?"
"Seorang Inggris."
"Namanya?"
"Lord Wilmore."
"Aku kenal kepadanya, jadi aku akan dapat membuktikan
kebenaran kata katamu ini."
"Saya tidak berbohong, Bapak Busoni!"
"Jadi orang Inggris itu pelindungmu, betul?"
"Bukan, beliau pelindung orang Corsica, kawan seperantauan."
"Siapa nama orang Corsica itu?"
"Benedetto."
"Nama keluarganya?"
"Dia tidak pernah mempunyai nama keluarga ... Ia
seorang anak pungut."
"Dan dia pun kabur bersamamu?"
"Betul. Kami bekerja di Saint-Mandrier dekat Toulon.
Pada suatu hari kami mengikir rantai kami dengan kikir
yang diberikan oleh orang Inggris itu, dan kami kabur."
"Bagaimana kejadiannya dengan Benedetto?"
"Saya tidak tahu, kami berpisah di Hyeres."
"Engkau bohong!" kata padri dengan nada suara yang
sukar dibantah. "Orang itu masih menjadi kawanmu dan
engkau mungkin akan menggunakannya sebagai kaki
tanganmu."
"Oh, Bapak Busoni!"
"Apa penghasilanmu setelah meninggalkan Toulon?
Jawab!"
"Dari melakukan pekerjaan lama."
"Bohong!" kata padri sekali lagi dengan nada yang lebih
keras. Caderousse memandangnya dengan takut. "Engkau
hidup dari uang yang diberikan oleh Benedetto."
"Betul begitu." jawab Caderousse. "Benedetto telah
menjadi anak seorang bangsawan kaya."
"Bagaimana mungkin dia menjadi anak seorang bangsawan,
kaya?"
"Bukan anak yang sah."
"Siapa nama bangsawan yang kaya itu?"
"Count of Monte Cristo yang tinggal di rumah ini."
"Benedetto menjadi anak Count of Monte Cristo?" tanya
Monte Cristo terheran heran
"Begitulah kira-kira, karena Count of Monte Cristo telah
menemukan seorang ayah palsu baginya, yang memberinya
lima ribu frank setiap bulan dan bermaksud mewariskan
setengah juta frank."
"Ah, aku paham sekarang," kata padri palsu itu yang
sudah mulai mengerti jalan pikiran Caderousse. "Nama apa
yang dipergunakan anak muda itu sekarang?"
"Andrea Cavalcanti."
"Kalau begitu, dialah orangnya yang diterima kawanku
Monte Cristo di rumahnya dan yang akan mengawini Nona
Danglars?"
"Tepat sekali."
"Dan engkau membiarkannya, kau penjahat busuk!
Engkau yang mengetahui riwayat hidupnya dan
kebusukannya”
"Mengapa saya harus menghalangi kebahagian kawan
sendiri?”
"Betul juga. Engkau bukanlah orangnya yang akan
memberitahu Tuan Danglars. Aku…,"
"Jangan, Bapak Busoni!"
"Mengapa?"
"Karena Bapak akan menghilangkan sumber hidup
kami."
"Apakah engkau mengira, karena hendak menolong
sepasang penjahat mencari kehidupannya aku akan mau
menjadi sekutunya? Tidak, aku akan mengatakan semuanya
kepada Tuan Danglars."
"Engkau tidak akan bisa mengatakannya kepada siapa
pun juga, Padri!" Caderousse berteriak sambil menghunus
pisaunya lalu menghujamkannya ke tengah-tengah dada
Monte Cristo. Dia sangat heran karena pisau itu bukan
tertancap pada dada padri melainkan mental kembali dan
patah ujungnya. Pada saat yang bersamaan Monte Cristo
menangkap tangan penyerangnya lalu memilinnya dengan
kuat sekali sehingga pisau itu terjatuh. Caderousse menjerit
kesakitan.
Monte Cristo tidak melemahkan pilinannya karena jeritan
ini. Bahkan ia memperkerasnya sehingga Caderousse
terduduk pada lututnya dan akhirnya tertelungkup dengan
wajahnya di lantai. Monte Cristo menginjakkan kakinya
pada kepala Caderousse, lalu berkata, "Aku tidak tahu, apa
yang mencegahku menghancurkan tengkorakmu, pembunuh!"
"Kasihanilah saya! Kasihanilah saya!"
Count of Monte Cristo mengangkat lagi kakinya. "Berdiri!"
katanya.
Caderousse berdiri.
"Ya Tuhan, kuat benar Bapak ini!” kata Caderousse
sambil memegang-megang tangannya yang masih sakit.
"Oh Tuhan kuat sekail!”
“Diam! Tuhan memberikan kekuatan kepadaku untuk
menindas binatang-binatang jalang seperti engkau. Aku
bertindak atas nama Tuhan, ingatkan itu, kau bedebah. Dan
atas kehendak Tuhan juga aku melepaskanmu sekarang.
Pegang pena itu" dan tuliskan apa yang aku katakan."
"Saya tidak pandai menulis.” kata Caderousse.
"Bohong! Pegang pena itu dan tulis!'
Caderousse tidak dapat membantah. Dia duduk lalu
menulis:
"Tuan Danglars, laki-laki yang Tuan terima di rumah
Tuan dan yang Tuan rencanakan untuk diambil sebagai
menantu adalah seorang penjahat yang lari dari penjara
Toulon bersama saya. Dia mengaku bernama Benedetto,
tetapi dia sendiri sebetulnya tidak mengetahui siapa
namanya yang sebenarnya, dan tidak pernah mengenal
siapa orang tuanya."
"Tandatangani!" perintah Monte Cristo. Caderousse
menandatanganinya.
"Sekarang beri alamat: Kepada Baron Danglars, Rue de
la Chaussee-d' Antin."
Caderousse menulis alamat itu. Monte Cristo mengambil
kertas itu dari tangan Caderousse, lalu berkata, "Sekarang
kau boleh pergi."
"Apakah Bapak merencanakan sesuatu terhadap saya?"
"Gila engkau! Rencana apa?"
"Tolong tegaskan, Bapak tidak menghendaki kematian
saya."
"Aku menginginkan apa yang dikehendaki Tuhan,"
jawab Monte Cristo. "Kalau engkau dapat selamat sampai
ke rumah, segera tinggalkan Paris, tinggalkan Perancis dan
di mana pun engkau berada, selama engkau berkelakuan
baik aku akan mengatur supaya engkau dapat menerima
pensiun sekadarnya setiap bulan, karena kalau engkau
selamat sampai di rumah berarti . .
"Berarti apa?" tanya Caderousse bergidik.
"Berarti aku akan percaya bahwa Tuhan mengampunimu
dan aku pun akan memaafkanmu."
"Bapak memperingatkan saya akan kematian!" kata
Caderousse takut.
"Ayo pergi!" kata Monte Cristo menunjuk jendela.
Caderousse yang tidak dapat diyakinkan sepenuhnya
oleh janji Count of Monte Cristo menaiki jendela lalu
menuruni tangga. Monte Cristo mendekatinya sambil membawa
lain. Siapa pun juga yang mengawasinya di jalan akan
dapat melihat dengan jelas Caderousse sedang menuruni
tangga dan diantar orang lain dengan membawa lilin
"Apa maksud Bapak?" tanya Caderousse cemas. "Bagaimana
kalau ada patroli lewat?"
Monte Cristo meniup lilin. Caderousse tidak dapat
bernapas lega sebelum kakinya menginjak tanah.
Monte Cristo kembali ke kamar tidurnya. Dari sana ia
melihat Caderousse melintasi pekarangan lalu memasang
tangga di tembok. Dia lihat orang yang di jalan itu
bersembunyi di sudut dinding dekat dengan tempat Caderousse
akan menaikinya.
Tepat ketika kakinya menginjak tanah di seberang
dinding Caderousse melihat sebuah tangan memegang
pisau. Sebelum dia sempat mempertahankan diri tangan itu
telah menikam punggungnya, kemudian pinggangnya.
Ketika dia terjatuh, penyerangnya menjambak rambutnya
dan menikamnya lagi untuk ketiga kalinya. Sekarang di
dadanya. Setelah melihat korbannya tidak berkutik lagi dan
matanya menutup, si penikam meninggalkannya dengan
perkiraan korbannya sudah mati.
Dengan susah payah Caderousse bangkit bertelakan
kepada sikutnya. Dia berteriak lemah sekali, "Tolong! Padri
Busoni! Saya mati!”
Teriakan yang mengharukan ini menembus kesunyian.
Pintu pekarangan rumah terbuka dan Ali bersama
majikannya muncul sambil memegang lentera.
"Ada apa?" tanya Monte Cristo
"Tolong! Saya ditikam."
"Tabahkan hatimu!"
"Ah, terlambat! Bapak datang hanya tepat untuk
menyaksikan kematian saya!"
Ali dan Monte Cristo mengangkat orang terluka itu ke
dalam rumah Monte Cristo memeriksa ketiga luka tikam
dengan cermat. Ali memandang kepada majikannya
seakan-akan hendak bertanya apa yang harus dilakukan.
"Pergi ke rumah Tuan Jaksa de Villefort dan bawa beliau
ke mari. Dan katakan kepada penjaga supaya dia
memanggil dokter."
“Dokter tak akan dapat menyelamatkan jiwa saya, tetapi
barangkali dia dapat memberi saya sedikit kekuatan
sehingga saya mempunyai waktu untuk membuat sebuah
pernyataan."
"Tentang apa?"
"Tentang orang yang menikam saya"
"Kau tahu siapa dia?"
"Saya tahu! Benedetto."
"Kawanmu orang Corsica itu?"
"Benar. Dialah yang memberikan denah rumah ini.
Mungkin sekali dia mengharapkan saya dapat membunuh
Count of Monte Cristo. Dengan demikian dia dapat
menerima warisannya dengan cepat- Mungkin juga dia
mengharapkan Count of Monte Cristo dapat membunuh
saya, sehingga dia terbebas dari saya. Ketika dia melihat
bahwa tidak satu pun dari harapannya terjadi, dia menikam
saya."
"Tuan Jaksa akan segera datang."
"Beliau akan terlambat. Saya terlalu banyak kehilangan
darah."
'Tunggu " kata Monte Cristo. Dia pergi sebentar, lalu
kembali lagi membawa sebuah botol. Dikucurkannya tiga
empat tetes dari isinya ke antara bibir Caderousse. Caderousse
menarik napas lega.
"Beri lagi saya air kehidupan itu! Tambah lagi!"
"Dua tetes lagi engkau mati."
"Oh, mengapa jaksa itu belum juga tiba?"
"Mau engkau kalau aku menuliskan pernyataanmu?"
"Ya! Ya!" Matanya bersinar gembira karena membayangkan
pembalasan dendam dari alam baka.
Monte Cristo menulis :
"Orang yang menikam saya, seorang Corsica bernama
Benedetto, kawan sepelarian saya dari penjara Toulon."
"Cepat," kata Caderousse, "nanti saya tak sempat
menandatanganinya."
Monte Cristo menyerahkan pena kepadanya. Caderousse
menyerahkan segenap tenaganya untuk menandatangani
pernyataan itu. Setelah itu ia jatuh terkulai lagi. "Bapak
akan menceriterakan selebihnya, bukan? Ceriterakan bahwa
dia menyebut dirinya sekarang Andrea Cavalcanti, bahwa
dia tinggal di Hotel des Princes, bahwa . . .Oh, Tuhan!
Tuhan! Saya mati!" Caderousse tak sadarkan diri. Monte
Cristo menyodorkan botol obat ke bawah hidungnya
supaya dia dapat menghirup baunya.
Caderousse membuka matanya lagi. Nafsu membalas
dendamnya tidak hilang selama dia pingsan. "Bapak akan
menceriterakannya lagi, bukan?" tanyanya lagi.
"Ya, semuanya dan yang lain-lainnya lagi."
"Apa yang lain-lainnya?"
"Aku akan ceriterakan bahwa dia memberikan denah
rumah ini dengan harapan bahwa Count of Monte Cristo
akan membunuhmu. Akan aku katakan juga bahwa dia
mengirim surat kepada. Count of Monte Cristo memberitahukan
tentang maksudmu, dan bahwa, karena Count of
Monte Cristo sedang tidak ada di tempat, akulah yang
menerima surat itu dan menunggumu di sini."
"Dia akan dihukum pancung, bukan? Tolong yakinkan
saya bahwa dia akan dipancung. Keyakinan itu akan
memudahkan saya mati."
"Aku akan ceriterakan bahwa dia mengikutimu ke mari,"
lanjut Monte Cristo tanpa menghiraukan perkataan
Caderousse, "bahwa dia mengawasimu selama engkau berada
dalam rumah ini, dan menyembunyikan dirinya di
sana."
"Maksud Bapak, Bapak melihat semuanya itu?"
"Ingat kata-kataku? Kalau engkau selamat sampai di
rumah, aku yakin bahwa Tuhan mengampunimu dan aku
pun akan mengampunimu."
"Bapak tidak memberitahu saya!" Caderousse berteriak
mencoba bangkit. "Bapak tahu saya akan dibunuh dan
Bapak tidak memperingatkan saya!"
"Tidak, karena aku melihat keadilan Tuhan ada pada
tangan Benedetto dan aku berpendapat salah kalau aku
menentang kehendak Tuhan."
"Jangan berkata tentang keadilan Tuhan kepadaku, Padri
Busoni! Bapak tahu lebih dari orang lain bahwa kalau benar
ada keadilan Tuhan, banyak orang harus dihukum.
Nyatanya tidak."
"Sabar!" kata padri dengan nada suara yang mambuat
rang sekarat itu gemetar. "Dengarkan, baik-baik. Tuhan
yang engkau ingkari sampai detik terakhirmu di bumi ini,
adalah yang memberikan kesehatan, kekuatan, kerja yang
menguntungkan dan sahabat-sahabat. Pendeknya segala
yang diperlukan manusia untuk dapat hidup dengan hati
yang bersih dan dapat menikmati keinginannya yang wajar.
Tetapi, bukannya mensyukuri pemberian Tuhan yang
engkau lakukan, melainkan menenggelamkan dirimu
sendiri ke dalam kemalasan dan mabuk, dan dalam
kemabukan itu engkau mengkhianati salah seorang dari
sahabat baikmu."
"Tolong! Aku perlu dokter, bukan padri! Mungkin
lukaku tidak parah, mungkin jiwaku masih dapat ditolong!"
"Luka-lukamu sangat parah sehingga seharusnya engkau
sudah mati kalau aku tidak memberimu obat tadi."
"Padri aneh!" Caderousse menggerutu. "Bapak menggiring
orang sekarat ke dalam penyesalan, bukannya menghibur!"
"Dengarkan, baik-baik," lanjut Monte Cristo. "Ketika
engkau mengkhianati sahabatmu, Tuhan tidak
menghukummu, tetapi cukup dengan memperingatkanmu.
Engkau jatuh miskin. Segera engkau berpikir jahat dan
membuat kemiskinanmu sebagai dalih. Ketika Tuhan
menciptakan suatu keajaiban untukmu dengan memberimu
suatu rijki yang besar, suatu kekayaan yang sangat besar
bagimu yang sedang tidak mempunyai apa-apa, ternyata
rijki yang tidak diduga itu masih belum cukup juga bagimu.
Segera setelah engkau menggenggamnya engkau bernafsu
melipatgandakannya. Dan dengan jalan apa? Dengan
pembunuhan.
Engkau berhasil melipatgandakannya, tetapi Tuhan merenggutnya
kembali dari tanganmu dan menyerahkan
engkau kepada keadilan manusia. Namun demikian, Dia
masih juga mengasihimu dengan membuat hakim-hakim
tidak menghukummu mati."
"Bapak anggap sebagai suatu kemurahan karena mereka
menghukum saya dengan kerja paksa seumur hidup?"
"Engkau pun berpikir begitu ketika hukuman itu dijatuhkan,
bedebah. Jiwamu yang pengecut, gemetar
ketakutan menghadapi kematian, tetapi melonjak
kegirangan ketika mendengar dengan telingamu sendiri
engkau dihukum harus menjalani kehidupan yang
memalukan seumur hidup. Engkau sendiri mengatakan,
seperti juga pesakitan-pesakitan lainnya: 'Penjara
mempunyai pintu, tetapi kuburan tidak.' Dan engkau benar,
ternyata pintu penjara itu terbuka untukmu dengan cara
yang sama sekali tidak terduga: Seorang Inggris berkunjung
ke Toulon dan karena ia telah membuat janji kepada
dirinya sendiri untuk membebaskan dua orang dari
kehinaannya, kebetulan memilih engkau dan kawanmu.
Tuhan memberimu lagi kesempatan untuk kedua kalinya:
Kalian berdua mempunyai uang dan kebebasan dan engkau
sebenarnya dapat memulai hidup haru Tetapi ternyata
engkau menentang lagi Tuhan untuk ketiga kalinya. 'Aku
merasa tidak cukup,' katamu kepada dirimu sendiri padahal
keadaanmu belum pernah sebaik itu. Dan engkau membuat
kejahatan ketiga, tanpa alasan. Akhirnya Tuhan murka dan
menghukummu."
"Dan engkau pun akan dihukum," kata Caderousse.
"Karena tidak melakukan kewajibanmu sebagai padri.
Seharusnya engkau mencegah Benedetto menikam aku."
"Aku!" kata Monte Cristo dengan senyum yang membuat
darah Caderousse menjadi dingin. "Aku harus mencegah
Benedetto membunuhmu setelah engkau menikam dadaku
yang untung berperisai? Seandainya tadi engkau bersikap
merendah dan menyesal mungkin sekali aku akan mau menyelamatkan
jiwamu, tetapi ternyata engkau malah sombong
dan haus darah."
"Aku tidak percaya kepada Tuan, dan engkau pun tidak!"
teriak Caderousse. "Engkau bohong! Engkau bohong!"
"Diam, darahmu bisa habis terkuras dari pembuluhnya.
Engkau tidak percaya kepada Tuhan, padahal sekarang ini
engkau sedang dihancurkan oleh Tuhan. Engkau tidak
percaya kepada Tuhan, padahal yang Tuhan harapkan
darimu hanyalah sebuah doa sepatah kata atau setitik air
mata penyesalan agar engkau dapat diampuni. Sebenarnya
Tuhan dapat saja mengarahkan pisau Benedetto sedemikian
rupa sehingga engkau mati seketika. Tetapi tidak. Tuhan
masih memberimu kesempatan seperampat jam kepadamu
untuk merasakan dan membuat penyesalan. Tanyalah hati
nuranimu sendiri, keparat, dan menyesallah!"
"Tidak, tidak, aku tidak mau bertobat! Tidak ada Tuhan,
tidak ada Yang Maha Kuasa. Yang ada hanyalah
kebetulan!"
"Ada Yang Maha Adil, yaitu Tuhan’ jawab Monte Cristo
tandas. "Buktinya, engkau sekarang terbaring tanpa daya
menghadapi mati sambil mengingkari Tuhan, dan aku,
kaya, bahagia, sehat dan sejahtera, berdiri di hadapanmu
sambil merapatkan kedua belah tanganku di dada sebagai
tanda hormat kepada Tuhan, Tuhan yang hendak engkau
coba mengingkarinya, tetapi yang dalam lubuk hatimu mau
tidak mau engkau percaya juga.”
"Siapa sebenarnya engkau ini?" tanya Caderousse memusatkan
matanya yang telah kabur ke wajah Monte
Cristo.
"Coba perhatikan aku baik-baik," jawab Monte Cristo
sambil melangkah lebih mendekat dan mengangkat lilin.
"Engkau . . . Padri Busoni."
Monte Cristo melepaskan rambut palsunya dan
membiarkan rambutnya yang hitam terurai hampir
menutup mukanya yang pucat.
"Oh!" Caderousse kacau. "Kalau rambutmu tidak hitam,
aku akan mengatakan engkau adalah orang Inggris itu,
Lord Wilmore!"
"Aku bukan Padri Busoni dan bukan pula Lord
wilmore," jawab Monte Cristo, "Perhatikan lebih baik, lihat,
kerahkan semua daya ingatmu."
"Rasanya aku telah pernah melihatmu, rasanya aku telah
pernah mengenalmu dahulu.”
"Betul, Caderousse, engkau pernah melihatku, engkau
pernah mengenalku."
"Tetapi siapa? Dan kalau memang engkau telah mengenalku
mengapa engkau membiarkan aku mati?"
"Oleh karena tidak seorang pun akan dapat menyelamatkanmu
sekarang, Caderousse, sebab luka-lukamu sangat
parah. Seandainya masih ada harapan aku akan
menganggapnya sebagai pengampunan terakhir dari Tuhan
dan aku bersumpah di hadapan kuburan ayahku bahwa aku
mau mencoba menolongmu kembali ke dalam kehidupan
dan penyesalan."
"Katakan siapa engkau sebenarnya!"
Monte Cristo senantiasa mengawasi wajah Caderousse
dan ia tahu sekarang ajalnya sudah dekat sekali. Dia
membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga orang
yang sekarat itu, "Aku adalah. . ." Bibirnya membisikkan
suatu nama demikian lemahnya seakan-akan dia sendiri
takut untuk mendengarnya,
Caderousse merentangkan lengannya, lalu merapatkan
kedua belah telapak tangannya dengan sangat susah payah.
"Ya Tuhanku!” katanya. "Maafkan aku karena telah mengingkariMu.
Aku yakin sekarang bahwa Engkau ada,
bahwa Engkau adalah Bapak semua manusia di surga dan
Hakim di dunia. Sekian lamanya aku menolak
kehadiranMU. Ya Tuhan! Ampunilah aku! Ampunilah! Ya
Tuhan, ampunilah! “
Dengan menutup mata dibarengi pekik lemah dan
hembusan nafas terakhir Caderousse rebah terkulai. Dia
mati.
"Satu!" kata Monte Cristo penuh rahasia, seraya
memandang tajam kepada mayat.
Sepuluh menit kemudian dokter dan Jaksa datang.
Mereka mendapatkan Padri Busoni sedang berdo'a untuk
yang baru meninggal.
Selama dua minggu masyarakat Paris hanya membicarakan
percobaan perampokan di rumah Monte Cristo.
Pencuri yang mati tertusuk sempat menandatangani sebuah
pernyataan bahwa orang bernama Benedetto yang
menikamnya dan polisi sedang mengerahkan segala
kemampuannya untuk menangkapnya.
Pisau Caderousse, lentera, rangkaian kunci dan pakaiannya,
kecuali rompinya yang tidak dapat ditemukan kembali,
semuanya disimpan di kantor polisi. Mayatnya di bawa ke
rumah mayat
Kepada setiap yang bertanya, Count of Monte Cristo
selalu mengatakan bahwa malam itu dia berada di
rumahnya di Auteuil dan sebab itu ia hanya mengetahui
dari apa yang diceriterakan oleh Padri Busoni yang
kebetulan pada malam itu meminta izin menginap di sana
karena perlu mempelajari beberapa buku tertentu di
perpustakaannya.
Wajah Bertuccio selalu menjadi pucat setiap kali ia
mendengar nama Benedetto disebut di hadapannya, tetapi
tak seorang pun mempunyai alasan untuk memperhatikan
kepucatan wajah Bertuccio.
BAB XLVII
MONTE Cristo berseru gembira ketika pada suatu pagi
dia menerima kunjungan Albert de Morcerf dan kawannya,
Beauchamp
"Kami mengganggu rupanya. Tampaknya Tuan sedang
sibuk membereskan berkas surat-surat," kata Albert.
"Sama sekati tidak. Itu berkas Tuan Cavalcanti.”
"Tuan Cavalcanti?" tanya Beauchamp.
"Ya!" kata Albert. "Apakah engkau tidak tahu dialah
anak muda yang diperkenalkan Count of Monte Cristo ke
dalam masyarakat Paris?"
"Nanti dulu," kata Monte Cristo, "saya tidak memperkenalkan
siapa pun juga, apalagi Tuan Cavalcanti."
"Dan dialah yang akan menggantikan saya mengawini
putri Tuan Danglars," lanjut Albert. “Dapat kaubayangkan
bagaimana perasaanku."
"Apa?" Beauchamp heran. "Cavalcanti akan mengawini
Nona Danglars?"
"Bagaimana mungkin sebagai seorang wartawan, Tuan
tidak mengetahuinya?" kata Monte Cristo. "Setiap orang
sibuk mempergunjingkannya."
"Tuankah yang mengatur perkawinan itu?”
"Saya yang mengaturnya? Ya Tuhan! Rupanya Tuan
tidak mengenal saya. Bahkan sebaliknya sekali, saya
menentangnya."
"Oh saya mengerti. Tentu karena Albert.”
"Karena aku?" seru Albert. "Sama sekali tidak. Count of
Monte Cristo dapat mengatakan bahwa aku meminta
pertolongan beliau untuk memutuskan pertunangan kami.
Dan sekarang telah putus, sekalipun beliau mengatakan
bukanlah kepada beliau tempat aku berterima kasih untuk
kebahagiaan ini."
"Walau demikian, tampaknya engkau tidak berbahagia,”
kata Monte Cristo. "Mungkinkah, meskipun tidak kausadari
sebenarnya engkau mencintai Nona Danglars?"
"Tidak tahulah," kata Albert tersenyum.
"Tetapi engkau agak aneh hari ini. Ada apa?”
"Sakit kepala.”
"Kalau begitu, saya mempunyai obat yang manjur
sekali.’
“Apa?”
"Bepergian. Kebetulan sekali saya pun sedang menghadapi
banyak hal yang menjengkelkan, sebab itu saya
merencanakan untuk bepergian. Mau ikut?"
"Dengan senang hati. Ke mana?"
"Ke tempat-tempat di mana udara jernih, di mana setiap
suara menenangkan saraf-saraf, di mana orang akan mcra
sakan dirinya rendah dan kecil betapapun angkuh sebenarnya
. . . pendeknya, kita akan berlayar. Saya mencintai
lautan seperti orang lain mencintai wanita piaraannya dan
saya selalu rindu kepadanya bila telah lama tidak melihatnya.”
"Baik, Count, mari kita berangkat!" kata Albert.
"Ke laut?"
“Ya.”
"Berarti kau menerima undanganku?"
"Ya."
"Terima kasih. Nanti sore di pekarangan rumahku akan
ada sebuah kereta di mana kita dapat melonjorkan kaki
dengan leluasa seperti di atas ranjang sendiri. Tuan Beau
champ, kereta itu cukup luas untuk empat orang. Apa Tuan
ada minat?"
"Terima kasih, tetapi saya baru saja kembali dari lautan.
Dari Kepulauan Borromei."
"Tak apa, ikutlah!" kata Albert.
"Tidak. Aku yakin kau tahu, kalau aku menolak betulbetul
karena tidak dapat meninggalkan Paris waktu ini."
"Bukan karena sangat penting untuk saya, tetapi bolehkah
saya tahu ke mana tujuan kita?" tanya Albert.
"Ke Normandia. Setuju?"
"Setuju sekali. Betulkah kita akan berada di dalam desa
terpencil tanpa masyarakat tanpa tetangga?"
"Kawan kita hanyalah kuda-kuda untuk ditunggangi,
anjing-anjing untuk berburu dan sebuah kapal kecil untuk
mancing di lautan."
"Itulah yang saya perlukan sekarang. Saya akan memberi
tahu ibu dan setelah Itu saya siap berangkat kapan saja
Tuan suka."
"Baik. Kita akan berangkat jam lima sore. Dapat?"
"Dapat. Saya tidak mempunyai kesibukan apa-apa sampai
sore nanti kecuali mempersiapkan segala sesuatu untuk
perjalanan ini."
Albert meminta diri. Setelah mengangguk sambil tersenyum,
Monte Cristo berdiri bagai patung untuk beberapa
saat seperti orang yang fana dalam semedi. Dia mengusap k
an tangan kanannya ke dahi seakan-akan hendak menghapus
khayalannya, lalu menghampiri gong dan memukulnya
tiga kali. Bertuccio masuk.
"Bertuccio, saya berangkat ke Normandia sore nanti.
Bukan besok atau lusa seperti direncanakan semula. Suruh
orang memberitahukan tempat penggantian kuda yang pertama
akan dilalui. Tuan Albert de Morcerf akan menyertaiku.”
Bertuccio menurut. Seorang kurir bergegas pergi ke
Pontoise untuk memberitahukan bahwa kereta Count of
Monte Cristo akan lalu sore itu. Dari Pontoise kurir yang
lain diperintahkan pergi ke tempat penggantian kuda berikutnya,
dan seterusnya, sampai enam jam kemudian semua
kandang yang berada dalam jalur perjalanan itu sudah
diberi tahu.
Sebelum berangkat Monte Cristo pergi menemui Haydee
memberitahukan bahwa ia akan berangkat dan tempat tujuannya,
lalu meminta agar Haydee menguruskan seluruh
urusan rumah tangganya.
Albert datang tepat pada waktunya. Perjalanan yang
semula menjemukan segera berubah karena kecepatannya.
Albert belum pernah mengalami hal seperti ini.
"Inilah suatu kenikmatan yang belum pernah saya rasakan
sebelumnya: kenikmatan kecepatan," katanya. "Tetapi
dari mana Tuan mendapatkan kuda-kuda seperti ini? Apakah
Tuan menyuruh membuatnya?"
"Tepat sekali," jawab Monte Cristo. "Enam tahun yang
lalu di Hongaria saya menemukan seekor kuda jantan yang
termashur kecepatan larinya. Saya membelinya, entah
dengan harga berapa karena Bertuccio yang mengurusnya.
Pada tahun itu juga kuda itu sudah menjadi bapak dari tiga
puluh dua ekor anak kuda Ketiga puluh dua kuda yang
akan kita gunakan malam ini semuanya berasal dari kuda
yang satu itu. Semuanya hampii sama, hitam legam dengan
titik putih seperti bintang pada dahinya, karena indukinduknya
dipilih dengan cermat sekali seperti seorang sultan
memilih harem kesayangannya."
"Luar biasa! Apa yang Tuan lakukan dengan semua kuda
itu?"
"Untuk bepergian seperti sekarang ini."
"Ya,ya. Tetapi kan tidak selalu bepergian?"
"Pada suatu saat, kalau saya sudah tidak memerlukannya
lagi, Bertuccio akan menjualnya. Menurut dia, dia bisa
menjualnya dengan harga antara tiga puluh dan empat
puluh ribu frank."
"Bolehkah saya mengutarakan sesuatu yang tiba-tiba
terpikirkan?"
"Silakan."
"Rupanya Tuan Bertuccio itu orang yang terkaya di
Eropa setelah Tuan."
"Keliru sekali, Viscount. Saya yakin, kalau Tuan membalikkan
saku bajunya, Tuan tidak akan menemukan uang
lebih dari sepuluh sen."
"Mengapa begitu?" kata Albert. "Kalau begitu, dia mesti
merupakan keajaiban yang kedelapan setelah tujuh keajaiban
dunia yang tersohor itu. Saya ingatkan Tuan.Count,
kalau Tuan menceriterakan lagi macam-macam keanehan
saya tidak dapat mempercayai lagi Tuan."
"Tidak ada yang aneh dalam kelakuan saya ini, Albert.
Ini hanya mas’alah angka-angka dan logika. Coba, pikirkan
pertanyaan ini: Mengapa seorang pengurus rumah tangga
mencuri?"
"Ya, karena bakatnya sudah begitu. Dia mencuri untuk
mencuri."
"Bukan. Dia mencuri karena dia mempunyai istri dan
anak-anak, karena dia ingin memenuhi keinginannya
sendiri dan keluarganya, dan di atas segala-galanya, karena
dia tidak yakin akan dapat terus bekerja pada majikannya
sehingga perlu memastikan masa depannya. Tetapi
Bertuccio seorang yang sebatang kara. Dia mengeluarkan
uang saya tanpa harus mempertanggungjawabkannya dan
dia yakin tidak akan meninggalkan saya."
"Mengapa dia seyakin itu?"
"Karena saya tidak mungkin mendapatkan pengurus
rumah tangga yang lebih baik."
"Tuan bermain dengan kemungkinan-kemungkinan."
"Sama sekali tidak. Justru saya selalu bersandar kepada
kepastian. Buat saya, seorang pelayan yang baik adalah
pelayan yang merasa mati-hidupnya berada di tangan
majikannya."
"Dan Tuan merasa mempunyai hak itu terhadap Bertuccio?"
"Ya,” kata Monte Cristo. Ada beberapa kata yang dapat
menutup sebuah percakapan seperti sebuah pintu besi. Dan
perkataan "ya" dari Monte Cristo itu adalah salah satu di
antaranya.
Sisa dari perjalanan dilakukan dengan kecepatan yang
sama. Ketiga puluh dua ekor kuda yang terbagi pada delapan
buah tempat penggantian menempuh tujuh puluh dua
kilometer dalam waktu delapan jam.
Di tengah malam buta mereka sampai di pintu gerbang
sebuah perkebunan yang indah. Seorang penjaga pintu
membukakannya untuk mereka. Rupanya ia sudah diberitahu
oleh kurir dari tempat penggantian kuda yang terakhir.
Albert diantarkan ke tempat menginapnya, di mana ia
menemukan bak mandi dan makanan sudah disediakan.
Setelah mandi dan makan ia tidur. Sepanjang malam ia
dibuai oleh senandung ombak yang memecah pantai. Ketika
pagi harinya terbangun segera ia pergi ke jendela, membukanya,
dan terhamparlah di hadapannya samudera yang
luas.
Di teluk berlabuh sebuah kapal kecil, tiang layarnya
tinggi sedang badannya ramping. Sekelilingnya terdapat
beberapa buah perahu milik nelayan-nelayan dari kampungkampung
sekitarnya. Perahu -perahu itu nampak seperti
pelayan-pelayan sederhana yang patuh menantikan perintah
dari catunya, kapal milik Count of Monte Cristo itu.
Hari itu dihabiskan dengan berbagai macam olahraga.
Dalam semua bidang Count of Monte Cristo mengungguli
tamunya. Mereka berhasil menembak selusin ekor burung
kuau, menangkap sejumlah ikan dan akhirnya minum teh di
ruang perpustakaan.
Menjelang senja pada hari ketiga. Albert merasa kepayahan
karena kebanyakan olahraga yang banyak memeras
tenaganya. Untuk Monte Cristo olahraga itu tak ubahnya
seperti permainan anak kecil. Albert tertidur dekat jendela.
Suara kuda berlari di pekarangan membuatnya bangun dan
melihat ke luar melalui jendela, ia terkejut karena yang
datang itu pelayannya sendiri.
"Mengapa Florentin ada di sini?" katanya keras sambil
bangkit melompat. "Apakah ibu sakit mungkin?" Dia berlari
menemui orang yang baru tiba dan nampak masih terengahengah.
Florentin menyerahkan sebuah bungkusan yang
bersegel yang ternyata berisi selembar surat kabar dan
sehelai surat.
"Dari siapa surat ini?"
"Dari Tuan Beauchamp.’
"Tuan Beauchamp yang menyuruhmu ke mari?"
"Betul, Tuan. Beliau memberi saya uang untuk perong
kosan di jalan, menyewakan seekor kuda dan beliau meminta
saya berjanji untuk tidak berhenti sebelum saya menemui
Tuan. Saya tempuh perjalanan ini dalam lima belas
jam."
Albert membuka surat. Setelah membaca beberapa alinea
dia mengeluarkan suara terkejut, lalu menyambar surat
kabar dengan tangan gemetar. Tiba-tiba penglihatannya
menjadi kabur, kakinya melemah tidak kuat menahan berat
tubuhnya. Dia bersandar kepada Florentin yang mencoba
menahannya dengan kedua belah tangannya.
"Anak muda yang malang," gumam Monte Cristo yang
mengawasinya sejak tadi. "Tidak dapat dipungkiri bahwa
dosa seorang ayah akan membebani anak-anaknya dan
keturunannya sampai ke tingkat keempat."
Sementara itu Albert sudah dapat menguatkan dirinya
kembali dan melanjutkan membaca setelah meremas-remas
surat kabar dan surat dari temannya itu. "Florentin, apakah
kudamu masih kuat untuk kembali ke Paris sekarang?”
"Hanya seekor kuda tua. Tuan "
"Ya Tuhan! Bagaimana di rumah ketika engkau pergi?”
"Tenang-tenang saja tampaknya, Tuan. Tetapi ketika saya
kembali dari rumah Tuan Beauchamp saya mendapatkan
Nyonya de Morcerf berada di teras berlinang air mata.
Beliau memerintahkan saya mencari keterangan di mana
Tuan berada, dan bila Tuan akan kembali. Saya katakan
kepada beliau bahwa Tuan Beauchamp meminta saya berangkat
untuk membawa Tuan kembali. Mula-mula beliau
hendak mencegah saya pergi, tetapi rupanya setelah berpikir
kembali beliau berkata, "Ya, Florentin, pergilah dan
katakan cepat pulang."
Albert membalikkan badan lalu masuk ke dalam ruangan
di mana Count of Monte Cristo mengawasinya. "Count,"
katanya. "Saya berterima kasih sekali untuk penerimaan
Tuan di sini dan sebenarnya saya masih mau menikmati
lebih lama lagi, tetapi sayang saya harus segera kembali ke
Paris."
"Ada apa, begitu tiba-tiba?"
"Suatu malapetaka’ Ijinkan saya berangkat segera ....
sesuatu yang lebih berharga dari nyawa saya sendiri sedang
dalam pertaruhan. Saya harap Tuan tidak bertanya, tetapi
berilah saya seekor kuda!"
"Silakan pilih mana yang Tuan sukai. Tetapi tuan akan
mati kepayahan kalau kembali dengan berkuda. Lebih baik
ambillah kereta."
"Tidak, saya kira itu akan mengambil waktu terlalu lama.
Selain itu saya memang memerlukan sekali kepayahan yang
Tuan khawatirkan itu. Untuk saya bahkan akan baik
sekali."
Albert terhuyung-huyung seperti orang kena tembak lalu
terjatuh ke atas kursi dekat pintu. Monte Cristo tidak
melihatnya karena dia sudah berjalan ke jendela untuk
berteriak, "Ali, sediakan kuda untuk Tuan de Morcerf!
Cepat . . . beliau akan berangkat sekarang juga!"
Teriakan ini membangunkan Albert kembali kepada
kenyataan. Dia berlari ke luar ruangan dan Monte Cristo
mengikutinya. "Terima kasih," kata anak muda itu ketika ia
sudah duduk di pelana. "Apakah ada kata sandi yang perlu
saya ucapkan di tempat penggantian kuda?"
"Tidak ada. Berikan saja kuda ini kepada mereka dan
mereka akan menggantinya dengan yang baru."
"Mungkin sekali Tuan menganggap keberangkatan saya
ini aneh dan kurang bijaksana " kata Albert. "Tuan mungkin
tidak akan mengerti mengapa beberapa kalimat dalam
sebuah surat kabar dapat mengantarkan seseorang kepada
keputusasaan. Bacalah ini, Tuan. Tetapi harap setelah saya
pergi. Dengan demikian Tuan tidak akan melihat
bagaimana saya merasa malu." Albert lalu melemparkan
koran yang dipegangnya selama Itu.
Ketika Monte Cristo memungut koran Albert menekankan
tumitnya ke perut kuda dengan keras sekali dan kuda
itu lalu melesat bagaikan anak panah lepas dari busurnya.
Monte Cristo mengawasinya dengan pandangan iba. Dia
menunggu sampai Albert hilang dari pandangan. Baru setelah
itu dia membaca berita ini:
"Terdapat banyak petunjuk bahwa seorang opsir Perancis
yang diberi tugas oleh Ali Pasha, penguasa Yanina,
untuk mempertahankan benteng pertahanan kota Yanina,
telah menyerahkan benteng itu secara khianat kepada
musuh Ali Pasha, yaitu bangsa Turki. Opsir itu dikenal
dengan nama Fernand Mondego. Setelah peristiwa itu
namanya berubah karena mendapat gelar bangsawan.
Sekarang dia dikenal dengan nama Count of Morcerf dan
menjadi anggota parlemen Perancis."
BAB XLVIII
ALBERT memasuki rumah Beauchamp dengan berlarilari
pada jam delapan pagi keesokan harinya. Pelayan Beauchamp
sudah diberitahu untuk menunggu kedatangan
Albert sehingga ketika Albert datang langsung dibawa dia
masuk ke kamar tidur majikannya.
"Aku menunggumu, kawan " kata Beauchamp sebagai
penyambutan.
"Dan aku telah datang," jawab Albert. "Suratmu menunjukkan
kesetiakawanan dan simpatimu. Terima kasih.
Sebab itu, ceriterakan saja sampai hal yang sekecil-kecilnya,
tak usah dibungkus bungkus ‘
Albert tercekam rasa malu dan sedih ketika dia mendengarkan
center a Beauchamp ini.
Berita itu muncul dua hari lebih cepat di koran lain
daripada dalam koran Beauchamp. Beauchamp sedang sarapan
ketika ia membacanya. Tanpa menyelesaikan
sarapannya ia bergegas pergi ke kantor koran itu. Sekalipun
politik koran mereka bertentangan sama sekali namun ia
bersahabat baik dengan editornya.
"Aku ingin bertanya tentang berita mengenai Morcerf
itu," kata Beauchamp langsung ketika bertemu.
"Oh, ya mengherankan sekali, bukan?" jawabnya.
"Begitu mengherankan sehingga engkau mungkin menghadapi
risiko dituntut karena memfitnah."
"Tidak mungkin. Orang yang memberi keterangan itu
didukung dengan bukti-bukti yang sangat kuat sehingga kami
yakin sekali Tuan de Morcerf tak akan berani berbuat
apa-apa. Dan adalah merupakan suatu jasa kepada negara
kalau kita membongkar rahasia pengkhianat yang tidak
pantas menikmati kehormatan kehormatan yang diberikan
negara dan masyarakat kepadanya."
"Siapa yang memberikan keterangan itu?"
"Kemarin, seorang yang baru kembali dari Yanina
datang kepada kami dengan membawa setumpuk dokumen.
Mula-mula kami ragu untuk memuatnya, tetapi dia
mengancam akan memberikannya kepada koran lain.
Engkau seorang wartawan, Beauchamp, jadi engkau dapat
memahami apa artinya mempunyai bahan berita yang
sangat penting. Kami tidak dapat membiarkannya lepas dari
tangan kami. Sekarang, setelah tembakan dilepaskan,
gemanya akan menggaung di seluruh Eropa."
Beauchamp menyadari sudah tidak ada lagi yang dapat
diperbuat. Dia meninggalkan kantor itu untuk memberi
kabar kepada Albert.
Tetapi apa yang tidak dapat ditulisnya kepada Albert
karena terjadi setelah pesuruhnya berangkat ke tempat
Albert, adalah pada hari itu juga telah terjadi pembicaraan
yang sengit di Parlemen. Hampir setiap anggota datang
jauh sebelum waktu sidang untuk membicarakan perkembangan
yang memalukan ini mengenai salah seorang rekan
mereka yang ternama. Beberapa anggauta masih membaca
berita itu, yang lain-lainnya saling bertukar pengetahuan
tentang latar belakang de Morcerf sehingga makin memberatkan
tuduhan. Count of Morcerf tidak disukai oleh rekanrekannya.
Seperti setiap orang kaya baru ia bersikap angkuh
sekali.
Count of Morcerf sendiri, adalah satu-satunya orang
yang tidak membaca berita itu. Pada hari itu dia tidak
menerima koran yang memuat berita tentang dirinya dan
lagi pula pagi itu dia sibuk menulis beberapa surat dan
selanjutnya mencoba kudanya yang baru. Oleh sebab itu dia
datang ke Parlemen pada waktu seperti biasa dengan
keangkuhan yang biasa pula, tanpa menyadari keraguraguan
petugas penerima dan pengantar tamu dan tanpa
merasakan salam yang tidak sehangat biasa dari para
rekannya. Sidang sudah berlangsung setengah jam ketika ia
masuk.
Sikap Tuan de Morcerf yang tidak berubah karena tidak
mengetahui perkembangan terakhir, dirasakan oleh rekanrekannya
sekarang sebagai keangkuhan yang melebihi dari
biasanya. Kehadirannya terasa sebagal suatu sikap
menantang sehingga banyak yang menganggapnya sebagai
sikap yang gila, sebagian menganggapnya sebagal kurangajar
dan yang lainnya merasakannya sebagai sikap menghina.
Jelas sekali bahwa sidang ingin segera membuka perde
batan tentang mas'alah itu. Surat kabar yang memberitakan
itu berada di setiap tangan, tetapi sebagaimana biasa, setiap
orang ragu-ragu untuk memulai serangan. Akhirnya, salah
seorang bangsawan terhormat yang menjadi musuh bebuyutan
Morcerf naik mimbar dan dengan khidmat memberitahukan
bahwa saat yang dinantikan telah tiba. Keheningan
dalam sidang sangat mencekam. Hanya Morcerf yang tidak
mengerti apa sebab perhatian yang begitu besar diberikan
kepada pembicara yang biasanya tidak pernah diperhatikan.
Tetapi ketika untuk pertama kalinya pembicara itu menyebut
Yanina dan nama Kolonel Fernand Mondego, Morcerf
menjadi sangat pucat dan getar badannya seakan-akan menggetarkan
seluruh ruangan sehingga setiap mata dipusatkan
kepadanya.
Pembicara mengakhiri pidatonya dengan permintaan supaya
segera diadakan penyelidikan secepat mungkin, untuk
menghancurkan fitnah itu sebelum menyebar luas dan untuk
mengembalikan kehormatan Tuan de Morcerf dalam
pandangan masyarakat.
Morcerf sangat tercekam karena bencana oesar yang sangat
mendadak ini sehingga ia tidak dapat mengeluarkan
kata sepatah pun. Matanya terbelalak hampa memandang
kawan-kawannya. Rasa malu yang terpancar pada wajah
Morcerf biasa timbul baik pada orang yang tidak bersalah
maupun pada orang yang bersalah. Oleh sebab itu keadaannya
membangkitkan rasa kasihan juga pada sebagian anggota.
Orang-orang yang memang berwatak baik senantiasa
siap untuk memberikan rasa simpatinya kalau kecelakaan
yang menimpa musuhnya itu sudah melampaui batas
kebenciannya.
Ketua sidang menawarkan pemungutan suara untuk menetapkan
perlu tidaknya penyelidikan. Sidang akhirnya memutuskan
untuk melaksanakannya segera mungkin.
Morcerf ditanya berapa waktu yang dia perlukan untuk
persiapan membela dirinya. Keberaniannya pulih kembali
ketika dia merasakan bahwa dirinya masih hidup setelah
menerima pukulan pertama.
"Tuan-tuan,” katanya, "bukan dengan waktu seseorang
harus menangkis serangan seperti yang baru saja
dilontarkan terhadap diri saya oleh musuh-musuh
tersembunyi. Saya akan menjawab pukulan yang bagaikan
halilintar yang baru saja memusingkan saya sejenak itu,
sekarang juga di tempat ini juga. Saya hanya bisa
mengharap bahwa, daripada menangguhkannya saya lebih
suka darah saya tumpah untuk membuktikan kepada Tuantuan
bahwa saya cukup berharga untuk menganggap diri
saya setaraf dengan Tuan-tuan dalam segala hal."
Kata-kata ini menimbulkan kesan yang menguntungkan
bagi Morcerf. "Karena itu saya meminta supaya penyelidikan
dilaksanakan secepat mungkin dan saya akan membantu
Sidang dengan menyerahkan semua dokumen yang diperlukan."
"Apakah sidang berpendapat bahwa penyelidikan perlu
dilakukan hari ini juga?" Ketua bertanya,
"Perlu!” jawab hadirin berbarengan.
Sebuah komisi beranggotakan dua belas orang dibentuk
untuk meneliti bukti-bukti yang akan diserahkan oleh Morcerf.
Rapat komisi pertama direncanakan jam delapan nanti
malam dengan mengambil tempat di kantor Parlemen. Apabila
diperlukan lagi rapat-rapat lanjutan akan diadakan di
tempat yang sama pada waktu yang sama pula.
Setelah ke putusan itu dibuat Morcerf meminta izin meninggalkan
sidang. Dia akan mengumpulkan semua
dokumen yang telah dia timbun untuk sekian lamanya
untuk menangkis kemungkinan serangan seperti sekarang.
Morcerf yang bersifat cerdik licik dan pantang mengalah
memang telah meramalkan datangnya serangan semacam
ini.
Pada jam delapan malam ia kembali dengan membawa
setumpuk dokumen. Wajahnya tampak tenang dan berlainan
sekali dengan kebiasaannya, sikapnya malam ini tidak
angkuh bahkan pakaiannya pun sederhana sekali. Kehadirannya
memberikan kesan yang baik. Komisi tidak bersikap
keras bahkan beberapa anggota datang menghampirinya
untuk menjabat tangannya.
Tiba-tiba seorang petugas penerima tamu masuk mengantarkan
sepucuk surat untuk Ketua.
"Saya persilahkan Tuan mengemukakan pembelaan
Tuan, Tuan Morcerf," kata Ketua sambil membuka segel
surat yang baru diterimanya.
Morcerf memulai pembelaannya dengan fasih dan tangkas
sekali. Dia membeberkan suatu bukti bahwa Ali Pasha
sampai pada hari terakhirnya masih mempercayainya, ternyata
dari tugas maha penting yang masih dipercayakan
kepadanya. Morcerf memperlihatkan sebentuk cincin yang
biasa dipergunakan Ali Pasha untuk menyetempel suratsuratnya.
Cincin itu diberikan kepada Morcerf agar sekembalinya
dari pelaksanaan tugas dengan memperlihatkan cincin
itu kepada para pengawal ia dapat langsung menemuinya,
sekalipun Ali Pasha sedang berada di antara haremharemnya,
tak peduli siang atau malam. Sayang sekali,
kata. Morcerf misinya itu tidak berhasil dan ketika ia kembali
kedapatan Ali Pasha sudah hampir meninggal. Tetapi,
kata Morcerf, kepercayaan Ali Pasha kepadanya demikian
besarnya sehingga di ranjang kematiannya pun dia masih
mempercayakan piaraan tercintanya dan anak perempuannya
kepadanya.
Sementara itu Ketua sudah mulai membaca surat yang
baru diterimanya. Kalimat-kalimat pertamanya sudah
sangat menarik perhatiannya. Dia menamatkan
pembacaannya, lalu mengulanginya. Dengan menatap
wajah Tuan de Morcerf dia berkata, "Count, kalau tidak
salah, saya dengar Tuan mengatakan bahwa Ali Pasha
mempercayakan piaraan dan putrinya kepada Tuan.
Betulkah begitu?"
"Benar," jawab Morcerf. "Tetapi rupanya ketika itu saya
selalu dirundung kemalangan. Ketika itu ternyata Va-siliki
dan anaknya Haydee, telah hilang."
"Apakah Tuan mengenal mereka?"
"Keakraban saya dengan Pasha dan kepercayaannya
yang besar telah memungkinkan saya bertemu dengan
mereka lebih dari dua puluh kali.”
"Apa Tuan mengetahui apa yang terjadi dengan
mereka?"
"Ya. Saya mendengar bahwa mereka telah mati karena
kesedihan dan mungkin juga karena kemiskinan. Saya sendiri
tidak kaya ketika itu, sehingga saya merasa sangat menyesal
tidak dapat mencari mereka."
Hampir tidak kelihatan bahwa Ketua mengerutkan dahinya.
"Tuan-tuan," katanya, "Tuan-tuan telah mendengar penjelasan
Tuan de Morcerf. Tuan de Morcerf, dapatkah Tuan
mengajukan saksi untuk memperkuat apa yang Tuan
terangkan ini?"
"Sayang sekali," jawab Morcerf, "semua orang yang mengenal
saya di Istana Pasha telah meninggal atau sudah
tidak diketahui lagi di mana mereka berada. Saya kira,
sayalah satu-satunya orang dari rekan-rekan seperjuangan
yang selamat keluar dari peperangan yang mengerikan itu.
Saya hanya memiliki surat-surat dari Ali Pasha yang sudah
saya pediliatkan kepada sidang tadi, dan cincin sebagai
bukti kepercayaannya kepada saya. Namun, bukti terkuat
yang dapat saya kemukakan sebagai bantahan terhadap serangan
terhadap saya yang entah dari siapa, adalah tidak
adanya suatu bukti bahkan petunjuk pun yang membuktikan
cacadnya kehormatan saya atau karir saya dalam kemiliteran,"
Suara mufakat banyak terdengar dari anggota-anggota
sidang. Para anggota sudah siap untuk mengambil suara
ketika Ketua tiba-tiba berdiri lalu berbicara, ''Tuan-tuan,
saya kira Tuan-tuan tidak akan berkeberatan untuk mendengarkan
keterangan seorang saksi yang mengaku
mempunyai bukti yang penting sekali dan yang datang ke
mari atas kehendaknya sendiri. Setelah kita mendengarkan
keterangan Tuan de Morcerf kita dapat mengharapkan
bahwa saksi ini datang untuk membuktikan kebersihan
rekan kita. Di tangan saya ada sebuah surat yang baru saja
saya terima. Apakah Tuan-tuan menghendaki saya
membacakannya ataukah menghendaki kita meneruskan
sidang kita dengan tidak menghiraukan surat ini?"
Wajah Morcerf mendadak pucat dan tanpa sadar meremas-
remas kertas yang berada di tangannya. Komisi menentukan
agar surat itu dibacakan. Morcerf sendiri tetap bungkam
tidak memberikan pendapatnya. Ketua sidang membacakan
surat yang berbunyi;
"Saya dapat memberikan keterangan yang sangat berharga
kepada Komisi yang dibentuk untuk menyelidiki
tingkah-laku Letnan Jendral de Morcerf di Epirus dan
Macedonia. Saya menyaksikan kematian Ali Pasha dan
saya mengetahui dengan pasti apa yang telah terjadi dengan
Vasiliki dan Haydee. Saya menyediakan diri untuk
membantu Komisi, bahkan lebih dari itu saya
mengharapkan mendapat kehormatan untuk di dengar di
muka sidang."
"Siapa saksi ini, atau lebih tepat musuh ini?" tanya
Morcerf gugup.
"Kita akan segera mengetahuinya," jawab Ketua. "Saudara
penerima tamu, apakah ada yang menunggu di ruang
tamu?"
"Ada tuan."
"Siapa?"
"Seorang wanita ditemani pelayannya." Para anggota
komisi berpandangan satu sama lain dengan heran
"Persilakan dia masuk " perintah Ketua.
Petugas itu keluar sebentar lalu masuk kembali. Di belakangnya
berjalan seorang wanita bercadar yang menutupi
seluruh wajahnya. Namun demikian dari bentuk tubuhnya
orang dengan pasti dapat mengatakan bahwa ia seorang
yang masih muda dan seorang yang anggun. Ketua
meminta agar dia membuka cadarnya. Anggota Komisi
melihat di hadapannya seorang wanita yang cantik sekali.
Morcerf memandanginya dengan heran bercampur takut.
Baginya, kehadiran wanita ini berarti hidup-matinya. Bagi
yang lain, merupakan pandangan dan pengalaman yang
menarik, sehingga nasib Morcerf menjadi pemikiran yang
nomor dua.
"Nyonya," kata Ketua memulai, "dalam surat Nyonya
mengatakan bahwa Nyonya dapat memberikan keterangan
tentang kejadian di Yanina dan mengatakan pula bahwa
Nyonya menjadi saksi mata dalam peristiwa itu “
"Benar, Tuan. Saya berada di sana ketika kejadian itu."
jawab wanita itu dengan nada suara yang haru namun menarik,
rendah dan merdu khas suara wanita Timur.
"Izinkan saya menyatakan bahwa Nyonya tentu masih
sangat muda ketika itu " kata Ketua.
"Saya berumur empat tahun ketika itu. Tetapi, karena
kejadian itu merupakan peristiwa yang sangat penting bagi
saya, saya tidak dapat dan tidak akan dapat melupakannya."
"Bagaimana hubungan kejadian itu dengan diri Nyonya?
Siapakah sebenarnya Nyonya sehingga kejadian itu membelikan
kesan yang mendalam pada diri Nyonya?"
"Saya adalah Haydee, anak Ali Tebelin, Pasha dari Yanina.
Dan ibu saya, Vasliki, istri Ali Pasha yang sangat dicintainya."
Keterangan yang diucapkannya dengan penuh
kebanggaan dan rasa bangga itu mewarnai pipinya menjadi
merah. Nyala cahaya matanya dan keanggunannya ketika
dia menyatakan itu, memberikan kesan yang mendalam
kepada para anggota komisi. Sedangkan bagi Morcerf,
keterangan itu lebih mengejutkan daripada halilintar yang
menyambar kakinya.
'"Nyonya," kata Ketua lagi setelah membungkuk menerima
perkenalan diri dari Haydee. "Izinkan saya mengaju
kan sebuah pertanyaan sederhana yang bukan didasarkan
keragu-raguan: Dapatkah Nyonya membuktikan pengakuan
Nyonya?"
"Dapat" jawab Haydee sambil membuka sebuah tas satin
yang harum. "Ini surat keterangan kelahiran saya, dibuat
oleh ayah saya dan ditandatangani oleh pejabat-pejabat
yang terpenting. Dan ini, surat pembaptisan saya, karena
ayah saya menyetujui saya dibesarkan dalam agama ibu
saya. Surat keterangan itu disahkan oleh Uskup Agung
Macedonia dan Epirus. Dan yang terpenting dari semuanya
itu, barangkali, inilah surat yang menerangkan penjualan
ibu dan saya sendiri, oleh seorang opsir bangsa Perancis kepada
saudagar budak belian dari Armenia. Sebagai upah
dari pengkhianatannya yang sangat keji, opsir Perancis Ini
telah menerima dari orang Turki istri dan anak Ali Pasha
sebagai barang rampasan. Dia menjual kami dengan harga
empat ratus ribu frank."
Mendengar tuduhan yang dahsyat ini wajah Morcerf
menjadi pucat pasi dan matanya merah seakan-akan
berlumuran darah. Sidang mendengarkan keterangan
Haydee dengan penuh perhatian. Haydee sendiri, tetap
tenang, bahkan ketenangannya Ini lebih berbahaya daripada
kemarahan wanita lain. Dia menyerahkan surat jual beli itu
kepada Ketua. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Arab.
Tetapi karena Komisi telah memperkirakan bahwa
beberapa dokumen mungkin ditulis dalam bahasa Arab,
Yunani modern atau Turki, seorang penterjemah sudah
dipersiapkan. Salah seorang anggota, seorang bangsawan
terhormat yang menguasai bahasa Arab dengan baik,
menterjemahkan surat jual-beli itu lalu membacakannya
untuk sidang:
"Saya E1 Kobbir, saudagar budak dan pengisi harem Sri
Baginda, dengan ini mengaku telah menerima dari Count of
Monte Cristo - sebuah permata zamrud bernilai delapan ratus ribu
frank yang harus saya teruskan kepada Baginda. Yang Mulia,
sebagai harga pembayaran seorang budak bernama Hay dee, Kristen,
berumur sebelas tahun, anak yang sah dari Ali Pasha
almarhum dari Yanina dan istrinya Vasiliki. Budak bernama Hay
dee ini dijual kepada saya bersama ibunya yang sekarang sudah
meninggal di Istambul, tujuh tahun yang lalu oleh Kolonel
Fernand Mondego, seorang opsir Perancis yang pernah berdinas
untuk Ali Pasha almarhum. Saya melakukan jual-beli ini untuk
Sri Baginda, surat perintahnya ada pada saya, dengan harga
empat ratus ribu frank. Keterangan ini dibuat dengan seizin Sri
Baginda di Istambul pada tahun 1247 Hijriah.
Tertanda EL kobbir
Di samping tanda tangan saudagar itu terdapat pula cap
kerajaan. Keheningan yang mencekam menguasai seluruh
ruangan sidang. Morcerf memandang Hay dee dengan pandangan
yang kacau.
"Nyonya,” kata Ketua, "mungkinkah kami meminta keterangan
kepada Count of Monte Cristo yang kami kira
sekarang sedang berada di Paris bersama Nyonya?"
