Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Count of Monte Cristo 2

"Aha, saya ingat" kata Count, "di Roma Tuan pernah
mengatakan tentang kemungkinan menikah apabila Tuan -
kembali ke Paris. Apakah ucapan selamat sudah pada
tempatnya sekarang?"
"Belum ada sesuatu kepastian, tetapi saya harap tak lama
lagi saya sudah dapat memperkenalkannya, kalaupun tidak
sebagai isteri, sebagai tunangan. Nona Eugenie Danglars."
"Eugenie Danglars!" kata Count of Monte Crista "Putri
Baron Danglars?"
"Benar. Tuan mengenalnya?"
"Tidak, saya tidak mengenalnya," kata Count polos,
"tetapi mungkin sekali dalam waktu yang dekat ini saya
akan menjadi kenalannya, oleh karena saya mempunyai
suatu perhitungan keuangan dengan beliau melalui perusahaan
Richard and Blount di London, Arstein and Eskeles di
Wina, dan Thomson and French di Roma."
Ketika menyebut nama yang terakhir ini Monte Cristo
melirik kepada Maximilien Morrel dengan sudut matanya.
Anak muda itu terkejut seakan-akan ia menerima sentakan
aliran listrik. "Thomson and French,” katanya. "Tuan
mengenal perusahaan itu?"
"Mereka adalah bankir saya di Roma," kata Count of
Monte Cristo dengan tenang. "Apakah ada sesuatu yang
dapat saya lakukan bagi Tuan sehubungan dengan
perusahaan itu?"
"Barangkali Tuan dapat menolong kami mengetahui sesuatu
perkara yang selama ini gelap bagi keluarga kami.
Perusahaan itu pernah membuat sesuatu jasa yang besar
sekali artinya bagi kami, tetapi, entah apa sebabnya, mereka
selalu menyangkal telah melakukannya."
"Saya akan merasa senang sekali membantu Tuan sepanjang
dalam batas kemampuan saya, Kapten."
"Maaf sebentar," kata Albert, "kita telah menyimpang
terlalu jauh dari pokok pembicaraan. Tadi kita sedang
membicarakan rumah yang patut bagi tempat tinggal Count
of Monte Cristo. Mari, kawan-kawan, kita pecahkan bersama-
sama: di mana kita akan menempatkan tamu baru saya
di kota Paris ini?"
"Di Faubourg Saint-Germain," kata Chateau-Renaud.
"Beliau akan mendapatkan rumah kecil mungil dengan
pelataran dan kebun di sana."
"Engkau tidak mengetahui lebih dari daerah yang suram
itu," kata Debray. "Jangan dengarkan dia, Count. Ambillah
sebuah rumah di Chaussee d'Antin pusat kota Paris."
"Jangan, lebih baik di Boulevard de 'Opera," kata
Beauchamp. "Tuan akan dapat melihat seluruh kota Paris
dari sana."
"Bagaimana pendapatmu, Morrel?" tanya Chateau-Renaud.
"Ada usul?"
"Ada," jawab perwira muda tersenyum. "Tadinya saya
mengira Count of Monte Cristo akan tertarik kepada salah
satu usul yang dike mukakan tadi. Karena beliau tetap
diam, saya kira saya juga dapat menawarkan sebuah kamar
dalam sebuah rumah kecil yang disewa adik perempuan
saya beberapa tahun terakhir ini. Letaknya di Rue Meslay."
"Apakah Tuan mempunyai saudara perempuan?" tanya
Count of Monte Cristo.
"Betul, dan seorang adik yang baik."
"Sudah menikah?"
'Telah sembilan bulan."
"Bagaimana, berbahagia?"
"Sebahagia yang diijinkan Tuhan bagi manusia. Dia menikah
dengan laki-laki yang dicintainya, arang yang tetap
setia kepada keluarga kami ketika kami ditimpa nasib
buruk. Emmanuel Herbaut namanya. Saya tinggal bersama
mereka selama cuti ini. Ipar dan saya sendiri siap melakukan
apa saja yang Tuan perlukan."
'Terima kasih, Kapten. Saya akan merasa cukup puas
dengan diperkenalkan kepada adik Tuan dan suaminya,
seandainya Tuan sudi melakukannya. Sebabnya saya tidak
menerima saran-saran, yang dikemukakan, hanya karena
saya telah mempunyai sebuah rumah. Saya mengirimkan
pembantu saya lebih dahulu ke Paris untuk membeli sebuah
rumah, bahkan mungkin ia sudah selesai memperlengkapinya
sekarang"
"Saya mengartikan bahwa pembantu Tuan telah mengenal
Paris," kata Beauchamp.
"Ini merupakan kunjungannya yang pertama kali ke Paris,
dan ia seorang bisu."
"Ali?" tanya Albert di tengah-tengah keheranan tamutamu
lain.
"Benar. Ali orang bisu dari Nubia. Tuan telah melihatnya
di Roma saya kira."
"Ya. Saya ingat benar. Tetapi bagaimana Tuan dapat
mengutus seorang Afrika Nubia lagi pula bisu untuk membelikan
sebuah rumah di Paris dan memperlengkapinya?
Saya yakin semuanya akan salah. Kasihan dia."
Balikan sebaliknya. Saya yakin ia telah memilih segalagalanya
sesuai dengan selera saya. Seperti Tuan ketahui,
selera saya jauh berlainan dari selera orang lain. Dia sampai
di sini seminggu yang lalu dan saya yakin telah menjelajahi
seluruh kota Paris dengan ketajaman hidung seekor anjing
pemburu. Dia mengetahui semua kebiasaan, kesenangan
dan keperluan saya dan saya yakin juga ia telah mengatur
segala-galanya sesuai dengan kemauan saya. Dia tali u
bahwa saya akan datang hari ini pada jam sepuluh. Dia
menunggu di Barriere de Fontainebeau untuk memberikan
secarik kertas ini, alamat saya di sini. Silakan baca." Count
of Monte Cristo menyerahkan kertas itu kepada Albert.
"Champs Elysee No. 30."
"Sungguh, suatu penemuan yang orisinil!" seru Beauchamp.
"Dan megah bagaikan rumah seorang putera raja," tambah
Chateau-Renaud.
"Apakah ini berarti bahwa Tuan belum pernah melihat
rumah Tuan sendiri?" tanya Debray.
"Benar, saya belum melihatnya. Saya tidak ingin datang
terlambat di sini. Sebab itu saya berganti pakaian dalam
kereta dan langsung menuju pintu rumah Tuan de
Morcerf."
Anak-anak muda itu berpandangan satu sama lain. Mereka
tidak yakin apakah Count of Monte Cristo ini bergurau
atau bukan. Tetapi cara berbicaranya begitu sederhana dan
tegas sehingga sukar untuk menyangkalnya sebagai suatu
kebohongan. Lagi pula apa gunanya dia berbohong.
"Saya kira kita harus puas dengan jasa-jasa kecil yang
masih dapat kita lakukan dalam batas-batas kemampuan
kita," kata Beauchamp. "Sebagai seorang wartawan saya
dapat membukakan semua pintu gedung-gedung teater di
Paris."
"Terima kasih," jawab Monte Cristo tersenyum. "Tetapi
saya telah memerintahkan pengurus rumah tangga
memesan tempat di setiap gedung."
"Apakah orang itu juga seorang seperti si Nubia bisu?"
tanya Debray.
"Bukan. Saya kira Tuan telah mengenalnya, Tuan Morcerf."
"Signor Bertuccio, ahli menyewa jendela itu?"
"Tepat. Dia orang baik yang pernah menjadi prajurit,
juga pernah menjadi penyelundup. Tegasnya, dia adalah
orang yang serba bisa. Bahkan saya tidak berani bersumpah
bahwa ia belum pernah terlibat dengan polisi karena perkara
penikaman."
"Rupanya," kata Chateau-Renaud, "Tuan telah mempunyai
rumah tangga yang lengkap. Tuan mempunyai sebuah
rumah di Champs Elysee, seorang pembantu dan seorang
pengurus rumah tangga. Yang masih Tuan perlukan
sekarang, seorang gundik."
"Saya mempunyai yang lebih baik," jawab Monte Cristo.
"Saya mempunyai seorang hamba sahaya. Tuan-tuan
menyewa gundik di gedung opera atau gedung sandiwara,
saya membelinya di Istambul. Memang saya membayar
lebih banyak, tetapi tak ada yang patut disesalkan."
"Tetapi Tuan lupa suatu hal," kata Debray tertawa,
"bahwa begitu hamba sahaya Tuan menginjakkan kakinya
di Perancis dia menjadi orang merdeka."
"Siapa yang akan mengatakan itu kepadanya?" tanya
Monte Cristo.
"Orang pertama yang berbicara dengan dia!"
"Dia tidak mengerti bahasa lain kecuali Yunani modern."
"Ah, kalau begitu lain soalnya,"
"Apakah kami boleh melihatnya nanti, paling sedikit?"
tanya Beauchamp. "Karena Tuan telah mempunyai seorang
bisu, apakah Tuan juga mempunyai seorang kasim?"
"Tidak. Saya tidak menganut kebiasaan Timur sampai
mengebiri orang. Tidak sampai sejauh itu! Setiap orang di
sekeliling saya merdeka untuk meninggalkan saya setiap
saat. Dengan meninggalkan saya berarti dia sudah tidak
memerlukan saya lagi atau orang lain. Barangkali itulah
sebabnya tak seorang pun bermaksud pergi,"
Telah lama mereka selesai makan.
"Sudah setengah tiga," kata Debray tiba-tiba berdiri.
"Tamumu sangat menyenangkan, Albert. Tetapi cepat atau
lambat kita tidak boleh tidak harus meninggalkan pertemuan
betapapun menyenangkannya pertemuan itu. Sudah
waktunya aku kembali ke Kementrian."
Ketika Beauchamp akan pulang dia berkata kepada
Albert, "Aku tidak akan pergi ke Parlemen hari ini. Aku
mempunyai sesuatu yang lebih baik bagi para pembaca
daripada pidato Tuan Danglars."
"Jangan, Beauchamp" kata Albert, "jangan diberitakan.
Aku mohon! Jangan menghilangkan kehormatan ku untuk
memperkenalkan beliau. Bukankah beliau seorang yang
aneh?"
"Lebih dari aneh," kata Chateau-Renaud, "beliau adalah
salah seorang yang paling luar biasa yang pernah kutemukan.
Kau pulang juga, Morrel?"
"Setelah saya memberikan kartu namaku kepada Count.
Beliau berjanji akan berkunjung ke rumahku."
"Dan Tuan boleh yakin akan itu," kata Monte Cristo.
Maximilien Morrel keluar bersama Chateau-Renaud,
meninggalkan Monte Cristo berdua dengan Albert de
Morcerf.
BAB XXIII
KETIKA tamu-tamu lain sudah pergi, Albert berkata
kepada Monte Cristo, 'Ijinkan sekarang saya melakukan
kewajiban saya sebagai pramugara dengan memperlihatkan
rumah yang khas seorang bujangan Paris."
Albert membawa tamunya ke ruang kerjanya yang menjadi
ruang kesayangannya. Count of Monte Cristo seorang
pengagum yang patut disegani terhadap barang-barang yang
dikumpulkan Albert di situ: buah catur antik porselen
Jepang, kain negeri Timur, barang pecah belah dari Venesia
dan senjata-senjata dari seluruh penjuru dunia. Semua
barang ini tidak asing bagi Monte Cristo. Dengan selayang
pandang ia sudah dapat menyebutkan abad dan negeri asal
dari setiap barang. Albert berharap dapat menerangkan
sesuatu kepada tamunya, tetapi kenyataannya tamunya
yang sedikit memberikan kuliah kepadanya tentang ilmu
purbakala dan sejarah.
Albert membawa tamunya ke ruang duduk yang dindingnya
dihiasi karya-karya pelukis modern. Dia berharap dapat
menunjukkan sesuatu yang baru kepada orang yang aneh
ini Sekarang pun dia terheran-heran lagi sebab, tanpa melihat
tanda tangannya Monte Cristo dapat menyebutkan
pelukis setiap lukisan, dengan cara demikian rupa sehingga
mudah diketahui bahwa bukan saja nama pelukisnya yang
dia kenali tetapi juga bahwa ia telah dengan cermat mempelajari
dan menilai bakat pelukis-pelukis itu.
Dari ruang duduk mereka meneruskan ke kamar tidur.
Di sini diketemukan perpaduan antara keindahan dan selera
yang tinggi. Satu-satunya lukisan yang menghias dinding
adalah sebuah potret karya Leopold Robert. Lukisan ini
dengan segera menarik perhatian Monte Cristo. Potret
seorang wanita muda sekitar dua puluh enam tahun dengan
warna wajah agak gelap, sinar mata yang menyala-nyala
tetapi dengan pelupuk yang merana. Wanita itu berpakaian
seorang wanita nelayan dari Catalan, berwarna hitam
merah dan sebuah rusuk konde di kepalanya. Pandangnya
ditujukan ke lautan luas. Profilnya tampak menonjol
dengan latar belakang ombak dan langit. Cukup lama
Monte Cristo memandang gambar ini. Akhirnya dia berkata
dengan tenang sekali, "Gundik Tuan cantik sekali,
Viscount, dan pakaiannya, yang tentu pakaian samaran,
sangat cocok."
"Ini merupakan kesalahan yang tidak akan dapat saya
maafkan seandainya ada gambar wanita lain di
sebelahnya," kata Albert "Itu potret ibu, dilukis enam atau
delapan tahun yang lalu. Sepanjang pengetahuan saya
pakaian itu merupakan hasil pemikiran beliau sendiri, dan
persamaan wajahnya itu begitu bagus sehingga seakan-akan
saya melihat beliau pada tahun 1830. Gambar itu dibuat
ketika ayah sedang bepergian, tentu dengan harapan akan
merupakan suatu yang menyenangkan bagi ayah. Tetapi
anehnya, justru ayah tidak menyukainya sama sekali Oleh
karena tidak hendak berpisah jauh dengan karya seni yang
seindah itu, ibu memberikannya kepada saya. Maafkan saya
karena telah membicarakan soal keluarga. Tetapi, karena
saya akan segera memperkenalkan Tuan kepada ayah, saya
pikir ada baiknya Tuan mengetahui, dan supaya Tuan tidak
memuji lukisan itu di hadapannya. Saya mengirim surat
kepada ayah dari Roma mengabaikan jasa yang telah Tuan
lakukan di sana. Ayah dan ibu sangat mengharapkan sekali
mempunyai kesempatan untuk menyampaikan rasa terima
kasih-nya kepada Tuan secara pribadi,"
Albert memanggil pelayannya dan memerintahkan memberi
tahu Count dan Countess de Morcerf bahwa Count of
Monte Cristo akan segera menemuinya. Albert dan Monte
Cristo menyusul pelayan itu setelah dia pergi.
Di ruang duduk rumah keluarga Morcerf mereka bertemu
dengan Count Morcerf. Seorang laki-laki berumur empat
puluhan, tetapi yang tampaknya paling sedikit lima puluh
tahun. Misal dan alisnya yang hitam lebat bertentangan
sekali dengan rambutnya yang hampir memutih semua,
yang dipotong pendek model militer.
"Ayah," kata Albert, "ijinkan saya memperkenalkan
Count of Monte Cristo, kawan baik yang secara beruntung
sekali mulai berkenalan selagi saya berada dalam keadaan
yang sulit seperti yang pernah saya ccriterakan."
"Kami sangat bergembira karena kunjungan ini, Tuan,"
kata Count Morcerf tersenyum sambil membungkukkan
badan. "Dengan menyelamatkan jiwa anak kami, Tuan
telah membuat suatu jasa yang membuat kami tidak boleh
melupakannya seumur hidup. Istri saya sedang di kamarnya
ketika kedatangan Tuan diberitahukan. kepada kami. Dia
akan segera turun, saya kira."
"Adalah suatu kehormatan yang besar bagi saya," kata
Count of Monte Cristo, "untuk pada hari pertama datang di
Paris dapat berkenalan' dengan Tuan yang martabatnya
seimbang dengan jasa-jasanya dan yang secara adil pula dianugerahi
kekayaan yang melimpah-limpah. Bukankah ke
kayaan yang melimpah itu masih dapat mempersembahkan
tongkat marsekal kepada Tuan?"
"Oh, tidak, saya telah meninggalkan dinas militer," kata
Morcerf, wajahnya merah kemalu-maluan. "Rupanya
Revolusi Juli itu begitu berjaya sehingga tidak memerlukan
lagi jasa-jasa orang yang tidak pernah berdinas kepada
Napoleon. Sebab itu saya mengajukan permohonan pensiun.
Saya memasuki bidang politik sekarang dan mendalami
masalah-masalah industri dan mempelajari seni yang berguna,
suatu hal yang telah lama ingin saya kerjakan, tetapi
yang dahulu tidak dapat saya lakukan karena tidak mempunyai
waktu."
"Itu adalah bidang-bidang yang membuat negri Tuan menonjol
dari negri-negri lain," kata Monte Cristo. "Tuan
adalah keturunan bangsawan dan memiliki kekayaan yang
melimpah-ruah, tetapi aneh, Tuan mengejar kemajuan dengan
menjadi prajurit yang tidak dikenal. Lalu, setelah
Tuan mencapai pangkat jendral menjadi bangsawan
Perancis dan komandan Legiun Kehormatan, sekarang
ingin memulai sesuatu yang baru lagi, tentu tanpa
mengharapkan imbalan apa-apa kecuali dapat berguna bagi
sesama manusia. Itu, Tuan de Morcerf, adalah suatu sikap
hidup yang sangat mulia”
Albert melihat kepada Count of Monte Cristo penuh heran.
Dia tidak biasa mendengar Monte Cristo berbicara
dengan semangat seperti itu.
"Seandainya saya tidak khawatir melelahkan Tuan," kata
Jenderal, yang jelas merasa senang mendengar kata-kata
Monte Cristo, "saya ingin mengajak Tuan ke Parlemen.
Perdebatan hari ini akan sangat menarik bagi mereka yang
belum mengenal senator-senator kami yang modem."
"Saya akan sangat berterima kasih apabila Tuan sudi
mengundang lagi pada waktu yang lain," jawab Monte
Cristo, "tetapi hari ini saya telah mengharapkan untuk dapat
bertemu dengan Nyonya dan saya tidak berkeberatan
menunggu."
"Itu ibu!" kata Albert.
Monte Cristo membalikkan badan dengan cepat dan melihat
Nyonya de Morcerf berdiri di ambang pintu. Mukanya
sangat pucat, dan ketika Monte Cristo melihatnya, ia segera
melepaskan tangannya yang dipergunakan untuk — entah
sebab apa - menopang dirinya pada pintu. Telah beberapa
saat ia berada di situ, cukup lama untuk dapat mendengar
kalimat-kalimat tamu yang terakhir.
Monte Cristo berdiri dan membungkukkan badan dalamdalam.
Countess membalasnya tanpa berkata dengan anggukan
kepala yang lugas.
"Mengapa?" tanya Morcerf. "Apakah ruangan ini terlalu
panas bagimu?"
"Sakitkah ibu?" Albert berlari menghampirinya.
Nyonya de Morcerf mengucapkan terima kasih kepada
keduanya dan tersenyum. "Tidak," katanya, "saya hanya
terharu akan bertemu untuk pertama kalinya dengan orang
yang telah menyelamatkan rumah kita dari keadaan berkabung
Count," katanya selanjutnya sambil berjalan menuju
Monte Cristo dengan keanggunan seorang ratu, "saya berhutang
budi untuk keselamatan jiwa anak saya, untuk itu
saya mendoakan semoga Tuan selalu diberkahi Tuhan.
Sekarang saya berterima kasih lagi kepada Tuan karena
telah memberikan kesempatan untuk mengucapkan terima
kasih - seperti doa saya — dari lubuk hati."
Sekali lagi Monte Cristo membungkukkan badan, lebih
dalam daripada yang permulaan. Balikan wajahnya lebih
pucat dari Mercedes.
"Saya telah meminta diri kepada Count karena terpaksa
harus pergi," kata Morcerf. "Sidang sudah dimulai sejam
yang lalu dan saya harus berpidato."
"Berangkatlah," kata Countess. "Saya akan mencoba
merundingkan sesuatu dengan tamu kita selama engkau
pergi." Kemudian menghadap kepada Monte Cristo ia ber
tanya, "Sudikah Tuan memberikan kehormatan kepada kami
untuk tinggal sehari ini bersama kami?"
"Saya benar-benar berterima kasih untuk undangan itu,
Nyonya, tetapi sayang sekali, saya tiba di Paris ini dan langsung
menuju ke mari. Bahkan saya belum pernah melihat
rumah saya di sini."
"Kalau begitu bolehkah kami mengharapkan kedatangan
Tuan pada waktu yang lain?" tanya Mercedes.
Monte Cristo membungkuk tanpa menjawab. Tetapi
gerakan ini dapat diartikan sebagai setuju.
Setelah Albert mengantar Monte Cristo sampai ke pintu,
dia kembali lagi menemui ibunya yang telah pergi ke
kamarnya "Betulkah ibu tidak sakit?" tanyanya sambil
masuk. "Ketika ibu masuk ke ruang duduk tampak pucat
sekali."
Ibunya tidak segera menjawab. "Nama apa Monte Cristo
itu? Nama keluarga, nama sebuah perkebunan atau hanya
sebuah nama saja?"
"Saya kira hanya sebuah nama. Monte Cristo adalah
nama sebuah pulau kecil yang dibeli oleh Count. Suatu hal
pasti, beliau tidak menuntut kebangsawanan sekalipun pendapat
umum di Roma mengatakan bahwa beliau seorang
bangsawan besar."
"Berapa usianya menurut perkiraanmu?" tanya Mercedes,
dengan tekanan yang menunjukkan perhatian besar.
"Tiga puluh lima atau tiga puluh enam."
"Semuda itu? Tak mungkin!"
"Tetapi itu benar. Beberapa kali beliau mengatakannya
dalam beberapa kesempatan di mana tidak ada alasan untuk
bohong."
Kepala Mercedes tertunduk seakan-akan diberati oleh
pikiran-pikiran yang pahit "Apakah dia menyukaimu,
Albert?" suaranya bergetar.
"Saya kira demikian."
"Dan engkau sendiri . . . juga menyukainya?"
"Ya, tanpa memperhatikan apa yang dikatakan Franz
tentang beliau bahwa Count of Monte Cristo orang yang
kembali dari alam kubur”
Countess kelihatan gugup. "Albert," katanya dengan
suara aneh, "aku selaklu menasihatimu agar berhati-hati
terhadap kenalan-kenalan baru. Sekarang engkau telah
dewasa, mampu untuk memberi dan menerima nasihat.
Aku ingin menasihatimu sekali lagi: Hati-hatilah, Albert"
"Seandainya saya akan memanfaatkan nasihat Ibu, saya
ingin sekali mengetahui terhadap apa atau siapa saya harus
berhati-hati. Count of Monte Cristo bukan penjudi, tidak
minum kecuali air dicampur sedikit anggur Spanyol» dan
dia begitu kaya sehingga tak mungkin akan meminjam uang
dari saya. Apa yang harus saya takutkan?”
"Engkau benar," jawab Mercedes, "ketakutanku sangat
bodoh, terutama sekali terhadap orang yang telah menyelamatkan
jiwamu . . . Bagaimana Ayah menerimanya?
Beliau sangat sibuk dan kadang-kadang pikirannya telah
penuh sehingga mungkin sekali tanpa disengajanya .. ."
"Ayah baik sekali" sela Albert "dan lagi beliau kelihatannya
senang sekali mendengar pujian-pujian Count of
Monte Cristo yang diselipkannya dalam percakapannya,
seakan-akan beliau telah mengenal sejak bertahun-tahun.
Mereka berpisah seperti sahabat, bahkan Ayah mengajaknya
ke Gedung Parlemen."
Mercedes tidak menjawab. Dia begitu terserap oleh pikirannya
sehingga lambat-laun matanya menutup. Albert
menatapnya dengan perasaan kasih sayang seorang .anak
kedi yang ibunya masih muda dan cantik. Karena mengira
ibunya tertidur, dengan berjingkat Albert keluar lalu menutup
pintu dengan hati-hati.
BAB XXIV
SEMENTARA itu Count of Monte Cristo telah sampai
ke rumahnya yang baru di Champs Elysee. Dua orang menyambutnya
ketika keretanya berhenti di muka pintu.
Seorang di antaranya Ali, yang hatinya merasa senang bukan
kepalang melihat majikannya memandang ramah kepadanya.
Yang seorang lagi membungkuk hormat lalu mengulurkan
tangan membantu majikannya turun dari kereta.
"Terima kasih, Tuan Bertuccio," kata Count "Apakah
Notaris sudah datang?"
"Dia menunggu di ruang tamu, Yang Mulia," Count of
Monte Cristo menuju ruang tamu diantar oleh Bertuccio.
'Tuankah notaris yang dikuasakan menjual rumah yang
ingin saya beli?"
"Benar, Tuan."
"Ada Tuan bawa surat-surat jual-belinya?"
"Ini, Tuan."
"Nah, di mana letaknya rumah yang saya beli itu?" tanya
Monte Cristo seenaknya.
Notaris memandangnya heran. "Maksud Tuan, belum
pernah melihatnya?"
"Bagaimana mungkin saya dapat melihatnya? Baru per’
tama kali ini saya datang di Paris, tadi pagi. Tegasnya, ini
adalah kunjungan saya yang pertama ke Perancis."
"Saya mengerti, Tuan. Rumah yang Tuan beli itu terletak
di daerah Auteuil”
Mendengar nama ini wajah Bertuccio menjadi pucat.
"Dan di mana Auteuil itu?"
'Tidak berapa jauh dari sini, Tuan. Sedikit lewat Passy, di
daerah yang nyaman di tengah-tengah Bois de Boulogne."
"Begitu dekat? Kalau begitu bukan di luar kota! Mengapa
Tuan memilihkan rumah yang bukan di luar kota, Tuan
Bertuccio?"
"Yang Mulia," kata Bertuccio terkejut takut, "saya tidak
memilihnya! Sudikah Tuan mengingat-ingat kembali ,
"Ah, ya, sekarang saya ingat," kata Monte Cristo, "saya
membaca iklan dalam sebuah koran dan terpedaya oleh
kata-kata, Rumah Luar Kota."
"Masih ada waktu, Yang Mulia," kata Bertuccio, "seandainya
Tuan menghendaki saya mencari rumah lain di
daerah yang lebih baik."
"Ah, tidak, biar saja," jawab Monte Cristo acuh tak acuh.
"Karena sudah jadi, saya akan memanfaatkannya."
'Tuan tidak akan menyesal," kata Notaris dengan sungguh-
sungguh. "Rumah itu bagus sekali"
Dia menandatanganinya dengan cepat, lalu berkata
kepada Bertuccio, "Bayarkan kepada Tuan ini lima puluh
ribu frank."
Bertuccio meninggalkan ruangan dan kembali lagi dengan
membawa setumpuk uang kertas. Notaris
menghitungnya dengan cermat
"Masih ada lagi yang lain?"
"Tidak ada, Tuan." Count of Monte Cristo mengangguk,
Notaris membungkukkan badan lalu pergi.
"Bertuccio,” kata Count, "bukankah engkau pernah
mengatakan pernah berkeliling di Perancis?"
"Hanya di daerah-daerah tertentu saja, Yang Mulia."
"Kalau begitu pasti engkau mengenal pula kota-kota
pinggiran Paris?"
''Tidak, Yang Mulia, tidak," jawab Bertuccio sedikit
gemetar, yang oleh Monte Cristo, seorang yang ahli menilai
perasaan manusia diartikan sebagai ketakutan.
"Sayang sekali," katanya, "karena aku ingin sekali melihat
rumah itu malam ini juga dan berharap engkau dapat
memberikan beberapa keterangan yang penting dalam perjalanan
ke Auteuil."
“Ke Auteuil?" Bertuccio terkejut. Warna kulit mukanya
yang kecoklat-coklatan berubah menjadi kebiru-biruan.
"Tuan menghendaki saya pergi ke Auteuil?”
"Apa yang aneh dalam hal ini? Bukankah engkau anggota
rumah tanggaku?"
Bertuccio menundukkan kepala karena pandangan majikannya
yang berwibawa. Ia berdiri tanpa menjawab.
"Mengapa engkau, Bertuccio? Apakah engkau bermaksud
supaya aku membunyikan bel dua kali untuk memanggil
keretaku?"
Bertuccio berlari ke ruang tunggu lalu berteriak dengan
suara serak, "Kereta Yang Mulia, siapkan!"
Monte Cristo duduk lalu menulis beberapa pucuk surat.
Ketika ia sedang merekat sampul surat terakhir, Bertuccio
kembali. "Kereta telah menunggu di muka pintu, Yang
Mulia"
"Baik. Ambil topi dan sarung tanganmu."
"Apakah saya harus turut?"
'Tentu. Aku berniat tinggal di sana dan supaya aku dapat
memberikan beberapa petunjuk."
Bertuccio mengikuti majikannya tanpa membantah lebih
lanjut, tetapi Monte Cristo melihat bahwa langkah-langkahnya
goyah ketika berjalan dan bibirnya membisikkan doadoa
ketika menduduki tempatnya dalam kereta.
Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di
daerah Auteuil. "Kita berhenti di Rue de la Fontaine No.
28," kata Monte Cristo sambil menatap Bertuccio.
Keringat bercucuran dari dahi Bertuccio, tetapi ia tidak
dapat menolak perintah. Ia mengeluarkan kepalanya lewat
jendela dan berteriak kepada sais. "Berhenti di Rue de la
Fontaine No. 28."
Selagi dalam perjalanan, malam telah tiba. Atau lebih tepat,
awan-awan hitam yang bergelantungan di awangawang
sarat dengan bahan-bahan halilintar, memberikan
suasana yang khidmat menyeramkan kepada kegelapan
yang datang terlampau cepat itu. Kereta berhenti, dan
pembantu sais meloncat turun untuk membukakan pintu.
Monte Cristo dan Bertuccio turun.
"Ketuk pintu dan beritahukan kedatanganku," kata
Monte Cristo.
Bertuccio mengetuk, pintu terbuka dan penjaga muncul.
"Majikanmu yang baru," kata pembantu sais memberikan
surat dari notaris kepada penjaga pintu.
"Jadi rumah ini sudah terjual?" tanya penjaga pintu.
"Betul," jawab Monte Cristo, "dan aku akan berusaha
agar engkau tidak mempunyai alasan untuk menyesali
kehilangan majikanmu yang lama."
"Oh, saya tidak akan begitu kehilangan, Tuan, karena
boleh dikatakan kami tidak pernah melihatnya. Sudah lima
tahun beliau tidak datang ke mari."
"Siapa nama majikanmu dahulu?"
"Marquis of Saint-Meran."
"Marquis of Saint-Meran ... Rasanya aku pernah mendengar
nama itu."
"Seorang bangsawan tua," kata penjaga pintu,
"pendukung setia dinasti Bourbon. Beliau mempunyai
seorang puteri yang menikah dengan Tuan Villefort, Jaksa
Penuntut Umum di Nimes kemudian di Versailles."
Monte Cristo melirik kepada Bertuccio. Dia melihat
wajah Bertuccio sudah pucat seputih dinding tempat ia
bersandar untuk menjaga jangan sampai jatuh.
"Bukankah puterinya itu telah meninggal?" tanya Count
"Kalau tidak salah, begitulah kabar yang pernah kudengar."
"Benar, Tuan, beliau meninggal dua puluh tahun yang
lalu, dan sejak itu Marquis of Saint-Meran datang ke mari
tidak lebih dari tiga kali"
"Terima kasih " kata Monte Cristo, menyertai ucapannya
dengan memberikan dua buah uang emas yang menimbulkan
ledakan kegembiraan dan serangkaian doa pada si
penjaga pintu.
"Ambil salah satu lentera dari kereta, Bertuccio, dan
antar aku melihat-lihat rumah ini."
Bertuccio menurut tanpa membantah, tetapi tangannya
yang terus-menerus gemetar menunjukkan betapa berat
tugas itu baginya.
Setelah memeriksa lantai pertama, mereka naik ke lantai
kedua. Dalam sebuah ruangan tidur Monte Cristo melihat
pintu yang berhubungan langsung dengan sebuah tangga
spiral. "Ini pintu pribadi," katanya. "Coba terangi,
Bertuccio, kita akan melihat ke mana arah tangga ini."
"Ke kebun, Tuan."
"Bagaimana engkau mengetahuinya, kalau boleh aku
bertanya?"
"Saya maksud, barangkali, Tuan."
"Mari kita buktikan."
Bertuccio mengeluh keras, lalu berjalan di muka. Tangga
itu benar menuju ke kebun. Ketika ia sampai di pintu keluar
Bertuccio berhenti, pikirannya kacau-balau, bahkan hampir
pingsan.
"Mengapa?" tanya Count
"Tidak, Tuan, maaf,” setengah menangis. "Saya tidak
sanggup terus!"
"Apa maksudmu?" tanya Monte Cristo dingin.
"Aneh sekali, Tuan. Dari sekian banyak kota pinggiran
di Paris, Tuan memilih Auteuil, dan dari sekian banyak
rumah di Auteuil, Tuan membeli rumah di Rue de la
Fontaine No. 28. Seperti tidak ada lagi rumah lain kecuali
yang ini, di mana pernah terjadi pembunuhan!"
"Engkau ini benar-benar orang Corsica tulen, Bertuccio.
Selalu penuh rahasia dan takhayul! Ayoh terus, ambil
lentera itu dan mari kita periksa kebun itu."
Bertuccio memungut lentera dan menurut. Monte Cristo
berhenti di dekat serumpun pepohonan. Bertuccio sudah tidak
dapat menahan dirinya lagi. "Jangan berdiri di sana,
Tuan. Saya mohon dengan sangat. Tuan berdiri tepat di
tempat yang sama."
"Tempat apa?"
"Tempat di mana ia terjatuh."
"Aku khawatir engkau menjadi gila, Bertuccio. Coba
tenangkan dirimu dan terangkan apa sebenarnya yang
engkau maksud."
"Seumur hidup baru sekali saya menceriterakannya,"
jawab Bertuccio, "dan itu kepada Padri Busoni. Hal demikian
hanya dapat diungkapkan dalam pengakuan dosa saja,
Tuan."
"Kalau demikian, Bertuccio, aku terpaksa mengembalikanmu
kepada penerima pengakuan dosamu. Aku tidak
menyukai anggota rumah tanggaku yang takut masuk ke
kebun rumahku di malam hari. Juga, harus kukatakan
bahwa aku tidak akan merasa senang harus menerima kedatangan
polisi yang akan menangkapmu. Aku tahu bahwa
engkau pernah menjadi penyelundup, tetapi tidak pernah
tahu bahwa masih ada kejahatan lain yang menghantuimu.
Engkau, terpaksa kuberhentikan, Bertuccio."
"Oh, Yang Mulia!" Bertuccio menangis. "Bila imbalannya
saya boleh tetap bekerja pada Tuan, saya bersedia berbicara.
Saya akan menceriterakan segalanya."
"Soalnya menjadi lain, kalau begitu," kata Monte Cristo.
"Tetapi harap diingat, kalau engkau bermaksud bohong,
lebih baik tidak berbicara sama sekali."
"Tidak, Tuan, saya bersumpah demi keselamatan roh
saya bahwa saya akan mengatakan seluruhnya menurut apa
yang sebenarnya. Dari manakah saya harus mulai?"
"Sekehendakmu, karena aku tidak mengetahui apa-apa
tentang apa yang akan kaukatakan itu."
"Saya kira Padri Busoni telah menceriterakannya kepada
Tuan."
"Benar, tetapi hanya sedikit sekali, lagi pula itu terjadi
tujuh atau delapan tahun yang lalu sehingga aku sudah
hampir lupa semuanya.
Semua ini mulai terjadi dalam tahun 1815. Seluruhnya
masih jelas dalam ingatan saya seakan-akan baru terjadi
kemarin. Saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang
menjadi anggota tentara Napoleon. Pangkatnya letnan dalam
resimen yang semuanya terdiri dari orang-orang Corsica
Kakak itu merupakan satu-satunya orang yang terdekat
kepada saya, katakanlah satu-satunya sahabat. Kami telah
menjadi yatim-piatu ketika saya berumur lima tahun.
Dialah yang membesarkan saya sebagai anaknya sendiri.
Dia kawin dalam tahun 1814 waktu Perancis masih dikuasai
keluarga Bourbon. Ketika Napoleon kembali dari Pulau
Eiba dia kembali menggabungkan diri.
Pada suatu hari saya menerima surat darinya. Saya lupa
mengatakan bahwa kami tinggal di sebuah desa kedi di
Corsica. Surat itu mengabarkan bahwa pasukan Napoleon
telah dibubarkan dan ia sedang dalam perjalanan kembali
melalui Chateauroux, Clermont-Ferrand, Le Puy dan Nimes.
Dia meminta agar saya mengirimkan sejumlah uang
ke Nimes kepada seorang pemilik hotel yang telah ada
hubungan usaha dengan saya, dan dia akan menjemputnya
di sana."
"Apakah dalam usahamu itu termasuk penyelundupan?"
Monte Cristo menyela
"Kami harus makan, Tuan."
"Ya, ya, tentu saja. Teruskan,"
"Saya sangat mencintai kakak saya, seperti saya katakan
tadi. Sebab itu saya memutuskan untuk mengantarkan uang
itu sendiri. Waktu itu saya mempunyai seribu frank.
Setengahnya saya tinggalkan untuk ipar saya, Assunta, lalu
berangkat ke Nimes dengan membawa yang setengahnya
lagi-”
"Waktu itu bertepatan sekali dengan terjadinya pembunuhan
besar-besaran yang tersohor di Perancis Selatan.
Gerombolan pembunuh yang diatur rapi membunuh setiap
orang yang dicurigai pernah menjadi pengikut Napoleon
Bonaparte. Seakan-akan saya harus mengarungi lautan
darah ketika saya memasuki Nimes. Mayat bergelimpangan
di mana-mana. Para pembunuh merampok dan membakar
rumah-rumah. Melihat itu hati saya cemas, tidak untuk diri
sendiri karena saya hanyalah seorang nelayan Corsica sederhana,
tetapi untuk kakak saya dan masih mengenakan
seragam Napoleon.
Saya berlari menemui pemilik hotel. Ketakutan saya
memang terbukti. Kakak saya datang ke Nimes malam sebelumnya
dan dibunuh tepat di muka pintu hotel. Saya
lakukan apa yang mungkin dilakukan untuk menemukan
pembunuhnya, tetapi orang-orang di sana begitu takut sehingga
tak seorang pun berani mengatakan nama-nama
pembunuh. Lalu saya menghadap Jaksa Penuntut Umum,
namanya Villefort Dia berasal dari Marseilles dan belum
lama diangkat menjadi jaksa di sana. Orang-orang Nimes
mengatakan bahwa jaksa itulah yang paling dahulu memberi
kabar kepada raja tentang penyerangan kembali Napoleon
dari Elba.
'Kakak saya dibunuh kemarin,' saya laporkan kepadanya.
'Saya tidak tahu siapa pelakunya, dan itu adalah kewajiban
Tuan untuk menemukannya.'
'Siapa kakakmu itu?' Villefort bertanya.
'Letnan dalam resimen Corsica.’
“Tentara Napoleon, kalau begitu.'
“Tentara Perancis.”
'Setiap revolusi membawa bencana,” kata Villefort, 'dan
kakakmu merupakan seorang korban dari bencana itu, yang
tentu saja kita sesalkan. Seandainya Napoleon tetap
berkuasa, lalu pejuang-pejuangnya membunuh pejuangpejuang
kerajaan, dan setiap pembunuh harus dihukum,
maka kakakmu juga harus dihukum mati. Apa yang terjadi
sekarang adalah hal yang wajar. Begitulah hukum balas
dendam.'
Saya terperanjat. 'Bagaimana, sebagai seorang petugas
hukum, Tuan dapat berkata begitu?’
'Kalian orang Corsica gila semua,’ kata Villefort. 'Kau
bermimpi teman senegrimu itu masih jadi kaisar. Seharusnya
engkau datang dua bulan yang lalu. Sekarang sudah
terlambat. Tinggalkan tempat ini, kalau tidak, aku akan
perintahkan melemparmu ke luar.”
'Baik,' kata saya kepadanya, 'karena ternyata Tuan
mengenal orang Corsica dengan baik, Tuan tentu mengetahui
pula bagaimana mereka memegang teguh ucapannya.
Tuan berpikir bahwa kakak saya patut dibunuh karena dia
seorang Bonapartis dan Tuan seorang kaum kerajaan. Saya
pun seorang Bonapartis, dan saya hanya akan mengatakan
vendetta terhadap Tuan. Dalam pertemuan kita yang
berikut, berarti bahwa detik-detik terakhir untuk Tuan telah
tiba'." Lalu melanjutkan, "Sebelum dia pulih dari
keterkejutannya saya membuka pintu dan berlari ke luar."
"Apa?" kata Monte Cristo. "Dengan wajah jujurmu seperti
ini, kau berani mengatakan kata-kata itu kepada seorang
jaksa? Dan mengertikah ia apa arti kata vendetta?”
"Dia mengerti betul sehingga sejak saat itu dia tidak
pernah lagi berjalan tanpa pengawal dan dia meminta polisi
mencari saya di mana-mana. Untung sekali saya
mempunyai tempat persembunyian yang baik sehingga
tidak pernah diketemukan. Akhirnya ia merasa takut tinggal
di Nimes febih lama lagi. Dia mengajukan permohonan
pindah dan karena ia orang yang berpengaruh dia diangkat
menjadi jaksa di Versailles. Tetapi, seperti Tuan ketahui,
tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi seorang Corsica yang
telah mengikrarkan vendetta yang berarti sumpah
membalas dendam. Dalam perjalanan ke Versailles saya
selalu berada dalam jarak setengah jam perjalanan di
belakang keretanya
Yang terpenting dalam urusan ini bukan membunuhnya
— saya telah mempunyai kesempatan lebih dari selusin kali
— tetapi membunuhnya tanpa diketahui atau ditangkap.
Hidup saya bukan milik saya sendiri lagi karena saya
mempunyai seorang kakak ipar yang harus diurus dan dilindungi.
Saya mengawasi Villefort terus-menerus selama
tiga bulan. Akhirnya saya mengetahui bahwa ia sering
mengadakan perjalanan rahasia ke Auteuil ke rumah yang
ini. Dia tidak pernah masuk melalui pintu depan. Selalu dia
meninggalkan kuda atau keretanya di kedai dan masuk
rumah ini melalui pintu kecil yang Tuan lihat itu.
Saya meninggalkan Versailles pindah ke Auteuil, karena
berpendapat akan mempunyai kesempatan yang lebih baik
di sini Saya temukan juga bahwa rumah ini milik Marquis
Saint-Meran, dan bahwa Marquis itu mertua Villefort. Karena
Marquis itu tinggal di Marseilles, rumah ini disewakan
kepada seorang janda baion yang.hanya dikenal dengan
sebutan bareness' saja.
Pada suatu malam ketika saya mengintip lewat benteng,
saya melihat seorang wanita cantik berjalan-jalan dalam
kebun. Seketika itu juga saya lihat bahwa dia sedang hamil
tua. Tak lama kemudian pintu kecil itu terbuka dan seorang
laki-laki masuk. Wanita itu berlari menjemputnya. Mereka
berpelukan dengan mesranya lalu bergandengan masuk ke
dalam rumah. Laki-laki itu Tuan de Villefort. Segera
terpikir oleh saya bahwa kalau nanti ia pulang, mungkin
sekali ia akan melalui kebun lagi sendirian."
"Berhasilkah engkau mengetahui nama wanita itu?"
"Tidak, Tuan. Nanti Tuan akan dapat memahami bahwa
saya tidak sempat menyelidikinya."
"Teruskan."
"Sebenarnya saya dapat membunuhnya pada malam itu,
tetapi saya belum mengenal betul keadaan kebun itu
sehingga takut tidak akan dapat melarikan diri seandainya
dia sempat berteriak meminta tolong.
Tiga hari kemudian, kira-kira jam tujuh malam, saya
melihat seorang pelayan meninggalkan rumah itu cepatcepat
dengan naik kuda. Dia kembali tiga jam kemudian,
badannya penuh debu. Sepuluh menit setelah itu, seorang
laki-laki lain membuka pintu kebun lalu masuk ke dalam.
Saya tidak melihat wajahnya, tetapi saya yakin orang itu
Villefort karena jantung saya berdetak keras seakan-akan
memberitahukannya. Saya mencabut pisau dan masuk
kebun dengan menaiki benteng. Lalu saya bersembunyi di
balik semak-semak yang saya perhitungkan akan dilalui
Villefort pada waktu dia pulang.
Sesudah menunggu dua jam baru Villefort keluar. Saya
melihat dia membawa sesuatu yang pada mulanya saya
sangka sebuah senjata atau semacamnya. Nyatanya hanya
sebuah singkup; dia berhenti dekat semak-semak tempat
saya bersembunyi dan mulai membuat lubang di tanah. Ia
melepaskan jasnya dan sesuatu yang dibawa di balik jas itu
untuk memberikan keleluasaan bergerak. Kebencian saya
bercampur dengan keinginan tahu. Sebab itu Saya
menunggu dan melihat apa yang hendak dilakukannya.
Beberapa saat kemudian dia mengambil sebuah peti berukuran
sedang dari bawah jasnya tadi, lalu menguburnya.
Sehabis itu saya menyergapnya, menikamkan pisau pada
dadanya sambil berteriak, 'Giovani Bertuccio, Kematianmu
buat kakakku dan hartamu buat istrinya! Pembalasanku
ternyata lebih sempurna daripada yang aku perkirakan.
Saya tidak tahu, apakah ia mendengar kata-kata saya itu
atau tidak. Saya kira tidak, karena ia langsung rebah tanpa
berkutik. Saya menggali kembali lubang itu kemudian lari
membawa peti melalui pintu kebun."
"Banyakkah isi peti itu?" tanya Monte Cristo.
"Ternyata isinya bukan uang, Yang Mulia. Saya berlari
sampai di sebuah sungai. Di tepinya saya membuka peti.
Yang saya dapatkan seorang bayi yang baru dilahirkan.
Mukanya yang kebiru-biruan menunjukkan ia hampir mati
seperti tercekik, tetapi saya masih dapat merasakan denyut
jantungnya yang sudah lemah sekali. Saya menghembuskan
udara ke dalam paru-parunya lewat mulutnya dan seperempat
jam kemudian dia menangis. Saya sendiri pun
menangis, tetapi karena gembira 'Tuhan tidak mengutuk
saya katakan kepada diri sendiri, "buktinya Dia
memperkenankan saya memberikan hidup kepada seorang
manusia sebagai pengganti hidup yang saya renggut dari
manusia lain.'
Dari kain halus yang membungkus badannya, jelas bahwa
orangtuanya termasuk golongan kaya. Pada kain itu
tersulam dua buah huruf. Saya menyobeknya menjadi dua
bagian demikian, rupa sehingga pada tiap bagian terdapat
satu huruf. Satu bagian saya ambil. Kemudian saya meletakkan
bayi itu di muka pintu sebuah rumah yatim-piatu,
membunyikan lonceng pintunya lalu lari secepat dapat. Dua
minggu kemudian saya sudah kembali di Rogliano, desa
kami di Corsica. Kalimat pertama yang saya katakan
kepada Assunta adalah, 'Semoga terhiburlah engkau, Israel
telah mati, tetapi saya telah membalas kematiannya.' Lalu
saya ceritakan segala yang telah terjadi.
'Giovani,' kata Assunta, 'sebaiknya kauambil kembali
bayi itu. Kita harus menjadi orangtuanya dan kita akan
menamakan dia Benedetto sebagai peringatan terhadap
karunia yang diberikan Tuhan kepada kita.'
Satu-satunya jawaban saya kepada permintaannya ini,
menyerahkan potongan kain pembalut kepadanya yang
sengaja saya bawa dengan maksud sebagai bukti untuk meminta
kembali bayi itu nanti apabila kami sudah cukup
kaya,"
"Huruf-huruf apa yang tersulam pada kain itu?" tanya
Monte Cristo.
"Huruf H dan N yang masing-masing di atasnya
dibubuhi mahkota kebangsawanan."
"Aku ingin sekali mengetahui tentang dua soal."
"Yaitu?"
"Bagaimana kejadiannya dengan anak laki-laki itu - tadi
kaukatakan bayi itu laki-laki, bukan?"
"Tidak, Yang Mulia, saya rasa tidak mengatakan demikian.
Tetapi memang, anak itu laki-laki. Dan soal yang lain?"
"Aku ingin mengetahui kejahatan apa yang dituduhkan
kepadamu ketika engkau meminta seorang padri untuk
menerima pengakuan dosamu di penjara di Nimes. Yang
datang Padri Busoni, bukan?"
"Kisahnya agak panjang, Yang Mulia.'.
"Tidak apa. Sekarang baru jam sepuluh. Seperti kau
tahu, aku tidur sedikit sekali dan aku kira sekarang ini engkau
pun belum mau tidur."
Bertuccio mengangguk lalu meneruskan ceriteranya.
"Sebagian karena ingin mengenyahkan bayangan balas
dendam yang terus saja menghantui dan sebagian lagi dengan
maksud mencukupi kebutuhan janda Israel, saya kembali
kepada kegiatan penyelundupan dengan semangat yang
lebih besar daripada yang sudah-sudah. Karena kakak saya
terbunuh di Nimes saya tidak pernah mau kembali ke kota
itu. Akibatnya, hubungan kami dengan pemilik penginapan
di Nimes terputus. Akhirnya dia yang menghubungi kami
dan membuka sebuah penginapan baru dengan nama Pont
du Garde, terletak di jalan antara Bellegarde dan Beaucaire.
Kami mempunyai kurang lebih selusin tempat semacam itu,
tempat kami menyimpan barang-barang dan
menyembunyikan dari pemeriksaan bea cukai dan polisi,
kalau perlu.
Suatu hari saya harus berangkat lagi. Assunta berkata
kepada saya, 'kalau kau kembali nanti saya mempunyai
sesuatu bagimu.' Saya tanya apa itu, tetapi dia tidak mau
mengatakannya. Ketika saya pulang enam minggu kemudian,
barang pertama yang saya lihat di rumah adalah sebuah
ranjang bayi dengan bayi di dalamnya. Rupanya selama
saya bepergian itu Assunta telah pergi ke Paris dan meminta
bayi itu Saya mengakui, Yang Mulia, bahwa ketika
saya melihat mahluk kecil tak berdaya itu tidur dengan lelap
di ranjangnya, seakan-akan dada saya mengembang dan air
mata berlinang. Saya katakan kepada Assunta, 'Baik sekali
engkau, Assunta. Semoga Tuhan memberkahimu.'
Tetapi, rupanya dengan memilih anak itu Tuhan bermaksud
menghukum saya. Belum pernah saya menemukan
watak yang lebih buruk pada anak semuda dia. Walaupun
demikian, tak seorang pun dapat mengatakan bahwa itu
disebabkan karena pendidikannya, sebab Assunta telah
memperlakukannya seperti anak seorang pangeran. Ketika
ia berumur sebelas tahun kawan-kawan bergaulnya adalah
orang-orang yang berumur antara delapan belas dan dua
puluh tahun yang telah sering melakukan perbuatan yang
tidak senonoh dan telah sering pula diperingatkan oleh
polisi
Suatu saat, saya harus pergi lagi untuk suatu perjalanan
yang penting. Setiap kali kami memperbincangkan Benedetto,
Assunta selalu melindunginya, sekalipun dia mengakui
bahwa ia sering kehilangan uang dalam jumlah yang
cukup besar. Saya menunjukkan suatu tempat di mana ia
dapat menyembunyikan harta kami yang tak seberapa
banyak itu. Lalu saya berangkat ke Perancis.
Kami bermaksud menurunkan muatan di Teluk Lyon.
Pada waktu itu tahun 1829. Usaha penyelundupan sudah
semakin sukar. Ketertiban sudah mulai kokoh dan patrolipatroli
dilakukan dengan lebih cermat dan ketat dibandingkan
dengan sebelumnya.
Pada permulaannya operasi kami berjalan dengan lancar.
Kami menambatkan kapal kami yang berdasar dua lapis di
antara kapal-kapal lain yang berjejer sepanjang kedua tepi
Sungai Rhone. Di sana kami menurunkan muatan lalu
meneruskannya ke kota oleh sekutu-sekutu kami. Mungkin
karena keberhasilan, kami kurang waspada atau mungkin
juga karena ada yang berkhianat, pada suatu saat ketika
kami hendak makan, pelayan kabin kapal kami datang berlari
memberitahukan bahwa sepasukan petugas bea cukai
dan polisi sedang bergerak menuju ke tempat kami Kami
semua serentak berdiri, tetapi terlambat, kapal sudah dikepung.
Saya berlari ke ruang bawah, menyelinap ke luar
melalui jendela bundar lalu berenang di bawah permukaan
air sampai ke sebuah terusan kecil yang menghubungkan
Sungai Rhone dengan terusan lain yang mengalir dari
Beaucaire ke Aigues-Mortes. Bukan kebetulan saya memilih
jalan ini. Saya rasa. Yang Mulia, saya sudah
menceriterakaa tentang orang dari Nimes yang membuka
penginapan di jalan antara Beaucaire dan Bellegarde."
"Siapa nama orang itu?" tanya Monte Cristo yang kelihatannya
mulai menaruh perhatian kepada kisah
Bertuccio.
"Caspard Caderousse. Ia seorang yang berbadan tegap
sekitar empat puluhan yang telah beberapa kali membuktikan
keberanian dan ketabahannya dalam keadaan-keadaan
yang gawat" ‘
"Kaukatakan tadi tahun 1829," kata Count. "Masih ingat
bulannya?"
"Juni. Tanggal tiga Juni."
"Juni tanggal tiga tahun 1829. Ya. Teruskan lagi."
"Saya bermaksud bersembunyi di penginapan Caderouse.
Dalam keadaan biasa pun kami tidak pernah masuk
penginapan itu melalui pintu depan. Apalagi waktu itu karena
saya khawatir mungkin saja ada tamu-tamu yang
menginap. Saya rrienyelinap masuk melalui pagar kebun
dan segera sampai di sebuah kamar kecil. Telah sering saya
tidur di tempat itu apabila saya tidak mendapatkan ranjang
yang lebih baik. Kamar itu terpisah dari ^bangunan
induknya dengan dihalangi sebuah dinding kayu. Pada
dinding itu dibuat beberapa lubang pengintip untuk melihat
kesempatan yang baik untuk memberitahukan kehadiran
kami kepada Caderousse. Dari lubang itu saya melihat
Caderousse masuk bersama seorang jang tidak saya kenal.
Saya diam dan menunggu.
Rupanya tamu Caderouse itu seorang jauhari yang
hendak menjual perhiasan di pasar malam Beaucaire.
"Padri itu tidak menipu,' kata Caderousse kepada isterinya.
'Intan ini asli, dan Tuan ini, salah seorang jauhari termashur
dari Paris, bersedia membayar lima puluh ribu frank. Tetapi
untuk meyakinkan bahwa intan ini benar milik kita, beliau
ingin sekali mendengar dari engkau bagaimana kisahnya
sampai jatuh ke tangan kira. Sementara itu, Tuan, silakan
duduk dan saya akan mengambil minuman untuk pelepas
dahaga.'
'Silahkan ceriterakan, Nyonya,' kata Jauhari itu. Jelas
sekali ia ingin memanfaatkan ketidakhadiran Caderousse
untuk memperbandingkan ceriteranya dengan ceritera isterinya
'Yah,' kata Nyonya Caderousse, 'ini benar-benar merupakan
rejeki dari langit yang sama sekali di luar dugaan.
Empat belas tahua yang lalu suami saya mengenal seorang
pelaut bernama Edmond Dantes yang karena sesuatu sebab
dipenjarakan. Dalam penjara itu ia bertemu dengan seorang
Inggris kaya yang memberinya sebuah intan ketika orang
Inggris itu dibebaskan. Dantes tidak beruntung, karena ia
mati dalam penjara. Sebelum ia meninggal dia mewariskan
intan ini kepada kami dan meminta padri yang tadi pagi
datang ke mari menyampaikannya kepada kami "
'Ceritera Nyonya sama dengan apa yang dikatakan suami
Nyonya,' kata Jauhari Itu, ‘dan saya kira ceritera itu
benar, meskipun selintas terdengar tidak masuk akal. Sekarang
yang harus kita bicarakan soal harganya.'
'Apa!' kata Caderousse. 'Saya kira kita sudah setuju
dengan harga yang saya minta!'
'Saya menawar empat puluh ribu.’
'Empat puluh ribu'. kata Nyonya Caderousse. 'Kami
takkan melepaskannya untuk harga itu. Padri itu mengatakan
harganya lima puluh ribu.”
'Saya hanya berani sampai empat puluh lima ribu, tidak
lebih.'
“Tak apa, kata Caderousse, 'kami akap menjualnya
kepada orang lain.'
"Silakan. Seperti Tuan lihat, saya sudah membawa
uangnya.' Dia mengeluarkan segulung uang kertas dan segenggam
emas murni yang berkilauan di hadapan mata
Caderousse. Caderousse bimbang» Dia menoleh kepada
isterinya dan berbisik, 'Bagaimana pendapatmu?’"
'Berikan saja,” jawabnya. 'Kalau tidak, mungkin ia
mengadukan kita dan kita tidak akan dapat menemui kembali
padri itu untuk membenarkan keterangan kita.'
'Begitulah,' kata Caderousse kepada Jauhari, 'silakan
ambil intan ini untuk empat puluh lima ribu frank.'
Jauhari itu membayar lima belas ribu rank dengan emas
dan tiga puluh tibu lagi dengan uang kertas.
'Tunggu sebentar, saya akan rnengambil lampu” kata
Nyonya Caderousse. "Sudah agak gelap dan jangan sampai
kita membuat kesalahan.” Sementara mereka berunding
hari makin malam, dan bersamaan dengan itu awan mendu
yan telah mengancam semenjak setengah jam yang lalu,
meledak menjadi hujan angin yang lebat. Tetapi ketiga
orang itu seakan-akan tidak memperdulikannya,
'Sudikah Tuan makan malam di sini?” tanya Caderousse.
“Terima kasih, saya harus segera kembali ke Beaucaire.
Istri saya mungkin sudah gelisah.'
“Tuan mau pulang dalam cuaca seburuk ini?' tanya
Caderousse,
'Saya tidak takut halilintar”
'Bagaimana terhadap penyamun? Kalau ada pasar malam
biasanya jalan kurang aman.'
'Untuk para penyamun,' jawab Jauhari, 'saya sediakan
ini.' Dia memperlihatkan dua pucuk pistol.
'Kalau begitu,' kata Caderousse, 'selamat,jalan.”
”Terima kasih.” Jauhari itu mengambil tongkatnya lalu
membuka pintu. Berbarengan dengan pintu terbuka angin
yang keras sekali bertiup ke dalam hampir memadamkan
lampu.
'Wali, dan saya harus menempuh jarak satu kilometer
dalam cuaca begini” Jauhari itu menjadi ragu-ragu.
'Menginap saja di sini,” kata Caderousse.
'Betul Tuan, menginap saja,' sambung istrinya. 'Jangan
khawatir, kami akan menyediakan semua keperluan Tuan.'
Tidak, saya mesti kembali malam ini juga ke Beaucaire.
Selamat malam.’
'Mengapa engkau menahan?' tanya istrinya ketika
tamunya telah pergi.
'Mengapa, supaya dia tidak kembali ke Beaucaire malam
ini,' jawab Caderousse terkejut mendengar pertanyaan itu.
’Oh, aku kira ada maksud lain,’
'Apa sebab engkau berpikir begitu?' tanya Caderousse
keras. 'Kalau engkau punya maksud lain, tak nsah aku diberi
tahu. Tahukah engkau, pikiranmu itu menentang
Tuhan.’
Guntur menggelegar dan kilat bercahaya. Suara guruh
melemah lalu hilang seakan-akan menyesal harus
meninggalkan rumah terkutuk itu. Nyonya Caderousse
membuat tanda salib di dadanya. Di tengah-tengah
kesunyian yang biasa menyusul sebuah guruh, terdengar
orang mengetuk pintu. Mereka terkejut, lalu berpandangan
satu sama lain.
'Siapa!' Caderousse berteriak, sambil menyembunyikan
uang yang terletak di meja dengan tangannya.
'Joanes, Jauhari.'
'Kaukatakan aku menentang Tuhan,' kata istrinya,
'sekarang ternyata Tuhan mengembalikan dia kepada kita!’
Caderousse menjadi pucat dan merebahkan dirinya ke
kursi. Dengan langkah-langkah yang pasti istrinya berjalan
ke pintu dan membukanya. 'Silakan duduk, Tuan.'
'Rupanya setan tidak menghendaki aku pulang ke
Beaucaire malam ini,' kata Jauhari yang sudah basah kuyup.
'Saya terima tawaran untuk menginap di sini, Tuan
Caderousse.’
Caderousse menggumamkan kata-kata yang tidak jelas
dan mengusap keringat yang mengucur di dahinya. Istrinya
menutup kembali pintu,
"Apakah ada tamu-tamu lain?'
‘Tidak ada.’
'Mudah-mudahan saya tidak menyusahkan kalian.'
"Menyusahkan? Sama sekali tidak, Tuan’ kata istri
Caderousse seperti gembira
Caderousse memandang istrinya dengan perasaan heran.
Sementara Joanes memanaskan badannya di muka perapian,
istri Caderousse menyediakan sisa-sisa makanan malam
itu di meja, menambahnya dengan dua tiga butir telur
segar. 'Nah” katanya sambil menaruh botol anggur di meja,
'Silakan makan kalau Tuan sudah siap’ Jauhari duduk
untuk makan dan Nyonya Caderousse melayaninya dengan
penuh perhatian. Setelah dia,selesai makan, istri
Caderousse berkata, Tuan mesti rnerasa lelah, kamar telah
saya siapkan. Silakan naik dan selamat tidur.' Jauhari
Joanes masih duduk-duduk selama seperempat jam
menunggu kalau kalau hujan mereda. Hujan bahkan
bertambah deras. Akhirnya dia naik ke kamarnya. Nyonya
Caderousse mengikutinya dengan pandangan penuh
perhatian, sedangkan Caderousse sendiri memunggunginya.
Hal-hal kecil ini saya ingat kembali kemudian, padahal
pada saat-saat terjadinya tidak mempunyai arti apa-apa bagi
saya. Kecuali soal intan, yang lainnya saya anggap sebagai
wajar saja. Karena saya merasa lelah saya bermaksud tidur
untuk beberapa ja« untuk kemudian berangkat lagi nanti
tengah malam
Saya sedang tidur lelap ketika terbangunkan oleh suara
pistol yang disusul dengan teriakan yang mengerikan. Lalu
terdengar suara orang mengerang dibarengi suara gedebaggedebug
seperti orang sedang berkelahi. Teriakan melengking
yang sangat mengerikan menyebabkan saya terjaga
betul-betul. Keadaan sunyi kembali. Kemudian saya mendengar
langkah orang menuruni tangga, masuk ke lantai
bawah berjalan mendekati perapian dan menyalakan lilin,
Caderousse. Mukanya pucat dan bajunya berlumuran
darah. Dia naik lagi ke atas, membawa lilin itu dan tak
lama kemudian turun lagi dengan intan di tangannya. Dia
membungkusnya dengan saputangan merah yang melilit di
lehernya. Sesudah itu dia membuka lemari, mengambil
uang dan emas, lalu lari ke luar dan menghilang dalam
kegelapan.
Saya mengerti benar apa yang telah tadi. Saya menyesali
diri seakan-akan sayalah yang berdosa. Dalam kesunyian
itu saya mendengar orang mengerang. Mungkin Jauhari itu
masih hidup. Saya mendorong dinding pemisah ruangan
dengan balm dan dinding itu bergeser cukup lebar untuk
saya lalui. Saya mengambil lilin yang masih menyala yang
ditinggalkan Caderousse lalu menaiki tangga ke ruang atas,
tetapi tangga itu terhalang oleh sesosok tubuh. Ternyata
mayat Nyonya Caderousse. Pistol itu diarahkan kepadanya
Saya melangkahi tubuhnya dan masuk ke dalam kamar.
Keadaan kamar acak-acakan. Jauhari yang malang itu
tergeletak di lantai dalam gelimangan darah yang
memancar dari luka-lukanya di dada. Sebuah pisau dapur
masih menancap di dadanya. Yang kelihatan hanya
gagangnya saja. Saya mengambil pistolnya yang sebuah
lagi. Ternyata mesiunya basah. Dia belum mati. Mendengar
langkah saya dia membuka matanya, menggerakkan bibirnya
seakan-akan hendak mengatakan sesuatu, lalu mati.
Keadaan yang mengerikan itu mengacaukan pikiran saya.
Karena sudah tak ada lagi yang dapat saya lakukan,
hanya tinggal sebuah lagi keinginan saya lari. Saya berlari
menuruni tangga, sambil memegang kepala dengan kedua
belah tangan.
Ternyata di bawah telah ada enam orang pejabat bea
cukai dan dua orang serdadu. Mereka menangkap saya.
Saya sangat terkejut hingga tak berdaya melawan. Saya
mencoba berbicara tetapi tak sepatah pun keluar dari mulut
saya, kecuali suara-suara tak menentu. Akhirnya saya
mencoba melepaskan diri dari pegangan mereka sambil
berteriak. 'Aku tidak melakukannya! Aku tidak melakukannya!'
Kedua serdadu itu mengarahkan bedilnya kepada
saya sambil berkata, 'Kalau bergerak kau-mati Kau dapat
menceriterakan soalmu kepada hakim di Nimes nanti.'
Mereka jnemborgol saya dan mengikatkan saya kepada bun
tut-kuda mereka dan membawa saya ke Nimes.
Rupanya saya diikuti oleh seorang pejabat pabean yang
seterusnya kehilangan jejak saya di penginapan itu. Karena
memperhitungkan saya akan menginap di sana dia kembali
dahulu meminta bantuan. Mereka datang tepat ketika pistol
Caderousse meletus, dan menangkap saya di tengah-tengah
bukti yang seketika itu juga saya pahami betapa akan memberatkannya
nanti di pengadilan. Satu-satunya harapan saya,
meminta kepada hakim agar mencari Padri Busoni yang
namanya saya dengar tadi dari suami istri Caderousse. Bila
ceritera Caderousse itu hanya karangan belaka, kalau padri
itu merupakan tokoh khayal belaka, saya betul-betul akan
celaka, kecuali kalau Caderousse sendiri tertangkap dan
mengakui semua perbuatannya.
Dua bulan berlalu, dan selama itu berkat kesediaan
hakim, semua usaha dijalankan untuk menemukan Padri
Busoni. Dan pada tanggal delapan September, lima hari
sebelum hari pengadilan Padri Busoni datang ke sel saya.
Tuan dapat memahami betapa gembira hati saya ketika itu.
Saya ceriterakan semua yang saya lihat dan dengar dalam
penginapan itu, dan bertentangan sekati dengan sangkaan
saya Padri Busoni membenarkan semua ceritera
Caderousse. Pada saat itulah, setelah saya mendapat
keyakinan akan perhatian dan pengertian beliau, didorong
pula oleh harapan beliau dapat memaafkan satu-satunya
kejahatan yang telah saya perbuat, saya menceriterakan di
bawah sumpah pengakuan dosa, dan semua kejadian di
Auteuil. Pengakuan dosa yang secara spontan itu, rupanya
meyakinkan beliau bahwa saya tidak bersalah dalam
tuduhan yang sekarang. Beliau berjanji akan berusaha
sedapat dapatnya untuk meyakinkan hakim bahwa saya
tidak berdosa.
Saya melihat bukti usaha padri itu ketika sidang pengadilan
diundurkan. Dan sementara Caderousse berhasil
ditangkap di sebuah negri asing dan dikembalikan ke
Perancis. Dia mengakui semua perbuatannya tetapi bersikeras
bahwa gagasan pembunuhan itu berasal dari istrinya.
Dia dihukum kerja paksa seumur hidup dan saya dibebaskan."
"Lalu engkau mengunjungiku dengan surat dari Padri
Busoni itu?" tanya Monte Cristo.
"Betul, Yang Mulia. Rupanya beliau sangat memperhatikan
keadaan saya. 'Penyelundupan akan menghancurkan
engkau,' kata beliau kepada saya. 'Jangan dilakukan lagi
kalau engkau nanti bebas.' 'Tetapi bagaimana saya dapat
menghidupi ipar saya?' saya bertanya
''Salah seorang yang penah bertobat kepadaku dan sangat
menghargaiku, meminta tolong mencarikan seorang yang
dapat dipercaya untuk menjadi pengurus rumahtang-ga.
Kalau engkau berhasrat aku mau memberikan surat perkenalan,
asal saja engkau bersumpah tidak akan
mengecewakan aku.’
Saya mengangkat tangan untuk bersumpah, tetapi beliau
mencegah, 'tidak perlu, aku cukup mengenal watak orang
Corsica dan aku menyukai mereka’ Beliau menulis surat
yang saya serahkan kepada Tuan dahulu. Yang Mulia.
Bolehkah sekarang saya bertanya, Yang Mulia, apakah
Tuan mempunyai alasan untuk merasa kecewa terhadap
saya?”
"Tidak," jawab Count of Monte Cristo, "dengan senang
hati dapat kukatakan bahwa engkau seorang yang setia,
Bertuccio, meskipun engkau masih kekurangan kepercayaan
kepadaku."
"Saya?"
"Ya, engkau. Mengapa engkau tidak pernah mengatakan
mempunyai seorang kakak ipar dan seorang anak angkat?"
"Ah, Yang Mulia, saya masih belum menceriterakan bagian
yang paling pahit. Saya kembali ke Corsica, tetapi
ketika tiba, rumah berada dalam suasana berkabung. Ada
kejadian yang sangat getir yang tidak akan pernah dapat
dilupakan oleh tetangga-tetangga saya Assunta menuruti
nasihat saya, menolak permintaan Benedetto agar ia menyerahkan
semua uang yang ada di rumah. Pada suatu hari
dia mengancam Assunta, lalu menghilang sehari itu.
Assunta menangis, karena walaupun bagaimana ia
mempunyai hati seorang ibu sejati. Pada jam sebelas malam
Benedetto kembali dengan dua orang kawannya Mereka
menangkap Assunta. Salah seorang di antara mereka —
saya selalu bergidik kalau terpikir bahwa mungkin
Benedetto sendiri yang melakukannya — berkata, 'Kita
siksa dia supaya menunjukkan tempat menyembunyikan
uang itu!’
Wasilop, tetangga saya, sedang berada di Bastia ketika
Itu, tetapi istrinya di rumah sendirian. Dialah satu-satunya
orang yang melihat dan mendengar apa yang terjadi di rumah
kakak ipar saya itu. Dua orang anak muda itu memegangi
Assunta dan yang seorang lagi mengunci pintu dan
jendela. Dengan tidak menghiraukan jeritan ketakutan
Assunta mereka mengangkat kaki Assunta ka atas api.
Dalam usaha melepaskan diri, baju Assunta terbakar, dan
mereka melepaskannya karena takut turut terbakar. Assunta
diketemukan esok paginya, setengah terbakar tetapi masih
bernafas. Lemari telah dibongkar dan uangnya telah tiada.
Sejak itu Benedetto meninggalkan Rogliano dan tidak
pernah kembali lagi. Saya sendiri pun tidak’pernah lagi melihat
atau mendengar kabar tentang dia. Setelah mendengar
kejadian yang sangat menyedihkan inilah saya datang kepada
Tuan, Yang Mulia. Saya tidak pernah menceriterakan
tentang kedua orang ini kepada Tuan karena Benedetto
telah hilang dan Assunta telah meninggal."
"Padri Busoni itu telah bertindak bijaksana dengan mengirimkan
engkau kepadaku," kata Monte Cristo, "dan engkau
pun bijaksana dengan menceriterakan seluruh kisahmu.
Dengan demikian aku tidak akan bersangka buruk lagi terhadapmu.
Sekarang, camkanlah kata-kata ini yang sering
sekali aku dengar dari mulut Padri Busoni: Untuk setiap
kejahatan ada dua macam obat, waktu dan diam."
Setelah berkeliling sebentar melihat-lihat kebun, Count of
Monte Cristo kembali ke keretanya. Bertuccio yang melihat
majikannya tiba-tiba menjadi murung, tanpa berkata
sepatah pun naik dan duduk di sebelah sais. Kereta bergerak
menuju Paris.
BAB XXV
KEESOKAN harinya menjelang jam dua siang, sebuah
kereta yang ditarik sepasang kuda Inggris yang gagah indah,
berhenti di muka pintu rumah Count of Monte Cristo. Di
dalamnya duduk seorang laki-laki berjas biru, kancing
kancingnya terbungkus kain sutra dengan warna yang sama,
bercelana coklat dan rompi putih. Sebuah rantai emas yang
besar melintang di dadanya. Tetapi jelas sekali rambut yang
hitam legam Itu tidak serasi dengan keriput di dahinya.
Pendeknya, ia seorang setengah baya yang ingin tampak
muda. Ia mengeluarkan kepala dari jendela kereta lalu
memerintahkan pelayannya menanyakan apakah Count of
Monte Cristo ada di rumah.
Pelayan itu bertanya kepada penjaga pintu.
"Yang Mulia Count of Monte Cristo memang tinggal di
sini, tetapi beliau sekarang sedang sibuk," jawab penjaga
pintu.
"Kalau begitu, tolong sampaikan kartu nama majikan
saya, Baron Danglars. Tolong katakan pula bahwa dalam
perjalanannya ke Parlemen beliau mampir sebentar ingin
bertemu."
"Saya tidak berhak menghadap beliau, tetapi pesan ini
akan disampaikan oleh pelayannya."
Pelayan itu kembali ke kereta dan melaporkan jawaban
penjaga pintu.
"Rupanya dia putera seorang raja, karena dipanggil Yang
Mulia dan hanya pelayannya saja yang berhak
menghadap!" kata Danglars. "Tetapi biarlah, itu urusan dia.
Suatu waktu dia mesti menemuiku kalau sudah
membutuhkan uang” Dia bersandar lagi dan berteriak
nyaring sekali sehingga dapat didengar ke seberang jalan.
"Ke Parlemen!"
Monte Cristo yang diberitahu tentang kedatangan baron
itu masih sempat melihatnya dari balik tirai jendela dengan
menggunakan teropong yang kuat.
"Ali!" ia berteriak, lalu memukul gong perunggu. Ali
datang. "Panggil Bertuccio."
Dalam sekejap Bertuccio muncul. "Yang Mulia
memanggil saya?"
"Ya. Apakah kau lihat tadi sepasang kuda yang berhenti
di muka pintu?"
"Tentu saja, Yang Mulia Kuda yang bagus sekali."
"Mengapa," kata Monte Cristo mengerutkan dahi,
"masih ada kuda lain di luar kandangku yang sama
bagusnya dengan kudaku sendiri, padahal aku telah
memerintahkan untuk membeli sepasang kuda yang paling
bagus di Paris?"
Melihat majikannya mengerutkan dahi dan mendengar
nada suaranya yang keras, Ali menundukkan kepala.
"Bukan salahmu, Ali," kata Count dalam bahasa Arab
dengan nada yang ramah sekali. "Engkau tidak banyak
mengetahui tentang kuda Inggris." Wajah Ali kembari
cerah.
"Yang Mulia kuda yang Tuan maksudkan itu tidak
dijual," kata Bertuccio.
Monte Cristo mengangkat bahu, lalu berkata, "Tidakkah
kau tahu bahwa segala sesuatu akan dijual kepada orang
yang berani membayar harganya?"
"Tuan Danglars membayar enam belas ribu frank untuk
sepasang kuda itu, Yang Mulia."
"Tawarkan kepadanya tiga puluh dua ribu frank. Dia
seorang pengusaha, dan seprang pengusaha tak akan melewatkan
kesempatan mendapat untung."
"Apakah Tuan berbicara sungguh-sungguh, Yang
Mulia?" tanya Bertuccio ragu-ragu.
Monte Cristo memandang Bertuccio dengan heran
seakan-akan ia tidak percaya Bertuccio bertanya seperti itu.
"Aku harus mengunjungi seseorang nanti jam lima sore,"
katanya. "Aku minta supaya kuda itu telah dipasang di keretaku
dan menunggu di muka pintu."
"Bolehkah saya mengingatkan bahwa sekarang telah jam
dua siang?"
"Aku tahu." Hanya itu jawab Monte Cristo.
Pada jam lima sore Count of Monte Cristo memukul
gong tiga kali. Setiap pukulan mempunyai makna. Sekali
untuk Ali, dua kali untuk Baptistin, pelayan, dan tiga kali
untuk Bertuccio.
Bertuccio masuk menghadap.
"Bagaimana dengan kuda itu?" dia bertanya.
"Sudah dipasang, Tuan."
Count of Monte Cristo pergi ke luar dan melihat
sepasang kuda yang tadi pagi terpasang pada kereta
Danglars, sekarang sudah terpasang di keretanya. "Benarbenar
kuda indah gagah," katanya lagi. 'Bagus engkau telah
berhasil membelinya, sekalipun agak terlambat."
"Saya mendapat banyak kesukaran memperolehnya,
Tuan," kata Bertuccio, "dan saya terpaksa membayar
dengan harga yang tinggi sekali."
"Apakah karena itu keindahannya menjadi berkurang?"
Bertuccio berbalik akan mengundurkan diri.
"Tunggu!" Monte Cristo mencegahnya. "Aku
memerlukan sebidang tanah di tepi pantai — di Normandia
umpamanya - antara Le Havre dan Boulogne. Harus ada
pelabuhan kecil yang dapat dimasuki korvet. Kapal itu
harus siap setiap saat untuk berlayar kapan saja aku
memerintahkannya. Coba cari keterangan tentang tempat
seperti itu, dan bila engkau mendengarnya, lihat. Kalau
engkau sendiri merasa puas, beli tanah itu atas namamu.
Korvet itu sekarang sedang dalam perjalanan ke Fecamp,
bukan?"
"Saya melihatnya meluncur ke lautan pada hari yang
sama kita meninggalkan Marseilles."
"Dan kapal pesiar, di mana sekarang?"
"Di Martigues,"
"Baik. Hubungi kapten masing-masing setiap saat agar
mereka tidak tertidur.”
Count of Monte Cristo menaiki keretanya dan memerintahkan
sais membawanya ke rumah Baron Danglars.
Ruang tamu berwarna putih dan emas di rumah Baron
Danglars sudah sangat terkenal di Rue de la Chaussee-d'
Antin Di ruang itulah dia menerima tamunya, dengan
maksud memukaunya sejak pertemuan pertama.
"Benarkah saya mendapatkan kehormatan berhadapan
dengan Tuan de Monte Cristo?" katanya ketika dia masuk
ruangan.
"Dan benarkah saya mendapatkan kehormatan berhadapan
dengan Baron Danglars, Ksatria dari Legiun Kehormatan
dan Anggota Dewan Perwakilan?" Count of Monte
Cristo menyebut semua gelar yang tertulis dalam kartu
nama Danglars.
Danglars merasakan sindiran itu dan menggigit bibirnya.
"Saya menerima sebuah surat dari perusahaan Thomson
and French," kata Danglars, "tetapi maksudnya tidak begitu
jelas bagi saya. Itulah sebabnya saya mampir kerumah Tuan
meminta penjelasan."
"Saya siap untuk mendengarkan dan saya senang sekali
kalau dapat menolong."
Danglars mengambil surat dari dalam saku bajunya.
"Surat ini meminta saya memberikan kredit tanpa batas
kepada Tuan."
"Apa yang aneh dalam hal ini?"
'Tidak ada. Tetapi kata tanpa batas itu . . ."
"Apakah Tuan mengira bahwa Thomson and French tidak
dapat dipercaya?" Monte Cristo bertanya dengan nada
sepolos mungkin.
"Oh, bukan begitu. Perusahaan itu sangat dapat dipercaya!"
jawab Danglars dengan senyum menyindir. 'Tetapi
dalam dunia keuangan kata 'tanpa batas' itu sangat samarsamar.
Kesamar-samaran sama dengan keragu-raguan, dan
seorang yang bijaksana akan menjauhkan diri dari perkaraperkara
yang meragukan. Maksud saya, ingin sekali mendengar
dari Tuan berapa jumlah yang hendak Tuan pinjam
dari saya."
"Alasan saya mengapa membuka kredit tanpa batas,
karena saya tidak tahu dengan pasti terlebih dahulu berapa
jumlah yang akan saya perlukan."
Danglars menyandarkan dirinya ke tempat duduknya.
Dengan senyum angkuh dia berkata, "Tuan tidak perlu
khawatir. Tuan boleh yakin bahwa sekalipun uang saya
terbatas jumlahnya, namun akan cukup untuk memenuhi
pinjaman yang tertinggi sekalipun, bahkan bila Tuan bermaksud
meminta sejuta . . .”
"Maaf, berapa?"
"Saya katakan sejuta," kata Danglars tidak menangkap
maksud yang tersirat.
"Tetapi apa arti sejuta bagi saya?" kata Monte Cristo.
"Kalau saya hanya memerlukan sejuta, saya tidak perlu
bersusah-susah membuka kredit untuk jumlah itu! Di
kantong saya selalu ada uang sekurang-kurangnya sejumlah
itu." Monte Cristo mengeluarkan dari tempat kartu namanya,
dua buah surat berharga masing-masing seharga lima
ratus ribu frank.
Orang seperti Danglars harus dipukul dengan gada,
bukan hanya ditusuk. Dia menatap Monte Cristo dengan
pandangan bingung, kagum dan tidak mengerti.
"Barangkali, sebaiknya Tuan berterus-terang saja bahwa
tuan tidak mempercayai Thomson and French" kata Monte
Cristo selanjutnya. "Saya tidak menghilangkan
kemungkinan itu, dan sekalipun saya bukan ahli usaha,
saya cukup waspada menjaga segala kemungkinan. Ini ada
dua buah lagi surat yang sama seperti yang Tuan terima.
Yang sebuah dari Firma Arstein and Eskeles di Wina,
ditujukan kepada Baron de Rothschild, membuka kredit
tanpa batas bagi saya. Yang satu lagi dengan maksud yang
sama dari Firma Baring di London kepada Tuan Lafitte."
Danglars sekarang sudah betul-betul terpukul rubuh. Dia
membuka kedua surat itu dengan tangan gemetar dan
memeriksa tanda tangannya dengan ketelitian yang dapat
menyinggung perasaan seandainya Monte Cristo tidak mengetahui
bahwa dia benar-benar sedang dalam
kebingungan.
"Ini, tiga buah tanda tangan yang berharga jutaan frank!"
kata Danglars. Dia berdiri seakan-akan hendak memberikan
penghormatan kepada kekuasaan emas yang diwujudkan
dalam bentuk orang duduk yang di hadapannya. 'Tiga buah
kredit tanpa batas! Maafkan saya, Count, saya sudah tidak
curiga lagi, namun masih heran bahwa hal serupa ini ada."
"Nah," kata Count of Monte Cristo, "Setelah sekarang
ada saling pengertian antara kita, setelah tidak ada lagi
kecurigaan, tidakkah sebaiknya sekarang kita menentukan
jumlah sementara untuk tahun pertama ini? Katakanlah
enam juta, umpamanya.”
"Baik, enam juta," jawab Danglars dengan suara parau.
Monte Cristo berdiri.
"Saya harus mengakui suatu hal kepada Tuan, Count,"
kata Danglars. "Saya rasa, saya mengenal semua kekayaan
yang berada di Eropa, tetapi kekayaan Tuan belum pernah
saya dengar. Mungkinkah ini kekayaan yang belum lama
tergali?"
"Bahkan sebaliknya, kekayaan yang sudah sangat tua.
Semacam kekayaan keluarga yang oleh pewarisnya dilarang
disentuh sampai suatu saat tertentu. Jumlahnya sekarang
sudah menjadi tiga kali lipat karena bunganya. Masa
larangan itu telah berakhir beberapa tahun yang lalu,
sehingga ketidaktahuan Tuan tentang ini dapat dipahami.
Saya pikir dalam waktu yang dekat Tuan mendengar lebih
banyak lagi tentang ini.” Monte Cristo menyertai
ucapannya dengan senyuman yang membuat Franz 'Epinay
bergidik tempo hari.
"Ya, mungkin nanti kalau kita sudah saling mengenal
dengan lebih baik," jawab Danglars. “Untuk hari ini, saya
akan merasa senang sekali bila dapat memperkenalkan
Tuan kepada istri saya — maafkan keinginan saya ini —
karena langganan seperti Tuan boleh dikatakan merupakan
keluarga sendiri."
Monte Cristo mengangguk tanda ia menyetujui maksud
tuan rumahnya. Danglars membunyikan bel, seorang
pelayan muncul. "Apa Barones ada di rumah?” tanya
Danglars.
"Ada, Tuan."
"Ada tamu?"
"Ada, Tuan.”
"Siapa? Tuan Debray?" tanya Danglars dengan kegirangan
yang dibuat-buat yang membuat Monte Cristo
tersenyum dalam batin karena ia telah mengetahui rahasia
keluarga Danglars yang sebenarnya sudah bukan rahasia
lagi.
"Benar, Tuan," jawab pelayan.
Danglars mengangguk. Kembali menghadap kepada
Monte Cristo ia berkata, “Tuan Debray adalah kawan lama
kami. Ia sekertaris Menteri Dalam Negeri. Adapun istri
saya, Nyonya de Sevieres, berasal dari keluarga bangsawan
yang telah tua sekali. Dia kawin dengan saya setelah
menjanda dari Marquis of Nargonne."
"Saya belum mendapat kehormatan bertemu dengan
Nyonya Danglars, tetapi dengan Tuan Lucien Debray,
sudah.”
"Di mana Tuan berkenalan dengan dia?"
"Di rumah Tuan Albert de Morcerf “
"Ah, rupanya tuan telah mengenal Viscount muda itu?”
"Kami bertemu di Roma dan bersama-sama selama
karnaval."
"Oh, ya. Saya ada mendengar kabar tentang
pengalamannya dengan bandit-bandit Roma dan
pembebasannya yang penuh rahasia. Saya rasa dia
menceriterakannya kepada istri dan anak saya ketika baru
kembali dari Italia."
"Barones sudah menunggu, Tuan,” kata pelayan yang sudah
masuk kembali ke ruangan.
“Ijinkan saya menunjukkan jalan," kata Danglars kepada
Count of Monte Cristo.
Nyonya Danglars yang masih kelihatan cantik sekalipun
usianya sudah tiga puluh enam tahun, duduk di depan
piano. Lucien Debray duduk melihat-lihat album. Debray
telah sempat menceriterakan sedikit tentang Count of
Monte Cristo ini. Tergugah oleh ceritera Albert ditambah
dengan keterangan-dari Debray, keinginan Nyonya
Danglars untuk bertemu dengan Count of Monte Cristo
lebih meningkat lagi. Oleh sebab itu ia menerima
kedatangan suaminya dengan sebuah senyuman, suatu hal
yang jarang sekali terjadi, la menyebut Count of Monte
Cristo dengan membungkukkan badan yang anggun sekali.
Debray saling hormat dengan Count of Monte Cristo
Seperlunya, sedangkan kepada Danglars ia memberikan
salam yang akrab.
"Saya perkenalkan Count of Monte Cristo," kata Danglars.
'Tentang beliau ini saya hanya akan mengatakan
sesuatu yang pasti akan membuat beliau menjadi favorit di
kalangan wanita kita. Beliau datang di Paris dengan
maksud tinggal selama setahun dan menghamburkan uang
sebanyak enam juta frank selama itu. Ini berarti bahwa kita
dapat mengharapkan serangkaian pesta dansa, pesta
makan."
"Sayang sekali Tuan memilih waktu yang kurang tepat,"
kata Nyonya Danglars. "Paris sangat tidak menyenangkan
dalam musim panas. Tak ada pesta dansa, resepsi atau
banket. Opera Italia sedang di London dan opera Perancis
sedang di mana-mana kecuali di Paris. Satu-satunya
hiburan hanya tinggal pacuan kuda di Champ de Mars dan
Satory. Tuan menyukai kuda, Count?"
"Saya lama sekali tinggal di Timur, Nyonya, dan seperti
Nyonya ketahui orang-orang Timur hanya menghargai dua
perkara dalam dunia ini, keindahan kuda dan kecantikan
wanita."
Pada saat itu pelayan wanita kepercayaan Nyonya
Danglars masuk ruangan dan membisikkan sesuatu ke
telinga majikannya. Wajah Barones mendadak pucat. Dia
berteriak, "Tak mungkin!" Lalu berbalik kepada suaminya,
"Benarkah yang dikatakan pelayan itu?"
"Apa yang dikatakannya?" jawab Danglars, jelas merasa
tersinggung.
"Dia mengatakan bahwa ketika sais hendak memasang
kuda pada kereta, dia menemukan kedua kuda itu tidak
berada di kandangnya. Bolehkah saya bertanya apa artinya
semua ini?"
"Dengar dulu baik-baik . . ." kata Danglars.
"Aku akan mendengarkan, karena aku mau tahu apa
yang hendak kaukatakan. Saya meminta Tuan-tuan ini
menjadi hakim dan saya akan memulai dengan memberikan
data-data ini. Tuan-tuan, Baron Danglars mempunyai sepuluh
ekor kuda Dua di antaranya milik saya, sepasang kuda
terindah di Paris. Tuan telah mengetaluiinya, Tuan Debray,
kuda abu-abu berbintik-bintik hitam. Nah, justru pada saat
saya hendak meminjamkannya kepada Nyonya de Villefort
untuk pergi ke Boulogne esok hari, kedua kuda itu tak ada
di kandangnya. Tak usah diragukan lagi, Tuan Danglars
telah menjualnya karena ada keuntungan beberapa ribu
frank. Sungguh menyebalkan orang-orang dagang mata
duitan itu!"
"Kuda itu terlalu beringas, sayang," kata Danglars,
"Umurnya baru empat tahun, dan aku selalu khawatir akan
keselamatanmu. Aku akan mencari gantinya yang seperti
itu, tetapi yang lebih tenang, lebih jinak, yang tidak akan
menegangkan urat sarafku."
Barones mengangkat bahunya dengan air muka
menghina.
"Ya Tuhan!" teriak Debray. "Saya lihat kuda itu
terpasang pada kereta Count of Monte Cristo!"
"Benar?" Nyonya Danglars berlari ke jendela. "Betul, itu
kudaku!"
Danglars kebingungan.
"Bagaimana mungkin?" kata Count of Monte Cristo.
menunjukkan keheranan.
Danglars tak berkata sepatah pun. Dia membayangkan
suatu bencana besar dalam waktu yang dekat. Debray yang
juga mencium akan segera timbul badai, meninggalkan
mereka. Monte Cristo yang tidak ingin merusak lagi
keuntungan yang timbul dari suasana itu dengan tinggal terlalu
lama, mengangguk kepada Nyonya Danglars meminta
diri, lalu pergi meninggalkan Danglars dalam cengkeraman
amarah istrinya.
"Bagus sekali'" pikir Count dalam hatinya. "Aku telah
berhasil. Kedamaian rumah tangga Danglars sekarang
sudah berada dalam telapak tanganku, dan aku akan segera
pula berhasil menanamkan hutang budi pada keduanya
dengan sekali pukul. Aku ingin diperkenalkan kepada
Eugenie Danglars, tetapi itu masih dapat menunggu."
Dengan pikiran itu dia naik ke dalam keretanya dan
kembali ke1 rumahnya.
Dua jam kemudian Nyonya Danglars menerima sepucuk
surat dari Monte Cristo. Dalam surat itu Monte Cristo
mengatakan bahwa ia tidak ingin memasuki Paris dengan
mulai menyakiti seorang wanita cantik. Dia akan berterima
kasih sekali apabila Nyonya Danglars mau menerima kembali
kedua kudanya, yang dia kirimkan bersama surat itu-,
lengkap dengan pakaiannya yang sudah dilihatnya tadi,
ditambah dengan sebuah intan yang dipasangkan pada
perhiasan telinga setiap kuda.
Danglars pun menerima sepucuk surat, dalam surat itu
Count of Monte Cristo meminta ijin memuaskan
keinginannya sebagai seorang jutawan dan meminta maaf,
mengembalikan sepasang kuda itu dengan cara Timur.
Sore itu Monte Cristo pergi ke rumahnya di Auteuil,
dikawani oleh Ali.
Esok siangnya, Ali dipanggil. Dia menemui majikannya
di ruang kerja.
"Ali," kata Monte Cristo, "aku dengar engkau ahli dalam
melempar laso. Betul itu?"
Ali mengangguk, lalu tegak kembali dengan bangga.
"Baik. Dapatkah engkau menghentikan seekor sapi
jantan dengan laso?’
Ali mengangguk.
"Harimau?"
Mengangguk lagi.
"Singa?"
Ali menirukan cara melempar laso dengan gerakan
tangan dan meniru binatang tercekik.
"Yah, aku mengerti. Pernahkah engkau berburu singa?"
Ali tersenyum.
"Baik. Sekarang dengarkan. Sebentar lagi akan lewat
sebuah kereta dibawa kabur sepasang kuda abu-abu berbintik-
bintik hitam, kuda yang kemarin kugunakan. Sekalipun
dengan kemungkinan engkau mati terinjak engkau
harus menghentikannya tepat di muka rumah."
Ali berlari ke luar, lalu menarik sebuah garis dari pintu
depan ke jalan. Dia kembali lagi dan menunjukkan garis itu
kepada majikannya. Monte Cristo menepuk bahunya.
Itulah caranya dia mengucapkan terima kasih kepada Ali.
Orang Nubla itu keluar lagi, lalu duduk di muka rumah
sambil merokok.
Tak lama kemudian terdengar suara kereta mendekat
dengan cepat. Sesaat kemudian kereta itu sudah tampak.
Saisnya berusaha dengan sekuat-kuatnya menghentikan
kuda yang bertari seperti dikejar setan itu, namun sia-sia.
Di dalam kereta, seorang wanita dan seorang anak lakilaki
berumur delapan tahun saling berpegangan dengan erat
Mereka begitu takut sehingga tidak kuasa lagi bersuara.
Alt meletakkan pipanya, mengeluarkan seuntai laso, lalu
melemparkannya ke arah kuda. Kuda yang di sebelah kiri
terjerat kedua kaki depannya. Dia terbawa lari beberapa
langkah sebelum kuda itu jatuh tersungkur. Kuda yang
seekor lagi terpaksa pula berhenti. Saisnya jatuh terjungkir
dari kursinya. Ali sudah berhasil menangkap kuda yang
seekor lagi pada hidungnya dengan pegangan sekuat
kakatua. Karena kesakitan dan tertarik oleh kawannya kuda
itu pun rebah di sebelah pasangannya.
Semua ini terjadi dalam sekejap, tetapi cukup lama untuk
seorang laki-laJd berlari ke luar dari rumah di depan tempat
kejadian, diikuti oleh beberapa pelayannya. Segera setelah
sais membuka pintu kereta, laki-laki ini mengangkat ke luar
wanita yang memegang bantal di sebelah tangannya dan
menekankan anaknya yang telah pingsan ke dadanya
dengan tangan yang lain. Monte Cristo mengangkat keduanya
ke dalam rumah lalu merebahkan mereka pada sebuah
dipan.
"Nyonya telah selamat sekarang," katanya.
Wanita itu menunjuk kepada anaknya dengan air muka
yang lebih berarti daripada dengan permohonan. Anak itu
masih belum sadarkan diri.
"Ya, Nyonya, saya mengerti," kata Monte Cnsto memeriksa
anak itu, "tidak ada alasan untuk khawatir. Dia
tidak terluka, hanya pingsan karena ketakutan."
'"Ah, jangan berkata begitu hanya untuk menenangkan
hati saja! Lihat betapa pucatnya dia! Oh, anakku, Edouard!
Bicaralah, anakku! Tuan, tolong panggilkan dokter! Saya
maa memberikan semua kekayaan saya kepada siapa pun
yang bisa mengembalikan anak ini kepada saya!”
Monte Cristo membuka sebuah laci kecil, lalu mengeluarkan
sebuah botol berisi cairan berwarna merah darah.
Dikeluarkannya cairan itu beberapa tetes di antara kedua
bibir anak itu. Sekalipun masih pucat, Edouard membuka
matanya hampir seketika.
Melihat ini ibunya hampir lupa daratan karena gembira.
"Di mana saya? Kepada siapa saya harus berterima kasih
setelah selamat melampaui cobaan Tuhan yang berat ini?”
"Nyonya," kata Monte Cristo, "Nyonya berada di rumah
seorang yang merasa sangat berbahagia memperoleh kesempatan
untuk menghindarkan Nyonya dari bencana."
“Ini semua disebabkan keinginan saya yang tidak baik!.
Setiap orang di Paris berbicara tentang kuda yang indah
gagah kepunyaan Nyonya Danglars, dan saya cukup gila
untuk ingin mencobanya.”
"Apa kata Nyonya?" dengan kepura-puraan yang mengagumkan.
"Apakah kedua kuda itu milik Nyonya Danglars?"
"Ya. Tuan mengenalnya?"
"Saya beruntung sekali telah berkenalan dengan beliau.
Kegembiraan saya dapat menolong Nyonya menjadi
berlipat ganda, kecelakaan yang diakibatkan kuda itu
mungkin dapat Nyonya persalahkan kepada saya. Soalnya
begini, saya membeli kuda itu dari Baron Danglars
kemarin. Tetapi, rupanya barones sangat sedih kehilangan
kesayangannya itu. Oleh sebab itu saya kembalikan lagi
keduanya pada hari itu juga."
"Kalau begitu, tuan mesti Count of Monte Cristo yang
diceriterakan Hermine kemarin."
"Benar, Nyonya."
"Saya, Nyonya Heloise de Villefort."
Monte Cristo membungkuk menerima perkenalan itu,
seakan-akan baru sekati itu mendengar nama itu.
"Oh, betapa besar rasa terima kasih suami saya nanti!
Tuan telah menyelamatkan putra dan istrinya sekaligus.
Bila tidak karena pelayan Tuan yang gagah berani itu, kami
pasti sudah mati. Saya harap Tuan memperkenankan saya
memberikan penghargaan kepadanya."
''Saya harap Nyonya tidak merusak kesetiaan Ali kepada
saya. Ali adalah hamba saya. Dengan menyelamatkan jiwa
Nyonya ia hanya mengabdi kepada saya, dan itu adalah
kewajibannya.”
"Tetapi ia telah mempertaruhkan jiwanya sendiri."
"Saya pernah menyelamatkan jiwanya, Nyonya. Sebab
itu boleh dikatakan jiwanya telah menjadi milik saya."
Nyonya de Villefort terdiam. Mungkin ia berpikir tentang
orang aneh ini yang mempesonakan setiap ojang yang
pernah melihatnya. Dalam kediaman ini Monte Cristo
memperhatikan Edouard yang terus-menerus diciumi
ibunya. Perawakannya pendek dan kurus, wajahnya agak
pucat seperti biasa terdapat pada anak-anak yang berambut
merah. Namun, rambutnya yang hitam lebat dan terurai
sampai ke bahunya dan kadang-kadang menutupi sebagian
wajahnya, lebih menonjolkan lagi keliaran matanya yang
penuh dengan kelicikan dan kebinalan. Anak itu melepaskan
dirinya dari dekapan ibunya, lalu membuka laci tempat
Monte Cristo menyimpan botol obat tadi. Dengan air muka
seorang anak yang biasa melaksanakan keinginannya dan
yang tidak suka dicegah, ia membuka tutup botol-botol
yang berjejer di dalam laci tanpa meminta izin kepada siapa
pun.
"Jangan menyentuh itu!" kata Monte Cristo tajam. "Ada
beberapa yang sangat berbahaya. Jangankan tertelan,
terhisap pun sudah mematikan"
Nyonya de Villefort terkejut. la menarik anaknya.
Setelah agak reda, ia memperhatikan keadaan ruangan.
"Di sinikah Tuan biasa tinggal?" tanyanya, lalu berdiri.
"Tidak, Nyonya, rumah ini hanyalah semacam tempat
menyepi. Saya tinggal di Champs Elysee No. 30 . . . Saya
lihat Nyonya telah pulih betul dan rupanya sudah ingin
pulang. Saya akan menyuruh memasang kuda pada kereta
saya dan Ali akan mengantarkan Nyonya sampai ke rumah.
Sementara itu sais Nyonya biar memperbaiki dahulu kereta
Nyonya di sini dan kalau dia sudah selesai saya akan
meminjamkan sepasang kuda saya untuk menariknya langsung
ke rumah Nyonya Danglars."
"Tetapi saya takut menggunakan kuda itu lagi."
"Nyonya akan melihat nanti," kata Monte Cristo, "di
tangan Ali mereka akan jinak seperti biri-biri."
Benar, Ali baru saja menghampiri kuda itu dengan
membawa sebuah kain yang telah dicelupkan ke dalam
cairan berbau asam. Dia menyapu hidung kuda dengan lap
itu dan menyeka buih dan keringatnya. Lalu dia
memasangkannya pada kereta Monte Cristo. Setelah itu dia
naik dan duduk di tempat sais. Begitu jinaknya pasangan
kuda itu sekarang sehingga Ali terpaksa menggunakan
cambuknya untuk membuatnya mulai bergerak. Hal ini
sangat mengherankan sekali bagi orang-orang di sekitar itu.
Sekalipun hanya dicambuk sekali-sekali, kuda itu tetap
berjalan lambat sehingga memerlukan waktu dua jam untuk
sampai ke rumah Nyonya de Villefort di Faubourg Saint-
Hoftore.
BAB XXVI
MALAM harinya, Tuan de Villefort mengenakan jas
gelap dan sarung tangan putih, naik ke dalam keretanya dan
turun di Champs Elysee No. 30.
Seandainya Count of Monte Cristo telah lama tinggal di
Paris, dia akan menghargai kunjungan ini. Tuan de Villefort
bukan saja seorang jaksa, tetapi juga boleh di-katakan
seorang diplomat. Dia jarang sekali mau berkun-jung ke
rumah orang. Sekali setahun keluarganya mengadakan
pesta di rumahnya, tetapi dia sendiri tidak pernah hadir
lebih dari seperempat jam. Tidak pernah ia pergi ke teater,
gedung konser atau tempat-tempat umum lainnya.
Sekali-sekali, tetapi jarang sekali, ia suka bermain bridge
tetapi dengan kawan-kawan yang dipilihnya dengan teliti
sekali, umpamanya seorang duta besar, atau seorang pangeran
atau seorang uskup.
Seorang pelayan memberitahukan kedatangan Tuan de
Villefort kepada Count of Monte Cristo ketika dia sedang
menghadapi sebuah peta lebar mempelajari jalur dari Saint
Petersburg ke Cina. Jaksa Penuntut Umum itu memasuki
ruangan dengan langkah-langkah tegap dan ttratur seakanakan
ia memasuki ruang sidang pengadilan.
“Count," katanya memulai, "jasa yang Tuan berikan
kepada istri dan anak saya tadi siang mewajibkan saya mengucapkan
terima kasih kepada Tuan. Kedatangan saya sekarang
untuk menjalankan kewajiban itu dan menyatakan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya."
Ketika mengucapkan kata-kata ini air mukanya tidak
berubah sama sekali, tetap angkuh sebagaimana biasa, bahu
dan lehernya tetap kaku. Orang sering menjulukinya sebagai
patung bernyawa.
"Saya sangat berbahagia dapat menolong seorang anak
tersayang untuk ibunya," jawab Monte Cristo dingin,
"karena kata orang, kasih sayang seorang ibu merupakan
perasaan yang paling suci. Sebab itu, kebahagiaan yang ada
pada saya dapat membebaskan Tuan dari kewajiban itu,
terlebih lagi karena saya mengetahui bahwa Tuan de Villefort
adalah orang yang tidak pernah menghambur-hamburkan
kehormatan seperti yang diberikannya sekarang kepada
saya. Betapa berharganya pun kehormatan yang Tuan berikan
itu, bagi saya kutang nilainya dibandingkan dengan
kepuasan yang ada dalam hati saya."
Mendengar jawaban yang tidak tersangka-sangka, Villefort
terperanjat bagaikan seorang serdadu tertusuk di balik
baju besinya. Suatu gerak lembut pada bibirnya yang biasa
menghina orang, jelas menunjukkan bahwa ia tidak menganggap
Count of Monte Cristo sebagai orang yang tahu
adat. Dia melihat ke sekeliling ruangan mencari sesuatu
yang dapat dipergunakan sebagai dalih mengalihkan pembicaraan.
Melihat peta yang dihadapi Monte Cristo ia
berkata, "Apakah Tuan menaruh perhatian kepada ilmu
bumi? Suatu ilmu yang bermanfaat sekali, terutama bagi
seorang seperti Tuan yang menurut pendengaran saya,
ptdah berkunjung ke semua negeri yang tercantum dalam
peta."
"Ya," jawab Count, ''saya suka sekali mempelajari watak
watak setiap manusia dan berpendapat bahwa akan lebih
mudah mempelajarinya dahulu watak manusia secara u
mum lalu menjurus kepada watak perorangan dibanding
dengan sebaliknya."
"Aha, rupanya Tuan seorang filosof?’ kata Vilefort
setelah diam sejenak. Selama diam itu dia mengumpulkan
lagi tenaganya sebagai seorang olahragawan yang menghadapi
lawan yang berat. "Seandainya saya seperti Tuan
dan menganggur, saya dapat meyakinkan Tuan bahwa saya
akan mencari pekerjaan yang lebih cerah."
"Benar, manusia itu mahluk yang buruk sekali apabila
kita mempelajarinya lebih teliti. Baru saja Tuan menyindir
bahwa saya tidak mempunyai pekerjaan. Apakah Tuan berpendapat
bahwa Tuan sendiri mempunyai pekerjaan, Tuan
de Villefort? Atau tegasnya, apakah yang Tuan kerjakan
sekarang itu cukup berharga?"
Keterkejutan Villefort meningkat lagi menerima tusukan
kedua yang dilontarkan oleh lawannya yang aneh ini.
"Perhatian Tuan hanya ditujukan kepada organisasi
masyarakat belaka " kata Monte Cristo selanjutnya. "Yang
Tuan lihat hanya mesin-mesin saja, bukan orang-orangnya
yang bekerja di belakang mesin itu. Tuan hanya mengenal
mereka yang berpangkat, yang menerima pangkatnya dari
seorang menteri atau seorang raja. Tuan tidak dapat melihat
mereka yang oleh Tuhan ditempatkan di atas menteri atau
raja. Mereka yang bukan diberi pangkat untuk dijabat,
melainkan mereka uang diberi sesuatu tugas untuk dilaksanakan."
"Dan Tuan menganggap diri Tuan sebagai salah seorang
dari yang istimewa itu?" tanya Vilfefprt yang sudah lebih
terheran-heran lagi dan tidak dapat memastikan apakah
orang yang dihadapinya ini benar-benar orang yang
istimewa atau orang gila.
"Ya, saya salah seorang dari mereka," jawab Monte
Cristo dingin, "dan saya tidak percaya bahwa pernah ada
orang lain yang berada dalam keadaan seperti dalam keadaan
saya sekarang ini. Wilayah kekuasaan seorang raja
terbatas oleh batas-batas yang alamiah atau oleh perbedaan
adat kebiasaan dan perbedaan bahasa. Kerajaan saya seluas
dunia, oleh karena saya bukan orang Italia, bukan orang
Perancis, bukan orang Hindu, bukan orang Amerika atau
orang Spanyol. Saya seorang warga dunia. Saya
menterapkan semua adat kebiasaan dan berbicara dengan
semua bahasa. Tuan akan mengira saya orang Perancis
karena saya berbicara bahasa Perancis selancar dan sebaik
Tuan. Tetapi Ali, hamba sahaya orang Nubia, menganggap
saya orang Arab. Bertuccio, pengurus rumahtangga saya,
menganggap saya orang Romawi. Haydee, juga hamba
saya, menganggap saya orang Yunani. Oleh sebab itu,
karena saya bukan warga negara mana pun juga, karena
saya tidak meminta perlindungan negara mana pun juga,
dan karena saya tidak memandang seorang pun sebagai
saudara, saya tidak pernah merasa terganggu oleh rintangan
atau keseganan yang biasa melumpuhkan mereka yang
lemah. Saya hanya mempunyai tiga macam lawan. Yang
pertama dan yang kedua adalah jarak dan waktu. Tetapi
dengan kegigihan dan ketekunan saya dapat mengatasi
keduanya. Yang ketiga, adalah yang paling mengerikan,
yaitu bahwa saya tidak kekal. Hanya itu yang dapat
menghentikan saya sebelum mencapai tujuan. Kecuali
kalau maut telah merenggut, saya akan tetap seperti saya
sekarang. Itulah sebabnya sekarang saya mengatakan
sesuatu yang belum Tuan dengar sebelumnya, juga tidak
dari mulut seorang raja, oleh karena raja memerlukan Tuan
dan orang lain takut kepada Tuan.
Siapakah orangnya dalam masyarakat yang menggelikan
seperti masyarakat kita ini, yang tidak pernah berkata kepada
dirinya sendiri, 'Suatu saat mungkin saya harus berhadapan
dengan Jaksa Penuntut Umum’?"
"Sekalipun Tuan dapat berkata demikian namun selama
Tuan berada di Perancis, Tuan harus tunduk kepada hukum
yang berlaku di Perancis."
"Saya menyadari itu, Tuan de Villefort Karenanya, saya
setiap memasuki suatu negara, terlebih dahulu saya mempelajari
orang-orang yang mungkin menguntungkan atau
merugikan sampai saya mengenal mereka seperti mereka
mengenal dirinya sendiri, bahkan mungkin lebih.
Akibatnya, setiap jaksa yang mungkin harus saya hadapi
akan berada dalam keadaan yang lebih gawat daripada saya
sendiri."
"Dengan kata lain," kata Villefort ragu-ragu, "manusia
bersifat lemah dan setiap orang menurut pendapat Tuan
melakukan kesalahan."
"Benar, kesalahan dan kejahatan."
"Dan hanya Tuan sendiri yang sempurna?"
"Tidak, tidak sempurna," kata Monte Cristo, "hanya
kebal. Saya menjaga dan mempertahankan kehormatan
saya terhadap manusia mana pun juga, tetapi
melepaskannya di hadapan Tuhan yang telah menjadikan
saya dari tiada menjadi seperti sekarang."
"Saya sangat kagum," kata Villefort, "dan kalau benarbenar
Tuan kuat, benar-benar unggul dan benar-benar sempurna
atau kebal terhadap hukum, seperti yang Tuan katakan
tadi, saya hanya dapat berkata: berbanggalah dan
pandai-pandailah memanfaatkannya. Itulah hukum
kekuasaan. Tetapi, tentu setidak-tidaknya tuan mempunyai
sesuatu cita-cita atau semacamnya."
"Benar, saya mempunyai ambisi itu."
"Bolehkah saya mengetahuinya?"
"Seperti biasa terjadi pada setiap manusia sekurangkurangnya
sekali selama hidupnya, saya pun pernah diangkat
setan sampai ke puncak gunung tertinggi di dunia ini
Dari atas sana ia menunjukkan seluruh jagat dan berkata
kepada saya, seperti dia berkata kepada Kristus: ‘Wahai
anak manusia, apa yang engkau inginkan sebagai upah
menuhankan aku?" Saya berpikir beberapa lama karena
suatu keinginan yang dahsyat memenuhi hati saya. Lalu
saya menjawab: 'Saya selalu mendengar tentang Tuhan,
tetapi saya belum pernah melihatNya atau sesuatu yang
menyamainya, sehingga saya berpikir Tuhan itu tidak ada.
Saya ingin menjadi yang maha kuasa oleh karena yang
paling penting dan paling indah yang saya ketahui dalam
dunia ini adalah, mengganjar dan menghukum.' Tetapi setan
itu menundukkan kepala dan mengeluh: 'Engkau keliru,'
katanya, 'Yang Maha Kuasa itu ada tetapi tak dapat dilihat.
Engkau tidak akan melihat sesuatu yang menyerupainya
karena Ia bekerja melalui relung-relung rahasia dan
bergerak di jalur-jalur tersembunyi. Yang dapat aku lakukan
hanya membuatmu menjadi salah seorang petugas Yang
Maha Kuasa.’ Lalu saya membuat perjanjian dengan dia.
Mungkin saya kehilangan jiwa karena itu, tetapi kalau saya
mendapatkan lagi kesempatan yang sama saya akan
mengulanginya lagi."
Keheranan Villefort sudah tidak dapat dikendalikan lagi,
jelas sekali dari suaranya ketika ia bertanya, 'Tidak adakah
yang Tuan takuti kecuali mati?"
"Saya tidak mengatakan takut mati. Saya hanya
mengatakan bahwa hanya matilah yang dapat mencegah
saya."
"Bagaimana tentang ketuaan?"
"Tugas saya akan selesai sebelum saya menjadi tua.”
"Dan kegilaan?”
"Saya pernah akan menjadi gila, dan Tuan tentu mengenal
dalil, Non bis in idem, suatu dalil dalam ilmu hukum
yang berarti sebuah perkara tidak boleh diadili dua kali!
Dalam hal saya berarti saya tidak akan menjadi gila untuk
kedua kalinya."
"Masih ada lagi yang patut ditakuti di samping ketuaan
dan kegilaan," kata Villefort. "Umpamanya, penyakit ayan
yang menyerang tanpa menghancurkan, tetapi setelah itu
segala-galanya habis. Datanglah ke rumah saya pada suatu
waktu, Tuan, dan saya akan memperkenalkan Tuan kepada
ayah saya, Tuan Noirtier de Villefort, seorang pengikut
Jacobin yang gigih dalam Revolusi Perancis, seorang yang
barangkali tidak seperti Tuan pernah melihat kerajaan
dunia, tetapi orang yang pernah turut membantu
menggulingkan salah seorang raja yang paling berkuasa.
Namun, pembuluh darah otaknya yang pecah, telah
merubahnya sama sekali, bukan dalam sehari, bukan pula
dalam sejam, melainkan dalam sedetik. Tuan Noirtier,
bekas anggota Jacobin, bekas senator, orang yang
menteriawakan ancaman pisau gflyotm meriam maupun
belati, orang yang menganggap Perancis hanya sebuah
papan catur lebar belaka. Tuan Noirtier yang hebat,
sekarang telah menjadi Tuan Noirtier yang malang, orang
tua yang lumpuh, bisu, mayat hidup yang hanya tinggal
menunggu saat-saat membusuknya."
"Apa kesimpulan tuan dari semua itu, Tuan de
Villefort?"
"Saya menarik kesimpulan bahwa ayah saya hanyut
terbawa nafsunya melakukan kesalahan-kesalahan dan terhindar
dari hukum manusia namun tidak dari Tuhan.
Tuhan telah menghukumnya karena perbuatannya itu."
Dengan sebuah senyum di bibir, Monte Cristo mengaum
bagai harimau dalam lubuk hatinya, yang dapat membuat
Villefort lari tunggang langgang seandainya dia dapat mendengarnya.
"Saya harus minta diri, Count,” kata Villefort yang sudah
berdiri sejak lama, "tetapi saya pergi dengan perasaan
penuh penghargaan yang saya harap dapat menyenangkan
Tuan, seandainya Tuan mengenal saya lebih baik, sebab
saya bukan seperti orang biasa. Sama sekali tidak. Dan
Tuan telah berhasil membuat Nyonya de Villefort sebagai
kawan yang kekal."
Setelah Jaksa Penuntut Umum itu pergi, Monte Cristo
berkata kepada dirinya sendiri, "Karena hatiku penuh dengan
racun kebencian sekarang aku memerlukan
penawarnya."
Dia memukul gong sekali. "Aku pergi menemui
Haydee," katanya kepada Ali. "Siapkan kereta setengah jam
lagi.”
BAB XXVII
TENGAH hari Monte Cristo menyisihkan waktu
beberapa lama untuk dilewatkan bersama Haydee. Gadis
Yunani ini menempati apartemen yang sama sekali terpisah
dari tempat Monte Cristo. Ruangannya diperlengkapi dan
diatur secara Timur. Lantainya seluruhnya tertutup oleh
permadani Turki yang tebal. Dindingnya dihias kain-kain
sutera bersulam emas dan di setiap kamar ada dipan yang
lebar dengan bantal-bantal yang dapat diatur menurut keinginan
pemakainya.
Haydee sedang berbaring di lantai di atas bantal bersarung
satin biru, sedang kedua belah tangannya diletakkan di
bawah kepala. Sikapnya yang khas Timur ini mungkin akan
terasa canggung oleh wanita-wanita Perancis. Matanya
yang hitam sayu, hidungnya yang mancung halus, bibirnya
yang merah alamiah dan giginya yang seperti mutiara,
semuanya mewakili kecantikan seorang gadis Yunani
Usianya tidak akan lebih dari dua puluh tahun.
Monte Cristo memanggil pelayan bangsa Yunani dan
menyuruh menanyakan kepada Haydee apakah dia bisa
menerimanya. Haydee bangkit dan bertopang pada sebuah
siku tangannya ketika Monte Cristo masuk. Lalu mengulurkan
tangannya yang sebuah lagi dengan senyum yang
manis sekalL
"Mengapa Tuan harus meminta izin dahulu?" suaranya
merdu khas seperti yang dimiliki gadis-gadis Atena dan
Sparta. "Apakah saya sudah bukan lagi hamba Tuan dan
Tuan bukan lagi tuan saya?"
"Haydee " jawab Count of Monte Cristo, "kita sekarang
berada di tanah Perancis, sebab itu engkau bebas."
"Bebas untuk apa?"
"Untuk meninggalkan aku."
"Mengapa saya harus meninggalkan Tuan?"
"Kita akan bertemu dengan banyak orang, dan bila, di
antara pemuda-pemuda tampan yang akan kita jumpai
nanti ada yang menarik hatimu, tidak adil rasanya kalau
aku…”
"Saya tidak akan lagi menemukan laki-laki yang lebih
menarik daripada Tuan, kecuali ayah."
"Masih ingatkah engkau akan wajah ayahmu?"
Haydee tersenyum. "Beliau berada di sini dan di sini."
katanya sambil menempatkan tangannya di matanya kemudian
di dadanya.
"Dan aku berada di mana?" tanya Monte Cristo tersenyum
pula.
"Tuan berada di mana-mana."
Monte Cristo menarik tangan Haydee untuk dicium,
tetapi Haydee menariknya. Sebagai gantinya ia
menyodorkan dahi.
"Nah, Haydee," katanya, "engkau tahu bahwa engkau
merdeka, bahwa engkau yang menjadi tuan di sini, bahkan
ratu. Engkau boleh menentukan sendiri apakah akan
memakai pakaian kebangsaanmu atau
mengesampingkannya. Terserah kepadamu. Engkau boleh
tinggal di sini bua engkau mau dan engkau boleh
meninggalkan rumah ini kapan saja engkau suka. Akan
selalu tersedia sebuah kereta lengkap dengan kudanya. Ali
dan Myrto akan menyertaimu dan keduanya siap
melaksanakan perintahmu. Hanya sebuah saja
permintaanku."
"Katakanlah Tuan."
"Tetap rahasiakan kelahiranmu dan jangan bicarakan
tentang masa lalumu, jangan sekali-sekali menyebut nama
ayahmu yang cemerlang itu atau nama ibumu yang
malang."
"Sudah saya katakan, Tuan, bahwa saya tidak akan menemui
siapa pun."
"Tidak mungkin engkau akan dapat mengasingkan diri di
Perancis ini, seperti di negeri-negeri Timur, Haydee.
Sebaiknya engkau terus mempelajari cara hidup orang di
sini seperti yang telah engkau lakukan di Roma, Florence,
Milan dan Madrid. Pengetahuan itu akan selalu berguna,
tak perduli apakah engkau akan kembali ke Timur atau tetap
tinggal di sini."
Haydee mengangkat matanya yang bundar tetapi telah
membasah, lalu bertanya, "Maksud Tuan apakah kita kembali
ke Timur, bukan begitu?"
"Ya. Engkau mengetahui bahwa aku tidak akan meninggalkanmu.
Bukan pohon yang suka meninggalkan bunga,
tetapi bunga yang suka meninggalkan pohon."
"Saya tidak akan meninggalkan Tuan," kata Haydee,
"karena saya tahu tidak akan bisa hidup tanpa Tuan."
"Manis, sepuluh tahun lagi aku sudah menjadi kakekkakek
sedangkan engkau masih tetap muda. Engkau mencintaiku
seperti engkau mencintai ayahmu sendiri"
"Tuan keliru. Saya tidak mencintai ayah seperti saya
mencintai Tuan. Cinta saya kepada Tuan sangat berbeda.
Bila ayah meninggal, saya tetap dapat hidup. Tetapi bila
Tuan meninggal, saya pun mati."
Monte Cristo mengulurkan tangannya kepada Haydee
dengan senyum yang mesra sekali. Haydee menciumnya
seperti biasa.
Monte Cristo meninggalkan Haydee sambil
mengucapkan sebaris sajak Pindar:
"Remaja adalah bunga
berubah menjadi buah, cinta.
Bahagia dia yang memelihara
dan memetiknya ketika masanya tiba."
BAB XXVIII
MONTE Cristo tiba di Rue Meslay 27. Dia mengenali
orang yang membukakan pintu sebagai Cocles, tetapi
Cocles tidak mengenal Monte Cristo.
Baptistin meloncat dari tempat duduknya untuk menanyakan
apakah Tuan dan Nyonya Herbault dan Tuan
Maximilien berada di rumah dan dapat menerima Count of
Monte Cristo.
"Count of Monte Cristo!" teriak Maxirnilien gembira
setelah mendengar pesan itu. Dia meletakkan cerutunya
dan berlari menyambut tamunya.
"Terima kasih banyak, Count, untuk tidak melupakan
janji Tuan kepada kami!" Perwira muda itu menjabat tangan
Monte Cristo dengan hangat sekali sehingga tidak
mungkin ada keraguan lagi tentang ketulusan hatinya.
"Silakan ikuti saya," kata Maximilien, "saya ingin memperkenalan
Tuan secara pribadi. Adik saya sedang di kebun
mengurusi taman mawarnya sedang suaminya sedang
membaca surat kabar, juga di sana. Di mana saja Nyonya
Herbault berada, Tuan boleh yakin bahwa suaminya pasti
berada di sekitar itu, dan sebaliknya.1'
Mendengar suara langkah mereka seorang wanita muda
berumur dua puluh limaan, berbaju gaun pagi dari sutera
mengangkat kepala. Dia agak terkejut melihat tamu yang
tidak dikenalnya. Maximilien tertawa.
"Kakak saya ini agak keterlaluan dengan membawa
Tuan ke mari," katanya kepada Monte Cristo. "Dia tidak
pernah mempertimbangkan perasaan adiknya. . . Penelon!
Penelon!"
Seorang laki-laki tua yang sedang bekerja mengurus mawar
Bengali meletakkan singkupnya di tanah, lalu menghampiri
dengan topi di tangan dan berusaha sebaik-baiknya
menyembunyikan susur di mulut. Wajahnya yang mengkilat
dan matanya yang menyinarkan keberanian dan
ketajaman jelas menunjukkan ia seorang pelaut kawakan,
yang kulitnya coklat karena bakaran matahari tropis dan
badannya tangguh karena tempaan badai dan taufan yang
berbilang-bilang.
"Nona memanggil saya, Nona Julie?" katanya. Dia tetap
memanggil putri majikannya dengan 'Nona Julie', dan tidak
pernah berhasil membiasakan dari memanggilnya Nyonya
Herbault.
“Penelon! Katakan kepada Tuan Herbault, ada tamu."
Berbalik kepada Monte Cristo, ia menambahkan, "Maafkan
saya sebentar, Tuan?"
Tanpa menunggu jawaban ia menghilang di antara
semak-semak masuk ke dalam rumah melalui pintu
samping.
Tak beberapa lama kemudian Herbault datang menyambut
tamunya dengan ramah sekali. Setelah mengantar
Count of Monte Cristo melihat-lihat kebun sebentar, dia
membawa tamunya ke dalam rumah, Udara dalam ruangan
yang mereka masuki harum semerbak dari bunga-bunga
yang memenuhi sebuah jambangan besar buatan Jepang.
Julie yang sekarang sudah berpakaian rapih, menunggu mereka
di sana. Burung-burung dalam sangkar besar yang terletak
tidak jauh berkacauan riang. Daun-daun pepohonan
yang hijau segar dan tumbuh dekat jendela berdesir mengusap-
usap tirai jendela beludru biru. Segala sesuatu dalam
rumah mungil terpencil ini menghembuskan kedamaian,
mulai dari kicau burung sampai kepada senyum
pemiliknya. Sejak menginjakkan kakinya dalam ruangan ini
Monte Cristo sudah dapat merasakan kebahagiaan yang
meliputi seisi rumah. Dia terdiam, lupa bahwa setelah
berbasa-basi, tuan rumah mengharapkan benar melanjutkan
percakapan. Baru kemudian dia sadar akan kesunyian yang
hampir mengganggu ini, lalu cepat-cepat berusaha
melepaskan diri dari renungannya.
"Nyonya," katanya, "maafkan perasaan saya yang
mungkin sekali mengherankan bagi Nyonya yang sudah
terbiasa dengan kedamaian dan kebahagiaan Tetapi buat
saya merupakan suatu pengalaman yang aneh sekali dapat
menemukan orang yang berbahagia sehingga sulit bagi saya
mempercayainya,"
"Tidak kami pungkiri bahwa kami sangat berbahagia,"
jawab Julie, "namun betapa kami menderita sebelumnya.
Dan hanya sedikit orang yang membayar kebahagiaan
dengan harga yang tinggi sekali seperti yang kami lakukan."
Air muka Monte Cristo menunjukkan rasa ingin tahu.
"Apakah Tuhan memberikan hiburan dalam penderitaan itu
seperti Dia berikan kepada yang lain?"
"Betul" kata Juhe, "secara jujur kami berani mengata-kan
Dia telah memberikan sesuatu bagi kami yang hanya Dia
berikan kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Dia
telah mengutus salah seorang malaikatNya kepada kami."
Pipi Monte Cristo memerah dan ia pura-pura batuk.
Untuk menyembunyikan perasaannya ia menutup batuknya
dengan saputangan sehingga wajahnya agak tersembunyi
Lalu dia berjalan bolak-balik.
"Mungkin Tuan mentertawakan perasaan yang ada pada
kami," kata Maximilien.
"Oh tidak, sama sekali tidak," jawab Monte Cristo cepat.
Ia menunjuk kepada sebuah bola dunia dari kristal yang di
dalamnya terdapat sebuah dompet sutera terletak di atas
sebuah bantal kecil terbuat dari beludru hitam. "Saya
sedang bertanya-tanya dalam hati apa arti dompet yang
disimpan dengan kehormatan seperti itu."
"Barang itu adalah kekayaan keluarga kami yang paling
berharga," jawab Maximilien dengan tekanan suara.
"Isinya, sepucuk surat dan sebuah intan," sambung Julie,
"peninggalan malaikat yang tadi saya katakan."
"Count," kata Maximilien, mengeluarkan dompet itu dan
menciumnya, "dompet ini pernah berada pada tangan orang
yang menyelamatkan ayah kami dari kematiau,
menyelamatkan kami dari kehinaan dan kemiskinan dan
menyelamatkan kehormatan nama keluarga kami. Surat ini
ditulis oleh orang itu pada hari ketika ayah kami sudah
sampai ke puncak keputusasaan, dan penolong yang tidak
dikenal itu memberikan intan ini kepada Julie sebagai hadiah
perkawinan."
Monte Cristo membaca surat itu dengan perasaan
bahagia yang tidak terlukiskan. Surat itu dialamatkan
kepada Julie dan ditandatangani oleh Sinbad Pelaut.
'Tadi Tuan mengatakan 'tidak kenal," kata Monte Cristo.
"Apakah orang yang telah berbuat itu berarti masih tetap
merupakan rahasia bagi Tuan?"
"Benar, kami belum pernah mendapat kesempatan menjabat
tangannya padahal kami senantiasa meminta kepada
Tuhan agar kami dipertemukan dengan orang Itu. Dia seorang
Inggris yang mewakili Firma Thomson and French di
Roma. Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika mendengar
Tuan mengatakan firma itu sebagai bankir Tuan.
Katakanlah demi Tuhan, kenalkah Tuan dengan orang itu?"
"Sebentar," kata Monte Cristo, "apakah orangnya kirakira
sebesar saya, lebih tinggi dan lebih kurus sedikit,, selalu
memakai jas berkerah tinggi dan selalu memegang pensil di
tangannya?"
"Tuan mengenalnya kalau begitu!" Julie berteriak,
matanya berkilat gembira.
'Tidak, saya hanya menerka-nerka. Saya mengenal
seorang bernama Lord Wilmore yang biasa melakukan
amal-amal seperti itu tanpa mau diketahui orang. Dia
seorang aneh yang tidak mempercayai adanya rasa terima
kasih yang semurni-muminya pada manusia. Tetapi sejak ia
berbuat banyak kebaikan dengan cara itu, ia mendapatkan
bukti-bukti bahwa ia keliru."
"Kalau Tuan mengenalnya, tolong kami perkenalkan!"
Julie meminta dengan sangat. "Seandainya kami dapat
bertemu, dia pasti percaya betapa kami berterima kasih kepadanya!"
"Sayang sekali," kata Monte Cristo. Dia mencoba
menekan perasaan dalam suaranya. "Seandainya benar
yang dicari itu Lord Wilmore, saya khawatir Nyonya tidak
akan dapat menemuinya. Ketika saya berpisah dengan dia
dua atau tiga tahun yang lalu di Palermo, ia sedang bersiapsiap
untuk bepergian ke negeri-negeri yang jauh sekali,
bahkan saya meragukan bahwa ia akan kembali lagi. Di
samping itu, jangan terlalu bersandar kepada terkaan saya
tadi. Lord Wilmore belum tentu orang yang dicari. Dia dan
saya bersahabat karib, tetapi dia tidak pernah mengatakan
perkara ini kepada saya."
"Walaupun demikian, Tuan segera teringat kepadanya,"
kata Julie.
"Saya hanya menerka saja."
"Di samping itu, Julie," kata Maximilien memihak
kepada Monte Cristo, "jangan lupa apa yang sering ayah
katakan kepada kita: Bukan orang Inggris itu yang
memberikan kebahagiaan kepada kita."
Monte Cristo terkejut. "Ayah Tuan mengatakan . ... "
"Benar, Count. Ayah kami melihat sesuatu keajaiban
dalam kejadian ini. Beliau yakin bahwa penolongnya itu
seorang yang bangkit kembali dari kuburnya. Ini tidak
masuk akal. Sekalipun saya sendiri tidak mempercayainya
namun saya tidak berkeinginan merusak keyakinan ayah.
Dan ketika beliau hendak meninggal, kata-katanya yang
terakhir adalah: Maximilien, yang menolong kita itu,
Edmond Dantes!"
Wajah Monte Cristo menjadi pucat sekali Seakan-akan
peredaran darahnya terhenti sesaat, dan dia tidak berkata
apa-apa. Dia melihat erlojinya, mengucapkan beberapa kata
pujian bagi Nyonya Herbault dengan kaku sekali, lalu
berjabat tangan dengan Emmanuel dan Maximilien.
"Nyonya, bolehkah saya kembali lagi pada suatu hari nanti?
Saya menyukai rumah Nyonya, dan saya sangat berterima
kasih untuk penerimaan Nyonya. Hari ini setelah beberapa
tahun adalah untuk pertama kalinya saya dapat melupakan
lagi diri sendiri." Lalu dia cepat-cepat keluar.
"Orang yang aneh," kata Emmanuel.
“Ya,” jawab Maximilien, "tetapi hatinya baik dan saya
yakin dia menyukai kita."
"Bagi saya " kata Julie, "suaranya langsung menembus
jantung. Kadang-kadang saya mempunyai perasaan pernah
mendengar suara itu."
BAB XXIX
KEDATANGAN Count of Monte Cristo di rumah
Villefort dengan maksud mengadakan kunjungan balasan
telah menimbulkan semacam kegemparan dalam rumah itu.
Nyonya de Villefort sedang berada di kamarnya ketika
kedatangan tamu diberitahukan kepadanya. Ia segera
menyuruh memanggil puteranya supaya dapat sekali lagi
mengucapkan terima kasih kepada Count of Monte Cristo.
Setelah berbasa-basi Monte Cristo menanyakan Tuan de
Villefort.
"Suami saya mendapat undangan makan malam dari
Perdana Menteri," jawab wanita itu. "Dia baru saja beberapa
menit yang lalu berangkat, dan saya yakin ia akan
menyesal tidak dapat berjumpa dengan Tuan .. Edouard, di
mana Valentine? Panggil dia supaya dapat aku perkenalkan."
"Apakah Nyonya mempunyai puteri?"
"Puteri Tuan de Villefort dari pernikahannya yang
pertama."
Selang beberapa lama Valentine memasuki ruangan. Ia,
gadis tinggi langsing berumur kira-kira sembilan belas
tahun. Matanya biru kelam, tangannya putih ramping.
Ketika melihat ibu arinya berhadapan dengan tamu yang
sering dia dengar tentangnya, dia memberi hormat dengan
menekukkan lututnya dan sedikit kemalu-maluan namun
dengan keanggunan yang menarik perhatian Monte Cristo.
“Maaf, Nyonya,” kata Monte Cristo melihat berpindahpindah
dari Nyonya de Villefort ke Valentine, "benarkah
saya pernah mendapat kehormatan bertemu dengan
Nyonya dan Nona ini di suatu waktu di suatu tempat? Sejak
lama saya mengingat-ingat ini, dan ketika Nona de Villefort
tadi masuk, seakan-akan timbul lagi secercah cahaya
kepada daya ingatan saya yang telah melemah ini."
"Saya kira tidak mungkin, Tuan. Kami jarang sekali
bepergian," kata Nyonya de Villefort.
"Bukan, bukan di Paris. . . . Maaf, saya mencoba
menginat ingatnya lagi . . . rasanya seperti di suatu hari
yang cerah dan dalam semacam pesta keagamaan. . . .”
"Mungkin sekali Count of Monte Cristo melihat kita di
Italia," kata Valentine.
"Betul, Nona!" teriak Monte Cristo. "Di Perugia ketika
ada pesta Corpus Christi di kebun hotel."
"Memang saya ingat pernah ke Perugia," kata Nyonya de
Villefort, "namun saya tidak ingat kita pernah berkenalan."
"Biarkan saya membantu menyegarkan kembali ingatan
Nyonya. Ketika itu hari sangat panas. Nyonya sedang
menunggu kereta yang terlambat datang karena terhalang
pesta itu. Nona de Villefort berjalan-jalan di sekitar kebun
sedangkan putra nyonya mengejar-ngejar burung. Ingatkah
Nyonya pada waktu itu duduk di atas sebuah bangku batu
dan berbicara dengan seseorang?"
"Oh, ya," kata Nyonya de Villefort, pipinya sedikit
kemerah-merahan, "saya bercakap-cakap dengan seorang
yang bermantel panjang . . . seorang dokter saya kira."
"Sayalah orang itu, Nyonya. Ketika itu saya telah tinggal
di hotel itu selama dua minggu. Dan waktu itu saya baru
menyembuhkan pelayan saya dari penyakit demam panas
dan pemilik hotel dari penyakit kuning, sehingga saya
dianggap orang sebagai dokter yang hebat di sana."
"Karena Tuan menyembuhkan orang sakit, dengan sendirinya
Tuan seorang dokter, bukan?"
"Bukan, Nyonya, saya bukan dokter sekalipun saya telah
mempelajari ilmu kimia dan ilmu alam dengan agak
mendalam"
Jam berbunyi enam kali.
"Sudah jam enam, Valentine," kata Nyonya de Villefort
agak terperanjat. "Coba lihat apakah kakekmu sudah siap
untuk makan malam?"
Valentine berdiri, memberi hormat kepada Monte Cristo,
lalu pergi tanpa berkata sepatah pun.
"Apakah karena saya, Nyonya menyuruh Nona de
Villefort pergi?" tanya Monte Cristo setelah Valentine
meninggalkan ruangan.
‘Tidak, sama sekali tidak!" jawab Nyonya de Villefort.
"Jam enam adalah waktu kami biasa menyediakan makan
malam bagi Tuan Noirtier. Saya kira Tuan telah
mengetahui tentang keadaan mertua saya."
"Sudah. Tuan de Villefort mencenterakannya kepada
saya."
"Maafkan saya telah menyinggung kemalangan dalam
rumahtangga kami. Tadi Tuan sedang menceriterakan
bahwa Tuan seorang ahli ilmu kimia."
"Oh, bukan itu maksud saya," jawab Monte Cristo
tersenyum. "Saya mempelajari ilmu kimia semata-mata
karena saya bermaksud tinggal di negeri Timur dan ingin
mencontoh Raja Mifhridates."
"Mithridafes, rex Ponticus," tiba-tiba Edouard memasuki
pembicaraan sambil mengguntingi potret-potret dari sebuah
album besar. "Dia adalah raja yang biasa mencampur
susunya dengan racun untuk sarapan setiap pagi."
"Edouard, terlalu engkau!" kata ibunya merebut album
dari tangan anaknya. "Engkau benar-benar menjengkelkan!
Keluar dan temani kakakmu!"
"Saya tidak mau pergi kalau album itu tidak diberikan,"
kata anak itu dengan seenaknya lalu merebahkan diri di
kursi besar.
"Baik, tetapi pergi dari sini." Nyonya de Villefort
memberikan album itu kepada anaknya lalu menuntun dia
keluar kamar.
"Apakah dia akan mengunci pintu?” tanya Monte Cristo
dalam hatinya.
Nyonya de Villefort mengunci pintu dengan hati-hati.
Count of Monte Cristo pura-pura tidak melihatnya.
"Apa yang dikatakan putra nyonya tadi tersebut dalam
buku karangan Cornebus Nepos," kata Monte Cristo. "Ini
menunjukkan bahwa pengetahuannya sudah banyak sekali
bagi anak seumur dia."
"Memang ia mudah sekali belajar," jawab ibunya yang
merasa terpuji. "Sayangnya, keras kepalanya itu bukan
main. . . . Sehubungan dengan apa yang dikatakan tadi,
apakah Tuan percaya bahwa Raja Mithridates benar-benar
mengebalkan dirinya terhadap racun dengan cara
demikian?”
"Percaya, Nyonya. Saya sendiri menjaga diri dengan
cara yang sama untuk mencegah jangan sampai diracun
orang di Napoli, Palermo dan Smirna Dan di ketiga tempat
itu saya terhindar dari maut."
"Saya ingat Tuan telah menceriterakan itu kepada saya di
Perugia."
"Apakah benar," tanya Monte Cristo seakan-akan terkejut.
"Saya tidak ingat sama sekali."
"Bagaimana caranya Tuan membiasakan diri terhadap
racun itu?"
"Sederhana sekali. Katakanlah Nyonya mengetahui terlebih
dahulu racun macam apa yang akan dikenakan orang
terhadap diri Nyonya. Umpamanya saja racun brucine."
"Brucine itu berasal dari brucea ferruginea, bukan?"
'Tepat sekali. Saya kira, tidak banyak yang harus saya
ajarkan lagi kepada Nyonya. Jarang sekali ada wanita yang
mempunyai pengetahuan seperti yang Nyonya miliki . . .
Baik, umpamanya racun itu brucine. Hari pertama nyonya
menelannya sebanyak satu miligram, hari kedua dua
miligram dan seterusnya sampai Nyonya memakannya
sepuluh miligram pada hari yang kesepuluh. Setelah itu
tambah menjadi dua miligram sehari, sehingga pada hari
yang kedua puluh nyonya telah menelan sebanyak tiga
puluh miligram, suatu jumlah yang tidak akan berbahaya
bagi Nyonya tetapi sangat mematikan bagi mereka yang
tidak biasa."
"Saya sering sekali membaca kisah tentang Raja Mithridates
itu," kata Nyonya de Villefort sambil memikirkan
sesuatu, "tetapi saya selalu menganggapnya sebagai suatu
dongeng belaka."
"Tidak, Nyonya. Kisah itu benar-benar nyata. Selain dari
itu, orang-orang Timur menggunakan racun tidak hanya
sebagai perisai, tetapi juga sebagai senjata. Mereka menggunakannya
dengan keahlian yang sangat tinggi sehingga
hukum manusia tidak akan dapat menangkapnya. Cobalah
Nyonya pergi ke luar Perancis, ke Kairo, Napoli atau
Roma, Nyonya akan bertemu dengan banyak orang yang
tampaknya segar-bugar, namun setan yang mengetahuinya
akan berbisik ke telinga Nyonya, Orang itu telah diracun
selama tiga minggu, bulan depan dia akan mati kejang.
Racun itu menyerang salah suatu bagian tubuh tertentu,
lalu menimbulkan semacam penyakit yang tidak asing bagi
dunia kedokteran tetapi mematikan. Dan terjadilah
pembunuhan sempurna yang tidak akan terbongkar untuk
selama-lamanya "
"Sungguh menakutkan, namun juga mengagumkan!"
kata Nyonya de Villefort yang mendengarkan keterangan
Monte Cristo dengan penuh perhatian. "Untung sekali
racun demikian hanya dapat dibuat oleh ahli-ahli kimia
saja, kalau tidak, setengah penduduk dunia ini akan
meracun penduduk yang setengahnya lagi."
"Oleh ahli kimia atau seseorang yang telah mempelajari
ilmu kimia," Jawab Monte Cristo.
"Tuan sendiri tentu Seorang ahli yang besar, karena telah
dapat membuat obat mujarab yang dapat menyembuhkan
anak saya tempo hari. . . ."
"Jangan Nyonya keliru sangka. Setetes dari obat itu akan
segera menyadarkan orang pingsan. Tiga tetes akan
mempengaruhi peredaran darah sehingga membuat jantung
berdebar keras dan sepuluh tetes akan mematikan. Tentu
Nyonya masih ingat betapa cepatnya saya mencegah putra
Nyonya mempermainkah botol itu ketika di rumah saya."
"Artinya obat itu racun yang keras."
"Bukan begitu. Lagi pula harus kita camkan kata 'racun1
itu tidak bermakna apa-apa, karena dalam dunia kedokteran
racun yang sangat keras dapat menyembuhkan penyakit
apabila digunakan dengan aturan dan ukuran yang tepat."
"Kalau bukan racun, apa namanya?"
"Itu adalah suatu persenyawaan kimia yang sengaja
dibuat untuk saya oleh seorang kawan yang sangat
terpelajar dan yang mengajarkan kepada saya bagaimana
menggunakannya."
"Saya mengerti, rupanya suatu obat penyembuh
kekejangan."
"Dan yang sangat mujarab, Nyonya, seperti telah
Nyonya saksikan sendiri. Saya sendiri sering sekali
meminumnya . . . dengan sangat hati-hati tentu," tambah
Monte Cristo sambil tersenyum.
"Saya percaya Tuan melakukannya," jawab Nyonya de
Villefort dengan nada yang sama seperti nada Monte Cristo.
"Saya sendiri, yang selalu gelisah dan gampang pingsan,
karena tidak mempunyai kawan yang terpelajar seperti
Tuan, terpaksa memakai obat anti kejang ramuan Tuan
Planche."
"Saya lebih suka memakai ramuan sendiri."
"Tentu saja. Saya pun akan berlaku begitu kalau saya
mempunyainya, terutama sekali setelah melihat sendiri
bagaimana khasiatnya. Tetapi saya kira ramuan itu sangat
rahasia dan saya sendiri pun tidak cukup berani
menanyakan. bagaimana membuatnya."
'Tetapi saya cukup sopan untuk menawarkannya kepada
Nyonya," jawab Monte Cristo sambil bangkit dari kursinya.
"Oh!"
"Hanya saja harap diingat baik-baik, dalam ukuran yang
kecil, dapat merupakan obat, tetapi akan menjadi racun
berbahaya dalam jumlah yang besar. Lima sampai enam
tetes sudah dapat mematikan. Dan ramuan ini menjadi
lebih berbahaya lagi karena apabila yang lima atau enam
tetes ini dicampurkan dengan segelas anggur dia tidak akan
mempengaruhi rasa dan bau anggur itu."
Jam menunjukkan setengah tujuh. Pada saat itu seorang
pelayan datang memberitahukan kedatangan tamu yang
diundang makan malam oleh Nyonya de Villefort.
"Seandainya pertemuan kita ini merupakan pertemuan
yang ketiga atau keempat kalinya," kata Nyonya de
Villefort, "dan apabila seandainya saya diberi kehormatan
menjadi kawan Tuan, bukan hanya sebagai orang yang
berhutang budi kepada Tuan, saya akan meminta dengan
sangat agar Tuan sudi turut makan bersama kami, dan saya
tidak akan membiarkan diri saya putus asa karena penolakan
yang pertama."
"Terima kasih banyak, Nyonya," jawab Monte Cristo,
"tetapi saya pun mempunyai janji lain yang harus saya
tepati."
"Baiklah, dan harap Tuan tidak melupakan obat yang
dijanjikan tadi."
"Tidak, Nyonya, pasti tidak. Melupakan itu berarti saya
lupa kepada,percakapan kita hari ini, suatu hal yang tidak
mungkin."
Count of Monte Cristo membungkukkan badan memberi
hormat, lalu meninggalkan ruangan. Hasil pembicaraannya
melebihi apa yang diharapkannya. "Aku yakin, benih yang
aku taburkan tidak jatuh di tanah yang gersang," katanya
kepada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya ia mengirimi
Nyonya de Villefort obat yang dimintanya.
BAB XXX
BEBERAPA hari kemudian Albert de Morcerf
mengunjungi Count of Monte Cristo di Champs Elysee
Rumah tersebut, sekalipun hanya merupakan tempat
kediaman sementara, namun berkat kekayaan Monte Cristo
yang seakan-akan tak terbatas, telah diatur seperti sebuah
istana. Albert ditemani oleh Lucien Debray. Count of
Monte Cristo memikirkan bahwa kunjungan Debray
didorong oleh kepentingan berganda. Salah satu di
antaranya, karena Nyonya Danglars yang tidak dapat
melihat sendiri rumah orang yang dengan gampang
memberikan begitu saja sepasang kuda yang berharga
puluhan ribu frank dan menonton opera dengan seorang
gadis hamba sahaya yang mengenakan perhiasan berharga
jutaan frank, telah mengutus Debray untuk melihat-lihat
bagi dia dan melaporkannya nanti. Namun Monte Cristo
tidak memperlihatkan perkiraannya itu.
''Masih seringkah Tuan bertemu dengan Baron
Danglars?" tanya Monte Cristo kepada Albert.
"Tentu saja. Bukankah telah saya ceriterakan hubungan
saya dengan keluarga mereka."
"Berarti hubungan itu masih baik."
"Ya. Segala-galanya telah ditetapkan "
"Apakah dia cantik?”
"Bahkan cantik sekali. Tetapi, dia bukan selera saya. Dan
saya tidak berharga dibandingkan dengan dia!”
"Tuan berbicara seakan-akan telah menjadi suaminya!"
kata Monte Cristo. "Kelihatannya Tuan tidak begitu
gembira dengan rencana perkawinan ini."
"Nona Danglars terlalu kaya bagi saya," jawab Albert.
"Dan ini menakutkan saya."
"Bagi saya," kata Monte Cristo, "sukar sekali memahami
keengganan Tuah menikah dengan seorang gadis yang
cantik lagi kaya."
"Saya bukanlah satu-satunya orang yang berkeberatan
dengan pernikahan itu. Ibu pun tidak menyetujuinya. Saya
kira ada sesuatu yang tidak beliau sukai dalam keluarga
Danglars itu . . . Tuan sangat berbahagia menjadi orang
yang bebas!"
"Kalau begitu, bebaskanlah diri Tuan sendiri. Siapa yang
akan menghalangi?"
"Ayah akan sangat kecewa apabila saya tidak menikahi
Nona Danglars."
"Kawinlah dengan dia," kata Monte Cristo sambil
mengangkat bahu.
"Sebaliknya " kata Albert, "ibu akan lebih dari kecewa
apabila saya jadi kawin Hati beliau akan sakit sekali."
"Kalau begitu jangan kawin."
"Saya akan mencoba mengambil keputusan. Sudikah
Tuan memberi saya nasihat? Barangkali Tuan dapat membantu
saya keluar dari kemelut ini. . . . Tetapi, apabila saya
terpaksa harus memilih Salah satu dari dua keburukan, saya
bersedia berbantahan dengan ayah demi menghindarkan
ibu dari kepedihan."
Monte Cristo membalikkan badan. Rupanya
perasaannya agak terganggu. "Hai," katanya kepada Debray
yang sedang duduk di sudut ruangan dengan sebuah pensil
di tangan dan sebuah buku catatan di tangan yang lain.
"Apa yang sedang Tuan kerjakan? Menggambar?"
"Tidak. Saya sedang menghitung berapa keuntungan
yang telah diperoleh Danglars dari kenaikan harga saham di
Haiti. Harga saham telah naik dari dua ratus enam menjadi
empat ratus sembilan dalam tiga hari. Bankir yang cekatan
itu telah memborongnya ketika harga masih dua ratus
enam, lalu menjualnya lagi dengan harga tinggi. Dia tentu
beruntung tiga ratus ribu frank. Sekarang, harganya telah
turun lagi menjadi dua ratus lima."
"Kalau Tuan Danglars berani berspekulasi untung atau
rugi tiga ratus ribu frank dalam sehari, tentu ia seorang yang
sangat kaya," kata Monte Cristo.
"Bukan dia yang suka berspekulasi itu!" kata Debray.
"Nyonya Danglars. Dia sangat berani."
"Kalau aku menjadi engkau," kata Albert, "aku akan
menyembuhkannya dari penyakitnya, dan ini akan merupakan
jasa yang baik bagi calon menantunya."
“Maksudmu?"
"Aku akan membuatnya jera. Kedudukanmu sebagai
sekertaris menteri menyebabkan berita-berita yang datang
darimu diperhatikan dan diperhitungkan orang. Setiap kali
engkau membuka mulut, semua pedagang saham di Paris
mencatat kata demi kata.. Buatlah dia rugi seratus ribu
frank beberapa kali, dia segera akan menjadi lebih hatihati."
"Aku belum dapat mengerti maksudmu " kata Debray
sedikit terbata-bata.
"Sangat sederhana," lanjut Albert. “Ceriterakan pada
suatu hari kepadanya sebuah berita yang sensasionil atau
sebuah berita telegram yang hanya engkau sendiri yang
dapat mengetahuinya. Umpamanya saja, bahwa Raja
Henry IV kemarin kelihatan di Gabrielle. Berita ini akan
menyebabkan kenaikan harga saham. Nyonya Danglars
pasti akan segera membeli saham-saham itu. Dan dia pasti
akan merugi kalau keesokan harinya Beauchamp
membantah dalam korannya dengan menyatakan bahwa
menurut keterangan dari sumber yang dapat dipercaya
berita yang mengatakan bahwa Raja Henry IV berada di
Gabrielle, adalah tidak benar."
Debray memaksakan diri tertawa. Monte Cristo juga,
sekalipun tampaknya acuh tak acuh, mengikuti kata demi
kata pembicaraan Albert. Bahkan ia dapat mencium semacam
rahasia yang tersembunyi di balik kebingungan
Debray. Kebingungan ini, yang tidak kelihatan oleh Albert,
menyebabkan Debray segera meminta diri. Jelas sekali
bahwa pikirannya kacau.
"Benarkah," kata Monte Cristo kepada Albert setelah dia
mengantarkan Debray sampai ke pintu, "ibu Tuan sangat
tidak menyetujui perkawinan itu seperti yang Tuan katakan
tadi?"
"Demikian tidak menyetujuinya sehingga Nyonya Danglars
tidak pernah mau berkunjung ke rumah kami. Dan saya
kira ibu pun baru sekali berkunjung ke rumahnya sampai
sekarang."
"Kalau begitu," kata Monte Cristo lagi, "saya merasa
akan lebih bebas berbicara. Tuan Danglars adalah bankir
saya dan Tuan de Villefort menghormat saya secara berlebih-
lebihan sebagai tanda terima kasihnya untuk sebuah
jasa yang kebetulan sekali dapat saya perbuat untuk
keluarganya- Berdasarkan ini saya merencanakan sebuah
jamuan makan. Agar tidak timbul wasangka yang bukanbukan
di kemudian hari, saya bermaksud mengundang
keduanya bersama istri makan malam di rumah saya di
Auteuil. Kalau saya mengundang juga Tuan dan orang tua
Tuan, saya khawatir akan tampak sebagai suatu pertemuan
untuk merencanakan perkawinan. Setidak-tidaknya ibu
Tuan akan berpikir demikian, apalagi kalau Tuan Danglars
membawa serta puterinya Dengan demikian saya akan
membangkitkan ketidaksenangan ibu Tuan, padahal saya
ingin menghindarkannya."
"Terima kasih untuk keterbukaan Tuan," kata Albert.
"Saya senang sekali mendahului undangan Tuan menceriterakannya
kepada ibu. Juga akan saya ceriterakan betapa
kehati hati an pertimbangan Tuan, dan saya yakin beliau
akan sangat berterima kasih, sekalipun ayah pasti akan
marah kalau mengetahuinya."
Monte Cristo tertawa. "Ayah Tuan bukan satu-satunya
yang akan marah. Tuan dan Nyonya Danglars pun akan
bertanya-tanya mengapa saya tidak mengundang Tuan dan
pasti mereka akan menganggap saya sebagai orang yang
tidak mengetahui tata kesopanan. Usahakanlah supaya
Tuan mempunyai janji yang sangat penting pada hari yang
bersamaan, dan kirimlah surat kepada saya tentang itu.
Seperti Tuan ketahui, seorang bankir tidak mempercayai
sesuatu kalau tidak tertulis."
"Saya mempunyai gagasan yang lebih baik dari itu. Sejak
lama sekali ibu menginginkan berlibur ke pantai. Kapan
tuan bermaksud mengadakan jamuan itu?"
"Sabtu."
"Sekarang hari Selasa. Baik, kami akan berangkat esok
sore dan lusa kami sudah berada di Treport. Saya akan
segera menemui Tuan Danglars hari ini juga untuk mengatakan
bahwa ibu dan saya akan meninggalkan Paris esok.
Saya akan berpura-pura tidak bertemu dengan Tuan dan
tidak mengetahui apa-apa tentang jamuan makan yang akan
Tuan selenggarakan."
"Bagaimana dengan Tuan Debray yang mengetahui
Tuan di sini?"
"Benar juga."
"Begini sebaiknya. Saya mengundang Tuan secara tidak
resmi sekarang dan Tuan menjawab bahwa Tuan tidak
dapat hadir karena akan bepergian ke Treport."
"Setuju. Dan sekarang izinkan saya mengundang Tuan
ke rumah pada jam berapa saja Tuan kehendaki asal sebelum
hari esok.”
'Terima kasih. Tetapi sayang sekali, saya khawatir tidak
dapat memenuhinya. Saya mempunyai janji yang sangat
penting dengan Mayor Bartolomeo Cavalcanti — seorang
dari salah satu keluarga bangsawan yang tertua di Italia —
dan putranya Andrea, seorang anak muda sebaya Tuan
yang bermaksud memasuki masyarakat Paris dengan
bantuan jutaan frank milik ayahnya. Saya berjanji akan
menjamunya hari ini dan ia akan mempercayakan putranya
kepada saya."
"Seandainya Mayor Cavalcanti bermaksud mencarikan
istri bagi putranya," kata Albert, "saya akan senang sekali
membantunya berkenalan dengan seorang gadis yang
cantik, keturunan bangsawan dari pihak ibunya dan dapat
mewarisi gelar barones dari pihak ayahnya.”
"Sampai sejauh itukah Tuan berpikir?”
"Oh, Tuan tidak akan dapat membayangkan betapa besar
rasa terima kasih saya kepada Tuan apabila Tuan
membantu saya tetap membujang!"
"Segala sesuatu mungkin saja terjadi," jawab Monte
Cristo dengan nada tenang.
BAB XXXI
COUNT of Monte Cristo tidak berbohong ketika ia
menolak undangan Albert dengan dalih akan menerima
kunjungan seorang mayor Italia.
Jam berbunyi tujuh kali. Sesuai dengan perintah yang
diterimanya Bertuccio berangkat dua jam yang lalu ke
Auteuil. Sebuah kereta kuda berhenti di muka rumah
Monte Cristo di Paris. Dari dalamnya keluar seorang lakilaki
berumur kira-kira lima puluh tahun. Kepalanya yang
kecil dan hampir berbentuk segi tiga, rambutnya yang putih
dan misalnya yang tebal abu-abu, cepat dikenali oleh
BapUstin yang sudah menunggunya dan sudah menerima
gambaran tamu ini dari majikannya lebih dahulu.
Tamu segera dibawa ke ruangan yang sangat sederhana.
Count of Monte Cristo sudah menunggu di sana dan segera
bangkit menjemputnya. "Selamat datang,.Tuan. Saya menunggu
kedatangan Tuan."
"Benarkah? Pastikah Tuan bahwa saya yang Tuan tunggu?"
"Tentu saja. Tetapi kita dapat saling meyakinkan kalau
Tuan menganggap peilu,"
"Selama Tuan yakin bahwa sayalah orangnya yang Tuan
tunggu, sudah cukup bagi saya."
Tamu kelihatan agak kurang tenang.
"Lebih baik kita yakinkan saja dahulu, Tuan adalah
Markls Bartolomeo-kz Cavalcanti, bukan?"
"Bartolomeo Cavalcanti," jawab tamu dengan gembira.
"Benar."
"Bekas mayor tentara Austria?"
"Apakah betul saya mayor?" jawab tentara tua ini agak
malu-malu.
"Ya, mayor. Itulah nama yang kami berikan di Perancis
untuk pangkat yang Tuan jabat di Italia."
"Untuk saya baik saja. Tuan ketahui.. "
"Selain itu Tuan disuruh orang menemui saya."
"Benar."
"Oleh Padri Busoni yang istimewa?"
"Benar!" jawab Bartolomeo gembira.
"Dan Tuan membawa sepucuk surat?"
"Inilah dia."
Monte Cristo menerima surat itu lalu membacanya.
“Surat itu berbunyi:. . .Mayor Cavalcanti seorang bangsawan
terhormat dari Lucca, keturunan dari keluarga Cavalcanti
dari Florence, mempunyai penghasilan sebesar setengah
juta...."
"Betulkah setengah juta?" tanya mayor itu.
"Betul, tertulis hitam di atas putih. Dan ini mesti benar,
karena tidak ada orang lain yang lebih mengetahui tentang
orang-orang kaya di Eropa daripada Padri Busoni."
"Setengah juta. Saya tidak menyangka sebesar itu."
Monte Cristo meneruskan membaca, "Dia hanya kekurangan
suatu hal untuk melengkapi kebahagiaannya: menemukan
kembali putranya tersayang yang telah diculik
ketika masih kecil oleh musuh keluarganya atau oleh orangorang
kelana. Saya memberinya harapan bahwa Tuan akan
dapat menolongnya. Dia sendiri telah lebih dari lima belas
tahun mencarinya, namun sia-sia."
Mayor itu memandang kepada Monte Cristo dengan air
muka yang sukar digambarkan.
"Saya dapat menolong menemukannya kembali," kata
Monte Cristo.
"Jadi surat itu benar?"
"Apakah Tuan meragukannya, Mayor?"
"Oh tidak, sedikit pun tidak! Seorang seperti Padri
Busoni tidak akan berkelakar . . . Tuan belum selesai membacanya,
Yang Mulia."
"Ah, ya. Di bawahnya masih ada catatan: Untuk memudahkan
dia menerima uang yang diperlukannya di sini, saya
telah memberinya dua ribu frank dan saya harap Tuan suka
membelinya lagi empat puluh delapan ribu frank dari uang
saya yang ada pada Tuan."
Mayor Bartolomeo mengikuti pembacaan catatan ini
dengan penuh perhatian.
"Baik," hanya itu komentar Monte Cristo.
"Catatan itu juga ..
"Mengapa?"
'Tuan mempercayai juga catatan itu seperti bagianbagian
lainnya?"
"Tentu saja. Antara Padri Busoni dengan saya ada hubungan
keuangan. Saya tidak tahu apakah benar hutang
saya kepadanya sekarang persis sebesar empat puluh delapan
ribu frank. Tetapi kami tidak pernah merisaukan jumlah
beberapa ribu."
"Jadi Tuan bersedia membayar saya empat puluh delapan
ribu frank?"
"Kapan saja Tuan memerlukannya."
Mata mayor terbelalak.
"Silahkan duduk, Mayor. Entah mengapa saya ini, membiarkan
Tuan berdiri selama seperempat jam."
Mayor Bartolomeo mengambil sebuah kursi kemudian
mendudukinya.
"Jadi," kata Monte Cristo, 'Tuan tinggal di Lucca dan
kaya, seorang bangsawan terhormat, menikmati penghormatan
dan penghargaan dari masyarakat, dan hanya kekurangan
suatu perkara saja untuk membuat kebahagiaan
Tuan sempurna."
"Hanya satu perkara, Yang Mulia."
"Dan perkara yang satu itu, menemukan kembali anak
yang telah hilang."
"Ya, dan itu sangat penting bagi saya," kata Mayor
terhormat itu, mengangkat matanya dan mencoba mengeluarkan
sebuah keluhan.
"Sudikah Tuan, Mayor Cavalcanti, menceriterakan kepada
saya tentang putra Tuan itu? Saya mendengar bahwa
Tuan tetap membujang."
"Orang-orang memang berpendapat demikian, dan
saya..."
"Dan Tuan mendukung pendapat orang-orang itu. Ada
suatu dosa dalam masa muda Tuan yang ingin Tuan
sembunyikan — tidak untuk kepentingan Tuan sendiri ~
karena laki-laki memang tidak berkepentingan, namun demi
kehormatan seorang wanita."
"Ya, demi kepentingan ibu anak saya!"
"Ibunya berasal dari keluarga terhormat di Italia, bukan?"
"Keturunan ningrat dari Ftesole, Yang Mulia. Keturunan
ningrat dari Fiesole!"
"Siapa namanya?"
"Apakah itu perlu?"
"Ah, tak ada gunanya Tuan mengatakannya, karena saya
sudah mengetahuinya."
"Tuan mengetahui segala-galanya," kata Mayor sambil
membungkuk.
"Namanya, Oliva Corsinari. Betul?"
"Betul. Oliva Corsinari."
"Dan akhirnya Tuan menikahinya juga sekalipun ada
tentangan dari pihak keluarga, betul?"
"Benar."
"Apakah Tuan membawa surat-suratnya?"
"Surat-surat apa?" tanya Mayor heran.
"Surat perkawinan Tuan dengan Oliva Corsinari dan
surat kelahiran putra Tuan. Namanya Andrea, bukan?"
"Mungkin."
"Mengapa mungkin?"
"Saya tidak berani memastikannya . . . karena sudah
lama sekali saya tidak melihatnya lagi."
"Benar juga” kata Monte Cristo. "Tetapi surat-surat itu
Tuan bawa?"
"Maaf, tak seorang pun memberitahu saya bahwa akan
diperlukan, sehingga saya menganggap tidak periu membawanya.
Apakah itu penting betul? “
"Sangat penting. Tanpa dokumen itu perkawinan tidak
diakui. Di Perancis ini, lain seperti di Italia, perkawinan tidak
cukup hanya dengan menghadap pastur dan mengatakan:
‘Kami saling mencintai; kawinkan kami. Di Perancis
perkawinan itu masih perlu dicatatkan di Kantor Catatan
Sipil dan di sana setiap orang harus dapat membuktikan
siapa dirinya. Untung sekali, surat-surat Tuan sudah ada pada
saya,"
'Tuan sudah memegangnya?"
"Ya."
"Luar biasai” kata Mayor yang sudah ketakutan
mendapat kesukaran menerima uang yang empat puluh
delapan ribu frank itu. "Saya tidak mengira Tuan
mempunyai surat-surat itu."
"Orang tidak mungkin memikirkan semua soal. Untung
sekali Padri Busoni menolong memikirkannya untuk Tuan."
"Orang yang mengagumkan sekali Padri Busoni itu!
Beliau tentu mengirimkannya kepada Tuan."
"Inilah dia. Berikan ini kepada putra Tuan dan katakan
supaya ia menyimpannya dengan baik, jangan sampai hilang.
Saya percaya Tuan dapat memahami betapa pentingnya
surat-surat ini."
"Saya menganggapnya sebagai tak bernilai selama ini"
"Sekarang, tentang ibu anak muda itu ..."
"Ya, Tuhan!" teriak Mayor terkejut. "Apakah perlu-kita
membicarakannya juga?"
"Tidak, Mayor "jawab Monte Cristo. "Lagi pula, bukankah
dia ...t'
"Benar, dia ..."
'Telah memenuhi kewajibannya terhadap hukum
alam?"
"Benar."
"Begitulah yang saya dengar. Dia telah meninggal
sepuluh tahun yang lalu."
"Dan saya masih bersedih karena kehilangan dia," kata
Mayor, mengeluarkan saputangannya lalu menyeka matanya.
"Jangan terlampau bersedih, Mayor. Semua kita tidak
langgeng. Sekarang, karena ingatan Tuan telah segar
kembali, tentu Tuan sudah dapat mengira bahwa saya telah
mempersiapkan suatu hadiah bagi Tuan."
"Hadiah yang menyenangkan tentu.”
"Memang tidak mudah kita menipu mata dan hati
seorang ayah. Tuan telah merasakan bahwa dia sudah
berada di sini."
"Siapa yang sudah berada di sini?"
"Putra Tuan. Andrea."
"Bagus, bagus sekali!"
"Saya dapat memahami perasaan Tuan," kata Monte
Cristo, "dan saya sadar bahwa saya harus memberi Tuan
sedikit waktu untuk menenangkan diri. Juga saya ingin
mempersiapkan putra Tuan untuk pertemuan yang membahagiakan
Ini, sebab saya kira dia pun sama tidak sabarnya
seperti Tuan."
''Saya kira juga begitu."
"Baiklah, sebelum seperempat jam dia akan memasuki
ruangan ini melalui pintu itu."
"Soal lain sedikit, Count," kata Mayor, "seperti Tuan
ketahui saya hanya membawa dua ribu frank, dan..,"
"Dan Tuan memerlukan wang, bukan? Tentu saja Tuan
akan memerlukannya, Ini delapan ribu frank. Tinggal
empat puluh ribu frank lagi."
Mata mayor berkilat-kilat "Apakah Tuan memerlukan
tanda terima?" tanyanya.
"Tuan dapat memberikan tanda terima untuk seluruh
jumlah nanti Antara orang-orang yang jujur surat-menyurat
demikian sebenarnya tidak perlu."
"Ya, tentu saja, antara orang-orang yang jujur."
"Bolehkah saya memberikan sebuah saran sekarang?"
"Saya akan senang sekali menerimanya."
"Saya kira Tuan tidak keberatan bila Tuan melepaskan
jas itu."
"Mengapa?" kata Mayor, melihat kepada pakaiannya
dengan semacam perasaan sayang.
"Memang masih mode di Italia, namun di Perancis
sudah jauh ketinggalan jaman."
"Wah, memalukan sekali," kata Mayor. 'Tetapi apa yang
harus saya pakai?"
"Tuan akan menemukan pakaian baru dalam koper
Tuan."
"Dalam kopor? Saya hanya membawa sebuah tas,"
"itu yang Tuan bawa sendiri. Tuan mengirimkan kopor
Tuan terlebih dahulu. Kopor itu sekarang sudah berada di
Hotel des Princes, di Jalan Richelieu, tempat Tuan menetap
selama di sini Saya kira Tuan telah memerintahkan pelayan
Tuan untuk mengisi kopor itu dengan segala macam yang
akan Tuan perlukan. Tuan akan mengenakan seragam
dalam kesempatan-kesempatan yang penting saja. Ini akan
mengesankan sekali. Dan jangan lupa bintang-bintang
kehormatannya."
"Baik sekali, baik sekali!" kata Mayor berpindah dari
suatu kebingungan ke kebingungan yang lain.
"Sekarang, Mayor Cavalcanti," kata Monte Cristo,
"bersiap-siaplah untuk bertemu kembali dengan putra Tuan,
Andrea."
Setelah membungkuk dengan hormat kepada mayor
yang lagi kebingungan itu, Monte Cristo meninggalkan ruangan.
Di kamar lain yang bersebelahan, seorang anak muda
yang perlente telah menunggu. Ia datang kurang lebih setengah
jam yang lalu, Baptistin yang telah menerima gambarannya
dari Monte Cristo tidak mendapat kesukaran
mengenalinya sebagai orang yang berambut pirang, berjenggot
merah dan bermata hitam.
Ketika Monte Cristo memasuki ruangan, anak muda itu
sedang berbaring di kursi panjang sambil tanpa sadar
memukul-mukul sepatunya dengan tongkatnya yang
berkepala emas. Tatkala melihat Count of Monte Cristo ia
cepat bangkit dan bertanya, "Apakah Tuan Count of Monte
Cristo?"
"Benar. Dan apakah benar pula saya berhadapan dengan
Viscount Andrea Cavalcanti?"
'Viscount Andrea Cavalcanti," anak muda itu mengulang
dengan nada dan sikap seenaknya.
"Saya kira Tuan membawa surat perkenalan untuk saya."
"Saya tidak mau menyinggungnya karena tanda tangannya
agak aneh bagi saya."
"Sinbad Pelaut, bukan?"
"Ya."
"Dia kawan karib saya. Seorang inggris, kaya sekali,
eksentrik hampir-hampir mendekati gila Namanya yang
sebenarnya adalah Lord Wilmore."
"Oh, kalau begitu dia orang Inggris yang . . . Tetapi
baiklah, apa yang harus saya lakukan sekarang, Count?"
"Saya minta Tuan berkata dengan terus terang," kata
Monte Cristo. "Saya harap Tuan suka menceriterakan sedikit
tentang Tuan sendiri dan keluarga Tuan."
"Dengan senang sekali, Count," kata anak muda itu
dengan kefasihan yang menunjukkan kecerdasannya. "Saya
adalah seperti Tuan katakan tadi, Viscount Andrea Cavalcanti,
putra Mayor Bartolomeo Cavalcanti, keturunan
keluarga Cavalcanti yang namanya tercatat dalam Buku
Emas di Florence. Ketika berumur lima tahun saya diculik
guru yang berkhianat, dan sampai sekarang sudah lima
belas tahun lamanya saya tidak berjumpa lagi dengan ayah
saya. Setelah saya akil balig saya selalu berusaha
mencarinya, namun sia-sia belaka. Akhirnya, surat dari
kawan Tuan itu memberi tahu bahwa ayah berada di Paris
dan menyarankan saya untuk menemui Tuan guna
mendapatkan keterangan-keterangan yang lebih lanjut."
"Sangat menarik," kata Monte Cristo, "dan Tuan tidak
salah datang kepada saya, karena pada saat ini, pada saat
ini juga, ayah Tuan berada di sini."
Sejak ia memasuki ruangan itu Monte Cristo tidak
pernah melepaskan pandangannya yang tajam pada
Andrea. Dia mengagumi kemampuan menguasai diri dan
ketenangan suaranya. Tetapi ketika mendengar bahwa ayah
berada di sini, Andrea terkejut dan terlontar kata-kata dari
mulutnya, "Ayah! Ayah di sini?"
"Benar," jawab Monte Cristo. "Ayah Tuan, Mayor
Bartolomeo Cavalcanti ‘
Keterkejutan anak muda itu cepat sekali menghilang.
"Ya, tentu saja Mayor Bartolomeo Cavalcanti. Tuan katakan
beliau berada di sini sekarang?"
"Ya, Tuan dapat segera menjumpainya. Beliau sedikit
kaku dan suka membesarkan diri. Mungkin karena dia terlalu
lama menjadi militer. Selain dari itu, kekayaan yang
melimpah-limpah dapat dengan gampang menyebabkan
orang mengabaikan banyak hal."
"Maksud Tuan ayah saya seorang yang kaya-raya?"
"Seorang jutawan dengan penghasilan setengah juta
frank setahun."
"Apakah ini berarti," tanya anak muda itu ingin segera
mendapat kepastian, "bahwa saya akan berada dalam keadaan
yang menyenangkan?"
"Keadaan yang sangat menyenangkan. Dia bermaksud
memberi Tuan lima puluh ribu frank setahun selama Tuan
tinggal di Paris."
"Apakah beliau bermaksud akan tinggal lama di Paris?"
"Kewajibannya tidak mengijinkan beliau tinggal lebih
lama dari beberapa hari saja."
"Oh, Ayah!" kata Andrea. Jelas sekali bahwa ia sangat
gembira mendengar itu.
Monte Cristo pura-pura tidak menangkap nada gembira
dalam suara anak muda itu. "Saya tidak bermaksud menahan
Tuan lebih lama lagi, silakan Tuan masuk ruangan
sebelah ini. Ayah Tuan berada di sana."
Andrea membungkuk dalam-dalam lalu memasuk) ruangan
yang ditunjukkan Monte Cristo. Setelah dia pergi,
Monte Cristo memijit sebuah tombol yang tersembunyi dan
sebuah lukisan di dinding bergeser ke samping memperlihatkan
sebuah lubang cukup besar pada dinding, untuk mengintip
ke ruangan sebelah.
Andrea menutup pintu lalu berjalan menghampiri Mayor
yang segera berdiri ketika melihat kedatangannya.
"Ayah!" kata Andrea, cukup keras untuk didengar Monte
Cristo dari balik pintu. "Benarkah ini ayah?"
"Benar, anakku," kata Mayor dengan nada tenang.
"Alangkah menyenangkannya bertemu kembali setelah
sekian lama terpisah!" kata Andrea lagi sambil tetap mengawasi
pintu.
"Benar, anakku. Sangat lama kita berpisah."
"Dan kita tidak akan berpisah lagi, bukan?"
"Aku khawatir, harus. Bukankah engkau telah menganggap
Perancis sebagai tanah airmu yang kedua?"
"Terus terang, Ayah," kata anak muda itu, "hati saya
akan hancur bila harus meninggalkan Paris lagi ‘
"Dan aku sendiri tidak dapat hidup di mana pun juga,
kecuali di Lucca. Aku harus segera kembali ke Italia secepat
mungkin."
"Tetapi sebelum Ayah kembali, haraplah Ayah memberikan
dahulu surat-surat yang dapat membuktikan leluhur
saya.
"Tentu. Kedatanganku ke mari justru sengaja untuk
memberikan itu. Inilah dia."
Andrea setengah merebut surat-surat itu dari tangan
Mayor, lalu menelitinya dengan mata yang terlatih. Setelah
itu dia memandang wajah Mayor dengan senyuman yang
aneh, lalu berkata dalam bahasa Italia yang sempurna,
"Apakah di Italia tidak ada penjara, Ayah?"
"Apa maksudmu?"
"Di Perancis, pemalsuan surat seperti ini bisa dihukum
sekurang-kurangnya lima tahun."
"Maaf, aku tidak mengerti," kata Mayor, berusaha keras
untuk menunjukkan air muka bangsawan.
"Berapa Tuan dibayar untuk menjadi ayah saya?" tanya
Andrea sambil menekan lengan Mayor.
Karena sangat terkejut Mayor membuka mulutnya.
"Sst!" kata Andrea merendahkan suaranya. "Saya akan
membuka rahasia saya. Saya mendapat lima puluh ribu
frank setahun untuk menjadi anak Tuan."
Mayor melihat ke sekelilingnya penuh kekhawatiran.
"Jangan takut . .. kita hanya berdua saja," kata Andrea.
"Lagi pula kita berbicara dalam bahasa Italia."
'"Baiklah. Saya mendapat lima puluh ribu frank, tetapi
hanya sekali."
"Tuan Cavalcanti, percayakah Tuan kepada dongengdongeng"?"
"Sebelumnya tidak, tetapi sekarang terpaksa percaya."
"Tuan berpendapat saya dapat mempercayai janji-janji
Count of Monte Cristo?"
"Ya, tetapi kita harus memainkan peranan kita masingmasing
dengan baik oleh karena mereka mendesak saya
menjadi ayah Tuan."
"Siapa mereka itu?"
"Tidak tahu . . . siapa pun orangnya yang menyurati
kita."
"Tuan menerima surat?"
"Ya."
"Dari siapa?"
"Dari orang yang menamakan dirinya Padri Busoni."
'Tuan kenal kepadanya?"
"Belum pernah bertemu sekalipun."
"Apa isinya?"
"Apakah Tuan tidak akan menceriterakannya kepada
orang lain?"
"Tentu saja tidak. Bukankah ini kepentingan kita bersama?"
"Bacalah, kalau begitu."
Mayor menyerahkan sepucuk surat yang berbunyi:
Tuan miskin, dan usia tua yang merepotkan sedang
menghadang Tuan.
Maukah Tuan, kalaupun bukan kaya, sekurang-kurangnya
mempunyai kecukupan sehingga tidak tergantung kepada orang
lain? Bila demikian, pergilah segera ke Paris dan temui Count of
Monte Cristo di Champs Elysees No. 30, dan minta kepada beliau
diperkenalkan kepada anak Tuan dari Oliva Corsinari yang direnggut
dari tangan Tuan ketika ia berumur lima tahun. Anak
Tuan bernama Andrea Cavalcanti. Seandainya Tuan merasa
ragu-ragu akan maksud baik saya, bersama ini saya-kirimkan
sehelai cek seharga empat puluh delapan ribu frank yang dapat
Tuan uangkan di Paris.
Hendaklah sudah berada di rumah Count of Monte
Cristo bulan Mei tanggal 26 pukul tujuh malam.
PADRI BUSONI
"Saya pun menerima surat yang hampir serupa ini," kata
Andrea.
"Juga dari Padri Busoni?"
"Bukan. Dari Lord Wilmore, seorang inggris yang biasa
menggunakan nama Sinbad Pelaut Ini suratnya."
Mayor membaca:
Tuan miskin, dan Tuan hanya mempunyai masa depan yang
buruk. Maukah Tuan menjadi orang yang merdeka, kaya dan
menyandang nama yang terhormat? Bila demikian, temuilah
Count of Monte Cristo di Champs Elysee No. 30 di Paris, pada
bulan Mei tanggal 26 jam tujuh malam, lalu tanyakan kepada
beliau tentang ayah Tuan. Tuan adalah putra Mayor Bartolomeo
Cavalcanti dan Markise Oliva Corsinari. Buktinya akan Tuan
lihat nanti dari surat-surat yang akan diberikan oleh Mayor
kepada Tuan. Dengan dokumen itu Tuan dapat memperkenalkan
diri dengan nama itu kepada kalangan atas di Paris.. Untuk
memelihara"gelar dan kehormatan Tuan, kepada Tuan akan
diberikan tunjangan yang memadai sebesar lima puluh ribu frank
setahun. Bersama ini dikirimkan sehelai cek seharga lima puluh
ribu frank dan sepucuk surat perkenalan untuk Count of Monte
Cristo, yang telah saya minta untuk memenuhi semua keperluan
Tuan.
SINBAD PELAUT
"Luar biasa!" kata Mayor. 'Tuan sudah bertemu dengan
Count of Monte Cristo?"
'Saya baru saja meninggalkan beliau di kamar sebelah."
"Apakah beliau menyetujui semua ini?"
"Semua."
"Mengerti Tuan persoalannya?"
"Sedikit pun tidak. Tetapi biarlah, mari kita selesaikan
permainan ini sampai habis."
"Baik. Tuan akan lihat nanti bahwa saya cukup berharga
untuk menjadi pasangan Tuan."
"Saya tidak meragukannya sedikit pun, ayah tercinta."
"Tuan membuat saya bangga, anakku sayang."
Monte Cristo memilih saat itu untuk memasuki ruangan
tersebut. Ketika mereka mendengar suara langkah Monte
Cristo segera mereka saling berpelukan bagaikan ayah dan
anak yang benar-benar sedang melepaskan rasa rindu.
"Rupanya tuan puas dengan putra Tuan, Mayor," kata
Monte Cristo.
"Saya benar benar diliputi rasa bahagia."
"Bagaimana dengan Tuan, anak muda?"
"Oh, kebahagiaan saya hampir meledak."
"Bagus sekali!" kata Count of Monte Cristo. "Sekarang
Tuan-tuan sudah boleh pulang."
"Bilamana kami akan mendapat kehormatan menemui
Tuan lagi?" tanya Mayor.
"Oh, ya. Bilamana?" sambung Andrea.
"Sabtu yang akan datang, bila Tuan-tuan menghendakinya.
Saya mengundang beberapa orang untuk makan
malam di rumah saya yang di Auteuil, Jalan de Fontaine
No, 28."
"Jam berapa kami harus hadir?" tanya Andrea.
"Setengah tujuh."
"Kami akan ,hadir," kata Mayor sambil memegang topinya
seperti layaknya seorang militer.
Kedua orang itu membungkuk memberi hormat kepada
Monte Cristo lalu pergi Monte Cristo berjalan ke jendela
untuk melihat mereka berjalan bergandengan tangan di
pekarangan. "Sepasang buaya!" katanya sendiri. "Memalukan
sekali bahwa sebenarnya mereka bukan ayah dan
anak!"
BAB XXXII
SEKELILING pekarangan rumah Tuan de Villefort
yang sangat tuas dibatasi dengan tembok yang tinggi.
Maximilien yang lebih dahulu datang ke pintu besi yang
berterali, bersembunyi di keteduhan pepohonan yang
banyak tumbuh di sana, menanti terdengarnya suara
langkah-langkah halus di jalan yang berpasir.
Akhirnya suara yang dinantikan itu datang, tetapi dia
melihat bayangan dua orang, bukan satu. Kedatangan
Valentine memenuhi janji bertemu di tempat itu rupanya
terhalang oleh kunjungan Nyonya Danglars dan putrinya,
Eugenie, yang datang bertamu lebih lama daripada yang
disangkanya. Ia mengajak Eugenie berjalan-jalan di kebun
agar Maximilien dapat melihat mereka dan memahami
mengapa keterlambatannya tidak terhindarkan.
Anak muda itu segera mengerti, berkat ketajaman naluri
orang yang sedang dirundung cinta. Hatinya merasa lega.
Setelah kurang lebih berjalan-jalan setengah jam kedua
gadis itu masuk kembali ke dalam rumah. Ini memberikan
petunjuk kepada Maximilien bahwa kunjungan keluarga
Danglars sudah hampir berakhir.
Beberapa saat kemudian Valentine muncul kembali
sendirian. Namun karena khawatir dilihat orang, dia
berjalan dengan tenang sekali. Dia tidak langsung menemui
Maximilian, melainkan duduk dahulu di sebuah bangku
mengawasi dengan teliti semua semak dan pohon dalam
kebun itu dan memperhatikan semua arah. Setelah
dirasanya keadaan aman, segera dia berlari menuju pintu
besi. "Hai, Valentine."
"Hai, Maximilien. Maafkan aku membuatmu menunggu.
Tetapi engkau mengerti apa sebabnya, bukan?"
"Ya, aku melihat Nona Danglars. Aku tidak tahu bahwa
kalian bersahabat."
"Siapa mengatakan kami bersahabat?"
"Tak seorang pun, tetapi caranya kalian berjalan dan
bercakap-cakap menyebabkan aku mengira begitu. Kalian
bercakap-cakap seperti dua orang gadis yang sedang membukakan
rahasia masing-masing."
"Memang benar kami bertukar rahasia," kata Valentine.
"Dia menceriterakan bagaimana bencinya dia akan gagasan
kawin dengan Albert de Morcerf dan aku pun menceriterakan
kepadanya betapa tidak bahagianya aku harus kawin
dengan Franz d'Epinay. Selama aku menceriterakan lakilaki
yang tak kucintai, hatiku tetap melekat kepada laki-laki
yang selalu kucintai"
"Apakah Nona Danglars mencintai orang lain?"
"Katanya tidak. Dia mengatakan tidak berminat kawin.
Katanya, dia bersedia mengorbankan apa saja asal dapat
menjalankan hidup bebas dan bahkan hampir-hampir
mengharapkan ayahnya menjadi miskin supaya dia
diizinkan menjadi seniwati seperti kawannya Louise
d'Armilly. Tetapi tak usah kita menghabiskan waktu dengan
mempergunjingkan orang lain. Waktu kita hanya tinggal
sepuluh menit lagi"
"Ada apa, Valentine? Mengapa harus tergesa-gesa?"
"Ibu meminta saya menemuinya. Katanya, ada sesuatu
yang akan dibicarakannya dan ada hubungannya dengan
sebagian dari kekayaanku. Bagiku, silakan ambil semua
kekayaanku. Aku terlalu kaya. Mungkin dengan demikian
mereka tidak akan mengganggu aku lagi. Bukankah engkau
akan tetap mencintaiku sekalipun aku miskin, Maximilien?"
"Engkau tahu, aku selalu mencintaimu. Aku tidak peduli
dengan kekayaan atau kemiskinan selama Valentineku
berada di sampingku. Dan aku yakin tak seorang pun yang
akan dapat merenggutmu dariku! Tetapi tidakkah engkau
merasa takut bahwa pembicaraan ibu tirimu itu mungkin
mengenai perkawinanmu?"
"Aku kira tidak."
"Walau bagaimana, jangan takut, Valentine. Aku tidak
akan memilih wanita lain selama hidupku."
“Engkau tentu mengira aku akan bahagia mendengar
itu."
"Maaf, memang aku kurang panjang pikir. Sebenarnya
yang ingin kukatakan, aku bertemu dengan Albert de Morcerf
kemarin dan ia mengatakan menerima surat dari Franz
yang mengabarkan bahwa ia akan segera kembali ke Paris."
Wajah Valentine menjadi pucat dan ia mencari sandaran
pada pintu besi. "Mungkinkah itu yang akan dikatakan
ibu?" katanya. 'Tetapi tidak, bukan dia orangnya yang akan
mengatakan itu."
"Mengapa tidak?"
"Karena . . . aku tidak yakin . . . sekalipun dia tidak
terang-terangan menentang perkawinan itu, aku tetap
percaya bahwa dia tidak menyetujuinya,"
"Benar? Dalam hal ini, aku sangat menyukai Nyonya de
Villefort! Kalau dia tidak menyetujui perkawinan dengan
Franz, mungkin engkau dapat memutuskannya dan dia
akan bersedia mempertimbangkan usul-usul yang lain."
"Jangan menggantungkan harapanmu kepada itu, Maximilien
Bukan calon suami yang dia tentang, tetapi perkawinannya
itu sendiri."
"Bagaimana maksudmu? Kalau dia tidak menyetujui
perkawinan, mengapa dia sendiri kawin?"
"Engkau tidak mengerti, Maximilien. Seperti telah kukatakan,
aku terlalu kaya. Aku mempunyai penghasilan
hampir sebesar lima puluh ribu frank dari mendiang ibuku.
Kakek dan nenekku, Markis dan Markise Saint-Meran,
akan mewariskan sejumlah yang sama, dan kakekku yang
seorang lagi, Tuan Noirtier, sudah menjelaskan bahwa beliau
bermaksud mewariskan semua harta kekayaannya kepadaku.
Akibat dari ini, adikku Edouard, yang tidak dapat
mengharapkan apa-apa dari ibunya, akan tetap miskin. Ibu
titiku terlalu mencintai anaknya. Jadi, kalau aku tetap tidak
kawin, seluruh kekayaanku akan berpindah kepada ayahku,
kalau aku mati, yang akan meneruskannya nanti kepada
Edouard."
"Aneh sekali mendengar keserakahan seperti itu pada
seorang wanita muda dan cantik!"
"Jangan lupa bahwa itu bukan untuk dia sendiri, melainkan
untuk anaknya. Keserakahan yang engkau tidak sukai
itu, dilihat dari sudut kecintaan seorang ibu, hampir-hampir
merupakan suatu kebajikan."
"Mengapa engkau tidak memberikan saja sebagian kekayaanmu
kepada Edouard?"
"Bagaimana aku dapat menyarankan hal demikian kepada
seorang perempuan yang terus-menerus berbicara tentang
ketulus-ikhlasannya . . ? Dengar, ada yang memanggilku."
"Ah, Valentine," kata Maximilien, "julurkan kelingkingmu
agar aku dapat menciumnya!"
"Apakah itu akan menyebabkan engkau bahagia?"
"Tentu."
Valentine berdiri di atas bangku, lalu menjulurkan,
bukan kelingkingnya melainkan seluruh tangannya melalui
terali. Maximilien memegangnya erat-erat lalu menekannya
pada bibirnya. Tetapi hanya sejenak. Valentine segera menariknya
kembali Maximilien mendengar Valentine berlari
cepat-cepat ke dalam rumah.
BAB XXXIII
SETELAH Nyonya Danglars dan anaknya pulang, dan
ketika Valentine berada di kebun menemui Maximilien,
Villefort dan istrinya pergi ke kamar Noirtier. Mereka
duduk di kanan-kiri ayahnya setelah menyuruh Barrois
pergi, pelayan tua yang telah bekerja pada Noirtier selama
lebih dari dua puluh lima tahun.
Noirtier didudukkan di kursi rodanya. Pagi hari dia
didudukkan di sana, malam hari ia diangkat dari sana. Dari
seorang pejuang gigih yang kuat kekar, sekarang hanya tinggal
pendengaran dan penglihatannya yang masih utuh.
Seperti biasa yang terjadi pada orang-orang yang cacad, pada
matanya yang masih utuhlah sekarang bersatunya segala
kekuatan dan kecerdasannya yang dahulu menyebar ke seluruh
tubuhnya. Dia memerintah dengan matanya, mengucapkan
terima kasih dengan matanya. Sangat menyeramkan
sekali bila kita melihat matanya menyala-nyala karena
marah atau berkilat karena gembira. Hanya tiga orang yang
dapat memahami bahasa matanya. Villefort, Valentine dan
pelayan tua Bar rois. Tetapi karena Villefort hanya menemui
ayahnya kalau perlu saja, seluruh kebahagiaan orang
tua itu bertumpu pada cucunya. Berkat kecintaan, kesetiaan
dan kesabaran itulah Valentine dapat membaca semua yang
menjadi pikiran kakeknya melalui matanya.
"Ayah," kata Villefort, "alasan mengapa kami menyuruh
Barrois meninggalkan kamar dan tidak membawa Valentine
ke mari karena kami ingin membicarakan sesuatu yang
tidak baik didengar oleh seorang gadis dan seorang pelayan.
Kami yakin bahwa apa yang akan kami katakan akan
menyenangkan hati Ayah."
Mata orang tua itu tidak menunjukkan apa-apa.
"Valentine akan dikawinkan tiga bulan lagi."
"Kami kira berita ini akan menarik perhatian Ayah," kata
Nyonya de Villefort, "oleh karena Valentine rupanya
mempunyai suatu tempat yang khusus dalam hati Ayah.
Anak muda yang kami pilihkan baginya, mempunyai kekayaan
yang cukup besar dan nama yang baik dan tabiat
kebiasaannya pasti akan membahagiakan Valentine. Selain
dari itu namanya tidaklah asing bagi Ayah. Dia adalah
Tuan Franz de Quesnal, Baron dari Epinay."
Ketika Nyonya Villefort mengucapkan nama itu, pelupuk
mata orang tua itu bergerak seperti bibir yang hendak
mengucapkan sesuatu, lalu menyorotkan nyala kemarahan.
Villefort yang mengetahui akan permusuhan politik yang
pernah terjadi antara ayahnya dan ayah Franz dapat memahami
kemarahan ini, namun dia pura-pura tidak
melihatnya. "Kami sama sekali tidak lupa memikirkan
Ayah. Oleh karena Valentine juga sangat mencintai ayah,
kami telah mengatur sedemikian rupa sehingga bakal suami
Valentine setuju Ayah tinggal bersama mereka. Dengan
demikian Ayah akan mempunyai dua orang cucu yang
akan melayani Ayah."
Suatu gejolak perasaan berkecamuk dalam hati orang tua
itu. Jerit kesakitan dan kemarahan bergelora mendesak
kerongkongannya, tetapi karena tidak dapat berbicara
wajahnya saja berubah menjadi merah padam.
"Tuan d'Epinay dan keluarganya menyetujui perkawinan
ini," sambung Nyonya de Villefort. "Keluarganya hanya
terdiri dari paman dan bibinya. Ibunya telah meninggal
ketika melahirkan dia sedangkan ayahnya mati terbunuh
pada tahun 1815."
"Pembunuhan yang rahasia," tambah Villefort. "Pelakunya
tidak pernah terungkapkan, sekalipun kecurigaan
diletakkan kepada beberapa orang. Penjahat yang sebenarnya
tentu akan merasa gembira kalau dia menjadi kita, dapat
memberikan putrinya kepada Tuan d'Epinay dengan
maksud menutupi sisa-sisa kecurigaan yang mungkin masih
diletakkan kepadanya."
Noirtier dapat menguasai perasaannya dengan kekuatan
yang tidak mungkin terbayangkan masih terdapat pada
tubuh yang rapuh seperti itu. "Ya, aku mengerti," katanya
dengan matanya kepada Villefort Air mukanya menunjukkan
penghinaan dan kemarahan yang mendalam. Villefort
memahami sekali air muka ini dan menjawabnya dengan
mengangkat bahu. lalu dia mengajak istrinya pergi.
"Kami harus pergi sekarang," kata Nyonya de Villefort.
"Apakah saya akan menyuruh Edouard ke mari mengunjungi
ayah?"
Telah disepakati bahwa kalau Noirtier akan menyatakan
persetujuannya terhadap sesuatu perkara ia akan memejamkan
matanya, mengedipkannya beberapa kali kalau tidak setuju.
Dan apabila ia menghendaki sesuatu, ia akan menatap
ke langit-langit. Apabila ia menghendaki Valentine, ia akan
memejamkan mata kanannya saja, sedangkan memejamkan
mata kirinya ia meminta Barrois.
Untuk menjawab pertanyaan Nyonya de Villefort ia
mengedipkan matanya beberapa kali dengan kuat sekali.
Nyonya de Villefort menggigit bibirnya karena penolakan
ini, lalu bertanya, "Apakah saya akan memanggil Valentine?"
"Ya" jawab orang tua itu dengan memejamkan mata
kanannya seketika.
Villefort dan istrinya membungkuk memberi hormat lalu
meninggalkan kamar.
Valentine masuk tidak berapa lama kemudian. Pada
pandangannya yang pertama Valentine sudah dapat meraba
betapa berat penderitaan kakeknya dan betapa banyak yang
ingin dikatakannya,
"Oh, Kakek! Ada apa? Kakek marah?"
"Ya," katanya dengan jalan memejamkan mata.
"Kepada siapa? Kepada ayah? Tidak. Kepada ibu? Tidak.
Kepada saya barangkali?"
Noirtier memejamkan lagi matanya.
"Kakek marah kepada saya?" tanya Valentine heran.
"Sehari ini baru sekarang saya menemui Kakek. Apakah
ada yang membicarakah tentang saya kepada Kakek?”
"Ya."
"Sebentar . . . sebentar . . . Ayah dan ibu baru saja
meninggalkan kamar ini. Tentu mereka yang membuat
Kakek marah. Apakah saya harus menanyakan kepada
mereka apa kesalahan saya supaya saya dapat meminta
maaf kepada Kakek?"
"Tidak."
"Apa yang mereka katakan . . . ? Ah, saya mengerti!"
katanya dengan merendahkan suaranya dan bergeser lebih
mendekat. "Mereka berbicara tentang perkawinan saya?"
"Ya," jawab mata Noirtier dengan marah.
"Apakah Kakek takut saya akan meninggalkan Kakek?
Bahwa perkawinan itu akan membuat saya melupakan Kakek?"
"Bukan."
"Kalau begitu berarti mereka telah pula mengatakan
bahwa Tuan d'Epinay tidak berkeberatan Kakek tinggal
bersama kami?"
"Ya."
"Lalu mengapa Kakek marah?"
Cahaya mata orang tua itu tiba-tiba memancarkan sinar
kecintaan.
"Saya paham,", kata Valentine, "oleh karena Kakek sangat
mencintai saya. Kakek khawatir saya tidak akan berbahagia.
Begitu bukan?"
"Benar."
"Kakek tidak menyukai Tuan d'Epinay?"
"Tidak!Tidak!Tidak!" jawab Noirtier berkali-kali.
"Dengar Kakek," kata Valentine berlutut di hadapannya
dan memeluk Noirtier di lehernya, "saya pun tidak
menyukai Tuan d'Epinay."
Suatu kilat kegembiraan bersinar di matanya.
"Oh, kalau saja Kakek dapat menolong membatalkan
perkawinan itu! Kakek pasti akan dapat menjadi pelindung
seandainya keadaan Kakek tidak seperti ini. Tetapi
sekarang Kakek tak mungkin berbuat apa-apa kecuali turut
merasakan kebahagiaan dan kesedihan saya."
Ketika dia mengucapkan kalimat ini, Valentine melihat
suatu cahaya kecerdikan pada mata kakeknya yang ia artikan
sebagai, "Kau keliru. Aku masih dapat berbuat banyak
untukmu."
Noirtier melihat ke langit-langit sebagai tanda ia menghendaki
sesuatu.
"Apa yang Kakek kehendaki?" Valentine mulai menyebutkan
huruf-huruf menurut urutan abjad. Pada setiap huruf
ia berhenti sebentar melihat tanda pada mata kakeknya.
Pada huruf N kakeknya memberi isyarat 'ya'.
"Ah, dimulai dengan huruf N" kata Valentine. "Baik,
apakah Na? Ne? Ni? No?"
"Ya."
"No. Baik," kata Valentine. Dia pergi mengambil sebuah
kamus, lalu membukanya di hadapan Noirtier. Telunjuknya
menunjuk setiap kata yang dimulai dengan no dan setiap
kali melihat isarat mata kakeknya, Pada kata notaris, kakeknya
menyuruhnya berhenti.
"Kakek mau memanggil notaris?"
"Betul."
"Hanya itu?"
"Ya."
Valentine membunyikan bel memanggil pelayan dan
menyuruhnya meminta Tuan dan Nyonya de Villefort datang
ke kamar kakeknya.
Tuan de Villefort masuk diantar oleh Bar rois.
"Kakek ingin memanggil notaris," kata Valentine.
"Buat apa Ayah memanggil notaris?"
"Kalau Tuan Noirtier meminta notaris, ini pasti karena
beliau memerlukannya," kata Barrois yang hanya menganggap
Noirtier sebagai satu-satunya majikan. "Sebab itu
saya akan pergi memanggilnya dan membawanya sekali."
"Ayah dapat memanggil notaris kalau memang itu yang
dikehendakinya," kata Villefort kepada Noirtier, "tetapi
saya akan meminta maaf kepadanya untuk Ayah dan untuk
saya sendiri, karena notaris itu nanti mungkin akan merasa
dipermainkan."
"Sama saja," kata Barrois, "saya tetap akan memanggilnya."
Pelayan itu pergi dengan bersemangat.
Villefort duduk dan menunggu. Noirtier tidak mengacuhkannya,
tetapi dengan sudut matanya ia memberi isarat
kepada Valentine untuk tidak meninggalkan kamar.
Tiga perempat jam kemudian Barrois kembali bersama
seorang notaris.
'Tuan diminta datang oleh Tuan Noirtier de Villefort
ini," kata Villefort kepada notaris setelah saling menyalami
"Kelumpuhannya menyebabkan beliau tidak dapat berkatakata,
dan sukar sekali bagi kita mengetahui apa yang dipikirkannya."
Noirtier memanggil Valentine dengan matanya dan memintanya
dengan sangat agar dia segera berkata kepada
notaris. "Saya dapat mengerti apa yang hendak dikatakan
kakek saya," kata Valentine.
"Itu benar, Tuan," Barrois menguatkan, "semuanya,
seperti yang saya tadi ceriterakan di perjalanan."
"Tuan Noirtier memejamkan matanya apabila beliau
bermaksud mengatakan 'ya' dan mengedipkannya beberapa
kali apabila hendak mengatakan 'tidak'," kata Valentine.
"Dan bagaimanapun sulitnya tampaknya bagi Tuan mengikuti
jalan pikiran Kakek, saya akan memperlihatkan
kepada Tuan demikian rupa sehingga Tuan tidak
mempunyai keragu-raguan lagi."
"Baik," jawab notaris, "mari kita coba saja. Apakah Tuan
menerima nona ini sebagai penterjemah, Tuan Noirtier?"
"Ya," jawab mata Noirtier.
"Baik. Sekarang, mengapa Tuan memerlukan saya?"
Valentine segera menyebutkan huruf-huruf menurut urutan
abjad sampai dia disuruh berhenti pada huruf W. Lalu
dia bertanya, "Wa ... ?"
"Ya."
Valentine membuka kamus dan menunjuk kata-kata
yang dimulai dengan sukukata 'wa’. "Wasiat," katanya setelah
dia melihat isarat mata Noirtier.
"Wasiat!" kata notaris dengan kagum. "Tuan Noirtier
bermaksud membuat surat wasiat! Jelas sekali."
"Benar," kata mata Noirtier beberapa kali "Luar biasa!"
kata notaris kepada Villefort yang penuh keheranan.
"Ya, tetapi saya rasa wasiatnya akan lebih luar biasa lagi,"
jawab Villefort. "Kata-kata beliau tidak akan mungkin
keluar sendiri tanpa dipengaruhi pikiran anak saya, dan
saya khawatir dia terlibat terlalu dalam dalam urusan
warisan Tuan Noirtier sehingga tidak akan dapat menjadi
penter-jemah yang jujur."
'Tidak! Tidak!" mata Noirtier memberi isarat dengan
kuatnya.
"Maksud Ayah " tanya Villefort terkejut, "Valentine tidak
mempunyai kepentingan dalam wasiat ayah?"
“Tidak."
"Tuan de Villefort," kata notaris, "beberapa menit yang
lalu memang saya menganggap sebagai tidak mungkin
membuat surat wasiat menurut keinginan ayah Tuan, tetapi
sekarang saya rasa tidak ada yang lebih mudah dari itu. Menurut
hukum, surat wasiat ini akan sah bila dibaca di
hadapan tujuh orang saksi, disetujui isinya oleh pemberi
wasiat, lalu disegel deh notaris di hadapan semua.
Selanjutnya untuk memperkuatnya lagi agar jangan sampai
digugat orang di kemudian hari, saya akan meminta
bantuan seorang rekan, dan bertentangan dengan kebiasaan
dia akan turut hadir ketika pendiktean wasiat. Apakah Tuan
puas, Tuan Noirtier?"
"Ya," kata Noirtier gembira sekali karena keinginannya
dapat dimengerti.
Barrois yang mendengarkan seluruh pembicaraan dan
dapat merasakan lebih dahulu keinginan-keinginan
majikannya, pergi tanpa menunggu perintah memanggil
notaris seorang lagi. Villefort menyuruh memanggil
istrinya. Seperempat jam kemudian setiap orang telah
berkumpul di kamar Noirtier dan notaris kedua pun telah
hadir. Notaris yang pertama berkata kepada Noirtier,
"Apakah Tuan mengetahui berapa besar kekayaan
Tuan?"
"Ya."
"Saya akan menyebutkan beberapa jumlah berturut-turut
Hendaknya Tuan menghentikan saya apabila saya telah
sampai kepada suatu jumlah yang menurutTuan telah
mendekati kekayaan yang Tuan miliki. Apakah itu lebih
dari tiga ratus ribu frank?"
"Ya."
"Empat ratus ribu frank?"
Noirtier tidak memberi tanda apa-apa.
"Lima ratus ribu? Enam?Tujuh?Delapan? Sembilan?"
Noirtier memejamkan matanya.
'Tuan memiliki sembilan ratus ribu frank?"
"Ya."
"Kepada siapakah Tuan ingin mewariskannya? Kepada
Nona Valentine de Villefort?"
Noirtier mengedipkan matanya berkali-kali dengan tegas
agar tidak timbul salah penafsiran.
"Apakah Tuan tidak keliru?"
'Tidak!" jawab Noirtier.
"Tidak!"
Hati Valentine risau, bukan karena tidak disebut sebagai
pewaris tetapi oleh karena ia mencurigai perasaan hati
kakeknya yang mendorongnya bertindak begitu. Tetapi
Noirtier memandangnya dengan penuh perasaan cinta kasih
sehingga Valentine berteriak gembira. "Oh, saya mengerti.
Kakek hanya tidak memberi harta kekayaan saja, tetapi masih
selalu melimpahkan cintanya."
"Ya. Ya," kata Noirtier dengan isarat mata yang tidak
meragukan Valentine.
Penyisihan nama Valentine sebagai pewaris telah menimbulkan
harapan yang tidak terduga pada Nyonya de
Villefort. Dia menghampiri orang tua itu lalu bertanya, "Barangkali
kepada Edouard, Ayah hendak mewariskannya?"
Mata Noirtier berkedip dengan kuat sekali, hendak
menyatakan tidak setuju. Bahkan matanya bersinar-sinar
menunjukkan kebencian.
"Kepada putra Tuan, barangkali? Tuan de Villefort?"
tanya notaris.
"Tidak."
Kedua notaris itu saling berpandangan dalam keheranan.
Pipi Villefort dan istrinya menjadi merah. Yang seorang
karena malu, yang lain karena marah.
"Tetapi apa yang telah kami perbuat kepada Kakek?"
tanya Valentine yang juga merasa heran.
Noirtier melihat kepada tangan Valentine.
"Tangan saya?"
"Ya."
"Nah, Tuan-tuan lihat sekarang, tidak ada gunanya,"
kata Villefort. "Ayah saya yang malang ini gila."
"Saya mengerti, saya mengerti!" kata Valentine tiba-tiba.
"Perkawinan saya, bukan begitu, Kakek?"
"Ya!Ya!Ya"
"Kakek marah karena perkawinan itu?"
"Ya."
"Kakek tidak menyetujui perkawinan saya kepada Tuan
Franz d'Epinay?"
"Ya."
"Tuan mencabut hak waris cucu Tuan karena ia akan
kawin bertentangan dengan keinginan Tuan?" tanya notaris.
"Ya."
"Dan apa yang hendak Tuan lakukan dengan kekayaan
Tuan apabila Nona de Villefort kawin dengan Tuan d'Epinay?
Apakah Tuan akan mewariskannya kepada salah seorang
lain dari keluarga Tuan?"
"Tidak."
"Tuan akan mewariskannya kepada fakir miskin?"
"Ya."
"Apa pendapat Tuan tentang hal ini, Tuan de Villefort?"
tanya notaris.
"Tidak ada. Saya tahu ayah saya tidak akan pernah merubah
keputusannya. Oleh sebab itu, saya lebih baik mengundurkan
diri. Kekayaannya yang sembilan ratus ribu frank
itu boleh meninggalkan keluarga, tetapi saya tidak akan
menyerah begitu saja kepada tingkah-polah orang tua itu
dan saya akan tetap bertindak menurut keyakinan saya,"
Villefort keluar bersama istrinya, meninggalkan ayahnya
membuat wasiat seperti yang dikehendakinya.
BAB XXXIV
KETIKA Tuan de Villefort dan Nyonya keluar dari
kamar ayahnya, mereka diberitahu bahwa Count of Monte
Cristo datang berkunjung dan sekarang sedang menanti di
ruang tamu.
Setelah saling menyalami Monte Cristo berkata, "Saya
datang untuk mengingatkan Tuan kepada janji Tuan untuk
hari Sabtu itu;’
"Bagaimana mungkin kami melupakannya," kata Nyonya
de Villefort.
"Apakah Tuan akan menjamu kami di rumah Tuan di
Champs Elysees?" tanya Vlilefort.
"Bukan. Di rumah yang di pinggir kota, di Auteuil."
"Auteuil" kata Villefort sedikit terkejut. "Oh ya, saya
ingat sekarang. Istri saya mengatakan bahwa Tuan mempunyai
rumah di sana karena ke rumah itulah dia dibawa setelah
mendapat kecelakaan itu. Di jalan apa?"
"Rue de la Fontaine."
"Rue de la Fontaine!" Villefort mengulanginya dengan
suara tertahan.
"Nomor?"
"Dua puluh delapan."
"Jadi, Tuanlah yang membeli rumah Tuan de Saint-
Meran itu rupanya!"
'Tuan de Saint-Meran," tanya Monte Cristo. "Apakah
rumah itu milik beliau?"
"Benar," kata Nyonya de Villefort, "dan saya dapat
menceriterakan sesuatu yang aneh tentang rumah itu Tentu
Tuan menganggapnya sebagai rumah yang menyenangkan,
bukan?"
"Saya menganggapnya indah sekali"
"Nah, suami saya tidak pernah mau menempatinya."
"Saya tidak menyukai Auteuil," kata Villefort berusaha
menguasai dirinya.
"Saya harap hal itu tidak akan menyebabkan saya kehilangan
kebahagiaan menjamu Tuan pada Sabtu malam
nanti" kata Monte Crista
'Tidak . .. saya harap ... percayalah, saya akan berusaha
supaya dapat datang ..." jawab Villefort terbata-bata.
"Saya harap jangan ada dalih apapun juga!" kata Monte
Cristo dengan tekanan suara. "Saya mengharapkan kedatangan
Tuan pada hari Sabtu jam enam sore. Apabila
Tuan tidak datang, saya terpaksa menarik kesimpulan bahwa
ada sesuatu kisah suram dalam rumah itu yang tidak
berpenghuni selama dua puluh tahun terakhir ini"
"Saya akan hadir. Count, saya akan hadir!" kata Villefort
cepat-cepat.
"Terima kasih" jawab Monte Cristo. "Izinkan saya
sekarang mohon diri. Saya bermaksud melihat sesuatu yang
telah sering kali membuat saya memikirkannya berjamjam."
"Apakah itu?"
“Telegram. Saya malu mengatakannya, tetapi begitulah,"
"Telegram?" Nyonya de Villefort mengulanginya "Benar,
telegram. Sering sekali saya melihat tiang-tiang hitam
menjulang di atas sebuah bukit atau di tepi-tepi jalan. Dan
setiap kali saya melihatnya pikiran saya selalu teringat
kepada tanda-tanda aneh yang berjalan di udara membawa
pesan, dari seorang yang duduk di suatu ujung kepada
oiang lain yang duduk di ujung yang lain. Dia selalu
mengingatkan saya kepada jin dan bidadari atau mahlukmahluk
halus lainnya Pendeknya kepada ilmu gaib, dan ini
sangat menyenangkan. Kemudian saya mendengar bahwa
operator-operatornya hanyalah seorang biasa dengan gaji
seribu dua ratus frank setahun. Saya ingin sekali melihat
dari dekat bagaimana dia mempermainkan peralatannya
mengirimkan pesan-pesan kepada kawannya di seberang
lain."
"Kantor telegram mana yang akan Tuan kunjungi?"
tanya Villefort.
"Yang mana yang Tuan sarankan?"
"Tentu yang tersibuk, saya kira"
"Jalur dari Spanyol, bukan?"
"Ya. Tetapi sebaiknya Tuan bergegas. Sebentar lagi hari
akan gelap dan Tuan tidak akan dapat melihat apa-apa."
"Terima masih," jawab Monte Cristo. "Saya akan menceriterakan
kesan-kesan saya pada hari Sabtu nanti."
Keesokan harinya Debray meninggalkan kantornya pergi
ke rumah Danglars.
"Apakah suamimu mempunyai saham-saham Spanyol?"
tanyanya kepada Nyonya Danglars.
'Pasti. Seharga enam juta frank."
"Dia harus segera menjualnya dengan harga apa pun."
"Mengapa?"
"Karena Don Carlos melarikan diri dari Bourges dan
kembali ke Spanyol."
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Dengan cara biasa aku mengetahuinya," kata Debray
sambil mengangkat bahu.
Barones tidak menunggu diberi tahu untuk kedua kalinya.
Dia segera berlari kepada suaminya, yang pada gilirannya
cepat-cepat pergi menemui penjual saham-sahamnya
dan memerintahkan dia segera menjual saham Spanyol
dengan harga apa saja yang dapat diperolehnya. Ketika
masyarakat mengetahui bahwa Baron Danglars menjual
saham-sahamnya, harga saham-saham Spanyol segera
menurun dengan dahsyat. Danglars rugi lima ratus ribu
frank, tetapi dia beruntung dapat menjual seluruhnya.
Kalau tidak kerugiannya akan berlipat-lipat.
Sore harinya dalam koran Le Messager terpampang sebuah
berita yang berbunyi;
Berita kawat yang resmi King Don Carlos berhasil melarikan
diri dari tempat pengasingannya di Bourges dan telah kembali ke
Spanyol melalui perbatasan Catalonia. Barcelona berontak
mendukung kedatangannya.
Semalam itu tiada lagi yang dibicarakan orang kecuali
ketajaman hidung Danglars sehingga ia hanya merugi lima
ratus ribu frank dalam bencana seperti itu. Mereka yang tidak
mau menjual saham-saham Spanyolnya dan membelinya
dari Danglars, menganggap dirinya sudah hancur dan
tidak dapat tidur semalaman.
Keesokan harinya dalam koran Le Moniteur terbaca lagi
berita lain:
Berita yang dimuat kemarin dalam harian Le Messager yang
mengatakan bahwa Don Carlos melarikan diri dan
pemberontakan di Barcelona, adalah tidak benar. King Don
Carlos tidak meninggalkan Bourges dan seluruh Spanyol tetap
tenang dan aman. Kekeliruan ini disebabkan oleh cuaca buruk
yang mengangga kelancaran kantor kawat sehingga timbul salah
pengertian.
Harga saham-saham Spanyol naik lagi dua kali lipat.
Danglars yang sudah rugi lima ratus ribu frank menggigit
jari lagi, karena tidak dapat ikut beruntung dalam kenaikan
BAB XXXV
DILIHAT dari luar rumah Count of Monte Cristo di
Auteuil tidak memberi kesan menyenangkan. Tidak ada
sesuatu yang dapat menunjukkan rumah itu milik Count of
Monte Cristo yang kaya raya. Kesederhanaan ini sesuai
dengan keinginannya. Dengan tandas ia memerintahkan
pegawainya agar tidak mengadakan perubahan apa-apa di
bagian luar. Baru#telah orang memasuki rumah itu, akan
kelihatan dan terasa keindahan dan kemewahannya.
Bertuccio telah menunjukkan seleranya yang baik dan
keterampilan yang luar biasa dalam merombak, mengisi
dan mengatur rumah tersebut. Kalau tergantung kepada dia
sendiri ia mau merombak juga kebunnya
Hanya satu ruangan dalam rumah itu yang tidak dijamah
sedikit pun. Keadaannya tetap seperti sediakala. Yaitu,
ruang tidur di lantai kedua yang mempunyai pintu
tersendiri menuju ke kebun. Para pelayan yang lalu di muka
kamar itu selalu diganggu perasaan ingin tahu. Lain dengan
Bertuccio, ia selalu diganggu rasa takut, bahkan sekalisekali
berdiri bulu tengkuknya.
Tepat pada jam enam Kapten Maximilien Morrel datang
menunggang kudanya bernama Medeah. Monte Cristo menyambutnya
di ambang pintu muka dengan senyum yang
ramah.
"Mudah-mudahan saya datang paling dahulu” kata
Maximilien. "Saya ingin sekali berbicara berdua sebelum
tamu-tamu lain datang."
Tetapi tepat pada saat itu dua orang tamu berkuda dan
sebuah kereta yang ditarik sepasang kuda yang berlepotan
keringat datang. Lucien Debray segera turun dari kudanya,
berjalan ke pintu kereta, membukanya lalu mengulurkan
tangannya membantu Nyonya Danglars turun dari dalamnya.
Ketika turun sambil berpegang kepada tangan Debray
ia memberikan sebuah isarat yang halus sekali sehingga
tidak mungkin tampak oleh orang lain, kecuali oleh Monte
Cristo. Tak ada suatu gerakan mereka sekecil apa pun yang
luput dari penglihatan Monte Cristo yang tajam. Ia melihat
sebuah kertas kecil berpindah tangan dari nyonya Danglars
ke tangan Debray dengan kelancaran yang sempurna dan
menunjukkan bahwa perbuatan seperti ini telah biasa
mereka lakukan.
Baron Danglars turun sesudah istrinya. Wajahnya pucat
seakan-akan baru keluar dari dalam kubur. Tanpa sadar ia
memetik-metik bunga sebuah pohon jeruk. Duri-durinya
menusuk jari-jari tangan Danglars. Ia terkejut, mengusap
matanya seperti orang yang baru sadar dari mimpi.
"Mayor Bartolomeo Cavalcanti dan Viscount Andrea
Cavalcanti!" kata Baptistin memberitahukan kedatangan
mereka
Mayor Cavalcanti muncul dengan kemeja yang baru saja
keluar dari pabrik, janggut yang baru dipangkas, kumis abuabu
dan sorot mata penuh keyakinan diri, berpakaian
seragam mayor dengan dihiasi lima buah bintang
kehormatan. Di sebelahnya, putranya tercinta berpakaian
serba baru dengan senyum lebar. Viscount Andrea
Cavalcanti. Sambil berdiri bercakap-cakap. Mata
Maximilien, Debray dan Chateau-Renaud berpindahpindah
dari ayah ke anak. Tentu saja perhatiannya lebih
tertarik kepada anaknya.
"Cavalcanti!" kata Debray.
"Nama yang bagus" jawab Maximilien.
"Benar,'' sambung Chateau-Renaud, "orang-orang Italia
rata-rata mempunyai nama yang bagus, tetapi mereka tidak
mempunyai selera berbusana."
"Engkau memang orang yang sukar merasa puas," jawab
Debray. "Lihat, bajunya baru sekali dan dibuat penjahit
yang termashur."
"Itulah yang aku tidak sukai," kata Chateau Renaud
Anak muda itu seperti baru sekali ini berpakaian baik
seumur hidupnya."
"Siapa mereka itu?" tanya Danglars kepada Monte Crista
"Mayor Cavalcanti dengan putranya.'
"Belum pernah saya dengar nama itu sebelumnya."
"Tuan memang masih asing dengan bangsawan
bangsawan Italia. Cavalcanti adalah keturunan pangeranpangeran."
"Bagaimana dengan kekayaannya?"
"Sangat banyak."
"Apa yang mereka lakukan di sini?"
"Mereka telah berusaha tanpa hasil membelanjakan seluruh
kekayaannya. Mereka mau mengambil kredit dari
Tuan. Begitulah katanya ketika mereka datang kepada saya
dua hari yang lalu. Saya mengundang mereka sekarang
demi kepentingan Tuan terutama Saya akan perkenalkan
Tuan kepada mereka."
"Rupanya mereka dapat berbicara Perancis fasih sekali.”
"Putranya mendapat pendidikan di Perancis. Akan Tuan
lihat nanti bahwa ia sangat tertarik kepada wanita-wanita
Perancis. Hatinya telah tetap ingin mendapatkan seorang
gadis Paris untuk istri."
"Gagasan yang baik sekali !" kata Danglars menyindir.
Nyonya Danglars memandang suaminya dengan sorot
mata yang biasanya diikuti dengan badai kemarahan.
Tetapi sekali ini ia dapat menahan diri.
"Tuan dan Nyonya de Villefort!" teriak Baptistin.
Sekalipun telah berusaha keras menguasai dirinya,
namun Villefort masih jelas tampak gugup. Monte Cristo
merasakan tangannya gemetar ketika mereka berjabatan.
"Hanya wanita yang dapat menyembunyikan
perasaannya," kata Monte Cristo dalam hatinya ketika dia
melihat Nyonya Danglars tersenyum kepada Villefort dan
memeluk istrinya.
Monte Cristo melihat Bertuccio berdiri di ruang sebelah
yang lebih kecil. Dia menghampirinya dan bertanya, "Ada
yang kau perlukan, Bertuccio?"
"Tuan belum mengatakan berapa kursi yang harus saya
sediakan."
“Ah, benar juga. Tetapi kau dapat menghitungnya sendiri
sekarang"
"Apakah semua tamu telah hadir, Tuan?"
"Sudah."
Bertuccio melihat tamu-tamu melalui pintu yang setengah
terbuka. Mata Monte Cristo mengawasinya dengan
cermat
"Ya, Tuhan!" Bertuccio berteriak terkejut
"Mengapa?"
"Nyonya itu, Tuan."
"Yang mana?"
"Yang memakai baju putih dan perluasan yang banyak
yang rambutnya pirang."
"Nyonya Danglars?"
"Saya tidak mengetahui namanya, tetapi dialah orangnya,
Tuan. Dialah wanita yang di kebun, wanita yang hamil
itu! Wanita yang menantikan kedatangan..."
"Kedatangan siapa?"
Tanpa berkata Bertuccio mengarahkan telunjuknya kepada
Villefort. "Oh!Oh!" akhirnya dia dapat berkata lagi.
"Apakah Tuan melihatnya?"
"Apa? Siapa?"
"Dia!"
"Tuan de Villefort, Jaksa Penuntut Umum? Tentu saja
aku lihat!"
"Bukankah saya telah membunuhnya? Dia tidak mati?"
"Tentu saja dia tidak. Engkau melihatnya sendiri. Engkau
tidak berhasil menikamnya di antara rusuk keenam dan
ketujuh di dada sebelah kiri sebagaimana lazimnya dilakukan
orang-orang Corsica, tetapi mungkin sedikit di atasnya
atau di bawahnya Sekarang tenangkan dirimu; Tuan dan
Nyonya de Villefort’ dua; Tuan dan Nyonya Danglars,
empat; tuan Chateau-Renaud, Tuan Debray, dan Tuan
Morrel, tujuh, Mayor Cavalcanti, delapan."
"Delapan," kata Bertuccio mengulang.
"Nanti dulu, Berturicco, jangan cepat-cejpat pergi. Engkau
mengabaikan seorang tamu lagi Lihat sedikit ke sebelah
kiri sana, Tuan Andrea Cavalcanti, anak muda yang sedang
menghadap ke sini."
Sekali ini Bertuccio hampir saja berteriak, tetapi pandangan
Monte Cristo yang tajam mencegahnya.
"Benedetto!" katanya pelan-pelan.
"Sudah setengah tujuh, Bertuccio," kata Count of Monte
Cristo. "Aku telah meminta supaya hidangan disiapkan
pada waktu ini. Engkau tahu aku tidak suka menunggu."
Monte Cristo kembali ke ruangan tamu, dan Bertuccio
kembali ke tempatnya dengan tersaruk-saruk. Sesekali ia
berhenti dulu bersandar ke dinding mengumpulkan tenaga.
Lima menit kemudian, pintu ruang itu terbuka lebarlebar
dan Bertuccio muncul lalu berteriak dengan menguatkan
diri "Hidangan sudah siap!"
Monte Cristo membimbing Nyonya de Villefort, "Tuan
de Villefort," katanya, "sudikah Tuan menemani Nyonya
Danglars?"
Villefort menurut dan tamu-tamu lainnya masuk ke dalam
ruang makan.
Hidangannya luar biasa. Tetapi Monte Cristo bermaksud
lebih menggugah keheranan tamu-tamunya daripada selera
makannya. Dia menjamu tamunya dengan cara Timur seperti
dalam dongeng-dongeng Arab. Segala macam buahbuahan
yang dapat didatangkan dari empat penjuru dunia
memenuhi jambangan-jambangan Cina dan baki-baki
buatan Jepang. Burung-burung yang langka dan jenis-jenis
ikan tersusun rapi di atas-piring-piring perak. Sedangkan
berbagai anggur dari berbagai negeri ditempatkan dalam
wadah-wadah yang indah yang dapat menambah selera.
Kesemuanya ini dihidangkan di hadapan mata tamutamunya
yang keheran-heranan.
''Sangat mengagumkan," kata Chateau-Renaud, "tetapi
yang paling mengagumkan, Count, adalah kecepatan dilaksanakannya
perintah-perintah Tuan. Tuan membeli rumah
ini barangkali baru lima atau enam hari yang lalu, tetapi
dalam waktu yang singkat sekali segala-galanya telah disulap.
Rumah ini pernah tidak berpenghuni sekurang-kurangnya
selama sepuluh tahun. Keadaannya menyedihkan
sekali, pintu-pintu dan jendela-jendelanya selalu tertutup
rumput di halaman tumbuh tinggi tidak terpelihara. Pendeknya,
seandainya saja rumah ini bukan milik mertua
seorang Jaksa Penuntut Umum, orang pasti akan menganggapnya
sebagai rumah yang terkutuk karena di dalamnya
pernah terjadi kejahatan yang terkutuk pula,"
Villefort yang selama ini tidak mau menjamah empat
gelas anggur yang di hadapannya, ketika mendengar ini
cepat-cepat mengambil sebuah dart meminumnya habis
sekali teguk.
Monte Cristo menunggu sebentar. Lalu, di tengah-tengah
kediaman dia berkata, "Aneh sekali, tetapi kesan itulah
yang ada pada saya ketika untuk pertama kalinya saya
memasuki rumah ini. Ada sebuah kamar, sebuah kamar
tidur biasa, yang dindingnya dilapisi kain damas merah,
yang entah apa sebabnya menimbulkan sesuatu perasaan
yang menyeramkan. Karena kita telah selesai makan,
barangkali Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya ingin
melihatnya. Kita dapat menikmati kopi kita nanti di
kebun." Dia memandang tamu-tamunya satu persatu
seakan-akan bertanya. Nyonya de Villefort berdiri, dan
yang lain-lainnya mengikutnya.
Villefort dan Nyonya Danglars tetap duduk untuk
sementara sambil saling berpandangan. "Kita harus ikut
mereka," kata Villefort, sambil berdiri dan menawarkan
bimbingannya.
Tak ada yang aneh dalam kamar itu, kecuali bahwa
sekalipun sudah malam kamar itu tidak diterangi dan
berbeda dengan ruangan-ruangan yang lain, kamar ini tidak
mengalami perubahan sedikit pun. Segala-galanya masih
tetap seperti keadaan semula. Kotor dan tidak terpelihara.
Tamu-tamu hampir semua sependapat dengan Monte
Cristo bahwa kamar ini memang menyeramkan.
"Lihat," kata Monte Cristo, "bagaimana anehnya letak
tempat tidur itu dan betapa suramnya pelapis dinding yang
berwarna darah itu. Perhatikan juga kedua potret yang telah
menguning itu, bibirnya yang kebiru-biruan dan matanya
yang seperti ketakutan, seakan-akan hendak berkata: Aku
menyaksikan segalanya!’ Dan ini belum semua."
Monte Cristo berjalan lebih ke dalam lalu membuka sebuah
pintu yang agak tersembunyi. "Perhatikanlah tangga
kecil ini, dan bagaimana pendapat Tuan-tuan. Dapatkah
Tuan membayangkan seseorang turun dengan hati-hati
dalam kegelapan malam, sambil membawa sesuatu yang
ingin dia sembunyikan dari pandangan orang lain, kalau
tidak dari pandangan Tuhan?"
Nyonya Danglars bergantung setengah pingsan di tangan
de Villefort dan Villefort sendiri terpaksa bersandar kepada
dinding.
"Mengapa, Nyonya?" tanya Debray terkejut. "Wajah
Nyonya pucat sekali!"
"Sederhana sekali," jawab Nyonya de Villefort, "Count of
Monte Cristo sengaja menceriterakan sesuatu yang sangat
menyeramkan agar kita semua mati ketakutan."
"Apakah benar Nyonya ketakutan?" tanya Monte Cristo.
'Tidak," jawab Nyonya Danglars, "tetapi khayalan Tuan
itu seakan-akan nyata."
"Saya akui bahwa itu hanya permainan daya khayal
saja," jawab Monte Cristo tersenyum. "Sebenarnya kita
dapat dengan mudah mengkhayalkannya sebagai sebuah
kamar tidur yang terhormat dari seorang ibu, ranjang ini
sebagai saksi lahirnya seorang bayi, dan pintu dan tangga
ini semata-mata dibuat agar dokter, perawat atau mungkin
juga ayahnya sendiri dapat mengambil bayi itu tanpa mengganggu
tidur sang ibu."
Sekarang, Nyonya Danglars benar-benar jatuh pingsan
setelah dia memekik sebentar.
"Nyonya Danglars sakit," kata Villefort. "sebaiknya
beliau dibawa ke dalam keretanya."
Dia tidak di bawa ke dalam keretanya, tetapi ke dalam
kamar lain yang bersebelahan dengan kamar tidur itu.
Monte Cristo meneteskan cairan merah ke dalam mulutnya,
dan Nyonya Danglars segera sadar kembali. Monte Cristo
mencari Danglars, tetapi bankir ini yang tidak mempunyai
minat mendengarkan khayalan-khayalan sudah berada di
dalam kebun berbincang-bincang dengan Mayor Cavalcanti
tentang proyek pembuatan jalan kereta api antara Livorno
dan Florence. Monte Cristo membimbing Nyonya Danglars
ke dalam kebun di mana mereka menemukan Danglars
duduk minum kopi di antara Mayor Cavalcanti dan anaknya.
"Benarkah saya telah menakutkan Nyonya?" tanya
Monte Cristo.
'Tidak, Count. Seperti Tuan ketahui, segala sesuatu akan
memberikan kesan kepada kita sesuai dengan rangka
pikiran kita pada waktu itu."
"Dan selanjutnya," kataVillefort dengan tawa terpaksa,
"sebuah kecurigaan yang kecil saja sudah cukup untuk..."
"Tuan boleh percaya atau tidak," kata Monte Cristo,
"tetapi saya yakin bahwa dalam rumah ini sudah terjadi
suatu kejahatan."
"Harap Tuan hati-hati" kata Nyonya de Villefort. "Ada
Jaksa Penuntut Umum di antara kita."
"Benar," kata Monte Cristo, "dan saya akan
memanfaatkan kehadirannya dengan membuat pernyataan
ini di hadapan saksi-saksi."
"Semua ini menarik sekali," kata Debray. "Kalau benar
pernah terjadi suatu kejahatan dalam rumah ini, hal Ini
akan merusak pencernaan makanan kita malam ini."
"Di sini pernah terjadi suatu kejahatan," kata Monte
Cristo dengan tegas, "Mari ikut saya, Tuan terutama sekali
Tuan, Tuan de Villefort. Agar pernyataan saya itu sah,
harus saya lakukan di hadapan yang berwenang."
Monte Cristo memegan.g Villefort dan Nyonya Danglars
di tangannya masing-masing dan menarik mereka ke sebuah
sudut yang gelap dalam kebun itu. Tamu-tamu yang lain
mengikuti dari belakang.
“Di sini, tepat di tempat ini," kata Monte Cristo,
menginjak-nginjak tanah dengan ujung sepatunya, "dengan
maksud menyuburkan kembali pepohonan yang telah tuatua
ini, saya menyuruh orang memasukkan kompos ke
dalam tanah. Ketika mereka sedang menggali di sini,
mereka menemukan sebuah peti kayu dan di dalamnya ada
kerangka bayi yang baru dilahirkan. Saya harap Tuan-tuan
tidak menganggap ceritera ini sebagai khayalan."
Monte Cristo merasakan tangan Nyonya Danglars
menjadi kaku dan pergelangan Villefort gemetar.
"Bayi yang baru dilahirkan!" ulang Debray. "Kejahatan
yang keji sekali!"
"Apa hukuman untuk pembunuh anak di sini ?”
Mayor Cavalcantt polos.
"Dipenggal kepalanya," kata Danglars.
"Benarkah begitu, Tuan de Villefort ?" tanya Monte
Cristo.
"Benar" jawab Villefort dengan suara yang hampir tidak
menyerupai suara manusia.
Monte Cristo telah melihat bahwa kedua orang yang
sengaja ia jebak untuk menyaksikan pertunjukan ini telah
sampai pada kekuatannya. Dia tidak bermaksud untuk
mendorongnya lebih jauh lagi. Karena itu cepat-cepat ia
berkata, ”Kita melupakan kopi kita”.
Dia membawa tamu-tamunya menuju ke sebuah meja
yang telah ditempatkan di tengah-tengah pekarangan.
Villefort mendekati Nyonya Danglars dan berbisik kepadanya,
"Kita harus bertemu besok."
"Di mana?"
"Di kantorku, tempat yang paling aman."
"Aku akan datang."
BAB XXXVI
KETIKA malam telah larut Nyonya de Villefort
menyatakan keinginannya untuk kembali ke Paris. Nyonya
Danglars tidak berani mendahului pamit sekalipun hatinya
sangat resah. Atas permintaan istrinya de Villefort memulai
meminta diri kepada tuan rumah, dan yang lain segera
menyusul.
Ketika Andrea Cavalcanti hendak menaiki keretanya,
sebuah tangan menepuk bahunya. Dia menoleh dengan
sangkaan bahwa Danglars atau Monte Cristo hendak
menyampaikan sesuatu. Tetapi bukan salah satu dari
mereka yang dia lihat di hadapannya sekarang Seraut wajah
coklat karena bakaran sinar matahari dan berjanggut
dengan sepasang mata yang berkilat-kilat dibarengi senyum
menyindir. Senyuman yang memperlihatkan sebaris gigi
putih, tajam-tajam bagaikan gigi anjing hutan. Mungkin
karena ia segera mengenali wajah ini atau mungkin juga
karena pemunculannya yang mendadak, Andrea terkejut
mundur. "Mau apa engkau?" tanyanya.
"Aku mau agar engkau tidak membiarkan aku terpaksa
jalan kaki ke Paris. Aku sangat letih dan lapar, dan karena
aku tidak makan sebaik yang engkau makan tadi di perjamuan,
aku hampir-hampir tidak dapat berdiri. Aku mau
agar engkau membawa aku ke kota dalam keretamu yang
bagus ini"
Wajah Andrea memucat tetapi ia tidak berkata
"Itulah keinginanku," lanjut orang itu sambil memasukkan
kedua tangannya ke dalam saku bajunya seraya menatap
Andrea penuh ancaman. ''Engkau dapat memahaminya,
Benedetto?"
Mendengar nama ini disebut, Andrea mendekati saisnya
lalu berkata, "Orang ini baru kembali dari tugas yang aku
berikan kepadanya dan akan memberikan laporan. Engkau
pergi sendiri dan sewalah sebuah kereta."
Sais memandang keheranan tetapi tidak membantah.
"Baik, masuk!" kata Andrea kepada orang yang mendesak
itu. Sampai melampaui rumah yang terakhir dalam
lingkungan itu ia berdiam tanpa berkata sedangkan kawannya
duduk di sebelahnya sambil tersenyum simpul tetapi
juga tidak berkata-kata. Setelah keluar dari daerah Auteuil,
Andrea melihat ke sekeliling untuk meyakinkan bahwa tak
ada orang yang akan dapat melihat atau mendengar
mereka. Ia menghentikan kudanya laki berpaling kepada
orang di-sebelahnya. "Mengapa engkau datang
mengganggu?"
"Dan engkau, anak muda, mengapa engkau tidak mempercayai
aku?"
"Apa sebab engkau berpikir aku tidak mempercayaimu?"
"Karena ketika kita akan berpisah di Pont du Var engkau
mengatakan akan pergi ke Piedmont dan Tuscany.
Kenyataannya engkau pergi ke Paris."
"Apa salahnya?"
"Tak ada salahnya. Bahkan aku berpikir mungkin baik
buatku."
"Aha! Engkau bermaksud memeras?"
"Ucapanmu itu kasar sekali!"
"Engkau keliru, Tuan Caderousse. Awas, aku peringatkan'
"Jangan suka marah kepada kawan lamamu ini, anak
muda. Engkau bertanggung jawab untuk tuntutanku sekarang
kepadamu."
Jawaban Caderouse membuat amarah Andrea menurun.
Dia menjalankan lagi keretanya.
"Apakah salahku kalau aku beruntung sedangkan engkau
tidak?"
"Artinya nasibmu telah baik sekarang. Kereta ini bukan
sewaan, dan bajumu pun bukan baju sewaan? Bukan main!
Aku tahu hatimu baik. Kalau engkau mempunyai dua buah
mantel aku yakin engkau akan memberikan satu kepadaku.
Dahulu biasa aku memberimu sebagian dari makananku
bila engkau lapar."
"Benar," jawab Andrea.
"Nafsu makanmu dahulu baik sekali," kata Caderousse.
"Apakah sekarang masih sebaik dahulu?"
"Tentu" jawab Andrea tertawa. "Pasti hidangan di rumah
pangeran itu lezat sekali."
"Dia bukan pangeran, hanya seorang count."
"Kaya?"
"Kaya sekali, tetapi jangan engkau berpikir yang bukanbukan
tentang dia. Dia bukan orang yang gampang
dipermainkan."
"Jangan khawatir, aku tidak mempunyai niat apa-apa
terhadapnya. Engkau boleh menanganinya sendiri. Tetapi,"
tambah Caderousse dengan senyum yang tidak
menyenangkan, "tidak berarti bahwa engkau boleh
melakukannya dengan cuma-cuma. Engkau mengerti
bukan?"
"Berapa yang engkau butuhkan?"
"Aku rasa, seratus frank sebulan sudah cukup, tetapi…”
"Tetapi apa?"
"Tetapi itu hanya pas-pasan saja. Dengan seratus lima
puluh sebulan aku akan merasa bahagia."
"Ini dua ratus frank," kata Andrea sambil menyerahkan
uang.
"Terima kasih " jawab Caderousse.
"Datanglah tanggal satu setiap bulan. Selama aku menerima
tunjanganku, engkau pun akan menerima tunjangan
dariku."
"Aku tidak keliru," kata Caderousse lagi. "Memang
engkau anak yang baik dan alangkah bagusnya apabila
nasib baik selalu menimpa orang-orang seperti engkau. Sekarang,
ceriterakanlah tentang keberuntunganmu itu."
"Buat apa mengetahuinya?"
"Rupanya engkau masih tidak percaya."
"Bukan begitu ... Aku bertemu dengan ayahku."
"Ayah kandungmu?"
"Tak jadi soal apakah dia ayah kandung atau bukan selama
dia mau memberiku uang."
"Siapa nama ayahmu itu?"
"Mayor Cavalcanti."
"Apakah dia merasa puas dengan pertemuan antara ayah
dan anak ini?"
"Sampai sejauh ini tampaknya dia merasa puas."
"Siapa yang mempertemukan kalian?"
"Count of Monte Cristo."
"Yang menjamumu malam ini?"
"Ya."
"Dengar, mengapa engkau tidak berusaha agar dia mau
menyewaku sebagai kakekmu, karena tampaknya dia
berusaha dalam bidang menghubung-hubungkan
kekeluargaan?"
"Saya akan membicarakannya nanti dengan dia.
Sementara ini, apa rencanamu?"
‘Terima kasih untuk perhatianmu itu," jawab
Caderousse.
"Karena engkau pun menaruh banyak perhatian terhadap
diriku," kata Andrea, "rasanya aku pun mempunyai hak
untuk memperoleh beberapa keterangan tentang diri mu."
"Benar juga katamu. Baik. Aku akan menyewa sebuah
kamar di rumah yang terhormat, membeli beberapa helai
pakaian yang pantas, mencukur kumis dan janggut setiap
liari, lalu membaca koran di salah satu kedai minuman.
Malam hari menonton teater. Aku akan hidup seperti seorang
pensiunan pembuat roti sesuai dengan idamanku
sejak dahulu."
"Baik sekali. Bila engkau dapat menjalankan rencanamu
itu dan berkelakuan baik, segala-galanya akan berjalan
dengan lancar. Sekarang karena engkau telah mendapatkan
apa yang engkau inginkan silakan turun dan menghilanglah!"
'Tidak, kawan."
"Mengapa tidak?"
"Karena pakaianku compang-camping. Aku sama sekali
tidak mempunyai surat keterangan dan aku mempunyai dua
ratus frank dalam saku baju. Aku pasti ditangkap di batas
kota. Untuk membebaskanku dari segala tuduhan aku akan
terpaksa mengatakan bahwa uang itu aku terima sebagai
pemberian darimu dan ini akan mengakibatkan
penyelidikan lebih lanjut Akhirnya tentu mereka akan
mengetahui bahwa aku meninggalkan penjara Toulon tanpa
pamit. Lalu mereka pasti akan mengembalikan aku ke sana
dan . .. berakhirlah impianku untuk hidup sebagai
pensiunan pembuat roti. Tidak, kawan, aku lebih senang
untuk menetap dengan terhormat di Paris."
Andrea mengerenyitkan dahinya lalu menghentikan
kudanya. Sambil melihat ke sekelilingnya tangannya
bergerak menelusur saku jasnya, sampai menyentuh pelatuk
sebuah pistol kecil di dalamnya. Dalam pada itu,
Caderousse yang tidak pernah melepaskan
kewaspadaannya, menggerakkan pula tangan kanannya ke
pinggangnya, dengan hati-hati mengambil sebilah pisau
Spanyol yang selalu dia bawa untuk menjaga segala
kemungkinan. Kedua orang itu saling memahami gerakan
masing-masing. Andrea segera memindahkan tangannya ke
kumisnya yang merah, lalu mengelus-elusnya untuk
beberapa saat.
"Baik," akhirnya dia berkata, "kita akan pergi ke Paris
bersama-sama. Tetapi bagaimana engkau dapat melampaui
perbatasan tanpa mencurigakan. Dengan pakaianmu seperti
itu, aku pikir engkau akan lebih aman berjalan kaki
daripada berada dalam keretaku."
"Tunggu," kata Caderousse, "begini." Dia mengambil
topi Andrea dan memakainya lalu mengenakan mantel sais
yang tertinggal.
"Bagaimana dengan kepalaku?" tanya Andrea. "Angin
sangat kencang malam ini sehingga dengan mudah dapat
menerbangkan topimu."
Mereka dapat melalui perbatasan tanpa kesulitan.
Andrea menghentikan keretanya di pinggir jalan tidak jauh
dari perbatasan, lalu Caderousse meloncat turun.
"Kembalikan topiku dan mantel saisku itu."
"Apakah engkau mengharapkan aku sakit kedinginan?"
“Sampai bertemu lagi, Benedetto...” jawab Caderousse
Lalu dia menghilang dalam kegelapan malam.
Andrea mengeluh, “Rupanya tidak mungkin orang
mendapat kesenangan yang sempurna dalam dunia ini."
BAB XXXVII
DALAM perjalanan pulang dari rumah Montc Cristo di
Auteuil, Debray tiba di muka pintu rumah keluarga
Danglars beberapa saat setelah Nyonya Danglars datang.
Seperti layaknya seorang yang sudah mengenal betul
keadaan rumah itu ia segera memasuki pekarangan lalu
menyerahkan kudanya kepada seorang pelayan dan dia
menyodorkan tangan untuk membantu Nyonya Danglars
turun dari keretanya.
Di muka pintu kamar tidurnya mereka bertemu dengan
Cornelie, pelayan kepercayaan Nyonya Danglars.
"Apa kerja anakku selama kutinggalkan?" tanya Nyonya
Danglars.
"Belajar dan sekarang telah tidur."
“Tetapi aku mendengar suara piano?"
"Nona d'Armilly. Dia bermain untuk nona Eugenie."
"Oh," kata Nyonya Danglars. "Tolong bantu aku mengganti
pakaian."
Mereka memasuki kamar tidur. Debray merebahkan diri
di atas kursi panjang.
"Tuan Lucien," teriak Nyonya Danglars dari kamarnya,
"benarkah Eugenie selama ini tidak mau berbicara dengan
Tuan?"
"Aku bukan satu-satunya orang yang mengeluh tentang
itu," jawab Debray sambil bermain-main dengan anjing
kecil yang tampaknya sudah mengenal betul tamu keluarga
ini.
“Ya, aku tahu. Tetapi aku kira ia akan segera berubah
dalam beberapa hari ini dan aku yakin dia akan datang ke
kantormu."
"Mengapa?"
"Untuk meminta diantar menonton opera! Aku tidak
pernah melihat orang yang begitu tergila-gila kepada musik.
Rasanya agak aneh bagi gadis muda sebaya dia!"
Debray tersenyum dan menjawab, "Suruhlah dia datang
dengan seijin orang tuanya dan kami akan mengusahakan
karcis baginya sekalipun sebenarnya kami tidak mempunyai
uang berkelebihan untuk membelikan karcis bagi gadis berbakat
seperti dia!"
"Kurasa aku tidak memerlukanmu lagi, Cornelie" kata
Nyonya Danglats.
Cornelie keluar. Beberapa saat kemudian Nyonya
Danglars pun keluar dari kamarnya dalam pakaian tidur
yang bagus sekali, kemudian duduk di sebelan Debray. Dia
mengusap-ngusap anjing kecilnya, sedangkan pikirannya
entah di mana. Debray memperhatikannya tanpa mengucapkan
kata sepatah pun untuk beberapa saat. Akhirnya
dia berkata, "Jawablah terus terang, Hermine. Kukira ada
sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Benar?”
"Tidak. Tak ada apa-apa." Nyonya Danglars berdiri
menarik napas panjang-panjang kemudian memperhatikan
dirinya dalam cermin di tembok. "Rupaku kusut sekali
malam ini," katanya.
Debray sudah akan berdiri juga ketika tiba-tiba pintu
terbuka dan Baron Danglars masuk ruangan. Nyonya
Danglars membalikkan badannya lalu melihat kepada
suaminya tanpa usaha menyembunyikan kekagetannya.
"Selamat malam, Nyonya," kata Danglars. 'Selamat
malam Tuan Debray."
Nyonya Danglars mengira bahwa kedatangan suaminya
yang tiba-tiba ini untuk menyesali kata-kata dan sikapnya
yang kusut sehari itu. Dengan tidak mengacuhkan
suaminya, Nyonya Danglars berkata kepada Debray,
“Tolong bacakan sesuatu bagiku, Tuan Debray."
Debray yang merasa kikuk karena kedatangan yang tibatiba
itu, kini menjadi tenang kembali setelah dia melihat
Nyonya Danglars pun tetap tenang. Dia bergerak hendak
mengambil sebuah buku.
"Maaf, Nyonya," kata Danglars, "engkau akan letih sekali
kalau tetap jaga sampai larut sekali dan harap diingat
bahwa Tuan Debray tinggal jauh sekali dari sini."
Debray bagaikan mendengar geledek. Tidak karena nada
suara baron yang tenang sekali atau karena kata-katanya
yang sopan berlebihan, tetapi di balik ketenangan dan
kesopanannya itu ia dapat merasakan sesuatu yang tidak
biasa ada pada Danglars. Yaitu keteguhan hatinya untuk
sekali ini tidak menurut kepada keinginan istrinya.
Nyonya Danglars pun terkejut. Keterkejutannya itu
tergambarkan pada sorot matanya. Kalau saja Danglars
melihat sorot mata ini pasti ia akan merubah sikapnya lagi.
Tetapi kebetulan sekali ketika itu perhatiannya sudah ditujukan
kepada berita-berita keuangan dalam surat kabar.
Pandangan Nyonya Danglars yang keras itu tidak berpengaruh
apa-apa.
'Tuan Debray," kata Nyonya Danglars, "saya ingin
meyakinkan Tuan bahwa saya sama sekali tidak mengantuk
dan saya ingin membicarakan banyak hal dengan Tuan
pada malam ini. Saya harap Tuan mau mendengarkannya
sekali pun Tuan terpaksa tertidur sambil berdiri."
"Saya siap, Nyonya," jawab Debray dengan tenang dan
dingin,
"Tuan Debray yang baik," kata Danglars menyela, "saya
harap Tuan jangan memaksakan diri mendengarkan
kedunguan istri saya malam ini. Tuan dapat
menangguhkannya sampai esok hari. Malam ini biarlah
saya yang mengawaninya karena saya mempunyai banyak
hal yang penting yang ingin saya bicarakan dengan dia."
Sekali ini pukulan Danglars langsung sekali sehingga
keduanya, baik Nyonya Danglars maupun Debray sangat
terkejut tanpa berkata sepatah pun. Mereka saling berpandangan
seakan-akan masing-masing mengharapkan bantuan
dari yang lainnya untuk menangkis serangan Danglars ini.
Namun kepala keluarga ini tetap unggul.
"Jangan Tuan berpikir saya mengusir Tuan," kata
Danglars selanjutnya. "Soalnya, kebetulan sekali beberapa
hal yang tidak diduga menyebabkan saya perlu sekali
berbicara dengan istri saya malam ini Keinginan saya ini
jarang sekali terjadi, sehingga saya yakin Tuan tidak akan
berkeberatan’ Debray mengucapkan beberapa kata dengan
terbata-bata, membungkuk lalu pergi meninggalkan mereka.
"Tak masuk akal," katanya sendiri, 'bagaimana suami
yang tampaknya sangat dungu itu masih dapat menunjukkan
kekuasaannya dengan mudah?"
Setelah Debray pergi, Danglars mengambil tempat di
atas kursi panjang. Ia menutup buku yang ditinggalkan terbuka
lalu dengan sikap acuh tak acuh bermain-main dahulu
dengan anjing. Tetapi anjing itu tidak seramah seperti kepada
Debray, bahkan ia mencoba menggigitnya. Danglars
mengangkatnya pada tengkuknya lalu melemparkannya ke
kursi yang lain. Anjing yang terperanjat dan ketakutan itu
menciutkan badannya bersembunyi di balik bantal.
"Ada kemajuan sekarang," kata Nyonya Danglars
menyindir. ”Biasanya engkau hanya kasar, malam ini sudah
meningkat tidak sopan."
"Sebabnya karena perasaan hatiku sedang tidak enak."
Nyonya Danglars menatap suaminya dengan pandangan
menghinakan. Biasanya Danglars yang angkuh itu menjadi
lunak apabila ia menerima sorot mata seperti itu, tetapi
sekali ini ia seakan-akan tidak memperhatikannya.
"Apa urusanku dengan perasaanmu itu?" tanya Nyonya
Danglars tersinggung oleh sikap suaminya yang acuh tak
acuh. "Bawalah perasaanmu itu ke kamar tidurmu atau ke
kantormu, dan karena engkau mempunyai pegawai-pegawai,
muntahkanlah kepada mereka."
"Nasihat buruk yang tidak akan kuturuti," jawab
Danglars. "Pegawai-pegawaiku semuanya orang jujur yang
bekerja demi keuntunganku dan yang telah aku bayar di
bawah semestinya dibandingkan dengan keuntungankeuntungan
yang mereka hasilkan bagiku. Tidak, aku tidak
akan melampiaskan amarahku kepada mereka. Aku akan
memuntahkannya kepada mereka yang memakan
makananku, menggunakan kuda-kudaku dan menghancurkan
keuntungan-keuntunganku."
"Dan siapakah orang-orang ini? Katakan dengan jelas."
"Engkau telah cukup mengetahuinya, tetapi bila engkau
bersikeras menyangkalnya baiklah aku jelaskan bahwa aku
baru saja merugi sebanyak tujuh ratus ribu frank dalam
saham-saham Spanyol."
"Salahkukah kalau engkau merugi tujuh ratus ribu
frank?"
"Yang jelas bukan salahku."
"Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya," kata Nyonya
Danglars dengan keras dan tajam, "aku minta jangan
engkau membicarakan lagi soal keuangan dengan aku,
karena itu adalah bahasa yang tidak pernah dipelajarkan
baik oleh orang tuaku maupun oleh suamiku yang
pertama."
"Aku yakin mereka tidak mempelajarkannya, karena
mereka orang-orang miskin. Sekalipun demikian aku kira
engkau mempunyai perhatian terhadap kegiatan keuanganku."
"Apa yang membuat engkau berpikir begitu?"
"Oh, tidak sukar menjelaskannya. Contohnya, bulan
Februari yang lalu engkau membicarakan tentang sahamsaham
Haiti. Engkau mengatakan bahwa engkau bermimpi,
ada sebuah kapal yang berlayar menuju Le Harve
membawa berita bahwa pembayaran-pembayaran untuk
saham itu yang diperkirakan orang akan ditangguhkan,
akan dibayar segera sepenuhnya. Aku percaya kepada
mimpimu itu. Karena itu secara diam-diam aku membeli
semua saham Haiti yang dapat kuperoleh dan aku
beruntung sebanyak empat ratus ribu frank. Dari
keuntungan itu engkau menerima seratus ribu frank. Apa
yang kaulakukan dengan uang itu, bukan urusan ku.
"Dalam bulan Maret, pemerintah akan menentukan
pilihan siapa yang berhak mengelola sebuah jaringan kereta
api. Ada tiga buah perusahaan yang dicalonkan, ketiganya
memberikan jaminan yang sama kepada pemerintah.
Engkau mengatakan kepadaku bahwa nalurimu
memberitahukan hak itu akan diberikan kepada perusahaan
yang bernama Societe du Midi, dan sekalipun engkau
mengatakan tidak mempunyai perhatian kepada dunia
usaha, aku mempercayai nalurimu yang memang sudah
kuketahui sangat tajam dalam hal-hal lain. Karena itu aku
membeli dua pertiga dari seluruh saham perusahaan itu.
Hak itu diberikan pemerintah sesuai dengan bisikan
nalurimu sehingga nilai sahamnya meningkat menjadi lipat
tiga. Aku beruntung sebanyak satu juta, dan engkau kuberi
sebanyak dua ratus ribu lima ratus sebagai komisi.
Bagaimana engkau menggunakan uang itu?"
'Apa pokok soalnya?" kata Nyonya Danglars. Suaranya
bergetar karena marah dan tidak sabar.
"Sabar sebentar. Aku hampir selesai. Bulan April engkau
makan malam di rumah kediaman menteri. Di sana diamdiam
engkau dapat mendengar pembicaraan rahasia tentang
pengusiran Don Carlos, raja Spanyol. Aku membeli semua
saham Spanyol, dan pengusiran itu terjadi. Aku beruntung
lagi enam ratus ribu frank. Engkau menerima dariku seratus
lima puluh ribu yang engkau belanjakan menurut seleramu.
Aku tidak akan meminta pertanggunganjawab tentang
penggunaan uang itu, tetapi yang hendak kukatakan adalah
fakta bahwa engkau telah menerima setengah juta frank
dalam tahun ini
"Tetapi sekarang, keadaan sudah tidak selancar yang
lalu. Tiga hari yang lewat engkau berbicara soal politik
dengan Tuan Debray dan engkau menarik kesimpulan dari
pembicaraan itu bahwa Don Carlos akan kembali ke
Spanyol. Aku menjual semua saham Spanyol. Berita
kembalinya Don Carlos tersebar dan terjadilah kepanikan.
Aku sudah bukan menjualnya lagi, melainkan
membagikannya dengan cuma-cuma. Keesokan harinya
ternyata bahwa berita itu palsu, dan itu menyebabkan aku
merugi tujuh ratus ribu frank.?
"Oleh karena aku selalu memberimu seperempat bagian
dari keuntungan yang kudapat, sepatutnya engkau pun
turut menanggung seperempat dan kerugianku. Seperempat
dari tujuh ratus ribu frank adalah seratus tujuh puluh lima
ribu frank."
"Engkau mengigau. Dan aku tidak melihat apa hubungannya
Tuan Debray dengan kejadian ini"
"Kalau kebetulan engkau tidak mempunyai lagi uang
yang seratus tujuhpuluh lima ribu itu, engkau dapat meminjamnya
kepada kawan-kawanmu, dan Tuan Debray adalah
salah seorang dari kawan-kawanmu."
"Ini sudah keterlaluan!" teriak Nyonya Danglars marah.
"Jangan kalap, nanti aku terpaksa mengatakan bahwa
Tuan Debray berpesta pora di atas tumpukan setengah juta
frank yang engkau berikan kepadanya sambil berpikir
bahwa ia telah berhasil menemukan sesuatu yang tidak
akan mungkin ditemukan oleh seorang penjudi kawakan
sekalipun, yaitu sebuah permainan tanpa modal yang tidak
mengenal kalah."
"Apa kau berani mengatakan bahwa engkau sendiri tidak
mengenal permainan semacam itu?"
"Aku tidak akan mengatakan ya dan juga tidak akan
mengatakan tidak. Aku hanya akan mengatakan: perhatikanlah
sikapku selama empat tahun terakhir ini setelah kita
bersikap tidak lagi sebagai suami isteri, dan engkau akan
menemukan bahwa sikapku tidak pernah berubah.
Beberapa saat setelah perpecahan engkau memutuskan belajar
musik pada penyanyi bariton tersohor itu yang telah
membuat debutnya di gedung Teater Italia. Dan aku sendiri,
memutuskan belajar dansa pada penari yang telah
berhasil mentenarkan dirinya di London. Untuk itu aku
harus membayar seratus ribu frank untuk kita berdua, tetapi
aku tidak berkata apa-apa karena aku berpendapat
keserasian sangat penting dalam suatu rumah tangga, dan
seratus ribu itu bukan jumlah yang terlampau banyak untuk
seorang suami dan isterinya untuk belajar dansa dan bernyanyi
dengan baik. Segera engkau merasa jemu dengan
menyanyi lalu memutuskan belajar diplomasi kepada
Sekertaris Menteri itu. Aku membiarkan kehendakmu, lagi
pula apa peduliku selama engkau membiayai pelajaranmu
dengan uangmu sendiri. Tetapi sekarang aku sadari bahwa
engkau sudah mulai menggerogoti keuanganku dan aku
harus membayar kesukaanmu itu tujuh ratus ribu frank
sebulan. Sudah saatnya sekarang aku menghentikannya
kecuali kalau diplomat itu mau memberimu pelajaran
secara cuma-cuma. Kalau tidak, tidak akan aku biarkan dia
menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Kau mengerti?"
"Ini sudah keterlaluan!" Nyonya Danglars berteriak
sekali lagi. Napasnya tersendat-sendat karena marah. "Engkau
telah melampaui batas kesopanan!"
Danglars mengangkat bahunya. "Orang-orang aneh,"
katanya, "itu perempuan-perempuan yang menganggap,
dirinya pintar karena dapat melangsungkan petualanganpetualangan
cintanya tanpa menjadi buah bibir masyarakat
Paris. Tetapi sekalipun engkau berhasil menyembunyikan
dosa-dosa kecil itu terhadapku - yang sebenarnya bukan
sesuatu yang sukar karena pada umumnya aku tidak mau
melihat hal-hal seperti itu - namun sebenarnya engkau tidak
sepandai seperti kawan-kawanmu sendiri. Tidak satu pun
kelakuanmu terlepas dari pengetahuanku selama enam
belas tahun ini padahal selama itu engkau merasa bangga
karena mengira berhasil mengelabui aku.. Sebagai akibat
dari sikapku yang pura-pura tidak tahu itu, tidak seorang
pun dari kekasih kekasihmu itu, mulai dari Tuan Debray
sampai kepada Tuan de Villefort, yang tidak gemetar bila
berhadapan dengan aku. Aku membiarkan engkau berkelakuan
yang menjijikkan, tetapi aku tidak akan membiarkan
engkau membuat aku menjadi cemoohan orang.
Dan di atas segala-galanya aku tidak akan membiarkan engkau
menghancurkan kekayaanku."
Sebelum suaminya menyebut nama de Villefort, Nyonya
Danglars masih kuat mempertahankan kepercayaan kepada
dirinya sendin tetapi setelah itu, mukanya menjadi pucat
lalu meloncat sambil berteriak, "Tuan de Villefort? Apa
maksudmu?" Dengan pertanyaan itu seakan-akan ia ingin
mengorek semua pengetahuan suaminya tentang
rahasianya.
"Maksudku, bahwa suamimu yang pertama yang
mungkin sekali merasa tidak akan mampu melawan Jaksa
Penuntut Umum, meninggal karena sedih dan marah ketika
mendapatkanmu hamil enam bulan, padahal ia baru
kembali dari bepergian selama sembilan bulan. Mengapa
dia mati dan bukannya membunuh kekasih isterinya?
Karena dia tidak mempunyai kekayaan untuk
diselamatkannya. Lain dengan aku. Aku mempunyai
kekayaan yang harus kupikirkan. Dan Tuan Debray, kawan
kita itu, telah membuat aku merugi sebanyak tujuh ratus
ribu frank. Suruh dia mendengar pernyataanku ini dan
membayar bahagian kerugiannya. Dengan demikian kita
akan tetap berkawan. Kalau tidak, enyahlah dia dari sini. Ia
seorang muda yang baik, selama berita-berita rahasianya
mengandung kebenaran. Bila tidak, sekurang-kurangnya
masih ada lima puluh orang lagi di dunia ini yang lebih
berharga daripada dia."
Nyonya Danglars terpukul, dia tidak, dapat berkata apaapa
lagi. Dia terhenyak ke atas sebuah kursi. Pikirannya
melayang kepada Villefort dan kejadian-kejadian di rumah
Monte Cristo dan kepada rangkaian musibah yang datang
bertubi-tubi dalam beberapa hari ini.
Danglars tidak mengacuhkannya sekalipun ia melihat.
Tanpa sepatah kata pun, sedangkan isterinya. Sadar dari
keadaan setengah meyakin-yakinkan dirinya bahwa apa
yang dialaminya itu hanya mimpi buruk belaka.
BAB XXXVIII
KEESOKAN harinya, pada saat Debray biasanya
singgah sebentar di rumah Nyonya Danglars dalam
perjalanannya ke kantor, keretanya tidak muncul. Karena
itu Nyonya Danglars memesan keretanya sendiri, lalu
berangkat. Danglars yang bersembunyi di balik tirai jendela,
mengawasi kepergian istrinya suatu hal yang memang
sudah diperkirakannya. Dia memerintahkan pelayanpelayannya
untuk segera diberitahu apabila istrinya
kembali. Tetapi sampai jam dua siang istrinya masih belum
pulang.
Pada jam dua Baron Danglars pergi ke gedung Parlemen.
Sepulangnya dari Parlemen ia terus ke Champs Elysee no.
30.
"Ada apa, Baron?" tanya Monte Cristo ketika ia menemuinya.
'Tampaknya Tuan dalam kesukaran, dan ini merisaukan
saya. Seorang kapitalis yang risau sama dengan
sebuah bintang berekor. Ia memberikan pertanda akan
datangnya suatu malapetaka."
"Saya memang sedang dirundung malang dalam harihari
ini Tidak ada berita-berita yang saya dengar kecuali
berita buruk. Yang terakhir adalah kebangkrutan di
Trieste.”
"Apa tuan berbicara tentang Jacopo Manfredi?"
"Tepat sekali! Coba Tuan bayangkan: seorang yang telah
bekerja sama dengan saya untuk entah sudah berapa lama,
yang tidak pernah salah, tidak pernah menunggak, yang
membayar kewajibannya sebagai seorang pangeran. Sekarang
saya mempunyai tagihan kepadanya sebanyak satu
juta frank. Dan tiba-tiba saja Jacopo Manfredi
menangguhkan pembayarannya! Digabungkan dengan
kejadian di Spanyol, bulan ini merupakan bulan malapetaka
bagi saya."
"Apakah Tuan merugi pula di Spanyol?"
"Ya. Tujuh ratus ribu frank .. . Berbicara tentang usaha,"
tambah Danglars yang merasa senang mendapat jalan
untuk mengalihkan persoalan, "barangkah Tuan sudi
memberi saran apa yang harus saya lakukan untuk Tuan
Cavalcantl"
"Berilah dia kredit apabila Tuan mempercayainya.”
"Saya kira dia dapat dipercaya. Dia telah menemui saya
tadi pagi dan saya memberinya kredit lima ribu frank setiap
bulan untuk putranya."
"Enam puluh ribu frank setahun!" kata Monte Cristo.
"Apa yang dia kehendaki dari anak muda dengan uang
belanja sebanyak itu?"
'Kalau anak itu memerlukan lagi beberapa ribu sebagai
tambahan..."
"Jangan Tuan berikan. Ayahnya tidak akan menyetujuinya.
Mungkin Tuan belum mengetahui bagaimana sifat
jutawan-jutawan Italia. Mereka semua pelit."
"Maksudnya,Tuan tidak mempercayai Tuan
Cavalcanti?"
"Tentu saja saya mempercayainya! Dengan senang hati
saya akan bersedia meminjamkan sepuluh juta kepadanya.
Kekayaannya tidak perlu diragukan."
"Betulkah orang-orang Italia yang kaya itu selalu
menikah dengan kalangannya sendiri saja?" Danglars
bertanya tanpa ragu. "Saya kira dengan maksud
menggabungkan kekayaannya."
"Memang benar demikian. Tetapi Cavalcanti seorang
yang eksentrik. Ia tidak mau melakukan apa yang dilakukan
orang lain. Saya yakin ia membawa putranya ke sini supaya
dapat memperistri seorang wanita Paris."
"Begitu?"
"Saya yakin."
"Apakah Tuan mengetahui tentang kekayaannya?"
"Boleh dikatakan saya tidak mengenalnya. Vang saya
ketahui hanyalah apa yang dia katakan sendiri dan apa
yang dikatakan Padri Busoni kepada saya. Baru tadi pagi
Padri Busoni memberitahukan bahwa Cavalcanti sudah
merasa jemu melihat kekayaannya mati tertanam di Italia,
dan dia ingin mendapatkan suatu jalan untuk menanamnya
di Perancis atau Inggris. Apabila putranya memkah,
mungkin sekali ia akan memberinya dua sampai tiga juta
frank. Seandainya putranya itu menikah dengan putri
seorang bankir, umpamanya, ia berharap boleh menanam
modalnya dalam perusahaan besannya."
"Mungkin saja, tetapi tentu dia ingin mendapatkan
seorang putri ningrat sebagai menantu."
"Tidak perlu. Bangsawan bangsawan Italia sering sekali
menikah dengan keturunan orang biasa. Tetapi apa sebab
Tuan mempunyai perhatian kepada soal ini? Apakah Tuan
mempunyai calon untuk Andrea?"
"Terus terang," kata Danglars, "saya ini seorang spekulator,
dan saya rasa menawarkan calon istri bagi Andrea
bukanlah suatu spekulasi yang buruk."
"Tuan tentu tidak berpikir menawarkan putri Tuan
sendiri, bukan? Lagipula bukankah dia sudah
dipertunangkan dengan Albert de Morcerf?"
“Bahwa saya dengan Tuan de Morcerf telah berkali kali
memperbincangkan perkawinan mereka, itu benar, tetapi
Nyonya de Morcerf dan Albert..”
"Apakah Tuan bermaksud mengatakan bahwa mereka
tidak sebanding? Mungkin sekali Albert tidak sekaya putri
Tuan, tetapi Tuan tidak akan dapat menyangkal bahwa ia
mempunyai nama yang terhormat."
"Itu tidak saya sangsikan, tetapi saya lebih menyukai
nama sendiri," jawab Danglars. "Saya tidak dilahirkan
sebagai seorang baron, namun setidak-tidaknya Danglars
adalah nama saya yang asli"
"Rupanya Tuan mau mengatakan bahwa nama asli
Count de Morcerf bukan Morcerf?"
"Begitulah. Saya diangkat menjadi baron, dengan demikian
saya benar-benar seorang baron. Tetapi dia mengangkat
dirinya sendiri menjadi count, dengan demikian dia
bukan count yang sebenarnya."
“Tak mungkin”
"Begini, Count," sambung Danglars. "Saya mengenal
Tuan Morcerf sejak tiga puluh tahun yang lalu. Seperti tuan
ketahui, saya tidak merahasiakan asal-usul saya. Ketika
saya masih seorang pegawai yang sederhana, Morcerf pun
seorang nelayan yang sederhana."
"Siapa namanya ketika itu?"
"Fernand Mondego."
"Yakinkah Tuan?"
"Dia sering menjual ikan tangkapannya kepada saya
sehingga saya mengenalnya dengan betul."
"Kalau begitu mengapa Tuan hendak mengawinkan putri
Tuan dengan anaknya?"
"Oleh karena Fernand dan Danglars keduanya berasal
dari keluarga sederhana, keduanya berhasil meraih gelar
bangsawan dan keduanya telah menjadi kaya. Oleh sebab
itu yang satu sama baiknya dengan yang lain, kecuali tentang
cerita orang mengenai dia, yang tidak dapat diterapkan
kepada saya."
"Apa maksud Tuan?"
"Tidak apa-apa."
"Sebentar, saya faham sekarang. Apa yang baru saja
Tuan katakan menyegarkan kembali ingatan saya. Saya
mendengar nama Fernand Mondego di Yunani."
"Dalam hubungan dengan peristiwa Ali Pasha?"
"Tepat sekali,"
"Itulah rahasianya yang terbesar," kata Danglars, "dan
saya akui bahwa saya bersedia mengeluarkan berapa pun
biaya untuk mengetahui rahasia itu."
"Sebenarnya tidak akan sukar Tuan bila Tuan benarbenar
ingin mengetahuinya. Bukankah Tuan mempunyai
relasi di Yunani?"
'Tentu saja."
"Di Yanina?"
"Saya mempunyai relasi di mana-mana."
"Baiklah. Mengapa tidak menyurati relasi Tuan di
Yanina, menanyakan peranan apa yang dimainkan seorang
Perancis yang bernama Fernand Mondego dalam peristiwa
Ali Pasha itu?"
"Tuan benar sekali!" kata Danglars gembira. Lalu dia
berdiri. "Saya akan menyuratinya hari ini juga!"
"Dan apabila Tuan mendengar bagian berita yang
bersifat skandal..."
"Saya akan menceriterakannya kepada Tuan."
Danglars bergegas keluar dari rumah Monte Cristo
menuju keretanya.
BAB XXXIX
RUANG tamu kantor de Villefort penuh. Tetapi Nyonya
Danglars tidak perlu memperkenalkan diri oleh karena
begitu dia masuk seorang pegawai datang menjemputnya
dan menanyakan apakah benar dia nyonya yang sudah
membuat janji dengan Tuan de Villefort Pegawai itu
mengantarkan Nyonya Danglars masuk melalui pintu
pribadi.
Villefort sedang menulis dengan membelakangi pintu.
Dia tidak menoleh ketika Nyonya Danglars masuk. Tetapi
setelah didengarnya pegawai itu menjauh, dia segera
berdiri, lalu mengunci pintu dan menutup tirai jendela.
Setelah dia yakin tidak mungkin dilihat atau didengar
orang, dia menghadap kepada Nyonya Danglars dan
berkata, 'Telah lama sekali kita tidak pernah berbicara lagi
berdua dan aku merasa menyesal sekali bahwa kita
sekarang harus bertemu untuk membicarakan sesuatu yang
tidak menyenangkan."
"Saya harap engkau dapat memahami perasaanku," kata
Nyonya Danglars. "Dalam ruangan ini telah banyak sekali
penjahat yang gemetar seluruh tubuhnya karena takut atau
malu. Dan karena sekarang seluruh tubuhku gemetar dan
merasa malu, aku tidak dapat menahan perasaan bahwa
aku pun seorang penjahat dan engkau jaksa yang akan
mengancam dengan hukuman. Tetapi, aku rasa engkau pun
akan setuju bahwa bila benar-benar aku berdosa, maka
sebenarnya aku telah dihukum setimpal tadi malam."
"Hampir lebih dari setimpal dibanding dengan daya
tahanmu," kata Villefort sambil memegang tangannya.
"Walau demikian, aku harus mengatakan bahwa kita belum
sampai kepada akhir persoalan. Bagaimana mungkin
kejadian masa lalu yang mengerikan itu tiba-tiba hidup
kembali? Bagaimana dia muncul kembali bagaikan hantu
yang keluar dari dalam kubur, dari dalam
persembunyiannya dalam hati kita?"
"Karena kebetulan, aku kira."
"Kebetulan? Tidak, tidak. Bukan kebetulan."
"Bukankah suatu hal yang kebetulan kalau Count Monte
Cristo membeli rumah itu? Bukankah kebetulan kalau
pekerja pekerjanya menemukan bayi tak berdosa itu
terkubur di bawah semak-semak?"
"Para pekerja itu tidak menemukan apa-apa," kata
Villefort dengan suram.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, bahwa Count of Monte Cristo tidak
menemukan kerangka bayi dalam kebunnya karena tidak
ada bayi yang dikuburkan di sana."
"Kalau begitu di mana engkau menguburnya? Dan apa
sebabnya aku tidak diberitahu?"
"Dengarkan dahulu " kata Villefort, "engkau pasti akan
merasa iba kepadaku karena aku telah menanggung beban
dukacita selama dua puluh tahun tanpa membaginya sedikit
pun kepadamu. Engkau tentu masih ingat bagaimana bayi
itu diserahkan kepadaku segera setelah dilahirkan dan
bagaimana kita menyangka dia telah mati."
Nyonya Danglars meloncat seakan-akan hendak berdiri.
Tetapi Villefort menahannya dengan isyarat agar dia mau
memperhatikan apa yang hendak dikatakan selanjutnya.
"Kita mengira dia telah mati," katanya mengulangi. "Aku
memasukkan ke dalam sebuah peti, lalu menggali sebuah
lubang di dalam kebun dan mengubur peti itu di dalamnya.
Belum lagi aku selesai menimbuninya, orang Corsica itu
tiba-tiba menyerangku. Aku merasakan sebuah tikaman,
aku mencoba berteriak tetapi tak berdaya, lalu jatuh tersungkur,
menyangka ajalku telah dekat. Aku tidak akan
dapat melupakan keberanianmu ketika aku dengan terseokseok
berjalan sampai ke kaki tangga dan engkau - sekalipun
dengan penderitaanmu sendiri karena habis melahirkan —
masih kuat turun ke bawah lalu menolongku. Aku bergulat
melawan maut selama tiga bulan, lalu dokter menasihati
agar aku pergi ke Selatan untuk penyembuhan, yang berlangsung
selama enam bulan. Ketika kembali ke Paris aku
mendengar engkau telah menikah dengan Tuan Danglars.
Dan aku pun mendengar bahwa rumah di Auteuil tidak
dihuni lagi sejak kita meninggalkannya. Pada suatu hari aku
pergi ke sana pada jam lima sore, masuk ke kamar tidur
menunggu malam tiba.
"Semua pikiran yang menghantuiku selama tetirah ketika
itu terasa lebih mengancam lagi. Rupanya orang Corsica
yang menikam aku itu melihat aku mengubur sesuatu.
Seandainya dia mengetahui siapa engkau, mungkin dia
akan memerasmu. Mungkin juga ia akan membunuhmu
kalau mengetahui bahwa dia tidak berhasil membunuhku?
Oleh sebab itu aku harus menghilangkan semua jejak. Aku
menunggu sampai gelap. Aku menganggap diriku cukup
pemberani, tetapi ketika aku membuka pintu dan melihat
cahaya bulan menyinari tangga, rasanya aku melihat hantu.
Aku hampir saja berteriak ketakutan dan merasa akan
menjadi gila. Akhirnya aku berhasil juga menguasai diri,
lalu menuruni anak tangga. Satu-satunya yang tidak
berhasil aku kuasai adalah gemetarnya lutut. Pada setiap
langkah aku memegang sandaran tangga erat-erat. Seandainya
tidak, pasti aku terjatuh.
"Di kebun itu aku mengambil sekop dan lentera yang aku
tinggalkan dahulu di sana. Aku mulai menggali. Sekalipun
telah menggali dua kali lebih besar dan dua kali lebih dalam
daripada lubang yang aku gali dahulu, namun aku tidak
dapat menemukan apa-apa. Mungkin aku menggali di
tempat yang salah. Aku mengingat-ingat kembali semua
tanda. Aku yakin tidak keliru. Lalu aku menggali lagi lebih
dalam dan lebar. Tidak ada apa-apa. Peti kayu itu tidak ada
di sana!"
"Tidak ada?" tanya Nyonya Danglars dengan suara tertahan.
"Jangan mengira aku berhenti sampai di sana," kata
Villefort melanjutkan. "Aku membayangkan orang Corsica
itu mengambil peti itu karena mengira berisi harta, dan lalu
setelah melihat isinya, dia menggali lubang lain dan
menguburkannya kembali Seluruh kebun aku teliti, tetapi
tidak menemukan apa-apa. Aku mencoba berpikir, apa
sebab orang itu mengambil mayat itu?"
"Sudah engkau katakan tadi," sela Nyonya Danglars,
"supaya dia mempunyai bukti tentang rahasia kita."
"Tidak, bukan itu. Tidak mungkin dia menyimpan mayat
itu selama setahun. Dia harus segera menunjukkan mayat
itu kepada pengadilan dan membuat pernyataan. Tetapi itu.
tidak dilakukannya. Berarti ada kemungkinan lain yang
lebih mengerikan: anak itu masih hidup dan orang Corsica
itulah yang merawatnya."
Nyonya Danglars terpekik sambil memegang tangan de
Villefort. "Anakku masih hidup! Engkau mengubur anakku
hidup-hidup! Engkau tidak yakin ketika itu bahwa dia telah
mati, tetapi engkau menguburkannya juga!" Nyonya
Danglars berdiri di hadapan de Villefort dengan mata mengancam
Villefort berniat hendak mencegah meledaknya badai
perasaan seorang ibu, ia harus mengganjalnya dengan perasaan
takut. Dan ketakutannya sendirilah yang hendak dipindahkannya
kepada Nyonya Danglars. "Bila anak itu
benar masih hidup dan orang mengetahuinya, kita celaka,"
katanya dengan suara perlahan-lahan. "Dan karena Count
of Monte Cristo menceriterakan telah menemukan kerangka
bayi di tempat yang sebenarnya tidak ada bayi terkubur,
berarti dia mengetahui rahasia kita! Itulah sebabnya aku
meminta engkau datang ke mari. Aku ingin memperingatkan
engkau. Katakanlah," katanya lagi sambil memandang
tamunya dengan pandangan yang lebih mantap dibandingkan
dengan tadi "engkau tidak pernah menceriterakan
hubungan kita kepada siapa pun juga, bukan?"
'Tidak pernah!"
"Apakah engkau mempunyai buku harian?"
"Tidak."
"Barangkali engkau suka mengigau dalam tidur?.”
"Tidak, aku selalu tidur bagaikan seorang anak. Masa
engkau lupa?”
Nyonya Danglars merah mukanya, Villefort pun tersipusipu.
"Aku ingat," katanya, "hampir-hampir aku tidak
mendengar engkau bernapas.”
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Nyonya
Danglars.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan," jawab Villefort.
"Dalam tempo satu minggu aku akan sudah mengetahui
siapa sebenarnya Tuan Monte Cristo itu, dari mana dia
berasal, dan mengapa dia berceritera tentang bayi-bayi yang
dikubur dalam kebun,”
Villefort menjabat tangan nyonya Danglars yang diulurkan
dengan sedikit enggan, lalu mengantarkannya dengan
hormat sampai ke pintu.
BAB XL
PADA hari itu juga Albert de Morcerf mengunjungi
Count of Monte Cristo. Monte Cristo menerimanya dengan
senyuman yang khas.
"Saya bani kembali dari Treport kurang dari sejam yang
lalu." kata Albert, "dan orang yang pertama kali saya
kunjungi adalah Tuan,"
"Menyenangkan sekali mendengar itu."
"Ada berita buat saya?"
"Ya, Tuan Danglars hadir dalam undangan makan
malam tempo hari itu."
"Saya telah memperkirakannya. Bukankah kepergian ibu
dan saya ke Treport justru untuk menghindari kehadirannya?”
"Ia juga bertemu dengan Tuan Andrea Cavalcanti."
"Pangeran dari Italia itu?”
"Jangan dilebih-lebihkan, la sendiri mengaku dirinya
hanya seorang viscount. Dia datang bersama ayahnya, yang
lainnya adalah Tuan dan Nyonya Danglars, Tuan dan Nyonya
de Villefort, Tuan Debray, Maximilien Morrel dan oh
ya, Tuan de Chateau-Renaud."
"Apakah mereka memperbincangkan saya?"
“Tak sepatah pun."
"Sayang sekali”
"Mengapa? Saya mengira Tuan justru ingin agar mereka
melupakan Tuan."
"Benar, tetapi bila mereka tidak memperbincangkan
saya, mungkin mereka masih memikirkan tentang saya selama
itu. Dan itulah yang tidak menyenangkan."
"Apa kerugian Tuan selama Nona Eugenie Danglars
tidak berada bersama mereka memikirkan Tuan? Meskipun
mungkin ia memikirkannya di rumah"
"Saya yakin ia tidak melakukannya, atau setidak-tidaknya,
seandainya ia memikirkan saya, sama pula dengan
pikiran saya terhadapnya."
"Cinta kasih yang mengharukan sekali! Sampai demikian
itu kah kalian saling membenci?"
"Begini, Tuan." kata Albert, "Nona Danglars mungkin
sekali dapat menjadi gundik yang baik, tetapi sebagai
istri…”
"Begitulah rupanya Tuan berpikir tentang calon istri
Tuan," kata Monte Cristo sambil tertawa lebar.
"Memang barangkali terlalu kasar ungkapan saya itu,
namun itulah pendapat saya. Saya tidak dapat membayangkan
bagaimana harus hidup bersamanya, mendengarkan dia
menyanyi, menggubah lagu dan puisi seumur hidup. Seorang
gundik dapat saja kita tinggalkan kapan kita mau,
tetapi seorang istri lain lain soalnya! Kita harus hidup
seumur hidup bersamanya. Dan kalau saya membayangkan
harus hidup seumur hidup dengan dia, selalu saja saya
mengalami mimpi buruk."
"Jangan terlalu khawatir harus menikah dengan Nona
Danglars," kata Monte Cristo. "Biarkan saja persoalan itu
berlalu dengan sendirinya. Kalau Tuan mundur, Tuan
bukanlah orang pertama yang menarik kembali ucapannya.
Sungguhkah Tuan mau membatalkan pertunangan itu?"
"Saya berani membayar seratus ribu frank untuk membatalkannya."
"Dalam hal ini, Tuan harus bergembira karena Tuan
Danglars bersedia membayar dua kali lipat untuk maksud
itu."
"Kalau itu benar, ini merupakan kebahagiaan yang tak
ternilai!" kata Albert gembira. Namun demikian ia tidak
dapat menahan diri bertanya, "Tetapi apakah alasan Tuan
Danglars?"
"Ah, hanya tabiat kemanusiaan belaka! Ada seorang
yang sudah siap menghantam kehormatan orang lain
dengan sebuah kapak, tetapi dia berteriak kesakitan apabila
kehormatannya sendiri tertusuk sebuah jarum."
"Sekalipun demikian, menurut pendapat saya Tuan
Danglars..
"Harus merasa puas bermenantukan Tuan, bukan?
Tetapi ia seorang yang mempunyai selera buruk sehingga
dapat puas dengan yang lain."
"Siapa calon dia?"
"Tidak tahu, tetapi sebaiknya Tuan membuka mata dan
telinga lebar-lebar, mungkin Tuan akan mengetahuinya
sendiri."
BAB XLI
NYONYA de Villefort dan Valentine pergi ke sebuah
pesta dansa berdua setelah gagal meminta suaminya
menemaninya. Setelah mereka berangkat Jaksa Penuntut
Umum itu mengunci diri di kamar kerjanya sesuai dengan
kebiasaannya pada malam hari. Dia duduk menghadapi
setumpuk pekerjaan yang mungkin akan mengejutkan
orang lain, tetapi yang dalam keadaan normal masih kurang
cukup banyak untuk memuaskan gairah kerjanya.
Sekali ini tumpukan kertas itu hanya merupakan dalih
saja karena dia tidak bermaksud bekerja, melainkan untuk
merenungi masalah yang dihadapinya. Setelah dia
mengunci pintu dan berpesan untuk tidak diganggu kecuali
oleh hal hal yang sangat penting, ia duduk di kursinya dan
mulai merenungi kembali semua kejadian yang
menimpanya dalam hari-hari terakhir ini, yang
membawanya kepada masa lalu yang suram dan pahit
Ketika ia sedang mengumpulkan kembali kepercayaan
pada dirinya sendiri, ia mendengar suara kereta berjalan di
pekarangan. Lalu dia mendengar suara langkah orang di
tangga dibarengi dengan isak dan ratap tangis. Dia membuka
pintu dan sesaat kemudian seorang wanita tua masuk
tanpa memberitahukan lebih dahulu. Matanya bengkak
karena menangis. "Mengerikan sekali!" katanya. "Aku pun
akan mati! Ya, aku akan mati." Wanita itu terduduk di atas
sebuah kursi yang terdekat pintu lalu menangis sejadi-jadinya.
Villefort menghampiri bekas mertuanya, sebab wanita
itu tiada lain dari Nyonya de Saint-Meran, ibu dari istrinya
yang pertama.
"Ada apa, Nyonya?" tanyanya. "Di mana Tuan de Saint-
Meran?"
"Tuan de Saint-Meran telah meninggal."
"Meninggal? Begitu ... mendadak?" Villefort keheranan.
"Ya . . . terserang penyakit ayan yang sangat mendadak.
Saya sudah tidak dapat mengeluarkan air mata lagi. Rupanya
dalam usia setua ini, sudah tidak ada lagi air mata tersisa,
padahal apabila orang sedang tertimpa kesedihan ia
perlu menangis... Di mana Valentine? Aku ingin bicara."
Villefort berpikir tidak baik kalau dia katakan bahwa
Valentine sedang pergi ke pesta dansa. Dengan sederhana ia
katakan bahwa Valentine sedang bepergian dengan ibu
cirinya dan akan segera menyuruh orang untuk
menjemputnya.
"Cepat. Secepat mungkin!" kata wanita tua itu.
Villefort membimbing nyonya tua itu ke ruang duduk.
“Nyonya harus beristirahat" katanya. Laki, ketika bekas
mertuanya bertekuk lutut dan berdo'a dari lubuk hatinya, ia
pergi menyuruh pelayannya menjemput istri dan anaknya.
Valentine menjumpai neneknya sudah di kamar tidur.
Belaian tangan, hati yang pedih, suara yang tertahan di
tenggorokan dan air mata yang hangat sajalah yang dapat
mengiringi kedatangan Valentine itu. Neneknya, karena
kesedihan yang sangat mendalam sudah tak sadarkan diri.
Sebuah gelas dan tempat air jeruk yang menjadi
kesukaannya diletakkan di atas sebuah meja kecil di
samping ranjangnya.
Dia masih terbaring ketika Valentine mengunjunginya
keesokan harinya. Demamnya masih belum mereda.
Bahkan ia dicekam oleh kegelisahan yang sangat.
"Nenek, tampaknya keadaan nenek semakin buruk."
"Tidak, aku hanya tidak sabar menunggu kedatanganmu
sebelum aku memanggil ayahmu. Aku ingin berbicara dengan
dia,"
Valentine tidak berani membantah keinginan neneknya.
Villefort masuk selang tidak berapa lama.
"Tuan merencanakan menikahkan Valentine kepada
Tuan Franz d'Epinay, bukan?" tanya Nyonya de Saint-
Meran kepadanya tanpa pendahuluan, seakan-akan ia tahu
akan kehabisan waktu.
"Benar, Nyonya," jawab Villefort.
"Dia adalah putra Jendral d'Epinay yang mati terbunuh
beberapa hari sebelum Napoleon masuk kembali dari Elba."
"Benar."
"Apakah dia tidak berkeberatan menikah dengan cucu
seorang penganut Napoleon?"
"Untung sekali perselisihan antara kita sekarang telah
padam. Tuan Franz d'Epinay masih kecil ketika ayahnya
meninggal. Dia tidak mengenal Tuan Noirtier dan ia akan
berkenalan dengan beliau, kalaupun tidak dengan perasaan
gembira, sekurang-kurangnya dengan sikap masa bodoh."
"Apakah mereka cocok satu sama lain?"
"Dalam segala hal. Tuan d'Epinay seorang anak muda
yang terpandang."
Valentine tidak mencampuri percakapan mereka.
"Baiklah," kata Nyonya de Samt Meran setelah merenung
beberapa saat. "Sebaiknya dilaksanakan secepat-cepatnya
karena saya merasa tidak akan hidup lama lagi."
"Oh, Nenek!" Valentine tiba-tiba berteriak.
"Aku tahu apa yang aku katakan," kata wanita tua itu
dengan tenang. "Tuan harus segera melaksanakannya karena
Valentine sudah tidak mempunyai ibu lagi. Sekarang
sekurang-kurangnya ia masih mempunyai nenek untuk
merestui pernikahannya."
"Akan segera dilaksanakan sesuai dengan keinginan
Nyonya," kata Villefort, "terutama sekali karena keinginan
Nyonya itu sejalan benar dengan niat saya. Segera setelah
Tuan d'Epinay kembali ke Paris..,.?"
"Tetapi," Valentine menyela, “bukankah kita masih
dalam berkabung! Apakah nenek menghendaki perkawinan
dalam keadaan seperti sekarang?"
"Janganlah kita terlalu memperturutkan kebiasaan yang
selalu menghambat si lemah membangun masa depannya
yang kokoh!" jawab perempuan tua itu dengan penuh
semangat. "Aku sendiri kawin segera setelah kematan ibuku,
dan aku tidak pernah merasa tidak berbahagia karena
itu."
"Nyonya masih saja dipengaruhi oleh bayangan kematian,"
kata Villefort
"Sudah saya katakan, saya akan segera mati. Sekalipun
Tuan tidak akan percaya, tetapi tadi malam, tepat di tempat
Tuan sekarang berdiri benar-benar saya melihat sesosok tubuh
putih datang menghampiri dari pintu yang menghubungkan
kamar ini dengan kamar hias istri Tuan."
Valentine tidak dapat menahan jeritnya.
"Mungkin Nyonya hanya terganggu demam saja," kata
Villefort.
"Silakan meragukannya, kalau mau," kata nyonya itu,
"tetapi saya yakin. Saya melihat sosok putih itu mendekat.
Bukan hanya melihat tetapi juga mendengar dia memindahkan
gelas. Gelas itu, yang di atas meja itu. Itulah arwah
suamiku datang menjemput"
"Janganlah Nyonya terlalu memikirkan hal-hal yang
buruk," kata Villefort "Nyonya masih akan hidup lama,
bahagia, dicintai dan dihormati dan kami akan berusaha
membantu Nyonya melupakan segala kesedihan."
"Tidak! Tidak! Tidak! Sekarang sebaiknya tolong panggilkan
notaris untuk mengukuhkan agar semua kekayaanku
jatuh ke tangan Valentine, setelah aku mati."
"Nenek!" teriak Valentine lagi, lalu menekankan kedua
bibirnya ke dahi neneknya. "Rupanya Nenek menghendaki
saya pun mati karena kesedihan. Nenek hanya demam.
Bukan notaris yang kita perlukan sekarang, melainkan seorang
dokter."
"Dokter?" jawab wanita itu sambil menggerakkan kedua
bahunya. "Aku tidak sakit, hanya haus. Hanya itu."
"Mau minum apa?"
"Air jeruk, engkau tahu itu. Gelasnya di atas meja itu,
tolong."
Valentine mengambil gelas itu dengan sedikit ragu, karena
gelas itulah menurut ceritera neneknya yang dipindahkan
oleh hantu malam tadi.
Nyonya de Saint-Meran meneguknya sekali habis. Lalu,
setelah merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, ia mengulang
lagi, "Notaris! Notaris!"
Villefort meninggalkan ruangan dan Valentine duduk di
sebelah ranjang neneknya. Dua jam telah berlalu, selama itu
nyonya tua itu jatuh tertidur dengan pulas. Seorang pelayan
datang memberitahukan bahwa dokter telah menunggu di
luar.
Valentine segera berlari ke luar. Dokter d'Avrigny adalah
sahabat keluarga dan salah seorang dokter terpandai di Paris.
Dia sangat menyukai Valentine yang ia bantu lahir ke
dunia.
"Dokter!" kata Valentine, "kami sudah tidak sabar menunggu.
Nenek... Tuan telah mendengar musibah itu?"
"Tidak.”
"Ah," kata Valentine sambil menahan desakan tangisnya,
"kakek meninggal"
"Tuan de Saint-Meran?"
"Ya. Beliau meninggal karena serangan kelumpuhan
yang mendadak. Nenek sangat terpengaruh oleh khayalan
bahwa kakek telah datang untuk menjemputnya."
"Bagaimana gejala-gejalanya?"
"Beliau selalu gelisah dan tidurnya pun resah. Katanya
tadi malam beliau melihat hantu datang ke kamarnya, bahkan
beliau dapat mendengarnya ketika hantu itu mengangkat
gelas."
"Nenekmu bukan orang yang biasa melihat bayangan,"
kata Dokter d'Avrigny. "Sangat mengherankan."
“Tolong segera, Dokter."
"Kau turut?"
"Saya takut, karena beliau melarang saya memanggil
Dokter. Dan saya pun bingung. Saya rasa lebih baik saya
berjalan-jalan di kebun untuk menenangkan diri."
Tak sukar mengira bagian mana dari kebun itu yang dia
tuju. Setelah memetik sebuah bunga mawar dan menyematkannya
di rambut ia berjalan sepanjang jalan yang
teduh menuju pintu gerbang yang berkisi-kisL Selagi
berjalan dia mendengar namanya dipanggil orang. Dia
berhenti, terkejut. Suara Maximilien
Seakan-akan didorong naluri seorang kekasih dan seorang
ibu, Maximilien mencium ada sesuatu yang tidak
beres di rumah Villefort Saat itu bukan waktunya ia datang
ke tempat itu, jadi hanya kebetulan belaka kalau Valentine
datang ke sana.
"Engkau di sini, pada jam begini?" tanya Valentine terperanjat.
"Ya, Aku datang untuk menyampaikan sebuah berita
buruk dan ingin bertanya kalau-kalau engkau mempunyai
berita bagiku."
"Katakanlah, Maximilien. Hatiku sudah sangat parah
untuk dapat disentuh lagi oleh kesedihan yang lain."
"Valentineku yang manis," kata Maximilien, mencoba
menguasai perasaannya agar dapat berbicara dengan terang
dan jelas, "dengarkan baik-baik karena apa yang hendak
kukatakan sangat penting. Apakah orang tuamu telah menentukan
tanggal perkawinanmu?"
"Aku tidak akan menyembunyikan apa pun kepadamu,
Maximilien. Tadi pagi, nenek yang aku perhitungkan akan
memihak padaku, menghendaki agar pernikahan segera
dilaksanakan begitu Tuan d'Epinay kembali ke Paris."
Sebuah keluhan Sedih terlontar dari dada anak muda itu.
"Berarti besok" katanya, "karena Tuan d'Epinay telah
datang tadi pagi. Sekarang telah datang saatnya engkau
memberikan sebuah jawaban yang akan menentukan hidup
atau matiku! Apa rencanamu?"
Valentine menundukkan kepalanya, dadanya penuh
dengan segala macam perasaan,
"Sekarang bukan saatnya kita membiarkan diri dihanyutkan
oleh kekecewaan yang tidak berguna," lanjut
Maximilien. "Banyak orang yang bersedia menderita dan
menelan air matanya dengan ringan hati dan
mengharapkan Tuhan menghiburnya di surga nanti. Tetapi
mereka yang berkemauan keras berjuang membalas pukulan
takdir itu. Apakah engkau mempunyai rencana untuk
menolak takdir itu, Valentine? Itulah yang hendak
kutanyakan."
Valentine tampak bingung. Ia memandang kekasihnya
dengan mata penuh ketakutan. Tak pernah timbul dalam
benaknya niat untuk menolak keinginan ayah dan neneknya.
"Apa yang kaukatakan tadi, Maximilien?" tanyanya
kemudian. "Apakah betul engkau meminta aku melawan
ayahku, melawan kehendak nenekku yang sedang berada di
ambang kematian? Tak mungkin! Hatimu terlalu agung
untuk tidak memahami pendirianku. Tidak, aku tidak akan
melawan. Aku akan menguatkan diriku untuk berjuang
melawan diriku sendiri, untuk menelan setiap tetes air
mataku seperti yang engkau katakan tadi."
"Engkau benar," kata Maximilien dengan ketenangan
yang dingin. "Aku mengerti. Engkau tidak mau
mengecewakan ayahmu atau membangkang terhadap
nenekmu, dan esok engkau akan menandatangani surat
pernikahanmu."
"Tetapi apalagi yang dapat kuperbuat?"
"Sungguh-sungguhkah engkau meminta saranku?"
"Tentu! Engkau tahu, betapa perasaan hatiku kepadamu."
"Inilah usulku. Pertama, turutlah aku ke rumah adikku,
setelah itu kita pergi ke Aljazair, Inggris atau Amerika,
kecuali kalau engkau lebih menyukai tempat lain yang lebih
tersembunyi, menunggu sampai hati keluargamu menjadi
lunak lalu kita kembali lagi ke Paris."
Valentine menggelengkan kepala. "Itu saran yang gila,
Maximilien, dan aku lebih gila lagi apabila aku tidak segera
menghentikan jalan pikiranmu dengan: tidak mungkin!"
"Benar lagi, Valentine. Dengan senang aku mengatakannya
sekali lagi. Memang aku gila, seperti yang engkau katakan,
dan engkau telah membuktikan kepadaku bahwa cinta
benar-benar dapat membutakan seseorang yang biasa berfikir
tenang. Terima kasih untuk cara berpikirmu yang jernih
tanpa terpengaruh oleh rasa cinta. Yang dapat kulakukan
sekarang hanyalah mendo'akan semoga engkau mendapat
hidup yang tenang tentram dan bahagia, jauh dari
kesepian sehingga tidak ada tempat lagi dalam sudut-sudut
hatimu bagiku. Selamat tinggal, Valentine."
"Mau ke mana, Maximilien?" Valentine terperanjat. Ia
melompat menjulurkan tangannya ke luar pintu menangkap
tangan kemeja Maximilien. Valentine merasa bahwa di
balik ketenangan Maximilien tersembunyi sesuatu yang
mengkhawatirkan. "Sebelum pergi, katakan dahulu apa
yang hendak kaulakukan!"
Maximilien tersenyum sedih, tetapi tidak menjawab.
"Katakan, katakan Max. Aku meminta!"
"Jangan khawatir. Aku tidak berniat membuat Tuan
d'Epinay bertanggung jawab untuk nasib burukku. Seandainya
aku orang lain, mungkin sekali akan mengajaknya
berduel, tetapi bagiku tak ada gunanya. Ketika ia menyetujui
perkawinannya denganmu, dia tidak tahu bahwa aku
ada. Aku tidak mempunyai perselisihan dengan dia dan aku
bersumpah kepadamu bahwa aku tidak akan mengganggunya.
Aku tidak pernah mau bersikap seperti pahlawan
cengeng dalam buku-buku ceritera, namun, tanpa pidato
yang panjang-panjang atau sumpah-sumpah apa pun jua,
aku telah menyerahkan hidupku ke dalam tanganmu.
Engkau akan meninggalkanku dan seperti telah kukatakan
tadi, sikapmu adalah benar. Bila engkau pergi, kehidupanku
akan habis. Inilah yang akan kulakukan. Aku akan menanti
sampai detik terakhir engkau akan menikah, oleh karena
aku tidak mau menghilangkan setiap kemungkinan yang tak
terduga betapapun kecilnya, kemungkinan yang dapat
merubah nasibku. Bahkan untuk seorang yang dihukum
mati pun keajaiban mungkin saja terjadi. Aku akan menunggu
sampai aku yakin tak ada lagi obat bagi kesedihanku
dan pada saat itulah aku akan membunuh diri seperti
layaknya seorang anak manusia yang paling terhormat yang
pernah hidup di Perancis."
Valentine dicekam rasa takut yang sangat. Tangannya
jatuh terkulai dan dua buah butir air mata menggulir di pipinya.
"Oh! Kasihanilah aku Maximilien! Engkau tidak akan
melakukan itu, bukan?"
"Demi kehormatanku, tak ada jalan lain. Lagi pula apa
pentingnya bagimu? Engkau telah dan akan melakukan kewajibanmu,
dan tidak perlu engkau mempunyai perasaan
bersalah."
Valentine duduk berlutut. Kedua belah tangannya di
dada.
"Selamat tinggal, Valentine." Maximilien mengulangi
lagi.
"Ya Tuhan," kata Valentine sambil menengadahkan
wajah ke langit. "Engkau mengetahui bahwa saya telah melakukan
dengan segala kemampuan untuk menjadi anak
yang patuh, tetapi aku lebih suka mati karena malu daripada
karena penyesalan. Engkau harus hidup, Maximilien,
dan aku tidak akan menyerahkan diriku selain kepadamu.
Seandainya, Max, aku berhasil menangguhkan perkawinan
itu, bersediakah engkau menungguku?"
"Aku bersumpah bersedia. Dan hendaknya engkau pun
bersumpah kepadaku bahwa engkau akan mencegah terlaksananya
perkawinan itu, bahwa sekalipun mereka
memaksa, engkau akan tetap mengatakan tidak."
"Aku bersumpah."
"Aku percaya, Valentine. Tetapi seandainya keluargamu
tidak mau mendengarmu, seandainya Tuan d'Epinay esok
dipanggil untuk menandatangani perjanjian perkawinan itu,
lalu..
"Lalu aku akan datang kepadamu dan kabur bersamamu.
Aku akan memberimu kabar tentang setiap perkembangan."
"Terima kasih, Valentine yang manis. Segera setelah aku
mengetahui saatnya, aku akan segera datang ke mari. Aku
akan membawa sebuah kereta untuk membawamu ke tempat
adikku."
"Pulanglah sekarang," kata Valentine, "sampai bertemu
lagi."
Maximilien menanti sampai suara langkah Valentine
hilang dari pendengarannya. Dia menengadah ke langit,
mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah diberi
kebahagiaan merasakan nikmatnya dicintai. Lalu dia segera
pulang.
Seharian itu dan hari berikutnya dia menanti dan menanti,
namun tak ada kabar dari Valentine. Baru pada hari
ketiga ia menerima pesan:
Air mata, permohonan dan do’a tidak menghasilkan apa-apa.
Perjanjian perkawinan akan ditandatangani jam sembilan nanti
malam.
Aku telah memberikan janjiku kepadamu, Maximilien, dan
hatiku adalah milikmu. Aku akan berada di pintu gerbang nanti
malam jam sembilan kurang seperempat.
VALENTINE
Maximilien membaca surat itu berulang-ulang sambil
selalu membayangkan bagaimana perasaannya nanti pada
saat Valentine datang dan berkata, "Ini aku Maximilien,
bawalah aku ke mana pun juga."
Dia mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan
untuk pelarian itu. Dua buah tangga disembunyikannya
di luar tembok gerbang dan sebuah kereta telah pula
disiapkan.
Jam delapan malam, Maximilien sudah berada di pintu
gerbang. Kereta dan kudanya disembunyikan di balik sebuah
gedung tua yang hampir runtuh. Dia berjalan hilirmudik
sambil sekali-sekali melemparkan pandangannya ke
dalam kebun yang gelap mencari sesosok tubuh bergaun
putih atau suara langkah orang berjalan. Lonceng gereja
Saint-Philippe berdentang menandakan jam setengah
sembilan. Saat-saat itu sangat menggelisahkan. Setiap gemerisik
dedaunan di dalam kebun atau desir angin menyebabkan
dahi Maximilien basah berkeringat dan tanpa sadar
menempatkan sebelah kakinya di anak tangga siap untuk
naik. Di tengah-tengah ketegangan karena takut dan khawatir
ia mendengar lonceng berbunyi sepuluh kali. Terbayang
di hadapannya Valentine kehilangan kekuatannya selagi dia
berlari dan sekarang sedang terbaring tak sadarkan diri di
dalam kebun. Setan yang membisikkan pikiran ini tak hentihentinya
bekerja sehingga akhirnya dia yakin sekali. Ketika
jam menunjukkan setengah sebelas, ia sudah tak dapat lagi
menunggu. Dia menaiki tembok dan melompat ke dalam
kebun.
Beberapa saat kemudian dia dapat melihat bangunan
rumah dengan jelas. Keadaannya hampir gelap, tidak
terang-benderang seperti selayaknya di rumah yang sedang
diselenggarakan suatu upacara penting seperti
penandatanganan perkawinan. Karena kegelapan dan
kesunyian itu Maximilien merasa takut, khawatir telah
terjadi sesuatu dengan Valentine. Dengan nekad dan cemas
ia memutuskan akan mencari Valentine apapun yang harus
terjadia. Dia maju sampai Ujung kebun dan bersiap hendak
berlari melintasi halaman terbuka antara dia dan rumah itu.
Pada saat itulah dia mendengar orang bercakap-cakap.
Segera ia mengundurkan diri lagi bersembunyi di balik
semak-semak. Bulan muncul dari balik awan, dan karena
cahayanya itu ia dapat melihat de Villefort berjalan menuju
ke arah dia bersembunyi dibarengi orang yang berbaju gelap
yang dia kenal sebagai Dokter d'Avrigny.
Langkah kedua orang itu berhenti tidak jauh dari tempatnya.
Maximilien mendegar Villefort berkata, "Ah,
Dokter, rupanya Tuhan sedang memurkai kami Tak usah
Tuan mencoba menghibur saya. Luka saya terlampau
dalam. Dia meninggal! Meninggal!"
Keringat dingin segera membasahi dahi Maximilien dan
giginya gemeretak. Siapakah yang mati?
"Saya membawa Tuan ke mari bukan untuk menghibur,
Tuan de Villefort," kata dokter, "justru sebaliknya."
"Apa maksud Tuan?"
"Maksud saya, di balik musibah yang baru saja menimpa
Tuan, mungkin sekali akan ada musibah lain yang lebih
besar. Saya harus menceriterakan sesuatu yang mengerikan."
Dengan lemah sekali Villefort merebahkan diri di atas
bangku yang tidak jauh dari situ. Dokter d'Avrigny tetap
berdiri. Maximilien memasang kuping dengan penuh rasa
khawatir.
"Katakan saja, Dokter," kata Villefort. "Saya sudah siap
untuk segala macam."
"Nyonya de Saint-Meran seorang tua. Ini benar," kata
dokter, "namun kesehatannya sangat baik." Maximilien
menarik napas lega.
"Beliau meninggal karena sedih, Dokter," jawab
Villefort, "setelah hidup bersama selama empat puluh
tahun.."
"Bukan karena sedih," kata dokter lagi. "Memang benar
kesedihan dapat menyebabkan seorang meninggal dalam
keadaan tertentu, tetapi tidak mungkin dalam satu hari ,
dalam satu jam, apalagi dalam sepuluh menit! Oleh karena
sekarang kita hanya berdua saja, ada sesuatu yang perlu
saya katakan."
"Ya Tuhan, apakah itu?"
"Bahwa gejala yang timbul karena tetanus dan karena
keracunan pada makanan, sama benar."
Villefort melompat berdiri, kemudian, setelah berdiri
selama beberapa saat ia duduk kembali. "Demi Tuhan,
Dokter," katanya, "yakinkah Tuan kepada apa yang Tuan
katakan?"
"Saya yakin betul akan kesungguhan kata-kata saya dan
juga kepada orang yang saya ajak bicara."
"Apakah Tuan mengatakan hal itu kepada saya sebagai
seorang sahabat atau seorang jaksa?"
"Sebagai kawan, setidak-tidaknya sementara ini. Kedua
gejala itu serupa benar sehingga saya masih ragu membuat
pernyataan tertulis. Saya telah memeriksa mayat Nyonya de
Saint-Meran selama tiga perempat jam dan dengan yakin
dapat saya katakan bukan saja beliau meninggal karena diracun
tetapi juga dapat mengatakan racun apa yang digunakan.
Nyonya de Saint-Meran meninggal karena brucine
atau strychnine dalam dosis yang sangat banyak.”
Tanpa disadarinya Villefort memegang tangan dokter
erat-erat, lalu berkata seakan-akan berteriak, "Tidak
mungkin! Agaknya aku mimpi! Sungguh menggetirkan
mendengar ini dari seorang seperti Tuan. Demi Tuhan,
Dokter, katakan bahwa Tuan keliru!"
"Mungkin saya keliru, tetapi..."
'Tetapi apa?"
"Tetapi saya kira tidak. Adakah orang yang berkepentingan
dengan matinya Nyonya de Saint Meran?
"Tidak, tentu saja tidak! Anak saya satu-satunya menjadi
ahli warisnya. Hanya Valentine ... Ya Tuhan! Seandainya
sangka buruk timbul dalam pikiranku, aku akan menikam
jantungku sendiri sebagai hukuman karena mengandung
pikiran seperti itu!"
"Saya tidak bermaksud menuduh seseorang," kata
Dokter d Avngny "jangan Tuan salah sangka. Sebab
mungkin saja saya salah, namun bagaimana, hati nurani
saya mewajibkan mengatakannya kepada Tuan. Sebaiknya
Tuan menyelidikinya."
"Tentang siapa? Bagaimana?"
"Umpamanya saja, selidiki kalau kalau pelayan ayah
Tuan karena kekeliruan yang tidak disengaja telah
memberikan minuman kepada Nyonya de Saint-Meran
yang sebenarnya untuk Tuan Noirtier."
"Tetapi bagaimana mungkin minuman untuk ayah dapat
menjadi racun bagi Nyonya de Saint-Meran?"
“Sangat sederhana. Seperti Tuan ketahui, racun itu dapat
menjadi obat untuk penyakit-penyakit tertentu.
Kelumpuhan adalah salah satu dari penyakit itu. Setelah
mencoba semua cara untuk mengembalikan kemampuan
gerak dan bicara Tuan Noirtier tanpa hasil, saya
memutuskan untuk mengobatinya dengan brucine. Ini
terjadi tiga tahun yang lalu. Dosis terakhir yang saya
berikan sebanyak enam senti gram, suatu jumlah yang tidak
akan berpengaruh kepadanya oleh karena tubuhnya telah
terbiasa berkat pemberian dosis yang secara bertahap
meningkat. Tetapi dosis itu dapat mematikan bagi yang
lain."
"Tetapi kamar Tuan Nortier sama sekali tidak berhubungan
dengan kamar Nyonya de Saint-Meran. Barrois tidak
pernah masuk ke kamar Nyonya de Saint-Meran."
"Tuan de Villefort," kata dokter, "saya akan berusaha
menyelamatkan Nyonya de Saint-Meran seandainya mungkin,
tetapi beliau sekarang sudah meninggal dan kewajiban
saya yang pertama-tama adalah mengurusi yang masih hidup.
Mari kita sembunyikan rahasia ini dalam dasar hati
kita masing-masing. Seandainya ada orang lain yang menemukan
rahasia ini, saya bersedia untuk menutup mulut dan
berpura-pura tidak tahu. Dalam pada itu, hendaknya Tuan
jangan berhenti menyelidik, karena persoalan ini tidak akan
berhenti sampai di sini. Seandainya Tuan berhasil menemukan
yang berdosa, sayalah orang pertama yang akan mengatakan
kepada Tuan: Tuan adalah jaksa, bertindaklah sesuai
dengan kebijaksanaan Tuan.' "
"Terima kasih, Dokter, terima kasih!" Dari suaranya
ternyata betul kegembiraan de Villefort. "Saya tidak pernah
mempunyai kawan sebaik Tuan." Lalu, seperti khawatir
Dokter d'Avngny akan berubah pikiran, ia segera berdiri
dan membimbing dokter itu kembali masuk ke dalam
rumah.
Maximilien keluar dari dalam semak-semak dengan
menarik napas dalam. Wajahnya sangat pucat. Orang dapat
saja mengira dia hantu dalam cahaya bulan.
Ketika meneliti keadaan rumah yang suram itu ia
melihat sebuah jendela terbuka. Karena cahaya lilin yang
ditempatkan di atas perapian, ia melihat sesosok tubuh
keluar ke beranda. Valentine. Karena takut dilihat orang,
karena khawatir akan menakutkan Valentine sehingga
berteriak meminta tolong, dia berlari melintasi pekarangan
menuju ke tangga rumah dan membukakan pintu yang tak
terkunci. Setelah melalui ruang tamu ia menaiki tangga ke
tingkat atas. Dia sudah nekad benar sehingga kalau pada
waktu itu bertemu dengan Tuan de Villefort, ia tidak akan
merasa takut lagi. Untung sekali, tak seorang pun yang
melihatnya.
Ketika sampai di puncak tangga isak tangis seseorang
yang dikenalnya betul menariknya ke sebuah pintu setengah
terbuka. Melalui pintu itu tampak cahaya remang-remang.
Ia masuk. Di bawah kain putih terbaring mayat Nyonya de
Saint-Meran. Di sampingnya, Valentine yang telah kembali
dari beranda duduk berlutut sambil mengucapkan do'a
secara cepat dan hampir tidak berujung pangkal. Melihat
Valentine menangis sedih, Maximilien tidak dapat menahan
diri. Dia menghela napas dan memanggil nama Valentine.
Valentine menengadah dan menatap Maximilien tanpa
terkejut. Hati yang telah membengkak karena kesedihan
rupanya tidak lagi mampu untuk menyatakan perasaan lain.
'Valentine” kata Maximilien dengan suara bergetar, "Aku
telah menunggu dua jam lamanya, dan ketika engkau tidak
juga muncul, aku merasa khawatir. Aku menaiki tembok
lalu masuk ke dalam kebun. Di sanalah aku mendengar
orang berbicara tentang kecelakaan ini...
"Suara siapa?"
Maximilien bergidik, teringat kepada semua
pembicaraan antara dokter dan Tuan de Villefort. "Suara
pelayan pelayanmu," katanya.
"Kalau engkau ditemukan di sini, celaka," kata Valentine
tanpa takut atau marah.
"Sssst," bisik Maximilien. Mereka mendengar suara pintu
terbuka dan suara langkah orang di tangga.
"Ayah keluar dari kamar kerjanya," kata Valentine.
"Mengantarkan dokter ke luar" tambah Maximilien.
"Bagaimana engkau tahu ada dokter?"
"Aku hanya menduga."
Sementara itu mereka mendengar pintu depan terbuka,
lalu menutup kembali dan dikunci. Lalu kedengaran Tuan
de Villefort melangkah ke pintu yang menuju kebun,
menguncinya dan kembali lagi ke tingkat atas.
"Sekarang," kata Valentine, "engkau tidak mungkin lagi
ke luar melalui pintu depan atau pintu ke kebun. Hanya
tinggal satu pintu keluar dan itu melalui kamar kakek.
Mari."
"Ke mana?"
“Ke kamar kakek."
“Hati hati Valentine," kata Maximilien ragu. "Sekarang
baru aku sadar bahwa kelakuanku sangat gila. Apakah
engkau yakin tidak kehilangan akal sehatmu?"
"Yakin. Aku hanya menyesal harus meninggalkan nenek
di sini."
"Kematian itu suci, Valentine."
"Ya, tetapi aku tidak akan lama. Mari."
Valentine berjalan melalui sebuah tangga kecil menuju
kamar Tuan Noirtier. Maximilien mengikutinya dengan
berjingkat.
Noirtier yang telah diberi tahu oleh pelayannya tentang
segala kejadian, masih duduk di kursi rodanya. Matanya
bersinar ketika melihat Valentine.
"Kakek," katanya, "Kakek tentu telah mendengar bahwa
Nyonya de Saint-Meran meninggal sejam yang lalu. Karena
itu, selain Kakek, tak ada lagi orang yang akan mengasihi
saya." Mata orang tua itu menyorotkan sinar kemesraan.
“Karena itu pula saya harus mempercayakan semua
kesedihan dan harapan saya hanya kepada Kakek. Benar
begitu?"
"Benar," jawab Noirtier dengan isarat matanya.
"Kalau begitu, perhatikanlah baik-baik Tuan ini. Kakek,"
kata Valentine lagi sambil menarik Maximilien pada
tangannya. "Dia adalah Tuan Maximilien Morrel, putra
pemilik kapal yang ternama dan terhormat di Marseilles.
Tentu Kakek pernah mendengarnya, bukan?"
"Ya," jawab mata orang tua itu.
"Namanya tidak bercacat. Yang menyebabkan lebih terhormat
lagi karena dalam usia tiga puluh tahun dia sudah
mencapai pangkat kapten dan menjadi perwira Legiun
Kehormatan."
Noirtier memberi isarat bahwa ia sudah mengetahui
semua itu.
"Kakek," kata Valentine selanjutnya, "saya sangat mencintainya
dan saya tidak bersedia kawin dengan siapa pun
kecuali dengan dia! Kalau mereka memaksa saya kawin dengan
yang lain, saya lebih suka mati atau bunuh diri"
Sinar mata Noirtier menunjukkan kekacauan hatinya.
"Kakek menyukai Maximilien?"
"Ya."
"Dan kakek bersedia melindungi kami dari kemauan
ayah?"
Noirtier mengarahkan matanya yang cerdas itu kepada
Maximilien seakan-akan hendak berkata, "tergantung kepada
keadaan."
Maximilien memahaminya. "Valentine," katanya, "engkau
mempunyai kewajiban untuk segera pergi ke kamar
nenekmu. Sementara itu ijinkan aku berbicara berdua
dengan kakekmu sebentar."
'Ya ya, benar!" kata mata Noirtier. Kemudian dia menatap
Valentine dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Tentu Kakek berpikir bagaimana dia akan dapat memahami
Kakek, bukan?"
"Ya."
"Jangan khawatir. Kami sering sekali berbicara tentang
Kakek. Maximilien sudah mengetahui bagaimana saya
bercakap-cakap dengan Kakek.”
Valentine -berdiri, mencium dahi kakeknya dengan
mesra, mengucapkan kata-kata pamitan kepada
Maximilien, lalu keluar kamar.
Untuk membuktikan bahwa kata-kata Valentine benar,
Maximilien segera mengambil kamus, pena dan secarik
kertas lalu meletakkan semuanya di atas meja yang ada
lampu di atasnya. "Pertama-tama, Tuan," katanya, "ijinkan
dahulu saya memperkenalkan diri, menceriterakan bagaimana
saya jatuh cinta kepada Valentine dan apa rencana
saya."
''Saya mendengarkan." jawab Noirtier dengan matanya.
Mengesankan sekali melihat orang tua yang pada lahirnya
tampak sebagai beban untuk orang lain, tetapi sekarang
menjadi satu-satunya pelindung dan pendukung sepasang
muda belia yang kuat, sehat dan sedang berada di ambang
kehidupan. Maximilien menceriterakan bagaimana
mulanya dia dapat berkenalan dengan Valentine, lalu jatuh
cinta kepadanya dan bagaimana pula Valentine
menyambutnya. Lalu dia menceriterakan tentang
keluarganya, kedudukannya dan keadaan keuangannya.
"Setelah saya menceriterakan tentang cinta dan harapan
saya," katanya selanjutnya, "bolehkah sekarang saya menceriterakan
rencana kami?”
"Silakan.”
Maximilien mengatakan bahwa sebuah kereta telah
menunggu di luar pagar dan bahwa dia bermaksud
membawa Valentine ke rumah saudara perempuannya, lalu
menikahinya dan selanjutnya menanti dan mengharapkan
restunya dari Tuan de Villefort.
"Tidak!" Noirtier memberi isarat dengan matanya.
"Apakah tuan tidak setuju dengan rencana kami?"
"Tidak."
"Lalu apa yang harus kami lakukan? Keinginan terakhir
dari Nyonya de Saint-Meran supaya Valentine dan Tuan
d'Epinay segera dinikahkan. Apakah saya harus membiarkan
itu terjadi?"
Mata Noirtier tidak memberikan isarat apa-apa.
"Saya mengerti, saya harus menunggu."
"Benar."
'Tetapi kalau kami menunggu terlalu lama, segalagalanya
akan gagal. Valentine tidak akan berdaya tanpa
bantuan. Mereka akan memaksanya seperti kepada anak
kecil."
Sebuah senyuman penuh rahasia tercermin dalam sorot
mata orang tua itu.
"Apakah Tuan bermaksud mengatakan bahwa
perkawinan itu tidak akan terlaksana?"
"Ya."
'Tidak akan terlaksana?" teriak Maximilien heran dan
penuh harap. "Maaf, Tuan, tetapi saya kurang percaya
mendengar berita gembira itu. Apakah Tuan yakin tidak
akan terjadi?"
"Ya."
Dengan penegasan ini pun Maximilien masih tetap ragu.
Keyakinan yang datang dari seorang tua yang tidak berdaya
mungkin saja tidak bersumber dari kekuatan kemauan meainkan
bersumber dari pikirannya yang makin lemah.
Mungkin karena dia mengerti keraguan anak muda itu,
atau mungkin juga karena dia merasa belum mempercayai
sepenuhnya kepada kepatuhannya, Noirtier menatap wajah
Maximilien dengan tajam.
"Apakah Tuan menghendaki saya mengulangi janji saya
untuk menunggu?" tanya Maximilien.
"Ya."
"Rupanya Tuan menghendaki saya bersumpah?"
"Ya."
Maximilien mengangkat tangannya lalu berkata, "Saya
bersumpah demi kehormatan saya untuk tidak mengambil
langkah-langkah sebelum mendapat keputusan dari Tuan."
"Bagus," kata Noirtier dengan matanya.
"Apakah Tuan menghendaki saya pergi sekarang?"
"Ya."
"Tanpa menemui dahulu Nona Valentine?"
"Ya."
Maximilien menunjukkan sikap patuhnya, mengangguk
lalu meninggalkan ruangan.
BAB XLII
DUA hari kemudian, menjelang jam sepuluh pagi
jenazah Tuan dan Nyonya de Saint-Meran dimakamkan di
pekuburan Pere Lachaise, di tempat yang sudah sejak lama
disediakan oleh Villefort untuk kuburan keluarganya. Di
sana sudah terbaring jenazah istrinya yang pertama, Renee,
ibu Valentine.
Oleh karena upacara keagamaan sudah dilakukan di rumah
Villefort, di makam tidak banyak lagi yang perlu dilakukan.
Oleh sebab itu setelah kedua mayat selesai ditanam,
para pengantar segera pula bubar.
Ketika Franz d'Epinay hendak berpamitan kepada Villefort,
Villefort bertanya, "Bila kita dapat bertemu lagi?"
"Terserah kepada Tuan," jawab Franz.
"Kalau begitu, secepat mungkin."
"Apakah Tuan menghendaki saya turut bersama Tuan
sekarang?"
"Benar, seandainya tidak mengganggu Tuan."
"Sama sekali tidak "
Kedua orang itu kembali ke rumah Villefort. Tanpa menemui
dahuhi istri dan anaknya, Villefort mengajak tamunya
langsung ke ruang kerjanya.
"Seperti Tuan ketahui,, Tuan d'Epinay," dia memulai.
"keinginan terakhir Nyonya de Saint-Meran adalah, supaya
perkawinan Valentine dilakukan tanpa diundur-undur lagi.
Perjanjian perkawinan itu sedianya akan dilakukan tiga hari
yang lalu, oleh sebab itu naskahnya sekarang pun telah siap.
Kita dapat menandatanganinya sekarang."
"Tetapi bukankah Tuan sedang berkabung?" jawab Franz
ragu-ragu.
"Jangan khawatir. Kami tidak pernah menyepelekan
sopan-santun. Valentine akan tinggal selama tiga bulan di
sebuah perkebunan yang diwariskan deh Tuan dan Nyonya
de Saint-Meran Seminggu sejak hari ini, dengan persetujuan
Tuan, upacara perkawinan akan diselenggarakan di sana
tanpa perayaan. Setelah perkawinan dilakukan, Tuan dapat
kembali ke Paris sedangkan istri Tuan akan menghabiskan
masa berkabungnya di sana bersama ibu tirinya."
"Bila itu kehendak Tuan, terserahlah, Tuan de Villefort,"
kata Franz, "hanya saja saya ingin mengusulkan agar Alber
de Morcerf dan Raoul de Chateau-Renaud turut hadir
sebagai saksi."
"Apakah saya perlu mengirim utusan kepada mereka
atau Tuan lebih suka menjemputnya sendiri?"
"Lebih baik saya sendiri."
"Baik. Saya mengharap Tuan kembali lagi ke mari
setelah setengah jam. Valentine sudah akan siap menanti."
Franz membungkuk lalu pergi. Villefort menyuruh pelayannya
rnemberitahu Valentine bahwa notaris dan saksisaksi
dari Tuan d'Epinay akan datang setengah jam lagi
Mendengar berita itu Valentine seakan-akan disambar
petir. Dia segera menemui kakeknya. Tetapi di tangga dia
bertemu dengan ayahnya, dan Villefort membawanya ke
ruang duduk.
Di ruang tamu Valentine berpapasan dengan Barrois.Ia
memberikan isarat kecemasan dengan pandangan matanya.
Selang beberapa saat datang pula dua buah kereta.
Sebuah kereta membawa notaris dan sebuah lagi membawa
Franz dan kedua kawannya. Tak lama kemudian semua telah
berkumpul di ruang duduk.
Notaris mempersiapkan segala surat yang diperlukan di
atas meja, mengenakan kacamatanya, berpaling kepada
Franz lalu berkata, "Tuan d'Epinay, Tuan de Villefort
meminta saya memberi tahu Tuan bahwa perkawinan Tuan
dengan Nona de Villefort telah mengubah rencana Tuan
Noirtier yang berkaitan dengan cucunya. Beliau mencabut
Nona Valentine sebagai akhli waris beliau."
"Saya sangat menyesal bahwa hal ini dikemukakan dihadapan
Nona de Villefort," jawab Franz. "Saya tidak pernah
menyelidiki berapa besar kekayaan Nona de Villefort,
tetapi betapapun akan berkurangnya karena pencabutan hak
itu, tetap akan jauh lebih besar dari milik saya sendiri. Apa
yang dicari keluarga saya dari perkawinan ini adalah
kehormatan. Yang saya cari adalah kebahagiaan."
Dalam hati Valentine menyetujui apa yang dikatakan
oleh Franz. Berbarengan pula dengan itu dua titik air mata
berlinang di pipinya.
"Boleh saya tambahkan," kata de Villefort kepada bakal
menantunya, "bahwa Tuan tidak perlu berkecil hati karena
tindakan Tuan Noirtier ini, oleh karena tindakannya itu
disebabkan semata-mata oleh kelemahan daya pikirnya.
Beliau akan berbuat begitu juga seandainya cucunya ini
kawin dengan yang lain, dan saya yakin pada saat ini beliau
ingat bahwa cucunya akan melakukan perkawinan tetapi
sudah tidak akan ingat lagi siapa nama bakal suaminya itu."
Tepat pada saat Villefort akan menghabisi pembicaraannya,
pintu tiba-tiba terbuka dan Barrois muncul di ambang
pintu. "Tuan-tuan," katanya dengan suara yang tidak layak
dari seorang pelayan kepada majikannya dalam suasana
sekhidmat itu, "Tuan Noirtier minta berbicara dengan
Baron Franz d'Epinay sekarang juga."
Villefort terkejut, Valentine berdiri, mukanya pucat dan
terdiam bagaikan patung. Albert dan Chateau-Renaud
saling berpandangan penuh keheranan, sedangkan notaris
memalingkan pandangannya kepada Villefort.
"Tidak mungkin," jawab Villefort. "Pada saat ini Tuan
d'Epinay tidak dapat meninggalkan ruangan ini."
"Dalam hal demikian," kata Barrois, "Tuan Noirtier
memerintahkan saya memberitahukan bahwa beliau sendiri
yang akan datang ke ruangan ini."
"Valentine," kata Villefort, "coba lihat, apa pula keinginan
kakekmu itu."
Valentine sudah berjalan beberapa langkah ketika Villefort
mengubah pikirannya. 'Tunggu, aku ikut"
"Maaf, Tuan de Villefort," kata Franz, "oleh karena Tuan
Noirtier dengan tegas meminta berbicara dengan saya, saya
rasa adalah kewajiban saya untuk memenuhi permintaannya.
Di samping itu saya sendiri akan merasa senang
dapat sekaligus melakukan kunjungan kehormatan yang
belum pernah sempat saya lakukan dahulu."
"Oh, tak perlu Tuan bersusah-susah," kata Villetort. Jelas
sekali keresahannya.
"Maaf," jawab Franz dengan nada pasti, "tetapi saya
tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membuktikan
kepada beliau bahwa saya bermaksud menghapus
prasangka beliau kepada saya dengan kesetiaan saya."
Sebelum Villefort sempat menahannya Franz sudah berdiri
dan mengikuti Valentine yang sudah sampai di tangga. Hati
Valentine gembira seperti gembiranya seseorang yang
karam kapalnya, lalu berhasil selamat sampai ke darat,
Villefort mengikuti mereka. Ketiganya menemui Noirtier
menunggu di kursi rodanya.
"Ini, tuan Franz d'Epinay yang datang memenuhi permintaan
Ayah," kata Villefort kepada ayahnya. "Sebenarnya
sejak dahulu saya menghendaki Ayah bertemu dengannya,
supaya Ayah yakin betapa tidak beralasan keberatan
Ayah terhadap perkawinan Valentine ini."
Noirtier menjawab dengan sorot matanya yang membuat
Villefort gemetar. Lalu dia membeli isarat supaya Valen tine
mendekat. Dalam beberapa saat, degan cara yang biasa
Valentine menemukan kata "kunci" dan setelah itu Noirtier
mengarahkan pandangannya kepada laci sebuah meja tulis
yang berada di antara dua buah jendela. Valentine membuka
laci itu dan menemukan sebuah kunci. Setelah meyakinkan
bahwa kunci itu yang dimaksud, Noirtier melihat
kepada sebuah meja tulis tua yang pantasnya berisi kertaskertas
yang tidak berharga.
"Apakah saya harus membuka laci meja ini?" tanya
Valentine.
"Ya."
"Salah satu laci yang di pinggir?"
"Bukan."
"Yang di tengah?"
"Benar."
Valentine membuka laci itu dan mengeluarkan seberkas
kertas, "Apakah ini yang Kakek minta?"
"Bukan," jawab orang tua itu dengan matanya. Kemudian
dia mengarahkan matanya kepada kamus. Valentine
menyebut huruf demi huruf menurut abjad sampai dia
dihentikan pada huruf "R". Dia membuka kamus, menunjuki
kata demi kata dengan jari telunjuknya sampai kepada
kata "rahasia".
"Apakah ada rahasia?" tanya Valentine.
"Ya,"
"Dan siapa yang mengetahui rahasia itu?" Noirtier
memandang pintu tempat Barrois tadi keluar kamar.
"Barrois?"
"Ya."
Valentine berlari ke pintu dan memanggil Barrois.
"Barrois!" Katanya ketika pelayan tua itu memasuki ruangan.
"Kakek menyuruh saya membuka laci meja tulis itu.
Katanya ada rahasia dalam laci itu dan kata beliau engkau
mengetahuinya Tolong huka."
Barrois melihat kepada Noirtier. "Lakukan," kata mata
Noirtier yang cerdas itu. Barrois membuka laci yang
berdasar ganda lalu mengeluarkan seberkas kertas yang
diikat dengan pita hitam.
"Apakah ini yang Tuan maksud?" tanyanya.
"Ya."
"Kepada siapa saya harus berikan berkas ini? Kepada
Tuan de Villefort?"
"Bukan."
"Kepada Nona Valentine?"
"Bukan."
"Kepada Tuan d'Epinay?"
"Ya."
Franz terkejut. Dia melangkah ke depan dan menyambut
berkas itu dari tangan Barrois. "Apa yang harus saya lakukan
dengan berkas ini?"
"Apakah Kakek menghendaki agar Tuan d'Epinay membacanya?"
Valentine turut bertanya.
"Ya," isarat kakek tua itu.
"Kalau begitu kita dapat duduk," kata Villefort tidak
sabar. "Akan mengambil waktu yang cukup lama membaca
seluruh berkas itu." Dia duduk, tetapi Valentine tetap berdiri
di samping kursi kakeknya, sedangkan Franz berdiri di
hadapannya.
Franz membuka berkas itu lalu mulai membacanya:
"Kutipan dari risalah pertemuan Perkumpulan Bonaparte di Rue
Saint-Jacques yang diselenggarakan pada tanggal S Februari
1815."
Franz berhenti. "5 Pebruari 1815!" serunya, "Hari ayah
saya terbunuh! Dan setelah beliau meninggalkan perkumpulan
itu beliau hilang!"
Mata Noirtier memberi isarat agar dia meneruskan membacanya.
"Kami, yang bertanda tangan di bawah ini, Louis-
Jacques Beaurepaire, Letnan Kolonel Altileri, Etienne
Duchampy, Brigadir Jendral dan Claude Lecharpal
Direktur Pengairan dan Kehutanan, dengan ini memberikan
pernyataan bahwa pada tanggal 4 Pebruari 1815 telah
datang sebuah surat dari Pulau Elba yang memperkenalkan
kepada para anggota perkumpulan, Jendral Flavin de
Ouesnal yang pernah berdinas di bawah Kaisar Napoleon
sejak 1804 sampai 1815, sebagai orang yang dipercaya
masih setia kepada Napoleon sekalipun telah diberi gelar
Baron oleh Raja Louis
"Oleh sebab itu, sebuah surat undangan telah dikirimkan
kepada Jendral de Ouesnal untuk menghadiri pertemuan
yang akan diadakan keesokan harinya tanggal 5 Pebruari
1815. Surat undangan tersebut tidak mencantumkan
alamat, tetapi menjanjikan akan ada orang yang
menjemputnya pada jam sembilan malam hari, seandainya
Jendral bersedia menghadiri pertemuan tersebut.
"Pada jam sembilan malam itu, Presiden Perkumpulan
menjemput sendiri Jendral de Quesnal. Jendral telah siap.
Presiden mengabarkan bahwa salah satu sarat untuk
menghadiri rapat tersebut, Jendral harus tetap tidak
mengetahui alamat tempat rapat itu, dan bahwa ia harus
bersedia ditutup matanya dan bahwa dia harus bersumpah
tidak akan mencoba mengangkat penutup matanya selama
itu. Jendral menyetujui persaratan ini lalu bersumpah demi
kehormatan tidak akan mencoba mengetahui ke mana dia
dibawa. Dalam perjalanan Presiden melihat bahwa Jendral
mencoba melihat dari bawah penutup matanya lalu mengingatkannya
kepada sumpahnya. ‘Oh, ya," jawab Jendral.
Kereta berhenti di sebuah lorong yang menuju ke Rue
Saint-Jacques. Dengan berpegang kepada tangan Presiden,
Jendral turun dari kereta, lalu berjalan sepanjang lorong itu,
menaiki tangga dan seterusnya memasuki sebuah ruangan
yang dipergunakan untuk tempat pertemuan. Di sana
jendral diberitahu bahwa dia boleh membuka penutup
matanya. Ketika matanya terbuka, dia sangat terperanjat
melihat banyak kenalannya menjadi anggota suatu
perkumpulan yang sangat rahasia, yang belum pernah
dicurigai Dia ditanya tentang pandangan politiknya, tetapi
dia hanya menjawab bahwa surat dari Elba itu sudah cukup
jelas.
Franz berhenti dahulu membaca, lalu berkata, "Ayah
saya seorang kaum Kerajaan. Tidak perlu menanyainya
tentang pandangan politiknya, semua orang mengetahuinya."
"Itulah sebabnya saya bersahabat dengan ayah
Tuan”.kata Villefort. "Memang mudah sekali berkawan
dengan orang yang sepaham."
Franz melanjutkan lagi membacanya:
"Presiden mendesak Jendral agar menyatakan pandangannya
lebih terperinci lagi, tetapi Jendral menjawab
bahwa ia lebih dahulu ingin mengetahui apa yang mereka
harapkan dari dia. Lalu kepadanya ditunjukkan surat dari
Elba yang memperkenalkan Jendral sebagai orang yang
dapat diharapkan bantuannya. Sebuah bagian penuh dari
surat itu menceriterakan tentang akan kembalinya Kaisar
dari Pulau Elba dan menjelaskan pula bahwa keterangan
yang lebih terperinci akan diuraikan dalam surat lain yang
akan disampaikan setelah tibanya kapal Pharaon, kapal
yang dimiliki oleh perusahaan Morrel and Son dari Marseilles
dan yang kaptennya seorang yang sangat setia kepada
Kaisar.
"Ketika dia membaca surat itu, Jendral yang dipercaya
oleh semua anggota perkumpulan sebagai salah seorang
dari mereka itu, membuat tanda-tanda yang jelas bahwa ia
tidak menyetujui rencana itu. Setelah selesai membacanya
ia tetap diam sambil mengerutkan dahi
"Bagaimana pendapat tuan tentang surat itu, Jendral?"
tanya Presiden.
"Saya akan mengatakan bahwa sumpah kesetiaan kepada
Raja Louis XVIII masih terlalu baru untuk diingkari lagi
hanya untuk kepentingan bekas kaisar," jawab Jendral.
"Jawaban ini sudah cukup jelas untuk menghapuskan
keraguan kita tentang pandangan politiknya,"
"Jendral," kata Presiden, "bagi kami tidak ada Raja Louis
XVIII dan tidak ada bekas kaisar. Vang ada, hanyalah Yang
Mulia Kaisar, yang dibuang dari Perancis, tanah airnya,
selama sepuluh bulan terakhir ini dengan kekerasan dan
pengkhianatan."
"Maafkan saya, Tuan-tuan," kata Jendral, "kalau bagi
Tuan-tuan tidak ada Raja Louis XVIII, bagi saya ada.
Beliau mengangkat saya menjadi baron dan jendral, dan
saya tidak akan melupakan bahwa kedua kehormatan itu
saya peroleh berkat berhasilnya beliau kembali ke Perancis."
"Harap Tuan hati-hati, Jendral," jawab Presiden. "Tuan
telah membukakan mata kami bahwa kami keliru tentang
Tuan. Sebuah gelar dan pangkat ternyata telah cukup untuk
membuat Tuan mendukung penguasa baru yang akan kami
gulingkan. Kami tidak akan memaksa Tuan untuk
membantu kami atau bergabung dengan kami, namun kami
akan memaksa Tuan untuk bertindak sebagai seorang
jantan terhormat sekalipun Tuan tidak akan melakukannya
"Apakah Tuan akan mengatakan sebagai suatu tindakan
terhormat kalau saya mengetahui tempat persembunyian
Tuan dan saya tidak membocorkannya? Hal demikian saya
katakan sebagai bersekutu!" "Tuan dibawa ke dalam
pertemuan ini tidak dengan paksa," kata Presiden, "dan
ketika kami meminta Tuan ditutup mata dalam perjalanan,
Tuan menyetujuinya. Ketika Tuan menuju ke mari Tuan
telah mengetahui bahwa kami bukan sedang asyik memperkokoh
kedudukan Louis XVIII. Kalau demikian buat
apa kami bersusah-payah bersembunyi dari polisi. Terlalu
gampang bagi Tuan bersedia ditutup mata untuk
mengetahui suatu rahasia, lalu menanggalkannya dan
seterusnya mengkhianati orang yang mempercayai Tuan.
Pertama-tama hendaknya Tuan katakan dengan tegas
apakah Tuan berpihak kepada Raja yang kebetulan
sekarang sedang berkuasa atau berpihak kepada Yang
Mulia Kaisar."
"Saya berpihak kepada Raja," jawab Jendral. "Saya telah
bersumpah setia kepada Raja Louis XVIII dan saya akan
memegang teguh sumpah itu." "Jawaban Jendral ini
disambut dengan gerutu hadirin. Jelas sekali banyak
anggota perkumpulan mempertimbangkan untuk membuat
Jendral menyesali kata-katanya yang terburu nafsu itu."
Presiden meminta hadirin untuk tenang. "Jendral," katanya,
"Tuan cukup berakal sehat untuk menyadari akibat dari
keadaan ini, dan keterbukaan Tuan itulah yang menentukan
sarat-sarat yang harus kami kenakan kepada Tuan. Tuan
harus bersumpah demi kehormatan Tuan untuk tidak
membocorkan apa-apa yang Tuan ketahui di sini." Jendral
berteriak sambil memegang hulu pedangnya, "Kalau Tuan
berbicara tentang kehormatan, sebaiknya Tuan mengetahui
dahulu hukumnya dan jangan memaksa saya!"
"Dan Tuan sendiri," kata Presiden dengan ketenangan
yang lebih mengesankan daripada kemarahan Jendral,
"jangan menyentuh pedang itu. Saya menasehatkan sekali
untuk tidak melakukannya." Jendral memandang ke
sekelilingnya sebagai awal kegelisahannya. Sekalipun
demikian ia masih berkata dengan tegas, "saya tidak akan
bersumpah." "Bila demikian, tuan mesti mati," kata
Presiden tenang. "Wajah Jendral berubah pucat dan sekali
lagi ia melihat ke sekelilingnya. Beberapa anggota berbisikbisik
satu sama lain dan masing-masing memegang
senjatanya di balik mantel. Tetapi Jendral tetap diam.
"Tutup pintu," kata Presiden kepada para penjaga. Lalu
Jendral maju selangkah dan dengan ihtiar sekuat tenaga
untuk menguasai diri, ia berkata, "Saya mempunyai seorang
anak laki-laki; karena saya sekarang berada di tengahtengah
pembunuh saya harus memikirkan nasibnya."
"Setiap orang mempunyai hak untuk menghina lima
puluh orang!" kata Presiden, "itu adalah haknya orang yang
lemah. Tetapi Tuan keliru kalau menggunakan hak itu. Be r
su m paid ah, Jendral, dan jangan menghina kami" Sekali
lagi Jendral terkalahkan oleh kelebihan wibawa Presiden.
Dia ragu-ragu sebentar, lalu bertanya, "Sumpah apa yang
Tuan kehendaki?" "Begini: Saya bersumpah demi
kehormatan saya bahwa saya tidak akan membocorkan
kepada siapa pun juga apa yang saya dengar antara jam
sembilan dan sepuluh malam pada tanggal 5 Pebruari 1815,
dan saya mengatakan bahwa saya bersedia mati seandainya
saya mengingkari sumpah saya ini." "Kelihatan bahwa
Jendral mengalami sedikit kebingungan yang menyebabkan
dia tidak dapat menjawab untuk sementara waktu.
Akhirnya dengan keengganan yang tidak tersembunyikan
dia mengucapkan sumpah yang diminta itu, tetapi dengan
suara yang sangat lemah sehingga sukar untuk didengar.
Beberapa anggota menuntut agar ia mengulanginya dengan
keras.
Jendral melakukannya sekali lagi. Lalu dia bertanya,
"Apakah saya bebas untuk pergi?" Presiden bangkit dari
duduknya, menunjuk tiga orang anggota untuk
mengawaninya, lalu naik ke dalam kereta bersama Jendral
yang telah ditutup lagi matanya.
"Ke mana Tuan ingin kami antarkan?" tanyanya kepada
jendral.
"Ke mana saja asal saya dapat terlepas dari kehadiran
Tuan," jawab Jendral Quesnal. "Hati-hati" kata Presiden,
"sekarang Tuan tidak lagi berada dalam suatu pertemuan,
melainkan berhadapan dengan perorangan. Jangan
menghina, kecuali kalau Tuan menghendaki diminta
pertanggungan jawab untuk penghinaan itu." Tetapi Jendral
tidak memahami bahasa itu. Dia menjawab. "Dalam kereta
ini Tuan sama beraninya dengan ketika dalam pertemuan,
hanya karena alasan yang sederhana sekali, yaitu bahwa
empat orang selalu lebih kuat dari seorang."
"Presiden memerintahkan kereta berhenti. Mereka baru
saja sampai di Quai des Ormes di mana ada tangga yang
menuju ke sungai. "Mengapa berhenti di sini?" Jendral
bertanya. "Karena Tuan telah menghina seseorang. Dan
karena orang itu tidak mau melanjutkan selangkah pun
sebelum menuntut penyelesaian yang terhormat." "Ini
hanya merupakan bentuk lain dari pembunuh-an!" kata
Jendral.
"Jangan mencoba berteriak meminta tolong" kata
Presiden, "kecuali kalau Tuan menghendaki saya
menganggap Tuan sebagai salah searang yang saya
maksudkan tadi dalam pertemuan sebagai seorang pengecut
yang menggunakan kelemahannya sebagai perisai.
Sekarang, Tuan seorang diri dan hanya seorang pula yang
akan melayani Tuan. Tuan mempunyai sebilah pedang di
pingang, saya pun mempunyai sebuah dalam tongkat ini.
Salah seorang dari tuan-tuan ini akan menjadi saksi Tuan.
Sekarang Tuan boleh membuka tutup mata.9 Jendral segera
melepaskan penutup matanya. Keempat orang itu turun
dari kereta." Franz berhenti lagi membaca untuk menyeka
keringat dingin dari dahinya. Ada sesuatu yang mengerikan
tampak dalam wajah anak muda itu selama dia membaca
keras-keras keterangan-keterangan yang tidak pernah
diketahuinya tentang kematian ayahnya.
Noirtier melihat kepada Villefort dengan air muka
bangga dan memandang rendah. Franz membaca lagi:
"Seperti dikatakan tadi, hari itu adalah tanggal S Pebruari
1815. Salju telah turun tiga hari berturut-turut dan
tangga yang menuju sungai itu tertutup salju. Salah seorang
dari saksi meminjam sebuah lentera dari perahu nelayan
yang terdekat. Pedang Presiden yang bersarung tongkat
lebih pendek dari pedang Jendral. Jendral mengusulkan
diadakan undian untuk pemilihan pedang, tetapi Presiden
mengatakan bahwa dialah yang menantang, dan ketika
menantang itu dia telah berpendapat bahwa masing-masing
menggunakan senjatanya sendiri. Para pembantu mencoba
memperkuat saran Jendral, tetapi Presiden meminta agar
mereka tidak turut campur. "Lentera diletakkan di atas
tanah. Kedua lawan berdiri di kin kanannya Dan mulailah
pertarungan itu. Jendral de Quesnal dikenal sebagai salah
seorang pemain pedang yang mahir dalam ketentaraan,
tetapi karena diserang secara keras ia kehilangan keseimbangan
sampai terjatuh. Para saksi mengira ia terbunuh,
tetapi lawannya, yang mengetahui bahwa ia tidak
mengenainya, mengulurkan tangan membantunya untuk
berdiri. Kejadian ini bukannya membuat Jendral itu
menjadi lebih tenang, bahkan sebaliknya memanaskan
darahnya dan ia mulai menyerang dengan hebatnya.
Presiden tidak beranjak sedikit pun dari tempat berdirinya.
Tiga kali Jendral mundur karena merasa jarak terlampau
dekat untuk kemudian kembali lagi menyerang. Tetapi pada
serangan ketiga kalinya ia jatuh tersungkur lagi. Saksi-saksi
mengira ia kehilangan keseimbangannya lagi seperti tadi,
tetapi ketika salah seorang dari mereka mencoba
membantunya berdiri, ia merasakan sesuatu yang hangat
dan basah pada tangannya. Darah. "Jendral yang hampir
kehilangan kesadarannya itu masih sempat berkata, "Oh,
mereka menyewa pembunuh atau gum anggar ketentaraan
untuk melawanku!' Tanpa menjawab, Presiden
menghampiri saksi yang memegang lentera,
menyingsingkan lengan bajunya lalu memperlihatkan
bahwa lengannya pun terluka pada dua tempat. Selanjutnya
ia membuka jasnya dan melepaskan kancing kemejanya. Ia
memperlihatkan luka ketiga pada pinggangnya. Walaupun
demikian ia tidak terdengar mengeluarkan erang kesakitan
sedikit pun juga. "Jendral meninggal lima menit kemudian."
Franz membaca bagian ini dengan suara yang tertahan
sehingga hampir-hampir tidak dapat dipahami. Dia
berhenti, mengusap mata dengan tangannya. Setelah
berdiam sejenak ia melanjutkan lagi:
"Presiden menuruni tangga yang menuju sungai itu
dengan darah bercucuran di atas salju. Beberapa saat
kemudian dia mendengar suara badan Jendral diceburkan
ke dalam sungai oleh para saksi, setelah mereka yakin betul
akan kematiannya. "Dengan demikian Jendral itu
meninggal dalam sebuah duel yang terhormat, bukan
karena penyergapan seperti disangka orang.
Sebagai kesaksian atas perkara tersebut kami menandatangani
pernyataan ini demi tegaknya kebenaran, kalaukalau
pada suatu saat dikemudian hari salah seorang dari
pelaku kejadian ini didakwa orang sebagai pembunuh atau
pelanggar hukum. 'Tertanda:
BEAUREPAIRE
DUCHAMPY
LECHARPAL."
"Tuan Noirtier," kata Franz setelah selesai membaca
dokumen yang menggetarkan jiwanya itu, "oleh karena
tampaknya Tuan mengetahui seluk-beluk kejadian ini sampai
kepada hal yang sekecil-kecilnya, haraplah Tuan tidak
mengecewakan saya untuk dapat mengetahui nama
Presiden perkumpulan itu, sehingga akhirnya saya dapat
mengetahui siapa nama pembunuh ayah saya."
Bagaikan seorang yang kehilangan akal Villefort meloncat
menuju pintu, sedang Valentine yang tahu apa yang
bakal menjadi jawaban kakek tua itu, dan yang sering sekali
melihat dua bekas luka di lengan kakeknya, mundur beberapa
langkah karena kekhawatiran.
"Satu-satunya kekuatan yang menyebabkan saya dapat
membaca dokumen itu sampai pada akhirnya adalah harapan
untuk mengetahui siapa yang membunuh ayah saya,"
kata Franz selanjutnya. "Demi Tuhan, Tuan Noirtier,
katakanlah dengan cara apapun juga sehingga saya dapat
mengerti.. ."
"Baik," kata Noirtier dengan matanya. Lalu dia mengarahkan
matanya kepada kamus.
Franz mengambil kamus itu dengan tangan gemetar, lalu
menyebut abjad satu demi satu sampai orang tua itu menghentikannya
pada huruf S. Franz meluncurkan jarinya sepanjang
kata-kata dalam kamus. Sementara itu Valentine
menyembunyikan mukanya di balik kedua belah tangannya.
Akhirnya Franz sampai kepada kata "saya".
"Betul," kata Noirtier.
'Tuan!" seru Franz. 'Tuankah yang membunuh ayah
saya?"
"Betul," jawab Noirtier sambil menatap wajah anak muda
itu dengan pandangan seorang raja.
Dengan lunglai Franz jatuh ke sebuah kursi.
Villefort membuka pintu dan berlari ke hiar oleh karena
tiba-tiba saja disergap keinginan untuk merenggut kehidupan
yang masih bersarang dalam tubuh orang tua yang tak
pernah dapat diajak berdamai itu.
BAB XLIII
FRANZ meninggalkan kamar Noirtier dalam keadaan
begitu terpukul sehingga Valentine sendiri pun merasa iba
kepadanya. Setelah menggumamkan kata-kata yang tidak
dipahami, Villefort bergegas mengunci dirinya di ruang
kerjanya. Dua jam kemudian dia menerima surat berikut:
"Dengan dibongkarnya fakta-fakta pagi ini jelas sekali Tuan
Noirtier de Villefort beranggapan bahwa persatuan antara
keluarganya dengan keluarga Tuan Franz d'Epinay tidak
mungkin terjadi. Tuan d'Epinay sangat terkejut memahami
kenyataan bahwa Tuan de Villefort yang mengetahui
rahasia ini tidak pernah berupaya untuk memberitahukan
sebelumnya ini" Surat yang tajam dari seorang anak muda
yang selama ini menaruh hormat kepadanya merupakan
suatu pukulan maut bagi kehormatan orang seperti de
Villefort.
Sementara itu Valentine yang merasakan kebahagiaan
dan ketakutan sekaligus pada saat yang bersamaan,
mencium dan menyatakan terima kasih kepada kakeknya
yang hanya dengan sebuah gerakan saja telah mampu
memutuskan rantai yang dianggapnya tak mungkin
terputuskan. Dia meminta diri pergi ke kamarnya sendiri
untuk menenangkan diri. Izin itu diberikan dengan isarat
matanya.
Tetapi, bukan kamarnya yang ia tuju, melainkan kebun.
Maximilien telah menantinya di pintu gerbang. Tadi, Maximilien
telah melihat Franz dan de Villefort meninggalkan
pekuburan bersama-sama seusainya upacara penguburan
Tuan dan Nyonya de Saint-Meran dan dia menyangka
mesti akan terjadi sesuatu. Oleh sebab itu ia berjaga jaga di
luar tembok, siap untuk bertindak dengan penuh
kepercayaan bahwa Valentine akan berlari kepadanya pada
kesempatan yang pertama.
Ketika melihat kedatangan Valentine, hatinya merasa
yakin. Ketika mendengar kata-kata Valentine yang pertama
hatinya melonjak karena gembira.
"Kita selamat!" kata Valentine.
"Selamat?" Maximilien mengulangi, tidak percaya kepada
nasib yang sangat baik itu. "Siapa yang menyelamatkan
kita?"
"Kakek. Oh, engkau harus mencintainya, Maximilien!"
Maximilien bersumpah akan mencintai orang tua itu sepenuh
hati. Sumpah itu tidak sukar keluar dari lubuk hatinya,
karena pada saat itu ia tidak merasa puas dengan
hanya mencintainya sebagai sahabat saja atau sebagai
seorang ayah, melainkan mau memujanya seperti kepada
malaikat.
'Tetapi bagaimana beliau melakukannya?" tanya Maximilien.
Valentine sudah akan membuka mulutnya untuk menceriterakan
segala-galanya, tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa
ceriteranya itu akan menyangkut sebuah rahasia besar yang
juga melibatkan orang lain selain kakeknya. "Akan aku
ceriterakan nanti," katanya.
"Bila?"
"Kalau aku sudah menjadi istrimu."
Jawaban ini cukup membuat Maximilien menyetujui
saja. Sebab itu dia sudah merasa puas dengan apa yang sudah
dikatakan Valentine, yang cukup untuk sehari itu.
Namun demikian dia meminta agar Valentine menemuinya
lagi esok hari. Valentine memberikan janji itu dengan senang
hati. Pandangan Valentine kini berubah sama sekali.
Sekarang ia merasa lebih percaya bahwa ia akan kawin
dengan Maximilien daripada tidak akan kawin dengan
Franz.
Esok harinya Noirtier meminta notaris datang lagi. Surat
wasiatnya yang terdahulu disobek dan menyuruh membuat
lagi yang baru, di dalamnya ditetapkan bahwa ia akan mewariskan
seluruh kekayaannya kepada Valentine, asal saja
dia tidak dipisahkan daripadanya.
Banyak orang segera memperhitungkan bahwa Nona
Valentine de Villefort, satu-satunya ahli waris Tuan dan
Nyonya de Saint-Meran dan diangkat kembali menjadi ahli
waris Tuan Noirtier, pada suatu saat nanti akan mempunyai
penghasilan hampir tiga ratus ribu frank setahun.
Sementara perkawinan Valentine dibatalkan, Count of
Morcerf mengenakan seragam letnan jendralnya,
menghiasinya dengan semua tanda kehormatan yang
dimilikinya, lalu meminta disiapkan kuda-kudanya yang
terbaik untuk berkunjung kepada Baron Danglars.
Bankir itu sedang sibuk mempelajari neraca bulanannya,
dan dalam waktu-waktu terakhir ini sukar sekali menjumpai
dia dalam keadaan yang cerah gembira. Ketika sahabat
lamanya masuk, ia mencoba memperlihatkan air muka kebangsawanannya
dan duduk tegak di kursinya. Sebaliknya,
Morcerf yang biasa kaku dan resmi pada kesempatan ini
berusaha meninggalkan kekakuannya dengan tersenyum
ramah. 'Inilah aku, Baron," katanya. "Selama ini kita tidak
pernah berbuat sesuatu untuk melaksanakan rencana kita”
"Rencana apa, Count?" tanya Danglars, seakan-akan tidak
dapat memahami apa yang dimaksud oleh Morcerf.
"Ah, aku tahu sekarang bahwa engkau seorang yang suka
resmi dan menghendaki upacara sesuai dengan kebiasaan.
Baik." Dengan senyum yang dipaksakan Morcerf berdiri,
membungkuk dalam-dalam kepada Danglars lalu berkata,
"Baron Danglars, bolehkah saya mempunyai kehormatan
untuk meminang puteri Tuan, Nona Eugenie Danglars
untuk anak saya, Viscount Albert de Morcerf."
Tetapi Danglars bukannya memberi jawaban yang menyenangkan
seperti yang diharapkan oleh Morcerf, melainkan
mengerutkan dahi sambil berkata, "Sebelum memberi
jawaban, Count, saya memerlukan sedikit waktu untuk
memikirkannya lebih dahulu."
"Untuk memikirkannya dahulu!" seru Morcerf terheranheran.
"Bukankah engkau telah mempunyai waktu delapan
tahun untuk memikirkannya sejak kita merundingkannya?"
"Count, setiap hari timbul kejadian-kejadian yang mengharuskan
kita meninjau kembali segala persoalan yang pernah
kita anggap sebagai telah selesai diputuskan."
"Maaf, Baron, tetapi saya tidak dapat memahami apa
yang Tuan maksudkan."
"Yang saya maksudkan, bahwa belum lama ini timbul
keadaan-keadaan baru dan bahwa .,."
"Ungkapan yang samar-samar, bahkan kosong, Baron.
Ungkapan itu mungkin saja dapat memuaskan orang biasa,
tetapi Count of Morcerf bukanlah orang biasa. Apabila ada
orang menarik kembali janji yang telah diberikan kepadanya,
dia berhak menuntut alasan-alasan yang masuk
akal."
Sekalipun sebenarnya Danglars seorang pengecut,
namun tidak mau tampak sebagai pengecut. Selain dari itu,
ia merasa tersinggung mendengaf nada suara Morcerf.
"Saya mempunyai alasan yang kuat," jawabnya, "tetapi
akan sukar sekali mengatakannya kepada Tuan."
"Suatu hal dapat dipastikan, Tuan menolak menikahkan
puteri Tuan kepada anak saya."
"Bukan begitu, saya hanya menangguhkan keputusan
saya."
'Tetapi pasti Tuan tidak akan menikmati keangkuhan
Tuan dengan mengira bahwa saya akan sedia menuruti kehendak
Tuan dan menunggu dengan patuh datangnya kemurahan
hati Tuan!"
"Apabila Tuan tidak dapat menunggu, baiklah kita anggap
rencana kita sebagai batal saja."
Morcerf menggigit bibirnya untuk menahan ledakan
amarahnya yang sudah menjadi darah dagingnya, oleh
karena ia masih sadar bahwa dalam keadaan seperti itu
dialah yang akan menjadi bahan tertawaan apabila dia tidak
dapat menahan diri. Dia sudah sampai di ambang pintu
keluar ketika tiba-tiba saja ia merubah lagi pendiriannya.
Dia ber-balik dan kembali lagi. Air mukanya yang marah
karena tersinggung telah berubah. "Kita sudah berkenalan
selama bertahun-tahun, Baron " katanya, "sebab itu pantas
kita saling menghargai. Setidak-tidaknya Tuan dapat
mengatakan kejadian buruk apakah yang menyebabkan
anak saya kehilangan nilai di mata Tuan."
"Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan anak Tuan
secara pribadi. Hanya itulah yang dapat saya katakan,"
jawab Danglars yang menjadi sombong lagi setelah melihat
kelunakan Morcerf.
"Kalau begitu, dengan siapa?" tanya Morcerf kurang
enak.
Danglars menatap Morcerf dengan keyakinan diri yang
lebih dari semula laki berkata. "Berterimakasihlah karena
saya tidak memberikan penjelasan yang terperinci"
BAB XLIV
MAXIMILIEN sangat berbahagia. Tuan Noirtier baru
saja menyuruh Barrois memanggilnya. Dia ingin segera
mengetahui apa maksud panggilan itu sehingga ia lebih
percaya kepada kakinya sendiri daripada kepada kaki-kaki
kuda kereta. Itulah sebabnya dia berlari-lari menuju rumah
Tuan Noirtier dengan Barrois di belakangnya mencoba
mengikutinya. Maximilien berumur tiga puluh, Barrois
enam puluh. Maximilien dibakar semangatnya oleh api
cinta sedangkan Barrois kepayahan karena kepanasan.
Ketika sampai, Maximilien seperti tidak merasa cape,
karena cinta memang bersayap, tetapi Barrois yang sudah
bertahun-tahun tidak pernah jatuh cinta lagi, basah kuyup
bermandikan keringat.
Pelayan tua itu mempersilakan Maximilien masuk melalui
pintu khusus. Tak lama kemudian suara gemerisik
gaun wanita memberi tahukan kedatangan Valentine. Dia
tampak cantik sekali dengan pakaian paginya. Maximilien
sangat terpesona sehingga ia akan merasa gembira sekati,
pun seandainya tidak jadi bertemu dengan Tuan Noirtier
yang memanggilnya. Tetapi kakek tua itu telah datang,
didorong di atas kursi rodanya.
Maximilien segera mengucapkan terima kasih untuk
jasa-jasa Noirtier yang telah menyelamatkan Valentine dan
dia sendiri dari kedukaan. Noirtiei menjawabnya dengan
pandangan mata yang penuh kemurahan hati. Lalu dia
mengarahkan matanya kepada Valentine yang sedang duduk
agak kemalu-maluan di sudut
"Apakah perlu saya menceriterakan semua yang Kakek
katakan kepada saya?" Valentine bertanya.
"Ya," isarat Noirtier.
"Maximilien, Kakek telah banyak sekali berceritera
dalam tiga hari terakhir ini," kata Valentine. "Beliau memanggilmu
sekarang supaya aku menceriterakannya
kembali kepadamu. Oleh karena aku hanya sebagai
penterjemah semata-mata, aku akan mengatakan semuanya
sama seperti yang dikehendaki beliau."
"Aku sudah tak sabar ingin mendengarnya," jawab
Maximilien
Valentine merendahkan pandangan matanya, suatu hal
yang membuat Maximilien penuh harap, karena Valentine
selalu merasa lemah apabila dia sedang berbahagia.
"Kakek ingin meninggalkan rumah ini," katanya. "Barrois
akan mencari sebuah apartemen yang memadai. Seandainya
ayah mengizinkan, aku akan tinggal bersama Kakek
dan akan meninggalkan rumah ini segera pula. Seandainya
tidak, aku akan menunggu sampai cukup usia, berarti delapan
belas bulan lagi dari sekarang. Pada waktu itu aku bebas,
dan aku akan mempunyai penghasilan dan kekayaan
sendiri dan ..
"Dan?" tanya Maximilien.
"Dan, dengan restu Kakek aku akan menepati janjiku
kepadamu."
Kata-kata terakhir diucapkannya dengan perlahan sekali
sehingga Maximilien tidak akan dapat mendengarnya kalau
saja ia tidak sedang mengikuti pembicaraan Valentine dengan
seksama.
"Apakah saya tidak keliru, Kakek?" tanya Valentine
kepada kakeknya.
'Tidak."
"Oh!" Maximilien tak dapat menahan serunya. Segera
dia bersimpuh di muka kakek tua itu seakan-akan berlutut
di hadapan Tuhan, dan bersimpuh di muka Valentine seperti
dia bersimpuh di hadapan malaikat. "Apakah jasa saya
sehingga patut menerima kebahagiaan seperti ini?"
Noirtier memandang kepada kedua anak muda yang
sedang dilanda cinta itu dengan penuh perasaan kasih. Barrois
yang berdiri agak jauh dari mereka tersenyum sambil
menghapus butir-butir keringat yang masih membasahi
dahinya.
"Oh, Banois sangat kepanasan. Kasihan," kata Valentine.
"Karena saya habis berlari dengan cepat, Nona," jawab
Barrois. "Namun demikian saya akui bahwa Tuan Morrel
berlari lebih cepat dari saya."
Noirtier mengarahkan matanya kepada sebuah baki yang
di atasnya ada sebuah tempat air jeruk dan sebuah gelas.
Noirtier telah meminumnya sebagian setengah jam yang
lalu.
“Minumlah air jeruk ini, Barrois," kata Valentine. "Kulihat
engkau sangat menginginkannya."
"Kalau saya boleh berterus-terang, Nona, saya hampir
mati kehausan," jawab Barrois, "dan saya akan sangat bergembira
sekali apabila dapat minum demi kesehatan Nona
dengan air jeruk ini."
"Minumlah, dan kembali lagi nanti ke mari"
Barrois mengambil baki itu dan segera setelah ia berada
di luar kamar dengan sekali teguk ia menghabiskan gelas
yang telah diisi air jeruk oleh Valentine.
Valentine dan Maximilien sedang saling mengucapkan
kata berpisah ketika mereka mendengar suara bel berbunyi
di tangga. Berarti ada tamu. Valentine melihat jam. "Hari
telah siang," katanya, "dan hari ini, hari Sabtu. Mesti dia
dokter. Apakah Maximilien harus pergi, Kakek?"
“Ya,"
"Barrois!" Valentine berteriak. "Ke mari!"
Suara pelayan tua itu menjawab, "Saya datang, Nona."
"Barrois akan menunjukkan jalan" kata Valentine kepada
Maximilien. Barrois masuk. "Siapa yang membunyikan
bel?"
"Dokter d'Avrigny," jawab Barrois terhuyung huyung
"Mengapa engkau, Barrois?" tanya Valentine heran.
Barrois tidak menjawab. Dia melihat kepada majikannya
dengan penuh ketakutan. Tangannya mencoba meraih sesuatu
untuk menahan dirinya.
"Dia hampir jatuh!" Maximilien berseru.
Barrois makin sempoyongan. Wajahnya menunjukkan
adanya serangan penyakit yang gawat dan mendadak. Dia
maju beberapa langkah lagi menuju Noirtier. "Ya, Tuhan!"
katanya dengan susah payah. "Mengapa saya ini? Sakitnya .
. . mata saya kabur . .. kepala seperti dibakar. Oh, jangan
sentuh saya!" Matanya berputar putar, kepalanya terkulai ke
belakang, sedangkan anggota badan lainnya kaku.
"Dokter d'Avrigny! Dokter d'Avrigny!" Valentine berteriak-
teriak- "Ke mari cepat! Tolong!"
Barrois membalikkan badan, mundur lalu terjatuh di
depan kaki Noirtier.
Villefort yang mendengar teriakan Valentine muncul di
ambang pintu. Maximilien segera menyembunyikan diri di
belakang tirai. Mata Noirtier berkilat-kilat karena tidak
sabar dan cemas. Seakan-akan seluruh perasaan harinya
tertumpah kepada orang tua yang malang itu, yang lebih
merupakan sahabat daripada pelayan.
Urat-urat wajah Barrois bergerak menegang, matanya
merah seakan-akan berdarah, lehernya terkulai lemah,
tangannya menggapai-gapai. Kakinya begitu kaku, sehingga
seakan-akan mungkin patah kalau ditekukkan. Bintik-bintik
buih keluar dari sela-sela bibirnya ketika dia mengerang
kesakitan.
Villefort memandang Barrois dengan mata melotot dan
mulutnya ternganga. Dia tidak melihat Maximilien. Segera
dia membalikkan badan dan berlari sambit berteriak. "Dokter!
Dokter!Dokter!Tolong!"
Nyonya de Villefort masuk dengan diam-diam_
Pandangannya yang pertama diarahkan kepada Noirtier
yang dalam keadaan serupa ini layak terpengaruh oleh
berbagai perasaan, namun tetap segar bugar. Lalu dia
melihat kepada Barrois yang seperti sedang di ambang
kematian.
"Demi Tuhan, Ibu, di mana Dokter?" tanya Valentine.
"Di kamar Edouard, sedang memeriksanya. Dia agak sakit
hari ini," jawab Nyonya de Villefort. Lalu dia meninggalkan
ruangan itu.
Maximilien keluar dari persembunyiannya. Tak seorang
pun memperhatikannya dalam kebingungan seperti itu.
"Segera pergi, Maximilien," kata Valentine, "dan tunggu
sampai aku menyuruh orang."
Maximilien menekankan tangan Valentine ke dadanya
lalu pergi melalui pintu khusus.
Beberapa detik kemudian Villefort masuk bersama dokter
dari pintu yang lain. Barrois kelihatan sudah mulai akan sadar
kembali Serangan pertama telah berlalu. Terdengar
keluhannya perlahan-lahan, dan dia mencoba duduk pada
sebuah lututnya. Villefort dan Dokter d'Avrigny menggotongnya
ke kursi panjang.
"Obat apa yang diperlukan, Dokter?" tanya Villefort.
"Tolong ambilkan air bening dan eter. Apa Tuan mempunyainya?"
"Ada."
‘TJan tolong suruh orang mencari minyak terpenten dan
sedikit obat muntah."
"Kau, ambil!" perintah Villefort kepada salah seorang
pelayannya.
"Sekarang saya harap semua meninggalkan kamar ini."
"Apakah saya pun harus pergi-" tanya Valentine agak
malu-malu
"Ya, terutama sekali Nona," jawab dokter itu pendek.
Valentine menatap wajah dokter itu dengan agak heran,
mencium dahi Noirtier lahi pergi.
Dokter menutup pintu dengan air muka muram setelah
Valentine keluar.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Barrois?" tanyanya.
"Sedikit baik, Dokter "
"Bisa kau meminum air dengan eter ini?"
"Akan saya coba, tetapi harap jangan sentuh saya"
"Mengapa?"
"Karena rasanya, kalau saya tersentuh, sekalipun dengan
ujung jari, serangan akan datang lagi Minumlah."
Barrois menerima gelas, mendekatkan bibirnya yang
keungu-unguan ke bibir gelas lalu meminum setengah dari
isinya.
"Rupanya serangan itu mendadak sekali," kata Dokter.
"Seperti kilat"
"Bagaimana perasaanmu kemarin atau kemarin dahulu?"
"Tidak merasakan apa-apa."
"Apa yang kau makan hari ini?"
"Belum makan apa-apa. Saya hanya minum sedikit saja
air jeruk Tuan Noirtier. Hanya itu." Barrois mengangguk
kepada Noirtier yang tanpa bergerak sedikit pun mengawasi
dan mendengarkan seksama dari kursi rodanya.
"Di mana air jeruk itu sekarang?" tanya Dokter dengan
cepat.
"Di dapur."
"Apa saya ambilkan, Dokter?" tanya Villefort.
"Biar, tinggal saja di sini Saya akan mengambilnya sendiri"
Dia berlari keluar dan turun ke dapur melalui tangga
khusus untuk para pelayan. Hampir saja dia menubruk
Nyonya de Villefort yang juga sedang menuju dapur.
Nyonya de Villefort berteriak terkejut, namun dokter tidak
mengacuhkannya. Didorong oleh prasangkanya yang kuat
dia melompati tiga empat anak tangga terakhir, lalu berlari
cepat ke dapur. Di sana dia melihat tempat air jeruk di atas
baki. Isinya hanya tinggal seperempat. Dia menyambarnya
seperti burung elang menyambar mangsanya, kemudian
berlari kembali ke kamar Noirtier. Napasnya hampir habis.
Nyonya de Villefort menaiki kembali tangga dengan perlahan-
lahan ke kamarnya sendiri.
"Betul ini?" tanya Dokter d'Avrigny.
"Benar, Tuan."
"Ini pula yang kauminum?"
"Saya kira begitu."
"Bagaimana rasanya?"
"Sedikit pahit"
Dokter menuangkan air jeruk itu sedikit ke telapak
tangannya, lalu mencicipinya. Segera pula ia meludahkanaya
kembali ke dalam tungku api "Sama," katanya.
"Apakah Tuan juga meminum air jeruk ini, Tuan Noirtier?"
"Ya," jawab Noirtier dengan matanya.
"Terasa pahit juga?"
"Ya."
"Oh, Dokter!" Barrois berteriak. "Saya terserang kembali!
Ya, Tuhan kasihanilah saya!"
"Tolong lihat apa sudah dapat obat muntah itu," kata
dokter kepada de Villefort.
Villefort berlari keluar sambil berteriak, "Obat muntah!
Obat muntah mana?"
Tak seorang pun menjawab. Suasana ketakutan dan
kekhawatiran mencekam seluruh rumah.
Barrois terserang lebih hebat dari pertama kali. Karena
tidak dapat menolong meringankan penderitaannya, dokter
meninggalkannya dan menghampiri Noirtier.
"Bagaimana dengan Tuan?" katanya dengan suara ditahan.
"Baik-baik saja?"
"Ya."
"Barroiskah yang membuatkan air jeruk itu?"
"Ya."
"Tuankah yang menyuruh dia meminumnya?"
"Bukan."
"Tuan de Villefort?"
"Bukan."
"Nyonya de Villefort?"
"Bukan."
"Valentine?"
"Ya."
Dokter d Avrigny kembali kepada Barrois dan bertanya,
"Siapa yang membuat air jeruk itu?"
"Saya."
"Lalu engkau langsung mengantarkannya kepada Tuan
Noirtier?"
"Tidak, karena saya disuruh dahulu melakukan sesuatu
yang lain. Karena itu saya tinggalkan air jeruk itu di lemari
makanan."
"Jadi siapa yang mengantarkannya ke mari?"
"Nona Valentine."
Dokter memukul dahinya sendiri sambil berkata, "Ya
Tuhan! Ya Tuhan!"
"Dokter!Dokter!" Barrois menjerit-jerit Dia merasakan
datangnya serangan yang ketiga kalinya. “Napas saya! Jantung!
Kepala! Apa saya harus lama menderita, Dokter?"
"Saya mengerti," jawab Barrois yang sudah tak berdaya
itu. "Ya Tuhan, ampunilah saya!" Dia jatuh terkulai dibarengi
jeritan yang mengerikan seakan-akan disambar
petir.
Dokter meraba detak jantung Barrois lalu berkata kepada
Villefort, "Tolong ambilkan sirup bunga."
Villefort pergi dan kembali sesaat kemudian. "Masih
pingsan?" tanyanya.
"Dia sudah mati.'
Villefort terlompat selangkah ke belakang, memegang
kepalanya dengan kedua belah tangannya, lalu berkata
dengan suara sedih, "Begitu cepat?"
"Ya, cepat sekali, bukan?" kata Dokter. "Tetapi itu tak
perlu mengagetkan Tuan. Tuan dan Nyonya de Saint-
Meran juga meninggal secara mendadak. Banyak orang
yang mati mendadak dalam rumah ini, Tuan de Villefort'
"Apa!"seru Villefort dengan nada ketakutan dan terkejut.
"Masihkah Tuan dipengaruhi prasangka itu?"
"Tak pernah hilang dari ingatan saya sesaat pun," jawab
dokter itu tenang. "Dan saya akan membuktikan bahwa
saya tidak keliru. Dengarkanlah baik-baik, Tuan de
Villefort."
Villefort gemetar bagaikan orang yang kena sawan.
"Ada sejenis racun yang sangat mematikan tanpa meninggalkan
bekas," kata dokter. "Saya telah menyelidiki
jenis racun itu dan saya kenal benar kepada akibat-akibatnya.
Saya baru saja melihat akibat-akibat itu pada Barrois
yang malang, dan saya juga melihatnya pada Nyonya de
Saint-Meran. Ada cara untuk membuktikan adanya racun
tersebut dalam suatu cairan. Cairan beracun itu akan mengubah
kertas lakmus menjadi biru dan mengubah sirup
bunga yang ungu menjadi hijau. Kita tidak mempunyai
kertas lakmus di sini, tetapi ada sirup bunga.
Perhatikanlah."
Dokter menuangkan air jeruk dengan hati-hati ke dalam
cangkir berisi sirup bunga. Mula-mula warna sirup itu berubah
menjadi kebiru-biruan, lalu sedikit demi sedikit berubah
lagi menjadi hijau. Percobaan itu menghilangkan semua
keragu-raguan.
"Barrois yang malang diracun dengan brucine," kata
Dokter d'Avrigny. "Sekarang saya telah siap untuk
menjawab kebenaran ini baik di hadapan Tuhan maupun di
hadapan manusia."
Villefort terhenyak ke atas kursi tanpa berkata sepatah
pun, tak berdaya seperti mayat Barrois. Segera dokter
menyadarkannya kembali.
"Oh, kematian berada dalam rumahku!" katanya gemetar.
"Pembunuhan berada dalam rumah Tuan," kata Dokter
membetulkan. "Apakah Tuan mengira racun itu ditujukan
kepada pelayan malang itu? Tuan Noirtier telah meminumnya
sebagian bagaikan minum air biasa. Barrois meminumnya
karena kecelakaan. Dan sekalipun Barrois yang
menjadi korban, sebenarnya Noirtier yang diincar."
"Tetapi mengapa ayah saya masih tetap hidup?"
"Seperti telah saya katakan di kebun setelah meninggalnya
Nyonya de Saint-Meran, dia sudah kebal terhadap racun
itu, sehingga racun dalam jumlah tertentu yang tidak
akan berakibat apa-apa kepadanya, telah mematikan
Barrois. Tak seorang pun, bahkan juga si pembunuh,
mengetahui bahwa saya selama ini mengobati kelumpuhan
Tuan Noirtier dengan racun brucine. Mari sekarang kita
ikuti jejak-jejak pembunuh itu. Mula-mula dia membunuh
Tuan de Saint-Meran, lalu Nyonya de Saint-Meran . . .
warisan berganda dapat diharapkan dari kematiannya.
Tuan Noirtier telah mencabut hak waris keluarganya, dan
bermaksud mewariskan kekayaannya kepada orang-orang
miskin. Dia selamat. Tetapi segera setelah ia merubah lagi
surat wasiatnya, segera itu pula ia menjadi calon korban
berikutnya. Surat wasiat yang baru itu baru dibuat kemarin
dulu. Nah, Tuan lihat, tak ada waktu yang dibuang-buang."
"Oh, maafkan anak saya, Tuan d'Avrigny!" gumam
Villefort.
"Ah, Tuan menyebut sendiri nama itu. Tuan ayahnya."
"Kasihanilah Valentine! Dengarkan saya, Dokter, tidak
mungkin! Saya lebih suka menyalahkan diri sendiri daripada
menyalahkan dia!"
'Tiada maaf! Kejahatan itu telah jelas sekali dan amat
keji Putri Tuan yang membungkus obat yang dikirimkan
kepada Tuan de Saint-Meran, dan dia mati Dia pula yang
menyediakan makanan Nyonya de Saint-Meran, dan dia
mati mendadak. Dia yang mengantarkan tempat air jeruk
kepada Tuan Noirtier, dan Tuan Noirtier selamat karena
suatu keajaiban."
"Dengarkan!" Villefort berteriak. "Kasihanilah saya,
tolong saya! Tidak, anak saya tidak bersalah. Saya tidak
mau menggusur anak saya ke tiang gantungan dengan
tangan saya sendiri. Pikiran itu saja sudah menyebabkan
saya mau merobek-robek jantung saya sendiri rasanya
Bagaimana bila di kemudian hari ternyata Tuan keliru
Bagaimana kalau orang lain yang melakukannya, bukan
Valentine? Bagaimana kalau pada suatu hari nanti saya
datang kepada Tuan dan berkata, "Kau membunuh anakku!"
"Baik," kata dokter itu setelah diam sejenak. "Saya akan
menunggu."
Villefort menatap wajah dokter itu seakan-akan dia tidak
percaya kepada apa yang didengarnya.
"Tetapi," lanjut Dokter dengan suara rendah dan khidmat,
"bila ada orang lain dalam rumah ini jatuh sakit, atau
Tuan sendiri yang terkena, jangan memanggil saya oleh
karena saya tidak mau lagi kembali ke rumah ini. Saya
bersedia memegang rahasia Tuan yang mengerikan ini,
tetapi saya tidak bersedia membiarkan rasa malu dan sesal
tumbuh dalam jiwa saya seperti tumbuhnya kejahatan dan
kedukaan dalam rumah Tuan ini. Selamat tinggal, Tuan de
Villefort."
BAB XLV
MALAM telah larut ketika Andrea Cavalcanti kembali
ke penginapannya di Hotel des Princes. Tetapi baru saja ia
menginjakkan kaki di halaman hotel itu dia melihat penjaga
hotel berdiri menunggunya dengan topi di tangan.
"Tuan, orang itu tadi ke mari."
"Orang apa?" jawab Andrea acuh tak acuh, seakan-akan
ia tidak ingat lagi kepada orang yang sebenarnya dia kenal
betul.
"Orang yang biasa Tuan beri tunjangan."
"Oh, ya," kata Andrea. "Pelayan tua ayahku. Apakah
sudah kau beri uang dua ratus frank yang kutitipkan
kepadamu?"
"Dia menolak menerimanya, Tuan."
"Apa?"
"Katanya ia ingin berbicara dengan Tuan. Mula-mula ia
tidak mau percaya ketika saya katakan Tuan sedang keluar.
Tetapi akhirnya saya dapat meyakinkan dan ia meninggal
kan surat ini untuk Tuan '
"Coba lihat," kata Andrea. Dia menerima surat itu dan
membaca kalimat ini: "Engkau tahu di mana aku tinggal.
Aku mengharapkan kedatanganmu besok jam sembilan
pagi."
"Nanti ke kamarku kalau engkau telah selesai mengurus
kuda," kata Andrea kepada saisnya.
Dia baru selesai membakar surat dari Caderousse ketika
sais itu masuk. "Badanmu hampir seukuran dengan badanku,
Pierre?"
"Ya, saya mendapat kehormatan itu" jawab sais.
"Aku mempunyai janji dengan seorang wanita malam
ini, tetapi aku tidak mau dia mengetahui siapa aku. Coba
aku pinjam pakaian mu dan surat-suratmu."
Sais menurut saja. Lima menit kemudian, dengan menyamar
sepenuhnya, Andrea meninggalkan Hotel des
Princes tanpa dikenal orang. Dia menyewa sebuah kereta
dan meminta diantarkan ke penginapan Aurberge du
Cheval Rouge di Picpus.
Keesokan paginya dia meninggalkan penginapan itu
menuju Rue Menilmontant dan berhenti di miika pintu
rumah ketiga di sebelah kiri jalan.
"Mencari siapa?" tanya seorang penjual buah-buahan di
seberang jalan.
"Tuan Pailletin."
"Pensiuan pembuat roti itu?"
"Benar."
"Naiklah ke tangga di sebelah kiri, di ujung halaman itu.
Dia tinggal di lantai empat."
Andrea mengikuti petunjuk itu lalu membunyikan bel
pada pintu di lantai empat. Beberapa saat kemudian wajah
Caderousse muncul dari balik pintu. "Engkau datang tepat
sekali," katanya, lalu dia menutup pintu kembali.
Pada waktu memasuki ruangan itu dengan kesal Andrea
melemparkan topinya ke atas sebuah kursi. Lemparannya
tidak tepat, topi itu menggelinding di lantai.
"Jangan marah, anak muda," kata Caderousse. "Coba
lihat makanan yang akan kita sarap bersama. Semua
kesukaanmu."
Andrea mencium bau bawang putih dan lemak segar. Di
ruang berikutnya dia melihat meja yang sudah ditata untuk
dua orang, di atasnya ada dua buah botol anggur, sewadah
besar brendi dan buah-buahan di atas selembar daun kol
yang disusun rapi di atas sebuah piring dari tanah.
"Kalau engkau meminta aku datang untuk sarapan
bersama, persetan!" kata Andrea marah.
"Anak muda " kata Caderousse ramah, "baik sekali kita
berbicara sambil makan. Tidakkah engkau senang bertemu
dengan kawan lama? Aku sendiri sangat berbahagia."
"Munafik."
"Seandainya aku tidak menyukaimu, apa kau kira aku
akan tetap mau menjalani kehidupan buruk yang
disebabkan engkau ini? Aku lihat engkau mengenakan
pakaian pelayan-mu. Sebenarnya, aku pun dapat
mempunyai seorang pelayan. Aku pun dapat memiliki
kereta seperti milikmu, dan aku pun dapat makan di rumah
makan terhormat seperti yang engkau lakukan. Dan
mengapa aku tidak melakukannya? Karena aku tidak mau
menyusahkan kawanku Benedetto. Tetapi engkau harus
mengakui bahwa aku pun dapat memiliki itu semua apabila
aku menghendakinya. Betul?" Sinar mata Caderousse
menekankan makna kata-katanya tadi. "Sementara itu,"
katanya selanjutnya, "silakan duduk dan mari kita makan."
Andrea membuka botol anggur dan selanjutnya malahap
hidangan dengan bergairah. Muda dan sehat seperti dia,
nafsu makannya masih mengatasi segala-galanya.
"Enak bukan?" tanya Caderousse.
"Begitu enaknya sehingga aku tidak mengerti mengapa
orang yang dapat memasak dan makan make n an selezat
ini masih bisa merasa tidak berbahagia."
"Karena kebahagianku dirusakkan hanya oleh sebuah
pikiran saja," jawab Caderousse.
"Maksudmu?"
"Pikiran bahwa aku hidup karena pemberian seorang
kawan. Aku, yang dahulu selalu dapat menghidupi diriku
sendiri"
"Jangan kaupikirkan tentang itu. Aku mempunyai cukup
uang untuk kita berdua."
"Sama saja. Hatiku penuh dengan penyesalan. Tetapi
aku mempunyai satu gagasan."
Hati Andrea bergetar. Gagasan Caderousse selalu saja
menggetarkan hatinya.
"Sangat memalukan kalau engkau selalu harus
menunggu sampai akhir bulan untuk menerima
tunjanganmu," lanjut Caderousse. "Kalau aku jadi engkau,
aku akan minta tunjangan di muka untuk enam bulan
dengan dalih akan membeli sebuah tanah pertanian. Setelah
menerima uang itu lalu kabur."
"Mengapa engkau tidak menuruti nasihatmu sendiri?
Mengapa engkau tidak meminta tunjanganmu untuk enam
bulan atau bahkan untuk setahun di muka, lalu lari ke
Brussel?"
"Bagaimana kau dapat mengharapkan aku dapat hidup
dengan seribu dua ratus frank? Aku mempunyai rencana
yang lebih baik. Dapatkah engkau tanpa mengeluarkan
sesen pun dari uangmu sendiri, memberi aku lima belas ribu
frank? Oh, nanti dulu, tidak cukup . . . aku tak akan dapat
menjadi orang jujur kalau kurang dari tiga puluh ribu."
"Tidak, aku tidak dapat," jawab Andrea pendek.
"Kukira engkau tidak mengerti. Aku katakan: tanpa
mengeluarkan sesen pun dari uangmu sendiri."
"Engkau meminta aku mencuri sehingga aku merusak
segala-galanya dan kita berdua dikembalikan lagi ke dalam
penjara?"
"Oh, aku tak peduli apakah kita akan tertangkap atau
tidak," jawab Caderousse. "Memang aku merasa kangen
kepada kawan-kawan kita di penjara sana. Hatiku tidak
sekeras hatimu. Engkau tidak pernah mau bertemu kembali
dengan mereka!"
Sekali ini, hati Andrea bukan saja bergetar, tetapi
wajahnya pun menjadi pucat. Jangan bertindak bodoh,
Caderousse!" katanya berteriak.
"Jangan takut, kawanku Benedetto. Yang harus engkau
lakukan hanyalah, mencarikan jalan untuk aku mendapatkan
uang yang tiga puluh ribu itu tanpa melibatkan engkau
dalam bentuk apapun juga."
"Baik, aku akan mencoba. Aku akan membuka mata dan
telingaku."
"Sementara itu aku harap engkau menaikkan tunjanganku
menjadi lima ratus. Aku mau menggaji seorang
pelayan."
"Baik, engkau akan menerima lima ratus frank sekalipun
itu sebenarnya berat untuk aku."
"Aku tidak melihat mengapa," kata Caderousse,
"padahal uangmu mengalir dari sumber yang tanpa batas."
Seakan-akan Andrea menantikan pernyataan ini. Seberkas
cahaya kebanggaan bersinar di matanya, lalu
menghilang lagi dengan cepat.
"Benar," katanya, 'Count of Monte Cristo memperlakukan
aku dengan baik."
"Dia sangat kaya, bukan?"
"Pasti. Aku sering datang ke rumahnya. Dengan
demikian aku dapat melihat dengan mata kepala sendiri.
Beberapa hari yang lalu seorang pegawai bank mengirimkan
uang sejumlah lima puluh ribu frank. Kemarin seorang
pejabat bank lainnya mengirimkan seratus ribu frank dalam
emas”
“Dan engkau masuk ke dalam rumahnya?" tanya Caderousse
ingin tahu.
"Kapan saja aku suka."
Caderousse terdiam sebentar. Jelas sekali bahwa pikirannya
sedang berputar-putar, bekerja. Tiba-tiba dia berkata,
"Aku ingin sekali melihatnya! Pasti menakjubkan!"
"Sangat menakjubkan."
“Bukankah dia tinggal di Avenue des Champs Etysee?"
"Ya, nomor tiga puluh."
"Engkau harus membawa aku ke sana suatu waktu."
"Kau tahu, itu tidak mungkin."
"Ya, kukira engkau benar. Tetapi, coba ceriterakan
kepadaku tentang rumah itu. Besarkah rumah itu?"
"Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil."
"Bagaimana pembagiannya?"
"Harus kugambarkan agar jelas."
"Ini!" kata Caderousse sambil pergi ke sebuah meja
mengambil tinta, pena dan kertas.
Andrea menerima pena itu dengan senyum yang hampir
tidak tampak, lalu mulai mendenah. "Rumah itu berada
antara halaman dan sebuah kebun, begini," katanya.
"Bagaimana temboknya? Tinggi?"
"Tidak. Paling tinggi delapan sampai sepuluh kaki."
"Bagaimana keadaan lantai pertamanya?"
"Di lantai pertama ada dua buah ruang duduk, sebuah
ruang makan dan sebuah ruang bilyar."
"Bagaimana bentuk jendelanya?"
"Mengesankan sekali . . . sangat besar sehingga orang
seperti aku dapat masuk melalui kotak-kotak kacanya."
"Bagaimana tentang kunci-kuncinya?"
"Jendela itu tidak pernah dikunci. Count of Monte Cristo
itu orang yang aneh. Dia senang sekali melihat langit di
malam hari."
"Di mana para pelayan tidur?"
"Mereka tidur di bangunan yang terpisah, di sebelah
kananmu kalau engkau memasuki halaman. Baru kemarin
aku mengatakan kepada Count: Tuan kurang hati-hati.
Kalau Tuan pergi ke Auteuil dan membawa semua pelayan,
rumah ini kosong sama^ekali. Pada suatu hari pasti rumah
ini dirampok."
"Dan bagaimana jawabannya?"
"Katanya, 'apa peduli saya kalau saya dirampok?’"
"Dia tentu mempunyai sebuah meja bermesin."
"Apa maksudmu?"
"Meja yang dapat menjebak pencuri dan secara otomatis
memberikan tanda bahaya. Aku pernah melihat contohnya
dalam sebuah pameran terakhir ini."
"Tidak, dia hanya memiliki sebuah meja biasa."
"Dan belum pernah ada orang mencuri sesuatu dari
dalam rumahnya?"
'Tidak, semua pelayannya sangat setia."
"Tentu laci meja itu banyak sekali isinya?"
"Mungkin sekali. Tak seorang pun tahu apa isinya."
"Di mana letaknya meja itu?"
"Di lantai kedua."
"Coba gambarkan keadaan lantai dua itu."
"Baik."
Andrea mengambil lagi penanya. "Ini ruang tunggu dan
ruang duduk," katanya. "Di sebelah kiri ruang duduk ada
ruang perpustakaan. Di sebelah kanan ruang duduk ada
kamar tidur dan kamar hias. Meja itu berada di kamar
hias."
"Apakah kamar hias ini berjendela?"
"Ada dua ... di sini dan di sini. Andrea menggambarkan
letak jendela itu pada denahnya.
Caderousse berpikir. "Apakah ia sering pergi ke rumahnya
di Auteuil?"
"Dua atau tiga kali seminggu. Besok, umpamanya, dia
bermaksud menghabiskan hari siangnya di sana dan terus
bermalam di sana juga."
"Yakin?"
"Dia mengundangku makan malam di sana."
"Engkau akan memenuhinya?"
“Mungkin."
"Dan kalau engkau datang untuk makan malam, apakah
engkau juga akan menginap di sana?"
"Aku mau."
Caderousse manatap wajah anak muda itu dengan tajam
seakan-akan ia hendak mengorek kebenaran kata-katanya
dari lubuk hatinya. Tetapi Andrea mengambil kotak cerutu
dari kantong bajunya dengan tenang, menyulut sebuah lalu
mengisapnya dengan gaya yang wajar sekali. "Kapan
engkau menghendaki uangmu yang lima ratus frank itu?"
"Sekarang juga, kalau engkau membawanya."
"Aku tak pernah membawa uang lima ratus frank dalam
saku"
"Titipkan saja kepada penjaga hotel itu, nanti aku
menjemputnya."
"Hari ini?"
"Tidak, besok."
"Dan engkau tidak akan mengganggu aku lagi, bukan?"
"Tidak akan. Tetapi dengarlah nasihat yang bersahabat”
"Apa?"
"Aku nasihatkan agar engkau meninggalkan cincin intan
itu padaku. Bagaimana mungkin engkau melakukan
kesalahan sebodoh ini? Apakah engkau bermaksud supaya
kita tertangkap lagi?"
"Apa maksudmu?"
"Kau berpakaian seperti seorang pelayan, tetapi engkau
masih juga memakai cincin intan berharga empat atau lima
ribu frank!"
"Penaksiran yang cermat sekali. Seharusnya engkau
menjadi seorang juru lelang."
"Aku tahu sedikit-sedikit tentang intan. Pernah aku
memilikinya sebuah."
Tanpa menjadi marah karena pemerasan yang baru ini,
Andrea dengan patuh menyerahkan cincin itu. Sebenarnya
Caderousse khawatir dia akan marah sekali.
"Ada lagi yang kauinginkan?" tanyanya. "Perlu jaket ini?
Bagaimana dengan topiku? Jangan malu-malu memintanya."
"Baik, aku tak akan menahanmu lebih lama lagi dan aku
akan mencoba mengobati sendiri kerakusanku. Tunggu
sebentar, aku antarkan sampai di pintu."
"Tak perlu ."
"Harus."
"Mengapa?"
"Karena ada suatu rahasia kecil pada pintu itu, suatu
kewaspadaan yang kurasa perlu dijalankan. Kunci buatan
Huret and Fichet itu dirombak dan diperbaiki oleh Gaspard
Caderousse. Aku akan membuatkan mu sebuah kalau
engkau nanti sudah menjadi seorang kapitalis."
"Terima kasih," kata Andrea. "Aku akan memberitahu
seminggu sebelumnya."
Mereka berpisah. Caderousse tetap berdiri sampai dia
melihat Andrea menuruni ketiga buah tangga dan berjalan
melintasi pekarangan. Segera dia kembali ke kamarnya.
Dengan hati-hati ia mengunci pintunya dan mulailah dia
mempelajari denah yang ditinggalkan Andrea dengan
seksama.
BAB XLVI
SEHARI setelah pembicaraan Andrea dan Caderousse,
Count of Monte Cristo pergi ke rumahnya di Auteuil
membawa Ali dan beberapa orang pelayannya. Ketika
berada di sana Bertuccio datang dari Normandia membawa
berita tentang rumah yang hendak dibeli Monte Cristo di
sana. Rumah itu telah beres, dan kapal kecil dengan
diawaki enam orang sudah berlabuh di sebuah teluk kecil
dekat rumah itu, siap untuk mengarungi lautan setiap saat.
Monte Cristo memuji ketrampilan Bertuccio dan memberitahukan
agar siap untuk berangkat setiap waktu karena
keperluannya di Pcrancts sudah akan berakhir dalam
sebulan lagi. Pada saat itulah Baptis tin membuka pintu.
Dia membawa sebuah baki, di atasnya sepucuk surat.
"Mengapa engkau ke mari?" tanya Monte Cristo kepada
Baptistin yang pakaiannya penuh berdebu. "Apakah aku
memanggilmu?"
Tanpa menjawab Baptistin menghampirinya dan menyerahkan
surat itu. 'Penting dan sangat mendesak," katanya.
Monte Cristo membuka surat itu:
"Count of Monte Cristo dengan ini diberitahu bahwa ada orang
yang akan membongkar rumahnya di Paris dengan maksud
mencuri berbagai surat berharga yang disangkanya berada dalam
laci meja di kamar ruasnya Count of Monte Cristo cukup mampu
untuk tidak meminta perlindungan polisi. Laporan kepada polisi
dapat menimbulkan terdapatnya petunjuk siapa penulis surat
ini.
Terlalu banyaknya orang di rumah itu atau penjagaan yang
terlalu menyolok dapat menyebabkan si pencuri menangguhkan
niatnya, dan pada gilirannya akan menyebabkan Count of Monte
Cristo kehilangan kesempatan menemukan orang yang menjadi
musuhnya, sebuah kesempatan baik yang kebetulan diketahui oleh
penulis ini dan peringatan yang tidak mungkin diulangi lagi
penulis apabila si pencuri gagal dalam usaha pertamanya
kemudian mencoba lagi pada kesempatan lain."
Yang pertama timbul pada Monte Cristo setelah
membaca surat ini, adalah sangkaan bahwa surat itu hanya
merupakan suatu muslihat dari seorang pencuri belaka
untuk memindahkan perhatiannya kepada suatu bahaya
kecil dari bahaya lain yang jauh lebih besar. Oleh sebab itu,
hampir saja dia menyuruh menyerahkan surat itu kepada
polisi, sekalipun disarankan untuk tidak melakukannya oleh
si penulis surat itu. Tetapi tiba-tiba timbul pikiran lain.
Mungkin sekali pencuri itu betul-betul seorang musuh
pribadinya, seorang musuh yang hanya dia sendiri yang
dapat mengenalinya dan hanya dia sendiri yang dapat
memanfaatkannya, kalau perlu.
"Dia bukan hendak mencuri surat-surat berharga," katanya
kepada dirinya sendiri, "dia mau membunuh aku. Aku
tidak ingin polisi sibuk terlibat dalam urusan pribadiku. Aku
cukup kaya untuk membebaskan mereka dari biaya-biaya
yang harus dikeluarkan untuk urusan ini."
Dia memanggil Baptistin yang telah keluar lagi setelah
menyerahkan surat tadi. "Cepat kembali ke Paris dan bawa
semua pelayan ke mari " katanya "Aku memerlukan semuanya
di sini." Baptistin membungkuk.
"Apakah perintahku jelas? Engkau harus membawa
semua pelayan ke mari, tetapi aku menghendaki supaya
rumah itu ditinggalkan dalam keadaan seperti sekarang.
Kunci jendela-jendela di lantai satu, hanya itu."
"Bagaimana dengan jendela-jendela di lantai dua, Tuan?"
"Engkau tahu aku tidak pernah menguncinya. Pergi
sekarang."
Pada sore harinya dia makan dengan kesederhanaan dan
ketenangan seperti biasa. Setelah memberi isarat kepada Ali
untuk mengikutinya dia menyelinap ke luar melalui pintu
samping. Menjelang malam ia sudah berada di rumahnya di
Paris. Dia berdiri di bawah sebuah pohon meneliti
sepanjang jalan dengan seksama, mencari kalau-kalau ada
orang yang bersembunyi di sekitar itu. Setelah yakin bahwa
tidak ada orang yang akan menyergapnya, dia berlari ke
pintu Samping diikuti Ali. membuka kuncinya lalu naik
masuk ke kamar tidurnya tanpa menyingkap kan tirai-tirai
jendela atau. berbuat sesuatu yang bisa menjadi petunjuk
kembalinya dia ke rumah itu.
Ketika sampai di kamar tidurnya, Monte Cristo memberi
tanda kepada Ali untuk berhenti. Dia masuk ke kamar
pakaiannya, lalu memeriksanya dengan seksama. Segala
sesuatu masih tetap pada tempatnya. Dia melepaskan
pegangan palang pintu, lalu kembali ke kamar tidurnya.
Selagi Monte Cristo melakukan pekerjaan itu Ali telah
menyiapkan senjata-senjata yang diminta majikannya. Sebuah
karaben pendek dan sepasang pistol berlaras ganda.
Dengan senjata-senjata itu Monte Cristo dapat mempertahankan
jiwa lima orang.
Ketika itu setengah sepuluh malam. Dengan cepat
Monte Cristo dan Ali memakan sepotong roti disusul
dengan segelas anggur Spanyol. Monte Cristo
menggeserkan sebuah papan pada dinding. Dengan
bergesernya papan itu tampak sebuah lubang yang
membuatnya dapat melihat ke ruangan lain. Pistol dan
karabennya berada di dekat jangkauannya. Ali berdiri di
sebelahnya dengan memegang sebuah kapak Arab. Monte
Cristo dapat melihat ke jalan melalui salah satu jendela
kamar tidurnya.
Dua jam telah berlalu. Malam gelap gelita. Tetapi Ali
berkat pembawaannya, dan Monte Cristo berkat latihannya
yang sempurna dapat menembus kegelapan itu bahkan
dapat melihat gerakan sekecil apa pun di pekarangan.
Monte Cristo yakin bahwa pencuri itu akan mengincar
nyawanya, bukan uangnya. Oleh sebab itu pencuri itu akan
masuk ke dalam kamar tidurnya, mungkin melalui tangga
atau mungkin juga melalui salah sebuah jendela di kamar
hiasnya. Dia memerintahkan Ali menjaga tangga dan ia
sendiri mengawasi kamar pakaiannya.
Lonceng di Les Invalides berbunyi. Jam dua belas kurang
seperempat. Ketika dentang terakhir hampir menghilang
Monte Cristo mendengar suara goresan berasal dari kamar
pakaiannya. Suara ini menghilang sementara, lalu diikuti
oleh suara kedua dan ketiga. Pada keempat kalinya Monte
Cristo tahu suara apa itu. Sebuah tangan yang terlatih
sedang berusaha memecahkan kaca jendela dengan sebutir
intan.


0 Response to "The Count of Monte Cristo 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified