Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Count of Monte Cristo 1

THE COUNT OF MONTE CRISTO



BAB I
PADA tanggal 24 Februari 1815 menara Pelabuhan
Marseilles memberi isyarat masuknya kapal bertiang tiga Le
Pharaon yang datang dari Smyrna, Triest dan Napoli.
Pelabuhan segera penuh sesak oleh orang-orang yang
biasa ingin menonton, oleh karena setiap kedatangan kapal
selain saja dianggap mereka sebagai suatu kejadian yang
luar biasa. Apalagi kalau kapal itu seperti Le Pharaon,
dibuat, diperlengkapi, dimuati dan dimiliki oleh seorang
penduduk Marseilles sendiri.
Kapal mendekat dengan perlahan-lahan sekali. Suasananya
sedemikian rupa sehingga orang orang dengan segera
dapat mencium bahwa ada sesuatu yang kurang menyenangkan.
Mereka mulai mengira-ngira kecelakaan apa gerangan
yang telah terjadi dalam kapal itu. Tetapi pelautpelaut
yang berpengalaman yang berada di antara mereka
segera pula mengetahui bahwa apabila benar terjadi sesuatu
kecelakaan, maka kecelakaan itu bukan menimpa kapalnya,
karena kapal itu tampak jelas masih utuh dan berjalan
dengan baik. Di sebelah jurumudi yang sedang bersiap-siap
mengemudikan Le Pharaon masuk pelabuhan melalui jalan
masuk yang sempit, berdiri seorang anak muda. Dengan
mata yang waspada disertai gerakan tangan yang lincah ia
mengikuti setiap gerakan kapal dan meneriakkan kembali
semua petunjuk jurumudi.
Kebimbangan dan kecemasan yang meliputi orang-orang
yang sedang menonton itu, telah mempengaruhi seorang
laki-laki sedemikian rupa sehingga ia tidak sabar lagi
menunggu sampai kapal merapat. Ia melompat ke dalam
sebuah sekoci dan memerintahkan pendayungnya menuju
Le Pharaon
Ketika melihat sekoci mendekat, anak muda yang berdiri
di sebelah jurumudi tadi meninggalkan tempatnya dan
berjalan ke tepi kapal dengan topi di tangannya. Badannya
tinggi semampai, matanya gelap dan rambutnya hitam
sehitam arang. Usianya tidak akan lebih, dari dua puluh
tahun. Semua gerak-lakunya menunjukkan ketenangan dan
keteguhan hati yang khas dimiliki seseorang yang telah
terbiasa menghadapi bahaya sejak masa kecil.
"Dantes!” teriak orang dalam sekoci itu. "Ada apa?
Mengapa semua tampak begitu muram?"
“Ada musibah, Tuan Morrel!" jawab anak muda itu.
"Kami kehilangan Kapten Leclere yang perkasa selepas
Civitavecchia."
"Bagaimana dengan muatan?" tanya si pemilik kapal
ingin segera tahu.
"Muatan selamat, Tuan. Bahkan saya kira Tuan akan
sangat puas. Tetapi Kapten Leclere yang malang itu . . .”
"Mengapa sebenarnya Kapten itu?" Dari suaranya jelas
bahwa hatinya lega mendengar muatannya selamat.
"Beliau meninggal karena serangan penyakit pada otaknya.
Jenazahnya kami kuburkan di laut Pulau II Giglio
Badannya kami bungkus dengan ranjang ayunnya dan
diberati dengan dua buah peluru meriam. Satu pada kepalanya
dan sebuah pada kakinya." Anak muda itu tersenyum
sedih kemudian menambahkan, "Aneh sekali, beliau turut
berperang melawan Inggris selama sepuluh tahun, tetapi
mengakhiri hayatnya di atas ranjang."
"Ya, kita semua tidak ada yang abadi," kata pemilik
kapal. "Lagipula yang tua mesti memberi jalan bagi yang
muda-muda. Bila tidak demikian tak mungkin ada kemajuan
bagi yang muda-muda."
Ketika kapal melarut Menara Putar pelaut muda itu
berteriak kepada para kelasi, "Siap menurunkan layar!"
Perintahnya segera dilaksanakan bagaikan perintah
dalam sebuah kapal perang.
"Turunkan!"
Dengan perintah terakhir ini semua layar turun dan laju
kapal menjadi lambat hampir tidak terasa.
"Kalau Tuan sudi naik ke kapal, Tuan Morrel," kata
Dantes yang melihat ketidaksabaran pemilik kapal, 'Tuan
dapat berbicara dengan Kepala Tata Usaha, Tuan Danglars,
yang baru saja keluar dari kamarnya. Beliau dapat memberikan
segala keterangan yang Tuan inginkan. Dan saya,
mohon izin karena harus mengawasi penurunan jangkar
dan mendandani "kapal untuk berkabung."
Morrel tidak menanti dianjurkan untuk kedua kalinya.
Dia menangkap tangga tali yang dilemparkan Dantes
kepadanya dan dengan kesigapan seorang pelaut menaiki
tangga tali itu.
Dantes kembali pada tugasnya dan Danglars datang
menghampiri Morrel.
Kepala Tata Usaha itu berumur dua puluh lima atau dua
puluh enam tahun. Pembawaannya agak murung. Ke pada
atasan ia pandai menjilat sedangkan kepada bawahan nya
bersifat angkuh. Semua awak kapal membencinya sehebat
mereka mencintai Edmond Dantes.
"Saya kiiaTuan telah mendengar kabar tentang musibah
yang menimpa kita,' kata Dangiars memulai pembicaraan.
"Ya, sudah. Sayang sekali. Ia seorang pemberani dan
terhormat."
"Dan seorang pelaut yang hebat. Sebagian besar dari
usianya dihabiskannya antara langit dan laut, sebagaimana
wajibnya seseorang yang mendapat kepercayaan dari
sebuah perusahaan sepenting Morrel & Son."
"Tetapi," kata pemilik kapal sambil memperhatikan Dan
tes yang sedang mempersiapkan pelemparan sauh, "bagiku,
seseorang itu tidak perlu berusia tua untuk dapat bekerja
dengan baik, Dangiars. Kawan kita yang itu, Edmond Dan
tes, untuk melakukan tugasnya jelas tidak memerlukan
nasihat dari siapa pun."
"Benar," jawab Dangiars sambil melemparkan
pandangan penuh benci kepada Dantes, "ia muda dan tidak
pernah ragu-ragu dalam segala hal. Segera setelah Kapten
meninggal, dia mengambil alih pimpinan tanpa
bermusyawarah dahulu dengan siapa pun. Dan dia telah
merugikan kita satu setengah hari karena menyinggahi
dahulu Pulau Elba. Bukannya langsung pulang ke
Marseilles."
"Tentang pengambilalihan pimpinan " kata pemilik kapal,
"adalah kewajibannya sebagai jummudi pertama, tetapi
dia keliru kalau membuang waktu satu setengah hari di
Pulau Elba, kecuali kalau kapal memerlukan sesuatu
perbaikan."
"Kapal itu sehat sesehat saya, Tuan Morrel, juga saya
harap sesehat Tuan sendiri Pembuangan waktu yang satu
setengah hari itu, tidak lain h^a tingkahnya saja. Dia ingin
pergi ke darat saja, hanya itu."
"Dantes!" seru Tuan Morrel sambil membalikkan badan
ke arah Dantes. "Ke mari sebentar!"
"Maaf Tuan, sebentar," jawab Dantes, kemudian menghadap
kepada anak buahnya, berteriak, "Lempar!” Sauh
jatuh ke dalam air disertai gemerincingnya rantai.
Dantes berjalan menghampiri Tuan Morrel
"Aku ingin bertanya mengapa engkau singgah di Pulau
Elba."
"Oh! Untuk memenuhi perintah Kapten Leclere. Sesaat
sebelum meninggal beliau memberikan sebuah bungkusan
kepada saya untuk disampaikan kepada
Marsekal Bertrand di Pulau Elba." "Apakah engkau
bertemu dengan beliau, Edmond?"
"Bertemu, Tuan.?
Tuan Morrel melihat ke sekelilingnya kemudian menarik
Dantes ke tempat yang agak terpisah. "Bagaimana keadaan
Kaisar?" dia bertanya ingin benar-benar mengetahui.
"Sepanjang yang saya ketahui, beliau sehat-sehat saja.
Beliau masuk ke kamar Marsekal ketika saya berada disana.
"Apa engkau berbicara kepada beliau?" "Tidak, beliau
yang berbicara kepada saya,"jawab Dantes tersenyum. "Apa
kata beliau?"
"Beliau bertanya tentang Le Pharaon, bila meninggalkan
Marseilles, bagaimana rute perjalanannya dan apa muatannya.
Saya kira, seandainya kapal itu kosong dan saya
pemiliknya, mungkin sekali beliau akan mencoba membelinya
dari saya. Tetapi saya ceritakan kepada beliau bahwa
saya hanyalah junimudi pertama dan pemiliknya adalah
Perusahaan Morrel & Son. 'Aku kenal perusahaan itu,' kata
beliau. 'Keluarga Morrel itu sudah beberapa generasi
menjadi pemilik kapal, dan dalam resimenku ada seorang
Morrel ketika aku ditempatkan di Valence'."
"Itu benar!" Tuan Morrel mengiyakan dengan hati senarig.
"Dia adalah Policar Morrel, pamanku, kemudian dia
jadi kapten.
Sambil menepuk pundak Dantes dengan ramah ia berkata
lagi, "Engkau telah bertindak benar dengan menuruti
perintah Kapten Leclere untuk singgah di Pulau Elba.
Sekalipun mungkin sekali engkau akan terlibat dalam
kesulitan apabila diketahui orang bahwa engkau telah
menyerahkan sebuah bungkusan kepada Marsekal dan
berbicara dengan Kaisar."
"Kesulitan bagaimana, Tuan?" Dantes bertanya heran.
"Saya tidak mengetahui sama sekali apa isi bungkusan itu,
sedangkan Kaisar hanya bertanya sesuatu yang pasti akan
beliau tanyakan juga kepada setiap pendatang ke Pulau
Elba. Tetapi maafkanlah saya sebentar, Tuan. Saya lihat
Pejabat Kesehatan dan Bea Cukai telah naik ke kapal."
Danglars menghampiri lagi Morrel setelah Dantes pergi.
"Rupanya ia memberikan alasan yang bagus untuk persinggahannya
itu, bukan?"
"Ia telah memberikan alasan yang bagus sekali, Tuan
Danglars."
"Syukurlah. Tidak enak kalau melihat seorang kawan
gagal melakukan kewajibannya."
"Dantes telah melakukan kewajibannya dengan baik
sekali, Tuan," jawab pemilik kapal. "Kapten Lederelah yang
memerintahkan dia mampir di Pulau Elba."
"Berbicara tentang Kapten Leclere, apakah Dantes tidak
menyerahkan surat untuk Tuan?"
"Tidak. Apa, memang ada surat untuk saya?"
"Saya kira Kapten Leclere menyerahkan sebuah surat
bersama bungkusan itu."
"Bungkusan apa, Danglars?"
"Yang diserahkan Dantes di Pulau Elba."
"Bagaimana engkau mengetahui bahwa Dantes
menyerahkan bungkusan di sana?"
Wajah Danglars agak merah karena malu. "Pintu kamar
Kapten terbuka sedikit ketika saya lalu di sana," katanya,
"dan saya melihat Kapten menyerahkan sebuah bungkusan
dan sebuah surat."
"Dia tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Tetapi kalau
memang ada, pasti ia akan menyerahkannya."
Danglars diam sejenak, kemudian berkatat 'Tuan Morrel,
saya harap Tuan tidak mengatakan hal ini kepada Dantes,
sebab mungkin saya salah."
Pada saat itulah Dantes datang kembali, dan Danglars
pergi.
"Nah Dantes, selesai sekarang?" "Selesai, Tuan."
"Kalau begitu, maukah engkau makan malam di rumah
kami?"
"Maaf Tuan Morrel, tetapi saya rasa saya mesti men’
dahulukan mengunjungi ayah saya. Walaupun demikian,
saya sangat berterima kasih atas kehormatan mendapat
undangan itu."
"Engkau benar, Dantes. Engkau seorang anak yang baik.
Kami mengharapkan kedatanganmu setelah engkau menemui
ayahmu."
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan, sebab setelah
mengunjungi ayah ada lagi seorang yang sama pentingnya."
"O ya, ya. Aku lupa bahwa ada seseorang yang sama
tidak sabarnya seperti ayahmu sedang menunggu kedatanganmu,
Mercedes yang cantik. Engkau sungguh beruntung,
Edmond, mempunyai kekasih yang cantik.”
"Dia bukan kekasih, Tuan," kata pelaut muda itu dengan
tenang. "Dia tunangan saya."
"Ya, kadang-kadang kekasih dan tunangan itu sama
saja," kata Morrel tertawa.
"Bagi kami tidak, Tuan."
"Baiklah, aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi.
Engkau telah mengurus kepentinganku dengan baik, dan
aku ingin memberimu waktu sebanyak mungkin untuk
mengurusi kepentinganmu sendiri. Apa masih ada yang
hendak engkau katakan?"
"Tidak, Tuan."
"Apakah Kapten Leclere tidak menitipkan sesuatu surat
untukku sebelum dia meninggal?"
"Beliau sudah tidak kuasa lagi menulis, Tuan. Tetapi
pertanyaan Tuan itu mengingatkan saya untuk meminta
kebaikanTuan agar memberi saya cuti selama dua minggu."
"Untuk kawin?"
"Itu yang terutama, kemudian untuk pergi ke Paris."
"Baik, ambilah cuti selama engkau suka, Dantes. Untuk
menurunkan muatan saja akan mengambil waktu sekurangkurangnya
enam minggu, dan kita bcium akan siap untuk
berlayar lagi sebelum tiga bulan kurang-lebih. Tetapi dalam
tempo tiga bulan engkau harus sudah berada lagi di sini. Le
Pharaon," kata pemilik kapal selanjutnya sambil memegang
bahu pelaut muda itu, "tak dapat berlayar tanpa
kaptennya."
"Tanpa kaptennya?" Dantes setengah berteriak, matanya
bersinar kegirangan. "Apakah Tuan bermaksud mengangkat
saya menjadi kapten Le Pharaon?” ' "Seandainya aku tidak
berkongsi, Dantes, saya akan menjabat tanganmu dan ‘
erkata. 'Engkau kuangkat jadi kapten.' Tetapi aku
mempunyai teman usaha, dan engkau tahu peribahasa
Italia, bukan? Yang mengatakan: Barangsiapa mempunyai
kongsi berarti mempunyai majikan.' Tetapi, setidaktidaknya
urusan ini sudah boleh dikatakan setengah jadi,
karena engkau telah mendapat satu dari dua suara yang
diperlukan. Serahkan saja kepadaku untuk mendapatkan
suara yang satu lagi itu. Aku akan berusaha sebaikbaiknya."
"Oh, Tuan Morrel!" kata Dantes sambil memegang
tangan pemilik kapal erat-erat. Matanya berlinang linang
"Saya menyampaikan terima kasih atas nama ayah dan
Mercedes."
"Sudah, sudah, Edmond. Temuilah ayahmu, temuilah
Mercedes, kemudian kembali dan temui aku."
"Apakah Tuan tidak perlu saya antar ke darat?"
"Tidak, terima kasih. Aku akan tinggal di kapal untuk
melihat pembukuan bersama Dangiars. Apakah engkau
merasa puas terhadapnya selama perjalanan ini?"
"Itu tergantung kepada maksud pertanyaannya, Tuan
Morrel. Apabila Tuan bertanya apakah saya merasa puas
terhadapnya sebagai kawan, jawabnya: tidak. Saya kita dia
membenci saya sejak pada hari kami sedikit bertengkar, dan
saya telah berbuat keliru dengan menyarankan agar berhenti
barang sepuluh menit di Pulau Monte Cristo untuk
menyelesaikan pertengkaran itu. Saran yang keliru untuk
dikemukakan dan dia cukup bijak untuk menolaknya.
Tetapi kalau Tuan berbicara tentang dia sebagai Kepala
Tata Usaha, saya kira tidak ada sesuatu yang patut
dikatakan dapat merugikan dia. Dan saya kira Tuan akan
merasa puas bagaimana ia melakukan kewajibannya."
"Kalau engkau menjadi kapten Le Pharaon, apakah
engkau akan senang mempunyai dia sebagai Kepala Tata
Usaha?"
"Baik sebagai kapten maupun sebagai jurumudi pertama,
Tuan Morrel, saya akan selalu menghargai mereka yang
mendapatkan kepercayaan dari pemilik kapal."
"Bagus, bagus, Dantes. Kulihat engkau baik dalam segala
hal. Tetapi jangan ragu-ragu, kalau mau pergi pergilah. Aku
melihat engkau sudah ingin segera pergi."
"Bolehkah saya menggunakan sekoci Tuan?"
"Tentu."
"Selamat tinggal, Tuan Morrel, dan sekali lagi terima
kasih yang setulus-tulusnya."
Pelaut muda itu melompat ke dalam sekoci kemudian
duduk di buritan dan memberikan perintah untuk didayung
ke arah Canebiere. Sambil tersenyum pemilik kapal mengikuti
dengan pandangan sampai dia melompat ke darat,
kemudian hilang ditelan kerumunan orang. Ketika membalikkan
badannya Morrel melihat Danglars berdiri di
belakangnya. Seperti dia juga, Danglars mengikuti gerakgerik
pelaut muda itu dengan pandangan mata. Tetapi
gambaran" hati yang tercermin pada wajah masing-masing
berbeda menyolok sekali.
BAB II
SETELAH berjalan sepanjang Canebiere Dantes
berbelok ke Rue de Noilles, kemudian memasuki sebuah
rumah kecil di sebelah kiri jalan Alles de Meilhan. Ia
menaiki tangga gelap kemudian berhenti di depan sebuah
pintu kamar yang setengah terbuka. Itulah kamar tempat
ayah Edmond Dantes tinggal. "Ayah! Ayah!"
Orang tua yang sedang berdiri membelakangi pintu terkejut
kemudian membalikkan badan dan kemudian jatuh
dalam rangkulan tangan anaknya. Badannya gemetar (Jan
mukanya pucat.
"Mengapa Ayah? Sakitkah Ayah?"
"Tidak, tidak Edmond. Aku tidak mengira bahwa engkau
akan datang hari ini. Kegembiraan yang mendadak inilah
yang .. ."
"Kata orang, kegembiraan tidak pernah membahayakan.
Itulah sebabnya saya langsung menemui Ayah. Saya telah
kembali dengan selamat dan kita akan berbahagia lagi bersama-
sama."
"Sedap sekali, anakku! Tetapi bagaimana kita akan berbahagia?
Apakah maksudmu tidak akan meninggalkan lagi
aku seorang diri seterusnya? Coba ceriterakan apa yang
membuat kau segembira ini."
"Semoga Tuhan memaafkan, karena saya bergembira
mendapatkan keuntungan yang disebabkan ke matian seseorang.
Tetapi saya tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.
Kapten Leclere meninggal dan tampaknya saya
akan diangkat untuk menggantikannya. Dapatkah Ayah
membayangkan? Seorang kapten dalam usia dua puluh
tahun? Dengan gajih sebanyak seratus louis ditambah hak
mendapat bagian dari keuntungan? Dapatkah seorang
pelaut miskin seperti saya ini mengharapkan yang lebih dari
itu?"
"Benar anakku, engkau sangat beruntung."
"Dari gaji yang pertama saya bermaksud membelikan
Ayah sebuah rumah dengan kebunnya . . . Mengapa Ayah?
Tampaknya Ayah sakit."
"Tidak apa-apa. Sebentar juga berlalu," kata orang tua itu
mencoba menghilangkan kerisauan anaknya, tetapi
badannya telah sangat lemah dan ia jatuh terkulai.
"Sebaiknya Ayah minum anggur,1' kata Edmond. "Di
mana Ayah meny imp anny a? "
"Aku tidak memerlukannya, Nak," kata orang tua itu
mencoba mencegah anaknya mencari anggur.
"Mesti, Ayah, biar hangat. Katakan saja di mana!”
Edmond membuka dua tiga lemari yang ada dalam
kamar itu, namun semua kosong.
"Tak usah dicari, Edmond, karena aku tidak mempunyai
anggur.'1
"Tidak ada anggur???" Edmond terkejut. Dengan mata
terbelalak ia berpindah-pindah memandang pipi ayahnya
yang kempot dan lemari yang kosong. "ApakahAyali
kehabisan uang?"
"Aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang karena
engkau telah kembali"
"Tetapi, tetapi tiga bulan yang lahi ketika saya akan pergi
bukankah saya memberi Ayah dua ratus frank," kata
Edmond sedikit terbata-bata.
"Benar, Edmond. Tetapi ketika itu engkau lupa akan
hutangmu kepada tetangga kita Caderousse. Dia menagih
kepadaku dan mengatakan akan melaporkannya kepada
Tuan Morrel apabila aku tidak membayarnya. Aku
khawatir, laporannya dapat merugikan engkau. Itulah
sebabnya aku bayar dia."
'Tetapi hutangku berjumlah seratus empat puluh frank.
Apakah Ayah melunasinya dari uang yang dua ratus itu?"
Orang tua. itu mengangguk.
"Dan Ayah hidup selama tiga bulan hanya dengan empat
puluh frank saja? Ya, Tuhan ampunilah saya!!!"
"Sudahlah, Edmond Yang penting engkau telah kembali
dengan selamat." ,
"Ya, saya telah kembali dengan membawa sedikit uang
dan harapan akan masa depan yang cerah. Nih Ayah,
ambillah semua dan belilah segala sesuatu yang
diperlukan."
Dantes mengeluarkan semua isi dompetnya di atas meja:
selusin emas batangan, dua puluh lima atau tiga puluh frank
dan beberapa uang kecil lainnya.
Wajah orang tua itu menjadi cerah. "Milik siapa itu?”
"Milik saya, milik Ayah, milik kita berdua! Ambillah dan
belilah persediaan makanan. Dan jangan khawatir, esok
saya akan membawa lebih banyak lagi. Selain uang saya
masih punya kopi dan tembakau yang baik untuk Ayah.
Tetapi masih di kapal. Besok akan saya bawa . , .. Saya
mendengar ada orang datang."
"Mungkin sekali Caderousse untuk mengucapkan
selamat datang kepadamu."
"Orang yang lidahnya tidak seia dengan hatinya," Edmond
menggerutu. "Tetapi biarlah, dia adalah tetangga dan
pernah berbuat jasa kepada kita"
Sesaat kemudian Caderousse memasuki kamar. Usianya
kuranglebih dua puluh lima tahun. Rambut dan janggutnya
hitam. Di tangannya ada selembar kain — karena ia
seorang penjahit — yang sedang dikerjakannya untuk
membuat sebuah jas.
"Engkau telah kembali, Edmond!" katanya dengan logat
Marseilles yang masih jelas. Senyumnya yang lebar
memperlihatkan giginya yang putih.
"Ya, saya telah kembali. Dan siap untuk melakukan apa
saja untukmu sepanjang kemampuan saya."
"Terima kasih. Tetapi untung, saya tidak memerlukan
apa-apa Biasanya, orang lain yang kadang-kadang
memerlukan pertolongan saya”
Edmond sudah akan menjawab pernyataan tetangga ini
tetapi Caderousse cepat meneruskan, "Bukan engkau yang
saya maksud. Benar saya meminjamimu uang tetapi engkau
telah mengembalikannya, jadi antara kita telah selesai."
"Kami tidak pernah merasa selesai dengan orang-orang
yang telah berbuat baik kepada kami. Sekalipun kami sudah
tidak berhutang uang lagi tetapi kami tetap berhutang
kebaikan kepadanya.”
"Mengapa engkau berbicara tentang itu? Yang sudah
lewat biarlah. lalu. Lebih baik kita berbicara tentang
kepulanganmu saja, kawan. Saya kebetulan berjumpa dengan
kawan kita Dangiars di pelabuhan. Dialah yang mengabariku
bahwa engkau telah pulang. Dia juga
mengatakan bahwa engkau telah mendapat tempat yang
baik di hati Tuan Morrel. Sebaiknya engkau tidak menolak
undangannya untuk makan malam di rumahnya. Apabila
seseorang ingin menjadi kapten, dia harus pandai
mengambil hati pemilik kapal."
“Saya harap dapat menjadi kapten tanpa berbuat begitu,"
"Kalau dapat tentu saja lebih baik. Kawan-kawan lamamu
tentu turut bergembira melihat engkau berhasil maju.
Dan aku tahu ada seorang lagi yang akan lebih bergembira
mendengar berita baik itu."
"Kau maksud Mercedes?" tanya ayah Dantes.
"Benar, Ayah." kata Edmond. "Karena kita telah bertemu
dan saya lihat Ayah baik-baik saja dan segala keperluan
sudah dapat disediakan, saya mohon Izin, Ayah, untuk
menemui Mercedes," Dantes memeluk ayahnya, mengangguk
kepada Caderousse, kemudian pergL
Caderousse masih tinggal beberapa saat, kemudian
pamitan kepada ayah Edmond,pergi ke bawah dan bertemu
dengan Dangiars yang sengaja menunggu dia.
"Nah," kata Dangiars, "apakah ada dia katakan kepadamu
tentang harapannya untuk menjadi kapten?"
"Dia berbicara seperti sudah menjadi kapten, dan hal itu
sudah membuatnya angkuh. Dia menawarkan jasa baiknya
kepadaku seakan-akan ia seorang besar."
"Apakah ia masih mencintai Mercedes?"
"Tergila-gila! Dia sedang pergi ke sana sekarang. Kecuali
kalau aku keliru, aku kira dia akan menemui hal-hal yang
tidak menyenangkan baginya”
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak begitu yakin. Tetapi yang aku ketahui, setiap
kali Mercedes datang ke kota selalu ditemani seorang
pemuda Catalan yang tegap yang wajahnya selalu me-m
anc arkan gelora cinta kep ad a M erced e s."
"Menurutmu, Dantes sekarang sedang menuju rumahnya?"
tanya Dangiars.
"Ya, ia berangkat sesaat sebelum saya pamitan."
"Kalau begitu mari kita pergi ke arah yang sama. Kita
berhenti di kedai kopi La Reseve dan menunggu berita
sambil minum anggur."
"Siapa yang akan memberi kita berita?"
"Kita akan duduk-duduk di sebelah jalan menunggu
Dantes lewat kembali. Dari wajahnya kita akan dapat
mengetahui apa yang telah terjadi."
"Baiklah," kata Caderousse. 'Tetapi engkau yang membayar
anggur itu, bukan?"
"Tentu saja," jawab Dangiars.
Kedua sahabat itu bergegas-gegas pergi.
BAB III
KURANG lebih seratus langkah dari tempat Dangiars
dan Caderousse duduk minum anggur terdapat
perkampungan orang-orang Catalan.
Pada suatu hari dahulu kala, serombongan orang tak
dikenal datang dari Spanyol mendarat pada sepotong tanah
sempit yang merupakan sebuah tanjung. Pemimpin mereka
yang dapat berbicara sedikit bahasa Provencal, meminta
kepada masyarakat Marseilles agar suka memberikan
kepada mereka tanjung yang kering itu. Permintaan itu
dikabulkan dan tiga bulan kemudian orang-orang pengelana
tautan itu mendirikan sebuah perkampungan kecil.
Sekarang, tiga atau empat abad sejak itu, keturunannya
tetap setia kepada perkampungannya dan mereka tidak mau
bercampur dengan penduduk Marseilles. Perkawinan
mereka terbatas dalam lingkungannya sendiri saja dan
mereka tetap mempertahankan kebiasaan dan bahasa tanah
asalnya.
Dalam salah sebuah rumah pada satu-satunya jalan
dalam perkampungan itu, seorang gadis cantik berdiri
bersandar pada dinding. Rambutnya hitam legam
sedangkan sinar matanya redup seredup sinar mata rusa
betina. Di hadapannya duduk seorang pemuda berusia
sekitar dua puluh tahun. Duduknya agak gugup dan
matanya memandang gadis itu dengan pandangan yang
penuh kecemasan bercampur kemarahan. Tetapi sorot mata
gadis itu yang teguh dan tetap lebih menguasai keadaan.
'Dengar, Mercedes," kata pemuda itu. "Sekarang sudah
hampir Paskah lagi, saat yang baik sekali untuk
perkawinan. Beri aku jawaban!"
"Aku telah menjawabmu beratus kali, Fernand Dengan
terus-menerus bertanya seperti itu engkau hanya akan membenci
dirimu sendiri. Aku tidak pernah memberimu harapan.
Aku selalu mengatakan: Aku mencintaimu, sebagai
saudara, tetapi j anganlah mengharapkan yang lain lagi
karena hatiku telah menjadi milik orang lain. Bukankah itu
yang selalu kukatakan kepadamu, Fernand?"
"Benar, memang engkau cukup kejam untuk selalu berterus
terang seperti itu."
"Terlepas dari itu, mengapa sebenarnya engkau menghendaki
aku, seorang yatim-piatu yang miskin. Satusatunya
milikku hanyalah pondok lapuk yang hampir
hancur ini."
"Aku tak peduli betapa miskin engkau, Mercedes. Aku
lebih senang memilikimu daripada memiliki anak gadis
seorang pemilik kapal yang paling dapat dibanggakan atau
anak gadis seorang pemilik bank yang paling kaya di Marseilles
ini. Yang dibutuhkan seorang laki-laki hanyalah isteri
yang dapat menjaga kehormatan dan pandai mengatur
rumah tangga. Di mana aku akan dapat menemukan gadis
lain yang lebih daripada engkau dalam kedua hal itu?"
"Fernand," jawab Mercedes sambil menggelengkan kepala.
"Seorang wanita dapat menjadi pengatur rumahtangga
yang buruk dan bahkan dapat disangsikan kehormatannya
apabila dia mencintai laki-laki lain selain suaminya.
Kuharap engkau dapat puas dengan kesediaanku untuk
bersahabat. Hanya itulah yang dapat aku janjikan dan aku
tidak pernah menjanjikan sesuatu yang aku sendiri tidak
yakin akan dapat memenuhinya"
Fernand berdiri, dia berjalan bolak-balik beberapa saat,
kemudian berdiri di hadapan Mercedes. Kedua tangannya
mengepal dan matanya penuh amarah. "Katakanlah sekali
lagi, Mercedes, katanya "Itukah keputusanmu?"
"Aku mencintai Edmond Dantes," jawab gadis itu dengan
tenang. "Dan tak akan ada laki-laki lain yang bakal
menjadi suamiku."
"Dan apakah engkau akan selalu mencintai dia?"
"Selama hayat dikandung badan."
Fernand menundukkan kepala karena harapannya putus,
sambil menghembuskan napas panjang-panjang ia
mengeluh. Tiba-tiba dia memandang lagi kepada Mercedes
dan berkata di antara gigi-giginya, "Dan bila dia mati?"
"Bila dia mati, aku pun mati."
"Bagaimana kalau dia melupakanmu?"
"Mercedes!!!" terdengar suara penuh kegembiraan dari
luar rumah.
"Oh!" teriak Mercedes. Pipinya menjadi merah karena
bahagia. "Lihat, dia tidak melupakan aku! Itulah dia!"
Mercedes berlari ke pintu, membukakannya dan berkata,
"Aku di sini, Edmond!"
Fernand mundur selangkah seperti orang ketakutan melihat
ular berbisa, kemudian menjatuhkan diri ke kursi
Edmond dan Mercedes saling rangkul. Matahari Marseilles
yang cerah menembus masuk melalui pintu dan menyelimuti
mereka sepenuh-penuhnya dengan cahaya. Mula-mula
mereka tidak menghiraukan apa-apa di sekelilingnya.
Kebahagiaan telah memisahkan mereka dari dunia lainnya.
Tiba-tiba Edmond melihat wajah yang masam yang mengawasinya
dari kegelapan kamar. Tanpa sadar Fernand
memegang hulu pisaunya yang tergantung pada ikat pinggangnya.
"Maaf" kata Dantes. "Saya tidak tahu bahwa ada orang
ketiga di sini" Sambil memandang Mercedes ia bertanya,
"Siapakah Tuan ini?"
"Dia akan menjadi kawanmu, karena dia kawanku. Dia
keponakanku, Fernand, orang yang paling kucintai sesudah
engkau. Apakah engkau tidak mengenalnya lagi?"
"Oh, benar juga!" jawab Edmond. Dengan memegang
tangan Mercedes dengan tangan kiri ia mengulurkan tangan
kanannya untuk menjabat tangan Fernand. Tetapi Fetnand
tetap diam bagaikan sebuah patung. Edmond melirik penuh
tandatanya kepada Mercedes yang gemetar dan kebingungan.
Kemudian ia melihat lagi kepada Fernand yang
matanya penuh sinar ancaman. Semuanya dia tangkap
dalam sekejap. Wajahnya menjadi merah karena marah.
"Ketika aku bergegas-gegas ke mari untuk menemuimu,
aku tidak mengira akan menemui musuh dalam rumahmu
ini," kata Edmond Dantes.
"Musuh!!!" kata Mercedes dengan mata marah memandang
keponakannya. "Tidak ada musuh di sini! Untuk'
ku, Fernand seperti seorang saudara. Dia akan menjabat
tanganmu tanda persahabatan." Mercedes menatap
Fernand dengan pandangan yang berwibawa, dan seperti
orang yang d i sihir Fernand mengulurkan tangan perlahanlahan
kepada Edmond. Bagaikan sebuah gelombang yang
tak berkekuatan, kebencian Fernand mencair karena sorot
mata Mercedes.
Begitu tangannya menjabat tangan Edmond, Fernand
sadar hanya itulah yang dapat ia lakukan. Dia membalikkan
badan dengan mendadak sekali kemudian berlari ke luar
rumah,
"Oh!!!" keluhnya kepada dirinya sendiri. Dia berlari
seperti orang gila sambil memegang kepala dengan kedua
belah tangan. "Bagaimana aku dapat menyingkirkan dia?
Apa yang dapat kulakukan? Apa yang dapat kulakukan?"
"Mau ke mana engkau bergegas-gegas, Fernand?" seseorang
bertanya. Dia berhenti, m&lihat sekeliling kemudian
melihat Danglars sedang duduk dengan Caderousse di tempat
yang teduh di bawah pohon kedai minum.
"Mampirlah sebentar,” kata Caderousse. "Ataukah engkau
begitu terburu-buru sehingga tidak mempunyai waktu
untuk berbincang-bincang dengan kawan?"
^Terutama, dengan kawan yang mempunyai anggur
sebotol penuh di hadapannya?" tambah Danglars.
Fernand melihat kedua orang itu penuh kebingungan
tanpa berkata sepatah pun.
"Tampaknya dia sedang kehilangan semangat" ujar
Danglars menyentuh Caderousse dengan lututnya. "Mungkinkah
kita salah? Apakah ini berarti bahwa Dantes memenangkan
perebutan itu?"
Mungkin begitu," jawab Caderousse. "Kita lihat saja."
Kemudian dia berkata lagi kepada Fernand, "Ayo! Bagai
mana?"
Fernand menghapus keringatnya yang mengucur di dahi
kemudian berjalan perlahan-lahan ke tempat yang teduh itu.
"Hallo," katanya. "Kalian memanggil aku?" Dia duduk,
merebahkan badan ke atas meja sambil mengeluarkan keluhan
seperti orang menangis.
"Kau tahu, Fernand," kata Caderousse. "Rupamu seperti
laki-laki yang ditampik perempuan!" Dia menyertai sendaguraunya
ini dengan tertawa kasar.
"Apa katamu?" kata Danglars. "Pemuda setampan Fernand
tak pernah gagal dalam asmara. Tentu engkau hanya
berolok-olok, Caderousse,"
'Tidak. Coba dengarkan bagaimana ia berkeluh-kesah.
Ayo Fernand, bangkit dan berceriteralah. Tidak sopan
membisu kepada kawan yang bertanya tentang
kesehatanmu?’
"Kesehatanku baik," jawab Fernand sambil mengepalkan
kedua tangan tetapi tanpa menegakkan kepala.
"Nah, Danglars," kata Caderousse sambil berkedip
kepada kawannya. "Beginilah soalnya: Fernand ini, seorang
Catalan yang berani dan salah seorang nelayan yang terbaik
di Marseilles, jatuh cinta kepada seorang gadis cantik yang
bernama Mercedes. Tetapi sayangnya, Mercedes jatuh cinta
kepada Jurumudi Kelas I kapal Le Pharaon. Karena sekarang
Le Pharaon telah berlabuh hari ini . . . nah, kau tentu
mengerti."
"Tidak, aku tidak mengerti," jawab Danglars.
"Fernand yang malang ini telah dipersilakan pergi,"
Caderousse meneruskan.
"Bagaimana kalau benar begitu!" kata Fernand sambil
mengangkat kepala dan memandang Caderousse seakanakan
mendapatkan tempat untuk melampiaskan amarahnya.
"Mercedes bebas untuk jatuh cinta kepada siapa pun
yang ia kehendaki, bukan?"
"Kalau begitu caramu berfikir," kata Caderousse,
"soalnya menjadi lain! Kukira engkau seorang Catalan. Aku
mendengar bahwa seorang Catalan, terutama sekali
Fernand Mondego sangat mengerikan pembalasannya."
"Kasihan!" kata Danglars, berpura-pura turut bersedih
dari lubuk hatinya. "Dia tentu tidak mengira bahwa Dantes
akan kembali. Dia berfikir mungkin Dantes mati dalam perjalanan
atau sudah tidak setia lagi. Memang, kejadian
seperti ini selalu menyakitkan apabila datangnya sangat
mendadak."
'Yang pasti," kata Caderousse yang telah mulai dipengaruhi
anggur, "Fernand bukanlah satu-satunya orang
yang dirugikan dengan kembalinya Dantes yang penuh
bahagia itu, bukan begitu Danglars?"
"Benar, dan saya cenderung mengatakan bahwa itu akan
membawa keburukan bagi dirinya."
"Tak jadi soal. Sementara itu, paling tidak dia akan
mengawini Mercedes yang cantik."
Danglars memperhatikan wajah Fernand yang seperti
kena timah cair oleh perkataan Caderousse yang bernada
sindiran itu. "Kapan perkawinan itu dilaksanakan?" dia
bertanya.
"Mereka belum kawin!" kata Fernand bergumam.
"Tetapi mereka akan kawin!" kata Caderousse. "Sama
pastinya dengan akan diangkatnya Dantes menjadi Kapten
Le Pharaon. Betul bukan, Danglars?"
Danglars terkejut mendengar ucapan Caderousse yang
tak disangka ini, yang baginya merupakan sebuah tikaman
tajam. Dia memperhatikan wajah Caderousse ingin memastikan
apakah ucapannya itu direncanakan atau tidak.
Tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan
pada wajah orang mabuk itu. "Baiklah," katanya sambil
mengisi gelas-gelas, "mari kita minum untuk Kapten Edmond
Dantes, suami Mercedes yang cantik."
Caderousse mengangkat gelasnya dan menghabiskan isi
nya dengan sekali teguk. Fernand mengambil gelasnya, dan
membantingnya ke tanah.
"Hei, hei!" seru Caderousse. "Apa itu? Coba lihat Fernantt.
Penglihatanmu lebih baik. Kukira mataku sudah mulai
kabur. Engkau tahu bukan, bagaimana anggur merusak
pandangan orang. Kukira, aku melihat dua orang sejoli
sedang berjalan bergandengan tangan ... Ya Tuhan! Mereka
tidak tahu bahwa kita melihatnya. Mereka berciuman."
Setiap garis kepedihan yang terpancar dari wajah Fernand
tidak ada yang luput dari perhatian Dangiars. "Siapa
mereka, Fernand? Kau kenal?"
"Ya," jawab Fernand, masa bodoh. "Dantes dan Mercedes."
"Ah!" teriak Caderousse. "Benar tidak? Aku sendiri tidak
dapat mengenali mereka Hei Dantes! Hei,Nona! Mari ke
mari sebentar dan beritahu kami kapan perkawinan akan
dilangsungkan. Fernand ini keras kepala, tidak mau mengatakannya
kepada kami."
"Diam!" kata Dangiars berpura-pura menahan mulut
Caderousse yang karena mabuknya telah berkisar dari tempat
duduknya. "Ayo berdiri dan jangan mengganggu merpati
yang sedang berkasih-kasihan. Lihat Fernand, akalnya
lebih sehat."
Dangiars memandang kedua teman duduknya. Dalam
hati ia berkata. "Kedua orang tolol ini tiada gunanya bagi
ku, yang seorang pemabuk yang seorang lagi pengecut. Aku
khawatir nasib baik Dantes akan terjadi. Dia akan menikahi
gadis itu, menjadi Kapten Le Pharaon dan akan
mentertawakan kami, kecuali . . .” sebuah senyuman tersungging
di bibirnya... "kecuali kalau aku turun tangan."
"Hei!" Caderousse berteriak lagi. Badannya setengah
tegak, bertelekan pada meja. "Edmond! Apa kau tidak
melihat kawan-kawanmu, atau engkau terlalu angkuh untuk
berbicara dengan kami?"
"Sama sekali tidak, Caderousse," jawab Dantes. "Aku
tidak angkuh, tetapi aku berbahagia, dan kukira kebahagiaan
dapat membuat seseorang menjadi lebih buta daripada
angkuh." "Baik sekali" dalihmu itu," kata Caderousse. "Apa
kabar Nyonya Dantes?"
"Itu belum menjadi namaku," jawab Mercedes tenang,
"Orang bilang, kalau seorang gadis dipanggil dengan nama
tunangannya, dia bisa celaka. Sebab itu panggillah saya
Mercedes."
"Saya kira perkawinan akan segera berlangsung, bukan?"
kata Dangiars sambil membungkuk kepada pasangan
remaja itu.
"Secepat mungkin, Tuan Dangiars. Hari ini segala persiapan
akan diatur di rumah ayah saya, dan besok, atau
paling lambat lusa, kami akan merayakan pertunangan
kami di kedai ini. Semua kawan kami akan hadir, ini berarti
bahwa tuan kami undang, Tuan Dangiars, dan engkau juga,
Caderousse."
"Bagaimana dengan Fernand?" tanya Caderousse sambil
tertawa bodoh. "Apakah dia juga diundang?"
"Kawan istriku adalah kawanku juga," jawab Dantes,
"dan kami akan benar-benar kecewa apabila dia tidak hadir."
Fernand membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi
suaranya tertahan di Penggorokan
"Persiapannya hari ini dan pesta pertunangannya besok
atau paling lambat lusa!" seru Dangiars. "Tampaknya Tuan
sangat terburu-buru, Kapten!”
"Tuan Dangiars," kata Dantes tersenyum, "saya ingin
mengatakan apa yang dikatakan Mercedes kepada
Caderousse: jangan memberi saya pangkat yang belum
menjadi milik saya. Itu bisa membawa celaka kepada saya”
"Maafkan saya," jawab Dangiars. "saya hanya ingin
mengatakan bahwa tampaknya Tuan sangat buru-buru.
Padahal waktu sangat banyak Masih ada waktu tiga bulan
sebelum Le Pharaon mengarungi lautan lagi."
"Seseorang selalu akan terburu-buru untuk kebahagiaan.
Teiapi mengenai diri saya, tidak semata-mata karena^ngin
mementingkan diri sendiri. Saya harus pergi ke Paris."
"Oh! Apakah Tuan mempunyai urusan di sana?"
"Bukan urusan saya pribadi. Almarhum Kapten LecUre
meminta saya melakukan sesuatu baginya. Seperti Tuan
pahami, ini merupakan tugas yang suci. Tetapi jangan khawatir.
Saya akan segera kembali."
"Ya, saya mengerti," kata Danglars. Kemudian d,ia berfikir,
"mungkin dia pergi ke Paris untuk menyerahkan surat
Marsekal yang dititipkan kepadanya ... Ya Tuhan! Surat itu
memberi aku ilham, suatu ilham yang bagus sekali! Ah,
Dantes, kawanku, namamu belum lagi tercatat sebagai
orang yang nomor satu dalam buku harian kapal Le Pharaon!"
Ketika Dantes akan pergi meninggalkan mereka,
Danglars berkata, "Selamat jalan!"
"Terima kasih," jawab Dantes sambil membungkuk
dengan ramah. Kedua remaja itu meneruskan perjalanan
penuh bahagia bagaikan dua jiwa menuju surga.
BAB IV
KEESOKAN harinya cuaca sangat menyenangkan.
Matahari yang cerah mewarnai buih ombak dengan warna
ungu kemerah-merahan. Pesta pertunangan telah
dipersiapkan di dalam sebuah ruangan besar di tingkat
kedua kedai La Reserve. Pesta direncanakan akan dimulai
jam dua belas siang. Tetapi pada jam sebelas kedai itu telah
penuh para undangan yang tampak tidak sabar lagi
menanti. Mereka adalah kelasi-kelasi Le Pharaon dan
beberapa prajurit, kawan-kawan Dantes.
Tersiar juga berita bahwa Morrel pun akan turut menghadiri
pesta. Kalau benar, ini betul-betul merupakan kehormatan
yang besar bagi Dantes.
Ketika pemilik kapal datang, dia disambut dengan
hangat oleh para kelasi. Kehadirannya sekaligus merupakan
petunjuk yang nyata bahwa Edmond benar akan diangkat
menjadi kapten mereka. Dan oleh sebab Edmond dicintai
mereka, mereka merasa berterima kasih karena sekali ini
pilihan pemilik kapal cocok dengan keinginan mereka
sendiri.
Danglars dan Caderousse diutus memberitahu Dantes
akan kahadiran Morrel, dan meminta Dantes segera datang.
Tetapi sebelum mereka jauh berjalan, rombongan Dantes
sudah tampak. Edmond dan Mercedes didampingi oleh
empat orang gadis pengiring dan ayah Edmond. Fernand
berjalan di belakang mereka dengan senyum kecut. Tetapi
Edmond dan Mercedes tidak melihatnya. Keduanya sangat
berbahagia sehingga mereka tidak melihat orang lain
kecuali dirinya sendiri dan langit biru yang seakan-akan
merestui pertunangannya.
Segera setelah mereka hendak memasuki La Reserve,
Morrel turun menjemput mereka. Tamu-tamu lainnya
mengikuti dari belakang. Tangga kayu berderak-derak
selama kurang-lebih lima menit karena tekanan langkahlangkah
yang berat. Hidangan segera diedarkan setelah mereka
menempati tempat duduk masing-masing.
"Sunyi benar pesta ini," seru ayah Edmond ketika dia
menghirup bau anggur kuning yang dihidangkan di
hadapan Mercedes, "Padahal di sini berkumpul tiga puluh
orang yang sedang bersukacita."
"Suami-suami memang selalu tidak pernah bersukacita,"
kata Caderousse.
'Tang jelas," kata Dantes, "bahwa sekarang ini saya terlalu
berbahagia untuk dapat bergembira ria. Bila itu yang
kaumaksudkan, engkau benar, Caderousse. Sukaria itu kadang-
kadang mempunyai pengaruh yang aneh: dia dapat
menekan kita sama beratnya dengan dukacita."
‘Tuan tidak mengkhawatirkan sesuatu, bukan?" tanya
Danglars. "Menurut penglihatanku segala sesuatu berjalan
lancar bagi Tuan."
"Itulah yang agak mencemaskan hati saya," jawab
Dantes. "Saya tidak pernah berpendapat bahwa kebahagiaan
dapat dicapai dengan mudah. Kebahagiaan, menurut
pendapat saya, sama seperti istana dalam dongeng yang
pintu gerbangnya dikawal oleh ular-ular naga. Kita harus
berjuang untuk dapat merebutnya. Saya tidak tahu apa
sebenarnya yang telah saya lakukan sampai berhasil
menjadi suami Mercedes."
"Suami!" seru Caderousse. "Belum lagi, Kapten. Silakan
mencoba berlaku seperti seorang suami, dan mari kita lihat
bagaimana sambutan Mercedes."
Pipi Mercedes memerah. Fernand memalingkan
pandangan dan menyapu keringat yang membasahi dahi.
Pada saat itu terdengar ribut-ribut di tangga. Suara langkah-
langkah orang berjalan di tangga kayu bercampur
dengan suara orang banyak berbicara, dan suara gemerincing
pedang mengatasi suara orang berpesta di lantai kedua.
Setiap orang terdiam. Terdengar tiga kali ketukan pada
daun pintu.
"Atas nama hukum, bukakan pintu!" terdengar suara bergema.
Tak seorang pun menjawab. Pintu terbuka dan seorang
komisaris polisi memasuki ruangan diikuti oleh
empat orang bersenjata yang dipimpin oleh seorang kopral.
"Ada apa?" tanya Morrel, melangkah mendekati Komisaris
yang sudah dikenalnya. "Ini mesti ada kekeliruan."
"Apabila ada kekeliruan, Tuan Morrel," jawab Komisaris
itu, "akan segera diperbaiki. Sementara ini saya membawa
surat perintah menangkap, dan saya mesti melakukan kewajiban
saya. Siapa di antara Tuan-tuan yang bernama
Edmond Dantes?"
Setiap mata menuju kepada anak muda ini yang merasa
sangat tersinggung tetapi tetap menahan diri menjaga kehormatannya..
Dantes maju selangkah dan berkata. "Saya
Edmond Dantes, Tuan. Apa yang Tuan kehendaki dari
saya?"
''Edmond Dantes,Tuan saya tangkap." "Ditangkap!" seru
Edmond terkejut, wajahnya memucat. "Dengan alasan
apa?"
"Saya ttdak tahu, tetapi Tuan akan diberitahu alasan’ nya
pada pemeriksaan yang pertama."
Morrel menyadari bahwa perdebatan tidak akan ada
gunanya. Seorang komisaris polisi dengan surat perintah
menangkap di tangan sudah bukan manusia lagi, melainkan
sebuah patung hukum yang kaku, tuli dan bisu. Tetapi ayah
Dantes.yang tidak mengetahui hal ini, segera menghampiri
komisaris. Senantiasa ada saja masalah yang tidak pernah
dapat dipahami oleh batin seorang ayah atau ibu. Dia me’
minta dan memohon dengan sangat kepada komisaris agar
mengurungkan niatnya, tetapi permohonan itu tidak membuahkan
apa-apa. Tetapi kesedihannya demikian hebat
sehingga hati komisaris tersentuh juga.
"Tenang-tenang saja, Tuan," katanya. “Mungkin putra
Tuan hanya alpa mematuhi beberapa ketentuan pelabuhan,
dan mungkin sekali ia akan segera dibebaskan kembali setelah
memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan,"
Sementara itu Dantes menjabat tangan kawan-kawannya
dan berkata, "Jangan khawatir, kekeliruan ini akan segera
dapat dijelaskan, bahkan mungkin sekali sebelum saya
sampai ke penjara." Dia berjalan menuruni tangga
mengikuti .komisaris dan dikawal sekelilingnya oleh serdadu-
serdadu bersenjata. Sebuah kereta telah menunggu di
muka pintu. Dia menaikinya, diikuti oleh komisaris dan
dua orang serdadu. Pintu ditutup dan kereta bergerak
menuju Marseilles.
BAB V
PADA hari yang sama dan jam yang sama sebuah pesta
pertunangan yang-lain sedang berlangsung di salah satu
rumah yang bergaya feodal di Rue du Grand-Cours. Bedanya,
undangan di sini bukan pekerja-pekerja sederhana,
kelasi dan serdadu, melainkan orang-orang dan kalangan
atas di Marseilles, Mereka pejabat-pejabat pengadilan yang
mengundurkan diri ketika kekuasaan direbut oleh Napoleon
Bonaparte, opsir-opsir tua yang meninggalkan posnya untuk
bergabung dengan tentara Conde, dan anak-anak muda
yang dibesarkan keluarganya dengan didikan membenci
Kaisar Napoleon yang sekarang menjadi raja di Pulau Elba
dengan rakyat yang hanya lima sampai enam ribu orang,
yang pernah disanjung dengan teriakan "Hidup Napoleon"
oleh seratus dua puluh juta rakyat dengan berbagai bahasa,
dianggap oleh mereka sekarang sebagai telah tamat
riwayatnya. Kaum yang setia kepada kerajaan merasa
unggul dan gembira. Mereka merasa seakan-akan terbangun
dari mimpi buruk dan kehidupan terasa baru kembali
Pangeran Saint-Meran, bangsawan tua yang memiliki
bintang kehormatan Saint Louis, berdiri dan mengajak
hadirin minum bagi kejayaan Raja Louis XVIII. Ajakannya
disambut dengan meriah. Gelas-gelas segera diangkat dan
para wanita melepaskan bunga-bunga hiasan dari
pakaiannya dan menaburkannya di atas meja.
"Ah," kata Nyonya Saint-Meran, seorang wanita yang
keras pandangan matanya, tipis bibirnya dan anggun sekalipun
usianya telah limapuluhan. "Bila kaum revolusioner
yang memburu-buru kita pada zaman pemerintahan Teror
sekarang turut hadir di sini, mau tak mau mereka harus
mengakui bahwa kesetiaan kita adalah kesetiaan yang
sejati, karena kita tetap setia kepada kerajaan sekalipun
hampir runtuh, sedangkan mereka mengaitkan diri kepada
kekuasaan baru yang akan tumbuh dan mencari
keuntungan, padahal kita kehilangan segala yang kita
miliki. Mereka harus mengakui bahwa raja kita tetap Louis
tercinta, sedangkan pemimpin mereka hanyalah perampas
kekuasaan, Napoleon terkutuk. Bukankah begitu, Tuan de
Villefort?"
"Maaf, Nyonya, saya tidak mengikuti pembicaraan
Nyonya."
"Jangan diganggu anak-anak muda ini," kata suaminya.
"Sebentar lagi mereka akan menikah dan dapat dipahami
kalau mempunyai bahan pembicaraan yang lebih menarik
daripada politik."
"Maafkan saya, Ibu," kata seorang gadis cantik berambut
pirang dan bermata sayu, "karena saya memonopoli
perhatian Tuan Villefort”
'Tentu saja aku maafkan, Renee " kata Nyonya Saint-
Meran tersenyum ramah. Senyuman yang sebenarnya agak
aneh ditemukan pada wajah yang keras itu. "Saya berkata,
Tuan de Villefort, bahwa kaum Bonaparte tidak mempunyai
keyakinan, semangat dan kepatuhan seperti yang kita
miliki.”
"Benar, Nyonya, tetapi mereka mempunyai seaiatu yang
lain sebagai imbangannya, yaitu: fanatisme. Oleh mereka
yang berwatak kasar dan berambisi besar itu, Napoleon
dianggap sebagai Nabi. Bagi mereka, Napoleon bukan
hanya seorang pembuat undang-undang dan kaisar sematamata,
tetapi juga sebuah perlambang, dia adalah
perwujudan dari persamaan hak. Kalau kobespjere
dianggap mewakili persamaan hak dengan merendahkan
yang tinggi, menyeret raja-raja ke pisau gilotin, maka
Napoleon mewakili persamaan hak dengan "mengangkat
yang rendah" karena dia mengangkat derajat rakyat sejajar
dengan mahkota."
"Saya kira Tuan pasti sadar, Tuan de Vilefort," kata
Nyonya Saint-Meran, "bahwa yang Tuan katakan itu
berbau revolusi. Tetapi saya maklum, karena kita toh tidak
dapat mengharapkan anak seorang kaum Girondi dapat
membebaskan diri sama sekali dari sifat-sifat leluhurnya."
Muka Villefort merah padam. "Saya akui bahwa ayah
saya seorang kaum Girondi, Nyonya," katanya, "tetapi saya
telah memisahkan diri tidak hanya dari alam Ukirannya saja,
tetapi juga dengan menanggalkan namanya. Dahulu dan
mungkin masih juga sekarang, ayah saya penganut
Bonaparte dan namanya Noirtier. Saya seorang penganut
kerajaan dan nama saya Villefort. Biarkanlah getah-getah
revolusi itu mengering dan mati bersama batang pohonnya
yang telah menua, Nyonya, dan lebih baik kita memperhatikan
tunas-tunas muda yang tumbuh terpisah tetapi tidak
mempunyai daya, bahkan keinginan untuk melepaskan diri
sepenuhnya dari induknya."
"Bagus sekali Villefort!" kata Pangeran Saint-Meran.
'Tepat sekali! Saya selalu mencoba menyarankan istri saya
untuk melupakan masa lalu, tetapi tak pernah berhasil.
Mungkin engkau akan lebih beruntung daripada saya."
"Baik," kata Nyonya Sain-Meran, "kita lupakan yang
lalu, saya tidak berkeberatan. Saya hanya ingin meminta
agar Tuan tetap bersikap teguh di masa yang akan datang,
Tuan de Villefort Apabila ada seorang pengkhianat jatuh
ke tangan Tuan, camkanlah bahwa Tuan akan diperhatikan
orang dengan ketat oleh karena Tuan berasal dari keluarga
yang bisa jadi bergabung dengan para pengkhianat."
"Pekerjaan saya, Nyonya, terutama sekali pada zaman
yang kita alami sekarang ini, menuntut saya untuk selalu
bersikap keras. Telah berkali-kali saya harus menangani
perkara kejahatan politik dan perkara-perkara itu membuka
kesempatan bagi saya untuk membuktikan kekerasan saya.
Dan sayangnya, perkara-perkara semacam ini belum akan
habis."
"Apa benar demikian?" tanya Nyonya Saint-Meran.
"Saya pikir demikian. Napoleon berada di Pulau Elba, di
sebuah pulau yang masih tampak dari pantai kita. Kehadirannya
di sana menghidupkan harapan pejuang-pejuangnya."
"Benar," kata Nyonya Saint-Me"ran, "soalnya, apakah
raja berkuasa atau tidak. Kalau beliau berkuasa,
pemerintahannya harus kuat dan para pejabatnya tidak phnplan
Itulah satu-satunya jalan untuk mencegah kejahatan."
"Sayang, Nyonya," kata Villefort tersenyum, "sebagai
Wakil Penuntut Umum saya datang ke pengadilan selalu
setelah kejahatan itu terjadi."
"Adalah kewajiban Tuan untuk memperbaikinya."
"Izinkan saya mengatakan sekali lagi, Nyonya, bahwa
kewajiban kami bukan memperbaiki kejahatan melainkan
menghukumnya."
Pada saat itulah seorang pelayan masuk dan membisikkan
sesuatu ke telinga Villefort. Villefort meminta izin
meninggalkan ruangan, dan tak lama kemudian kembali
lagi. "Saya tidak pernah mempunyai waktu untuk diri
sendiri" katanya kepada tunangannya. "Mereka datang
mengganggu sekalipun saya sedang merayakan hari pertunangan
sendiri."
"Ada apa?" tanya Renee ingin tahu.
"Baru saja saya diberitahu tentang sesuatu yang sangat
penting. Rupanya ada komplotan kedi kaum Bonaparte
ditemukan."
"Apa benar?" tanya Nyonya Saint-Meran terheran-heran.
"Inilah surat pengaduannya." Ia membacanya keraskeras:
"Jaksa Penuntut Umum diberitahukan dengan jalan
ini oleh seorang kawan sependirian dan seagama, bahwa
Edmond Dantes, jurumudi pertama kapal Le Pharaon yang
baru berlabuh tadi pagi dari Smirna setelah singgah di
Napoli dan Pulau Elba, telah mendapat kepercayaan dari
Mu rat untuk menyerahkan sebuah surat kepada Napoleon,
dan mendapat kepercayaan dari Napoleon untuk
menyerahkan surat kepada kaum Bonaparte di Paris.
Kebenaran akan diperoleh dengan jalan menangkap dia,
oleh karena surat untuk ke Paris itu dapat ditemukan atau
pada dirinya, atau di rumah ayahnya, atau di kamarnya di
kapal Le Pharaon." "Tetapi," kata Renee. "itu surat kaleng,
dan alamatnya pun kepada Jaksa Penuntut Umum,bukan
kepadamu."
"Benar, tetapi beliau sedang ke luar kota. Sekertarisnya
mendapat perintah untuk membuka semua surat masuk.
Dia menemukan surat ini kemudian menyuruh mencari
saya sebagai Wakil Jaksa, tetapi karena dia tidak berhasil
menemukan saya, diambilnya kebijaksanaan .sendiri menangkap
orang itu,"
"Di mana dia sekarang?" tanya Renee.
"Di rumahku."
"Kalau begitu, berangkatlah, anak muda," kata Markis
Saint-Mlrant. 'Tugas lebih penting daripada kami. Penuhi
ke mana saja tugas dari raja memanggilmu."
Belum sampai ia keluar dari ruangan wajahnya yang
gembira telah berubah menjadi keras sekeras wajah orang
yang harus menentukan hidup-matinya orang lain. Terlepas
dari pandangan politik ayahnya yang dapat menghancurkan
masa depannya apabila ia tidak melepaskan diri sepenuhnya,
sebenarnya pada saat itu Gerald de Villefort sedang
diliputi rasa bahagia yang bukan alang-kcpalang. Meskipun
baru berusia dua puluh enam tahun, namun dia sudah kaya
dan berhasil memegang jabatan yang tinggi di pengadilan;
ia akan segera kawin dengan seorang gadis cantik
pilihannya. Bukan hanya karena cinta semata, tetapi juga
berdasarkan perhitungan. Selain cantik, Nona Renee de
Saint-Meran berasal dari keluarga yang mempunyai pengaruh
di pengadilan. Nona Renee menyediakan mas kawin
sebesar seratus lima puluh ribu franc, bahkan pada suatu
saat nanti dapat mengharapkan menerima warisan sebesar
setengah juta. Semua ini bagi Villefort merupakan bayangan
kebahagiaan yang sungguh-sungguh menyilaukan.
Dia menjumpai komisaris polisi yang menantinya di
pintu. Melihat orang ini Villefort tersentak dari lamunannya.
Dengan wajah yang dibuat lebih sungguh-sungguh ia
berkata, "Saya telah membaca surat itu. Tuan telah bertindak
benar dengan menangkap orang itu. Sekarang ceriterakan
semua ihwal mengenai persekongkolan itu."
"Kami sama sekali belum mengetahui tentang komplotan
itu. Tuan. Semua surat-menyurat yang kami temukan pada
orang itu telah kami letakkan di atas meja Tuan dengan
disegel. Seperti tertera dalam surat itu, namanya Edmond
Dantes, Jurumudi Pertama kapal Le Pharaon kepunyaan
Perusahaan Morrel & Son yang berniaga katun dengan
Aleksandria dan Smirna."
Pada saat itu Villefort dihadapan seseorang yang rupanya
sudah lama menunggu. Orang itu adalah Tuan Morrel.
‘Tuan de Villefort'." katanya. "Saya gembira sekali dapat
menemukan Tuan. Telah terjadi sesuatu kekeliruan yang
besar sekali, Jurumudi Pertama kapal saya, Edmond
Dantes, telah ditangkap."
"Saya tahu, Tuan," jawab Villefort "Saya akan memeriksanya."
"Oh!" seru Morrel, terpesona oleh persabahatannya
dengan anak muda itu. "Tuan tidak mengenalnya! Dia
orang yang paling sopan dan paling dapat dipercaya di
muka bumi ini."
Villefort berasal dari golongan ningrat sedangkan Morrel
dari rakyat jelata. Yang pertama seorang penganut kaum
kerajaan yang bersemangat sedang yang lain diduga mempunyai
kecenderungan tersembunyi kepada kaum Bonaparte.
Villefort memandang Morrel dengan angkuh dan menjawab
dingin, "Tuan boleh yakin, bahwa permohonan Tuan
tidak akan sia-sia apabila tertuduh ternyata tidak bersalah.
Tetapi kita hidup dalam zaman yang sulit, Tuan, dan
apabila ia ternyata bersalah saya terpaksa menjalankan
kewajiban saya."
Dengan terucapkannya kalimat itu ia telah sampai di
depan rumahnya. Dengan gaya bangsawan ia memasuki
rumahnya setelah meminta diri dari pemilik kapal dengan
kesopanan sedingin air batu.
Ruang tamunya penuh dengan serdadu dan polisi yang
menjaga tahanan.
Villefort melemparkan sekilas pandangan kepada Dantes,
menerima setumpuk surat yang diserahkan kepadanya oleh
seorang polisi, kemudian meninggalkan ruang tamu itu.
Ketan pertamanya tentang Dantes, baik. Tetapi dia sering
mendengar peribahasa terkenal dalam dunia politik bahwa
orang tidak boleh mempercayai kesan pertama. Dan dia
menterapkan peribahasa Itu dan mematikan kesan baik
yang baru diperolehnya. Kembali ia memasang wajah keras
yang diperlukan pada saat-saat penting-genting, kemudian
duduk di kursi di belakang mejanya. Tak lama kemudian
Dantes masuk. Mukanya masih pucat, namun tenang dan
tersungging senyuman. Dia membungkuk memberi hormat
dengan sopan, kemudian melihat ke sekeliling mencari
tempat duduk.
"Siapa namamu dan apa pekerjaanmu?" Villefort
bertanya.
"Edmond Dantes, Jurumudi Pertama kapal Le Pharaon
milik Morrel &Son,"
"Berapa umurmu?"
"Sembilan belas."
"Apa yang sedang kaulakukan ketika ditangkap?"
"Sedang merayakan pesta pertunangan saya,” jawab
Dantes, suaranya agak bergetar. "Saya sedang berada di
ambang pernikahan dengan seorang gadis yang telah saya
cintai selama tiga tahun."
Villefort terkejut. Persamaan kejadian itu telah menggoncangkan
hatinya yang biasa membatu. Dalam lubuk
hatinya ia memberikan rasa simpati. Dia sendiri berada di
ambang pernikahan, dan sekarang ia dipanggil tugas untuk
menghancurkan kebahagiaan seseorang yang seperti dirinya
yang sedang berada di pintu puncak kebahagiaan
"Perbandingan ini pasti akan memberikan kesan yang
menarik nanti dalam perbincangan di rumah Tuan Saint-
Meran," pikirnya.
Ia merancang-rancang dalam hatinya bagaimana ia akan
mempidatokannya nanti. Setelah rancangan pidato ini agak
jelas tergambar dalam fikiran, ia mengembalikan perhatiannya
kepada Dantes, dan bertanya, "Pernahkah mengabdi
kepada Napoleon?”
"Saya hampir dipanggil wajib masuk Angkatan Laut
ketika beliau jatuh dari kekuasaannya."
"Saya mendapat keterangan bahwa engkau mempunyai
pandangan politik yang radikal," kata Villefort. Sebenarnya
ia tidak pernah menerima keterangan seperti itu, namun
demikian tidak segan mengajukan pertanyaan dalam bentuk
tuduhan.
"Pandangan politik saya, Tuan? Sebenarnya saya malu
mengatakannya, tetapi kenyataannya memang saya tidak
pernah mempunyai sesuatu yang dapat dikatakan sebagai
pandangan politik. Umur saya baru sembilan belas tahun,
seperti yang saya katakan tadi, dan pengetahuan saya
sangat picik. Rupanya saya tidak ditakdirkan untuk
memegang peranan penting dalam hidup ini Apa yang saya
peroleh sampai sekarang dan apa pun yang akan saya
peroleh di kemudian hari seandainya saya dapat menerima
pangkat yang saya impikan itu semuanya berkat kebaikan
Tuan Morrel. Pandangan hidup saya hanya terbatas sampai
kepada perasaan-perasaan ini: Saya mencintai ayah, saya
menghargai Tuan Morrel dan saya mencintai Mercedes.
Itulah yang dapat saya terangkan, Tuan. Seperti Tuan lihat,
pandangan hidup say a tidak menarik dan tidak penting."
Villefort mengawasi Dantes dengan seksama. Pemuda ini
sangat tulus dan terbuka, penuh dengan perasaan cinta kasih
kepada sesamanya, termasuk kepada jaksa garang yang
sekarang sedang memeriksanya.
"Apakah engkau mempunyai musuh?" tanya Villefort,
"Musuh? Tidak, saya bukanlah orang yang cukup penting
untuk punya musuh. Saya akui bahwa saya sedikit
cepat marah, namun terhadap anak buah saya selalu mencoba
mengekangnya. Saya mempunyai dua belas kelasi sebagai
bawahan. Silakan Tuan bertanya kepada mereka,
saya yakin mereka akan mengatakan bahwa mereka
menyukai dan menghormati saya”
"Kalau engkau tidak mempunyai musuh, paling sedikit,
padamu ada sesuatu yang dapat menimbulkan iri hati
orang. Umpamanya, engkau hampir menjadi kapten dalam
usia sembilan belas tahun dan engkau mempersunting gadis
yang cantik. Kedua hal itu .merupakan nasib baik yang
jarang terjadi dalam dunia ini. Salah satu daripadanya,
mungkin menyebabkan seseorang irihati kepadamu.”
"Apa yang Tuan katakan itu benar. Saya yakin Tuan
mengenal watak manusia lebih baik dari saya. Tetapi,
apabila orang yang dengki itu berada dalam lingkungan
kawan-kawan saya, lebih baik saya tidak mengetahuinya,
sebab saya akan terpaksa membencinya"
Keliru kalau engkau berfiki rseperti itu,kitaharus selalu
mencoba melihat segala persoalan sekeliling kita sejelas
mungkin.
Dalam pandanganku engkau seorang pemuda yang
cukup berharga sehingga aku bersedia menolongmu
memberikan sedikit penjelasan tentang keadaanmu
sekarang,dengan jalan memperlihatkan surat pengaduan
yang menyebabkan engkau harus berhadapan dengan
aku.Ini-lah apakah kau kenal tulisan ini?"
Dantes membaca surat itu. Seketika wajahnya berubah
menjadi merah. Dia berkata, "Tidak, Tuan, saya tidak
mengenalnya Tulisan ini palsu, tetapi cukup jelas. Saya merasa
beruntung," tambahnya sambil memandang Villefort
dengan penuh rasa terima kasih, "berurusan dengan orang
seperti Tuan, sebab fitnah yang keji1 ini jelas perbuatan seorang
musuh jahat." Dari sorot mata Dantes ketika ia
mengucapkan kalimat tadi, Villefort menangkap suatu
kekuatan yang dahsyat tersembunyi di balik kehalusan dan
kesopanannya.
"Sekarang," kata Villefort, "jawablah sejujur-jujurnya,
tidak sebagai seorang tahanan kepada jaksa melainkan sebagai
seorang yang difitnah kepada orang lain yang menaruh
perhatian dari lubuk hatinya. Adakah kebenaran
pengaduan gelap itu?" Dia melemparkan surat itu ke atas
mejanya dengan perasaan jijik.
"Saya akan menceriterakan seluruh kebenaran, Tuan,
dan untuk itu saya bersumpah demi kehormatan saya sebagai
seorang pelaut, demi cinta saya kepada Mercedes, dan
demi hidup ayah saya. Setelah kami meninggalkan Napoli,
Kapten Leclere tiba-tiba mendapat serangan penyakit pada
otaknya. Merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir,
beliau memanggil saya, kemudian beliau berkata, 'Dantes
yang baik, bersumpahlah bahwa engkau akan sudi
melakukan apa yang akan saya minta. Ini adalah persoalan
yang sangat penting.'
‘Saya bersumpah, Kapten,' kata saya.
'Kalau saya mati.’ katanya, 'engkau ambil alih pimpinan
oleh karena engkau Jurumudi Pertama. Singgahlah di Pulau
fclba, pergi ke darat di Porto Ferralo, minta bertemu dengan
Marsekal, dan berikan surat ini kepadanya. Mungkin sekali,
engkau akan dititipi surat atau dipercaya untuk melakukan
sesuatu tugas. Tugas itu seharusnya untukku, tetapi
hendaknya engkau melaksanakan itu untukku, dan segala
kehormatannya untukmu.'
'Saya akan melaksanakannya, Kapten,' kata saya. Tetapi
mungkin menemui Marsekal itu tidak semudah yang Tuan
sangka, Kapten.’
“Ini ada sebuah cincin yang akan menghilangkan semua
rintangan” katanya sambil memberikan sebuah cincin. Dua
jam kemudian beliau sudah tidak sadarkan diri dan terusmenerus
mengigau. Keesokan harinya meninggal."
"Lalu, apa yang kaulakukan?"
"Apa yang juga akan dilakukan setiap orang yang berada
dalam keadaan seperti saya, Tuan. Permintaan seseorang
yang berada di ambang kematian selalu bersifat suci, tetapi
bagi seorang pelaut permintaan atasannya merupakan
perintah yang harus dilaksanakan. Saya tiba di Pulau Elba
keesokan harinya kemudian turun ke darat seorang diri.
Seperti yang saya perkirakan pada mulanya menemukan
beberapa kesukaran untuk dapat bertemu dengan Marsekal
itu. Saya mengirimkan cincin itu kepadanya dan setelah itu
semua pintu terbuka untuk saya. Marsekal memberikan
sebuah surat yang dialamatkan kc Paris dan meminta saya
menyerahkannya secara pribadi. Saya berjanji akan m elak
sanakannya, oleh karena itu sesuai dengan permintaan terakhir
Kapten saya. Saya berlabuh di Marseilles, segera
menyelesaikan segala urusan kapal, kemudian menemui
tunangan yang saya jumpai dalam keadaan lebih cantik
daripada biasanya. Akhirnya, Tuan, saya merayakan pesta
pertunangan kami dan bermaksud kawin pada hari itu juga
untuk kemddian pergi ke Paris keesokan harinya. Pada saat
itulah saya ditangkap berdasarkan surat pengaduan yang
ternyata menjijikkan bagi Tuan - sama seperti bagi saya."
"Tampaknya engkau telah mengatakan apa yang sebenarnya,"
kata Villefort, "kalaupun engkau melakukan
kesalahan, itu hanya disebabkan kecerobohan, bahkan kecerobohan
itu masih dapat dipertanggungjawabkan karena
perintah Kapten. Berikan surat yang kauterima di Pulau
Elba itu kepadaku, berikan janji kepadaku bahwa engkau
akan datang pabila saja engkau diminta datang, dan kem
batilah ke kawan-kawanmu."
"Apakah maksudnya saya bebas, Tuan?" Dantes
berteriak penuh kegembiraan.
"Ya, tetapi berikan dahulu surat itu."
"Saya kira sudah ada pada Tuan; mereka telah merampasnya
bersama surat-surat saya lainnya."
"Sebentar," kata Villefort lagi kepada Dantes yang sudah
mengambil sarung tangan dan topinya. "Kepada siapa surat
itu dialamatkan?"
"Kepada Tuan Noirtier, Rue Coq-Heron di Paris."
Sebuah halilintar tak akan mengejutkan Villefort seperti
jawaban Dantes itu. Dia terhenyak kembali ke kursinya,
padahal ia sudah berdiri hendak mengambil tumpukan
surat-surat yang diambil dari Dantes. Dia mengambil surat
celaka itu dan memandangnya dengan kekacauan pikiran
yang tidak tergambarkan. "Tuan Noirtier, Rue Coq-Heron
13," katanya perlahan-lahan. Wajahnya makin lama makin
pucat
"Benar, Tuan," kata Dantes yang juga terheran heran
"Apakah Tuan mengenalnya?"
"Tidak!" jawab Villefort dengan tegas. "Seorang abdi
Raja yang setia tidak pernah mengenal pengkhianat,"
"Apakah surat itu tentang pengkhianatan?" tanya Dantes
yang merasa dirinya sudah bebas, tetapi juga merasakan
kegawatan keadaan lebih daripada semula. "Walau
bagaimana. Tuan, seperti tadi sudah saya katakan, saya
sama sekali tidak mengetahui akan isi surat itu."
"Betul," kata Villefort, "tetapi engkau mengetahui nama
si alamat"
"Saya wajib mengetahuinya agar dapat menyampaikannya,
Tuan."
"Apakah engkau pernah memperlihatkan surat ini kepada
orang lain?" tanya Villefort kemudian membacanya.
'Tidak kepada siapa pun, Tuan. Saya bersumpah."
"Dan tak seorang pun tahu bahwa engkau harus menyampaikan
sebuah surat dari Pulau Elba kepada Tuan
Noirtier?"
'Tidak seorang pun, kecuali orang yang menitipkannya."
"Ini sangat berbahaya! Sangat berbahaya!" Villefort
menggerutu setelah ia tamat membacanya. Bibirnya yang
rapat ketat, tangannya yang gemetar dan matanya yang liar
berapi-api menimbulkan kecemasan pada Dantes.
"Kalau saja dia mengetahui isi surat ini," kata Villefort
dalam hati, "dan seandainya dia mengetahui bahwa Noirtier
ayah Villefort, hancurlah aku untuk selamanya!"
Dia berusaha sekuat tenaga menguasai dirinya,
kemudian berkata kepada Dantes setenang mungkin,
"Sekarang saya baru melihat bahwa dakwaan kepadamu
sangat berat. Saya tidak mempunyai wewenang untuk
membebaskanmu sekarang juga seperti yang saya sangka
semula. Engkau telah melihat bagaimana aku mencoba
ingin menolongmu, tetapi ternyata sekarang aku harus tetap
menahanmu untuk sementara, mudah-mudahan untuk
waktu yang sependek mungkin. Bukti utama yang dapat
mencelakakanmu adalah surat ini, dan, lihatlah . . ." Dia
menghampiri tungku api pemanas ruangan, melemparkan
surat itu ke dalamnya dan memperhatikannya sampai habis
menjadi abu. "Seperti kausaksikan sendiri," ia meneruskan,
"bukti itu telah kubakar."
"Oh!" teriak Dantes gembira, "Tuan lebih dari baik, Tuan
adalah wujud kebaikan itu sendiri."
"Aku kira sekarang engkau dapat mempercayai aku.
Karena itu, dengarkan baik-baik nasihatku ini. Aku akan
menahanmu di sini sampai malam nanti. Mungkin akan
ada orang lain memeriksamu. Katakan semua yang pernah
kau’ ceriterakan kepadaku, kecuali" tentang surat itu.
Jangan disinggung-singgung sepatah pun."
"Saya berjanji, Tuan," kata Dantes.
"Kalau ada orang bertanya tentang itu, sangkal saja.
Sangkal dengan keras dan engkau pasti selamat."
"Saya akan menyangkalnya, Tuan, jangan khawatir."
"Baik!" kata Villefort. Dia menekan tombol dan tak lama
kemudian komisaris polisi masuk.
"Ikuti Tuan ini," katanya kepada Dantes. Dantes
membungkuk hormat kemudian melemparkan pandangan
terima kasih dan berjalan ke luar kamar.
Segera setelah pintu tertutup kembali badan Villefort
terasa sangat lemah. Ia terkulai di kursinya setengah pingsan.
"Ya Tuhanku!" katanya bergumam. "Kalau saja Jaksa
Penuntut Umum ada di Marseilles, dia akan melihat surat
itu dan hancurlah aku! Oh, Ayah, apakah Ayah akan selalu
menjadi perintang kebahagiaanku? Apakah saya harus
terus-menerus menentang Ayah? "
Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas dalam benaknya.
Sebuah senyuman terukir di bibirnya dan matanya yang
cekung memusat seakan-akan sedang memandang suat u
bayangan. “Ya!" katanya. "Surat yang dapat menghancurkan
diriku itu, mungkin juga dapat memberikan
keuntungan. Ayo, Villefort: berjuanglah!"
Setelah dia yakin bahwa tahanan itu sudah keluar dari
ruang tamu, Wakil Jaksa Penuntut Umum itu bergegasgegas
pergi ke rumah tunangannya.
BAB VI
KETIKA melalui ruang tamu, Komisaris polisi memberi
isyarat kepada dua orang serdadu untuk mengawal Dantes
di sebelah kiri dan kanannya. Pintu yang menuju ke Kantor
Pengadilan terbuka kemudian mereka berjalan melalui
salah satu gang panjang yang gelap dan menyeramkan.
Seperti rumah Villefort dihubungkan dengan Kantor
Pengadilan, demikian juga Kantor Pengadilan dihubungkan
dengan penjara. Setelah berkali-kali berbelok-belok di beberapa
gang Dantes dan pengawalnya sampai di sebuah pintu
besi. Pintu itu terbuka dan kemudian tertutup lagi setelah
Dantes melaluinya. Udara yang dihirupnya sekarang
berlainan, kotor dan lembab. Dia sekarang berada dalam
penjara.
Dia dimasukkan ke dalam sebuah sel yang agak bersih
dan tidak terlampau menakutkan; terutama karena katakata
Villefort yang membesarkan hati masih mengiang
ngiang di telinganya.
Malam telah tiba dan sel menjadi gelap. Dengan
hilangnya penglihatan, pendengarannya menjadi lebih
tajam. Karena suara yang paling lemah pun dia berdiri
mendekati pintu dengan keyakinan bahwa ia akan segera
dibebaskan, tetapi begitu suara itu menghilang lagi ia
menjatuhkan diri kembali ke tempat duduknya.
Akhirnya, menjelang jam sepuluh, tepat ketika ia sudah
hampir kehilangan harapan, dia mendengar langkahlangkah
orang berjalan. Suara itu berhenti di muka pintu
selny:i: terdengar kunci diputar dan pintu yang tebal itu
terbuka dan terlihatlah dua buah obor yang menyilaukan.
Dantes . melihat ada empat orang serdadu.
"Apa kaitan hendak menemui saya?" dia bertanya.
"Ya."
"Atas perintah Tuan Wakil Jaksa?"
”Tentu."
Karena mengetahui bahwa mereka diperintah oleh Villefort
hilanglah kecemasan dan kebimbangan pada anak
muda yang malang itu. Dengan tenang dia menempatkan
dirinya di tengah-tengah pengawalnya. Sebuah kereta polisi
telah menantinya di jalan. Pintunya terbuka dan sebelum ia
sempat berkata apa-apa dia telah didorong masuk ke
dalamnya, padahal ia sama sekali tidak berniat untuk
membangkang. Tak lama kemudian dia sudah duduk di
antara dua orang serdadu, sedang serdadu yang dua lagi
duduk di hadapannya. Kereta yang besar itu segera bergerak
ke tempat tujuan yang tidak diketahuinya
Ketika pada akhirnya kereta itu berhenti, Dantes baru
sadar bahwa ia berada di pelabuhan. Dua serdadu keluar
lebih dahulu, kemudian Dantes diikuti oleh serdadu lainnya.
Keempat pengawal itu membawa Dantes ke sebuah
perahu yang dipegang oleh seorang pejabat pabean di
dermaga dengan rantai. Dantes didudukkan di buritan, dikelilingi
oleh keempat serdadu itu, sedang seorang polisi
mengambil tempat di haluan. Perahu di dorong ke tengah,
empat orang pendayung mengayuh kuat-kuat dan selang
beberapa lama mereka sudah berada di hiar pelabuhan.
"Akan dibawa ke mana aku ini?" Dantes bertanya kepada
salah seorang serdadu.
"Engkau akan segera mengetahuinya."
'Tetapi..."
"Kami dilarang memberikan keterangan apapun juga."
Dantes terdiam. Dia menunggu dengan tenang sambil
berfikir, dan mencoba menguakkan kegelapan malam
dengan mata terlatih seorang pelaut yang sudah biasa
dengan ruang yang luas dan kegelapan. Sementara itu para
pengayuh berhenti mendayung sebab layar dinaikkan.
Akhirnya, meskipun dengan perasaan enggan untuk kedua
kalinya Dantes bertanya, "Hai kawan, demi nurani Saudara
sendiri, kasih anilah saya dan tolonglah jawab pertanyaan
saya. Saya ini difttnah melakukan sesuatu pengkhianatan
padahal sebenarnya saya seorang Perancis yang setia. Mau
dibawa ke mana saya ini"? Tolong, katakanlah, dan saya
berjanji demi kehormatan sebagai seorang pelaut saya tidak
akan berbuat apa-apa kecuali menyerahkan diri kepada
nasib."
"Kalau engkau belum pernah keluar dari pelabuhan
Marseilles atau kalau matamu tertutup, engkau tidak akan
dapat menerka ke mana kita akan menuju sekarang. Coba
lihat ke sekelilingmu."
Dantes berdiri dan memandang ke arah laju perahu.
Beberapa ratus yard di hadapannya tampak menjulang bukit
karang yang tinggi. Dan di atas bukit itu berdirilah Puri If
yang menyeramkan. Secara tak terduga melihat penjara
yang tersohor mempunyai tradisi kekejaman yang sudah
berabad-abad lamanya, bagi Dantes sama dengan melihat
tiang gantungan.
"Ya Tuhanku!" dia berteriak. "Penjara If. Mau apa kita
ke sana?"
Serdadu yang ditanya itu tersenyum,
"Tak mungkin kalian membawa saya ke sana untuk
dipenjarakan !" kata Dantes lagi.
"Puri If adalah penjara negara yang hanya digunakan
untuk menyekap tahanan-tahanan politik. Saya tidak
melakukan kejahatan apa pun. Apa saya akan disekap
disana?" "Mungkin."
'Tetapi Tuan de Villefort telah berjanji..."
"Aku tidak mengetahui apa yang dijanjikan Tuan de
Villefort," kata serdadu itu. "Yang aku ketahui hanyalah
bahwa kita menuju ke Puri If Tunggu? Cepat, bantu aku!"
Dantes mencoba menceburkan diri ke laut, tetapi dua
pasang tangan yang kuat-kuat menariknya kembali, tepat
ketika kedua kakinya melayang meninggalkan dasar
perahu. Dia terjatuh dan berteriak-teriak dengan geramnya.
"Awas, Kawan," kata salah seorang serdadu sambil menekan
dia dengan lututnya, "kalau sekali lagi engkau bertingkah,
sekali saja, akan kutempatkan sebuah peluru di kepalamu!"
Dantes merasakan tekanan moncong sebuah senapan
pada pelipisnya. Tak lama kemudian ia merasakan perahu
melanggar sesuatu yang keras. Ternyata mereka sudah sampai
ke pesisir. Pengawal pengawal menarik Dantes supaya
berdiri, menyuruhnya keluar dari perahu kemudian menggusurnya
kc anak tangga yang menuju ke benteng. Dantes
tidak melakukan perlawanan. Kclambanannya bergerak disebabkan
oleh tidak berdaya, bukan karena membangkang.
Ia merasa lumpuh, jalannya tersaruk-saruk seperti orang
mabuk. Dia tahu akan adanya anak tangga yang memaksa
ia mengangkat kakinya, ia juga ingat berjalan melalui
sebuah pintu yang segera menutup kembali setelah ia
masuk, tetapi semuanya itu ia lakukan seperti sebuah
mesin, sedangkan penglihatannya kabur seperti terhalang
kabut tebal. Akhirnya dia berhenti. Karena yakin tak akan
mungkin melarikan diri, serdadu-serdadu itu melepaskan
genggamannya. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh
menit, sebuah suara terdengar, "Suruh pesakitan itu
mengikutiku. Akan saya antarkan dia ke selnya."
"Ayo!" kata salah seorang serdadu sambil mendorong
Dantes.
Dantes mengikuti pengantarnya masuk ke dalam sebuah
kamar yang hampir seluruhnya berada di bawah tanah.
Udaranya demikian lembab sehingga dinding-dindingnya
yang kotor penuh dengan butir-butir air. Sebuah lampu
minyak yang diletakkan pada sebuah bangku kecil, yang
sumbunya berenang dalam minyak yang busuk baunya,
menerangi penginapan yang menyeramkan ini. Cahayanya
memungkinkan Dantes melihat pengantarnya, seorang
jurukunci rendahan dengan baju yang kumal dan wajah
yang dungu.
"Inilah kamarmu untuk malam ini," katanya. "Malam
telah larut dan Gubernur penjara telah tidur. Besok, setelah
beliau membaca petunjuk-petunjuk mengenai dirimu,
mungkin saja beliau menempatkanmu di sel yang lain.
Sementara itu, ini roti, air di sana tempatnya, dan di sudut
sana ada jerami untuk tidur. Segala yang dapat diharapkan
seorang tahanan, sudah tersedia. Selamat malam."
Sebelum Dantes sempat menjawab apa-apa, jurukunci
itu mengambil lampu, mengunci pintu dari luar dan meninggalkan
sel dalam gelap gulita.
Ketika sinar-sinar pertama fajar mulai menerangi kembali
sel itu, jurukunci datang kembali dan memberitahu
Dantes bahwa menurut atasannya Dantes tidak akan dipindahkan
ke sel lain. Dantes tidak bergerak. Seakan-akan dia
terpaku di tempat ia berhenti ketika tadi malam masuk. Dia
tetap berdiri sepanjang malam tanpa tertidur barang sekejap
pun. Jurukunci menghampirinya, tetapi Dantes seperti tidak
melihatnya. Bahunya ditepuk, Dantes terkejut dan
menggelengkan kepala.
"Apa engkau tidak tidur?" tanya Sipir.
'Tidak tahu."
'Tidak lapar?"
"Tidak tahu."
"Ada sesuatu yang kauinginkan?"
"Aku mau bertemu dengan Gubernur."
"Tak mungkin."
"Mengapa?"
"Oleh karena peraturan di sini melarang tahanan memintanya."
"Apa yang boleh diminta?"
"Makanan yang lebih baik, kalau engkau mau membayarnya,
berjalan-jalan di luar, dan kadang-kadang buku bacaan."
"Aku tidak memerlukan buku, aku tidak ada minat untuk
berjalan-jalan dan makanan sudah cukup baik. Aku hanya
menginginkan satu perkara saja: bertemu dengan
Gubernur."
"Dengar," kata Sipu "jangan suka memikirkan yang
bukan-bukan, dalam tempo dua minggu engkau bisa gila."
Kaukira begitu?"
"Ya. Oleh karena itulah awal kegilaan. Contohnya, ada
seorang pendeta yang asalnya ditahan di kamar ini juga.
Dia terus-menerus menawarkan uang sejuta franc kepada
Gubernur asal saja beliau mau membebaskannya. Akhirnya
dia gila."
"Lalu, bagaimana selanjutnya?"
"Dia dipindahkan ke sel bawahtanah."
"Sekarang kau yang mendengarkan," kata Dantes. "Aku
bukan pendeta dan aku tidak gila. Aku tidak mampu
menawarkan uang sejuta franc, tetapi aku dapat
memberimu tiga ratus franc kalau engkau bersedia
mengirimkan surat kepada seorang gadis yang bernama
Mercedes, bila engkau kebetulan ke Marseilles nanti...
bahkan sebenarnya bukan surat, hanya dua atau tiga
kalimat saja."
"Seandainya aku mau menerima surat yang dua tiga
kalimat itu dan tertangkap, pasti aku dipecat. Penghasilan
ku di sini seribu franc setahun, belum terhitung makanan.
Bodoh aku kalau aku mau mencari tambahan tiga ratus
dengan mempertaruhkan seribu franc."
"Kalau begitu, kalau engkau menolak menyampaikan
surat itu, atau menolak memberitahu Mercedes bahwa aku
di sini, pada suatu hari nanti aku akan bersembunyi di balik
pintu itu dan akan kupecahkan kepalamu dengan bangku
itu tepat ketika engkau masuk."
"Kau mengancam rupanya?” Sipir itu mundur selangkah
dan berjaga-jaga untuk mempertahankan diri. "Pendeta itu
pun mulai dengan gejala-gejala begini. Dalam tiga hari engkau
sudah akan mengigau, sama seperti dia. Untung ada sel
bawah tanah di penjara If ini"
Dantes menjangkau dan mengangkat bangku itu ke atas
kepalanya.
"Baik! Baik!" kata Sipir. "Aku akan menghadap
Gubernur."
"Itu lebih baik!" kata Dantes dan meletakkan kembali
bangku itu kemudian mendudukinya dengan kepala terkulai
dan mata cekung, seperti benar-benar ia sudah gila.
Sipir pergi dan tak berapa lama kemudian kembali lagi di
antar empat orang serdadu. "Atas perintah Gubernur
“katanya, "pindahkan pesakitan ini ke ruang di bawah
kamar ini."
"Sel bawahtanah?" tanya kopralnya.
“Ya, kita harus menempatkan yang gila bersama yang
gila lagi."
Keempat serdadu itu memegang Dantes yang sudah
kehilangan semangat. Dantes mengikuti mereka tanpa
perlawanan. Setelah menuruni lima belas buah anak tangga,
sebuah pintu sel terbuka dan Dantes masuk ke dalamnya. Ia
bergumam kepada dirinya sendiri, "Ia benar, mereka harus
menyatukan yang gila dengan yang gila."
BAB VII
DI ruang kerjanya yang kecil di Istana Tuilcries di Paris
Raja Louis XVIII duduk di belakang meja kesayangannya
yang terbuat dari kayu kenari yang dibawanya kembali dari
tempat pengasingannya di Hart well, mendengarkan dengan
acuh tak acuh laporan seorang bangsawan beruban, berumur
kira-kira lima puluh tahun. Sambil mendengarkan itu
Sri Baginda tiada hentinya membuat catatan di pinggir
halaman majalah Horace.
"Apa yang Tuan katakan?" tanya Raja
"Bahwa saya sangat risau. Baginda. Saya mempunyai
alasan yang kuat untuk percaya bahwa ada badai sedang
bergolak di Selatan."
"Aku khawatir Tuan mendapat laporan yang salah. Aku
yakin bahwa cuaca sangat baik di sana." Sebagai seorang
yang cerdas Raja Louise XVIII mempunyai kesanggupan
membuat humor dengan cepat
"Baginda mungkin benar dalam memperhitungkan perasaan
dan- pengertian yang baik rakyat Perancis, tetapi rasanya
saya pun tidaklah salah apabila saya mengkhawatirkan
kemungkinan percobaan pemberontakan yang nekad."
"Oleh siapa?"
"Oleh Bonaparte, atau setidak-tidaknya oleh para pengikutnya."
"Duke Blacas yang baik," kata Raja, "kekhawatiran Tuan
mengganggu pekerjaanku."
"Dan perasaan aman yang ada pada Baginda
mengganggu tidur saya, Baginda. Kekhawatiran saya tidak
bersumber dari desas-desus yang kabur tidak berdasar,
melainkan dari seorang yang cerdas dan dapat dipercaya,
yang baru saja tiba dari Marseilles sengaja unttuk
mengabari saya bahwa: bahaya besar sedang mengamcam
Raja. Itulah sebabnya saya segera menghadap. Saya kira
penting sekali apabila Baginda sudi berbicara langsung
dengan Tuan de Villefort,”
"Tuan de Villefort!” seru Raja- "Diakah yang dari Marseilles
itu. Mengapa tidak Tuan sebutkan dari tadi?"
"Saya mengira nama itu tidak mempunyai arti apa-apa
bagi Baginda.”
"Memang tidak. Dia seorang anak muda yang sungguhsungguh
terhormat, cerdas dan di atas segala-galanya sangat
besar ambisinya. Selanjutnya, Tuan sendiri tahu siapa
ayahnya, bukan?"
"Ayahnya?"
"Ya, namanya Noirtier."
"Noirtier kaum Girondi?"
“Tepat sekali"
"Dan Baginda mengangkat anak seorang semacam itu
sebagai Wakil Jaksa?"
"Blacas sahabatku, rupanya Tuan tidak mengerti. Tadi
saya katakan Villefort besar sekali ambisinya. Dia bersedia
mengorbankan apa saja demi tujuannya, bahkan ayahnya
sendiri kalau perlu akan dikorbankannya juga."
"Apakah perlu saya hadapkan dia sekarang, Baginda?"
"Ya, segera."
Duke Blacas segera meninggalkan ruangan dengan kegembiraan
seorang anak muda dan tak lama kemudian
kembali lagi bersama Villefort. Ketika pintu terbuka,
Villefort sangat terkejut karena tidak mengira akan berhadapan
muka dengan Raja pribadi, [a berhenti seketika.
"Silakan masuk, Tuan de Villefort” kata Raja.
Villefort membungkuk dalam-dalam dan maju
selangkah, menunggu disapa.
"Tuan de Villefort," kata Raja Louise XVIII, "Duke
Blacas memberitahu bahwa Tuan mempunyai laporan yang
sangat penting."
"Apa yang dikatakan Duke Blacas itu benar, Baginda.
Saya datang ke Paris secepat mungkin untuk mengabari
Baginda bahwa dalam menjalankan kewajiban sehari-hari
saya telah berhasil mengungkapkan sebuah komplotan yang
amat sangat membahayakan, katakanlah, sebuah badai
dahsyat yang secara langsung mengancam Mahkota.
Baginda Yang Mulia, Napoleon si perampas telah
meninggalkan Pulau Elba membawa pasukan sebanyak tiga
buah kapal. Tujuannya tidak diketahui, tetapi pasti dia akan
melakukan percobaan mendarat di Napoli atau di Tuscany,
bahkan mungkin sekali di Perancis. Saya rasa Baginda
maklum bahwa Napoleon mempunyai banyak pejuang
gerilya baik di Itali maupun di Perancis."
"Ya, aku tahu," kata Raja sangat tersinggung. "Coba
teruskan, bagaimana Tuan mengetahui semua ini?"
"Saya mengetahuinya dari seseorang di Marseilles yang
telah lama saya amat-amati dan telah saya tangkap pada
hari saya berangkat ke Paris. Orang ini, seorang pelaut yang
bersemangat, yang telah lama saya curigai sebagai pengikut
kaum Bonaparte, pada suatu hari melakukan kunjungan
rahasia ke Pulau Elba. Dari Marsekal Bertrand ia mendapat
kepercayaan untuk menyampaikan sebuah pesan tertulis
kepada seorang anggota kaum Bonaparte di Paris yang
namanya tidak berhasil saya ungkapkan. Tetapi saya
berhasil mengetahui bahwa orang itu mendapat tugas mempersiapkan
kembalinya Napoleon dalam waktu yang dekat."
"Di mana orang itu sekarang?"
"Dalam penjara. Baginda."
"Ah, kebetulan Tuan Dandre datang!" seru Duke Blacas.
Menteri Kepolisian baru saja tiba di ambang pintu.
Mukanya pucat, tubuhnya gemetar dan matanya liar karena
gugup.
Dengan kasar sekali Raja mendorong meja di hadapannya
dan berteriak keras, "Ada apa, Baron? Tuan tampak
gugup sekali. Apakah bahaya yang merisaukan Tuan ada
hubungannya dengan apa yang baru saja dilaporkan oleh
Tuan de Villefort?"
"Baginda, Baginda," kata Baron Dandre terbata-bata.
"Berkatalah!"
Menteri Keepolisian menjatuhkan dirinya di kaki Raja
dengan putus asa, kemudian berkata, "Malapetaka besar,
Baginda! Si Perampas telah meninggalkan Pulau Elba pada
tanggal 28 Pebruari dan pada tanggal 1 Maret telah mendarat
di Perancis, di sebuah pelabuhan kecil dekat Antibes,"
"Si Perampas mendarat di Perancis dekat Antibes, hanya
seratus dua puluh lima kilometer dari Paris, pada tanggal 1
Maret, dan Tuan baru mengetahuinya pada hari ini, tanggal
3 Maret. Bagaimana mungkin! Ada dua kemungkinan,
Tuan menerima laporan salah, atau Tuan telah gila!"
"Maaf, Baginda, tetapi ini adalah kebenaran yang nyata!"
Raja Louis XVIII membuat gerakan yang menunjukkan
kemarahan dan kecemasan yang tidak terkatakan,
kemudian berdiri tegak. "Di Perancisi" dia berteriak. "Si
Perampas di Perancis! Apa dia tidak dijaga? Tetapi, siapa
tahu, mungkin ada orang yang berkomplot dengan dia!"
"Wahai, Baginda!" kata Duke Blacas. "Orang yang setia
seperti Tuan Dandre tidak mungkin dituduh berkhianat.
Kita semua buta dan beliau pun terkena kebutaan seperti
kita."
"Tetapi . . .," Villefort menyela Setelah berhenti sejenak,
dia berkata lagi, "Maafkan saya, Baginda. Saya terpengaruh
oleh dorongan hati saya."
"Jangan ragu-ragu!" jawab Raja. 'Tuanlah orangnya yang
memberi kami kabar tentang bencana ini. Sekarang tolong
kami mengatasinya."
"Baginda Yang Mulia," kata Villefort, "Napoleon sangat
dibenci di Selatan. Tidak akan sukar menggerakkan rakyat
Provence dan languedoc mengangkat senjata."
'Tak dapat disangkal," kata Menteri. 'Tetapi, sayang sekali
dia sudah maju melalui Gap dan Sisteron."
"Sudah sejauh itu!" sahut Raja makin gugup. "Maksud
Tuan dia sudah menuju ke Paris?"
Menteri Kepolisian tidak menjawab, sama artinya dengan
mengiyakan.
"Kalau begitu," kata Raja selanjutnya. "Saya sudah tidak
memerlukan Tuan-tuan lagi dan kalian boleh pergi. Yang
harus dilakukan sekarang, menjadi kewajiban Menteri
Peperangan . . . Tuan de Villefort, Tuan pasti masih merasa
lelah setelah perjalanan yang jauh itu. Silakan beristirahat.
Tuan akan tinggal di rumah ayah Tuan bukan?"
Villefort merasa seolah-olah akan pingsan. 'Tidak,
Baginda," katanya "Saya akan tinggal di hotel Madrid, di
Rue de Toumon."
"O, ya ya," kata Raja sambil tersenyum. "Saya sama
sekali lupa bahwa Tuan tidak sepaham dengan Tuan
Noirtier. Ini merupakan pengorbanan tuan yang lain lagi
untuk kerajaan yang patut saya hargai."
"Kebaikan hati Baginda bagi saya sudah merupakan
penghargaan yang tidak terhingga sehingga saya tidak
berani mengharapkan yang lain lagi."
"Walaupun demikian, kami tidak akan melupakan Tuan
Sementara itu, terimalah ini" Raja menanggalkan bintang
Pasukan Kehormatan yang selalu beliau pakai di samping
bintang Saint Louis, kemudian menyerahkannya kepada
Villefort.
Mata Villefort basah karena air mata gembira dan bangga.
Dia menerima bintang itu dan menciumnya.
"Sekarang silakan," kata Raja. "Apabila aku hipa kepada
Tuan, maklum ingatan seorang Raja pendek, jangan raguragu
mengingatkan aku."
Ketika Villefort meninggalkan Istana Tuileries, Menteri
Kepolisian berkata kepada Villefort, "Masa depan Tuan
yang cerah sudah terjamin sekarang."
"Soalnya, berapa lama saya mesti menunggu," jawab
Villefort dalam hati.
BAB VIII
KEJADIAN yang satu menyusul yang lain dengan cepat.
Kisah kembalinya Napoleon dari Pulau Elba yang aneh,
penuh rahasia, telah menjadi pengetahuan umum. Suatu
kejadian yang tidak ada bandingannya di masa lampau dan
mungkin juga tidak akan dapat ditiru di masa yang akan
datang.
Raja Louis XVIII tidak berusaha keras untuk menahan
serangan Napoleon itu. Kerajaan yang masih jauh daripada
selesai ia bangun kembali tergoncang pada landasannya
yang tidak kokoh. Satu pukulan dari Napoleon sudah cukup
untuk meruntuhkan seluruh bangunan ke raja an itu yang
tidak lain terdiri dari hanya campuran tidak menentu dari
pemikiran-pemikiran kuno dan pendapat-pendapat baru
Oleh sebab itu Villefort tidak mendapatkan keuntungan
apa-apa dari raja kecuali penghargaan yang bukan saja tidak
berguna, tetapi bahkan dapat membahayakan bagi dirinya.
Tak dapat diragukan lagi Napoleon pasti akan memecat dia
kalau saja tidak ada perlindungan dari ayahnya, Tuan
Noirtier, yang mempunyai pengaruh yang sangat besar di
lingkungan Kehakiman selama Masa Pemerintahan Seratus
Hari.
Villefort tetap dapat mempertahankan kedudukannya,
tetapi perkawinannya ditangguhkan sampai saat yang lebih
baik. Apabila Napoleon tetap berkuasa, Villefort akan
membutuhkan calon isteri yang lain, dan ayahnya tentu
akan mencarikan seorang wanita baginya. Apabila sebaliknya,
Raja Louis XVIII kembali ke singgasana untuk kedua
kalinya, pengaruh Markis de Saint-Meran akan dua kali
lipat lebih besar dari dahulu, dan perkawinan dengan
puterinya akan lebih menguntungkan bagi Villefort.
Adapun Dantes, tetap dalam sekapan. Karena terbenam
dalam kedalaman sel bawahtanah, ia sama sekali tidak
mengetahui kejadian-kejadian di luar penjara, baik tentang
kejatuhan Raja Louis XVIII maupun tentang keruntuhan
Kaisar Napoleon.
Dalam masa kembalinya Kaisar yang dikenal dengan
Masa Pemerintahan Seratus Hari, Morrel telah tiga kali
menemui Villefort untuk meminta dengan sangat agar
Dantes dibebaskan Setiap kali Villefort menenangkannya
dengan janji dan harapan. Kemudian terjadilah peristiwa
Waterloo, awal kehancuran Napoleon. Morrel tidak datangdatang
lagi kepada Villefort. Dia telah melakukan segala
sesuatu dalam batas kemampuannya untuk sahabat mudanya.
Mengusahakan lagi kebebasan Dantes dalam masa
kekuasaan Raja Louis XVIII tidak akan ada gunanya.
Ketika Raja Louis XVIII kembali ke tampuk pemerintahan,
Villefort meminta dan memperoleh jabatan sebagai
Jaksa Penuntut Umum di Toulouse yang ketika itu masih
lowong. Dua minggu kemudian ia menikah dengan Renee,
putri Markis de Saint-Meran.
Dalam masa kekuasaan Napoleon yang pendek,
Danglars dihinggapi rasa takut. Dia memperhitungkan
Dantes dapat muncul kembali setiap saat dengan ancaman
pembalasan dendam. Oleh sebab itu dia mengajukan
permohonan berhenti kepada Morrel, kemudian bekerja
pada sebuah perusahaan bangsa Spanyol di Madrid.
Setelah itu tak terdengar lagi kabar beritanya.
Lain dengan Fernand, dia tidak terlalu memusingkan
pergantian kekuasaan itu. Yang penting bagi dia, Dantes
tidak ada, dan dia tidak merasa perlu menyusahkan diri
dengan mencari keterangan apa yang terjadi selanjutnya
dengan Dantes. Ketika Kaisar Napoleon berseru kepada
rakyatnya, agar setiap lelaki yang dapat memanggul senjata
berduyun-duyun mematuhi suara Kaisar, Fernand menggabungkan
diri bersama kawan-kawannya.
Kesetiaannya kepada Mercedes, kesediaannya turut merasakan
semua kesedihan Mercedes, dan perhatiannya kepada
keinginan-keinginan Mercedes betapa kecil sekalipun
telah meninggalkan kesan yang baik pada hati Mercedes
yang tulus. Dari dahulu Mercedes menyukai Fernand sebagai
kawan. Perasaannya itu sekarang diperdalam dengan
perasaan baru: berterima kasih. Sekarang Fernand telah
berangkat menggabungkan diri kepada tentara Napoleon
berbekalkan harapan, kalau Dantes tidak kembali, ia akan
memiliki Mercedes pada suatu saat nanti.
Mercedes ditinggalkan seorang diri. Seringkah ia ditemukan
berjalan-jalan tanpa tujuan sekitar perkampungan orang
Catalan dengan bercucuran air mata. Kadang-kadang ia
berdiri bagai patung dalam panas matahari Selatan, kadangkadang
duduk di pantai mendengarkan gemuruh ombak
yang abadi sambil bertanya-tanya kepada dirinya apakah
tidak lebih baik menenggelamkan diri ke kedalaman laut
daripada menderita kekejaman menanti tanpa harapan. Dia
sudah melakukannya kalau saja keyakinan agamanya tidak
melarang membunuh diri.
Ayah Dantes kehilangan semua harapan ketika Napoleoon
runtuh kembali. Lima bulan sejak ditinggalkan putranya,
dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan
Mercedes. Morrel membiayai semua keperluan penguburan
dan membayar semua hutang yang terpaksa terjadi selama
sakitnya. Untuk melakukan hal itu diperlukan lebih banyak
keberanian daripada kemurahan hati semata-mata, karena
menolong ayah seorang Bonapartis yang berbahaya seperti
Dantes sekalipun di ranjang kematian, ketika itu dapat
dianggap sebagai suatu kejahatan.
BAB IX
SEPERTI layaknya seorang tahanan, Dantes pun
mengalami semua tingkat kesengsaraan yang mau tidak
mau harus diderita oleh pesakitan yang dilupakan dalam sel
bawahta nah. Pada mulanya, kebanggaan dirinya masih
tegak sebagai akibat dari harapan dan kesadaran tidak
berdosa. Kemudian mulai bimbang sekalipun keyakinan
tidak berdosa masih ada; akhirnya kebanggaannya hancur
dan mulailah ia memohon, belum kepada Tuhan, tetapi
baru kepada manusia saja. Dia memohon supaya
dipindahkan ke sel yang lain, tak jadi soal ke sel lebih gelap
pun. Suatu perubahan, sekalipun tidak menguntungkan,
akan dapat mengendorkan ketegangan untuk beberapa hari.
Dia memohon diberi buku bacaan dan diizinkan berjalanjalan
di luar sel. Tak sebuah pun yang dikabulkan. Namun
dia tidak berhenti meminta.
Akhirnya, setelah menguras habis semua daya kemanusiaannya,
barulah dia berpaling kepada Tuhan. Dia ingat
kepada do'a-do'a yang diajarkan ibunya. Sekarang dia dapat
meresapkan arti setiap kata, padahal dahulu tak diacuhkan
ny a. Untuk orang yang berada dalam kesenangan, doa
hanyalah merupakan rangkaian kata tanpa makna, sampai
pada suatu saat kesedihan dan kepedihan datang menerangkan
makna kata-kata agung yang ditujukan kepada Tuhan
itu.
Sekalipun dia telah berdo'a dengan sungguh-sungguh,
namun Tuhan mempunyai rencana yang lain. Dia tetap tersekap.
Jiwanya mulai gelap, dan kabut hitam membayang
di hadapan mata. Pikirannya hanya dipenuhi deh suatu
perkara, bahwa kebahagiaannya telah hancur oleh alasanalasan
yang tidak jelas.
Kemurungannya menimbulkan amarah yang mendalam.
Dia berteriak-teriak mengumpat Tuhan sehingga Sipir
meloncat mundur ketakutan. Setelah itu menghantamkan
dirinya ke dinding. Surat pengaduan yang diperlihatkan
Villefort kepadanya, yang pernah dijamahnya pula, kembali
terbayang dalam Ukirannya. Seakan-akan dia melihat kembali
baris demi baris yang terdiri dari huruf-huruf yang
membara. Dalam keadaan demikian, untung masih ada
sisa-sisa kesadaran yang meyakinkan dirinya bahwa yang
menyebabkan dia sekarang terjerumus ke jurang yang
dalam, adalah perbuatan keji manusia, bukan hukuman dari
Tuhan. Dia mengutuk orang yang tak diketahuinya ini agar
mendapat siksaan yang sepedih pedihnya lebih pedih dari
siksaan yang dapat dibayangkannya dalam keadaan amarah
yang menyala-nyala. Tetapi dia belum puas juga dengan kutukan
ini, karena bahkan siksaan yang paling kejam pun
masih terlalu lunak, sebab penyiksaan yang kejam itu akan
berakhir dengan mati, dan kematian menyebabkan si ter
kutuk, kalaupun bukan mati dengan tenang, sekurangkurangnya
terlepas dari rasa sakit
Pikiran bahwa kematian melepaskan orang dari penderitaan,
membawa Dantes kepada gagasan untuk membunuh
diri. Makin mantap dia memikirkannya, makin terhibur
hatinya. Segala kepedihan dan kesedihannya seakan-akan
terbuang menghilang ke luar selnya karena menghampiri
malakalmaut. Hatinya terasa ringan ketika membayangkan
bahwa hidupnya dapat dibuang begitu saja, kapan saja,
seperti sepotong pakaian yang sudah lusuh.
Ada dua cara untuk mati: pertama, dengan jalan
menggantung diri dengan menggunakan saputangannya.
Kedua, dengan mogok makan sampai mati. Dia tidak
menyukai cara yang pertama. Dia dididik untuk
mempunyai rasa jijik kepada kaum perompak, yaitu mereka
yang karena dosanya digantung di ujung andang-andang
sebuah kapal. Oleh sebab itu mati menggantung diri
dianggapnya sebagai tidak terhormat dan dia tidak bersedia
mati dengan cara itu. Dia memilih cara yang kedua dan
bersumpah akan melaksanakannya sampai selesai. "Akan
kulemparkan makananku melalui jendela," katanya dalam
hati, "dengan demikian akan tampak seperti aku habis
memakannya."
Sejak hari itu, dua kali sehari, dia melemparkan semua
makanannya melalui jendela kecil berjeruji. Melalui jendela
itu tidak dapat terlihat apa-apa kecuali langit. Mula-mula ia
melakukannya dengan perasaan gembira, kemudian dengan
ragu-ragu dan akhirnya dengan perasaan menyesal. Dahulu
ia menganggap makanannya menjijikkan, tetapi sekarang,
rasa lapar merubahnya menjadi menggiurkan dan
menghidupkan selera. Kadang-kadang ia memandang berjam
jam kepada sepotong daging atau roti hitam keras sebelum
ia membuangnya. Tetapi ia selalu ingat kepada
sumpah yang telah dibuatnya, dan keengganan untuk merendahkan
martabatnya, selalu mencegah ia melanggar
sumpah itu. Akhirnya ia kehabisan tenaga juga sehingga
tidak kuat lagi berdiri untuk membuang m akanannya.
Keesokan harinya, penglihatannya sudah kabur, telinganya
sudah hampir tidak mendengar. Sipir menyangka
bahwa Dantes sakit payah, dan Dantes mengharapkan
malaikal maut akan datang menjemputnya setiap saat.
Kekakuan dan kelumpuhan sudah menguasai dirinya Rasa
perih di perutnya sudah hilang. Kalau ia memejamkan
mata, cahaya-cahaya terang beterbangan di hadapannya.
Tiba-tiba, pada suatu malam menjelang jam setengah
sepuluh ia mendengar suara samar-samar datang dari arah
dinding yang dekat dengan tempat ia berbaring. Sebenarnya
banyak sekali serangga-serangga yang menjijikkan berkeliaran
dalam selnya, tetapi Dantes sudah cukup terbiasa sehingga
ia tidak pernah merasa terganggu oleh suara binatang itu.
Tetapi sekali ini, entah karena sarafnya telah menjadi lebih
peka sebab berpuasa, entah memang suara itu lebih keras
dari suara-suara serangga atau entah karena pada saat itu
segala sesuatu menjadi lebih penting, Dantes mengangkat
kepala untuk mendengar suara itu dengan lebih jelas. Ia
mendengar suara garukan yang teratur, yang mungkin
berasal dari kuku atau gigi binatang yang kuat atau mungkin
juga dari sesuatu perkakas. Suara itu terus-menerus
terdengar untuk selama tiga jam, sebelum terdengar suara
gemerisik seperti jatuhnya barang-barang yang rapuh. Setelah
itu keadaan menjadi sunyi senyap kembali
Keesokan harinya, suara itu terdengar kembali dan
sangat jelas. "Tak syak lagi sekarang," katanya kepada
dirinya sendiri "Karena suara itu tetap ada sekalipun di
siang hari, ini pasti suara seorang pesakitan yang-sedang
berusaha melarikan diri. Alangkah senangnya bila aku
berada bersama dia, aku akan menolongnya dengan senang
hati."
Tetapi, tiba-tiba bayangan hitam menghapus lagi harapannya.
Bagaimana kalau suara itu berasal dari pekerjapekerja
yang sedang memperbaiki sesuatu dekat selnya?
Tentu saja kepastian itu dapat dengan mudah diperoleh
dengan menanyakannya kepada Sipir, tetapi pertanyaan itu
dapat membahayakan. Sayang sekali keadaan badan Dantes
begitu lemah dan kepalanya pening sehingga ia tidak
mampu berftkir secara teratur. Tak ada jalan lain yang
dapat ditempuh untuk mengembalikan lagi kejernihan be
liku nya, kecuali menjangkau sayur kaldu yang ditinggalkan
Sipir dan meminumnya. Seketika juga ia merasakan merasuknya
kesegaran secara berangsur-angsur.
Setelah beberapa saat ia berkata kepada dirinya sendiri,
"Hanya ada satu jalan untuk dapat meyakinkan itu, tanpa
akibat apa pun. Aku akan mengetuk dinding. Kalau yang
bekerja itu seorang pekerja biasa, ia akan berhenti sejenak
mendengar ketukan itu dan mungkin menerka-nerka dari
mana datangnya suara. Tetapi apabila yang bekerja itu
seorang pesakitan yang sedang berusaha melarikan diri,
ketukan itu akan membuatnya takut, dia akan berhenti
bekerja dan tak akan berani memulainya lagi sebelum malam,
setelah ia yakin bahwa semua orang telah tidur."
Dantes berdiri. Sekarang kakinya sudah agak kuat dan
penglihatannya sudah mulai terang kembali. Dia berjalan ke
salah satu sudut selnya dan menyomot sebuah batu yang
sudah hampir terlepas dari dinding karena kelembaban.
Dengan batu ia mengetuk dinding tiga kali berturut-turut di
tempat suara tadi terdengar paling jelas.
Suara dari seberang sana lenyap seketika, Dantes memasang
kupingnya baik-baik. Sehari suntuk ia tidak mendengar
lagi suara itu. "Seorang pesakitan," kata Dantes
yakin penuh kegembiraan. Daya hidupnya seakan-akan
menghembus lagi ke seluruh tubuh. Semalaman ia tidak
tidur tetapi suara di dinding tak kunjung terdengar juga.
Keesokan harinya, ia melahap habis sarapannya. Semua
perhatiannya ditujukan kepada dinding. Hatinya merasa
jengkel karena kehati hatian pesakitan itu yang tidak mengira
bahwa dia terganggu hanya oleh pesakitan lain yang
berkeinginan bebas juga. Tiga hari berlalu tanpa suara,
berarti tujuh puluh dua jam. Pada suatu malam, setelah
Sipir melakukan pemeriksaan terakhir untuk hari itu,
Dantes menekankan telinganya ke dinding untuk kesekian
kalinya, dan ia dapat merasakan adanya suatu getaran yang
sangat halus. Dia berjalan hilir-mudik untuk mengendurkan
urat syarafnya yang menjadi tegang, kemudian sekali lagi
menempelkan telinganya ke dinding. Dia tidak ragu lagi
ada sesuatu yang sedang berlaku di seberang dinding itu.
Orang di seberang telah mencium bahaya dalam usahanya
yang pertama dan sekarang sedang mencobanya lagi. Agar
supaya lebih aman rupanya ia telah mengganti pahat
dengan pengumpil. Itulah sebabnya suara yang terdengar
tidak begitu jelas.
Tergugah oleh ketekunannya hati Dantes sudah tetap
untuk membantu orang yang tak kenal lelah ini Menurut
perkiraannya, orang itu bekerja tepat di bawah tempat
tidurnya. Oleh sebab itu dia menggeserkan tempat tidurnya
dan menengok ke sekeliling mencari sesuatu yang kiranya
dapat digunakan sebagai perkakas. Tetapi dia tidak
menemukan apa-apa. Tak ada pisau atau barang logam
lainnya. Dari penyelidikannya yang telah berkali-kali dilakukan
dia yakin betul bahwa jeruji besi di jendelanya
dipasang sedemikian rupa sehingga ihtiar membongkarnya
akan merupakan pekerjaan yang sia-sia belaka. Hanya tinggal
satu kemungkinan lagi: memecahkan kendi tempat airnya,
dan menggunakan pecahannya yang tajam sebagai
pengorek tembok. Kendi dijumputnya kemudian dijatuhkannya
ke atas lantai.
Dia memilih dua atau tiga pecahan yang tajam, menyembunyikannya
di bawah tikar dan membiarkan sisanya berserakan.
Kendi yang pecah merupakan kecelakaan yang
biasa sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan apa-apa
pada Sipir.
Dantes mempunyai waktu semalam suntuk, tetapi tidak
mudah baginya bekerja dalam kegelapan. Lagi pula ia
segera sadar bahwa perkakasnya yang hanya berupa
tembikar itu cepat menjadi tumpul tertumbuk batu yang
keras pada dinding Oleh sebab itu dia mengembalikan lagi
tempat tidurnya ke tempat asalnya dan menanti sampai hari
menjelang siang. Sepanjang malam ia mendengarkan
pesakitan yang tak dikenal itu melaksanakan pekerjaannya
di bawah tanah.
Ketika Sipir datang esok paginya Dantes menceritakan
bahwa kendinya pecah karena terlepas dari tangan. Sipir itu
menggerutu dan pergi lagi untuk mengambil kendi yang
baru tanpa mau bersusah-payah membersihkan pecahanpecahan
yang berserakan di lantai Dia kembali tak lama
kemudian dan meminta Dantes agar lebih berhati-hati. Lalu
dia pergi lagi. Segera setelah Sipir pergi Dantes menggeserkan
lagi tempat tidurnya. Barulah tampak kepadanya
bahwa pekerjaannya tadi malam tidak menghasilkan apaapa,
karena ia mengorek-ngoreknya tepat pada batu, bukan
pada adukan tembok di sekelilingnya. Hatinya melonjak
gembira ketika ia berhasil mengikis adukan itu, sekalipun
hanya sedikit saja Dan benar-benar hanya sedikit Tetapi
dalam tempo setengah jam ia dapat mengikisnya se
genggam.
Tiga hari kemudian ia sudah berhasil mengikis habis
semua adukan di sekeliling batu itu. Tinggal sekarang mencungkilnya.
Dia mencoba dengan jari-jarinya, tetapi kekuatannya
tidak memadai. Tembikar patah ketika ia mencoba
menggunakannya sebagai pengungkit. Setelah satu jam
berusaha tanpa hasil, ia bangkit dengan hati geram. Apakah
ia harus menghentikan usahanya, tepat pada permulaan?
Ataukah ia harus menunggu lama tanpa daya dan guna
sedangkan pesakitan yang lain bekerja terus?
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalanya, dan dia
tersenyum. Setiap hari Sipir mengantarkan sayur dalam
sebuah panci bergagang logam.
Rasanya Dantes mau mengurbankan sepuluh tahun dari
hidupnya untuk memperoleh tangkai logam itu. Hari itu
pun, seperti biasanya Sipir mengisi mangkuk dari panci itu.
Setelah Sipir pergi Dantes meletakkan mangkuknya di
lantai antara pintu dan meja. Ketika kali lain Sipir masuk
lagi ke dalam sel, mangkuk itu tersepak hingga pecah.
Sekali ini Dantes tak dapat disalahkan. Memang dia salah
meletakkan mangkuk itu di lantai, tetapi Sipir pun harus
tidak boleh lengah. Oleh sebab itulah Sipir hanya dapat
menggerutu. Sipir mehhat lihat ke sekelilingnya mencari
barang lain yang kiranya dapat digunakan sebagai tempat
sayur, tetapi tak ada apa-apa.
"Tinggalkan saja panci itu," kata Dantes. "Besok dapat
kau ambil kembali.”
Usul Dantes sangat menyenangkan bagi Sipir yang malas
itu, dengan demikian dia tidak perlu kembali ke atas, turun
lagi dan kemudian naik lagi. Dengan senang ia meninggalkan
panci itu.
Seluruh badan Dantes gemetar karena gembira. Setelah
menunggu satu jam untuk meyakinkan bahwa Sipir tidak
akan kembali lagi, Dantes menggeserkan tempat tidurnya
dan mulai mengungkit batu yang sudah hampir lepas itu
dengan menggunakan tangkai panci. Baru setelah satu jam
ia berhasil melepaskannya dari dinding. Dengan terlepasnya
batu itu terjadilah sebuah lubang dengan garis tengah sebesar
satu setengah kaki. Karena keinginannya yang kuat
untuk memanfaatkan malam itu, karena secara kebetulan
atau lebih tepat lagi berkat kecerdikannya, sehingga memperoleh
perkakas yang sangat berharga, ia pun meneruskan
pekerjaannya dengan penuh gairah.
Esok paginya Sipir meletakkan sepotong roti di atas
mejanya.
"Apakah aku tidak diberi mangkuk baru?" tanya Dantes.
"Tidak. Engkau memecahkan semua barang: mula-mula
kendi, kemudian mangkuk. Aku akan meninggalkan panci
itu dan itulah mangkukmu."
Dantes memejamkan mata tanda bersyukur. Logam yang
sepotong itu menimbulkan rasa syukur, yang jauh lebih
mendalam dibandingkan dengan keuntungan terbesar yang
pernah diperoleh dalam hidupnya.
Tetapi, ia tidak mendengar sesuatu lagi dari seberang
dinding. Pekerjaan Dantes telah menyebabkan pesakitan
lain menghentikan usahanya. Namun, ini bukan alasan bagi
Dantes untuk berhenti juga. Kalau tetangganya tidak mau
datang kepadanya, dia yang akan mendatanginya. Dia
bekerja sehari penuh tanpa istirahat. Menjelang malam, berkat
perkakasnya yang baru, dia berhasil lagi mengikis sekurang-
kurangnya sepuluh genggam adukan tembok dan
menanggalkan sebuah batu kecil dari dinding. Dia menghentikan
pekerjaannya pada saat Sipir harus melakukan
pemeriksaan malam. Dantes meluruskan kembali gagang
panci yang menjadi bengkok.
Dia bekerja lagi setelah Sipir pergi. Setelah dua atau tiga
jam didapatinya sebuah rintangan. Dia meraba-raba dan
ternyata ada sebuah balok kayu melintang lubang yang
digalinya.
"Ya, Tuhan!" dia berteriak kecewa. "Telah lama sava
berdo'a dan saya mengira Engkau sudah akan mengabulkan
do'a saya. Ya Tuhan, kasihanilah saya. Janganlah saya
dibiarkan mati dalam putus asa."
"Siapakah yang berbicara tentang Tuhan dan putus asa
dalam satu tarikan napas?" terdengar suara bertanya yang
agak ditahan-tahan, seakan-akan muncul dari dalam tanah.
Bulu roma Dantes berdiri mendengar suara'yang tiba-tiba
itu, tetapi dia memaksakan diri berkata, "Atas nama Tuhan,
berkatalah sekali lagL"
"Siapa engkau?" tanya suara itu.
"Seorang tahanan yang teraniaya."
"Sudah berapa lama di sini?"
"Sejak Pebruari tanggal 28 tahun 1815."
"Apa dosamu?"
"Saya tidak berdosa."
"Kalau begitu, apa tuduhannya?"
"Berkomplot untuk mengembalikan Napoleon."
"Apa! Maksudmu Napoleon sudah tidak berkuasa lagi?"
"Beliau diturunkan dari tahta di Fontainebleau tahun
1814 kemudian dibuang ke Pulau Elba. Tetapi engkau sendiri
sudah berapa lama di sini hingga tidak mengetahui
semua itu?"
"Sejak 1811."
Badan Dantes bergidik. Orang itu telah disekap empat
tahun lebih lama daripada dirinya.
"Baiklah, jangan diteruskan lagi menggali," kata suara itu
lagi. “Di mana lubang yang kaugali itu?"
"Sejajar dengan lantai."
'Terlindung oleh apa?"
"Di belakang tempat tidur."
"Apakah pernah ada orang yang memindahkan tempat
tidurmu sejak ditahan?"
'Tidak pernah."
"Apa yang di luar selmu?"
"Sebuah gang."
"Menuju ke mana?"
"Ke pekarangan."
"Ampun!"
"Mengapa?" tanya Dantes.
"Saya keliru. Denah yang saya buat sendiri keliru. Satu
garis yang tidak cermat dalam gambar ternyata berarti
penyimpangan sejauh lima belas kaki. Dan saya
menganggap dinding yang saya gali sebagai dinding
benteng."
"Dengan demikian engkau hanya akan sampai ke laut."
"Memang itu yang saya kehendaki. Sedianya saya bermaksud
meloncat ke dalam laut kemudian berenang ke
Pulau Daume atau Pulau Tiboulen, atau mungkin juga ke
daratan Eropah."
"Apakah engkau akan mampu berenang sejauh itu?"
"Semoga Tuhan akan memberikan tenaga yang diperlukan.
Tetapi sekarang semua menjadi sia-sia. Sebaiknya
tutup lagi lubang yang kaugali itu dengan baik, jangan bekerja
lagi dan tunggu sampai ada berita lagi dari saya."
"Setidak-tidaknya katakan dahulu namamu."
"Saya... saya pesakitan nomor dua puluh tujuh."
"Rupanya engkau tidak percaya kepada saya?" tanya
Dantes.
Dari seberang sana terdengar tawa yang pahit. "Berapa
umurmu? Menilik suaramu, engkau masih muda."
"Tidak tahu, karena saya telah kehilangan hitungan
waktu. Yang masih saya ingat ketika ditangkap dalam
tahun 1815 itu, saya berumur sembilan belas tahun."
"Belum dua puluh enam," kata suara tadi. "Dalam usia
itu biasanya orang belum suka berkhianat."
"Oh, tidak!" teriak Dantes. "Saya lebih suka dicincang
daripada mengkhianatimu!"
"Usiamu meyakinkan saya. Saya akan datang
berkunjung. Tunggulah."
"Kapan akan datang?"
"Saya perhitungkan dahulu akibatnya. Saya akan memberi
tanda, nanti."
"Tetapi engkau tidak akan meninggalkan saya, bukan?
Kita akan melarikan diri bersama-sama, atau kalau kita tidak
dapat melarikan diri, kita akan berbincang-bincang.
Bila engkau seorang muda, saya akan menjadi sahabatmu.
Bila engkau seorang tua, saya akan menjadi anakmu."
"Baiklah. Sampai besok."
Dantes bangkit berdiri, menempatkan kembali batu pada
dinding dan menggeserkan tempat tidurnya. Sejak detik itu
ia menggantungkan harapannya kepada kebahagiaan yang
baru. Dia tidak akan kesepian lagi, bahkan mungkin dia
dapat bebas. Edmond mengira bahwa kawannya akan
memanfaatkan kesunyian dan kegelapan malam untuk bercakap-
cakap lagi. Ternyata dia salah kira. Dia tidak mendengar
apa-apa sepanjang malam itu. Baru esok paginya, ia
mendengar ketukan tiga kali pada dinding.
"Engkau itu? Saya di sini!"
"Sipir sudah pergi?" suara itu bertanya.
"Sudah. Dia tidak akan kembali lagi sampai malam
nanti. Kita bisa bebas selama dua belas jam."
Tak lama kemudian Dantes mendengar suara batu-batu
dan tanah berjatuhan lalu terjadilah sebuah lubang. Dari
lubang itu mula-mula muncul kepala, kemudian badan, dan
akhirnya berdirilah seseorang di dalam sel Edmond Dantes.
BAB X
DANTES memeluk kawan barunya, seorang kawan
yang sudah lama sekali ia harap-harapkan dengan tidak
sabar. Dia menarik orang baru itu ke dekat jendela agar
dapat melihat wajahnya dengan jelas dalam cahaya remangremang.
Perawakannya agak pendek. Rambutnya telah memutih,
lebih banyak disebabkan karena penderitaan daripada sebab
ketuaan. Matanya yang tajam hampir tersembunyi di
bawah alis tebal yang juga sudah putih. Janggutnya yang
masih hitam bergantung sampai ke dada. Pada wajahnya
yang Ion’ jong tampak garis-garis keras, sebagaimana
lazimnya ditemukan pada wajah orang yang biasa melatih
kekuatan batiniah daripada kekuatan badaniah. Pakaiannya
sudah sukar dibayangkan lagi bagaimana corak dan
potongan asalnya karena sudah merupakan cabikan kain
yang melekat di badannya.
Menilik keadaannya orang akan mengira umurnya tidak
akan kurang dari enam puluh lima tahun, namun kesigapan
geraknya menunjukkan bahwa ketuaan yang tampak pada
wajahnya itu mungkin lebih banyak disebabkan karena terlampau
lama dalam sekapan.
Dia menyambut kegembiraan Dantes dengan kegembiraan
yang sama. Untuk seketika hatinya yang sudah lama
membeku seakan-akan mencair karena sukacita anak muda
ini. la menyambut Dantes dengan kehangatan, walaupun
diliputi semacam kekecewaan karena setelah bersusah-payah
sekian tahun lamanya, hanya berhasil masuk ke sel
orang lain, bukannya ke alam bebas seperti yang dicitacitakannya.
"Terlebih dahulu " katanya, "sebaiknya kita menyembunyikan
dahulu terowongan kita. "Dia menutup kembali
lubang dengan batu. "Engkau kurang hati-hati tampaknya,"
katanya lagi memperhatikan batu itu. "Apakah tidak ada
perkakas?”
"Apa Bapak mempunyainya?" tanya Dantes heran.
"Saya membuatnya sendiri, kecuali kikir. Saya mempunyai
semua yang diperlukan: pahat, kakatua dan penyungkil."
Dan ia memperlihatkan sebuah pisau yang tajam
dengan gagang kayu.
"Bagaimana Bapak membuatnya?"
"Dari salah satu jepitan besi tempat tidurku. Dengan alatalat
itulah aku menggali terowongan dari selku sampai ke
selmu, jaraknya kurang lebih lima puluh kaki."
' Lima puluh kaki!" Dantes semakin terheran-heran.
"Betul, tetapi semua susah payahku sia-sia sekarang.
Gang di luar kamarmu itu menuju ke pekarangan yang
penuh dengan penjaga. Sedangkan dari sini tidak ada jalan
lari. Tetapi kehendak Tuhan pasti terlaksana." Wajah orang
tua itu menunjukkan kesabaran yang mendalam. Dengan
rasa heran bercampur kagum Dantes memandang orang tua
ini yang dengan bijak sekali mampu melepaskan
harapannya yang selama ini telah menopang daya
juangnya.
"Bersediakah Bapak menceriterakan diri Bapak?" tanya
Dantes.
'Ya kalau itu masih juga penting bagimu, setelah ternyata
sekarang bahwa aku tiada gunanya bagimu. Aku ini Padri
Faria Aku berada di Penjara If sejak tahun 1811, tetapi
sebelum itu aku dipenjarakan di Benteng Fenestrella selama
tiga tahun. Tahun 1811 dipindahkan dari Piedmont ke
Perancis."
"Apa sebab ditahan?"
"Karena dalam tahun 180? aku melontarkan suatu
gagasan yang ternyata dicoba dilaksanakan oleh Napoleon
dalam tahun 1811. Karena seperti Machiavelli, aku cenderung
untuk melihat sebuah kekaisaran yang agung dan
berwibawa daripada kekuasaan yang terpecah yang membuat
Italia menjadi sebuah kerajaan yang kecil, lemah,
rapuh dan dholim; oleh karena saya menganggap kaisarku,
Kaisar Borgia sebagai kaisar yang pandir yang berpura-pura
saja mengerti pandanganku."
Dantes tidak habis pikir bagaimana seseorang dapat
mempertaruhkan hidupnya untuk soal-soal seperti itu.
"Bukankah Bapak," dia bertanya setelah secara remangremang
dapat memahami pendapat Sipir, "Padri yang
dianggap . .. sakit?"
"Maksudmu, gila, bukan?"
"Saya tak berani mengatakannya," kata Dantes
tersenyum.
"Benar, benar," jawab Faria dengan tawa yang pahit.
"Akulah yang dianggap gila itu."
Dantes berdiam sejenak, kemudian bertanya lagi, "Apa:
kah Bapak sekarang sudah melepaskan niat melarikan diri?"
"Sekarang aku tahu bahwa melarikan diri sangat mustahil.
Itu akan berarti pemberontakan terhadap kehendak
Tuhan."
"Mengapa putus asa? Bukankah usaha yang telah dilakukan
itu pun menuntut lebih banyak daripada takdir Tuhan?
Mengapa tidak menggali lagi terowongan baru dengan arah
yang lain?"
'Terowongan lain! Tahukah apa yang telah kukerjakan?
Tahukah bahwa untuk membuat perkakasnya saja aku memerlukan
waktu empat tahun? Tahukah bahwa selama dua
tahun aku mengorek dan menggaruk tanah yang keras
seperti granit? Tahukah engkau bahwa aku harus mengungkit
dan mengangkat batu-batu besar yang aku sendiri tidak
percaya dapat melakukannya? Tahukah bahwa untuk menyembunyikan
semua batu dan tumpukan’ tanah itu aku
harus menembus dinding tangga dan bahwa tempat itu
sekarang sudah sedemikian penuhnya sehingga sudah tidak
dapat memuat lagi debu sejemput pun? Dan di atas segalagalanya,
tahukah engkau bahwa aku mengira sudah hampir
sampai di akhir kerjaku dan merasa hanya mempunyai sisa
tenaga cukup untuk menyelesaikannya saja ketika tiba-tiba
aku tahu bahwa semua jerih payahku selama bertahuntahun
itu sia-sia belaka? Oh, tidak, aku tidak akan melakukan
apa-apa lagi untuk memperjuangkan kembali kebebasanku,
oleh karena kehendak Tuhanlah aku kehilangan kemerdekaan
untuk selama-lamanya."
Dantes menundukkan kepala agar Padri itu tidak melihat
bahwa kegembiraannya mendapatkan kawan telah menghalanginya
untuk turut merasakan kesedihan Padri
sepenuhnya,
"Selama dua belas tahun di penjara," Padri Faria meneruskan,
"aku telah mempelajari dengan seksama semua
usaha pelarian yang termashur dalam sejarah. Yang berhasil
sangat jarang sekali, dan kebanyakan dari yang sedikit itu
benar-benar merupakan hasil pemikiran yang cermat dan
persiapan-persiapan yang dilakukan dengan penuh kesabaran.
Walaupun demikian, beberapa di antaranya ada yang
berhasil berkat kesempatan yang kebetulan saja tiba, dan
bila dia tiba, kita harus memanfaatkannya."
"Bapak dapat menunggu,” kata Dantes mengeluh. "Saya
tidak. Pekerjaan yang besar itu memberi Bapak kesibukan.
Apabila kita tidak mempunyai kesibukan, hanya harapan
sajalah yang dapat menopang hidup kita."
"Menggali terowongan itu bukan satu-satunya kesibukanku,"
jawab Padri.
"Apa lagi yang lainnya?"
“Aku menulis dan belajar."
"Apakah mereka memberi Bapak kertas, pena dan tinta?"
"Tidak, aku membuatnya sendiri."
"Bapak membuat sendiri kertas, pena dan tinta?"
"Ya."
Dantes memandangnya dengan penuh kekaguman,
tetapi sulit sekali untuk mempercayai apa yang
dikatakannya. Padri Faria merasakan keraguan Dantes,
karena itu dia berkata, "Kalau engkau nanti datang ke selku
akan kuperlihat-kan sebuah buku, sebagai hasil dari semua
pemikiran penyelidikan dan penelitianku selama hidup.
Buku itu berjudul: Uraian Tentang Kemungkinan Sebuah
Kerajaan Tunggal di Italia."
"Dan Bapak menulisnya di sini?”
"Ya, pada dua buah kemeja. Aku telah menemukan
ramuan yang dapat membikin kain menjadi halus dan kuat
seperti kertas perkamen. Aku berhasil membuat pena yang
bagus sekali dari tulang rawan kepala ikan yang sekali-kali
mereka berikan untuk makan kita."
"Bagaimana dengan tintanya?" tanya Dantes. "Bagaimana
Bapak membuatnya?"
"Dahulu ada tungku api dalam selku. Tetapi mereka tidak
mempergunakannya lagi sejak beberapa saat sebelum
aku masuk. Rupanya tungku itu pernah dipakai selama
bertahun-tahun, ternyata dari lapisan jelaga yang tebal di
dalamnya. Aku melarutkan sebagian dari jelaga itu ke 1
dalam anggur yang diberikan kepadaku setiap hari Minggu,
dan hasilnya: tinta yang baik. Apabila aku hendak memberikan
tekanan pada bagian-bagian tertentu dalam buku
itu, aku menusuk salah satu jari dan menuliskannya dengan
darahku sendiri."
"Bilamana saya dapat melihat itu semua?"
"Bilamana saja engkau suka.”
"Sekarang sajalah!"
"Ikuti aku,” kata Padri. Dia membalikkan badan dan
menghilang ke dalam terowongan- Dantes mengikutinya.
Setelah merangkak-rangkak dengan menundukkan
kepala tetapi tanpa kesukaran, mereka sampai ke ujung
terowongan yang berakhir di kamar Padri. Dengan jalan
mengangkat salah satu ubin di sudut kamar itu yang
tergelap Padri itu tadi memulai pekerjaannya yang luar
biasa.
Segera setelah Dantes berada di dalam kamar, ia memperhatikan
keadaan sekelilingnya, tetapi tidak melihat
sesuatu yang luar biasa. "Saya ingin sekali segera melihat
kekayaan Bapak."
Padri Faria berjalan dekat ke tungku api dan menggeserkan
sebuah batu. Setelah tergeser tampaklah seperti sebuah
gua yang agak dalam- Di sinilah disembunyikannya semua
barang yang diceriterakan kepada Dantes. "Apa yang ingin
kaulihat lebih dahulu?" tanyanya kepada Dantes.
"Buku tentang kerajaan di Italia itu."
Padri Faria mengeluarkan tiga atau empat gulungan kain
terdiri dari beberapa lembar yang mempunyai lebar kira-kira
empat inci dan panjang delapan belas inci. Setiap lembar
diberi bernomor dan penuh dengan tulisan. Bahasa yang
digunakan bahasa Italia yang difahami oleh Dantes dengan
baik sekali oleh karena ia orang Provencal.
"Semuanya di sini," kata Padri. "Baru seminggu yang
lalu aku membubuhkan kata tamat di bawah lembaran yang
ke tujuh puluh delapan. Dua dari kemejaku dan semua
saputanganku kukorbankan untuk itu. Apabila aku bebas
kembali dan apabila ada penerbit di Italia yang berani menerbitkannya,
namaku akan terpancang baik-baik."
Dia memperlihatkan pena yang dibuatnya sendiri,
Dantes melihat-lihat mencari alat yang sekiranya dapat
digunakan membuat pena sehalus itu. "Engkau mencari
pisau yang kugunakan untuk membuat itu, bukan?" kata
Padri. "Inilah dia. Ini merupakan puncak karyaku, terbuat
dari besi tempat lilin tua. "Pisau itu setajam pisau cukur.
Dan aku berhasil pula membuat lampu sehingga aku dapat
bekerja di malam hari," kata Padri Faria meneruskan lagi.
"Bagaimana lagi membuatnya?"
"Aku memisahkan lemak dari daging yang diberikan
kepadaku. Lalu memanaskannya sehingga menjadi cair,
sama dengan minyak yang kental."
"Dari mana apinya?"
"Aku berpura-pura mempunyai penyakit kulit dan meminta
diberi belerang. Mereka memberikannya."
Dantes meletakkan barang-barang itu di atas meja dan
kepalanya tertunduk terpengaruh oleh ketabahan hati Padri.
"Itu belum semua," kata Padri Faria. "Tidak bijaksana
menyimpan semua kekayaan di satu tempat. Kita tutup lagi
ini."
Mereka mengembalikan lagi batu penutup pada tempatnya.
Padri menaburkan debu di atasnya dan meratakan
dengan kakinya Kemudian dia menghampiri tempat tidurnya
dan menariknya Di belakang tempat tidur itu, ada
sebuah lubang yang tertutup dengan rapi oleh sebuah batu
yang cocok sekali ukurannya. Di dalamnya terdapat sebuah
tangga tali sepanjang dua puluh lima sampai tiga puluh
kaki. Dantes memeriksanya dan ternyata tangga itu
mengherankan sekali kuatnya
"Bagaimana Bapak mendapatkan tali untuk membuat
tangga sekuat ini?"
"Dari benang yang kuuraikan dari beberapa kemejaku
dan seperai selama tiga tahun di penjara Fenestrella. Aku
berhasil membawanya ke mari ketika dipindahkan, kemudian
meneruskan menjalin tangga itu di sini."
"Apakah Sipir di sana tidak melihat bahwa seperai Bapak
hilang kelirunya?"
"Aku menjahitnya lagi dengan jarum ini." Dia memperlihatkan
tulang ikan, panjang, tajam dan masih ada benangnya
"Semula aku berniat membongkar jeruji dan melarikan
diri lewat jendela. Seperti kaulihat, jendela ini sedikit lebih
lebar dari jendela di selmu, dan aku dapat melebarkannya
lagi sedikit bila aku sudah siap untuk lari. Tetapi dari jendela
ini aku akan muncul di pekarangan sebelah dalam.
Oleh sebab itu, aku melepaskan rencana itu karena terlalu
berbahaya. Tetapi tangga ini tetap kusimpan, mungkin diperlukan,
siapa tahu nanti ada kesempatan baik datang."
Sambil seakan-akan meneliti tangga, Dantes sebenarnya
memikirkan soal lain. Sebuah pikiran terlintas di kepalanya.
Orang ini begitu cerdas, begitu terampil, begitu mendalam,
bahkan sanggup menembus kegelapan rahasia nasib buruknya
sendiri, Dantes sendiri tidak pernah dapat memahaminya.
"Apa yang kaupikirkan?" tanya Padri tersenyum.
"Bahwa Bapak telah menceriterakan sesuatu tentang diri
Bapak, tanpa mengetahui sedikit pun tentang diri saya."
'Hidupmu, anak muda masih terlalu pendek untuk dapat
mengandung sesuatu yang sangat berarti."
"Paling tidak, mengandung nasib buruk yang tak terkatakan,"
sahut Dantes. "Nasib buruk yang tidak seharusnya
saya pikul, dan saya berharap dapat mempersalahkan
manusia, bukan mengutuk Tuhan seperti yang kadangkadang
saya lakukan."
"Ceriterakanlah kepadaku, kalau begitu " kata Padri
sambil menutup kembali tempat rahasianya, kemudian
menggeserkan tempat tidurnya.
Dantes menceriterakan apa yang dia sebut sebagai riwayat
hidupnya, yang hanya terbatas kepada pelayaran ke India
dan dua atau tiga pelayaran lagi ke Timur Dekat Akhirnya
ia sampai kepada pelayarannya yang terakhir dan menceriterakan
tentang kematian Kapten Leclere, bungkusan
yang diamanatkan kepadanya untuk disampaikan ke Pulau
Elba, surat dari Marsekal kepada Tuan Noirtier di Paris,
kemudian kedatangannya kembali di Marseilles, kunjungan
kepada ayahnya, cintanya kepada Mercedes, pesta pertunangan,
penangkapannya, pemeriksaan kepada dirinya,
penahanan sementara di Kantor Kejaksaan, dan akhirnya
pemindahannya ke penjara If. Sejak itu Dantes sudah tidak
mengetahui apa-apa lagi, bahkan tidak mengetahui berapa
lama sudah ia di dalam penjara.
Ketika ia selesai berceritera, Padri Faria tetap bungkam,
hanyut dalam pikirannya. Setelah beberapa lama barulah
dia berkata, "Ada sebuah ungkapan dalam dunia
pengadilan yang berbunyi: 'Kalau ingin mengetahui siapa
pelakunya, temukanlah dahulu siapa yang beruntung dari
kejahatan itu/ Siapakah yang beruntung dengan hilangmu
dari masyarakat?"
"Tidak seorang pun," kata Dantes. "Saya tidak sepenting
itu"
"Jangan berkata begitu, segala sesuatu itu nisbi. Engkau
hampir diangkat menjadi Kapten, bukan?"
"Ya."
"Dan engkau hampir menikah dengan gadis yang cantik?"
"Ya."
"Nah, pertama sekali, apakah ada orang yang tidak
menghendaki engkau menjadi Kapten kapal Le Pharaon?"
"Tidak, semua awak kapal menyukai saya. Tepatnya,
seandainya mereka berhak memilih kaptennya sendiri, saya
yakin mereka akan memilih saya. Hanya seorang dalam kapal
yang mempunyai alasan untuk tidak metiyukai saya,
karena pernah saya bertengkar dengan dia dan menantang
dia duel, yang ditolaknya"
"Aha! Siapa namanya?"
"Danglars. Kepala Penata Usaha Kapal. Kalau engkau
menjadi kapten, apakah engkau akan memecatnya?"
"Ya, kalau saya mempunyai wewenang melakukannya.
Saya kira, saya menemukan sesuatu yang tidak beres dalam
pembukuannya."
"Baik. Apakah ada orang lain hadir ketika engkau berbicara
untuk terakhir kalinya dengan Kapten Leclere?"
"Tidak, kami hanya berdua saja"
"Mungkinkah ada orang yang dapat mendengarkan pembicaraan
itu?"
"Saya kira mungkin. Pintu kamar Kapten terbuka ketika
itu. Tepatnya . . . Nanti, nanti . . . Ya. Danglars lalu tepat
ketika Kapten Leclere menyerahkan bungkusan."
"Baik," kata Padri. "Sudah mulai terang sekarang. Apakah
engkau membawa kawan ketika turun di Pulau Elba?"
"Tidak."
"Apa yang kaulakukan dengan surat yang diterima di
sana?"
"Menyimpannya dalam tas surat."
"Apakah tas surat itu kaubawa ketika itu?"
"Tidak. Ada di kapal. Saya memasukkannya setelah
kembali di kapal."
"Di mana disimpannya, antara waktu meninggalkan
pulau dan memasukkannya ke dalam tas’?"
"Saya pegang selalu."
"Berarti, ketika engkau kembali ke kapal semua orang
dapat melihat bahwa engkau membawa sebuah surat.
Betul?"
"Ya."
"Sekarang," kata Padri Faria, "dengarkan baik-baik, dan
coba ingat-ingat sebaik mungkin. Dapatkah engkau mengatakan
bagaimana bunyi surat pengaduan itu?"
"Tentu saja! Saya membacanya tiga kali berturut turut
sehingga setiap kata terpateri dalam ingatan saya." Dantes
mengulangi isi surat pengaduan itu kata demi kata.
Padri Faria mengangkat bahunya "Terang bagaikan siang
harikatanya. "Rupanya hatimu terlalu bersih untuk dapat
dengan segera memecahkan persoalannya. Bagaimana
bentuk tulisan Dangiars?"
"Bulat dan bagus."
"Bagaimana huruf-huruf surat pengaduan itu?"
"Agak miring ke kiri."
Padri Faria tersenyum dan berkata, “Tulisan itu palsu,
bukan?"
"Sungguh kurang ajar kalau begitu," kata Dantes gemas.
"Tunggu," kata Padri Faria. Dia mengambil sebuah pena
kemudian menulis beberapa huruf dengan tangan kirinya
pada secarik kain.
Dantes sangat terkejut sehingga tanpa disadarinya ia
terloncat selangkah ke belakang dan matanya terbelalak
melihat Padri. "Sungguh mengherankan," katanya, "betapa
samanya tulisan itu dengan ini."
"Berarti bahwa surat pengaduan itu ditulis dengan tangan
kiri. Aku telah meneliti bahwa hampir semuaitulisan yang
dilakukan dengan tangan kiri, sama Sekarang mari kita
teruskan dengan pertanyaan kedua apakah ada yang senang
kalau engkau tidak jadi kawin dengan Mercedes?"
"Ya, ada. Ada seorang pemuda yang juga mencintai
Mercedes, orang Catalan bernama Fernand."
"Bagaimana menurut pendapatmu, apakah ia sanggup
memfitnah seperti itu?"
"Saya kira tidak, saya lebih percaya bahwa ia akan
sanggup menikam saya. Selain dari itu, ia sama sekali tidak
mengetahui apa-apa tentang yang disebutkan dalam surat
itu. Saya tidak pernah menceriterakan kepada siapa pun,
bahkan juga tidak kepada Mercedes."
"Apakah Fernand kenal dengan Dangiars?"
"Tidak ... Ya! Saya ingat sekarang. Saya melihat mereka
duduk bersama di sebuah kedai dua hari sebelum hari
pernikahan yang tidak jadi berlangsung. Dangiars kelihatan
ramah, Fernand tampak pucat dan marah. Masih ada seorang
lagi, yaitu Caderouse tukang jahit yang saya kenal
baik, tetapi ketika itu dia mabuk sekali
"Menganalisa kedua kawanmu itu pekerjaan anak kecil,"
kata Padri, "tetapi sekarang saya ingin mendapat keterangan
yang setepat-tepatnya,"
"Silahkan saja tanyakan, Bapak dapat melihat masalah
Saya lebih jelas daripada saya sendiri.''
"Siapa yang memeriksamu setelah ditangkap?"
"Wakil Jaksa Penuntut Umum."
"Bagaimana dia mempcrlakukanmu?"
"Baik sekali"
"Kau menceriterakan segala-galanya kepadanya?"
"Ya."
"Apakah pernah ada perubahan sikap padanya selama
pemeriksaan itu?"
"Ada, ketika beliau membaca surat yang saya terima di
Pulau Elba itu. Tampaknya beliau sangat cemas, membayangkan
nasib buruk yang mungkin menimpa saya"
"Yakinkah engkau bahwa nasib burukmu yang membuatnya
cemas?"
"Saya kira begitu, karena beliau memberi bukti. Beliau
membakar surat itu di hadapan saya sambil berkata: 'Itulah
satu-satunya bukti yang dapat mencelakakanmu dan seperti
engkau lihat sendiri, aku telah memusnahkannya'."
"Tindakan itu terlalu halus untuk sewajarnya. Artinya,
mencurigakan."
"Begitukah menurut pendapat Bapak?"
"Aku yakin. Kepada siapa surat itu dialamatkan?"
"Kepada Tuan Noirtier, Rue Coq-Heron 13 Paris."
"Menurut pendapatmu, mungkinkah Wakil Jaksa itu
mempunyai alasan lain apa sebab membakar surat itu?"
"Barangkali. Beliau meminta saya dua sampai tiga kali
membuat janji agar tidak akan menceriterakan surat itu
kepada siapa pun, bahkan membuat saya bersumpah untuk
tidak pernah akan menyebutkan nama si alamat surat tadi.”
"Noirtier.. Noirtier .. . ," kata Padri berulang-ulang
sambil berfikir. "Pernah aku mengenal seorang bernama
Noirtier di Istana Ratu Etruna Noirtier yang bergabung
dengan kaum Girondi waktu zaman revolusi... Siapa nama
Wakil Jaksa itu?"
"Villefort."
Padri Faria tertawa terbahak-bahak. "Kasihan!" katanya
kepada Dantes. “Wakil Jaksa itu bersikap baik kepadamu,
bukan?"
"Ya."
"Dia membakar surat itu di hadapanmu dan meminta
engkau bersumpah untuk tidak pernah akan menyebut
nama Noirtier?"
"Benar"
"Tahukah engkau siapa Noirtier itu? Dia adalah ayahnya
sendiri."
"Ayahnya!! Ayahnya!!" Dantes berteriak terkejut. Dia
bangkit dan memegang kepalanya dengan kedua belah
tangannya seakan-akan hendak mencegah jangan sampai
meledak.
"Benar, ayahnya, namanya Noirtier de Villefort."
Sekilas cahaya yang terang-benderang menerangi kepala
Dantes sehingga semua persoalan yang selama itu gelap
gelita tiba-tiba menjadi jelas sejelas-jelasnya. Perubahan sikap
Villefort ketika memeriksa, surat yang dibakarnya,
sumpah yang dia minta, nada suaranya yang lebih banyak
memohon daripada mengancam, semua itu kembali lagi ke
dalam ingatan Dantes seketika dan serentak. Dia bersungutsungut
sambil berjalan berputar-putar seperti orang mabuk,
kemudian lari ke lubang galian yang menuju ke kamarnya
sambil menangis. "Oh! Aku harus menyendiri untuk memikirkan
ini semua!"
Setibanya di selnya, dia merebahkan diri ke tempat tidur.
Ketika Sipir masuk pada malam hari itu ia menemukan
Dantes masih terientang di sana, matanya menatap kosong,
wajahnya pun polos sedang badannya tak bergerak seperti
patung terbaring.
Selama berdiam diri seperti bersemedi yang seakan-akan
hanya berlangsung beberapa detik itu, dia telah membuat
putusan yang mengerikan dan sumpah yang menakutkan.
Akhirnya, sebuah suara membangunkan dia kembali dari
lamunannya. Padri mengajaknya makan malam bersama.
Dantes mengikutinya Tarikan wajahnya yang keras dan
sungguh-sungguh menunjukkan bahwa ia telah membuat
putusan. Padri Faria memperhatikannya dan berkata, "Aku
menyesal sekali telah membantumu memecahkan
persoalanmu dan m enceri terak an apa yang telah aku
perbuat."
"Mengapa?"
"Karena dengan itu aku telah menanamkan dalam hatimu
sebuah perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya:
pembalasan."
Dantes tersenyum. "Lebih baik kita berbicara tentang
soal lain," katanya. Padri memandangnya sebentar kemudian
menggelengkan kepala dengan wajah yang sedih,
kemudi’ an seperti yang diminta oleh Dantes ia mulai
berbicara tentang soal-soal lain.
Pesakitan tua ini merupakan salah seorang dari manusiamanusia
yang pembicaraannya mengandung banyak Amu
dan hikmah yang senantiasa dapat memikat pendengarnya.
Tetapi bukan pula pembicaraan yang berpusat kepada dirinya
sendiri. Dantes mendengarkan setiap kata dengan penuh
rasa kagum. "Ajarkanlah sebahagian dari ilmu pengetahuan
Bapak itu kepada saya," katanya setelah beberapa
saat, "meskipun hanya sekedar untuk mencegah kebosanan
Bapak kepada saya Tampaknya, Bapak lebih suka bersunypsunyi
daripada berkawan dengan orang yang tidak
terpelajar dan terbatas seperti saya ini."
"Wahai anakku," kata Padri tersenyum, "pengetahuan
manusia itu sangat terbalfc. Kalau engkau sudah
mempelajari matematika, ilmu alam, sejarah dan tiga atau
empat bahasa yang hidup seperti yang aku kuasai, engkau
pun akan mengetahui semua yang aku ketahui. Untuk
mempelajari itu tidak akan mengambil waktu lebih dari dua
tahun."
"Dua tahun!" seru Dantes tidak percaya. "Maksud Bapak
saya dapat menguasai semua itu hanya dalam dua tahun?"
"Maksudku, tidak mempelajarinya untuk dipraktekkan
keseluruhannya dalam waktu itu, tetapi mempelajari p
okok-p okokny a."
Pada malam itu juga kedua pesakitan itu membuat
rencana pendidikan bagi Dantes, untuk dimulai keesokan
harinya, Dantes memiliki kecerdasan dan daya ingatan
yang kuat. Bakat matematikanya memberikan kemudahan
baginya untuk melakukan segala macam perhitungan. Dia
sudah pandai berbicara Italia dan sedikit berbahasa Yunani
modern yang dipelajarinya dalam pelayarannya ke Timur.
Dengan bantuan kedua bahasa ini mudah bagi dia untuk
memahami bangunan bahasa lainnya Dalam tempo enam
bulan dia sudah mulai bisa berbicara bahasa Spanyol,
Inggris dan Jerman. Hari-hari berlalu dengan cepatnya, tetapi
setiap hari dimanfaatkannya sebaik-baiknya sehingga
dalam masa satu tahun Dantes sudah berubah sama sekali.
Sedang Padri Faria, sekalipun kehadiran Dantes merupakan
perintang waktu yang menyenangkan, namun dari
sehari ke sehari ia bertambah muram, seperti bingung. Hal
ini terlihat juga oleh Dantes. Pikirannya seperti terpusat
hanya kepada satu masalah tertentu saja. Seringkali ia
berdiam diri seperti bersemedi untuk beberapa saat, lalu
mengeluh, tanpa sadar kemudian berjalan mondar-mandir
dalam selnya.
Pada suatu hari dengan tiba-tiba saja ia berhenti berjalanjalan,
lalu berteriak, "Oh, kalau sajfl tak ada penjaga!"
"Apakah Bapak menemukan jalan melarikan diri?" Dantes
bertanya dengan keinginan yang kuat untuk segera
mendengar jawabannya
"Ya, seandainya penjaga itu buta dan tuli."
"Dia akan buta dan tuli," kata Dantes dengan nada -
suara yang pasti sehingga menakutkan Padri Faria
"Tidak!" sahut Padri dengan keras. "Aku tidak menghendaki
darah tertumpah!"
Dantes berkeinginan sekali membicarakan masalah ini
lebih lanjut, tetapi Padri Faria menggelengkan kepala dan
menolak berbicara lagi.
Tiga bulan lagi telah berlalu.
"Bagaimana kekuatanmu?" tanya Padri Faria pada suatu
hari.
Tanpa menjawab Dantes mengambil pahat, melipatnya
kemudian meluruskannya kembali
"Bersediakah engkau untuk tidak membunuh penjaga,
kecuali kalau itu merupakan jalan keluar yang terakhir? "
"Ya, bahkan saya bersedia bersumpah."
"Kalau begitu, kita dapat melaksanakan rencana kita"
"Berapa lama waktu yang diperlukan?"»
"Paling kurang setahun. Inilah rencanaku." Padri memperlihatkan
gambar yang dibuatnya: denah sel masingmasing
dan terowongan yang menghubungkannya. Dari
tengah-tengah terowongan itu mereka akan menggali terowongan
lain yang menuju ke bawah serambi tempat penjaga
berjalan mondar-mandir. Di sana mereka akan melonggarkan
salah sebuah ubin lantai serambi. Ubin itu akan terlepas
kalau terinjak oleh penjaga dan ia akan terperosok ke
dalam terowongan. Dantes harus meringkusnya dan mengikat
mulutnya. Kemudian kedua tahanan itu akan keluar
dari salah satu jendela di serambi itu dan menuruni tembok
dengan menggunakan tangga tali dan ... berlari.
Dantes ntenepukkan tangannya dan matanya bersinar
karena gembira. Rencana itu sangat sederhana sehingga
pasti terlaksana Dantes dan Faria memulai bekerja pada
hari itu juga.
Lebih dari setahun mereka bekerja, dan selama itu Faria
tetap memberikan pendidikan kepada Dantes. Setelah lima
belas bulan terowongan itu selesai dan mereka dapat
mendengar suara sepatu penjaga berjalan mondar-mandir di
atas mereka. Mereka sekarang hanya tinggal menunggu
datangnya suatu malam gelap tidak berbulan.
Untuk mencegah agar ubin jangan jatuh terlampau cepat,
mereka penahannya dengan sebuah palang kayu kecil yang
kebetulan mereka temukan. Baru saja Dantes selesai
mengerjakan penahanan itu tiba-tiba ia mendengar suara
Faria berteriak kesakitan di selnya Dia segera kembali
masuk dan ia menemukan Faria tergeletak di tengah-tengah
ruangan. Wajahnya pucat, kedua tangannya mengepal kaku
dan dahinya basah karena keringat
"Ya Tuhan!" Dantes berteriak kebingungan. "Mengapa
Bapak?"
"Tamat sudah riwayatku," kata Faria. "Dengarkan baikbaik:
satu penyakit yang mengerikan, mungkin juga mematikan
akan segera menyerangku. Aku sudah merasakannya
Aku pernah diserangnya sekali, setahun sebelum dyenjarakan.
Hanya ada satu obat untuk tai. Cepat lari ke selku
angkat kaki ranjang. Di dalam kaki ranjang yang kosong
akan kautemukan sebuah botol setengah berisi dengan cairan
yang merah. Bawa itu ke mari ... tih, tidak, tidak, Sipir
akan menemukanku di sini. Tolong saja aku kembali ke
selku mumpung masih ada tenaga,"
Segera Dantes membantu Faria dengan hati-hati kembali
ke selnya. Dantes membaringkan Faria di ranjangnya.
"Terima kasih" kata Padri, badannya menggigil seperti
baru keluar dari air sedingin es "Sekarang sudah dekat.
Sebentar lagi mungkin aku tidak dapat bergerak atau
mengeluarkan suara, tetapi dapat juga mulutku berbusa,
badanku kejang dan berteriak-teriak. Kalau itu terjadi,
usahakan agar teriakanku tidak terdengar ke luar, sebab
kalau terdengar mereka akan memindahkan aku ke tempat
lain dan kita akan terpisah untuk selama-lamanya. Kalau
engkau sudah melihat aku lemas, dingin dan tampak seperti
mati, lalu pada saat itu, dan hanya pada saat itu, renggangkan
gigiku dengan pisau itu kemudian teteskan cairan itu
delapan sampai sepuluh tetes ke dalam mulutku. Barangkali
itu akan menolong."
"Barangkali?" kada Dantes sedikit kesal.
"Tolong! Tolong!" Faria memekik. "Aku .. Aku ma.."
Serangan itu mendadak dan begitu hebat sehingga Faria
tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Matanya berputar-
putar, pipinya berubah menjadi merah padam, badannya
meliuk-liuk dan mulutnya kaku berbusa dan memekikmeltik.
Seperti yang diminta sendiri oleh Faria, Dantes
merungkup muka Faria dengan selimut agar suaranya tidak
terdengar keluar. Tahapan serangan seperti ini berlangsung
selama dua jam, setelah itu seluruh badannya mengejang,
dingin, pucat seperti marmer. Dantes mengambil pisau,
dengan hati-hati merenggangkan gigi Faria yang rapat ketat;
kemudian meneteskan cairan obat ke dalam mulutnya
sebanyak sepuluh tetes. Setelah itu dia hanya dapat
menunggu.
Satu jam telah berlalu, dan Faria belum juga bergerak
sedikit pun Mata Dantes tidak pernah beralih dari Faria,
sedangkan kedua belah tangannya memegang kepalanya.
Akhirnya, tampak pipi Faria memerah lagi sedikit, demikian
juga matanya yang tetap terbuka selama itu mulai
menunjukkan adanya hidup, dan kemudian terdengar suara
yang lemah sekali keluar dari mulutnya.
"Selamat! Selamat!" teriak Dantes gembira.
Faria belum dapat berkata-kata, tetapi ia sudah dapat
menggerakkan tangan kirinya menunjuk ke arah pintu disertai
kecemasan yang jelas tampak pada wajahnya. Dantes
menajamkan telinga dan ia mendengar suara langkah Sipir
mendekat. Dengan segera ia lari dan masuk ke dalam terowongan,
menutupi kembali lubangnya dari bawah dengan
batu dan kembali ke selnya. Pintu kamarnya terbuka, dan
sipir mendapatkan Dantes duduk di ranjangnya seperti
biasa. Segera setelah Sipir meninggalkan kamar dan suara
sepatunya miang dari pendengaran, tanpa memikirkan
makan, Dantes segera kembali ke sel Faria.
Padri sudah sadar kembali, tetapi ia masih terlentang di
ranjangnya, lemas tak berdaya. "Aku kira tidak akan melihatmu
lagi," katanya,
"Mengapa tidak?" tanya Dantes. "Apakah Bapak sudah
putus harapan?"
"Bukan itu, tetapi segala sesuatu sudah siap untuk melarikan
diri dan aku kira engkau telah melakukannya."
Pipi Dantes memerah karena marah. "Dengan meninggalkan
Bapak?" katanya. "Apakah Bapak mengira saya akan
sanggup melakukan hal seperti itu?"
"Aku sadar sekarang bahwa aku salah sangka. Oh, aku
sangat lemah dan tak berdaya."
'Tenaga Bapak akan pulih kembali," kata Dantes, duduk
di tepi ranjang Faria kemudian memegang kedua tangan
Faria.
Faria menggelengkan kepala. "Serangan yang dulu berlangsung
selama setengah jam. Setelah itu berlalu aku merasa
lapar dan dapat berdiri tanpa pertolongan. Sekali ini, aku
sama sekali tidak dapat menggerakkan kaki dan tangan
kananku ini. Serangan yang ketiga kalinya, akan menamatkan
riwayatku atau melumpuhkan seluruh badanku."
'Tidak, tidak, jangan khawatir, Bapak tidak akan meninggal.
Bila serangan yang ketiga itu datang, saat itu Bapak
sudah menjadi orang merdeka, dan kita akan menyelamatkan
Bapak seperti yang kita lakukan sekarang, bahkan lebih
baik dari sekarang, sebab Bapak akan mendapatkan perawatan
kedokteran yang terbaik yang mungkin diperoleh."
"Sahabatku," kata orangtua itu, "jangan memperdayakan
dirimu sendiri. Serangan yang baru saja kuderita telah
memastikan aku untuk tetap menjadi tahanan seumur
hidup. Aku tidak akan dapat berenang lagi untuk selamalamanya.
Tangan ini telah lumpuh, bukan untuk sementara,
melainkan untuk selama-lamanya. Percayalah kepadaku,
aku telah dihantui penyakit ini sejak mendapat serangan
yang pertama. Dan aku tidak dapat menghindarinya karena
penyakit ini turun-temurun. Ayahku meninggal setelah
mendapat serangan yang ketiga kalinya, demikian juga kakekku.
Tabib yang memberikan obat ini kepadaku meramalkan
yang sama bagiku."
"Dia pasti salah" seru Dantes. "Adapun kelumpuhan
Bapak sama sekali tidak menjadi soal bagi saya. Saya akan
berenang sambil memanggul Bapak."
"Anakku," sahut Faria» "engkau seorang pelaut dan
perenang yang baik. Sebab itu aku yakin engkau tahu, seseorang
yang diberati beban seberat aku tidak mungkin dapat
berenang lebih jauh daripada lima puluh depa. Tidak, aku
akan tinggal di sini sampai detik pembebasanku, yang
sekarang berarti tidak lain daripada detik kematianku.
Adapun engkau, pergilah! Larilah! Engkau masih muda dan
kuat Jangan pikirkan aku."
"Baiklah," jawab Dantes. "Saya pun akan tinggal." Dia
berdiri, dengan khidmat ia mengangkat tangannya di atds
badan orang tua itu, kemudian berkata, "Saya bersumpah
demi darah Kristus bahwa saya tidak akan meninggalkan
Bapak selama Bapak masih hidup."
Faria menatap dalam-dalam anak muda yang tulus dan
berbudi luhur ini, dan dapat membaca kesungguhan
sumpah itu pada wajahnya, yang dihidupkan oleh kesetiaan
yang murni.
“Kalau itu keputusanmu" kata orang tua itu terharu,
"aku menerima dan terima kasih." Kemudian sambil memegang
tangan Dantes ia berkata lagi, "Barangkali untuk
kesetiaan yang tanpa pambrih itu, pada suatu hari nanti
engkau harus mendapat penghargaan, tetapi sekarang,
karena aku tidak bisa dan engkau tidak mau melarikan diri,
kita harus menutup kembali terowongan ke serambi itu.
Mungkin sekali penjaga itu akan menemukan suara yang
mencurigakan kalau dia berjalan di atas ubin yang longgar
itu, yang dapat berakibat terbongkarnya rahasia kita dan
kita akan terpisah satu sama lain. Kerjakanlah sekarang
juga, anakku. Bekerjalah semalam suntuk kalau perlu, dan
jangan kembali Jce sini sampai besok pagi, setelah kunjungan
Sipir. Ada sesuatu yang penting yang akan
kuceriterakan."
Dantes memegang tangan Faria, kemudian meninggal
kannya dengan patuh dan hormat.
BAB XI
KETIKA Dantes memasuki sel Faria keesokan harinya,
dia mendapatkan Faria sedang duduk dengan tenang sambil
memegang secarik kertas di tangan kiri, satu-satunya tangan
yang dapat dipergunakan. Dia memperlihatkan kertas itu
kepada Dantes tanpa berkata sepatah pun. "Apa ini?"
"Perhatikan saja baik-baik," sahut Padri tersenyum.
"Saya memperhatikannya sebaik mungkin, dan yang saya
lihat hanyalah secarik kertas yang terbakar separoh
dengan huruf huruf yang ditulis dengan tinta yang aneh."
"Kertas yang secarik ini, sahabatku," kata Faria dengan
tenang, "adalah kekayaanku, yang sejak hari ini «tengahnya
menjadi milikmu."
Keringat dingin membasahi badan Dantes. Selama berkenalan
dengan Faria ia selalu menghindari berbicara tentang
kekayaan yang menyebabkan Faria selalu dianggap
gila.
Faria tersenyum dan berkata, "Dari keterkejutanmu aku
tahu apa yang kaupikirkan. Jangan khawatir, aku tidak gila.
Kekayaan ini benar-benar ada, dan apabila takdir menghendaki
aku memilikinya, engkau pun akan memilikinya
juga. Tak seorang pun pernah mau mendengar kepadaku,
karena mereka menyangka aku gila. Tetapi engkau tahu aku
tidak gila. Sebab itu dengarkanlah baik-baik, kemudian
barulah engkau mengambil kesimpulan percaya atau tidak
kepada ceriteraku."
"Bapak yang baik," kata Dantes. "Serangan penyakit
yang kemarin sangat melelahkan Bapak. Tidakkah Bapak
perlu istirahat? Saya bersedia mendengarkan ceritera Bapak
esok hari, tetapi sekarang saya ingin sekali merawat Bapak.
Lagipula," tambah Dantes sambil tersenyum, "pada saat ini
kekayaan itu tidak begitu penting buat kita, bukan?"
'Tenting sekali!" jawab Faria agak keras. "Bagaimana kita
tahu bahwa besok aku tidak akan terserang lagi? Aku
melihat, engkau tidak percaya kepadaku. Untuk membuktikan
kebenaran kata-kataku bacalah tulisan itu, yang belum
pernah aku perlihatkan kepada orang lain."
"Besok, Bapak” kata Dantes, jelas berusaha keras menghindari
pembicaraan itu.
"Pembicaraan boleh kita tangguhkan sampai besok,
tetapi bacalah dahulu sekarang."
'Ssst' Ada orang datang! Saya harus pergi. Selamat
tinggal." Dengan perasaan bahagia ia bisa terlepas dari keharusan
mendengarkan ceritera yang mungkin bisa menambah
keyakinannya akan ketidakwarasan sahabatnya.
Dantes masuk ke dalam galian dengan kelincahan dan kecepatan
seekor ular.
Sehari itu dia tetap tinggal di kamarnya. Dengan cara ini
ia berusaha menangguhkan datangnya saat yang sangat
mengerikan, saat dia mau tidak mau harus mengakui bahwa
Faria benar-benar gila seperti yang disangka orang. Tetapi
setelah Sipir melakukan kunjungan malamnya, Faria yang
menyadari bahwa Dantes tidak juga kembali menemuinya,
berusaha mendatangi Dantes.
Seluruh badan Dantes menggigil ketika ia mendengar
Fana merangkak-rangkak penuh kesakitan dengan
tangan dan kaki yang lumpuh. Dia harus menolongnya,
oleh karena Faria tidak akan mampu naik ke kamar Dantes
dengan kekuatannya sendiri.
"Inilah, aku dengan berkeras hati dan tanpa ampun
mengejarmu," katanya dibarengi senyum yang menunjukkan
kemurahan hati. “Apa kau mengira dapat melepaskan
diri dari kebaikanku? Tidak. Dengarkan baik-baik!"
Dantes tidak mempunyai pilihan lain. Dia mempersilakan
Faria duduk di ranjangnya, sedang dia sendiri mengambil
tempat di hadapannya, di atas bangku.
"Seperti pernah kukatakan," Faria memulai ceriteranya,
"aku pernah menjadi sekertaris dan sahabat dekat Kardinal
Spada, bangsawan terakhir dengan nama itu. Kepada
beliaulah aku berhutang budi untuk segala kebahagiaan
yang pernah kunikmati di dunia ini. Beliau tidak kaya,
walaupun kekayaan keluarganya sangat terkenal. Aku
sering mendengar ungkapan 'kaya seperti Spada'. Istananya
adalah sorgaku. Aku mendidik kemenakannya, yang sayang
sekali pendek umurnya. Oleh karena beliau menjadi
sebatang kara, aku mencoba membalas kebaikan budinya
dengan Jalan memenuhi segala keinginannya.
Rumah Kardinal dalam, waktu yang singkat sudah tidak
asing lagi bagiku dan aku mengetahui segala rahasia yang
berada di dalamnya. Seringkali aku melihat beliau menekuni
buku-buku tua dan dengan sangat bergairah membongkar
dan meneliti catatan-catatan keluarga. Pada suatu hari aku
memperingatkan beliau karena terlalu sering selama semalam
suntuk menekuni pekerjaan yang hanya memeras
tenaga dan menghasilkan kemurungan saja. Terhadap
peringatanku itu beliau tersenyum pahit kemudian
membuka sebuah buku mengenai sejarah Roma dan
memperlihatkannya kepadaku. Di sana, dalam bagian
kedua puluh mengenai kehidupan Paus Alexander VI, aku
membaca kalimat-kalimat yang sampai sekarang pun masih
kuingat betul:
Terang Romagna yang besar telah berakhir. Setelah
mencapai kemenangan, Kaisar Borgia memerlukan uang
yang cukup banyak untuk membeli Italia. Demikian juga
Paus memerlukan uang untuk membebaskan diri dari Louis
XII yang meskipun belum lama menderita kekalahan masih
kuat pengaruhnya. Oleh sebab itu dianggap perlu sekali
melakukan suatu usaha yang menguntungkan, yang
sebenarnya makin lama makin sukar melaksanakannya di
Italia yang telah menjadi lemah dan miskin pada waktu
itu."
'Sri Paus mempunyai gagasan: beliau memutuskan untuk
mengangkat dua orang Kardinal baru. Dengan jalan
memilih dua orang yang paling terkemuka dan paling kaya
di Roma untuk jabatan Kardinal itu beliau dapat mengharapkan
keuntungan yang besar sekali. Pertama, beliau dapat
menjual jabatan dan gelar yang sudah dimiliki sebelumnya
oleh Kedua Kardinal baru; kedua, beliau akan me-minta
kedua Kardinal baru itu membayar sebagai imbalan untuk
kehormatan yang dianugerahkan. Masih ada satu segi lain
dari tindakan ini yang akan muncul kemudian.
Paus dan Kaisar Borgia memilih Giovanini Rospigliosi
dan Kaisar Spada sebagai calon-calon Kardinal yang tepat.
Govanini sendiri telah memegang empat dari jabatan tertinggi
dalam Wilayah Kekuasan Sri. Paus, sedangkan
Kaisar Spada merupakan salah seorang yang paling kaya
dan paling terhormat di Roma. Dalam waktu yang singkat
Kaisar Borgia sudah mendapatkan peminat-peminat yang
mau membeli jabatan yang akan dikosongkan oleh kedua
orang itu. Kesimpulannya, Rospigliosi dan Spada
membayar untuk mendapatkan jabatan Kardinal dan
delapan orang lainnya membayar untuk mendapatkan
kedudukan yang ditinggalkan oleh mereka. Delapan ratus
ribu crown mengalir masuk ke dalam dompet para pencari
untung.
"Sekarang mari kita lihat segi ketiga dari gagasan Sri
Paus ini. Setelah Sri Paus mengangkat Rospigliosi dan
Spada menjadi Kardinal dan mereka sudah menyerahkan
kekayaannya untuk membayar hutang budinya karena
mendapatkan kedudukan itu, Sri Paus dan Kaisar Borgia
mengundang kedua Kardinal baru itu makan malam
bersama. Tindakan ini menimbulkan sedikit perbedaan f ah
am antara Sri Paus dan puteranya. Kaisar berpendapat lebih
baik menggunakan salah satu alat yang biasa dipergunakan
untuk menyingkirkan kawan-kawan dekatnya. Pertama,
dengan menggunakan sebuah kunci. Dengan kunci itu
orang yang dikehendaki diminta membuka sebuah lemari
tertentu. Pada kepala kunci itu ada bagian yang tajam
menonjol yang diakibatkan oleh kurang cermatnya
pembuatannya. Pintu lemari itu tidak mudah dibuka, dan
memaksa si pembuka sedikit menekan kuncinya. Pada
waktu menekan ini tangannya akan tertusuk oleh bagian
yang tajam menonjol itu, dan ia akan mati .keesokan
harinya. Selain kunci ada cincin kepala singa, yang dipakai
oleh Kaisar apabila ia ingin berjabatan dengan seseorang
tertentu. Kepala singa itu akan menggores tangan yang
dijabat, dan goresan ini sangat berbahaya sehingga
menewaskan yang tergores dalam waktu dua puluh empat
jam.
'Kaisar mengusulkan kepada ayahnya, agar beliau meminta
kedua Kardinal itu membuka lemari kematian, atau
memberikan kepada keduanya jabatan tangan maut, tetapi
Alexander VI menjawab, 'Jangan kita menyayangkan biaya
makan malam untuk menghormati kedua Kardinal yang
berharga ini, karena aku merasa bahwa kita akan menerima
kembali uang kita. Selain dari itu, rupanya engkau hipa
bahwa pencernaan makan yang kurang baik akan segera
terasa, sedangkan tusukan kunci atau gigitan singa baru
akan tampak akibatnya sehari atau dua hari kemudian.’
Kaisar akhirnya menyetujui pendapat ayahnya dan diundangjah
kedua Kardinal itu untuk makan malam. Meja
makan dipasang di kebun anggur milik Sri Paus dekat San
Pietro di Vincoli, sebuah tempat peristirahatan yang indah
nyaman.
'Rospigliosi yang masih mabuk kepayang karena jabatannya
yang baru, tanpa kecurigaan sedikit pun mempersiapkan
diri sebaik-baiknya untuk menikmati makan malam itu.
Lain dengan Spada, seorang yang bijak dan waspada,
yang tidak mencintai orang lain kecuali kemenakannya sendiri,
seorang Kapten dengan masa depan yang cerah, sebelum
berangkat ke undangan menulis dahulu sebuah surat
wasiat. Setelah itu ia mengirimkan pesan kepada kemenakannya
itu agar, dia menunggunya di kebun anggur, tetapi
sayang sekali pesuruhnya tidak berhasil menemukan kemenakan
itu. Spada sudah sangat mengenal makna undanganundangan
dari Sri Paus. Sejak agama Kristen menanamkan
pengaruh peradabannya di Roma, tidak pernah lagi ada
seorang komandan tentera datang kepada kita atas perintah
seorang raja dholim dan berkata, 'Kaisar menghendaki
kematian Tuan.’ Sebagai penggantinya seorang utusan Sri
Paus akan datang dan berkata dengan sopan sekali, 'Sri
Paus mengharapkan sekali kedatangan Tuan untuk makan
malam bersama beliau."
Ketika Spada datang di kebun anggur, Sri Paus telah
menantinya dan menyambut. Orang pertama yang tertangkap
oleh pandangannya, adalah kemenakannya sendiri
yang sedang dihadapi oleh Kaisar dengan ramah sekali.
Wajah Spada menjadi pucat seketika itu juga. Kaisar
melepaskan pandangan penuh ejekan kepadanya, ingin
menunjukkan bahwa ia cukup waspada untuk
mempersiapkan perangkap ini secermat-cermatnya..
Mulailah santap malam itu. Spada hanya berkesempatan
bertanya kepada kemenakannya apakah ia menerima
pesannya. Kemenakannya menjawab tidak, tetapi dapat
memahami apa maksud pertanyaan pamannya. Tetapi itu
sudah terlambat karena ia baru saja menghabiskan segelas
anggur yang enak sekali yang dihidangkan oleh pelayan Sri
Paus. Untuk Spada dihidangkan anggur dari botol yang
lain. Sejam kemudian, seorang tabib memastikan bahwa
keduanya telah meninggal akibat keracunan jamur. Spada
meninggal di ambang pintu kebun anggur itu, sedang kemenakannya
menghembuskan nafasnya yang terakhir di depan
pintu rumahnya sendiri ketika hendak memberi sesuatu
isyarat kepada isterinya. Sayang, isterinya tidak mengerti
isyarat itu.
Kaisar dan Paus segera berusaha menemukan wasiat
Spada dengan dalih memeriksa surat-menyurat beliau.
Wasiat yang diketemukan hanya berupa secarik kertas yang
bertuliskan kalimat, 'Aku mewariskan peti tempat menyimpan
barang-barang berharga dan semua buku,
termasuk buku pegangan Padri yang beipinggirkan emas
kepada kemenakanku yang tercinta dengan harapan agar
dia selalu mengenangkan pamannya yang Selalu
mencintainya. 'Para ahli warisnya mencari wasiat lainnya di
mana-mana, mengagumi buku Misal mengambil perabot
rumah tangga, tetapi mereka tetap sangat heran mengapa
orang sekaya Spada ternyata tidak memiliki apa apa. Tidak
pernah diketemukan adanya harta kekayaan. Kaisar dan
ayahnya pun tak henti-hentinya mencari dan menyelidiki,
tetapi mereka pun tidak menemukan apa-apa. Spada hanya
meninggalkan dua buah rumah dan sebuah kebun anggur.
Oleh karena barang-barang ini dianggap kurang berharga
untuk memenuhi nafsu serakah Paus dan puteranya ahli
waris Spada boleh tetap memilikinya.
Waktu berlalu terus. Setelah Pope dan puteranya meninggal,
keluarga Spada disangka orang akan meneruskan
lagi cara hidup seperti yang telah mereka nikmati dahulu.
Kenyataannya tidak demikian. Mereka tetap hidup dalam
kesederhanaan dan rahasia yang menyedihkan itu tetap tidak
pernah terbongkar. Masyarakat beranggapan bahwa
karena Kaisar lebih cerdik daripada ayahnya, beliau berhasil
merebut semua kekayaan yang diperoleh dari Rospigliosi
dan Spada. Terutama kekayaan Rospigliosi yang
terkuras habis karena ketidakwarasannya.
'Sampai di sini," kata Faria sambil tersenyum, "ceritera
belum menarik, bukan?"
"Menarik sekali!” kata Dantes. "Silakan meneruskan."
"Baik, saya lanjutkan: Lambat-laun keluarga Spada melupakan
rahasia yang tetap gelap itu. Sebagian dari mereka
ada yang menjadi perajurit, sebagian lagi menjadi diplomat,
tokoh-tokoh gereja dan bankir; sebagian lagi ada yang berhasil
menjadi kaya, yang lainnya bahkan kehilangan
kekayaan yang tidak seberapa yang masih ada pada mereka.
“Nah," kata Faria, "aku sampai kepada keluarga Spada
yang terakhir, yaitu Count Spada, majikanku. Aku menjadi
sekertaris beliau. Buku Misal yang termashui tetap berada
pada keluarga, dan Count Spada yang terakhir
memilikinya. Buku itu diberikan turun-temurun dari ayah
kepada anak. Surat wasiat yang aneh itu telah membuat
buku Misal itu menjadi barang pusaka yang sangat
dihormati dan dipuja oleh keluarga.
Aku sendiri hampir yakin bahwa baik keturunan Borgia
maupun keturunan Spada tidak ada yang berhasil
menikmati harta kekayaan itu. Harta itu tetap merupakan
harta rahasia tanpa pemilik, seperti harta karun dalam
ceritera-ceritera Arab yang tetap tersembunyi di dalam bumi
dengan dikawal oleh makhluk-makhluk halus. Aku
menyelidikinya di mana-mana. Berkali-kali aku
memperbandingkan penghasilan dan pengeluaran keluarga
selama tiga ratus tahun, tetapi semuanya sia-sia. Aku tetap
tidak mengetahui apa-apa dan Count Spada tetap melarat
Ketika majikanku wafat beliau mewariskan perpustakaannya
yang terdiri dari lima ribu jilid buku kepadaku,
termasuk buku Misal ditambah uang seribu crown dengan
Syarat bahwa aku bersedia mempersembahkan misa setiap
tahun bagi arwah beliau dan menulis sejarah keluarga Spada.
Keduanya aku lakukan."
"Pada suatu hari dalam tahun 1807, sebulan sebelum aku
ditangkap, atau dua minggu setelah beliau wafat, aku
membaca untuk keseribu kalinya surat-menyurat yang harus
aku bereskan karena istana telah dijual kepada orang lain,
dan aku sudah akan berangkat meninggalkan Roma untuk
menetap di Florence. Letih karena terlalu asyik bekerja dan
mengantuk karena terlampau banyak makan, aku
merebahkan diri dengan berbantalkan kedua belah tangan,
kemudian jatuh tertidur. Ketika itu jam tiga siang."
"Aku terbangun ketika lonceng berbunyi enam kali.
Ternyata ruangan sudah gelap. Aku memanggil pelayan
untuk membawa lampu, namun tak ada yang datang.
Dengan meraba-raba aku mengambil lilin, kemudian
mencari secarik kertas untuk mengambil api dari bara yang
masih menyala di tungku. Sebenarnya aku merasa ragu
karena khawatir dalam kegelapan keliru mengambil kertas
yang berharga. Tiba-tiba aku teringat bahwa dalam buku
Misal yang terletak di atas meja di sebelahku, aku pernah
melihat secarik kertas yang sudah menguning karena
ketuaan. Rupanya kertas itu berada dalam buku sebagai
penunjuk halaman, dan tetap berada di sana selama
berabad-abad penghormatan keluarga Spada terhadap buku
itu. Tak ada yang berani membuangnya. Aku mengambil
kertas tua itu, meremasnya dan menyalakan salah satu
sudutnya.
Tetapi, begitu terkena api, aku melihat huruf-huruf
kuning terbaca pada kertas itu. Aku terperanjat dan cepatcepat
memadamkan api yang membakar kertas itu. Kemudian
aku menyalakan lilin langsung mengambil api dari
perapian. Dengan perasaan yang tidak terlukiskan aku
menghaluskan lagi kertas yang telah kerisut. Segera aku
mengerti bahwa kertas itu ditulisi dengan tinta rahasia yang
tulisannya akan timbul apabila kertas dipanaskan. Kurang
lebih sepertiga bagian daripadanya telah termakan api.
Yang aku perlihatkan kepadamu tadi pagi itulah kertas yang
kumaksud. Bacalah sekarang, setelah engkau selesai aku
akan memperlihatkan bagian yang terbakar.”
Faria menyerahkan kertas itu kepada Dantes, yang sekali
ini, membacanya dengan gairah:
Tanggal 25 April 1498, diundang makan ma…
Paus Alexander VI, dan oleh karena kh....
tidak puas dengan pembayaranku untuk jab...
sehingga bermaksud juga menguasai h..
untuk itu mengakali aku mengikuti nasib kar
dinal Crapara dan Bentivoglio yang mati dira
ini aku menyatakan kepada kemenakanku Guido Sp
tu-satunya ahliwarisku, bahwa di sua
lah pernah dia kunjungi bersamaku, di d
di pulau kecil bernama Pulau Monte Cris
bur semua harta milikku yang terdiri dari bat
mas perhiasan dan uang; bahwa ha
mengetahui akan adanya harta keka
dia dapat menemukan harta i
batu cadas kedua puluh yang terletak se
sebuah sungai yang mengalir ke Ti
gua itu ada dua buah lubang; ke
ka sudut yang terdalam dari lubang yang ke d
riskan seluruh harta kekayaan itu kepada ke
sebagai satu-satunya ahliwarisku.
25 April 1498
KAI
"Sekarang," kata Faria, "bacalah ini." Dia memberikan
kepada Dantes kertas yang lain juga berisi potongan-potongan
kalimat. Dantes menerimanya dan membaca:
lam oleh Sri
awatir bahwa dia
atan kardinal
arta warisanku dan
dina karcun,
dengan
ada satu
tempat yang te
alam sebuah gua
to aku menguangan
enya
aku sendiri yang
yaan itu, dan bahwa
tu dengan jalan mengangkat
jajar dengan
mur. Di dalam
yaan itu terdapat di
ua. Aku mewamenakanku
SAR + SPADA
“Hubungkanlah kedua bagian itu dan tariklah kesimpulan
sendiri," kata Faria ketika Dantes selesai membaca.
Dantes menurut, kedua bagian yang telah dihubungkan itu
membentuk tulisan ini:
Tanggal 25 April 1498, diundang makan malam oleh Sri Paus
Alexander VI dan oleh karena khawatir bahwa dia tidak puas
dengan pembayaranku untuk jabatan kardinal sehingga
bermaksud juga menguasai harta warisanku dan untuk itu
mengakali aku mengikuti nasib kardinal-kardinal iCrapara dan
Bentivoglio yang mati diracun, dengan ini aku menyatakan
kepada kemenakanku, Guido Spada satu-satunya ahliwarisku,
bahwa di suatu tempat yang telah dia kunjungi bersamaku, di
dalam sebuah gua di pulau kecil bernama Pulau Monte Cristo aku
mengubur semua harta milikku yang terdiri dari batangan emas,
perhiasan dan uang; bahwa hanya aku sendiri yang mengetahui
akan adanya harta kekayaan itu, dan bahwa dia dapat
menemukan harta itu dengan jalan mengangkat batu cadas yang
kedua puluh yang terletak sejajar dengan sebuah sungai kecil yang
mengalir ke Timur. Di-dalam gua itu ada dua buah lubang;
kekayaan itu terdapat di sudut yang terdalam dari lubang yang
kedua.
Aku mewariskan seluruh harta kekayaan itu kepada
kemenakanku, sebagai satu-satunya ahli warisku.
2 5 April 1498 KAISAR + SPADA
"Nah, mengertikah engkau sekarang?" tanya Faria.
"Apakah ini pernyataan kardinal dan merupakan wasiat
beliau yang sebenarnya?" kata Dantes, masih tetap tak
percaya.
"Ya, ya!"
"Siapakah yang menyusunnya kembali menjadi begini?"
"Aku. Dengan bantuan bagian yang tidak terbakar, aku
menyusun sisanya dengan cara mengukur dahulu garis
kalimat dengan memperbandingkannya dengan lebar kertas,
kemudian mengisi kalimat-kalimat yang hilang dengan
menghubungkannya dengan kalimat-kalimat yang ada
padaku."
"Dan apa yang Bapak kerjakan setelah Bapak berhasil
memecahkan teka-teki itu?"
"Aku segera meninggalkan Roma, dengan membawa
serta permulaan karya besarku tentang Persatuan Kerajaan
Italia. Tetapi polisi Kaisar, yang pada waktu itu sangat
menentang penyatuan Italia, telah lama sekali mengawasi
gerak-gerikku. Kepergianku yang mendadak membangkitkan
kecurigaan mereka dan ditangkaplah aku ketika aku
akan naik kapal di Piombino."
"Sekarang," lanjut Faria dengan tatapan seorang ayah,
"engkau telah mengetahui rahasia ini sebanyak pengetahuanku
sendiri. Kalau kita berhasil melarikan diri, setengah
dari kekayaan itu adalah milikmu; apabila aku mati di sini
dan engkau berhasil lari, semuanya menjadi milikmu."
"Tetapi," tanya Dantes ragu-ragu, "apakah tidak ada
yang lebih berhak memiliki harta itu daripada Bapak?
'Tidak, tentang itu engkau boleh merasa tentram.
Dengan meninggalnya Count Spada habislah seluruh
keluarga itu. Lagi pula Count Spada yang terakhir telah
mengangkat aku sebagai ahli warisnya. Dengan
mewariskan buku Misal yang simbolik itu berarti beliau
mewariskan seluruh hak miliknya kepadaku. Seandainya
kita berhasil menguasainya, kita dapat memanfaatkannya
tanpa perlu ada rasa khawatir."
Dantes merasa dirinya berada dalam alam mimpi, antara
tak percaya dan gembira.
"Sekian lamanya aku merahasiakan soal ini kepadamu,"
kata Faria selanjutnya, "pertama, karena aku ingin yakin
dahulu tentang dirimu dan keduanya aku ingin memberikan
sesuatu hadiah tak terduga."
"Harta karun itu milik Bapak," kata Dantes, "dan saya
tidak mempunyai hak apa-apa atasnya, bahkan saya sama
sekali tidak terikat hubungan keluarga dengan Bapak."
"Engkau adalah anakku!" kata Faria dengan keras.
"Engkaulah anakku yang lahir dari pengasinganku.
Jabatanku mengharuskan aku hidup membujang seumur
hidup, tetapi Tuhan telah mengirimkan engkau kepadaku
untuk menghibur aku yang tidak pernah akan menjadi
seorang ayah, dan seorang tahanan yang tidak mungkin
mendapatkan kembali kebebasannya."
Faria mengulurkan tangannya kepada Dantes yang
merangkulnya sambil menangis.
BAB XII
SETELAH ternyata bahwa harta karun yang sekian lama
menjadi buah renungannya sekarang dapat menjamin kebahagiaan
masa depan anak muda yang dicintainya seperti
anak sendiri, nilainya di mata Faria menjadi berlipat ganda.
Yang menjadi bahan pembicaraannya setiap hari hanyalah
tentang kebaikan harta kekayaan. Dia menerangkan kepada
Dantes betapa banyak kebaikan yang dapat diperbuat seseorang
kepada kawan-kawannya dalam jaman modern ini
dengan kekayaan sebanyak itu. Pada saat mendengar keterangan
itu wajah Dantes sering menjadi gelap karena ia
teringat kepada sumpah pembalasannya, bahkan pikirannya
sering berkata sebaliknya: betapa banyak kejahatan yang
dapat diperbuat, seseorang kepada musuh-musuhnya dalam
jaman modern ini dengan kekayaan sebanyak itu.
Faria tidak mengetahui letak pulau Monte Cristo tetapi
Dantes mengetahuinya. Seringkah ia berlayar melalui pulau
yang terletak dua puluh lima mil dan Pianosa, antara
Corsica- dan Pulau Elba. Bahkan pernah sekali ia mendarati
nya. Ketika itu, dan sekarang pun masih, pulau itu sunyi
tidak berpenghuni. Bentuknya mengerucut seperti sebuah
batu karang yang tersembul ke atas permukaan laut oleh
gempa laut.
Seperti yang diramalkannya sendiri, tangan dan kaki
kanan Faria tetap lumpuh dan dia hampir kehilangan
semua harapannya untuk menguasai harta karun itu.
Namun demikian ia tidak berhenti memikirkan dan
membicarakan pelarian untuk sahabat mudanya. Dia
meminta dengan sangat agar Dantes menghafalkan isi surat
wasiat itu kata demi kata, untuk mencegah kesukaran
seandainya karena sesuatu hal aurat itu hilang.
Lalu, pada suatu malam Dantes terjaga dari tidurnya
karena mendengar ada orang yang memanggilnya. Dia
membuka matanya lebar-lebar mencoba menembus kegelapan.
Terdengar suara yang sangat lemah menyebut-nyebut
namanya. Dantes meloncat dari ranjangnya dan menajamkan
kupingnya. Tak syak lagi, suara itu datang dari sel
Padri Faria.
"Ya Tuhan!" kata Dantes. "Mungkinkah.. ?"
Ia menggeser ranjangnya, cepat-cepat masuk ke dalam
galian dan dalam waktu yang pendek sudah berada di ujung
terowongan, ubin penutupnya telah terangkat. Berkat
cahaya lampu yang remang-remang dia dapat melihat orang
tua itu dengan wajahnya yang pucat dan tegang seperti yang
pernah dikenalnya ketika mendapat serangan pertama dari
penyakit yang mengerikan itu.
'Nah,' kata Faria dengan kesabaran seorang yang telah
pasrah kepada nasib, "kau faham, bukan? Tidak perlu lagi
aku menjelaskan. Sejak sekarang lebih baik kaupikirkan
tentang dirimu sendiri, tentang ketabahan menanggung
derita dan tentang kemungkinan melarikan diri. Tak lama
lagi engkau akan bebas dari ikatan seorang yang setengah
mati, yang membuat lumpuh gerakan-gerakanmu. Pada
akhirnya Tuhan memberikan juga peluang-peluang kepadamu,
dan bagiku saat telah tiba untuk meninggalkan dunia
ini”
Dantes tak dapat berbuat apa-apa kecuali menangis, "Oh
Bapak, Bapak!" Lalu, setelah memperoleh kembali sedikit
keberanian, ia berkata lagi, "Saya pernah menyelamatkan
jiwa Bapak, dan saya akan melakukannya lagi!" Dia
mengangkat kaki ranjang dan mengeluarkan botol obat
yang masih berisi sepertiga bagian lagi.
'Tak ada harapan lagi," jawab Faria sambil menggelengkan
kepala, "tetapi engkau boleh mencobanya kalau mau.
Seluruh tubuhku sudah terasa dingin. Darah sudah
mengalir semua ke kepala, dan getaran-getaran yang
mengerikan sudah mulai terasa pula. Dalam tempo lima
menit serangan akan tiba dengan hebat, dan dalam
seperempat jam lagi aku sudah menjadi mayat."
"Oh!" teriak Dantes, hatinya seakan-akan pecah.
"Lakukanlah seperti yang dahulu kaulakukan, hanya
saja, sekarang jangan menanti terlalu lama. Setelah diminumi
duabelas tetes aku tetap tidak sadarkan diri, tuangkan
saja semua isi botol ke dalam kerongkonganku. Baringkan
aku sekarang di ranjang, aku sudah tidak tahan lagi."
Dantes memangku orang tua itu dan membaringkannya
di atas ranjang.
"Meskipun agak lambat" kata Padri Faria, "ternyata
Tuhan telah mengirimkan engkau kepadaku sebagai satusatunya
penghibur dalam menjalani kehidupan yang hancur
ini. Dan sekarang," ia berhenti sejenak seperti hendak
mengumpulkan seluruh kekuatan, "pada saat kita akan
berpisah untuk selama-lamanya, aku mendo'akan dengan
sebesar-besarnya harapan semoga engkau, anakku, segera
me’ nemukan kebahagiaan dan kemakmuran yang menjadi
hak milikmu."
Dantes bertekuk lutut dan merebahkan kepalanya ke
ranjang. Setelah mengalami kejutan yang keras, orang tua
itu berbisik lagi sambil memegang tangan. Dantes erat-erat,
"Selamat tinggal, selamat tinggal, anakku."
Serangan penyakit itu sangat hebat sehingga sekaligus
mengejangkan kaki dan tangan, membengkakkan pelupuk
mata, menyemburkan busa dari mulut dan akhirnya membuat
kaku seluruh tubuh. Itulah sekarang yang tinggal dari
seorang yang cerdas dan dalam ilmunya, yang beberapa
detik yang lalu masih dapat berkata-kata. Pada saat yang
dianggap tepat, Dantes merekahkan gigi Faria yang telah
rapat ketat dengan pisau, lalu memasukkan dua belas tetes
obat ke dalam mulutnya. Dia menanti sepuluh menit,
seperempat jam, setengah jam. Tidak tampak tanda-tanda
kehidupan. Dengan badan gemetar dan dahi basah karena
keringat dingin, Dantes menganggap sudah tiba saatnya
untuk melakukan usahanya yang terakhir. Dia
mengucurkan semua isi botol ke dalam mulut Faria.
Obat itu memperlihatkan juga pengaruhnya. Tangan dan
kaki Faria tersentak seketika, matanya terbuka, tetapi sangat
mengerikan untuk dipandang, dan mulutnya mengeluarkan
suara yang mirip kepada teriakan,' Kemudian, badannya
yang bergetar mulai tegar kembali. Akhirnya, jantungnya
berhenti berdenyut, wajahnya menjadi kebiru-biruan dan
seluruh cahaya kehidupan memudar dari matanya yang
tetap terbuka.
Saat itu, jam enam pagi. Sinar-sinar pertama dari fajar
telah menyelusup masuk ke dalam sel dan sekali-sekali
tumpah pada wajah jenazah sehingga menimbulkan kesan
yang aneh seakan-akan wajah itu hidup kembali. Selama
malam berebut tempat dengan siang Dantes masih dapat
bimbang, namun setelah siang hari jelas berkuasa, sadarlah
Dantes sepenuhnya bahwa dia hanya berdua dengan mayat.
Kecemasan yang sangat mencekam dirinya. Dia sudah
tidak berani lagi memegang tangan Faria yang terkulai dari
ranjang, juga tidak berani melihat mata yang kosong yang
telah berkali-kali ia coba menutupkannya namun tidak
berhasil. Dantes meniup lampu, menyembunyikannya
dengan baik, kemudian keluar dari sel itu dan menutup lagi
lubang dengan batu dari bawah sebaik mungkin.
Dantes berada kembali di selnya sendiri tepat pada waktunya,
karena Sipir sudah terdengar datang. Sekali ini ia
mulai memasuki sel Dantes. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan
bahwa Sipir tahu tentang apa yang telah terjadi.
Dia keluar lagi. Terdorong oleh ketidaksabaran yang membara
ingin mengetahui apa yang akan terjadi di kamar
kawan karibnya yang malang, Dantes merangkak kembali
melalui galian. Dia datang tepat sekali pada saat Sipir berteriak
meminta tolong. Sipir-sipir lainnya segera bermunculan,
kemudian terdengar langkah-langkah serdadu yang berat.
Di belakangnya menyusul Gubernur Penjara.
Dantes mendengar ranjang berderak ketika mereka
mencoba mengangkat mayat Gubernur memerintahkan
menyembur muka Padri Faria dengan air. Setelah melihat
bahwa semburan itu tidak menyadarkan Padri, ia menyuruh
memanggil dokter. Gubernur meninggalkan sel dan Dantes
mendengar kata-kata belas kasihan bercampur dengan
ejekan dan tawa yang kasar.
"Akhirnya," kata salah seorang, "si tua ini pergi juga
untuk menjemput harta karunnya. Selamat jalan!”
Dengan uangnya yang berjuta-juta ia masih tidak
mampu membayar kain kafannya sendiri," kata yang lain.
"Oh, kafan di gedung If tidak mahal harganya."
"Oleh karena ia seorang padri mungkin sekali yang berwewenang
mengeluarkan biaya tambahan baginya."
"Itu benar, ia akan mendapat kehormatan dikafani
dengan karung."
Setiap kata terdengar oleh Dantes, tetapi ia tidak dapat
memahami seluruhnya apa yang dimaksud. Segera suarasuara
orang bicara itu menghilang, rupanya semua telah
keluar meninggalkan sel. Tetapi dia tidak berani memasuki
sel itu karena khawatir mungkin ada seorang sipir ditinggalkan
untuk menjaga mayat.
Setelah berlalu kurang lebih satu jam, kesunyian terpecahkan
oleh suara samar-samar yang makin lama makin
jelas terdengar. Gubernur kembali disertai oleh dokter dan
beberapa orang pegawai lainnya.
Untuk sejenak tidak mendengar orang berbicara, rupanya
dokter sedang memeriksa mayat padri Akhirnya dokter
menyatakan bahwa tahanan itu telah mati dan menjelaskan
sebab kematiannya.
"Bukan karena aku meragukan wewenang Tuan Dokter,"
kata Gubernur, "tetapi dalam hal seperti ini kami tidak
dapat merasa puas dengan pemeriksaan. Saya meminta
Tuan memeriksa semata-mata hanya untuk menjalankan
apa yang telah ditentukan oleh hukum."
"Baiklah kalau begitu " kata dokter, "tolong panaskan
sebatang besi."
Permintaan ini membuat diri Dantes bergidik. Dia men
dengar orang berlari dan pintu terbuka. Beberapa lama
kemudian seorang sipir kembali lagi ke dalam sel. Lalu, bau
daging terbakar yang menusuk menyelusup masuk ke tempat
Dantes mendengarkan dengan penuh ketakutan. Keringat
bercucuran di dahinya dan untuk sejenak ia mengira
akan jatuh pingsan.
"Tuan lihat sekarang, dia benar-benar telah mati," kata
dokter lagi. "Pembakaran di tumitnya itu sangat
memastikan. Orang gila yang matang ini telah sembuh dari
penyakitnya dan bebas dari penyekapannya,”
Dantes mendengar suara gemerisik kain. Ranjang berderak.
Kemudian terdengar suara langkah orang berjalan
sambil membawa beban yang berat dan ranjang berderak
sekali lagi karena tekanan barang berat yang diletakkan
kembali di atasnya.
"Apakah akan ada misa rekwim?" tanya salah seorang.
"Tak mungkin" sahut gubernur, 'Tadri kita sedang pergi
cuti selama seminggu. Apabila Faria yang malang ini tidak
terburu-buru mati, mungkin ia dapat disembahyangkan,”
"Biarlah," kata dokter dengan nada kurang hormat
seperti yang biasa dimiliki oleh para dokter, "Tuhan toh
tidak akan menggembirakan setan dengan mengirim roh
seorang padri kepadanya."
Terdengar suara tertawa terbahak bahak
"Malam nanti," kata Gubernur.
"Jam berapa?" tanya salah seorang sipir.
"Sekitar jam sepuluh atau sebelas, seperti biasa."
"Apakah kami perlu menjaga mayatnya?"
"Buat apa? Kunci saja pintunya seperti ia masih hidup."
Mereka semua meninggalkan sel Padri Faria dan suara
langkah langkahnya makin lama makin menghilang.
Keadaan menjadi sunyi kembali. Namun ada kesunyian
yang lebih mencekam daripada sunyi sepi, yaitu sunyi
kematian yang merasuk dan menggetarkan lubuk hati
Dantes. Dengan hati-hati ia mengangkat batu penutup
lubang dengan kepalanya dan melemparkan pandangan ke
sekeliling ruangan. Kosong. Dia masuk.
Dengan diterangi oleh sinar siang yang remang-remang
Dantes melihat jenazah Padri Faria terbujur di ranjangnya,
dibungkus dengan kain yang kasar. Itulah kain kafan yang
menurut sipir-sipir tidak mahal harganya. Segala sesuatu
telah berlalu. Kini. Dantes benar-benar telah dipisahkan
untuk selama-lamanya dari sahabat karibnya.
Faria, seorang kawan yang banyak memberikan bantuan,
kawan berbincang yang menyenangkan, sekarang hanya
tinggal dalam kenangan. Dantes duduk di tepi ranjang yang
mengerikan itu, hanyut dalam kesedihan yang pahit dan
memilukan.
Sendiri! Dia menyendiri lagi! Pikiran membunuh diri
yang pernah dienyahkan oleh hadirnya Padri Faria kini
muncul kembali bagaikan hantu.
"Seandainya aku dapat mati," katanya, "aku akan pergi
ke tempat arah Padri dan aku bersama-sama lagi dengan
beliau. Tetapi bagaimana aku dapat mati?" Dia berpikir
sejenak, lalu tersenyum, "Mudah sekali. Aku akan tinggal di
sini dan menyerang orang pertama yang masuk ke dalam
sel ini. Akan kucekik lehernya, dan mereka tentu akan
menebas leherku."
Tetapi segera ia memalingkan diri dari gagasan mati
konyol seperti itu, dan segera pula hatinya beralih dari putus
asa kepada gairah hidup dan semangat membebaskan
diri.
"Mati? Tidak, tidak " katanya kepada diri sendiri. "Apa
guna penderitaanku kalau aku mati sekarang? Tidak, aku
ingin hidup dan berjuang sampai akhir. Aku ingin
memperoleh kembali kemerdekaan yang hilang dirampas
orang. Aku mesti menghukum dahulu musuh-musuhku
sebelum aku mati, dan aku pun perlu membalas budi sahabat-
sahabatku. Selama aku di sini aku akan terlupakan.
Tetapi satu-satunya jalan meninggalkan sel bawah tanah ini
hanya dalam keadaan mati."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia duduk bagaikan
terpaku. Matanya memandang ke alam kosong seperti
orang yang tiba-tiba tersentak oleh suatu pikiran yang
mengerikan. Kemudian dia berdiri, dan meletakkan tangan
kanan pada dahi seperti orang yang merasa pusing.
"Siapakah yang memasukkan pikiran, ini? Engkaukah ya
Tuhanku? Oleh karena hanya mayat saja yang dapat
meninggalkan tempat ini, aku akan mengambil alih tempat
Faria!"
Tanpa memberikan kesempatan kepada dirinya untuk
memikirkan kembali keputusannya yang nekad itu, dia
menghampiri mayat dan membuka karungnya dengan pisau
yang dibuat dahulu oleh Faria. Jenazah Faria dikeluarkannya
dan membawanya ke dalam selnya sendiri, membaringkannya
di atas ranjang, membungkus kepalanya dengan
kain-kain rombengan seperti biasa dia lakukan sendiri,
menyelimutinya, dan mencium dahinya untuk terakhir
kalinya, sekali lagi mencoba menutup mata jenazah tetapi
tetap tak berhasil, kemudian menghadapkan wajah padri itu
ke dinding sehingga bila sipir datang mengantarkan makan
malam ia akan mengiranya sudah tidur, seperti yang telah
sering ia lakukan. Kemudian ia kembali ke kamar Faria. Ia
mengambil jarum dan benang, menanggalkan dan
menyembunyikan pakaiannya sehingga sipir dapat merasakan
badan telanjang dalam karung, masuk ke dalam karung
itu dan membaringkan diri seperti mayat, dan akhirnya
menjahit kembali karung itu dari dalam. Seandainya saja
Sipir datang ketika itu, dia akan mendengar detak jantung
Dantes.
Rencananya telah disusun seperti berikut: apabila para
penggali liang lahat mengetahui bahwa mereka mengangkat
mayat hidup, ia akan secepatnya menyobek karung itu
dengan pisau dan akan memanfaatkan keterkejutan mereka
dengan cepat-cepat melarikan diri; apabila mereka berusaha
mencegahnya dia akan menggunakan pisau untuk menyerang
mereka. Apabila mereka membawanya sampai ke pe
ku bu ran dan memasukkannya ke dalam liang lahat, ia
akan membiarkan dirinya dikubur, dan oleh karena hari
malam, segera setelah para pengubur pulang ia akan berusaha
keluar dari kubur menembus tanah yang masih empuk
dan . . . berlari. Dia mengharapkan mudah-mudahan
tanah kuburannya tidak terlampau berat untuk ditembus.
Kalau tidak, ia akan mati terkubur. Namun demikian,
kemungkinan mati pun tidak mengecilkan hatinya, sebab
paling tidak, kematian itu berarti berakhirnya penderitaan.
Menjelang jam tujuh malam kecemasannya sudah meningkat.
Seluruh anggota tubuhnya gemetar dan hatinya
seakan-akan membeku. Waktu berlalu tanpa sesuatu kejadian
istimewa. Sampai sejauh itu muslihatnya tidak terbongkar.
Akhirnya ia mendengar langkah-langkah orang berjalan
di tangga. Saatnya telah tiba. Dia mengumpulkan semua
keberaniannya, menahan napas dan mencoba menekan
detak jantungnya.
Pintu kamar terbuka dan secercah cahaya mengenai
matanya. Melalui kain yang membungkus dirinya Dantes
dapat melihat dua bayangan menghampiri ranjangnya.
Orang yang ketiga berdiri di ambang pintu sambil memegang
lentera. Kedua orang itu mengangkat karung pada kedua
ujungnya. Dantes membuat dirinya sekaku mungkin.
"Berat sekali untuk orang sekecil padri tua itu," kata
salah seorang.
"Kata orang, setiap tahun tulang manusia bertambah
berat dengan seperempat kilo," jawab yang lain.
Mereka membawa Dantes dengan sebuah usungan dan
iringan penguburan ini dipimpin oleh orang yang membawa
lentera. Tiba-tiba Dantes merasakan sejuk dan segarnya
udara malam dan tajamnya angin yang menghembus dari
laut. Perasaan ini menimbulkan kegembiraan bercampur
kecemasan.
Mereka masih mengusungnya kira-kira duapuluh yard
lagi, lalu berhenti, dan meletakkan usungan di tanah.
Dantes mendengar salah seorang pergi menjauh. "Di mana
aku?" dia bertanya dalam hati
Pikiran yang pertama terlintas di kepalanya ialah mencoba
melarikan diri, tetapi untung m dapat menguasai diri.
Beberapa saat kemudian dia mendengar lagi salah seorang
datang mendekat dan menjatuhkan sesuatu yang berat di
tanah Pada saat yang sama ia merasakan seuntai tali diikatkan
pada pergelangan kakinya, demikian erat sehingga sangat
menyakitkan.
"Sudah disimpulkan talinya?" tanya orang yang sejak tadi
tidak turut bekerja.
"Sudah, dan saya bertanggung jawab."
"Baik. Ayo terus”
Usungan itu diangkat kembali dan iringan berjalan lagi.
Gemuruh ombak yang menampar karang tempat berdiri
gedung If terdengar makin jelas oleh Dantes.
"Buruk sekali cuaca malam ini," kata salah seorang "Aku
tidak mau berada di laut malam ini”
"Aku juga," jawab yang lain, "ada kemungkinan padri ini
akan membasuh kakinya!" Keduanya tertawa terbahakbahak.
Dantes tidak mengerti akan olok-olok itu, namun demikian
bulu tengkuknya tak urung berdiri.
"Sudah sampai," kata orang pertama setelah beberapa
saat.
"Tidak, terus lagi, terus lagi! Kau tentu masih ingat, yang
terakhir kita lemparkan terdampar pada batu karang, dan
keesokan harinya Gubernur menyebut kita bajingan
bajingan malas."
Mereka berjalan lagi beberapa langkah, kemudian
Dantes merasa terangkatnya pada kepala dan kalanya dan
terayunkan ke muka dan ke belakang.
"Satu! Dua! Tiga!"
Berbarengan dengan kata 'tiga’ Dantes merasakan dirinya
melayang di udara. Rasa takut mencekam hatinya ketika
ia merasa dirinya menurun lagi ke bawah bagaikan seekor
burung yang lerluka. Akhirnya, setelah seakan-akan
seabad lamanya, terdengarkah suara sesuatu barang jatuh
ke dalam air, dan Dantes melesat bagaikan anak panah
tenggelam ke dalam laut yang dingin. Dia berteriak keras
tetapi pekiknya segera menghilang ditelan air. Dengan cepat
sekali ia tenggelam karena badannya diberati oleh dua buah
peluru meriam yang diikatkan kepada kakinya.
Laut itulah kiranya yang menjadi tempat penguburan
para pesakitan penjara If.
BAB XIII
SEKALIPUN sudah hampir pingsan dan lemas, Dantes
masih mempunyai cukup kesadaran untuk menahan nafas
doa menyobek karung pembungkusnya dengan pisau yang
tetap dia pegang di tangan kanan. Namun, dia masih juga
meluncur cepat ke bawah karena diberati oleh dua buah
peluru meriam yang diikatkan kepada kakinya. Dantes
membungkukkan badannya dan memotong tali
pengikatnya. Ia menekankan kakinya sekuat sisa-sisa
tenaganya dan berhasil muncul di atas permukaan air. Dia
beristirahat sebentar sekedar untuk dapat menarik nafas
dalam-dalam, kemudian menyelam lagi karena khawatir
terlihat orang. Ketika muncul untuk kedua kalinya ia sudah
berada lima puluh kaki dari tempat ia dilemparkan. Di atas
kepalanya hanya langit berselubung awan gelap saja yang
tampak, sedangkan di hadapannya terbentang lautan yang
hitam kelam dengan gelombang-gelombang yang sudah
menggele gar pertanda badai akan datang. Dan di
belakangnya, lebih hitam dan gelap dari laut dan langit,
tampak membayang gedung If, menyeramkan bagaikan jin
yang hendak menerkam. Dia memutuskan menuju Pulau
Tiboulen, pulau tak berpenghuni yang paling dekat, jauhnya
kira-kira lima ribu meter. Tetapi bagaimana ia dapat
menemukannya dalam kegelapan ini? Tuhan memberikan
petunjuknya. Tiba-tiba ia melihat sinar berkelip bagaikan
bintang. Cahaya itu berasal dari mercusuar Harder. Apabila
ia menuju lurus ke arah mercusuar itu, ia tahu ia akan
melalui Pulau Tiboulen di sebelah kiri. Jadi, kalau dia
mengubah arah sedikit ke kiri, pasti akan sampai di pulau
itu. Dia sangat gembira ketika menyadari bahwa
penyekapan yang bertahun-tahun itu tidak sampai
menggerogoti tenaga dan kesigapannya, dan ia masih tetap
dapat menguasai lautan tempat ta bermain-main ketika
masih kecil.
Satu jam telah berlalu, dan selama itu Dantes tetap berenang
ke arah yang telah dipilihnya. "Kecuali bila aku
keliru," pikirnya, "aku sudah dekat ke Pulau Tiboulen.
Bagaimana bila aku salah?" Darahnya tersirap berbarengan
dengan timbulnya pikiran itu. Ia mencoba mengambangkan
dirinya untuk dapat beristirahat, tetapi tidak mungkin sebab
laut sudah mulai bertingkah. "Baik," katanya dengan tekad
yang bulat, "aku akan terus berenang sampai tanganku
lemas, sampai otot-ototku kejang dan sampai tenggelam ke
dasar lautan."
Langit yang kelam makin bertambah gelap dan awan
yang tebal seakan-akan datang mendekati seperti hendak
menghadang. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang menyengat
pada lututnya. Persangkaannya mengatakan ia terkena peluru
dan mengira sebentar lagi akan terdengar suara
tembakan. Namun, tak ada suara senapan. Dia
memasukkan tangannya ke dalam air dan terpegang pada
sesuatu yang keras. Ketika kakinya ditegakkan ia merasa
berpijak di atas tanah. Tahulah ia sekarang awan gelap yang
disangkanya datang menghadang itu, ternyata pulau karang
yang berbentuk nyala api. Itulah Pulau Tiboulen.
Dantes berdiri, kemudian maju beberapa langkah. Tanpa
disadarinya keluar dari mulutnya, "Terima kasih, ya Tuhan!"
Dia membaringkan tubuh di atas sebuah karang yang
tajam-tajam, namun olehnya terasa lebih empuk daripada
semua tempat tidur yang pernah ditidurinya. Sekalipun
angin sangat kencang dan hujan turun dengan derasnya, ia
dapat terdidur dengan lelap.
Sejam kemudian ia terbangunkan oleh menggelegarnya
suara geledek. Dantes berteduh di bawah karang yang
menjulur, sesaat sebelum badai mengamuk dengan hebatnya.
Cahaya kilat yang bagaikan membelah langit menerangi
tempat sekelilingnya, dan beberapa ratus meter di
hadapannya tampak sebuah kapal nelayan yang kecil,
terombang-ambing oleh angin dan ombak. Sebentar-bentar
kapal itu menghilang di antara dua gelombang kemudian
muncul kembali di puncak ombak. Kapal itu mendekat
kepadanya dengan kecepatan yang cukup tinggi Dantes
berteriak sekeras-kerasnya dan mencari sesuatu yang dapat
digunakan untuk menarik perhatian penumpang kapal dan
memperingatkan bahwa mereka bisa kandas pada karang
yang berbahaya. Dengan cahaya kilat yang berikut Dantes
dapat melihat ada empat orang dalam kapal itu yang berpegang
erat-erat pada tiang layar dan tali-temali, sedang
orang yang kelima berpegang teguh pada tangkai kemudi
yang telah patah. Dantes mendengar suara beradunya dua
benda yang keras, disusul dengan teriakan-teriakan yang
mengerikan. Kilatan cahaya yang ketiga memperlihatkan
hancurnya kapal kecil itu, dan di antara pecahan-pecahan
kapal dia melihat wajah-wajah manusia yang penuh ketakutan
dan tangan-tangan yang menjulang menggapai-gapai
mencari pegangan. Lalu, keadaan menjadi gelap gulita kembali.
Dantes keluar dari tempat persembunyian dengan
kemungkinan dia sendiri terjatuh. Dia menajamkan mata
dan telinganya, namun tak ada yang tampak atau terdengar.
Tak ada lagi teriakan yang mengerikan, tak ada lagi manusia-
manusia yang berusaha menyelamatkan jiwanya. Yang
tinggal, hanyalah badai yang menderu dan gelombanggelombang
dahsyat yang berbuih putih.
Sedikit demi sedikit angin mereda. Awan kelabu yan£
tebal mulai bergeser ke arah barat dan tak lama kemudian
tampak segaris cahaya kemerah-merahan di ufuk timur.
Sinar surya menyentuh permukaan taut mengubah pucukpucuk
gelombang yang berbuih menjadi jambul-jambul
yang berkilau keemas-emasan. Hari telah berganti siang.
"Dalam dua atau tiga jam lagi," pikir Dantekz, "sipir
akan masuk ke dalam selku, menemukan mayat sahabatku
dan akan berteriak memanggil kawan-kawannya. Mereka
pasti akan menanyai orang-orang yang melemparkan aku ke
laut yang mestinya mendengar teriakanku. Beberapa perahu
penuh dengan serdadu akan berkeliaran mencariku dan
meriam-meriam pasti akan berjaga-jaga mengawasi
sepanjang pantai untuk menghadang seorang pelarian yang
telanjang dan kelaparan. Aku pasti akan diserahkan oleh
petani pertama yang menemukan aku karena ingin memperoleh
hadiah. Ya Tuhan, ya Tuhan, Engkau mengetahui
betapa aku telah menderita. Tolonglah aku, karena aku
sudah tidak berdaya lagi!"
Begitu selesai dia mengucapkan do'a yang sungguh-sungguh,
di kaki langit dia melihat layar bersegitiga dari sebuah
kapal kecil. Matanya yang terlatih segera
mengenalinyasebagai kapal kecil buatan orang Genoa,
datang dari arah Marseilles. "Ah!, Sekarang aku dapat
mencapainya dengan berenang dalam setengah jam, kalau
saja aku tidak takut diketahui sebagai seorang pelarian
kemudian dibawa kembali ke Marseilles! Mereka adalah
penyehindup-penyelundup, kadangkadang juga merompak.
Mereka tentu akan lebih senang menyerahkan aku kepada
yang berwajib daripada menolongku tanpa mendapatkan
keuntungan apa-apa. Ceritera apa yang dapat kukarang
untuk menipu mereka? Oh, begini: Akan kukatakan bahwa
aku salah seorang awak kapal yang menabrak karang tadi
malam! Tak akan ada orang yang dapat menyangkal
pengakuanku oleh karena semua awak telah mati
tenggelam. "Lantas, ia melihat-lihat di tempat kapal
tenggelam tadi malam. Beberapa bilah papan masih
terapung-apung di dekat sana dan ia terperanjat senang
melihat topi di ujung sebuah batu karang.
Dantes menyelam, berenang mengambil topi, mengenakannya
lalu berpegang pada salah satu papan, kemudian
mendayung dengan kakinya ke arah yang dia perkirakan
akan dilalui oleh kapal Genoa itu.
Ketika dirasanya sudah cukup dekat, ia mempercepat
renangnya, melambai-lambai dengan topinya dan berteriak
sekeras-kerasnya. Kapal berbalik ke arah Dantes dan dia
melihat awak kapal bersiap-siap untuk mengurangi kecepatan.
Karena ia berpikir tidak akan memerlukan papan
lagi, dilepaskannya papan itu dan berenang ke arah kapal.
Tetapi sebenarnya ia rianya bergantung kepada sisa tenaganya
yang sudah hampir habis. Kaki dan tangannya sudah
mulai kejang, gerakannya sudah berat dan tidak teratur lagi,
sedangkan dadanya sudah terasa sesak. Kedua pendayung
dalam kapal itu meningkatkan usaha memperlambat laju
kapal, dan seorang di antara berteriak dalam bahasa Italia
'Tahan!" Dantes masih menggapai-gapai sejenak,
kemudian hilang dari permukaan air. Dia masih dapat
merasakan rambutnya dijambak dan diangkat ke atas,
setelah itu ia tak sadarkan diri lagi.
Ketika ia membukakan matanya, tubuhnya tergeletak di
geladak kapal kecil itu. Seorang kelasi menggosok-gosok
tubuhnya dengan selimut wol, yang lain, yang berteriak
"Tahan!" menegukkan anggur ke dalam mulut Dantes,
sedangkan orang yang ketiga, yaitu Kapten kapal, menatapnya
dengan pandangan penuh keharuan seorang yang pernah
terhindar dari malapetaka yang sama, atau kecemasan
seseorang yang khawatir tertimpa nasib yang sama di masa
mendatang.
"Siapakah engkau?" tanya Kapten dalam bahasa Perancis
yang buruk.
"Saya pelaut dari Malta," jawab Dantes dalam bahasa
Italia yang sama buruknya. "Kami datang dari Siracus. Badai
tadi malam menghanyutkan kami dari teluk Morgiou
dan menghancurkan kapal kami pada batu karang sana.
Saya satu-satunya yang selamat. Ketika saya melihat Tuan
datang saya berpegang kepada sebilah papan dan berenang
menghampiri kapal Tuan. Saya pasti mati lemas seandainya
tidak ditolong salah seorang anak buah Tuan."
"Akulah yang menarik dia pada rambutnya" kata seorang
kelasi yang berwajah jujur. “Tepat pada saat engkau akan
tenggelam."
"Ya," jawab Dantes sambil mengulurkan tangan kepadanya,
“Terima kasih banyak, kawan."
"Sebenarnya aku ragu melakukannya ketika melihat
janggutmu yang panjang enam inci dan rambut sepanjang
satu kaki. Kau lebih mirip seorang bandit."
Dengan hati tersentak Dantes baru menyadari bahwa
selama dalam penjara ia tidak pernah memotong rambut
dan janggutnya.
"Suatu hari, ketika berada dalam bahaya," katanya, "saya
bersumpah tidak akan memotong rambut dan janggut
selama sepuluh tahun. Hari inilah habisnya masa yang
sepuluh tahun itu dan lucu, saya merayakannya dengan
hampir tenggelam."
"Sekarang, apa yang harus kami lakukan denganmu?”
tanya Kapten.
"Terserah kepada Tuan. Saya pelaut yang baik. Tuan
dapat menurunkan saya di pelabuhan pertama yang Tuan
singgahi, saya pasti dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan
di salah satu kapal dagang."
"Apakah kau mengenal Kepulauan Mediterania?"
"Saya sudah melayarinya sejak masa kanak-kanak. Saya
mengenal hampir semua pelabuhannya sehingga saya dapat
dengan mudah memasukkan dan mengeluarkan kapal
dengan mata tertutup."
"Kapten," kata Jacopo, pelaut yang menyelamatkan jiwa
Dantes, "tidakkah sebaiknya dia turut kita?"
"Baik," sahut Kapten, "aku mau membawamu kalau
engkau tidak meminta bayaran yang terlalu tinggi."
"Cukup sebanyak yang lain."
"Baik," kata Kapten lagi. "Jacopo, dapatkah kau meminjaminya
pakaian?"
"Saya masih mempunyai dua celana dan sebuah keme-
Ja."
Jacopo turun ke ruang bawah dan muncul kembali
beberapa saat kemudian dengan membawa pakaian.
"Apalagi yang kauperlukan?" tanya Kapten.
"Bila boleh, sepotong roti dan segelas anggur lagi yang
sedap seperti tadi"
Jacopo menyodorkan anggur dan pelaut yang lain membawakan
sepotong roti.
Dantes bertanya apakah dia boleh memegang kemudi.
Jurumudi yang sangat gembira melihat kemungkinan
istirahat, menoleh kepada Kapten yang memberi isyarat
untuk menyerahkan kemudi kepada kawannya yang baru.
Dantes mengambil alih kemudi dan mengarahkan pandangannya
ke pantai Marseilles.
"Tanggal berapa dan bulan apa sekarang?" Dantes bertanya
kepada Jacopo yang duduk di sebelahnya.
"Dua puluh delapan Pebruari."
'Tahun?"
"Apa? Apakah kau tidak mengetahui tahun berapa sekarang?"
'Tadi malam aku sangat ketakutan," jawab Dantes sambil
tertawa, "sehingga hampir gila, dan sekarang pun ingatanku
belum segar betul. Tahun berapa sekarang?"
"1829," jawab Jacopo.
Empas belas tahun sudah sejak Dantes ditangkap. Dia
baru berusia sembilan belas tahun ketika itu; sekarang tiga
puluh tiga tahun umurnya. Senyum pahit melintas di bibirnya
ketika hatinya bertanya apa yang telah terjadi dengan
Mercedes selama masa itu, selama ia mengira pasti Dantes
telah tiada. Matanya menyinarkan amarah tatkala ingatannya
sampai kepada ketiga orang yang menyebabkannya
menanggung derita yang lama dan kejam. Pada detik itu
juga ia memperbaharui lagi sumpah pembalasannya kepada
Danglars, Fernand dan Villefort. Sekarang sumpah ini
bukan lagi merupakan ancaman hampa, karena ia sudah
bebas dan tidak mungkin tertangkap lagi. Pada saat ini
kapal tercepat pun tidak akan dapat menyusul kapalnya
yang sedang meluncur cepat dengan layar penuh menuju
Livarno.
Belum lagi sehari berada dalam kapal yang bernama
Jeune-Amelie-dwkz itu Dantes sudah mengetahui bahwa ia
berada dalam lingkungan kaum penyelundup. Dalam hal
ini Dantes mempunyai keuntungan. Ia mengetahui siapa
dan apa kapten itu sedang Kapten tidak mengetahui apa
dan siapa Dantes. Dantes berpegang teguh kepada
ceriteranya dan di mana peltu menambahnya dengan
ceritera-ceritera lain yang menunjukkan pengetahuannya
yang mendalam tentang Napoli dan Malta. Kapten kapal
yang paling berpengetahuan pun akan mempercayai centera
Dantes tanpa keraguan.
Ketika mereka sampai di Livarno, Dantes hampir tidak
dapat menahan diri untuk dapat melihat bagaimana rupa
wajahnya sekarang, Segera setelah mereka mendarat, ia
pergi ke tukang cukur. Setelah tukang cukur selesai mencukur,
Dantes meminta cermin kemudian menatapi wajahnya
sendiri beberapa saat.
Umurnya sudah tiga puluh tiga tahun. Penyekapan
selama empat belas tahun telah merubah wajahnya banyak
sekali. Dia memasuki Gedung If dengan wajah yang lonjong
berseri-seri penuh kebahagiaan seorang muda yang telah
berhasil menjejakkan langkah pertama ke arah masa
depan yang gemilang. Semua itu sekarang telah berubah.
Raut mukanya yang lonjong tampak lebih memanjang, bibir
yang selalu tersenyum berubah menjadi sebuah garis yang
tegas penuh kepastian; alisnya jadi agak melengkung di
bawah jidat yang telah berkerut segaris; matanya memancarkan
sinar kesedihan yang mendalam, yang kadangkadang
diselingi kilat kebencian, kulitnya menjadi sangat
pucat karena lama tidak tersentuh sinar matahari; ilmu
pengetahuan yang diperolclinya di penjara tercermin pada
air mukanya yang cerdas dan percaya diri Selanjutnya,
sekalipun pada dasarnya ia berbadan tinggi, namun tampak
kesan gemuk pendek berkat ketegapan dan kekekarannya.
Dan matanya yang telah lama terbiasa dalam kegelapan
mempunyai kemampuan untuk segera dapat mengenali
benda-benda dalam gelap bagaikan mata seekor anjing
pemakan bangkai atau anjing hutan.
Dantes tersenyum melihat wajahnya di cermin. Sahabatnya
yang pating dekat pun tidak akan mungkin mengenalinya
lagi, bahkan dia sendiri merasa pangling.
Sekembalinya di kapal Jeune-Amelie-dwkz kapten kapal
memperbaharui tawarannya kepada Dantes untuk terus
turut sebagai awak kapal yang tetap. Dantes telah
mempunyai rencana sendiri hanya bersedia turut untuk
selama tiga bulan saja
Dalam tempo seminggu sejak kedatangannya di Livarno,
Jeune-Ametie telah penuh dimuati kain muslin, yaitu kain
yang tipis halus, katun, peluru senapan Inggris dan tembakau.
Petugas-petugas bea cukai mengabaikan cap
pemeriksaan terhadap barang-barang itu. Sekarang hanya
tinggal mengeluarkan barang-barang itu dari Livarno,
kemudian bertabuh di pantai Corsica, di mana sekelompok
penyelundup lain akan melanjutkan pemasukannya ke
Perancis.
Mereka meneruskan lagi pelayarannya, dan sekali lagi
Dantes berada di samudera biru yang sering terimpikan
selama dalam penjara.
Ketika Kapten muncul di geladak keesokan paginya, dia
menemukan Dantes sedang bersandar sambil memandang
dengan air muka yang aneh ke arah pulau karang yang
kemerah-merahan karena sinar matahari: Pulau Monte
Cristo. Jeune-Amelie melaluinya dalam jarak kurang lebih
seribu lima ratus meter di sebelah kanan. Dantes sudah terbiasa
menunggu. Dia sudah pernah menanti selama empat
belas tahun untuk kemerdekaannya; pasti ia akan mampu
menunggu setengah sampai satu tahun untuk mengambil
kekayaannya. Sambil memandang pulau itu ia mengulangulang
isi surat Kardinal kata demi kata dalam hatinya.
Dua bulan setengah telah bed alu. Dan selama itu Dantes
telah memiliki keahlian seorang penyelundup, sama dengan
keahliannya sebagai seorang pelaut. Dia sudah bukan orang
asing lagi bagi semua penyelundup sepanjang pantai, dan ia
sudah menguasai semua isyarat rahasia untuk mengenali
satu sama lain. Selama itu dia telah melewati Pulau Monte
Cristo sekurang-kurangnya dua puluh kali, namun tanpa
kesempatan sekali pun untuk mendaratiny a.
Dia telah mengambil keputusan, apabila kontrak kerjanya
dengan Jeune-Amelie berakhir, ia akan menyewa sebuah
kapal layar kecil untuk pergi ke Monte Cristo. Ia akan
dapat mencari harta karunnya dengan leluasa, tetapi dengan
kemungkinan diintai oleh mereka yang membawanya ke
sana. Ini adalah risiko yang harus dia pikul, karena betapapun
ia memutar otaknya ia tidak menemukan jalan laun
pergi ke pulau itu tanpa diantar orang lain.
Dia masih bergulat dengan persoalan itu ketika pada
suatu malam Kapten yang sudah mempunyai kepercayaan
penuh kepadanya dan berkeinginan untuk tetap mempekerjakannya,
mengajak dia ke sebuah kedai minum di Via
del Oglio, kedai yang menjadi tempat pertemuan para
penyelundup. Pada malam itu ada perundingan rahasia
yang sangat penting, mengenai sebuah kapal bermuatan
permadani Turki, kain wol halus dan pakaian dari Lebanon.
Untuk melakukan pertukaran barang-barang diperlukan
suatu tempat yang netral dan aman dan selanjutnya menyelundupkannya
ke pantai Perancis. Keuntungan dari usaha
ini akan sangat besar apabila berhasil. Setiap orang akan
mendapat bagian lima puluh sampai enam puluh piaster.
Kapten Jeune-Amelie mengusulkan Monte Cristo yang
tak berpenghuni dan bebas dari pengawasan serdadu dan
pejabat bea cukai. Tempat itu dianggapnya sangat cocok
untuk menurunkan muatan. Ketika Dantes mendengar nama
Monte Cristo hatinya melonjak gembira. Dia berdiri untuk
menyembunyikan perasaannya dan berjalan-jalan
dalam ruangan kedai yang penuh dengan asap tembakau.
Ketika dia kembali ke tempat duduknya, putusan telah
diambil, yaitu bahwa mereka akan mendarat di Monte
Cristo dan akan mulai berangkat esok malam.
BAB XIV
JAM tujuh malam keesokan harinya, segala sesuatu telah
siap. Mereka memutari mercusuar pada jam tujuh lewat
sepuluh, tepat pada saat lampu dinyalakan. Laut tenang dan
angin segar berhembus dari arah tenggara.
Pada jam lima sore hari berikutnya Pulau Monte Cristo
sudah tampak jelas. Mereka mendarat pada jam sepuluh.
Jeune-Amelie yang datang paling dahulu di tempat pertemuan
itu. Walaupun sudah terbiasa menguasai diri, sekali
ini Dantes tidak berhasil menahan dirinya. Dia berlari ke
darat mendahului yang lain. Mau rasanya dia mencium
tanah Monte Cristo itu seandainya tidak khawatir dicurigai
orang. Tetapi, sia-sia apabila ia mencoba memulai mencari
hartanya pada malam hari. Oleh sebab itu mau tak mau ia
terpaksa menangguhkannya sampai esok harinya. Selain
dari itu, dari arah laut sudah terlihat isyarat yang dijawab
dengan isyarat yang sama oleh Jeune-Amelie. Isyarat itu
berarti harus mulai bekerja. Kapal-kapal lain, setelah diyakinkan
oleh isyarat itu segera bermunculan bagaikan
hantu. Mereka membuang sauh tak berapa jauh dari pantai.
Kemudian bekerja, Dantes berpikir betapa ia akan dapat
membuat orang berteriak kegirangan seandainya ia men-ce
rite rak an apa yang selama ini memenuhi pikirannya.
Tak seorang pun menaruh curiga kepada Dantes ketika
pagi berikutnya ia mengambil senapan dan memberitahukan
bahwa ia akan berburu biri-biri liar yang memang
kelihatan meloncat-loncat dari satu karang ke karang yang
lain. Kepergiannya dianggap sebagai pemenuhan
kesenangan berburu atau keinginan menyendiri. Hanya
Jacopo yang memaksa ikut dan Dantes tidak berani
menolaknya karena khawatir akan membangkitkan
kecurigaan. Untung ia sudah berhasil menembak seekor
biri-biri sebelum mereka berjalan jauh. Dimintanya Jacopo
mengantarkan hasil buruannya kepada teman-temannya
dan mengajak mereka memasaknya, kemudian memberi
isyarat dengan tembakan ke udara apabila sudah selesai.
Dantes meneruskan perjalanannya sambil berkali-kali
menoleh ke belakang sampai ke tempat yang diperkirakannya
sebagai tempat letak gua rahasia itu. Setelah memeriksa
segala sesuatu di sekitarnya dengan ketelitian yang luar
biasa, ia melihat bahwa pada beberapa batu ada goresangoresan
yang jelas merupakan perbuatan tangan manusia.
Tampaknya dibuat secara teratur, mungkin sekali dimaksudkan
untuk menunjukkan sesuatu tujuan tertentu. Tandatanda
itu menghidupkan harapan Dantes. Mungkinkah
goresan-goresan itu dibuat oleh Kardinal untuk memberikan
petunjuk kepada kemenakannya? Dantes mengikutinya
sampai habis, tetapi tanda-tanda itu tidak membawanya ke
gua apa pun. Tanda-tanda itu hanya mengantarkannya ke
sebuah baru karang yang besar bundar menjulang di atas
tanah yang keras. Rupanya ia bukan sampai pada akhir
jalan melainkan justru pada awalnya. Dia kembali lagi
menelusuri tanda-tanda itu.
Dalam pada itu kawan-kawannya telah selesai memasak.
Ketika mereka mengangkat biri-biri itu dari
pemanggangnya, mereka melihat Dantes meloncat dari
sebuah batu karang ke batu karang yang lain. Mereka
menembakkan isyarat, Dantes mengubah arahnya dan
menuju kepada teman-temannya. Tiba-tiba kakinya
tergelincir dan mereka melihat Dantes kehilangan
keseimbangan pada ujung sebuah karang, kemudian jatuh
menghilang Segera mereka berlari menuju tempat Dantes
terjatuh, oleh karena mereka semua mencintai Dantes
sekalipun mempunyai lebih banyak kelebihan daripada
mereka sendiri.
Mereka menemukan Dantes bercucuran darah dan hampir
pingsan. Dia terjatuh dari ketinggian dua belas sampai
lima belas kaki. Mereka menuangkan sedikit anggur ke dalam
mulut Dantes dan seketika itu juga Dantes membukakan
matanya, ia mengeluh kesakitan pada lututnya, rasa
berat pada kepalanya dan rasa nyeri yang tak tertahankan
pada punggungnya. Ketika kawan-kawannya mencoba
mengangkatnya ke pantai, Dantes berteriak kesakitan dan
mengatakan tidak cukup kuat mengikutinya. Kapten, yang
harus berangkat pada pagi itu juga, memaksa mereka
supaya mengangkat Dantes ke kapal, tetapi Dantes tetap
bersikeras lebih baik mati daripada harus menanggung rasa
sakit yang tak terkirakan. "Tinggalkan saja biskuit secukupnya,
sebuah senapan untuk berburu, sebuah belincong
untuk membuat tempat berteduh kalau-kalau kalian terlambat
menjemputku," katanya.
"Tetapi engkau akan mati kelaparan!" kata Kapten.
"Paling sedikit kami akan pergi seminggu lamanya."
"Begini, Kapten," kata Jacopo, "inilah jawaban untuk
masalah ini: Saya akan tinggal di sini untuk merawatnya."
"Engkau mau melepaskan bagian keuntunganmu karena
tinggal bersamaku di sini?" tanya Dantes.
"Ya," jawab Jacopo, "dan tanpa sesal."
"Engkau sahabat yang baik sekali, Jacopo," kata Dantes,
"pasti Tuhan akan membalas kebaikanmu, tetapi aku tidak
memerlukan perawatan. Dengan istirahat dua hari, aku
akan pulih kembali." Dia menjabat tangan Jacopo dengan
penuh kehangatan. Ketetapan hatinya untuk tinggal seorang
diri, tak dapat digoyahkan lagi. Akhirnya para penyelundup
itu memberikan semua yang diminta Dantes, lalu
meninggalkannya.
Sejam kemudian kapal kecil itu sudah hampir hilang dari
pemandangan. Dantes berdiri, tegap sigap dan lincah seperti
biri-biri liar di pulau itu, memegang senapan di tangan kiri
dan belincong di tangan kanan, kemudian berlari ke batu
besar tempat berakhirnya tanda-tanda goresan.
"Nah," katanya gembira, teringat kepada dongeng Arab
yang diceriterakan Faria, "buka pintu!"
Setelah mengikuti goresan-goresan pada karang dengan
mengambil arah yang sebaliknya, dimulai dari batu besar,
Dantes menemukan bahwa tanda-tanda itu membawanya
ke sebuah sungai kecil namun cukup lebar muaranya dan
cukup dalam di tengah untuk dapat dilayari sebuah perahu.
Menurut perhitungannya Kardinal yang bekerja tanpa mau
diketahui orang itu telah mendarat di sungai itu dan menyembunyikan
perahunya di sana, kemudian berjalan sambil
membuat tanda dengan goresan-goresan pada batu, dan
di ujung jalan itu mengubur hartanya. Perkiraan inilah yang
menyebabkan Dantes kembali lagi ke batu karang yang
besar tadi.
Tetapi ada suatu hal yang meragukan perhitungannya.
Batu karang itu demikian berat, bagaimana Kardinal dapat
mengangkatnya? Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas: mungkin
bukan diangkat melainkan diturunkan. Dia naik ke atasnya
untuk mencari tempat letak asalnya. Segera ia menemu
kan tanah rniring. Batu itu didorong jatuh dari tempat
asalnya sehingga berada dalam kedudukannya sekarang.
Sebuah karang lain di bawahnya menjadi pengganjal.
Dantes memotong dahan pohon zaitun dan dengan
dahan itu mencoba mencungkil batu besar itu. Tetapi karang
itu demikian berat dan tertanam begitu teguh sehingga
tak mungkin tenaga manusia dapat menggeser karinya Dantes
berpikir sejenak dan menyimpulkan bahwa ganjalnyalah
yang harus dihilangkan dahulu. Dia melihat ke
sekelilingnya dan matanya tertumbuk pada mesiu yang
ditinggalkan Jacopo.
Dengan menggunakan belincong ia membuat lubang
antara batu karang dan batu pengganjal, kemudian mengisinya
dengan mesiu. Setelah itu dia menyobek saputangannya,
dan sobekan itu digunakan untuk membungkus mesiu
sehingga menyerupai sebuah gulungan. Dengan itulah dia
membuat sumbu dinamitnya.
Dantes menyulut sumbu itu dan berlari menjauh. Ledakan
yang dahsyat terjadi dalam waktu yang singkat. Batu
karang yang besar itu bergeser dan batu pengganjalnya hancur
lumat.
Batu yang besar itu sekarang sudah tidak kokoh lagi
letaknya. Dia mengelilinginya mencari bagian yang paling
longgar. Dantes menancapkan ujung dahan pada sebuah celah,
kemudian dengan sekuat tenaganya mencungkil batu
yang telah lemah kedudukannya itu. Batu itu bergerak,
akhirnya bergulir jatuh menggelinding ke dalam laut.
Dengan bergulirnya batu besar itu tampak sekarang sebuah
batu persegi buatan manusia yang tadinya tersembunyi.
Untuk mengangkatnya, batu persegi itu telah diperlengkapi
dengan sebuah gelang besi di tengah-tengahnya.
Dantes berteriak kegirangan. Lututnya gemetar dan hatinya
berdebar demikian kuatnya, selungga ia terpaksa menghentikan
pekerjaannya untuk sementara. Kemudian dia memasukkan
dahan kayu itu ke dalam gelang besi dan mengangkatnya
dengan sekuat tenaga. Dengan terangkatnya
penutup ini, tampaklah sekarang sebuah tangga curam yang
menuju ke kedalaman sebuah gua yang gelap.
Orang lain, karena sangat gembiranya pasti akan segera
menuruni tangga itu tanpa berpikir panjang. Tetapi Dantes
tidak. Dantes berdiri sejenak penuh ragu, dan mukanya
yang sudah pucat bertambah pucat lagi. "Aku tidak boleh
membiarkan diriku dihancurkan oleh kekecewaan," katanya
kepada dirinya sendiri, "sebab, kalau demikian, semua
penderitaanku akan sia-sia belaka." Dengan senyum kebimbangan
ia menuruni tangga diantar oleh satu-satunya
kata yang menggambarkan kebijaksanaan terakhir manusia,
"Mudah-mudahan."
Setelah berada dalam gua untuk beberapa saat lamanya,
matanya yang memang telah terbiasa dalam kegelapan,
sudah dapat menembus ke setiap penjuru. Dinding gua itu
terdiri dari batu granit yang keras seperti besi. Dia teringat
kepada salah satu kalimat dalam surat wasiat Kardinal itu:
"Di ujung yang terdalam pada gua kedua." Dia baru menemukan
gua yang pertama. Tugasnya sekarang menemukan
gua yang kedua. Dengan belincongnya ia memukul-mukul
dinding. Akhirnya dia menemukan tempat pada dinding
yang tidak padat. Hal ini diketahuinya dari suara ketukan
pada dinding. Tempat itu dipukulnya lagi dengan agak keras.
Sekali ini, terjadi suatu hal yang aneh. Pukulan belincongnya
menyebabkan adukan tembok berguguran. Ternyata
di sebelah dalam ada batu lain yang berwarna keabuabuan
dan bukan granit. Rupanya lubang pada dinding itu
ditambal dengan batu-batu lain, kemudian ditutupi dengan
adukan tembok, dan permukaan tembok itu dibuat menyerupai
granit. Dantes menghantam batu itu dengan ujung
belincongnya yang runcing. Perkakas ini menembus batu
sedalam satu inci.
Dantes melanjutkan kerjanya. Setelah beberapa saat,
jelas bahwa batu-batu itu tidak disemen, melainkan hanya
ditumpuk, kemudian ditutupi dengan adukan itu. Dia
menekankan ujung belincong yang runcing di antara celahcelah
batu, kemudian menekan gagangnya ke bawah. Dan
betapa gembiranya ketika salah sebuah batu itu terjatuh,
dekat kakinya. Setelah itu, tugasnya hanya mencungkil
batu-batu itu satu per satu. Akhirnya setelah mengalami lagi
keraguan untuk beberapa detik lamanya, Dantes memasuki
gua yang kedua.
Gua ini kosong seperti yang pertama. Harta karun itu,
kalau memang ada, terkubur di sudut sebelah dalam. Saatsaat
yang mendebarkan tiba. Jarak antara Dantes dengan
puncak kegembiraan atau puncak kekecewaan hanya
tinggal dua kaki lagi. Dia melangkah menuju sudut gua dan
seperti didorong oleh suatu kekuatan gaib ia
menghantamkan belincongnya dengan sekuat tenaga. Pada
ayunan kelima atau keenam, belincongnya mengenai
sesuatu barang dari logam. Sekali lagi ia mengayunkan
belincongnya agak ke pinggir. Masih juga tertumbuk pada
sesuatu, tetapi suaranya berbeda dengan yang tadi. "Ini
mesti sebuah peti kayu yang diperkuat dengan ikatan besi,"
katanya sendiri.
Tiba-tiba sebuah bayangan lalu, menghalangi cahaya
matahari yang masuk melalui lubang di atas tanah. Dantes
meletakkan belincongnya, mengambil senapannya dan cepat-
cepat keluar dari dalam gua. Seekor biri biri liar rupanya
meloncat melangkahi lubang gua dan sekarang sedang
merumput beberapa langkah dari situ. Dantes berpikir
sebentar, kemudian menebang sebuah pohon cemara yang
masih kecil, dan menyalakannya dari sisa api yang
dipergunakan kawan-kawannya untuk memanggang biribiri.
Dantes kembali lagi masuk ke dalam gua membawa
obor. Dia ingin melihat semua yang berada dalam gua dengan
jelas sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya.
Dia menerangi lubang yang telah dibuatnya dengan
obor. Benar, belincongnya mengenai kayu dan besi Dantes
menancapkan obor di tanah dan melanjutkan lagi kerjanya.
Dalam waktu yang tidak lama ia sudah berhasil menggali
lubang sebesar dua kali dua kaki dan dapat melihat dengan
jelas sebuah peti kayu diikat dengan besi. Di tengah-tengah
tutup peti terdapat lambang keluarga Spada, terbuat dari
perak, yang dengan mudah dapat dikenali Dantes karena
Padri Faria telah berulang kali menggambarkannya. Tak
ada keraguan lagi sekarang: harta karun itu ada. Tak
mungkin ada orang yang mau bekerja begitu hati-hati dan
teliti hanya untuk meninggalkan sebuah peti yang telah
diambil seluruh isinya yang berharga.
Dantes membersihkan tanah di sekeliling peti itu. Mulamula
tampak kuncinya, sesudah itu pegangannya pada
kedua pinggirnya. Dantes menarik peti itu dari pegangannya,
namun peti itu tidak bergeser sedikit pun. Dia mencoba
membukanya, juga tidak dapat karena terkunci rapat.
Kemudian dia menempatkan ujung belincong di antara peti
dan penutupnya, sesudah itu menekan gagangnya ke
bawah. Terdengar suara berderak, dan terbukalah peti itu.
Mendadak kepala Dantes menjadi pusing. Dia memejamkan
mata seperti kanak-kanak, kemudian membukanya
lagi dan berdiri dengan takjub.
Peti itu terbagi menjadi tiga bagian. Dalam petak pertama
terdapat uang mas yang berkilauan. Petak kedua penuh
dengan emas batangan yang tersusun rapih. Dari petak ketiga
yang hanya berisi setengahnya, ia menjumput segenggam
berlian, mutiara dan batu merah delima. Ketika dilepaskan
lagi permata-mata itu mengalir melalui jari-jarinya
bagaikan sebuah air terjun kecil yang berkilauan, mengeluarkan
suara seperti hujan es menimpa kaca-kaca jendela.
Setelah menyentuhnya, menggenggamnya dan menguburkan
tangannya yang gemetar ke dalam tumpukan emas
dan batu-batu berharga itu, Dantes berlari ke biar gua dengan
gejolak hati seseorang yang sudah berada di ambang
kegilaan. Dia naik ke sebuah batu karang tinggi sehingga ia
dapat memandang laut di sekelilingnya. Dia hanya sendirian,
sendiri dengan kekayaan yang tidak ternilai, yang
hanya ada dalam dongeng, yang sekarang menjadi miliknya
pribadi. Apakah dia ada dalam alam mimpi atau alam
nyata? Dia ingin melihat kekayaannya sekali lagi, namun ia
merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya.
Dia menekan kepalanya dengan kedua belah tangan,
seakan-akan ingin mencegah jangan sampai pikiran
warasnya menghilang dari kepalanya. Dia berlari-lari
sambil berjingkrak-jingkrak dan berteriak-teriak seperti
kanak-kanak seputar pulau itu sehingga menimbulkan
ketakutan kepada biri-biri dan burung-burung laut Akhirnya
dia kembali, tetapi masih tetap diliputi keraguan. Dia
masuk lagi ke dalam gua. Emas dan permata itu tetap
berada di hadapannya. Sekali ini, dia berlutut dan
menekankan kedua belah tangan pada dadanya yang masih
berdebar keras, kemudian mengucapkan do'a syukur yang
hanya akan difahami oleh Tuhan sendiri.
BAB XV
KEESOKAN harinya Dantes mengisi penuh sakusakunya
dengan batu permata. Peti harta karunnya dia
kubur kembali, lubang ke dalam gua disembunyikan dengan
cermat. Sekarang timbullah ketidaksabaran menanti kedatangan
kawan-kawannya yang berjanji akan menjemput.
Dia sama sekali tidak berniat tetap berdiam di. pulau itu
untuk meraba-raba dan memandangi hartanya seperti
seekor ular naga menunggui kekayaan yang tidak
bermanfaat. Sudah tiba saatnya bagi dia kembali ke
masyarakat untuk meraih kedudukan, pengaruh dan
kekuasaan yang dapat diberikan oleh harta kekayaan dalam
dunia ini.
Kawan-kawannya datang pada hari keenam. Dari
kejauhan pun Dantes sudah dapat mengenali Jeune-Amelie.
Dia bertari ke pantai. Ketika kawan-kawannya mendarat ia
menceritakan bahwa sekalipun rasa sakitnya belum hilang
sama sekali, namun ia sudah merasa kuat. Setelah itu,
Dantes mendengarkan kisah petualangan kawan-kawannya.
Perjalanan mereka telah berhasil dengan baik. Semua, terutama,
Jacopo, menyesalkan sekali gangguan yang menimpa
Dantes sehingga ia tidak dapat turut serta dan menikmati
keuntungan sebesar lima puluh piaster buat masing-masing.
Dantes berusaha keras menahan diri agar tidak tersenyum
mendengar jumlah keuntungan itu. Karena kedatangan
Jeune-Amelie ke Monte Cristo hanya untuk menjemput
Dantes, pada malam itu juga kapal melanjutkan pelayarannya
ke Livorno.
Di Livorno Dantes menjual empat butir intan yang terkecil
dengan harga lima ribu frank sebutirnya. Keesokan
harinya ia membeli sebuah kapal kecil untuk Jacopo,
menambahnya lagi dengan seratus piaster agar Jacopo
dapat menyewa awak kapal, dengan syarat Jacopo mau
pergi ke Marseilles mencari keterangan tentang seorang tua
bernama Louis Dantes dan seorang wanita muda bernama
Mercedes, Mula-mula Jacopo serasa mimpi menerima
hadiah ini. Dantes mengatakan bahwa ia menjadi pelaut
hanya sekadar memenuhi dorongan darah muda saja.
Ketika kembali di Livorno ia menerima warisan dari
pamannya. Pendidikan Dantes yang jauh lebih tinggi,
membuat ceritera Dantes masuk di akal Jacopo sehingga ia
tidak meragukannya sedikit pun. Hari berikutnya Jacopo
berlayar ke Marseilles. Dia harus menemui Dantes nanti di
Pulau Monte Cristo.
Pada hari yang sama Dantes meminta diri dari semua
awak kapal Jeune-Amelie dan memberi mereka masingmasing
hadiah yang berharga dan berjanji akan mengabari
Kapten lagi pada suatu waktu.
Dantes pergi ke Genoa. Pada hari kedatangannya ia
membeli sebuah kapal pesiar yang sebenarnya dipesan oleh
seorang Inggris, yang mendengar berita bahwa orang-orang
Genoa termashur sebagai pembuat kapal yang terbaik di
seluruh Kepulauan Mediterania. Orang Inggris itu telah
sepakat dengan harga empat puluh ribu frank. Dantes
menawar empat puluh ribu frank asal kapal itu diserahkan
kepadanya segera. Si pembuat kapal menawarkan untuk
mencarikan awak kapal, tetapi Dantes menjawab bahwa ia
mempunyai kebiasaan berlayar sendiri. Yang diinginkannya
hanyalah supaya dibuatkan sebuah ruang rahasia dalam
kapal itu. Ruang itu selesai keesokan harinya dan dua jam
kemudian Dantes berlayar meninggalkan pelabuhan Genoa
menuju Monte Cristo.
Pada hari kedua Dantes sudah sampai di tempat tujuan.
Kapal pesiarnya itu baik sekali, dapat menempuh jarak itu
dalam tiga puluh lima jam. Dia pergi ke gua kekayaannya
dan menemukan peti masih dalam keadaan seperti waktu
ditinggalkannya. Hari berikutnya, seluruh kekayaannya
telah dipindahkan ke dalam ruang rahasia dalam kapalnya.
Dantes menunggu Jacopo selama delapan hari. Selama
itu ia mencoba kapalnya sekitar pulau, menelitinya seperti
seorang Joki memeriksa kudanya. Dalam waktu itu juga ia
sudah mengetahui apa kelebihannya dan apa pula kekurangannya.
Dia berjanji kepada dirinya untuk
meningkatkan kelebihan-kelebihannya dan memperbaiki
kekurangan-kekurangannya.
Pada hari kedelapan Jacopo tiba. Dia menambatkan
kapal layarnya di sebelah kapal Dantes. Dia membawa
berita tak sedap mengenai kedua orang yang ditanyakan
Dantes. Louis Dantes telah meninggal dan Mercedes
menghilang. Mendengar berita itu air muka Dantes tidak
berubah sedikit pun, ia tetap dapat menguasai dirinya.
Tetapi segera ia pergi ke pantai dan menolak siapa saja yang
hendak menyertainya. Dia kembali dua jam kemudian. Dua
orang anak buah Jacopo diperbantukan kepada Dantes. Dia
memerintahkan berlayar menuju Marseilles.
Berita kematian ayahnya tidak terlampau mengejutkannya,
tetapi bagaimana keadaan Mercedes? Masih banyak
hal lain yang ingin ia ketahui dan harus ia selidiki sendiri.
Setelah bercermin di Livorno, ia yakin bahwa ia tidak perlu
khawatir dikenal orang. Selain dari itu ia mempunyai segala
sesuatu yang diperlukan untuk menyamar. Pada suatu pagi,
kapal pesiarnya diikuti oleh kapal Jacopo, langsung
memasuki pelabuhan Marseilles dan berlabuh tepat di
seberang tempat Dantes menaiki perahu menuju ke gedung
If empat belas tahun yang lalu.
Di dalam kapal karantina, hatinya tak urung merasa
cemas ketika melihat seorang serdadu menghampirinya.
Namun, dengan penguasaan diri yang sempurna dan telah
menjadi salahsatu kemampuannya, ia menyodorkan paspor
Inggris yang dibelinya di Livorno. Tanpa kesukaran sedikit
pun ia mendarat.
BAB XVI
BARANG SIAPA yang pernah berkeliling di Perancis
Selatan dengan berjalan kaki, pasti akan menemukan
sebuah kedai kecil yang terletak antara Bellegarde dan
Beaucair Di depannya terpampang sebuah papan nama dari
besi yang aneh bertuliskan Pont du Garde. Untuk selama
tujuh sampai delapan tahun kedai ini diusahakan oleh
sepasang suami isteri yang hanya dibantu oleh seorang
pelayan dan seorang anak pengurus kandang kuda. Dua
orang pembantu ini sekarang sudah terlalu banyak,
mengingat kedainya yang selalu lengang karena terletak di
jalan yang telah menjadi sepi.
Pemilik kedai yang kurang beruntung ini tiada lain
adalah Gaspard Caderousse, kawan lama Dantes. I terinya
yang pucat dan kurus karena dirundung sakit, terpaksa
selalu berada dalam kamarnya di lantai kedua tanpa
sanggup membantu suaminya mengerjakan kewajiban sehari-
hari. Untuk menjawab keluh-kesah isterinya yang tidak
berkesudahan tentang nasibnya yang buruk, Caderousse
selalu menjawab, "Sabarlah, ini sudah menjadi kehendak
Tuhan."
Pada suatu pagi, ketika Caderousse sedang berdiri di
ambang pintu kedainya sambil mengawasi jalan yang
lengang dengan air muka sedih, tampak di kejauhan
seorang berkuda datang dari arah Bellegarde. Penunggang
kuda itu seorang padri berjubah hitam dan mengenakan
topi bersegi tiga, meskipun udara sedang panas sekali. Padri
itu turun dari kudanya di depan kedai, menghapus keringat
di dahinya dengan saputangan merah.
Dengan gembira Caderousse keluar menjemputnya.
Padri menatap wajah Caderousse dengan tajam untuk
beberapa saat lamanya, kemudian berkata dengan logat
Italia, 'Tuan Caderousse, bukan?"
"Benar, Tuan," jawab pemilik kedai keheranan. "Saya
Gaspard Caderousse. Apa yang dapat saya lakukan?"
"Bukankah Tuan dahulu penjahit?"
"Benar, usaha itu tidak menguntungkan lagi. Udara di
Marseilles demikian panasnya sehingga saya tidak heran
kalau orang di sana sudah tidak berkeinginan lagi memakai
baju . . . Berbicara tentang udara panas, tidakkah Tuan
ingin minum sesuatu?"
"Ya, coba minta anggur terbaik yang ada dan kita akan
lanjutkan percakapan kita."
Ketika Caderousse kembali beberapa menit kemudian, ia
mendapatkan padri itu sedang duduk dengan kedua sikunya
di atas meja.
"Apakah Tuan sendiri di sini?" tanya padri itu ketika
pemilik kedai meletakkan gelas dan botol anggur di
hadapannya.
"Sama dengan sendiri. Isteri saya sudah sakit-sakitan
sehingga tidak dapat membantu."
"Oh, Tuan sudah beristeri?" kata padri itu dengan suatu
perhatian tertentu. Dia melayangkan pandangannya ke
sekeliling ruangan seakan-akan menaksir nilai semua
perabotan yang berada dalam kedai itu.
"Tuan lihat, saya tidaklah kaya," kata Caderousse
dengan nada mengeluh. "Tetapi apa yang dapat Tuan
harapkan? Menjadi orang jujur bukan jaminan untuk
menjadi kaya di dun a ini."
Padri memandangnya dengan tajam.
"Ya, orang jujur," Caderousse mengulang. "Itulah satusatunya
yang dapat saya banggakan, dan pada jaman
sekarang ini tidaklah banyak orang yang dapat mengatakan
begitu."
'Tuan beruntung sekali apabila yang Tuan banggakan itu
benar," kata padri, "karena saya yakin betul bahwa lambat
afau cepat, yang baik akan mendapat imbalan kebaikan dan
yang buruk akan dihukum."
"Sebagai padri Tuan harus berkata begitu," kata Caderousse
dengan pahit, "tetapi setiap orang mempunyai
kebebasan untuk tidak mempercayai ucapan itu."
"Itu keliru, karena mungkin saya dapat membuktikan
kebenaran ucapan saya."
"Apa maksud Tuan?" tanya Caderousse heran.
'Terlebih dahulu saya harus yakin bahwa Tuan benarbenar
orang yang saya cari . , . Dalam tahun 1814 atau
1815, apakah Tuan mengenal seorang pelaut bernama
Dantes?"
"Dantes? Ya, saya mengenalnya, Edmond Dantes yang
malang. Dia salah seorang dari sahabat baik saya. Apa
Tuan mengenalnya juga? Apakah ia masih hidup? Apakah
sudah bebas? Apakah dia berbahagia?"
"Ia sudah meninggal dalam penjara, hancur dan putus
asa."
Wajah Caderousse berubah pucat. Dia memalingkan
mukanya dan padri itu melihat dia menghapus air mata
dengan sudut saputangan merah yang membelit kepalanya.
"Kasihan!" katanya perlahan-lahan. "Itu satu bukti lagi
untuk kebenaran seperti apa yang saya katakan tadi, bahwa
Tuhan hanya baik kepada yang jahat saja. Ah, dunia ini
makin lama makin buruk saja."
'Tampaknya Tuan sangat menyukainya," kata padri Itu.
"Ya, saya sangat mencintainya, sekalipun saya harus
mengakui bahwa pernah saya iri sebentar karena ke bahagiannya.
Tetapi sejak itu. Tuan boleh yakin, saya sangat
bersedih karena nasib buruk yang menimpanya'
Kedua-duanya diam. Dalam kediaman padri itu menatap
wajah Caderousse tajam-tajam seakan-akan mencari
sesuatu pada air mukanya.
"Apakah Tuan mengenalnya?" tanya Caderousse lagi.
"Saya diminta datang ke ranjang kematiannya untuk
memberikan hiburan keagamaan yang terakhir. Dan di
sana, dalam ranjang kematiannya dia bersumpah dengan
nama Yesus Kristus bahwa ia tidak mengetahui sebab
penangkapan atas dirinya.'
"Itu benar, dia tidak akan mengetahuinya. Tidak, ia tidak
berdusta."
"Oleh sebab itu dia meminta kepada saya untuk menyelidiki
sebab kecelakaannya yang tidak pernah diketahuinya
sendiri, dan untuk menghilangkan noda-noda yang
mengotori kebersihan hatinya. Seorang Inggris kaya yang
tinggal di penjara itu juga, tetapi kemudian dibebaskan pada
masa pemerintahan Raja yang kedua, mempunyai sebuah
intan yang besar sekali nilainya. Ketika dia meninggalkan
penjara, ia memberikannya kepada Dun tes sebagai balas
jasanya karena telah merawatnya ketika sakit. Dantes tidak
mau menggunakannya untuk menyuap sipir, karena dia
khawatir, setelah menerima intan itu si sipir akan
mengkhianatinya. Dia menyimpan intan itu baik-baik
dengan harapan pada suatu saat dapat bebas kembali."
"Tentu nilainya tinggi sekali, seperti kata Tuan tadi,"
kata Caderousse, matanya berkilat-kilat.
"Segala sesuatu itu relatip sekali,” jawab padri. "Untuk
Dantes berharga sekali. Intan itu ditaksir berharga lima
puluh ribu frank."
"Lima puluh ribu frank!" kata Caderousse terbelalak.
"Sekarang ada pada saya. Dantes telah mengangkat saya
untuk melaksanakan wasiatnya. 'Saya mempunyai tiga
orang sahabat dan seorang kekasih, katanya kepada saya,
'dan saya yakin mereka masih merasa kehilangan saya.
Salah seorang bernama Caderousse.'"
Badan Caderousse gemetar,
"Yang satu lagi bernama Danglars," lanjut padri, sambil
pura-pura tidak melihat air muka Caderousse-dw, "dan
yang ketiga, saingan saya tetapi juga menyukai saya,
namanya Fernand. Sedangkan kekasih saya bernama
Mercedes. Pergilah ke Marseilles, jual Intan itu dan
uangnya bagilah jadi lima, kemudian berikan kepada
mereka masing-masing, sebab hanya merekalah yang
mencintai saya di dunia ini."
"Mengapa Tuan katakan lima bagian?" tanya
Caderousse. "Tadi Tuan hanya menyebut empat nama."
“Yang kelima telah meninggal, ia adalah ayah Dantes.
Saya mendengar berita kematiannya di Marseilles," kata
padri selanjutnya, sambil berusaha menunjukkan air muka
tak peduli, "tetapi kejadian itu telah lama sekali sehingga
saya- tidak berhasil mendapatkan keterangan-keterangan
lainnya. Barangkali Tuan mengetahuinya?'
"Tak ada yang lebih mengetahui dari saya. Saya tinggal
satu atap dengannya . . . Oh, ya, dia meninggal kurang dari
satu tahun sejak anaknya menghilang. Kasihan orang tua
itu!"
"Apa sebab kematiannya?"
"Saya kira dokter menyebut penyakitnya radang usus,
yang lain mengatakan ia mati karena kesedihan. Tetapi saya
yang melihatnya sehari-hari sampai saat terakhirnya,
cenderung mengatakan ia mati karena . . . " tiba-tiba saja
Caderousse berhenti.
"Karena apa?" tanya padri tak sabar.
"Karena kelaparan!"
"Karena kelaparan!" padri berteriak heran, kemudian
terloncat dari tempat duduknya. "Bagaimana mungkin,
bahkan binatang yang paling hina pun tidak ada yang mati
kelaparan. Seekor anjing yang berkeliaran sepanjang jalan
akan selalu menemukan seseorang yang sudi melemparkan
sepotong roti kepadanya! Dan Tuan mengatakan ada yang
mati kelaparan di tengah orang-orang yang mengaku
dirinya Kristen! Terlalu! Betul-betul terlalu!"
"Saya mengatakan apa yang sebenarnya," kata Caderousse.
"Dan engkau keliru mengatakan itu!" terdengar suara
dari tangga.
Kedua orang itu memalingkan kepala dan mereka melihat
isteri Caderousse yang pucat, yang memaksakan diri
keluar dari kamar duduk di ujung tangga dan
mendengarkan percakapan suaminya dengan tamu.
Kepalanya diletakkan pada kedua lututnya.
"Ini bukan urusanmu," kata Caderousse. 'Tuan ini
meminta beberapa keterangan. Sangat tidak sopan kalau
aku menolaknya."
"Ya, tetapi juga tidak bijaksana menceriterakan itu.
Bagaimana kau mengetahui maksudnya meminta kau berbicara,
bodoh?"
"Tak ada yang perlu ditakutkan, Nyonya," kata padri,
"sepanjang ia berbicara jujur. Saya dapat memastikan
bahwa tak akan ada kesukaran yang menimpa Nyonya
karena saya."
Isteri Caderousse menggumamkan kata-katanya yang
tidak jelas terdengar meletakkan kembali kepalanya pada
kedua lututnya dan badannya menggigil lagi karena
demam, membiarkan suaminya meneruskan
percakapannya, tetapi memasang telinganya demikian rupa
hingga tak ada satu kata pun dari percakapan mereka yang
terlepas dari pendengarannya.
"Kalau orang tua itu meninggal dalam keadaan begitu,
mesti berarti bahwa selama itu dia telah diabaikan oleh
setiap orang," kata padri.
"Tidak, Mercedes dan Tuan Morrel tidak mengabaikannya.
Orang tua itu sangat membenci Fernand, Fernand itu,"
kata Caderousse dengan senyum menyindir, "yang oleh
Dantes disebut sebagai salah seorang sahabatnya."
"Apakah memang dia bukan sahabatnya?" tanya padri.
"Gaspard!" kata suara di pucuk tangga. "Hati-hati!"
Jawab Caderousse atas gangguan isterinya itu hanya
berupa sikap marah saja. "Mungkinkah kita menjadi
sahabat dari orang yang menginginkan sekali isteri kita?"
katanya. "Dantes berhati emas, dia menganggap semua
orang kawan nya . . . Edmond yang malang! Saya kira,
sebaiknya dia tidak mengetahui semua ini. Akan terlalu
sulit bagi dia memanfaatkan mereka. Dan apa pun kata
orang, saya lebih takut kepada kutukan orang yang
menjelang mati daripada kebencian seorang yang masih
hidup."
"Tahukah Tuan bagaimana Fernand mencelakakan
Dantes?"
'Tentu."
"Ceriterakanlah."
“Gaspard. Terserahlah!" teriak isterinya dari atas. 'Tetapi
kalau kau mau mendengarku, jangan bicara!"
"Sekali ini, kukira engkau benar," kata Caderousse.
"Berarti Tuan tidak bermaksud menceriterakannya kepada
saya?"
"Apa gunanya. Seandainya Edmond masih hidup dan
datang bertanya kepada saya siapa kawan dan musuhnya
yang sebenarnya, saya akan memberitahukannya. Tetapi
menurut ceritera Tuan, dia sekarang telah mati, sehingga
tidak mungkin lagi dia membenci dan melakukan pembalasan.
Biarkanlah yang sudah lalu, lewat."
"Setujukah Tuan kalau saya memberikan hadiah ini
kepada mereka, yang menurut anggapan Tuan kawankawan
palsu, sebagai imbalan kepada rasa
persahabatannya?"
"Tidak, tentu tidak," kata Caderousse. "Lagipula apa arti
hadiah Edmond ini bagi mereka? Setitik air dalam
samudera!"
"Benar, tetapi jangan lupa bahwa mereka dapat menghancurkanmu
dengan kelingkingnya, kalau mereka mau,"
sela isterinya.
"Maksud Tuan bahwa mereka telah menjadi kaya dan
berpengaruh?" tanya padri.
"Apa Tuan tidak mengetahuinya?"
"Tidak. Coba ceritakan."
Caderousse termenung sejenak. 'Tidak," katanya, "terlalu
panjang."
"Tentu saja Tuan bebas untuk menolak, kawan," kata
padri dengan suara acuh tak acuh. "Dan saya menghargai
sekali keengganan Tuan berbicara. Kita tidak akan membicarakan
lagi soat ini dan saya akan menjual intan ini."
Dia mengambil intan dari dalam kantongnya dan membiarkannya
berkilat-kilat di hadapan mata Caderousse yang
terbelalak.
"Lihat ke mari!" Caderousse memanggil isterinya.
"Intan!" kata Nyonya Caderousse, berdiri kemudian
menuruni tangga. "Dari mana ini?"
"Kau tidak mendengarnya? Ini intan yang ditinggalkan
Dantes untuk ayahnya, kekasihnya dan ketiga kawannya,
Fernand, Danglars dan aku."
"Orang yang berkhianat bukan sahabat," kata Nyonya
Caderousse.
"Ya, itu yang kukatakan tadi," kata Caderousse. "Memberi
hadiah kepada pengkhianat hampir sama dengan
mencemarkan kesucian, bahkan barangkali sama dengan
kejahatan."
"Dan itu tanggung jawab Tuan," kata padri dengan
tenang sambil memasukkan kembali intan itu ke dalam saku
jubahnya. 'Tolong katakan di mana saya dapat menemui
kawan-kawan Dantes itu agar saya dapat melaksanakan
keinginannya yang terakhir."
Butir-butir keringat yang besar bercucuran di dahi
Caderousse. Dia melihat padri berdiri, berjalan ke arah
pintu hendak melihat kudanya, kemudian kembali lagi.
Caderousse dan isterinya saling berpandangan dengan air
muka yang tak terlukiskan.
"Intan itu bisa menjadi milik kita," kata Caderousse.
"Kaupikir begitu?"
"Seorang padri tak akan berbohong."
"Lakukan apa saja yang kauanggap baik," kata isterinya.
"Aku serahkan kepadamu." Dia menaiki lagi tangga dengan
terhuyung-huyung. Di ujung tangga ia membalikkan badannya
sebentar dan berkata lagi, "Pikirkan baik-baik,
Gaspard!"
"Aku sudah membuat keputusan" kata Caderousse.
"Apa yang telah Tuan putuskan?" tanya padri,
"Mengatakan segala sesuatu kepada Tuan."
"Saya kira itulah yang terbaik. Bukan karena saya ingin
mengetahui apa yang ingin Tuan rahasiakan, tetapi agar
saya dapat membagikan warisan Dantes sesuai dengan
kehendaknya."
"Mudah-mudahan" kata Caderousse, pipinya merah
penuh harapan dan ketamakan.
"Baik, saya sudah siap untuk mendengarkan."
“Pertama-tama," Caderousse memulai, "saya harus
minta Tuan berjanji dahulu."
"Apa?"
"Saya harap Tuan berjanji bahwa seandainya pada suatu
saat Tuan hendak memanfaatkan keterangan yang akan
saya ceriterakan nanti, Tuan tidak akan mengatakan kepada
siapa pun juga bahwa Tuan mendengar dari saya, sebab
orang-orang yang akan saya ceriterakan itu dapat dengan
mudah menghancurkan saya semudah mereka menghancurkan
sebuah gelas."
"Jangan khawatir, kawan. Saya seorang padri dan saya
tidak pernah men ceriterakan kembali pengakuan seseorang
yang telah disampaikan kepada saya- Harap diingat pula,
bahwa satu-satunya tujuan kita hanyalah melaksanakan keinginan
terakhir sahabat kita. Sebab itu berbicaralah terus
terang tanpa dicampuri rasa benci. Mungkin saya tidak
akan pernah mengenal orang-orang yang akan Tuan sebut.
Lagi pula saya seorang Italia, bukan Perancis, dan saya
akan segera kembali ke biara yang saya tinggalkan hanya
untuk memenuhi pesan orang yang berada di ambang
kematian."
Caderousse merasa yakin sudah. "Kalau begitu," katanya,
"saya akan menceriterakan kebenaran yang sebenarbenarnya
tentang orang-orang yang di sangka Edmond
malang itu sebagai sahabat-sahabat yang baik dan setia.
Ceritera ini menyedihkan. Tuan telah mengetahui permulaannya,
bukan?"
"Ya, Edmond telah menceritakan semuanya sampat dia
ditangkap pada hari pesta pertunangannya”
"Nah, setelah Edmond ditangkap, Tuan Morrel pergi
mencari keterangan. Berita yang diterima sangat menyedihkan.
Ayah Edmond pulang sendirian dan mengurung diri di
kamarnya seharian penuh. Semalaman dia tidak tidur. Saya
tinggal satu lantai di bawah dia, oleh sebab itu saya dapat
mendengar ia berjalan hilir-mudik dalam kamarnya
semalam suntuk. Saya pun tidak dapat tidur. Saya merasa
sangat terganggu karena kesedihan orang tua itu. Setiap
langkahnya serasa menyayat hati, seakan-akan dia berjalan
di atas dada saya.
Esok harinya Mercedes datang di Marseilles hendak
meminta pertolongan Tuan de Villefort, namun tidak berhasil.
Kemudian ia mengunjungi ayah Dantes. Ketika dia
melihat betapa parahnya kesedihan orang tua itu dan
mengetahui pula bahwa ia tidak tidur dan tidak makan
sejak hari kemarin, Mercedes mengajak orang tua itu
tinggal di rumahnya untuk dirawat baik-baik. Tetapi orang
tua itu menolak! Tidak,' katanya, ‘aku tidak akan
meninggalkan tempat ini. Anakku mencintaiku lebih dari
apapun juga di dunia ini, dan kalau dia keluar dari penjara
tempat inilah yang paling dahulu akan dikunjunginya. Apa
kata dia nanti kalau aku tidak ada di sini?'
Mulailah dia mengasingkan diri. Tuan Morrel dan Mercedes
seringkali mengunjunginya, tetapi pintu kamarnya
selaki terkunci. Meskipun saya tahu betul bahwa ia ada di
dalam, dia menolak setiap tamu. Pada suatu hari, ketika dia
mau menerima Mercedes, dia berkata, Percayalah, anakku
Dantes telah meninggal. Bukan kita yang menunggu dia,
tetapi dia sedang menunggu kita. Saya beruntung karena
lebih tua. Sayalah yang paling dahulu akan bertemu
kembali dengan dia!'
Betapapun baik kita, akhirnya kita tidak akan menemui
orang, yang dapat membuat kita sedih. Lama-lama ayah
Dantes benar-benar hidup menyendiri. Orang-orang yang
sering saya lihat menemuinya hanyalah orang-orang yang
tidak saya kenal, yang kalau keluar lagi dari kamar orang
tua itu selalu membawa sesuatu dalam bungkusan. Baru
kemudian saya ketahui apa yang terbungkus itu. Orang tua
itu menjual barang-barang miliknya yang tidak banyak itu
demi hidupnya, sampai akhirnya segalanya terjual habis.
Sewa kamarnya telah tertunggak tiga bulan. Pemilik rumah
mengancam akan mengusirnya, kemudian bersedia
memberi tempo selama satu minggu. Saya mengetahuinya
karena pemilik rumah itu singgah sebentar di tempat saya.
Sejak hari itu saya masih mendengar dia hilir-mudik di
kamarnya selama tiga hari, tetapi pada hari keempat saya
tidak mendengar sesuatu pun. Segera saya naik ke atas.
Pintu kamarnya terkunci, saya mengintai dari lubang kunci.
Dia kelihatan sangat pucat dan lesu sekali. Saya mengira
dia sakit payah. Saya mengabari Tuan Morrel dan
Mercedes. Mereka segera datang, Tuan Morrel membawa
seorang dokter yang setelah memeriksanya mengatakan
ayah Dantes terkena radang usus, dan menyuruhnya
berpuasa. Ketika itu saya ada di sana, dan saya tidak akan
dapat melupakan senyum yang tersungging di wajah orang
tua itu ketika ia mendengar nasihat dokter untuk berpuasa.
"Setelah kejadian itu dia tidak lagi mengunci kamarnya;
dia mempunyai alasan yang kuat untuk tidak makan. Kali
lain ketika Mercedes menjenguknya, keadaannya sudah
demikian parah sehingga Mercedes sekali lagi mengajaknya
pindah agar dapat menjaga dan merawatnya sehari-hari.
Namun, orang tua itu menolak lagi. Tuan Morrel meninggalkan
dompet berisi uang di dekat perapian, namun orang
tua itu tetap menolak makan. Akhirnya setelah sembilan
hari dalam keadaan demikian, dia meninggal Sesaat
sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir ia sempat
mengutuk mereka yang telah mencelakakan dirinya dan
berkata kepada Mercedes, 'Kalau engkau bertemu dengan
Edmond, katakan bahwa aku meninggal sambil berdo'a
untuk dia”
Padri berdiri dan berjalan-jalan sebentar dalam ruangan.
Setelah beberapa saat ia berkata dengan nada agak marah,
"Sungguh nasib yang sangat buruk!"
"Dan yang lebih buruk lagi karena manusia yang
menyebabkannya, bukan Tuhan."
"Sekarang bagaimana tentang kawan-kawan Dantes itu,"
kata padri. “Tetapi ingat," katanya lagi sedikit mengancam.
"Tuan berjanji akan menceriterakan semuanya. Siapakah
mereka itu yang menyebabkan anaknya mati karena
keputusasaan dan ayahnya mati karena kelaparan?"
"Dua orang yang iri kepadanya. Yang satu karena cinta,
yang lain karena benci; Fernand dan Danglars."
"Bagaimana diwujudkannya iri hari itu?"
"Mereka mengadukan Dantes sebagai anggota kaum
Bonaparte."
"Yang mana yang mengadukannya. Siapa yang sebenarnya
bersalah?"
"Keduanya. Seorang menulis suratnya dan yang seorang
lagi mengeposkannya."
"Di mana surat itu ditulis?"
"Dalam kedai minum, sehari sebelum pesta
pertunangan."
"Tuan pun ada di sana!" kata padri tiba-tiba.
"Siapa yang mengatakan bahwa saya di sana?" tanya
Caderousse heran.
Padri sadar, dia keseleo lidah. Segera ia
memperbaikinya,
"Tak seorang pun. Karena Tuan mengetahui sampai
kepada hal yang sekecil-kecilnya maka kesimpulan saya
Tuan mesti turut hadir."
“Memang benar," kata Caderousse dengan suara agak
tertekan. "Saya ada di sana."
"Dan tuan tidak berusaha mencegah mereka," kata padri.
"Berarti tuan pun turut terlibat."
"Mereka membuat saya mabuk sehingga hampir tak
sadarkan diri. Saya memprotes maksud mereka sekuat
kemampuan saya dalam keadaan demikian, namun mereka
menjawab bahwa mereka hanya berolok-olok saja."
"Ternyata keesokan harinya Tuan melihat bahwa itu
bukan olok-olok. Tuan pun ada di sana ketika Dantes
ditangkap."
"Benar, dan saya sudah berniat mengatakan kepada
Komisaris Polisi apa yang saya ketahui, tetapi Danglars
menghalangi saya dengan mengatakan 'Seandainya Dantes
benar-benar berdosa, setiap orang yang membelanya akan
dianggap sebagai kakitangannya.' Saya selalu takut terlibat
dalam urusan polisi, oleh karena itu saya menutup mulut.
Saya akui bahwa sikap itu sikap pengecut, tetapi saya kira
bukan suatu kejahatan."
"Saya mengerti. Tuan hanya tidak berdaya mencegahnya."
"Ya, itulah yang tepat," kata Caderousse, "dan saya
masih dan tetap menyesalkan kejadian itu. Sering saya
meminta ampun kepada Tuhan. Itulah satu-satunya perbuatan
yang sangat menodai seluruh hidup saya sampat
sekarang, dan saya yakin itu pulalah yang menyebabkan
nasib saya seburuk ini. Sampai sekarang saya masih harus
menebus dosa karena terlalu mementingkan diri sendiri
ketika itu. Bila isteri saya mengeluh saya selalu menjawab:
sabarlah, ini kehendak Tuhan!” Caderousse menundukkan
kepala menunjukkan penyesalan yang sedalam-dalamnya.
"Tuan telah berbicara terus terang," kata padri. "Orang
yang menyesali dosanya seperti yang Tuan lakukan, patut
menerima pengampunan."
"Sayangnya," jawab Caderousse, "Edmond telah meninggal
dan dia tidak pernah memaafkan saya."
"Dia tidak mengetahui persoalannya."
"Mungkin ia mengetahuinya sekarang. Kata orang,
orang yang meninggal mengetahui segala-gala."
Keduanya diam. Padri berdiri kemudian berjalan bolakbalik
sambil berpikir beberapa saat. Lalu dia duduk
kembali. "Tadi Tuan menyebut nama Morrel beberapa kali.
Siapakah dia?"
"Pemilik kapal Le Pharaon."
"Apa peranan dia dalam ceritera sedih ini?"
'Peranan seorang yang jujur, berani dan setia-kawan. Dia
pernah mengusahakan pembebasan Dantes paling kurang
dua puluh kali. Ketika Kaisar Napoleon berkuasa kembali,
ia menulis surat, memohon, balikan mengancam yang
berwewenang sehingga ketika Napoleon jatuh dan Raja
berkuasa kembali ia diburu-buru sebagai seorang
Bonapartis. Seringkah ia menengok ayah Dantes seperti
telah saya katakan tadi, dan menawarkan kepada ayah
Dantes untuk tinggal bersama dia di rumahnya. Sehari
sebelum ayah Dantes meninggal, dia meninggalkan
dompetnya. Dengan uang itu biaya penguburan dan
hutang-hutang ayah Dantes terbayar seluruhnya. Dengan
demikian orang tua itu sekurang-kurangnya dapat
meninggal dalam keadaan seperti semasa hidupnya: tidak
pernah merugikan orang lain. Dompet itu masih ada pada
saya.”
"Apakah Tuan Morrel masih hidup?"
"Masih."
"Mestinya ia diberkahi Tuhan, mestinya ia menjadi lebih
kaya dan lebih berbahagia sekarang-”
Caderousse tersenyum pahit dan berkata. "Ya, sama
berbahagianya seperti saya."
'Maksud Tuan, Tuan Morrel dalam kesukaran?"
"Sekarang ia sedang berada dalam jurang kemiskinan,
dan lebih buruk dari itu, dalam jurang kehilangan kehormatan.
Setelah bekerja dengan keras selama dua puluh lima
tahun, setelah menduduki tempat yang paling terhormat
dalam dunia perdagangan di Marseilles, nasib membawa
Tuan Morrel kepada kehancuran. Lima buah kapalnya
tenggelam dalam tempo dua tahun dan tiga perusahaan
lainnya telah bangkrut. Harapannya sekarang bergantung
kepada Le Pharaon, satu-satunya kapal yang masih tinggal,
kapal tempat Dantes bekerja dahulu. Le Pharaon diharapkan
datang dari India membawa bahan celup merah dan
ungu. Kalau Le Pharaon tenggelam juga, habislah sudah
dia."
"Apakah Tuan Morrel mempunyai anak isteri?"
"Ya, isterinya seorang yang berhati bersih- Ia pun
mempunyai seorang anak gadis yang hampir menikah
dengan pemuda pilihannya, tetapi pihak keluarga pemuda
tidak menyetujui perkawinan dengan anak seorang yang
hampir bangkrut. Juga ia mempunyai seorang anak laki-laki
berpangkat letnan di Angkatan Darat. Tetapi keluarga itu
justru lebih menambah kesedihannya. Apabila dia hidup
seorang diri, mungkin dia sudah mengakhiri segala-galanya
dengan menembak kepalanya sendiri."
"Menyedihkan sekali," kata padri. "Dan bagaimana
dengan Danglars? Dia yang paling bersalah, bukan? Si
penghasut?"
"Dia meninggalkan Marseilles dan bekerja pada seorang
Spanyol pemilik bank. Ketika pecah perang Perancis-
Spanyol ia dikontrak untuk mengisi kebutuhan tentara
Perancis, dan beruntung besar. Uangnya diputarkan lagi
dan menjadi berlipatganda. Setelah isteri pertamanya meninggal
— anak pemilik bank bekas majikannya itu — ia
menikah lagi dengan seorang Janda bernama Nyonya de
wikz Nargonne, puteri seorang berkedudukan tinggi di
Istana yang disukai oleh Raja. Dia telah berhasil menjadi
jutawan, dan sekarang diangkat menjadi bangsawan dengan
gelar Baron. Namanya sekarang: Baron Danglars,
rumahnya yang megah terletak di Rue du Mont-Blanc,
dengan sepuluh ekor kuda di kandang, enam pelayan di
ruang tamu, dan saya tidak tahu berapa juta frank dalam
pundi-pundinya.”
"Bagaimana dengan Fernand?" tanya padri. "Bagaimana
seorang nelayan Catalan miskin tanpa pendidikan dapat
menjadi kaya raya? Terus terang, saya tidak dapat mengerti.”
"Tak seorang pun dapat mengerti. Mesti ada suatu
rahasia dalam kehidupannya yang tidak diketahui orang,"
"Tetapi usaha apa saja kiranya yang menyebabkan ia
menjadi kaya dan berpengaruh?"
"Ya, Fernand masuk tentara Napoleon beberapa saat
sebelum kekuasaannya direbut kembali. Dia ditempatkan
dalam resimen yang segera akan diberangkatkan ke medan
perang. Dia turut dalam pertempuran Ligny. Pada malam
pecahnya pertempuran itu dia sedang bertugas mengawal
pintu seorang jendral yang mempunyai hubungan rahasia
dengan musuh. Pada malam itu juga jendral itu melarikan
diri ke pihak Inggris. Dia mengajak Fernand dan Fernand
meninggalkan posnya lari bersama jendral itu.
"Ini akan berarti ancaman pengadilan militer apabila
Napoleon tetap berkuasa, tetapi sebaliknya, akan dihargai
oleh dinasti Bourbon apabila mereka dapat kembali merebut
kekuasaan. Itulah sebabnya pangkatnya menjadi letnan
ketika kembali ke Perancis, kemudian kapten ketika pecah
perang dengan Spanyol, pada saat Danglars berhasil mengumpulkan
kekayaan. Oleh karena Fernand orang
Spanyol, dia dikirim ke Madrid sebagai mata-mata. Di sana
ia berjumpa dengan Danglars, mempererat lagi
persahabatannya, memberikan jaminan dukungan kepada
jendral kaum kerajaan di seluruh negeri Spanyol, mengantar
resimennya melalui jalan-jalan yang hanya diketahui sendiri
olehnya, menunjukkan pengabdian yang sedemikian rupa
selama tugas yang pendek itu sehingga akhirnya ia
dinaikkan lagi pangkatnya menjadi kolonel, menerima
bintang kehormatan dan yang terakhir mendapat gelar
bangsawan: Count."
"Nasib! Nasib!" kata padri- kepada dirinya sendiri.
"Ya, nasib, dan itu belum semua. Ketika perang dengan
Spanyol berakhir, jabatan Fernand terancam oleh karena
tiada perang. Tampaknya perdamaian akan lama sekali
meliputi Eropa, Pada suatu saat Yunani berontak terhadap
Turki dan memulai kemerdekaannya. Semua mata memandang
ke Atena. Banyak negara yang bersimpati dan membantu
Yunani. Fernand meminta dan mendapatkan izin
untuk berdinas di Yunani tanpa kehilangan pangkatnya di
Perancis Beberapa lama kemudian terbetik berita bahwa
Count Morcef — nama Fernand sekarang — memasuki
dinas pada Ali Pasha dengan pangkat brigadir jendral.
Seperti Tuan ketahui, Ali Pasha tewas, tetapi sebelum
meninggal, ia menghibahkan sejumlah uang untuk Fernand.
Fernand kembali ke Perancis, dinaikkan pangkatnya
menjadi letnan jendral. Sekarang dia tinggal di rumahnya
yang sangat megah di Paris, di Rue du Hefder No. 27."
Padri membuka mulutnya, ragu-ragu sebentar, kemudian
berkata dengan agak sukar, "Lalu, bagaimana beritanya
tentang Mercedes? Saya dengar dia menghilang."
"Menghilang? Ya, dia menghilang, seperti menghilangnya
matahari di malam hari untuk kembali bersinar lebih
cerah keesokan harinya."
"Apakah dia pun berhasil menumpuk kekayaan?" tanya
padri dengan senyum menyindir.
"Sekarang Mercedes menjadi salah seorang nyonya terkemuka
di Paris," kata Caderousse. "Pada mulanya ia
sangat terpukul karena kehilangan Dantes. Tetapi saya
katakan tadi, ia pernah meminta bantuan Tuan de Vitlefort
dan bagaimana setianya terhadap ayah Dantes. Di tengahtengah
keputusasaannya, ia dipukul lagi dengan kesusahan
yang lain: Fernand meninggalkannya masuk tentara.
Mercedes sama sekali tidak mengetahui apa yang diperbuat
Fernand kepada Dantes, dan ia mencintainya seperti
seorang saudara. Sepeninggalnya, Mercedes merasa
kesepian. Tiga bulan berlalu tanpa berita, baik dari Edmond
maupun dari Fernand. Yang dihadapinya waktu itu
hanyalah seorang tua yang secara perlahan-lahan menuju
kematiannya karena putus harapan.
Pada suatu malam Fernand datang dengan mengenakan
seragam letnan. Kepergian Fernand bukan menjadi sebab
utama kesedihan Mercedes. Namun setidak-tidaknya ia
merupakan sebagian dari kehidupannya, oleh sebab itu,
Mercedes menerimanya dengan senang hati, ketika Fernand
pulang. Fernand keliru, ia mengira kegembiraan Mercedes
itu berarti mencintainya, padahal hanya merupakan kegembiraan
orang yang terlepas sementara dari rasa kesepian.
Ayah Dantes meninggal, seperti telah saya katakan tadi.
Bila dia tetap hidup, Mercedes tak akan kawin dengan yang
lain. Fernand mengetahui hal ini. Ketika mendengar bahwa
ayah Dantes telah meninggal, dia pulang. Ia mengingatkannya
lagi bahwa ia masih mencintai Mercedes.
Mercedes meminta tempo selama enam bulan untuk berkabung
dan menunggu Dantes."
"Itu berarti delapan belas bulan lamanya sejak Dantes
ditangkap " kata padri dengan senyum pahit. Kemudian ia
menggumamkan satu bait dari sajak seorang Inggris:
"Lemah, itulah wanitai"
"Enam bulan setelah itu," kata Caderousse selanjutnya,
"perkawinan dilangsungkan di Englise des Accoules "
"Gereja yang juga direncanakan menjadi tempat perkawinan
dengan Edmond," kata padri. "Perbedaannya hanya
laki-lakinya."
"Sekalipun Mercedes tampak tenang setelah perkawinan
itu namun banyak orang tahu, bahwa ia pernah jatuh
pingsan ketika berjalan lewat kedai tempat ia merayakan
pesta pertunangannya delapan belas bulan yang lalu dengan
laki-laki yang dicintainya dan tetap dicintainya.
Saya melihat Fernand ketika itu tampak lebih berbahagia,
namun jelas juga tampak masih mempunyai
kekhawatiran kalau-kalau Edmond kembali setiap saat. Tak
lama setelah menikah, mereka pindah. Perkampungan
Catalan dirasakannya terlalu banyak bahaya dan kenangkenangan."
"Pernah Tuan menjumpai lagi Mercedes sejak itu?"
"Pernah, pada waktu perang dengan Spanyol saya
melihatnya di Perpignan, tempat ia ditinggalkan Fernand ke
Spanyol. Kesibukannya, mendidik puteranya."
Tanpa disadari padri berteriak heran, "Puteranya!" "Ya,
Albert."
"Tetapi bagaimana ia dapat mendidiknya? Menurut
ceritera Edmond, Mercedes hanyalah seorang anak nelayan
yang sederhana, cantik tapi tidak berpendidikan."
"Oh!" kata Caderousse. "Rupanya ia tidak .mengenal
betul kekasihnya. Kalau mahkota hanya diperuntukkan bagi
wajah yang tercantik dan kepala yang paling cerdas,
Mercedes sudah menjadi ratu sekarang. Bersamaan dengan
berkembangnya kekayaannya, dia sendiri pun turut berkembang.
Dia belajar melukis, dia mempelajari musik, dia
mempelajari segala. Tetapi antara kita saja — saya kira dia
mempelajari itu semua semata-mata hanya untuk mencari
kesibukan mengikis masa lampau. Dia telah kaya, dia telah
menjadi nyonya bangsawan, tetapi,. .."
'Tetapi apa?"
"Tetapi saya yakin dia tidak berbahagia."
"Apa yang menyebabkan Tuan berpikir begitu?"
"Ya, ketika kemelaratan saya hampir tak tertahankan
lagi, saya berfikir mungkin sekali kawan-kawan lama saya
mau menolong. Saya pergi kepada Danglars, tetapi menerima
pun dia tidak mau. Sedangkan Fernand hanya menyuruh
pelayannya memberikan uang seratus frank."
"Berarti Tuan tidak menjumpai kedua-duanya?"
"Tidak, tetapi Nyonya de Morcef melihat saya. Ketika
saya akan pulang sebuah dompet jatuh di muka kaki saya,
isinya dua puluh lima louis. Saya melihat ke atas dan masih
sempat melihat Mercedes menutup kain jendela."
"Dan bagaimana dengan Tuan de Villefort?" tanya padri.
"Dia bukan kawan saya, bahkan saya tidak
mengenalnya. Sebab itu saya tidak meminta apa-apa
kepadanya."
'Tetapi tahukah Tuan bagaimana beritanya tentang dia
dan peranan apa yang dimainkannya dalam kecelakaan
Edmond?"
"Tidak. Saya hanya tahu, beberapa waktu setelah ia
menangkap Edmond, dia kawin dengan Nona de Saint-
Meran, kemudian meninggalkan Marseilles. Tak perlu di’
ragukan lagi, kepadanya pun keberuntungan tersenyum
ramah seperti kepada yang lain. Pasti dia telah kaya seperti
Danglars dan mendapatkan kehormatan seperti Fernand.
Hanya saya sendiri yang tetap miskin, hina dan dilupakan
oleh Tuhan."
"Keliru, kawan," kata padri. "Kadang-kadang Tuhan
seperti melupakan, ketika hukumNya belum berlaku, tetapi
pada suatu saat, lambat atau cepat Beliau akan
menunjukkan keadilanNya. Dan inilah salah satu
buktinya." Sambil berkata begitu padri mengeluarkan lagi
intan dari dalam kantongnya, memberikannya kepada
Caderousse. "Ambillah," katanya. "Itu milik Tuan."
"Apa! Buat saya sendiri?" teriak Caderousse. 'Tuan
berolok-olok barangkali?"
"Intan ini harus dibagi antara kawan-kawan Dantes,
tetapi ternyata ia hanya mempunyai seorang kawan. Ambillah
dan jual. Itu berharga lima puluh ribu frank, seperti tadi
saya katakan. Saya harap mudah-mudahan jumlah itu
cukup besar untuk menghentikan kemelaratan Tuan. Ambillah,
tetapi harap ditukar . . ." Caderousse yang sudah
menyentuh intan itu menarik lagi tangannya.
Padri tersenyum. "Dengan dompet sutera merah yang
ditinggalkan Tuan Morrel di tempat perapian ayah Dantes.
Bukankah Tuan masih menyimpannya?"
Caderousse, lebih terheran-heran lagi, pergi ke sebuah
lemari besar, membukanya lalu mengeluarkan sebuah
dompet yang sudah buram. Padri menerimanya dan
memberikan intan kepada Caderousse. Kemudian, selagi
Caderousse masih terbata-bata mengucapkan terima kasihnya,
ia meninggalkan ruangan, menaiki kudanya,
melambaikan tangan kepada Caderousse, kemudian
melarikan kudanya ke arah datangnya tadi.
Ketika Caderousse membalikkan badan, ternyata
isterinya sudah ada di belakangnya. Mukanya lebih pucat
dari biasa. "Apakah aku tidak salah dengar?"
'Tentang apa? Bahwa dia memberikan intan itu untuk
kita sendiri?" kata Caderousse hampir gila karena gembira.
"Ya."
“Tak ada yang lebih benar dari itu! Inilah dia!"
Isterinya memperhatikan intan itu sebentar, kemudian
berkata dengan polos, "Bagaimana kalau palsu?"
Caderousse tiba-tiba merasa pening kepalanya. "Palsu?
Apa maksud dia memberikan intan palsuf"
"Untuk mendapatkan rahasiamu tanpa membayar,
bodoh!"
Caderousse makin pusing lagi. "Oh!" katanya setelah
beberapa saat terdiam, lalu mengambil topinya. "Kita akan
segera tahu."
"Bagaimana?"
"Di Beaucair ada pasar dan ada jauhari-jauhari dari
Perancis di sana. Aku akan memperlihatkan intan ini
kepada mereka. Jagalah kedai, aku akan kembali dalam dua
jam." Dia melompat ke luar pintu dan terus berlari menuju
pasar.
"Lima puluh ribu frank!" kata Nyonya Caderousse
kepada dirinya sendiri. "Banyak . . . tetapi bukan berlimpah."
BAB XVII
SEHARI setelah kejadian di kedai Caderousse, seorang
laki-laki sekitar tiga puluh tahunan dengan gaya dan logat
seorang Inggris datang menghadap walikota Marseilles.
"Tuan Walikota," katanya. "Saya Kepala Kantor
Perusahaan Thomson and French di Roma. Telah sepuluh
tahun lamanya kami ada hubungan dagang dengan perusa
sahaan Morrel and Son di Marseilles. Usaha kami dengan
perusahaan itu sekarang telah meliputi jumlah seratus ribu
frank, dan kami agak merasa cemas karena kami mendengar
berita-berita bahwa perusahaan itu sedang terancam
kehancuran. Saya sengaja datang dari Roma untuk
meminta keterangan dari Tuan tentang hal ini."
"Tuan," jawab Walikota. "Saya mengetahui bahwa Tuan
Morrel sedang ditimpa nasib buruk secara bertubi-tubi
selama empat atau lima tahun ini. Tetapi, sekalipun saya
sendiri mempunyai pihutang kepadanya sekitar sepuluh
ribu frank, saya tidak mampu memberikan keterangan
tentang keadaan keuangannya. Bila Tuan menanyakan
pendapat pribadi saya tentang Tuan Morrel, dapat saya
katakan bahwa Tuan Morrel adalah seorang pengusaha
yang sangat jujur, yang selama ini selalu memenuhi
kewajiban-kewajibannya dengan seksama dan tepat. Hanya
itu yang dapat saya ketakan. Apabila Tuan menghendaki
keterangan yang lebih banyak, saya sarankan Tuan
menemui Tuan de Boville, Inspektur Penjara. Saya kira
uangnya yang tertanam dalam perusahaan itu ada sebanyak
dua ratus ribu frank. Oleh karena sahamnya lebih besar dari
saham saya dan kalau benar ada hal-hal yang perlu
dikhawatirkan, saya pasti dia akan jauh lebih mengetahui
persoalannya daripada saya."
Orang Inggris itu meminta diri dan dengan gaya yang
khas seorang putra Inggris Raya dia pergi menemui Inspektur
Penjara.
Tuan de Boville kebetulan ada di kantornya. Orang
Inggris itu mengajukan pertanyaan seperti yang diajukan
kepada Walikota.
"Oh!" kata Tuan de Boville. "Kecemasan Tuan memang
berdasar. Saya sendiri pun sudah putus harapan. Saya
mempunyai saham seharga dua ratus ribu frank dalam
perusahaan Morrel. Uang itu tadinya saya sediakan untuk
bekal perkawinan anak gadis saya, dan kami merencanakan
perkawinannya dua minggu lagi yang akan datang.
Mestinya saya menerima seratus ribu frank tanggal lima
belas bulan ini dan seratus ribu lagi tanggal lima belas bulan
depan. Baru setengah jam yang lalu, Tuan Morrel datang ke
mari mengatakan, kalau kapalnya Le Pharaon tidak
kembali pada tanggal lima belas, maka tidak mungkin
baginya membayar kewajibannya kepada saya. Saya
khawatir ia bangkrut."
"Saya kira Tuan sangat mencemaskan keselamatan
saham Tuan, kalau begitu."
"Saya telah menganggapnya sebagai hilang."
"Baiklah, bagaimana kalau saham itu saya beli?"
"Maksud Tuan dengan harga yang rendah sekali, tentu?"
"Tidak, tetap dengan harga dua ratus ribu frank.
Perusahaan kami tidak mencari keuntungan dengan cara
demikian."
"Bagaimana dengan cara pembayarannya?"
"Tunai." Orang Inggris itu mengeluarkan setumpuk uang
kertas yang jumlahnya paling sedikit empat ratus ribu frank.
Cahaya gembira bersinar di wajah Boville, tetapi dia
berusaha menguasai diri dan berkata, "Saya berkewajiban
memperingatkan bahwa mungkin Tuan hanya akan
menerima kembali paling banyak sebesar enam persen dari
jumlah itu."
"Itu bukan soal saya," jawab orang Inggris itu. "Itu
persoalan Thomson and French Mungkin saja mereka bermaksud
mempercepat kehancuran perusahaan yang
menjadi saingannya. Kewajiban saya hanya membayar,
apabila Tuan bersedia menandatangani surat penyerahan
saham itu. Tetapi saya perlu meminta komisi."
"Tentu saja, saya pikir cukup wajar!" kata de Boville.
"Biasanya komisi itu satu setengah persen berapa Tuan
kehendaki? Dua — tiga — lima atau lebih dari itu?"
“Tuan de Boville ,” kata orang Inggris itu sambil tertawa.
"Saya pun sama dengan perusahaan yang saya wakili. Saya
tidak mencari keuntungan dengan cara demikian. Komisi
yang saya harapkan, lain sekali sifatnya."
"Katakan saja."
"Tuan adalah Inspektur Penjara, bukan?"
"Ya."
“Dan menyimpan daftar tahanan yang dilengkapi
dengan catatan-catatan mengenai setiap tahanan?"
“Ya, setiap tahanan ada catatannya."
"Baiklah. Saya dibesarkan oleh seorang padri yang
miskin di Roma. Pada suatu hari padri itu tiba-tiba
menghilang. Baru kemudian saya mendapat berita bahwa
beliau ditahan di Penjara If. Saya ingin sekali mengetahui
sebab-sebab kematiannya."
"Siapa namanya?"
"Padri Faria."
"Oh ya, saya ingat betul!" kata Bovflle. "Dia menjadi
gila. Ia mengaku mengetahui tempat suatu harta karun
dalam jumlah yang tak terbayangkan dan menawarkan kepada
pemerintah untuk ditukar dengan kemerdekaannya.
Dia telah meninggal lima bulan yang lalu. Saya ingat betul
tanggalnya karena kematian padri yang malang itu diikuti
kejadian-kejadian yang aneh."
"Bolehkah saya mengetahui apa yang tuan maksud dengan
kejadian yang aneh itu?"
"Sel Faria letaknya kira-kira lima puluh kaki terpisah dari
sel seorang agen Bonaparte, salah seorang yang turut
membantu kembalinya Napoleon, dalam tahun 1815, agen
yang sangat berbahaya. Saya telah pernah mengunjungi nya
pada tahun 1816 atau 1817. Orang itu sangat mengesankan
sehingga saya tidak mungkin melupakan wajahnya."
Ada senyuman yang hampir-hampir tak tampak tersungging
pada wajah orang Inggris itu.
"Rupanya Dantes itu"
"Nama agen Bonaparte yang berbahaya itu?"
"Ya, Edmond Dantes. Rupanya Dantes tanpa diketahui
membawa beberapa perkakas atau mungkin juga ia berhasil
membuatnya di dalam penjara, oleh karena ditemukan ada
terowongan yang menghubungkan kedua sel itu."
“Saya kira terowongan itu dibuat untuk melarikan diri,
bukan?"
"Tepat sekali. Tetapi sial bagi mereka, Faria mengidap
penyakit kataleptik, dan mati. Kematian padri itu mau
dimanfaatkan oleh Dantes. Mungkin dia mengira bahwa
tahanan yang mati dalam penjara akan dikubur dalam kuburan
biasa, sebab itu dia memindahkan mayat Faria ke
dalam kamarnya dan dia sendiri mengambil tempat Faria
dalam karung. Tetapi dia keliru, Penjara If tidak mempunyai
pekuburan. Mayat-mayat pesakitan dikubur dalam laut
dengan diberati peluru meriam pada kakinya. Tentu Tuan
dapat membayangkan betapa terkejutnya Dantes ketika
menyadari bahwa ia dilemparkan ke dalam laut. Saya ingin
sekali melihat bagaimana air mukanya pada waktu itu."
"Suatu hal yang tidak mungkin," kata orang Inggris itu.
"Memang!" kata Boville yang telah kembali gembira
karena yakin akan mendapatkan lagi uangnya yang sudah
dianggap hilang. "Tetapi saya dapat membayangkannya,"
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Saya pun dapat," kata orang Inggris yang juga turut
tertawa, tetapi dengan lebih terkendalikan, khas seperti kebiasaan
orang Inggris. Kemudian katanya lagi, "Artinya,
pelarian itu mati tenggelam bukan?"
“Pasti."
"Baiklah. Bolehkah sekarang saya melihat daftar itu?"
"Oh, ya, ya, maafkan saya, cerita tadi membelokkan saya
dari persoalan pokok."
Keduanya masuk ke dalam kantor Boville. Segalagalanya
tersusun rapi. Orang Inggris itu duduk pada tangantangan
sebuah kursi, Inspektur menyerahkan buku daftar
pesakitan dan sebuah keterangan tentang Gedung If. Ia
mempersilakan tamunya mempelajarinya sesuka hatinya,
sedangkan ia sendiri mengambil tempat di sudut dan
membaca surat kabar.
Tanpa kesukaran orang Inggris itu dapat menemukan
catatan-catatan mengenai padri Faria, tetapi ceritera Boville
telah menggugah perhatiannya. Setelah membaca catatan
itu dengan teliti, ia terus memeriksa buku itu lembar demi
lembar sampai akhirnya ia menemukan catatan mengenai
Edmond Dantes. Semuanya terdapat di sana: surat
pengaduan, catatan pemeriksaan, permohonan Morrel dan
juga pendapat dan catatan Viliefort Dengan hati-hati ia melipat
surat pengaduan itu, kemudian memasukkannya ke
dalam sakunya. Lalu dia membaca catatan
pemeriksaannya. Dia tidak menemukan nama Noirtier.
Setelah itu membaca, surat permohonan Morrel yang
bertanggal 10 April 1815. Surat itu dibuat semasa Napoleon
berkuasa. Itulah sebabnya dalam surat itu demi kebebasan
Dantes, Morrel melebih-lebihkan jasa Dantes dalam rangka
kembalinya Kaisar ke tampuk kekuasaan. Sekarang ia dapat
mengerti dengan jelas sekali: setelah Kaisar Napoleon jatuh
lagi dan Raja berkuasa kembali, surat permohonan itu
menjadi senjata yang sangat berbahaya di tangan Viliefort
Itu pula sebabnya ia tidak terlalu terkejut ketika membaca
kata-kata berikut di sebelah nama Dantes:
EDMOND DANTES. Agen Bonaparte yang gigih. Mengambil
peranan aktif dalam pelarian Napoleon dari Elba. Harus disekap
terpisah dan dijaga dengan ketat.
Ia membandingkan catatan itu dengan keterangan yang
dilampirkan kepada surat Morrel, dan ternyata tulisan
tangannya sama. Keduanya ditulis oleh Viliefort.
"Terima kasih," kata orang Inggris itu sambil menutup
buku daftar. "Saya telah mendapatkan semua yang saya
perlukan. Sekarang giliran saya untuk memenuhi janji. Silakan
Tuan membuat surat penyerahan saham itu,”
Tuan Boville cepat-cepat mempersiapkan surat-menyurat
sedangkan orang Inggris itu menghitung uangnya.
BAB XVIII
KEADAAN perusahaan Morrel & Son sekarang sudah
sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kalau
dahulu terasa suasana gembira dan kemakmuran yang
terpancar dari gedungnya yang mewah, selalu tampak
kesibukan para pegawai, pekarangannya selalu penuh
dengan barang ber koli koli dan para penjaganya riang
gembira, sekarang yang sangat terasa suasana murung dan
kelumpuhan. Dari sekian banyak pegawainya yang dahulu
memenuhi ruangan kantor sekarang hanya tinggal dua
orang lagi. Yang satu, seorang anak muda berumur dua
puluh tiga tahun bernama Emmanuel Herbaut, yang tetap
saja bertahan sekalipun keluarga Morrel sudah beberapa
kali menasihatinya untuk pindah kerja. Mungkin sebabnya
yang utama untuk tetap tinggal karena ia sudah saling jatuh
cinta dengan putrinya Tuan Morrel. Yang seorang lagi kasir
tua bermata satu bernama Cocles, seorang pegawai yang
baik, sabar dan setia, tetapi yang kokoh bagaikan batu
karang apabila sudah berbicara tentang angka-angka, kalau
sudah berbicara tentang ini ia bersedia mempertahankannya
terhadap seluruh dunia, bahkan juga terhadap Morrel, kalau
perlu. Dia telah bekerja dengan Morrel selama dua puluh
tahun. Oleh sebab itu dia tidak melihat suatu alasan pun
untuk merubah kesetiaannya.
Kewajiban-kewajiban perusahaan yang harus dilunasi
bulan lalu telah dipenuhi seluruhnya dan tepat pada
waktunya. Tetapi untuk itu ia harus menyerahkan milik
keluarganya. Karena takut kesusahannya diketahui umum
di Marseilles, secara diam-diam ia pergi ke Beaucaire untuk
menjual beberapa perhiasan istrinya dan sebagian dari
barang-barang peraknya. Berkat pengorbanannya inilah ia
masih dapat menyelamatkan nama baik perusahaannya.
Tetapi dengan terpenuhi kewajibannya yang terus
memberat itu, Morrel belum terlepas dari kesukarannya,
bahkan setiap jam yang dilalui, ia rasakan sebagai suatu
siksaan yang kejam. Sekarang, kekayaannya mulai surut.
Hanya tinggal Le Pharaon yang merupakan andalan untuk
dapat membayar hutangnya sebesar seratus ribu frank
kepada de Boville yang harus dipenuhi pada tanggal
lima'belas bulan ini, dan hutang-hutang lainnya yang
keseluruhannya berjumlah tiga ratus ribu frank, yang harus
dibayar tanggal lima belas bulan berikutnya. Kapal milik
orang lain yang meninggalkan Calcuta pada hari bersamaan
dengan Le Pharaon telah tiba dua minggu yang lalu di
Marseilles, sedangkan Le Pharaon belum terdengar kabar
beritanya.
Begitulah keadaan Morrel dengan perusahaannya ketika
seorang utusan dari perusahaan Thomson and French
mengunjunginya. Dia diterima oleh Emmanuel yang seterusnya
meminta Cocles membawa tamu itu ke kamar
Morrel. Di tangga menuju ruang kerja Morrel mereka berpapasan
dengan seorang gadis cantik berumur kira-kira
enam belas tahun yang memandang tamu itu dengan
kekhawatiran.
"Tuan Morrel ada di kamarnya, Nona Julie?" kasir
bertanya.
"Saya kira ada," jawabnya ragu-ragu. "Sebaiknya lihat
saja dahulu, Cocles."
“Tak ada gunanya memberitahukan dahulu, karena
Tuan Morrel tidak mengenal nama saya, Nona," kata orang
Inggris itu. "Saya adalah Kepala Kantor Thomson &
French perusahaan yang mempunyai hubungan dagang
dengan perusahaan ayah Nona."
Muka gadis itu mendadak pucat dan segera ia menuruni
tangga, sedangkan Cocles dan tamu itu terus naik. Gadis itu
memasuki ruang kerja Emmanuel. Cocles dengan menggunakan
kuncinya sendiri membuka sebuah pintu di lantai ketiga.
Dia membawa tamunya ke ruang tunggu, kemudian
masuk melalui pintu kedua, menutupnya, lalu kembali lagi
setelah beberapa saat, dan mempersilakan tamu itu masuk.
Morrel berdiri dan mempersilakan tamunya duduk.
Pemilik kapal yang pernah kaya itu telah banyak sekali berubah
dalam empat belas tahun ini. Sekarang umurnya lima
puluh tahun. Rambutnya telah memutih, matanya yang dahulu
bersinar tegas dan penuh kepastian, sekarang telah
layu dan menyorotkan kebimbangan.
Orang Inggris itu memandangnya dengan penuh perhatian
dan rasa heran. "Saya kira Tuan mengetahui siapa yang
saya wakili, bukan?" tanyanya.
"Kasir saya memberitahukan bahwa Tuan Kepala
Kantor Thomson & French,"
"Benar. Perusahaan saya mempunyai banyak kewajiban
yang harus dilunasi di Perancis dalam bulan ini dan bulan
depan. Oleh karena kami mengetahui akan ketepatan dan
keseksamaan Tuan yang sangat kesohor, mereka membeli
sebanyak mungkin surat-surat hutang yang Tuan tandatangani
dan saya ditugaskan menagihnya kepada Tuan
nanti apabila temponya telah jatuh."
Morrel terdengar mengeluh sambil mengusap dahinya.
"Jadi Tuan memegang surat-surat hutang yang saya tanda
tangani?"
"Ya," kata orang Inggris itu, lalu mengeluarkan setumpuk
surat "Pertama sekali, ini ada sebuah surat penyerahan
seharga dua ratus ribu frank yang diberikan kepada kami
oleh Tuan de Boville?"
"Ya, itu adalah saham yang dia tempatkan pada saya
dengan bunga empat setengah persen sejak lima tahun yang
lalu. Setengahnya harus sudah saya kembalikan tanggal
lima belas bulan ini dan setengahnya lagi tanggal lima belas
bulan depan."
"Tepat sekali. Kemudian ada beberapa lagi surat hutang
yang harus dibayar akhir bulan ini, semuanya berjumlah tiga
puluh dua ribu lima ratus frank."
"Itu pun saya akui," kata Morrel. Wajahnya agak kemerah-
merahan karena malu ketika terbayang bahwa untuk
pertama kali dalam hidupnya ia tidak akan dapat
memenuhi janjinya.
"Masih ada lagi?"
"Tidak, kecuali surat-surat ini yang temponya jatuh pada
akhir bulan depan. Jumlahnya lima puluh lima ribu frank.
Jadi keseluruhannya tagihan kami berjumlah dua ratus delapan
puluh tujuh ribu lima ratus frank."
Sangat sulit menggambarkan bagaimana menderitanya
hati Morrel ketika mendengar angka-angka itu.
"Dua ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus frank,"
dia mengulanginya perlahan-lahan.
"Tepat," kata tamunya. "Sekarang," katanya lagi setelah
berdiam sebentar, "saya ingin berterusterang, Tuan Morrel.
Sekalipun Tuan termashur jujur, namun sekarang terdengar
desas-desus yang santer bahwa Tuan berada dalam keadaan
tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban Tuan."'
Wajah Morrel mendadak menjadi pucat mendengar keterusterangan
yang mendekati ketidaksopanan ini. “Saya
menerima perusahaan ini dari ayah saya " katanya, "setelah
beliau sendiri memimpinnya selama tiga puluh lima tahun.
Setelah waktu itu tidak pernah ada satu pun surat hutang
yang ditandatangani oleh Morrel & Son yang tidak dibayar."
"Ya, ya, saya tahu," jawab tamu itu. "Tetapi, sebagai
seorang yang biasa menjaga nama baik terhadap orang lain
dan juga menjaga kehormatan dirinya, sudikah Tuan berterusterang,
apakah Tuan akan sanggup membayar suratsurat
ini dengan ketepatan dan keseksamaan yang sama
seperti dahulu?"
"Pertanyaan yang terus terang wajib mendapat jawaban
yang terus-terang pula," jawab Morrel. "Ya, saya akan
membayarnya kalau kapal saya datang dengan selamat
seperti yang saya harapkan, karena hanya kapal itulah yang
akan dapat mengembalikan hutang dan nama baik saya
yang rusak akibat kernalangan-kemalangan yang timpamenimpa.
Tetapi, seandainya Le Fharaon, milik saya yang
terakhir itu tidak datang, saya khawatir akan terpaksa
menangguhkan pembayaran itu.
"Ketika saya datang ke mari," kata orang Inggris itu,
"saya melihat ada sebuah kapal masuk pelabuhan."
"Saya tahu. Kapal itu pun datang dari India, tetapi bukan
milik saya," kata Morrel. Kemudian menambahkan
perlahan-lahan, "Keterlambatan ini tidak biasa. Le Pharaon
meninggalkan Calcuta tanggal lima Februari, seharusnya
sudah sampai sebulan yang lalu."
"Apa itu?" tanya tamu tiba-tiba. "Apa arti kegaduhan
itu?"
"Ya Tuhan!" Morrel pun berteriak terkejut. "Apapula
yang terjadi sekarang?"
Terdengar suara orang-orang berjalan di tangga. Terdengar
pula teriakan-teriakan sedih. Morrel berdiri hendak
membuka pintu, tetapi tenaganya seakan-akan hilang dan ia
terjatuh kembali duduk di kursinya. Kemudian suara-suara
itu lenyap, namun Morrel masih memperkirakan akan segera
muncul sesuatu yang lain.
Sekarang terdengar bunyi kunci di pintu sebelah luar.
"Hanya ada dua orang yang mempunyai kunci pintu itu,
Cocles dan Julie," katanya pelan-pelan. Setelah itu pintu
ruang kerjanya terbuka dan anak perempuannya berlari masuk,
pipinya basah karena air mata. Dia merebahkan diri di
pangkuan ayahnya, lalu berkata, "Oh, Ayah, Ayah! Kuatkan
hati Ayah!"
“Le Pharaon tenggelam, bukan?" tanya Morrel dengan
suara tertahan.
Gadis itu tidak menjawab, kepalanya saja yang mengangguk.
Lalu ia menekankan kepalanya pada dada
ayahnya.
"Bagaimana dengan awaknya?"
"Mereka selamat ditolong kapal yang baru saja masuk
pelabuhan."
Morrel menengadahkan kepalanya, air mukanya penuh
rasa syukur. "Terima kasih, ya Tuhan," katanya. "Setidaktidaknya
Engkau tidak memukul yang lain selain aku."
Pada saat itu Nyonya Morrel masuk sambil terisak-isak,
diikuti oleh Emmanuel. Di belakang mereka, di ruang tunggu
ada delapan orang pelaut yang setengah telanjang.
Orang Inggris itu terkejut ketika melihat awak-awak kapal
itu. Ia melangkah menghampiri mereka, tetapi segera menahan
dirinya lagi kemudian mengundurkan diri ke sudut
ruangan.
"Bagaimana terjadinya?" tanya Morrel.
"Masuk, Penelon!" kata Emmanuel "Coba ceriterakan "
Seorang pelaut dengan muka kemerah-merahan karena
sinar matahari maju ke depan sambil memegang topi.
"Selamat siang. Tuan Morrel," katanya dengan nada seperti
ia meninggalkan Marseilles baru hari kemarin.
"Selamat datang, kawan," jawab pemilik kapal yang
tidak dapat menahan senyumnya sekalipun matanya basah
karena air mata. "Mana Kapten?"
"Ia sakit, Tuan Morrel. Dia tertinggal di Palma. Tetapi
bila Tuhan menghendakinya ia akan datang segera dalam
keadaan sehat seperti saya,"
"Syukur.Sekarang, Penelon, coba ceriterakan."
Penelon memindahkan susurnya dari kanan ke kiri,
menghapus bibirnya, berbalik sebentar lalu meludahkan
ludahnya yang kehitam-hitaman. Setelah itu dia maju lagi
selangkah dan mulai berkata. "Begini Tuan. Ketika kami
berada antara Tanjung Blance dan Tanjung Boyador
dengan mendapat angin yang baik, Kapten Gaumard
datang menghampiri saya — saya lupa mengatakan bahwa
saya memegang kemudi — dan berkata, 'Penelon, apa
pendapatmu tentang awan yang muncul di kaki langit itu?'
Kebetulan saya sendiri pun sedang memperhatikannya.
'Akan saya katakan apa pendapat saya, Kapten,' jawab
saya. 'Saya kira awan itu bergerak terlampau cepat dari kebiasaannya,
dan saya kira warnanya terlalu gelap sehingga
sangat mencurigakan!’
'Saya kira engkau benar” kata "Kapten. 'Kita menghadapi
taufan.'
“Setelah kami diumbang-ambing selama dua belas jam,
terjadi kebocoran pada kapal. Yenelon” kata Kapten.
Kukira kita akan tenggelam. Aku pegang kemudi dan engkau
periksa mang bawah.'
Ketika saya tiba di bawah ternyata air sudah setinggi tiga
kaki di tempat muatan. Saya cepat berlari kembali ke atas
berteriak-teriak : Pompa! Pompa! Kami semua berusaha
keras, tetapi sudah terlambat. Makin banyak air kami
pompa keluar, lebih banyak pula yang masuk. Setelah bekerja
kurang lebih satu jam saya berkata: Oleh karena tak
ada harapan lagi, biarlah dia tenggelam. Hanya sekali kita
mati!
Itukah teladan yang akan kauberikan, Penelon?' kata
Kapten. “Tunggu sebentar”
Dia pergi ke kamarnya dan kembali lagi membawa dua
buah pistol di tangannya. 'Aku akan menghancurkan setiap
kepala orang yang meninggalkan pompa!' katanya. “Yah,
rasanya tak akan ada sesuatu yang dapat membangkitkan
lagi keberanian kami kecuali ancaman seperti itu. Akhirnya,
angin pun mereda tetapi air masih tetap masuk. Tidak
banyak, hanya sekitar dua inci dalam setiap jam. Tampaknya
memang sedikit — dua inci sejam — tetapi dalam dua
belas jam menjadi dua puluh empat inci, berarti dua kaki.
Kalau kapal sudah mempunyai air lima kaki dalam perutnya,
itu sudah membahayakan.
'Cukup” kata Kapten. 'Kita sudah berusaha menyelamatkan
kapal, sekarang kita harus menyelamatkan diri kita
sendiri. Naik sekoci! Cepat!”
“Kami mencintai Le Pharaon, Tuan Morrel. Tetapi betapapun
seorang pelaut mencintai kapalnya, ia akan lebih
mencintai jiwanya sendiri. Kami tidak membantah ketika
Kapten memerintahkan kami naik sekoci, terutama setelah
Le Pharaon seakan-akan mengerang-ngerang dan berteriak
kepada kami: Cepat! Pergi! Pergi! Dan Le Pharaon yang
malang itu memang tidak berbohong, karena kami pun
merasakan tenggelamnya. Tepat ketika saya meloncat ke
dalam sekoci terdengar kapal pecah bagaikan ledakanledakan
meriam sebuah kapal perang yang dipasang
sekaligus berbarengan. Sepuluh menit kemudian, haluannya
sudah di bawah air, lalu buritannya, kemudian berputar
seperti anjing mau menjilat buntutnya, dan akhirnya....
lenyaplah Le Pharaon.
Kami terapung-apung tiga hari lamanya tanpa makan
tanpa minum. Kami sudah mulai berbicara tentang undian
siapa yang lebih dahulu harus menyediakan diri untukmenjadi
makanan kami. Saat itulah kami ditolong kapal
Gironde yang kebetulan lewat, lalu membawa kami kembali
ke Marseilles. Demi kehormatanku sebagai pelaut, itulah
ceriteranya, Tuan Morrel. Benar, kawan-kawan?"
Kawan-kawan Penelon bergumam membenarkan.
"Kalian telah bertindak sebaik-baiknya," kata Morrel.
"Kalian semua adalah pelaut yang baik. Sejak dari permulaan
aku sudah tahu tidak dapat menyalahkan orang lain,
selain nasib burukku sendiri. Semua ini kehendak Tuhan,
bukan kesalahan manusia. Sekarang berapa gaji kalian yang
belum dibayar?"
"Ah, tidak perlu kita membicarakan persoalan itu, Tuan
Morrel."
"Aku mau membicarakannya," kata pemilik kapal dengan
senyum sedih.
"Kalau itu yang Tuan kehendaki tiga bulan," kata
Penelon.
"Cocles, beri pelaut-pelaut berani itu dua ratus frank
masing-masing. Kalau keadaannya tidak seperti sekarang,
pasti aku akan menambahkan: 'Dan beri masing-masing
dua ratus frank lagi sebagai ekstra.' Tetapi sayang
keadaanku sekarang tidak mengizinkan, kawan. Sisa-sisa
uang yang tinggal sedikit, dalam waktu yang singkat sudah
baukan milikku lagi. Oleh sebab itu maafkan aku dan harap
hal ini tidak akan menyebabkan kalian memandang rendah
kepadaku. Terimalah uang itu dan silakan mencari kapal
Lain. Kalian bebas sekarang."
Kalimat yang terakhir ini memberikan pengaruh yang
cukup besar pada kelasi-kelasi itu. Mereka saling berpandangan
dalam kebingungan. Susur Penelon hampir saja tertelan
kalau saja ia tidak cepat-cepat memegang tenggorokannya.
"Apa!" ia berteriak tertahan. "Apakah Tuan memecat
kami, Tuan Morrel? Apakah Tuan tidak puas dengan
kami?"
"Bukan, bukan begitu," jawab Morrel. "Aku bukan tidak
puas, balikan sebaliknya sekali. Tetapi apa lagi yang dapat
aku perbuat? Aku tidak mempunyai lagi kapal sekarang dan
tidak lagi mempunyai uang untuk membuat kapal baru."
"Bila Tuan tidak mempunyai lagi uang, tak usah kami
dibayar. Kami bisa bekerja tanpa uang."
"Cukup, cukup," kata Morrel lagi. Suaranya tersendat
karena terharu. "Kita akan berjumpa lagi nanti pada suatu
saat, dalam keadaan yang lebih menyenangkan. Emmanuel,
antar mereka dan jaga agar keinginanku terlaksana."
Dia memberi isyarat kepada Cocles yang segera meninggalkan
ruangan. Para pelaut mengikutinya, kemudian
disusul oleh Emmanuel.
"Nah," Morrel berpaling kepada isteri dan anak gadisnya.
"Tinggalkan aku sebentar dengan tamu kita ini." Dia
melirik kepada utusan Thomson & French yang sedari tadi
mengikuti peristiwa itu dari sudut ruangan tanpa berkata
sepatah pun. Isteri dan puteri Morrel keluar meninggalkan
mereka berdua.
"Tuan telah melihat dan mendengar semua," kata Morrel
sambil merebahkan diri ke kursi. "Saya rasa tidak ada yang
perlu saya katakan lagi."
"Saya menyaksikan," jawab orang Inggris itu, "bahwa
Tuan telah ditimpa lagi kemalangan baru yang saya kira
selayaknya tidak perlu Tuan derita. Hal ini memperbesar
keinginan saya untuk menolong Tuan. Bukankah kami
pemegang surat hutang Tuan yang terbesar?"
"Setidak-tidaknya Tuan memegang surat-surat hutang
yang harus dibayar paling cepat."
"Berkeberatankah Tuan apabila saya mengundurkan hari
pembayaran?"
"Pengunduran waktu itu akan berarti penyelamatan
kehormatan saya, sekaligus juga berarti penyelamatan jiwa
saya." “
"Berapa lama Tuan kehendaki?"
Morrel ragu-ragu. "Dua bulan," katanya.
"Baik. Saya berikan tiga bulan."
'Tetapi, apakah perusahaan yang Tuan wakili akan ..."
"Jangan khawatir. Saya bertanggungjawab sepenuhnya.
Hari ini tanggal lima Juni. Silaukan Tuan menukar surat ini
dengan yang baru yang jatuh tempo tanggal lima September
nanti. Saya akan berada lagi di sini pada jam yang sama,
jam sebelas siang, tanggal lima September."
Surat hutang yang baru segera dibuat, yang lama
disobek, pemilik kapal yang malang itu mempunyai waktu
tiga bulan lagi untuk mengerahkan sisa-sisa kekayaannya
yang terakhir.
Orang Inggris itu menerima ucapan terima kasih dari
Morrel dengan sikap yang terkendalikan, kemudian
meminta diri. Di tangga ia bertemu dengan Julie. Julie
berpura-pura akan turun ke bawah, padahal sebenarnya
sengaja ia menanti tamu itu di sana.
"Oh, Tuan "
"Nona," kata orang asing itu. "Nona akan menerima
sepucuk surat yang ditandatangani oleh 'Sinbad Pelaut'.
Lakukan dengan setepatnya apa yang tertulis dalam surat
itu, betapapun anehnya permintaannya."
"Baik."
"Maukah Nona berjanji akan melaksanakan semua yang
tertulis?"
"Saya bersumpah."
"Terima kasih. Selamat tinggal, Nona. Tetaplah menjadi
gadis yang baik seperti sekarang dan saya yakin pada suatu
saat nanti Tuhan akan membalas kebaikan itu dengan
menyerahkan Emmanuel sebagai suami."
Pipi Julie berubah menjadi merah, dari mulutnya keluar
suara perlahan, entah karena terkejut entah karena gembira.
Di pekarangan orang Inggris itu bertemu dengan Penelon
sedang memegang uang di kedua belah tangannya. Ia masih
bingung, apakah ia akan menerima uang itu atau tidak.
"Ikut saya, kawan," kata tamu itu. "Saya ingin bicara sebentar."
BAB XIX
PENGUNDURAN waktu yang diberikan secara tibatiba
itu diartikan oleh Morrel sebagai permulaan
kembalinya kemujuran dan dianggapnya sebagai
pemberitahuan bahwa nasib buruk sudah mulai bosan
menyerangnya.
Satu-satunya jalan pikiran Thomson & French yang masuk
di akal Morrel adalah: "Lebih baik memberi kesempatan
dan menerima lagi piutang sekitar tiga ratus ribu frank
itu tiga bulan kemudian daripada mempercepat kebangkrutan
Mocrel tetapi hanya menerima kembali sebanyak enam
persen dari jumlah tagihannya."
Sayang sekali penagih-penagih lainnya tidak berpikir
seperti itu. Bahkan beberapa orang berpikir sebaliknya-
Mereka menuntut dengan keras disertai ancaman agar tagihannya
dibayar pada waktunya. Hanya berkat keleluasaan
orang Inggris itu Morrel dapat membayar mereka.
Sejak itu tidak pernah lagi utusan Thomson & French itu
tampak. Dia menghilang dua hari setelah kunjungannya
kepada Morrel. Adapun awak kapal Le Pharaon, rupanya
mereka telah mendapatkan lagi pekerjaan di kapal lain,
karena mereka pun semua menghilang.
Dua bulan lamanya Morrel berusaha keras memperbaiki
keadaannya namun tidak berhasil. Pada tanggal dua puhih
Agustus ia kelihatan meninggalkan Marseilles. Kejadian ini
menimbulkan sangkaan orang bahwa kebangkrutannya
akan diumumkan pada akhir bulan dan kepergiannya itu
dianggap sebagai usaha menjauhi hari kejatuhannya. Tetapi
ketika tanggal tiga puluh satu Agustus tiba, Cocles
membayar semua tagihannya yang disodorkan kepadanya.
Hal ini sangat mengejutkan mereka yang meramalkan
kehancuran Morrel. Tetapi dengan kekerasan hati seorang
peramal kehancuran, mereka mengundurkan tanggal
kejatuhan Morrel sampai akhir bulan September.
Morrel kembali ke Marseilles pada tanggal satu September.
Keluarganya telah menantinya dengan hati berdebardebar,
karena kepergiannya ke Marseilles itu merupakan
usaha penyelamatan yang terakhir. Morrel teringat kepada
Danglars yang sekarang telah menjadi jutawan dan yang seharusnya
masih berhutang budi kepadanya karena berkat
pertolongannya, Danglars dapat memperoleh jabatan baik
pada bankir orang Spanyol dan mulai berhasil menumpuk
kekayaannya. Danglars mempunyai tagihan pada berbagai
orang dalam jumlah yang tak terbatas, sehingga kalau mau
menolong ia tidak perlu mengambil satu frank pun dari'
kantongnya. Cukup dengan menjamin Morrel mendapatkan
pinjaman-pinjaman baru. Dengan itu Morrel akan selamat.
Sebenarnya telah lama sekali Morrel teringat kepada Danglars,
tetapi selalu saja ada rasa enggan untuk mengunjunginya,
dan menundanya sampai keadaan sangat mendesak.
Ternyata perasaannya tidak keliru, ia kembali ke Marseilles
dengan perasaan pedih karena penolakan Danglars.
Walau demikian, tidak sepatah pun keluhan atau sebangsanya
keluar dari mulutnya ketika ia tiba di rumah. Dia
mencium isteri dan anaknya, menjabat tangan Emmanuel
dengan hangat, lalu masuk ke kantornya dan memanggil
Cocles!
"Sekali ini kita betul-betul hancur,” kata isteri dan anak
Morrel kepada Emmanuel. Setelah mereka berunding
sebentar, diputuskan agar Julie menyurati kakaknya yang
tinggal di sebuah garnisun di Nimes dan meminta supaya
segera pulang.
Sekalipun baru berumur dua puluh tiga tahun,
Maxmilien Morrel mempunyai pengaruh yang besar
terhadap ayahnya. Ia seorang yang keras hati tetapi tulus.
Ketika tiba saatnya, ia memutuskan memilih kemiliteran
sebagai lapangan hidupnya, la menamatkan pendidikannya
di Ecole Polytechnique dengan angka-angka yang
cemerlang. Sekarang sudah berpangkat letnan dan
mempunyai kemungkinan besar untuk mendapatkan
kenaikan pangkat yang dipercepat
Julie dan ibunya tidak salah meraba keadaan. Setelah
beberapa saat bersama Morrel di kantornya, Cocles keluar
dengan wajah yang sangat pucat dan badan lemas. Air mukanya
penuh kecemasan. Julie mencoba menanyainya,
tetapi Cocles tidak mau berhenti. Dia hanya berkata,
"Sangat menyedihkan. Saya tidak pernah
membayangkannya!”
Emmanuel Imencoba menenteramkan kedua wanita itu,
namun tidak banyak hasilnya. Ia mengetahui benar keadaan
keuangan perusahaan itu sehingga tidak dapat mengelakkan
bayangan kehancuran yang mengancam keluarga Morrel.
Esok paginya Morrel tampak tenang dan memasuki kantornya
seperti biasa. Tetapi pada malam hari setelah makan,
la tidak dapat menahan diri untuk merangkul puterinya dan
mendekapkannya ke dada untuk beberapa saat. Juhe
bercerita kepada ibunya, bahwa sekalipun ayahnya tampak
tenang, namun ia dapat mendengar dengan jelas detak jantungnya
keras dan cepat.
Dua hari berikutnya berlalu seperti hari-hari yang lewat
Pada tanggal empat September malam hari Morrel
meminta agar Julie mengembalikan kunci pintu kantornya,
Julie terkejut. Mengapa ayahnya meminta kembali kunci
yang telah sekian lama dipegangnya? Hanya pernah sekali
dahulu ayahnya meminta kunci itu sebagai hukuman ketika
ia masih kanak-kanak.
"Apa kesalahan saya, Ayah?”
Pertanyaan yang sederhana itu menyebabkan mata
Morrel nerlinang. "Tidak ada, anakku " jawabnya. "Aku
memerlukannya, hanya itu."
"Saya ambil dahulu di kamar" katanya pura-pura. Dia
keluar, bukan ke kamarnya melainkan menemui Emmanuel
untuk meminta pendapatnya.
"Jangan diberikan”, kata Emmanuel. "Dan kalau dapat,
besok, jangan beliau ditinggalkan sedetik pun."
Julie mendesak meminta penjelasan, tetapi Emmanuel
tidak mau berbicara lagi.
Esok harinya Morrel sangat ramah terhadap isterinya
dan menunjukkan kasih sayangnya kepada Julie lebih
daripada biasanya. Tak henti-hentinya ia memandang
wajah Julie, dan berkali-kali ia rnenciumnya. Julie teringat
kepada nasihat Emmanuel. Ia mencoba mengikuti ayahnya
ke kantornya, tetapi dengan halus sekali Morrel
menahannya dan berkata, "Temani ibumu." Caranya
Morrel melarang demikian rupa sehingga Julie tidak berani
membantahnya Setelah ayahnya pergi, Julie bingung, tegak
berdiri bagaikan patung. Tiba-tiba pintu terbuka. Ia
berteriak kegirangan, "Maximillen!"
Mendengar teriakan Julie, Nyonya Morrel datang berlari
lalu melemparkan diri ke dalam pelukan puteranya. "Ada
apa? " tanya anak muda itu, mula-mula melihat kepada
ibunya kemudian kepada adiknya. "Suratmu sangat
mencemaskan. Sebab itu aku datang secepat mungkin."
"Julie," kata ibunya. 'Beritahu Ayah, Maximillen telah
datang."
Julie berlari keluar tetapi di ujung tangga ia dicegat seorang
laki-laki yang memegang surat.
"Nona Julie?" tanyanya dengan aksen Itali.
"Betul," Julie menjawab heran. "Apa yang Tuan kehendaki,
saya tidak mengenal Tuan."
"Bacalah ini," kata orang itu menyerahkan surat. Julie
ragu-ragu. "Keselamatan ayah Nona tergantung kepada surat
itu,"
Julie merebut surat itu, menyobek sampulnya, kemudian
membaca:
Segera pergi ke Allees de Meilhan No. 15. Minta kepada
penjaga kunci kamar di lantai enam, masuk ke dalam kamar itu
ambil dompet sutera merah yang akan Nona temukan di dekat
perapian lalu serahkan kepada ayah Nona. Usahakan supaya
beliau menerimanya sebelum jam sebelas. Sekali lagi sebelum jam
sebelas. Nona telah berjanji akan mengikuti petunjuk saya
sepenuhnya. Saya ingatkan Nona kepada sumpah itu.
SlNBAD PELAUT
Julie mengangkat kepalanya, hatinya gembira. Ia
mencari pengantar surat itu, namun ia telah hilang.
Dalam pada itu, Nyonya Morrel telah menceriterakan
segala sesuatu kepada puteranya. Anak muda itu telah mengetahui
kemalangan-kemalangan yang menimpa ayahnya,
namun tidak pernah mengetahui dengan tepat bagaimana
gawatnya. Untuk sementara ia berdiri termenung, setelah
itu cepat-cepat berlari menuju kamar kerja ayahnya. Lama
dia. mengetuk pintu tanpa jawaban. Tiba-tiba ia melihat
ayahnya keluar dari kamar tidurnya, sambil menekan perutnya
dengan maksud menyembunyikan sesuatu di balik jasnya.
Dia terkejut melihat Maxlmilien, oleh karena tidak
tahu bahwa anaknya akan datang.
Maxmilien berlari menghampiri ayahnya kemudian memeluknya.
Tetapi tiba-tiba ia melepaskan pelukannya lalu
mundur lagi selangkah. Wajahnya pucat bagaikan mayat.
"Ayah, mengapa ayah membawa pistol?"
"Maxmilien," jawab Morrel sambil menatap anaknya.
"Engkau telah dewasa sekarang, dan seorang laki-laki terhormat.
Mari ikut aku."
Keduanya masuk ke dalam ruang kerja. Morrel meletakkan
kedua pistol'di sudut meja, kemudian menunjuk kepada
sebuah buku besar yang terbuka. Dalam buku itu tercatat
segala sesuatu tentang keadaannya. "Bacalah," katanya.
Maxmilien membaca dan tetap bungkam untuk semen
tara, terpengaruh oleh gejolak hatinya. Akhirnya ia berkata,
"Apakah semua kekayaan Ayah telah habis?"
"Semua."
"Dalam tempo setengah jam lagi, kalau begitu, nama
baik keluarga kita akan tercemar."
"Ya, tetapi darah dapat membersihkannya kembali ‘
"Ayah benar. Saya dapat memahami pendirian Ayah,"
kata Maxmilien. Dia memeluk lagi ayahnya, dan untuk beberapa
saat dada kedua orang yang mulia itu saling merasakan
detak jantung masing-masing.
"Sekarang, temanilah ibumu dan adikmu," kata Morrel.
"Berkahilah saya dahulu, Ayah," kata anak muda itu lalu
bertekuk lutut di hadapan ayahnya.
Morrel memegang kepala anaknya dengan kedua belah
tangannya lalu berkata, "Ya. Aku memberkahimu dengan
nama keturunan kita yang tidak pernah tercela. Dengarkan
apa yang mereka katakan melalui mulutku: Sikap hemat
dapat membangun kembali bangunan yang hancur oleh kemalangan.
Dengan keyakinan itulah aku'menjalani kematianku.
Kebanyakan orang yang lemah hatinya akan
menaruh iba kepada kita. Tunjukkan bahwa engkau bukan
orang yang perlu dikasihani. Bekerjalah, anakku,
berjuanglah dengan gigih dan berani. Belanjakan
penghasilanmu dengan sekedar cukup untuk menghidupi
dirimu sendiri, ibumu dan adikmu, agar engkau dapat
membayar hutang-hutangku agar pada suatu hari nanti, di
dalam ruangan yang ini juga, engkau dapat mengatakan:
'Ayahku mati karena beliau tidak dapat mengerjakan apa
yang aku kerjakan sekarang, namun beliau meninggal
dengan tenang karena beliau yakin aku akan dapat
melakukannya.' "
"Oh, Ayah» Ayah! Jangan!" Hati yang sudah teguh tadi,
luluh lagi.
"Bila aku tetap hidup, keadaan akan lain. Aku hanya
akan menjadi orang yang tidak dapat menghormati katakatanya
sendiri, yang gagal memenuhi kewajiban-kewajiban
nya. Tetapi bila aku mati, hanya jasadku saja yang hancur,
sedang kehormatan ku tetap terpelihara. Bila aku hidup,
engkau akan malu memakai namaku. Bila aku mati, engkau
akan tetap dapat berdiri tegak dan dapat berkata dengan
bangga, 'aku anak seorang yang mati membunuh diri
karena untuk pertama kali dalam hidupnya tidak mampu
memenuhi janjinya.'"
Maxirnilien terdengar menangis. Untuk kedua kalinya la
yakin akan benarnya tindakan ayahnya. Sekali ini bukan
meresap ke dalam kepalanya, melainkan langsung ke dalam
hatinya. Dia pasrah.
"Dan sekarang selamat tinggal, anakku " kata Morrel.
Tinggalkan aku sendiri. Surat wasiatku ada di kamar tidur."
Maximilien berdiri ragu-ragu untuk beberapa saat, kemudian
memeluk ayahnya erat-erat, lalu berlari ke luar.
Setelah anaknya pergi, Morrel memijit bel. Cocles
muncul.
"Cocles yang baik," katanya dengan nada suara yang
sukar dilukiskan, "tunggu di ruang tunggu. Bila utusan
Thomson & French datang, beritahu aku."
Cocles tidak menjawab, ia hanya mengangguk, lalu keluar,
duduk di ruang tunggu menanti
Morrel menyandarkan dirinya di kursi, melihat jam.
Hanya tinggal tujuh menit lagi. Pistolnya, kedua-duanya
telah terisi. Salah satu diambilnya sambil menyebut nama
anak gadisnya perlahan-lahan. Pistol diletakkannya
kembali, dia mengambil pena dan kertas, menulis beberapa
kalimat perpisahan untuk Julie. Dia melihat lagi jam ketika
selesai menulis. Sekarang bukan menit lagi yang dihitung
melainkan detik. Diambilnya lagi sebuah pistol dengan
mata memandang tajam ke jarum jam. Dia terkejut oleh
suara yang dibuatnya ketika ia mengokang pistolnya.
Tepat pada saat itu ia mendengar pintu kantornya dibuka
orang Dia tidak menoleh ketika Cocles berkata, "Utusan
Thomson & French." Morrel mengarahkan laras pistolnya
ke mulutnya.
Tiba-tiba ia mendengar orang berteriak. Suara Julie. Ia
berbalik dan melihat Julie masuk. Pistol terjatuh dari
tangannya.
"Ayah! Ayah” Napasnya terengah-engah, matanya liat
karena gembira. "Selamat! Ayah selamat!" Julie
rnenyerahkan dompet merah. "Lihat! Lihat!"
Morrel menerima dompet merah itu, hatinya bimbang
karena secara samar-samar merasa telah pernah melihatnya.
Di salah satu bagian dalam dompet itu terdapat surat
hutang bernilai dua ratus delapan puluh tujuh ribu frank.
Sudah dicap lunas. Di bagian lain ada sebuah intan sebesar
kenari disertai tulisan pada secarik kertas perkamen: "Hadiah
perkawinan Julie." Morrel memukulkan tangannya ke
dahi. Serasa dia dalam mimpi. Jam berbunyi tepat sebelas
kali.
"Katakan anakku," tanya Morrel. "Dari mana engkau
mendapatkan dompet ini?"
"Di sebuah rumah di Allees de Meilhan."
"Tetapi ini bukan milikmu!"
Julie memperlihatkan surat yang diterimanya tadi pagi.
"Tuan Morrel!" teriak seseorang di tangga. Emmanuel
masuk, wajahnya merah cerah. "Le Pharaonf" katanya, "Le
Pharaon!"
"Ada apa dengan Le Pharaon. Engkau gila barangkali,
Emmanuel. Engkau tahu Le Pharaon sudah tenggelam."
"Le Pharaon masuk pelabuhan!"
Tenaga Morrel tiba-tiba hilang sehingga ia terhenyak di
kursinya. Pikirannya tidak mampu mengikuti semua kejadian
yang datang beruntun secara mendadak. Kejadian-kejadian
yang sukar dipercaya, tak masuk akal.
Maximilien masuk lagi. "Ayah!" katanya. "Mengapa
Ayah mengatakan Le Pharaon telah tenggelam? Dia sedang
memasuki pelabuhan sekarang."
“Kawan-kawan," kata Morrel. "Bila ini benar, kita harus
percaya kepada mukjizat. Mari kita ke pelabuhan, dan mudah-
mudahan Tuhan memaafkan kita bila berita itu salah."
Mereka menjumpai Nyonya Morrel di tangga. Nyonya
yang malang itu tidak berani masuk ke kantor suaminya.
Orang telah banyak berkerumun di pelabuhan. Mereka
memberi jalan kepada Morrel dan setiap orang berteriak! "le
Pharaon! Le Pharaon!"
Benar, di hadapan Menara Saint-Jean ada sebuah kapal
yang bertuliskan "Pharaon, Morrel & Son, Marseilles" di
buritannya. Huruf-hurufnya putih jelas. Kapal ini
merupapakan tiruan yang paling sempurna dari Le Pharaon
yang telah tenggelam. Muatannya pun sama, bahan celup.
Ketika sudah siap membuang sauh, kaptennya, Kapten
Gaumard, berdiri di geladak memberikan perintah-perintahnya
dan Penelon melambai-lambaikan tangannya kepada
Morrel.
Selagi Morrel dan keluarganya saling berpelukan di
tengah-tengah orang lain yang juga turut bergembira,
seorang laki-laki yang wajahnya - setengah tertutup oleh
jenggot dan cambangnya, mengawasi mereka dari sebuah
pos penjagaan yang kosong. "Berbahagialah, wahai hati
yang mulia. Semoga Tuhan selalu memberkahi apa yang
telah Tuan lakukan dan apa yang akan Tuan lakukan."
Dengan senyum puas dan bahagia orang itu meninggalkan
tempat persembunyiannya, berjalan tanpa diperhatikan
orang ke pinggir pelabuhan, lalu berteriak, "Jacopo! Jacopo!”
Sebuah perahu mendekat datang. Dengan perahu itu
orang aneh tersebut dibawa ke sebuah kapal pesiar yang
sangat mewah. Dia naik ke dalam dengan kesigapan seorang
pelaut. Dari kapal ia melemparkan lagi pandangan
terakhir kepada Morrel, yang saking gembiranya, menjabat
tangan semua orang yang dekat kepadanya sambil
menangis. Morrel mencari-cari penolongnya yang tidak
dikenal itu, namun tidak berhasil seperti ia mencarinya di
langit.
"Sekarang," kata orang dalam kapal pesiar itu, "selamat
tinggal, wahai kebajikan, kemanusiaan dan rasa syukur.
Selamat tinggal, wahai pancaran hati yang menyejukkan
dan menyenangkan. Aku telah diberi kesempatan menjadi
perantara menyampaikan balasan Tuhan bagi mereka yang
baik, semoga selanjutnya Tuhan mengijinkan aku menjadi
pelaksana beliau menghukum yang jahat!"
Dengan kata-kata itu ia memberi isyarat, dan kapal meluncur
mengarungi samudera luas.
BAB XX
BARON Franz d’Epinay dan Viscount Albert de
Morcerf, dua orang bangsawan muda Perancis, pergi ke
Roma untuk menyaksikan karnaval. Sejak jauh-jauh hari
mereka telah memesan kamar di Hotel de Londres.
Ketika mereka datang, ternyata kamar itu mempunyai
dua buah ranjang kecil dan sebuah ruang tamu. Kedua
ranjang terletak dekat jendela yang menghadap langsung ke
jalan. Dengan tandas Pastrini — pemilik hotel itu -
mengatakan bahwa letak kamar mereka sangat strategis
walaupun ukurannya kecil. Semua kamar di lantai bawah
telah disewa oleh orang-orang kaya, yang menurut Pastrini,
dari Sisilia atau Malta.
"Kamarnya cukup memuaskan, Tuan Pastrini." kata
Franz. "Yang kami perlukan sekarang, makan malam. Juga
kami membutuhkan sebuah kereta untuk besok dan untuk
hari-hari berikutnya."
"Makanan dapat segera dihidangkan, tetapi kereta soal
lain' kata pemilik hotel.
"Apa maksudnya soal lain?" Albert bertanya heran.
"Harap jangan bergurau, Tuan Pastrini Kami
membutuhkan kereta,"
"Kami akan mengusahakan sedapat-dapatnya, Tuan.
Hanya itu yang dapat kami janjikan."
"Bila kami akan dapat berita?"
"Besok pagi."
"Begini," kata Albert, "kami bersedia membayar lebih.
Saya tahu kebiasaan di Paris. Dua puluh lima frank untuk
hari-hari biasa, tiga puluh atau tiga puluh lima untuk Minggu
dan hari-hari libur."
"Saya khawatir, dengan dua kali lipat dari itu, Tuan tidak
akan mendapat kereta di Roma,"
"Kalau begitu, kami menyewa kuda saja. Sebenarnya
kereta kami agak penyok-penyok karena perjalanan jauh,
tetapi tak mengapa."
"Kuda pun tak ada."
Albert melihat kepada Franz dengan wajah tak percaya.
"Kau dengar, Franz? Tidak ada kuda. Kuda kereta pos pun
jadilah. Bisa itu?"
"Semuanya telah disewa orang dua minggu yang lalu.
Yang tinggal hanya seekor, agar kereta pos dapat berjalan
seperti biasa."
"Bagaimana pendapatmu," tanya Franz kepada Albert.
“Pendapatku, bila sesuatu perkara sudah tidak masuk
akalku, aku tidak mau memikirkannya lagi dan mengalihkan
perhatian kepada soal lain. Apakah makanan sudah siap,
Tuan Pastrini?"
"Sudah, Tuan."
"Baik, mari lata makan dulu."
"Bagaimana dengan kereta dan kudanya?" tanya Franz.
"Jangan khawatir, kawan. Akan datang pada waktunya.
Soalnya hanya harga saja."
Albert de Morcerf dengan filsafatnya yang mengagumkan
bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang
dompetnya tebal, menikmati makan malamnya, tidur
dengan nyenyak dan bermimpi hilir-mudik dalam karnaval
dengan menggunakan kereta berkuda enam.
Begitu pagi-pagi terbangun Franz segera memijit bel.
Pastrini datang sendiri memenuhi panggilan Franz.
"Untung Saya tidak menjanjikan apa-apa kemarin," kata
Pastrini tanpa menunggu pertanyaan Franz. "Tuan agak
terlambat, tidak ada lagi sebuah kereta pun di seluruh Roma
untuk tiga hari terakhir karnaval ini."
"Dan sesudah hari itu, kereta tidak diperlukan lagi"
jawab Franz.
"Mulanya bayangan saya tentang Kota Abadi ini lain,"
kata Albert menyindir.
"Saya maksud, tidak ada kereta mulai hari Minggu pagi
sampai Selasa malam, Tuan. Tetapi sejak hari ini sampai
Minggu, Tuan dapat menyewa lima puluh buah kalau Tuan
mau," jawab Pastrini, sedikit bernafsu membanggakan kota
dunia Kristen di mata tamu-tamunya.
"Aha, setidak-tidaknya masih ada kemungkinan," kata
Albert. Sekarang hari Kamis, siapa tahu apa yang akan terjadi
antara hari ini dan Minggu yang akan datang."
"Apakah Tuan masih berminat menyewa kereta sampai
hari Minggu nanti?"
"Tentu saja!" jawab Albert. "Apakah Tuan mengira kami
mau mengelilingi Roma dengan berjalan kaki seperti
pegawai-pegawai ahli hukum?"
"Bila Tuan memerlukannya?"
"Satu jam lagi."
"Kereta itu akan siap di depan pintu pada waktunya."
Hari itu, Franz harus menulis beberapa surat ke Peran
cis. Dia membiarkan Albert menggunakan kereta itu sepanjang
hari.
Jam lima sore Albert baru kembali. Dia telah menyampaikan
semua surat perkenalan yang dibawanya dari Paris
kepada orang-orang terkemuka di Roma, berhasil memperoleh
undangan undangan untuk malam hari, kemudian berkeliling
melihat-lihat kota Roma. Sehari sudah cukup baginya
untuk melakukan semua itu.
"Aku mempunyai suatu gagasan," katanya kepada Franz.
"Apa itu?"
"Kita tidak akan mendapat kereta dan kuda sewaan
untuk karnaval, bukan?"
"Ya."
"Tetapi pedati dapat."
"Dan sepasang sapi jantan."
"Juga mungkin."
"Nah, aku akan menyewa sebuah pedati dan menyuruh
menghiasnya. Kita sendiri akan berpakaian seperti pemotong
padi dari Neapolit."
"Bagus sekali!" kata Franz. "Sekali ini gagasanmu benarbenar
baik! Siapa yang sudah kauberitahu tentang ini?"
"Pemilik hotel. Dia meyakinkan aku bahwa tak ada yang
lebih mudah dari itu. Aku minta supaya tanduk-tanduk sapi
dipulas warna emas tetapi menurut dia akan memerlukan
waktu tiga hari. Karena itu, biarlah tanpa kemewahan itu."
Pintu kamar terbuka dan Pastrini menjengukkan kepalanya.
"Bagaimana?" Albert bertanya. "Sudah dapat pedati dan
sapi itu?"
"Saya menemukan yang lebih baik lagi," jawab Pastrini
dengan wajah puas.
"Apa lagi?" tanya Franz.
''Saya kira Tuan-tuan mengetahui bahwa Count of
Monte Cristo tinggal selantai dengan Tuan-tuan. Beliau
mendengar tentang kesulitan tuan-tuan mendapatkan kereta
dan kuda. Sebab itu beliau berkenan menawarkan dua
tempat duduk dalam keretanya dan dua tempat duduk di
depan jendela di Palazzo-dwkz Rospoli"
Franz dan Albert saling berpandangan, "Apakah baik
kita menerima tawaran dari orang yang tidak kita kenal?"
tanya Albert.
"Siapa Count of Monte Cristo ini?" sekarang Franz yang
bertanya.
"Seorang bangsawan besar, kalau bukan dari Sisilia tentu
dari Malta. Saya sendiri tidak yakin dari mana. Walau
bagaimana hatinya mulia seperti keturunan Borgia dan kaya
seperti tambang emas."
"Aku pikir," kata Franz kepada Albert, "apabila benar
orang ini bangsawan seperti yang dikatakan oleh Tuan
Pastrini, selayaknya ia menyampaikan undangannya
dengan cara yang lain, apakah dengan surat atau . .."
Sebelum kalimat Franz habis diucapkan terdengar suara
ketukan pada pintu.
"Masuk," kata Franz.
Seorang pelayan berpakaian dinas yang sangat bagus,
masuk. "Dari Count of Monte Cristo untuk Tuan Franz d
Epynay dan Tuan Albert de Morcerf," katanya sambil
menyerahkan dua buah kartu kepada pemilik hotel, yang
selanjutnya meneruskannya kepada kedua bangsawan muda.
"Count of Monte Cristo," katanya lagi, "meminta kehormatan
untuk dapat berkunjung ke mari besok pagi dan
mengharap diberi tahu waktu yang paling baik bagi kedua
beliau ini."
"Katakan kepada Count," kata Franz, "kamilah yang
ingin mendapat kehormatan mengunjungi beliau besok
pagi”
Pelayan itu pergi.
"Ini yang namanya menabur dengan kesopanan yang
berlimpah-limpah," kata Albert "Tuan benar, Tuan Pastrini,
Count of Monte Cristo memang seorang berhati mulia."
"Bolehkah saya mengartikan bahwa Tuan berkenan
menerima undangan beliau?" tanya Pastrini.
"Tentu, tentu," jawab Albert. ''Meskipun harus diakui
aku agak menyesal kehilangan pedati dan pakaian pemotong
padi itu. Kalau tidak karena jendela di Palazzo Rospoli,
saya akan tetap pada gagasan semula. Bagaimana dengan
engkau, Franz?"
"Aku kira, jendela di Palazzo Rospoli itu juga yang menentukan
bagiku."
Esok paginya, Franz memanggil Pastrini Seperti biasa ia
datang dengan sikap mengabdi. Ketika itu jam sembilan.
"Apakah kami sudah dapat berkunjung kepada Count of
Monte Cristo pada waktu sepagi ini?"
'Tentu saja!" jawab Pastrini. "Beliau biasa bangun pagi
sekali. Saya yakin beliau telah bangun dua jam yang lalu."
"Kalau begitu) Albert, kalau engkau sudah siap, kita kunjungi
tetangga kita untuk mengucapkan terima kasih untuk
keramahannya."
"Mari!"
Franz dan Albert tidak perlu berjalan jauh. Pastrini
mengantar mereka dan memijitkan bel bagi mereka. Seorang
pelayan membuka pintu.
"Tuan-tuan dari Perancis," kata Pastrini. Pelayan itu
membungkukkan badan dan mempersilakan masuk.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang dilengkapi
dengan perabotan yang indah mewah dan tak terbayangkan
ada dalam hotel seperti milik Pastrini. Lalu mereka sampai
di ruang lukisan yang juga serba rapi dan mewah.
Permadani dari Timur menutupi seluruh lantai. Dindingdindingnya
terhias lukisan-lukisan yang indah diselingi
senjata-senjata yang juga sangat bagus dan tengkoraktengkorak
binatang buruan. Tirai-tirai dari bahan
permadani tergantung di setiap pintu.
"Silahkan Tuan-tuan duduk," kata pelayan. "Saya akan
mengabarkan kehadiran Tuan-tuan." Dia. menghilang melalui
salah satu pintu.
Franz dan Albert saling berpandangan. Lalu mereka
memperhatikan lagi perabotan perabotan lukisan lukisan
dan senjata-senjata. Semua kelihatan lebih indah dibanding
ketika terlihat pertama kalinya.
"Apa katamu tentang ini semua?" tanya Franz.
"Saya kira, tetangga kita ini, mesti seorang pengusaha
saham yang sangat berhasil, atau seorang putera mahkota
yang sedang bepergian incognito."
"Sst! Kita akan segera tahu. Dia datang."
Sebuah pintu terbuka dan tirai tersingkap, memberi jalan
kepada pemilik semua kemewahan itu.
''Tuan-tuan," kata Count of Monte Cristo ketika masuk
ruangan, "maafkan saya telah membuat Tuan-tuan berkunjung
kepada saya, tetapi saya khawatir akan mengganggu
apabila saya berkunjung kepada Tuan-tuan sepagi ini. Di
samping itu Tuan-tuan telah memberi tahu berniat akan
datang dan saya menghormati keinginan itu."
"Franz dan saya sangat berterima kasih kepada Tuan,'
kata Albert. "Tuan telah menolong memecahkan persoalan
kami. Kami sedang memikirkan segala macam kendaraan
yang mungkin ketika undangan tiba."
"Salah si bodoh Pastrini sehingga saya agak terlambat
menawarkan bantuan." Sambil mempersilakan kedua tamunya
duduk di kursi panjang yang empuk, dia melanjutkan
lagi, "Dia sama sekali tidak menceriterakan apa-apa tentang
kesukaran Tuan-tuan. Segera setelah saya mengetahui
bahwa saya dapat berbuat sesuatu untuk Tuan-tuan, saya
merasa sangat gembira."
Kedua bangsawan muda itu membungkukkan badan.
"Pula," kata Count of Monte Cristo selanjutnya, "hari ini
ada acara pelaksanaan hukuman mati di Piazza del Popolo.
Saya menyuruh pengurus rumah tangga saya kemarin
mencari tempat yang baik untuk menonton itu, sehingga
dalam hal ini pun saya dapat menawarkan jasa." Dia
merentangkan tangannya menarik kabel bel.
Tak lama kemudian seorang berumur antara empat puluh
lima dan lima puluh datang memasuki ruangan. "Tuan
Bertuccio " katanya, "sudahkah Tuan berhasil mendapatkan
jendela untuk menonton acara di Plazza del Polopo seperti
yang saya mina kemarin?"
"Sudah, Yang Mulia," jawab pengurus rumah tangga itu.
"Tetapi agak terlambat."
"Apa?" Dahinya mengerut. "Bukankah saya perintahkan
harus berhasil?”
"Benar, dan saya pun tidak gagal. Jendela itu sebenarnya
telah disewakan kepada Pangeran Lobanieff sehingga saya
terpaksa membayar seratus —"
"Cukup, Tuan Bertuccio, jangan kita mengganggu tamutamu
kita ini dengan hal-hal yang kecil. Tuan telah berhasil
mendapatkan sebuah jendela, itu yang perlu kami ketahui.
Berikan alamat rumahnya kepada sais,"
Pengurus rumah tangga itu membungkuk dan siap untuk
mengundurkan diri.
"Sebentar" kata Count, "tanyakan kepada Pastrini
apakah ia sudah menerima acara pelaksanaan hukuman
itu."
'Tidak perlu, saya kira," kata Franz sambil mengeluarkan
buku catatannya dari sakunya, "saya telah melihat acara itu
dan menyalinnya di sini.”
"Baik. Tuan boleh pergi, Tuan Bertuccio. Beritahu kami
apabila makan siang sudah siap Sudikah Tuan-tuan memberikan
kehormatan dengan makan siang bersama saya?"
"Kami tidak ingin menyalahgunakan kebaikan hati
Tuan," jawab Albert.
"Sama sekali tidak! Justru membahagiakan sekali bagi
saya. Tuan-tuan dapat membalasnya suatu waktu nanti di
Paris. Tuan Bertuccio telah mempersiapkan meja untuk tiga
orang."
Count of Monte Cristo mengambil buku catatan Franz
kemudian membacanya dengan keras, "Orang-orang
tersebut ini akan dihukum mati hari ini, Februari tanggal
22: Andrea Rondolo, bersalah membunuh Don Cesare
Terlini; Peppino alias Rocca Priori, dinyatakan bersalah
terlibat dalam kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh
Luigi Vampa, bandit yang sangat menjijikkan. Yang
pertama akan di-mazzolator yang kedua dipenggal."
"Ini adalah acara semula. Tadi malam ketika saya berada
di rumah Kardinal Rospigliosi saya mendapat kabar bahwa
salah seorang ditangguhkan.”
"Yang mana?" tanya Franz.
"Yang kedua," jawab Count of Monte Cristo. "Berarti
kita akan kehilangan acara pemenggalan. Tetapi tak mengapa,
masih ada mazzolato, suatu cara pelaksanaan
hukuman mati yang aneh kalau kita baru melihatnya untuk
pertama kali, bahkan mungkin juga pada kali yang kedua.
Pemenggalan kepala terlalu sederhana, tak pernah terjadi
suatu yang diluar dugaan. Orang-orang Eropa tidak
mengetahui apa-apa kalau sudah sampai kepada urusan
pelaksanaan hukuman mati dan penganiayaan. Dalam hal
ini mereka masih louiak kanak atau kuno."
"Rupanya tuan telah membuat perbandingan-perbandingan
tentang pelaksanaan hukuman mati di seluruh dunia,"
kata Franz.
"Hanya sedikit yang belum saya lihat," jawabnya dingin.
"Dan adakah kesenangannya dalam menyaksikan hal
yang mengerikan itu?"
"Pada pertama kalinya ada perasaan menolak, selanjutnya
tak acuh, lalu ingin tahu.”
"Ingin tahu! Ungkapan yang cukup mengerikan."
"Mengapa? Kematian adalah satu-satunya hal yang penting
dalam hidup kita ini yang patut menjadi bahan renungan.
Bukankah baik kalau kita mengetahui bermacammacam
cara jiwa meninggalkan raganya, dan mempelajari
bagaimana seseorang berpindah dari ada ke tiada yang bergantung
kepada adat dan wataknya, bahkan juga kepada
kebiasaan bangsanya? Bagi saya sendiri dapat saya katakan:
makin sering kita melihat orang mati, akan makin mudah
bagi kita menghadapi kematian sendiri. Jadi menurut pendapat
saya, kematian mungkin sekali merupakan cobaan
Tuhan, tetapi jelas bukan penebusan dosa."
"Maaf, saya tidak dapat mengikuti," kata Franz. "Tolong
dijelaskan. Tuan tidak mengetahui betapa Tuan membangkitkan
ke ingin tahuan saya."
"Begini," kata Count of Monte Cristo. Wajahnya memperlihatkan
kebencian, "apabila ada seorang yang menyiksa
dan membunuh bapak kita, ibu kita, kekasih kita, pendeknya
salah seorang dari mereka, apabila direnggut dari hati
kita akan meninggalkan luka berdarah yang abadi, apakah
tuan mengira dosanya telah tertebus dan luka telah terobati
hanya karena masyarakat telah menyuruh algojo memisahkan
kepala si pelaku dari badannya, hanya karena orang
yang telah membuat kita menderita batin bertahun-tahun
lamanya, juga menderita siksaan yang-hanya sekejap saja?"
"Ya, saya tahu," kata Franz, "bahwa keadilan manusia
sayang sekali tidak sempurna. Ia hanya dapat menumpahkan
darah untuk membalas darah yang telah tertumpah.
Tetapi tidak dapat mengharapkan lebih dari itu."
"Saya baru menyebutkan contoh yang sangat sederhana."
Count of Monte Cristo melanjutkan, "suatu contoh di mana
masyarakat membalas kematian seseorang dengan kematian
orang lain. Bukankah masih banyak lagi macam-macam
penderitaan yang dijalani seseorang tanpa masyarakat
.membalasnya dalam bentuk apapun juga? Bukankah
banyak lagi kejahatan yang begitu kejam sehingga hukuman
cara Turki, Persia atau Irak masih terlalu lunak untuknya,
tidak dihukum oleh masyarakat kita yang tidak acuh?
Silakan jawab, adakah kejahatan-kejahatan seperti itu?"
"Ya, banyak sekali," jawab Franz. "Dan untuk menghukum
kejahatan semacam itulah, duel diizinkan."
"Duel! Suatu cara yang bagus untuk menghukum. Kalau
ada seseorang yang merebut kekasih kita, memperkosa isteri
kita atau merusak kehormatan anak gadis kita, atau merenggut
harta kita yang diharapkan bisa membawa kebahagiaan
yang dijanjikan Tuhan kepada setiap insan, pendeknya,
orang itu telah membuat kepedihan yang abadi, kesengsaraan
dan kehinaan, apakah Tuan percaya bahwa
dosa orang itu telah terhukum hanya karena Tuan telah
berhasil menembuskan pedang Tuan di dadanya, atau
menempatkan peluru di kepalanya dalam duel? Dan jangan
lupa, bahwa ia bisa muncul sebagai pemenang dalam duel
itu, yang berarti bahwa dalam pandangan masyarakat dosadosanya
telah terhapus, Seandainya saya ingin membalas
dendam kepada seseorang seperti itu, saya tidak akan
melakukannya dengan cara berduel."
"Kalau begitu Tuan tidak setuju dengan duel?" tanya
Albert yang heran mendengar pendapat yang bertentangan
dengan pendapat umum.
"Oh tidak, bukan begitu," jawab Count of Monte Cristo.
"jelasnya begini. Saya bersedia berduel untuk suatu penghinaan,
pemukulan atau suatu kebohongan, dan saya akan
melakukannya tanpa banyak berpikir, sebab, berkat keahlian
membela diri yang saya miliki karena latihan yang teratur
dan kebiasaan menghadapi bahaya yang secara berangsur-
angsur telah mendarah daging, saya hampir yakin
akan selalu dapat membunuh lawan. Betul, saya bersedia
berduel untuk hal-hal seperti itu. Tetapi untuk suatu penderitaan
yang perlahan-lahan, yang mendalam, yang lama
dan menimbulkan luka abadi, saya akan mencoba
membalasnya dengan memberikan penderitaan yang sama
Mata untuk mata, gigi untuk gigi."
"Tetapi," kata Franz, "dengan teori seperti itu yang
membuat Tuan bertindak sebagai hakim sendiri, Tuan sendiri
tidak akan terlepas dari kekuasaan hukum. Kebencian
adalah buta, amarah membuat kita dungu, dan barang siapa
melampiaskan nafsu balas dendamnya menghadapi bahaya
menelan pil yang lebih pahit."
"Apabila dia miskin dan bodoh, benar, tetapi tidak bila ia
kaya dan cerdik. Selain itu, paling rugi ia harus menjalani
hukuman mati di muka umum. Tetapi apa artinya itu selama
dia telah berhasil membayar hutangnya. Saya hampir
merasa menyesal karena Peppino yang telah rusak itu tidak
jadi dipancung seperti ditentukan semula. Bila tidak, Tuan
dapat menyaksikan sendiri betapa cepat deritanya berlalu
dan apakah cukup berharga untuk menjadi bahan
pembicaraan.....
Tetapi, pembicaraan kita agak aneh untuk suasana pesta
karnaval. Bagaimana kita sampai kepada persoalan ini? Oh
ya, saya ingat, saya mengatakan bahwa saya dapat
menawarkan tempat untuk menonton hukuman mati. Dan
Tuan akan menerima tawaran saya itu. Sekarang, mari kita
ke meja makan. Saya dengar ada orang datang untuk memberi
tahu bahwa hidangan sudah siap."
Ketiga bangsawan muda itu berdiri dan berjalan ke ruang
makan.
Selama makan, yang benar-benar sedap dan dihidangkan
dengan cara yang sangat mengagumkan, Franz berkali-kali
memperhatikan wajah Albert untuk mencoba mengetahui
bagaimana pengaruh percakapan tuan rumah kepadanya,
tetapi Albert tampak tidak mempunyai perhatian kepada hal
lain kecuali makanan di hadapannya. Sedangkan Count of
Monte Cristo sendiri hampir-hampir tidak menyentuh
hidangan. Seakan-akan dia turut makan hanya untuk
kesopanan belaka.
Setelah acara makan selesai, Franz mengambil erloji
sakunya, "Maaf, Tuan, tetapi masih banyak yang harus
kami lakukan."
"Bolehkah saya mengetahui?"
"Kami masih harus mencari pakaian untuk karnaval
nanti"
'Tak usah dipikirkan. Kita akah mempunyai kamar
pribadi di Piazza del Popolo. Saya akan menyuruh orang
mengantarkan pakaian-pakaian karnaval ke sana dan kita
dapat berganti pakaian di sana pula, setelah pelaksanaan
hukuman. Sekarang telah jam setengah satu, Tuan-tuan.
Waktu kita tinggal sedikit"
Ketika Franz, Albert dan Count of Monte Cristo sudah
dekat Piazza del Popolo, lapisan manusia makin menebal.
Menjulang di atas kepala-kepala manusia mereka dapat
melihat dua buah barang. Sebuah tugu yang pada puncaknya
ada sebuah salib dan dua pasang tiang kayu untuk pisau
giiyotin. Tugu itu merupakan ciri titik tengah lapangan itu.
Jendela yang disewakan dengan harga yang sangat tinggi
itu, berada di lantai ketiga dari sebuah rumah yang terletak
antara Via del Babuino dan Monte Pincio. Kamarnya merupakan
semacam kamar hias. Dari kamar ini orang dapat
melihat ke lapangan dengan leluasa.
Seluruh lapangan seakan-akan disulap menjadi sebuah
teater yang sangat luas. Setiap jendela dan balkon dari
gedung gedung yang berada di sekeliling lapangan telah penuh
oleh penonton. Count of Monte Cristo benar: pemandangan
yang paling menarik perhatian dalam hidup ini
adalah kematian.
Tiba-tiba suara gemuruh manusia lenyap seketika, seakan-
akan dihentikan oleh sesuatu kekuatan gaib. Pintu
gereja terbuka. Yang pertama keluar serombongan pejabat
gereja, masing-masing membawa sebatang lilin yang sudah
dinyalakan. Kepalanya tertutup kantung berwarna abu-abu
yang berlubang dua di tentang mata. Di belakang rombongan
menyusul seorang tinggi kekar dengan dada telanjang.
Di pinggang kirinya tergantung sebilah pisau besar dalam
sarungnya. Di bahunya terpanggul sebuah gada besi besar.
Dialah algojo. Di belakang algojo menyusul si terhukum
berturut-turut menurut urutan gilirannya. Mula-mula Peppino
kemudian Andrea, masing-masing didampingi oleh
dua orang padri. Andrea dipegang pada tangannya oleh
kedua padri pendampingnya. Sewaktu-waktu mereka menciumi
salib yang disodorkan ke mukanya
Karena pemandangan ini pun Franz sudah merasakan
lututnya gemetar dan melemah. Dia melihat kepada Albert.
Wajah Albert pucat seperti warna kemejanya. Count of
Monte Cristo tampak tidak terpengaruh.
Sementara itu kedua orang terhukum itu sudah cukup
dekat untuk dapat dilihat dengan jelas. Peppino adalah
seorang muda tampan dengan kulit kecoklat-coklatan
karena sinar matahari. Matanya liar dan angkuh.
Sedangkan Andrea, pendek dan gemuk berwajah kejam.
"Kalau tak salah, Tuan tadi mengatakan bahwa hanya
seorang yang akan dihukum," kata Franz kepada Count of
Monte Cristo.
"Saya tidak bohong," jawabnya dingin.
"Tetapi itu ada dua orang."
"Benar, seorang sudah hampir mati dan yang seorang
lagi masih akan hidup bertahun-tahun lagi."
"Menurut pendapat saya, kalau memang mau ditangguhkan,
mengapa membuang-buang waktu?"
"Tidak, lihat saja."
Tepat ketika Peppino sudah sampai di kaki tiang gilyotin,
seorang pejabat gereja berlari menerobos barisan serdadu
menuju pimpinan rombongan. Kepadanya ia menyerahkan
secarik kertas. Pimpinan rombongan membacanya, laki
mengangkat tangan dan berteriak keras, "Puji bagi Tuhan
dan Paus yang suci! Peppino alias Rocca Priori diampuni!"
Teriakan gemuruh terdengar dari lautan manusia.
"Peppino diampuni!" Andrea yang sudah kehilangan
seluruh tenaganya bangkit kembali. "Mengapa dia, bukan
aku? Kami harus mati bersama. Mereka telah berjanji akan
memancungnya lebih dahulu! Aku tak mau mati sendiri!" la
berontak, meliuk-liuk dan berteriak-teriak seperti binatang
buas berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Algojo
memberi isyarat kepada dua orang pembantunya, yang
segera meloncat turun dari panggung hukuman menyergap
Andrea.
"Ada apa?" tanya Franz yang tidak faham betul akan
dialek Roma.
"Ada apa?" jawab Count of Monte Cristo. "Apakah tuan
tidak mengerti? Orang yang telah mendekati ajalnya itu
ngamuk karena kawannya tidak jadi mati bersama dia.
Kalau ada kesempatan pasti dia akan mengoyak-ngoyak
kawannya dengan gigi dan kukunya, daripada membiarkan
menikmati hidup sedang dia sendiri harus kehilangan
hidup. Begitulah manusia dan kemanusiaannya. Buaya!
Begitu jelas sifat itu tampak di bawah sana dan betapa jelas
orang mementingkan dirinya sendiri"
Sambil tetap berontak melawan kedua pembantu algojo
tadi, Andrea tak henti-hentinya berteriak, "Dia harus mati!
Aku mau dia mati! Kalian tidak mempunyai hak untuk
membunuh aku sendiri!" Pergulatan itu sangat mengerikan
dan mendebarkan. Akhirnya mereka berhasil menggusur
Andrea ke panggung hukuman. Seluruh penonton tidak ada
yang memihak kepadanya. Semuanya berteriak bersamasama,
"Bunuh dia! Bunuh dia!"
Franz mau mundur tetapi Count of Monte Cristo menahannya
pada tangannya. "Ada apa?" katanya. "Kalau
Tuan merasa kesihan, itu tidak pada tempatnya. Apabila
Tuan melihat anjing gila di jalanan, Tuan pasti akan
menembaknya tanpa rasa kasihan, padahal dosa binatang
malang itu hanya karena menjadi korban gigitan anjing gila
lainnya. Tetapi di sini Tuan merasa kasihan kepada orang
yang bukan korban gigitan orang lain, melainkan seorang
pembunuh besar. Orang yang sekarang ini tidak mampu
lagi membunuh karena tangannya diikat, masih mau
menyeret kawan sepenjaranya mati bersama dia. Tidak,
tidak. Kuatkan hati Tuan dan lihat."
Kata-kata Count of Monte Cristo sudah tidak perlu lagi,
karena perhatian Franz sudah tertarik oleh pemandangan di
lapangan.
Kedua pembantu algojo tadi telah berhasil memaksa
Andrea berlutut walaupun ia terus meronta-ronta dan berteriak-
teriak. Algojo mengayunkan gadanya, kedua pembantunya
mundur. Andrea berusaha berdiri tetapi gada
algojo lebih dahulu menimpa pelipis kirinya. Dia jatuh tersungkur
seperti seekor sapi lalu berguling sehingga terlentang.
Algojo melemparkan gadanya, menghunus pisaunya
lalu menyobek leher Andrea Selanjutnya dia menekan dan
meremas perut Andrea dengan jari-jari kakinya. Setiap kali
dia menekankan kakinya, darah memancar keluar dari
tenggorokan Andrea,
Franz terhenyak ke belakang dan jatuh setengah pingsan
ke atas sebuah kursi. Albert masih tetap berdiri, tetapi kedua
matanya menutup rapat dan tangannya memegang tirai
jendela erat-erat. Count of Monte Cristo tetap tegak seperti
dewa pembalas selesai bertugas.
BAB XXI
KETIKA Franz siuman kembali, ia melihat Albert
sedang minum segelas air. Menilik wajahnya yang pucat,
jelas sekali ia sangat memerlukannya. Sedangkan Count of
Monte Cristo sudah berganti pakaian dengan pakaian
pelawak istana. Franz melepaskan pandangannya ke arah
lapangan. Semuanya telah tiada: gjlyotin, algojo dan
korban. Yang ada tinggal serombongan manusia dengan
teriakannya.
"Ada apa?" tanya Franz.
"Tak ada apa-apa," jawab Count of Monte Cristo. "Sama
sekali tak ada apa-apa. Gemuruh manusia itu berarti bahwa
karnaval sudah dimulai. Silakan cepat berganti pakaian.
Lihat, Tuan de Morcerf sudah memberi contoh.”
Dengan pikiran entah di mana Albert mengenakan
celana kain tafeta di luar celana hitamnya, lalu mengenakan
sepatu bot yang tinggi. Akan sangat tidak lucu kalau Franz
tidak mau segera mengikuti contoh kawannya. Oleh sebab
itu ia pun mengenakan pakaian karnavalnya, juga
topengnya yang warnanya tidak sepucat wajahnya.
Kereta telah menunggu di bawah, penuh dengan bungabunga
dan kertas konfeti. Tak mudah membayangkan per
ubahan yang begitu sempurna seperti yang terjadi sekarang
di Piazza del Popolo. Kalau tadi dicekam oleh suasana
murung dan kedinginan kematian, sekarang diliputi kegaduhan
pesta-pura yang liar. Bergerombol-gerombol orang
bertopeng datang dari semua penjuru. Ada yang keluar
melalui pintu-pintu gedung sekeliling lapangan, banyak pula
yang bergelantungan menuruni jendela-jendela. Keretakereta
pun berdatangan dari semua jalan. Penumpangnya
bermacam-macam: badut, bangsawan, satria, petani dan lain-
lain yang pakaiannya menggelikan, semuanya berteriakteriak
gembira, melambai-lambai atau menaburkan konfeti
dan bunga-bunga baik kepada yang dikenal maupun kepada
yang tidak dikenal. Yang dilempari bukannya marah, justru
malah senang. Balkon dan jendela-jendela gedung
bertingkat empat atau lima yang berjejer sepanjang Via dd
Corso semuanya berhias indah mewah Semuanya penuh
dengan manusia berbagai bangsa yang berdatangan dari
empat penjuru dunia. Di jalanan orang-orang bergembira
hampir lupa diri, liar dan tak mengenal lelah, berseliweran
dengan pakaian karnaval yang beraneka ragam. Yang
seorang ingin lebih aneh atau lebih lucu dari yang tain. Ada
kubis raksasa menggelinding, manusia berkepala banteng,
atau anjing besar seperti berjalan di atas kedua kaki
belakangnya. Di tengah tengah kepadatan dan keramaian
itu banyak yang berusaha melepaskan topeng orang lain
mencari wajah tampan atau cantik. Kalaupun ditemukan
toh tak mungkin diikuti oleh karena antara mereka seakanakan
terhalang oleh wajah-wajah setan seperti dalam
mimpi.
Setelah mereka mengelilingi lapangan sebanyak dua kali.
Count of Monte Cristo menghentikan keretanya di depan
Palazzo Rospoli lalu meminta diri meninggalkan mereka.
“Tuan-Tuan," katanya, "apabila Tuan-tuan telah merasa
lelah dan ingin menjadi penonton kembali, Tuan-tuan mengetahui
bahwa Tuan-tuan mempunyai tempat menonton
di jendela kamar saya. Sementara itu kereta dan saisnya
saya serahkan untuk dipergunakan sesuka hati."
Franz mengucapkan terima kasih untuk tawaran yang
demikian baiknya.
Setelah kereta berjalan lagi Albert berpaling kepada
kawannya dan bertanya, "Kau lihat itu?"
"Apa?"
"Lihat di sana, sebuah kereta penuh dengan gadis-gadis
berpakaian petani Roma Aku yakin mereka cantik-cantik."
"Buat apa kita bertopeng, pikirmu? Nanti akan ada
kesempatan mengejar kekurangan petualangan cintamu di
Italia ini."
"Oh," kata Albert setengah bergurau setengah sungguhsungguh,
"aku pikir tak lucu kalau karnaval ini berlalu
begitu saja tanpa sesuatu imbalan."
Meskipun Albert tetap berharap, namun hari itu berlalu
tanpa memberikan kejadian-kejadian yang mengesankan
selain bertemu dengan kereta penuh gadis itu dua tiga kali
lagi. Pada salah satu kesempatan, entah disengaja entah
tidak, topeng Albert terlepas ketika ia melemparkan bungabunga
ke dalam kereta mereka. Rupanya salah seorang dari
gadis-gadis itu terkesan oleh sikap Albert. Ketika mereka
bertemu sekali lagi, dialah yang sekarang melemparkan
bunga ungu ke dalam kereta Albert Albert segera mengambilnya
dan Franz membiarkannya, karena Franz tidak
mempunyai alasan untuk mengira bunga itu dilemparkan
untuknya. Albert menyelipkannya di lubang kancing bajunya
dan kereta berjalan terus,
"Tampaknya," kata Franz, "ini merupakan awal suatu
petualangan."
"Engkau boleh tertawa Franz, kalau mau, tetapi aku
yakin, begitulah adanya."
Keyakinan Albert bertambah kuat ketika mereka bertemu
sekali lagi. Melihat bunga yang dilemparkannya telah
mendapat tempat terhormat pada jas Albeit, gadis itu bertepuk
gembira.
Esok paginya, Count of Monte Cristo mengunjungi
mereka di kamarnya. "Tuan-tuan, saya datang untuk mengatakan
bahwa Tuan-tuan dapat menggunakan kereta sesuka
hati sampai karnaval berakhir. Saya masih mempunyai
dua buah lagi. Bila ada sesuatu yang perlu dibicarakan, kita
dapat bertemu di Palazzo Rospoil"
Kedua bangsawan itu mencoba menolak, tetapi sebenarnya
mereka tidak mempunyai alasan yang cukup kuat
untuk menolak tawaran itu, terutama karena tawaran itu
sangat menyenangkan. Count of Monte Cristo masih tetap
tinggal untuk kira-kira seperempat jam lamanya, berceritera
tentang bermacam-macam perkara dengan penuh gairah.
Dia sangat menguasai bacaan berbagai negara Bila melihat
dinding ruangannya Franz dan Albert yakin bahwa dia pun
seorang kolektor lukisan yang baik. Dari pembicaraannya
jelas juga bahwa ilmu pengetahuannya pun luas sekali
terutama dalam bidang ilmu kimia.
Setelah tamunya berangkat, Franz dan Albert turun
menuju kereta yang sudah menunggu. Albert masih memasang
bunga ungunya yang sudah layu di bajunya.
Hanya beberapa saat setelah mereka sampai di Via del
Corso, bunga-bunga harum yang masih segar dilemparkan
orang ke dalam keretanya, Albert mengganti yang layu
dengan yang segar, dan memegang sisanya di tangan dan
menciumnya ketika bertemu kembali dengan kereta pembawa
gadis-gadis. Suatu tindakan yang bukan saja menyenangkan
gadis pelemparnya, tetapi juga kawan-kawannya.
Sehari penuh mereka bercumbu dari kereta masing-masing.
Ketika kembali ke hotelnya pada malam hari, Franz
menemukan sebuah surat dari Kedutaan Perancis memberitahukan
bahwa dia mendapat kehormatan diterima berkunjung
oleh Paus, esok hari.
la menghabiskan waktunya sehari penuh di Vatikan.
Setelah itu langsung pulang ke hotelnya Jam lima lebih lima
menit Albert masuk. Jelas kelihatan ia sangat gembira
karena gadis pelempar bunga ungu telah melepaskan topengnya
ketika bertemu, dan ternyata ia sangat cantik.
Franz mengucapkan selamat dengan tulus, dan Albert
menerimanya dengan bangga. Dia bermaksud menyurati
gadis itu esok hari. Franz tidak punya niat menghalangi
petualangan sahabatnya yang penuh harapan ini, bahkan
bersedia memberinya kesempatan. Ia menyilakan Albert
menggunakan kereta sesukanya sedangkan ia akan
memuaskan diri dengan menonton dari jendela Palazzo
Rospoli.
Esok paginya Franz melihat Albert dengan keretanya
hilir-mudik di sepanjang Via del Corso. Ia mempunyai persediaan
bunga banyak sekali yang jelas tujuannya untuk
pengantar tintanya.
Malam itu Albert tidak gembira Ia sudah tergila-gila
dirundung rindu. Dia yakin gadisnya akan membalas suratnya,
tetapi menunggunya, itulah yang menyiksa. Franz memahami
keadaan Albert, sebab itu dia berdalih bahwa kegaduhan
karnaval sangat melelahkan dan ia bermaksud
esok tinggal seharian di kamar membaca dan menulis.
Harapan Albert tidak dikecewakan. Malam berikutnya
Framt melihat dia berlari masuk kamar sambil mengacungacungkan
sehelai kertas di tangannya.
"Surat balasan?" tanya Franz.
"Baca saja," kata-kata itu diucapkannya dengan air muka
yang sukar dilukiskan. Franz mengambil surat dari tangan
Albert dan membacanya:
Selasa malam jam tujuh, tinggalkan kereta Tuan di muka Via
del Ponrefeci Jangan lupa memakai pita merah sebagai tanda
pengenal. Apabila sudah sampai di kaki tangga Geraja San
Ciacomo, seorang gadis akan merenggut moccoletti dari tangan
Tuan. Ikuti dia. Tapi Tuan tidak akan melihat saya. Harap
jangan mengecewakan dan hati-hati.
"Nah, apa katamu, Franz?"
"Kupikir, engkau berada diambang petualangan yang
menggairahkan."
"Begitu juga perasaanku. Karena itu aku khawatir engkau
harus memenuhi undangan Duke Bracciano seorang
diri."
Franz dan Albert telah menerima undangan dari seorang
bankir Roma ternama tadi pagi.
Akhirnya, hari terakhir dan hari yang menjadi puncak
kegembiraan karnaval, tiba. Semua teater dibuka sejak jam
sepuluh pagi karena masa berpuasa akan dimulai jam
delapan malam nanti. Mereka yang selama karnaval tidak
turut serta karena kekurangan waktu, uang atau semangat,
pada hari terakhir itu semua turun ke jalanan turut meramaikan
puncak acara.
Menjelang petang para penjual moccoletti telah mulai
kelihatan di mana-mana. Moccoletti atau moccoli berarti lilin
dalam berbagai ukuran. Tujuannya dalam pesta ini ada
dua. Pertama, bagaimana menjaga agar moccoletti sendiri
tetap menyala, dan kedua bagaimana memadamkan milik
orang lain.
Franz dan Albert bergegas membeli moccoletti seperti
orang lain. Ketika bintang-bintang pertama mulai bersinar
di langit yang seakan-akan dianggap sebagai isyarat, ribuan
cahaya lilin berkelap-kelip dan menari sepanjang jalan,
dibarengi dengan teriakan dan nyanyian gembira yang
memekakkan telinga.
Setiap lima menit sekali Albert melihat erlojinya. Jam
tujuh tepat, kedua sahabat itu sudah sampai di sudut Via del
Pontefeci. Albert meloncat ke luar dari keretanya dengan
sebuah moccoletti di tangan. Dua tiga orang mencoba
memadamkannya atau merenggut lilin dari tangannya,
tetapi Albert yang memang seorang petinju yang terlatih
berhasil menggagalkan usaha mereka Dia berjalan ke
Gereja San Giacomo.
Franz mengikuti Albert dengan pandangannya dan melihat
dia sudah sampai di kaki tangga gereja Seorang wanita
bertopeng, berpakaian seperti petani Roma merebut lilin
Albert Sekali ini Albert tidak mengadakan perlawanan.
Jaraknya terlampau jauh bagi Franz untuk menangkap
pembicaraan mereka, tetapi jelas mereka tidak bertengkar
sebab selanjutnya Franz melihat mereka berjalan sambil
bergandengan tangan.
Tiba-tiba bunyi lonceng tanda berakhirnya karnaval
bergema. Serempak moccoletti padam semua bagaikan dihembus
angin ajaib. Keadaan menjadi gelap gulita.
Segala kegaduhan dan kebisingan berhenti bersamaan
dengan padamnya lilin-lilin. Yang terdengar tinggal suara
kereta-kereta berlari membawa peserta-peserta pesta pulang
ke rumahnya masing-masing.
Yang masih tampak jelas dalam kegelapan itu hanya
cahaya teram-temaram dari beberapa jendela. Karnaval
telah berakhir.
Franz belum pernah mengalami perubahan yang begitu
mendadak dan tajam seperti sekarang. Dari kegembiraan
kepada kesepian. Perubahan ini pun seakan-akan disebabkan
angin ajaib tadi yang menghembuskan setan-setan untuk
merubah Roma yang gembira menjadi suatu kuburan
luas yang sepi mengerikan.
Dia kembali ke hotel dan mendapatkan makanan sudah
disiapkan. Oleh karena Albert sudah memberitahu bahwa
mungkin sekali ia akan pulang lambat, Franz makan
sendirian.
Jam sebelas, Albert masih juga belum pulang. Franz
memesan keretanya dan berangkat ke rumah Duke
Braciano. Ketika Duke melihat Franz datang sendiri, yang
paling dahulu ditanyakan kemana Albert. Franz menjawab
bahwa ia kehilangan Albert ketika moccoletti padam semua
"Dan apakah ia belum pulang?"
"Saya menunggu sampai jam sebelas."
'Tahukah Tuan ke mana dia pergi?"
"Tidak, tetapi saya rasa dia mempunyai janji dengan
wanita."
"Sekarang ini sebenarnya kurang aman untuk berada di
luar pada larut malam," kata Duke. 'Tuan yang telah mengenal
Roma lebih baik, selayaknya menghalangi dia
pergi."
"Mencegah Albert pada waktu ini sama halnya dengan
menahan kuda kabur. Tetapi saya meninggalkan pesan di
hotel bahwa saya berada di sini dan meminta pemilik hotel
agar segera memberitahu apabila dia sudah datang."
"Nah, itu pelayan. Saya kira, dia mencari Tuan."
Duke tidak keliru. Ketika pelayan itu melihat Franz
segera ia menghampirinya dan berkata, "Yang Mulia,
Signor Pastrini memberitahukan bahwa ada seseorang
menunggu Tuan di hotel dengan membawa surat dari Tuan
de Morcerf."
"Mengapa dia tidak mengantarkannya ke mari?"
”Tidak ada penjelasan, Yang Mulia."
"Mana sekarang suruhan Sign or Pastrini itu?"
"Dia pergi lagi setelah menyampaikan pesannya kepada
saya."
Franz mengambil topinya dan segera meninggalkan pesta.
Ketika sudah dekat hotelnya ia melihat seorang laki-laki
berdiri di tengah jalan. Franz yakin, dia tnesti orang yang
membawa surat dari Albert Franz menghampirinya, tetapi
mengejutkan sekali, orang itu yang lebih dahulu bertanya:
"Ada apa?"
"Apakah Tuan yang membawa surat untuk saya dari
Tuan de Morcerf?"
"Siapa nama Tuan?"
"Baron Franz d'Epinay."
"Benar, surat itu dialamatkan kepada Tuan."
"Apa perlu jawaban?" tanya Franz sambil menerima
surat.
"Ya, setidak-tidaknya demikianlah harapan teman
Tuan."
"Mari masuk, nanti saya berikan jawabannya."
"Saya lebih senang menanti di sini," jawabnya tertawa.
"Mengapa?"
'Tuan akan memahami setelah membaca surat itu."
Franz masuk ke dalam, menyalakan sebatang lilin dan
membaca:
Franz yang baik,
Setelah engkau membaca surat ini, tolong ambilkan uangku
dalam dompet yang kusimpan dalam laci lemariku. Tambah
dengan uangmu sendiri apabila tidak mencukupi. Berikan empat
ribu piaster kepada pembawa surat ini. Sangat penting, aku
memerlukannya sekarang juga.
Aku percaya padamu seperti engkau dapat mempercayaiku.
Sahabatmu
ALBERT DE MORCKRF
PS.
Sekarang aku percaya akan ceritera tentang bandit Italia.
Di bawah itu, dengan tulisan tangan yang berbeda,
terbaca lagi beberapa kalimat dalam bahasa Italia:
Apabila uang yang empat ribu piaster itu belum saya terima
pada jam enam pagi, jam tujuh Count Albert de Morcerf hanya
tinggal nama saja.
LUIGI VAMP A
Tanda tangan yang kedua ini menjelaskan semua persoalan,
dan dia mengerti mengapa pengantar surat itu tidak
mau dibawa masuk. Albert telah jatuh ke tangan kepala
bandit yang tersohor, yang semula dianggapnya ada dalam
dongeng belaka.
Ia tidak boleh kehilangan waktu. Franz lari ke laci lemari
Albert dan mengambil dompetnya. Uang yang ada hanya
tiga ribu piaster. Franz sendiri, karena ia tinggal di Florence
dan bermaksud tinggal di Roma hanya untuk tujuh hari,
hanya membawa uang secukupnya saja dan sekarang
tinggal kurang lebih dua ratus piaster lagi. Kekurangan delapan
ratus piaster. Tiba-tiba ia teringat kepada Count of
Monte Cristo. Dia akan memanggil Pastrini ketika yang
bersangkutan muncul.
"Signor Pastrini," tanya Franz, "apakah Count of Monte
Cristo ada di kamarnya?"
"Ada, Tuan. Beliau baru saja kembali"
"Tolong tanyakan apakah beliau dapat menerima saya
sekarang?"
Pastrini pergi membawa pesan itu, dan kembali tak lama
kemudian.
"Count menunggu Tuan," katanya.
Franz menemukan Count dalam sebuah kamar kecil
yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Sekeliling
dindingnya dipasangi dipan.
"Angin baik apakah kiranya yang membawa Tuan pada
malam selarut ini?" tanya Count of Monte Cristo. "Barangkali
Tuan hendak mengundang saya makan malam?1'
"Tidak, saya datang untuk membicarakan sesuatu yang
sangat penting. Apakah kita hanya berdua saja?"
Count of Monte Cristo pergi ke pintu dan melihat ke luar
kamar. "Tak ada orang lain."
Franz memberikan surat dari Albert. "Silahkan Tuan
baca."
Setelah ia selesai membacanya, Franz bertanya lagi,
"Bagaimana pendapat Tuan?"
Untuk sesaat Count mengerutkan dahinya. "Di mana
orang yang mengantarkan surat ini?"
"Dijalan."
"Saya akan memanggilnya."
"Saya kira tak akan ada gunanya. Dia menolak masuk ke
kamar saya."
"Mungkin ia tidak mau masuk ke kamar Tuan, tetapi lain
lagi kalau ke kamar saya." Dia pergi ke jendela yang menghadap
ke jalan, lalu bersiul dengan lagu yang khusus. Orang
suruhan itu meninggalkan dinding tempat ia bersandar,
pergi berdiri di tengah jalan.
"Ke mari!" Count of Monte Cristo berteriak dengan nada
memerintah dalam bahasa Itali. Orang itu menurut tanpa
ragu ragu Beberapa saat kemudian dia sudah berada dalam
kamar.
"Ah, engkau kiranya, Peppino!"
Laki-laki itu bukan menjawab, melainkan berlutut kemudian
mengambil tangan Count of Monte Cristo dan
menciuminya beberapa kali.
"Aku lihat engkau tidak lupa bahwa aku telah menyelamatkan
jiwamu," kata Count. "Aneh, padahal kejadian itu
terjadi seminggu yang lewat."
'Tidak, Yang Mulia, saya tidak akan pernah melupakannya,"
jawab Peppino dengan nada penuh terima kasih.
“Tak pernah? Waktu yang sangat lama! Setidak-tidaknya
aku terkesan karena engkau percaya tidak akan dapat melupakan
itu. Berdiri, dan jawab pertanyaanku."
Peppino melemparkan pandangan ragu kepada Franz.
"Engkau dapat berbicara bebas di depan Tuan ini," kata
Count yang faham akan maksud Peppino. "Beliau kawanku."
"Baik," jawab Peppino, "silahkan Tuan bertanya."
"Bagaimana Viscount Albert bisa jatuh ke tangan Luigi?"
"Begini, Yang Mulia, beberapa kali kereta Bangsawan
Perancis itu berpapasan dengan kereta yang ditumpangi
Teresa."
"Piaraan Luigi?"
"Benar. Bangsawan Perancis itu menaruh hati kepadanya,
dan hanya sekedar untuk bermain-main, Teresa membalasnya.
Mereka saling melempar bunga. Semua ini
dengan seizin Luigi tentu. Dia pun berada dalam kereta
itu."
"Apa!" Franz terkejut. "Luigi Vampa ada dalam kereta
itu?"
"Benar, dia yang menjadi saisnya. Tuan Albert membuka
topengnya dan Teresa juga dengan izin pemimpin, memperlibatkan
wajahnya. Orang Perancis meminta suatu pertemuan,
Teresa menyetujuinya Hanya saja, yang datang pada
waktunya bukan Teresa melainkan Beppo,"
"Apa!" Sekali lagi Franz tak dapat menahan dirinya.
"Wanita yang berpakaian petani yang merebut moccoletti
dari tangan Albert..."
"Adalah seorang laki-laki berumur lima belas tahun,"
kata Peppino mengisi.
'Tetapi kawan Tuan tidak perlu malu jatuh ke dalam
perangkapnya karena telah banyak yang terpedaya oleh
Beppo."
"Lalu Beppo membawanya ke luar kota?" tanya Count of
Monte Cristo.
"Benar, Yang Mulia. Sebuah kereta telah menanti mereka
di ujung Via Macello. Tuan Albert dengan sopan sekali
membantu Beppo naik kereta itu. Beppo mengatakan akan
membawanya ke sebuah vila beberapa kilometer di luar
Roma. Dalam perjalanan Tuan Albert telah berlaku
terlampau bebas sehingga Beppo terpaksa menodongkan
pistolnya Sais pun menghentikan keretanya dan membantu
Beppo, Pada saat yang bersamaan empat orang kami yang
bersembunyi di pinggir jalan bermunculan mendekati
kereta. Tuan Albert berusaha sekuat tenaga
mempertahankan diri. Saya dengar beliau hampir berhasil
mencekik Beppo tetapi apa daya beliau menghadapi lima
orang bersenjata. Beliau terpaksa menyerah dan mereka
membawanya kepada Luigi dan Teresa yang sudah menanti
di pekuburan bawah tanah Saint Sebastian."
“Centera yang menarik sekali," kata Count of Monte
Cristo melirik kepada Franz.
"Saya akan menganggapnya menarik juga," kata Franz,
"kalau kejadian itu menimpa orang lain, bukan Albert."
"Seandainya Tuan tidak datangkepada saya. petualangan
cinta kawan kita itu harus dia bayar mahal sekali Sekarang,
paling tinggi ia hanya mengalami ketakutan yang sangat.
Lagi pula, ia berada di tempat yang sangat menyeramkan.
Pernahkah Tuan ke pekuburan Saint Sebastian?"
"Belum."
"Kebetulan, sekarang ada kesempatan yang baik untuk
melihatnya."
Count of Monte Cristo memijit bel dan seorang pelayan
muncul.
"Suruh siapkan kereta. Sais tak perlu dibangunkan, biar
Ali saja yang membawanya."
Beberapa saat kemudian terdengar kereta berjalan dan
berhenti di muka pintu. Count of Monte Cristo melihat
jamnya dan berkata, "Setengah dua belas. Sebenarnya kita
dapat berangkat nanti jam lima pagi dan masih dapat mengejar
waktu, tetapi kelambatan kita akan menyebabkan
kawan kita gelisah sepanjang malam. Sebab itu lebih baik
kita berangkat sekarang."
Franz dan Count keluar, diikuti oleh Peppino.
Kereta itu melalui jalan kuno Appian yang berbatasan
dengan pekuburan. Sekali-sekali Franz melihat pengawal
muncul dari balik persembunyian tetapi terus menghilang
lagi setelah diberi isyarat oleh Peppino.
Tak seberapa jauh sebelum sampai ke dataran Caracalla
kereta berhenti Peppino membuka pintu, Franz dan Count
keluar.
"Kita akan sampai dalam sepuluh menit," kata Count
kepada Franz. Count of Monte Cristo menarik Peppino kc
samping dan memberikan suatu perintah dengan berbisik.
Peppino mengambil obor dari dalam kereta laki pergi.
Selang lima menit kemudian, Franz dan Count menempuh
jalan menurun yang dilalui Peppino, sampai mereka tiba di
kaki sebuah lembah kecil. Di sana mereka melihat dua
orang sedang bercakap-cakap di tempat yang gelap.
"Apakah kita berjalan terus atau menunggu di sini?"
tanya Franz.
"Kita terus," jawab Count. "Peppino pasti telah memberitahukan
kedatangan kita kepada penjaga."
Salah seorang dari kedua laki-laki itu, memang Peppino.
Yang seorang lagi, bandit yang sedang bertugas menjaga.
"Silakan mengikuti saya, Yang Mulia," kata Peppino
kepada Count, "pintu pekuburan itu hanya beberapa yard
lagi"
"Baik," jawab Count. "Engkau di depan."
Di belakang semak belukar, di tengah-tengah sejumlah
batu karang, mereka melihat sebuah lubang yang hanya
cukup besar untuk dilalui satu orang. Peppino menyelusup
lebih dahulu. Setelah ditempuh beberapa langkah,
terowongan itu agak melebar. Dia berhenti, menyalakan
obornya dan membalikkan badan untuk melihat apakah
kedua tamunya telah mengikutinya. Franz dan Count of
Monte Cristo terpaksa berjalan dengan membungkuk
bungkuk dan beriringan. Jalan itu tidak cukup lebar untuk
berdampingan. Setelah berjalan kira-kira lima puluh
langkah, mereka dihentikan oleh teriakan, "Siapa itu?" pada
saat yang bersamaan, cahaya obor dapat menangkap laras
sebuah karaben.
"Kawan!" kata Peppino. Dia maju beberapa langkah dan
berkata dengan suara ditahan kepada penjaga kedua ini,
yang seperti penjaga pertama, membungkukkan badan
memberi hormat dan mempersilakan tamu melanjutkan
perjalanannya.
Di belakang penjaga ada sebuah tangga dengan kira-kira
dua puluh anak tangga. Franz dan Count menuruni tangga
itu, dan mereka sekarang berada pada semacam sebuah persimpangan
jalan. Ada lima buah jalan menuju ke lima arah
seperti sudut-sudut sebuah bintang. Dinding-dinding di sekitar
yang berlubang-lubang dalam bentuk peti mayat, menunjukkan
bahwa mereka telah berada dalam pekuburan.
Dari salah satu rongga yang besarnya sukar dipastikan mereka
melihat berkas-berkas cahaya.
Count of Monte Cristo meletakkan tangannya di pundak
Franz. "Maukah Tuan melihat gua penjahat dalam keadaan
tenteram?"
“Tentu," jawab Franz.
"Baik, mari ikut saya. Peppino, matikan obor."
Peppino menurut. Keadaan menjadi gelap gulita. Kurang
lebih lima puluh yard di hadapannya mereka dapat melihat
cahaya kemerah-merahan yang lebih jelas lagi kelihatannya
dalam gelap itu. Mereka berjalan terus tanpa berkata Count
yang mempunyai mata terlatih dalam gelap berjalan di depan.
Mereka tiba di tiga buah kubat. Satu di antaranya
berlaku sebagai pintu. Di belakang kubat itu terdapat sebuah
lapangan yang cukup luas yang dinding-dinding
sekelilingnya dipenuhi oleh relung-relung seperti dinding di
luar tadi. Di tengah-tengah ruangan terdapat empat buah
batu yang dahulunya dipergunakan sebagai altar, ternyata
dari salib yang masih terdapat di atasnya. Satu-satunya
lampu yang terletak di kaki sebuah tiang mempertunjukkan
suasana dalam ruangan itu secara remang-remang kepada
kedua pendatang yang tersembunyi dalam gelap.
Seorang laki-laki duduk dekat lampu sambil membaca
membelakangi pintu masuk. Dialah pemimpin gerombolan
bandit itu, Luigi Vampa. Sekeliling dia, berkelompok-kelompok
dengan kawan masing-masing, ada kira-kira dua
puluh orang lagi, masing-masing dengan sebuah senapan
karaben yang terletak di tanah dalam jangkauannya. Di
ujung paling jauh dari ruangan itu seorang penjaga berjalan
bolak-balik.
Ketika Count of Monte Cristo mengira bahwa Franz
sudah cukup lama memperhatikan ruangan itu, dia meletakkan
telunjuknya di bibirnya sebagai isyarat untuk tidak bersuara,
lalu menaiki tiga buah anak tangga yang menuju ke
dalam ruangan dan berjalan mendekati Vampa yang lagi
asyik membaca sehingga ia tidak mendengar langkahlangkah
orang menghampirinya
"Stop! Siapa itu?" teriak penjaga tadi yang melihat sesosok
tubuh mendekati pemimpinnya dari belakang. Karena
teriakan ini Vampa bangkit dan menarik pistol dari ikat
pinggangnya. Dalam saat yang bersamaan pula semua penjahat
sudah berdiri, dan dua puluh laras senapan diarahkan
kepada Count of Monte Cristo.
"Selamat malam, Vampa yang baik," kala Count of
Monte Cristo dengan ketenangan suara yang sempurna,
"rupanya beginilah penyambutan bagi seorang kawan!"
"Letakkan senjata!" perintah Vampa. Dengan gaya seorang
bangsawan ia menggerakkan sebuah tangannya dan
mengangkat topinya dengan tangan yang satu lagi. Kemudian
berpaling kepada orang yang telah menguasai suasana
dalam ruangan itu, dan dia berkata, "Maafkan saya, Count,
saya sama sekali tidak mengira akan mendapat kehormatan
dengan kunjungan ini sehingga saya tidak mengenal Tuan."
"Rupanya ingatanmu sangat pendek, Vampa," jawab
Count, "dan bukan saja engkau cepat lupa kepada wajah
seseorang, tetapi juga cepat lupa kepada perjanjian-perjanjian
yang engkau buat dengan orang itu."
"Perjanjian manakah yang saya lupakan, Count?" tanya
Vampa dengan suara seperti orang yang telah berbuat suatu
kesalahan besar, atau setidak-tidaknya dengan nada suara
orang yang ingin memperbaiki kesalahannya.
"Bukankah telah kita sepakati, bahwa engkau bukan saja
akan menghormati aku, tetapi juga kawan-kawanku."
"Dan bagaimana pula saya telah melanggar perjanjian
itu?"
"Engkau telah menangkap Viscount Albert de Morcerf
dan menahannya di sini. Pemuda itu kawanku. Dia tinggal
dalam satu hotel yang sama dengan aku, seminggu lamanya
mempergunakan keretaku, tetapi saya ulangi, engkau menangkapnya
dan menahannya di sini dan meminta uang
tebusan."
"Mengapa aku tidak diberi tahu?" tanya Vampa kepada
anak buahnya yang pada mundur melihat pandangan marahnya.
"Mengapa kalian membuat aku mengingkari janji
kepada Count of Monte Cristo? Kalau nanti kuketahui ada
yang merahasiakan ini kepadaku, akan kuhancurkan
kepalanya."
"Seperti telah saya katakan tadi, ada kekeliruan," kata
Count of Monte Cristo kepada Franz.
"Tuan tidak sendiri?" tanya Vampa agak heran.
"Aku datang dengan Tuan yang menerima surat permintaan
uang tebusan. Aku ingin membuktikan kepadanya
bahwa Luigi Vampa bukan orang yang suka melanggar
janji."
Franz memasuki ruangan. Luigi Vampa maju selangkah
menyambutnya. "Selamat datang, Yang Mulia. Tuan telah
mendengar apa yang dikatakan oleh Count of Monte Cristo
dan apa jawaban saya. Saya hanya ingin menambahkan
bahwa saya tidak menghendaki itu terjadi sekalipun untuk
empat ribu piaster."
'Tetapi di mana Tuan Albert sekarang?" tanya Franz
sambil melihat ke sekelilingnya. "Saya tidak melihatnya."
"Saya percaya tidak terjadi apa-apa dengan dia," kata
Count of Monte Cristo mengerinyit.
"Beliau ada di dalam " kata Vampa menunjuk ke lubang
yang dikawat oleh penjaga. "Saya sendiri yang akan mengatakan
bahwa beliau bebas."
Dia pergi ke tempat Albert ditahan, Franz dan Count
mengikutinya. Vampa menarik sebuah palang lalu membukakan
pintunya. Dalam ruangan yang diterangi lampu
yang sama seperti lampu di ruangan Vampa mereka melihat
Albert terbungkus dengan pakaian yang dipinjamkan oleh
seorang bandit. Dia tidur dengan lelapnya di sudut ruangan.
"Wah, wah!" kata Count tersenyum. "Bagus sekali bagi
orang yang akan ditembak mati jam tujuh pagi nanti."
Vampa memandang Albert dengan pandangan kagum
untuk keberaniannya ”Tuan benar, Count,” katanya, "Tuan
ini pasti salah seorang kawan Tuan." Kemudian dia mendekati
Albert dan menepuk bahunya. "Bangun, Yang Mulia."
Albert menggeliat dan menggosok matanya. "Ah, rupanya
Tuan, Kapten!" katanya. "Sebaiknya saya dibiarkan
terus tidur karena sedang mimpi berdansa dengan seorang
wanita cantik dalam pesta di rumah Duke Bracciano." Dia
melihat erlojinya "Apa sebab Tuan membangunkan saya
pada waktu seperti ini?"
"Untuk mengatakan bahwa Tuan telah bebas, Yang
Mulia." .
"Apakah uang tebusan sudah dibayar?"
"Tidak, Yang Mulia. Tetapi seseorang yang permintaannya
tidak mungkin saya tolak telah datang meminta Tuan."
"Baik sekali orang itu!" Albert melihat ke sekelilingnya
dan matanya berhenti pada Franz. "Apa!" katanya terperanjat,
"engkaukah yang..."
"Bukan, bukan aku,” jawab Franz, "tetapi tetangga kita,
Count of Monte Cristo."
"Lagi-lagi Count of Monte Cristo," kata Albert gembira
sambil memperbaiki letak dasinya. "Harap Tuan suka
menerima pernyataan saya bahwa saya berhutang budi
untuk seumur hidup kepada Tuan. Mula-mula untuk kereta,
dan sekarang untuk ini!" Dia mengulurkan tangannya
kepada Count of Monte Cristo. Yang diajak berjabat tangan
menerimanya dengan agak gemetar.
Vampa melihat adegan ini dengan keheranan. Dia sudah
terbiasa melihat tawanannya gemetar berpeluh dingin di
hadapannya Sekarang dia menghadapi seorang tawanan
yang tidak pernah kehilangan semangat. Franz sendiri,
sangat bangga melihat sikap Albert yang sekaligus berarti
menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negaranya
"Kalau engkau mau bergegas," kata Franz kepada Albert,
"kita masih sempat pergi ke rumah Duke Bracciano, dan
engkau dapat melanjutkan dansamu yang terganggu tadi.
Dengan demikian engkau tidak akan menyalahkan Signor
Vampa yang benar-benar telah bersikap dan bertindak
sebagai seorang terhormat dalam urusanmu ini"
"Engkau benar, kita bisa sampai di sana jam dua. Signor
Vampa, apakah masih ada hal-hal yang harus kami lakukan
sebelum minta diri?"
"Tidak ada, Yang Mulia," jawab kepala bandit itu. 'Tuan
bebas, sebebas udara."
"Kalau begitu, saya mengucapkan selamat tinggal dan semoga
Tuan panjang usia dan hidup berbahagia. Mari,
Tuan-tuan."
Albert diikuti oleh Franz dan Count of Monte Cristo menuruni
tangga pintu lalu berjalan melalui ruangan yang
luas.
Semua bandit berdiri dengan topi di tangan masingmasing.
"Peppino!" kata Luigi Vampa, "berikan obor itu."
"Apa yang hendak kaulakukan?" tanya Count.
"Saya sendiri yang akan menunjukkan jalan, Yang
Mulia. Inilah kehormatan terkecil yang dapat saya
lakukan." Setelah mengambil obor dari tangan Peppino,
Vampa berjalan mendahului tamu-tamunya, tidak sebagai
pelayan menunjuk jalan, melainkan sebagai seorang raja
memimpin rombongan duta besar. Pada pintu pekuburan
dia membungkukkan badan sambil berkata, "Count of
Monte Cristo, ijinkanlah saya mengulangi permintaan maaf
saya, dan saya harap Tuan tidak menyimpan rasa dendam
kepada saya karena kejadian yang tidak sengaja ini."
"Sama sekali tidak, Vampa yang baik," kata Count.
"Lagipula, engkau telah memperbaiki kesalahan itu demikian
baiknya sehingga orang hampir-hampir cenderung untuk
berterima kasih karena kejadian itu."
"Tuan-tuan," katanya menghadap kepada kedua bangsawan
muda, "tawaran saya ini mungkin sekali tidak menarik
bagi Tuan-tuan, tetapi seandainya pada suatu waktu Tuantuan
ada keinginan berkunjung lagi, pintu kami selalu
terbuka, di mana pun saya berada"
Franz dan Albert membungkukkan badan tanda berterima
kasih.
"Adakah masih sesuatu yang ingin Tuan-tuan tanyakan
atau minta?" tanya Vampa tersenyum.
"Ya," jawab Franz, "saya mengakui tidak dapat menahan
rasa ingin tahu buku apa yahg sedang Tuan baca dengan
penuh minat ketika kami datang."
"Ulasan dan kritik tentang Julius Ceasar. Buku kesenangan
saya."
"Bagaimana Franz, kita pergi sekarang?" tanya Albert.
"Ya, ya," kata Franz sambil melangkah ke luar dari
pekuburan bawah tanah masuk ke udara terbuka.
"Dan sekarang, Count," kata Albert, "dapatkah kita pergi
secepat mungkin? Saya bernafsu sekali untuk menghabiskan
sisa malam ini dalam pesta di rumah Duke Bracciano!"
Ketika terbangun pagi-pagi, pikiran pertama yang timbul
pada Albert, mengajak Franz berkunjung kepada Count of
Monte Crista Dia telah mengucapkan terima kasih tadi malam
kepadanya, namun untuk pertolongan yang tidak ternilai
itu ia merasa wajib mengucapkannya lebih dari satu
kali
Franz, yang memang terkesan sekali oleh Count of
Monte Cristo, tetapi juga dibarengi semacam perasaan
takut, tidak ingin membiarkan kawannya pergi sendirian.
Mereka diantarkan pelayan ke ruang lukisan. Lima menit
kemudian Count of Monte Cristo datang menemui mereka.
"Count," kata Albert, "ijinkanlah pada pagi ini saya
mengulangi lagi apa yang tadi malam saya ungkapkan dengan
tidak begitu baik. Bahwa saya tidak akan pernah melupakan
pertolongan Tuan, dan selalu akan saya camkan dalam
hati bahwa saya berhutang nyawa kepada Tuan."
"Ah, tetanggaku yang baik," jawab Count tertawa, "Tuan
terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya apa yang telah saya
lakukan hanyalah menolong Tuan menghemat dua puluh
ribu frank atau empat ribu piaster. Lain tidak. Suatu jumlah
yang tidak berharga untuk dipersoalkan."
"Tidak, Count, rasa hutang budi saya sangat besar" kata
Albert, "dan saya datang sekarang untuk menanyakan kalau-
kalau saya, atau sahabat-sahabat saya atau kenalan-kenalan
saya, dapat melakukan sesuatu bagi Tuan."
"Tuan de Morcerf" jawab Count of Monte Cristo, "saya
akui bahwa memang saya agak mengharap tawaran itu, dan
saya ingin menerimanya dengan segala senang hati. Saya
telah mempunyai rencana meminta bantuan Tuan yang berharga
sekali."
"Apakah itu?"
"Saya belum pernah mengenal Paris dan..."
"Apa!" Albert terkejut "Dengan keadaan seperti Tuan,
Tuan belum pernah ke Paris? Sungguh mustahil!"
"Mustahil tetapi benar. Memang, sewaktu-waktu timbul
juga pikiran pada saya, seperti pada Tuan, bahwa tidak
mungkin saya terus dalam keadaan tidak mengenal kota
yang termashur akan kemajuannya. Perjalanan yang tidak
mungkin saya hindari ini sebenarnya dapat saya lakukan
dahulu, seandainya saya mempunyai seseorang yang dapat
memperkenalkan saya kepada masyarakat Paris. Tawaran
Tuan sekarang, sangat menentukan. Oleh sebab itu, sudikah
Tuan de Morcerf yang baik,” Count of Monte Cristo menyertai
ucapannya itu dengan Senyum yang ganjil, "memperkenalkan
saya kepada dunia yang masih asing bagi saya?"
"Dengan segala senang hati, Tuan. Semua kawan dan
sahabat saya akan membantu Tuan."
"Saya terima tawaran Tuan, kalau begitu," kata Count.
"Saya telah lama merencanakan perjalanan ini, dan inilah
kesempatan baik untuk melaksanakannya."
"Bila Tuan bermaksud datang di Paris?"
"Bila Tuan sendiri akan kembali?"
"Dalam dua atau tiga minggu mendatang."
"Dalam hal demikian," kata Count, "saya akan datang
tiga bulan lagi. Seperti Tuan lihat, saya memberi waktu
yang longgar sekali."
'Tiga bulan sejak sekarang Tuan akan mengetuk pintu
saya?" tanya Albert gembira seperti anak kecil
"Apakah Tuan menghendaki kita menentukan hari dan
jamnya sekali? Baik saya bcntahukan, bahwa saya seorang
yang biasa tepat memegang waktu sampai kepada detiknya"
"Hari dan jamnya" kata Albert "Tak ada yang lebih saya
senangi daripada itu."
"Baiklah. Hari ini, tanggal dua puluh satu Pebruari jam
setengah sebelas siang. Bersediakah Tuan menantikan kedatangan
saya pada tanggal 21 Mei jam setengah sebelas
siang?"
“Tentu, dan makan siang sudah akan siap pada waktu
itu."
"Di mana alamat Tuan?"
"Rue du Helder No. 27."
Count of Monte Cristo menuliskan alamat itu dalam buku
catatannya
"Apakah kita masih akan bertemu lagi sebelum saya
pulang?" tanya Albert
"Tergantung . .. kapan Tuan akan berangkat?"
"Besok jam lima sore."
"Kalau begitu, saya mengucapkan selamat jalan sekarang.
Saya mempunyai sesuatu urusan di Napoli dan belum
akan kembali ke sini sampai hari Sabtu malam atau Minggu
pagi yang akan datang. Bagaimana dengan Tuan, Baron
Franz d'Epinay? Apakah Tuan pun akan segera pulang?"
"Ya."
"Ke Perancis?"
"Tidak. Ke Venesia. Saya akan tinggal di Italia untuk
satu dua tahun lagi."
"Baiklah, Tuan-tuan, saya mengucapkan selamat jalan,"
kata Count lalu menjabat tangan tamunya seorang-seorang.
Baru untuk pertama kali itu Franz merasakan tangan
Count of Monte Cristo. Dia terkejut, oleh karena tangan itu
terasa sangat dingin seperti tangan mayat.
"Sekali lagi," kata Albert, "tanggal dua puluh satu Mei
jam setengah sebelas siang, bukan?"
'Tanggal dua puluh satu Mei jam setengah sebelas siang,"
kata Count mengulang.
Kedua bangsawan muda itu membungkukkan badan meminta
diri, lalu keluar.
"Mengapa?" tanya Albert kepada Franz ketika mereka
berjalan menuju kamarnya. "Seperti ada yang mengganggu
pikiranmu."
"Ya, aku akui," jawab Franz. "Orang itu sangat aneh,
dan aku merasa agak khawatir tentang perjanjian yang kalian
buat untuk di Paris itu."
"Engkau gila, Franz."
"Gila atau tidak, aku tetap merasa khawatir."
BAB XXII
PADA tanggal dua puluh satu Mei dalam rumah di Rue
du Helder No. 27 di Paris, segala sesuatu telah dipersiapkan
Albert untuk menyambut tamunya.
Albert de Morcerf tinggal dalam sebuah bangunan kecil
yang terletak di salah satu sudut pekarangan luas, terpisah
dari rumah induknya Hanya dua jendelanya yang menghadap
ke jalan. Tiga buah lainnya menghadap ke pekarangan,
dan yang dua buah lagi menghadap ke punggung kebun.
Di antara pelataran dan kebun itu terdapat gedung besar
dan megah, tempat tinggal Tuan dan nyonya de Morcerf.
Menilik kepada pemilihan rumah untuk Albert, kita dapat
membaca kebijaksanaan seorang ibu yang tidak mau terpisah
jauh dari anaknya, tetapi juga menyadari bahwa pemuda
seusia Albert memerlukan semacam kebebasan.
Pada hari itu, Albert duduk di ruang tamu yang kecil di
lantai pertama Seperempat jam sebelum jam sepuluh
seorang pelayan datang meletakkan beberapa surat kabar di
atas meja dan menyerahkan setumpuk surat kepada Albert.
"Jam berapa Tuan hendak makan siang, Tuan?" tanya
pelayan itu.
"Tepat jam setengah sebelas. Sebenarnya aku kurang
percaya kepada janji Count of Monte Cristo itu, tetapi setidak-
tidaknya aku ingin supaya yang menjadi kewajibanku
semua terpenuhi."
Pelayan mengundurkan diri. Albert merebahkan dirinya
di dipan, mengambil surat kabar melihat-lihat acara teater.
Ia agak kecewa karena malam nanti bukan balet yang akan
dipertunjukkan melainkan sebuah opera. Dia melihat lagi
surat-surat kabar lainnya satu demi satu. Tiga buah surat
kabar yang paling banyak dibaca orang di Paris. "Surat
kabar-surat kabar ini makin lama makin membosankan
saja," katanya sendiri di antara berkali-kali menguap panjang.
Sebuah kereta berhenti di muka pintu. Dan beberapa saat
kemudian pelayan datang memberitahukan kedatangan
tuan Lucien Debray, seorang berbadan tinggi, pucat, berambut
pirang, berbibir tipis dan bersorot mata penuh percaya
diri. Dia masuk ruangan tanpa berkata atau tersenyum.
"Selamat pagi, Lucien!" sambut Albert "Ketepatanmu
agak menakutkan. Aku memperhitungkan engkau akan
datang paling akhir, ternyata paling dahulu bahkan mendahului
waktu. Aneh sekali! Apakah kementerianmu telah
runtuh, barangkali?"
"Tidak, jangan khawatir. Memang jalan kami tertatihtatih,
namun tak akan jatuh.”
"Tuan Beauchamp!" kata pelayan memberitahukan kedatangan
tamu lain.
"Silakan, silakan masuk, Pena Tajam!" kata Albert,
berdiri dan melangkah menyambut kedatangan tamu baru.
"Lihat, ini Debray yang membenci tulisanmu tanpa membacanya
dahulu, setidak-tidaknya begitulah katanya.”
“Ia tidak salah," kata Beauchamp. "Dia sama seperti aku.
Aku merigritiknya tanpa mengetahui apa yang ia perbuat
Selamat pagi"
Sekertaris Menteri dan wartawan berjabatan tangan sambil
tersenyum.
"Kita hanya menunggu dua orang lagi,” kata Albert,
"setelah itu kita akan pindah ke meja makan."
"Siapa mereka itu?" tanya Beauchamp.
"Seorang jentelmen dan seorang diplomat."
"Berarti kita harus menunggu dua jam lagi untuk jentelmen
itu, di tambah beberapa lama lagi untuk diplomat."
"Tidak," kata Albert mencoba meyakinkan. "Kita akan
makan tepat jam setengah sebelas, apa pun yang terjadi."
'Tuan de Chateau-Renaud dan Tuan Maximilen Morrel!"
seru pelayan.
"Ah, sekarang lengkap sudah," kata Beauchamp.
"Bukankah mereka yang engkau nantikan, Albert?"
"Morrel . . ." Albert mengulang-ulang nama itu agak
heran. “Morrel? Siapa dia?"
Tetapi sebelum dia habis berpikir, Tuan de Chateau-
Renaud, seorang muda yang tampan, berumur kira-kira tiga
puluhan, yang perlente sampai ke ujung jari-jarinya,
memegang Albert di tangannya dan berkata, "Ijinkan saya
memperkenalkan Kapten Maximilien Morrel, sahabat dan
lebih dari itu, penyelamat jiwa saya. Terimalah
pahlawanku, Viscount."
Dia melangkah ke samping memberi kesempatan kepada
Albert untuk memandang seorang tinggi kekar, berdahi
lebar dan bermata tajam dengan kumis melintang di bawah
hidungnya. Seragam yang indah menonjolkan dadanyayang
bidang dihias dengan bintang kehormatan. Perwira muda
itu membungkukkan badan memberi hormat. Gerakannya
sangat mengesankan karena ia seorang yang gagah.
'Tuan de Chateau-Renaud telah mengetahui terlebih
dahulu betapa akan gembira saya dapat berkenalan dengan
Tuan," kata Albert ramah. 'Tuan telah menjadi sahabatnya,
terimalah saya menjadi kawan Tuan."
"Bagus sekali," kata de Chateau-Renaud, "saya harap,
Viscount, bila ada kesempatan ia akan berbuat untuk Tuan
sebagaimana ia telah melakukan untuk saya."
"Apa yang telah dilakukannya?" tanya Albert
"Ah " kata Maximilien, "suatu hal yang tidak penting.
Baron de Chateau-Renaud terlalu membesar-besarkannya."
"Apa!" kata Baron Chateau-Renaud. "Tidak penting? Itu
berarti bahwa nyawa tidak penting!"
"Jelas bagi saya, Baron, bahwa Kapten Morrel pernah
menyelamatkan jiwa Tuan."
''Begitulah."
"Bagaimana kisahnya?" tanya Beauchamp.
"Seperti kalian tahu, pada suatu waktu timbul pikiran
pada saya untuk pergi ke Afrika di mana sedang berlangsung
pertempuran antara pasukan kita dengan orang-orang
Arab," kata Chateau-Renaud memulai "Dan oleh karena
saya pikir akan memalukan sekali apabila saya menyianyiakan
bakat saya, saya mengambil keputusan untuk mencoba
dua buah pistol saya yang baru terhadap orang Arab.
Sebab itu, mula-mula saya menuju ke Oran. Dari sana melanjutkan
ke Istambul dan datang di sana tepat pada saat
pengepungan terhadap orang Arab dikendurkan. Saya turut
mengundurkan diri bersama yang lain. Selama empat puluh
delapan jam saya harus menahan hujan di siang hari dan
salju di malam hari. Tiba-tiba saya melihat enam orang
Arab datang berkuda mendekat. Dua orang dari padanya
saya tembak dengan senapan, dan dua orang lainnya
dengan pistol. Mas di ada dua orang lagi dan senjata saya
sudah kosong semua. Salah seorang dari mereka
menjambak rambut saya, itulah sebabnya saya cukur
pendek sekarang, siapa tahu kejadian seperti itu bisa
berulang lagi, dan yang seorang lagi men arahkan
pedangnya ke leher. Saya sudah merasakan dinginnya
pedang itu di tenggorokan ketika Tuan ini datang
menyerang mereka. Dia menembak orang yang memegang
rambut saya dan membelah kepala yang lainnya dengan
pedangnya Kapten Morrel telah mewajibkan dirinya untuk
menyelamatkan jiwa orang lain pada hari itu yang baginya
mempunyai arti yang istimewa. Dan ternyata takdir menentukan,
sayalah orangnya yang diselamatkan itu."
"Benar," kata Maximilien, "hari itu tanggal lima September,
hari diselamatkannya ayah saya dari suatu kematian
dengan cara yang menakjubkan sekali. Sepanjang dalam batas
kemampuan, saya mencoba untuk memperingati hari itu
setiap tahun dengan perbuatan yang..."
"Perbuatan yang bersifat kepahlawanan, begitu bukan?"
Chateau-Renaud menyela. "Ceritera yang tadi disinggung
sedikit deh Tuan Morrel, merupakan kisah tersendiri yang
cukup menarik. Pada suatu hari nanti, apabila kalian telah
mengenalnya dengan baik, saya harap dia rnau menceriterakannya
selengkapnya Tetapi sekarang, lebih baik kita
mengisi perut daripada mengisi pikiran. Jam berapa kita
akan makan, Albert?"
"Setengah sebelas."
"Tepat?" tanya Debray sambil mengambil erlojinya.
“Ijinkan saya menunggu lima menit lagi," kata Albert,
"karena saya pun menunggu seorang penyelamat."
"Penyelamat siapa?”
"Aku, tentu! Apa kalian mengira aku tidak dapat diselamatkan
seperti orang lain, dan bahwa orang Arab saja
yang suka memotong leher? Tahun ini saya ke Roma untuk
melihat karnaval..."
"Kami tahu itu," kata Beauchamp.
"Ya, tetapi ada yang tidak engkau ketahui, aku ditangkap
bandit."
"Di sana tidak ada bandit," kata Debray. "Mengapa tidak
kauakui saja bahwa tukang masakmu terlambat dan bahwa
engkau bermaksud menyuguhkan sebuah ceritera sebagai
pengganti makanan? Kami cukup baik untuk memaafkan
dan mendengarkan kisahmu yang kedengarannya sangat
fantastis."
"Aku akan mengisahkannya, tetapi, betapapun mengherankannya,
aku bersumpah bahwa ceriteraku benar sejak
awal sampai akhir. Bandit-bandit menangkap dan membawaku
ke sebuah tempat yang mengerikan, terkenal dengan
nama pekuburan Saint Sebastian. Aku ditangkap untuk
mendapatkan uang tebusan sejumlah empat ribu piaster.
Celakanya, di kantongku pada waktu itu hanya ada seribu
lima ratus. Waktu kunjungan di Italia sudah hampir berakhir
dan uangku sudah hampir habis. Aku menulis surat
kepada Franz. Oh, ya! Aku pergi bersama Franz, jadi, kalau
perlu, kalian boleh menyuratinya bertanya apakah aku
bohong atau tidak. Aku menulis surat kepada Franz, kalau
uang yang empat ribu piaster itu belum diterima pada jam
enam pagi berikutnya aku akan segera bergabung dengan
penghuni-penghuni kuburan itu. Dan aku dapat meyakinkan
kalian bahwa Signor Luigi Vampa - itulah nama
kepala bandit — akan memegang teguh kata-katanya"
"Dan Franz datang dengan uang yang empat ribu piaster
itu, bukan?" kata Chateau-Renaud.
"Tidak. Sederhana sekali Dia datang dikawani seorang
jentelmen yang kedatangannya aku nantikan sekarang dan
yang aku harapkan dapat memperkenalkannya kepada kalian.
Orang itu mengatakan beberapa kalimat kepada kepala
bandit, dan aku bebas."
"Dan aku kira, bahkan mereka meminta maaf karena
telah menahanmu," kata Beauchamp menyindir.
"Ya, benar. Mereka meminta maaf," kata Albert
"Orang itu mesti atasannya kepala bandit!"
"Bukan, orang itu adalah Count of Monte Cristo."
'Tidak ada orang yang bernama Count of Monte Cisrto,"
kata Debray.
"Aku kira juga tidak ada," tambah Chateau-Renaud
dengan keyakinan seseorang yang mengenal semua bangsawan
Eropah di telapak tangannya, "Adakah di sini yang
pernah mendengar nama Count of Monte Cristo, di mana
saja?"
"Barangkali ia datang dari Kota Suci," kata Beauchamp.
"Salah seorang leluhurnya mungkin pernah memiliki Calvari,
sebagaimana halnya kaum Mortemart dahulu memiliki
Laut Mati."
"Maafkan saya," kata Maximilien, "barangkali saya dapat
menjelaskan. Monte Cristo adalah nama sebuah pulau
kecil yang sering saya dengar dalam percakapan-percakapan
awak kapal ayah saya. Sebuah pulau pasir di tengah-tengah
kepulauan Mediterania."
"Benar," kata Albert 'Dan orang yang aku maksud ini
adalah pemilik dan raja pulau pasir itu. Mungkin saja dia
membeli gelar Countnya di sesuatu tempat di Tuscani.
Tetapi itu tidak merubah kenyataan bahwa Count of Monte
Cristo memang ada."
"Setiap orang ada, tak ada yang aneh dalam hal ini."
"Setiap orang ada, memang benar, tetapi tidak seperti
Count of Monte Cristo. Orang itu sering sekali membuatku
gemetar. Pada suatu hari, umpamanya, kami menonton
pelaksanaan hukuman mati. Aku kira aku hampir jatuh
pingsan, tetapi lebih banyak disebabkan melihat dan
mendengarkan dia berceritera tentang kekejaman-kekejaman
di dunia ini daripada disebabkan melihat algojo melaksanakan
tugasnya dan mendengar jeritan maut orang yang
dihukum."
"Setelah dia menolong jiwamu, apakah dia menyodorkan
sebuah kontrak untuk engkau tandatangani, dalam mana
engkau harus menyerahkan hidupmu kepadanya?"
"Silakan tertawa!" kata Albert sedikit tersinggung.
"Tertawalah sebanyak dan selama kalian suka. Kalau aku
melihat kalian sebagai orang-orang Paris yang rapih, yang
terbiasa dengan kemewahan dan kemegahan, kemudian
membandingkannya dengan dia, aku cenderung mengatakan
bahwa kita berasal dari jenis yang lain daripada dia!"
"Terima kasih, saya merasa dipuji dengan kata-katamu
itu!" kata Beauchamp.
"Bagaimana juga, Count of Monte Cristo itu tidak dapat
disangsikan lagi seorang yang sopan dan terhormat, kecuali
mengenai hubungannya dengan bandit-bandit Italia itu,"
kata Chateau-Renaud.
"Bandit-bandit Itali itu tidak ada!" kata Debray.
"Juga tidak ada Count of Monte Cristo," tambah lagi
Beauchamp. "Dengar, lonceng telah berbunyi setengah
sebelas. Anggap saja ceritera itu sebagai suatu impian dan
mari kita makan."
Belum lagi gema lonceng menghilang, pintu terbuka dan
pelayan berteriak, 'Yang Mulia Count of Monte Cristo!"
Tak seorang pun dari mereka mendengar suara kereta
datang atau suara orang berjalan di ruang tunggu, bahkan
tidak juga ada yang mendengar pintu dibuka pelayan.
Count of Monte Cristo muncul di ambang pintu, berpakaian
dengan amat sederhana, namun, seorang ahli busana
pun tidak akan dapat menemukan kesalahan atau kecanggungan
dalam pakaiannya itu. Dia tersenyum dan melangkah
menghampiri Albert, yang sudah maju menyambutnya
dan dengan gembira menjabat tangannya
"Count," kata Albert, "saya baru saja memberitahukan
kunjungan Tuan kepada sebagian dari kawan-kawan saya
yang sengaja saya undang untuk kesempatan ini dan yang
dengan senang hati ingin saya perkenalkan sekarang. Ini,
Count Chateau-Renaud yang kebangsawanannya telah berumur
tua sekali dan leluhur-leluhurnya semua termasuk
golongan Ksatria. Tuan Lucien Debray, Sekertaris Menteri
Dalam Negeri; Tuan Beauchamp wartawan yang tajam
penanya, yang menjadi duri bagi Pemerintahan Perancis;
dan akhirnya Tuan Maximilien Morrel, kapten dari
Spahis."
Mendengar nama terakhir ini, Count of Monte Cristo
yang selama ini membungkukkan badan dengan dingin dan
acuh tak acuh setiap kali diperkenalkan, tanpa disadarinya
maju selangkah dan pipinya yang pucat berubah menjadi
sedikit merah. "Tuan mengenakan seragam Perancis yang
baru."
'Betul," sahut Albert, "dan di balik seragam itu berdenyut
jantung salah seorang yang paling berani dalam ketentaraan
Perancis."
"Ah, Tuan de Morcerf!" Maximilien menyela.
"Biarkan saya berkata terus, Kapten. Kami baru saja
mendengar," lanjut Albert, "bahwa Tuan Morrel telah melakukan
suatu tindakan ksatria. Sekalipun saya baru hari Ini
untuk pertama kalinya bertemu, saya harap beliau tidak
berkeberatan saya perkenalkan sebagai salah seorang sahabat
saya"
"Kapten Morrel berhati mulia!" sambut Count of Monte
Cristo. "Senang sekali saya rasanya!"
Pernyataan spontan dari Count of Monte Cristo ini
mengejutkan semua, terutama Maximilien sendiri yang memandang
kepada Count of Monte Cristo dengan rasa heran.
"Tuan-tuan," kata Albert, "pelayan telah memberitahukan
bahwa makanan telah siap. Ijinkanlah saya menunjukkan
jalan, Count."
Mereka semua masuk ke dalam ruang makan dan
masing-masing mengambil tempat.
Albert memperhatikan bahwa Count makannya sedikit.
"Saya khawatir bahwa makanan Perancis tidak sesuai dengan
selera Tuan. Seharusnya sejak jauh-jauh hari saya
sudah bertanya apa yang menjadi kesukaan Tuan."
"Kalau Tuan mengenal saya cukup baik," jawab Count
tersenyum, "Tuan tidak perlu bersusah-payah memikirkan
hal-hal yang tidak begitu penting bagi seorang yang suka
bepergian seperti saya. Saya dapat hidup dengan makaroni
di Napoli, dengan polenta di Milan, olla podrida di
Valensia, sayur kari di India, pilau di Istambul atau sarang
burung di Negeri Cina. Saya makan segala makanan di
segala tempat, tetapi sedikit. Dan hari ini, kebetulan sekali
nafsu makan saya lagi baik karena saya belum makan sejak
kemarin pagi."
"Sejak kemarin pagi?" tamu-tamu lain berkata hampir
berbarengan. "Tuan tidak makan selama dua puluh empat
jam?"
"Benar," jawab Count of Monte Cristo. "Saya agak terlambat
dalam perjalanan kemarin, sehingga saya tidak mau
berhenti untuk makan.”
"Apakah Tuan tidak makan dalam kereta?" tanya Albert.
'Tidak, saya tidur, seperti biasa kalau saya merasa jemu
dan tidak bernafsu menghibur diri, atau kalau saya lapar
dan tidak mau makan."
"Rupanya Tuan dapat mengatur tidur?" tanya Albert lagi.
"Begitulah kurang lebih."
"Apakah ada resepnya?"
"Ada, dan manjur sekali"
"Bolehkah kami mengetahuinya?" tanya Debfay.
"Mengapa tidak," kata Count of Monte Cristo. "Saya tidak
pernah merahasiakannya. Campuran dari madat yang
baik dengan ganja yang tumbuh di negri Timur. Untuk
mendapatkan madat yang baik dan mumi, sengaja saya
pergi ke Canton. Campurkan kedua bahan itu dalam perbandingan
yang seimbang lalu dibuat pil. Kalau Tuan memerlukannya,
tinggal menelan saja. Akibatnya akan segera
terasa dalam tempo sepuluh menit"
"Tetapi," kata Beauchamp, yang sebagai seorang wartawan
sangat tidak mudah percaya, "apakah Tuan membawanya
obat itu setiap waktu?"
"Setiap waktu," jawab Count of Monte Cristo.
"Tidak berlebih-lebihankah apabila saya meminta melihatnya?"
tanya Beauchamp lagi, mencoba menjebak.
"Sama sekali tidak,” kata Count. Dia mengeluarkan
sebuah kotak indah terbuat dari batu jamrud dari saku
bajunya. Dalam kotak itu terdapat lima atau enam buah pil
bundar sebesar-besar kacang. Warnanya kehijau-hijauan,
baunya menusuk.
Kotak itu dikelilingkan, tetapi para tamu lebih tertarik
oleh jamrudnya daripada oleh pil yang berada di dalamnya.
"Jamrud yang sangat menakjubkan," kata Chateau-
Renaud, "dan yang paling besar yang pernah saya lihat"
"Saya mempunyai tiga buah semacam itu," kata Count of
Monte Cristo. ''satu saya berikan kepada Grand Seigneur
yang memasangnya pada pedangnya, dan sebuah lagi
kepada Paus yang memasangnya pada mahkotanya
berhadapan dengan jamrud lainnya yang sama jenisnya
tetapi tidak begitu cantik. Jamrud yang ada pada beliau itu
diterima dari Kaisar Napoleon oleh pendahulunya, Pius
VII. Yang sebuah ini tetap saya pegang. Saya menyuruh
mengoreknya menjadi sebuah kotak. Setengah dari nilainya
hilang terkorek, namun kehilangan itu seimbang dengan
kegunaan yang saya maksudkan."
Setiap orang melihat kepada Count of Monte Cristo
dengan penuh keheranan. Dia berbicara begitu polos
sehingga menimbulkan kesan ia gila atau berkata
sebenarnya. Tetapi jamrud yang pernah dipegang masingmasing
menjadi bukti nyata bahwa apa yang dikatakannya
benar belaka.
"Dan apa yang Tuan terima dari kedua pembesar itu
sebagai penukarnya?" tanya Debray.
"Grand Seigneur memberikan kebebasan kepada seorang
wanita," jawab Count, "dan Bapa Suci memberikan nyawa
seseorang kepada saya."
"Tentu Peppino yang jiwanya Tuan selamatkan itu,
bukan?" tanya Albert.
"Mungkin," jawab Count of Monte Cristo tersenyum.
'Tuan tentu tak akan dapat membayangkan betapa senang
hati saya mendengar Tuan berbicara seperti itu!" kata
Albert. "Saya tadi menggambarkan Tuan kepada temanteman
sebagai orang yang aneh, seperti seorang bijaksana
dari ceritera Seribu Satu Malam, seperti seorang ahli sihir
dari abad pertengahan. Tetapi orang-orang Paris ini suka
menganggap suatu kebenaran yang tidak terbantahkan sebagai
suatu permainan daya khayal belaka, apabila kebenaran
itu tidak cocok dengan cara hidup mereka sehari-hari.
Tolong Tuan ceriterakan bahwa saya ditangkap oleh banditbandit
Italia dan bahwa jika tidak karena campur tangan
Tuan mungkin sekarang saya sedang menantikan
Pengadilan Terakhir di pekuburan Saint Sebastian, dan
bukannya menjamu mereka sekarang di rumah saya yang
sederhana ini. Selain dari itu, saya pun ingin mengetahui
bagaimana Tuan telah menanamkan pengaruh yang begitu
besar pada Luigj Vampa yang kita ketahui tidak banyak
yang dia segani. Franz dan saya betul-betul merasa
terkesan.”
"Saya telah mengenal Luigi Vampa kurang lebih sepuluh
tahun lamanya," kata Count of Monte Cristo. "Pada suatu
hari, ketika ia masih kanak-kanak dan masih menjadi gembala
yang sederhana, pernah saya memberinya sebuah mata
uang emas sebagai hadiah karena telah menunjukkan jalan
kepada saya. Supaya tidak merasa berhutang budi, dia
memberikan sebilah belati yang dibuatnya sendiri sebagai
penukarnya. Saya kira Tuan pernah melihatnya dalam
koleksi senjata-senjata saya. Beberapa tahun kemudian,
mungkin karena dia telah lupa kepada pertukaran hadiah
yang sebenarnya dapat membuat kami bersahabat, atau
mungkin juga karena dia tidak mengenali saya, dia
mencoba menangkap saya. Tetapi kejadiannya, bukan saya
yang dia tangkap, melainkan dia yang saya tangkap,
termasuk selusin anak buahnya. Sebenarnya, pada waktu
itu saya dapat menyerahkannya kepada pengadilan Roma
yang tentu saja akan me-mashurkan nama saya dan
pengadilan pun akan dengan senang hati segera
mengadilinya. Tetapi saya tidak melakukannya. Saya
membebaskan dia, juga anak buahnya”
"Dengan sarat bahwa mereka tidak berbuat jahat lagi"
kata si wartawan tertawa "Saya senang sekali mengetahui
bahwa mereka memegang teguh janjinya.”
'Tidak," jawab Count of Monte Cristo, "hanya dengan
sarat bahwa ia selalu akan menghormati saya dan kawankawan
saya. Itulah sebabnya saya dapat melepaskan Tuan
rumah kita dari tangannya. Saya mempunyai maksud tertentu
dengan menyelamatkan Tuan. Saya ingin mengunjungi
Tuan dan meminta pertolongan Tuan untuk memperkenalkan
saya kepada masyarakat Paris apabila saya -ber
kunjungan ke Perancis. Ketika itu Tuan dapat menganggapnya
sebagai suatu angan-angan selintas, tetapi sekarang
telah benar-benar menjadi suatu kenyataan yang akan
membuat Tuan menderita bila Tuan tidak memenuhi janji."
"Saya akan memegang janji itu," kata Albert, "tetapi saya
khawatir Tuan akan kecewa Tuan telah biasa dengan
pemandangan-pemandangan yang indah, kejadian-kejadian
yang menakjubkan dan pengetahuan yang luas, padahal
Perancis hanyalah sebuah negara yang menjemukan dan
Paris hanya sebuah kota yang terkenal peradabannya saja.
Sebab itu hanya ada satu hal saja yang dapat saya lakukan
dan untuk itu saya menyerahkan segala-galanya yang ada
pada saya, yaitu memperkenalkan Tuan ke mana-mana
atau meminta sahabat-sahabat saya melakukannya. Saya
tidak berani menawarkan Tuan tinggal bersama saya seperti
yang telah Tuan lakukan kepada saya di Roma, karena
tempat saya ini demikian kecilnya sehingga tak ada lagi
tempat untuk Sebuah bayangan pun, kecuali sebuah
bayangan seorang wanita."


0 Response to "The Count of Monte Cristo 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified