Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Sandra Brown, Exclusive 2

Mereka bertiga tengah menilmati sarapan gaya continental
di ruangan Vanessa. Menurut Clete, Vanessa sama
sekali tidak membutuhkan kafein, dan ia sedang
menikmati cangkir kedua. “Mungkin sebaiknya kau
tinggal di rumah selama beberapa minggu,” ia menyarankan.
“Kau bisa mandi matahari, bangun siang-siang
tiap hari, makan masakan Selatan yang menggemukkan.
Bagaimana, David? Kita angkut dia ke Mississippi?”
Menantunya menampilkan senyum kampanyenya yang
paling manis. Ia pasti sering berlatih. “Dia baru saja
pulang, Clete. Aku tidak ingin membiarkannya langsung
pergi lagi. Lagi pula, dia semakin membaik. George
rnelakukan banyak keajaiban untuknya.”
Clete punya pendapat berbeda tentang Dr. Allan. “Dua
malam yang lalu, dia kelihatan tidak keruan.”
Vanessa berada di meja rias, mencoba antinganting.
“Yang mana sebaiknya yang kupakai?” ia bertanya,
berbalik menghadap mereka dan memegang antinganting
berbeda di setiap telinganya. “Kurasa yang mutiara
yang paling cocok, bukan, Daddy?”
“Yang mutiara bagus.”
“Ini punya Ibu.”
“Ya, aku tahu.”
“Waktu aku kelas satu SMU, Daddy mengizinkan aku
memakaunya ke pesta dansa, ingat, Daddy? Aku
kehilangan satu anting, dan Daddy marah. Tapi aku
kembali ke aula besoknya dan mencari-cari sampai dapat.
Gaunku berwarna pink. Daddy mengomel karena
menurut Daddy penjahitnya membuat gaun itu terlalu
pendek. Teman kencanku adalah Smith muda yang kuliah
di Princeton dan kemudian DO. Aku lupa bagaimana
278
nasibnya setelah itu.”
Sebelum Vanessa didiagnosis menderita manicdepressive,
Clete bingung dan sedih menyaksikan emosi
putrinya yang berubah-ubah dengan tajam. Ia bisa sangat
tertekan, kesal, cemas, atau hiper . Tapi ia jarang
melihatnya begitu bersemangat seperti sekarang. Ia
tengah mengalami episode manic atau teler akibat obat
antidepresi. Gejala-gejalanya begitu mirip hingga sulit
membedakannya. Namun ia belum stabil, padahal itulah
tujuan ia diasingkan.
David pasti menyadari perilakunya, tapi berusaha
keras mengabaikannya. Ia memotong ucapan Vanessa
untuk mengomentari perkataan ayahnya tentang si dokter.
“George sedang tidak beres malarn itu, Clete. Dan
bisakah kau menyalahkannya? Pertama, perawat itu
meninggal di hadapannya, kemudian dia tak bisa
menemukan keluarga terdekat wanita itu. Di atas itu
semua, Barrie Travis muncul di rumah sakit bersama kau
dan Gray, menimbulkan keributan dan insiden media
yang tidak kita butuhkan.” Sambil terkekeh, ia menggeleng.
“Katakan padaku, dia tidak betul-betul mengira mayat itu
Vanessa.”
“Yang jelas wanita itu menerima hujan cercaan dariku,
itu bisa kupastikan,” kata Clete, menudingkan telunjuknya
yang tumpul. “Dan urusanku dengannya belum selesai.”
“Aku tak mau membicarakannya lagi,” Vanessa
berkata, seraya meninggalkan meja rias. “Coba lihat
lenganku. Merinding. Seram rasanya mendengar desasdesus
tentang kematianmu sendiri.”
“Aku takkan pernah memaafkan wanita itu karena
penderitaan yang ditimbulkannya pada diriku,” kata
279
Clete. “Aku kenal beberapa reporter tak bertanggung
jawab, namun dia berada di urutan paling atas.
Bagaimana dia bisa punya pikiran mengerikan seperti itu?
Bagaimana versimu tentang kejadian itu, Manis?”
“Kejadian apa? Oh, maksud Daddy apa yang terjadi di
Highpoint? Semua samar. Aku betul-betul tak ingat kapan
berangkat. Waktu bangun, aku sudah di tempat tidurku di
sini, dan George memberitahu bahwa aku akan segera
merasa jauh lebih baik.”
“Dan memang kau sekarang lebih baik.” David
bergerak mendekatinya, meraih tangannya, dan mencium
pipinya. Tapi Clete melihat Vanessa cepat-cepat menjauh.
“George memberitahu bahwa perawatku mengalami
serangan jantung fatal. Aku merasa sedih, meskipun tak
pernah benar-benar bertemu dengannya.” la merapikan
letak gelang lonceng berat di pergelangan tangannya yang
kurus. “Benda ini merepotkan aku.”
“Apa maksudmu, kau tak pernah bertemu Mrs.
Gaston?” tanya Clete.
“Seperti kataku tadi, Daddy. Aku hanya bisa mengingat
suaranya samar-samar, namun tak bisa membedakannya
dari orang lain. Aku sama sekali tak ingat seperti apa
penampilannya. Mungkin kulepas saja ini.” Dilepasnya
gelang itu dan dijatuhkannya ke meja hingga menimbulkan
bunyi ribut.
“George Allan membuatku percaya bahwa kalian
berdua sangat dekat,” ujar Clete.
“George benar,” David berkata. “Kau cuma tidak
ingat, Sayang.”
“Aku tak pernah bertemu dia. David,” Vanessa ngotot.
“Aku pasti tahu kalau pernah bertemu dengannya atau
280
tidak, dan aku tak pernah bertemu dengannya. Kenapa
kau selalu mengoreksiku? Kau selalu begitu, dan aku
benci sekali. Aku jadi merasa tolol.”
“Kau tidak tolol.”
“Kau memperlakukan aku seolah aku begitu.”
“Kau sedang menjalani pengobatan, Sayang,” kata
David tenang. “Kau jadi sangat dekat dengan Mrs.
Gaston, tapi karena obat penenang yang kau minum
untuk membantumu beristirahat, kau jadi tidak ingat.”
“Baiklah, baiklah, terserah.” Vanessa mengibaskan
tangan. “Ya Tuhan, aku hampir tak percaya dia
meninggal persis di kaki tempat tidurku. Aku jadi ngeri.”
Dipasangkannya kembali gelang tadi dan digoyangkannya.
“Aku senang sekali memakai gelang ini. Aku suka
mendengar hiasan-hiasannya berdenting. Seperti loncenglonceng
kereta salju waktu Natal.”
“Natal akan datang sebelum kita sempat menyadarinya,”
kata David, kembali tersenyum. “Lalu kita akan
memasuki Tahun Baru. Tahun pemilu. Mari kita lupakan
soal Barrie Travis dan perawat itu serta semua peristiwa
tidak menyenangkan yang terjadi tahun ini dan
berkonsentrasi pada tahun yang akan datang.” la
menggosok-gosok tangannya kuat-kuat.
“Kita harus menyusun banyak rencana pemilihan”
“Aku belum mau memikirkannya.”
Menanggapi komentar putrinya, Clete berkata “Aku
setuju, David. Kurasa kau agak terlalu cepat bergerak.
Kita sembuhkan Vanessa dulu. Masih banyak waktu untuk
menyusun rencana kampanye.”
“Tidak pernah terlalu dini untuk membuat rencana.”
Vanessa mulai meremas-remas tangannya. “Baru
281
memikirkannya saja... Dengar, David, sudah lama
perasaanku tidak sebaik saat ini, tapi kurasa aku belum
siap untuk tampil di konferensi pers pagi ini.”
Clete kaget mengetahui ada jadwal konferensi pers
pada pukul 11.00 di Ruang Timur. Vanessa diharapkan
hadir. Penata riasnya sudah dipanggil ke Gedung Putih. Ia
melakukan keajaiban dengan rambut dan makeup Vanessa,
namun keahliannya tidak berhasil menutupi sepenuhnya
lingkaran hitam di bawah kedua mata ibu negara itu, juga
kecekungan pipinya.
“Kenapa aku harus hadir?” tanya Vanessa cemas.
“Cuma beberapa menit,” sahut David.
“Itu bukan jawaban,” tukas Clete. “Kenapa Vanessa
perlu berada di sana?”
Dengan kaku David menjawab, “Karena Vanessa telah
melibatkan Barrie Travis dalam kehidupan kita, itu
sebabnya. Saat itulah semua ini dimulai, dan puncaknya
adalah keributan di ruang gawat darurat itu. Desas-desus
menyebar dengan cepat. Satu-satunya cara supaya kita
dapat memadamkannya adalah dengan mengumumkan
kematian Mrs. Gaston dan menjelaskan apa yang terjadi.
“Lagi pula, orang-orang sudah lama tidak melihat ibu
negara mereka. Kau menerima ribuan kartu dan surat
yang mengharapkan kau cepat sembuh. Mereka tidak
boleh diabaikan, Vanessa.”
“Tentu saja aku akan berterima kasih pada mereka.
Akan langsung kusuruh stafku membereskan masalah itu.
Tapi tak bisakah kita tunda konferensi persnya? Selama
beberapa hari saja?”
“Sudah telanjur dijadwalkan,” bentak David. “Dalton
bakal mengamuk. Lagi pula, kalau sekarang kita
282
batalkan, cuma akan menimbulkan lebih banyak spekulasi
tentang mengapa kau berada di Highpoint dan memerlukan
perawat pribadi. Aku tak mau ada publikasi negatif lagi.
Belum cukupkah kerugian yang kautimbulkan?”
“David!” gelegar Clete. “Demi Tuhan.”
Presiden menghela napas. “Maafkan aku. Perkataanku
tadi keterlaluan. Aku tidak bersungguh-sungguh.” la
mendekati istrinya, kali ini meletakkan tangan di
bahunya. Clete berani bersumpah Vanessa betul-betul
bergidik. “Kita semua mengalami masa-masa yang
menegangkan, tapi terlebih lagi kau,” katanya lembut.
“Kalau kau ingin, konferensi pers hari ini tak perlu
kauhadiri. Tidak terlalu penting kok. Mestinya aku tidak
memaksamu hadir kalau kau merasa belum siap.”
Vanessa buru-buru memandang ayahnya, yang melihat
kepanikan dan ketidakberdayaan di mata putrinya.
Namun Vanessa berkata, “Tidak, David, aku akan hadir.
Itu tugasku sebagai Ibu Negara.”
David menekan bahunya. “Begitu dong. Aku takkan
menjadwalkan konferensi hari ini kalau kupikir itu akan
menyebabkan kondisimu memburuk. George telah
memastikan bahwa kau cukup kuat. Malah dia berkata
padaku bahwa semakin cepat kembali pada kehidupanmu
yang biasanya, makin baik perasaanmu.”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Tak ada. Dalton akan menyampaikan pidato dukacita
singkat ontuk Mrs. Gaston. Dia akan mengatakan kau
yang menulisnya, namun dia yang membacakan. Kau
cuma harus berdiri di sana dan tampil cantik untuk
kamera. Kau bisa melakukannya, bukan?”
“Tentu saja dia bisa,” tukas Clete sengit. “Pukul berapa
283
dia harus turun?”
“Beberapa saat sebelum pukul sebelas. Kalau kau bisa
bersamanya sampai saat itu, Clete, aku harus membereskan
beberapa masalah.” Setelah berkata begitu, David
meninggalkan ruangan.
“Kau harus makan, Vanessa.”
“Aku tidak lapar. Tadi aku sudah minum jus jeruk.” la
melintasi ruangan menuju jendela, lalu menyibakkan
tirai. “Daddy, aku tak ingin mengatakannya di depan
David, tapi benarkah aku mendengar dia menyinggung
soal Gray?”
“Sialnya,” gerutu Clete. Ia telah memutuskan untuk
tidak memberitahu Vanessa soal pemunculan kembali
Bondurant di lokasi kejadian dan sama sekali tidak senang
ketika David kelepasan bicara. “Kuharap kita tidak akan
bertemu si Rambo itu lagi.”
“Dia di Washington?”
“Tadinya. Sekarang dia mungkin sudah pulang ke
Wyommg dengan kepala tertunduk.”
“Daddy sejak dulu selalu membencinya. Mestinya
tidak. Dia baik padaku. Aku ingin bertemu dia.”
“Jangan kita bertengkar soal dia. Vanessa.”
“Apa yang dilakukannya di sini? Apa yang membuatnya
kembali?”
“Ceritanya panjang.”
“Aku ingin mendengarnya.”
“Lain kali saja. Sudah cukup banyak masalah yang
harus kau hadapi.”
“Aku ingin mendengar soal Gray,” tuntut Vanessa.
Ekspresi wajahnya begitu tegas, hingga Clete terpaksa
menurut. Namun cuma sampai hal-hal tertentu. “Aku tak
284
tahu apa yang membuamya kembali,” Clete berbohong.
“Aku cuma tahu, dia bersama Barrie Travis. Aku tidak
bisa membayangkan kombinasi yang lebih berbahaya
daripada merekar berdua. Di lain pihak, mereka pasangan
yang sangat cocok.”
“Bagaimana Gray bisa berhubungan dengannya?”
“Siapa yang tahu? Apa bedanya? Dia sama sekali tak
tahu etika. Bondurant itu... Kenapa meributkannya,
Vanessa? Kau tahu bagaimana rendahnya pendapatku
tentang dia.”
“Dia tak seperti yang Daddy kira. Sama sekali tidak.
Dia...”
Clete menyentuhkan telunjuknya yang besar ke atas
bibir anaknya. “Aku tak ingin tahu, Vanessa.”
“Tapi Daddy harus tahu. Aku harus membicarakannya.”
Tampak retakan-retakan di topeng cantik yang diciptakan
penata riasnya. Mata birunya penuh dengan emosi yang
bercampur aduk.
“Jangan sekarang,” Clete berkata dengan lembut.
“Nanti.”
“Semua begitu kacau. Aku kacau, bukan? David cuma
berpura-pura aku baik-baik saja. Tapi kenyataannya
tidak. Daddy juga tahu, kan? Aku... hancur di dalam,
kan? Aku dapat merasakannya.”
“Shh, shh,” kata Clete, seraya menarik Vanessa. Sambil
menekan wajahnya ke dada, ia menempelkan bibirnya ke
dekat telinga anaknya dan berbisik, “Dengarkan aku,
Vanessa. Kau selalu mempercayai aku untuk membereskan
berbagai masalah, bukan? Yah, aku masih membereskan
masalah. Kau harus mempercaya aku. Aku akan
menanganinya. Semuanya. Oke?”
285
Vanessa menarik dirinya. Armbruster menatap matanya
dalam dalam, berharap ucapannya mampu menembus
kebingungan putrinya dan pengaruh obatobatan di dalam
tubuhnya. Akhirnya Vanessa mengangguk.
“Bagus. Sekarang bedaki hidungmu,” kata Clete riang.
“Ibu Negara Amerika Serikat tak boleh tampil di TV
dengan hidung mengilat!”
Vanessa beranjak ke kamar mandi, lalu berbalik.
“Apakab Spence akan hadir di sana pagi ini?”
“Kurasa. Kenapa?”
“Tak apa-apa Sejak pulang, aku belum melihatnya, itu
saja.”
Alis tebal Senator berkerut di atas hidungnya. “Kalau
dipikir-pikir, aku juga sudah lama tidak melihatnya.”
286
Bab Dua Puluh Empat
“KAU sekering sumur di musim kemarau.”
David bergerak-gerak, namun biarpun rasanya tidak
menyenangkan, Vanessa tidak memprotes. Ia merasa
senang melihat usahanya yang sia-sia untuk menyetubuhinya.
“Semua cairanku sudah habis, David. Kau yang
mengeringkannya.”
“Tidak, kau menggunakannya untuk membasahi
Bondurant.”
Sambil menyelipkan tangannya di antara tubuh
mereka, David menyentuh pangkal paha Vanessa dan
menjejalkan tubuhnya. Vanessa menggigit bibir agar tidak
berteriak dan membuat David puas karena tahu telah
menyakitinya. Parodi percintaan ini bahkan tak bisa
disebut seks. Ini dominasi. David menggunakan kekuasaannya,
tidak ingin ada keraguan tentang otoritas mutlaknya.
Pelecehannya telah kehilangan kekuatan untuk menyakiti
istrinya. Pengulangan membuat efeknya melemah. Sambil
memaki-maki dengan suara menggeram lagi, David
mencapai klimaks. Ketika berguling turun dari tubuh
istrinya, ia tampak puas.
“Sebelum kau mengucapkan selamat pada dirimu
sendiri, David, ingatlah bahwa tidak ada kehidupan
287
dalam dirimu.” Vanessa mengambil tisu dari kotak di
meja samping tempat tidur dan menghapus cairan sperma
dari antara pahanya. “Kau steril, ingat?”
“Tutup mulut.”
“Bahkan biarpun tahu soal vasektomi rahasiamu, aku
barangkali tetap tidur dengan laki-laki lain cuma supaya
tahu bagaimana rasanya bercinta dengan pria yang
mampu memberikan kehidupan.”
“Kalau kau bicara begitu lagi, aku akan...”
“Kau akan apa, David?”
“Kurasa kau tak ingin tahu.”
“Kau mengancam aku? Kau ingin ancaman? Oke.
Bagaimana dengan malam Robert Rushton meninggal?”
“Kenapa kau terus mengungkit-ungkit kejadian itu,
Vanessa? Lebih baik kita melupakannya, seperti kita
melupakan anak itu.”
Vanessa turun dari tempat tidur namun tetap berdiri di
sampingnya, menghadap suaminya. Dalam keadaan
telanjang, efek fisik penderitaannya baru-baru ini sangat
mengejutkan. Berat badannya turun begitu banyak bingga
tulang panggulnya menonjol dari perutnya yang cekung.
Kulitnya telah kehilangan elastisitas dan menggantung
seperti kantong-kantong kosong di tempat otot seharusnya
berada.
Biasanya, ia akan meributkan perubahan seburuk itu
pada tubuhnya. Namun sekarang ia tidak memikirkan apa
pun selain kebenciannya yang luar biasa pada pria yang
terbaring lemas di tempat tidur itu.
Vanessa sedang dalam keadaan setengah sadar waktu
mereka memindahkannya dari Highpoint ke Washington.
Pagi ini, ia setegang kawat. Teler akibat obat. Itulah yang
288
dilakukan George untuk David. Dokter itu
mempermainkan pengobatan Vanessa, membuat kondisinya
naik-turun sesuai dengan kemauan suaminya. Tapi
sampai kapan tubuhnya sanggup bertahan?
Kini ia sudah lebih stabil dan mampu menganalisis
situasinya dengan pikiran jernih. Ia tidak yakin dirinya
lebih menyukai kondisinya yang sekarang. Kesadaran
melahirkan realitas mengejutkan, yaitu bahwa kematian
mendadak Perawat Gaston telah membuyarkan rencana
David untuknya.
Ia menjalani konferensi pers tadi seperti layaknya
politikus yang baik. Berdiri di antara suami dan ayahnya,
menghadapi sekian banyak lampu, kamera, dan mikrofon
yang sejak ia bisa mengingatnya sudah merupakan bagian
hidupnya. Dalam hati ia bertanyatanya apakah di antara
para penonton ada yang menyadari teror yang
mencengkeramnya? Atau adakah yang menyadari perhiasan
yang dipakainya? Lebih tepat lagi, adakah yang menyadari
perhiasan yang tidak dipakainya?
David tidak menyadarinya. Keberanian Vanessa bangkit
karena sukses kecil itu. Ia berkata, “Kaupikir kau pintar
sekali karena berhasil membuat semua orang percaya
Robert kecil meninggal gara-gara SIDS.”
“Itu lebih baik daripada orang-orang tahu yang
sebenarnya tentang dia, kan? Kau juga lebih suka jika
setiap orang mempercayai kebohongan itu, kan? Kau
suka jadi Ibu Negara. Apa yang akan terjadi padamu
kalau sampai dunia tahu yang sebenarnya?”
“Kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi padaku,”
sergah Vanessa sinis. “Kau memikirkan apa yang akan
terjadi padamu. Untuk memastikan kebenaran takkan
289
pernah muncul, Dr. Allan akan membunuhku dengan
obat, iya, kan?”
“Kau meracau, Vanessa.”
“Tidak, malam ini aku melihat segalanya dengan
kejelasan yang menakutkan.” Vanessa tertawa gembira.
“Sayang sekali, David. Kau gagal. Kau gagal. Aku masih
di sini. Lebih lemah, mungkin, namun bertekad bulat
untuk membuat hidupmu bagai neraka, persis seperti
yang kaulakukan padaku.”
“Ya, semua orang bisa melihat betapa sengsaranya
hidupmu.” Ia duduk tegak dan menatap kamarnya yang
mewah. “Kau tinggal di rumah paling prestisius di negeri
ini. Kau menikah dengan orang paling penting sedunia.
Kau memiliki begitu banyak orang yang menuruti semua
rengekanmu, sampai kau tidak tahu lagi siapa saja orangorang
itu. Kau bahkan tak tahu nama orang-orang yang
membuat hidupmu begitu nyaman dan tanpa hambatan.
“Para desainer pakaian berbaris, memohon kesempatan
untuk mendandanimu. Kau bepergian dengan Air Force
One, dan memiliki akses ke beberapa yacht. Armada
limusin lengkap dengan sopir siap melayanimu. Seluruh
negeri dan setengah penduduk dunia memujamu.” Ia
mengulurkan tangan untuk membelai paha istrinya.
“Pantas saja kau begitu sengsara, Vanessa.”
Ditepiskannya tangan David. “Kenapa tidak
kauhancurkan saja hatiku bertahun-tahun yang lalu,
David? Waktu aku masih muda dan sangat mencintaimu,
kenapa saat itu kau tidak meremukkan cintaku dan
meninggalkan aku?”
“Karena rasanya mengasyikkan sekali menjadi monster
dalam hidupmu yang bagai dongeng. Kaupikir kau
290
sengsara, Vanessa, tapi kau tidak tahu apa yang namanya
sengsara. Kesengsaraan adalah menjadi orang miskin dan
tidak mampu berbuat apa-apa untuk memperbaiki nasib.
Kesengsaraan adalah tinggal bersama dua pemabuk
brengsek yang tidak merahasiakan perasaan benci mereka
padamu hanya karena kau ada di dunia, dan menghajarmu
berkali-kali untuk kesenangan mereka.
“Kau tumbuh sebagai orang kaya. Semua yang
kauinginkan diserahkan padamu di atas baki perak. Kau
tak pernah harus mengemis atau mengais-ngais atau
bahkan mengharapkan satu hal pun sepanjang hidupmu
yang brengsek.”
“Itukah sebabnya kau menghukumku?” teriak Vanessa
takjub. “Sebab waktu kecil aku punya lebih banyak
keuntungan daripada kau?”
“Tidak,” kata David tegas, “aku menghukummu
karena kau membuka kakimu lebar-lebar untuk laki-laki
yang kupercaya dan kuanggap temanku. Itu,” tukas David
sengit, menunjuk titik di antara paha istrinya,
“membuatnya mengkhianati aku.” Suaranya meninggi
dan wajahnya dipenuhi kemarahan.
“Kau mengkhianati aku lebih dulu,” teriak Vanessa.
“Dengan puluhan wanita lain. Ratusan, mungkin. Cuma
Tuhan yang tahu berapa banyak.” Tangannya mengepal
marah dan frustrasi. “Aku dulu memujamu, David. Aku
berumur enam belas tahun waktu kau ikut kampanye
Daddy. Aku tak sabar menunggu dewasa supaya bisa
menikah denganmu. Sejak dulu aku selalu mencintaimu.
Satu-satunya alasan aku melanggar janji pernikahan kita
adalah untuk menyakitimu.
“Meskipun ada banyak wanita lain, aku ingin
291
pernikahan kita bertahan. Bahkan setelah tahu soal
vasektomimu dan menyadari bayi itu bukan anakmu, aku
bersedia membuka lembaran baru denganmu. Aku ingin
kita saling mencintai lagi.”
David tertawa, menggeleng-geleng sedih, sikapnya
santai. “Vanessa, aku tak pernah mencintaimu. Apakah
kau betul-betul berpikir bahwa seandainya namamu
bukan Armbruster aku akan rela menyerahkan hidupku
untuk pelacur tolol, dangkal, dan sakit-sakitan seperti
kau?”
Vanessa menarik napas cepat dan mengembuskannya
sambil menangis tertahan. Melihat kekejian David yang
dingin dan tak tergoyahkan, ia bertanya-tanya dalam hati
bagaimana ia dulu bisa sampai tertipu. Mengagumkan
sekali bakat pria ini dalam memikat orang—ia, ayahnya,
para pemilih di seluruh penjuru negeri.
“Kau setan,” hardik Vanessa.
“Dan kau gila. Semua yang mengenalmu mengetahui
hal itu.” David mendorong istrinya ke samping ketika
bangun dari tempat tidur dan mengambil mantel.
Vanessa mencengkeram punggung kursi. “Aku tak
sebodoh dan sedangkal yang kaukira. Takkan kubiarkan
kau lolos dengan usahamu membunuhku.”
“Hati-hati, Vanessa,” ancam David pelan. “Mengancam
Presiden Amerika Serikat adalah kejahatan berat.”
“Aku tidak peduli apa yang akan mereka lakukan
padaku. Aku akan menghancurkanmu.”
“Oh ya?”
Ketika David mendekatinya, rasanya sulit sekali untok
tidak mundur, namun Vanessa bertahan di tempat.
Sampai pria itu menampar wajahnya.
292
Ia terempas ke dinding, tangannya memegangi tulang
pipinya yang terasa seperti copot di bawah kulitnya.
“Jangan pernah mengancamku lagi, Vanessa. Kau
takkan melakukan apa pun selain tetap menjadi makhluk
tak berarti yang hambar dan patuh seperti selama ini.
Pertama untuk ayahmu, lalu untukku.
“Dan bicara soal Clete, jangan kausangka bisa
menjatuhkan aku tanpa menyeret dia juga. Dia terlibat
dalam setiap kesepakatan kotor di Washington sejak
pemerintahan Johnson. Kau tidak bisa menghancurkan
aku tanpa menghancurkan Daddy tersayang. Jadi teleponlah
semua reporter sialan yang kauinginkan, dan beri
petunjuk tentang ketidakberesan di dalam Gedung Putih,
namun bersiaplah melihat akhir karier Senator Clete
Armbruster.”
la bergegas ke pintu, tapi sempat melemparkan
komentar perpisahan. “Kau pernah jadi wanita
menggairahkan. Sekarang, sedikit pun tidak.”
David berjalan cepat-cepat melintasi koridor menuju
kamarnya sendiri, mengangguk asal-asalan pada para
agen Dinas Rahasia yang mengucapkan selamat malam
padanya. Biarpun ia memenangkan pertengkarannya
dengan Vanessa—dan itu bukanlah kemenangan yang
sulit diperoleh—ia tetap saja merasa marah. Masalah
tentang akan diapakan wanita itu belum juga terpecahkan.
Sialan perawat itu!
Kamar tidurnya sudah disiapkan. Ruangan itu tampak
intim dan mengundang. Ia mempertimbangkan untuk
mengundang salah satu teman wanitanya, kolomnis
sindikat surat kabar yang dalam tulisan-tulisannya sangat
293
membela hak-hak wanita namun kenyataannya amat lihai
melakukan seks oral. Wanita itu menganggap
diselundupkan ke Gedung Putih amat menggairahkan dan
biasanya ia memberikan imbalan yang sesuai pada
Presiden. Tapi ucapan Vanessa membuat nafsunya padam.
Yang cuma membuatnya semakin kesal.
Ia menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri,
menambahkan sedikit wiski, dan membawanya ke kamar
mandi. Ia menyikat gigi, berkumur, dan meludah di
wastafel. Ketika meraih gelasnya, ia melihat gerakan di
belakangnya lewat permukaan cermin.
Ketika berbalik, gelas itu terlepas dari tangannya dan
pecah di lantai. Sambil menekan dada, ia bersandar ke
wastafel.
“Mr. President. Anda tampak seperti melihat hantu.”
“Ya Tuhan.” David terduduk. Tubuhnya gemetaran.
“Kukira kau sudah mati.”
Spencer Martin bersandar santai di kusen pintu.
Meskipun kelihatan tak peduli, penampilannya kacau.
Pakaiannya dari toko Kmart dan tampak baru, tapi ia tak
bercukur dan kelihatan seperti sudah berminggu-minggu
tidak mandi atau keramas.
Setelah kekagetannya hilang David berkata, “Dari
mana saja kau? Kau kelihatan berantakan. Baumu juga
menyengat.”
“Sebelum berhasil melarikan diri, aku berbaring di
atas kotoranku sendiri selama beberapa hati.”
“Kau melarikan diri dari apa?”
“Kurasa para pioneer menyebutnya ruang bawah tanah
untuk menyimpan hasil bumi. Tapi sebetulnya tempat itu
lubang di tanah—dalam hal ini, di bawah lumbung teman
294
Anda dan temanku, Gray Bondurant.” Spence mencibir.
“Percaya tidak? Bangsat itu menembakku.”
David mendengarkan ketika Spence menceritakan
sarapan sederhana yang mereka nikmati bersama. “Dia
mengakui Barrie Travis pernah menemuinya, tapi
rupanya sejak awal dia sudah curiga padaku. Dia
melepaskan tembakan sebelum aku sempat menembak.”
Bibirnya menipis menjadi garis. “Dia akan menyesal
karena tidak membunuhku waktu punya kesempatan.
Karena sok suci, dia malah menembak tanpa bermaksud
membunuhku.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Dia membalut luka di bahuku, menelanjangi aku,
mengikatku seperti kalkun Thanksgiving, dan memasukkan
aku ke ruang bawah tanah. Tanganku diikat, tapi aku bisa
meraih makanan dan air dengan mulut. Jika kuatur
dengan baik, semuanya cukup untuk beberapa minggu.
Sebelum menutup pintu dan meninggalkan aku, dia
mengingatkan bahwa aku juara dalam latihan cara
bertahan hidup di hutan. ‘Jadi bertahanlah, bangsat,’
katanya.
“Luka tembaknya menyakitkan, tapi aku tahu kalau
tidak infeksi, tidak akan berbahaya. Aku butuh waktu 24
jam kurasa, untuk membebaskan tanganku; Dia tahu aku
akhirnya akan berhasil melakukannya, tapi dia juga tahu
aku butuh waktu beberapa lama, kalaupun bisa, untuk
keluar.
“Lubang itu luasnya sekitar dua setengah meter
persegi. Langit-langitnya kira-kira sepuluh senti di atas
kepalaku, dan dari langit-langit ke lantai di atasnya ada
tanah padat setebal tiga puluh senti yang disangga tiang295
tiang kayu. Tentu saja, aku baru mengetahuinya setelah
keluar.”
“Bagaimana dengan pintunya?”
“Kayu. Tapi dia meletakkan dua palang baja di
atasnya. Kurasa palang-palang itu sisa dari pembangunan
rumah. Dia mengebor tiga lubang di pintu itu untuk
ventilasi. Kedua palang diletakkan paralel, terpisah
sekitar empat senti satu sama lain, persis sepanjang garis
tengah lubang di sepanjang pintu. Lalu dia menebar
jerami di atasaya. Pengamat biasa takkan melihat.”
“Aku mengirim orang ke sana.”
“Salah satu bawahanku?” Ketika David mengangguk,
Spence berkata, “Kalau begitu tamatlah riwayatnya.
Mestinya dia memeriksa setiap jengkal tempat itu.”
“Bagaimana caramu keluar?”
“Aku mengais-ngais. Makanannya—sebagian besar
mie kering dan roti sedikit sereal—tidak bisa kugunakan
sebagai alat.”
“Bagaimana dengan tempat air?”
“Dari styrofoam. Tanpa tutup, tanpa sedotan. Aku
tidak punya apa-apa selain ini,” Spence berkata seraya
mengacungkan kedua tangan. “Akhirnya aku bisa membuat
lubang di luar garis tepi pintu dan jauh dari palangpalang,
cukup besar untuk bisa kulewati dengan susah
payah. Kalau langit-langit ruang bawah tanah itu lebih
tinggi, aku takkan bisa mencapainya. Tidak ada pijakan
apa pun selain kakiku yang telanjang.”
“Untung saja lantai lumbung bukan dari semen.”
“Gray membangun tempat itu di lokasi rumah seorang
pioneer, dan mungkin ingin mempertahankan ciri
khasnya.” Spence nyengir, tapi kelihatan menyeramkan.
296
“Dia selalu sentimentil.”
“Dia di sini, kau tahu.”
“Sudah kukira.”
David memberitahu Spence soal kunjungan mendadak
Bondurant, lalu menceritakan padanya peristiwa-peristiwa
yang terjadi selama kepergiannya. “Benar-benar nasib,”
komentarnya tentang kematian Jayne Gaston. “George
sedikit demi sedikit meningkatkan dosis lithium Vanessa,
namun terus mencatat jumlah yang seharusnya. Ketika
dia memerintahkan supaya menggunakan obat penenang
yang lebih kuat, perawat itu membangkang. George
berusaha menyingkirkannya secara paksa. Wanita itu
mengalami serangan jantung dan meninggal. Lalu
reporter favoritmu dan aku...”
“Aku tahu,” ujar Spence. “Aku membaca artikelnya di
Post dan tak habis pikir kenapa cewek itu masih hidup.
Tak mungkin ada yang selamat dari ledakan itu, David.”
“Anjingnya masuk duluan ke rumah.”
“Lagi-lagi nasib.”
“Setelah insiden di Shinlin, Clete habis-habisan
memarahinya. Mudah-mudahan dia sekarang kapok.”
“Mudah-mudahan, tapi otaknya lamban.”
“Kau benar.” David mengangguk murung. “Bagaimana
dengan Gray?”
“Untuk saat ini, kurasa sebaiknya kepulanganku
dirahasiakan. Bagaimana?”
“Tapi pasti ada yang melihatmu datang malam ini.”
“Akan kukatakan pada para penjaga bahwa kerahasiaan
kepulanganku merupakan masalah keamanan nasional.
Orang-orangku akan menyebar desas-desus bahwa akhirakhir
ini ada ancaman pembunuhan Ibu Negara—kira297
kira seperti itulah.”
“Bagus. Cocok dengan tujuan kita.”
Spence menatapnya “Kalau begitu kau masih ingin
melakukannya?”
David, mengingat kembali kejadian di kamar Vanessa,
berkata, “Malah makin ingin. Aku bersamanya tadi. Dia
masih terobsesi dengan kematian si bayi. Masalah kami
masih belum selesai.”
Spence, memandang bayangannya sendiri di cermin
wastafel, berkata, “Kalau begitu, banyak yang harus kita
lakukan.”
“Dahulukan yang penting.” David berdiri. “Tak bisa
kukatakan betapa aku kehilangan kau, atau betapa
senangnya aku karena kau sudah kembali. Sekarang
kumohon, demi Tuhan, mandilah.”
298
Bab Dua Puluh Lima
“Ms. TRAVIS. tindakanmu tak dapat dimaafkan.”
“Saya sangat menyadari betapa besarnya kesalahan
saya, Mr. Jenkins. Pengalaman itu sangat memalukan
saya.”
Sambil mengerutkan kening dan memasang tampang
galak, Jenkins melanjutkan, “Senator Armbruster menelepon
langsung untuk menceritakan kejadian itu menurut
versinya. Ceritanya bahkan lebih mendetail daripada
siaran berita. Aku mendengarkan dengan kekecewaan
yang makin mendalam soal sikapmu yang tidak
profesional, dan aku terpana mengetahui pegawai stasiun
ini dapat berbuat seperti itu.”
“Saya menyesal telah membuat Anda dan WVUE
malu. Kalau saya bisa memundurkan waktu, saya tidak
akan berbuat seperti itu.”
Barrie sengaja menunjukkan ekspresi penuh penyesalan,
dan ia memang sangat menyesali kesalahan yang
dibuatnya. Namun ia tak suka Armbruster bertindak tanpa
sepengetahuannya dan marah-marah seolah ia anak nakal.
Kalau ada yang masih mengganjal, laki-laki itu mestinya
mengatakannya langsung padanya.
“Dibanding besarnya kesalahanmu, konsekuensi299
konsekuensinya tak seberapa. Untung saja. Konferensi
pers Presiden membantu menempatkan insiden itu pada
perspektif yang tepat.”
“Ya, Sir, memang benar.”
“Yang penting sekarang, semua sudah beres.”
Celetukan itu datang dari Howie Fripp, yang dipanggil
untuk dimarahi bersama Barrie. Sejak tadi ia cuma
menggigit-gigit kuku dan mandi keringat hingga bagian
ketiak kemejanya diniasi lingkaran-lingkaran basah.
Barrie tahu pria itu gelisah bukan karena dia. Ia cuma
mempedulikan dirinya sendiri dan bagaimana nasibnya
setelah Jenkins selesai menyemprot Barrie.
Jenkins menyambar komentar Howie. “Kau yang
mengirim juru kamera itu kan, Fripp?”
“Uh, yeah, tapi itu karena Barrie menelepon dan
menyuruh saya. Katanya dia mendapat berita paling
menggegerkan abad ini.”
“Amit-amit,” cetus Jenkins.
Barrie tersinggung, tapi bagaimanapun ia merasa
wajib membela Howie. “Howie tak bisa disalahkan, Mr.
Jenkins. Saya meneleponnya di rumah dan memintanya
mengirim fotografer.” Pipinya terasa panas karena
dipandangi dengan galak oleh Jenkins. “Salah satu dari
sekian banyak keputusan yang kini saya sesali.”
la menyesal karena kehadiran pers di sana telah
mengubah situasi buruk jadi bencana. Namun telepon itu
juga mengusik hati kecilnya, sebab ia menelepon karena
marah. Ia kesal pada Gray karena menolak ucapan
simpatinya. Ia tidak pernah menjadi pengagum Clete
Armbruster. Sedangkan Vanessa, sebelum Barrie terjerumus
dalam intrik yang mengancam nyawanya, ia memandang
300
Ibu Negara dengan cemoohan yang tidak ditutup-tutupi.
Dan, sejauh ia jujur pada diri sendiri, ia mengakui merasa
cemburu pada Vanessa sebab Gray masih mencintainya.
Jadi ketika Barrie menghubungi Howie dan menyampaikan
pesannya malam itu, ia sama sekali tidak
bersimpati pada mereka. Tidak ada objektivitas.
Oh, telepon itu bisa dimengerti. Ada kepentingan
pribadi, mungkin, tapi bisa dimengerti. Mengingat situasi
saat itu, semua reporter dalam sejarah jurnalisme pasti
akan meminta bantuan tenaga. Itu bisa jadi berita yang
akan membawa kariernya ke langit ketujuh.
Tapi kalau dipikir sekarang, ia jadi kelihatan tak
berperasaan seperti burung bangkai. Mungkin sudah
sepantasnya ia mengalami nasib buruk begini.
Jenkins berkata, “Armbruster dapat menuntut kita
gara-gara persoalan ini, dan terus terang, aku tidak bisa
menyalahkannya kalau dia berbuat begitu.”
“Senator Armbruster punya alasan kuat untuk merasa
marah,” kata Barrie pelan. “Saya membuatnya tidak
keruan selama beberapa menit, untuk itu saya sudah
minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya juga telah
berkali-kali menelepon Gedung Putih, berharap dapat
meminta maaf langsung dengan Presiden dan Ibu Negara.
Mereka menolak menerima telepon saya.”
“Tak bisa kutebak kenapa,” gumam Howie.
Jenkins memandangnya dengan tajam.
Barrie meneruskan, “Saya ingin memberitahu Presiden
dan Mrs. Merritt betapa dalam penyesalan saya karena
telah berbuat salah dan ingin minta maaf untuk kegalauan
yang mungkin mereka rasakan gara-gara saya.”
“Baik sekali kau, Ms. Travis. Tapi jika dan waktu
301
mereka menerima teleponmu, jangan katakan kau
pegawai WVUE.” Jenkins mengepalkan tangannya dan
menatap Barrie lekat-lekat. “Mulai saat ini, hubunganmu
dengan stasiun televisi ini telah berakhir.”
Barrie takut sekali hal ini akan terjadi. Namun ia juga
menolak kemungkinan bahwa hal ini betul-betul bisa
terjadi. Sewaktu menghadapi konsekuensi langsung yang
ditimbulkan oleh kekeliruannya, ia berhasil mengesampingkan
ketakutannya dipecat. Sekarang ia dipaksa
berhadapan dengan realitas.
“Saya dipecat?”
“Kau punya waktu satu jam untuk mengemasi meja
dan meninggalkan gedung ini.”
“Tolong pertimbangkan lagi, Mr. Jenkins. Saya sudah
mendapat pelajaran. Mulai saat ini, saya akan sangat
berhati-hati. Akan saya cek setiap fakta.”
“Sudah terlambat, Ms. Travis. Apa pun yang kaukatakan
tidak akan mengubah keputusanku.”
Barrie memohon belas kasihannya. “Anda tahu soal
rumah saya.”
“Ya. Waktunya memang tidak tepat.”
“Saya butuh pekerjaan.”
“Maaf. Keputusan sudah diambil.”
Karena pikirannya kacau, ia jadi bersedia melakukan
apa saja. “Oke, tarik saya dari jalanan dan kurung saya di
ruang berita.”
“Ms. Travis...”
“Saya bersedia menulis copy. Saya akan mengedit
naskah. Saya bersedia menjawab telepon, mengatur
teleprompter, mengantar surat, mengambilkan sandwich.
Seperti masa percobaan saja. Lalu beberapa bulan
302
kemudian Anda bisa mengevaluasi saya.”
“Tolong, jangan permalukan dirimu lebih jauh lagi,”
kata Jenkins dengan nada tegas namun lembut yang cuma
digunakan untuk orang-orang yang tak tertolong lagi.
“Kau tidak cocok lagi dengan program kami.”
“Apa artinya?”
“Artinya standarmu tidak sesuai dengan standar kami.
Artinya kau tidak seperti yang kami harapkan. Artinya
aku memecatmu karena akumulasi kesalahan, bukan
cuma gara-gara ini.”
“Omong kosong.”
Howie mengernyit.
Jenkins sendiri tampak kaget. “Maaf?”
“Kenapa kau tidak mencoba bersikap seperti laki-laki,
Jenkins? Akuilah alasan sesungguhnya kau memecat
aku—karena Armbruster menginginkan kepalaku.”
Wajah Jenkins berubah merah, menandakan perkataan
Barrie tepat pada sasaran. Barrie berdiri tegak. “Kau
terbalik, Jenkins. Stasiun TV kacangan ini, dengan
reputasi kelas dua dan manajemen tahi kucingnya, tidak
cocok lagi dengan programku.”
“Mau kentang goreng?”
Barrie membandingkan kandungan lemak dan kalori
kentang goreng itu dengan keinginannya untuk menyantapnya.
“Tentu. Kenapa tidak? Yang besar.”
la membayar cheeseburger dan kentang goreng, lalu
kembali ke mobil. Ia makan sendirian malam ini. Setelah
berbulan-bulan mendorong Daily agar lebih sering
keluar, pria itu memilih malam ini untuk mengikuti
303
nasihatnya, dan menerima undangan teman lama dari
ruang berita untuk pergi ke festival film Brigitte Bardot.
“Dia yang menyetir?” Setiap kali Daily pergi sendirian,
apalagi di malam hari, Barrie mencemaskannya.
“Ya, Bu. Dia menjemput dan mengantarku pulang.
Dan sebelum kau bertanya, aku akan memeriksa tangki
oksigenku dan memastikan isinya penuh, meskipun kalau
aku terengah-engah sehebat yang kuharapkan karena
melihat Bardot muda, aku mungkin bakal kehabisan
udara sebelum tiba di rumah. Dan kalau aku mencapai
klimaks, aku akan mati kehabisan napas, tapi bahagia.”
la menambahkan komentar terakhirnya untuk membuat
Barrie kesal. Barrie tidak memberitahunya bahwa ia telah
dipecat, sebab ia tahu temannya itu akan berkeras tinggal
di rumah untuk menghiburnya. Tak ada gunanya kalau
mereka sedih berdua.
Setelah pertemuan di kantor Jenkins, salah seorang
petugas keamanan stasiun mengantarnya kembali ke bilik
dan tetap di sana sementara ia membereskan meja. Ia
begitu marah diperlakukan seperti penjahat hingga ia
berkata dengan sengit pada petugas itu, “Apa sih yang ada
di tempat kumuh ini yang ingin kucuri?”
“Jangan tersinggung, Ms. Travis. Kebijaksanaan
perusahaan.”
“Yeah, yeah.”
Karena sudah memindahkan isi hard drive dan
menyimpannya di disket, ia mengosongkan laci-laci
mejanya. Dengan cepat ia memasukkan semuanya ke
kardus-kardus yang disediakan stasiun, kemudian si
penjaga membantunya mengangkut kotak-kotak itu ke
mobil dan memasukkannya ke bagasi.
304
Tidak ingin menghabiskan malam sendirian di rumah
Daily yang sesak, ia berpikir-pikir hendak ke mana
membawa makan malamnya. Lincoln Memorial? Jefferson?
Keduanya tampak indah di malam hari. Masih
belum memutuskan, ia meluncur ke jalan.
“Barrie?”
la menjerit dan menginjak rem kuat-kuat.
“Jangan menoleh ke belakang dan jangan berhenti.”
Mobil di belakangnya berhenti dengan bunyi berdecitdecit,
nyaris menabrak bumper belakangnya. Pengemudinya
yang mengamuk membunyikan klakson, lalu melajukan
Honda Civic-nya sambil mengacungkan jari tengahnya
pada Barrie.
“Belok kanan di perempatan berikut,” perintah Gray
dari sudut jok belakang. Ia merunduk rendah sekali,
kepalanya tidak tampak di spion.
“Kau membuatku ketakutan setengah mati,” bentak
Barrie marah, namun ia mengikuti instruksi pria itu.
“Bodoh sekali wanita yang pergi sendirian kalau tidak
memeriksa jok belakang sebelum memasuki mobilnya.”
“Mobil ini dikunci.”
“Aku bisa masuk.”
Komentamya yang masuk akal membuat Barrie
jengkel. “Kukira kau sudah kembali ke Wyoming dan
sedang main koboi-koboian. Kenapa kau meninggalkan
aku malam itu, membiarkan aku diomeli sendirian?
Pengecut sekali kau. Dan apa yang kaulakukan di
mobilku? Bagaimana kau tahu aku ada di mana?”
“Belok kiri di depan, lalu langsung masuk jalur kanan
dan ambil jalanan pertama. Ada sedan hijau sekitar tiga
mobil di belakangmu?”
305
“Aku dibuntuti?”
“Periksa spionmu, tapi jangan sampai mencolok.”
“Uh, tidak... yeah. Ada mobil hijau setengah blok di
belakang.”
“Tinggalkan mereka, Barrie.”
“Tinggalkan mereka? Kau yang meninggalkan aku.
Bagaimana kau tahu mobil itu mengikutiku?”
“Seharian ini kau dibuntuti.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena aku membuntuti buntutmu itu.”
“Tolong katakan, Tuan Jago Menghilang, kenapa aku
mesti mempercayaimu?”
“Tinggalkan buntutmu dan perbaiki sikapmu, oke?
Usahakan mereka tidak tahu kau mencoba meninggalkan
mereka.”
Meskipun punya seratus pertanyaan untuknya, Barrie
memusatkan perhatian pada kemudi. “Ini mengasyikkan,”
katanya ketika berhasil menerobos lampu merah hingga
sedan hijau itu tertinggal.
“Oh yeah, sangat mengasyikkan,” gerutu Gray.
Setelah sekitar sepuluh menit mengemudi ugal-ugalan,
Barrie mengatakan sedan hijau itu sudah tidak kelihatan
lagi.
“Lurus saja. Pergi ke luar kota. Pastikan tidak ada
mobil lain menggantikan mobil tadi.”
Barrie terus mengamati spion. Beberapa saat kemudian
ia mengatakan nyaris yakin tak ada yang membuntuti
mereka.”Baiklah. Begitu ada kesempatan, langsung
berputar dan kembali ke jalan kita datang tadi.”
“Untuk apa?”
“Aku menyewa kamar.”
306
Di kamar motel Gray yang terdaftar atas nama
palsunya, Barrie membagi cheeseburger dan kentang
goreng. Ada meja dan satu kursi di dekat jendela, namun
mereka makan sambil duduk bersila di tengah tempat
tidur ganda.
“Aku dipecat,” ia memberitahu Gray ketika memasukkan
serbet bekas dan bungkus makanan ke kantong kertas.
“Permintaan maafku yang tulus tidak cukup untuk
Senator Armbruster. Dia menelepon manajer stasiun pagi
ini dan menamatkan karierku.”
“Kau tidak mungkin terkejut.”
“Kurasa. Armbruster tak mungkin bisa bertahan begini
lama di dunia politik kalau bermain secara jujur, dan
menjilat merupakan sebagian pekerjaan Jenkins. Jadi,
tidak, aku tidak terlalu terkejut. Lalu untuk membuat hari
brengsek ini makin menyebalkan, aku diberitahu bahwa
Cronkite mati akibat kecerobohanku sendiri.”
“Kok bisa?”
“Itulah keputusan ATF tentang ledakan itu. Anjingku
tersandung kabel listrik ketika memasuki dapur lewat
pintu anjing. Colokannya menyala dan membakar gas
dari oven, yang kubiarkan hidup ketika pergi ke
Wyoming. Tanpa ventilasi, gas pun memadat. Tak sulit
untuk menyalakannya, kata mereka. Untungnya, asuransi
rumahku akan menanggung seluruh kerugian.” Sambil
tersenyum sedih, ia menambahkan, “Tentu saja tidak
termasuk Cronkite.”
“Rumahmu terbakar dan anjingmu terbunuh, tapi
tenang saja, Ma’am, semuanya ditanggung asuransi,” kata
Gray pahit.
“Kau tidak dengar, Gray? Itu kecelakaan.”
307
“Aku tak percaya. Kapan kau terakhir menggunakan
ovenmu?”
“Aku tidak ingat.”
“Pernahkah kau mematikan lampunya?”
“Tidak.”
“Pernahkah kau membentangkan kabel listrik melintasi
jalan pintu belakang?”
Gray mengucapkan pertanyaan-pertanyaan yang
sebetulnya sudah ditanyakan Barrie pada dirinya sendiri.
Mendengarnya diucapkan pria itu membuat tekad Barrie
untuk membantah jawaban-jawabannya yang sudah jelas
jadi semakin kuat. “Tapi penyelidikan...”
“Memang benar. Memang seperti itulah ledakan itu
terjadi sebab ada yang membuatnya begitu. Spence
takkan membiarkan antek-anteknya memasang bom
canggih. Alat yang ruwet akan menimbulkan kesulitan
untuk menutupinya.
“Dia membereskannya sebelum berangkat ke Wyoming,
dan dia memilih kesederhanaan. Sebetulnya
pemboman itu gampang sekali. Kelas teri. Kau hidup
sendirian, jadi pacar atau orangtua atau teman serumah
takkan jadi penghalang. Kau pergi ke luar kota, Jadi, ada
waktu untuk akamulasi gas. Ledakan itu direncanakan
dan dilaksanakan supaya tampak seperti kecelakaan
akibat keteledoranmu. Sialnya, Cronkite masuk lebih
dulu daripada kau. Mereka tidak mungkin bisa
menduganya.”
“Mereka?”
“David Merritt yang memberikan izin.”
Barrie menggeleng. “Omong kosong. Kau bicara
begitu berdasarkan asumsi bahwa dia punya rahasia
308
kelam dan aku nyaris membongkarnya,” ia berkata. “Kita
lebih tahu sekarang. Aku keliru mengenai Vanessa dan
kematian si bayi dan... segalanya. Kau juga. Kita salah.
Betul, kan?”
“Kenapa ada yang membuntutimu seharian hari ini?
Bahkan seandainya beritamu tidak ada apa-apanya—dan
aku masih yakin pasti ada apa-apa—David tidak pernah
memaafkan penghinaan. Entah tuduhanmu benar atau
tidak, dia sudah dibuat cukup marah hingga ingin
membunuhmu.”
Keberanian Barrie lenyap. “Menurutmu mereka akan
mencoba lagi?”
“Tidak ada salahnya berasumsi begitu.”
“Untung aku sudah makan malam,” gumam Barrie.
“Selera makanku hilang sudah.”
“Masih ada sepotong kentang goreng.”
“Akan kubagi denganmu.” Dibaginya kentang goreng
dingin itu menjadi dua, dimasukkannya sepotong ke
mulut, dan diulurkannya yang sepotong lagi pada Gray.
Pria itu mengejutkannya dengan menggigitnya langsung
dari jari-jarinya.
Ketika bibir Gray menyentuh jemarinya, sensasi
menyenangkan mengalir di sekujur tubuh Barrie. Tangan
dan kakinya mendadak terasa berat, namun perutnya
serasa lumer. Ia mulai merasa tergelitik, bahkan sampai
ke ujung kaki.
la bangkit dengan mantap. “Aku takkan tidur denganmu,
Bondurant. Seandainya itu yang ada dalam benakmu, aku
ingin menyelamatkanmu dari perasaan malu dan
ketidaknyamanan fisik karena mengharapkan sesuatu
yang takkan terjadi.”
309
“Aku tidak malu, dan aku merasa sangat nyaman,
terima kasih. Bisakah kukatakan bahwa kau menggunakan
kata tidur sebagai eufemisme?”
“Kau tahu apa maksudku.”
Gray memandangnya sebentar. “Aku tahu maksudmu,
tapi rasanya aku tidak meminta.”
“Betul, memang tidak. Sekarang pun tidak. Pada
peristiwa pertama juga tidak.”
“Aku tidak perlu meminta.”
Tak ada gunanya berdebat. Gray tak perlu merayunya
pagi itu di Wyoming, jadi mengapa ia menduga laki-laki
itu bermaksud merayunya malam ini?
“Aku mau mandi,” gumam Barrie. Diambilnya tasnya,
dan dibawanya benda itu serta harga dirinya ke kamar
mandi. Setelah itu ia menutup pintunya.
310
Bab Dua Puluh Enam
“SEORANG pria pernah melukisku.”
“Melukismu?”
Barrie keluar dari kamar mandi cuma mengenakan
sweter dan celana dalam. Ia wangi sabun dan kulitnya
lembap, yang sebagian bisa dilihat Gray sekilas ketika ia
cepat-cepat meloloskan sweternya dari kepala sebelum
menyusup ke balik selimut. Gray berjaga di kursi dekat
jendela, tempat ia secara berkala mengintip dari balik
kerai dan berjuang keras untuk tidak memikirkan Barrie
Travis yang wangi, setengah telanjang, dan cuma
beberapa meter darinya.
“Maksudku bukan melukis di tubuhku,” Barrie
menjelaskan. “Dia melukisku di kanvas. Aku berpose
telanjang untuknya.”
“Kenapa? Butuh uang?”
“Bukan, bukan begitu. Aku masih kuliah, merasa
bebas, dan tak kenal takut. Aku ingin melakukan sesuatu
yang keterlaluan dan yang tidak akan disetujui orangtuaku.
Dia meminta, dan kupikir, masa bodohlah. Asal studionya
tetap hangat.”
“Bagaimana jadinya?” tanya Gray.
“Studionya ternyata apartemen loteng reyot berbau
311
spiritus dan artis yang tidak mandi. Ia sering mengisap
ganja, banyak minum anggur murahan, dan sangat kasar
serta uring-uringan.”
“Lukisannya bagaimana?”
“Berantakan. Beberapa bagian tubuhku lenyap dalam
lukisannya. Dia merasa telah dikhianati kerja kerasnya
sendiri. Dia tengah asyik berceloteh panjang lebar soal
kesenian waktu kukumpulkan pakaianku dan menyelinap
pergi. Tapi dia memang menepati janjinya untuk
membuat tempat itu tetap hangat.”
Dengusan Gray bisa dianggap tawa. “Diakah yang
mengajarimu teknik seks seperti yang kaupraktekkan
padaku di Wyoming?.” Setelah beberapa saat, ketika
Barrie jelas tidak akan menjawab, ia berpaling padanya.
Wanita itu berbaring menyamping, menghadap ke
arahnya, lutut ditekuk ke pinggang. Rambutnya tergerai
di sekitar wajah dan bahunya yang telanjang, membuatnya
tampak seperti kanak-kanak. Itulah salah satu dari
beberapa hal pada diri Barrie yang membuat Gray tertarik
ketika pertama bejumpa dengannya— kombinasi memikat
antara daya tarik wanita dengan kerapuhan kanak-kanak
itu. Tentu saja sekarang, berminggu-minggu kemudian,
ketika kehangatan tubuhnya masih terbayang jelas di
benaknya, tak ada keraguan bahwa ia lebih pantas
dibilang wanita daripada kanak-kanak.
Matanya yang ekspresif menyorotkan campuran
kebingungan yang polos dan perasaan tersinggung.
“Kenapa kau berbuat begitu, Bondurant?”
“Apa?” Gray bertanya.
“Kenapa kau sengaja mengucapkan hal-hal yang kasar,
menghina, dan menyakitkan?”
312
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku cuma mencoba
menggodamu. Kurasa aku tidak terlalu berhasil.”
“Menurutku kau payah.”
“Sudah sifatku.”
Lama keheningan terentang sebelum Barrie berkata
dengan suara berbisik, “Seniman itu tidak mengajarkan
apa-apa padaku, cuma bahwa aku harus menjauhi
kalangan seniman. Sedangkan mengenai cara melakukan...
Aku, hmm, mengembangkan teknikku sambil jalan.”
Setelah lama terdiam, Barrie menambahkan dengan suara
yang lebih lembut lagi, “Pagi itu di rumah pertanianmu.”
Tubuh Gray bereaksi akibat kenangan erotis itu,
membuat kursi sialan yang tidak nyaman itu makin terasa
tidak nyaman. Dan ia juga tak dapat memandang mata
Barrie dengan tenang. Ia tidak mau jadi orang pertama
dalam petualangan seks wanita itu. Itu membuatnya
menjadi penting. Dan menjadi penting berarti ada
tanggung jawab yang ia tidak yakin sanggup diembannya.
Untuk mengganti pokok pembicaraan, ia bertanya,
“Kenapa kau teringat cerita itu? Tentang pelukis itu?”
Barrie mengangkat bahu. “Entahlah. Kurasa aku tak
tahu mesti mengatakan apa lagi.”
“Kau memang begitu.”
“Apa?”
“Selalu merasa harus mengatakan sesuatu.”
“Itu tidak benar.”
“Betul, kan?”
Barrie mencibir. “Lucu sekali.”
“Yeah, aku memang pelawak. Orang-orang selalu
bilang begitu padaku. Bahwa aku pelawak dan tukang
goda.”
313
Gray tidak tersenyum sedikit pun, namun Barrie
tertawa. Sampai terkikik-kikik. Ia berbaring telentang
dan menggerakkan tangannya di atas kepala. Gray jarang
mendengar orang tertawa, terutama sejak ia tumbuh
dewasa. Tawa Barrie sama memikatnya dengan suaranya,
murni dan spontan. Ia suka mendengarnya.
“Terima kasih, Bondurant,” kata Barrie. “Setelah hari
yang menyebalkan ini, aku butuh tertawa sampau puas.
Meskipun sekarang aku mestinya sudah terbiasa dengan
kejadian mengesalkan seperti yang terjadi hari ini.”
“Apa?” Gray bertanya.
“Dipecat. Dan ini bukan yang pertama.”
“Apakah Daily yang memecatmu pertama kali?”
Barrie memiringkan kepala dengan wajah bertanya.
“Dia menceritakannya padaku.”
“Oh, well, baik sekali dia.” sindir Barrie, maksudnya
sama sekali sebaliknya.
“Waktu sedang mengobrol santai.”
“Yeah, aku tak percaya. Sewaktu memberitahumu soal
riwayat pekerjaanku yang heboh itu, apakah dia kebetulan
menyebutkan kenapa dia memecatku?”
Gray menggeleng. Ia berbohong. Daily sudah
memberitahunya dengan sangat berhati-hati. Namun
Gray tak pernah bosan mendengar suara Barrie, meskipun
ia jadi semakin sulit menahan keinginannya untuk
menyentuh wanita itu. Kalau kau sedang berusaha
menyelamatkan nyawamu, kisah cinta harus disingkirkan
jauh-jauh.
“Yah,” Barrie memulai, tersenyum mengingat kenangan
itu, “Daily dan aku tak langsung menjadi teman. Dia
memberiku pekerjaan pertamaku di bagian Berita TV.
314
Tentu saja, aku mengira sudah tahu semua yang perlu
diketahui mengenai jurnalisme televisi, jadi sejak awal
kritik membangun pun kubenci. Daily menganggap aku
si otak udang yang tak menyumbang apa-apa pada
profesiku.
“Tak lama setelah mempekerjakan aku, dia mulai
mencari-cari alasan untuk memecatku. Namun dia
terhalang FCC—Federal Communication Commission,
Komisi Komunikasi Federal, dan EEO—Equal Employment
Opportunity, Persamaan Derajat dalam Mendapatkan
Peluang Kerja, dan serentetan singkatan lain tentang
peraturan pengangkatan dan pemecatan pegawai. Tapi
Daily mendapat peluang. Aku menghancurkan diriku
sendiri.”
la jadi orang pertama yang tiba di lokasi, yaitu gedung
pengadilan county. Di sana seorang pria bersenjata
melepaskan tembakan di dalam ruang sidang. Berdasarkan
kesaksian seorang wanita yang nyaris terkena hantaman
peluru, Barrie melaporkan bahwa puluhan orang terluka.
“Dalam ‘pertumpahan darah’ itu. Kurasa itulah istilah
yang kugunakan.”