"Count of Monte Cristo telah berangkat ke Normandia
tiga hari yang lalu," jawab Hay dee.
"Jika demikian," kata Ketua lagi, "siapa kiranya yang
memberikan nasihat kepada Nyonya untuk melakukan tindakan
ini, tindakan yang sangat kami hargakan dan dapat
kami pahami mengingat asal-usul Nyonya dan malapetaka
yang pernah menimpa Nyonya?"
"Tindakan saya ini didorong oleh rasa kehormatan dan
kepedihan saya. Saya seorang Kristen, tetapi, semoga
Tuhan, mengampuni saya, saya senantiasa memimpikan
untuk membalaskan dendam ayah saya yang tercinta.
Ketika saya datang di Perancis dan mendengar bahwa
pengkhianat itu tinggal di Paris, saya senantiasa membuka
mata dan telinga menanti kesempatan yang baik. Saya
tinggal terasing dari masyarakat di rumah pelindung saya
yang mulia. Saya hidup secara demikian karena saya
menyenangi keheningan dan kesunyian yang dapat
memberikan saya kesempatan berpikir dan mengenangkan
masa lampau. Meskipun demikian, Count of Monte Cristo
memperlakukan saya sebagai anaknya sendiri dan
memberikan kepada saya segala sesuatu yang diperlukan
sehingga saya selalu dapat mengikuti semua kejadian di luar
dunia saya. Saya membaca semua surat kabar dan majalah.
Saya mengikuti pula lagu-lagu ciptaan baru. Dengan cara
demikian saya mengikuti kehidupan orang lain tanpa turut
serta di dalamnya. Dengan cara itu pula saya mengetahui
apa yang sedang terjadi dalam Parlemen pagi taSi dan apa
yang akan terjadi malam ini. Itulah sebabnya saya menulis
surat kepada Tuan."
"Maksud Nyonya, Count of Monte Cristo tidak mempunyai
hubungan sedikit pun dengan tindakan Nyonya
sekarang?"
"Beliau tidak mengetahuinya sama sekali. Tegasnya,
satu-satunya kekhawatiran saya, beliau tidak menyetujui
tindakan saya ini kalau beliau mendengarnya. Namun demikian,
hari ini adalah hari yang paling membawa kebahagiaan
bagi saya," kata Haydee dengan mata bernyala-nyala,
"karena akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk
membalaskan dendam ayah saya."
"Tuan de Morcerf" kata Ketua, "apakah Tuan mengenai
Nyonya ini sebagai putri Ali Tebelin, Pasha dari Yanina?"
"Tidak," jawab Morcerf sambil mencoba untuk berdiri.
"Ini hanya merupakan salah satu siasat dari musuh-musuh
saya" .
Haydee yang sedang melihat ke pintu keluar seakan-akan
menantikan kedatangan seseorang, tiba-tiba mengarahkan
pandangannya kepada Morcerf lalu berteriak, "Tuan tidak
mengenal saya! Baik, tetapi saya mengenal Tuan. Tuan
adalah Fernand Mondego, opsir Perancis yang memimpin
tentara ayah saya! Tuanlah yang menyerahkan istana
Yanina kepada Turki! Tuanlah yang dikirimkan ayah ke
Istambul untuk merundingkan hidup-mati beliau, tetapi
kembali membawa berita palsu seakan-akan ayah mendapatkan
pengampunan sepenuhnya! Tuanlah, yang dengan
berita palsu itu berhasil mendapatkan cincin kerajaan ayah!
Tuanlah yang menjual ibu dan saya kepada perbudakan!
Pembunuh! Pembunuh! Pada dahi Tuan masih mengalir darah
ayah saya. Lihatlah dia, Tuan-tuan!"
Kata-kata ini diucapkan dengan semangat kebenaran
yang sukar dibantah sehingga mau tidak mau semua mata
memandang kepada Morcerf yang tanpa disadarinya menempatkan
tangan kanannya pada dahi seakan-akan benar
merasa ada darah mengalir di sana.
"Yakinkah Nyonya bahwa Tuan de Morcerf ini sama
dengan opsir Perancis bernama Fernand Mondego?" tanya
Ketua.
"Apakah saya yakin?" jawab Haydee keras-keras. "Oh,
Ibu! Ibu pernah berkata, 'Engkau orang merdeka, engkau
mempunyai ayah yang mencintaimu dan sebenarnya
engkau sudah hampir menjadi ratu! Perhatikan baik-baik
laki-laki itu, oleh karena dialah yang membuatmu menjadi
seorang budak, dialah orangnya yang membenturkan kepala
ayahmu ke ujung tombak, dialah yang menjual kita, dialah
yang mengkhianati kita! Perhatikan bekas luka pada lengan
kanannya. Kalau engkau lupa akan wajahnya, engkau tidak
mungkin lupa kepada tangan yang pernah menerima uang
emas dari El Kobbir saudagar budak. Ya, saya kenal dia!
Sekarang suruh dia berkata apakah dia mengenali saya atau
tidak!"
Morcerf menyembunyikan tangannya yang memang ada
bekas luka. Dia terhenyak ke atas kursinya terpukul oleh
bayangan kegelapan di hadapannya.
Ruang sidang gaduh dengan suara anggota-anggota yang
berbicara sesama mereka.
'Tuan de Morcerf" kata Ketua Komisi, "keadilan dalam
sidang ini sama bagi setiap orang. Kami tidak akan
membiarkan Tuan dipukul oleh lawan-lawan Tuan tanpa
memberikan kesempatan untuk membela diri. Apakah
Tuan menghendaki dilakukan lagi penyelidikan yang baru?
Atau apakah Tuan menghendaki saya mengirimkan dua
orang utusan ke Yanina? Harap dijawab."
Morcerf tetap bungkam. Para anggota komisi berpandangan
satu sama lain dengan penuh tanda tanya. Mereka
tahu ambisi dan watak Morcerf yang keras. Mereka tahu
untuk menumbangkan Morcerf diperlukan pukulan yang
dahsyat.
"Bagaimana, Tuan de Morcerf?" tanya Ketua.
"Tak ada yang hendak saya katakan," jawab Morcerf
seperti orang dungu.
"Apakah Tuan bermaksud mengatakan bahwa apa yang
dikatakan oleh putri Ali Pasha benar? Apakah Tuan mengaku
bersalah untuk tuduhan-tuduhan yang dilontarkan
kepada Tuan?"
Morcerf melihat ke sekelilingnya dengan pandangan
putus harapan. Pandangannya itu sangat menimbulkan iba
sehingga mungkin dapat melunakkan hati seekor harimau,
tetapi tak akan mungkin menggoyahkan mereka yang
sedang mengadilinya. Dia mengarahkan matanya ke langitlangit
lalu secara cepat menurunkannya kembali, seakanakan
dia merasa takut langit langit akan terbelah lalu
pandangannya akan beradu dengan Hakim Yang Maha
Adil. Dia membuka kancing leher bajunya karena terasa
baju itu mencekik lehernya, lalu berjalan ke luar seperti
orang gila yang lagi bersedih. Suara sepatunya menggema
di seluruh ruangan. Tak berapa lama kemudian terdengar
suara kereta yang ditarik kuda yang berlari kencang.
"Tuan-tuan," kata Ketua Komisi ketika para anggota
sudah tenang kembali, "apakah Tuan-tuan berpendapat
bahwa Tuan de Morcerf terbukti bersalah melakukan kejahatan
besar, pengkhianatan dan perbuatan tercela?"
"Bersalah!' sahut semua anggota bersama-sama.
Haydee mendengarkan keputusan ini tanpa
menunjukkan rasa gembira ataupun menyesal. Setelah
menutup kembali wajahnya dengan cadar dia membungkuk
memberi hormat kepada sidang lalu berbalik dan berjalan
ke luar ruang sidang dengan langkah-langkah seanggun
langkah seorang ratu.
BAB XLIX
"LALU," kata Beauchamp melanjutkan ceriteranya tentang
kejadian di parlemen itu kepada Albert, "aku menyelinap
ke luar Gedung Parlemen tanpa dilihat orang. Petugas
yang membolehkan aku masuk sudah menunggu di pintu.
Dia mengantarkan aku melalui gang ke sebuah pintu kecil
yang berhubungan dengan jalan de Vaugirard. Hatiku
penuh dengan rasa sedih dan kagum. Kesedihan buat dirimu
dan kekaguman untuk wanita muda itu."
Albert memegang kepalanya. Dia menengadah, pipinya
merah karena malu dan matanya basah berlinang. Lalu dia
memegang tangan Beauchamp. "Kawan," katanya,
"riwayatku tamat. Yang masih tinggal sekarang hanyalah
menemukan siapa orangnya yang membangkitkan nafsu
balas dendamku. Bila aku menemukannya, salah seorang
akan mati, dia atau aku. Aku percaya, sebagai sahabat engkau
akan membantuku. Beauchamp, seandainya rasa hina
bersahabat dengan -aku tidak membunuh rasa persahabatan
itu dalam hatimu."
"Rasa hina? Betapa malapetaka ini kau terima? Tidak,
kita tidak lagi hidup dalam jaman di mana seorang anak
harus bertanggungjawab untuk perbuatan orang tuanya.
Engkau masih muda dan kaya, Albert. Tinggalkan Perancis.
Segalanya akan segera dilupakan orang dalam jaman modern
yang serba cepat berubah ini. Kalau engkau kembali
tiga atau empat tahun lagi, orang sudah tidak akan memikirkan
lagi kejadian kemarin itu."
'Terima kasih untuk maksud baikmu itu," jawab Albert,
"tetapi aku tidak dapat nenjalankan saranmu itu. Tentu
engkau dapat memahami mengapa aku tidak mungkin melihat
persoalan ini dari sudut pandanganmu. Seandainya
engkau masih merasa bersahabat, seperti yang engkau katakan,
tolonglah aku menemukan tangan yang menghantamkan
pukulan ini."
"Kalau itu kehendakmu, baik," kata Beauchamp. "Kalau
engkau sudah berketetapan hati untuk mencari musuhmu
itu, aku akan besertamu."
"Terima kasih Mari kita mulai saja. Setiap menit penangguhan
berarti seabad bagiku. Si pelaku belum terbalas,
dan bila dia mengira akan bebas dari pembalasan, aku bersumpah
bahwa dia keliru!"
"Baik. Sekarang dengarkan"
"Ah, rupanya engkau mengetahui sesuatu. Ini menyebabkan
gairah hidupku bangkit kembali."
"Aku tidak mau mengatakan bahwa inilah yang sebenarnya,
namun paling tidak merupakan secercah cahaya dalam
gelap. Aku mendapat tahu bahwa baru-baru ini Tuan
Danglars menyurati rekannya di Yanina bertanya tentang
pengkhianatan terhadap Ali Paslia."
"Danglars!" Albert berteriak. "Betul, sejak lama ia iri hati
kepada ayahku. Dia bangga karena berasal dari orang
kebanyakan, tetapi dia tidak dapat memaafkan Count of
Morcerf yang juga berasal dari orang kebanyakan menjadi
seorang bangsawan Perancis. Dan cara dia memutuskan
pertunanganku dengan anaknya tanpa memberikan sesuatu
alasan ya, dialah orangnya!"
"Jangan membiarkan dirimu terhanyut oleh kesimpulan-.
kesimpulan sementara, Albert. Sebaiknya, engkau menyelidiki
dahulu, dan, kalau benar ...."
"Kalau benar, dia harus membayar untuk segala penderitaanku
ini!"
"Albert, aku tidak bermaksud menyalahkan keputusanmu.
Aku hanya ingin engkau bertindak hati-hati."
"Jangan khawatir. Di samping itu, bukankah engkau
akan menyertaiku? Untuk persoalan yang maha penting ini
selalu diperlukan seorang saksi. Kalau Tuan Danglars
bersalah, dia atau aku akan mati di akhir hari ini."
"Sekali keputusan seperti ini dibuat, harus segera dilaksanakan.
Mari kita ke rumah Danglars."
Ketika mereka sampai di rumah bankir itu, mereka melihat
kereta Tuan Andrea Cavalcanti di muka pintu.
"Kebetulan," kata Albert. "Kalau Tuan Danglars tidak
bersedia berduel, aku akan membunuh menantunya. Cavalcanti
mungkin tidak mau menolak tantanganku."
Tatkala kedatangan Albert diberitahukan Danglars yang
sudah mendengar kejadian kemarin di Parlemen memerintahkan
untuk menolak anak muda itu. Tetapi terlambat,
karena Albert mengikuti pelayan itu ke dalam. Ketika dia
mendengar perintah Danglars dia memaksa membuka pintu
diikuti oleh Beauchamp, memasuki ruang kerja Danglars.
"Apa artinya ini?" kata Danglars berteriak marah.
"Apakah orang sudah tidak mempunyai hak lagi untuk
menentukan siapa yang mau dia terima di rumahnya?" ,
"Tidak, Tuan Danglars," jawab Albert dingin, "banyak
keadaan tertentu, dan ini adalah salah satu di antaranya, di
mana orang harus menerima tamu tertentu, kecuali kalau
dia seorang pengecut."
"Apa yang Tuan kehendaki?"
Albert maju beberapa langkah tanpa menghiraukan Cavalcanti
yang berdiri di samping tungku api.
''Saya mau membuat perjanjian dengan Tuan," katanya,
"di suatu tempat terpencil di mana orang tak akan mengganggu
kita untuk sekitar sepuluh menit, di mana salah seorang
dari kita akan tinggal tergeletak di atas tanah."
Wajah Danglars cepat berubah menjadi pucat.
Cavalcanti bergerak. Albert berbalik kepadanya lalu
berkata,. "Oh, Tuan pun boleh hadir kalau mau, Tuan
Cavalcanti. Tuan hampir menjadi anggota keluarga di sini.
Dengan demi kian Tuan mempunyai hak untuk berada di
sana, dan perjanjian serupa ini saya sampaikan kepada
sebanyak orang yang mau menerimanya."
Cavalcanti menatap wajah Danglars dengan sedikit bingung.
Danglars bangkit lalu berdiri di antara kedua anak
muda itu. Serangan Albert kepada Andrea menimbulkan
pikiran baru kepada Danglars. Dia berharap, kedatangan
Albert ke rumahnya disebabkan alasan yang lain daripada
yang disangkanya semula. "Saya peringatkan, Tuan Albert
de Morcerf, kalau Tuan ke mari untuk datang mencari garagara
dengan Tuan Cavalcanti karena dia lebih saya sukai
sebagai calon menantu, saya akan membawa persoalan ini
ke hadapan pengadilan."
"Tuan keliru, Tuan Danglars," jawab Albert tersenyum
sinis. "Mas'alah perkawinan tidak ada dalam benak saya,
dan saya berkata demikian kepada Tuan Cavalcanti hanya
karena saya melihat dia seperti mau mencampuri urusan
kita. Dalam satu hal Tuan benar, hari ini saya sedang siap
untuk berkelahi dengan siapa pun. Tetapi Tuan jangan
khawatir, Tuan akan mendapat kesempatan pertama."
"Tuan Morcerf," kata Danglars pucat karena marah dan
takut, "kalau saya melihat seekor anjing gila menghadang,
saya akan membunuhnya tanpa rasa nerdosa, bahkan saya
akan merasa berjasa kepada masyarakat. Bila Tuan bertindak
gila dan mencoba hendak menggigit saya, saya peringatkan
saya akan membunuh Tuan tanpa rasa iba. Apa
salah saya kalau nama ayah Tuan tercemar?"
"Ya!" jawab Albert keras. "Memang salah Tuan."
Danglars mundur selangkah. "Salah saya?" Dia heran.
"Mengapa? Tuan sudah gila rupanya! Apa yang saya
ketahui tentang sejarah Yanina? Apakah pernah saya
kesana? Apakah saya menasihati ayah Tuan untuk
menyerahkan istana Yanina, untuk mengkhianati "
"Diam!" kata Albert. "Memang Tuan tidak secara langsung
bertanggung jawab untuk malapetaka yang terjadi
kemarin itu, tetapi Tuanlah penyebabnya. Siapa yang menjadi
sumbernya, kalau bukan Tuan?"
"Bukankah surat kabar mengatakannya dari Yanina?"
"Ya, tetapi siapa yang menulis surat ke Yanina mencari
keterangan tentang ayah saya?"
"Setiap orang dapat melakukannya, bukan?"
"Tetapi hanya seorang yang menulis. Dan orang itu
adalah Tuan!"
"Saya akui. Apabila seseorang bermaksud menikahkan
anak perempuannya, saya rasa dia mempunyai hak untuk
menyelidiki latar belakang keluarga calon menantunya.
Bahkan bukan hanya merupakan hak, melainkan
kewajiban."
"Ketika Tuan menulis ke Yanina, Tuan telah mengetahui
dengan pasti jawaban apa yang akan Tuan terima."
"Saya tidak akan menulis surat itu kalau saya sudah mengetahuinya.
Bagaimana mungkin saya mengetahui
malape-taka yang menimpa Ali Pasha?"
"Tentu ada orang lain yang menganjurkan Tuan
melakukannya?"
"Benar."
"Siapa?"
"Saya berbicara dengan seseorang tentang latar belakang
ayah Tuan dan saya mengatakan bahwa asal kekayaan ayah
Tuan tetap merupakan rahasia bagi saya. Orang itu
bertanya di mana ayah Tuan memperoleh kekayaan dan
saya jawab di Yunani. Lalu dia menganjurkan saya mencari
keterangan di Yanina."
"Siapa orang itu?"
"Sahabat Tuan, Count of Monte Cristo."
Albert dan Beauchamp saling berpandangan. "Tuan
Danglars”' kata Beauchamp yang selama ini tidak ikut
bicara. "Tuan menuduh Count of Monte Cristo, padahal
beliau sekarang sedang tidak berada di Paris sehingga tidak
mungkin membela dirinya."
"Saya tidak menyalahkan seseorang" jawab Danglars.
"Saya hanya menceriterakan apa yang terjadi dan saya akan
senang sekali mengulanginya lagi di hadapan Count of
Monte Cristo apabila dia sudah kembali."
"Apakah Count of Monte Cristo mengetahui jawaban
yang Tuan terima?" tanya Albert.
"Saya memperlihatkannya."
«'Tahukah beliau bahwa nama asli ayah saya Fernand
Mondego?"
"Tahu, saya telah menceriterakannya beberapa waktu
yang lalu. Dalam peristiwa ini saya hanya melakukan apa
yang akan dilakukan orang lain di tempat saya. Bahkan
mungkin apa yang saya lakukan sekarang ini tidak memadai.
Sehari setelah saya menerima jawaban dari Yanina,
ayah Tuan datang berkunjung, atas anjuran Monte Cristo
untuk meneguhkan rencana perkawinan Tuan dengan anak
saya. Saya menolak, ini saya akui, tetapi saya menolak tanpa
memberikan alasan apa pun dan tanpa membuat ributribut.
Dan mengapa pula saya harus membuat ribut-ribut?
Apa arti nama baik atau nama buruk Count of Morcerf bagi
saya? Tidak ada. Namanya tidak akan menambah atau
mengurangi penghasilan saya"
Pipi Albert merah karena tersinggung. Dia merasakan
sekali Danglars membela dirinya dengan cara yang keji,
dengan keyakinan seorang yang berkata, walaupun tidak
seluruhnya, paling tidak sebagian mengandung kebenaran.
Dalam pada itu Albert tidak mau menghiraukan sampai berapa
jauh tanggung jawab Danglars atau Monte Cristo
dalam perkara ini. Yang dia cari dan perlukan sekarang
adalah seorang yang mau menerima tantangannya, orang
yang mau berduel dengan dia. Jelas sekali bahwa Danglars
tidak mau berkelahi. Beberapa kejadian yang telah
dilupakan atau yang semula kurang diperhatikan, kini
bermunculan kembali dalam pikirannya. Monte Cristo
mengetahui segala-galanya, dia menganjurkan Danglars
menulis surat ke Yanina. Dia membawa Albert berlibur
tepat pada saat akan terjadinya malapetaka menimpa
ayahnya. Jelas sekarang bagi Albert bahwa Monte Cristo
merencanakan semuanya dan yakin pula dia bahwa Monte
Cristo berjalan seiring dengan musuh-musuh ayahnya.
Albert menarik Beauchamp menjauhi Danglars lalu berbisik-
bisik menyampaikan pikirannya.
"Engkau benar" kata Beauchamp. "Tuan Danglars hanya
merupakan alat belaka. Engkau harus meminta pertanggungan
jawab dari Count of Monte Cristo."
Albert berbalik kepada Danglars. "Saya harap Tuan me
mahami bahwa saya belum selesai dengan Tuan. Saya
harus yakin dahulu apakah tuduhan Tuan benar atau tidak.
Sckarang saya akan langsung menemui Count of Monte
Cristo untuk mengetahuinya."
Setelah memberi hormat dia keluar bersama Beauchamp
tanpa menghiraukan Cavalcanti.
Danglars mengantar mereka sampai di pintu dan sekali
lagi meyakinkan Albert bahwa secara pribadi dia tidak
membenci ayahnya.
BAB L
KETIKA meninggalkan rumah Danglars, Beauchamp
menahan Albert sebentar.
"Sebelum kita menemui Count of Monte Cristo sebaiknya
engkau berpikir dahulu."
"tentang apa?"
"Tentang akibat dari perbuatanmu ini."
"Aku hanya takut pada satu hal: bertemu dengan orang
yang menolak berkelahi."
"Count of Monte Cristo pasti mau berduel. Yang aku
khawatirkan, dia akan terlalu tangkas bagimu. Hati-hati
lah!"
"Kawan," jawab Albert tersenyum, "keberuntungan yang
paling membahagiakan bagiku pada waktu ini adalah mati
untuk ayah. Kemauanku akan menyelamatkan seluruh keluarga."
"Tetapi ibumu pun akan mati merana!" Sambil
mengusapkan telapak tangannya ke mata dia berkata
perlahan-lahan. "Aku tahu. Tetapi lebih baik ba ibu
meninggal karena sedih daripada karena malu."
"Sudah bulat niatmu itu?"
“Ya."
"Kalau begitu tak ada alasan lagi menunggu. Di mana
kaukira kita dapat meryumpainya?"
"Dia akan berangkat beberapa jam setelah aku pergi.
Pasti sudah kembali sekarang.”
Mereka bergerak menuju rumah Count of Monte Cristo
di Champs Elysees. Baptis tin menerima mereka di pintu.
Benar, Monte Cristo baru saja datang. Sekarang sedang
mandi dan memerintahkan untuk tidak menerima tamu.
"Apa rencana beliau setelah mandi?" tanya Albert.
"Makan."
"Setelah makan?"
"Beliau akan tidur satu jam."
"Lalu?"
"Menonton opera."
"Kau yakin itu?"
"Yakin sekali. Count telah memesan keretanya disiapkan
pada jam delapan malam nanti."
"Baik," kata Albert. "Hanya itu yang ingin kuketahui."
Lalu menghadap kepada Beauchamp dan berkata, "Kalau
ada yang harus engkau Kerjakan, kerjakanlah sekarang, dan
kalau ada janji untuk malam nanti, undurkanlah sampai
besok. Engkau tentu mengerti kalau aku meminta engkau
menonton opera bersamaku malam nanti. Bila mungkin,
ajak serta Chateau-Renaud."
Beauchamp berpisah dengan Albert setelah dia berjanji
akan menjemputnya malam nanti jam delapan kurang seperempat.
Setelah Albert sampai di rumahnya dia menulis surat
kepada Franz, Debray dan Maximilien bahwa dia ingin bertemu
dengan mereka malam nanti di Gedung Opera.
Setelah itu dia menemui ibunya, yang setelah mendengar
kejadian kemarin tidak mau bertemu dengan siapa pun dan
tetap mengunci diri di kamarnya. Albert menemuinya di
sana dalam keadaan masih terpengaruh oleh penghinaan
masyarakat kepada suaminya.
Ketika melihat anaknya dia memeluknya dan menangis
tersedu-sedu. Air mata yang membanjir seperti memberikan
ketenangan kepadanya. Albert diam sambil menatap wajah
ibunya. Air mukanya menunjukkan bahwa nafsu membalas
dendam agak melemah dalam hatinya.
"Ibu," katanya, "apakah mempunyai musuh?"
Mercedes terkejut. Albert tidak mengatakan "ayah".
"Orang dengan kedudukan seperti ayahmu mungkin saja
mempunyai banyak musuh, bahkan mungkin musuh yang
tidak diketahuinya sama sekali."
"Ya, saya tahu itu. Tetapi pasti ibu memperhatikan juga
bahwa Count of Monte Cristo selalu menolak minum atau
makan dalam rumah kita."
"Count of Monte Cristo" Mercedes lebih terkejut lagi.
"Apa hubungannya dia dengan pertanyaanmu?"
"Seperti ibu ketahui, Count of Monte Cristo hampir
sudah seperti orang Timur, dan orang Timur tidak pernah
mau minum atau makan di rumah musuh-musuhnya."
"Maksudmu, Count of Monte Cristo musuh kita, Albert?
Siapa yang mengatakan itu? Mengapa berkata begitu?
Engkau gila, Albert! Count of Monte Cristo selalu bersahabat
kepada kita, bahkan dia pernah menyelamatkan
jiwamu, dan engkau sendiri pula yang memperkenalkan dia
kepada kami. Buanglah pikiran itu. Dengarkan nasihat ibu
ini... aku minta... tegasnya ,.. jangan bertengkar dengan
dia."
"Ibu” jawab Albert dengan tenang, "tentu ibu mempunyai
alasan pribadi untuk meminta saya tidak bertengkar
dengan orang itu,"
"Alasan pribadi?" jawab Mercedes, pipinya tiba-tiba memerah,
kemudian dengan cepat berubah lagi menjadi pucat.
"Ya" jawab Albert lagi. "Dan alasan ibu tentu bahwa dia
tidak berbahaya bagi kita. Begitu bukan?"
Mercedes gemetar. Ditatapnya mata anaknya seperti
hendak mengatakan rahasia yang tersembunyi dalam hatinya.
"Sikapmu aneh sekali hari ini," katanya. "Apa yang dia
lakukan terhadapmu? Baru tiga hari yang lalu engkau
berlibur ke Normandia bersamanya. Baru tiga hari yang lalu
aku menganggap dia seperti engkau menganggapnya: sebagai
sahabat karibmu."
Senyum sinis tersimpul di bibir Albert. Mercedes melihatnya,
dan berkat naluri seorang wanita dan seorang ibu
dia dapat menerka segala-galanya. Tetapi dia mencoba menyembunyikan
perasaan takutnya.
Albert menghentikan percakapan ini. Beberapa saat kemudian
Mercedes berkata lagi, "Aku harap engkau mau
tinggal di sini bersamaku, Albert. Aku takut menyendiri."
"Ibu tahu, betapa senangnya saya berada dekat ibu,
namun malam ini ada suatu hal yang sangat penting yang
mengharuskan saya meninggalkan Ibu."
"Baik " jawab Mercedes dengan nada mengeluh. "Aku
tidak bermaksud mengharapkan ketaatanmu secara berlebih-
lebihan."
Albert pura-pura tidak mendengarnya. Dia pamit dan
keluar.
Setelah pintu tertutup kembali, segera Mercedes memang
gil pelayan kepercayaannya dan memerintahkannya untuk
mengikuti gerak-gerik Albert semalam itu. Lalu dia memanggil
pelayan wanitanya, dan sekalipun badannya terasa
lemah, dia berganti pakaian siap untuk segala
kemungkinan.
Albert kembali ke rumahnya, berdandan serapih-rapihnya.
Sepuluh menit sebelum jam delapan Beauchamp datang.
Dia telah menemui Chateau-Renaud yang berjanji
akan menggabungkan diri di Gedung Opera sebelum layar
diangkat.
Chateau-Renaud telah menunggu ketika mereka datang.
Beauchamp telah menceriterakan semuanya, sehingga
Albert sudah tidak perlu lagi memberikan keterangan.
Debray tidak datang, padahal Albert tahu dia tidak pernah
melewatkan kesempatan menonton opera.
Albert memusatkan pandangannya ke tempat ruang duduk
Monte Cristo. Tampaknya masih kosong. Akhirnya,
pada permulaan babak kedua, setelah dia melihat arlojinya
untuk kesekian ratus kalinya, pintu ruang duduk Monte
Cristo terbuka dan Monte Cristo kelihatan masuk dalam
pakaian serba hitam. Sebelum duduk bersandar dahulu pada
sandaran di hadapannya untuk melihat para pemain
orkes. Dia dikawani oleh Maximilien Morrel. Ketika itu dia
merasa ada sepasang mata yang terus-menerus menatapnya.
Terlihat olehnya Albert, matanya bersinar-sinar. Melihat air
muka Albert seperti itu dia merasa bijaksana untuk purapura
tidak melihatnya. Lalu dia duduk, mengambil teropongnya
dan dengan teropong itu mengarahkan
pandangannya ke arah lain.
Namun, sebenarnya Albert tidak pernah lepas dari perhatiannya.
Ketika layar ditutup pada akhir babak kedua
matanya yang tajam dapat melihat Albert meninggalkan
tempat duduknya diikuti oleh kedua kawannya. Monte
Cristo merasa badai akan segera mengamuk. Ketika dia
mendengar langkah-langkah orang mendekatinya sekalipun
dia sedang asyik berbicara dengan Maximilien, dia tahu apa
yang akan terjadi dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Pintu ruang duduknya terbuka. Monte Cristo membalikkan
badannya dan melihat Albert, wajahnya kebiru-biruan
dan badannya gemetar. Di belakangnya berdiri Beauchamp
dan Chateau Renaud.
"Saya kira, akhirnya tercapai juga maksud Tuan
menemui saya," kata Monte Cristo dengan nada dan
kalimat sopan, yang berbeda dari cara menghormat orang
lain. "Selamat malam. Tuan de Morcerf."
Maximilien tiba-tiba teringat kapada surat yang diterimanya
dari Albert yang meminta dia tanpa memberi penjelasan
untuk melihat opera. Sekarang dia merasakan sesuatu
yang gawat akan segera terjadi
"Saya datang ke mari tidak untuk saling memberi salam
secara munafik atau memperlihatkan persahabatan yang
palsu," jawab Albert. "Saya datang untuk menuntut sesuatu"
"Menuntut sesuatu dalam gedung ini?" kata Monte
Cristo dengan sangat tenang dan sorot mata yang memancarkan
keyakinan diri. "Saya kurang faham akan kebiasaan
Perancis, tetapi saya kira Gedung Opera bukanlah tempat
yang layak untuk itu."
"Apabila seseorang menyembunyikan dirinya" jawab
Albert, "bila dia tidak mengizinkan orang lain memasuki
rumahnya dengan alasan bahwa dia sedang mandi, sedang
makan atau sedang tidur, maka dia harus ditemui di mana
saja dia dapat ditemui"
"Saya tidak sukar ditemui. Kalau saya tidak salah baru
tadi siang Tuan datang ke rumah saya."
“Ya," jawab Albert yang sudah mulai kalap, "saya ke
rumah Tuan karena saya belum mengetahui apa dan siapa
sebenarnya Tuan!" Albert mengucapkan kata kata ini demikian
kerasnya sehingga terdengar oleh penonton-penonton
lain di sekelilingnya.
"Apa sebenarnya maksud Tuan, Tuan de Morcerf?"
Monte Cristo bertanya tanpa menunjukkan perasaannya.
"Rupanya pikiran Tuan sedang kacau."
"Sepanjang saya sadar akan pengkhianatan Tuan dan
sanggup membuat Tuan mengerti bahwa saya menuntut
pembalasan, pikiran saya cukup jernih."
"Saya tidak mengerti, Tuan de Morcerf. Dan sekalipun
saya dapat mengerti, tetapi Tuan tetap berbicara terlalu
keras. Ini ruang duduk saya dan hanya saya sendiri yang
berhak berteriak di sini. Silakan keluar, Tuan de Morcerf!"
Monte Cristo menunjuk pintu dengan sikap memerintah
"Saya akan memancing Tuan keluar dari ruang ini!"
jawab Albert masih dengan nada keras, sambil meremasremas
sarung tangannya dengan kaku. Sikapnya ini tidak
lepas dari pandangan Monte Cristo.
"Baik," jawab Monte Cristo tenang, "Tuan menghasut
saya untuk berduel. Ini jelas sekali. Tetapi izinkan saya
memberi nasihat: Kurang baik menghasut saya dengan
suara hingar-bingar itu. Tidak perlu menarik perhatian orang
lain, Tuan de Morcerf."
Albert merasakan sindiran ini. Dia bergerak untuk melemparkan
sarung tangannya ke wajah Monte Cristo, tetapi
Maximilien sempat menangkap pergelangan tangannya,
sedang Beauchamp dan Chateau-Renaud memeganginya
dari belakang karena khawatir kelakuan Albert melampaui
batas.
Monte Cristo, tanpa berdiri, membungkuk mengambil
sarung tangan dari tangan Albert. "Tuan de Morcerf," katanya
dengan nada acuh tak acuh, "saya menganggap
sarung tangan Tuan telah dilemparkan dan saya akan mengembalikannya
disertai sebutir peluru. Dan sekarang harap
keluar dari sini, atau saya akan memanggil pelayan saya
untuk melemparkan Tuan."
Dalam keadaan marah, matanya liar dan merah Albert
keluar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Maximilien
untuk segera menutup pintu.
Monte Cristo kembali menggunakan teropongnya
seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Maximilien
bersandar mendekatinya lalu berbisik, "Apa yang telah
Tuan lakukan terhadapnya?"
"Tidak apa-apa . . . paling tidak secara pribadi" jawab
Monte Cristo. "Malapetaka ayahnya yang membuat dia kehilangan
akal."
"Ada hubungannya Tuan dengan kejadian itu?"
"Haydee menceriterakan kepada Parlemen tentang pengkhianatan
ayahnya."
"Ya, saya mendengarnya juga, tetapi saya tidak dapat
percaya bahwa gadis Yunani itu, yang pernah saya lihat
bersama Tuan dalam ruang duduk ini. anak Ali Pasha."
"Tetapi itulah kebenarannya."
"Sekarang saya mengerti semuanya! Albert menyurati
saya untuk datang menonton opera ini. Mesti dia menghendaki
saya menyaksikan penghinaan-yang akan dilancar
kannya kepada Tuan."
"Mungkin saja," jawab Monte Cristo dingin.
"Apa rencana Tuan terhadapnya?"
"Sepasti Tuan duduk di sini sekarang, saya akan membunuhnya
besok sebelum jam sepuluh pagi. Itulah rencana
saya."
Maximilien memegang tangan Count Of Monte Cristo,
dan darahnya seakan-akan merasakan betapa dinginnya tangan
itu. "Ayahnya sangat mencintainya!"
"Jangan berkata begitu, sebab kalau saya mengasihani -
nya juga berarti saya membuatnya menderita!" jawab
Monte Cristo dengan nada marah yang baru pertama kalinya
kelihatan.
Terdengar pintu diketuk orang.
"Silakan masuk," kata Monte Cristo.
Beauchamp masuk.
"Selamat malam, Tuan Beauchamp," sambut Count of
Monte Cristo seakan akan baru kali itu dia melihatnya malam
itu. "Silakan duduk."
Beauchamp memberi hormat lalu duduk. "Seperti tuan
ketahui, Count," katanya memulai, "saya bersama Albert
ketika itu. Saya akui dia salah dengan bertindak bodoh
seperti tadi, dan saya datang untuk memintakan maaf
baginya atas kehendak saya sendiri. Karena permintaan
maaf telah diajukan . . . dan saya ulang atas kehendak saya
sendiri. Saya yakin Tuan cukup bermurah hati untuk sudi
memberikan penjelasan kepada saya tentang hubungan Tuan
dengan peristiwa Yanina dan gadis Yunani itu."
Monte Cristo memberi isarat untuk diam. "Tuan menghapuskan
semua harapan saya," katanya sambil tertawa.
"Apa maksud Tuan?"
"Tuan selalu bersikeras menjuluki saya sebagai seorang
yang eksentrik menyamakan saya dengan orang-orang yang
terkenal eksentrik seperti Manfred atau Lord Ruthwen.
Tetapi sekarang, Tuan mau membuat saya menjadi orang
kebanyakan. Bahkan Tuan meminta saya menceriterakan
tentang diri saya sendiri, suatu hal yang tidak pernah akan
dilakukan oleh seorang eksentrik! Tuan bercanda, Tuan
Beauchamp."
"Ada beberapa keadaan," kata Beauchamp
mempertahankan diri, "di mana kehormatan
memerintahkan..."
"Tuan Beauchamp," kata Monte Cristo menyela, "Count
of Monte Cristo hanya diperintah oleh Count of Monte
Cristo. Saya berbuat seperti yang saya sukai, dan, percayalah,
saya selalu melakukannya dengan baik."
"Tuan tidak dapat memperlakukan orang terhormat dengan
cara demikian " kata Beauchamp. "Tuan harus memberikan
jaminan untuk kehormatannya."
"Saya merupakan jaminan yang hidup," kata Count
Monte Cristo, matanya berkilat mengancam. "Setiap kita
mempunyai darah mengalir dalam pembuluhnya, dan orang
lain ingin sekali menumpahkannya. Itulah jaminan masingmasing.
Sampaikan itu sebagai jawaban saya kepada Tuan
Albert de Morcerf dan katakan kepadanya bahwa besok jam
sepuluh pagi saya sudah akan melihat warna darahnya."
"Bila demikian', maka satu-satunya yang masih harus
dilakukan adalah perjanjian untuk duel itu."
"Hal itu sama sekali tidak penting bagi saya. Di Perancis
ini duel dilakukan dengan pedang atau pistol. Di daerah
jajahan dengan karabin. Di Arabia dengan belati. Katakan
kepada Tuan Albert de Morcerf, sekalipun saya yang
dihina, maka agar menjadi orang eksentrik sampai ke akarakarnya,
saya serahkan pemilihan senjata kepadanya dan
saya akan menerimanya tanpa bertanya. Bahkan saya
bersedia berkelahi dengan menarik undian, suatu hal yang
sebenarnya bodoh. Saya lain, sebab saya yakin akan
menang."
"Yakin akan menang?”
"Tentu. Kalau tidak masa saya mau melayaninya. Saya
harus membunuhnya, dan saya akan melakukannya? Beritahu
saya malam ini tentang tempat dan pemilihan senjata."
"Pistol, jam delapan pagi di Bois de Vincennes," kata
Beauchamp dengan bimbang karena dia tidak pasti
dengan orang macam apa dia berhadapan, apakah dengan
seorang pembual kawakan atau dengan seorang manusia
luar biasa.
"Baik, Tuan Beauchamp. Karena sekarang segala sesuatu
telah ditetapkan, izinkan saya menikmati sisa pertunjukan
ini, dan katakan kepada sahabat Tuan agar jangan kembali
lagi ke gedung ini malam ini. Itu hanya akan merugikan
dirinya sendiri Lebih baik dia pulang dan tidur dengan
nyenyak."
Beauchamp meninggalkan ruangan dengan rasa heran
bercampur kagum.
Monte Cristo berbisik kepada Maximilien, "Saya dapat
meminta Tuan menjadi saksi, bukan?"
"Tentu saja. Tetapi.."
"Tetapi apa?"
"Saya ingin sekali mengetahui sebab yang sebenarnya!"
"Apakah ini berarti Tuan menolak untuk menjadi pembantu
saya?”
"Bukan itu.”
"Sebab sebenarnya?” kata Count of Monte Cristo,
"Albert sendiri tidak mengetahuinya. Hanya saya sendiri
dan Tuhan yang mengetahuinya. Tetapi percayalah, bahwa
Tuhan Yang Maha Mengetahui akan berpihak kepada
Mta."
"Cukup bagi saya, Count," jawab Maximilien. "Siapa
yang akan menjadi pembantu yang kedua?"
"Hanya Tuan dan ipar Tuan di Perancis ini yang dapat
saya percayakan menerima kehormatan itu. Menurut perkiraan
Tuan apakah Emmanuel bersedia?"
"Saya dapat berbicara untuk dia seperti saya berbicara
untuk diri sendiri."
"Baik, dan terima kasih. Datanglah besok ke rumah saya
jam tujuh pagi."
"Kami akan datang."
BAB LI
SETELAH pertunjukan usai Monte Cristo dan
Maximilien berpisah dan masing-masing pulang ke
rumahnya. Monte Cristo tetap bersikap tenang dan
tersenyum. Hanya orang yang sama sekali tidak
mengenalnya akan terpedaya oleh nada suaranya ketika dia
berkata kepada Ali, "Ali, bawa pistol-pistolku yang
bergagang gading ke mari.”
Ali mengantarkan pistol-pistol yang diminta kepada
majikannya, yang lalu memeriksanya dengan ketelitian
seorang yang hendak mempercayakan mati-hidupnya kepada
barang tersebut. Dia sedang memegang salah satu pistol
di tangan ketika pintu tiba-tiba terbuka dan Baptistin masuk.
Sebelum dia sempat membuka mulut, Monte Cristo
melihat seorang wanita bercadar berdiri di belakang Bap
tistin di ambang pintu. Monte Cristo meminta Baptistin
meninggalkan ruangan. Baptistin menurut dan menutup
pintu.
"Bolehkah saya tahu siapa Nyonya?" tanya Monte Cristo
kepada wanita bercadar itu.
Sebelum menjawab, tamu itu melihat dahulu ke sekelilingnya,
meyakinkan bahwa tiada orang lain kecuali mereka
berdua. Dengan suara bernada putus asa tiba-tiba ia berkata,
"Jangan bunuh anak saya, Edmond."
Monte Cristo mundur terkejut dan tanpa disadarinya
mengeluarkan suara yang lemah sekali. Pistol di tangannya
terlepas dan jatuh di lantai. "Nama siapa yang baru Nyonya
sebut, Nyonya de Morcerf?"
"Namamu!" jawabnya yakin sambil melepaskan cadarnya.
"Namamu yang asli, yang hanya aku sendiri yang
mengingatnya! Edmond, bukan Nyonya de Morcerf yang
sekarang datang kepadamu, melainkan Mercedes."
"Mercedes telah meninggal, Nyonya, dan saya tidak
mengenal lagi orang yang bernama demikian."
"Mercedes masih hidup, dan dialah satu-satunya orang
yang mengenalimu. Sejak itu dia mengikuti segala gerak-gerikmu
dan merasa takut kepadanya dan dia tidak perlu bersusah-
payah mencari siapa yang memberikan pukulan maut
kepada Morcerf."
"Nyonya maksud Fernand, bukan?" tanya Monte Cristo
dengan sindiran yang pahit. "Karena kita tokh sudah saling
mengenal nama kita masing-masing sebaiknya kita ingat juga
kepada nama asli orang lain."
Dia mengucapkan nama Fernand dengan nada
kebencian sehingga getar ketakutan mengalir di tubuh
Mercedes.
"Aku tahu, aku tidak keliru," katanya, "kalau aku meminta
kepadamu : selamatkan jiwa anakku!"
"Siapa yang mengatakan bahwa saya mempunyai urusan
dengan anak Nyonya?"
"Tak seorang pun, tetapi seorang ibu dianugerahi daya
lihat ganda. Aku dapat merasakan semuanya. Aku mengikuti
ke Gedung Opera dan bersembunyi di ruang duduk.
Dari sanalah aku mengetahui apa yang telah terjadi."
"Kalau begitu, tentu Nyonya mengetahui bahwa anak
Fernand menghina saya di depan umum."
"Anakku mempersalahkan malapetaka yang menimpa
bapaknya kepadamu."
"Yang menimpa bapaknya bukan malapetaka, melainkan
hukum. Saya tidak memukulnya. Tuhan Yang Adil yang
menghukumnya."
'Tetapi mengapa engkau bertindak sebagai Tuhan?"
tanya Mercedes menangis. "Apa urusanmu dengan Yanina?
Apa kerugianmu karena pengkhianatan Fernand Mondego
kepada Ali Pasha?"
"Nyonya benar, itu bukan urusan saya. Saya tidak bersumpah
untuk membalas dendam kepada opsir Perancis
atau Count of Morcerf, melainkan terhadap Fernand
Mondego suami Mercedes."
"Akulah yang salah, Edmond, dan kalau engkau bermaksud
membalas dendam, kepadakulah semestinya, karena
aku bersalah tidak mempunyai kekuatan menahan ketidakhadiranmu
dan kesunyian diriku."
'Tetapi mengapa saya harus menghilang?" teriak Monte
Cristo.
"Karena engkau ditangkap, karena engkau dipenjara."
"Dan mengapa saya ditangkap? Mengapa saya dipenjara?"
"Aku tidak tahu," jawab Mercedes.
"Benar, Nyonya tidak tahu. Sekurang-kurangnya saya
mengharapkan Nyonya tidak tahu. Baik, akan saya terangkan.
Saya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, sehari
sebelum saya mengawinimu, karena seorang laki-laki
bernama Danglars menulis surat kepada jaksa yang dikirimkan
oleh Fernand sendiri."
Monte Cristo berjalan ke meja tulisnya lalu membuka
salah satu lacinya. Dari dalamnya dia mengeluarkan secarik
kertas kuning. Kertas itu surat Danglars kepada jaksa.
Mercedes mengambil surat itu dan membacanya dengan
rasa gentar. "Oh, Tuhanku!" Dia memukulkan kedua
tangannya ke kepala.
"Dan surat ini . .."
"Saya membelinya dengan harga dua ratus ribu frank.
Saya menganggapnya murah karena ternyata sekarang
dengan itu saya dapat membuktikan kebersihan saya di
hadapan Nyonya."
"Apa akibat dari surat ini?"
"Nyonya sudah mengetahui akibatnya. Surat itu membawa
saya ke penjara. Tetapi yang tidak Nyonya ketahui,
berapa lama saya tersekap dalam penjara itu. Nyonya tidak
tahu bahwa untuk empat belas tahun lamanya saya berada
dalam jarak hanya beberapa ratus meter dari Nyonya dalam
sebuah sel di bawah tanah di Penjara Chateau d’If. Nyonya
tidak tahu bahwa dalam empat belas tahun itu setiap hari
saya memperbaharui sumpah membalas dendam yang saya
tekadkan pada hari pertama masuk penjara. Namun
demikian saya tidak mengetahui bahwa Nyonya menikah
dengan Fernand, orang yang mengkhianati saya. Juga tidak
mengetahui bahwa ayah saya meninggal dan bahwa dia
meninggal karena kelaparan!"
"Ya Tuhan!" sekali lagi Mercedes berteriak. Dengan berlutut
dan tersedu-sedu ia berkata, "Maafkan aku, Edmond,
maafkan demi Mercedes yang masih mencintaimu!"
Monte Cristo mengangkatnya kembali berdiri. "Nyonya
meminta saya untuk tidak membunuh anak terkutuk itu.
Nyonya meminta saya untuk tidak mentaati Tuhan yang
telah mengembalikan saya dari kematian untuk menghukum
mereka. Tidak mungkin Nyona, tidak mungkin!"
"Aku memanggilmu dengan nama Edmond," kata ibu
yang malang itu terisak-isak dan nada putus harapan, "mengapa
engkau tidak memanggilku Mercedes?"
"Mercedes," Monte Cristo mengulangnya. "Mercedes ..
Sebuah nama yang masih sedap untuk diucapkan dan yang
sudah lama sekali tidak pernah keluar dengan jelas melalui
bibirku. Oh, Mercedes, aku selalu menyebut namamu dengan
keluh kesedihan, dengan jerit kepedihan dan dengan
kesah keputusasaan. Aku menyebut-nyebutnya sambil
terbungkuk-bungkuk di atas jerami dalam selku, Mercedes.
Aku menderita selama empat belas tahun, aku menangis
dan mengutuk selama empat belas tahun. Dan sekarang
akan saya katakan, Mercedes, aku harus membalas dendam!"
Supaya hatinya tidak terbawa hanyut oleh permohonan
wanita yang pernah dicintainya, dengan seluruh tubuhnya
gemetar dia menghimpun kembali semua kepedihan yang
pernah dideritanya untuk memperkuat kebenciannya.
"Balaskanlah dendammu, Edmond," teriak ibu yang
malang itu, "tetapi balaskanlah terhadap yang berdosa!
Terhadap Fernand, terhadapku, tetapi jangan terhadap
anakku!"
Monte Cristo mengeluarkan nafas panjang yang hampir
serupa dengan raungan, lalu menjepit kepalanya dengan
kedua belah tangannya.
"Edmond," lanjut Mercedes, "sejak aku mengenalmu aku
selalu memuja namamu dan menghargai daya ingatmu.
Edmond, sahabatku, janganlah memaksa aku
memadamkan gambaran yang murni dan mulia yang
senantiasa bercahaya dalam hatiku itu. Oh, Edmond, kalau
saja engkau tahu betapa sering aku berdo'a untukmu selama
aku mengharap engkau masih hidup dan setelah aku
mengira engkau telah meninggal! Apa lagi yang dapat
kulakukan bagimu kecuali menangis dan berdo'a?
Percayalah kepadaku, Edmond, aku merasa berdosa dan
aku pun menderita!"
"Apakah engkau dapat merasakan ayah kandungmu meninggal
ketika engkau jauh daripadanya? Apakah engkau
dapat merasakan ketika melihat wanita yang kaucintai
menyerahkan dirinya kepada musuhmu sedangkan engkau
sendiri menjerit-jerit menangis dalam kegelapan sel di bawah
tanah?"
'Tidak," jawab Mercedes, "tetapi aku melihat laki-laki
yang kucintai telah siap untuk menjadi pembunuh anakku."
Mercedes mengucapkan kata-kata ini dengan kepedihan
yang mendalam dan keputusasaan yang pasti sehingga menyebabkan
Monte Cristo yang keras itu tidak dapat menahan
sedu tangisnya yang bergejolak di tenggorokan.
Singa garang telah terjinakkan. Si Pembalas Dendam sudah
tertaklukkan.
"Engkau datang untuk nyawa anakmu," katanya perlahan-
lahan. "Baik, dia akan hidup."
"Oh!" Mercedes berteriak girang. Dia menangkap tangan
Monte Cristo dan membawanya ke bibirnya. "Terima kasih,
Edmond, terima kasih! Engkau masih tetap laki-laki yang -
kudambakan, laki-laki yang tetap kucintai."
"Engkau tak akan dapat lebih lama mencintainya lagi,"
jawab Monte Cristo. "Orang yang telah mati itu akan segera
kembali ke dalam kuburnya. Bayangannya akan segera
menghilang dalam kegelapan malam”
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, karena engkau memintanya, Mercedes, aku
harus mati."
"Mati? Siapa yang berbicara tentang mati?"
"Engkau tentu tak akan dapat percaya bahwa setelah
dihina di muka umum oleh seorang anak muda yang mungkin
nanti menggembar-gemborkan telah mendapat maaf
dariku, atau menggembar-gemborkan mendapat kemenangan
dalam duel melawanku, aku masih tahan untuk hidup.
Yang paling kucintai setelah dirimu Mercedes, adalah
diriku sendiri. Tegasnya kemuliaan martabatku dan
kekuatan yang membuatku mempunyai kekuasaan atas
orang-orang lain. Kekuatan itu adalah hidupku, dan engkau
telah mematahkannya dengan kata-kata. Karena itu aku
harus mati. Duel akan tetap berlangsung, hanya saja, bukan
darah anakmu yang akan mengalir, melainkan darahku."
Sekali lagi Mercedes berteriak dan melompat menghampiri
Monte Cristo, tetapi tiba-tiba dia berhenti. "Edmond,"
katanya, "kenyataan bahwa engkau masih hidup
dan kenyataan bahwa aku masih dapat melihatmu lagi,
membuktikan adanya Tuhan di atas kita. Aku mempercayai
Dia dari kedalaman lubuk hatiku. Dengan mengharapkan
pertolongan-Nya aku mempercayai kata-katamu. Engkau
telah mengatakan anakku akan hidup. Dia akan hidup
bukan?"
"Betul, dia akan hidup," kata Monte Cristo, terkejut
merasakan penerimaan Mercedes untuk pengorbanannya.
Mercedes mengulurkan kedua tangannya kepada Monte
Cristo. "Edmond," katanya, matanya basah karena air
matanya, "engkau baru saja melakukan tindakan yang
mulia dan luhur. Engkau telah mengasihani seorang perempuan
yang malang dan datang kepadamu dengan mempunyai
banyak alasan untuk percaya bahwa permintaannya
tidak akan dikabulkan. Aku menua febih banyak karena
kesedihan daripada dimakan usia, dan balikan aku sudah
tidak lagi dapat mengingatkan Edmondku kepada Mercedes
yang biasa dia pandang berjam-jam. Oh, percayalah ketika
aku mengatakan aku pun menderita. Sungguh sangat
mengerikan melihat jiwa seseorang akan menghilang, tanpa
harapan secercah pun. Aku katakan sekali lagi, Edmond,
sungguh mulia dan luhur tindakan memberi maaf seperti
yang kaulakukan ini."
"Engkau mengatakan itu tanpa mengetahui betapa besar
pengorbanan yang kuberikan untukmu Mercedes. Coba
bayangkan, seandainya Tuhan Yang Maha Kuasa setelah
selesai menciptakan sepertiga dari dunia ini menghentikan
ciptaan-Nya untuk menghemat air mata malaikat yang akan
menangisi dosa-dosa kita kalau dunia ini diselesaikan,
seandainya setelah Tuhan mempersiapkan segala-galanya
dan menyebarkan benih-benih kehidupan di dunia ini dalam
kegelapan abadi . . , kalau saja engkau dapat membayangkan
ini, engkau tetap tidak akan dapat membayang
kan apa artinya kehilangan hidupku pada saat ini"
Mercedes menatap wajah Monte Cristo dengan air muka
yang mencerminkan keheranan, kekaguman dan rasa
terima kasih.
"Edmond," katanya, "hanya tinggal ini yang masih dapat
kukatakan. Kecantikanku telah pudar, tetapi engkau akan
melihat bahwa sekalipun jasmaniahnya telah berubah,
hatinya tetap tidak berubah. Selamat tinggal, Edmond. Aku
tidak menghendaki apa-apa lagi, aku telah melihatmu lagi
tetap mulia dan berjiwa besar seperti sediakala. Selamat
tinggal dan terima kasih, Edmond,"
Monte Cristo tidak menjawab. Mercedes telah pergi
sebelum dia sadar kembali dari lamunannya yang dalam
dan pedih, yang terjadi karena hilangnya nafsu balas dendam.
"Betapa bodoh aku!" katanya kepada dirinya sendiri,
"karena tidak mengoyak hatiku sendiri pada pertama kalinya
aku mengucapkan sumpah balas dendam!"
BAB LII
ESOK paginya Maximilien dan Emmanuel datang
duapuluh menit lebih cepat.
"Maafkan kami, karena datang terlalu pagi. Terus terang
saya akui bahwa semalam saya tidak dapat tidur sekejap
pun, demikian juga saudara-saudara saya. Saya perlu melihat
Tuan yang senantiasa tabah dan yakin agar saya pun
dapat mengembalikan kepercayaan saya kepada diri sendiri.
Count of Monte Cristo tersentuh hatinya. Tidak seperti
biasanya mengulurkan tangan untuk berjabatan sekali ini
dia merangkul Maximilien sambil berkata, "Maximilien,
aku selalu menganggap sebagai suatu hari yang sangat
mulia apabila aku dapat merasakan cinta orang’ seperti
engkau. Selamat pagi, Emmanuel. Jadi engkau bersedia
menjadi pembantuku, Maximilien?"
"ApakahTuan meragukannya?"
"Tetapi seandainya . .."
"Saya memperhatikan Tuan sejak awal sampai akhir
kejadian tadi malam. Semalam suntuk saya merenungkan
keyakinan Tuan dan akhirnya hati saya membisikkan
bahwa keadilan akan berada di pihak Tuan. Kalau tidak,
berarti kita tidak boleh bisa menarik sesuatu kesimpulan
dari air muka seseorang."
"Terima kasih, Maximilien," jawab Monte Cristo. Latas
dia memukul gong sekali dan Ali muncul. "Antarkan ini
kepada notaris. Ini adalah surat wasiatku, Maximilien, dan
ada hubungannya dengan engkau setelah aku mati "
“Apa!"
"Kita harus bersiap untuk segala kemungkinan, bukan?
Sekarang, ceriterakan apa yang engkau lakukan semalam
setelah berpisah dengan aku."
"Saya pergi ke Tortoni di mana, seperti yang saya harapkan,
bertemu dengan Beauchamp dan Chateau-Renaud.
Saya sengaja mencari mereka."
"Buat apa? Bukankah perjanjian sudah dibuat?"
"Saya mengharapkan mereka mau menyetujui perubahan
senjata. Pistol itu buta."
"Berhasil?" tanya Monte Cristo dengan harapan yang
hampir-hampir tidak tampak.
'Tidak . . . keakhlian Tuan bermain anggar terlalu diketahui
orang."
"Bagaimana mungkin?"
"Dari seorang guru anggar yang Tuan kalahkan."
"Artinya engkau tidak berhasil?"
"Mereka menolak dengan tegas."
"Pernahkan engkau melihat aku menembak dengan
pistol?"
"Belum pernah."
Monte Cristo menempelkan sehelai kartu asret pada
sebuah papan, lalu mengambil pistol dan menembak
dengan tepat keempat sudut gambar belah ketupat yang
berada di tengah-tengah kartu.
Maximilien memeriksa peluru yang digunakan Monte
Cristo mendemonstrasikan kemahirannya, dan ternyata
peluru itu tidak lebih besar dari peluru biasa.
"lihat Emmanuel!" katanya. "Luar biasa!" lalu menghadap
keparja Monte Cristo, "Demi Tuhan, janganlah
membunuh Albert Kasihan, dia mempunyai ibu "
"Betul," jawab Monte Cristo, "dan aku tidak mempunyainya."
Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada yang
membuat Maximilien bergidik.
“Tuan adalah pihak yang ditantang."
"Apa artinya itu?"
"Artinya, Tuan mempunyai hak untuk menembak lebih
dahulu. Saya menuntut hak itu dan mereka menyetujui
karena kita telah banyak sekali memberikan peluang kepada
mereka."
"Jaraknya berapa langkah?"
"Dua puluh."
Senyum yang menyeramkan tersimpul di bibir Monte
Crista "Maximilien," katanya, "jangan melupakan apa yang
baru saja kaulihat."
“Tidak. Itulah sebabnya saya mengharapkan kemurahan
hati Tuan untuk menyelamatkan jiwa Albert. Tuan yakin
betul akan "dapat membunuhnya, sehingga saya ingin mengatakah
sesuatu kepada Tuan yang bagi orang lain tentu
menggelikan: lukai saja dia, jangan sampai dibunuh."
"Dengarkan, Maximilien. Tidak perlu engkau
menganjurkan aku berbuat baik kepada Tuan Albert de
Morcerf. Memang aku sudah berniat akan berbuat baik
sekali sehingga dia dapat kembali ke rumahnya tanpa
cedera bersama kedua orang pembantunya, sedang aku ..."
"Sedang Tuan.,..?"
"Akan lain. Aku akan pulang digotong orang."
'TidaklTidak Tuan bergurau tentu."
"Akan terjadi seperti yang kukatakan, Maximilien. Tuan
Morcerf akan membunuhku."
Dengan mata terbelalak Maximilien menatap wajah
Monte Cristo. "Apa yang terjadi dengan tuan malam tadi,
Count?"
“Sama seperti yang terjadi dengan Brutus semalam sebelum
Peperangan Phillipi. Aku melihat hantu. Dan hantu
itu mengatakan bahwa aku telah hidup terlalu lama."
Maximilien dan Emmanuel sating berpandangan. Monte
Cristo mengeluarkan arloji kantongnya.
"Mari kita berangkat," katanya. "Sudah jam tujuh lewat
lima menit dan perjanjian kita jam delapan."
Kereta telah menunggu mereka di muka pintu. Monte
Cristo dan kedua kawannya menaikinya. Mereka tiba di
tempat perjanjian tepat pada jam delapan.
"Kita datang lebih dahulu," kata Maximilien sambil
menjulurkan kepalanya melalui jendela kereta.
"Maaf, Tuan." kata Baptistin yang mengikuti majikannya
dengan perasaan yang sangat gentar. "Saya melihat sebuah
kereta di bawah pohon sana."
"Oh, benar juga," kata Emmanuel. "Dan saya lihat dua
orang muda yang seperti menunggu kita."
Monte Cristo meloncat keluar kereta lalu mengulurkan
tangannya untuk membantu Maximilien dan Emmanuel
turun. Setelah itu dia menarik Maximilien menjauh. "Maximilien,
apakah hatimu masih bebas?"
Maximilien menatap wajahnya dengan heran.
"Aku tidak memintamu menceriterakan rahasia hatimu.
Aku hanya meminta jawaban ya atau tidak."
"Ada seorang gadis yang saya cintai, Count."
"Sepenuh hatimu?"
"Lebih dari nyawa sendiri."
"Sebuah harapan lagi hancur!" kata Monte Cristo. Kemudian
dia bergumam. “Haydee yang malang!"
"Apabila saya tidak cukup mengenal Tuan, saya akan
berpendapat bahwa Tuan kehilangan sebagian dari
keberanian Tuan."
"Karena saya mengeluh sebab ingat kepada yang ditinggalkan?
Tidak, Maximilien, sebagai seorang prajurit tentu
engkau mengenal arti keberanian. Di samping itu, kelemahan
ini, kalau memang benar ini merupakan suatu kelemahan,
hanya engkau sendiri yang tahu. Aku tahu bahwa dunia
Uji tak ubahnya seperti sebuah kasino yang harus kita
tinggalkan dengan sopan, artinya, setelah memberi hormat
dan membayar semua hutang kita."
"Bagus sekali ungkapan itu! Sebelum lupa, apakah Tuan
tidak lupa membawa senjata?"
"Aku harap Tuan-tuan di sana akan membawanya."
"Baik saya tanyakan."
Maximilien berjalan menuju Beauchamp dan Chateau-
Renaud. Ketiga orang muda itu saling memberi hormat,
sekalipun tanpa keramahan, tetapi bukan pula hormat yang
dibuat-buat.
"Maafkan saya, Tuan-tuan," kata Maximilien, "saya tidak
melihat Tuan de Morcerf."
"Beliau memberitahu kami tadi pagi untuk bertemu di
medan kehormatan ini," jawab Chateau-Renaud.
"Baru jam delapan lewat lima," kata Beauchamp menambah
sambil melihat arlojinya. "Belum banyak waktu
yang terbuang, Tuan Morrel."
"Oh, bukan maksud saya untuk..."
"Lagi pula," Chateau-Renaud memotong, "lihat keretanya
sudah datang."
Mereka melihat ke arah datangnya sebuah kereta yang
mendekat dengan cepat.
"Oh, bukan Moreerfi" kata Chateau Renaud lagi terkejut.
"Franz dan Debray rupanya."
Kedua orang muda itu turun dari kereta lalu berjalan
menghampiri,
"Apa yang membawa Tuan-tuan ke mari?" tanya Chateau-
Renaud menjabat tangan masing-masing.
"Albert menyurati kami tadi pagi meminta bertemu di
sini," jawab Debray.
Beauchamp dan Chateau-Renaud saling bertanya dengan
matanya. Tiba-tiba Beauchamp berteriak, "Nah, itu Albert
datang berkuda."
"Bodoh benar dia datang berkuda untuk berduel dengan
pistol," kata Chateau Renaud "Padahal telah saya nasihati
dengan teliti."
Albert menarik kendali untuk menghentikan kudanya,
meloncat turun lalu menghampiri sahabat-sahabatnya.
Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah. Jelas sekali
bahwa dia tidak tidur semalaman.
'Terima kasih untuk memenuhi permintaan saya, Tuantuan,"
katanya "Saya benar-benar berterima kasih untuk
bukti persahabatan kita ini"
Maximilien mundur menjauh.
"Ucapan terima kasih saya berlaku juga untuk Tuan,
Tuan Morrel. Dekatlah ke mari Kami tidak berkeberatan
Tuan hadir."
"Barangkali Tuan lupa bahwa saya sekarang bertindak
sebagai salah seorang pembantu Count of Monte Cristo,"
jawab Maximilien.
"Bahkan lebih baik. Saya menghendaki kehadiran
sebanyak mungkin orang-orang terhormat."
'Tuan Morrel," kata Chateau-Renaud, 'Tuan dapat
memberitahukan Count of Monte Cristo bahwa Tuan de
Morcerf sudah datang dan bahwa kami sudah siap."
Maximilien bergerak untuk menyampaikan pesan itu
sedang Beauchamp mengeluarkan kotak yang berisi
beberapa pucuk pistol
"Tunggu sebentar," kata Albert, "saya ingin mengatakan
sesuatu lebih dahulu kepada Count of Monte Cristo.”
"Berdua?" tanya Maximilien.
'Tidak, di hadapan semua” Para pembantu Albert saling
berpandangan lagi dengan keheranan yang meningkat.
Franz dan Debray berbisik-bisik bertukar pendapat, dan
Maximilien gembira karena perubahan keadaan yang di
luar dugaannya. Dia segera berlari menuju Monte Cristo
yang sedang berjalan-jalan bersama Emmanuel.
"Apa yang dikehendakinya?" tanya Monte Cristo.
"Saya tidak tahu, tetapi dia meminta berbicara dengan
Tuan."
"Ah! Aku harap saja dia tidak bermaksud menghina
Tuhan lagi dengan meledakkan amarahnya."
"Saya kira bukan itu maksudnya," kata Maximilien.
Monte Cristo berjalan didampingi oleh Maximilien dan
Emmanuel. Albert dan kawan-kawannya pun berjalan menjemput
Ketika jarak antara mereka tinggal tiga langkah lagi,
Monte Cristo dan Albert berhenti
"Silahkan lebih dekat lagi. Tuan-tuan," kata Albert
kepada yang lainnya "Saya ingin sekali Tuan-tuan pun
dapat mendengar setiap kata yang akan saya ucapkan kepada
Count of Monte Cristo, oleh karena saya menghendaki
Tuan-tuan suka mengulang ulangnya kepada siapa pun
yang mau mendengar, betapapun janggalnya mungkin bagi
Tuan-tuan."
"Saya siap mendengarkan. Tuan de Morcerf," kata
Monte Cristo.
"Count," Albert memulai dengan terbata-bata pada mulanya
tetapi makin lama kian pasti dan yakin. "Saya telah
mempersalahkan Tuan membukakan rahasia perbuatan
ayah saya di Yunani, oleh karena saya berpendapat,
betapapun besarnya kesalahan ayah saya, Tuan tidak
mempunyai hak untuk menghukumnya. Tetapi hari ini saya
mengetahui bahwa Tuan mempunyai hak itu. Bukan
pengkhianatan Fernand Mondego terhadap Ali Pasha yang
membuat saya cepat memahami perbuatan Tuan,
melainkan pengkhianatan Fernand Mondego Si Nelayan
terhadap Tuan yang menyebabkan penderitaan yang tak
terkatakan bagi Tuan. Oleh sebab itu saya berani
mengatakan, bahwa Tuan mempunyai hak untuk membelas
dendam terhadap ayah saya, dan saya, anaknya,
mengucapkan terima kasih karena Tuan tidak berbuat lebih
daripada yang sudah dilakukan."
Seandainya ada halilintar menggelegar mendadak ketika
itu, rupanya tidak akan lebih mengejutkan daripada katakata
Albert yang sama sekali tidak terduga ini. Monte Cristo
sendiri, dengan lambat menengadah ke langit dengan penuh
perasaan syukur. Dia mengagumi keberanian Albert ketika
Albert berada dalam cengkeraman bandit-bandit Roma.
Kekagumannya makin bertambah karena sekarang dia
melihat keberanian itu telah sanggup mengalahkan watak
Albert yang keras dan menyerahkannya kepada kejujuran
dan kerendahan hati. Dia merasakan adanya pengaruh
Mercedes dan baru sekarang pula dia memahami mengapa
Mercedes tidak menolak pengorbanan jiwanya sebagai
pengganti nyawa anaknya.
"Dan sekarang," lanjut Albert, "seandainya Tuan menganggap
permintaan maaf saya ini sudah memadai, izinkan
lah saya menjabat tangan Tuan."
Dengan mata basah dan dada berkembang Monte Cristo
mengulurkan tangannya kepada Albert yang menyambutnya
dengan hangat disertai perasaan takut bercampur
kagum.
"Tuan-tuan, Count of Monte Cristo telah memaafkan
saya. Saya harap masyarakat tidak akan menganggap saya
sebagai pengecut karena saya melakukan apa yang dibisikkan
oleh hati nurani saya. Tetapi," sambung anak muda itu
sambil mengangkat kepalanya dengan bangga seakan-akan
hendak mengucapkan tantangan, "seandainya ada orang
yang berpikir keliru terrtang alasan saya ini, saya akan mencoba
merobah pendiriannya."
BAB LIII
YANG pertama-tama dilakukan Albert ketika dia
kembali ke rumahnya, menanggalkan potret ibunya dari
piguranya. Setelah itu ia mengumpulkan semua koleksi
senjata-senjatanya dari Turki dan Inggris, porselen Jepang,
piala-piala dan patung-patung perunggu Uang yang ada di
sakunya dilemparkan ke dalam laci meja yang terbuka.
Disatukannya juga kepada uang itu semua permata
miliknya, lalu mencatat semua kekayaannya itu dengan
cermat. Setelah selesai, catatan itu diletakkan di atas meja.
Suara kuda di pekarangan menarik perhatiannya. Dia
berjalan ke jendela dan melihat ayahnya menaiki keretanya
dan berangkat.
Albert pergi ke kamar ibunya. Dia terhenti di ambang
pintu, terpaku oleh apa yang dilihatnya. Bagaikan dua raga
dikuasai satu jiwa, Mercedes pun sedang melakukan apa
yang baru saja selesai dikerjakan oleh anaknya. Albert memahami
maksud ibunya, sebab itu dia merasa terkejut.
"Ibu!" katanya sambil memeluk ibunya. "Apa yang Ibu
lakukan?"
"Dan apa pula yang engkau lakukan?"
"Ibu," Albert terharu hampir-hampir tidak dapat berkata.
"Bagi Ibu lain."
”Aku mau pergi," kata Mercedes pasti. "Dan aku memperkirakan
anakku akan berangkat bersamaku. Atau aku
salah?"
'Ibu saya tidak tega Ibu menjalani hidup seperti yang
akan saya jalani. Mulai hari ini saya harus hidup tanpa kekayaan.
Untuk bekal belajar hidup secara itu, saya harus
meminjam dahulu roti kawan untuk makan sampai saya
dapat menghasilkannya sendiri. Saya bermaksud menemui
Franz hari ini juga untuk meminta dia meminjami' saya
sejumlah uang yang saya pikir akan mencukupi"
"Anakku yang malang!" Mercedes menangis. "Apakah
engkau bermaksud hidup dalam kemiskinan dan kelaparan?
Jangan begitu, aku takut terpaksa merubah lagi keputusanku!"
'Tetapi keputusan saya sendiri tak akan berubah," jawab
Albert. "Saya masih muda, masih kuat dan saya kira bukan
pula pengecut. Sejak kemarin saya mengetahui apa yang
dapat dihasilkan oleh kekuatan dan kemauan yang keras.
Banyak orang yang pernah mengalami penderitaan. Bukan
saja mereka tetap dapat hidup, tetapi lebih dari itu mereka
berhasil mengumpulkan kekayaan di atas puing-puing
kebahagiaan lamanya yang hancur. Dari kedalaman tempat
dia dibenamkan oleh musuh-musuhnya dia berhasil bangkit
kembali dengan gagah dan penuh kejayaan sehingga dia
dapat menguasai musuh-musuhnya dan akhirnya berhasil
menghancurkannya. Mulai hari ini saya hendak memutuskan
pertalian saya dengan masa lalu saya. Saya tidak
mau menerima apa pun dari masa lalu, bahkan nama pun
tidak, karena, Ibu tentu faham, putra Ibu tak mungkin
menyandang nama ayahnya yang sudah cemar."
"Seandainya hatiku cukup kuat Albert, itulah nasihat
yang akan kuberikan. Hati nuranimu sendiri telah membisikkan
apa yang tidak mampu aku katakan. Menjauhlah
dari kawan-kawanmu untuk sementara ini, tetapi jangan
berputus asa, aku minta. Hidup dan kehidupan masih cerah
bagimu. Usiamu belum lagi dua puluh dua. Dan karena hati
yang bersih seperti hatimu membutuhkan sebuah nama
yang tidak ternoda, pakailah nama ayahku, Herrera. Aku
cukup mengenalmu, Albert, bidang apa pun yang hendak
kaumasuki, aku yakin engkau akan dapat mewangikan
nama itu."
"Saya akan mentaati apa yang Ibu minta," jawab anak
muda itu. "Dan karena putusan telah bulat, baiklah kita
melaksanakannya sekarang juga. Ayah baru saja meninggalkan
rumah, berarti kita mempunyai kesempatan
yang cukup banyak untuk menghindarkan kegaduhan."
"Aku menunggu," kata Mercedes. Albert berlari ke jalan
mencari kereta sewaan. Ketika kembali ke rumahnya
seorang laki-laki menghampirinya dan menyerahkan
sepucuh surat. Albert mengenalinya sebagai pengurus
rumah tangga Count of Monte Cristo, Bertuccio. Dia
membuka surat itu dan membacanya. Setelah selesai dia
melihat kepada Bertuccio, tetapi dia sudah tidak ada. Albert
segera kembali kepada ibunya dan dengan emosi yang
meluap-luap dia menyerahkan surat itu kepada ibunya,
tanpa mampu berkata sepatah pun. Mercedes menerimanya
dan membacanya:
Albert, engkau akan segera meninggalkan rumah ayahmu
dengan membawa serta ibumu. Pikirlah baik-baik sebelum engkau
berangkat: Engkau berhutang budi kepada ibumu tanpa engkau
mungkin membalasnya. Hadapilah perjuangan itu seorang diri
dan tahankan penderitaan itu seorang diri pula dan cegahlah
jangan sampai ibumu mengalami kemiskinan pada hari-hari
pertama engkau memasuki perjuangan itu oleh karena beliau
sebenarnya tidak sepatutnya turut menanggung akibat musibah
yang menimpanya hari ini Aku tahu bahwa kalian akan
berangkat meninggalkan rumah ayahmu tanpa membawa apaapa.
Tidak perlu engkau menyelidiki bagaimana aku mengetahuinya.
Aku tahu dan itu sudah cukup. Dengarkanlah baikbaik,
Albert. Dua puluh empat tahun yang lalu aku kembali ke
negriku dengan rasa bangga dan bahagia. Aku punya tunangan;
seorang gadis berhati suci yang sangat aku puja dan aku memiliki
tiga ribu frank yang aku kumpulkan dengan susah payah. Uang
itu untuk kekasihku, dan karena aku mengenal sekali sifat-sifat
lautan aku mengubur kekayaan itu di sebuah kebun kecil di
rumah yang pernah ditinggali ayahku di Marseilles. Ibumu
mengetahui letak rumah itu.
Baru-baru ini, dalam perjalanan ke Paris aku lewat di
Marseilles. Aku singgah ke rumah itu dengan penuh kenangan
pedih dan pahit. Aku menggali tanah tempat aku menguburkan
uang kami. Peti besi itu masih ada. Tak seorang pun pernah
menyentuhnya. Tempatnya di sudut kebun di bawah pohon ara
yang ditanam ayahku pada hari lahirku. Uang itu dimaksudkan
untuk membahagiakan wanita yang sangat aku cintai. Engkau
tentu dapat memahami mengapa aku lebih suka mengembalikan
uang itu kepadanya daripada menawarkan jutaan frank yang
sekarang aku mampu memberikannya. Aku hanya ingin
mengembalikan jumlah yang sangat kecil itu yang telah lama
terlupakan sejak aku dipisahkan daripadanya. Engkau berhati
mulia, Albert, tetapi mungkin saja engkau dibutakan oleh
kebanggaan diri atau rasa sakit hati. Kalau engkau menolak
tawaran ku ini, kalau engkau meminta bantuan kepada orang lain
untuk sesuatu yang sebenarnya aku mempunyai hak untuk
memberikan itu kepadamu, aku akan mengatakan bahwa hatimu
tidak mulia, karena berarti tidak memberikan kesempatan kepada
ibumu untuk memasuki kehidupan yang baru yang ditawarkan
oleh seorang laki-laki yang ayahnya mati karena kelaparan dan
kepedihan yang disebabkan oleh ayahmu.”
Ketika Mercedes tamat membacanya, Albert berdiri
tanpa bergerak, menunggu keputusan ibunya.
"Aku menerimanya, Albert. Dia berhak membayar mas
kawin yang sepatutnya kubawa ke biara."
Dengan menekankan surat itu ke dadanya, dia memegang
tangan anaknya lalu dengan langkah-langkah yang
pasti berjalan menuju tangga.
MONTE Cristo kembali ke kota bersama Emmanuel dan
Maximilien. Mereka pulang dengan rasa gembira.
Emmanuel tidak menyembunyikan kegembiraannya
melihat pertarungan berubah menjadi perdamaian.
Maximilien yang duduk di sudut membiarkan iparnya
menyatakan perasaan hatinya dengan serangkaian kata-kata
sedangkan dia sendiri yang tidak kurang pula senangnya
menunjukkan kelegaan hatinya itu hanya pada sinar
matanya saja.
Di Barriere du Trone mereka bertemu dengan Bertuccio
yang sedang tegak berdiri menunggu mereka seperti seorang
perjurit. Monte Cristo mengeluarkan kepalanya melalui
jendela dan bercakap-cakap sebentar dengan dia dalam
nada rendah. Setelah itu Bertuccio pergi.
"Kalau Tuan tidak berkeberatan, dapatlah saya diantarkan
pulang," kata Emmanuel, "agar istri saya tidak harus
mengalami kekhawatiran tentang kita terlalu lama."
"Ingin sekali sebenarnya kami meminta Tuan mampir
sebentar," kata Maximilien, "tetapi saya tahu ada orang
yang ingin segera Tuan tenteramkan juga hatinya. Kita sudah
sampai, Emmanuel, dan baiklah kita tidak terlalu lama
mengganggu Count of Monte Cristo.”
"Tunggu sebentar," kata Monte Cristo, "jangan aku
ditinggalkan kalian berdua sekaligus. Tenteramkan istrimu
yang baik itu, Emmanuel, dan sampaikan salamku. Dan
engkau, Maximilien, ikutlah ke Champs Elysees."
"Dengan senang hati, terutama sekali karena saya mempunyai
urusan pribadi di dekat rumah Tuan."
"Engkau makan malam di rumah nanti?" tanya Emmanuel.
"Tidak," jawab Maximilien. Kereta bergerak lagi.
"Tuan lihat, betapa saya membawa keberuntungan bagi
Tuan," kata Maximilien ketika mereka hanya tinggal
berdua. "Tuan tentu tidak mengira akan terjadi begitu,
bukan?"
"Itulah sebabnya aku memintamu menjadi pembantu."
“Apa yang terjadi tadi itu benar-benar suatu keajaiban.
Albert memang berani. Tak perlu diragukan lagi."
"Sangat berani," kata Monte Cristo. 'Pernah aku melihat
dia tidur lelap padahal dia tahu ada sebilah pedang terhunus
di atas lehernya hampir dalam arti kata sebenarnya."
"Saya tahu dia berjuang melawan dua lawan sekaligus,
dan dia menang. Dengan tindakannya itu dia berhasil
mendamaikan keduanya."
"Berkat pengaruhmu " kata Monte Cristo tersenyum.
"Untung Albert bukan seorang perajurit."
"Mengapa?"
"Meminta maaf di medan kehormatan!" kata kapten
muda itu menggelengkan kepala.
"Nah," kata Monte Cristo ramah, "jangan engkau tergelincir
berpikir seperti orang-orang biasa. Bukankah karena
Albert pemberani, dia tidak mungkin sekaligus menjadi
pengecut? Dia mesti mempunyai alasan-alasan yang kuat
untuk bersikap seperti tadi itu. Bukankah tindakannya itu
merupakan tindakan seorang jantan?"
"Benar, benar," jawab Maximilien.
"Engkau makan siang di rumahku, bukan?" tanya Monte
Cristo tiba-tiba memutuskan pembicaraan.
"Terima kasih. Saya ada janji jam sepuluh."
"Urusan pribadimu itu janji makan siang rupanya?"
Maximilien menggelengkan kepala.
"Tetapi engkau harus makan, kan?"
"Bagaimana kalau saya tidak lapar?"
"Ah! Aku hanya mengenal dua perasaan saja yang mampu
menghilangkan nafsu makan seorang laki-laki.
Kesedihan tetapi, karena kulihat engkau begitu gembira,
aku tahu bukan itu sebabnya . . . dan cinta. Setelah aku
mendengar pengakuanmu tadi pagi, aku kira..."
''Saya tidak akan menyangkalnya," jawab Maximilien
bertambah gembira.
"Engkau tidak pernah menceriterakannya," kata Monte
Cristo dengan nada suara yang jelas menunjukkan betapa
besar keinginannya mengetahui rahasia itu.
"Saya telah mengatakan tadi bahwa saya mempunyai
hati, bukan?"
Monte Cristo menjawab ucapan itu dengan mengulurkan
tangannya kepada anak muda itu.
"Karena hati saya sudah berada di sana, saya ingin meminta
diri sekarang saja."
"Silakan, sahabat," jawab Monte Cristo perlahan-lahan.
"Tetapi berjanjilah, seandainya engkau menemukan suatu
halangan, ingatlah bahwa aku mempunyai pengaruh tertentu
dalam dunia ini yang dengan senang hati mau aku memanfaatkannya
untuk menolong orang-orang yang aku
sukai, dan bahwa aku sangat menyukaimu, Maximilien."
"Terima kasih," jawab anak muda itu, "saya akan mengingatnya
seperti seorang anak ingat kepada orang tuanya
ketika dia memerlukannya. Seandainya saya membutuhkan
pertolongan Tuan, dan mungkin sekali saya akan memerlukannya,
saya akan menemui Tuan.”
"Aku anggap itu sebagai janji. Selamat jalan."
Mereka telah tiba di depan rumah Count of Monte Cristo
di Chmaps Elysees. Monte Cristo membuka pintu kereta
dan Maximilien melanjutkan perjalannya dengan jalan kaki
sedang Monte Cristo menghampiri Bertuccio.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Dia akan meninggalkan rumah," jawab Bertuccio. "Dan
anaknya?”
"Florentin, pelayannya, mengira akan melakukan hal
yang sama."
"Ikut aku.”
Monte Cristo membawa Bertuccio ke kamar kerjanya,
menulis surat, menyerahkannya kepada Bertuccio dan
berkata,. "Sampaikan ini sekarang juga. Sebelum pergi,
beritahu Haydee bahwa aku sudah kembali,"
"Saya di sini,” kata Haydee dan ketika mendengar suara
kereta Monte Cristo, turun dari lantai atas. Wajahnya bersinar
gembira melihat pelindungnya kembali dengan selamat
Bertuccio pergi.
Kegembiraan Monte Cristo, sekalipun tidak tampak sejelas
kegembiraan Haydee, sama mendalamnya. Akhir-akhir
ini dia merasakan sesuatu yang sebelumnya dia tidak berani
mempercayainya: bahwa ada Mercedes lain dalam dunia
ini, bahwa dia dapat merasa bahagia untuk kedua kalinya.
Monte Cristo menatap mata Haydee yang basah dengan
penuh kasih. Tiba-tiba pintu terbuka. Monte Cristo mengerutkan
dahinya.
"Count of Morceff," kata Baptistin memberi tahu.
"Oh!” teriak Haydee cemas. "Masih belum selesai juga?"
"Aku tidak tahu," jawab Monte Cristo sambil memegang
kedua tangan Haydee. "Aku hanya tahu, tak ada yang perlu
dicemaskan. Orang itu tak akan dapat berbuat apa-apa terhadapku.
Ketika berurusan dengan anaknya itulah yang
perlu ditakutkan.”
”Tuan tidak akan dapat merasakan bagaimana penderitaan
saya!” kata Haydee.
Monte Cristo tersenyum. "Aku bersumpah, apabila ada
yang disebut nasib buruk, itu tak akan mengenai diriku."
"Saya percaya, seperti saya mempercayai Tuhan sendiri
yang memberitahukan."
Monte Cristo mencium dahi Haydee yang menyebabkan
jantung masing-masing berdenyut cepat.
"Ya Tuhan!" pikir Monte Cristo, "mungkinkah Engkau
mengizinkan aku mencintai lagi seorang wanita?"
Lalu dia berbalik kepada Baptistin. 'Persilahkan tamu itu
ke ruang duduk.”
Jendral Morcerf sudah berjalan bolak-balik untuk ketiga
kalinya ketika Monte Cristo menemuinya.
"Ah, Tuan Morcerf," kata Monte Cristo dengan tenang.
"Saya kira tadi saya salah dengar." ‘
"Betul, saya,” jawab Jendral. Kata-katanya kurang jelas
karena terhalang oleh bibirnya yang gemetar kaku.
"Kehormatan apa kiranya yang menyebabkan saya dapat
menerima Tuan sepagi ini?"
'Tuan telah bertemu dengan anak saya tadi pagi.”
"Tuan mengetahuinya?"
"Ya, dan saya pun tahu bahwa dia mempunyai alasan
yang baik untuk menantang Tuan dan berusaha membunuh
Tuan”
"Benar. Tetapi seperti yang Tuan lihat sendiri sekalipun
dia mempunyai alasan yang baik, dia tidak membunuh
saya. Tegasnya, bahkan dia membatalkan perkelahian itu."
"Walau demikian, dia beranggapan Tuanlah biangkeladi
tercemarnya nama saya dan musibah yang menimpa rumah
tangga saya."
"Itu pun benar," jawab Monte Cristo dengan ketenangan
yang menakjubkan. 'Sayalah penyebabnya sekalipun bukan
penyebab yang utama."
"Karena itu masuk akal kalau Tuan meminta maaf kepadanya
atau memberikan penjelasan kepadanya"
"Saya tidak memberikan penjelasan apa pun dan dialah
yang meminta maaf kepada saya."
"Apa alasannya, pikir Tuan?"
"Kesadarannya mungkin, bahwa ada orang lain yang lebih
bersalah daripada saya."
"Siapa orang itu?"
"Ayahnya sendiri."
"Mungkin," kata Morcerf. Wajahnya pucat. “Tetapi tentu
Tuan juga tahu bahwa orang yang bersalah pun tidak
menyukai kesalahannya dicampakkan ke mukanya."
"Ya, saya tahu, dan akibatnya sudah saya perkirakan."
"Tuan mengira anak saya seorang pengecut?" Morcerf
marah.
"Tuan Albert de Morcerf bukan seorang pengecut."
"Seorang laki-laki yang berdiri dengan pedang terhunus
di depan musuhnya, dan tidak mau melawannya, adalah
seorang pengecut. Saya mau dia ada di sini sekarang,
supaya dapat mengatakannya kepadanya"
"Saya kira Tuan datang ke sini tidak untuk membicarakan
urusan keluarga Tuan," kata Monte Cristo dingin. "Katakanlah
kepada putra Tuan, barangkali dia dapat menjawabnya."
"Tidak» memang bukan itu maksud kedatangan saya,"
jawab Morcerf dengan senyum yang segera pula
menghilang dari bibirnya. "Saya datang untuk mengatakan
bahwa saya menganggap Tuan sebagai musuh. Saya datang
untuk mengatakan bahwa saya membenci Tuan karena
naluri saya membisikkan begitu, bahwa rasanya saya selalu
mengenal siapa Tuan dan selalu membenci Tuan, dan
akhirnya, untuk mengatakan bahwa karena anak muda dari
generasi sekarang tidak lagi mau berduel, kita harus
melakukannya sendiri. Setuju?"
"Tentu. Ketika saya mengatakan memperkirakan akibat,
saya maksudkan maksud kedatangan Tuan."
"Baik. Tuan telah siap?"
"Saya selalu siap."
"Tuan tahu bahwa kita akan berkelahi sampai salah seorang
dari kita mati," kata Jendral itu dengan merapatkan
giginya karena marah.
"Sampai salah seorang mati," kata Monte Cristo perlahan-
lahan sambil menganggukkan kepala.
"Baik kita mulai saja. Tidak perlu ada saksi dan pembantu."
"Ya, tak ada gunanya. Kita cukup mengenal masingmasing
dengan baik."
"Justru karena kita tidak saling mengenal."
"Begitu?" tanya Monte Cristo dengan dingin menjengkelkan
seperti tadi. "Bukankah Tuan, Fernand perajurit
yang melarikan diri ketika pertempuran di Waterloo?
Bukankah Tuan Letnan Fernand yang menjadi penunjuk
jalan dan mata-mata Tentara Perancis di Spanyol?
Bukankah Tuan, Kolonel Fernand yang mengkhianati,
menjual dan membunuh Ali Pasha? Dan bukankah ketiga
Fernand itu kalau digabungkan menjadi Letnan Jendral
Fernand, Count of Morcerf dan bangsawan Perancis?"
"Jahanam!" teriak Jendral seakan-akan disulut besi
membara. "Engkau menghinaku pada saat engkau mungkin
membunuhku! Aku tidak mengatakan bahwa aku orang
asing bagimu. Aku tahu, bangsat, bahwa engkau selalu menyelinap
dalam kegelapan masa laluku, membaca setiap
lembaran hidupku diterangi obor yang entah dari mana.
Namun, barangkali masih lebih banyak kehormatan dalam
diriku sekalipun dalam keaibanku sekarang dibandingkan
dengan apa yang ada dalam dirimu di bawah kemuliaan
yang tampak. Tidak, aku bukan orang asing bagimu, aku
tahu, sebaliknya aku tidak tahu sedikit pun tentangmu,
engkau petualang yang bergelimang emas dan permata! Di
Paris engkau menyebut dirimu Count of Monte Cristo, di
Italia, Sinbad Pelaut, di Malta . . . hanya Tuhan yang tahu!
Aku mau tahu siapa namamu sebenarnya supaya aku dapat
menyebutnya di medan kehormatan nanti ketika aku menembuskan
pedangku ke jantungmu!"
Mata monte Cristo berkilat marah. Dia berlari ke kamar
sebelah lalu membuka jas dan kemejanya. Tak lama kemudian
dia kembali dengan mengenakan kaos dan topi pelaut,
lalu berdiri tegak di depan Morcerf dengan kedua tangannya
menyilang di dadanya Di wajahnya tercermin kebencian
yang sangat. Gigi Morcerf gemeretak, dia merasa lututnya
melemah dan mundur beberapa langkah sampai dia
menemukan sebuah meja untuk menopang dirinya.
"Fernand!" teriak Monte Cristo. "Salah satu namaku
sudah akan cukup untuk membuat hatimu terkoyak, tetapi
aku tidak akan menyebutnya. Atau perlu? Ya, engkau telah
menduganya, karena sekalipun aku telah melampaui tahun
tahun kepedihan dan siksaan, kegairahan membalas
dendam membuat wajahku muda kembali, wajah yang pasti
sering engkau lihat dalam mimpimu sejak engkau menikahi
Mercedes, tunanganku!"
Jendral Morcerf terbelalak matanya dan mulutnya ternganga.
Dia mundur lagi beberapa langkah sampai punggungnya
bersandar kepada dinding. Dia bergeser selangkah
demi selangkah dengan punggung pada dinding sampai
mencapai pintu, lalu lari cepat keluar ruangan dengan
hanya sanggup mengeluarkan suara seorang yang dalam
ketakutan yang sangat, mengucapkan "Edmond Dantes!"
Dengan sikap yang sudah tidak lagi seperti manusia, dia
sampai di depan rumah, berjalan terhuyung-huyung di pekarangan
seperti orang mabuk dan akhirnya jatuh di pelukan
pelayannya.
“Pulang! Pulang" perintahnya, hampir-hampir tidak
jelas.
Udara yang segar dan rasa malu terhadap pelayannya
membuat dia cepat dapat menguasai dirinya kembali. Tetapi
perjalanan itu tidak jauh, makin mendekat ke rumah
makin cepat lagi ketakutannya kembali menguasai dirinya.
Dia memberhentikan keretanya di muka pintu depan dan
turun. Pintu rumah terbuka lebar dan ada sebuah kereta
sewaan, yang saisnya merasa heran dapat panggilan ke
rumah semegah itu, berdiri di tengah-tengah pekarangan.
Jendral Morcerf mengawasinya sebentar dengan rasa
cemas, lalu masuk dan berlari menuju ke kamar kerjanya,
tanpa berani bertanyakan sesuatu kepada pelayan pelayan
nya.
Dua Orang berjalan menuruni tangga dari ruang atas.
Cepat-cepat dia bersembunyi di balik tirai. Dia melihat
Mercedes dipapah Albert. Mereka akan meninggalkan
rumah.
'Tabahkan hati, Ibu," dia mendengar anaknya berkata.
"Ini sudah bukan rumah kita lagi."
Kata-kata anaknya dan langkah-langkah mereka menghilang
di kejauhan. Morcerf memegang tirai erat-erat,
bergelut menahan isak tangis yang bergejolak mendesak
keluar dari dada seorang laki-laki yang ditinggalkan oleh
istri dan anaknya pada saat yang bersamaan.
Segera dia mendengar pintu kereta tertutup dan sais
berteriak melarikan kudanya. Derap kuda dan kereta menggetarkan
kaca-kaca jendela. Cepat dia berlari ke kamar
tidurnya untuk dapat melayangkan pandangan terakhirnya
kepada istri dan anaknya yang sangat dia cintai. Tetapi
kereta itu berlalu, tanpa seorang pun penumpangnya mengeluarkan
kepala untuk mengucapkan selamat tinggal
kepada rumah yang sunyi itu dan kepada suami dan ayah
yang ditinggalkan.
Tepat ketika kereta melalui lengkung pintu gerbang,
terdengar suara tembakan dan asap hitam mengepul keluar
melalui salah satu jendela kamar tidur yang pecah kacanya
karena getaran ledakan.
MAXIMILIEN berjalan menuju rumah Villefort.
Noirtier dan Valentine mengizinkan dia berkunjung sekali
seminggu dan sekarang ini ia sedang akan memanfaatkan
haknya.
Valentine telah menunggunya ketika dia sampai. Dengan
perasaan cemas, bahkan mendekati takut ia memegang tangan
Maximilien dan segera menuntunnya ke kamar kakeknya.
Dia cemas ketika mendengar tantangan Albert kepada
Count of Monte Cristo di opera. Dia menduga bahwa
Maxi-milienlah yang akan diminta menjadi pembantu
Monte Cristo, didasarkan kepada keberanian anak muda
yang cukup terkenal dan rasa persahabatannya yang
mendalam dengan Monte Cristo. Dia khawatir Maximilien
tidak akan dapat membatasi dirinya sampai hanya menjadi
pembantu yang pasif saja. Dapat dipahami kalau Valentine
membanjiri Maximilien dengan pertanyaan-pertanyaan
sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. Maximilien
melihat kegembiraan yang tak terkirakan pada wajah
Valentine ketika dia menceriterakan bahwa pertarungan
berakhir dengan perdamaian yang di luar dugaan.
“Sekarang bicaralah tentang dirimu sendiri," kata Valentine
sambil mempersilakan Maximilien duduk di samping
Noirtier. Dia duduk di tangan kursi kakeknya.
“Seperti kauketahui, pernah kakek bermaksud untuk
pindah dari rumah ini dan menyewa sebuah apartemen untuk
kami berdua. Sekarang niat itu kembali lagi."
"Bagus!" Maximilien berteriak gembira. "Tahukah
engkau, alasan apa yang telah beliau kemukakan untuk
meninggalkan rumah ini?"
Noirtier memberi isarat agar Valentine menutup mulut,
tetapi Valentine tidak melihat isarat itu. Perhatian dan
senyumnya hanya ditujukan kepada Maxirriilien.
"Apa pun alasannya aku yakin pasti baik!" jawab Maximilien.
"Beliau mengatakan bahwa udara di sini tidak baik bagiku."
"Mungkin sekali beliau benar, karena menurut penglihatanku
pun kesehatanmu tidak begitu baik dalam dua minggu
terakhir ini."
"Memang. Kakek teiah bertindak sebagai dokterku selama
ini, dan karena beliau luas pengetahuannya aku mempercayainya."
"Tetapi betulkah engkau sakit?" tanya Maximilien cemas.
"Tak dapat aku katakan sakit. Aku hanya merasa kurang
enak badan. Nafsu makanku hilang dan rasanya perut ini
sedang berusaha keras membiasakan diri kepada sesuatu
yang asing."
"Bagaimana perawatan untuk penyakit yang tidak diketahui
ini?"
"Aku minum sebagian obat yang biasa diberikan kepada
kakek. Mula-mula hanya sesendok kecil, sekarang sudah
meningkat menjadi empat sendok. Kata kakek, obat itu
panacea, obat untuk segala penyakit" Valentine tersenyum,
tetapi jelas senyum yang sedih.
"Aku kira obat itu dibuat khusus untuk kakekmu." .
"Aku hanya tahu rasanya pahit. Begitu pahit sehingga
apa pun yang kuminum setelah makan obat itu, semuanya
terasa pahit."
Noirtier memandang Valentine. Matanya penuh kecemasan.
Rupanya seluruh darah Valentine mengalir ke kepala,
karena pipinya mulai kelihatan merah sekali.
"Aneh!" kata Valentine lagi tanpa kehilangan kegembiraannya.
"Apakah karena sinar matahari aku merasa pusing?"
Dia bersandar di jendela.
"Mana ada sinar matahari!" kata Maximilien sambil
berlari menghampiri Valentine.
Valentine tersenyum. "Jangan khawatir, aku sudah baik
lagi. Dengar, betulkah itu suara kereta?"
Dia membuka pintu dan berian ke jendela dari mana dia
dapat melihat pekarangan, dan segera kembali lagi.
"Betul!" katanya. "Nyonya Danglars dan putrinya datang
berkunjung. Saya akan menemuinya supaya mereka jangan
datang ke mari. Tinggal di sini dengan kakek, Maximilien.
Aku akan berusaha kembali secepat mungkin."
Maximilien melihat dia menutup pintu dan mendengar
dia berjalan di tangga yang menuju ke kamarnya dan kamar
Nyonya de Villefort.
Nyonya Danglars dan anaknya dibawa ke kamar
Nyonya de Villefort Valentine memberi hormat ketika
mereka masuk.
"Saya datang dengan Eugme karena ingin menjadi orang
pertama yang memberi tahukan perkawinan Eugenie
dengan Pangeran Cavalcanti" kata Nyonya Danglars.
Suaminya bersikeras untuk memberi gelar pangeran kepada
Cavalcanti karena ditelinganya gelar itu lebih sedap
terdengar.
"Saya mengucapkan selamat," jawab Nyonya de
Villefort. Pangeran Cavalcanti seorang anak muda dengan
macam-macam kebaikan."
"Benar" kata Nyonya Danglars tersenyum. "Hatinya baik
dan otaknya cerdas. Dan kata suami saya, dia kaya se kaya
seorang raja."
"Ibu dapat tambahkan juga," sela Eugenie, "bahwa ibu
pun menyukainya."
"Saya rasa, biasa kalau seorang anak muda disenangi
oleh calon istri dan calon mertuanya, bukan?" kata Nyonya
de Villefort.
"Saya sendiri tidak menyukainya," jawab Eugenie dingin
seperti kebiasaannya. "Saya tidak mempunyai bakat untuk
mengikatkan diri kepada urusan rumah tangga atau kepada
keinginan seorang laki-laki, siapa pun dia. Saya dilahirkan
untuk menjadi seorang seniwati dan seorang yang merdeka.
Tetapi karena saya terpaksa harus menikah, saya bersyukur
tidak jadi menikah dengan Albert de Morcerf. Kalau
dengan dia mungkin sekarang saya sudah menjadi istri
seorang yang kehilangan kehormatannya."
"Tetapi," kata Valentine agak ragu-ragu, "apakah dia
harus dipersalahkan karena kecemaran bapaknya?"
"Dia harus turut menanggung kecemaran itu,” jawab
Eugenie yang keras itu. "Setelah menantang Count of
Monte Cristo di gedung opera di muka umum, dia meminta
maaf tadi pagi di medan kehormatan."
"Mana mungkin!" Nyonya de Villefort yang tidak mengetahui
persoalannya merasa heran.
“Itu benar,” kata Nyonya Danglars, "saya mendengarnya
dari Tuan Debray yang hadir di tempat kejadian itu."
Valentine pun tahu, tetapi dia tidak berkata apa-apa.
Pikirannya sedang melayang ke kamar Noirtier, tempat
Maximilien sedang menunggunya. Sentuhan tangan nyonya
Danglars di tangannya membuat dia sadar kembali dari lamunannya.
"Engkau sakit, Valentine?" tanyanya. "Dalam beberapa
menit saja wajahmu berubah dari merah ke pucat dan kembeii
merah beberapa kali."
"Mukamu pucat sekati sekarang,” kata Eugenie.
"Oh, tidak ada apa-apa. Sudah beberapa hari memang
begini” Dia sadar bahwa sekarang dia mempunyai alasan
untuk meminta maaf meninggalkan mereka.
Nyonya de Villefort melicinkan jalan dengan berkata.
"Rupanya engkau kurang sehat, Valentine. Saya rasa tamu
kita tidak akan berkeberatan kalau engkau beristirahat saja.”
Valentine merangkul Eugenie, memberi hormat kepada
Nyonya Danglars dan keluar. Dia sudah hampir habis
menuruni tangga, bahkan sudah dapat mendengar suara
Maxmiili en yang sedang bercakap-cakap dengan kakeknya,
ketika tiba-tiba seakan-akan segumpal awan gelap
menghalangi penglihatannya sehingga ia jatuh terguling di
tangga. Maxi-milien berlari keluar pintu dan melihat
Valentine tergeletak di bawah tangga. Segera Valentine
dipangku di bawa ke dalam dan didudukkan di sebuah
kursi.
Valentine-membuka-matanya.’"Oh,mengapa-aku-ini!"
katanya dengan gagap."Begitu lemahkah aku sehingga tidak
mampu berdiri lagi?”
"Apa yang sakit, Valentine? Oh Tuhan! Oh Tuhan!"
Valentine melihat mata Noirtier berkilat-kilat penuh
kecemasan. "Jangan khawatir, Kakek," katanya mencoba
tersenyum. 'Tidak apa-apa. Saya hanya merasa pusing sebentar,
hanya itu."
"Hati-hati, Valentine. Aku minta!" kata Maximilien.
"Tidak apa-apa. Aku sudah merasa baik. Ada berita:
Eugenie Danglars akan menikah dalam seminggu ini.”
"Dan kapan giliran kita? Engkau mempunyai pengaruh
yang besar sekali terhadap kakekmu. Cobalah pengaruhi
beliau untuk menjawab, segera."
"Engkau mengharapkan aku mempengaruhi kakek?“
"Betul, dan bertindaklah Cepat-cepat! Sebelum engkau
menjadi milikku, aku selalu merasa akan kehilanganmu."
"Maximilien," jawab Valentine dengan gerakan yang
agak kaku, "sebagai seorang perjurit yang kata orang tidak
pernah merasa takut engkau terlalu banyak kecemasan!"
Valentine tertawa dengan suara melengking mengerikan,
kedua tangannya kaku, kepala terkulai dan akhirnya tak
sadarkan diri.
Mata Noirtier selalu mengawasinya dan berputar-putar
liar, seakan-akan semua rasa takut dan suara hatinya tumpah
ke dalam matanya. Maximilien sadar bahwa ia harus
cepat-cepat mencari pertolongan. Dia memijit bel. Pelayan
Valentine dan pelayan yang menggantikan Barrois segera
masuk berbarengan. Karena melihat Valentine yang begitu
pucat, begitu dingin dan begitu lemas, tanpa mendengarkan
penjelasan yang diberikan, keduanya sudah dicekam rasa
takut yang senantiasa menguasai rumah itu. Tanpa
menunggu perintah mereka berlari keluar berteriak-teriak
meminta tolong.
"Ada apa?" tanya Tuan de Villefort dari kamar kerjanya.
Maximilien bertanya kepada Noirtier yang sudah dapat
menguasai diri kembali. Dia memberi isarat kepada
Maximilien untuk bersembunyi di balik lemari. Dia masih
sempat mengambil topinya ketika dia mendengar langkah
de Vfllefort mendekat.
Villefort masuk. Begitu melihat Valentine dia berlari
menghampirinya dan memeluknya. "Panggil dokter?”
teriaknya. "Panggil Dokter d'Avrigny . . . tidak biar aku
sendiri yang pergi!" dan dia berlari ke luar.
Maximilien keluar melalui pintu yang lain. Otaknya penuh
dengan pikiran yang menakutkan. Ia teringat kepada
pembicaraan antara Villefort dan Dokter d’Avrigny di kebun
pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran.
Dan tanda-tanda yang nampak pada Valentine, sama
dengan yang terjadi pada Barrens, sekalipun tidak sehebat
itu. Pada saat yang bersamaan, seakan-akan dia mendengar
suara Count of Monte Cristo yang baru dua jam yang lalu
berkata kepadanya: "Seandainya engkau memerlukan
sesuatu, datanglah kepadaku, Maximilien. Aku dapat
berbuat banyak." Setelah pikirannya tenang kembali, dia
berlari ke rumah Monte Cristo di Champs Elysees.
Monte Cristo sedang berada di ruang kerjanya ketika
Maximilien datang.
'Ada apa, Maximilien? Wajahmu pucat sekali dan dahimu
basah.”
Sebelum menjawab, Maximilien menjatuhkan diri di atas
kursi. “Saya berlari secepat mungkin. Ada yang ingin saya
bicarakan.”
'Yang di rumah baik-baik semua?" tanya Monte Cristo
dengan keramahan yang jelas sekali.
"Ya, terima kasih. Semua baik-baik."
"Jadi apa yang hendak engkau bicarakan. Apakah saya
dapat menolong?"
"Ya, Tuan dapat menolong. Saya datang ke mari seperti
orang gila dengan pikiran hanya Tuanlah yang dapat menolong
saya."
“Ceriterakanlah persoalannya."
"Saya tidak tahu, apakah saya boleh membukakan
rahasia ini atau tidak, tetapi sekarang saya hampir terpaksa
membukakannya.”
Maximilien berhenti ragu. "Ada sesuatu yang membisikkan
kepada saya bahwa saya tidak boleh menyimpan rahasia
bagi Tuan.”
"Benar, Maximilien. Tuhan telah berbisik ke dalam hatimu,
dan hatimu berbisik pula kepadamu sendiri.”
“Bolehkah saya meminta Baptistin pergi dengan dalih
mencari keterangan mengenai seseorang yang Tuan kenal?”
'Tentu saja. Saya panggilkan dia?"
“Tidak usah, biar saya yang mengatakannya."
Maximilien pergi ke luar, memanggil Baptistin lalu berkata
kepadanya dalam suara ditekan. Baptistin segera pergi
meninggalkan rumah.
"Sudah pergi?" Tanya Monte Cristo ketika Maximilien
kembali.
"Sudah. Sekarang hati saya agak tenteram'"
"Aku masih menunggu ceritera yang menggelisahkan dirimu
itu," kata Monte Cristo tersenyum.
"Dan saya pun telah siap untuk mengatakannya. Pada
sualu malam saya berada dalam sebuah kebun. Saya bersembunyi
di balik semak-semak dan tak seorang pun tahu
saya berada di sana. Dua orang datang berjalan mendekat
izinkan saya tidak menyebut nama-nama mereka sementara
ini - dan saya mendengar mereka bercakap-cakap. Salah
seorang dari mereka adalah pemilik rumah. Yang seorang
lagi, seorang dokter. Ada seorang yang baru meninggal
dalam rumah itu. Pemilik rumah berbicara tentang kesedihan
dan kekhawatirannya oleh karena kejadian malam itu
merupakan kejadian yang kedua kalinya dalam satu bulan:
ada orang mati mendadak dalam rumahnya."
“Apa kata dokter?" tanya Monte Cristo. "Dia berkata . . .
bahwa kematian itu tidak wajar dan bahwa kematian itu
disebabkan oleh ..."
"Oleh apa?"
"Racun."
"Betul?" tanya Monte Cristo lagi dibarengi batuk yang
disengaja untuk menyembunyikan perasaan hatinya.
"Betul Count. Dan dokter itu menambahkan bahwa apabila
kejadian semacam itu terulang lagi, dia akan menganggapnya
sebagai kewajiban untuk memberitahu polisi.
Namun, tak beberapa waktu kemudian kematian mendadak
itu menimpa orang ketiga dan tak seorang pun dari mereka
membuka mulut. Sekarang, korban keempat mungkin akan
jatuh lagi. Tuan apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Kawan," kata Monte Cristo. "Saya rasa engkau
menceriterakan sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum.
Aku tahu rumah mana yang kau maksud, atau sekurangkurangnya
aku mengenal sebuah rumah yang tepat seperti
yang kaumaksud, di mana pernah terjadi tiga orang mati
mendadak dan mengherankan. Sekalipun aku
mengetahuinya, apakah hatiku risau? Tidak. Karena itu
bukan urusan ku. Mungkin sekali keadilan Tuhan sedang
berlangsung dalam rumah itu. Kalau itu benar, jangan
ambil pusing, biarkanlah keadilan itu berlangsung."
Monte Cristo mengucapkan kata-kata ini dengan nada
suara yang khidmat dan hormat, sehingga membuat Maximilien
bergidik.
"Dalam pada itu," katanya selanjutnya, "apa yang membuat
engkau mengira akan jatuh korban keempat?"
"Kematian sudah datang mengancam. Tuan. Itulah sebabnya
saya datang ke mari."
"Apa yang harus kulakukan? Apakah saya harus memanggil
jaksa, umpamanya?”
'Tuan! Tuan telah mengetahui rumah siapa yang saya
maksud, bukan?"
"Tahu. Tahu betul. Engkau mendengar rahasia itu di
kebun rumah Tuan de Villefort. Menilik ceriteramu, aku
kira itu terjadi pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-
Meran. Tiga bulan yang lalu Tuan de Saint Meran mati,
dua bulan yang lalu Nyonya de Saint-Meran, dan beberapa
hari yang lalu Bairois. Sekarang, kalau bukan Noirtier tentu
Valentine."
"Tuan mengetahuinya, tetapi Tuan tidak berbuat apaapa?"
Maximilien agak marah.
"Apa urusanku?" jawab Monte Cristo dengan mengangkat
bahu. "Apakah mereka sahabat-sahabatku? Apa
perlunya aku mengorbankan seorang dari mereka untuk
menolong jiwa yang lainnya? Saya tidak mempunyai
pilihan antara si pembunuh dan korban."
"Tetapj saya mencintai dia!" teriak Maximilien putus asa.
"Saya mencintainya!"
"Apa!" Monte Cristo terlompat dari kursinya.
"Saya sangat mencintainya! Saya bersedia mengorbankan
semua darah saya untuk mencegah dia menitikkan setetes
air mata kesedihan! Saya mencintai Valentine de
Villefort yang akan terbunuh malam ini. Tuan dengar? Saya
meminta nasihat Tuan bagaimana saya harus menyelamatkannya!"
Melalui tenggorokan Monte Cristo keluar suara seperti
suara singa lerluka, "Engkau mencintai Valentine? Engkau
mencintai anak seorang yang terkutuk!"
Maximilien belum pernah melihat air muka orang seperti
yang tampak pada wajah Monte Cristo sekarang. Dia mundur
selangkah karena getir. Monte Cristo menutup kedua
matanya, seperti orang yang merasa pusing karena ada se
macam kilat menyambar dalam hatinya, dan kini bergelut
menenangkan badai yang mengamuk dalam dadanya.
Sesaat kemudian, dia membuka kembali matanya dan
berkata dengan nada yang hampir tenang lagi. "Tuhan
menghukum orang yang bersikap acuh tak acuh dan angkuh
terhadap kejadian yang mengerikan yang Beliau perlihatkan
di hadapannya. Aku tertawa melihat seorang jahat membinasakan
yang lainnya, tetapi aku sendiri sekarang terpagut
ular jahat yang kutonton itu."
Maximilien mengeluh.
"Kuatkan hatimu dan jangan putus asa," kata
MonteCristo. "Aku akan menjagamu."
Maximilien menggelengkan kepala dengan wajah sedih.
"Aku katakan,, jangan putus asa," lanjut Monte Cristo»
"dengarkan baik-baik. Kalau Valentine belum mati sekarang,
dia tidak akan mati. Pulanglah dan tunggu sampai ada
berita dariku."
"Ketenangan Tuan menakutkan sekali!” kata Maximilien
tak tertahan. "Apakah Tuan menguasai juga kematian?
Apakah Tuan lebih dari manusia biasa?"
Monte Cristo menatap wajah anak muda itu dengan senyum
ramah dan kasih. "Aku dapat berbuat banyak. Pulanglah
sekarang karena aku perlu menyendiri dahulu."
Maximilien terkalahkan oleh wibawa Monte Cristo yang
sering disaksikannya mempengaruhi orang-orang
sekitarnya, tidak dapat membantah. Dia menjabat
tangannya lalu pergi.
Di pintu dia berdiri menunggu Baptistin yang sudah kelihatan
kembali bergegas-gegas.
Sementara itu Villefort sudah kembali ke rumah bersama
Dokter d'Avrigny. Valentine masih belum sadarkan diri.
Dokter memeriksanya dengan cermat sekali. Villefort dan
Noirtier memperhatikannya dengan harap-harap cemas.
Akhirnya dokter berkata perlahan-lahan: "Masih hidup."
"Masih hidup!" Villefort terperanjat. "Dokter, mengerikan
sekali apa yang Tuan katakan itu!"
"Ya, dan saya ulangi: dia masih hidup. Dan ini sangat
mengherankan saya."
"Dapat Tuan menyelamatkannya? "
"Dapat, karena dia belum meninggal." Ketika mengucapkan
ini Dokter d'Avrigny melihat mata Noirtier bersinar
gembira dan dia dapat membaca bahwa pikirannya
sedang penuh. "Tuan Villefort, sudikah Tuan
memanggilkan pelayan Valentine?"
Villefort pergi. Setelah dia menutup pintu, Dokter
d'Avrigny mendekati Noirtier. "Ada yang hendak Tuan katakan?"
Noirtier mengiakan dengan isarat mata.
"Hanya untuk saya sendiri?"
"Ya," jawab mata orang tua itu.
"Baik, saya akan tinggal di sini."
Villefort masuk kembali diikuti oleh pelayan dan di belakang
mereka Nyonya de Villefort.
"Mengapa Valentine ini?" tanya Nyonya de Villefort.
"Dia mengeluh tidak enak badan, tetapi saya kira tidak
separah itu."
"Dia akan baik kembali setelah beristirahat," kata
Villefort. "Mari kita pindahkan ke sana."
Dokter d'Avrigny melihat ada kesempatan untuk dapat
berdua dengan Noirtier. Ia segera membenarkan usul Villefort,
tetapi dia meminta dengan sangat agar Valentine
jangan diberi obat apa-apa kecuali yang ditentukan oleh dia
sendiri. Lalu dia meminta Villefort untuk pergi sendiri ke
rumah obat dan menekankan agar dia menyaksikan
peramuannya.
Setelah melihat tidak ada orang lagi, dokter itu menutup
pintu dengan hati-hati. "Apakah Tuan mengetahui sesuatu
tentang penyakit cucu Tuan?"
"Ya."
Dokter d'Avrigny berpikir sebentar, lalu berkata lagi.
"Maafkan, apa yang hendak saya katakan ini, tetapi saya
kira kita tidak boleh mengabaikan apa pun dalam keadaan
seperti sekarang ini. Tuan telah melihat Barrois meninggal.
Menurut pendapat Tuan, wajarkah kematian itu?”
Suatu gerakan halus semacam senyum tampak di bibit
Noirtier.
“Jadi Tuan tahu bahwa Barrois mati sebab racun?"
"Ya."
"Apakah racun itu dimaksudkan untuk dia?"
"Bukan."
"Apa Valentine diracun oleh orang yang sama?"
"Ya."
"Dia pun akan mati, tentu."
"Tidak!" mata Noirtier menyorotkan kebanggaan.
"Artinya Tuan berpendapat dia akan tetap hidup?"
Dokter d'Avrigny heran.
"Ya."
"Menurut perkiraan Tuan apakah pembunuh itu akan
membatalkan niatnya?"
“Tidak."
"Jadi Tuan berpendapat bahwa racun itu tidak akan mematikan
Valentine?"
"Ya."
"Mengapa?"
Noirtier mengarahkan matanya ke suatu tempat. Dokter
d'Avrigny mengikutinya dan tahulah dia bahwa mata No
tier dipusatkan kepada botol-botol yang berisi obat yang
biasa diberikan kepadanya setiap pagi.
"Ah!" kata dokter terdorong deh suatu pikiran. "Tuan
sudah mengira bahwa Valentine akan diracun karena itu
Tuan membiasakannya lebih dahulu?"
"Ya."
"Tuan memberikannya secara berangsur-angsur dan setiap
kali bertambah?"
"Ya? Ya!" Noirtier kelihatan gembira sekali karena jalan
pikirannya dapat dimengerti.
"Dan Tuan telah berhasil! Tanpa kewaspadaan itu
Valentine sudah mati sekarang. Serangannya hebat sekali,
tetapi dia akan sembuh . . . untuk kali ini sekurang-kurangnya."
Villefort tiba-tiba masuk. "Ini obatnya, Dokter."
"Diramu di hadapan Tuan sendiri?"
"Ya."
”Tidak terlepas dari tangan Tuan sejak itu?"
"Tidak."
Dokter d'Avrigny mengambil botol obat itu, mengeluarkannya
beberapa tetes di telapak tangannya, lalu mencicipinya.
"Bagus. Mari kita lihat Valentine. Saya akan memberikan
perintah kepada semua, Tuan de Villefort, dan saya
mengharapkan agar Tuan menjaga jangan sampai ada yang
tidak mentaatinya."
Ketika Dokter d'Avrigny dan Villefort memasuki kamar
Valentine, seorang padri bangsa Italia yang tenang tindaktanduknya
dan tegas bicaranya, menyewa rumah yang bersebelahan
dengan rumah Villefort. Tidak diketahui mengapa
ketiga penghuni terdahulunya mendadak pindah dari
sana tiga jam yang lalu. Hanya orang-orang di sekitarnya
berbicara tentang fondasi rumah yang sudah tidak kuat lagi
sehingga dapat roboh sewaktu-waktu. Namun demikian,
hal ini tidak mencegah penyewa yang baru itu untuk menghuninya,
mulai pada hari itu juga, bahkan dengan membawa
serta perabot rumahnya yang cukup banyak. Penyewa
baru itu masuk sekitar jam lima sore setelah membayar
lebih dahulu uang sewanya untuk enam bulan. Namanya
adalah Padri Giacomo Busoni.
Pada malam itu juga orang-orang lewat diherankan oleh
beberapa tukang kayu, tukang tembok yang sibuk bekerja
memperbaiki rumah itu.
BAB LVI
TIGA hari kemudian, menjelang jam setengah sembilan
pada malam upacara penandatanganan perjanjian
perkawinan antara Andrea Cavalcant dan Eugenie
Danglars, rumah Danglars penuh tamu yang berpakaian
serba bagus. Sebenarnya mereka tidak begitu menyukai
keluarga Danglars, namun mereka hadir demi sopan santun
Ribuan lilin bertaburan menerangi seluruh ruangan yang
penuh dengan perabotan yang mahal-mahal. Walau
demikian kesan selera buruk pemiliknya tidak terhindarkan.
Nona Eugenie Danglars berbaju putih yang bagus potongannya,
tetapi sederhana, tanpa mengenakan intan permata.
Satursatunya hiasan hanyalah sekuntum bunga putih
yang hampir terlepas dari rambutnya yang hitam pekat
Nyonya Danglars bercakap-cakap dengan Debray,
Beauchamp dan Chateau Renaud Danglars, dikeliling oleh
raja-raja uang, menerangkan teori baru tentang perpajakan
yang akan dia terapkan dalam praktek apabila Pemerintah
meminta nasihatnya. Andrea Cavalcanti sedang memegang
tangan seorang anak muda yang gagah sambil
menggambarkan kehidupan mewah dengan penghasilan
175.000 frank setahun yang akan segera ditempuhnya.
Tamu-tamu hilir mudik dalam ruangan besar bagaikan
rangkaian mirah delima, jamrut dan intan yag bergerak.
Seperti biasa wanita-wanita yang beranjak tualah yang paling
banyak menghias diri, dan yang paling berwajah buruklah
yang paling bersemangat menonjolkan diri.
Dari waktu ke waktu, penjaga pintu berteriak memberitahukan
orang yang ternama di kalangan dunia keuangan,
atau yang disegani dalam kemiliteran atau seorang yang
dipuja di dunia kesusasteraan. Banyak di antara nama-nama
tamu yang diumumkan kedatangannya memang namanama
orang yang disegani, namun sebanyak itu pula nama
yang diterima dengan acuh tak acuh bahkan dengan sindir
cemooh.
Ketika lonceng berbunyi tepat sembilan kali, nama
Count of Monte Cristo diumumkan. Setiap mata beralih ke
pintu masuk. Seperti biasa Monte Cristo berdandan sederhana.
Rantai erioji mas yang melintang di dadanya
adalah satu-satunya perhiasan pada dirinya.
Dengan pandangan sekilas saja Monte Cristo dapat
melihat Nyonya Danglars berada di ujung ruangan,Tuan
Danglars di ujung yang lain dan Eugenie di hadapannya.
Mula-mula dia menemui Nyonya Danglars, setelah itu
mengucapkan selamat kepada Eugenie. Di samping
Eugenie berdiri Nona Louise d'Armily. Nona ini
mengucapkan terima kasih kepada Monte Cristo untuk
surat perkenalan yang diberikan Monte Cristo kepadanya
untuk keperluan di Italia, yang katanya akan segera dia
manfaatkan. Ketika Monte Cristo membalikkan badan
untuk meninggalkan kedua wanita itu, ternyata dia telah
berhadapan dengan Tuan Danglars yang sengaja datang
menghampiri untuk menyambutnya.
Andrea yang berada di ruang sebelah dapat merasakan
pengaruh kehadiran Count of Monte Cristo. Dia pun
menghampirinya untuk menjabat tangannya. Monte Cristo
dikelilingi banyak tamu yang masing-masing berkeinginan
untuk berbicara dengannya, seperti biasa terjadi pada orang
yang tidak banyak berbicara tetapi kalau berbicara selalu
bernilai.
Notaris-notaris sudah datang. Mereka meletakkan dokumen
perjanjian di atas meja yang beralaskan kain beludru
bersulamkan benang emas. Salah seorang notaris duduk di
kursi yang sudah disediakan, sedang yang seorang lagi tetap
berdiri. Pembacaan surat perjanjian segera dimulai.
Suasana hening sekali ketika surat itu dibacakan, tetapi
begitu selesai gemuruh suara tamu lebih keras dari sebelumnya.
Jumlah uang yang disebut dalam perjanjian itu memperlengkap
kekaguman para tamu yang ditimbulkan oleh
gaun pengantin dan permata selengkapnya yang sudah dipajangkan
di kamar sebelah. Nilai kecantikan Eugenie
meningkat lagi dalam pandangan anak-anak muda yang
hadir. Sedangkan para wanita seperti biasa, bersamaan dengan
timbulnya rasa iri, hati kewanitaannya mengatakan
bahwa dia tidak memerlukan semua itu untuk menambah
kecantikannya.
Andrea yang dibanjiri pujian dari kawan-kawannya
akhirnya mulai percaya bahwa mimpinya akan segera menjadi
kenyataan.
Dengan khidmat sekali notaris mengambil pena, mengangkatnya
di atas kepalanya lalu mengumumkan, "Tuantuan,
kita sekarang akan menandatangani kontrak ini."
Yang pertama-tama akan menandatanganinya adalah
Baron Danglars, lalu wakil Mayor Cavalcanti, kemudian
Nyonya Danglars dan akhirnya kedua calon mempelai.
Danglars menerima pena dari tangan notaris lalu membubuhkan
tandatangannya, setelah itu menyerahkan pena
kepada wakil Mayor Cavalcanti. Nyonya Danglars mendekat,
didampingi oleh Nyonya de Villefort.
"Sayang sekali," kata Nyonya Danglars kepada suaminya,
"Tuan de Villefort tidak hadir karena ada perkembangan
yang mendadak mengenai perampokan dan pembunuhan
di rumah Count of Monte Cristo tempo hari.”
"Sayang sekali," jawab Danglars dengan nada yang sama
seandainya dia berkata "Apa peduliku?"
Monte Cristo maju selangkah lalu berkata,."Saya khawatir
sayalah yang menjadi sebab ketidakhadiran Tuan de
Villefort."
"Tuan?" kata Nyonya Danglars sambil membubuhkan
tandatagannya pada kontrak perkawinan. "Kalau itu betul,
saya tidak akan dapat memaafkan."
Telinga Andrea meruncing.
"Bukan salah saya," jawab Monte Cristo, "bila boleh saya
ingin menjelaskannya."
Semua diam dan memasang kuping.
"Tentu Nyonya masih ingat," katanya memulai, "orang
yang bermaksud merampok saya mati terbunuh, mungkin
sekali oleh kawannya sendiri. Dalam usaha menyelamatkan
jiwanya, mereka telah melepaskan pakaian dan melemparkannya
ke sebuah sudut dekat sana. Polisi menemukannya
dan memungutnya. Yang dibawa hanya jas dan celananya
saja, kemejanya tertinggal."
Dengan diam-diam Andrea menyelinap mendekati pintu.
"Kemeja itu baru diketemukan hari ini berlumuran darah
dan berlubang di tentang hati. Kemeja itu diserahkan orang
kepada saya. Tak seorang pun tahu dari mana datangnya
barang itu. Hanya saya sendiri yang menduga bahwa
kemeja itu milik penjahat yang terbunuh. Pelayan saya yang
memeriksanya dengan perasaan jijik, menemukan secarik
kertas dari dalam salah satu sakunya. Ternyata surat yang
ditujukan kepada Tuan Baron Danglars."
"Kepada saya!" Danglars terkejut.
"Betul kepada Tuan. Saya berhasil membaca nama Tuan
di bawah percikan darah pada kertas itu," tambah Monte
Cristo di tengah-tengah keheranan para tamu.
"Tetapi bagaimana hubungannya dengan ketidakhadiran
Tuan de Villefort?" tanya Nyonya Danglars, lalu memandang
cemas kepada suaminya.
"Sederhana sekali, Nyonya," jawab Monte Cristo.
"Kemeja dan surat itu merupakan barang bukti dalam
kejadian ini, sebab itu saya menyerahkannya kepada Tuan
de Villefort. Menuruti hukum adalah tindakan yang paling
aman dalam perkara kejahatan, kalau tidak mungkin sekali
kita sendiri mendapat kesulitan."
Tanpa melepaskan pandangannya kepada Monte Cristo,
Andrea memasuki ruang lain.
"Mungkin sekali" kata Danglars. "Orang terbunuh itu,
pelarian dari penjara, bukan?'
"Betul, seorang pelarian bernama Caderousse."
Wajah Danglars mendadak pucat, sedangkan Andrea
meninggalkan ruang di sebelah masuk ke ruang tunggu di
depan.
"Sebaiknya penandatanganan kontrak ini diselesaikan!"
kata Monte Cristo. "Saya lihat ceritera saya ini telah meng
ganggu. Maaf."
Nyonya Danglars yang baru saja menuliskan tandatangannya
mengembalikan pena kepada notaris.
"Sekarang, silakan Pangeran Cavalcanti," kata notaris.
"Mana Pangeran Cavalcanti?"
"Cari Pangeran Cavalcanti dan katakan beliau harus mcnandatangani,"
perintah Danglars kepada salah seorang pelayannya.
Hampir setiap orang bergerak menuju ke ruang utama,
seperti ketakutan. Dan benar ada alasan bagi mereka untuk
ketakutan, sebab seorang perwira polisi memerintahkan dua
anak buahnya menjaga setiap pintu dan dia sendiri menghampiri
Danglars.
Nyonya Danglars berteriak, lalu pingsan. Danglars yang
merasa dirinya terancam - karena hati nurani manusia berdosa
tidak pernah merasa tenang — memperlihatkan wajah
yang tidak karuan karena ketakutan.
"Siapa di antara Tuan-tuan yang bernama Andrea Cavalcanti?"
tanya perwira polisi itu.
Suara terheran-heran terdengar di seluruh ruangan.
"Dia adalah seorang pelarian dari penjara Toulon, dan
sekarang dituduh membunuh kawan sepelariannya bernama
Caderousse."
Monte Cristo melayangkan pandangannya ke sekelilingnya
tetapi Andrea telah menghilang.
BAB LVII
TAK berapa lama setelah kejadian yang menghebohkan
itu, rumah Danglars cepat menjadi sunyi kembali, secepat
ditinggalkan orang yang ketakutan kena wabah kolera yang
dibawa salah seorang di antara tamu. Setiap orang bergegas
meninggalkan rumah itu, atau lebih tepat lagi berlari, oleh
karena dalam keadaan seperti itu semua beranggapan bijaksana
untuk tidak terlibat, bahkan kewajiban menghibur
kawan yang sedang ditimpa musibah pun boleh menunggu
sampai lain waktu.
Yang berada dalam rumah itu hanyalah Danglars yang
harus memberikan penjelasan kepada perwira polisi di
ruang kerjanya, Nyonya Danglars yang gemetar ketakutan
di kamarnya sendiri, dan Eugenie yang berlari cepat-cepat
ke kamarnya dikawani oleh sahabatnya yang tidak terpisahkan,
Nona Louise d’ Armiy
Setelah berada di dalam, Eugenie mengunci kamarnya,
sedang Luoise menjatuhkan dirinya ke atas sebuah kursi.
"Mengerikan sekali!" kata guru musik yang masih muda
belia itu. "Tuan Andrea Cavalcanti seorang pelarian narapidana
— seorang pembunuh!"
"Lucu sekali suratan takdirku ini," kata Eugenie dengan
senyum sinis, "terlepas dari Morcerf untuk jatuh ke dalam
cengkeraman Cavalcanti"
"Jangan dipersamakan kedua orang itu, Eugenie."
"Semua laki-laki sama! Aku akan bahagia kalau dapat
lebih membenci mereka. Sekarang hanya dapat sampai memandang
rendah saja."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?1’
'Tresis seperti yang kita rencanakan. Pergi,"
"Masih tetap kau berniat begitu sekalipun pertunanganmu
telah putus sekarang?"
"Mengapa tidak? Supaya mereka bisa mencoba lagi
mengawinkan aku dengan laki-laki lain dalam bulan
mendatang ini? Tidak, Louise, kejadian malam ini akan
merupakan alasan yang kuat sekali bagiku untuk kabur.
Aku tidak mencarinya, tetapi Tuhan telah memberikan
alasan dan kesempatan ini dan aku sangat bersyukur."
“Tabah sekali hatimu," kata gadis yang berambut pirang
itu kepada kawannya yang berambut hitam.
"Seperti engkau tidak mengenal aku. Lebih baik kita
membicarakan urusan kita. Apa kereta sudah diatur?"
"Sudah."
''Bagaimana dengan paspor?"
"Ini."
Dengan ketenangan yang sudah menjadi pembawaannya,
Eugenie membuka paspor dan membaca kalimat yang
tercantum di dalamnya: Tuan Leon d Armily berumur dua
puluh tahun, pekerjaan seniman, rambut hitam, mata hitam,
bepergian bersama adik perempuannya
"Bagus! Bagaimana engkau memperoleh paspor ini?"
"Ketika aku meminta surat perkenalan kepada Count of
Monte Cristo untuk direktur-direktur gedung pertunjukan di
Roma dan Napoli, aku terangkan ketakutanku bepergian
seorang diri sebagai seorang wanita. Beliau memahami
kekhawatiranku dan menawarkan untuk menggunakan
paspor laki laki. Aku menerima paspor ini dua hari kemudian.
Aku yang menambahkan kalimat 'bepergian bersama
adik perempuannya'!"
"Sekarang, tinggal mengepak kopor-kopor! Kita berangkat
sekarang, bukan pada hari perkawinanku."
"Barangkali, ada baiknya kalau engkau memikirkan
kembali, Eugenie."
"Aku sudah berulang-ulang memikirkannya! Kita mempunyai
empat puluh lima ribu frank. Cukup untuk hidup
sebagai putri selama dua tahun. Tetapi dalam enam bulan
mendatang ini kita harus sudah dapat melipat-gandakannya.
Engkau dengan musik dan aku dengan suaraku."
'Tunggu dulu," kata Louise, berjalan ke pintu.
"Pintu itu terkunci"
"Bagaimana kalau ada orang menyuruh kita membuka
pintu?"
"Biar mereka berteriak-teriak meminta, kita tidak akan
membukanya."
"Engkau memang benar-benar seorang perempuan jantan,
Eugenie!"
Kedua gadis itu mulai memasukkan semua barang yang
dianggapnya perlu ke dalam kopor. Setelah selesai, Eugenie
mengambil seperangkat pakaian laki-laki, lengkap dari jas
sampai kepada sepatu botnya. Dengan kecepatan yang menunjukkan
bahwa ini bukan untuk yang pertama kalinya,
dia mengenakan pakaian itu.
"Bukan main!" kata Louise yang betul-betul terheran
heran. "Tetapi apakah rambutmu cocok dengan topi lakilaki
itu?"
"Lihat saja," jawab Eugenie. Dia pegang rambutnya yang
tebal dengan tangan kirinya, lalu mengambil sebuah
gunting dengan tangan kanannya dan dalam sekejap mata
hampir seluruh rambutnya yang indah itu telah berjatuhan
di lantai. Tak ada kesan menyesal dengan wajahnya bahkan
sebaliknya sekali matanya memancarkan cahaya kegembiraan
yang jauh lebih terang daripada yang sudah-sudah.
"Wahai, rambut yang indah!" kata Louise sedih.
"Bukankah ini jauh lebih baik?" kata Eugenie. "Bukankah
dengan begini aku tampak lebih cantik?"
"Benar, engkau masih tetap cantik! Tetapi ke mana sebenarnya
tujuan kita?"
"Ke Belgia, kalau engkau suka. Itulah perbatasan yang
terdekat Kita akan menuju ke Brussel, JLiege, Aix-la-
Chapelle dan Strasbourg, lalu melintasi Swiss untuk terus ke
Italia. Setuju?"
"Tentu aku setuju."
"Apa yang kauperhatikan?"
"Engkau. Engkau benar-benar tampan sekarang. Orang
mungkin mengira engkau menculik aku."
"Dan mereka tidak keliru, demi Tuhan."
"Apa! Betulkah aku mendengar engkau bersumpah?"
Kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak. Salah seorang
dari mereka meniup lilin dan dengan hati-hati sekali membuka
pintu kamar. Eugenie keluar lebih dahulu dengan
menjinjing ujung kopornya dengan sebelah tangan sedang
Louise mengikutinya dengan susah-payah sambil mengangkat
kopornya dengan kedua belah tangan. Pekarangan rumah
sudah kosong. Jam berdentang dua belas kali.
Di jalan mereka bertemu dengan penjaga pintu lalu menyerahkan
kopornya untuk dibawa ke Rue de la Victoire.
Mereka mengikutinya dari belakang. Seperempat jam
kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Sebuah
kereta telah siap memhawamereka meneruskan perjalanan.
"Jalan mana yang harus saya ambil, Tuan Muda?" tanya
sais.
"Jalan ke Funtainebleau," jawab Eugenie dengan meniru
suara laki-laki.
"Mengapa ke sana?" tanya Louise.
"Untuk mengacaukan jejak," jawab Eugenie berbisik.
"Kita akan segera me rob ah arah kalau sudah sampai di
jalan besar."
"Engkau selalu benar, Eugenie."
Seperempat jam kemudian kereta telah melampaui
Baniere Saint-Martin dan mereka sudah berada di luar
Paris. Tuan Danglars kehilangan putri tunggalnya.
BAB LVIII
SEKALIPUN masih muda, Andrea Cavalcanti seorang
yang cerdas dan panjang akalnya. Ketika bahaya pertama
sudah mulai tercium di rumah Danglars, dia sudah bergeser
seteapak demi setapak mendekati pintu, berjalan cepat
melalui dua buah ruangan lain dan akhirnya menghilang
dari rumah itu. Salah satu ruangan yang dia lalui adalah
ruangan tempat memajangkan pakaian calon pengantin
perempuan lengkap dengan segala perhiasannya. Sambil
lewat Andrea tidak lupa mengambil perhiasan-perhiasan
yang paling berharga. Dengan mengantongi itu perasaannya
terasa lebih tenang ketika dia melompati jendela dan
menyelinap agar tidak ketahuan oleh para penjaga.
Sekali dia berada di luar, ia bertari tanpa berhenti, tanpa
mengetahui ke mana tujuannya. Yang mendorongnya
hanyalah keinginan untuk segera berada di tempat yang sejauh
mungkin dari rumah Danglars. Dia berhenti kehabisan
napas di ujung jalan Lafayette. Jalanan sangat sepi. Tak lama
kemudian dia melihat sebuah kereta mendekat Dihentikannya
kereta itu dan bertanya kepada saisnya, "Apakah
kudamu masih kuat?"
"Masih," jawab kusir. "Dia belum bekerja sama sekali
hari ini. Saya baru menarik empat orang saja dalam jarak
dekat sehingga penghasilan masih belum cukup untuk
setoran kepada pemilik."
"Mau kau menerima dua puluh frank?"
“Mau sekali. Apa yang harus saya lakukan?"
"Aku ingin mengejar kawan yang berjanji akan berburu
bersama besok pagi. Sebenarnya dia harus menungguku di
sini dengan kereta kabnoletnya sampai jam setengah delapan.
Sekarang telah tengah malam, jadi mungkin sekali
karena jemu menunggu dia sudah berangkat lebih dahulu.
Mau kau mencoba mengejarnya?"
"Tak ada yang lebih saya sukai, Tuan."
Andrea naik dan kereta segera berjalan dengan kecepatan
tinggi. Mereka tentu saja tak akan pernah berhasil mengejar
kawan yang diciptakan Andrea itu, namun demikian sewaktu-
waktu Andrea menyuruh sais berhenti menanyakan
kepada orang lewat kalau-kalau mereka ada melihat sebuah
kereta hijau ditarik dengan kuda abu-abu. Hampir setiap
yang ditanya menjawab bahwa mereka baru saja melihat
sebuah kereta hijau lewat, sebab hampir sembilan puluh
persen dari kereta jenis kabriolet memang berwarna hijau.
"Cepat! Cepat!" kata Andrea. "Sudah hampir tersusul!"
Dan kuda malang itu makin diperas tenaganya sampai
mereka meninggalkan Paris masuk ke kota Louvres.
"Rupanya kita tidak akan berhasil, dan kalau diteruskan
kudamu bisa mati kepayahan," kata Andrea. "Lebih baik
aku berhenti saja di sini Ini uangmu. Aku akan menginap di
hotel du Cheval Rouge dan meneruskan besok pagi saja.
Selamat malam."
Setelah menyerahkan uang, Andrea turun.
Kereta kembali ke arah Paris dan Andrea berpura-pura
seperti menuju ke hotel. Setelah agak lama berdiri di muka
gerbangnya dan melihat kereta sudah hilang dari pandangannya,
dia segera berjalan lagi cepat-cepat. Kemudian dia
berhenti, bukan karena letih, tetapi karena hendak berpikir
merancang suaru rencana. Turut dengan kereta pos, tidak
mungkin, karena akan diminta paspor. Juga tidak mungkin
untuk tinggal dekat-dekat di sekitar Paris karena daerah itu
merupakan daerah yang paling ketat dijaga di seluruh
Perancis. Dia duduk di pinggir jalan memutar otaknya.
Sepuluh menit kemudian dia sudah dapat membuat
keputusan.
Andrea merapikan dan membersihkan jas yang sempat
dia gaet dari ruang tunggu rumah Danglars dan
mengancing-kannya sampai menutupi seluruh pakaian
malamnya. Lalu berjalan lagi sampai tiba di Chapelle-en-
Serval, sebuah penginapan kecil. Diketuknya pintu. Pemilik
penginapan keluar membuka pintu.
"Saya terlempar dari kuda dalam perjalanan dari Montrefontaine
ke Senlis," katanya. "Saya harus kembali ke Compiegne
malam ini juga supaya keluarga saya tidak khawatir.
Apakah Tuan mempunyai kuda untuk disewa?"
Pemilik penginapan itu memanggil tukang istalnya dan
memerintahkan mempelanai seekor kuda. Setelah itu dia
membangunkan anaknya yang masih berumur tujuh tahun
dan menyuruhnya mengendarai kuda lain berjalan di belakang
Andrea untuk menerima kembali kuda yang disewa.
Andrea memberi pemilik penginapan itu dua puluh frank.
Ketika mengeluarkan uang, sebuah kartu nama terjatuh,
kartu nama seorang kawan barunya di Paris. Setelah
Andrea berangkat lagi, pemilik penginapan itu
memungutnya dan percayalah dia bahwa penyewa kudanya
bernama de Mau leon, bertempat tinggal di Rue-dw’kz
Saint-Dominique No. 25.
Jam empat pagi Andrea sampai di Compiegnes. Kuda
diserahkannya kembali kepada anak pemilik hotel. Setelah
itu dia mengetuk pintu penginapan de la Cloche. Sebelum
melanjutkan perjalannya dia bermaksud makan dahuhi dan
beristirahat.
Securang pelayan menemuinya.
"Saya datang dari Saint-Jean-au-Bois," kata Andrea.
"Saya bermaksud menumpang kereta pos yang lewat tengah
malam tetapi saya tersasar berputar-putar di hutan. Saya
minta satu kamar dan ayam goreng dan sebotol anggur."
Ayam gorengnya sedap, anggurnya sudah tua, api di
tungku terang dan menghangatkan. Andrea sendiri merasa
heran dapat makan dengan lahap seakan-akan tidak menghadapi
persoalan gawat. Selesai makan dia pergi tidur dan
segera pula pulas, seperti layaknya pada anak-anak muda
sekalipun hatinya lagi risau. Tetapi, memang Andrea tidak
mempunyai alasan untuk risau karena dia telah mempunyai
rencana yang matang.
Dia akan bangun pagi, membayar sewa hotel dan lainlainnya,
kemudian akan pergi ke hutan dan bermaksud
membayar tidur di rumah petani dengan mengaku dirinya
sebagai pelukis. Selanjutnya akan menyamar sebagai tukang
kayu dan berjalan dari hutan ke hutan sampai mencapai
perbatasan yang terdekat. Berjalan di malam hari dan tidur
di siang hari dan memasuki desa sekali-sekali saja pada
waktu perlu membeli makanan. Setelah melintasi
perbatasan ia akan menjual permatanya yang diperkirakan
akan menghasilkan Unta puluh ribu frank, cukup untuk
membawanya ke suatu tempat yang aman. Selebihnya ia
mengandalkan kepada keinginan Danglars untuk menutupnutup
peristiwa yang memalukan keluarganya itu. Inilah
sebabnya dia dapat tidur dengan nyenyak, di samping
karena keletihannya. Untuk menjaga jangan sampai
kesiangan sengaja dia membiarkan tirai jendela terbuka.
Sedang untuk menjaga segala kemungkinan dia memalang
pintu kamarnya dan meletakkan sebilah pisau tajam yang
tak pernah ditinggalkannya di atas meja di sebelah tempat
tidur. Sekira jam tujuh pagi dia terbangunkan oleh cahaya
matahari yang jatuh pada mukanya. Segera ia sadar bahwa
ia tidur terlalu lama. Ia meloncat dan berlari ke jendela.
Seorang tentara sedang berjalan-jalan di pekarangan hotel,
yang lain berdiri menjaga di bawah tangga, dan yang ketiga
duduk di atas kudanya sambil memegang sebuah senapan
kuno menjaga pintu keluar, satu-satunya pintu keluar
pekarangan hotel.
"Mereka mencariku," pikir Andrea. Rasa takutnya bangkit.
Jendela kamarnya menghadap ke pekarangan. "Mati
aku!" pikirnya lagi.
Memang bagi orang yang berada dalam keadaan seperti
Andrea, tertangkap berarti hukuman mati. Untuk sejenak
dia memegang kepala dengan kedua belah tangannya, dan
dalam keadaan yang sejenak itu dia hampir gila karena takut.
Tiba-tiba sebuah harapan muncul kembali di benaknya.
Secercah senyum tersungging di bibirnya. Pandangannya
berputar ke sekeliling kamar. Barang-barang yang dicarinya
lengkap tersedia di atas sebuah meja tulis. Pena, dawat dan
beberapa lembar kertas. Dengan menahan tangannya untuk
tidak gemetar dia menulis:
Saya tidak mempunyai uang untuk membayar sewa
kamar, tetapi saya bukan orang yang curang. Saya
tinggalkan peniti dasi Ini sebagai jaminan. Harganya paling
sedikit sepuluh kali hutang saya. Maafkan saya berangkat
pagi-pagi sekali tanpa pamit karena saya merasa malu.
Dia melepaskan peniti itu dan meletakkannya di atas
surat. Setelah itu dia membuka pintu dan membiarkannya
terbuka sedikit. Kemudian naik ke atas cerobong asap setangkas
orang yang sudah biasa dengan pekerjaan itu. Pada
saat yang bersamaan tentara yang tadi berjalan di pekarangan
menaiki tangga disertai seorang perwira polisi.
Pada dinihari sekali kantor kawat telah menyebarkan
berita tentang Andrea ke seluruh pelosok. Setelah menerima
berita itu semua penguasa setempat mengerahkan tentara
dan polisi mencari pembunuh Cade rouse. Hotel de’kz la
Cloche adalah hotel terbesar di Compiegne dan itulah sebabnya
mengapa hotel itu yang diperiksa paling dahulu.
Ketika tentara dan perwira polisi itu sampai di kamar
Andrea mereka menemukan pintunya terbuka. Tentara itu
berkata keras, "Aha! Pintu yang terbuka berarti tidak baik.
Saya lebih suka menemukannya terkunci dan berpalang
sekali." Surat dan peniti dasi membuktikan kebenaran
prasangka mereka. Andrea sudah terbang. Namun tentara
itu bukan orang yang biasa begitu saja menyerah kepada
hanya satu petunjuk. Dia memeriksa kolong ranjang, balik
tirai, lemari dan akhirnya berhenti dekat tungku pemanas.
Berkat kecermatan Andrea, di sana tidak tertinggal bekashckas
bahwa ia lari melalu i cerobong asap. Walau
demikian, tentara itu mengambil sejemput jerami dan kayu
bakar lalu membakarnya di tungku pemanas. Asap hitam
tebal mengepul melalui cerobong, tetapi tentara dan polisi
itu tidak mendapatkan orang terjatuh dari dalam cerobong
seperti yang diharapkannya.
Andrea yang sejak masa kecilnya bertentangan dengan
masyarakat, mempunyai akal yang sama panjangnya
dengan tentara yang berpangkat brigadir itu. Karena ia
memperhitungkan akan dinyalakannya api, dia tidak mau
tetap bersembunyi dalam cerobong, melainkan keluar lalu
bertiarap di atas atap. Untuk sejenak timbul rasa aman pada
dirinya karena dia mendengar brigadir itu berteriak kepada
rekanrekannya di bawah, "Dia tidak ada di sini! "Tetapi
ketika dia mengangkat kepalanya dengan hati-hati, dia
melihat kedua orang tentara yang di bawah itu bukannya
pergi meninggalkan pekarangan, melainkan malah
meningkatkan kewaspadaannya. Andrea melihat ke
sekitarnya. Tampak di sebelah kanannya Hotel de Ville
yang bertingkat enam belas menjulang. Setiap celah atap
tempat dia berada kelihatan jelas dari setiap jendela hotel
itu. Andrea memperkirakan wajah brigadir itu akan segera
kelihatan di salah satu jendela.
Dia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam hotel
melalui cerobong asap yang lain. Dia memilih cerobong
yang tidak mengeluarkan asap. Dengan merangkak-rangkak
dia mendekati cerobong itu lalu masuk ke dalamnya. Beberapa
saat kemudian sebuah jendela kecil dari hotel de Ville
terbuka dan muncullah wajah brigadir. Hanya beberapa
menit saja, lalu menghilang lagi dan pasti dengan rasa
kecewa.
Brigadir yang tenang dan anggun seanggun hukum yang
diwakilinya berjalan menerobos kerumunan orang yang
menonton tanpa mau menjawab pertanyaan mereka yang
bertubi-tubi. Dia masuk kembali ke dalam hotel.
"Bagaimana?" tanya kawan-kawannya.
"Rupanya dia sudah kabur sejak pagi tadi," jawabnya.
"Tetapi jalan ke Villers-Cotterets sudah kita awasi dan kita
akan menjelajahi hutan-hutan. Kita pasti akan dapat menangkapnya
di sana."
Belum lagi brigadir itu selesai berbicara terdengar teriakan
ketakutan disertai bunyi bel berdering-dering.
"Ada apa?" tanya brigadir terkejut.
"Rupanya ada tamu yang ingin bergegas," jawab pemilik
hotel. "Dari kamar berapa?"
"Kamar tiga," jawab seorang pelayan.
"Siapa yang menginap di sana?" tanya brigadir.
"Seorang anak muda dengan adik perempuannya yang
datang tadi malam dan meminta kamar dengan ranjang
dobel"
Sekali lagi bunyi bel terdengar. Sekarang lebih keras dan
kerap.
"Ikuti aku," kata brigadir kepada perwira polisi. "Dan
kalian di luar. Tembak kalau dia lari! Menurut berita kawat
ia penjahat yang nekad."
Brigadir dan perwira polisi berlari menaiki tangga.
Dengan cekatan Andrea telah berhasil menuruni duapertiga
dari cerobong. Pada saat itulah kakinya tergelincir,
dan sekalipun dia berusaha keras dia tidak dapat menahan
dirinya meluncur ke bawah dengan kecepatan dan kegaduhan
yang tidak diinginkannya. Kejadian ini tidak akan menjadi
soal apabila kamar yang dimasukinya kosong. Namun
malang baginya kamar itu berisi.
Suara jatuhnya Andrea telah membangunkan dua orang
wanita yang sedang tidur seranjang. Mereka melihat ke arah
tungku pemanas dan tiba tiba melihat seorang laki-laki
muncul dari dalamnya. Wanita yang berambut piranglah
yang berteriak ketakutan yang suaranya terdengar sampai
ke luar. Sedang kawannya, yang berambut gelap, menarik
tali lonceng dengan sekuat tenaganya.
"Maaf," kata Andrea dengan cemas tanpa memperhatikan
kepada siapa dia berbicara. "Jangan minta tolong!
Selamatkanlah saya! Saya tidak akan menganggu."
"Andrea!" teriak salah seorang terkejut.
"Eugenie! Nona Danglars!" Andreapun lebih terkejut.
"TolonglTolong!" Nona d'Armily berteriak-teriak, lalu
merebut tali lonceng dari tangan Eugenie dan rnenarik-nariknya
lebih kuat daripada yang dilakukan kawannya.
"Tolong saya! Mereka mengejar saya!" Andrea memintaminta.
"Jangan serahkan saya!"
'Terlambat," jawab Eugenie yang sudah mulai tenang.
"Mereka sudah ke mari."
"Sembunyikan saya, di mana saja. Katakan bahwa kalian
ketakutan tanpa alasan. Mereka akan percaya, dengan begitu
engkau telah menyelamatkan jiwa saya."
"Baik," jawab Eugenie, "Masuklah kembali ke dalam
cerobong, dan kami akan menutup mulut."
"Itu dia!" teriak seseorang di luar pintu. "Itu dia!"
Brigadir mengintip dari lubang kunci dan melihat Andrea
sedang membujuk kedua wanita itu;
Sebuah ledakan keras yang keluar dari senapan kuno
menghancurkan kunci dan terbukalah pintu itu. Andrea
berlari ke pintu lainnya yang berhubungan dengan serambi
yang mengitari pekarangan. Tiba-tiba ia terhenti karena dua
moncong senapan diarahkan ke dadanya. Tangannya
memegang pisau yang sudah tidak berguna lagi. Brigadir
menghampirinya dengan pedang terhunus.
"Masukkan kembali pedang itu," kata Andrea. "Saya
menyerah" Dia menyerahkan kedua belah tangannya rapatrapat
untuk menerima borgol.
Sambil melirik kepada kedua wanita itu dia tersenyum
tanpa malu dan berkata, "Apakah ada pesan yang harus
saya sampaikan kepada ayah, Nona Eugenie? Saya yakin
akan kembali ke Paris sekarang."
Eugenie menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ah, mengapa harus malu? Saya sama sekali tidak berkeberatan
Nona mengejar saya. Lagi pula, bukankah saya
ini suami Nona?"
Andrea keluar kamar meninggalkah kedua wanita yang
merasa dipermalukan karena ejekannya itu ditambah
dengan ocehan ocehan orang-orang lain yang mendengar.
Sejam kemudian Eugenie dan d'Armily menaiki keretanya
melanjutkan perjalanan. Sekarang keduanya berpakaian
perempuan.
Andrea dibawa kembali ke Paris dan dipenjarakan.
BAB LIX
VALENTINE belum lagi sembuh. Dari Nyonya de
Villefort dia mendengar tentang kejadian di rumah
Danglars, tentang kaburnya Eugenie dan tentang
tertangkapnya Andrea. Tetapi dia masih begitu lemah
sehingga tidak dapat memberikan tanggapan apa apa.
Ceritera itu hanya menimbulkan pikiran dan pandangan
yang kabur dan senantiasa berubah-ubah, yang pada suatu
saat bercampur-aduk dengan pikiran aneh dan bayanganbayangan
yang sering melintas dengan cepat di hadapan
otak dan matanya yang masih lemah.
Siang hari Valentine berada dalam kesadaran yang penuh,
berkat kehadiran kakeknya yang setiap hari datang ke
kamar Valentine menjaga dengan tatapan kasih sayang. Bila
Villefort pulang dari kantornya pada sore hari, dia selalu
datang menjenguk dan mereka selama satu jam atau
kadang-kadang sampai dua jam berkumpul bertiga. Jam
enam Villefort masuk ke kamar kerjanya. Jam delapan
malam, Dokter d'Avrigny datang memeriksa dan memberi
Valentine obat untuk malam itu, dan Noirtier kembali ke
kamarnya sendiri. Selanjutnya Valentine diserahkan kepada
seorang perawat yang dipilih oleh dokter sampai dia jatuh
tertidur, biasanya menjelang jam sepuluh malam.
Maximilien Morrel datang mengunjungi Noirtier setiap
pagi untuk menanyakan tentang keadaan kekasihnya.
Semakin hari kerisauannya semakin berkurang. Pertama,
karena sekalipun Valentine masih lemah namun kesehatannya
sedang berangsur pulih. Dan keduanya, Monte Cristo
pernah mengatakan, kalau dalam dua jam sejak serangan
tidak terjadi apa-apa, nyawa Valentine akan selamat. Sekarang
sudah empat hari berlalu dan Valentine masih tetap
hidup.
Jiwa Valentine yang tergoncang itu terbawa ke dalam
tidurnya, atau lebih tepat lagi ke dalam keadaan antara
tidur dan jaga. Pada saat-saat itulah dalam keheningan malam
dan dalam cahaya remang-remang yang berasal dari
lampu yang ditempatkan dekat tungku pemanas, sering
Valentine melihat sosok tubuh berdatangan silih berganti.
Kadang-kadang dia seperti melihat ibu tirinya datang mengancam,
kadang-kadang Maximilien yang kelihatan datang
mengulurkan kedua belah tangannya untuk merangkul,
kadang-kadang orang-orang yang tidak dikenal. Dalam keadaan
seperti Itu bahkan semua perabotan yang ada dalam
kamarnya itu kelihatan seperti berpindah-pindah. Biasanya
hal ini berlangsung sampai jam tiga atau empat dinihari,
sebelum dia betul-betul jatuh tertidur sampai pagi.
Malam hari setelah pagi harinya mendengar berita tentang
Eugenie dan Andrea, suatu kejadian yang tidak
terduga berlangsung di kamar Valentine. Perawat baru
sepuluh menit yang lalu meninggalkan kamar, dan
Valentine sedang diserang demam. Dalam cahaya remangremang
dia melihat pintu yang menuju ke ruang
perpustakaannya terbuka tanpa bersuara. Dalam keadaan
sehat, pasti Valentine akan segera membunyikan bel atau
berlari meminta tolong. Tetapi dalam keadaannya seperti
sekarang, hal itu sama sekali tidak mengejutkannya. Dia
mengira itu hanyalah akibat dari demamnya saja.
Sesosok tubuh muncul dari balik pintu. Karena sudah
terbiasa, Valentine sama sekali tidak merasa takut, bahkan
dia membuka matanya lebih lebar dengan harapan mudahmudahan
Maxfrnilienlah yang datang itu. Sosok tubuh itu
mendekatinya, lalu berhenti seperti yang sedang mendengarkan
sesuatu dengan penuh perhatian. Secercah cahaya
lampu menerangi wajahnya. "Bukan Maximilien," keluh
Valentine.
Valentine menunggu dan mengharap supaya bayangan
Itu segera menghilang dan berganti dengan bayangan orang
lain lagi. Dia masih sempat ingat bahwa jalan terbaik untuk
menghilangkan bayangan-bayangan yang tidak
disenanginya adalah minum obat penenang yang
disediakan oleh dokter. Tangannya bergerak untuk
mengambil gelas yang berada di atas meja di sebelahnya.
Bersamaan dengan itu bayangan tersebut maju lagi dan
begitu dekat rasanya seperti Valentine dapat mendengar
tarikan napasnya dan merasakan rabaannya pada
tangannya sendiri. Dengan perlahan-lahan sekali Valentine
menarik tangannya.
Sosok tubuh itu, yang kelihatannya bersikap melindungi,
mengambil gelas dari atas meja dan memeriksanya dengan
teliti. Pemeriksaan dengan mata rupanya dirasa masih kurang
sempurna. Diambilnya cairan dalam gelas itu sesendok
penuh lalu ditelannya. Valentine mengira bayangan itu
akan segera berganti dengan bayangan lain. Tetapi tidak.
Bahkan dia kembali lagi mendekat, menyerahkan gelas
kepadanya dan berkata dengan lembut, "Silakan minum
sekarang."
Barulah Valentine merasa terkejut. Baru sekali ini salah
satu dari sekian banyak bayangan yang sering datang ber-.
bicara begitu nyata kepadanya. Valentine membuka mulutnya
untuk berteriak. Tetapi orang itu lebih cepat meletakkan
telunjuknya ke bibirnya.
"Count of Monte Cristo” Valentine berbisik.
"Jangan berteriak dan jangan takut" kata Monte Cristo.
"Yang di hadapanmu sekarang bukanlah bayangan, Valentine,
melainkan seorang sahabat yang tulus."
Valentine tidak menjawab, tetapi matanya yang masih
ketakutan seakan-akan hendak berkata, "Bila maksud Tuan
baik, mengapa berada di sini?"
Dengan pandangannya yang tajam, Monte Cristo dapat
menebak apa yang berada dalam hati Valentine. "Dengarkan
baik-baik," katanya, "atau lebih tepat, pandanglah saya
baik-baik. Lihat mata saya yang sudah merah ini dan muka
saya yang telah menjadi lebih pucat dari biasa. Saya tidak
tidur selama empat malam. Empat malam lamanya saya
menjaga dan melindungimu untuk sahabat kita
Maximitien."
Arus darah mengalir ke wajah Valentine karena gembira.
Nama yang baru didengarnya telah menghapuskan semua
kecurigaan. "Maximfiien!" katanya mengulang. "Dia menceriterakan
semua kepada Tuan?"
"Semua. Dia mengatakan bahwa hidupmu adalah miliknya
dan saya telah berjanji mengusahakan agar engkau
tetap hidup."
'Apakah Tuan seorang dokter?"
"Ya, dan yang terbaik dan mungkin ada pada saat ini.
Percayalah."
"Tuan mengatakan telah menjaga saya selama ini, tetapi
baru sekarang saya lihat Tuan di sini."
Monte Cristo menunjuk ke arah ruang perpustakaan.
"Saya bersembunyi di balik pintu itu. Pintu itu berhubungan
dengan rumah di sebelah yang saya sewa."
Valentine mengalihkan matanya dari Monte Cristo dan
berkata dengan angkuh,
”Yang Tuan lakukan adalah perbuatan gila.
Perlindungan yang Tuan berikan hampir-hampir
menyerupai penghinaan!"
"Valentine," kata Monte Cristo, "inilah hasil dari penjagaan
dan perlindungan saya yang melelahkan itu. Saya
tahu siapa yang masuk ke kamar ini, makanan dan minuman
apa yang disediakan untukmu. Kalau minuman itu saya
anggap berbahaya, saya masuk seperti sekarang ini, membersihkan
gelasmu dari racun yang mematikan dan menggantinya
dengan cairan yang justru menyembuhkan."
"Racun dan mati!" Valentine terkejut. Dia berharap betul
bahwa dia sedang dipengaruhi demam. "Apa yang Tuan
katakan?"
Monte Cristo memberi isarat lagi dengan telunjuknya
untuk diam. "Ya, saya katakan racun. Tetapi minumlah ini
dahulu." Dia mengambil sebuah botol yang berisi cairan
berwarna merah dari saku bajunya, meneteskan isinya
beberapa tetes ke dalam gelas. "Setelah minum ini, jangan
minum apa-apa lagi sampai besok."
Valentine mengulurkan tangannya tetapi segera menariknya
kembali setelah tangannya menyentuh gelas. Monte
Cristo mengambil gelas itu, meneguknya sampai setengahnya
lalu memberikan gelas itu kepada Valentine yang menerimanya
dengan tersenyum dan lalu meminumnya sampai
habis.
"Saya ingat sekarang," kata Valentine. "Inilah rasa obat
yang selalu menurunkan demam dan menenangkan pikiran.
Terima kasih, Tuan."
"Sekarang engkau tahu, mengapa engkau tetap hidup,
Valentine. Tetapi engkau tak akan mungkin membayangkan
betapa perasaan takut berkecamuk dalam dada saya ketika
melihat racun dikucurkan ke dalam gelas dan bagaimana
pula perasaan saya sebelum sempat membuangnya lagi ke
tungku pemanas!"
"Kalau Tuan melihat racun dikucurkan, tentu Tuan melihat
juga siapa yang mengucurkannya," tanya Valentine.
Matanya gelisah cemas. "Siapa pembunuh itu!"
"Pernahkah engkau melihat orang masuk ke mari pada
malam hari?”
"Saya sering melihat sosok tubuh datang dan menghilang.
Tetapi saya selalu menganggapnya sebagai bayangan
karena demam. Bahkan ketika Tuan tadi masuk pun, lama
sekali saya mengira begitu."
"Artinya, engkau tidak tahu siapa orang yang berniat
mengambil jiwamu itu?"
"Tidak. Mengapa ada orang menghendaki kematian saya?"
"Engkau akan segera mengetahuinya," Monte Cristo
memasang kupingnya tajam-tajam seperti mendengar sesuatu.
"Sekarang engkau tidak demam atau bermimpi. Saya
minta, kerahkan semua kekuatanmu. Pura-pura tidur dan
engkau akan melihat nanti."
Valentine memegang tangan Monte Cristo. "Saya kira
saya mendengar suara. Cepat keluar!"
Dengan senyuman yang menenteramkan hati Valentine,
Monte Cristo berangkat menuju pintu perpustakaan. Sebelum
dia keluar dan menutupnya kembali, ia membalikkan
badan dan berkata lagi perlahan-lahan, "Ingat, jangan bergerak
dan bersuara. Kalau diketahuinya engkau tidak tidur,
engkau mungkin sudah dibunuhnya sebelum saya sempat
menolong."
Setelah meninggalkan peringatan yang menyeramkan ini
Monte Cristo menghilang di balik pintu.
Valentine tinggal seorang diri. Terdengar jam berbunyi
dua belas kali. Kecuali suara kereta yang bergerak di
kejauhan semuanya sunyi-sepi. Pikiran Valentine hanya
berpusat kepada satu soal saja: ada orang yang pernah
mencoba membunuhnya dan yang akan mencobanya sekali
lagi.
Ketukan yang hampir-hampir tidak kedengaran datang
dari pintu perpustakaan. Valentine lega hatinya karena
dengan itu dia yakin bahwa Monte Cristo berada di dekatnya.
Dari arah lain, artinya dari arah kamar Edouard
rasanya Valentine mendengar suara. Dia menahan napas.
Pintu mulai terbuka, hampir saja Valentine tidak sempat
menyembunyikan matanya di bawah lengannya. Dengan
hati yang dicekam takut, dia menunggu.
Seorang datang ke dekat tempat tidurnya.
"Valentine!" orang itu memanggil perlahan-lahan.
Valentine gemetar sampai ke dasar jantungnya, tetapi dia
menahan diri tidak menjawab.
''Valentine."
Valentine tetap diam. Lalu dia mendengar suara barang
cair dikucurkan. Pada saat itulah dia berniat membuka matanya
yang tersembunyi di bawah lengannya.
Valentine melihat seorang wanita bergaun tidur putih
sedang mengucurkan sesuatu dari sebuah botol ke dalam
gelasnya. Rupanya Valentine bergerak atau mengeluarkan
suara sedikit, sebab tiba-tiba saja perempuan itu berhenti,
lalu mendekat ke ranjang untuk meyakinkan apakah Valentine
tidur atau tidak. Perempuan itu, Nyonya de Villefort.
Ketika mengenali ibu tirinya, Valentine tidak dapat menahan
kejutan hatinya yang bergetar ke seluruh tubuhnya,
dan getaran tubuhnya itu menggetarkan lagi ranjangnya.
Nyonya de Villefort berdiri merapat ke dinding di dekatnya
dan mengawasi setiap gerakan Valentine dengan cermat.
Valentine ingat kepada kata-kata Monte Cristo yang
menyeramkan tadi. Rasanya dia melihat sebilah pisau panjang
di tangan nyonya de Villefort. Dia memaksakan diri
menutup matanya kembali. Pekerjaan yang sangat sederhana
itu pada saat-saat seperti demikian merupakan pekerjaan
yang hampir tidak mungkin dilakukan.
Sementara itu, setelah diyakinkan oleh tarikan napas
Valentine yang sudah teratur kembali, Nyonya de Villefort
meneruskan memindahkan isi botol ke dalam gelas Valentine.
Setelah itu dia keluar. Bukan suara yang meyakinkan
Valentine bahwa dia sudah pergi. Valentine hanya melihat
menghilangnya tangan segar dan gempal dari seorang
wanita berumur dua puluh lima tahun, yang baru saja
mengucurkan racun kematian.
Suara dari pintu perpustakaan membuat Valentine tenang
kembali. Dia mengangkat kepalanya dengan susah
payah. Pintu terbuka dan Monte Cristo muncul.
"Masih sangsi?" tanya Monte Cristo.
"Oh, Tuhan!"
"Kenal dia?"
"Ya, tetapi saya tetap tidak bisa percaya."
"Rupanya engkau lebih suka mati yang dapat menyebabkan
kematian Maximilien juga, daripada mempercayai apa
yang kaulihat sendiri."
"Ya Tuhan! Tuhan!"
Monte Cristo mengambil gelas dan mencicipi isinya.
"Sekarang brucine lagi, tetapi yang lebih kuat. Kalau engkau
minum ini, Valentine, habislah sudah riwayatmu."
"Mengapa dia mau membunuh saya?"
"Masih juga belum mengerti? Apakah engkau begitu
baik, begitu halus, begitu sukar mempercayai kejahatan
orang lain sehingga tidak dapat menduga alasanalasannya?"
"Tidak. Saya tidak pernah menyakitinya,"
"Kesalahanmu hanyalah, karena engkau kaya. Engkau
berpenghasilan dua ratus ribu frank setahun yang bisa men
jadi milik anaknya sendiri. Tuan dan Nyonya de Saint-Meran
meninggal, engkau mewarisi semua hartanya. Tuan
Noirtier harus mati ketika dia mengangkatmu sebagai ahli
waris tunggalnya, dan itulah sebabnya mengapa engkau
harus mati, Valentine, supaya ayahmu dapat mewarisi
semua harta kekayaanmu dan dengan demikian terbukalah
jalan bagi Edouard untuk memilikinya, karena dialah yang
akan menjadi ahli waris tunggal ayahmu."
"Edouard! Untuk diakah semua kejahatan ini" dilakukan?"
"Ah, akhirnya engkau paham juga."
"Mudah-mudahan saja dia tidak menderita karena ini!"
"Engkau memang seorang bidadari, Valentine."
"Apakah dia masih merencanakan membunuh Kakek?"
"Rupanya sudah terpikirkan, kalau engkau mati kekayaan
kakekmu akan jatuh juga kepada Edouard lewat ayahnya.
Sebab itu membunuhnya, hanyalah merupakan tindakan
yang tidak berguna dan berbahaya."
"Sukar dimengerti bahwa seorang wanita dapat
merancang suatu rencana setan seperti ini."
"Ingatkah engkau ketika Ibu tirimu berbicara dengan
seorang laki-laki tentang racun di Perguia? Pada waktu itu
engkau sedang menanti kereta. Ketika itulah rencana ini
timbul di benaknya."
"Oh!" teriak gadis itu, air matanya seakan-akan muncrat.
"Saya mengerti sekarang. Saya mengerti mengapa saya
harus mati!"
"Tidak, Valentine, musuh kita sudah tidak berdaya lagi
karena kita telah mengetahui siapa dia. Engkau akan hidup
untuk mencintai dan dicintai, untuk membuat seorang laki
laki berhati mulia berbahagia. Tetapi, untuk bisa selamat,
hendaknya engkau mempercayaiku sepenuhnya."
"Saya percaya, Tuan. Saya mau menjalankan apa saja
untuk tetap dapat hidup, oleh karena dalam dunia ini ada
dua orang yang sangat mencintai saya dan akan mati kalau
saya mati. Kakek dan Maximilien Morrel."
"Apa pun yang kan terjadi, Valentine, janganlah takut.
Kalau engkau kehilangan penglihatanmu, pendengaranmu
atau daya rasamu, janganlah takut. Kalau engkau terbangun
tanpa mengetahui di mana engkau berada jangan takut,
bahkan sekalipun engkau terbangun di dalam kubur atau
dalam peti mati, tegakkan kepalamu dan katakanlah kepada
dirimu sendiri dengan penuh keyakinan, 'Pada saat ini,
seorang laki-laki yang sangat mendambakan kebahagiaanku
dan kebahagiaan Maximilien sedang melindungiku'"
"Mengerikan sekali."
"Apakah engkau lebih suka mengadukan ibu tirimu?"
"Lebih baik mati daripada melakukan itu!"
"Engkau tidak akan mati, Valentine. Tetapi saya minta
engkau berjanji bahwa engkau tidak akan berputus asa, apa
pun yang akan terjadi. Percayalah kepada maksud baikku,
seperti engkau percaya kepada kebaikan Tuhan dan
kecintaan Maximilien kepadamu."
Valentine menatap wajah Monte Cristo dengan penuh
rasa terima kasih. Monte Cristo mengeluarkan kotak jamrudnya,
membukanya dan memberikan kepada Valentine
sebuah pil bundar sebesar kacang.
Valentine memandang bertanya.
"Betul" kata Monte Cristo.
Valentine memasukkan pil itu ke dalam mulutnya lalu
menelannya.
"Sekarang, selamat tinggal, Valentine," kata Monte
Cristo, "saya akan mencoba tidur, karena engkau telah selamat."
Monte Cristo mengawasi Valentine yang segera jatuh tertidur,
terpengaruh oleh obat bius yang baru saja ditelannya.
Lalu dia mengambil gelas, membuang sebagian besar isinya
ke dalam tungku api supaya tampak seperti telah di minum,
meletakkannya kembali di tempatnya di sebelah ranjang,
kemudian pergi melalui pintu rahasianya. Sebelum pergi,
sekali lagi dia menatap Valentine yang pulas dan tenang,
setenang bidadari yang bersimpuh di hadapan Tuhannya.
BAB LX
LAMPU di kamar Valentine masih menyala, cahaya
yang kemerah-merahan menimpa tirai-tirai putih. Segala
suara di jalan sudah menghilang dan kesunyian dalam
rumah sungguh mencekam.
Pintu kamar Edouard terbuka. Sesosok tubuh tampak
pada cermin di hadapan pintu, Nyonya de Villefort kembali
untuk meyakinkan akibat racun yang dituangkannya ke
dalam gelas Valentine, Dia berhenti dahulu di ambang pintu,
memasang telinganya, namun tiada suara terdengar kecuali
suara api lampu yang sedang menyedot sisa-sisa minyak.
Setelah itu baru dia berani mendekati meja di sebelah
ranjang Valentine, untuk melihat gelas apakah sudah diminum
isinya atau belum. Hampir setengahnya habis. Nyonya
de Villefort membuang sisanya ke tungku api. Dengan hatihati
dia mencuci gelas itu, mengeringkannya dengan saputangannya
lalu menaruhnya kembali di atas meja.
Tampak dia ragu ketika dia mengamati Valentine. Si
pembunuh merasa takut melihat akibat perbuatannya sendiri.
Dengan menguatkan hati, dia maju selangkah lagi.
Valentine sudah tidak bernapas, bibirnya yang kebiru-biruan
sudah berhenti bergetar. Nyonya de Villefort meletakkan
tangannya di atas dada Valentine. Tidak terasa apa-apa.
Dengan cepat dia menarik kembali tangannya, bahkan
disertai gemetar tubuhnya. Tangan kanan Valentine bergantung
di tepi ranjang, pergelangannya sudah mulai kaku,
dan sekeliling kuku-kuku jarinya tampak kebiru-biruan.
Nyonya de Villefort sudah tidak sangsi lagi. Semuanya
telah selesai, pikirnya. Tugasnya yang terakhir telah terlaksana.
Dia mundur beberapa langkah, lalu berhenti lagi
dan berdiri tanpa bergerak. Beberapa menit berlalu. Lampu
berkelap-kelip untuk akhirnya mati sama sekali. Seluruh
kamar menjadi gelap gelita. Dalam kegelapan itu terdengar
lonceng berbunyi menunjukkan jam setengah lima pagi.
Dengan meraba-raba Nyonya de Villefort kembali ke
kamarnya sendiri. Dahinya basah berkeringat.
Secercah demi secercah cahaya masuk ke dalam kamar
Valentine. Akhirnya menjadi cukup terang untuk dapat
membedakan warna.
Perawat memasuki kamar dengan membawa sebuah gelas.
Seorang ayah atau kekasih, segera melihat bahwa
Valentine sudah mati. Tetapi perawat ini tidak. Dia mengira
Valentine masih lelap tidur. Yang pertama-tama dikerjakannya,
menghidupkan tungku pemanas. Setelah itu duduk
di kursi dan sekalipun baru saja bangun, dia memanfaatkan
tidur Valentine untuk diri sendiri: tidur lagi beberapa saat
lamanya. Jam delapan baru dia terbangunkan lagi oleh
bunyi lonceng.
Melihat Valentine masih kelihatan lelap dan tangannya
tetap bergantung, dia merasa heran. Dia mendekatinya,
barulah dia melihat dengan jelas bahwa bibir Valentine
sudah biru kaku dan dadanya tidak turun naik. Dia mencoba
membenarkan letak tangan Valentine, namun tangan
itu sudah demikian kakunya sehingga hanya dengan keras
dia berhasil. Sebagai seorang perawat dia segera tahu apa
arti kekakuan itu. Dia berteriak dan berlari ke luar: "Tolong!
Tolong!"
"Ada apa?" jawab Dokter d'Avrigny di bawah tangga.
Waktu itu adalah saat menjenguk Valentine yang setiap hari
dilakukannya.
"Tuan mendengar ada yang meminta tolong?" tanya
Villefort keluar dari kamar kerjanya.
"Ya. Rupanya dari kamar Valentine. Mari kita lihat."
Sebelum Villefort dan dokter tiba, para pelayan sudah
terlebih dahulu berada di kamar Valentine. Begitu mereka
melihat keadaan putri majikannya, mereka menutup wajah
masing-masing dengan kedua tangannya. Mereka merasa
pusing bagaikan kena benturan yang keras mendadak
"Panggil Nyonya! Bangunkan Nyonya!" teriak Villefort
tanpa berani memasuki kamar.
Tetapi para pelayan itu bukannya menuruti perintah,
melainkan memperhatikan Dokter d'Avrigny yang segera
mendekati Valentine. Dokter memeriksanya sebentar. "Satu
lagi!" katanya mengeluh. "Ya Tuhan, bilamanakah Engkau
akan menghentikan ini?"
"Apa kata Tuan?" tanya Villefort terkejut.
"Maksud saya, Valentine telah mati," jawab dokter
dengan suara yang mengharukan.
Villefort menjatuhkan diri ke lantai dan meletakkan
kepala di pinggir ranjang Valentine. Semua pelayan berlarian
ke luar. Terdengar mereka menuruni tangga, lalu tak
berapa lama kemudian terdengar suara hiruk-pikuk di pe
karangan. Para pelayan kabur meninggalkan rumah yang
menurut mereka sedang dikutuk Tuhan.
Nyonya de Villefort muncul di ambang pintu. Dia berhenti
sejenak di sana, berusaha mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba saja dia bergerak ke arah meja karena melihat
Dokter d'Avrigny memeriksa meja dengan teliti, dan mengambil
gelas yang dia yakin telah dikosongkannya dinihari
tadi. Ternyata gelas itu berisi lagi, presis sebanyak yang dia
buang ke dalam tungku api. Seandainya ruh Valentine tibatiba
saja berada di hadapannya, dia tidak akan terkejut
seperti sekarang melihat isi gelas yang telah dibuangnya
sendiri dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Warna isi
gelas sama betul dengan warna cairan yang dia buang.
Dokter memeriksanya dengan teliti sekali. Dia yakin
bahwa cairan itu racun. Ditemukannya racun itu merupakan
suatu keajaiban dari Tuhan untuk menggampangkan
cara menghancurkan si pembunuh.
Selagi Nyonya de Villefort yang sudah tidak sempat
berbuat apa-apa lagi berdiri tegak bagaikan patung orang
yang sedang terkejut, dan selagi Villefort sendiri membenamkan
kepalanya di ranjang Valentine, Dokter d'Avrigny
berjalan ke dekat jendela untuk memeriksa gelas dengan
lebih jelas. Dia menjilat ujung telunjuknya yang sudah
dicelupkan ke dalam gelas itu.
"Ah!" katanya, "sudah bukan brucine lagi. Kita lihat,
apa." Dia berjalan ke lemari yang sudah disulap menjadi
apotik kecil. Dokter mengambil botol yang berisi asam sendawa
lalu meneteskan isinya beberapa tetes ke dalam gelas.
Cairan dalam gelas segera berubah warnanya menjadi
merah darah. "Aha!" dia bersorak seperti seorang hakim
yang berhasil mengorek kebenaran dari pesakitan,
bercampur dengan kegembiraan seorang ilmiawan yang
berhasil memecahkan sebuah persoalan.
Sekilas cahaya kemarahan dan ketakutan memancar dari
mata Nyonya de Villefort, lalu meredup kembali. Dia
membalikkan badan, berjalan dengan terhuyung-huyung ke
luar kamar. Beberapa saat kemudian terdengar suar’ orang
terjatuh.
Dokter d'Avrigny yang melihat Nyonya de Villefort
meninggalkan kamar segera berlari ke pintu, dan melihat
Nyonya de Villefort tergeletak di lantai. "Tolong Nyonya de
Villlefort" perintalmya kepada perawat. "Beliau pingsan"
"Bagaimana dengan Nona Valentine?" tanya perawat
ragu-ragu.
"Nona Valentine sudah tidak membutuhkan pertolongan
lagi, karena dia sudah meninggal."
"Meninggal! Meninggal!" Villefort mengulang-ulang kata-
kata itu dengan nada yang sangat mengharukan karena
keluar dari seorang yang terkenal berhati baja.
"Meninggal!" terdengar suara lain. "Siapa yang mengatakan
Valentine telah meninggal?"
Kedua laki-laki itu memalingkan wajah ke arah suara itu
dan mereka melihat Maximilien Morrel berdiri di ambang
pintu dengan mata liar dan kebiru-biruan di seputarnya.
Pada jam seperti biasa dia mengunjungi Noirtier setiap
pagi, Maximilien tiba di pintu kecil yang berhubungan dengan
kamar Noirtier. Karena lain dari kebiasaan dia
melihat pintu tidak terkunci, dia masuk tanpa
membunyikan bel. Maximilien memanggil pelayan untuk
minta diberitahukan kedatangannya kepada Noirtier,
namun tak seorang pun datang. Maximilien tidak
mempunyai alasan untuk merasa risau karena mendapat
keyakinan dari Monte Cristo bahwa Valentine akan tetap
hidup, dan selama ini janji Monte Cristo itu terbukti. Setiap
malam Monte Cristo menv berinya kabar baik, yang
dibenarkan esok paginya oleh Noirtier. Walaupun demikian
kesunyian rumah itu mengherankannya juga. Dia
memanggil dan memanggil lagi, tetapi keadaan tetap sunyi.
Dia mengambil keputusan untuk naik ketingkat atas.
Pintu kamar Noirtier terbuka. Mata kakek tua itu menunjukkan
ketegangan dalam jiwanya, dan hal ini
dikuatkan oleh wajahnya yang tampak sangat pucat.
"Tuan seperti merisaukan sesuatu," kata Maximilien.
"Apa perlu saya memanggil pelayan?"
"Ya," jawab Noirtier seperti biasa dengan isarat matanya.
Maximilien menarik tali lonceng, tetapi tak seorang pun
datang. Kerisauan Noirtier semakin jelas tampak pada
matanya
"Mengapa tak ada yang datang?" tanya Maximilien heran.
"Apakah ada yang sakit?"
Mata Noirtier seakan-akan hendak terloncat ke luar dari
kelopaknya.
"Ada apa, Tuan? Apakah Valentine .. .'
"Ya!Ya!Ya!"
Maximilien berlari ke luar dan menuruni tangga. Kurang
dari satu menit dia sudah berada di pintu kamar Valentine.
Pintunya terbuka.
Yang pertama-tama dia dengar suara orang terisak-isak.
Lalu melihat sesosok tubuh berlutut dekat ranjang. Dia
berdiri di ambang pintu dicekam rasa takut. Ketika itulah
dia mendengar orang berkata, "Dia sudah meninggal,"
disusul orang lain yang mengulang-ulangnya bagaikan
gema suara, "Meninggal! Meninggal!"
Villefort berdiri. Dia merasa sedikit malu kedapatan
menangis kesedihan. Jabatan yang sudah dijalaninya
selama dua puluh lima tahun terus-menerus, sedikit banyak
telah merubah dia menjadi kurang manusiawi. Dia
memandang Maximilien.
"Siapa Tuan? Dan mengapa Tuan lupa bahwa seseorang
tidak boleh masuk rumah di mana orang sedang berkabung?
Harap segera meninggalkan rumah ini!"
Maximilian tetap tidak bergerak, tanpa sanggup mengalihkan
pandangannya dari ranjang dan wajah pucat yang
tergeletak di atasnya.
"Harap pergi! Apa Tuan tidak mendengar?"
Dokter d'Avrigny maju selangkah menjaga kemungkinan
kalau-kalau Villefort memerlukan bantuannya.
Maximilien tampak ragu. Dia membuka mulutnya, tetapi
tidak kuasa mengeluarkan kata barang sepatah pun untuk
menjawab, sekalipun bermacam pikiran, bermunculan di
benaknya. Dia berbalik berlari sambil memegang kepala
dengan kedua belah tangannya. Villefort dan Dokter
d'Avrigny saling berpandangan seakan-akan masing-masing
hendak mengatakan, "Orang gila!"
Beberapa menit kemudian mereka mendengar tangga
berderak karena menahan beban yang berat. Mereka melihat
Maximilien menuruni tangga sambil mengangkat
Noirtier dengan kursi rodanya sekali. Setelah sampai di
lantai bawah Maximilien meletakkan kursi roda dan mendorongnya
ke kamar Valentine dengan cepat.
Wajah Noirtier dengan cahaya matanya yang berkilatkilat
merupakan hantu yang sangat mengerikan bagi Villefort.
Setiap kali dia bertemu dengan ayahnya sendiri, selalu
saja ada perasaan takut.
"Lihat apa yang mereka lakukan terhadap Valentine'
Kata Maximilien dengan sebelah tangannya di kursi roda
dan tangan lainnya menunjuk kepada Valentine. "Lihat
Kakek, lihat!"
Villefort terkejut mendengar anak muda yang tidak dikenalnya
ini memanggil "Kakek" kepada Noirtier. Pada saat
itu seakan-akan seluruh isi hati orang tua itu memancar
lewat matanya. Pembuluh darah di tengkuknya
membengkak, pipi dan pelipisnya merah padam. Kalau saja
dia dapat berteriak lengkaplah ledakan jiwanya itu. Jeritan
yang tidak dapat keluar melalui mulut seakan-akan keluar
melalui setiap pori-pori kulit sehingga diamnya kakek tua
itu sangat mengerikan.
"Mereka bertanya siapa saya dan berdasarkan hak apa
saya berada di sini," kata Maximilien sambil memegang
tangan Noirtier. "Tuan mengetahuinya. Katakanlah kepada
mereka! Katakanlah!" Suaranya tertahan-tahan.
Dada Noirtier mengembang dan matanya berlinang.
"Katakan bahwa saya kekasih Valentine! Katakan bahwa
Valentine satu-satunya kecintaan saya di dunia ini. Katakan
bahwa jenazahnya milik saya!"
Tenaga anak muda yang gagah itu luluh sama sekali. Dia
jatuh terlutut di sisi ranjang.
Kesedihan Maximilien menyentuh sekali sehingga
Dokter d'Avrigny terpaksa memalingkan muka untuk
menyembunyikan perasaannya, sedangkan Villefort tanpa
meminta penjelasan lebih lanjut — tergerak oleh keharuan
yang membangkitkan kasih sayang kepada orang yang
diratapi mengukirkan tangannya. Tetapi Maximilien tidak
melihatnya. Dia memegang tangan Valentine yang sudah
sedingin es, tanpa dapat menangis. Dia hanya menggigit
alas ranjang. Untuk sementara waktu tak terdengar suara
lain dalam kamar itu kecuali suara isak tangis, kutukan dan
do'a. Akhirnya Villefort yang paling mampu menguasai
dirinya berkata kepada Maximilien:
"Tuan katakan baru saja bahwa Tuan mencintai Valentine
dan bahwa Tuan kekasih Valentine. Saya sama sekali
tidak mengetahuinya, namun demikian, sebagai ayah
Valentine saya dapat memaafkan karena kesedihan Tuan
benar-benar mumi dan tulus. Di samping itu hati saya sendiri
sudah sesak dengan kesedihan sehingga tidak ada tempat
lagi buat marah. Tetapi, seperti Tuan lihat sendiri, bidadari
yang Tuan cintai itu telah pergi meninggalkan bumi ini.
Ucapkan selamat jalan kepadanya dan kuatkan hati untuk
berpisah buat selama-lamanya. Valentine tidak memerlukan
siapa pun lagi, kecuali seorang padri yang akan memberkah
nya "
'Tuan keliru!" jawab Maximilein sambil merubah
sikapnya menjadi berlutut dengan sebelah lutut saja. "Valentine
bukan hanya memerlukan seorang padri, tetapi juga
seorang penuntut balas! Silakan panggil padri, Tuan de
Villefort, dan sayalah yang akan menjadi penuntut balas."
"Apa maksud Tuan?" tanya Villefort sedikit gemetar.
"Saya maksud, Tuan de Villefort, sebagai seorang ayah
tuan telah cukup mencurahkan kesedihan Tuan. Sekarang
saatnya bagi Tuan untuk melakukan kewajiban sebagai
seorang jaksa."
Mata Noirtier berkilat-kilat. Dokter d'Avrigny melangkah
mendekat.
"Saya tahu apa yang saya katakan," lanjut Maximilien.
Setelah dia mengamati wajah semua yang hadir. "DanTuan
pun tahu apa yang selanjutnya akan saya katakan Valentine
dibunuh orang!"
Villefort menundukkan kepala, Dokter d'Avrigny melangkah
lebih mendekat lagi, dan mata Noirtier memberi
isarat "ya".
'Tuan salah," jawab Villefort. "Tidak ada kejahatan dalam
rumah saya. Nasib buruk sedang bertubi-tubi menimpa
saya. Rupanya Tuhan sedang mencoba saya. Memang tidak
sedap mengingat-ingat hal itu, tetapi jelas tidak ada
kejahatan.Mata Noirtier berkilat-kilat lebih terang. Dokter
d'Avrigny membuka mulut, tetapi Maximilien memberi
isarat dengan tangannya agar tidak berkata.
"Saya katakan bahwa ada pembunuhan dalam rumah
ini!" katanya keras-keras. "Saya tegaskan bahwa Valentine
merupakan korban yang keempat! Saya tahu, bahwa Tuan
telah mengetahuinya, karena dokter ini telah memperingatkan
Tuan baik sebagai dokter maupun sebagai sahabat."
"Mengigau!" kata Villefort, mencoba melepaskan diri
dari jaring yang sudah terasa menangkupnya.
"Kalau Tuan mengira saya mengigau, saya persilakan
Tuan bertanya kepada Dokter d’ Avngny Tanyakan apa
yang dikatakannya kepada Tuan di dalam kebun pada
malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran!"
Villefort dan Dokter d'Avrigny saling berpandangan.
"Saya kebetulan mendengarkan pembicaraan Tuan-tuan.
Seharusnya saya menceriterakannya kepada yang berwewenang.
Seandainya sudah saya lakukan dahulu pasti saya tidak
akan merasa turut bersalah dalam pembunuhan terhadap
Valentine tercinta. Saya yang sudah terlibat ini akan
menjadi penuntut balas untuk Valentine! Pembunuhan yang
keempat ini sudah tidak akan dapat dirahasiakan lagi.
Kalau ayah Valentine sendiri tidak bertindak, saya bersumpah:
sayalah yang akan membalaskan kematian Valentine!"
'Dan saya sependapat dengan tuntutan Tuan Maximilien
Morrel agar hukum ditegakkan," kata Dokter d'Avrigny
tegas. "Hati nurani saya menjadi sakit karena kepengecutan
saya telah membantu memudahkan si pembunuh."
"Oh Tuhan! Tuhan!" Villefort bingung.
Maximilien melihat sorot mata Noirtier berkilat-kilat
karena kemarahan yang sudah hampir melampaui batas.
'Tuan Noirtier ingin berbicara," katanya.
"Betul’ kata Noirtier dengan isarat.
"Tuan tahu siapa pembunuhnya?" tanya Maximilien.
'Tahu.”
"Mau Tuan menunjukkannya?"
Noirtier memberi tatapan yang ramah tetapi sedih, lalu
memandang ke arah pintu.
'Tuan menghendaki saya pergi?" tanya Maximilien putus
asa.
"Ya."
"Saya harus kembali lagi nanti?"
"Ya."
"Hanya saya yang harus pergi?"
'Tidak."
"Siapa lagi? Tuan de Villefort?"
"Bukan."
"Dokter d'Avrigny?"
"Ya."
Dokter d'Avrigny memegang tangan Maximilien dan menuntunnya
ke kamar sebelah. Seperempat jam kemudian
Villefort muncul di pintu.
"Mari masuk," katanya.
Ketiganya masuk dan berdiri dekat Noirtier.
Wajah Villefort agak kebiru-biruan.
"Tuan-tuan," katanya memulai dengan suara tertahantah
an. "Saya meminta dengan sangat agar Tuan-tuan tidak
membocorkan rahasia yang sangat memalukan ini"
Maximilien dan dokter itu terkejut.
"Bagaimana dengan pembunuh itu?" tanya Maximilien.
"Jangan takut. Hukum akan ditegakkan," jawab Villefort.
"Ayah saya telah memberitahukan siapa pembunuhnya.
Beliau pun ingin membalas, sama seperti Tuan-tuan. Walau
demikian beliau meminta seperti yang saya minta agar
Tuan-tuan suka memegang rahasia ini Betulkah demikian,
Ayah?"
"Betul," jawab Noirtier dengan isarat matanya tanpa
ragu.
Maximilien terkejut dan tak percaya. Villefort memegang
tangannya.
"Tuan mengetahui, betapa teguhnya pendirian ayah
saya. Tuan boleh yakin kalau beliau mengajukan permintaan
itu beliau tahu betul bahwa kematian Valentine tidak
akan dibiarkan tanpa pembalasan."
Mata orang tua itu membenarkan ucapan Villefort.
Villefort melanjutkan: "Ayah saya cukup mengenal saya,
dan saya telah memberikan janji saya. Saya meminta tiga
hari. Dalam tempo tiga hari itu pembalasan yang akan saya
lakukan terhadap pembunuh anak saya akan membuat
orang yang paling kejam pun bergetar terharu sampai ke
lubuk hatinya!"
"Apakah janji itu akan ditepati, Tuan Noirtier?" tanya
Maximilien.
"Ya!" jawab Noirtier dengan pancaran mata gembira.
"Jadi, mau Tuan-tuan menyerahkan pembalasan itu kepada
saya?" tanya Villefort.
Dokter d'Avrigny memalingkan muka sambil berkata
lemah, "Baik."
Maximilien tidak menjawab, melainkan berlari kepada
Valentine, lalu mencium bibirnya yang dingin dan setelah
itu berlari ke luar.
"Ada Padri tertentu yang ingin Tuan panggil?" tanya
dokter.
”Tidak” jawab Villefort "Yang terdekat saja."
"Yang terdekat adalah padri bangsa Italia yang baru saja
pindah menghuni rumah sebelah. Boleh saya memintanya
datang sambil pulang?"
“Ya, ya. Tolong mintakan beliau datang."
"Tuan ingin berbicara dahulu dengannya?"
"Tidak. Saya ingin menyendiri. Tolong sekalian mintakan
maaf. Seorang padri pasti dapat memahami apa artinya
kesedihannya."
Villefort meminta diri dari Dokter d'Avrigny lalu masuk
ke ruang kerjanya. Untuk beberapa orang tertentu, bekerja
merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kesedihan.
Ketika pulang. Dokter d'Avrigny melihat orang berjubah
berdiri di muka rumah sebelah. Dia menghampirinya lalu
bertanya "Sudikah Bapak memberi jasa baik kepada seorang
ayah yang baru saja kehilangan putrinya? Saya maksud
tetangga Bapak, Tuan de Villefort."
"Ya, saya tahu bahwa ada kematian di sana," jawab
padri itu dengan aksen Italia yang jelas. "Saya justru hendak
ke sana menawarkan jasa. Adalah tugas seorang padri
untuk menyadari kewajibannya."
"Yang meninggal itu seorang gadis."
"Ya, saya tahu juga. Saya mendengar dari pelayanpelayan
yang berlarian meninggalkan rumah. Saya dengar
namanya Valentine dan saya sudah berdo'a untuknya."
'Terima kasih, Bapak. Karena tokh Bapak sudah mulai
melaksanakan kewajiban suci itu, haraplah dilanjutkan. Harap
Bapak suka melayat jenazah itu, seluruh keluarganya
tentu akan berterima kasih."
"Saya sedang menuju ke sana. Saya akan berdo'a dengan
sungguh-sungguh sekali."
Dokter d'Avrigny menuntun padri dan tanpa mempertemukannya
dahulu dengan Villefort yang mengunci diri di
kamar kerjanya, langsung membawanya ke kamar Valentine.
Ketika mereka masuk, mata Noirtier bertemu dengan
mata padri. Rupanya Noirtier menangkap sesuatu dari sorot
mata padri itu, karena selanjutnya orang tua itu tidak mau
melepaskan lagi pandangannya dari padri.
Agar tidak terganggu dalam berdo'a dan juga agar Noirtier
tidak terganggu dalam melepaskan kesedihannya, padri
itu bukan hanya mengunci pintu tempat keluar Dokter
d'Avrigny saja, tetapi juga pintu yang berhubungan dengan
kamar Nyonya de Villefort.
BAB LXI
KEESOKAN harinya Baron Danglars melihat kereta
Count of Monte Cristo memasuki pekarangan rumahnya.
Dia sengaja keluar untuk menjemputnya. Wajahnya ramah
namun kesedihannya tak dapat disembunyikan.
"Tuan tentu datang untuk menyatakan simpati kepada
keluarga kami," katanya menyambut. ''Sebaiknya Tuan
sendiri pun berhati-hati, karena, tampaknya orang-orang
yang sebaya kita sedang mengalami nasib sial tahun ini!
Coba lihat, jaksa kita yang fanatik. Tuan de Villefort
kehilangan keluarganya dengan cara yang menyeramkan
sekali. Lalu Tuan de Morcerf, tercemar nama baiknya dan
mati, dan terakhir saya sendiri dipermalukan oleh Benedetto
keparat dan . . ."
"Dan apa?"
"Apa Tuan belum mendengar?"
"Musibah lain?"
"Eugenie pergi."
"Tak mungkin."
"Tetapi itulah kenyataannya. Anak malang itu sangat
terpukul oleh kejadian itu, lalu meminta izin untuk
berkelana. Dia pergi dua malam yang lalu."
"Bersama ibunya?"
"Bukan, dengan salah seorang saudara. Saya takut dia
tak akan kembali. Saya kenal betul wataknya, bahkan saya
sangsi dia akan berani menginjak Paris lagi."
"Kejadian serupa ini tentu akan merupakan cobaan yang
berat sekali bagi seorang ayah yang tidak kaya," kata Monte
Cristo, "tetapi lain sekali untuk mereka yang jutawan. Apa
pun kata orang-orang bijaksana, namun uang selalu
merupakan hiburan yang utama. Dan Tuan sendiri, raja
dalam dunia keuangan, pasti mempunyai hiburan yang
lebih utama dari orang lain."
Danglars mengamati Monte Cristo untuk mengetahui
apakah tamunya itu bergurau atau sungguh-sungguh.
"Benar," jawabnya, "apabila kekayaan merupakan hiburan,
saya seharusnya terhibur. Saya kaya."
"Begitu kaya, Baron, seteguh piramid. Apabila ada orang
yang mau menghancurkannya, ia tak akan berani
mencobanya, kalau ada yang berani, ia tak berhasil."
Danglars tersenyum. "Saya jadi teringat Ketika Tuan
datang, saya masih harus menandatangani beberapa lembar
cek. Maaf, izinkan saya menyelesaikannya sebentar."
"Silakan, Tuan."
Beberapa detik lamanya yang terdengar hanya bunyi
pena menggores kertas. Setelah selesai Danglars berkata
lagi, “Pernah kali Tuan melihat tumpukan kertas seperti ini,
setiap lembar bernilai sejuta frank?"
Monte Cristo mengambil lima lembar yang diperlihatkan
Danglars dengan bangga.
"Satu, dua, tiga, empat, lima juta frank."
"Begitulah cara saya berusaha," kata Danglars.
"Hebat sekali. Terutama kalau setiap lembar dapat segera
ditukarkan menjadi uang tunai, dan saya yakin dapat."
”Ya.Tentu saja dapat."
"Menyenangkan sekali kalau orang mempunyai
lembaran-lembaran seperti ini. Hanya di Perancis saja orang
dapat melihat ini. Lima lembar kertas berharga lima juta
frank. Kalau tak melihatnya sendiri, orang tak akan
mungkin percaya."
"Apakah Tuan masih sangsi?"
"Sama sekali tidak."
"Nada suara Tuan tidak begitu yakin. Mengapa Tuan
tidak membuktikannya sendiri? Silakan Tuan pergi dengan
pegawai saya ke bank dan Tuan akan melihat mereka
segera menukarnya dengan uang tunai sebanyak yang tercantum
di dalamnya."
"Tidak," kata Monte Cristo sambil melipat kelima lembar
cek tadi. "Ceritera Tuan begitu menakjubkan dan menggairahkan
sehingga saya mau mengalaminya sendiri. Kredit
saya pada Tuan berjumlah enam juta frank dan saya baru
memanfaatkannya sembilan ratus ribu saja. Dengan demikian
saya masih berhak menerima pinjaman dari Tuan
sebanyak lima juta seratus ribu lagi. Saya ambil cek yang
lima ini yang saya percaya akan segera dibayar bank begitu
mereka melihat tandatangan Tuan. Ini, saya serahkan
kwitansi sebanyak enam juta frank yang sudah saya buat di
rumah tadi. Sebenarnya saya datang sebab sangat
memerlukan uang hari ini."
Monte Cristo memasukkan kelima lembar cek itu ke
dalam sakunya sedang tangan yang sebelah lagi
menyerahkan kwitansi kepada Danglars.
"Apa! Tuan mau mengambil cek itu?" tanyanya gugup.
"Maaf uang itu saham rumah sakit yang harus saya bayar
hari ini."
"Ah, kalau begitu lain lagi soalnya," kata Monte Cristo
"Saya tidak mutlak memerlukan cek yang ini. Tuan
dapat memberi saya yang lain. Saya mengambil ini hanya
agar dapat mengatakan: sebelum lima menit Tuan Danglars
dapat membayar saya lima juta frank di tempat saya
memintanya. Orang akan sangat kagum kepada Tuan
mendengar pernyataan saya itu. Ini saya kembalikan, dan
harap diberi yang baru."
Danglars mengulurkan tangannya untuk menerima kembali
cek itu, tetapi tiba-tiba berubah pendiriannya dan
berusaha keras untuk menguasai diri. Lalu dia tersenyum
dan berkata, "Saya pikir, kwitansi Tuan sama nilainya
dengan uang tunai."
"Tentu saja- Apabila Tuan di Roma, firma Thomson and
French akan membayar Tuan secepat Tuan membayar saya
. . . Apakah ini berarti saya boleh mengambil cek ini?"
"Ya, silakan," jawab Danglars sambil mengusap peluh di
wajahnya yang seakan-akan memancar dari akar-akar
rambut kepalanya.
Monte Cristo memasukkan kembali kelima lembar cek
itu ke dalam saku bajunya dengan air muka yang tidak bisa
berarti lain kecuali, "Pikirlah kembali . . masih banyak
waktu untuk merubah pikiran."
"Tidak, tidak, silakan ambil saja," kata Danglars yang
memahaminya. "Tuan tentu mengerti, bagaimana
kebiasaan seorang bankir. Saya bermaksud membayarkan
cek itu kepada rumah sakit. Untuk sejenak saya merasa
bahwa saya merampok mereka kalau tidak memberikan cek
yang sudah disediakan untuk mereka itu, rasanya seakanakan
setiap frank berbeda dengan frank yang lain. Maafkan
perasaan saya itu." Lalu dia tertawa terbahak-bahak, namun
jelas dipaksakan.
"Saya mengerti dan dapat memaafkan.” kata Monte
Cristo berlagak berlapang dada.
"Saya masih harus membayar seratus ribu frank lagi,
bukan?"
"Ah, tidak mengapa. Jumlahnya tidak berarti. Tuan
boleh menahannya, dan kita anggap perhitungan kita sudah
beres."
"Sungguh-sungguhkah, Tuan?"
"Saya tidak pernah bergurau dengan seorang bankir,"
jawab Monte Cristo dengan air muka sungguh-sungguh,
hampir-hampir seperti orang yang kurang sopan.
Ketika Monte Cristo hendak ke luar, seorang pelayan
masuk memberitahukan kedatangan Tuan de Boville, pengurus
rumah sakit.
Wajah Danglars pucat dan cepat dia meminta maaf
kepada Monte Cristo. Monte Cristo saling menghormat
dengan Tuan de Boville ketika mereka berpapasan di ruang
tunggu. Ia langsung pergi ke bank.
Dengan menahan perasaannya Danglars menyambut
tamunya. Di bibirnya tersimpul senyum yang dipaksakan.
"Bagaimana kabarnya, Tuan? Benarkah perkiraan saya
Tuan datang untuk mengambil kembali uang tunai?"
"Tepat sekali. Rupanya Tuan telah menerima surat saya
kemarin."
"Benar"
"Sukur. Ini tanda terima."
"Tuan de Boville," kata Danglars, "saya terpaksa meminta
kesediaan Tuan untuk menunggu sampai besok, oleh
karena Count of Monte Cristo, orang yang tentu Tuan lihat
tadi, telah mengambil cek yang sebenarnya saya sediakan
untuk Tuan."
"Apa maksudnya?"
"Count of Monte Cristo membuka kredit pada saya tanpa
batas, kredit yang dijamin oleh firma Thomson and French
di Roma. Hari ini tiba-tiba saja ia datang untuk meminta
lima juta frank sekaligus. Saya harus memenuhinya. Tuan
tentu dapat memahami, saya khawatir bank akan bertanyatanya
kalau saya mengeluarkan sepuluh juta dalam sehari."
"Maksud Tuan," kata Tuan de Boville sama sekali tidak
percaya. "Tuan memberikan lima juta frank kepada orang
yang baru saja meninggalkan rumah ini dan mengangguk
kepada saya seakan-akan dia mengenal saya?"
"Ini tanda terimanya. Boleh Tuan lihat."
Tuan de Boville menerima kwitansi dan membacanya
dengan rasa kagum.
"Saya mesti menemuinya untuk meminta sumbangan
untuk rumah sakit. Saya akan mencontohkan perbuatan
Nyonya de Morcerf dan putranya."
"Mengapa dengan mereka?"
"Mereka menyerahkan seluruh kekayaannya kepada
rumah sakit."
"Kekayaan apa?"
"Kekayaan mendiang Jendral de Morcerf."
"Mengapa mereka lakukan itu?"
"Mereka mengatakan tidak mau memiliki kekayaan yang
diperoleh dengan jalan yang tidak terhormat."
"Bagaimana mereka akan hidup selanjutnya?"
"Ibunya bermaksud tinggal di daerah, sedangkan putranya
mendaftarkan diri masuk tentara . . . Tetapi, baik kita
kembali kepada persoalan kita."
"Baik," jawab Danglars dengan nada yang wajar sekali.
"Apakah Tuan memerlukannya segera?"
"Tentu saja .. . pembukuan kami akan diperiksa besok."
"Besok . . . masih cukup waktu. Jam berapa?"
"Jam dua siang."
"Tuan dapat menyuruh orang mengambilnya jam dua
belas."
Tuan de Boville mau tak mau menyetujuinya sambil
meraba-raba dompetnya.
"Sebentar," kata Danglars tiba-tiba, "ada jalan yang lebih
baik. Tanda terima dari Count of Monte Cristo sama saja
nilainya dengan uang tunai. Tuan bawa ini kepada
Rothschild atau Lafitte, mereka akan mau menerimanya
dan menukarnya dengan uang tunai;"
"Bukankah tanda terima ini hanya dapat diuangkan di
Roma?"
"Mereka akan mau. Tetapi tentu saja ada biayanya. Mereka
akan memotong lima sampai enam ribu frank."
"Lebih baik saya menunggu sampai besok. Aneh juga
pikiran Tuan itu."
"Terserah. Saya akan bayar besok."
"Tidak akan gagal?"
"Rupanya Tuan berolok-olok. Suruh saja orang datang
besok ke mari dan saya akan memberitahu bank saya."
"Saya akan datang sendiri."
"Lebih baik lagi. Artinya saya akan mendapat kehormatan
bertemu lagi dengan Tuan." Mereka berjabatan
tangan.
"Oh" kata de Boville tiba-tiba, "apakah Tuan tidak turut
menghadiri penguburan Nona de Villefort? Saya tadi
berpapasan dengan iringan jenazahnya ketika sedang ke
mari."
"Tidak, saya masih merasa malu karena peritiwa Benedetto
itu. Saya mau menghindari masyarakat sebanyak
mungkin untuk sementara ini.."
"Tuan boleh yakin, setiap orang menaruh simpati kepada
Tuan terutama kepada putri Tuan."
"Eugenie yang malang!" kata Danglars dengan keluhan
yang dalam. "Apakah Tuan tidak mendengar bahwa dia
bermaksud masuk biara?"
"Tidak."
"Begitulah keadaannya. Sehari setelah peristiwa itu dia
memutuskan pergi dengan seorang kawan karibnya yang
sudah menjadi biarawati. Dia bermaksud mencari biara
yang terbaik di Italia atau di Spanyol."
"Oh, mengharukan sekali."
Tuan de Boville meminta diri, dengan mengucapkan
kata-kata simpati yang tulus ikhlas.
Begitu tamunya pergi Danglars berkata dengan berapiapi,
"Tolol! Aku sudah jauh dari sini kalau engkau datang
besok!"
Dia mengunci pintu, mengeruk uang tunai dari laci -
mejanya yang berjumlah sekitar lima puluh ribu frank,
membakar beberapa lembar kertas tertentu, membereskan
yang lain-lainnya, lalu menulis surat dengan alamat:
"Kepada Nyonya Danglars."
Setelah itu dia mengambil paspornya dan memeriksanya.
"Bagus, masih berlaku untuk dua bulan lagi."
BAB LXII
SEBAGAI orang Paris asli. Tuan de Villefort
menganggap bahwa hanya pekuburan Pere Lachaise sajalah
yang patut menerima jenazah orang-orang terhormat di
Paris. Hanya di situlah menurut anggapannya arwah orangorang
berpendidikan tinggi akan merasa betah. Sebab itu
sejak dahulu dia sudah membeli tempat yang sudah ditulisi
dengan "Saint-Meran dan Villefort." Ini adalah permintaan
terakhir dari Renee, ibu Valentine.
Iringan jenazah Valentine terutama sekali diikuti oleh
anak-anak muda yang merasa terharu dan terkejut oleh
kematian Valentine yang mendadak, gadis cantik, sopan
dan menarik, gugur dalam masa remaja yang menyegarkan.
Ketika iringan sampai di perbatasan kota, sebuah kereta
berkuda empat, menyusulnya. Monte Cristo keluar dari
kereta itu lalu menggabungkan diri. Chateau-Renaud dan
Beauchamp segera melihatnya. Mereka menghampiri dan
berjalan di sampingnya.
"Apakah Tuan-tuan melihat Maximilien Morrel?"
"Tidak," jawab Chateau-Renaud. "Kami pun bertanyatanya
mengapa dia tidak kelihatan sejak iringan ini akan
berangkat."
Monte Cristo diam, tetapi matanya berkeliling. Dia tidak
menemukan yang dicarinya sampai iringan itu tiba di
pekuburan. Di sana dia melihat Maximilien berdiri di
bawah sebuah pohon tidak jauh dari pekuburan keluarga
Villefort. Monte Cristo tidak pernah lepas mengawasinya
selama upacara penguburan.
"Itu dia Maximilien!" kata Beuachamp yang baru
melihatnya kepada Debray. "Sedang apa dia di sana?"
"Lihat betapa pucat mukanya," kata Chateau-Renaud.
"Kedinginan barangkali" jawab Debray.
"Bukan karena itu, saya kira," kata Chateau-Renaud lagi.
"Dia sangat perasa."
"Bukankah dia tidak mengenal Nona de Villefort?"
"Benar, tetapi saya ingat pernah melihatnya berdansa
dengan Nona de Villefort sebanyak tiga kali pada suatu
pesta."
'Upacara telah selesai," kata Monte Cristo tiba-tiba.
"Selamat tinggal, Tuan tuan." Dia sudah pergi selagi yang
lain baru bersiap-siap untuk pulang.
Monte Cristo menyembunyikan diri di balik sebuah
kuburan, mengawasi gerak-gerik Maximilien. Anak muda
itu dengan perlahan-lahan mendekati kuburan Valentine
yang sudah sepi ditinggalkan para pengantarnya, lalu
bersimpuh di dekatnya. Dahinya bersandar pada batu nisan.
"Oh, Valentine!"
Hati Monte Cristo terasa pecah mendengar suara yang
sangat mengharukan ini. Dia mendekat, menyentuh bahu
Maximilien dan berkata, "Saya mencarimu, sahabat."
Dia memperkirakan akan mendapat dampratan dan
tuduhan dari Maxinulien karena janjinya menjaga
Valentine akan tetap hidup ternyata meleset. Ternyata dia
keliru. Maximilien berbalik dan berkata dengan tenang
sekali, "Saya sedang berdo'a."
Monte Cristo mengamat-amati wajah Maximilien
dengan cermat untuk beberapa saat. Setelah itu baru dia
yakin. "Mau kau kuantarkan pulang?"
"Tidak, terima kasih."
"Barangkali ada sesuatu yang dapat aku lakukan?”
"Biarkan saya berdo'a,"
Monte Cristo pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Dia
mengambil tempat lain untuk mengawasi Maximilien.
Akhirnya anak muda itu berdiri dan pulang ke kota berjalan
kaki. Monte Cristo menyuruh keretanya pergi, sedang dia
sendiri berjalan mengikuti Maximilien beberapa ratus
langkah di belakangnya.
Lima menit setelah pintu pekarangan rumah di Rue
Maslay tertutup di belakang Maximilien, terbuka lagi untuk
Count of Monte Cristo. Julie sedang berada di kebun
mengawasi Penelon yang secara sungguh-sungguh mau
menjadi tukang kebun yang baik.
"Ah, Count of Monte Cristo!" teriaknya gembira seperti
biasa dilakukan seisi rumah kalau mereka menyambut
kedatangan Monte Cristo.
"Maximilien baru saja pulang, bukan?" tanya Monte
Cristo.
"Ya, saya kira saya melihatnya lewat."
"Maaf, saya harus menemuinya segera. Ada hal penting
yang perlu saya katakan kepadanya."
"Silakan masuk saja," kata Julie. Dia mengikuti tamunya
dengan senyuman yang manis sekali sampai Monte Cristo
tidak kelihatan lagi.
Ketika Monte Cristo datang dekat kamar Maximilien di
lantai tiga dia berhenti dan memasang kuping. Tak ada
suara apa-apa. Pintu kamar itu berkaca sebagian, tetapi Lak
mungkin melihat ke dalam karena tertutup oleh tirai merah
dari dalam. Monte Cristo berpikir sebentar. "Membunyikan
bel?" pikirnya. "Tidak, bunyi bel sering kali mempercepat
datangnya keputusan pada orang yang sedang berada dalam
keadaan seperti Maximilien sekarang." Seluruh badannya
bergetar ketika mengingat kemungkinan itu. Seperti biasa
dia berpikir cepat dan mengambil keputusan cepat juga. Dia
memecahkan kaca pintu dengan sikutnya. Dengan cepat dia
menarik tirai ke samping. Tampak Maximilien sedang
duduk menghadapi meja tulis dengan pena di tangannya.
Maximilien terperanjat bangkit.
"Maaf," kata Monte Cristo, "saya tergelincir dan sikut
saya mengenai kaca. Karena tokh sudah pecah, saya akan
manfaatkan untuk membuka kuncinya. Biar biar saya
lakukan sendiri."
Monte Cristo memasukkan tangannya melalui lobang
kaca, lalu memutar kunci. Maximilien yang jelas sekali
merasa terganggu maju beberapa langkah, lebih banyak
bermaksud menghalangi tamunya masuk daripada untuk
menyambutnya.
"Salah pelayan-pelayanmu," kata Monte Cristo sambil
mengusap-usap sikutnya. "Lantai ini begitu licin seperti
cermin."
"Terluka?" tanya Maximilien dingin.
"Entahlah. Kelihatannya engkau sedang menulis."
"Ya, sorang perjurit pun sekali-kali suka menulis."
Monte Cristo maju lagi ke dalam. Maximilien terpaksa
membiarkannya, tetapi dia mengikutinya dari belakang.
Monte Cristo melemparkan pandangannya ke seluruh
ruangan itu dengan cepat. "Buat apa pistol-pistol ini?" tanya
dia sambil menunjuk dua pucuk pistol yang terletak di meja.
"Saya mau berpergian," jawab Maximilien.
"Maximilien,'' kata Monte Cristo, "mari kita tanggalkan
topeng masing-masing. Engkau jangan menipu aku lagi
dengan ketenanganmu itu, dan aku tidak akan menipumu
lagi dengan kekhawatiran yang membuang-buang waktu.
Engkau tentu mengerti, kalau aku terpaksa mendobrak
kamar seorang kawan tentu aku didorong oleh ketakutan
yang bukan main-main. Maximilien, engkau mau
membunuh diri!"
Maximilien terperanjat. "Dari mana dapat pikiran itu,
Count?"
"Saya ulangi, engkau mau membunuh diri. Inilah
buktinya!" Monte Cristo berjalan ke meja, mengambil surat
yang sedang ditulis yang disembunyikan di bawah kertas
lain. Maximilien bergerak untuk merebutnya, tetapi Monte
Cristo mendahului memegang pergelangan tangannya
dengan kuat sekali.
"Apa salahnya saya membunuh diri?" tanya Maximilien
yang sudah mulai kehilangan ketenangannya. "Siapa yang
berani menghalangi? Kalau saya mengatakan, 'Semua harapan
saya telah musnah, hati telah hancur, ludup sudah
berakhir dan tak ada apa-apa lagi sekelilingku kecuali
kesedihan dan kepedihan,’ siapa yang akan menjawab,
'Engkau keliru?' Beranikah Tuan mengatakan itu, Count?"
"Ya, aku berani" jawab Monte Cristo dengan ketenangan
yang bertentangan sekali dengan kemarahan Maximilien"
"Tuan!" jawab Maximilien keras karena kemarahannya
meningkat. "Tuan telah membujuk saya dengan janji-janji
palsu ketika saya masih mungkin menolong Valentine atau
sekurang-kurangnya melihat dia melepaskan nyawanya
dalam pelukan saya! Tuan berlagak berlaku seperti Tuhan,
padahal Tuan sama sekali tidak mampu memberi penawar
kepada gadis yang kena racun!"
"Maximilien ..”
"Tuan meminta saya membuka topeng, saya telah
melakukannya! Ketika Tuan mengikuti saya ke pekuburan
saya berbicara kepada Tuan dengan sopan karena saya
berhati baik. Tetapi, karena Tuan telah datang ke mari
untuk mencampuri urusan saya dalam kamar ini yang akan
menjadi tempat kuburan saya, dan karena Tuan datang
membawa penderitaan baru pada saat saya mengira dapat
menghabisi semua penderitaan, maka mau tak mau Tuan
harus menyaksikan matinya seorang sahabat!"
Maximilien berusaha melepaskan diri hendak mengambil
pistolnya dibarengi tawa seorang gila, tetapi Monte Cristo,
dengan mata berkilat-kilat mencegahnya sekali lagi dengan
berkata, "Maximilien, jangan bunuh diri!"
"Silakan cegah saya, kalau dapat!" jawab Maximilien,
masih tetap berusaha mengambil pistol, namun tak berdaya
dalam pegangan Monte Cristo yang kuat sekali.
"Aku akan mencegahmu!"
"Siapakah Tuan sebenarnya, sehingga berani berlaku
kasar kepada orang yang merdeka untuk membuat keputussan
sendiri7"
"Siapa aku? Dengarkan, akan kukatakan. Aku adalah
satu-satunya orang dalam dunia ini yang berhak berkata
kepadamu: "Maximilien, aku tidak akan memperkenankan
anak ayahmu mati hari ini,”
"Apa hubungannya dengan ayah saya? Apa sebab Tuan
mencampuradukkan urusan beliau dengan apa yang terjadi
atas diri saya hari ini?"
"Oleh karena aku adalah orang yang menyelamatkan
jiwa ayahmu pada hari beliau berniat membunuh diri, sama
seperti engkau mau bunuh diri pada hari ini. Karena akulah
orangnya yang mengirimkan dompet sutra kepada adikmu
dan mengirimkan kapal Pkaraon kepada ayahmu Karena
aku adalah Edmond Dantes, yang dahulu biasa menimangnimangmu
ketika engkau masih kecil!"
Maximilien mundur karena terperanjat. Seluruh tenaganya
seakan-akan menghilang sehingga dia terjatuh ke lantai.
Tiba-tiba berdiri kembali dan berlari ke luar kamar sambil
berteriak-teriak, "Julie! Julie! Emmanuel! Emmanuel!"
Monte Cristo mencoba mengejarnya, tetapi Maximilien
telah mengunci pintunya dan menahannya dari luar dengan
sekuat tenaga seakan-akan lebih baik mati daripada membiarkan
Monte Cristo membukanya.
Julie dan Emmanuel berlari ke atas mendengar teriakan
MaximOien. Maximilien membuka pintu dan membimbing
mereka masuk; lalu dia berkata dengan suara tertahan oleh
perasaan hati, "Berlutut! Inilah pelindung keluarga kita,
orang yang menyelamatkan jiwa ayah. Tuan ini adalah ..."
Maximilien bermaksud mengatakan 'Edmond Dantes’,
tetapi Monte Cristo mencegahnya dengan menekan
lengannya.
Julie merangkul tangan Monte Cristo, sedang Emmanuel
merangkul tubuhnya, dan Maximilien berlutut di hadapan
Monte Cristo sekali lagi. Pada saat itu, orang yang berhati
baja itu merasa hatinya meleleh dalam dadanya dan seakanakan
segaris sinar meluncur dari tenggorokannya ke dalam
matanya. Dia menundukkan kepala dan menangis.
Ketika Julie sudah agak tenang kembali dari lonjakan
kegembiraan, dia berlari ke bawah untuk mengambil dompet
yang disimpan dalam bola dunia dari kristal.
Sementara itu Emmanuel berkata, "Tuan, Tuan pernah
mendengar kami membicarakan pelindung yang tidak kami
kenal, dan Tuan melihat pula betapa rasa hutang budi kami
kepadanya . .. mengapa Tuan menunggu begitu lama untuk
membukakan rahasia ini?"
"Kawan," jawab Monte Cristo, "mengapa sampai rahasia
ini terbuka sekarang, biarlah tetap menjadi rahasia. Tuhan
adalah saksinya bahwa aku sebenarnya menghendaki
rahasia itu terkubur dalam lubuk hati sampai akhir hidup,
tetapi Maximilien telah mencungkilnya dengan kekerasan
yang saya kira dia pun menyesalkannya sekarang.”
Melihat Maximilien duduk di kursi termenung tanpa
tenaga, Monte Cristo menambah lagi dengan perlahanlahan,
"Perhatikan dia."
"Mengapa?" tanya Emmanuel heran.
"Saya tidak dapat mengatakan mengapa, tetapi perhatikan
saja"
Emmanuel melihat ke seluruh ruangan dan akhirnya dia
menemukan pistol-pistol Maximilien. Dia menatap bendabenda
itu dengan cemas dan perlahan-lahan telunjuknya
menunjuk pistol-pistol itu. Monte Cristo mengangguk.
Emmanuel bergerak ke arah pistol, tetapi Monte Cristo
mencegahnya dengan berkata, "Biarkan saja." Monte Cristo
menghampiri Maximilien lalu memegang tangannya.
Gejolak perasaan yang menggoncangkan batin anak muda
itu kini telah lenyap dan berganti menjadi bingung.
Julie masuk kembali dengan membawa dompet sutera di
tangannya. Butir-butir air mata kegembiraan mengalir di
pipinya.
"Inilah jimat itu," katanya. "Jangan Tuan mengira bahwa
nilainya menjadi berkurang setelah penyelamat yang sebenarnya
telah diketahui."
"Kembalikanlah kepada saya," kata Monte Cristo, pipinya
merah. "Oleh karena engkau tokh sudah mengenal
wajahku, saya ingin dikenang hanya dengan rasa kasih
sayang secara langsung, kalau boleh saya memintanya."
"Oh, jangan!" jawab Julie sambil menekankan dompet
itu ke dadanya. "Jangan Tuan minta kembali . . . saya takut
Tuan akan meninggalkan kami!"
"Dugaanmu benar sekali," jawab Monte Cristo tersenyum.
'Dalam minggu ini juga saya bermaksud
meninggalkan negri ini, negri di mana banyak orang yang
patut mendapat hukuman Tuhan hidup berbahagia, padahal
ayahku sendiri meninggal karena kelaparan dan kesedihan."
Ketika mengucapkan ini, Monte Cristo melirik kepada
Maximilien, dan dia melihat bahwa kalimatnya 'Saya
bermaksud meninggalkan negri ini’ sama sekali tidak berpengaruh
kepada Maximilien yang sedang berada dalam
keadaan bingung tak menentu. Sambil memegang tangan
Julie dan Emmanuel dia berkata dengan kata-kata seramah
seorang ayah kepada anaknya, "Tinggalkan aku sebentar
dengan Maximilien."
Julie melihat kesempatan untuk membawa kembali jimat
yang tidak disebut-sebut lagi oleh Monte Cristo. Dia cepat
menarik suaminya ke luar kamar.
''Maximilien," kata Monte Cristo, menyentuhnya dengan
jari tangannya. "Apakah engkau sudah siap untuk menjadi
laki-laki lagi?"
"Ya, saya sudah siap menderita lagi."
Monte Cristo mengerutkan dahinya. "Maximilien,
engkau hanyut terbawa pikiran-pikiran yang tidak terpuji
oleh agama."
"Oh, jangan khawatir," jawab Maximilien, menengadah
dan tersenyum sedih. "Saya tidak akan lagi mencari
kematian. Tidak, saya mempunyai yang lebih baik dari
pistol untuk menyembuhkan kepedihan ini. . kepedihan itu
sendiri akan mematikan,"
"Sahabat," kata Monte Cristo dengan nada suara yang
sama mengharukannya, "dengarkan baik-baik: Pada suatu
hari, pada saat hilangnya semua harapan, aku pun pernah
mau bunuh diri. Bila pada waktu seperti itu, pada waktu
ayahmu mengarahkan pistol ke pelipisnya, atau ketika aku
menolak semua makanan selama tiga hari, ada orang yang
berkata kepada kami: Tabahkan hati dan berusaha tetap
hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan
merasa berbahagia dan menghargai hidup, kami pasti akan
tersenyum pahit tidak percaya atau menampiknya dengan
marah. Tetapi kemudian, betapa seringnya ayahmu
menyatakan penghargaannya terhadap hidup dan
kehidupan, dan betapa sering pula aku sendiri . . ."
'Tuan hanya kehilangan kemerdekaan," sela Maximilien,
"dan ayah hanya kehilangan kekayaan, tetapi saya
kehilangan Valentine!"
"Perhatikan aku, Maximilien," kata Monte Cristo dengan
air muka yang begitu mengesankan yang dalam banyak
kejadian begitu berwibawa sehingga orang yang melihatnya
tidak mampu menentangnya. "Tak ada air mata dalam
mataku, tak ada rasa sakit dalam hatiku dan tak ada
kegelisahan dalam perangaiku, padahal sekarang aku
sedang menyaksikanmu, engkau yang sangat kucintai
seperti anakku sendiri, menderita. Bukankah itu berarti
penderitaan itu sendiri berarti hidup. Bukankah itu berarti
bahwa masih ada sesuatu rahasia di balik itu? Aku minta
engkau percaya, Maximilien, kalau aku memintamu untuk
tetap hidup, berarti aku sendiri yakin bahwa pada suatu hari
kelak engkau akan berterima kasih karena aku telah
menolong hidupmu."
"Oh. Tuhan! Apa yang Tuan katakan? Rupanya Tuan
tidak pernah jatuh cinta."
"Anakku!”
"Saya berbicara tentang cinta sejati," lanjut Maximilien.
"Saya telah menjadi perjurit sejak menginjak dewasa. Saya
telah hidup sampai berumur dua puluh sembilan tahun
tanpa pernah jatuh cinta karena Selama itu cinta tidak
berarti apa-apa bagi saya. Semenjak bertemu dengan
Valentine, kebahagiaan saya sempurna, tak ada bandingannya.
Suatu kebahagiaan yang terlampau agung, terlampau
sempurna untuk dapat ditemukan dalam dunia ini.
Sekarang setelah dia pergi, tak ada lagi yang tersisa bagi
saya kecuali hati yang luluh dan harapan yang punah."
"Sudah aku katakan agar engkau tetap berpengharapan,
Maximilien."
"Harap hati-hati, Count Tuan bermaksud membujuk
saya lagi, dan kalau Tuan lakukan itu, saya akan kehilangan
akal sehat saya karena mungkin Tuan akan membuat saya
percaya bahwa saya akan bertemu lagi dengan Valentine."
Monte Cristo tersenyum.
"Sekali lagi saya harap Tuan berhati-hati!" kata Maximilien,
meluncur dari ketinggian semangat ke kedalaman
putus asa. "Tuan tidak lebih dari seorang ibu yang baik,
atau barangkali seorang ibu yang mementingkan diri
sendiri, yang membujuk-bujuk anaknya yang sedang
menangis dengan kata-kata manis oleh karena tangisnya
sudah menjengkelkan. Tidak saya keliru dengan meminta
Tuan berhati-hati. Jangan khawatir. Saya akan mengubur
kepedihan itu dalam lubuk hati, dan saya akan
merahasiakannya demikian sempurna sehingga Tuan tidak
akan menyangka saya bersedih hati. Selamat tinggal,
kawan."
"Tidak, Maximilien, tidak ada selamat tinggal. Mulai
sekarang engkau tinggal bersamaku dan dalam tempo
seminggu kita akan meninggalkan Perancis bersama-sama."
"Dan Tuan akan tetap meminta saya untuk tidak berputus
asa?"
"Ya, karena aku tahu bagaimana menyembuhkanmu."
"Count, Tuan membuat saya lebih sakit kalau hal itu
mungkin. Tuan melihat kesedihan saya sebagai kesedihan
biasa dan Tuan mengira dapat menyembuhkan saya dengan
obat yang biasa pula: bepergian." Maximilien
menggelengkan kepala tak percaya.
"Aku percaya kepada janji-janjiku sendiri," kata Monte
Cristo. "Beri aku kesempatan mencobanya."
"Tuan hanya memperpanjang dukacita saya."
"Apakah hatimu begitu lemah sehingga tidak kuat
memberi kesempatan beberapa hari kepada sahabatmu
membuktikan janjinya? Tahukah engkau apa yang dapat
diperbuat oleh Count of Monte Cristo? Tahukah engkau
bahwa dia menguasai sebagian besar dari kekuatan-kekuatan
duniawi ini? Tahukah engkau bahwa dia mempunyai
kepercayaan yang teguh kepada Tuhan untuk meminta
keajaiban-keajaiban dari Dia yang pernah berkata bahwa
dengan kepercayaan orang dapat menggeserkan sebuah
gunung? Aku minta engkau menunggu keajaiban ini, kalau
tidak . . ."
"Kalau tidak?"
"Aku akan menyebutmu orang yang tak tahu terima
kasih."
"Maafkan saya, Count!"
"Dengarkan, Maximilien. Aku begitu mengasihammti
sehingga apabila aku tidak berhasil menyembuhkanmu
dalam tempo sebulan, aku-sendiri yang akan menghadap’
kanmu kepada pistol ini dan sebotol racun yang paling
mematikan di Italia, racun yang lebih cepat dan lebih
mematikan daripada racun yang digunakan untuk membunuh
Valentine."
"Tuan mau berjanji begitu?"
"Bukan hanya berjanji, melainkan bersumpah!" jawab
Monte Cristo sambil memegang tangan Maximilien.
"Dalam tempo sebidai., demi kehormatan Tuan, apabila
saya tetap tidak tersembuhkan, Tuan akan membiarkan
saya menentukan hidup saya sendiri seperti yang saya
sukai, dan apa pun yang saya iakukan Tuan tidak akan
mengatakan saya tidak tahu terima kasih."
"Tepat sebulan sejak hari ini, dan hari ini adalah hari
keramat. Aku tidak tahu apakah engkau menyadari bahwa
liari ini tanggal lima September. Sepuluh tahun yang lalu,
tepat pada tanggal ini aku menyelamatkan jiwa ayahmu
ketika beliau mau mengakhiri hidupnya."
Maximilien mengambil tangan Monte Cristo lalu menciumnya.
Monte Cristo membiarkannya, seakan-akan dia
menganggap penghormatan itu wajar saja.
"Sebulan sejak hari ini, pada tanggal dan jam yang
sama," lanjut Monte Cristo, "kita akan duduk berhadapan
dengan senjata yang baik dan racun yang nyaman di atas
meja antara kita. Sebagai imbalan, maukah engkau berjanji
akan tetap tabah sampai waktu itu?"
"Saya bersumpah."
Monte Cristo mendekapkan anak muda itu ke dadanya
untuk beberapa lama.
"Sekarang," katanya, "engkau tinggal di rumahku.
Engkau boleh memakai kamar Haydee."
"Haydee? Ke mana dia?"
"Dia sudah berangkat tadi malam. Dia menunggu aku
menyusulnya. Bersiap-siaplah untuk pindah ke Champs
Elysees, tetapi sebelum itu, tolong saya, keluarkan dahulu
dari rumah ini tanpa dilihat orang,"
Maximften mengangguk, lalu menurut seperti anak kecil
. . . atau seperti seorang murid.
BAB LXIII
ALBERT dan ibunya menyewa sebuah kamar di lantai
tiga di sebuah hotel di Rue Saint-Germain-des-Pres. Kamar
lain di lantai kedua disewa oleh seorang laki-laki yang
sangat aneh. Penyewa ini tidak pernah kelihatan wajahnya
baik ketika memasuki maupun ketika keluar dari kamarnya,
bahkan juga tidak oleh penjaga pintu. Ini disebabkan, kalau
musim salju dia selalu membungkus wajahnya dengan
selendang merah, sedang di musim panas ia selalu memalingkan
wajah kalau melalui penjaga.
Kedatangannya selalu teratur. Dia datang menjelang jam
empat sore, tetapi tidak pernah menginap di kamarnya. Dua
puluh menit setelah dia masuk kamar, selalu saja datang
sebuah kereta yang membawa seorang wanita yang
berpakaian hitam atau warna gelap dan selalu memakai
cadar. Setelah melalui penjaga wanita itu biasanya terus
langsung naik tangga dengan langkah-langkahnya yang
ringan tidak bersuara. Tidak ada. orang yang iseng
menanyakan siapa yang hendak dikunjunginya. Oleh sebab
itu pula wajahnya tidak pernah diketahui oleh penjaga yang
dua orang itu Barangkali hanya kedua orang itulah dari
seluruh penjaga hotel di Paris yang mampu menahan diri
tidak mencampuri urusan orang lain.
Wanita itu tidak pernah naik ke tingkat lebih atas dari
lantai dua. Di sana dia mengetuk pintu kamar dengan cara
tertentu, lalu pintu akan terbuka, dan dia segera masuk
kemudian pintu cepat-cepat ditutup rapat-rapat lagi.
Demikian pula caranya mereka meninggalkan hotel.
Dengan tetap bercadar wanita itu selalu keluar lebih dahulu,
naik ke dalam keretanya lalu berangkat, sekali menuju ke
arah sana, lain kali mengambil arah yang lain. Dua puluh
menit kemudian baru yang laki-laki keluar, wajahnya
tertutup selendang atau saputangan, lalu menghilang.
Pada hari Monte Cristo mengunjungi rumah Danglars,
atau pada hari penguburan Valentine, penghuni kamar yang
penuh rahasia ini datang pada jam sepuluh pagi, bukan jam
empat sore. Beberapa saat kemudian, sebuah kereta datang,
dan wanita bensandar itu berlari menaiki tangga ke lantai
dua. Pintu kamar terbuka dan menutup lagi setelah wanita
itu masuk. Tetapi sebelum pintu itu rapat betul wanita itu
sudah berteriak, "Oh, Lucien!"
Mau tak mau penjaga di bawah mendengar teriakan ini.
Baru kali inilah dia mendengar bahwa penyewa kamar itu
bernama Lucien. Namun, sebagai seorang penjaga hotel
teladan ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak
memberitahukan kepada istrinya.
"Ada apa?" tanya laki-laki itu.
"Bisa aku mengharapkan bantuanmu?"
"Tentu saja, engkau tahu itu. Tetapi katakan dahulu ada
apa? Suratmu tadi pagi sangat mencemaskan."
"Lucien, suamiku telah pergi tadi malam."
"Pergi? Tuan Danglars pergi? Ke mana?"
'Tidak tahu."
"Maksudmu, dia pergi untuk selama-lamanya?"
"Aku kira begitu. Dia meninggalkan surat. Ini, baca
saja."
Nyonya Danglars mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya
kepada Debray. Debray menerimanya dan
membaca kalimat: "Kepada istriku yang setia." Tanpa sadar
dia berhenti dan melihat kepada Nyonya Danglars, yang
pipinya menjadi merah padam.
"Baca," katanya
Debray melanjutkan membaca:
Kalau engkau membaca surat ini, engkau sudah tidak
mempunyai suami lagi. Oh, jangan terlampau terkejut dahulu:
engkau tidak mempunyai suami dalam arti kata sama dengan
engkau tidak mempunyai anak lagi. Dengan kata-kata lain, aku
sudah berada di salah satu dari empat puluh jalan yang menuju ke
luar Perancis.
Aku wajib memberi penjelasan, dan engkau adalah wanita
yang dapat memahaminya dengan baik. Tadi pagi aku harus
melakukan pembayaran sebanyak lima juta frank, dan aku
memenuhinya. Tetapi hampir pada saat yang bersamaan,
permintaan lain untuk jumlah yang sama diajukan kepadaku.
Aku menangguhkannya sampai besok. Aku pergi hari ini untuk
menghindari hari esok itu yang akan sangat tidak menyenangkan
bagiku. Engkau tentu mengerti, bukan? Engkau akan dapat
memahaminya karena engkau mengetahui semua persoalanku
seperti aku sendiri. Bahkan sebenarnya, engkau lebih mengetahui
daripada aku sendiri, karena bila ada orang bertanya apa yang
terjadi dengan setengah dari kekayaanku yang pernah
menakjubkan orang, aku tidak akan dapat menjawabnya,
sedangkan engkau aku yakin dapat memberikan jawaban yang
masuk akal.
Pernahkah engkau kagum akan kecepatan kejatuhanku,
Nyonya? Pernahkah engkau merasa heran melihat betapa
mendadaknya emasku mencair dan menguap? Aku mengakui, aku
pun bingung. Aku hanya mengharap mudah-mudahan engkau
masih dapat menemukan beberapa keping dari puing-puing
kehancuranku. Dengan harapan itulah aku pergi, wahai istriku
yang baik dan bijaksana, tanpa sedikit pun merasa mentelantarkanmu.
Engkau masih mempunyai kawan-kawan, puingpuing
yang kumaksud tadi, dan terutama sekali engkau
mempunyai kemerdekaan yang kuberikan lebih cepat.
Sekarang baiklah kutambahkan beberapa penjelasan pribadi.
Sepanjang engkau berusaha untuk kepentingan keluarga kita atau
demi masa depan kita, aku bersedia menutup mata. Tetapi karena
ternyata engkau justru menghancurkan keluarga kita, aku
berkeberatan untuk menjadi sumber kekayaan orang lain. Engkau
memang kaya, tetapi kurang dihormati orang ketika aku
mengawinimu (maafkan karena berbicara terus-terang). Tetapi
karena aku percaya bahwa hanya engkau sendiri yang akan
membaca surat ini aku tak melihat alasan mengapa aku harus
memilih kata-kata ini.
Aku berhasil melipatgandakan kekayaan kita, yang terus
meningkat selama lima belas tahun sampai terjadinya serangkaian
musibah yang sampai sekarang tetap tidak dapat aku pahami.
Yang pasti bukan karena kesalahanku. Sebaliknya engkau
berusaha hanya untuk menambah kekayaanmu sendiri, dan aku
percaya engkau berhasil. Aku tinggalkan engkau sekarang dalam
keadaan seperti ketika aku menemukanmu dahulu, dengan
kekayaan yang lumayan dan nama yang tidak begitu baik. Mulai
hari ini aku pun akan bekerja untuk diriku sendiri. Terima kasih
untuk teladan yang kauberikan kepadaku. Suamimu yang tercinta
BARON DANGLARS
Nyonya Danglars tidak melepaskan pandangannya
kepada Debray selama dia mambaca surat yang panjang
dan pedih itu. Dua kali dia melihat pipi Debray memerah,
padahal laki-laki itu terkenal kuat menguasai diri.
Dengan tenang Debray melipat kembali surat itu dan
diam untuk beberapa lamanya.
"Bagaimana?" tanya Nyonya Danglars.
"Bagaimana?" tanya Debray kembali seperti tak acuh
"Apa pendapatmu sesudah membaca surat itu?"
"Sederhana sekali. Pendapatku, suamimu itu menaruh
sesuatu kecurigaan.”
"Jelas, tetapi hanya itukah pendapatmu?"
"Aku tidak mengerti" jawab Debray dingin.
"Dia sudah pergi . . . pergi untuk selama-lamanya! Dia
tidak akan kembali!”
"Aku kira tidak."
"Tidak, dia tidak akan kembali. Aku cukup
mengenalnya. Dia teguh sekali kalau sudah mengenai
kepentingannya sendiri. Kalau dia-berpendapat aku dapat
berguna baginya, tentu aku sudah dibawanya. Ternyata dia
meninggalkan aku di Paris, berarti perceraian adalah
rencananya selanjutnya. Ini tidak perlu disangsikan lagi,
dan aku merdeka untuk selama-lamanya," kata Nyonya
Danglars dengan air muka mengharap. Tetapi Debray tidak
mengacuhkannya.
"Apa tak ada yang akan kaukatakan?" akhirnya dia
bertanya.
"Aku hanya mempunyai sebuah pertanyaan: apa rencanamu?”
"Justru aku yang mau menanyakan itu kepadamu," kata
Nyonya Danglars, hatinya harap-harap cemas.
"Maksudmu engkau meminta nasihatku?"
"Betul . . . aku minta nasihatmu” jawab Nyonya
Danglars harapannya mulai menipis.
"Karena engkau meminta," jawab Debray masih tetap
dingin, "aku sarankan untuk bepergian.”
"Bepergian!"
"Ya, bepergian. Seperti kata suamimu, engkau kaya dan
merdeka, dan aku pikir menyingkir dari Paris perlu sekali
bagimu setelah mengalami musibah ganda, yaitu putusnya
pertunangan putrimu dan menghilangnya suamimu.
Engkau harus berusaha sedemikian rupa sehingga orang
percaya bahwa engkau ditelantarkan oleh suamimu dan
mengira engkau miskin. Tetaplah di Paris untuk beberapa
minggu dan ceriterakan kepada kawan-kawanmu
bagaimana engkau ditinggalkan oleh suamimu. Mereka
akan menceriterakan-nya kembali kepada yang lain-lain
Setelah itu barulah pergi, dan tinggalkan semua
perhiasanmu. Percayalah, semua orang akan berpihak
kepadamu. Selanjutnya masyarakat akan beranggapan
bahwa engkau benar-benar ditinggalkan kabur dan miskin,
karena hanya akulah yang tahu tentang keadaan
keuanganmu. Dan sekarang aku sudah siap untuk membagi
keuntungan kita sebagai rekan yang jujur.”
Nyonya Danglars mendengar kata-kata ini dengan kecemasan
dan keputusasaan yang setara dengan ketenangan
dan ketidakacuhan Debray.
"Ditinggal kabur!" kata Nyonya Danglars mengulang.
"Ya, aku ditinggal kabur. Orang tak akan menyangsikan
nya." Hanya itulah jawaban yang dapat diberikan Nyonya
Baron yang sudah hilang harapannya untuk menjadi istri
Debray.
"Jangan lupa, engkau ini kaya, kaya sekali" lanjut
Debray sambil mengeluarkan seberkas kertas dari tasnya,
lalu membeberkannya di atas meja. Nyonya Danglars
sedang sibuk menahan debar jantung dan air mata yang
terasa sudah mendesak. Rasa harga dirinya menang, sekalipun
hatinya masih tetap berdebar-debar, namun ia berhasil
menahan air mata.
"Kita sudah bekerjasama selama enam bulan," kata
Debray. "Engkau mulai menurunkan modal seratus ribu
frank. Kita membangun kerjasama ini dalam bulan April
dan mulai bergerak sejak Mei. Dalam bulan Mei kita
mendapat untung empat ratus lima puluh ribu frank. Bulan
Juni keuntungan kita bertambah dengan sembilan ribu.
Bulan Juli kita memperoleh satu juta tujuh ratus frank — ini
dari saham-saham Spanyol itu. Permulaan bulan Agustus
kita merugi tiga ratus ribu,' tetapi pada tanggal lima belas
bulan itu juga kita berhasil meraihnya kembali. Keuntungan
kita sejak permulaan sampai hari kemarin menunjukkan
jumlah dua juta empat ratus ribu frank, atau satu juta dua
ratus ribu untuk masing-masing. Uangmu ada di sini
sekarang. Aku menganggap lebih aman membawanya
selalu daripada menyimpannya di rumah atau
menitipkannya kepada notaris."
Setelah mula-mula membuka lemari, lalu koper, Debray
berkata lagi, "Ini, delapan ratus lembar uang kertas
seribuan, dan ini surat berharga yang dapat ditukarkan
setiap saat. Karena bankirku bukan Tuan Danglars, engkau
boleh yakin bahwa surat ini dapat segera ditukarkan dengan
uang tunai."
Kekayaan yang begitu banyak yang terletak di atas meja,
sama sekali tidak memberikan kesan apa-apa kepada
Nyonya Danglars. Dengan mata kering tetapi hati bengkak
karena sedih, dia mengambil uang itu, lalu memasukkannya
ke dalam tasnya. Setelah itu dia menanti dengan penuh
harap akan kata-kata manis Debray. Namun harapannya
sia-sia.
"Dengan kekayaan itu," kata Debray, "engkau akan
mempunyai penghasilan sebanyak sekitar empat puluh ribu
frank setahun, suatu jumlah yang cukup besar untuk seorang
wanita yang tidak akan berumah tangga sekurangkurangnya
setahun lagi. Jumlah itu akan dapat memenuhi
semua keinginan apa saja yang timbul dalam hatimu."
Tanpa menunjukkan tanda-tanda marah, tetapi juga
tanpa ragu-ragu Nyonya Danglars mengangkat kepala,
membuka pintu lalu berlari ke luar, bahkan juga tanpa
mengucapkan selamat tinggal kepada laki-laki yang memperlakukannya
begitu rupa.
Dengan tenang Debray mengambil buku catatannya, lalu
menuliskan jumlah yang baru dibayarkannya.
Di atas kamar Debray, ada kamar lain yang dihuni oleh
dua orang lain. Mercedes dan Albert.
Mercedes berubah banyak sekali dalam beberapa hari ini
Matanya sudah tidak bercahaya lagi, bibirnya sudah tidak
berhiaskan senyuman lagi, dan kebingungannya
menghilangkan kefasihan bicaranya. Bukan kemiskinan itu
yang mematahkan semangatnya, bukan pula karena
keberanian untuk menanggung kemiskinan, sekalipun tak
dapat disangkal bahwa apa yang berada di sekelilingnya
menunjukkan tanda-tanda kemiskinan. Dinding kamar dilapisi
dengan kertas dinding berwarna abu-abu yang sengaja
dipipih oleh pemilik hotel agar tidak lekas kotor. Perabotan
kamarnya seakan-akan berteriak-teriak meminta perbaikan.
Pendeknya segala apa yang berada dalam kamar itu sangat
tidak menyenangkan bagi orang yang sudah terbiasa dengan
kemewahan dan selera yang tinggi.
Albert berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya
sekarang, tetapi hatinya masih terganggu juga karena masih
ada sisa-sisa kemewahan yang melekat pada dirinya. Dia
menganggap tangannya terlalu putih bersih untuk tidak
mengenal sarung tangan, dan berpendapat sepatunya masih
terlalu mengkilap untuk berjalan kaki sepanjang jalan.
"Ibu," katanya, pada saat Nyonya Danglars
meninggalkan kamar Debray, "mari kita hitung kekayaan
kita. Saya perlu tahu untuk dapat menentukan rencana
saya."
"Jumlahnya, nol," kata Mercedes dengan senyum sedih.
"Tidak? Jumlahnya tiga ribu frank, dan saya kira kita
dapat hidup lumayan dengan jumlah itu."
"Anakku!" Mercedes mengeluh
"Mengapa? Tiga ribu jumlah yang cukup besar. Saya
sudah merencanakan masa depan yang meyakinkan dengan
jumlah itu."
'Terlebih dahulu harus kita tetapkan, apakah kita akan
menerima jumlah yang tiga ribu itu?" tanya Mercedes,
pipinya memerah.
"Saya kira kita sudah sepakat untuk menerimanya,
terutama sekali karena uang itu masih tetap terkubur dalam
kebun rumah di Marseilles. Kita mempunyai bekal yang
memadai untuk bepergian sampai Marseilles. Saya telah
menjual arloji saya seharga seratus frank, dan itu belum
semua . . . apa pendapat Ibu tentang ini?" Albert
mengeluarkan uang kertas seribu frank.
"Dari mana kaudapat itu?"
"Begini, tetapi harap Ibu jangan terkejut. Saya telah
mendaftarkan diri masuk resimen Spahis kemarin. Saya
sadar, sekurang-kurangnya badan saya adalah milik sendiri,
oleh karena itulah kemarin saya menjual diri menjadi
perjurit. Ternyata saya menerima lebih besar daripada yang
saya harapkan," Albert mencoba tersenyum, "Saya akan
dibayar dua ribu frank."
"Jadi, yang seribu ini . . .”
"Baru setengahnya Yang setengahnya lagi akan saya
terima tahun depan."
Dua butir air mata bergulir di pipi Mercedes. "Harga
darahnya?" katanya perlahan-lahan.
"Kalau saya mati terbunuh, benar," jawab Albert tertawa.
"Tetapi saya ingin meyakinkan Ibu bahwa saya akan
berusaha sekuat tenaga untuk tidak terbunuh dalam pertempuran.
Saya- tidak pernah mempunyai gairah hidup
sekuat sekarang. Selain dari itu, coba bayangkan betapa Ibu
akan merasa bangga melihat saya dalam seragam yang
bagus itu! Saya akui, saya memilih resimen Spahis itu
semata-mata karena seragamnya yang gagah."
Mercedes pun mencoba tersenyum.
"Jadi," lanjut Albert, "Ibu mempunyai empat ribu frank.
Dengan uang itu Ibu akan dapat bertahan untuk selama dua
tahun."
"Kaukira begitu?" kata-kata ini meluncur dalam nada
sedih yang benar-benar murni sehingga Albert menangkap
maksud yang sebenarnya. Darahnya tersirap.
Dia memegang tangan ibunya dan menekannya dengan
lembut, lalu berkata, "Ya, Ibu akan tetap hidup."
"Aku akan hidup!" kata Mercedes, semangatnya menaik
lagi. 'Tetapi hendaknya engkau jangan meninggalkanku."
"Ibu," jawab Albert teguh, "Ibu begitu mencintai saya
sehingga Ibu tentu tidak akan mengijinkan saya tetap
menganggur dan tak berguna. Lagi pula saya sudah menandatangani
kontraknya."
"Bertindaklah menurut kemauanmu, anakku, dan aku
akan menyerahkan diri kepada keinginan Tuhan." . "Saya
tidak bertindak menurut kemauan sendiri, Ibu, melainkan
menurut pemikiran dan keperluan. Kita berada dalam
keadaan terdesak. Apa arti hidup buat kita sekarang? Tak
ada. Dan apa arti hidup bagi saya tanpa Ibu. Saya ingin
menegaskan kalau tidak untuk kepentingan Ibu, saya sudah
bunuh diri pada hari saya menolak memakai nama ayah.
Tetapi saya akan tetap mempertahankan hidup kalau Ibu
berjanji untuk tidak putus harapan. Kalau Ibu
mempercayakan kebahagiaan Ibu di masa depan ke dalam
tangan saya, ini akan melipatgandakan kekuatan saya.
Setelah nanti berada di Afrika, saya akan mencoba menghadap
Gubernur Aljajair. Saya akan menceriterakan latar
belakang kita, dan saya akan memohon agar beliau sudi
memperhatikan saya sewaktu-waktu. Kalau behau mau
memperhatikan saya berjuang, dalam enam bulan saja,
mungkin saya sudah menjadi perwira atau menjadi mayat.
Kalau saya menjadi perwira, hidup kita akan terjamin,
karena saya mempunyai cukup uang dan nama baru yang
dapat kita banggakan. Dan seandainya saya gugur ... terserah
kepada Ibu jalan mana yang akan Ibu tempuh untuk
mengakhiri penderitaan."
"Baik, anakku," jawab Mercedes dengan sorot mata
bergairah. "Engkau benar, mari kita buktikan bahwa kita
cukup berharga untuk disayangi orang."
"Ibu dapat berangkat hari ini juga ke Marseilles. Saya
sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan
itu."
"Dan engkau sendiri?"
"Saya masih harus tinggal di Paris untuk dua atau tiga
hari lagi Saya memerlukan surat-surat perkenalan untuk
urusan di Afrika dan keterangan tertentu mengenai negri
itu. Saya akan menyusul kemudian."
"Baik. Kita berangkat saja," kata Mercedes, sambil
melilitkan satu-satunya selendang yang ia bawa.
Albert cepat-cepat membereskan surat-menyuratnya.
Setelah itu dia memanggil pemilik hotel untuk membayar
rekeningnya. Sambil menuntun ibunya dia menuruni
tangga.
Seorang laki-laki yang berjalan di mukanya, menoleh ke
atas karena mendengar gemerisiknya suara pakaian wanita.
"Debray!" Albert berteriak heran.
"Engkau di sini, Morcerf?" jawab Debray tidak kalah
heran. Dia berhenti. Keinginan tahunya lebih kuat dari
pada keinginan tidak dikenal. Lagi pula dia tokh sudah
diketahui. Dalam cahaya remang-remang dia melihat
wanita bercandar hitam di samping Albert. Dia lalu
tersenyum. "Oh, maaf, aku tidak akan mengganggumu."
Albert mengerti maksud Debray. "Ibu!" katanya agak
keras sambil menoleh kepada Mercedes, "ini Tuan Debray,
Sekertaris Kementerian Dalam Negri dan bekas kawan
saya."
"Apa maksudmu dengan bekas kawan?" Debray heran.
"Karena sekarang saya sudah tidak mempunyai kawan
lagi, dan tidak boleh mempunyainya lagi. Aku berterima
kasih sekali karena engkau sudi menyapa.”
Debray memegang tangan Albert erat-erat. "Percayalah
Albert, betapa sedihnya aku mendengar kejadian yang
menimpamu dan betapa aku gembiranya kalau dapat
membantumu.”
'Terima kasih.” jawab Albert tersenyum. "Di tengahtengah
musibah itu kami masih cukup kaya untuk tidak
meminta bantuan siapa pun juga. Kami akan meninggalkan
Paris dengan lima ribu frank di tangan, sisa dari segala
ongkos-ongkos perjalanan dan lain-lain."
Walaupun Debray bukan orang yang mampu menilai
perbandingan-perbandingan yang puitis, namun tak urung
terlintas dalam pikirannya bahwa dalam hotel yang itu,
pernah ada dua orang wanita, yang satu sering dihinakan
orang dan merasa tetap miskin walau mempunyai satu
setengah juta frank di tangannya, sedang yang seorang lagi
ditimpa musibah bukan karena kesalahannya, namun tetap
tabah dan merasa kaya dengan hanya beberapa ribu frank.
Perbedaan ini sangat mempengaruhinya, sehingga dia
terlupa kepada sopan santun. Dia berkata perlahan-lahan
kepada dirinya sendiri, lalu pergi cepat-cepat tanpa pamit.
Pada hari itu, anak buahnya di kantor banyak menderita
karena Debray sering marah-marah tak menentu. Tetapi
pada malam harinya, dia sudah berbahagia lagi karena
berhasil memiliki sebuah rumah indah dan mempunyai
penghasilan lima puluh ribu frank setahun.
Setelah mencium dan dicium anaknya dengan mesra,
Mercedes naik ke atas sebuah kereta pos sekira jam lima
sore.
Seorang laki-laki mengawasi kepergiannya dari sebuah
tempat tersembunyi Sambil mengusap dahinya, laki-laki itu
berkata kepada dirinya sendiri: ''Bagaimana saya harus
mengembalikan kebahagjan yang telah kurenggut dari
kedua orang yang tidak berdosa itu? Semoga Tuhan
menolongku."
BAB LXIV
SALAH satu sudut dalam penjara La Force yang
digunakan untuk menyekap penjahat-penjahat yang paling
berbahaya di sebut Istana Saint Bernard. Tetapi
penghuninya sendiri menyebutnya ‘Sarang Singa’. Mungkin
karena para penghuninya mempunyai gigi tajam untuk
menggigit jeruji-jeruji besi atau kadang-kadang menggigit
para penjaga Tempat itu merupakan penjara dalam penjara.
Dindingnya dua kali lebih tebal dari bagian-bagian lain.
Setiap hari sipirnya memeriksa jeruji-jeruji jendelanya. Para
penjaganya yang bertubuh kekar dan bermata cerdik
semuanya orang pilihan untuk menguasai segala kehebohan
yang mungkin terjadi.
Pekarangannya dikelilingi lagi oleh dinding tinggi tebal.
Di situlah berkeliaran dari pagi sampai malam orang-orang
yang oleh hukum diancam dengan pisau gilyotin.
Seorang anak muda berjalan-jalan dengan tangan di
kantong jasnya. Hampir semua penghuni Sarang Singa
memperhatikannya dengan seksama. Dari pakaiannya,
anak muda ini tampak sebagai orang baik-baik dan
terhormat, seandainya1 berada di luar penjara. Pakaiannya
belum lusuh atau cabik-cabik, dibuat dari bahan yang
mahal. Sepatunya tetap mengkilap berkat kerajinannya
menggosok dengan sudut-sudut saputangannya.
Dari sebuah pintu kecil terdengar orang Berteriak, "Benedetto!”
"Engkau memanggilku?" jawab narapidana itu. "Ke
ruang tamu!"
Andrea terkejut, karena tidak seperti narapidana lain, ia
tidak pernah merasa memanfaatkan kesempatan menulis
surat ke luar untuk meminta dikunjungi.
"Aku rupanya berada di bawah lindungan suatu kekuasaan
tertentu" katanya kepada dirinya sendiri. Segala
galanya membuktikan itu. Kekayaan yang mendadak, kemudahan
mengatasi semua rintangan, keluarga yang tibatiba
muncul, gelar baru dan kesempatan mengawini seorang
putri hartawan. Pelindungku meninggalkanku sekarang, namun
aku kira tak akan lama. "Mengapa aku harus terburuburu?
Ini bisa mempengaruhi niat baik pelindungku. Ada
dua jalan buat dia menolongku: pertama, mengatur pelarian
rahasia dengan penyuapan, atau dengan cara apa pun menekan
hakim untuk memutuskan aku tidak bersalah. Aku
tidak akan berbuat apa pun sebelum aku yakin benar bahwa
aku betul-betul ditinggalkan oleh pelindungku, tetapi..."
Andrea telah merancang suatu rencana yang cerdik seka
li. Anak muda ini berani dalam menyerang dan ulet dalam
mempertahankan diri. Daya tahannya pernah kuat sekali
berkat kekerasan dan kekejaman hidup dalam penjara.
Namun demikian, sedikit demi sedikit alam atau mungkin
juga kebiasaan telah me ubah daya tahannya itu. Dia sudah
mulai merasa tersiksa oleh keburukan pakaian, kekotoran
dan kelaparan. Menunggu dan berharap sudah
dirasakannya berat sekali.
Dalam keadaan demikian ia dipanggil. Hatinya melonjak
gembira. Dia diantar penjaga ke sebuah ruangan yang
dibagi menjadi dua bagian dengan jeruji besi sebagai
penyekat. Di bagian yang sebelah lagi dia melihat
Bertuccio.
"Hallo, Benedetto," katanya dengan nada suara yang
dalam.
"Engkau!" Andrea terkejut, matanya liar ketakutan.
"Engkau tidak mengenalku lagi, Benedetto?"
"Jangan keras-keras!" jawab Benedetto yang tahu bahwa
dinding-dinding berkuping.
"Engkau mau kita berbicara dengan aman?"
"Ya!"
Bertuccio mengambil sesuatu dari dalam sakunya, lalu
berkata kepada seorang penjaga yang kelihatan melalui sebuah
jendela berterali. "Baca ini."
"Apa itu?" tanya Andrea.
"Surat perintah untuk memberimu kamar tersendiri dan
yang membolehkan aku berbicara denganmu di sana.”
"Oh!” Dan segera pula dia berkata kepada dirinya sendiri.
'Pelindung yang tidak dikenal itu! Dia tidak melupakanku.
Bertuccio diutus olehnya.”
Penjaga berunding dengan atasannya. Setelah itu membawa
Andrea ke sebuah kamar di lantai dua yang menghadap
ke pekarangan. Dinding kamar itu putih dikapur,
seperti biasanya dalam sebuah penjara. Untuk Andrea merupakan
suatu kemewahan yang mempesonakan. Di dalamnya
terdapat: tungku api, sebuah ranjang, sebuah kursi dan
meja.
Bertuccio duduk di kursi, Andrea melonjor di ranjang,
dan penjaga itu pergi.
"Nah, apa yang hendak kaukatakan sekarang?" tanya
Bertuccio.
"Dan engkau sendiri?"
"Engkau dahulu."
"Tidak.... engkaulah yang menemuiku."
"Baik. Engkau tidak merubah tingkah lakumu Engkau
telah mencuri dan membunuh."
"Kalau itu yang hendak kaukatakan, sebenarnya engkau
tak perlu bersusah-payah memberiku kamar tersendiri ini.
Aku tahu aku tidak berubah. Tetapi masih banyak yang
tidak kauketahui. Sebab itu lebih baik kita bicara tentang
yang belum kauketahui itu, kalau engkau tidak berkeberatan.
Pertama-tama, siapa yang mengutusmu ke mari?"
"Rupanya engkau kurang sabar, Benedetto!"
"Betul,jangan-kita-membuang-buang-waktu.Siapa-yang
mengutusmu?"
"Tidak ada."
"Bagaimana engkau tahu aku di sini?"
"Aku mengenalimu sebagai laki-laki pesolek yang sombong
ketika engkau sering berkereta sepanjang Champs
Elysees."
"Champs Elysees! Nah kita sudah makin dekat kepada
titik persoalan. Coba ceriterakan tentang ayahku."
"Siapa kaukira aku ini?"
"Ayah tiri, wahai kawan yang baik. Tetapi aku tidak
percaya bahwa engkaulah yang memberiku seratus ribu
frank yang sudah aku habiskan dalam lima bulan. Bukanlah
engkau pula yang tiba-tiba memberiku seorang ayah bangsawan
Italia. Bukan engkau yang memperkenalkan aku ke
dalam masyarakat Perancis dan sebuah pesta makan di
Auteuil. Dan aku kira bukan engkau pula yang mendukung
aku dengan dua juta frank, ketika aku akan kawin dengan
anak hartawan. Sayang sekali batal karena kecelakaan."
"Apa yang mau engkau dengar?" tanya Bertuccio.
"Karena engkau mengatakan Champs Elysees, mulailah
dari sana,"
"Maksudnya?"
"Ada seorang hartawan tinggal di jalan Champs Elysees
itu."
"Di mana engkau membunuh dan merampok?" "Ya, aku
kira begitu."
"Engkau berbicara tentang Count of Monte Cristo.
Betul?"
"Tepat sekali. Sekarang tolong katakan, apakah aku
harus merangkul dan mendekapnya sambil berkata: 'Ayah!
Ayah!?"
"Jangan bergurau," jawab Bertuccio tenang, "dan jangan
lagi berani berkata begitu."
"Mengapa?" tanya Andrea, sedikit terkejut melihat dan
mendengar ketenangan Bertuccio.
"Oleh karena Count of Monte Cristo orang yang terlalu
diberkahi untuk menjadi ayah seorang penjahat sepertimu "
"Kata-kata yang sedap, tetapi... . "
"Akan kubuktikan dengan lebih daripada kata-kata,
kalau engkau tidak hati-hati."
"Mengancam rupanya! Aku tidak takut! Aku katakan..."
"Engkau mengira berhadapan dengan orang kerdil seperti
dirimu sendiri." Bertuccio berbicara dengan ketenangan dan
air muka yang meyakinkan sehingga menyebabkan Andrea
bingung dan takut. "Engkau berada dalam genggaman
tangan yang mengerikan, Andrea. Tangan itu bersedia
melepaskanmu. Manfaatkanlah itu. Tetapi jangan
mempermainkan tangan yang sekarang dengan sengaja melemahkan
pegangannya, yang segera akan menyergapmu
lagi kalau engkau mengganggu kebebasan bergeraknya."
"Aku ingin tahu siapa ayahku!" tanya anak muda yang
keras kepala itu. "Dan aku akan mencarinya sampai
ketemu, apa pun yang harus terjadi. Siapa ayahku?”
"Untuk itulah aku datang ke mari."
''Ah!" matanya berkilat gembira.
Tepat saat itu pintu terbuka dan seorang penjaga masuk.
"Maaf, Tuan," katanya kepada Bertuccio. "Jaksa pemeriksa
sudah menunggu anak muda ini."
"Aku akan kembali besok," kata Bertuccio.
Andrea mengulurkan tangannya untuk salaman, tetapi
Bertuccio tetap menyimpan tangannya di sakunya.
Andrea memaksa diri untuk tersenyum, tetapi dia sangat
terpengaruh oleh ketenangan Bertuccio yang mengherankan
itu.
"Mungkinkah aku keliru?" pikirnya. "Kita lihat saja"
Lalu dia berkata keras kepada Bertuccio, "Sampai besok."
"Sampai besok” kata Bertuccio.
BAB LXV
VILLEFORT belum bertemu lagi dengan ayahnya sejak
meninggalnya Valentine. Selama ini dia mengunci diri
mempersiapkan segala sesuatu untuk mengadili perkara
pembunuhan Caderousse. Peristiwa ini, seperti juga peristiwa-
peristiwa lainnya di mana nama Count of Monte Cristo
terlibat, selalu menarik perhatian masyarakat Paris. Sebenarnya,
bukti yang ditemukan itu tidak terlampau meyakinkan,
oleh karena hanya berupa secarik kertas dengan
beberapa kalimat yang ditulis oleh pelarian narapidana yang
lagi sekarat, menuduh kawan sepelariannya. Mungkin saja
tuduhan itu hanya didasarkan kepada keinginan membalas
dendam belaka. Hanya Villefort sendiri yang percaya bahwa
Benedetto benar bersalah.
Pengadilan akan mulai bersidang tiga hari lagi, berkat
ketekunan kerja Villefort. Valentine belum lama dikuburkan,
sehingga orang tidak merasa heran melihat Villefort
terserap oleh pekerjaannya, oleh karena hanya pekerjaan
itulah yang dapat mengalihkan kesedihannya.
Karena merasa letih dan pikirannya pun sudah terasa
berat, ia keluar berjalan-jalan ke kebun. Dari kebun itu dia
melihat salah satu jendela kamar Noirtier masih terbuka.
Rupanya Noirtier sedang menikmati sinar terakhir matahari
musim panas.
Pandangan Noirtier diarahkan kepada sesuatu, air mukanya
menunjukkan kebencian dan ketidak sabaran. Villefort
mengikuti arah pandangannya, ingin mengetahui siapa
yang menjadi sasaran mata ayannya itu. Di bawah
serumpun pepohonan dia melihat istrinya sedang duduk
membaca di bangku. Sewaktu-waktu dia berhenti membaca
untuk tersenyum kepada Edouard atau melemparkan
kembali bola yang terus-menerus dilemparkan anaknya dan
dalam rumah ke kebun.
Wajah Villefort menjadi pucat, sebab dia mengerti pikiran
Noirtier. Tiba-tiba pandangan Noirtier berpindah dari
istrinya kepada dirinya. Sekarang Villefortlah yang harus
menerima pancaran mata kebencian itu. Perlahan-lahan dia
berjalan menuju rumah. Dia dapat merasakan pandangan
ayahnya yang senantiasa mengikutinya. Wajah Noirtier
menengadah seakan-akan dia hendak mengingatkan Villefort
kepada janjinya.
"Sabarlah, Ayah," kata Villefort yang sudah berdiri di
bawah jendela kamar Noirtier. "Sabarlah untuk sehari lagi
saya akan tepati janji saya."
Tampaknya Noirtier menjadi sedikit tenang mendengar
ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedang
Villefort dengan paksa melepaskan kancing lehernya karena
terasa sangat mencekik. Setelah itu mengusap dahi, lalu
kembali ke kamar kerjanya.
Pada malam itu, sesuai dengan kebiasaannya, Villefort
lambat pergi tidur. Dia bekerja sampai jam lima pagi, menelaah
kembali laporan-laporan tentang pemeriksaan kejaksaan
terhadap Benedetto dan mempelajari lagi dengan seksama
pernyataan para saksi. Setelah itu, menyempurnakan
dakwaan yang akan dibacanya. Dakwaan ini merupakan
yang paling baik yang pernah dibuatnya. Dia tertidur
sebentar, tetapi segera terbangun kembali karena kelap-kelip
lampu yang hampir habis minyaknya. Dia berjalan ke
jendela dan membukanya. Cahaya kemerah-merahan telah
terbit di kaki langit. Udara yang lembab merasuk kedalam
dirinya, dan pikirannya menjadi segar kembali.
"Hari ini," katanya memaksakan diri, "orang yang memegang
pedang hukum harus menebas siapa saja yang
bersalah.”
Tanpa disadarinya pandangannya berpindah ke arah
jendela kamar Noirtier. Tirainya masih tertutup namun
bayangan wajah ayahnya masih tetap segar sehingga tanpa
disadarinya juga dia berkata seakan-akan melihat pancaran
mata ayahnya yang penuh ancaman. "Jangan khawatir,"
katanya.
Dia berjalan hilir-mudik dalam ruang kerjanya beberapa
kali, untuk akhirnya merebahkan diri di kursi panjang tanpa
mengganti pakaian dahulu. Bukan semata-mata untuk tidur,
melainkan hanya untuk melemaskan otot-otot yang sudah
tegang.
Lambat-laun terdengar kehidupan dalam rumah itu. Dari
kamar kerjanya Villefort mendengar pintu tertutup dan
terbuka, bunyi bel dari kamar istrinya memanggil pelayan
dan teriakan pertama anaknya, Edouard, yang bangun dengan
riang seperti layaknya anak-anak seusia dia.
Villefort membunyikan bel. Pelayannya yang baru masuk,
mengantarkan koran pagi dan secangkir coklat panas.
"Apa itu?" tanyanya.
"Coklat panas, Tuan."
"Aku tidak memintanya. Siapa yang menyuruh?"
"Nyonya, Tuan. Beliau mengatakan sidang pengadilan
yang akan datang mungkin sekali melelahkan Tuan, padahal
Tuan memerlukan sekali kekuatan."
Pelayan itu meletakkan cangkir di atas meja, lalu keluar
lagi. Villefort memandang cangkir itu dengan air muka
kecut, tetapi tiba-tiba mengambilnya dan menghabiskannya
sekali reguk. Seakan-akan dia mengharapkan coklat itu berisi
racun, seakan-akan dia hendak menjemput kematian
untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang lebih berat
dari mati. Dia berdiri, lalu berjalan lagi bolak-balik. Pada
wajahnya tersimpul senyuman yang sangat mengerikan.
Coklat itu tidak beracun, dan Villefort tidak merasakan
apa-apa.
Waktu makan siang tiba, tetapi dia tidak hadir di meja
makan. Pelayannya masuk dan berkata, "Nyonya
menyuruh saya memberitahu bahwa sudah jam sebelas dan
sidang akan dimulai pada jam dua belas."
"Lalu?"
"Nyonya sudah siap dan menanyakan apakah beliau
boleh turut?"
"Ke mana?"
"Ke pengadilan."
"Mengapa?"
"Nyonya mengatakan beliau ingin sekali menghadirinya.
"Ah!" jawab Villefort dengan nada yang keras. "Nyonya
mau ikut?"
Pelayan itu mundur lalu berkata, "Bila Tuan hendak pergi
sendiri, saya akan sampaikan kepada Nyonya."
Untuk sejenak Villefort tidak menjawab, menggarukgaruk
pipinya yang pucat. "Katakan. kepada Nyonya,"
akhirnya dia berkata, "bahwa aku ingin bicara dan supaya
beliau menunggu di kamarnya."
"Baik, Tuan."
"Setelah itu kau kembali lagi untuk mencukur dan membantu
aku berpakaian."
"Baik, Tuan."
Pelayan pergi, kembali lagi tidak lama kemudian, mencukur
Villefort dan membantu mengenakan pakaian berwarna
gelap. Setelah selesai, baru dia berkata, "Nyonya
mengatakan beliau menunggu bila Tuan telah selesai berpakaian."
"Aku pergi sekarang."
Villefort berhenti di muka pintu kamar istrinya menghapus
dahulu keringat yang mengucur di dahi. Pintu dibukanya.
Nyonya de Villefort sedang duduk di atas sebuah
bangku rendah berbantal, melihat-lihat dengan kesal koran
yang telah disobek-sobek anaknya sebelum dia sempat
membacanya. Dia sudah siap untuk bepergian. Topinya
terletak di kursi sebelahnya dan sarung tangan sudah dikenakannya.
"Ah! Wajahmu pucat sekali." Nada suaranya wajar dan
tenang. "Rupanya engkau bekerja semalam suntuk lagi
Boleh aku ikut bersamamu, atau aku berangkat dengan
Edouard?"
"Edouard!" kata Villefort kepada anaknya dengan nada
memerintah. "Pergi bermain di luar. Aku mau bicara dengan
ibumu."
Edouard menengadah dan memandang kepada ibunya.
Karena ibunya tidak memberi isarat apa-apa, dia meneruskan
lagi perbuatannya mematah-matahkan kepala serdadu
timahnya.
"Edouard!" teriak Villefort, begitu keras sehingga anak
itu bangkit terkejut. "Kau dengar? Keluar!"
Anak yang tidak biasa menerima perlakuan seperti itu
menjadi pucat. Sukar dikatakan apakah karena marah atau
karena takut. Ayahnya mendekatinya, memegang tangannya
lalu mencium dahinya, "Bermain sebentar di luar,
anakku!"
Edouard meninggalkan kamar. Villefort mengunci pintunya.
"Apa artinya semua ini?" tanya wanita muda itu. Matanya
menatap tepat ke wajah suaminya sambil mencoba
tersenyum.
"Di mana engkau menyimpan racun itu?" Villefort
bertanya langsung. Dia berdiri di antara istrinya dan pintu.
Menerima pertanyaan yang tiba-tiba dan menakutkan
itu, perasaan Nyonya de Villefort tak ubahnya seperti
perasaan seekor burung kecil melihat rajawali yang menyudutkannya
untuk menerkam. Suara yang bukan teriakan
dan bukan pula keluhan terlontar dari dalam dadanya:
"Aku .. Aku tidak mengerti."
"Aku bertanya," kata Villefort dengan ketenangan yang
mengherankan, "di mana engkau menyembunyikan racun
yang kaugunakan untuk membunuh kedua bekas mertuaku,
Barrois dan anakku Valentine."
"Oh! Apa yang kaukatakan?"
"Engkau harus menjawab, bukan bertanya."
"Apakah saya berhadapan dengan suami sendiri atau
dengan seorang jaksa?" tanya Nyonya de Villefort terbatabata.
"Dengan jaksa, Nyonya, dengan jaksa!"
"Oh! Oh!" Hanya itu yang dapat keluar.
"Engkau belum menjawab, Nyonya!" teriak penanya
yang menakutkan itu. Lalu dia berkata lagi dengan senyuman
yang lebih menakutkan daripada amarahnya. "Tentu
saja engkau tidak dapat menjawab, tetapi juga tidak menyangkal.
Dan engkau tidak akan dapat menyangkalnya."
Villefort mengarahkan tangannya ke tubuh istrinya
seakan-akan hendak menerkamnya atas nama keadilan.
"Engkau melaksanakan kejahatanmu dengan ketrampilan
yang mengagumkan. Orang tidak akan pernah menyangkamu
berbuat demikian. Sejak kematian Nyonya de Saint-
Meran aku sudah tahu ada pembunuhan dalam rumah ini.
Dokter d'Avrigny memberitahu. Setelah pembunuhan Barrois,
kecurigaanku . . . semoga Tuhan memaafkanku ....
jatuh kepada seorang bidadari. Tetapi sesudah Valentine
sendiri mati aku sudah tidak ragu-ragu lagi demikian pula
yang lain sama yakinnya seperti aku. Sudah saatnya sekarang
kejahatanmu dibongkar di muka umum. Seperti aku
katakan tadi aku bicara tidak sebagai suamimu, melainkan
sebagai jaksa."
Wanita muda itu menyembunyikan mukanya di balik
kedua telapak tangannya. "Oh, aku ... aku mohon, jangan
percaya…"
"Rupanya engkau seorang pengecut juga!" kata Villefort
dengan nada menghina. "Memang aku sudah lama tahu,
bahwa peracun selalu seorang pengecut. Walau demikian
engkau masih mempunyai keberanian untuk membunuh
tiga orang dan menyaksikan mereka mati di depan matamu."
"Tidak! Tidak!"
"Dengan darah dingin engkau telah menghitung detikdetik
terakhir empat orang yang mati tersiksa oleh tanganmu,"
lanjut Villefort dengan perasaan benci yang sudah meningkat
"Engkau telah merancang rencana jahatmu dengan
ketepatan yang mengagumkan. Tetapi aku sangsi apakah
engkau telah siap juga menghadapi akibat dari perbuatanmu
itu. Aku harap saja masih. Engkau mesti masih mempunyai
persediaan racun lain, yang lebih sedap tetapi lebih keras
daripada yang telah kaugunakan, untuk memungkinkan
engkau menghindari hukuman yang patut dijatuhkan
kepadamu. Aku harap engkau masih punya persediaan itu,"
Nyonya de Villefort menjatuhkan diri berlutut di muka
suaminya.
"Aku tahu, aku tahu, engkau mengaku. Tetapi pengakuan
kepada jaksa pada detik-detik terakhir di mana sudah
tidak mungkin menyangkal lagi, tidak akan dapat menghapuskan
hukuman.”
"Hukuman!" teriak Nyonya de Villefort. "Sudah dua kali
engkau menyebut kata itu"
"Apakah engkau mengira akan terlepas dari hukuman
karena engkau istri seorang laki-laki yang berkewajiban menuntut
hukuman itu atas nama hukum? Tidak! Hukuman
mati telah menanti setiap peracun, siapa pun dia orangnya.”
Nyonya de Villefort berteriak mengerikan, wajah dan
sinar matanya menunjukkan ketakutan yang sangat.
"Jangan takut" kata Villefort menenangkan. "Aku tidak
akan menghinamu di muka umum, sebab itu berarti aku
menghinakan diriku sendiri. Tidak. Kalau engkau tadi
memperhatikan kata-kataku, engkau tentu mengerti bahwa
engkau tidak dapat mati di tiang gantungan."
"Aku tidak mengerti maksudmu," tanya wanita yang
sudah hancur itu.
"Maksudku, bahwa istri seorang jaksa yang terkemuka di
Paris tidak boleh menodai suami dan anaknya dengan
kejahatannya."
"Tidak! Tidak!"
"Baik kalau begitu, itu berarti tindakan yang tepat sekali
dari pihakmu. Aku berterima kasih untuk itu.”
'Terima kasih? Untuk apa?"
"Untuk yang kaukatakan baru saja."
"Apa kataku? Aku pusing ... Aku sudah tidak mengerti
apa-apa lagi. Oh Tuhan, Tuhan!"
"Engkau tidak menjawab pertanyaanku: ‘Di mana racun
itu'?"
Nyonya de Villefort mengangkat kedua tangannya.
"Tidak! Tidak!" teriaknya. "Engkau tentu bukan menghendaki
aku meminumnya."
"Yang tidak aku kehendaki engkau mati di tiang gantungan.
Mengerti?"
"Kasihanilah aku!"
"Yang aku kehendaki hukum ditegakkan," kata Villefort
tegas. "Aku dilahirkan untuk menghukum orang bersalah,"
katanya lagi dengan air muka yang keras. "Aku akan menggiring
setiap wanita berdosa, sekalipun dia seorang ratu,
langsung kepada algojo. Tetapi terhadapmu, aku akan berlaku
lunak. Kepadamu aku hanya berkata, 'engkau masih
mempunyai persediaan racun itu, bukan?’"
"Maafkan aku! Biarkan aku tetap hidup!"
“Pengecut!"
"Ingatlah bahwa aku istrimu."
"Engkau pembunuh."
"Atas nama Tuhan ..,.”
"Tidak!"
"Atas nama cinta yang telah kauberikan padaku ..”
"Tidak! Tidak!"
"Atas nama anak kita! Oh, biarkan aku hidup demi anak
kita!"
"Tidak! Kalau aku biarkan engkau hidup, pada suatu hari
engkau akan membunuhnya juga seperti engkau membunuh
yang lain-lain."
"Aku? Membunuh anakku?” kata ibu yang sudah kacau
pikirannya itu, melemparkan dirinya kepada Villefort.
"Membunuh Edouard?"
Sebuah tawa orang gila mengakhiri kalimatnya tadi. Dia
jatuh di depan kaki suaminya.
"Ingat" kata Villefort, "kalau belum kaulakukan sampai
aku pulang nanti, aku akan mengadukanmu dengan bibirku
sendiri dan menangkapmu dengan tanganku sendiri."
Nyonya Villefort mendengar kata demi kata suaminya,
napasnya terputus-putus, jiwanya terpukul. Hanya matanya
saja yang masih menunjukkan kehidupan pada dirinya, berkilat-
kilat liar ketakutan.
"Engkau mengerti, bukan?” kata Villefort. "Sekarang aku
harus pergi ke pengadilan untuk menuntut hukuman mati
bagi seorang pembunuh. Kalau aku menemukanmu masih
hidup ketika aku pulang nanti, malam ini juga engkau
sudah akan berada di penjara."
Nyonya de Villefort menarik napas panjang, seluruh
tenaganya menghilang dan dia terjatuh lagi ke lantai.
Rupanya hati Villefort tergores juga. Air mukanya sudah
tidak kejam lagi. Dia berkata dengan lunak, "Selamat
jalan,Nyonya selamat jalan."
Kata-kata lunak itu oleh Nyonya de Villefort terasa seperti
irisan pisau tajam. Dia pingsan.
Jaksa Penuntut Umum itu keluar, lalu mengunci pintu
dari luar.
BAB LXVI
PERKARA Benedetto menarik perhatian yang besar
sekali. Selama beberapa bulan masa jayanya, Cavalcanti
palsu ini telah berulang kali mengunjungi toko-toko pakaian
terkemuka di Paris dan selalu membayar lunas rekeningrekeningnya
Surat-surat kabar membeberkan kembali
riwayatnya dengan panjang lebar, baik yang dalam penjara
maupun selama hidup dalam masyarakat Paris.
Pembeberan Ceritera ini lebih menarik perhatian orang,
terutama mereka yang pernah mengenalnya secara pribadi.
Banyak dari mereka yang mengenalnya sebagai anak muda
yang tampan sopan dan murah hati, sehingga mereka lebih
mempercayai dia menjadi korban dari sekawanan musuh
yang jahat.
Oleh karena itu, hampir setiap orang pergi ke gedung
pengadilan. Sebagian untuk menyaksikan dan sebagian lagi
untuk bergunjing. Jam tujuh pagi orang sudah berkerumun
di luar gedung dan sejam sebelum sidang dimulai mang
sidang sudah penuh sesak.
Beauchamp yang dikenal sebagai raja koran berada di
antara para penonton. Dia melihat Chateau’Renaud dan
Debray yang baru saja menerima kebaikan seorang polisi
yang memberikkan tempat baik bagi mereka. Bahkan polisi
itu bersedia pula menjaga tempat mereka ketika
meninggalkannya sebentar untuk berbicara dengan
Beauchamp.
"Wah," kata Beauchamp, "rupanya kita semua datang
untuk menyaksikan kawan kita."
"Betul," jawab Debray. "Saya pikir dia akan dinyatakan
bersalah. Bagaimana pendapatmu?"
"Aku kira engkaulah satu-satunya yang dapat menjawab
pertanyaan itu, oleh karena engkau tentu sudah berbicara
dengan Ketua Sidang dalam resepsi yang baru lalu di rumah
Menteri."
"Benar, tetapi kalau aku berbicara dengan Ketua Sidang,
tentunya engkau sudah berbicara dengan Jaksa Penuntut
Umum."
"Tak mungkin . . . Tuan de Villefort tidak menerima
siapa pun juga dalam minggu terakhir ini. Dan ini mudah
dimengerti mengingat rangkaian musibah yang menimpanya
..
"Lihat!"
"Siapa?"
"Aku kira dia sudah tidak ada di sini."
"Eugenie Danglars?" tanya Chateau-Renaud.
"Apa dia kembali?"
"Bukan, ibunya."
"Apa!" Chateau-Renaud terkejut. "Hanya sepuluh hari
sejak anaknya kabur dan tiga hari sejak suaminya bangkrut
dia sudah berani keluar rumah?"
Tanpa diketahui yang lain wajah Debray memerah. Dia
mengikuti arah pandangan Beauchamp. "Wanita itu bercadar,"
katanya. "Mungkin orang lain, mungkin juga seorang
putri dari negeri lain . .. bahkan mungkin juga ibu
Pangeran Cavalcanti."
"Hakim sudah tiba," kata Chateau-Renaud. "mari kita
kembali."
Para hakim dan juri mengambil tempat masing-masing di
teilgah-tengah ketenangan ruang sidang yang mengesankan.
Tuan de Villefort yang menjadi pusat perhatian - boleh juga
dikatakan menjadi pusat kekaguman umum — menempati
kursinya, lalu melayangkan pandangan ke seluruh mangan.
"Pengawal!" kata Ketua Sidang. "Bawa masuk terdakwa!"
Dengan perintah itu perhatian publik meningkat dan
semua mata mengarah ke pintu yang akan dilalui Benedetto.
Benedetto masuk, wajahnya tenang tanpa mencerminkan
perasaan hatinya.
Setelah tuduhan dibacakan, Ketua Sidang bertanya,
"Siapa namamu?"
Andrea berdiri. ''Maafkan, Paduka," katanya, "rupanya
Paduka akan mengajukan serangkaian pertanyaan dengan
urutan yang tidak dapat saya ikuti. Nanti akan saya jelaskan
alasannya, tetapi sementara ini saya memohon agar urutan
pertanyaan di rubah, dan saya akan menjawabnya semua.”
Ketua Sidang sangat terperanjat, memandang kepada
anggota juri, yang semuanya sedang memandang kepada
Jaksa. Para penonton pun merasa heran, tapi semua itu
seperti tidak berpengaruh sama sekali kepada Andrea.
"Berapa umurmu?" tanya Ketua Sidang.
"Dalam beberapa hari lagi akan menjadi dua puluh satu
tahun. Saya dilahirkan tanggal 27 September 1815."
Tuan de Villefort yang sedang mencatat sesuatu mengangkat
kepala ketika mendengar tanggal ini.
"Tempat lahir?"
"Auteuil dekat Paris."
Villefort mengangkat kepala untuk kedua kalinya, menatap
Andrea seakan-akan melihat sesuatu yang
menyeramkan. Wajahnya pucat kebiru-biruan. "Pekerjaan?"
"Saya mulai dengan pemalsuan," jawab Andrea dengan
ketenangan yang mengherankan. "Setelah itu menjadi
pencuri, dan terakhir sekali pembunuh."
Ruang sidang menjadi gaduh. Bahkan para hakim saling
pandang-memandang, masing-masing dengan pancaran
mata keheranan. Para anggota juri menunjukkan
kesebelannya mendengar keterangan tertuduh yang seakanakan
hendak mengejek pengadilan, sekaligus terperanjat
karena tidak mengira keluar dari seorang anak muda yang
perlente.
"Sekarang, maukah engkau menyebutkan namamu
kepada sidang?" tanya Ketua Sidang. "Mungkin sekali
kebanggaanmu menyebut satu persatu kejahatan yang kausebut
sebagai pekerjaan itulah yang menyebabkan engkau
ingin menangguhkan menyebutkan namamu. Barangkali
engkau ingin menonjolkan namamu dengan menyebut lebih
dahulu gelar-gelar pekerjaanmu."
"Sungguh tak masuk pada akal saya betapa benar Paduka
membaca pikiran saya," jawab Andrea dengan sopan.
"Itulah sebabnya saya memohon untuk merubah urutan
pertanyaan tadi"
Keheranan dalam ruang sidang sudah memuncak. Sudah
tidak ada lagi kelancangan atau ejekan tampak pada nada
bicara atau tingkah-laku Andrea. Pengunjung sidang semua
mempunyai perasaan yang sama bahwa akan segera timbul
kejutan yang menghebohkan.
"Jadi, siapa namamu?"
"Saya tidak dapat mengatakan karena saya tidak
mengetahuinya. Saya hanya mengetahui nama ayah saya."
"Katakan siapa nama ayahmu!"
"Ayah saya seorang Jaksa Penuntut Umum" jawab
Andrea tenang.
"Jaksa Penuntut Umum!" ulang Ketua Sidang itu
terperanjat, tanpa melihat kegelisahan yang muncul pada
wajah Villefort.
"Benar. Paduka. Dan oleh karena Paduka menanyakan
namanya, dengan senang hati akan saya katakan. Namanya
Villefort."
Bagaikan guruh terdengar suara meledak di seluruh
ruangan sidang. Baru sesudah lima menit Ketua Sidang berhasil
menenangkannya kembali. Di tengah-tengah
kegaduhan itu kurang-lebih sepuluh orang mengerumuni
Villefort yang terhenyak setengah pingsan di kursinya.
Mereka menolong, menghibur dan menabahkan hatinya.
Ruang sidang sudah tenang kembali, kecuali di suatu
sudut di mana seorang wanita jatuh pingsan. Beberapa
orang segera menolongnya.
"Paduka," kata Andrea, "bukan maksud saya untuk
menghina persidangan ini atau sengaja mau membuat
heboh. Saya diminta menyebutkan nama saya, tetapi saya
tidak mampu karena orang tua saya mentelantarkan saya
sejak saya dilahirkan. Kebetulan akhirnya saya dapat
mengetahui nama ayah saya. Dan saya ulangi, namanya
adalah Villefort dan saya siap untuk membuktikannya."
"Tetapi," kata Ketua Sidang marah, "dalam pemeriksaan
pendahuluan engkau mengaku bernama Benedetto, yatimpiatu
dan dilahirkan di Corsica."
"Saya mengatakan itu karena saya takut: kalau saya
mengatakan yang sebenarnya maka pernyataan saya itu
tidak akan diumumkan. Sekarang saya mengatakan yang
sebenarnya. Saya dilahirkan di Auteuil tanggal 27 September
1815, anak Jaksa Penuntut Umum, Tuan de Villefort.
Perlukah saya memberikan keterangan lebih terperinci?
Saya akan senang sekali mengatakannya. Saya dilahirkan di
rumah nomor 28 di Rue de la Fontaine, Auteuil, dalam
sebuah kamar yang dindingnya berlapis damas merah.
Ayah saya mengatakan kepada ibu saya bahwa saya mati
setelah lahir, lalu membungkus saya dengan handuk yang
bertanda huruf H dan N, membawa saya ke dalam kebun
dan mengubur saya hidup-hidup."
Semua yang hadir melihat meningkatnya kegelisahan
Villefort sejalan dengan meningkatnya keyakinan diri
Andrea.
"Bagaimana engkau mengetahui semua itu?"
"Saya bermaksud akan mengatakannya, Paduka.
Seorang Corsica telah bersumpah membalas dendam
terhadap ayah saya. Dia selalu mengikuti ke mana ayali
saya pergi dan menunggu kesempatan yang baik untuk
melaksanakan niatnya. Itulah sebabnya dia melihat ayah
saya mengubur sesuatu dalam kebun. Dia menikamnya dari
belakang dan mengira bahwa yang dikubur ayah saya itu
harta kekayaan. Dia menggali kembali kuburan dan
menemukan saya masih bernyawa. Dia membawa saya ke
rumah yatim-piatu Tiga bulan kemudian saudara
perempuannya datang ke Paris, lalu ke rumah perawatan itu
dan menuntut saya sebagai anaknya. Dia berhasil
membawa saya kembali ke Corsica. Itulah sebabnya,
sekalipun saya dilahirkan di Auteuil, saya dibesarkan di
Corsica!"
Sejenak ruang sidang menjadi hening
"Teruskan!" perintah Ketua Sidang.
"Saya merasa berbahagia sekali dengan orang-orang baik
yang merawat saya, namun ternyata watak buruk saya telah
mengalahkan pendidikan yang hendak ditanamkan ibu tiri
saya ke dalam diri saya. Saya menjadi anak liar dan segera
meningkat menjadi jahat. Pada suatu hari, ketika saya
menyumpahi "Tuhan karena membuat saya begitu jahat
dan memberi nasib yang buruk, ibu tiri saya berkata, 'Jangan
menyalahkan Tuhan! DIA menciptakanmu tanpa
amarah. Kejahatan yang melekat padamu berasal dari
ayahmu, yang akan menjerumuskan engkau ke dalam
neraka kalau engkau mati atau ke dalam kepapaan dan
kehinaan selama engkau hidup!' Sejak hari itu saya berhenti
mengumpat Tuhan, tetapi mulai dengan mengutuk ayah
sendiri. Itulah pula sebarnya saya di sini mengungkapkan
segala sesuatu untuk menangkis tuduhan yang ditimpakan
kepada saya. Itulah sebabnya mengapa saya sampai
menggoncangkan ruang sidang ini. Kalau perbuatan saya
ini merupakan kejahatan baru, silakan hukum saya. Tetapi,
apabila Paduka beranggapan bahwa nasib saya sudah tragis
dan pahit sejak dilahirkan, kasihanilah saya!"
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Ibu saya percaya bahwa saya mati setelah lahir. Dia
tidak bersalah. Saya tidak berkeinginan mengetahui siapa
namanya, dan sampai detik ini pun saya tidak mengenal
siapa dia."
Sebuah jeritan terdengar dari tengah-tengah kerumunan
orang yang sedang menolong wanita yang pingsan tadi, dan
berakhir dengan tangis yang memilukan. Setelah sadar dari
pingsannya wanita itu menjadi histeris. Ketika dia diangkat
ke luar ruangan, cadarnya terlepas. Beberapa orang mengenalinya
sebagai Nyonya Danglars. Sekalipun dalam
keadaan gelisah, kacau, tegang dan takut, Villefort masih
sempat mengenalinya.
"Apa bukti-bukti yang kausebutkan tadi?"
"Bukti?" Benedetto balik bertanya sambil tertawa.
"Betulkah Paduka memerlukannya?"
"Betul”
"Silakan Paduka memperhatikan Tuan de Villefort dan
tanyakan bukti-bukti itu kepada beliau."
Semua mata mengarah kepada Villefort. Karena beratnya
beban pandangan orang-orang, Villefort terhuyunghuyung
ke tengah-tengah ruang sidang. Rambutnya acakacakan,
mukanya penuh dengan bekas cakaran kukunya
sendiri. Hampir seluruh hadirin bergumam menyaksikan
keadaan Villefort.
"Paduka Tuan Hakim menanyakan bukti-bukti, Ayah,"
kata Benedetto. "Apakah perlu saya berikan?"
'Tidak... tidak," jawab Vfllefort gagap. “Tak ada gunanya
lagi."
"Apa maksud Tuan?" tanya Ketua Sidang keras.
"Maksud saya," jawab Villefort, "saya menyadari tak ada
gunanya lagi melawan hukum Tuhan yang baru saja
menimpa saya. Apa yang dikatakan anak muda itu benar
semua, tak perlu lagi pembuktian."
"Apa! Sadarkah Tuan, Tuan de Villefort? Sudah hilangkah
kesadaran Tuan? Tuduhan yang aneh, tak terduga dan
mengerikan itu mungkin sekali telah mengganggu pikiran
Tuan. Kami semua dapat memahaminya."
Villefort menggelengkan kepala. Giginya gemeretak,
seperti orang dicekam demam. "Pikiran saya jernih, Paduka,"
katanya. "Saya mengaku bersalah untuk semua tuduhan
yang dilontarkan anak muda itu kepada saya. Saya sekarang
menyerahkan diri kepada Jaksa Penuntut Umum yang
akan menggantikan saya."
Setelah mengeluarkan kata-kata ini dengan suara tertahan
hampir tidak terdengar, Tuan de Villefort meninggalkan
ruang sidang dengan terhuyung-huyung.
"Sekarang aku ingin mendengar adakah orang yang masih
berani berkata bahwa tidak ada drama dalam kehidupan
nyata ini?" tanya Beauchamp.
"Ya Tuhan!" jawab Chateau-Renaud. "Kalau terjadi pada
diriku, aku lebih suka memilih jalan yang ditempuh
Morcerf. Sebutir peluru akan lebih nyaman dibanding
dengan pencemaran nama seperti ini."
"Darahku tersirap kalau aku ingat bahwa pernah ada saat
aku berniat mengawini anaknya!" kata Debray. "Untung
Valentine, tidak mengetahui peristiwa sekarang ini."
"Sidang ditunda dan akan dilanjutkan dalam waktu yang
akan datang." Ketua Sidang mengumumkan.
Dalam keadaan tetap tenang Andrea meninggalkan
ruang sidang didampingi para pengawal. Tanpa disadarinya
para pengawal ini sekarang menaruh suatu penghargaan
tertentu terhadap Andrea.
"Bagaimana pendapat Tuan?" tanya Debray kepada polisi
yang memberinya tempat sambil menyelipkan dua puluh
frank ke tangannya.
"Akan ada banyak hal yang meringankan terdakwa,"
jawab polisi itu.
BAB LXVII
HAMPIR tidak mungkin melukiskan betapa bingungnya
Villefort ketika meninggalkan ruang pengadilan, betapa
perasaan hatinya yang membuat setiap urat nadinya berdenyut
keras dan kencang, menegangkan setiap sarafnya,
membengkakkan pembuluh-pembuluh darahnya sehingga
menimbulkan rasa sakit pada setiap titik di seluruh tubuhnya.
Hanya karena kebiasaannya saja ia berhasil keluar dari
kantor itu. Hanya saja sekali ini bukan dengan sikap gagah
dan angkuh melainkan dengan terseok-seok. Di luar dia
melihat keretanya. Saisnya yang sedang tidur terjaga mendengar
pintu kereta dibuka sendiri oleh majikannya.
Villefort menjatuhkan diri di sudut tempat duduk, lalu
dengan telunjuknya memerintahkan pulang.
Beban kehancuran hidupnya telah menimpa kepalanya,
namun ia belum menyadari benar seluruh akibatnya Terasa
sudah, namun belum terkirakan. Dalam lubuk hatinya dia
merasakan adanya Tuhan. “Tuhan!Tuhan!" katanya berulang-
ulang tanpa mengetahui benar apa yang dikatakannya.
Di balik puncak segala kekuasaan yang pernah ia rasakan,
di situlah dia memperkirakan adanya Tuhan.
Kereta berjalan dengan cepat. Ketika bersandar pada
bantal, Villefort merasakan sesuatu mengganggunya. Ternyata
kipas istrinya yang tertinggal dalam kereta. Secepat
kilat yang menyambar dalam kegelapan malam, benda itu
membawa pikirannya kembali kepada kejadian tadi pagi di
rumahnya Dia ingat kepada istrinya. "Oh!" Hatinya tersentak
seperti tersentuh besi panas. Selama ini dia baru
melihat satu segi saja sebagai akibat kehancurannya. Segi
lain yang tidak kurang mengerikan baru sekarang disadarinya.
Dia telah bertindak sebagai hakim yang mahakuasa
terhadap istrinya sendiri. Dia telah menghukumnya mati.
Mungkin sekali pada detik ini istrinya sedang mempersiapkan
diri untuk mati memenuhi hukuman suaminya,
sambil dicekam rasa takut, malu dan penuh sesal. Satu jam
yang lalu hukuman dari suaminya telah dijatuhkan.
Mungkin sekali dia sekarang sedang memikirkan kejahatankejahatan
yang pernah diperbuatnya, yang akan dia bayar
sekarang dengan nyawanya sendiri, memohon ampunan
Tuhan dan menulis sepucuk surat permintaan maaf kepada
suaminya yang mulia.
Villefort berteriak pedih untuk kedua kalinya ketika
membayangkan semua ini. Tangannya meremas-remas
sarung bantal sutra yang sedang dipegangnya. "Dia menjadi
jahat karena dekat dengan aku!. Akulah sebenarnya sumber
kejahatan. Dia hanya ketularan saja seperti ketularan
penyakit. Dan aku telah menghukumnya. Aku telah berani
berkata kepadanya: 'Sesali dan matilah!' Aku telah mengatakan
begitu! Tidak, tidak, dia tidak boleh mati! Dia harus
hidup! Dia harus dan akan ikut aku .. . meninggalkan Pe
rancis. Kami akan pergi sejauh bumi kuasa memberi tempat
bagi kami . . . Aku telah berbicara kepadanya tentang
hukuman mati ... Oh, Tuhanku, betapa mungkin aku berani
begitu? Hukuman itu kini menanti aku juga! Kami akan lari
.. . Aku akan mengakui semua dosa-dosaku kepadanya?
Setiap hari aku akan menghinakan diri dengan mengatakan
bahwa aku pun telah menjalankan kejahatan . . . Suatu
perkawinan antara harimau dan ular berbisa! Seorang istri
yang sepadan bagi laki-laki seperti aku! Dia harus hidup,
sehingga semua keburukannya akan menjadi kurang berarti
dibandingkan dengan kejahatanku sendiri!"
Villefort menurunkan kaca yang memisahkan dia dengan
saisnya. "Cepat! Cepat!" katanya dengan suara yang membuat
sais tersentak.
"Ya, ya," kata Villefort berulang-ulang ketika dia mendekati
rumahnya, "dia harus hidup, supaya dia dapat menyesali
perbuatannya dan memperbaiki hidupnya dan
membesarkan Edouard dengan baik pula. Dia mencintai
Edouard. Untuk Edouard dia melakukan semua ini. Hati
seorang ibu yang mencintai anaknya tidak mungkin jahat
Kejahatan-kejahatan yang telah berlangsung di rumahku
dan kini telah membangkitkan kecurigaan orang, akan
segera terlupakan ditelan waktu. Tetapi, apabila ada di
antara musuh-musuhku yang akan mengingatnya kembali,
aku akan menanggung semua dosanya. Istriku akan bebas
bersama uang yang cukup banyak, dan terutama sekali bersama
anakku. Dia akan tetap hidup dan akan berbahagia
lagi, oleh karena seluruh cinta kasihnya tertumpah pada
anaknya dan anaknya itu tak akan pernah meninggalkannya.
Dengan demikian aku telah bertindak mulia yang pasti
akan meringankan beban hatiku." Dengan pikiran itu
Villefort dapat bernapas lebih lega.
Kereta berhenti di muka pintu rumah. Dia meloncat lalu
berlari menaiki tangga. Para pelayan heran melihat
majikannya pulang dini, tetapi Villefort tidak melihat
sesuatu yang mencurigakan dalam pancaran mata mereka.
Ketika dia melewati kamar Noirtier yang kebetulan
pintunya agak terbuka, dia melihat dua orang di dalamnya.
Tetapi dia tidak menghiraukan orang yang sedang
berhadapan dengan ayahnya. Pikirannya sedang berada di
tempat lain.
'Tak ada yang berubah," katanya kepada dirinya sendiri.
Ketika sudah mendekati ruang tinggal istrinya, dia memegang
gagang pintu. Pintu terbuka. "Tidak dikunci!"
pikirnya. "Bagus! Bagus sekali!"
Villefort berada dalam mang tamu yang tidak begitu
besar, tempat Edouard tidur pada malam hari. Matanya
berputar ke sekeliling kamar. 'Tak ada orang," katanya lagi
sendiri. “Heloise mesti di kamar tidurnya." Dia berlari ke
sana. Pintunya terkunci. Dia berhenti, badannya gemetar,
lalu berteriak, "Heloise!" Terdengar sesuatu bergeser dalam
kamar. "Heloise!"
"Siapa?" Suara istrinya terdengar.
"Buka pintu! Buka! Aku!"
Sekalipun dengan perintah keras pintu itu tetap tertutup.
Villefort menendangnya sekuat tenaga sampai hancur.
Nyonya de Villefort sedang berdiri di ambang pintu antara
kamar tidurnya dengan kamar duduk. Mukanya pucat,
badannya kaku dan matanya menatap suaminya penuh
ketakutan.
"Heloise! Heloise! Mengapa? Katakan!"
"Sudah saya lakukan," katanya dengan suara yang seperti
menyobek tenggorokannya. "Apa lagi yang kaukehendaki?"
Dia jatuh tersungkur.
Villefort memburunya lalu memegang tangannya. Dia
sudah mati. Karena takut dan terkejut Villefort mundur
beberapa langkah. Matanya tidak mau lepas dari mayat
yang tergeletak di lantai.
"Anakku” teriaknya tiba-tiba. "Di mana anakku?
Edouard! Edouard!" Dia berlari ke luar sambil terus memanggil-
manggil. "Edouard ? Edouard!"
Teriakannya begitu keras sehingga semua pelayan berdatangan.
"Anakku! Di mana anakku?" tanya Villefort.
"Bawa dia dan jauhkan dari sini supaya jangan ..."
"Dia tidak ada di bawah, Tuan?" kata salah seorang
pelayannya.
"Mungkin sedang bermain di kebun?"
'Tidak, Tuan. Nyonya telah memanggilnya setengah jam
yang lalu, dan sampai sekarang belum keluar lagi."
Keringat dingin memancar dari dahi Villefort, lututnya
gemetar dan berbagai pikiran berputar-putar di otaknya. "Di
kamar ibunya?" Perlahan-lahan dia kembali ke kamar
istrinya sambil menghapus dahi dengan satu tangan dan
tangan lainnya berpegang pada dinding menjaga agar
jangan sampai jatuh.
Ketika kembali masuk, terpaksa harus melihat lagi mayat
istrinya. Untuk memanggil Edouard suaranya pasti akan
bergema dalam rumah yang sudah sunyi seperti pekuburan
itu. Berbicara berarti menyobek-nyobek kesunyian kubur.
Dia merasakan lidahnya kaku. "Edouard! Edouard . . .!"
katanya perlahan dengan susah.
Tak ada jawaban. Villefort maju lagi selangkah. Mayat
istrinya melintang di ambang pintu antara kamar tidur dan
kamar duduk. Mungkin Edouard berada di ruang duduk.
Mayat istrinya seakan-akan mengawal pintu masuk. Matanya
melotot, pada wajahnya tersimpul senyum mengejek
penuh rahasia.
Villefort maju lagi, melongok ke ruang duduk dan terlihatlah
anaknya terbaring di kursi panjang. Anak itu seperti
sedang tidur. Laki-laki yang sedang menuju ke titik terdalam
kehancurannya itu menghela napas gembira yang tak
terlukiskan. Yang harus dikerjakannya sekarang melangkahi
mayat istrinya, masuk ke mang duduk, mengambil anaknya
dan kabur jauh, jauh sekali. Villefort sudah bukan lagi
warga teladan masyarakat Dia sudah tidak lagi takut
kepada prasangka orang. Dia sekarang takut kepada hantu.
Dikerahkannya seluruh keberaniannya laki meloncat melangkahi
mayat istrinya seperti meloncati arang membara.
Dipangkunya anaknya, didekapnya, lalu digerak gerak
kannya sambil memanggil-manggil namanya. Edouard
tidak menjawab. Villefort mencium pipinya yang biru dan
dingin. Dia merasakan kekakuan anggota badan anaknya.
Lalu dia meletakkan tangannya di dada anaknya. Jantung
itu sudah berhenti berdenyut.
Secarik kertas terjatuh dari badan Edouard. Villefort
terkejut seakan-akan disambar petir, lalu terjatuh. Edouard
terlepas dari pelukannya dan terguling ke dekat mayat
ibunya. Villefort memungut kertas yang terjatuh. Tulisan itu
dia kenal sebagai tulisan istrinya. Tertera di sana: "Engkau
tahu, aku seorang ibu yang baik, karena demi kepentingan
anaklah aku berbuat jahat. Seorang ibu yang baik tidak
akan pergi tanpa membawa anaknya."
Villefort tidak dapat mempercayai matanya sendiri, juga
tidak dapat mempercayai kejernihan pikirannya sendiri. Dia
mendekati lagi tubuh Edouard dan memeriksanya kembali
dengan teliti. Lalu jerit tangis seakan-akan muncrat dari
rongga dadanya. "Tuhan!" katanya. "Selalu Tuhan!"
Lambat-laun dia merasa ketakutan tinggal bersama dua
mayat Beberapa saat yang lalu ia masih sanggup menahan
marah dan putus asa. Sekarang hatinya sudah luluh sama
sekali. Dia, yang tidak pernah merasa kasihan terhadap
orang lain, sekarang berjalan ke kamar ayahnya untuk
mencurahkan semua kesedihannya. Dia memerlukan seseorang
tempat dia menangis.
Villefort masuk ke kamar Noirtier. Orang tua itu sedang
asyik mendengarkan pembicaraan Padri Busoni yang selalu
tenang. Tanpa disadari tangan Villefort pindah ke dahinya,
ketika dia melihat padri itu. Dia ingat kunjungan padri itu
ketika Valentine meninggal. "Tuan lagi!" katanya. "Apakah
Tuan datang hanya untuk mengantarkan kematian?"
Busoni menatap Villefort. Melihat wajah Villefort yang
kusut dan matanya yang liar, padri mengira bahwa kejadian
di ruang sidang itulah penyebabnya. Dia tidak mengetahui
kejadian berikutnya.
"Saya datang untuk berdo'a bagi putri Tuan," jawab
Busoni.
"Dan mengapa Tuan datang hari ini?"
"Untuk mengatakan bahwa Tuan telah membayar
hutang Tuan kepada saya dan mulai sekarang saya akan
berdo'a Semoga Tuhan tidak lagi menghukum Tuan,"
"Ya Tuhanku!" Villefort terkejut sehingga terlangkan
mundur. "Ini bukan suara Padri Busoni!"
"Memang bukan."
Padri melepaskan penutup kepalanya, maka terurailah
rambutnya yang panjang dan hitam menghias wajahnya
yang penuh kejantanan.
"Count of Monte Cristo?"
"Juga bukan, Tuan de Villefort . . . coba ingat-ingat lagi."
"Suara itu! Di mana saya pernah mendengarnya?"
'Tuan mendengarnya di Marseilles dua puluh tiga tahun
yang lalu, pada hari pertunangan Tuan dengan Nona de
Saint Meran."
"Tuan bukan Busoni? Bukan pula Monte Cristo? Ya
Tuhan! Tuanlah kiranya musuh yang tersembunyi itu.
Mungkinkah saya telah mencelakakan Tuan di Marseilles?"
"Betul," jawab Monte Cristo menyilangkan kedua belah
tangannya di dadanya yang bidang. "Coba Tuan ingat-ingat
lagi."
"Apa yang pernah saya lakukan terhadap Tuan?" pikiran
Villefort sudah berada di antara kesadaran dan kegilaan.
"Apa yang pernah saya lakukan terhadap Tuan? Katakan,
coba katakan!"
"Tuan telah menghukum saya mati dengan cara perlahan-
lahan dan tersembunyi. Tuan telah membunuh ayah
saya, dan Tuan telah merenggut cinta, kemerdekaan dan
kekayaan dari diri saya!"
"Siapa Tuan sebenarnya? Demi Tuhan, siapa Tuan?"
"Saya adalah hantu seorang laki-laki yang telah Tuan
kuburkan di dalam sel bawah tanah di penjara Chateau d’ If
Ketika hantu itu berhasil keluar dari kuburnya, Tuhan
menyamarkannya dalam tubuh Count of Monte Cristo dan
membekalinya dengan emas dan intan berlian sehingga
Tuan tidak akan mungkin mengenalnya lagi. Sampai hari
ini."
"Ah! Saya ingat sekarang! Saya ingat! Tuan adalah ..
"Edmond Dantes!"
"Ya, Edmond Dantes!" kata Villefort keras. Sambil
memegang pergelangan tangan Monte Cristo dia berkata
lagi. "Mari ikut saya!"
Villefort keluar lebih dahulu, Monte Cristo mengikutinya
dengan heran, karena tidak mengetahui ke mana maksud
Villefort. Dia hanya mampu merasakan ada sesuatu yang
mengerikan.
"Lihat, Edmond Dantes!" katanya sambil menunjuk
mayat istrinya dan anaknya. "Apakah pembalasanmu sudah
sempurna sekarang?"
Wajah Monte Cristo menjadi pucat melihat keadaan
yang mengerikan itu. Dia sadar bahwa dia telah melampaui
batas, sehingga sekarang dia tidak dapat lagi berkata:
'Tuhan selalu bersamaku!" Dia cepat berlari mendekati
tubuh Edouard dibarengi dengan perasaan marah kepada
dirinya sendiri Monte Cristo membuka mata Edouard,
merasakan denyut nadinya, lalu memangku dan
membawanya ke kamar Valentine. Pintu segera dikuncinya.
"Anakku!" Villefort berteriak. "Dia mencuri anakku!"
Dia mencoba mengejar Monte Cristo, tetapi anehnya bagaikan
dalam mimpi, kakinya seakan-akan tertanam dalam
lantai. Matanya liar dan terbuka lebar-lebar seperti hendak
terloncat dari kelopaknya. Jari-jari tangannya mencakarcakar
dadanya yang terbuka sampai kukunya merah karena
berdarah. Pembuluh-pembuluh darah pada dahinya membengkak
seperti sedang memompakan darah panas dengan
deras ke dalam otaknya. Dia berdiri terpaku untuk beberapa
saat lamanya sampai proses menghilangnya kesadaran
terlaksana dengan sempurna. Setelah itu baru dia berteriak,
diikuti tawa keras dan panjang. Dia berlari menuruni anak
tangga.
Seperempat jam kemudian pintu kamar Valentine terbuka,
dan Monte Cristo keluar. Tingkah lakunya yang
tenang dan agung terganggu oleh kesedihan yang sangat.
Edouard yang sudah tidak dapat ditolongnya lagi berada
dalam pangkuannya. Dengan bertekuk pada sebuah lututnya
dia meletakkan mayat anak itu dengan kepalanya pada
dada ibunya. Setelah itu dia berdiri kembali dan berjalan
keluar.
Di tangga dia berpapasan dengan seorang pelayan. "Di
mana Tuan de Villefort?" tanyanya.
Tanpa menjawab pelayan itu menunjuk ke kebun. Monte
Cristo berjalan menuju kebun. Di sana dia melihat Villefort
sedang menggali tanah dengan sebuah singkup. Para pelayannya
mengelilinginya menyaksikan.
'Tidak di sini!" kata Villefort. "Bukan di sini!" lalu dia
pindah menggali di tempat lain.
Monte Cristo menghampirinya dan berkata dengan perlahan-
lahan, 'Tuan de Villefort, Tuan telah kehilangan
seorang anak, tetapi. .."
'Tidak, saya akan menemukannya kembali!" Villefort
cepat memotong. 'Tak ada gunanya Tuan mengatakan dia
tidak di sini . . . saya akan menemukannya, sekalipun saya
harus terus mencarinya sampai Pengadilan Terakhir!"
Monte Cristo terkejut. "Oh! Dia sudah gila!"
Seperti takut rumah terkutuk itu akan runtuh menimpa
kepalanya Monte Cristo berlari ke jalan. Untuk pertama kalinya
dia merasa sangsi apakah dia berhak melakukan apa
yang telah dilakukannya.
BAB LXVIII
PERISTIWA yang baru saja berlangsung di ruang
pengadilan telah menjadi buah bibir seluruh masyarakat
Paris. Emmanuel dan Julie membicarakannya dengan
ketakjuban yang mudah dimengerti Mereka membandingbandingkan
malapetaka yang mendadak menimpa
Danglars, Morcerf dan Villefort. Maximilien yang datang
berkunjung mendengarkan tanpa ikut berbicara. Pikirannya
terbenam dalam kesedihannya.
"Mengerikan sekali," kata Emmanuel, ingat kepada
Danglars dan Morcerf.
'Dan betapa berat pula penderitaannya" jawab Julie,
ingat kepada Valentine. Naluri kewanitaannya membuat
dia enggan menyebut nama itu di depan kakaknya.
"Bila benar ini hukuman Tuhan," lanjut Emmanuel,
"tentu karena Tuhan mengetahui tidak ada jasa sedikit pun
dalam masa lalu mereka yang dapat meringankan dosanya."
Berbarengan dengan habisnya kalimat Emmanuel, pintu
ruang duduk terbuka dan Monte Cristo muncul. Julie dan
Emmanuel berseru gembira menyambutnya. Maximilien
menengadah sebentar, lalu merunduk kembali.
"Maximilien " kata Monte Cristo tanpa menghiraukan
perbedaan kesan yang ditimbulkannya pada ketiga orang
itu. "Saya datang untuk menjemputmu."
"Menjemput?" tanya Maximilien seperti orang yang baru
sadar dari mimpi.
"Ya, bukankah sudah kukatakan agar bersiap-siap?"
"Saya sudah siap," jawab Maximilien. "Saya justru
datang ke mari untuk pamitan."
"Hendak ke mana, Count?" tanya Julie.
"Pertama-tama, ke Marseilles."
"Ke Marseilles?" Sepasang suami-istri itu menjawab
hampir berbarengan.
"Ya, dan saya bermaksud membawa saudaramu."
"Oh, tolong kembalikan dia dalam keadaan sembuh!"
kata Julie.
Maximilien memalingkan mukanya untuk menyembunyikan
perasaannya.
"Ini, berarti kalian mengetahui bahwa dia sangat menderita?”
"Tentu saja. Saya takut dia sudah merasa bosan dengan
kami."
"Saya akan mencoba mengalihkan perhatiannya."
"Saya sudah siap, Count," kata Maximilien. "Selamat
tinggal, Emmanuel, selamat tinggal Julie!"
'Apa artinya ini?” tanya Julie. "Bagaimana engkau akan
berangkat mendadak seperti ini, tanpa persiapan dan tanpa
paspor?”
"Kalau ditangguhkan lagi, perpisahan akan terasa makin
berat," kata Monte Cristo, "dan saya yakin Maximilien
sudah mengatur segala-galanya. Artinya, saya sudah meminta
menyelesaikannya."
"Paspor sudah ada dan kopor pun sudah selesai," kata
Maximilien acuh-tak acuh.
"Dan engkau mau berangkat hari ini juga, tanpa
memberitahu kami sebelumnya?" tanya Julie.
"Kereta sudah siap di depan. Lima hari yang akan datang
saya sudah harus berada di Roma."
"Apakah Maximilien juga turut ke Roma?" tanya
Emmanuel.
"Saya akan pergi ke mana saja dibawa Count of Monte
Cristo," jawab Maximilien dengan senyum sedih. "Saya
menjadi miliknya untuk sebulan ini."
"Aneh sekali kata-katanya itu, Count!"
"Saudaramu akan selalu bersama saya, jadi tak usah
khawatir."
"Selamat tinggal, Julie! Selamat tinggal, Emmanuel!"
"Saya bingung karena keanehannya," kata Julie. "Oh,
Maximilien, engkau menyembunyikan sesuatu!"
"Kalian akan melihat dia kembali dengan sehat dan
gembira," kata Monte Cristo.
Maximilien melemparkan pandangan mata marah
kepada Monte Cristo.
"Mari kita berangkat," kata Monte Cristo lagi.
"Sebelum berangkat," kata Julie, "saya ingin mengatakan
dahulu bahwa kemarin "
"Apa pun yang akan engkau katakan tak akan lebih berharga
daripada apa yang saya lihat pada sorot matamu, apa
yang terkandung dalam hatimu dan apa yang aku rasakan
dalam hatiku sendiri," kata Monte Cristo sambil memegang
tangan Julie. "Sebenarnya saya harus pergi tanpa
menemuimu dahulu, seperti pahlawan-pahlawan dalam
buku, tetapi ternyata saya ini tidak sekuat mereka, saya ini
lemah dan senang sekali melihat orang berterima kasih,
gembira dan penuh cinta kasih. Saya pergi sekarang, dan
egoismeku mendesak untuk mengatakan: Jangan lupakan
aku karena mungkin sekali kita tak akan bertemu lagi."
"Tak akan bertemu lagi?" tanya Emmanuel heran, sedangkan
di pipi Julie bergulir dua butir air mata. "Apakah
Tuan ini malaikat yang harus kembali lagi ke langit setelah
muncul di bumi berbuat kebaikan?"
"Jangan berkata begitu," kata Monte Cristo. "Para malaikat
tidak pernah berbuat keburukan. Tidak, saya seorang
manusia biasa, Emmanuel, dan kekagumanmu itu tidak
layak dan kata-katamu merendahkan segala sesuatu yang
suci"
Monte Cristo memegang tangan Emmanuel erat-erat,
sedang tangan Julie diciumnya. Setelah itu segera meninggalkan
rumah yang penuh kebahagiaan itu, lalu melirik
kepada Maximilien yang masih murung seperti pada hari
kematian Valentine.
"Tolong gembirakan lagi saudara kami!" Julie berbisik ke
telinga Monte Cristo.
Monte Cristo memegang lagi tangan Julie dengan erat
seperti yang pernah dilakukannya sebelas tahun yang lalu di
tangga yang menuju kamar kerja ayahnya. "Apakah engkau
masih mempunyai kepercayaan kepada Sinbad Pelaut?"
tanyanya tersenyum.
"Tentu, tentu saja."
"Kalau begitu, jangan khawatir."
Seperti dikatakan Monte Cristo tadi, keretanya sudah
lama menunggu di muka pintu. Empat kudanya yang
gagah-gagah menggerak-gerakkan kepalanya dan
menginjak-injak tanah seperti sudah tidak sabar menunggu.
Ali menunggu di bawah anak tangga, wajahnya berkilatkilat
karena keringat. Rupanya dia baru kembali dari
perjalanan jauh,
"Bertemu dengan orang tua itu?" tanya Monte Cristo
dalam bahasa Arab.
Ali mengangguk.
"Dan kaubuka surat itu di hadapannya seperti yang
kuperintahkan?"
Ali mengangguk sekali lagi.
"Apa katanya, atau apa yang dia perbuat?"
Ali menutup matanya seperti yang biasa dilakukan
Noirtier kalau dia bermaksud mengatakan "ya".
"Bagus, artinya dia setuju. Mari kita berangkat."
Kereta bergerak, makin lama makin cepat. Dari telapak
kaki kuda yang beradu keras dengan jalan keluar percikpercik
api. Maximilien duduk di sudut tanpa mau berbicara.
Setengah jam telah berlalu. Kereta berhenti, Monte
Cristo menarik tali sutra yang ujungnya terikat pada jari
tangan Alt. Ali turun dan membuka pintu. Malam cerah,
bintang pun bertebaran. Mereka sudah sampai di puncak
bukit Villejuif Dari sini Paris kelihatan seperti lautan
terhampar, jutaan cahayanya bagaikan ombak yang
berkilat-kilat, ombak yang lebih dahsyat, lebih bergelegak,
lebih membahayakan dari ombak lautan yang sedang
marah, ombak yang tidak pernah mengenal tenang, ombak
yang selalu membelah-belah, selalu berbuih, selalu menelan
...
Monte Cristo berdiri sendiri. Atas isaratnya kereta bergerak
ke depan beberapa depa. Dia berdiri untuk beberapa
saat dengan tangan sedekap, merenungkan kota Babilonia
modern ini yang telah membuat penyair-penyair keagamaan
maupun para pengejek agama, terharu melihatnya. "Kota
yang besar!" katanya perlahan-lahan, lalu menundukkan
kepala seperti orang yang sedang berdo'a. "Kurang dari
enam bulan yang lalu aku memasuki gerbangmu. Aku percaya
bahwa kehendak Tuhanlah yang membawa aku ke
sana, dan sekarang Tuhan membawa aku keluar lagi de
ngan kemenangan. Hanya Dia sendiri yang mengetahui
bahwa kini aku berangkat tanpa rasa benci ataupun bangga,
tetapi juga tanpa sesal. Hanya Dia sendiri yang mengetahui
bahwa aku tidak menyalahgunakan kekuasaan yang di
percayakanNya kepadaku, baik untuk kepentingan diriku
sendiri maupun untuk kepentingan-kepentingan yang tidak
berguna. Wahai Kota Yang Besar, dalam rongga
dadamulah aku menemukan apa yang kucari! Seperti
seorang penggali tambang yang sabar, aku telah menggali
dalam sekali untuk mencabut akar-akar kejahatan. Sekarang
tugasku sudah selesai. Engkau tidak akan dapat lagi
memberiku kesenangan ataupun kesusahan. Selamat tinggal
Paris! Selamat tinggal!"
Untuk terakhir kalinya dia melayangkan pandangannya
kepada hamparan yang luas. Setelah itu dia naik kembali ke
dalam keretanya yang segera menghilang ditelan kegelapan
dan kepulan debu.
Mereka berjalan untuk beberapa lama tanpa berbicara.
"Maximilien," akhirnya Monte Cristo menyobek kesunyian,
"menyesalkah engkau pergi bersamaku?"
"Tidak, Tuan, tetapi meninggalkan Paris itu...."
"Kalau aku yakin bahwa engkau akan menemukan kebahagiaan
di sana, aku tidak akan mengajakmu pergi."
"Tetapi di sanalah Valentine dibaringkan. Meninggalkan
Paris bagi saya berarti kehilangan Valentine untuk kedua
kalinya."
''Maximilien, kekasih-kekasih yang telah meninggal kita
kuburkan dalam hati kita, bukan dalam tanah. Saya
mempunyai dua orang sahabat yang selalu saya bawa
dalam hati. Yang satu adalah orang yang menyebabkan
saya lahir ke dunia ini, yang satu lagi, yang memberikan
saya kepandaian dan kebijaksanaan. Aku selalu meminta
nasihat mereka kalau aku dalam kebimbangan, dan kalau
pernah aku berbuat baik dalam dunia ini, itu berkat nasihatnasihat
mereka. Mintalah nasihat kepada hati nuranimu
sendiri, Maxiimlien, dan tanyakan kepadanya apakah patut
engkau terus-menerus bermuram durja seperti ini.”
"Sahabat," jawab Maximilien, "suara hati nurani saya
sangat memilukan, tak ada yang dijanjikannya kecuali kesedihan."
"Seorang yang lemah selalu melihat persoalan dari segi
gelapnya saja. Jiwamu sedang gelap, sebab itu apa saja yang
kaulihat tampak gelap semua."
"Mungkin sekali," jawab Maximilien. Dia bersandar
kenv. bali pada sudutnya untuk bermimpi lagi.
Perjalanan mereka berlaku cepat sekali, berkat kekuasaan
dan pengaruh uang dari Monte Cristo. Kota demi kota
dilampaui. Keesokan harinya mereka sampai di Chalons, di
mana kapal api Monte Cristo telah menanti. Kereta
langsung dimuatkan ke dalam kapal dan mereka meneruskan
perjalanan elalui lautan.
Kapal ini sengaja dibuat untuk berlayar cepat. Bahkan
Maximilien pun mabuk karena kecepatannya. Angin yang
sewaktu-waktu meniup rambutnya seakan akan untuk sejenak
menghapus awan gelap di wajahnya.
Sedangkan Monte Cristo, makin jauh la merringgalkan
Paris, makin bergairah kelihatannya. Seakan-akan suatu
kekuatan gaib menopangnya. Dia seperti seorang buangan
yang kembali ke kampung halamannya.
Segera Marseilles kelihatan putih hangat dan penuh de
ngan kehidupan. Sejumlah kenangan indah membayang
pada kelopak mata kedua orang itu, ketika mereka melihat
menara bundar, benteng Saint-Nicolas, Hotel de Ville dan
pelabuhan berbata merah tempat mereka bermain-main
waktu kecil.
Seperti merupakan persetujuan sebelumnya, keduanya
berhenti di Cannebiere. Ada sebuah kapal yang sudah siap
untuk berlayar ke Aljazair. Para penumpang berkerumun
sepanjang geladak dan sanak saudara serta kawan-kawan
mereka berteriak dari bawah sambil melambai-lambaikan
tangan mengucapkan selamat jalan. Pemandangan serupa
ini selalu mengharukan, sekalipun bagi mereka yang melihatnya
setiap hari. Namun terhadap Maximilien sama sekali
tidak berpengaruh. Hal itu tidak mampu mengalihkan
pikirannya yang timbul begitu dia menginjakkan kakinya di
pelabuhan.
"Lihat," katanya sambil memegang lengan Monte Cristo,
"di sanalah ayah saya berdiri ketika Le Pharaon masuk untuk
berlabuh. Di sinilah laki-laki perkasa yang Tuan
selamatkan dari kematian dan kecemaran merangkul saya.
Saya masih dapat merasakan kehangatan air matanya pada
pipi saya. Dan dia tidak menangis sendirian; banyak orang
sekeliling kami turut menangis."
Monte Cristo tersenyum. "Saya di sana ketika itu,” katanya,
sambil menunjuk ke sebuah tempat di sudut jalan.
Ketika mengucapkan ini, dari arah yang dia tunjuk
terdengar suara memilukan, dan tampak seorang wanita
melambaikan tangan kepada seorang penumpang muda di
atas geladak kapal yang hendak berangkat. Mukanya bercadar.
Monte Cristo mengawasinya dengan perasaan yang
dengan mudah dapat terbaca Maximilien, seandainya saja
dia sedang tidak melihat ke arah kapal.
"Lihat" seru Maximilien. "Anak muda berseragam itu,
yang melambaikan topinya .... Albert de Morcerf!"
"Betul’ jawab Monte Cristo. "Saya pun melihatnya."
"Bagaimana mungkin Tuan mengenalinya padahal Tuan
melihat ke arah lain?"
Monte Cristo tersenyum kalau dia tidak mau menjawab,
lalu memalingkan lagi pandangannya kepada wanita bercadar
yang sudah menghilang di ujung jalan. Monte Cristo
berkata, "Sahabat, tidakkah engkau mempunyai sesuatu
urusan pribadi di sini?”
"Saya ingin menangis di kuburan ayah," jawab Maximilien
bodoh.
"Baik, pergilah ke pekuburan dan tunggu saya di sana."
"Tuan sendiri mau ke mana?"
"Saya pun mempunyai urusan pribadi sedikit"
Monte Cristo mengikuti Maximilien dengan matanya
sampai dia menghilang. Setelah itu dia sendiri berjalan ke
arah rumah kecil di Allees de Meilhan. Rumah itu masih
dalam keadaan cantik, sekalipun telah menua dan tidak
terurus. Keadaannya tetap sama seperti ketika ayah
Edmond Dantes masih tinggal di sana. Rumah itu
seluruhnya sekarang diberikan kepada Mercedes.
Mercedes sedang duduk di tempat yang teduh, menangis.
Cadarnya telah diangkat. Dengan menyembunyikan wajah
di balik kedua telapak tangannya dia melepaskan tangisnya.
Monte Cristo mendekatinya. Mercedes menengadah, terkejut
melihat seorang laki-laki yang tiba-tiba saja muncul di
hadapannya.
"Saya sudah tidak mampu lagi membuatmu bahagia’
kata Monte Cristo, "tetapi saya dapat menawarkan sesuatu
yang mudah-mudahan menjadi penghibur. Bersediakah
engkau menerimanya seperti pemberian dari seorang sahabat?"
"Tidak dapat disangkal bahwa aku sangat tidak bahagia,"
jawab Mercedes, "aku betul-betul sebatang kara. Satusatunya
yang kumiliki adalah anakku, dan dia telah pergi."
"Apa yang dilakukannya benar sekali. Dia mempunyai
hati yang mulia. Seandainya dia tetap bersamamu, hidupnya
akan menjadi tidak bermanfaat dan dia tidak akan
pernah berhasil membiasakan dirinya kepada kesedihanmu
itu. Ketidakmampuannya akan membuat dia sakit. Sekarang
ia akan menjadi orang yang kuat berkat perjuangannya
melawan kemalangannya, dan dia akan berhasil me
rubahnya menjadi keberuntungan. Berilah dia kesempatan
membangun kembali kebahagiaanmu. Masa depanmu
berada di tangan yang aman."
"Oh," kata wanita malang itu sambil menggelengkan
kepala dengan sedih, "aku tidak akan sempat menikmati
kebahagiaan yang kaumaksud itu, yang aku do'akan supaya
diberikan Tuhan kepada anakku. Terlalu banyak kejadian
yang menyayat-nyayat hatiku sehingga aku merasa sudah
dekat ke alam kubur. Bijaksana sekali engkau mengembalikan
aku ke mari, Edmond, ke tempat aku pernah merasa
berbahagia. Sebaiknya orang mati di tempat di mana ia
pernah merasa berbahagia."
"Kata-katamu membakar hatiku, Mercedes. Terutama
sekali karena engkau mempunyai cukup alasan untuk
membenciku, setelah aku menyebabkan kemalanganmu
ini."
"Membencimu, Edmond? Membenci orang yang pernah
menyelamatkan jiwa anakku . .. bukankah pernah menjadi
niatmu membunuh anak yang menjadi kebanggaan
Morcerf? Pandanglah mataku, engkau tidak akan
menemukan tanda-tanda penyesalan atau menyalahkanmu
pada diriku!"
Monte Cristo mengambil tangan Mercedes lalu
menciumnya dengan penuh penghargaan. Namun
Mercedes merasakan ciuman itu dingin seperti ciuman pada
sebuah patung pualam seorang suci
"Banyak orang-orang yang rusak masa depannya karena
kesalahannya di masa lalu," kata Mercedes. "Ketika aku
menyangka engkau telah mati, selayaknya aku pun harus
mati Apa artinya bagiku berkabung terus-menerus dalam
hati? Tak ada hasilnya, kecuali membuat seorang wanita
berumur tiga puluh sembilan seperti berumur lima puluh
tahun. Aku memang lemah dan pengecut! Aku mengkhianati
cintaku sendiri, dan seperti seorang murtad aku
menimbulkan kemalangan di sekelilingku."
"Tidak, Mercedes," kata Monte Cristo, "engkau menghukum
diri sendiri terlalu keras. Engkau seorang wanita
terhormat dan mulia dan kesedihanmu membuatku lengah
sejenak. Di belakangku, tidak tampak dan tidak diketahui
ada Tuhan. Aku hanya menjadi alatNya. Renungkanlah
masa lalu dan sekarang cobalah menduga apa yang terkandung
masa depan, lalu ambil kesimpulan benarkah atau
tidak aku hanya alat Tuhan semata. Malapetaka yang
paling mengerikan, penderitaan yang paling pedih,
terjauhnya aku dari mereka yang mencintaiku, dan
hukuman, yang ditimpakan oleh orang yang sama sekali
tidak mengenalku . . itulah bagian pertama dari hidupku.
Lalu, setelah penangkapan, pengasingan dan penderitaan,
datanglah kebebasan disertai dengan kekayaan yang luar
biasa sehingga akan dungu dan butalah kalau aku tidak
melihatnya dan mengertinya bahwa Tuhan sengaja
memberikannya kepadaku sebagai suatu bagian dari sebuah
rencana besar. Sejak itulah aku menganggap kekayaan
merupakan amanat suci dari Tuhan, sejak itu aku tidak
pernah berpikir untuk hidup biasa dengan segala
kesenangan duniawinya, sejak saat itu aku tidak pernah
mengenal detik-detik kedamaian. Aku merasa iliriku
sebagai awan panas dihalau dari langit untuk
menghancurkan dan membakar kota. Seperti seorang kapten
yang hendak berkelana, aku mempersiapkan semua
keperluan sehari-hari, mengisi semua senjata dan mempelajari
semua cara menyerang dan bertahan. Aku membiasakan
tubuhku dengan latihan-latihan yang berat dan melatih
jiwaku untuk menghadapi kejutan yang paling dahsyat. Aku
melatih tanganku untuk membunuh, melatih mataku
melihat penderitaan seorang dan melatih bibirku tersenyum
pada pemandangan yang paling mengerikan. Dari seorang
yang lunak, percaya dan pemaaf, aku merubah diriku
menjadi seorang pembalas dendam, terampil dan kejam,
atau barangkali lebih tepat dikatakan tak berperasaan, tuli
dan buta seperti nasib itu sendiri. Lalu aku menjalani jalan
yang terbentang di hadapanku dan tercapailah tujuanku.
Celakalah mereka yang menghalangi perjalananku!"
"Cukup, Edmond. Percayalah, bahwa satu-satunya wanita
yang mengenali penyamaranmu, adalah juga satu-satunya
wanita yang dapat memahaminya. Sekalipun engkau
menghancurkanku dalam perjalananmu, Edmond, aku
tetap akan mengagumimu! Seperti ada jurang luas antara
aku dan masa laluku, begitu juga ada jurang yang sangat
luas antara dirimu dan orang-orang lain. Dan aku akui,
bahwa kepedihan yang paling menyiksa bagiku adalah
mencari bandingan bagimu. Aku tidak berhasil, karena di
dunia ini tidak seorang pun setaraf denganmu atau sama
denganmu. Sekarang sebaiknya kita ucapkan selamat
berpisah, Edmond. Mari kita berpisah."
"Sebelum aku pergi, Mercedes, katakanlah dahulu apa
yang kau kehendaki."
"Aku hanya menginginkan satu hal: kebahagiaan anakku."
“Berdo'alah kepada Tuhan agar dia terhindar dari kematian,
dan aku akan melakukan sisanya."
"Terima kasih, Edmond"
"Bagaimana dengan engkau sendiri?"
"Aku tidak memerlukan apa-apa. Aku hidup di antara
dua kuburan. Satu, kuburan Edmond Dantes, laki-laki yang
sangat kucintai dan yang sudah lama sekali meninggal. Aku
tidak mau menghilangkan kenangan itu dari pikiranku, apa
pun ditawarkan orang sebagai penggantinya. Kuburan yang
satu lagi, kuburan laki-laki yang dibunuh oleh Edmond
Dantes. Aku dapat membenarkan tindakannya itu, tetapi
aku wajib tetap mendo'akan bagi kebaikan arwah korban."
"Tetapi apa yang hendak kaulakukan?"
"Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali berdo'a,
dan aku tidak perlu bekerja mencari nafkah, karena aku
telah menemukan harta karun yang kaukubur dua puluh
empat tahun yang lalu."
"Mercedes, aku tidak bisa menyalahkan sikapmu itu,
tetapi aku kira pengorbananmu itu terlalu berlebihan ketika
engkau meninggalkan semua harta kekayaan suamimu,
yang sebenarnya setengahnya menjadi hakmu berkat kehematan
dan pemeliharaanmu."
"Aku tahu apa yang hendak kautawarkan, Edmond,
tetapi aku tidak dapat menerimanya. Anakku akan melarangnya."
''Kalau begitu, aku tidak akan berbuat apa pun yang tidak
akan disetujui olehnya. Aku ingin mengetahui apa yang
menjadi keinginannya dan akan berpegang teguh kepadanya.
Seandainya dia menyetujui apa yang hendak aku
lakukan, apakah engkau pun akan setuju?"
"Aku bukan orang yang berpikir lagi, Edmond, Tuhan
telah menggoncangkan jiwaku sehingga aku sudah tidak
mempunyai kemauan lagi. Karena aku tetap hidup, berarti
DIA tidak menghendaki aku mati. Kalau Tuhan
mengantarkan pertolongan, berarti Tuhan menghendaki
aku menerimanya."
"Bukan begitu caranya kita memuja Tuhan," kata Monte
Cristo. "Tuhan menghendaki kita mengertiNYA dan memikirkan
tujuanNYA: Itulah sebabnya kita diberi kebebasan
kemauan”
"Jangan berkata begitu!" seru Mercedes cepat. "Kalau
aku mempercayai bahwa Tuhan memberiku kebebasan kemauan,
kemauanku adalah mati, dan ini berarti pula bahwa
aku sudah tidak percaya lagi bahwa masih ada sesuatu yang
dapat menyelamatkan aku dari puncak keputusasaan."
Monte Cristo mengalah kepada kemurungan yang sudah
memuncak pada wanita itu.
"Maukah engkau mengatakan 'sampai berjumpa lagi’?”
tanyanya sambil mengulurkan tangan kepada Mercedes.
"Ya, 'sampai berjumpa lagi," jawab Mercedes khidmat
sambil melihat ke langit. "Aku mengatakannya karena aku
hendak membuktikan kepadamu bahwa aku masih mengharapkan
bertemu kembali."
Setelah memegang tangan Monte Cristo yang gemetar
Mercedes berbalik, lalu berlari menaiki tangga.
Monte Cristo berjalan perlahan-lahan kembali ke pelabuhan.
Sekalipun Mercedes berada di muka jendela kamar yang
pernah ditinggali ayah Dantes, dia tidak melihat kepergian
Monte Cristo. Matanya mencari-cari kapal yang membawa
anaknya di lautan. Matanya mencari bayangan anaknya,
tetapi bibirnya mengucapkan, "Edmond! Edmond!"
BAB LXIX
HATINYA terasa berat ketika ia meninggalkan
Mercedes, Ia mengira kemungkinan untuk dapat bertemu
kembali sangat kecil.
Sejak kemattan Edouard banyak perubahan terjadi pada
diri Monte Cristo. Setelah dengan segala susah-payah
sampai kepada akhir pembalasannya, dia terpaksa menoleh
lagi ke belakang dan ternyata menemukan banyak hal yang
menimbulkan keraguan. Tambahan lagi pembicaraan
dengan Mercedes membangkitkan beberapa pikiran dan
perasaan yang harus ditekannya.
Untuk seorang seperti Monte Cristo tidak boleh terlalu
lama berada dalam keadaan seperti itu. Kepada dirinya
sendiri terus-menerus dia katakan, kalau sampai menyalahkan
diri sendiri, berarti ada beberapa kesalahan di luar
perhitungannya.
"Mungkin aku kurang tepat menuai masa laluku," pikirnya.
"Bagaimana mungkin aku membuat kesalahan seperti
ini? Apakah usahaku ini sia-sia? Mungkinkah selama sepuluh
tahun ini aku menuruti jalan yang kurang benar? Tidak,
aku tak dapat menerima pikiran itu . .. Menerima itu berarti
hatiku gelisah terus. Alasan mengapa aku sekarang menjadi
ragu, karena aku menilai masa lalu tidak seperti dahulu lagi
ketika aku mulai berangkat melaksanakan sumpah. Masa
lampau itu hilang bersama waktu, seperti hilangnya sebuah
benda ditelan jarak. Apa yang terjadi pada diriku sekarang
sama dengan yang terjadi pada orang yang bermimpi
melihat dan merasakan sesuatu luka tetapi tidak ingat bila
mendapatkannya."
Monte Cristo berjalan sepanjang Rue Saint-Laurent menuju
pelabuhan. Sebuah perahu sewaan kebetulan lewat.
Monte Cristo memanggil pemiliknya yang datang segera
dengan harapan mendapatkan upah yang baik.
Hari sangat baik. Tetapi langit yang cerah, perahuperahu
pesiar yang berlayar kian ke mari dengan lemah
gemulai, dan cahaya matahari yang menyirami alam
sekeliling, semua itu sama sekali tidak menarik perhatian
Monte Cristo. Pikirannya sedang kembali ke beberapa
tahun yang lalu, ketika dia menjalani perjalanan yang tidak
menyenangkan melalui jalur ini. Masih jelas terbayang
dalam ingatannya semua kejadian waktu itu. Gedung d’If
yang memberitahu ke mana dia akan dibawa,
pergulatannya dengan para pengawal ketika dia mencoba
menceburkan diri ke laut, keputus-asaannya ketika
merasakan dirinya tidak berdaya dan rasa dingin yang
menggigil ketika dia merasakan laras senapan ditekankan
pada dahinya. Sedikit demi sedikit Monte Cristo merasakan
kembali kepahitan yang pernah merendam hati Edmond
Dantes. Bersamaan dengan itu tulanglah baginya langit dan
cahaya matahari yang cerah. Langit seakan-akan berubah
menjadi gelap, hitam bagaikan berkabung. Gedung d'If
yang mulai membayang di kejauhan membuat dia
terperanjat seperti melihat hantu musuh yang sangat berbahaya.
Ketika mendekati pantai, secara naluriah Monte Cristo
kembali ke buritan kapal.
"Kita hampir sampai, Tuan," kata pemilik perahu.
Monte Cristo ingat betul di tempat itu jugalah dia dahulu
didaratkan dengan paksa oleh para pengawal dan dipaksa
pula menaiki lereng dengan ujung bayonet di punggungnya.
Sejak Revolusi Juli gedung itu sudah tidak dipergunakan
lagi sebagai penjara. Sekarang diisi oleh sebuah detasemen
tentara yang bertugas menjaga jangan sampai gedung itu
dipergunakan oleh para penyelundup. Ada seorang penunjuk
jalan menunggu di gerbang untuk membantu para
pengunjung yang ingin melihat-lihat gedung yang pernah
menyeramkan itu dan sekarang sudah berubah menjadi
obyek pariwisata.
Sekalipun Monte Cristo sudah mengenalnya dengan
baik, namun ketika dia menuruni tangga gelap yang menuju
ke sel bawah tanah, tak urung keringat dinginnya keluar
dari dahi. Hatinya serasa hendak membeku.
Monte Cristo bertanya kalau-kalau ada bekas pegawai
penjara yang masih tinggal di sana. Dia mendapat jawaban
bahwa semua telah pensiun atau pindah bekerja di tempat
lain. Penunjuk jalan yang mengantarnya sekarang mulai
bekerja di sana sejak tahun 1830.
Monte Cristo diantar memasuki selnya dahulu. Dia melihat
secercah cahaya remang-remang masuk melalui jendela
yang sempit. Terlihatlah bekas ranjangnya. Sekalipun sudah
diperbaiki namun lubang yang dibuat oleh Padri Faria masih
jelas tampak. Monte Cristo merasakan lututnya melemah.
Dia terduduk di atas sebuah bangku kayu.
"Apa ada ceritera yang berhubungan dengan penjara ini,
kecuali ceritera tentang penahanan Mirabeau?" tanya
Monte Cristo.
"Ada, Tuan" jawab penunjuk jalan. "Salah seorang sipir
pernah berceritera kepada saya tentang sel ini. Maukah
Tuan mendengarnya?"
"Ya. Coba ceriterakan," Monte Cristo menekankan
tangan kanannya di tentang jantungnya untuk menahan
debarnya, karena ada semacam rasa takut untuk mendengar
ceritera itu.
"Sel ini," kata pengantar memulai, "pernah diisi seorang
tahanan yang sangat berbahaya. Begitu kata orang, sekurang-
kurangnya. Dan di dalam sel yang berdekatan ada lagi
seorang pesakitan yang lain, yang sama sekali tidak berbahaya.
Ia seorang padri miskin yang menjadi gila di sini."
"Oh," kata Monte Cristo. "Gila bagaimana?"
"Dia selalu menawarkan jutaan frank untuk ditukar
dengan kemerdekaannya."
"Bisakah kedua orang pesakitan itu bertemu?"
'Tidak, Tuan. Dilarang sama sekali. Tetapi, mereka berhasil
membuat lubang di bawah lantai yang dapat menghubungkan
kamar masing-masing."
"Yang mana yang membuat lubang itu?"
'Tentu saja yang muda. Dia seorang yang kuat dan bersemangat,
sedangkan padri miskin itu telah tua dan lemah.
Lagipula, otak padri itu sudah tidak waras lagi untuk dapat
membuat jalan semacam itu."
"Bodoh!" pikir Monte Cristo.
"Tak seorang pun tahu bagaimana caranya pesakitan
muda itu bekerja," lanjut pengantar, "tetapi tak dapat
disangkal dialah yang membuatnya. Lihat, Tuan, masih
melihat bekas bekasnya." Dia menerangi dinding dengan
obornya.
"Ya, ya " kata Monte Cristo sambil memendam berbagai
perasaan.
"Dengan adanya jalan ini kedua pesakitan itu dapat
berhubungan satu sama lain. Tidak pernah diketahui berapa
lama mereka berbuat begitu. Pada suatu hari pesakitan tua
itu sakit, lalu mati. Dapatkah Tuan mengira-ngira apa yang
diperbuat pesakitan muda itu?"
"Tidak."
"Dia memindahkan mayat kawannya yang sudah dikarungi
ke ranjangnya sendiri. Lalu, dia sendiri kembali ke sel
padri tua dan masuk ke dalam karung mayat bekas
kawannya, setelah menutup lubang rahasia."
Monte Cristo menutup matanya, seperti sedang merasakan
sekali lagi dinginnya karung mayat itu menyentuh
wajahnya.
"Begini rupanya rencana anak muda itu: Dia mengira
bahwa mayat pesakitan dikubur di bukit ini, oleh karena dia
yakin Pemerintah tidak bakal mau menyediakan peti mati.
Dia bermaksud membongkar kuburnya sendiri dari dalam.
Tetapi sial sekali baginya, kebiasaan di penjara ini
menghancurkan semua rencananya. Mereka tidak pernah
mengubur mayat. Mereka hanya memberati kaki mayat
dengan peluru meriam lalu melemparkannya ke dalam laut.
Itulah nasib anak muda itu. Keesokan harinya, para
pengawal penjara menemukan mayat padri tua di ranjang
pesakitan muda. Selanjutnya dengan mudah mereka dapat
menduga segala-galanya, terutama sekali ketika petugas
yang melemparkan mayat ke laut menceriterakan sesuatu
yang tidak pernah berani dia katakan sebelumnya. Katanya,
ketika melemparkan karung itu mereka mendengar jeritan
yang sangat mengerikan yang segera menghilang begitu
karung itu menyentuh air."
Monte Cristo menarik napas berat sekali, amarahnya
bangkit di hatinya. "Tidak!" katanya dalam hati. "Aku ragu
akan kebenaran tindakanku karena aku sudah mulai lupa
kepada masa laluku. Kini, luka dalam hatiku merekah lagi
dan dahaga balas dendam kembali bangkit." Lalu dia
berkata kepada pengantarnya, "Apakah setelah itu ada
terdengar lagi berita mengenai pesakitan itu?"
"Tidak, Tuan. Dia dilemparkan dari ketinggian lima puluh
kaki, dan kakinya dahulu yang mengenai permukaan
air. Jadi peluru meriam yang berat itu pasti
meluncurkannya langsung ke dasar lautan. Kasihan dia."
"Apa engkau merasa kasihan?"
"Tentu saja, Tuan, sekalipun dia mati dalam dunianya
sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Menurut ceritera orang, dia seorang pelaut yang dipenjarakan
karena terlibat dalam gerakan Bonaparte."
"Siapa namanya?"
"Dia hanya dikenal dengan Nomer 34."
"Villefort, Villefort!" katanya lagi dalam hati. 'Itulah
tentu yang berteriak-teriak dalam hati nuranimu setiap kali
hantu diriku mengganggu tidurmu!"
"Apakah Tuan mau melihat yang lain-lainnya, Tuan?"
“Ya, terutama sel padri tua itu."
"Mari ikuti saya, Tuan."
"Sebentar," kata Monte Cristo. "Aku ingin melihat kamar
ini sekati lagi."
"Baik, Tuan, dan kebetulan saya harus mengambil dahulu
kunci sel padri itu. Silakan Tuan melihat-lihat selama
saya pergi."
"Ambillah!"
"Saya tinggalkan obor ini."
"Biar, tidak usah."
"Tetapi di dalam gelap sekali."
"Saya dapat melihat dalam gelap."
"Seperti Nomer 34 saja. Kata orang, dia dapat menemu
kau peniti dalam sudut yang tergelap dalam sel ini."
''Diperlukan sepuluh tahun latihan untuk itu," jawab
Monte Cristo dalam hatinya.
Pengantar itu pergi dengan membawa obor.
Hanya dalam beberapa detik, Monte Cristo sudah dapat
melihat segala sesuatu dalam sel dengan jelas sekali. "Ya,"
katanya sendiri, "inilah batu yang biasa kududuki, dan itu
bekas darah dari dahiku ketika aku mencoba memecahkan
kepala pada tembok! Angka-angka ini . . . ya, aku ingat.
Aku membuatnya ketika aku menghitung usia ayahku
untuk mengira-ngira apakah mungkin aku menjumpainya
lagi, dan umur Mercedes untuk mengira-ngira apakah
mungkin aku menemuinya masih belum kawin. Aku mempunyai
harapan ketika selesai menghitung itu. Aku tidak
pernah memperhitungkan kelaparan dan ketidaksetiaan ketika
itu!"
Tawa pahit tersembur dari bibirnya. Seperti dalam mimpi
dia melihat ayahnya diusung ke kuburan-dan Mercedes
diiringi berjalan ke altar.
Perhatiannya tertarik kepada sebuah tulisan di tembok
lain: "OH TUHAN, LINDUNGILAH INGATANKU!"
"Itulah satu-satunya do'aku menjelang akhir penyekapan,"
pikirnya. "Aku sudah tidak lagi meminta kemerdekaan,
aku hanya minta dipelihara ingatanku karena aku takut gila
dan lupa akan segala. Engkau telah mengabulkan doa ku,
Ya Tuhan! Terima kasih, terima kasih, Tuhanku!"
Cahaya obor membayang ditembok. Pengantar itu telah
kembali dan Monte Cristo keluar.
"Silakan ikuti saya, Tuan."
Monte Cristo melihat sisa-sisa ranjang kematian Padri
Faria. Melihat ini, bukan amarah yang timbul dalam
hatinya seperti ketika dia melihat bekas selnya sendiri,
melainkan perasaan haru dan terima kasih sehingga
matanya berlinang-linang.
"Inilah kamar padri gila itu." Sambil menunjuk sebuah
lubang yang masih terbuka dia melanjutkan, "Dari situlah
datangnya pesakitan muda kalau berkunjung. Menilik kepada
keadaan batunya, orang arif memperkirakan bahwa kedua
orang itu telah berhubungan sekitar sepuluh tahun,
Waktu yang lama sekali tentu bagi mereka itu! Kasihan!"
Dantes mengambil beberapa buah uang logam dua puluh
frank dari saku bajunya dan memberikannya kepada orang
yang telah dua kali menyebut kasihan tanpa mengenal siapa
yang dikasihaninya. Pengantar itu menerimanya dengan
mengira bahwa dia hanya menerima beberapa uang receh
saja. Tetapi setelah melihatnya dalam sinar obor dia baru
menyadari nilai sebenarnya.
"Mungkin Tuan keliru."
"Apa maksudmu?"
"Ini uang emas."
"Aku tahu."
"Benarkah Tuan bermaksud memberikannya kepada
saya?"
"Ya."
Pengantar itu menatap wajah Monte Cristo penuh keheranan,
'Tuan," katanya. "Saya tidak dapat memahami
kemurahan hati Tuan."
'Tidak sukar sebenarnya. Aku pun bekas pelaut, jadi aku
sangat terpengaruh oleh ceriteramu tadi."
"Oh! Karena Tuan telah bermurah hati, saya wajib
menawarkan sesuatu."
"Apa yang dapat kautawarkan?"
"Sesuatu yang ada hubungannya dengan ceritera tadi."
"Betul?" kata Monte Cristo ingin segera tahu. "Apa itu?"
"Begini. Pada suatu hari saya berkata kepada diri saya
sendiri: 'Kita akan dapat menemukan sesuatu di dalam sel
yang pernah dihuni seorang pesakitan selama lima belas
tahun.' Saya mulai mencari-cari dan akhirnya, di dalam lubang
perapian yang tertutup sebuah batu, saya
menemukan..”
'Tangga tali dan beberapa perkakas?" tanya Monte Cristo
cepat.
"Bagaimana Tuan mengetahuinya?" tanya pengantar itu
bertambah heran.
"Aku tidak tahu, aku hanya menduga saja. Itu kan
barang-barang yang biasa disembunyikan seorang pesakitan
dalam selnya .. . Masih kausimpan barang-barang itu?"
'Tidak, Tuan, saya telah menjualnya kepada seorang
pengunjung. Tetapi saya masih mempunyai sesuatu yang
lain."
"Apa?" Monte Cristo sudah tidak sabar. "Semacam buku
yang ditulis pada beberapa lembar kain."
"Masih ada buku itu?"
"Saya tidak tahu bahwa itu sebuah buku, tetapi masih
ada pada saya."
"Ambil dan berikan kepadaku!"
Pengantar itu meninggalkan sel. Monte Cristo berlutut di
depan ranjang yang untuk Monte Cristo sekarang sudah
berubah menjadi sebuah altar. "Oh, Bapakku yang kedua,"
katanya, "yang arif bijaksana, engkau telah memberikan
kepadaku kemerdekaan, ilmu dan kekayaan . . . seandainya
setelah wafat, Bapak masih dapat memberikan sesuatu yang
dapat menggembirakan atau membangkitkan semangat,
wahai hati yang mulia, yang arif bijaksana, wahai jiwa yang
tenang, berikanlah isaratnya kepadaku. Hapuskanlah rasa
ragu dalam hatiku ini yang bisa berubah menjadi rasa dosa
dan akhirnya menjadi penyesalan!" Monte Cristo
menundukkan kepala dan merapatkan kedua belah tangannya.
"Inilah, Tuan," kata suara di belakangnya. Monte Cristo
terperanjat dan membalik. Pengantar menyerahkan sobekan-
sobekan kain tempat Padri Faria mencurahkan semua
kekayaan ilmunya. Ini merupakan karya besarnya
mengenai kerajaan di Italia.
Monte Cristo menerima dengan gairah. Yang pertamatama
terbaca ialah motto yang berbunyi: "Engkau wajib
mencabut taring-taring ular naga dan menginjak-injak kaki
singa, begitulah sabda Tuhan."
"Ah!" kata Monte Cristo memekik gembira. "Inilah
jawaban untukku! Terima kasih, Bapak, terima kasih!"
Monte Cristo mengeluarkan dompet kecil yang berisi
sepuluh lembar uang kertas seribuan. "Ini," katanya kepada
pengantar, "ambillah dompet ini."
"Untuk saya?"
"Ya, tetapi dengan syarat, jangan dahulu dilihat isinya
sampai aku pergi."
Sambil menekankan benda berharga itu ke dadanya
Monte Cristo berlari meninggalkan sel, kembali ke perahu
yang menunggunya. "Kembali ke Marseilles," perintahnya.
Selama dalam perahu matanya tidak pernah lepas dari
penjara yang menyeramkan itu, yang makin lama makin
menjauh. "Terkutuklah mereka yang menjebloskanku ke
dalam lubang penderitaan itu dan mereka yang lupa bahwa
aku pernah berada di dalamnya!"
Kemenangannya telah lengkap. Monte Cristo telah
berhasil mengalahkan keraguannya untuk kedua kalinya.
Setelah mendarat dia pergi ke pekuburan di mana ia
menemukan Maximilien. Sepuluh tahun yang lalu dia pun
pernah berkunjung ke pekuburan ini, namun, kendati
dengan jutaan frank di tangannya dia tidak berhasil
menemukan kuburan ayahnya yang mati karena kelaparan.
Keadaan ayah Maximilien lebih baik. Dia meninggal dalam
pelukan putra-putrinya, dia dibaringkan di sisi istrinya yang
meninggal dua tahun lebih dahulu. Nama-nama mereka
terukir pada batu pualam, diletakkan berdampingan,
berpagar besi dan diteduhi oleh empat batang pohon sip res.
Maximilien bersandar kepada salah satu pohon itu dan
menatap kedua kuburan dengan wajah dungu.
''Maximilien,” kata Monte Cristo, "dalam perjalanan ke
mari pernah engkau mengatakan mau tinggal di Marseilles
untuk beberapa hari. Apakah masih ada keinginan itu?"
"Saya sudah tidak mempunyai keinginan apa-apa lagi.
Tetapi, rasanya menunggu di sini akan lebih ringan dibandingkan
dengan di tempat lain."
"Baik, kalau begitu. Aku akan meninggalkanmu untuk
beberapa lama, tapi kuharap engkau teguh memegang
janji!"
Anak muda itu membiarkan kepalanya terkulai ke dada.
"Saya ingat janji itu," katanya setelah diam beberapa - saat.
'Tetapi, ingat . . .”
"Aku menunggumu di Pulau Monte Cristo pada tanggal
5 Oktober. Tanggal empat, sebuah kapal pesiar akan
menunggumu di pelabuhan Bastia. Nama kapal pesiar itu
Eurus. Sebutkan namamu kepada kaptennya, dia akan
membawamu kepadaku.”
"Saya akan bertindak seperti yang sayajanjikan, tetapi
ingatlah bahwa pada tanggal 5 Oktober . ."
"Sudah kukatakan lebih dari dua puluh kali bahwa
apabila engkau masih bersikeras mau mati pada hari itu,
aku sendiri yang akan membantumu. Sekarang, selamat
tinggal."
'Tuan mau berangkat sekarang?"
"Ya. Ada sesuatu yang harus kukerjakan di Italia. Aku
harus berangkat sekarang juga. Mau engkau mengantarku
sampai ke pelabuhan?"
"Siap, Tuan."
Maximilien mengawani Monte Cristo ke pelabuhan.
Asap hitam sudah mengepul dari cerobong kapal ketika
mereka tiba. Satu jam kemudian kapal itu sudah
menghilang di kaki langit timur.
BAB LXX
TEPAT pada waktu yang bersamaan dengan
menghilangnya kapal Monte Cristo di Teluk Morgio,
seorang laki-laki lain baru saja melewati sebuah kota kecil
antara Florence dan Roma. Aksen bicaranya menunjukkan
orang Peran cis Kata-kata Italia yang dikenalnya adalah
istilah musik. Dia katakan 'Allegro' kepada saisnya kalau
dia menghendaki percepatan dan 'Moderate' kalau meminta
berjalan sedang.
Ketika sampai di La Storta dari mana Roma dapat terlihat
dari kejauhan, laki-laki ini sama sekali tidak
merasakan tertarik oleh pemandangan indah itu, berbeda
dengan orang asing lainnya yang selalu berhenti sejenak
untuk menikmati keindahan Gereja Saint Peter yang
menjulang mengatasi bangunan-bangunan lain. Dia, justru
mengeluarkan dompet membuka kertas itu dan menatapnya
dengan penuh penghargaan lalu melipatnya kembali, dan
akhirnya berkata: "Untung aku masih punya ini."
Kereta berjalan menyusuri Porta del Popolo, membelok
ke kiri lalu berhenti di muka sebuah hotel. Pemilik hotel Itu,
Signor Pastrint, menyambut tamunya di ambang pintu
dengan topi di tangan. Laki-laki itu turun dari kereta, memesan
kamar dan makanan dan menanyakan alamat firma
Thomson and French.
Ketika tamu ini meninggalkan hotel diantar seorang penunjuk
jalan, seorang laki-laki lain diam-diam
mengikutinya. Rupanya orang Perancis itu sangat bergegasgegas,
sampai dia tidak mau membuang waktu menunggu
kuda kereta didandani dahulu. Dia berjalan saja setelah
memesan agar kereta itu menyusuinya dan menunggu di
kantor firma Thomson and French.
Orang Perancis itu masuk, meninggalkan pengantarnya
di ruang tamu.
"Firma Thomson and French!" tanya orang asing Itu
kepada seorang karyawan.
Seorang pelayan berdiri atas isarat dari karyawan yang
memperhatikan tamunya dengan teliti.
"Bolehkah saya mengetahui nama Tuan?" tanya pelayan.
"Baron Danglars,"
Pelayan dan baron itu memasuki ruangan lain. laki-laki
yang mengikuti Danglars sejak dari hotel duduk menunggu.
Karyawan menulis lagi, sedang laki-laki yang menunggu itu
tetap diam. Pena karyawan berhenti bergerak. Dia menengadah
dan secara hati-hati melihat ke sekelilingnya.
"Ah!" katanya, "sudah di sini rupanya engkau, Peppino?"
"Ya," jawab laki-laki yang menunggu itu.
"Apakah sudah menemukan keterangan-keterangan mengenai
orang gemuk itu?"
"Kami sudah diberi tahu sebelumnya."
"Artinya kau sudah tahu apa maksudnya datang ke
mari?"
"Tentu saja. Dia datang untuk mengambil uang. Yang
kami perlukan sekarang berapa banyak jumlahnya."
"Akan saya beri tahukan sebentar lagi, kawan."
"Baik, tetapi jangan berikan keterangan yang salah, seperti
yang kau berikan mengenai Pangeran Rusia beberapa
waktu yang lalu. Kaukatakan tiga puluh ribu frank padahal
kami hanya menemukan dua puluh lima ribu.”
"Barangkali kalian kurang cermat menggeladahnya."
"Tak mungkin. Luigi Vampa sendiri yang melakukannya.”
"Kalau begitu, pasti sudah dia gunakan untuk membayar
hutangnya atau membelanjakannya sebagian sebelum
kalian berhasil menangkapnya."
"Memang, mungkin begitu."
"Bukan mungkin, pasti. Maaf, aku tinggal dahulu, aku
mau melihat berapa tepatnya uang yang ditarik orang
Perancisitu."
Peppino mengangguk. Ketika karyawan itu masuk ke
ruangan yang dimasuki Danglars tadi, Peppino mengeluarkan
tasbih dari kantong bajunya lalu mulai berdo'a seperti
orang alim. Sepuluh menit kemudian karyawan itu kembali.
"Bagaimana?" tanya Peppino.
"Hampir tak masuk akal. Siap-siap untuk mendengarnya!"
"Lima juta, bukan?"
"Tepat. Bagaimana kau tahu?"
"Dari kwitansi yang ditandatangani Count of Monte
Cristo."
"Betul!" jawab karyawan itu semakin heran. "Dari mana
kau mendapatkan keterangan yang secermat itu?”
"Sudah kukatakan tadi, kami sudah diberitahu lebih
dahulu."
"Jadi, apa gunanya lagi meminta keterangan dari aku?"
"Hanya untuk meyakinkan bahwa dialah orangnya.”
"Memang dialah orangnya ... Sst. Dia keluar!"
Karyawan mengambil penanya dan Peppino tasbihnya.
Yang satu menulis yang lain berdo'a ketika pintu terbuka
dan Danglars keluar dengan wajah yang cerah, diantar oleh
kepala bank sampai ke pintu. Peppino pun keluar mengikuti
Danglars.
Sebuah kereta menunggu Danglars di depan kantor.
Pengantar yang dibawanya dari hotel membukakan pintu
dan Danglars naik. Setelah itu pengantar menutup pintu
kereta dan dia sendiri duduk di sebelah kusir. Peppino naik
ke tempat duduk di belakang.
"Apakah ada minat untuk pergi ke Gereja Saint Peter,
Yang Mulia," tanya pengantar.
"Buat apa?"
"Ya, untuk melihat-lihat!”
"Saya datang ke Roma tidak untuk pesiar."
"Ke mana jadi harus saya antarkan Tuan?"
"Kembali ke hotel!"
"Casa Pastrinl," kata pengantar kepada kusir.
Sepuluh menit kemudian Baron Danglars sudah kembali
di kamarnya, Peppino duduk di sebuah bangku di muka
hotel. Danglars merasa letih, mengantuk dan bahagia. Dia
menyimpan dompetnya di bawah bantal, lalu tidur.
Sekalipun dia tidur dini sekali, namun keesokan harinya
ia bangun terlambat sekati. Mungkin disebabkan kurang
tidur selama enam hari belakangan ini.
Sarapannya hebat sekali. Tanpa tertarik sedikit pun
untuk melihat-lihat kota Abadi itu, dia memesan kereta
untuk tengah hari. Tetapi dia tidak memperhitungkan kebiasaan
kepolisian dan kelambatan kantor pos setempat.
Kereta pesanannya tidak datang sebelum jam dua, sedangkan
paspornya baru selesai diurus oleh petugas hotel jam
tiga.
"Mengambil jalan mana, Tuan?"' tanya kusir dalam bahasa
Italia.
"Jalan Ancona."
Signor Pastrini bertindak sebagai penterjemah. Kereta
segera berangkat. Melalui Venetia Danglars bermaksud menuju
Wina, sebuah kota yang terkenal sebagai kota hiburan.
Di sanalah dia bermaksud menetap.
Ketika malam tiba, kereta sudah cukup jauh dari Roma.
Dia bertanya kepada kusir berapa jauhnya lagi sampai ke
kota berikutnya.
"Non capisco," jawab kusir.
Danglars mengangguk. Kereta berjalan terus. "Aku akan
menginap semalam di perhentian berikut" katanya dalam
hari.
Selama sepuluh menit dia memikirkan istrinya yang dia
tinggalkan di Paris, sepuluh menit berikutnya diberikan
kepada anaknya yang sedang berkelana entah di mana
bersama Nona d’Armily. Berikutnya ia memikirkan bagaimana
akan memanfaatkan uangnya. Setelah tidak ada lagi
yang dapat dipikirkannya, ia menutup mata lalu tidur.
Kereta berhenti. Danglars membuka mata, melihat ke
luar melalui jendela, mengira sudah sampai di sesuatu kota
atau sekurang-kurangnya kampung. Tetapi dia tidak
melihat apa-apa, kecuali reruntuhan beberapa bangunan.
Empat orang berjalan bolak-balik seperti bayangan.
Danglars menunggu kusir yang baru saja selesai mengganti
kuda datang meminta bayaran. Aneh, kuda diganti tanpa
ada orang meminta bayaran. Dia merasa heran, lalu
membuka pintu kereta. Sebuah tangan yang kasar
menutupnya kembali dengan keras, dan kereta berangkat
lagi
Baron yang tidak dapat memahami kejadian ini, hilang
kantuknya. "Hei, mio caro’” dia memanggil kusir dengan
kata kata Italia yang dia ambil dari sebuah lagu yang dinyanyikan
berduet oleh anaknya dan Pangeran Cavalcanti. Tetapi
mio caro tidak menjawab. Danglars membuka jendela,
menjulurkan kepala dan berteriak, "Ke mana kita?"
”Dentro la testa’" sebuah suara berat dengan nada mengancam
menjawabnya
Danglars mengerti bahwa dentro la testa berarti 'masukkan
kepalamu’. Cepat juga dia belajar bahasa Italia itu.
Danglars menurut, tapi bukan tanpa risau. Kerisauan ini
makin lama makin meningkat, sehingga akhirnya kepalanya
penuh dengan segala macam pikiran yang menakutkan,
terutama bagi orang dalam keadaan seperti dirinya. Dia melihat
orang berkuda di sebelah kanan keretanya.
"Polisi,” pikirnya "Barangkali pemerintah Perancis telah
mengirim kabar kepada pemerintah Roma tentang diriku.”
Dia ingin segera mendapat kepastian. "Ke mana aku
akan kalian bawa?"
"Dentro la testa!" jawab suara yang tadi dalam nada yang
sama.
Danglars melihat ke sebelah kiri Di sini pun ada orang
berkuda mendampingi kereta. "Tak syak lagi," katanya
sendiri. "Aku tertangkap.” Dia bersandar, bukan untuk
tidur melainkan untuk berpikir. Tak lama kemudian bulan
muncul. Dia menengok lagi ke luar dan terlihat lagi aliran
air yang sudah dilihatnya tadi pada ketika permulaan perjalanan.
Hanya saja kalau tadi aliran itu berada di sebelah
kanan, sekarang di sebelah kirinya. Dia menyangka bahwa
kereta telah berputar haluan membawanya kembali ke Roma.
Akhirnya dia melihat bayangan hitam d; hadapannya
seakan-akan hendak diterjang kereta, tetapi pada detik terakhir
kereta menyimpang dan berjalan di sebelah bayangan
hitam itu. Ternyata bayangan hitam itu salah satu benteng
pertahanan sekeliling Roma.
"Rupanya tidak kembali ke kota. Artinya mereka bukan
polisi yang mau menangkapku," pikir Danglars. "Ya Tuhanku!
Mungkinkah mereka . . ." Ingatannya kembali kepada
ceritera-ceritera menarik tentang bandit-bandit Roma yang
tidak banyak dipercaya di Perancis. Teringat juga ia kepada
pengalaman Albert de Morcerf.
Kereta berhenti dan pintu sebelah lari terbuka.
“Scendi!” perintah satu suara. Danglars segera turun.
Dia belum dapat berbicara bahasa Italia tetapi dapat mengerti.
Dalam keadaan lebih dekat kepada mati daripada hidup,
Danglars melihat ke sekelilingnya. Dia dikepung oleh
empat orang, tidak termasuk sais.
"Di qua" kata salah seorang sambil berjalan memasuki
jalan setapak. Danglars mengikutinya tanpa membantah.
Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit tanpa berbicara
dengan yang membawanya, Danglars mendapatkan
dirinya di antara dua bukit kecil. Tanahnya penuh ditumbuhi
rumput-rumput tinggi. Tiga orang berdiri tegak merupakan
segrtiga. Danglars berada di tengah-tengah mereka.
"Avanti!" Terdengar lagi suara yang bengis tadi memerintah.
Sekali ini Danglars memahami perintah itu tidak
dari kata-katanya, melainkan dari gerakan tubuh orang.
Orang yang di belakangnya mendorongnya dengan kuat
sekali sehingga dia menubruk orang di hadapannya. Orang
ini tiada lain dari Peppino, yang sudah hafal betul liku-liku
jalan ini.
Peppino berdiri di muka sebuah batu karang besar yang
setengah terbuka seperti pelupuk mata, lalu masuk ke dalamnya.
Suara dan gerakan orang di belakang Danglars memerintah
agar mengikuti Peppino. Danglars tidak ragu-ragu
lagi bahwa dia sudah jatuh ke tangan bandit-bandit Roma,
Dua orang berjalan di belakangnya, dan selalu mendorongnya
apabila Danglars berhenti. Mereka membawa Danglars
melalui sebuah gang yang agak miring ke sebuah tempat
yang menyeramkan.
"Siapa itu?" tanya seorang penjaga.
"Kawan!" jawab Peppino. "Di mana pemimpin?"
"Di dalam."
Peppino memegang Danglars pada leher bajunya dan
menarik dia melalui sebuah lubang, membawanya ke ruangan
tempat tinggal kepala bandit.
'Inikah orangnya?" tanya kepala bandit yang sedang
asyik membaca buku Kehidupan Alexander di Plutarch.
''Betul."
"Terangi mukanya."
Atas perintah ini Peppino mendekatkan obor begitu dekat
ke wajah Danglars sehingga baron itu mundur karena
kepanasan. Air mukanya menunjukkan sangat ketakutan.
"Dia cape," kata kepala bandit. "Bawa dia ke tempat
tidurnya."
Darahnya tersirap karena apa yang disebut tempat tidur
terbayang olehnya sebagai kuburan. Dia mengikuti
Peppino,tanpa mencoba berteriak atau meminta dikasihani
karena dia sudah tidak mempunyai kekuatan, keinginan
ataupun perasaan lagi. Dia dibawa ke semacam kamar
tahanan.
Keadaannya bersih dan kering sekalipun berada di
bawah tanah. Di salah satu sudutnya terdapat tempat tidur
dari tumpukan rumput kering dilapisi kulit biri-biri. Ketika
Danglars melihatnya dia menghela napas lega karena apa
yang dilihatnya itu merupakan suatu isyarat keselamatan.
"Terima kasih, Tuhan!" bisiknya. "Tempat tidur benar
rupanya!"
“Eccotn kata pengantarnya. Dia mendorong Danglars ke
dalam lalu mengunci pintu dari luar. Danglars menjadi
tahanan. Sekalipun pintu itu tidak dip alang umpamanya,
hanya seorang suci yang didampingi malaikat dari sorgalah
yang akan dapat lolos dari bandit-bandit di bawah pimpinan
Luigi Vampa yang tersohor dan bermarkas di pekuburan
Saint Sebastian itu.
Danglars mengenali kepala bandit ini dari ceritera Albert
sehingga sekarang mau tak mau dia percaya kepada apa
yang dahulu disangsikannya. Bukan saja dia mengenali
pribadi Luigi Vampa, tetapi juga mengenali kamar tahanannya
sebagai kamar tahanan Morcerf dahulu. Mungkin
sekali tempat ini sengaja disediakan untuk keperluan itu.
Pemikirannya yang berikut ini memberikan sedikit ketenangan
pada jiwanya: karena tidak segera dibunuh, rupanya
bandit-bandit itu memang tidak bermaksud membunuhnya.
Mereka menangkap pasti untuk merampok, tetapi
karena di sakunya hanya ada beberapa ribu frank saja
mereka menahannya untuk meminta uang tebusan. Dia
ingat bahwa Albert dahulu dilepaskan dengan uang tebusan
sekitar dua puluh empat ribu frank. Oleh karena dia menganggap
dirinya lebih penting dari Albert maka dia memperkirakan
uang tebusannya akan dua kali lipat. Masih akan
mempunyai sisa sebanyak lima juta frank lagi. Dengan jumlah
itu, dapat hidup berkecukupan di mana saja dalam
dunia ini
Dengan keyakinan yang hampir penuh akan dapat terbebas
dari keadaannya sekarang karena tidak pernah mendengar
ada uang tebusan sebanyak lima juta frank, Danglars
merebahkan diri di tempat tidur dan tak lama kemudian
lelap setenang pahlawan yang ceriteranya sedang dibaca
Luigi Vampa,
BAB LXXI
YANG pertama-tama dilakukannya setelah terjaga,
menarik napas panjang untuk meyakinkan dirinya bahwa
tiada luka di badannya. Cara ini diketahuinya dari Don
Quisot, satu-satunya buku yang pernah dia baca sehingga
hafal.
"Tidak," katanya, "mereka tidak membunuh, juga tidak
melukaiku. Tetapi mungkin aku sudah dirampok?" Dengan
cepat dia merogoh kantongnya. Uang dua ribu frank yang
dia sisihkan untuk bekal perjalanan masih berada di tempatnya.
Juga dompet yang berisi kertas berharga lima juta
masih ada. "Perampok aneh!" pikirnya. "Sangkaanku betul,
mereka akan meminta uang tebusan."
Perlukah dia meminta penjelasan dari bandit-bandit itu
atau menunggu saja dengan sabar sampai mereka mulai
bertindak? Pilihan yang kedua rupanya yang dianggapnya
paling baik. Dia menunggu.
Sementara itu seorang penjaga ditempatkan di muka
pintunya. Jam delapan penjaga diganti. Danglars ingin
sekali mengetahui siapa yang menjaganya. Dia melihat
berkas-berkas cahaya . ,. bukan cahaya matahari melainkan
cahaya lampu . . . masuk melalui celah-celah pintu. Melalui
celah itulah dia mengintip ke luar dan melihat penjaga
sedang minum brendi Tempat minumnya diperbuat dari
kulit.
Itulah sebabnya baunya menjadi tidak sedap. Danglars
mundur lagi.
Tengah hari penjaga diganti lagi. Keinginannya hendak
mengetahui timbul lagi. Sekali lagi dia mengintip. Penjaga
yang baru ini seorang yang tinggi dan kekar dengan mata
besar, bibir tebal, hidung pesek, rambut merah sepanjang
bahu diuntun beberapa buah sehingga kelihatan seperti ularular
bergantungan. Orang ini lebih menyerupai raksasa
daripada manusia, pikir Danglars. "Tapi aku ini sudah terlalu
tua dan liat untuk menjadi santapan yang sedap."
Danglars masih mempunyai sisa kepercayaan diri untuk
bergurau.
Pada saat yang bersamaan, seperti hendak membuktikan
bahwa dirinya bukan raksasa pemakan manusia, penjaga itu
duduk di depan pintu, lalu mengeluarkan dari kantongnya
sepotong roti hitam, beberapa buah bawang dan sekerat
keju.
"Semoga setan menyergapku kalau aku dapat mengerti
bagaimana orang dapat makan bebusukan serupa itu!" pikir
Danglars ketika dia mengintip lagi. Dia duduk kembali di
atas kulit biri-biri yang mengingatkannya kepada bau brendi
penjaga yang lalu.
Betapapun busuknya sesuatu, ia mempunyai daya tarik
yang kuat sekali untuk perut yang kosong. Tiba-tiba Danglars
merasa lapar. Tiba-tiba pula pandangannya berubah, si
penjaga sudah tidak buruk lagi, rotinya tidak hitam lagi dan
kejunya pun sudah kurang baunya. Dia berjalan ke pintu
dan mengetuknya.
"Che cosa?" tanya penjaga.
"Sudah waktunya aku diberi makan," kata Danglars
sambil menggedor-gedor daun pintu.
Mungkin karena dia tidak mengerti atau mungkin juga
dia tidak mendapat perintah untuk mengurus makan tahanannya,
penjaga itu kembali meneruskan makan siangnya.
Danglars merasa tersinggung, dan karena tidak mau
berurusan lagi dengan orang kasar semacam itu. Dia pun
kembali merebahkan dirinya.
Empat jam berlalu. Raksasa sudah diganti lagi dengan
yang lain. Perut Danglars sudah mefdHt-lilit pedih. Dengan
perlahan-lahan dia berdiri, lalu mendekati pintu dan mengintip
lagi. Terlihatlah wajah cerdik Peppino. Danglars
mengetuk pintu perlahan-lahan.
"Ya," jawab Peppino yang fasih berbahasa Perancis
berkat seringnya berkunjung ke hotel Signor Pastrini. Ketika
dia membuka pintu, Danglars mengenalnya sebagai orang
yang berteriak 'Destro la testa “ tadi malam. Tetapi
sekarang bukan waktunya untuk bertengkar. Danglars berkata
dengan senyum seramah mungkin, "Maaf Tuan, bolehkah
saya mendapat makanan?"
"Makanan?" Peppino seperti terkejut. "Apakah Tuan
merasa lapar?"
"Ya. Saya lapar. Lapar sekali."
"Kapan Tuan hendak makan, Yang Mulia?"
"Sekarang juga kalau mungkin."
"Tak ada yang lebih sederhana dari itu. Tuan dapat
memesan apa saja . . . dengan membayar tentu, seperti
layaknya di antara orang-orang Kristen yang jujur."
"Tentu," kata Danglars, "sekalipun kalau boleh saya
berterus-terang, menurut pendapat saya orang yang menahan
wajib memberi makan tahanannya."
"Itu bukan kebiasaan di sini, Yang Mulia."
"Sebenarnya bukan alasan yang baik, tetapi saya bersedia
menerimanya," kata Danglars yang berharap dapat
mempengaruhi penjaganya dengan keramahannya.
"Apa yang hendak Tuan pesan? Tuan cukup memberi
perintah saja.”
"Ada dapur di sini?"
"Tentu saja, Tuan."
"Tukang masak juga?"
"Yang terbaik."
"Minta goreng ayam, daging ... apa saja asal dapat
makan!"
'Terserah Tuan. Bagaimana kalau ayam goreng?"
"Baik.”
Peppino berteriak keras sekali, "Ayam goreng untuk
Yang Mulia!" Tak lama berselang seorang anak muda datang
mengantarkan pesanan di atas talam perak.
"Silakan, Yang Mulia," kata Peppino setelah mengambil
baki dari tangan anak muda tadi dan meletakkan di atas
meja, yang bersama sebuah kursi dan tempat tidur merupakan
satu-satunya perabotan dalam kamar itu. Danglars
meminta pisau dan garpu.
"Baik, Yang Mulia," kata Peppino sambil menyerahkan
garpu kayu dan pisau yang tumpul ujungnya.
Danglars memegang garpu di satu tangan dan pisau di
tangan lainnya siap untuk mengiris-iris goreng ayam.
"Maaf dulu, Yang Mulia" kata Peppino, meletakkan
tangannya di bahu Danglars. "Kebiasaan di sini membayar
sebelum makan."
Danglars berpikir. "Mereka akan memerasku, sebaiknya
aku berlagak royal. Aku dengar bahwa harga-harga di Italia
murah sekali. Seekor ayam mungkin hanya sekitar dua
belas sou saja.” Dengan bergaya dia memberikan mata
uang dua puluh frank kepada Peppino.
Peppino menerimanya dan Danglars menggerakkan pisaunya
untuk mulai makan.
"Maaf sebentar, Yang Mulia " kata Peppino lagi, "masih
kurang."
"Tidak salah dugaanku,” pikir Danglars. Dia mengambil
keputusan untuk mengalah. "Berapa lagi yang harus saya
bayar untuk ayam kurus kering ini?"
"Hanya sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus
delapan puluh frank, Yang Mulia."
Mata Danglars terbelalak. "Lucu sekali," katanya sambil
menghadapi lagi ayam gorengnya. Tetapi Peppino mencegahnya.
"Engkau mau bergurau rupanya?”
"Kami tidak pernah bergurau, Yang Mulia," jawab Peppino
sungguh-sungguh.
"Seratus ribu untuk ayam semacam ini?”
"Tuan tidak akan dapat membayangkan betapa sukarnya
beternak ayam dalam gua seperti ini, Yang Mulia."
"Sudah, sudah!" kata Danglars. "Lucu memang kelakarmu
itu, tetapi aku lapar. Biarkan aku makan. Ini dua puluh
frank lagi untukmu sendiri, kawan.”
"Masih sisa sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus
enampuluh frank. Dengan sedikit sabar kita akan segera
selesai."
'Tidak!" Danglars mulai marah. Dia masih tetap menyangka
Peppino berkelakar. “Persetan! Engkau tidak tahu
dengan siapa engkau berhadapan!"
Peppino memberi isarat dan anak muda tadi mengambil
kembali ayam itu dan membawanya ke luar. Danglars melemparkan
dirinya ke atas tempat tidur setelah Peppino
keluar dan mengunci pintu lagi. Perutnya terasa lapar sekali
sehingga dia mengira tak akan pernah dapat dikenyangkan.
Tetapi dia bertahan sejam lagi. Setelah itu kembali ke pintu
dan berkata, "Jangan menyiksa lebih lama lagi. Katakan
apa yang sebenarnya kaukehendaki?"
"Tergantung pada Tuan, Yang Mulia, apa yang Tuan
kehendaki dari kami," jawab Peppino. "Berikan perintah
Tuan dan kami akan melaksanakannya."
"Buka dulu pintu."
Peppino membukanya.
"Aku mau makan!"
"Apakah Tuan merasa lapar. Yang Muba?"
"Engkau tahu betul aku lapar sekali!"
"Apa yang ingin Tuan pesan?"
"Sepotong roti saja karena ayam terlalu mahal."
"Roti!" Peppino berteriak.
Anak muda datang membawa sepotong kecil roti.
"Berapa harganya?"
"Sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus enam
puluh frank, karena Tuan telah membayar empat puluh
frank tadi."
"Seratus ribu untuk roti sepotong ini?"
"Benar, Yang Mulia."
"Masa sama dengan ayam!"
"Apa pun yang Tuan pesan harganya sama." Masih juga
engkau bersikeras untuk berkelakar! Mengapa tidak kau
katakan saja hendak membiarkan aku mati kelaparan?"
"Sama sekali tidak, Yang Mulia. Tuan sendiri yang bermaksud
bunuh diri. Tuan dapat makan kalau bersedia
membayar."
"Tetapi dengan apa harus kubayar, bedebah? Kaupikir
aku membawa uang sebanyak itu?"
"Tuan mempunyai lima juta frank dalam kantong, Yang
Mulia. Cukup untuk lima puluh ekor ayam."
Tubuh Danglars gemetar. Baru dia mengerti bahwa ini
benar-benar kelakar, tetapi bukan kelakar yang main-main.
"Baiklah," katanya, "aku membayar seratus ribu frank, boleh
aku makan apa yang aku sukai?" 'Tentu saja, Yang
Mulia."
"Bagaimana caranya aku membayar?" Danglars sudah
merasa agak bebas bernafas.
"Sederhana sekali. Tuan mempunyai kridit di Firma
Thomson and French. Berikan saja surat perintah membayar
dan kami akan menukarkannya di sana."
Danglars menerima pena dan kertas yang disodorkan
Peppino, menulis surat itu dan menandatanganinya. "Ini"
"Dan ini ayam Tuan."
Danglars menghela napas ketika dia memotong-motong
ayam itu. Kecil sekali rasanya untuk seharga itu.
Peppino meneliti dahulu surat itu baik-baik sebelum
memasukkannya ke dalam kantong.
BAB LXXII
HARI berikutnya Danojars merasa lapar lagi. Tetapi dia
tidak mau membayar semahal kemarin. Hemat seperti dia,
Danglars menyisakan sebagian goreng ayam kemarin.
Setelah menghabiskannya, dahaga terasa. Minum tidak
pernah dipikirkannya. Dia bergulat melawan haus sampai
lidahnya terasa melekat kepada langit langit mulutnya.
Setelah tidak kuat menahannya lagi dia berteriak memanggil
Penjaga membuka pintu. Penjaga yang baru lagi. Karena
berpendapat lebih baik berurusan dengan yang sudah
dikenal, Danglars meminta Peppino.
"Ada apa, Yang Mulia,” kata Peppino menghampiri
dengan wajah cerah yang dianggap Danglars sebagai tanda
baik. 'Apa yang dapat saya lakukan?”
"Aku ingin minum."
"Seperti Yang Mulia ketahui, anggur sangat mahal di
kampung sekitar Roma.”
"Bawakan saja air biasa," jawab Danglars mencoba
menghindari serangan yang akan datang.
"Air pun sama sukarnya dengan anggur, Yang Mulia.
Tahun ini kering sekali,"
''Rupanya engkau mau mulai lagi dengan permainan
seperti kemarin," kata Danglars. Orang yang malang ini
memaksakan dirinya tersenyum, tetapi dia merasakan, mengucurnya
keringat di dahi. "Aku minta segelas anggur,
kawan" lanjutnya setelah melihat Peppino diam saja. "Engkau
menolak?"
"Kami tidak menjual per gelas, Yang Mulia" jawab
Peppino datar.
"Berikan saja satu botol."
"Anggur apa?"
"Yang paling murah."
"Harganya sama semua."
"Berapa?"
"Dua puluh lima ribu sebotol."
"Mengapa tidak kaukatakan saja kalian bermaksud
menguras semua milikku?" tanya Danglars pahit. "Itu akan
lebih cepat berakhir daripada membinasakanku sedikit demi
sedikit seperti ini!"
"Barangkali itulah maksud pemimpin kami" jawab
Peppino.
"Siapa pemimpinmu itu?"
"Yang tadi malam kita temui”
"Di mana dia sekarang?"
"Ada di sini.”
"Aku mau bicara dengan dia."
"Silakan, Yang Mulia."
Tak lama kemudian Luigi Vampa sudah berdiri di
hadapan Danglars.
"Tuan meminta saya datang?"
"Tuankah pemimpin di sini?"
"Benar, Yang Mulia."
"Berapa uang tebusan yang Tuan minta? Katakan saja.'
"Kami menghendaki uang yang lima juta itu."
Danglars merasakan hatinya menciut "Itu adalah seluruh
milikku," katanya, "dan itu merupakan sisa dari
kekayaanku. Kalau Tuan mau mengambilnya, ambil sekaligus
nyawa saya."
"Kami dilarang menumpahkan darah Tuan, Yang
Mulia."
"Oleh siapa?"
"Oleh orang yang kami patuhi."
"Artinya masih ada yang lebih tinggi dari Tuan?"
"Benar."
"Apa masih ada lagi di atas dia?"
"Ada, Yang Mulia"'
"Siapa?"
"Tuhan.”
Danglars berfikir sejenak. "Saya tidak mengerti."
"Mungkin sekali."
"Mengapa Tuan diperintahkan memperlakukan saya seperti
ini?"
"Kurang tahu."
"Begini" kata Danglars, "maukah Tuan menerima satu
juta?"
”Tidak."
"Dua juta?"
"Tidak."
"Tiga juta . . . empat juta? Saya akan berikan empat juta
kalau Tuan mau melepaskan saya."
"Mengapa Tuan menawar empat juta untuk sesuatu yang
berharga lima juta?" tanya Vampa.
"Ambil semua dan bunuh saya!" Danglars berteriak.
"Tenang, Yang Mulia. Kalau tidak, Tuan terpaksa harus
makan makanan yang berharga satu juta frank sehari.
Harap lebih ekonomis!"
"Apa yang akan terjadi kalau uangku sudah habis?”
tanya Danglars masih marah.
"Tuan akan kelaparan.”
"Kelaparan?" Wajahnya memucat.
"Mungkin," jawab Vampa menyindir.
'Tadi Tuan mengatakan tidak akan membunuh saya?"
"Betul"
"Tetapi Tuan hendak membiarkan saya mati kelaparan?”
"Itu lain lagi."
"Baiklah, bangsat," kata Danglars keras, "Aku akan
hancurkan rencana busukmu itu. Oleh karena aku tokh
akan mati, lebih cepat lebih baik untukku. Silakan siksa
aku, laparkan, tetapi engkau tak akan mendapatkan tandatanganku
lagi!"
"Terserah kepada Tuan, Yang Mulia." Vampa keluar
dari kamar itu.
Danglars melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.
Siapa mereka itu? Siapa pemimpin sebenarnya? Apa
maksud mereka? Mengapa tahanan-tahanan lain dilepaskan
dengan uang tebusan, sedang dia sendiri tidak?
Barangkali untuk pertama kalinya Danglars ingat akan
kematian dan dia memikirkannya dengan takut bercampur
harap.
Keputusannya tidak menandatangani surat perintah
pembayaran hanya berlangsung dua hari. Setelah itu dia
meminta lagi makanan dan terpaksa membayarnya satu juta
frank. Penculiknya memberi dia makanan yang baik dan
banyak setelah menerima pembayarannya. Sejak itu, karena
sudah sangat menderita dan tidak mau menderita lebih
hebat lagi Danglars memenuhi semua permintaan mereka.
Dua belas hari kemudian setelah selesai menghabiskan makanan
sebaik ketika masa jayanya, dia menjumlahkan semua
pengeluarannya dan ternyata uangnya hanya tinggal
lima puluh ribu frank lagi.
Timbul sikap yang aneh bagi orang yang baru saja mengeluarkan
uang sebanyak lima juta frank. Dia bermaksud
mempertahankan uang yang lima puluh ribu itu apa pun
yang harus terjadi dan mulailah dia membayang-bayangkan
harapan yang berbatasan dengan kegilaan. Dia, yang telah
melupakan Tuhan sekian lamanya mulai menghibur dan
menabahkan diri dengan mengatakan bahwa sewaktuwaktu
Tuhan sukamenciptakan keajaiban seperti: tempat
pekuburan ini hancur, atau posisi menyergap
persembunyian ini lalu membebaskannya. Kalau itu terjadi
ia masih mempunyai lima puluh ribu frank dan itu cukup
untuk mencegah mati kelaparan. Dia memohon kepada
Tuhan dengan menangis agar mengizinkan memiliki uang
yang lima puluh ribu itu.
Tiga hari berturut-turut nama Tuhan tidak pernah lepas
dari bibir Danglars, kalau bukan di hatinya. Hari berikutnya
dia sudah tidak menyerupai manusia lagi, sudah seperti
mayat hidup. Untuk menekan lapar dia mulai memunguti
sisa-sisa makanan, selanjutnya menyobek-nyobek tikar yang
menutupi lantai. Karena tidak tahan, akhirnya dia meminta
kepada Peppino diberi sedikit makanan dan
menawarkannya seribu frank. Tetapi Peppino tidak
menjawab. Hari berikutnya lagi dia meminta Vampa
datang.
''Ambillah sisa uangku ini semua dan biarkan saya hidup
di sini, saya tidak minta dibebaskan, saya hanya minta
hidup."
"Benarkah Tuan menderita, Yang Mulia?"
"Ya, saya menderita. Saya menderita sekali!"
"Padahal banyak orang yang lebih menderita daripada
Tuan."
"Saya pikir tidak ada."
"Ada, mereka yang mati kelaparan."
Danglars mengeluh lalu berkata lagi, "Mungkin ada yang
pernah menderita lebih dari saya, tetapi mereka itu setidaktidaknya
berkorban untuk orang lain."
"Akhirnya Tuan merasa menyesal juga?" terdengar orang
bertanya dengan suara yang dalam dan khidmat sehingga
membuat berdiri bulu kuduk Danglars. Matanya yang
sudah lemah melihat laki-laki berdiri di belakang Vampa,
bermantel dan sedikit tersembunyi di bawah bayangan
tiang.
"Menyesal karena apa?" tanya Danglars gagap.
"Karena perbuatan jahat yang pernah Tuan lakukan."
"Oh ya, ya, saya menyesal! Saya menyesal!" Danglars
menangis sambil memukul-mukul dadanya dengan kepalannya
yang sudah mengecil.
'Kalau betul begitu, saya maafkan Tuan," kata orang itu
sambil melemparkan mantelnya dan maju ke tempat yang
terang.
"Count of Monte Cristo!" -Danglars berteriak heran
bercampur takut
"Tuan keliru. Saya bukan Count of Monte Cristo."
"Siapa kalau begitu?"
"Saya adalah yang tuan khianati dan hinakan, orang
yang tunangannya Tuan paksa kawin dengan orang lain,
orang yang Tuan injak-injak dalam meraih kekayaan, orang
yang ayahnya mati kelaparan tetapi yang sekarang
memaafkan Tuan karena dia sendiri pun memerlukan
pengampunan. Saya adalah Edmond Dantes!"
Danglars memekik lagi lalu jatuh.
"Berdiri," kata Monte Cristo. "Nyawa Tuan akan
selamat. Kawan Tuan yang dua orang kurang beruntung.
Yang satu gila, yang lain mati! Peganglah sisa uang yang
lima puluh ribu frank itu sebagai hadiah dari saya. Adapun
yang lima juta, yang Tuan curi dari rumah sakit, sudah saya
kembalikan tanpa menyebut nama saya. Sekarang, silakan
makan dan minum. Tuan tamu saya malam ini. Vampa.
kalau tuan ini sudah kuat kembali, lepaskan dia."
Danglars masih tetap lemah tidak berdaya ketika Monte
Cristo pergi. Waktu dia mengangkat kepala, dia sudah tidak
menemukan apa-apa lagi kecuali bayangan yang
menghilang.
Seperti diperintahkan oleh Count of Monte Cristo,
Vampa memberi Danglars anggur yang terbaik dan buahbuahan
yang terbaik di Italia. Setelah itu dia membawanya
dengan keretanya sendiri dan melepaskannya di tengah
jalan.
Danglars diam di sana sampai keesokan paginya tanpa
mengetahui di mana dia berada. Ketika hari telah siang bara
dia sadar bahwa dia berada dekat sebuah sungai kecil.
Karena haus, dengan terseok-seok dia mendekatinya. Ketika
dia bertiarap untuk meneguk air sungai, tahulah dia
bahwa rambutnya telah memutih semuanya.
BAB LXXIII
JAM enam sore sebuah kapal pesiar kecil mungil
meluncur cepat sekalipun pada saat itu tidak ada angin yang
cukup, bahkan untuk membelai rambut seorang gadis pun.
Di haluannya berdiri seorang pemuda tinggi dengan air
muka murung, menatap daratan yang makin lama makin
jelas seakan-akan muncul dari bawah permukaan laut.
“Itukah Pulau Monte Cristo?" tanyanya dengan nada
sedih.
"Benar, Tuan," jawab kapten kapal
Beberapa menit kemudian mereka melihat kilat di atas
pulau disusul suara tembakan.
"Itu isarat buat kita, Tuan. Apakah Tuan mau
membalasnya sendiri?"
"Ya."
Kapten menyerahkan karaben yang telah berisi kepada
anak muda itu yang dengan perlahan-lahan
mengarahkannya ke udara, lalu menarik picunya. Tak lama
kemudian kapal itu sudah membuang jangkar dan sebuah
sekoci dengan empat orang pendayung dikeluarkan. Anak
muda itu naik ke sekoci, berdiri di buritan dengan
bersidekap. Kedelapan bilah kayu pendayung bergerak
bersama-sama, boleh dikatakan tanpa memercikkan air
setitik pun. Sekoci melaju
Halaman 778-779 ga ada dewi kz http://kangzusi.com/
nya kepedihan."
Maximilien duduk, Monte Cristo mengambil tempat di
hadapannya. Mereka berada di ruang makan yang mewah.
Beberapa patung pualam berdiri di sudut-sudut yang tepat,
pada masing-masing kepalanya terdapat keranjang penuh
bermacam-macam bunga dan buah-buahan. Maximilien
memperhatikan seluruh isi ruangan.
"Sekarang saya mengerti mengapa Tuan meminta saya
datang ke istana bawah tanah di pulau terpencil ini, yang akan
merupakan kuburan, yang bagi seorang raja pun akan
merasa iri melihatnya, karena Tuan mencintai saya.
Bukankah begitu? Rupanya Tuan bermaksud memberi saya
kematian yang nyaman, kematian tanpa penderitaan,
kematian yang memungkinkan saya pergi dengan nama
Valentine di bibir dan tangan Tuan di tangan saya."
"Terkaanmu tepat sekali, Maximilien," kata Monte
Cristo. "Itulah maksudku."
"Terima kasih. Mengingat bahwa penderitaan saya akan
segera berakhir membuat saya tenteram sekarang."
"Apakah tak ada yang akan kausesalkan sama sekali?"
"Tidak."
"Juga tidak untuk meninggalkan saya?" tanya Monte
Cristo dengan perasaan yang mendalam.
Maximilien terdiam. Sebutir air mata tergulir.
"Air matamu itu menunjukkan bahwa di dunia ini ada
yang terasa berat kautinggalkan tetapi engkatt tetap berniat
mati"
"Harap jangan berkata lagi. Tuan. Jangan memperpanjang
penderitaan saya."
Monte Cristo yakin Maximilien sudah mulai ragu. Ia
ingat kepada keraguannya sendiri yang berhasil ia
tundukkan di penjara d'If. "Aku bermaksud memberi dia
kebahagiaan," pikirnya. "Dan aku anggap maksudku ini
sebagai imbalan kepada keburukan yang pernah aku
perbuat. Bagaimana kalau aku keliru? Bagaimana kalau
orang Ini merasa tidak berbahagia untuk mengecap
kebahagiaannya? Apa yang akan terjadi dengan aku sendiri
yang hanya dapat melupakan keburukan dengan
mengingat-ingat kebaikan? Setelah itu dia berkata keras:
"Aku tahu kesedihanmu sangat mendalam, Maximilien,
tetapi engkau tetap masih mempunyai kepercayaan kepada
Tuhan, tetapi pula tidak mau mengambil kesempatan agar
menolong jiwamu."
Maximilien tersenyum sedih. "Tuan telah cukup mengenal
saya; saya bukanlah pemain sandiwara. Saya bersumpah
bahwa jiwa saya sudah bukan milik saya lagi."
"Coba dengarkan baik-baik, Maximilien," kata Monte
Cristo. "Seperti kau tahu, aku ini sebatang kara. Aku menganggapmu
sebagai anak sendiri. Aku bersedia
mengorbankan diri untuk keselamatan jiwa anakku, berarti
juga aku bersedia mengorbankan seluruh kekayaanku."
"Apa maksud Tuan?"
"Maksudku, engkau mau mati karena tidak mengetahui
kebahagiaan yang mungkin diberikan oleh harta kekayaan.
Aku memiliki hampir seratus juta frank. Aku akan berikan
itu semua kepadamu. Dengan kekayaan sebanyak itu kau
dapat memenuhi semua yang kauinginkan. Kalau engkau
cukup mempunyai ambisi, semua kedudukan terbuka bagimu.
Kemudian dunia Ini dan rubahlah wajahnya. Jangan
biarkan dirimu hanyut dibawa gagasan-gagasan gila. Kalau
perlu biarlah jadi penjahat, asal jangan bumri\diri"
"Tuan telah berjanji," jawab Maximilien dingin. "Dan
sekarang sudah setengah dua belas."
"Maximilien! Tegakah engkau melakukannya di hadapan
mataku, di dalam rumahku?"
"Kalau begitu, izinkan saya pergi," Maximilien berdiri.
Mendengar ini wajah Monte Cristo bersinar. "Baik kalau
begitu " katanya. "Engkau mau mati dan kemauanmu itu
sudah tidak dapat dirubah lagi. Memang,engkau sangat
tidak berbahagia, seperti katamu sendiri, hanya suatu keajaiban
saja yang akan dapat menyembuhkarimu. Duduklah
Maximilien, dan tunggu."
Maximilien menurut, Monte Cristo berjalan ke sebuah
lemari. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kotak
perak, lalu menaruhnya di atas meja. Kotak itu dibukanya
dan dikeluarkannya lagi sebuah kotak lain yang lebih kecil
yang diperbuat dari emas. Dengan menekan tombol yang
kecil dan tersembunyi penutup kotak emas itu membuka.
Di dalamnya terdapat zat berminyak yang setengah padat
dan warnanya serasi sekali dengan warna emas, mirah
delima dan jamrut yang menghias kotak itu. Monte Cristo
mengambil sebagian kecil dari zat itu dengan sebuah sendok
kecil dan memberikannya kepada Maximilien sambil
menatap wajahnya dengan tetap. Pada waktu itu warna zat
tadi berubah menjadi hijau. "Inilah yang kauminta dan
inilah pula yang kujanjikan."
"Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati, Tuan,"
kata anak muda itu ketika menerima sendok.
Monte Cristo mengambil lagi sedikit dengan sendok lain.
"Apa maksud Tuan?" tanya Maximilien dengan
menahan tangan Monte Cristo.
"Semoga Tuhan mengampuniku," jawab Monte Cristo
tersenyum. "Tetapi aku rasa aku pun sudah bosan hidup
sama seperti engkau. Dan karena sekarang ada kesempatan
yang baik…”
"Jangan!" pekik Maximilien "Tuhan masih mempunyai
apa yang Tuan cintai, dan dicintai. Tuan masih mempunyai
kepercayaan dan harapan . . . janganlah berbuat seperti
yang hendak saya perbuat! Bagi Tuan akan berarti kejahatan.
Selamat tinggal, wahai sahabat yang mulia dan sejati.
Akan saya ceriterakan kepada Valentine di seberang sana
semua jasa Tuan kepada saya."
Dengan perlahan-lahan namun tanpa keraguan
Maximilien menelan zat yang aneh itu. Sedikit demi sedikit
lampu-lampu yang berada di tangan patung-patung pualam
tampak berkurang cahayanya, demikian juga wangiwangian
menjadi kurang semerbak. Di hadapannya duduk
Monte Cristo menatapnya. Tetapi Maximilien sudah tidak
dapat melihatnya dengan jelas, kecuali cahaya matanya
yang berkilat-kilat.
Maximilien merasa badannya berat. Semua benda di
sekelilingnya sudah kehilangan bentuk dan warna. Matanya
yang sudah buram seperti melihat banyak pintu dan tirai
terbuka.
"Saya sudah hampir habis, kawan," katanya. "Terima
kasih." Dia mencoba mengulurkan tangannya kepada Monte
Cristo tetapi terjatuh lagi di sisinya. Badannya terkulai di
kursi dan merasakan dirinya melayang terbang ke alam
rrumpi. Sekali lagi dia mencoba mengangkat tangan. Sekarang
bahkan sama sekali tidak berdaya lagi. Dia mau mengucapkan
selamat tinggal, tetapi lidahnya sudah kaku.
Monte Cristo membuka sebuah pintu. Samar-samar Maximilien
melihat seorang wanita yang sangat cantik masuk.
Dengan wajah yang sedikit pucat dan senyum yang sangat
menawan seakan-akan dia seorang bidadari dari kayangan.
"Apakah pintu surga sudah terbuka?" pikir orang yang
sudah tidak berdaya itu. "Tampaknya bidadari itu serupa
benar dengan Valentine!"
Wanita itu datang mendekatinya.
'Valentine! Valentine!" pekik Maximilien dari dalam
hatinya. Tetapi tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya.
Dan seperti semua tenaganya terhimpun dalam
perasaannya, dia menarik napas panjang. Tertutuplah
kedua matanya.
Valentine memburunya. Bibir Maximilien bergerak lagi
sedikit.
"Dia memanggilmu dalam tidurnya," kata Monte Cristo.
"Kematian hampir saja memisahkan kalian. Untung sekali
aku berhasil menghindarkannya. Valentine, jangan hendaknya
kalian berpisah lagi di dunia ini. Kalau itu terjadi dia
bersedia membenamkan dirinya ke dalam kubur dan itu
tidak baik. Tanpa pertolonganku, mungkin sekali kalian
sudah tiada. Aku kembalikan masing-masing kepada hak
masing-masing. Mudah-mudahan Tuhan sudi memperhitungkan
kebaikanku ini dengan keburukan-keburukan yang
telah aku perbuat!"
Valentine memegang tangan Monte Cristo dan dengan
kegembiraan yang tidak terbendung dia menciumnya.
"Berterima kasihlah kepadaku, Valentine!" kata Monte
Cristo. "Katakanlah berulang-ulang bahwa aku telah membahagiakanmu
. .. Engkau tak akan dapat merasakan beta
pa perlunya keyakinan itu bagiku."
"Ya, Tuan, terima kasih banyak. Saya mengucapkannya
dari kedalaman lubuk hati saya!" jawab Valentine. "Kalau
tuan masih meragukan perasaan saya, silakan bertanya kepada
Haydee, saudara saya yang tulus dan telah membuat
saya sabar menantikan saat bahagia ini dengan jalan banyak
sekali berceritera tentang hal Tuan sejak kami
meninggalkan Perancis bersama-sama."
"Oh, engkau mencintai Haydee, Valentine," tanya Monte
Cnsto dengan perasaan yang tidak berhasil dia sembunyikan.
"Dengan sepenuh hati."
"Kalau begitu, rasanya aku mempunyai hak untuk meminta
sesuatu darimu..”
"Kepada saya? Cukup berhargakah saya untuk itu?"
"Engkau menyebut Haydee sebagai saudara yang tulus.
Saya minta anggaplah dia sebagai saudara kandung sejati.
Valentine. Bayarkanlah kepadanya segala apa yang kauanggap
sebagai hutang budi kepadaku. Lindungilah dia oleh
kalian, engkau dan Maximilien, karena ..." suara Monte
Cristo hampir tidak terdengar, "sejak sekarang dia akan
menjadi sebatang kara."
"Sebatang kara?" tanya suara di belakang Monte Cristo.
"Mengapa?"
Monte Cristo membalikkan badan. Haydee berdiri di belakangnya
menatap wajahnya dengan air muka heran dan
cemas.
"Karena besok engkau akan menjadi orang merdeka,
Haydee," jawab Monte Cristo. "Karena mulai besok engkau
harus menempati tempatmu yang terhormat dalam dunia
ini. Karena aku tidak menghendaki hidupku membuat gelap
jalan hidupmu. Engkau putri seorang pangeran. Aku kembalikan
kepadamu nama dan kekayaan ayahmu."
Haydee menjadi pucat, dan berkatalah dia dengan suara
tertahan tahan "Kalau begitu Tuan bermaksud meninggalkan
saya?"
"Haydee! Haydee! Engkau masih muda dan cantik,
lupakan aku dan carilah kebahagiaan."
"Baik, Tuan. Perintah Tuan akan saya laksanakan
dengan baik dan patuh. Saya akan melupakan Tuan dan
mencari kebahagiaan." Dia mundur untuk pergi.
"Oh Tuhanku!" Valentine memekik cemas. "Tidakkah
Tuan lihat betapa pucat wajahnya. Tidakkah Tuan lihat
betapa menderitanya?"
"Mengapa engkau mengharapkan beliau mengerti, Valentine?"
tanya Haydee dengan air muka menunjukkan
putus asa. "Beliau adalah tuanku dan aku budaknya. Beliau
berhak untuk tidak mau melihat apa yang ada padaku dan
terasa olehku."
Monte Cristo bergetar mendengar suara Haydee yang
telah menyentuh tali-tali terhalus hatinya. 'Mungkinkah
idamanku menjadi kenyataan? Haydee, apakah engkau
merasa berbahagia bersamaku?"
"Saya masih muda, Tuan," jawab Haydee perlahanlahan.
"Saya mencintai kehidupan manis yang telah Tuan
berikan kepada saya, dan saya akan merasa menyesal bila
harus mati"
"Maksudmu, bila aku meninggalkanmu engkau akan ..."
"Saya akan mati. Benar, Tuan."
"Berarti engkau mencintaiku."
"Oh, Valentine. Beliau menanyakan apakah aku
mencintainya! Tolong menjawabnya, Valentine. Tolong!"
Hati Monte Cristo mengembang karena bahagia. Dia
membuka kedua lengannya dan Haydee melemparkan dirinya
ke dalam pelukannya sambil menangis bahagia. "Saya
mencintaimu!" katanya. "Saya mencintaimu seperti mencintai
jiwa saya sendiri, oleh karena bagi saya, Tuan adalah
laki-laki yang terbaik, yang termulia dan teragung dalam
dunia ini!"
'Terima kasih, bidadariku," jawab Monte Cristo. "Rupanya,
Tuhan yang telah membesarkan aku untuk menghadapi
musuh-musuhku dan memberikan kemenangan
kepadaku, tidak menghendaki aku menebus dosa pada akhir
kemenanganku. Aku bermaksud menghukum diri sendiri,
namun rupanya Tuhan mengampuniku. Mungkin
cintamu itu akan membuat aku melupakan segala sesuatu
yang harus aku lupakan. Sepatah katamu itu, Haydee, telah
membukakan hatiku lebih lebar daripada kearifan selama
dua puluh tahun. Hanya engkaulah sekarang yang masih
kumiliki dalam dunia ini. Bersamamu aku akan mengarungi
hidup baru. Bersamamu aku akan tahan menderita dan
bersamamu pula aku akan merasa berbahagia. Betulkah
saya telah dapat menangkap kebenaran ini, ya Tuhan?
Namun, apakah ini hukuman atau ganjaran, saya ikhlas
menerimanya. Mari Haydee, mari."
Sambil menggandeng Haydee, Monte Cristo menekan
tangan Valentine lalu berjalan keluar meninggalkan
ruangan itu.
Satu jam lamanya Valentine menunggui Maximilien dengan
penuh ketegangan. Akhirnya dia melihat dada Maximilien
naik-turun, yang menunjukkan kehidupan telah kembali
ke dalam tubuh anak muda itu. Lambat laun mata
Maximilien terbuka. Mereka saling berpandangan pada mulanya.
Penglihatan Maximilien makin lama makin terang.
Bersamaan dengan pulihnya penglihatannya, perasaannya
pun kembali. Namun pedih pun mulai datang.
"Oh!" katanya putus asa. "Aku masih hidup! Count of
Monte Cristo menipu!" Dia bangkit untuk mengambil pisau
di atas meja.
"Sadarlah, kekasih, dan pandanglah aku," kata Valentine
dengan senyum yang menawan.
Maximilien berteriak lagi. Maximilien meragukan pancainderanya.
Kepalanya terasa pening melihat apa yang disangkanya
tadi sebagai bayangan. Akhirnya dia jatuh berlutut.
Esok paginya ketika matahari baru terbit Maximilien dan
Valentine berjalan-jalan bergandengan sepanjang pantai.
Bintang-bintang terakhir masih berkilat-kilat di langit
pagi.
Tiba-tiba Maximilien melihat seorang laki-laki berdiri di
balik sebuah batu karang, menunggu Maximilien memanggilnya.
Maximilien berkata kepada Valentine sambil
menunjuk, "Jacopo, kapten kapal pesiar.”
Valentine memanggil Jacopo.
"Ada apa, Kapten Jacopo?''tanya Maximilien.
"Count of Monte Cristo menyuruh saya menyerahkan
surat ini''
Maximilien membuka dan membacanya:
Maximilien yang baik,
Sebuah kapal telah menantimu di pelabuhan. Jacopo akan
membawamu ke Livorno, di mana Tuan Noirtier menunggu
kedatangan cucunya yang ingin beliau berkahi sebelum kaubawa
dia ke jenjang perkawinan. Segala sesuatu yang berada dalam gua
di pulau ini, rumahku di Champs Elysees dan sebuah rumah peristirahatan
kecil di Treport adalah hadiah perkawinan dari
Edmond Dantes untuk putra majikannya, Tuan Morrel
Ajaklah bidadari yang mulai hari ini akan mendampingi
hidupmu berdo'a bagi seorang laki-laki yang untuk sesaat seperti
Setan pernah merasa dirinya sama dengan Tuhan, tetapi pada
akhirnya dengan segala kerendahan hatinya menyadari bahwa
kekuasaan dan kebijaksanaan yang mutlak hanya berada di tangan
Tuhan.
Camkanlah ini, Maximilien, rahasia yang kutemukan dan
mudah-mudahan dapat menjadi pegangan bagimu: sebenarnya
dalam dunia ini tidak ada kebahagiaan atau ketidakbahagiaan
itu.
Yang ada hanyalah perbandingan antara sesuatu keadaan
dengan keadaan yang lain. Hanya orang yang pernah merasakan
puncak kepedihan akan dapat merasakan puncak kebahagiaan.
Ada perlunya suatu saat kita mengharapkan kematian,
Maximilien, untuk mengetahui dengan tepat, betapa baiknya
sebenarnya hidup ini
Hiduplah, Maximilien, dan berbahagialah, wahai belahan
hatiku, dan janganlah lupa bahwa, sampai saat Tuhan berkenan
membuka tabir masa depan seseorang, seluruh kebijaksanaan
kemanusiaan bersimpul hanya kepada dua kata ini: Menunggu
dan mengharap.
Sahabatmu
EDMOND DANTES COUNT OF MONTE CRISTO

Maximilien melihat ke sekelilingnya seperti mencari
sesuatu,
"Kebaikan Count of Monte Cristo ini sudah sangat di
luar jangkauan perkiraan," katanya. "Di mana beliau sekarang?
Antarkan saya kepadanya."
Jacopo menunjuk ke kaki langit.
"Apa artinya?" tanya Valentine. "Di mana beliau? Di
mana Haydee?"
"Lihatlah," kata Jacopo.
Kedua muda belia itu melihat ke arah yang ditunjukkan
Jacopo. Pada garis hitam yang memisahkan langit dan
samudera mereka melihat layar putih.
"Sudah pergi!" kata Maximilien. "Selamat jalan,
sahabatku, ayahku!"
"Sudah pergi,” ulang Valentine. "Selamat jalan,
sahabatku! Selamat jalan, saudaraku!"
"Mungkinkah kita akan bertemu kembali?"
"Kekasih,” jawab Valentine, "Count of Monte Cristo
baru saja menasihati kita bahwa seluruh kebijaksanaan
manusia bertumpu hanya kepada dua patah kata:
Menunggu dan mengharap."
TAMAT

0 Response to "The Count of Monte Cristo 3"

Post a Comment