Lalu, dalam siaran langsung, Barrie melaporkan
bahwa penembakan itu terjadi di ruang sidang Hakim
Green. “Fakta itu m’embuat beritaku makin panas karena
ada desas-desus dia sedang dipertimbangkan untuk
memperoleh kursi di Mahkamah Agung. Di depan
kamera aku berspekulasi apakah penembakan itu punya
motif politik. Apakah Hakim Green merupakan sasaran
golongan radikal yang menentangnya, atau apakah ini
konsekuensi dari gayanya yang tidak disukai? Apakah dia
masih hidup, atau janganjangan dia terluka?”
315
Belakangan diketahui bahwa Hakim Green ternyata
sedang di lapangan golf ketika ia diberitahu soal berita
itu. Insiden itu terjadi di ruang sidang lain, dan yang
terluka cuma bola lampu.
“Saksi mataku belakangan dikenali sebagai wanita
penderita kelainan jiwa yang tugasnya mengisi kembali
gelas minuman di kafeteria lantai dasar. Setahu orangorang,
dia tidak pernah pergi lebih dari lantai satu
gedung.
“Yang membuat karierku tamat adalah fakta bahwa
laporan khususku telah menginterupsi film The Young
and the Restless. Istri Hakim Green tidak pernah
melewatkan satu episode pun. Ketika mendengar laporanku,
dia berlari dari rumah, tersandung keran penyemprot air
di halaman hingga pergelangan tangan kanannya patah.
Para penonton lain kesal akibat interupsi itu, terutama
ketika mereka tahu bahwa sama sekali tak ada kejadian di
gedung pengadilan, yang jelas tidak ada kejadian yang
dapat menandingi opera sabun itu. Mereka membuat
kantor telepon sibuk karena telepon protes mereka.
“Kredibilitasku hancur lebur. Kredibilitas stasiun juga.
Ruang berita dihujani ejekan para pesaing kami. Dan
untuk jaga-jaga seandainya ada yang tidak menonton,
para kritikus TV di koran-koran setempat membahasnya
selama berhari-hari. Daily habis-habisan dimarahi
manajemen stasiun karena mempekerjakan aku. Merupakan
mukjizat dia tidak dipecat. Tapi dia langsung memecatku.
Satu-satunya orang yang diuntungkan oleh insiden itu
adalah Hakim Green, yang sekarang jadi hakim Mahkamah
Agung.”
“Hakim yang tidak disukai.”
316
“Yang merupakan satu lagi akibat negatif perbuatanku.
Lebih dari satu kritikus mengulas bahwa kalau bukan
karena simpati yang diperoleh Hakim Green sebagai
akibat perbuatanku, nominasinya takkan pernah disetujui.
Rakyat Amerika harus berterima kasih padaku karena
membuat mereka terpaksa memiliki hakim Mahkamah
Agung yang tak berguna. Oya, Daily percaya teori itu.”
“Setelah segala kejadian itu, bagaimana kalian bisa
berteman?”
“Beberapa tahun yang lalu aku mendengar desas-desus
dari kalangan korps pers bahwa dia terpaksa pensiun
karena emfisemanya. Aku merasa wajib menjenguknya.”
Barrie tersenyum misterius seperti Mona Lisa, dan Gray
bertanya apa rahasianya.
“Daily mengaku dia bersikap sangat keras padaku
sebab yang kurang pada diriku bukan bakat, melainkan
sikap dewasa dan akal sehat. Dia bersedia membantuku
kalau aku mau tutup mulut dan mendengarkan. Sejak itu
dia jadi teman baikku.”
“Kenapa kau merahasiakan persahabatan kalian?”
“Terutama karena ini masalah pribadi, dan sejak dulu
aku selalu memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalku.
Kedua, karena...”
“Karena kalau sampai tersebar berita bahwa kau sudah
berbaikan dengan mantan musuhmu, kau akan kehilangan
respek kolega-kolegamu.”
“Perseptif sekali, Mr. Bondurant. Karena dalam dunia
pertelevisian, kalau kau memutuskan hubungan dengan
seseorang, kalian takkan pernah berbaikan lagi. Kalau ada
yang tahu aku sekarang berteman dengan Daily, aku akan
dianggap sebagai orang yang mencari untung sendiri.”
317
Senyumnya begitu cerah, dan Gray benci karena
terpaksa menjadi orang yang merusaknya. “Rahasiamu
sudah ketahuan, Barrie . Aku membuntuti mereka
membuntutimu. Mereka tahu di mana kau tinggal.”
Mendengar erangan kesal wanita itu, ia cepat-cepat
menambahkan, “Kurasa mereka takkan mengusik Daily.
Tapi kita harus memberitahunya besok pagi-pagi sekali.”
“Kenapa mereka mengikuti aku?”
“Sebagian besar agen Dinas Rahasia yang ditugaskan
pada David, Vanessa, dan Gedung Putih adalah orangorang
Spence. Mereka menjalani program perekrutan dan
memenuhi semua standar, namun mereka orang-orang
Spence.”
“Bagaimana mereka bisa mengabaikan peraturan?”
“Itulah hebatnya. Mereka tidak mengabaikan peraturan.
Mereka bergerak dengan kemampuan adaptasi tingkat
tinggi. Jika ada yang menanyai mereka, mereka bisa
bilang kau masuk kategori orang yang mentalnya
terganggu dan perlu diawasi.”
“Masih lumayan cuma itu,” gumam Barrie.
“Cobalah tidur.”
Gray bangkit dan mematikan lampu, lalu kembali ke
jendela dan mengintip dari sela-sela kerai. Selama lima
menit ia mengamati lapangan parkir, mencari mobil atau
gerakan mencurigakan.
Puas karena mereka berhasil lolos dari pengintaian, ia
melirik tempat tidur dan merasa terusik melihat Barrie
mengamatinya. “Kukira kau sudah tidur.”
Barrie berbaring menyamping lagi, tapi kini kedua
tangannya membantali pipi. “Siapa kau sebenarnya, Gray
Bondurant?”
318
“Aku? Bukan siapa-siapa.”
“Tidak benar,” kata Barrie mengantuk. “Kau orang
penting.”
“Tidurlah.”
“Kau juga butuh istirahat. Tempat tidur ini cukup luas
untuk kita berdua.”
Tak mungkin Gray bisa berbaring di balik selimut
bersamanya tanpa terpengaruh kemulusan kulitnya,
keseksian suaranya. “Aku mau duduk dulu sebentar.”
“Untuk apa?”
“Supaya aku bisa berpikir.”
“Tentang apa?”
“Tidurlah, Barrie.”
“Satu pertanyaan lagi?”
“Oke,” Gray menghela napas.
“Pagi itu di rumahmu, itu seks tanpa ikatan, bukan?”
“Betul.”
Barrie menundukkan pandangan selama beberapa
detik, lalu menatapnya lagi. “Tapi lumayan dahsyat.”
Gray tersenyum dalam gelap. “Lumayan dahsyat.”
“Tapi kau tidak menciumku. Tidak di bibir. Kenapa
kau tidak mau mencium bibir?”
“Itu dua pertanyaan. Selamat malam.”
“George?”
Suara istrinya seperti mendatanginya dari pantai di
seberang samudra scotch. Dr. Allan mengangkat kepala
dan melihat Amanda berdiri di ambang pintu ruang
kerjanya. Wanita itu tampak manis, menggairahkan, dan
tegar. Ia tak sanggup memandanguya. Ketegaran Amanda
membuat kelemahannya makin nyata.
319
Istrinya memasuki ruangan. Ketika sampai di meja
kerja, ia mengambil botol minuman keras yang ada di
sana dan memeriksa isinya. Biarpun dalam kondisi
mabuk, George tetap dapat merasakan kemarahan
Amanda.
Dengan lemah ia berkata, “Ada apa, Amanda?”
“Jadi kau masih ingat padaku. Aku senang
mengetahuinya. Apakab kau kebetulan ingat bahwa kau
juga punya dua anak?”
“Ini teka-teki?”
“Anak sulungmu makin hari makin menutup diri. Aku
sudah memohon padanya supaya menceritakan padaku
apa yang meresahkannya, namun dia jadi cemberut dan
diam. Guru-guru di sekolahnya juga menghadapi reaksi
yang sama akhir-akhir ini. Dia menyimpan semua
masalahnya di dalam hati, dan tak seorang pun bisa
mengoreknya. Dia begitu mirip denganmu, aku jadi
takut.
“Aku barusan dari kamar anak bungsumu, di sana aku
mendengar doanya. Dia minta Tuhan membantu Daddy,
lalu mulai menangis, dan aku harus memeluknya sampai
dia tertidur.”
George menggosok matanya yang lelah dan kemerahan.
“Aku akan mendatangi mereka dan mengucapkan selamat
tidur.”
“Kau tidak mengerti. Aku tidak mau kau mencium
mereka sebelum tidur. Lihatlah kondisimu saat ini.
“Mereka tidak bodoh, kau tahu. Mereka tahu ada yang
sangat tidak beres pada dirimu, dan masalahnya lebih dari
acara minum-minum ini.”
“‘Acara minum-minum ini’? Apa maksudmu?”
320
“Kenapa kau?”
“Tidak apa-apa.”
“Oh ya? Apakah menurutmu 48 jam terakhir biasabiasa
saja? Kau pulang kemarin pagi dengan penampilan
seperti tokoh film horor. Cuma Tuhan yang tahu kapan
kau terakhir tidur. Kau tidak memberikan sepotong pun
penjelasan padaku mengenai kepergianmu atau
penampilanmu yang seperti itu. Kau tidak menanyakan
kabarku atau anak-anak. Kau langsung masuk ke sini dan
mengurung diri dan tidak keluar-keluar sampai sekarang.”
Untuk menekankan kata-katanya, Amanda membanting
botol ke meja. “Kau mabuk berat, dan tadi kudengar kau
menangis. Yang pertama membuatku marah, dan yang
kedua membuat hatiku hancur. George,” katanya dengan
suara memohon, “bagaimana aku bisa membantumu
kalau kau tidak mau mengatakan padaku masalahnya?”
“Tidak ada masalah.”
“Sialan, George, sejak kapan definisimu tentang
pemikahan berubah?”
“Apa maksudmu?”
“Kalau kau tidak mau berbagi rahasia denganku,
berarti kita tidak memiliki pernikahan seperti waktu kita
mengikat janji dulu. Tapi di atas kertas setidaknya aku
masih istrimu, dan aku ingin tahu apa sebetulnya yang
terjadi.”
“Ya Tuhan, kau sudah tuli, ya?” bentak George.
“Tidak ada masalah.”
Amanda tidak takut menghadapi kemarahannya yang
semakin memuncak. Dengan dingin ia berkata, “Jangan
bohongi aku. Kau hancur di depan mataku.”
“Tinggalkan aku.”
321
“Tidak, tidak mau,” Amanda berkata, menggeleng
kuat-kuat, membuat rambutnya bergoyang. “Kau suamiku.
Aku cinta padamu. Akan kubela kau sampai titik darah
penghabisan. Tapi pertama-tama aku harus tahu apa yang
membuatmu berubah dari dokter, suami, dan ayah yang
baik, menjadi pemabuk yang suka marah-marah.”
George melotot, namun istrinya tidak gentar. Amanda
punya sifat keras kepala yang tak kenal takut. “Masalahmu
ada hubungannya dengan David, bukan? Tidak usah
berbohong. Aku tahu dialah akar krisis pribadimu. Apa
yang menimbulkannya?”
“Sudahlah, Amanda.”
“Dia minta kau melakukan apa?”
“Kubilang sudah.”
“Kekuasaan seperti apa yang dimilikinya atas dirimu?”
“Dia tidak menguasaiku!”
“Ya!” Amanda langsung balas berteriak. “Dan kalau
kau tidak melenyapkan kekuasaan itu, dia akan menghancurkanmu.”
George melompat berdiri, menghantam permukaan
meja dengan tinju. “Wanita itu meninggal, oke?”
“Apa?”
“Nah, aku sudah mengatakannya. Sudah koberitahukan
problemku padamu. Senang kau sekarang? Puas?”
“Maksudmu perawat itu.”
“Yeah, perawat itu. Yang meninggal di rumah
peristirahatan kita tiga hari yang lalu. Kematian mendadak
akibat serangan jantung.” Ia menunduk dan memegangi
kepalanya dengan dua tangan. “Aku berusaha
menyelamatkan nyawanya, namun gagal. Aku gagal dan
dia meninggal.” Bahunya terguncang ketika ia tersedu322
sedu.
“Kau mabuk saat itu?”
“Aku minum sebutir Valium, cuma itu.”
“Kau sudah berusaha sekuat tenaga.”
George mengangguk. “Selama setengah jam aku
berusaha mengembalikan detak jantungnya. Akhirnya
agen-agen Dinas Rahasia menarikku dan mengatakan tak
ada gunanya lagi, bahwa aku cuma buang-buang waktu.”
Amanda menarik napas dan menyentuh bahu suaminya.
“Aku turut prihatin, George,” katanya lernbut.
Ia ingin sekali menerima simpati Amanda. Ia tahu
istrinya akan tetap menerimanya meskipun mereka telah
bertengkar hebat. Dadanya akan tetap lembut, suaranya
menghibur, pelukannya menjadi tempat berlindung yang
dapat dimasukinya dan mungkin selama beberapa lama
bisa melindunginya dari hal-hal yang ditakutinya.
Namun ia tidak pantas mendapatkan penghiburan atau
maaf darinya. Kenistaannya membuatnya benci pada
Amanda karena wanita itu memberikan cinta yang begitu
tanpa pamrih. Jadi ia menolaknya dan melepaskan tangan
Amanda. “Memangnya apa yang bisa kaulakukan?”
George bertanya dengan marah. “Keajaiban apa yang bisa
kau timbulkan untuk membuat masalahku hilang?”
Ia memunggungi istrinya dan pergi ke lemari
minuman keras. Membuka sebotol scotch lagi rasanya
membutuhkan lebih banyak keahlian daripada yang bisa
dilakukan jari-jarinya, tapi ia berhasil membukanya dan
menuangkan segelas lagi.
“Oh, tidak, tunggu,” ia berkata, memandang Amanda
kembali. “Kau mampu memecahkan semua masalah,
kan? Kau bisa melakukan apa saja yang kauinginkan.
323
Keberhasilan adalah nama tengahmu. Tidak, yang benar
Kesempurnaan. Kesempurnaan adalah nama tengahmu.”
la tahu kata-kata kasar itu sangat melukai hati Amanda,
namun ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.
Ia ingin orang lain merasa sesengsara dirinya, dan
kebetulan cuma Arnanda yang ada di dekatnya. Tapi
wanita itu tidak mau terpancing. Ia tetap tenang.
“Aku tidak bisa memecahkan masalahmu, George, tapi
aku bisa bersimpati.”
“Banyak sekali manfaatnya.”
“Kau pernah kehilangan pasien-pasien. Karena kau
penyembuh, wajar kalau kau kecewa jika tak satu pun
tindakanmu dapat menyelamatkan pasien. Namun tidak
pernah kau sekacau ini.”
Sambil memiringkan kepala, ia menatap mata suaminya.
George mabuk, namun belum sampai ke tahap di
mana ia tidak merasa takut Amanda mengetahui lebih
banyak daripada yang diinginkannya. Ia membuang
muka. Tapi tidak cukup cepat.
“Aku mendapatkan versi yang sudah disensor, bukan?”
Amanda berkata. “Apa lagi yang terjadi di rumah itu?”
“Siapa bilang ada lagi yang terjadi?”
la memandang pria itu dengan kesal. “Aku kenal kau,
George. Kau menghilangkan elemen penting cerita ini.”
“Perawat itu meninggal. Itu saja.”
“Ada hubungannya dengan Vanessa, kan?”
“Tidak.”
“Kalau begitu apa yang membuat kematian wanita
ini...”
“Apa sih yang kauinginkan dariku, bangsat?” raung
George. “Kau bertanya apa yang mengganggu pikiranku,
324
dan kuberitahukan padamu. Sekarang, demi setan,
enyahlah dari sini dan biarkan aku mampus sendirian!”
George tak pernah bicara sekasar itu pada istrinya. Ia
terperangah setelah melakukannya sekarang, meskipun
kata-kata itu seperti memantul di dinding-dinding
berpanel, menggemakan kevulgarannya. Apakah ia telah
berubah jadi orang yang begitu rendah hingga
menggunakan kata-kata yang sangat kasar pada istrinya?
Pikiran itu bagai jangkar yang menyeretnya makin dalam
ke lubang depresi dan kebencian pada diri sendiri.
Dengan cepat ia menenggak minumannya.
Amanda, kebenciannya sendiri tampak jelas,
meninggalkannya. Di ambang pintu ia berbalik. “Teriaki
dan makilah aku, George, kalau itu membuatrnu merasa
lebih enak. Aku kuat. Aku sanggup menghadapinya.”
Diangkatnya kepalan tangan kirinya supaya George
dapat melihat cincin kawinnya. “David Merritt bersumpah,
tapi aku juga, di altar pada hari pernikahan kita. Aku
bersumpah bahwa selain kematian, takkan ada yang bisa
mernisankan kita, dan aku tidak main-main. Kau
suamiku, dan aku mencintaimu. Aku tidak akan
menyerahkan dirimu tanpa berjuang lebih dulu. Akan
kulakukan apa saja yang bisa kulakukan untuk mencegah
pria itu menghancurkanmu, biar dia Presiden Amerika
Serikat sekalipun.”
325
Bab Dua Puluh Tujuh
“YA ampun, lagi-lagi,” omel Daily.
Barrie menyetel TV pada saluran VH-1 dan memutar
volumenya sampai maksimal. “Menurut Gray rumahmu
diawasi.”
“Disadap juga?”
“Mereka tidak perlu menyadap kalau ingin menguping,”
kata Gray padanya. “Peralatan mereka begitu canggih,
mereka dapat mendengar percakapan beberapa blok dari
sini.”
“‘Mereka’?”
“Orang-orang Spence.”
“Bajingan,” gumam Daily. Lalu ia mengangguk ke
arah Gray dan berkata pada Barrie, “Kukira dia
memisahkan diri.”
“Kupikir juga begitu. Dia. uh, mengagetkan aku tadi
malam.”
“Aku pulang larut malam dari festival film Bardot,’’
Daily berkata. “Kau tidak ada di sini. Semalaman aku
cemas.”
Dengan lemah Barrie berkata, “Aku lupa menelepon.”
Daily menyilakan mereka duduk di tempat biasa di
sofa. “Tepatkah dugaanku bahwa beritanya belum
326
selesai? Kau rnasih berpendapat kematian bayi itu bukan
kecelakaan?”
“Menurutku itu asumsi,” jawab Gray. “Sejarah masalah
ini dimulai dengan kejadian itu, dan sekarang berkembang
jadi lebih besar. David berusaha menutupi, namun
mengalami kesulitan. Spence gagal membungkam aku.
Segalanya di rumah peristirahatan George Allan jadi
berantakan waktu perawat itu meninggal.
“Kematiannya membuat Dr. Allan terekspos pada saat
dia maupun David tidak ingin terekspos,” ia mendugaduga.
“Pengobatan apa pun yang dilakukannya pada
Vanessa jadi terbenti.”
Barrie melanjutkan ceritanya. “Karena kematian
perawat itu akhirnya bakal tersiar dan membuat orang
memperhatikan kesehatan Vanessa, dia terpaksa harus...
menghidupkannya, tak ada kata yang lebib bagus, dan
memaksanya kembali ke Washington.”
“Pada pagi hari saat konferensi pers diadakan, mereka
mempertontonkannya pada seluruh dunia,” ujar Gray.
“Bagi orang yang tidak mengenalnya dengan baik, dia
tampak normal. Menurutku dia masih dalam bahaya.”
“Kenapa kau berpikir begitu?” Daily bertanya. “Semua
tampak sempurna menurutku. Neely membacakan pidato
kematian perawat itu, yang ditulis oleh Ibu Negara.
Keluarga Merritt turut berduka cita dan mengharap
keluarganya tabah. Dan seterusnya, dan seterusnya.”
“Vanessa mengirimkan tanda bahaya,” kata Gray.
“Dia tidak mengenakan cincin kawin ibunya,” ia
menjelaskan. “Cincin itu sudah berada di jari manis
tangan kanannya sejak Clete memasangnya di situ pada
hari ibunya meninggal. Pagi itu, cincin itu tidak
327
kelihatan. Dia terus menampakkan tangannya, terutama
ketika mengetahui kamera-kamera teagah menyorotinya.
Kurasa dia ingin seseorang menyadari bahwa dia tidak
memakainya.”
Daily berkata, “Kau sungguh-sungguh berpendapat dia
mengirim tanda bahaya?”
“Ya.”
“Cincin itu mungkin saja salah tempat,” bantah Barrie.
“Barangkali cincin itu tidak pas lagi karena dia sudah jauh
lebih kurus sekarang. Atau dia mungkin sudah bosan saja.
Benda itu bisa saja sedang berada di toko perhiasan untuk
dikecilkan atau dibersihkan. Ada puluhan alasan masuk
akal kenapa dia tidak memakainya.”
“Betul, memang begitu,” kata Gray. “Kalau aku berada
di Wyoming, menontonnya di TV dan melihat dia tidak
mengenakan cincin itu, aku mungkin agak penasaran, tapi
tidak waswas.
“Tapi,” ia melanjutkan, bergerak berdiri, “karena
Spence diutus untuk melenyapkan aku, karena aku
melihat rumahmu luluh lantak, dan karena aku tahu tim
pengintai membuntutimu, aku cenderung merasa lebih
dari sekadar penasaran.”
“Dan kupikir kau benar,” Barrie mengakui dengan
berat hati. “Konferensi pers itu adalah satu-satunya
pemunculan Vanessa di depan umum sejak ‘pengasingan’nya.
Kalau dia memang sesehat yang dikatakan
Gedung Putih, dia pasti sudah kembali ke jadwal
kegiatannya yang biasa, bukan?” Tanpa berpikir ia
mengangkat telepon dan menghubungi nomor yang
dihafalnya di luar kepala.
“Kau menelepon siapa?” tanya Gray.
328
“Kantor Vanessa”
“Ingat, semua yang kaukatakan barangkali dipantau.”
“Mereka cuma akan menduga aku kembali ke obsesi
lamaku. Pelankan suara TV.”
Keheningan yang mendadak timbul tetap membuat
suasana tegang. “Selamat pagi,” kata Barrie ramah ketika
teleponnya dijawab. “Saya Sally May Henderson. Saya
mewakiti Putri-putri Revolusi Amerika. Kami ingin
sekali mempersembahkan pada Ibu Negara salah satu
tanda jasa kehormatan kami untuk menghargai kampanye
rnemberi makanan dan tempat tinggal bagi kaum
tunawisma yang tengah beliau lakukan.”la menekankan
bahwa organisasinya ingin menghadiakan langsung tanda
penghargaan itu. “Publikasinya akan membuat rakyat
menyadari kebutuhan terus-menerus akan tempat tinggal
dan dapur umum yang telah banyak dibantu Ibu Negara
dalam pengorganisasiannya.” Dengan sopan tapi tegas, ia
diberitahu bahwa dalam waktu dekat ini tak bisa diadakan
pertemuan. Ibu Negara masih dalam proses penyembuhan
setelah sakitnya baru-baru ini.
“Saya mengerti. Yah, tolong sampaikan salam hangat
kami pada beliau. Kami akan menghubungi lagi.” la
menutup telepon dan berpaling pada Daily dan Gray.
“Stafnya diperintahkan untuk tidak menjadwalkan
pertemuan apa pun untuknya sampai mereka memperoleh
izin dari Dr. Allan.”
Gray mengeraskan volume TV lagi, kemudian berkata,
“David mulai main keras.””Kelihatannya begitu.”
Daily mengusap-usap rabang, tarnpak khawatir.
“Apakah maksudmu seperti dugaanku?”
Gray berkata, “Vanessa tak lagi merupakan aset, dia
329
kini menjadi ganjalan bagi mereka. David melenyapkan
semua ganjalan.”
“Kau cuma menduga,” Daily menekankan.
“He-eh. Aku tahu.” Gray kembali ke sofa dan duduk.
Sesaat tak ada yang bicara.
Akhirnya, Barrie membuka mulut. “Karierku payah.
Aku lebih sering mengacau daripada tidak. Tuhan tabu,
instingku sama sekali tak bisa diandalkan. Tapi kali ini
aku tahu aku benar. Presiden kita kriminal.” Ia
memandang Gray. “Aku mungkin tidak mempercayai
instingku, tapi aku percaya pada instingmu.”
“Terima kasih.” Gray melirik Daily, lalu kembali pada
Barrie. “Dengar, kalian berdua barus bertibur panjang,
pergi ke suatu tempat di luar negeri. Kalau David berhasil
diyakinkan bahwa kau telah rnenyerah, bahwa kau bukan
lagi ancaman, dia akan mengurangi kewaspadaannya.
Biar kuambil alih dari sini, dan semoga bisa menyelamatkan
Vanessa sebelum David dapat melaksanakan Rencana
B.”
“Tidak bisa,” tukas Barrie sengit. “Kita bicara soal
usaha pembunuhan Ibu Negara. Sebagai warga negara,
aku tidak dapat menutup mata. Bukar hanya itu, tapi aku
juga orang pertama yang didekat Vanessa untuk dimintai
pertolongan. Kalau saja aku tidak salah membaca tandatandanya,
dia mungkin sudah aman bersama ayahnya
sekarang. Karena aku kurang tanggap, dia masih berada
di bawah tirani suaminya.
“Dan karena pengkhianatan laki-laki itulah aku
kehilangan semua yang penting bagiku. Cronkite,
rumanku, pekerjaanku. Aku punya dendam kesurmat
terhadap bangsat di Ruang Oval itu. Dan semoga Tuban
330
membantunya Karena aku musuh paling berbahaya di
dunia ini. Aku orang yang tidak bisa kehilangan apa-apa
lagi.””Kecuali tempat persembunyianmu,” kata Daily,
tersengal-sengal.
“Bukan,” kata Barrie lembut, “kecuali kau, Daily.”
“Jangan pandang aku dengan mata berkaca-kaca
seperti itu, Nona. Kau tidak punya otak. Kalian berdua,”
katanya, memandang Barrie dan Gray bergantian.
“Bagaimana kita bisa tidak membuka kedok Merritt?”
tanya Barrie lembut.
“Kau bicara sembarangan. Kalian tidak mendengarkan
ucapan kalian sendiri? Dia Presiden Amerika Serikat!
Jabatan tertinggi di benua ini dan orang paling berkuasa
di dunia. Kalau kau macam-macam dengan dia. kau bakal
mampus.”
Barrie memandang Gray dan di mata laki-laki itu
dilibatnya tekad yang sama dengan yang dimilikinya.
Ironisnya hal yang dulu memisahkan mereka sekarang
malah mengikat mereka
Sambil berpaling kembali pada Daily, Barrie berkata,
“Jika Merritt merencanakan membunuhku, setidaknya
aku akan melawan. Tapi aku tidak mau membahayakanmu.
Pergilah berlibur panjang.”
“Kau harus pergi siang ini, begitu semua urusan di be
reskan,” desak Gray.
“Kau mau ke mana, Daily? Meksiko?”
“Dan kena diare? Tak mau.”
“Babama?”
“Ada badai di Karibia. Kau tidak menonton warta
berita?””Australia?”
“Aku tidak mau pergi ke mana-mana,” Daily berkata
331
dengan tegas. “Kenapa aku harus pergi dan membiarkan
kalian berdua bersenang-senang?”
“Ini tidak akan menyenangkan, Daily,” kata Gray
dengan gaya semuram pengurus pemakaman. “Kau tidak
boleh main-main dengan orang-orang ini. Kalau menyangkut
urusan pelaksanaan tugas, mereka tak kenal
ampun. Jadi kita juga harus begitu. Biarpun kedengaran
rnelodramatis, ini bisa dengan mudah berubah jadi situasi
hidup atau mati.”
“Aku sudah berada dalam situasi hidup atau mati,”
tukas Daily. Ia membentangkan lengan untuk menunjukkan
ruangan yang lusuh itu. “Aku akan kehilangan lebih
sedikit daripada Barrie . Aku mengidap penyakit tak
tersembuhkan. Aku tidak punya istri, tidak puaya anak,
tidak punya apa-apa. Menurut pendapatku, kalau aku bisa
membantumu, aku takkan mati sia-sia.”
Barrie melintasi ruangan, membungkuk, dan mencium
puncak kepala Daily. “Kau tua dan jelek, tapi aku sangat
sayang padamu.””Sudahlah. Aku benci omong kosong
cengeng seperti itu.” Ia mengibaskan tangan. “Baiklah,
Bondurant, apa yang pertama-tama kita lakukan?”
332
Bab Dua Puluh Delapan
BARRIE tersenyum pada putra Jayne Gaston yang
berdiri di ambang pintu rumahnya. “Halo, Mr. Gaston.
Barrie Travis. Anda ingat saya?”
“Sangat ingat. Anda mau apa?”
“Saya membawakan Anda ini,” katanya, mengulurkan
bunga
hydrangea biru di dalam pot. “Boleh saya masuk?”Pria
itu ragu-ragu, berdebat dalam hati apakah ia mau bicara
dengannya atau tidak. Akhirnya ia menepi. “Beberapa
menit saja.”
Ralph Gaston, Jr. adalah pria berperilaku lembut dan
berusia pertengahan tiga puluhan yang perutnya sudah
mulai membuncit. Ia tinggal di rumah rapi di blok
lingkungan kelas menengah di pinggiran D.C. Barrie
mendapatkan alamatnya dari buku telepon.
Ia dibawa melewati ruangan-ruangan yang bersih
namun penuh mainan yang berserakan. “Istri saya
membawa anak-anak ke mal,” Ralph menjelaskan sambil
melangkahi mainan pemangkas rumput.
“Sayang saya tidak bisa bertemu mereka. Saya ingin
menyampaikan ucapan belasungkawa saya pada mereka
juga.”
333
Barrie mengikuti laki-laki itu ke teras belakang yang
dilindungi kawat kasa, tempat Ralph tadi menonton
pertandingan football NCAA di TV portabel. Ia
memelankan volume dan menyesap birnya la tidak
menawari Barrie minuman apa pun. Barrie duduk di kursi
taman aluminium yang ditunjuk pria itu.
Barrie mulai dengan menegaskan bahwa apa pun yang
akan mereka bicarakan sepenuhaya off the record. “Saya
di sini bukan sebagai reporter. Mungkin Anda akan
merasa lebih baik jika mengetahui bahwa saya telah
dipecat dari WVUE.”
“Saya memang merasa lebih baik,” pria itu berkata
tanpa basa-basi. “Anda pantas dibegitukan, Ms. Travis.
Ibu saya wanita terhormat. Dia punya harga diri, dan
tidak pernah mementingkan diri sendiri. Anda membuat
kematiannya jadi komedi hitarn. Setelah kehebohan
media yang Anda timbulkan di rumah sakit, saya merasa
sulit untok bersikap ramah pada Anda.”
“Saya tidak menyalahkan Anda. Lebih dari apa pun,
saya menyesal kedukaan Anda dipublikasikan seperti itu.”
“Anda mencoba minta maaf?”
“Tepat sekali.”
“Saya terima.” Pria itu bergerak bangun; “Sekarang,
tolong Anda...”
“Ibu Anda pasti sangat gembira ketika Dr . Allan
mempekerjakannya,” kata Barrie, mengulur waktu.Kenapa
Anda berkata begitu?” Suara pria itu tajam seperti pisau,
mengagetkan Barrie.
“Uh, eh, karena dokter itu begitu mempercayainya.”
“Oh,” pria itu berkata, jelas sekali ia jadi rileks. “Yeah,
dia merasa amat beruntung dapat memperoleh pekerjaan
334
sebagus itu. Katanya betul-betul menyenangkan punya
pasien sepenting itu.”
Insting jurnalistik Barrie mendesis seperti daging di
wajan panas. Apa yang ditemukannya ini? Motif awalnya
tulus: Ia ingin minta maaf karena kesalahannya dan akibat
yang ditimbulkannya pada keluarga Gaston.
Namun pertemuan dengan Ralph Gaston ini juga
bagian dari strategi untuk-melindungi Vanessa. Mereka
tak dapat melaporkan dugaan kejahatan yang dilakukan
Presiden pada polisi setempat. Mereka tidak memiliki
bukti kuat untuk dibawa ke Departemen Kehakiman.
Mereka tak bisa menyerang Gedung Putih dengan senjata
yang menyemburkan peluru. Serangan mereka harus jauh
lebih halus.
Pendapat Gray, yang disetujui Barrie dan Daily, adalah
bahwa pemerintahan harus dihancurkan dari dalam.
Pemerintahan harus ambruk menimpa dirinya sendiri
seperti bintang sekarat. Energi kepresidenan Merritt
harus, secara paradoks, menyebabkan kematiannya sendiri.
Informasi merupakan satu-satunya senjata bagi mereka.
Mereka harus tahu persis apa yang telah terjadi di rumah
peristirahatan George Allan. Barrie mengajukan diri
untuk mulai dengan putra Jayne Gaston. Ia sebetulnya
tidak berharap akan mendapatkan informasi penting,
namun mungkin ia salah menilai potensi wawancara ini.
Ralph menggunakan kata beruntung dan menyenangkan
untuk menggambarkan perasaan ibunya tentang
pekerjaannya sebagai perawat pribadi Ibu Negara, yang
secara tidak langsung mengatakan ia merasa tidak pantas
menerima pekerjaan itu. Kenapa? Barrie bertanya-tanya
dalam hati.
335
“Apakah ibu Anda punya riwayat sakit jantung?”
“Hanya selama beberapa tahun terakhir,” jawab Ralph,
agak ketus. “Namun dia berhasil mengatasinya. Dia
memeriksakan kesehatannya secara teratur, dan rajin
minum obat. Anda tidak bisa menyuruh Mom beristirahat,
sekeras apa pun usaha Anda. Dia mencintai pekerjaannya.
Dia perawat yang andal.”
“Memang itulah yang saya dengar. Dr. Allan memujimujinya.
Begitu juga Presiden.”
“Beliau mengirim bunga di acara pemakaman.”
“Oya? Beliau pernah mengirimi saya juga sekali.” Di
kehidupan lain. Sebelum ia tahu bahwa laki-laki itu
pembunuh. “Pernahkah ibu Anda mengalami serangan
jantung?”
“Serangan ringan,” pria itu menjawab, sikapnya
kembali defensif. “Dia sembuh dengan cepat. Penyakitnya
tidak pernah mempengaruhi pekerjaannya.”
“Tidak ada yang mempertanyakan kemampuan atau
keahliannya, Mr. Gaston.”
Pria itu menggosok-gosok bagian atas pahanya. Barrie
tahu itu tanda kegelisahan. Penduduk daerah pinggiran
kelas menengah dengan perutnya yang agak membuncit
ini tidak lagi seramah tadi. Ia berkata, “Jika Mom cukup
bagus untuk merawat Ibu Negara, berarti dia cukup bagus
untuk merawat siapa pun.”
“Persis.”
“Dia sangat berkualitas.”
“Saya yakin begitu. Bagaimana perasaannya ketika
bekerja pada Dr. Allan?”
“Apa maksud Anda?”
Barrie tersenyum penuh arti. “Cuma ingin tahu. Anda
336
tahu betapa egoisnya para dokter kadang-kadang. Beberapa
di antara mereka menganggap mereka bisa berjalan di
atas air. Saya cuma ingin tahu apakah pengalaman ibu
Anda dengan Dr. Allan seperti itu.”
“Dia tidak pernah bercerita.”
Barrie segera tahu ia berbohong. “Kalau begitu saya
bisa menarik kesimpulan bahwa ibu Anda puas melihat
Ibu Negara memperoleh pengobatan yang semestinya
untuk penyakitnya?”
“Mrs. Merritt tidak sakit. Beliau cuma membutuhkan
istirahat panjang.”
“Tentu saja. Itu yang saya maksud.”
“Tidak,” kata pria itu, sambil menggeleng-geleng.
“Anda bermaksud mengatakan secara tersirat bahwa ibu
saya akan sengaja menutup mata jika pasien tidak
mendapatkan pengobatan yang semestinya.”
“Saya sama sekali tidak bermaksud begitu, Mr.
Gaston. Presiden terang-terangan memuji ibu Anda dan
Dr. Allan karena perawatan luar biasa yang telah mereka
berikan pada Mrs. Merritt.”
“Jadi apa maksud Anda?”
Apa maksudnya? “Saya cuma merasa sangat prihatin
bahwa meskipun amat berbakat menyembuhkan orang,
Dr. Allan tidak mampu menyelamatkan nyawa ibu Anda.”
“Dia bilang sudah berusaha sekuat tenaga.”
“Dan Anda mempercayainya?”
“Kenapa tidak? Dia dokter hebat dan orang terhormat.
Dia memberi Mom kesempatan di saat orang lain tidak.”
“Kesempatan’?”
“Untuk bekerja.” Tiba-tiba ia bangkit. “Saya tidak mau
lagi membicarakan masalah ini. Baru beberapa hari ibu
337
saya meninggal. Saya masih sangat sedih.”
“Tentu saja. Saya minta maaf.”
Barrie tidak mendesak pria itu. Ia berhasil memperoleh
sesuatu yang jauh melebihi harapannya. Sebetulnya, ia
berhasil memperoleh lebih banyak pertanyaan daripada
jawaban, dan bersemangat untuk melakukan penyelidikan
lebih lanjut.
“Anda baik sekali mau menemui saya.” Di pintu depan,
ia menggenggam tangan laki-laki itu dengan hangat. Ia
yakin bahwa seperti seluruh rakyat negara ini, Ralph
Gaston telah ditipu oleh para pemegang kekuasaan. Jadi,
walaupun sikap orang itu bisa dibilang kasar, ia cuma
merasa kasihan padanya. “Tolong sampaikan dukacita
saya pada keluarga Anda yang lain, dan, sekali lagi, saya
minta maaf jika ada tindakan saya yang menimbulkan
kesedihan bagi Anda.”
Ralph Gaston, Jr. mengamati ketika Barrie berjalan
menyusuri trotoar dan masuk ke mobil yang diparkir di
tepi jalan. Ia menunggu sampai wanita itu melaju pergi
sebelum cepat-cepat pergi ke telepon.
Teleponnya diangkat setelah dering kedua.
Seumur hidup baru dua kali Ralph bicara dengan agen
federal—kemarin dulu, ketika seorang agen datang
sebelum upacara pemakaman ibunya dan minta bicara
empat mata dengannya, serta sekarang. Pada dua
kesempatan itu mulutnya terasa kering dan telapak
tangannya basah.
“Anda menyuruh saya menelepon kalau reporter itu
datang. Yah, dia baru saja pergi dari rumah saya.”
“Anda bicara dengan dia?”
“Ya, Sir. Saya ingin membanting pintu di depan
338
batang hidungnya, namun saya lakukan perintah Anda
dan berusaha bersikap biasa-biasa saja.”
“Apa maunya?”
“Minta maaf.” la mengulangi percakapan mereka,
kemudian menjawab semua pertanyaan laki-laki itu
dengan ketepatan pegawai yang baru direkrut.
“Kebanyakan dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan
menjurus mengenai riwayat medis ibu saya dan pengobatan
yang didapat Mrs. Merritt dari Dr. Allan.”
Setelah keheningan yang menyesakkan, orang pemerintah
itu berkata, “Tindakan Anda tepat, Mr. Gaston.
Presiden Merritt akan berterima kasih atas bantuan
Anda.”
Ralph merasa dadanya membusung. Perintahnya
datang langsung dari Panglima Besar. Ia diberitahu
bahwa keinginan Barrie Travis untuk meruntuhkan
pemerintahan disebabkan oleh kecemburuan tidak warasnya
pada Ibu Negara.
Barrie Travis sangat benci pada Gedung Putih, karena
itu ia musuh negara. Masih belum diketahui sampai
seberapa jauh kecenderungan subversifnya, namun sesudah
insiden di Shinlin, mereka mengambil sikap waspada.
Itulah sebabnya Presiden minta diberitahu secepatnya jika
wanita itu menghubungi keluarga Gaston untuk mencari
informasi, yang kemudian mungkin akan digunakannya
untuk menimbulkan lebih banyak kerusakan.
“Informasi ini akan segera saya sampaikan pada
Presiden,” kata agen itu. “Anda melakukan tugas Anda
dengan baik.”
“Terima kasih, Sir. Senang bisa membantu. Ada lagi
yang bisa saya lakukan?”
339
“Tolong beritahu saya jika dia datang kembali.”
“Saya rasa dia tak akan kembali,” ujar Gaston. “Dia
sudah dipecat dari stasiun TV itu. Dia kemari hari ini
bukan sebagai reporter, cuma orang biasa.”
“Saya sangat meragukannya.”
Spence meletakkan gagang telepon dan berpaling pada
Presiden. “Tadi itu Gaston,. Dia masih mengira dia bicara
dengan agen FBI. Tebak siapa yang baru mengunjunginya?”
“Brengsek!”
Kapan masalah ini akan hilang? Banyak hal lebih
penting yang harus dipikirkannya. Sekarang ia dalam
perjalanan untuk menghadiri rapat dengan Kepala Staf
Gabungan. Dari Libya ada beberapa laporan Intetijen
yang meresahkan. Beberapa minggu lagi ia akan
menerima pernyataan rekonsiliasi mengenai anggaran
tahun depan. Potongan-potongan yang disebabkan oleh
kedua dewan Kongres akan membangkitkan kemarahan
kelompok-kelompok khusus, dan ia yang akan kebagian
tugas untuk menenangkan mereka. Inti dari setiap
keputusan, tentu saja, adalah bagaimana pengarahnya
terhadap hasil pemilihan tahun depan.
Persoalan-persoalan administratif itu membutuhkan
konsentrasi, namun ia tidak bisa menanganinya sebagaimana
mestinya gara-gara masalah yang tak kunjung
selesai ini. “Dia benar-benar kepala batu,” gerutunya.
“Dia tidak mau menyerah.”
“Dia bisa menyerah. Begitu juga Gray. Kita bisa
membungkam mereka.”
“Tertalu riskan, Spence. Mereka terlalu banyak
membuat berita akhir-akhir ini.”
“Tapi sebagian besar tentang Clete. Media memuatnya
340
ketika dia menyemprot mereka. Jika mereka mengalami
tindak kekerasan, Senator akan jadi orang pertama yang
dicurigai.”
Merritt merenungkannya. Itu ide yang menarik.
Lempar satu batu dapat dua burung. Tiga, kalau Clete
masuk hitungan. Regu pengintai Spence selalu memberitahu
mereka mengenai setiap tindakan yang diambil
Gray, Barrie Travis, dan laki-laki tua yang mereka
tumpangi itu. Ia tergoda untuk melenyapkan mereka
semua dalam sekali sapu. Itu tindakan yang cocok dan
tepat. Rencana itu menarik, tapi... terlalu riskan.
“Tidak, Spence.”
“Aku punya orang-orang yang bisa melaksanakannya.
Kejadiannya akan sangat jauh dari Gedung Putih
hingga...”
Merritt mengangkat satu tangan. “Bill Yancey terlalu
sulit ditebak,” ia berkata tentang sang jaksa agung. “Aku
tidak berani mengambil risiko. Lagi pula,” ia menambahkan,
“idemu mengandung kepentingan pribadi. Kau ingin
membalas dendam pada Bondurant.”
“Betul. Tapi masalah Anda juga akan beres.”
“Aku ingin menyelesaikan masalahku, namun kita
harus bermain dengan pintar. Mereka tidak akan terlalu
berbahaya selama tidak berhubungan dengan Vanessa.”
“Pikirkanlah, David. Kita tidak bisa selamanya
mengurungnya di Gedung Putih.”
David memandang asistennya. “Ya, memang. Apalagi
kondisinya kembali memburuk.”
Telepati mereka bekerja kembali untuk menyampaikan
pesan Merritt. Spence mengangguk mengerti dan meraih
telepon. “Akan kutelepon D r. Allan supaya segera
341
datang.”
Merritt mengambil telepon dari tangannya. “Dan ada
korban serangan jantung lagi? George mengira kau sudah
mati. Lebih baik aku saja yang menelepon dia.”
342
Bab Dua Puluh Sembilan
“DARI mana saja sih kau?” sembur Gray galak begitu
Barrie masuk dari pintu depan. “Mestinya kau pulang dua
jam yang lalu.”
“Aku mendapat informasi yang sangat menarik,”
Barrie berkata. “Tenang. Aku tidak apa-apa. Sepanjang
siang aku dibuntuti. Orang itu kabur di pojok jalan
terakhir. Aku kelaparan.” la melemparkan kunci mobilnya
pada laki-laki itu. “Ambilkan makan malam sementara
aku mandi, lalu kita bicara.”
Satu jam kemudian mereka bertiga berkumpul di
sekeliling meja di dapur Daily, sisa makanan mereka
membeku di kotak-kotak karton putih. Radio menggelegar
dari sudut.
Barrie minta maaf karena telah membuat mereka
cemas. “Aku tidak menelepon karena tidak bisa mengatakan
yang tidak penting. Kalian akan memaafkan aku
kalau kuberitahu informasi apa yang kudapatkan.”
“Dari Ralph Gaston, Jr?”
“Secara tidak langsung.” Dengan suara tetap di bawah
tingkat suara radio, ia menceritakan pertemuannya
dengan putra perawat yang sudah meninggal itu.
“Anehnya, dia terus berkeras bahwa ibunya perawat
343
yang andal.”
“Jadi?”
“Jadi, semua orang yang kutemui tidak pernah
mengatakan sebaliknya. Kenapa dia memperdebatkan
masalah yang tidak pernah diributkan? Menurutku itu
aneh, jadi setelah meninggalkan dia. aku melakukan
sedikit penyelidikan, termasuk telepon ke salah satu
sumber informasiku di gedung pengadilan pidana, yang
memasukkan namanya ke NCIC. Voila! Muncul catatan
penangkapan dan nama alias.”
Kedua laki-laki itu berpandang-pandangan, lalu kembali
pada Barrie. “Selama bertahun-tahun setelah pernikahannya
dengan Ralph Gaston, di kalangan profesinya
perawat itu tetap memakai nama gadisnya. Jayne
Heisellman.”
“Rasanya tidak asing,” ujar Daily. “Kok bisa?”
“Karena, beberapa tahun yang lalu, seorang pasien
kronis meninggal sewaktu dalam perawatan Heisellman.
Dicurigai terjadi euthanasia. Dia mati-matian membantah
tuduhan itu, namun keluarga pasien yang penganut taat
agama Katolik Roma menghadap jaksa wilayah dan
menuntut diadakan penyelidikan. Juri membebaskannya
karena kurang bukti. Kematian si pasien diputuskan
sebagai akibat kanker pankreas dan Heisellman dibersihkan
dari segala kecurigaan.”
“Aku ingat sekarang,” kata Daily.
“Mestinya aku juga ingat,” jawab Barrie kesal. “ltu
salah satu berita pertama yang kuliput untuk WVUE. Aku
tidak mengenalinya di kamar mayat. Dia lebih tua, dan,
yah, situasi di sana tidak kondusif untuk membuat orang
bisa langsung ingat.
344
“Meskipun dia dinyatakan bersih dari aktivitas kriminal
apa pun, tuduhan itu menimbulkan stres cukup berat
hingga dia mengalami serangan jantung. Ini juga dimuat
di media massa. Dia sembuh, dan setelah enam bulan
diberi lampu hijau untuk kembali bekerja. Namun
masalah tidak selesai semudah itu.
“Penyelidikan itu meninggalkan noda yang tidak bisa
dihapus pada catatannya yang sebelumnya tanpa cacat.
Dia dipaksa meninggalkan rumah sakit tempat insiden itu
terjadi, dan bahkan setelah mengganti nama dengan nama
suaminya, ia tetap ditolak bekerja di mana-mana.”
“Biar kutebak,” kata Gray. “Sampai dia dipekerjakan
Dr. Allan.”
Barrie menyusun jari-jarinya hingga berbentuk pistol
dan menembakkannya pada pria itu. “Tepat, Bung.”
“Mereka mempekerjakan perawat yang dicurigai
melakukan pembunuhan karena kasihan...”
“Untuk membua t Vanessa meninggal karena rasa
kasihan. Atau, kalau dia meninggal karena sebab-sebab
lain dan perawat itu bermaksud membuka mulut, dia bisa
dibungkam dengan serangan jantung.”
“Yang sesuai, mengingat riwayat komplikasi jantungnya.”
Pikiran-pikiran mereka begitu sejalan hingga mereka
dapat saling menyelesaikan kalimat-kalimat mereka.
Barrie mengakhiri dengan berkata, “Bagaimanapun
kejadiannya, mereka punya kambing hitam yang cocok.”
“Kerjamu bagus,” komentar Daily.
“Terima kasih,” kata Barrie, berseri-seri mendengar
pujiannya.
“Apakah menurutmu Dr. Allan membunuh perawat itu
345
dan menyatakannya sebagai serangan jantung?” Daily
bertanya.
Gray menggaruk pipinya asal-asalan. “Mungkin saja,
tapi kurasa tidak. George itu... entahlah, lemah. Di
mataku dia bukan laki-laki yang keji, yang tega
membungkam orang dengan darah dingin. Dia tidak
seperti Spence. Atau David.
“Kurasa serangan jantung itu membuat mereka semua
kelabakan. Di rumah sakit, dokter itu lebih bersikap
gelisah daripada bersalah.” Sambil berpaling pada Barrie,
ia bertanya, “Bagaimana dengan Gaston? Dia terlibat?”
“Tidak. Dia cuma memikirkan reputasi ibunya.”
“Jadi, bagaimana sekarang?” Daily ingin tahu.
“Aku sama sekali tidak tahu,” jawab Barrie dengan
kejujuran yang menghilangkan semangat.
Setelah keheningan karena semua berpikir, Daily
berkata, “Well, aku capek. Lagi pula, benda itu
membuatku sinting.” Ia melotot kesal pada radio.
“Pokoknya jangan sampai rasa frustrasi menguasaimu
lagi.”
Barrie terlambat menyadari kekeliruannya. Ia bicara
tanpa berpikir. Daily memandangnya dengan marah,
yang langsung dilihat oleh mata Gray yang sesensitif
radar.
“Ada apa?”
Daily berkata dengan ketus, “Jangan lupa, Bondurant,
ini rumahku, dan aku boleh berbuat semauku di
dalamnya, kapan pun aku suka.”
Ekspresi Gray langsung berubah kelam. “Kalau terjadi
sesuatu yang perlu kuketahui tentang...”
346
“Oh, demi Tuhan,” potong Barrie. “Jangan meributkan
masalah sepele itu. Daily agak kesal pagi ini. Waktu kau
pergi, ada sedan yang berkali-kali melewati rumah ini.
Dia kehilangan kesabaran, pergi ke teras, dan mengacungkan
jari tengahnya. Cuma itu yang terjadi.”
“Tapi sekarang mereka tahu kita menandai mereka,”
kata Gray, perasaan tidak senangnya tampak jelas.
“Daily tidak bermaksud...”
“Aku akan berterima kasih kalau kau tidak membantuku,”
bentak Daily ketus. Lalu ia menoleh pada Gray
dengan sikap semenantang mungkin. “Memangnya kau
siapa, berani-beraninya memerintah aku di rumahku
sendiri?”
“Ini bukan perlombaan siapa yang paling kuat di antara
kita, Daily.” Suara Gray lebih lembut dan ramah daripada
yang dikira Barrie. “Semua saranku tentang apa yang
sebaiknya kaulakukan cuma demi keselamatanmu sendiri.
Dan keselamatan Barrie. Aku tidak bisa memberitahumu
betapa berbahayanya orang-orang ini. Mereka mencari
gara-gara. Kumohon, jangan biarkan mereka menang.
Aku tidak mau kematianmu menghantuiku.”
Daily tampak seperti anak kecil yang dimarahi padahal
tidak bersalah. Dengan mengangguk pelan ia mengakui
kebenaran perkataan Gray. “Sialan,” gerutunya ketika
berdiri. “Aku mau tidur.”
Barrie menawarkan diri untuk membersihkan dapur
dan mengucapkan selamat malam padanya. Gray mengikuti
Daily meninggalkan ruangan. Karena percakapan
berbahaya mereka untuk malam ini sudah selesai, Barrie
mematikan radio dan menikmati kesunyian. Setelah
dapur rapi, ia memadamkan lampu dan pergi ke ruang
347
tamu.
Gray duduk merosot di sudut sofa, kepalanya
bersandar di sandaran kursi, kakinya terulur di depannya.
Barrie nyaris tak bisa melihat sosoknya dalam kegelapan,
yang cuma diterangi cahaya suram lampu jalanan dari
balik tirai.
Selama delapan belas tahun pertama kehidupannya,
Barrie diabaikan oleh dua orang yang lebih memusatkan
perhatian pada cara membuat pasangannya tidak bahagia
daripada membahagiakan anak hasil pernikahan mereka.
Mungkin itu sebabnya ia memilih profesi di mana ia
terus-menerus dilihat dan didengar. Jurnalisme televisi
bukanlah untuk orang yang ingin selalu merendah. Dulu
ia adalah anak yang diabaikan, sekarang ia diperhatikan
banyak orang. Ia pernah diejek dan ditertawakan, namun
jarang ia tidak dipedulikan.
Kecuali oleh Gray Bondurant. Mengesalkan rasanya
melihat pria itu begitu mudah mengabaikannya. Bukan
terhadap dirinya secara pribadi, melainkan keintiman
yang sama-sama mereka rasakan. Sejak mereka bertemu
pertama kali pagi tadi, hanya beberapa kali mereka
berbincang-bincang.
Benar, kejadian di pagi hari di Wyoming itu
merupakan reaksi kimia, kecelakaan, jelas bukan karena
cinta atau bahkan afeksi. Ia tidak mengharapkan laki-laki
itu meniup trompet setiap kali ia memasuki ruangan,
namun tak ada salahnya menunjukkan pengakuan,
bukan? Kejadian itu seolah tak pernah terjadi. Ketika ada
kesempatan untuk tidur bersamanya di motel, Gray
bahkan berusaha pun tidak. Itulah penghinaan yang
paling menyakitkan.
348
Malam ini Gray tampak menarik diri dan sangat
tertutup. Barrie menimbang-nimbang apakah bijaksana
memasuki sarang singa ini. Namun pendekatan yang hatihati
bukanlah gayanya.la melintasi ruangan dan berdiri
persis di hadapan pria itu. Tanpa kata pendahuluan ia
berkata, “Kau tidak bisa bersikap seolah peristiwa itu
tidak pernah terjadi.”
“Kenapa tidak?” Setidaknya Gray tidak berpura-pura
bodoh. “Kukira kita sepakat bahwa itu seks tanpa ikatan.”
“Memang.”
Gray mengangkat bahu seolah ingin mengatakan, Jadi,
masalah selesai.
“Bahkan biarpun itu seks bebas,” kata Barrie, “Tidak
bisakah kita tetap mengakui bahwa peristiwa itu pernah
terjadi?”
“Apa gunanya?”
“Yah, itu akan... akan...” Barrie menghela napas
dengan kesal. “Entahlah. Aku cuma merasa kita tidak
boleh mengabaikannya.”
“Karena ayahmu?”
Barrie benar-benar terkejut. “Apa yang kauketahui
tentang dia?”
“Bahwa dia tidak pernah mendampingi ibumu atau
kau. Bahwa dia selalu berselingkuh dan meninggal di
tempat tidur pacarnya, dan bahwa ibumu bunuh diri
karenanya.”
“Daily memang tidak setengah-setengah,” ujar Barrie
pahit. “Dia tidak berhak membicarakan kehidupan
pribadiku denganmu.”
“Kenapa begitu tertarik, Bondurant?”
“Kenapa begitu ketus?”
349
“Kau selalu ketus setiap kali aku menyinggung masa
lalumu.”
la tidak bisa melihat mata pria itu dalam kegelapan,
namun ia merasakan tatapannya yang dalam dan serius.
“Kau sebuah kontradiksi, Barrie, dan aku dididik untuk
mempelajari dan menganalisis kontradiksi karena biasanya
sangat mengagumkan.”
“Oke, aku menyerah. Dalam hal apa aku kontradiktif?”
“Misalnya, makin muram situasi, makin banyak kau
bercanda. Dengan pria, kau mengirim sinyal campur
aduk. Sesaat kau mencela apa pun yang berbau seksual,
lalu saat berikutnya...” Gray tidak menyelesaikan
kalimatnya. “Sopan santun menuntut aku berhenti sampai
di sini.”
“Kau benar-benar tahu etiket.”
“Aku ingin tahu kenapa kau berubah-ubah begitu
drastis. Setelah apa yang diceritakan Daily padaku, aku
lebih memahamimu. Penolakan ayahmulah yang membuatmu
begitu ambisius.”
Barrie mengayunkan pinggulnya dan meletakkan
tangannya di situ. “Oh ya?”
“Kau bekerja keras untuk mendapatkan perhatian dan
pujian Daddy, namun kau juga takut menerimanya. Kau
bersikap seperti feminis, menolak laki-laki sebelum lakilaki
bisa menolakmu, tapi sikap keras itu bertentangan
dengan sifat aslimu, yang seratus persen feminin.
Ayahmu membuatmu waspada terhadap laki-laki.”
“Aku tidak waspada, Bondurant. Aku cerdas. Dan aku
bukan tidak mempercayai semua laki-laki, cuma beberapa.”
“Sebagian besar.”
“Sebagian besar tidak bisa dipercaya. Tidak seperti
350
ibuku, aku takkan pernah membiarkan pria
memperlakukan aku seolah aku tidak ada. Yang membuat
kita sampai pada kau dan tujuan percakapan ini. Aku
tidak mengharapkan cokelat dan mawar darimu. Yang
penting jangan abaikan aku dan berpura-pura aku tidak
berarti.”
“Cukup adil.”
“Bagus. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Ketika sendirian di kamar yang penuh sesak, berbaring
di tempat tidur lipat yang sempit, Barrie menyadari
bahwa ia menang. Namun kemenangannya itu terasa
sangat kosong.
351
Bab Tiga Puluh
VANESSA MERRITT sarapan di tempat tidur. Sudah
tiga hari ia tidak keluar dari kamar, sejak malam David
menamparnya. Pria itu juga tidak pernah menjenguknya.
Sambil bersandar di tumpukan bantal, ia menonton
Katie Couric mewawancarai Menteri Penahanan, yang
baru pulang dari Afrika Utara. Ada banyak laporan
mengenai meningkatnya kekuatan militer di Libya dan
serangan udara terhadap Israel. Pemerintah Libya
membantah bertanggung jawab atas pemboman-pemboman
itu. Menteri menyarankan agar Presiden Merritt tidak
mengambil tindakan drastis apa pun, baik di bidang
politik maupun militer, sampai jaringan intelijen
membuktikan kebenaran laporan-laporan itu.
David akan marah besar kalau dipaksa melakukan
tindakan agresif. Keputusan eksekutif seperti itu biasanya
membangkitkan reaksi keras dari kedua partai dan protes
rakyat. Terlibat dalam perselisihan kecil sekalipun
dengan kekuatan bermusuhan, bisa mempengaruhi
pemilihan.
Vanessa tersenyum memikirkan dilema yang harus
dihadapi David, yang mungkin ditimbulkan oleh masalah
352
ini.
Senyumnya lenyap ketika seorang asisten mengetuk
pintu dan memberitahu bahwa Dr. Allan ingin menemuinya.
“Apa maumu, George?” Vanessa bertanya dengan
tidak ramah ketika pria itu mendekatinya.
“Apakah itu sambutan yang pantas?” George bertanya,
sikap sopannya tanpa cacat. “Aku datang untuk menjenguk
Anda.”
“David yang menyuruh?”
Dokter itu pura-pura tidak melihat lebam dan bengkak
mengerikan di bawah mata Vanessa. “Dia pergi ke Karibia
pagi ini untuk melihat kerusakan akibat badai.”
Vanessa mengangguk ke arah TV . “Warta berita
menampakkan lambaian perpisahannya ketika dia menaiki
pesawat di Andrews. Dia kelihatan sangat mantap. Aku
yakin dia bakal bisa menaklukkan badai sendirian, bagai
menaklukkan naga. Sir David yang tak kenal takut.”
“Sarkasme tidak cocok untuk Anda, Vanessa.”
Dipasangnya alat pengukur tekanan darah di lengannya.
“Begitu juga lebam di pipiku ini, yang sejak tadi
kaucoba abaikan. Apakah David takut aku mungkin
membutuhkan operasi rekonstruktif di tulang pipiku?
Itukah sebabnya dia mengutusmu, untuk melihat kerusakan
dan memberinya perkiraan tentang perbaikannya?””Aku
datang karena sudah waktunya tekanan darah Anda
diperiksa lagi.” George membuka alat pengukur tekanan
darah dan menggantinya dengan sepotong karet, yang
diikatkannya kuat-kuat di sekeliling otot biseps Vanessa
untuk membentuk turniket. “Dan David berpendapat
barangkali Anda butuh lebih banyak istirahat sebelum
sembuh total.”
353
“‘Istirahat’? Maksudmu pengasingan?”
Tuhan, tidak! jerit Vanessa. Dalam hati. Apa gunanya
ia menjerit kuat-kuat?
Para agen Dinas Rahasia akan berlarian datang. Ia akan
menuduh George mencoba membunuhnya untuk kedua
kalinya. Para penjaga dan si asisten yang tadi mengantarkan
George masuk—wanita itu tampak seperti nenek-nenek
ramah dengan sweter gombrong dan sepatu SAS-nya,
tapi tak usah diragukan lagi pastilah salah satu mata-mata
strategis David—akan memandangnya dengan kasihan
karena ia melantur begitu jauh. Ia akan diberi obat
penenang dan dibawa pergi.
Tak ada yang bisa membantunya. Ia terperangkap.
Selama konferensi pers ia berusaha mengirim sinyal
supaya seseorang datang menyelamatkannya. Tak adakah
orang yang kenal baik dengannya yang menyadari dirinya
tidak memakai cincin kawin ibunya?
Rupanya begitu. Yang jelas, Gray tidak. Spence telah
menghilang, namun kesetiaannya toh cuma pada David.
Ia teringat janji yang dibisikkan ayahnya, bahwa ia dapat
membereskan semuanya. Tapi di mana ia pagi ini?
“Aku ingin menelepon ayahku,” Vanessa berkata ketika
George mengoleskan alkohol dingin di bagian dalam
sikunya.
“Nanti kutelepon dia. Kepalkan tangan Anda supaya
aku bisa mengambil darah Anda.”
“Aku ingin menelepon dia sekarang,” tukas Vanessa
dengan suara melengking ketakutan.
Dilemparnya selimut dan diayunkannya kaki melewati
tepi tempat tidur. Tanpa memedulikan tubuhnya yang
telanjang, ia meraih telepon di meja samping tempat
354
tidur. Dengan gelisah ia mengangkat telepon. Tangannya
gemetar dan akhirnya ia menjatuhkan telepon dan
ambruk di lantai. Lalu ia merayap untuk mengambil
telepon itu.
“Vanessa, demi Tuhan!” George menangkap pinggangnya
dan berusaha menariknya bangkit.
“Lepaskan aku, bangsat!”
la memberontak, namun pria itu memukul tangannya
hingga telepon terlepas dan menariknya berdiri. Tangan
Vanessa menggapai-gapai. Ia melengkungkan jari-jari
dan berusaha mencakar muka laki-laki itu. “Takkan
kubiarkan kau melakukan ini lagi padaku.”
“Aku cuma mencoba membantu Anda.”
“Dasar hipokrit pembohong,” Vanessa mendesis. “Berhentilah
berpura-pura. Kita sama-sama tahu kenapa kau
ada di sini. Kau diperintahkan untuk membungkam aku
lagi, kan? Setidaknya sampai bukti perbuatan suamiku
lenyap dari tubuhku. Akan menjadi publikasi yang buruk
bagi Ibu Negara kalau sampai kelihatan bahwa matanya
lebam setelah pertengkaran rumah tangga, heh?”
la kembali memberontak, tapi George memeganginya
kuat-kuat. “Jangan bikin diri Anda capek, Vanessa, kalau
tidak aku terpaksa harus memberi Anda obat penenang.”
“Kalau dia memintamu, apakah kau akan membunuhku,
George?”
“Ya Tuhan, tidak!”
“Bohong. Kau mencobanya di Highpoint. Kekuasaan
apa sih yang dimilikinya atas dirimu?”
“Aku tidak tahu apa maksud Anda.”
“Kau menutupi pembunuhan untuknya, jadi dia pasti
tahu rahasiamu. Rahasia apa, George?”
355
“Aku tidak tahu apa-apa soal pembunuhan.”
“Oh ya, kau tahu. Tapi kau tidak mau bercerita karena
David mencengkerammu, bukan? Kau tahu, aku kenal
dia. Seperti itulah dia beroperasi. Kapak apa yang
dipegangnya di atas kepalamu? Ada hubungannya dengan
Amanda? Itu yang bisa membuatmu sangat sakit, kan?
Sejak dulu kau sayang sekali pada istrimu yang dingin
itu. Atau apakah David mengancam nyawa anakanakmu?
Dia juga pintar di bidang itu. Percayalah
padaku, dia... Aduh!”
Tanpa disadari Vanessa, dokter itu telah mengambil
suntikan yang sudah disiapkan dan menusukkan jarumnya
ke pahanya, menekan alat itu sebelum Vanessa bisa
menghentikannya. “Maafkan aku, Vanessa. Anda tidak
memberiku pilihan.”
“Kau punya pilihan, George. Kita semua punya. Sialan
kau!” Vanessa berteriak, suaranya melengking. “Semoga
kau dan David masuk neraka.”
Malam itu Dr. Allan membelokkan mobilnya ke jalan
masuk rumah, namun tidak berusaha turun dan masuk ke
dalam. Ia duduk dengan mata menatap kosong ke balik
kaca depan mobil, kedua tangannya terkulai lemas di
pangkuan. Ia kehabisan tenaga, bahkan untuk membuka
pintu mobil pun ia tidak bersemangat.
Lampu-lampu di dalam rumah menyala, dan ia merasa
tenteram melihatnya. Setiap kali pulang, ia takut akan
mendapati semua jendela gelap, kamar-kamar kosong
melompong, laci-laci lemari pakaian dan bufet sama
sekali bersih. Ia ketakutan membayangkan Amanda pergi
dan membawa anak-anak bersamanya.
Wanita itu telah bersumpah akan membelanya, namun
356
pada titik manakah ia akan menyerah? Kapan ia akan
menyadari bahwa suaminya mungkin tidak pantas
diselamatkan? Ia melihat ekspresi jijik Amanda setiap
pagi waktu ia muncul di meja sarapan dengan tubuh
gemetaran dan mata merah, teler akibat minuman keras
dan perasaan bersalah.
Ia mencintai Amanda karena wanita itu masih cukup
peduli hingga mau menanyakan dari mana saja ia dan apa
yang dilakukannya. Namun ia juga membenci
pengamatannya yang tajam. Istrinya memiliki bakat
mendeteksi kebohongan yang lebih akurat daripada alat
apa pun yang dimiliki badan penegak hukum. Makin
lama ia makin sulit menemukan penjelasan yang masuk
akal.
Perasaan bersalah membuatnya jadi defensif dan
berbicara kasar. Setelah bertengkar hebat beberapa kali,
Amanda berhenti bertanya soal tugas-tugas medis yang
dilakukannya atas perintah David Merritt. Mungkin ia
berhenti menyelidik karena muak dengan kebohongannya,
dan mungkin untuk menghindarkan kedua putra mereka
dari trauma akibat mendengarkan pertengkaran sengit
mereka.
Mata Amanda menampakkan ekspresi marah dan
benci. Ia merasa kesabaran wanita itu makin menipis,
toleransinya berkurang, cintanya memudar. Tak lama lagi
ia barangkali akan meninggalkannya. Lalu ia akan
meninggal karena menyesal dan patah semangat.
Ia menenggak banyak-banyak isi botol minuman keras
yang diletakkannya di antara pahanya sepanjang perjalanan
pulang. Ia nyaris berharap polisi lalu lintas akan
menghentikan dan menangkapnya karena mengemudi di
357
bawah pengaruh alkohol. Dengan senang hati ia akan
mengaku bersalah atas dakwaan itu. Dipenjara karena
mengemudi dalam keadaan mabuk lebih menyenangkan
daripada hukuman seumur hidup yang dijalaninya
sewaktu melayani David. Kalau ia dipenjara, David harus
mencari dokter lain untuk memecahkan masalahnya.
George akan menyerahkan tugasnya dengan perasaan
bahagia.
Ia menunggu di Ruang Oval sampai David pulang dari
perjalanan kilatnya ke Karibia tempat misi amalnya
diliput besar-besaran oleh pers. Presiden Merritt yang
masih muda tampan, dan penuh vitalitas difoto saat
berada di antara bekas-bekas badai. Ia tengah menghibur
para penduduk yang kehilangan rumah dan orang-orang
kesayangan mereka akibat bencana alam dahsyat itu.
Kalau saja mereka tahu, begitu pikir George, betapa
jauh lebih menghancurkan orang yang melontarkan katakata
menghibur itu.
Meskipun telah melakukan perjalanan jauh, pria itu
malah kelihatan lebih bersemangat. Ia meluncur memasuki
Ruang Oval, tampak fit dan agak kecokelatan terbakar
matahari. “George! Ada apa?”
Seolah ia tidak tahu. “Dengan perasaan menyesal aku
ingin memberitahu bahwa istrimu kembali sakit.
Pagi ini, aku mengambil kebijaksanaan sendiri untuk
memindahkannya ke fasilitas pribadi. Di sana dia akan
dirawat dengan baik.”
Bangsat itu bahkan berpura-pura sedih mendengar
berita itu. Dengan suara pelan ia bertanya apakah ayah
mertuanya sudah dikabari.
“Kupikir Anda mungkin ingin memberitahu langsung
358
Senator Armbruster.”
David meminta George bicara dengan Dalton Neely
tentang kata-kata yang tepat untuk siaran pers, dan
George setuju untuk melakukannya besok pagi-pagi
sekali.
Kalau David menyadari ekspresi beku Dr. Allan dan
sikapnya yang tidak bersemangat ketika mendengar
proyek terbarunya ia tidak menunjukkannya. Ia yakin
instruksinya akan dilaksanakan persis dengan kemauannya,
tak peduli bagaimana perasaan George.
Kapak apa yang dipegangnya di atas kepalamu?
George mengutuk hari ia bertemu dengan David
Merritt. Apa yang waktu itu tampak seperti kesempatan
bagus ternyata merupakan peristiwa paling terkutuk
dalam hidupnya. Secara kebetulan—atau mungkinkah
David sengaja membuatnya terkesan tidak sengaja?—
dokter muda yang menjanjikan itu bertemu dengan
anggota Kongres bermasa depan cerah itu di lapangan
racquetball. Ketika mereka bersalaman, George merasa
suatu kekuatan mengaliri lengannya. Rasanya seolah ia
menerima suntikan karisma dan energi David. Perkenalan
mereka berkembang jadi persahabatan yang ternyata
palsu.
Mereka mulai bertemu untuk main racquetball atau
minum-minum atau makan siang singkat. Keluarga
Allan, pasangan baru menikah yang hidup pas-pasan,
tidak bisa mengadakan perjamuan mewah, namun David
tampaknya senang-senang saja walaupun cuma makan
hamburger di patio apartemen mereka yang sederhana.
Ketika ia menikah, pasangannya tidak begitu antusias soal
acara santai di malam hari dengan keluarga Allan ini.
359
Vanessa dan Amanda tidak seakrab suami mereka. George
menduga itu karena Amanda jauh lebih intelek daripada
Vanessa. Kedua wanita itu sangat berbeda dari segi
kepribadian dan minat. Namun ketidakpedulian mereka
terhadap satu sama lain tidak mengurangi persahabatan
antara dirinya dan David.
Tak perlu waktu lama bagi George untuk menganggap
David sebagai temannya yang paling akrab dan tepercaya.
Jadi wajar, waktu hidupnya tampak seperti berada di
ambang kehancuran, David-lah orang yang dimintainya
pertolongan.
Pasien itu dimasukkan ke ruang gawat darurat, pria
kulit hitam muda, yang pingsan dalam pertandingan
basket antartetangga. Melihat umur dan penampilan
pasien serta teman-temannya, George segera curiga ia
overdosis obat terlarang. Ia bertanya pada geng itu, obat
apa saja yang diminum teman mereka hari itu.
“Dia ingin main di NBA brengsek,” salah satu anak
memberitahunya. “Dia tidak memakai obat berat.”
George tak yakin. Setiap gejala menunjukkan overdosis
obat bius yang berbeda digabung dengan alkohol. Ia
memerintahkan pemompaan perut dan pemberian ipecac,
obat antiracun.
Yang tidak diketahui George, tapi diceritakan oleh ibu
si pasien ketika ia datang, adalah bahwa anak itu pernah
demam rematik waktu masih kecil, yang membuat katup
aortanya rusak. Ia menderita gagal jantung yang
ditimbulkan oleh pertandingan basket yang berat.
Sebelum George sempat mengambil tindakan yang
diperlukan untuk memperbaiki kesalahan, ipecac bereaksi.
Anak itu muntah ke dalam paru-parunya dan akhirnya
360
tercekik muntahannya sendiri.
Tak bisa berpikir karena rasa bersalah dan panik,
George lari minta tolong pada David, yang mendengarkan
sementara ia menceritakan kisahnya. “Dia kacau dan
tidak bisa memberitahu aku. Dia pasti dapat bertahan
kalau aku tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan yang
salah. Pemeriksaan paru-paru yang lebih cermat pasti
akan...
“Apakah anak-anak lain memberitahumu bahwa
jantungnya lemah?”
“Si ibu bilang dia tidak mau teman-temannya tahu,
bisa-bisa dia dibilang banci. Ya Tuhan,” George tersedu
sambil membenamkan wajah di tangan, “ibunya bisa
menuntut rumah sakit dan aku karena malapraktek.”
Ia melihat kariernya meluncur jatuh bahkan sebelum
sempat tinggal landas. Hanya tinggal beberapa bulan lagi
masa magangnya selesai. Mimpi-mimpinya dan Amanda
buyar sudah.
“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri,” kata David
tenang. “Kau mesti berpikir bagaimana lagi? Dia kan
anak kulit hitam jalanan.”
“Tak pernah terpikir olehku jantungnya yang bermasalah.”
“Tentu saja.”
“Tapi mestinya aku tidak begitu,” George berkeras.
“Seharusnya aku tidak mengabaikan kemungkinankemungkinan
lain hanya karena satu diagnosis tampak
begitu nyata.”
“Dengar,” kata David, “kalau kaupikir aku akan
membiarkan temanku menderita seumur hidup gara-gara
kesalahan yang tak sengaja dilakukannya, kau salah. Kau
361
percaya padaku?”
Terpesona dengan ketenangan sikap David, George
mengangguk.
“Ada orang lain yang mendengar ibu itu bercerita
padamu soal kelainan jantung anaknya?”
“Kurasa tidak. Kami sendirian.”
“Bagus.”
“Namun itu akan tertulis di catatan kesehatannya.
Wanita itu membawanya ke rumah sakit.”
“Di mana catatan itu sekarang?” tanya David santai.
George mengeluarkan map berisi bukti memberatkan
itu dan memberikannya pada David. “Kau tidak pernah
melihatnya, mengerti?” kata David sambil mengunci map
itu di dalam lemari besi. Ketika berbalik kembali, ia
tertawa melihat ekspresi George. “Tenang. Cuma kau
yang meributkan masalah ini. Banyak pasien meninggal
di ruang gawat darurat. Aku berjanji, takkan ada yang
menyelidikinya sampai mendalam.”
“Ibunya bagaimana?”
“Dia mungkin sudah mengira anaknya bakal mati
mendadak. Dia menduga cepat atau lambat hal itu akan
terjadi, dan dia percaya kau sudah berbuat semampumu
untuk menyelamatkannya.”
George menggigit-gigit bibir bawahnya. “Karena dia
meninggal di UGD akibat sebab yang jelas, mungkin
takkan ada autopsi.”
David menepuk punggungnya. “Jadi berhentilah
merisaukannya.”
Seperti yang diramalkan David, tak seorang pun
mempertanyakan sebab kematian yang ditulis George di
catatan kesehatan. Setelah rumah pemakaman mengambil
362
mayat si anak, tidak pernah terdengar kabar lagi dari
ibunya.
Rahasia kelam itu memperkuat hubungan mereka.
David memperkenalkan George pada kolega-koleganya
di Kongres dan orang-orang berpengaruh lainnya. Ia
menyebutnya sebagai dokter paling bagus di Washington,
dan karena ia mengatakannya dengan gaya bersungguhsungguh
dan persuasif yang sama dengan yang
digunakannya ketika mengajukan rancangan undangundang
ke DPR, orang-orang mempercayainya.
Waktu George membuka praktek pribadi, ia sudah
terkenal di kalangan tingkat atas Washington. Bertahuntahun
kemudian, ketika ia ditunjuk jadi dokter resmi
Gedung Putih, ia menjual prakteknya yang menguntungkan
dengan harga luar biasa dan membeli rumah di dekat
kediaman wakil presiden.
Keadaan tidak mungkin lebih baik lagi.
Lalu ia dipanggil ke Gedung Putih di tengah malam
buta untuk menyatakan kematian Robert Rushton Merritt
yang baru berumur tiga bulan, dan kehidupan tenang Dr.
George Allan pun mulai kacau.
David menagih utang budi yang telah diberikannya
bertahun-tahun yang lalu. George tak pernah bertanya,
tapi ia menduga David masih menyimpan riwayat
kesehatan anak itu. Salah mendiagnosis penyakit bocah
itu merupakan kesalahan yang tidak disengaja, dan
mematikan, namun George pasti mampu mengatasinya
kalau waktu itu ia mengakui perbuatannya. Tindakan
menutup-nutupinyalah, juga kebohongannya, yang akan
dianggap masyarakat medis sulit dimaafkan setelah
sekian lama waktu berlalu. Solusi David, yang tampak
363
seperti penyelamat George, sebetulnya merupakan kehancurannya.
Karena statusnya yang terkenal saat ini, penyelidikan
tentang episode di UGD yang sudah lama terlupakan itu
akan jadi berita besar. Tidak penting berapa banyak
pasien meninggal akibat kesalahan dokter. Perhatian
semua orang akan terpusat pada anak itu, ibunya yang
malang, dan si dokter yang melakukan kesalahan fatal itu.
Ia harus melindungi keluarganya dari skandal seperti
itu. Rumah indah hasil penjualan prakteknya akan
menaungi Amanda dan anak-anak selama sisa hidup
mereka. Amanda tidak akan ditinggal dengan polis
asuransi seadanya atau utang banyak yang harus dibayar.
Ditinggal?
Tiba-tiba George sadar bahwa ia berpikir seolah
dirinya akan mati. Yang sebetulnya tidak ada salahnya.
Jika ia melaksanakan perintah terakhir David, ia sama
saja dengan mati.
364
Bab Tiga Puluh Satu
“MENURUTMU, dia berbohong?” tanya Barrie, samarsamar
ada nada kesal dalam suaranya.
“Dalton Neely itu sekretaris pers Gedung Putih,” Gray
berkata. “Dia sudah biasa berbohong.”
“Kali ini kurasa tidak.”
Mereka tengah menikmati pie dan kopi di dapur.
Sudah hampir seminggu sejak Neely mengumumkan
bahwa sekali lagi, Ibu Negara mengundurkan diri dari
kehidupan publik untuk jangka waktu yang tidak
ditentukan. Detail mengenai kondisinya tidak jelas, dan
di mana ia berada tidak diberitahukan.
Mereka tidak perlu radio lagi untuk menyamarkan
percakapan mereka. Gray telah memasang pembangkit
suara akustik, dan meletakkan beberapa transducer di
segenap penjuru rumah. Peralatan teknologi tinggi itu
menghasilkan suara yang tidak bisa ditembus, yang
mengganggu fungsi alat penyadap.
“Aku percaya pada Dalton waktu dia mengatakan
Vanessa tidak sehat,” ujar Barrie.
“Kenapa kau membela dia?”
“Aku tidak membelanya, aku membela pendapatku.
Vanessa sakit. Titik. Kematian anaknya memperparah
365
manic-depression-nya. Sebagai konsekuensinya, pengobatannya
harus disesuaikan. Sebelum dia stabil, dia harus
dipantau terus. Dia diasingkan supaya dapat sembuh, dan
hanya itulah yang terjadi. Sejak dulu hanya itulah yang
terjadi. Aku berani mempertaruhkan karierku.”
“Kau tidak punya karier,” komentar Daily.
“Terima kasih sudah mengingatkan aku soal itu.
Terima kasih sudah mengingatkan aku soal itu setiap lima
menit sekali.”
“Ada masalah apa sih kau ini?”
“Tidak ada. Banyak. Entahlah,” kata Barrie kesal.
“Kutarik kembali ucapanku. Aku tahu apa yang
mengganggu pikiranku. Aku merindukan kehidupan
yang kumiliki sebelum semua jadi kacau balau seperti
ini.”
“Lebih tepatnya, sebelum kau mengacaukannya,” kata
Daily . “Tidak ada yang menyuruhmu mati-matian
menyelidiki soal SIDS, atau anak Presiden, atau
kesehatan mental dan emosi Ibu Negara. Kau sendiri yang
melebih-lebihkan semua itu.”
“Yah, siapa yang mengajari aku, heh? Kau.”
“Aku mengajarimu supaya membangun berita berdasarkan
fakta, bukan dugaan. Itu yang kuajarkan. Tapi bukan
itu yang kaupelajari.” Daily berjuang untuk bernapas lagi.
“Kau menginginkan kehidupanmu yang dulu? Baik.
Kapan pun kau boleh meninggalkan rumahku, Nona
Kecil.”
“Mungkin aku akan meninggalkan rumahmu ini. Aku
muak kemping di kamar tamu bobrokmu. Aku muak
berbagi kamar mandi dengan dua laki-laki jorok yang
tidak pernah menjemur handuk setelah mandi atau
366
menutup kloset.” Kursinya berdecit ribut di lantai
linoleum dapur ketika ia mendorongnya ke belakang dan
bangkit.
“Aku muak dengan kalian berdua dan permainan yang
kita lakukan ini,” lanjut Barrie panas. “Ini permainan
bodoh, berbahaya, dan cuma buang-buang waktu. Malah
sedetik yang lalu aku telah mengambil keputusan penting.
Aku akan memperoleh kehidupanku lagi. Silakan kalian
berbuat sesuka hati kalian.”
la berjalan mengentak-entak melintasi ruangan dan
membanting pintu dapur.
Setelah keheningan mencekam selama beberapa detik,
Gray berkata, “Kau betul-betul membuatnya kesal.”
Helaan napas Daily menggemuruh jauh di dalam
dadanya. “Yeah, aku lumayan keras padanya. Setelah
semua yang dialaminya akhir-akhir ini, mestinya aku
lebih ramah, kurasa. Sebaiknya aku pergi dan bicara
dengannya.”
“Tidak usah. Biarkan dia merajuk. Anggap saja
sindrom menjelang haid. Sebentar lagi juga dingin. Akan
kubujuk dia.”
“Kau tidur dengannya, kan?”
“Sekali.”
“Cuma itu?”
“Kau mau bikin laporan?”
“Apa rencanamu untuknya?”
“Aku tidak pernah bikin rencana dengan wanita.”
Daily tidak membiarkan mata biru Gray yang tajam
membuatnya gentar untuk mengungkapkan pendapatnya.
“Kadang-kadang ingin aku mencekiknya, tapi aku
menyayangi gadis itu seolah dia darah dagingku sendiri.
367
Aku tidak mau dia terluka. Gara-gara kau dan gara-gara
ini. Mungkin sudah waktunya kita bubar dan menghentikan
omong kosong ini.”
“Minggu lalu kau tidak menganggapnya omong
kosong.”
“Aku berhak mengubah pendapatku. Semua ini
dimulai akibat ambisi Barrie untuk mendapatkan berita
menggegerkan. Aku mulai berpikir ambisinya itu menular.
Aku terpengaruh, padahal mestinya aku lebih tahu.
“Lalu dia pergi ke Wyoming dan membuatmu
terpengaruh juga. Dan itu tidak sulit, bukan, Bondurant?
Sedikit saja kabar bahwa Vanessa punya masalah, sang
pahlawan langsung datang. Sialan, kalau boleh jujur, kita
bertiga payah.”
“Kau baik-baik saja, Daily?”
“Apa aku kedengaran baik-baik saja?” Daily tersengal.
“Aku terlalu tua dan sakit untuk omong kosong ini. Aku
ingin hari-hari terakhirku lebih damai. Aku terutama juga
tidak mau kata pengkhianat terukir di batu nisanku.
Hanya orang kuat yang mampu mengakui kesalahannya.
Aku ingin menganggap diriku masih memiliki kekuatan
karakter seperti itu.”
la berdiri dan berjalan terseret-seret ke pintu, menarik
kereta oksigennya yang berderit-derit. “Jangan lupa
matikan lampu. Kalian berdua tidak membayar sewa, dan
listrik tidak gratis, kau tahu.”
Gray mencuci cangkir-cangkir kopi mereka di wastafel,
lalu pergi ke pintu, dan mematikan lampu dapur.
Kemudian ia, Barrie, dan Daily berkumpul dalam
kegelapan selama beberapa menit.
Barrie menjewer telinga Gray dan menarik kepala pria
368
itu ke bawah sampai sama tinggi dengan kepalanya.
“Kenapa kau tadi ngomong soal sindrom sebelum haid
segala?” bisiknya tepat di telinga laki-laki itu.
“Maaf,” Gray berkata tanpa suara.
Daily berusaha sebisanya untuk bernapas dengan
tenang. “Kau yakin ini akan berhasil?”
“Tidak,” Gray berbisik dengan kejujuran yang membuat
mereka terdiam. “Kau sudah paham cara menggunakan
itu?” Tadi ia memberi kursus kilat pada Daily tentang
cara membaca pendeteksi inframerah.”Sapu areanya,”
kata Daily, suaranya nyaris tak terdengar. “Kalau ada
orang berdiri dalam kegelapan untuk mengamati rumah
ini, LED ini akan memberitahu aku.”
“Bagus,” kata Gray . “Kalau kau melihat sesuatu,
berbisiklah padaku. Aku akan mendengarmu.” Ia memasang
earphone tanpa kabel di telinganya. Alat itu bekerja
dengan radio portabel dua arah di dalam saku jaketnya.
“Ini mainan-mainan yang asyik.” Bahkan dalam
kegelapan pun Barrie dapat melihat kilauan kagum di
mata Daily.
“Masalahnya cuma satu,” kata Gray, “para profesional
itu punya yang lebih asyik lagi. Oke, ayo.”
Ketika Daily mengacungkan jempol, mereka
menyelinap keluar dari pintu belakang. Tak ada bulan,
jadi tim pengintai akan sulit melihat mereka, kecuali
mereka menggunakan teropong malam dan pendeteksi
inframerah. Seperti kata Gray tadi, orang-orang profesional
itu punya mainan-mainan asyik juga. Ia sudah hafal
mobil-mobil pengintai itu—hari ini van, kemarin truk
servis, kemarin dulu RV—yang diparkir di jalan dekat
rumah Daily, terpisah satu blok. Meskipun sudah
369
seminggu ini tak ada aktivitas yang kelihatan, polisi
rahasia Spence tetap bekerja sesuai standar, biarpun orang
itu tidak ada.
Mobil Daily dan mobil Barrie diparkir jelas-jelas di
depan, jadi Gray berharap bagian belakang rumah tidak
dipantau. Ia juga berharap sandiwara singkat mereka di
dapur tadi berhasil mengelabui regu pengintai hingga
mereka percaya ada pertikaian di antara mereka. Gray
tidak mempercayai pembangkit suara dapat menutupi
percakapan mereka sepenuhnya, jadi mereka berhati-hati
agar para penguping hanya mendengar apa yang mereka
ingin supaya didengar orang-orang itu.
Tanpa suara mereka meninggalkan lapangan beton
kecil yang sudah retak-retak yang merupakan teras
belakang Daily, dan berlari mengendap-endap menyeberangi
halaman belakangnya. Seperti yang dilakukannya
pada malam rumah Barrie terbakar, ia memimpin Barrie
melewati beberapa blok hunian lewat halaman belakang
dan gang. Dua anjing menggonggongi mereka, namun
tidak ada kejadian mengganggu lainnya, misalnya para
tentara muncul dari balik bayang-bayang dengan senjata
otomatis teracung.
Gray sudah menyiapkan mobil yang diparkirnya di
belakang kompleks perkantoran satu lantai. Ketika
mereka tiba di sana, ia berkata pada mikrofon radio
mungil, “Bagaimana kelihatannya, Daily?”
“Seperti di kuburan. Semoga berhasil.”
“Over and out.”
Barrie kehabisan napas, akibat tegang dan berjalan
terus sejak tadi. Mereka masuk ke mobil, namun ia
menunggu sampai mereka sudah melaju baru bertanya,
370
“Menurutmu, mereka tahu tindakan kita?”
“Sebentar lagi kita akan tahu.”
la meninggalkan daerah tempat tinggal Daily, kadangkadang
ngebut, lalu mengurangi kecepatan sampai pelan
sekali, meliuk-liuk di jalan-jalan hunian. Akhirnya ia
berkata, “Kalau tidak ada helikopter muncul, menurutku
kita aman.” Ia melepaskan earphone dan meletakkan
radio dua arah tadi di kursi di antara mereka.
“Kau dan Daily betul-betul meyakinkan,” Barrie
berkata masam. “Bagi siapa pun yang mendengarkan, aku
pasti terkesan seperti cewek ambisius, suka menghasut,
bejat, dan suka marah-marah menjelang haid.”
“Kira-kira begitulah.”
Barrie memandang Gray dengan marah. “Dari mana
kaudapat mobil ini?”
“Tempat parkir pusat perbelanjaan.”
“Kau mencurinya?”
“Tidak, aku memperkenalkan diri pada pemiliknya
sebagai orang yang berusaha menumbangkan Presiden
dan bertanya apakah dia keberatan meminjamkan
mobilnya.”
“Tidak lucu. Mobil ini sekarang pasti sudah dilaporkan
dicuri. Kita bisa ditahan.”
“Aku menukar pelatnya dengan pelat Chevy Blazer.
Ada ribuan mobil Taurus seperti ini di area metropolitan.
Lagi pula, besok aku akan mencampakkannya dan
mencari mobil lain.”
“Kau jelas menganggap enteng perbuatan kriminal.”
“Dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan yang
mungkin harus kita lakukan sebelum semua ini selesai,
pencurian mobil tak ada apa-apanya. Nah, di mana
371
alamatnya?”
Howie Fripp tinggal sendirian di apartemen berkamar
empat di lantai tiga gedong tanpa lift. Tiap tahun
tangganya seperti berderit makin keras, begitu juga kedua
lututnya. Lututnya terasa sakit ketika ia membuka pintu
dan masuk. Ia menyalakan lampu sambil berjalan ke
dapur kecil dan meletakkan kantong kertas berisi
masakan Cina di-meja.
“Halo, Howie.”
“Setan alas!” la berbalik dan melihat Barrie keluar dari
kamarnya yang gelap dan memasuki dapur.
“Aku membuatmu kaget, Howie? Wah, maaf. Aku
tahu betapa mengesalkannya kalau orang mengendapendap
di belakangmu seperti itu.”
“Kau membuatku terkejut setengah mati! Apa yang
kau...”
Dilihatnya pria tinggi langsing yang berdiri dalam
bayang-bayang di belakang Barrie. “Siapa itu?”
“Gray Bondurant, ini Howie Fripp.” Barrie melangkah
ke samping supaya Howie bisa melihat lebih jelas tentara
komando yang memiliki mata biru tajam, rambut
beruban, dan mulut tegas itu.
“Kau Gray Bondurant?”
“Rupanya kau sudah pernah dengar tentang dia.”
Barrie berkata.
Howie menelan ludah dengan gemeta r. “Senang
berkenalan denganmu, Mr. Bondurant.”
“Aku berharap bisa mengatakan hal yang sama.”
Bahkan suaranya pun terdengar mantap. Howie jadi
teringat pada pria yang pernah main biliar bersamanya—
yang diharapkannya akan jadi temannya. Yang tidak
372
pernah kembali lagi ke bar itu.
Mata Howie berpindah-pindah memandangi para
tamunya yang tidak diundang itu. Ia tidak menyukai
ekspresi di wajah Bondurant. Sedikit pun tidak. Ia
memancarkan aura hewan pemangsa yang percaya diri
dan tak kenal takut, yang baru saja melihat santapannya
yang berikut dan tahu itu sasaran empuk. “Apa yang
kalian lakukan di apartemenku?”
“Kami datang untuk mencari informasi.” Dengan
ujung sepatu botnya—Bukan main. Ternyata ada orang
yang benar-benar memakai sepatu koboi— Bondurant
menarik kursi dari bawah meja. “Duduk, Howie. Jangan
sampai kami mengganggu makan malammu. Kita bisa
bicara sementara kau makan.”
Howie mengempaskan diri ke kursi, namun ia
menggeleng waktu Bondurant menyodorkan kantong
kertas berisi masakan Cina melintasi meja ke arahnya.
Baru memikirkan daging asam manis dan sup udang
kental saja perutnya sudah terasa tidak keruan. Usahanya
untuk menutupi perasaan gentarnya tidak berhasil.
“Ada apa, Howie?” tanya Barrie. “Kau tampak pucat.
Kau tidak senang bertemu kami?”
“Aku tidak boleh bicara denganmu, Barrie. Dalam
keadaan apa pun. Jenkins mengancam akan memecatku
biarpun aku cuma memberitahumu pukul berapa sekarang.”
“Kalau begitu kau beruntung, Howie, sebab kami
sudah tahu pukul berapa saat ini,” Gray Bondurant
berkata.
“Bukannya aku tidak mau bicara denganmu, Barrie,
masalahnya cuma, kau tahu... yah, aku harus melindungi
diri. Tidak ada masalah pribadi, aku bersumpah. Kita
373
berpisah baik-baik, bukan? Tidak ada yang sakit hati.
Setidaknya, aku tidak.”
Ketiaknya basah seperti genangan air hujan. “Aku...
aku... Hei. tunggu, aku punya pesan untukmu. Sebentar,
aku menuliskannya di sepotong kertas.” la menepuknepuk
semua saku sampai akhirnya menemukannya.
“Ini,” Howie berkata, mengulurkan catatan itu pada
Barrie. “Telepon ini masuk persis ketika aku akan pulang.
Katanya dia temanmu. Mendesak ingin bicara denganmu,
jadi operator menyambungkannya padaku.”
“Charlene Walters,” Barrie membaca.
“Betul. Katanya penting dan memberiku nomor
teleponnya. Lihat, aku menuliskannya persis di bawah
sana.”
“Dia bukan teman. Dia orang sinting yang selalu
meneleponku.”
“Oh.” Itu mengecewakan. Howie tadinya berharap si
Charlene ini orang penting, orang yang ingin sekali
dihubungi Barrie. Ia berusaha sebisanya untuk membantu,
namun menurutnya Bondurant tak terkesan. Ekspresi
wajahnya yang bagai granit tak berubah sedikit pun.
Howie mengawasi dengan takut-takut ketika sang
pahlawan bertubuh tinggi dan berwibawa itu menarik
kursi dan mendudukinya dengan posisi terbalik. Semua
gerakannya sigap dan tenang. Matanya bisa membuat
siapa pun gentar. Howie menganggap tatapan mata pria
itu seperti menembus tengkoraknya.
Orang waras takkan berani macam-macam dengan
orang ini.
Barrie bersandar di meja dapur dan melipat lengannya.
Ia tampak rileks dan melontarkan senyum yang Howie
374
tahu palsu. “Kau mandi keringat, Howie.”
“Aku ingin tahu kenapa kau kemari.”
“Gray dan aku cuma mampir sebentar untuk
mengobrol.”
“Soal apa?”
“Oh, macam-macam. Cuaca. Musim pertandingan
Redskins. Apakah mereka punya peluang untuk masuk
babak penentuan? Film baru Harrison Ford. Apa yang
tengah terjadi di Gedung Putih. Hal-hal seperti itu.”
“Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi di Gedung
Putih.”
“Tentu saja kau tahu, Howie. Kau kan bekerja di ruang
berita.”
“Barrie, sudahlah, relakan. Kau cuma akan membuat
masalahmu bertambah banyak.”
“Aku tersentuh dengan perhatianmu. Betul. Tapi aku
lebih tertarik pada apa yang kaudengar soal kondisi
terakhir Ibu Negara.”
“Tak ada.”
“Kau pasti tahu.”
“Sumpah, demi Tuhan.”
“Karena aku tidak bertugas lagi, siapa yang menangani
beritanya?”
“Grant. Dia bilang semua orang di sana menutup
mulut rapat-rapat. Tak ada yang bocor.”
“Selalu ada yang bocor. Desas-desus. Gosip. Menurut
berita, Mrs. Merritt pergi lagi. Kenapa? Ke mana?
Adakah yang melihatnya? Apakah kesehatannya seburuk
itu? Apakah kondisinya membahayakan jiwanya?”
“Aku bersumpah,” Howie meratap, “aku tidak tahu
apa-apa. Busyet, kau jadi terobsesi, tahu tidak? Kau jadi
375
tergila-gila pada masalah ini. Bagaimana otakmu bisa jadi
penuh dengan Mrs. Merritt begini? Ini tidak normal,
Barrie. Kurasa kau sudah tidak waras, begitulah
pendapatku.”
Barrie menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya
kuat-kuat. Ditatapnya Gray, lalu menggeleng.
“Sudah kubilang dia takkan mau bekerja sama. Sebaiknya
kita pergi saja.”
la berjalan ke pintu, namun Gray menghentikannya.
“Kita tidak boleh meninggalkannya, nanti dia akan
memberitahu FBI bahwa kita kemari dan mengajukan
banyak pertanyaan.”
“Hmm, kurasa kau benar.” Ditatapnya Howie sambil
mengerutkan kening.
Howie jelas tampak tidak tenang dengan perkembangan
situasi ini. “Aku takkan bilang pada siapa pun kalian
datang kemari.”
“Kurasa kami tidak bisa mengambil risiko itu.”
Bondurant merogoh ke balik jaket dan menarik pistol dari
pinggang celana panjangnya.
Howie mulai berceloteh tidak keruan. “Oh sialan, oh
brengsek, oh Tuhan, oh sialan, oh Tuhan. Aku tidak mau
mati. Tidak mau. Tidak mau. Jangan bunuh aku.
Kumohon.”
Dengan suara klik yang mengerikan, Gray menarik
picu Magnum-nya.
Howie memejamkan mata rapat-rapat dan mulai
tergagap-gagap. “B... Barrie, t... tolong, jangan biarkan
dia membunuhku. Kita kan teman.”
“Teman? Teman, Howie? Kau bercanda.” Barrie
tertawa “Teman tidak mengkhianati temannya, padahal
376
kau selalu memburak-burukkan aku di depan Jenkins.
Setiap hari kau memperlakukan aku seperti sampah. Lagi
pula, aku tidak bisa menentukan keputusan Gray. Kalau
dia sudah memutuskan untuk tidak meninggalkanmu
hingga kau tidak bisa berceloteh tentang kami, aku tidak
bisa berbuat apa-apa. Tapi aku tidak ingin melihat. Bisabisa
aku tak sanggup makan masakan Cina lagi. Gray, kau
keberatan menunggu sampai aku pergi ke ruangan lain?”
“Kumooohooon,” ratap Howie dengan tangis tertahan.
“Demi Tuhan, Barrie.”
“Maaf. Aku betul-betul tidak bisa berbuat apa pun.” la
menjauh dari meja. Ketika berjalan ke luar, ia berhenti
sebentar untuk menekan bahu Howie sebagai ucapan
perpisahan.
Bondurant mengulurkan lengan melintasi meja dan
menempelkan moncong pistol ke tengah kening Howie.
“Memang ada yang kudengar, tapi aku tidak tahu itu
betul atau tidak.” Kata-kata itu meluncur begitu cepat
hingga saling menimpa seperti para pemain akrobat
sirkus.
Barrie berhenti, berbalik. Ia mengerutkan kening
dengan gaya skeptis. “Sekarang kau mengoceh macammacam,
pokoknya asal mengatakan sesuatu. Kau mengarang-
ngarang supaya Gray tidak menembakmu.”
“Tidak, tidak, sumpah. Aku bersumpah, Mr. Bondurant.”
“Apa yang kaudengar?”
“Ada desas-desus Mrs. Merritt dimasukkan ke rumah
sakit karena pemakaian obat bius.”
“Cerita lama,” kata Barrie . “Sebelumnya memang
sudah ada spekulasi tentang hal itu.”
377
“Kali ini serius,” kata Howie gugup. Bondurant masih
mencibir.
“Rumah sakit apa?”
“Aku tidak tahu. Tak ada yang tahu. Dan mungkin saja
cuma gosip.”
Bondurant memandang Barrie. Barrie menggeleng.
Bondurant mengangkat bahu dan menekan kening Howie
dengan pistolnya kembali.
“D... Dr. Allan setiap hari terbang naik helikopter dari
halaman Gedung Putih,” Howie cepat-cepat melanjutkan.
“Biasanya dia kembali satu atau satu setengah jam
kemudian. Tapi tidak ada yang tahu ke mana dia pergi
atau bahkan apakah perjalanan-perjalanan singkat itu ada
hubungannya dengan Ibu Negara. Dan ada kabar angin
bahwa dia punya masalah di rumah.”
“Perkawinan keluarga Allan kokoh,” kata Bondurant.
“Aku dekat dengan mereka. Mereka saling mencintai.”
“Dia dan istrinya tidak cocok lagi. Itu gosipnya. Jadi
mungkin dia terbang untuk mengunjungi pacarnya, siapa
tahu?”
Howie berpaling, memandang pada Barrie dengan
penuh harap, kemudian pada Bondurant. “Aku bersumpah
demi Tuhan, cuma itu yang kutahu. Cuma itu yang
kudengar. Jenkins bilang dia akan menghajarku habishabisan
kalau sampai bicara denganmu. Jadi, kalau kau
melakukan sesuatu dengan info ini, kau tidak boleh
memberitahu dia aku yang memberitahumu. Janji,
Barrie, oke?”
“Bagaimana menurutmu?” Bondurant bertanya pada
Barrie. “Dia bohong atau tidak?”
“Aku tidak bohong!” teriak Howie.
378
“Aku tidak yakin,” kata Barrie, menggigit-gigit bagian
dalam pipinya “Dia bisa saja berbohong, untuk menyelamatkan
diri. Di lain pihak, dia tahu jika yang
dikatakannya pada kita cuma isapan jempol, kau akan
kembali untuk menyikatnya.”
“Aku tidak bohong. Kau tidak perlu menyikat aku,”
kata Howie cepat-cepat.
Bondurant menatapnya dengan mata birunya yang
setajam pisau. Seluruh hidup Howie melintas paling tidak
tiga kali di depan matanya sebelum Bondurant mengembalikan
picu senjatanya ke posisi semula dan menarik
pistolnya. “Begini saja, Howie. Aku takkan membunuhmu
malam ini kalau kau memberi kami alasan untuk kembali
besok.”
“Untuk apa?”
“Nama rumah sakit itu. Permintaan kami tidak terlalu
sulit, bukan? Nama rumah sakit sebagai ganti masakan
Cina enak seperti yang kaubeli itu, dan kesempatan untuk
menikmatinya.”
“Aku tidak... Bagaimana caraku mencari tahu nama
rumah sakit...”
“Itu urusanmu. Tapi aku yakin kau akan berhasil.”
“Jangan berharap,” kata Barrie. “Dia akan menyetujui
apa pun untuk menyelamatkan dirinya yang payah itu.
Setelah itu dia mungkin akan mengkhianati kita.”
“Tidak, tidak akan!” Howie mencicit. “Demi Tuhan
aku takkan berbuat begitu, Mr. Bondurant.”
“Terserah kau, Gray,” Barrie berkata. “Tapi aku tidak
percaya padanya. Dia ular.”
“Terima kasih sudah mengingatkan aku.” Suara
Bondurant membuat punggung Howie yang berkeringat
379
terasa seperti dialiri es. “Dia memberitahu aku, kau dulu
sering menyusahkan dia di kantor, Howie.”
“Itu tidak benar.”
“Dia bukan cuma laki-laki brengsek penghina wanita,
dia laki-laki brengsek pembohong yang suka menghina
wanita,” ujar Barrie.
Mata biru berbahaya itu makin menyipit.
Howie duduk gelisah. “Oke, mungkin... mungkin aku
memang bercanda sedikit dengannya, tapi aku tidak
pernah bersungguh-sungguh.”
“Kau kelihatan seperti tipe laki-laki yang melontarkan
komentar tidak senonoh pada wanita karena tidak dapat
menarik perhatiannya dengan cara lain.”
“Memang itulah yang dilakukannya,” kata Barrie.
“Betul, itulah yang kulakukan.” Anggukan setuju
Howie yang penuh semangat membuat kepalanya
terayun-ayun di leher. “Apa pun yang dikatakan Barrie,
aku memang melakukannya.”
“Apakah kau berkomentar tidak pantas mengenai
dorongan seksnya, kehidupan cintanya, tubuhnya, dirinya
secara umum?”
“Kadang-kadang. “
“Kau memandangi kakinya, memelototi payudaranya,
mengatakan dan melakukan hal-hal yang menghina harga
diri wanita.”
“Yah, aku berbuat begitu. Memang betul. Aku juga
amat sangat menyesalinya.”
“Benar?” tanya Gray datar.
“Benar. Ya, Sir. Kalau aku tidak menyesalinya, biarlah
aku jadi buta karena berbohong.”
Bondurant mengetuk-ngetukkan gagang pistol ke
380
punggung kursi sambil berpikir . “Kalau sampai aku
mendengar kau menghina atau memperlakukan dia
dengan tidak pantas lagi, aku akan mengamuk, Howie.
Kau bakal berdoa supaya jadi buta daripada bertemu
denganku.”
“A... Aku mengerti.”
“Besok bagaimana?”
“Akan kucoba mencari informasi yang kauinginkan.”
“Kuharap kau berhasil.”
Merasa tenang, Howie tersenyum. “Karena kau tidak
ingin membunuhku, bukan?”
“Bukan. Karena aku tidak ingin membuang-buang
peluru yang bagus untuk menghancurkan otakmu.”
Tiba-tiba Bondurant berdiri, menyelipkan pistol ke
pinggang lagi. Ia menghilang ke kamar tidur. Tanpa
berkata apa pun, Barrie mengikutinya.
“Mau ke mana kalian?” seru Howie pada mereka.
“Hei! Besok jam berapa? Di mana?”
Hanya kesunyian mencekam yang menjawabnya.
Ketika akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberanian
untuk meninggalkan dapur dan berjalan ke kamarnya,
ruangan itu kosong . Tamu-tamunya tampaknya telah
menghilang. Kalau tidak ada noda basah di bagian depan
celananya, ia pasti mengira seluruh peristiwa mengerikan
tadi cuma khayalannya.
381
Bab Tiga Puluh Dua
“AKU merasa kasihan padanya.”
“Jangan. Waktu kaubandingkan dia dengan ular, kau
menghina kaum ular.”
Mereka meninggalkan apartemen Howie melalui
tangga darurat dan jendela kamar yang juga merupakan
jalan masuk mereka. Saat ini mereka sedang dalam
perjalanan pulang ke rumah Daily. Sambil termenung
Barrie menatap ke luar kaca mobil yang dicuri Gray tanpa
rasa menyesal. “Kau manusia menakutkan, Bondurant.
Kau betul-betul membuatnya ketakutan.”
“Rasa takut adalah motivator yang bagus.”
“Tapi aku ingin tahu apakah itu yang paling efektif.”
“Besok malam kita akan mengetahuinya.”
“Dia berusaha membantu.” Barrie mengeluarkan
catatan yang diberikan Howie dari sakunya. “Dasar si
Charlene,” ia berkata sambil tertawa pelan. “Rupanya dia
belum tahu bahwa aku tidak bekerja lagi di WVUE. Aku
tidak pernah berbicara langsung dengannya, tapi dia
penelepon yang setia.” Berdasarkan dorongan hati, Barrie
minta Gray menghentikan mobil di pinggir jalan dan
memarkirnya di depan apotek.
Pria itu menuruti perrnintaannya dan turun dari mobil
382
bersamanya. “Sudah tutup,” ia berkomentar.
“Aku bukan mau ke apotek. Aku ingin menggunakan
telepon umum.”
Gray memandang sekelilinguya. “Bukan tempat yang
bagus untuk berdiri di pojok jalan.”
“Aku merasa cukup aman, dengan adanya lampu
keamanan di dalam toko dan kau dengan meriam portabel
di dalam celanamu itu.” Gray memandangnya dengan alis
terangkat. “Jangan berpikir macam-macam, Bondurant.
Punya koin?”
Nomor yang dituliskan Howie berada dalam kode
wilayah yang asing baginya. Untuk menghindari adanya
catatan telepon, ia tidak menggunakan calling card,
melainkan memasukkan koin ke celah telepon. Setelah
memakan waktu yang cukup lama, teleponnya disambungkan.
Telepon itu berdering beberapa kali. Ia sudah akan
meletakkan gagang telepon ketika seseorang akhirnya
menjawab.
“Yo!”
“Maaf?” Barrie mengangkat satu tangan, memberi
tanda pada Gray bahwa teleponnya dijawab.
“Siapa yang memberimu nomor ini?”
“Uh, Charlene Walters,” jawab Barrie. “Bisa saya
bicara dengan dia?”
Permintaannya cuma ditanggapi dengan tawa serak
yang diselingi dengusan.
“Ms. Walters ada?”
“Yeah, ada. Tapi telepon ini tidak boleh dipakai setelah
penguncian.”
“Penguncian?” Barrie memandang Gray, yang tampak
sama terkejut seperti dia. “Tepatnya di mana Anda
383
berada?” tanya Barrie.
“Lembaga Pemasyarakatan Pusat. Pearl, Missisippi.”
“Apakan Ms. Walters penghuni di situ?”
“Tepat. Sudah sejak lama sekali. Ada urusan apa kau
menelepon dia?”
“Dengan siapa saya bicara, ya?”
Pria itu memperkenalkan diri sebagai penjaga yang
kebetulan melewati telepon umum ketika benda itu
berdering. Barrie bertanya apakah ia bisa bicara dengan
kepala penjara. “Malam-malam begini? Kau pengacara?”
Barrie berusaha mengelak memberikan jawaban
langsung dan memberitahu orang itu betapa pentingnya ia
berbicara dengan pegawai penjara, menekankan bahwa
urusannya tidak dapat menunggu sampai besok pagi.
“Oke,” gerutu si penjaga. “Beritahu aku nomor teleponmu.
Kalau mau, dia bisa meneleponmu.”
Barrie sebetulnya lebih suka jika ia yang diberitahu
nomor telepon kepala penjara. namun ia setuju untuk
memberi penjaga itu nomor telepon umum yang
digunakannya. Setelah ia menutup telepon, Gray bertanya
bagaimana penghuni penjara di Mississippi bisa tahu
tentang dia.
“Serial SlDS-ku dikirim ke satelit. Serial itu bisa saja
dipancarkan ke stasiun TV mana pun di negeri ini.
Rupanya stasiun yang masuk ke penjara itu menyiarkannya.
Para penghuni penjara sering tertarik pada selebriti.
Meskipun aku tahu berlebihan rasanya untuk menganggap
diriku termasuk selebriti.”
“Kenapa kau bilang ‘sangat penting’ bagimu untuk
bicara dengannya malam ini?”
“Sebetulnya tidak,” Barrie mengakui. “Sebagian besar
384
pesannya mengatakan aku idiot. Aku cuma penasaran
kenapa dia menganggap aku begitu.” Mata Gray menyipit
karena berkonsentrasi. “Apa?” tanya Barrie.
“Aku cuma berpikir. David dan Vanessa sama-sama
berasal dari Mississippi.”
“Kau betul, mereka memang dari sana,” kata Barrie,
menyambar gagang telepon pada deringan pertama.
“Halo, ini Barrie Travis.”
“Deputi Sipir Foote Graham.”
“Terima kasih banyak Anda bersedia menelepon saya.”
“Bukan masalah, Ma’am. Ada yang bisa saya bantu?”
Barrie memperkenalkan diri sebagai wartawan TV di
Washington, D.C., dan memberitahu orang itu tentang
telepon berulang kali dari Charlene Walters.
“Dia mengganggu kalian?”
“Bukan, bukan begitu. Saya cuma ingin tahu kenapa
Ms. Walters menelepon saya.”
“Tidak bisa ditebak apa yang bakal dilakukan si sinting
Charlene.”
Barrie memandang Gray, yang dengan cermat mengamati
ekspresi wajahnya. Ia mengerutkan kening, menggeleng,
dan membelalakkan mata. “Si sinting Charlene?” ia
mengulangi supaya Gray bisa mendengar.
“Ya, Ma’am. Tujuh puluh tujuh tahun, tapi lidah
Charlene masih tajam.”
“Tujuh puluh tujuh? Ya Tuhan, sudah berapa lama dia
di penjara?”
“Dia narapidana seumur hidup. Tanpa pembebasan
bersyarat. Sudah di sini waktu saya datang, dan itu
delapan belas tahun yang lalu. Saya rasa dia yang paling
lama di tempat ini. Tidak ada yang ingat kapan Charlene
385
tua tidak ada di sini. Dia bisa dibilang... apa namanya, ya?
Maskot. Dia pemimpin. Disukai para penghuni lain. Dan
orang yang cukup menarik juga. Dia akan mengatakan
pendapatnya tentang apa pun padamu, baik kau minta
atau tidak.”
“Kalau begitu Anda tidak terkejut ketika dia menonton
acara saya di TV dan memutuskan untuk menelepon.”
“Sama sekali. Tentang apa acaranya?”
“SIDS.”
“Hmm. Saya tadinya mengira Anda menyentuh subjek
yang lebih menarik minatnya Dia lumayan ceplas-ceplos
tentang korupsi dalam pemerintahan, kebrutalan polisi,
legalisasi obat bius, masalah-masalah seperti itu.”
“Apa kejahatannya?”
“Dia dan suaminya merampok toko minuman keras.
Demi uang kurang dari lima puluh dolar, suaminya
menembak kepala pegawainya yang baru berusia enam
belas tahun dan tiga pelanggan. Negara mengeksekusinya
beberapa tahun yang lalu. Karena bukan Charlene yang
menarik picu senjata, dan dia bersumpah suaminya
memaksanya ikut, dia tidak dijatuhi hukuman mati.”
“Itu semua tidak ada hubungannya dengan SIDS,
bukan?”
“Setahu saya tidak.”
“Yah, terima kasih banyak untuk waktu Anda.”
Sekali lagi saya minta maaf karena menelepon Anda
malam-malam begini, Mr. Foote.”
“Graham, Foote Graham. Terima kasih kembali.
Senang dapat membantu.”
Barrie sudah akan mengakhiri pembicaraan ketika
Gray menyikutnya, membuatnya teringat. “Oh, Mr.
386
Graham, pertanyaan terakhir. Saya rasa Charlene tidak
punya hubungan apa pun, tak peduli seberapa jauhnya,
dengan Senator Armbruster atau Presiden Merritt?”
“Sang Presiden? Yah, kenapa Anda tidak mengatakannya
dari tadi?”
Jantung Barrie serasa berhenti berdetak. Semua benda
di jagat raya seperti menciut hingga bisa dipusatkan ke
gagang telepon superkotor yang dicengkeramnya dengan
jari-jari yang telah berubah warna jadi seputih kapur.
“Apa katanya?” Gray bertanya, makin mendekat.
Ia memberi tanda supaya pria itu diam. Si sipir
mengatakan, “Sangat mungkin Charlene memiliki hubungan,
baik dengan senator kita maupun Presiden Merritt.”
“Hubungan seperti apa?” tanya Barrie parau.
“Macam-macam. Anda tahu, Charlene itu sudah ke
mana-mana.”
“Saya rasa Anda tadi bilang dia narapidana seumur
hidup.”
“Benar. Tapi kalau Anda mempercayai Charlene, dia
menjalani hidup penuh warna sebelum ditahan. Misalnya,
dia pacar Robert Redford waktu masih kuliah. Itu setelah
dia pacaran dengan Richard Nixon. Di suatu waktu dia
mengandung anak Elvis, dan terlibat dalam hubungan
cinta segitiga dengan Marilyn Monroe dan Joe DiMaggio
waktu mereka masih menikah. Charlene mengatakan
dialah yang menginspirasi orang itu untuk menciptakan
Mr. Coffee.”
Barrie merosot di dinding bilik telepon. “Saya
mengerti. Dia suka ngawur.”
“Tepat,” kata sipir itu, memenuhi telinga Barrie
dengan tawa yang jauh lebih merdu daripada tawa si
387
penjaga. Sesaat kemudian, ia berkata, “Maaf saya
menertawakan kekeliruan Anda, Miz Travis. Apakah ini
benar-benar penting bagi Anda?”
“Ya.”
“Maaf sebesar-besarnya, Ma’am. Rupanya Anda cuma
buang-buang waktu.”
“Tidak juga,” kata Barrie masam. “Saya belum pernah
berkenalan dengan orang yang bernama Foote.”
Begitu ia dan Gray sudah di dalam mobil lagi, ia
merobek potongan kertas berisi nama dan nomor telepon
Charlene. menjadi potongan-potongan kecil dan
membiarkannya jatuh ke lantai. “Menanggapi penelepon
sinting,” ia berkata dengan nada memarahi diri sendiri.
“Itu mestinya menunjukkan betapa buruknya kondisiku.
Aku akan benci sekali kalau sampai Howie atau Jenkins
tahu aku berbuat separah itu.”
“Hasilnya bisa saja berbeda.”
“Jangan menasihati aku,” bentak Barrie kasar. “Itu
tindakan bodoh, dan aku malu telah melakukannya.
Masalahnya, aku betul-betul kehabisan ide. Kalau Howie
tidak berhasil, bagaimana selanjutnya?”
“Bagaimana dengan sumber-sumber informasimu?”
“Pernah kau mendengar penyerantaku berbunyi?”
“Sudah kauperiksa baterainya?”
la cemberut pada laki-laki itu. “Penyerantaku tidak
rusak, Bondurant, aku yang kacau. Sepanjang menyangkut
jurnalisme, namaku di Washington sudah hancur.”
“Kau masih pintar bicara.”
Makin Gray berusaba membangkitkan semangatnya,
makin dalam kekesalan Barrie. “Tak seorang pun, bahkan
sumber informasi anonim paling rahasia sekalipun, mau
388
dihubungkan dengan aku. Aku takkan bisa memperoleh
pekerjaan lagi di kota ini, mungkin di negara ini, biarpun
cuma membersihkan toilet.”
Sambil menengadahkan kepala, ia menghela napas.
“Aku serius mengenai sekitar sembilan puluh persen
perkataanku sebelum kita berangkat malam ini. Aku
betul-betul mengharapkan kehidupanku yang dulu. Aku
rindu Cronkite. Aku rindu rumahku. Memang bukan
istana, tapi itu rumahku. Aku rindu pekerjaanku,
tenggatnya, dorongan semangat ketika aku berada di
lokasi kejadian, rasa puas yang kurasakan waktu
membuat liputan bagus. Lebih gawat lagi, kurasa aku
bahkan rindu pada Howie, karena aku nyaris merasa
gembira ketika melihamya tadi.”
Gray memandangnya dengan ekspresi curiga. “Kau
pasti sangat mengasihani dirimu saat ini.”
“Memangnya kau tidak, biarpun cuma sedikit? Apa
kau tidak rindu pada peternakan dan kuda-kudamu,
kesendirianmu yang berharga itu? Tidakkah kau kadangkadang
berharap aku tidak pernah mendatangimu?”
“Tapi kau datang. Jadi, apa gunanya berharap
sekarang? Sepanjang tahun lalu aku mengundurkan diri,
namun aku tahu aku bakal melihat aksi lagi. Di alam
bawah sadar aku menunggu untuk melihat aksi seperti apa
yang akan terjadi. Pemicunya temyata kematian Robert
Rushton Merritt. Siapa yang bisa meramalkannya? Tak
ada. Pada akhirnya, kita tidak pernah bisa mengetahui apa
yang akan terjadi pada diri kita selanjutnya.” Gray
mengangkat bahu dengan tak acuh. “Aku menerima
keadaan apa adanya dan berusaha untuk tidak menoleh ke
belakang.”
389
“Ya Tuhan, tidak pernahkah kau tergugah? Apakah kau
tidak pernah membiarkan emosi manusia menembus
perisai sialan dirimu? Tidak bisakah kau bersikap santai
dan merasa?”
Ketika suaranya pecah, Barry berdiam diri supaya
Gray tidak tahu bahwa ia hampir meneteskan air mata.
Ya, ia merasa sangat tolol karena menanggapi penelepon
sinting. Ya, ia frustrasi sebab mereka belum berhasil
menembus dinding misteri yang mengelilingi Vanessa.
Wanita itu mungkin saja sudah meninggal sekarang.
Barrie makin yakin tujuan akhir Merritt adalah membuat
dirinya menjadi duda. Setiap kali Barrie gagal membuka
kedoknya, pria itu makin mendekati kesuksesan.
Ya, ia mencemaskan Daily, karena temannya itu
kelihatan dan kedengaran makin parah. Daily berpurapura
sehat, namun Barrie tahu kondisinya memburuk.
Dokter spesialisnya sudah mengatakan tak ada lagi yang
bisa dilakukan. Penyakitnya sudah berkembang ke tahap
pengobatan yang paling agresif dan inovatif pun takkan
berpengaruh dan cuma akan mengurangi kualitas hidup
yang tersisa untuknya.
Ya, ya, ya. Semua masalah itu meresahkan pikirannya
malam ini. Namun yang nomor satu, yang paling
membuatnya ingin menangis, adalah laki-laki di
sampingnya ini. Gray Bondurant tetap merupakan
misteri. Mereka sudab bergaul akrab, tapi ia tidak
mengenalnya. Meskipun mereka telah menghabiskan
banyak waktu bersama-sama, ia tetap orang asing seperti
pada pagi pertama dulu, bahkan mungkin lebih asing lagi.
Itu sebabnya ia ingin menangis. Ia telah membelai
tubuh laki-laki ini, namun ia belum menyentuh hatinya.
390
Seraya membuang sikap waspadanya, Barrie berkata,
“Bagaimana kau bisa tidak peduli pada apa pun atau siapa
pun? Apa yang membuatmu jadi bajingan tanpa perasaan
seperti itu?”
Setelah keheningan menegangkan selama satu menit
penuh berlalu, Gray berkata, “Orangtuaku meninggal
pada hari yang sama. Zap. Mereka tiada. Aku masih kecil.
Sakit rasanya. Namun aku berhasil mengatasinya dan
bersandar pada kakek-nenekku. Kemudian, satu demi
satu, mereka meninggal. Saudara perempuanku dan aku
dekat, namun suaminya tidak menerimaku. Saudaraku
lebih mementingkan suami dan anak-anaknya, jadi dia
kurang-lebih menyingkirkan aku dari kehidupan mereka.
“Aku menjalin persahabatan erat dengan dua pria yang
kupercaya. Aku bisa membaca pikiran mereka sebelum
mereka memikirkannya, dan sebaliknya. Hubungan kami
sangat dekat. Lalu mereka mengkhuanati aku dan sudah
dua kali berusaha membunuhku.” Ia mengangkat bahu.
“Kurasa aku tidak melihat adanya manfaat menjalin
hubungan.”
Itu lebih banyak daripada yang pernah diungkapkannya
selama ini tentang dirinya. Namun ada yang jelas-jelas
hilang dari curahan hatinya itu. “Kau menghilangkan
bagian tentang Vanessa dan bayi itu,” kata Barrie. “Kau
tidak menyebutkan bahwa cinta sejatimu adalah istri pria
lain.”
Dengan kaku Gray berkata, “Yeah. Aku menghilangkan
bagian itu.”
391
Bab Tiga Puluh Tiga
“SENATOR?”
Clete berkata pada interkom di meja, “Ada apa,
Carol?”
“Gray Bondurant ingin bicara dengan Anda.”
Clete mengusap dagunya sambil berpikir. “Bilang aku
tidak ada.”
“Ini ketiga kalinya dia menelepon dalam dua hari ini.”
“Aku tidak peduli sudah berapa kali dia menelepon,
aku tidak mau bicara dengannya. Bagaimana dengan Dr.
Allan?”
“Saya masih berusaha menghubunginya, namun saya
diberitahu dia tidak bisa dihubungi.”
“Apa maksudnya?”
“Staf Gedung Putih tidak lebih spesifik daripada itu,
Sir.”
George Allan telah menelepon untuk memberitahunya
bahwa reaksi Vanessa terhadap penyesuaian pengobatan
yang dilakukannya tidak bagus. Ia juga mengatakan
secara tersirat bahwa putrinya itu minum-minum lagi.
Tujuan percakapan itu adalah untuk memberitahu Senator
bahwa dokter itu memasukkan Vanessa ke rumah sakit
swasta untuk observasi. Sebelum ia stabil, lebih baik ia
392
tidak dikunjungi. Malah, larangan berkunjung merupakan
kebijaksanaan rumah sakit.
Ini berarti kejadian Highpoint terulang kembali.
Vanessa diterbangkan ke sana tanpa memberitahu Clete
sama sekali, dan putrinya itu tidak dapat dihubungi. Allan
mengakhiri pembicaraan dengan mengatakan ia menduga
Vanessa akan berada di rumah sakit cuma selama
beberapa hari.
Sebagai ketua Komite Keuangan Senat, Clete tenggelam
dalam rapat-rapat tentang anggaran rekonsiliasi. Kehadirannya
bersifat mutlak, namun ia sulit berkonsentrasi pada
masalah keuangan negara ketika sedang mencemaskan
anaknya. Dokter itu menghindari telepon-teleponnya.
David bahkan tidak mau menelepon dan berbicara
langsung padanya. Urusan ini mulai berbau tidak sedap.
Sangat tidak sedap. Dan sebagian dari bau itu adalah
kepanikan Clete yang makin memuncak.
“Mereka tahu aku yang menelepon?”
“Tentu saja, Sir.”
“Kalau begitu aku ingin bicara dengan Presiden
secepatnya.”
Sementara sekretarisnya melaksanakan perintahnya,
Clete meninggalkan meja kerja dan berjalan ke jendela
besar. Sudah lebih dari tiga puluh tahun ia menikmati
pemandangan yang sama, namun ia tak pernah merasa
bosan. Mobil-mobil di jalan-jalan raya Washington yang
lebar selalu berubah. Gaya berpakaian datang dan pergi.
Musim berganti. Namun gedung-gedung menjulang
pemerintah Amerika Serikat terus bertahan.
Gejolak emosi yang dirasakannya ketika memandangi
gedung-gedung itu tak bisa dikatakan sebagai patriotisme.
393
Perasaan itu lebih mendasar daripada cintanya pada
negara. Nafsu untuk meraih kekuasaan yang beredar di
dalam gedung-gedung itulah yang membuatnya bergairah
seperti ketika mengalami ereksi. Ia percaya pada pepatah
yang mengatakan bahwa kekuasaan adalah pembangkit
gairah paling hebat. Tak ada yang menyamainya.
Mendekatinya saja tidak.
Semua pria yang punya akal sehat pasti akan berusaha
keras meraih kekuasaan. Lalu, setelah mendapatkannya,
ia akan berjuang mati-matian untuk mempertahankannya.
Memang-tak terelakkan bahwa seseorang yang lebih
muda akan merebut kekuasaan yang sekarang dipegangnya
di Washington. Tapi bukan hari ini, dan bukan besok. Ia
yang akan memilih saat yang tepat untuk menyerahkan
tongkat kekuasaan.
Dan yang pasti bukan pada David Merritt.
Sekretaris bicara dengannya lagi lewat interkom.
“Maaf Senator. Agenda Presiden betul-betul penuh hari
ini, dan nanti malam dia dijadwalkan terbang ke Atlanta.
Dia diharapkan kembali besok siang.”
Clete memikirkan keterangan itu selama beberapa
detik. “Terima kasih, Carol. Teruslah berusaha menghubungi
Allan si dukun itu. Dan singkirkan Bondurant.”
“Ya, Sir.”
Kembali ke meja kerja, ia menaikkan kaki dan
menggerak-gerakkan kursi kulitnya ke depan dan ke
belakang sambil merenungkan langkah berikut yang akan
diambilnya. David bertindak lebih cepat daripada yang
dikira Clete. Ia tadinya mengira David akan membiarkan
keadaan tenang dulu sebelum mencoba lagi melenyapkan
satu-satunya saksi pembunuhan anaknya.
394
Ya, Clete mempercayai semua yang dikatakan
Bondurant dan Barrie padanya di kedai kopi malam itu.
Ia memang menyerang kredibilitas Travis habis-habisan,
tapi pilihan apa yang diberikan wanita itu padanya? Ia
terpaksa menimbulkan keributan gara-gara kesalahan
Barrie di rumah sakit itu, kalau tidak ia sendiri akan
kelihatan seperti orang tolol. Ia menyemprot wartawati
itu, tapi kemarahannya sebetulnya ditujukan pada
menantu brengseknya.
Barrie Travis memang payah, tapi Bondurant tidak.
Clete mungkin akan meragukan cerita mereka jika cuma
Barrie yang mengatakannya, tapi ia tidak meragukan
Bondurant. Ia tidak pemah menyukai mantan asisten
Presiden yang bekas anggota Marinir itu. Pria itu tidak
mentolerir kesalahan. Ia selalu mempertahankan integritasnya.
Clete tidak mempercayai orang yang sejujur dan
seterus terang itu.
Clete tak pemah mendengar Bondurant berbohong. Ia
menghindari pertanyaan-pertanyaan mengenai hubungannya
dengan Vanessa, yang sebetulnya bisa dipandang
sebagai berbohong dengan tidak mengatakannya, namun
Clete menganggap sikap tutup mulutnya sebagai usaha
sopan untuk melindungi Vanessa dari skandal, bukan
untuk melindungi dirinya sendiri.
Karena mengenal baik kepribadian David, mengetahui
insiden yang melibatkan wanita muda bernama Becky
Sturgis, Clete sama sekali tidak ragu bahwa David tega
membunuh anak yang ia tahu bukan darah dagingnya.
Clete mengutuki dirinya karena tidak mencurigai hal
itu lebih awal. Bajingan itu telah menipu dirinya dan
Vanessa hingga mereka percaya ia ingin punya anak.
395
Selama bertahun-tahun Vanessa mencoba semua obat
untuk wanita tidak subur. David tidak mau pergi ke
dokter. Sekarang Clete tahu mengapa. Si bangsat itu tidak
bisa punya anak dan tidak mau ada orang mengetahuinya.
Lebih jauh lagi, ia dengan halus menyalahkan Vanessa
karena mereka tak punya anak, membuat istrinya makin
merasa tidak mampu, yang merupakan gejala fundamental
penyakitnya.
Tentu saja, hati Clete tidak buta sama sekali. Ia harus
ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami
anaknya. Di mana ia selama bertahun-tahun itu? Kenapa
waktu itu ia tidak melihat apa yang sekarang tampak
begitu mencolok? Ia terlalu sibuk memasukkan David ke
Gedung Putih hingga tidak melihat menantunya dengan
bengis menolak cinta Vanessa.
Selama Vanessa melakukan semua yang diperintahkan,
tidak menentangnya, dan tampil sebagaimana yang
diharapkan, David puas. Ia memiliki istri cantik dan
menderita yang bisa menerima affair-affair-nya. Namun
ketika Vanessa memberontak dan mengandung anak lakilaki
lain, David merasa hukuman mati pantas dijatuhkan.
Ya, Barrie Travis dan Gray Bondurant mengatakan
yang sebenarnya. Mereka telah memaksanya membuka
mata terhadap apa yang tidak ingin dilihatnya: David
Merritt telah membuat hidup putrinya bagai dalam
neraka; David Merritt telah membunuh cucunya; David
Merritt telah mengkhianatinya; David Merritt harus
dihancurkan.
Namun melontarkan tuduhan-tuduhan yang tak berdasar
pada laki-laki itu dalam warta berita malarn bukanlah
cara untuk melakukannya. Clete harus mengalahkan
396
David secara diam-diam, bukan dengan menyebarluaskan
berita bahwa pria itu berencana menentangnya. Cara apa
pun selain cara diam-diam cuma akan menghasilkan
kegagalan.
Bondurant mungkin punya peluang berhasil dan lolos,
tapi tidak selama ia bersekongkol dengan wartawan,
wartawan mana pun, terutama Barrie Travis. Clete tahu
ia harus beroperasi terpisah dari mereka, dan ia harus
bertindak cepat karena jelas David telah mendahuluinya.
Pertama, ia harus menemukan Vanessa. Kedua, ia
harus menjauhkannya dari David. Ketiga, ia harus
menyingkirkan bangsat itu.
Ada beberapa halangan. Salah satunya adalah konflik
emosi Clete sendiri. Ia memandang pengkhianatan
menantunya seperti tikaman di jantung, namun ia tidak
boleh bersikap sentimentil mengenai apa yang dulu
mungkin—dan seharusnya—terjadi.
Ia juga harus sangat berhati-hati. Sewaktu membongkar
kedok David, mau tidak mau ia akan membuat dirinya
ikut diamati juga. Untuk menghancurkan pemermtahan
secara menyeluruh namun bersih butuh manuver yang
amat cekatan.
Kesulitan untuk melakukan manuver adalah itu perlu
waktu, dan, Clete khawatir, waktunya cuma sedikit.
“Howie, bukan?”
Birnya yang dibubuhi garam nyaris menyangkut di
lehernya. Ia mengelap mulut dengan punggung tangan
sebelum mengulurkannya pada pria berkumis tebal yang
mengenakan topi bisbol di atas rambut ekor kudanya itu.
“Hei! Kukira kau tidak akan kembali lagi.”
397
Orang itu tersenyum tipis dengan kaku. “Aku sibuk.”
“Yah, senang bertemu denganmu. Mau kubelikan bir?”
Meskipun Howie gembira melihat lagi pria yang
diharapkannya bisa dianggapnya teman itu, tawaran
untuk minum bir tadi sebenarnya tidak diucapkannya
dengan sepenuh hati. Malam ini waktunya tidak tepat. Ia
mampir ke bar cuma untuk minum sebentar, bukan
bersosialisasi. Seharian ia gelisah seperti pelacur di dalam
gereja, bertanya-tanya kapan Bondurant akan muncul,
menanyakan dengan paksa apa yang berhasil dikoreknya
tentang tempat Ibu Negara berada. Ia tadi takut orang itu
atau Barrie akan berkunjung ke studio WVUE.
Tapi pukul 19.00 datang, dan ia pun menyerahkan
posisinya pada editor malam. Tak terdengar kabar apa
pun baik dari Barrie maupun sekutunya yang berbahaya.
Ia mencoba menghibur diri dengan berpikir mereka telah
melupakannya, atau mendapatkan informasi yang mereka
inginkan dari sumber lain, namun usaha penipuan diri
sendiri itu tidak berhasil. Makin lama waktu berlalu,
makin cemas perasaannya.
Ia ragu mereka akan percaya bahwa ia tidak berhasil
mengorek apa pun dari siapa pun di Gedung Putih, walau
ia sudah berusaha sekuat tenaga. Entah semua orang di
kota ini berbohong, atau semua orang bersikap jujur, tapi
tak ada yang tahu di rumah sakit mana Mrs. Merritt
dirawat. Bukan itu yang ingin didengar Barrie dan
Bondurant.
Jadi Howie memutuskan kalau perlu ia akan mengarangngarang
nama rumah sakit, yang penting ia memberitahu
Bondurant sesuatu. Ia merasa mantan Marinir itu tidak
main-main dengan ancamannya. Kalau ia tidak membe398
ritahu apa-apa. Bondurant pasti akan langsung membunuhnya.
“Terima kasih, bir kedengarannya enak.”
“Apa?” tanya Howie, tersentak dari lamunannya yang
suram.
“Bir.” Teman barunya memandangnya dengan bingung.
“Oh. tentu. tentu. Hari ini melelahkan,” kata Howie,
minta maaf karena pikirannya melantur sesaat. “Sebentar,
ya.”
Ketika ia kembali sambil membawa bir, pria itu,
pelanggan yang sangat keren, sedang mengoleskan kapur
di tongkat biliar. “Hati-hati kau malam ini. Aku sudah
latihan.”
Seringainya mengingatkan Howie pada hewan karnivora
yang memiliki mata licik dan gigi-gigi kecil yang
runcing. “Uh, sebetulnya, aku tidak, uh, tidak punya
waktu malam ini.” Satu-satunya yang lebih meresahkan
daripada senyum pria itu adalah kerutan keningnya.
Howie langsung berubah pikiran ketika melihatnya.
“Yah, mungkin satu pertandingan saja.”
“Bagus. Aku jadi punya kesempatan untuk menyelamatkan
harga diriku.”
Sambil bermain, mereka berbincang-bincang ringan.
Permainan Howie buruk. Ia tidak dapat berkonsentrasi
karena memikirkan siapa atau apa yang sudah menunggu
untuk menyergapnya ketika ia pulang . Atau apakah
Bondurant sekarang tengah mengamatinya? Apakah
orang itu mengawasi dari Laundromat di seberang jalan?
“... soal temanmu?”
“Maaf?”
“Aku bertanya tentang pegawaimu. Cewek itu. Wah,
399
kau sejak tadi melamun terus. Kalau ada urusanmu yang
lebih mendesak malam ini...”
“Tidak, tidak,” kata Howie buru-buru. “Maaf.”
Ayo bangun, goblok, ia memarahi dirinya sendiri.
Kenapa sih dia? Ada orang keren yang bisa dibilang
memohon-mohon untuk jadi temannya, dan apa yang
dilakukannya? Bersikap seperti orang brengsek, itulah.
Semua ini salah Barrie. Selalu salah Barrie. Salah
wanita itu, dan sekarang salah Bondurant. Memangnya
mereka siapa, kok berani-beraninya masuk tanpa izin ke
apartemennya dan mengancamnya? Mereka tidak punya
apa-apa. Paling tidak, Barrie tidak punya apa-apa. Dan
Bondurant disepak ke luar kota karena tidak bisa
mengalihkan perhatian dari tubuh Ibu Negara. Persetan
dengan mereka. Jika mereka datang malam ini dengan
segala ancaman terselubung mereka, ia akan melaporkan
kedua orang itu pada polisi.
Rasa percaya dirinya timbul kembali, ia menarik
pinggang celananya yang melorot dan menenggak bir.
“Aku memecat dia”
“Yang benar?”
“Aku merasa tidak enak,” Howie berkata, bibirnya
cemberut untuk menunjukkan perasaan menyesal, “tapi
dia terus membuat kesalahan, tidak memberiku pilihan
lain.”
“Kau bisa berbuat apa lagi, man?”
“Betul.” Howie melepaskan tembakan terbaiknya
malam itu. Temannya mengacungkan gelas bir untuk
memberi selamat atas keberhasilannya. “Tapi aku
memberinya peluang.”
“Oh?” Laki-laki itu melakukan tembakan berikut.
400
Bola-bola saling bertabrakan dengan suara keras, tapi ia
tidak berhasil memasukkan satu pun. “Kau menulis surat
rekomendasi untuknya?”
“Tidak, aku membantunya melakukan tugas rahasia.”
Seperti yang diharapkan Howie, alis pria itu terangkat.
Ia terkesan dengan kemisteriusan ucapannya “Tugas
rahasia seperti apa?”
Marah karena penghinaan yang diterimanya dari
Bondurant, Howie senang bisa membual. Apa salahnya
kalau ia melebih-lebihkan sedikit? Temannya ini takkan
mengetahui perbedaannya. Lagi pula teman-teman yang
paling akrab pun kadang-kadang saling membohongi. Itu
hal yang biasa.
“Dia sekarang bekerja paro waktu, masih rneriyelidiki
berita besar yang pernah kuceritakan padamu. Ketika dia
menemui jalan buntu, siapa yang didatanginya untuk
mencari informasi? Temanmu ini.”
“Informasi tentang apa?”
Howie mengedipkan sebelah matanya. “Urusan dalam
Gedung Putih.”
“Dan kau berhasil mendapatkannya untuk cewek itu?”
“Jangan kaukira gampang memperolehnya,” kata
Howie, sambil membusungkan dada. “Susah, tahu. Aku
harus melakukan penyelidikan sendiri, menghubungi
para narasumber andalan, tapi akhirnya aku dapat
memperoleh informasi yang dikejar Barrie.”
“Dia pasti senang.”
“Akan senang.”
“Kau belum memberitahu dia?” Mata pria itu berkilat
dan kumisnya terangkat ketika ia menyeringai. Ia
memegang bahu Howie . “Ah, aku mengerti. Kau
401
menahan informasi itu sampai memperoleh imbalan
darinya, heh?”
Howie terkekeh. Ia berhasil membuat teman barunya
berpikir persis seperti yang diinginkannya, percaya
bahwa ia penakluk wanita, laki-laki paling diincar di
dunia, orang yang punya kekuasaan, dan tidak boleh
dianggap enteng. “Malam ini aku akan menemuinya.
Untuk sesuatu yang akan kuberitahukan padanya, kurasa
dia rela berbuat apa saja. Kau setuju?”
Malam ini Barrie mengemudikan Volvo yang dicuri siang
tadi dari tempat parkir kompleks rumah sakit. Ketika tiba
di gedung apartemen Howie, ia mengurangi kecepatan
sampai merayap. “Di mana aku sebaiknya parkir?” ia
bertanya pada Gray.
“Di ujung blok. Berhenti dan turunkan aku di sini. Aku
akan naik duluan.”
“Lewat pintu depan?”
“Tindakan dramatis semalam sudah membuatnya
ketakutan, jadi aku merasa aman untuk masuk lebih
terang-terangan malam ini.”
“Bagaimana kalau dia tidak berhasil mendapatkan apa
pun?”
“Aku akan tahu kalau dia berbohong. Sampai ketemu
di atas,” Gray berkata, lalu melangkah ke trotoar dan
menutup pintu.
“Jangan kasar,” seru Barrie, tapi Gray terus melangkah,
entah tidak mendengarnya, atau sengaja tidak mempeduli
kannya.
Keberanian Howie cuma berumur pendek Segera
402
setelah berpisah dengan teman barunya dan meninggalkan
bar, kecemasannya muncul lagi. Dalam perjalanan
pulang, telapak tangannya begitu licin oleh keringat
hingga ia nyaris tak bisa memegang setir.
Bondurant bakal menghajarnya habis-habisan jika ia
tidak punya informasi berharga untuk disampaikan. Dan
kalau ia mengarang-ngarang dan Bondurant tahu, yang
pasti akan terjadi dalam hitungan jam, ia mungkin akan
kembali dan membunuhnya. Yang mana pun, Howie
yang rugi. Kecuali kalau ia memohon belas kasihan dari
Barrie. Semalam wanita itu cukup tegas, tapi menurutnya
Barrie takkan sanggup melihat saja dan membiarkan
Bondurant membunuhnya dengan dingin.
“Tidak, dia akan pergi ke ruangan lain supaya tidak
kehilangan selera makan,” gumam Howie ketika memarkir
mobil di tempat biasa dan menaiki tangga Dengan tangan
gemetar ia membuka kunci pintu dan menariknya sampai
terbuka. Ia ragu-ragu, menajamkan telinga untuk mendengar
bunyi paling pelan sekalipun. Akhirnya ia melangkah
memasuki ruang tamu dan menutup pintu.
Ia cukup yakin ia sendirian di apartemennya dan tidak
ada yang memasukinya sejak ia berangkat pagi. Meskipun
demikian, ia buru-buru memeriksa setiap ruangan,
menyalakan semua lampu dengan cepat, membanjiri
tempat itu dengan cahaya terang benderang. Ia memandang
tangga darurat dari jendela kamar, telah memutuskan
bahwa para tamunya semalam menggunakan jalan itu
untuk masuk dan keluar dari apartemennya. Tak ada
orang di tangga logam di bagian samping gedung itu.
la pergi ke dapur. Ketegangan membuat bir di dalam
perutnya terasa tidak keruan. Ia bersendawa ketika
403
membuka kulkas, mencari sesuatu untuk mengobati sakit
perut.
“Gila,” ia bergumam sambil mengunyah spageti dingin
yang entah sudah berapa lama berada di kulkas.
Ia bukan anak kecil. Ia laki-laki dewasa. Tapi ia
gemetaran di rumahnya, takut pada bayangannya sendiri.
Sejak Barrie punya pikiran sinting tentang Ibu Negara,
hidup Howie jadi berantakan. Ia punya masalah di kantor,
dengan Jenkins. Masalah di waktu senggang juga
Bagaimana kau bisa mengembangkan persahabatan kalau
kau waswas memikirkan mantan Marinir yang akan
menghancurkan kepalamu? Sekarang, masalah telah
memasuki rumahnya.
Yah, ia marah sekali dan tidak akan terima diperlakukan
seperti itu lagi!
Begitu Barrie datang, ia akan...
Terdengar ketukan di pintu.
Perutnya langsung tegang.
Lalu keberaniannya muncul kembali, dan ia berjalan
gagah ke pintu dan menyentakkannya, siap menyemprot
Barrie dan Bondurant. Tapi hanya satu tamu yang datang,
dan ia tersenyum.
“Halo, Howie. Boleh aku masuk?”
Barrie turun dari Volvo dan dengan hati-hati mengunci
pintu mobil. Ketika berjalan cepat menyusuri trotoar, ia
tersenyum memikirkan ironi melindungi mobil curian
dari pencuri mobil. Ia mendongak ke lantai tiga bangunan
di pojok itu. Kerainya diturunkan, tapi lampu-lampu
tampak menyala di semua jendela apartemen Howie. Itu
pertanda baik. Kalau Gray akan melakukan sesuatu yang
sangat kejam, ia akan melakukannya dalam gelap,
404
pikirnya.
Ia melewati ruang depan dan mulai menaiki tangga.
Tempat itu berbau pengap seperti toko-toko barang antik.
Ia mengetuk pintu apartemen Howie. Dan menunggu.
Tak ada yang membukakan pintu. Ia menempelkan
telinganya ke kayu pintu dan mendengarkan, namun tak
dapat mendengar percakapan apa pun dari sisi dalam. Ia
memutar kenop. Pintu tidak dikunci.
“Howie? Gray?”
la masuk.
Lampu-lampu padam.
Ruangan-ruangan yang tadinya terang benderang
mendadak tenggelam dalam kegelapan yang amat pekat.
Ia ingin menjerit, tapi begitu ketakutan hingga tak dapat
bersuara sedikit pun. Ia merasa lantai bergetar ketika
seseorang bergerak cepat ke arahnya melintasi ruang
tamu. Ia berbalik dan mencari-cari kenop, menemukannya,
namun sebelum sempat memutarnya, sebuah tangan
mencengkeram tangannya.
“Jangan bersuara.”
Mengenal suara Gray, ia nyaris pingsan karena lega. Ia
menoleh pada laki-laki itu. “Ada apa?”
“Kita pergi dari sini. Sekarang.”
“Tunggu,” Barrie berkata, bertahan ketika Gray
berusaha membuka pintu. “Mana Howie? Dia ada di
sini?”
“Yeah, dia di sini.”
“Mana? Apa katanya?”
Gray tidak menjawab. Barrie tidak dapat melihatnya,
namun bisa merasa laki-laki itu berdiri kaku, menatapnya
dengan pandangannya yang tajam. Ia bisa merasakan
405
napas pria itu di wajahnya yang mendongak. “Mana
Howie?”
“Ssttt... “
Dengan suara meninggi seiring kepanikannya, Barrie
berkata, “Kau apakan dia?”
“Diam.”
Ia menyingkirkan laki-laki itu dan terhuyung-huyung
menyeberangi ruang tamu.
“Barrie, jangan!”
la merasakan sambaran angin di lengannya ketika Gray
meraihnya namun tak berhasil karena mereka dalam
gelap. Di dapur Howie, pahanya terasa sakit karena
tersenggol sudut meja makan. Ia mencari sakelar lampu,
dan ketika menemukannya, menyalakannya beberapa
kali, namun tak terjadi apa-apa. Seseorang telah merusak
sekering utama.
Gray menyambar tangannya. “Ayo, Barrie. Sekarang.”
“Lepaskan aku!” Barrie berteriak, berusaha membebaskan
tangannya.
Percuma saja memberontak dari cengkeraman Gray,
terutama di tempat gelap seperti ini. Ia tidak tahu di mana
posisinya tapi paling tidak ia sama butanya dengan Gray
tentang keadaan dapur Howie. Ia ingat gambaran umum
dapur itu, dan sementara mereka bergulat, ia mengarahkan
gerakan mereka ke jendela Ketika kira-kira sudah dapat
meraih jendela itu, ia mencengkeram bagian bawah kerai
dan menariknya kuat-kuat. Kerai kayu gaya kuno itu
mendesau naik dan menggulung dengan ribut seperti
suara kepakan jutaan sayap kelelawar. Lampu jalan
menerangi dapur.
“Sialan!” geram Gray.
406
Dengan sekuat tenaga, Barrie mendorongnya ke
samping. “Howie?” ia berseru.
Lalu ia melihatnya, tergeletak di ambang pintu di
antara dapur dan kamar. Pria itu menatapnya. Mulutnya
miring dan terbuka lebar. Begitu juga luka yang
memanjang dari telinga ke telinga di tenggorokannya.
Diterangi cahaya kebiruan pucat, darah yang tergenang di
bawahnya tampak hitam.
Sebelum Barrie sempat menjerit Gray menutup
mulutnya dengan tangan. Bibir laki-laki itu persis di
telinganya. Ia membisikkan sepatah kata.
“Spence.”
407
Bab Tiga Puluh Empat
“SPENCER MARTIN?” Kebingungan Daily tampak
jelas. “Kau bilang kau sudah membunuhnya.”
“Tidak, dia yang bilang aku sudah membunuhnya.” Ia
melirik Barrie.
Barrie memegang secangkir teh mengepul dengan
kedua tangannya, melamun sambil duduk bergoyanggoyang
ke depan dan ke belakang di pinggir sofa Daily.
Rumahnya gelap. Mereka berhasil menyelinap masuk
tanpa ketahuan. Paling tidak itulah yang diharapkan
Gray. Dengan adanya faktor Spence, risiko-risiko yang
harus mereka hadapi mendadak jadi jauh lebih besar.
“Aku cuma melumpuhkan dia” Gray menjelaskan.
“Tapi mestinya kubunuh saja.”
la kemudian menceritakan bagaimana ia melukai
Spence dengan tembakan dan memasukkannya ke ruang
bawah tanah di bawah lumbungnya. “Aku ingin dia
bertahan hidup, tapi tidak melarikan diri. Kupikir aku
akan kemari dan, dengan bantuan Clete, menyelamatkan
Vanessa dari David dalam beberapa hari. Paling lama
seminggu.”
la menatap Barrie sekilas, yang masih memandangnya
dengan pandangan kosong . “Temyata jadinya tidak

seperti itu. Mestinya aku tahu Spence akan bisa lolos,
meskipun demi setan aku tidak tahu bagaimana cara dia
melakukannya. Mungkin dia mengais tanah sampai di
luar.”
“Kau yakin seratus persen dia yang membunuh
Fripp?” tanya Daily.
“Seratus persen. Aku tahu gayanya.”
“Kalau Howie pemah bertemu Spencer Martin, dia
pasti sudah berkoar-koar tentang hal itu,” kata Barrie,
bersuara untuk pertama kalinya sejak lima menit.
“Mereka bisa saja bertemu untuk pertama kalinya
beberapa detik sebelum Spence menggorok
lehernya”Barrie menggeleng. “Polisi mengatakan tidak
ada tanda-tanda masuk dengan paksa. Howie mengenal
pembunuhnya dan mengajaknya masuk ke apartemennya.”
Daily mencondongkan tubuh ke depan. “Apa yang
ingin kaukatakan, Barrie?”
Gray berbicara menggantikan Barrie. “Dia ingin
mengatakan bahwa Howie sudah menunggu kedatanganku
dan akulah yang membunuhnya.”
Setengah detik setelah berpandangan dengan lakilaki
itu, Barrie membuang muka. Gray tidak membiarkannya
lolos begitu saja. “Well, betul itu kan yang ada dalam
pikiranmu?”
“Aku tidak tahu mesti berpikir apa,” Barrie berteriak,
menyingkirkan cangkir tehnya. “Aku tidak bisa berpikir.”
Ia berdiri dan mulai menggosok lengannya kuat-kuat.
“Aku tidak bisa memikirkan apa pun selain betapa
mengerikannya cara Howie meninggal. Dia memang
bukan orang favoritku,” katanya dengan suara bergetar,
“dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Dia
409
individu yang memuakkan, namun dia kan tetap manusia
tak berbahaya, dan polos sehubungan dengan masalah ini.
Aku yang menyeretnya ke dalam persoalan ini. Aku yang
membuatnya terbunuh. Kematiannya akan selalu
menghantuiku sampai aku mati.”
Ia duduk dan mulai menangis.
Kedua pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun
sampai Daily bertanya, “Apa kata polisi?”
Gray sebetulnya ingin langsung pergi dari lokasi
kejadian, takut Spence akan kembali untuk membereskan
mereka juga. Tapi Barrie berkeras untuk melakukan
tindakan yang benar dan menghubungi 911. Karena tidak
ingin menghajarnya sampai pingsan dan menggendongnya
pergi dari apartemen, Gray tak bisa berbuat lain selain
menemaninya ketika ditanyai detektif-detektif bagian
pembunuhan.
Mereka mengaku pada para penyelidik bahwa mereka
punya janji dengan Howie untuk mengunjunginya malam
itu. Ketika mereka tiba, apartemennya gelap, namun
pintu tidak dikunci. Mereka mendapati ia sudah meninggal.
Mereka tidak menyentuh apa pun selain kenop pintu,
beberapa sakelar lampu, dan tepi kerai jendela. Gray
ingat untuk mengelap kotak sekering sebelum mobil
patroli polisi pertama datang. Akan sulit untuk menjelaskan
pada polisi mengapa ia ingin meninggalkan apartemen
dalam gelap.
“Para detektif berteori bahwa Howie disergap di luar
pintu apartemen dan dipaksa masuk. Saku-saku pakaiannya
telah dikuras, jadi motifnya diduga perampokan. Pelakunya
mungkin saja perampok, kata mereka, atau geng yang
melakukan inisiasi.”
410
“Ada kecurigaan terarah pada pihakmu?” tanya Daily.
“Mungkin saja, kalau tidak ada jejak kaki di genangan
darah. Itu jejak sepatu olahraga laki-laki, jenis yang setiap
hari dijual ribuan di seluruh negeri. Rupanya si
pembunuh menyadari kesalahannya, karena cuma ada
satu jejak kaki itu. Para detektif menduga ia membuka
sepatu supaya tidak meninggalkan jejak berdarah sampai
luar apartemen.
“Dugaanku Spence sengaja meninggalkan jejak kaki
itu supaya polisi menarik kesimpulan persis dengan
kesimpulan yang kukatakan barusan—bahwa seseorang
secara acak memilih Howie ketika dia memasuki gedung,
mengikutinya ke atas, dan membunuhnya hanya untuk
memperoleh beberapa dolar. Peristiwa seperti itu terjadi
beberapa kali seminggu di lingkungan itu. Polisi akan
melakukan beberapa prosedur rutin, lalu membereskan
urusan administrasinya, laporannya diarsipkan, dan
pembunuhan itu pun tetap tak terpecahkan.”
“Bagaimana kau bisa begini tenang soal masalah ini?”
Barrie berdiri lagi, melotot pada Gray, membuat emosi
laki-laki itu meledak. “Kau mau aku berbuat apa sih?
Mengaku?” tanyanya marah, balas melotot.
“Aku ingin kau menjelaskan kenapa kau masuk duluan
ke apartemen Howie.”
“Aku ingin menggertaknya.”
“Itu bukan pernyataan yang tepat.”
“Bukan berarti aku membunuhnya.”
“Kenapa kau mematikan lampu ketika aku masuk?”
“Supaya kau tidak melihat dia.”
“Setelah aku akhirnya melihat dia juga, kenapa kau
berusaha menyeretku pergi?”
411
“Kalau Spence masih mengintai di sana, tempat itu
tidak aman.”
“Spence. Spence, yang dengan ajaib hidup kembali.”
Barrie mengangkat tangan. “Puji Tuhan.”
Rahang Gray terasa mengeras. “Apakah kau akan
merasa lebih baik kalau kukatakan, ‘Oke, aku mengaku.
Kugorok leher kodok itu’?”
“Kau menjijikkan.”
“Apa sih yang sebetulnya kau ributkan? Mestinya kau
kan melompat-lompat kegirangan. Aku heran kau tidak
menghubungi juru kamera begitu selesai menelepon 911.
Kau reporter pertama yang hadir di lokasi pembunuhan
sadis. Itu sesuai dengan bidangmu, bukan? Bukankah
berita seperti itu yang membuatmu bersemangat? Itu, dan
melompat ke tempat tidur dengan pria mana saja yang
bisa memberimu berita hebat sebagai imbalannya.”
“Cukup, Bondurant,” Daily ikut bicara.
Gray tidak memedulikan tegurannya. Perhatiannya
hanya terpusat pada Barrie. “Aku tidak perlu membela
diri, padamu atau pada siapa pun. Percayailah apa yang
ingin kaupercayai. Aku sama sekali tak peduli.”
la berputar membelakangi Barrie, tapi baru beranjak
beberapa langkah ketika Barrie mengejamya, mirip
dengan yang dilakukannya pada pagi pertama di rumah
Gray dulu. “Kalau Spence memang masih hidup, kenapa
dia memburu Howie dan membunuhnya?”
“Mana aku tahu,” tukas Gray seraya melepaskan
cengkeraman Barrie. “Mungkin dia tahu Howie
membocorkan informasi yang tidak diinginkannya bocor
kepada kita.”
“Bagaimana dia bisa tahu?”
412
Gray mendengus sinis. “Kau harus berhenti berasumsi
orang-orang itu bermain sesuai peraturan. Mereka tidak
peduli pada peraturan. Tak ada batasan bagi mereka. Baik
batasan moral, politik, atau emosi. Melihat sesuatu yang
perlu dibereskan, mereka membereskannya, dan mereka
tidak peduli pada caranya. Mereka tidak punya hati.
Sebelum kau memahami itu, mereka mengalahkanmu,
karena kau bermain sesuai peraturan.”
Setelah berkata begitu, ia memandang Daily. “Kau
ingin aku pergi sekarang, aku akan pergi.”
Sambil menghela napas dengan berat, Daily berdiri.
“Setiap kali kalian membangunkan aku dari ranjang di
tengah malam, pasti ada berita buruk.” Cuma itu yang
dikatakannya sebelum berjalan terseok-seok ke kamar.
Gray memandang Barrie dengan tajam dan menantang,
tapi wanita itu diam saja, hanya berbalik dan mengikuti
Daily menyusuri lorong.
Sambil mengumpat-umpat pelan, Gray membuka
sepatu bot dan kemejanya, lalu berbaring di sofa. Tempat
itu terlalu pendek untuknya; ia terpaksa menaikkan kaki
ke sandaran tangan. Ia bisa tidur di hampir semua tempat,
dalam situasi apa pun. Ia sudah melatih diri untuk tidur
sesuai kemauannya. la telah belajar cara pulas seketika
dan tidur nyenyak, sementara sebagian alam bawah
sadarnya tetap terjaga dan waspada terhadap bahaya.
Namun malam ini ia tidak bisa. Ia terlalu marah
sehingga tidak dapat tidur: Marah dan... sakit hati? Itukah
istilah yang tepat? “Ya Tuhan.” Ia menutup mata dengan
lengan. Sakit hati? Karena apa? Tuduhannya yang
sembarangan? Gara-gara kecurigaan Barrie bahwa ia
pembunuh? Bodoh dan dangkal sekali emosi yang
413
dirasakannya ini.
Percayalah apa yang ingin kaupercayai. Aku sama
sekali tak peduli. Bohong besar. Ia tidak yakin bagaimana
dirinya ingin dipandang oleh Barrie, namun yang jelas
bukan sebagai pembunuh berdarah dingin. Ia tidak dapat
menemukan satu alasan pun kenapa pendapat wanita itu
mesti mempengaruhinya, tapi memang begitulah adanya.
Bararie cerdas. Agak terlalu impulsif. Ia memiliki
selera humor yang menyengat dan sarkastis yang
digunakannya untuk menutupi perasaan takut dan
kecewanya. Namun ia bukan pengecut, dan berani adalah
sifat yang dikagumi- Gray. Pikirannya setajam silet.
Mungkin ia memiliki daya khayal yang terlalu tinggi
hingga tak bisa menjadi wartawan yang objektif, tapi sifat
kreatif itu malah menambah kepandaiannya. Ia pernah
ditolak, dan Gray bisa bersimpati padanya, bahkan
berempati sampai tingkat tertentu.
Barrie juga memiliki integritas yang sangat tinggi. Ia
tidak pantas menuduhnya menggunakan seks untuk
memperoleh berita. Ia tidak bersungguh-sungguh waktu
mengatakannya pagi itu di Jackson Hole, dan sekarang
pun tidak. Ia bahkan tidak percaya Barrie serendah itu.
Sama seperti dirinya, Barrie juga mungkin tak dapat
menjelaskan hubungan seks gila-gilaan menjelang fajar di
rumahnya itu. Mendekati menjelaskan pun Gray tidak
mampu. Ia menyimpulkannya secara kasar sebagai nafsu
spontan, tak terkuasai, dan tak dapat dijelaskan. Dan ia
puas dengan kesimpulan itu. Lebih aman jika hubungan
seksual seintens itu tidak dianalisis secara berlebihan.
Lebih baik menyalahkan aspek hewani laki-laki, dan
melupakannya. Atau berusaha melupakannya.
414
Biarpun berkomentar pedas dan mengatakan sebaliknya,
ia tahu begitu menyentuhnya pagi itu, bahwa Barrie
bukanlah wanita oportunis. Reaksinya terlalu jujur,
responsnya terlalu liar.
Ia tidak ingin berpikir tentang respons liar Barrie.
Tidak malam ini, ketika ia marah besar pada wanita itu
Namun kenangan merayap keluar dari tempat persembunyian
di dalam benaknya dan menggodanya. Berbagai
pikiran memenuhi kepalanya, pikiran tentang payudara
yang kecil namun padat, puting yang kelihatan tidak
pernah sepenuhnya rileks, bisikan-bisikan Barrie dalam
kegelapan dengan suara yang mampu membangkitkan
gairahnya.
“Gray?”
Ia menurunkan lengannya, dan dalam satu gerakan
tiba-tiba, duduk tegak. Ia tidak mendengar Barrie
mendekat, jadi ia terkejut ketika melihatnya berdiri hanya
beberapa senti dari sofa. Ia berdeham. “Yeah?”
“Kau sudah tidur?”
“Hampir,” Gray berbohong.
“Aku tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”
“Apa?” Gray bertanya, dengan penuh harap berpikir,
Bercinta sampai teler?
Yang diusulkan Barrie sama sekali bukan itu.
Barrie mengenal daerah itu. Tempat itu merupakan
rahasia Washington yang tertutup rapat, karena beberapa
orang sangat penting tinggal di jalan-jalan yang berkelokkelok
dan diteduhi banyak pohon di dekat Embassy Row
itu. Letaknya tak jauh dari Massachusetts Avenue yang
ramai dilewati orang, tapi kalau tidak khusus mencarinya,
415
kau tidak akan menemukan jalan-jalan itu. Tidak banyak
peta memuat nama jalan-jalan itu.
Rumah-rumah di sana dibangun jauh dari jalanan,
dilindungi pagar tanaman tinggi atau dinding batu bata.
Banyak yang memiliki gerbang otomatis untuk keamanan
ekstra. Barrie gelisah ketika Gray menghentikan mobil di
jalan masuk rumah yang akan dijual.
“Kita bisa ditembak,” kata Barrie.
“Memang.”
“Menurutmu, apa yang akan dilakukannya melihat kita
memasuki halaman belakang rumahnya tanpa izin?”
“Kita takkan tahu sampai kita melakukannya.”
Ini sebetulnya ide Barrie. Semalam ide ini rasanya
bagus. Sekarang, ia tidak begitu yakin lagi. “Kau bilang
pernah bertemu dengannya?”
“Beberapa kali, di acara-acara resmi. Tapi kami tidak
pernah bercakap-cakap berdua. Dia mungkin bahkan
tidak ingat padaku.”
“Aku meragukannya” Mereka berpandangan dengan
kaku selama beberapa detik, lalu Barrie menambahkan,
“Kau bisa membuat orang-orang terkesan, Mr. Bondurant.”
“Yeah. Misalnya kesan yang kutimbulkan padamu.”
Barrie memandangi tangannya yang terkepal. “Aku minta
maaf soal itu. Semalam, maksudku. Aku tidak pernah
betul-betul percaya bahwa kau bisa...” Barrie menggigit
bibir. “Aku kesal. Dan ketakutan.”
“Lupakan.” Gray membuka pintu mobil.
“Tidak, kumohon.” Ia menahan lengan pria itu. “Aku
tidak mau masalah ini berlarut-larut.”
“Oke. Katakanlah apa pun yang ada dalam pikiranmu.”
“Aku memikirkannya semalaman dan mencoba meman416
dangnya dari semua sudut. Jika Spence memang berhasil
meloloskan diri dan kembali ke Washington, jika dia,
entah bagaimana caranya, berhasil melacak Howie dan
mengetahui laki-laki itu memberi kita informasi, dan jika
dia memang sampai di apartemen Howie beberapa menit
sebelum kita datang dan membunuhnya, kenapa dia
meninggalkan petunjuk yang bakal mengalihkan penyelidikan
dari kita?
“Spence bisa saja membuat kesan seolah kita yang
membunuh Howie, misalnya saja untuk membalas
dendam karena membuat aku dipecat. Selama kita berada
di balik terali besi dan sibuk berusaha membuktikan diri
kita tidak bersalah, kita tidak akan merepotkan dia dan
Merritt. Jadi mengapa dia sengaja menyelamatkan kita
dari polisi setempat?”
Tanpa perlu berpikir Gray menjawab, “Karena dia
punya rencana yang lebih besar bagi kita.”
“Rencana apa?’
“Aku belum tahu. Itu sebabnya kita harus bertindak
sangat hati-hati.” Gray memandang ke hutan di belakang
rumah besar bergaya kolonial yang kosong itu. “Ayo.”
Meskipun ia sekarang lebih terguncang daripada
sebelum percakapan mereka barusan, Barrie turun dari
mobil. Ia mempersiapkan diri baik-baik dengan membawa
koran yang memuat iklan penjualan rumah itu. Iklan itu
bisa jadi alasan logis jika ada yang menghentikan mereka
dan bertanya kenapa mereka melihat-lihat.
Ia mengikuti Gray ketika pria itu berjalan di sepanjang
pagar besi tinggi yang membatasi halaman rumah.
Mereka butuh waktu lima menit untuk mencapai batas
belakang . “Itu rumah mereka” kata Gray, sambil
417
menunjuk ke depan.
Di ujung kejauhan jalur hijau di antara kedua rumah
itu Barrie melihat atap rumah yang mereka tuju. “Jalan
duluan.”
Daun-daun pepohonan hardwood baru mulai berganti
wama, menimbulkan pemandangan wama-warni yang
kontras dengan pepohonan pinus. Daun-daun yang gugur
berderak di bawah kaki ketika mereka berjalan menerobos
hatan. Pada kesempatan lain, dalam suasana yang
berbeda, ini pasti merupakan acara jalan-jalan yang
menyenangkan.
Mereka berhenti ketika sampai di halaman luas dan
terawat cermat yang terhampar di belakang rumah bata
merah bergaya Georgian itu. Bunga-bunga krisan
berwarna cerah bermekaran di taman. Pagar tanamannya
dipangkas rapi bagai gadis muda pada malam dansa
pertamanya.
“Sejak bertemu denganmu, Bondurant, aku sudah
melihat banyak halaman belakang . Tapi inilah yang
paling cantik.”
Gray nyaris tersenyum, tapi senyumnya tidak jadi
mengembang karena tepat pada saat itu seorang wanita
keluar dari pintu belakang. Ia membawa setumpuk kertas
yang kelihatan seperti gulungan poster yang diikat karet.
“Itu dia.” Gray berkata. Ia keluar dari balik pohonpohon
yang melindungi mereka dan berjalan melintasi
halaman. Barrie mengikuti dengan hati-hati.
Wanita itu langsing dan menarik. Setelah meletakkan
poster-poster tadi di jok belakang Jeep Cherokeenya, ia
menegakkan tubuh. Saat itulah ia melihat mereka.
Untung ia tidak berbalik dan lari atau menunjukkan
418
perasaan takut sedikit pun. Ia bertahan di tempatnya.
Ketika mereka makin dekat, Barrie melihat mata
kelamnya yang ekspresif tampak risau. Tatapannya
beralih dari Barrie ke Gray, lalu kembali pada Barrie lagi.
Sebelum ia maupun Gray menjelaskan kenapa mereka
berada di sana, Amanda Allan berkata, “Syukurlah kalian
datang.”
419
Bab Tiga Puluh Lima
IA membawa Barrie dan Gray ke ruang tamu. Api kecil
menyala di perapian. Samar-samar ruangan itu
menebarkan wangi apel dan kayu manis. Foto-foto
berbingkau yang menampakkan dua anak laki-laki yang
masih kecil, Dr. George Allan, dan Amanda bertebaran di
sekeliling ruangan, mendokumentasikan sejarah keluarga
dan pertumbuhan anak-anak mereka. Perabotannya
berselera dan indah, namun nyaman. Suasananya ramah.
Barrie iri pada wanita itu karena ia memiliki ruangan
yang begitu indah, anak-anak, dan rumah yang ditatanya
dengan begitu cantik. Yang tidak membuatnya iri adalah
ketegangan di wajah dan sikap Amanda Allan, yang
menunjukkan ada yang tidak beres.
Terlintas di pikiran Barrie semalam, bahwa Mrs. Allan
mungkin tidak keberatan bicara tentang pekerjaan
suaminya, terutama kalau ada ketidakcocokan di antara
pasangan itu, seperti kata Howie. Ia tadinya agak
pesimus, tapi merasa tidak ada salahnya mencoba. Tak
pernah ia menduga Amanda akan tampak begitu lega
ketika melihat ia dan Gray. Ia juga tidak mengira wanita
ini, yang tampaknya memiliki semua yang diidamkan
setiap orang, akan kelihatan begitu nelangsa dan tertekan.
Setelah mereka duduk, Amanda berbicara pada Gray
420
dahulu. “Apa kabar? Banyak yang telah terjadi sejak kita
terakhir bertemu.” Gray mengangguk, lalu mengenalkannya
pada Barrie. “Saya tahu siapa Anda, Ms. Travis.”
“Dan saya tahu siapa Anda,” kata Barrie. “Setidaknya
sekarang saya tahu. Anda menelepon saya di WVUE dan
memberitahu saya tentang apa yang terjadi di Highpoint.”
Begitu Amanda berbicara dengannya di luar tadi, Barrie
langsung mengenali suaranya dan tahu dialah si pemberi
informasi gelap.
“Saya minta maaf karena bersikap begitu misterius.
Saya merasa harus melakukan sesuatu, memberitahu
seseorang, tapi tidak tahu pasti bagaimana melakukannya.
Anda terlintas di pikiran saya karena wawancara Anda
dengan Vanessa.”
“Anda tahu ada kejadian buruk terjadi di rumah danau
Anda?”
“Saya merasa ada yang tidak beres, tapi tidak tahu apa.
George...” la menggigit bibir. Amanda bukan tipe wanita
yang bisa menangis di depan orang yang baru dikenalnya.
Ia tidak berbicara sampai berhasil menenangkan diri
kembali. “George tidak mau bercerita pada saya lagi.
Tapi saya yakin jika perawat itu tidak mengalami
serangan jantung fatal sehingga meninggal, Vanessa juga
akan meninggal.”
“Sayangnya saya pikir Anda benar,” Gray menegaskan.
Wanita itu memandang Barrie dengan rasa putus asa
yang nyaris tak terkontrol. “Setelah Anda meninggalkan
stasiun TV itu, saya tidak tahu bagaimana menghubungi
Anda.”
“Kenapa Anda berusaha menghubungi saya?”
“Untuk memberitahukan sesuatu yang jelas sudah
421
Anda ketahui. David Merrin tidaklah seperti yang dikira
orang selama ini. Dia berhasil menipu semua orang. Dia
penjahat tanpa hati. Dia harus dihentikan.” Ia menatap
Barrie tajam dengan matanya yang berwarna gelap.
“Boleh saya menanyakan sesuatu?” Barrie mengangguk.
“Anda menyerbu kamar mayat di Rumah Sakit Shinlin
karena yakin yang di bawah selimut itu mayat Vanessa,
bukan?”
“Betul.”
“Dan Anda juga yakin suami saya yang menyebabkan
kematiannya?”
Barrie memandangnya dengan iba. “Maafkan saya.
Memang itulah yang ada dalam pikiran saya. Begitu juga
Gray.”
Amanda melipat kedua tangannya di pangkuan. “Saya
mengerti.”
“Manic-depression Vanessa dan pengobatan yang
dibutuhkan untuk mengontrol perubahan emosinya
memberikan banyak peluang bagi dokter untuk melakukan
apa saja Anda sependapat, kan?”
“Ya,” jawab Amanda parau. “Saya pikir juga begitu.”
“Kami punya beberapa alasan kuat untuk percaya
bahwa Vanessa masih berada dalam bahaya,” Gray
berkata.
“Dari George?”
“Dari David.”
“Tapi melalui George.”
Ia tidak perlu menjawab. Ekspresi wajahnya sudah
menunjukkan dengan jelas.
Barrie tahu mereka memberitahu Amanda sesuatu
yang sebetulnya sudah diketahuinya juga. Namun, pasti
422
tidak mudah mendengar ketakutan-ketakutannya yang
paling buruk dikonfirmasikan. Tapi ia berhasil mempertahankan
ketenangannya, yang membuat Barrie kagum.
“Saya sadar ini pasti amat sangat sulit bagi Anda, Mrs.
Allan,” Barrie berkata. “Saya tidak pernah bertemu
langsung dengannya, namun berdasarkan apa yang saya
ketahui tentang suami Anda, saya tidak percaya dia
mampu berbuat jahat.”
“Saya kenal dia.” ujar Gray. “Menurut saya, dia seperti
Vanessa, sama-sama menjadi korban David.”
“Kami datang kemari bukan untuk menuduh Dr.
Allan,” Barrie berkata. “Kami cuma mencari informasi.”
“Anda tidak perlu membela diri pada saya,” kata
Amanda sambil tertawa pahit. “Sejak David duduk di
kursi kepresidenan dan menunjuk George jadi dokter
Gedung Putih, dia membuat hidup suami saya bagai
dalam neraka.”
“David berbakat melakukan itu,” komentar Gray.
Ia dan Amanda berpandangan, hal yang sama ada di
pikiran mereka, hingga Barrie jadi tersisih sebentar.
Akhirnya sambil mengalihkan pandangan Amanda
menatap potret keluarga yang ditaruh di meja “George
terlibat sesuatu yang mengerikan. Apa pun masalah itu, ia
tidak mampu melepaskan diri. Kehidupan pribadi kami
jadi berantakan. Efeknya merugikan anak-anak kami.
George jadi berperang dengan dirinya sendiri. Dia
tersiksa. Dia hancur tepat di depan mata saya dan rasanya
saya tidak bisa meraihnya, bahkan tidak dengan memohonmohon
atau mengancam akan meninggalkannya. Apa pun
sesuatu itu, dia lebih kuat daripada saya.” Ia memandang
Barrie. “Anda punya dugaan?”
423
“David Merritt membunuh bayi Vanessa. Penyebabnya
bukan SIDS.”
Amanda menekankan jari-jarinya yang putih dan
kurus ke bibir supaya tidak bergetar.
“Suami Anda dijebak supaya mau melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan sifatnya sebagai penyembuh
dan kode moral pribadinya,” Barrie berkata denganlembut.
“Itulah sebabnya dia tersiksa.”
Yang tidak sanggup dikatakannya adalan bahwa Dr.
Allan telah menutupi pembunuhan itu demi Presiden dan
sekarang membantu melenyapkan satu-satunya saksi
kejahatan itu.
Namun Amanda wanita cerdas. Ia tidak perlu
mendengar orang lain mengatakannya. Akhirnya, ia
menurunkan tangan. Bibirnya pucat, tapi tidak lagi
bergetar. “Saya benci pada orang itu karena apa yang
telah dilakukannya pada suami saya. Bahkan biarpun
berarti melibatkan George dalam kejahatan, saya bersedia
melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk
membantu Anda membeberkan kebusukan David Merritt.
Saya lebih suka jika George tetap hidup meskipun di
dalam penjara daripada mati. Kalau mimpi buruk ini
tidak segera berakhir untuknya, dia akan membunuh
George dengan satu atau lain cara.”
“Barrie dan saya berharap Anda bersedia membantu,”
kata Gray.
Amanda menoleh padanya. “Sejujurnya, apakah Anda
percaya David telah menugaskan George untuk melenyapkan
Vanessa?”
“Ya, kami percaya.”
“Bagaimana dengan ayahnya? Clete Armbruster sang424
gup membunuh siapa saja, termasuk menantunya, jika
satu helai saja rambut Vanessa terusik. Anda sudah minta
bantuannya?”
“Kami telah mencoba,” Barrie memberitahu wanita
itu. “Namun sejak keributan di Shinlin, berbicara dengan
kami saja dia tidak mau.”
“Mungkin ada alasan lain dia menghindari Anda” kata
Amanda. “Senator itu tidak bisa dibilang tanpa dosa. Dia
memainkan politik berisiko tinggi. George pernah secara
tidak langsung bercerita tentang perbuatan-perbuatan pria
itu.”
“Cocok dengan teori saya,” kata Gray. “Jika Clete
mulai melontarkan tuduhan-tuduhan ke Gedung Putih,
kemungkinan besar semua tuduhan akan berbalik dan dia
kena senjata makan tuan. Cara David beroperasi adalah
dengan mengetahui kebusukan orang-orang di sekelilingnya.
Rahasia-rahasia buruk menirnbuikan loyalitas mutlak.
Tak ada yang lolos. Bahkan mertua yang membuatnya
terpilih pun tidak.”
“Saya tidak punya loyalitas seperti itu terhadap David
Merritt,” kata Amanda. “Apa yang kalian butuhkan dari
saya?”
“Nama rumah sakit tempat George merawat Vanessa.”
“Saya tidak tahu. Dia belum memberitahu saya. Tapi
saya rasa Tabor House.”
Barrie memandang Gray. Pria itu tampak sama
bingungnya dengan dia.
“Rumah sakit rehabilitasi swasta,” tambah Amanda.
“Saya tidak pernah dengar.”
“Sudah sewajarnya,” wanita itu menjelaskan. “Tabor
House sangat dirahasiakan. Tempat itu hanya untuk
425
pejabat pemerintah tingkat tinggi dan keluarga dekat
mereka. Penyalahgunaan obat dan alkohol di kalangan
lapisan atas Washington lebih banyak daripada yang
diduga siapa pun. Rumah sakit itu didirikan kira-kira dua
puluh tahun yang lalu supaya pemerintah dapat menyelamatkan
muka kalau seseorang yang berkuasa perlu
direhabilitasi.”
“Di mana lokasinya?”
“Virginia. Naik mobil, sekitar satu setengah jam.”
“Itu menjelaskan perjalanan naik helikopter George
dari halaman Gedung Putih setiap hari,” ujar Gray.
“Bisakah Anda memberitahu kami jalan ke sana?”
Amanda mengerutkan kening. “Saya belum pernah ke
sana. Tidak boleh ada pengunjung. Tapi saya tahu nama
kota terdekat.”
Mereka mengikutinya ke dapur. Di sana ia duduk dan
menuliskan semua yang diketahuinya untuk mereka.
Mereka harus menemukan sendiri lokasi Tabor House.
Gray membaca informasi yang diberikannya, lalu
mengantongi catatan itu. “Ini lebih dari yang kami
ketahui,” ia berkata. “Terima kasih, Amanda.”
“Gray.” Wanita itu memegang lengannya. “Saya
percaya Anda akan berhati-hati. Dengan George, maksud
saya. Saya melakukan ini untuk menyelamatkan hidupnya.
Hidup kami. Tapi dengan menolong Anda, saya juga
merasa mengkhianatinya.”
“Saya memahami konfliknya. Saya juga merasakan
hal yang sama. Ingat, saya pernah bertugas pada David,
sebagai asisten dan temannya.” Gray diam sejenak. “Saya
takkan melakukan apa pun yang bisa melukai George
secara fisik. Saya berjanji pada Anda,” ia menenangkan
426
wanita itu.
Amanda menekan lengan Gray, lalu menarik tangannya.
“Ini sangat berbahaya bagi Anda. Saya terkejut Anda
mengambil risiko dengan datang kemari.”
Barrie menceritakan padanya bahwa mereka terus
diawasi sejak insiden di Shinlin. “Kami dibuntuti ketika
meninggalkan rumah teman saya. Gray berhasil meloloskan
diri di antara lalu lintas. Namun saya harus memperingatkan
Anda bahwa orang lain yang kami ajak bicara dibunuh
semalam.”
“Ya Tuhan.”
“Bagaimana kalau Anda dan anak-anak pergi ke luar
kota selama beberapa waktu? Sampai semua ini beres,”
Gray mengusulkan.
Amanda mempertimbangkannya, tapi cuma sebentar.
“Kalau saya meliburkan anak-anak dari sekolah dan pergi
begitu saja, kami akan kelihatan lebih mencurigakan.
Lagi pula, saya tidak mau meninggalkan George.”
Kekaguman Barrie pada wanita itu semakin besar.
“Kami berbuat sebisa mungkin untuk melindungi
Anda, tapi jangan percaya pada siapa pun,” Gray
mengingatkannya. “Bahkan juga pada orang yang
biasanya Anda percaya. Seperti Spence Martin.”
Amanda menelengkan kepala. “Tapi... Anda sudah
membereskan ular itu. Iya, kan? Saya kira...” “Apa
maksud Anda?” Amanda menunjuk TV kecil di lemari
dapur. “Tadi disiarkan. Di buletin berita.” “Apa beritanya?”
tanya Barrie. “Gray. Gray Bondurant beritanya.”
427
Bab Tiga Puluh Enam
GRAY BONDURANT, sang pahlawan misi penyelamatan
sandera, tengah dicari FBI untuk ditanyai tentang
lenyapnya Spencer Martin, asisten kepresidenan.
David Merritt mendengar berita ini pada saat yang
sama dengan rakyat negerinya.
Ia dan Spence sedang mengadakan rapat rahasia di area
pribadi Presiden. Hanya beberapa gelintir orang di
Gedung Putih tahu Spence tinggal di situ. Ia pindah ke
kamar tidur ekstra di lantai tiga. Di sini, mereka bisa
bicara dengan leluasa. Ruangan itu kedap suara dan tak
mungkin dapat disadap.
“Orang itu edan,” kata Spence tentang Howie Fripp.
“Dia bahkan senang bertemu denganku. Mengajakku
masuk. Tidak heran sedikit pun melihat aku tahu di mana
dia tinggal.”
“Kau yakin dia tidak sempat menghubungi Travis dan
Gray di antara saat dia meninggalkan bar dan ketika kau
muncul di pintunya?”
“Aku terus mengawasinya.” Spence meneguk Pepsi.
“Tapi bukan masalah seandainya pun dia menghubungi
mereka. Dia tidak tahu apa-apa. Dia cuma berkoar-koar
bahwa dia tahu, untuk membuatku terkesan. Dia tidak
428
akan...”
“Apa-apaan itu?”
Sambil berpaling untuk melihat apa yang telah
menarik perhatian David, sama seperti sang Presiden,
Spence juga kaget melihat wajahnya muncul di layar TV.
Itu foto lama, mungkin satu-satunya yang ada di arsip.
Meski demikian, ia masih bisa dikenali. Ia mengambil
remote control dan menekan tombol Mute hingga suara
TV sekarang kedengaran lagi.
“... dilaporkan hilang.”
David dan Spence berpandang-pandangan dengan
bingung, dan makin bingung ketika koresponden jaringan
televisi Capitol Hill itu melanjutkan. “Diyakini bahwa
Gray Bondurant, yang jadi terkenal di seluruh negeri
setelah misi penyelamatan sandera yang berani, adalah
orang terakhir yang melihat Spencer Martin, waktu dia
baru-baru ini menerima penasihat Presiden itu di
peternakannya di Wyoming. Penyelidikan besar-besaran
untuk menemukan Mr. Martin sedang dilakukan.”
“Ya Tuhan!” Spence melompat berdiri. “Siapa yang
bertanggung jawab atas masalah ini?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku akan menyelidikinya.”
David meraih telepon dan menyuruh operator menghubungkannya
dengan Jaksa Agung.
“Gunakan interkom,” kata Spence.
Jaksa Agung William Yancey sedang tidak ada, jadi
salah satu bawahannya menerima amukan khas kepresidenan.
“Bangsat, apa sih yang terjadi? Mana Mr.
Yancey? Aku ingin bicara dengan dia secepatnya.”
“Beliau dan Mrs. Yancey sedang pergi makan malam,
Mr. President.”
429
“Temukan dia. Sekarang juga. Sementara itu, aku
ingin tahu siapa yang mengizinkan penyelidikan tentang
hilangnya Spencer Martin ini.”
“Mr. Yancey sendiri, Sir. Setahu saya, beliau mendapat
bocoran.”
“Bocoran? Dia mendapat bocoran? Dan dia mengizinkan
penyelidikan besar-besaran cuma berdasarkan hal itu?”
“Bocoran itu berasal dari sumber yang sangat bisa
diandalkan, Mr. President.”
“Siapa?”
“Senator Armbruster.”
David mengalihkan pandangannya pada Spence, yang
memaki-maki meskipun tanpa suara. Sambil duduk dan
memijat-mijat pelipis, David membuat suaranya terdengar
tenang tapi kaku. “Begitu. Senator Armbruster mungkin
cuma lupa membicarakannya denganku sebelumnya.”
“Senator bilang Mr. Spencer sudah hampir dua
minggu hilang.” Setelah keheningan yang tidak mengenakkan
ia menambahkan, “Mr. President, M r. Yancey
mengira Senator Armbruster bertindak atas nama Anda.”
“Tentu saja,” kata David cepat. “Aku juga jadi sangat
kuatir dengan hilangnya Mr. Martin. Yang tidak kumengerti
adalah mengapa Mr. Yancey mencari Mr. Bondurant.”
“Sir, Bondurant baru-baru ini memberitahu Senator
Armbruster bahwa Mr. Martin datang ke tempatnya di
Wyoming. Sepanjang pengetahuan semua orang, itulah
laporan terakhir tentang keberadaan Mr Martin.”
“Apakah Mr. Bondurant sudah ditahan?”
“Belum.”
“Terus kabari aku.”
“Tentu, Mr. President.”
430
“Dan cari Mr. Yancey. Aku ingin bicara dengannya
segera.”
“Baik, Sir . Akan langsung saya sampaikan pesan
Anda.”
David menutup telepon. “Well, kau ingin tiba-tiba
muncul kembali dan menghentikan omong kosong ini?”
Spence mondar-mandir sebentar. “Tidak. Aku dapat
bertindak lebih baik jika tidak kelihatan. Tapi akan
kuperintahkan orang-orangku membuang muka kalau
mereka melihat Gray. Kita jelas tidak ingin dia ditanyai
FBI atau Yancey.”
“Yancey,” David mengulangi dengan nada kesal.
Semula William Yancey tampaknya akan menjadi
orang yang cocok untuk posisi jaksa agung dalam
pemerintahan Merritt. Sepuluh tahun lebih muda daripada
David, ia sama muda dan agresifnya dengan Robert
Kennedy waktu kakak laki-lakinya memberikan jabatan
itu padanya. Seperti Kennedy, Yancey membuat dirinya
terkenal di bidang peradilan pidana, di yurisdiksi negara
bagian dan federal. Ia karismatis, menarik, dan pandai
bicara. Jadi David memintanya bergabung, dan sejak itu
ia menyesalinya. Yancey terlalu cerdas, terlalu sigap,
terlalu jujur . Yancey dan Bondurant akan menjadi
pasangan satu pikiran yang berbahaya.
“Begitu Gray melihat berita ini, apa yang membuatnya
tidak segera mendatangi kantor Yancey dan mengaku
bahwa kau terkubur di ruang bawah tanahnya?”
“Dia takkan berbuat begitu.”
“Kenapa?”
“Pertama, karena itu akan merepotkan dirinya. Paling
tidak untuk sementara waktu. Dia harus menjelaskan
431
kenapa dia menembakku dan mengurungku di ruang
bawah tanah. Butuh waktu lama untuk membereskan
masalah itu, waktu yang tidak ingin disia-siakan Gray.
Kedua, ketika dia melihat mayat Howie Fripp, itu
merupakan tanda baginya. Gray tahu aku sudah tidak
berada di ruang bawah tanah lagi.”
David mengerutkan kening. “Masalah waktu tiba-tiba
jadi penting, bukan?”
“Sangat penting.”
“Sialan, kita tidak butuh ini,” sergah David marah.
“Apa sih yang ada di otak Clete?”
Spence menunjuk telepon. “Kusarankan kau tanya
dia.”
“Aku betul-betul tidak mengerti kenapa kau semarah
ini, David,” kata Clete, menjentikkan abu cerutu ke asbak
porselen yang bergambar lambang kepresidenan.
Senator itu langsung menanggapi undangan Presiden.
Tahu akan menemui David Merritt yang sedang murka,
ia menghadapi pertemuan ini dengan pikiran gembira.
Melakukan pengkhianatan yang rumit selalu membuat
hatinya senang.
David marah besar mengenai masalah Spence dan
Bondurant ini, persis seperti dugaan Clete. David jelas tak
ingin Bondurant menyebarluaskan informasi bahwa
Spence diutus untuk membunuhunya. Sudah sewajamya
jika ia membantah pernyataan seperti itu dan menyerang
Bondurant dengan mengatakan ia pengkhianat dan
pembunuh.
Namun kerusakan sudah terjadi dan tidak dapat
diperbaiki. Bibit-bibit keraguan akan tertanam di dalam
pikiran masyarakat. Mengingat hal ini terjadi menjelang
432
tahun pemilu, ini jadi masalah gawat bagi seorang
presiden. Pantai oposisi akan bersenang-senang dengan
menunjukkan pada rakyat yang mudah dipengaruhi
betapa busuk tokoh-tokoh yang dipilih presiden mereka
untuk mengelilinginya.
Dengan mengkhianati Gray Bondurant, Clete telah
membuat musuh, namun pria itu tidak penting. Barrie
Travis apalagi. Ia telah menghancurleburkan kredibilitas
wanita itu setelah kejadian di kamar mayat rumah sakit.
Meskipun David Merritt sudah di tangan mereka, Clete
tidak mau mendukung usaha mereka. Ia tidak dapat
membiarkan kedua orang itu bertindak sesuka mereka,
mengacaukan rencananya sendiri untuk menghancurkan
menantunya itu.
Juga ada kemungkinan bahaya tambahan, bahwa
sewaktu menyelidik, mereka tidak sengaja mengetahui
soal Becky Sturgis. Itu memang pasti akan menghancurkan
sang Presiden. Namun masalah itu juga akan menghancurkan
Clete Armbruster. Dalam urutan prioritasnya,
keselamatan diri hanya kalah satu langkah dari kekuasaan.
Jadi, untuk menyibukkan Bondurant dan reporter itu,
ia memberitahu Jaksa Agung Yancey fakta bahwa mantan
tentara itu adalah orang terakhir yang diketahui melihat
Spencer Martin dalam keadaan hidup. Setelah mereka
dibereskan, tujuan Clete sekarang tinggal satu. Ia harus
menjauhkan Vanessa dari David dalam keadaan sehat
untuk selamanya, baru kemudian menghancurkan lakilaki
itu.
Sementara itu David terus menyemburkan kata-kata.
“Tanpa membicarakannya dulu denganku...”
“Aku sudah berhari-hari berusaha membicarakannya
433
denganmu,” potong Clete. “Kau tidak mau menerima
teleponku. Kemarin kau berada di Georgia. Siang tadi
kau rapat...”
“Aku tahu agendaku, Clete. Kau kan bisa menunggu
sampai aku punya waktu sebelum menelepon Yancey.”
“Sebaliknya, David. Aku tidak merasa persoalan ini
bisa menunggu lebih lama lagi. Orang-orang sudah
bertanya-tanya tentang Spence.”
“Orang-orang mana?”
“Orang-orang di stafmu sendiri. Orang-orang yang
menyadari kepergiannya. Kau sibuk, jadi mereka bicara
denganku.”
“Kenapa kau?”
“Karena kau dan aku begitu dekat.” Clete membiarkan
pemyataan itu menggantung bagai mata pisau, menantang
David untuk menanggapinya. “Semua berasumsi bahwa
kau menceritakan pendapat dan kekhawatiranmu padaku.
Jika kau memang membicarakan lenyapnya Spence yang
misterius dengan seseorang, maka orang itu tentulah
aku.” la mengembuskan asap cerutunya dengan puas.
“Gray memberitahumu bahwa Spence datang untuk
menemuinya?”
“Benar. Pada malam aku berjumpa dia dan si brengsek
Travis itu di Shinlin.”
“Begitu banyak yang terjadi malam itu, bagaimana
nama Spence bisa masuk dalam pembicaraan kalian?”
Clete mengerutkan kening seolah berusaha mengingat.
“Aku tidak ingat bagaimana persisnya. Yang bisa kuingat,
kami menyebutnya secara sambil lalu. Aku barangkali
tidak akan memikirkannya lagi jika Spence muncul
kembali. Namun kenyataannya tidak, dan kelihatannya
434
dia tidak akan muncul. Aku menyelidik sedikit. Suratsuratnya
kembali ke kantor pos. Para tetangganya di
gedung apartemen sudah berminggu-minggu tidak melihat
dia. Dia tidak membalas telepon-telepon. Tampaknya dia
pergi ke Wyoming dan ditelan Teton, bukan? Kelihatannya
Bondurant-lah orang terakhir yang melihatnya.”
David tertawa. “Omonganmu mengandung begitu
banyak makna, Clete. Apakah kau bermaksud mengatakan
Gray membunah Spence?”
“Kau punya penjelasan lain?”
“Pikiranmu ngawur.”
“Oya?”
“Ya,” tukas David ketus.
“Yancey kelihatannya tidak berpendapat begitu.”
“Yancey. Aku dulu memutuskan untuk mengangkatnya.
Sekarang aku menyesali keputusanku itu.”
Clete terkekeh “Karena dia sangat mirip Bondurant.
Selalu menentangmu. Dia tidak menjilat seperti orangorang
lain. Dia bicara dengan seseorang di divisi kriminal
FBI, yang setuju bahwa Mr. Bondurant perlu ditanyai
sedikit.”
Clete menyelipkan cerutu di sudut mulut, berjalan ke
lemari minuman keras, dan menuangkan segelas scotch
tanpa tambahan air untuk dirinya sendiri. Ia mengacungkan
gelas kristal itu di depan lampu dan mengamati
permainan cahaya di permukaannya yang bersegi-segi.
“Ketika mereka menanyai Bondurant, aku ingin tahu
seberapa banyak yang akan dikatakannya tentang kedatangan
Spence ke Wyoming.”
la berbalik dan menatap tajam menantunya. Kedua
pria itu lama berpandang-pandangan. David yang
435
tersenyum lebih dulu, kagum sekaligus kesal pada
mentornya yang cerdik itu. “Jadi kau tahu. Gray
memberitahumu.”
“Bahwa kau mengutus Spence ke sana untuk membunuhnya?
Ya, dia memberitahu aku. Membuat orang
bertanya-tanya apa lagi yang diketahuinya— atau
dikiranya diketahuinya—tentang hal-hal yang ingin kau
rahasiakan.”
David duduk dan menyilangkan kaki. Clete tidak
tertipu dengan gaya tenangnya. Ia sama sekali tidak
kelihatan rileks.
“Apa maumu, Clete? Aku terlalu mengenal dirimu.
Kau tidak mengadakan penyelidikan omong kosong FBI
ini tanpa alasan. Kau pasti tidak melakukannya karena
khawatir soal Spence. Kalau begitu .kenapa? Apa yang
kauinginkan?”
“Putriku.”
“Istriku, maksudmu.”
“Kau menghancurkan hidup Vanessa. Aku takkan
membiarkannya.”
“Kalau menyangkut Vanessa, kata-kataku sebagai
suaminya lebih kuat daripada kata-katamu, Clete. Biar
kukatakan padamu bahwa dia berada di tangan- yang
baik.”
“Di mana? Rumah peristirahatan Allan lagi?”
“Kondisinya sekarang jauh lebih serius hingga tidak
dapat dirawat di sana. Pada suatu pagi dia kehilangan
kontrol. George tidak punya pilihan. Dia terpaksa
memindahkanaya ke suatu tempat perawatan.”
“Tempat yang mana?”
“Tabor House.”
436
“Rumah sakit rehabilitasi itu?”
“Dia tahu privasi Vanessa akan terjamin di sana.” David
bangkit, melintasi ruangan ke mejanya, dan mengambil
sepotong kertas dari laci tengah. “Ini nomor teleponnya.
Hubungi saja kalau kau tidak percaya padaku.”
Clete menyambar kertas itu dan meminta operator
Gedung Putih menyambungkanaya ke nomor itu.
Sementara menunggu, ia menenggak habis scotch-nya.
Akhirnya terdengar suara mendayu-dayu. “Tabor House.“
“Ini Senator Clete Armbruster. Hubungkan aku dengan
siapa pun yang punya wewenang di situ.”
“Mohon tunggu sebentar.”
Musik lembut terdengar di telinganya ketika ia
menunggu teleponnya disambungkan. Ia bertanya-tanya
dalam hati apakah ini betul-betul nomor telepon rumah
sakit penyalahgunaan obat eksklusif itu, atau David cuma
menipunya.
“Clete? Aku sudah menunggu teleponmu. Presiden
memberitahu kau akan menghubungi aku.”
Ia mengenali suara itu, Dr Dexter Leopold, mantan
kepala dokter bedah, sekarang direktur Tabor House.
“Halo, Dex. Bagaimana putriku?”
“Aku akan berterus terang padamu, Clete. Dia dalam
kondisi buruk waktu Dr. Allan membawanya kemari.
Pengobatannya tidak berhasil karena dia begitu banyak
minum. Tapi kami sudah menstabilkannya sekarang, dan
dia sudah jauh lebih sehat.”
“Beri dia pengobatan terbaik, Dex.”
“Itu sudah pasti.”
“Aku ingin dokter-dokter lain ikut menanganinya,
bukan cuma Allan.”
437
Dokter di ujung sana terdiam sejenak. “Akan kelihatan
aneh, Clete.”
“Aku tidak peduli seberapa aneh.”
“Dr . Allan adalah dokter resminya. Sampai Mrs.
Merritt sendiri, atau Presiden Merritt jika dia tidak
mampu mengambil keputusan, menggantinya, aku harus
menganggap dia sebagai dokter yang berwenang atas
kasusnya.”
Dex Leopold punya reputasi sebagai orang terhormat,
namun David bisa saja mempengaruhinya. Jika George
Allan pelan-pelan membunuh Vanessa, apakah Dr.
Leopold akan pura-pura tidak tahu? “Di mana persisnya
Tabor House?” Clete bertanya. “Aku ingin menjenguknya
besok.”
“Sayang aku tidak dapat mengizinkannya, Clete,” kata
dokter itu lembut. “Kau tahu kebijaksanaan di sini. Tak
seorang pun, kecuali pasien dan staf, diizinkan berada di
tempat ini. Cuma dengan cara begitu kami bisa
melindungi privasi para pasien dan mempertahankan
integritas rumah sakit. Bertemu keluarga dapat menyebabkan
kemunduran, terutama kalau si pasien sudah
sembuh secara medis dan kami tengah menangani fase
psikologis penyembuhannya.”
“Tapi, Dex, tentunya...”
“Maafkan aku, Clete, tidak ada pengecualian. Bahkan
Presiden pun tidak diperbolehkan mengunjungi Mrs.
Merritt, meskipun beliau memintanya tiap kali menelepon.
Jika aku menolak beliau, aku harus bilang tidak padamu
juga. Kupastikan, itulah yang terbaik bagi Mrs. Merritt.”
Mata Clete menyambar David, yang sedang mengamatinya,
ekspresinya tak berubah.
438
“Baiklah,” Clete mengalah. “Aku ingin Vanessa sehat
kembali. Dia amat menderita sejak bayinya meninggal.”
“Begitu juga yarig dikatakan Presiden Merritt padaku.
Beliau menyesal tidak mengikutkan Mrs. Merritt dalam
program terapi setelah kematian si bayi. Kalau saja dia
ikut konseling saat itu, krisis ini mungkin bisa dihindari.
Tapi jangan khawatir. Kami akan mengembalikannya
padamu dalam keadaan sembuh total.”
“Pasti, kalau kau tahu apa yang sebaiknya kaulakukan,”
kata Clete sebelum menutup telepon.
“Puas?” David bertanya.
“Sama sekali tidak.” Clete berjalan cepat ke pintu
Ruang Oval. “Hati-hatilah, David. Aku tak peduli berapa
orang yang sudah kau suruh berbohong untukmu dan
melakukan pekerjaan kotormu, aku akan memperoleh
anakku lagi. Beberapa minggu yang lalu aku mengingatkan
kau bahwa aku yang memasukkan kau kemari, dan aku
bisa mengeluarkanmu.” Ia menjentikkan jari satu inci dari
hidung Presiden. “Segampang itu.”
439
Bab Tiga Puluh Tujuh
JAUH sebelum matahari terbit, Clete turun ke lantai
bawah untuk menuangkan secangkir kopi. Sebelum tidur
tiap malam, ia menyalakan timer mesin pembuat kopi.
Cangkir pertama yang mengepul-ngepul selalu
membuatnya teringat pada kenangan indah semasa kecil,
sebelum ia tahu cara mengeja kata politik atau bahkan apa
arti kata itu; sebelum ia mengetahui bahwa ada orangorang
yang meletakkan ambisi dan keserakahan di atas
kehormatan; sebelum ia menjadi salah satu dari orangorang
itu.
Ayahnya pria yang tinggi, kuat, dan pendiam yang
sama sekali tak setuju jika orang melakukan kejahatan
untuk menutupi kejahatan lain. Ia cuma menjalani
pendidikan sampai kelas tiga, namun tahu semua gugus
bintang dan bisa menghitung dengan kecepatan menakjubkan
jumlah titik di kartu domino yang baru saja
dimainkan. Ia tidak lekas marah, tapi cepat jika membela
pihak yang lemah dalam suatu perkelahian.Ia bertugas di
bawah pimpinan Jenderal Patton di Jerman. Di sanalah ia
terbunuh dan dikubur. Namun sebelum perang ia hidup
dan bekerja sebagai wrangler di peternakan sapi di selatan
Texas. Pada pengumpulan ternak musim panas, kadang440
kadang ia memperbolehkan Clete muda ikut berkuda
dengannya dan koboi-koboi lain.
Binatang-binatang paling berbahaya di daerah itu
bukanlah orang-orang yang bisa menohokmu dari
belakang, melainkan ular, kuda kalap, dan longhorn yang
mudah marah. Hari-hari di atas sadel amat panjang, berat,
dan berdebu. Malam hari penuh taburan bintang. Saat
fajar setiap pagi, sebelum hari kerja dimulai, para koboi
berkumpul di sekeliling perapian kemah dan minum kopi
pahit mendidih.
Habis perang ibunya memindahkan mereka ke Mississippi
untuk tinggal bersama keluarganya. Clete
menghabiskan sisa masa mudanya jauh dari peternakan
sapi, dan sebagian besar masa dewasanya di Washington,
tapi enam puluh tahun kemudian, ia masih bisa
mengingat carnpuran bau daging goreng, pupuk, kulit,
dan rokok ayahnya, yang dilintingnya sendiri sambil
menikmati sarapan di bawah langit. Tak satu kopi pun di
dunia ini rasanya seburuk kopi perkemahan itu. Tak ada
juga yang rasanya seenak itu.
Clete sangat menyukai pagi-pagi itu. Ia juga sangat
menyayangi ayahnya. Ia ingat betapa senangnya ia
berkuda di samping pria itu, dan bagaimana pria-pria
lain, tak peduli seberapa kasarnya, memperlakukan
ayahnya dengan hormat; perlakuan yang memang pantas
diterima ayahnya. Betapa bangganya anak kecil bernama
Clete itu menjadi putra ayahnya.
Pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, Clete berusaha
tidak berpikir apakah ayahnya akan bangga pada laki-laki
dewasa bernama Clete ini.
Ia menyalakan lampu dapur.
441
Gray Bondurant duduk di meja. Ia mengambil sendiri
secangkir kopi. “Pagi, Clete.”
Suaranya datar. Gaya dudukuya yang santai tidak
menunjukkan kemarahan. Tapi Clete tahu bahwa bagi
Gray Bondurant, pengkhianatan adalah kejahatan tanpa
ampun. Dan Bondurant pria yang berbahaya.
Clete ingin tahu apakah kenangannya tentang ayahnya,
perapian kemah, dan pengumpulan ternak tadi merupakan
frasat tentang kematiannya yang sebentar lagi terjadi di
tangan orang yang telah diperlakukannya dengan sangat
semena-mena ini. Ia malu dengan rasa takut yang
mengalir di sekujur tubuhuya.
Tentu saja ia tidak membiarkan sedikit pun perasaannya
kelihatan ketika ia menuangkan kopi untuk dirinya dan
bergabung dengan tamu tak diundang itu di meja dapur.
Cuma buang-buang waktu saja kalau ia bertanya pada
Bondurant bagaimana laki-laki itu bisa masuk ke
rumahnya. Sistem alarm canggihnya sudah dinyalakan,
namun itu takkan mampu menghalangi tentara yang
berhasil menembus dinding penjara di Timur Tengah itu.
Sambil menantang tatapan dingin dan tajam Bondurant,
Clete meneguk kopi. “Kurasa tak ada gunanya aku minta
maaf.”
“Benar. Tarik anjing-anjing itu.”
“Tidak bisa. Sudah terlalu jauh. Sudah di luar
jangkauanku.”
“Omong kosong. Kau yang menggelindingkan bola
salju ini. Kau bisa menghentikannya. Atau apakah semua
omonganmu tentang kekuasaan yang kaumiliki cuma
isapan jempol?”
Bondurant lawan yang tangguh. Ia tidak dapat
442
ditaklukkan dengan kata-kata. Clete memutuskan untuk
menghentikan usahanya. “Apa maumu?”
“Aku ingin menemukan Vanessa dan mengembalikannya
padamu. Tapi aku tidak bisa melakukannya jika FBI
memburuku.”
“Vanessa tidak lagi dalam bahaya.”
“Kau percaya itu?”
“Dia di Tabor House.”
“Aku tahu di mana dia.”
Clete bertanya-tanya bagaimana Bondurant mendapatkan
informasi itu, tapi ia tahu tak ada gunanya bertanya.
“Tadi malam aku bicara dengan Dex Leopold. Dia
direktur di sana sekarang. Aku sudah memperingatkan dia
bahwa Vanessa sebaiknya kembali padaku dalam keadaan
sehat walafiat.”
Bondurant mendengus mengejek, lalu mencondongkan
tubuh di meja “Kau percaya pada apa yang Barrie dan aku
katakan tentang kehamilan Vanessa dan kematian si bayi
yang-katanya karena SIDS?”
Karena ia politikus sejati, Clete diam saja.
“Jika kau menganggap yang karni ceritakan itu benar,
kau percaya David akan membiarkannya lolos sekarang?
Kau kenal dia lebih baik daripada siapa pun, jadi apa
pendapatmu? Kalau dia memang benar membunuh bayi
Vanessa, apakah menurutmu ada kemungkinam dia akan
membiarkan Vanessa hidup untuk bercerita tentang
peristiwa itu?”
Dalam hati Clete menimbang-nimbang pertanyaan itu,
walaupun jawabannya sangat jelas. “Apa yang kauinginkan?”
ia mengulangi dengan kasar.
“Kebebasan umtuk bergerak ke mana pun tanpa takut
443
ditangkap. Aku tak peduli bagaimama kau melakukannya,
pokoknya bebaskan aku dari incaran FBI.”
“Bagaimana usulmu aku...”
“Jangan sok tidak tahu apa-apa denganku. Kau akan
menemukan cara, dan kau akan bisa meyakinkan siapa
pun. Bilang pada mereka kau salah mengerti, salah
tangkap, salah paham. Karanglah sesuatu, tapi buat
ceritamu meyakinkan. Singkirkam mereka dariku. Sebagai
imbalannya, kau akan mendapatkan Vanessa kembali.”
“Aku memang akan mendapatkannya kembali, biarpun
tanpa bantuanmu.”
“Pertanyaannya adalah apakah kau akan mendapatkannya
kembali dalam keadaan hidup.”
“David takkan berani berbuat sejauh itu. Aku sudah
memperingatkannya juga.”
“Alasan lagi bagi kita untuk bertindak cepat.”
“Aku akan bertindak sendiri, terima kasih.”
“Oke, terserah. Tapi ada satu hal lagi yang harus
kauketahui. Spence tidak menghilang secara misterius.
Dia masih hidup dan sehat dan berada di Washington.”
“Astaga! Kukira kau telah membunuhnya.”
“Well, tidak, meskipun mungkin aku bakal menyesalinya
seumur hidup. Dia sudah kembali. Aku telah melihat hasil
karyanya. Apakah kaupikir dia dan David akan membiarkan
anak-anak FBI menginterogasi aku? Tak akan. Mereka
akan mencoba dan membunuhku lebih dulu.”
“Jadi kau berusaha menyelamatkan dirimu senditi,
bukan Vanessa.”
Serangan itu menimbulkan kilatan marah di mata pria
yang satu lagi, namun ia tetap bersikap tenang. “Spence
tidak akan menghilang selamanya. Dia akan muncul.
444
Ketika itu terjadi, mereka akan mempublikasikannya dam
menertawakan dirimu. Kau bakal kelihatan seperti orang
tua konyol karena ribut-ribut tanpa alasan. Yancey dan
FBI akan menangkapmu karena ikut campur dan
melibatkan mereka ke dalam sandiwara konyol.
“Sesudah itu, siapa yang mau mempercayaimu ketika
kau menyalahkan David atas peristiwa buruk apa pun
yang menimpa Vanessa? Tidak ada. Kau akan dianggap
mengkhayal dan pikun. David akan menang mutlak.”
“Kau bohong.” Bondurant tidak mau repot-repot
membantah tuduhan itu, ia hanya menatap Clete dengan
mata birunya yang dingin. “Aku memberitahu David
semalam kenapa aku menelepon Yancey dan menyebabkan
penyelidikan itu dilakukan. Jika Spence masih hidup, dia
pasti memberitahu aku.”
“Oya? Atau dia sedang menjebakmu?” Bondurant
mencondongkan tubuhnya lebih ke depan lagi. “Biarpun
kau lihai, aku yakin kau telah menyusun rencana hebat
untuk menghancurkan David karena telah membunuh
cucumu, namun caramu akan makan waktu, dan kita
tidak punya waktu.”
Ucapan Gray masuk akal, tapi Clete belum siap untuk
menyerah. “Bagaimana kalau aku tidak berbuat seperti
yang kauminta?”
“Kalau begitu semoga beruntung. Kau berjuang
sendirian.”
“Sudah lama sekali aku berjuang sendirian. Aku punya
riwayat yang sangat bagus.”
“Kalau memang demikian, mengapa Vanessa tidak di
sini bersamamu, dan bukannya terkurung di suatu rumah
sakit, terkucil, di bawah pengawasan dan perawatan
445
boneka kesayangan David, George Allan?”
Itu pertanyaan yang bagus. Clete tidak punya jawaban.
Meskipun begitu, ia merasa sulit untuk mundur. Kata
mengalah tidak ada dalam kamusnya.
“Kau cuma menggertak. Kau sama inginnya dengan
aku untuk mengembalikan Vanessa. Dengan atau tanpa
intervensiku, kau akan menyingkirkan FBI dan siapa pun
untuk menyerbu kastil dan menyelamatkan dia.”
“Mungkin dulu begitu. Sekarang tidak lagi.”
“Punya wanita lain, heh? Barrie Travis?”
Clete tidak mengharap Bondurant akan memakan
umpannya, dan memang tidak. “Dalam banyak hal,
Vanessa wanita yang menarik. Tapi dia egois.”
“Dengar,” tukas Clete seraya menggoyang-goyangkan
telunjuknya di depan hidung Bondurant. “Aku tidak suka
kau atau siapa pun mengkritik anakku.”
Tanpa mempedulikannya Bondurant melanjutkan,
“Sejak dini dia sudah mempelajari cara untuk menyelamatkan
dirinya sendiri, dan dia punya guru yang sangat
andal, kau. Vanessa selalu mendahulukan dirinya, dan
tidak pernah lebih memprioritaskan dirinya daripada
waktu aku mengundurkan diri dari jabatanku di Gedung
Putih. Dia membiarkan aku menanggung semua beban
gosip tentang kami, tidak pernah mengucapkan sepatah
kata pun untuk membelaku, tidak pemah menengahi
perselisihanku dengan David demi diriku.”
“Jadi mengapa sekarang kau menawarkan diri untuk
menolongnya?”
“Patriotisme.”
Clete mendengus. “Lebih tepat membesar-besarkan
diri sendiri. Kau Pahlawan. Menyelematkan Ibu Negara
446
merupakan tantangan yang tak tertahankan.”
“Sama sekali tidak seromantis itu, Clete. Bayi tidak
bersalah meninggal. Bukankah pembunuhnya harus
dihukum? Aku juga ingin mengakhiri hubunganku
dengan kepresidenan David. Aku ingin menyudahinya
untuk selamanya, dan itu tidak bakal terjadi kalau
pemerintahannya tidak terjungkal dan semua boroknya
terbongkar. Dan walalupun aku tidak lagi menyayangi
Vanessa, dia jelas tidak boleh mati seperti itu.”
Santo Gray,” kata Clete sinis.
Baondurant berdiri, menandakan ia telah melakukan
semua negosiasi yang ingin dilakukannya. Ia tampak
amat kuat waktu menjulang di samping meja. Clete
merasa tidak berarti. Kekuatan pria yang lebih muda itu
membuatnya merasa tua, loyo dan lemah.
“Apa rencananya, Clete? Apakah aku akan melakukan
operasi penyelamatan?”
“Nanti kupikirkan.”
“Tidak cukup bagus. Telepon Yancey, sekarang, kalau
tidak aku akan menghilang, dan hidup Vanessa berada di
tanganmu sendiri. Kau licik dan cukup cerdas, mungkin
kau mampu mengalahkan David dan bertahan hidup.
Vanessa tidak seperti itu.”
Clete tidak pernah menyerah. Tidak pernah. Tapi ia
tahu dari masa-masa ia bermain football di Ole Miss,
kapan saatnya untuk mundur dan menyepak bola.”
Ketika ia kembali ke mobilnya dari makam, dua pria
berjalan bersamanya, mengapitnya. “Miss Travis?”
“Ya?”
Mereka menunjukkan lencana FBI mereka. “Kami
ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda.”
447
“Sekarang?” Barrie bertanya dengan nada terkejut.
“Seandainya kalian tidak menyadarinya, ini kan acara
pemakaman?”
“Kami menyadarinya,” kata yang satu. Kami ikut
berduka mengenai Mr Fripp. Kami mengalami kesulitan
menemukan Anda, dan menduga Anda ada di sini.”
“Tindakan tidak berperasaan kalian tidak bisa
dimaafkan,” Barrie berkata.
Sangat sedikit yang menghadiri upacara pemakaman
Howie Fripp yang singkat dan sekuler, pertanda betapa
menyedihkannya hidupnya. Hampir semua pelayat adalah
pegawai WVUE, sebagian besar memanfaatkan
pemakaman itu sebagai alasan untuk memperpanjang
istirahat makan siang satu jam lebih lama. Dengan
berkelompok-kelompok dan asyik mengobrol, mereka
cepat-cepat kembali ke mobil, selesai melakukan tanggung
jawab moral mereka, dan sekarang bebas bersuka ria
selama jam kerja.
Barrie sungguh-sungguh menitikkan air mata. Ia
merasa sedih, bukan cuma karena cara meninggal Howie
yang mengerikan, namun juga karena takkan ada
ganjaran untuk kejahatan itu dan karena tidak ada yang
benar-benar peduli.
Salah seorang agen membuyarkan lamunannya.
“Biarpun ini bukan saat yang tepat, Miss Travis, kami
tetap ingin bicara dengan Anda.”
“Karena kalian sudah mengepungku, aku bisa
bagaimana lagi? Tapi kalian keberatan kalau kita pindah
ke tempat yang lebih jauh sedikit dari makam?”
“Tidak.”
Ketika mereka tiba di mobilnya ia mengusap matanya
448
untuk terakhir kali dan berbalik untuk menghadapi
mereka. “Aku sudah memberitahu polisi semua yang
kuketahui tentang pembunuhan Mr. Fripp. Mereka
menanyai aku di lokasi kejadian.”
“Bukan itu alasan kami di sini” ujar salah satu agen.
“Bukan?” Barrie berkata, pura-pura kaget dan bingung.
“Kalau begitu karena apa?”
“Gray Bondurant.”
“Oh, dia.” kata Barrie datar. Dengan bersedekap, ia
menampilkan sikap bosan namun tidak suka. “Apa yang
kalian ingin ketahui tentang mantan pahlawan nasional
kita itu?”
“Sebagai permulaan, di mana dia?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak ingin tahu. Dia menyeramkan.”
Para agen berpandang-pandangan. Salah satu berkata,
“Kami mengetahui, Miss Travis, bahwa Anda berdua
menghabiskan sangat banyak waktu bersama-sama.”
“Benar. Dulu, tepatnya. Sampai kemarin, waktu dia
berubah jadi salah satu buronan Amerika. Seolah
masalahku belum cukup banyak,” Barrie berkata,
membelalakkan mata “Mula-mula rumahku meledak dan
anjingku tewas. Lalu aku bertengkar habis-habisan
dengan Senator Armbruster. Insiden itu membuatku
dipecat dari pekerjaanku.
“Setelah itu aku terlibat dalam... yah, kalian tahulah,”
ia berkata dengan gaya sok sopan. “Aku terlibat dengan
laki-laki itu. Tapi wanita mana yang tidak tertarik
padanya? Demi Tuhan, dia kan pahlawan nasional. Tipe
kuat dan tak banyak omong. Sangat seksi. Dan dia
memiliki mata yang begitu...” Barrie bergidik, pura-pura
449
senang. “Yah, begitulah, hubungan kami lumayan lancar,
lalu kemarin fotonya muncul di koran. Bikin aku
ketakutan setengah mati. Kusuruh dia pergi dan dia
mematuhiku.” Ia menghela napas sedih. “Mestinya aku
tahu tak mungkin ada laki-laki sesempuma itu.”
“Kapan Anda terakhir bertemu dia?”
“Seperti kataku tadi, kemarin.”
“Pukul berapa?”
“Hmm, sebentar. Tengah hari.”
“Bisa Anda lebih spesifik?”
“Tidak. Sampai kulihat warta berita itu, aku tidak
mempedulikan waktu.”
“Apa yang tengah Anda lakukan saat itu?”
Ia memandang pria itu dengan penuh arti.
“Begitu. Anda sedang... sibuk?”
Barrie terkikik. “Begitulah.”
“Di mana terjadinya?”
“Sebuah motel. Aku tidak ingat namanya.”
“Lokasi?”
“Bagus. Tempat itu di tepi jalan raya, aku ingat itu.
Aku tidak memperhatikan ke mana kami pergi.”
“Anda tidak tahu di bagian kota yang mana Anda
berada?”
Sambil menunduk Barrie menggigit bibir, tampak
jengah. “Aku, uh... Ya Tuhan, ini sangat memalukan.
Begini... Gray, Mr. Bondurant, mengemudi. Dan aku...
Oh, ya ampun! Bolehkah kukatakan bahwa dalam
perjalanan ke motel ini aku tidak duduk tegak di kursiku
dan bahwa kepalaku ada di bawah dasbor?”
Para agen bertukar pandang lagi. Alis salah seorang
dan mereka menjungkit hingga ke dekat garis rambutnya.
450
“Aku bahkan tidak yakin motel itu punya nama,”
Barrie melanjutkan. “Dia memilih tempat itu begitu saja.
Di antara kita saja, tempat itu agak jorok. Kalian tahu
bagaimana tempat seperti itu. Kamar-kamar disewa per
jam. Seprai bersih tak selalu tersedia. Selain jadi buronan
untuk ditanyai FBI... Begitulah, Bondurant itu pelit. Pada
kencan pertama kami, dia membawaku ke motel jamjaman.
Keterlaluan, kan? Kalau saja dia tidak sedahsyat
itu di ranjang, dan tidak punya mata birunya itu, aku pasti
langsung mengakhiri hubungan kami saat itu juga.”
Salah seorang agen berdehem. “Uh, apakah Mr.
Bondurant pernah membicarakan Spencer Martin dengan
Anda?”
“Tentu. Selalu. Mereka sahabat karib. Mereka berdua
dan sang Presiden seperti ini,” Barrie berkata, menyilangkan
dan mengaitkan dua jari telunjuk.
“Apakah dia mengatakan sesuatu tentang kepergian
Mr. Martin ke Wyoming untuk menemuinya?”
“Ya. Malah, kupikir aku berada di sana satu atau dua
hari lebih dulu daripada Mr. Martin. Aku pergi ke sana,
merencanakan untak membuat liputan tentang Bondurant,
semacam kisah tentang kegiatannya sekarang. Kami
langsung terbakar. Ia mengikutiku kembali ke Washington.
Tapi sebelum aku sempat membuat liputan tentang
dia, aku dipecat. Sekarang kuanggap dia mungkin lebih
berbahaya daripada yang kupikir.”
“Anda pikir dia berbahaya?”
Barrie tersenyum manis pada agen itu. “Bagi libidoku.”
“Oh.”
“Pernahkah dia menunjukkan perasaan tidak suka pada
Mr. Martin atau Presiden?”
451
“Tidak. Malahan, baru-baru ini dia menemui Presiden.”
Barrie mengedipkan sebelah mata. “Tapi aku yakin kalian
sudah mengetahuinya, kan?”
“Anda belum mendengar kabar dari Bondurant sejak
kemarin siang?”
“Ya. Maaf. Boleh aku pergi sekarang? Aku tidak suka
pemakaman.” Ia mengulurkan tangan ke pintu mobil.
“Lagi pula, memang tidak ada lagi yang bisa kuberitahukan
pada kalian. Terlibat dengan Mr. Bondurant, biarpun
cuma sebentar, adalah salah satu tindakan buruk yang
kulakukan akhir-akhir ini. Aku yakin kalian tahu
beberapa kesalahanku di masa lalu. Yang satu ini ingin
kulupakan. Makin cepat makin bagus.”
“Kalau Anda mendapat kabar dari dia...”
Tak akan. Waktu kusuruh dia pergi, dia langsung
mengamuk. Tahu kan, mengomel, ‘Berani-beraninya kau
mencampakkan aku, aku makhluk ciptaan Tuhan paling
hebat’.”
“Jika dia menghubungi Anda, tolong beritahu kami.”
“Tentu.” Barrie mengambil kartu nama yang disodorkan
agen itu dan memasukkannya ke tas. “Aku tidak mau
terlibat dalam kesulitan gara-gara dia. Jika dia menghubungiku,
aku pasti akan memberitahu kalian.”
Mereka mengucapkan terima kasih padanya karena
telah meluangkan waktu dan berjalan kembali ke mobil.
Barrie mengamati mereka pergi, tidak merasa benci pada
kedua pria itu. Mereka orang baik-baik. Mereka
melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan para
atasan mereka Mereka bertugas sesuai peraturan.
Tidak begitu dengan regu pengintai yang berada di
blok kediaman Daily. Mereka belum menyerbu rumah
452
untuk mencari Gray, yang menegaskan kecurigaan
mereka bahwa “agen-agen” itu tergabung dalam tentara
pribadi Merritt di dalam FBI, dikomandoi oleh Spence
Martin, yang tidak ingin Gray ditemukan dan ditanyai.
Setiap saat, Presiden atau asistennya dapat memerintahkan
orang-orang itu untuk masuk dan memusnahkan
gerombolan penyabot merepotkan yang tinggal di rumah
Daily. Kenapa sampai sekarang belum?
Itulah pertanyaan yang menghantui mereka semua.
Gray tampaknya berpendapat mereka belum bergerak
karena punya rencana lebih besar, suatu plot lebih luas
yang akan membuat ia, Barrie, dan Daily terjebak sendiri.
Ia takut pendapat laki-laki itu benar.
453
Bab Tiga Puluh Delapan
DAILY memberi tanda pada hippie yang menjual mawar
di perempatan ramai itu. Tak sampai lima detik pria itu
sudah terbaring di lantai bangku belakang, dan Daily
melaju melewati lampu hijau.
“Bagus, Daily,” kata Gray, membuka bandana dan
rambut palsunya.
“Mereka tiga mobil di belakang kita dan ada bus di
antara kalian.”
“Aku makin pandai melakukam ini,” jawab Daily dari
balik kemudi.
“Bagaimana bisnis bunganya?”
“Payah. Aku harus mengakhirinya. Siapa itu?” ia
bertanya, menunjuk penumpang Daily.
“Kunamai dia Dolly.”
Dolly adalah boneka plastik bermata lebar. Ia
mengenakan jaket Barrie dan rambut palsu pirang yang
lebih bergumpal-gumpal daripada kepang hippie Gray.
Kait bahu dan sabuk pengaman membuatnya tak
bergeming di kursi penumpang.
“Dia berperan jadi aku,” ujar Barrie, yang meringkuk
di pojok lain bangku belakang.
Tanpa mengangkat kepala terlalu tinggi, Gray menga454
mati boneka itu dari dekat. “Cukup mirip.”
“Aku senang kau bilang begitu,” seru Barrie, tak
terpengaruh. “Sekarang aku jadi tidak begitu merasa
bersalah lagi karena sudah menjelek-jelekkan kau pada
FBI.” la menceritakan padanya bahwa ia ditanyai setelah
pemakaman Howie.
“Itu sebelum Armbruster mengakui kesalahannya dan
kau dikeluarkan dari daftar buronan. Apa pun yang
kaukatakan padanya berhasil. Dia muncul di berbagai
warta berita malam ini, menyatakan ada kekacauan
komunikasi total. Dia mengatakan secara tidak langsung
bahwa kesalanan terletak di pihak staf kantornya, yang
efisiensinya sekarang tengah dievaluasi ulang. Melalui
sang senator, Merritt meyakinkan rakyat bahwa Spencer
Martin sedang menangani ‘masalah pribadi yang sensitif’.”
“Yang meliputi segalanya, mulai dari sakit wasir
sampai pengkhianatan tingkat tinggi.”
“Betul. Dan bahwa dia akan melanjutkan tugastugasnya
di Gedung Putih setelah masalah itu diselesaikan.
Clete mendapat kritik lunak dari kolega-koleganya,
namun dia dapat menerimanya dengan baik.”
“Ceritakan padanya tentang telepon yang kauterima
dari Kehakiman.” Sesuai rencana, Daily sejak tadi
mengemudi tanpa tujuan, berusaha melepaskan diri dari
pengintai mereka, namun ia juga mengikuti percakapan
mereka.
“Dari nara sumbermu?”
Barrie mengangguk. “Aku dihubungi lewat penyeranta
dan menelepon ke sana, namun bukannya memberikan
inforrnasi yang sudah kuketahui, yaitu bahwa pencarian
atas dirimu telah dibatalkan, nara sumberku malah
455
mencari informasi.”
“Informasi apa?”
“Misalnya dengan pertanyaan, ‘Ada apa sih?’ Garagara
kekacauan dengan Armbruster dan Yancey dan divisi
kriminal FBI ini, semua orang agak sensitif siang tadi.
Terus terang, aku jadi senang.” Barrie tersenyum lebar
pada Gray. “Nah, Sayang, sekian ceritaku. Bagaimana
dengan kau?”
“Aku menemukan Tabor House.” Untuk berjaga-jaga
seandainya Gray berhasil menemukan lokasi rumah saat
itu, Barrie dan Daily sudah bersiap-siap.
“Menurutmu kau sudah menghilangkan buntut kita,
Daily?”
“Kira-kira lima menit yang lalu.”
“Tapi mungkin ada alat pelacak elektronis di mobil
ini,” kata Gray.
“Aku belum menemukan pemancar, namun bukan
berarti mobil ini bersih. Kita harus melakukan pertukaran
ini dengan cepat.”
Mengikuti petunjuk Gray, Daily melaju ke garasi
parkir bertingkat. Di tingkat dua Gray sudah menyiapkan
mobil lain. Barrie dan Gray turun. Daily ikut keluar,
membiarkan mesin mobil tetap menyala. “Berhati-hatilah
kalian,” ia berkata pada mereka.
“Aku lebih mengkhawatirkan kau daripada kami,” kata
Barrie padanya. “Kau yakin tangkimu berisi cukup
banyak oksigen?”
“Ya.”
“Pergilah berputar-putar, makan malam, bersikap
sewajar mungkin,” Gray memberitahunya. “Sibukkan
mereka selama beberapa jam, tapi jangan ambil risiko.
456
Jangan ambil risiko sedikit pun.”
“Aku tahu, aku tahu,” kata Daily kasar . “Sudah
puluhan kali kita membahas masalah ini. Aku tahu apa
yang harus kulakukan.”
“Kau akan baik-baik saja,” kata Gray padanya. “Ayo,
Barrie.”
Barrie berlama-lama, berharap Daily tidak tampak
begitu rapuh. Manuver-manuver kontra-intelijen dan alat
bantu pernapasan tampak sangat tidak sesuai. “Apa pun
yang terjadi, kami akan kembali sebelum fajar. Aku akan
menemuimu sesegera mungkin. Berjanjilah kau akan
berhati-hati.”
“Aku akan berhati-hati.”
“Dan kau tidak akan bersikap kasar pada Dolly.”
“Dia cewek manis. Dia tidak cerewet.”
“Dan kalau kau mulai merasa tidak enak, kau akan
pulang.”
“Aku janji.”
“Kau berjanji, tapi kau takkan melakukannya,” Barrie
berkata dengan perasaan makin khawatir. “Aku tahu kau
tidak akan melakukannya.”
“Barrie!” seru Gray dari bangku depan mobil lain.
“Cepatlah.”
“Pergilah, kalau tidak kau bakal mengacaukan rencana
Gray,” Daily berkata padanya.
Ia berusaha masuk kembali ke mobil, tapi Barrie
melingkarkan lengannya dan memelukuya kuat-kuat.
“Kau sahabat terbaikku, Daily,” ia berbisik. “Seumur
hidup.”
“Yeah, yeah,” tukas Daily kasar. Kali ini Barrie
membiarkannya mendorongnya menjauh, namun ia tidak
457
tertipu oleh sikap kasarnya. Daily sama enggan nya
dengan ia untuk mengacapkan selamat tinggal, hingga
membuat perasaannya tidak enak.
“Daily...”
“Semua bakal beres.” Daily masuk ke balik kemudi.
Sambil mengangguk Barrie menutup pintu mobil. Ia
berusaha menatap mata laki-laki itu, namun Daily tidak
mau memandangnya ketika ia memasukkan persneling
mobil. Barrie mundur ketika temannya itu melaju pergi.
Ia mengamati lampu belakangnya sampai menghilang di
balik kelokan tajam di ujung barisan.
“Barrie?”
“Aku datang.” la masuk ke mobil bersama Gray. Di
bangku depan di sampingnya ada tas belanja. “Apa itu?”
“Persediaan. Apa itu?” ia bertanya, menuding tas
kulitnya.
“Kamera video,” kata Barrie tanpa berpikir. “Kau
betul-betul berpendapat Daily akan baik-baik saja, atau
kau cuma mengatakan apa yang dia dan aku ingin
dengar?”
Gray mengerem mobil dan menoleh ke arahnya. “Kau
tidak harus pergi,” ia berkata. “Mungkin lebih baik jika
kau tetap bersama Daily, melindunginya, dan biarkan aku
melakukan ini sendiri.”
Keentengan sikap pria itu dalam menolak bantuan apa
pun yang bisa diberikannya membuat Barrie marah.
“Persetan kau, Bondurant.”
“Kurasa memang setanlah yang akan kita hadapi.”
Mereka melaju ke daerah hunian kelas menengah di
pinggir kota. Di sana ia memarkir mobil di tepi jalan di
458
tengah blok. “Jangan lengah,” ia berkata pada Barrie
ketika keluar dari bangku depan dan masuk ke belakang.
“Aku mau ganti.”
“Ganti apa?”
“Pakaianku.”
Ia menukar jins pudar dan kaus warna-warni gaya
hippie-nya dengan setelan kelabu-hitam, kemeja putih,
dan dasi warna gelap. “Mestinya kau memberitahu aku,”
komentar Barrie “Pakaianku tidak sepadan.”
“Apa ibumu tidak bilang lebih baik berpakaian lebih
dari ketentuan daripada kurang?”
“Mungkin. Aku tidak terlalu memperhatikan katakatanya.”
“Yah, sekarang perhatikan baik-baik,” Gray berkata,
membuka pintu mobil. “Jangan bersuara sedikit pun dan
patuhi semua perintahku.”
Sambil terus bersembunyi dalam bayangan, mereka
berjalan ke rumah di sudut jalan. Lampu-lampu menyala
di hampir setiap jendela. TV di ruang depan memancarkan
cahaya kebiruan yang menari-nari di dinding, tampak
dari kerai yang terbuka.
Di jalan masuk ada mobil dan pickup dengan trailer
terpasang di belakang. Gray memberi tanda pada Barrie
supaya menunggu di samping pagar tanaman yang
membatasi halaman rumah dari tetangga sebelah. Setelah
menyerahkan tas belanja pada Barrie, ia mendekati trailer
dari belakang. Pintunya dikunci, namun Gray dapat
membukanya dalam beberapa detik dan melambai
menyuruh Barrie maju. Barrie bergegas lari dari tempat
persembunyian ke bagian belakang trailer. Ketika mereka
berdua sudah masuk, ia menutup pintu dan menguncinya
459
lagi dari dalam.
“Silakan duduk.” la menunjuk bangku busa yang
memanjang di satu dinding. Dibukanya jasnya dan
dilipatnya di atas paha ketika duduk.
Barrie membentangkan lengan. “Apa yang kita
lakukan?”
“Menunggu.”
“Aku tidak suka jadi orang yang memberitahumu,
Kapten Marvel, tapi ini kan bukan Tabor House.”
“Pria yang tinggal di sini bekerja di sana. Aku
menemukan rumah sakit itu tadi pagi ketika petugas jaga
malam pulang. Kubuntuti dia pulang.”
“Bagaimana kau tahu malam ini dia tidak libur?”
“Aku tidak tahu.”
“Bagaimana kau tahu ini akan berhasil?”
“Aku tidak tahu.”
“Bagaimana kalau tidak berhasil?”
“Akan kucoba usaha lain. Sekarang, bisa kau berhenti
bertanya? Nanti ada yang mendengar kita di dalam sini.
Duduk.”
Barrie duduk dan tenggelam dalam kesunyian yang
terasa muram. Tak lama kemudian bangku busa itu tidak
lagi terasa berbusa. Setelah sekitar satu jam ia berkata,
“Jadi pasukan komando tidak sehebat yang dikatakan
orang. Membosankan.”
“Sst.” Gray mengangkat tangan, memberi tanda
supaya Barrie diam.
Dari balik dinding trailer ia mendengar bunyi yang
kedengaran seperti suara pintu kasa dibanting. Lalu ia
mendengar dua suara berbeda, suara laki-laki dan
perempuan. “Hati-hati mengemudi,” kata si wanita.
460
“Baik.”
“Kau kerja dobel?”
“Tidak. Aku pulang sekitar jam delapan.”
“Akan kabuatkan sarapan untukmu.”Suara pria itu
makin keras ketika ia makin mendekati pickup. “Selamat
tidur.”
Mereka mendengar suara langkah kakinya di beton,
kemudian bunyi klik ketika ia membuka pintu pengemudi.
Trailer bergoyang sedikit ketika ia masuk. Gray melihat
Barrie akan bicara dan menempelkan telunjuk di bibir.
Mesin mobil terbatuk-batuk beberapa kali, lalu
menyala. Mereka merasakan entakan pelan waktu rem
tangan ditarik. Begitu mereka meluncur, musik country
segera menggelegar dari pengeras suara truk yang
dimodifkasi.
“Untung ada musik,” kata Gray. “Sekarang kita bisa
bicara dengan bebas tanpa kedengaran.”
“Dia bekerja di Tabor House?”
“Melihat overall yang dipakainya, kukira dia di bagian
teknik atau perawatan gedung.”
“Bagaimana tempatnya?”
“Rumah sakit itu? Rumah besar yang diubah. Gaya
Georgian. Halaman luas dan terawat yang dikelilingi
dinding tinggi. Sangat terisolir. Letaknya paling tidak
sepuluh mil dari jalan raya. Kau harus mencarinya benarbenar
kalau ingin menemukannya. Ada jalan masuk
dengan pintu gerbang dan penjaga bersenjata. Satu jalan
masuk. Jalan yang sama untuk keluar.”
“Dia akan membawa kita masuk,” kata Barrie, mulai
memahami rencana Gray.
“Tepat.”
461
“Bagaimana kalau penjaga memeriksa trailer?”
“Ada stiker di kaca mobil semua pegawai.”
“Pintar juga.”
“Katakan begitu setelah kita berhasil keluar dari sana
dengan selamat.”
Pikiran itu begitu membuat galau hingga Barrie
mengganti pokok pembicaraan. “Apa yang terjadi dengan
Armbruster?” Setelah Gray menceritakan percakapan
mereka, Barrie bertanya, “Kau percaya padanya?”
“Aku bisa berbohong lebih baik. Tapi sejauh ini dia
menepati perkataannya. Aku akan berusaha semampuku
untuk melakukan hal yang sama.”
“Aku tak habis pikir mereka mempercayai omongannya
tentang stafnya yang tidak kompeten.”
“Clete bisa memelintir lengan siapa pun.”
“Biarpun begitu...”
“Dan kalau memelintir tidak berhasil, dia mematahkannya.
Dia bicara pada orang yang tepat dan menyampaikan
keinginannya, itu saja. Dia mau anaknya kembali, apa
pun yang terjadi. Jadi dia bersedia berunding dengan
setan—yaitu aku—kalau aku dapat menyelamatkan
nyawa Vanessa.”
Motivasi Gray adalah cinta. Barrie tidak membiarkan
dirinya terlalu memikirkan hal itu. Ia juga tidak
membiarkan dirinya memikirkan betapa dalam perasaan
terima kasih Vanessa, dan seperti apa bentuknya nanti,
setelah semua ini selesai.
Skenario terbaik: Vanessa akan bertahan. Pernikahannya
dengan David Merritt tidak. Ia akan bebas untuk hidup
bahagia selamanya dengan sang pahlawan yang telah
menyelamatkannya dari suaminya yang pembunuh.
462
Dan Barrie akan mendapatkan keinginannya—berita
eksklusif yang sudah lama dinantikannya, yang akhirnya
akan meluncurkan kariernya dan membawanya ke tingkat
yang selama ini tak pernah dibayangkannya. Itulah yang
diinginkannya melebihi apa pun, bukan?
Kesal dengan pikiran itu, Barrie berkata dengan ketus,
“Kurasa kau tidak membawa kartu untuk mengisi waktu.”
“Kalau bosan, kau bisa ganti baju.” Ia mengangguk ke
arah tas belanja. “Itu kostummu untuk malam ini.”
Di dalam tas ada seragam perawat—celana panjang
dan tunik dari bahan poliester warna koral yang serasi—
juga sepatu putih dan jumpsuit biru laut.
Gray berkata, “Perawat-perawatnya tidak memakai
seragam yang sama, jadi kau tidak bakal kelihatan
mencolok.”Barrie menumpahkan isi tas ke lantai trailer
yang berkarpet. “Untuk siapa jumpsuit itu?”
“Untukku.”
“Bagus sekali.” Barrie bangkit dan meraih gesper ikat
pinggangnya.
“Kau tidak akan berbalik?”
“Tidak, tapi kau bisa berbalik.”
Jika Gray tidak ingin membesar-besarkan masalah, ia
pun begitu. Ia bisa bersikap setak acuh mungkin, kata
Barrie dalam hati ketika membuka sepatu dan menarik
ujung kemejanya. Untunglah trailer gelap, hanya diterangi
cahaya remang-remang dari jendela bergorden di masingmasing
sisi.
Setelah membuka gesper, ia menarik ritsleting celana
dan memerosotkannya. Setelah terlepas, ia melipamya
dan meletakkannya di dasar tas belanja. Selanjutnya ia
membuka kancing blus dan melepaskannya, hingga ia
463
hanya tinggal memakai celana dalam dan BH. Untung
saja semua serasi. Untung saja semua baru dibeli dari
Victoria’s Secret.
Tapi ia bukan gadis model pakaian dalam. Ia juga
bukan Vanessa Merritt. Barangkali suasana temaram akan
membuatnya tampak lebih bagus.
Secara bersamaan ia dan Gray menyadari bahwa
pickup itu mengurangi kecepatan. Barrie memandangnya.
Gray melihat jam tangan.
“Belum waktunya kita tiba di sana. Kenapa dia
berhenti?”
“Untuk mengisi bensin, mungkin.”
“Entahlan,” ia berkata, mengintip dari celah gorden.
“Aku tidak bisa melihat apa-apa.”
Truk itu terus mengurangi kecepatan dan kemudian
meluncur sampai berhenti. Radio bungkam ketika si
pengemudi mematikan mesin. Pintunya berderit ketika
dibuka. Mobil bergoyang ketika ia turun.
“Hei, Manis,” mereka mendengar ia berkata. “Sudah
lama menunggu?”
464
Bab Tiga Puluh Sembilan
DAILY melakukan tugasnya sebagai umpan dengan
serius.
Tak lama setelah berpisah dari Barrie dan Gray di
garasi parkir. ia melihat sedan abu-abu yang selama
beberapa blok mengikutinya dari jarak yang aman.
Sesudah berkelok-kelok menyusuri jalanan kota dengan
penuh perhitungan, Daily yakin ia kembali dibuntuti.
Mungkin Gray benar, dan mobilnya memang dipasangi
alat pelacak elektronis. Atau mungkin bangsat-bangsat itu
cuma mujur bisa menemukannya lagi. Atau mungkin
polisi rahasia Merritt bahkan lebih licin daripada yang
diketahui Gray. Itu kemungkinan yang menakutkan.
Bagaimanapun, rasanya tidak mungkin tukang-tukang
pukulnya akan membungkam laki-laki tua pengidap
emfisema di jalanan yang ramai. Daily merasa cukup
aman.
Selama satu jam pertama permainah kucing-kucingan
ini menyenangkan, namun akhirnya perasaan monoton
menyergapnya. Setelah menguap untuk ketiga kalinya
dalam lima menit, ia memindahkan gelombang radionya
ke stasiun yang memutar musik rap, hanya karena ia
sangat membenci musik itu. Jika kegaduhan yang
465
menjengkelkan itu tak mampu membuatnya terbangun
dan kesal, tak ada lagi yang bisa.
Ketika perutnya mulai keroncongan ia berbelok ke
drive-through McDonald’s dan memesan dua Big Mac
untuk dirinya dan Dolly. Anak muda yang melayaninya
melihat bahwa teman kencan Daily adalah boneka plastik,
tapi ia tidak berkomentar dan Daily tidak menjelaskan.
Lebih baik anak itu dibiarkan mengira ia tidak normal
daripada penjahat subversif.
Ia memarkir mobil di depan ruang makan dan sambil
melamum mengamati para pembeli lain datang dan pergi
sementara ia memakan burger dan kentang goreng. Ia
tidak terlalu berselera, jadi ia cuma menghabiskan
setengah makanannya. Ia berani bersumpah Dolly
memandangnya dengan tatapan menegur waktu ia
membuang sisa makanan.
Malas untuk mulai mengemudi lagi, ia duduk dengan
tangan tergeletak lemas di pangkuan dan melanjutkan
memandangi para pelanggan McDonald’s. Ia terutama
tertarik pada pasangan-pasangan yang memiliki anak
kecil. Keluarga-keluarga yang tampaknya bahagia ini
merupakan bukti nyata bahwa sesuatu yang ideal
bukanlah tak mungkin dicapai. Bukannya merasa senang
dengan pengakuan ini, anak-anak yang tengah menikmati
Happy Meal itu justru membuat Daily merasa sangat
sedih.
Bukan untuk pertama kalinya ia mengakui bahwa ia
telah kehilangan hal-hal yang betul-betul penting dalam
hidup. Seharusnya ia dulu menikahi guru sekolah yang
mungil dan manis itu, yang begitu tergila-gila padanya.
Ia juga sama tergila-gilanya. Ia langsung mabuk
466
kepayang oleh mata cokelat muda dan sikap lembut
wanita itu pada malam pertama mereka bertemu. Senyum
manisnya mampu membuat Daily merasa bagai di langit
ketujuh.
Namun ia tidak memedulikan wanita itu dan memperlakukannya
dengan buruk; terlalu sering memilih lembur
daripada menepati kencan makan malam. Wanita itu
selalu kalah dari berita bagus yang dikejarnya. Ia tidak
ragu ketika harus memilih antara mengajaknya menonton
dan memburu petunjuk penting.
Wanita itu betul-betul baik hati, tahan menghadapinya
lebih lama daripada semestinya. Namun Daily terlalu
jauh dalam menguji kesabarannya. Wanita itu menyerah
dan menikahi orang lain, pria yang lebih stabil dan
memperhatikan, yang tidak begitu penuh dedikasi pada
pekerjaan dan kemerdekaannya.
Lucu kalau dipikirkan bahwa kemerdekaan di masa
muda berubah menjadi kesepian di masa tua.
Akhir-akhir ini ia makin sering memikirkan wanita itu
dan merenungkan hal-hal yang sebetulnya bisa terjadi.
Menyadari dirinya berpikir yang tidak-tidak, Daily
memarahi dirinya sendiri. Aku sudah jadi orang tua yang
menyedihkan.
Kesal dengan renungannya yang cengeng, ia menyalakan
mobil dan mundur dari tempat parkir. Sedan itu
berada di Taco Bell di seberang jalan. Mobil itu
mengikutinya. Ia mengambil Jalan 66 untuk keluar kota
sampai jalan itu bersimpangan dengan 495. Kemudian ia
berbalik, melaju ke timur laut. Senang rasanya melihat di
spion bagaimana sedan itu berusaha untuk tidak kehilangan
jejaknya di antara mobil-mobil lain, walaupun ia tidak
467
naif untuk mengira cuma sedan abu-abu itu yang
membuntutinya.
Ia memasuki D.C. lagi lewat Chevy Chase, Maryland,
dan meluncur kembali ke tengah kota. Ia melaju dengan
kecepatan rendah di Wisconsin Avenue, tempat orangorang
bergerombol menjelajahi kehidupan malam
Georgetown, bersaing untuk memperoleh meja di bar dan
restoran yamg penuh sesak.
Tanpa tujuan ia terus mengemudi melintasi kota
sampai tiba lagi di daerah pinggiran. Ia sudah bosan,
mengantuk, dan capek akibat terlalu lama duduk di
belakang setir.
Pikirannya melayang kembali ke guru sekolah itu. la
tolol sekali karena membiarkannya pergi. Wanita itu pasti
akan jadi istri yang penyayang. Mereka bisa punya anakanak,
bahkan cucu sekarang. Tahun-tahun takkan terasa
begitu sunyi, dan ia tidak akan tergantung sepenahnya
pada Barrie untuk menemaninya. Barrie anak yang baik,
dan ia menyayanginya seperti darah dagingnya sendiri,
namun Barrie bukanlah pendamping seumur hidup. Ada
bedanya.
Mungkin, jika dulu ia menikahi wanita cantik itu, ia
takkan begitu takut mati sekarang. “Hidupnya bakal
sengsara,” Daily bergumam. “Harus mengurusi orang tua
yang tersengal-sengal macam aku ini.”
Suaranya sendiri menyentakkannya dari lamunan. Di
mana ia? Tanpa sadar ia telah melaju ke kompleks
perindustrian dengan gudang berderet-deret, yang satu
nyaris tidak bisa dibedakan dari yang lainnya. Semua
tutup pada jam seperti ini. Di dok pemuatan barang, truktruk
kosong menganga bagai raksasa dengan mulut
468
terbuka lebar.
Mobil Daily, dan mobil yang mengikutinya, merupakan
satu-satunya kendaraan di jalanan yang sepi ini. Makin
kehilangan arah setiap kali berbelok, ia meluncur makin
dalam memasuki labirin beton itu sampai akhirnya masuk
ke jalanan yang ternyata buntu.
“Sialan!” Ia melirik cepat kaca spion. Sedan itu persis
di belakangnya.
Bertindak berdasarkan insting, Daily berputar tajam
dan akan melewati sedan ketika pengemudinya membanting
setir ke kiri. Daily terpaksa menginjak pedal rem kuatkuat
supaya tidak menabrak bagian samping sedan.
Akan lebih baik jika ia menabraknya. Ia mungkin
punya kesempatan untuk melarikan diri dari lokasi
kecelakaan. Ia takut tak ada jalan untuk melarikan diri
dari tiga laki-laki marah yang keluar dari mobil dan
mendatanginya.
“Kau terlambat sepuluh menit.” Rengekan wanita itu
terdengar dari balik dinding trailer.
“Sial!” desis Gray.
“Ada apa?”
“Aku memilih Romeo dengan kamar berjalan. Cepat!”
Ia melemparkan sepatu, pakaian, tas belanja, dan tas
Barrie ke tempat tidur yang mencuat dan menjulang
melewati pickup. “Naik ke atas sana. Cepat.”
“Tidak mau. Kelihatan seperti peti mati.”
Tidak punya waktu umtuk berdebat, disambarnya
salah satu pergelangan kaki Barrie yang telanjang.
Dengan tangan yang lain menyangga bokongnya,
dijunjungnya Barrie ke tempat tidur. Di sana cuma ada
469
ruang tak sampai tiga puluh senti di antara kasur dan
langit-langit. Kalau sedang tidak digunakan, tempat tidur
itu berfungsi sebagai ruang penyimpanan untuk kasur dan
bantal ekstra. Gray mendorong dirinya ke atas dan
merangkak masuk di antara bantal-bantal, selimutselimut,
dan kantong-kantong tidur.
“Masuklah lebih dalam,” ia berkata pada Barrie, yang,
untuk pertama kalinya, mematuhmya tanpa banyak
tanya. Barrie meringkuk serapat mungkin di salah satu
sudut.
Pasangan itu bisa terdengar sedang mendekati bagian
belakang trailer.
“Aku mulai capek dengan perbuatan tolol ini,” keluh si
wanita.
“Kenapa kita tidak ke motel saja sih?”
“Karena ini lebih pribadi.”
“Dan gratis.”
“Ini bukan masalah uang. Betul, Sayang. Motel punya
catatan. Kau tidak mau istriku tahu tentang kita, kan?”
Selama pertengkaran itu Gray sibuk mengatur posisi
kantong-kantong tidur yang digulung dan bantal-bantal
di ujung tempat tidur. Jika mujur, semua itu akan
menutupi mereka ketika pasangan itu memasuki bagian
belakang trailer. Lalu ia mendesak Barrie makin ke
pojok. Dengan hanya beberapa detik tersisa, ia menarik
selimut menutupi sekujur tubuh mereka, dari kepala
sampai kaki.
“Kalau mereka bergabung dengan kita di atas sini,
tempat ini bakal penuh sesak,” Barrie berbisik.
“Kau punya ide yang lebih baik?”
Kalaupun punya, Barrie tak sempat mengatakannya.
470
Pintu belakang terbuka dan lampu langit-langit menyala
Trailer bergoyang karena berat badan si pria ketika ia
melangkah masuk. “Ini dia. Manis.” Ia bersiul pelan.
“Kau tampak menyala malam ini. Itu blus baru?”
“Suka?”
“Sangat suka. Seberapa cepat kita bisa meloloskan kau
dari situ?”
“Kau ganas sekali!”
Pintu ditutup dan lampu mati. Suara tawa. Desah
napas. Suara orang berciuman dengan panas. Desir
pakaian dilepaskan. Bunyi ritsleting dibuka. Erangan
pelan.
“Kau besar sekali,” kata si wanita.
“Sebaiknya kau mempercayainya, Sayang. Lebih
erat.”
Desah napas dan bunyi orang berciuman lagi.
Kemudian, “Aku sudah tidak tahan,” si pria tersengalsengal.
“Ayo, kita naik...”
“Haruskah kita pindah ke atas?” rengek pasangannya
dengan suara sengau. “Aku tidak suka di sana. Terakhir
kali di situ, kepalaku terantuk langit-langit.”
“Oke, oke, pokoknya..”
“Tunggu!” jerit wanita itu. “Jangan dirobek. Akan
kubuka kalau kau mau menunggu setengah detik saja.”
Jelas laki-laki malang itu sudah tak bisa mengontrol
diri lagi. Dari bawah terdengar suara tubuh beradu
dengan dinding atau lantai. Gray tak bisa memastikan. Ia
tak ingin memastikan, karena mengetahui dengan pasti
apa yang sedang berlangsumg di bawah akan menguatkan
kelebatan bayang-bayang yang ia yakin tak sanggup
dihadapinya saat ini. Ia berusaha memikirkan sesuatu, apa
471
saja untuk mengaburkan suara orang yang sedang
bercinta itu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berharap
ia dapat menutup telinganya rapat-rapat juga, berharap ia
mampu menahan semua reaksi otomatisnya, satu reaksi,
khususnya.
Barrie berbaring tanpa bergerak, nyaris tak bernapas,
sama tegangnya dengan Gray. Gray tahu karena ia
menyadari sikap diam wanita itu, tidak adanya suara
napasnya, dan ketegangannya. Ia menyadari segala hal
pada diri Barrie, mulai dari aroma samponya sampai
desakan jari-jari kakinya yang menempel di lututnya
sendiri.
Apa yang sedang berlangsung di lantai trailer
merupakan adegan film biru, jenis film yang ditonton
laki-laki beramai-ramai sambil menikmati rokok. Itu
merupakan adegan yang digambarkan dalam bahasa
grafis di majalah-majalah porno kelas berat. Itu merupakan
fantasi tanpa nilai artistik. Itu bahkan bukan adegan erotis
yang anggun. Adegan itu liar, primitif, dan...
Persetan. Tubuhnya mendidih seperti magma gunung
berapi.Ia menyadari dirinya terangsang lebih karena
berbaring begitu rapat dengan Barrie daripada karena apa
yang terjadi di bawah sana. Barrie setengah telanjang;
sedang ia berpakaian lengkap. Itu saja sudah membuatnya
terangsang. Bahaya ketahuan sama menggairahkannya
dengan ketika ia berusia enam tahun, bersembunyi
dengan putri pendeta yang baru berumur delapan tahun
untuk bermain Adam dan Hawa di kebun peach ayah
gadis itu. Dan merupakan akal muslihat Alam terhadap
diri Manusia, bahwa makin sulit ia menahan kebangkitan
gairahnya, makin terangsang ia.
472
Laki-laki di bawah itu mendengus-dengus seperti
keledai. Sesaat kemudian ia berkata dengan suara serak,
“Luar biasakah bagimu, Sayang?”
“Tidak, dan terkutuklah aku kalau pura-pura begitu.
“Jangan khawatir, akan kupuaskan kau. Aku masih
punya banyak kondom dan waktu 45 menit sebelum
harus berangkat kerja.”
Empat puluh lima menit!
Gray tidak akan sanggup menahan diri selama itu.
Bagaimana dengan Barrie? Apakah ini ada efeknya
baginya? Ia bisa merasakan napas wanita itu di lehernya.
Cepat dan panas. Kesal atau bergairah?
Seperti dapat mernbaca pikirannya, Barrie bergerak
sedikit. Sangat sedikit. Lututnya, yang tertekuk hampir
sampai dada, mulai lurus, namun begitu pelan hingga
mula-mula Gray mengira ia cuma mengkhayalkannya.
Akhirnya lutut Barrie sejajar dengan gesper ikat
pinggangnya, lalu bergerak melewatinya. Gray menahan
napas ketika lutut Barrie dengan sangat pelan bergerak
hanya seinci demi seinci, melalui kelaki-lakiannya yang
menonjol. Lalu tulang kering wanita itu menyusuri
pahanya, melewati lutut, sampai akhirnya kaki Barrie
sejajar dengan kakinya dan mereka berbaring dengan
perut saling menempel, lelaki dan perempuan.
Barrie memiringkan kepalanya mendongak sedikit.
Lalu sedikit lagi, Itu tak mungkin cuma khayalan Gray
karena ia tak bisa merasakan napas wanita itu di lehernya
lagi, melainkan di bibir. Dan, meskipun di balik selimut
gelap, ia tahu Barrie memandanginya, memandangi
mulutnya.
Kau tolol kalau melakukannya, ia berpikir sepersekian
473
detik sebelum menundukkan kepala mendekati kepala
Barrie dan menciumnya.
Bibir wanita itu membuka di bawahnya, hanya sedikit,
namun cukup untuk membuat gairahnya mendidih.
Jangan lakukan ini, Bondurant.
Namun baru saja Gray memikirkan kata-kata itu,
lidahnya sudah bercinta dengan mulut Barrie, mulutnya
yang manis, halus, dan lembut. Tanpa suara tangannya
menyusup menyusuri punggung Barrie sampau ia
menggenggam bokong wanita itu, dan dengan mantap
menekan bagian tengah tubuh wanita itu ke bagian tengah
tubuhnya. Hanya selembar sutra memisahkannya dari
celananya yang menggelembung . Tanpa gerakan
berlebihan, Barrie menggesekkan tubuhnya ke situ.
Suara parau, lebih merupakan getaran daripada bunyi
sungguhan, terdengar dari tenggorokan Gray. Barrie
menegang. Gray menegang. Ditempelkannya pipinya ke
pipi wanita itu dan berusaha bernapas tanpa suara,
meskipun rasanya nyaris tak mungkin untuk melakukannya
karena jantungnya berdentam-dentam.
Tapi mereka belum kedengaran dan ketahuan, sebab
pasangan di bawah asyik melakukan pemanasan dengan
saling merayu, diselingi cekikikan melengking si wanita.
Seandainya mereka menunjukkan lokasi tubuh Jimmy
Hoffa sekalipun, Gray sama sekali tak peduli.
Ia memusatkan perhatian untuk mencium Barrie,
mulut ke mulut, penuh gairah dan damba. Ia tak ingat
sudah berapa kali ia menciumnya, berapa kali lidahnya
menjelajahi mulut wanita itu. Ia tak pernah memutuskan
kontak dengan bibirnya, bahkan juga ketika mereka harus
berhenti sejenak untuk bernapas supaya tidak kehabisan
474
udara. Tapi saat itu pun,Barrie mendongakkan kepala dan
ujung lidalmya bermain-main dengan bibir atas Gray. Ia
membiarkannya, memperbolehkan Barrie bermain, menggada,
dan merayunya sampai ia tak tahan lagi.
Ia menekan lidahnya jauh ke dalam mulut Barrie. Ia
memeluknya makin erat, mengatur posisi tubuhnya
hingga tepat berada di lekuk di antara kedua paha Barrie.
Dan diam di sana. Terus di sana. Bercinta dengannya
dalam khayalan. Melayang bagai ke langit ketujuh.
Itulah hubungan seks paling lama, paling intens, paling
intim, paling memuaskan, dan paling bikin frustrasi yang
pernah dialaminya. Karenanya ia ingin pengalaman itu
berakhir dengan klimaks yang dahsyat, dam terus
berlanjut untuk selamanya.
Namun klimaksnya tidak tergantung pada dirinya, atau
pada Barrie, melainkan pada dua orang asing itu.
Setelah pintu trailer dibuka dan lampu menyala,
barulah Gray tersentak sadar. Kemudian pintu ditutup dan
dikunci dari luar. Pasangan itu berdiri persis di balik
pintu, merencanakan pertemuan mereka berikutnya. Si
wanita memenangkan perdebatan. Pria itu dengan
menggerutu setuju untuk bertemu dengannya di motel.
Barrie dan Gray berbaring diam, penguping gelap
perpisahan menyedihkan kedua kekasih gelap itu.
Akhirnya jeda berakhir ketika si pria naik ke pickup dan
melaju pergi.
Begitu mereka be rgerak dan radio menggelegar
kembali, Gray menyentakkan selimut dari atas kepala
mereka. Ia tidak mau memandang Barrie. Karena
sekarang kejadian itu—apa pun kejadian itu tadi— sudah
berakhir, dan ia merasa persis seperti ketika pendeta
475
memergoki putrinya dan ia di bawah pohon peach,
membandingkan dua ide terbaik Tuhan.
Ia meluncur ke lantai. “Turun dan kenakan pakaian.”
la tahu ia kedengaran kasar, tapi ia juga tahu ia tidak
dapat berbuat lain. Barrie membuatnya lupa pada semua
ilmunya. Ia tahu cara menahan siksaan musuh, mengalihkan
pikirannya dari rasa sakit fisik. Korps Marinir tidak
melatihnya bagaimana menahan godaan Barrie Travis.
Barrie berhasil turun sendiri dari tempat tidur. Garth
Brooks bernyanyi di pengeras suara tentang minum wiski
dan bir bersama teman-teman di tempat murahan. Gray
bersyukur ada suara bising itu. Suara itu membantu
mengisi keheningan canggung di antara mereka ketika
Barrie mengenakan seragam perawat. Gray kembali
mengenakan jas, lalu overall, menarik ritsletingnya, dan
mengenakan topi.
Selesai berpakaian, Barrie duduk di bangku. Gray
menyodorkan tasnya, yang diambilnya dari tempat tidur.
Dalam suasana setengah gelap, ia melihat mata wanita itu
terbuka lebar dan penuh perhatian. “Tadi untuk pertama
kalinya kau menciumku.”
“Jadi?”
“Jadi, apakah kita tidak akan membicarakannya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kita akan mencoba menculik Ibu Negara
Amerika Serikat. Kita harus memikirkan operasi itu.”
“Operasi itu? Aku wanita biasa, Gray. Bukan salah satu
tentaramu.”
“Kau yang ngotot ingin ikut. Kalau tidak suka caraku
memimpin operasi, kau boleh tinggal. Tapi aku harus
476
berkonsentrasi, jadi...”
“Satu pertanyaan? Kumohon?”
“Apa?”
“Luar biasakah tadi bagimu, Sayang?”
Gray berusaha tidak tersenyum, namun gagal. Ia
bahkan tertawa. “Tutup mulut, Barrie.”
“Sudah kuduga.” Lalu ia memandang Gray sambil
tersenyum lembut, sombong, penuh arti; senyum yang
biasa dilontarkan wanita pada pria ketika tahu ia telah
membuat pria itu puas.
Sesudah itu ia dengan patuh tidak berbicara lagi. Tak
satu kata pun terucap sampai pickup mulai mengurangi
kecepatan. Pengemudi mematikan radio ketika berhenti
di gerbang penjaga.
Gray memandang Barrie dan berbisik, “Well, kita
sudah sampai.”
477
Bab Empat Puluh
DUA dari tiga pria itu mendekati jendela Daily. Yang satu
lagi berputar ke pintu penumpang. Kedua pintu dibuka
serentak. “Mr. Welsh?”
“Siapa yang ingin tahu?”
Lengannya dicengkeram dan ia ditarik dari kursi
depan. Ia mendengar bunyi dor dan desis angin, dan
menyadari bahwa Dolly sudah tamat, ditikam di dada
dengan pisau lipat.
“Hei!” teriak Daily. “Apa itu perlu? Kalian kira siapa
kalian hah?” Sulit untuk terdengar galak kalau bernapas
saja susah. Ia terdengar begitu lemah hingga ingin
menertawakan dirinya sendiri.
Tapi ketiga pria itu tidak tertawa. Mereka adalah trio
berwajah paling muram yang pernah ditemuinya.
“Kami rasa kami FBI.” Mereka menunjukkan lencana
padanya.
“Yeah, benar,” kata Daily sinis, tahu mereka kaki
tangan Spencer Martin.
“Kami mengikuti Anda sepanjang malam, Mr. Welsh,”
kata orang yang jelas merupakan pemimpin mereka.
“Anda betul-betul mengira kami bakal tertipu dengan
boneka berpenampilan tolol itu? Kami bukan idiot, Anda
478
tahu. Wanita yang tidak pernah bicara, tidak pernah
bergerak?”
“Itu pertanyaan logis atau cerita tentang kehidupan
seksmu?”
Leluconnya tidak membuat orang itu tersenyum, yang
lalu memutarnya, menempelkannya ke bumper, dan
menarik kedua tangannya ke belakang, mengikatnya
dengan kabel plastik sementara ia membacakan hakhaknya.
“Kenapa kalian menangkap aku? Aku tidak melakukan
apa-apa. Kecuali kalau punya boneka plastik merupakan
tindakan melawan hukum. Apa yang kalian inginkan
dariku?”
“Kami ingin bicara dengan Anda soal tamu-tamu
Anda.”
“Tamu-tamu apa?”
“Aku yakin dia akan mau bekerja sama kalau
kausentakkan tabung itu dari hidungnya,” salah satu agen
mengusulkan pada si pemimpin.
Daily berjuang mengusir rasa panik. Jika mereka
memutuskan dirinya dari tangki oksigen, dalam waktu
singkat ia pasti mati.
“Kurasa itu tidak perlu,” ujar si pemimpin. “Untuk saat
ini.” Lutut Daily jadi lemas saking leganya, namun katakata
selanjutnya pria itu menunjukkan penangguhan
hukuman Daily cuma sebentar. “Bos kami benar-benar
marah padamu dan teman-temanmu.”
“Aku sama sekali tak peduli. Apa Spencer Martin tidak
cukup jantan untuk mencidukku sendiri? Atau dia takut
pada Bondurant?”
“Spencer Martin?” ulang laki-laki itu, pura-pura tidak
479
tahu. “Kau tidak nonton TV? Mr. Martin sedang cuti
sebentar dari tugas-tugasnya di Gedung Putih.”
“Yeah, yeah. Dia benar-benar tolol kalau cuma kalian
orang-orang terbaik yang bisa direkrutnya untuk tentara
pribadinya yang menyebalkan.”
Ketiga pria itu berpandang-pandangan.
Daily tertawa parau. “Apa? Kaget aku tahu? Kalian
kira itu rahasia? Pikir lagi.”
Si pemimpin berkata, “Kakek tua, sudah waktunya kau
istirahat. Akan bijaksana kalau kau bekerja sama dengan
kami. Di mana Barrie Travis dan Gray Bondurant malam
ini, dan apa yang akan mereka lakukan?”
“Cium pantatku dulu, bangsat.”
Pria itu maju dengan marah, namun salah satu
temannya menahannya. “Di mana mereka, Welsh?” ia
menghardik.
Daily tahu ia berada dalam situasi yang sangat gawat.
Bahkan kalau ia memberitahu apa yang ingm mereka
ketahui pun, ia takkan melihat matahari terbit lagi Priapria
ini bukan cuma interogator, tapi juga algojo.
Tugasnya adalah menyibukkan orang-orang jahat ini,
memberi waktu bagi Gray dan Barrie untuk membebaskan
Vanessa Merritt dari Tabor House. Selama napasnya
masih ada, itulah yang akan dilakukannya. Ia memang
tidak akan bisa dibilang mati sebagai pahlawan, namun
setidaknya ia melakukan suatu kebaikan.
Pembangkangannya tidak terlalu berhasil, jadi ia
melakukan taktik lain dan pura-pura lemas. “Aku merasa
tidak enak badan...”
“Katakan pada kami di mana mereka, maka akan kami
izinkan kau beristirahat.”
480
Yeah, untuk selamanya “Di motel,” ia bergumam.
“Motel apa? Di mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Di mana?”
“Pokoknya ada kata Washington di namanya.”
“Kau tahu berapa banyak motel di sini yang punya kata
Washington di namanya?”
“Tidak,” jawab Daily polos. “Berapa?”
Laki-laki itu menyambar kerah jasnya dan mengangkatnya
sampai ujung jari kaki Daily nyaris tidak
menyentuh trotoar. “Kalau kau ingin Miss Travis dam
Mr. Bondurant tetap hidup, sebaiknya kauperoleh
ingatanmu kembali dengan cepat.”
“Letaknya... letaknya ke arah Andrews,” Daily tergagap.
“Aku pernah ke sana dengan mereka sekali. Aku tidak
bisa mengingat di mana persisnya, tapi aku akan tahu
kalau melihat tempat itu.”
“Oke, ayo pergi.” Orang itu mendorong Daily ke
depan begitu kuat, hingga cannula-nya sampai terlepas
dari hidung.
“Oksigenku!” Daily menjerit. “Aku harus membawanya.”
Dengan panik dan sia-sia ia berusaha melepaskan
diri dari pegangan orang itu.
“Tenang, Mr. Welsh. Kami tidak bemiat membuatmu
kehabisan napas. Sampai kami tahu apa yang direncanakan
teman-temanmu malam ini.”
Slang itu dimasukkan lagi ke hidungnya. Tangki
oksigen diambil dari mobil dan dipindahkan, bersama
dirinya, ke sedan abu-abu. Waktu mereka mendorongnya
ke bangku belakang, Daily merasa senang melihat sisasisa
Dolly ikut dibawa.
481
Setidaknya ia tidak akan mati sendirian.
“Kalau ada yang menghentikanmu dan bertanya, bilang
kau menggantikan temanmu yang sakit.”
“Kalau ada, apakah mereka bersenjata?”
“Barangkali. Dinas Rahasia, pasti. Tapi aku akan
membereskan mereka.”
“Satu hal lagi. Begitu kita mendapatkan Vanessa,
bagaimana rencanamu untuk keluar dari sini?”
“Rencana A, aku akan mencuri pickup ini. Kau dan
Vanessa bisa ikut di belakang sini.”
“Rencana B-nya apa?”
“Entah.”
“Bagus,” gumam Barrie. Tapi dialah yang membuka
pintu trailer dan keluar duluan.
Tabor House lebih megah daripada deskripsi Gray
tentang tempat itu. Dibangun berbentuk huruf U
mengelilingi taman pusat, rumah itu berlantai tiga.
Menghindari pintu depan yang mencolok, mereka pergi
ke pintu masuk pegawai di samping, yang dilihat Gray
selama masa pengintaiannya kemarin. Sedang ada
pergandan shift. Para dokter, perawat, dan pegawai lain
keluar sementara pengganti mereka melapor untuk giliran
malam.
“Aku duluan,” kata Gray ketika mereka mendekat.
“Tunggu beberapa menit, lalu ikuti aku.”
“Ikut kau ke mana?”
Gray mengangkat bahu. “Jangan khawatir. Aku akan
menemukanmu.” la mulai berjalan pergi, lalu menoleh ke
belakang. “Barrie, kalau terjadi sesuatu padaku, pergi dari
sini. Mengerti? Sembunyi di mobil seseorang dan
482
keluarlah seperti cara kita masuk tadi. Oke?”
Barrie mengangguk.
“Kau takkan melakukannya, kan?”
“Betul.”
Sambil mengerutkan kening dengan kesal, Gray
berbalik dan menghilang di balik pintu masuk pegawai.
Berusaha tarnpak santai, Barrie membuka tas dan, tanpa
mengeluarkan kamera video, memeriksa mekanismenya
untuk memastikan semua berfungsi dengan baik. Ia juga
mengecek tempat kaset untuk meyakinkan ia telah ingat
memasukkan kaset. Bukan kejadian aneh baginya jika ia
membuat sejarah tapi lupa memasukkan kaset ke kamera.
Ketika berjalan menuju pmtu masuk, ia diserang
ribuan rasa khawatir. Namun hanya ada satu kepastian.
Jika ia tidak melakukan ini, Vanessa Merritt akan
meninggal di dalam gedung ini. Jadi ia memfokuskan
mata ke lampu sorot di atas pintu masuk, membiarkan
lampu itu menuntunnya seperti mercusuar menuntun
pelaut melewati karang-berbahaya.
Ia masuk lewat ruangan yang dulu mungkin merupakan
ruangan untuk membersihkan sepatu dari lumpur ketika
Tabor House masih jadi rumah pribadi. Ruangan kecil itu
menuju aula besar yang terang benderang dan berperabot
lengkap tempat staf beristirahat. Tampak berbagai mesin
otomat untuk makanan dan minuman, pembuat kopi
komersial, pembuat es besar, beberapa oven microwave,
meja dan kursi, dan dua pintu menuju kamar mandi.
Sederet loker besi memenuhi satu dinding. Daftar nomor
pesawat telepon dibuat seukuran poster, cukup besar
hingga bisa dibaca dari semua tempat di ruangan itu.
Pergantian shift hampir selesai, orang-orang jadi
483
makin sedikit. Seorang pria, yang berpakaian seragam
perawat laki-laki, menunggu makanannya yang sedang
dipanaskan di microwave. Seorang perawat wanita
berbicara di telepon umum. Perawat lain mengutak-atik
sesuatu di dalam loker. Dua pria yang mengenakan
jumpsuit seperti yang dipakai Gray duduk di meja,
minum kopi dan bercakap-cakap mengenai mesin turbin.
Tak ada yang memperhatikannya. Ia berjalan melintasi
ruangan seolah setiap malam pada pukul 23.00 ia
memang biasa melakukannya.
Selepas ruangan itu, rumah sakit mengalami perubahan
suasana yang drastis. Di luar ruang pertemuan terang
benderang tadi terdapat koridor yang sunyi senyap dan
bersuasana kaku. Dindingnya dilapisi kertas warna pastel
di atas, panel di bawah. Lampu dinding dari kuningan
memancarkan cahaya redup. Lantainya berkarpet. Barrie
menyusuri lorong itu sampai tiba di lorong lain yang
memotongnya.
Kiri atau kanan? Kiri atau kanan? Jangan tampak ragu,
tampil yakin. Kiri-kanan, kiri-kanan. Oke, kanan!
Koridor yang dipilihnya menuju ke bagian depan
gedung. Sepanjang koridor ia melihat kantor-kantor,
sekarang gelap, area penerimaan tamu/ruang duduk resmi
dengan piano baby grand, dan ruang kaca penuh tanaman
tropis dan semak di antara perabot rotan berbantalan
busa. Semua sangat mewah, sama sekali tidak tampak
seperti di rumah sakit.
Ruang depan atrium cukup mengesankan, dengan
tangga lebar dan lampu gantung lima puluh kaki di atas
lantai marmer.
Tidak ada siapa-siapa di sana kecuali seorang pekerja
484
yang berlutut di depan dinding, sibuk bekerja dengan
obeng. Barrie mengitari meja untuk berbicara dengannya.
‘’Aku bersedia jadi pecandu kokain supaya bisa tinggal di
sini.”
“Kau takkan mampu membayarnya,” kata si pekerja
sambil berdiri. “Tidak ada apa-apa di lantai pertama
selain kantor dan ruang rapat.”
“Kantor penyimpan catatan?”
“Pasti. Tapi aku yakin lemari-lemarinya dikunci, dan
aku tidak membawa peralatan untuk membukanya. Lagi
pula, akan terlalu makan waktu.”
“Kalau begitu apa usulmu?”
“Terminal komputer,” pria itu berkata. “Kemungkinan
ada daftar pasien yang selalu direvisi.”
“Ide bagus. Ke depan dan ke atas?”
“Kau naik lift. Aku akan lewat tangga.”
“Ketemu di lantai dua.”
Liftnya adalah sangkar besi yang lebih bersifat estetik
daripada mekanik. Barrie bersyukur lift itu berhasil naik
satu lantai. Ia melewati pintunya yang terbuat dari besi
tuang, berbelok ke kiri, dan berhadap-hadapan dengan
seorang perawat, yang sama terkejutnya dengan Barrie
ketika melihatnya.
“Kenapa kau naik benda itu? Itu jebakan maut.”
“Uh, aku orang baru,” kata Barrie, tertawa gelisah,
yang dalam situasinya tidak sulit untuk dipalsukan. “Lain
kali, aku naik yang ekspres. Dolly Madison,” ia berkata,
mengulurkan tangan. “Kumohon, jangan buat lelucon
tentang namaku. Percayalah, sudah kudengar semuanya.”
“Linda Arnold.”
“Senang berkenalan denganmu.”
485
Barrie sekilas melihat Gray ketika pria itu tiba di
puncak tangga. Memanfaatkan terpusatnya perhatian
wanita itu pada Barrie, Gray menyelinap ke balik meja
perawat yang bertugas. Tidak tampak orang lain.
“Kapan kau mulai bekerja di sini?” tanya si perawat.
“Ini malam pertamaku. Aku membantu Dr. Hadley,”
kata Barrie, menyebut salah satu nama yang tadi
dilihatnya di daftar nomor telepon di ruang pertemuan.
“Kukira Dr. Hadley sedang cuti panjang selama enam
bulan.”
“Pria itu memang sedang cuti.”
“Maksudmu wanita itu.”
“Maksudku wanita itu.” Barrie memegang lengan
Linda Arnold dan mencondongkan tubuh. “Antara kau
dan aku, perkembangannya tidak seperti yang direncanakan
dokter itu. Dia seharusnya menulis buku, walaupun aku
ragu dia bisa menyelesaikannya.”
“Oya? Mengherankan. Buku-bukunya kan sudah
banyak yang diterbitkan.”
“Betul, betul,” ujar Barrie, mengharap Dr. Hadley,
siapa pun dia sukses. “Tapi kali ini dia harus bekerja
keras.”
“Aku turut prihatin mendengarnya. Dia memiliki
begitu banyak ilmu untuk dibagikam, dan dia dokter yang
sangat berbakat.”
“Dia memang mengagumkan, bukan?” kata Barrie. Ia
melihat punggung Gray. Laki-laki itu menunduk di depan
meja. Apakah ia sudah menemukan terminal komputer?
“Apa isinya?” Perawat itu menunjuk tas sandang
Barrie yang berat.
“Bahan-bahan riset yang kukumpulkan untuk Dr.
486
Hadley.”
“Sebanyak itu?”
“Uh, yeah, dan, well, aku tidak bisa pergi ke mana pun
tanpa, uh, Slim-Fast-ku. Aku tak pernah keluar rumah
tanpa membawa paling tidak dua kaleng, untuk jaga-jaga.
Selalu ada satu pasang sepatu ekstra. Kakiku kapalan.
Majalah-majalah. Kau tahu, barang-barang seperti inilah.
Suamiku selalu menggodaku soal barang-barangku.
“Apa kau tidak diberi loker di bawah?”
“Yeah, tapi alat canggih itu...” Ia menirukan gerak
orang membuka kunci kombinasi. “Aku tidak bisa
membukanya Sampai tahu caranya, kupikir lebih baik
kubawa saja barang-barangku.”
Linda Arnold menelengkan kepala. “Kau kelihatan
familier, tapi aku tidak bisa memastikan di mana pernah
melihatmu.”
la mengenali aku dari TV!
“Di mana kau bekerja sebelum jadi asisten Dr.
Hadley?”
“Oh, ribuan tempat. Aku bosan dengan pekerjaan
lamaku, jadi aku, yah, kau tahu, pergi begitu saja.” Di
belakang si perawat, Gray mengacungkan ibu jari. “Well,
permisi dulu, aku akan berkeliling dan melihat situasi.”
“Bisa kubantu kau...”
“Tidak, tidak, aku belajar lebih cepat kalau berusaha
sendiri.” Barrie tertawa. “Aku sudah tahu untuk tidak naik
lift tua reyot itu lagi.”
“Permisi.”
Gray mendatangi mereka dan menepok bahu Linda
Arnold. Wanita itu berpaling. “Andakah yang menelepon
soal penggantian bola lampu?”
487
“Tidak. Bukan aku.”
“Pasti lantai tiga. Kupikir dia bilang lantai dua Maaf.”
Ia mengangkat topi dan berjalan kembali ke tangga.
Ketika Linda Arnold menoleh lagi, Barrie sudah tidak
ada.
“Mereka tidak ada.”
Laporan itu disampaikan pada si pemimpin oleh salah
satu rekannya yang bertampang masam, yang tadi dengan
bengis mengakhiri hidup singkat Dolly. Mereka butuh
waktu satu setengah jam untuk “menemukan” motel itu.
“Betul ini kok,” kata Daily, tersengal-sengal. “Aku
yakin. Washington Inn. Kamar satu-dua-dua.”
“Ada sopir truk di dalam sana, mengamuk karena aku
membangunkannya,” kata si agen, melotot pada Daily.
“Aku tidak mengerti,” kata Daily, memandangi mereka
satu per satu dengan pasrah. “Kata Barrie dia akan
menemui Bondurant di sini malam ini.”
“Kau menurunkan dia di garasi parkir, kan?”
“Bagaimana kalian bisa tahu?”
“Ke mana dia pergi?”
“Ke sini! Paling tidak, itulah yang dikatakannya
padaku. Sumpah, demi Tuhan. Aku ditugaskan berputarputar
bersama boneka dan jadi pengalih perhatian.”
Ini cuma omong kosong,” kata salah seorang dari
mereka. “Sejak tadi dia mempermainkan kita.”
Supaya aktingnya lebih meyakinkan, Daily mulai
mengiba-iba. “Jangan sakiti aku. Kumohon. Aku harus
melakukannya. Aku takut setengah mati padanya.”
“Siapa?”
“Bondurant. Dia bilang kalau aku mengacau, dia akan
488
membunuhku. Dan dia tidak main-main. Kalian pernah
menatap matanya? Menyeramkan. Orang itu pembunuh
tulen. Kalau sampai dia tahu aku membawa kalian
kemari, dia pasti akan menghabisiku.”
“Tutup mulut!” bentak si pemimpin.
“Kumohon, antarkan aku pulang,” Daily memohon.
“Kalau mereka tidak di sini, aku tidak tahu ada di mana
mereka. Bondurant mungkin membohongiku. Mungkin
dia membohongi Barrie juga. Dia bisa saja menjebak
temanku itu. Pernah kalian pikirkan kemungkinan itu?
Tapi aku tahu apa? Aku cuma orang tua. Aku tidak tahu
apa-apa.”
“Dia bohong,” kata salah satu agen.
“Brengsek, ya, dia memang bohong,” kata si pemimpin.
“Ayo pergi.”
Di dalam mobil pemimpin itu memakai ponselnya.
“Welsh berbohong soal motel. Mereka tidak ada di sana.”
Ia mendengarkan sebentar, kemudian berkata, “Ya, Sir.
Saya yakin Anda dapat mengorek lebih banyak darinya
daripada kami.”
Daily tidak menyukai perkataannya itu. Ia lebih tidak
suka lagi melihat angka di tangki oksigennya.
“Udaraku tinggal sedikit,” ia berkata begitu pria itu
menutup telepon.
“Menurutku itu masalahmu sendiri.”
Kedua pria lainnya bahkan tidak berkomentar apa pun.
Di lantai, Dolly menatapnya dengan matanya yang lebar
dan mati.
Perjalanan kembali ke kota terasa panjang. Tujuan
mereka ternyata gedung kantor yang kelihatan biasabiasa
saja. Ketika mereka membawa Daily ke pintu keluar
489
darurat di bagian belakang gedung, ia mendongak
memandang langit. Tentu saja tak satu bintang pun bisa
kelihatan, karena cahaya lampu-lampu kota. Namun
bulan tampak indah.
Bagus sekali.
Mereka naik lift barang ke lantai tujuh. Detak sepatu
mereka menggema di sepanjang koridor kosong ketika
mereka menyeret Daily ke pintu di ujungnya. Roda kereta
oksigennya berdecit-decit. Ia tak pernah punya waktu
untuk meminyaki benda sialan itu.
Salah seorang laki-laki itu bergerak ke depan dan
mengetuk pintu. Terdengar suara menyuruh masuk. Ia
membuka pintu, lalu berdiri menyamping. Waktu Daily
melewati ambang pintu, terlintas di benaknya bagaimana
bentuk siksaan dan kematiannya nanti.
Tuan rumahnya yang galak berdiri di depan satusatunya
lampu di ruangan itu, namun Daily mengenali
siluetnya. “Mr. Welsh,” katanya dengan suara yang nyaris
ramah. “Anda sibuk sekali malam ini. Apakah oksigen
Anda belum habis?”
Dan Daily berpikir, Oh sialan.
490
Bab Empat Puluh Satu
PIPA air yang bocor di ruang penyimpanan di lantai tiga
Tabor House menghasilkan efek yang diinginkan. Para
perawat dan asisten berkerumun sedekat mungkin dengan
pintu kamar mandi yang banjir. Terdengar aneka ragam
usul tentang cara terbaik untuk mengatasi masalah itu.
Seorang perawat berkata ia melihat seorang tukang
bekerja di ruang penyimpanan beberapa menit sebelum
terjadi kebocoran, namun orang itu tak dapat ditemukan.
Barrie tak tahu maksud Gray ketika meninggalkannya
di tangga, menyuruhnya menunggu di sana dan pura-pura
sibuk jika ada yang datang. Ketika laki-laki itu kembali
beberapa menit kemudian, overall dan topinya sudah
lenyap, dan ia sudah mengenakan setelan dan dasi lagi.
Pipa air meledak secara misterius. Tidak terlalu sulit
untuk menebak apa yang tadi dilakukannya.
“Ayo,” cuma itu yang dikatakannya. Barrie mengikutinya
lewat pintu yang menuju lantai tiga.
Karena keributan di-sayap selatan, tidak ada yang
memperhatikan ketika mereka pergi ke sayap utara.
Tapi waktu berbelok di pojok, mereka melihat dua
agen Dinas Rahasia berdiri di luar kamar 300.
Saat inilah kami ditembak, pikir Barrie.
491
Tapi Gray tetap tenang . “Malam, Tuan-tuan,” ia
berkata dengan riang, berjalan langsung ke arah mereka.
Mereka segera mengenalinya. “Mr. Bondurant?” kata
yang seorang.
“Apa kabar?” Gray melontarkan senyum.
“Saya kira Anda sudah pensiun. Kapan Anda...”
“Dengan senang hati aku akan menceritakan semuanya
pada kalian nanti. Sekarang kita harus memindahkan
Mrs. Merritt. Ada kecelakaan kecil di sayap lain.
Menurutku tidak serius. Ini benar-benar cuma tindakan
berjaga-jaga. Presiden tidak mau ambil risiko.”
la mengangkat tangan seolah melarang mereka
berkomentar, dan menekankan jari-jarinya ke alat kecil
yang dipakainya di telinga. “Mereka sudah siap di
bawah,” ia berkata. “Perawat?” Ia menganggukkan kepala
ke arah pintu ruangan pada Barrie.
“Ya, Sir.” Barrie menyusup melewati kedua agen itu.
“Maaf, Sir, tapi tak seorang pun selain Dr. Allan...”
Tepi tangan Gray menghantam keras leher orang itu.
Satu serangan cepat lagi, dan ia pun terkapar. Agen yang
satu lagi berbalik untuk menahan Barrie. Gray menghajarnya
dengan pukulan karate di tengkuk. Ia tersungkur.
Barrie membukakan pintu sementara Gray menyeret
mereka ke dalam.
Semua terjadi hanya dalam beberapa detik. Gray
cepat-cepat menukar alat palsu di telinganya dengan alat
milik agen Dinas Rahasia.
la mendengar sebentar, lalu membungkuk dan berbicara
ke mikrofon mungil yang dipakai agen yang tak sadarkan
diri itu di balik kerah jasnya. “Keramaian kecil di sayap
yang satu lagi, itu saja.” Ia berhenti untuk batuk dan
492
berdeham. “Pipa air bocor.”
Ia mendengarkan lagi.
“Tidak, bisa kami tangani.”
Ia mematikan radio. Pada Barrie ia berkata, “Ada satu
agen lagi di atap.”
“Apa dia tidak menyadari perubahan suaramu?”
“Kuharap tidak.”
Sambil bergerak cepat Gray mengambil perlengkapan
radio dua arah milik salah satu agen, supaya ia tahu
tindakan-tindakan agen di atap, dan agen-agen lain yang
mungkin ada di area ini. Kemudian ia memplester mulut
kedua agen tadi dengan pita perekat dan mengikat mereka
seperti kalkun, tangan dan kaki ditelikung ke belakang
dan diikat dengan pita perekat. Tapi sampai berapa lama
sebelum seseorang menyadari mereka tidak ada di pos
dan datang untuk mengecek?
Barrie tidak sempat memikirkan hal itu lama-lama.
Gray sudah melintasi ruangan remang-remang tempat
Vanessa berbaring tak bergerak di tempat tidur rumah
sakit itu. Sosoknya yang kurus nyaris tidak kelihatan di
balik selimut.
Barrie bergerak ke sisi lain tempat tidur . “Mrs.
Merritt?”
“Vanessa? Kau bisa mendengar kami?” kata Gray lebih
kuat, sambil mengguncang bahunya. “Vanessa?”
Mata wanita itu terbuka. Ketika melihat Gray,
napasnya yang pelan tersentak. “Kau sudah datang?”
“Aku akan mengeluarkanmu dari sini.”
“Gray.” Ketika matanya pelan-pelan menutup lagi, ia
tersenyum samar, yakin sekarang dirinya aman. Ia dibius
begitu berat hingga tak bereaksi sedikit pun ketika Gray
493
menarik pita perekat dari lengannya dan mencabut jarum
infus dari pembuluh darahnya.
Barrie tidak perlu memperhatikan dengan cermat
untuk melihat bahwa Vanessa sakit parah. Rongga
matanya kelihatan seperti kawah gelap di tengkoraknya.
Bibirnya pucat pasi. Gray menyelipkan tangannya ke
bawah tubuh Vanessa, membopongnya di belakang lutut
dan bahu, dan mengangkatnya dari tempat tidur. Ia
tampak seperti anak kecil di pelukannya.
“Barrie,” perintahnya, “ambil pistolnya.”
Ia tadi meletakkannya di tempat tidur waktu menggendong
Vanessa. Barrie menatap senjata itu, tidak suka
menyentuhnya. Peredam panjang yang dipasang di laras
membuamya tampak lebih berbahaya. Namun ekspresi
Gray kelihatan lebih berbahaya dan mematikan daripada
senjata itu, jadi ia melakukan yang diperintahkannya.
Senjata itu terasa berat dan aneh di tangannya.
“Hati-hati memegangnya,” kata Gray. “Senjata itu siap
ditembakkan. Lift barang terletak di ujung lorong. Kita
akan menggunakannya untuk turun ke lantai dasar.” Ia
melirik kedua agen yang pingsan. “Kalau kalian agen
yang sah, aku minta maaf,” ia bergumam. “Kalau kalian
orang-orang Spence, persetan kalian.”
Ketika mereka bergerak ke pintu, Barrie bertanya,
“Bagaimana dengan kamera-kamera keamanan?”
“Aku belum melihat satu pun, kau?”
Ia menggeleng. “Bagaimana kalau ada yang mencoba
menghentikan kita?”
“Tembak saja’” Gray berkata tegas. Ia memerintah
Barrie dengan kepalanya “Periksa lorong.”
Barrie membuka pintu dan memandang berkeliling.
494
Koridor kosong, meskipun dari balik sudut ia mendengar
suara orang tertawa dan mengobrol tentang ruang
penyimpanan yang banjir. Jelas hilangnya agen-agen
Dinas Rahasia itu belum disadari.
“Aman,” ia berkata pada Gray.
“Pergi ke lift.”
Barrie melangkah ke lorong dan menekan tombol di
dinding. Nomor-nomor terang di panel menunjukkan lift
berada di lantai satu. Barrie yakin lift itu tak pernah butuh
waktu lebih lama untuk melewati kedua lantai itu. Ia terus
mengawasi sudut lorong, tapi tak ada yang muncul.
Akhirnya lift datang, dan kosong. Ia melangkah ke
dalamnya dan menekan tombol Open Door. Gray
menggendong Vanessa menyeberangi lorong dalam dua
langkah panjang. Barrie menekan tombol Close Door.
Tak terjadi apa-apa.
Selama beberapa saat yang rasanya seperti tak ada
habisnya.
Akhirnya pintu menutup dan mereka mulai turun.
Barrie memandangi celah tempat kedua pintu bertemu.
Ketika mereka tiba di lantai satu dan pintu-pintu
membuka dan seseorang yang berdiri di sana ingin tahu
apa yang tengah mereka lakukan, mampukah ia menembak
orang itu?
Ia bersyukur keberaniannya tidak diuji. Tak ada yang
menunggu lift ketika mereka sampai di lantai dasar. Ia
melangkah ke luar dan memeriksa koridor.
“Banyak orang di ruang pertemuan,” ia memberitahu
Gray. Terdengar suara orang bercakap-cakap dari area
itu. “Pasti sedang jam istirahat.”
“Pergi ke arah lain,” perintah Gray. “Tak mungkin
495
jalan keluar cuma itu. Kita keluar lewat pintu lain dan
berkeliling.”
“Aku melihat ada pintu Prancis di ruang kaca.”
Dengan hati-hati mereka menyusuri kembali koridor
lantai satu. Pintu Prancis di ruang kaca dikunci, namun
selotnya berada di dalam. Ia ragu-ragu. “Ini mungkin saja
dihubungkan dengan sistem pengamanan.”
“Kita ambil risiko.”
Ia menarik selot dan mendorong pintu. Terdengar
bunyi decit yang memekakkan telinga. Barrie berpaling
ke arah datangnya suara dan dengan refleks menembakkan
pistol.
Seekor burung tropis di dalam sangkar putih menjerit
nyaring, meskipun tembakannya cuma mengenai semaksemak
Boston. Bulu burung itu berdiri tegak, sayapnya
yang aneka warna mengembang dan mengepak-ngepak,
dan paruhnya terus mengeluarkkan suara. “Sialan,” kata
Barrie.
Mereka berlari meninggalkan bangunan itu, meskipun
pegawai rumah sakit rupanya sudah terbiasa dengan
keributan burung itu, karena tidak ada yang mengejar
mereka. Terus berada di bagian yang berbayang-bayang,
mereka melewati halaman yang terawat rapi sampai tiba
di tempat parkir.
“Tunggu,” kata Gray.
Barrie berhenti, berpaling. Ia terengah-engah. Gray
tidak tampak lelah sedikit pun ketika mendengarkan suara
di alat di telinganya. Ia menyalakan radio. “Sesuatu di
tempat parkir pegawai?” ia berkata ke mikrofon.
Agen Dinas Rahasia yang satu lagi! Barrie hampir
melupakannya.
496
Matanya otomatis memandang ke atap, namun tak bisa
melihat orang itu. Gray menyuruhnya maju dengan
menggerakkan dagu. Barrie berbalik dan mulai lari lagi.
Gray berada tepat di belakangnya, namun ia mendengar
laki-laki itu berkata dengan suara pura-pura bingung,
“Tidak, dia tidak diganggu.” Kemudian ia berteriak,
“Sialan! Dia mengejar kita, Barrie.”
Barrie berlari sekuat tenaga sampai ke pickup. Setelah
mereka tiba di sana, ia membuka pintu belakang trailer
dan cepat-cepat masuk, lalu membantu Gray ketika pria
itu masuk dan membaringkan Vanessa di bangku yang
memanjang di dinding.
“Tunggu!” ia berkata ketika melompat ke luar pintu
dan membantingnya. Beberapa saat kemudian, pickup itu
menderu dan mereka mulai bergerak. Beberapa detik
setelah itu lengkingan alarm menyentakkan alam pedesaan
yang damai yang mengelilingi Tabor House.
“Pie-nya enak, Amanda. Terima kasih.”
David tersenyum padanya ketika Amanda mengambil
piring kuenya yang sudah kosong dan meletakkannya di
nampan. “Terima kasih, David. Aku senang Anda suka.
Mau lagi?”
“Tidak, terima kasih.” David menepuk perut. “Kalorinya.”
Tanpa senyum Amanda bertanya apakah ia ingin
diambilkan kopi lagi. Pria itu mengiyakan, memandanginya
dengan tajam waktu ia mengisi cangkirnya kembali.
Lalu Amanda minta diri, menunggalkan ia dan George
berduaan di ruang tamu keluarga Allan yang nyaman.
“Amanda tidak pernah ramah padaku, ya?” kata David.
497
“Mau menambahkan sesuatu pada kopimu?” George
berdiri di depan lemari minuman keras, menambahkan
cukup banyak B&B ke kopinya.
“Tidak, terima kasih.”
Presiden datang tanpa pemberitahuan malam ini.
Kedua putra George sangat girang, yang memang
sudah sewajarnya. Presiden Merritt ingin melihat PR
mereka dan menulis surat singkat untuk masing-masing
anak yang bisa mereka bawa ke sekolah besok untuk
ditunjukkan pada teman-teman sekelas.
Setelah mengantarkan mereka ke kamar, Amanda
menawarkan untuk menghidangkan pie dan kopi untuknya
dan George. Sikapnya nyaris kurang ajar, tapi David
sudah terbiasa dengan sambutan dinginnya, dan seperti
yang dilakukannya selama bertahun-tahun, mengabaikannya
dan mengasihani George karena menikahi gunung es.
George kembali ke sofa sambil membawa kopinya
yang beralkohol. David melihat tangan dokter itu
bergetar hebat hingga membuat cangkir porselennya
berbunyi. “Kenapa gugup begitu, George? Kalau aku
tidak mengenalmu cukup baik, bisa-bisa kupikir kau
merasa bersalah.”
Dengan nada putus asa George bertanya, “Kenapa
Anda kemari malam ini?”
“Apakah aku tidak disukai di rumah salah satu
temanku yang paling akrab dan dekat?”
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Bagus. Aku senang mendengarnya.” David mengaduk
kopi dengan malas-malasan. “Karena hanya ada kita
berdua sekarang, aku akan langsung ke pokok masalah.”
“Yaitu...?”
498
“Aku ingin mendengar pendapatmu tentang undangundang
perawatan kesehatan yang diajukan Kongres. Aku
menghargai pandanganmu sebagai dokter.”
Tidak menyangka sama sekali, George tergagap,
Aku... aku cuma tahu garis besarnya.”
“Yang cukup untuk jadi dasar pendapatmu. Bagaimana
menurutmu?”
Ketika telepon berdering, George betul-betul melompat
dari sofa. Ia mengangkat gagang telepon. “Halo. Di sini
Dr. Allan.” Ia mendengarkan. “Ya, dia di sini.”
Ia berbalik dan mengulurkan telepon pada David.
“Masalah mendesak,” ia berbisik.
“Sambungkan ke pengeras suara.”
George memandangnya dengan bingung, namun
mematahi perintahnya. “Di sini Presiden,” kata David.
Ia mendengarkan ketika si penelepon memberitahunya
bahwa Ibu Negara telah diambil dari Tabor House.
“Apa maksudmu, diambil?”
“Dibawa pergi, Mr. President. Diculik.”
David pelan-pelan berdiri. “Apa?” katanya tegang.
Orang itu mengulangi berita tadi.
“Agen-agen kalah cerdik, Mr. President. Mrs. Merritt
diangkat dari kamar, dimasukkan ke kendaraan, dan
dibawa pergi. Operasi itu direncanakan dan dilaksanakan
dengan baik, Sir. Petugas keamanan rumah sakit dan para
agen Dinas Rahasia berusaha sekuat tenaga menghentikan
para penculik di gerbang . Tapi mereka tidak berani
mengambil risiko dengan menembak kendaraan itu,
karena bisa melukai Ibu Negara. Pickup itu gagal
dihentikan meskipun tembakan peringatan telah dilepaskan.
Mobil itu menabrak pagar dan, sayangnya, berhasil
499
kabur.”
Percakapan dengan suara keras itu membuat Amanda
datang dari bagian lain rumah. David melihat istrinya tak
tampak terlalu kaget dengan berita itu.
“Sudah ada yang menyatakan bertanggung jawab?
Kelompok teroris?”
“Gray Bondurant dan Barrie Travis telah diidentifikasi
sebagai tersangkanya, Mr. President.”
Mendengar itu napas David tersentak. “Ya Tuhan!” Ia
menarik rambutnya. “Apa si Bondurant sudah sinting?”
“Dia dengan berani mendatangi agen-agen Dinas
Rahasia yang menjaga kamar Mrs. Merritt, Sir, dan
berpura-pura bertindak atas perintah Anda.”
“Sama sekali tidak!” teriak David, murka mendengar
perkataan orang itu. “Dia harus diperlakukan seperti
penjahat lain. Mengerti?”
“Mengerti, Mr. President. FBI sudah diberitahu.
Penegak hukum setempat telah menemukan kendaraan
yang dipakai.. Mobil itu ditinggalkan di perhentian truk
beberapa mil dari rumah sakit. Tidak ada tanda-tanda Ibu
Negara maupun para penculiknya. Rupanya mereka
berganti kendaraan, Sir.”
Lebih tenang sekarang, David berkata, “Aku akan
segera kembali ke Gedung Putih. Aku bisa dihubungi di
mobil.”
“Tentu, Mr. President.”
Setelah telepon ditutup, David menghadap ke George.
“Bagaimana kau bisa membiarkan itu terjadi?”
“Itu bukan salahku!” teriak dokter itu. “Aku ada di
sana pun tidak. Pasti ada kebocoran.”
“Itu sudah pasti,” teriak David. “Rasanya tiap kali aku
500
mempercayakan Vanessa padamu, pasti ada kejadian
buruk.”
Dari ambang pintu, Amanda berkata, “Kalau ada yang
bisa disalahkan dalam hal ini, Andalah orangnya, David.”
“Amanda!” seru George.
David rasanya ingin sekali mencekik wanita brengsek
itu karena bicara seperti itu padanya, namun ia harus
mengakui nyalinya. “Sudahlah, George,” katanya kasar.
“Aku harus segera kembali ke Gedung Putih. Kau ikut
denganku?”
“Tentu saja.”
Mereka berjalan di halaman depan, diapit agen-agen
Dinas Rahasia yang rupanya sudah diberitahu tentang
keadaan darurat itu. Limo menunggu di tepi jalan, sebuah
mobil di belakangnya, satu lagi di depan, empat polisi
bersepeda motor memimpin konvoi.
Ketika melesat di jalan-jalan menuju Pennsylvania
Avenue, David memastikan bahwa kaca gelap di
belakang sopir telah dinaikkan, lalu berpaling pada
George dan mulai tertawa.
“Sudah kubilang dia akan melakukannya. Bukankah
kau telah kuberitahu bahwa Gray cukup baik hati dan gila
untuk melakukan penyelamatan yang dramatis?”
George Allan menerawang. “Ya, David. Itulah yang
Anda katakan padaku?”
“Aku tahu dia akan berusaha mengeluarkannya dari
sana. Dan waktu orang-orang Spence melaporkan bahwa
laki-laki tua itu, Welsh, d gunakan sebagai umpan, aku
menduga penyelamatan tengah dilakukan.”
“Kelihatannya semua dugaan Anda tepat.”
“Apakah kau melakukan bagianmu, George?”
501
“Ya. Tepat sebelum aku meninggalkannya malam ini.”
“Dan perbuatanmu itu akan berhasil?”
“Pasti. Dia akan mati karena keracunan lithium.”
Ini, tentu saja, akan dipastikan dalam autopsi, namun
baik sang dokter maupun Presiden tidak akan dicurigai
karena mereka sedang menikmati pie dan kopi ketika
Vanessa jatuh ke tangan Gray Bondurant dan anteknya,
Barrie Travis. Mereka akan dituduh melakukan penculikan
dan pembunuhan.
Sebagai teman akrab, Gray akan tahu bahwa pengobatan
Vanessa harus dipantau dan dilaksanakan dengan hatihati.
Jika dosis lithium-nya terlalu rendah, kekacauan
emosinya tidak bisa dikontrol. Jika terlalu tinggi bisa
menyebabkan kejang-kejang, koma, atau kematian,
khususnya kalau dikombinasikan dengan obat penenang
yang diberikan pada Vanessa di rumah sakit supaya ia bisa
beristirahat.
“Mereka akan ingin tahu dari mana Gray memperoleh
obat itu,” George berkomentar.
“Orang selicin dia?” kata David, menganggap itu
bukan masalah. “Jaksa yang bagus tidak bakal sulit
meyakinkan juri bahwa dia cukup pandai untuk
memperoleh obat itu dan menghancurkan semua bukti
yang ada.
“Aku tidak mengerti soal motif mereka,” kata George.
“Kalau mereka mau bersusah payah seperti itu untuk
menyelamatkan Vanessa, kenapa mereka akan membunuhnya?”
George begitu tolol, kadang-kadang David bertanyatanya
bagaimana ia bisa memperoleh gelar doktemya. Ia
juga punya kecenderungan mengesalkan untuk membuat
502
hal-hal gampang jadi sulit.
“Gray adalah kekasih yang ditolak Vanessa. Dia
sengaja menunjukkan perasaannya supaya bisa dilihat
seluruh negeri. Mula-mula dia puas dengan meninggalkan
Washington dan mengobati luka hatinya di pengasingan.
Namun kebenciannya terus menggelegak. Akhirnya,
egonya tidak dapat ditenangkan sebelum Vanessa
meninggal.”
“Dan Barrie Travis?”
“Kasmaran pada Gray. Dia senang bisa melenyapkam
saingannya. Setelah insiden Shinlin, mereka musuh
masyarakat nomor satu dan nomor dua. Orang-orang
pasti percaya mereka mampu melakukan kejahatan keji
ini.”
Presiden menyandarkan kepala dan tersenyum. “Rencana
itu begitu brilian, George. Begitu sempurna. Spence
selalu bilang lebih baik jika kita tidak menghancurkan
musuh kita, biarkan mereka menghancurkan diri mereka
sendiri. Sayang dia tidak ada di sini untuk menyaksikan
ini. Dia pasti sangat menyukainya.”
503
Bab Empat Puluh Dua
SENATOR ARMBRUSTER menunggu Barrie dan Gray
di tempat yang telah disepakati. Baling-baling
helikopternya sudah berputar.
“Untung kau berhasil,” ia berkata ketika Gray keluar
dari mobil. “Bagaimana dia?”
“Hidup.”
Senator telah menyiapkan dengan cermat sekelompok
petugas medis, yang siap melakukan tmdakan darurat apa
pun yang mungkin dibutuhkan Vanessa dalam penerbangan
kembali ke Washington. Ketika wanita itu diangkat dari
mobil dan dbaringkan di tandu, dokter yang memimpin
mulai memberikan berbagai perintah pada orang-orang
yang membantunya.
“Manis, apa yang telah mereka lakukan padamu?”
Armbruster menggenggam tangan dingin anaknya sementara
ia berlari di samping tandu menuju helikopter.
Gray menahan sang dokter sebentar, hanya cukup
untuk berteriak, “Mudah sekali mengeluarkan dia dari
sana. Terlalu mudah. Kerusakan mumgkin sudah terjadi.”
Mengangguk untuk menunjukkan ia mengerti, dokter
itu tidak menunggu untuk mendengar lebih banyak. Ia
melompat ke helikopter, dan dalam beberapa detik benda
504
itu sudah berada di udara, meninggalkan Barrie dan Gray
di lapangan parkir kosong pusat perbelanjaan itu.
Barrie merekam pemindahan tadi dengan kamera
video. Meskipun kualitasnya takkan memenuhi standar
penyiaran normal, isinya sangat berharga. Mereka
mengamati ketika helikopter berbelok dan kembali ke
D.C.
“Apa maksudmu tadi?” ia bertanya pada Gray sambil
memasukkan kamera ke tas. “Ucapanmu pada si dokter.”
“Aku merasa orang-orang di Tabor House tahu kita
akan datang.”
Ditatapnya pria itu dengan tajam.
“Coba pikirkan,” kata Gray. “Selain unjuk kekuatan di
bagian akhir yang memang sudah semestinya, bisa
dibilang kita melenggang kangkung waktu masuk dan
keluar membawa Ibu Negara Amerika Seraikat.” Dengan
wajah kaku dan tegang, Gray memandangi helikopter.
“Mungkin kita terlambat untuk menyelamatkan nyawanya.”
“Jangan bergerak! FBI!”
Teriakan itu terdengar dari kegelapan di belakang
mereka. Dengan refleks mereka berbalik. Empat laki-laki
berlari mendatangi mereka, senjata terulur dan teracung.
Lampu mobil-mobil d nyalakan. Dua mobil menderu
masuk tempat parkir dan berdecit berhenti hanya
beberapa meter dari mereka.
“Tangan di kepala, Bondurant.”
Rupanya Gray menyadari lebih baik menyerah.
Salah seorang agen maju, menemukan pistol di
pinggangnya, dan mengambilnya. Agen lain menyambar
tas Barrie dan menggeledah tubuhnya. “Aku tidak
bersenjata.”
505
“Jangan bicara apa pun,” kata Gray padanya ketika ia
diborgol dan dibacakan hak-haknya.
Mengikuti sarannya, Barrie menyerah tanpa perlawanan.
Cerita yang akan d sampaikan, bersama videonya, pasti
akan membebaskan ia dan Gray dari kejahatan apa pun
yang terjadi selama penyelamatan Ibu Negara. Tapi
memberitahukannya sekarang cuma buang-buang waktu.
Ia akan menunggu sampai Senator Armbruster dan
Vanessa sendiri bisa menguatkan tuduhan bahwa Presiden
telah membunuh anaknya dan merencanakan kematian
istrinya.
Barrie dibawa ke salah satu mobil, Gray ke mobil lain.
Agen itu membukakan pintu dan membantunya masuk ke
bangku belakang. Yang dilihat Barrie di sana, tergeletak
di kursi, membuatnya begitu ngeri hingga ia menjerit dan
berusaha mundur dari pintu mobil yang terbuka. “Gray!”
Tapi seorang agen menekan punggungnya, mendorongnya
ke dalam.
Dari jendela mobil Barrie melihat Gray. Ia tadi
mendengar wanita itu menjerit, merasakan ketakutannya,
dan memberontak dari agen-agen yang berusaha
memaksanya masuk ke mobil lain. Tapi dengan tangan
diborgol, ia tak bisa melawan. Ia didorong ke bangku
belakang. Pintu-pintu dibanting menutup. Dengan ban
berdecit-decit, kedua mobil itu melesat pergi.
Barrie tersedu-sedu ketika memandang penumpang
lain di bangku belakang sedan kelabu itu, yang balas
menatapnya dengan mata beku, ekspresi kosong di wajah,
rambut palsunya yang ikal miring. Dolly.
George Allan memandangi kedua anaknya yang pulas,
kepala mereka nyaris tidak tampak dari balik selimut.
506
Putra bungsunya di tempat tidur bawah, si bandel, sang
atlet, calon penakluk hati wanita. Pesonanya akan
membuataya menjalani hidup dengan mudah.
Anaknya yang lebih tua mewarisi keseriusan Amanda.
Dalam tidur pun, ia tampak seperti sedang berusaha
memecahkan masalah. Di antara mereka berdua, ia yang
lebih pintar, dan ambisius. Kepandaian dan disiplin
dirinya akan menjamin kesuksesannya di bidang apa pun
yang dipilihnya. George berharap ia memilih kedokteran.
Ia mencium mereka satu per satu dengan lembut, lalu
menutup pintu setelah berjingkat-jingkat keluar dari
kamar. Pintu yang menuju kamar tidur utama terbuka
lebar. Amanda membiarkan lampu tidur menyala untuknya.
Tak peduli seberapa sengitnya mereka bertengkar,
seberapa dalam jurang di antara mereka, mereka tidur di
ranjang yang sama tiap malam. Amanda membiarkan
lampu tetap menyala seolah agar ia selalu bisa menemukan
jalannya kembali pada istrinya.
Ia menatap wajah Amanda yang sudah terlelap. Helaihelai
rambut hitam sehalus sutra terhampar di bantal.
Napasnya pelan dan teratur. Ia tampak cantik. Ia ingin
menyentuhnya, menciumnya, tapi ia tidak melakukannya
karena takut membangunkannya.
Ia mundur dari kamar, menyusuri lorong menuju
ruang kerjanya, dan pelan-pelan menutup pintu. Dengan
perasaan haus ia menuangkan segelas minuman untuk
dirinya sendiri, membawanya ke meja, dan duduk lega di
kursi.Malam ini amat melelahkan. Ia dan David menunggu
sampai mereka mendapat kabar bahwa Vanessa aman
bersama Clete di rumah sakit.
George sangat lelah. Ia menikmati minumannya,
507
menyesapnya perlahan-lahan, merasakan kehangatannya
menyebar ke seluruh tubuh. Isinya yang memabukkan
dinetralkan oleh pikiran-pikiran meresahkan yang
menghantuinya—misalnya, apa yang diperintahkan David
untuk dilakukannya, yang bertentangan dengan apa yang
telah diperbuatnya.
Ia menghabiskan minuman dan membuka kunci laci
bawah meja. Senjata itu bukan kaliber besar, namun kalau
ditembakkan ke langit-langit mulut seseorang, mampu
melakukan tugasnya tanpa rasa sakit. Ia mengecek tempat
peluru revolver itu dan melihat isinya penuh. Dimasukkannya
silinder itu kembali ke tempatnya dan diletakkannya
senjata itu di meja.
Setelah itu ia merogoh saku dada dan mengeluarkan
botol plastik kecil. Tutup kedap udaranya terpasang kuat,
dan lithium masih ada di dalamnya, bukan mengalir
dengan arus mematikan ke dalam tubuh Vanessa seperti
yang dikira David.
Pada detik-detik terakhir, George telah mengalahkan
David dengan menghentikan pembunuhan berdarah
dingin itu. Ia berharap Amanda akan memandang ini
sebagai kemenangan. Mungkin tindakan pemberontakan
ini dapat memperbaiki kelemahannya selama bertahuntahun
ini. Wanita itu mungkin bahkan akan mencintainya
karena ia melakukan ini. Setidaknya sedikit.
Diletakkannya botol itu di meja, diambilnya senjata,
dan dimasukkannya larasnya ke dalam mulut.Dalam
perjalanan panjang itu Barrie berusaha mengorek berita
tentang Daily dari orang-orang yang menculiknya,
namun jeritan, permohonan, tangisan, dan ancamannya
tidak berhasil membuyarkan sikap tutup mulut mereka.
508
Gray sama tidak tahunya dengan dia ketika mereka tiba
di tujuan, yaitu gedung perkantoran di tengah kota D.C.
Mereka didorong ke lift barang, lalu dibawa ke kantor di
ujung lorong di lantai tujuh.
Karena Gray terus memberontak sepanjang perjalanan,
mereka mendorongnya masuk lebih dulu. Teriakan
marahnya tidak mengatakan apa yang sudah menunggu
Barrie.
Barrie mengira akan melihat tubuh Daily yang penuh
lebam, babak belur, dan mungkin berdarah-darah.
Ternyata pria itu setengah berbaring di sofa, tampak
kecapekan. Barrie begitu lega melihatnya. Ia tersandungsandung
menyeberangi ruangan yang remang-remang
dan berlutut di samping sofa, tidak tahu mesti tertawa
atau menangis.
“Daily, kau baik-baik saja?”
“Sekarang ya,” kata Daily tersengal-sengal. “Melihat
kau sehat dan tidak tertembak.”
“Ada Dolly di mobil mereka. Aku takut...”
“Mereka membawakan aku tangki oksigen baru, jadi
untuk saat ini, aku akan bertahan hidup. Jangan pedulikan
aku. Sudah kaukeluarkan Mrs. Merritt?”
“Kami melakukannya berdua. Dia berada di tangan
yang andal sekarang, biarpun dia tampak sangat lemah.
Kami tak yakin apakah dia akan bertahan.”
Dibantu agen yang membuka borgolnya, Barrie
berdiri dan berbalik untuk menghadapi tuan rumah
mereka. Dengan marah ia menyodorkan pergelangan
tangannya supaya laki-laki itu bisa melihat lingkaran
merah di sana. “Apakah tindakan kasar seperti itu
memang diperlukan, Bill?”
509
Jaksa Agung William Yancey tampak malu. “Halo,
Barrie. Mr. Bondurant.”
Gray tampak bingung. “Kalian saling kenal?”
“Sejak kuliah,” jawab Yancey . “Barrie bekerja di
stasiun radio kampus sebagai reporter. Aku presiden
koalisi politik mahasiswa. Kalau sedang tidak ada
pekerjaan, dia mendatangi aku untuk mencari berita.”
“Sekarang pun kadang-kadang masih. Dia narasumberku
di Kehakiman.”
“Dia narasumbermu?”
“Aku tidak memberitahukan rahasia apa pun,” Yancey
menjelaskan. “Biasanya aku cuma membenarkan atau
membantah informasi yang diterimanya dari orang lain.
Aku menjaganya supaya tidak membabi buta, yang
kadang-kadang sulit untuk dilakukan,” ia menambahkan,
melotot pada Barrie.
“Bill, apakah ini perlu?” ulang Barrie.
“Kami harus melakukan penangkapan formal. Kau dan
Bondurant dicari karena melakukan penculikan.” Ia
melirik Daily . “Mr . Welsh sudah mengaku dirinya
terlibat.”
“Daily memang membantu, tapi itu bukan penculikan.
Kami menyelamatkan Vanessa Merritt.”
“Dari apa, dari siapa?”
“Dari suaminya.”
Yancey menatap Barrie dengan muram, lalu Gray.
“Sudah kukira kau akan bilang begitu.”
“Kau tidak kelihatan terlalu terkejut,” tukasnya.
“Akhir-akhir ini aku sering mendapat telepon aneh.
Dari Armbruster. Dari Merritt. Kelihatannya kemunculan
kembali Mr. Bondurant di Washington membuat semua
510
orang gelisah. Mula-mula aku didesak untuk
menangkapnya, lalu dilarang melakukannya. Belakangan
ketahuan, selama ini Bondurant ternyata berteman
dengan, coba tebak siapa, kau. Omong-omong,” ia
menambahkan dengan masam, “banyak juga yang
kaukatakan pada orang-orangku di pemakaman Howie
Fripp. Bayangkan bagaimana mereka menceritakan
padaku omonganmu tentang seks oral di jalan raya itu.”
“Apa?” tanya Gray.
“Ceritanya panjang,” gumam Barrie. Pada Yancey ia
berkata, “Aku berbohong habis-habisan karena tidak tahu
pasti mereka orang baik atau bukan.”
“Mereka agen FBI.”
“Aku tahu, tapi kupikir mereka mungkin saja...” Ia
memandang Gray dengan ragu-ragu, bertanya-tanya
dalam hati seberapa banyak yang bisa diungkapkannya.
Dari tempatnya di sofa, Daily mengambil keputusan
itu untuknya. “Dia pikir mereka bekerja untuk Spencer
Martin.”
“Spencer Martin,” ulang Yancey serius. “Ada pihak
lain mengamati kalian. Timku lebih dari sekali memergoki
mereka. Kami bertanya-tanya siapa mereka.”
“Spence,” kata Gray singkat.
Yancey menoleh padanya. “Dan . aku mestinya
mempercayai perkataan Anda itu?”
“Anda mestinya jadi kepala petugas hukum di negara
ini. Itu artinya memburu orang-orang jahat.”
“Itu juga berarti melindungi orang-orang tidak
bersalah yang dituduh jahat. Apa pun alasannya.”
Merasakan ketegangan meningkat di antara mereka,
Barrie cepat-cepat menengahi. “Bill, begitu kau mengetahui
511
fakta-faktanya, aku yakin kau akan sependapat bahwa
Spencer Martin adalah orang yang berbahaya.”
“Aku siap mendengarkan. Apa fakta-faktanya, Barrie?
Namamu sudah disangkutkan dengan Ibu Negara sejak
serial SlDS-mu itu, dan Ibu Negara telah hilang secara
misterius. Ocehan Dalton Neely menghina akal sehatku.
Dr. George Allan menyebutku tidak kompeten. Dinas
Rahasia tutup mulut. Kami tahu kau punya rencana
tertentu malam ini waktu bertukar mobil di garasi parkir
itu. Kami menciduk pria tua ini...”
“Hei!” Seruan itu berasal dari Daily yang merasa
tersinggung.
“... Supaya dia tidak disakiti atau dibunuh orang-orang
yang menurutmu bekerja untuk Spencer Martin.” Setelah
membuka jas, ia berkacak pinggang. “Aku ingin tahu apa
yang sebetulnya terjadi, dan aku harus mengetahui
semuanya. Itu sebabnya kau dibawa kemari, bukan
langsung ke penjara dan ditahan atas tuduhan melakukan
tindak pidana berat.”
“Aku menghargai kepercayaanmu, Bill,” ujar Barrie.
“Tapi sebelum aku bicara, tidakkah sebaiknya aku
didampingi pengacara?”
“Boleh saja. Kalau kau mau melakukannya seperti itu.
Atau kau bisa berterus terang saja padaku.”
“Off the record?”
“Off the record.”
Sudah bertahun-tahun Barrie mengenal Yancey sebagai
pria terhormat. Lebih dari sekali integritas pria itu
menghalanginya memperoleh berita bagus. Ia sering
marah pada jaksa agung itu karena merahasiakan
informasi darinya kalau informasi itu menyangkut
512
keamanan nasional, namun Yancey juga tak pernah
memberikan keterangan yang tidak benar. Ia tidak punya
alasan untuk tidak mempercayainya.
“Baiklah,” Barrie berkata. “Tapi begitu banyak yang
harus kuceritakan, aku tidak tahu mesti mulai dari mana.”
“Mulailah dengan Spencer Martin.”
“Seberapa banyak yang kauketahui tentang dia? Dia...”
“Hati-hati, Barrie.” Gray mengangguk ke arah Yancey.
“Dia mungkin saja mantan teman kuliahmu, dan
mungkin dia sudah terbukti merupakan narasumber yang
bisa diandalkan dan fair, tapi sebelum kau menumpahkan
unek-unekmu, ingat siapa yang mengangkatnya dan
untuk siapa dia bekerja.”
Dengan marah Yancey menjawab, “Aku ingat siapa
yang mengangkatku, Mr. Bondurant. Tapi aku bekerja
untuk rakyat Amerika Serikat, dan aku sangat serius
memandang pekerjaanku dan tanggung jawab yang
menyertainya.
“Benar, aku memperoleh pekerjaanku karena David
Merritt, namun aku bukannya imun terhadap bau busuk
yang menyebar dari Gedung Putih akhir-akhir ini.
Sedangkan mengenai Spencer Martin, aku tahu soal
tentara pribadinya. Dia memasang informan dan matamata
di hampir semua departemen pemerintah federal,
termasuk, aku malu mengakuinya, di Departemen
Kehakiman.
“Tapi yang lebih berbahaya daripada itu, adalah
pengaruh yang dimilikinya atas Presiden. Aku ingin tahu
kenapa dan sampai tingkat mana Merritt bergantung
padanya. Terus terang, Bondurant, aku takut karena
Barrie begitu sering bersama Anda. Itu sebabnya aku
513
memberitahu dia tentang kunjungan Anda belum lama ini
ke Gedung Putih. Kupikir Anda salah satu fasilitator
Martin.”
“Anda salah.”
“Mungkin. Anda pergi karena Mrs. Merritt, kurasa.”
Gray mengangguk. “Dia juga penyebab aku terseret
masuk lagi.”
Sang jaksa agung menatap tajam Gray selama
beberapa saat, kemudian kembali menoleh pada Barrie.
“Kau memulai semua ini dengan serial SIDS itu, bukan?”
“Sebetulnya, Vanessa Merritt memulainya dengan
mengundangku minum kopi. Kisahnya panjang, dan
dengan menceritakannya aku akan menuduh Presiden
melakukan kejahatan luar biasa.”
“Itu sebabnya kau dibawa kemari,” Yancey berkata.
“Tak peduli seberapa panjang dan seberapa terlibat cerita
itu, tak peduli siapa yang tersangkut, aku ingin
mendengar semuanya.”
514
Bab Empat Puluh Tiga
“BRENGSEK! Semua berantakan. Barrie dan Gray
belum tertangkap. Vanessa di rumah sakit sialan itu. Di
rumah sakit! Seharusnya aku menerima kabar buruk
bahwa dia meninggal. Tapi aku malah mendapat kabar
baik bahwa dia dirawat di Rumah Sakit GWU.”
“Tenang, David.”
Ia berputar menghadap Spence, matanya sekeras
berlian. “Jangan mengajari aku, Spence. Kalau aku
hancur, kau ikut haacur. Ingat itu waktu kau mengucapkan
ocehan sombongmu padaku.”
“Aku tidak mengajari atau bersikap sombong. Aku
sama khawatirnya dengan kau. Tapi kehilangan akal
cuma akan membuat situasi bertambah buruk.”
“Kupikir takkan bisa lebih buruk lagi.”
“Tentu saja bisa.”
David menghantamkan tinjunya ke telapak tangan
yang satu lagi. “Bagaimana ini bisa terjadi?”
“Aku tidak tahu. Semua kejadian di Tabor House
berjalan sesuai rencana. Orang-orangku menahan diri dan
membiarkan Bondurant mengalahkan mereka. Tapi mana
kita tahu Clete ternyata sudah menyiapkan helikopter
hanya beberapa mil dari sana?”
515
“Well, mestinya kau tahu. Untuk itulah kau kubayar.
Dan mana George? Dia menyelinap pergi dan pasti sudah
di rumah. Telepon dia di rumahnya. Tanya dia apakah
para dokter di rumah sakit itu bisa memperbaiki apa yang
sudah dilakukanaya.”
“Aku sudah beberapa kali menelepon rumahaya.
Teleponnya sibuk terus, dan dia tidak menanggapi
meskipun sudah dihubungi lewat penyeranta.”
“Dia dokter resmi Vanessa. Mungkin dia dipanggil ke
rumah sakit,” David berharap.
“Itu nyaris mustahil, David. Setelah kejadian ini, Clete
takkan mengizinkan dia di dekat Vanessa.”
“Sial! Kalau ini tidak berhasil...”
“Kita pikirkan rencana lain,” kata Spence cepat. “Yang
tidak boleh kita lupakan adalah Vanessa telah menjadi
ancaman bagi pemerintahan. Cuma dia, kau, dan aku
yang tahu apa yang terjadi di ruang anak malam itu.
George pasti curiga, tapi tidak mungkin dia bisa
memastikan. Dengan satu atau lain cara, kita harus
memastikan kebungkaman Vanessa. Setelah itu, takkan
ada yang tahu.”
“Kecuali,” kata David, memandang Spence sambil
berpikir, “aku dan kau.”
Fajar menyingsing ketika Presiden Merritt sampai di
rumah sakit untuk menjenguk istrinya. Ia tidak
mengenakan jas seperti biasa, melainkan pakaian santai
dan jaket, yakin bahwa makin berantakaan penampilannya,
kecemasannya tampak makin meyakinkan.
Dinas Rahasia tiba sebelum kedatangannya. Kekacauan
di rumah sakit nyaris tak terkontrol. Pers hadir dengan
516
kekuatan penuh, mencari-cari berita terakhir tentang
kesehatan Ibu Negara. Presiden memasuki rumah sakit
dari arah dapur, daa dengan menggunakan lift untuk staf,
ia dikawal sampai kamar istrinya.
Ketika ia masuk ayah mertuanya tengah berdiri di
samping tempat tidur Vanessa. “Bagaimana kabarnya,
Clete?” ia bertanya dengan suara cemas.
“Kenapa tidak kautanyakan padanya?”
Vanessa kelihatan sedang tidur, tapi ketika David
mengangkat tangannya, matanya terbuka. David tersenyum
manis. “Halo, Sayang. Syukur kau baik-baik saja.”
“Halo, David. Baik sekali kau mau datang,” kata
Vanessa, suaranya penuh sarkasme.
“Mr. President, ini Dr. Murphy.”
Setengah tak sadar ia berkenalan dengan dokter yang
merawat Vanessa, yang diperkenalkan oleh Clete. “Sakit
apa istri saya, Dokter?”
“Menurut pendapat saya, Mr. President, dia mendapat
dosis lithium yang sangat tidak normal, khususnya karena
obat itu dikombinasikan dengan Haldol dan obat-obat
penenang lain.”
“Saya pikir tekanan darahnya selalu dimonitor.”
Dokter itu mengangkat bahu. “Dr. Leopold sudah
mengirimkan lewat faks laporan tentang kondisinya dari
Tabor House . Tekanan-tekanan darah yang tercatat
memang yang semestinya, namun tidak cocok dengan
yang ditemukan lab kami di sini.”
“Bagaimana staf Dex Leopold bisa melakukan
kesalahan seperti itu?” Tidak ada yang berani menjawab.
Sikap diam Dr. Murphy sebetulnya terasa memalukan.
“Apa prognosisnya?” tanya David cepat-cepat.
517
“Dia keracunan. Saya menginfusnya untuk membersihkan
darahnya. Akan butuh beberapa hari. Setelah itu saya
akan menyesuaikan dosis obatnya ke tingkat yang efektif
tapi aman. Dia tidak boleh dibuat seperti mayat hidup,
seperti kondisinya ketika tiba di sini.”
“Tapi dia akan baik-baik saja?”
“Ya, Mr. President.”
“Syukurlah.” David meremas tangan Vanessa dan
menekankannya ke bibirnya, lalu membungkuk dan
menciumnya dengan lembut. Bibir istrinya sama dingin
dan hambarnya dengan bibir patung.
Si dokter minta diri, meninggalkan mereka bertiga.
Sebelum Clete sempat melancarkan serangan, David
marah lebih dulu. “Akaa kusemprot Dex Leopold karena
kejadian ini.”
Clete berkata, “Sebelum kau macam-macam dengan
orang lain, kusarankan kau mulai memikirkan cara
menyelamatkan diri.”
David pura-pura terkejut. “Apa maksudmu?”
Terdengar ketukan di pintu. Spencer Martin melangkah
masuk.
Vanessa terkesiap, tidak setenang tadi lagi. Clete
berkata, “Wah, wah. Si buruk rupa akhirnya muncul
lagi.”
Spence tampak tak memedulikan ejekan itu. Ia
memandang melewati Clete untuk berbicara pada Vanessa
“Aku senang mendengar Anda semakin sehat.” Lalu pada
David ia berkata, “Dalton Neely mengalami kesulitan
untuk meyakinkan pers bahwa prognosis Mrs. Merritt
positif. Kurasa sebaiknya Anda bicara sendiri pada
mereka, Sir, dan meyakinkan rakyat bahwa Ibu Negara
518
sebentar lagi akan kembali aktif.”
“Itu ide yang bagus,” David menyetujui. “Clete,
bagaimana kalau kau ikut denganku? Kehadiranmu di
sana akan menguatkan kabar baiknya.”
Clete memandang Vanessa. “Kau tidak apa-apa,
Manis? Kau keberatan ditinggal sendirian?”
“Aku tidak sendirian lagi, Daddy,” kata Vanessa pelan.
“Pasti.” Clete membungkuk dan mencium kening
putrinya. Ketika menegakkan badan ia mengulurkan
tangan ke arah pintu . “Silakan, Mr. President.”
David tidak menyukai sikap puas sang Senator. Sama
sekali tidak. Ia bahkan lebih tidak suka lagi melihat
kebencian yang tampak nyata di mata istrinya ketika
wanita itu memandangnya. Meskipun demikian, ia
mengucapkan selamat berpisah pada Vanessa, berjanji
akan kembali untuk menjenguknya lagi nanti, dan
mencium tangannya dengan lembut sebelum
melepaskannya.
Sejak awal David Merritt adalah presiden yang suka
bertatapan langsung, dan bersemangat untuk bersalaman
dengan orang-orang yang memilihnya. Keramahannya
merepotkan orang-orang yang telah disumpah untuk
melindunginya. Hari ini sama saja.
Bertentangan dengan keinginan Dinas Rahasia, konferensi
pers mendadak itu diadakan di lantai dasar rumah
sakit, dengan media dan pegawai rumah sakit berjejalan
di balik tali nilon yamg menjadi barikade lemah.
Dalton Neely yang kerepotan dengan senang hati
memberikan tempat pada Presiden, yang kedatangannya
membuat pers heboh. Dengan segera ia dibombardir
dengan pertanyaan-pertanyaaa yang diteriakkan. Ia
519
mengangkat tangan untuk menyuruh orang-orang tenang.
Setelah keributan reda, ia mengumumkan bahwa dirinya
dan Senator Armbruster baru saja dari kamar Mrs.
Merritt.
“Kami berdua telah bicara dengannya. Dia dalam
keadaan tenang, sehat, dan sangat bersemangat. Senator
Armbruster dan saya percaya sepenuhnya pada perawatan
yang diterimanya dari para dokter, perawat, dan teknisi
medis yang luar biasa di tempat ini.”
Clete takjub melihat David dapat bersikap begitu
percaya diri, bagaimana pun situasinya. Secara objektif ia
mengagumi presiden yang bisa dibilang diciptakannya
sendirian itu. Namun ia juga telah menciptakan monster.
Dan seperti di cerita klasik karangan Mary Shelley, sang
penciptalah yang harus menghancurkan hasil karyanya.
Presiden mengelak dari pertanyaan mengenai Dr.
George Allan dengan mengatakan bahwa dokter itu saat
ini tak bisa hadi r. Terhadap pertanyaan-pertanyaan
tentang apa yang disebut sebagai penculikan Mrs. Merritt,
ia menjawab tidak akan berkomentar sampai insiden itu
dijelaskan secara lengkap padanya. “Laporan-laporannya
simpang siur,” katanya.
Kemudian ia meminta pengertian mereka tentang
singkatnya konferensi pers itu, berulang kali berterima
kasih atas perhatian mereka, dan berjalan menuju pintu
keluar. Clete tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang ditujukan padanya, namun ia minta David
mengantarnya pulang.
David terkejut mendengar permintaan itu, namun
menyanggupi dan memberitahu sopir bahwa mereka akan
mampir di tempat yang di luar rencana sebelum kembali
520
ke Gedung Putih.
“Naik mobil lain,” kata Clete cepat pada Spence ketika
pria itu berusaha bergabung dengan mereka di limusin
Presiden.
Spence memandang David, menunggu instruksi.
“Kumohon, Spence,” katanya. Clete bisa melihat Spence
tidak suka, namun ia mematuhinya untuk menyelamatkan
muka sang presiden.
“Kapan dia muncul kembali?” tanya Clete ketika iringiringan
mobil meluncur keluar dari tempat parkir rumah
sakit.
“Waktu kau mengarang cerita konyol tentang... apa
namanya? ‘Persoalan pribadi yang sensitif’?”
“Kurang-lebih.” Clete terkekeh. “Terus terang aku
menyesal Bondurant tidak membunuh bangsat itu ketika
ada kesempatan.”
“Itu sebabnya kau minta kuantar? Supaya kau bisa
sekali lagi memberikan pendapat negatifmu yang tak
diminta tentang penasihatku?”
“Bukan. Yang harus kusampaikan jauh lebih penting
daripada dia.”
“Bicaralah, Clete. Sudah lama kau memberiku sindiransindiran
kecil bahwa nasibku akan tamat dan hanya kau
yang bisa menyelamatkanku.”
“Sebetulnya, itu tidak terlalu jauh dari kenyataan,
David. Cuma aku yang berdiri di antara kau dan jurang
kehancuran yang begitu dalamnya hingga kau takkan
dapat menemukan dasarnya.”
David bersiul. “Kedengarannya memang gawat.”
“Mengejekku, David? Coba dengar ini.” Clete menajamkan
mata hingga terasa menusuk. “Bayi Vanessa bukan
521
anakmu, jadi kau membunuhnya, dan kau paling tidak
sudah dua kali berusaha menghabisi istrimu.”
Seperti yang sudah diduga Clete, pernyataan-pernyataan
tadi menghapus senyum David. “Kalau Vanessa yang
memberitahumu, dia lebih sakit daripada yang kita kira,
dan kita berdua tahu dia kurang waras.”
Clete menahan marah, tak ingin membuat David
merasa menang. “Aku tidak mau buang-buang waktu
untuk masalah ini, David. Untuk setiap tuduhan yang
kulontarkan, kau akan punya puluhan bantahan,
penjelasan, atau alasan. Aku tahu bagaimana kau
beroperasi karena aku yang mengajarimu. Jadi, mari kita
buat urusan ini jadi mudah bagi kita berdua. Aku bisa
menjamin sesuatu yang kauinginkan dan butuhkan.”
“Apa itu?”
“Kebungkamanku. Dan Vanessa.”
“Imbalannya?”
“Perceraian tanpa ribut-ribut.”
David tidak berkedip. “Kau pasti sudah pikun, Clete.”
“Aku berjanji tidak.”
“Kau mengusulkan perceraian kilat tanpa ribu-tribut
dari Vanessa?”
“Bukan mengusulkan. Memerintahkan. Jika tidak,
tanggung sendiri akibatnya.”
Senyum mengejek David muncul kembali. “Apa
akibatnya?”
Clete meraih tas dan mengeluarkan amplop tertutup.
“Akibatnya, aku akan menghubungi Bill Yancey dan
menyerahkan ini padanya.”
la menyodorkan amplop itu pada menantunya, yang
membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar foto
522
berwarna. David menjatuhkan semuanya seolah foto-foto
itu ular kobra hidup.
“Bikin mual, bukan? Dia mandi darah. Tapi satu hal
yang tidak dilakukan Becky Sturgis adalah mati tanpa
sengaja. Dia tidak terjatuh ke belakang ketika berkelahi
denganmu dan kepalanya tidak terantuk pojok meja
seperti yang kaukatakan padaku malam itu. Kau
memukulinya sampai mati, David. Seperti yang akan
dibuktikan foto-foto ini.”
David memulihkan kekagetannya dengan kecepatan
mengagumkan. “Ini cuma gertak sambal, Clete. Masa kau
cuma bisa berbuat seperti ini? Aku tidak ada di foto-foto
itu. Itu bisa jadi mayat siapa pun. Tentang hal itu,
mungkin saja kau sendiri yang memukuli gadis itu sampai
mati “
“Mungkin saja, tapi tidak kulakukan..Isi amplop itu
bukan cuma foto-foto.” David mengguncangnya, dan
sebuah kaset jatuh ke pangkuannya. “Kau membunuhnya,
David. Kau mengatakannya dalam pengakuan yang
penuh air mata. Ingat? Kalau kau lupa, semua ada di
dalam kaset itu.”
Dengan lembut Clete menambahkan, “Aku merekam
segalanya, David. Belakangan aku menghapus semua
yang tidak sesuai, dan mempertahankan bagian-bagian
yang suatu hari nanti akan berguna. Setelah melihat apa
yang kaulakukan pada gadis malang yang tidak berdaya
itu dan bayinya, aku memutuskan untuk menyimpan
kaset yang satu ini.”
Senang rasanya melihat butir-butir keringat bermunculan
di kening David. Ia berkata, “Kau takkan pernah
menggunakan ini, Clete, sebab kau sama bersalahnya
523
dengan aku.”
“Aku memang tidak ingin,” Clete mengakui. “Hidupku
sebagai tokoh masyarakat akan berakhir dengan memalukan.
Aku jauh lebih suka menyerahkan kau pada
nasib, dan menghabiskan sisa hidupku sebagai negarawan
hebat, bersama putriku di sisiku. Insiden kotor dari masa
lalumu ini,” ia berkata, mengangguk ke arah foto-foto
tadi, “bisa menghilang, psst, begitu saja. Yang harus
kaulakukan cuma membiarkan Vanessa pergi dengan
tenang dan tanpa penjelasan yang tidak pantas pada pers.”
“Menurutmu, bagaimana caraku melakukannya?”
Clete mengangkat bahu. “Kalian berdua memiliki
perbedaan yang tidak bisa disatukan, titik. Kematian anak
membuat pernikahan kalian tegang. Jutaan pasangan di
Amerika akan bersimpati. Kejujuranmu dalam menghadapi
perceraian mungkin bahkan akan memenangkan
beberapa suara untukmu.”
David mengertakkan rahang. “Kaukira aku bodoh?
Perceraian setahun sebelum pemilu sama saja dengan
bunuh diri politik. Partai mungkin bahkan tidak akan
mencalonkan aku.”
“Kau tidak tahu pasti soal itu. Perceraian bukan
kejahatan. Pembunuhan gandalah yang merupakan kejahatan,
dan tidak ada masa kedaluwarsa.” la memberi
menantunya waktu untuk memikirkan akibat mengerikan
seandainya kisah Becky Sturgis ini tersiar. Setelah
beberapa saat ia berkata, “Aku menawarimu perjanjian
yang sangat menguntungkan, David. Bahkan seandainya
aku tidak punya kepentingan di dalamnya, aku akan
menyarankan kau untuk menerimanya.”
“Foto-foto itu sama sekali tidak membuktikan apa
524
pun, begitu juga kaset ini.”
”Tidak penting terbukti atau tidak,” kata Clete lembut.
“Sedikit saja bau skandal sebesar ini tercium, kesempatanmu
untuk terpilih kedua kalinya akan lenyap. Kau malah
akan tersingkir dari masyarakat. Apapun yang kau
lakukan, masalah ini akan menghantuimu sampai mati.”
David tampak nyaris mengamuk, namun Clete tahu ia
telah memenangkan ronde pertama. Ia akan memenangkan
lebih banyak ronde lagi sebelum David terkapar
memohon belas kasihan. Ini skandal besar, tapi masih
banyak skandal lain, sangat banyak. Satu per satu ia akan
mengeluarkan dan memaparkan semuanya. Cukup banyak
skandal untuk disebarluaskan selama bertahun-tahun,
cukup sampai Clete Armbruster terbaring di liang kubur.
Tapi ia akan meninggal dengan bahagia, tahu bahwa
David Merritt takkan pemah lagi merasakan kedamaian.
Tapi untuk saat ini, Clete sudah puas. Cukup untuk satu
pagi.
“Kau boleh menyimpan copy-copy ini, David. Aku
masih punya yang lain. Omong-omong, seandainya kau
merencanakan untuk menyuruh Spence atau salah satu
cecunguknya menghabisiku, pengacaraku juga punya
copy foto-foto dan kaset itu. Dia telah diinstruksikan
untuk memberikannya pada pers jika kematianku terjadi
bukan karena sebab alami.”
Sopir menghentikan limusin di depan rumah. Senator.
“Tunggu sebentar,” kata David, mencengkeram lengan
Clete ketika orang tua itu akan turun. “Kau sudah
menjamin kebungkamanmu, tapi bagaimana dengan
Barrie Travis dan Gray Bondurant? Bukankah kau berada
di pihak mereka?”
525
Clete bergidik mendengarnya. “Di pihak wartawan
berotak udang dan laki-laki yang merayu putriku? Tidak.
Serahkan mereka padaku.” la menepuk lutut David.
“Pikirkan semua yang kukatakan tadi dan temuilah aku
lagi. Aku yakin kau akan setuju dengan jalan pikiranku.”
526
Bab Empat Puluh Empat
JAKSA agung itu berdiri di depan jendela, kedua kepalan
tangannya menekan pinggang, melemaskan otot. Barrie
berharap ia tahu apa yang sedang dipikirkan orang itu.
Apakah ia mempercayainya? Sewaktu ia bercerita, Bill
beberapa kali menyela untuk memintanya menjelaskan
sesuatu, namun setelah ia selesai, pria itu berdiri dan
mulai mondar-mandir, tidak menunjukkan indikasi apa
pun apakah ia menganggap Barrie mengatakan yang
sebenarnya atau tidak.
Gray memisahkan diri dari mereka dan sekarang
menonton TV . Tampak berita besar hari ini sedang
ditayangkan. Ia memaki pelan ketika Presiden menyampaikan
pernyataan singkat pada pers di rumah sakit, namun
waktu dokter menegaskan bahwa Ibu Negara akan
sembuh total, Gray tidak bisa menyembunyikan kelegaannya
yang luar biasa. Barrie juga merasa lega. Tapi ia
bukanlah manusia kalau tidak merasa sedikit cemburu.
Sewaktu Barrie bercerita tadi, Daily tertidur. Ia senang
temannya itu dapat beristirahat. Daily tampak betul-betul
kehabisan tenaga.
“Yang tidak kumengerti,” kata Bill, berbalik untuk
menghadap ruangan, “adalah mengapa Mrs. Merritt tidak
memaparkan sendiri keburukan Presiden.”
Barrie menjawab tanpa perlu berpikir sedetik pun.
527
“Takut. Dia takut padanya, Bill. Waktu kami minum kopi
bersama dulu, dia gelisah setengah mati. Kupikir
kegugupannya itu tidak mungkin cuma gara-gara manicdepression.
Saat itulah dia pertama kali curiga bahwa
umurnya tidak panjang lagi dan bahwa Mr. Merritt akan
melakukan perbuatan seperti ini. Membuat janji temu
denganku adalah tanda bahaya pertama yang dikirimkannya.”
Yancey memandang Gray. “Bagaimana dengan George
Allan?”
“Dia boneka David. Dia tidak punya nyali untuk
berbuat lain. David menguasainya sepenuhnya. Mrs.
Allan mengakui hal itu pada kami.”
“Benar, Bill,” Barrie berkata. “Aku yakin dia akan
mendukung kasusmu.”
“Kasus?” Bill mengulangi, mendengus. “Aku tidak
punya kasus. Aku tidak punya apa-apa selain perkataan
dua pelarian yang dicari karena melakukan penculikan.”
“Tapi kau percaya pada kami,” kata Barrie. “Aku tahu,
kalau tidak kau takkan membawa kami ke tempat ini.” Ia
bergabung dengannya di dekat jendela. “Apakah begitu
sulit untuk percaya bahwa kepala lembaga eksekutif
mampu membunuh? Lihatlah ke luar sana.” Diterangi
matahari pagi, mereka dapat melihat ujung Monumen
Washington.
“Monumen bagi para presiden. Ada yang bajingan, ada
yang baik dan terhormat. Tinggi, pendek, pejuang,
negarawan. Tapi satu persamaan mereka selain jabatan
yang mereka miliki, yaitu mereka adalah manusia.
Sejarah telah mengagungkan mereka, membuat mereka
lebih daripada yang sebenamya, dalam beberapa contoh
528
mengangkat mereka jadi setengah dewa, tapi sebetulnya
tidak.
“Mereka manusia biasa, makhluk fana yang memiliki
kekurangan-kekurangan. Mereka tertawa, menangis,
marah, bahkan bisa sakit perut juga. Mereka tidak kebal
terhadap perasaan sombong atau sakit atau kecewa
atau...” Ia memandang Gray . “Atau cemburu. David
Merritt tahu istrinya berselingkuh. Dia mengandung anak
laki-laki lain. Dia tidak bisa menerima itu. Jadi dia
melakukan sesuatu untuk membereskannya.”
Ia sudah pernah melakukannya.
Pikiran itu menghantarnya begitu keras sampai Barrie
menggigil. Kata-kata itu begitu jelas hingga ia mengira
ada yang mengatakanya. “Apa?”
Yancey memandangnya. “Aku tidak bilang apa-apa.”
Gray berkata, “Kau tadi mengatakan bahwa...”
“Tunggu.” Barrie mengangkat tangan untuk menyuruh
mereka diam.
Pengungkapan mendadak itu begitu berpengaruh
hingga nyaris terasa mustahil. Kekuatannya membuat
Barrie berlutut. Benar-benar berlutut. Ia terpuruk di
lantai.
Barrie.” Gray mendorong Yancey ke samping dan
berjongkok di depannya. Dipegangnya bahu Barrie dan
ditatapnya matanya dengan cemas. “Barrie, ada apa?”
Suaranya seperti berasal dari tempat yang sangat jauh,
nyaris tak terdengar di antara gemuruh di dalam kepala
Barrie.
Ia sudah pernah melakukannya.
Di mana ia mendengar kata-kata itu? Di mana ia
membacanya? Kenapa kata-kata itu kini mendadak
529
muncul di benaknya? Mengapa kata-kata itu rasanya
sangat penting?
Kemudian, sewaktu ingatannya kembali, Barrie tahu
di mana ia membacanya, dan tahu jawaban pertanyaanpertanyaan
itu. Tengkuknya mulai gatal.
“Barrie, kau tidak apa-apa?” Bill Yancey berjongkok di
samping Gray, kecemasannya tampak jelas.
“Ayo bicara, sialan!” kata Gray.”Ada apa?” Daily
duduk tegak dan menggaruk kepalanya yang nyaris
botak. “Apa yang terjadi? Kenapa dia?”
Daily. Tuhan memberkatinya! Bukankah sudah ribuan
kali ia memberitahunya bahwa reporter yang baik
menggali dalam-dalam, bahwa selalu ada cerita yang bisa
dibongkar, bahwa kau tidak boleh mengabaikan apa pun,
tak peduli seberapa tidak penting dan tidak berharga pun
kelihatannya?
Petunjuk-petunjuk terbaik... yang membuat suatu
berita jadi sensasional, yang mengangkat berita biasabiasa
saja menjadi berita yang mengguncangkan dunia,
adalah petunjuk-petunjuk yang didapat di tempat-tempat
yang paling tidak terduga, tempat-tempat yang menurutmu
takkan mengandung informasi apa pun.
Petunjuk itu sudah sejak dulu ada di sana. Sejak dulu!
Di antara potongan kertas dan surat yang diambilnya dari
meja kerjanya di WVUE. Ia telah mengecek petunjuk itu,
namun cuma di permukaan. Ia tidak menggali cukup
dalam.
Barrie mengingatkan dirinya supaya tidak terlalu
bersemangat sekarang. Ia bisa saja salah. Ini mungkin saja
cuma isapan jempol, namun instingnya mengatakan
sebaliknya. Bagaimanapun ia harus menyelidikinya.
530
Sambil menyingkirkan para lelaki itu, ia berdiri. “Aku
harus pergi.”
“Ke mana?”
“Se... sebaiknya tidak kukatakan. Sampai aku tahu.”
“Kau ingin pergi, tapi tidak tahu ke mana?”
“Tentu saja aku tahu akan pergi ke mana,” Barrie
berkata tidak sabar. “Aku tidak tahu apa yang akan
kutemukan sesampainya di sana. Mungkin tidak ada.
Mungkin ada. Tapi aku harus pergi.”
Bill Yancey berkata, “Barrie, aku tidak bisa membiarkanmu
pergi dari sini...”
“Kumohon, Bill. Suruh seseorang mengawalku. Seorang
marshal AS. Biarkan dia memborgolku, aku tidak peduli.
Pokoknya, kumohon, izinkan aku melakukan ini. Ini bisa
membongkar segalanya.”
“Apa maksudmu dengan ‘ini’?”
“Itu tidak bisa kukatakan.”
‘ Kenapa kau tidak bisa memberitahu aku?”
“Karena aku tidak ingin kelihatan konyol kalau salah!”
Lama suasana sunyi setelah teriakannya.
Kemudian, “Biarkan dia pergi.”
Gray yang bicara, dan waktu Barrie menoleh padanya
dengan terkejut, mata pria itu menatapnya, menyatakan
ribuan hal, yang jelas adalah ungkapan kepercayaan
sepenuhnya padanya.
Dan detik itu juga Barrie tahu ia mencintai laki-laki
itu. Sialan. Ia sangat mencintainya.
“Biarkan dia pergi,” ulang Gray, terus menatapnya.
“Dia tahu apa yang dilakukannya.”
“Saya nyaris pingsan waktu Anda datang membawa surat
531
pengantar dari Jaksa Agung.”
Deputi Sipir Foote Graham sama polosnya dengan
namanya. Ia tidak seperti stereotip sipir tukang gertak di
film-film tentang penjara. Ia lembut, langsing seperti
bambu, dan memakai. kacamata berbingkai kawat. Ia
cukup sensitif hingga tidak menanyakan apa pun tentang
seragam perawat kotor yang dipakai Barrie. Ia tadi tidak
sempat berganti baju.
Barrie mengucapkan terima kasih karena pria itu
bersedia menemuinya tanpa perjanjian lebih dulu. “Saya
begitu terburu-buru meninggalkan Washington sampai
tak sempat memberitahukan kedatangan saya pada
Anda.”Bill Yancey membereskan semuanya. Setelah
menyetujui perjalanan ke Mississippi ini, ia menyediakan
jet pribadi untuk dipakai Barrie. Di bandara Jackson,
sudah menunggu mobil dan pengawal untuk mengantarkannya
ke penjara di Pearl. Foote Graham terpesona
dengan tamunya yang punya koneksi penting itu dan
langsung bersedia membantu semampunya.
“Saya menduga wawancara Anda dengan Charlene
Walters karena masalah penting?” ia bertanya.
“Maafkan saya, Mr. Graham. Itu rahasia.”
“Saya tidak mengerti,” Graham berkata, menggelenggeleng
bingung. “Tapi jika Anda dan Jaksa Agung Yancey
bilang ini soal keamanan negara, saya takkan meragukannya.”
Ia mendahuluinya melewati pintu yang dibukakan
untuk mereka oleh penjaga wanita berseragam. “Dia
menunggu Anda,” kata si penjaga. “Dan marah bukan
main karena dipanggil dari ruang rekreasi.”
Tahanan itu sedang minum sekaleng Dr. Pepper dan
532
memang kelihatan marah ketika Sipir Graham dan Barrie
Travis mendatanginya. Charlene Walters wanita bertubuh
mungil, dengan tangan dan kaki kurus. Rambut putihnya
yang dikeriting berlebihan membentuk halo keriting di
sekeliling kepalanya yang kecil. Mata hitamnya yang
tajam dan gayanya yang sigap membuat Barrie teringat
pada burung gereja.
Setelah memandang Barrie dari kepala sampai kaki, ia
mendengus mengejek. “Yah, kau butuh waktu lama
sekali.”Barrie mengulurkan tangan kanan. “Saya senang
bertemu dengan Anda, Mrs. Walters.”
Si sinting Charlene bersalaman dengannya, lalu
berkata dengan angkuh pada Graham. “Kami akan
membicarakan masalah pribadi. Bisa kau pergi?”
Meskipun ia menantang otoritasnya, Foote Graham
tersenyum. “Tentu saja. Aku akan menghilang.”
Ia bergabung dengan penjaga wanita yang berdiri di
jarak yang cukup jauh. Barrie dan Charlene duduk di
kursi di sekeliling meja kecil. “Saya tahu telah
mengganggu waktu rekreasi Anda. Saya minta maaf.”
“Kau punya rokok?”
Barrie merogoh tas dan mengeluarkan bungkus yang
sama dengan yang ditawarkannya pada Vanessa Merritt
beberapa minggu yang lalu. Charlene mengambil sebatang
dan meletakkannya di antara bibimya yang tipis. Barrie
menyalakannya, lalu bertanya apakah Charlene keberatan
ia merekam wawancara mereka.
“Tidak kalau kautinggalkan rokoknya.”
Barrie tersenyum setuju. Setelah memeriksa alat
perekam, ia memulai. “Anda meninggalkan beberapa
pesan yang menarik di voice mail saya di WVUE.”
533
“Kau pikir aku gila.”
“Yah, saya...”
“Kalau tidak kau pasti membalas teleponku.”
Charlene akan menjadi partner dansa teliti yang takkan
mentolerir satu pun kesalahan langkah. Barrie menggunakan
taktik lain. “Anda benar, Mrs. Walters. Saya dulu
menganggap Anda gila. Malah, sekarang pun saya masih
menganggap Anda mungkin saja begitu.”
Sambil mencondongkan tubuh ke depan, Charlene
mengedipkan mata dengan usil. “Kubuat mereka percaya
bahwa aku gila. Sinting, maksudku. Aku menemukan
Tuhan begitu masuk kemari, tapi menjadi gilalah yang
mendatangkan banyak keajaiban. Orang gila hampir
selalu bisa lolos ketika melakukan apa pun. Kau akan
takjub.”
Charlene Walters memang gila. Gila seperti rubah.
“Waktu pertama kali menelepon saya,” kata Barrie, “Anda
meninggalkan pesan ‘Dia sudah pernah melakukannya.’
Siapa yang Anda maksud?”
“Well, kaupikir siapa, tolol? Presiden, tentu saja David
Malcomb Merritt.” Charlene menusuk permukaan meja
dengan kuku jarinya yang patah dan berwama kuning.
“Dia membunuh bayi laki-laki itu, si Robert Rushton
kecil, sejelas aku duduk di sini.”
“Apa yang membuat Anda berpikir begitu?”
“Kau bebal atau bagaimana sih? Kau tidak mendengarkan?
Seperti kataku tadi, dia sudah pernah melakukannya.
Dia membunuh bayi lain. Bertahun-tahun yang lalu.”
Informasi inilah yang membuat Barrie datang jauhjauh
ke Mississippi. “Saya rasa Anda harus lebih spesifik
daripada itu.”
534
Charlene mengembuskan segumpal asap. “Waktu itu
David Merritt bekerja pada Senator Armbruster. Dia
pemuda yang tampan. Punya banyak cewek. Salah
seorang di antara mereka hamil. Namanya Becky Sturgis.
Dia melahirkan anak laki-laki waktu Merritt sedang di
Washington. Ketika pria itu kembali, dia menyodorkan
anak itu padanya. Merritt tak bisa membayangkan dirinya
menjadi ayah dan suami. Tapi Becky, dia sudah
memutuskan untuk menikah dengannya dan terus
merecokinya tentang masalah itu.
“Jadi pada suatu malam, ketika bayi kecilnya baru
berumur beberapa minggu, Merritt pergi ke rumah mobil
Becky untuk membereskannya. Mereka benengkar hebat.
Anak itu menangis menjerit-jerit. Merritt mencekiknya
sampai mati.
“Mungkin dia tidak bermaksud membunuh anak itu.
Mungkin dua cuma ingin membungkam tangisnya. Tapi
karena sudah membunuhnya, kurasa dia berpikir tidak
boleh ada saksi. Dipukulinya Becky Sturgis sampai
mampus.”
Sambil mendengus untuk membersihkan hidung,
Charlene memutar-mutar rokoknya. “Tak ada alasan
untuk kokerasan sepena itu terhadap wanita. Tak ada.
Bahkan kalau aku bukan narapidana, dia takkan memperoleh
suaraku.”
Kisah tadi begitu dahsyat untuk diserap sekaligus, jadi
Barrie menenangkan diri dengan memikirkan betapa
menariknya hidup ini. Sejarah negara bisa diubah oleh
orang tua kurus bagai burung ini, yang dipenjara seumur
hidup karena melakukan perampokan bersenjata dan
535
pembunuhan.
Tapi siapa yang akan mempercayainya? Apakah ia
mempercayainya? Kredibilitas Charlene setipis kertas la
bisa saja mengarang cerita ini untuk mengisi waktu luang.
Kematian Roben Rushton Merritt telah membangkitkan
minatnya Serial SIDS Barrie mengipasi api khayalannya
la menemukan orang yang mau mendengarkan. yang
datang jauh-jauh ke Mississippi untuk berbicara dengannya.
Mengarang kisah ini bisa saja merupakan hiburan
terbaik yang pernah dirasakan Charlene setelah bertahuntahun.
Atau bisa juga cerita ini benar.
Yang mana pun, Barrie memutuskan untuk melanjutkan
dengan hati-hati. Ini dapat menjadi berita abad ini. Jika
ia gagal, bukan cuma masa depannya, tapi juga masa
depan negara akan meniada korban kebodohannya.
“Semuanya kedengaran sangat...”
“Luar biasa,” kata Charlene ketika Barrie tergagap.
“Kau tidak harus mempercayai aku. Tanya si tua
Cletus Armbruster.”
“Senator itu?”
Charlene mengerutkan wajahnya yang keriput dengan
jijik. “Dia politikus paling kotor yang pernah ada di muka
bumi ini, dan itu ada sebabnya.”
“Dia tahu soal Becky Sturgis?”
“Tahu? Sialan, Nak, kaupikir siapa yang membuat
masalah ini lenyap?” teriak Charlene. “Merritt mendatanginya
malam itu juga. Si Senator membereskannya.”
“Senator Armbruster orang yang berkuasa, tapi dia
pun tidak akan mampu membuat dua mayat menghilang
begitu saja,” bantah Barrie. “Apakah tidak ada penyelidikan
536
kriminal?”
“Kalau kau ingin menyebutnya begitu,” kata Charlene
sambil menjentikkan abu rokok dengan marah ke asbak.
“Kantong Armbruster penuh dengan pejabat kota dan
negara bagian. Dia tinggal minta tolong. Becky dan bayi
kecilnya sama sekali tidak berarti bagi orang-orang di
pengadilan itu.”
Barrie menggeleng tak percaya. “Armbruster tidak
mungkin terlibat. Dia takkan mengizinkan Vanessa
menikahi David Merritt, tahu laki-laki itu tega...”
“Kau tinggal di planet apa sih? Tentu saja dia
mengizinkan anaknya menikahinya. Dia ingin putrinya
jadi Ibu Negara.” Charlene menarik napas dan meludah
ke lantai. “Dasar bangsat-bangsat. Semuanya bangsat.
Mereka kira bisa berbuat sesuka hati dan tidak dihukum.
Orang-orang seperti aku dan suamiku, kami harus
membayar kejahatan kami. Tapi orang-orang seperti
Merritt dan Armbruster tidak.”
“Saya kira Anda benar,” ujar Barrie. “Jika semua yang
Anda katakan tadi benar, kapan terjadinya, dua puluh
tahun yang lalu? Jika Armbruster mampu menutupi
pembunuhan ganda, dia pasti berhasil juga menutupi
jejaknya. Tak mungkin ada jalan untuk membuktikan
peristiwa itu memang terjadi.”
Charlene menghantam meja, membuat Barrie kaget
dan terlonjak. “Kau perempuan paling tolol yang pernah
diciptakan Tuhan. Kaukira aku mau menghabiskan
uangku untuk menelepon kau di Washington, D.C., dan
mempertaruhkan batang leherku jika aku tidak punya
bukti?”
537
Bab Empat Puluh Lima
”INI lebih baik daripada yang pantas Anda dapatkan.”
Bill Yancey membungkuk di atas meja, meletakkan
tangannya di permukaannya yang mulus. “Beri kami
bukti bahwa Presiden menghabisi bayi Vanessa dan
mencoba membunuhnya, maka kau tidak akan dituntut.”
Spencer Martin tetap diam. Selama interogasi, ia sama
sekali bergeming, menatap lurus ke depan, kaku seperti
patung, seakan tak terlibat dengan situasi yang
dihadapinya.
Kantor itu sekarang penuh dengan sampah berupa
beberapa tempat makan dan gelas kopi kosong. Ruangan
itu nyaris berasap gara-gara ketegangan yang timbul di
malam yang panjang itu dan keesokan harinya. Meskipun
memprotes, Daily dipindahkan ke hotel. Dua agen FBI
menemaninya dan diperintahkan untuk tetap bersamanya
dan melayaninya sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
William Yancey dan Gray Bondurant seharian berada di
kantor itu, dengan cemas menunggu kabar dari Barrie.
Ketika ia akhirnya menelepon dari penjara Mississippi
dan menceritakan pada mereka percakapannya dengan
Charlene Walters, Yancey berkata, “Kita tidak bisa
bertindak tanpa bantuan orang dalam, dan Spencer
Martin berada di posisi yang sangat dalam.” la meme538
rintahkan Spence supaya didatangkan untuk ditanyai.
Spence tiba tanpa perlawanan namun sampai sekarang
tidak mau bekerja sama.
Gray, yang tidak setuju Spence memperoleh kekebalan,
bertahan karena kebungkaman Spence. Ia sudah
memperingatkan Jaksa Agung bahwa akan lebih mudah
membuat tanaman bicara daripada menyuruh Spence
buka mulut, dan ia benar.
“Sudah kubilang ini akan jadi usaha yang sia-sia,”
katanya sekarang. “Itu sebabnya dia menolak tawaran
Anda untuk memanggil pengacara. Dia tahu dia takkan
mengucapkan sepatah kata pun. Anda bisa menyiksanya
sampai mati, tapi dia tidak akan bicara soal David
Merritt.”
Namun Yancey belum mau menyerah. “Mr. Martin,
beberapa mantan tentara Anda bersedia bersaksi
memberatkan Anda untuk menghindari tuntutan. Anda
terlibat dalam beberapa kejahatan berat, bisa dihukum
bertahun-tahun di penjara federal.”
Nihil.
“Howard Fripp? Nama itu pernah Anda dengar, Mr.
Martin? Seharusnya begitu. Anda tertuduh dalam kasus
pembunuhannya.”
Spence berkedip pun tidak.
“Dia takkan mengatakan apa pun pada Anda,” Gray
berkata. “Dia bahkan tidak akan bilang bahwa aku
menembak dan mengurungnya di ruang bawah tanah
terkunci. Kalau dia mengatakannya, dia akan harus
menjelaskan apa yang dilakukannya di sana. Anda cuma
buang-buang waktu.”
Yancey mengusap kepalanya yang membotak. “Baiklah,
539
Mr. Martin. Tawaran ini cuma berlaku selama tiga puluh
detik yang akan datang. Kalau Anda menolak, Anda akan
jadi subjek penyelidikan Kongres yang takkan ada
tandingannya sepanjang sejarah Amerika.”
Spencer Martin berdiri. “Kalau Anda memang punya
bukti tentang kejahatan yang kulakukan, aku pasti sudah
ditahan. Jangan coba-coba menggertakku lagi, Bill. Anda
cuma akan mempermalukan diri.”
Yancey mengumpat pelan.
Spence tersenyum mengejek, lalu berjalan ke pintu.
“Yancey, Anda keberatan kalau aku bicara empat mata
dengannya?”
Jelas kelihatan Yancey tidak suka, namun ia
mengizinkan. Gray mengikuti Spence pergi ke lorong di
luar.
Begitu pintu ditutup, sikap tenang Spence langsung
lenyap. Disambarnya tenggorokan Gray dan
dihantamkannya ke dinding. Wajahnya berkerut-kerut
dan merah padam karena marah. “Aku ingin membunuhmu
karena mengurungku di ruang bawah tanah sialan itu.”
Gray menepiskan tangan Spence dan mendorongnya.
“Tapi kau takkan melakukannya. Karena membunuhku
merupakan tindakan bodoh, dan tak ada yang pernah
bilang kau bodoh, Spence. Tidak sampai sekarang.”
Secercah rasa ingin tahu tampak di mata Spence.
Hanya sedetik, segera digantikan sikap sinisnya yang
biasa. “Siapa kau, si polisi baik?”
Gray mengangkat bahu. “Kau boleh percaya boleh
tidak. Mestinya kauterima tawaran Yancey.”
“Apakah kau betul-betul mengira dia atau siapa pun,
bisa menjatuhkan pemerintahan David?” Spence tertawa.
540
“Itu takkan pernah terjadi, Gray. Kalian semua akan
dibuat tampak konyol karena mencoba melakukannya.
Kau bergabung dengan pihak yang salah, Sobat. Kami
sangat berhati-hati. Keselamatan David sangat terjamin.
Kau tahu itu.”
“Pemerintahannya runtuh atau tidak bukan masalah
bagimu, Spence. Kau takkan tahu, karena kau akan sudah
lama mati.” Seringai Spence tidak sekurang ajar tadi.
“Mulai mengerti sekarang, Spence? Kau termasuk dalam
rencana David untuk Vanessa, barangkali untuk bayi itu
juga. Jadi, selama kau masih hidup, keselamatannya tidak
terjamin. Begitu dia menyadarinya, riwayatmu akan
tamat.
“David akan menemukan Ray Garrett lain. Ingat dia?
Marinir muda yang baik yang ditugaskan untuk
membunuhku waktu aku jadi duri dalam daging bagi
Ruang Oval? Sayang kau begitu sombong hingga tidak
menyadari betapa rapuh posisimu. Tawaran Yancey akan
melindungimu.”
“Persetan kau.”
“Bagus, Spence. Sikap defensif orang sombong tolol
yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.” Gray membuka
pintu kantor, berkata sambil menoleh, “Hati-hati saja,
Sobat.”
Keesokan siangnya Barrie kembali ke Washington.
Banyak yang terjadi sewaktu ia pergi. Usaha bunuh diri
Dr. George Allan dilaporkan di halaman depan Post. Ia
dalam keadaan koma, istrinya mendampingi.
“Bagaimana mereka bisa merahasiakannya selama dua
hari?” tanya Barrie.
541
“Karena rasa hormat pada keluarganya,” Gray
memberitahunya. “Paling tidak itulah ocehan Neely.”
Mereka jadi tamu pemerintah federal di suite hotel
yang nyaman. Beberapa marshal AS berjaga di depan
pintu. Bill Yancey tengah berbicara di telepon di ruang
sebelah. Sekali-sekali, mereka menangkap potongan
pembicaraannya yang tegang.
“Kasihan Amanda. Dia pasti ngeri menemukan
suaminya seperti itu.”
“Suara tembakan membangunkannya. Dia cepat-cepat
masuk ke ruang kerja George. Kalau tidak, pria itu pasti
sudah mati di mejanya.”
“Aku berharap demi Amanda dia bisa bertahan, dan
jika dia berhasil, semoga otaknya masih bertungsi.”
“Bagaimanapun, keadaan jadi sulit bagi Amanda dan
anak-anak mereka,” kata Gray. “Apa sih yang ada dalam
pikiran si brengsek itu?”
“Kurasa dia putus asa dan tidak tahu mesti berbuat apa
lagi.”
“Selalu ada pilihan lain, demi Tuhan,” tukas Gray
marah. “Yancey mungkin akan menawarinya kesepakatan
untuk jadi saksi bagi negara.”
“Jika dia bertahan hidup,” kata Barie, “aku yakin
memang itulah yang akan dilakukan Bill.”
Ia melihat kekhawatiran di wajah Gray dan teringat
bahwa orangtuanya telah meninggalkannya waktu ia tak
jauh lebih tua daripada kedua putra keluarga Allan. Ia
juga tampak lelah dan berantakan, tidak bercukur dan
gampang tersinggung. Mereka semua kusut. Begitu
banyak yang terjadi selama 48 jam ini.
Dan tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu
542
dekat.
Setidaknya Daily sudah diselamatkan ke tempat yang
aman dan tengah beristirahat dengan tenang. Ia berada di
suite lain yang sama mewahnya di hotel ini. Ketika Barrie
mampir untuk menjenguknya, Daily menggerutu karena
tidak diizinkan pulang, namun ia menikmati TV kabel,
pelayanan kamar, dan kehadiran dua agen FBI muda yang
ditugaskan menjaganya. Mereka mendengarkan semua
ceritanya tentang masa-masa ia bekerja sebagai wartawan
dengan setia.
Barrie melirik surat kabar Post di meja dan menunjuk
berita lain di halaman depan. “Apakah Spence akan
tersinggung karena berita tentang dia cuma sedikit?”
“Bangga, lebih tepat,” ujar Gray. “Dia mengembangkan
aura misteriusnya. Makin sedikit yang diketahui orang
tentang dirinya, makin suka dia.”
“Aku tak habis pikir.” Barrie membaca sekilas berita
singkat itu lagi.
“Aku sudah berusaha memperingatkannya, namun dia
tak mau mendengar. Cuma masalah waktu sebelum David
membereskannya. Satu-satunya hal yang mengejutkan
aku adalah betapa cepat dia bertindak.”
“Kau betul-betul mengira Merritt yang mengatur
perampokan ini?”
“Perampokan omong kosong.” Gray memandangnya
dengan kesal. “Spence diturunkan di depan apartemennya
oleh dua pria yang kelihatan jelas merupakan anggota
FBI. Perampok macam apa yang memilih korban yang
punya teman-teman seperti itu? Spence selalu bersenjata.
Selain pisau, dia juga membawa pistol di pergelangan
kaki. Siapa pun yang merampoknya tahu tentang hal itu.
543
Mereka tahu persis cara melumpuhkannya.”
Setelah apa yang diketahui Barrie di Mississippi, ia
tidak meragukan kekejian Merritt. Tanpa rasa sesal
sedikit pun, ia mampu membunuh temannya yang paling
loyal. Sambil bergidik takut, ia memeluk dirinya sendiri.
“Kita ada dalam daftar hitamnya juga, bukan?”
“Jelas.”
“Kalau begitu, apa pendapatnya tentang ini?”
la menunjuk berita besar ketiga di halaman depan,
yang melibatkan dirinya dan Gray . Vanessa Merritt
menyatakan bahwa ia berhasil membujuk teman-temannya,
Barrie Travis dan Gray Bondurant, untuk mengeluarkannya
dari Tabor House. Mereka bertindak secara sembunyisembunyi
karena kebijaksanaan ketat rumah sakit yang
melarang tamu berkunjung. Keributan, yang
mengakibatkan dituduhnya Barrie dan Gray melakukan
penculikan, tidak beralasan, katanya dari tempat tidur
rumah sakit. Travis dan Bondurant menyerahkannya
langsung pada ayahnya, yang telah menyiapkan helikopter.
Apakah itu kedengaran seperti penculikan?
“Aku yakin Clete yang mengarang ceritanya dan David
tidak menyukainya,” kata Gray tentang pernyataan
Vanessa. “Akan kebetulan sekali baginya jika kita
tertembak sebagai buronan. Tapi sekarang dia tidak
punya pilihan selain mendukung cerita istrinya tentang
peristiwa itu. Takkan ada yang tidak mempercayai
Vanessa dan Clete.”
“Jika aku John Q. Public, aku tidak akan mempercayai
komentar positif apa pun yang mereka katakan tentang
kita. Khususnya setelah insiden di Shinlin.”
Gray mengangkat bahu. “Kita semua sudah berbaikan.”
544
Begitulah kelihatannya, terutama waktu Jaksa Agung
masuk dan memberitahukan perkembangan terakhir pada
mereka. “Senator Armbruster ingin menemuimu.”
“Aku?” seru Barrie.
“Untuk apa?” tanya Gray curiga.
“Dia ingin memberinya berita eksklusif. Katanya
Barrie pantas mendapatkannya.”
“Berita eksklusif tentang apa?” tanya Barrie. “Kirakira
apa, ya?”
“Jangan bersemangat dulu,” Gray berkata. “Kau tidak
boleh pergi.”
“Enak saja! Aku tidak bisa menolak berita eksklusif.”
“Kau kan sudah mendapatkannya.”
“Bukan berarti aku tidak boleh mendapatkan berita
eksklusif lain.”
Gray berpaling pada Yancey. “Sejak Barrie kembali,
yang Anda lakukan cuma berbicara di telepon, sementara
kami duduk gelisah setengah mati di sini. Kenapa kita
tidak melakukan sesuatu? Dengan informasi yang Anda
miliki, Anda dapat mengakhiri semua ini sekarang. Serbu
Ruang Oval, borgol bangsat itu, bacakan dia hak-haknya,
dan bereskan segalanya.”
“Tidak segampang itu. Kita bicara soal Presiden
Amerika Serikat.”
“Aku tahu siapa yang kita bicarakan,” teriak Gray.
“Dan dia pembunuh.”
“Tenang,” Yancey balas berteriak. Kemudian dengan
suara yang lebih tenang, “Kami semua memahami
keinginan Anda untuk membalas dendam Mrs. Merritt
dan bayinya. Jika Presiden bersalah atas kejahatankejahatan
yang dituduhkan padanya—dan semua bukti
545
menuju ke arah itu,” ia menambahkan ketika melihat
Gray akan menyela, “maka kita harus bertindak sangat
hati-hati. Jika kita melakukan satu kesalahan saja, dia
akan bebas. Sementara kita menunggu laporan lab, aku
melihat tidak ada salahnya mengizinkan Barrie bicara
dengan Armbruster.”
“Kuberitahu Anda apa salahnya,” ujar Gray marah.
“Dia sama liciknya dengan David. Anda dengar sendiri
apa kata wanita bernama Walters itu. Daftar tuduhan
terhadap Clete sama panjangnya dengan lenganku. Barrie
mungkin saja berjalan memasuki perangkap yang akan
membuatnya terbunuh.”
Jaksa Agung menggeleng. “Armbruster bilang Mrs.
Merritt pulang dari rumah saat siang ini. Dia juga akan
hadir, jadi tak mungkin orang itu merencanakan
kekerasan.” Yancey menoleh pada Barrie. “Kuduga kau
setuju?”
“Tentu saja.”
“Di mana dan kapan?” bentak Gray.
“Rumah Senator. Pukul delapan.”
546
Bab Empat Puluh Enam
TEPAT pukul delapan Barrie membunyikan bel pintu.
Pintu dibukakan seorang agen Dinas Rahasia yang dengan
sopan meminta tasnya. Pria itu memeriksanya, lalu
menyerahkanya kembali pada Barrie dan memeriksa
sekujur tubuhaya dengan alat pendeteksi logam portabel.
Senator Armbruster maju untuk menyambutnya. Ia
menekan tangan Barrie dengan kedua tangannya dan
dengan emosional berkata, “Kuharap setelah malam ini
kita dapat melupakan semua salah pengertian di antara
kita, Miss Travis. Aku sudah bicara dengan mantan
atasanmu di WVUE. Atas permintaanku, dia setuju untuk
mempekerjakan kau kembali. Kau dapat memiliki
pekerjaanmu lagi.”
“Terima kasih, Senator, namun saya tidak ingin
bekerja di WVUE lagi, apalagi karena belas kasihan.”
Clete tersenyum lebar . “Terus terang aku tidak
menyalahkan kau. Setelah malam ini, kau akan dapat
menjual beritamu pada penawar tertinggi.”
“Saya penasaran soal berita eksklusif yang Anda
janjikan ini.”
“Kalau begitu aku tidak akan membuat kau bertanyatanya
lebih lama lagi.”
la mendahului Barrie ke ruang duduk indah yang ditata
547
penuh selera. Api berkobar-kobar di perapian marmer.
Vanessa, mengenakan gaun rumah berenda-renda dan
tampak serapuh tokoh wanita dalam novel zaman
Victoria, berbaring di dipan. Ia masih diinfus.
Di depan perapian, dengan satu tangan bertumpu di
rak di atas perapian, berdiri Presiden Amerika Serikat.
Tidak ada yang mengatakan ia akan berada di sini.
Tidak tampak konvoi mobil atau rombongan pengiring di
luar rumah. Agen-agen Dinas Rahasia yang kelihatan
cuma dua, yaitu yang ada di ruang depan ketika ia masuk
tadi. Dan ia mengira mereka menjaga Vanessa. Ia
berusaha menutupi kegelisahannya.
“Halo, Miss Travis.”
Dengan susah payah Barrie menggerakkan lidah dan
berkata, “Selamat malam, Mr. President.” Ia nyaris tak
dapat mendengar suaranya sendiri di antara debur
jantungnya.
“Halo, Barrie.”
Barrie memandang Vanessa. “Mrs. Merritt.”
Ia tersenyum. “Setelah semua yang kita alami
bersama, kupikir kau harus memanggil aku Vanessa.”
“Terima kasih.” Duduk di kursi yang ditunjuk Senator,
Barrie menghadapi mereka bertiga seperti saksi di
pengadilan—atau penjahat wanita di hadapan regu
tembak.
“Anda tampak jauh lebih sehat daripada saat terakhir
aku melihat Anda,” katanya pada Vanessa.
“Aku memang jauh lebih sehat. Bagaimana kabar
Gray?”
Barrie melirik Merritt, namun ekspresi pria itu tidak
berubah. “Dia terkejut dengan apa yang terjadi pada
548
Spencer Martin tadi malam.”
“Kami semua juga begitu,” kata Armbruster dengan
kesedihan palsu.
“Gray kirim salam,” kata Barrie pada Vanessa.
“Aku sangat berterima kasih pada kalian berdua karena
membawaku keluar dari Tabor House. Di bawah
perawatan George, aku bisa mati di sana.”
Rasanya Barrie ingin memukuli kepalanya. Apa-apaan
ini, Wonderland? Apakah ia Alice, yang jatuh ke dalam
cermin dan memasuki negeri ajaib? Sejak melewati
ambang pintu rumah Senator Armbruster, tidak ada yang
sesuai dengan dugaannya. Pembicaraan mereka ini seperti
celotehan orang mabuk. Tentunya Vanessa tidak percaya
bahwa George Allan bertindak sendirian, merencanakan
untuk membunuhnya.
Barrie melihat tak ada pilihan selain mengikuti
kejadian aneh ini dan melihat sampai di mana
perkembangannya. “Terima kasih Anda telah menjelaskan
masalah penculikan itu.”
“Itu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.”
Dengan pernyataan sederhana itu, Vanessa menganggap
masalah itu selesai. Senator mengakhiri keheningan yang
terasa tidak enak dengan menawari Barrie minuman.
“Minuman apa yang bisa kuambilkan?”
“Tidak usah, terima kasih. Yang saya inginkan adalah
membicarakan urusan kita. Kenapa Anda mengundang
saya kemari?”
“Kami—bertiga—merasa sudah sepantasnya
mengundangmu, Miss Travis.” Senator rupanya jadi juru
bicara. Sejak menyapanya tadi, Merritt tidak bicara lagi,
namun Barrie secara terus-menerus dan resah menyadari
549
tatapan tajamnya.
“Seperti kataku tadi,” Armbruster melanjutkan “kami
ingin menjelaskan kesalahpahaman ini, menjernihkannya.
Karena ketidakenakan yang dirasakan kedua belah pihak,
kami mengajukan tawaran perdamaian padamu berupa
berita eksklusif.”
“Berita apa?”
Armbruster menatap David, yang melirik Vanessa lalu
Barrie. “Vanessa dan aku akan bercerai.”
Barrie terpana hingga tak bisa bicara, namun ia
memang tidak perlu bicara. Pria itu melanjutkan
penjelasannya. “Dalton Neely akan memberikan pernyataan
pada pers tengah hari besok, meskipun saat ini dia belum
tahu. Dia akan membacakan surat dariku untuk rakyat
Amerika. Aku memberimu salinannya duluan.”
Diambilnya amplop dari saku dada jas dan diserahkannya
pada Barrie.
“Boleh saya baca sekarang?”
la mengangguk. Barrie membuka amplop dan
mengeluarkan dua lembar kertas yang memuat lambang
kepresidenan. Setelah pembukaan yang berbungabunga,
ia sampai pada isi surat dan mulai membaca keras-keras.
“‘Kematian putra kami menimbulkan akibat buruk
pada Mrs. Merritt dan saya sendiri. Tuntutan-tuntutan
jabatan ini juga punya andil besar dalam menimbulkan
perasaan tidak bahagianya. Kami berdua tidak saling
menyalahkan atas pecahnya pernikahan kami. Kami
mengakui kesalahan masing-masing atas keruntuhannya,
meskipun saya berpendapat tanggung jawab yang lebih
besar ada di pihak saya. Dalam kesempatan yang tak
terhitung banyaknya, tugas sebagai presiden mengalahkan
550
tugas saya sebagai suami yang seharusnya memperhatikan
istri.
“‘Vanessa adalah wanita yang sangat tidak egois.
Orang lain takkan sanggup menanggung begitu banyak
beban seperti dirinya. Saya tidak punya perasaan lain
pada Vanessa Armbruster Merritt selain kekaguman dan
cinta yang mendalam.”’
Barrie berhenti membaca dan mengangkat kepala. Ia
seperti melihat tiga potret resmi. Wajah mereka membeku,
menunjukkan keramahan yang sempurna dan tak berubah.
Ia kembali membaca surat. “‘Vanessa dan saya
menyadari bahwa Anda semua, rakyat Amerika, akan
sama kecewa dan sedihnya dengan kami karena peristiwa
ini, namun tak seorang pun kebal dari dilema yang juga
dialami jutaan keluarga di komunitas dunia kita ini. Kami
hanya meminta Anda semua tidak berprasangka buruk
dan menghargai kejujuran kami dalam menghadapi
situasi tidak menyenangkan ini.
“‘Mengikuti contoh yang diberikan ayah mertua saya,
Senator Armbruster, Vanessa dan saya telah
mendedikasikan diri kami untuk pelayanan masyarakat.
Kami merencanakan untuk terus melayani Anda semua
dalam kapasitas apa pun yang akan Anda perbolehkan.
Tentang diri saya, lebih dari kapan pun sebagai presiden
Anda, saya membutuhkan dukungan tulus Anda semua.
Terima kasih.”’
Surat itu ditandatangani David Malcomb Merritt,
Presiden Amerika Serikat. Barrie melipat surat itu dan
memasukkannya lagi ke dalam amplop. “Sangat
mengesankan, Mr. President,” katanya. Sedetik kemudian,
ia menambahkan, “Dan sangat palsu.”
551
“Apa katamu?”
Barrie menarik napas dalam-dalam dan secara psikologis
melompat dari papan terjun yang tinggi. “Anda tidak
sedih dengan perceraian ini, Mr. President. Anda lega.
Karena saya yakin ini bagian dari kesepakatan, bukan?
Kesepakatan yang dibuat dengan Senator Armbruster dan
Vanessa.”
“Ini keterlaluan,” sembur Armbruster. “Kau melebihi
sikap kurang ajarmu sendiri, Nona. Kami mengundangmu
kemari malam ini...”
“Dengan harapan Anda bisa menyuruh saya diam
dengan berita eksklusif tentang perceraian Keluarga
Presiden. Maaf Senator, tidak ada barter . Tidak ada
kesepakatan, Mr. President.” Barrie bangkit dan mendekati
tempat Vanessa berbaring. “Bagaimana Anda bisa menerima
ini?” katanya, memukulkan amplop ke telapak tangannya.
“Padahal dia membunuh anak Anda?”
“Aku akan memanggil Dinas Rahasia.”
“Jangan, Clete,” perintah David, menghentikan ayah
mertuanya di pintu ruang duduk. “Mari kita selesaikan
masalah ini. Miss Travis sudah berminggu-minggu
menyerangku, tak diragukan lagi dipengaruhi oleh Gray.
Sudah waktunya dia mendengar cerita dari pihakku.”
Sambil menghadapi Barrie ia berkata, “Aku tidak
membunuh Robert Rushton Merritt. Aku tidak tahu
bagaimana kau dapat menarik kesimpulan yang konyol
dan penuh fitnah itu, tapi kau keliru.”
“Vanessa mengatakan yang sebaliknya pada saya.
Setelah kejadian-kejadian dalam beberapa hari terakhir
ini, saya mempercayainya.”
“Kau salah menangkap perkataannya waktu dia begitu
552
tertekan hingga tak bisa berpikir jernih.”
Barrie berlutut supaya ia dan Vanessa sama tinggi.
“Ketika Anda menghubungiku untuk pertama kalinya,
apakah Anda tertekan secara klinis? Atau apakah Anda
takut? Apakah dia membunuh anak itu waktu Anda
berada di ruangan itu, atau apakah Anda mendapati dia
berdiri di atas tubuhnya, memegang bantal?”
“Bayi itu meninggal karena SiDS.”
Tanpa memedulikan sang Presiden, Barrie
mencengkeram tangan Vanessa. “Apakah Anda akan
membiarkan dia lolos begitu saja setelah membunuh bayi
Anda dan berusaha membunuh Anda?”
“Kuperingatkan kau, Miss Travis, satu kata lagi,
maka...”
“Ayah Anda membujuk Anda supaya menyetujui
kesepakatan ini, bukan? Bukankah dia yang mengusulkan
supaya Anda tetap tutup mulut sebagai imbalan untuk
perceraian tanpa ribut-ribut? Anda tahu kenapa dia
mendesak Anda supaya menyetujui kesepakatan ini?”
“Karena dia tahu aku takut,” kata Vanessa lemah. “Aku
ingin keluar dari pernikahanku dengan David.”
“Diam, Vanessa,” bentak David. “Jangan katakan apa
pun padanya.”
Barrie membujuknya. “Menurut Anda, kenapa Presiden
setuju bercerai padahal perceraian bisa mengganggu
peluangnya untuk terpilih kembali? Alasan apa yang
cukup kuat hingga dia mengabulkan perceraian?”
Vanessa tampak goyah, namun mata birunya yang
lebar terpaku pada Barrie. “Aku... aku tidak tahu.”
“Karena ayah Anda mengancam akan membeberkan
suatu rahasia mengerikan jika suami Anda bilang tidak.”
553
“Kuperingatkan kau untuk terakhir kalinya...”
“David, biar kupanggil Dinas Rahasia,” kata Clete.
Barrie berbicara mengalahkan suara mereka. “Ayah
Anda tahu di mana mayatnya dikuburkan, Vanessa.
Dalam hal ini, itu bukan sekadar ungkapan. Memang
benar ada mayat terkubur. Mayat bayi lain. Bertahuntahun
yang lalu, dilahirkan oleh wanita bernama Becky
Sturgis. Bayi itu juga tidak diinginkan, jadi suami Anda
membunuhnya. Dan ayah Anda membantunya
menutupinya.”
Vanessa memandang ayahnya. “Daddy? Benarkah?”
“Tentu saja tidak! Wanita itu sinting, Vanessa. Semua
orang tahu. Kau tidak boleh mempercayai sepatah pun
perkataannya.”
“Kalian tidak bisa menggertak, Tuan-tuan,” kata
Barrie. “Percuma saja membungkamku. Sudah terlalu
banyak yang tahu. Semua telah berakhir.”
“Masa bodoh!”
Mendengar teriakan marah Presiden, agen-agen Dinas
Rahasia membuka pintu . “Mr. President?”
Dengan tidak sabar Merritt mengibaskan tangan
menyuruh mereka pergi. “Keluar,” teriaknya. “Ini urusan
pribadi.”
“Siapa yang akan melakukan pekerjaan kotor Anda
kali ini, Mr. President?” tanya Barrie . “D r. Allan
mencoba bunuh diri karena kontribusinya pada kejahatan
Anda.”
“Dia mencoba bunuh diri karena ketidakmampuannya
sendiri. Dia seperti seorang Barrie Travis di dunia
kedokteran, pecundang total. Menembak kepalanya
sendiri saja tidak bisa.”
554
“Bagaimana dengan Spencer Martin?” Barrie bertanya.
“Anda membunuhnya semalam karena dia tahu terlalu
banyak rahasia. Apakah dia ada dalam ruangan ketika
Anda membunuh bayi itu?”
“Kau membunuh Spence?” jerit Vanessa.
David memandangnya dengan marah, lalu ia berkata
pada Barrie, “Aku tidak membunuh bayi itu. Mesti berapa
kali aku mengatakannya? Kalau Spence ada di sini, dia
akan mengatakan hal yang sama padamu. Aku tidak
membunuhnya. Dia yang membunuhnya!” serunya,
menghunjamkan jarinya ke arah Vanessa.
Vanessa berteriak kaget dan marah.
“Vanessa tidak membunuh anaknya,” kata Barrie.
Seperti Becky Sturgis juga tidak membunuh bayi lakilakinya.
Andalah yang mencekiknya.”
“Oh, Tuhanku. Ya Tuhan!” ratap Vanessa.
“Betul,” Barrie berkata padanya. “Lalu dia memukuli
wanita muda itu tanpa ampun. Paling tidak dia
memperoleh satu pelajaran dari pengalaman itu. Dia
belajar untuk menggunakan taktik yang lebih halus.”
Vanessa menghadap ayahnya lagi. “Benarkah ini,
Daddy? Apakah Daddy tahu?”
Tampak selemas ban dalam yang kempes, Senator
mundur ke kursi dan mengempaskan diri. Posturnya
menunjukkan perasaan bersalah yang membebani dirinya
selama dua puluh tahun.
Vanessa menjerit seperti orang kesakitan. “Memang
benar. Oh, Tuhan! Kenapa Daddy membiarkan aku
menikahinya? Kenapa Daddy mendorong aku agar
memiliki anaknya?” Vanessa tersedu. “Aku begitu
menginginkan anak.” Ia memandang suaminya seperti
555
memandang sosok setan. “Tega-teganya kau
membunuhnya! Dia begitu tak berdaya, begitu manis.”
Merritt tertawa parau. “Kau wanita sentimentil yang
tolol sekali, Vanessa. Dan pembohong besar. Bayi itu
membuatmu kacau. Kau tak tahan mendengar tangisnya.
Kau tak mampu merawatnya, sama seperti kau tak
mampu mengurusi hal-hal lain. Kau tidak menyayangi
bayi itu. Cairan yang disemprotkan Gray ke dalam
tubuhmu itu, dan yang sekarang kauromantisasi dengan
begitu konyol, cuma sampah. Sampah itu mestinya
disiram. Itu akan menghindarkan kita dari banyak
masalah.”
Barrie terpana mendengar kekasaran kata-kata Presiden.
Armbruster juga kaget sampai tak bisa bicara.
Namun Vanessa tidak. Dengan mata menyala-nyala, ia
berdiri. Ia terhuyung sedikit, namun tangannya
mencengkeram sandaran tempat tidurnya supaya tidak
jatuh. “Dasar bangsat, bukan Gray orangnya. Spence.”
“Spence?” seru Merritt.
Spence? Pikiran Barrie berputar cepat.
Tanpa memedulikan slang infus di lengannya, Vanessa
mendekati suaminya, menyeret tiang beroda di
belakanguya. “Ya, Spence. Spence!” Ia benar-benar
meludahkan nama itu di wajah Merritt. “Kaupikir Gray
kekasihku karena kau ingin berpikir dialah orangnya.
Laki-laki yang memiliki loyalitas tak tergoyahkan
terhadap tugas serta mana yang benar dan salah seperti
Gray Bondurant tak mungkin tidur dengan istri teman
baiknya!” Vanessa tertawa mengejek.
“Yang benar saja, David. Gray bersikap baik padaku
cuma karena dia tahu soal pacar-pacarmu. Tak pernah
556
terlintas di benakmu bahwa Spence-lah yang meniduri
istrimu,” Vanessa berkata dengan suara bangga yang
sama, senang dapat menghancurkan ilusi suaminya
tentang pria yang begitu dipercayainya.
“Tapi dia memang meniduriku . Dan aku memang
menginginkannya berbuat begitu. Hanya saja, aku
tertipu. Dia tidak lebih bagus dalam urusan itu daripada
kau. Dia bajingan dingin, tanpa perasaan persis seperti
kau. Dia bahkan senang bayi itu meninggal.” Suara
Vanessa bergetar. “Spence tidak menginginkan bagian
dirinya, dan itu menghancurkan hatiku. Tapi paling tidak
anak itu bukan anakmu. Paling tidak aku tidak
mengandung anakmu.”
Merritt menamparnya.
Armbruster langsung melompat dari kursi. Sambil
menggeram seperti singa tua, ia menerjang anak asuhnya.
Namun dengan mudah Merritt menyingkirkannya. “Kau
tidak punya tenaga, secara kiasan maupun harfiah. Kau
orang kasim. Kau tak punya nyali untuk memaksaku
membuat keputusan apa pun.”
Lalu sambil memandang istrinya David berkata, “Aku
berubah pikiran soal perceraian itu, Vanessa. Bukan
tentang mengabulkannya, tapi tentang alasannya. Kurasa
sudah waktunya dunia tahu pelacur seperti apa sebetulnya
wanita kesayangan mereka.
“Sedangkan kau,” ia berkata pada Barrie, “kalau kau
tahu apa yang bagus bagimu, kau akan menyingkir. Dan
ajak Bondurant juga.”
Ia berjalan cepat ke pintu dan menyentakkannya.
Gray Bondurant berdiri di balik pintu bersama Jaksa
Agung Yancey dan seregu agen federal.
557
“Mr. President, Anda berhak menutup mulut...”
“Apa yang kaulakukan di sini, Bill?”
Gray mendorong Yancey dan Merritt, lalu membungkuk
di atas kedua wanita itu. “Kalian tidak apa-apa?”
Sambil memeluk Vanessa yang menangis tersedu-sedu,
Barrie mengangguk. “Dia baik-baik saja.”
“Kau bagaimana?”
“Aku juga. Terguncang. Dia tadi seperti ingin
membunuhku dengan tangan kosong.”
“Akan kubunuh dia duluan,” kata Gray. Ditatapnya
Barrie selama lima detik, lalu berpaling dan membantu
yang lain, menangkap Presiden dan Senator Armbruster.
Merritt tidak bereaksi dengan tenang dan terhormat. Ia
mengamuk seperti orang gila. Ia meneriakkan sumpah
serapah pada Yancey, namun Yancey tetap tenang sewaktu
membacakan Presiden hak-haknya.
Kemudian Merritt mulai berceloteh bahwa Vanessa,
bukan dia. yang telah membunuh putra mereka, dan
bahwa semua yang dilakukannya sejak itu cuma untuk
melindunginya. “Dia yang menghabisinya. Dia. bukan
aku. Dia yang gila.”
“Saya peringatkan Anda supaya tidak mengatakan apaapa
lagi, Mr. President,” Yancey berkata. “Anda terlibat
kejahatan lain di Mississippi.”
“Aku tidak tahu kau bicara apa. Clete! Clete, bilang
pada mereka betapa tidak warasnya Vanessa.”
Armbruster membuka mulut, namun bibirnya layu.
Daging di bawah dagunya bergoyang-goyang ketika ia
berusaha namun gagal mengatakan sesuatu.
“Senator Armbruster akan mendapat kesempatan
untuk bersaksi,” Yancey memberitahu Merritt.
558
“Kesaksiannya akan sama berharganya bagi kami dengan
kesaksian saksi mata.”
“Tidak ada siapa-siapa di ruang anak selain Spence,
Vanessa, dan aku. Spence sudah mati, dan Vanessa
berbohong.”
“Yang saya maksud bukan kematian Robert Rushton
Merritt,” Yancey menjelaskan. “Kami punya saksi mata
untuk pembunuhan di Mississippi itu.”
Akhirnya, kata-kata Jaksa Agung tampaknya berhasil
menembus kabut kemarahan David Merritt. Untuk
pertama kalinya, ia kelihatan menyadari realitas muram
situasinya. Lama ia melotot pada Yancey, lalu beralih
pada Clete.
Clete balas menatap orang yang diciptakan dan
sekarang dihancurkannya itu, namun dengan kerugian
pribadi yang luar biasa.
Mata Merritt menyipit dan memancarkan api
kemarahan. “Dasar bangsat licik,” ia mendesis. “Apa yang
telah kaulakukan?”
559
Bab Empat Puluh Tujuh
“SENATOR ARMBRUSTER ada di sana waktu saya
siuman.”
Suara bergumam lembut Becky Sturgis memenuhi
studio TV yang sunyi senyap. Para kru telah mengunci
kamera-kamera. Seperti jutaan orang yang menontonnya
di TV di seluruh dunia, mereka juga terhanyut dalam
kisahnya. Ia memandangi tangannya, yang menggenggam
erat di pangkuan.
“Ketika sadar, saya ingat berharap bahwa saya
terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan, tapi
semuanya temyata nyata. Bayi saya meninggal. Tubuh
kecilnya terbaring diam di lantai tempat David menjatuhkannya
tadi. Banyak darah. Saya rasa itu darah saya.
David memukul saya keras sekali.”
“David Merritt, sang Presiden?”
“Ya, Ma’am. Tapi dia bukan presiden saat itu.”
Ia mengenakan syal untuk menutupi cekungan permanen
di pelipisnya. Di tempat itu kulit kepalanya dijahit
seadanya di atas tengkoraknya yang hancur. Ia merasa
amat rendah diri dengan cacatnya itu. Ketika Barrie
menemuinya, ia mengenakan seragam penjara.
Malam ini ia mengenakan gaun sederhana. Selain syal
tadi, ia tidak memakai perhiasan apa pun.
560
“Setelah dia memukul saya untuk pertama kalinya itu,
saya tidak ingat apa-apa sampai siuman dan Senator
Armbruster berlutut di samping saya, meraba nadi di
leher saya. Dia terkejut melihat saya masih hidup, karena
David memberitahunya bahwa saya sudah mati.”
“Dia juga memberitahu Senator Armbruster bahwa
Anda membunuh bayi itu.”
“Bukan saya,” kata wanita itu sengit. “David yang
melakukannya. Dan saya beritahukan yang sebenarnya
pada Senator. Dia bilang pada saya supaya jangan
khawatir, dia akan membereskannya.”
“Apa yang dilakukannya?”
“Dia memanggil dokter, yang datang ke trailer dan
menjahit kulit kepala saya dan menyuntikkan obat
penghilang sakit.”
“Anda tidak dibawa ke rumah sakit?”
“Tidak, Ma’am.”
“Kapan polisi dipanggil?”
“Senator Armbruster menelepon kantor sherif. Ketika
para petugas datang...” Becky mulai menangis. Barrie
tidak mendesak. Ia memberinya waktu untuk menenangkan
diri sebelum mulai lagi. “Senator Armbruster berbohong
pada mereka. Dia mengatakan saya telah membunuh bayi
saya. Dia menyuruh mereka menangkap saya. Mereka
membawa saya ke kota dan mulai menanyai saya. Mereka
ingin saya menandatangani pengakuan, yang menyatakan
saya telah melakukan pembunuhan tak berencana Saya
menolak. Selama beberapa waktu.”
“Dan belakangan, Anda setuju?”
“Ya, Ma’am. Cuma supaya mereka tidak mengganggu
saya lagi. Kepala saya sakit sekali. Saya muntah beberapa
561
kali. Saya remuk redam. Jadi saya tanda tangani surat
yang menyatakan saya telah membunuh bayi saya. Tapi
sebetulnya tidak. David Merrit yang membunuhnya, dan
dia dibiarkan mengira telah membunuh saya.”
Dengan sangat sedikit bimbingan Barrie, Becky
Sturgis bercerita mengenai ketidakadilan yang diatur oleh
Senator Armbruster. Ia minta bantuan teman-temannya di
dunia politik. Dalam beberapa hari, hakim menjatuhinya
hukuman penjara seumur hidup. Ia dipindah dari penjara
county ke penjara negara bagian, dan di sana ia tinggal
sampai dua hari yang lalu, ketika Barrie mengetahui
keberadaannya dari Charlene Walters. Jaksa Agung
Yancey bicara dengan pihak berwenang Mississippi
supaya ia boleh dibawa ke Washington.
Barrie bertanya, “Apakah menurut Anda Senator
Armbruster mempercayai David Merrit mengenai masalah
Anda? Menurut pendapat Anda, apakah senator itu betulbetul
percaya dia telah menegakkan hukum dengan
memasukkan Anda ke dalam penjara?”
“Saya tidak tahu,” Becky menjawab jujur. “Tapi saya
curiga dia menipu saya supaya David tidak mengalami
kesulitan.”
“Anda sadar bahwa selama bertahun-tahun ini David
Merrit yakin Anda sudah meninggal?”
“Saya tidak mengetahuinya sampai kemarin. Saya rasa
senator itu menipunya juga.”
Supaya tetap bersikap objektif, Barrie menahan diri
untuk mengatakan fakta yang sudah jelas: Senator
Armbruster mempertahankan Becky Sturgis untuk berjagajaga
seandainya ia perlu menggunakan wanita itu sebagai
alat untuk melawan menantunya. Barrie menemukannya
562
sebelum Armbruster kehabisan akal hingga
membutuhkannya.
“Selama ini Anda dipenjara, Miss Sturgis?”
“Ya, Ma’am. Permohonan bebas bersyarat saya dua
kali ditolak.”
“Kenapa? Menurut catatan, Anda narapidana teladan.”
“Saya tidak tahu kenapa, Ma’am. Dewan menolak saya
begitu saja.”
Barrie membiarkan keheningan terbentang supaya
pemirsa dapat menarik kesimpulan lain yang sudah jelas:
Armbruster telah memastikan bahwa Becky Sturgis
takkan mendapatkan pembebasan bersyarat.
“Beberapa tahun yang lalu, Anda tinggal di sel yang
sama dengan wanita bernama Charlene Walters. Anda
menceritakan kisah Anda padanya.”
Becky Sturgis mengangguk. “Itu setelah David jadi
presiden. Mula-mula Charlene tidak mempercayai saya,
berpendapat saya cuma mengarang-ngarang. Tapi ketika
bayinya meninggal di ruang anak Gedung Putih, dia
mulai berpikir mungkin saya mengatakan yang sebenarnya.
Khususnya sesudah dia menonton serial Anda tentang
SIDS. Charlene jadi berpikir, barangkali Robert Rushton
Merrit termasuk bayi yang dibunuh tapi dibuat seolah
meninggal karena SIDS.”
“Miss Sturgis, ini pertanyaan paling sulit yang saya
ajukan pada Anda malam ini. Saya yakin semua orang
ingin tahu mengapa Anda dulu tidak bicara. Selama
bertahun-tahun di penjara, mengapa Anda tidak
menceritakan pada seseorang bahwa Anda dijebak dan
kemudian dipaksa menandatangani pengakuan palsu?”
Ia mengangkat bahu, seolah pasrah sepenuhnya dengan
563
kekacauan hidupnya. “Tak ada yang memikirkan ketika
saya menghilang. Tak ada yang mencari saya. Saya belum
terlalu lama tinggal di kota itu. Saya rasa orang-orang
berpikir saya pergi begitu saja seperti ketika saya datang.
Saya tidak punya keluarga. Mau bicara dengan siapa
saya?”
“Apakah Anda tidak memiliki pengacara?”
“Punya, Ma’am. Mereka menugaskan seorang
pengacara untuk saya malam itu di kantor sherif tapi
orang itu terus memberitahu bahwa lebih baik saya
menandatangani pengakuan. Dia bilang mereka mungkin
akan memperberat tuduhan menjadi pembunuhan
berencana kalau saya tidak mengaku melakukan
pembunuhan tidak direncanakan. Dalam sidang
pembunuhan berencana, katanya, saya bisa saja kalah dan
memperoleh hukuman mati.
“Lagi pula, saya lama sakit. Saya menderita sakit
kepala yang membuat saya masuk klinik penjara selama
berhari-hari. Kadang-kadang saya pingsan dan tidak
dapat mengingat beberapa hal. Butuh waktu beberapa
tahun sebelum saya merasa otak saya normal lagi.
“Saat itulah saya mulai menulis surat pada pengacara
itu, tapi dia cuma membalas beberapa kali. Kemudian dia
berhenti membalas sama sekali. Saya berusaha
menghubunginya lewat telepon, namun selalu diberitahu
dia tidak ada di tempat dan tidak pernah balas menelepon
saya. Suatu hari pengacara lain—saya menulis namanya,
tapi entah di mana— datang menemui saya di penjara.
Dia bilang pengacara saya sudah meninggal dan saya
dilarang mengganggu mereka lagi. Kalau saya lakukan,
akan ada balasan berat dari Armbruster, katanya. Saat itu,
564
David sudah menjadi anggota Kongres. Saya melihat
tidak ada gunanya melanjutkan perbuatan saya. Siapa
yang akan lebih mempercayai kata-kata saya daripada
kata-kata David Merrit dan Clete Armbruster?”
“Itu pertanyaan yang bagus, Miss Sturgis. Kenapa
kami mesti mempercayai Anda? Bukti apa yang Anda
miliki sehingga mengatakan David Merritt membunuh
bayi Anda, memukuli Anda, dan meninggalkan Anda
sampai mati?”
“Tidak ada. Tapi saya dapat membuktikan dia ayah
bayi saya,” katanya bangga. “Pada hari bayi saya
dibunuh, saya memotong sejumput rambutnya dan
sepotong kukunya. Selama bertahun-tahun ini saya
menyimpannya di kotak pâpier-mache kecil. Sekarang
kotak itu ada pada Mr. Yancey. Dia bilang mereka bisa
mengetesnya untuk membuktikan apakah David ayahnya
atau bukan. Saya tidak ingin melepasnya, karena cuma itu
yang saya miliki dari bayi saya. Tapi Mr. Yancey berjanji
akan mengembalikannya begitu laboratorium selesai
memakainya. Orang-orang boleh saja menganggap saya
berbohong, namun bayi saya akan mengatakan yang
sebenarnya.”
Barrie tak dapat memikirkan penutup lain yang lebih
cocok untuk mengakhiri wawancara ini. “Terima kasih,
Miss Sturgis.”
Ia menoleh dan menghadap kamera studio ketika
kamera mendekat untuk mengambil gambar close-up.
“Menurut Jaksa Agung Yancey, tes awal DNA
potongan rambut dan kuku itu telah menunjukkan bahwa
David Merritt adalah ayah putra Becky Sturgis. Ini akan
sangat berpengaruh terhadap peninjauan penangkapan
565
dan pengakuan Miss Sturgis. Pihak yang berwenang
mengatakan dia akan menjalani persidangan yang
seharusnya dilakukan bertahun-tahun yang lalu. Saat ini
masih belum ditentukan apakah David Merritt akan
dituntut karena melakukan pembunuhan berencana,
meskipun dia sudah dituduh menghalangi hukum,
bersama Senator Armbruster.
“Senator Armbruster telah ditahan di rumah. Dia
secara resmi menyerahkan kursi Senat-nya tadi siang.
Presiden Pietsch disumpah menjadi presiden setelah
Kongres memanggil David Merritt dan mendesaknya
mengundurkan diri.
“Mantan presiden itu juga ditahan di dalam Blair
House, tempatnya berada sampai Jaksa Agung Yancey
memiliki kesempatan untuk mengorganisir dua
penyelidikan menyeluruh, yang satu tentang kejahatankejahatan
di Mississippi, yang lainnya kematian Robert
Rushton Merritt.
“Terlalu dini untuk berspekulasi apa hasil akhir kisah
luar biasa ini. Sepanjang sejarah negara kita, presidenpresiden
lain telah mengalami berbagai skandal, namun
tak ada yang sedahsyat ini.
“Terbukti atau tidaknya tuduhan kejahatannya nanti,
faktanya adalah David Merritt telah kabur dari lokasi
kejahatan di Mississippi untuk menghindari kewajiban
bersaksi dan kemungkinan diadili. Itu saja sudah
merupakan kejahatan federal dan cukup berat untuk
mengakhiri jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat.
“Di sini Barrie Travis. Selamat malam.”
566
“Hai. Masuklah.” Barrie berdiri menyamping dan
menyilakan Gray masuk ke suite hotel tempatnya
menginap untuk sementara.
“Terima kasih. Aku merasa terhormat berada di
ruangan yang sama denganmu. Kau sangat terkenal.”
“Ketenaranku tidak mengesankan bagian pelayanan
kamar. Mereka tetap saja butuh waktu lama sekali untuk
mengantarkan club sandwich.” Ia melihat jam. “Empat
puluh menit dan terus berjalan. Sementara itu, aku
kelaparan.”
“Kenapa lampunya?”
“Tidak apa-apa. Begini terasa lebih tenang.” Suite itu
gelap, hanya diterangi lampu redup di dekat jendela.
Gordennya terbuka, menampakkan keindahan ibu kota di
malam hari.
Barrie baru saja selesai berlama-lama mandi air panas,
dan kini tubuhnya terbungkus mantel handuk dari telinga
sampai mata kaki, hadiah dari hotel. Rambutnya masih
basah, diselipkan di balik telinga.
“Aku menonton wawancaramu,” kata Gray santai.
Barrie memandangnya dengan penuh harap, menahan
napas.
“Wawancaramu bagus, Barrie.”
Meskipun senang melihat senyum hangat Gray, ia
bersikap merendah. “Aku tidak berbuat apa-apa. Kisahnya
yang hebat.”
“Kalau bukan karena kau, takkan ada kisah.”
“Kalau bukan karena Merritt dan Armbruster kisahnya
takkan ada. Aku tidak menikmati apa yang harus
dikatakan Becky Sturgis pada dunia.”
“Di mana dia sekarang?”
567
“Di hotel. Bill menugaskan beberapa marshal wanita
untuk menemaninya. Dia akan dikembalikan ke penjara
besok dan harus tetap di sana sampai kasusnya ditinjau
oleh hakim di Mississippi.”
“Wawancaramu begitu menyentuh, pasti masyarakat
akan meminta dia dibebaskan.”
“Seburuk-buruknya, dia akan disidang di hadapan juri.
Aku akan terkejut kalau dia dijatuhi hukuman. Kalaupun
ya, dia mungkin dinyatakan telah selesai menjalani masa
hukumannya, mengingat tahun-tahun yang telah dilaluinya
di penjara selama ini.”
Setelah berpikir serius sebentar, Gray bertanya, “Apa
yang dilakukan CNN untuk menggaetmu?”
“Tawaran mereka yang paling tinggi. Aku bisa bilang
apa?” kata Barrie seraya mengedip-ngedipkan mata. “Aku
kan bisa dibeli.”
“Itu sandwich-mu,” kata Gray ketika ia pergi membuka
pintu. Ia menandatangani tagihan dan meletakkan baki di
meja kopi di depan sofa.”
Amanda Allan menelepon,” Barrie memberitahunya.
“George menunjukkan tanda-tanda yang membangkitkan
semangat para dokter . Amanda optimis. Dia sangat
mencintai George dan bersedia memaafkan semua
perbuatannya jika pria itu sadar kembali.”
“Aku memang sudah menduga dia akan berbuat
begitu,” kata Gray. “Bagaimana kabar Daily?”
“Aku yang membayar biaya hotelnya sekarang. Aku
tidak mau dia kembati ke rumah reyot itu. Sudah cukup
menyedihkan bahwa dia sekarat. Dia tidak boleh
meninggal di sana. Lagi pula, kupikir tak satu pun dari
kita sanggup kembati ke sana tanpa mengingat hari-hari
568
terakhir kita yang mengerikan di sana.”
“Di mana dia akan tinggal?”
Barrie memungut remah roti. “Aku sedang berpikirpikir
untuk membeli rumah. Di pinggiran. Dengan
paviliun untuk tempat tinggal Daily. Pembayaran asuransi
town house-ku lebih dari lumayan, dan dengan gaji yang
tengah kunegosiasikan; aku bisa dibilang akan mampu
membeli apa saja yang kumginkan. Aku bisa mencari
anjing untuk menemaninya kalau aku sedang tidak ada.
Kupikir aku siap untuk menyayangi anjing lain, meskipun
aku takkan pernah melupakan Cronkite, tentu saja.”
“Sudah kauberitahukan ide ini pada Daily?”
“Dia mengomel panjang-pendek, bilang dia tidak mau
dikasihani, tapi nanti juga bersedia,” kata Barrie,
tersenyum sayang. Setelah memakan seperempat sandwich,
ia mendorong piringnya.”Katamu tadi kau
kelaparan.”
“Ternyata tidak.”
“Ada apa, Barrie?”
“Tidak apa-apa,” kata Barrie tidak sabar. Kemudian,
segan-segan ia berkata, “Entahlah.”
“Kau berada di tempat yang selama ini kauinginkan, di
puncak profesimu dengan semua jaringan berita di negara
ini memohon-mohon kau mau bekerja pada mereka. Kau
tinggal menyebutkan hargamu. Kau melakukan
Wawancara Abad Ini. Kukira aku tadi akan mendapatimu
minum sampanye.”
“Itu juga yang tadinya kukira akan kulakukan,” kata
Barrie sendu. “Tapi kau akan terkejut kalau tahu betapa
berat rasanya menjadi orang yang bertanggung jawab atas
jatuhnya seorang presiden.”
569
“Bukan kau yang bertanggung jawab. David sendiri
yang menyebabkan kejatuhannya.”
“Kau benar, tentu saja. Di atas sini,” katanya mengetuk
kepalanya, “aku tahu kau benar. Mungkin aku ragu
karena apa yang terjadi Howie. Dia jadi korban, padahal
seharusnya tidak. Aku merasa secara tidak langsung aku
harus disalahkan.”
“Spence yang harus disalahkan.”
Barrie menghela napas panjang. “Kurasa ini semacam
gejala postpartum. Setelah berjuang keras, aku berhasil
melahirkan sang bayi, namun tidak yakin apakah saat ini
aku menyayanginya.” Sambil mengalihkan pandangan, ia
berkata, “Omong-omong, Vanessa meneleponku tadi
siang.”
Gray memandangnya dengan tatapan bertanya.
“Dia mengucapkan terima kasih karena aku melakukan
wawancara Becky Sturgis dengan nada rendah, padahal
sebetulnya bisa mengeksploitasi kisahnya, membuatnya
lebih menggegerkan.” la terdiam dan memikirkan
masalah itu sebentar. “Kurasa sikap menahan diri itu
menunjukkan bahwa aku semakin dewasa. Aku banyak
berkembang, secara pribadi dan profesional.”
“Pasti.”
“Oya,” kata Barrie, menghilangkan nada introspeksi
dalam suaranya, “Vanessa keluar dari Gedung Putih
malam ini, tapi dia tidak sedih meninggalkannya karena
tempat itu mengandung banyak kenangan yang begitu
mengerikan baginya.
“Hatinya hancur mendengar kisah Becky Sturgis. Dia
terus mengatakan tak bisa mengerti bagaimana ayahnya
dapat terlibat dalam urusan yang begitu menggetarkan
570
hati nurani—itu kata-kataku, bukan kata-kata Vanessa.
Dia bukan cuma menutup-nutupi kejahatan keji, tapi juga
mengizinkannya menikahi David. Clete bahkan
mendorongnya. Dia merasa dikhianati.”
“Sampai di mana kebenciannya pada Clete?” tanya
Gray.
“Dia menyatakan takkan pernah memaafkannya.”
“Penolakan Vanessa memang pantas didapatkan oleh
laki-laki itu, namun hati Clete akan hancur.”
Barrie mengangguk. “Dia berjanji pada Bill Yancey
akan membantu sepenuhnya kalau Bill memulai
penyelidikan tentang kematian Robert Rushton. Karena
sekarang tidak perlu takut dibunuh lagi, dia dapat
mengatakan yang sebenarnya. David membunuh bayi itu,
namun Spence-lah yang mengusulkan supaya mereka
menyatakan penyebabnya SIDS.”
“Kedengarannya memang seperti Spence. Membuat
semua hal sederhana merupakan keunggulan laki-laki
itu.”
“Apakah Vanessa cinta padanya?”
“Pada Spence? Tidak. Dari pria itu dia menginginkan
apa yang diinginkannya dari setiap pria—perhatian dan
perlindungan. Untuk balas dendam dia meniru perbuatan
David, dengan laki-laki yang kesetiaannya dikira David
tak tergoyahkan. Tapi ketika Spence meninggalkannya,
Vanessa sulit menerimanya.”
“Dan berpaling padamu.”
“Untuk persahabatan.”
Barrie bangkit dan mengitari meja kopi dengan
gelisah. “Aku tak yakin cuma itu yang diinginkannya.”
“Cuma itu yang didapatkannya.”
571
“Mestinya kau memberitahu aku.”
“Tidak ada yang perlu diberitahu.”
“Kau kan bisa bilang begitu padaku.”
“Aku tidak menginginkan Vanessa, dan aku tidak
pernah tidur dengannya. Titik. Puas?”
“Ya. Begitu sulitkah mengatakannya?”
Gray meluruskan jari-jarinya dan menempelkannya di
bibir, kemudian mengamati Barrie sampai wanita itu
bergerak-gerak gelisah. “Apa?” tanya Barrie sengit.
“Kurasa yang sebetulnya membuatmu kalut adalah aku
belum menyatakan cinta abadiku.”
Barrie tertawa terbahak-bahak dengan kaku. “Itu dia.
Kau besar kepala lagi. Kau punya kebiasaan buruk
berbuat begitu, Bondurant.”
“Aku di sini bersamamu, Barrie,” kata Gray tenang.
Kemudian ia mengulurkan tangan, memegang tali mantel
Barrie, dan pelan-pelan menariknya ke dekatnya. “Rumah
yang ingin kaubeli ini, seberapa besarnya?”
“Kenapa?”
“Aku ditawari pekerjaan di Departemen Kehakiman.
Semacam pekerjaan paruh waktu. Kedengarannya
menarik. Aku akan menghabiskan banyak waktu di
Washington dan butuh tempat tinggal.”
“Begitu.” Jantung Barrie berdebar makin kencang.
Selera makannya muncul kembali. Malah sebenarnya, ia
kelaparan. “Bagaimana dengan Rocket, Tramp, dan
Doc?”
“Akan kuminta seseorang menjaga mereka dan
tempatku selama aku tidak ada. Pekerjaan ini akan
memiliki banyak waktu luang. Aku bisa sering pulang ke
Wyoming.”
572
“Kau sudah merencanakan semuanya.”
“Begitulah.”
Ia menarik kedua ujung tali itu membuka mantel, lalu
menyusupkan tangannya ke dalam dan meletakkannya di
pinggang Barrie. Matanya membuat wanita itu terpaku.
“Kau pernah bilang agar aku tidak mengabaikanmu
seolah kau tidak berarti. Kau berarti, Barrie. Singkirkan
semua sampah emosional yang ditimbulkan orangtuamu.
Ayahmu tidak menipu siapa-siapa selain dirinya sendiri.
Kau sangat berarti.”
Kemudian ditekannya Barrie supaya duduk di
pangkuannya, dilingkarkannya tangannya di leher wanita
itu, ditariknya, dan diciumnya, lidahnya bergerak erotis,
membuat perut Barrie kacau balau dan hasratnya
menggelora.
Ujung jemari Gray menemukan puting payudaranya
yang tegang dan sensitif. Ia membelainya sementara
Barrie sibuk melepaskan pakaiannya, lalu menyatukan
tubuh mereka. Ia bergerak dengan penuh gairah tanpa
malu-malu. Dari mana ia belajar bergerak seperti ini?
Dari mana ia memperoleh kemampuan bercinta yang
membuat Gray meraih kenikmatan seperti ini? Dari siapa
ia mewarisi ilmu “hitam” ini?
Tak satu pun pengalamannya dapat menandingi reaksi
tubuhnya terhadap Gray, atau keinginannya untuk
menyenangkan laki-laki itu. Beberapa detik sebelum
Barrie mencapai puncak, Gray merasakannya. “Kau akan
berteriak seperti saat terakhir dulu?””Kecuali kalau
kauhentikan.”
“Demi neraka, tidak akan,” erang Gray seraya
mencengkeram pinggul Barrie dan menahannya.
573
Napas Barrie tersentak. “Maksudku... kecuali kalau
kau menghentikan aku... aku mungkin akan berteriak.”
Bibir Gray menciumnya lagi, dan terlepas ketika
mereka mencapai puncak bersama-sama. Ia membenamkan
wajahnya di belahan payudara Barrie. Desahan lembut
dan pendek-pendek wanita itu menjadi suara yang amat
erotis di dalam kegelapan.
Setelah itu ia jatuh ke dada Gray, dan menciumi
lehernya. Lama Gray memeluknya. Ketika akhirnya
menjauhkannya, ia mengusap rambut Barrie yang basah
dari wajahnya, menyusuri tulang pipinya dengan ujung
telunjuk, membelai bibirnya yang lembap dengan ibu
jarinya.
Tak pernah ia bersikap begitu lembut, hingga mata
Barrie jadi berkaca-kaca. Ia membisikkan sepatah kata,
“Bondurant.”
“Kau tahu,” kata Gray, “suaramu saja bisa membuatku
terangsang. Aku jadi malu.”
Sambil tertawa lembut, Barrie mencondongkan tubuh
untuk menciumi leher laki-laki itu. “Jadi bisa dipastikan
kau betul-betul mabuk kepayang padaku?”
Ketika pria itu tidak menjawab, Barrie menjauh untuk
memandangi wajahnya. Gray mengedip-ngedip
menunjukkan ucapan Barrie tadi kurang tepat.
“Cinta?” tanya Barrie lemah.
Gray cuma menatapnya, matanya menjawab dengan
tatapan tajamnya yang khas.
“Betul?” Barrie berbisik.
“Jangan terlalu bersemangat. Aku takkan pernah ingat
ulang tahunmu, atau Hari Valentine, atau ulang tahun
perkawinan,” Gray memberitahunya. “Aku bukan tipe
574
pemberi bunga.”
Barrie memegang pipi pria itu. “Apakah kau akan
berselingkuh?”
“Tidak.” Suara Gray sangat tegas. “Tak akan.”
“Kalau begitu aku tidak butuh bunga.”
“Bagaimana dengan seks?”
“Seks aku butuh.”
Belakangan mereka berbaring menyamping, rapat di
tempat tidur yang lebar. Kulit punggung Barrie yang
mulus dan sejuk menempel di perut Gray yang hangat.
Dagunya bertumpu di puncak kepala wanita itu.
Lengannya memeluknya, tangannya dengan posesif
menutupi payudaranya. Sesekali ibu jarinya menyentuh
putingnya. Sesekali Barrie mengangkat tangan Gray ke
bibirnya dan mencium tempat yang masih menampakkan
bekas gigi samar di mana ia menggigitnya bermingguminggu
yang lalu.
Ia jadi mengantuk. Lalu tepat sebelum jatuh tertidur ia
menyebut nama Gray.
“Hmm?”
“Kau ingin mendengar sesuatu yang ironis?” Laki-laki
itu tidak mengatakan apa pun, namun Barrie tahu dari
sikap diamnya bahwa ia mendengarkan. “Aku menyayangi
ayahku. Sangat menyayanginya.”
Di antara rambutnya, Gray berbisik lembut, “Aku
tahu.”
575
Epilog
TELEPON di meja Barrie berdering. Ia melirik jam.
Lima menit sebelum waktunya berada di studio. Masih
sempat untuk berbicara sebentar di telepon. Mungkin dari
Gray. Ia sering menelepon tepat sebelum saat siaran untuk
membangkitkan semangatnya—mungkin gairahnya juga,
begitu ia sampai di rumah.
Tersenyum memikirkan kemungkinan itu, ia mengangkat
telepon. “Barrie Travis.”
“Aku menontonmu di TV kemarin. Kaucat rambutmu?”
Charlene Walters. “Memang ku-highlight. Kau suka?”
“Tidak. Kau harus mengembalikannya seperti semula.”
Barrie tersenyum. Charlene hampir sama terkenalnya
dengan dia. Namanya muncul di setiap berita, TV atau
media cetakc, mengenai ambruknya pemerintahan Merritt.
Penghuni-penjara itu sekarang menganggap dirinya
kolega Barrie.
“Apa kabar, Charlene?”
“Perutku kembung. Mereka memberi kami kacang
untuk makan siang.”
“Aku turut prihatin. Dengar, aku harus ke studio kirakira...”
“Kau pasti serasa berjalan di awan, gara-gara semua
yang kaulakukan.”
576
Enam bulan telah berlalu sejak kemunculan kembali
Becky Sturgis. Pengadilan untuk Merritt dan Armbruster
ditunda. Para jaksa masih mengorganisr tuntutan mereka.
Para pembela dengan susah payah berusaha menyusun
pembelaan untuk menghadapi banyak sekali bukti dan
saksi yang bersedia memberi kesaksian memberatkan
sebagai ganti imunitas atau pengurangan hukuman.
“Aku tidak menikmati saat-saat hidup orang-orang
dihancurkan,” kata Barrie. “Meskipun aku berharap ini
akan bisa mencegah penyalahgunaan kekuasaan yang
begitu keji di masa yang akan datang.”
“Aku tidak mau berharap, dengan orang-orang selicik
sekarang.”
Barrie melirik jam. Tiga menit. Ia menjepit telepon di
leher dan mengambil cermin dan bedak dari laci meja.
Takkan ada waktu untuk makeup. “Senang bicara
denganmu, Charlene, tapi...”
“Bagiku sendiri, aku berharap mereka menyeret
bangsat-bangsat itu dan menggantung mereka. Setelah
apa yang mereka lakukan pada Becky, mereka mestinya
tidak boleh dibiarkan bernapas sehari pun lagi.”
“Jika kejahatan mereka terbukti, sistem hukum akan
menghukum mereka dengan pantas.”
Charlene mendengus, menunjukkan kebenciannya
pada sistem. “Setidaknya, waktu kuberitahu dirimu
tentang Becky, kau bertindak. Memang tidak segera, tapi
akhirnya kau melakukannya dengan giat.”
“Ya, well...”
“Tidak seperti dia. Dia tidak berbuat apa-apa.”
“Yah, dia kan dipenjara. Seperti katanya, tidak
banyak...”
577
“Bukan Becky, tolol. Mrs. Merritt.”
Barrie meletakkan cermin dan kembali memegang
gagang telepon. “Mrs. Merritt?”
“Aku bilang begitu kan tadi? Vanessa Armbruster
Merritt.”
Pasti ada yang terlewat. Karena sibuk melihat jam,
cermin, dan mendengarkan celotehan Charlene, ia pasti
melewatkan suatu informasi penting. “Maksudmu, kau
memberitahu Vanessa Merritt mengenai Becky Sturgis?”
“Yap!”
“Kapan, Charlene?”
“Kapan apa?”
“Kapan kau bicara dengan dia? Kapan kau memberitahu
dia soal Becky Sturgis dan bayinya?”
“Sebentar, ya. Sesudah Becky memberitahu aku, tentu
saja. Pasti tak lama sesudah Mrs. Merritt jadi Ibu Negara.”
“Charlene, kalau ini salah satu dongenganmu...”
“Kau temanku. Aku tidak menceritakan dongengan
pada teman-temanku.”
Pikiran Barrie berputar cepat. “Biar kupastikan aku
tidak salah tangkap. Kau memberitahu Mrs. Merritt, sang
Ibu Negara, tentang Becky Sturgis... tentang keterlibatannya
bertahun-tahun yang lalu dengan David Merritt?”
“Semuanya. Seperti yang kuceritakan padamu.
Kuberitahu dia bahwa David Merritt membunuh anak
Becky dan bahwa si Senator menutupinya untuk laki-laki
itu.”
Barrie menumpukan siku di meja dan memegangi
keningnya supaya ruangan berhenti berputar.
“Aku berkali-kali menyuratinya,” lanjut Charlene,
“memperingatkannya bahwa dia menikah dengan
578
pembunuh, namun dia mengabaikan aku. Setidaknya
kupikir begitu. Lalu pada suatu hari dia meneleponku di
penjara sini. Memberikan nama palsu, tentu saja, tapi
meninggalkan nomor telepon yang harus kuhubungi,
secara collect. Kami bicara selama kira-kira setengah
jam. Membuat kesal orang-orang yang antre menelepon,
tapi tidak kupedulikan mereka.”

Jam di meja Barrie berdetik, namun tidak sekeras detak
jantungnya. Ia menelan ludah untuk menghilangkan
perasaan mual.
Seorang asisten produser melongokkan kepala di pintu
kantornya. “Barrie? Sembilan puluh detik.”
Barrie mengangguk. “Charlene, kau tidak bilang pada
orang-orang Ibu Negara meneleponmu?”
“Tentu saja aku bilang!” serunya. “Tapi kaupikir
mereka mempercayaiku?”
Wanita yang pernah menjadi pacar Robert Redford
waktu kuliah dan mengandung anak Elvis? Siapa yang
mau mempercayainya?
“Jadi...” Barrie tak sanggup bicara. “Jadi...”
“Barrie?” Asisten produser tadi muncul kembali. “Kau
baik-baik saja? Kita siaran satu menit lagi.”
“Aku akan ke sana.” Lalu ia berkata pada Charlene,
“Jadi, setelah kauceritakan kisah Becky Sturgis padanya,
apa katanya?”
“Dia menyuruhku merahasiakannya dan berhenti
menyuratinya, kalau tidak dia akan menyuruh FBI
menyerangku. Kubilang dia bisa datang kemari, bertemu
Becky, dan mendengar sendiri ceritanya. Tapi dia bilang
tidak, dia tidak bisa berbuat begitu. Katanya kejadiannya
sudah lama dan mungkin saja tidak benar. Membuatku
579
marah sekali. Aku sudah susah-susah menghubunginya,
dia malah tidak mengindahkan peringatanku. Tak sampai
dua tahun yang lalu, dia hamil. Sesudah apa yang
kuceritakan padanya, dia masih mau punya anak dengan
laki-laki itu. Dia pasti sudah gila.”
Vanessa Armbruster Merritt sama sekali tidak gila.
Barrie, tolong aku. Tidak tahukah kau apa yang ingin
kukatakan padamu?
Bagaimana kalau motifnya cuma ingin balas dendam?
Bukan aku yang membunuh Robert Rushton. Dia yang
melakukannya!
Tentang itu, David Merritt mengatakan yang sebenarnya.
Wanita itu yang gila.
Dan dengan kata-kata Charlene Walters, sang filsuf
penjara, Orang gila bisa melakukan hampir segalanya.
Kau bakal takjub.
Dengan suara nyaris tak terdengar, Barrie bertanya,
“Kau pernah mendengar kabar dari Vanessa Merritt lagi,
Charlene?”
“Cuma sekali. Waktu dia menelepon dan mengusulkan
agar aku meneleponmu.”

Tamat

0 Response to "Sandra Brown, Exclusive 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified